Kesejahteraan subjektif pada pengemis / Tika Puji Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Tika Puji. 2015. Kesejahteraan Subjektif pada Pengemis. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Sri Weni Utami, M. Si., (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S. Psi., M. Psi. Kata Kunci : Kesejahteraan Subjektif, Pengemis Pengemis merupakan salah satu permasalahan yang telah lama dihadapi pemerintah Indonesia. Pemerintah kota Malang juga telah lama menghadapi permasalahan pengemis.Berdasarkan studi pendahuluan peneliti di Dinas Sosial Kota Malang, jumlah pengemis yang ada di Kota Malang semakin meningkat walaupun Satpol PP dan dinas sosial secara rutin melakukan razia. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut tersebut aspek psikologis yang perlu dibahas dari permasalahan pengemis adalah kesejahteraan subjektif yang dipersepsikan oleh pengemis. Kesejahteraan secara subjektif yang dipersepsikan oleh masing-masing individu dalam kajian ilmu psikologi disebut subjective well-being. Penelitian ini bertujuan mengungkap kesejahteraan subjektifpada pengemis yang berlokasi di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologis. Partisipan dalam penelitian berjumlah 4 orang dengan kualifikasi sebagai berikut (1) telah mengemis lebih dari lima tahun, (2) sumber pendapatan utama dari mengemis (3) berusia minimal 20 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Tehnik analisis data menggunakan tehnik analisis data fenomenologi yang berakhir pada kesimpulan. Berdasarkan analisis data dalam penelitian dihasilkan kesimpulan sebagai berikut. (1)Secara umum pengemis yang menjadi subjek penelitian belum merasa sejahtera secara subjektif dari empat subjek penelitian tiga subjek tidak merasa sejahtera secara subjektif. (2) subjek satu merasa sejahtera secara subjektif. (3) subjek dua juga merasa sejahtera secara subjektif namun tidak setinggi subjek satu.Perbedaan sikap antara subjek satu dan subjek dua menjadi penyebab perbedaan perasaan sejahtera secara subjektif antara subjek satu dan subjek dua. Subjek satu merasa sejahtera secara subjektif karena memiliki sikap ulet dan pantang menyerah sedangkan subjek dua berdasarkan sikap pasrahterhadap nasib. (4)Subjek tiga belum merasa sejahtera secara subjektif karena belum merasa puas dan bahagia dengan hidup menjadi pengemis. (5) subjek empat juga belum merasa sejahtera secara sujektif. Penilaian subjek tiga dan subjek empat terhadap kehidupan menjadi pengemis selalu dibandingkan dengan profesi kedua subjek sebelum menjadi pengemis yaitu sebagai pembantu rumah tangga. (6) Subjek dua yang merasa sejahtera namun tidak setinggi satu, subjek tiga dan empat yang belum merasa sejahtera tetap bertahan menjadi pengemis dikarenakan mendapatkan dukungan sosial dari keluarga terdekat. (7) Prediktor kesejahteraan subjektifpada pengemis yang paling menonjol adalah kognisi yaitu cara menginterpretasikan peristiwa secara positif yang mana keempat subjek penelitian memiliki interpretasi yang kurang positif terhadap peristiwa yang pernah dialami dan menjadikan interpretasi tersebut sebagai alasan untuk bertahan menjadi pengemis, prediktor kedua adalah optimisme dalam menghadapi masa depan. Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada dinas sosial Kota Malang untuk dilakukan penanganan secara psikologis kepada para pengemis dengan konseling kelompok yang bertujuan menitik beratkan pada penanganan kognisi pengemis. Kepada masyarakat luas diharapkan mengesampingkan rasa kasihan kepada para pengemis sehingga tidak memberikan uang untuk memutus rantai pertumbuhan jumlah pengemis. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan variabel lain terkait semakin meningkatnya jumlah pengemis yang ada di Kota Malang seperti analisis faktor penyebab seseorang berprofesi sebagai pengemis.

Analisis prosedur pengendalian intern dalam penyaluran pembiayaan kepada calon debitur untuk meminimalisir pembiayaan bermasalah di PT BPR Syari'ah daya artha mentari / Nur Nila Sari

 

ABSTRAK Nila Sari, Nur. 2008. Analisis Prosedur Pengendalian Intern dalam Penyaluran Pembiayaan kepada Calon Debitur untuk Meminimalisir Pembiayaan Bermasalah di PT BPR Syari’ah Daya Artha Mentari. Tugas Akhir. Program Studi Diploma III Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Nurika Restuningdiah, SE., MSi., Ak. Kata kunci: Analisis Prosedur Pengendalian Intern, Pembiayaan, Pembiayaan Bermasalah PT BPR Syari’ah Daya Artha Mentari adalah salah satu jenis bank perkreditan yang bentuk usahanya selain menghimpun dana dari masyarakat juga menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pengendalian intern dalam pemberian pembiayaan kepada calon debitur dan untuk mengetahui bagaimana pengendalain intern dapat meminimalisir pembiayaan bermasalah di PT BPRS Daya Artha Mentari. Dalam penulisan ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa perkembangan nasabah pembiayaan di PT BPRS Daya Artha Mentari setiap tahunnya selalu mengalami pertumbuhan. Namun, pembiayaan bermasalah masih tetap terjadi bahkan sampai terjadi kemacetan. Hal ini karena lemahnya sistem pengendalian intern dalam prosedur penyaluran pembiayaan, dimana adanya otorisasi pembiayaan bagi pihak yang tidak berwenang didalamnya, sering terjadinya kesalahan dalam pencatatan transaksi karena sering terjadi pencatatan ulang dalam memasukkan transaksi, batasan akses terhadap kewenangan pegawai yang sangat tidak efektif, bahkan kurangnya pengecekan serta pengawasan dari pihak atasan kepada masing-masing pegawainya yang dapat memungkinkan terjadinya kecurangan atau kesalahan yang dilakukan pegawai. Analisa prosedur pembiayaan yang dilakukan oleh Account officer terhadap permohonan pembiayaan yang masuk adalah dengan menggunakan prinsip ”5C” (character, capital, capacity, condition of economy, dan collateral), namun permasalahan pembiayaan masih tetap terjadi. Hal ini karena kurang optimalnya pihak A/O dalam menerapkan prinsi-prinsip “5C” pada waktu menganalisa permohonan pembiayaan. Saran dalam penulisan ini adalah dengan tidak memberikan tugas kepada pegawai yang tidak memiliki kewenangan fungsi didalamnya agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan keputusan atas pembiayaan, untuk mencegah terjadinya pencatatan ulang maka sebaiknya dokumen atas transaksi yang ada diberi nomor urut, dilakukan pembaharuan password pegawai agar batasan akses terhadap kewenangan atas masing-masing program komputerisasi lebih efektif, lebih sering diadakan pengecekan dan pengawasan secara independen untuk menghindari kecurangan yang dapat dilakukan oleh pegawai dan untuk petugas Account Officer lebih meningkatkan ketelitian, kejujuran, dan keobyektifannya dalam menilai calon debitur serta lebih mengoptimalkan prinsip-prinsip ”5C” pada saat menilai permohonan pembiayaaan yang masuk. Agar penilaian atas prosedur pembiayaan menjadi lebih baik dan optimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student teams achievement divisions (Stad) dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang / Arief Dwi Septiantoro

 

Strategi pembelajaran yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2004. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan bekerjasama, kreatif dan berfikir kritis serta ada kemauan membantu teman dalam hal belajar. Salah satunya metode dalam pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams Achievement Divisions). Dalam metode STAD siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 anggota. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat bekerjasama dan saling membelajarkan dalam hal penguasaan materi dan diskusi kelompok. Jenis Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengunakan pendekatan kualitatif. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian maka dilakukan pengembangan instrument penelitian. Instrumen yang digunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), Format observasi keterlaksanaan pembelajaran model STAD, Soal pre test dan post test serta dokumen data. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi, angkaet dan tes tertulis. Penelitian dilaksanakan dikelas VIII-H SMP Negeri 10 Malang dengan jumlah siswa 42 orang dengan materi pokok Pasar. Penelitian dilakukan pada tanggal 23 Desember 2008 sampai dengan 31 Desember 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar aspek kognitif pada siklus I menunjukkan persentase nilai rata-rata nilai kelas sebesar 55,71% pada kegiatan pre tes dan meningkat menjadi 69,97% pada saat pos tes. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I sebesar 26,20% pada kegiatan pre tes dan meningkat sebesar 73,80% pada saat pos tes. Sehingga kelas VIII-H SMP Negeri 10 Malang pada siklus I belum tuntas belajarnya kerena ketuntasan belajar secara klasikal belum mencapai 80%. Pada siklus II persentase rata-rata nilai kelas pada saat pre tes sebesar 51,59% meningkat menjadi 68,11% pada saat pos tes. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal sebesar 30,95% pada pre tes meningkat menjadi 85,57% pada saat pos tes. Sehingga pada siklus II kelas VIII-H SMP Negeri 10 Malang dapat dinyatakan telah tuntas belajarnya, dan bisa disimpulkan bahwa ketuntasan belajar klasikal mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil Belajar aspek afektif menunjukkan persentase rata-rata nilai afektif pada siklus I sebesar 72% dan mengalami peningkatan sebesar 90,25% pada siklus II. Sedangkan persentase rata-rata aspek afektif sebesar 70,65% pada siklus I dan meningkat pada siklus II sebesar 91,5%. Hasil belajar aspek psikomotorik menunjukkan persentase rata-rata siklus I sebesar 71,76% dan meningkat pada siklus II sebesar 85,13%. Sedangkan rata-rata nilai psikomotorik kelas sebesar 71,73 pada siklus I meningkat menjadi sebesar 84,66% pada siklus II. Angket respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif model STAD. Saran yang dapat diberikan yaitu guru mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri 10 Malang disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa serta memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa yang memperoleh hasil belajar baik kognitif, afektif maupun psikomotorik jauh dibawah Standar Ketuntasan Minimum (SKM). Bagi siswa pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD ini hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan dan memotivasi hasil belajarnya melalui kerjasama dan aktif dalam belajar agar mencapai hasil belajar yang optimal.

Analisis kesalahan siswa kelas X SMK PGRI 3 Blitar dalam menyelesaikan soal-soal bilangan berpangkat dan bilangan irasional untuk mengetahui kesulitan belajar siswa pada semester gasal tahun ajaran 2008/2009 / Nono Eko Siswanto

 

ABSTRAK Siswanto,Nono Eko. 2008. Analisis Kesalahan Siswa Kelas X SMK PGRI 3 Blitar dalam Menyelesaikan Soal-soal Bilangan Berpangkat untuk Mengetahui Kesulitan Belajar Siswa pada Semester Gasal Tahun Ajaran 2008/2009. Sripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M. Pd,(II) Drs. Susiswo, M.Si Kata kunci: Analisis kesalahan, Menyelesaikan soal-soal, Kesulitan Belajar Matematika memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Matematika bukanlah termasuk bidang studi yang mudah bagi kebanyakan siswa, hal ini menunjukkan siswa masih mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar matematika. Kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari matematika terlihat dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan matematika. Kesalahan-kesalahan siswa bisa berupa salah dalam menyampaikan konsep matematika ataupun kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa perlu adanya analisis untuk mengetahui kesalahan apa saja yang banyak dilakukan oleh siswa dan mengapa kesalahan tersebut dilakukan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kesalahan konseptual dan kesalahan prosedural yang dilakukan siswa, penyebab siswa melakukan kesalahan, dan kesulitan belajar yang dialami siswa. Penelitian ini dilakukan di kelas X PJ2 SMK PGRI 3 Blitar. Tes tertulis diberikan pada 46 siswa, jawaban siswa yang salah dikelompokkan ke dalam kesalahan yang sama kemudian kesalahan tersebut diklasifikasikan ke dalam bentuk kesalahan. Setelah itu dipilih salah satu siswa pada setiap jenis kesalahan untuk diwawancari. Dari wawancara tersebut dapat diketahui penyebab kesalahan siswa dan kesulitan belajar yang dialami siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) kesalahan konseptual yang dilakukan siswa yaitu kesalahan siswa dalam memahami sifat pembagian bilangan berpangkat, kesalahan siswa dalam memahami sifat bilangan irasional, kesalahan siswa dalam memahami operasi hitung bilangan irasional, kesalahan siswa dalam memahami bilangan berpangkat nol, (2) kesalahan prosedural yang dilakukan siswa yaitu kesalahan siswa tidak melanjutkan proses penyelesaian, kesalahan siswa dalam mencermati dan memahami perintah soal, kesalahan siswa menuliskan soal dalam proses penyelesaian, kesalahan siswa dalam menulis soal kembali, kesalahan siswa dalam melakukan operasi perkalian dan pembagian bilangan, kesalahan siswa dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan, kesalahan siswa dalam mengubah bilangan bulat menjadi bilangan berpangkat, kesalahan siswa dalam mengubah bilangan berpangkat menjadi bilangan bulat, kesalahan siswa tidak mengerjakan soal, (3) faktor-faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa yaitu siswa tidak memahami sifat pembagian bilangan berpangkat, siswa tidak memahami sifat bilangan irasional, siswa tidak memahami operasi hitung bilangan irasional, siswa tidak dapat merasionalkan penyebut bilangan irasional, siswa kurang memahami definisi bilangan berpangkat nol, siswa kurang terampil dalam operasi hitung bilangan, siswa kurang teliti, siswa bingung, siswa salah membaca perintah soal, siswa belum bisa membagi waktu dengan baik dalam pengerjaan, (4) kesulitan belajar yang dialami siswa yaitu siswa kesulitan dalam memahami sifat pembagian bilangan berpangkat, kesulitan dalam memahami sifat bilangan irasional, kesulitan dalam merasionalkan penyebut bilangan irasional, kesulitan dalam menjumlahkan, mengurangi, mengalikan bilangan yang melibatkan bilangan negatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1) guru benar-benar memastikan materi prasyarat telah dikuasai oleh siswa, sehingga dapat digunakan modal dasar pada materi selanjutnya, 2) guru diharapkan memberikan perhatian lebih pada siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan cara mengoptimalkan konstruksi pengetahuannya.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10 Malang / Firda Yunita

 

Yunita, Firda. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10 Malang. Pembimbing (I) Drs. Sapir, S.Sos., (II) Dra. Hj. Lisa Rokhmani, M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, Berpikir Kritis, Hasil Belajar. Indonesia merupakan negara sedang berkembang, salah satu cirri negara yang sedang berkembang adalah rendahnya mutu pendidikan yang ada di negara tersebut. Untuk mengatasi masalah pendidikan di negara Indonesia maka pemerintah harus memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan secara serius. Pemerintah harus melakukan pembaharuan khususnya di bidang pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pembelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lainnya serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Dari waktu ke waktu pemerintah selalu berusaha guna penyempurnaan pendidikan salah satunya yaitu penyempurnaan kurikulum. Pemerintah harus memperhatikan kurikulum yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa, yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang kemudian diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yaitu model pembelajaran yang menghadirkan kehidupan nyata ke dalam kelas sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan memecahkan suatu masalah, untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10 Malang pada mata pelajaran ekonomi? (2) Bagaimanakah kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10 Malang setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi? (3) Bagaimanakah hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10 Malang setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi?. Subyek pada penelitian ini adalah kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10 Malang tahun ajaran 2008/2009 dengan jumlah 32 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus yang terdiri dari empat kali pertemuan . Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui kegiatan guru dalam menerapkan model pembelajaran dan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa adalah persentase serta hasil belajar siswa adalah dengan persentase. Untuk kegiatan guru menerapkan model pembelajaran dengan membandingkan persentase ketercapaian tindakan guru pada tiap pertemuan. Sedangkan untuk berpikir kritis, analisis data dilakukan dengan membandingkan persentase rata-rata seluruh aspek pada pengamatan kemampuan berpikir kritis pada siklus I (diperoleh dari rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pertemuan 1 dan pertemuan 2) dan siklus II (diperoleh adri rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pertemuan 1 dan pertemuan 2. Untuk hasil belajar, diperoleh dari nilai post test siklus I dan siklus I dan hasil diskusi tiap pertemuanI. Instrumen yang digunakan untuk penilaian kemampuan berpikir kritis dan keterlaksanaan tindakan guru dalam menerapkan model pembelajaran adalah menggunakan lembar pengamatan atau lembar observasi, sedangkan hasil belajar diperoleh dari hasil post test pada siklus I dan siklus II. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa ditunjukkan oleh peningkatan persentase rata-rata dari jumlah persentase seluruh aspek yang diamati dalam kemampuan berpikir kritis siswa yaitu sebesar 62,08% pada siklus I menjadi sebesar 76,62% pada siklus II. Sedangkan pada peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan meningkatkan jumlah siswa yang nilainya memenuhi standar ketuntasan minimum (≥ 75) yaitu 22 siswa atau 68,75% dari jumlah total siswa sedangkan pada siklus II siswa yang memenuhi standar ketuntasan minimum yaitu sebanyak 30 siswa atau 93,75% dari jumlah total siswa. Dari hasil penelitian, maka ada dua saran yang diberikan yaitu: 1). Bagi guru Ekonomi disarankan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada pokok bahasan APBN dan APBD, 2). Guru ekonomi disarankan pada saat menerapakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) hendaknya disesuaikan dengan materi yang diajarkan kepada siswa dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup sehingga model pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan secara optimal.

Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), current ratio (CR) dan Net Profit Margin (NPM) terhadap return saham pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007 / Ana Imroatul Habibah

 

ABSTRAK Habibah, Ana Imroatul. 2009. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR) dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Periode 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. F. Danardana Murwani, M. M, (II) Fadia Zen, SE, M. M Kata kunci: debt to equity ratio (DER), current ratio (CR), net profit margin (NPM), return saham Tujuan utama seorang investor menginvestasikan dananya pada saham adalah untuk mendapatkan return yang maksimal dengan risiko tertentu. Return saham merupakan tingkat kembalian dari investasi sekuritas saham yakni terdiri dari dividen dan capital gain. Harga saham merupakan harga jual suatu saham di bursa efek yang berkaitan dengan prestasi yang dicapai perusahaan. Informasi yang relevan bagi investor sebagai dasar pengambilan keputusan dalam berinvestasi dapat diperoleh melalui penilaian terhadap harga saham dengan menilai kinerja keuangan perusahaan menggunakan analisis rasio yang diwakili oleh debt to equity ratio (DER), current ratio (CR), dan net profit margin (NPM). Penalitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara debt to equity ratio (DER), current ratio (CR), dan net profit margin (NPM) sebagai variabel bebas terhadap return saham sebagai variabel terikat pada perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007 sebanyak 153 perusahaan. Sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 14 perusahaan yang diambil secara purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari internet (www.idx.co.id). Sedangkan analisis yang digunakan adalah uji hipotesis dengan analisis regresi linear berganda. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa secara parsial variabel debt to equity ratio (DER) dan net profit margin (NPM) berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan variabel current ratio (CR) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Secara simultan variabel debt to equity ratio (DER), current ratio (CR), dan net profit margin (NPM) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham pada perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007. Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian yaitu (1) bagi perusahaan, sebaiknya memperhatikan keadaan variabel debt to equity ratio (DER) dan net profit margin (NPM) untuk meningkatkan harga dan return saham perusahaan, (2) bagi investor, variabel debt to equity ratio (DER), current ratio (CR) dan net profit margin (NPM) dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan dalam berinvestasi, (3) bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian sejenis agar menambah jumlah variabel dan sampel penelitian serta menggunakan periode waktu yang lebih panjang agar hasil yang diperoleh lebih maksimal.

Pengaruh return on equity (ROE), earning per share (EPS) dan divident payout ratio (DPR) terhadap harga saham pada Perusahaan Perbankan yang listing di BEI periode 2005-2007 / Indah Lestari Triwahyuni

 

ABSTRAK Triwahyuni, Indah Lestari. 2008. Pengaruh Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Divident Payout Ratio (DPR) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Perbankan yang Listing di BEI periode 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. F. Danardana Muwarni M.M. (2) Fadia Zen, SE, M. M. Kata Kunci: Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Divident Payout Ratio (DPR) dan Harga Saham. Saham merupakan salah satu bentuk investasi yang banyak dipilih oleh investor. Kenaikan atau penurunan harga saham setiap saat dapat menentukan untung rugi bagi investor atas saham atau portofolio yang dimiliki. Harga saham yang diperdagangkan di bursa berkaitan dengan prestasi yang dicapai perusahaan. Prestasi perusahaan salah satunya dapat dilihat dari kinerja keuangan yang tercermin dari rasio-rasio keuangan. Penilaian harga saham dapat dilakukan dengan menggunakan analisis fundamental yang berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan. Untuk menilai harga saham, investor harus melakukan analisis terlebih dahulu terhadap saham-saham yang ada di pasar modal untuk menentukan saham mana yang dapat memberiklan return paling optimal dan risiko yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel yang terdiri dari Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Divident Payout Ratio (DPR) terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan yang listing di BEI baik secara parsial maupun secara simultan. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara teknik dokumentasi yang diperoleh dari data sekunder Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh BEI. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif dan analisis regresi linier berganda dengan uji t dan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Divident Payout Ratio (DPR) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan. Secara parsial variabel Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan. Sedangkan variabel Divident Payout Ratio (DPR) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu: (1) diharapkan investor perlu memperhatikan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham, (2) diharapkan agar perusahaan selalu meningkatkan kinerjanya sehingga dapat meningkatkan tingkat pengembalian saham, dan (3) diharapkan bagi peneliti selanjutnya menggunakan lebih banyak variabel-variabel fundamental dalam menilai kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, sampel yang digunakan juga lebih banyak dan memperpanjang periode pengamatan sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih baik.

Efektivitas penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) terhadap penguasaan materi siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 9 Malang / Ririn Kusnawati

 

Peningkatan kualitas pembelajaran mutlak diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Di SMA Negeri 9 Malang metode mengajar yang dilaksanakan hanya melalui ceramah. Salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam rangka mengaktifkan dan mengembangkan potensi siswa dalam pembelajaran ekonomi adalah dengan menerapkan model pembelajaran TGT. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah: (1) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) di SMA Negeri 9 Malang. (2) Untuk mengetahui hasil penguasaan materi siswa kelas X yang diajarkan dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) di SMA Negeri 9 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang. Sampel kelas X.6 dan X.7 dengan jumlah siswa masing-masing kelas adalah 41 siswa kelas X.6 dan 40 siswa kelas X.7. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu:(1) Penggunaan metode kooperatif model TGT sebagai variabel bebas (variabel independen). (2) Penguasaan materi sebagai variabel terikat. Instrumen penelitian adalah (1) Instrumen Pembelajaran yang terdiri dari silabus/ Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, LKS, kartu soal dan kartu jawaban (2) Instrumen untuk mengukur penguasaan materi siswa yaitu tes kognitif. Tes ini terdiri dari pretes untuk mengukur kemampuan awal siswa dan post tes untuk mengetahui hasil penguasaan siswa. Uji hipotesis dengan menggunakan uji t dua pihak, sebelum dilakukan uji t dilakukan uji prasarat analisis yaitu dengan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil dari penelitian ini adalah tedapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan metode ceramah dan siswa yang diajar dengan metode kooperatif model TGT. Rata-rata kelas yang diajar dengan metode TGT adalah 79,75 sedangkan kelas yang diajar dengan ceramah adalah 66,22. Hal ini memberikan gambaran bahwa penguasaan materi pada kelas yang diajar dengan model TGT lebih tinggi daripada kelas yang diajar dengan metode ceramah. Pelaksanaan pembelajaran dengan metode kooperatif berjalan dengan efektif. Peningkatan unsur berada pada riteria cukup bagus sampai bagus. Saran sebaiknya dilakukan pengawasan dalam pelaksanaan metode ini agar tercipta suasana belajar yang lebih lancar.

Hubungan keadaan sosial ekonomi orang tua dan lingkungan tempat tinggal terhadap prestasi belajar matakuliah Perencanaan Bangunan Gedung mahasiswa program S-1 Jurusan PTB - FPTK - IKIP Malang
Johar Arifin

 

Pengembangan video pembelajaran IPA pokok bahasan perpindahan kalor kelas VII di SMP Budi Mulia Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Septian Ratman Dhita

 

Dhita, Septian Ratman. 2013. Pengembangan Media Video Pembelajaran IPA Untuk Siswa Kelas VII Semester I SMP Budi Mulia Pakisaji Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I). Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, (II) Henry Praherdhiono, S.si. M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Media Video, Pembelajaran, IPA Media video merupakan perwujudan dari multimedia pembelajaran, karena penyampaiannya mengandung unsur audio, visual serta gambar bergerak, sehingga dapat menarik minat pengguna. Hal ini didasari oleh asumsi dua-saluran yaitu audio dan visual. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMP Budi Mulia Pakisaji Malang, pada mata pelajaran IPA untuk kelas VII, dalam mengajar guru menerapkan metode ceramah dan menggunakan buku. Dengan menggunakan metode tersebut siswa cenderung sulit memahami materi yang diberikan. Tujuan pengembangan media video pembelajaran ini adalah mengahasilkan sebuah video sebagai salah satu alternatife media pembelajaran IPA kelas VII SMP yang efektif dalam pembelajaran. Karakteristik dari media video pembelajaran ini adalah terdapat gambar bergerak dengan penjelasan narator, sehingga akan mendorong tingkat keaktifan siswa dalam belajar. Subjek uji coba dalam pengembangan media video pembelajaran ini adalah siswa kelas VII SMP Budi Mulia Pakisaji Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket. Angket diberikan kepada seorang ahli media, seorang ahli materi dan siswa kelas VII SMP Budi Mulia Pakisaji Malang untuk mengukur tingkat kevalidan media yang telah diproduksi. Sedangkan untuk mengukur hasil belajar siswa terhadap materi yang telah disajikan, dilakukan pre-test sebagai evaluasi sebelum menggunakan media dan post-test sebagai evaluasi setelah menggunakan media. Hasil pengembangan media video pembelajaran ini memenuhi kriteria valid dengan hasil validasi ahli media mencapai tingkat kevalidan 80%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 85% dan siswa perseorangan mencapai tingkat kevalidan 89,16%. Sedangkan untuk hasil belajar menunjukkan bahwa terjadi peningkatan belajar siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan media video pembelajaran ini. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memenuhi SKM, siswa uji coba lapangan dari 50% sebelum menggunakan media video pembelajaran, menjadi 86,66% sesudah menggunakan media video pembelajaran. Sehingga media video pembelajaran ini bisa dikatakan efektif dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

Implementasi kolaborasi strategi kooperatif jigsaw dan tutorial seraya untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran keterampilan komputer dan pengelolaan informasi (KKPI) (Studi pada siswa kelas X Program Keahlian Penjualan SMK Muhammdiyah

 

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam mendukung intensitas manusia untuk mengikuti arus globalisasi. Perkembangan di segala bidang, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi, menandai datangnya era globalisasi. Pada masa ini segala sesuatu dengan mudah dapat diakses dan nampak di depan mata. Namun suatu bangsa dan negara tidak akan mampu mengikuti perkembangan tersebut tanpa adanya pendidikan yang memadai, karena pendidikan merupakan bekal utama untuk dapat berproses dan masuk disegala bidang. Pendidikan juga yang sangat berperan dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Upaya meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas tidak terlepas dari peranan semua komponen pendidikan yang terkait, mulai dari konsep pendidikan, sarana dan prasarana, faktor SDM, serta metode dan stretegi pembelajaran yang digunakan dalam mewujudkan suasana belajar yang kondusif demi tercapainya target dan tujuan pendidikan yang diharapkan. Salah satu metode yang bisa diimplementasikan adalah strategi Kooperatif Jigsaw dan Tutorial Sebaya dalam rangka meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi pembelajaran kontekstual dengan kolaborasi stra tegi kooperatif Jigsaw dan Tutorial Sebaya, pada mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Penglolaan Informasi (KKPI) studi pada siswa kelas X program keahlian Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang, sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang, yang aktif mengikuti pelajaran Keterapilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) berjumlah 29 siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif, yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan empat tahapan untuk masing-masing siklus, yaitu: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Pengamatan, dan 4) Refleksi. Data-data dalam penelitian ini deperoleh melalui: 1) Observasi, 2) wawancara, 3) angket, 4) catatan lapangan, dan 5) dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1) Reduksi data, 2) Paparan data, dan 3) Penyimpulan hasil analisis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa untuk setiap siklus, Dari angket motivasi diketahui siswa merasa senang dan termotivasi belajar dengan menggunakan strategi Kooperatif Jigsaw dan Tutorial Sebaya. Hal itu diketahui dari 27 pernyataan positif angket pada yang diberikan pada siklus I menunjukkan 40,74% pernyataan direspon sangat positif, 55,55% pernyataan direspon positif, sedangkan 3,70% direspon negatif. Hal ini mengalami peningkatan pada siklus II yaitu, 40,74% direspon sangat positif dan 59,26% direspon positif, sedangkan yang merespon negatif tidak ditemulan. Dari data hasil tes siswa, pada pre test siklus I diketahui nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 35,17, sedangkan pada post test siklus I dapat diketahui nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,83, mengalami peningkatan sebesar 84,33%. rincian hasil post test sebagai berikut, siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 25 siswa (86,21%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 4 siswa (13,79%). Hasil belajar pada siklus I sudah memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal. Berdasarkan data hasil belajar pada siklus I dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang nilainya dikategorikan Tuntas baik (TB) sebanyak 17 siswa (58,62%), kategori Tuntas (T) sebanyak 8 siswa (27,58%), kategori tidak (TT) sebanyak 3 siswa (10,34%), dan dikategorikan tidak tuntas dengan Nilai mati (NM) sebanyak 1 siswa (3,44%). Dengan demikian diketahui bahwa prestasi belajar siswa pada siklus I dikategorikan sudah mencapai ketuntasan belajar klasikal (≥85%), dengan prosentase ketuntasan belajar klasikal mencapai 86,21% siswa telah tuntas. Prestasi belajar mengalami peningkatan pada siklus II. Dari data hasil tes siswa, pada pre test siklus II diketahui nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 61,38, sedangkan pada post test siklus II dapat diketahui nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 74,65, mengalami peningkatan sebesar 17,78%. Rincian hasil post test pada siklus II adalah, siswa tuntas sebanyak 27 siswa (93,10%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 2 siswa (6,90%). Hasil belajar pada siklus II sudah memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal. Berdasarkan data hasil belajar pada siklus II dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang nilainya dikategorikan Tuntas baik (TB) sebanyak 27 siswa (93,10%), kategori tidak (TT) sebanyak 1 siswa (3,45%), dan dikategorikan tidak tuntas dengan Nilai mati (NM) sebanyak 1 siswa (3,45%). Dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa pada siklus II dikategorikan sudah mencapai ketuntasan belajar klasikal (≥85%). dengan prosentase ketuntasan belajar klasikal yang dicapai adalah 93,10%. Pencapaian ketuntasan belajar pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I yaitu sebesar 7.99%. Saran yang bisa diberikan adalah: 1) Bagi sekolah, diharapkan dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat, dan sesuai dengan masing-masing karakteristik mata pelajaran, 2) Bagi guru, supaya mengimplementasikan Strategi Kooperatif Jigsaw dan Tutorial Sebaya, sebagai alternatif model pembelajaran yang tepat. Terutama pada mata pelajaran KKPI, 3) Bagi siswa, agar dapat belajar dengan giat, menghargai guru, menghargai teman, serta saling bekerjasama yang baik antar sesama teman, 4) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan kegiatan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan mengimplementasikan pembelajaran Kooperatif Jigsaw dan Tutorial Sebaya, 5) Bagi Kampus, dapat digunakan sebagai referensi dalam pembuatan karya ilmiah mahasiswa selanjutnya.

Pelaksanaan pembelajaran kontekstual metode questioning untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan menjawab serta hasil belajar pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan (Studi pada siswa kelas X APK di SMK PGRI 2 Malang) / Titik Sri Lestari

 

Pembelajaran kontekstual merupakan suatu pembelajaran yang diterapkan guru dengan cara mengaitkan isi materi pelajaran dengan dunia nyata sehingga dapat membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran yang diberikan. Strategi utama pembelajaran kontekstual adalah Questioning (bertanya). Metode Questioning merupakan suatu metode yang digunakan guru untuk memancing keingintahuan siswa dan mendorong siswa agar mengajukan pertanyaan serta merangsang siswa berfikir, berdiskusi dan berspekulasi. Dalam pembelajaran kontekstual dengan metode Questioning siswa dituntut aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dan bertanya tentang materi yang belum dimengerti kepada guru. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan bertanya, menjawab dan hasil belajar siswa. Penilaian kemampuan bertanya meliputi aspek kualitas pertanyaan, relevansi, bahasa dan frekuensi. Penilaian kemampuan menjawab meliputi aspek kebenaran jawaban, relevansi, bahasa dan frekuensi. Sedangkan hasil belajar diukur dari hasil tes yang diberikan guru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, yaitu selama bulan November-Desember 2008. Subyek penelitian ini adalah 43 siswa kelas X APK. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes tertulis dan catatan lapangan. Sedangkan teknik analisis data terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan kemampuan bertanya siswa, pada sisklus I ada 1 siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru, pada siklus II meningkat menjadi 4 siswa yang bertanya. Sedangkan pada saat diskusi, skor rata-rata kemampuan bertanya siswa dari 77,4% pada siklus I meningkat menjadi 82,53% pada siklus II dimana presentase keberhasilan mencapai kualifikasi tinggi (>80%). Kemampuan menjawab siswa, pada siklus I ada 6 siswa yang menjawab pertanyaan guru dengan skor rata-rata 91,60%, pada siklus II meningkat menjadi 8 siswa dengan skor 95,36%. Sedangkan pada saat diskusi, skor rata-rata kemampuan menjawab 88,38% pada siklus I, menurun menjadi 85,07% pada siklus II. Hal ini dikarenakan ada beberapa siswa tidak membuat pertanyaan dan terdapat 1 pertanyaan belum terjawab dikarenakan siswa kesulitan menjawab soal. Hasil belajar siswa yang semula rata-ratanya hanya 17,71 pada saat sebelum tindakan, menjadi 63,58 pada siklus I dan menjadi 69,26 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah (1) guru lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan keaktifan kelas terutama untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dan hendaknya guru banyak mengajukan lebih banyak pertanyaan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa; (2) Siswa hendaknya lebih meningkatkan keaktifan untuk bertanya dan menjawab karena sangat penting dalam pembelajaran; (3) Peneliti lain sebaiknya melaksanakan penelitian lebih dari dua siklus agar dapat mengoptimalkan kemampuan siswa dan hasil belajarnya; (4) Metode pembelajaran Questioning hendaknya digunakan sebagai acuan pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan disekolah; (5) Metode ini hendaknya dapat digunakan sebagai metode mengajar dosen maupun pengajar pada umumnya untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa.

