Peranan pamong desa dalam penggunaan subsidi pemerintah pusat dalam rangka melaksanakan pembangunan masyarakat Desa Karangpatihan - Balong Ponorogo
oleh Supriyadi

 

Tinjauan administrasi penggadaian barang-barang di Jawatan Pegadaian Malang / oleh Aniek Wahyuati

 

Usaha peningkatan produksi pada NV PPSI (Perusahaan Plastic dan Sikat Gigi Indonesia) di Lawang
oleh Sri Sumarni

 

Peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa melalui kegiatan lesson study (Studi pada siswa kelas X AD-2 mata pelajaran dasar-dasar administrasi perkantoran di SMK Negeri 1 Mojoagung) / Nova Ambarwati

 

ABSTRAK Ambarwati, Nova. 2009. Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Kegiatan Lesson Study (Studi Pada Siswa Kelas X AD-2 Mata Pelajaran Dasar-dasar Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Mojoagung). Skripsi, Jurusan Manajemen FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Suputra M.Si, (II) Drs. Sarbini Kata Kunci: Motivasi, Hasil, Lesson Study, Dasar-dasar Administrasi Perkantoran Pada umumnya proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas dilakukan dalam bentuk satu arah. Guru lebih banyak berperan bila dibandingkan dengan keaktifan siswa. Tidak hanya itu guru juga lebih banyak ceramah dihadapan siswa sementara siswa hanya mendengarkan. Guru beranggapan tugasnya hanya menstranfer pengetahuan yang dimiliki guru kepada siswa dengan target tersampaikannya topik-topik yang tertulis dalam dokumen kurikulum kepada siswa. Pada umumnya guru tidak memberi inspirasi kepada siswa untuk berkreasi dan tidak melatih siswa untuk hidup mandiri. Pelajaran yang disajikan guru kadang kurang menantang siswa untuk berpikir. Akibatnya siswa tidak menyenagi pelajaran dan kurang termotivasi. Berdasakan laporan akademik jurusan Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Mojoagung pada kelas X AD-2 pada awal tahun ajaran semester ganjil tahun 2009, hasil belajar siswa tergolong masih rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai hasil ulangan harian dimana ada 25 siswa yang nilainya masih dibawah nilai rata-rata standar kompetensi lulusan yang ditetapkan dengan nilai minimum 75. Hal ini menjadi cambuk bagi guru pada jurusan Administrasi Perkantoran untuk terus meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan tetap mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berawal dari permasalahan tersebut peneliti menawarkan proses kegiatan yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Kegiatan tersebut yaitu lesson study. Lesson study yaitu suatu model (pola) pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian (studi) pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsisp-prinsip kolegalitas dan multual learning untuk membangun komunitas belajar (Lewis, 2002: Iverson, 2002 dan Hendayana, 2007). Dengan demikian lesson study bukan metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan lesson study dapat menerapkan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang dianggap efektif dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan faktual yang dihadapi guru (dosen) di kelas nyata. Tahapan yang akan dilakukan dalam pembelajaran ini yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Perencanaan bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa dan berpusat pada siswa, bagaimana siswa berpartisiasi aktif dalam proses pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dilakukan sendiri tetapi dilakukan bersama, beberapa guru dapat berkolaborasi untuk memperkaya ide-ide dan wawasan. Pelaksanaan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam perencanaan. Dalam perncanaan telah disepakati siapa guru yang akan mengimplementasikan pembelajaran dan sekolah yang menjadi tuan rumah serta dihadiri oleh observer. Merefleksi yaitu menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan pembelajaran, selanjutnya para pengamat diminta menyampaikan komentar dan hasil dari pembelajaran terutama yang berkenaan dengan siswa. Dari hasil pelaksanaan kegiatan lesson study ini dapat diketahui peningkatan nilai yang didapat oleh siswa dari dua siklus pelaksanaan pembelajaran lesson study mengalami peningkatan, baik itu penilaian dari aspek kognitif, aspek psikomotorik, dan aspek afektif. Namun peningkatan yang paling menentukan keberhasilan ini adalah dilihat dari penilaian aspek kognitif, yaitu perbandingan antara nilai pre test dan post test yang di dapat pada siklus pertama dan siklus ke dua. Kesimpulan yang didapat dari hasil pelaksanaan penelitian penerapan pembelajaran lesson study adalah sebagai berikut: (1) Penerapan kegiatan lesson study dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada kelas X AD-2 di SMK Negeri 1 Mojoagung pada pelajaran Dasar-dasar Administrasi Perkantoran. (2) Penerapan kegiatan lesson study dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas X AD-2 di SMK Negeri 1 Mojoagung pada mata pelajaran Dasar-dasar Administrasi Perkantoran. Peningkatan ini dapat dilihat dari tiga aspek penilaian ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.(3) Hasil penerapan kegiatan lesson study di SMK Negeri 1 Mojoagung yaitu motivasi belajar siswa semakin tinggi, hasil belajar siswa semakin naik, keaktifan siswa meningkat, kemampuan siswa dalam bekerjasama semakin baik, dan meningkatnya kesadaran siswa terhadap kompleksitas permasalahan dunia nyata, (4) Dalam penelitian ini kegiatan lesson study dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Adapun model pembelajaran yang digunakan peneliti untuk mendukung keterlaksanaan kegiatan ini adalah artikulasi, jigsaw, student facilitator and explaining dan group investigation dimana peneliti bertindak sebagai guru model.(5) Faktor pendukung dan penghambat dalam keterlaksanaan kegiatan lesson study di SMK Negeri 1 Mojoagung: a) Faktor pendukung dalam keterlaksanaan kegiatan lesson study yaitu kepala sekolah dan wakil kepala sekolah menyetujui serta memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan lesson study, guru-guru bidang studi tertarik dengan dilaksanakannya kegiatan lesson study, dan pembelajaran yang dilakukan dikelas dapat lebih bervariatif dengan adanya kegiatan lesson study. b) Faktor-faktor penghambat dalam keterlaksanaan kegiatan lesson study yaitu belum seragamnya mengenai pemahaman tentang lesson study, kurangnya dalam bekerjasama serta kurangnya koordinasi oleh team lesson study, ketersediaan sarana dan dukungan finansial. Adapun saran yang diberikan peneliti untuk peneliti selanjutnya dalah sebagai berikut : (1) Untuk guru pengajar SMK khususnya pada mata pelajaran Dasar-dasar Administrasi Perkantoran dalam melakukan proses pembelajaran dapat menggunakan lesson study dengan memilih metode pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan kondisi siswa untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. (2) Dalam merencanakan kegiatan lesson study hendaknya literatur yang digunakan sebagai bahan ajar lebih up to date agar pengetahuan tentang materi ajar team lesson study khususnya guru model lebih berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. (3) Dalam melaksanakan proses kegiatan lesson study hendaknya dipertimbangkan masalah waktu dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. (4) Untuk hasil yang lebih maksimal, pelaksanaan penelitian kegiatan lesson study ini dapat dilakukan lebih dari dua siklus.

Pengaruh BUUD terhadap taraf hidup masyarakat petani di Desa Wlingi Kecamatan Wlingi / oleh Sri Utami

 

Usaha peningkatan produksi karet perkebunan karet Gondang Tapen, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar sebagai cabang P.T. Candiloka Kediri / oleh Sampir

 

Penerapan strategi pembelajaran cooperative script untukl meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir siswa kelas X-5 SMA Negeri 3 Malang / Lutfi Maratus Solikhah

 

ABSTRAK Solikhah, Lutfi Maratus. 2010. Penerapan Strategi Pembelajaran Cooperative Script untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Siswa Kelas X-5 SMA Negeri 3 Malang. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D; (II) Dra. Sri Rahayu Lestari, M.Si. Kata Kunci: Cooperative script, Hasil Belajar, Kemampuan berpikir Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan menyiapkan siswa agar memiliki hubungan sosial yang sehat akhir-akhir ini banyak dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif. Salah satu pembelajaran kooperatif adalah cooperative script. Sejumlah studi tentang cooperative script ini telah membuktikan bahwa siswa yang belajar dengan cara ini dapat belajar dan mengendapkan materi lebih banyak daripada siswa yang membuat ringkasannya sendiri atau mereka yang hanya sekedar membaca materi pelajaran itu. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai ilmu yang terus berkembang tidak hanya dibutuhkan keterampilan dalam memahami tetapi juga perlu adanya proses berpikir dari siswa. Salah satu indikator keberhasilan suatu pembelajaran adalah adanya peningkatan dalam proses berpikir siswa. Permasalahan pembelajaran biologi di SMA Negeri 3 Malang, berdasar hasil wawancara dengan guru kelas biologi adalah sebagai berikut: masalah pembelajaran biologi selama ini belum melatih siswa mengembangkan kemampuan berpikir yaitu menguasai konsep materi, menganalisis masalah dan menyimpulkan. Kondisi tersebut didukung oleh fakta saat peneliti melakukan pembelajaran di dalam kelas, banyak siswa tidak mau atau kesulitan untuk bertanya maupun mengeluarkan pendapatnya, selain itu siswa masih kesulitan dalam mengaitkan konsep biologi yang dipelajari dengan peristiwa sehari-hari. Sedangkan berdasarkan hasil dokumen yang diperoleh dari guru kelas menunjukkan bahwa ketuntasan belajar klasikal siswa kelas X-5 masih rendah (67,7%), sebagian siswa masih belum tuntas belajar, rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai skor 67 sedangkan ketuntasan minimal SMA Negeri 3 Malang adalah 75%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir siswa kelas X-5 SMA Negeri 3 Malang melalui penerapan strategi pembelajaran cooperative script serta untuk mengetahui respons siswa mengenai strategi pembelajaran cooperative script. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai bulan November 2009. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-5 SMA Negeri 3 Malang Tahun Pelajaran 2009/2010 semester ganjil yang berjumlah 31 siswa. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap-tahap penelitian tindakan berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) pemberian tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi, yang membentuk siklus demi siklus hingga penelitian tuntas, sehingga diperoleh data yang dapat dikumpulkan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan 2 siklus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, catatan lapangan, soal tes dan angket respons siswa. Teknik pengumpulan data,hasil belajar diperoleh dengan cara memberikan tes individu kepada siswa setiap akhir siklus tindakan (dengan bobot 2) serta nilai worksheet tiap pertemuan (dengan bobot 1), sedangkan data kemampuan berpikir siswa diperoleh dengan cara memberikan tes kemampuan bepikir kepada siswa setiap akhir siklus tindakan. Data hasil belajar dianalisis untuk mengetahui rata-rata skor tes dan ketuntasan belajar siswa, dengan menganalisis data hasil tes setiap siklus dengan menggunakan kriteria ketuntasan belajar sedangkan kemampuan berpikir dianalisis dengan cara menganalisis jawaban dan penilaian dilakukan dengan rubrik dan nonrubrik. Penilaian rubrik mempunyai rentangan antara 0-4 sedangkan nonrubrik antara 0-20. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar sebanyak 7,2% dan peningkatan kemampuan berpikir sebanyak 32,5% pada siswa kelas X-5 SMA Negeri 3 Malang setelah diterapkan strategi pembelajaran cooperative script dan respons siswa berdasarkan angket menyatakan siswa setuju jika strategi pembelajaran cooperative script diterapkan dikelas dan siswa merasa senang dengan diterapkannya strategi pembelajaran cooperative script. Diharapkan bagi guru biologi yang mempunyai masalah dengan hasil belajar dan kemampuan berpikir dapat menerapkan strategi pembelajaran cooperative script karena strategi ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir, kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian sejenis pada kompetensi dasar yang lain guna mengetahui keberhasilan penerapan strategi pembelajaran cooperative script, guru sebaiknya dapat memberikan modifikasi pada strategi pembelajaran cooperative script agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran, guru sebaiknya membiasakan siswa untuk mengemukakan pendapat didepan kelas, agar kegiatan pembelajaran menjadi semakin aktif.

Usaha meningkatkan produksi apel dan pemasarannya di Besakih Kabupaten Karang Asem Bali / oleh I. Komang Risna Adnyana

 

Perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang serta implikasi bimbingan dan konselingnya / Lilik Sriatmini

 

ABSTRAK Sriatmini, Lilik. 2009.Perilaku Konsumtif Remaja di SMAN Se-Kota Malang Serta Implikasi Bimbingan dan Konselingnya . Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Triyono, M. Pd, (2) Drs. Harmiyanto. Kata kunci: Perilaku konsumtif, Remaja Perilaku konsumtif remaja yang berlebihan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikis. Pengaruh budaya asing dari penayangan televisi juga sangat mempengaruhi perilaku konsumtif remaja. Media massa dari penayangan televisi itu remaja mencontoh gaya anak sekarang, sehingga mereka terpengaruh untuk ikut-ikutan gaya yang ada dalam televisi tersebut. Banyaknya mal juga menyebabkan para remaja berperilaku konsumtif yang berlebihan. Selain itu Para remaja terutama remaja sekolah menengah akan gengsi dan merasa malu jika tidak membeli barang-barang yang tidak bermerek dan mereka merasa dikucilkan temannya, meskipun tidak mempunyai uang tetapi mereka akan tetap membeli barang bermerek tersebut sekalipun dengan jalan yang tidak wajar. Hal ini yang membuat remaja kurang terkontrol dalam membelanjakan uangnya sehingga timbullah perilaku konsumtif yang berlebihan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) deskripsi perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang, dan (3) dampak perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa SMA Negeri se-kota Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling, yaitu sampling secara acak dan proporsional. Pengumpulan data menggunakan angket tertutup dengan klasifikasi angket perilaku konsumtif berupa sangat setuju, setuju, kurang setuju dan tidak setuju. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sangat banyak siswa di SMAN se-Kota Malang (90,61%) menyatakan bahwa mereka berperilaku konsumtif yang berlebihan yaitu membeli barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan. Banyak siswa di SMAN se-Kota Malang menyatakan bahwa faktor lingkungan (88,57%), faktor perbedaan individu (85,57%), pilihan penyalur (55,10%), waktu pembelian (66,94%), menentukan pilihan yang rasional (57,14%), efisiensi dalam berperilaku konsumtif (71,43%) mempengaruhi perilaku konsumtif mereka, sedangkan cukup banyak siswa di SMAN se-Kota Malang juga meyatakan bahwa pilihan produk (54,28%), pilihan merek (57,96%), jumlah pembelian (43,68%) kurang mempengaruhi perilaku konsumtif mereka. Banyak siswa di SMAN se-Kota Malang (79,60%) menyatakan melakukan tindakan- tindakan yang negatif seperti meminjam uang, mencuri, memalak, menipu, berbohong, bahkan melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain hanya untuk memenuhi hasrat berbelanjanya. Implikasi bimbingan konseling terhadap perilaku konsumtif siswa yaitu membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri, membantu memandirikan siswa dengan mengajari siswa untuk belajar mencari solusi sendiri dari masalah yang sedang dihadapi yaitu perilaku konsumtif yang berlebihan, serta konselor menjalankan fungsi pencegahan terhadap perilaku konsumtif siswa yang berlebihan yaitu dengan meningkatkan kesadaran diri siswa bahwa banyak dampak yang akan ditimbulkan jika mereka berperilaku konsumtif yang berlebihan. Selain itu siswa mendapatkan layanan secara individual dan kelompok, karena salah satu tujuan bimbingan dan konseling di sekolah adalah untuk membantu siswa memahami diri, membantu untuk memandirikan siswa, serta membantu meningkatkan kesadaran siswa. Sesuai dengan hasil penelitian, maka saran yang ingin penulis sampaikan, kepada konselor yaitu konselor dapat membantu siswa untuk memahami dirinya, memandirikan siswa dan meningkatkan kesadaran siswa bahwa dengan berperilaku konsumtif yang berlebihan banyak dampak yang akan ditimbulkan. Selain itu yang paling penting adalah konselor memberikan layanan bimbingan dan konseling kelompok dalam bidang pribadi dan sosial, karena bidang pribadi dan sosial sangat mempengaruhi perilaku konsumtif remaja. Konselor juga diharapkan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan pihak-pihak terkait seperti wali kelas dan orang tua siswa. Saran bagi wali kelas adalah wali kelas diharapkan dapat menjalin kerjasama yang baik dengn konselor untuk membantu masalah yang dihadapi oleh siswa dalam hal perilaku konsumtif yang berlebihan, serta dengan bantuan dari konselor sekolah wali kelas diharapkan dapat memberikan bimbingan dan informasi mengenai perilaku konsumtif dan dampak yang ditimbulkan dari perilaku konsumtif yang berlebihan tersebut. Saran bagi orang tua adalah orang tua sebagai orang terdekat siswa hendaknya dapat menjadi model yang baik bagi anak, salah satunya dengan tidak berperilaku konsumtif yang berlebihan, memberikan pengarahan dan dukungan moral, serta dapat menjalin kerjasama yang baik dengan anak. Siswa juga diharapkan dapat menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang negatif seperti memalak, mencuri, menipu, berbohong, dan melakukan tindak kekerasan hanya untuk memenuhi hasrat berbelanjanya. Siswa lebih baik mengisi waktu luang tidak dengan jalan-jalan ke mal tapi dengan melakukan kegiatan yang positif seperti membaca, serta tidak mudah terpengaruh oleh ajakan teman yang bersifat negatif, karena sesuatu yang berlebihan itu biasanya hasilnya tidak baik. Saran bagi peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti selanjutnya lebih memperbanyak dan memperluas jabaran variabel tentang perilaku konsumtif. Peneliti selanjutnya juga perlu meneliti hubungan antara perilaku konsumtif remaja dengan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, serta lebih memperluas kajian penelitiannya pada sekolah-sekolah lainnya seperti SMK dan MA baik negeri maupun swasta.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe improve pada materi sistem persmaan linear dua variabel untuk mengetahui keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VIIIH SMP Negeri 13 Malang / Anggun Bangkit Palupi

 

ABSTRAK Palupi, Anggun Bangkit. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Improve Pada Materi Topik Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Untuk Mengetahui Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIIH SMP Negeri 13 Malang. Skripsi. Program S1 Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si (2) Drs. Eddy Budiono, M.Pd. Kata kunci: Penerapan, Improve, Keaktifan, Hasil Belajar Salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah peserta didik memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta percaya diri siswa untuk memecahkan masalah matematika. Kurangnya percaya diri dan rendahnya motivasi siswa membuat mereka enggan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dalam pembelajaran matematika, sehingga siswa tidak dapat belajar matematika secara efektif. Untuk mengatasinya diperlukan suatu perubahan dalam pembelajaran sehingga dapat memotivasi dan mendukung siswa dalam pembelajaran matematika serta pembelajaran tersebut diharapkan membuat siswa aktif dan memiliki hasil belajar yang baik pada pelajaran matematika. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran kooperatif tipe Improve. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan penerapan pembelajaran Improve serta mengetahui keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VIIIH SMP Negeri 13 Malang pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 13 Malang dengan subjek penelitian yaitu 36 siswa kelas VIIIH SMP Negeri 13 Malang tahun 2009/2010. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi selama pembelajaran, catatan lapangan, tes dan angket. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penerapan pembelajaran Improve pada materi sistem persamaan linear dua variabel dilakukan melalui langkah-langkah berikut. (1) memperkenalkan konsep baru; menyampaikan tujuan pembelajaran, pemberian apersepsi, pemberian motivasi, pembentukan kelompok, memperkenalkan konsep baru melalui penyajian materi dalam LKS. (2) pertanyaan metakognitif; pertanyaan pemahaman, sambungan, strategi dan refleksi (3) latihan. (4) tinjauan dan pengurangan kesulitan dengan diskusi kelas. (5) perolehan pengatahuan dengan membuat kesimpulan materi serta mengisi jurnal harian dan refleksi (6) verifikasi dengan tes (7) perbaikan/pengayaan. Penerapan pembelajaran Improve menunjukkan hasil yang positif, yaitu aktivitas siswa tergolong baik dan nilai tes rata-rata kelas yaitu 74, 27. Selain itu, siswa memberikan respon positif terhadap kegiatan pembelajaran yang diterapkan. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran Improve dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran matematika karena menunjukkan hasil yang positif. Pengelolaan waktu oleh guru perlu diperhatikan dalam penerapan pembelajaran Improve.

