Metaphors in the rubric of "True Story" of Reader's Digest: Form and Symbol / Rani Ariansyah

 

ABSTRACT Ariansyah, Rani. 2007. Metaphors in The Rubric of “True Story” of Reader’s Digest: Form and Symbol . Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Yazid Basthomi, M.A. (II) Niamika El Khoiri, S.Pd., M.A. Key words: syntactic forms, symbolism, metaphor, true story. The study is conducted to investigate the use of metaphorical syntactic forms and symbols in the true story rubrics of Reader’s Digest magazine. The design of the study is descriptive-qualitative since it obtains information concerning the current status of phenomena and determines the nature of situation as exists at the time of the study. The study belongs to documentary studies since it uses the true story rubric of Reader’s Digest magazine as the source of data. The data of the study are five true stories taken from the recent five editions of the year 2007. The true stories are analyzed based on the theory of metaphor, forms, and symbols. As the basis of the analysis, the concept of Haley which is called Hierarchical Model of Universal Semantic Domain is used. The theory of Lakoff and Johnson (1980) is used as the basis to analyze the forms. The symbols found are classified into the nine categories of the model namely Being, Cosmos, Energy, Substance, Terrestrial, Objects, Living, Animate, and Human. In terms of Syntactic Metaphorical Forms, there were 25 kinds of forms found in the true story texts. From the most to the least frequently used Syntactic Metaphors is Predicative Metaphors (56%), Complementative Metaphors (24%), Sentential Metaphors (12%), and Subjective Nominative Metaphors (8%). Sentential Metaphors and Nominative Metaphors were rarely found because in the five stories there were not so many relationships which need the use of Sentential Metaphors and Subjective Nominative Metaphor. The result reveals that there are 25 kinds of symbols found in the true story rubrics of the five editions. From the most to the least frequently used Symbols is Human category (32%), Object (24%), Terrestrial (16%), Cosmos (12%), Energy (8%) and substance (8%). The authors did not use Being, Living, and animate because there were nothing relevant to be used in those categories. This study concludes that metaphor is the part of language phenomena. Forms, Symbols, and sentences are the units that may help the reader interpret metaphor easily. Metaphor is actually the language creative which is untranslatable: they say what they say and cannot be said in another way.

Hubungan tingkat keterampilan manajerial pengurus unit kegiatan mahasiswa dan unjuk kerja berorganisasi di Universitas Negeri Malang / Evvy

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) seberapa tinggi tingkat keterampilan manajerial pengurus UKM di lingkungan UM; (2) seberapa tinggi unjuk kerja berorganisasi pengurus UKM di lingkungan UM; (3) hubungan antara keterampilan manajerial pengurus UKM dengan unjuk kerja berorganisasi di lingkungan UM, dengan rincian: hubungan antara (a) keterampilan konseptual pengurus UKM dengan unjuk kerja berorganisasi, (b) keterampilan hubungan manusiawi pengurus UKM dengan unjuk kerja berorganisasi, (c) keterampilan teknis pengurus UKM dengan unjuk kerja berorganisasi. Penelitian ini termasuk pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Hasil analisis menunjukkan: (1) banyak pengurus UKM yang memiliki keterampilan manajerial baik keterampilan konseptual, keterampilan hubungan manusiawi maupun keterampilan teknis termasuk dalam klasifikasi tinggi, terutama untuk keterampilan konseptual tergolong klasifikasi sangat tinggi; (2) pada umumnya pengurus UKM memiliki unjuk kerja berorganisasi dalam klasifikasi tinggi; (3) ada hubungan yang signifikan antara keterampilan konseptual dengan unjuk kerja berorganisasi pengurus UKM; (4) terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan hubungan manusiawi dengan unjuk kerja berorganisasi pengurus UKM; (5) ada hubungan yang signifikan antara keterampilan teknis dengan unjuk kerja berorganisasi pengurus UKM.

Keberadaan infrastruktur, persepsi guru dan siswa terhadap manfaat internet sebagai media pembelajaran di SMK Kota Batu / Ratna Pratiwi

 

Perkembangan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi yang semakin pesat. Kebutuhan untuk menanamkan pentingnya belajar sepanjang hayat (lifelong learning), yaitu terus menerus mencari informasi baru, berpikir kritis dan berinisiatif tinggi, menjadi tekanan dalam dunia yang berkembang pesat ini. Saat ini teknologi yang berkembang pesat adalah teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology – ICT). ICT merupakan kunci keberhasilan suatu negara. Persaingan yang semakin global membuat setiap negara harus menguasai ICT agar tidak tertinggal dengan negara lain. Dalam dunia pendidikan, ICT mempunyai potensi sebagai sarana penyebaran ilmu pengetahuan, pembelajaran yang efektif dan layanan pendidikan secara lebih efisien. Internet sebagai bagian dari ICT merupakan jaringan global, yang dapat menghubungkan masyarakat di seluruh dunia. Secara umum, internet bisa diman-faatkan sebagai alat komunikasi, sarana mengakses informasi dan media pembela-jaran Sifat internet yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun dapat diman-faatkan dalam dunia pendidikan di Indonesia yang wilayahnya sangat luas dan penduduknya tersebar di berbagai pulau. Selain itu informasi yang diperoleh dapat bersifat real time, artinya informasi yang muncul di suatu tempat bisa diketahui saat itu juga di tempat lain. Fasilitas-fasilitas internet seperti browsing, chatting, dan e-mail juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran antara guru dan siswa di sekolah. Pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berhubungan erat dengan dunia industri, internet dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi antara sekolah dan industri, demikian juga para siswa yang melaksanakan praktik di industri tetap bisa melakukan proses pembelajaran melalui internet. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui ketersediaan infrastruktur internet yang ada di sekolah, sebagai bahan masukan dalam pengembangan ICT Center di Kota Batu sebagai program dari Direktorat Pembinaan SMK. Sedangkan persepsi guru dan siswa tentang manfaat internet sebagai media pembelajaran di sekolah diperlukan agar pemanfaatan internet di sekolah nantinya dapat lebih optimal. Untuk meneliti hal tersebut, maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana infrastruktur internet yang ada di SMK di Kota Batu? (2) Bagaimana persepsi guru SMK Kota Batu terhadap manfaat internet sebagai media pembelajaran? dan (3) Bagaimana persepsi siswa SMK Kota Batu terhadap manfaat internet sebagai media pembelajaran? Sedangkan rancangan penelitian bersifat deskriptif, dengan berlokasi di 4 SMK dari 10 SMK yang ada. Dari 4 SMK, diambil 42 orang guru dan 288 siswa sebagai sampel yang diambil secara acak (cluster random sampling). Penelitian dilakukan dengan mengadakan observasi dan wawancara tentang infrastruktur, serta angket tentang persepsi guru dan siswa. Dari hasil penelitian diketahui bahwa di semua SMK telah terdapat infrastruktur internet berupa laboratorium komputer dengan spesifikasi yang dapat digunakan untuk mengakses internet. Kecuali SMK pertanian, SMK lain juga telah dilengkapi dengan modem, namun pemakaiannya sangat terbatas mengingat mahalnya biaya akses. Untuk itulah seluruh SMK menyambut baik adanya ICT Center di Kota Batu. Sementara itu dari angket yang disebarkan kepada guru dan siswa, terdapat 33,33% guru yang sering mengakses internet; 57,14% yang mengenal internet namun jarang mengakses, sisanya sebanyak 9,52% belum mengenal internet. Sementara dari pihak siswa, masih ada 19,44% yang belum mengenal internet, sedangkan yang lain telah mengenal dan bahkan 25,69% sering mengaksesnya. Sedangkan mengenai persepsi mereka tentang manfaat internet, terdapat 96,91% guru dan 61,63% siswa yang menyetujui perlunya siswa lebih mandiri dalam belajar; 92,86% guru dan 95,83% siswa yang mendukung adanya internet sebagai sumber informasi di sekolah. Selain itu sekitar 80% guru dan siswa juga mengakui bahwa informasi yang didapat di internet cepat dan up-to-date, 70% yang menganggap internet sebagai sumber informasi yang lengkap, serta 80% siswa dan 90% guru yang berpendapat bahwa kegiatan mencari informasi di internet dapat mengembangkan keterampilan mensintesis siswa. Menyangkut internet sebagai media komunikasi, sekitar 80% guru dan siswa sependapat bahwa berkomunikasi dengan internet dapat membantu mengembangkan keterampilan menulis siswa, serta dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi saat siswa PSG, dalam hal penyampaian materi pelajaran maupun masalah PSG. Terdapat sekitar 70% guru dan siswa yang menganggap internet sebagai media yang murah, dan 80% yang setuju bahwa internet adalah media pembelajaran yang modern, menarik, menyenangkan, dan efektif. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, disarankan kepada Dinas Pendi-dikan Kota Batu untuk membuat kebijakan mengenai infrastruktur internet di SMK, seperti memfasilitasi pengadaan komputer murah dengan spesifikasi memadai, serta mengadakan pelatihan internet bagi para guru yang belum memahami internet, dan insentif bagi guru yang berhasil membuat materi pembelajaran melalui internet. Pihak sekolah juga hendaknya dapat memotivasi para guru dan siswa, terutama yang belum mempunyai persepsi positif, dalam memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran, dengan membuat kurikulum sekolah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemanfaatan internet sebagai media pembe¬lajaran di sekolah secara optimal. Sedangkan bagi guru dan siswa yang telah mempunyai persepsi positif hendaknya dapat menjadi pelopor pemanfaatan internet di sekolahnya. Selain itu di masa mendatang perlu ada penelitian lebih lanjut tentang evaluasi peman¬faatan ICT Center dalam pembelajaran di SMK.

Stimulus guru dan respon siswa dalam pembelajaran bahasa Arab di MAN 3 Malang / Rifda Kurnia Islami

 

Stimulus dalam pembelajaran merupakan suatu rangsangan yang diberikan kepada siswa agar dapat meningkatkan semangat belajar siswa. Stimulus dalam penelitian ini dilakukan di MAN 3 Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk stimulus yang diberikan guru kepada siswa dalam pembelajaran, (2) bentuk-bentuk respon yang ditampilkan siswa setelah adanya stimulus. Penelitian ini dilakukan di MAN 3 Malang, dengan menggunakan rancangan deskriptif. Subjek penelitian ini adalah guru bahasa Arab kelas 3 Bahasa dan siswa kelas 3 Bahasa MAN 3 Malang. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen dan instrumen bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman obervasi, pedoman wawancara, angket, dan panduan analisis dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data meliputi: (a) identifikasi data, (b) klasifikasi dan penyaringan data, dan (c) penyimpulan data. Dalam penelitian ini, untuk menguji keabsahan data digunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis Stimulus berdasarkan Teori Skinner’s Operant Conditioning antara lain (1) Modifikasi Tingkah Laku Guru, (2) Positive Reinforcement, (3) Negative Reinforcement, (4) Hukuman, (5) Primary Reinforcement, (6) Secondary or Learned Reinforcement. Dan berdasarkan jenis-jenis stimulus tersebut dapat disebutkan beberapa bentuk stimulus yang diberikan guru dalam pembelajaran diantaranya (1) penggunaan variasi metode dan strategi dalam belajar melalui media, tehnik bermain, materi dan buku penunjang, (2) pemberian nilai, (3) pemberian hukuman, (4) pemberian hadiah, dan (5) pemberian pujian atau penghargaan. Adapun Respon yang ditampilkan siswa dalam kelas antara lain (1) Respon Perseptual, (2) Respon Emosional, dan (3) Respon Behavior. Berdasarkan penelitian ini, maka dikemukakan beberapa saran yaitu (1) bagi sekolah, disarankan agar menerapkan stimulus yang diberikan akan diberikan oleh guru kepada siswa dalam pembelajaran, (2) bagi guru, agar lebih meningkatkan dan mengembangkan stimulus yang akan diberikan kepada siswa, (3) bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan prestasinya dan aktif dalam KBM, dan (4) bagi peneliti berikutnya, diharap mengadakan penelitian lanjutan yang meneliti tentang Stimulus Guru dan Respon Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Analisis modul pendamping fisika zat padat dan prestasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika semester ganjil 2006/2007 / Fitriyah

 

Dosen pembimbing mata kuliah Fisika Zat Padat mengembangkan modul pendamping Fisika Zat Padat dengan beberapa pertimbangan, yaitu mata kuliah Fisika Zat Padat merupakan mata kuliah fisika yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi, bahan ajar yang digunakan hanya diktat yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah, metode pembelajaran yang digunakan adalah metode diskusi dan ceramah, terjadinya penurunan prestasi belajar mahasiswa dan adanya usulan penggunaan modul dalam pembelajaran. Modul pendamping tersebut perlu diteliti untuk mengetahui kelayakan modul pendamping. Indikasi kelayakan modul pendamping tersebut adalah dari tingkat kevalidan modul pendamping, prestasi belajar mahasiswa dan respon mahasiswa terhadap modul pendamping Fisika Zat Padat. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian Riset and Development. Peneliti tidak mengembangkan modul pendamping Fisika Zat Padat. Peneliti hanya menguji kevalidan modul pendamping dan mengujicobakan kepada mahasiswa untuk mengetahui prestasi belajar dan respon mahasiswa terhadap modul pendamping. Modul pendamping Fisika Zat Padat dikembangkan oleh dosen pembimbing mata kuliah Fisika Zat Padat. Validasi modul pendamping Fisika Zat Padat dilakukan oleh 5 orang dosen Fisika. Modul yang dikembangkan sebanyak 5 modul pendamping dari pokok bahasan Struktur Kristal dan Dinamika Kisi Kristal. Modul yang telah divalidasi diujicobakan kepada 39 mahasiswa program studi Pendidikan Fisika, yang memprogram mata kuliah Fisika Zat Padat pada semester ganjil 2006/2007. Prestasi belajar mahasiswa dianalisis dari hasil pretes dan postes mahasiswa sebelum dan sesudah diberikan modul pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul pendamping Fisika Zat Padat yang dikembangkan oleh dosen pembimbing mata kuliah Fisika Zat Padat telah memenuhi kriteria kevalidan, yaitu dengan persentase kevalidan sebesar 83,73% untuk modul Simetri Kisi Kristal (modul 1); 86,01% untuk modul Difraksi Kisi Kristal (modul 2); 89,53% untuk modul Ikatan Atomik dalam Kristal (modul 3); 87,66% untuk modul Getaran dalam Zat Padat (modul 4); dan 89,87% untuk Modul Getaran dalam Kisi Kristal (modul 5). Prestasi belajar mahasiswa pada mata kuliah Fisika Zat Padat dengan menggunakan modul pendamping Fisika Zat Padat termasuk dalam kategori sedang, yaitu dengan gain score sebesar 0,33. Rata-rata pretes mahasiswa adalah sebesar 25,33 dan rata-rata postes sebesar 50,10. Respon mahasiswa terhadap penggunaan modul pendamping Fisika Zat Padat adalah positif dengan persentase respon sebesar 77,22% untuk modul 1; 74,69% untuk modul 2; 72,93% untuk modul 3; 72,35% untuk modul 4 dan 77,82% untuk modul 5. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul pendamping Fisika Zat Padat layak untuk digunakan dalam pembelajaran.

Studi komparasi prestasi belajar, sikap, dan keaktifan siswa dalam pembelajaran materi pokok hidrolisis dengan model kooperatif tipe jigsaw dan problem posing di SMAN 7 Malang tahun ajaran 2006/2007 / Wiwin Isnaini

 

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan problem posing cocok diterapkan dalam pembelajaran IPA. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan suatu model pembelajaran yang membagi satu materi pokok yang besar menjadi submateri pokok yang kecil. Model pembelajaran problem posing merupakan suatu model pembelajaran alternatif yang dapat digunakan untuk mempelajari materi pokok yang bersifat hitungan. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk membandingkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran problem posing melalui analisis perbedaan prestasi belajar, sikap, dan keaktifan siswa dalam mempelajari materi pokok hidrolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar, sikap, dan keaktifan siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing pada materi pokok hidrolisis Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang membandingkan adanya perbedaan prestasi belajar, sikap, dan keaktifan siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 7 Malang tahun ajaran 2006/2007. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas XI IPA 2 diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelas XI IPA 1 diajar dengan model pembelajaran problem posing. Instrumen dalam penelitian ini adalah soal tes sebanyak 30 butir soal yang digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan prestasi belajar dengan validitas butir soal antara 0,37-0,70, reliabilitas soal 0,89, daya beda butir soal 0,25-0,75, dan tingkat kesukaran butir soal 0,25-0,84. Instrumen angket sebanyak 15 pernyataan digunakan untuk mengetahui sikap siswa, dan lembar observasi digunakan untuk mengetahui keaktifan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ( =79,05) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing ( =78,89), (2) tidak ada perbedaan sikap siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ( = 72,35) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing ( = 69,02), dan (3) tidak ada perbedaan keaktifan siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ( = 71,42) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing ( = 69,61).

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) dan kegiatan remidi dengan memperhatikan modalitas belajar siswa kelas X SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang pada materi pokok ikatan kimia / Dian Novita

 

Pembaharuan kurikulum dengan menerapkan KBK orientasi pembelajaran bergeser dari teacher-oriented ke student-oriented. Artinya, terjadi pergeseran paradigma pendidikan dari behavioristik ke arah konstruktivis. Konstruktivis merupakan landasan berpikir pembelajaran kontekstual. Salah satu strategi pembelajaran yang berasosiasi pendekatan kontekstual adalah pembelajaran kooperatif model TGT. Dalam pembelajaran ini lebih berpusat pada siswa, siswa saling bekerja sama antar masing-masing anggota kelompoknya untuk menyelesaikan masalah. Dalam proses pembelajaran, terdapat siswa yang belum tuntas dalam belajarnya. Untuk membantu siswa yang belum tuntas dalam belajarnya maka guru perlu mengadakan kegiatan remidi. Kegiatan remidi akan lebih bermakna, jika guru mengetahui cara belajar masing-masing siswa atau yang dikenal dengan modalitas belajar. Dengan mengetahui cara belajar masing-masing siswa guru dapat mengarahkan siswanya untuk belajar sesuai dengan modalitas masing-masing, dengan begitu siswa akan cepat dan mudah untuk memahami suatu materi. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui pelaksanaan pembelajaran kooperatif model TGT pada pokok bahasan Ikatan Kimia (2) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif model TGT dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan Ikatan Kimia, (3) mengetahui pelaksanaan remidi antara remidi dengan memperhatikan modalitas belajar siswa dengan remidi tanpa memperhatikan modalitas pada pokok bahasan Ikatan Kimia. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu dan deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Laboratorium UM Malang yang terdiri dari 6 kelas, dan kelas yang dipilih sebanyak dua kelas, yaitu kelas X4 sebagai kelas sampel dan X3 sebagai kelas kontrol. Sampel diambil dengan teknik acak. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Untuk analisis data digunakan uji statistik yang meliputi uji prasyarat analisis dan uji hipotesis. Instrumen pengukuran yang berupa instrumen tes materi Ikatan Kimia dan tes remidi berupa soal obyektif. Hasil uji coba instrumen diperoleh data validitas butir soal untuk soal tes sebelum remidi sebanyak 33 soal dari 50 soal dengan reliabilitas 0,85, sedangkan untuk tes sesudah remidi sebanyak 30 soal dari 50 soal dengan reliabilitas 0,91. Hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model TGT dan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional pada materi pokok ikatan kimia dianalisis dengan uji-t dua pihak dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan pembelajaran koperatif model TGT siswa kelas eksperimen menjadi lebih antusias dan aktif mengajukan pertanyaan. Hali ini terlihat dari penilaian afektif siswa kelas eksperimen setiap pertemuan mengalami peningkatan dan dalam kegiatan diskusi masing-masing indikator juga mengalami peningkatan. Berarti kegiatan kegiatan diskusi memberikan pengaruh positif terhadap diri siswa dan melatih siswa dari untuk bertanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok; (2) ada perbedaan belajar antara siswa yang diajar dengan pembelajaran koperatif model TGT dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.Untuk kelas eksperimen = 67,96 sedanglan kelas kontrol = 65,17; (3) Pelaksanaan remidi untuk kelas eksperimen yang kegiatan remidinya dengan memperhatikan modalitas dari 13 siswa yang mengikuti remidi semuanya tuntas, pada remidi 1 sebanyak 9 orang siswa dan pada remidi 2 sebanyak 4 siswa, sedangkan di kelas kontrol kegiatan remidi tanpa memperhatikan modalitas, dari 18 siswa yang mengikuti remidi tersisa 3 orang siswa yang belum tuntas, tuntas pada remidi 1 sebanyak 11 orang siswa, dan pada remidi 2 sebanyak 4.

Hubungan antara pola asuh orang tua dan keterampilan sosial siswa kelas 2 Jurusan PS (Pekerjaan Sosial) di SMKN 2 Malang / Iftinah Jauharotin

 

Hubungan antara pelaksanaan pengawasan dengan disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati / Isa Awan Karyadi

 

Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku, dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Tujuan organisasi tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif manusia atau pegawai di dalamnya. Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pegawai perlu adanya pengawasan, karena pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen. Pengawasan yang baik dilakukan bukan untuk melihat kekurangan atau kelemahan akan tetapi dengan pengawasan diharapkan dapat mencegah, menghindari atau meniadakan segala bentuk penyelewengan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja yang timbul dalam suatu organisasi. Seorang pegawai dikatakan disiplin jika bersedia mematuhi semua peraturan serta melaksanakan tugas-tugasnya, baik secara sukarela maupun karena terpaksa. Peraturan sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan bagi pegawai dalam menciptakan tata tertib yang baik di organisasi, denga tata tertib yang baik disiplin dan semangat kerja, moral kerja, efisiensi dan efektivitas kerja akan meningkat. Sedangkan pengawasan yang dilakukan adalah untuk memantau apakah pegawai sudah tertib dan mematuhi peraturan yang berlaku. Sehubungan dengan itu masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah pelaksanaan pengawasan oleh Kepala Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati? (2) bagaimanakah tingkat disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati? (3) adakah hubungan antara pelaksanaan pengawasan dengan tingkat disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pelaksanaan pengawasan oleh Kepala Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, (2) tingkat disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, (3) hubungan antara pelaksanaan pengawasan dengan tingkat disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional yaitu penelitian yang dipusatkan untuk mengetahui besarnya hubungan antara variabel-variabel yang diteliti berdasarkan koefisiensi korelasi. Hubungan variabel yang ingin diketahui adalah pelaksanaan pengawasan dengan disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling atau sampel acak, sehingga sampel yang didapatkan berjumlah 30 orang dari jumlah populasi yang ada, yaitu 109 orang pegawai. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa angket yang berisi 50 butir pernyataan. Untuk analisis deskriptif data menggunakan teknik porsentase sedangkan untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pengawasan sudah dilakukan dengan baik sedangkan disiplin kerja pegawai sangat tinggi. Hasil penghitungan korelasi product moment maka hipotesis nol (Ho) ditolak dan H1 diterima, hal ini dibuktikan dengan nilai sig. r sebesar 0,712 signifikan untuk probabilitas α (0.01), begitu juga untuk nilai probabilitas α (0.05). Dengan demikian ada hubungan antara pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh Kepala Dinas dengan disiplin kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pelaksanaan pengawasan dengan disiplin kerja pegawai Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati. Hal ini berarti makin tinggi pengawasan yang dilakukan Kepala Dinas, diikuti makin tingginya tingkat disiplin pegawai. Bertitik tolak pada temuan penelitian, maka saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi Kepala Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, pelaksanaan pengawasan yang sudah baik hendaknya lebih ditingkatkan lagi dengan memperhatikan sumber daya yang ada, sehingga dengan pelaksanaan pengawasan yang lebih baik akan mampu meningkatkan lagi tingkat kedisiplinan para pegawai. (2) Bagi Pegawai Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pati tingkat disiplin pegawai yang sudah sangat tinggi hendaknya dijaga dan dipertahankan. Sehingga dengan disiplin yang tinggi akan mampu meraih prestasi yang lebih baik dan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. (3) Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya juga meningkatkan pelaksanaan pengawasan agar pegawai dalam hal ini dosen Administrasi Pendidikan memiliki disiplin yang sangat tinggi pula. (4) Bagi peneliti lain, yang ingin meneliti bidang pengawasan disarankan lebih mengembangkan penelitian dengan variabel, responden, dan dasar teori lainnya

Pengembangan paket pembelajaran dengan model Degeng pada mata pelajaran Pokok-pokok Iman bagi pebelajar kelas X Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Bhakti Luhur Malang / Yohanes Kopong

 

Peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan strategi menulis terbimbing pada siswa kelas X1 Bahasa SMA 5 Malang / Sony Sukmawan

 

Dalam kurikulum 2004, menulis naskah drama merupakan kompetensi dasar kemampuan bersastra yang harus diajarkan kepada siswa kelas XI SMA. Hal ini berarti pembelajaran menulis kreatif naskah drama sudah diberikan di SMA. Namun demikian, hasil pembelajaran menulis naskah drama sejauh ini belum memuaskan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran menulis naskah drama adalah meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama melalui penerapan Strategi menulis Terbimbing (SMT). SMT memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama melalui: (1) pengembangan tema, (2) pemilihan karakter, (3) penciptaan konflik yang hidup, dan (4) penentuan latar yang ringkas dan nyata. Dalam penelitian ini, SMT dalam penulisan naskah drama dilakukan dengan melalui lima tahapan proses menulis. Kelima tahap tersebut yaitu pramenulis (prewriting), penyusunan dan penerapan konsep (drafting), perbaikan (revising), penyuntingan (editing), dan penerbitan (publishing) (Tompkins ,1994). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama dengan penerapan SMT, untuk itu permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut (1) Bagaimanakah perencanaan pembelajaran menulis naskah drama dengan SMT yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama? (2) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran menulis naskah drama dengan SMT yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama? (3) Bagaimanakah hasil pembelajaran menulis naskah drama dengan SMT yang mencerminkan peningkatan kemampuan siswa menulis naskah drama? Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) dengan pendekatan penelitian kualitatif yang dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu tahap (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, dan (3) evaluasi hasil pembelajaran. Setiap tahapan terdiri atas empat langkah pembelajaran yaitu: (1) memberikan naskah model, (2) membaca dan analisis naskah model, (3) sumbang saran dan pengelompokan cerita untuk mengawali aktivitas menulis naskah, (4) berbagi hasil menulis melalui lokakarya, dan (5) pementasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi menulis terbimbing dalam bentuk pemberian model naskah drama, penggunaan model membaca apresiatif dan ekspresif, pemberian kartu struktur naskah, penggunaan strategi belajar kelompok dan belajar individual, observasi guru, aktivitas sumbang saran, aktivitas pengelompokan cerita, pengedrafan, perevisian, dan berbagi hasil baik itu melalui konferensi, pembacaan naskah, maupun pementasan telah mengarahkan siswa untuk memahami struktur naskah drama dan membentuk kemampuan siswa memroduksi kreatif naskah drama. Selanjutnya, Hasil pembelajaran menulis naskah drama berdasarkan SMT berupa naskah drama hasil tulisan siswa menunjukkan bahwa siswa telah mampu menulis naskah drama dengan beragam tema; dengan keringkasan, ketepatan, dan kelengkapan pemaparan perwatakan pelaku; dengan latar yang ringkas, nyata, khusus, dan lengkap; serta dengan penggarapan konflik yang hidup. Naskah drama hasil tulisan siswa ini pada akhirnya potensial untuk diterjemahkan ke dalam pementasan. Hasil pembentukan pemahaman dan kemampuan siswa menulis naskah drama yang terekam dalam naskah siswa menunjukkan kualifikasi sebagai berikut.(a) penentuan dan penggarapan tema sangat baik, (b) penentuan dan penggarapan pelaku sangat baik, (c) penentuan dan penggarapan latar baik, dan (d) penentuan dan penggarapan plot baik. Kepada guru BI kelas XI yang mengajarkan kompetensi menulis naskah drama disarankan (1) menjadikan penelitian ini sebagai salah satu acuan dalam penerapan strategi menulis terbimbing sebagai upaya peningkatan apresiasi sastra, khususnya dalam pembelajaran menulis naskah drama dan (2) memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai alternatif perbaikan dan model pembelajaran menulis naskah drama. Hasil penelitian ini memberikan penegasan bahwa menulis naskah drama bukanlah sebuah aktivitas yang sulit untuk dipelajari. Melalui tahapan bimbingan sebagaimana yang telah ditempuh siswa, potensi menulis mereka terbukti dapat dioptimalkan. Dengan demikian, kepada siswa disarankan agar (1) secara mandiri memanfaatkan tahapan-tahapan bimbingan tersebut dalam proses menulis naskah drama –naskah drama selanjutnya dan (2) tidak selalu menjadikan bimbingan formal dari guru sebagai satu-satunya sumber dalam pembelajaran menulis naskah drama. Ketergantungan yang demikian dapat menghambat kreativitas mereka sendiri. Bimbingan naskah model, kerja mandiri dalam kelompok, dan pementasan mandiri dalam kenyataannya lebih berpotensi meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama.

Representasi kesantunan tindak tutur berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas (kajian etnografi komunikasi di SMA PMT Hamka Padang Pariaman) / Syahrul R.