Pergulatan tafsir dan proses belajar masyarakat dusun Binangun Desa Bumiaji terhadap tradisi suruhan dalam Slametan Gadeso / Denok Dwi Krestanti

 

Indonesia mempunyai berbagai macam kebudayaan, tradisi, juga kebiasaan yang berkembang di masyarakat, yang masingmasing mempunyai ciri khas dan keunikan yang bisa ditonjolkan. Masingmasing daerah dan suku mempunyai kebudayaan yang berasal dari warisan nenek moyang dan dilestarikan secara turunmenurun. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis mengulas tentang tradisi yang berkembang dalam masyarakat Jawa yaitu tradisi suruhan dalam upacara selametan Gadeso yang terdapat di desa Bumiaji kota Batu, kabupaten Malang. Skripsi ini membahas tiga permasalahan yaitu: (1) Bagaimana asalusul tradisi Suruhan (2) Bagaimana pergulatan tafsir yang terjadi dalam masyarakat Bumiaji tentang tradisi Suruhan (3) Bagaimana masyarakat belajar kebudayaan melalui pergulatan tafsir terhadap tradisi Suruhan. Penulisan ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui asalusul tradisi Suruhan (2) Untuk mengetahui pergulatan tafsir yang terjadi pada masyarakat Bumiaji tentang tradisi Suruhan. (3) Untuk mengetahui pembelajaran kebudayaan masyarakat melalui pergulatan tafsir terhadap tradisi Suruhan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif. Untuk memperoleh data, peneliti memakai metode kepustakaan dan studi lapangan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Selain itu penelitian ini juga menggunakan data pengalaman individu karena peneliti adalah salah satu komunitas dalam masyarakat yang akan diobservasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pertama terkait sejarahnya, tradisi suruhan ini sendiri sudah mulai kabur dikalangan masyarakat karena umurnya yang sudah sangat lama. Tidak ada generasi yang mengetahui secara pasti kapan tradisi suruhan mulai diadakan. Sedangkan generasi sekarang hanya menerima suatu warisan budaya yang merupakan sebuah amanat agar tetap dijaga dan dilestarikan seterusnya. Kedua tentang pergulatan tafsir yang secara tidak langsung menimbulkan clash diantara warga masyarakatnya. Ada tiga kelompok yang dapat dibedakan terkait pergulatan tafsir dalam tradisi suruhan yaitu; kelompok yang pro, kelompok yang kontra, dan kelompok netral, yang cenderung mengikuti mainstream yang dirasa aman. Perbedaan pemikiran tersebut tidak menimbulkan konflik yang berarti, karena masyarakat lebih mementingkan harmoni sosial dan kerukunan. IV Ketiga, proses pembelajaran terkait dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat menyikapi sebuah perbedaan tafsir atau cara pandang dalam tradisi suruhan. Masyarakat menyikapi perbedaan tafsir tersebut dengan cara yang cukup dewasa, dan mereka menghargai perbedaan satu sama lainnya, sehingga dapat memperkecil terjadinya konflik yang ada. Masyarakat dusun Binangun yang notabene masyarakat Jawa lebih mementingkan pengakuan nilai bersama dalam hal harmoni sosial sehingga menutupi perbedaanperbedaan, dan dapat meredam konflik yang ada.

Sifat organoleptik minyak wijen yang dekstrak dengan menggunakan pelarut minyak yang berbeda / Nurul Laili Maulidiah

 

ABSTRAK Maulidiah, Nurul Laili. 2009. Sifat Organoleptik Minyak Wijen yang Diekstrak dengan Menggunakan Pelarut Minyak yang Berbeda. Tugas Akhir, Program Studi Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Wiwik Wahyuni, M. Pd. (II) Ir. Issutarti. Kata kunci: minyak wijen, minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak kacang tanah, organoleptik. Minyak wijen adalah minyak yang diekstrak dari biji-biji wijen. Minyak ini banyak digunakan di Jepang sebagai pengganti minyak salad. Sedangkan di Indonesia dan Cina minyak wijen digunakan sebagai penambah rasa dan aroma masakan. Ada dua jenis minyak wijen, yakni native oil dan refined oil. Jenis pertama (native oil) cocok digunakan untuk saus salad dan masakan yang diolah pada suhu dibawah titik didih. Jenis kedua (retined oil) tahan pada suhu tinggi sehingga sering digunakan untuk menggoreng. Pembuatan minyak wijen dapat dilakukan dengan proses pres dingin, sangrai dan pres panas. Minyak wijen yang banyak dijual di Indonesia adalah minyak wijen dengan proses penyangraian. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan minyak wijen yang diekstrak dengan menggunakan pelarut minyak nabati yang berbeda, yaitu minyak kelapa sawit, minyak jagung, dan minyak kacang tanah. Masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali pengulangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik yang meliputi warna, kekeruhan, dan aroma melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Eksperimen dilakukan pada bulan November sampai Desember 2008 di Laboratorium Pastry dan Bakery Tata Boga Gedung H4 lantai dua Universitas Negeri Malang. Data diperoleh dari panelis agak terlatih sebanyak 20 orang, yaitu mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006 secara acak. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap warna dan aroma antara minyak wijen yang diekstrak dengan minyak kelapa sawit, minyak jagung, dan minyak kacang tanah. Hasil uji mutu hedonik terhadap warna, kekeruhan, dan aroma minyak wijen menunjukkan bahwa minyak wijen yang diekstrak dengan menggunakan minyak kacang tanah menempati skor tertinggi. Untuk kekeruhan minyak wijen yang diekstrak dengan menggunakan minyak jagung mempunyai skor tertinggi. Sedangkan dari uji hedonik panelis menyukai warna, kekeruhan, dan aroma minyak wijen yang diekstrak dengan menggunakan minyak kacang tanah.

Hubungan antara kadar tanah liat pada cetakan pengecoran alumunium dengan kehalusan permukaan hasil cetak dan kekuatan tarik / Andhika Dwi Anggara

 

Kualitas benda hasil produk pengecoran sangat ditentukan oleh material cetakan, komposisi kimia logam cair maupun proses pengecoran yang dilakukan. Untuk mengetahui pengaruh kadar tanah liat pada cetakan terhadap pengecoran logam alumunium tingkat kehalusanya dan tingkat uji kekuatan tariknya, kami ambil sampel pada pengecoran logam AL. Dengan proses yang baik maka proses finishing hasil pengecoran logam alumunium dapat berkurang. Sehingga penggunaan bahan logam dapat digunakan secara maksimal. Metodologi penelitian menggunakan deskriptif eksperimental dimana pengumpulan data melalui hasil pengujian di laboratorium. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah besarnya kadar tanah liat pada pasir cetak: 6%, 8%, 10%, 12%, dan 14%. Sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah tingkan kehalusanya dan kekuatan tarik hasil pengecoran logam alumunium. Dari pengolahan data hasil penelitian untuk tingkat kehalusan hasil pengecoran ditemukan bahwa: nilai Fhitung = 131,605 dan taraf signifikansi < 0,01, sehingga hipotesis yang dapat diambil adalah: ada perbedaan yang signifikan pada besarnya kadar tanah liat yang terdapat pada pasir cetak terhadap tingkat kehalusanya.Sedangkan data hasil penelitian untuk tingkat kekuatan tarik hasil pengecoran ditemukan bahwa: Nilai Fhitung = 50,076 dengan taraf signifikansi < 0,01, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa H1 diterima artinya ada perbedaan yang signifikan pada kadar tanah liat yang terdapat pada pasir cetak terhadap tingkat kekuatan tariknya.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa (Studi di kelas XI APK SMK PGRI 6 Malang) / Yuyun Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Yuyun. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pada Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa. (Studi di Kelas XI APK SMK PGRI 6 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Arief, M.Si., (2) Imam Bukhori, S.Pd., M.M Kata Kunci: Problem Based Learning, Prestasi Belajar Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari materi pelajaran (Nurhadi,dkk). Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di kelas XI APK SMK PGRI 6 Malang diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan oleh Guru selama ini masih menggunakan pola-pola pembelajaran konvesional, dimana peran guru masih sangat dominan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pemberian tugas. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini diindikasikan sebagai penyebab rendahnya prestasi belajar siswa. Atas dasar inilah, maka penelitian tentang penerapan model pembelajaran Problem Based Learning ini dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas pembelajaran baik oleh guru maupun siswa, prestasi belajar siswa dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI APK SMK PGRI 6 Malang semester gasal tahun ajaran 2008/2009 SMK PGRI 6 Malang yang berjumlah 38 siswa dan dilakukan mulai tanggal 13 November sampai dengan 4 Desember 2008. Instrumen penelitian yang digunakan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran, test, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi penilaian ranah psikomotor, catatan lapangan, dan format penilaian. Analisis hasil penelitian menggunakan teknik presentase. Hasil penelitian penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas XI APK SMK PGRI 6 Malang adalah sebagai berikut: (1) Pada Siklus I diketahui bahwa hasil pre test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 25,61. Diperoleh nilai terendah 25 dan tertinggi 30. Sedangkan dari perolehan nilai post test siswa dihasilkan nilai rata-rata sebesar 78,38. Nilai terendah yang diperoleh adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 100. Tingkat keaktifan siswa pada Siklus I dalam kategori “A” dengan presentase rata-rata aktivitas siswa dalam pembelajaran sebesar 93,75%. Sedangkan hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam menerapkan pembelajaran Problem Based Learning pada tindakan Siklus I ini dengan presentase 93,75%. (2) Pada Siklus II nilai rata-rata pre test siswa dperoleh sebesar 49,87. Diperoleh nilai terendah adalah 25 dan nilai tertinggi adalah 65. Sedangkan dalam post test Siklus II dihasilkan nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 87,76. Diperoleh nilai terendah adalah 85 dan nilai tertinggi adalah 100. Tingkat keaktifan siswa pada tindakan Siklus II dalam kategori “A” dengan presentase rata-rata aktivitas siswa dalam pembelajaran sebesar 100%. Sedangkan hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam menerapkan pembelajaran Problem Based Learning pada tindakan Siklus I ini dengan presentase 96,88%. Berdasakan hasil penelitian ini, dapat disarakan (1) bagi para guru mata diklat di SMK PGRI 6 Malang hendaknya menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning sebagai alternatif pembelajaran untuk lebih meningkatkan prestasi belajar siswa,(2) pencipataan iklim belajar yang kondusif untuk penerapan model Problem Based Learning sangat diperlukan dan penyediaan bahan acuan serta perangkat pembelajaran akan memperlancar proses penerapan model pembelajaran ini, (3) dalam penerapan model pembelajaran Problem Based Learning, siswa harus didorong untuk memperkaya pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dan terarah, (4) di dalam melaksanakan model pembelajaran Problem Based Learning hendaknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas dengan pemberian artikel saja, tetapi sebaiknya juga dilakukan diluar kelas/mengajak siswa untuk terjun langsung secara bersama-sama ke lapangan untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan materi, (5) dalam model pembelajaran Problem Based Learning peran guru adalah sebagai motivator, innovator dan fasilitator, (6)penerapan model yang agak lama, guru hendaknya memperhatikan pembagian alokasi waktu jika menggunakan model pembelajaran ini, (7) penerapan model pembelajaran Problem Based Learning perlu dukungan dari seluruh komponen yang ada di sekolah,(8) hendaknya diperhatikan kualitas siswa(input), (9) untuk penelitian selanjutnya, hendaknya diterapkan pada bidang studi/program keahlian yang lain.

Pelaksanaan strategi diversifikasi produk dalam upaya menarik perhatian konsumen pada rumah makan lesehan dan galeri joglo Dau Kabupaten Malang / Achmad Chamdani

 

ABSTRAK Chamdani, Achmad. 2009. Pelaksanaan Strategi Diversifikasi Produk dalam Upaya Menarik Perhatian Konsumen pada Rumah Makan Lesehan dan Galeri Joglo Dau Kabupaten Malang. Tugas Akhir, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. I Nyoman Suputra, M.Si. Kata kunci: strategi diversifikasi produk, menarik perhatian konsumen. Memasuki dunia usaha yang semakin berkembang pesat pada saat ini membuat persaingan usaha semakin ketat sehingga mendorong perusahaan untuk mampu bersaing dan menarik konsumen. Dalam persaingan yang semakin ketat tersebut, produsen harus mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen. Sehingga, produk yang dihasilkan merupakan produk yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, strategi produk perlu dilakukan produsen. Salah satu strategi produk yang dapat dilakukan oleh produsen yaitu strategi diversifikasi produk. Dengan strategi diversifikasi produk, produsen dapat menarik perhatian konsumen untuk meningkatkan penjualan. Pada saat ini di kota Malang banyak sekali bermunculan rumah makan, ini akan semakin memperketat persaingan. Salah satu dari rumah makan yang ada di kabupaten Malang adalah Lesehan & Galeri “Joglo Dau”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Pelaksanaan strategi diversifikasi produk pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau”. (2) Tujuan pelaksanaan strategi diversifikasi produk pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau”. (3) Faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan strategi diversifikasi produk pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau”. Pelaksanaan dari Praktikum Manajemen Pemasaran III yang digunakan dalam penyusunan Tugas Akhir ini dilakukan mulai tanggal 6 Oktober 2008 dan berakhir pada tanggal 6 November 2008. Untuk sistem praktik di Lesehan & Galeri “Joglo Dau”, dilakukan sesuai dengan perencanaan kegiatan, yaitu: mencari data yang ada dalam Lesehan & Galeri “Joglo Dau” dengan bekerja langsung sesuai pekerjaan apa yang dilakukan karyawan Lesehan & Galeri “Joglo Dau”. Sesuai dengan judul yang telah diambil maka penulis melakukannya dengan terjun langsung bersama para karyawan. Dari hasil laporan ini dapat diketahui bahwa pelaksanaan strategi diversifikasi produk pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau” yaitu strategi diversifikasi konsentris dan konglomerat. Tujuan dari strategi diversifikasi tersebut untuk meningkatkan daya saing perusahaan, penyebaran resiko, memberi kepuasan pada konsumen, meningkatkan omset penjualan. Faktor pendorong dalam pelaksanaan strategi diversifikasi produk yaitu kebutuhan dan keinginan konsumen yang heterogen dan persaingan usaha. Sedangkan faktor penghambatnya karena adanya ketergantugan dalam menciptakan menu baru dan barang yang dijual adalah tergolong bahan yang tidak tahan lama. Berdasarkan hasil laporan ini, dapat disarankan agar Lesehan & Galeri “Joglo Dau”, yaitu: (1) Perlunya peningkatan skill pada bagian dapur agar penciptaan menu produk tidak tergantung pada satu orang saja. (2) Dalam menciptakan menu produk seharusnya dilakukan sesuai dengan tren kebutuhan dan keinginan konsumen. (3) Menjaga dan meningkatkan kualitas produk. (4) Dalam buku menu makanan dan minuman agar terlihat lebih menarik perlu diberi gambar menu produk.

Pengaruh struktur aktiva, struktur modal, dan financial leverage terhadap rentabilitas modal sendiri pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) di Kota Malang periode 2006-2007 / Onysimus Cahyo K.

 

Dalam badan usaha koperasi salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja keuangan koperasi adalah dengan rentabilitas modal sendiri. Rentabilitas modal sendiri merukapan salah satu alat ukur yang berguna dalam mengukur kemampuan koperasi untuk memperoleh laba (SHU) dengan menggunakan modal sendiri yang dimiliki koperasi. Artinya untuk memperoleh rentabilitas modal sendiri yang tinggi, maka koperasi harus berusaha meningkatkan laba (SHU) yang diperoleh setiap periodenya.. Meskipun laba (SHU) bukan merupakan orientasi utama dalam koperasi, namun SHU merupakan faktor penting dan harus diwujudkan. SHU bagi koperasi merupakan satu sumber penting dari pemupukan modal sendiri. Pemupukan modal sendiri tersebut akan lebih meningkatkan efisiensi dan memperkokoh kemandirian koperasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh struktur aktiva, struktur modal dan financial leverage terhadap Rentabilitas Modal Sendiri. Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimen yang sifatnya korelasi recursive (satu arah). Adapun bentuk hubungan antara variabel ini adalah hubungan kausal atau hubungan sebab akibat, yakni apabila “X” maka “Y”. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 18 KPRI yang yang terdaftar di Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi kota Malang yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari DISPERINDAGKOP kota Malang tahun 2006-2007. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 11.0. Uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas dan uji multikolinieritas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Struktur aktiva dan Financial leverage secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Rentabilitas Modal Sendiri dengan tanda positif. Variabel Struktur modal secara parsial juga berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas modal sendiri, tetapi dengan tanda negatif. Secara simultan variabel struktur aktiva, struktur modal, dan financial leverage berpengaruh signifikan terhadap Rentabilitas Modal Sendiri. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah sampel dari badan usaha yang sama atau meneliti koperasi di luar KPRI, menambah variabel, memperpanjang periode atau rentang waktu penelitian sehingga lebih diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap rentabilitas modal sendiri pada koperasi.

Interpretasi foto udara pankromatik hitam putih untuk pemetaan erosi menggunakan metode usle di Sub Das Ngujung Kecamatan Bumiaji Kota Batu / Aisyah Ainun Nikmah

 

Pembelajaran materi prisma dengan pendekatan belajar kooperatif model STAD pada siswa kelas III semester I SMPN Baktiya Kabupaten Aceh Utara Propinsi Nangroe Aceh Darussalam oleh Rizwan

 

Kebijakan peningkatan pelayanan pembuatan surat ijin mengemudi (SIM C) di Polres Malang / Hendri Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Hendri. 2009. Kebijakan Peningkatan Pelayanan Pembuatan Surat Ijin Mengemudi (SIM C) di Polres Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegraaan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M. Si, (II) Dra. Sri Untari, M.Si. Kata kunci: peningkatan pelayanan, pembuatan SIM C Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa pelayanan pembuatan SIM C di Polres Malang masih terhambat oleh sumber daya manusia pemohon SIM C yang rendah, infrastruktur yang kurang memadai dan pelanggaran terhadap prosedur yang berlaku, sehingga hal ini menyebabkan kurang maksimalnya pelayanan yang diberikan oleh Instansi Unit SIM Polres Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan peningkatan pelayanan pembuatan SIM C, alasan dilakukannya peningkatan pelayanan pembuatan SIM C, dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat peningkatan pelayanan pembuatan SIM C di Polres Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah kepala unit SIM, petugas instansi unit SIM Polres Malang dan pemohon SIM C. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap-tahap dalam penelitian ini meliputi tahap persiapan, pekerjaan lapangan, dan pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kebijakan peningkatan pelayanan pembuatan SIM C di Polres Malang adalah pemberian kelonggaran kepada pemohon buta huruf, pembaruan sarana, evaluasi terhadap kinerja petugas, dan pensosialisasian program-program dari Instansi unit SIM Polres Malang. (1) kelonggaran atau keringanan prosedur diberikan terhadap pemohon SIM C yang buta huruf, yang diakibatkan pendidikan yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan pemberian kesempatan kepada masyarakat pemohon SIM C untuk dapat belajar membaca selama 2 bulan. Ini dilakukan agar masyarakat dapat memiliki SIM C secara mudah mengingat ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan roda dua yang sangat besar. (2) pelaksanaan program SIM keliling kepada masyarakat pemohon, bertujuan agar mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan terutama bagi yang tidak sempat ke instansi dan yang letak rumahnya jauh dari instansi. (3) Pembaharuan terhadap sarana dan prasarana/ infrastruktur juga merupakan kebijakan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pengadaan sistem berbasis komputer yang baru pada bagian pendaftaran dan uji teori serta pengadaan AC di ruangan petugas bertujuan agar petugas yang melayani bisa maksimal dan lebih cepat dalam pelayanan pemberian pelayanan kepada masyarakat. (4) evaluasi terhadap kinerja petugas, dibuktikan dengan evaluasi yang dilaksanakan tiap 2-6 bulan agar dapat diketahui kekurangan dan kelebihan dari petugas pelayanan. Hal ini bertujuan untuk memberikan sanksi dan penghargaan (reward and punishment) kepada petugas yang melanggar atau berprestasi. (5) pensosialisasian program-program Instansi unit SIM Polres Malang, hal ini dibuktikan dengan dilakukannya sosialisasi di sekolah-sekolah dan instansi lain bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang informasi yang akan diberikan instansi. Alasan peningkatan pelayanan pembuatan SIM C di Polres Malang yakni masyarakat pemohon SIM C menuntut untuk mendapatkan pelayanan yang mudah dan tidak berbelit-belit. Dengan demikian secara moral instansi memiliki tanggung jawab untuk menyelenggarakan pelayanan publik yang baik. Faktor instansi, yakni memulihkan citra Instansi unit SIM Polres Malang bahwa instansi tidaklah menyelengarakan pelayanan yang berbelit-belit seperti anggapan masyarakat akan tetapi telah melakukan perbaikan dengan pemberian pelayanan yang maksimal dan bersahabat. Faktor Pendukung peningkatan pelayanan pembuatan SIM C di Polres Malang, adalah petugas berkualitas hal ini dibuktikan dengan lamanya masa kerja mereka dan seringnya mereka mengikuti seminar-seminar dan pendidikan tentang pelayanan publik. Faktor pendukung lainnya adalah faktor komputerisasi yang cukup memadai, hal ini dibuktikan dengan sistem berbasis komputer yang terdapat pada bagian produksi, sehingga hal ini dapat membantu mempersingkat waktu dalam proses pembuatan SIM C. Sedangkan faktor eksternal yakni adanya himbauan atau peraturan sekaligus pengawasan. Hal ini di buktikan dengan inspeksi mendadak yang dilakukan oleh Provost Polda Jawa Timur sehingga membuat instansi harus banyak melakukan pembenahan-pembenahan. Faktor penghambat peningkatan pelayanan pembuatan SIM C di Polres Malang yakni, SDM pemohon yang kurang berkualitas yaitu SDM yang dimiliki kebanyakan orang desa yang tak berpendidikan, menyebabkan masyarakat kurang bisa menyerap informasi yang diberikan petugas, pemohon berulangkali menanyakan cara atau proses pembuatan pembuatan SIM C kepada petugas. Ini menyebabkan petugas dalam memberikan pelayanan kepada pemohon SIM C lainnya menjadi terganggu. Selain itu, faktor penghambat peningkatan pelayanan pembuatan SIM C adalah sarana yang kurang memadai. Hal ini dibuktikan dengan tempat tes kesehatan dan tempat uji praktik yang terpisah dari instansi, sehingga waktu yang dibutuhkan pemohon untuk mengurus SIM C menjadi lama. Pelanggaran terhadap prosedur pembuatan SIM C juga merupakan faktor penghambat peningkatan pelayanan pembuatan SIM C. Hal ini dibuktikan dengan adanya pemohon yang melakukan penyuapan dan oknum petugas yang mau untuk disuap ini menyebabkan penyelenggaraan pelayanan publik yang bebas dari unsur KKN. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan Peningkatan Pelayanan Pembuatan SIM C yang kiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk perbaikan proses layanan adalah (1) memberikan pelayanan yang baik walaupun tidak diawasi pihak terkait/ Provost, (2) menambahkan pegawai pada bagian pendaftaran terutama untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat pemohon yang memiliki SDM yang rendah, (3) menambahkan fasilitas operasional dan mengefektifkan program komputer on line dari pendaftaran sampai tahap akhir pelayanan pembuatan SIM C, tidak hanya terbatas pada proses produksinya saja, (4) menyediakan tempat tes kesehatan dan tempat uji praktik di lingkungan instansi, dan (5) mengawasi dan menerapkan sanksi, apabila ada oknum petugas yang melanggar aturan, seperti menerima suap.

Pengaruh fase pertumbuhan dan perlakuan awal pada biosorpsi Saccharomyces cerevisiae terhadap ion Cd(II) / Nanik Tri Rahayuningsih

 

Ion Cd(tr)b ersifatb ioakumulatisf ehinggad apatm embahayakakne sehatan manusiaP.r osesb iosorpsmi erupakanm etodea lternatifu ntukm engurangioi n cd(Ii) dalamla rutans. accharomycecse revisiae(S .c)d apatd igunakans ebagabi iosorben kwenapadad indings elnyat erdapatg ugusf ungsionals epertik arboksil,a rnjnad an fosfayt angd apatm engikaito n logam.J umlahi on Cd(tr)y mg diserapo lehS .c dipengaruhoi lehk arakteristikd inding selnya.F asep ertumbuhand anp erlakuana wal padaS .om empengarukhai rakteristikd indings elt ersebutP. enelitianin i bertujuan untukm €ngeeahupie ngaruhfa sep ertumbuhand anp erlakuana wal padab iosorpsi Saccharomycceesr eyisiatee rhadapio n Cd(tr). Penelitian ini dilakukan di laboratorium kimia dan biologi FMIPA UniversitaNs egeriM alangy angbersifaet ksperimentaFl.a sep ertumbuhaSn. c ditentukand ari kurva pertumbuhannyaP.r osesb iosorpsid ilalekan dengans istem batchm engganakaSn. c padaf nasing-masingfa sep ertumbuhand engan menggr.makarang i roti sebagapi embandingS. .c padaf asep ertumbuhany ang memilikib iosorpsoi ptimald ikenaip erlakuana walH CI danN aOH.0 ,1 gramS .cd ari masing-masinfags ep ertumbuhadni masukkand alam5 0 mL larutani on Cd(ID 20p pm,k emudiand ikocokp ada1 50r pm selama3 jam. Konsentasiio n Cd(II) sebelumd ans esudaphe rlakuand iukurm enggunakasnp ekfrofotometseer rapana tom (SSA)D. ataS SAy angd iperolehd igunakanu ntukm enghitungb anyaknyIao n Cd(II) yang diserap. FIasilp enelitianm enunjukaIno n Cd(II) yangd iserapo lehS .cp adaf asel ag, log,s tasionerk,e matiand anS .cd alamr agir oti masing-masinsge besa8r. ,28m g/g, 4,06m glg,4,89m {g,5,50 mglgdan2,5lm glg.P erlakuaanw alN aOHt erhadaSp. c fasek ematianm enyebabkajunm lah Ion Cd(I) yangt erserapm eningkast ebesar 74,53V od ari 5,50m g/gm enjadr9 ,59 mglg,s edangkapne rlakuanH CI manyebabkan penurunaino n Cd(II)y angt ers€raps ebesar4 8,326 /od ari 5,50m glgm enjadi 2,84mg/g.

Pengaruh pemberian praktikum terhadap hasil belajar pokok bahasan materi dan perubahan materi siswa kelas I semester I MA Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan oleh Mushodiqin

 

Di dalarn bukuP etunjukP elaksanaaPnro seBs elajar-rrrengaSjaMr IJ kurikulum 1994d isebutkanb ahwas alahs atuk egiatany angc enderungm endorong sisrvaa ktiladalahd enganc arap cmbcrianp raktikumA. tasc tasaarl asan-alasdain atasd anu ntukm emastikanp engaruhp emberianp raktikurnn,,' lakas angapt enttng diadakapne nelitiand engan.iuduPle ngaruPh emberiaPnr aktikumT erhadalpla sil BelajarP okokB ahasaMn atcrid anP crubahaMtr atcriS iswaK clasI Scmcstc1r MA'farbiyatutl 'holabahK ranjiP aciranL amonganT.u jun darip enelitianin I adalahu ntukm engetahupi erbedaahna silb elajars iswaa ntaray angd iajard engan rnernakapir aktikurnd ans isway angd iajart anpam emakapi raktikurn' Metodey angd igunakand alamp enelitianin i adalahm etodee ksperimen. Populasdi alamp enelitianin i adalahs iswak elasI semeste1r M A Tarbiyatut 'I 'holabahK ranji PaciranL arnong ant ahunp elaaj ran2 002I 2 O03t.s anyaknya populasyi artu4 kelasv angt erdiri 126s iswaT. eknikp engambilasna mpeyl ang digunakaand alahte knik' 'clusterr andoms amplingy" aituk clompoks ampcl diambils ecarara ndomd ans entuak elon' pok sampedl iben kesempatayna ngs ama untukd igunakans ebagasi ampelD. atal ang diperolehs elanjutnyad iolahd engan tekniks tatisfiku .iit . Hasilp enelitianm enunjukkabna hwah asilb elajars isway angd iajard engan memakapi raktikumlc bihb aiky aitud enganra ta-ratnai lai ulanganh arians ebesar 63,67s edangs isway angd iajart anpam ernakapi raktikurnr ata-ratan ilai ulangan hariannysae bcsa-r5 7,66,.

Using questioning technique to improve the ability of the second year students of SLTPN 1 Haruai in writing paragraphs / Basuni

 

Penggunaan alat peraga garis bilangan dari rel tirai pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat untuk siswa kelas V SDN Bumiayu III Malang / Elisabeth Sofa Matriana

 

ABSTRAK Matriana, Elisabeth Sofa. 2008. Penggunaan Alat Peraga Garis Bilangan dari Rel Tirai pada Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat untuk Siswa Kelas V SDN Bumiayu III Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. dan (II) Drs. Erry Hidayanto, M.Si. Kata Kunci: Alat Peraga, penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Penggunaan alat peraga garis bilangan dalam pembelajaran matematika mempunyai peran penting, sebab dengan menggunakan alat peraga siswa lebih tertarik untuk mempelajari matematika. Penelitian ini dilakukan di kelas V SDN Bumiayu III Malang karena pemahaman siswa kurang dalam pembelajaran matematika tentang konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mempelajari penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan alat peraga garis bilangan dari rel tirai. Pada penelitian ini diambil 4 orang siswa sebagai subjek penelitian yang difokuskan dalam kelompok I untuk diwawancarai. Keempat siswa ini diambil berdasarkan tes awal yang telah dilakukan dengan 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Penelitian ini terdiri dari dua pembelajaran yaitu Pembelajaran I materi penjumlahan bilangan bulat dan Pembelajaran II materi pengurangan bilangan bulat. Penggunaan alat peraga garis bilangan dari rel tirai dilakukan secara kelompok. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan alat peraga garis bilangan dari rel tirai dapat membantu siswa kelas V dalam memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Siswa sangat senang belajar matematika dengan menggunakan alat peraga garis bilangan dari rel tirai. Skor persentasi hasil observasi kegiatan siswa Pembelajaran I adalah 94,29%, taraf keberhasilan sangat baik dan skor persentasi Pembelajaran II adalah 95,71%, dan taraf keberhasilan juga sangat baik. Walaupun demikian penelitian ini tidak selalu lancar, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh peneliti. Namun kendala-kendala tersebut dapat diatasi oleh peneliti dengan membantu siswa dalam pembelajaran. Keterbatasan kemampuan peneliti dan belum sempurna hasil penelitian ini maka disarankan kepada peneliti berikutnya untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang alat peraga yang dapat digunakan untuk pembelajaran pemahaman konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Deskripsi kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII A SMP Negeri 4 Malang (Studi kasus empat orang siswa) dengan menggunakan metode think-pair-share / Henny Fitriyanti

 

ABSTRAK Fitriyanti, Henny. 2008. Deskripsi Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang Pada Sub Bab Garis Singgung Persekutuan Dua Lingkaran Dengan menggunakan Metode Think-Pair-Share. Skripsi, Jurusan Matematika, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Eddy Budiono, M.Pd, (II) Dr. Toto Nusantara, M.Si. Kata kunci: Kemampuan Komunikasi, Think-Pair-Share, Garis Singgung Persekutuan dua Lingkaran, SMP Kemampuan komunikasi matematis merupakan kompetensi hasil belajar matematika yang dituntut oleh Kurikulum 2004. Kemampuan tersebut merupakan bagian dari kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi. Agar kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi berkembang, maka pembelajaran harus menjadi lingkungan dimana siswa dapat terlibat secara aktif dalam banyak kegiatan matematis yang bermanfaat. Belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think-Pair-Share memberikan kesempatan kepada siswa untuk memulai belajar dengan memahami permasalahan terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok, dan akhirnya mempresentasikan dengan bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya. Pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah suatu pembelajaran yang terdiri atas tiga tahapan yaitu: berpikir (Think), berpasangan (Pair), dan berbagi (Share). Pembelajaran ini ditetapkan secara eksplisit untuk memberi kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu atau berinteraksi dengan teman. Disamping itu, tipe ini juga relatif sederhana dibandingkan denagn tipe lainnya. Hal tersebut disebabkan pada pembelajaran tipe ini tidak diperlukan waktu yang banyak untuk mengatur tempat duduk dan menentukan kelompok. Selain itu, pembelajaran tipe ini dapat melatih siswa untuk berpendapat dan belajar untuk menghargai pendapat orang lain. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan dalam tiga kali pertemuan dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIIIA sebanyak 46 siswa. Teknik pengambilan data menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, dan pencatatan dokumen berupa LKS. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 21 sampai 25 april 2008. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat mengasah kemampuan komunikasi matematis siswa. Dan dari hasil pengamatan diperoleh bahwa kemampuan komunikasi siswa kelas VIIIA heterogen. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil diskusi siswa pada tahap berpasangan (pair) dan hasil presentasi siswa pada tahap berbagi. Kemampuan komunikasi antar siswa yang satu dengan siswa yang lain berbeda-beda sesuai dengan indikator kemampuan komunikasi matematis yang dikemukakan oleh NCTM dan pendapat dari beberapa ahli.

Peningkatkan pendapatan perusahaan melalui minimalisasai pembatalan polis asuransi surety bond sebagai asuransi penjamin kegiatan proyek pada PT Jasaharja Kantor Unit Layanan Kediri / Dwi Dian Prastyaningtyas

 

ABSTRAK Prastyaningtyas, Dwi Dian. 2009. Peningkatan Pendapatan Perusahaan Melalui Minimalisasi Pembatalan Polis Asuransi Surety Bond Sebagai Asuransi Penjamin Kegiatan Proyek Pada PT Jasaraharja Putera Kantor Unit Layanan Kediri. Tugas Akhir, Program Studi Diploma III, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci : Asuransi surety bond, Pembatalan polis, Pendapatan perusahaan Asuransi surety bond merupakan salah satu jenis asuransi kerugian PT Jasaraharja Putera yang memberikan jaminan dalam kegiatan pembangunan proyek. Asuransi ini merupakan perjanjian tertulis dimana surety (perusahaan asuransi) memberikan jaminan kepada principal (kontraktor) untuk kepentingan obligee (pemilik proyek). Asuransi surety bond sangat penting dalam pembangunan proyek sebab setiap pelaksanaan proyek sangat membutuhkan adanya surat jaminan yang merupakan syarat mutlak dalam melaksanakan proyek. Pembahasan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui akibat dari pembatalan polis asuransi surety bond terhadap pendapatan perusahaan. Serta upaya apa saja yang telah dilakukan perusahaan untuk meminimalisasi pembatalan polis asuransi surety bond agar pendapatan perusahaan bisa bertambah. Dalam penulisan Tugas Akhir ini masalah yang dibahas meliputi: (1) apa saja karakteristik surety bond, (2) bagaimana cara pengajuan surety bond, (3) apa pengaruh dari pembatalan polis surety bond dan (4) bagaimana upaya untuk meminimalisasi pembatalan polis surety bond. Metode pengumpulan data pada Tugas Akhir ini dengan menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Tata cara pengajuan surety bond formulir permohonan serta membawa dokumen yang dibutuhkan dan membayar sejumlah premi. Pembatalan polis asuransi surety bond sangat merugikan perusahaan sebab pembatalan polis akan mengurangi pendapatan perusahaan dan biaya pembatalan polis akan diakumulasikan ke beban kantor cabang yang nantinya akan mengurangi laba perusahaan. Untuk meminimalisasi pembatalan polis asuransi, perusahaan melakukan pelatihan lebih intensif kepada karyawan dalam pembuatan polis asuransi dan penanggung jawab lebih berhati-hati dalam memeriksa kelengkapan dokumen principal. Dari penulisan Tugas akhir ini dapat diambil kesimpulan bahwa pembatalan polis sangat berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Adapun saran yang dapat diajukan untuk meminimalisasi pembatalan polis yaitu dengan menambah karyawan yang ditempatkan sebagai pembuat polis sehingga bagian keuangan tidak berperan ganda yaitu sebagai bendahara dan pembuat polis asuransi surety bond. sangat mudah. Yaitu dengan mengisi

Analisis kinerja pendapatan daerah melalui rasio kemandirian keuangan Pemerintah Kabupaten Magetan / Bagus Rahmad Vitanto

 

ABSTRAK Rahmad V, Bagus. 2009. Analisis Kinerja Pendapatan Daerah Melalui Rasio Kemandirian Keuangan Pemerintah Kabupaten Magetan. Tugas Akhir. Program Studi : DIII Akuntansi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Suparti M.P. Kata Kunci: Otonomi Daerah, Pendapatan Daerah, Rasio Kemandirian. Indonesia adalah negara yang menganut azas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Dengan demikian setiap daerah mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (otonomi daerah). Sebagai daerah otonom harus mempunyai kemampuan untuk menyelenggarakan perundang-undangan sendiri, keuangan sendiri, serta pegawai sendiri. Penyelenggaraan keuangan sendiri dimaksudkan agar setiap daerah dapat menghasilkan pendapatan daerah sendiri (Pendapatan Asli Daerah) dan tidak hanya tergantung dari dana transfer pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Pembahasan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pendapatan daerah di Kabupaten Magetan dan untuk mengetahui tingkat kemandirian keuangan daerah di Kabupaten Magetan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007. Metode pengumpulan data dalam penyusunan tugas akhir ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi, wawancara, metode pustaka dan juga observasi. Perkembangan pendapatan daerah di Kabupaten Magetan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 mengalami peningkatan yang berfluktuatif. Peningkatan yang signifikan terjadi pada tahun 2006, pendapatan Kabupaten Magetan meningkat hingga lebih dari 50%, penyebab utamanya adalah karena pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi juga meningkat hampir 50% dari tahun 2005. Kontribusi PAD di Kabupaten Magetan masih dibilang cukup rendah yaitu sekitar 7% dari total pendapatan daerah di Kabupaten Magetan. Sedangkan rasio kemandirian keuangan di Kabupaten Magetan bisa dibilang cukup rendah yaitu berkisar antara 6% sampai 9%. Rasio kemandirian keuangan di Kabupaten Magetan terus mengalami penurunan dari tahun 2003 sampai tahun 2006 dan pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang tidak terlalu besar. Dari penulisan tugas akhir ini dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat kemandirian keuangan Kabupaten Magetan masih dibilang cukup rendah dan cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Untuk itu disarankan agar PAD di Kabupaten Magetan lebih bisa ditingkatkan antara lain dengan cara pembangunan BUMD, melihat kontribusi laba BUMD terhadap PAD dari tahun ke tahun masih cukup rendah. Dengan pembangunan BUMD, maka lapangan pekerjaan di Kabupaten Magetan pun juga akan bertambah.

Pengaruh EPS (Earning Per Share), PER (Price Earning Ratio), BV (Book Value Per Share), PBV (Price To Book Value) terhadap harga saham pada Perusahaan Perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 / Ratna Anggita

 

Berinvestasi di dunia saham adalah kegiatan yang memiliki risiko yang sangat tinggi. Penentuan harga saham dari masing-masing perusahaan selain ditentukan oleh kinerja perusahaan, yang bisa dilihat dari Laporan Keuangan juga dilihat dari proses permintaan (demand) dan penawaran (supply). Sebelum investor memutuskan untuk mengambil keputusan untuk membeli atau menjual saham, investor akan berpikir apakah investasi ini akan mendatangkan return atau risiko. Pasar modal adalah tempat untuk dilakukannya permintaan dan penawaran secara terbuka oleh anggota bursa yang menggunakan sistem lelang (auction). Perbankan adalah salah satu perusahaan yang sahamnya sekarang ini sangat diminati oleh pelaku pasar. Minat calon investor untuk memiliki harga saham perbankan karena nilai tinggi yang dijanjikan oleh perbankan bagi para investornya untuk memperoleh return yang besar pula. Dengan latar belakang tersebut penelitian ini dilakukan, yaitu penelitian pada saham perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan pendekatan dari sisi rasio finansialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh EPS (Earning Per Share), PER (Price Earning Ratio), BV (Book Value Per Share), PBV (Price To Book Value) terhadap harga saham pada perusahaan perbankan periode 2005-2007 baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini tergolong penelitian asosiatif dengan data yang digunakan yaitu data sekunder. Populasi penelitian ini semua perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007, dimana ada 33 perusahaan, sedangkan sampel yaitu sebanyak 15 perusahaan yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian ini adalah : (1) EPS, BV, PBV secara parsial berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan; (2) PER secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan; (3) EPS, PER, BV, PBV secara simultan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan; (4) hubungan antara keempat variabel sangat kuat, dimana variasi harga saham dapat dijelaskan oleh keempat variabel bebas sebesar 94,4%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh hal lain di luar variabel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar investor juga memperhatikan faktor fundamental dari saham yang dimiliki; perusahaan emiten agar memperhatikan inflasi, suku bunga, dan kurs rupiah karena akan mempengaruhi kinerja keuangan yang bersangkutan; penelitian selanjutnya agar menambah variabel penelitian di luar variabel di atas, dan tahun penelitian lebih dipanjangkan agar penelitian lebih repensentatif.

Prosedur perhitungan dan pelaporan pajak pengahasilan (PPh) pasal 21 atas gaji pegawai pada Sekretariat DPRD Tulungagung / Siti Ismiati Saleqa

 

ABSTRAK Saleqa, Siti Ismiati. 2008. Prosedur Perhitungan dan Pelaporan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 atas Gaji Pegawai Pada Sekretariat DPRD Tulungagung. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Yuli Widiastuti,SE.Msi,Ak. Kata kunci : Pajak Penghasilan pasal 21. Pajak merupakan salah satu sumber penghasilan negara dalam membiayai pembangunan nasional. Salah satunya adalah Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21. Di Indonesia menganut “Self Assessment system” dimana wajib pajak untuk menghitung, memotong, dan menyetor jumlah pajak yang terhutang. Sekretariat DPRD merupakan instansi pemerintahan dimana setiap pegawainya merupakan wajib pajak. Bendahara selaku pemotong dan penyetor PPh 21 pegawai bertanggungjawab atas perhitungannya. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui sistem penggajian pegawai, tata cara dalam perhitungan PPh pasal 21, prosedur pemungutan PPh Pasal 21 yang dilakukan oleh Kantor Sekretariat DPRD Tulungagung. Metode pengumpulan data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Perhitungan PPh pasal 21 pada Sekretariat DPRD sesuai dengan UU perpajakan No 17 Tahun 2000. Walaupun masih terdapat kesalahan perhitungan iuran pensiun dapat mempengaruhi pembayaran PPh pasal21. Bendahara Keuangan merupakan wajib pajak karena selaku pemotong / pemungut pajak-pajak negara termasuk perhitungan PPh pasal 21 atas gaji pegawai. Oleh karena itu Bendaharawan wajib mendaftarkan untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Apabila terdapat kesalahan Apabila tejadi kesalahan maka sebagai wajib pajak juga mendapatkan sanksi berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku.Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pentingnya pembayaran pajak khususnya PPh pasal 21. Dengan membayar PPh pasal 21 sesuai dengan ketetapan yang berlaku maka secara langsung akan mendukung pembangunan nasional di Indonesia. Saran untuk Sekretariat DPRD lebih teliti dalam penjumlahan karena apabila terjadi kesalahan maka akan berpengaruh pada besar PPh pasal 21 yang disetorkan. Selain itu bendaharawan juga disarankan terus mengikuti perkembangan UU Perpajakan.

Pengaruh metode silih tanya model kompetisi gugur bersemi terhadap prestasi belajar matematika kelas VIII di SMP Negeri 15 Malang / Windi Saputri

 

ABSTRAK Saputri, Windi. 2008. Pengaruh Metode Silih Tanya Model Kompetisi Gugur Bersemi Terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas VIII Di SMP Negeri 15 Malang. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Subanji, S.Pd, M.Si, Pembimbing (II) Ir. Hendro Permadi, M.Si. Kata kunci: Hasil Belajar, Metode Silih Tanya, Gugur Bersemi Perkembangan dunia pendidikan saat ini melaju pesat. Banyak perhatian khusus diarahkan kepada perkembangan dan kemajuan pendidikan,khususnya untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Pendidikan adalah pondasi utama dalam mengelola dan mencetak sumber daya manusia yang handal dan berwawasan sehingga mampu untuk menjawab tantangan di masa depan. Oleh karena itu perlu adanya upaya merancang dan membangun suasana kelas dengan memasukkan unsur kreatif, kompetitif dan kooperatif. Sehubungan dengan upaya merancang dan membangun suasana kelas dengan memasukkan unsur kreatif, kompetitif dan kooperatif maka paradigma pendidikan harus berubah yang semula ”banyak mengajari” menjadi ” banyak membantu siswa untuk belajar”, semula guru yang aktif berubah menjadi siswa yang aktif. Selama ini pembelajaran matematika di SMP Negeri 15 Malang masih banyak didominasi oleh guru. Pembelajaran ini kurang bisa membuat siswa menjadi kreatif. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti mencoba menerapkan pembelajaran matematika dengan metode silih tanya model gugur bersemi. Diharapkan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika dengan metode silih tanya model gugur bersemi terhadap hasil belajar siswa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan Post Test – One Group Control Design. Populasi penelitian ini adalah kelas VIII SMP Negeri 15 Malang yang terdiri dari 6 kelas paralel. Kelas eksperimen adalah kelas VIII-C yang mendapat pembelajaran dengan metode silih tanya model gugur bersemi, sedangkan kelas kontrol adalah kelas VIII-F yang mendapat pembelajaran biasa. Uji prasyarat analisis yang digunakan adalah Uji Normalitas, Uji Homogenitas dan Uji Perbedaan dua rata-rata. Sedangkan uji hipotesis yang digunakan adalah uji t dua ekor. Berdasarkan hasil analisis hipotesis dengan uji t diperoleh P-Value < . Jadi H0 ditolak dengan kata lain H1 diterima, berarti hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hasil dari aktivitas silih tanya diperoleh yaitu: (1) dihasilkan 341 soal yang telah diajukan siswa; (2) dari 341 soal tersebut, 388 soal dapat dikerjakan dan 3 soal yang tidak bisa dikerjakan. Dari 341 soal, ada 332 soal dengan kunci jawaban benar dan 9 soal dengan kunci jawaban salah. 341 soal yang diajukan terdapat 155 soal mengubah di buku dan 186 soal mengambil langsung dari buku serta tidak ada soal yang dibuat sendiri.

Penerapan media gambar seri untuk peningkatkan kemampuan menulis karangan pada siswa kelas V SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan / Kusadalina Adi

 

ABSTRAK Adi, Kusadalina. 2009. Penerapan Media Gambar Seri untuk Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan pada Siswa Kelas V SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan.Skripsi,Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Winihasih, M.Pd., (2) Drs. H. Rumidjan, M.Pd. Kata Kunci: Media, Gambar Seri, Kemampuan Menulis, Sekolah Dasar. Salah satu kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh Siswa kelas V Sekolah Dasar adalah kemampuan menulis, khususnya kemampuan menulis karangan. Hal ini dilakukan karena melalui kegiatan menulis, siswa dapat menyampaikan ide, pesan, pendapat, dan peristiwa kepada orang lain dalam bentuk tulisan. Masalah yang terjadi di kelas pada waktu kegiatan observasi di SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan pada umumnya Siswa belum mempunyai kemampuan menulis karangan yang memadai. Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini mempunyai dua tujuan. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mendeskripsikan peningkatan aktivitas pembelajaran kemampuan menulis karangan menggunakan media gambar seri Siswa kelas V SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan; (2) mendeskripsikan peningkatan hasil pembelajaran menulis melalui media gambar seri Siswa kelas V SDN Gamirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), mencakup dua siklus melalui tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjektif penelitian Siswa kelas V SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 28 orang Siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan pengamatan, wawancara, catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara kualitatif, siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah dicapai kriteria ketuntasan sebesar 80% dari jumlah keseluruhan subjek penelitian dengan rata-rata skor minimal 70% Hasil penelitian menunjukan: (1) aktivitas pembelajaran menulis karangan melalui media gambar seri di kelas V SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan; (2) hasil pembelajaran menulis karangan melalui media gambar seri mengalami peningkatan 44% pada siklus 1 dan menglami peningkatan sebesar 43% pada siklus II Kesempulan penelitian ini adalah: (1) media gambar seri dapat meningkatkan aktivitas Siswa dalam pembelajaran menulis karangan; (2) hasil pembelajaran menulis karangan melalui media gambar seri mengalami peningkatan. Oleh karena itu guru disarankan menggunakan media gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan.

Kajian struktural dan pelaksanaan sambungan balok dengan kolom baja bangunan bertingkat tujuh pada pembangunan gedung Bank Shinta Malang / Rizky Iskandarisyah

 

Abstrak : Proyek Akhir ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan pelaksanaan sambungan balok dengan kolom baja. Metode yang digunakan sebagai pengikatnya adalah baut mutu tinggi. Pelaksanaan sambungan difokuskan pada metode perkerasan yang digunakan. Studi lapangan ini dilaksanakan pada proyek pembangunan gedung Bank Shinta Jl. Basuki Rachmat No 58 Malang. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan Observasi Lapangan dan Dokumentasi gambar. Selanjutnya untuk mengetahui kekuatan maka hasil data dilapangan akan dihitung ulang kekuatannya. Dari hasil studi lapangan ini dapat disimpulkan bahwa Kekuatan dari sambungan balok dengan kolom baja tidak memenuhi ketentuan SNI Konstruksi baja tahun 2003 karena kuat geser baut (86068,041 kg) lebih besar dari gaya geser akibat pembebanan (33035,064 kg) tetapi momen yang dapat diterima baut (49938,196 kg.m) lebih kecil dari momen akibat pembebanan (64167,75566 kg.m). Perletakan jarak baut pada pembuatan sambungan balok dengan kolom baja baik memenui syarat karena jarak tepi baut sebesar 55 mm sedangkan jarak perncanaan tepi baut adalah 33-150 mm dan jarak antar baut 87,5 mm sedangkan jarak perncanaan antar baut adalah 66-200 mm. Pelaksanaan sambungan balok dan kolom baja termasuk dalam sambungan lapangan dan menggunakan teknik kencang tangan dengan menambahkan ring per dan plat ring pada baut yang digunakan sebagai alat untuk memperoleh ikatan antar balok dengan kolom baja. Berdasarkan studi lapangan ini dapat disarankan bahwa Dalam merencanakan suatu sambungan pada balok dan kolom baja sebaiknya memperhatikan kekuatan yang akan diterimah oleh sambungan tersebut sehingga sambungan tersebut tidak dapat mengalami kegagalan atau kerusakan dalam sambungan. Dalam pelaksanaanya hal yang paling mendasar untuk mengecek kembali pada saat dilapangan adalah tata letak sambungan, apabila tat letak sambungan dirasa kurang sesuai maka sabaiknya pelaksana menanyakan pada perencana sebelum terlambat dan mengakibatkan kerusakan pada sambungan. Kata kunci: kajian struktural dan pelaksanaan, sambungan balok dengan kolom baja

Pengaruh tingkat likuiditas, laverage, dan perputaran total aktivita terhadap return on equity (ROE) pada Perusahaan Manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2007 / Sasmita Panjitama

 

ABSTRAK Panjitama, Sasmita. 2008. Pengaruh Tingkat Likuiditas, Laverage , dan Perputaran Total Aktiva Terhadap Return On Equity (ROE) Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Publick di BEI Pada Tahun 2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) DR. Sunaryanto, M. ED, (2) Triadi Agung Sudarto, SE, M.Si, Ak. Kata kunci: Tingkat Likuiditas, Laverage, Perputaran Total Aktiva, dan ROE Untuk dapat menarik investor dari luar, maka suatu perusahaan haruslah memiliki kinerja keuangan yang baik, yang antara lain ditunjukkan oleh tingkat keuntungan atau tingkat profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan bersangkutan. Salah satu cara untuk menghitung profitabilitas adalah Return On Equity (ROE), yaitu alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya ROE diantaranya adalah aktiva, penjualan, dan hutang yang tertanam dalam perusahaan. Pengelolaan aktiva secara efektif dalam perusahaan akan dapat meningkatkan nilai ROE, yang berarti tingkat keuntungan yang tersedia bagi pemilik modal juga semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh tingkat likuiditas, laverage, dan perputaran total aktiva terhadap ROE. Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda yaitu uji asumsi klasik untuk mencari bentuk pengaruhnya, serta uji t untuk menguji pengaruh secara parsial untuk masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dan uji F untuk menguji pengaruh secara simultan dari keseluruhan variabel bebas terhadap variabel terikat dan uji koefisien determinasi. Populasi yang digunakan dalm penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang go publik di BEI tahun 2007 yang berjumlah 142 perusahaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik randomly sampling yaitu pengambilan sampel secara acak karena setiap populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih menjadi sampel. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 47 perusahaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel tingkat likuiditas dan laverage debt ratio terhadap ROE, sedangkan untuk variabel perputaran total aktiva terdapat pengaruh yang signifikan terhadap ROE. Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat likuiditas, laverage debt ratio, dan perputaran total aktiva terhadap ROE. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel bebas yang dapat diindikasikan berpengaruh terhadap ROE dan meneliti jenis perusahaan lain serta menambah jumlah sampel. Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang pengaruh tingkat likuiditas, laverage debt ratio, dan perputaran total aktiva terhadap ROE sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan tenaga kerja wanita bekerja ke luar negeri di Desa Tlogorejo Kecamatan Pagak Kabupaten Malang / Elysa Rosiana

 

ABSTRAK Rosiana, Elysa. 2008. Faktor-Faktor Yang Melatar Belakangi Pengambilan Keputusan Tenaga Kerja Wanita Bekerja Ke Luar Negeri Di Desa Tlogorejo Kecamatan Pagak Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Alwisol, M.Pd, (II) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata kunci: pengambilan keputusan ke luar negeri, tenaga kerja wanita. Jumlah tenaga kerja selalu bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, namun hal ini tidak diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang memadai. Rendahnya penyerapan tenaga kerja di dalam negeri terutama bagi wanita telah mendorong para pekerja wanita untuk mencari dan memanfaatkan kesempatan kerja di luar negeri. Para wanita yang memanfaatkan kesempatan kerja di luar negeri ini disebut sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Setiap TKW memiliki alasan atau faktor pendorong yang melatarbelakangi keputusan mereka untuk bekerja ke luar negeri yang berbeda antara individu satu dengan yang lainnya. Keputusan menjadi TKW di luar negeri merupakan salah satu gerakan feminisme yaitu sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang meneliti dan mengkaji masalah secara obyektif sebagaimana adanya tanpa ada manipulasi atau memberikan perlakuan pada variabel penelitian, dilihat dari jenisnya, penelitian ini merupakan penelitian expost facto yang meneliti peristiwa yang telah terjadi, kemudian merunut ke belakang melalui data yang diperoleh untuk menemukan faktor-faktor yang mendahului dan menentukan sebab yang mungkin dari peristiwa yang diteliti. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan TKW bekerja ke luar negeri. Uji validitas instrumen menggunakan teknik korelasi point biserial setelah dikonversi menjadi nilai t menghasilkan nilai t sebesar 1,734 pada signifikansi 95%. Reliabilitas diukur menggunakan koefisien reliabilitas alpha dengan bantuan program SPSS 15.0 for Windows menghasilkan reliabilitas sebesar 0.960. Subyek pada penelitian ini adalah para calon dan mantan TKW yang ingin dan pernah bekerja di luar negeri yang diambil dengan menggunakan telnik purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan menggunakan analisis faktor untuk memperoleh gambaran tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan tenaga kerja wanita bekerja ke luar negeri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor individu, sosial-ekonomi, keadaan, kognitif, dan pergaulan melatarbelakangi pengambilan keputusan tenaga kerja wanita untuk bekerja ke luar negeri. Faktor individu memiliki persentase varian sebesar 38.818%, faktor eksternal sebesar 15.003%, faktor keadaan sebesar 7.308%, faktor psikologis sebesar 6.657%, dan faktor pergaulan sebesar 5.688%, sehingga totalnya adalah sebesar 73.475%. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) Bagi PJTKI yang ingin mengirim calon TKW ke luar negeri hendaknya memperhatikan kelima faktor dalam penelitian ini, yaitu faktor individu, sosial ekonomi, keadaan, kognitif dan pergaulan yang terdapat dalam diri calon TKW. Apabila diketahui faktor individu hanya memiliki peran yang kecil dalam pengambilan keputusannya, disarankan untuk menolak/tidak memberangkatkan calon TKW tersebut 2) bagi calon TKW, yang masih di bawah umur diharapkan untuk menunggu usianya cukup terlebih dahulu dan diharapkan tidak memalsukan data usianya hanya supaya memperoleh ijin kerja ke luar negeri. 3) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dapat menambahkan faktor-faktor lain, sehingga bisa terungkap semua faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan tenaga kerja wanita bekerja ke luar negeri.

Variasi konsentrasi dan waktu reaksi optimum FeCl3 pada pengendapan Cr(OH)3 / Niken Lilya Anjarwati

 

Perkembangan industri dan teknologi yang pesat pada segala bidang kehidupan bertujuan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, di sisi lain kegiatan industri berdampak negatif yaitu terjadi pencemaran air. Limbah industri di perairan, terutama ion logam berat Cr dengan kadar lebih besar dari 0,5 mg/L dan Fe pada kadar lebih besar dari 5 mg/L, dapat membahayakan lingkungan karena bersifat toksik. Sifat toksik yang dimiliki logam berat Cr dan Fe mengharuskan untuk terus diupayakan penurunan kadar Cr dan Fe seminimal mungkin agar kumulatif kadar Cr dan Fe tidak membahayakan makhluk hidup. Berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui bahwa Fe(III) dapat mempercepat pengendapan Cr(OH)3 pada pH dan konsentrasi yang sesuai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) konsentrasi FeCl3 dalam pengendapan Cr(OH)3 yang efektif dengan rentangan pH 6,5-9,3; (2) waktu reaksi optimum FeCl3 pada pengendapan Cr(OH)3 yang efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat eksperimental. Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan meliputi; (1) tahap pra penelitian yaitu penentuan kondisi yang meliputi: (a) pengendapan optimum pada variasi konsentrasi NaOH dengan konsentrasi FeCl3 tetap, (b) pengendapan optimum pada variasi konsentrasi NaOH dengan konsentrasi Cr(NO3)3 tetap, (c) pengendapan optimum pada variasi konsentrasi FeCl3 dengan konsentrasi NaOH tetap, (d) pengendapan optimum pada variasi konsentrasi Cr(NO3)3 dengan konsentrasi NaOH tetap; (2) tahap penelitian yang dilakukan terdiri dari langkah-langkah penelitian yaitu, (a) penentuan variasi konsentrasi FeCl3 secara visual, (b) penentuan variasi volume NaOH 0,0575 M pada masing-masing variasi konsentrasi FeCl3 secara visual untuk mencapai rentangan pH antara 6,5-9,3, (c) penentuan konsentrasi FeCl3 dalam pengendapan Cr(OH)3 yang efektif pada variasi konsentrasi FeCl3 0,007 M; 0,008 M; 0,009 M; 0,010 M; dan 0,011 M, (d) penentuan waktu reaksi optimum FeCl3 pada pengendapan Cr(OH)3 yang efektif dalam selang waktu 20 detik, 40 detik, 60 detik, 80 detik, dan 100 detik, (e) pengukuran konsentrasi Cr dengan SSA. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2008 sampai bulan Januari 2009 di Laboratorium Penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan konsentrasi Cr(III) 2289 mg/L, pengendapan Cr(OH)3 yang efektif terjadi pada konsentrasi FeCl3 0,007 M. Waktu reaksi optimum konsentrasi FeCl3 0,007 M pada pengendapan Cr(OH)3 adalah pada detik ke-100 dengan pH 8,0.

Identifikasi kesulitan belajar siswa kelas X dalam memahami materi stoikiometri di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan / Diansari Andhartini Ni'matun Fajriana

 

ABSTRAK Andhartini, D. 2008. Identifikasi Kesulitan Belajar Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Dalam Memahami Materi Stoikiometri. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Fauziatul Fajaroh, M.S. (2) Dra. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: kesulitan belajar, stoikiometri. Prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran kimia masih rendah.Untuk memperbaikinya sebagai langkah awal dilakukan identifikasi kesulitan-kesulitan belajar siswa terutama pada konsep-konsep dasar dalam ilmu kimia. Stoikiometri merupakan salah satu konsep dasar yang memiliki jangkauan yang cukup luas terutama dalam ilmu kimia yang bersifat kuantitatif. Untuk itu identifikasi kesulitan belajar dalam memahami stoikiometri sangat perlu sebagai pembentukan struktur kognitif agar nantinya siswa mampu memahami materi-materi baru yang relevan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kesulitan siswa kelas X SMA Muhammadiyah 3 Tulangan dalam memecahkan soal-soal mengenai stoikiometri yaitu pada materi hukum dasar kimia, massa atom relatif dan massa molekul relatif, mengkonversikan jumlah mol dengan jumlah partikel, massa zat dan volume gas, rumus molekul dan rumus empiris, kadar zat, pereaksi pembatas, dan kadar air kristal. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu hanya menggambarkan kesulitan belajar yang dialami siswa kelas X SMA Muhammadiyah 3 Tulangan pada tahun ajaran 2007/2008 dalam memahami materi Stoikiometri. Sampel penelitian diambil dengan teknik random yaitu dengan mengambil kelas X-4 sedangkan kelas X-5 sebagai uji coba. Untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dengan diberikan tes dalam bentuk obyektif sebanyak 40 butir. Dari hasil uji coba diperoleh validitas dengan menggunakan rumus moment product dan diperoleh kevalidan antara 0,410-0,809 dengan taraf kesukaran s antara 0,067-0,900 dan daya beda antara 0,2-1,0, sedangkan pengujian reliabilitas diperoleh sebesar 0,9411. Analisis data yang digunakan adalah melalui tiga tahapan yaitu pemberian skor, tabulasi data dan pengerjaan hitungan, yaitu menghitung persentase siswa yang menjawab salah pada tiap-tiap butir soal. Persentase siswa kelas X SMA Muhammadiyah 3 Tulangan tahun ajaran 2007/2008 yang mengalami kesulitan dalam memahami materi stoikiometri pada kelas sampel sebesar 53,18% sedangkan pada kelas uji coba sebesar 49,9% meliputi sub pokok bahasan hukum dasar kimia, mengkonversikan jumlah mol dengan jumlah partikel, massa zat dan volume gas, penentuan rumus empiris dan rumus molekul, rumus air kristal, kadar zat dalam senyawa dan pereaksi pembatas, yang artinya cukup besar siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi stoikiometri. Kesulitan siswa kelas X dalam memahami pokok bahasan hukum dasar kimia lebih besar dibandingkan dengan pokok bahasan yang lain.

Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja dengan dimensi oleh komitmen organisasi (Studi pada kaeryawan PT. POS Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan) / Moh. Arsad S Safik

 

Sumber daya manusia memiliki peran sentral dalam pencapaian tujuan organisasi. Secara keseluruhan tujuan organisasi ditentukan oleh kinerja karyawannya. Disamping itu, dalam sebuah organisasi terdapat nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut oleh sebuah organisasi dalam praktek kesehariannya yang dinamakan sebagai budaya oragnisasi. Bagaimana karyawan berperilaku dan apa yang seharusnya mereka lakukan banyak di pengaruhi oleh budaya organisasi tersebut. Sikap yang dibentuk antara lain oleh budaya organisasi erat dengan kinerja karyawan. Sedangkan tujuan organisasi secara keseluruhan ditentukan oleh kinerja karyawan dari perusahaan itu sendiri. Selain itu, Kesuksesan sebuah organisasi tidak hanya didukung oleh budaya organisasinya saja tetapi juga bagaimana organisasi tersebut menumbuhkan komitmen organisasi yang dipahami sebagai ikatan kejiwaan individu terhadap organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi yang ada di PT. POS Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan terhadap kinerja dengan mediasi oleh komitmen organisasi. Penelitian ini dilaksanakan di PT. POS Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan pada awal bulan november sampai dengan pertengahan desember 2008. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan PT. POS Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan yang berjumlah 45 orang. Sedangkan sampelnya diambil sebanyak 40 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Dalam tujuan peneltian ini untuk mengetahui pengaruh langsung budaya organisasi terhadap komitmen organisasi dan kinerja serta pengaruh langsung antara komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan PT. Pos Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan. Sedangkan pengaruh tidak langsungnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja melalui mediasi komitmen organisasi. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu budaya organisasi (X), variabel mediasi yaitu komitmen organisasi (Z) dan variabel terikat yaitu kinerja (Y). Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan software SPSS 13.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat hipotesis alternatif yang diajukan adalah diterima. Hasil pengaruh langsung diperoleh beta (β) sebesar 0,592 dengan signifikansi (sign) 0,05 untuk budaya organisasi terhadap kinerja, β = 0,351 dan sign 0,036 untuk komitmen organisasi terhadap kinerja dan untuk pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi memiliki β = 0, 922 dan Sign 0,00. Sedangkan untuk pengaruh tidak langsung dihasilkan sebesar 0,323 yaitu hasil dari pengaruh tidak langsung budaya organisasi terhadap kinerja melalui mediasi komitmen organisasi. Sedangkan koefisien determinasi total yang diperoleh sebesar 0,915. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar PT. PT. POS Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan senantiasa melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan untuk memumbuhkan komitmen. Kemudian budaya kebersamaan dan kekeluargaan yang dimiliki perusahaan harus tetap dipertahankan karena terbukti sangat berpengaruh terhadap komitmen karyawan. Pihak perusahaan diupayakan untuk senantiasa memotivasi karyawanya agar selalu berprestasi dalam bekerja karena pengaruh komitmen karyawan dengan kinerja. Selain itu juga, hendaknya Budaya PT. POS Indonesia (Persero) Kantor Cabang Lamongan yang menghargai kreatifitas tetap dipertahankan. Karena dengan dihargainya kreatifitas karyawan tersebut maka akan muncul ide-ide atau gagasan yang baik untuk organisasi maupun kinerjanya itu sendiri. Untuk penelitian selanjutnya peneliti menyarankan agar mengganti objek penelitian dengan jumlah karyawan yang besar, Dengan mengambil sampel pada organisasi yang berskala lebih besar maka akan memiliki keragaman karakter karyawan. Peneliti juga menyarankan untuk penelitian selanjutnya agar menambahkan hipotesis penelitian dengan variabel-variabel kepuasan terhadap gaji, trust (kepercayaan), niat untuk keluar dan lain-lain. Sehingga nantinya dapat diperoleh perkembangan penilitian.

Penerapan metode numbered head together untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran PKn di SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan / Ida Ohoiwutun

 

Ohoiwutun, Ida. 2009. Penerapan Metode Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran Pkn di SDN Arjosari Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar Dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Muchtar, S.Pd, M.Pd, (2) Dra. Nur Hanifah, M.Pd. Kata-Kata Kunci : Metode, Numered Head Together, Hasil Belajar, PKn, Sekolah Dasar. Sekolah Dasar sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar memiliki fungsi sangat fundamental dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dikatakan demikian karena Sekolah Dasar merupakan dasar/fondasi dari proses pendidikan yang ada pada jenjang berikutnya, sehingga pendidikan Sekolah Dasar hendaknya dilakukan dengan cara yang benar-benar mampu menjadi landasan yang kuat untuk jenjang pendidikan berikutnya. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus memilih model pembelajaran dan metode yang sesuai dengan materi dan perkembangan berpikir siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode numbered head together pada pembelajaran PKn untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrumen pengumpulan data berupa (a) observasi yaitu aktivitas belajar siswa, dan proses pembelajaran, (b) tes yaitu post tes pada siklus I dan siklus II. Data yang diperoleh dari hasil tes evaluasi hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan nilai standar sepuluh (1-10), dan tuntas belajarnya apabila telah mencapai skor ≥ 7. Pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dinilai dari proses pembelajaran pada pra tindakan, tindakan siklus I dan tindakan pada siklus II dengan nilai rata-rata kelas sebagai berikut. Pra tindakan 5,48, tindakan siklus I 6,07, dan tindakan siklus II yaitu 7,15. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode NHT dalam pembelajaran PKn dengan materi Peraturan Perundang-undangan, pada : (a) pra tindakan menunjukkan 4 orang siswa (16%) memperoleh nilai diatas nilai standar (≥7), dan 21 orang siswa (84%) memperoleh nilai dibawah nilai standar (≤7); (b) pada siklus I menunjukkan 7 orang siswa (28%) memperoleh nilai diatas nilai standar (≥7), 15 orang siswa (60%) memperoleh nilai dibawah nilai standar, dan ada 3 orang siswa (12%) yang tidak aktif dalam kegiatan belajar mengajar; (c) pada siklus II 18 orang siswa (72%) memperoleh nilai diatas nilai standar yaitu ≥7. Peneliti memberikan kesimpulan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn dengan menerapkan metode Numbered Head Together dalam pembelajaran mengalami peningkatan, terbukti dengan adanya hasil belajar siswa pada setiap akhir siklus. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut , maka peneliti dapat menyarankan kepada: (1) Guru, dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh siswa dalam diskusi maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan materi, memberikan bimbingan dan kebebasan kepada siswa untuk menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan atau permasalahan yang diberikan kepada mereka dalam upaya peningkatan kemampuan yang dimiliki siswa. (2) Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan motivasi, bimbingan dan pembinaan kepada guru-guru di lingkungan SDN Arjosari I, agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama hasil belajar siswa kearah yang lebih baik.

Penyusunan perangkat evaluasi aspek kognitif materi koloid kelas XI IPA semester II di SMA 1 Tugu Kabupaten Trenggalek tahun ajaran 2007/2008 / Okky Krisdiantoro

 

Dalam proses pembelajaran ada satu bagian penting yaitu proses penilaian atau evaluasi yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu maka penyusunan alat evaluasi harus sesuai dengan persyaratan yang baku, yakni (1) memiliki validitas; (2) mempunyai reliabilitas; (3) menunjukkan objektivitas; dan pelaksanaan evaluasi harus efisien dan praktis (Mulyasa, 2005: 171). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk perangkat evaluasi yang memenuhi persyaratan yang baku Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang dilakukan di SMA Negeri I Tugu kabupaten Trenggalek pada semester genap tahun ajaran 2007/2008. Perangkat evaluasi yang telah disusun diujikan di kelas XI IPA 1, kemudian dianalisis yang meliputi tingkat kesukaran (P), daya beda (D), validitas, dan reliabilitas. Selanjutnya dilakukan revisi perangkat evaluasi, kemudian diujikan di kelas XI IPA 2 dan dianalisis seperti perangkat evaluasi pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat evaluasi pertama memiliki 10 butir ( 40 %) soal mudah, 12 butir (48 %) soal sedang dan 3 butir (12 %) soal sukar. Perangkat evaluasi pertama terdiri dari 18 soal (72 %) termasuk kriteria jelek, 5 soal ( 20 %) termasuk kriteria cukup, 2 soal ( 8 %) termasuk kriteria baik dan tidak ada soal yang termasuk kriteria baik sekali. Terdapat 21 butir soal yang tidak valid dan ada 4 butir soal yang valid. Reliabilitas perangkat evaluasi pertama sebesar -0,527. Sedangkan perangkat evaluasi kedua memiliki 6 butir (24 %) soal mudah, 14 butir (56 %) soal sedang dan 5 butir (20 %) soal sukar. Perangkat evaluasi kedua terdiri dari 15 soal (60 %) termasuk kriteria jelek, 6 soal (24 %) termasuk kriteria cukup, 4 soal (16 %) termasuk kriteria baik dan tidak ada soal yang termasuk kriteria baik sekali. Dan terdapat 15 butir soal yang tidak valid dan ada 10 butir soal yang valid. Reliabilitas perangkat evaluasi kedua sebesar 0,211. Dari hasil penelitian tersebut, perangkat evaluasi hasil revisi menunjukkan peningkatan kualitas yang diindikasikan dengan (1) proporsi tingkat kesukaran yang tersebar secara normal, (2) berkurangnya jumlah butir soal yang termasuk kriteria jelek, (3) bertambahnya jumlah butir soal yang memiliki rhitung > rtabel (valid), (4) nilai reliabilitas yang meningkat. Setelah dilakukan analisis terhadap perangkat evaluasi kedua, maka diketahui bahwa terdapat 10 butir soal yang memenuhi persyaratan yaitu memiliki daya beda diatas 0,2 dan memiliki kevalidan. Namun 10 butir soal ini belum mewakili semua submateri pada materi kimia koloid. Jadi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan perangkat evaluasi yang memenuhi persyaratan baku.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran PKn topik sistem pemerintahan desa dan kecamatan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan / Antonius Rahadat

 

Mata pelajaran PKn bertujuan untuk menjadikan siswa agar mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup maupun isu kewarganegaraan di negaranya. Namun dalam pembelajaran PKn di kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan masih berpusat pada guru, sehingga aktivitas siswa tidak terlihat dan hasil belajar masih kurang dari standar kelulusan minimal. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, maka belajar akan berpusat pada siswa (student centered) sehingga situasi belajar siswa akan terlihat, dan hasil belajarnya akan meningkat. Masalah yang diteliti dalam pembelajaran ini adalah tentang peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Tujuan dari penelitian ini adalah (a) mendeskripsikan situasi belajar siswa kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. (b) mendeskripsikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dilakukan di SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Arjosari I, yang berjumlah 35 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi yang dilakukan untuk mengetahui proses belajar siswa, dan tes (post test) yang digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa secara individu maupun kelompok. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dari hasil observasi, situasi belajar siswa kelas IV SDN Arjosari I pada pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat meningkat, karena adanya interaksi antara siswa dan siswa dalam kelompok belajar, maupun adanya interaksi antara siswa dan guru, serta adanya interaksi antara guru dan siswa. Hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso mengalami peningkatan. Pada pra tindakan rata-rata kelas hanya mencapai 61, siklus I rata-rata kelas 70 dan pada siklus II rata-rata kelas adalah 86. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Arjosari I Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan.

Analisis pembentukan portofolio dengan menggunakan single index market model (studi kasus pada perusahaan property dan real estate yang listing di BEI periode 3 April-31 Mei 2007) / Desi Ainun Jariyah Utami

 

Investasi di pasar modal memiliki risiko yang lebih besar bila dibandingkan dengan investasi lain. Investasi yang menawarkan hasil yang tinggi tentu mengandung risiko yang tinggi pula. Salah satu cara untuk mengurangi risiko investasi saham adalah dengan melakukan pembentukan portofolio. Pembentukan portofolio merupakan cara untuk mengidentifikasi sekuritas-sekuritas mana yang dipilih, dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui return saham individu (Ri) dari perusahaan property dan real estate, untuk mengetahui return pasar (Rm) dari perusahaan property dan real estate, untuk mengetahui tingkat pengembalian yang diharapkan (return ekspektasi) dari saham individu E(Ri), untuk mengetahui return ekspektasi pasar E(Rm), untuk mengetahui tingkat return bebas risiko/risk free,dan untuk menganalisis bagaimana membentuk portofolio dengan menggunakan Single Index Market Model agar dapat meminimalkan risiko investasi pada tingkat return tertentu bagi investor. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif dengan sampel 15 perusahaan property dan real estate yang listing di BEI. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif. Periode penelitian selama 41 hari mulai 3 April – 31 Mei 2007. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, berupa harga saham, indeks harga saham gabungan (IHSG), dan tingkat suku bunga SBI. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Single Index Market Model. Tahapan dalam pengolahan data di mulai dari perhitungan return saham individu, return pasar, tingkat return bebas risiko, return ekspektasi saham individu, return ekspektasi pasar, risiko sisitematis, risiko non sitematis, alpha, varian saham, Cut off Point (C*) berdasarkan nilai Cut off Rate terbesar, proporsi portofolio, expected return portofolio, dan varian portofolio. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 15 perusahaan sampel, hanya terdapat 3 perusahaan yang masuk dalam pembentukan portofolio yaitu: Surya Inti Permata Tbk (SIIP) dengan proporsi sebesar 26.4%, Karka Yasa Profilia Tbk (KARK) sebesar 71.9%, Panca Wiratama Sakti Tbk (PWSI) sebesar 1.6%. Berdasarkan hasil penelitian pihak investor dapat memperoleh tingkat return ekspektasi sebesar 2.87% dengan risiko minimal 0.29% . Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan penelitian ini adalah (1) Investor diharapkan tidak berinvestasi pada satu saham saja, tetapi pada beberapa saham yang menawarkan tingkat pengembalian yang tinggi, sehingga risiko yang ditanggung lebih kecil. (2) Dalam melakukan investasi saham sebaiknya disamping menganalisis portofolio dalam mengambil keputusan diperlukan juga analisis fundamental yang mempertimbangkan faktor-faktor fundamental, seperti kinerja perusahaan dan informasi lain yang sesuai.

Pengaruh harga saham, traiding volume activity dan risk of return terhadap bid-ask spread saham LQ 45 yang listing di BEI / Ratna Dwi Anggraeni

 

ABSTRAK Anggraeni, Ratna Dwi. 2008. Pengaruh Harga Saham, Trading Volume Activity dan Risk of Return terhadap Bid-Ask Spread. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr.Bambang Sugeng,S.E., M.A., M.M., Ak. (II) Drs. H. Sumadi, S.E., M.M. Kata kunci: harga saham, trading volume activity, risk of return, bid-ask spread Dalam pasar modal investor dapat melakukan investasi. Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang. Umumnya investasi dibedakan menjadi dua, yaitu: investasi pada aset-aset finansial (financial assets) dan investasi pada aset-aset riil (real assets). Keinginan investor untuk meminimalkan risiko, memaksimalkan return dan bertransaksi dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat dan biaya yang rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh harga saham, trading volume activity, dan risk of return terhadap bid-ask spread pada perusahaan LQ-45. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga saham, trading volume activity dan risk of return terhadap bid-ask spread. Serta untuk mengetahui variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap bid-ask spread. Penelitian ini dilakukan di pojok Bursa Efek Indonesia Universitas Brawijaya Malang dan Pusat Data Bisnis Universitas Negeri Malang. Populasi yang digunakan semua saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada rentang waktu Februari 2004 sampai Juli 2007 dengan jumlah 45 perusahaan. Dengan periode observasi yang digunakan enem bulanan (semester) yang terdiri dari tujuh semester. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu Saham LQ-45 yang berturut-turut tergolong dalam indeks LQ-45, yaitu saham yang dari periode Februari 2004 sampai periode Juli 2007 tidak dikeluarkan dari indeks LQ-45 dengan jumlah 20 perusahaan. Hasil penelitian yang diperoleh secara parsial adalah harga saham (X1) berpengaruh signifikan terhadap bid-ask spread, trading volume activity (X2) berpengaruh signifikan terhadap bid-ask spread, risk of return (X3) berpengaruh signifikan terhadap bid-ask spread. Harga saham berpengaruh paling dominan terhadap bid-ask spread. Saran bagi Peneliti selanjutnya hendaknya menambah jumlah sampel penelitian misalnya perusahaan yang go public di BEJ, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya dan menambah variabel-variabel lain yang potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel bid-ask spread.

Pengaruh volume kredit, jangka waktu kredit dan simpanan terhadap sisa hasil usaha (SHU) pada KPRI Universitas Negeri Malang periode 2006-2007 / Pravita Dini Ceria

 

ABSTRAK Ceria, Pravita Dini. 2009. Pengaruh Volume Kredit, Jangka Waktu Kredit dan Simpanan Terhadap Bagian Sisa Hasil Usaha (SHU) Anggota Pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Universitas Negeri Malang Tahun 2006-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Manajemen Keuangan. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)Dr. Hadi Sriwiyana, M.M (II)DR. H. Agung Winarno, M.M. Kata kunci: Kredit, Jangka Waktu Kredit, Simpanan, SHU. Pengambilan kredit merupakan bentuk suatu partisipasi anggota didalam KPRI UM yang didasarkan pada suatu kemampuan seseorang atas pendapatan dan waktu kesanggupan pengembalian kredit tersebut. Informasi mengenai keputusan seseorang dalam mengambil kredit pada koperasi khususnya, dapat melihat berapa volume kredit yang akan diambil serta jangka waktunya. Bentuk partisipasi lainnya adalah simpanan (wajib dan pokok). Partisipasi tersebut nantinya akan mendapatkan suatu jasa pada akhir tahun, yang dikenal dengan Sisa Hasil Usaha (SHU). Volume kredit dan simpanan akan mempengaruhi besarnya Sisa Hasil Usaha (SHU). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah (volume) kredit, jangka waktu dan simpanan secara parsial dan bersama-sama (simultan) terhadap SHU. Penelitian ini digolongkan dalam penelitian kausalitas karena penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan data dokumentasi KPRI UM terdapat 872 anggota yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan simpan pinjam selama tahun 2006-2007. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 88 anggota yang mengambil kredit dan memiliki simpanan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 14.0. Uji Asumsi Klasik yang digunakan yaitu, uji normalitas, multikolinieritas dan autokorelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1). Volume Kredit berpengaruh signifikan terhadap SHU, 2). Jangka Waktu Kredit berpengaruh signifikan terhadap SHU, 3). Simpanan berpengaruh signifikan terhadap SHU. 4). Volume Kredit, Jangka Waktu Kredit dan Simpanan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap SHU. Dari hasil penelitian ini diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel selain volume kredit, jangka waktu dan simpanan, jumlah sampel yang lebih besar dan periode yang lebih lama agar penelitian ini lebih sempurna sehingga dapat dijadikan pertimbangan bagi anggota KPRI UM dalam pertimbangan pengambilan kredit dan untuk KPRI UM sendiri sebagai pertimbangan dalam meningkatkan jumlah modal KPRI UM.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dengan model group investigation (GI) untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar biologi siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang / Ummu Choriyah

 

ABSTRAK Choriyah, Ummu. 2009. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi. FMIPA. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Soedjono Basoeki, M. Pd (II) Drs. Sarwono, M. Pd Kata-kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), Group Investigation (GI), Kerja Ilmiah, Prestasi Kurikulum yang telah diterapkan di SMA Negeri 7 Malang saat ini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan mulai menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan berbagai macam model pembelajaran. Siswa masih sulit untuk memahami suatu konsep jika tidak diberikan langsung oleh guru, siswa juga kurang mampu mengembangkan suatu materi jika tidak diberi catatan oleh guru (siswa masih perlu dituntun oleh guru). Penelitian ini tentang pembelajaran berbasis masalah dengan model Group Investigation yang merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran ini, siswa dituntut untuk berpikir kritis dan membentuk pengetahuan sendiri. Proses pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan daripada hasil pemerolehan informasi atau pengetahuan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan model Group Investigation terhadap peningkatan kerja ilmiah siswa as XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang, (2) mengetahui penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan model Group Investigation terhadap peningkatan prestasi belajar biologi siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang pada semester 2 tahun pelajaran 2007-2008 dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang pada materi Struktur Tumbuhan, Struktur Hewan dan Manusia, Sistem Peredaran Darah pada Hewan dan Manusia. Analisis data hasil penelitian dilakukan secara deskriptif berdasarkan catatan lapangan dan lembar observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Catatan lapangan dan lembar observasi diisi oleh 8 orang observer. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan Group Investigation meningkatan kerja ilmiah siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Peningkatan kerja ilmiah siswa ditunjukkan dengan persentase kerja ilmiah siswa pada siklus I, II, dan III sebesar 79%, 82,95%, 84,17%. Penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan Group Investigation meningkatan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dengan ketuntasan belajar siswa pada siklus I, II, dan III sebesar 19%, 43%, dan 89%.

Hubungan antara kemandirian belajar siswa dengan nilai portofolio dalam pembelajaran matematika / Ria Afianti

 

Penilaian portofolio adalah penilaian dengan metode pengumpulan hasil kerja siswa yang berupa berkas dan laporan tertulis untuk tujuan tertentu. Struktur portofolio yang dikembangkan berupa modul yang sekaligus berisi soal-soal latihan yang mendukung tujuan dari portofolio dan hasil tes berupa ulangan. Salah satu manfaat dari portofolio adalah dapat mendorong tanggung jawab siswa dalam belajar, membangkitkan kepercayaan diri, dan membangkitkan motivasi belajar. Siswa juga diberi kesempatan untuk memberikan hasil kerjanya yang terbaik, sehingga nilai yang diperoleh oleh siswa relatif sangat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi nilai portofolio siswa, kemandirian belajar siswa dan hubungan antara kemandirian belajar siswa dengan nilai portofolio dalam pembelajaran matematika.Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Malang sejumlah 53 siswa dan penelitian ini merupakan penelitian populasi. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2008, untuk kemandirian belajar siswa menggunakan angket dengan nilai koefisien realibilitasnya r = 0,816 dan untuk nilai portofolio diambil dari guru matematika kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Malang, karena sudah menerapkan penilaian portofolio. Analisis deskriptif menggunakan rumus persentase dan interval. Sedangkan analisis korelasi menggunakan analisis korelasi produk momen.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat kemandirian belajar yang baik dengan jumlah 77,36 % atau 41 siswa, kemandirian belajar yang sangat baik 15,09% atau 8 siswa, kemandirian belajar yang cukup 7,55% atau 4 siswa, dan 0% atau 0 siswa yang mempunyai kemandirian belajar yang kurang. Sedangkan untuk nilai portofolio yang sangat baik 75,47% atau 40 siswa, nilai portofolio yang baik 24, 53% atau 13 siswa, dan 0% atau 0 siswa memperoleh nilai portofolio yang cukup dan kurang. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kemandirian belajar siswa dengan nilai portofolio dalam pembelajaran matematika dengan nilai r = 0,307 dan nilai p = 0,025. Nilai r square = 0, 094 menunjukkan bahwa hubungan tergolong hubungan yang rendah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat hubungan antara kemandirian belajar siswa dengan nilai portofolio dalam pembelajaran matematika, maka guru perlu meningkatkan kemandirian belajar siswa. Hal ini diperlukan karena tidak semua siswa memiliki kemandirian belajar yang sangat tinggi. Untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa hendaknya guru menerapkan model penilaian portofolio. Sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya yaitu hendaknya mengambil populasi yang lebih besar dengan variabel yang lebih banyak, sehingga kita bisa mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai portofolio dan memperbanyak macam bukti yang dikumpulkan dalam portofolio, sehingga hasil yang diperoleh lebih menyakinkan.

Evaluasi sistem dan prosedur pemberian kredit Pundi Kencana pada PT Bank Jatim Cabang Blitar / Ani Sudarwati

 

ABSTRAK Sudarwati, Ani. 2008. Evaluasi Sistem dan Prosedur Pemberian Kredit Pundi Kencana Pada PT Bank Jatim Cabang Blitar. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Nurika Restuningdiah, SE. Msi, Ak. Kata Kunci : Sistem, Prosedur, Kredit Pundi Kencana. Memperluas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan dalam pembangunan. Untuk memberdayakan UMKM salah satunya yaitu dengan kebijakan kredit di perbankan. PT Bank Pembangunan Daerah Jatim, atau lebih dikenal dengan Bank Jatim adalah salah satu Bank yang selain menghimpun dana masyarakat juga melayani jasa perkreditan. Kredit yang diberikan adalah Kredit Pundi Kencana. Kredit Pundi Kencana kreditnya lebih beresiko daripada kredit yang lain, yakni kredit macet. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan suatu Sistem dan Prosedur yang baik serta ketelitian dalam pemberian kredit. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui Sistem dan Prosedur pemberian kredit Pundi Kencana pada PT Bank Jatim Cabang Blitar serta mengevaluasi apakah terdapat permasalahan di Kredit Pundi Kencana. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif. Dalam penulisan Tugas Akhir ini dapat diketahui bahwa Sistem dan Prosedur pemberian Kredit Pundi Kencana pada Bank Jatim Cabang Blitar pada umumnya sudah baik. Sebab, sistem maupun prosedurnya dilakukan dengan Sistem kehati-hatian serta ketelitian yang memperkecil resiko kredit macet pada debitur. Hal tersebut juga terlihat dari analisa kredit yang menerapkan prinsip 5 ’C, yaitu di antaranya prinsip Character, Capacity, Capital, Collateral dan Condition of economy. Namun, Sistem dan Prosedurnya terdapat kelemahan yang diantaranya: Belum terdapat Register Permohonan Kredit Meskipun demikian, pengendalian internnya juga sudah baik. Di antaranya yaitu pada prinsip pengawasannya yang dilakukan secara aktif dan pasif, perlindungan fisik pada asset bank, melakukan sidak langsung ke tempat nasabah. Serta adanya pemisahan fungsi yang sesuai dengan tugas masing-masing. Berdasarkan dari hasil kesimpulan, saran yang diberikan pada penulisan ini yaitu hendaknya pihak Pundi Kencana khususnya pihak analis kredit lebih meningkatkan ketelitian dalam menganalisis pemberian kredit. Serta pihak Kredit Pundi Kencana semakin memperketat kegiatan pengawasan terhadap usaha debitur. Sehingga apabila terdapat gejala penunggakan kredit oleh debitur dapat segera dicari jalan pemecahannya; pelaksanaan sistem dan prosedur yang dilakukan oleh PT Bank Jatim Cabang Blitar sudah baik dan hendaknya ditingkatkan lagi sebab semakin kecil tingkat permasalahan kredit maka penilaian kesehatan Bank akan semakin baik.

Kemampuan melakukan penilaian dari mahasiswa Pendidikan Fisika FMIPA UM pesertta PPL selama penerapan lesson study di SMA Widya Gama Malang / Mahmuda Noviyani

 

Salah satu kompetensi profesional keguruan yang dilatihkan pada peserta PPL adalah kemampuan melakukan penilaian. Waktu PPL yang sangat singkat yaitu 3 bulan dan sedikitnya kesempatan praktek di kelas kurang lebih 3kali, mendorong guru pamong, dosen pembimbing PPL, dan peserta PPL untuk menerapkan Lesson Study selama pelaksanaan PPL di SMA Widya Gama Malang. Dengan penerapan Lesson Study diharapkan dapat melatih Mahasiswa Pendidikan Fisika untuk lebih intensif mencermati pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh rekannya maupun dirinya sendiri terutama dalam melaksanakan penilaian.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) keterlaksanaan penerapan lesson study di SMA Widya Gama yang dilakukan oleh Mahasiswa Pendidikan Fisika peserta PPL dari perspektif kemampuan melakukan penilaian, 2) kemampuan melakukan penilaian dari mahasiswa pendidikan fisika peserta PPL dan pertumbuhannya. Kemampuan melakukan penilaian dibagi atas tiga sub yaitu: kemampuan merencankan, mengembangkan instrumen (kualitas instrumen)dan melaksanakan penilaian. Desain penelitian adalah penelitian ex post facto dengan pendekatan ethnografi. Peneliti melebur atau terlibat langsung sebagai observer dalam pelaksanaan penerapan Lesson Study oleh Mahasiswa Pendidikan Fisika. Data dalam penelitian ini meliputi: 1) keterlaksanaan penerapan lesson study, 2) kemampuan melakukan penilain dari mahasiswa pendidikan fisika dan pertumbuhannya. Data tersebut diperoleh melalui angket, observasi, penilaian produk, dokumentasi dan catatan lapangan. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitaif untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang ada. Hasil penelitian menunjukkan:1) keterlaksanaan penerapan lesson study dari perspektif kemampuan melakukan penilaian sebesar 77,75 % dengan kategori terlaksana,2) kemampuan melakukan penilaian itu sendiri mmperoleh hasil sebesar 50,37 dengan kategori cukup baik. Sedangkan untuk pertumbuhan kemampuan melakukan penilaian ditinjau dari siklus lesson study yang dilaksanakan mengalami perubahan yang turun dari siklus 1 sebesar 60,68 dengan kategori cukup baik ke siklus 2 sebesar 59,11 dengan kategori cukup baik.

Penerapan strategi pemasaran jasa pada rumah sakit Lavalette Malang / Nanin Karlina

 

Perkembangan zaman yang berjalan semakin cepat ditandai dengan era globalisasi telah membawa dampak ke berbagai bidang. Salah satu dampak yang muncul akibat adanya globalisasi adalah semakin ketatnya persaingan dalam dunia usaha. Hal ini mengharuskan semua perusahaan untuk mempunyai strategi agar dapat tetap bertahan dan mengikuti persaingan. Tak terkecuali dengan perusahaan yang bergerak dibidang jasa pelayanan kesehatan (rumah sakit). Perusahaan harus dapat mensosialisasikan produknya karena pangsa pasar yang semakin luas dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan, sehingga dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat untuk memasarkan produknya, terlebih lagi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Strategi pemasaran merupakan proses analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam penyusunan tugas akhir ini diawali dengan kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) penulis berusaha untuk mengetahui bagaimana penerapan strategi pemasaran di Rumah Sakit Lavalette Malang, kegiatan PKL ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu, mulai tanggal 7 Oktober 2008 sampai dengan 31 Oktober 2008. Selama kegiatan praktikum penulis ditempatkan pada bagian sub unit Customer Service. Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang dilakukan oleh Rumah Sakit Lavalette Malang berada pada bauran pemasarannya, yang meliputi kebijakan dalam hal produk, price, place, promosi, layanan pelanggan (customer services), people, dan proses. Dalam menjalankan kegiatan pemasarannya Rumah Sakit Lavalette Malang memiliki beberapa faktor pedukung antara lain: 1) Rumah Sakit Lavalette telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap, 2) Rumah Sakit Lavalette Malang memiliki SDM di bidang medis yang berkualitas serta didukung oleh dokter-dokter yang ahli dibidangnya. Disamping faktor pendukung tersebut terdapat pula faktor-faktor yang menghambat kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh Rumah Sakit Lavalette Malang antara lain: 1) terbatasnya jumlah SDM dibidang pemasaran mengakibatkan kegiatan marketing tidak bisa berjalan, 2) tim pemasaran yang telah dibentuk tidak dapat melakukan kerjasama dengan maksimal dikarenakan masing-masing anggotanya mengalami kesulitan untuk bertemu dan melakukan koordinasi karena unit yang ditempati berbeda, 3) dari PTPN XI (Persero) tidak ada alokasi dana untuk kegiatan pemasaran. Berdasarkan hasil PKL yang penulis laksanakan di Rumah Sakit Lavalette Malang, maka penulis mencoba untuk memberikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi perusahaan (rumah sakit). Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah, 1) sebagai perusahaan yang bergerak dibidang jasa pelayanan kesehatan, Rumah Sakit Lavalette Malang hendaknya senantiasa memperbaiki sistem pelayanannya untuk meningkatkan daya saing yang kompetitif, 2) harus tercipta hubungan kerja sama yang baik antar semua bagian dalam perusahaan, untuk mendukung pencapaian visi dan misi perusahaan, 3) Rumah Sakit Lavalette Malang hendaknya senantiasa menjaga hubungan baik dan aktif memberikan informasi serta program-program yang dimiliki kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan kerja sama dengan rumah sakit dalam hal ini merupakan tugas dari tim pemasaran, 4) untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien, hendaknya diberikan pendidikan kepada perawat secara berkelanjutan mengenai cara-cara memberikan pelayanan jasa yang baik, serta cara bagaimana menjaga penampilan agar tetap terlihat menarik meski sudah bekerja selama sehari penuh. Hal ini diperlukan karena perawat adalah orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan pasien dan keluarganya.

Perbedaan hasil belajar sejarah antara siswa yang diberi latihan soal bergambar dengan siswa yang diberi latihan soal bukan bergambar pada kelas VIII SMP 9 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Ipong Jazimah

 

Mata pelajaran sejarah erat kaitannya dengan nama-nama tokoh, tahun kejadian, sebab, akibat, dan pengaruh peristiwa bagi kehidupan masyarakat. Diperlukan sebuah media pembelajaran yang tepat dalam rangka mengatasi rendahnya hasil belajar akibat kesulitan mempelajari sejarah. Salah satunya dengan memberikan latihan soal bergambar. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana hasil belajar siswa yang diberi latihan soal bergambar. (2) Bagaimana hasil belajar siswa yang diberi latihan soal bukan bergambar. (3) Apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diberi latihan soal bergambar dengan siswa yang diberi latihan soal bukan bergambar. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diberi latihan soal bergambar. (2) Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diberi latihan soal bukan bergambar. (3) Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diberi latihan soal bergambar dengan siswa yang diberi latihan soal bukan bergambar. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen. Populasinya adalah siswa kelas VIII SMP 9 Malang semester gasal tahun pelajaran 2008/2009. Obyek penelitian adalah 77 orang siswa yaitu kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII C sebagai kelas kontrol. Pada pelaksanaannya kelas eksperimen diberi latihan soal bergambar dan kelas kontrol diberi latihan soal bukan bergambar. Data berupa hasil belajar dikumpulkan melalui tes hasil belajar sebagai instrumen untuk pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai kelas eksperimen adalah 75,85 sedangkan kelas kontrol adalah 67,28. Hal ini menunjukkan kelas yang diberi latihan soal bergambar mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi daripada kelas yang diberi latihan soal bukan bergambar. Hasil analisis uji-t terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu nilai t adalah 4,788 dan t tabel 2,480 yang berarti thitung t tabel, yang menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai rata-rata siswa yang diberi latihan soal bergambar dengan latihan soal bukan bergambar. Disarankan bagi peneliti lain terutama mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah yang tertarik pada penelitian yang sejenis untuk melakukan pengembangan yaitu memilih tema yang lebih mengarah pada penguasaan siswa terhadap mata pelajaran sejarah. Disarankan untuk mengambil materi selain kesadaran nasional, mengambil sampel yang lebih luas, mengembangkan instrument penelitian yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan tes hasil belajar sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

Relevansi pendidikan ekonomi yang diperoleh produsen dan distributor dengan kegiatan usaha industri kecil kripik aneka buah di Desa Kedondong Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun / Hakim Waskito

 

ABSTRAK Waskito, Hakim. 2009. Relevansi Pendidikan Ekonomi Yang Dipeoleh Produsen Dan Distributor Dengan Kegiatan Usaha Industri Kecil Kripik Aneka Buah Di Desa Kedondong Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Drs. Wahjoedi, M.E, (II) Dr. Nasikh, S.E, M.P, M.Pd. Kata kunci : Pendidikan Ekonomi, Produsen, Distributor, Industri Kecil Industri kecil memegang peranan penting di dalam perkembangan perekonomian Indonesia. Semakin banyak industri kecil yang ada di dalam suatu negara akan semakin banyak pula menyerap tenaga kerja. Untuk memajukan industri ini tidak bisa terlepas dari campur tangan SDM yang unggul. SDM yang unggul bisa diperoleh melalui pendidikan ekonomi baik di lingkungan formal, informal, maupun non-formal. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimana relevansi pendidikan ekonomi yang diperoleh produsen dengan kegiatan usaha industri kecil? (2) Bagaimana relevansi pendidikan ekonomi yang diperoleh distributor dengan kegiatan usaha industri kecil?. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Lokasi penelitian ini terletak di industri kecil kripik aneka buah di Desa Kedondong Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2008, yang menjadi subjek dan informan penelitian ini adalah Lambang Wijayanto selaku produsen, dan Brien Luruh Windrian selaku distributor. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan berperanserta dan wawancara mendalam. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif dengan prosedur reduksi data, display data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan industri kecil ini melibatkan produsen dan distributor. Produsen mendapatkan pendidikan ekonomi dari sektor non formal berupa pelatihan. Pendidikan non formal yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan kemudian diterapkan dalam kegiatan produksi. Setelah diterapkan dapat diketahui bahwa dengan adanya pelatihan membawa dampak yang positif terhadap perkembangan usaha. Distributor mendapatkan pendidikan ekonomi dari pendidikan formal dan non formal. Pendidikan ekonomi yang diperoleh dari pelatihan diterapkan dalam kegiatan usaha untuk memperluas jaringan pemasaran. Dari hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa dalam proses produksi di industri kecil kripik aneka buah diperlukan peran pendidikan ekonomi untuk meningkatkan nilai output produksi. Diantara pendidikan ekonomi yang diterapkan dalam kegiatan usaha ini berupa pelatihan-pelatihan dari dinas terkait.. Proses distribusi memerlukan pendidikan ekonomi untuk memperlancar arus barang dari produsen ke konsumen. Distributor dalam kegiatan usaha ini mempunyai pendidikan Administrasi Niaga sehingga mempunyai banyak pengetahuan tentang teknik-teknik pemasaran. Selain dari pendidikan formal juga mendapat pelatihan dari dinas terkait berupa pelatihan ICT dan prosedur promosi ekspor. Pendidikan non formal memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perluasan pemasaran kripik buah.

Penerapan pembelajaran kooperatif model struktural roundtable untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS 1 SMA Laboratorium UM Malang / Ratih Nilla Kartika

 

ABSTRAK Kartika, Ratih Nilla. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Struktural Roundtable Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS 1 SMA Laboratorium UM Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mashuri, M.Hum, (II) Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci : Model struktural Roundtable, motivasi belajar siswa, pelajaran Sejarah Dalam memperbaiki mutu pendidikan, peran motivasi bagi siswa sangatlah penting dalam belajar. Peran guru dalam hal ini sangat penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan menentukan keberhasilan belajar siswa. Hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah SMA Laboratorium UM Malang menunjukkan adanya permasalahan yang dihadapi oleh guru yaitu motivasi belajar sejarah siswa khususnya kelas XI IPS1 sangat rendah hal ini dibuktikan dalam proses pembelajaran sejarah hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja dan sebagian siswa yang lain tidak terlalu aktif, dan banyak siswa yang gaduh didalam kelas serta tidak memperhatikan penjelasan guru. Hasil belajar Sejarah sebelum dilakukan tindakan masih kurang yaitu 72, hal ini masih dibawah Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang diterapkan di SMA Laboratorium UM Malang yaitu 75. Salah satu metode pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif model struktural Roundtable. Model struktural Roundtable diperlukan dalam menghadapi masalah ini karena merupakan model pembelajaran yang tidak hanya unggul untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit tetapi juga melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri sehingga diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model Struktural Roundtable pada siswa kelas XI IPS1 SMA Laboratorium UM Malang? (2) Bagaimana motivasi belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Laboratorium UM Malang terhadap mata pelajaran sejarah dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif model Struktural Roundtable?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model Struktural Roundtable pada siswa kelas XI IPS1 SMA Laboratorium UM Malang, serta untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa kelas XI IPS1 SMA Laboratorium UM Malang dengan penerapan pembelajaran kooperatif Model Struktural Roundtable. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2008/2009 dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa SMA Laboratorium UM Malang kelas XI IPS1 yang berjumlah 26 siswa dengan rincian 14 orang siswa perempuan dan 12 orang siswa laki-laki.Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus dengan empat kali pertemuan yaitu pada tanggal 11 dan 13 November 2008 untuk pelaksanaan siklus yang pertama, serta tanggal 18 dan 20 November 2008 untuk siklus yang kedua. Analisis data pada penelitian ini menggunakan model Milles dan Hubermen yang meliputi tiga tahap yaitu reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran sejarah setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model struktural Roundtable. Peningkatan ini ditunjukkan melalui aspek motivasi belajar siswa yang terdiri dari perhatian, waktu belajar, usaha, irama perasaan, dan penampilan. Setiap aspek motivasi ini terdiri dari beberapa deskriptor yang dihitung berdasarkan motivasi setiap siswa. Pada siklus pertama prosentase masing-masing aspek 41%, 88%, 45%, 63%, 68%. Sedangkan pada siklus kedua perolehan prosentase masing-masing aspek motivasi adalah 84%, 100%, 71%, 90%, 100%, sehingga masing-masing aspek motivasi belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 43%, 16%, 24%, 27%, 32%. Terjadinya peningkatan terhadap aspek-aspek motivasi belajar siswa tersebut menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran sejarah mengalami peningkatan dari siklus I menuju siklus II. Masing-masing aspek motivasi belajar siswa mengalami peningkatan, yang berarti motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan terhadap motivasi belajar siswa, disarankan agar guru menerapkan pembelajaran kooperatif model struktural Roundtable pada mata pelajaran sejarah dimaterimateri yang lain namun harus disesuaikan dengan materi yang tepat dan sesuai dengan model pembelajaran Roundtable. Selain itu guru juga diharapkan menggunakan metode dan model pembelajaran yang lebih bervariasi tidak hanya metode ceramah atau konvesional.

Buku teks Bipa "Living Indonesia" telaah materi Tata Bahasa dan penerapannya / Trisna Andarwulan

 

Salah satu ukuran keberhasilan mengajar BIPA dapat dilihat dari kemampuan siswa menggunakan bahasa yang dipelajari untuk berkomunikasi dengan baik. Untuk mencapai tahap ini tentu saja siswa harus mempelajari dan memahami aspek-aspek bahasa yang baru dipelajari, melalui proses pembelajaran yang dimulai dari tingkat yang paling sederhana. Salah satu aspek yang harus dipelajari adalah tata bahasa. Materi tata bahasa yang diteliti mengacu pada buku teks BIPA Living Indonesian. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan deskripsi tentang materi tata bahasa yang meliputi wujud, pemilahan, gradasi materi tata bahasa, dan penerapan materi tata bahasa pada buku teks BIPA LI dalam kegiatan pembelajaran di CIS BIPA UM. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu dokumentasi dan wawancara. Sumber data yang digunakan yaitu buku teks BIPA LI dan juga beberapa responden (pelajar BIPA, pengajar BIPA dan penulis buku). Dalam instrumen penelitian, selain menggunakan buku teks tetapi juga berupa angket, wawancara dan pengamatan langsung. Materi tata bahasa pada buku teks BIPA LI meliputi salam, pengenalan kata bilangan, kata ganti, kata tunjuk, ungkapan persetujuan dan penolakan, arah mata angin, (sudah, baru, masih, sedang, mau dan akan), kata tanya dan bukan/tidak, nama hari dan bulan, penggunaan keterangan waktu, pemakaian yang, pemakaian -nya, bentuk-bentuk perbandingan, kata bilangan lanjutan, perintah dan himbauan, kalimat aktif dan pasif, kata-kata yang diikuti oleh bentuk pasif, kalimat pasif dan aktif dengan kata ganti, awalan ber-, imbukan ber-an, akhiran -kan, akhiran -i, perbedaan akhiran -kan dan -i, akhiran -an. Dari hasil telaah, wujud materi tata bahasa terdiri atas 12 sub pelajaran. Materi kosakata dan ungkapan disajikan dalam unit pelajaran tata bahasa. Pemilahan materi tata bahasa dalam buku teks BIPA LI didasarkan atas wujud materi dan prinsip pengelompokan materi. Berdasarkan wujud materi, materi tata bahasa dipilah menjadi materi kosakata dan materi ungkapan. Materi kosakata terdiri atas materi pengenalan bilangan, nama hari dan bulan, dan arah mata angin. Sementara itu, pemilahan berdasarkan prinsip pengelompokan materinya terdiri atas tiga prinsip, yaitu kesamaan bentuk, kekontrasan, dan kesejajaran bentuk. Gradasi materi tata bahasa pada buku teks BIPA LI didasarkan atas model penggradasian materi. Berdasarkan telaah, ditemukan empat model gradasi materi. Empat model tersebut adalah (1) urutan menurut tahapan perolehan unsur bahasa (teori - praktek), (2) urutan menurut tingkat kesederhanaannya (sederhana – kompleks), (3) urutan secara umum – khusus, dan (4) urutan teratur – menyimpang. Sementara itu, berdasarkan penerapannya, materi tata bahasa yang terdapat dalam buku teks BIPA LI telah digunakan dan diterapkan oleh pebelajar BIPA di tingkat pemula. Pada angkatan tahun 2008 ini, pebelajar hanya menggunakan buku teks LI karena buku teks tersebut merupakan buku utama/pokok. Selain itu, buku teks LI mendapat respon yang cukup baik dari pebelajarnya. Dalam pembelajarannya, materi tata bahasa yang diajarkan pada pebelajar BIPA tidak selalu urut dengan materi tata bahasa yang terdapat dalam buku teks LI. Materi yang diajarkan disesuakan dengan kebutuhan pelajar. Pengajar menggunakan beberapa strategi agar pelajar tidak hanya sekedar terpaku pada teks. Strategi yang digunakan bisa berupa role play, pengalaman, substitusi, drilling, dan sebagainya. Dengan adanya strategi yang digunakan situasi kelas menjadi hidup dan tidak membosankan juga membuat pelajar lebih interaktif dengan materi yang diajarkan. Dalam penelaahan materi tata bahasa dan penerapannya pada buku teks BIPA LI ini, peneliti menjumpai beberapa kekurangan, diantaranya materi kosakata dan ungkapan dimasukkan dalam unit tata bahasa, konsistensi penulisan buku kurang optimal dan acuan teori buku teks belum jelas. Oleh sebab itu, diharapkan dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan kepada penulis untuk penyusunan buku teks BIPA berikutnya agar buku teks menjadi lebih fungsional.

Rancang bangun mesin pencacah rumput model Blow Cutter dengan kapasitas 720 Kg / Samsudin Jupri, Kamarudin

 

Rumput merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang ditempat-tempat yang memiliki suhu lembab dan terkena cahaya matahari, rumput memiliki jenis yang beranekaragam misalnya: rumput gajah, rumput teki, rumput mardi digit (Digitaria setivalva), rumput kuda / Guinea (Panicum maximum), rumput signal (Brachiaria decumbens), rumput setaria (Setaria sphacelata kultivar Kazungula), rumput setaria (Setaria sphacelata variety splendida), rumput gajah (Pennisetum pupureum), rumput humidicola (Bracharia humidicola), rumput para (Brachiaria mutica), rumput parit (Axonopus compressus), rumput kerbau (Paspalum conjugatum) dan rumput liar. Keanekaragaman ini terjadi karena dipengaruhi oleh faktor suhu dan tempat rumput tersebut tumbuh. Rumput adalah makanan utama hewan ternak termasuk sapi, semakin banyak hewan ternak maka konsumsi rumput yang diperlukan semakin meningkat. Rumput yang dikonsumsi oleh sapi biasanya rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) termasuk tumbuhan jagung yang masih muda, kedua tumbuhan ini biasanya banyak tumbuh diarea persawahan dan perkebunan. Proses merumput terdiri dari dua tahapan yaitu pertama merumput itu sendiri (bahasa jawa ngarit ) dan kedua mencacah (memotong-motong rumput gajah / tumbuhan Jagung menjadi ukuran pendek supaya sapi mudah dalam proses pengunyahan). Kecamatan Pujon merupakan salah satu daerah peternak sapi perah di Kabupaten Malang Jawa Timur, dimana 75 % penduduknya adalah peternak sapi terutama sapi perah dan merupakan mata pencaharian utama penduduk setempat. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penulis yang dilaksanakan 28 Maret – 5 April 2008 di Koperasi Susu SAE Pujon Malang (Unit Pengembangan Kwalitas Bibit Ternak) sebagai berikut: menurut bapak Sanusi (Ketua Unit Pengembangan Kwalitas Bibit Ternak) dalam memberikan pakan sapi terdapat kendala yakni ketika melakukan proses tahap kedua yaitu menyacah, pada proses ini peternak memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang banyak karena masih menggunakan alat-alat tradisional seperti sabit dan parang. Sementara di sisi lain, pakan sapi harus segera terpenuhi apalagi jumlah hewan ternak lebih banyak sehingga prosesnya pun memerlukan waktu yang lama. Berdasarkan kelemahan-kelemahan di atas, maka penulis sebagai masyarakat perguruan tinggi ikut berfikir dan berusaha menyelesaikan masalahmasalah yang dialami masyarakat luas terutama peternak sapi. Melihat peluang – peluang diatas tidak salah jika mesin pencacah rumput yang direncanakan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas rumput, sehingga proses pencacahan rumput lebih cepat dan biaya lebih murah, sehingga pemeliharaan serta pertumbuhan sapi berjalan dengan baik dan secara langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pengaruh media pembelajaran dua dimensi, tiga dimensi dan bakat mekanik terhadap hasil belajar sistem pengapian motor bensin di SMK Negeri 1 Kota Mojokerto / Khoirul Anwar

 

Hasil belajar adalah hal yang selalu menjadi orientasi dari setiap pelaksanaan proses pembelajaran. Inti dari proses pembelajaran adalah penyampaian informasi melalui pemberian pengalaman oleh guru kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Fakta di lapangan menunjukkan kurang optimalnya guru dalam melaksanakan proses pembelajaran terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran dan pemahaman terhadap bakat atau potensi peserta didik sebagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Media Pembelajaran Dua Dimensi, Tiga Dimesi dan Bakat Mekanik Terhadap Hasil Belajar Sistem Pengapian Sistem Pengapian Motor Bensin Di SMK Negeri 1 Kota Mojokerto. Ada 3 hal yang dieksperimenkan, yaitu (1) perbedaan yang signifikan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik yang menggunakan media pembelajaran dua dimensi dan tiga dimensi; (2) perbedaan yang signifikan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik yang mempunyai bakat mekanik rendah, bakat mekanik sedang dan bakat mekanik tinggi; (3) interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan bakat mekanik yang memiliki pengaruh terhadap hasil belajar sistem pengapian motor bensin. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Data penelitian berupa hasil pengukuran terhadap variabel yang dioperasikan dengan menggunakan instrumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu tes tertulis dalam bentuk tes objektif. Data yang dimaksud adalah hasil belajar sistem pengapian motor bensin. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Analisis data dilakukan dengan analisis ANOVA dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik yang menggunakan media pembelajaran dua dimensi dan media pembelajaran tiga dimensi; (2) terdapat perbedaan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik berbakat mekanik rendah, berbakat mekanik sedang dan berbakat mekanik tinggi; (3) tidak ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan bakat mekanik yang berpengaruh terhadap hasil belajar sistem pengapian motor bensin. Berdasarkan hal tersebut, guru perlu mengusai penggunaan media pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran, dapat memaksimalkan informasi yang disampaikan kepada peserta didik, SMK hendaknya lebih inovatif dan variatif dalam pembuatan media pembelajaran, perlunya pemenuhan kebutuhan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran oleh pihak terkait

Pengaruh persentase kandungan minyak jarak pada solar terhadap emisi gas buang dan kebisingan mesin diesel / Nanang Kosim

 

Sebagian besar sektor transportasi di Indonesia, baik yang berada di air, udara dan darat menggunakan mesin diesel. Bahan bakar utama dari mesin diesel yaitu minyak solar. Permintaan minyak solar tiap tahun semakin meningkat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Pada kenyataanya cadangan minyak bumi khususnya solar di dunia semakin menipis, hal ini menimbulkan suatu solusi untuk mensubtitusi solar yaitu dengan menambahakan minyak tanah sebagai campuran solar. Selain pencemaran udara, kebisingan dari mesin diesel perlu ditanggapi serius karena dapt menimbulkan polusi bunyi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis mencoba mendeskripsikan penelitian tentang minyak jarak yaitu: “ Pengaruh Persentase Kandungan Minyak Jarak pada Solar Terhadap Emisi Gas Buang dan Kebisingan Mesin Diesel”. Penelitian ini menggunakan minyak jarak sebagai campuran bahan bakar solar karena minyak jarak merupakan bahan bakar yang terbaharui (renewable). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh persentase kandungan minyak jarak dengan persentase 10%, 20%, 30%, dan 40% pada solar dilihat dari putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm terhadap emisi gas buang, kepekatan gas buang dan kebisingan mesin diesel. Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan obyek penelitian adalah minyak jarak murni 100% yang telah melalui proses transesterifikasi, minyak solar kemudian dicampur menurut persentase yang telah ditentukan. Pengujian dilakukan pada mesin diesel jenis Nissan empat langkah. Analisis data menggunakan teknik anova. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada emisi dan kepekatan gas buang serta kebisingan mesin diesel yang dihasilkan dari proses pencampuran minyak jarak dengan solar pada variasi putaran mesin yang berbeda.

Studi tantang karya gambar anak tunagrahita di SLB-C Bhakti Luhur Malang / Ferdian Nata Atmaja

 

Abstrak Ferdian. 2008. Studi Tentang Karya Gambar Anak Tunagrahita di SLB-C Bhakti Luhur Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Ida Siti Herawati M.Pd. (II) Drs. Andi Harisman. Kata kunci: karya gambar, anak tunagrahita. Generasi yang berpendidikan merupakan jaminan terhadap kemajuan suatu bangsa, maka anak-anak sebagai generasi penerus bangsa wajib mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam perkembangan anak terdapat perkembangan yang terhambat dalam bahasa, interaksi sosial dan intelejensi. Terhambatnya perkembangan anak ini dikenal dengan istilah tunagrahita. Anak yang menderita tunagrahita juga memiliki hak untuk belajar. SLB-C Bhakti Luhur Malang merupakan salah satu sekolah untuk anak tunagrahita. Berbagai macam pembelajaran diberikan disekolah ini termasuk menggambar. Menggambar merupakan sebuah potensi yang dimiliki anak tunagrahita, dengan meggambar anak tunagrahita dapat menyalurkan ekspresinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil gambar anak tunagrahita di SLB-C Bhakti Luhur Malang melalui analisis gaya gambar anak yang dikembangkan oleh Herbert Read dan Oho Graha. Hasil gambar anak tunagrahita meliputi gaya gambar, teknik pewarnaan dan warna, serta tema yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dengan perspektif emik. Proses pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sasaran penelitian adalah karya gambar yang diambil dari siswa tunagrahita, yang terdiri dari 9 (sembilan) karya dari klasifikasi ringan, 5 (lima) karya dari klasifikasi sedang dan 2 (dua) karya dari klasifikasi berat. Analisa yang digunakan adalah content analisis atau analisa isi. Tahap selanjutnya pengecekan keabsahan datanya yaitu trianggulasi data. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: gaya gambar anak SLB-C Bhakti Luhur Malang, pada klasifikasi ringan ditemukan gaya enumerativ, simetris dan stereotip yaitu perulangan bentuk dari gambar yang telah dibuat sebelumnya. Pada klasifikasi sedang ditemukan gaya gambar literary, penumpukan, tutup menutup, enumeratif, eks prsionism. Pada klasifikasi berat ditemukan gambar berupa bentuk lingkaran dan corengan. Teknik mewarna dan warna pada klasifikasi ringan yaitu diperoleh teknik mewarna dengan teknik gradasi, blok dan arsir, warna cenderung pada warna-warna cerah, seperti orange, kuning, merah, hijau dan ungu. Pada klasifikasi sedang diperoleh teknik blok dengan warna dominan orange. Pada klasifikasi berat diperoleh gambar dengan teknik arsir dan pemilihan warna masih dengan bantuan guru. Tema pada klasifikasi ringan diperoleh tema pemandangan, kota, rumah, dan manusia. Pada klasifikasi sedang dipereoleh tema hewan, manusia dan pegunungan. Dan pada klasifikasi berat diperoleh gambar yang non tematik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk diadakan penelitian lebih mendalam tentang metode pembelajaran seni pada sekolah SLB khususnya menggambar dan penelitian tentang bentuk-bentuk terapi menggambar yang dipakai untuk anak-anak tunagrahita

Efektivitas model problem based learning dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bidang studi sejarah di kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen / Genta Mardhika Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Genta Mardhika . 2009. Efektivitas Model Problem Based Learning dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)Bidang Studi Sejarah Di Kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Joko Sayono, M. Pd, M. Hum, (II) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum. Kata kunci: Efektifitas, model Problem Based Learning, prestasi belajar. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) khususnya materi sejarah merupakan pelajaran yang kurang diminati oleh siswa, karena saat ini kebanyakan guru selalu menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi sehingga membuat suasana kelas menjadi monoton. Untuk itu guru sebagai pengajar harus kreatif dalam menyampaikan materi salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran lain seperti model Problem Based Learning. Model Problem Based Learning ini sejalan dengan Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menuntut guru menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, untuk itu peneliti melakukan penelitian di SMP Negeri 4 Kepanjen untuk mengetahui keefektifitasan dari Model Problem Based Learning terhadap prestasi belajar pada bidang studi sejarah siswa kelas VIII. Dengan hipotesis Model Problem Based Learning efektif untuk meningkatkan prestasi belajar sejarah. Alasan pemilihan judul ini karena, (1) SMP Negeri 4 kepanjen telah menerapkan KTSP dan menjadi rintisan Sekolah bertaraf internasional, tetapi masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi, (2) Model PBL adalah model pembelajaran inkuiri yang berpusat pada pemecahan masalah oleh siswa tanpa bantuan dari guru, sehingga siswa lebih memahami isi materi, selain itu permasalahan yang diberikan diambil dari dari dunia nyata. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) bagaimanakah hubungan model Problem Based Learning dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen pada mata pelajaran IPS bidang studi sejarah, (2) bagaimanakah efektivitas model Problem Based Learning dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen pada mata pelajaran IPS bidang studi sejarah, selain itu hipotesis dari penelitian ini adalah Model Probblem Based Learning efektif untuk meningkatkan prestasi belajar, dengan kriteria pengujian H0 diterima jika thitung < t tabel dan tolak H0 jika t hitung mempunyai nilai-nilai lain dengan derajat kebebasan n1 + n2 – 2 dan peluang (1 - a). Model Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dari konsep yang esensial dari materi pelajaran. Dari pengalaman memecahakan masalah sendiri tanpa bantuan dari guru mengakibatkan siswa tersebut lebih paham maka dapat membawa hasil dengan prestasi belajar. Prestasi belajar adalah keluaran atau output dari siswa setelah memperoleh pengalaman belajar dari guru Efektifitas adalah berhasil guna atau membawa hasil. Sehingga kita dapat mengetahui apakah model pembelajaran tersebut efektif untuk meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu peneliti menggunakan dua kelas yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pada kedua kelas itu diberikan perlakuan yang berbeda. Setelah itu dilakukan uji reliabilitas dan validitas, normalitas, homogenitas, uji kesamaan rata-rata kemampuan awal, dan uji hipotesis untuk menentukan keefektifitasan dari model Problem Based Learning. Hasil dari penelitian adalah Model Problem Based Learning efektif untuk meningkatkan prestasi belajar sejarah, ini terbukti dengan hasil prestasi belajar siswa kelas eksperimen dari rata-rata kemampuan awal 46,11 menjadi 84,22 dan uji hipotesis yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol yaitu t hitung = 4.86 dan t tabel = 1.66. Selain itu pada proses pembelajaran siswa juga sangat aktif untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Berdasarkan dari penelitian maka guru dapat menggunakan model Problem Based Learning sebagai alternatif menyampaikan materi selain ceramah. Sehingga kondisi kelas nantinya tidak monoton dan sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menginginkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan efektif.

Peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan lualitas pembelajaran (Studi multi situs pada SD Widada, SD Mawar, dan SD Iman Kabupaten Bayuangga) / Ahmad Yusuf Sobri

 

ABSTRAK Sobri, A.Y. 2009. Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Studi Multi Kasus pada SD Widada, SD Mawar dan SD Iman Kabupaten Bayuangga. Disertasi. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. Dr. Salladien, (III) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd Kata kunci: pemimpin pembelajaran, motivasi kerja, supervisi, kualitas pembelajaran Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin mempunyai peran dan tanggungjawab yang besar terhadap keberhasilan sekolahnya. Ada tiga peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, yaitu pemimpin pembelajaran, motivator pembelajaran dan supervisor pembelajaran. Peran kepala sekolah tersebut memungkinkan terselenggaranya proses pembelajaran yang optimal di sekolah. Berdasarkan hal tersebut, seorang kepala sekolah memiliki peran strategis dalam mengembangkan pendidikan. Hal ini juga menjadi perhatian bagi tiga kepala sekolah dasar yang dijadikan latar penelitian, yaitu SD Widada, SD Mawar dan SD Iman Kabupaten Bayuangga. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada tiga sekolah dasar di Bayuangga. Ada tiga fokus yang dideskripsikan dalam penelitian ini, yaitu (1) peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, (2) peran kepala sekolah dalam memotivasi guru, dan (3) peran kepala sekolah dalam mensupervisi guru. Berdasarkan karakteristik subyek dan fokus penelitian tersebut, penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain studi multi kasus. Kehadiran dan keterlibatan peneliti dalam berperan sebagai pengamat nonpartisipasi dan pengamat partisipasi pasif. Penentuan subyek dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan prinsip funnel design. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis data kasus individu dan analisis data lintas kasus. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan melalui kredibilitas data, dependabilitas, dan konfirmabilitas data. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut. Pertama, peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dituntut memiliki pengetahuan dan wawasan pembelajaran yang luas. Pengetahuan dan wawasan pembelajaran yang luas dikarakteristikkan sebagai berikut: pemahaman kepala sekolah pada praktik pembelajaran di kelas; memajukan tujuan sekolah; memiliki kontrol pelaksanaan kurikulum; menciptakan program pembelajaran yang unggul dan menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa; memberi kebebasan dan kewenangan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran; berdiskusi atau berbagi pengalaman dengan guru; mendiagnosis program pembelajaran secara berkelanjutan; memberikan pilihan topik pembelajaran bagi guru. Kedua, peran kepala sekolah dalam memotivasi guru dilakukan dengan menciptakan kepuasan kerja, semangat kerja guru dan iklim kerja yang kondusif. Upaya tersebut terjadi bila kepala sekolah: menciptakan komunikasi yang harmonis diantara personel sekolah, menghargai pekerjaan guru, memadukan program pembelajaran sekolah dengan praktik pembelajaran guru di kelas; pengembangan kerjasama tim; memberi penghargaan kepada guru yang memiliki komitmen dan prestasi dalam pembelajaran; penyediaan bahan dan peralatan pembelajaran; dan pengelolaan administrasi sekolah yang tertib. Ketiga, peran kepala sekolah dalam mensupervisi guru ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Beberapa teknik supervisi pendidikan yang telah dilakukan oleh kepala sekolah pada tiga latar penelitian meliputi: kunjungan kelas, pertemuan pribadi, rapat rutin, kunjungan antar sekolah, pemberdayaan kelompok kerja guru, program pengembangan kompetensi guru, melibatkan guru senior dalam supervisi sejawat, dan evaluasi pembelajaran siswa. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan kepada: (1) kepala SD yang menjadi subyek penelitian agar mempertahankan dan meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik yang selama ini telah dicapai sehingga tetap memperoleh kepercayaan dan dukungan dari masyarakat, (2) Dinas Pendidikan Kabupaten agar sekolah dasar mendapatkan perhatian yang serius terutama dalam persyaratan pengangkatan kepala sekolah yang professional, (3) Jurusan Administrasi Pendidikan untuk memantapkan program-program di Jurusan Administrasi Pendidikan khususnya peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, (4) peneliti lain untuk meneliti hal serupa pada kasus yang berbeda dimana temuan penelitiannya dapat mendukung dan memperkuat hasil penelitian ini.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar disika siswa kelas VIII-C SMPN 19 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Puji Astuti

 

ABSTRAK Astuti, Puji. 2009. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII-C SMP Negeri 19 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Subani, (2) Drs.Parno, M.Si Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, kemampuan berpikir kreatif, prestasi belajar fisika Hasil observasi awal yang dilakukan di kelas VIII-C SMPN 19 Malang menunjukan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa masih kurang dalam hal kelancaran, keluwesan, keaslian dan kerincian, dengan persentase rata-rata sebesar 52,08 %. Prestasi belajar fisika siswa yang masih di bawah standar KKM adalah sebesar 65%. Berdasarkan kenyataan tersebut, perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat melatih kemampuan berpikir kreatif dan meningkatkan prestasi belajar fisika siswa, yaitu model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dampak penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa menjadi ≥60% dan prestasi belajar fisika siswa menjadi ≥75%. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang terdiri atas dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-C SMPN 19 Malang dengan jumlah 30 siswa. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah pesawat sederhana dan tekanan. Instrumen penelitian berupa RPP, LKS, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran berbasis masalah, catatan lapangan, tes kemampuan berpikir kreatif dan tes prestasi belajar. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase kemampuan berpikir kreatif dari 52,08% pada observasi awal meningkat menjadi 52,90% pada siklus I dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 60,82%. Prestasi belajar siswa pada siklus I meningkat menjadi 70%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Mengenai keterlaksanaan pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah, dapat dikatakan bahwa dalam setiap siklusnya terjadi peningkatan yaitu dari 95 % meningkat menjadi 100%.

Hubungan relijiusitas dan dukungan sosial dengan kecemasan ibu hamil di desa Bolojejo kecamatan Kauman Tulungagung / Gigih Martiantoro

 

ABSTRAK Martiantoro, Gigih. 2008. Hubungan Relijiusitas dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan Ibu Hamil di Desa Bolorejo Kecamatan Kauman Tulungagung Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si. Pembimbing: (II) Diyah Sulistiyorini, M.Psi. Kata kunci: Relijiusitas, Dukungan Sosial, dan Kecemasan Hamil dan melahirkan merupakan fitrah wanita yang istimewa dan bernilai mulia. Namun kehamilan merupakan suatu periode kritis dalam kehidupan seorang wanita. Kehamilan inilah yang dapat menimbulkan perubahan baik fisik tetapi juga psikologisnya yang mengakibatkan kecemasan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional, yang bertujuan: (1) Untuk mengetahui gambaran relijiusitas ibu hamil (2) Untuk mengetahui gambaran dukungan sosial ibu hamil (3) Untuk mengetahui gambaran kecemasan ibu hamil (4) Untuk mengetahui hubungan antara relijiusitas dengan kecemasan selama proses kehamilan (5) Untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan selama proses kehamilan. (6) Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara relijiusitas, dukungan sosial dengan kecemasan selama proses kehamilan. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil di Desa Bolorejo yang berjumlah 65 ibu hamil dengan sampel sebanyak 44 orang yang diambil dengan tehnik purpusive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala relijiusitas, skala dukungan sosial dan skala kecemasan. Tehnik analisis yang digunakan adalah presentase, korelasi product moment dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan (1) Secara umum relijiusitas ibu hamil di desa Bolorejo adalah tergolong tinggi.(2) Secara umum dukungan sosial ibu hamil di desa Bolorejo adalah tergolong tinggi.(3) Secara umum kecemasan ibu hamil di desa Bolorejo adalah tergolong sedang (4) relijiusitas memiliki korelasi negatif dan signifikan dengan kecemasan, dimana r = -0,714, sig 0,000<0,05. (5) dukungan sosial dengan kecemasan memiliki korelasi yang negatif dan signifikan terhadap kecemasan, dimana r = -0,852, sig 0,000<0,05. (6) Hubungan relijiusitas dan dukungan sosial dengan kecemasan dari analisis regresi diperoleh sebesar 57,069, sig 0,000<0,05. Besarnya hubungan yang diperoleh kuat, ditandai dengan nilai R2 yang diperoleh sebesar 0,736. Hal ini menunjukkan bahwa relijiusitas dan dukungan sosial secara bersama-sama berpengaruh terhadap kecemasan sebesar 73,6 %, sedangkan 24,4 % lainnya dipengaruhi oleh variabel lain. Dari hasil penelitian ini disarankan pada ibu-ibu yang sedang hamil menyadari akan keterbatasan dirinya sebagai makhluk, sehingga ibu-ibu yang hamil berusaha meningkatkan relijiusitasnya. Sedangkan pada keluarga, khususnya para suami disarankan untuk tetap atau lebih menunjukkan perhatian dan kepedulian pada ibu hamil sebagai bentuk-bentuk dukungan sosial.

Pengaruh kepuasan kerja terhadap semangat kerja karyawan (Studi pada PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan) / Dini Hayyu Rahmawati

 

Sumber daya manusia adalah aset organisasi yang paling penting sehingga membuat sumber daya organisasi lainnya bekerja. Oleh karena itu, faktor tenaga kerja harus diolah sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan bagi seluruh karyawan perusahaan. Dalam hal ini salah satunya adalah kepuasan kerja karyawan. Sebuah perusahaan hendaknya memperhatikan kepuasan kerja terhadap karyawannya, apabila suatu perusahaan tenaga kerjanya yang kurang terpuaskan dengan pekerjaannya maka semangat kerjanya cenderung menurun. Dengan demikian jelas bahwa kepuasan kerja sangat mempengaruhi semangat kerja karyawan. Tinggi rendahnya kepuasan yang dirasakan seseorang karyawan semakin memacu semangat kerja seseorang karyawan untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan pada bulan November-Desember 2008. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan bagian produksi PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan. yang berjumlah 121 orang, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 93 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: kondisi kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap rekan kerja, kepuasan terhadap pimpinan, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri dan semangat kerja karyawan pada PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif – korelasional. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuisioner. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif untuk mendeskripsikan kondisi kepuasan kerja (X) dan semangat kerja (Y). Dari hasil perhitungan secara parsial maupun secara simultan diketahui bahwa kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap rekan kerja, kepuasan terhadap pimpinan dan kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap semangat kerja karyawan, maka saran yang dapat peneliti sampaikan dari penelitian ini adalah pihak manajemen perusahaan hendaknya selalu memperhatikan karyawannnya dalam bekerja, pihak PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan agar tetap mempertahankan atau lebih meningkatkan kepuasan kerja karyawan demi untuk meningkatkan semangat kerjanya agar lebih baik.

Implementasi pengembangan soft skill di SMK Negeri 1 Singosari/ Siswo Purwadi

 

ABSTRAK Purwadi, Siswo. 2009. Implementasi Pengembangan Soft Skill di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd, (II) Drs. Solichin, S.T., M.Kes. Kata kunci: soft skill Hasil survei yang dilakukan National Association of College and Employee (NACE) di Amerika pada tahun 2002 terhadap pendapat 457 pengusaha mengenai 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan lembaga pendidikan menunjukkan pentingnya soft skill bagi calon tenaga kerja. Dari hasil survei tersebut ternyata kemampuan berkomunikasi, kejujuran (integritas), dan kemampuan bekerja sama yang merupakan contoh atribut soft skill menempati urutan teratas. Dunia usaha atau industripun sekarang pada umumnya telah mensyaratkan kepada calon tenaga kerjanya untuk memiliki beberapa atribut soft skill tertentu. Hal ini juga berdasarkan surat lowongan pekerjaan yang masuk ke bursa kerja di SMK Negeri 1 Singosari. Pentingnya soft skill inilah yang mendorong SMK Negeri 1 Singosari untuk mengembangkan soft skill kepada peserta didiknya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk pengembangan soft skill yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Singosari. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi terhadap RPP yang dibuat oleh guru dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penerapan soft skill di SMK Negeri 1 Singosari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMK Negeri 1 Singosari membuat kebijakan untuk membentuk sikap atau attitude (soft skill) yang baik kepada peserta didiknya melalui character building dan mengembangkan atribut soft skill yang lain melalui berbagai bentuk dan kegiatan. Atribut soft skill yang dikembangkan dikelompokkan menjadi 4, yaitu pengenalan diri, pengembangan diri, kedisiplinan, dan safety atau keselamatan kerja. Berdasarkan hasil wawancara, tidak semua guru mengetahui definisi tentang soft skill meskipun telah menerapkannya. Di RPP yang dibuat oleh gurupun tidak ada rencana untuk mengembangkan soft skill tertentu, meskipun berdasarkan metode, teknik evaluasi, dan langkah pembelajaran yang direncanakan bisa mengembangkan soft skill peserta didik. Beberapa bentuk pengembangan soft skill yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran adalah melalui kegiatan baris-berbaris sebelum dan sesudah kerja praktik, berdo’a bersama, mencium tangan guru setelah selesai pembelajaran, tes lisan, penulisan laporan, kerja kelompok, pesan moral, dan mengingatkan peserta didik yang berbuat salah serta pembinaan dalam bentuk push up bagi yang terlambat. Di luar proses pembelajaran, pengembangan soft skill dilakukan dalam kegiatan MOS, upacara, ektrakurikuler, outbond, pembinaan soft skill pengembangan diri, dan pengembangan soft skill melalui character building. Dalam pelaksanaan pengembangan soft skill tersebut hambatan yang dihadapi adalah kurangnya kepedulian dari pihak tertentu dalam menerapkannya, adanya keterbatasan waktu dalam melakukan pengawasan terhadap peserta didik, kurangnya waktu luang dalam melakukan pembinaan pengembangan soft skill, dan keberhasilan dari pengembangan soft skill ini tergantung kepada kemauan dari peserta didik sendiri untuk berubah.

Studi tentang desain kerajinan limbah klobot jagung 'Azizah Florist' Ketawang Gondanglegi Malang / Eny Masitah

 

ABSTRAK Masitah, Eny 2009, Studi Tentang Desain Kerajinan Limbah Klobot Jagung ‘Azizah Florist’ Ketawang Gondanglegi Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Pembimbing I: Drs. Pujiyanto, M.Sn , Pembimbing II: Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd Kata Kunci: Studi, Limbah Klobot Jagung, Azizah Florist Kerajinan dari limbah klobot jagung adalah bentuk karya cipta dari limbah klobot jagung yang dibuat untuk menjadi kerajianan berupa benda pakai dan benda hias. Pengolahan limbah klobot jagung pada Azizah Florist tidak saja hanya sebagai pekerjaan pengisi waktu luang tetapi sebagai pekerjaan tetap untuk meningkatkan penghasilan, memperluas lapangan pekerjaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hasil karya Azizah Florist lebih disukai karena memiliki nilai seni dan lebih alami dibandingkan produk kertas maupun plastik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk. 1) Mendeskripsikan desain limbah klobot jagung yang terdapat di industri ‘Azizah Florist’. 2) Mendeskripsikan proses pengolahan maupun proses berkarya kerajinan. 3) Mengetahui fungsi dari hasil produk kerajinan limbah klobot jagung. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif. Peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Data yang dikumpulkan data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data berupa metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tehnik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan analisis kualitatif. Keabsahan data menggunakan cara triangulasi. Hasil penelitian pada Azizah Florist ini meliputi; (1) desain limbah klobot jagung terdiri dari desain: (a)Benda pakai seperti tudung saji, kotak hantaran. (b)Benda hias; asesoris dengan motif tumbuhan seperti bros, bando, jepit, suweng. Elemen estetik interior berupa bunga tangkai, rangkaian bunga dan hiasan dinding. (2). Proses pengolahan limbah klobot jagung masih banyak menggunakan tenaga manusia. Proses pengolahan meliputi pemilihan klobot jagung, pencucian dan pengeringan, pewarnaan dan pengeringan, penggosokan, pengepresan dan pembuatan pola bunga serta pengeleman. (3) Fungsi dari hasil kerajinan klobot jagung adalah sebagai benda pakai juga sebagai benda hias. Sebagai benda hias berupa elemen estetik interior seperti hiasan dinding, tudung saji, kotak hantaran dan hiasan di berbagai assesoris lain seperti tas, baju pengantin dan sebagainya. Saran yang diberikan pada penelitian ini adalah 1) Bagi Pengrajin hendaknya dalam mendesain perlu memperhatikan komposisi dari hasil produk agar lebih halus dalam penggarapan seperti dalam pembuatan daun yang masih kelihatan kurang halus. Selain itu dalam segi pengolahan bisa menggunakan bahan yang ramah ii lingkungan sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan. 2) Bagi mahasiswa seni dan desain perlu adanya observasi yang lebih banyak di lapangan bagi mahasiswa untuk lebih mengetahui kebutuhan para pengrajin tentang desain dan teknik pembuatan yang lebih baik agar meningkatkan dan menambah wawasan bagi mahasiswa khususnya jurusan seni dan desain.

Upaya peningkatakn kemampuan merumuskan hipotesis dan merumuskan kesimpulan fisika dengan pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning) model inkuiri bagi siswa kelas VIIIB SMPN I Malang tahun ajaran 2008/2009 / Eko Wahyu Nur Sofianto

 

ABSTRAK Sofianto, Eko Wahyu Nur. 2009. ”Upaya Peningkatan Kemampuan Merumuskan Hipotesis dan Merumuskan Kesimpulan Fisika dengan Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning) Model Inkuiri bagi Siswa Kelas VIIIB SMPN I MALANG Tahun Ajaran 2008/2009”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Purwaningsih, M.Si, (2) Drs. Parno, M. Si kata kunci : inkuiri, merumuskan hipotesis, merumuskan kesimpulan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMP Negeri I Malang, diketahui bahwa guru sudah menggunakan pembelajaran yang mengarah pada keaktifan siswa, yaitu menggunakan metode demonstrasi. Tetapi dalam metode tersebut guru tidak melibatkan siswa sehingga aktivitas siswa tidak muncul selama KBM berlangsung. Selain itu, kemampuan siswa dalam merumuskan hipotesis dan kesimpulan secara keseluruhan masih belum terlihat dan masih didominasi beberapa siswa saja. Rata-rata siswa senang dengan kegiatan praktikum, tetapi kurang mampu dalam merumuskan hipotesis di awal pembelajaran dan merumuskan kesimpulan di akhir pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan merumuskan hipotesis dan merumuskan kesimpulan siswa kelas VIIIB SMP Negeri I Malang. Ketercapaian tujuan tersebut dilakukan dengan menerapkan Pembelajaran CTL model Inkuiri. Model pembelajaran ini melibatkan aktivitas siswa secara penuh sesuai tahap-tahap Inkuiri sehingga aktivitas siswa akan terlihat dan siswa bekerja secara kelompok mencari bahan ajar secara mandiri sehingga siswa mampu membangun konsep secara mandiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Siklus penelitian dilakukan selama dua kali dengan disertai perbaikan pada siklus I. Tahapan yang digunakan dalam penelitian adalah perencanaan, pemberian tindakan kelas, observasi, serta refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIB SMP Negeri I Malang dengan jumlah 40 siswa, yang terdiri dari 22 siswa putri dan 18 siswa putra. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah Hukum Newton, pesawat sederhana dan tekanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran CTL model inkuiri dapat mrningkatkan kemampuan siswa dalam merumuskan hipotesis dan merumuskan kesimpulan dalam kegiatan praktikum. Peningkatan rata-rata kemampuan merumuskan hipotesis secara keseluruhan dari siklus I ke siklus II sebesar 5,73%. Selain itu terdapat peningkatan merumuskan kesimpulan dari sebelum penelitian ke siklus I sebesar 5,1% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 7,7%.

Pengaruh eva (Economic Value Added) dan MVA (Market Value Added) terhadap harga saham (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI tahun 2006) / Heri Ertanto

 

Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional dilakukan dengan menilai kondisi keuangan perusahaan dengan mengevaluasi data akuntansi berupa laporan keuangan. Kelemahan utama dalam laporan keuangan adalah distorsi laba yang dilaporkan tidak memasukkan biaya modal. Untuk mengukur perkembangan dan pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan, maka pada saat ini terdapat alat analisis yang dikenal luas dalam dunia usaha, yaitu konsep EVA (Economic Value Added) dan MVA (Market Value Added). Konsep EVA (Economic Value Added ) mempunyai prinsip bahwa keberhasilan manajemen diukur berdasarkan nilai tambah ekonomis yang diciptakan selama periode tertentu. MVA merupakan suatu ukuran tunggal yang yang mengukur keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kemakmuran shareholder dengan mengalokasikan sumber-sumber yang sesuai, dan mendiskontokan pada biaya modal perusahaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tolok ukur mana yang mempunyai pengaruh paling signifikan terhadap harga saham. Dalam penelitian ini proses pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive random sampling dan menggunakan analisis regresi untuk melihat besar kontribusi masing-masing variabel bebas dalam mempengaruhi harga saham. Berdasarkan hasil uji t disimpulkan secara parsial variabel EVA memperoleh t hitung sebesar 1,754 dengan nilai probabilitas 0,086 karena probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dalam arti tidak ada pengaruh secara parsial variabel EVA terhadap harga saham sedangkan variabel MVA memperoleh t hitung sebesar 5,966 dengan probabilitas 0,000 dengan tingkat signifikansi 0,05 karena probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dalam arti ada pengaruh secara parsial variabel MVA terhadap harga saham. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hanya variabel MVA yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Bagi praktisi pasar modal sebaiknya melakukan analisis dengan konsep EVA dan MVA, karena para investor dapat mengetahui kinerja keuangan perusahaan di BEI dengan melihat seberapa besar nilai tambah yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.

Optimalisasi pendapatan asli derah melalui pajak bumi dan bangunan untuk menunjang otonomi daerah Kota Blitar / Yustiti Anisa Hatma

 

Pajak merupakan sumber penerimaan Negara yang terbesar. Peranan pajak, baik sebagi sumber penerimaan dalam negeri maupun sebagai penyelaras kegiatan ekonomi pada masa-masa yang akan datang sangat penting bagi Negara kita. Untuk mewujudkannya, pemerintah melakukan upaya-upaya dibidang perpajakan mengenai kesadaran atas peran serta masyarakat sebagai wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak. Mengingat berbagai masalah perpajakan sering terjadi, maka penulisan laporan tugas akhir ini dimaksudkan untuk membahas strategi pemungutan pajak Bumi dan Bangunan dalam peningkatan penerimaan asli daerah kota Blitar. Pendapatan asli daerah (PAD) merupakan komponen yang penting karena merupakan cermin kemandirian daerah dalam membiayai aktivitasnya. Dari sumber pendapan asli daerah yang dimiliki suatu daerah, pajak Bumi dan Bangunan merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang berasal dari dana perimbangan. Pajak Bumi dan Bangunan perlu untuk dikelola dengan lebih baik melalui langkah-langkah yang efektif dengan harapan dapat meningkakan pendapatan asli daerah. Penulisan laporan tugas akhir ini didasarkan pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilaksanakan pada Dinas Pengelola Keuangan Daerah Kota Blitar. Tujuannya adalah untuk mengetahui upaya atau strategi DPKD dalam meningkatkan penerimaan pajak bumi dan bangunan . untuk mendapatkan jawaban, maka diperlukan data target dan realisasi mulai tahun 2003 sampai dengan 2007 sampai bulan September. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan adalah dengan menggunakan metode least square. Metode ini didasarkan atas perhitungan matematis dalam persamaan garis lurus yang menggambarkan hubungan antara realisasi penerimaan PBB dengan biaya variable. Persamaan metode ini untuk menghitung target yang harus dicapai untuk tahun mendatang tanpa harus diketahui terlebih dahulu realisasi tahun sebelumnya (Hariadi, 2003:25). Hasil analisis data menunjukan bahwa pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan pada Dinas Pengelola Keuangan Daerah Kota Blitar kurang berhasil dilihat dari jumlah penerimaan setiap tahun tidak mencapai target yang ditentukan tidak bisa mencapai 100% rata-rata pertahun hanya bisa tercapai sekitar 92%. Berdasrkan hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini, dapat disarankan agar dilakukan perbaruan dalam cara menentukan target yang akan dicapai, dilakukan penyuluan kepada wajib pajak maupun aparat perpajakan, memberi keringanan kepada wajib pajak yang tidak harus membayar denda karena belum melaporkan obyek pajaknya, serta memberikan reward berupa undian dengan hadiah sepeda motor dan hadiah hiburan, bagi daerah yang tertib membayar pajak

Pengaruh variasi profil sudu pada runner terhadap efisiensi yang dihasilkan oleh turbin air pelton / Teguh Raharjo

 

Profil sudu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap eifisiensi yang dihasilkan oleh turbin air pelton. Untuk mengetahui profil sudu manakah yang mempunyai efisiensi yang paling baik dilakukan penelitian dengan cara membedakan efisiensi yang dihasilkan oleh profil sudu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan antara efisiensi yang dihasilkan oleh turbin air pelton menggunakan variasi profil sudu. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mesin Konversi Energi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. tanggal 2 Desember sampai 3 Desember 2008. Rancangan penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan desain faktorial 3 x 5. Analisis yang dipakai adalah two way annova. Variasi profil sudu yang digunakan dalam penelitian ini adalah profil sudu bilah sejajar, profil sudu bilah tegak lurus, dan profil sudu mangkuk dengan head pada P = 0,4 kg/cm2, head pada P = 0,8 kg/cm2, head pada P = 1,2 kg/cm2, head pada P = 1,6 kg/cm2, dan head pada P = 2,0 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara efisiensi turbin air pelton menggunakan profil sudu bilah sejajar, profil sudu bilah tegak lurus, dan profil sudu mangkuk dengan head pada P = 0,4 kg/cm2, head pada P = 0,8 kg/cm2, head pada P = 1,2 kg/cm2, head pada P = 1,6 kg/cm2, dan head pada P = 2,0 kg/cm2. Efisiensi paling besar dihasilkan oleh profil sudu mangkuk dengan head pada P = 0,4 kg/cm2. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap varian-varian yang berpengaruh terhadap efisiensi yang dihasilkan oleh turbin air pelton.

Analisis kinerja dan kerusakan attachment hydraulic excavator super shovel power crawler PC 4000-6 di PT. United Tractor Site Adaro Indonesia / Santho Hera Pramana

 

Depresi pasca persalinan pada ibu di Kecamatan Kota Bojonegoro / Rakhma Inandya Herlinawati

 

ABSTRAK Herlinawati, Rakhma, Inandya.2008. Depresi Pasca Persalinan Pada Ibu Di Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Psi, (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si Kata Kunci: depresi, pasca persalinan, ibu Depresi pasca persalinan adalah gangguan emosional yang ditandai oleh emosi yang labil, cemas, trauma dan stres, penurunan kesenangan minat dan kesenangan, penurunan atau penambahan berat badan, insomnia atau hiperinsomnia, agitasi yang berlebihan, mudah lelah, merasa tidak berharga, mudah bersalah, kurang konsentrasi, dan adanya pikiran untuk bunuh diri atau membunuh bayinya yang ditemukan pada wanita pasca persalinan, biasanya mulai terjadi pada empat minggu pertama pasca persalinan, jika tidak diatasi maka dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan sampai menahun. Depresi pasca persalinan ini disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial, keadaan atau kualitas bayi yang tidak diharapkan, ketidaksiapan menjadi ibu, stresor psikososial, riwayat depresi dan faktor budaya. Fokus dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya depresi pasca persalinan yang ditampakkan melalui gejalagejala depresi pasca persalinan serta mengetahui faktor-faktor penyebab depresi pasca persalinan pada empat ibu di Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Penelitian depresi pasca persalinan ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Waktu penelitian diadakan pada bulan Agustus sampai awal Nopember 2008. Penentuan subyek dilakukan dengan teknik snowball sampling. Kriteria subyek penelitian yaitu ibu pasca persalinan, melahirkan anak pertama, memiliki rentangan usia 20-30 tahun, usia perkawinan tidak lebih dari 2 tahun, usia persalinan tidak lebih dari 3 bulan, bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi tersamar, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan analisis data kualitatif dengan mengolah data, reduksi data, kodifikasi, pemeriksaan keabsahan data melalui triangulasi sumber yaitu mengkonfirmasikan data yang didapat dari subyek primer dengan subyek sekunder, menyesuaikan hasil wawancara dan observasi berdasarkan teori depresi pasca persalinan, menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala-gejala depresi pasca persalinan berupa perasaan depresi, penurunan minat dan kesenangan, penambahan berat badan, insomnia, agitasi berlebihan, mudah lelah, merasa tidak berharga, mudah merasa bersalah, dan kurang konsentrasi ditunjukkan pada subyek Ny.Nindya, Ny.Yuyun, Ny.Pujiati, dan Ny.Lestari kecuali pada Ny.Yuyun menunjukkan gejala depresi pasca persalinan berupa penurunan berat badan dan pada Ny. Pujiati tidak menunjukkan adanya gejala depresi pasca persalinan berupa agitasi yang berlebihan, mudah merasa bersalah, serta kurang konsentrasi. Faktor penyebab depresi pasca persalinan yang berupa kurangnya dukungan sosial hanya dialami oleh Ny. Nindya sedangkan faktor penyebab depresi pasca persalinan berupa keadaan atau kualitas bayi, ketidaksiapan menjadi ibu, stresor psikososial, adanya riwayat depresi sebelumnya, faktor budaya dialami oleh Ny.Nindya, Ny.Yuyun, Ny.Pujiati, dan Ny.Lestari, kecuali faktor penyebab depresi pasca persalinan yang berupa stresor psikososial tidak dialami oleh Ny.Yuyun.

Perbedaan perencanaan dan keputusan karier siswa kelas XII ditinjau dari jenis kelamin di SMA Negeri 2 Pasuruan / Lailatul Zahro

 

ABSTRAK Zahro, Lailatul. 2009. Perbedaan Perencanaan dan Keputusan Karier Siswa Kelas XII Ditinjau dari Jenis Kelamin di SMA Negeri 2 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Harmiyanto, (II) Drs. Hariadi Kusumo. Kata-kata kunci: Perencanaan karier, keputusan karier, jenis kelamin Perencanaan karier merupakan proses kegiatan menyusun rencana-rencana karier, dan keputusan karier merupakan proses lanjutan dari perencanaan karier, dimana terjadi proses menentukan pilihan dari alternatif-alternatif yang sudah direncanakan. Pada kehidupan sehari-hari sering dipermasalahkan tentang pekerjaan laki-laki maupun perempuan yang diharapkan sesuai dengan kodradnya. Selama ini ada kecenderungan siswa laki-laki dalam hal memilih kariernya kepada sesuatu yang bersifat teknik, sedangkan perempuan lebih memilih kariernya kepada sesuatu yang bersifat jasa. Akan tetapi sekarang ini perkembangan karier di Indonesia menunjukkan bahwa komposisi jenis kelamin pada dunia kerja sedang berubah kearah partisipasi wanita yang lebih besar. Oleh karena itu layanan bimbingan karier penting diberikan kepada siswa sesuai dengan perkembangan kariernya, agar siswa dapat merencanakan dan mengambil keputusan kariernya dengan tepat terkait Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui gambaran perencanaan karier siswa kelas XII di SMAN 2 Pasuruan, (2) mengetahui gambaran keputusan karier siswa kelas XII di SMAN 2 Pasuruan, (3) mengetahui ada tidaknya perbedaan perencanaan karier siswa kelas XII di SMAN 2 Pasuruan, (4) mengetahui ada tidaknya perbedaan keputusan karier siswa kelas XII di SMAN 2 Pasuruan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Populasi penelitian siswa kelas XII di SMAN 2 Pasuruan. Pengambilan sampel menggunakan teknik Quota Cluster Random Sampling sebanyak 96 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Analisis penelitian yang digunakan adalah analisis persentase dan analisis Chi Square. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa, (1) Gambaran diri siswa secara umum mengenai perencanaan kariernya adalah cukup banyak (50 %) siswa merencanakan berkarier sesuai dengan kemampuan atau bakatnya, banyak (78,1 %) siswa bertujuan berkarier untuk memenuhi kewajiban, mempertahankan harga diri dan mencapai prestasi kerja, cukup (32,3 %) siswa yang merencanakan tempat berkariernya diprovinsi sendiri,dan banyak (71 %) siswa yang merencanakan berkarier di instansi negeri. Cukup banyak (53,1 %) siswa merencanakan jenjang kariernya sebagai professional tingkat tinggi. Cukup (38,5 %) siswa yang merencanakan waktu 0 – 1 tahun setelah lulus sekolah menengah atas. Dalam pencapaian kariernya, cukup banyak (43,8 %) siswa merencanakan menambah studi sambil bekerja, dan cukup banyak (45,8 %) siswa menggunakan biaya sendiri dalam proses pencapaian kariernya. (2) gambaran diri siswa secara umum mengenai keputusan kariernya adalah siswa (36,5 %) memilih melanjutkan ke perguruan tinggi adalah untuk mengembangkan bakat, hobi dan pengetahuan. Siswa (41,7%) memilih melanjutkan ke perguruan tinggi sambil bekerja agar tidak membebani orang tua. Terdapat (9,4 % ) siswa memutuskan untuk mencari pekerjaan setelah lulus, pada umumnya dikarenakan untuk biaya masuk perguruan tinggi. Sedangkan (11,5 % ) siswa memutuskan mengikuti kursus atau pelatihan untuk menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan. (3) tidak ada perbedaan yang signifikan tentang perencanaan karier antara siswa laki-laki dan perempuan dalam hal Kesadaran Karier (0.753>0.05), Tujuan Karier (0.558 >0.05), Program Pendidikan dan Pekerjaan; instansi kerja (0.474 >0.05); jenjang karier (0.215>0.05); tempat karier (0.122>0.05); waktu pencapaian karier (0.868>0,05); rencana mempercepat karier (0.817>0.05); biaya pencapaian karier (0.520>0.05). (4) ada perbedaan keputusan karier yang signifikan (0.000<0,05), siswa perempuan cenderung memutuskan melanjutkan ke perguruan tinggi, sedangkan siswa laki-laki cenderung melanjutkan ke perguruan tinggi sambil bekerja setelah lulus SMA. Beberapa hal yang dapat disarankan adalah: (1) sekolah perlu mengembangkan program bimbingan karier di sekolah dengan mengadakan Career Day dan Field Trip agar siswa memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas tentang karier, baik itu mengenai sekolah lanjutan maupun jenis-jenis pekerjaan sehingga akan lebih mudah bagi siswa untuk merencanakan dan memutuskan kariernya setelah lulus dari SMA, (2) Konselor diharapkan dapat memberikan layanan bimbingan karier yang sesuai dengan kebutuhan siswa mulai dari tahap perencanaan kariernya yaitu dengan mengidentifikasi tentang tujuan karier dan jenis-jenis karier yang diinginkan siswa yang disesuaikan dengan kemampuannya. Selain itu konselor perlu membantu memberikan gambaran dari berbagai alternatif pilihan karier yang ada mengenai informasi jenis perguruan tinggi dan juga informasi berbagai jenis pekerjaan agar siswa dapat memutuskan pilihan kariernya dengan tepat, (3) bagi peneliti lanjutan, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian atau bahan perbandingan dalam rangka mengembangkan penelitian tentang karier selanjutnya.

Perbedaan penyertaan media audio visual pada kompetensi teknik digital kelas EI dan AV terhadap hasil belajar di SMK Negeri 1 Singosari / Ahmad Maksum

 

ABSTRAK Maksum,Ahmad.2008. Perbedaan Penyertaan media Audio Visual padaKompetensi Teknik Digital siswa Elektronika terhadap Hasil Belajar di SMK Negeri 1 Singosari. Tesis, program studi Pendidikan kejuruan, program Pascasarjana Universitas Negeri malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. H. Syaad Padmanthara, M.Pd (II) Drs. H. Tri Atmadji Sutikno, M. Pd. Kata Kunci: media audio visual, teknik digital, sekolah kejuruan. Peningkatan kualitas lulusan Pendidikan Kejuruan terus menerus dilakukan, sehingga perlu inovasi dan pengembangan program pendidikan meliputi penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan bahan ajar, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan, peningkatan manajemen pendidikan serta pengadaan fasilitas pendukung dan media Pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar pada kompetensi Teknik Digital di SMK Negeri 1 Singosari masih rendah, tuntutan prestasi yang diharapkan tampak masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan prestasi hasil belajar terus dilakukan melalui pengadaan fasilitas media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, media pembelajaran yang relevan untuk meningkatkan prestasi hasil belajar pada kompetensi Teknik Digital di SMK Negeri 1 Singosari adalah Media Audio Visual. Pembelajaran menggunakan media Audio Visual dapat digunakan untuk membantu penyampaian informasi yang sangat sulit dijelaskan melalui lisan dalam menampilkan konsep-konsep Teknik Digital, fakta-fakta yang dapat diamati, prosedur untuk menguasai kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Media pembelajaran Audio Visual adalah bahan ajar interaktif berupa kombinasi dari dua media dengar dan pandang untuk mengendalikan perintah dan perilaku dari suatu presentasi, dimana media Audio Visual itu sendiri bisa diputar melaui komputer dapat menampilkan informasi-informasi berupa teks, gambar-gambar, suara. Dengan menggunakan Pembelajaran media Audio Visual diharapkan hasil belajar siswa elektronika pada kompetensi Teknik Digital di SMK negeri 1 singosari akan lebih meningkat . Hasil belajar pada kompetensi Teknik Digital merupakan penggambaran tingkat penguasaan siswa yang diukur berdasarkan jumlah skor atau presentase jumlah skor jawaban benar atas soal tes disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penilaian hasil belajar berbasis kompetensi (competency based assessment) dengan ciri: (1) menggunakan Penilaian Acuan Patokan (Criterion Reference Assesment); (2) diberlakukan secara perseorangan (Individualized); (3) keberhasilan peserta didik hanya dikategorikan dalam bentuk ‘kompeten’ dan ‘belum kompeten’; dan (4)dilaksanakan secara berkelanjutan. Kegiatan penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Singosari bidang Elektronika, sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas 2 semester 1 tahun pelajaran 2007-2008, sampel penelitian terdiri dari 58 siswa dibagi menjadi kelas Elektronika Industri sebagai kelompok kontrol dan kelas Audio Video sebagai kelompok experimen. Penelitian ini merupakan experimen semu (quasy experiment), dimana saat pengambilan data kegiatan belajar mengajar sesuai dengan jadwal pelajaran di kelas, rancangan ekperimen semu dalam penelitan ini bertujuan untuk mengungkapkan perbedaan penyertaan Media Audio Visual pada kompetensi Teknik Digital siswa Elektronika terhadap hasil belajar di SMK Negeri 1 Singosari. Hasil penelitian perbedaan media Audio Visual pada kompetensi Teknik Digital siswa elektronika terhadap hasil belajar: (1) Media Audio Visual berpengauruh terhadap perolehan nilai hasil belajar pada setiap pertemuan formatif kompetensi Teknik Digital karena Media Audio Visual merupakan bahan ajar yang menyenangkan bagi siswa dan memperhatikan kebutuhan individual maupun kelompok (2) Media Audio Visual berpengaruh dalam pencapian hasil belajar kompetensi Teknik Digital, karena tayangan Media Audio Visual mampu mempengaruhi indra pandang dan dengar para siswa, memudahkan pemahaman, serta mampu menghindari konsep pemahaman siswa yang salah, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan ajar alternatif dalam kegiatan belajar mengajar dan dapat digunakan untuk belajar dimana saja tanpa tergantung guru .(3) Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kompetensi dasar siswa itu sendiri, dimana kelompok nilai ujian nasional secara signifikan menentukan nilai rata-rata yang diperoleh. (4) penggunaan Media Audio Visual dapat mewujudkan pembelajaran individu, karena dapat dilakukan oleh individu untuk dirinya sendiri serta dapat memperoleh hasil belajar maksimal, siswa bekerja dengan aktif berdasarkan konsep dan prinsip kompetensi teknik digital, dan merupakan strategi pengajaran yang menekankan penyesuaian pengajaran berdasarkan perbedaan individual siswa.

Kondisi sosial ekonomi dan perhatian orang tua terhadap motivasi belajar siswa SDN 2 Ngijo Karangploso / Baiq Nurhayati

 

ABSTRAK Nurhayati,Baiq 2008 Kondisi Sosial Ekonomi dan Perhatian Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa SDN 2 Ngijo, Skripsi Jurusan Psikologi Universitas Negeri Malang Pembimbing : (1) Drs Sujiono, S. Pd.M.Si (11) Diantini Ida Viatrie, M.si Kata kunci: Sosial, Ekonomi, Perhatian, Motivasi Pendidikan merupakan proses pendewasan seseorang, dalam pelaksanan proses pendidikan dibutuhkan partisipasi dari berbagai pihak guna mencapai tujuan pendidikan.Lingkungan keluarga yang merupakan peletak dasar pendidikan, meliputi kondisi sosial ekonomi yang berbeda akan menimbulkan motivasi belajar yang berbeda bagi masing-masing siswa, begitu pula dengan perhatian dari orang tua dalam kegiatan belajar dapat mendorong siswa untuk belajar, tetapi kesibukan dari orang tua siswa akan dapat menyebabkan orang tua kurang memperhatikan kegiatan belajar anaknya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Kondisi sosial ekonomi orang tua, (2) Perhatian yang diberikan orang tua, (3) Motivasi belajar siswa, (4) Hubungan antara perhatian orang tua dan motivasi belajar siswa, (5) Hubungan antara kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa, (6) Hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan perhatian orang tua terhadap motivasi belajar siswa. Rancangan penelitian adalah deskriptif korelasional. Dengan populasi siswa SDN 2 Ngijo sebanyak 330 siswa.Sampel yang diambil berjumlah 81 siswa. Diambil dari Tehnik Proposional Random sampling.Instumen penelitian yang digunakan Angket dan Skala model Likert.Analisis data yang digunakan korelasi ganda Hasil penelitian (1) Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa menunjukan, (45,67%) kondisi sosial ekonomi rendah, (2) Perhatian orang tua siswa menunjukan orang tua memiliki perhatian yang cukup (50,61%),(3) Motivasi belajar siswa menunjukan siswa memiliki motivasi belajar tinggi (45,67). Korelasi nilai sebesar 14,298> sebesar 3.15 dan taraf signifikan 0,05. (4) Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifika antara kondisi sosial ekonomi dan perhatian terhadap motivasi belajar siswa SDN 2 Ngijo. Berdasarkan hasil penelitian diatas saran yang diberikan sebagai berikut:(1)Hendahnya pihak sekolah dengan orang tua siswa mengadakan rapat wali murid secara lebih intensif, untuk membahas masalah siswa dan mencari pemecahanya, dalam rangka untuk menigkatkan prestasi dan kemajuan belajar siswa (2) diharapkan orang tua siswa lebih memperhatikan kegiatan belajar siswanya.(3) Sebagai seorang siswa hendaknya menigkatkan motivasi belajar guna mencapai prestasi tinggi.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMA Negeri 5 Malang / Nur Iftitah

 

ABSTRAK Iftitah, Nur. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah dan Berpikir Kritis Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X di SMA Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos., M.Si., (II) Dr.Hadi Sumarsono, ST., M.Si. Kata kunci: Pembelajaran berbasis masalah, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis. Pengertian pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah siswa tidak hanya menerima materi pelajaran di dalam kelas, namun siswa diharapkan dapat menggali dan menemukan sendiri pemecahan dari masalah yang diberikan sehingga dapat memancing proses belajar mereka. Sesuai dengan tujuannya yaitu membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, dan kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan memecahkan masalah adalah siswa mampu untuk mengembangkan cara berpikir tentang masalah-masalah ekonomi secara nyata, teratur dan teliti yang bertujuan untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan berpikir kritis untuk memecahkan masalah.Guru perlu menciptakan suatu masalah untuk dipecahkan oleh anak didik di kelas, salah satu indikator kepandaian anak didik banyak ditentukan oleh kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Pemecahan masalah dapat mendorong anak didik untuk tegar dalam menghadapi masalah belaja. Kemampuan berpikir kritis adalah mampu untuk menganalisis, mengkritik, dan menarik kesimpulan suatu masalah yang diberikan oleh guru dalam mata pelajaran ekonomi berdasarkan pada pertimbangan yang dilakukan oleh siswa sendiri. Penelitian ini bertujuan adalah (1)Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa pada mata pelajaran ekonomi di kelas X-2 SMA Negeri 5 Malang, (2) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi di kelas X-2 SMA Negeri 5 Malang, (3) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan respon siswa kelas X-2 SMA Negeri 5 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Karena dalam penelitian ini menggambarkan keadaan dan menggambarkan data-data. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Researh). Dengan melihat peningkatan motivasi dan hasil belajar pada setiap siklus pada model PBL. PTK dilakukan proses pengkajian berdaur dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan tindakan (2) Pelaksanaan tindakan (3) Mengamati atau observasi (4) Merefleksi analisis yang digunakan pada penelitian ini menggunakan jenis pendekatan deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisis data, pada model pembelajaran berbasis masalah ketercapaian tindakan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat dilihat dari dua sisi, yaitu ketercapaian tindakan guru menerapkan model pembelajaran dan ketercapaian siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dari lembar observasi dapat diketahui bahwa prosentase ketercapaiaan tindakan guru pada siklus I menunjukkan 80% dengan taraf ketercapaian tindakan “sangat baik”. Pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 20%, yaitu dari 80% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Sedangkan dari lembar observasi kemampuan memecahkan masalah siswa dapat diketahui bahwa prosentase ketercapaian tindakan pada siklus I menunjukkan 66,7% dengan taraf ketercapaian “cukup baik”, menjadi 69,3% pada siklus II dengan taraf ketercapaian “cukup baik”. Sehingga pada siklus II terjadi peningkatan yang tidak terlalu tinggi yaitu 2,6 %. Dan pada lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa dapat diketahui bahwa prosentase ketercapaian tindakan pada siklus I menunjukkan 65,9% dengan taraf ketercapaian “cukup baik”, menjadi 68% pada siklus II dengan taraf ketercapaian “cukup baik”. Sehingga pada siklus II terjadi peningkatan yang tidak terlalu tinggi yaitu 2,1 %. Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diajukan peneliti adalah : (1)Guru mata pelajaran ekonomi kelas X disarankan untuk menerapkan model pembelajaran berbasis masalah sebagai alternatif pembelajaran berbasis masalah untuk dapat sedikit meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis terutama pada materi perilaku konsumen dan produsen agar siswa tidak merasa bosan dengan pembelajaran yang bersifat monoton lainnya, (2)Pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah hendaknya dipertimbangkan kesesuaian antara materi yang ada di dalam buku siswa dengan permasalahan yang disajikan agar siswa mudah memahami konsep dan penerapannya, kondisi lingkungan belajar siswa yang sesuai dengan cirinya yaitu terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif, serta waktu yang tersedia mencukupi, (3)Untuk peneliti selanjutnya dapat meneruskan penelitian ini untuk diterapkan pada kelas dan sekolah lain dengan materi yang berbeda.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X-I MAN Trenggalek / Ana Nur Kholidah

 

ABSTRAK Kholidah, Ana Nur. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) untuk Meningkatkan Keterampilan Memecahkan Masalah dan Kemampuan Berpikir kritis Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X-I MAN Trenggalek. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Moch. Ichsan, S.E, M.Pd, M.Si., (2) Imam Mukhlis SE, M.Si. Kata Kunci: pembelajaran Berbasis Masalah, Keterampilan Memecahkan Masalah, Kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan wawancara secara informal dengan guru Ekonomi kelas X-I MAN Trenggalek diketahui bahwa keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis masih kurang, siswa masih terlihat kesulitan untuk mengaitkan materi yang diperoleh di sekolah dengan masalah yang ada di sekitar mereka. Selama ini proses pembelajaran masih menganut model konvensional, yaitu proses pembelajaran yang hanya berpusat pada guru. Dalam bidang kurikulum, MAN Trenggalek telah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau lebih dikenal dengan KTSP. Sedangkan dalam pembelajaran ekonomi, guru menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok biasa tanpa ada variasi yang menyebabkan pembelajaran terkesan monoton. Agar dalam pembelajaran ekonomi siswa tidak merasa bosan maka perlu diterapkan model-model pembelajaran baru untuk mengembangkan keterampilan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa salah satunya adalah pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) yaitu model pembelajaran yang menghadirkan kehidupan nyata kedalam kelas sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk: (I) mendeskripsikan penerapan model berbasis masalah (problem based learning) di kelas X-I MAN Trenggalek pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan permintaan dan penawaran 2) menganalisis keterampilan memecahkan masalah setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan permintaan dan penawaran 3) menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-I MAN Trenggalek setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan permintaan dan penawaran Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus yaitu dilaksanakan pada tanggal 15 dan 22 Nopember 2008 di MAN Trenggalek pada siswa kelas X-I pokok bahasan permintaan dan penawaran dengan jumlah siswa 41 orang. Data penelitian diperoleh dari tes keterampilan memecahan masalah kemampuan berpikir kritis dan observasi kegiatan guru pada tiap siklus. Teknik analisis data yang digunakan untuk menilai keterampilan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis dan keterlaksanaan pembelajaran yaitu dengan menggunakan persentase siklus I dan II. Hasil rata-rata tes keterampilan memecakan masalah siklus 1 sebesar 57.2% dengan klasifikasi baik 14.6%, cukup baik sebanyak 61% dan kurang baik sebanyak 24.4%. Sedangkan rata-rata tes keterampilan memecakan masalah siklus II meningkat sebesar 23.7% yaitu menjadi 80.9% dengan klasifikasi cukup baik 19.5%, baik 63.4& dan baik sekali sebanyak 17.1%. Kemudian hasil rata-rata tes kemampuan berpikir kritis siklus I 42.6 % dengan klasifikasi kurang baik dan rata-rata tes kemampuan berpikir kritis pada siklus II sebesar 80,1 % dengan klasifikasi baik. Data ini menunjukkan ada peningkatan sebesar 38.4%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-I MAN Trenggalek. Adapun saran yang dapat diberikan untuk lebih mengoptimalkan penerapan pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi yaitu guru mata pelajaran ekonomi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran berbasis masalah sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan memecahkanmasalah dan kemampuan berpikir kritis siswa, pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah hendaknya dipertimbangkan kesesuaian antara materi di buku dengan siswa dan kondisi lingkungan siswa serta waktu yang tersedia. Selain itu guru harus tegas pada siswa agar siswa lebih disiplin dalam proses pembelajaran.

Peningkatan penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah melalui pembelajaran kooperatif tipe stad di kelas III SD Negeri pukul Kecamatan Kraton Pasuruan / Irwan Rumain

 

ABSTRAK Rumain, I. 2009. Peningkatan Penguasaan Konsep Penjumlahan Bilangan Cacah Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievment Divisions) Di Kelas III SD Negeri Pukul Kecamatan Kraton Pasuruan. Skripsi, Program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, M.Pd, (II) Drs. H. Sutrisno, S.Pd,.M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran, Kooperatif, STAD, Hasil Matematika, SD. Pembelajaran konvensional dalam proses belajar mengajar, guru sudah memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mengutarakan pendapat tetapi frekuensinya kurang. Untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa secara optimal dalam penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Divisions). Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendiskripsikan proses pembelajaran matematika dalam membentuk penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD di Kelas III SDN Pukul Pasuruan; (2) untuk meningkatkan penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD di Kelas III SDN Pukul Pasuruan Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan siklus model Kemmis dan McTaggart, meliputi : Perencanaan (Planning), Tindakan (Acting), Pengamatan (Observation), dan Refleksi (Reflecting). Subjek dan lokasi penelitian siswa Kelas III SDN Pukul Pasuruan yang berjumlah 45 orang dengan komposisi 19 orang siswa laki-laki dan 26 orang siswa perempuan. Instrumen pengumpulan data penelitian ini dengan memberi tes pada setiap akhir siklus, dan observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung, serta wawancara setelah kegiatan belajar mengajar di kelas. Analisis data kuantitatif untuk mendiskripsikan karakteristik hasil tes belajar siswa, dan analisis kualitatif data hasil aktifitas siswa melalui lembar observasi dan wawancara. Data hasil penelitian yang diperoleh adalah: (a) Presentasi hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika Kelas III SDN Pukul Pasuruan sebelum penelitian tindakan yaitu sebesar 56,2%, (b) Presentasi rata-rata hasil belajar siswa pada siklus pertama yaitu 68,6%, (c) Presentasi rata-rata hasil belajar siswa pada siklus kedua sebesar 79,7% dari skor ideal 100. Semangat, aktifitas, dan tanggungjawab siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sangat tinggi (skor tertinggi 90 pada siklus I meningkat menjadi 95 pada siklus II). Hasil skor aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus I sebesar 73% meningkat menjadi 91% pada siklus II. Dari hasil penilitian di atas dapat disimpulkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD cukup efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dapat digunakan sebagai bahan kajian bagi peneliti lanjutan, sehingga dengan demikian dapat menyempurnakan dan mengembangkan hasil penelitian yang telah ada khususnya berkaitan dengan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar.

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang / Anita Budi Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Anita Budi. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas X pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 5 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si, (II) Hadi Sumarsono, S.T, M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model STAD, Hasil belajar. Model pembelajaran merupakan unsur terpenting yang mendukung tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar. Melalui model pembelajaran, seorang guru dapat merancang dan mengarahkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Oleh karena itu guru harus peka dan mampu memilih serta menentukan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar agar tercapai hasil belajar yang optimal. Berdasarkan hasil observasi awal yang penulis lakukan di SMA Negeri 5 Malang, diketahui bahwa model pembelajaran yang sering digunakan guru ekonomi adalah diskusi kelompok kecil, ceramah dan pemberian tugas. Model pembelajaran ini menekankan peran guru yang lebih dominan dibandingkan siswa selama proses belajar, sehingga siswa cenderung pasif dan jenuh dalam belajar. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan kurang optimalnya hasil belajar siswa. Melihat kondisi tersebut, hendaknya guru menerapkan model pembelajaran yang lebih variatif dan menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar untuk meningkatkan hasil belajarnya. Strategi pembelajaran yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan bekerjasama, kreatif dan berpikir kritis, serta ada kemauan membantu teman dalam hal belajar. Salah satu model dalam pembelajaran kooperatif adalah STAD (Student Team Achievement Divisions). Dalam model STAD, siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang heterogen berdasarkan tingkat kemampuan dan jenis kelamin, ras serta agama bila memungkinkan. Dalam setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota. Setiap anggota dalam kelompok diharapkan dapat bekerjasama dan saling membelajarkan dalam hal penguasaan materi dan diskusi kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD pada mata pelajaran ekonomi. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 Malang kelas X.3 pada akhir semester gasal tahun ajaran 2008/2009. Jumlah siswa sebanyak 38 siswa yang terdiri 12 siswa laki-laki dan 26 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu pada bulan Desember 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran kooperatif dengan model STAD mengalami peningkatan yaitu sebesar 13,9% dari 73,97% pada siklus I (pertemuan 1 dan pertemuan 2) menjadi 87,87% pada siklus II (pertemuan 1 dan pertemuan 2). Adapun hasil belajar siswa setelah menggunakan model STAD pada siklus I mengalami peningkatan dari rata-rata kemampuan awal sebelum pembelajaran dengan model STAD sebesar 68,55 menjadi 74,34. Setelah melalui pembelajaran dengan model STAD dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 60,52%. Pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari rata-rata kemampuan awal sebelum pembelajaran dengan model STAD sebesar 74,60 menjadi 86,05. Setelah menggunakan model STAD dengan ketuntasan belajar klasikal yaitu 94,73%. Perbandingan hasil belajar dan ketuntasan belajar antara siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut: (1) nilai rata-rata pre-test siswa meningkat dari 28,94% pada siklus I menjadi 65,78% pada siklus II, (2) nilai rata-rata post-test siswa meningkat dari 60,52% pada siklus I menjadi 94,73% pada siklus II, (3) ketuntasan belajar klasikal pada pre-test mengalami peningkatan dari 28,94% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 11 siswa pada siklus I menjadi 65,78% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 23 siswa pada siklus II, dan (4) ketuntasan belajar klasikal pada post-test mengalami peningkatan dari 60,52% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 23 siswa pada siklus I menjadi 94,73% dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 36 siswa pada siklus II. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran. Berdasarkan analisis angket siswa dapat diketahui 32,98% siswa sangat setuju dan 43,85% siswa setuju terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model STAD, alasannya antara lain: siswa bersemangat jika belajar berkelompok dan dapat meningkatkan semangat dalam belajar, meningkatkan kerjasama dan keaktifan siswa, dapat membangun hubungan yang lebih baik diantara teman, serta meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang dikemukakan yaitu: (1) bagi guru mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang pada khususnya dan guru ekonomi sekolah lain, disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif dengan model STAD sebagai salah satu alternatif pembelajaran di dalam kelas, karena hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa pembelajaran kooperatif dengan model STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. (2) bagi guru ekonomi disarankan pada saat menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD hendaknya disesuaikan dengan materi yang diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup.

Pengaruh faktor sosial dan faktor psikologi terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba (Studi pada mahasiswa penghuni kost di Kelurahan Subersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang) / Muh Zuhdi Kurniawan

 

Kota Pendidikan merupakan salah satu gelar yang terkenal untuk kota Malang. Sehingga dikota ini berdiri berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta yang memiliki mahasiswa dari berbagai macam daerah asal. Situasi kota Malang yang kondusif dan fasilitas pendidikan yang memadai sangat mendukung untuk kegiatan belajar mahasiswa. Salah satu hal yang menunjang aktivitas mahasiswa adalah komputer jinjing atau laptop. Toshiba, sebagai salah satu merek laptop terkenal dunia memberikan pilihan produk terbaiknya. Diantara produk laptop Toshiba adalah Tecra, Satellite, Qosmio, dan Portege. Berbicara mengenai laptop Toshiba, hal yang menjadi kajian adalah proses keputusan pembelian laptop toshiba pada mahasiswa. Faktor sosial dan faktor psikologi merupakan faktor yang diteliti pengaruhnya terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba pada mahasiswa. Faktor sosial yang meliputi kelompok acuan, keluarga, serta peranan dan status. Faktor psikologi yang meliputi motivasi, persepsi, belajar, serta kepercayaan dan sikap. Selanjutnya, tujuan melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi faktor sosial, faktor psikologi, dan keputusan pembelian laptop toshiba pada mahasiswa, mengetahui pengaruh variabel faktor sosial, dan faktor psikologis secara parsial terhadap proses keputusan pembelian mahasiswa, mengetahui pengaruh variabel faktor sosial, dan faktor psikologis secara simultan terhadap proses keputusan pembelian mahasiswa dan penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Variabel dalam penelitian ini, meliputi variabel bebas Faktor Sosial (X1) yang meliputi kelompok acuan, keluarga, serta peranan dan status dan Faktor Psikologis (X2) yang meliputi motivasi, belajar, persepsi, serta kepercayaan dan sikap beserta variabel terikatnya adalah Proses Keputusan Pembelian (Y). Metode penelitian yang digunakan merupakan model penelitian survey, dengan populasi mahasiswa pengguna laptop Toshiba Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sedangkan, jumlah sampel yang digunakan berjumlah 87 responden yang dipilih secara accidental sampling dan menggunakan instrumen berupa angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa terdapat pengaruh signifikan antara variabel Faktor Sosial (X1) yang meliputi kelompok acuan, keluarga, serta peranan dan status dan Faktor Psikologis (X2) yang meliputi motivasi, belajar, persepsi, serta kepercayaan dan sikap secara parsial terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba pada mahasiswa penghuni kost di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, dan juga terdapat pengaruh signifikan antara variabel Faktor Sosial (X1) yang meliputi kelompok acuan, keluarga, serta peranan dan status dan Faktor Psikologis (X2) yang meliputi motivasi, belajar, persepsi, serta kepercayaan dan sikap secara simultan terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba pada mahasiswa penghuni kost di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Variabel faktor sosial yang dominan dalam mempengaruhi proses keputusan pembelian laptop Toshiba pada mahasiswa penghuni kost di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan, bahwa variabel faktor sosial memiliki sumbangan efektif lebih besar dibandingkan dengan faktor psikologi 57.15% dalam mempengaruhi proses keputusan pembelian produk laptop Toshiba. Adjusted R Square menunjukkan nilai sebesar 0,722 atau 72,2%. Menunjukkan proses keputusan pembelian dipengaruhi oleh faktor sosial (X1) dan faktor psikologi (X2) sebesar 72,2%. Sehingga, melihat hasil diatas hendaknya berbagai pihak yang berkaitan khususnya Toshiba perlu memberikan perhatian yang lebih terhadap faktor sosial yang memberikan pengaruh dominan terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Belajar dari tradisi memulang sarak pada masyarakat Sasak di Desa Sorong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara / Inayati Ika Nafika

 

Salah satu peralihan yang dianggap penting oleh setiap masyarakat adalah peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga, yaitu perkawinan. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Sasak karena bagi masyarakat Sasak kedudukan atau arti perkawinan dapat meningkatkan ‘harga diri’ seorang individu jika sudah menempuh perkawinan. Dalam hal ini semakin sering seseorang menikah, maka mendapatkan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut karena dianggap bisa ‘menaklukkan’ lawan jenisnya terutama bagi kaum lakilaki. Dalam masyarakat Sasak di Desa Sokong kawin cerai atau memulang sarak bukan merupakan hal tabu, baik untuk lakilaki maupun perempuan. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Apakah latar belakang terjadinya memulang sarak pada masyarakat Sasak di Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara? (2) Makna pembelajaran dari tradisi memulang sarak pada masyarakat Sasak di Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara. Tujuan penelitian ini yaitu (1) untuk mendeskripsikan latar belakang terjadinya memulang sarak pada masyarakat Sasak di Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara, (2) untuk mendeskripsikan makna pembelajaran dari tradisi memulang sarak pada masyarakat Sasak di Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berjenis deskriftif studi kasus kajian sosiologi. Subjek penelitian tradisi memulang sarak adalah orangorang telah melakukan memulang sarak dan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, diantaranya observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang adanya tradisi memulang sarak, diantaranya karena faktor hukum adat atau awigawig dan sistem birokrasi pemerintahan desa Sokong. Dalam hal ini hukum adat memulang sarak yang berlaku pada masyarakat Sasak di Desa Sokong yang secara tidak langsung memudahkan masyarakat yang ingin melakukan memulang sarak, sehingga lamakelamaan membentuk sebuah tradisi memulang sarak. Selain itu, fakor ekonomi, faktor pendidikan, adanya nilainilai budaya yang dijadikan pedoman dalam tradisi memulang sarak adalah tulah manuk, soloh, dan adanya sikap yang terlalu patuh terhadap semua tindakan Tuan Guru. Relevansi karya ilmiah ini dengan pendidikan dapat mengajarkan siswa bahwa peserta didik dapat mempelajari dan memahami bagaimana nilainilai budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat. Jika nilainilai budaya tersebut lebih mengarah kepada pembentukan tradisi yang “negatif”, maka peserta didik dapat meminimalisir hal tersebut dengan pola pikir yang rasional. Dalam artian peserta didik tidak terpaku pada nilainilai budaya yang sudah berkembang dalam masyarakat. Artinya dengan pendidikan dapat meminimalisir adanya angka memulang sarak di masyarakat Sasak Desa Sokonng. Kesimpulan dari penelitian ini adalah latar belakang adanya tradisi memulang sarak adalah adanya proses memulang sarak yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Sasak di Desa Sokong mendapat pembenaran secara adat dan adanya kemudahan dalam birokrasi memulang sarak baik dalam hukum adat maupun pemerintahan Desa Sokong, sehingga secara tidak langsung memudahkan individu yang ingin melakukan memulang sarak dan praktek memulang sarak yang dilakukan oleh masyarakat yang menganggap bahwa (1) memulang sarak yang dilakukan bawah tangan merupakan suatu hal yang lumrah, (2) memulang sarak bawah tangan merupakan ajaran Islam dan Sunah Rasullullah, (3) memulang sarak bawah tangan merupakan warisan leluhur yang sudah menjadi tradisi. Selain itu, kondisi ekonomi lemah dan menengah serta tingkat pendidikan masyarakat Desa Sokong tergolong rendah. Sehingga berimplikasi pada rendahnya tingkat pertanggungjawaban terhadap konsekuensikonsekuensi dari suatu memulang sarak. Disamping itu, adanya nilai tulah manuk, soloh dan adanya sikap untuk selalu patuh terhadap tokoh kharismatik dan berpengaruh dalam masyarakat Sasak yaitu Tuan Guru. Berdasarkan hasil penenlitian ini dapat disarankan bahwa diperlukan kebijakan yang tegas dari aparat yang berwenang agar dapat meminimalisir angka memulang sarak. Untuk penelitian sejenis diharapkan mengkaji pada masyarakat yang beragama Hindu dan Buddha, karena peneliti hanya mengkaji pada masyarakat Muslim saja. Selain itu, diharapkan mengkaji secara lebih mendalam aspek kesejarahan dari suatu tradisi perkawinan dan perceraian yang ada di daerah lain. Dan untuk penelitian pendidikan diharapkan menguji keefektifan materi tentang kebudayaan suatu daerah yang di dalamnya terdapat adat istadat agar peserta didik dapat memahami dan mengambil pelajaran dari kebudayaan yang ada dan berkembang di suatu daerah.

Survei keterlaksanaan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik serta kendala-kendala yang dihadapi pada pembelajaran kimia kelas akselarasi dan kelas reguler di SMA Negeri 3 Malang / Mira Butsianti

 

ABSTRAK Butsianti, Mira. 2009. Survei Keterlaksanaan Penilaian Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik Serta Kendala-Kendala yang Dihadapi pada Pembelajaran Kimia Kelas Akselerasi dan Kelas Reguler di SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S, (II) Herunata, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: survei, penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik, pembelajaran kimia, kendala-kendala. Penilaian dalam pembelajaran konstruktivis tidak hanya ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan kognitif semata tapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Dalam proses pembelajaran, penilaian memegang peranan penting untuk mengetahui pencapaian tujuan pengajaran, hasil belajar, dan efektifitas pembelajaran sehingga guru diharapkan mampu mempersiapkan instrumen yang dapat menilai sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai. Perubahan pendekatan dan teknik penilaian membuat banyak guru merasa kesulitan dalam melaksanakan KTSP terutama dalam melakukan penilaian di kelas reguler maupun kelas akselerasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan tiga aspek penilaian kelas akselerasi dan kelas reguler berdasarkan KTSP di SMAN 3 Malang ditinjau dari (1) persiapan sebelum pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) pelaksanaan penilaian, (4) ketuntasan belajar, dan (5) kendalakendala yang dihadapi dalam melaksanakan penilaian. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi untuk penelitian adalah siswa kelas XI akselerasi dan reguler serta guru kimia di SMAN 3 Malang. Dengan menggunakan teknik pengambilan purposive sample diperoleh sampel 20 siswa kelas akselerasi dan 20 siswa kelas reguler serta 1 guru kimia kelas akselerasi dan 1 guru kimia kelas reguler. Data diambil dengan instrumen angket, dokumentasi, dan wawancara bebas. Sebelum disebarkan angket divalidasi dan dinyatakan valid karena telah mencapai nilai lebih dari 95%. Data yang diperoleh dari angket selanjutnya diberi bobot pada tiap-tiap item jawaban dengan mengacu pada kriteria penyekoran angket. Skor tiap item yang diperoleh diakumulasikan menjadi skor tiap deskriptor, indikator, dan tiap sub variabel, dan hasilnya digolongkan berdasarkan klasifikasi tertentu. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) kesiapan sebelum pembelajaran di kelas akselerasi dan kelas reguler adalah baik, (2) pelaksanaan pembelajaran di kelas akselerasi adalah baik (72%) dan kelas reguler adalah baik (70%), (3) pelaksanaan 3 aspek penilaian di kelas akslerasi adalah baik (79%) dan kelas reguler adalah sangat baik (85%), (4) ketuntasan belajar di kelas akselerasi dan kelas reguler terlaksana dengan baik namun pada program pengayaan belum terlaksana, dan (5) kendala-kendala dalam melaksanakan penilaian di kelas akselerasi ditinjau dari aspek kognitif adalah keterbatasan waktu, afektif adalah keterbatasan waktu dan kesulitan memilih berbagai jenis dan teknik penilaian, psikomotorik adalah kesulitan melakukan penskoran sedangkan kelas reguler ditinjau dari aspek kognitif adalah keterbatasan waktu, afektif adalah keterbatasan ii waktu dan kesulitan melakukan penskoran instrumen, psikomotorik adalah kesulitan melakukan penskoran.

Penerapan metode geolistrik konfigurasi schlumberger untuk memperkirakan keberadaan logam bawah tanah / Tulus Sutrisno

 

ABSTRAK Sutrisno,Tulus. 2009. Penerapan Metode Geolistrik Konfigurasi schlumberger untuk memperkirakan keberadaan logam bawah tanah. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Burhan Indriawan, S.Si. M.Si, (II) Samsul Hidayat, S.Si. M.T. Kata kunci: Geolistrik, Logam, Konfigurasi schlumberger. Bumi sebagai tempat tinggal manusia secara alami telah menyediakan sumberdaya alam yang berlimpah. Sumberdaya alam yang terdapat dalam permukaan bumi salah satunya adalah logam. Logam memiliki peranan yang penting dalam kehidupan karena muda dibentuk, kuat dan mengkilat. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana mendapatkan nilai resistivitas semu lapisan bawah permukaan titik ukur dengan metode resistivitas konfigurasi schlumberger, bagaimana menginterpretasi data pengukuran untuk memperkirakan keberadaan logam bawah tanah dan bagaimana membandingkan hasil interprestasi data pengukuran dengan keadaan di lapangan. Telah dilakukan penelitian dengan mengunakan metode Geolistrik konfigurasi schlumbereger. Metode geolistrik dapat digunkan untuk mengetahui logam bawah tanah. Dalam penelitian ini dibuat pemodelan lapangan. Tujuan dari penelitian ini mendapatkan nilai resistivitas semu lapisan bawah permukaan titik ukur dengan metode resistivitas konfigurasi schlumberger, menginterpretasi data pengukuran untuk memperkirakan keberadaan logam bawah tanah. membandingkan hasil interprestasi data pengukuran dengan keadaan di lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah penelitian dengan mengunakan konfigurasi schlumberger sounding didapatkan profil anonali logam pada kedalaman 0.5 meter dengan niali resistivits 51.7Wm. Sedangkan penelitian dengan mengunakan konfigurasi shlumberger sounding-mapping tidak didapatkan profil kedalaman logam dikarenakan penempatan logan yang kurang dalam, tetapi didapatkan nilai resistivitas yang menurunn akibat adanya anomali logam. Profil kedalaman yang didapatkan dari pengukuran dengan konfigurasi shlumberger sounding sesuai dengan kedalaman penanaman anomali yaitu pada kedalaman 0.5 meter.

Peningkatan kemampuan membuat kalimat dengan menggunakan media kartu kata pada siswa kelas 2 di SDN Jeru I Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Erna Wati

 

ABSTRAK Wati, Erna. 2008. Peningkatan Kemampuan Membuat Kalimat dengan Menggunakan Media Kartu Kata pada Siswa Kelas 2 di SDN Jeru I Kecamatan Turen Kabupaten Malang Skripsi, jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Usep Kustiawan,M.Sn, (II) Dra. Wiwik Dwi Hastuti,M.Pd Kata Kunci: Membuat Kalimat, Media Pembelajaran Kartu Kata Menurut pengamatan peneliti di lapangan, pembelajaran membuat kalimat di kelas rendah di SDN Jeru I Kecamatan Turen Kabupaten Malang masih belum dilaksanakan secara optimal terutama dalam hal penggunaan media yang digunakan. Pembelajaran yang dilakukan hanya terbatas pada menyusun kalimat yang ada di buku teks pelajaran, sehingga pembelajaran terasa membosankan bagi siswa yang menyebabkan rendahnya nilai kemampuan membuat kalimat siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah media pembelajaran kartu kata. Pembelajaran dengan menggunakan media kartu kata adalah suatu pembelajaran dengan menggunakan kartu-kartu yang berisi kata-kata pada tiap lembarnya, kartu-kartu tersebut berisi kata-kata dalam satu kalimat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) pelaksanaan penggunaan media kartu kata (2) kemampuan membuat kalimat dengan media kartu kata. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Jeru I Kecamatan Turen Kabupaten Malang yang mempunyai siswa 200 siswa dan dilaksanakan pada kelas II yang memiliki siswa sebanyak 34 anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Instrumen pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah (1) Achievement Test atau tes prestasi yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu (2) Pedoman Observasi yaitu sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan Category system yaitu sistem pengamatan yang membatasi pada sejumlah variabel. Hasil penelitian di peroleh bahwa penggunaan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan membuat kalimat siswa sebesar 10,65% pada tindakan I (T-1), dan pada tindakan II (T-2) sebesar 15,20%. Hal ini berarti pembelajaran dengan menggunakan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan membuat kalimat siswa sebesar 25,85% yaitu dari tindakan I (T-1) sampai tindakan II(T-2). Hal ini berarti ada peningkatan prosentase keberhasilan belajar dengan menggunakan media kartu kata sebesar 25,85% yaitu dari tindakan I sampai tindakan 2 atau rata-rata tingkat keberhasilan siswa dalam membuat kalimat menjadi 86,03%. Berdasarkan hasil analisis pre-test dan pos-test dari 34 subyek penelitian, pada pre-test menggunakan metode ceramah dan pada tindakan menggunakan media kartu kata, penerapan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan membuat kalimat siswa setelah melihat tingkat keberhasilan dari 34 subyek penelitian. Berdasarkan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran membuat kalimat dengan menggunakan media kartu kata terbukti dapat meningkatkan kemampuan membuat kalimat siswa di SDN Jeru I Kecamatan Turen. Bagi peneliti selanjutnya: (1)Diharapkan dapat lebih melengkapi kekurangan-kekurangan atau menyempurnakannya, terutama dalam pemanfaatan dan pembuatan media pembelajaran kartu kata(2) Meneliti tentang peningkatan kemampuan membuat kalimat dengan media yang berbeda agar pembelajaran membuat kalimat bisa meningkat.

Efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi semester I tahun pelajaran 2008/2009 di SMA Negeri 1 Pare Kediri / Edna Fitriani Irianingtyas

 

ABSTRAK Irianingtyas, Edna Fitriani. 2008. Efektivitas Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Team Games Tournament) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi Semester I Tahun Pel ajaran 2008/2009 di SMA N 1 Pare Kediri. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakulas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Sapir, S.Sos, M. Si, (II) Drs. Mardono, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, TGT (Teams Games Tournament), Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk menstimulus siswa agar terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa saling belajar bersama, saling menyumbang pikiran dan tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar baik secara individu maupun kelompok. Motivasi pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bentuk struktur pencapaian tujuan berupa hasil belajar siswa dan aktivitas belajar siswa saat melakukan kegiatan. Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas X SMAN 1 Pare Kediri diketahui bahwa motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi masih kurang. Hal ini terlihat dari keberagaman masalah yang muncul, antara lain (1) kurangnya persiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. (2) siswa tidak memperhatikan ketika guru sedang menyampaikan pelajaran didepan kelas. (3) rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dikelas (4) siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tidak dengan cara mengerjakan sendiri melainkan dengan cara meniru hasil pekerjaan teman dan bahkan ada yang tidak mengumpulkan tugas. Penelitian ini bertujuan (1) mendiskripsikan dan menganalisis hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 1 Pare Kediri yang diberi pengajaran dengan menggunakan metode pembelajaran model ceramah. (2) mendiskripsikan dan menganalisis hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 1 Pare Kediri yang diberi pengajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament(TGT). (3) mendiskripsikan dan menganalisis efektifitas penerapan metode pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament(TGT) dilihat dari segi perbedaan hasil belajar ekonomi antara siswa yang diberi pengajaran dengan metode ceramah dengan siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament(TGT). Dalam TGT siswa mengkontruksi pemahaman dan pengetahuan secara aktif melalui proses diskusi dan turnamen sehingga diharapkan motivasi dan hasil belajar bisa meningkat. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Pare dari bulan Agustus sampai November 2008. yang menjadi subjek penelitian adalah kelas X-7 sebagai kelas eksperimen dan X-8 sebagai kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diberikan metode TGT sedangkan pada kelas kontrol diberikan metode ceramah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu. Tehnik pengumpulan data melalui (1) tes (pretest dan posttest) (2) lembar observasi. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data hasil belajar. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji-t, uji normalitas, dan uji homogenitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan kemampuan awal kelompok siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran model ceramah (kelompok kontrol) dalam pelajaran ekonomi adalah pada ranah kognitif sebesar 58,57 dan rata-rata kemampuan akhir sebesar 73,71. Jadi hasil belajar siswa yang diberi pengajaran dengan model ceramah mengalami peningkatan 15,14. Pada ranah afektif skor rata-rata kelompok kontrol adalah 3,015 dan pada ranah psikomotorik skor rata-rata sebesar 21,55. Kemampuan awal kelompok siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Teams Game Tournament (TGT) dalam pelajaran ekonomi adalah pada ranah kognitif sebesar 57 dan rata-rata kemampuan akhir sebesar 80,71. Jadi hasil belajar siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Teams Game Tournament (TGT) mengalami peningkatan 23,71. Pada ranah afektif skor rata-rata kelompok kontrol adalah 3,382 dan pada ranah psikomotorik skor rata-rata sebesar 21,70. Hasil belajar antara siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Teams Game Tournament (TGT) dengan metode ceramah berbeda secara signifikan. Hasil belajar siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Teams Game Tournament (TGT) (kelompok eksperimen) lebih tinggi, lebih baik, serta lebih efektif dari pada hail belajar kelompok yang diberi pengajaran dengan model ceramah (kelompok kontrol). Saran yang dapat penulis sampaikan antara lain guru ekonomi hendaknya mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi yang sesuai. (1) guru diharapkan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT menggunakan variasi permainan yang berbeda sehingga siswa lebih bersemangat dalam belajar. (2) guru hendaknya memberi pengawasan penuh terhadap proses diskusi siswa agar proses belajar kelompok dapat benar-benar kooperatif. (3) dalam menerapkan turnamen TGT, guru hendaknya sudah mempersiapkan tata ruang, meja turnamen, kartu soal, kartu jawaban, dan kartu undian sebelum siswa masuk kedalam kelas.

Penerapan metode rwo stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran siklus akuntansi siswa kelas X akuntansi SMK PGRI 6 Malang / Wiwin Efriliana

 

Berdasarkan hasil pengamatan awal, wawancara guru dan siswa menunjukkan bahwa selama ini guru yang mengajarkan mata pelajaran Siklus Akuntansi kelas X Akuntansi belum pernah menggunakan pendekatan kooperatif temasuk metode Two Stay Two Stray dalam mengajar di SMK PGRI 6 Malang. Pada saat belajar kelompok, anggota yang kurang aktif hanya menggantungkan jawaban temannya yang dianggap pintar, sedangkan siswa yang dipercayakan pintar oleh anggotanya tidak berusaha untuk memotivasi anggotanya untuk bekerjasama memberikan sumbangan pikiran. Sehingga tampak tidak ada pembagian kerja yang merata dalam kelompok. Hal tersebut juga berpengaruh pada hasil belajar siswa yang setelah dianalisis bahwa siswa yang kurang aktif di kelas juga menunjukkan hasil belajarnya kurang. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Metode pembelajaran yang dapat diterapkan adalah salah satu pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray. Penelitian ini dilaksankan pada tanggal 24 Oktober sampai 14 Nopember 2008. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 6 Malang yang terdiri dari 34 siswa. Langkah-langkah metode ini ialah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, persentasi kelompok. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, angket, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Two Stay Two Stray yang dilakukan dalam mata pelajaran Siklus Akuntansi siswa kelas X Akuntansi di SMK PGRI 6 Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar sebesar 17,01% dari sebelum dilakukan tindakan dengan melihat rata-rata ulangan harian sebelumnya dengan setelah dilaksanakan tes akhir siklus 1. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus 1 telah meningkat sebesar 8,25% ke siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disarankan bahwa dalam menerapkan metode Two Stay Two Stray hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar tidak hanya menilai hasil belajar tapi juga menilai segala aktivitas atau keaktifan setiap siswa dalam melaksanakan langkah-langkah metode ini.

Pengaruh customer relationship management (CRM) terhadap kepuasan nasabah (Studi pada PT. BPR Aswaja, Ponorogo) / Yunita Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Yunita. 2009. Pengaruh Customer Relationship Management (CRM) Terhadap Kepuasan Nasabah (Studi pada PT. BPR Aswaja Ponorogo). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1): DR.Sopiah, M.Pd, M.M, Pembimbing (II): Drs. Djoko Dwi K., M.Si. Kata Kunci: Customer Relationship Mangement (CRM), Kepuasan Nasabah. Pesatnya pertumbuhan ekonomi dunia saat ini telah mencapai situasi dimana persaingan telah menjadi hal yang harus dihadapi oleh pelaku bisnis disetiap sektor kegiatan ekonomi. Banyak perusahaan baru muncul menawarkan berbagai macam produk yang bervariasi. Para produsen juga semakin kreatif dan inovatif dalam memberi pelayanan kepada konsumen dengan memberikan pelayanan dan fasilitas yang modern sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada. Hal tersebut dilakukan perusahaan untuk mengambil hati para pelanggannya untuk terus menggunakan produk perusahaanya serta mempertahankan eksistensi perusahaan tersebut ditengah persaingan yang ketat. Berkembangnya penekanan pada sektor pelayanan yang tumbuh dengan cepat dan pelayanan di bidang bisnis secara umum, para ahli pemasaran mulai lebih memperhatikan sisi dari interaksi mereka dengan pelanggan. Hal ini juga berlaku pada perusahaaan yang menangani pelayanan produk jasa. Saat ini perusahaan jasa banyak yang menggunakan teknologi yang canggih dan secara umum meningkatkan standar pelayanan membuat pelayanan jasa tersebut dapat diselesaikan tanpa kesalahan dan gangguan. Semua ini berlaku untuk kepuasan pelanggan. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Customer Relationship Management (CRM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Customer Relationship Management (X) yang terdiri dari Identifikasi (X1), Diferensiasi (X2), Interaksi (X3) dan Customize (X4) secara parsial maupun simultan terhadap Kepuasan Nasabah. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan Accidental Sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kebetulan, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang nasabah PT. BPR Aswaja Ponorogo dengan menggunakan rumus Davis & Cozensa. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, observasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS Versi 13.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel Customer Relationship Management (X) yang terdiri dari Identifikasi (X1), Diferensiasi (X2), Interaksi (X3) dan Customize (X4) secara parsial mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap Kepuasan Nasabah PT. BPR Aswaja Ponorogo. Adanya pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi dari uji t dari masing-masing variabel < 0,05. Dimana nilai tersebut berturut-turut sebagai berikut: untuk Identifikasi (X1) mempunyai nilai signifikansi 0,027, Diferensiasi (X2) mempunyai nilai signifikansi 0,006, Interaksi (X3) mempunyai nilai signifikansi 0,000 dan Customize (X4) mempunyai nilai signifikansi 0,000. Selain itu juga ditunjukkan dengan nilai t hitung untuk Identifikasi = 2,252 < nilai t tabel = 1,96, untuk Diferensiasi nilai t hitung = 2,827 > nilai t tabel = 1,96, untuk Interaksi nilai t hitung = 4,357 > nilai t tabel = 1,96 dan untuk Customize t hitung = 4,473 > nilai t tabel = 1,96. Secara simultan Identifikasi (X1), Diferensiasi (X2), Interaksi (X3) dan Customize (X4) juga mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap Kepuasan Nasabah PT. BPR Aswaja Ponorogo. Selain itu diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,581. Dapat diinterpretasikan bahwa variabel Atmosfir Toko yang meliputi Identifikasi, Diferensiasi, Interaksi dan Customize dalam mempengaruhi kepuasan nasabah dalam bertransaksi pada PT. BPR Aswaja Ponorogo sebesar 58,1 % dan sisanya sebesar 41,9 % dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada PT. BPR Aswaja Ponorogo sebaiknya selalu meningkatkan atau mempertahankan Customer Relationship Management (CRM) guna menarik banyak nasabah, selain itu hendaknya PT. BPR Aswaja juga memperhatikan pula faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini guna menarik nasabah.

Karakteristik pengemis jalanan di Kota Malang / Intan Wahyu Megasari

 

ABSTRAK Megasari, Intan, Wahyu. 2009. Karakteristik Pengemis Jalanan Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, (2) Drs. Petir Pujantoro, M.Si Kata kunci: karakteristik, pengemis, jalanan. Pengemis jalanan merupakan masalah yang umum dijumpai di berbagai kota termasuk Kota Malang. Munculnya pengemis jalanan dilatarbelakangi oleh banyak faktor, diantaranya adalah rendahnya pendidikan dan keterampilan, rendahnya pendapatan dan terbatasnya kesempatan kerja. Jumlah pengemis jalanan di Kota Malang setiap tahunnya mengalami peningkatan dikarenakan di kota memiliki struktur sosial, ekonomi, dan administrasi yang lebih kompleks, sehingga para pengemis tertarik untuk datang ke kota untuk mencari uang. Hal ini Hal ini bisa dilihat dari data yang berdumber dari Dinas Sosial Kota Malang yang menyebutkan bahwa jumlah pengemis anak-anak hingga tua pada tahun 2005 jumlahnya mencapai 277 orang, 2006 berjumlah 320 orang dan 2007 berjumlah 378 orang. Tempat-tempat pengemis untuk mencari rejeki adalah tempat-tempat yang banyak dilewati orang dan kendaraan bermotor. Tempat-tempat seperti ini yang ada di Kota Malang adalah di kawasan Alun-Alun, perempatan jalan, kampus, Malang Plasa, Gajah Mada, Mitra1, pasar, terminal stasiun dan tempat ibadah. Pada waktu hari besar agama jumlah pengemis jalanan di Kota Malang semakin bertambah. Hal ini mengakibatkan dampak negatif bagi kota yaitu dapat mengganngu kenyamanan dan ketentraman warga kota dan dapat mengotori lingkungan kota. Pada umumnya fisik dari pengemis jalanan Kota Malang sehat. Selama mengemis mereka berpenampilan kotor dan lusuh. Usia pengemis anak-anak sekitar 5 tahun hingga 12 tahun, sedangkan usia dari pengemis tua sekitar 45 tahun hingga 61 tahun. Tempat tinggal mereka berada di daerah Sukun, Buring, Dieng dekat UNMER, Galunggung, Singosari dan Pakis. Mereka tinggal di rumah kontrakan. Pendidikan yang mereka miliki relaife rendah yaitu lulusan SMP dan SD. Pengemis jalanan kota Malang memiliki banyak beban tanggungannya, tetapi kondisi ekonominya mereka terbilang mapan karena dapat membiayai bebab tanngungan keluarga yang cukup banyak dengan hanya berpenghasilan dari mengemis. Faktor penyebab menjadi pengemis jalanan dari faktor eksternal adalah tidak mempunyai modal untuk membuka usaha sendiri, susah mencari pekerjaan, tingginya penghasilan dari mengemis, keturunan dari orang tua yang menjadi pengemis, pasrah menerima nasib, pengaruh perkawinan dan lingkungan tempat tinggal yang mayoritas menjadi pengemis. Sedangkan faktor internal adalah karena penyakit, malas. Motivasi mereka menjadi pengemis karena mencari uang dengan cara yang mudah. Pengemis jalanan kota Malang beroperasi secara kelompok dan terorganisir. Dalam kelompok pengemis tersebut terdapat seorang pemimpin yang mempunyai ciri-ciri yaitu memiliki keberanian, mengatur anggotanya dan bijaksana dalam pembagian hasil mengemis. Mereka cenderung berpindah-pindah tempat untuk mengemis agar memperoleh penghasilan yang banyak. Mereka setiap hari berpindah tempat jika berada di wilayah Malang, tetapi jika sampai ke luar kota hanya satu bulan sekali. Modus yang mereka gunakan adalah: (1) menadahkan tangan; (2) meletakkan dan membawa mangkok; (3) Menggendong anak kecil. Waktu untuk memulai mengemis sekitar jam 08.00-10.00, sedangkan untuk beristirahat sekitar jam 12.00-13.00 dan untuk selesai mengemis tidak ditentukan oleh waktu, melainkan ditentukan dengan target yang mereka peroleh dari mengemis seharian. Di Kota Malang tidak terdapat peraturan yang khusus untuk pengemis dikarenakan pengemis di Kota Malang masih dapat diatasi, dibina dan dipantau. Dasar melaksanakan kebijakan, Pemerintah Kota Malang adalah Keputusan Walikota Malang No. 367 tahun 2005 tentang Komite Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kota Malang dan Peraturan Daerah No.11 tahun 1984 tentang Ketertiban dan Kebersihan dalam Kotamadya Daerah Tingkat II Malang. Kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Kota Malang adalah melakukan penertiban, pembinaan, pemberian keterampilan yang dikhususkan oleh anak jalanan, sedangkan pengemis tua dan cacat dipulangkan dan pemberian modal kepada anak jalanan setelah selesai dari pelatihan keterampilan. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan adalah (1)kurangnya sarana dan prasarana; (2) kebocoran jadwal razia; (3) kurangnya dana untuk memberikan pelatihan-pelatihan. Respon pengemis jalanan terhadap kebijakan Pemerintah Kota Malang adalah mereka tidak mempedulikan dengan kebijakan tersebut dikarenakan tidak danya ketegasan dari kebijakan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada peneliti lain untuk melanjutkan penelitian yang lebih mendalam yang masih belum terungkap dalam penelitian ini. Pemerintah Kota Malang agar membuat peraturan dan larangan yang lebih tegas, memberikan pelatihan keterampilan dan pemberian modal kepada pengemis termasuk pengemis tua dan cacat, adanya kerja sama antara pihak-pihak swasta. Sedangkan kepada masyarakat agar dapat membedakan-bedakan dalam memberikan bantuan kepada pengemis yang benar-benar membutuhkan bantuan dengan yang tidak benar-benar membutuhkan bantuan.

Studi kemampuan number sense siswa kelas V SDI Sutaya Buana Kota Malang / Ninis Firdiyaningsih

 

Kemampuan Number Sense dilatih oleh siswa ketika dia di sekolah atau lingkungan lain. Kemampuan ini tidak muncul sejak lahir. Dengan mengetahui kemampuan number sense siswa, pendidik dapat mengikuti perkembangan berpikir siswa. Menurut hasil studi dan praktek pembelajaran, peneliti menemukan bahwa siswa mempunyai kesulitan untuk menyelesaikan masalah mengenai pecahan. Misalnya, siswa mempunyai kesulitan dalam mengubah pertanyaan menjadi kalimat matematika, menyelesaikan dengan teliti, menjumlahkan, dan mengurangkan, terutama mengenai pecahan campuran. Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kemampuan Number Sense siswa kelas V SDI Surya Buana Kota Malang, dalam pecahan khususnya tentang estimasi, yaitu mengestimasi secara logis hasil dari masalah pecahan yang diberikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen pada penelitian ini adalah tes tertulis dan pedoman wawancara. Tes tertulis diberikan pada seluruh siswa kelas V SDI Surya Buana Kota Malang. Sedangkan wawancara dilakukan terhadap enam siswa yang dipilih secara acak dengan teknik sampel bertujuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa adalah 41,11 yaitu 54.82% dari skor total. Dari hasil wawancara, dapat diketahui bahwa kemampuan Number Sense siswa tentang estimasi pecahan adalah masih kurang dalam membandingkan dan mengurutkan masalah, akan tetapi dalam menjumlahkan dan mengurangkan pecahan masih kurang karena siswa masih tergantung pada prosedur perhitungan biasa. Siswa masih jarang menggunakan model luas daerah atau garis bilangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bahwa penelitian selanjutnya dengan kajian yang sama, perlu memperdalam kajian dengan metode kualitatif. Di samping itu, akan lebih baik dilakukan pembelajaran estimasi sebelum memberikan tes.

Analisis realisasi anggaran pendapatan sebagai alat evaluasi kinerja pelayanan pada perusahaan daerah air minum (PDAM) Tulungagung / Mega Anastasia Widyati

 

ABSTRAK Widyati, Mega Anastasia.2009. Analisis Realisasi Anggaran Pendapatan sebagai Alat Evaluasi Kinerja Pelayanan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Tulungagung. Tugas Akhir. Program D-III Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si, Ak. Kata kunci: analisis realisasi anggaran pendapatan, kinerja pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Tulungagung adalah Perusahaan Daerah Air Minum milik Pemerintah Daerah Tulungagung yang berfungsi sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan penyediaan air bersih, juga menghasilkan pendapatan daerah. Kinerja PDAM tersebut dinilai berdasarkan keberhasilan pencapaian (realisasi) anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena bergerak dalam bidang penyediaan air bersih, maka kinerja yang dinilai adalah kinerja pelayanannya. Tujuan dari analisis ini adalah (1) mengetahui bagaimana realisasi anggaran pendapatan, (2) bagaimana kinerja pelayanan PDAM selama periode 2005-2007, analisis yang sedangkan pemecahan masalahnya adalah dengan menggunakan metode least square dan deskriptif kualitatif dan analisis yang digunakan adalah analisis varians. Pencapaian target pendapatan yang berupa penyediaan air bersih periode 2005-2007 yaitu sebesar 105,29%; 92,34%; 84,21% dari anggaran yang ditetapkan. Realisasi tersebut berasal dari pendapatan penjualan air yang mencapai 102,29%; 91,11%; 83,13% dari anggaran yang telah ditentukan. Realisasi penjualan non air sebesar 87,72%; 59,50%; 45,09% dari anggarannya dan realisasi pendapatan lain-lain sebesar 533,9%; 613,13%; 576,37% dari yang telah ditetapkan. Maka dapat disimpulkan bahwa hanya pada tahun 2005 saja anggaran pendapatan dapat dicapai realisasinya dengan baik, hal ini dikarenakan ada penyesuaian tarif pada bulan Juni dan penambahan sambungan rumah (SR) baru sebanyak 857 unit SR. Jadi kinerja PDAM dalam pencapaian target yang ditetapkan baik, hal itu disebabkan pada saat dilakukan penyusunan anggaran dipertimbangkan pula kenailkan tarif yang dilakukan 2 tahun sekali. Adanya kenaikan tarif diimbangi dengan adanya perbaikan kualitas maupun kuantitas fasilitas penunjang pelayanan PDAM. Oleh karena itu, pada setiap tahunnya pihak PDAM melaksanakan evaluasi dan mengadakan program dan kegiatan yang bersifat memperbaiki mutu dari PDAM itu sendiri. Hal tersesbut dilakukan agar sesuai dengan tujuan, visi dan misi dari PDAM yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengembangan modul pembelajaran keliling dan luas segiempat dengan pendekatan experiencing untuk siswa SMP kelas VII / Deny Nur Azizah

 

Modul adalah suatu paket bahan ajar yang disusun secara sistematis dan memuat serangkaian aktivitas belajar mandiri agar siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan modul siswa dapat belajar menurut kecepatan dan caranya masing-masing serta menggunakan tehnik yang berbeda-beda untuk memecahkan masalah. Dengan adanya modul siswa akan lebih mudah dalam memahami materi. Kegiatan pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran pokok bahasan keliling dan luas segiempat. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, materi keliling dan luas segiempat merupakan salah satu materi siswa SMP kelas VII semester II. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam penulisan modul ini adalah experiencing. Pendekatan experiencing (mengalami) adalah pendekatan dimana siswa menemukan sendiri rumus dan menghubungkan pengalaman-pengalaman sebelumnya serta benda-benda disekitarnya dengan materi pelajaran. Modul pembelajaran yang dikembangkan telah diujicoba sebagai pijakan untuk melakukan revisi modul. Uji coba dilaksanakan dalam dua tahap. Uji coba modul tahap pertama melibatkan subyek coba yaitu tiga dosen matematika Universitas Negeri Malang dan dua guru matematika Sekolah Menengah Pertama. Uji coba modul tahap kedua melibatkan subyek coba yang terdiri dari lima siswa SMP. Hasil validasi menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan valid. Kelebihan dari modul yang dikembangkan dengan pendekatan experiencing yaitu (1) siswa lebih paham dalam menemukan rumus keliling dan luas segiempat (2) siswa dapat menghubungkan pengalaman sebelumnya dengan materi pelajaran dan (3) siswa mengetahui hubungan benda-benda sekitar dengan materi pelajaran. Adapun beberapa saran yang dapat dikemukakan yaitu (1) pengembangan modul ini hanya terbatas pada materi keliling dan luas segiempat, oleh karena itu diharapkan ada tindak lanjut pengembangan modul untuk materi yang lain (2) disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk mengujicobakan modul ini kepada siswa dalam kelompok besar/satu kelas agar dapat diketahui tingkat keefektifannya (3) diharapkan guru Sekolah Menengah Pertama mencoba menggunakan produk pengembangan modul ini dalam pembelajaran untuk menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan (4) guru dapat mengembangkan modul ini sesuai dengan kondisi sekolah yang ada.

Proses berpikir siswa kelas X SMA Negeri 1 Lawang dalam mengonstruksi pemecahan masalah persamaan kuadrat / Mukhammad Nastahwid

 

ABSTRAK Nastahwid, Mukhammad. 2008. Proses Berpikir Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Lawang dalam Mengonstruksi Pemecahan Masalah Persamaan Kuadrat. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, S.Pd., M.Si., dan (II) Drs. Ir. Herutomo, M.Pd. Kata kunci: Proses Berpikir, Pemecahan Masalah, Persamaan Kuadrat Mengingat pentingnya keberadaan matematika, siswa akan lebih mudah mencerna konsep dan ilmu pengetahuan apabila para siswa tersebut sudah memiliki struktur atau skema berpikir yang terkait dengan materi yang akan dipelajari. Sehingga ketika mereka berhadapan dengan materi atau permasalahan, akan mudah mengonstruksi pemecahan masalah yang akan dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses berpikir siswa dalam mengkonstruksi masalah persamaan kuadrat berdasarkan cara pengerjaannya. Penelitian ini dilakukan di kelas X-11 SMA Negeri 1 Lawang. Dipilih 4 subjek penelitian berdasarkan cara penyelesaian soal yaitu siswa yang biasa menggunakan cara cepat (2 siswa) atau biasa (2 siswa). Peneliti selanjutnya mewawancarai 4 subjek ini berdasarkan lembar tugas (soal tidak rutin) untuk mengetahui struktur berpikirnya. Berdasarkan struktur berpikir tersebut, peneliti dapat mengetahui bagaimanakah perbedaan proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah persamaan kuadrat antara yang biasa berpikir menggunakan cara biasa atau cara cepat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data yang didapatkan antara lain berupa hasil kerja dari lembar tugas, hasil wawancara, dan catatan lapangan. Data tersebut diperoleh dari subjek yang menggunakan cara biasa (S1 dan S2) dan cara cepat (S3 dan S4), kemudian data tersebut dianalisis melalui tahapan-tahapan tertentu, antara lain: kliarifikasi, reduksi dan triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) S1 dan S2, memiliki pemahaman yang baik tentang materi trigonometri dan materi eksponen yang dibutuhkan untuk memecahkan soal tidak rutin materi persamaan kuadrat, (2) S3 memiliki kesulitan dalam memahami algoritma pembagian, dan S4 memiliki kesulitan dalam memahami materi trigonometri, (3) subjek yang biasa berpikir menggunakan cara biasa lebih baik proses berpikirnya dari pada subjek yang biasa berpikir menggunakan cara cepat dalam memecahkan masalah tidak rutin. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1) guru harus memastikan pengetahuan prasyarat telah dikuasai oleh siswa, sehingga dapat digunakan modal dasar pada materi berikutnya, 2) kajian dalam penelitian ini masih terbatas pada struktur berpikir siswa dalam mengkonstruksi pemecahan masalah persamaan kuadrat, karena itu masih perlu dikaji mengenai proses berpikir siswa dalam mengkonstruksi pemecahan masalah konsep matematika yang lainnnya.

Peningkatan pembelajaran PKn melalui model Teams Games Tournament (TGT) di kelas IV MI 6 tahun Tambakboyo Kabupaten Blitar / Liya Istianatul Asroh

 

Kata kunci: pkn, teams games tournament (tgt), hasil belajar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan peneliti di MI 6 Tahun Tambakboyo ditemukan adanya permasalahan mengenai rendahnya hasil belajar dalam mata pelajaran PKn di MI 6 Tahun Tambakboyo Kabupaten Blitar khususnya kelas IV. Rendahnya hasil belajar disebabkan karena kurangnya minat siswa terhadap pelajaran serta kurang inovatifnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang inovatif dan menarik sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran PKn agar hasil belajarnya meningkat. Salah satu model pembelajaran yang inovatif dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa adalah model TGT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan model TGT dan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV MI 6 Tahun Tambakboyo setelah penerapan model TGT. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan dengan 2 siklus. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV MI 6 Tahun Tambakboyo Kabupaten Blitar dengan jumlah 24 siswa. Setiap siklus PTK terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas siswa dan guru, tes hasil belajar, dokumentasi, wawancara, dan angket. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data yang menunjukkan adanya peningkatan persentase pada aktivitas guru, hasil belajar dan aktivitas siswa setelah tindakan TGT dilakukan dari siklus I sampai siklus II. Persentase pada aktivitas guru mengalami peningkatan sebesar 10% dari siklus I sebesar 88% menjadi 98% pada siklus II. Aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 8,92% dari siklus I sebesar 90,7% ke siklus II sebesar 99,62%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan sebesar 12%. Persentase hasil belajar pada siklus I sebesar 58,3% dan pada siklus II menjadi 70,3%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model TGT dapat meningkatkan pembelajaran PKn siswa kelas IV MI 6 Tahun Tambakboyo Kabupaten Blitar, dan disarankan kepada guru untuk menggunakan model TGT dalam pelajaran lain karena sudah terbukti dapat meningkatkan pembelajaran PKn.

Pengaruh kemampuan guru dan minat belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 3 Jombang / Rani Mangastuti

 

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas manusia, intelektual maupun profesionalitas. Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan bermutu, hal yang harus dilakukan adalah peningkatan dan perbaikan prestasi belajar siswa. Untuk mencapai hal tersebut tidaklah cukup dengan perubahan kurikulum saja, tetapi perlu dilihat juga aspek-aspek yang mempengaruhi prestasi belajar. Aspek yang mempengaruhi peningkatan prestasi belajar siswa merupakan usaha awal yang dilakukan agar dapat ditetapkan langkah-langkah yang tepat dalam peningkatan serta perbaikan hasil belajar. Aspek-aspek tersebut yakni aspek ekstern dan aspek intern, yang diklasifikasikan dalam aspek ekstern adalah fasilitas belajar di sekolah, guru, peran orang tua, sedangkan aspek intern meliputi intelegensi, bakat, minat, motivasi dan motivasi lain yang ada dalam diri siswa. Aspek ekstern yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa adalah guru. Guru sebagai salah satu unsur dalam proses belajar mengajar memiliki multiperan, tidak terbatas hanya sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge tapi sebagai pembimbing yang mendorong potensi dan mengembangkan alternatif dalam pembelajaran siswa, artinya guru juga memiliki tugas-tugas dan tanggung jawab yang kompleks terhadap pencapaian tujuan pendidikan dan guru tidak hanya dituntut untuk menampilkan kepribadian yang menjadi teladan bagi siswa. Sedangkan aspek intern berupa minat merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Hal tersebut cukup beralasan karena minat merupakan aspek kejuruan yang bersifat abstrak, minat tersebut harus diperhatikan karena minat merupakan variabel yang berpengaruh terhadap tercapainya suatu tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai dalam belajar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) bagaimana kemampuan guru mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 3 Jombang (2) bagaimana minat belajar siswa kelas X SMA Negeri 3 Jombang (3) bagaimana prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 3 Jombang (4) adakah pengaruh kemampuan guru terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 3 Jombang (5) adakah pengaruh minat belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 3 Jombang (6) adakah pengaruh kemampuan guru dan minat belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 3 Jombang. Dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi kemampuan guru, minat belajar, dan prestasi belajar siswa. Sedangkan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui besarnya pengaruh antara kemampuan guru dan minat belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 3 Jombang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 3 Jombang yang berjumlah 284 siswa dan sampelnya sebesar 56 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Proportional Random Sampling. Hasil analisis secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar terbukti dari besaran probabilitas (sig) 1) kemampuan guru = 0.000 di bawah 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima 2) minat belajar = 0.000 di bawah 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sedangkan secara simultan dari hasil uji F diketahui besaran probabilitas (sig) 0.000 < 0.05 menunjukkan bahwa kemampuan guru dan minat belajar siswa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Saran yang diberikan adalah guru seharusnya terus meningkatkan kemampuan dengan berbagai cara seperti pelatihan, seminar dan MGMP. Serta guru harus selalu memakai metode pembelajaran dalam mengajar sehingga siswa tidak bosan dan timbul minat terhadap suatu pelajaran. Untuk penelitian selanjutnya, jika menggunakan variabel yang sama seperti dalam penelitian ini. Diharapkan dapat mengambil sampel yang lebih luas dan banyak sehingga hasilnya dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh earning per share (EPS) dan tingkat likuiditas perusahaan terhadap perubahan harga saham perusahaan manufaktur yang listing di Bura Efek Indonesia / Eduardus Yudhistira Adhie Nugraha

 

ABSTRAK Yudhistira, Eduardus. 2008. Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Tingkat Likuiditas Perusahaan Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Sumadi, SE. MM., (II) Dra. Suparti, MP. Kata Kunci: Earning per Share, Likuiditas, Harga Saham. Salah satu yang menjadi perhatian seorang investor adalah laba yang dihasilkan per lembar saham, karena tujuan seorang investor menanamkan investasi adalah untuk memperoleh return. Selain itu juga ada rasio likuiditas, apabila nilai rasio tersebut bernilai buruk selama jangka panjang maka hal tersebut juga akan mempengaruhi kemampuan solvabilitas perusahaan. Jika analisis keuangan perusahaan tersebut memiliki prospek yang dianggap bagus di masa mendatang, maka hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat permintaan terhadap saham tersebut. Apabila tingkat permintaan naik sedangkan jumlah saham yang ditawarkan tetap maka hal tersebut akan mempengaruhi harga saham yang beredar di pasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap harga saham perusahaan-perusahaan manufaktur yang go public di BEI, (2) Untuk mendeskripsikan pengaruh kemampuan likuiditas perusahaan terhadap harga saham perusahaan–perusahaan manufaktur yang go public di BEI, (3) Untuk mendeskripsikan pengaruh Earning Per Share (EPS) dan kemampuan likuiditas terhadap harga saham perusahaan–perusahaan manufaktur yang go public di BEI. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yng terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2005-2007. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, berdasarkan teknik tersebut maka didapat 43 sampel perusahaan manufaktur. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ada pengaruh signifikan antara Earning per Share (EPS) dengan harga saham, (2) tidak ada pengaruh signifikan antara kemampuan likuiditas perusahaan dengan harga saham, (3) tidak ada pengaruh secara simultan antara Earning Per Share (EPS) dan likuiditas dengan harga saham. Bagi kepentingan penelitian di masa mendatang peneliti menyarankan agar pada penelitian mendatang menggunakan periode lebih panjang dan jumlah sampel yang lebih besar, bagi para investor sebaiknya juga mempertimbangkan kemampuan likuiditas perusahaaan.

Pengaruh Bahasa Jawa pada karangan siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Papar / oleh Solichin

 

Penerapan pola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan kombinasi metode numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan prestasi mata pelajaran ekonomi siswa SMP Negeri 6 Malang / Lisnatul Hamidah

 

ABSTRAK Hamidah, Lisnatul. 2009. Penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) Dengan Kombinasi Metode Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Prestasi Mata Pelajaran Ekonomi Siswa SMP Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Dr. J.G. Nirbito, M.Pd (2) Dr. Nasikh, SE, M.P, M.Pd. Kata Kunci : Pola PBMP, Numbered Heads Together, Prestasi Berdasarkan observasi yang dilakukan penulis di SMP Negeri 6 Malang, diketahui bahwa metode pengajaran yang sering digunakan oleh Guru Ekonomi di SMP Negeri 6 Malang adalah ceramah, diskusi konvensional dan pemberian tugas rumah. Sistem pengajarannya masih teacher oriented, belum menjadi student oriented. Cara pengajaran ini ternyata masih belum memberikan hasil yang maksimal. Siswa cenderung pasif dan bosan dalam mengikuti proses pembelajaran, akibatnya prestasi belajar siswa menjadi rendah. Untuk meningkatkan prestasi siswa, perlu diterapkan variasi metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Tujuan yang diharapkan tersebut antara lain dapat dicapai melalui penerapaan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dipadu dengan metode Numbered Heads Together. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dipadu dengan metode Numbered Heads Together dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, karena itulah penulis mencoba menerapkannya dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan prestasi siswa kelas VIII-7 SMP Negeri 6 Malang pada mata pelajaran Ekonomi setelah penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dipadu dengan metode Numbered Heads Together. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang menggunakan pendekatan kualitatif. Penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dikombinasikan dengan model Numbered Heads Together dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitiannya berupa nilai tes, observasi, catatan lapangan dan lembar kerja PBMP. Prosedur analisis data dimulai dengan reduksi data, kemudian penyajian data lalu penarikan kesimpulan. Instrumen yang berupa Observasi dan catataan lapangan dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan nilai tes berupa pre test dan post test serta lembar PBMP dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 6 Malang kelas VIII-7 pada semester gasal tahun ajaran 2008-2009. Jumlah siswa sebanyak 38 terdiri dari 20 siswa i laki-laki dan 18 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan terhitung sejak bulan September sampai dengan bulan Nopember 2008. Data yang diperoleh dari penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktifitas dan prestasi siswa dari siklus I jika dibandingkan dengan siklus II. Pada siklus I tingkat keberhasilan siswa mengikuti proses pembelajaran adalah 55,56% dengan kategori “cukup”, ternyata pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 76,43% dengan kategori “baik”. Sebelum diterapkan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dipadu dengan metode Numbered Heads Together perolehan nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 65,5, dengan nilai terendah 47 dan tertinggi 87. Nilai ini dilihat berdasarkan hasil pre test. Pada hasil post test siklus I, setelah diterapkan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dipadu dengan metode Numbered Heads Together, perolehan nilai rata-rata adalah 78 dengan nilai terendah 60 dan tertinggi 93, prosentase ketuntasan belajarnya adalah 56%. Pada hasil post test siklus II terjadi peningkatan perolehan nilai rata-rata yakni 89, dengan nilai terendah 73 dan nilai tertinggi 100. Prosentase ketuntasan belajarnya adalah 94%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dipadu dengan metode Numbered Heads Together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII-7 SMP Negeri 6 Malang. Disarankan kepada pihak sekolah untuk menerapkan pembelajaran Pola PBMP dengan NHT, namun harus selalu disesuaikan dengan keadaan siswa. ii

Studi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pemahaman konsep pokok bahasan limit fungsi triogonometri pada siswa kelas XII IPA SMAN 5 Malang / Hasan Basri

 

Limit fungsi merupakan bagian dari mata pelajaran matematika yang diberikan pada siswa SMA kelas XII. Pokok bahasan ini merupakan pokok bahasan yang belum pernah diajarkan di tingkat pendidikan sebelumnya (SD maupun SLTP). Akan tetapi pengetahuan prasyaratnya yaitu fungsi sudah dimiliki oleh siswa. Berdasarkan pengalaman penulis selama melaksanakan PPL di SMAN 5 Malang, sebagian besar siswa tidak mengalami kesulitan pada saat mengerjakan limit fungsi aljabar namun siswa mengalami kesulitan pada saat mengerjakan soal-soal pemahaman konsep limit fungsi trigonometri. Penelitian ini dilaksanakan dengan subyek penelitian adalah kelas XII IPA 2 SMAN 5 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pemahaman konsep limit fungsi trigonometri, (2) mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Data yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari hasil tes tertulis siswa. Siswa dengan kemampuan tinggi mampu menyelesaikan soal-soal tersebut, baik menggunakan metode subtitusi, pemfaktoran maupun perkalian dengan akar sekawan. Siswa dengan kemampuan sedang dalam menyelesaikan soal-soal pemahaman konsep limit fungsi trigonometri cukup baik namun masih banyak melakukan kesalahan dalam memfaktoran, menentukan maupun mengalikan bentuk akar sekawan, sedangkan siswa dengan kemampuan rendah dalam menyelesaikan soal tersebut masih kurang hal ini terlihat dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa, selain itu sebagian siswa pada kelompok ini tidak menjawab pertanyaan pada soal. Ada dua bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa yaitu kesalahan konseptual dan kesalahan prosedural. Kesalahan-kesalahan siswa yang didiskripsikan pada penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam memberikan pembelajaran yang lebih baik kepada siswa.

Analisis penerapan strategi "Lesson Study" dalam pengajaran Bahasa Jerman siswa SMA Laboratorium Universitas Negri Malang / Kartika Widya Prameswari

 

ABSTRAK Prameswari, Kartika Widya. 2008. Analisis Penerapan Strategi “Lesson Study“ dalam Pengajaran Bahasa Jerman Siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Herri Akhmad Bukhori, M.A,.M..Hum, Pembimbing (II) Dra. Primardiana H.W., M.Pd Kata Kunci: Penerapan Strategi Lesson Study, Pengajaran Bahasa Jerman. Proses pembelaran bertujuan untuk membentuk sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Dalam proses belajar mengajar perlu suatu strategi pengajaran yang dapat memperbaiki pelaksanaan proses belajar mengajar. Jika tidak ada perbaikan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, tidak ada pula peningkatan mutu pengajaran. Dari hasil pengamatan selama pelaksanaan praktik pengalaman lapangan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang diketahui bahwa strategi pengajaran Lesson Study dijadikan suatu pilihan untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui penerapan strategi pengajaran lesson study dalam pengajaran bahasa Jerman di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, perlu dilakukan penelitian tersebut. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui penerapan strategi lesson study dalam pengajaran bahasa Jerman di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas XI Bahasa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, lembar observasi, dan hasil tes. Dari hasil penelitian diketahui bahwa proses belajar mengajar terlaksana secara runtut dan semua siswa dapat menerima materi yang diberikan oleh guru dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari analisis perolehan hasil tes, yaitu sebagian besar siswa sangat paham terhadap materi yang telah dipelajari, dan sebagian kecil siswa paham terhadap materi yang telah dipelajari. Tidak ada satu pun siswa yang tidak atau kurang paham terhadap materi yang telah dipelajari tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan strategi lesson study memiliki pengaruh terhadap mutu pengajaran bahasa Jerman siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada guru bahasa Jerman untuk menerapkan strategi lesson study dalam proses belajar mengajar di kelas dan kepada peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian lebih lanjut agar menggunakan sumber data yang lebih banyak serta berbeda untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Pengaruh penembahan berat roller terhadap Top Speed pada sepeda motor matic / Agung Aji Permana

 

Sistem transmisi sepeda motor jenis matic atau otomatis berbeda dengan sepeda motor jenis manual, terutama pada sistem transmisi ataupun pada penggerak antara mesin dengan roda belakang. Pada sepeda motor jenis matic menggunakan penghubung berupa v-belt yang bertumpu pada pulley. Sistem pulley hampir sama dengan sproket pada sepeda motor manual yang berfungsi mereduksi putaran mesin ke putaran roda belakang. Pulley depan atau pulley primer pada sepeda motor jenis matic terdapat alat berupa roller yang merupakan pemberat yang mengatur besar kecilnya diameter pulley yang berhubungan dengan perbandingan reduksi putaran mesin. Tekanan roller ini membuat pulley menjadi mengembang, karena pulley depan yang berisi roller inipada transmisi manual sama fungsinya dengan sproket depan, dimana semakin besar sproket depan dan semakin kecil sproket belakang akan memperbesar perbandingan reduksi sehingga dapat menambah top speed jika dilihat dengan gaya setrifugal yang dihasilkan oleh putaran pulley. Pada penelitian dengan menggunakan sepeda motor matic merk Yamaha Mio, dapat dilihat bahwa roller dengan berat 8 gram saat diadakan pengujian menghasilkan rata-rata top speed ± 90,67 km/jam, roller 9 gram menghasilkan rata-rata top speed ± 97,67 km/jam, roller 10 gram menghasilkan rata-rata top speed ± 101 km/jam, dan roller 11 gram menghasilkan rata-rata top speed ± 107 km/jam. Sehingga dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Ada pengaruh yang signifikan dari penambahan berat roller terhadap top speed sepeda motor MIO, dimana rata-rata top speed dengan berat roller 9 gram, 10 gram, dan 11 gram dibandingkan dengan menggunakan roller standart dengan berat 8 gram.

Pembinaan profesional guru sekolah dasar melalui gugus sekolah di gugus I Kec. Purworejo Kota Pasuruan / Oleh Bambang Suharno

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 |