Teachers' knowledge in planning lessons for english speaking activities based on school-based curriculum (SBC) at some public senior high schools in Malang / Rozky Fariza

 

ABSTRACT Fariza, Rozky. 2009. Teachers’ Knowledge in Planning Lessons for English Speaking Activities Based on School-Based Curriculum (SBC) at Some Public Senior High Schools in Malang. Thesis, English Department. English Language Education Program. Faculty of Letters. Sarjana Program. State University of Malang. Advisor: Dr. Suharmanto, M.Pd Key Words: lesson plans for English speaking activities, School-Based Curriculum, knowledge. The knowledge of lesson planning is very important for teachers since it can help them to create good, systematic, and applicable lesson plans which can help them conduct teaching and learning process well. A lesson plan commonly has nine (9) main components: Competence Standard, Basic Competence, Indicator, Learning Objective, Instructional Material, Teaching and Learning Method, Learning Stages, Materials/Learning Resource, and Assessment. Some of those components are closely related to other components and it is easier to understand if those related components are put as one in the discussion, so in this study the above components of lesson plans are formulated into these six components: (1) competence standard, (2) basic competence and indicator, (3) learning objective, (4) instructional material and material/learning resource, (5) teaching and learning methods and learning stages, (6) and the assessment of the lesson plan. This descriptive study was conducted to find out the knowledge of teachers in planning lessons for English speaking activities for grade X based on School Based Curriculum (SBC) at some Public Senior High Schools in Malang. The sample of the study was ten (10) English teachers of grade X: 2 (two) teachers from each of these schools: SMAN 1 Malang, SMAN 2 Malang, SMAN 3 Malang, SMAN 4 Malang, and SMAN 5 Malang. On the process of data collection one teacher became unwilling to participate, thus her questionnaire was dropped and it was acknowledged as the limitation of the study. So, there were nine (9) teachers at total as the sample of the study. Those teachers were required to answer a questionnaire about nine (9) components of lesson plan as stated above. This questionnaire consists of 52 questions. The reason to select the questionnaire as the instrument of the study was because this study focused on the knowledge of teachers regarding planning lessons not on the product of lesson plans themselves like the previous study did. By conducting the study this way, the findings of this study would provide more information regarding the teachers’ knowledge in planning lessons and perfect the previous study since lesson plans nowadays are available everywhere; teachers can easily obtain lesson plans for example from the internet at anytime in a very short time. Nine (9) questionnaires that had been answered and reviewed by teachers were then scored objectively using discrete system then were described based on the grade scale. Based on the result of the analysis, the researcher can conclude that out of six knowledge discussed the fewest knowledge that the teachers have in planning components of lesson plan of English speaking activities based on School-Based Curriculum at some Senior High Schools in Malang is in developing the basic competence and learning indicators with eight (8) out of nine (9) teachers got fair or poor score. The reason of this poor score was the lack of teachers’ knowledge in planning the basic competence part. First, teachers did not have a good and complete comprehension of what basic competence was. This lack of knowledge would result in an incomplete comprehension of teachers and students of what should be done to achieve basic competences. Second, they did not know what operational basic competence was. Understanding operational basic competence could help teachers to formulate operational indicators easier and better. Third, there were only two teachers who realized the importance of elaborating non operational basic competence into operational sub/ sub-sub basic competence. This process helped teachers to easily formulate operational indicators as the next step after formulating the operational basic competence. Fourth, most teachers were new to the process of elaborating non operational basic competence into operational sub/ sub-sub basic competence and did not have the knowledge on how to do it. This process helped teachers to easily formulate operational indicators as the next step after formulating the operational basic competence. Fifth, the indicators formulated by teachers based on the non operational basic competence were not operational in term of in one indicator there were more than one competence needed to achieve. If the indicators formulated in the lesson plans were not operational, the teaching and learning activities would not focus and most likely could not be achieved in one stage of short teaching and learning process. So, it is very important for teachers to elaborate the non operational basic competences from the government into operational basic competence before formulating the indicators. The second lowest is in the competence standard part with four (4) teachers got fair or poor score. It happened because they were able to answer neither the definition of competence standard nor the competence standard of speaking activities. For the definition of competence standard aspect, teachers had to understand it since this knowledge actually the basic knowledge that teachers should have in the competence standard part. When teachers did not know what the competence standard was, it would give teachers problem in the process of achieving it since they did not know what to do with the competence standard. Then for the competence standard of speaking activities, teachers got low score because most of them were ‘trapped’ by answering both to express and to respond to something in the questionnaire. To respond to something was actually the competence standard of listening activities and thus was a false answer. Those trapped teachers did not know nor/or were not sure the difference between the competence standard of speaking activities and the competence standard of listening activities was. This lack of knowledge could give problems for them that they would lose focus or even miss on what they wanted to achieve, whether it was to respond or to express something in speaking activities. Teachers got good score for the rest components of lesson plans: learning objectives, assessment, instructional material and material/learning resource, and teaching and learning methods and learning stages. It meant that they have good knowledge in planning them. This good knowledge would help them to develop learning objectives, assessment, instructional material and material/learning resource, and teaching and learning methods and learning stages well in their lesson plans.

Peranan PT Bank Pasar Airlangga dalam membantu usaha para pedagang kecil di daerah Blimbing Malang / oleh Harini Suci Maharti

 

Kepadatan penduduk ditinjau dari segi pertanian di Desa Suru, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar / Budi Prayitno

 

Analisis pembentukan portofolio dengan menggunakan single index market model (studi kasus pada perusahaan property dan real estate yang listing di BEI periode 3 April-31 Mei 2007) / Desi Ainun Jariyah Utami

 

Investasi di pasar modal memiliki risiko yang lebih besar bila dibandingkan dengan investasi lain. Investasi yang menawarkan hasil yang tinggi tentu mengandung risiko yang tinggi pula. Salah satu cara untuk mengurangi risiko investasi saham adalah dengan melakukan pembentukan portofolio. Pembentukan portofolio merupakan cara untuk mengidentifikasi sekuritas-sekuritas mana yang dipilih, dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui return saham individu (Ri) dari perusahaan property dan real estate, untuk mengetahui return pasar (Rm) dari perusahaan property dan real estate, untuk mengetahui tingkat pengembalian yang diharapkan (return ekspektasi) dari saham individu E(Ri), untuk mengetahui return ekspektasi pasar E(Rm), untuk mengetahui tingkat return bebas risiko/risk free,dan untuk menganalisis bagaimana membentuk portofolio dengan menggunakan Single Index Market Model agar dapat meminimalkan risiko investasi pada tingkat return tertentu bagi investor. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif dengan sampel 15 perusahaan property dan real estate yang listing di BEI. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif. Periode penelitian selama 41 hari mulai 3 April – 31 Mei 2007. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, berupa harga saham, indeks harga saham gabungan (IHSG), dan tingkat suku bunga SBI. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Single Index Market Model. Tahapan dalam pengolahan data di mulai dari perhitungan return saham individu, return pasar, tingkat return bebas risiko, return ekspektasi saham individu, return ekspektasi pasar, risiko sisitematis, risiko non sitematis, alpha, varian saham, Cut off Point (C*) berdasarkan nilai Cut off Rate terbesar, proporsi portofolio, expected return portofolio, dan varian portofolio. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 15 perusahaan sampel, hanya terdapat 3 perusahaan yang masuk dalam pembentukan portofolio yaitu: Surya Inti Permata Tbk (SIIP) dengan proporsi sebesar 26.4%, Karka Yasa Profilia Tbk (KARK) sebesar 71.9%, Panca Wiratama Sakti Tbk (PWSI) sebesar 1.6%. Berdasarkan hasil penelitian pihak investor dapat memperoleh tingkat return ekspektasi sebesar 2.87% dengan risiko minimal 0.29% . Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan penelitian ini adalah (1) Investor diharapkan tidak berinvestasi pada satu saham saja, tetapi pada beberapa saham yang menawarkan tingkat pengembalian yang tinggi, sehingga risiko yang ditanggung lebih kecil. (2) Dalam melakukan investasi saham sebaiknya disamping menganalisis portofolio dalam mengambil keputusan diperlukan juga analisis fundamental yang mempertimbangkan faktor-faktor fundamental, seperti kinerja perusahaan dan informasi lain yang sesuai.

Masalah pendidikan petani dalam usaha peningkatan hasil produksi padi di Desa Bence 1973 Kecamatan Garum / oleh Minarti

 

Pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru, persepsi siswa tentang kualitas sekolah dan minat belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XII IPS pada mata pelajaran akuntansi SMA Negeri 1 Kepanjen / Mifta Uswatun Hasanah

 

Hasanah, Mifta Uswatun. 2010. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Keterampilan Mengajar Guru, Persepsi Siswa tentang Kualitas Sekolah dan Minat Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS Pada Mata Pelajaran Akuntansi SMA Negeri 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si., Ak. (II) Triadi Agung Sudarto, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci : persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru, persepsi siswa tentang kualitas sekolah, minat belajar, prestasi belajar Kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menerapkan keterampilan mengajar memerlukan adanya tanggapan, penilaian dan koreksi pihak siswa agar tetap bisa menciptakan suasana belajar yang memungkinkan siswa untuk berprestasi secara maksimal, sehingga siswa memiliki minat belajar. Apabila siswa telah merasa puas dengan kualitas sekolahnya maka akan muncul feed back yang berbentuk tingkah laku, salah satunya adalah beranggapan bahwa sekolah mereka berkualitas baik, sehingga agar tidak tertinggal dari siswa lainnya maka mereka akan berlomba-lomba untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru, persepsi siswa tentang kulitas sekolah dan minat belajar baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi belajar. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanasi (exsplanatory research) dengan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IPS pada mata pelajaran Akuntansi SMA Negeri 1 Kepanjen, jumlah sampelnya adalah 55 dan penggunaan sampelnya menggunakan teknik “Proportional random sampling”. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket dan dokumentasi. Uji validitasnya menggunakan Pearson Product Moment, Uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach, dan analisis datanya menggunakan regresi berganda untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan dari variabel-variabel dalam penelitian ini. Dari hasil analisis data diketahui bahwa: (1) persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (2) persepsi siswa tentang kualitas sekolah berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (3) Minat belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (4) persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru, persepsi siswa tentang kualitas sekolah, dan minat belajar siswa berpengaruh secara simultan terhadap prestasi belajar siswa. Saran: (1) Diharapkan guru mengupayakan keterampilan mengajarnya pada setiap kegiatan pembelajaran agar siswa memiliki persepsi yang positif terhadap keterampilan mengajar guru sehingga siswa akan meningkatkan prestasi belajarnya(2) Diharapkan semua pihak sekolah lebih meningkatkan kualitas sekolahnya karena bila siswa memiliki persepsi yang positif maka siswa akan giat dalam belajarnya(3) Diharapkan bagi siswa untuk mengembangkan minatnya (4) Bagi peneliti yang melakukan penelitian sejenis disarankan untuk menggunakan populasi dan sampel yang lebih luas, serta menambah variabel penelitian.

Pemanfaatan media permainan dalam kegiatan pembelajaran oleh guru di TK Plus Al-Kautsar Malang / oleh Laila Maulanawati

 

Usaha tempat penampungan orang-orang tuna karya Sidosadar wilayah Kecamatan Kedung Kandang dalam rangka menanggulangi masalah tuna karya di Kotamadya Daerah Tingkat II Malang / oleh Juningsih

 

Hubungan minat dan prestasi siswa kelas VIII F dan VIII G pada pembelajaran berkarya seni lukis di SMP Negeri 9 Malang / Titik Rusmiati

 

ABSTRAK Rusmiati, Titik. 2009. Hubungan Minat dan Prestasi Siswa Kelas VIII F dan VIII G pada Pembelajaran Berkarya Seni Lukis di SMP Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Unversitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Triyono Widodo, M. Sn, (2) Fenny Rochbeind, S. Pd, M. Sn. Kata Kunci: minat, prestasi, pembelajaran seni lukis Mata pelajaran Seni Budaya meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) Seni rupa; (2) Seni musik; (3) Seni tari; (4) Seni teater, di antara keempat bidang seni minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggara-kan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya. SMP Negeri 9 Malang menyelenggarakan Pendidikan Seni Budaya dengan dua aspek yaitu seni rupa dan seni musik. Isi pembelajaran berkarya seni rupa kelas VIII SMP Negeri 9 Malang di antaranya adalah kompetensi dasar mengekspresikan diri melalui karya seni lukis/gambar dengan materi pembelajaran melukis gaya ekspresi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana minat siswa kelas VIII F dan VIII G SMP Negeri 9 Malang pada kegiatan pembelajaran berkarya seni lukis; (2) Bagaimana prestasi siswa kelas VIII F dan VIII G SMP Negeri 9 Malang pada pembelajaran berkarya seni lukis; (3) Adakah hubungan antara minat dan prestasi siswa Kelas VIII F dan VIII G SMP Negeri 9 Malang pada pembelajaran berkarya seni lukis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan adanya hubungan minat dan prestasi siswa kelas VIII F dan VIII G pada pembelajaran berkarya seni lukis di SMP Negeri 9 Malang. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai masukan dan pengalaman bagi peneliti untuk menerapkan teori - teori yang diperoleh selama kuliah dalam mengkaji permasalahan serta menyajikan pendapat/ saran sebagai penyelesaian masalah pembelajaran di lapangan. Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Dengan mengetahui kondisi objek penelitian yang sebenarnya, kemudian meng-analisis data, dan menginterprestasikannya. Sumber data penelitian diperoleh dari siswa kelas VIII F dan VIII G SMP Negeri 9 Malang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan tujuan mengetahui kualitas hubungan minat dan prestasi belajar. Proses pengumpulan data penelitian diperoleh dari penyebaran angket pada responden dan penilaian hasil karya seni lukis gaya ekspresi, kemudian dianalisis menggunakan perangkat Statistical Product and Service Solution for Windows versi 11.50. Hasil analisis statistik diskriptif data penelitian diperoleh kondisi minat belajar siswa kelas VIII F dan VIII G pada pembelajaran berkarya seni lukis di SMP Negeri 9 Malang pada aspek akademis/ kurikuler lebih baik dari pada aspek sosial/ ekstra kurikuler. Dan analisis statistik inferensial diperoleh kondisi diterimanya hipotesa alternatif yang berbunyi ”Terdapat hubungan yang signifikan antara minat dan prestasi siswa kelas VIII F dan VIII G SMP Negeri 9 Malang pada pembelajaran berkarya seni lukis” . Kesimpulan hasil penelitian adalah adanya hubungan minat dan prestasi siswa Kelas VIII F dan VIII G SMP Negeri 9 Malang pada pembelajaran berkarya seni lukis yang bersifat regresif linier. Dengan nilai koefisien regresi 1,003 maka minat belajar dinaikkan sebesar 1 satu satuan maka prestasi belajar siswa akan naik meningkat sebesar 1,003 satuan. Hal ini berarti semakin baik kualitas minat akan diperoleh peningkatan prestasi siswa, dan sebaliknya penu-runan minat siswa akan berakibat pada penurunan prestasi siswa. Kurang baiknya minat siswa pada kegiatan penunjang pembelajaran berkarya seni lukis mengakibatkan tidak ada keseimbangan antara prestasi akademis dan prestasi sosial. Hal ini menunjukan tidak dicapainya perubahan perilaku siswa karena kurangnya pengembangan diri secara komprehensip. Prestasi siswa yang lebih baik untuk mengekspresikan diri melalui karya seni lukis/gambar akan didapatkan setelah pola pembelajaran yang digunakan lebih mengedepankan pembiasaan siswa untuk berkarya dan memamerkan hasil karyanya. Hal ini akan diperoleh apabila sekolah memfasilitasi sarana dan prasarana pembelajaran berkarya seni lukis, misalnya: menyediakan gudang, galeri, sanggar, serta lomba pada waktu tertentu.