 

Kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 4 Malang tahun pelajaran 2006/2007 / Wahyuningsih

 

Pembelajaran menulis naskah drama terdapat pada meteri kelas VIII SMP, siswa diharapkan mampu menulis naskah drama dengan memperhatikan keaslian ide dan kesesuaian dengan kaidah penulisan. Kegiatan menulis naskah drama dapat memberikan wawasan kepada siswa mengenai kehidupan karena naskah drama kaya akan nilai-nilai kehidupan. Selain itu, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan menulis naskah drama, yakni: (1) siswa dapat terlatih untuk mengorganisasikan dan mengembangkan gagasannya; (2) siswa semakin lancar dalam menulis; (3) siswa akan terlatih untuk menggarap tema, plot, seting, dan karakter yang efektif dalam sebuah naskah drama; (4) siswa dapat membedakan antara menulis karya sastra drama dengan karya sastra yang lain; (5) siswa akan terlatih untuk mengenali keadaan sekitarnya dengan kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya Masalah umum dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 4 Malang?”. Sedangkan masalah khusus dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan siswa dalam: (1) memilih dan mengembangkan tema, (2) mengembangkan alur, (3) memilih dan mengembangkan watak tokoh, (4) memilih latar, (5) mengembangkan dialog, dan (6) menulis naskah drama sesuai dengan kaidah penulisan naskah drama. Penelitian ini menggunakan dua rancangan penelitian, yakni kuantitatif dan kualitatif. Rancangan kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan berapa kuantitas siswa yang mampu menulis naskah drama dalam setiap aspek. Sedangkan rancangan kualitatif digunakan dalam menafsirkan dan mendeskripsikan kualitas naskah drama yang dihasilkan oleh siswa. Data dan sumber data dalam penelitian ini berupa hasil naskah drama siswa dan juga data berupa skor yang diperoleh dari tiap aspek. Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 262 siswa yang terbagi dalam 6 kelas. Jumlah sampel ditetapkan sebanyak 15% dari jumlah populasi. Kelas yang dijadikan sampel penelitian adalah kelas VIII.F yang memiliki siswa sebanyak 42 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes menulis naskah drama. Analisis data yang dilakukan meliputi: (1) persiapan, (2) pengkodean, (3) penilaian, dan (4) penafsiran hasil penilaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 4 Malang mampu menulis naskah drama dengan kualitas naskah drama C. Nilai rata-rata keseluruhan yang diperoleh adalah 68,75. Berdasarkan hasil analisis, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VIII SMPN 4 Malang mampu memilih dan mengembangkan tema dalam naskah drama. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 87,5% siswa memperoleh nilai di atas SKM, dengan rincian sebagai berikut. Sebanyak 15% siswa memiliki kemampuan menulis naskah drama dengan kualitas pemilihan dan pengembangan tema SB, 35% siswa dengan kualitas B, dan 37,5% siswa dengan kualitas C. Sisanya, sebanyak 12,5% memiliki kemampuan memilih dan mengembangkan tema di bawah SKM dengan rincian, sebanyak 10% berkualitas K dan 2,5% berkualitas SK. Siswa kelas VIII SMPN 4 Malang mampu mengembangkan alur. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa yang sudah memenuhi SKM sebanyak 82,5% dengan rincian, siswa yang mampu mengembangkan alur dengan kualitas SB sebanyak 15%, B sebanyak 22,5%, dan C sebanyak 45%. Selebihnya, sebanyak 17,5 % belum mampu mengembangkan alur dengan rincian, sebanyak 15% berkualitas K dan 2,5% berkualitas SK. Siswa kelas VIII SMPN 4 Malang belum mampu memilih dan mengembangkan watak tokoh. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa yang sudah memenuhi SKM sebanyak 67,5% dengan rincian, sebanyak 5% memiliki kualitas SB, 27,5% B, dan 35% C. Sisanya, sebanyak 35% memiliki kemampuan memilih dan mengembangkan watak tokoh di bawah SKM dengan rincian, sebanyak 30% memiliki kualitas K dan 2,5% SK. Siswa kelas VIII SMPN 4 Malang mampu memilih latar. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa yang sudah memenuhi SKM sebanyak 77,5% dengan rincian, siswa yang mampu memilih latar dengan kualitas SB sebanyak 30%, B sebanyak 17,5%, dan C sebanyak 30%. Selebihnya, sebanyak 22,5 % belum mampu memilih latar dengan rincian, sebanyak 20% berkualitas K dan 2,5% berkualitas SK. Siswa kelas VIII SMPN 4 Malang mampu mengembangkan dialog. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa yang sudah memenuhi SKM sebanyak 75% dengan rincian, siswa yang mampu mengembangkan dialog dengan kualitas SB sebanyak 7,5%, B sebanyak 22,5%, dan C sebanyak 45%. Selebihnya, sebanyak 25 % belum mampu mengembangkan dialog dengan rincian, sebanyak 22,5% berkualitas K dan 2,5% berkualitas SK. Siswa kelas VIII SMPN 4 Malang mampu menulis naskah drama sesuai dengan kaidah penulisan. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa yang sudah memenuhi SKM sebanyak 90% dengan rincian, siswa yang mampu menulis naskah drama sesuai dengan kaidah penulisan dengan kualitas B sebanyak 57,5% dan C sebanyak 32,5%. Selebihnya, sebanyak 10 % belum mampu dengan kualitas keesesuaian dengan kaidah penulisan naskah drama K. Saran yang dapat dikemukakan bagi guru adalah: (1) dalam pemilihan sumber/media disarankan untuk memilih cerpen karena memiliki unsur pembangun yang hampir sama dengan naskah drama, (2) dalam merencanakan langkah-langkah pembelajaran, guru dapat menggabungkan/memasukkan pembelajaran menulis naskah drama dengan pembelajaran lain karena terbatasnya jam pelajaran menulis naskah drama yang disediakan di sekolah (5 jam pelajaran per minggu dalam 1 semester), (3) dalam mengontrol kemajuan belajar siswa disarankan kepada guru agar selalu memantau perkembangan keterampilan menulis naskah drama yang dimiliki siswa sehingga menghindarkan dari kegiatan penjiplakan yang sangat merugikan siswa. Sedangkan bagi peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian lain mengenai kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan metode yang sama maupun berbeda serta dengan menggunakan rancangan penelitian yang lain, misalnya PTK.

Peningkatan pemahaman konsep siswa kelas II SD Negeri Saptorenggo IV pada materi pembagian melalui Realistic Mathematics Education (RME) / Heni Purwanti

 

Pembelajaran matematika yang diterapkan di sekolah saat ini merupakan dasar yang sangat penting dalam keikutsertaannya mencerdaskan kehidupan bangsa. Masalah klasik yang selalu muncul adalah keluhan masyarakat bahwa proses pembelajaran matematika di sekolah masih menggunakan pendekatan tradisional, yakni seorang guru secara aktif mengajarkan matematika, kemudian memberikan contoh dan latihan, disisi lain siswa berfungsi sebagai mesin, mereka mendengar, mencacat dan mengerjakan latihan yang diberikan guru. Berkaitan dengan uraian di atas, penulis ingin menerapkan suatu model pembelajaran matematika di Sekolah Dasar yang dapat membelajarkan siswa secara bermakna, yaitu melalui Realistic Mathematics Education (RME). Siswa yang belajar matematika secara bermakna dicirikan oleh pemahamannya secara konseptual dan prosedural. Masalah penelitian ini dapat dirumuskan (1) bagaimana meningkatkan tingkat pemahaman konsep siswa pada materi pembagian pada siswa kelas II SDN Saptorenggo IV melalui Realistic Mathematics Education (RME)?, (2) Bagaimana peningkatan pemahaman konsep siswa kelas II SDN Saptorenggo IV melalui Realistic Mathematics Education (RME)? Untuk menjawab masalah di atas, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada satu kelas tertentu yang dilaksanakan dalam dua siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Penelitian dilakukan di SDN Saptorenggo IV, pada semester genap tahun pelajaran 2006/2007. Subyek penelitiannya adalah kelas II. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui pengamatan, wawancara, pencatatan lapangan, dan tes. Dalam analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu: mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Realistic Mathematics Education (RME) dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa .

Pengaruh IL-2 adoptive immunotherapy pada perkembangan tumor / Aris Agung Nugraha

 

ABSTRAK Nugraha, Aris Agung.2007.Pengaruh IL-2 Adoptive Immunotherapy pada Perkembangan Tumor. Skripsi, Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D, (II) Drs. H. Imam Supeno, M.S Kata Kunci: Tumor, Sel Efektor, Sitokin (IL-2), IL-2 Adoptive Immunotherapy Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal yang bukan radang. Tumor dibagi dalam dua golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Sepanjang masa ini, penelitian tentang tumor telah mengembangkan suatu teknik yang dinamakan Adoptive Immunotherapy. Teknik tersebut diperluas dengan perluasan secara ex vivo dengan menggunakan Interleukin-2 (IL-2) yang disebut IL-2 Adoptive Immunotherapy. Teknik ini diaplikasikan dengan model matematika. Model matematika digunakan untuk mengkaji pengaruh IL-2 Adoptive Immunotherapy pada perkembangan tumor. Model IL-2 Adoptive Immunotherapy menghasilkan suatu titik kesetimbangan ( , , ). Model ini merupakan model yang tidak bergantung pada parameter yang berubah tiap waktu. Model dimodifikasi dengan menghilangkan parameter s2 dan menambah fungsi tambahan perawatan (x,t). Penambahan fungsi perawatan (x,t), didasarkan pada asumsi bahwa perawatan bergantung pada parameter yang berubah tiap waktu. Model baru tersebut menghasilkan titik kesetimbangan ( , , ). Berdasarkan pembahasan, IL-2 Adoptive Immunotherapy yang tidak bergantung pada parameter yang berubah tiap waktu, tumor musnah akan tetapi IL-2 tidak menurun sehingga menyebabkan keracunan. Sedangkan dengan IL-2 Adoptive Immunotherapy yang bergantung pada parameter yang berubah tiap waktu, perawatan bisa dihentikan ketika akan terjadi keracunan, sehingga tumor musnah dan IL-2 menurun.

Pengaruh modifikasi program latihan shooting hal wissel terhadap peningkatan kemampuan shooting free throw pada Tim Putra Bolabasket SMA Negeri 1 Garum Blitar / Chaisa Yufily Rusmalah Putri

 

Dari pengamatan yang dilakukan peneliti, tim basket SMA umumnya masih menemui kesulitan dalam melakukan shooting pada bolabasket. Hal ini disebabkan karena kurangnya latihan shooting yang diberikan oleh guru sehingga menyebabkan rendahnya tingkat kemampuan dalam melaksanakan shooting freethrow. Padahal untuk keberhasilan dalam sebuah pertandingan, tim dituntut memiliki pemain-pemain yang mampu melakukan shooting. Untuk itu akan dilakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh program latihan shooting berdasarkan modifikasi bentuk – bentuk latihan teknik shooting Hal Wissel terhadap peningkatan kemampuan shooting free throw pada tim putra bolabasket SMA Negeri 1 Garum Blitar”. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan shooting freethrow pada tim putra bolabasket SMA Negeri 1 Garum Blitar Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu one-group pretest-posttest design dengan menggunakan langkah-langkah 1) tes awal yaitu tes shooting freethrow (pre test) 2) pemberian perlakuan berupa program latihan shooting berdasarkan bentuk – bentuk latihan teknik shooting Hal Wissel 3) tes akhir (post test). Subyek dalam penelitian ini adalah tim putra bolabasket SMA Negeri 1 Garum Blitar sebanyak 28 siswa. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Hasil uji-t amatan ulang untuk mencari beda antara tes awal – tes akhir adalah sebesar 22,56 (2) Modifikasi program latihan shooting berdasarkan bentuk-bentuk latihan teknik shooting Hal Wissel berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kemampuan shooting free throw karena terdapat perbedaan mean dimana tes akhir > tes awal. Saran dari hasil penelitian ini adalah: (1) Guru pendidikan jasmani dan pelatih bolabasket khususnya diharapkan lebih kreatif dan inovatif sehingga tujuan latihan bisa tercapai. (2) Penelitian ini hendaknya terus dikembangkan oleh guru pada umumnya dan oleh guru pendidikan jasmani ada khususnya. (3) Pihak sekolah yang di tempati untuk penelitian ini hendaknya memberikan keleluasaan pada peneliti, karena penelitian ini sangat bermanfaat bagi pihak sekolah pada umumnya dan siswa. (4) Penelitian ini hendaknya dikembangkan pada cabang olahraga yang lain sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani. (5) Diharapkan bagi mahasiswa jurusan ilmu keolahragaan program studi pendidikan jasmani untuk melakukan penelitian yang sama tetapi dengan subyek dan obyek yang berbeda.

Pengaruh penerapan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran problem-based learning terhadap keaktifan, sikap, dan prestasi belajar kimia siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang pada materi pokok laju reaksi dan orde reaksi tahun ajaran 2006

 

Laju reaksi merupakan salah satu materi yang diajarkan di SMA/MA pada kelas XI IPA semester I. Laju reaksi merupakan materi yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, selain itu materi ini juga membutuhkan banyak perhitungan sehingga siswa perlu memahami konsep dan perhitungan yang ada dalam materi laju reaksi secara mendalam. Meskipun di beberapa SMA sudah mulai menerapkan pembelajaran konstruktivistik, namun pembelajaran Problem Basad Learning masih jarang diterapkan. Hal ini menyebabkan kepedulian siswa terhadap masalah dalam kehidupan sehari-hari yang relevan tidak akan muncul. Berdasarkan penelitian sebelumnya, pembelajaran dengan Problem Based Learning, problem posing, maupun STAD menunjukkan hasil yang positif. Bagaimana jika ketiga pembelajaran tersebut digabungkan? Karena pada tahap III pembelajaran PBL, kegiatan siswa dalam penyelidikan individu/kelompok masih terbatas, misalnya kegiatan studi pustaka, praktikum sesuai dengan petunjuk yang ada dalam buku. Sedangkan pada tahap IV pembelajaran PBL, diskusi yang dilakukan adalah diskusi biasa. Semua kegiatan tersebut sudah sering dilakukan siswa khususnya siswa di SMA Negeri 8 Malang. Hal ini dapat membuat siswa merasa bosan. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu pembelajaran yang bervariasi untuk dimasukkan pada tahap III dan tahap IV sehingga dapat mendorong siswa untuk aktif dan lebih bersemangat dalam memahami materi. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mengetahui keaktifan siswa selama pembelajaran dengan menerapkan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL berlangsung, (2) mengetahui sikap siswa selama pembelajaran dengan menerapkan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL berlangsung, (3) mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar pada siswa yang diajar dengan PBL dengan siswa yang diajar dengan PBL dengan menerapkan komponen-komponen problem posing dan STAD pada materi laju reaksi dan orde reaksi. Penelitian ini adalah penelitian dengan rancangan deskriptif dan eksperimental semu. Rancangan deskriptif bertujuan untuk memperoleh gambaran secara nyata tentang keaktifan dan sikap siswa pada pembelajaran dengan menerapkan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL. Rancangan eksperimental semu bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA di SMAN 8 Malang yang terdiri dari 4 kelas yaitu 1 kelas unggulan dan 3 kelas yang bukan unggulan. Siswa kelas XI IPA unggulan dikeluarkan dari sampling. Pemilihan sampel dilakukan secara acak dengan melakukan undian untuk menentukan dua kelas yang akan digunakan. Undian berikutnya untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan undian tersebut terpilih kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen yang mengalami pembelajaran dengan menerapkan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL dan kelas XI IPA 4 sebagai kelas kontrol yang mengalami pembelajaran dengan PBL. Dalam penelitian ini digunakan dua jenis instrumen yaitu instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan terdiri dari Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Worksheet untuk mempermudah kerja siswa. Instru-men pengukuran terdiri dari tes tertulis, angket, Worksheet problem posing, tugas-tugas, dan lembar observasi. Data keaktifan dan sikap siswa kelas eksperimen dianalisis secara deskriptif menggunakan rerata skor dan persentase. Data keaktifan siswa diperoleh dari lembar observasi dan data sikap siswa diperoleh dari angket. Data prestasi belajar siswa kelas eksperimen didapat dari pengolahan nilai tes hasil belajar dengan bobot 30%, nilai tugas 15%, nilai kuis 15%, nilai worksheet problem posing 15%, dan nilai keaktifan selama proses pembelajaran 20%. Semua instrumen yang digunakan telah divalidasi isi dan untuk instrumen tes hasil belajar dilakukan uji coba tes untuk mengetahui validasi butir soal, reliabilitas tes, daya beda butir soal, dan tingkat kesukaran butir soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dengan menerapkan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL semakin meningkat, baik secara keseluruhan pembelajaran maupun dalam setiap tahapnya. Dari hasil pengolahan angket diketahui bahwa 76,5% siswa mempunyai sikap positif, 8,8% mempunyai sikap sangat positif, dan 14,7% siswa yang mempunyai sikap negatif terhadap penerapan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL. Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara siswa yang diajar dengan penerapan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran PBL saja. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata yang diperoleh siswa kelas eksperimen adalah 73,4 dan rata-rata yang diperoleh siswa kelas kontrol adalah 69,8. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan komponen-komponen problem posing dan STAD dalam pembelajaran PBL memberikan pengaruh yang baik terhadap perubahan keaktifan maupun sikap siswa dalam proses pembelajaran dan juga pada prestasi belajarnya. Dari pengolahan angket dapat dibuktikan bahwa siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran yang diterapkan.

Implementasi modul materi pokok asam, basa dan garam berdasarkan model pembelajaran learning cycle di kelas IX semester I SMP Negeri I Asembagus / Lovi Sandra

 

Telah dikembangkan bahan ajar sains kimia SMP sesuai dengan kurikulum 2004. Bahan ajar tersebut telah divalidasi isi dengan tingkat valid, artinya secara isi modul tersebut telah sesuai dengan tuntutan kurikulum. Namun, bahan ajar asam, basa, dan garam belum diimplementasikan di kelas. Oleh karena itu, perlu diimplementasikan bahan ajar pembelajaran sains kimia yang sesuai dengan pendekatan konstruktivistik dengan menggunakan model pembelajaran learning cycle yang diajarkan di kelas IX di SMP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterterapan modul, mendeskripsikan hasil belajar siswa yang menggunakan modul dibandingkan dengan pembelajaran konvensional serta mendeskripsikan persepsi siswa terhadap penggunaan modul dalam proses pembelajaran sains kimia. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen semu dan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri I Asembagus semester I tahun ajaran 2006/2007 dengan sampel yang terdiri dari dua kelas, yaitu kelas IX-A (42 siswa) dan kelas IX-C (42 siswa) dan diambil dengan cara purposive. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan angket. Analisis data terdiri dari analisis data keaktifan siswa, uji prasyarat analisis, uji hipotesis, dan analisis data persepsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahan pembelajaran dengan modul dapat meningkatkan keaktifan siswa. Berdasarkan persentase lembar observasi siswa untuk kelas eksperimen terdiri dari lembar observasi keaktifan siswa pada saat diskusi 61,9% siswa sangat aktif dan 38,1% siswa aktif. Untuk lembar observasi keaktifan siswa pada saat praktikum 78,57% siswa sangat aktif dan 21,43% siswa aktif. Sehingga dari data tersebut kelas eksperimen sangat aktif dalam hal mengikuti proses belajar mengajar menggunakan modul. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh thitung (2,074) > ttabel (1,664) sehingga dari data tersebut hasil belajar penggunaan modul yang berdasarkan model pembelajaran learning cycle pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol yang tidak menggunakan modul. Ketuntasan belajar siswa kelas eksperimen mempunyai persentase 73,81% tuntas dan 26,19% tidak tuntas. Sedangkan pada kelas kontrol persentase ketuntasan belajarnya sebesar 64,29% siswa tuntas dan 35,71% siswa tidak tuntas. Analisis persepsi siswa menggunakan angket tertutup yaitu 53,13% sangat positif dan 46,81% positif, dan angket terbuka yang terdiri dari empat pernyataan yang keseluruhannya menyatakan modul layak sebagai media pembelajaran.

Perbedaan konsep diri ditinjau dari tipe kepribadian A dan B pada pekerja seks komersial di Panti Sosial Karya Wanita "Mulya Jaya" Jakarta Timur / Wisda Yolanda Naibaho

 

Seseorang dengan konsep diri baik akan merasa dirinya berharga, percaya diri, berpikir positif, dapat menentukan tujuan hidup dan dapat memberikan penilaian positif terhadap diri sendiri serta bersahabat dengan lingkungannya, selalu optimis, merasa bahagia. Konsep diri yang buruk akan merasa dirinya tidak berharga, merasa diri bodoh, rendah diri, pesimis dan memberikan penilaian negatif terhadap diri sendiri mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal baru, takut gagal, takut sukses, merasa tidak berharga dan perilaku inferior lainnya. Individu dengan Tipe Kepribadian A memiliki sifat ambisius terhadap sesuatu, merupakan individu yang kompetitif, terburu-buru dalam melakukan aktivitas maupun pekerjaan, agresif, perfeksionis, tidak bersahabat dengan orang lain, dapat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu (polyphasic). Individu dengan Tipe Kepribadian B memiliki sifat tidak berambisi terhadap sesuatu, merupakan individu yang tidak kompetitif, santai dalam melakukan aktivitas maupun pekerjaan, bukan individu yang agresif, merupakan individu yang non-perfeksionis, bersahabat dengan orang lain, hanya dapat mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu (monophasic). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan konsep diri ditinjau dari tipe kepribadian A/B pada PSK di PSKW Mulya Jaya. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan komparasi. Populasi dalam penelitian ini adalah PSK di PSKW Mulya Jaya sebanyak 78 orang. Jumlah sampel sebanyak 48 orang Pekerja Seks Komersil. Dari 48 subjek terdapat 26 orang bertipe kepribadian A dengan konsep diri negatif dan 22 orang bertipe kepribadian B dengan konsep diri positif. Tingkat konsep diri PSKyang bertipe kepribadian A lebih rendah dibandingkan konsep diri PSK yang bertipe kepribadian B. Tingkat konsep diri PSK ditinjau dari tipe kepribadian A/B mempunyai nilai t=-7,632; p=0,000 (p<0,01). Maka ada perbedaan konsep diri yang signifikan antara PSK yang bertipe kepribadian A dan PSK yang bertipe kepribadian B. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan:(1)Bagi PSK, perlu mengetahui kepribadian yang dimiliki sehingga lebih memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan memperbaiki konsep diri diharapkan para pekerja seks dapat berhenti menjadi pekerja seks.(2)Bagi PSKW Mulya Jaya, dengan diketahui bahwa sebagian kelayan memiliki konsep diri yang baik maka disarankan untuk memberikan intervensi terhadap pengembangan konsep diri dan kepribadian agar membantu proses rehabilitasi sehingga tujuan pelayanan dan program penanggulangan kasus PSK dapat dicapai dengan baik dan efektif.

Analisa biaya penggunaan perancah scaffolding dan bambu pada proyek pembangunan Laboratorium Kimia Politeknik Negeri Malang / Asih Setyo Ariwibowo

 

Kata kunci: perancah, scaffolding, bambu. Perancah adalah konstruksi yang memikul atau menerima beban dan memberi kekuatan serta kesetabilan pada bekisting. Perancah ada yang bersifat pabrikasi seperti perancah scaffolding dan ada yang konvensional seperti perancah bambu. Pemilihan perancah scaffolding disebabkan karena sifat konstruksinya yang praktis, tidak banyak membutuhkan tenaga kerja atau tenaga ahli. Pemilhan penggunaan perancah bambu disebabkan kerena sifat kekuatan dan ukuran yang tersedia di lapangan. Penelitian ini bersifat membandingkan antara penggunaan perancah scaffolding dengan perancah bambu di lapangan ditinjau dari segi waktu dan biaya pekerjaannya. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari hasil analisa yang didapat pada pelaksanaan pekerjaan kontruksi scaffolding lebih mudah dan praktis bila dibandingkan dengan perancah bambu. Karena komponen – komponen dari kontruksi scaffolding terdiri dari bagian – bagian yang ringan dan untuk merangkainya cukup dengan cara menyetel join – joinnya. Sedangkan biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi scaffolding adalah Rp 31.555.400 sedangkan biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan perancah bambu adalah Rp 29.486.744 dari perbandingan kedua biaya pelaksanaan pekerjaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa biaya pelaksanaan pekerjaan bambu lebih murah di bandingkan dengan biaya pelaksanaan pekerjaan scaffolding. Harga tersebut sudah termasuk balok 6/12

Pemahaman dan penerapan guru matematika kelas XI SMU Negeri se-kabupaten Pasuruan terhadap asesmen otentik (assessment authentic) / Lailiatul Rokhmania

 

Penilaian merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dengan kegiatan belajar mengajar. Perubahan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum 2004 membawa implikasi terjadinya perubahan penilaian pada pembelajaran matematika. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar akan efektif apabila didukung oleh kegiatan penilaian yang efektif pula. Asesmen otentik (Authentic Assessment) hadir sebagai alternatif penilaian untuk menilai semua aspek kemampuan yang tidak dapat dinilai dengan tes tulis(Pencil and Paper). Asesmen otentik adalah suatu proses kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru untuk memperoleh informasi atau data yang sebenarnya tentang gambaran perkembangan hasil belajar siswa. Asesmen otentik (Authentic Assessment) pada pembelajaran matematika tidak hanya mengukur ranah kognitif saja namun juga afektif dan psikomotorik siswa. Penilitian ini merupakan penilitian deskriptif eksploratif yang digunakan berupa angket. Penilitian dilaksanakan pada bulan Januari 2007. Subjek penelitian adalah seluruh guru matematika kelas XI di SMAN se-Kabupaten Pasuruan yang berjumlaj 19 orang. Analisis data secara deskriptif menggunakan prosentase (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru matematika di SMAN se-Kabupaten Pasuruan telah melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi (100%). dan dengan mengetahui adanya perbedaan antara kurikulum berbasis kompetensi dengan kurikulum 1994 (100%) dalam hal penilaian yaitu bahwa 78.95% menyatakan perbedaan yang ada pada Kurikulum Berbasis Kompetensi terletak pada sistem penilaian yang lebih menekankan proses dan hasil belajar siswa yang melibatkan 3 ranah pendidikan, maka pemahaman guru terhadap KBK dan asesmen otentik sudah “baik”. Sedangkan dalam menerapkan Asesmen Otentik, sekitar 84.21% sudah melaksanakan dan hanya 15.79% yang belum melaksanakan sepenuhnya. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan kepada instansi terkait yaitu Depdiknas Kabupaten Pasuruan untuk meninjau kembali sosialisasi KBK yang sudah dilaksanakan, baik dari segi kuantitas dan kualitas. Selain itu, guru sebaiknya diberi informasi yang cukup terutama dalam hal teknik penilaiannya dan disertai dengan contoh format penilaian, sehingga guru benar-benar melaksanakan KBK dengan baik sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana yang telah ditetapkan.

Hasil pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning/CTL) dengan model TGT (Teams Games Tournament) pada mata pelajaran akuntansi SMK PGRI 2 Malang / Asma Yulis Setiyawati

 

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menuntut adanya perbaikan kualitas sistem pendidikan nasional. Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan komponen dan tujuan utama yang sangat mempengaruhi keberhasilan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dapat berdampak positif terhadap hasil belajar akuntansi siswa. Penerapan asas masyarakat belajar (Learning Community) dalam CTL (Contextual Teaching and Learning) dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui pembelajaran model TGT (Teams Games Tournament). Berdasarkan permasalahan tersebut, dicobakan metode pembelajaran kontekstual dengan model TGT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan sesudah pembelajaran kontekstual model TGT (Teams Games Tournament) pada mata pelajaran akuntansi perusahaan jasa pada siswa kelas 1 Ak1 SMK PGRI 2 Malang jurusan akuntansi. Penelitian ini dibatasi pada mata pelajaran siklus akuntansi perusahaan jasa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan membandingkan skor perkembangan siswa berdasarkan nilai kemampuan awal (Pre test) dan nilai kemampuan akhir (post test) siswa kelas eksperimen. Adapun sikap dan ketrampilan siswa diukur melalui observasi selama pembelajaran berlangsung. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1 Ak1 SMK PGRI 2 Malang. Kelas 1 Ak1 dibagi menjadi 2 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 22 siswa dimana penetapan masing-masing kelompok berdasarkan presensi. Kelompok 1 dijadikan sebagai kelas uji coba tes (pilot test) dan kelompok 2 dipilih sebagai kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran kontekstual model TGT. Analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t. Hasil analisis diperoleh thitung sebesar 7,488 sedangkan ttabel sebesar 2,080 dengan tingkat signifikansi (0,000) < (0,05) maka Ho ditolak atau ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah diberi perlakuan dengan model TGT. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah diberi perlakuan (post test) lebih baik daripada hasil belajar siswa sebelum diberi perlakuan (pre test),hal ini karena siswa telah belajar di rumah sebelum mengikuti pelajaran di sekolah, dan siswa telah mempersiapkan materi sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan untuk melakukan penelitian pada subyek yang lebih banyak, dan menggunakan 2 kelas sebagai pembanding yaitu kelas kontrol dan eksperimen.

Implementasi PMRI dalam pembelajaran luas permukaan dan volume bangu ruang di kelas VII E SMP Negeri 18 Malang / Nurwahidah

 

Penerapan sistem persamaan diferensial homogen dengan metode matriks pada proses sirkulasi albumin / Rahiqim Machtum

 

Pengelolaan layanan khusus bidang transportasi untuk menunjang proses pembelajaran: studi kasus di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang / Novita Indriastuti Suryaningrum

 

Hubungan antara kemampuan matematika dan motivasi belajar dengan prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang tahun ajaran 2006/2007 / Ivana Rahmah

 

Beberapa referensi dan penelitian menyatakan bahwa motivasi merupakan faktor yang penting untuk mendukung pencapaian prestasi belajar. Siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi akan mudah untuk mencapai prestasi belajar yang bagus. Keadaan ini berbeda dengan yang terjadi di SMA Negeri 4 Malang. Saat observasi, dijumpai beberapa kasus yang kurang mendukung hasil penelitian tersebut. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi, prestasi belajar fisika yang diperoleh justru kurang bagus. Oleh karena itu dicoba untuk mencari faktor lain yang cukup dominan yang mempengaruhi prestasi belajar fisika. Merujuk pada hakekat fisika yang hampir semua materi fisika memerlukan dasar-dasar matematika sebagai alat bantu untuk memahami konsep fisika, maka dianggap bahwa faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar fisika adalah kemampuan matematika yang dimiliki oleh siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui manakah yang memberikan sumbangan lebih besar antara kemampuan matematika dan motivasi belajar dengan prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang tahun ajaran 2006/2007. Penelitian ini merupakan penelitian expost facto. Variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah kemampuan matematika dan motivasi belajar sebagai variabel bebas, serta prestasi belajar fisika sebagai variabel terikat. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang yang berjumlah 6 kelas. Kelas sampel diambil secara acak yaitu kelas X-1, X-2, dan X-3 yang berjumlah 132 siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket motivasi belajar dengan bentuk skala likert dan soal tes prestasi belajar fisika dengan bentuk soal pilihan ganda. Data kemampuan matematika diambil dari nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) matematika SMP. Analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Dari hasil penelitian didapatkan nilai R2 sebesar 0.12. Hal ini berarti prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang dipengaruhi oleh kemampuan matematika dan motivasi belajar sebesar 12 %. Dari nilai Sumbangan Efektif (SE) dan Sumbangan Relatif (SR) dapat diketahui variabel bebas mana yang lebih berpengaruh terhadap variabel terikat. Nilai SE dan SR motivasi belajar masing-masing sebesar 7.22 %dan 62.25 % yang lebih besar dari nilai SE dan SR kemampuan matematika masing-masing besarnya 4.38 % dan 37.75 %. Hal ini berarti motivasi belajar lebih berpengaruh daripada kemampuan matematika terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang.

Pengembangan panduan pembelajaran pengenalan air dan renang gaya crawl untuk anak-anak usia TK / Roni Kurjaya

 

Dalam proses pembelajaran renang, hal yang terpenting adalah pengenalan air dan tahapan pembelajaran yang benar. Bila dalam suatu pembelajaran renang tidak melakukan kedua kegiatan tersebut, tujuan pembelajaran pasti tidak akan dapat tercapai dengan baik. Namun sebelum melakukan kedua kegiatan tersebut seorang pengajar renang harus mengetahui manfaat renang bagi tubuh, prinsip-prinsip dalam belajar renang dan etika dalam pembelajaran renang. Untuk menambah pengetahuan tentang pembelajaran renang tersebut, seorang pengajar dapat belajar dari beberapa sumber seperti: pengalaman, buku maupun dari kaset video. Berdasarkan hal tersebut peneliti mengembangkan VCD instruksional panduan pembelajaran pengenalan air dan renang gaya crawl untuk anak-anak usia TK. Panduan pembelajaran ini menampilkan tentang beberapa cara pengenalan air dan tahapan pembelajaran renang gaya crawl untuk anak usia TK, untuk pengenalan air di antaranya adalah: berjalan di bibir kolam, duduk dan tengkurap di bibir kolam sambil menggerakkan kedua kaki, masuk dan berdiri di dalam kolam, membasuh muka, berjalan di dalam kolam, bermain tembak air dengan mulut, membuat lubang di permukaan air, bermain busa/bola air, bermain menyelam, lomba lari/jalan di dalam kolam, melakukan peperangan air, menyundul balon di air dan bermain sendiri, sedangkan untuk tahapan pembelajaran renang gaya crawl meliputi: latihan mengapung, gerakan kaki, meluncur, koordinasi gerakan kaki dan tangan, latihan nafas, dan koordinasi gerak secara keseluruhan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran yaitu berupa VCD instruksional panduan pembelajaran pengenalan air dan renang gaya crawl untuk anak-anak usia TK, yang nantinya dapat bermanfaat bagi guru TK dan pelatih renang. Dengan adanya VCD instruksional ini diharapkan dapat membantu guru TK dan pelatih renang dalam proses pembelajaran renang yang dilakukannya. Pengembangan panduan pembelajaran ini menggunakan modul pengembangan yang dikemukakan oleh Sadiman, yang dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1) penentuan Ide, yaitu dengan pengumpulan informasi melalui analisis kebutuhan sebagai landasan pemikiran guna membuat konsep, 2) pembuatan naskah tentang langkah-langkah pembelajaran pengenalan air dan pengenalan renang gaya crawl dengan urutan yang logis, 3) evaluasi produk oleh ahli, 4) revisi produk I, dilakukan oleh 4 ahli, yaitu: 1 ahli media dan 3 ahli renang, 5) produksi prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video), 6) uji coba Prototipe, pengujian terhadap subjek lapangan (ujicoba tahap I dan II), 7) revisi produk II, revisi dilakukan oleh ahli untuk memperbaiki produk yang dihasilkan, 8) reproduksi, penyempurnaan produk yang akan dihasilkan yaitu produk final VCD instruksional panduan pembelajaran pengenalan air dan renang gaya crawl untuk anak-anak usia TK. Lokasi penelitian ini dilakukan di 2 TK yaitu TK Pembina dan TK Sunan Kalijaga. Subyek uji coba dari pengembangan ini terdiri dari: 1) tinjauan dari satu ahli media dan tiga ahli/pelatih renang, 2) uji coba kelompok kecil adalah 4 guru TK, dari TK Pembina yang diambil secara random sampling dan uji coba lapangan adalah 12 guru TK, 6 dari TK Pembina dan 6 dari TK Sunan Kalijogo. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berbentuk angket evaluasi untuk ahli media, ahli/pelatih renang, dan guru TK. Analisis data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah persentase. Dari pengembangan dan prosedur yang dilakukan di atas, diperoleh kesimpulan bahwa VCD panduan pembelajaran pengenalan air dan renang untuk anak-anak usia TK ini dapat digunakan dan dipraktekkan oleh guru TK/pelatih renang dalam kegiatan renang pada anak didiknya. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil yang sudah memenuhi kriteria cukup valid yaitu untuk ahli media memperoleh 68,33% dan setelah dilakukan revisi memenuhi kriteria valid dari ahli media yaitu memperoleh 80%, memenuhi kriteria valid untuk ahli/pelatih renang yaitu memperoleh 82,41%, memenuhi kriteria valid untuk guru TK (uji coba tahap I) memperoleh 82,5%, dan memenuhi kriteria valid untuk guru TK (uji coba tahap II) memperoleh 86,90%. Produk pengembangan panduan pembelajaran ini sebaiknya digunakan sebelum melakukan pembelajaran renang pada anak usia TK, hal ini dilakukan untuk menambah pengetahuan pengajar dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Karena di dalam produk pengembangan ini berisi tentang beberapa cara pengenalan air dan tahapan-tahapan pembelajaran renang gaya crawl yang dapat dilakukan pada anak usia TK.

Perkembangan undang-undang partai politik di Indonesia dalam perspektif demokratisasi di era reformasi / Siti Munawaroh

 

Gelombang reformasi telah mengakibatkan munculnya bermacam-macam aspirasi, diantaranya terjadi pergerakan rakyat untuk menciptakan suasana yang demokratis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada semacam luapan kegembiraan dengan tuntutan kebebasan politik yaitu pembentukan partai-partai baru di Indonesia. Untuk menuju demokratisasi, partai politik memainkan peranan penting dalam proses perwakilan dalam penyelenggaraan negara. Dengan demikian, penataan kepartaian harus bertumpu pada kaidah-kaidah kedaulatan rakyat, yaitu memberikan kebebasan, kesetaraan dan kebersamaan Di era reformasi ini terdapat dua undang-undang partai politik yang telah disahkan oleh negara, yaitu UU No.2 tahun 1999 dan UU No.31 tahun 2002. Perkembangan undang-undang partai politik tersebut mengikuti perkembangan demokratisasi di Indonesia. Permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimana perkembangan undang-undang partai politik di Indonesia dalam perspektif demokratisasi di era reformasi. Tujuannya untuk mendeskripsikan bagaimana perkembangan undang-undang partai politik di Indonesia dalam era reformasi dan menganalisis perkembangan undang-undang partai politik di Indonesia dalam perspektif demokratisasi di era reformasi. Penulisan kajian ini menggunakan teknik library research. Metode yang digunakan adalah (1) studi pustaka, (2) dokumentasi, (3) metode komparatif dan (4) analisis. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pada era reformasi terdapat dua undang-undang partai politik yaitu UU No.2 tahun 1999 dan UU No.31 tahun 2002. Pembentukan partai politik menurut UU No.31 tahun 2002 lebih ketat dibandingkan UU No.2 tahun 1999, karena partai politik harus memiliki kepengurusan di 50% jumlah provinsi, 50% jumlah kabupaten/kota dari provinsi yang bersangkutan dan 25% jumlah kecamatan dari kabupaten/kota yang bersangkutan. Pengawasan terhadap partai politik menurut UU No.2 tahun 1999 dilakukan oleh pemerintah, sedangkan menurut UU No.31 tahun 2002 dilakukan oleh Depkeh dan HAM, KPU, Depdagri. Dalam UU No.31 tahun 2002 diatur tentang peradilan perkara partai politik, yang tidak diatur dalam UU No.2 tahun 1999. Secara demokratis terdapat kebebasan mendirikan partai politik, kebebasan membentuk kepengurusan hingga tingkat desa, kebebasan memilih keanggotaan partai, persamaan kedudukan partai politik, keterbukaan keuangan partai politik dan kemandirian pengadilan menilai kehidupan partai politik yang diatur dalam UU No.2 tahun 1999. Demokratisasi dalam UU No.31 tahun 2002 memuat ketentuan yang akuntabilitas dan transparansi sumbangan-sumbangan yang diterima partai politik. Unsur-unsur demokrasi yang ada dalam UU No.2 tahun 1999 dan UU No.31 tahun 2002 adalah kedaulatan rakyat, transparansi, keadilan, aspirasi, tanggung jawab dan perlakuan tidak diskriminatif. Dari unsur-unsur tersebut terlihat jelas bahwa UU No.31 tahun 2002 lebih demokratis karena pada unsur keadilan, aspirasi, tanggung jawab dan perlakuan tidak diskriminatif lebih mengutamakan kepentingan anggota partai politik, masyarakat, bangsa dan negara demi terwujudnya demokratisasi di Indonesia. Berdasarkan hasil kajian ini, dapat disarankan agar undang-undang partai politik lebih bersifat demokratis yang secara nyata mewujudkan kedaulatan rakyat demi terwujudnya masyarakat adil, makmur dan mandiri berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XI pada materi pokok struktur atom dan sistem periodik, bentuk molekul, dan gaya antar molekul / Imelda Widya Kusdwiyulivia

 

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah melalui peningkatan kualitas pendidikan. Upaya tersebut diantaranya dapat dilakukan melalui penyempurnaan kurikulum. Dewasa ini, pemerintah telah menerapkan kurikulum baru yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP diharapkan terciptanya pembelajaran yang aktif dimana siswa membangun pengetahuannya sendiri, pembelajaran yang bermakna, dan pembelajaran yang dapat mengaitkan materi yang akan dipelajari siswa dengan kehidupan nyata. Harapan tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Untuk melaksanakannya, diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional sehingga dapat digunakan sebagai pedoman guru dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk berupa perangkat pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual serta mengetahui kesesuaian dan kelayakan perangkat pembelajaran tersebut untuk dapat diterapkan di SMA/MA. Metodologi dalam penelitian ini diawali dengan survai kondisi lapangan, dilanjutkan dengan pengembangkan perangkat pembelajaran, dan dilakukan validasi. Pengembangan produknya dilakukan berdasarkan model pengembangan rancangan pengajaran Dick & Carey. Langkah-langkah pengembangan Dick & Carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melaksanakan analisis materi pokok, mengidentifikasi kemampuan awal siswa, menuliskan tujuan pembelajaran khusus, menyusun tes acuan kriteria, memilih strategi pembelajaran, menyusun perangkat pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi formatif (validasi), melakukan revisi, dan memproduksi perangkat pembelajaran. Desain uji coba penelitian meliputi validasi formatif dan sumatif. Akan tetapi dalam penelitian pengembangan ini hanya dilakukan validasi formatif yang dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Penelitian pengembangan ini menghasilkan perangkat pembelajaran yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan panduan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang terdiri dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, instrumen penilaian, dan buku guru. Bagian kedua berisi buku siswa dan lembar kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil validasi dari validator diperoleh kesimpulan bahwa skor yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 85,25 % dengan kriteria valid/baik/layak. Dengan demikian, dapat disarankan agar dilakukan validasi empirik terhadap perangkat pembelajaran tersebut untuk mengetahui keefektifannya dalam pembelajaran di sekolah.

Pengaruh customer delight terhadap active dan passive loyalty (studi kasus pada konsumen EF English First Malang) / Adityo Gunawan

 

Penelitian tentang kepuasan konsumen telah banyak dilakukan, tetapi tidak demikian halnya pada konsep customer delight. Beberapa ahli menyatakan bahwa konsumen yang merasa delight akan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat konsep baru, yaitu customer delight dan membuktikan pengaruhnya baik secara parsial maupun simultan terhadap active dan passive loyalty konsumen. Penggunaan dua dimensi loyalitas diharapkan lebih dapat memprediksi pengaruh customer delight terhadap penyebaran word-of-mouth, dan kecenderungan konsumen untuk tetap bertahan bersama perusahaan dalam perubahan situasi pasar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasional deskriptif. Pengambilan responden sebanyak 90 orang konsumen EF English First Malang dilakukan dengan teknik simple random sampling. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisa regresi berganda. Dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa variabel-variabel customer delight yaitu justice, esteem, dan finishing touch secara parsial dan simultan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap active dan passive loyalty konsumen. Lebih lanjut ditemukan dalam penelitian ini, bahwa secara parsial, variabel finishing touch memiliki pengaruh paling dominan terhadap active dan passive loyalty. Semakin tinggi perusahaan dapat meningkatkan variabel finishing touch maka active dan passive loyalty konsumen akan meningkat secara signifikan, dibandingkan peningkatan oleh variabel justice dan esteem. Sementara secara simultan customer delight memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap active loyalty dibanding passive loyalty . Dalam aplikasinya, pencapaian customer delight akan mempengaruhi loyalitas konsumen baik itu penyebaran word-of-mouth yang positif oleh konsumen, ataupun kesediaan untuk tetap bertahan dengan perusahaan dalam berbagai situasi. Adanya perhatian terhadap hal-hal yang sifatnya accidental, manajemen recovery yang baik dan bagaimana perusahaan dapat mengantisipasi persepsi konsumen sehingga mereka merasa surprised merupakan faktor terpenting dalam konsep customer delight. Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat disarankan agar pihak EF English First Malang dapat lebih memperhatikan adanya keluhan dari konsumen. Selain itu, kemampuan staff EF English First untuk menangani dengan baik pertanyaan, permintaan dan keluhan yang sifatnya tidak terduga, dapat meningkatkan loyalitas konsumen.

Efektivitas pembelajaran kooperatif model jigsaw terhadap peningkatan prestasi belajar fisika pada siswa kelas X SMAN 11 Malang / Dina Susiana

 

Implementasi paket pembelajaran dengan model siklus belajar 5E dalam upaya meningkatkan keterampilan bertanya guru dan hasil belajar siswa SMPN 4 Malang / Lailis Saadah

 

Observasi awal pada pembelajaran fisika yang dilaksanakan di kelas 7-C SMPN 4 Malang, ditemukan beberapa masalah. Permasalahan tersebut yaitu guru belum dapat menyebarkan pertanyaan pada seluruh siswa, dan guru juga masih banyak mengajukan pertanyaan tertutup, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan siswa juga kurang siap menerima materi pembelajaran. Permasalahan selanjutnya adalah hasil belajar kognitif siswa yang masih rata-rata yaitu sebesar 60,42 dan guru belum dapat melaksanakan penilaian hasil belajar afektif dan psikomotorik dengan optimal. Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu dilakukan tindakan untuk mengatasinya, yaitu dengan implementasi paket pembelajaran dengan model siklus belajar 5E. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bertanya guru dan hasil belajar siswa pada pembelajaran menggunakan paket pembelajaran dengan model siklus belajar 5E. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK), yang dirancang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dengan model siklus belajar 5E, lembar observasi keterampilan bertanya guru, tes yang terdiri dari ulangan harian, pre-test dan post-test, dan rubrik penilaian afektif dan psikomotorik siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mempersentase untuk data ketercapaian pembelajaran dengan model siklus belajar 5E, keterampilan bertanya guru dan hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa dan data hasil belajar kognitif siswa dengan gain score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran dengan model siklus belajar 5E sudah terlaksana 100% dan ketercapaiannya meningkat pada tiap siklus yaitu siklus I sebesar 75,39% dan pada siklus II sebesar 89,45%. Keterampilan bertanya guru mengalami peningkatan, dapat dilihat dari pertanyaan pertanyaan terbuka yang diajukan oleh guru meningkat dan guru semakin terampil menggunakan keterampilan bertanya dasar. Hasil belajar kognitif siswa dari nilai pre-test dan post-test meningkat, yaitu pada siklus I didapatkan gain sebesar 0,30 dan pada siklus II didapatkan gain sebesar 0,38 yang keduanya termasuk dalam dalam kategori sedang. Hasil belajar afektif siswa meningkat ketercapaiannya pada tiap indikator, yaitu kerjasama dalam kelompok sebesar 12,5%, keaktifan melakukan praktikum 7%, keberanian bertanya dan menjawab sebesar 19,9%. Hasil belajar psikomotorik siswa ketercapaiannya meningkat pada masing-masing indikator, yaitu kemampuan menyusun alat sebesar 8,5%, kemampuan melakukan praktikum sebesar 4,8%, dan ketelitian membaca alat ukur sebesar 5,5% . Dapat disimpulkan bahwa implementasi paket pembelajaran dengan model siklus belajar 5E dapat meningkatkan keterampilan bertanya guru dan hasil belajar siswa.

Pengaruh selisih inflasi Indonesia dengan Thailand terhadap nilai tukar rupiah dengan baht (THB) tahun 2004 s/d/ 2006 (pengujian paritas daya beli relatif) / Abdullah

 

Paritas Daya Beli adalah teori yang menyatakan bahwa nilai tukar akan menyesuaikan diri dari waktu ke waktu untuk mencerminkan selisih inflasi antara dua negara, akibat dari daya beli konsumen untuk membeli produk-produk luar negeri. Dimana teori paritas daya beli relatif menyatakan bahwa laju perubahan indeks harga di dua negara akan hampir sama jika diukur memakai valuta yang sama, sepanjang biaya transportasi dari hambatan-hambatan perdagangan tidak berubah. Selisih inflasi adalah selisih antara tingkat inflasi di Indonesia dengan inflasi di Thailand. Sedangkan kurs adalah harga mata uang suatu Negara dalam unit komoditas (seperti emas, dan perak) atau mata uang Negara lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah selisih tingkat inflasi akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah sesuai dengan doktrin paritas daya beli relatif (PPP). Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas (selisih tingkat inflasi) dan variabel terikat (nilai tukar rupiah). Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi dan sampel adalah nilai tukar mata uang Thailand yaitu Baht Thailand (THB) dan nilai tukar mata uang Indonesia yaitu Rupiah (Rp) selama tahun 2004 s/d 2006 atau 36 bulan. Data yang digunakan dalam penelitian ini dari laporan tahunan Bank Indonesia dengan alamat website (www.bi.go.id) dan dari buletin bulanan harga komoditas pertanian Departemen Pertanian dengan alamat website (www.deptan.go.id). Guna menguji keabsahan teori Paritas Daya Beli Relatif dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana, yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan antara selisih tingkat inflasi dengan nilai tukar Rupiah. Hasil dari penelitian pengaruh selisih inflasi Indonesia dengan Thailand terhadap nilai tukar Rupiah dengan Baht Thailand (THB) tahun 2004 s/d 2006, menunjukan bahwa selisih tingkat antara Indonesia dengan Thailand tidak memiliki pengaruh terhadap nilai tukar Ruupiah dengan THB pada tahun 2004 s/d 2006 dan tidak memiliki hubungan yang positif, hal ini ditunjukan oleh nilai t-hitung sebesar -0.141 dengan signifikansi 0.889. Disarankan untuk pengujian paritas daya beli berikutnya agar memperhatikan dalam pengambilan jumlah sampel, mengingat hanya satu sampel yang digunakan dalam penelitian ini dan disarankan juga dalam penelitian berikutnya agar menggunakan metode yang berbeda dalam pengujiannya.

Aplikasi teori graph dengan menggunakan maximum flow sebagai upaya mengoptimalkan volume aliran air pada jaringan pipa PDAM daerah Sawojajar blok H-1 / Sri Syahadatina Oktavianty

 

Teori graph merupakan salah satu cabang matematika yang penting dan banyak manfaatnya dalam memecahkan masalah sehari-hari. Salah satu teori graph yang diterapkan adalah masalah maksimum flow, yaitu bagaimana mencari besar penugasan aliran pada suatu jaringan kerja sehingga aliran yang sampai ke tujuan maksimal. Penyelesaian masalah maximum flow dapat diselesaikan dengan menggunakan tiga algoritma yaitu Algoritma Pelabelan Aka, Algoritma Lintasan Penambah, dan Algoritma Preflow Push. Untuk Algoritma Pelabelan Aka telah dikerjakan pada skripsi terdahulu, operasi dasar algoritma Pelabelan Aka yaitu berulang-ulang mencari suatu lintasan dari titik sumber ke titik tujuan dan menghitung nilai kapasitas sisaannya yang digunakan untuk mengembangkan aliran pada lintasan yang terpilih. Perulangan berhenti jika tidak ada lagi lintasan dan titik sumber ke tujuan. Pada skripsi kali ini untuk menyelesaikan masalah maximum flow akan digunakan Algoritma Lintasan Penambah. Pengerjaan Algoritma Lintasan Penambah lebih sederhana dibandingkan dengan Algoritma Pelabelan Aka. Prosesnya diawali dengan merubah graph dasar kedalam bentuk suatu jaringan kerja dengan memberikan aliran awal pada setiap sisi sebesar 0 barulah dapat melakukan langkah pertama yaitu pilih terlebih dahulu lintasan yang akan dilalui yang berasal dari titik sumber ke titik tujuan, langkah kedua cari kapasitas sisaan dari lintasan penambah dengan cara mencari nilai MIN (Δ) pada lintasan yang terpilih, langkah ketiga kurangkan kapasitas sebesar Δ dan tambahkan aliran sebesar Δ pada setiap sisi yang berada pada lintasan yang dipilih. Setelah tidak ada lagi lintasan yang dipilih maka lintasan tersebut telah mencapai nilai maksimum. Untuk mempermudah penyelesaian masalah maximum flow dengan algoritma Pelabelan Aka dan Algoritma Lintasan Penambah digunakan komputer dengan program GIDEN dan Grin. Penyelesaian dengan menggunakan Algoritma Lintasan Penambah dapat diterapkan untuk mengoptimalkan volume aliran air pada jaringan pipa PDAM daerah Sawojajar Blok H-1. Dengan Algoritma Lintasan Penambah dapat diketahui bahwa aliran dapat dicapai secara maksimum dalam 5 iterasi dengan hasil maximum flow sebesar 13 m3/ jam.

Rancangan pembelajaran matematika dengan pendekatan RME materi bilangan pecahan untuk siswa SMP kelas VII semester 1 / Dian Dwi Yuliana

 

ABSTRAK Yuliana, Dian Dwi.2007. Rancangan Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan RME Materi Bilangan Pecahan Untuk Siswa SLTP Kelas VII Semester 1. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A (II) Dra. Sri Mulyati M.Pd Kata kunci : rancangan pembelajaran, pembelajaran matematika realistik. Penyusunan rancangan pembelajaran dan uji coba ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran matematika realistik pada materi bilangan pecahan siswa kelas VII semester 1 SLTP Negeri 2 Gampengrejo Kediri. Pada uji coba ini berupaya untuk mengatasi permasalahan berikut : 1. Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik mampu meningkatkan tingkah laku dan kegiatan siswa dalam proses pembelajaran pada siswa kelas VII semester 1? 2. Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bilangan pecahan? Uji coba ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Sedangkan pelaksanaannya sendiri dibagi dalam tiga tahapan yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Berdasarkan hasil uji coba dapat disimpulkan bahwa : 1) pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik mampu meningkatkan tingkah laku dan kegiatan siswa selama proses pembelajaran ; 2) diperoleh skor yang baik dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan RME pada materi bilangan pecahan.

Learning strategies employed by a successful learner of English as a foreign language: a case study / Nurul Yuliani Setyaningrum

 

This study focuses on the language learning strategies employed by a successful EFL learner. This is important to study since there are not many studies that specifically deal with this issue, particularly a model of learning strategies of Indonesian successful learner in secondary level. In addition to that, a model of good language learners could provide a basis for developing autonomous learners. This study used descriptive qualitative design because it involved describing, recording, analyzing, and interpreting of condition that exist, which in this case was the learning strategies employed by a successful EFL learner. The subject of this study was an Indonesian successful EFL learner. The subject was a second grade female student of a public senior high school in Malang. The selection of the subject was done purposively based on some indicators of success such as her grades in every semester and achievements in some English competitions. The English teachers’ comments about the subject’s English performance also became consideration. The data were collected by asking the subject to write a self report and by doing interviews. The subject’s self-report and the result of the interview were analyzed using coding categories. After being categorized, the data were then synthesized and interpreted to get a conclusive description of learning strategies employed by the subject. The study showed that the subject employed both cognitive strategies and metacognitive strategies. In terms of the cognitive strategies, the subject used some techniques, such as repetition, resourcing, directed physical response, note taking, translation, and deduction. The cognitive strategy techniques which were not mentioned by the subject were, summarizing, grouping, and recombining. For the metacognitive strategies, the subject used some techniques such as, self-management, self-monitoring, self-evaluation, advance organizer, directed attention, and selective attention. In metacognitive strategies, delayed production technique was not used by the subject. Based on the result of the study, it is recommended that English teachers create teaching and learning activities which can develop effective learning strategies in their class. It is also recommended that less successful students try to develop kinds of learning strategies and further apply such strategies in their learning activities. For the other researchers, since this study is limited to one successful learner, a similar study with more samples is suggested to be conducted to produce a more comprehensive result. Furthermore, it is also expected that other studies can investigate other kinds of learning strategies to provide more information on various strategy models of good language learners.

Penerapan problem based learning melalui pembelajaran kooperatif model STAD untk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi sistem reproduksi di kelas CI SMA Al-Ma'arif Mataram / M. Harja Efendi

 

Guru merupakan salah satu kompenen yang sangat menentukan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran menurut kurikulum KTSP mensyaratkan guru perlunya perubahan paradigma dalam pembelajaran. Perubahan tersebut dapat terjadi jika ada kemauan dan kemampuan guru untuk mengimplementasikan kurikulum secara baik dan benar. Perubahan yang terjadai adalah guru harus mampu merubah perannya dari seorang pemimpin di kelas menjadi seorang fasilitator, moderator, pembimbing dan kawan belajar bagi siswa. Dengan demikian guru harus mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan dan selalu memotivasi siswa, sehingga tanggung jawab belajar berada pada siswa. Cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah guru harus berani untuk mencoba menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang inovatif. Salah satu strategi pembelajaran yang inovatif adalah pembelajaran yang berorientasi pada pandangan konstruktivis seperti pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan strategi pembelajaran yang menitik beratkan pada aktivitas siswa dalam belajar, karena siswa belajar dengan teman sekelompoknya. Keadaan ini menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar baik secara individu maupun kelompok. Selain itu dapat menciptakan susana belajar yang kondusif dan sangat efektif untuk membina hubungan di antara siswa dalam kelompok. Keuntungan lainnya siswa mampu mengingat hasil belajar lebih lama dan dapat meningkatkan hasil belajar. Problem based learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang authentik sehingga siswa membuat hubungan-hubungan yang dimilikinya dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan problem based learning melalui pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi sistem sistem Reproduksi di kelas XI SMA AL-Ma’arif Mataram. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses dan hasil penerapan pembelajaran problem based learning dengan strategi belajar kooperatif model STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Al-Maarif Mataram yang berjumlah 23 siswa pada tahun pelajaran 2006-2007 semester genap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses belajar siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. Pada siklus 1 mencapai 68,6% sedangkan pada siklus II mencapai 80,0%. Hasil belajar siswa pada siklus 1 mencapai 80,0% sedangkan pada siklus 2 mencapai 82,17%. Adapun hasil analisis terhadap sikap siswa terhadap strategi pembelajaran, menunjukkan bahwa rerata sikap siswa terhadap penerapan problem based learning melalui kooperatif STAD sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada guru biologi dan guru bidang studi lainnya untuk dapat menerapkan pembelajaran problem based learning dan strategi pembelajaran model STAD dalam pembelajaran karena dapat meningkatkan pemahaman siswa baik dari segi proses belajar maupun dari segi hasil belajar.

Perbedaan kinerja keuangan dan harga saham sebelum dan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Jakarta (periode tahun 1998-2006) / Fitria Yuniastuti

 

Dalam dunia usaha tedapat salah satu cara untuk memperbesar perusahaan yaitu dengan akuisisi. Dengan bergabungnya dua perusahaan atau lebih maka akan menunjang kegiatan, sehingga keuntungan yang diperoleh akan semakin besar dibanding mereka melakukan usaha sendiri. Disamping keuntungan yang didapatkan dari melakukakan penggabungan usaha tersebut diatas, maka harus diperhatikan akibat lain yang dikarenakan adanya penggabungan usaha misalnya dengan dilakukannya penggabungan usaha, maka akan meningkatkan harga saham dari perusahaan yang bersangkutan atau malah sebaliknya, dengan dilakukannya penggabungan usaha akan menurunkan harga saham. Untuk itu dalan memutuskan untuk melakukan penggabungan usaha benar-benar dipertimbangkan cara yang mana yang akan ditempuh oleh pihak manajemen. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui kinerja keuangan sebelum akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta, (2) Untuk mengetahui kinerja keuangan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta, (3) Untuk mengetahui harga saham sebelum akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta, (4) Untuk mengetahui harga saham sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta, (5) Untuk mengetahui Perbedaan kinerja keuangan sebelum dengan sesudah akuisisi, (6) Untuk mengetahui Perbedaan harga saham sebelum dengan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta. Hipotesis penelitian ini ada 2 yakni (1) diduga bahwa terdapat Perbedaan kinerja keuangan sebelum dengan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta (2) diduga bahwa terdapat Perbedaan harga saham sebelum dengan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta.Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t (Paired Two Samples for Means) dengan nilai  sebesar 5 % atau 0,05. sebelum dilakukan analisis data diuji nolmalitas data dengan menggunakan Smirnow Goodness of Fit Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan manufaktur pada periode sebelum akuisisi dinilai dari segi likuiditas mayoritas memiliki kinerja keuangan yang sehat. Jumlah perusahaan yang memiliki likuiditas yang baik lebih sedikit dibandingkan klasifikasi rendah dan tinggi. Perusahaan dalam klasifikasi sedang dinilai dari solvabilitas dan profitabilitas lebih besar. Hal ini menunjukkan sebagian perusahaan mampu menciptakan peningkatan kepercayaan bagi investor.Kinerja keuangan manufaktur pada periode sesudah akuisisi dinilai dari segi likuiditas mayoritas memiliki kinerja keuangan yang sehat. Dari segi likuiditas mayoritas cukup baik. Dinilai dari segi solvabilitas dan profitabilitas mayoritas lebih besar. Hasil uji statistik antara kinerja keuangan sebelum dan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan. Hasil uji statistik antara harga saham sebelum dan sesudah akuisisi pada perusahaan manufaktur yang listing dibursa efek Jakarta menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan. Dengan penelitian ini diharapkan perusahaan yang akan melakukan akuisisi sebaiknya lebih matang dan siap untuk melakukan akuisisi baik dari segi modal perusahaan maupun kemampuan manajemen perusahaan. Bagi calon investor harus mempertimbangkan keputusannya sebelum melakukan investasi pada perusahaan yaitu dengan cara melihat kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan. Serta bagi penelitian selanjutnya, hendaknya dapat memperpanjang periode penelitian dan menambah sampel sehingga hasil yang lebih akurat dapat diperoleh.

Hubungan antara kualitas layanan pusat kebugaran dan tingkat kepuasan pelanggan senam aerobik se-kecamatan Klojen Kota Malang / Oktiami

 

Kualitas layanan pusat kebugaran memegang peranan penting dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) seberapa tinggi kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan senam erobik, (2) seberapa tinggi tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan di pusat kebugaran se-Kecamatan Klojen, (3) hubungan antara kualitas layanan dan tingkat kepuasan pelanggan senam erobik di pusat kebugaran se-Kecamatan Klojen. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas layanan pusat kebugaran yang terdiri dari bukti fisik, bukti kehandalan, bukti jaminan, bukti daya tanggap, dan bukti empati. Sedangkan variabel terikat adalah tingkat kepuasan pelanggan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan deskriptif korelasional, yang dilakukan di 5 pusat kebugaran se-Kecamatan Klojen. Data dikumpulkan dengan angket/kuesioner dan dianalisis dengan teknik deskriptif dan korelasional. Sampel penelitian ini adalah pelanggan senam erobik di 5 pusat kebugaran se-Kecamatan Klojen yang berjumlah 61 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan senam erobik pada kategori sangat tinggi dengan persentase 96,988%, (2) tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan di pusat kebugaran se-Kecamatan Klojen pada kategori sangat tinggi dengan persentase 96,988%, (3) ada hubungan positif yang signifikan antara kualitas layanan dengan tingkat kepuasan pelanggan senam erobik dengan koefisien determinasi berganda R² = 0,584 (p = 0,000 < 0,05) yang berarti 58,4% tingkat kepuasan dapat dipengaruhi oleh adanya kualitas layanan. Saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian ini antara lain kepada: (1) para pengelola pusat kebugaran; dari hasil penelitian disebutkan bahwa tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan di pusat kebugaran se-Kecamatan Klojen pada kategori sangat tinggi, hendaknya hal ini dipertahankan dan diusahakan agar tidak menurun. (2) Jurusan Ilmu Keolahragaan; hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan jurusan, dalam hal pengelolaan sanggar senam dan fitness yang lebih baik. (3) peneliti lain; hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai acuan apabila peneliti lain berminat lebih lanjut meneliti tentang manajemen layanan di fitness center dengan populasi dan latar yang berbeda.

Penerapan metode nearest insertion heuristic pada vehicle routing problem with time window / Atik Wijayanti

 

Masalah distribusi adalah bagian dari permasalahan penyediaan barang dan atau jasa dari depot (pusat distribusi) ke customer yang tersebar diberbagai lokasi. Kondisi lokasi customer yang tersebar, seringkali menyebabkan kendaraan harus menempuh perjalanan yang jauh dan tidak efisien. Salah satu konsep pada teori graph yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah Vehicle Routing Problem (VRP). Dalam skripsi ini dibahas Vehicle Routing Problem with Time Window (VRPTW) yang merupakan pengembangan dari VRP dengan penambahan kendala waktu. Permasalahan VRPTW yang dibahas diselesaikan dengan menggunakan metode Nearest Insertion Heuristic. Selain metode Nearest Insertion Heuristic, salah satu metode yang telah dibahas untuk menyelesaikan VRPTW adalah algoritma Clark and Wrigth. Penyelesaian contoh soal pada bab 3 yang dikerjakan dengan menggunakan metode Nearest Insertion Heuristic menghasilkan 3 rute dengan jarak tempuh 899 km untuk Contoh 1 dan untuk Contoh 2 diperoleh 4 rute dengan jarak tempuh 109 km. Sedangkan penyelesaian contoh soal yang dikerjakan dengan menggunakan algoritma Clark and Wrigth menghasilkan 3 rute dengan jarak tempuh 974 km untuk Contoh 1 dan untuk Contoh 2 diperoleh 4 rute dengan jarak tempuh 116 km. Dari lima contoh soal, terlihat bahwa metode Nearest Insertion Heuristic menghasilkan rute dengan jarak tempuh yang lebih minimum. Dengan demikian metode Nearest Insertion Heuristic dapat digunakan sebagai alternatif untuk menentukan rute yang optimal selain algoritma Clark and Wrigth. Untuk memeriksa kebenaran hasil dari permasalahan VRPTW yang dikerjakan manual dengan menggunakan metode Nearest Insertion Heuristic, dipakai alat bantu komputer dengan menggunakan program Borland Delphi 0.7.

Pengaruh leverage, ukuran perusahaan, dan dividend payout terhadap risiko investasi saham pada perusahaan LQ-45 yang listing di Bursa Efek Jakarta / Raudatul Farida

 

Keputusan investasi adalah suatu keputusan untuk memilih berbagai alternatif maupun besarnya investasi yang menguntungkan bagi perusahaan. Oleh karena itu investor yang melakukan investasi di pasar modal memerlukan pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi. Untuk mengarahkan investor pada suatu investasi saham dengan risiko sistematis sebagai indikatornya, diperlukan suatu alat analisis melalui pemahaman atas karakteristik tingkat risiko saham, maka para investor akan dapat melakukan pemilihan saham secara logis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh leverage, ukuran perusahaan, dan dividend payout terhadap risiko investasi saham baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini berupa penelitian asosiatif untuk mengetahui pengaruh leverage, ukuran perusahaan, dan dividend payout terhadap risiko investasi saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk kategori LQ-45 tahun 2003-2005. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif. Dengan demikian, sampel dalam penelitian ini adalah seluruh saham perusahaan yang masuk dalam kategori LQ-45 dan mengeluarkan laporan keuangan selama periode pengamatan yaitu tahun 2003-2005. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (clossing price), dan indeks LQ-45. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan variabel leverage, ukuran perusahaan, dan dividend payout berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. Dengan menggunakan signifikansi sebesar 5% secara parsial variabel leverage, ukuran perusahaan, dan dividend payout tidak berpengaruh terhadap risiko investasi saham, tetapi jika menggunakan signifikansi sebesar 10%, secara parsial hanya variabel leverage yang berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham sedangkan ukuran perusahaan, dan dividend payout tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. Dan dari hasil penelitian diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,210 yang berarti bahwa besarnya sumbangan dari variabel leverage, ukuran perusahaan, dan dividend payout terhadap risiko investasi saham adalah sebesar 21% sedangkan 79% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian berikutnya (1) menggunakan variabel bebas lain seperti asset growth, liquidity, earning reability, dan accounting beta. Selain dari variabel mikro di atas, juga dipertimbangkan variabel makro seperti suku bunga, inflasi, dan nilai tukar yang akan mempengaruhi besar kecilnya risiko investasi saham di pasar modal, (2) untuk lebih meneliti mengenai nilai”batas-batas tertentu” leverage yang dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi perusahaan, (3) mencari literatur yang lebih memadai terutama tentang indikator yang valid untuk menentukan besar kecilnya perusahaan, dan (4) dalam pemilihan sampel diharapkan menentukan kriteria dimana harus perusahaan yang mengeluarkan dividen selama periode pengamatan.

Hubungan antara aktivitas peran komite sekolah dengan pelaksanaan standar pelayanan minimal sekolah dasar di Kota Probolinggo / Anwar Fanani

 

Peran serta masyarakat, khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini minim. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya lebih banyak bersifat dukungan input (baca: dana), bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas). Oleh karena itu dalam manajemen pendidikan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis, dibentuklah Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan, sebagai wadah yang dapat mengakomodasi pandangan, aspirasi, dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin demokratisasi, transparansi, dan akuntabilitas pendidikan. Sehingga jelas bahwa keberadaan sekolah yang didalamnya penuh dengan pelaksanaan program pendidikan harus melibatkan paling tidak tiga unsur pokok penopang aktivitas dan efektivitas pendidikan, yakni pemerintah, orangtua dan masyarakat. Salah satu kebijaksanaan penting pemerintah pusat adalah penetapan standar-standar minimum dalam rangka mengendalikan mutu pendidikan secara nasional (national benchmarking). Fungsi ini antara lain diwujudkan melalui penetapan standar minimal sarana dan prasarana, jumlah dan kualitas SDM, proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah, serta standar minimal hasil-hasil pendidikannya. Pengendalian mutu menyangkut dua aspek, yaitu administratif yakni perimbangan dalam alokasi sumber daya pendidikan serta aspek substansi yaitu pencapaian mutu hasil pendidikan. Oleh karena itu, untuk membantu ketercapaian pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal di Sekolah Dasar tidak dapat terlepas dari peran serta dan keterlibatan orangtua dan masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan anggota komite sekolah yang tersebar di 3 kecamatan di Kota Probolinggo dengan masing-masing sampel berjumlah 104 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Teknik analisis yang dipergunakan adalah teknik analisis korelasi berganda yang mana perhitungannya menggunakan bantuan komputer melalui program SPSS 10.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas peran komite sekolah sebagai badan pertimbangan dengan pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Sekolah Dasar di Kota Probolinggo,

Penerapan model pemaduan problem based learning dan cooperative learning tipe mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Malang / Retno Mustika Dewi

 

ABSTRAK Mustika Dewi, Retno. 2007. Penerapan Model Pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping Untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Malang. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing: (1) Drs. Agung Haryono, S.E, M.P, (II) Drs. Moch. Ichsan, S.E, M.Pd, M.Si. Kata kunci: Problem-Based Learning, Cooperatif Learning Mind Mapping, aktivitas belajar, dan hasil belajar. Model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping merupakan salah satu penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Berbasis kompetensi (KBK), dimana proses belajar mengajar di kelas terpusat pada siswa ( student oriented). Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 3 Malang, dapat diketahui bahwa metode pengajaran yang diterapkan oleh guru dalam proses belajar mengajar di kelas adalah metode ceramah dan metode tanya jawab. Metode pengajaran tersebut kurang mengembangkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti ingin menerapkan model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri 3 Malang. Subyek dan tempat dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.2 SMP Negeri 3 Malang pada pokok bahasan Koperasi dan Pajak. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan bulan April dan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi kegiatan diskusi siswa, soal pre tes dan pos tes, serta angket yang berisi respon siswa pada mata pelajaran ekonomi setelah diterapka model pemaduan Problem Based learning dan Cooperative Learning Mind Mapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan terhadap aktivitas siswa. Peningkatan ini ditunjukkan oleh tingkat ketercapaian siswa pada setiap tingkatan aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa pada tingkat SK (sangat kurang) menurun dari 0,6% pada siklus I menjadi 0% pada siklus II, aktivitas belajar siswa pada tingkat K (kurang) menurun dari 6,87% pada siklus I menjadi 5% pada siklus II, aktivitas belajar siswa pada tingkat C (cukup) menurun dari 17,5% pada siklus I menjadi 6,87% pada siklus II, aktivitas belajar siswa pada tingkat B (baik) meningkat dari 35% pada siklus I menjadi 41,25% pada siklus II, dan aktivitas belajar siswa pada tingkat SB (sangat baik) meningkat dari 37,5% pada siklus I menjadi 48,12% pada siklus II. i Berdasarkan analisis hasil belajar siswa dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar tersebut terdapat pada skor perolehan rata-rata nilai pre tes siswa dari 67% pada siklus I menjadi 68,25% dan pada skor perolehan rata-rata pos tes dari 72,5% menjadi 77,25% pada siklus II. Dengan demikian terjadi peningkatan nilai pre tes siswa sebesar 1,25% dari siklus I ke siklus II dan peningkatan nilai pos tes siswa sebesar 4,75% dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil analisis angket respon siswa terhadap mata pelajaran ekonomi setelah diterapkan model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping dapat diketahui bahwa lebih senang belajar ekonomi secara berkelompok (kooperatif) daripada belajar secara individu dengan presentase sebesar 80%, siswa lebih senang dan lebih cepat memahami materi ekonomi dengan presentase sebesar 67,5% dan 47,5%, dan siswa tidak merasa kesulitan dan lebih tertarik pada mata pelajaran ekonomi dengan presentase sebesar 75% dan 45%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap penerapan model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping pada mata pelajaran ekonomi. Model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model pembelajaran ini adalah : (1) dapat meransang dan mengembangkan aktivitas belajar siswa, (2) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam upaya untuk mencari alternative jawaban dalam pemecahan masalahnya, (3) dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa, dan (4) dapat meningkatkan rasa kepercayaan pada diri siswa dan melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya. Sedangkan kekurangan pada model pemaduan ini adalah : (1) model pembelajaran ini memerlukan waktu yang relatif banyak, (2) model pembelajaran ini memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang, dan (3) model pembelajaran ini memerlukan tingkat kreatifitas guru yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan, (1) hendaknya guru bidang studi ekonomi dapat menggunakan dan menerapkan model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa, dan (2) hendaknya guru bidang studi ekonomi dapat mempelajaridan menerapkan tahap-tahap yang terdapat pada model pemaduan Problem-Based Learning dan Cooperative Learning Mind Mapping agar aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat secara optimum.

Kinerja Samsat dalam meningkatkan pelayanan publik (studi kasus di Kantor Bersama Samsat Malang Kota) / Mahmud

 

Perbedaan self esteem ditinjau dari tipe kepribadian ekstra vert dan introvert pada warga di Malang / Novriyanto

 

Waria adalah fenomena transeksualisme yang merupakan gangguan kelainan di mana penderita merasa bahwa dirinya terperangkap di dalam tubuh lawan jenisnya. Bagi waria, mengekspresikan keinginan, harapan, dan hasratnya secara wajar merupakan bentuk penghargaan diri sendiri, sedangkan pengakuan keberadaan waria di masyarakat merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan akan harga dirinya. Sebagai sebuah kepribadian, seorang waria merupakan suatu proses yang panjang, baik secara individual maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan self esteem ditinjau dari tipe kepribadian ekstravert dan introvert pada waria di Malang. Subjek penelitian ini adalah waria di kota Malang yang tergabung dalam IWAMA (Ikatan Waria Malang) bertipe kepribadian ekstravert dan introvert sebanyak 40 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sample. Instrumen penelitian adalah skala self esteem dan skala ekstravert-introvert pengembangan dari Eysenck Personality Inventory (EPI) adaptasi Indonesia, khususnya aspek ekstraversi sebanyak 24 aitem. Karena subjek penelitian ini terbatas maka peneliti menggunakan try out terpakai. Analisis statistik yang digunakan adalah uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self esteem pada waria yang bertipe kepribadian ekstravert dan introvert mempunyai nilai t sebesar -1,103 dengan signifikansi 0,277. Hasil menunjukkan tidak adanya perbedaan self esteem yang signifikan antara waria yang bertipe kepribadian ekstravert dan introvert. Berdasarkan hasil penelitian disarankan 1) bagi waria, memilih keputusan untuk menjadi seorang waria merupakan suatu pilihan bagi manusia, apabila seorang individu ingin menjalaninya, maka hendaknya individu telah memikirkannya dengan pertimbangan yang sangat matang. Bila perlu, berkonsultasi dengan seorang psikolog atau psikiater juga dapat dilakukan. Individu dengan self esteem yang tinggi lebih bahagia dan lebih efektif dalam menghadapi tuntutan lingkungan dari pada individu dengan self esteem rendah, 2) bagi masyarakat, meskipun secara umum waria bertentangan dengan norma masyarakat dan agama, tetapi pada kenyataannya waria ada di sekitar masyarakat. Pengertian, perlakuan dan pandangan yang positif dari masyarakat diperlukan untuk mengembangkan kepribadian waria, 3) bagi peneliti selanjutnya, memperbanyak jumlah partisipan dan memperluas penelitian ini, karena masih banyak hal-hal yang perlu diungkap dari seorang waria.

Pelaksanaan teknik hubungan sekolah dan masyarakat (studi terhadap pelaksanaan teknik hubungan sekolah dan orang tua siswa di SMAK Santo Augustinus Kediri) / Ernika Esti Wahyuningtyas

 

Sekolah memberikan informasi pada orang tua siswa sehubungan dengan berjalannya proses belajar mengajar dan juga bekerja sama dalam rangka memajukan program sekolah. Sejalan dengan hal tersebut, dibentuklah komite sekolah yang akan menjembatani antara sekolah dan orang tua siswa. Sumbangan masyarakat diharapkan tidak hanya berbentuk materi tetapi tenaga dan pemikiran untuk dapat memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat, sekolah membina kerjasama dengan orang tua. Tujuan penelitian ini (1) untuk memaparkan teknik hubungan antara sekolah dan orang tua siswa, (2) memaparkan pelaksanaan teknik hubungan antara sekolah dan orang tua siswa, (3) memaparkan hasil dari pelaksanaan teknik hubungan antara sekolah dan orang tua siswa, (4) untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan teknik hubungan antara sekolah dan orang tua siswa serta upaya untuk mengatasinya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi : (1) wawancara, (2) pengamatan berperan serta dan (3) dokumentasi. Temuan penelitian yaitu : (1) teknik hubungan antara sekolah dengan orang tua siswa. melalui kegiatan rutin dan insidental. (2) pelaksanaan teknik hubungan antara sekolah dengan orang tua siswa. Dapat dinyatakan bahwa orang tua siswa merupakan komponen terpenting dalam menunjang terwujudnya program sekolah. Orang tua siswa merupakan mitra sekolah, baik mitra bagi pendanaan program sekolah maupun mitra yang diharapkan memberi masukan, saran, kritik terhadap program yang diterapkan sekolah. (3) hasil pelaksanaan hubungan antara sekolah dengan orang tua siswa. Hal ini dapat dilihat dari berjalannya program yang ditetapkan oleh sekolah. Orang tua siswa memberi dukungan yang cukup besar bagi pelaksanaan program tersebut. Mereka berpartisipasi dalam hal pendanaan sarana dan prasarana serta memberi masukan dan kritik terhadap program yang disosialisasikan. (4) Kendala yang dihadapi: pihak sekolah masih kesulitan mengumpulkan orang tua siswa guna menjelaskan program yang akan dilaksanakan. Dikarenakan yang datang ke sekolah belum tentu orang tua siswa, namun tidak jarang yang datang ke sekolah adalah saudara siswa. Adanya miss communication antara sekolah dengan orang tua siswa.

Pengembangan lembar aktivitas siswa berpijak pada standar proses NCTM pada pokok bahasan kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi kelas XI / Dewi Rate Sholihatul Inayah

 

Lembar aktivitas siswa adalah lembaran yang berisi serangkaian aktivitas berpikir siswa dalam memahami suatu materi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dengan adanya lembar aktivitas siswa, siswa dapat belajar secara aktif membangun pemahaman yang mereka peroleh dari penyelesaian masalah-masalah yang terdapat pada lembar aktivitas siswa. Kegiatan pengembangan dilakukan untuk menghasilkan lembar aktivitas siswa matematika sub pokok bahasan kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi. Sub pokok bahasan tersebut merupakan bagian dari materi peluang. Materi peluang merupakan salah satu kajian siswa kelas XI. Lembar aktivitas siswa tersebut dikembangkan dengan berpijak pada standar proses pembelajaran matematika yaitu pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian, dan komunikasi yang ditulis oleh NCTM. Dengan demikian indikator-indikator pada tiap standar proses merujuk pada NCTM. Adapun indikator-indikator tersebut adalah (1) adanya standar proses pemecahan masalah ditunjukkan oleh adanya aktivitas mengadaptasi suatu jenis strategi-strategi pendekatan untuk memecahkan masalah; (2) adanya standar proses penalaran dan pembuktian ditunjukkan oleh adanya aktivitas membuat dan menginvestigasi konjektur matematika; dan (3) adanya standar proses komunikasi ditunjukkan oleh adanya aktivitas menggunakan bahasa matematika untuk menunjukkan ide-ide matematika secara tepat. Lembar aktivitas siswa ini mencakup beberapa sub pokok bahasan yaitu kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi. Tiap aktivitas dalam sub pokok bahasan terdiri atas dua bagian yaitu (1) permasalahan-permasalahan yang menuntun siswa menuju konjektur atau dugaan, dan (2) sajian materi secara konseptual. Lembar aktivitas siswa yang dikembangkan telah divalidasi oleh 2 orang dosen jurusan matematika Universitas Negeri Malang dan 3 orang guru SMA bidang studi matematika di kota Malang. Oleh karena lembar aktivitas siswa ini belum diuji cobakan ke siswa maka lembar aktivitas siswa ini merupakam bentuk rancangan konseptual.

Media pembelaharan berbantuan komputer materi kesebangunan untuk kelas IX semester I / Aminah

 

ABSTRAK Aminah, 2007. Media Pembelajaran Berbantuan Komputer Materi Kesebangunan untuk Kelas IX Semester I. Skripsi. Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. H. Soebari, M.Pd (2) Lucky Tri Oktovina, S.Si , M.Kom Kata kunci: Media Pembelajaran, komputer, kesebangunan, motivasi. Pengadaan media pembelajaran merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan perhatian, konsentrasi dan motivasi belajar siswa, terutama media pembelajaran berbantuan komputer. Untuk materi geometri dalam hal ini kesebangunan yang memerlukan banyak visualisasi, media pembelajaran berbantuan komputer dapat membantu proses pembelajaran. Pembuatan media pembelajaran ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbantuan komputer materi kesebangunan yang mudah digunakan oleh siswa, menarik bagi siswa dan diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, serta dapat dimanfaatkan bagi siswa kelas IX semester I bab kesebangunan. Media pembelajaran kesebangunan berbantuan komputer ini dikembangkan melalui 10 tahapan, yaitu (1) menentukan kebutuhan dan tujuan, (2) mengumpulkan bahan acuan, (3) mempelajari isi, (4) mengembangkan ide, (5) mendesain pembelajaran, (6) membuat flowchart program, (7) Membuat story board atau lembar presentasi pada kertas, (8) memprogram materi, (9) membuat materi pendukung, (10) evaluasi dan revisi. Hasil pembuatan media pembelajaran ini adalah media pembelajaran berbantuan komputer materi kesebangunan yang bersifat tutorial dengan karakteristik (1) pembukaan, (2) pengendalian pelajaran, (3) motivasi, (4) penyajian materi, (5) pertanyaan respon, (6) penilaian, (7) umpan balik, (8) perbaikan, (9) rangkaian pembelajaran, dan (10) penutup. Berdasarkan pengembangan ini dapat disarankan agar dilakukan pembuatan dan pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer lebih lanjut baik untuk materi-materi yang lain maupun untuk perbaikan media-media yang sudah ada. Adapun pembuatannya sebaiknya juga memperhatikan kelemahan-kelemahan media-media pembelajaran berbantuan komputer yang telah ada.

Pembelajaran bahasa Arab di Sekolah Alam Bilingual Madrasah Tsanawiyah Surya Buana Malang / Muhammad Syaifuddin

 

ABSTRAK Syaifuddin, Muhammad. 2007. Pembelajaran Bahasa Arab di Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Nurul Murtadho, M.Pd, (II) Drs. Syatibi Nawawi. Kata kunci : Pembelajaran Bahasa Arab, Sekolah Alam, MTs Surya Buana Malang. Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Alam merupakan salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah pertama yang berbasis keislaman dengan mengutamakan kualitas kebahasaan. Model pembelajaran yang diterapkan adalah menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Konsep pembinaan atau pembelajarannya adalah mengembangkan konsep triple “R” yakni Reasoning, Research, dan Religius. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pembelajaran bahasa Arab di Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Malang. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab, (3) faktor pendukung dan penghambat serta alternatif pemecahannya. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Malang, dengan menggunakan rancangan deskriptif kualitiatif. Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII, VIII dan IX yang berjumlah 100 anak. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen inti. Dan instrumen bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman angket, pedoman wawancara, panduan analisis dokumen. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah (a) identifikasi data, (b) klasifikasi dan penyaringan data, (c) penyimpulan data. untuk menguji keabsahan data dalam penelitian dengan memeriksa keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu dari luar data sebagai pembanding. Hasil penelitian ini adalah perencanaan pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab di MTs Surya Buana Malang berupa adanya perangkat pembelajaran yang meliputi kurikulum dan silabus, program tahunan, program semester, dan rencana pembelajaran. Materi yang diajarkan diperoleh dari buku teks wajib yang berupa buku teks تَعلِيمُ اللّغَة العَرَبِيَة ‘Pelajaran bahasa Arab” untuk Madrasah Tsanawiyah karangan DR. Hidayat yang diterbitkan oleh Toha Putra tahun terbit 2004 dan buku penunjang yang berupa buku Lembar Kerja siswa (LKS) “ Serasi” karangan Moch. Amin Tohari, S. Ag. yang diterbitkan oleh CV. Citra Mentari Malang tahun 2006. Kemahiran berbahasa yang dicapai adalah kemahiran berbicara (kalam), menulis (kitabah), membaca (qira’ah), dan menyimak (istima’). Metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab adalah metode gabungan (eklektik). Selain itu guru juga menerapkan metode pembelajaran di luar kelas dalam bentuk kelompok belajar. Media yang digunakan adalah media dengar (tape recorder), media pandang (gambar, kartu), media pandang dengar (televisi, VCD), benda asli, benda tiruan, dan media yang alami berupa arena bermain di alam terbuka. Evaluasi diselenggarakan pada setiap akhir unit pelajaran, bulanan, ujian tengah semester (UTS), dan ujian akhir semester (UAS). Jenis tes yang digunakan adalah tes tulis dan tes lisan, dan bentuk tes tulis yang digunakan adalah tes pillihan ganda dan essay. Faktor pendukung pembelajaran adalah buku Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan latihan siswa, penggunaan metode gabungan atau metode eklektik, media pembelajaran di alam terbuka, evaluasi pembelajaran setiap bulan. Faktor penghambat pembelajaran meliputi materi pembelajaran dalam hal mufradat, menerjemahkan, kemampuan siswa yang sangat heterogen, minat siswa yang kurang terhadap bahasa Arab, kondisi siswa yang ramai ketika di kelas, terbatasnya media di sekolah dan belum adanya laboratorium bahasa. Solusi yang digunakan adalah siswa belajar lebih giat, dan rajin, bertanya langsung pada guru atau berdiskusi dengan teman, adanya jam pelajaran tambahan, memberikan motivasi pada siswa, pemanfaatan dan pemaksimalan media di alam terbuka dan kreatifitas guru dalam membuat media yang menarik.

Strategi peningkatan profesionalisme dosen pada perguruan tinggi Muhammadiyah (studi multi situs pada Universitas Biru dan Universitas Hijau Yogyakarta) / Samino

 

Pengaruh pemberdayaan karyawan terhadap keterlibatan karyawan melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan PT BRI (Persero) Kanca Malang Martadinata) / Tjahja Sirtu Virlaili

 

Manusia tidak lagi dipandang sebagai faktor produksi, namun telah dipandang sebagai sumber daya yang penting bagi kemajuan suatu perusahaan. Manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hasil yang diharapkan dari program pemberdayaan karyawan ini yaitu meningkatnya kepuasan kerja karyawan dan dapat mengetahui seberapa besar keterlibatan karyawan dalam mencapai tujuan organisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran deskriptif mengenai pemberdayaan karyawan, kepuasan kerja dan keterlibatan karyawan di PT BRI (Persero) Kanca Malang Martadinata, serta pengaruh variabel pemberdayaan karyawan dan kepuasan kerja terhadap keterlibatan karyawan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh-pengeruh tersebut yaitu analisis jalur (path analysis). Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan dan data yang diperoleh dengan menyebarkan angket tertutup. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitiasn terdahulu yang telah teruji. Namun demikian, uji validitas dan realibilitas tetap dilakukan untuk mengnuji validitas dan realibilitas data yang diperoleh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT BRI (Persero) Kanca Malang Martadinata yang berjumlah 34 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ditetapkan 95% dari jumlah populasi. Berdasarkan teknik sampel yang digunakan, maka peneliti mengambil sampel 32 karyawan PT BRI (Persero) Kanca Malang Martadinata sebagai responden. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 14.0 for Windows dengan taraf signifikansi 6%. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan karyawan mempunyai pengaruh langsung yang cukup signifikan terhadap kepuasan kerja sebesar 0,562 dengan sig. 0,001, kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterlibatan karyawan sebesar 0,384 dengan sig. 0,060, dan pengaruh tidak langsung pemberdayaan karyawan terhadap keterlibatan karyawan melalui kepuasan kerja yaitu sebesar 0,216. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (a) Kondisi deskriptif pemberdayaan karyawan di PT BRI (Persero) Kanca Malang dapat dikatakan tinggi, namun dapat juga dikatakan rendah karena sebanyak 21,9% karyawan menyatakan demikian. 46,9% karyawan PT BRI (Persero) Kanca Malang Martadinata menyatakan bahwa mereka cukup puas dengan pekerjaan mereka dan 40,6% karyawan mengaku bahwa tingkat keterlibatan mereka dalam pekerjaan mereka dapat dikatakan tinggi, (b) pemberdayaan karyawan mempunyai pengaruh langsung yang cukup signifikan terhadap kepuasan kerja sebesar 0,562 dengan sig. 0,001, (c) kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterlibatan karyawan sebesar 0,384 dengan sig. 0,060, (d) pemberdayaan karyawan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterlibatan karyawan karena tingkat signifikansinya lebih dari 0.06 (β3 = 0,155 dimana sig. = 0,436), dan (e) pengaruh tidak langsung pemberdayaan karyawan terhadap keterlibatan karyawan melalui kepuasan kerja sebesar 0,216. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian ini adalah (1) Berdasarkan hasil uji validitas dan realibilitas dalam penelitian ini, ada beberapa item yang tidak valid dan tidak reliabel, maka akan lebih baik jika penelitian selanjutnya menggunakan jumlah item dari tiap variabel yang lebih banyak, mengambil jumlah populasi yang lebih besar dari penelitian ini, dan jangan lupa untuk memastikan bahwa semua item pada kuesioner Anda terjawab semua, (2) Karena berdasarkan hasil pengujian statistik ditemukan bahwa pemberdayaan karyawan mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan, maka hendaknya pihak manajemen BRI Kanca Malang Martadinata benar-benar mengimplementasikan program pemberdayaan karyawan, terutama dalam hal pembagian wewenang pada bawahan untuk benar-benar bertanggung jawab penuh pada pekerjaan yang mereka kerjakan, dan (3) Pihak manajemen BRI Kanca Malng Martadinata hendaknya benar-benar harus memperhatikan dengan seksama bagaimana tingkat kepuasan kerja karyawan Anda. Jangan hanya mengambil gambaran kepuasan kerja karyawan dari beberapa karyawan saja, karena tingkat kepuasan kerja ini berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan kerja karyawan.

Pengaruh tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang / Mariyatul Kiptiyah

 

Krisis ekonomi pada tahun 1997 telah menyebabkan bank konvensional banyak mengalami kerugian dan dilikuidasi. Dalam kondisi krisis tersebut bank syariah justru mampu bertahan dan mengalami perkembangan yang pesat. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba tercermin dari tingkat profitabilitas pada periode tertentu. Untuk meningkatkan profitabilitas bank maka tidak lepas dari pengaruh indikator kestabilan ekonomi makro, diantaranya tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah. Melambatnya fenomena pertumbuhan industri bank syariah salah satu faktor penyebabnya adalah keadaan ekonomi makro yang kurang menguntungkan, ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan naiknya suku bunga yang membuat bagi hasil dana bank syariah kurang menarik. Padahal penguatan nilai tukar rupiah yang terlalu cepat mengakibatkan produk Indonesia sulit bersaing dengan produk luar negeri. Sementara kebijakan suku bunga yang tinggi merupakan peluang bagi bank syariah untuk menawarkan pembiayaan bebas fluktuasi bunga. Kondisi ini mengakibatkan profitabilitas bank syariah menjadi sangat menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah di wilayah Malang, untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah secara simultan terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang, serta untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah secara parsial terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang. Penelitian ini berupa rancangan deskriptif korelasional untuk menguji pengaruh antara tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah terhadap profitabilitas bank syariah. Populasi dalam penelitian ini adalah Laporan Bank Umum dan BPR selama tiga tahun mulai 2004–2006 yang dikelola oleh BI dari lima bank syariah yang beroperasi di wilayah Malang. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah Laporan Bank Umum dan BPR yang menggambarkan profitabilitas gabungan dari lima kantor cabang bank syariah yang ada di wilayah Malang, yaitu PT BRI (Persero) Syariah Malang, PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank Syariah Mandiri Malang, PT BNI (Persero) Syariah Malang, dan PT BTN (Persero) Syariah. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) sepanjang tahun 2004–2006 tingkat inflasi, nilai tukar rupiah dan profitabilitas bank syariah begerak fluktuatif, sementara untuk tingkat suku bunga bergerak meningkat, (2) tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang, (3) tingkat inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang, (4) suku bunga berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang, dan (5) nilai tukar rupiah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas bank syariah di wilayah Malang. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diberikan antara lain: (1) penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengidentifikasi pengaruh dari aspek makro dan mikro yang dapat berpengaruh terhadap profitabilitas bank syariah, memakai ROE sebagai salah satu indikator profitabilitas bank syariah, melaksanakan penelitian di wilayah-wilayah lain di seluruh Indonesia dan memakai bank konvensional sebagai objek penelitian sehingga dapat diperoleh penelitian bandingan dari hasil penelitian ini, (4) untuk dapat meningkatkan profitabilitas bank syariah yaitu dengan menggunakan suku bunga sebagai indikator untuk terus meningkatkan intervensi dan promosi kepada masyarakat. Selain itu perluasan informasi tentang produk bank syariah, perbaikan aspek pelayanan, dan perluasan jaringan kantor di berbagai daerah sebaiknya lebih ditingkatkan, (5) Bank Indonesia diharapkan agar melakukan penelitian-penelitian lanjutan di bidang bank syariah dari aspek profitabilitas bank syariah maupun aspek lainnya karena bank syariah di Indonesia merupakan bisnis yang sangat potensial untuk dikembangkan, dan (6) pelaku pasar diharapkan dapat memanfaatkan bank syariah sebagai alternatif investasi yang sangat menguntungkan, karena bank syariah lebih stabil terhadap gejolak ekonomi makro.

Perbedaan pengaruh pemberian minum air gula 10% dan air madu 10% sebelum lari 12 menit terhadap tingkat daya tahan erobik mahasiswa putra angkatan 2005 kelas non-reguler Program Studi Pendidikan Jasmani Jurusan Ilmu Keolahragaan FIP UM / Dykky Agustrio

 

Kondisi fisik merupakan faktor utama dalam setiap aktivitas gerak yang terdiri dari beberapa komponen fisik, salah satunya daya tahan. Dalam aktivitas olahraga lari jauh atau maraton, daya tahan erobik mutlak diperlukan dan harus dimiliki. Daya tahan sangat dibutuhkan terutama pada olahraga yang membutuhkan daya tahan erobik. Daya tahan erobik tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suplai oksigen dan suplai energi yang berasal dari metabolisme zat makanan. Mengkonsumsi karbohidrat dengan cara pemberian minum air gula dan air madu sebelum aktivitas olahraga erobik dapat meningkatkan daya tahan erobik. Tetapi air gula berbeda dengan air madu dari segi kandungannya. Perbedaan tersebut akan dikaji dalam penelitian ini, mana yang lebih baik antara air gula dan air madu terhadap peningkatan daya tahan erobik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan pengaruh antara pemberian minum air gula dan air madu terhadap tingkat daya tahan erobik. Rancangan penelitian adalah randomized one shut case study post test control group design. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental semu. Populasi dalam penelitian ini mahasiswa putra Jurusan Ilmu Keolahragaan Program Studi Pendidikan Jasmani angkatan 2005 kelas non-reguler yang berjumlah 44 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive systematic random sampling berjumlah 33 orang. Instrumen penelitian menggunakan tes lari 12 menit Versi Cooper. Penelitian dilakukan di kampus Universitas Negeri Malang pada tanggal 16 Mei 2007. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan dianalisis dengan menggunakan analisis varian (anava) satu jalan yang dilengkapi dengan uji scheffe berupa uji-t yang dikerjakan secara manual dengan bantuan kalkulator Casio FX-991MS dan Goldtec FX-980, dan pengujian hipotesis menggunakan taraf signifikan α 0,05. Hasil pengolahan data menunjukkan Fhit = 0,8593 < Ftab (α=0,05) = 3,32 dan hasil uji-t menunjukkan thit < ttab (α=0,05), dengan demikian hipotesa kerja gagal diterima dan hipotesis nihil gagal ditolak, yang berarti pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil analisa data tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara pemberian minum air gula 10% dan pemberian minum air madu 10% terhadap tingkat daya tahan erobik mahasiswa putra angkatan 2005 non-reguler Program Studi Pendidikan Jasmani.

Perbandingan pembelajaran berbantuan multimedia komputer dan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan penguasaan analisis data pada materi pengujian hipotesis / Fita Rizki Amalia

 

Multimedia pembelajaran adalah penggunaan media yang dapat membentuk teks, gambar dan suara dalam kegiatan merancang dan memproduksi media dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan multimedia berbasis komputer sebagai media pembelajaran. Sedangkan pembelajaran konvensional adalah suatu pembelajaran untuk menyampaikan materi atau memberikan informasi melalui penuturan atau penerapan secara lisan oleh guru kepada siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pemberian pembelajaran berbantuan multimedia komputer dapat meningkatkan hasil belajar pada mahasiswa yang menempuh mata kuliah analisis data pada materi pengujian hipotesis. Pendekatan dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian experimen. Data penelitian yang digunakan adalah data tertulis berupa jawaban mahasiswa berupa pretes dan postes. Dimana didapatkan jawaban pretes dan postes dari kelas kontrol dan jawaban pretes dan postes dari kelas experimen. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) Melaksanakan pretes yang diberikan kepada kelas kontrol dan kelas experimen, (2) Memberikan pembelajaran berupa pembelajaran berbantuan multimedia komputer kepada kelas experimen, (3) Melaksanakan postes yang diberikan kepada kelas kontrol dan kelas experimen, (4) Menganalisis pretes dan postes dari kelas kontrol dan kelas experimen, (5) Menyajikan hasil analisis data dari data pretes dan postes dari kelas kontrol dan kelas experimen Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Data pretes dan data postes dari kelas kontrol dan kelas experimen berdistribusi normal, (2) Data yang diperoleh dari pretes kelas kontrol dan kelas experimen adalah data yang homogen, (3) Uji kemampuan awal dari kelas kontrol dan kelas experimen didapatkan kelas kontrol dan kelas experimen memiliki kemampuan awal yang sama, (4) Uji akhir dari kelas kontrol dan kelas experimen didapatkan hasil belajar analisis data kelas experimen memiliki rata-rata nilai ujian akhir lebih tinggi (83,3) dibandingkan dengan kelas kontrol dengan nilai rata-rata ujian akhir ( 71,4).

Karakteristik ruang terbuka hijau di kawasan permukiman sempadan sungai Brantas Kelurahan Jodipan Kota Malang / Siti Mufidatul Indah

 

Masalah keberadaan Ruang Terbuka Hijau yang semakin menurun, banyak terjadi di kawasan perkotaan yang ada di Jawa Timur. Menurunnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau tersebut ditandai dengan adanya alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun. Kondisi yang seperti ini juga terjadi di Kota Malang. Ruang Terbuka Hijau yang menurun di Kota Malang tampak pada adanya alih fungsi lahan di luar Stadion Gajayana, dibangunnya Malang Twon Square di Jalan Veteran, dibangunnya fasilitas olahraga (lapangan basket) di dalam Lapangan Rampal, dan sebagainya. Selain itu juga terjadi pembangunan yang menyalahi aturan di kawasan permukiman sempadan Sungai Brantas Kota Malang, salah satunya adalah di Kelurahan Jodipan. Pembangunan permukiman tersebut menyebabkan keberadaan Ruang Terbuka Hijau semakin berkurang, baik di sekitar permukiman maupun di sempadan sungai. Kondisi ini nantinya akan memberikan dampak negatif yakni kualitas permukiman yang buruk dan terjadinya longsor di sempadan sungai. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui karakteristik Ruang Terbuka Hijau di sekitar permukiman sempadan sungai; (2) untuk mengetahui karakteristik Ruang Terbuka Hijau di sempadan sungai. Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian survei. Sumber datanya adalah responden dan catatan lapangan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kawasan dan seluruh KK yang berada sempadan Sungai Brantas Kelurahan Jodipan. Sampel penelitian berjumlah 50 KK berdasarkan asumsi populasi lebih dari 100, maka sampel yang diambil adalah 10-15% atau 20-25%.. Pengambilan sampel responden dengan tehnik proportional random sampling. Pengambilan sampel area dengan tehnik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, angket, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan rumus persentase. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Karakteristik ruang terbuka hijau di sekitar permukiman sempadan Sungai Brantas Kelurahan Jodipan Malang adalah kurang baik. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat yang ada di Sempadan Sungai Brantas Kelurahan Jodipan 90% tidak memiliki taman rumah dan hanya 10% yang memiliki taman rumah, mayoritas tidak terdapat jarak antara pondasi bangunan terluar dengan pagar yang mana idealnya adalah minimal 2 meter; sebagian besar masyarakat tidak memiliki pohon di sekitar rumah yang mana seharusnya minimal 1 pohon, dan sebagian besar masyarakat memiliki struktur tanaman yang kurang baik. Struktur tanaman yang baik terdiri dari pohon, semak, perdu, tanaman penutup/rumput, dan pot . Meskipun masyarakat memiliki struktur tanaman yang buruk (tanaman pada pot), akan tetapi masyarakat masih merawatnya dengan baik. Hal ini tampak pada keseringan menyiram tanaman dan masyarakat juga masih bersedia memotong tanaman; (2) Karakteristik ruang terbuka hijau di sempadan Sungai Brantas Kelurahan Jodipan Malang adalah kurang baik. Hal ini dapat dilihat pada jarak sempadan sungai yang telah habis dipergunakan untuk bangunan, persebaran tanaman yang tidak merata di setiap kawasan sempadan sungai (mayoritas tidak terdapat tanaman pada sempadan sungai). Idealnya semakin banyak tanaman maka kondisi RTH akan semakin baik, jenis tanaman yang ada di sempadan sangat sedikit (alang-alang, semak, dan rumput), jumlah pohon yang ada di sempadan sungai sedikit yang mana semakin banyak pohon maka kondisi RTH akan semakin baik, dan tingkat keterawatan yang rendah (hilangnya tanaman yang ada di sempadan sungai dan meningkatnya kawasan terbangun). Berdasarkan kondisi tersebut maka peneliti memberi saran sebagai berikut: (1) mengingat keterbatasan lahan yang ada di permukiman, untuk masyarakat yang masih memiliki sisa lahan, maka perlu untuk menanam tanaman dengan berbagai jenis tanaman/pohon agar dapat menyerap polutan, menyerap air tanah, penghasil oksigen, memberikan keteduhan, dan sebagainya; (2) untuk permukiman penduduk yang lahannya terbatas (tidak mencukupi) maka perlu menanam tanaman dalam pot di sekitar permukiman tersebut agar dapat memberikan kesegaran, keindahan, dan menyerap polutan (3) perlunya untuk menanam pohon di sepanjang sempadan yang masih tersisa. Hal ini untuk menjaga rumah penduduk yang jaraknya rapat dengan sungai dari dampak negatif seperti tanah longsor.

Perbedaan pengetahuan seks pada remaja Madrasah Aliyah dan remaja sekolah menengah atas di Kabupaten Gresik / Dzakhirotus Sa'adah

 

Remaja mengalami perkembangan utama yaitu perkembangan seks primer dan seks sekunder. Perkembangan seks menyebabkan rasa keingintahuan remaja terhadap seks semakin meningkat. Namun, remaja banyak memperoleh pengetahuan yang salah tentang seks. Pengetahuan yang salah menyebabkan remaja melakukan aborsi, terjangkit penyakit menular seksual dan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat pengetahuan seks remaja Madrasah Aliyah, (2) tingkat pengetahuan seks remaja Sekolah Menengah Atas, (3) perbedaan pengetahuan seks pada remaja Madrsah Aliyah dan Sekolah Menengah Atas. Pengetahuan seks ditunjukkan dalam beberapa aspek. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori dari Terry (dalam Sarwono, 1989) yang meliputi aspek penyimpangan seksual, pengaturan kehamilan, perkembangan seksual, nilai-nilai seksual, perkembangan remaja dan reproduksi manusia. Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Atas Negeri di Kabupatn Gresik. Uji coba dilakukan kepada 60 siswa dan diperoleh validitas aitem sebanyak 48 dengan menggunakan rumus korelasi product moment pearson dan reliabilitas sebesar 0,9206 dengan menggunakan rumus alpha. Jumlah populasi penelitian sebanyak 289 adapun yang menjadi sampel penelitian sebanyak 154 yang terdiri dari 74 siswa Madrasah Aliyah dan 80 siswa Sekolah Menengah Atas Negeri. Tehnik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposif sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Berdasarkan analisis data diperoleh nilai mean remaja Madrasah Aliyah sebesar 35,62 dan nilai mean remaja Sekolah Menengah Atas sebesar 38,49. Nilai uji-t = 5,317; p = 0,000 < 0,01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pengetahuan seks antara remaja Madrasah Aliyah dan remaja Sekolah Menengah Atas. Adapun analisis deskriptif menunjukkan bahwa remaja Madrasah Aliyah yang berada di klasifikasi tinggi sebanyak 29 siswa (39.18%), siswa yang berada pada klasifikasi rendah sebanyak 45 (60.81%). Remaja Sekolah Menengah Atas yang berada pada klasifikasi tinggi sebanyak 44 siswa (55%), sedangkan siswa yang berada pada klasifikasi rendah sebanyak 36 siswa (45%). Dari hasil penelitian diharapkan: (1) bagi Madrasah Aliyah hendaknya menambah jumlah jam pelajaran biologi, (2) bagi Sekolah Menengah Atas hendaknya melakukan evaluasi dalam memantapkan kurikulum yang telah digunakan, (3) bagi peneliti selanjutnya dalam memilih sekolah hendaknya dirandom terlebih dahulu, (4) peneliti selanjutnya disarankan membandingkan program IPA dengan program IPS dan Bahasa, (5) peneliti selanjutnya tidak hanya mengkaji faktor pendidikan.

Kontribusi pajak reklame dan retribusi parkir terhadap anggaran pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Jombang tahun 2005-2009 / Davyd Primadani

 

Kata Kunci: Pajak Reklame, Retribusi Parkir, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu pendorong mesin ekonomi. Peranan APBD sebagai pendorong dan salah satu penentu tercapainya target dan sasaran makro ekonomi daerah diarahkan untuk mengatasi berbagai kendala dan permasalahan pokok yang merupakan tantangan dalam mewujudkan agenda masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Kebijakan pengelolaan APBD di fokuskan pada optimalisasi fungsi dan manfaat pendapatan, belanja dan pembiayaan bagi tercapainya sasaran agenda-agenda pembangunan tahunan. Di bidang pengelolaan pendapatan daerah, akan terus diarahkan pada peningkatan PAD. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Seberapa besar potensi pajak reklame yang dapat diraih Kabupaten Jombang sebagai sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah?, Seberapa besar potensi retribusi parkir yang dapat diraih Kabupaten Jombang sebagai sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah?, Seberapa besar kontribusi pajak reklame terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Jombang Tahun 2005-2009?, Seberapa besar kontribusi retribusi parkir terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Jombang Tahun 2005-2009?, Faktor pendukung apa saja yang dimiliki pemerintah daerah dalam meningkatkan pajak reklame?, Faktor penghambat apa saja yang dihadapi serta solusi yang ditempuh Pemerintah Daerah Jombang dalam meningkatkan Pajak Reklame? Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Analisis kontribusi, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi yang diperoleh dari Dinas Pendapatan Daerah dan Dinas Perhubungan. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yaitu penerimaan pajak reklame, retribusi parkir, anggaran pendapatan dan belanja daerah selama lima tahun dari tahun 2005 sampai tahun 2009. Berdasarkan hasil analisis dari hasil perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa pajak reklame merupakan penyumbang cukup kecil, dibandingkan pajak reklame retribusi parkir merupakan penyumbang terbesar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jombang. Dalam hal ini pajak reklame dan retribusi parkir mempunyai potensi yang cukup besar dalam menyumbangkan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jombang. Kotribusinya pajak reklame dan retribusi parkir dapat memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jombang rata-rata sebesar 0,98% untuk pajak reklame dan 2,20% untuk retribusi parkir terhadap PAD tiap tahunnya dan 0,09% untuk pajak reklame dan 0,22% untuk retribusi parkir terhadap APBD.

Pengembangan modul termokimia model learning cycle 5-E untuk SMA/MA kelas XI semester I sebagai penunjang kurikulum tingkat satuan pendidikan / Masyrufah

 

Penerapan pembelajaran berorientasi konstruktivistik pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut guru berperan sebagai fasilitator belajar dan siswa sebagai pembelajar yang aktif. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi konstruktivistik adalah model Learning Cycle 5 fase (Learning Cycle 5-E). Sejauh ini belum ada bahan ajar (modul) materi Termokimia yang dikembangkan dengan menggunakan model Learning Cycle 5-E (LC 5-E) untuk mendukung kegiatan pembelajaran LC 5-E. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan modul Termokimia model LC 5-E untuk SMA/MA kelas XI semester I sebagai penunjang KTSP. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul Termokimia model LC 5-E serta menguji tingkat kesesuaian/kelayakannya. Pengembangan modul ini dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: (1) Mengkaji kurikulum (2) Menganalisis kebutuhan modul (3) Menyusun modul (4) Validasi draft modul (5) Menganalisis data (6) Melakukan revisi dan (7) Memproduksi modul pembelajaran. Desain validasi pengembangan modul menggunakan validasi isi. Validator terdiri dari 2 dosen kimia dan 3 guru kimia SMA/MA. Adapun guru SMA/MA yang menjadi validator berasal dari SMAN 4 Malang, SMAN 5 Malang, dan MAN 3 Malang. Jenis data berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator sebagai data kualitatif dan angket penilaian dengan skala Likert sebagai data kuantitatif. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket dan teknik analisis data menggunakan teknik analisis nilai rata-rata. Hasil pengembangan dari penelitian ini antara lain: (1) Modul pengembangan Termokimia model LC 5-E terdiri dari 2 bagian, yaitu: bagian pendahuluan dan bagian isi. Hasil validasi menunjukkan bahwa bentuk modul yang dikembangkan telah sesuai dengan model LC 5-E dengan nilai rata-rata pada setiap fase-fase dalam model LC 5-E sebesar 3,48 dan memenuhi kriteria valid. (2) Hasil validasi kelayakan pengembangan modul secara keseluruhan memiliki nilai rata-rata sebesar 3,47 dengan kriteria valid, hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan layak digunakan sebagai bahan ajar untuk membantu siswa dan guru pada proses belajar mengajar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Saran yang dapat dikemukakan adalah modul hasil pengembangan sebaiknya divalidasi sampai tahap uji coba lapangan (validasi empirik).

Perbedaan pembelajaran kooperatif model jigsaw dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar, motivasi belajar dan sikap belajar pada pelajaran fisika pokok bahasan tata surya kelas X di SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang / Dina Ariestina

 

Fisika merupakan salah satu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mempu-punyai peran sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno-logi (IPTEK). Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Pemerintah melalui depdiknas selalu melakukan upa-ya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia antara lain penyempur-naan kurikulum, peningkatan sumber daya tenaga kependidikan, pengembangan/ penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran dan pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang ikut meningkatkan mutu pendidikan yaitu pembelajaran kooperatif model JIGSAW. Dalam model ini setiap siswa dalam kelompok diberikan informasi tentang suatu bahan pelajaran. Semua siswa perlu mengetahui semua informasi agar kelompok berhasil. Dalam model ini setiap siswa akan bergabung dalam kelompok ahli tentang suatu masa-lah tertentu. Siswa itu bertugas untuk mengajari siswa-siswa yang lain dalam ke-lompoknya. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Turen karena sebagian besar metode yang digunakan di sekolah ini adalah pembelajaran konvensional. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat perbedaan yang be-rarti pada prestasi belajar, motivasi belajar dan sikap belajar terhadap pelajaran fisika siswa SMA yang menggunakan pembelajaran kooperatif model JIGSAW dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan subyek penelitian adalah kelas X-D dengan jumlah 38 siswa dan kelas X-E dengan jumlah 38 siswa. Kelas X-D sebagai kelas kontrol yang meng-gunakan metode konvensional sedangkan kelas X-E sebagai kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran kooperatif model JIGSAW. Penelitian ini dilak-sakan pada bulan September 2005 sampai Pebruari 2006. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signi-fikan pada pembelajaran kooperatif model JIGSAW dengan pembelajaran kon- vensional terhadap prestasi belajar, motivasi belajar dan sikap belajar di SMA Negeri 1Turen Kabupaten Malang. Pembelajaran kooperatif model JIGSAW da-pat meningkatkan prestasi belajar, motivasi belajar dan sikap belajar fisika.

Pengembangan perangkat pembelaharan kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XI pada materi pokok larutan penyangga dan hidrolisis garam / Siti Nur Aisah

 

Selesaian similiaritas (similiarity solution) untuk masalah penyebaran asap rokok / Santi Oktorini

 

Rokok telah menjadi salah satu bagian hidup yang terpenting pada individu tertentu. Adapun dampak yang dihasilkan salah satunya adalah asap. Pada udara bebas asap tersebut mengalami perpindahan dalam pergerakannya. Penyebarann asap rokok merupakan hal yang penting dan perlu diketahui bayak orang. Sebab asap ini yang dihisap oleh perokok pasif. Hal ini dapat menimbulkan penyakit- penyakit tertentu seperti kanker paru-paru, infeksi pernapasan, impotensi ,dan lainnya. Di lain pihak seseorang yang tidak mengkonsumsi rokok secara langsung dalam hal ini hanya menghirup asap rokok disebut perokok pasif. Efek buruk yang dirasakan oleh individu tersebut juga sama besarnya. Yaitu mengidap penyakit- penyakit yang tersebut diatas. Dalam matematika penyebaran asap rokok ini dapat dimodelkan dengan persamaan difusi panas pada suatu batas yang berjalan. Persamaan tersebut adalah: ; dengan K adalah besarnya konsentrasi asap rokok, t adalah waktu yang diperlukan konsentrasi asap dalam penyebarannya, x adalah jarak yang diperlukan asap rokok untuk ketika tersebar di udara bebas. Dalam hal ini daerah yang diperhatikan adalah . Sedangkan batas yang digunakan adalah moving boundary. Sehingga diberikan similiarity solution terhadap variabel yaitu agar diperoleh solusi exact. Dengan mengasumsikan asap rokok menyebar selama 100 detik, maka jarak yang aman bagi perokok pasif adalah 10 m. ABSTRACT Oktorini, Santi.Solving Smokes Diffusion with Similiarity Solution.Thesis, Mathematics Department, Mathematics and Natural Science Faculty, State Univercity of Malang. Advisor(I)Dr. Makbul Muksar, S.Pd,M.Si. Advisor(II) Drs. Slamet M,Si. Keywords: Partial Diferential Equation,Moving Boundary, Safety Distance, Transformation. Smokes is a thing that usually we found in daily life. Smokes be a part of live into daily activity for certainty personal. The result of this phenomenon are smoke. On the air, the smoke had a special movement. The movement of smoke is a important thing to know general. It because of smokes was absorbed by passive smokes. It can make many kinds of new disease as bronchius cancer, breathe system infection, impotence,etc. Bad influence can felt by another person and also became a damage. That is could have that disease. In mathematics, this problems can modelled with heat diffusion equation. On this formula that using : within K is gas/smoke concentration when have diffused, x is a distance for diffused processing, t is time the needed for diffusse processing. In such way the area considered on . And also the boundary that used is moving boundary, in order a function. Otherwise, let and then we will get exact solution. With assumed tehe smoke diffused in 100 seconds, then safety distance for passsive smoke is 10 ms.

Hubungan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah, profesionalisme guru, iklim organisasi sekolah, dan motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja guru pada SMP Negeri di Kabupaten Tuban / Soesetijo

 

Penerapan grafik kendali multivariate dengan peta kendali hotteling T2 pada kualitas genteng P.T. Bisma Surabaya / Savina Riza Valefi

 

Genteng adalah salah satu macam atap bangunan yang kualitasnya harus dijaga dan dikendalikan agar bangunan tidak bocor. PT. Bisma merupakan salah satu unit perusahaan daerah provinsi Jawa Timur yang memproduksi genteng. PT. Bisma memproduksi genteng kualitas I, kualitas II dan kualitas III. Produk genteng yang diteliti adalah genteng kualitas I karena mempunyai tingkat permintaan konsumen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas lain. Produk genteng kualitas I ini mempunyai 6 karakteristik atau variabel, yaitu: berat genteng, panjang genteng, lebar genteng, tebal genteng, kelengkungan genteng dan daya serap genteng. Dari keenam karakteristik atau variabel tersebut kemungkinan mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain sehingga diperlukan pengendalian kualitas statistik multivariate. Dari analisis komponen utama dan analisis faktor yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dari keenam variabel yang diteliti didominasi oleh 2 faktor, faktor pertama adalah panjang genteng, lebar genteng dan daya serap genteng, sedangkan faktor kedua adalah berat genteng, tebal genteng dan kelengkungan genteng. Peta kendali yang digunakan adalah peta kendali Hotteling dan peta kendali dispersi. Karena faktor pertama yang didapatkan dari analisis komponen utama dan analisis faktor mempunyai varians terbesar maka hanya faktor pertama yang mempunyai prioritas untuk dilakukan perbaikan apabila proses tidak terkendali. Dari hasil peta kendali Hotteling dan peta kendali dispersi yang pertama diketahui terdapat pengamatan yang keluar dari batas kendali yaitu pengamatan ke-19 dan ke-38 dengan nilai BKA 14,02 dan nilai median 2,38, maka dilakukan perbaikan, dari hasil perbaikan pertama ternyata masih terdapat data yang keluar dari batas kendali yaitu pengamatan ke-19 dengan nilai BKA 13,97 dan nilai median 2,38 maka harus dilakukan perbaikan kembali, dari hasil perbaikan kedua diketahui bahwa sudah tidak ada pengamatan yang keluar dari batas kendali dengan nilai BKA 13,94 dan nilai median 2,38 dan mempunyai pola acak.

Analisis beban latihan fisik pemain sepakbola di klub "Golden Boys" Bedali-Lawang Kabupaten Malang / Zainurid

 

Sepakbola merupakan permainan yang sederhana. Kendati demikian sepakbola mebutuhkan teknik, fisik, taktik, dan strategi untuk memenangkan suatu pertandingan yang mana semua komponen tersebut tidak dapat dipisahkan. Dan berdasarkan observasi awal di Klub sepakbola “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang, banyak pemain yang tidak hadir dalam latihan fisik. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana beban latihan fisik di klub “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang?, dan tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis beban latihan fisik pemain di klub “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang . Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yaitu memaparkan data yang bersifat kuantitatif berujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran.secara sistematis, faktual, dan akurat tentang subyek yang terjadi pada masa kini. Instrumen penelitian ini menggunakan instrumen non tes yaitu angket. Teknik analisis data mengunakan uji statistik deskriptip (persentase). Dari analisis data diketahui dalam menentukan beban latihan seperti volume, intensitas, frekuensi, recovery, rythme latihan di klub “Golden Boys” yang diberikan pelatih untuk latihan daya tahan dikategorikan baik dengan persentase 84 %. Beban latihan kekuatan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan kurang baik dengan persentase 54,66%. Beban latihan kecepatan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan kurang baik dengan persentase 54,3 %. Beban latihan kelincahan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan cukup dengan persentase 74,66 %. Sedangkan untuk beban latihan kelentukan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan baik dengan persentase 92,66 %. Dikarenakan latihan daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, dan kelentukan merupakan suatu komponen latihan fisik yang tidak dapat dipisahkan di dalam sepakbola, maka pelatih di klub “Golden Boys” diharapkan dalam memberikan latihan fisik, harus memperhatikan beban latihan untuk kelima komponen tersebut dengan berpedoman pada teori-teori tentang beban latihan fisik yang ada dibuku-buku kepelatihan. Selain itu pelatih dalam memberikan latihan fisik diharapkan memberikan variasi-variasi latihan, agar pemain tidak merasa bosan sehingga seberat apapun beban latihan yang diberikan tidak membebani pemain dalam melakukan latihan fisik. Begitu juga bagi pemain “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang diharapkan hadir dalam setiap latihan fisik, karena kondisi fisik sangat berpengaruh untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Pengembangan VCD instruksional peregangan aktif (active stretching) kesegaran jasmani siswa SMP di Malang / Peni Nohantiya

 

Pembelajaran merupakan upaya penciptaan situasi dan kondisi yang memungkinkan atau merangsang siswa untuk belajar. Seorang guru harus berusaha agar materi yang disampaikan mampu diserap dan dimengerti dengan mudah. Untuk mempermudah pembelajaran gerak, perlu dibuat media belajar yang mampu menarik si belajar untuk belajar. Supaya lebih menarik, media belajar perlu melibatkan lebih dari satu indera. Oleh karena itu media audio visual berupa VCD lebih cocok untuk menyampaikan pembelajaran gerak. VCD dapat memberikan informasi yang mudah dipahami. Dalam hal ini sibelajar dapat melihat tayangan yang menyerupai gerakan yang sesungguhnya dan diperjelas oleh suara dan tulisan yang ada VCD Instruksional peregangan aktif sangat bermanfaat. Karena VCD tersebut berisi tentang latihan peregangan yang dapat melatih kelentukan. Kelentukan berperan penting dalam kesegaran jasmani. Kelentuan adalah kelemah-lembutan atau kekenyalan otot dan kemampuannya untuk meregang cukup jauh agar memungkinkan persendian (dimana dia berada) dapat bereaksi dengan lengkap dalam jarak normal dan dari gerakan tersebut tidak menyebabkan cedera. Peneliti mengembangkan peregangan aktif karena teknik peregangan aktif merupakan metode yang paling sederhana dan aman. Disebut demikian karena metode ini dilakukan sendiri tanpa memerlukan bantuan alat atau teman. Oleh karena itu peregangan inilah yang paling sering dilakukan di sekolah-sekolah. Peregangan aktif dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Akan tetapi peneliti disini memilih siswa usia SMP. Hal ini dilakukan karena siswa SMP merupakan masa grow spurt atau pertumbuhan yang paling cepat. Untuk menunjangnya perlu memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi. Selain membantu pertumbuhan, fleksibilitas atau kelenturan tubuh sangat bermanfaat untuk mengurangi resiko cedera. Oleh karena itulah peneliti melakukan observasi di SMPN 1 Malang, SMPN 3 Malang, dan SMPN 5 Malang. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada guru pendidikan jasmani dan siswa kelas VII SMPN 1,3, dan 5 Malang terdapat kesimpulan bahwa guru membutuhkan VCD instruksional peregangan aktif Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana mengembangkan VCD instruksional peregangan aktif siswa kelas VII SMPN 1,3, dan 5 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan VCD instruksional peregangan aktif siswa kelas VII SMPN 1,3, dan 5 Malang, yang nantinya dengan adanya pengembangan VCD ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan dalam memberikan materi pendidikan jasmani pada siswa. Dalam pengembangan VCD instruksional untuk siswa SMP ini peneliti menggunakan model pengembangan intruksional dari Sadiman (2003:38), yaitu yang terdiri dari: (1) Penemuan ide, pengumpulan berbagai informasi sebagai kajian pustaka dan observasi lapangan. (2) Penulisan naskah media (hasil produk) berisi rancangan pembelajaran peregangan aktif (3) Evaluasi produk oleh ahli. (4) Revisi Produk I, dilakukan oleh ahli. (5) Produk prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video). (6) Uji coba prototipe, ujicoba (kelompok kecil), (7) Revisi Produk II, revisi dari ujicoba (kelompok kecil), (8) Uji lapangan (kelompok besar), (9) Reproduksi, penyempurnaan produk Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk ahli dan siswa. Dengan kualifikasi 1 ahli media dan 2 ahli senam, sedangkan untuk siswa dilakukan uji coba (kelompok kecil) sebanyak 6 orang dan uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 23 orang. Hasil penilaian atau evaluasi model pembelajaran ini yaitu sebagai berikut: dari ahli media yaitu 80,41% (digunakan), dari ahli senam 91,00% (digunakan), dari uji coba (kelompok kecil) 82,68(digunakan) dan dari uji lapangan (kelompok besar) yaitu 90,30% (digunakan). Disarankan dalam penggunaan sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan isi materi yang ada, yang disesuaikan dengan kompetensi sekolah dan siswa.

Bahasa Arab Amiyah dalam percakapan sehari-hari pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang / Muh. Taib Azizin

 

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Ragam dan situasi penggunaan bahasa Arab terbagi menjadi dua, yaitu bahasa Arab fasih (fusha) dan bahasa Arab umum (amiyah). Bahasa fusha digunakan dalam situasi yang formal. Bahasa amiyah atau bahasa pasaran pada umumnya digunakan dalam kondisi informal, misalnya percakapan sehari-hari. Bahasa amiyah pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang menarik untuk diteliti karena merupakan bahasa yang sifatnya unik dan asing bagi kelompok masyarakat di luar penggunanya. Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa hal pokok yang meliputi: (1) bentuk kosakata bahasa Arab amiyah yang digunakan oleh masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, (2) pola kecenderung-an penggunaan bahasa Arab amiyah yang terjadi ketika berkomunikasi sehari-hari dalam masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, (3) faktor-faktor yang mendorong terjadinya penggunaan bahasa Arab amiyah dalam ber-komunikasi pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang . Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan kualitiatif. Keseluruhan data diambil dari observasi terlibat, wawancara, rekaman audio dan foto. Data diperoleh dari percakapan sehari-hari pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang. Peneliti sebagai instrumen utama dan alat rekaman audio (Flash Disk MP3), kamera digital dan tabel berformat sebagai instrumen tambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode cakap dan metode simak. Dalam pengumpulan data peneliti mendengarkan, mewawancarai dan merekam komunikasi informan yakni para jama’ah masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, kemudian mencatat data bahasa dan konteksnya yang meliputi (1) topik, (2) tempat pembicaraan, dan (3) peserta tutur. Langkah-langkah penyajian data ialah (1) transkripsi data (2) identifikasi data, (3) klasifikasi data (4) pemaparaan analisa data, dan (5) penyimpulan. Hasil penelitian adalah (1) kosakata Arab amiyah setempat yang mengalami pergeseran makna dan ujaran dari bahasa Arab fusha, bahasa Arab amiyah setempat terinterferensi oleh bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, (2) bahasa arab amiyah setempat digunakan untuk beralih kode yang berupa alih bahasa dan campur kode yang berupa campur bahasa dalam tataran kata dan frase. (3) penggunaan bahasa Arab amiyah oleh jama’ah di Embong Arab Kota Malang didorong oleh faktor sosial untuk mengakrabkan, merahasiakan, mengungkapkan perasaan dan faktor pengaruh situasi bicara.

Metilasi minyak kulit biji mete (cashew nut shell liquid) dengan dimetil sulfat dan kalium karbonat dalam benzena / Hurrotul Mardiyyah

 

Minyak kulit biji mete atau yang biasa dikenal dengan CNSL (Cashew Nut Shell Liquid) diperoleh dari kulit biji mete. CNSL berupa cairan kental berwarna hitam, berasa pahit, beracun dan korosif. Komponen terbesar penyusun CNSL adalah asam anakardat (Nagabushana & Ravindranat, 1995). Asam anakardat bermanfaat antara lain sebagai penghambat aktivitas tirosinase, antitumor, antibakteri. Sifat asam anakardat yang toksik terhadap sel kanker berkaitan dengan kepolarannya. Semakin nonpolar suatu senyawa, maka semakin toksik senyawa tersebut (Korolkovos, 1970). Artinya, bila suatu senyawa semakin bersifat nonpolar, maka kemampuannya dalam menghambat tumbuhnya sel kanker semakin besar. Untuk meningkatkan sifat nonpolar dari asam anakardat dapat dilakukan melalui metilasi, yaitu reaksi kimia untuk memasukkan gugus metil ke dalam suatu senyawa. Metilasi gugus karboksil pada asam anakardat akan menghasilkan metil ester dari asam anakardat. Pengubahan gugus metil menggantikan –H dari gugus karboksil asam anakardat dilakukan dengan menggunakan dimetil sulfat. Dimetil sulfat merupakan reagen pemetilasi yang digunakan bersama NaOH pada pembuatan alkil aril eter (anisol) atau digunakan bersama kalium karbonat dalam benzena. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah CNSL dapat dimetilasi dengan dimetil sulfat dan kalium karbonat dalam benzena, dan untuk mengetahui struktur senyawa yang dihasilkan. Pada penelitian ini, reaksi metilasi dilakukan dengan merefluks CNSL dengan dimetil sulfat, kalium karbonat dalam benzena sebagai pelarut pada suhu 75ºC selama 45 jam. Hasil reaksi dianalisis dengan KLT, dimurnikan melalui kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dengan eluen heksana-dietil eter-asam format (160:40:1). Senyawa hasil pemisahan dianalisis dengan menggunakan spektrometri IR dan HNMR. Dari data yang diperoleh disimpulkan bahwa: (1) CNSL dapat dimetilasi dengan menggunakan dimetil sulfat dan kalium karbonat dalam benzena. Pemisahan senyawa hasil metilasi menghasilkan senyawa dengan Rf=0,9. (2) Studi spektroskopi menunjukkan bahwa senyawa ini diduga adalah ester metil anakardat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh maka disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai sifat-sifat kimia dan fisik senyawa hasil metilasi CNSL, serta melakukan analisis spektoskopi lain agar yakin terhadap senyawa has

Penerapan pembelajaran fisika metode inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar dalam upaya meningkatkan kemampuan bekerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas X.7 SMA Negeri 2 Malang / Devinta Rantaurina

 

Penelitian dilakukan untuk menerapkan pembelajaran fisika metode inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar. Pembelajaran dilaksanakan pada pokok bahasan besaran dan satuan serta kinematika gerak lurus. Alasan dilakukan penelitian ini adalah kurangnya kemampuan bekerja ilmiah siswa kelas X-7 di SMA Negeri 2 Malang, yang terindikasi dari kurang terampilnya siswa dalam menggunakan alat-alat percobaan, bahkan ada beberapa siswa yang tidak mengetahui nama alat-alat yang digunakan dalam percobaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa, terungkap bahwa sebagian siswa tidak menyukai pelajaran fisika dengan alasan fisika sangat sulit untuk dimengerti dan tidak tahu aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bekerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas X-7 di SMA Negeri 2 Malang. Tindakan yang dilakukan berupa pembelajaran fisika metode inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian PTK yang dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas X-7 berjumlah 40 siswa. Kemampuan bekerja ilmiah diamati dengan menggunakan pedoman observasi kemampuan bekerja ilmiah yang mengacu pada kurikulum 2004. Hasil belajar siswa terbagi dalam tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif diukur berdasarkan hasil pre-test dan post-test siswa. Aspek afektif dan psikomotorik diamati dengan lembar penilaian afektif dan lembar penelitian psikomotorik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis gain score ternormalisasi untuk hasil belajar siswa aspek kognitif, sedangkan analisis hasil belajar aspek afektif, psikomotorik, kemampuan bekerja ilmiah dan keterlaksanaan pembelajaran menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan bekerja ilmiah dari siklus I ke siklus II yaitu, sebesar 4.85%. Hasil belajar siswa untuk aspek afektif mengalami peningkatan sebesar 7.19%. Hasil belajar siswa untuk aspek psikomotorik mengalami peningkatan sebesar 11.66%. Hasil belajar siswa untuk aspek kognitif mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Indikator peningkatan ini ditunjukan dengan gain score rata-rata 0,3 untuk siklus I dan 0,4 untuk siklus II.

Penggunaan piranti kohesi dalam karangan siswa kelas unggulan SMP Negeri 02 Sunan Drajat Paciran Lamongan tahun pelajaran 2004/2005 / Erwin Nur Hidayah

 

Pengembangan media pembelajaran interaktif untuk meningkatkan hasil belajar pada kompetensi dasar membuat homepage sederhana siswa kelas XII R-SMA-BI Negeri 1 Batu / Fina Kholij Zukhrufin

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran Interaktif, Flash, Hasil Belajar, Membuat Homepage Sederhana Standar Kompetensi (SK) pada Matapelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Semester Genap Kelas XII R-SMA-BI Negeri 1 Batu adalah Menggunakan Homepage Untuk Informasi dan Komunikasi. Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat pada SK tersebut adalah membuat homepage sederhana. Tujuan penelitian dan pengembangan ini menghasilkan media pembelajaran interaktif sesuai Silabus dan RPP Kelas XII R-SMA-BI Negeri 1 Batu, mendiskripsikan validasi media, mendiskripsikan penerapan media pada proses pembelajaran, dan mendiskripsikan hasil belajar siswa yang menggunakan media pembelajaran interaktif. Metode penelitian dan pengembangan penelitian ini perpaduan desain Sukmadinata dan Sadiman terdiri dari: (1) studi pendahuluan, meluputi a) studi pustaka, b) survei lapangan, dan c) perencanaan media pembelajaran; (2) pengembangan, meliputi a) analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, b) analisis tujuan pembelajaran, c) penyusunan materi, d) pengembangan alat evaluasi, e) menulis naskah media, f) mengadakan tes dan revisi, g) produksi; dan (3) pengujian, meliputi a) validasi ahli materi, b) validasi ahli media, c) uji coba satu lawan satu, d) uji coba kelompok kecil, dan d) uji coba lapangan. Hasil analisis validasi ahli materi menyatakan valid (88,95%), ahli media menyatakan valid (91,96), uji satu lawan satu menyatakan cukup valid (80,00%), uji kelompok kecil menyatakan cukup valid (84,79%), dan uji lapangan menyatakan valid (92,53%). Hasil belajar siswa dianalisis menggunakan uji-ݐ menyatakan terdapat perbedaan signifikan rata-rata skor ranah kognitif kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu a) Materi I kelas eksperimen 85,2 kelas kontrol 72,8; b) Materi II kelas eksperimen 93,2 kelas kontrol 68; terdapatperbedaan yang tidak signifikan rata-rata skor ranah afektif kelas eksperimen dan kelas kontrol a) Materi I kelas eksperimen 79,9 kelas kontrol 77,99 b) Materi II kelas eksperimen 79,4 kelas kontrol 78,2 terdapat perbedaan signifikan rata-rata skor ranah psikomotor kelas eksperimen dan kelas kontrol a) Materi I kelas eksperimen 97,8 kelas kontrol 66,9 b) Materi II kelas eksperimen 90,4 kelas kontrol 82,53. Kesimpulan pada penelitian dan pengembangan ini (a) penelitian dan pengembangan ini menghasilkan media pembelajaran yang valid dan sesuai dengan RPP di R-SMA-BI Negeri 1 Batu, (b) media pembelajaran interaktif digunakan sebagai alat bantu guru, dan (c) penererapan media pembelajaran pada proses pembelajaran mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII R-SMA- BI Negeri 1 Batu.

Diagnosis kesulitan belajar matematika siswa SMP Negeri 8 Malang pada pokok bahasan lingkaran dan pengajaran remidi / Lailul Furqon

 

ABSTRAK Furqon, Lailul. 2007. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 8 Malang pada Pokok Bahasan Lingkaran dan Pengajaran Remidialnya. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Askury, M.Pd., (II) Dra. Etty Tedjo Dwi Cahyowati, M.Pd Kata Kunci: Diagnosis, Kesulitan, Lingkaran, Pengajaran remidial Kesulitan belajar sering dialami oleh siswa dalam proses pembelajaran. Kesulitan belajar tersebut terlihat dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan soal-soal sehingga menyebabkan prestasi belajar rendah atau tidak memuaskan. Mendiagnosis kesulitan belajar matematika siswa serta berusaha menangani kesulitan tersebut melalui pengajaran remedial, merupakan bagian yang memegang peranan penting dalam kegiatan mengajar. Penelitian ini dilakukan untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang dalam mempelajari materi matematika pada pokok bahasan lingkaran dan menentukan bentuk pengajaran remidial yang sesuai. Pengajaran remidial tersebut dilakukan untuk membantu siswa mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Pendekatan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Data penelitian yang digunakan meliputi data tertulis berupa jawaban-jawaban siswa pada ulangan harian (tes diagnosis), berupa kata-kata yang diperoleh dari wawancara dengan beberapa siswa, serta hasil pengamatan terhadap proses belajar-mengajar selama penelitian berlangsung. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) Melaksanakan (tes diagnosis) ulangan harian, (2) Menentukan jenis kesulitan yang dialami siswa berdasarkan jawaban-jawaban mereka, (3) Menentukan subyek penelitian yaitu siswa yang belum mencapai SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yang diterapkan, (4) Mewawancarai subyek penelitian untuk mendapatkan informasi lebih sehingga dapat menyimpulkan, letak kesulitan siswa, (5) Melaksanakan pengajaran remidial, (6) Melaksanakan ulangan remidi II (7) Melakukan analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam mempelajari materi lingkaran secara umum adalah: (1) Kesulitan dalam menggunakan konsep tentang bagian-bagian lingkaran, (2) Kesulitan dalam menggunakan konsep yang merupakan prasyarat untuk menghitung keliling dan luas lingkaran. (3) Kesulitan dalam menggunakan konsep sudut pusat, panjang busur, luas juring, dan luas tembereng. (4) Kesulitan dalam menggunakan konsep untuk menghitung ukuran sudut (5) Kesulitan dalam menggunakan konsep untuk menghitung jari-jari lingkaran dalam dan lingkaran luar segitiga, (6) Kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita, (7) Kesulitan dalam melakukan komputasi. Pengajaran remedial dilakukan untuk membantu siswa mengatasi masalah-masalah mereka tersebut. Pengajaran remidial yang dilakukan dalam penelitian ini adalah (1) pengajaran remidial secara berkelompok bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal P1, (2) pengajaran remidial secara klasikal dengan menekankan pada pemahaman siswa yang masih belum benar, (3) pemberian PR, (4) meminta siswa mempelajari kembali bahan yang sama dari buku yang mereka miliki. Peneliti berharap guru segera mengadakan pengajaran remidial terhadap siswa setelah menemukan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa melalui diagnosis kesulitan tersebut. Peneliti juga berharap akan ada penelitian sejenis pada masa mendatang.

Penyusunan perangkat pembelajaran matematika konsep pecahan di kelas V sekolah dasar berdasarkan pendekatan pembelajaran matematika realistik (PMR) / Wahyu Prastyowati

 

ABSTRAK Prastyowati, Wahyu.2006. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Matematika Konsep Pecahan di Kelas V Sekolah Dasar berdasarkan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Edy Bambang Irawan, M. Pd. (II) Darmawan Satyananda.S.T, M.T Kata kunci: Perangkat pembelajaran, Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), Pecahan Guru dan siswa adalah dua faktor penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan pembelajaran matematika, guru seharusnya memiliki profesionalisme dalam memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang tepat, memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran, serta mampu melibatkan siswa berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukkan masih banyak guru mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran. Kesulitan-kesulitan tersebut diantaranya merancang kegiatan pembelajaran, memilih pendekatan yang tepat, serta menyesuaikan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Salah satu pendekatan yang dipertimbangkan dan ditetapkan dalam penulisan skripsi ini adalah pendekatan PMR (Pembelajaran Matematika Realistik). PMR adalah pendekatan pembelajaran matematika yang mendorong siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah realistik bagi mereka. Perangkat pembelajaran pada skripsi ini berupa silabus, rencana pembelajaran, lembar kegiatan siswa, lembar penilaian. Langkah-langkah dalam menyusun perangkat pembelajaran ini adalah: 1) melihat kurikulum yang berlaku sesuai dengan mata pelajaran dan satuan pendidikan, 2) menyusun silabus berdasarkan koomponen-komponen pada kurikulum, 3) menyusun rencana pembelajaran berdasarkan pendekatan PMR, yang terdiri dari tiga tahap yaitu: 1)tahap awal, prinsip PMR yang digunakan adalah the use of context dan intertwining, 2) tahap penelusuran, prinsip PMR yang digunakan adalah interactify, self develop models structuring and intertwining, 3) tahap akhir, prinsip PMR yang digunakan dalam tahap ini adalah social context and interaction, reflection and special assignment, 4) menyusun lembar kegiatan siswa yang akan dikerjakan oleh siswa secara berkelompok. 5) menyusun lembar penilaian yang berisi soal-soal realistik. Hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan perangkat pembelajaran ini ialah guru perlu melakukan validasi pada ahli untuk mengetahui kelayakan dari perangkat pembelajaran ini, guru harus meneliti kesesuaian perangkat pembelajaran ini dengan materi perkalian dan pembagian pecahan, guru harus benar-benar menguasai materi perkalian dan pembagian pecahan

Hubungan antara kecerdasan emosional dan depresi remaja kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo / Dewi Yuni Agreini

 

Konsep kecerdasan emosional yang diajukan oleh Goleman (2004) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi akan mampu menguasai diri, mengelola emosi, memotivasi diri dan mengarahkan dirinya untuk lebih produktif dalam berbagai hal yang dikerjakan. Sedangkan apabila kecerdasan emosionalnya rendah maka orang akan menjadi cemas, menyendiri, sering takut, merasa tidak dicintai, merasa gugup, sedih dan depresi. Penelitian deskriptif dan korelasional ini bertujuan untuk mengetahui kecerdasan emosional remaja kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo, depresi remaja kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo, dan mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan depresi remaja kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo. Populasi penelitian ini adalah remaja kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo yang berjumlah 272 siswa dengan sampel sebanyak 112 siswa yang diambil dengan teknik proportional random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kecerdasan emosional dan skala depresi. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase dan korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan banyak (70,5%) remaja yang memiliki kecerdasan emosional tergolong sedang, cukup banyak (66,9%) remaja yang memiliki tingkat depresi tergolong sedang, dan ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan depresi pada remaja kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada a) Kepala Sekolah agar dapat menetapkan dan mengembangkan program-program yang dapat menunjang kecerdasan emosional remaja, b) konselor hendaknya terus dapat meningkatkan perhatiaan dan layanan bimbingan pribadi, informasi dan sosial kepada siswa, c) guru diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan emosional di samping mengajarkan materi pelajaran, d) peneliti selanjutnya hendaknya mengadakan penelitian dengan menggunakan teknik penelitian yang lebih beragam (wawancara dan observasi) sehingga data yang diperoleh lebih maksimal dan dapat dikembangkan lebih luas lagi.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XI pada materi pokok kesetimbangan kimia / Itok Dwi Budiarto

 

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu upaya tersebut yaitu melalui penyempurnaan dalam bidang kurikulum. Saat ini telah diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melalui KTSP ini dilakukan penyempurnaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan, termasuk pada pelajaran kimia. Adanya sebagian konsep kimia yang bersifat abstrak akan menyebabkan siswa cenderung mengalami kesulitan untuk mengkonstruksi pemahaman secara tepat. Oleh karena itu diperlukan suatu konsep pembelajaran yang mampu mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa agar belajar lebih bermakna dan agar siswa mampu membuat pemahaman atau pengetahuan awal dengan cara menemukan konsep sendiri. Salah satu pembelajaran yang dapat diimplementasikan yaitu pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Melalui pembelajaran berbasis konstruktivistik, siswa dapat membangun pengetahuan sendiri berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari dan melalui pembelajaran berbasis kontekstual, siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manifestasi dari implementasi pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual tersebut, maka diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional. Hal ini dimaksudkan untuk membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, khususnya untuk mengoptimalkan pelaksanaan KTSP. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual serta mengetahui kesesuaian atau kelayakan perangkat pembelajaran tersebut untuk digunakan dalam pembelajaran kimia SMA/MA. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian, bagian pertama merupakan panduan guru (teacher’s guide) yang berisi silabus dan sistem penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), instrumen penilaian, dan buku guru. Sedangkan bagian kedua adalah buku siswa yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini diawali degan survai kondisi lapangan, kemudian dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran. Langkah selanjutnya dilakukan validasi sedangkan pengembangan produknya berdasarkan model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Langkah-langkah model pengembangan Dick dan Carey yaitu mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melakukan analisis materi pelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan pengalaman belajar, mengembangkan item tes berbasis kriteria, pemilihan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, melaksanakan evaluasi formatif (validasi), melakukan revisi, dan memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Berdasarkan hasil validasi dari empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 83,58% dengan kriteria valid/baik/layak. Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah.

Hubungan antara keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dengan keterampilan interpersonal siswa MAN Malang 1 / Anna Aisyiyah

 

Cooperative learning to improve the quality of the students' descriptive writing / Ahmad Nadhif

 

Despite the significance of writing ability in the walks of life, the teaching of writing in University of Kanjuruhan seems difficult to maximize the students’ ability to write. The class atmosphere, which keeps the students work individually and isolated from each other, does not much help increase the students’ learning motivation, the key factor in elevating their writing achievement. This research is classroom action research designed to improve the quality of the students’ descriptive writing through cooperative learning strategy, which refers to the instructional use of small groups so that students work together to maximize their own and each other's learning. This strategy is selected because it has been proven, through many studies, to be able to increase students’ learning motivation and achievement. The research problem is, “How can cooperative learning strategy be used to improve the quality of the students’ descriptive writing?” The subjects of the study are the students taking writing III in the even semester of 2006/2007 academic year, specifically the ones identified as getting the lowest score (1.14, 1.14, 1.29, 1.43, and 1.43), in the English Department of the Faculty of Teaching and Educational Science of Kanjuruhan University. The researcher, together with the lecturer, design an action based on the principles of cooperative learning strategy and set the criteria of success. The action designed is the implementation of class brainstorming in the prewriting stage, simultaneous roundtable in the drafting, revising, and editing stages, and jigsaw in the revising stage before simultaneous roundtable. By comparing to the criteria of success, which are the improvement of the subjects’ writing main score to the level of 2.00 based on a particular writing rubric, and the increasing learning motivation of the students, the implementation of the action and its results are then reflected on and drawn conclusion from. The findings show that, by the implementation of the action, the criteria of success are successfully achieved in the end of the first cycle so that the study does not proceed to the next cycle. The final writing score of subject 1 to subject 5 reach 2.71, 2.50, 2.14, 3.50, and 2.64, respectively. Moreover, the findings obtained from observation, questionnaire, and interview show that the students are motivated in doing the writing activities. The study ends up by offering some recommendations. It appeals to the writing lecturers in Kanjuruhan University to develop and implement cooperative learning strategy in their classes as an alternative to the commonly used strategy which keeps the students work individually. Besides, future researchers are also suggested to conduct further study on the implementation of cooperative learning strategy aiming at improving the quality of the other types of writing, namely narration, expository, and argumentation. Conducting research on the implementation of cooperative learning in the other language skill classes (reading, speaking, and listening) is also suggested to them.

Pengaruh beban bervariasi terhadap prestasi kerja motor bensin 4 langkah 1 silinder tipe Asahi GX 200 pada putaran konstan dengan modifikasi intake manifold bentuk O / Ahmad Nur Diansyah

 

Intake manifold adalah salah satu komponen yang dirancang untuk pemasukan bahan bakar yang terbuat dari paduan aluminium. Fungsi dari intake manifold adalah sebagai saluran tempat mengalirnya campuran bahan bakar dan udara yang sesuai ke dalam silinder atau ruang bakar pada saat piston melakukan langkah isap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh beban bervariasi terhadap prestasi kerja motor bensin 4 langkah 1 silinder tipe Asahi GX 200 pada putaran konstan dengan modifikasi intake manifold bentuk O. Prestasi kerja dari motor itu sendiri dapat ditinjau dari torsi (T), daya efektif (Nb), daya indikasi (Ni), spesifik fuel consumtion (SFC), spesifik fuel consumtion efektif (SFCE) dan efisiensi thermal (ήe). Jenis metode yang dipakai untuk penelitian ini adalah eksperimental yang bertujuan menyelidiki hubungan sebab akibat antara variable bebas (independent variabel) dan variabel terikat (dependent variabel). Variabel bebas (independent variabel) adalah beban. Sedangkan untuk variabel terikat (dependent variabel) adalah torsi (T), daya efektif (Nb), daya indikasi (Ni), spesifik fuel consumtion (SFC), spesifik fuel consumtion efektif (SFCE) dan efisiensi thermal (ήe). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mesin Konversi Energi Teknik Mesin Universitas Negeri Malang, hari senin tanggal 22 Januari 2007 jam 09.30 sampai dengan selesai. Analisis data yang didapat dalam penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan bantuan program komputer SPSS for Windows . Beban bervariasi yang digunakan adalah 1 Kg, 2 Kg, 3 Kg, 4 Kg, 5 Kg, 6 Kg, 7 Kg dengan putaran konstan yaitu, 6000 Rpm. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua variabel terikat (dependent variabel) mengalami kenaikan pada setiap kenaikan variabel bebas (independent variabel) kecuali, pada spesifik fuel consumtion efektif (SFCE) yang mengalami penurunan akibat, pengaruh nilai daya efektif (Nb) yang besar. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan modifikasi intake manifold pada motor karena, mempunyai pengaruh unjuk prestasi kerja yang paling baik dibandingkan dengan menggunakan intake manifold standard terutama pada rpm rendah sampai menengah.

Modifikasi camshaft untuk meningkatkan daya pada Honda GL 200 / Andri Purwantono

 

Camshaft salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik mesin, misalnya pencapaian puncak tenaga pada putaran atas, menengah , bawah. Dalam melakukan modifikasi camshaft/ disain ulang profil camshaft, perlu ditentukan tujuan modifikasi atau orientasi penggunaan mesin. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil camshaft yang tepat untuk meningkatkan daya dan untuk mengetahui karakteristik mesin setelah menggunakan camshaft modifikasi. Penelitian ini menggunakan mesin Honda GL 200 sebagai objek penelitian. Penelitian dilakukan di beberapa tempat: Bengkel Las Sinar Putra Purwodadi Pasuruan dan Bengkel Paddock AMS Purwodadi Pasuruan untuk pengerjaan modifikasi camshaft dan pemasangan. Sedangkan pengukuran variabel camshaft dilakuan di laboratorium Pusat Pendidikan dan Pelatihan Program 1 Tahun SUZUKI- UNIVERSITAS NEGERI MALANG, kemudian pengukuran torsi dan daya di bengkel Silver Motorsport (SMS) jl Raya Ngagel 77 H-J Surabaya. Rancangan penelitian yang digunakan penelitian experiment development. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis korelasi kendalls, kruskal-wallis, dan analisis grafik dan kajian pustaka. Dalam penelitian ini menggunkan 2 camshaft modifikasi yang berbeda profil dan 1 buah camshaft standar sebagai variabel kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara valve lift (jarak angkat katup), valve lift duration (lama angkat katup), valve lift timing (waktu angkat katup), lobe separation angle (LSA), overlap, tekanan kompresi dengan torsi dan daya pada Honda GL 200, dan terjadi peningkatan daya setelah menggunakan camshaft modifikasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian tentang variabel-variabel camshaft untuk pengembangan lebih lanjut, misalnya pengaruh perubahan 2˚,4˚,6˚,8˚,10˚ ovelap dan LCA terhadap torsi dan daya, dan masih banyak variabel-variabel lain yang perlu diteliti lebih lanjut. Setelah menemukan profil camshaft untuk mendapatkan daya maksimal dan efisiensi bahan bakar yang tinggi serta ramah lingkungan, dapat dipatenkan/hak cipta kemudian dijual pada dunia industri. Dalam melakukan modifikasi camshaft perlu ditetukan orientasi penggunaan mesin.

Perancangan media komunikasi visual objek wisata sumber air Oebalan di Kediri sebagai upaya peningkatan kunjungan wisata / Forthon Harisu Shulhi

 

Pengaruh kompetensi profesional guru terhadap kinerja guru akuntansi SMK swasta di Kota Malang / Evan Yuliana

 

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menghasilkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas. Pendidikan hendaknya dikelola secara profesional oleh tenaga yang profesional juga. Guru mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran, sehingga guru harus memiliki kompetensi profesional tinggi dan menghasilkan manusia yang memiliki SDM yang tinggi. Tujuan penelitian ini mencari pengaruh secara parsial dan simultan antara kompetensi perofesional guru (penguasaan bahan pengajaran, pengelolaan program belajar mengajar, pengelolaan kelas, penguasaan media, pengelolaan interaksi belajar mengajar, dan penilaian prestasi siswa) terhadap kinerja guru akuntansi SMK Swasta di kota Malang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi dengan pendekatan survey. Populasi dari penelitian ini adalah guru akuntansi dan siswa program keahlian akuntansi SMK Swasta di Kota Malang semester genap 2006/2007. Populasi guru akuntansi sebanyak 30 orang, semua populasi guru dijadikan sampel penelitian. Sedangkan jumlah populasi siswa program keahlian akuntansi sebanyak 1.406. Sampel diambil sebanyak 150 siswa atau 5 siswa untuk setiap guru akuntansi. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) besarnya sumbangan kompetensi penguasaan bahan pengajaran terhadap kinerja guru 42,6% (guru) dan 19,2 % (siswa), (2) besarnya sumbangan kompetensi pengelolaan program belajar mengajar terhadap kinerja guru 35,3% (guru) dan 24,4 % (siswa), (3) besarnya sumbangan kompetensi pengelolaan kelas terhadap kinerja guru 28,5% (guru) dan 22,5 % (siswa), (4) besarnya sumbangan kompetensi penguasaan media terhadap kinerja guru 14,9% (guru) dan 31,1 % (siswa), (5) besarnya sumbangan kompetensi pengelolaan interaksi belajar mengajar terhadap kinerja guru 29,7% (guru) dan 23,6 % (siswa), (6) besarnya sumbangan kompetensi penilaian prestasi siswa terhadap kinerja guru 24,7%(guru) dan 21,9 % (siswa), (7) dan terdapat pengaruh yang positif signifikan sebesar 83,6% (guru) dan 54,4% (siswa) antara kompetensi profesional guru (penguasaan bahan pengajaran, pengelolaan program belajar mengajar, pengelolaan kelas, penguasaan media, pengelolaan interaksi belajar mengajar, dan penilaian prestasi siswa) terhadap kinerja guru dan sisanya sebesar 16,4% (guru) dan 45,6% (siswa) dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini kiranya dapat digunakan oleh guru dalam meningkatkan kemampuan mengajar dan kinerja guru, terutama dengan menambah, mempelajari dan memperkaya penguasaan bahan pengajaran. Selain itu perlu ditingkatkan penguasaan kompetensi profesional yang lain.

Isolasi, karakterisasi dan identifikasi asam lemak penyusun minyak ikan dari kepala pindang sisik (Thryssa baelama) / Santi Finalia

 

Ikan sisik (Thryssa baelama) merupakan salah satu jenis ikan laut yang jarang sekali dipasarkan atau dijual dalam bentuk segar karena pada suhu kamar ikan ini mudah mengalami pembusukan sehingga terlebih dahulu diawetkan dengan cara pemindangan. Selain harganya relatif murah, ikan ini biasanya dikonsumsi masyarakat tanpa memakan bagian kepalanya padahal diduga mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengkarakterisasi, dan mengidentifikasi minyak ikan dari kepala pindang sisik (Thryssa baelama). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Penelitian Kimia FMIPA U M dan Laboratorium Kimia Organik FMIPA U G M. Ikan pindang sisik yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Prigi Kabupaten Trenggalek yang di ambil secara acak. Langkah dalam penelitian ini adalah kepala pindang sisik diekstrak dengan menggunakan metode Soxhlet dengan pelarut n-heksana. Selanjutnya dikarakterisasi meliputi indeks bias, bilangan penyabunan, bilangan iod, titik leleh, titik didih dan berat jenis. Identifikasi jenis asam lemak yang menjadi komponen utama minyak ikan didahului proses trans-esterifikasi dengan katalis natrium metoksida dan selanjutnya dianalisis dengan GC-MS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) rendemen minyak ikan dari kepala pindang sisik adalah 13,443 % dari berat kering, pada suhu kamar berwujud cairan kental, berwarna coklat tua dan berbau amis (2) Minyak ikan hasil isolasi dari kepala pindang sisik memiliki indeks bias sebesar 1,475, bilangan penyabunan sebesar 184,733, bilangan iod sebesar 124,55 titik leleh sebesar 35,33 o C, titik didih sebesar 124 o C dan berat jenis sebesar 0,832 g/mL. (3) Komponen utama minyak ikan dari kepala pindang sisik adalah asam lemak tak jenuh antara lain asam palmitoleat (asam cis-9-heksadekenoat) (6,32 %), asam elaidat (asam trans-9-oktadekenoat) (15,51 %), dan asam eikosapentaenoat (asam 5, 8, 11, 14, 17-eikosapentaenoat) (8,53 %) dan juga asam lemak jenuh antara lain asam miristat (asam tetradekanoat) (6,54 %), asam palmitat (asam heksadekanoat) (24,29 %) dan asam stearat (asam oktadekanoat) (12,74 %).

Perancangan buletin interaktif "brainstorming" berbasis multimedia untuk mendukung penyediaan literatur Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang / Andreas Syah Pahlevi

 

Kontribusi budidaya ikan keramba di danau Ranupakis terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Ranupakis Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang / Akhmad Ritaudin Hariadi

 

Danau Ranupakis di Desa Ranupakis Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang menyimpan potensi perikanan cukup besar, sehingga membutuhkan pengelolaan yang baik untuk mendapatkan hasil yang besar pula. Pengelolaan potensi perikanan dilakukan oleh masyarakat dengan cara tradisional, sehingga membuat pendapatan tidak menentu, apalagi pengelolaan ini oleh masyarakat dijadikan sebagai matapencaharian sampingan dari matapencaharian utama masyarakat Desa Ranupakis. Pengelolaan potensi perikanan yang masih tradisional dirasakan masih kurang efektif oleh masyarakat karena hasil ikan yang didapatkan sangat sedikit, sehingga dilakukan upaya pengembangan dengan usaha budidaya ikan keramba untuk meningkatkan taraf hidup. Budidaya ikan keramba diyakini akan mengalami perkembangan secara bertahap sehingga masyarakat beralih matapencaharian sebagai sebagai pengusaha ikan keramba, buruh, tengkulak, pengecer ikan di tepi danau dan penjual ikan siap saji di warung dari matapencaharian sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui budidaya ikan keramba di Danau Ranupakis Desa Ranupakis Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang dan 2) mengetahui kontribusinya terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Ranupakis Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan analisis menggunakan persentase. Populasi penelitian ini adalah masyarakat Dusun Krajan Desa Ranupakis. Sampel responden sejumlah 1216 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan proporsional random sampling sebanyak 102 orang. Data yang diperlukan adalah data tentang modal, tenaga kerja, produksi, pemasaran kepada konsumen, tingkat pendidikan, status sosial, interaksi sosial, tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, belanja, keadaan penduduk, curah hujan, debit air dan jenis tanah. Alat pengumpul data menggunakan kuisioner. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) sebagian besar pengusaha budidaya ikan keramba bermodal awal Rp 5.000.000,00 – Rp 5.999.900,00, modal tersebut diperoleh dari modal sendiri; 2) tenaga kerja yang diambil oleh pengusaha berasal dari keluarga sendiri dengan persentase 100%; 3) 44% pengusaha memasarkan hasil produksi kepada tengkulak; 4) tingkat pendidikan masyarakat tergolong sedang; 5) status sosial tertinggi pada masyarakat Desa Ranupakis dimiliki oleh tengkulak, sedangkan status sosial terendah dimiliki oleh buruh keramba; 6) interaksi sosial masyarakat dengan pengusaha berjalan dengan sangat baik; 7) tingkat pendapatan masyarakat Desa Ranupakis bervariasi sesuai dengan jenis pekerjaan; 8) 42,9% masyarakat menanggung beban 1-3 orang; 9) dengan adanya usaha budidaya ikan keramba, tingkat pendapatan masyarakat Desa Ranupakis meningkat sebesar 80% - 100%.

Penerapan pembelajaran kontekstual metode rollenspiel pada mata kuliah einfuhrung in die literaturwertschatzung / Rahmatul Lisanah

 

Sistem pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pembelajaran yang bertujuan membantu pembelajar melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Sistem pembelajaran kontekstual memiliki banyak sekali metode pembelajaran yang bisa dipakai, salah satunya adalah metode Rollenspiel. Metode Rollenspiel (Role Playing) adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan pembelajar. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan pembelajar dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan pembelajaran kontekstual metode Rollenspiel, dan hasil yang muncul setelah penerapan pembelajaran kontekstual metode Rollenspiel pada mata kuliah Einführung in die Literaturwertschätzung. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang pada mata kuliah Einführung in die Literaturwertschätzung. Sampel yang digunakan adalah seluruh mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah tersebut, yaitu sebanyak 41 mahasiswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat naturalistik. Untuk mendapatkan data, instrumen yang digunakan adalah lembar observasi aktifitas mahasiswa dan dosen, angket respon mahasiswa, dan tes yang dibuat oleh dosen pengajar mata kuliah Einführung in die Literaturwertschätzung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Rollenspiel dapat membuat mahasiswa lebih mudah memahami bacaan/cerita, dan juga dapat membuat mahasiswa menjadi lebih bersemangat dalam mengikuti perkuliahan Einführung in die Literaturwertschätzung. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar pengajar dapat menggunakan berbagai macam metode yang tersedia secara maksimal, dan sekaligus menggunakan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengajar.

Pengaruh latihan erobik teratur dengan frekuensi satu kali seminggu dan tiga kali seminggu terhadap peningkatan jumlah eritrosit dalam darah pada tikus putih / Ali Khasani

 

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh latihan teratur satu kali seminggu dan tiga kali seminggu terhadap peningkatan jumlah eritrosit dalam darah pada tikus putih jenis rattus norvegicus strain wistar. Penelitian ini menggunakan experimental laboratories dengan rancangan penelitian Randomized Control Group Postest-Only Design. Sebagai sampel digunakan 15 ekor tikus putih jenis Rattus norvegicus Strain Wistar. Sampel dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor dilakukan dengan cara random, K1 adalah kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan, K2 ialah latihan teratur satu kali seminggu dan K3 ialah latihan teratur tiga kali seminggu. Dosis latihan teratur dibuat dari rata-rata kemampuan maksimal dari tikus yang diberi perlakuan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang tanggal 3 Mei sampai 3 Juli 2007 setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Uji kemampuan maksimal dilakukan setiap dua minggu sekali pada hari Kamis Jumlah eritrosit dalam darah diperiksa dengan alat ABX Micros 60. Kemudian darah yang diambil sebanyak 2 mL dari jantung tikus dimasukkan dalam botol yang sudah diberi cairan EDTA di dalamnya. Setelah itu darah dalam botol tadi dimasukkan ke ABX Micros 60 untuk dilihat jumlah eritrositnya. Data dianalisis dengan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, analisis varian non-parametrik uji Kruskal Wallis, dan diteruskan uji Mann-Whitney U pada taraf signifikansi 5%. Kesimpulan dalam penelitian ini tidak terdapat pengaruh secara signifikan latihan erobik teratur dengan frekuensi satu kali seminggu terhadap peningkatan jumlah eritrosit dalam darah (p = 0,465), terdapat pengaruh secara signifikan latihan erobik teratur dengan frekuensi tiga kali seminggu terhadap peningkatan jumlah eritrosit dalam darah (p = 0,009), dan terdapat pengaruh secara signifikan antara latihan erobik teratur dengan frekuensi satu kali seminggu dan tiga kali seminggu terhadap peningkatan jumlah eritrosit dalam darah pada tikus putih (p = 0,009). Disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan bentuk latihan teratur yang berbeda, disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan menambah frekuensi latihan teratur yang berbeda dan disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan menggunakan sampel penelitian yang berbeda.

Penerapan model learning cycle berbahan ajar terpadu (makroskopis-mikroskopis) pada pembelajaran materi pokok sel Galvani terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XII MAN Malang I / Rizka Noraharja

 

Pembelajaran kimia merupakan pembelajaran yang sarat dengan konsep. Secara garis besar, konsep-konsep dalam kimia dapat di¬golongkan menjadi 2 yaitu konsep yang bersifat makroskopis dan mikroskopik. Untuk memahami kedua aspek, diperlukan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam meng¬eksplorasi kedua aspek secara terpadu. Model pembelajaran Learning Cycle (LC) berbahan ajar terpadu (memuat aspek makroskopis dan mikroskopis) diduga dapat memenuhi harapan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa yang diajar meng¬gunakan model LC berbahan ajar terpadu (Makroskopis-Mikroskopis) dengan siswa yang tidak diajar menggunakan model LC berbahan ajar ter¬padu (Makroskopis-Mikroskopis); dan (2) Mengetahui respon siswa dan guru terhadap model pembelajaran LC. Desain penelitian ini adalah eksperimental semu. Penelitian ini dilakukan di MAN Malang I pada bulan Juli-Agustus 2006 dengan menggunakan 2 kelas, kelas XII IPA1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII IPA 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk penelitian mencakup bahan ajar terpadu, perangkat observasi kelas, tes hasil belaj¬ar kognitif, skenario pembelajaran, serta angket respon siswa dan guru. Data penelitian ini berupa data hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, data respon siswa dan guru. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji- t terhadap data hasil belajar kognitif. Teknik analisis deskriptif untuk mendeskripsikan hasil belajar afektif dan psikomotorik, respon siswa dan guru. Hasil penelitian menunjukkan (1) Ada perbedaan hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik antara siswa yang diajar dengan model LC berbahan ajar terpadu (Makros¬kopis-Mikroskopis) dengan siswa yang diajar secara konvensional. Siswa yang diajar dengan model LC memiliki hasil belajar kognitif dan retensi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa yang diajar secara konvensional; dan (2) Respon siswa terhadap model pembelajaran LC berbahan ajar terpadu (Makros¬kopis-Mikroskopis) sebesar 70,27% siswa merespon positif terhadap model LC, dan 29,73% merespon sangat positif. Respon guru terhadap model pembelajaran LC berbahan ajar terpadu (Makros¬kopis-Mikroskopis) sangat positif, yakni guru me¬nilai dengan model LC siswa menjadi lebih aktif dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Hubungan panjang akar Acacia nilotica (L.) wild ex del. dengan kandungan nitrogen total dalam tanah di savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur / Fitria Soraya

 

Telah dilakukan penelitian tentang hubungan panjang akar Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. dengan kandungan nitrogen total dalam tanah di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan panjang akar Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. dengan kandungan nitrogen total dalam tanah di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur. Rancangan penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menyatakan hubungan antara panjang akar dengan kandungan N total dalam tanah. Total panjang akar dibedakan sesuai umur tanaman yaitu 1, 3, 5, dan 7 tahun. Pada setiap umur tanaman, dipisahkan total panjang akar berdasarkan ukuran diameter akar, yaitu < 1 mm, 1-5 mm, dan > 5 mm. Sampel tanah yang digunakan untuk mengetahui kandungan N total, yaitu tanah yang berukuran 0,5 μm dan ditimbang sebesar 0,5 g. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis regresi untuk mengetahui adanya hubungan panjang akar dengan N total dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) panjang akar Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. umur 5 dan 7 tahun dengan diameter akar 1-5 mm berhubungan secara signifikan dengan kandungan N total dalam tanah di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur. Hubungan ini digambarkan dengan persamaan garis linier regresi negatif. Hal ini dapat dikatakan bahwa setiap penambahan panjang akar akan diikuti dengan penurunan kadar N total. Penurunan kadar N total di tanah disebabkan banyaknya unsur hara N tersedia yang terserap oleh akar Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. Hal ini memungkinkan terjadinya kompetisi penyerapan unsur N antara Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del dengan rumput. Akar dengan diameter 1-5 mm diperkirakan merupakan akar yang masih muda sehingga dapat menyerap N lebih besar, dan pada akar dengan diameter 1-5 mm juga didukung oleh cabang-cabang akar yang lebih kecil dan rambut-rambut akar yang membantu dalam kegiatan absorpsi unsur hara, 2) panjang akar Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. umur 5 dan 7 tahun pada diameter akar < 1 mm dan > 5 mm berhubungan secara tidak signifikan dengan kandungan N total dalam tanah di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur, 3) panjang akar Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. umur 1 dan 3 tahun untuk semua diameter berhubungan secara tidak signifikan dengan kandungan N total dalam tanah di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur.

Senyawa-senyawa hasil etilasi asam risinoleat dengan etil bromida dan natrium hidroksida dalam pelarut etanol / Serafi Filia Sinar Wijaya

 

ABSTRAK Filia, S. W, Serafi. 2007. Senyawa-senyawa Hasil Etilasi Asam Risinoleat dengan Etil Bromida dan Natrium Hidroksida dalam Pelarut Etanol. Skripsi. Jurusan KIMIA FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. H. Parlan, Msi., (2) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata kunci: asam risinoleat, etilasi, etil 12-etoksi-cis-9-oktadekenoat, etil 12- hidroksi-cis-9-oktadekenoat Asam risinoleat (asam 12-hidroksi-cis-9-oktadekenoat) merupakan asam lemak tidak jenuh berantai panjang dan merupakan asam lemak penyusun utama minyak jarak. Pemanfaatan asam risinoleat lebih banyak sebagai senyawa-senyawa turunan asam risinoleat daripada digunakan secara langsung, karena pada asam risinoleat terdapat beberapa gugus fungsi yang memungkinkannya bereaksi dengan senyawa lain. Salah satu kegunaan asam risinoleat adalah sebagai minyak pelumas. Pemanfaatan asam risinoleat dan turunannya sebagai pelumas sangat terkait dengan kekentalannya (viskositas). Penggunaan asam risinoleat sebagai minyak pelumas hanya terbatas pada mesin hidroulik. Hal ini disebabkan karena viskositasnya yang tinggi akibat adanya ikatan hidrogen antar molekul yang terbentuk antara gugus karboksil (-COOH) dan gugus hidroksil (-OH). Untuk mengurangi viskositas asam risinoleat dapat dilakukan dengan cara mengubah gugus (-COOH) dan gugus (-OH) menjadi gugus (-COOR) dan gugus (-OR). Usaha pengubahan gugus (-COOH) dan gugus (-OH) pada penelitian sebelumnya dilakukan dengan cara alkilasi menggunakan bahan pengalkil dimetil sulfat. Pada penelitian ini dilakukan alkilasi terhadap asam risinoleat dengan menggunakan bahan pengalkil etil bromida yang digunakan bersama NaOH dalam pelarut etanol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah asam risinoleat dapat dietilasi dengan etil bromida dan natrium hidroksida dalam pelarut etanol, serta untuk mengetahui senyawa-senyawa apa yang dihasilkan dari reaksi etilasi asam risinoleat tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, dengan sampel penelitian adalah asam risinoleat. Reaksi etilasi dilakukan dengan merefluks asam risinoleat dengan etil bromida, natrium hidroksida dan etanol sebagai pelarut pada suhu 60-63 oC selama 54 jam. Hasil reaksi dianalisis dengan KLT, dipisahkan melalui kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dan eluen heksana-dietil eter-asam format (70:30:2). Senyawa-senyawa hasil pemisahan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer IR dan 1H- NMR. Etilasi asam risinoleat dengan pereaksi etil bromida menghasilkan dua senyawa, yaitu senyawa dengan Rf = 0,70 dan senyawa dengan Rf = 0,46. Berdasarkan hasil identifikasi struktur dengan metode spektroskopi IR dan 1H- NMR, dapat diketahui bahwa senyawa pertama adalah etil 12-etoksi-cis-9-oktadekenoat, sedangkan senyawa kedua adalah etil 12-hidroksi-cis-9-oktadekenoat. Agar senyawa hasil etilasi ini dapat dimanfaatkan lebih luas, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai sifat fisik dan sifat kimia dari etil 12-etoksi-cis-9-oktadekenoat dan etil 12-hidroksi-cis-9-oktadekenoat.

Pengaruh latihan teratur satu kali seminggu dan tiga kali seminggu terhadap peningkatan kadar superoksida dismutase (SOD) dalam darah pada tikus putih / Sugeng Riadi

 

ABSTRAK Riadi, S. 2007. Pengaruh Latihan Teratur Satu Kali Seminggu dan Tiga Kali Seminggu terhadap Peningkatan Kadar Superoksida Dismutase (SOD) dalam Darah pada Tikus Putih. Skripsi, Program Studi Ilmu Keolahragaan, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) dr. Hartati E. W, M. Si Med (II) dr. Moch Yunus, M. Kes Kata Kunci: Latihan teratur, radikal bebas, antioksidan, superoksida dismutase. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh latihan teratur satu kali seminggu dan tiga kali seminggu terhadap peningkatan kadar Superoksida Dismutase (SOD) dalam darah pada tikus putih jenis rattus norvegicus strain wistar. Penelitian ini menggunakan experimental laboratories dengan rancangan penelitian Randomized Control Group Postest-Only Design. Sebagai sampel 15 ekor tikus putih jenis rattus norvegicus strain wistar. Sampel dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor dilakukan dengan cara random, kelompok 1 adalah kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan (K1), kelompok 2 ialah latihan teratur satu kali seminggu (K2) dan kelompok 3 ialah latihan teratur tiga kali seminggu (K3). Dosis latihan teratur dibuat dari rata-rata kemampuan maksimal dari tikus yang diberi perlakuan, dengan cara memberikan beban seberat 3% dari berat badan, beban latihan diambil 80% dari kemampuan maksimal. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang tanggal 3 Mei sampai 3 Juli 2007 setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Setiap dua minggu sekali dilakukan penimbangan berat badan dan latihan maksimal untuk menentukan beban latihan selanjutnya. Kemampuan maksimal diperoleh dari memberikan latihan renang pada tikus dengan beban 3% yang diikatkan pada ekor tikus sampai tikus mengalami kelelahan yaitu hingga tikus tenggelam selama 10 detik. Beban latihan adalah 80 % dari waktu rata-rata kemampuan maksimal. Setelah dilakukan latihan selama 2 bulan tikus diistirahatkan selama 48 jam sebelum dilakukan pengambilan darah untuk diukur kadar SOD. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik parametrik menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homodenitas, uji anava dan Uji Least Square Different (LSD) melihat perbedaan kadar superosida dismutase (SOD) per variabel. Hasil penelitian diperoleh mean kadar SOD tiap kelompok yaitu K1 = 32,260 unit/cc, K2 = 44,520 unit/cc, K3 = 49,033 unit/cc, dari jumlah rata-rata kadar SOD dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan jumlah kadar SOD. Hasil uji anava mununjukkan nilai F=16,284 dan P= 0,000<0,05 yang berarti hipotesis ditolak, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiga kelompok perlakuan. Hasil uji LSD menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara peningkatan kadar SOD K2 dan K3. Perlu adanya penelitian serupa dengan bentuk latihan yang berbeda atau dengan latihan yang sama terhadap antioksidan enzimatik yang lain.

Persepsi siswa tentang peran konselor dengan perkembangan karir siswa kelas 3 SMK Negeri 2 Malang / Anita Rahayu Ekawati

 

Peran konselor terkait dengan perkembangan karir merupakan salah satu faktor dalam membantu siswa mengenali dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa dalam bidang pendidikan, pekerjaan, bidang sosial, personal, membantu mereka mengembangkan kemampuan mengambil keputusan dan menyusun rencana masa depannya. Untuk mengetahui keefektifan peran konselor dengan perkembangan karir di sekolah maka dilakukan penelitian terhadap siswa kelas 3 SMK Negeri 2 Malang melalui angket yang dibuat oleh peneliti. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Penelitian ini adalah siswa kelas 3 jurusan pekerjaan sosial SMK Negeri 2 Malang tahun pelajaran 2006/2007 yang keseluruhan berjumlah 75 orang siswa dibedakan sesuai dengan jurusan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (a) peran konselor kelas 3 di SMK Negeri 2 Malang (b) Perkembangan karir siswa kelas 3 SMK Negeri 2 Malang, dan (c) kontribusi peran konselor terhadap perkembangan karir siswa kelas 3 SMK Negeri 2 Malang. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah propotional random sampling. Pengumpulan data menggunakan alat ukur berupa angket. Analisis hasil penelitian ini mengunakan analisis persentase dan korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang peran konselor dengan perkembangan karir siswa kelas 3 SMK Negeri 2 Malang. Saran yang disampaikan kepada kepala sekolah yaitu dapat digunakan sebagai masukan dalam pengambilan kebijakan untuk kepentingan peningkatan kualitas lulusan di SMK. Saran bagi siswa yaitu diharapkan dapat lebih berani dalam mengambil keputusan karir di masa depan.

Studi kelayakan rancangan manufaktur pada tugas akhir mahasiswa diploma tiga Teknik Mesin untuk diproduksi / Sabidin

 

Tugas akhir mahasiswa diploma tiga merupakan produk teknologi perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras diwujudkan dari sebuah gambar rancangan. Gambar rancangan merupakan media komunikasi antara perancang dengan operator pelaksana manufaktur. Gambar rancangan harus dapat menyatakan bentuk benda secara tepat sehingga pelaksana operator tidak mengalami kesulitan untuk membaca gambar dan memproduksi menjadi mesin atau teknologi sesuai gambar rancangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambar rancangan manufaktur memenuhi fungsi sebagai media komunikasi antara perancang dengan operator pelaksana manufaktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik penelitian pengamatan. Peneliti mulai dengan asumsi bahwa konteks itu kritis sehingga masing-masing konteks itu ditangani dari segi konteksnya sendiri. Sehingga untuk mengidentifikasi kelayakan suatu gambar rancangan peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel bertujuan (purposive sample). Data-data yang didapat dari gambar rancangan diorganisasikan dan dikelompokkan ke dalam satuan-satuan kecil sesuai tahun pembuatan. Gambar rancangan diberi kode dan nomor urut agar memudakan pembuatan tabel dan paparan data. Data kelengkapan masing-masing komponen yang meliputi dimensi linier, sudut, kelengkungan atau kurva yang telah direkam dalam tabel perekam data direduksi. Selain proses dan pekerjaan reduksi data, diperlukan juga proses display data kedalam garafik dan tabel, kemudian dilakukan pengambilan kesimpulan. Dari sepuluh gambar rancangan yang diteliti mempunyai 201 komponen, didapat 124 komponen yang layak diproduksi (56,998%). Komponen yang bisa diproduksi tetapi fungsinya terganggu atau tidak maksimal sebanyak 10 komponen (4,525%). Komponen yang tidak layak diproduksi sebanyak 67 komponen (38,750%). Dari komponen yang tidak layak diproduksi terdapat 21 komponen yang tidak mempunyai kelengkapan ukuran (30,88%), 21 komponen yang tidak mempunyai gambar detail (30,88%), 18 komponen tidak mempunyai ukuran toleransi (26,47%), 16 komponen tidak mempunyai tanda pengerjaan (23,53%), 16 komponen tidak mempunyai spesifikasi material (23,53%) dan 2 komponen tidak mempunyai kualitas permukaan (2,94%).

Pengaruh media benda nyata dan sikap siswa terhadap hasil belajar mata diklat sistem stater di SMK Negeri 1 Gambut Kalimantan Selatan / Ahmad Yanis

 

Proses pendidikan yang berkualitas, mampu menghasilkan lulusan yang ber-kualitas pula. Oleh karena itu diperlukan strategi pengelolaan pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar melalui stimulasi sikap belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan memudah-kan siswa memahami substansi materi ajar. Berdasarkan konsep bahwa media pem-belajaran dan sikap belajar siswa merupakan bagian dari dimensi untuk mencapai hasil belajar siswa, maka diperlukan strategi pengembangan media mata diklat Sistem Stater Kelistrikan Otomotif SMK, sehingga menarik dan menumbuhkan stimuli sikap belajar siswa dalam rangka pencapai hasil belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, 1) perbedaan hasil belajar mata diklat sistem starter kelistrikan otomotif antara siswa yang belajar dengan meng-gunakan media benda nyata dengan mereka yang belajar menggunakan media gambar, 2) perbedaan hasil belajar mata diklat sistem starter kelistrikan otomotif antara siswa yang memiliki sikap tinggi dengan siswa yang memiliki sikap rendah, dan 3) interaksi penggunaan media dan sikap siswa terhadap hasil belajar mata diklat sistem starter kelistrikan otomotif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dengan rancangan faktorial prates-pascates. Data penelitian diperoleh dari tes hasil belajar dan angket sikap belajar siswa, yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Instrumen evaluasi hasil belajar dan angket sikap belajar siswa, diberikan kepada kelompok eksperimen media benda nyata dan kelompok kontrol media gambar, masing-masing 30 orang siswa SMK Negeri 1 Gambut. Hasil penelitian menunjukan : (1) terdapat perbedaan yang signifikan terha-dap hasil belajar sistem stater kelistrikan otomotif, antara kelompok siswa yang belajar melalui media benda nyata dengan kelompok siswa yang menggunakan media gambar dengan probabilitas signifikansi (p) sebesar 0,006, (2) terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar sistem stater kelistrikan otomotif, antara kelompok siswa yang memiliki sikap belajar rendah dengan kelompok siswa yang memiliki sikap belajar tinggi dengan probabilitas signifikansi (p) sebesar 0,037, (3) tidak terdapat interaksi antara penggunaan media dan sikap siswa terhadap hasil belajar mata diklat sistem stater kelistrikan otomotif dengan proba-bilitas signifikansi (p) sebesar 0,427, Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan kepada: (1) guru dan penge-lola SMKN 1 Gambut, agar mengembangkan dan menggunakan media benda nyata dalam kegiatan pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan, (2) guru dan pengelola SMKN 1 Gambut, agar senantiasa melakukan pengembangan media pembelajaran terutama desain media benda nyata yang mampu menumbuh-kan sikap belajar siswa, sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar. (3) guru, sekolah, dan praktisi pendidikan yang terkait, untuk melakukan kajian dan pene-litian lanjutan pada cakupan populasi yang lebih luas mengenai penggunaan media pembelajaran, dan aspek lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga dihasilkan rekomendasi strategi pengembangan media pembelajaran yang lebih komprehensif khususnya bagi SMK.

Studi tentang penanganan cedera sprain pada tim sepakbola Persid Jember / Yuswardi Leksmana

 

Sprain adalah cedera di sekitar persendian akibat dari peregangan/robekan pada ligamen yang dibedakan berdasarkan berat ringannya. Penanganan cedera sprain dilakukan dengan berbagai upaya, yaitu upaya pertolongan pertama, upaya kuratif/pengobatan, upaya rehabilitasi/pemulihan, dan sebagai tindakan agar tidak terjadi cedera sprain dilakukan upaya preventif/pencegahan. Berdasarkan hasil observasi, penanganan cedera sprain pada tim sepakbola Persid Jember kurang memenuhi sistematika penanganan cedera di atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) bagaimanakah upaya preventif/pencegahan cedera sprain, (2) bagaimanakah upaya pertolongan pertama cedera sprain, (3) bagaimanakah upaya kuratif/pengobatan cedera sprain, dan (4) bagaimanakah upaya rehabilitasi/pemulihan cedera sprain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif yaitu mendeskripsikan temuan-temuan yang ada di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan di Mess Persid Jember pada tanggal 1 sampai 17 Juni 2007. Subjek dalam penelitian ini adalah pemain, pelatih, dan tim medis Persid Jember yang berjumlah 24 responden. Hasil penelitian ini adalah: (1) 67,2% responden menyatakan melakukan upaya preventif/pencegahan cedera sprain, (2) 65,8% responden menyatakan melakukan upaya pertolongan cedera sprain, (3) 72,5% responden menyatakan melakukan upaya kuratif/pengobatan cedera sprain, (4) 72,7% responden menyatakan melakukan upaya rehabilitasi/pemulihan cedera sprain. Beberapa saran yang peneliti berikan yaitu (1) kepada pelatih agar meningkatkan latihan kekuatan dan kelentukan sebagai upaya preventif/pencegahan cedera sprain, baik latihan di lapangan maupun di sanggar kebugaran jasmani, (2) kepada tim medis agar selalu menggunakan prinsip RICE dalam melakukan pertolongan pertama dan meninggalkan penggunaan masase dalam upaya pertolongan cedera sprain, (3) untuk tim medis agar selalu melaporkan perkembangan cedera yang dialami pemain, (4) kepada pemain agar tidak melakukan aktivitas yang berat pada saat upaya pemulihan cedera sprain.

Pengaruh stres kerja dan kepuasan gaji terhadap komitmen afektif (studi pada karyawan PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office di Malang Kota) / Dewi Khoirun Ni'mah

 

Stres kerja merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan terganggunya operasional perusahaan jika karyawan perusahaan tersebut tidak mampu menanggulanginya. Manajemen harus selalu memikirkan berbagai cara untuk mencegah atau mengatasi terjadinya stres kerja yang tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan manajemen ialah pemberian gaji yang sesuai dengan apa yang dikorbankan karyawan kepada perusahaan. Selain dimaksudkan untuk mengurangi tingkat stres kerja yang akan muncul, hal ini juga dapat meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Dengan demikian, pada akhirnya diharapkan karyawan memiliki tingkat komitmen afektif yang tinggi terhadap perusahaan. Dengan arti, karyawan dapat mengidentifikasikan dirinya dengan perusahaan, memiliki tingkat loyalitas yang tinggi serta mendukung segala program perusahaan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian yang telah ada. Data yang diperoleh menggunakan angket tertutup dengan instrumen penelitian yang dipakai dalam penelitian terdahulu dan telah teruji. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah multi stage sampling atau pengambilan sampel secara bertahap. Tahap pertama ialah penghitungan menggunakan rumus Slovin. Dari jumlah populasi sebanyak 175 orang didapatkan 63 responden. Langkah selanjutnya, mengkonsultasikan hasil perhitungan tersebut dengan pihak perusahaan untuk mendapatkan kepastian sebaran sampel. Penelitin ini berusaha meneliti pengaruh stres kerja terhadap komitmen afektif melalui kepuasan gaji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kondisi stres kerja, kepuasan gaji dan komitmen afektif karyawan PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office di Malang Kota dalam tingkat sedang; (2) terdapat pengaruh negatif yang tidak signifikan antara variabel stres kerja terhadap variabel kepuasan gaji di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office sebesar -0,045; (3) terdapat pengaruh negatif yang signifikan antara variabel stres kerja terhadap variabel komitmen afektif di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office sebesar -0,376; (4) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel kepuasan gaji terhadap variabel komitmen afektif di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office sebesar 0,498; (5) terdapat pengaruh negatif yang signifikan antara variabel stres kerja terhadap variabel komitmen afektif melalui variabel kepuasan gaji di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office sebesar -0,022. Saran yang dapat diberikan peneliti antara lain: (1) hendaknya pihak manajemen menerapkan manajemen stres kerja yang lebih tepat bagi karyawannya agar dapat menekan tingkat stres kerja yang muncul, misalnya diadakan olah raga bersama seminggu sekali, pemberian informasi bagaimana cara yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target yang telah ditetapkan; (2) hendaknya manajemen memperhatikan hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakpuasan gaji, misalnya administrasi gaji yang lambat, pengiriman gaji yang lambat ke rekening karyawan, pemberian tunjangan yang sesuai dengan kebutuhan karyawan, dan sebagainya; (3) untuk menaikkan komitmen afektif hendaknya manajemen selalu meningkatkan berbagai upaya agar karyawan mempunyai sifat loyal terhadap perusahaan, misalnya pemberian gaji yang adil agar muncul kepuasan gaji yang pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas karyawan terhadap organisasi; (4) bagi penelitian selanjutnya, hendaknya menggunakan indikator stres kerja yang lainnya yang lebih dapat menjelaskan kondisi stres kerja yang dialami karyawan, misalnya penggunaan variabel konflik peran, kerancuan peran, stres terkait tantangan, dan sebagainya agar dapat menjelaskan hubungan dengan variabel lainnya; (5) dengan adanya pengaruh negatif signifikan stres kerja terhadap komitmen afektif, hendaknya pihak perusahaan menerapkan manajemen stres kerja yang lebih tepat bagi karyawannya, agar stres kerja yang muncul tidak dapat mempengaruhi tingkat komitmen afektif karyawan; (6) dengan adanya pengaruh positif signifikan antara level kepuasan gaji terhadap komitmen afektif maka pihak perusahaan hendaknya meningkatkan upaya agar diperoleh kepuasan gaji yang tinggi dengan mengambil tindakan korektif agar kekurangan yang berhubungan dengan rendahnya kepuasan gaji dapat dihindari.

Surat Keputusan Rektor Universitas Negeri Malang tentang penetapan sumbangan pembinaan pendidikan dalam perspektif hulum / Tri Wibowo

 

Pengambilan keputusan menurut Stoner (dalam Hasan, 2002:10), adalah suatu proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Pengambilan keputusan berfungsi sebagai pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional, dan memiliki perspektif ke masa depan. Surat Keputusan (SK) Rektor tentang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) merupakan produk Hukum Administrasi Negara (HAN) dan memiliki kekuatan yang mengikat subjek hukum, dalam hal ini adalah mahasiswa. Implementasi dari suatu produk hukum, harus mengacu pada norma hukum yang berlaku dan aspek kepastian hukum, agar produk hukum yang dikeluarkan oleh pejabat negara berada dalam koridor yang benar serta untuk menghindari kesewenang-wenangan pejabat negara dalam mengeluarkan suatu keputusan untuk menetapkan kebijakan. Dalam menetapkan besarnya tarif SPP, sehingga diterbitnya SK Rektor Universitas Negeri Malang (UM) tentang SPP, idealnya harus mengacu pada hukum yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar keputusan yang dikeluarkan tidak memiliki cacat hukum yang dapat dijadikan celah hukum untuk melakukan litigasi (berperkara) di Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN), dan agar produk hukum yang menjadikan subjek hukum terkena suatu kewajiban, hendaknya juga memperhatikan hak subjek hukum tersebut. Dari sini dituntut agar dalam menetapkan besarnya SPP hingga diterbitkannya SK Rektor tentang SPP berpedoman pada norma hukum yang berlaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar hukum yang digunakan Rektor UM untuk menetapkan suatu SK dengan besarnya SPP bagi mahasiswa UM, dan untuk mengetahui prosedur dalam menetapkan besarnya SPP, serta legalitas SK Rektor UM tentang SPP. Jenis dan pendekatan penelitian ini adalah jenis penelitian yuridis-normatif dan kualitatif deskriptif. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis isi dan deskriptif analisis. Hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini diperoleh bahwa dasar hukum yang digunakan Rektor UM untuk menetapkan SK Rektor tentang tarif SPP, terdapat di dalam konsiderans mengingat SK Rektor UM tentang tarif SPP. Prosedur dalam menetapkan SPP di UM, tidak sesuai teori hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini disebabkan, karena dalam menetapkan besarnya tarif SPP di UM sehingga diterbitkannya SK Rektor UM tentang tarif SPP, tidak melibatkan mahasiswa atau publik yang relevan dan senat UM dalam menetapkan besarnya tarif SPP, serta adanya beberapa hal yang bertentangan dengan asas perundang-undangan, yaitu bertentangan dengan asas Lex Superiori Derogat Legi Inferiori, yang artinya aturan hukum yang berada di bawah tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum yang ada di atasnya. Konsep perbuatan hukum sepihak atau keputusan administrasi negara sebagai wewenang atributif Rektor, dikatakan benar dalam hal memutuskan suatu perkara yang sifatnya konkret menunjuk pada individu atau perorangan yang menyebutkan nama maupun identitas yang lain terkait dengan orang yang terkena putusan. Tetapi hal ini berbeda dengan konsep SPP, karena SPP terkait dengan banyak pihak, sehingga konsep hukumnya seharusnya melibatkan mahasiswa atau publik relevan agar tidak melanggar hak subjek hukum. Berdasarkan penggunaan prosedur yang salah itu, dapat mengakibatkan tidak sah atau tidak legalnya SK Rektor UM tersebut, dan hal ini dapat dijadikan dasar gugatan atau melakukan litigasi di PTUN berdasarkan pasal 53 Undang-undang (UU) nomor 5 tahun 1986 tentang PTUN, juncto UU nomor 9 tahun 2004, tentang perubahan UU nomor 5 tahun 1986. Adapun hal lain yang bertentangan, yaitu tidak dilibatkannya Senat UM dalam menetapkan besarnya tarif SPP, bertentangan dengan pasal 6 ayat 3 Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional Nomor 28/DIKTI/kep/2002 tentang penyelenggaraan program reguler dan non-reguler di Perguruan Tinggi Negeri, dan butir 5 Surat Edaran Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional, nomor 982/D/T/2002 perihal Mekanisme Penerimaan Mahasiswa Baru, bahwa yang berhak menetapkan besarnya biaya pendidikan termasuk SPP adalah senat perguruan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar pihak-pihak yang terkait dengan SK Rektor UM tentang SPP lebih memperhatikan norma hukum yang berlaku guna menegakkan kepastian hukum dalam lingkungan UM demi terciptanya suatu keadilan, dan untuk menghindari suatu celah hukum yang dapat mengakibatkan adanya gugatan ke PTUN yang dampaknya dapat membatalkan berlakunya SK Rektor UM tentang tarif SPP tersebut.

Analisis tabrakan dua mobil pada model car following / Annisa Rahmah

 

Dalam bidang transportasi, pemodelan matematika digunakan untuk menggambarkan kondisi pergerakan lalu lintas jalan raya yang diperoleh dari berbagai asumsi hasil pengamatan. Pemodelan matematika tentang arus lalu lintas ini, berupa sebuah persamaan diferensial, yang kemudian dari persamaan tersebut akan dicari selesaiannya. Skripsi ini membahas bagaimana dinamika pergerakan mobil di sekitar lampu Traffic Light. Hal menarik yang ingin diamati adalah bagaimana dinamika mobil sekitar lampu Traffic Light hingga menyala lampu hijau. Deskripsi sederhana dari permasalahan di atas, dimodelkan secara matematis dalam bentuk persamaan diferensial biasa delay (waktu tunda). Model ini dibangun dengan asumsi pergerakan mobil satu arah dan badan jalan hanya memuat satu mobil. Metode yang digunakan dengan menghasilkan selesaian persamaan diferensial biasa delay car-following adalah dengan transformasi Laplace. Utamanya adalah penggunaan teorema Shifting. Dengan meneganalisis parameter yang muncul dalam penyelesaian tersebut, dapat dideskripsikan beberapa hal 1. Jarak antar mobil berpengaruh pada kemungkinan terjadinya tabrakan. Yaitu jika jarak antar mobil semakin kecil, maka kemungkinan tabrakan akan semakin besar. 2. Jika diasumsikan bahwa lebar badan jalan dapat memuat dua mobil, maka tabrakan tidak akan terjadi melainkan terjadi mobil yang saling mendahului. 3. Tabrakan akan terjadi lebih cepat jika (sensitivitas mobil untuk bergerak) lebih besar dan posisi tabrakan akan semakin dekat dengan lampu traffic light jika besarnya (percepatan mobil pertama) semakin kecil. 4. Model sederhana car-following belum dapat mendeskripsikan secara lengkap untuk dinamika mobil di jalan raya.

Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XI semester 1 pada pokok bahasan termokimia / Eni Feriantina

 

Peningkatan Sumber Daya Manusia Indonesia masih terus dilakukan sampai saat ini salah satunya dengan melakukan penyempurnaan kurikulum dari draft kurikulum tahun 2004 menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum baru ini secara substansial tetap sama dengan kurikulum yang disosialisasikan tahun 2004 (KBK) namun guru dan sekolah sebagai satuan pendidikan mendapatkan otonomi yang lebih besar daripada sebelumnya untuk mengembangkan kurikulum sesuai kondisi murid, sekolah dan daerahnya masing-masing. Penyempurnaan kurikulum ini bertujuan untuk mengimbangi semakin majunya Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi serta kondisi masyarakat yang selalu dinamis. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diharapkan tetap berpijak pada KBK yang menitikberatkan pada pola belajar siswa aktif atau active learning dimana guru tidak sekedar berceramah, tetapi komunikasi bisa berjalan dua arah dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa tercapai dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan pendekatan kontekstual. Dengan pembelajaran berbasis konstruktivistik, siswa dapat membangun pengetahuan mereka sendiri berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan kontekstual, siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Adanya perubahan kurikulum ini sedikit banyak membuat para guru SMA/MA khususnya guru kimia merasa kesulitan dalam mengimplementasikannya. Terutama pada bentuk model-model pembelajaran konstruktivistik dan bentuk-bentuk assesmen otentik yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu untuk mengoptimalkan penerapan KTSP tersebut diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional sehingga dapat digunakan sebagai pedoman guru dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual serta mengetahui kesesuaian dan kelayakan perangkat pembelajaran tersebut dapat digunakan di SMA/MA. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian, bagian pertama merupakan panduan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang terdiri dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), instrumen penilaian dan buku guru. Sedangkan bagian kedua berisi buku siswa dan lembar kegiatan siswa untuk kegiatan praktikum. Metodologi penelitian pengembangan ini berdasarkan model pengembangan rancangan pengajaran Dick & Carey. Langkah-langkah pengembangan Dick & Carey adalah mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan analisis materi pembelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan tujuan pembelajaran khusus, mengembangkan tes acuan kriteria, pemilihan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran, melaksanakan evaluasi formatif (validasi) dan melakukan revisi. Desain uji coba penelitian meliputi validasi isi dan rancangan. Validasi isi digunakan untuk mengukur kesesuaian antara isi perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan materi yang terdapat dalam KTSP. Sedangkan validasi rancangan dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah prosentase. Berdasarkan hasil validasi dari para validator diperoleh hasil bahwa perangkat pembelajaran secara umum dengan kriteria valid/ baik/ layak dengan skor rata-rata 87 %. Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Kedudukan dan peran Dewan Perwakilan Daerah dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia / Wahyu Hadi Trigutomo

 

ABSTRAK Trigutomo, Wahyu Hadi. 2007. Kedudukan dan Peran DewanPerwakilan Daerah (DPD) dalam Sistem Ketatanegaraan di Indonesia. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.H. Suparlan, M.Si., (II) Drs.H. Suparman Adi Winoto, S. H, M.Hum. Kata kunci: kedudukan, peran , DPD, sistem, ketatanegaraan. DPD sebagai lembaga legislatif yang mempunyai kedudukan sejajar dengan DPR dan MPR. Perubahan ketiga Undang-undang Dasar 1945 secara umum ditetapkan bahwa anggota DPD dipilih dari masing-masing propinsi melalui pemilihan umum dengan jumlah yang sama untuk setiap propinsi dan keseluruhan jumlah anggota dari semua propinsi itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR. Dewan Perwakilan Daerah adalah bagian dari MPR yang mempunyai kedudukan dan peran mengajukan rancangan Undang-undang kepada DPR, membahas rancangan Undang-undang bersama DPR, memberikan pertimbangan kepada DPR atas Rancangan Undang-Undang APBN dan yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama, memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan, melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan menerima hasil pemeriksaan keuangan negara dari BPK. Upaya optimalisasi pemberdayaan DPD agar lebih mandiri dari pengaruh kekuasaan legislatif (DPR+MPR) telah dimulai dengan cara mengusulkan rencana perubahan/amandemen kelima terhadap UUD 1945 Pasal 22 D tentang tugas dan wewenang DPD yang dinilai masih terbatas dan tidak maksimal. Mengenai pelaksanaan tugas dan wewenag DPD dapat dilihat dari peran DPD dalam memberikan pertimbangan kepada DPR dengan cara mengirimkan calon anggota BPK kepada DPR, DPD ikut membahas , mengusulkan, dan mengawasi pelaksanaan UU mengenai otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Ekonomi , pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, RAPBN, pendidikan, dan agama. Pada penulisan skripsi ini mengangkat permasalahan antara lain; 1)Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, 2)Perkembangan Dewan Perwakilan Daerah di Indonesia, 3) Hubungan Dewan Perwakilan Daerah dengan lembaga Negara lain di Indonesia, 4)Tugas dan wewenang Dewan Perwakilan Daerah. Pengumpulan data pada penulisan skripsi ini dilakukan dengan studi pustaka. Data kajian diperoleh dari majalah, Koran, jurnal, internet, dan buku-buku lain yang berkaitan dengan teori keilmuan. Penulisan kajian ini menggunakan teknik antara lain: Studi Pustaka, Identifikasi, Metode Deskriptif, Metode Analisis Komparatif, dan Metode Analisis Kompilatif. Hasil dari pembahasan tentang Kedudukan dan Peran DPD dalam Sistem Ketatanegaraan di Indonesia diantaranya adalah bahwa DPD merupakan lembaga baru hasil amandemen Undang-undang Dasar 1945 yang keanggotaannya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum sebagai amanat reformasi. DPD tidak mempunyai kekuasaan untuk memutuskan atau berperan dalam pengambilan keputusan, dan keputusan mengenai pembuatan UU, pemberian persetujuan, pengawasan dan anggaran tetap berada di DPR. Kedudukan dan Peran DPD diatur dalam UU No. 22 Tahun 2003 Pasal 22D ayat 1-3 yaitu mengajukan usul kepada DPR, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu kepada DPR, dan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Undang-undang tertentu.

Hubungan antara kemandirian, kepercayaan diri, dan kreativitas verbal mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang / Azizatul Karimah

 

ABSTRAK Karimah, Azizatul. 2007. Hubungan antara Kemandirian, Kepercayaan Diri, Dan Kreativitas Verbal Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang. Skripsi Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Dr. Marthen Pali, M.Psi, Pem-bimbing II Fattah Hidayat, M.Psi. Kata kunci: kemandirian, kepercayaan diri, kreativitas verbal. Konsep kreativitas verbal yang dikemukakan oleh Gardner (dalam Jordan, 2002) adalah kemampuan memanipulasi kata baik secara lisan atau tertulis. Proses menuju ke arah kreativitas yang berkaitan dengan pengembangan SDM meru-pakan faktor utama dalam menghadapi tantangan baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun sosial-budaya. Sedangkan kreativitas verbal berguna untuk men-yampaikan ide-ide kreativitasnya kepada orang lain yang diperoleh karena ke-mandirian dan kepercayaan diri yang dimiliki mahasiswa psikologi untuk bisa menghasilkan dan mengkomunikasikan hasil-hasil kreativitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:(1) Kemandirian mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang (2) Kepercayaan diri mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang (3) Kreativitas verbal mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang (4) Hubungan kemandirian, kepercayaan diri dan kreativitas verbal mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang sebanyak 406 dengan sampel sebanyak 40 orang. Tek-nik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Teknik anal-isis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, korelasi Product Moment Pearson dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian dan kepercayaan diri mahasiswa Program Studi Psikologi UM kategori tinggi sebanyak 8 orang (20%), 25 orang (62,5 %) dalam kategori sedang, dan sebanyak 7 orang (17,5%) dalam kategori rendah. Tingkat kreativitas verbal mahasiswa Program Studi Psikologi UM dalam kategori tinggi sebanyak 4 orang (10%), sebanyak 29 orang (72,5 %) dalam kategori sedang, dan sebanyak 7 orang (17,5%) dalam kategori rendah. Se-lain itu hasil uji regresi yang dinyatakan dengan Uji F = 3,451 (p = 0,042 < 0,05) yang berarti ada hubungan yang positif dan signifikan antara kemandirian dan kepercayaan diri dengan kreativitas verbal mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang . Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada: a) Mahasiswa Program Studi Psikologi UM untuk meningkatkan kemandirian dan kepercayaan dirinya agar kreativitas verbal meningkat, b) Lembaga UM untuk melakukan upaya-upaya pemberdayaan yang bisa meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri maha-siswa dengan harapan tingkat kreativits verbal mahasiswa juga meningkat, c) Masyarakat untuk lebih memahami terhadap konsep kreativitas, d) Peneliti yang ingin meneliti tentang hubungan kepribadian dengan kreativitas lebih difokuskan pada budaya dan lingkungan-lingkungan sosial tertentu.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |