Faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan usia muda di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tahun 2005-2006 / Dwi Damayanti

 

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia, sedangkan perkawinan usia muda adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita yang masih di bawah umur (pria di bawah 19 tahun, sedangkan wanita di bawah 16 tahun). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) jumlah perkawinan usia muda Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan usia muda, (3) upaya kuat meminimalkan jumlah perkawianan usia muda. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah pasangan yang melakukan perkawinan usia muda di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dari tahun 2005- 2006 sebanyak 504 pasangan sedangkan sampel sebanyak 60 pasangan sekecamatan, adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah Sampel Wilayah atau Area Probability Sample dan Teknik Sampel Proposi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah angket, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dianalisa secara deskriptif prosentase. Langkah-langkah dalam pelaksanaan penelitian ini adalah: (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan dan (3) tahap pelaporan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) jumlah perkawinan usia muda di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tahun 2005-2006 tertinggi. Tahun 2005 sebesar 57,3%, sedangkan tahun 2006 sebesar 42,7%. Jumlah perkawinan usia muda pada tahun 2005 mengalami penurunan sebesar 14,3%. Usia nikah pria yang terbanyak melakukan perkawinan usia muda adalah usia 18 tahun sebesar 41,7%, sedangkan usia nikah wanita yang terbanyak melakukan perkawinan usia muda berusia 15 tahun sebesar 32%. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan usia muda di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang antara lain: (1) Sosial Budaya sebesar 36,6%, (2) Ekonomi sebesar 31,7%, (3) Hukum sebesar 16,7%, dan (4) Adat Istiadat sebesar 15%. Pendidikan tertinggi pria yang banyak melakukan perkawinan usia muda adalah pria yang berpendidikan SMP sebesar 58,3%, demikian pula untuk wanita yang terbanyak melakukan perkawinan usia muda adalah SMP sebesar 75%. Di lihat dari jenis pekerjaan pria yang terbanyak melakukan perkawinan usia muda adalah pekerjaan tukang ojek sebesar 41,7%, sedangkan pekerjaan wanita yang terbanyak melakukan perkawinan usia muda adalah tidak bekerja (pengangguran), ibu rumah tangga sebesar 50%. Hasil penelitian yang ketiga adalah upaya KUA dalam meminimalkan jumlah perkawinan usia muda di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tahun 2005-2006 yaitu dengan pemberian nasehat pra- nikah dan sosialisasi peraturan-peraturan. Nasehat pra-nikah berisi tentang: (1)bimbingan dan penyuluhan tentang Undangundang Perkawinan no. 1 tahun 1974, (2) munakahat (Hukum Perkawinan Islam), dan (3) KB dan kesehatan. Sedangkan sosialisasi peraturan yang dibuat KUA antara lain dibuatnya peraturan yang isinya melarang pria dan wanita melakukan perkawinan jika usia belum memenuhi syarat, pihak pria dan wanita diharuskan meminta surat ijin pihak Departemen Agama yang tentunya untuk mendapatkan ijin tersebut masih ada syarat lain lagi yang harus dipenuhi. Berdasarkan hasil penelitian di kemukakan saran-saran: (1) Bagi KUA Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, perlu mengupayakan lagi usahanya untuk lebih menekan jumlah perkawinan usia muda yang ada dari tahun-tahun agar dalam usaha meminimalkan jumlah perkawinan usia muda dapat berhasil. (2)Bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kecamatan Wagir Kabupaten Malang,hendaknya lebih menyadari akan pentingnya sebuah perkawinan, dengan memaknai dan memahami perkawinan sebagai sesuatu yang suci dan sakral.Dengan demikian masyarakat sadar bahwa perkawinan usia muda tidak layak untuk dilakukan

Hubungan antara persepsi dan sikap kepala sekolah dasar negeri terhadap kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di Kabupaten Ponorogo / Agustina Rahmawati

 

Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah memiliki peran yang penting khususnya bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Kemampuan profesional yang dimiliki oleh seorang kepala sekolah tidak hanya didapat melalui banyaknya teori dan berbagai disiplin ilmu yang dikuasai tetapi juga melalui berbagi pengalaman dengan rekan sejawat dan ahli dalam bidang kepemimpinan pendidikan seperti pengawas dan kepala sekolah lain. Untuk itu pemerintah membentuk suatu wadah perkumpulan Kepala Sekolah yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dalam peningkatan kemampuan profesional Kepala Sekolah yang diberi nama dengan KKKS. Wadah tersebut bertujuan untuk meningkatkan keprofesionalan kepala sekolah dalam memberikan bantuan, layanan dan pembinaan kepada guru sehingga berguna bagi perkembangan guru, terciptanya hubungan kerjasama dan komunikasi yang baik antar kepala sekolah, dengan pengawas sekolah. Di samping itu, dapat memberikan pengaruh positif terhadap persepsi dan sikap kepala sekolah mengenai keberadaan organisasi profesi kepala sekolah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang ” Hubungan Antara Persepsi dan Sikap Kepala Sekolah Dasar Negeri Terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) di Kabupaten Ponorogo”. Masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana persepsi kepala sekolah SDN terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah di Kabupaten Ponorogo?, (2) Bagaimana sikap kepala sekolah SDN terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah di Kabupaten Ponorogo?, (3) Apakah ada hubungan antara persepsi dan sikap terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah kepala sekolah SDN di Kabupaten Ponorogo? Tujuan penelitian ini adalah, (1) Untuk mendeskripsikan tentang persepsi Kepala Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Ponorogo terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah; (2) Untuk mendeskripsikan tentang sikap Kepala Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Ponorogo terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah; (3) Untuk mengetahui hubungan antara persepsi dan sikap kepala sekolah terhadap Kekompok Kerja Kepala Sekolah SDN di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian meliputi kepala sekolah SDN di Kabupaten Ponorogo dengan jumlah 604 orang dan sampel 151orang. Instrumen penelitian menggunakan angket. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan : (1) Persepsi kepala sekolah SDN di kabupaten Ponorogo masuk kategori cukup; (2) Sikap kepala sekolah di Kabupaten Ponorogo masuk pada kategori sedang;(3) Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi dan sikap kepala sekolah terhadap KKKS SDN di Kabupaten Ponorogo. Apabila persepsi yang ditunjukkan oleh kepala sekolah sangat baik maka sikap yang ditunjukkan oleh kepala sekolah juga akan tinggi. Begitu sebaliknya apabila persepsi yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kurang baik maka sikap yang ditunjukkan oleh kepala sekolah akan rendah. Saran yang dapat disampaikan sebagai berikut: (1) Kepala Dinas Penidikan Kabupaten Ponorogo seyogyanya lebih meningkatkan perhatiannya pada persepsi dan sikap kepala sekolah terhadap Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) salah satu caranya dengan mengeluarkan kebijakan yang dapat meningkatkan citra positif di mata kepala sekolah sehingga kepala sekolah; (2) Kepala sekolah sebagai anggota KKKS dapat melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan persepsi dan sikap kepala sekolah terhadap KKKS; (3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian tentang bidang pendidikan pada mata kuliah organisasi pendidikan; (4) Bagi pengawas SD sebagai pembina KKKS hendaknya lebih meningkatkan pengelolaan KKKS atau lebih mengutamakan aspek-aspek profesional dalam setiap penyelenggaraan kegiatan KKKS terutama memberikan perhatian, pendekatan, penghargaan dari kemajuan yang dicapai serta memberikan umpan balik kepada KKKS terhadap berbagai usaha yang sudah dipantau; (5) Hasil penelitian ini diharapkan dapat diperluas dengan menggunakan rancangan penelitian yang berbeda dan dengan teknik pengumpulan data yang lebih lengkap seperti dengan teknik wawancara mendalam, observasi lapangan secara menyeluruh dan menggunakan dokumentasi.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan pembelajaran tematik studi kasus di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang II / Muiz Zahwan

 

Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar di dalam kehidupan sekolah, walaupun kepala sekolah bukan merupakan seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlak dalam lingkungan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan pembelajaran tematik yang secara langsung dengan meningkatkan kemampuan para guru agar dapat mewujudkan tujuan pengembangan pembelajaran tematik tidak terlepas dari persepsi kepala sekolah terhadap pembelajaran tematik, peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan pembelajaran tematik, faktor penghambat dan cara penyelesaiannya, serta faktor pendukung dan pendayagunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan persepsi kepala sekolah terhadap pembelajaran tematik, peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan pembelajaran tematik, faktor penghambat dan cara penyelesaiannya, serta faktor pendukung dan pendayagunaannya. Penelitian ini dilakukan di MIN Malang II sebagai salah satu madrasah berstatus negeri dan setingkat sekolah dasar di kota Malang yang pernah meraih prestasi di bidang akademis dan non akademis di tingkat kecamatan, kota/kabupaten Malang dan tingkat propinsi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis studi kasus dengan landasan berpikir fenomenologis. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kesimpulan penelitian ini adalah, Persepsi kepala madrasah terhadap pembelajaran tematik dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan dari pembelajaran sebelumnya dan ada kelebihan yang akan didapat dari pelaksanaan dan pengembangan pembelajaran tematik. Peran kepala madrasah dalam pengembangan pembelajaran tematik adalah (1) mengarahkan dan membimbing guru dalam menyusun silabus dan RPP; (2) mengikutkan guru dalam diklat; (3) memberikan buku-buku tematik kepada guru; dan (4) mensosialisasikan pembelajaran tematik kepada orang tua. Faktor-faktor penghambat dan cara mengatasi dalam pengembangan pembelajaran tematik di MIN Malang II, yaitu: a) minimnya buku-buku pembelajaran tematik; b) pemahaman dan kemampuan guru tentang pembelajaran tematik masih rendah; dan c) kurangnya pemahaman orang tua terhadap pembelajaran tematik. Cara mengatasi yaitu dengan: a) menggunakan buku yang ada; b) mengupayakan buku pembelajaran tematik, guru mengembangkan buku ajar sendiri; c) mengikutsertakan guru dalam pelatihan; d) mengaktifkan KKG; e) membimbing dan memantau guru; dan f) mensosialisasikan pembelajaran tematik kepada orang tua siswa. Faktor-faktor pendukung yang ada yaitu: a) madrasah memiliki kurikulum yang sudah siap digunakan untuk tiap semester; b) banyaknya diklat-diklat pembelajaran tematik; c) masih aktifnya KKG; dan d) dukungan penuh dari para guru. Faktor-faktor pendukung didayagunakan sebagai berikut: a) penggunaan kurikulum yang tesedia; b) mengikuti diklat pembelajaran tematik; c) mengoptimalkan KKG untuk diskusi dan perbaikan kinerja guru; dan d) dukungan dari guru untuk memotivasi dan menyatukan pendapat. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada kepala sekolah agar selalu berusaha meningkatkan kompetensi dan kemampuan mereka agar dapat menjadi pemimpin pendidikan yang profesional. Diharapkan para guru pengajar tematik di MIN Malang II sebagai madrasah ibtidiyah negeri dapat meningkatkan wawasan dan kemampuan dalam pembelajaran tematik dengan tetap mempertimbangkan karakteristik dan potensi yang dimiliki.

Developing a pragmatics workbook for English Department students of Muhammadiyah University of Bengkulu / Sinarman Jaya

 

Aplikasi dekomposisi nilai singular untuk menyelesaikan sistem persamaan linier / Otik Mulyantiningsih

 

Matriks merupakan susunan persegi panjang dari bilangan-bilangan real yang terdiri dari baris-baris dan kolom-kolom. Matriks seringkali digunakan untuk menyelesaikan suatu persamaan linier. Beberapa metode yang sering digunakan di dalam menyelesaikan sistem persamaan linier dengan matriks adalah Penyulihan Maju, Penyulihan Mundur, ataupun Dekomposisi LU, Pendiagonalan Matriks, Dekomposisi Nilai Singular. Dalam skripsi ini hanya akan dibahas Metode Dekomposisi Nilai Singular. Dekomposisi Nilai Singular, suatu matriks A dapat difaktorkan U = Matriks ortogonal , ∑ = Matriks diagonal yang semua entri di luar diagonalnya nol dan elemen-elemen diagonalnya memenuhi , V = Matriks ortogonal n x n

Hubungan tingkat pendidikan dan pelatihan dengan kinerja profesional guru bidang studi SMA Negeri se-Kota Blitar / Arie Mey Dhiana

 

Perancangan media komunikasi visual obyek wisata Pantai Panjang Bengkulu / Rian Kujadi

 

Perancangan media komunikasi visual yang lebih kreatif dan inovatif dapat memberikan informasi dan mempengaruhi audience, sehingga audience terpengaruh dan melakukan tindakan. Adanya alternatif media komunikasi visual yang kreatif dan inovatif akan menarik perhatian calon pengunjung dan akan meningkatkan jumlah pengunjung. Perancangan ini adalah perancangan media komunikasi visual obyek wisata Pantai Panjang Bengkulu. obyek wisata Pantai Panjang Bengkulu pada intinya membutuhkan suatu media promosi yang mampu memberikan informasi serta mudah dikenal masyarakat luas. Objek wisata Pantai Panjang Bengkulu.merupakan objek wisata alam yang ada di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Wisata ini menawarkan keindahan alamnya yang masih alami. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif. Garis-garis besar langkah yang harus diikuti adalah: (1) observasi klien, (2) proses analisa data, (3) penyusunan konsep desain, (4) perancangan media promosi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) observasi, (2) wawancara, (3) Kuisioner. Teknik analisa data yang dilakukan adalah SWOT ( Streght, weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Perancangan ini menghasilkan beberapa media komunikasi visual, yaitu, iklan surat kabar, billboard, penunjuk arah, brosur, banner, poster, mug, selftaker, kaos, stasionary, dan web. Media komunikasi visual ini menggunakan konsep dengan visualisasi gambar riil suasana pantai (fotografi) dan warna yang berdasarkan permintaan klien dan masyarakat. Media komunikasi visual objek wisata Pantai Panjang Bengkulu ini diharapkan dapat memberikan image yang baik kepada masyarakat dan dapat menambah jumlah pengunjung obyek wisata Pantai Panjang Bengkulu.

Alat pengupas dan penimbang kacang ijo berbasis mikrokontroller atmega8535 / Abdullah Mujib

 

Studi evaluasi pekerjaan pelat dan balok beton pada peroyek pembangunan gedung perkuliaan fakultas sastra Universitas Negeri Malang / Kunto Pebriantoro

 

Manajemen peningkatan mutu pada madrasah tsanawiyah negeri model, madrasah tsanawiyah negeri terpadu, dan madrasah tsanawiyah negeri reguler berprestasi (studi mutu kasus pada tiga MTsN di Jawa Timur / Mukhammad Abdullah

 

Hubungan antara motivasi berprestasi dan adversity quotient (AQ) dengan kinerja karyawan PT. Pos Indonesia (Persero) Malang / Anita Fatimah

 

Tumbuh dan berkembangnya perusahaan bergantung pada sumber daya manusia. Hal ini dapat dilihat dari hasil kinerja karyawan perusahaan sebagai penentu pada aspek-aspek yang lain. Kinerja karyawan merupakan faktor penting untuk menjalankan sebuah sistem dalam perusahaan. Melihat begitu pentingnya kinerja bagi kelangsungan produksi maka perusahaan bersedia melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kinerja karyawan Dalam peningkatan kinerja karyawan untuk perbaikan kualitas perusahaan, diperlukan kemampuan diantaranya kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang (Adversity Quotient) dan motivasi berprestasi untuk melakukan perubahan dan perbaikan secara terus menerus dalam meletakkan fondasi yang kuat agar perusahaan tetap eksis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Adversity Quotient dengan Kinerja Karyawan Penelitian ini dilakukan di Kantor Pos Pusat Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan PT. Pos Indonesia (PERSERO) Malang sebanyak 134 dengan sampel sebanyak 50 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive Sampling. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala motivasi berprestasi, angket adversity quotient dan skala kinerja dengan menggunaka model penskalaan likert. Analisis deskriptif menggunakan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Analisis korelasional menggunakan kategori teknik analisis korelasi product moment dan regresi dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi karyawan PT. Pos Indonesia Malang kategori tinggi sebanyak 7 orang (14%), 39 orang (78 %) dalam kategori sedang, dan sebanyak 4 orang (8%) dalam kategori rendah. Adversity quotient karyawan PT. Pos Indonesia Malang dalam kategori tinggi sebanyak 8 orang (16%), sebanyak 34 orang (32 %) dalam kategori sedang, dan sebanyak 8 orang (16%) dalam kategori rendah. Sedangkan kinerja karyawan PT. Pos Indonesia Malang dalam kategori tinggi sebanyak 3 orang (6%), sebanyak 39 orang (78 %) dalam kategori sedang, dan sebanyak 8 orang (16%) dalam kategori rendah. Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan kinerja (r = 0.586), Terdapat hubungan positif antara adversity quotient dengan kinerja (r = 0.620) dan terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dan adversity quotient dengan kinerja (R = 0,739) dan Uji F = 28,343 (p = 0,000 < 0,05) Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan karyawan PT. Pos Indonesia Malang sebaiknya memiliki inisiatif sendiri untuk memperbaiki Motivasi berprestasi dan meningkatkan adversity quotient, sebisa mungkin mengantisipasi adanya kelalaian dari perusahaan tentang kebijakan yang diterapkan. Untuk Perusahaan perlu memikirkan perencanaan yang menyeluruh terhadap pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Pengaruh Strategi Pengajaran Konsep Melalui Contoh dan Noncontoh, Contoh dan Buku Teks Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas V Sekolah Dasar / Punaji Setyosari

 

Hambatan-hambatan belajar mahasiswa dalam menempuh perkuliaan di program studi pendidikan teknik bangunan jurusan teknik sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Inellasari Puspita Dewi

 

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan negara. Kemajuan suatu bangsa dapat diukur melalui kualitas dan kuantitas pendidikannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh fakta emperis tentang hambatan akademis dan non akademis yang dialami oleh mahasiswa. Menurut Slameto hambatan-hambatan yang mempengaruhi masalah belajar. (1) faktor internal: a. faktor jasmaniah b. faktor psikologis (2) faktor eksternal: a. keluarga b. sekolah c. masyarakat. Populasi sejumlah 245 orang mahasiswa program studi Pendidikan Teknik Bangunan. Banyak responden sebanyak 140 orang mahasiswa diambil dengan teknik aksidental sampling terdiri dari 21 mahasiswa Angkatan 2002, 18 mahasiswa Angkatan 2003, 15 mahasiswa Angkatan 2004, 32 mahasiswa Angkatan 2005, 54 mahasiswa Angkatan 2006. Pengumpulan data berupa angket pilihan tertutup. Anlisa data menggunakan softwere Statistical Program For Social saint (SPSS) 14.00 for windows. Hambatan belajar dari dalam/akademis terdiri dari 2 indikator: (1) Pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi siswa (2) Ditinjau dari kondisi sekolah. Hambatan belajar dari luar/non akademis terdiri dari 2 indikator: (1) Pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi keluarga (2) Ditinjau dari kondisi masyarakat.Hasil penelitian ini: pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi siswa memiliki persentase tertinggi yaitu penggunaan bahasa sebesar 52.9 %, pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi sekolah memiliki persentase tertinggi yaitu kurikulum perkuliahan sebesar 42.1 %, pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi keluarga memiliki persentase tertinggi yaitu cara orang tua mendidik sebesar 75.7 %, pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi masyarakat memiliki persentase tertinggi yaitu pengaturan waktu belajar dengan istirahat sebesar 58.6%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hambatan belajar dari dalam/akademis pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi sekolah mengatakan bahwa kurikulum perkuliahan tidak menghambat proses belajar mengajar. Hambatan belajar dari luar/non akademis pengaruh belajar siswa ditinjau dari kondisi keluarga menyatakan cara orang tua mendidik. kurang menghambat proses belajar mengajar. Sehingga disarankan: (1) kepada pihak Jurusan untuk membangun perpustakaan di Jurusan. (2) Dosen jika mengajar menggunakan bahasa Indonesia (3) kepada peneliti lain yang berminat pada masalah yang sama agar mempeluas ruang lingkup, melaksanakan penelitian lanjutan atau melaksanakan dengan jenis penelitian lain

Yayasan Christopherrus dalam pengembangan masyarakat pedesaan ( studi kasus ketertarikan masyarakat terjadap layanan kesehatan poliklinik Tubiasi yayasan Christopherus di desa Tumbang Marikoi Kecamatan Kahayan Hulu Utara Kab. Gunung Mas Propinsi Kalimantan Tengah oleh S

 

Peran orangtua dalam membantu pembelajaran anak di rumah: studi kasus partisipasi orangtua sebagai "Guru Ke-2" dalam program hubungan sekolah dengan orangtua / Anik Riyani

 

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang secara formal memiliki peran penting bagi pembinaan generasi muda, khususnya bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar. Orangtua peserta didik merupakan pemberi pendidikan yang pertama dan utama yang pengaruhnya sangat besar terhadap pembinaan dan pengembangan pribadi peserta didik. Hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat dirasakan penting pada masyarakat yang telah menyadari dan memahami akan pentingnya pendidikan bagi anak. Masyarakat yang dimaksud bisa masyarakat orangtua siswa, masyarakat terorganisasi, atau masyarakat secara luas. Pentingnya peranan orangtua dalam pendidikan anak telah disadari oleh banyak pihak, kebijakan manajemen berbasis sekolah (MBS) dalam reformasi pendidikan menempatkan peranan orangtua sebagai salah satu dari 3 pilar keberhasilannya. Peran orangtua dalam manajemen berbasis sekolah tidak hanya sebatas kerjasama dalam membantu menyukseskan program-program di sekolah akan tetapi juga dalam proses belajar-mengajar di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fokus penelitian yaitu peran orangtua dalam membantu pembelajaran anak di rumah: studi kasus partisipasi orangtua sebagai “guru ke-2” dalam program hubungan sekolah dengan orangtua. Deskripsi fokus penelitian dipilah menjadi empat, yaitu (1) program hubungan sekolah dengan orangtua; (2) karakteristik lingkungan belajar anak; (3) peran orangtua dan partisipasinya dalam pembelajaran anak di rumah; dan (4) cara partisipasi orangtua dalam berperan sebagai “guru ke-2” dalam proses pembelajaran anak di rumah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Data yang diperoleh berupa informasi yang terkait dengan fokus penelitian yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara mendalam dengan informan melalui pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Keabsahan data dilakukan dengan (1) ketekunan/keajegan pengamatan, dan (2) teknik trianggulasi. Analisis data dilakukan dengan cara: (1) pemberkasan, (2) peringkasan, (3) pengkodean, (4) pengelompokan, dan (5) penyimpulan. Temuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) program hubungan sekolah dengan orangtua hanya sebatas orangtua menjadi anggota dalam perkumpulan yang ada di sekolah; (2) karakteristik lingkungan belajar anak kondisional sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing keluarga; (3) peran orangtua dalam pembelajaran anak adalah sebagai: pendidik (second teacher), pembimbing (problem solver), penyedia fasilitas (provider), dan sebagai teladan atau model; dan (4) cara partisipasi orangtua dalam berperan sebagai “guru ke-2” dalam proses pembelajaran anak adalah orangtua menunggu dan membimbing aktivitas belajar anak, menjelaskan langkah-langkah dalam belajar, menerangkan hal-hal yang tidak dimengerti, mencarikan jawaban bahkan sampai ikut mengerjakan tugas-tugasnya. Dari hasil temuan penelitian disarankan sebagai berikut: Bagi kepala sekolah berdasarkan dari hasil penelitian bahwa peran orangtua dalam pembelajaran anak sangat besar, maka diharapkan kepala sekolah agar terus meningkatkan kerjasama dengan orangtua dalam bidang yang lebih luas tidak hanya melalui perkumpulan yang ada di sekolah melainkan juga dalam bidang proses belajar-mengajar. Bagi guru diharapkan lebih meningkatkan komunikasi dan kerja sama dengan orangtua siswa dengan memberikan informasi kepada orangtua tentang anaknya berkaitan dengan segi-segi positif dan negatif secara lisan ataupun tertulis melalui buku kerja siswa. Bagi orangtua diharapkan lebih meningkatkan perannya sebagai pendidik (second teacher) terutama menyediakan tempat untuk belajar yang memadai, membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi anak, dan memberitahukan cara mengatur jadual belajar anak. Bagi jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan lebih memperkaya kajian teori tentang manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat khususnya orangtua. Bagi peneliti lain, karena penelitian ini terbatas pada siswa kelas rendah dan berprestasi baik maka diharapkan peneliti lain untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang peran dan partisipasi orangtua dalam pembelajaran anak di rumah pada kelas tinggi atau pada siswa yang tidak didampingi oleh orangtua, agar dapat diketahui seberapa jauh peran dan partisipasi orangtua dalam pembelajaran anak.

Pengaruh penerapan konsep total quality management (TQM) terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (studi kasus pada monthly labour PT Sampoerna Printpack Sukerojo) / Dian Maya Finasariia

 

Dunia bisnis kini semakin menglobal, persainganpun semakin tajam, kondisi semacam ini menjadi acuan sebuah organisasi untuk lebih meningkatkan kinerja dan mutu usahanya agar tujuan organisasi yang telah dirancang dapat tercapai karena hanya perusahaan yang mampu menghasilkan barang berkualitas yang dapat bertahan dan bersaing dalam pasar global. Dalam konteks ini kulitas merupakan faktor fundamental yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya, karena hanya perusahaan yang menghasilkan produk bermutu prima yang memiliki kesesuaian dengan konsumen yang dapat memenangkan persaingan.Untuk menjamin dihasilkannya produk yang berkualitas maka manajemen mutu harus mewarnai proses kerja mulai dari perencanaan hingga produksi, bahkan sampai pelayanan purna jual. Untuk melakukan pengendalian mutu ini maka perlu dikembangkan sebuah sistem manajemen bermutu yang biasa dikenal dengan sebutan Total Quality Management (TQM) yang merupakan konsep memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya dengan menggunakan sumber daya manusia dan modal yang tersedia.Melalui penerapan konsep TQM secara baik dan benar kepuasan kerja akan diperoleh karyawan dan berimplikasi secara langsung terhadap peningkatan kinerja karyawan. Penelitian ini dilakukan di PT SAMPOERNA PRINTPACK Sukorejo yang merupakan anak perusahaan PT SAMPOERNA yang khusus menangani masalah packaging rokok. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan konsep total quality management terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja baik secara langsung mapun tidak langsung.Variabel bebas dari penelitian ini terdiri dari TQM practices (X1) sebagai variabel bebas, kepuasan kerja (X2) sebagai variabel interfening, dan kinerja karyawan (X3) sebagai variabel terikat. Populasi dari penelitian ini berjumlah 370 orang dengan sampel yang digunakan 79 responden. Instrument penelitian yang digunakan adalah dengan menyebar kuisioner. Analisis data yang digunakan adalah dengan analisisjalur dengan alat bantu program SPSS versi 11.0. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh penerapan TQM terhadap kepuasan kerja dengan besarnya nilai thitung = 8,870 dengan ttabel = 1,99. Nilai thitung > ttabel maka dapat disimpulkan bahwa variabel X1 (TQM practices ) berpengaruh positif secara langsung yang signifikan terhadap kepuasan kerja (X2). Nilai koefisien beta terstandarisasi untuk variabel X1 (TQM practices) sebesar 0,711 dan berhubungan positif (searah) yang berarti semakin tinggi penerapan TQM practices maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan kerja yang diperoleh karyawan. Variabel X2 (kepuasan kerja) mempunyai nilai thitung = 3,834 dengan ttabel = 1,99. Jadi thitung > ttabel dapat disimpulkan bahwa variabel X2 (kepuasan kerja) berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan secara langsung. Nilai koefisien beta terstandarisasi untuk variabel X2 (kepuasan kerja) sebesar 0,425 dan hubungannya positif (searah) yang berarti jika semakin tinggi kepuasan krja maka semakin tinggi pula tingkat kinerja karyawan. Variabel X1 (TQM practices) mempunyai nilai thitung = 3,328 dengan ttabel = 1,99. Jadi thitung>ttabel dapat disimpulkan bahwa variabel X1 (TQM practices) memiliki pengaruh positif secara langsung yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Nilai koefisien beta terstandarisasi untuk variabel X1 (TQM practices) sebesar 0,369 yang berarti jika semakin tinggi penerapan TQM practices maka semakin tinggi pula tingkat kinerja karyawan. Dari hasil analisis jalur dari penelitian ini dapat diperoleh persamaan ZX2 = 0,711 X1+0,495 maka dapat diketahui jika nilai koefisien dari X1 dinaikkan sebesar satu satuan maka nilai kepuasan kerja (X2) akan naik sebesar 0,711, dan persamaan ZX3 = 0,369 X1+0,425X2+0,461. Dari hasil analisis data diperoleh besarnya nilai R square dari pengaruh secara langsung TQM practices terhadap kinerja karyawan adalah sebesar 0,505 yang berarti berarti 50,5% variabel kepuasan kerja dipengaruhi oleh TQM practices sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Untuk persamaan kedua nilai R square dari pengaruh kepuasan kerja dan TQM practices terhadap kinerja adalah sebesar 0,539 yang artinya 53,9% variabel kinerja dipengaruhi oleh variabel kepuasan kerja dan TQM practices sedangkan 47,1& dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak tercantum dalam model penelitian ini. Dari hasil analisis data yang ada maka dapat diketahui pula pengaruh secara tidak langsung penerapan konsep TQM terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja yaitu sebesar 0,771 atau 77,1% yang berari informasi yang trkandungdalam 77,1% dapat dijelaskan oleh model tersebut sedangkan 22,9% dijelaskan oleh variabel yang lain yang belum terdapat dalam model dan error. Saran dari penelitian ini adalah mengingat secara kuantitatif penerapan TQM practices dengan baik sangat berpengaruh pada pencapaian tingkat kepuasan kerja dan kinerja karyawan untuk itu hendaknya penerapan TQM practices ditingkatkan lebih baik lagi.

Robot cerdas pemadam api / Samsul Arifin

 

Kepuasan konsumen terhadap penerapan strategi lingkungan toko yang dilaksanakan toko buku diskon Togamas Malang / Agung Ardi Winata

 

Impelementasi strategi layanan utama dan layanan ekstra sebagai upaya menciptakan kepuasan konsumen pada PT. Columbindo Perdana Cabang Malang / Wahyu U. Wijayati

 

Penambahan methyl tertiary buthyl ether (MTBE) sebagai octane booster untuk menurunkan emisi gas karbon monoksida / Yohanes Anggoro Hadi Sampurno

 

Octane booster yang digunakan di Indonesia hingga saat ini adalah Tetraethyl Lead (TEL). Penggunaan zat aditif tersebut diduga sebagai penyebab utama keberadaan timbal di atmosfer. Pada proses pembakaraan bahan bakar yang mengandung senyawa TEL dihasilkan senyawa Pb anorganik, Pb0 (Oksida Pb) pada gas buang dan pada umumnya dapat bertahan di atmosfir untuk kurun waktu yang cukup lama. Berdasarkan dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan TEL sebagai bahan aditif untuk bahan bakar, maka penggunaan TEL di negara maju dan sebagian negara sedang berkembang sudah dilarang. Methyl tertiary Buthyl Ether (MTBE) memiliki sifat yang paling mendekati bensin ditinjau dari nilai kalor, kalor laten penguapan dan rasio stoikiometri udara per bahan bakar. MTBE adalah senyawa organik yang tidak mengandung logam dan tidak membentuk senyawa peroksida yang berbahaya bagi lingkungan. MTBE juga memiliki sifat-sifat pencampuran yang baik dengan bensin. Kisaran angka oktan MTBE yang tinggi, yaitu 116 – 118 RON menjadikan MTBE sangat baik untuk digunakan sebagai peningkat angka oktan (octane booster). Selama pembakaran, MTBE menambah oksigen di dalam bensin dapat mengurangi emisi karbon monoksida, CO dan material- material pembentuk ozon atmosferik. Bentuk rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian eksperiman ini adalah faktorial 2 jalur 3 x 4, yaitu menggunakan 2 variabel bebas dengan membandingkan antara bensin tanpa campuran MTBE dan bensin dengan campuran MTBE 5%, 10%, dan 15%. Serta pada putaran 750 rpm, 1500 rpm, dan 3000 rpm terhadap produksi gas CO. Teknik analisis data yang digunakan adalah Two-Way-Anova (Two-Way-Analysis of Variance) Berdasarkan hasil penelitian produksi gas CO yang memiliki mean terendah, yaitu pada putaran 1500 rpm dengan menggunakan campuran MTBE 15% dengan nilai sebesar 1,1700. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan produksi gas CO pada mobil antara bahan bakar tanpa campuran MTBE dan yang menggunakan campuran MTBE 5%, 10%, dan 15%. Serta ada perbedaan yang signifikan produksi gas CO pada mobil antara bahan bakar tanpa campuran MTBE dan yang menggunakan campuran MTBE 5%, 10%, dan 15% pada putaran mesin 750 rpm,1500 rpm, dan 3000 rpm. Penggunaan MTBE sebagai Octane Booster bahan bakar seharusnya mulai dipakai di Indonesia untuk menggantikan TEL (timbal). Hal ini disebabkan karena dampak pemakaian timbal sangat buruk bagi lingkungan dan juga bagi kesehatan.

Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dalam pembelajaran bahasa Arab di MAN Lamongan / Betric Feriandika

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum baru penyempurna kurikulum 2004 (KBK), yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Perjalanan penerapan KBK pada tahun 2006 di MAN Lamongan yang masih belum optimal, dilanjutkan dengan penyelenggaraan kurikulum baru yaitu KTSP mulai tahun ajaran 2007/2008. Salah satu perbedaan yang menonjol antara KTSP dengan KBK adalah bahwa KTSP memberikan wewenang kepada satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum tersebut. Serta KTSP tidak mengatur secara rinci proses belajar mengajar di kelas, guru dan sekolah bebas mengembangkan sendiri sesuai kondisi murid dan daerah. Tujuan penelitian secara umum adalah mendeskripsikan penerapan KTSP dalam pembelajaran bahasa Arab (PBA) di MAN Lamongan. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab, dan (3) faktor-faktor pendukung dan penghambat penerapan KTSP dalam pembelajaan bahasa Arab. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa-siswi program bahasa kelas XII MAN Lamongan yang berjumlah 80 siswa, guru bahasa Arab program bahasa kelas XII, dan kepala MAN Lamongan. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa pedoman observasi, pedoman analisis dokumen, pedoman wawancara, dan angket/kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa Arab program bahasa kelas XII secara konseptual mampu menerapkan KTSP dalam pembuatan perencanaan PBA, namun secara aplikasi masih mengalami kesulitan. Adapun penerapan KTSP dalam penyusunan perencanaan PBA, sudah sesuai dengan komponen KTSP. Guru membuat perangkat perencanaan pembelajaran yang terdiri dari prota, promes, silabus, dan RPP. Silabus dan RPP disusun sesuai dengan model berbasis KTSP dari Depag. Komponen-komponen perangkat pembelajaran tersebut meliputi: identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok, dan alokasi waktu. Sedangkan penerapan KTSP dalam PBA, terdiri dari penerapan dalam bahan ajar/buku teks, metode, media, dan sistem penilaian. Bahan Ajar/Buku teks yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran ketrampilan berbahasa Arab adalah buku al-'Arabiyyatu Laka oleh A. Fahrurrozi terbitan Pustaka Insan Madani sebagai buku wajib. Guru menggunakan buku tersebut, karena buku tersebut mengacu pada Standar Isi MA Depag RI 2006, yang sebagian besar isinya mengakomodasi amanat KTSP, yakni pembelajaran kontekstual dan berbasis kompetensi. Sedangkan buku penunjang yang lain adalah buku al'Arabiyyatu Linnasyiin karangan Mahmud Isma'il Shiny dkk, dan buku pelajaran bahasa Arab Ta'lim al-Lughoh al-'Arabiyyah karangan H.D. Hidayat terbitan PT. Karya Toha Putra. Mengenai metode PBA yang digunakan adalah metode eklektik atau metode gabungan/pilihan. Pemilihan dan penggabungan metode yang digunakan oleh guru kurang bervariasi, terkadang guru kurang bisa menguasai situasi kelas karena siswa yang kurang aktif dalam KBM. Media PBA yang digunakan berupa media berbasis cetak seperti buku teks, multimedia seperti laptop & LCD dengan software (perangkat lunak) berupa tabel qawaid dan lagu-lagu bahasa Arab. Media yang digunakan kurang variatif dan intensitas penggunaanya masih belum maksimal. Adapun sistem penilaian yang diterapkan oleh guru meliputi penilaian proses dan hasil. Kedua penilaian tersebut mencakup aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Penilaian proses dilaksanakan selama KBM berlangsung. Sedangkan penilaian hasil belajar dilakukan setiap selesai pembelajaran. Faktor pendukung penerapan KTSP dalam PBA meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu SDM yang bermutu, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan sekolah yang kondusif dan orang tua. Adapun faktor penghambat PBA diantaranya: heterogenitas siswa, sarana yang kurang memadai, siswa yang kurang aktif dalam KBM, beban materi banyak, dan jumlah siswa yang banyak (kelas besar). Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar guru bahasa Arab meningkatkan profesionalisme dan kualitas PBA dengan menciptakan ide-ide kreatif dalam menggunakan metode maupun media PBA yang variatif, sosialisasi antarguru bahasa Arab di MA lainnya, serta mengikuti perkembangan pengetahuan PBA melalui berbagai media; Kepala madrasah, hendaknya mengambil kebijakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat (Dewan Sekolah), Depag, dan Pemerintah Daerah dalam rangka pengadaan fasilitas dan sarana pembelajaran yang dirasa kurang; Depag, hendaknya meningkatkan perannya dengan sekolah-sekolah yang dinaunginya dalam bentuk kegiatan sosialisasi seperti pelatihan, seminar, penelitian, dan lain-lain demi peningkatan kualitas guru-guru bahasa Arab. Sosialisasi hendaknya menekankan pada substansi KTSP dan metode sosialisasi yang digunakan hendaknya berorientasi pada kerja modelling/praktik.

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD pada materi fungsi untuk meningkatkan aspek kognitif dan afektif siswa kelas VIII di MTs Persiapan Negeri batu tahun ajaran 2007/2008 / Sining Panti Utami

 

Permasalahan yang ada di kelas VIII MTs Persiapan Negeri Batu khususnya di kelas VIIIA adalah rendahnya aspek kognitif dan afektif siswa dalam belajar Matematika. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilaksanakan pembelajaran kooperatif model STAD. Dalam pembelajaran kooperatif model STAD ada 5 tahap, yaitu: (1) penyajian kelas, (2) belajar kelompok, (3) tes atau kuis, (4) poin peningkatan individual, dan (5) penghargaan kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan aspek kognitif dan afektif siswa kelas VIII di MTs Persiapan Negeri Batu dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD pada materi fungsi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 26 dan 29 September 2007, sedangkan siklus II dilaksanakan pada tanggal 3 dan 6 Oktober 2007. Aspek kognitif siswa diukur dengan menggunakan tes yang berbentuk uraian. Tes dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu tes awal, tes akhir siklus I, dan tes akhir siklus II. Untuk aspek afektif siswa diukur dengan menggunakan lembar observasi. Observasi dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran berlangsung yaitu observasi awal, siklus I, dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD pada materi fungsi dapat meningkatkan aspek kognitif dan afektif siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan aspek kognitif siswa pada tes awal dengan tes akhir siklus I sebesar 3,4%, tes akhir siklus I dengan tes akhir siklus II sebesar 4,32%, dan tes awal dengan tes akhir siklus II sebesar 7,72%. Sedangkan peningkatan aspek afektif siswa pada observasi awal dengan siklus I sebesar 13,54%, siklus I dengan siklus II sebesar14,59%, dan observasi awal dengan siklus II sebesar 28,13%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aspek kognitif dan afektif siswa, sehingga model pembelajaran kooperatif ini dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk diterapkan pada pembelajaran Matematika.

Perancangan film Animasi Ilmu Pengetahuan Alam (ANIPA) sebagai suplemen media belajar anak / Achmad Rofiq

 

Penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman di SMAN 8 Malang / Fitri Rosida

 

Penerapan pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep strategi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan aplikasinya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pendekatan kontekstual telah diaplikasikan dalam pembelajaran keterampilan menulis siswa kelas X di SMAN 8 Malang pada mata pelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan detail mengenai penerapan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman siswa kelas X.I pada semester gasal tahun ajaran 2007/2008. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana para pendidik dapat menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Para pendidik selama ini masih mengalami kesulitan untuk menerapkan pendekatan kontekstual dengan ketujuh komponen utamanya (constructivism, inquiry, questioniong, learning community, modeling, reflection, dan authentic assessment) dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman yang sesuai dengan konsep kurikulum 2006/KTSP. Penelitian ini dilakukan di SMAN 8 Malang. Subjek penelitian adalah siswa kelas X.I. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan 4 instrumen penelitian. Keempat instrumen penelitian tersebut adalah: (1) lembar observasi; (2) tape recorder dan kamera; (3) panduan wawancara, dan (4) dokumen rencana pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual yang telah diterapkan oleh guru dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi dengan aktif di kelas. Disamping itu, penerapan pendekatan kontekstual dapat mempermudah siswa untuk memahami teks tulis sederhana, terutama dengan metode inquiry, questioning, dan modeling. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis menyarankan agar guru menerapkan konsep belajar pendekatan kontekstual dengan ketujuh komponen utama pembelajarannya dalam proses pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman dengan lebih tepat, bervariasi, dan sesuai dengan konsep kurikulum 2006/KTSP.

Studi pengaruh penggunaan tetes tebu dalam adukan dengan menggunakan komposisi campuran 1 PC:2 PSR pada umur 7 hari terhadap kuat tekan spesi / Khrisna Deny Yudhantoro

 

Mahalnya bahan bangunan khususnya semen, saat ini menjadi suatu permasalahan dalam dunia konstruksi bangunan, salah satu upaya pemecahan masalah tersebut yaitu dengan menggunakan bahan tambahan atau admixture. Bahan tambahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tetes tebu. Tetes tebu merupakan salah satu bahan hasil residu dari proses pembuatan gula dengan bahan dasar tebu. Tetes tebu ini pada umumnya memiliki senyawa kimia NH+, K+, Na+, Ca2+, SO42-, SO32-, CO32- dan Na2SO4 yang mudah larut dalam air. Bahan tambahan yang mengandung komposisi gula dapat digunakan sebagai bahan yang berfungsi sebagai water reducing admixture dan retarding admixture, semuanya itu merupakan beberapa jenis dari admixture pada beton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat tekan spesi apabila tidak menggunakan tetes tebu, menggunakan tetes tebu serta seberapa besar pengaruh penambahan tetes tebu pada campuran mortar terhadap kuat tekan spesi. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2006/2007 mulai bulan April-Juni 2007. Penelitian ini dilakukan sebanyak 4 kali. Masing-masing menggunakan benda uji yang terbuat dari campuran 1 Pc : 2 Psr sebanyak 5 buah dengan mendapatkan perlakuan yang berbeda, yaitu menggunakan tetes tebu sebesar 0 %, 10%, 20% dan 30 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada penambahan tetes tebu terhadap kuat tekan spesinya. Pengaruh yang ditunjukkan yaitu, benda uji yang menggunakan tetes tebu, nilai kuat tekan spesinya turun. Hal ini dikarenakan waktu pengikatan awal spesi yang belum sempurna, pemadatan yang kurang merata, dan perbedaan kekentalan antara campuran yang tidak menggunakan tetes tebu dengan yang menggunakan tetes tebu. Nilai kuat tekan rata-rata benda uji yang menggunakan tetes tebu 10 % adalah 0,856 KN/cm2.Nilai kuat tekan rata-rata pada benda uji yang menggunakan tetes 20 % adalah 0,988 KN/cm2. Nilai kuat tekan rata-rata untuk benda uji dengan menggunakan tetes tebu sebesar 30 % adalah 1,559 KN/cm2. Sedangkan pada benda uji yang tidak menggunakan tetes tebu (0%) didapatkan nilai kuat tekan rata-ratanya sebesar 2,67 KN/cm2.

Pengaruh quantum learning terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa general class di LBB Sony Sugema College Pusat Surabaya / Alfi Susanti

 

Perbedaan prestasi belajar mahasiswa berdasarkan latar belakang pendidikan dan motivasi berprestasi mahasiswa angkatan tahun 2006/2007 Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / A. Taufani Ira

 

Berdasarkan kajian Departemen Pendidikan Nasional, diketahui hanya 20% lulusan SLTA yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Untuk itu pemerintahberusaha meningkatkan rasio SMA:SMK menjadi 40:60. Kebijakan ini menuntut dibukanya adanya jurusan pendidikan teknik pada pendidikan tinggi keguruan. Salah satunya adalah Program studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. Dalam kenyataannya, input mahasiswa yang masuk prodi ini beragam yaitu dari SMA, MA, dan SMK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa berdasarkan dari (1) latar belakang pendidikan dan (2) motivasi berprestasinya. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa dilihat dari (1) latar belakang pendidikan sekolah dan (2) motivasi berprestasinya. Prestasi Belajar adalah hasil belajar terakhir yang dicapai dalam jangka waktu tertentu (Suryabrata, 2002:67). Latar belakang pendidikan menurut M. Noor syam (1987) adalah hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembanganmanusia dan usaha-usaha lembaga tersebut dalam mencapai tujuannya. Motivasi berprestasi menurut McClelland (1967) adalah suatu usaha untuk mencapai kesuksesan yang bertujuan untuk berhasil dalam persaingan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif. Populasi penelitian iniadalah mahasiswa angkatan tahun 2006/2007 Program Studi Pendidikan TeknikBangunan Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang sebanyak 68 yang sekaligus menjadi sampel penelitian dengan menggunakan teknik sensus sampling. Untuk menguji hipotesis penelitian ini data dianalisis secara deskriptif. Selain itu, data juga dianalisis menggunakan uji analisis One Way Anova dengan menggunakan Statistical Program for Social Saint (SPSS) 14.0 for windows. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa IP rata-rata mahasiswa asal SMA adalah 2.78, dari MA adalah 2.55 dan dari SMK adalah 2.50. Kemudian responden asal SMA sebanyak 27 orang bermotivasi tinggi dan 18 orang bermotivasi rendah, responden asal MA 4 orang bermotivasi tinggi dan 5 orang bermotivasi rendah sedangkan responden asal SMK sebanyak 6 orang bermotivasi tinggi dan 8 orang bermotivasi rendah. Kesimpulan dalam penelitian adalah terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa berdasarkan latar belakang pendidikan dan motivasi berprestasinya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar mahasiswa hendaknya meningkatkan motivasi berprestasinya sehingga dapat memperoleh prestasi belajar yang baik. Selain itu, latar belakang pendidikan hendaknya tidak menjadikan mahasiswa terpengaruh dalam mencapai prestasi belajar yang setinggi-tingginya.

Pengaruh sistem pembelajaran modul dan tingkat intelegensi terhadap prestasi belajar kimia teknik pada siswa kelas III SMK Dharma Wirawan Pasuruan / Yuli Setyawan

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat permasalahan yang berkaitan dengan sistem pembelajaran yang efektif, efisien dan merangsang minat, serta dapat mengikuti irama kecepatan belajar masing-masing siswa. Sistem pembelajaran yang dimaksud adalah sistem pembelajaran modul. Selain itu tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan prestasi belajar matadiklat Kimia Teknik antara kelompok siswa yang menggunakan sistem pembelajaran modul dan kelompok siswa yang menggunakan sistem konvensional baik yang memiliki IQ tinggi dan IQ rendah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental semu dan rancangan penelitiannya menggunakan perbandingan kelompok statis. Sedangkan populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III tahun ajaran 2006/2007 yang keseluruhan berjumlah 200 siswa. Dengan teknik cluster random sampling, dipilih dua kelas yaitu kelas 3 Otomotif 1 sebanyak 40 siswa sebagai kelompok modul dan kelas 3 Otomotif 2 sebanyak 40 siswa sebagai kelompok konvensional. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 80 siswa. Adapun variabel penelitiannya adalah sistem pembelajaran modul dan sistem pembelajaran konvensional sebagai variabel bebas, tingkat intelegensi siswa sebagai variabel moderator, prestasi belajar matadiklat Kimia Teknik sebagai variabel terikat dan guru pengajar, materi matadiklat Kimia Teknik, waktu pembelajaran dan laboratorium sebagai variabel kontrol. Instrumen penelitian yang berupa perlakuan mempergunakan tes pilihan ganda sebanyak 10 soal dengan 5 alternatif jawaban yang mengacu pada Kurikulum SMK 2004. Dari analisis statistik diketahui bahwa prestasi belajar siswa yang mempergunakan sistem modul lebih baik dari prestasi belajar kelompok siswa yang menggunakan sistem pembelajaran konvensional baik siswa yang memiliki IQ tinggi dan IQ rendah.

Hubungan antara metode pembelajaran dosen, kebiasaan belajar dan prestasi belajar mahasiswa angkatan tahun 2006 pada matakuliah Struktur und Wortschatz I / Wijayanti Akbar

 

Dalam proses pembelajaran pengajar memerlukan suatu metode pembelajaran yang bisa menarik perhatian mahasiswa sehingga bisa meningkatkan motivasi belajar dan membantu pembelajar untuk bisa memahami materi kuliah dengan lebih mudah. Dengan demikian pembelajar bisa mencapai prestasi yang maksimal. Kebiasaan belajar yang baik juga bisa meningkatkan prestasi pembelajar. Pembelajar yang mempunyai kebiasaan belajar yang baik bisa mencapai nilai atau prestasi yang baik pula. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun selalu ada mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah Struktur und Wortschatz I. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menggambarkan metode pembelajaran dosen, (2) menggambarkan kebiasaan belajar mahasiswa, (3) menggambarkan prestasi belajar mahasiswa angkatan tahun 2006 yang mengikuti mata kuliah Struktur und Wortschatz I, (4) mengetahui hubungan antara metode pembelajaran dosen dan prestasi belajar mahasiswa dan (5) mengetahui hubungan antara kebiasaan belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang pada mata kuliah Struktur und Wortschatz I. Sampel yang digunakan adalah seluruh mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tersebut, yaitu sebanyak 29 mahasiswa. Rancangan penelitian adalah penelitian kuantitatif dan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi untuk melihat metode pembelajaran dosen, angket untuk mengetahui kebiasaan belajar mahasiswa serta metode pembelajaran dosen dan nilai UTS mahasiswa angkatan tahun 2006 pada mata kuliah Struktur und Wortschatz I. Data observasi menunjukkan bahwa baik dosen yang mengajar di offering A maupun dosen yang mengajar di offering B tidak menerapkan semua tugas atau langkah-langkah metode yang seharusnya dilakukan. Misalnya, pada metode CTL dosen tidak menyadarkan mahasiswa untuk menerapkan strategi belajar dalam membangun sendiri pemahamannya, dan dalam metode ceramah dosen serta mahasiswa tidak menyimpulkan hasil ceramah. Oleh karena itu, mahasiswa tidak bisa memahami seluruh materi kuliah. Hasil penelitian menunujukkan (1) dosen yang mengajar di offering A dan B selalu menggunakan variasi metode, (2) kebiasaan belajar mahasiswa offering A dan B rata-rata dikategorikan kurang baik, (3) prestasi belajar mahasiswa offering A rata-rata dikategorikan cukup, yaitu C (47,06%) dan prestasi belajar mahasiswa offering B rata-rata dikategorikan baik, yaitu B dan B+ (25%), (4) terdapat hubungan yang positif antara metode pembelajaran dan prestasi belajar mahasiswa offering A angkatan tahun 2006 pada matakuliah Struktur und Wortschatz I, (5) terdapat hubungan yang positif antara metode pembelajaran dan prestasi belajar mahasiswa offering B angkatan tahun 2006 pada matakuliah Struktur und Wortschatz I, (6) terdapat hubungan yang positif antara kebiasaan belajar dan prestasi belajar mahasiswa offering A angkatan tahun 2006 pada matakuliah Struktur und Wortschatz I dan (7) terdapat hubungan yang positif antara kebiasaan belajar dan prestasi belajar mahasiswa offering B angkatan tahun 2006 pada matakuliah Struktur und Wortschatz I. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar (1) mahasiswa yang mempunyai kebiasaan belajar kurang baik untuk lebih memperhatikan kebiasaan belajarnya dan memperbaiki kebiasaan belajar yang kurang baik, (2) dosen lebih memperhatikan pemilihan metode pembelajaran yang digunakan sehingga bisa membantu mahasiswa memahami materi kuliah.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan komputer pokok bahasan volume balok untuk sekolah dasar kelas V semester 1 / Ria Kurniawati

 

Matematika sering menjadi pelajaran yang menakutkan bagi para siswa. Oleh karena itu, pembelajaran matematika harus didesain sedemikian rupa sehingga memberi kesempatan kepada siswa untuk menumbuhkan kemampuan yang telah mereka miliki agar mencapai titik maksimum dari kemampuannya. Media pembelajaran matematika berbantuan komputer pokok bahasan volume balok dapat dijadikan salah satu media dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran matematika yang layak digunakan dalam pembelajaran matematika SD. Media pembelajaran ini juga didesain agar dapat digunakan langsung oleh siswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Model pengembangan media pembelajaran ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) tahap identifikasi kebutuhan materi dan media; (2) tahap perancangan media pembelajaran yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan editing; (3) tahap produksi media pembelajaran; (4) tahap validasi yang terdiri atas dua tahap uji coba yaitu uji coba perseorangan yang terdiri dari dua subjek validasi yaitu ahli media dan ahli materi, serta uji kelompok kecil yang melibatkan audiens; dan (5) tahap revisi. Uji validasi yang dilakukan dalam dua tahapan yaitu uji perseorangan dengan dua subjek validasi yang terdiri dari satu orang ahli media, satu orang ahli materi, serta uji kelompok kecil dengan melibatkan audiens yang terdiri atas 8 subjek validasi. Instrumen validasi yang digunakan berupa angket tertutup berbentuk chek list yang disertai dengan komentar, saran dan rekomendasi. Data diolah dengan teknik deskriptif persentase dengan cara mengubah data kuantitatif menjadi bentuk persentase. Hasil pengembangan media pembelajaran matematika SD ini memenuhi kriteria valid dari ahli media, ahli materi, dan audiens sehingga dapat dikatakan bahwa media pembelajaran ini layak digunakan sebagai media pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan pembuatan dan pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer lebih lanjut, baik untuk materi-materi yang lain maupun untuk perbaikan media-media yang sudah ada. Adapun pembuatannya sebaiknya juga memperhatikan kelemahan-kelemahan berbagai media pembelajaran berbantuan komputer yang telah ada.

Kualitas genteng blok dan cetak di Desa Padi Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Anastasius Anyang

 

Genteng merupakan penutup atap rumah yang penting karena menjadi tameng terhadap cuaca bagi isi rumah. Sebagaian besar masyarakat masih banyak yang kurang mengerti cara menentukan kualitas genteng yang baik. Tujuanan penelitian ini adalah menguji kualitas genteng yang dibuat dengan cara blok dan cetak di Desa Padi Kabupaten Malang di tinjau dari pengujian pandangan luar, ketahanan terhadap perembesan air, ketepatan ukuran, dan pengujian ketepatan bentuk. Pengujian genteng ini dilakukan sesuai dengan persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956 dan SII No. 0022/80 Sampel genteng di ambil dengan cara random dari populasi genteng baik blok dan cetak yang di produksi di Desa Padi Kabupaten Malang masing-masing sebanyak 30 buah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menguji kualitas genteng baik cara blok maupun cetak terhadap pengujian pandangan luar, ketahanan terhadap perembesan air, ketepatan ukuran, dan pengujian ketepatan bentuk tersebut dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Fukulas Universitas Negeri Malang Untuk mengetahui perbedaan berat genteng blok dan cetak dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Statistical Program for Sosial Sciens (SPSS). Sedangkan pengujian terhadap perbedaan warna, suara dan permukaan dilakukan dengan menggunakan (Chi kuadrat) Hasil pengujian perbedaan berat antara genteng blok dan cetak, sehingga menghasilkan rata masing-masing 1,503 kg/buah untuk genteng blok dan genteng cetak 1,336 kg/buah sehingga memenuhi persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956 dan SII No. 0022/80. Hasil pengujian kualitas pandangan luar genteng blok ditinjau dari warna, suara dan permukaan menghasilkan masing-masing 76,66% merah tua, 76,66% nyaring dan 76,66 mulus, sehingga tidak memenuhi persyaratan SII No. 0022/80 dan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956. Sedangkan genteng cetak masing-masing 100% merah tua, 100% nyaring dan 100% mulus sehingga memenuhi persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956 dan SII No. 0022/80. Pengujian ketahanan terhadap perembesan air menunjukkan bahwa kualitas genteng cetak lebih baik dari genteng blok dan memenuhi persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956 dan SII No. 0022/80. Pengujian ketepatan ukuran kait genteng blok dan cetak adalah 1,7-1,9 cm, panjang adalah 28-36 cm, lebar adalah 20-25 cm dan ukuran tebal adalah 0,4-0,6 cm dan sesuai dengan persyaratan SII No. 0022/ 80 dan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956. Pengujian ketepatan bentuk genteng blok dan cetak adalah 100 % rata sehingga memenuhi persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956 dan SII No. 0022/80. Dari hasil penelitian ini, menarik kesimpulan bahwa genteng blok tidak bisa digunakan secara langsung namun genteng tersebut terlebih dahulu dilapisi/ dicat. Sehingga tidak merembes dan menetes pada waktu tertentu dan genteng cetak bisa pakai langsung, karena sudah memenuhi persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam PUBB-3 tahun 1956 dan SII No. 0022/80. Saran dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kualitas genteng yang baik yang berasal dari Desa Padi Kabupaten Malang dan bagi Home Industri genteng maupun konsumen bisa mengacu pada persyaratan yang berlaku.

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan jasa konstruksi: studi kasus terhadap pelaksana, tukang dan pekerja pada pelaksanaan proyek / Heronimus Jalaq

 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan jaminan keselamatan dan kesehatan orang yang terlibat dalam suatu proyek yang harus dipatuhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas penerapan K3 di perusahaan jasa konstruksi terhadap pelaksana, tukang dan pekerja pada pelaksanaan proyek dan mengetahui perbedaan penerapan K3 di perusahaan jasa konstruksi besar, menengah dan kecil. K3 merupakan suatu keadaan yang dapat menjamin suatu keselamatan dan kesehatan orang, baik itu pegawai maupun bukan pegawai yang berada ditempat kerja secara maksimal. Kecelakaan menyebabkan lima kerugian (5K), yaitu: (1) Kerusakan, (2) Kekacauan organisasi, (3) Keluhan dan kesedihan, (4) Kelainan dan cacat, dan (5) Kematian. Populasi perusahaan berdasarkan kualifikasinya adalah: (1) Besar = 5, (2) Menengah = 28 dan (3) Kecil = 3. Dari masing-masing kualifikasi perusahaan diambil 3 perusahaan dengan teknik purposive sampling. Sample responden adalah pelaksana, tukang dan pekerja yang bekerja di perusahaan jasa konstruksi yang menjadi sample. Pengambilan sampel responden dilakukan dengan teknik insidental sampling sejumlah 27 orang (masing-masing perusahaan 3 orang). Teknik pengumpulan data menggunakan angket/kuesioner pada pelaksana, tukang dan pekerja disertai observasi dan wawancara. Analisa data dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) tabulasi data, (2) analisa deskriptif untuk menghitung tendensi sentral dan variabilitas/dispersi dan (3) analisa varian satu jalan untuk menguji perbedaan kualitas penerapan K3 pada masing-masing perusahaan. Kesimpulan penelitian adalah: (1) Pelaksana, tukang dan pekerja pada perusahaan jasa konstruksi tipe besar lebih optimal melaksanakan K3 dibandingkan dengan perusahaan tipe menengah dan kecil, (2) Terdapat perbedaan kualitas penerapan K3 pada pelaksana, tukang dan pekerja antara perusahaan jasa konstruksi tipe besar, menengah dan kecil. (3) Semakin tinggi kualifikasi perusahaan jasa konstruksi maka semakin besar komitmen perusahaan untuk melaksanakan K3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perbaikan dan peningkatan penerapan K3 terhadap pelaksana, tukang dan pekerja pada pelaksanaan proyek yang selama ini kurang mendapat perhatian, dapat dilakukan secara sistimatis, karena dengan penerapan K3 terhadap pelaksana, tukang dan pekerja yang optimal diharapkan dapat menghasilkan efisiensi dan produktifitas kerja bagi pelaksana, tukang dan pekerja berikutnya. K3 wajib dilaksanakan untuk mencegah terjadinya 5K dan perlu penelitian lanjutan tentang pelaksanaan K3 secara kualitatif pada pelaksanaan proyek.

Manajemen hubungan sekolah dan masyarakat di SMA Negeri 3 Malang / Naila Karima

 

Peranan masyarakat dan orang tua sangatlah penting dalam dunia pendidikan sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 7 ayat 1 yang berbunyi bahwa orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. Untuk dapat tersampaikannya informasi secara tepat perlu adanya jembatan antara sekolah dan masyarakat atau yang lebih dikenal dengan hubungan masyarakat atau public relations. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana proses manajemen hubungan sekolah dan masyarakat di SMA Negeri 3 Malang. Hasil studi pendahuluan didapatkan tiga fokus penelitian yaitu: (1) bagaimana proses perencanaan hubungan sekolah dan masyarakat; (2) bagaimana proses pelaksanaan hubungan sekolah dan masyarakat; dan (3) bagaimana proses pengawasan hubungan sekolah dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) teknik dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut diorganisasikan, ditafsirkan dan dianalisis guna menyusun dan mengabtraksikan temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan: (1) ketekunan pengamatan; (2) triangulasi; dan (3) kecukupan referensial. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Proses perencanaan hubungan sekolah dan masyarakat yang dilakukan di SMA Negeri 3 Malang yaitu pertama, Wakasek Humas mengadakan pengenalan situasi sekolah kepada orang tua siswa yang dilakukan tiap awal, tengah, dan akhir semester. Setelah pengenalan situasi maka ditetapkan tujuan yaitu bekerjasama dengan Wakasek Sarana Prasarana dalam pembuatan brosur sekolah, bekerjasama dengan tim Wakil Kepala Sekolah dalam menyediakan informasi sekolah yang berbasis IT. Wakasek Humas mendefinisikan khalayak guna mengetahui apa yang dibutuhkan oleh SMA Negeri 3 Malang yaitu sekolah-sekolah menengah pertama yang diharapkan nantinya untuk masuk ke SMA Negeri 3 Malang. Yang terakhir yaitu agar semua informasi tersampaikan kepada masyarakat maka media yang digunakan juga diperhatikan, seperti brosur, internet yang beralamatkan di www.SMA3Malang.sch.id, dan menerima kunjungan dari sekolah lain; (2) Proses pelaksanaan hubungan sekolah dan masyarakat di SMA Negeri 3 Malang tiap tahunnya melakukan acara yang dikenal dengan Bedhol Bhawikarsu, yang melibatkan seluruh staf sekolah dan seluruh siswa SMA Negeri 3 Malang. Selain itu menjaga komunikasi dengan alumni juga selalu menjadi agenda tahunan, hal ini dimaksudkan supaya para alumni tetap memiliki kecintaan terhadap SMA Negeri 3 Malang, dan melakukan kunjungan ke rumah siswa dilakukan dengan insidentall; (3) Proses pengawasan hubungan sekolah dan masyarakat dilakukan oleh Kepala Sekolah dan komite sekolah secara periodik. Kepala Sekolah tiap bulan selalu menanyakan kepada Wakasek Humas mengenai kemajuan dari program yang ada. Evaluasi ini juga dilaporkan dalam bentuk laporan yang disusun dengan rapi dan lengkap. Laporan mengenai sekolah dan anggaran SMA Negeri 3 Malang kemudian dibagikan kepada guru, komite sekolah, dan orang tua siswa secara transparan. Saran yang disampaikan dari temuan penelitian ini yaitu: bagi Kepala Sekolah diharapkan terus memberikan pengawasan kepada kegiatan humas mengingat pentingnya tugas Wakasek Humas untuk kemajuan sekolah, bagi Wakasek Humas dalam menyusun program sebaiknya menyertakan juga perencanaan anggaran, dengan adanya penyusunan anggaran maka akan diketahui program-program humas apa saja yang bisa dilaksanakan, bagi Komite Sekolah diharapkan dalam memilih anggota komite, dipilih mereka yang bersedia setidaknya bisa datang satu minggu sekali ke sekolah, sehingga tidak hanya ketua dan wakilnya saja yang sering datang ke sekolah, bagi Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan Jurusan Administrasi Pendidikan memperbanyak bahan bacaan mengenai hubungan masyarakat khususnya hubungan sekolah dan masyarakat, bagi Peneliti lain dapat dijadikan bahan referensi untuk mengembangkan penelitian sejenis dalam bidang manajemen hubungan sekolah dan masyarakat.

Proses manajemen Ma'had Sunan Ampel Al-Ali Putri (studi kasus di Universitas Islam Negeri Malang) tahun ajaran 2006/2007 / Lisa Mei Rika Dewi

 

Manajemen sangat penting diterapkan dalam menjalankan suatu lembaga pendidikan maupun non pendidikan, demikian juga manajemen dalam mengelola layanan khusus asrama. Tanpa manajemen yang baik maka akan sulit tercapai tujuan yang ingin dicapai, salah satunya adalah asrama yang mampu mencetak generasi yang dapat menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan umum dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses manajemen yang diterapkan di asrama mahasiswa, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Penelitian ini dilakukan di Ma’had Putri Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, yang dimulai sejak bulan Juli sampai November 2007. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis studi kasus dengan landasan berpikir eksplanatoris. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti interview, observasi dan studi dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan: Pertama, proses perencanaan, yaitu: (1) Tujuan yang ingin dicapai adalah membentuk “Intelek yang Ulama’ Profesional” atau “Ulama’ yang Intelek Profesional”; (2) Bentuk perencanaan bersifat jangka pendek yaitu perencanaan selama 1 tahun; (3) ada program yang direncanakan; (4) perencanaan disusun melalui rapat kerja; (5) Teknik penyusunan menggunakan Diagram Balok (Bar Chart) atau Diagram Gannt (Gannt Chart). Kedua, proses pengorganisasian, yaitu: (1) ada struktur organisasi; (2) pengurus dipilih melalui seleksi; (3) keputusan diambil berdasar musyawarah dan putusan akhir oleh Direktur ma’had; (4) bentuk organisasi tunggal, lalu lintas kekuasaan Line and Staf; (5) Ada pendelegasian wewenang antar pengurus dalam divisi yang sama. Ketiga, proses pelaksanaan, yaitu: (1) semua program terlaksana; (2) ada pemberian motivasi dari Direktur; (3) ada faktor penghambat, yaitu dana dan heterogenitas mahasantri; (4) ada faktor pendukung, yaitu motivasi dan keaktifan pengurus tinggi dan dukungan finansial dari orang tua mahasantri dan sponsor. Keempat, proses pengawasan, yaitu: (1) pengawasan melalui rapat kerja, evaluasi bulanan, dan inspeksi mendadak; (2) sasaran pengawasan sarana dan prasarana, program kegiatan, serta pengurus; (3) pengawasan dilakukan secara bertahap; (4) laporan pengawasan secara tertulis dan lisan; (5) Cara mengatasi hambatan dana adalah mengadakan iuran, sumbangan mahasantri, dan sponsor. Masalah heterogenitas mahasantri dengan membuat inovasi dan kreativitas acara-acara di tiap mabna. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada Direktur ma’had agar terus meningkatkan pemberian motivasi kepada bawahan dan terus memperbaiki manajemen yang diterapkan. Universitas diharapkan mendukung secara penuh hal yang bersifat materi maupun non materi demi kemajuan dan peningkatan ke arah yang lebih baik bagi ma’had mahasiswa.

Hubungan komunikasi dalam organisasi, kondisi fisik lingkungan kerja, dan motivasi kerja dengan kinerja pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi / Maulida Kholila Mayasari

 

Organisasi merupakan kesatuan yang dikoordinasikan dengan sejumlah aktivitas pegawai yang bertujuan mencapai tujuan. Pegawai harus diperhatikan agar merasa menjadi bagian dari suatu organisasi, sehingga kinerjanya meningkat. Adapun yang perlu mendapat perhatian di antaranya adalah motivasi kerja pegawai, kondisi fisik lingkungan kerja, dan komunikasi dalam organisasi tersebut. Namun ada pula pegawai yang tidak terpacu untuk lebih berprestasi, bahkan banyak mengeluh seperti bosan, buruknya sistem komunikasi, dan lingkungan kerja yang kurang cocok. Keadaan pegawai yang seperti itu jika dibiarkan dapat menurunkan motivasi dan akan berdampak pada kinerjanya. Masalah tersebut membuat penulis merasa perlu mengadakan penelitian tentang hubungan komunikasi dalam organisasi, kondisi fisik lingkungan kerja, dan motivasi kerja dengan kinerja pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) seberapa tinggi tingkat kinerja pegawai? (2) seberapa tinggi tingkat motivasi kerja pegawai? (3) seberapa baik kondisi fisik lingkungan kerja pegawai? (4) seberapa tinggi intensitas komunikasi dalam organisasi pegawai? (5) apakah ada hubungan langsung antara komunikasi dalam organisasi dan kinerja pegawai? (6) apakah ada hubungan langsung antara kondisi fisik lingkungan kerja dan kinerja pegawai? (7) apakah ada hubungan langsung antara motivasi kerja dan kinerja pegawai? (8) apakah ada hubungan tidak langsung antara komunikasi dalam organisasi dan kinerja malalui motivasi kerja pegawai? (9) apakah ada hubungan tidak langsung antara kondisi fisik lingkungan kerja dan kinerja melalui motivasi kerja pegawai? Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tingkat kinerja pegawai (2) mendeskripsikan tingkat motivasi kerja pegawai, (3) mendeskripsikan kondisi fisik lingkungan kerja, (4) mendeskripsikan tingkat intensitas komunikasi dalam organisasi, (5) mengetahui hubungan langsung antara komunikasi dalam organisasi dan kinerja pegawai, (6) mengetahui hubungan langsung antara kondisi fisik lingkungan kerja dan kinerja pegawai, (7) mengetahui hubungan langsung antara motivasi kerja dan kinerja pegawai, (8) mengetahui hubungan tidak langsung antara komunikasi dalam organisasi dan kinerja malalui motivasi kerja pegawai, dan (9) mengetahui hubungan tidak langsung antara kondisi fisik lingkungan kerja dan kinerja melalui motivasi kerja pegawai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi dengan jumlah 95 orang pegawai sehingga sampel yang diambil sebanyak 76 orang melalui teknik proportional random sampling. Instrumen penelitian menggunakan angket tertutup. Data penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif dan jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kinerja pegawai memiliki nilai mean 83,615 yang termasuk dalam kategori tinggi, (2) motivasi kerja pegawai memiliki nilai mean 58,741 yang termasuk dalam kategori tinggi, (3) kondisi fisik lingkungan kerja memiliki nilai mean 71,273 yang termasuk dalam kategori cukup baik, (4) komunikasi dalam organisasi pegawai memiliki nilai mean 85,999 yang termasuk dalam kategori tinggi, (5) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara komunikasi dan kinerja pegawai, (6) tidak terdapat hubungan langsung yang signifikan antara kondisi fisik lingkungan kerja dan kinerja, (7) terdapat hubungan langsung yang signifikan dan terbalik antara motivasi dan kinerja pegawai, (8) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara komunikasi dalam organisasi dan kinerja melalui motivasi kerja pegawai, (9) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara kondisi fisik lingkungan kerja dan kinerja melalui motivasi kerja pegawai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan kepada (1) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi yaitu tetap menjaga dan meningkatkan kinerja pegawai, selalu memotivasi para pegawai untuk bekerja dengan giat yang disesuaikan dengan kebutuhan pegawai, menjaga dan meningkatkan kondisi fisik lingkungan kerja yang kondusif, dan meningkatkan intensitas komunikasi dalam organisasi baik komunikasi ke atas, ke bawah, horizontal, dan diagonal, (2) Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya selalu memotivasi mahasiswa untuk memperhatikan apakah kenyataan di lapangan sesuai dengan teori yang diperoleh dari perkuliahan, sehingga dapat mengembangkan ilmu manajemen pendidikan dalam bidang organisasi, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen perkantoran khususnya mengenai kinerja, motivasi kerja, kondisi fisik lingkungan kerja, dan komunikasi dalam organisasi, dan (3) peneliti selanjutnya hendaknya dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan pendekatan lain, instrumen yang lebih bervariasi, atau menambah variabel penelitian agar data yang terkumpul lebih akurat sehingga dapat menyempurnakan penelitian sebelumnya.

Aplikasi spread sheet untuk perhitungan rencana anggaran biaya (RAB) pelaksanaan bangunan studi kasus pembangunan rumah tinggal Villa Puncak Tidar Malang blok I kavling 36 / Iva Kristina

 

Rencana anggaran biaya (RAB) pelaksanaan bangunan merupakan perhitungan biaya yang dibuat oleh kontraktor sesuai dengan volume pekerjaan yang ada. Guna mempermudah perhitungan RAB Pelaksanaan, maka penelitian ini menggunakan Spread Sheet berupa Ms Excel sebagai program bantu. RAB perencanaan sering tidak sesuai dengan pelaksanaan pekerjaan proyek, oleh karena itu mengharuskan adanya penyesuaian ulang, sehingga hal ini dapat mempengaruhi efesiensi kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan prosedur dan formula dalam perhitungan RAB Pelaksanaan serta pembuatan time schedule dan kurva ?s? dengan menggunakan program spread sheet. Analisa harga satuan pada RAB Pelaksanaan ini berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomer 03-2835-2002 Edisin Revisi. Dalam perhitungan akan dilakukan perubahan pada beberapa satuan material yang tercantum dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Satuan material tersebut meliputi besi tulangan, kayu dan semen, yang sebelumnya dalam kg, m3, dan kg, menjadi lonjor, batang dan zak. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pengadaan material dilapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah model pengembangan prosedural yang menjelaskan tentang tahapan-tahapan dalam pembuatan RAB Pelaksanaan dengan menggunakan spread sheet. Metode ini menjabarkan tentang tahapan untuk membuat formula dalam perhitungan maupun formula dalam work book. Hasil yang diperoleh berupa prosedur perhitungan RAB Pelaksanaan dan prosedur pembuatan kurva ?S? yang berbasis spread sheet. Dalam perhitungan menggunakan spread sheet ini akan terdapat daftar-daftar yang saling berhubungan yang dibuat dengan memanfaatkan sistem link pada program bantu, yang pada akhirnya menghasilkan sebuah program perhitungan RAB Pelaksanaan. Kesimpulan penelitian ini adalah perhitungan biaya menggunakan program RAB Pelaksanaan dapat dilakukan lebih cepat dan mudah. Hal ini dikarenakan hanya dengan memasukkan volume pekerjaan serta harga bahan dan satuan upah, pengguna dapat langsung memperoleh hasil perhitungan berupa analisa harga satuan, RAB, Rekapitulasi, dan jadwal pelaksanaan lengkap dengan kurva ?s?. Hasil output program perhitungan RAB Pelaksanaan ini masih kurang sempurna, oleh karena itu disarankan agar dilakukan revisi untuk penyempurnaan program perhitungan ini.

Keefektivan penggunaan dana bantuan operasional sekolah dalam rangka program peningkatan mutu pembelajaran di SD se-kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Dwi Santoso

 

Pendidikan merupakan tolak ukur suatu pemerintahan yang berkembang, menyediakan bantuan finansial bangsa melalui pendidikan suatu negara dapat meningkatkan kualitas SDMnya. Sehubungan dengan itu, pemerintah bangsa indonesia terus melakukan upaya peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan, antara lain dengan mengeluarkan program Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), yang ditujukan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran. Sekolah berperan dalam mendukung program tersebut dengan menggunakan dana tersebut seefektif mungkin untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Masyarakat mendukung pelaksanaan program tersebut dengan mengawasi pelaksanaan penggunaannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah tingkat keefektivan penggunaan dana BOS dalam rangka program peningkatan mutu pembelajaran di SD se-Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, (2) bagaimanakah perbedaan antara mutu pembelajaran periode sebelum dan sesudah menerima dana BOS di SD se-Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui tingkat keefektivan penggunaan dana BOS dalam rangka program peningkatan mutu pembelajaran di SD se-Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, (2)untuk mengetahui perbedaan mutu pembelajaran periode sebelum dan sesudah menerima dana BOS di SD se-Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian terdiri dari semua Kepala Sekolah dan Guru Bidang Studi di SD se-Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar yang berjumlah 402 orang dari 38 SD. Metode penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah porpotional random sampling, sebanyak 9 sekolah dengan perincian yaitu 9 orang Kepala Sekolah dan 90 orang guru bidang studi jadi sampel yang diambil adalah 99 orang, dengan angket yang terkumpul sebanyak 99 angket (100%). Teknik analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi untuk menjawab permasalahan pertama dengan bantuan SPSS for windows release 12.0 dan uji t untuk menjawab permasalahan kedua dengan bantuan SPSS for windows release 12.0. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat keefektifan penggunaan dana BOS sudah berjalan baik hal ini dibuktikan dengan penelitian terhadap Kepala Sekolah yaitu didapat 55.6% yang menilai sangat efektif dan 44.4% menilai efektif, sedangkan mengenai mutu pembelajaran juga sudah berjalan baik dengan dibuktikan penelitian kepada Guru Bidang Studi, yang menilai sangat efektif 55.6% dan yang menilai efektif 43.3% serta yang menilai cukup efektif 1.1%. Penelitian menggunakan Uji t memperoleh hasil tidak ada perbedaan yang signifikan, hal ini dibuktikan oleh penelitian terhadap hasil ujian akhir siswa kelas 6 sebelum menggunakan dana BOS (tahun 2002/2003) dan sesudah menggunakan dana BOS (tahun 2004/2005) memperoleh hasil Uji t adalah t hitung =1.479 ≤ t tabel = 2.306 (taraf signifikan 5%) maka Ha tidak ditolak dan Ho ditolak, dengan ini dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa sebelum menerima dana BOS dan prestasi belajar siswa sesudah menerima dana BOS. Kesimpulan penelitian adalah: (1) tingkat keefektivan penggunaan dana BOS sudah berjalan baik, (2) tingkat pembelajaran sudah berjalan baik, (3) penerapan dana BOS dalam pembelajaran belum dapat bejalan dengan baik, masih banyak kendala yang mungkin dihadapi oleh sekolah misalnya mengenai kegiatan siswa di luar pembelajaran dll, (4) tidak ada perbedaan yang signifikan menyebabkan terdapat perselisihan dengan hipotesis awal karena pada penelitian perbedaan menunjukkan bahwa prestasi siswa sebelum menggunakan dana BOS lebih tinggi dari pada prestasi siswa sesudah menggunakan dana BOS. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memberikan saran kepada: (1) Kepala Diknas sebagai pimpinan di dinas pendidikan Kecamatan Nglegok, penelitian ini dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan penggunaan dana BOS dan evaluasi penggunaan dana BOS, (2) Kepala Sekolah, bendahara sekolah dan komite, memahami fungsi dana BOS bagi Sekolah, pemanfaatan yang efektif dan efisien terhadap penggunaan dana BOS, upaya peningkatan mutu pembelajaran karena salah satu tujuan dari pemerintah memberikan dana BOS adalah peningkatan kualitas siswa, (3) Guru Bidang Studi, diharapkan dapat meningkatkan mutu mengajar dengan pengajaran yang menyenangkan siswa, memberikan evaluasi secara rutin, dan pemberian waktu dalam satu minggu sekali menggadakan gerakan ”baca buku bersama” selama dua sampai empat jam. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pertama minat membaca siswa, kedua kualitas siswa (4) Peneliti Lanjutan yang akan meneliti hal yang sama, diharapkan dapat melakukan penelitian yang lebih luas lagi dengan karakteristik yang berbeda, sampel juga berbeda.

Penyusunan tata ruang kantor sebagai upaya meningkatkan efisiensi kerja karyawan (studi kasus pada Kantor Tata Usaha Sub Bagian Umum dan Perlengkapan Dinas Pendidikan Tulungagung) / Dian Maya Finasari

 

Pelaksanaan penilaian portofolio pada mata pelajaran PKN di SMP Sriwedari Malang / Ani Roikah

 

Ubin aljabar interaktif materi persamaan linier satu peubah untuk SMP kelas VII semester I / Ika Pandu Sugiarti

 

Peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya di bidang pendidikan, sangat diperlukan Bangsa Indonesia untuk dapat mengejar ketertinggalan dari negara tetangga. Indonesia menurut data Human Development Index UNDP tahun 2006, kualitas pendidikannya ditempatkan pada posisi 108 dari 117 Negara di Dunia. Salah satu aspek yang dapat mendukung peningkatan pendidikan yaitu pemanfaatan teknologi. Kini sekolah berlomba-lomba meningkatkan mutu pendidikannya, dengan mengirimkan para guru ke seminar-seminar pendidikan dan melengkapi fasilitas pendukung, seperti komputer dan OHP untuk media pembelajaran. Media pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena selain dapat memotivasi siswa untuk belajar, juga dapat memudahkan siswa dalam menerima pelajaran. Penyusun mencoba mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer, dengan materi “Persamaan Linier Satu Peubah”, untuk SMP kelas VII semester 1. Agar pemahaman siswa lebih mudah dan tertarik dengan materi yang disampaikan, penyusun memanfaatkan ubin aljabar dalam menjelaskan materi aljabar tersebut. Media Pembelajaran ini dibuat dengan menggunakan program animasi yaitu Macromedia Flash Professional 8. Media ini disusun untuk pembelajaran individu. Siswa akan lebih mudah menggunakannya sendiri tanpa bimbingan guru, karena di dalamnya siswa dapat berinteraksi dengan komputer. Misalnya siswa dapat kembali ke materi yang belum dimengerti atau langsung menuju ke materi selanjutnya. Hasil Media Pembelajaran berupa CD Media Pembelajaran yang dilengkapi dengan file autorun sehingga dapat langsung tampil pada layar setelah pengguna memasukkan CD pada CD ROM. Materi Media pembelajaran disajikan dalam 3 bagian yaitu: definisi istilah, demo materi dan latihan soal. Evaluasi Media pembelajaran disajikan pula dalam 3 aspek yaitu: pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, dan pemecahan masalah. Hasil evaluasi dan analisis media pembelajaran berbantuan komputer yaitu diperoleh kesimpulan bahwa keseluruhan semua evaluator/responden bersikap positif terhadap media ini.

Manajemen pembelajaran inklusi: studi kasus di SDN Percobaan I Malang / Nur Jannah Indrawati

 

1. Abstrak: Penelitian ini dilakukan di SDN Percobaan I Malng dengan fokus pada manajemen pembelajaran inklusi, yaitu meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan faktor-faktor yang menjadi penghambat dan pendukung pembelajaran inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Ada tiga macam teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu: wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Dalam kegiatan perencanaan pembelajaran disusun pada awal tahun ajaran baru. Penyusunan perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan program tahunan, penyusunan semester, serta penyusunan program satuan pelajaran. Belum tampak adanya modifikasi kurikulum, perencanaan direncanakan bersama-sama antara guru kelas dan guru pendamping. Kegiatan pembelajaran dijadikan satu antara siswa normal dengan siswa berkebutuhan khusus, pengorganisasian kelas terlihat dari pengaturan tempat duduk untuk siswa inklusi, ada guru pendamping untuk siswa berkebutuhan khusus, strategi pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tim dan pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya kerja sama antar siswa. Dalam kegiatan penilaian belum ada patokan baku terhadap penilaian untuk siswa berkebutuhan khusus, penilaian dilakukan dengan memantau kegiatan belajar siswa dengan mempertimbangkan aspek penilaian tingkah laku dan prestasi akademik siswa.Faktor penghambat dari pembelajaran inklusi adalah sarana dan prasarana yang kurang memadai sedangkan faktor pendukung terhadap pembelajaran inklusi adalah lingkungan sekolah yang kondusif, partisipasi orang tua dan adanya guru pendamping siswa berkebutuhan khusus.

Implementasi sistem antar kerja bagi lulusan di Vocational Education Development Center (VEDC) Malang dengan system quality berstandar internasional ISO 9001-2000 / Muhammad Sholehan

 

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hakikat kebenaran ilmiah suatu fakta dan bukti dari fenomena implementasi sistem antar kerja yang di selenggarakan oleh lembaga Vocational Education Development Center (VEDC) Malang atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Teknologi (PPPGT) Malang, yang sedang menjembatani lulusan sekolah dan perguruan tinggi untuk mendapatkan kesempatan kerja sesuai dengan potensi dan profesi yang dimiliki, baik bekerja di industri maupun instansi pemerintah atau masyarakat pada umumnya yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif dengan landasan berpikir fenomenologis, dan jenis penelitian studi sistem. Fokus penelitian ini adalah: (a) Bagimanakah profil VEDC Malang; (b) Bagaimanakah strategi yang diterapkan VEDC Malang dalam mengimplementasikan sistem antar kerja; (c) Bagaimanakah implementasi sistem antar kerja di VEDC Malang dengan international standard system quality; (d) Bagaimanakah kondisi strategis VEDC Malang dalam mengimplementasikan sistem antar kerja. Berdasarkan fokus, penelitian desain penelitian metode penelitian yang digunakan dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah hasil penelitian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut. Pertama: Temuan hasil penelitian tentang profil lembaga VEDC Malang dengan quality system berstandar internasional memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) Lembaga memiliki otoritas penuh untuk menentukan tujuan dengan mendesain sendiri sistem organisasi; (2) Lembaga memiliki elemen mutu kinerja produk dan jasa berstandar internasional; (3) Lembaga memiliki partner pengembangan skala internasional; (4) lembaga memiliki posisi yang strategis dalam pengembangan institusi berdasarkan pemetaan pasar bidang pendidikan skala internasional. Kedua: Temuan penelitian pada fokus implementasi sistem antar kerja adalah serangkaian aktifitas sistem dengan kualitas berstandar internasional dengan karakteristik sebagai berikut: (1) aktifitas sistem antar kerja yang meliputi penetapan input, perekrutan atau seleksi lulusan, pre service training; uji coba kerja, penempatan kerja dan Evaluasi memiliki jaminan mutu (quality Assurance); (2) Selain quality assurance pelaksanaan sistem antar kerja untuk menjaga kepuasan pelanggan dilakukan dengan pengawasan mutu (International Quality Control) melalui sistem audit internal dan eksternal. Ketiga: ditemukan hasil penelitian fokus kondisi sistem antar kerja yang memiliki karakteristik sekuensial sebagai berikut: (1) Setiap sistem merupakan sub-sistem dari sistem yang lebih besar; (2) secara strategi keberhasilan implementasi sistem di pengaruhi oleh faktor internal sistem, yaitu kekuatan dan kelemahan dan eksternal sistem, yaitu peluang dan ancaman; (3) Setiap sub-sistem dari sistem memiliki batasan (boundary) dengan sub-sistem lainnya; (4) Setiap sub-sistem dari sistem memiliki jarak (interface) yang terhubung secara linier dan interaktif dengan lainya; (5) Sistem antar kerja memiliki batasan dengan lingkungan dan pencapaian tujuan. Keempat: Ditemukan hasil fokus strategi yang digunakan VEDC Malang, yaitu strategi quantum net work dengan karakteristik: (1) Menerapkan pola marketing;(2) membangun jaringan partnership (3) Memiliki produk dan jasa layanan yang memiliki nilai jual pasar skala internasional. Temuan tersebut telah didiskusikan secara intensif, sehingga teori yang disusun, secara subtansial memiliki nilai guna praktis dan teoritis yang sangat bermanfaat sebagai alternatif dalam memecahkan permasalahan keterpurukan Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi faktor utama penyebab akumulasi pengangguran terdidik yang setiap tahun berdasarkan sensus Departemen Tenaga Kerja dan Badan Perencanaan Tenaga Kerja baik tingkat pusat maupun daerah yang secara kuantitas jumlahnya terus meningkat.

Implementasi sistem manajemen mutu dalam kegiatan belajar mengajar di SMKN 3 Kota Palangkaraya / Gita Rachmayanti

 

Abstrak : Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 (SMKN 3) Kota Palangkaraya dengan fokus penelitian implementasi SMM dalam kegiatan belajar-mengajar siswa yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, rencana tindak lanjut, faktor pendukung hingga kendala yang dihadapi sekolah dalam menerapkan SMM pada kegiatan belajar-mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus dimana prosedur pengumpulan datanya dilakukan melalui wawancara mendalam kepada informan, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, permasalahan utama yang dihadapi sekolah dalam kegiatan belajar-mengajar adalah adanya siswa yang tidak optimal menerima matapelajaran matematika dan bahasa Inggris, Remidial atau pengulangan kompetensi tertentu merupakan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi sekolah. Rencana ini kemudian dilaksanakan dengan terlebih dahulu disosialisasikan kepada siswa. Pemantauan dilakukan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum dengan dibantu oleh ketua jurusan dalam kurun waktu 1 bulan sekali untuk mencegah terjadinya ketidaksesuaian. Rencana tindak lanjut sekolah apabila penerapan sistem manajemen mutu tersebut berhasil adalah dengan membakukan rencana tersebut dan merayakan keberhasilannya. Sistem manajemen mutu dalam kegiatan belajar-mengajar siswa di SMKN 3 Palangkaraya mendapat dukungan dari warga sekolah dan pihak luar.

Analisis penggunaan beasiswa mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Nanok Triyono

 

Pendidikan merupakan kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Dalam melaksanakan proses pendidikan dibutuhkan dana yang digunakan untuk memperlancar tercapainya tujuan pendidikan, dengan kata lain dana sangat berperan penting dalam melaksanakan proses pendidikan. Pemberian beasiswa merupakan langkah maju untuk menanggulangi semakin banyaknya peserta didik putus sekolah karena faktor biaya, namun pemberian beasiswa masih banyak terjadi salah sasaran. Beasiswa yang diberikan tidak tepat sasaran dalam artian masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi juga mendapatkan beasiswa sehingga penggunaanya tidak sesuai dengan tujuan semula beasiswa, sedangkan masih banyak masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah yang membutuhkan beasiswa. Pemberian beasiswa yang tidak tepat akan berdampak pada penggunaan dana yang diberikan. Beasiswa yang fungsi semula digunakan untuk membantu proses pendidikan, disalah gunakan untuk membiayai keperluan diluar pendidikan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang “Analisis Penggunaan Beasiswa Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang”. Masalah dalam penelitian ini adalah, (1) seberapa besar jumlah mahasiswa yang menerima beasiswa di FIP UM ditinjau dari macam beasiswa yang tersedia di UM?, (2) kebutuhan apa saja yang dibiayai dari dana beasiswa mahasiswa untuk bidang pendidikan?, (3) berapa besar masing-masing kebutuhan bidang pendidikan yang dibiayai dari beasiswa mahasiswa?, (4) kebutuhan apa saja yang dibiayai dari dana beasiswa mahasiswa untuk bidang diluar pendidikan?, (5) berapa besar masing-masing kebutuhan diluar pendidikan yang dibiayai dari beasiswa mahasiswa?. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui jumlah mahasiswa yang menerima beasiswa di FIP UM ditinjau dari macam beasiswa yang tersedia di UM, (2) untuk mengetahui ragam kebutuhan apa saja yang dibiayai dari dana beasiswa mahasiswa untuk bidang pendidikan, (3) untuk mengetahui besar masing-masing kebutuhan bidang pendidikan yang dibiayai dari beasiswa mahasiswa, (4) untuk mengetahui ragam kebutuhan apa saja yang dibiayai dari dana beasiswa mahasiswa untuk bidang diluar pendidikan, (5) untuk mengetahui besar masing-masing kebutuhan diluar pendidikan yang dibiayai dari beasiswa mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa yang mendapat beasiswa periode 2006/2007 dengan jumlah 439 orang mahasiswa. Sedangkan sampel penelitian ini yakni 195 orang mahasiswa. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan proportional random sampling. Instrumen pengumpul data adalah teknik angket. Data dianalisis menggunakan analsisis deskriptif. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) Dari 18 macam jenis beasiswa yang ada di UM, sebanyak 13 macam disediakan untuk mahasiswa FIP UM. Periode 2006/2007 jumlah mahasiswa FIP UM yakni 6.072 orang mahasiswa dan yang mendapat beasiswa sebanyak 7,21% atau 439 orang, (2) kebutuhan yang dibiayai dari dana beasiswa antara lain untuk membayar SPP; membeli alat tulis lengkap; membeli buku teks/ buku tulis; untuk biaya foto kopi lengkap; biaya pelatihan; biaya riset/ penelitian; biaya praktik bidang studi; akses internet; biaya pengetikan lengkap; dan membeli kertas, (3) mahasiswa menggunakan dana beasiswa untuk membiayai segala keperluan dalam bidang pendidikan dengan rincian untuk masing-masing kebutuhan yakni: 66,2% untuk membayar SPP; 63,5% membeli alat tulis lengkap; 68,2% untuk membeli buku teks/ buku tulis; 78,9% untuk biaya foto kopi lengkap; 26,6% untuk biaya pelatihan; biaya riset/ penelitian; 37,9% untuk biaya praktik bidang studi; 64,6% untuk akses internet; 77,4% untuk biaya pengetikan lengkap; untuk 61,5% membeli kertas. Selanjutnya (4) beasiswa untuk keperluan non pendidikan antara lain digunakan untuk biaya kesehatan; membeli pakaian; biaya makan, minum, jajan; biaya kost; biaya transportasi; membeli baju, tas, assesoris lain; biaya kosmetik lengkap; dan untuk keperluan komunikasi, (5) mahasiswa menggunakan dana beasiswa untuk membiayai segala keperluan diluar bidang pendidikan dengan rincian untuk masing-masing kebutuhan yakni 25,6% untuk biaya kesehatan; 51,7% membeli pakaian; 65,1% biaya makan, minum, jajan; 33,3% biaya kost; 48,7% biaya transportasi; 56,4% membeli baju, tas, assesoris lain; 38,4% biaya kosmetik lengkap dan; 66,6% untuk keperluan komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian, saran ditujukan kepada: (1) mahasiswa, yaitu mahasiswa hendaknya menggunakan dana yang diberikan dari beasiswa untuk membiayai segala kebutuhan untuk memperlancar proses pendidikan, (2) Universitas Negeri Malang terutama Subag. PKM UM yaitu, Subag PKM UM hendaknya lebih teliti dalam menentukan penerima beasiswa agar beasiswa lebih tepat sasaran, (3) peneliti lain, yaitu hasil penelitian ini dapat dikembangkan oleh peneliti lain dengan lebih mengembangkan konsep penelitiannya.

Kesiapan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran bangunan gedung di lingkungan Universitas Negeri Malang / Aris Adhianto

 

Kebakaran bangunan gedung mengakibatkan kerugian berupa materiil dan non materiil. Hal ini disebabkan bukan hanya karena kelalaian manusia tetapi juga karena rendahnya kualitas sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif, dan tidak diterapkannya sistem manajemen penanggulangan kebakaran dalam gedung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran bangunan gedung. Ada tiga hal yang dideskripsikan, yaitu (1) kelengkapan infratruktur bangunan gedung; (2) kondisi gedung dan sistem proteksinya; dan (3) pemahaman tentang kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran gedung. Menurut Lasino dan Fefen Suhedi (2005:12), bukti bahwa pencegahan dan penanggulangan kebakaran gedung telah diterapkan dengan baik yaitu: (1) pemahaman dan perhatian pada strategi keselamatan kebakaran; (2) RTDK yang diketahui secara umum oleh seluruh penghuni bangunan; (3) kemauan untuk mengubah tingkah laku yang membahayakan. Di Universitas Negeri Malang, populasi gedung 110 bangunan, yaitu 73 bangunan 2 lantai atau lebih dan 37 bangunan 1 lantai. Sampel gedung dalam penelitian ini adalah 20 bangunan gedung 2 lantai atau lebih dan diambil dengan teknik pusposif claster sampling, dimana claster berdasarkan fungsi gedung, yaitu gedung perkantoran, perkuliahan, perpustakaan, laboratorium. Sampel responden 60 orang diambil dengan teknik purposif sampling, dimana dari masing-masing gedung diambil 3 orang, yaitu pimpinan, staf, dan keamanan. Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner. Analisis data deskriptif menggunakan softwere komputer Statistical Program for Social Saint (SPSS) 14.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan (1) kelengkapan infrastruktur gedung, responden menyatakan 62% ada sistem proteksi pasif , 69% tidak ada sistem proteksi aktif, 85% tidak ada Tim Penanggulangan Kebakaran, 75% tidak ada sistem Manajemen Penanggulangan Kebakaran; (2) kondisi gedung dan sistem proteksinya, responden menyatakan 85% kondisi gedung dan sekitarnya baik, 57% kondisi sistem proteksinya buruk; (3) pemahaman tentang kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran gedung, responden menyatakan 93% pemahaman tim penanggulangan kebakaran sedang, 96% pemahaman Manajemen Penanggulangan Kebakaran sedang. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) kelengkapan infrastruktur gedung belum terpenuhi; (2) kondisi gedung dan sistem proteksinya cukup baik; (3) pemahaman kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran gedung cukup baik. Untuk lebih menjamin keselamatan gedung dan penghuninya, para pimpinan institusi perlu meningkatkan kualitas sistem proteksi bahaya kebakaran dan manajemen pengelolahannya

Perbedaan penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP dan MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang / Yuni Andari

 

Pendidikan merupakan salah satu permasalahan yang sangat komplek dalam perkembangan di berbagai bidang atau aspek kehidupan. Pemerintah telah melalukan berbagai upaya untuk melaksanakan tujuan tersebut dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Pancasila sebagai pemersatu kemajemukan masyarakat, pancasila juga sebagai pandangan hidup bangsa. Segala tingkah laku masyarakat Indonesia bercermin pada pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945). Salah satu usaha untuk memajukan kebudayaan dapat dilakukan dengan membina dan mengembangkan disiplin nasional yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Disiplin yang lahir dari rasa sadar, rasa insaf akan membuat sesorang itu melaksanakan hal-hal yang tertib, teratur lancar tanpa orang lain harus mengarahkan, menyuruh, mengawasi atau menertibkan. Menurut Gie dalam Imron (1995) disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati. Adakala disiplin tidak dapat berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan berbagai faktor seperti: siswa sendiri, keluarga, teman sebaya, lingkungan sosial dan tidak menutup kemungkinan sekolah atau lembaga pendidikan. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) seberapa tingkat penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang?, (2) seberapa tingkat penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang?, dan (3) adakah perbedaan tingkat penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP dan MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang?. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, (2) mendeskripsikan penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, dan (3) mendeskripsikan perbedaan penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP dan MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Rancangan penelitin ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan jumlah responden penelitian sebanyak 90 orang . Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif yaitu rancangan penelitian untuk mengetahui persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan tentang benda-benda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik terhadap orang, kelompok, terhadap suatu ide atau prosedur kerja (Arikunto, 2006). Sedangkan angket yang digunakan adalah angket tertutup. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis Uji T untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan. Hasil penelitian tentang teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP berdasarkan teknik pembinaan dari luar diketahui sebagian besar dalam kategori tinggi sebanyak 22 (50,0%), berdasarkan teknik pembinaan dari dalam sebagian besar dalam kategori tinggi sebanyak 27 (61,5%) dan berdasarkan teknik pengendalian kooperatif sebagian besar dalam kategori tinggi sebanyak 21 (24,7%). Sedangakan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru MTs berdasarkan teknik pembinaan dari luar diketahui sebagian besar dalam kategori sangat tinggi 32 (69,6%), berdasarkan teknik pembinaan dari dalam sebagian besar dalam kategori tinggi sebanyak 37 (80,4%), dan berdasarkan teknik pengendalian kooperatif sebagian besar dalam kategori tinggi sebanyak 23 (50,0%). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah: (1) penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang adalah dalam kategori tinggi, (2) penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang adalah dalam kategori tinggi, dan (3) tidak ada perbedaan antara penerapan teknik pembinaan disiplin siswa oleh guru SMP dan MTs di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Sedangkan berdasarkan kesimpulan, maka saran yang dapat disampaikan adalah: (1) bagi Kepala SMP/MTs, hendaknya tetap dapat mempertahankan penerapan teknik pembinaan disiplin dan terus meningkatkan penerapan teknik pembinaan disiplin agar dapat mencapai kualifikasi sangat tinggi, (2) bagi guru, hendaknya terus meningkatkan teknik pembinaan disiplin yang telah dijalankan, mengembangkan penanganan masalah disiplin, serta menegakkan disiplin di dalam maupun di luar kelas, (3) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, lebih dapat lagi menyediakan referensi mengenai pengelolaan kelas atau manajemen kelas dan yang terakhir (4) bagi peneliti lain, dapat dijadikan bahan bandingan apabila diadakan penelitian serupa pada sekolah-sekolah lain.

Sifat organoleptik acar telur puyuh dengan waktu perendaman yang berbeda / Dhini Rahadilla A.

 

Acar merupakan bahan makanan yang berasa asam dan segar karena direndam dalam larutan asam cuka. Car telur merupakan telur yang sudah dimasak/direbus kemudian dikupas dan direndam dalam larutan asam cuka. Kedalam larutan asam cuka ini ditambahkan gula, air dan bumbu-bumbu yang terdiri atas garam, cabai, bawang merah dan bawang putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari proses pembuatan serta mengetahui sifat organoleptik acar telor. Perendaman biasanya dilakukan terhadap suatu objek atau bahan kedalam cairan. Dalam pembuatan acar telur objek yang direndam adalah telur dan sebagai cairan perendamnya adalah digunakan asam cuka. Pada penelitian ini digunakan asam cuka dan telur puyuh sebagai bahan utama. Uji organoleptik yang dilakukan meliputi uji mutu hedonik dan uji hedonik terhadap rasa, warna, aroma dan tekstur dari acar telur puyuh. Hasil penelitian itu menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata pada rasa, aroma dan tekstur acar telur puyuh dengan perlakuan prendaman selama 1 minggu, dan 2 minggu, 1 minggu dan 3 minggu, serta 2 minggu dan 3 minggu. Sedangkan tingkat kesukaan warna acar telur puyuh tedapat perbedaan yang sangat nyata pada warna acar telur dengan perlakuan penyimpanan selama 1 minggu dan 2 minggu serta 1 minggu dan 3 minggu. Acar telur dengan perlakuan penyimpanan selama 2 minggu dan 3 minggu menghasilkan warna tidak berbeda. Rasa acar telur puyuh yang paling disukai adalah acar telur puyuh dengan perlakuan penyimpanan selama 1 minggu, yaitu dengan skor rerata 1,1 diantara suka dan sangat suka. Warna acar telur puyuh yang paling disukai adalah acar telur dengan perlakuan penyimpanan selama 1 minggu, yaitu dengan skor rerata 3,2 terletak pada kriteria diantara suka dan sangat suka. Aroma acar telur puyuh yang paling dusukai adalah acar telur puyuh dengan perlakuan penyimpanan selama 1 minggu, yaitu dengan skor rerata 2,0 terletak pada kriteria diantara suka dan sangat suka. Tekstur acar teur puyuh yang paling disukai adalah acar telur puyuh dengan perlakuan penyimpanan selama 1 minggu, yaitu dengan skor rerata 1,7 terletak pada kriteria diantara suka dan sangat suka.

Pelaksanaan promosi penjualan sebagai bentuk komunikasi pemasaran pada Hotel Kusuma Agrowisata Batu / Phinky Tiara Della

 

Analisis prosedur pengendalian persediaan dan pergudangan pada PG. Padjarakan Probolinggo / Nunung Nurniswati

 

Kemunduran industri gula nasional akhir-akhir ini tidak hanya disebabkan oleh gencarnya importir yang memasuki pasar gula nasional, tetapi lebih disebabkan oleh pengelolaan manajemen perusahaan yang kurang baik. Manajemen yang baik dimaksudkan agar tercukupinya pasokan gula nasional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu manajemen yang baik adalah penerapan pengandalian persediaan dan pergudangan. Metode dalam penulisan tugas akhir ini adalah dengan menggunakan studi pustaka dan studi lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan beberapa cara yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tujuan dari penulisan adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi efektivitas prosedur pengendalian persediaan dan pergudangan pada PG. Padjarakan Probolinggo. Hasil analisis pemecahan masalah adalah secara keseluruhan prosedur pengendalian persediaan dan pergudangan pada PG. Padjarakan berjalan cukup efektif. Hal ini dapat dilihat dari kelebihan prosedur disntaranya yaitu adanya otorisasi yang memadai, pemisahan fungsi, catatan dan dokumen yang memadai, pembatasan akses terhadap persediaan, verifikasi independent serta praktik sehat lainnya. Sedangkan di sisi lain terdapat kelemahan prosedur yaitu yang pertama belum diterapkanya penggunaan prenumbered check pada dokumen yang mencatat transaksi yang sering terjadi. Kelemahan yang kedua belum digunakannya dokumen permintaan pembelian pada saat perhitungan barang dari pemasok. Saran yang diajukan umtuk perbaikan prosedur pengendalian yang pertama adalah penggunaan prenumbered check pada dokumen yang sering terjadi. Kedua menggunakan dokumen permintaan pembelian pada saat pemeriksaan dan penghitungan barang yang diterima dari pemasok.

Perancangan rumah tinggal lantai 2 di Jl. Mandalawangi 18 Malang / Luki Andrianto

 

Pengembangan modul pembelajaran program linear kelas XII Program IPA berpijak pada teori Dienes dan standar proses dari NCTM / Mochammad Zaenal

 

Lapangan Galois / Badriyah

 

For each prime p, the set Zp = {0,1,2, … , p-1} with addition modulo p and multiplication modulo p has structure of field. The order of field Zp is p. Because of that, field Zp is a Galois field of order p. So, for each positive integer n, there is a finite field of order pn and call it the Galois field of order pn , denoted by GF(pn). In this skripsi, we will present additive and multiplicative structure of Galois field and then subfield of Galois field. The additive structure of Galois field GF(pn) isomorphic to and multiplicative structure of Galois field GF(pn) isomorphic to . The subfield of GF(pn) has pm order, for some divisor m of n.

Meningkatkan pemahaman konsep dan selesaian persamaan linear satu variabel (PLSV) siswa kelas VIID MTs Persiapan Negeri Batu melalui pembelajaran matematika realistik / Rahmawati

 

Penerapan aljabar linear untuk mengoptimalkan hasil produksi pengelolaan hutan (studi kasis hutan pinus BKPH Tumpang-Malang) / Nurwahidah

 

Hutan pinus di Kabupaten Malang merupakan salah satu hutan hasil produksi yang cukup mendatangkan pemasukkan untuk daerah. Pengelolaan hutan hasil produksi secara terpadu dimaksudkan untuk mendapatkan suatu hasil yang optimal dengan mempertimbangkan kebijakan pemanenan agar kelestarian hutan dapat terus terjaga. Dalam penerapan Aljabar Linear, pengelolaan hutan yang didasarkan pada suatu kebijakan pemanenan dengan mempertimbangkan kelestarian hutan disebut dengan model pemanenan yang dapat dibenarkan. Model ini menetapkan konfigurasi awal hutan harus sama dengan konfigurasi akhir hutan setelah dikurangi panen dan ditambah dengan semaian baru. Konfigurasi awal hutan terdiri dari tanaman dengan kelompok umur yang berbeda di awal pertumbuhan, sedangkan konfigurasi akhir hutan terdiri dari tanaman pada kelompok umur yang tersisa setelah suatu periode pertumbuhan. Secara matematis dengan memisalkan suatu vektor non-panen x, akan diperoleh matriks pertumbuhan terhadap vektor non panen , dan dengan memisalkan vektor panen y, diperoleh matriks semaian pengganti vektor panen Ry haruslah sama dengan vektor non panen x diawal pertumbuhan, dengan demikian . Hasil optimal yang dapat diusahakan adalah menentukan , dengan i adalah kelompok umur, adalah nilai ekonomis pinus pada kelompok ke-i, dan yi adalah banyaknya pinus yang dipanen pada kelompok ke-i. Penulisan ini mengambil suatu studi kasus pada hutan pinus BKPH Tumpang-Malang khususnya pada RPH Poncokusumo. Penulisan ini bertujuan untuk (1) membahas teori dasar pengelolaan hutan dengan model pemanenan yang dapat dibenarkan, (2) mendefinisikan parameter-parameter yang berhubungan dengan pengelolaan hutan pinus dan menentukan hasil optimal pada hutan pinus BKPH Tumpang, dan (3) menginterpretasikan hasil model matematika yang diperoleh kedalam permasalahan pengelolaan hutan pinus BKPH Tumpang. Data yang diperoleh digunakan untuk menentukan matriks pertumbuhan hutan pinus guna mendapatkan konfigurasi awal hutan. Selain itu dengan memperhatikan nilai ekonomis pinus (p) dan banyak pinus dalam suatu hutan (s) dapat ditentukan kelompok umur mana yang seharusnya dipanen dengan hasil produksi hutan yang optimal. Hasil dari studi kasus ini, memberikan informasi mengenai konfigurasi awal hutan yang mengoptimalkan hasil produksi pengelolaan hutan adalah terdiri dari (s/1,98) pohon pada kelompok ke-1 (umur tahun), (s/4,38) pohon pada kelompok ke-2 (umur 11-15 tahun), (s/3,77) pohon pada kelompok ke-3 (umur 16-20 tahun), dan tidak ada pinus pada kelompok umur > 20 tahun. Pinus akan tumbuh sampai masa panen pada kelompok umur 21-25 tahun atau pada kelompok ke-4. Dalam satu masa pertumbuhan 30 tahun, dengan memanen semua pinus pada kelompok ini, akan diperoleh hasil panen optimal per 1000 pohon (minimal 15.000 batang dengan panjang 1 m) yaitu sebesar Rp. 79.927.500.000,00.

Pengembangan tutorial elektronik mata kuliah analisis data materi rancangan acak lengkap (RAL) / Kiki Yulia Krismaya

 

Analisis Data merupakan salah satu mata kuliah di jurusan Matematika Universitas Negeri Malang yang menjadi dasar bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian kuantitatif dalam upaya menyelesaikan skripsi nantinya. Selama ini penyampaian perkuliahan Analisis Data dilakukan dengan metode ceramah, latihan soal, dan buku-buku penunjang. Hal tersebut menjadikan sebagian besar mahasiswa merasa kesulitan dengan metode tersebut, untuk itu diperlukan suatu perubahan metode yang awalnya teacher centers menjadi student centers. Dengan adanya perubahan tersebut, berpengaruh juga pada metode penyampaian materi sehingga diperlukan suatu media untuk menyampaikan materi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan tutorial elektronik mata kuliah Analisis Data materi Rancangan Acak Lengkap (RAL). Model pengembangan tutorial elektronik ini melalui beberapa tahap, yaitu: mengenali tujuan pembelajaran; melaksanakan analisis pembelajaran; mengenali tingkah laku subyek; merumuskan tujuan performansi; mengembangkan dan memilih material; merancang dan menjalankan penilaian format; menghasilkan produk akhir dan revisi. Dalam menjalankan penilaian format, dipilih 2 subyek uji yaitu: uji ahli (seorang ahli media dan seorang ahli pembelajaran Statistika) dan 5 orang audiens (mahasiswa) yang sedang menempuh mata kuliah Analisis Data. Instrumen penilaian format menggunakan angket tertutup (check list). Data yang diperoleh, kemudian dianalisis menggunakan teknik prosentase. Hasil pengembangan tutorial elektronik ini memenuhi kriteria valid dari ahli media, ahli pembelajaran Statistika, dan audiens sehingga software layak digunakan sebagai tutorial elektronik pada materi RAL. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan terhadap prestasi belajar mahasiswa, selain itu, jika software ini akan dipublish di internet maka harus dicobakan pada macam-macam browser agar agar tampilannya lebih fleksibel dan dapat diakses menggunakan sembarang browser pada internet.

Pengembangan buku petunjuk praktikum IPA kimia berbasis inkuiri terbimbing untuk SMP/MTs kelas VII semester I / Sri Kusumastuti

 

Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan melalui pendekatan metode ilmiah, sehingga kegiatan praktikum sangat menunjang dalam mempelajari kimia. Kurikulum 2006 menekankan pembelajaran konstruktivistik dan sebagai salah satu implementasinya adalah menerapkan praktikum berbasis inkuiri terbimbing. Dalam praktikum berbasis inkuiri terbimbing, siswa berusaha menemukan pengetahuannya melalui percobaan dengan menggunakan metode ilmiah dibantu oleh petunjuk praktikum dan bimbingan seperlunya dari guru. Berdasarkan kompetensi dasar IPA di SMP/ MTs kurikulum 2006, beberapa materi kimia kelas VII Semester I perlu melibatkan kegiatan praktikum dalam kegiatan pembelajarannya, yaitu: Asam, Basa, dan Garam; Pemisahan Campuran; Perubahan Kimia; dan Ciri- ciri Reaksi Kimia. Sejauh ini belum ada pengembangan Buku Petunjuk Praktikum IPA Kimia berbasis inkuiri terbimbing untuk SMP/MTs kelas VII semester I, sehingga pada penelitian ini dikembangkan Buku Petunjuk Praktikum IPA Kimia berbasis inkuiri terbimbing untuk SMP/MTs kelas VII Semester I. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan dan menguji kelayakan Buku Petunjuk Praktikum IPA Kimia berbasis inkuiri terbimbing untuk SMP/MTs kelas VII Semester I. Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum melalui tiga langkah, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan pengembangan produk, dan pengembangan produk awal. Desain validasi pada pengembangan Buku Petunjuk Praktikum ini hanya sampai pada validasi isi saja. Validator terdiri dari 2 Dosen Kimia FMIPA UM, 2 guru IPA SMPN 4 Malang, dan 1 guru IPA SMPN 5 Malang. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Instrumen pengumpulan data berupa angket. Teknik analisis data menggunakan analisis nilai rata-rata. Hasil pengembangan dari penelitian ini adalah (1) Buku Petunjuk Praktikum yang dikembangkan terdiri dari beberapa komponen yaitu cover, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, panduan bagi pengguna, 15 petunjuk praktikum, dan kunci jawaban. Buku Petunjuk Praktikum yang dikembangkan berbasis inkuiri terbimbing karena setiap petunjuk praktikum memuat penyajian rumusan masalah dan bimbingan-bimbingan: merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, melaksanakan percobaan, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. (2) Buku Petunjuk Praktikum yang dikembangkan sudah layak untuk diuji cobakan di lapangan karena berdasarkan hasil validasi diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,53 dengan kriteria valid dan revisi telah dilakukan terhadap bagian-bagian tertentu berdasarkan saran dari validator. Saran yang dapat diberikan adalah (1) Perlu adanya uji coba lapangan terhadap Buku Petunjuk Praktikum yang dikembangkan agar diketahui efektivitasnya dalam kegiatan pembelajaran IPA Kimia SMP/MTs kelas VII Semester I, (2) Buku Petunjuk Praktikum yang dikembangkan sebaiknya digunakan sesuai dengan panduan bagi pengguna, (3) Guru perlu mencoba praktikum sebagai persiapan kemudian Buku Petunjuk Praktikum yang dikembangkan didistribusikan kepada siswa (perkelompok praktikum), dan (4) Perlunya memberikan alokasi waktu pada setiap kegiatan praktikum pada pengembangan Buku Petunjuk Praktikum selanjutnya

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X-4 SMA Negeri 7 Malang / Pratama Ayade Kurniawan

 

mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih rendah berdampak pada rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilakan. Untuk kepentingan tersebut pemerintah berusaha melakukan perbaikan dalam dunia pendidikan, salah-satunya dengan mengadakan perubahan dalam bidang kurikulum. Inovasi dalam bidang kurikulum ditandai dengan mulai diterapkannya kurikulum 2004 (KBK) dan kemudian diperbaiki lagi dengan diterapkannya kurikulum 2006 (KTSP). Inti dari perubahan kurikulum ini adalah lebih menekankan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pengajaran yang mengggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-4 SMA Negeri 7 Malang setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan pola perilaku konsumen dan produsen dalam kegiatan ekonomi? (2) Bagaimana hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 7 Malang setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan pola perilaku konsumen dan produsen dalam kegiatan ekonomi? Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2007-2008 dengan jumlah 36 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Teknik analisis data yang digunakan untuk hasil belajar aspek afektif, aspek psikomotorik, kemampuan berpikir kritis dan keterlaksanaan pembelajaran menggunakan persentase dan untuk hasil belajar aspek kognitif digunakan rata-rata nilai hasil tes. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah observasi untuk penilaian kemampuan berpikir kritis, hasil belajar aspek afektif, serta obervasi kegiatan guru. Hasil belajar aspek kognitif diperoleh dengan memberikan tes disetiap akhir siklus. Untuk penilaian hasil belajar aspek psikomotorik digunakan lembar penilaian psikomotorik siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase seluruh aspek kemampuan berpikir kritis siswa yang diamati yaitu dari 60,64% pada siklus I meningkat menjadi 70,56% pada siklus II. Dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa yang meningkat terdiri dari: hasil belajar aspek kognitif dari rata-rata sebesar 69,14 di siklus I meningkat menjadi 77,46 pada siklus II. Hasil belajar aspek afektif mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 67,35% menjadi 72,14% pada siklus II dan untuk hasil belajar aspek psikomotorik pada siklus I diperoleh 72,86% meningkat pada siklus II sebesar 76%. Adapun saran yang dapat diberikan kepada peneliti selanjutnya adalah: (1) Bagi guru mata pelajaran ekonomi dapat menggunakan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar ekonomi siswa, (2) Penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup, (3) Penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan kelas serta sekolah dan materi yang berbeda, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan tindakan lebih dari dua siklus. Sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal, (5) Dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah guru harus selalu mengingatkan siswa untuk menghubungkan materi yang sedang dipelajari dan tidak hanya fokus pada masalah atau kasus yang diberikan oleh guru.

Peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan strategi bongkar pasang siswa kelas X-1 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2007/2008 / Wenny Verany Saragih

 

Dalam KTSP disebutkan bahwa keterampilan menulis cerpen wajib dikuasai oleh siswa. Tujuannya adalah agar siswa mampu mengekspresikan pikiran, ide, gagasan, pengalaman, dan imajinasinya melalui menulis cerpen. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran adalah strategi. Selama ini SMA Laboratorium UM belum menggunakan strategi yang mengembangkan kompetensi menulis cerpen secara maksimal.Untuk itu penelitian ini menggunakan strategi bongkar pasang. Dengan strategi ini siswa menulis cerpen menggunakan model cerpen. Masalah umum dalam penelitian ini adalah bagaimanakah strategi bongkar pasang mampu meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X-1 SMA Laboratorium dengan tahap pengabstrakan, pemodelan, pelatihan, revisi dan penyuntingan, serta publikasi. Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa pada tahap pengabstrakan, pemodelan, pelatihan, revisi dan penyuntingan, serta publikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Tindakan ini dilaksanakan secara berkelanjutan yang dirancang secara berurutan. Penelitian ini meliputi beberapa tahap, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) prates, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan dan evaluasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium Malang di kelas X-1 tahun ajaran 2007/2008. Data penelitian ini meliputi data verbal berupa tuturan lisan maupun tertulis, dan data nonverbal berupa tindakan yang ditranskripsikan dan dimasukkan dalam catatan lapangan. Subjek penelitian ini adalah sembilan siswa kelas X-1. Instrumen pengumpul data utama adalah peneliti dengan dibantu oleh kolaborator, sedangkan instrumen penunjang berupa catatan lapangan, panduan wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan strategi bongkar pasang dalam pembelajaran menulis kreatif cerpen dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa. Hal ini dibuktikan setelah siswa diberi tindakan, siswa telah terampil dalam menulis cerpen. Pada tindakan siklus I, peningkatan belum maksimal atau hanya mencapai 25% dari sampel yang ada dan pada tindakan siklus II, keterampilan siswa menulis cerpen menunjukkan peningkatan. Peningkatan yang ditunjukkan yaitu perolehan nilai pada siklus II rata-rata mencapai di atas nilai 75 sesuai Standar Kompetensi Minimal (SKM) yang berlaku di sekolah tersebut. Peningkatan pada siklus II mencapai 75% atau hampir seluruh sampel telah mampu menulis cerpen sesuai indikator yang telah ditetapkan ditetapkan. Penggunaan strategi bongkar pasang dapat meningkatkan keterampilan menulis kreatif cerpen siswa. Dalam pelaksanaannya, disarankan pada guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia untuk (1) memanfaatkan strategi bongkar pasang dalam pembelajaran menulis cerpen pada siswa SMA, (2) mengadakan beberapa perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran menulis kreatif cerpen dengan strategi bongkar pasang baik dari segi waktu ataupun teknik pelaksanaannya. Saran untuk peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian yang serupa untuk mengkaji dan menelaah tentang pembelajaran menulis kreatif cerpen pada tindakan kelas.

Implementasi metode inkuiri dalam pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas VII di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 2 Kota Malang / Yeni Damayanti

 

Pembelajaran membaca pemahaman pada siswa kelas VII sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memahami teks dan mampu menerapkan pengetahuan membacanya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, berdasarkan pengamatan dan informasi yang diperoleh pada waktu pengamatan awal diperoleh informasi bahwa pembelajaran membaca pemahaman kelas VII di sekolah terteliti tidak optimal. Hal ini diduga karena guru kurang menguasai metode pengajaran. Selain itu, sarana belajar yang sangat minim seperti buku pelajaran kurang dan bahan bacaan yang tidak memadai merupakan faktor pendukungnya. Penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran membaca pemahaman merupakan salah satu alternatif pemecahan permasalahan membaca di madrasah tsanawiyah atau sekolah menengah pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran membaca pemahaman yang meliputi (1) perencanaan membaca, (2) pelaksanaan membaca pemahaman yang terdiri dari tahap prabaca, saat baca, dan pascabaca, dan (3) hasil belajar membaca pemahaman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian ini meliputi (1) kegiatan pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pelaksanaan, (4)observasi dan evaluasi, dan (5) refleksi. Penelitian dilakukan dalam 3 siklus, dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan teman sejawat. Data penelitian berupa data hasil tindakan yang diperoleh dari hasil pengamatan, hasil wawancara, dan tes kemampuan membaca pemahaman siswa tiap tahap pascabaca. Sumber data berasal dari guru, siswa, dan proses pembelajaran. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas VII yang berjumlah 25 orang. Instrumen utama adalah peneliti sendiri sebagai pengumpul data, guru dan pewawancara. Selain itu, teman sejawat yang mengawasi kegiatan pembelajaran dan merekam kegiatan pembelajaran dalam catatan lapangan.. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis data mengalir yang dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penyimpulan data. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan diskusi dengan teman sejawat. Penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran membaca pemahaman dilaksanakan dengan proses membaca melalui 3 tahap, yaitu tahap prabaca, saat baca, dan pascabaca. Pada tahap prabaca, kegiatan yang dilakukan adalah menyampaikan tujuan pembelajaran, mengobservasi gambar untuk membangkitkan skemata, membentuk kelompok, dan membuat prediksi awal. Dalam tahap tersebut siklus inkuiri yang terealisasi adalah pengamatan, bertanya, i dan hipotesis. Pada tahap saat baca, kegiatan yang dilakukan adalah membaca teks, membandingkan prediksi awal dengan informasi yang diperoleh dari teks, mengerjakan lembar kerja siswa secara berkelompok, dan evaluasi hasil kerja kelompok. Dalam tahap tersebut siklus inkuiri yang terealisasi adalah pengumpulan data dan penyimpulan. Pada tahap pascabaca, kegiatan yang dilakukan adalah membaca ulang teks bacaan, mengerjakan tes formatif, dan menyimpulkan hasil pembelajaran untuk dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Siklus inkuiri yang terealisasi dalam tahap pascabaca adalah pengumpulan data dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas VII terbukti efektif dan berhasil. Hal ini terwujud dengan adanya temuan dari aspek guru dan siswa. Temuan dari aspek guru (1) guru menjadi kreatif menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) guru lebih kreatif dalam menyusun media pembelajaran berupa teks dan gambar yang berhubungan dengan isi teks, (3) ketergantungan guru terhadap buku cetak menurun, (4) fungsi guru sebagai fasilitator dan motivator meningkat, dan (5) guru terlatih memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Sedangkan temuan dari aspek siswa adalah (1) siswa menjadi lebih kreatif. (2) siswa mampu menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam pembelajaran secara mandiri. (3) semangat belajar siswa meningkat. (4) siswa dapat melakukan pembelajaran dengan gembira. (5) siswa mampu menemukan makna kata sulit. (6) keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat meningkat. (7) pemberian reward berupa bintang (poin plus) membuat siswa semakin termotivasi. (8) siswa terlatih menggunakan waktu secara efektif dan efisien. (9) siswa dapat menghargai pendapat orang lain. (10) siswa dapat menghubungkan hasil pembelajaran dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. (11) minat baca siswa bertambah. (12) kemampuan membaca pemahaman tingkat literal, interpretatif, kritis, dan kreatif meningkat. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti yaitu sebagai berikut. (1) pemahaman guru terhadap siklus-siklus inkuiri yang dapat diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbahasa agar diperoleh hasil pembelajaran yang maksimal. (2) kepaduan antara teks, media gambar, dan lembar kerja siswa dalam pembelajaran membaca agar siklus-siklus inkuiri dapat diterapkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. (3) bagi guru sebagai pendidik, agar memotivasi siswa untuk menghubungkan hasil belajar dengan nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menerapkan hasil belajar dalam kehidupan nyata. (4) bagi peneliti selanjutnya, agar dapat menerapkan siklus-siklus inkuiri dalam penelitian keterampilan membaca yang lain atau keterampilan-keterampilan berbahasa yang lain dan benar-benar memahami siklus-siklus inkuiri.

Peningkatan kemampuan menulis cerita pendek dengan memanfaatkan majalah dinding siswa kelas IX SMP Katolik Santa Maria II Malang / Priskila Citrasetya Andari

 

Kemampuan menulis cerpen merupakan salah satu kompetensi bahasa dan sastra yang terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP SMP/ MTs mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran menulis cerpen membutuhkan media yang variatif dan inovatif. Hasil studi pendahuluan terhadap kemampuan siswa dalam menulis cerpen menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan menemukan inspirasi cerita, dan menentukan judul yang sesuai dengan isi cerita. Selain itu, siswa masih kurang mampu mengembangkan alur secara runtut dan jelas, melukiskan watak secara jelas, mendeskripsikan setting secara jelas, dan kurang tepat dalam memilih dan menggunakan pilihan kata, ejaan, dan tanda baca. Hal tersebut disebabkan siswa langsung terjun pada kegiatan penciptaan cerpen tanpa serangkaian proses. Siswa membutuhkan beberapa tahap pembelajaran yang berfungsi sebagai proses penciptaan cerpen. Majalah dinding merupakan salah satu media massa sekolah yang memiliki fungsi dan manfaat, yaitu meningkatkan minat baca, mengembangkan cakrawala pengetahuan, sumber acuan informasi keilmuan, menyalurkan dan menampung bakat, minat, hobi, dokumentasi, dan media pengajaran. Berdasarkan fungsi dan manfaat majalah dinding tersebut, maka majalah dinding dimanfaatkan sebagai media pengajaran, sumber inspirasi, dan tempat memajang hasil karya siswa. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan majalah dinding siswa SMPK Santa Maria 2 Malang pada aspek menentukan judul, mengembangkan alur, aspek melukiskan watak, mendeskripsikan setting, dan kebahasaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan majalah dinding siswa SMPK Santa Maria II pada aspek menentukan judul, mengembangkan alur, aspek melukiskan watak, mendeskripsikan setting, dan kebahasaan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan selama 2 siklus. Penelitian ini meliputi beberapa tahap (1) studi pendahuluan, (3) perencanaan tindakan, (4) pelaksanaan tindakan, (5) evaluasi, (6) refleksi. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan di SMP Katolik Santa Maria II Malang. Sumber data penelitian ini adalah siswa dan peristiwa pembelajaran menulis cerpen dengan memanfaatkan majalah dinding. Data dalam penelitian diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu data pretes, data tindakan (data proses penelitian, dan data hasil penelitian). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Katolik Santa Maria II Malang berjumlah 30 siswa terdiri atas 14 siswa putra dan 16 siswa putri. Instrumen pengumpul data utama adalah peneliti dibantu guru sebagai mitra peneliti, sedangkan instrumen penunjang berupa format catatan lapangan, pedoman pengamatan, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis cerpen dengan memanfaatkan majalah dinding hingga melampui batas minimum 75% dengan nilai minimal 75. Hal tersebut membuktikan bahwa setelah diberi tindakan siswa telah kompeten menulis cerpen. Setelah diberi tindakan I dan II, kemampuan siswa dalam menulis cerpen menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan kemampuan tersebut meliputi, kemampuan menentukan judul, mengembangkan alur, melukiskan watak, mendeskripsikan watak, dan menggunakan pilihan kata, ejaan dan tanda baca yang tepat. Dari setiap aspek kemampuan menulis cerpen yang harus dikuasai, siswa mengalami peningkatan hingga mencapai 100%. Bertitik tolak dari penelitian yang telah dilaksanakan, saran yang dapat diberikan peneliti pada guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia adalah supaya guru menerapkan pemanfaatan majalah dinding dalam pembelajaran menulis cerpen dan pembelajaran sastra lainnya, seperti membacakan cerpen dan menulis puisi. Selain itu, guru juga disarankan untuk memperbaiki atau menambah variasi pada pembelajaran menulis cerpen dengan memanfaatkan majalah dinding. Saran pada sekolah adalah agar menyediakan media pembelajaran yang inovatif dan memotivasi guru untuk memberdayakan media belajar yang inovatif, variatif, dan efisien dalam kegiatan pembelajaran, seperti halnya memanfaatkan majalah dinding dalam meningkatkan pembelajaran keterampilan menulis cerpen. Saran pada peneliti selanjutnya adalah supaya peneliti lanjutan dapat memanfaatkan media yang lebih inovatif dan variatif untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa dan juga pada pembelajaran sastra lainnya, seperti membacakan cerpen dan menulis puisi.

Efektivitas penerapan metode latihan terpusat dan latihan tersebar pada mata pelajaran ekonomi (studi eksperimen kelas X di SMA Negeri 9 Malang) / Dewi Nining Ari W.

 

Pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kualitas proses pembelajaran. Selama ini proses pembelajaran kita masih menganut model konvensional (metode terpusat) yaitu proses pembelajaran yang terpusat pada guru sehingga motivasi belajar, daya pikir, dan daya tarik siswa kurang dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas. Sedangkan metode Latihan Tersebar adalah jenis latihan yang diberikan guru secara bertahap dan disertai waktu istirahat yang sangat sesuai untuk meningkatkan hasil belajar siswa.Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Latihan Terpusat (2)Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Latihan Tersebar (3)Untuk mengetahui keefektifan penerapan metode Latihan Terpusat dan Latihan Tersebar pada mata pelajaran Ekonomi. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Malang mulai tanggal 30 Oktober sampai dengan 13 November 2007. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental dengan menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah 208 siswayang terbagi dalam 6 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu siswa kelas X.4 sebagai kelas kontrol dan siswa kelas X.2 sebagai kelas eksperimen. Kelompok Eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan metode Latihan Tersebar, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar dengan metode Latihan Terpusat (konvensional). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan hasil belajar yang signifikan dari penerapan Metode Latihan Terpusat dan Latihan Tersebar pada mata pelajaran ekonomi Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan varian data gain skor yang signifikan antara metode latihan terpusat dan metode latihan tersebar, terbukti dari hasil analisis uji t-independent sampel yang menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 2,275 dengan Signifikasi = 0,027 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari metode Latihan Terpusat dan Latihan Tersebar pada mata pelajaran ekonomi, kemudian disarankan bagi guru dalam mengajar hendaknya menerapkan Metode Latihan Tersebar sebagai salah satu alternatif pembelajaran di dalam kelas, dan bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini lebih lanjut agar dapat menggunakan populasi dan sampel yang luas serta dengan materi yang berbeda.

Hubungan persepsi tentang kualitas jasa pendidikan dengan kepuasan mahasiswa di Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Ardila Rubiku Jack Kusuma Jaya

 

Layanan pendidikan yang telah diberikan saat ini sudah baik tetapi sering terjadi perbedaan persepsi antara harapan mahasiswa dengan persepsi pemberi layanan pendidikan, sehingga sering terjadi ketidakpuasan terhadap mahasiswa. Ketidakpuasan mahasiswa terjadi, ketika mereka sudah merasakan untuk beberapa waktu pelayanan pendidikan yang diberikan. Hasil persepsi mahasiswa yang terbentuk dari kebutuhan personal, informasi mulut kemulut, dan promosi tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan. Memperhatikan seluk-beluk kegiatan pemberian jasa yang berlangsung di Jurusan Administrasi Pendidikan maka peneliti mengambil judul “Hubungan Persepsi Tentang Kualitas Jasa Pendidikan Dengan Kepuasan Mahasiswa Di Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini adalah (1)Mengetahui persepsi mahasiswa tentang kualitas jasa pendidikan di Jurusan Administrasi Pendidikan; (2)Mengetahui seberapa tingkat tingginya kepuasan mahasiswa tentang jasa pendidikan di Jurusan Administrasi Pendidikan;(3)Mengetahui seberapa tinggi hubungan kualitas jasa pendidikan dengan kepuasan mahasiswa di Jurusan Administrasi Pendidikan. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proportional random sampling. Jumlah sampel sebanyak 169 mahasiswa yang terdistribusi dalam kelompok berdasarkan angkatan didapat 27 mahasiswa mewakili angkatan 2003, 46 mahasiswa angkatan 2004, 41 mahasiswa angkatan 2005, dan 55 angkatan 2006 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket sedangkan analisis datanya menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Bukti fisik, Keandalan, Daya Tanggap, dan Jaminan secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan mahasiswa di Jurusan Administrasi Pendidikan, hanya dimensi empati yang secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan. Tetapi kelima dimensi ini mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan jika diukur secara simultan, dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap dimensi tidak bisa berdiri sendiri sebagai faktor yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa di Jurusan Administrasi Pendidikan tetapi kelima dimensi ini saling berkaitan. Dari penelitian ini penulis memberi saran(1) Bagi Jurusan AP yaitu bisa mempertahankan pelayanan yang diberikan secara konsisten serta bisa mendukung dan mengembangkan kreatifitas serta prestasi mahasiswanya baik dibidang akademik maupun nonakademik, serta menambah program dan jumlah rekanan untuk bekerjasama memberi kesempatan kepada mahasiswanya merasakan iklim dunia kerja. (2)Bagi mahasiswa yaitu Menggunakan dan menjaga segala fasilitas-fasilitas yang telah disediakan oleh jurusan dengan baik dan bertanggung jawab serta berupaya untuk berprestasi secara akademik maupun nonakademik dan terus memberi masukan dan saran kepada pihak Jurusan AP. (3) Bagi Fakultas Ilmu Pendidikan yaitu melakukan pengukuran tentang kualitas jasa pendidikan terhadap kepuasan mahasiswa perjurusan secara periodik (4) Bagi Universitas Negeri Malang melakukan pengukuran tentang kualitas jasa pendidikan terhadap kepuasan mahasiswa perfakultas secara periodik (5) Bagi Peneliti lain yaitu melakukan dengan lebih mendalam dengan menggunakan teknik penelitian yang lain.

Pola perilaku perempuan dalam pemilihan moda d Kota Malang bagian barat / Cindy Kusuma Wardhani

 

Pergerakan yang dilakukan oleh manusia umumnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akibat dari pemenuhan kebutuhan hidup ini mengakibatkan pergerakan manusia menjadi meningkat. Pergerakan dapat dilakukan dengan moda transportasi maupun tanpa moda transportasi. Pergerakan yang dilakukan umumnya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, tergantung dari tujuan dalam melakukan pergerakan tersebut. Sedangkan dalam melakukan aktivitas biasanya pelaku perjalanan akan dihadapkan pada suatu pilihan jenis moda transportasi apa yang akan digunakan. Tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat, (2) mendapatkan pola perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. Untuk mengetahui perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat digunakan analisis deskriptif kuantitatif. Sedangkan untuk mengetahui pola perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat digunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan: dominan para responden adalah pelajar/ mahasiswa dengan rentang usia terbanyak adalah 16-25 tahun. Responden terbanyak memiliki tingkat pendidikan terakhir SLTA/ sederajat, dengan penghasilan rata-rata perbulan terbanyak sebesar ≤ Rp500.000,00. pelaku perjalanan terbanyak memiliki jumlah anggota keluarga 4 orang. Kendaraan yang dimiliki responden terbanyak adalah roda dua pribadi sebanyak 1 buah. Paling banyak responden melakukan perjalanan dari rumah menuju sekolah/ kampus, dengan maksud perjalanan adalah sekolah. Biasanya dalam sehari melakukan perjalanan rutin sebanyak 1 kali, dan kendaraan yang banyak digunakan untuk melakukan pergerakan adalah motor pribadi, dengan alasan karena dengan mengendarai motor pribadi, waktu perjalanan lebih singkat. Dalam penelitian ini diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: (1) untuk kendaraan pribadi dengan Adj R2 = 0,689 (2) untuk kendaraan umum dengan Adj R2 = 0.704, dimana = Utilitas Kendaraan Pribadi, = Utilitas Kendaraan Umum, = Waktu Perjalanan, = Jarak Tempuh, dan = Biaya Perjalanan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel utilitas kendaraan, selain variabel waktu perjalanan, jarak tempuh dan biaya perjalanan.

Internalisasi nilai-nilai kewirausahaan: pendekatan fenomenologis pada SMK Negeri 3 Malang / Agung Winarno

 

Peranan komite madrasah dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan di madrasah (studi kasus di MAN Kota Blitar) / Muawinul Huda

 

Perubahan paradigma pemerintah dari sentralisasi ke desentralisasi telah membuka peluang masyarakat untuk meningkatkan peran sertanya dalam pengelolaan pendidikan di Madrasah, yaitu melalui Komite Madrasah. Komite Madrasah merupakan organisasi masyarakat yang berada di Madrasah, yang peduli terhadap pendidikan, bertugas membantu Madrasah dalam peningkatan mutu sistem pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana prasarana, serta pengawasan pendidikan. Asa beberapa catatan ketika manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah diterapkan di madrasah, yaitu (1) kemampuan ekonomi para orang tua yang menyekolahkan putra putrinya di madrasah sebagian besar berasal dari masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah, (2) madrasah, terutama madrasah swasta, dinaungi oleh yayasan yang acap kali berkultur kaku dan cenderung otoriter, (3) pengelola madrasah kerap kurang memahami secara mendalam dan luas peran serta fungsi mereka. Dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi juga ada beberapa kendala, yaitu (1) kurikulum di madrasah cukup padat, (2) ada beberapa guru di madrasah yang mengajar tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan, (3) terbatasnya sarana prasarana serta pembiayaan pendidikan. Untuk mendeskripsikan peran Komite Madrasah dalam peningkatan mutu sistem pelayanan pendidikan di madrasah, maka dirumuskan fokus penelitian sebagai berikut: (1) Sejauh mana peran Komite Madrasah sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di madrasah? (2) Sejauh mana peran Komite Madrasah sebagai pendukung baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah? (3) Sejauh mana peran Komite Madrasah sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan di madrasah? (4) Sejauh mana peran Komite Madrasah sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di madrasah? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan studi kasus dengan pendekatan kualitatif, dengan lokasi penelitian di MAN Kota Blitar. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik, (1) wawancara, (2) observasi, (3) dokumentasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Komite Madrasah dalam menjalankan perannya sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di MAN Kota Blitar sebagai berikut: (1) pelaksanaan pelatihan KBK bagi guru bidang studi, (2) program peningkatan prestasi akademik peserta didik, (3) mengembangkan kurikulum muatan lokal, (4) penerimaan siswa baru, (5) pemenuhan fasilitas pendidikan, (6) peningkatan partisipasi masyarakat, (7) penetapan rencana anggaran pendapatan dan belanja madrasah, (8) penggalian sumber-sumber keuangan madrasah, (9) pemberian beasiswa bagi guru yang hendak melanjutkan studi. Dukungan Komite Madrasah dalam penyelenggaraan pendidikan di MAN Kota Blitar sebagai berikut: (1) mendatangkan pengawas pendidikan, (2) memberikan beasiswa bagi peserta didik yang berprestasi, (3) pemenuhan sarana prasarana, (4) menghimpun dana dari wali murid/masyarakat. Peran Komite Madrasah sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan di MAN Kota Blitar sebagai berikut: (1) mengkaji laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program yang dikonsultasikan oleh Kepala Madrasah, (2) memantau kualitas proses pelayanan dan hasil pendidikan, mengkaji penggunaan keuangan secara berkala. Peran Komite Madrasah sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat sebagai berikut: (1) menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah tentang kebutuhan sarana prasarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, (2) menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah tentang kebutuhan guru/karyawan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, (3) menyelenggarakan sosialisasi kepada wali murid tentang program dan prestasi madrasah. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan peran Komite Madrasah dalam peningkatan mutu sistem pelayanan pendidikan di madrasah diajukan. Saran yang diajukan tersebut adalah (1) untuk meningkatkan Komite Madrasah dalam peningkatan mutu sistem pelayanan pendidikan di MAN Kota Blitar, pengetahuan Komite Madrasah tentang manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah perlu ditingkatkan, baik melalui pelatihan, buku-buku referensi, maupun studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih baik mutu pendidikannya, (2) kepala sekolah hendaknya melakukan upaya yang lebih serius dalam mendorong dan memberdayakan Komite Madrasah dalam menjalankan perannya, mengingat masih ada beberapa anggota Komite Madrasah yang aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan Komite Madrasah, (3) untuk meningkatkan peran masyarakat dalam peningkatan mutu sistem pelayanan pendidikan di MAN Kota Blitar, hendaknya anggota Komite Madrasah dari unsur masyarakat ditambah sedang dari unsur guru/karyawan madrasah dikurangi.

Studi tentang kegiatan guru dalam mengembangkan pembelajaran di RA Alquran Baipas Malang / Siti Khotijah

 

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi hal penting karena pada usia ini anak lebih mudah menangkap apa yang mereka lihat maupun mereka dengar. Masa ini disebur golden age (usia emas) yaitu terjadi pada anak usia 0-6 tahun; tepatnya menjelang anak masuk usia Sekolah Dasar (SD). Materi pembelajaran anak yang berusia 3-6 tahun diberikan melalui bermain sambil belajar (playing by learning), masih adanya para pendidik atau guru TK yang tidak memiliki kualifikasi sebagai guru TK menjadi penyebab para guru TK tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap kurikulum TK, sehingga dalam proses pembelajarannya juga menjadi kurang tepat, dan cenderung tidak sesuai dengan kebutuhan anak, dan bahkan tidak bisa menggali serta mengembangkan potensi anak. R A Alquran Baipas di bawah naungan dan binaan Depag Kota Malang, di RA ini belum pernah diadakan penelitian sama sekali; keunikan RA ini, pendidik di RA ini terdiri atas tiga orang guru lulusan SMA, satu orang lulusan D2PGTK, dan empat orang guru lulusan STAIN juga merupakan salah satu keunikan RA ini, sehingga peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian. Fokus penelitian ini adalah bagaimanakah kegiatan guru dalam mengembangkan pembelajaran di RA Alquran Baipas? fokus secara rinci meliputi: (1) bagaimanakah kegiatan guru menyusun rencana pembelajaran? (2) bagaimanakah kegiatan guru membimbing proses pembelajaran? (3) bagaimanakah kegiatan guru mengelola kelas? dan (4) bagaimanakah kegiatan guru melaksanakan evaluasi pembelajaran di RA Alquran Baipas? Tujuan penelitian ini secara umum, memaparkan kegiatan guru dalam mengembangkan pembelajaran di RA Alquran Baipas, sub fokus secara rinci adalah (1) menggambarkan kegiatan guru menyusun rencana pembelajaran di RA Alquran Baipas, (2) mendiskripsikan kegiatan guru membimbing proses pembelajaran di RA Alquran Baipas, (3) memaparkan kegiatan guru mengelola kelas di RA Alquran Baipas, dan (4) mendiskripsikan kegiatan guru melaksanakan evaluasi pembelajaran di RA Alquran Baipas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan di RA Alquran Baipas. Sumber data utama (informan kunci) adalah kepala RA Alquran Baipas, dan seluruh guru RA Alquran Baipas, teknik pengumpulan datanya adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses analisis yang digunakan melalui tahap-tahap pengumpulan data, pemilahan, pemusatan dan transformasi data atau data kasar yang muncul dari catatan lapangan dan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data melalui kecukupan referensial, trianggulasi dan pengecekan anggota. Penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) rancangan pembelajaran di RA Alquran Baipas Roudlotul Jannah disusun oleh waka kurikulum dan guru yang diberitugas, penyusunan rancangan pembelajaran dalam bentuk silabus pembelajaran, masing-masing guru kelas menyusun satuan kegiatan harian (SKH), (2) guru dalam membimbing proses pembelajaran lebih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab, pemberian tugas, dan praktik langsung, layanan pembelajaran individual sudah mendapat perhatian, (3) guru dalam mengelola kelas sudah tampak berjalan dengan baik, guru selalu mengatur perabot dan inventaris kelas, juga mengatur tempat duduk anak sesuai dengan situasi dan kondisi dan tujuan dari kegiatan pembelajaran, pembinaan kedisiplinan anak juga selalu mendapat perhatian dari guru, (4) evaluasi pembelajaran dilakukan setiap hari oleh guru, setiap selesai kegiatan pembelajaran guru selalu menilai hasil kerja anak, performance dan unjuk kerja anak. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini maka disarankan kepada pengurus Yayasan Roudlotul Jannah untuk segera mengadakan supervisi pembelajaran, dan pembinaan pemahaman kurikulum TK, kepala RA Alquran Roudlotul Jannah dan segenap dewan guru agar senantiasa belajar-belajar dan belajar lagi agar pemahaman terhadap hakikat dan fungsi dari pendidikan usia dini betul-betul difahami, diharapkan guru-guru peka terhadap perubahan-perubahan serta bersikap inovatif dan selalu mengembangkan diri, prestasi dan keberhasilan anak-anak agar selalu ditingkatkan, minimal dipertahankan

Perbedaan etos kerja guru dan minat belajar siswa antara SLTP negeri dan SLTP swasta se-kecamatan Singosari / Ratna Megawati

 

Etos kerja guru dan minat belajar siswa merupakan faktor penting dalam keberhasilan proses belajar-mengajar di sekolah. Untuk itu perlu kiranya kita mengkaji tentang tingkat etos kerja guru dan minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat etos kerja guru dan minat belajar siswa, setelah mengetahui tingkat etos kerja guru dan minat belajar siswa kemudian mendeskripsikan perbedaaan antara SLTP negeri dan SLTP swasta. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan terutama dalam matakuliah manajemen sumber daya manusia, khususnya untuk peningkatan etos kerja pegawai sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawai. Penelitian ini dilaksanakan di SLTP negeri dan SLTP swasta se-kecamatan Singosari yang terdiri dari 3 SMPN, 8 SMPS, dan 4 MTsS dengan jumlah populasi sebesar 6990 kemudian berdasarkan tabel krejcie diperoleh sampel sebesar 364. Responden dalam penelitian ini adalah siswa, untuk mendapatkan data dari siswa digunakan angket tertutup yang sudah disediakan jawabannya. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Nopember 2007 sampai tanggal 01 Desember 2007. Penelitian ini bersifat deskriptif-komparatif maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat etos kerja guru dan minat belajar siswa SLTP negeri dan SLTP swasta. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan etos kerja guru dan minat belajar siswa antara SLTP negeri dan SLTP swasta digunakan independent-samples t-test. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa terdapat perbedaan etos kerja guru dan minat belajar siswa antara SLTP negeri dan SLTP swasta. SLTP negeri terdiri dari SMP negeri, sedangkan SLTP swasta terdiri dari SMP swasta dan MTs swasta. Secara khusus hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan etos kerja guru dan minat belajar siswa antara SMPN dan SMPS, begitu juga antara SMPN dan SMPS terdapat perbedaan. Sedangkan antara SMPS dan MTsS tidak terdapat perbedaan baik dalam etos kerja gurunya maupun minat belajar siswanya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian sejenis yang lebih kongkret. Untuk etos kerja guru perlu ditingkatkan secara terus-menerus di setiap sekolah oleh pimpinan yaitu kepala sekolah. Untuk minat belajar perlu kiranya guru dan kepala sekolah mencari sebab-sebab rendahnya minat belajar siswa secara lebih mendalam karena minat belajar siswa merupakan faktor penting dalam peningkatan prestasi belajar siswa di sekolah.

Sikap mahasiswa Universitas Negeri Malang terhadap penerapan registrasi akademik berbasis komputer / Satrio Dwi Saputra

 

Registrasi akademik adalah pelayanan bagi mahasiswa untuk memperoleh hak dan izin mengikuti perkuliahan pada semester tertentu, yang dilakukan pada awal semester dengan ketentuan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah melakukan registrasi administrasi. Kegiatan registrasi akademik dilakukan oleh setiap mahasiswa pada setiap awal semester, meliputi kegiatan konsultasi rencana studi, pengisian dan pengesahan kartu rencana studi (KRS), pendaftaran sebagai peserta matakuliah dan modifikasi rencana studi (KATALOG FIP, 2006:14). Diterapkanya registrasi akademik berbasis komputer merupakan wujud nyata upaya peningkatan pelayanan akademik oleh Universtas dan pemenuhan akan kebutuhan sebuah sistem informasi dalam sebuah organisasi. Peningkatan pelayanan akademik ditujukan kepada mahasiswa sebagai salah satu pengguna layanan akademik. Bentuk penerimaan atau penolakan sebuah sistem informasi dapat diketahui apabila pengguna menyetuji nilai manfaat, kemudahan dan ditunjang dengan informasi yang disajikan dalam penerapan registrasi akademik tersebut. Bentuk penerimaan atau penolakan tersebut dapat terlihat dari sikap pengguna sebagai bentuk respon maupun penilaian akan sebuah objek dalam hal ini penerapan registrasi akademik berbasis komputer. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk mengetahui sikap mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) terhadap penerapan registrasi akademik berbasis komputer. Sedangkan secara khusus tujuan yang pertama adalah untuk mengetahui sikap mahasiswa UM terhadap manfaat penerapan registrasi akademik berbasis komputer, kemudian untuk mengetahui sikap mahasiswa terhadap kemudahan penerapan registrasi akademik berbasis komputer serta yang terakhir adalah untuk mengetahui sikap mahasiswa UM terhadap informasi yang disajikan dalam penerapan registrasi akademik berbasis komputer. Subjek penelitian adalah mahasiswa UM, lokasi penelitian di UM.Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yang bermaksud untuk menggambarkan sikap mahasiswa UM terhadap penerapan registrasi akademik berbasis komputer. Populasi dan sampel penelitian adalah mahasiswa UM tahun angkatan 2003-2005 dari 5 fakultas yang berjumlah 10098 orang. Sedangkan sampel penelitian berjumlah 385 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah proportional stratified random sampling. Yaitu membagi sampel sesuai dengan proporsi dan tahun angkatan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Hasil penelitian ini secara umum bahwa sikap mahasiswa UM terhadap penerapan registrasi akademik berbasis komputer adalah setuju, dalam hal ini berarti mahasiswa menerima penerapan registrasi akademik berbasis komputer yang selama ini sudah berjalan atau dengan kata lain penerapan registrasi akademik berbasis komputer yang berjalan sudah baik. Secara khusus sikap mahasiswa UM terhadap manfaat yang diberikan dalam penerapan registrasi akademik berbasis komputer adalah setuju, berarti dapat disimpulkan bahwa penerapan registrasi akademik berbasis komputer sudah memberikan manfaat kepada mahasiswa. Secara umum sikap mahasiswa UM terhadap kemudahan yang diberikan dalam penerapan regsitrasi akademik berbasis komputer adalah setuju, hal ini berarti kemudahan yang selama ini diberikan sudah dapat diterima oleh mahasiswa. Namun untuk mahasiswa FS belum sepenuhnya menerima dan menyetujui kemudahan yang diberikan Universitas atau dengan kata lain kemudahan yang diberikan belum sepenuhnya diterima dan disetujui mahasiswa FS. Secara umum mahasiswa menyetujui atau menerima informasi yang disajikan dalam penerapan registrasi adakdemik berbasis komputer, berarti dapat disimpulkan bahwa informasi yang disajikan dalam penerapan registrasi akademik berbasis komputer sudah diterima mahasiswa. Namun untuk mahasiswa FS masih belum menyetujui atau menerima informasi yang disajikan atau dengan kata lain informasi yang disajikan belum sesuai dengan kebutuhan mahasiswa FS. Tim Perancang Sistem Informasi (TPSI) hendaknya dapat mempertahankan pelaksanaan registrasi akademik berbasis komputer yang selama ini sudah berjalan. Dari segi manfaat, kemudahan dan informasi yang disajikan hendaknya dapat dipertahankan dan diperbaiki kualitasnya, hal ini untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan akademik dari Universitas untuk mahasiswa.

Perbedaan konsep diri ditinjau dari keutuhan keluarga pada siswa siswi SMK Negeri 2 Malang / Nur Aini Kusumawati

 

Konsep diri merupakan pandangan atau penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terbentuk melalui proses interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama kali individu akan berinteraksi dengan lingkungan keluarganya, sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan ajang pertama dalam pembentukkan konsep diri anak. Keluarga utuh yang memiliki struktur keluarga yang lengkap dan interaksi yang harmonis akan dapat membentuk konsep diri anak secara positif. Sebaliknya, keluarga tidak utuh yang memiliki struktur keluarga yang tidak lengkap dan interaksi yang tidak harmonis akan membentuk konsep diri anak secara negatif. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui keutuhan keluarga siswa-siswi SMK Negeri 2 Malang, (2) Untuk mengetahui gambaran konsep diri ditinjau dari keutuhan keluarganya pada siswa-siswi SMK Negeri 2 Malang, (3) Untuk mengetahui perbedaan konsep diri ditinjau dari keutuhan keluarga pada siswa-siswi SMK Negeri 2 Malang. Desain penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 2 Malang, subyek penelitian berjumlah 69 siswa sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Instrumen yang digunakan berupa skala keutuhan keluarga dan skala konsep diri yang dikembangkan oleh penulis dan sebelumnya telah diuji cobakan pada 40 siswa yang terdiri dari 20 siswa dari keluarga utuh dan 20 siswa dari keluarga tidak utuh.. Selain itu, instrumen juga dilengkapi dengan angket terbuka yang berisi 14 pertanyaan sebagai data pendukung. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis uji-t dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Siswa dari keluarga utuh berjumlah 48 siswa dan siswa dari keluarga tidak utuh berjumlah 21 siswa. (2) Siswa dari keluarga utuh yang memiliki tingkat konsep diri tinggi sebanyak 72,91% dan yang memiliki tingkat konsep diri rendah sebanyak 27,09%, sedangkan untuk siswa dari keluarga tidak utuh yang memiliki tingkat konsep diri tinggi sebanyak 33,33% dan yang memiliki tingkat konsep diri rendah sebanyak 66,67%. (3) Ada perbedaan konsep diri antara siswa dari keluarga utuh dan siswa dari keluarga tidak utuh, dengan hasil Uji-t = 4,329 (p < 0,05). Berdasarkan hasil penelitan tersebut, disarankan orang tua sedapat mungkin menghindari terjadinya ketidakutuhan keluarga. Bagi pihak sekolah dapat memberikan konseling serta melakukan pendekatan secara personal kepada siswa dari keluarga tidak utuh. Bagi peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan dan menemukan teori dari sumber primernya, dapat menjelaskan dan menjabarkan konsep diri dari masing-masing aspek, dapat menyempurnakan desain atau teknik analisis datanya, agar subyek penelitian tidak terbatas pada 2 kelompok saja.

Hubungan health value dan health locus of control orang dewasa di Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya / Mulilaverasani

 

Kebutuhan manusia akan alam dapat berdampak pada bagaimana manusia memperlakukan alam sehingga hal tersebut dapat menimbulkan dampak pada kesehatan pula. Perilaku masyarakat tersebut biasanya bersifat lokal spesifik, terjadi pada golongan, ras, daerah tertentu, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dari latar belakang tersebut penting untuk diketahui bagaimana seseorang dapat hidup sehat dengan fenomena yang ada maka menarik untuk diteliti tentang hubungan health value dan health locus of control orang dewasa di kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional, yang bertujuan: (1) untuk mengetahui health value orang dewasa di kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya, (2) untuk mengetahui health locus of control orang dewasa di kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya, (3) untuk mengetahui hubungan health value dan health locus of control orang dewasa di kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya. Populasi penelitian ini adalah orang dewasa di kecamatan Jekan Raya yang berjumlah 5.774 orang dengan sampel sebanyak 120 orang yang diambil dengan teknik random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala health value dan skala multidimensional health locus of control. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase dan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan: (1) health value yang tergolong dalam klasifikasi tinggi terdapat 53,33%, (2) health locus of control yang tergolong dalam klasifikasi rendah terdapat 63%, (3) tidak ada hubungan health value dan health locus of control orang dewasa di kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya dengan hasil korelasi r = 0,141, sig 0,124 > 0,050. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) Kepala dinas kesehatan kota Palangka Raya mendorong masyarakat agar memiliki keinginan serta kemauan untuk ambil bagian menjadi masyarakat yang peduli lingkungan serta kesehatan, (2) Camat di kecamatan Jekan Raya merangkul masyarakat kecamatan setempat agar benar-benar peduli dengan kesehatan lingkungannya, juga memperhatikan kelurahan yang jauh dari kota Palangka Raya sehingga memiliki keyakinan serta kesadaran dari diri mereka pribadi tentang kesehatan, (3) Kepala sub dinas kesejahteraan sosial di kecamatan Jekan Raya bekerjasama dengan puskesmas-puskesmas sehingga diperoleh data pasien serta keluarga dari pasien dampak asap agar dirangkul untuk memiliki kesadaran pentingnya kesehatan serta lingkungan yang sehat, (4) Pengembang ilmu atau peneliti, berdasarkan kesimpulan menunjukkan tidak ada hubungan health value dan health locus of control maka bagi pengembang ilmu selanjutnya untuk tidak meneliti keduanya tetapi satu persatu variabel sehingga dikembangkan lebih luas lagi setiap variabelnya.

Pengaruh motivasi terhadap partisipasi siswa dalam kegiatan koperasi di SMK PGRI II Malang / Nicke Noersya Putra

 

Dalam organisasi koperasi peran anggota sangat penting, bukan hanya sebagai pemilik tapi juga sebagai pengguna dan pengelola. Pada kegiatan koperasi di sekolah anggota menjadi langkah awal dalam menjalankan aktifitas dalam berkoperasi. Koperasi sekolah SMK PGRI II Malang juga berfungsi sebagai laboraturium dan media pembelajaran siswa dalam belajar menjalankan organisasi ekonomi dan sebagai bekal pengalaman sebelum terjun kemasyarakat. Kesadaran anggota dalam menjalankan hak dan kewajiban dalam kegiatan berkoperasi masih rendah. Ada beberapa faktor yang kemungkinan berpengaruh dengan masih rendahnya partisipasi anggota KOPSEK PGRI II Malang dalam rangka kegiatan berkoperasi di sekolah. Motivasi intrinsik, motivasi ektrinsik dapat mempengaruhi partisipasi anggota dalam kegiatan berkoperasi di sekolah. Adapaun tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pengaruh motivasi intrinsik berkoperasi anggota terhadap partisipasi anggota. (2) untuk mengetahui pengaruh motivasi ektrinsik berkoperasi anggota terhadap partisipasi anggota. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional, instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket. Populasinya adalah seluruh siswa dalam SMK PGRI II Malang Tahun Ajaran 2005-2006. Sedangkan besarnya sampel ditetapkan adalah 25% dari 731 siswa yaitu sebanyak 180 siswa. Teknik menggunakan sampel adalah teknik random sampling. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2006. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis inferensial dengan analisis regresi berganda. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui kondisi motivasi intrinsik, motivasi ektrinsik dan partisipasi siswa dalam kegiatan berkoperasi. Teknik analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh motivasi intrinsik, motivasi ektrinsik anggota dan partisipasi anggota dalam berkoperasi. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. (1) adanya pengaruh yang signifikan antara motivasi intrinsik berkoperasi terhadap partisipasi anggota koperasi sekolah SMK PGRI II Malang sebesar 67% dengan taraf signifikansi 0,005. (2) ada pengaruh yang sigfikan antara motivasi ektrinsik dengan partisipasi anggota dalam kegaiatan berkoperasi di SMK PGRI II Malang sebesar 65% dengan taraf signifikansi 0,005.

Peningkatan kemampuan bermain drama dengan teknik pemodelan di kelas V SD Negeri Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar tahun ajaran 2007/2008 / Etik Elfia Endrawati

 

Pembelajaran bermain drama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh drama dengan memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, nada/ tekanan, dan ekspresi yang sesuai dengan karakter tokoh. Berdasarkan pengamatan awal, telah diperoleh data bahwa pembelajaran bermain drama adalah materi yang sulit diajarkan karena keterbatasan waktu jika harus diajarkan di kelas, guru yang kurang berkompeten dalam pembelajaran drama, kurang adanya kerjasamanya antara guru dan siswa, atau siswa dengan siswa, dan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam memberikan materi drama dan tidak memberikan praktik secara langsung kepada siswa, sehingga siswa kesulitan dalam memerankan tokoh drama, kesulitan dalam mengucapkan dialog yang benar, dan kesulitan dalam menghayati karakter atau berekspresi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana teknik pemodelan dapat meningkatkan kemampuan bermain drama siswa kelas V SD Negeri Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar khususnya pada tahap latihan dasar, tahap latihan pemeranan dengan membaca naskah, tahap latihan pemeranan dengan berdialog lepas naskah, dan tahap pementasan. Adapun tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa kelas V SD Negeri Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan dan prates yang dilakukan oleh peneliti. Pembelajaran dilakukan sebanyak dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan selama empat kali pertemuan yang terdiri dari empat tahap, yaitu (1) Latihan dasar, berupa kegiatan yang berorientasi pada latihan pernafasan, latihan vokal, latihan gerak/ kelenturan tubuh, dan latihan konsentrasi, (2) Latihan pemeranan tahap membaca naskah, berupa kegiatan yang berorientasi pada berlatih membaca naskah drama dengan memperhatikan kelancaran membaca, intonasi, vokal, nada/ tekanan, dan ekspresi/ penghayatan, (3) Latihan pemeranan tahap berdialog lepas naskah, berupa kegiatan yang berorientasi pada latihan mengucapkan dialog dan memerankan tokoh drama tanpa membawa naskah dengan memperhatikan intonasi, vokal, nada/ tekanan, lafal, dan ekspresi/ penghayatan, (4) Pementasan, berupa kegiatan mementaskan naskah drama yang telah dipelajari dengan memperhatikan intonasi, vokal, nada/ tekanan, lafal, dan ekspresi/ penghayatan yang sesuai dengan karakter tokoh dalam naskah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan teknik pemodelan, kemampuan siswa dalam bermain drama dapat ditingkatkan. Efektivitas penggunaan teknik pemodelan ini dapat diketahui dari peningkatan nilai yang dicapai siswa dalam melakukan latihan dasar, membaca naskah drama, berdialog dengan lepas naskah, dan memerankan tokoh dalam pementasan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pada guru untuk menggunakan teknik pemodelan dengan lebih kreatif dan inovatif sebagai upaya meningkatkan kemampuan siswanya dalam bermain drama. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di lingkungan sekolah juga disarankan memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai kepada guru untuk melakukan kerja sama 1 dengan para peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Sedangkan bagi calon peneliti yang ingin menggunakan dan mengembangkan teknik pemodelan, diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran pada kompetensi dasar pembelajaran sastra yang lain.

Kecerdasan emosional tokoh-tokoh dalamnovel anak Ranggamorfosa: Sang Penakluk Istana karya Nuranto Hadyansah

 

Kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kecerdasan emosional yang meliputi: kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan serta wujud nilai-nilai yang terbentuk melalui kecerdasan emosional dan keterkaitan antara kecerdasan emosional dan watak tokoh-tokoh dalam novel anak Ranggamorfosa: Sang Penakluk Istana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan teori yang dipakai adalah kecerdasan emosional dengan objek kajian novel anak Ranggamorfosa: Sang Penakluk Istana karya Nuranto Hadyansah. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan analisis tekstual terhadap data kebahasaan. Korpus data berupa satuan kutipan yang meliputi tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, dialog tokoh, dan deskripsi pengarang yang membentuk paparan kebahasaan yang memuat kecerdasan emosional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua tokoh dalam novel RSPI memiliki kemampuan-kemampuan yang termasuk dalam kecerdasan emosional. Beberapa tokoh dalam novel RSPI ini dapat memiliki lebih dari satu kemampuan yang termasuk dalam kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh watak dan kepribadian tokoh yang bersangkutan. Wujud nilai-nilai yang terbentuk melalui kecerdasan emosional tokoh-tokoh dalam novel RSPI antara lain: (a) kewaspadaan, (b) ketenangan, (c) berpikir positif, (d) kerja keras dan bertanggung jawab, (e) optimis, (f) menghargai orang lain, serta (g) suka menolong, berbagi rasa, dan bekerja sama. Berdasarkan simpulan penelitian di atas, disarankan kepada: (1) peneliti lanjutan, melakukan penelitian lebih lanjut terhadap novel anak yang berbeda dengan menggunakan pendekatan psikolgi karya sastra; (2) pembaca sastra, memanfaatkan hasil penelitian ini untuk menambah wawasan tentang penelitian psikologi sastra; (3) guru atau pengajar sastra, memanfaatkan hasil penelitian ini untuk pengembangan materi pelajaran sastra terutama novel anak yang dianalisis dengan pendekatan psikologi sastra; dan (4) kritikus sastra, memanfaatkan hasil penelitian ini untuk membandingkan dan menilai karya sastra khususnya mengaji kecerdasan emosional tokoh dalam karya prosa.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media gambar seri siswa kelas V SDN Jatimulyo 5 Malang tahun ajaran 2006/2007 / Sri Siswati Taibah

 

Dalam Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD dan MI keterampilan menulis cerpen merupakan keterampilan yang harus dikuasai siswa kelas V SD dan MI, dengan tujuan siswa mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman. Dalam menulis cerpen siswa kelas V SD Negeri Jatimulyo 5 Malang mempunyai beberapa kesulitan, meliputi menemukan ide, mengaplikasikan unsur pembangun cerpen, mengapilkasikan ejaan sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dan malu memublikasikan cerpen yang dibuat. Setelah peneliti mengetahui masalah yang dihadapi siswa dalam menulis cerpen, peneliti memilih media gambar seri sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa SD Negeri Jatimulyo 5 Malang dalam menulis cerpen. Penggunaan media gambar seri dalam pembelajaran menulis cerpen pada siswa kelas V SD Negeri Jatimulyo 5 Malang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen pada tahap prmenulis, yaitu siswa mampu membuat kerangka cerpen berdasarkan media gambar seri; pada tahap menulis siswa mampu mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen utuh dan padu berdasarkan kerangka yang telah dibuat dan imajinasi masing-masing siswa; dan pada tahap pascamenulis siswa mampu mempublikasikan cerpen yang telah dibuat dengan cara membacakan cerpen di depan teman-teman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini melalui empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Sebelum menentukan rencana tindakan langkah awal yang digunakan adalah studi pendahuluan, yang bertujuan menentukan subjek penelitian dan masalah yang dihadapi subjek penelitian, dan tindakan yang dibutuhkan subjek penelitian untuk menyelesaikan perasalahan tersebut. Penelitian tindakan dilakukan melalui dua siklus, masing-masing siklus dilaksakan dalam dua pertemuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan instrumen, yaitu manusia sebagai instrumen utama dibantu dengan lembar observasi, catatan lapangan, angket, dan lembar kerja siswa. Data yang dikumpulkan berupa data vebal. Data verbal dalam bentuk tuturan lisan dan tertulis. Hasil penelitian dapat dilaporkan bahwa gambar seri dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis cerpen pada tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Pada tahap pramenulis gambar seri mampu membantu siswa berimajinasi, sehingga siswa mampu membuat kerangka cerpen berdasarkan media gambar seri, siswa mengikuti pembelajaran dengan antusias, dan siswa tidak bertanya ketika medapatkan kesulitan dalam mempelajari prosedur menulis cerpen; pada tahap menulis gambar seri sebagai stiulan siswa berimajinasi untuk mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen utuh dan padu. Gambar seri mampu membantu siswa menemukan tokoh, latar, alur yang bervariasi. Selain itu, siswa mampu menggunakan ejaan dan tanda baca sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan; pada tahap pascamenulis gambar seri tidak hanya membantu siswa meningkatkan keterampilan menulis, tetapi juga keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, dan keterampilan keterampilan membaca. Selain itu, pada tahap ini gambar seri mampu membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri, membiasakan siswa memberikan tanggapan dan menerima tanggapan dari orang lain, menumbuhkan interaksi sosial, dan menumbuhkan persaiangan untuk menunjukkan prestasi. Berkaitan dengan hasil penelitian di atas, disarankan kepada kepala sekolah dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk lebih kreatif dalam menggunakan metode dan media pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang belum menggunakan gambar seri sebagai media pembelajaran menulis cerpen disarankan untuk menggunakan media gambar seri sebagai media pembelajaran menulis, khususnya menulis cerpen karena gambar seri sangat efektif untuk meningkatkan kemampaun siswa dalam menulis cerpen.

Pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di SMP Negeri 1 Kandat Kabupaten Kediri / Novie Sarie Wijayanti

 

BOS merupakan program pemerintah dalam bidang pendidikan. Pengelolaan dana dilakukan dan menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan guru/bendahara yang ditunjuk. Pemanfaatannya berdasarkan RAPBS yang telah disetujui oleh komite sekolah dan harus sesuai dengan juklak program BOS. Adanya dana BOS diharapkan tidak boleh ada siswa miskin yang putus sekolah karena tidak mampu membayar iuran atau pungutan dari sekolah. BOS harus menjadi sarana penting untuk meningkatkan pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan akses, mutu, dan manajemen sekolah. Oleh karena itu, pemanfaatan dana BOS harus diperhatikan supaya optimal sehingga dapat membantu dan mendukung pencapaian program Wajar Dikdas 9 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui alokasi pemanfaatan dana BOS di SMP Negeri 1 Kandat. (2) Menganalisis kesesuaian penggunaan dana BOS di SMP Negeri 1 Kandat dengan juklak. (3) Menganalisis pengaruh hasil pemanfaatan dana BOS di SMP Negeri 1 Kandat terhadap biaya sekolah yang dirasakan siswa. (4) Menganalisis kendala dan cara mengatasinya dalam pemanfaatan dana BOS di SMP Negeri 1 Kandat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan pada SMP Negeri1 Kandat Kabupaten Kediri. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, angket dan observasi. Subjek dan informan penelitian ini adalah orang-orang yang diprediksi mengetahui seluk beluk tentang pemanfaatan dana BOS di SMP Negeri 1 Kandat yaitu kepala sekolah (Drs Muridjan, M.M), bendahara BOS (Lasmiati), dan informan lain yang mendukung data yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kandat (100 siswa sebagai responden), guru (Kelik, Tri, Hakim), TU (Sujilah, Joko), bagian perpustakaan (Rinawati). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif yang penyelidikannya tertuju pada pendiskipsian implementasi pemanfaatan dana BOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alokasi pemanfaatan dana BOS di SMP Negeri 1 Kandat berdasarkan RAPBS dan penggunaan dananya sudah sesuai dengan juklak program BOS. Adanya program dana BOS ini SMP Negeri 1 Kandat membebaskan iuran SPP seluruh siswanya. Sementara pihak sekolah dalam penggunaan dana BOS terdapat kendala, misalnya SPJ tidak dapat diselesaikan tepat waktu, kurangnya dana BOS karena besarnya pengeluaran atau kebutuhan sekolah melebihi jumlah dana BOS yang diterima sekolah. Dari hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat diberikan adalah: alokasi dana BOS harus berdasarkan RAPBS dan Juklak program BOS. Penggunaan Dana BOS harus tepat sasaran dan sekolah harus lebih transparan. Seluruh arsip data keuangan, baik berupa laporan-laporan keuangan maupun dokumen-dokumen pendukungnya, digandakan (photo copy), disimpan dan ditata dengan rapi dalam urutan nomor dan tanggal kejadiannya, serta ditempatkan di suatu tempat yang aman dan mudah ditemukan setiap saat. SPJ harus tepat waktu, dan sekolah harus membuat rencana anggaran agar pengeluaran sekolah seimbang dengan pendapatan yang diterimanya.

Profil Pelaksanaan Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) Ditinjau Dari Pengelola dan Penerima Bantuan di Kecamatan Lowokwaru Kodya Malang (Studi Kasus Kelurahan Sumbersari dan Kelurahan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kodya Malang) /
oleh Khairul Anam

 

Program PenanggulanganK emiskinan yang dimulai sejak Pelita Pertama sudah menjangkau seluruh pclosok tanah air. Upaya itu telah menghasilkan perkembangany ang positif'. Namun dernikian, krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah mengecilkan arti berbagai pencapaian pembangunan tersebut. sehubungan dengan hal tersebut, maka dibutuhkan suatu progam penanggulangakne miskinany ang mampu memperluasp rospeku ntuk dapat hidup dan berkenrbang di masa depan, khususnya bagi masyarakat miskin di perkotaan. Program tersebut diperlukan untuk mendukung lebih lanjut Prograrn Penanggulangan Kemiskinan yang sudah be{alan, seperti IDT (Inpres Desa Tertinggal) atau yang baru berjalan, seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatany) ang sasarannydai kelurahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pelaksanaan P2KP ditinjau dari pengelola dan penerima bantuan di Kelurahan Dinoyo dan Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kodya Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti memperoleh data dari subyek penelitian yakni dua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang masing-masing terdiri dari ketua, seketaris dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Disamping sumber informasi tersebut juga diperoleh data dari sumber informasi lainnya, seperti fasilitator kelurahan, anggota KSM. Pendekatan yang dipakai dalam penelitiani ni adalahp endekatank ualitatif, sedangkanra ncangan penelitian yang dipakai rnenggunakan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpuland atay ang digunakana dalaho bservasiw, awancarad an dokumentasi. Flasil yang diperoleh dalam profil penelitian ini bahrva profil Proyek PenanggulanganK emiskinan di Perkotaany ang berkenaand engan pengelolad an penerima bantuan dilihat dari dana yang digulirkan dan dana yang dikelola cukup berhasilS. edangkapne nerimab antuans udaht epats asaranke padaK SM yangb enarbenarm ernbutuhkanP. enggunaand anab antuano leh KSM masih sesuaid engany ang diharapkan BKM. Banluan yang sudah disalurkan digunakan untuk mengembangkan berbagai jenis usaha produktif. Terhadap KSM yang kurang lancar dalam pengembaliand ana BKM juga melakukanb imbingan dan arahana gar usahay ang dilakukan rnengalarnki emajuan.T erhadapK SM yang menunggaka kan diumumkan secara terbuka baik melalui papan pengumuman yang ada di kesekretariatan BKM ataupund alamr apatB KM danK SM, sehinggac arai ni cukupe fektifa garp erguliran danab erjalanla ncar. Dari hasilp enelitianin i dapatd iketahubi ahwap engelolma empunyapie ranan yangs angatp entingd alarnm enyukseskaPn2 KP,D an keaktifanm engangsuorl eh KSM sangamt enentukanu ntukp erguliranb antuanb erikutnyate rhadapK SM yang belumm emperolebha ntuan. Untuki tu dari hasilp enelitianin i disarankakne padale mbagap endidikanlu ar sekolahm aupunP 2KP untuk dapatm erangangp rogramt erpadua ntarap emberian bantuany ang diikuti denganb erbagaim agamu sahap enyadaranp, enyuluhand an memotivasKi SM supayam enjadi wiraswastawayna ng tangguh.D isampingi tu pendidikanlu ar sekolahd apat ambil bagiand alam pelaksanaapnr ogramt ersebut. dengan demikian dana bantuan tersebut dapat bermanfaat untuk menyukseskan PenanggulangaMna syarakaMt iskin di Perkotaan.

Perancangan buku bergambar dengan judul "The Way To Believing = Jalan Menuju Keimanan" untuk mendukung penerapan syariat Islam / Rony Wisnu Wibowo

 

Perancangan media komunikasi visual sebagai upaya promosi produk rokok Yanghojie / Sandra Adhi Setiawan

 

Faktor-faktor yang mengakibatkan hilangnya waktu secara percuma dalam menangani pekerjaan pembangunan perumahan / Krismai Natalia

 

Pekerjaan proyek pembangunan perumahan merupakan pekerjaaan yang dibatasi oleh waktu dan biaya. Adanya batasan-batasan pelaksanaan dalam sebuah proyek, mengharuskan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan tersebut harus dapat mengatur waktu dan anggaran/biaya sehingga bisa selesai tepat waktu yang sudah di tentukan. Namun batasan waktu yang merupakan salah satu kendali dari proyek pembangunan perumahan seringkali dilanggar, hal ini dikarenakan banyaknya waktu yang tersita oleh pekerjaan yang tidak perlu sehingga menggangu jadual penyelesain proyek tersebut secara keseluruhan. Rumusan masalah penelitian ini adalah faktor-faktor apa sajakah yang mengakibatkan kehilangan waktu dalam menangani pekerjaan pembangunan perumahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kehilangan waktu dalam menangani pekerjaan pembangunan perumahan. Manfaat penelitian ini bagi perusahaan pengembang perumahan adalah sebagai dasar untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyita waktu secara percuma. Waktu/jadwal merupakan salah satu sasaran utama proyek pembangunan perumahan. Keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian, misalnya penambahan biaya, kehilangan kesempatan untuk memasuki pasaran. Pengelolaan waktu mempunyai tujuan utama agar proyek tersebut di selesaikan sesuai dengan jadwal atau lebih cepat dari rencana dengan memperhatikan batasan biaya dan lingkup proyek. Populasi penelitian ini adalah perusahaan pengembangan perumahan yang ada di Daerah Malang Raya. Adapun teknik pengambilan sampel responden yaitu teknik purposive, yang menjadi sampel penelitian adalah: Direktur utama, manajer teknik, manajer keuangan, manajer lapangan, dan pengawas lapangan, tiap perusahaan pengembang perumahan di ambil 5 (lima) orang sebagai responden penelitian. Hasil penelitian ini ada 9 (sembilan) variabel di antaranya;(1) Masalah pekerjaan (2) Komunikasi (3) Kegiatan luar (4) Administrasi (5) Pendelegasian tugas (6) Konflik (7) Otoritas dan tanggung jawab (8) Biaya (9) Manajemen, dari 9 (sembilan) variabel ini cukup menyita waktu akibat adanya pekerjaan yang tidak perlu dilakukan. Kesimpulan penelitian ini ada 9 (sembilan) faktor yang cukup menyita waktu pada perusahaan pembangunan perumahan. Berdasarkan kesimpulan maka di sarankan untuk penelitian lanjutan dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dan pada proyek konstruksi selain perusahaan pengembang perumahan.

Tingkat kepuasan penghuni rumah terhadap prasarana dan fasilitas perumahan IKIP Tegalgondo Malang / I Putu Gergana Arya Eka Paksi

 

Skripsi ini disusun dikarenakan pengembang yang kurang memperhatikan pembangunan prasarana dan fasilitas Perumahan IKIP Tegalgondo. Selain itu juga untuk mengetahui tingkat kepuasan penghuni terhadap prasarana dan fasilitas Perumahan IKIP Tegalgondo Malang. Prasarana meliputi prasarana jalan dan prasarana air limbah, sedangkan fasilitas meliputi fasilitas listrik, fasilitas air bersih, fasilitas pemerintahan dan pelayanan umum, fasilitas rekreasi, dan fasilitas olahraga. Populasi dalam penelitian tersebut 750 KK yang terdiri dari type 21 300 KK dan type 36 350 KK. Sedangkan sample yang diambil sebanyak 100 KK yang terdiri dari type 21 51 KK dan type 36 49 KK. Teknik sampling yang digunakan adalah proposional claster random sampling. Hasil dari penelitian tersebut adalah tingkat kepuasan terhadap prasarana jalan menunjukkan cukup puas, terhadap prasarana selokan adalah cukup puas, terhadap fasilitas air bersih adalah puas, terhadap fasilitas listrik adalah cukup puas, terhadap fasilitas keamanan adalah cukup puas, terhadap fasilitas taman adalah cukup puas, terhadap fasilitas tempat bermain adalah cukup puas, dan terhadap fasilitas lapangan bola adalah kurang puas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan terhadap prasarana di Perumahan IKIP Tegalgondo adalah cukup puas, sedangkan tingkat kepuasan terhadap fasilitas di Perumahan IKIP Tegalgondo adalah cukup puas. Semoga temuan penelitian tersebut bermanfaat bagi pengembang agar dapat meningkatkan mutu produk, sedangkan bagi konsumen dapat digunakan sebagai perbandingan prasarana dan fasilitas yang diberikan dengan perumahan lain.

Kompetensi Kepala Sekolah Dal;am Mengelola Sekolah Berdasarkan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Studi Kasus di SLTP Negeri 5 Kota Malang) / oleh Kamsinah

 

 

Pengaruh pemberian komentar pada kertas jawaban tes siswa terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 18 Malang semester I tahun ajaran 2007/2008 / Uni Lestari

 

Berdasarkan pengalaman peneliti ketika masih menempuh pendidikan ditingkat sekolah dasar, diperoleh informasi bahwa pada saat itu siswa yang kertas jawaban tesnya diberi komentar oleh guru memperoleh nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang kertas jawaban tesnya tidak diberi komentar pada ulangan selanjutnya. Informasi serupa juga diperoleh peneliti ketika masih menempuh pendidikan ditingkat sekolah menengah pertama. Dalam pendidikan di sekolah guru mempunyai peran yang penting. Guru berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berkaitan dengan perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Salah satu tugas guru adalah memberikan perhatian dan melayani siswa dengan sebaik-baiknya. Mendidik siswa dalam jumlah besar bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena perbandingan guru dan siswa yang tidak seimbang maka guru mengalami kesulitan dalam memberikan pelayanan individu pada tiap-tiap siswa. Pemberian komentar pada kertas jawaban tes siswa dapat menjadi salah satu alternatif pelayanan individu untuk siswa. Karena itu penelitian ini mengungkap pengaruh pemberian komentar pada kertas jawaban tes siswa terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMPN 18 Malang dengan rancangan eksperimen semu yang menggunakan prates dan pascates dengan kelompok kontrol yang tidak diacak. Sampel yang digunakan terdiri dari 2 kelas yang memiliki kemampuan yang setara yaitu kelas VII D sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII C sebagai kelompok kontrol. Dari hasil uji kesamaan rata-rata diperoleh P-value sebesar 0,011. Ini berarti menolak H0 dan menerima H1. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang kertas jawaban tesnya diberi komentar dan yang tanpa komentar pada kelas VII SMPN 18 Malang semester I tahun ajaran 2007/2008. Ini berarti terdapat pengaruh pemberian komentar pada kertas jawaban tes siswa terhadap hasil belajar matematika siswa. Dari perhitungan data hasil belajar matematika siswa diperoleh rata-rata nilai kelompok eksperimen sebesar 45,5 dan rata-rata nilai kelompok kontrol sebesar 35,5. Sehingga dapat dilihat bahwa rata-rata siswa yang kertas jawaban tesnya diberi komentar lebih tinggi daripada rata-rata siswa yang kertas jawabannya tanpa komentar. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar para guru bidang studi matematika dapat menerapkan pemberian komentar pada kertas jawaban tes siswa dalam proses evaluasi dan kepada peneliti lain dapat melakukan penelitian yang sejenis dengan populasi dan materi yang lebih luas.

Alih fungsi Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) (studi kasus di SMA Negeri 11 dan SMA Negeri 12 Malang) / Aulia Krisna Yudi

 

Sektor Pendidikan di Indonesia dewasa ini mendapat sorotan yang lebih oleh pemerintah, dimana wacana yang telah berkembang akhir ? akhir ini adalah pada tahun 2020 perbandingan SMK-SMA adalah 70-30. Hal ini didasari oleh terjadinya fenomena yang terjadi di Indonesia pada dewasa ini. Setiap tahun lulusan sekolah terutama sekolah menengah atas (SMA) dan sederajatnya bertambah. Masalah baru akan muncul setelah mereka lulus. Tidak semua yang lulus berkesempatan bisa masuk perguruan tinggi (PT), ini karena berbagai alasan termasuk mahalnya biaya sumbangan pembangunan pendidikan (SPP). Mereka yang tidak melanjutkan pendidikan ke PT, berusaha mencari pekerjaan, Implikasi negatifnya, muncul pandangan buram bahwa dunia lembaga pendidikan hanya sebagai lembaga yang melahirkan para penganggur. Fenomena ini sungguh ironis dengan tujuan bangsa Indonesia untuk mencapai pasar bebas. Sehingga perlu adanya langkah antisipatif yang harus dilaksanakan oleh pemerintah seperti halnya tersebut diatas. Pemerintah akan memperbanyak pembangunan sekolah menengah kejuruan (SMK) serta mengurangi pengembangan sekolah menengah atas (SMA) sehingga pada tahun 2009 rasio perbandingan SMK dan SMA menjadi 60 berbanding 40. Penelelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang pelaksanaan kebijakan alih fungsi SMA menjadi SMK yang merupakan salah satu upaya mendapatkan rasio perbandingan SMA-SMK 40:60. Dan berbagai reaksi seluruh elemen sekolah dalam menyikapi kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi fenomenologis. Penelitian ini memaparkan proses pelaksanaan, faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan dan reaksi seluruh elemen sekolah terhadap kebijakan alih fungsi dari SMA menjadi SMK yang terjadi di SMAN 11 dan SMAN 12 Malangt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses alih fungsi berjalan dalam waktu yang cukup singkat, sehingga tahap persiapan kurang maksimal. Kurangnya sarana dan tenaga pengajar menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses alih fungsi. Keberadaan kedua sekolah (SMAN 11 dan SMAN 12 Malang) yang berada di pinggiran Kota Malang dan merupakan sekolah baru menjadi salah satu alasan untuk dialih fungsikan. Keberadaan guru yang rencananya akan dilakukan peng-upgrade-an belum berjalan secara maksimal. Dari sisi siswa, juga masih terdapat permasalahan yang salah satunya adalah praktek yang sangat minim.

Pengaruh penggunaan multimedia, media gambar terhadap hasil belajar kompetensi sistem diferensial pada siswa kelas X Jurusan Advance Automotive di SMKN 1 Singosari-Malang / Rizal Muttakin

 

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan multimedia dan media gambar terhadap hasil belajar. Pembelajaran dilaksanakan pada kompetensi sistem diferensial. Alasan dilakukan penelitian ini karena pembelajaran mengenai kompetensi sistem diferensial yang berlangsung di SMK N 1 Singosari-Malang selama ini masih menggunakan metode ceramah yang diimbangi dengan metode demontrasi oleh guru. Siswa yang diajar menggunakan metode seperti ini dinilai kurang mampu mengaplikasikan teori yang didapat pada kegiatan praktikum pada pembelajaran selanjutnya, hal itu akan menghambat perkembangan ketrampilan/skill siswa. Akibat proses pembelajaran dengan metode ceramah tersebut juga membuat diri siswa cenderung pasif dan hanya mendengarkan ceramah dari guru saja. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa, terungkap bahwa 50% siswa tidak menyukai kompetensi sistem diferensial dengan alasan sangat sulit dimengerti dan tidak tahu aplikasinya pada kendaraan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa kompetensi sistem diferensial dari kelompok siswa yang diajar menggunakan bantuan multimedia dan kelompok siswa yang diajar menggunakan bantuan media gambar serta mengetahui perbedaan hasil belajar siswa kompetensi sistem diferensial antara kelompok siswa yang diajar menggunakan bantuan multimedia maupun media gambar. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu yang dilaksanakan dengan menggunakan kelompok yang sudah ada. Sampel dalam penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X Advanced Automotive yang berjumlah 70 siswa. Variabel yang digunakan terdiri dari variabel bebas meliputi, pembelajaran menggunakan multimedia dan media gambar, variabel terikat meliputi, hasil belajar dan variabel kontrol meliputi, metode pembelajaran, materi, jam pelajaran dan sumber pembelajaran. Hasil belajar diukur dari hasil pre-test dan post-test siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis Uji-t. Hasil penelitian terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar siswa akibat adanya perlakuan, perubahan rata-rata hasil belajar siswa dapat dilihat dari selisih post-test dan pre-test. Perubahan rata-rata hasil belajar yang tertinggi terletak pada kelas eksperimen, yaitu kelas yang diberi perlakuan multimedia. Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen sebelum perlakuan adalah 3,8286 dan sesudah diberikan perlakuan 8,6000, sedangkan rata-rata hasil belajar untuk kelas kontrol sebesar 3,2286 dan sesudah diberikan perlakuan sebesar 7,9714.

Hubungan antara kelengkapan peralatan gambar, motivasi belajar, dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran gambar teknik mesin di SMK Negeri 1 Singosari / Sugeng Purnomo

 

Gambar Teknik Mesin adalah salah satu mata pelajaran yang wajib ditempuh oleh siswa program studi Teknik Permesinan jurusan Teknik Mesin di SMK Negeri 1 Singosari. Dalam menempuh pelajaran tersebut dibutuhkan beberapa perlengkapan peralatan gambar yang dapat mendukung siswa agar dapat memperoleh prestasi yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelengkapan peralatan gambar, motivasi belajar, dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Gambar Teknik Mesin di SMK Negeri 1 Singosari. Dari 110 populasi siswa program studi Teknik Permesinan pada kelas X dan XI, diambil secara acak sampel sebesar 86 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan instrumen berupa angket yang ditujukan pada siswa. Analisis data dengan menggunakan analisis deskriptif, korelasi Product Moment Pearson, dan Regresi Ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, sedikit sekali siswa yang mempunyai kelengkapan peralatan gambar dengan kondisi baik (5,81 %), separuh siswa mempunyai kelengkapan peralatan gambar dengan kondisi buruk (52,33 %), sebagian kecil siswa tidak mempunyai kelengkapan peralatan gambar tetapi pinjam (34,88 %), dan sedikit sekali siswa yang tidak mempunyai kelengkapan peralatan gambar secara keseluruhan dan tidak pinjam (6,98 %). Kedua, sedikit sekali siswa yang mempunyai motivasi belajar sangat tinggi (13,95 %), separuh siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi (41,86 %), sebagian kecil dari siswa mempunyai motivasi belajar yang kurang tinggi (39,53 %), dan sedikit sekali siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah (16,28 %). Ketiga, separuh siswa yang mempunyai prestasi belajar yang baik (51,16 %), sebagian kecil siswa mempunyai prestasi belajar yang sangat baik (24,42 %), sebagian kecil siswa mempunyai prestasi belajar yang kurang baik (22,09 %), dan sedikit sekali siswa yang mempunyai prestasi belajar yang tidak baik (2,33 %). Keempat, ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan peralatan gambar dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Gambar Teknik Mesin dengan harga r(hitung) sebesar 0,575 dengan taraf signifikasi 0,000, sementara itu harga r(tabel) dengan taraf kepercayaan 5% sebesar 0,212. Kelima, ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan peralatan gambar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Gambar Teknik Mesin dengan harga r(hitung) sebesar 0,554 dengan taraf signifikasi 0,000, sementara itu harga r(tabel) dengan taraf kepercayaan 5% sebesar 0,212. Keenam, ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Gambar Teknik Mesin dengan harga r(hitung) sebesar 0,591 dengan taraf signifikasi 0,000, sementara itu harga r(tabel) dengan taraf kepercayaan 5% sebesar 0,212. Ketujuh, ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan peralatan gambar, motivasi belajar, dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Gambar Teknik Mesin dengan harga r(hitung) sebesar 0,647 dengan taraf signifikasi 0,000.

Analisis kesesuaian persepsi mahasiswa terhadap layanan jasa pendidikan dengan kepuasan mahasiswa di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (studi pada mahasiswa S1 PTM Jurusan Teknik Mesin) / Laurensius Lejau

 

Dalam dunia pendidikan di Indonesia sekarang, nampak adanya gejala perubahan. Perubahan ini nantinya akan menyebabkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Universitas Negeri akan menurun kualitasnya, sedangkan sebagian Perguruan Tinggi Swasta (PTS) atau Universitas Swasta yang dikelola dengan baik akan meningkat kualitasnya. Ini akibat deregulasi di bidang pendidikan di mana pemerintah makin memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pihak swasta untuk mendirikan dan mengelola perguruan tinggi atau universitas jadi pendidikan bukan monopoli pemerintah. Mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bermula dari adanya perhatian, timbul minat, muncul keinginan, lalu masuk dan berakhir dengan adanya kepuasan. Suatu pendidikan disebut bermutu dari segi proses, jika proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan peserta didik mangalami proses pembelajaran yang bermakna, ditunjang oleh sumberdaya (manusia, dana, sarana dan prasarana) yang memadai. Proses pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan produk yang berkualitas pula. Sehingga memberikan jaminan kualitas yang meyakinkan. Sesuai dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian, jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Adapun alasan dipilihnya jenis penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis kesesuaian antara variabel kualitas jasa (bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati ) dengan kepuasan mahasiswa terhadap layanan jasa pendidikan di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Secara bersama-sama terdapat kesesuaian antara persepsi mahasiswa terhadap bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati dengan kepuasan mahasiswa di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dan secara sendiri-sendiri tidak terdapat kesesuaian antara persepsi mahasiswa terhadap keandalan dengan kepuasan mahasiswa di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar lebih meningkatkan lagi layanan jasa pendidikan di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang sehingga mahasiswa merasa benar-benar puas dengan layanan jasa yang ada di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri malang.

Menyelesaikan sistem persamaan polinomial dengan singular-cas / Titin Wahyuningsih

 

Polinomial merupakan suatu ekspresi aljabar yang melibatkan koefisien dan variabel yang secara matematis dapat ditulis sebagai dengan dan field untuk setiap i = 1, 2, ..., s. Sistem persamaan polinomial terdiri dari hingga banyak persamaan-persamaan polinomial, dengan adalah polinomial-polinomial. Lebih jauh, suatu n-tuple merupakan solusi sistem jika . Saat ini model-model polinomial banyak sekali digunakan dalam bidang robotik, teori pengkodean, masalah optimasi, matematika biologi, teori permainan, dan statistik. Ada banyak cara untuk mencari suatu solusi sistem persamaan. Metode eliminasi Gauss, dan metode Cramer digunakan untuk menyelesaikan sistem persamaan linier,dan untuk menyelesaikan suatu sistem persamaan polinomial dapat digunakan metode basis Gr?bner. Pada kesempatan ini penulis akan menelaah dan mengimplementasikan suatu algoritma untuk mencari selesaian dari sistem persamaan polinomial dengan menggunakan basis Gr?bner dari ideal yang dibangun oleh polinomial-polinomial yang bersangkutan. Jika diberikan hingga banyak persamaan-persamaan polinomial akan dicari solusi yang memenuhi sistem tersebut. Dengan menggunakan alat bantu SINGULAR CAS, akan dibuat suatu procedure dengan input berupa ideal yang dibangun oleh polinomial-polinomial dari sistem persamaan polinomial awal dan outputnya berupa solusi sistem persamaan polinomial tersebut. Dari hasil pembahasan diperoleh bahwa dalam pencarian basis Gr?bner term order leksikografis memberikan peranan yang cukup penting, sistem persamaan polinomial yang dibangun dari basis Grobner tersebut lebih mudah untuk diselesaikan. Dijamin bahwa basis Gr?bner dari ideal berdimensi nol yang dihasilkan selalu memuat polinom dengan satu variabel (solusi hingga). Dengan memanfaatkan sifat-sifat basis Gr?bner dibuat suatu algoritma untuk menyelesaikan sistem persamaan polinomial dan dihasilkan suatu procedure untuk mencari selesaian sistem persamaan polinomial baik dengan solusi hingga maupun tak hingga.

Perancangan dan pembuatan model perangkat lunak untuk evaluasi hasil belajar matematika berbasis WEB / Syaiful Hamzah Nasution

 

Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi mendorong manusia untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun. Media tersebut berupa model perangkat lunak berbasis web yang memberikan output berupa ringkasan materi, latihan soal, daftar nilai dan progres report. Inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong siswa untuk belajar matematika secara mandiri. Oleh karena itu, tujuan penulisan skripsi ini adalah merancang dan membuat model perangkat lunak untuk evaluasi belajar matematika berbasis web. Secara umum user dalam model perangkat lunak ini dibagi menjadi tiga, yaitu user umum, user sebagai siswa dan user sebagai admin. Masing masing user memiliki hak akses dan kelengkapan fitur yang berbeda-beda. Informasi dalam model perangkat lunak (materi, sebabaran materi dan soal latihan) bersifat dinamis, artinya dapat ditambah, dihapus dan diedit sesuai dengan kebutuhan dan disimpan dalam suatu database. User yang dapat melakukan perubahan tersebut adalah user yang bertidak sebagai admin. Di dalam model perangkat lunak tersebut, setiap user dapat mendownload materi yang disajikan. Model perangkat lunak untuk evaluasi hasil belajar matematika berbasis web dibuat dengan menggunakan seperangkat komputer berprosesor intel pentium III memori 128 MHz dengan kapasitas hardisk 20 GB. Software (perangkat lunak) yang digunakan meliputi software desain web Macromedia Dreamweaver, pengolah database MySQL, webserver Apache, browser Internet Explorer dan bahasa pemrograman PHP serta editor teks notepad++. Agar model perangkat lunak ini dapat digunakan secara luas, maka model tersebut diintegrasikan dalam bentuk CD. Dalam CD disertakan user manual program, software Apache, MySQL dan PHP. Model Perangkat lunak ini dapat digunakan di komputer dengan prosesor minimal intel pentium III yang bersistem Windows 98 ke atas (disarankan Windows XP) ataupun linux dengan syarat webserver Apache, MySQL dan PHP telah terinstal di dalam komputer.

Implementasi regresi logistik ordinal untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai kelurahan di Kecamatan Lumajang / Nadliroh

 

Kinerja pegawai dalam suatu pemerintahan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah motivasi kerja, kejelasan peran, kepemimpinan, budaya organisasi dan banyak yang lainnya. Akan tetapi tidak semua faktor mempengaruhi kinerja secara signifikan. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja, dapat menggunakan Regresi Logistik Ordinal. Regresi logistik ordinal ini berbeda dengan regresi linier. Regresi linier sendiri merupakan suatu metode statistik yang menganalisis hubungan antara variabel respon dengan variabel prediktor. Selain itu variabel responnya berskala interval atau rasio. Sedangkan regresi logistik merupakan suatu metode statistik yang bertujuan menganalisis variabel respon untuk memperoleh hubungan antara variabel prediktor dengan probabilitas dari suatu kejadian yang diakibatkan oleh variabel prediktor. Variabel responnya biasanya berskala ordinal atau nominal. Dari hasil analisis regresi logistik ordinal di dapatkan empat variabel yang mempengaruhi kinerja pegawai yaitu variabel Motivasi (X1), Kejelasan Peran (X2), Kepemimpinan (X3), dan Budaya Organisasi (X4). Diantara variabel-variabel tersebut, variabel Motivasi mempunyai pengaruh terhadap kinerja pegawai sebesar 23,95%, variabel Kejelasan Peran berpengaruh terhadap kinerja sebesar 27,65%, variabel Kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 24,68% dan variabel Budaya Organisasi mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 23,72%.

Efisiensi relatif rancangan acak kelompok terhadap rancangan acak lengkap (studi kasus penelitian tanaman ubi jalar varietas "Sari") / Luthfi Isnani

 

Tujuan diadakan suatu penelitian adalah untuk mendapatkan informasi atau data berhubungan dengan perlakuan yang dipelajari pengaruhnya. Pemilihan rancangan percobaan yang tidak atau kurang sesuai akan menurunkan presisi dan efektivitasnya, yang akhirnya mempengaruhi kesimpulan yang diperoleh. Untuk itu, penting sekali bagi peneliti mengenali sumber-sumber keragaman agar tepat dalam memilih rancangan percobaan yang sesuai. untuk satuan percobaan yang homogen digunakan rancangan acak lengkap, sedangkan untuk satuan percobaan yang heterogen digunakan rancangan acak kelompok. Apabila suatu percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), perlu diketahui sejauh mana efektifitas pengelompokan dalam meningkatkan presisi atau ketelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Efisiensi Relatif penggunaan Rancangan Acak Kelompok terhadap Rancangan Acak Lengkap pada sembilan penelitian ubi jalar dengan beberapa respon. Dari hasil analisis variansi yang telah dilakukan, sembilan penelitian menunjukkan Efisiensi Relatif 18.9%; 29%; 26%; 29%; 18%; 13%; 25,4%; 31%; 24% dan 37%, yang menunjukkan bahwa pengelompokan lebih efektif dan penggunaan Rancangan Acak Kelompok lebih efisien dari Rancangan Acak Lengkap.

Pengembangan program media pembelajaran interaktif pada materi pecahan untuk kelas VI SD / Sony Saifullah Purwanto

 

Mengajar materi pecahan membutuhkan suatu kreativitas dan keterampilan dari pengajar, sehingga siswa benar-benar mengerti apa makna dari suatu pecahan. Oleh karena itu, penulis terdorong untuk mengembangkan suatu media pembelajaran yang interaktif tentang materi pecahan untuk kelas IV SD. Program media pembelajaran ini akan menyampaikan materi pecahan SD kelas VI semester II sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang meliputi: (1) menyederhanakan dan mengurutkan pecahan, (2) menentukan nilai pecahan dari suatu bilangan atau kuantitas tertentu, dan (3) melakukan operasi hitung yang melibatkan berbagai bentuk pecahan Program media pembelajaran ini di desain sebaik mungkin baik dari segi materi maupun penyampaiannya. Materi disajikan dalam menu sehingga memudahkan siswa untuk memilih materi yang diinginkan. Berbagai fasilitas yang disediakan dalam media ini antara lain: (1) adanya tombol ?petunjuk? yang berisi kegunaan tombol-tombol pada program sehingga dapat membantu siswa dalam mengoperasikan program, (2) tombol ?materi?, ?latihan?, dan ?tes? terdapat pada setiap tampilan sehingga mempermudah siswa untuk memindahkan halaman dari materi ke latihan soal, materi ke tes atau sebaliknya, (3) materi dan latihan disajikan dalam menu pilihan, sehingga siswa dapat memilih materi dan latihan yang ingin dipelajari, (4) setiap tampilan diberi fasilitas untuk kembali ke menu utama, (5) terdapat tes yang dapat menghasilkan nilai atau skor akhir.

Persamaan matriks AX - XB = C / Andik Susanto

 

dimana A, B and C adalah matriks atas field bilangan kompleks . Jika A, B and C adalah suatu bilangan real, maka solusi dari persamaan tersebut mudah untuk dicari dan telah kita ketahui bahwa persamaan tersebut selalu mempunyai solusi jika , tetapi untuk persamaan matriks , keberadaan solusi mugkin tidak selalu ada. Persamaan matriks mempunyai suatu solusi jika dan hanya jika adalah similar. Selain dari fakta tersebut, kita cari solusi dari persamaan berikut : 1. dimana , 2. dimana , 3. Persamaan pertama dan kedua akan selalu mempunyai solusi akan tetapi untuk persamaan ketiga, keberadaan solusi dipengaruhi oleh konstanta C. Solusi umum untuk persamaan ketiga diberikan rumus sebagai , dimana adalah solusi dari persamaan homogen dan adalah solusi khusus dari persamaan . Jika himpunan semua nilai eigen dari matriks A disjoint dengan himpunan semua nilai eigen dari matriks B maka pada kasus kedua tepat mempunyai satu solusi yaitu dan mengakibatkan solusi kasus ketiga

Analisis rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mata pelajaran bahasa Jerman kelas X SMA negeri dan swasta Kota Malang / Ita Palupi

 

Kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006 yang menggunakan pendekatan berbasis kompetensi. RPP memegang peranan penting dalam mempersiapkan proses pengajaran yang efektif. Pembelajaran dalam mata pelajaran bahasa Jerman akan efektif apabila guru diberi kebebasan dalam menyusun RPP yang nantinya akan berdampak pada penerapannya. Keefektifan tersebut dapat tercapai apabila penyusunan RPP tersebut bersifat operasional. Penelitian ini berupa analisis RPP bahasa Jerman kelas X semester gasal periode 2007/ 2008 dengan tema Identitas Diri dari empat SMA Negeri dan satu SMA Swasta Kota Malang, yaitu SMAN 1, SMAN 6, SMAN 7, SMAN 8, dan SMA Laboratorium UM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan operasionalisasi RPP mata pelajaran bahasa Jerman dengan tema Identitas Diri di kelas X SMA Negeri dan Swasta kota Malang untuk kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah RPP yang terkumpul sebanyak lima puluh lima buah dianalisis dengan menggunakan instrumen check list yaitu berupa Rubrik Penilaian Kemampuan Menyusun RPP. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa operasionalisasi RPP mata pelajaran bahasa Jerman untuk kompetensi mendengarkan berkriteria tiga RPP berkriteria operasional (B) dan empat RPP berkriteria kurang operasional (D). Tiga RPP berkriteria sangat operasional (A), dua RPP berkriteria operasional (B), sembilan lainnya berkriteria kurang operasional (D) untuk kompetensi berbicara. Untuk kompetensi membaca, sepuluh RPP berkriteria cukup operasional (C) dan lima belas RPP berkriteria kurang operasional (D) sedangkan untuk kompetensi menulis, satu RPP berkriteria operasional (B) dan delapan RPP berkriteria kurang operasional (D). Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran yang dapat diajukan adalah untuk mengoptimalkan operasionalisasi RPP, yaitu dengan melihat Rubrik Penilaian Kemampuan Menyusun RPP dan kurikulum bahasa Jerman 2006.

Analyse des lehrwerks bahan ajar bahasa Jerman der klasse X SMA Negeri 1 Malang / Ika Widianti

 

Die Deutschlehrerin an der SMA Negeri 1 Malang verwendet ein eigenes angeordnetes Lehrwerk, das von vielen Lehrb?chern zusammen gestellt wurde. Das Verfassen dieses Lehrwerks passt zu dem Bedarf der Sch?ler. Dieses Lehrwerk wurde von vielen Lehrb?chern genommen, n?mlich: Kontakte Deutsch, Genial, Berliner Platz, und Themen Neu. Das Verfassen eines Lehrwerks soll die Anweisung des Lehrwerkverfassens beachten. Das hei?t, dass die verwendeten Lehrwerke die Lehrwerkskriterien erf?llen sollen, n?mlich: die Unterrichtsmaterialien, -themen, -bewertung, und -kompetenzen sind relevant mit dem Curriculum. Die Verfasserin m?chte deswegen mehr wissen, ob die Grundkompetenzen, die Kompetenzstandards und Materialien in dem Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman dem Curriculum 2006 entspricht. Die Dokumentationsmethode wurde in dieser Untersuchung verwendet, weil die Verfasserin eine Inhaltsanalyse machte. Die Daten in dieser Untersuchung sind die Kompetenzstandards, die Grundkompetenzen und die Materialien im Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman der Klasse X SMA Negeri 1 Malang und im Curriculum 2006. Das Instrument war die Verfasserin selber als Datensammlerin mit Zuhilfenahme von Analysierungstabellen. Die Daten wurden in den Tabellen geordnet, um Klassifizierung und Analyse zu erleichtern. Das Ergebnis dieser Untersuchung sind: (1) das Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman ?bereinstimmt mit dem Curriculum 2006 in Bezug auf die Kompetenzstandards, (2) die Grundkompetenzen im Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman ?bereinstimmen mit dem Curriculum 2006, (3) die Materialbeschreibung im Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman passt zum Curriculum 2006 in Bezug auf die Texte der vier Sprachfertigkeit, die Redemittel, die Struktur und Wortschatz, obwohl nicht alle Redemittel, Struktur und Wortschatz in diesem Lehrwerk im Curriculum 2006 verf?gbar sind. Es gibt aber ein Thema, das nach Curriculum 2006 nicht f?r die Sch?lerInnen der Klasse X verf?gbar sein soll, und zwar: das Thema Familie. Im Allgemeinen kann das Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman der Klasse X als eine Quelle der Deutschmaterialien benutzt werden, um die Materialbeschreibung f?r die Sch?lerInnen der Klasse X zu entwickeln. Die Vorschl?ge in dieser Untersuchung sind (1) die DeutschlehrerInnen sollen die Materialien selektiv ausw?hlen und k?nnen dieses Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman im Lehr- und Lernprozess benutzen, (2) die Verfasserin des Lehrwerks Bahan Ajar Bahasa Jerman soll ihr Lehrwerk wieder entwickeln und revidieren und sollen auch den Themen im Curriculum 2006 verfolgen, (3) die kommenden VerfasserInnen k?nnen verschiedenen Standpunkt benutzen, zum Beispiel: Wie man das Lehrwerk Bahan Ajar Bahasa Jerman in der Klasse verwendet, so dass die Qualit?t des Lehrwerks von verschiedenen Perspektiven bewertet werden kann.

Efektivitas penggunaan media film "Hallo aus Berlin" terhadap kemampuan menulis siswa kelas XI Bahasa di SMA Negeri 7 Malang / Atik Sulistyowati

 

Proses pembelajaran bahasa Jerman meliputi empat keterampilan berbahasa yaitu berbicara, membaca, mendengar, dan menulis yang diajarkan secara terintegrasi. Saat ini di SMAN 7 Malang telah melengkapi 11 kelasnya dengan media audiovisual termasuk kelas XI Bahasa. Dari hasil wawancara dengan guru bahasa Jerman SMAN 7 Malang diketahui bahwa dari empat keterampilan berbahasa yang diajarkan, keterampilan menulis perlu mendapat perhatian utama, karena hasil tes menulis siswa masih banyak yang memperoleh nilai di bawah Standar Ketuntasan Minimal Belajar (SKMB): 75. Hal ini disebabkan oleh penggunaan media dalam pembelajaran menulis masih kurang maksimal. Dari beberapa pilihan media yang dapat digunakan dalam pembelajaran antara lain media film. Dalam penelitian ini media film berjudul ?Hallo aus Berlin? dipilih karena ungkapan-ungkapan yang digunakan adalah ungkapan komunikatif yang mudah dimengerti dan isi cerita yang disajikan merupakan tema-tema kehidupan siswa sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan pembelajaran keterampilan menulis menggunakan media film ?Hallo aus Berlin? bagi siswa kelas XI Bahasa SMAN 7 Malang, mendeskripsikan koherensi dan kesesuaian penggunaan bahasa pada karangan siswa kelas XI program Bahasa untuk karangan bertema ?Wir?, dan mendeskripsikan efektivitas penggunaan media film ?Hallo aus Berlin? terhadap kemampuan menulis siswa kelas XI Bahasa SMAN 7 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari nilai menulis siswa, kuesioner, dan observasi. Kuesioner selama penelitian diisi oleh guru bahasa Jerman dan siswa kelas XI Bahasa setelah pembelajaran berlangsung untuk mendeskripsikan efektivitas penggunaan media film ?Hallo aus Berlin? terhadap kemampuan menulis. Data dalam bentuk tes, kuesioner, dan pedoman observasi dianalisis dengan nilai. Dari hasil tes menulis siswa dapat diketahui bahwa terdapat 7 orang siswa yang mendapatkan nilai dalam rentang 76 - 100, nilai tersebut adalah 90, 85, dan 80. Dari nilai tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media film ?Hallo aus Berlin? terhadap kemampuan menulis adalah sangat efektif, oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada guru bidang studi bahasa Jerman di SMA untuk menggunakan media film ?Hallo aus Berlin? sebagai salah satu alternatif media pembelajaran bahasa Jerman dengan disertai rencana pembelajaran yang baik, sedangkan kepada peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian sejenis dapat menggunakan media ini untuk kemampuan mendengarkan dan berbicara.

Identifikasi kondisi bengkel, penerapan keselamatan kerja dan tingkat kecelakaan kerja di bengkel multi skill serive PPPGT/VEDC Malang / Laurensius Liah Sang

 

Penelitian yang berjudul ??Identifikasi Kondisi Bengkel Dan Penerapan Keselamatan Kerja Terhadapap Tingkat Kecelakaan Kerja Di Bengkel Multi Skill Service PPPGT/VEDC Malang?? adalah penelitian yang berorientasi pada keselamatan dan kesehatan kerja atau yang lazim disebut K3. Bagaimana pun harus diketahui bahwa keselamatan kerja merupakan bagian penting yang perlu dibina dan diprioritaskan dalam bekerja. Setiap pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, dan alat?alat kerja yang digunakan selalu bertalian dengan resiko kecelakaan. Maka perlu pengorganisasian yang baik dalam sebuah perusahaan, industri, maupun bengkel terhadap penerapan keselamatan kerja, sehingga resiko kecelakaan pun bisa diminimalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakan kondisi bengkel Multi Skill Service PPPGT/VEDC Malang, bagaimana penerapan keselamatan kerja bengkel, dan bagaimana pula tingkat kecelakaan kerja terjadi terhadap pekerja atau karyawan yang bekerja dibengkel tersebut. Sampel yang digunakan adalah sejumlah populasi yang ada, yang bekerja dibengkel Multi Skill Service. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan cara penyebaran angket atau kuesioner pada semua karyawan yaitu yang berjumlah 20 orang. Data yang terkumpul sesuai dengan bidang dan kompetensi, yaitu; (1) Data kondisi bengkel; (2) Data penerapan keselamatan kerja; (3) Data tingkat kecelakaan kerja bengkel Multi Skill Service. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu; dengan melihat jumlah mean rata?rata kategori tiap pertanyaan dalam satu kelompok kompetensi. Dan ferekuensi persentase hasil analisis deskriptif pada tingkat kecelakaan kerja disajikan dalam bentuk tabel dan grafik batang. Hasil analisis menunjukan mean/rata?rata kondisi bengkel 3,1 yang berarti kondis bengkel baik, dan mean/rata?rata penerapan keselamatan kerja 3,2 yang juga berarti penerapan keselamatan kerjanya baik. Dari persentase tingkat kecelakaan kerja ringan 50% tidak pernah terjadi, 45% jarang terjadi, 5% sering terjadi. Dari tingkat kecelaan sedang 90% tidak pernah terjadi, 10% jarang terjadi. dari tingkat kecelakaan berat 95% tidak pernah terjadi dan 5% jarang terjadi. Dari hasil penelitian yang diperoleh disimpulkan bahwa dengan adanya penataan, pengaturan mesin dan barang yang baik pada bengkel, serta penerapan keselamatan kerja yang terorganisir akan menekan tingkat kecelakaan kerja pada sebuah bengkel. Saran yang dapat disampaikan, hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada penelitian keselamatan kerja pada perusahaan yang besar yang jumlah sampel dan populasinya banyak. Sehingga dengan demikian akan didapat hasil yang lebih signifikasi.

Pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar tembakan (shooting) bola basket di SMP Negeri I Srengat Kabupaten Blitar / Fandhy Lia Purnama

 

Tembakan (shooting) termasuk indikator materi pokok pembelajaran dalam bola basket di SMP, dan bagian dari permainan bola basket. Dari hasil observasi dengan menggunakan kuesioner pembelajaran pendidikan jasmani khususnya teknik dasar tembakan (shooting) bola basket pada guru pendidikan jasmani, kurangnya guru pendidikan jasmani dalam menggunakan variasi pengajaran materi bola basket serta belum pernah mendapatkan sebuah model pembelajaran teknik dasar tembakan (shooting) dalam bentuk VCD. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar tembakan (shooting) bola basket di SMP Negeri 1 Srengat Kabupaten Blitar. Tujuan dari penelitian ini mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar tembakan (shooting) bola basket di SMP Negeri I Srengat Kabupaten Blitar dan membantu guru pendidikan jasmani sebagai bahan rujukan dalam penyampaian materi yang dapat membantu mengurangi kesulitan yang dialami siswa. Dalam pengembangan VCD pembelajaran untuk siswa SMP ini peneliti menggunakan model pengembangan flow chart dari Sadiman (2003:38), yaitu terdiri dari: (1) Penemuan ide, pengumpulan berbagai informasi sebagai kajian pustaka dan observasi lapangan, (2) Penulisan naskah media (hasil produk) berisi rancangan pembelajaran teknik dasar tembakan (shooting) bola basket, (3) Evaluasi produk oleh ahli, (4) Revisi produk I, dilakukan oleh ahli, (5) Produk prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video), (6) Uji coba prototipe, ujicoba (kelompok kecil), (7) Revisi produk II, revisi dari ujicoba (kelompok kecil), (8) Uji lapangan (kelompok besar), (9) Reproduksi, penyempurnaan produk. Hasil penilaian atau evaluasi model pembelajaran ini yaitu sebagai berikut: dari ahli pembelajaran pendidikan jasmani yaitu 78,13% (cukup valid), dari hasil ahli bola basket yaitu 88,13 (valid), dari ahli media yaitu 83,33% (valid), dari ujicoba (kelompok kecil) yaitu 87,22% (valid), dan ujicoba lapangan (kelompok besar) yaitu 87,78% (valid). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pengembangan VCD pembelajaran ini mudah dipahami dan dapat menambah bahan rujukan guru pendidikan jasmani dalam mengajarkan teknik dasar tembakan (shooting) bola basket. Disarankan dalam penggunaan VCD pembelajaran ini sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan isi materi yang ada, dan disesuaikan dengan kompetensi sekolah dan siswa.

Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya di kelas IX SMP Negeri 20 Kota Malang tahun ajaran 2007-2008 / Choirul Abdidin

 

Mata pelajaran seni budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya. Di dalamnya mencakup seni rupa, seni tari, seni musik, dan seni teater (drama) dengan pendekatan budaya terutama budaya setempat. Yang mem-berikan peluang bagi terciptanya pengembangan kemampuan kreativitas dan apresiatif. Penerapan KTSP memberikan peluang bagi setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri, dan untuk itu tiap guru yang akan mengajar di kelas dituntut memiliki kemampuan menyusun yang tepat bagi peserta didiknya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, belum semua guru mata pelajaran seni budaya SMP Negeri 20 Kota Malang yang melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya di kelas IX SMP Negeri 20 Kota Malang Tahun Ajaran 2007-2008. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya dengan pedoman wawancara pada guru seni budaya, pedoman observasi pada alat/sarana pembelajaran, dan penyebaran angket kepada siswa. Teknik analisa dengan mendeskripsikan secara langsung data/informasi yang berupa uraian dan bagi data yang berhubungan dengan angka digunakan teknik prosentase. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan mata pelajaran seni budaya sudah berjalan dengan baik. Persiapan yang dilakukan guru dan siswa sebelum pelaksanaan pembelajaran seni berlangsung sangat baik, pelaksanaan pembelajaran seni budaya pada aktivitas guru dalam pembelajaran di kelas dan aktivitas belajar siswa di kelas sudah menunjukkan aktivitas yang sudah tinggi, dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran seni budaya, menunjukkan pelaksanaannya sangat baik. Semua itu terlaksana karena guru yang memegang cabang seni sesuai latar belakang pendidikannya, cabang seni rupa dipegang oleh guru berpendidikan seni rupa dan cabang seni tari dipegang guru berpendidikan seni tari. Namun untuk kekurangannya kedua guru tersebut sudah berusaha untuk memperbaikinya. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan metode kualitatif dan memperhatikan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran seni budaya di lapangan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 |