Peranan Pusat Koperasi Pegawai Negeri Kota Madya Malang dalam meningkatkan kesejahteraan para anggotanya / oleh Imam Hanafi

 

Peningkatan kemampuan menyatakan pendapat melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) pada siswa kelas X.1 SMA Negeri Arjasa Kabupaten Jember / Karina Widya Utami

 

ABSTRAK Utami, Karina Widya. 2009. Peningkatan Kemampuan Menyatakan Pendapat melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) Pada Siswa Kelas X.1 SMA Negeri Arjasa Kabupaten Jember. Skripsi. Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Dwi Saksomo, M.Si. Kata kunci: peningkatan, kemampuan, berbicara, numbered heads together Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa adalah keterampilan berdiskusi. Pelaksanaan pembelajaran berbicara di sekolah sering diabaikan oleh guru, karena waktu yang diperlukan cukup lama. Akibatnya, siswa tidak dapat berbicara di depan teman-temannya dengan lancar, karena kurang memiliki rasa percaya diri, penggunaan bahasa Indonesia juga menjadi kacau, kurang paham dengan etika dalam berdiskusi, dan isi pembicaraan menjadi tidak tepat. Dalam hal ini, peran diskusi sangat dominan. Salah satu teknik diskusi yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa khususnya dalam menyatakan pendapat adalah pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together). Dengan NHT (Numbered Heads Together), siswa memiliki tanggung jawab terhadap teman sekelompoknya untuk mempelajari dan menguasai bahan diskusi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses dan hasil peningkatan kemampuan menyatakan pendapat siswa kelas X.1 SMA Negeri Arjasa pada aspek menyampaikan hasil diskusi, mengemukakan tanggapan, dan mengajukan saran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SMA Negeri Arjasa Kabupaten Jember kelas X.1 dengan jumlah siswa 39 orang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Prosedur penelitian tindakan kelas ini meliputi (1) studi pendahuluan, (2) rencana tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, (5) diskusi dan refleksi. Adapun data penelitian ini meliputi data proses dan hasil. Data proses merupakan hasil pengamatan, pencatatan lapangan, dan hasil wawancara terkait proses pembelajaran. Data hasil merupakan hasil tes menyatakan pendapat siswa pada kegiatan diskusi. Berdasarkan hasil analisis data proses tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I dan II, dapat dideskripsikan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dalam pembelajaran menyatakan pendapat, yaitu diawali dengan pembentukan kelompok secara heterogen, pemberian bahan bacaan, pelaksanaan diskusi kelompok, pelaksanaan diskusi kelas, dan refleksi. Proses pembelajaran juga mengalami peningkatan. Selama proses pembelajaran dari tahap pendahuluan, tahap inti, sampai tahap penutup pada saat prates, siswa terlihat masih kurang antusias dan kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pada siklus I, siswa cukup antusias mengikuti pembelajaran, dan pada siklus II siswa terlihat sangat antusias mengikuti setiap tahap pembelajaran. Berdasarkan analisis data kuantitatif, diketahui kemampuan siswa dalam menyatakan pendapat pada aspek menyampaikan hasil diskusi pada siklus II, dari ii 39 siswa, sebanyak 38 siswa mencapai ketuntasan belajar (prates 20 siswa, siklus I 29 siswa); 13 siswa dengan kualifikasi baik sekali, 25 siswa dengan kualifikasi baik, dan 1 siswa dengan kualifikasi cukup. Secara kualitatif, siswa yang berkualifikasi baik sekali, menunjukkan lima dari tujuh indikator kesesuaian hasil diskusi dengan artikel, pemilihan respon, logat bicara, kosakata, kelancaran, keberanian, dan etika sangat baik dan dua indikator baik, atau menunjukkan empat indikator sangat baik dan tiga indikator baik, atau tiga indikator sangat baik dan empat indikator baik. Siswa yang berkualifikasi baik menunjukkan dua indikator sangat baik, empat indikator baik dan satu indikator cukup, atau satu indikator sangat baik, lima indikator baik, dan satu indikator cukup, atau semua indikator baik. Siswa yang berkualifikasi cukup menunjukan lima indikator baik dan dua indikator cukup. Kemampuan siswa dalam menyatakan pendapat pada aspek mengemukakan tanggapan pada siklus II, seluruh siswa mencapai ketuntasan belajar (prates 19 siswa, siklus I 24 siswa); 13 siswa dengan kualifikasi baik sekali dan 26 siswa dengan kualifikasi baik. Secara kualitatif, siswa yang berkualifikasi baik sekali, menunjukkan lima dari tujuh indikator kesesuaian tanggapan dengan isi diskusi, pemilihan respon, logat bicara, kosakata, kelancaran, keberanian, dan etika sangat baik dan dua indikator baik, atau menunjukkan empat indikator sangat baik dan tiga indikator baik, atau tiga indikator sangat baik dan empat indikator baik. Siswa yang berkualifikasi baik menunjukkan dua indikator sangat baik, empat indikator baik dan satu indikator cukup, atau satu indikator sangat baik, lima indikator baik, dan satu indikator cukup, atau semua indikator baik. Kemampuan siswa dalam menyatakan pendapat pada aspek mengajukan saran pada siklus II, seluruh siswa mencapai ketuntasan belajar (prates 21 siswa, siklus I 31 siswa); 13 siswa dengan kualifikasi baik sekali dan 26 siswa dengan kualifikasi baik. Secara kualitatif, siswa yang berkualifikasi baik sekali, menunjukkan lima dari tujuh indikator kesesuaian saran dengan isi diskusi, pemilihan respon, logat bicara, kosakata, kelancaran, keberanian, dan etika sangat baik dan dua indikator baik, atau menunjukkan empat indikator sangat baik dan tiga indikator baik, atau tiga indikator sangat baik dan empat indikator baik. Siswa yang berkualifikasi baik menunjukkan dua indikator sangat baik, empat indikator baik dan satu indikator cukup, atau satu indikator sangat baik, lima indikator baik, dan satu indikator cukup, atau semua indikator baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, hendaknya dapat menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai alternatif dalam kegiatan diskusi karena dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa khususnya dalam hal menyatakan pendapat. Bagi pelaksana peneliti selanjutnya disarankan untuk mengadakan penelitian pembelajaran berbicara dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) pada rumusan masalah yang berbeda.

Effisiensi kerja administrasi kantor pada pabrik gula Pajarakan Probolinggo / oleh Muktiari

 

Peningkatan kemampuan menggambar bentuk silindris melalui pendekatan cooperative learning model examples kelas VII B SMP Negeri 18 Malang / Sodikin

 

ABSTRAK Sodikin. 2009. Peningkatan Kemampuan Menggambar Bentuk Silindris melalui Pendekatan Cooperative Learning Model Examples Non Examples Kelas VII B di SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Iriaji, M.Pd. (II) Drs. Eko Budi Winarno. Kata kunci: Menggambar Bentuk Silindris, Cooperative Learning, Examples Non Examples, SMP. Penelitian ini dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa kemampuan siswa SMP Negeri 18 Malang dalam kegiatan menggambar bentuk silindris masih tergolong rendah. Rendahnya kemampuan tersebut terlihat dari hasil gambar siswa pada pembelajaran sebelumnya belum maksimal yang disebabkan oleh siswa yang sebagian besar belum memahami materi dan langkah-langkah menggambar bentuk silindris dengan baik. Oleh karena itu berdasarkan hasil refleksi dan diskusi dengan guru sejenis terhadap kondisi tersebut pemberian pengetahuan dengan pemberian materi gambar bentuk silindris melalui pendekatan cooperative learning model examples non examples diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menggambar pada siswa kelas VII B SMP Negeri 18 Malang. Pendekatan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Instrumen yang digunakan ialah lembar analisis aktivitas siswa, lembar penilaian unjuk kerja, lembar penilaian produk karya, dan lembar wawancara siswa. Pengumpulan datanya meliputi teknik Pengamatan/observasi, teknik Wawancara dan teknik Dokumentasi. Dengan subyek penelitian siswa kelas VII B SMP Negeri 18 Malang. Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa melalui pendekatan cooperative learning model pembelajaran examples non examples dalam proses pembelajaran dapat: (1) meningkatkan pemahaman tentang gambar bentuk silindris pada siswa kelas VII B SMP Negeri 18 Malang. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada siklus II yang mengalami peningkatan dari pelaksanaan siklus I, (2) meningkatkan aktifitas menggambar bentuk silindris pada siswa kelas VII B SMP Negeri 18 Malang. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi pada pada siklus II yang mengalami peningkatan dari siklus I, (3) meningkatkan kemampuan menggambar bentuk silindris pada siswa kelas VII B SMP Negeri 18 Malang. Hal ini dapat dilihat dari gambar siswa pada siklus II yang mengalami peningkatan dari pelaksanaan siklus I. Peningkatan kemampuan siswa menggambar bentuk silindris sebesar 7,88 poin atau 11,96 %, dan kenaikan jumlah siswa belajar tuntas sebesar 11 siswa atau 42,31 %. Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa melalui pendekatan cooperative learning model pembelajaran examples non examples dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam menggambar bentuk silindris. Sebagai implikasinya sebaiknya perlu dilakukan upaya peningkatan prestasi belajar seni rupa pada siswa melalui pendekatan cooperative learning model pembelajaran examples non examples. Dengan demikian melaui pendekatan cooperative learning model pembelajaran examples non examples akan mendorong terciptanya kondisi pembelajaran PAIKEM (Praktis, Aktif, Inovatif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).

Masalah organisasi intern" pada perusahaan daerah Pinda Tosana pabrik mesin dan kontruksi di Malang / oleh I Ketut Dunia"

 

Pembelajaran kooperatif tipe stad dengan pendekatan open-ended untuk meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan logika siswa kelas X-4 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Sofia Irwanti

 

ABSTRAK Irwanti, Sofia. 2009. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Pendekatan Open-Ended untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pokok Bahasan Logika Siswa Kelas X-4 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Indriyati Nurul Hidayah, S.Pd, M.Si., dan (II) Aning Wida Yanti, S.Si, M.Pd. Kata Kunci: pembelajaran kooperatif tipe STAD, pendekatan open-ended, hasil belajar matematika siswa Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006). Ketercapaian tujuan ini dapat diusahakan dengan mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa, salah satu pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan open-ended. Adapun keberhasilan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan open-ended yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan logika. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang pada bulan Maret sampai dengan Mei 2009 dalam 2 tahap, yaitu tahap pendahuluan dan tahap pelaksanaan. Tahap pelaksanaan dilaksanakan dalam 2siklus dan masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Peningkatan hasil belajar matematika siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan (1) peningkatan rata-rata skor tes akhir siklus I (pretes adalah 50,03 siklus I adalah 72,09), (2) peningkatan rata-rata skor tes akhir siklus II (siklus I adalah 72,09 dan siklus II adalah 82,27), (3) banyak siswa yang tuntas belajar pada siklus II adalah 78,78% ≥ 70%, (4) peningkatan rata-rata nilai kelompok (siklus I adalah 83,24 dan siklus II adalah 77,56), dan (5) peningkatan nilai rata-rata persentase skor hasil observasi aktivitas siswa dalam kelompok (siklus I adalah 65,75% termasuk pada kategori “Cukup” sedangkan siklus II 78,93% termasuk pada kategori “Baik”). Dalam penelitian ini, penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan open-ended yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan logika siswa Kelas X-4 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah diawali dengan presentasi kelas oleh guru dengan memberikan ppertanyaan open-ended kepada siswa, kerja kelompok menyelesaikan Lembar Kerja Kelompok yang memuat soal open-ended, presentasi kelompok, diskusi kelas dengan tanya jawab menuju kesimpulan, mengadakan tes akhir siklus, pemberian penghargaan kelompok.

Fungsi staffing pada P.G. Kebon Agung Malang / oleh Suhud Wasiono

 

Peranan koordinasi pada P.N. Pos dan Giro Malang / oleh I Ketut Sudarma

 

Membangun local area network dengan security windows server 2008 di UPT SDN Bangilan Pasuruan / Muhammad Dwi Rahmadi

 

Memanajemen data untuk kegiatan administrasi sekolah dan pembelajaran siswa di UPT SDN Bangilan Pasuruan diperlukan agar proses administrasi dan pembelajaran di sekolah menjadi teratur, maka dibangun jaringan komputer yang berbasis Network Attached Storage server di ruang tata usaha dan laboratorium komputer. NAS server yang dibangun dengan menggunakan sistem operasi FreeNAS ini bertujuan untuk meningkatkan manajemen data supaya data menjadi teratur dan efisien. Dalam pembangunan sistem jaringan ini dibahas lebih rinci mengenai memanajemen data secara teratur dan efisien dengan menggunakan FreeNAS yang berbasis NAS server. Langkah pertama menginstal PC NAS server dengan sistem operasi FreeNAS, lalu konfigurasi dasar FreeNAS dengan memberikan alamat IP pada PC NAS server. Setelah itu konfigurasi NAS server yang meliputi penambahan disk, penambahan mount point disk, enable service CIFS/SMB, serta penambahan data share dan user management. Kemudian yang terakhir konfigurasi Rsync server dan DeltaCopy Client. Untuk mengetahui apakah sistem jaringan yang dibangun dapat berjalan sesuai dengan rancangan, maka dilakukan pengujian sistem operasi pada PC, uji TCP/IP, uji jaringan dengan cara ping untuk tes konektifitas yang meliputi uji jaringan lokal yaitu antar PC dalam satu jaringan, uji kerja router dengan tes konektifitas PC antar ruangan yang berbeda jaringan, uji jaringan NAS server dan uji jaringan internet dengan cara browsing ke internet . Kemudian yang terakhir yaitu pengujian NAS server dengan uji security dan user management pada FreeNAS dengan access list atau login member, serta uji backup data dengan layanan DeltaCopy Client. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah PC NAS server telah berfungsi dengan baik yang ditunjukkan dalam pengaksesan direktori di dalam NAS server diperlukan login member untuk menjaga keamanan data, proses pengkopian atau backup data dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya kerusakan pada file atau data yang dicopy.

Fungsi PKPN dalam rangka meninggikan tingkat usaha para anggotanya / oleh Machijin Udin

 

Tinjauan organisasi pada koperasi Petermas Gondanglegi - Malang Selatan
oleh Mu Indah Suwarni

 

Peningkatan pemahaman nilai moral melalui pembelajaran PKN berbasis VCT (Value Clarification Technique) pada siswa kelas III SDN Sukorejo 2 Kota Blitar / Lilik Nurkholidah

 

ABSTRAK Nurkholidah, Lilik. 2009. Peningkatan Pemahaman Nilai Moral Melalui Pembelajaran PKN Berbasis VCT (Value Clarification Technique) pada Siswa Kelas III SDN Sukorejo 2 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Widayati, (II) Drs. Sunyoto, S.Pd. M.Si. Kata kunci: PKn, VCT (Value Clarification Technique), Meningkatkan Pemahaman Nilai Moral. Pembelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang lebih identik dengan pembentukan sikap dan nilai moral. Tidak semua model pembelajaran dapat diterapkan dalam pembentukan sikap dan nilai moral. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembentukan sikap dan nilai moral Value Clarification Technique (VCT) yaitu tehnik mengklasifikasikan nilai (TMN). VCT merupakan suatu model pendekatan sarana belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai dan moral atau pendidikan afektif. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran berbasis VCT dengan permainan kotak ajaib dalam pelajaran PKn dapat meningkatkan pemahaman nilai moral siswa Kelas III SDN Sukorejo 2 Kec. Sukorejo Kota Blitar, (2) untuk mengetahui peningkatan pemahaman nilai moral siswa Kelas III SDN Sukorejo 2 Kec. Sukorejo Kota Blitar dengan penerapan model pembelajaran berbasis VCT dengan permainan kotak ajaib dalam pelajaran PKn. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan Penelitin Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Instrumen yang digunakan adalah (a) observasi, (b) angket, (c) pedoman wawancara, (d) tes. Hasil peneliti ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berbasis VCT (Value Clarification Technique) dapat meningkatkan pemahaman nilai moral siswa, yaitu dari rerata skor 57 dengan daya serap klasikal 11,8 % pada pra tindakan, dan setelah diadakan siklus 1 rerata meningkat menjadi 62 dan dengan daya serap klasikal 35,2%. Jumlah tersebut mengalami peningkatan lagi dari siklus 2 yaitu rerata 68 dan dengan daya serap klasikal 70,6 %. Kesimpulan (1) penggunaan model pembelajaran VCT dapat meningkatkan pemahaman nilai moral siswa mata pelajaran PKn Kelas III SDN Sukorejo 2 Kota Blitar, (2) Peningkatan pemahaman nilai moral pada pembelajaran PKn diperoleh dari penilaian proses pembelajaran dan hasil tes evaluasi.

Sejarah dan komflik ritual Manten Kucing di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung / Wisnu Aji Dwicahyono

 

Kata kunci: ritual manten kucing, konflik, Desa Pelem Penelitian tentang konflik yang terjadi pada ritual manten kucing ini dilakukan untuk mengungkapkan terjadinya kecaman MUI Kabupaten Tulungagung terhadap ritual manten kucing pada tahun 2010 lalu. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui sejarah ritual manten kucing di Desa Pelem. (2) untuk mengetahui perkembangan dan konflik yang terjadi pada ritual manten kucing. (3) untuk mengetahui relevansi hasil penelitian ritual manten kucing dengan pendidikan sejarah. Metode penelitian yang yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang meliputi beberapa tahap yaitu Pemilihan topik, Heuristik, Verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), Interpretasi (analisis dan sintesis), Historiografi (penulisan). Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapat oleh peneliti dapat dijabarkan sebagai berikut (1) ritual manten kucing dimulai saat terjadi kemarau panjang yang melanda Desa Pelem pada zaman Belanda (belum diketahui secara pasti tahun kejadian tersebut). Pada saat yang sama seorang sesepuh Desa bernama Eyang Sangkrah mandi bersama sepasang kucing di coban krama yang dianggap membuat turunnya hujan. Pada saat itu belum dikenal istilah ritual karena belum ada tata cara tertentu pada peristiwa tersebut. Istilah ritual baru muncul pada masa Demang Sutomedjo yang mendapatkan wangsit untuk melaksanakan ritual memandikan kucing di coban krama pada saat terjadinya kemarau panjang. Ritual ini kemudian diteruskan oleh anak-anaknya yaitu Lurah Suwardi dan Bapak Djani. Perkembangan yang pesat terjadi saat manten kucing pada masa Kepala Desa Pelem saat ini yaitu Bapak Nugroho Agus. Pada masa ini ritual manten kucing dilaksanakan dalam bentuk kesenian dengan tujuan untuk melestarikan ritual manten kucing. (2) Pada saat dilaksanakan dalam bentuk seni, ritual manten kucing mendapatkan kecaman dari MUI Kabupaten Tulungagung karena dianggap sebagai ritual yang melecehkan agama Islam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ritual manten kucing merupakan sebuah ritual minta hujan dari Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung yang telah berkembang dalam bentuk kesenian dan pernah mendapat kecaman MUI pada tahun 2010. Berdasarkan temuan data di atas maka peneliti memberikan beberapa saran yaitu: (1) Masyarakat Desa Pelem harus tetap melestarikan ritual minta hujan tersebut. (2) Masyarakat Tulungagung harus lebih mengenal ritual manten kucing sehingga tidak salah paham dalam mengartikan ritual tersebut. (3) Pemerintah Kabupaten Tulungagung dalam hal ini Disbudparpora harus tetap memiliki inisiatif dalam melestarikan ritual manten kucing. (4) Peneliti selanjutnya dianjurkan untuk meneliti makna pada ritual manten kucing.

Organisasi intern perusahaan pada P.N. Industri Sandang Patal Lawang
oleh Sutikno Mz.

 

Penerapan kolaborasi model pembelajaran number head together dengan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran surat menyurat (Studi siswa pada administrasi perkantoran kelas X SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Devita

 

ABSTRAK Cahyaningtias, Devita. 2010. Penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran Numbered Head Together Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Surat Menyurat (Studi Pada Siswa Administrasi Perkantoran Kelas X SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M; (II) Imam Buchori S.Pd., M.M Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Numbered Head Together (NHT), Problem Based Learning (PBL), Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar karena siswa dituntut untuk bertanggung jawab pada proses belajarnya, terlibat aktif serta memiliki usaha yang besar untuk berprestasi. Siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompoknya yang heterogen. Pembelajaran kooperatif mendorong peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, karena siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan masalah terhadap materi pelajaran yang dihadapi. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Model pembelajaran Numbered Head Together adalah pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Model pembelajaran Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa diajak untuk bisa memecahkan suatu masalah yang ada didunia nyata dengan pelajaran yang ada di sekolah. Fokus penelitian yang diambil yaitu (1) Bagaimana penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Surat Menyurat, (2) Apakah kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Surat Menyurat, dan (3) Bagaimana respon siswa terhadap penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Surat Menyurat. Tujuan pada penelitian ini berdasarkan fokus penelitian yaitu untuk mengetahui penerapan, hasil belajar dan repon siswa terhadap kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Surat Menyurat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang yang ii berjumlah 33 siswa. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang ditinjau dari aktivitas belajar siswa (aspek afektif), aspek kognitif dan aspek psikomotorik pada setiap siklusnya. Selain itu juga penelitian ini menunjukkan adanya respon siswa terhadap penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan bagi guru mata pelajaran Surat Menyurat atau guru mata pelajaran lainnya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi siswa hendaknya selalu mengikuti pembelajaran dengan baik karena dapat melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dapat memecahkan suatu permasalahan (studi kasus) dan dapat meningkatkan hasil belajar.

Pengawasan produksi di PT. Industri Marmer Indonesia Tulungagung ( Persero ) / oleh Soehartanto

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran think pair square terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi / Fetania Eka Susanti

 

ABSTRAK Susanti,Fetania Eka. 2010. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif dengan Model Pembelajaran Think Pair Square Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Sugeng. S.E, M.A, M.M, Ak (II) Dr. Nurika Restuningdiah. S.E, M.Si, Ak. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Think Pair Square (TPS), Hasil Belajar Metode pembelajaran memiliki peranan yang penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan salah satu metode pembelajaran mempunyai relevansi terhadap kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa. Metode pembelajaran yang selama ini digunakan adalah metode pembelajaran konvensional, dimana metode ini masih kurang mampu untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Metode konvensional cenderung tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa tidak termotivasi untuk mengikuti aktivitas pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang berorientasi pada siswa adalah metode pembelajaran kooperatif model think pair square yang mana metode ini mampu untuk mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model think pair square dengan siswa yang diajar dengan metobe konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMAN 1 Sooko Mojokerto tahun ajaran 2009/2010. Sedangkan sampel yang diambil adalah siswa kelas XI IPS 4 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis uji beda (t-test). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar secara signifikan antara siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model think pair square dengan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional. Penerapan model pembelajaran kooperatif model think pair square lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar metode pembelajaran kooperatif model think pair square dijadikan salah satu alternatif pilihan bagi guru bidang studi akuntansi atau guru bidang studi lainnya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, dengan menggunakanpopulasi yang lebih luas atau menambah variabel dalam penelitian.

Beberapa faktor yang mendorong kelangsungan hidup koperasi peternakan / pemerahan susu sapi S.A.E. di Pujon / oleh Sudarno

 

Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang pada mata pelajaran ekonomi / Yuana Rohmawati

 

ABSTRAK Rohmawati, Yuana. 2010. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Malang Pada Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universiras Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si, (II) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata kunci: pembelajaran kooperatif, TGT (Teams Games Tournament), hasil belajar. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting menciptakan kehidupan bangsa yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, sehingga diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Kebanyakan guru ekonomi menggunakan metode pembelajaran yang masih konvensional, yaitu dengan ceramah dan pemberian tugas. Metode pembelajaran tersebut membuat siswa cenderung pasif dan cepat bosan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya tertentu yang dapat melibatkan siswa secara aktif, sehingga hasil belajar siswa juga meningkat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan cara merubah paradigma pembelajaran, dari pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang pada mata pelajaran Ekonomi, (2)Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang pada mata pelajaran Ekonomi setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian maka penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan analisis pendekatan induktif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Alat pengumpulan data menggunakan soal tes, lembar catatan lapangan, dan angket. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-5 SMA Negeri 8 Malang tahun ajaran 2009/2010. Hasil belajar ekonomi siswa mengalami peningkatan dimana siklus pertama ketuntasan belajarnya sebesar 77% dan pada siklus kedua menjadi sebesar 86%. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) yaitu: (1) Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terdiri dari 5 tahap, yaitu penyampaian materi, kerja kelompok, game, turnamen, dan penghargaan kelompok. Dalam menerapkan pembelajaran tipe TGT, dilakukan observasi / pengamatan terhadap aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran. (2)Penerapan Metode Pembelajaran Koopratif Tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang pada mata pelajaran Ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian di atas, beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu : (1) Guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 8 Malang, disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) pada materi pelajaran yang lain dikarenakan siswa memberikan respon positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). (2) Guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 8 Malang, disarankan untuk sering memberikan tugas, sehingga dapat meningkatkan kerajinan dan kedisiplinan siswa dalam menyelesaikan tugas.(3) Dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efesien.

Metode mengajar ilmu ekonomi dan koperasi di STN III integrasi SMP di Kodya Blitar / oleh Lindartiningsih

 

Evaluasi kinerja guru ekonomi yang sudah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Bojonegoro / Dewi Wahyu Utami

 

i ABSTRAK Utami, Dewi Wahyu. 2009. Evaluasi Kinerja Guru Ekonomi Yang Sudah Lulus Program Sertifikasi Guru di Kabupaten Bojonegoro. (1). Dr. Sri Umi Mintarti W, S.E, M.P, Ak. (2). Dr. Imam Mukhlis, S.E, M.Si Kata Kunci : Kinerja Guru, Sertifikasi Guru Dalam dunia pendidikan guru memiliki peranan yang sangat penting. Guru yang sangat menentukan keberhasilan peserta didik terutama yang ada kaitannya dengan proses belajar mengajar. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar mengajar. Namun demikian posisi strategis guru sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional guru dan mutu kerjanya. Oleh karena itu perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Karena keberadaan guru yang bermutu yakni guru yang profesional menghadirkan sistem pendidikan yang berkualitas, maka salah satu kebijakan pemerintah dengan melaksanakan program sertifikasi guru dan uji kompetensi secara berkala agar kinerja guru terus meningkat dan tetap memenuhi syarat profesional. Sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sertifikasi pendidik dimaksudkan sebagai kontrol suatu hasil pendidikan, sehingga seorang guru yang sudah lulus program sertifikasi diyakini mampu melaksanakan tugas pendidik, mengajar, melatih, membimbing, dan menilai hasil belajar peserta didik. Dengan dilaksanakannya sertifikasi agar kinerja guru terus meningkat dan tetap memenuhi syarat profesional. Kinerja guru dapat dilihat dari 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi pedagogik; (3) kompetensi profesional; (4) kompetensi sosial. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Variabel dalam penelitian ini adalah kinerja guru. Populasi dalam penelitian ini adalah guru ekonomi SMA yang sudah lulus program sertifikasi guru di kabupaten Bojonegoro pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 yang berjumlah 31 orang. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah, siswa, guru atau teman sejawat dan orang tua/wali murid. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode angket, wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kinerja guru ekonomi SMA yang sudah lulus program sertifikasi guru di kabupaten Bojonegoro adalah sangat baik. i ii Hal ini terbukti dari 52% atau 16 orang guru memiliki kinerja yang sangat baik dan 48% atau 15 orang guru memiliki kinerja yang baik. Kinerja guru ekonomi pada kompetensi kepribadian adalah sangat baik yaitu 64,5% atau 20 orang guru dari 31 guru. Kinerja guru ekonomi pada kompetensi pedagogik adalah baik yaitu87,1% atau 27 guru dari 31 guru. Kinerja guru ekonomi pada kompetensi profesional adalah baik yaitu80,6% atau 25 guru dari 31 orang guru. Kinerja guru ekonomi pada kompetensi sosial adalah baik yaitu 93,5% atau 29 dari 31 orang guru. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada para guru ekonomi SMA yang sudah lulus program sertifikasi guru untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya dalam dunia pendidikan, sehingga tujuan sertifikasi guru untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan dapat tercapai. Berbagi program untuk meningkatkan kinerja guru hendaknya harus tetap dilakukan oleh pihak terkait dan tidak berhenti begitu saja ketika guru sudah mendapatkan sertifikat pendidik. Guru harus tetap membekali diri dengan berbagai program peningkatan pendidikan seperti pelatihan dan seminar yang bermanfaat untuk menambah wawasan di dunia pendidikan.

Peranan B.U.U.D. di Desa Wlingi dalam usaha membantu petani setempat meningkatkan produksi beras / oleh Prini Utami

 

Persepsi siswa kelas IX SMP Negeri 1 Malang terhadap pelaksanaan evaluasi psikomotor pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan / Erik Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Erik.2009. Persepsi Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Malang Terhadap Pelaksanaan Evaluasi Psikomotor Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. M.E. Winarno, M.Pd (II) Drs. Lokananta Teguh HW, M.Kes Kata kunci : evaluasi pembelajaran, aspek psikomotorik, kognitif, afektif. Berdasar pada kenyataan nilai rapor di SMP Negeri 1 Malang, bahwasanya persentase terbanyak terdapat pada skor 70. Persentase terbesar pada skor-skor tersebut diperoleh siswa dari berbagai aspek penilaian dalam pelaksanaan evaluasi utamanya evaluasi yang berkaitan dengan aspek penting yang menjadi penilaian dalam Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan yaitu aspek psikomotor. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kenyataan dan aspek utama yang dinilai dalam Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Sebagaimana kita ketahui bersama di SMP Negeri 1 Malang dengan keadaan siswa yang rata-rata memiliki tingkat penguasaan kognitif yang cukup tinggi ditambah dengan aspek psikomotor yang menjadi aspek yang paling dominan didalam penilaian, seharusnya nilai rapor yang mereka peroleh lebih baik dan berada diatas SKM (Standar Kelulusan Minimal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji bagaimanakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Malang Jalan Lawu no. 12 Malang, dan waktu penelitiannya adalah pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2009. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Malang yang berjumlah 135 orang. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen angket. Angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket terstruktur berbentuk terbuka karena instrumen tersebut untuk mendapatkan data tentang Persepsi Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Malang Terhadap Pelaksanaan Evaluasi Psikomotor Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan dan analisis data yang digunakan adalah teknik analisis persentase. Hasil penelitian pelaksanaan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa untuk aspek psikomotor: kebugaran jasmani dan keterampilan cabang olahraga. Aspek kebugaran jasmani, aspek kelincahan tes shuttle run 80,74%, aspek kekuatan tes sit up 100%, aspek kecepatan tes lari 60 meter 54,07%, aspek daya tahan otot tes daya tahan otot dan bahu 81,48%, aspek daya tahan jantung dan paru-paru tes lari 12 menit 85,92%, aspek keterampilan cabang olahraga sepak bola tes menggiring bola 96,29%, basket tes melempar dan menangkap bola, tes menggiring bola 97,04%, bolavoli tes pasing atas dan pasing bawah 97,04%, renang 0%, atletik 97,77%, senam irama tanpa alat tes senam pagi 10,37%, aspek perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan dilingkungan sekolah materi P3K 22,22%, dan budaya hidup sehat materi pengenalan penyakit menular seksual (PMS) 90,37. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk aspek pelaksanaan evaluasi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk aspek psikomotor secara umum cukup baik. Aspek kebugaran jasmani (kelincahan tes zig-zag run 80,74%, kekuatan tes sit up 100%, kecepatan tes lari 60 meter, daya tahan otot tes daya tahan otot dan bahu 81,48%, daya tahan jantung dan paru-paru tes lari 12 menit 85,92%. Aspek keterampilan cabang olahraga, sepakbola tes menendang bola 94,07%, basket tes melempar dan menangkap bola 97,04%, bolavoli tes pasing atas dan pasing bawah 97,04%, renang 0%, atletik tes lari jarak pendek 97,77%, senam irama tanpa alat tes senam pagi 10,37%, perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan dilingkungan sekolah P3K 22,22%, dan budaya hidup sehat pengenalan Penyakit Menular Seksual (PMS). Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dalam melaksanakan evaluasi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan hendaknya meningkatkan lagi pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan aspek kebugaran jasmani (kecepatan 5,07%) dan aspek keterampilan cabang olahraga (renang 0%, senam irama tanpa alat 10,37%, dan perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan dilingkungan sekolah 22,22%).

Pengaruh penggunaan media audio visual pada pembelajaran materi larutan penyangga dengan strategi problem posing terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas XI MAN 2 Kota Batu / Sukma Rosyida

 

ABSTRAK Rosyida, Sukma. 2015. Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual padaPembelajaranMateriLarutanPenyanggadenganStrategi Problem Posing terhadap MotivasiBelajar dan HasilBelajar Siswa Kelas XI MAN 2 Kota Batu. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si, (2) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si. Kata Kunci:media audio visual,Problem Posing, motivasi belajar, hasil belajar, larutan penyangga. Larutan penyangga memuat konsep faktual dan konsep-konsep abstrak yang mayoritas siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi. Hal tersebut dikarenakan metode konvensional lebih banyak diterapkan sehingga pemahaman siswa rendah. Paradigma pembelajaran konstruktivisme dimana proses pembelajaran berpusat pada siswamengharuskan siswa untuk diberi kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya secara mandiri. Hal itu dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran Problem Posing. Selain itu pemahaman materi larutan penyangga yang mencakup aspek makroskopik, submikroskopik, dan simbolik secara utuh membutuhkan alat bantu yang mampu menjelaskan tiga aspek tersebut salah satunya adalah dengan media audio visual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan motivasibelajardanhasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan menggunakan media audio visual padapembelajaranmaterilarutanpenyanggadenganstrategi Problem Posing dengan siswa yang dibelajarkandengan strategi Problem Posing tanpa menggunakan media audio visual pada pembelajaranmateri larutan penyangga. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasy experimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MAN 2 Kota Batu. Sampel penelitian adalah kelas XI IPA 3 dan XI IPA 4 yang ditentukan secara purposiverandom samplingdengannilaisignifikansi 0,217. Pada kelas kontrol dibelajarkan dengan Problem Posingtanpamenggunakan media audio visual, sedangkan kelas eksperimen dibelajarkan dengan Problem Posingmenggunakan media audio visual. Instrumen yang digunakan adalah instrumen perlakuan berupa silabus, RPP, LKS beserta rubrik penilaian, dan instrumen pengukuran berupa tes kemampuan kognitif yang terdiri dari 25 butir soal dan angket motivasi belajar. Hasilvalidasiuntuksemuainstrumenperlakuanmemenuhikriteriabaiksedangkanangketmotivasimemenuhikriteriasangatbaik. Analisis data motivasi belajar dan hasil belajar dilakukan menggunakan uji-U Mann Whitney dengan bantuan program SPSS 21.0 forWindows pada taraf signifikansi 0,5. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa (1) Terdapat perbedaanmotivasi belajarsiswa yang dibelajarkan dengan strategi Problem Posingmenggunakan media audio visual padamaterilarutanpenyangga. Siswa yang dibelajarkan dengan strategi Problem Posingmenggunakan media audio visual memperoleh rata-rata motivasibelajarsebesar 79,8 (kriteriatermotivasi)lebihtinggidibandingsiswa yang dibelajarkandenganProblem Posingtanpamenggunakan media audio visual dengan rata-rata motivasibelajarsebesar72,6 (kriteriatermotivasi). (2) Terdapatperbedaanhasilbelajar kognitifantarasiswa yang dibelajarkan dengan Problem Posingmenggunakan media audio visualdengan rata-rata hasilbelajarkognitifsebesar 74,2 (kriteriacukup), lebihtinggidibandingkandenganrata-ratahasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan Problem Posingtanpamenggunakan media audio visual yaitu 58,6 (kriteriakurang).

Penerapan aplikasi batik Madura pada pembuatan busana pesta "Romantic Maduran's Gown" / oleh Annisau Nafiah

 

Kebutuhan akan koperasi kredit di Desa Kauman-Sumoroto / oleh Moch. Sjamsudin

 

Indonesian-English code swtching found in chatting language used by Indonesian chatters in Yahoo messenger (YM) chatting channel / Jami'atul Choiriyah

 

ABSTRACT Choiriyah, Jami’atul. 2009. Indonesian-English Code Switching Found in Chatting Language Used by Indonesian Chatters in Yahoo Messenger (YM) Chatting Channel. S-1 Thesis. English Department, State University of Malang, advisor: Aulia Appriana, S.S., M.Pd Keywords: chatting, Yahoo Messenger, Indonesian chatters, code switching This study is aimed at investigating the use of code switching used by Indonesian chatters in chatting language especially in Yahoo Messenger (YM) chatting channel. There are three research problems in this study, that are; 1) what are the types of code switching used by Indonesian chatters in chatting language in Yahoo Messenger (YM) chatting channel?, 2) what are the possible reasons why Indonesian chatters switch their language when they chat in Yahoo Messenger (YM) chatting channel?, and 3) what are the factors that influence Indonesian chatters switch their language when they chat in Yahoo Messenger (YM) chatting channel? Writing conversation in Yahoo Messenger is basically medium of verbal communication. It is open for linguistic analysis and the use of language switched from Bahasa Indonesia into English and the other way around is the most linguistic feature found in chatting conversation. In the preliminary observation the researcher found the phenomenon of code switching in chatting language. The research design of this study is descriptive qualitative and the source of the data of this research is the chatting conversation, in the form of writing written by Indonesian chatters in the Yahoo Messenger (YM) chatting channel. The chatting conversation done by Indonesian chatters whose age between 17-25 years, with various educational backgrounds. The data are taken from April 30, 2009 until May 15, 2009 The result shows that there are 5 five types of code switching which are used by Indonesian chatters when they chat in Yahoo Messenger (YM) chatting channel. They are: 1) intra-sentential code switching (64, 74%), 2) inter-sentential code switching (13, 64%), 3) emblematic code switching (11, 36%), 4) changing pronunciation (7, 95%), and 5) continuing the previous speaker (2, 27%). Intra sentential code switching happened in the form of a word within sentence (39, 78%), noun phrase (9, 09 %), verb phrase (3, 40%), adjective phrase (1, 13%), an independent clauses (4, 54%), question (3, 40%), and tag question (3, 40%). There are eight out of ten possible reasons of code switching why Indonesian chatters switch their language when they chat in Yahoo Messenger (YM) chatting channel based on the theory. They are: 1) talking about a particular topic (9, 68%), 2) quote somebody else (3,22%), 3) being empathy about something (1, 61%), 4) inserting sentence fillers of connectors (22, 58%), 5) using repetition used for clarification (8, 06%), 6) showing group identity (1,61%), 7) softening request and command (12, 90%), and 8) being aware of real lexical need (12, 90%). There is one reason that found in this research based on the previous research, that is presenting term address (3, 22%). Beside that there are three new factors found in this research that are: 1) showing apology (12, 90%), 2) showing greeting (12, 90%), and 3) showing parting (4, 84%). There are two other reason of code switching based on the theory did not occur in this study. They are intention of clarifying the speech content for interlocutor and intention to exclude other people. There are five factors of code switching that influence Indonesian chatters switch their language when they chat in Yahoo Messenger (YM) chatting channel. They are: 1) topic of the conversation (17, 97%), 2) the participants (24, 72%), 3) the setting 25, 84%), 4) effectiveness of the message (22, 84%), and 5) economic consideration (efficiency in time) (8, 99%). From the result above, it’s obvious that the Indonesian chatters employ code switching in their conversation when they chat. It can be seen that they use various types of code switching, the reasons of code switching, and also the factor of code switching. In short, we can conclude that the Indonesian chatters employed de switching when they chat. It can be seen that they use various types and reason of code switching which also influenced by some of factors of code switching.

Alat peraga dalam pengajaran IPS sub bidang study geografi di SMP Negeri wilayah Wlingi / oleh Muslimin

 

Pelaksanaan pemberian kredit PT Bank Pasar Tri Karya Malang kepada pengusaha/pedagang kecil
oleh Endang Susilowati

 

Permodalan pada PKPN Kabupaten Tulungagung / oleh Setiti

 

Urgensinya komunikasi dalam pelaksanaan keluarga berencana di Desa Ketawang Gede Kecamatan Klojen Kota Madya Malang / oleh Sumiarti Dul

 

Peranan mata pelajaran ekonomi di sekolah lanjutan dalam masa pembangunan / oleh Muhammad Aini

 

Membangun management bandwidth menggunakan PC router mikrotik di SMK PGRI 4 kota Pasuruan / Citra Diana

 

Sejalan dengan kemajuan dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terutama dalam bidang jaringan komputer maka menuntut lembaga pendidikan terutama sekolah, yakni SMK PGRI 4 Pasuruan dalam membangun sebuah Laboratorium TIK yang dilengkapi dengan internet agar dapat diakses oleh guru dan siswa untuk mendapat informasi yang update, cepat dan akurat. Akan tetapi kebebasan dalam memakai internet untuk download dan upload di laboratorium terkadang digunakan siswa untuk hal-hal yang kurang berguna dalam lingkungan pendidikan misalnya men-download film atau lagu. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan suatu sistem mangement bandwidth untuk mengatur pemakaian bandwidth di tiap-tiap user laboratorium agar penggunaan bandwidth dapat optimal sesuai dengan porsi dan kebutuhan masing-masing client dengan pembatasan download maupun upload. Salah satu perangkat yang dapat memanajemen bandwidth adalah Router. Personal computer (PC) router berbasis mikrotik merupakan alternatif untuk menekan biaya pembelian router pabrikan yang harganya masih mahal. Mikrotik sebagai sistem operasi karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu lisensinya murah, tidak membutuhkan spesifikasi hardware yang besar, instalasi tidak rumit dan administrasinya mudah. PC router mikrotik mempunyai beberapa menu, salah satunya adalah management bandwidth internet. Dalam pembangunan jaringan ini penulis membahas lebih rinci bagaimana me-management bandwidth menggunakan mikrotik. Langkah pertama dengan membangun jaringan LAN, instalasi jaringan LAN, pengaturan jaringan LAN, instalasi mikrotik pada PC router, dan pengaturan PC router mikrotik. Langkah kedua adalah mengkonfigurasi PC router pada menu queue agar diperoleh management bandwidth dengan batasan download 64 kbps dan upload 32 kbps pada setiap komputer client di laboratorium TIK dan konfigurasi monitoring trafik penggunan internet. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sistem management bandwidth menggunakan queue membatasi bandwidth internet download 64 kbps dan Upload 32 kbps setiap komputer client di laboratorium TIK tidak melebihi batas yang ditentukan. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut perlu dilakukan upgrade mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router Mikrotik.

Metode mengajar ilmu ekonomi di SMA Negeri III Madiun / oleh Upik Supriyati

 

Pengaruh perputsran piutang dan pesedian terhadap harga saham melalui profitabilitas (Studi pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI tahun 2005-2007) / Fathul Alim

 

ABSTRAK Alim, Fathul. 2009. Pengaruh Perputaran Piutang dan Persediaan terhadap Harga Saham melalui Profitabilitas (studi pada perusahaan Food and Beverages yang listing di BEI tahun 2005-2007). Skripsi, Jurusan Manajemen, Konsentrasi Keuangan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. M. Hari, M.Si (2) Subagyo, S.E., S.H., M.M. Kata Kunci: Pengaruh, Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Profitabilitas (ROE), dan Harga Saham. Tujuan perusahaan secara umum yaitu mencapai tingkat laba yang optimal. Diukur dengan profitabilitas. Banyak variabel yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya profitabilitas, diantaranya yaitu perputaran piutang dan perputaran persediaan. Kedua perputaran modal kerja ini dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Semakin cepat perputaranya, maka profitabilitas perusahaan juga semakin baik. Selain mencapai tingkat laba optimal, tugas lain perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas investasinya. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan di masa mendatang maka banyak investor yang akan menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut, sehingga harga saham naik (tinggi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung dan tidak langsung pengaruh perputaran piutang dan persediaan terhadap harga saham melalui profitabilitas pada perusahaan Food and Beverages yang listing di BEI tahun 2005-2007. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perputaran piutang, perputaran persediaan, dan profitabilitas. Sementara itu, variabel terikat adalah harga saham. Penelitiaan ini merupakan penelitian yang menggunakan teknik purposive sampling dan teknik analisisnya menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel perputaran piutang dan perputaran persediaan, secara simultan berpengaruh terhadap harga saham melalui profitabilitas (ROE). Secara parsial variabel perputaran piutang berpengaruh terhadap harga saham dan profitabilitas (ROE) berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap harga saham, dan perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap profitabilitas (ROE). Dari hasil tersebut, disarankan bagi manajemen perusahaan agar lebih memperhatikan kegiatan operasional perusahaan sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan. Sedangkan para investor disarankan untuk melihat segala aspek baik internal maupun eksternal sebelum menanamkan dananya utuk membeli saham. Peneliti selanjutnya supaya menambah variabel dan periode pengamatan, sehingga hasil penelitian dapat lebih baik lagi.

Pengaruh transmigrasi terhadap pembangunan masyarakat desa di Kemloko / oleh Sunariasih

 

Pengaruh keterlibatan kerja terhadap komitmen oragnisasi meluli kepuasan kerja (Studi kasus pada karyawan PT. BPR Nusamba Wlingi) / Astri Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Astri. 2009.Pengaruh Keterlibatan Kerja Terhadap Komitmen Organisasi Melalui Kepuasan Kerja. Skripsi, Jurusan S-1 Manajemen, Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M. Si, (II) Drs. Mugianto, S. E., M. Si. Kata Kunci : Keterlibatan Kerja, Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja Sumber Daya Manusia perlu dikelola secara mendalam agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan karyawan dengan tuntutan dan kemampuan perusahaan. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama agar perusahaan dapat berkembang secara produktif. Tanpa sumber daya manusia suatu organisasi tidak akan dapat menjalankan kegiatannya. Untuk itu masalah sumber daya manusia ini harus diperhatikan dengan baik oleh organisasi. Salah satunya adalah masalah kepuasan kerja. Keterlibatan kerja, akan mempengaruhi tingkat absensi, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi. Karyawan yang puas cenderung memiliki tingkat komitmen organisasi yang baik. Komitmen organisasi akan menimbulkan identifikasi, keterlibatan dan loyalitas karyawan pada organisasi sehingga organisasi akan mendapatkan hal-hal positif dari karyawan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keterlibatan kerja adalah kepuasan kerja. Penelitian ini dilakukan di PT. BPR Nusamba Wlingi. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui: (1) Kondisi deskriptif keterlibatan kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasi pada karyawan PT. BPR Nusamba Wlingi, (2) Pengaruh secara langsung dan signifikan keterlibatan kerja terhadap kepuasan kerja pada karyawan PT. BPR Nusamba Wlingi, (3) Pengaruh secara langsung dan signifikan keterlibatan kerja terhadap komitmen organisasi pada karyawan PT. BPR Nusamba wlingi, (4) Pengaruh secara langsung dan signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi pada karyawan PT. BPR Nusamba Wlingi, (5) pengaruh keterlibatan kerja terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja pada karyawan PT. BPR Nusamba Wlingi. Populasi dari penelitian ini adalah sebanyak 55 orang karyawan dengan sampel yang diambil sebanyak 35 orang terbatas pada karyawan tetap. Hasil perhitungan dari penelitian ini diperoleh dengan menggunakan dua metode yaitu analisis deskriptif dan analisis jalur. Berdasarkan uji t menunjukkan bahwa variabel keterlibatan kerja (X) secara statistik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan (Z). Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung 7,446 dengan tingkat Sig.t 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak. Artinya hipotesis pertama (H1) yang menyatakan “ada pengaruh keterlibatan kerja terhadap kepuasan kerja karyawan secara langsung” dapat dibuktikan kebenarannya sehingga hipotesis tersebut dapat diterima. Tingkat keberartian pengaruh variabel keterlibatan kerja terhadap variabel komitmen organisasi secara statistik diuji dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil uji t, variabel keterlibatan kerja (X) secara statistik memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi (Y). Hal ini terlihat dari nilai t hitung sebesar 0,766 > t tabel sebesar 1,6924 dengan nilai sig.t 0,000 < 0,05. Dengan demikian secara statistik Ho ditolak artinya hipotesis ke dua (H2) yang menyatakan “ada pengaruh keterlibatan kerja terhadap komitmen organisasi secara langsung” dapat dibuktikan kebenarannya, untuk itu hipotesis tersebut dapat diterima. Tingkat keberartian pengaruh variabel keterlibatan kerja terhadap variabel komitmen organisasi secara statistik diuji dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil uji t, variabel kepuasan kerja (Z) secara statistik memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi. Hal ini terlihat dari nilai t hitung sebesar 2,896 > t tabel sebesar 1,6924 dengan nilai Sig.t 0,007 < 0,05. Dengan demikian secara statistik Ho ditolak artinya hipotesis ke tiga (H3) yang menyatakan “ada pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi secara langsung” dapat dibuktikan kebenarannya, untuk itu hipotesis tersebut dapat diterima. Saran yang dapat dapat diberikan dalam penelitian ini adalah dalam meningkatkan keterlibatan kerja terhadap karyawan hendaknya manajemen personalia memperhatikan beberapa hal yang diantaranya yaitu masa kerja, turn over dan absesmteisme, kebutuhen finansial, dan kepuasan. Dalam meningkatkan kepuasan kerja maka manajemen perlu juga memperhatikan faktor-faktor seperti dorongan karyawan yang menyukai pekerjaan, kesesuaian gaji, lingkungan kerja yang mendukung, rekan kerja yang ramah, kecocokan karyawan dengan pekerjaan. Karena berdasarkan hasil penelitian, hal tersebut justru memacu karyawan untuk bekerja dengan giat dan menghasailkan kepuasan kerja meskipun tidak. Dalam membangun komitmen organisasi harus memperhatikan dorongan rasa senang, merasa organisasi seolah jadi miliknya, sulit meninggalkan perusahaan, organiasai merupakan kebutuhan, organisasi merupakan alat utama menjalankan aktivitas pekerjaan. Apabila komitmen organisasi dimiliki oleh karyawan PT. BPR Nusamba Wlingi, maka perusahaan tidak sering kehilangan karyawan yang potensial. Dan dalam meningkatkan komitmen karyawan pada perusahaan hendaknya meningkatkan keterlibatan kerja yang layak serta meningkatkan kepuasan kerja.

Tinjauan tentang pengetrapan fungsi-fungsi management pada seksi ternak perah Sekolah Peternakan Menengah Atas Malang / oleh Soewarno

 

Aspirasi masyarakat sebagai salah satu faktor penting dalam pembangunan masyarakat desa / oleh Sidharta

 

Masalah perentjanaan dan pengawasan produksi dalam industri tekstil Muliadjaja Malang / oleh Suwarini

 

Studi tentang kemampuan guru-guru pendidikan jasmani SMAN se kota Blitar dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi / Agus Purwosektiono

 

ABSTRAK Purwosektiono, Agus. 2010. Studi Tentang Kemampuan Guru-Guru Pendidikan Jasmani SMAN se-Kota Blitar dalam Menerapkan Keterampilan Mengadakan Variasi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, FIK, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sulistyorini, M.Pd, (II) Drs. H. Sugiyanto., Kata kunci: Keterampilan mengadakan variasi. Penggunaan keterampilan mengadakan variasi yang dilakukan oleh guru, bila digunakan secara hati-hati dan tepat, dapat menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap materi, memberi motivasi untuk memusatkan perhatiannya, meningkatkan kadar cara belajar siswa aktif, menghindari kebosanan, dan dapat mendorong siswa untuk mengadakan diskusi dengan temannya. Melihat sangat pentingnya keterampilan mengajar mengadakan variasi yang diterapkan guru pendidikan jasmani, perlu adanya data yang membahas tentang kemampuan guru dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi. Dari data tersebut dapat diketahui seberapa besar kemampuan guru pendidikan jasmani dalam menerapkan keterampilan mengajar mengadakan variasi. Namun, di Kota Blitar data tentang kemampuan guru pendidikan jasmani SMAN dalam menerapkan keterampilan mengajar khususnya mengadakan variasi masih belum ada. Setelah dilakukan analisis, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1). Kemampuan guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi: Berdasarkan hasil jawaban yang terbanyak dari siswa, guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi yaitu jarang menerapkan dengan perolehan persentase sebesar 35%. Kemudian berdasarkan hasil observasi, guru-guru pendidikan jasmani jarang menerapkan keterampilan mengadakan variasi dengan perolehan persentase sebasar 51,8%. 2). Kemampuan guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar dalam menerapkan variasi dalam gaya mengajar: Berdasarkan hasil jawaban terbanyak siswa, guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar menerapkan variasi dalam gaya mengajar sering menerapkan dengan perolehan persentase sebesar 37,5%. Kemudian berdasarkan hasil observasi, guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar jarang menerapkan variasi dalam gaya mengajar dengan perolehan persentase sebesar 44,3%. 3). Kemampuan guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar dalam menerapkan variasi media dan bahan pengajaran: Berdasarkan hasil jawaban terbanyak siswa, guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar jarang menerapkan variasi media dan bahan pengajaran dengan perolehan persentase sebesar 35,7%. Kemudian berdasarkan hasil observasi, guru-guru pendidikan jasmani jarang menerapkan variasi media dan bahan pengajaran dengan perolehan persentase sebasar 44,4%. 4). Kemampuan guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar dalam menerapkan variasi pola interaksi: Berdasarkan hasil jawaban terbanyak siswa, guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar jarang menerapkan variasi pola interaksi denagn perolehan persentase sebesar 39,6%. Kemudian berdasarkan hasil observasi, guru-guru pendidikan jasmani jarang menerapkan variasi pola interaksi dengan perrlehan persentase sebasar 66,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada: 1). Agar Dinas pendidikan Kota Blitar diharapkan mengadakan pelatihan/seminar tentang keterampilan mengajar mengadakan variasi kepada guru-guru pendidikan jasmani SMAN se-Kota Blitar. Terutama pada penerapan variasi media dan pola interkasi, berdasarkan data yang diperoleh penerapan kedua variasi tersebut oleh guru-guru SMAN se-kota Blitar dirasa sangat kurang. 2). Dijadikan rujukan sekolah untuk mengukur tingkat kemampuan mengajar masing-masing guru yang dimiliki sekolah tersebut. Selain itu juga, minimnya alat-alat olahraga yang baru harus diperhatikan sekolah, agar guru-guru pendidikan jasmani saat mengajar dapat melaksanakan dengan maksimal. 3). Bisa digunakan guru pendidikan jasmani sebagai media memperbaiki lagi keterampilan mengajarnya dalam mengelola kelas serta menjadi acuan untuk mengembangkan diri dan kompentensinya, terutama lebih meningkatkan lagi penggunaan variasi media dan pola interaksi. 4). Bagi peneliti yang lain, penelitian ini dapat dijadikan bahan reverensi dan penelitian lanjutan tentang guru pendidikan jasmani menerapkan keterampilan mengadakan variasi.

Peranan Koperasi Petermas terhadap petani tebu di Gondanglegi Malang Selatan
oleh Anisah

 

Masalah koordinasi dalam perusahaan daerah unit perkebunan kelapa di Jembrana Bali / oleh Nyoman Sulastri

 

Pengembangan paket buku pengetahuan popular seni keramik / Annun Maslahah

 

Kata Kunci: Pengembangan, buku pengetahuan popular, seni keramik. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk memberikan alternatif media baca berupa paket buku bacaan popular untuk pengetahuan seni keramik. Buku merupakan media baca utama dalam menyampaikan pesan, baik secara verbal maupun visual. Paket buku pengetahuan popular untuk seni keramik sebagai media baca sehari-hari memberikan kemudahan bagi semua kalangan dalam menambah pengetahuan tentang seni keramik, karena didalam paket buku pengetahuan popolar disamping terdapat tulisan juga terdapat gambar dengan tujuan untuk lebih memperjelas tulisan. Keramik merupakan produk kesenian yang sangat popular bagi sebagian besar orang, hanya saja di Indonesia masih sedikit yang mengetahui produk seni keramik itu sendiri. Oleh karena itu perlu diperkenalkan kesenian keramik kepada semua kalangan khususnya penggemar keramik melalui paket buku pengetahuan popular tersebut. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model pengembangan prosedural, yakni menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Di awali dari studi pustaka, survei lapangan, penyusunan desain produk buku dilanjutkan dengan uji kelayakan dilapangan. Hasil dari pengembangan ini menunjukkan bahwa produk paket buku pengetahuan popular yang dihasilkan memang cukup layak untuk digunakan untuk media baca bagi semua kalangan khususnya penggemar keramik. Bentuk produk pengembangan buku terdiri atas 3 produk buku, yakni buku sejarah seni keramik sebanyak 27 halaman, buku teknik pembuatan keramik sebanyak 26 halaman, serta buku manfaat produk keramik sebanyak 19 halaman dengan warna yang berbeda masing-masing buku, hanya saja didominasi warna coklat. Untuk penjabaran produk setiap buku hasil pengembangan adalah sebagai berikut: (1)sampul depan, (2)dua sampul dalam (3)kata pengantar, (4)daftar isi, (5)bagian dalam atau isi materi buku, (6)sampul belakang. Pengembangan ini merupakan langkah awal dari upaya penulis untuk mengembangkan paket buku popular untuk bahasan tentang seni keramik lainnya. Berdasarkan pengembangan ini, dapat disarankan untuk pengembangan selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan media baca popular tentang seni keramik dengan materi yang berbeda agar seni keramik lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Hubungan antar latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar instruktur pelatihan dengan pemahaman prinsip-prinsip andragogi di lembaga pelatihan se-kota Malang / Arif Priyo Hidaya

 

ABSTRAK Hidaya, Arif Priyo. 2009. Hubungan Antara Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Mengajar Instruktur Pelatihan dengan Pemahaman Prinsip-Prinsip Andragogi di Lembaga Pelatihan se-Kota Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Abdillah Hanafi M.Pd. (II) Drs. Imam Hambali M.Pd. Kata kunci: Latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, instruktur pelatihan, prinsip-prinsip andragogi. Pada umumnya peserta didik (trainees) dalam pelatihan adalah orang dewasa. Oleh karena itu, instruktur pelatihan perlu memahami prinsip-prinsip belajar orang dewasa terlebih lagi penerapannya dalam praktik. Ilmu tentang bagaimana orang dewasa belajar disebut andragogi. Pemahaman seseorang sangat dipengaruhi oleh diri individu, seperti pengalaman, latar belakang pendidikan, dan lain-lain. Untuk itu peneliti tertarik meneliti adakah hubungan antara latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar instruktur dengan pemahamannya tentang prinsip-prinsip andragogi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, tingkat pemahaman instruktur pelatihan tentang prinsip-prinsip andragogi, serta hubungan latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar instruktur pelatihan dengan pemahamannya tentang prinsip-prinsip andragogi di lembaga pelatihan se- Kota Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif korelasional. Karena jumlah populasi sebanyak 67 atau kurang dari 100, maka pengambilan sampel sebesar 100% sehingga sampel ini merupakan sampel populasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, korelasi product moment dan korelasi ganda product moment. Berdasarkan hasil penelitian latar belakang pendidikan formal instruktur pelatihan sebagian besar memiliki tingkat pendidikan S1. Latar belakang pendidikan nonformal yaitu separuh dari instruktur pelatihan pernah mengikuti pelatihan yang relevan dengan program yang dilatihkan pada tingkat kota/kabupaten. Separuh dari instruktur pelatihan memiliki pengalaman mengajar pada pendidikan formal kurang atau sama dengan 4 tahun. Separuh dari instruktur pelatihan memiliki pengalaman mengajar pada pendidikan nonformal kurang atau sama dengan 4 tahun. Separuh dari instruktur pelatihan memiliki tingkat pemahaman sangat tinggi terhadap prinsip-prinsip andragogi. Separuh dari instruktur pelatihan memiliki tingkat pemahaman sangat tinggi tentang porses perencanaan dan memiliki tingkat pemahaman tinggi tentang proses pelaksanaan dan evaluasi. Tidak ada hubungan antara latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar instruktur pelatihan dengan pemahamannya tentang prinsip-prinsip andragogi di lembaga pelatihan di Kota Malang. Dari hasil pembahasan, peneliti memberikan beberapa saran, terutama kepada lembaga pelatihan yang terdaftar di Dinas Ketenagakerjaaan Kota Malang agar dengan dimilikinya pemahaman yang tinggi oleh instruktur pelatihan i diharapkan lembaga pelatihan dapat mendorong instrukturnya untuk menerapkan prinsip-prinsip andragogi dalam proses pelatihan. Lembaga pelatihan dapat mendorong instruktur yang belum memiliki pemahaman yang tinggi terhadap prinsip-prinsip andragogi untuk meningkatkan pemahamannya terhadap prinsipprinsip andragogi. Dalam memilih instruktur pelatihan tidak hanya memperhatikan kualifikasi pendidikan dan pengalaman mengajar instruktur, tetapi juga perlu memperhatikan tingkat pemahaman instruktur tentang prinsip-prinsip andragogi.Bagi peneliti selanjutnya, dengan tidak adanya korelasi antara latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar instruktur pelatihan dengan pemahamannya tentang prinsip-prinsip andragogi, maka perlu diadakan penelitian lanjutan apakah ada korelasi antara pemahaman prinsip-prinsip andragogi dengan faktor-faktor lainnya. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan instrument, memperbanyak jumlah sampel, dan mempertajam metode penggalian data.

Peranan Bimas dalam usaha meningkatkan perekonomian rakyat di Desa Pagedangan Kecamatan Turen
oleh Jazid Durochim

 

Pengaruh kepemilikan manajerial, rasio net profit margin (NPM) dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2008 / Dika Kuswantari

 

2010 ABSTRAK Kuswantari, Dika. 2010. Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Rasio Net Profit Margin (NPM) dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Periode 2006-2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si., Ak. (II) Sri Pujiningsih, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: kepemilikan manajerial, rasio net profit margin (NPM), kebijakan dividen, nilai perusahaan Tujuan perusahaan pada dasarnya yaitu memaksimumkan nilai perusahaan dalam bentuk maksimalisasi harga saham untuk mencapai profitabilitas jangka panjang. Nilai perusahaan itu sendiri merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Nilai perusahaan ini merupakan salah satu pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya. Peningkatan nilai perusahaan diantaranya dapat dilakukan dengan meningkatkan kepemilikan manajerial, rasio net profit margin (NPM) serta kebijakan perusahaan dalam memutuskan apakah laba perusahaan akan dibagi kepada pemegang saham ataukah ditahan sebagai laba ditahan atau yang disebut dengan kebijakan dividen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemilikan manajerial, rasio net profit margin (NPM), kebijakan dividen sebagai variabel bebas terhadap nilai perusahaan sebagai variabel terikat pada perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2006- 2008. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2008 sebanyak 152 perusahaan. Sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 12 perusahaan yang diambil secara purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan internet (www.idx.co.id). Sedangkan analisis yang digunakan adalah uji hipotesis dengan analisis regresi linear berganda. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa secara parsial variabel kepemilikan manajerial dan rasio net profit margin (NPM) berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Variabel kebijakan dividen yang diproxi dengan dividend payout ratio (DPR) tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Secara simultan variabel kepemilikan manajerial, rasio net profit margin (NPM) dan kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2008. Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian yaitu (1) bagi perusahaan, sebaiknya memperhatikan variabel kepemilikan manajerial, rasio net profit margin (NPM) dan kebijakan dividen untuk meningkatkan nilai perusahaan, (2) bagi investor, diharapkan lebih jeli dalam menilai kondisi perusahaan dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh dalam peningkatan nilai perusahaan (3) bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian sejenis agar menambah jumlah variabel dan sampel penelitian serta menggunakan periode waktu yang lebih panjang agar hasil yang diperoleh lebih maksimal.

Peranan Bimas dalam meningkatkan produksi pangan di Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung / oleh Timbul Wiyati

 

Tinjauan harga pokok pada perusahaan tegel, beton dan sanitair Pasir Mas" Batu / oleh Rahmat Hardjo"

 

Penggunaan model/replika sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman mata pelajaran IPS bidang sejarah bagi siswa kelas VII E SMPN 3 Kepanjen / Aisah Rahayuningsih

 

ABSTRAK Rahayuningsih, Aisah. 2009. Penggunaan Model/Replika sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Mata Pelajaran IPS Bidang Sejarah Bagi Siswa Kelas VII E di SMPN 3 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Sejarah FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Dewa Agung Gede Agung, M.Hum, (II) Dr. Hj.Siti Malikhah Towaf, M.A Kata kunci: Media Replika, motivasi belajar, pemahaman Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk membangun suatu bangsa sehingga mutu pendidikan harus selalu ditingkatkan. Peningkatan mutu pendidikan ini bisa dilakukan melalui pemecahan masalah-masalah seputar pendidikan. Berdasarkan hasil observasi pra-tindakan pada akhir Oktober hingga awal November 2009 di SMPN 3 Kepanjen maka diperoleh data bahwa tingkat motivasi belajar dan pemahaman siswa kelas VII di sekolah tersebut masih sangat rendah. Hal itu dapat terlihat dari seringnya guru menegur siswa ketika pembelajaran karena ramai dan tidak memperhatikan. Di samping itu siswa juga jarang sekali dapat menjawab pertanyaan yang diberikan guru karena tidak paham dengan penjelasan guru. Menurut guru sejarah di sekolah tersebut, rendahnya tingkat motivasi belajar dan pemahaman siswa disebabkan karena rendahnya nilai input siswa, yakni dengan danem tertinggi 28,35 dan danem terendah 21,95. Dengan demikian guru sudah merasa pesimis untuk dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswanya. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan di sekolah tersebut sehingga dapat meningkatkan mutu pelajaran sejarah. Dari latar belakang yang ada maka permasalahan dalam penelitian ini meliputi (1) Bagaimana motivasi belajar dan pemahaman siswa kelas VII E SMPN 3 Kepanjen terhadap materi pelajaran sejarah sebelum menggunakan media replika? (2) Bagaimana motivasi belajar dan pemahaman siswa kelas VII E SMPN 3 Kepanjen terhadap materi pelajaran sejarah sesudah menggunakan media replika? dan (3) Apa saja keterbatasan atau hambatan penggunaan media pembelajaran replika bagi siswa kelas VII E SMPN 3 Kepanjen? Untuk menjawab permasalahan yang ada maka dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki mutu praktik pambelajaran di kelas. PTK ini dilaksanakan dengan 2 siklus yang masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/pengamatan, dan refleksi. Setiap pelaksanaan tindakan terdiri dari satu kali pertemuan (40 menit). Subyek penelitian adalah siswa SMPN 3 Kepanjen kelas VII E angkatan 2008/2009 yang berjumlah 35 siswa. Hal yang diteliti adalah tingkat motivasi belajar dan pemahamanan siswa. Motivasi belajar siswa diperoleh melalui data observasi dan angket yang diukur dari presentase dan tingkat keberhasilan tindakan. Sedangkan pemahaman siswa diukur dari hasil rata-rata kelas tes siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, soal tes, pedoman wawancara, catatan lapangan, dan angket motivasi siswa. Analisis data dilakukan secara interaktif, yakni meliputi reduksi data, beberan data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperoleh melalui keajegan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar siswa yang meliputi minat, perhatian, dan konsentrasi dari 60% (berhasil) menjadi 82% (sangat berhasil) dan angket motivasi siswa menunjukkan bahwa siswa sangat puas diajar dengan media replika dengan persentase sebesar 89%. Dari hasil tes siswa diperoleh peningkatan rata-rata kelas pada siklus I hasil pre-tes 19,55 dan post-tes 69,32. Dari uji tes yang dilakukan peningkatan tersebut sangat signifikan yakni dengan t value 13,945 > 1,691. Peningkatan yang sangat signifikan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman siswa meningkat sesudah diajar menggunakan media replika dibandingkan dengan sebelum diajar dengan menggunakan media replika. Pada siklus II hasil post-tes rata-rata kelas meningkat menjadi 72,82. Berdasarkan uji tes yang dilakukan peningkatan tersebut tidak signifikan, yakni dengan hasil t value 0,970 < 1,693. Peningkatan yang tidak signifikan tersebut terjadi karena pada kedua post-tes yang dilakukan siswa sudah diajar dengan menggunakan media replika. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan media replika untuk pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswa VII E di SMPN 3 Kepanjen. Dari kesimpulan tersebut peneliti menyarankan: (1) Karena terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswa maka media replika sebaiknya digunakan pada tema-tema dan tujuan pengajaran yang sesuai dengan media tersebut; (2) Dalam penelitian yang lebih lanjut sebaiknya calon peneliti memperhatikan ukuran media yang akan digunakan; dan (3) Dalam penelitian yang lebih lanjut calon peneliti dapat mengembangkan atau mencari manfaat lain dari penggunaan media replika, misalnya saja untuk meningkatkan prestasi atau hasil belajar.

Usaha koperasi kredit Guru" Kecamatan Poyolangu Kabupaten Tulungagung dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya / oleh Supriyanto"

 

Rekonstruksi dan pengembangan desain pesan bahan ajar bahasa inggris Sekolah Tinggii Teknologi Angkatan Darat (Kajian pengembangan pembelajaran bahasa inggris program D3 STTAD Kodiklar TNI AD) / Theresia Dwi Siwi C.W.

 

ABSTRAK Widyati, T. Dwi Siwi Candra, 2009, Rekonstruksi Dan Pengembangan Desain Pesan Bahan Ajar Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Darat (Kajian Pengembangan Pembelajaran Bahasa Inggris Program D3 STTAD Kodiklat TNI AD). Tesis, Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Dr. Waras Kamdi, M.Pd., (II) Dr. H. Sulton, M.Pd Kata Kunci: Rekonstruksi, Pengembangan, Desain Pesan, Bahan Ajar Bahasa Inggris, Dick, Carey and Carey model Kurang tersedianya materi-materi bahan ajar bahasa Inggris Teknik yang relevan dengan pengetahuan praktis teknik yang berhubungan dengan teknologi militer di lembaga pendidikan, laboratorium maupun dilapangan, merupakan kendala yang cukup lama di STTAD Kodiklat TNI AD. Sebagian mahasiswa mengatakan bahwa bahan ajar yang digunakan tidak menarik baik dari layout maupun isinya. Materi bahan ajar Bahasa Inggris yang digunakan selama ini kurang relevan dengan kebutuhan siswa dalam konteks terapan lingkungan rekayasa atau keteknikan di bidang teknologi kemiliteran. Siswa lebih mudah mengerti dan mencapai pemahaman yang mendalam jika bisa mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya dan berguna dalam unjuk kerja dalam konteks lingkungan keteknikan. Proses belajar dan mengajarpun hendaknya melibatkan para siswa dalam mencari makna. Proses mengajar haruslah memungkinkan siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi mutu belajar di antaranya yaitu tampilan materi ajar. Bahan ajar adalah format materi yang diberikan kepada siswa dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran lainnya. Masalah utama yang dihadapi pebelajar (siswa) Lemjiantek atau STTAD adalah pebelajar mengalami fenomena psikologi yakni penurunan gairah belajar disebabkan oleh beberapa hal diantaranya 1) Bahan ajar Bahasa Inggris tentang Teknologi Militer yang digunakan sebagai media atau sumber pembelajaran tidak menarik baik desain grafik maupun tata letak gambar dan desain pesan yang kontekstual dengan Teknologi Militer khususnya TNI AD. 2) Pembelajar mengembangkan buku ajar tidak memperhitungkan konsep, teori-teori pembelajaran dan karakteristik siswa. Berbagai kompleksitas permasalahan yang dihadapi tentunya membutuhkan solusi yang tepat untuk mengatasi problem pembelajaran yang ada. Salah satu langkah yang sangat berarti sebagaimana dipilih oleh peneliti adalah merekonstruksi dan mengembangkan desain pesan materi Bahan Ajar Bahasa Inggris tentang teknologi militer sesuai dengan karakteristik Siswa D3 Lemjiantek Kodiklat TNI AD . Produk pengembangan yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini adalah: 1) buku ajar bahasa Inggris, 2) panduan pembelajar (dosen) berisikan petunjuk dan pedoman yang akan digunakan sehingga memudahkan penggunaannya dalam aktifitas pembelajaran, dan 3) panduan pebelajar (mahasiswa) bertujuan agar dapat mengarahkan pebelajar dalam menggunakan buku ajar Bahasa Inggris teknologi militer untuk siswa STTAD. Produk ini berisikan materi-materi yang terkait dengan lingkungan nyata pebelajar yakni lingkungan Teknologi Kemiliteran. Desain bahan ajar disusun berdasarkan karakteristik siswa D3 STTAD yang mayoritas pebelajar usia dewasa dan tujuan materi pelajaran Bahasa Inggris untuk Teknik Militer. Dalam pengembangan bahan ajar ini, peneliti juga menentukan 9 langkah sistematis dalam model Dick, Carey, dan Carey (2001) sebagai prosedur pengembangan. Keterbatasan Pengembangan bahan ajar ini didasarkan pada; (1) pada kebutuhan siswa D3 STTAD Kodiklat TNI AD Malang pada semester 1, (2) bahan ajar yang dikembangkan terbatas pada mata kuliah Bahasa Inggris untuk siswa D3 STTAD Kodiklat TNI AD, (3) topik yang dipilih berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan, (4) pengembangan lebih ditekankan pada desain pesan bahan ajar dengan menggunakan materi-materi pendukung yang lebih kontekstual untuk teknologi militer, (5) dan tujuan pembelajaran/ penyampaian pesan pada Hanjar ini tidak uraikan, tetapi hanya digunakan oleh desainer pesan sebagai rambu-rambu dalam mengorganisasikan pesan. Hal ini disebabkan hanjar ini secara umum dimaksudkan hanya sebagai informasi dasar kepada siswa. Selanjutnya uji coba dilakukan dalam 3 (tiga) tahapan. Data yang terkumpul dianalisis dengan 2 (dua) cara yaitu kualitatif dan kuantitatif; 1) uji coba perorangan yang mengambil 3 (tiga) orang siswa sebagai responden. Uji coba perorangan ini dimaksudkan untuk menemukan keserasian materi dan kesalahan-kesalahan baik salah ketik ataupun struktur kalimat, dan lainnya seperti gambar dan ilustrasi. Kedua, uji coba kelompok kecil untuk mengetahui efektifitas perubahan evaluasi perorangan, Mengidentifikasi permasalahan yang timbul pada saat pembelajaran, dan untuk menentukan apakah instruksi dapat digunakan untuk belajar sendiri tanpa interaksi dengan pembelajar. Uji coba lapangan terhadap 15 (lima belas) orang dimaksudkan untuk menemukan apakah pembelajaran dengan bahan ajar efektif, efisien, dan menarik bagi siswa. Dari uji coba bahan ajar ini menunjukkan bukti kuantifikasi uji coba perorangan yaitu 79,3%. Uji coba kelompok kecil 89,25,5% tetapi perlu direvisi. Pada uji coba lapangan menunjukkan hasil sekitar 93,32% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar efektif mencapai tujuan pembelajaran, efisien bila dibandingkan dengan rasio penggunaan waktu, dan menarik bila memperhatikan skala sikap dan observasi terhadap antusias siswa. Untuk pemanfaatan dan pengembangan kedepan diharapkan; (1) Produk bahan ajar ini perlu dilengkapi dengan lembar soal, lembar perkembangan ( progress sheet ) untuk membantu dosen mata kuliah dalam kegiatan pembelajaran, (2) perlu membuat latihanlatihan berupa interaktif game, exercises, test dalam bentuk software untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris yakni : Listening dan speaking sebagai scaffolding.

Peranan BUUD dalam pembangunan masyarakat desa di Desa Pakisaji Kecamatan Pakisaji / oleh I Desak Made Wardani

 

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di SDLB YPAC Malang / Sholeha Tri Agustin

 

ABSRTAK Agustin, Sholeha Tri. 2009. Studi tentang Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani di SDLB YPAC Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FIK Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mulyani Surendra, M.S, (2) dr. Hartati Eko Wardani, M.Si. Med. Kata kunci: pelaksanaan, pembelajaran Pendidikan Jasmani, SDLB YPAC Malang. Di dalam pendidikan formal terdapat beberapa mata pelajaran yang diberikan pada siswa sesuai dengan jenjang pendidikan yang di antaranya yaitu Pendidikan Jasmani. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari keseluruhan pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dengan perencanaan yang sistematis untuk meningkatkan dan mengembangkan siswa secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional. Pendidikan Luar Biasa adalah pendidikan yang harus diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental. Sekolah Dasar Luar Biasa merupakan sekolah yang diperuntukkan dan menampung anak-anak cacat usia sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat kelainan. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SDLB YPAC Malang diperoleh hasil bahwa tidak diberikannya pemanasan pada saat awal pelajaran, pelajaran pendidikan jasmani yang hanya diberikan sekali dalam seminggu untuk semua siswa, tidak adanya pembagian kelas yang sesuai dengan tingkat kecacatannya, kurang variatifnya materi yang diberikan, kurangnya pengawasan terhadap keberhasilan pembelajaran pendidikan jasmani, dan tidak adanya pendinginan dan penugasan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di SDLB YPAC Malang pada kegiatan awal/perencanaan, pada tahap pendahuluan, tahap inti dan tahap penutup. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif Kuantitatif untuk mengetahui kualitas pelaksanaan pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan persentase. Penelitian ini dilaksanakan di SDLB YPAC Malang dengan jumlah subyek penelitian yaitu 1 orang guru pendidikan jasmani. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kegiatan awal/perencanaan pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani di SDLB YPAC Malang termasuk dalam kategori tidak baik yaitu 16,7%. Untuk tahap pendahuluan termasuk dalam kategori cukup baik yaitu 75%. Untuk tahap inti termasuk dalam kategori baik yaitu 92,9%. Untuk tahap penutup termasuk dalam kategori kurang baik yaitu 40%. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di SDLB YPAC Malang secara keseluruhan termasuk dalam kategori cukup baik yaitu 56,15%. Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, guru pendidikan jasmani di SDLB YPAC Malang hendaknya membuat program tahunan, Program semester, Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Pekan Efektif pada saat kegiatan awal/perencanaan, saat tahap pendahuluan hendaknya guru dan siswa datang tepat waktu di lapangan, guru melakukan presensi, guru memberi perbaikan kepada siswa yang melakukan kesalahan. Saat tahap inti guru hendaknya dapat memanfaatkan waktu dengan efektif. Saat tahap penutup guru hendaknya memimpin pendinginan setelah selesai pelajaran, guru memberikan tugas belajar dan motivasi kepada siswa, serta mengakhiri pelajaran tepat waktu. Hal ini untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani dan pencapaian tujuan pembelajaran pendidikan jasmani.

Swadaya masyarakat Desa Slorok dalam rangka pembangunan di Kecamatan Doko Kabupaten Blitar / oleh Martiwi

 

Peranan BUUD/KUD di dalam pembangunan masyarakat Desa Pare Kecamatan Pare Kabupaten Kediri / oleh Marianto

 

Pengaruh gaya belajar (learning style) dan lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2009/2010 / Nila Solichatun Nadhiroh

 

ABSTRAK Solichatun, Nadhiroh, Nila. 2009. Pengaruh Gaya Belajar (Learning Style) dan Lingkungan BelajarTerhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi SI Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prih Hardinto, M.Si., (II) Drs. Mardono, M.Si. Kata Kunci: Gaya Belajar, Lingkungan Belajar, Hasil Belajar Ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu faktor internal seperti gaya belajar siswa dan eksternal seperti lingkungan belajar. Gaya belajar siswa, antara lain gaya belajar visual,auditorial dan kinestetik. Sedangkan, lingkungan belajar siswa mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) pengaruh parsial antara gaya belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Laboratorium UM tahun ajaran 2009/2010 (2) pengaruh parsial antara lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Laboratorium UM tahun ajaran 2009/2010 dan (3) pengaruh simultan antara gaya belajar dan lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Laboratorium UM tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan proporsional random sampling. Jumlah populasi sebesar 163 siswa, sedangkan sampelnya adalah sebesar 32 siswa Dari hasil analisis data melalui uji hipotesis dapat diketahui bahwa pada variabel gaya belajar (X1) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar terbukti besaran probabilitas (Sig) pada variabel gaya belajar (X1) adalah 0,004 < 0,05 dan t hitung (3,104) > ttabel(2,042). Jika dilihat dari tingkat signifikansinya = 0,004 dibawah 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada variabel lingkungan belajar (X2) secara parsial juga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dengan besaran probabilitas (Sig) 0,000 < 0,05. Jika dilihat dari tingkat signifikansinya = 0,000 dibawah 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sedangkan, secara simultan berdasarkan dari hasil uji F diketahui besaran probabilitas (Sig.) 0,000 < 0,05 dan menunjukkan bahwa gaya belajar dan lingkungan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar. Hal ini membuktikan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain gaya belajar dan lingkungan belajar. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat memasukkan variabel yang lainnya, sehingga hasilnya lebih valid dan reliabel dan dapat memperkuat teori dan penemuan yang ada sebelumnya.

Identitas sosial tokoh Utama dalam novel Entrok karya Okky Mandasari / Dika Swastika

 

ABSTRAK Swastika, Dika. 2016. IdentitasSosialTokohUtamadalam Novel EntrokKaryaOkkyMandasari. Skripsi, JurusanSastra Indonesia, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. DjokoSaryono, M.Pd, (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd Kata Kunci :novel, tokoh, identitassosial, dansosiologisastra Novel Entrokadalahsalahsatu novel yang mencerminkankehidupansosialmasyarakat.Novel Entrokmemilikiduatokohutama yang diceritakan, yaknitokohMarnidanRahayu.Tokohmerupakanpemegangperanan yang pentingpadasebuahkaryasastra, tokoh yang paling pentingadalahtokohutama.Selaintokohutama,terdapattokohtambahan yang hanyasesekalimunculdalamcerita.Novel Entrokmenceritakankehidupansehari-haritokohdansikapdalamberinteraksidenganlingkungansosialnya, sepertibekerja, bersekolah, bersosialisasi, danberagama. Keduatokohtersebutakanditelitiberdasarkanidentitassosial. Identitasadalahsalahsaturepresentasi domain sosial.Identitas sosial dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu;etnosentrisme,prasangkasosial,kompetisidandiskriminasiantarkelompok, stereotip, uniformitasdankonformitas, danketerpaduankelompok. Identitassosialpentinguntukdikajilebihmendalam, karenaidentitasseseorangdapatterbentukkarenaadanyalingkungansosial. Selainitu, identitassosialdapatmemengaruhisifatdanperilakuseseorangdalamkehidupanbermasyarakatsesuaidengannorma yang berlakudalamlingkungantersebut. Teori yang berkaitandenganidentitassosialadalahsosiologisastra, yaitusastrasebagaicerminankehidupanmasyarakat. Sosiologimerupakandisiplinilmutentangkehidupanmasyarakat yang objekkajiannyamencakupfaktasosial, definisisosial, danperilakusosial yang menunjukkanhubunganinteraksisosialdalamsuatumasyarakat. Masyarakatadalahsekumpulanmanusia yang salingberinteraksi, memilikiadatistiadat, norma-norma, hukum, sertaaturan yang mengatursemuapolatingkahlaku; terjadikontuinitasdalamwaktu; dandiikatdengan rasa identitas yang kuatmengikatwarganya. Penelitianinimenggunakanjenispenelitiankualitatifdeskriptifdenganmenggunakanpendekatansosiologisastra. Datadiperolehdari kata-kata, frasa, klausa, dankalimat yangmenunjukkanadanyaidentitassosialpadatokohutama yang terdapatdalam novel EntrokkaryaOkkyMandasari. Pengumpulan data menggunakanteknikmembaca, menandai,mengidentifikasi, dankodifikasi. Analisis data dilakukandengancaraklasifikasi, reduksi, penyajian data, penafsiran data, danpenarikankesimpulan. Untukmengecekkeabsahan data digunakandengancaramengumpulkanlagi data penelitianuntukmendukung data penelitian yang telahdiprosessebelumnya,danmelakukandiskusidengantemanuntukmemperolehmasukanberupapendapat yang dapatmendukungpenelitian. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaterdapat 6 subaspek, 39indikator, dan 118 kutipan. Pertama, identitassosialpadatokohMarni. EtnosentrismepadatokohMarniterdapat 5 indikator, yang meliputi; tokohMarni yang menganggapagamanya yang terbaik, caramenyembahleluhur, budayasebagaiaturandanpedomanberperilakutokohMarni, etnosentrismepositifpadatokohMarni, danetnosentrisme yang ditujukankepadatokohMarnidarilingkunganmasyarakat. PrasangkasosialpadatokohMarniterdapat 6 indikator, yang meliputi; prasangka yang ditujukankepadalingkungankeluarga, terhadaplingkunganpasar, ditujukankepadaMarniperihalsumberkekayaannya, ditujukankepadaMarnidarilingkunganmasyarakat, ditujukankepadaMarnidarilingkungankeluarga, danprasangkaterhadapsebuahadatatauaturan.KompetisidandiskriminasiantarkelompokpadatokohMarniterhadap 6 indikator, yang meliputi; kompetisi, diskriminasiterhadapkaumataugolongantertentu (perempuan, priyayi, danlaki-laki), diskriminasiterhadaptokohMarni, terhadapetnisTionghoa, diskriminasihalus, dandiskriminasiterhadapgolongan PKI.StereotippadatokohMarniterdapat 2 indikator, yang meliputi; stereotipterhadapgolonganpriyayidankaumlaki-laki, danstereotipterhadaptokohMarni.UniformitasdankonformitaspadatokohMarniterdapat 3 indikator, yang meliputi; uniformitasantarindividu, konformitas yang didorongolehkeinginandalamdiritokohMarni, dankonformitasMarnisesuaidengannormasosial di lingkunganmasyarakat. KeterpaduankelompokpadatokohMarniterdapat 2 indikator,meliputi; keterpaduanantarindividudanketerpaduanantarkelompokpedagang. Kedua, identitassosialpadatokohRahayu.EtnosentrismepadatokohRahayu, terdapat 3 indikator, yang meliputi; etnosentrisme yang menganggapbahwaagamanyaadalah yang terbaikpadatokohRahayu, sikaptokohRahayuterhadapbudayalain, dansikapRahayu yang menyesuaikanbudaya yang dianutnya.PrasangkasosialpadatokohRahayuterdapat 3 indikator,meliputi; prasangkasosialtokohRahayuterhadaplingkungankeluarga, terhadaplingkunganmasyarakat, dan yang ditujukankepadatokohRahayu.KompetisidandiskriminasiantarkelompokpadatokohRahayuterdapat 3 indikator, yang meliputi; diskriminasihalus, diskriminasiterhadap orang miskin yang digambarkanolehtokohRahayu, dandiskriminasiterhadapgolongan PKI.Selainitu, padatokohRahayutidakditemukanadanyakompetisi.Olehsebabitu, padaindikatorhanyamenyertakan data danpenjelasanataukutipan data mengenaidiskriminasiantarkelompok. StereotippadatokohRahayuterdapat 3 indikator, yang meliputi; stereotiptokohRahayuterhadaplingkungankeluarga, stereotiptokohRahayuterhadaplingkunganmasyarakat, danstereotippositifpadatokohRahayu.UniformitasdankonformitaspadatokohRahayuterdapat 3 indikator,meliputi; konformitas yang merubahsikapRahayuatasdorongandalamdiritokohRahayu, uniformitasantarindividupadatokohRahayu, dankonformitastokohRahayu agar seragamdenganlingkungansosialnya. KeterpaduankelompokpadatokohRahayuterdapat 1 indikator, yaituketerpaduankelompokdalamorganisasipadatokohRahayu. Jadi, secarakeseluruhantokohutamadalam novel EntrokkaryaOkkyMandasarimerupakancerminansosialkehidupanbermasyarakat.salahsatucerminankehidupanbermasyarakatadalahadanyaidentitassosial yang membentukindividuatau pun kelompok. Melalui novel tersebut, pengaranginginmenunjukkancerminankehidupandankeadaansosialpadasaatlatarpenulisan novel, yaitupadazamansebelum modern hinggazaman modern.Hal tersebutbertujuanuntukmelihatsejarahkehidupanmasyarakatsaatitu, sehinggapembacadapatmengambilcerminankehidupan yang lebihbaik.

Pengembangan perangkat pembelajaran matematika bercirikan open-ended materi persamaan linier satu variabel kelas VII / Siti Khoiruli Ummah

 

Ummah, Siti Khoiruli, 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Bercirikan Open-Ended Materi Persamaan Linier Satu Variabel Kelas VII. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M. S., M. Sc., (II) Dr. rer. nat. I Made Sulandra, M. Si. Kata Kunci: perangkat pembelajaran matematika, open-ended, persamaan linier satu variabel     Dari hasil observasi di kelas VII-H Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Jombang diperoleh data mengenai permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran. Permasalahan yang ditemukan yaitu proses diskusi kelompok tidak berjalan optimal karena tidak ada komunikasi antar anggota kelompok saat diskusi berlagsung. Permasalahan yang diselesaikan siswa melalui diskusi bersifat prosedural. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mempunyai pilihan lain atau terdapat prosedur penyelesaian dan solusi permasalahan yang tunggal saat diselesaikan melalui diskusi kelompok. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana mengembangkan perangkat pembelajaran matematika bercirikan open-ended pada materi persamaan linier satu variabel yang valid, praktis, dan efektif?”.    Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran matematika bercirikan Open-Ended materi persamaan linier satu variabel kelas VII yang valid, efektif, dan praktis. Produk pengembangan adalah perangkat pembelajaran berupa RPP yang dikembangkan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran melalui penyelesaian masalah open-ended menggunakan Strategi Polya dan Buku Kerja Siswa bercirikan open-ended yang memuat permasalahan-permasalahan open-ended. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan 3-D Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), dan Develop (Pengembangan) yang dimodifikasi dari 4-D. Tahap keempat dari model pengembangan 4-D (Four-D) yaitu Disseminate (Penyebaran) tidak dilakukan karena keterbatasan biaya.     Berdasar rekapitulasi hasil observasi keterlaksanaan penggunaan Buku Kerja Siswa dan aktivitas guru diperoleh skor rata-rata total untuk semua aspek () yaitu 3.57. Sesuai dengan kriteria kepraktisan yang ditetapkan, yaitu berarti perangkat pembelajaran (RPP dan Buku Kerja Siswa) yang dikembangkan dapat disimpulkan praktis. Berdasar hasil observasi yang dilakukan oleh observer saat pembelajaran, observer tidak memberikan catatan, saran, dan komentar.     Tingkat penguasaan materi diperoleh dari rekapitulasi hasil asesmen pengetahuan dan keterampilan melalui penyelesaian Buku Kerja Siswa diperoleh rata-rata kelas 2.72 dan termasuk kategori B sehingga dapat dinyatakan tuntas. Berdasar rekapitulasi hasil asesmen sikap kelompok diperoleh rata-rata kelas 3.49 dan termasuk kategori B+ sehingga dapat dinyatakan baik. Persentase ketuntasan belajar siswa berdasar tes hasil belajar (kuis) menunjukkan sebanyak 87.50% siswa tuntas mempelajari persamaan linier satu variabel. Berdasar tingkat penguasaan materi dari dapat disimpulkan penguasaan materi siswa baik. Rekapitulasi data aktivitas siswa menunjukkan skor rata-rata keaktifan siswa () adalah 3.60 dan termasuk kategori sangat aktif. Rekapitulasi respon siswa menunjukkan skor rata-rata respon setiap siswa pada setiap aspek angket respon siswa termasuk kategori positif. Dengan demikian, dapat disimpulkan perangkat pembelajaran memenuhi kriteria efektif untuk digunakan pada pembelajaran.     Saran pengembangan selanjutnya adalah dikembangkannya perangkat pembelajaran bericirikan open-ended pada materi matematika lainnya. Pembelajaran melalui penyelesaian masalah open-ended juga diharapkan dapat dilaksanakan di setiap kelas SMP Negeri 2 Jombang.

Peranan tetua desa dalam pemerintahan Desa Sidorejo, Jatiroto, Lumajang / oleh Imam Masyrur

 

Meningkatkan hasil belajar PKn dengan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada siswa kelas V SD Negeri Kauman 1 Kota Blitar / Andreas Hendrek Ngarbingan

 

Ngarbingan, Andres Hendrek. 2014. Meningkatkan Hasil Belajar PKn Dengan Model Pembelajaran Kooperative Tipe Numbered Heads Together Pada Siswa Kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan KSDP, Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. H. Alif Mudiono, M.Pd, (II) Prof. Dr. H.M Zainudin, M.Pd. Kata Kunci: hasil belajar, PKn, Numbered Head Together (NHT) Dari hasil observasi yang telah dilakukan di kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar menunjukan bahwa dalam mengajar guru masih mengunakan pembelajaran yang konvensional, metode ceramah dan menghafal. Sehingga siswa tidak aktif, terlihat cepat bosan dan mengantuk, dengan demikian hasil belajar siswa menjadi rendah yaitu hanya ada 4 siswa yang mendapatkan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70, sedangkan 10 siswa mendapatkan nilai di bawah KKM. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran numbered head together dan menigkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar melalui model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together.     Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahap pelaksanaan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, catatan lapangan, dan tes. Sedangkan instrument penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar tes. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada pratindakan, siklus I, dan siklus II. Pada pratindakan nilai rata-rata siswa adalah 53,57 dengan presentase ketuntasan 29%. Pada siklus I nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 59,07 dengan presentase ketuntasan 43% dari nilai tersebut menunjukan bahwa pembelajaran belum tuntas, sehinga dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa diatas Kriteria Ketuntasan Maksimal yaitu mendapat 78,14 dengan presentase ketuntasan 92%. Terdapat 1 siswa yang belum tuntas belajar karena kurang aktif dan suka mengangu teman lain. Dengan demikian pelaksanaan tindakan pada siklus II berhasil dan meningkat mulai dari pratindakan sampai pelaksanaan tindakan penelitian. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan mengunakan model kooperatif tipe numbered head together padan pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar.

Studi perbandingan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah didasarkan pada model pembelajaran inquiry dan peta konsep pada mata pelajaran ekonomi (studi kasus pada kelas VII SMP Negeri 1 Binangun) / Suyati

 

ABSTRAK Suyati, 2010. Studi Perbandingan Kreativitas Dan Kemampuan Memecahkan Masalah Didasarkan Pada Model Pembelajaran Inquiry Dan Peta Konsep Pada Mata Pelajaran Ekonomi (Studi kasus pada kelas VII SMP Negeri 1 Binangun). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hari Wahyono, M. Pd., (2) Dr. Imam Mukhlis, S.E., M.Si. Kata kunci: kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, Inquiry, peta konsep Upaya meningkatkan kualitas pendidikan secara terus-menerus dilaksanakan. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya penyempurnaan dalam sistem pendidikan, salah satunya yaitu penyempurnaan kurikulum. Pada saat ini, pemerintah sedang memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam pelaksanaannya pembelajaran dalam KTSP guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang mampu mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Beberapa tahun terakhir ini, banyak sekali model pembelajaran yang terus dikembangkan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Diperlukan strategi pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa dan memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaikan ide atau pendapatnya serta guru harus memilih model pembelajaran yang tepat agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Pembelajaran yang diinginkan saat ini adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya. Salah satu pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum saat ini adalah pembelajaran dengan Inquiry dan peta konsep. Dengan diterapkannya pembelajaran ini, diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih kreatif dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi siswa secara rasional dan tuntas. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Binangun yang bertujuan (1) untuk membandingkan peningkatan kreativitas siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry dengan peta konsep pada siswa kelas VII khususnya mata pelajaran ekonomi, (2) untuk membandingkan peningkatan kemampuan memecahkan masalah siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry dengan peta konsep pada siswa kelas VII khususnya mata pelajaran ekonomi. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasy Eksperimental Design). Subjek dalam penelitian ini ada dua kelas, yaitu: VII-A sebagai kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran peta konsep sebanyak 40 siswa dan kelas VII-B sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran inquiry sebanyak 38 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t (t-test) Independent Sample Test dengan taraf signifikansi 5%. Sebelum data dianalisis dilakukan uji prasyarat analisis homogenitas dan normalitas. Uji-t digunakan untuk menguji beda rata-rata dan hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: ada perbedaan kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Binangun yang mengalami proses pembelajaran Inquiry dengan yang mengalami proses pembelajaran peta konsep. Dimana kreativitas pada kelas eksperimen yang mengalami proses pembelajaran inquiry memiliki peningkatan yang lebih tinggi (X = 28,89) dari pada kelas kontrol yang mengalami proses pembelajaran peta konsep (X = 16,00). Dan tingkat kemampuan memecahkan masalah pada kelas eksperimen yang mengalami proses pembelajaran inquiry juga memiliki peningkatan yang lebih tinggi (X = 28,89) dari pada kelas kontrol yang mengalami proses pembelajaran peta konsep (X = 16,00). Berdasarkan pada penelitian yang telah dilaksanakan, maka terdapat beberapa saran untuk lebih mengoptimalkan penerapan pembelajaran inquiry pada mata pelajaran ekonomi, antara lain: 1) guru mata pelajaran ekonomi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran inquiry, dimana siswa dilibatkan secara langsung dan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa dapat menemukan dan menyusun sendiri pengetahuannya melalui pengalaman-pengalaman yang dimilinya sendiri sebagai alternatife pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. 2) pelaksanaan pembelajaran inquiry hendaknya didukung oleh pihak sekolah dengan menyediakan sarana prasarana, seperti buku-buku materi yang relevan, OHP, LCD agar pelaksanaannya lebih optimal. 3) penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya untuk diterapkan pada kelas dan sekolah lain dengan materi yang berbeda.

Tinjauan struktur organisasi Sekolah Peternakan Menengah Atas Negeri Malang / oleh Achmad Sunaryo

 

Perencanaan dan pengawasan produksi sebagai alat pendidikan dan peningkatan disiplin kerja pegawai suatu study pada perusahaan industri tekstil CV. Muliadjaja di Malang / oleh Muchyidin

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (student Team Achievement Division) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran manajemen perkantoran (studi pada siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2

 

ABSTRAK Saraswati, Icha Dian. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievement Division) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Manajemen Perkantoran (Studi Pada Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Perkantoran Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, FE. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd, M.M., (II) Madziatul Churiyah, S.Pd, M.M. Kata kunci : pembelajaran kooperatif, model Pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division), motivasi belajar, hasil belajar siswa. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita sekarang adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang ada selama ini ternyata hanya membuat siswa sangat terbebani dengan materi dan tuags yang diberikan oleh guru, sehingga siswa merasa bosan di dalam kelas. Dalam pembelajaran di kelas telah banyak pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh guru, tetapi sampai saat ini belum mendapatkan hasil yang memuaskan, ini ditunjukkan dengan hasil-hasil ujian siswa baik ujian nasional maupun ujian sekolah serta keterampilan individu siswa itu sendiri. Dari pihak sekolah sendiri juga belum berdaya untuk menciptakan suasana belajar yang memungkinkan siswa berpikir kritis, kreatif, bertanggung jawab, dan memberi peluang bagi siswa untuk menjelajahi idenya yang imajinatif. Oleh sebab itu pelu adanya sebuah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division). Pembelajaran STAD merupakan bentuk pembelajaran kooperatif dimana siswa dilatih untuk melakukan diskusi kelompok dan mempresentasikannya di depan kelas. Bagi kelompok yang memiliki nilai tertinggi diberi penghargaan. Tujuan penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) di SMK Muhammadiyah 2 Malang, 2) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang, 3) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Manajemen Perkantoran siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang dengan jumlah 34 siswa. Jenis penelitian ini penelitian kualitatif yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui 1) tes, 2) lebar observasi, 3) wawancara, 4) angket, 5) dokumentasi, dan 6) catatan lapangan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan, yaitu : 1) ii perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian in idilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) secara umum telah dilaksanakan dengan baik. Siswa saling membantu, saling berinteraksi tatap muka, berdiskusi dengan guru dan teman, menyumbangkan skor untuk kelompok, tenggang rasa, sopan dan mandiri. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi keterampilan kooperatif siswa. Pada pelaksanaan siklus I berdasarkan perbandingan dari kedua pengamat menunjukkan taraf keberhasilan. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) pada kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang sudah baik. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan motivasi belajar siswa dari siklus I sebesar 3,87% menjadi sebesar 4,07% dan hasil belajar siswa dari siklus I sebesar 64,7% menjadi sebesar 94,1% pada siklus II. Peningkatan sebesar 29,4% tersebut sudah menunjukkan ketuntasan belajar yaitu dari siklus I yang hanya 22 siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 32 siswa yang tuntas belajar. Meskipun dalam pelaksanaan tindakan banyak kekurangan dan kelemahan pada siklus I maka peneliti mencoba memperbaiki pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa mata pelajaran Manajemen Perkantoran. Hal ini dapat dilihat dari kedua aspek, yaitu aspek kognitif dan afektif yang meningkat setiap siklus. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu : 1) bagi guru mata pelajaran Manajemen Perkantoran dapat menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Selain itu hendaknya guru memperhatikan alokasi waktu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, serta guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya, sehingga pembelajaran di kelas tidak hanya didominasi oleh guru saja, 2) Bagi siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, 3) Bagi sekolah hendaknya membimbing tenaga pengajarnya supaya lebih kreatif dalam menerapkan model-model pembelajaran kooperatif, 4) bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif yang lebih bervariasi sehingga kemampuan dan hasil belajar siswa lebih meningkat lagi.

Peranan tenaga kerja pada pabrik es Betek" Malang dalam peningkatan produksi es / oleh SA. Widayanti"

 

Peranan Bimas dalam usaha mendidik petani untuk meningkatkan produksi padi di Desa Tambakasri Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang
oleh Ninik Agisasi

 

Pengaruh pengelolaan kelas dan penmanfaatan media pembelajaran oleh guru ekonomi terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang / Nur Saidah Zuhri

 

i ABSTRAK Zuhri, Nur Saidah. 2010. Pengaruh Pengelolaan Kelas dan Pemanfaatan Media Pembelajaran oleh Guru Ekonomi terhadap Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd (2) Agus Sumanto, S.E., M.SA. Kata Kunci: Pengelolaan Kelas, Pemanfaatan Media Pembelajaran, dan Hasil Belajar Siswa. Peningkatan mutu pendidikan ditandai dengan peningkatan hasil belajar peserta didik. Aspek terpenting dalam peningkatan hasil belajar peserta didik adalah meningkatkan mutu proses pembelajaran, hal ini tergantung dari kemampuan guru dalam mengajar. Sedangkan keberhasilan seorang guru dalam kegiatan pembelajaran ditentukan juga oleh kemampuan guru dalam menyampaikan materi. Seperti tujuan pengajaran yang tepat dan kemampuan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran secara efektif dan efisien. Selain itu dalam menghadapi siswa seorang guru juga harus memiliki kemampuan dasar dalam mengelola kelas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa ditentukan oleh pengelolaan kelas dan pemanfaatan media pembelajaran. Berdasarkan paparan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengelolaan kelas dan pemanfaatan media pembelajaran oleh guru ekonomi terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pengelolaan kelas oleh guru pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang (2) Bagaimana pemanfaatan media oleh guru pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang (3) Bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri I Ngoro Jombang (4) Apakah ada pengaruh yang signifikan antara pengelolaan kelas dan pemanfaatan media oleh guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) mengetahui pengelolaan kelas oleh guru mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang (2) mengetahui pemanfaatan media pembelajaran oleh guru pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang (3) mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang (4) mengetahui pengaruh yang signifikan antara pengelolaan kelas dan pemanfaatan media oleh guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengelolaan kelas (X1) dan pemanfaatan media pembelajaran (X2), sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 257 siswa dan sampel berjumlah 49 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan 5 (lima) pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik ii pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk uji kelayakan regresi dilakukan uji asumsi klasik dan keseluruhan analisis menggunakan bantuan program SPSS for windows 16.00. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa (1) Pengelolaan kelas guru ekonomi di SMP Negeri I Ngoro Jombang tergolong kategori cukup. (2) Pemanfaatan media pembelajaran oleh guru ekonomi di SMP Negeri I Ngoro tergolong tinggi. (3) Hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro tergolong cukup. (4) Secara parsial, pengelolaan kelas guru ekonomi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang, terbukti dengan sig t (0.00) < α (0.05). (5) Pemanfaatan Media Pembelajaran juga mempengaruhi hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang yang ditunjukkan dengan sig t (0.00) < α (0.05). (6) Secara simultan, pengelolaan kelas dan pemanfaatan media pembelajaran oleh guru ekonomi berpengaruh terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang yang ditunjukkan dengan sig t (0.00) < α (0.05). Nilai R square sebesar 0,757, hal ini menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan variabel pengelolaan kelas dan pemanfaatan media pembelajaran oleh guru ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang sebesar 75,7%. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas dan pemanfaatan media pembelajaran berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri I Ngoro Jombang. Saran dalam penelitian ini adalah (1) Bagi guru hendaknya melakukan pengelolaan kelas yang baik dengan cara menciptakan suasana belajar yang harmonis dan mempertahankan iklim pembelajaran yang kondusif serta menggunakan media yang lebih bervariatif. (2) Bagi sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan guru dalam meningkatkan keterampilannya sebagai pengajar dan menyediakan sarana prasarana sekolah yang lebih baik. (3) Bagi siswa hendaknya menyadari kedudukan, hak, dan kewajibannya sebagai peserta didik dalam proses pendidikan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran pola PBMP (Pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan) dengan model TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa kelas X AK 2 SMK PGRI 3 Nganjuk pada mata pelajaran siklus akuntansi / Yulita Windawati

 

ABSTRAK Windawati, Yulita. 2010. Penerapan Pembelajaran Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dengan Model TPS (Think Pair Share) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Kelas X Ak 2 SMK PGRI 3 Nganjuk pada Mata Pelajaran Siklus Akuntansi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurika Restuningdiah. S.E, M.Si, Ak (II) Hj. Yuli Widi Astuti, S. E, M. Si. Ak Kata kunci: Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan, Think Pair Share (TPS), Hasil Belajar, Keaktifan Siswa Metode pembelajaran memiliki peranan yang penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan salah satu metode pembelajaran mempunyai relevansi terhadap kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa. Metode pembelajaran yang selama ini digunakan adalah metode pembelajaran konvensional, dimana metode ini masih kurang mampu untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa. Metode konvensional cenderung tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa tidak termotivasi untuk mengikuti aktivitas pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang berorientasi pada siswa adalah pembelajaran pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dengan model TPS (Think Pair Share) yang mana metode ini mampu untuk mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa dengan menerapkan pembelajaran pola PBMP dengan model TPS. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Ak 2 SMK PGRI 3 Nganjuk. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah reduksi data, penyajian data, konklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa pada setiap siklusnya. Penerapan pembelajaran pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dengan model TPS (Think Pair Share) efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar pembelajaran pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dengan Model TPS (Think Pair Share) dijadikan salah satu alternatif pilihan bagi guru bidang studi akuntansi atau guru bidang studi lainnya untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa, juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, untuk menerapkan pada materi yang lain dan mata pelajaran lain.

Masalah proses produksi pada pabrik tegel Pasir Mas" di Batu - Malang / oleh Retno Ambarwati"

 

Pembangunan masyarakat desa di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / oleh Windrarini

 

Tehnik evaluasi pengajaran ilmu ekonomi perusahaan di SMEA Negeri Malang / oleh Naniek Suprijatiningsih

 

Penerapan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 6 Kediri / Choirul Ahmad Sidiq

 

ABSTRAK Sidiq, Choirul Ahmad. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Model Mind Mapping Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas X SMA Negeri 6 Kediri. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos., M.Si., (II) Agus Sumanto, S.E., M.S.A. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, mind mapping, aktivitas, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, kondisi belajar mengajar yang ada di SMA Negeri 6 Kediri belum sepenuhnya melibatkan siswa secara aktif, dari hasil wawancara informal yang dilakukan dengan Bapak Subeno (guru ekonomi kelas X) bahwa aktivitas belajar siswa masih rendah sedangkan hasil belajar siswa yang diperoleh masih belum banyak siswa yang berada di atas rata-rata dan pembelajaran menggunakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping belum pernah diterapkan di SMA Negeri 6 Kediri. Selama ini guru mata pelajaran ekonomi kelas X pernah menggunakan beberapa metode dan model pembelajaran seperti PBL, JIGSAW dan pemberian soal-soal tetapi belum pernah menggunakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping, sistem pembelajaran yang dilaksanakan masih berjalan secara konvensional. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menerapkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping dalam mata pelajaran ekonomi. Dengan diterapkan model pemaduan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar ekonomi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar ekonomi pada siswa kelas X-6 SMA Negeri 6 Kediri melalui penerapan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping. Penelitian ini merupakan penelitian noneksperimen dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian berupa aktivitas belajar siswa yang diperoleh melalui observasi dan hasil belajar siswa yang diperoleh melalui post-test pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 77,14% dengan kategori baik dan mengalami peningkatan menjadi 82,86% dengan kategori sangat baik pada siklus II. Sedangkan pada hasil belajar juga mengalami peningkatan, Sebelum diberikan tindakan skor rata-rata hasil belajar sebesar 69,1 dengan keberhasilan belajar 28,21%, pada siklus I skor rata-rata meningkat menjadi 72,18 dengan keberhasilan belajar sebesar 48,71%, dan pada siklus II meningkat lagi dengan skor rata-rata 85,77 dengan keberhasilan belajar sebesar 76,92%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X-6 SMA Negeri 6 Kediri. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu, (1) guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 6 Kediri, disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping dikarenakan siswa memberikan respon positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping, (2) guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 6 Kediri, diharapkan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) model mind mapping menggunakan variasi sehingga siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, (3) guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 6 Kediri, disarankan untuk sering memberikan tugas, sehingga dapat meningkatkan kerajinan dan kedisiplinan siswa dalam menyelesaikan tugas, (4) dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model mind mapping, guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efesien.

Peranan Koperasi Simpan Pinjam Cipta Raharja" Malang dalam usaha meningkatkan kesejahteraan anggotanya / oleh Suharni"

 

Pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua, pemberian motivasi dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Malang 1 / Siti Nur Kholifah

 

ABSTRAK Nur Kholifah, Siti. 2010. Pengaruh Sosial Ekonomi Orang Tua, Pemberian Motivasi dan Fasilitas Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas XI IPS MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Malang 1. Skripsi, Jurusan ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Mardono, M.Si., (2) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata Kunci: Sosial Ekonomi Orang Tua, Motivasi Belajar, Tingkat Ketersediaan Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar Dalam pelaksanaan pendidikan ada tiga unsur yang ikut bertanggung jawab yaitu: Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah. Dalam dunia pendidikan formal, fenomena belajar mengajar dapat dilihat sebagai suatu proses belajar mengajar dan lebih menekankan pada terciptanya kegiatan pada diri siswa. Dalam mewujudkan lembaga pendidikan orang tua siswa dilibatkan dalam partisipasi swadana, hal ini secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada prestasi siswa. Keadaan sosial ekonomi orang tua menentukan perkembangan dan pendidikan anak disamping sebagai faktor penting bagi kesejahteraan keluarga. Motivasi yang dapat menentukan hasil beajar dapat berupa motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik. Tingkat ketersediaan fasilitas belajar juga sangat penting bagi kelangsungan prestasi belajar siswa di sekolah. Kondisi sosial ekonomi orang tua, motivasi belajar dan ketersediaan fasilitas belajar yang memadai akan dapat mendukung tercapainya prestasi belajar yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui gambaran sosial ekonomi orang tua, motivasi belajar, ketersediaan fasilitas belajar dan prestasi belajar siswa kelas XI IPS MAN Malang 1. (2) Mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara sosial ekonomi orang tua motivasi belajar, ketersediaan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS MAN Malang 1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan analisis regresi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan dokumentasi data diperoleh dari populasi penelitian yang diambil dari siswa kelas XI IPS MAN Malang 1. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa prestasi belajar sisa termasuk kategori sangat baik (67.01%) kondisi sosial ekonomi orang tua tergolong tinggi (52.58%), motivasi belajar tergolong sedang (70.10%), fasilitas belajar tergolong sedang (51.55%). Dari hasil analisis pengujian hipotesis menunjukkan bahwa secara parsial (1) ada pengaruh antara Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa MAN Malang 1 dengan pengaruh parsial sebesar -0.265 atau -26.5%, (2) ada pengaruh parsial antara Motivasi Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar Siswa MAN Malang 1 dengan pengaruh parsial sebesar 0.326 atau 32.6%, (3) ada pengaruh parsial antara Ketersediaan Fasilitas Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa MAN Malang 1 dengan pengaruh parsial sebesar -0.211 atau 21.1%, (4) Secara simultan ada pengaruh antara latar belakang sosial ekonomi orang tua, motivasi belajar, ketersediaan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS MAN Malang 1 dengan pengaruh sebesar 0.175 atau 17.5%. Sehubungan dengan kesimpulan diatas maka disarankan kepada pihak terkait yaitu siswa untuk lebih berani membuka diri kepada bapak ibu guru agar berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran agar menjadi lebih nyaman dan juga siswa menggunakan fasilitas yang sudah tersedia semaksimal mungkin agar mencapai prestasi belajar yang lebih baik. Orang tua siswa dan segenap guru agar memberikan perhatian serta bantuan pada waktu anak mengalami kesulitan belajar.

Peranan orangtua sebagai pendorong bagi belajar anak di dalam keluarga / oleh Sunarti

 

Metode pengajaran / oleh Chusnul Chotimah

 

Peranan pendidikan olahraga dalam membantu pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak-anak kelas tinggi sekolah dasar / oleh A.M.J. Sri Roesmijati

 

Pengajaran afiksasi Bahasa Indonesia di SMP Negeri III Tulungagung / oleh Sri Ismoyowati

 

Penggunaan bak pasir sebagai usaha mendorong keaktipan murid-murid kelas I, II dan III sekolah dasar dalam pelajaran science / oleh Wayan Wardhana

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |