Pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata diklat produktif (studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Malang) / Ismi Farida

 

ABSTRAK Farida, Ismi. 2007. Pengaruh Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar Mata Diklat Produktif (Studi pada Siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri I Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sapir, S. Sos. M. Si, (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M. Si Kata kunci: Kebiasaan Belajar, Prestasi Belajar Keberhasilan seorang siswa dalam menguasai mata pelajaran di sekolah tidak lepas dari faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri maupun luar siswa, salah satu faktor dari dalam peserta didik yang turut mendukung dalam keberhasilan siswa menguasai suatu mata diklat adalah kebiasaan belajar. Kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor penunjang tercapainya prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa akan optimal apabila siswa memahami berbagai macam kebiasaan belajar yang dilakukan sebab antara siswa yang satu dengan yang lainnya berbeda. Siswa yang mempunyai kebiasaan belajar yang baik akan dapat memperoleh hasil belajar yang optimal dan sebaliknya siswa yang mempunyai kebiasaan belajar yang tidak sesuai akan memperolah hasil yang kurang optimal. Siswa yang memiliki suatu kebiasaan belajar yang dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan dapat membantu penguasaan siswa terhadap mata diklat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebiasaan belajar (X) yang terbagi atas kebiasaan belajar di rumah (X1) dan kebiasaan belajar di sekolah (X2). Sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri I Malang tahun ajaran 2006/ 2007. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling diperoleh sampel sebesar 79 siswa di ambil dua kelas dari siswa kelas I program studi Administrasi Perkantoran. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu angket (kuesioner) dan dokumentasi. Angket untuk memperoleh data variabel bebas yaitu kebiasaan belajar di rumah (X1) dan kebiasaan belajar di sekolah (X2). Sedangkan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data variabel terikat yang berupa nilai raport tengah semester mata diklat produktif. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis regresi linier berganda. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran kebiasaan belajar dan prestasi belajar, sedangkan analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar secara parsial maupun secara simultan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa (1) pengaruh kebiasaan belajar di rumah siswa kelas I program keahlian Administrasi Perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada tingkat yang kurang baik (2) pengaruh kebiasaan belajar di sekolah siswa kelas I program keahlian Administrasi Perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada tingkat yang baik (3) prestasi belajar siswa kelas I program keahlian Administrasi Perkantoran pada mata diklat produktif pada tingkat yang baik (4) penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata diklat produktif siswa kelas I program keahlian Administrasi Perkantoran (4) pengaruh kebiasaan terhadap prestasi belajar siswa kelas I program keahlian Administrasi Perkantoran pada mata diklat hanya sebesar 11,7% sedangkan 88,3% dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel kebiasaan belajar. Berdasarkan penelitian ini disarankan pada siswa agar lebih memperhatikan kebiasaan belajar yang kurang sesuai dan lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar, guru diharapkan dapat memberikan motivasi dan pengarahan kepada siswanya tentang cara belajar yang baik, dan orang tua siswa agar lebih memperhatikan kebiasaan belajar anaknya dan mengingatkan anaknya untuk belajar tepat waktunya.

Penerapan pembelajaran kooperatif metode think pair share untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar akuntansi siswa / Siti Mutmainnah

 

Kegiatan pembelajaran merupakan cara guru untuk membelajarkan siswa. Pemilihan metode pembelajaran oleh guru harus mempertimbangkan beberapa faktor salah satunya kebutuhan siswa sebagai remaja yang mempunyai kebutuhan aktif menemukan, mengemukakan ide dan pendapatnya serta kebutuhan untuk berinteraksi dengan yang lain. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah pembelajaran kooperatif dengan metode think pair share. Pembelajaran ini memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir, bertukar fikiran, saling berbagi dan berinteraksi dengan teman. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif metode think pair share sebagai upaya meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan dalam 2 siklus yaitu pada bulan Maret – April 2007. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung dari subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2 Malang sebanyak 38 siswa. Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal penyesuaian dan neraca lajur perusahaan dagang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara tidak terstruktur, tes dan catatan lapangan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pembelajaran kooperatif metode think pair share dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa. Peningkatan keterampilan berbicara siswa dapat diamati dari jumlah siswa yang melakukan aktivitas berbicara pada siklus I sebanyak 5 siswa sedangkan pada siklus II menjadi 13 siswa. Hasil belajar siswa juga meningkat pada siklus I dan siklus II yaitu nilai rata-rata hasil penilaian ranah kognitif pada siklus I sebesar 61,7 sedangkan pada siklus II menjadi 64,4. Rata-rata hasil penilaian ranah afektif pada siklus I sebesar 2,0 dan pada siklus II sebesar 2,7 sedangkan rata-rata hasil penilaian ranah psikomotorik pada siklus I sebesar 2,3 dan pada siklus II menjadi 2,9. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode think pair share dapat meningkatkan aktivitas siswa di kelas, keterampilan berbicara dan hasil belajarnya. Penerapan pembelajaran ini disarankan sebaiknya guru lebih aktif dalam mengamati dan membimbing siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan lebih banyak mengalokasikan waktu untuk tahap share (berbagi)

Pemanfaatan sumber belajar dalam kegiatan diklat PIM IV di Bandiklat Provinsi Jawa Timur / Mariana Ulfa

 

Ulfa, Mariana. 2013. Pemanfaatan Sumber Belajar dalam Kegiatan Diklat PIM IV di Bandiklat Provinsi Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. M. Ishom Ihsan, M.Pd, (II) Drs. Lasi Purwito, M.S. Kata Kunci: Pemanfaatan Sumber Belajar, Diklat PIM IV     Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PIM IV merupakan pendidikan jabatan kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dirancang untuk meningkatkan sikap, kompetensi teknis, manajerial, dan kepemimpinan, serta peningkatan semangat kerjasama dan tanggung jawab sesuai dengan lingkungan kerja dan organisasinya. Sumber belajar merupakan salah satu komponen yang sangat berperan dalam proses pembelajaran guna membantu meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia untuk menuju ke dalam kehidupan yang lebih baik. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, sebaiknya tidak melupakan satu hal yang sudah pasti keberadaannya, yaitu bahwa peserta didik maupun pendidik harus banyak melakukan interaksi dengan sumber belajar.     Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan pemanfaatan widyaiswara sebagai sumber belajar, (2) mendeskripsikan pemanfaatan modul sebagai bahan ajar, (3) mendeskripsikan pemanfaatan media pembelajaran sebagai sumber belajar, (4) mendeskripsikan pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar, dan (5) mendeskripsikan pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar.     Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif yang akan di paparkan dalam bentuk deskripsi dan persentase. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan keseluruhan populasi yang berjumlah 40 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa angket. Lokasi pada penelitian ini adalah Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Provinsi Jawa Timur yang berlokasi di Kota Malang.     Hasil penelitian ini menunjukkan sumber belajar yang dimanfaatkan peserta didik dalam kegiatan diklat PIM IV bahwa (1) frekuensi pemanfaatan widyaiswara sebagai sumber belajar tinggi sebanyak 85%, (2) frekuensi pemanfaatan bahan belajar modul sebagai sumber belajar sedang sebanyak 47,5%, (3) frekuensi pemanfaatan media pembelajaran sebagai sumber belajar tinggi sebanyak 85%, (4) frekuensi pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar tinggi sebanyak 45%, dan (5) frekuensi pemanfaatan perpustakaan rendah sebanyak 45%.     Berdasarkan temuan data tersebut, maka disarankan (1) bagi widyaiswara, hendaknya melaksanakan perannya sebagai fasilitator, inspirator, motivator, sarana diskusi, dan tempat konsultasi bagi peserta didik dengan baik, sehingga dalam melaksanakan pembelajaran selalu berupaya meningkatkan kualitas layanannya, (2) bagi seksi pengajaran dan pengendali mutu, hendaknya mengoptimalisasi penggunaan bahan belajar modul, media pembelajaran dan media internet sebagai sumber belajar khususnya dalam melakukan penyiapan berbagai sumber belajar tersebut dengan baik, sehingga dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi kegiatan pembelajaran, dan (3) bagi pengelola perpustakaan, hendaknya berupaya mengoptimalisasikan pelayanan perpustakaan dan penyampaian informasi mengenai literatur yang ada di perpustakaan kepada peserta didik, sehingga peserta didik terdorong untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar.

Penerapan metode pembelajaran metode teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar akuntansi siswa kelas X-A Program Keahlian Akuntansi SMK Salahuddin Malang / Nina Ristianah

 

Pengaruh luas permukaan media dan lama aerasi terhadap degradasi kadar bod, nitrat, nitrit, amoniak, dan padatan total tersuspensi pada pengolahan limbah cair kantin VEDC Malang dengan sistem biofilm media zeolit alam / Dhamas Mega Amarlita

 

Limbah cair domestik merupakan salah satu sumber pencemaran air yang masih belum tertangani dengan baik. VEDC merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menghasilkan air limbah domestik yang cukup banyak dan letaknya di pemukiman padat penduduk (di perkotaan) sehingga air limbah domestik perlu diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke perairan. Salah satu alternatif pengolahan limbah domestik adalah sistem biofilm. Biofilm merupakan suatu lingkungan kehidupan yang khusus dari sekelompok mikroorganisme yang melekat ke suatu permukaan padat dalam lingkungan perairan. Pertumbuhan mikroorganisme tersebut diantaranya tergantung pada suplai oksigen yang dapat diperbesar melalui proses aerasi dan luas permukaan media. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sistem biofilm dengan media kerikil dan PVC dapat menurunkan kadar polutan pada limbah cair domestik. Penelitian ini menggunakan media zeolit alam, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh luas permukaan dan waktu aerasi terhadap penurunan kadar BOD, nitrat, nitrit, amoniak, dan padatan total tersuspensi (TSS) pada pengolahan limbah cair domestik terutama limbah kantin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan variabel bebas: luas permukaan dan lama aerasi; variabel terikat: persentase degradasi kadar BOD, nitrat, nitrit, amoniak, dan padatan total tersuspensi (TSS); dan variabel terkontrol: porositas zeolit alam dan volume air limbah. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengukuran volume bak untuk aerasi, perhitungan luas permukaan zeolit alam, perhitungan porositas zeolit alam dan aklimatisasi bakteri yang dilakukan  1 minggu. Pada penelitian utama dilakukan analisis laboratorium terhadap sampel limbah cair sebelum masuk bak pengolahan (influen) dan sesudah keluar bak pengolahan (effluen). Sasaran analisis laboratorium adalah penurunan kadar BOD, nitrat, nitrit, amoniak, dan TSS. Sampel diambil dengan lama aerasi berbeda, yaitu 8 jam, 13 jam, 16 jam, 18 jam, 21 jam dan 24 jam, untuk setiap luas permukaan media yang berbeda yaitu 2311,39 cm2 ; 4993,52 cm2 dan 7307,93 cm2. Data yang diperoleh dianalisis dengan membandingkan hasil analisis influen dan effluen untuk lama aerasi dan luas permukaa yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didasarkan pada selisih luas permukaan, efisiensi degradasi kadar polutan paling efektif tercapai dengan menggunakan luas permukaan media 7307,93 cm2. Sedangkan didasarkan pada selisih lama aerasi, untuk penurunan kadar BOD dan TSS yang paling efektif tercapai dengan perlakuan lama aerasi 13 jam dan luas permukaan media 4993,52 cm2, dan penurunan kadar nitrat paling efektif tercapai dengan perlakuan lama aerasi 16 jam dengan luas permukaan media yang sama, sedangkan nitrit dan amoniak penurunan yang paling efektif tercapai pada luas permukaan media 7307,93 cm2 aerasi selama 18 jam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alternatif yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah domestik sisitem biofilm media zeolit alam adalah dengan menggunakan luas permukaan media 7307,93 cm2 dengan lama aerasi 13 jam atau dengan luas permukaan 4993,52 cm2 dan lama aerasi 16 jam.

Pengaruh pembelajaran kooperatif think pair share (TPS) terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS MAN Tulungagung 2 tahun ajaran 2006/2007 / Yety Frebrianasari

 

Metode pembelajaran akuntansi yang diterapkan di MAN Tulungagung 2 adalah pembelajaran konvensional yang didominasi oleh ceramah dan penugasan, dimana guru lebih mendominasi dalam kegiatan pembelajaran sedangkan siswa lebih berperan sebagai pendengar dan pencatat. Akibatnya siswa menjadi pasif dan kurang telibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengkonstruk pengetahuan dan melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS MAN Tulungagung 2 tahun ajaran 2006/2007. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan menetapkan kelas XI IPS 1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI IPS 2 sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes yang berbentuk multiple choice. Hasil dari analisis validitas dengan rtabel = 0,361 diperoleh 45 soal instrumen dikatakan valid dan 5 soal instrumen dikatakan tidak valid. Data juga reliabel karena rhitung > rtabel yaitu 0,737 > 0,361 dan 0,792 > 0,361 dengan taraf signifikansi 0,050. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji t dengan bantuan komputer SPSS. Dari hasil uji-t diketahui kemampuan awal siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sama yaitu 69,05 untuk kelompok eksperimen dan 70,40 untuk kelompok kontrol. Nilai thitung = -1,054 < ttabel = 1,989 dan nilai probabilitas (Sig.) = 0,295 > 0,050. Setelah perlakuan diberikan terlihat bahwa nilai rata-rata kemampuan akhir kelompok eksperimen 84,55 lebih tinggi dari pada kelompok kontrol 76,58. Nilai thitung = 6,111 > rtabel = 1,989 dan nilai probabilitas (Sig.) = 0,000 < 0,050. Nilai rata-rata gain score kelompok eksperimen 15,73 lebih tinggi dari pada kelompok kontrol 6,24. Nilai thitung =14,489 > ttabel = 1,989 dan nilai probabilitas (Sig.) = 0,000 < 0,050 yang berarti ada perbedaan pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS MAN Tulungagung 2 tahun ajaran 2006/2007. Saran yang diajukan adalah: (1) bagi guru bidang studi akuntansi diharapkan dapat menerapkan pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) sebagi alternatif pilihan pembelajaran di kelas, (2) bagi lembaga pendidikan dan institusi terkait hendaknya dapat mensosialisasikan pembelajaran ini dalam pelatihan dan penataran pendidikan, (3) bagi peneliti lain diharapkan dapat menggunakan populasi, sampel penelitian dan pokok bahasan yang lebih luas agar mendapatkan data yang lebih baik serta untuk mengetahui apakah diperoleh hasil yang sama atau berbeda.

Studi lapangan evaluasi pelaksanaan pekerjaan plat lantai dan balok pada proyek pembangunan gedung ruang VIP RSI Unisma Jl. M.T. Haryono 139 Malang / Rifa'atul Khufyah

 

Mesin pemipil jagung kapasitas 100 kg/jam / Farid Effendi

 

Pengembangan model asesmen kemampuan melaksanakan praktikum fisika dasar I pokok bahasan kalorimeter di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Dwi Puspitasari

 

Pengembangan model asesmen kemampuan melaksanakan praktikum fisika dasar I pokok bahasan gerak lurus di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Yeni Amaliati

 

Pengaruh perilaku mengajar guru ekonomi dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar / Riza Ratnawati

 

Prestasi belajar merupakan hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh siswa dalam periode tertentu. prestasi belajar. Prestasi belajar akan dilakukan para siswa dan motivasi belajar siswa yang dimiliki oleh siswa sebab antara siswa satu dengan siswa yang lainnya berbeda. Perilaku mengajar guru dan motivasi belajar siswa merupakan bagian dari faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pada bidang studi ekonomi yang akan diteliti dalam penelitian ini. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh motivasi belajar siswa saja tetapi tetapi juga perilaku mengajar guru. Begitu pula dalam kaitannya dalam keberhasilan belajar siswa yang tercermin dalam hasil belajar ekonomi juga tidak lepas dari peranan perilaku mengajar guru dan motivasi belajar siswa yang baik. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana perilaku mengajar guru ekonomi pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar (2) Bagaimana motivasi belajar siswa SMA Negeri 3 Blitar (3) Bagaimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar (4) Apakah ada pengaruh perilaku mengajar guru ekonomi terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar (5) Apakah ada pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMA Negeri 3 Blitar (6)Apakah ada pengaruh bersama-sama perilaku mengajar guru ekonomi dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganilisis pengaruh perilaku mengajar guru ekonomi dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar, berdasarkan tujuan tersebut, maka metode yang digunakan adalah metode angket dan dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Ngeri 3 Blitar semester genap 2006/2007 yang berjumlah 40 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik proportional random sampling. Jenis rancangan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4 Juni sampai dengan 27 Juni. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:(1) Perilaku mengajar guru ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar tergolong cukup baik. Motivasi belajar siswa di SMA Negeri 3 Blitar tergolong sedang. Sedangkan tingkat prestasi belajar siswa di SMA Negeri 3 Blitar tergolong baik. (2) Secara parsial, perilaku mengajar guru ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi, terbukti dengan sig t (0,000) < α (0,05). Motivasi belajar siswa juga mempengaruhi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi yang ditunjukkan dengan sig t (0,000) < α (0,05). (3) Secara simultan, perilaku mengajar guru ekonomi dan motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi yang ditunjukkan dengan sig F (0,000) < α (0,05). Nilai R square sebesar 0,610, hal ini ini menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan variabel perilaku mengajar guru ekonomi dan motivasi belajar siswa berpengaruh secara simultan terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi sebesar 61% sedangkan sisanya 39 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku mengajar guru ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar tergolong cukup baik, motivasi belajar siswa yang tergolong sedang, dan tingkat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi yang tergolong baik. Secara parsial dan simultan ada pengaruh secara signifikan antara perilaku mengajar guru ekonomi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Blitar. Oleh karena itu peneliti sarankan kepada kalangan pendidik agar meningkatkan perilaku mengajarnya serta memberikan motivasi kepada siswa, karena faktor ini penting untuk meningkatkan prestasi belajar.

Pengembangan bahan ajar berpijak pada teori Van Hiele sebagai upaya mengembangkan penalaran dan komunikasi konsep segitiga dalam trigonometri siswa SMU kelas X / Khoirunnisa'

 

Penyajian bahan ajar untuk pembelajaran segitiga dalam trigonometri selama ini banyak yang langsung disajikan dalam bentuk teorema dan rumus-rumus. Sedangkan ada tahapan belajar geometri menggunakan teori Van Hiele yang belum banyak dikembangkan. Bahan ajar berpijak pada teori Van Hiele merupakan bentuk bahan ajar yang menerapkan empat tahapan belajar, yaitu tahap pengenalan (visualisasi), tahap analisis, tahap deduktif, dan tahap akurasi. Penyajian bahan ajar ini dimulai dengan pemberian suatu masalah dalam bentuk soal cerita dengan masalah kontekstual sebagai titik awal permasalahan yang diberikan untuk mengembangkan penalaran dan komunikasi siswa. Penalaran dan komunikasi merupakan kompetensi yang ditunjukkan siswa dalam melakukan penalaran dan mengkomunikasikan gagasan matematik. Sedangkan pengembangan penalaran dan komunikasi siswa dapat dilihat dari indikator pencapaian hasil belajar yang diharapkan dalam penulisan bahan ajar. Penulisan bahan ajar ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berpijak pada teori Van Hiele sebagai upaya mengembangkan penalaran dan komunikasi siswa konsep segitiga dalam trigonometri. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagai pengumpulan data digunakan validasi bahan ajar. Penyajian bahan ajar ini terbagi dalam empat langkah, yaitu tinjauan matapelajaran, susunan materi, daftar pustaka (rujukan), dan senarai. Pada susunan materi, diterapkan empat tahapan belajar teori Van Hiele yang terdiri dari (1) Bagian pendahuluan menyajikan tentang perbandingan dan kesebangunan segitiga, (2) Bagian penyajian menyajikan tentang sinus, kosinus dan tangen, serta aturan sinus dan aturan kosinus, (3) Bagian penutup menyajikan tentang luas segitiga. Hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar berpijak pada teori Van Hiele dapat mengembangkan penalaran dan komunikasi konsep segitiga dalam trigonometri. Hal ini ditunjukkan oleh data skor rata-rata validasi yang menunjukkan skor penilaian sebesar 73% dari empat validator. Dengan masing-masing perolehan hasil validasi dari tiap item adalah (1) item ke 1 sebesar 75% untuk kesesuaian desain bahan ajar dengan deskripsi bahan ajar, (2) item ke 2 sebesar 73% untuk aspek materi, (3) item ke 3 sebesar 66% untuk aspek bahasa, (4) item ke 4 sebesar 75% untuk aspek format, (5) item ke 5 sebesar 75% untuk aspek permasalahan. Oleh karena itu, bahan ajar berpijak pada teori Van Hiele hendaknya dijadikan salah satu alternative alat yang digunakan untuk media pembelajaran di sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Evaluasi tata ruang permukiman (suatu kajian perencanaan kebutuhan perumahan di Kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan) / Eva Selvia Handayani

 

Perkembangan pembangunan di perkotaan yang umumnya lebih cepat dibandingkan dengan pedesaan membawa banyak perubahan pada kondisi internal kota diantaranya adalah peningkatan kebutuhan akan perumahan. Dalam rangka memenuhi tingginya kebutuhan akan perumahan perlu adanya suatu rencana tata ruang yang tepat agar pengelolaan setiap areal lahan sesuai dengan potensi lahan, karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dan persaingan dalam penggunaan lahan diberbagai sektoral yang seringkali tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sehingga terjadi perubahan pola pemanfaatan yang harus segera dievaluasi untuk mengetahui penyimpangan penggunaan lahan yang terjadi. Adanya luas lahan yang terbatas, jumlah penduduk dan pembangunan fisik yang terus bertambah mengakibatkan keseimbangan alam terganggu. Fenomena dan permasalahan itu juga terjadi di Kota Kandangan yang memiliki penduduk sebesar 33.068 jiwa dengan jumlah rumah sebanyak 5.245 unit. Berdasarkan standar PU Kab HSS, jumlah penghuni dalam 1 unit rumah idealnya adalah 4-5 jiwa, sehingga idealnya jumlah unit rumah yang ada di Kota Kandangan adalah sebanyak 6.614 unit rumah. Kondisi yang seperti ini memerlukan suatu perencanaan tentang kebutuhan perumahan yang diperlukan di Kota Kandangan dengan melihat rencana tata ruang yang telah ditetapkan untuk permukiman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi RUTRK dengan RDTRK Kandangan dan juga RDTRK dengan eksisting untuk lahan permukiman. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kebutuhan perumahan di Kota Kandangan dari tahun 2007-2016. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Kandangan. Teknik pengumpulan data yaitu dengan dokumentasi dan juga observasi. Analisis data yang digunakan berupa analisis peta melalui tumpang susun dan deskriptif, serta analisis demografi. Berdasarkan evaluasi antara RUTRK dan juga RDTRK dalam penggunaan lahan untuk permukiman tidak terdapat penyimpangan dalam rencana penggunaan lahan untuk permukiman. Sedangkan hasil evaluasi antara RDTRK dengan eksisting menunjukkan adanya beberapa penyimpangan yang terjadi, yaitu lahan industri untuk permukiman, lahan perdagangan untuk permukiman, dan RTH menjadi permukiman. Untuk kebutuhan perumahan digunakan dua asumsi, yaitu asumsi dengan ART 5 jiwa per unit rumah dibutuhkan rumah sebanyak 6.659 unit rumah pada tahun 2007, sedangkan asumsi ART 6 dibutuhkan 5.549 unit rumah tahun 2007. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa luas lahan untuk permukiman yang belum digunakan masih cukup banyak untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan perumahan di Kota Kandangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar pemerintah segera melakukan penertiban dan pengawasan penuh pada kawasan yang terjadi penyimpangan agar tidak terjadi penyimpangan yang terus berlanjut. Selain itu juga diperlukan adanya evaluasi lanjutan untuk memantau rencana yang telah ditetapkan dengan implementasi di lapangan untuk tahun-tahun berikutnya mengingat rencana yang ditetapkan sampai dengan tahun 2013 pada pertengahan tahun sudah mengalami penyimpangan sehingga harus terus diawasi baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat di Kota Kandangan.

Hubungan antara konformitas kelompok sebaya dan relasi interpersonal dalam keluarga pada remaja kelas XI SMA Widya Gama Malang / Inayah Sudarwati

 

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) konformitas kelompok sebaya pada remaja kelas XI SMA Widya Gama Malang, (2) relasi interpersonal dalam keluarga pada remaja kelas XI SMA Widya Gama Malang, (3) hubungan antara konformitas kelompok sebaya dan relasi interpersonal dalam keluarga pada remaja kelas XI SMA Widya Gama Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional, subjek yang digunakan adalah remaja kelas XI SMA Widya Gama Malang dengan jumlah 108 orang yang diperoleh dengan metode proporsional random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala konformitas kelompok sebaya dan skala relasi interpersonal dalam keluarga. Uji validitas item menggunakan teknik validitas internal dan uji reliabilitas item menggunakan Alpha Cronbach. Skala konformitas kelompok sebaya dengan validitas antara 0,279–0,663 dan reliabilitas sebesar 0,8064. Skala relasi interpersonal dalam keluarga dengan validitas antara 0,268–0,671 dan reliabilitas sebesar 0,8849. Analisis hasil penelitian memakai analisis deskriptif dan analisis korelasional Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sebagian besar (71,43%) remaja kelas XI SMA Widya Gama memiliki tingkat konformitas kelompok sebaya dengan taraf sedang. (2) Sebagian besar (65,71%) remaja kelas XI SMA Widya Gama memiliki relasi interpersonal dalam keluarga dengan taraf sedang. (3) Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara konformitas kelompok sebaya dan relasi interpersonal dalam keluarga pada remaja kelas XI SMA Widya Gama Malang dengan (rxy) sebesar -0,520. Dari hasil penelitian ini disarankan bagi kepala sekolah agar memfasilitasi kegiatan yang berfungsi mempererat relasi interpersonal siswa dengan keluarganya, di mana keluarga diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Bagi konselor hendaknya memberi layanan, informasi dan tetap memantau perkembangan sosial siswanya serta memfasilitasi layanan konseling bersama antara siswa dan keluarganya. Bagi siswa remaja yang berada dalam suatu kelompok hendaknya tetap menjadi diri sendiri dengan tidak terlalu konform terhadap kelompok yang mengarah pada hal negatif Bagi peneliti selanjutnya diharapkan agar lebih banyak lagi menggali atau meneliti tentang perkembangan sosial remaja dengan meneliti variabel-variabel lain dan memperluas alat pengumpulan datanya dengan cara lain seperti wawancara mendalam dan observasi.

Implementasi pembelajaran kooperatif dengan metode struktural numbered heads together untuk meningkatkan hasil belajar pada mata diklat kewirausahaan kelas X SMK-BM Ardjuna 2 Malang / Tantri Ardhiana

 

Cooperative Learning of Numbered Heads Together structural method is learning to involve the students in reanalyzing materials which come within learning and check the understanding of student about the core of accepted Iesson. This study aimed at knowing learning’s result of student after applied this method in kewirausahaan subject matter. This research is conducted at SMK-BM Ardjuna 2 Malang. The research object is all class X of Ac-counting on 2006/2007 academic year.The research type done by researcher is class action research. The result from the research showed that, student responses toward cooperative learning with Numbered Heads Together method is very positive, it can be seen from the students questionnaire responses. Learning achievement from cognitive aspects and affective aspects after applied Numbered Heads Together method to experience of improvement, it is proven with the increase of average class grade and complete by clasical at the quiz or cycle II better than quiz or cycle siklus I. The research of implementation Numbered Heads Together method need to be developed at other study to know effectiveness from this method.

Pengembangan modul elektrokimia dengan model multimedia untuk mata kuliah kimia terapan pada Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bali / Ida Ayu Anom Arsani

 

Aplikasi peta tematik untuk menggambarkan data kebutuhan guru SD, SMP, dan SMA di Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo / Rika Maharani

 

Peta tematik merupakan media yang tepat untuk menggambarkan keadaan, potensi, dan perkembangan suatu wilayah, dimana peta sangat diperlukan dalam segala bidang sebagai sumber data dari berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia. Oleh sebab itu maka penyajian data kebutuhan guru SD, SMP, dan SMA serta persebaran guru SMP, dan SMA di Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo dalam bentuk peta tematik sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aplikasi peta tematik untuk menggambarkan data kebutuhan guru, dan persebaran guru SMP dan SMA yang sesuai dengan kualifikasi di Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Menurut sifatnya penelitian ini tergolong penelitian deskriptif dengan subjek penelitian semua sekolah yang ada di Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner. Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Adapun teknik pengambilan datanya menggunakan teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Penggambaran data kebutuhan guru ke dalam bentuk peta tematik menggunakan software Coreldraw. Data kebutuhan guru kebutuhan guru SD, SMP, dan SMA serta persebaran guru SMP, dan SMA di Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo disajikan ke dalam bentuk peta tematik dengan skala 1: 40.000, serta menggunakan symbol diagram batang sehingga memudahkan pengguna atau pembaca peta dalam menginterpretasi peta tersebut. Berdasarkan hasil penelitian peta tematik sangat baik jika digunakan untuk menyajikan data kebutuhan guru SD, SMP, dan SMA, serta persebaran guru SMP dan SMA yang sesuai dengan kualifikasinya di Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Dengan menyajikan data kebutuhan kebutuhan guru SD, SMP dan SMA, serta persebaran guru SMP dan SMA yang sesuai dengan kualifikasinya di Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo dalam bentuk peta tematik maka dapat diketahui dengan cepat dan akurat berapa banyak jumlah guru yang dibutuhkan beserta persebaran daerahnya.

Pengaruh price earning ratio (PER), current ratio (CR), dan return on equity (ROE) terhadap harga saham perusahaan property & real estate yang listing di Bursa Efek Jakarta / Budi Pratikno

 

Berinvestasi pada saham memiliki risiko yang sangat tinggi, hal ini disebabkan karena saham sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar, sehingga dibutuhkan kepandaian dan kejelian dalam menganalisisnya, dimana menganalisis saham sendiri ada dua cara yaitu analisis secara teknikal dan analisis secara fundamental. Dengan latar belakang tersebutlah penelitian ini dilakukan, yaitu penelitian pada saham perusahaan property dan real estate yang listing di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan pendekatan dari sisi rasio finansialnya yang merupakan analisis fundamental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Price Earning Ratio, Current Ratio, dan Return On Equiti terhadap harga saham perusahaan property dan real estate yang tercatat di Bursa Efek Jakarta baik secara parsial maupun secara simultan. Penetian ini tergolong penelitian asosiatif dengan data yang digunakan yaitu data sekunder. Populasi penelitian ini yaitu semua perusahaan property dan realestate yang listing di BEJ periode tahun 2003-2005, dimana ada 38 perusahaan, sedangkan sampelnya yaitu sebanyak 20 perusahaan yang dipilih berdasarakan kriteria tertentu. Hasil penelitian ini adalah: (1) Price Earning Ratio, Current Ratio, dan Return On Equty secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan property dan real estate; (2) Price Earning Ratio, Current Ratio, dan Return On Equiti secara simultan tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan property dan real estate; (3) Hubungan antara ketiga variabel bebas terhadap vaiabel terikat adalah lemah, dimana variasi harga saham dapat dijelaskan oleh ketiga variabel bebas hanya sebesar 2,7%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh hal lain di luar variabel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar investor juga memperhatikan faktor fundamental dari saham yang dimiliki, atau hendak dimiliki. Sebenarnya faktor fundamental saham merupakan rohnya saham, sehingga faktor ini harus benar-benar diperhatikan, bukan malah di abaikan; Perusahaan emiten seharusnya selalu memperbaiki fundamental dari saham perusahaannya, meskipun dalam penelitian ini bagian dari faktor fundamental (PER, CR, dan ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham; BAPEPAM seharusnya menyikapi penyimpangan-penyimpangan dengan cepat, dan segera membenahinya; Bagi para peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah variabel penelitiannya di luar variabel ini, selain itu juga disarankan agar tahun yang di jadikan penelitian lebih panjang agar hasil penelitian yang dilakukan lebih representatif

Penerapan pembelajaran kooperatif jigsaw sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang Jawa Timur / Sri Utami

 

Berdasarkan hasil observasi di kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang, metode pembelajaran yang masih sering digunakan adalah metode pembelajaran ceramah. Metode ceramah membuat siswa pasif dan bosan mengikuti pelajaran yang mengakibatkan aktivitas belajar siswa kurang sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa tidak maksimal. Pembelajaran kooperatif Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran dalam kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok ahli yang menekankan pada tanggung jawab pribadi dan kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw siswa belajar melalui teman sebaya sehingga siswa lebih mudah memahami bahasa yang digunakan dan lebih akrab. Kemudahan memahami materi pelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar. Alasan ini yang mendasari penerapan metode pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam penelitian. Berdasarkan hasil observasi peneliti merumuskan masalah: Apakah penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang?.Tujuan dari penelitian penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw ini untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA-3 SMA Negeri 7 Malang. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA-3 SMA Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 42 siswa, 17 laki-laki dan 25 perempuan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian berupa aktivitas belajar dan hasil belajar diperoleh dalam penelitian selama 2 siklus. Data aktivitas belajar siswa di-kumpulkan oleh observer yang terekam dalam lembar observasi aktivitas siswa, sedang data hasil belajar siswa dikumpulkan dari skor pre tes dan pos tes yang diberikan peneiti pada setiap siklus. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Persentase aktivitas belajar siswa pada Siklus II tingkat K (kurang) mengalami penurunan sebesar 15,45%, pada tingkat C (cukup) mengalami penurunan sebesar 9,56%, dan persentase aktivitas belajar siswa pada tingkat B (baik) mengalami peningkatkan sebesar 31,86% jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 19,2% dan peningkatan persentase hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 22,7%. Peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 62,6% dan peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II sebesar 71,6%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru biologi agar menerapkan pembelajar-an kooperatif Jigsaw pada materi pelajaran yang berbeda.

Perbedaan fertilitas antara masyarakat etnis Madura dengan warga negara Indonesia keturunan Cina di Kecamatan Bangkalan Kabupaten Bangkalan / Yuli Dwi Ira Utami

 

Di Indonesia pada umumya faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Fertilitas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan fertilitas antara masyarakat Etnis Madura dengan Warga Negara Indonesia Keturunan Cina berdasarkan usia kawin pertama, lamanya pemakaian alat kontrasepsi, tingkat pendidikan, pandangan terhadap nilai anak, dan kuatnya kebudayaan yang diyakini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita usia produktif status kawin. Teknik pengambilan sampel daerah dalam penelitian ini digunakan purposif sampling. Sampel responden dilakukan secara sistematik random sampling. Jumlah responden yang dimbil sebanyak 75 orang baik pada masyarakat etnis Madura maupun Warga Negara Indonesia Keturunan Cina. Instrumen penelitian dengan wawancara terstruktur. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis statistik yaitu tabulasi tunggal, tabulasi silang, uji t (t-test), dan uji korelasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anak lahir hidup pada masyarakat etnis Madura lebih besar daripada Warga Negara Indonesia Keturunan Cina. Terdapat perbedaan fertilitas yang signifikan antara masyarakat etnis Madura dengan Warga Negara Indonesia Keturunan Cina berdasarkan usia kawin pertama, lamanya pemakaian alat kontrasepsi, tingkat pendidikan, pandangan terhadap nilai anak, dan kuatnya kebudayaan yang diyakini. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin muda usia kawin pertama semakin banyak fertilitasnya dan sebaliknya. Semakin lama pemakaian alat kontrasepsi semakin rendah fertilitasnya dan sebaliknya. Semakin tinggi pendidikan semakin rendah fertilitasnya dan sebaliknya. Nilai anak sebagai investasi menyebabkan semakin banyak fertilitasnya, sebaliknya nilai anak sebagai beban semakin rendah fertilitasnya. Masyarakat yang masih memegang budaya kuat tentang fertilitas semakin tinggi fertilitasnya dan sebaliknya. Disarankan pada wanita usia subur perlu adanya pembudayaan pemakaian alat kontrasepsi dengan tidak menunggu apabila sudah memiliki anak lebih dari dua. Penundaan usia kawin pertama dengan meningkatkan pendidikan agar masa mereka untuk mengembangkan diri lebih luas sehingga pada akhirnya mereka tidak menikah pada usia muda dan diharapkan fertilitas rendah.

Perbedaan kematangan emosi ditinjau dari kepribadian tipe A dan tipe B pada remaja akhir / Asisia Esta Friska Arsanti

 

Kepribadian adalah suatu cara yang dipilih oleh seseorang dalam bereaksi terhadap suatu stimulus yang ditunjukkan kepada lingkungan. Kepribadian seseorang dapat menjadi salah satu faktor penentu tingkat kematangan emosi seseorang. Seseorang yang kondisi emosionalnya baik, memiliki kemampuan merespon yang berbeda-beda dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan faktor-faktor yang berada diluar dirinya yang terlibat dalam situasi tertentu (Sukardi, 1985:37). Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat kematangan emosi remaja akhir ditinjau berdasarkan kepribadian tipe A, (2) mengetahui tingkat kematangan emosi remaja akhir ditinjau berdasarkan kepribadian tipe B, (3) mengetahui apakah ada perbedaan kematangan emosi remaja akhir ditinjau berdasarkan kepribadian tipe A dan tipe B. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2003, 2004, dan 2006 sejumlah 145 orang, diambil menggunakan teknik sampel purposif. Data diperoleh menggunakan dua buah skala yang dikembangkan sendiri oleh penulis; (1) skala Kematangan Emosi, dan (2) skala Kepribadian Tipe A dan Tipe B. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Analisis hasil penelitian menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan mean, diketahui bahwa dari 64 orang subjek yang tergolong berkepribadian A, sejumlah 46,875% memiliki kematangan emosi tinggi dan 53,125% memiliki kematangan emosi rendah. Sedangkan 81 orang yang tergolong berkepribadian B, sejumlah 46,914% memiliki kematangan emosi tinggi dan 53,086% memiliki kematangan emosi rendah. Berdasarkan hasil perhitungan t-test, diketahui bahwa ada perbedaan antara kematangan emosi ditinjau dari kepribadian tipe A dan tipe B pada remaja akhir (ttabel (5% = 1,977) < thitung (= 3.091)), dimana berdasarkan mean, remaja yang berkepribadian tipe A menunjukkan kematangan emosi lebih rendah dengan nilai mean lebih rendah (Mean = 96,750) dibandingkan dengan remaja yang berkepribadian tipe B dengan mean yang lebih tinggi (Mean = 101,469). Bagi peneliti berikutnya yang tertarik untuk meneliti kematangan emosi diharapkan untuk melakukan penelitian eksperimen dengan treatment untuk meningkatkan kematangan emosi remaja akhir, atau menggunakan instrument baku dari Fieldman dan Rosennman, dan kepada UPT-BK diharapkan memberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kematangan emosi remaja, khususnya mahasiswa Psikologi.

Studi tentang kemampuan pemain sepakbola Universitas Negeri Malang dalam memahami dan menerapkan strategi menyerang / Rizka Akhlakul Karim

 

Tim Uniersitas Negeri Malang adalah sekumpulan pemain hasil seleksi dari mahasiswa berbagai jurusan yang ada di Universitas Negeri Malang. Pemain yang masuk dalam tim Universitas Negeri Malang dilihat berdasarkan keterampilan teknik, kemampuan melakukan taktik dan strategi (khususnya strategi menyerang). Pada waktu tim terbentuk, pelatih membuat program latihan yang salah satunya yaitu latihan strategi penyerangan. Setelah peneliti amati pada waktu masih aktif menjadi pemain tim Universitas Negeri Malang dan melakukan wanwancara dengan pelatih tim Universitas Negeri Malang, pada waktu pertandingan strategi serangan yang mereka bangun mudah dibaca oleh lawan. Seringkali dalam membangun serangan, mereka menunjukkan keterampilan bukan secara tim, tetapi individu. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana kemampuan pemain sepakbola Universitas Negeri Malang dalam memahami strategi menyerang (2) bagaimana kemampuan pemain sepakbola Universitas Negeri Malang dalam menerapkan strategi menyerang Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah pemain sepakbola Universitas Negeri Malang yang diturunkan dalam pertandingan berjumlah 10 pemain. Instrumen penelitian menggunakan tes tulis dan lembar observasi. Pengumpulan data untuk mengetahui kemampuan memahami dalam strategi menyerang menggunakan tes tulis dan kemampuan menerapkan dalam strategi menyerang menggunakan observasi terhadap pemain sepakbola Universitas Negeri Malang yang sedang bertanding. Analisis data menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan pemain sepakbola Universitas Negeri Malang dalam memahami strategi menyerang sebesar 74,76% dan kemampuan pemain sepakbola Universitas Negeri Malang dalam menerapkan strategi menyerang yaitu 88,75%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan dalam memahami strategi menyerang termasuk kategori cukup. Sedangkan kemampuan dalam menerapkan strategi menyerang termasuk kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya kemampuan dalam memahami dan menerapkan strategi bertahan, kemampuan fisik pemain sepakbola Universitas Negeri Malang, kemampuan teknik dasar pemain sepakbola Universitas Negeri Malang.

Pengembangan media interaktif berbasis kompetensi untuk pembelajaran membaca puisi / Didin Widyartono

 

Pembelajaran membaca puisi merupakan salah satu tuntutan kurikulum 2006 berbasis kompetensi. Kurikulum ini menuntut ketuntasan belajar dengan kriteria ideal. Siswa dinyatakan lulus apabila mencapai kompetensi dasar (1) 90% atau lebih, dan (2) 75% - 89%. Kategori pertama diberi program percepatan, kategori kedua diberi program pengayaan dan tidak diuji lagi. Siswa di bawah 75% diberi program remedial kemudian diuji. Bila tidak lulus, diberi remedial lagi, lalu diuji lagi. Setelah dua kali mengikuti remedial ternyata tidak lulus, berarti dia tidak punya potensi atau bakat dalam mata pelajaran tersebut, tetapi setidak-tidaknya siswa telah mencapai 60% penguasaan kompetensi dasar. Untuk mencapai tuntutan di atas diperlukan sumber daya pendukung. Salah satunya adalah media pembelajaran yang dapat digunakan guru dan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa CDMultimedia Interaktif Membaca Puisi. Pengembangan media interaktif ini ditempuh melalui tiga tahap prosedur pengembangan, yaitu (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pasca pengembangan. Sumber data kegiatan pengembangan ini adalah 5 orang guru dan siswa sebanyak 50 orang. Validasi kegiatan pengembangan ini melibatkan 3 orang ahli sebagai validasi materi dan 2 orang ahli praktisi sebagai validasi media. Jenis produk yang dihasilkan adalah e-Learning offline dengan model Browser Based Training berupa autorun CD-Multimedia Interaktif dalam format presentasi. Kegiatan pengembangan ini akan menghasilkan produk berupa media interaktif pembelajaran membacakan puisi, meliputi (1) CD-Multimedia Interaktif, dan (2) suplemen produk berupa profil media, prosedur pemanfaatan media, pemeliharaan, dan rangkuman materi. Respon terhadap pengembangan CD-Multimedia Interaktif membacakan puisi memperoleh hasil 24,00% responden sangat setuju, 70% setuju, dan 6 % tidak setuju. Manfaat pengembangan CD-Multimedia Interaktif juga direspon baik dengan 14,00% menyatakan sangat perlu, 70% menyatakan perlu, dan 2,00% menyatakan tidak perlu. Berdasarkan simpulan penelitian ini, disarankan bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif perbaikan pengembangan media pembelajaran sesuai dengan fasilitas yang disediakan sekolah. Namun secara khusus, saran dalam penelitian ini ditujukan kepada guru agar senantiasa kreatif dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran CD-Multimedia Interaktif. Pengembangan penelitian selanjutnya diharapkan menitikberatkan pada (1) ujicoba dalam kegiatan belajar mengajar, dan (2) pengembangan media pembelajaran berbasis Macromedia Dreamweaver/Autoplay Media Studio Profesional yang memiliki fitur yang lebih komplet. Hal ini disebabkan bahan pembelajaran ini disusun dengan keterbatasan fitur yang disediakan oleh software pengembang, yaitu Microsoft Power Point 2003

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XI semester II pada materi pokok asam, basa, pH, dan stoikiometri larutan / Anis Nurowidah

 

Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum. Untuk itu pemerintah telah melakukan reformasi pendidikan dengan mengeluarkan Permendiknas no.23 dan no.24 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Salah satu pendekatan dalam KBK adalah pendekatan kontekstual yang berlandaskan pada pemikiran kontruktivistik. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Prayitno dan Rahayu terhadap guru-guru MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) kimia menunjukkan bahwa sebagian besar guru dalam implementasi KTSP membutuhkan buku panduan guru yang berbasis kontruktivistik sesuai dengan karakteristik ilmu kimia. Untuk itu perlu diberikan contoh perangkat pembelajaran bagi guru sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengambangkan kurikulum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran kimia berbasis kontruktivistik dan kontekstual untus SMA/MA kelas XI semester II pada materi pokok asam, basa, dan pH dan stoikimetri larutan dan untuk mengetahui validitas perangkat menurut ahli pembelajaran kimia dan guru pengguna produk. Untuk itu peneliti mengambil judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbasis Kontruktivistik dan Kontekstual untuk SMA/MA Kelas XI Semester II pada Materi Asam, Basa, pH, dan Stoikiometri Larutan” Penelitian ini didahului dengan survei pendahuluan untuk mengetahui permasalahan dalam implementasi KTSP. Langkah selanjutnya dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran sebagai solusi permasalahan tersebut. Kemudian dilakukan validasi isi untuk melakukan revisi produk dan mengetahui kelayakan produk untuk diimplementasikan di kelas. Adapun pengambangan perangkat pembelajaran ini mengacu pada model pengembangan Dick dan Carey. Desain validasi penelitian adalah validasi dari ahli pembelajaran kimia dan guru pengguna produk pengembangan terhadap isi dan rancangan perangkat pembelajaran. Validasi dilakukan pada dua orang guru kimia SMA/MA dan dua orang dosen kimia Universitas Negeri Malang. Data yang diperoleh dari hasil validasi selanjutnya dipergunakan untuk revisi perangkat dan menentukan kelayakan perangkat pembelajaran untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis persentase. Berdasarkan hasil penelitian dari validator, secara umum perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid dengan skor presentase sebesar 85.29% dengan demikian Perangkat Pembelajaran Kimia Berbasis Konstruktivistik dan Kontekstual untuk SMA/MA Kelas XI Semester II pada Materi Pokok Asam, Basa, dan pH dan Stoikiometri Larutan yang telah dikembangkan telah layak untuk dipergunakan dalam pembelajaran di kelas. Uji coba terhadap perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam pembelajaran di kelas sangat diperlukan agar diketahui keefektifan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran ini.

Pengaruh kondisi sarana dan prasarana perkuliahan terhadap motivasi belajar mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Muammar Zaidy A.

 

Motivasi merupakan suatu kondisi yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan. Dengan demikian dalam belajar, peserta didik sangat memerlukan motivasi untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Motivasi dalam belajar berfungsi sebagai motor penggerak dari kegiatan belajar yang dilakukan. Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar, baik faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar. Faktor dari dalam yang mempengaruhi motivasi belajar seperti kondisi fisik dan psikologis peserta didik, kemampuan dan cita-cita yang dimiliki. Dari luar, faktor yang mempengaruhi motivasi belajar seperti kondisi keluarga, kondisi lingkungan lembaga pendidikan maupun kondisi lingkungan masyarakat sekitar. Kondisi sarana dan prasarana perkuliahan merupakan bagian dari faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi belajar yang dimiliki oleh mahasiswa sebagai peserta didik. Tingkat motivasi yang dimiliki oleh mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh sarana perkuliahan, tapi juga dipengaruhi oleh prasarana perkuliahan walaupun tidak berhubungan secara langsung dengan aktifitas belajar yang dilakukan oleh mahasiswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah kondisi sarana perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2006/2007? (2) Bagaimanakah kondisi prasarana perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2006/2007? (3) Bagaimanakah tingkat motivasi belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2006/2007? (4) Adakah pengaruh antara kondisi sarana dan prasarana perkuliahan dengan motivasi belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kondisi Sarana Dan Prasarana Perkuliahan Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Berdasarkan tujuan tersebut, maka metode yang digunakan adalah metode angket dan dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2004, 2005 dan 2006 sebanyak 528 orang mahasiswa. Sampel untuk penelitian ini sebesar 15% dari jumlah populasi yaitu 79 orang. Jenis rancangan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2007. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Kondisi sarana perkuliahan yang ada di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tergolong dalam kategori baik. Kondisi prasarana perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tergolong dalam kategori baik. Sedangkan motivasi belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pemnagunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tergolong tinggi. (2) Secara parsial, sarana perkuliahan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa, terbukti dari sig t (0.001) < α (0.05). Prasarana perkuliahan juga mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa secara signifikan, terbukti dari sig t (0,002) < α (0,05). (3) Secara simultan, sarana dan prasarana perkuliahan berpengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa yang ditunjukkan dengan nilai sig F (0.000) < α (0.05). Nilai adjuster R square sebesar 0,530. hal ini berarti 53% perubahan variabel motivasi belajar (Y) disebabkan oleh perubahan atau pengaruh variabel sarana dan prasarana perkuliahan. Sedangkan sisanya 47% sisanya dijelaskan oleh variabel bebas selain variabel sarana dan prasarana perkuliahan yang dimaksud dalam penelitian ini. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi sarana perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tergolong baik, Prasarana perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tergolong baik dan tingkat motivasi belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tergolong tinggi. Secara parsial dan simultan ada pengaruh yang signifikan antara kondisi sarana dan prasarana perkuliahan terhadap motivasi belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang . Oleh karena itu peneliti menyarankan pihak Fakultas agar lebih menjaga serta merawat sarana dan prasarana yang ada agar mahasiswa lebih termotivasi dalam belajar.

Penerapan metode problem solving dalam pembelajaran IPS-Geografi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Sriwedari Malang / Susanti Ely Setiorini

 

Metode pembelajaran yang banyak digunakan di sekolah adalah ceramah, tanya jawab, dan diskusi kecil, sehingga siswa kurang aktif. Kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru, siswa hanya mencatat apa yang mereka lihat, dengar, dan baca, sehingga hasil belajar siswa kurang maksimal. Untuk mengurangi atau mengatasi hal tersebut diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Problem solving merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk aktif berpikir, bertanya, menjawab, dan berkomentar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar siswa dengan dterapkannya metode problem solving dalam pembelajaran IPS-Geografi. Jenis penelitian ini adalah Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2006/2007, tepatnya pada bulan maret-april 2007. subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIB sebanyak 35 anak, terdiri dari 19 putra dan 16 putri. Hasil penelitian pada siklus I menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode problem solving mampu meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 68,77 sedangkan pada siklus II sebesar 75,7, sehingga mengalami peningkatan sebesar 6,93. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode problem solving dalam pembelajaran IPS-Geografi dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya di SMP Sriwedari Malang. Temuan-temuan yang diperoleh adalah sebagai berikut: (1) aktivitas siswa dengan penerapan metode problem solving dalam pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa mengalami peningkatan; (2) penerapan metode problem solving dalam pembelajaran dapat meningkatkan daya berpikir siswa. Dari hasil penelitian ini disarankan bahwa guru geografi hendaknya menerapkan metode problem solving dalam pembelajaran IPS-Geografi pada pokok bahasan yang sesuai, antara lain unsur sosial wilayah Indonesia dan dinamika penduduk, sehingga mengaktifkan siswa. Bagi sekolah diharapkan dapat menciptakan suasana yang kondusif salah satunya dengan menyediakan media pembelajaran berupa OHP dan LCD agar pembelajaran problem solving dapat berlangsung lebih efektif. Bagi peneliti lanjut disarankan untuk menggunakan media yang tepat dan sesuai sebagai pendukung dalam proses pembelajaran, agar problem solving dapat terlaksana dengan baik serta mengalokasikan waktu dengan baik.

Hubungan pengetahuan ekologi, motivasi dan sikap masyarakat dengan upaya pelestarian hutan di Desa Kayumas Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo / Nufi Sudarmianti

 

Hutan merupakan bagian dari sumber daya alam yang memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial serta pembangunan dalam lingkungan hidup. Kaskoyo (2005:7) mengungkapkan bahwa masyarakat mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam mengelola hutan yaitu pertimbangan manfaat ekonomi dan manfaat ekologi. Tetapi dalam pemanfaatannya, masyarakat seringkali hanya memikirkan manfaat ekonomis daripada manfaat ekologi. Bentuk-bentuk pemanfaatan ekonomi seperti pengembalaan ternak di hutan, menebang kayu untuk kayu bakar maupun untuk dijual dan pembukaan lahan dengan membakar hutan. Hal-hal tersebut telah merusak fungsi hutan sebagai fungsi konservasi dan fungsi lindung. Pengetahuan ekologi dipandang sebagai suatu kunci utama dalam upaya pelestarian hutan. Usaha memperkenalkan pengetahuan ekologi kepada masyarakat dapat disampaikan melalui jalur formal dan jalur nonformal yang bertujuan agar mayarakat pemahaman tentang ekologi hutan secara luas dan nantinya diharapkan tumbuh motivasi dan selanjutnya terbentuk sikap yang lebih merespon usahausaha untuk melestarikan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan secara parsial maupun simultan antara pengetahuan ekologi, motivasi dan sikap masyarakat dengan upaya pelestarian hutan di Desa Kayumas Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo yang dijabarkan dalam 4 hipotesis. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan metode survei. Sampel diambil sebanyak 100 responden yang terbagi dalam 2 dusun dan letaknya berdampingan dengan kawasan hutan dengan metode purposive sampling. Kawasan hutan tersebut berada dalam naungan KRPH (Kesatuan Resor Pemangku Hutan) Kayumas dan KRPH Bayeman. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner, observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah analisis persentase dan grafik, korelasi product moment Pearson serta regresi ganda. Hasil penelitian diperoleh bahwa (1) ada hubungan yang positif dan cukup kuat antara pengetahuan ekologi dan upaya pelestarian hutan dengan r hitung 0,522 (2) ada hubungan yang positif dan cukup kuat antara motivasi dan upaya pelestarian hutan dengan r hitung 0,549 (3) ada hubungan yang positif dan cukup kuat antara sikap dan upaya pelestarian hutan dengan r hitung 0,552 (4) ada hubungan yang secara simultan antara pengetahuan ekologi, motivasi dan sikap dengan upaya pelestarian hutan dengan r hitung 37,185. Pengetahuan ekologi memiliki sumbangan terbesar terhadap upaya pelestarian hutan di Desa Kayumas Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo.

Penerapan asesmen portofolio dalam pembelajaran matematika kelas X-E MAN Tulungagung 2 / Richie Damayanti

 

Praktek evaluasi terhadap kerja siswa dalam bentuk penugasan cenderung diabaikan dan tidak diperhitungkan sebagai suatu bentuk penilaian alternatif yang lebih bermakna. Untuk meningkatkan kualitas evaluasi yang demikian perlu diterapkan dan dikembangkan asesmen alternatif salah satunya adalah asesmen portofolio. Oleh karena itu, penulis ingin mengadakan penelitian dengan menggunakan penerapan asesmen portofolio pada siswa kelas X-E di MAN Tulungagung 2. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan asesmen portofolio dalam pembelajaran matematika kelas X-E MAN Tulungagung 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Data penelitian diperoleh dari guru dan siswa melalui teknik: observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Beberapa perangkat yang perlu dipersiapkan sebelum menerapkan asesmen portofolio dalam pembelajaran matematika, yaitu: mempersiapkan Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS), menetapkan bukti-bukti yang harus dikumpulkan ke dalam portofolio yang berkaitan dengan minat belajar dan pemahaman konsep (jurnal belajar, quiz, proyek, dan wawancara) serta mempersiapkan format penilaian portofolio. Penilaian yang dilakukan yaitu dengan memperhatikan dan menyesuaikan format penilaian yang telah disepakati antara guru dengan siswa serta memperhatikan standar ketuntasan belajar minimum (SKBM) yang telah ditentukan oleh sekolah. Adapun saran yang dapat disampaikan adalah peran guru untuk senantiasa memberikan pengarahan, perhatian, dan bimbingan kepada siswa dalam menyusun portofolio, dan juga pengaturan waktu yang tepat dalam penerapan asesmen portofolio. Hal tersebut sangat mendukung tercapainya tujuan asesmen portofolio yang diharapkan oleh guru.

Hubungan persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi dengan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Malang / Khoyro Ummah al Fitri

 

Pengaruh selisih suku bunga dan selisih tingkat inflasi terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (pengujian international fisher effect dan purchasing power parity) / Afifudin Nurfatoni

 

Upaya untuk meraih manfaat dari globalisasi ekonomi harus didahului upaya untuk menentukan kurs valuta asing pada tingkat yang menguntungkan. Penentuan kurs valuta asing menjadi pertimbangan penting bagi negara yang terlibat dalam perdagangan internasional karena kurs valuta asing berpengaruh besar terhadap biaya dan manfaat dalam perdagangan internasional. Nilai tukar valuta asing selalu berubah-ubah. Banyak hal yang mempengaruhi perubahan tersebut, diantaranya adalah tingkat inflasi dan tingkat suku bunga. Teori paritas daya beli (PPP) adalah teori yang menyatakan bahwa nilai tukar akan menyesuaikan diri dari waktu ke waktu untuk mencerminkan selisih inflasi antara dua negara, akibatnya daya beli konsumen untuk membeli produk-produk domestik akan sama dengan daya beli mereka untuk membeli produk-produk luar negeri. Teori IFE (Internastional Fisher Effect) menyatakan bahwa kurs spot akan berubah dalam jumlah yang sama namun dengan arah yang berkebalikan dengan perbedaan suku bunga antara dua negara. Penelitian ini bertujuan untuk melihat eksistensi IFE dan PPP, mengetahui nilai tukar yang seharusnya berlaku berasarkan model IFE dan Model PPP, mengetahui pergerakan IFE rate dan PPP rate terhadap nilai tukar aktual rupiah., mengetahui signifikansi perbedaan nilai tukar aktual dengan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan IFE rate dan PPP rate dan untuk mengetahui pengaruh selisih suku bunga dan selisih inflasi terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah dengan didahului uji asumsi klasik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh negara-negara di dunia yaitu negara-negara yang memiliki nilai tukar mata uang terhadap rupiah dan sampel dari penelitian ini adalah Amerika Serikat (dolar), Jepang (yen), Malaysia (ringgit), dan Thailand (bath) dengan menggunakan metode puposive sampling. Periode pengujian dilakukan pada suatu periode pengamatan yang berkelanjutan (time series analysis) selama enam tahun, yaitu mulai Januari 2001 sampai Desember 2006 secara triwulan, yaitu selama 24 triwulan. Metode penelitian yang digunakan dalam menguji IFE dan PPP dilakukan dengan menggunakan uji statisistik one sample t test untuk mengetahui signifikansi perbedaan nilai tukar aktual dengan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan IFE rate dan PPP rate, analisis regresi sederhana dan uji parsial digunakan untuk mengetahui signifikansi kontribusi faktor selisih suku bunga dan tingkat inflasi terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah. Selain itu, dalam penelitian ini dilengkapi pula dengan analisis grafik model IFE dan model PPP, analisis diagram garis dan perhitungan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan IFE rate dan PPP rate. Penelitian ini menggunakan fasilitas program microsoft excel dan software SPSS 13.0 for Windows. Hasil pengujian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis grafik model IFE dan analisis grafik model PPP yang telah dilakukan pada keseluruhan negara dalam sampel penelitian memberikan kesimpulan yang sama bahwa eksistensi model IFE dan model PPP tidak terjadi dalam menentukan perubahan nilai tukar aktual rupiah terhadap mata uang negara-negara tersebut. Dari hasil perhitungan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan model IFE (IFE rate) dan model PPP (PPP rate) diketahui bahwa tidak ada satu pun nilai tukar dari perhitungan kedua model tersebut yang sama dengan nilai tukar aktualnya. Berdasarkan keseluruhan analisis diagram garis maka dapat disimpulkan bahwa nilai tukar aktual rupiah/dolar AS, rupiah/yen Jepang, rupiah/ringgit Malaysia dan rupiah/bath Thailand dalam jangka pendek tidak mampu diterangkan dengan baik oleh model IFE dan model PPP, dalam jangka pendek nilai tukar aktual cenderung menyimpang dari IFE rate dan PPP rate, namun dalam jangka panjang IFE rate dan PPP rate mampu meramalkan nilai tukar rupiah dengan baik. Berdasarkan seluruh hasil uji statistik one sample t test yang telah dilakukan untuk model IFE dan model PPP diketahui bahwa nilai tukar aktual rupiah berbeda secara signifikan dengan nilai tukar berdasarkan model IFE (IFE rate) maupun model PPP (PPP rate) pada keseluruhan negara. Berdasarkan seluruh hasil analisis regresi sederhana untuk model IFE dan model PPP diketahui bahwa selisih suku bunga berdasarkan model IFE tidak berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah dan selisih tingkat inflasi berdasarkan model PPP tidak berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk pengujian International Fisher Effect dan Purchasing Power Parity selanjutnya untuk memperpanjang periode pengujian dan memperhatikan pengambilan periode dasar pada saat nilai tukar ekuilibrium serta memperhatikan perbedaan suku bunga dan tingkat inflasi negara-negara yang menjadi obyek penelitian dengan mengambil negara-negara yang memiliki perbedan suku bunga dan tingkat inflasi yang tidak terlalu jauh.

Pengaruh kualitas pelayanan pramuwisata terhadap loyalitas wisatawan pasca berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu / Retno Wisudawati

 

Abstrak Wisudawati, Retno ., 2007. Pengaruh Kualitas Pelayanan Pramuwisata terhadap Loyalitas Wisatawan Pasca Berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu. Skripsi, Program Studi Manajemen Pemasaran, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Agus Hermawan, M. Si,M.Bus, (II) Afwan Hariri Agus Prohimi. SE, M.Si Kata Kunci : Kualitas Pelayanan Pramuwisata, Loyalitas Wisatawan, Industri Pariwisata untuk masa sekarang dimana kondisi perekonomian yang belum stabil dapat dipandang sebagai salah satu komoditi pengganti disamping komoditi ekpor non migas lainnya, karena pariwisata dianggap mempunyai potensi besar di masa yang akan datang. Dalam usaha peningkatan kualitas di sektor pariwisata ini, diperlukan adanya peningkatan mutu pelayanan. Jika bicara mengenai pariwisata maka hal ini terkait dengan pramuwisata sebagai wakil dari perusahaan yang dapat berpengaruh terhadap usaha pemasaran wisata. Kusuma Agrowisata adalah salah satu dari sekian banyak obyek wisata.Kualitas pelayanan pramuwisata yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu sikap dan kepribadian, tingkah laku, dan kemampuan pramuwisata merupakan komponen yang harus dimiliki oleh setiap pramuwisata dalam memberikan pelayanan agar dapat bertindak sebagai “duta” dan sebagai petugas “after sales service”. Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan pramuwisata (X) baik secara parsial maupun simultan terhadap loyalitas wisatawan pasca berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu (Y), serta untuk mengetahui komponen dari kualitas pelayanan pramuwisata yang dominan mempengaruhi loyalitas wisatawan pasca berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu. Penentuan sampel menggunakan rumus Danniel & Terrel infinited dengan  = 5 %, sehingga didapat jumlah sampel sebesar 73 orang. Teknik sampling adalah dengan menggunakan accidental sampling. Kuisioner dalam penelitian ini tergolong kuisioner tertutup dengan skala likert 4 tingkat. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, dan regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh antara sikap dan kepribadian (x1) , tingkah laku (x2) dan kemampuan pramuwisata (x3) terhadap loyalitas wisatawan pasca berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu dengan nilai 1 = 0,077 dan nilai signifikansi t1 = 0,042; nilai 2 = 0,070 dan nilai signifikansi t2 = 0,029; nilai 3 = 0,525 dan nilai signifikansi t3 = 0,000. (2) terdapat pengaruh antara sikap dan kepribadian, tingkah laku, dan kemampuan pramuwisata secara simultan terhadap loyalitas wisatawan pasca berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu dengan nilai F hitung sebesar 21,083 dan tingkat signifikansi sebesar 0,000.(3) sub variabel dari kualitas pelayanan pramuwisata yang dominan berpengaruh terhadap loyalitas wisatawan pasca berkunjung di Kusuma Agrowisata Batu adalah kemampuan pramuwisata dengan nilai t hitung = 4,296 dengan tingkat signifikansi 0,000 Saran dalam penelitian ini adalah : (1) Diadakan peningkatan kualitas pelayanan secara keseluruhan yang terkait dengan kualitas pelayanan pramuwisata dengan mengadakan pelatihan dan pembinaan bagi pramuwisata secara intensif sebelum melaksanakan tugas.(2) Peningkatan kemampuan verbal pramuwisata sehingga komunikasi 2 arah antara pramuwisata dan wisatawan berjalan dengan baik dan lebih komunikatif. (3) peningkatan kemampuan pramuwisata dalam hal penguasaan materi mengenai pengetahuan di bidang pertanian dan perkebunan serta budidaya tanaman perlu lebih ditingkatkan. (4) pramuwisata harus lebih aktif dan kreatif dalam memberikan penjelasan.(5) peningkatan pembinaan bagi trainee masih sangat diperlukan agar trainee memiliki wawasan yang sama dengan pramuwisata lain

Faktor-faktor penyebab rusaknya ekosistem hutan mangrove di pantai Ambat Kabupaten Pamekasan / Nurman Muliawan

 

Hutan Mangrove atau Mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Pelaksanaan pengelolaan ekosistem hutan mangrove sering berupa konflik kepentingan, disatu sisi untuk kepentingan ekonomi dan disisi lain untuk kepentingan konservasi, sehingga menibulkan dampak kerusakan bagi hutan Mangrove itu sendiri. Tak terlepas pula Hutan Mangrove yang ada di Kabupaten Pamekasan terus mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab rusaknya ekosistem Hutan Mangrove yang ada di Kabupaten Pamekasan. Penelitian dilakukan pada Bulan November 2006 sampai dengan Bulan Maret 2007, di Desa Ambat Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. Analisis yang digunakan adalah Analisis Deskriptif, dengan tujuan untuk membuat penjelasan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor dan sifat-sifat populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah penduduk yang tinggal di Desa Ambat Dusun Laok Saba yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Sampel responden yang digunakan sebanyak 25% dari 240 responden, atau sebanyak 60 renponden. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara. Letak Astronomis Kabupaten Pamekasan berada pada 1130 19’ – 1130 58’ BT dan 60 51’ – 70 31 LS, memiliki luas daratan 79.230 ha dan luas lautan 18.000 ha, dengan 13 Kecamatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang menjadi faktor penyebab kerusakan Hutan Mangrove di Kabupaten Pamekasan adalah aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan pembuangan sampah rumah tangga ke laut, serta faktor alam yang sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi fisik hutan mangrove. Tingkat kerusakan hutan mangrove yang ada di Desa Ambat tergolong sangat rusak karena persentase kepadatannya hanya berada pada 5-6%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyebab kerusakan hutan mangrove adalah aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup serta tidak sesuainya faktor alam dengan kondisi fisik yang dibutuhkan hutan mangrove, maka dari itu disarankan agar dilakukan penyuluhan terhadap penduduk dan dilakukan rehabilitasi terhadap hutan mangrove yang mengalami kerusakan.

Tinjauan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan kesiapan guru biologi untuk melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di MTs Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan / Imroatus Sholihah

 

Faktor utama yang dapat menentukan tinggi rendahnya mutu pendidikan adalah kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum, sosok yang paling dekat adalah guru. Dengan demikian pemahaman guru mengenai konsep kurikulum (KBK/KTSP) memegang peranan penting dalam menentukan kualitas pendidikan. Pelaksanaan kurikulum menuntut tenaga pengajar yang terampil dan berkualitas agar dapat mencapai kompetensi yang diharapkan oleh kurikulum. Oleh karena itu perlu adanya kesiapan dari para pelaksananya, diantaranya adalah guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui sejauh mana pelaksanaan KBK yang dilakukan oleh guru biologi MTs di kecamatan Paciran, (2) mengetahui adanya faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan KBK, dan (3) mengetahui kesipaan guru biologi di MTs kecamatan Paciran terhadap pelaksanaan KTSP. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif, karena untuk memperoleh informasi, melukiskan, dan menafsirkan keadaan yang ada saat penelitian berlangsung, yaitu untuk memperoleh gambaran faktual dari suatu kondisi mengenai sejauh mana pelaksanaan KBK serta kesiapan guru untuk melaksanakan KTSP. Instrumen yang digunakan berupa angket, wawancara, dan dokumen. Subyek penelitian ini adalah guru biologi MTs di kecamatan Paciran kabupaten Lamongan. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan Februari sampai Juli 2007. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan KBK dengan baik, meskipun belum secara maksimal. Faktor pendukung yang ditemui oleh guru dalam pelaksanaan KBK diantaranya adalah motivasi dari guru sendiri, dukungan dari guru-guru lain, dari lingkungan sekolah, dan pemerintah dan faktor penghambat yang ditemui oleh guru dalam melaksanakan KBK diantaranya adalah kurang adanya kelengkapan media pembelajaran sebagai penunjang kelancaran proses pembelajaran, keterbatasan sarana/fasilitas seperti laboratorium, kesulitan dari guru sendiri untuk bisa menerapkan KBK dalam proses pembelajaran secara maksimal, dan dari siswa. Guru siap melaksanakan KTSP pada tahun ajaran baru 2007/2008 dengan pemahaman tentang konsep KTSP yang mereka miliki dari hasil sosialisasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: faktor penghambat yang ditemui oleh guru segera dibenahi, agar pelaksanaan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan oleh kurikulum, baik itu oleh guru sendiri, kepala sekolah, maupun perangkat sekolah yang lain. Kekurangan yang ada pada pelaksanaan KBK seperti penyusunan desain pembelajaran/RPP yang kurang lengkap dan kurang baik, sebaiknya segera diperbaiki oleh guru untuk menunjang pelaksanaan KTSP pada tahun ajaran 2007/2008 dengan maksimal. Lembaga kependidikan atau lembaga-lembaga yang berwenang mengadakan sosialisai, diharapkan lebih mengoptimalkan sosialisasi kurikulum dengan melibatkan semua guru.

Penerapan pendekatan scaffolding untuk pembelajaran akuntansi siswa kelas XD di SMK Shalahuddin Malang / Iud Denny Sagita

 

Implementasi modul bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari berbasis learning cycle pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Nganjuk / Eka Nurliana

 

Salah satu karakteristik pembelajaran berdasarkan kurikulum 2004 adalah menggunakan modul sebagai perangkat pembelajaran. Telah dikembangkan modul pembelajaran Bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari dengan model daur belajar (learning cycle) oleh Susilowati (2004) yang telah divalidasi isi tetapi belum pernah diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, pada penelitian ini diimplementasikan modul yang telah disusun tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran menggunakan modul di kelas VII SMP Negeri 4 Nganjuk dengan materi pokok bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari, (2) mendeskripsikan hasil belajar siswa setelah belajar kimia menggunakan modul, (3) mendeskripsikan persepsi siswa terhadap penggunaan modul dalam proses pembelajaran sains kimia, (4) mendeskripsikan validasi empirik modul yang digunakan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 4 Nganjuk yang berjumlah 7 kelas sebanyak 280 siswa. Dalam penelitian ini diambil kelas VII-6 yang terdiri dari 40 orang sebagai kelas eksperimen. Sedangkan kelas VII-7 yang terdiri dari 40 orang sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diajar dengan menggunakan modul, sedangkan kelas kontrol diajar tanpa menggunakan modul. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi untuk mengetahui keaktifan siswa selama proses pembelajaran, pemberian postes untuk mengukur hasil belajar sains kimia, dan angket untuk data persepsi siswa. Analisis data terdiri dari uji-t satu pihak dengan signifikansi α=0,05 dan teknik persentase yang kemudian dikualifikasikan. Keterlaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP dan pembelajaran dengan menggunakan modul membuat siswa cenderung lebih aktif ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang bertanya, menjawab dan menanggapi jawaban siswa lain selama proses pembelajaran. Hasil penelitian dari uji analisis data, diperoleh thitung(2,185) > ttabel(1,665) sehingga siswa yang diajar dengan menggunakan modul hasil belajarnya lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan modul. Persepsi siswa terhadap modul yang digunakan secara umum adalah positif. Validasi empirik didasarkan pada keterlaksanaan pembelajaran sudah sesuai dengan RPP dan pembelajaran dengan menggunakan modul membuat siswa cenderung aktif, hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan modul lebih tinggi dibanding hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan modul, persepsi siswa terhadap modul yang digunakan adalah positif sehingga modul materi pokok bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari berbasis LC layak digunakan.

Perbandingan efisiensi persiapan cuplikan dengan metode destruksi basah dan destruksi kering pada penentuan kadar besi (Fe) dalam daun bayam dengan menggunakan spektrofotometri serapan atom / Resti Yuliardan

 

Salah satu komposisi gizi yang penting bagi tubuh pada daun bayam adalah zat besi. Persiapan cuplikan untuk penetapan besi dalam daun bayam dapat menggunakan dua metode destruksi yaitu destruksi kering dan destruksi basah. Sampel yang sudah didestruksi kemudian dianalisis secara spektrofotometri serapan atom (AAS). Penelitian ini bertujuan membandingkan efisiensi antara metode destruksi kering dan destruksi basah. Proses destruksi basah menggunakan asam nitrat pekat, sedangkan proses destruksi kering melalui pemanasan dengan suhu tinggi yaitu antara 400-500oC, selama beberapa jam. Rancangan penelitian pada penelitian ini adalah eksperimental, dengan langkah-langkah, (1) pengeringan sampel, (2) destruksi sampel, (3) pengukuran analit secara Spektrofotometri Serapan Atom (AAS). Kondisi analisis pada destruksi kering adalah mengabukan sampel pada suhu 400 C ,500 C , 600 C , 700 C , 800 C dan waktu pengabuan selama 5 jam. Proses destruksi basah menggunakan asam nitrat kemudian dipanaskan pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa destruksi basah menghasilkan kadar Fe sebesar 4 .10 -2 mg/g, sedang destruksi kering diperoleh suhu optimal yang diperoleh adalah 400-500 C dengan waktu pengabuan selama 5 jam memperoleh kadar Fe sebesar 1,5.10 -1 mg/g. Kadar Fe dalam daun bayam dari hasil destruksi kering lebih mendekati data fisiologis kadar Fe dalam daun bayam yaitu 1,5 . 10 -1 mg/g . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa destruksi kering lebih efisien daripada destruksi basah.

Penerapan metode variabel terpisah untuk menyelesaikan persamaan gelombang dua dimensi dan persamaan gelombang tiga dimensi / Yenri Wahyuningtyas

 

Persamaan diferensial sering muncul dalam model matematika yang mencoba menggambarkan keadaan kehidupan nyata. Dalam penggunaan dibidang Fisika seperti pada persamaan gelombang dua dimensi dan persamaan gelombang tiga dimensi merupakan persamaan diferensial parsial yang linier dan homogen. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk menerapkan metode variabel terpisah dalam penyelesaian persamaan gelombang dua dimensi dan persamaan gelombang tiga dimensi. Dalam skripsi ini akan dibahas masalah nilai batas pada persamaan gelombang dua dimensi dan persamaan gelombang tiga dimensi dengan syarat batas homogen, yaitu: (i) persamaan gelombang dua dimensi berbentuk dengan pergeseran awal sebagai fungsi dan kecepatan awal sebagai fungsi merupakan syarat awalnya. (ii) persamaan gelombang tiga dimensi berbentuk dengan syarat awal sebagai pergeseran awal dan sebagai kecepatan awal. Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa metode variabel terpisah merupakan metode alternatif dalam menyelesaikan persamaan gelombang dua dimensi dan persamaan gelombang tiga dimensi. Penyelesaian dengan metode ini berupa deret tak hingga yang masih mengandung koefisien yang digandakan dengan fungsi sinus atau cosinus. Dalam hal ini, deret Fourier ganda digunakan untuk menyelesaikan persamaan gelombang dua dimensi dan deret Fourier tripel digunakan untuk meyelesaikan persamaan gelombang tiga dimensi.

Nilai-nilai moral pada upacara perkawinan adat walagara masyarakat suku Tengger di Desa Jetak Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo / Sri Wakhyuningsih

 

Walagara merupakan suatu proses perkawinan adat masyarakat Tangger yang dianggap sebagai akad nikah cara adat antara seorang pria dan wanita yang bersifat unik dan khas. Adanya akad nikah cara adat ini, bertujuan agar perkawinan kedua mempelai diketahui oleh umum dan juga Sang Mbaurekso desa. Perkawinan dianggap sah apabila telah melalui upacara ini. Dalam upacara perkawinan adat Walagara terdapat nilai-nilai moral yang sangat kuat dipegang teguh oleh masyarakat Tengger di Desa Jetak Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo sampai saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan keyakinan yang melandasi upacara perkawinan adat Walagara, pelaksanaan upacara perkawinan adat Walagara, makna dan nilai moral yang terkandung dalam pelaksanaan upacara terssebut. Jenis penelitian ini adalah etnografi, sedangkan pendekatan penelitiannya adalah kualitatif deskriptif. Yaitu berusaha memperoleh informasi deskriptif melalui data yang dikumpulkan. Penelitian ini dilakukan di Desa Jetak pada bulan April sampai Juni 2007. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dengan pola interaktif. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data menggunkan teknik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan yang melandasi upacara perkawinan adat Walagara adalah keyakinan adanya roh dalam setiap raga manusia, mendasari perilaku religi pada masyarakat Jetak dalam ritual yang berkaitan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Keyakinan adanya roh leluhur, nenek moyang dan roh Sang Mbaurekso desa yang masih melekat pada masyarakat desa Jetak mempengaruhi pada ritual upacara perkawinan adat Walagara. Pelaksanaan upacara perkawinan adat Walagara terdiri atas tiga tahap yaitu tahap persiapan meliputi pemilihan jodoh dan perhitungan hari menggunakan kalender Tengger yang berpatokan pada kalender Hindhu, tahap pelaksanaan meliputi pasrah manten, temu manten, jopo mantra, pemberkahan dan sembahan, pangkon atau peturon pengantin, nduliti dan tahap penutu yang disebut prosesi banten kayoban agung. Makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara perkawinan adat Walagara antara lain: (1) Tahap persiapan yaitu perhitungan hari mengandung makna bahwa dalam melaksanakan upacara perkawinan adat Walagara memerlukan perencanaan yang matang. (2) Tahap pelaksanaan yang terdiri dari japa mantra mengandung makna mengundang roh-roh nenek moyang, roh leluhur dan roh penjaga desa. Pemberkahan dan sembahan mengandung makna penyucian perilaku mempelai sebelum menikah. Sembahan mengandung makna penghormatan pada leluhur. Pangkon atau peturon pengantin (kamar Pengantin) mengandung makna bahwa peturon pengantin merupakan tempat suami memberikan nafkah batin pada istri. Agar tidak diganggu roh jahat dan juga dapat menghasilkan keturunan yang baik, tempat tersebut harus dibacakan mantra dan diberikan sesaji. Nduliti mengandung makna permohoan restu pada semua orang yang hadir, orang tua, kerabat serta makhluk halus. (3) Tahap penutup, banten kayoban mengandung makna wujud ikatan batin keluarga antara pihak laki-laki dan perempuan dan kedua mempelai sah menjadi pasangan suami isteri. Sedangkan nilai moral yang terkandung adalah nilai moral yang berkaitan dengan Ketuhanan, nilai moral sosial dan nilai moral individual. Dari hasil penelitian yang dilakukan, saran-saran dari peneliti adalah sebagai berikut: (1) Kurang dikenalnya upacara perkawinan adat Walagara oleh masyarakat luas baik di Indonesia maupun manca negara, oleh karena itu diharapkan kepada generasi muda Tengger khususnya di Desa Jetak agar meningkatkan kepedulian terhadap budaya daerahnya serta mempertahankan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang. (2) Pemerintah daerah perlu membuat suatu kebijakan khusus yang dapat menunjang penyelenggaraan upacara perkawinan adat Walagara. Selain itu perlu adanya kerja sama antara Dinas Pariwisata dengan pelaku budaya di Desa Jetak, guna melestarikan upacara perkawinan adat Walagara yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang kuat. (3) Diharapkan akan ada penelitian yang lebih lanjut yang akan lebih menyempurnakan hasil penelitian ini.

Pengembangan model asesmen kemampuan melaksanakan praktikum fisika dasar I pokok bahasan percobaan gaya gesek di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Agung Sudarminto

 

ABSTRAK Sudarminto, A. 2007. Pengembangan Model Asesmen Kemampuan Melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I Pokok Bahasan Percobaan Gaya Gesek di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Eny Latifah, S. Si., M. Si., (2) Dr. Lia Yuliati, M. Pd. Kata kunci: gaya gesek, kemampuan praktikum, model asesmen. Praktikum Fisika Dasar I merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Jurusan Fisika. Kegiatan penilaian dalam praktikum tersebut belum mengukur kemampuan mahasiswa melaksanakan praktikum. Hal ini disebabkan karena instrumen penilaian yang digunakan masih bersifat umum dan belum terfokus pada hal-hal yang lebih rinci dan operasional. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan model asesmen yang dapat mengukur kemampuan melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I khususnya pokok bahasan Percobaan Gaya Gesek di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengukur efektivitas model yang diujicobakan pada penilaian kegiatan Praktikum Fisika Dasar I. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan (Research And Development, R & D). Metode penelitian yang digunakan adalah metode evaluatif. Subyek ujicoba model asesmen ini adalah mahasiswa angkatan 2006/2007 yang mengikuti mata kuliah Praktikum Fisika Dasar I di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian ini berupa model asesmen yang dapat mengukur kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I pokok bahasan Percobaan Gaya Gesek di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Model asesmen ini mencakup beberapa aspek yaitu: tujuan asesmen, kemampuan praktikum yang diukur, indikator penilaian, kriteria penilaian (rubric), bobot nilai tiap kemampuan yang dinilai, cara penilaian dan penskoran, serta bentuk dan format model asesmen. Berdasarkan hasil uji kelayakan, model asesmen ini memperoleh skor 3,92. Model asesmen ini efektif mengukur kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I pokok bahasan Percobaan Gaya Gesek di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan praktikum menjadi lebih baik yaitu dengan persentase antara 69,11 % - 77,51 %.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian koran Jawa Pos Radar Malang / Yushendra

 

Penerapan strategi produk sebagai salah satu variabel bauran pemasaran pada Jawa Pos Radar Malang / Arifin

 

Pengontrolan inkubator bayi pada rumah sakit secara terpusat menggunakan PC / Santi Fidayanti

 

Studi perencanaan, pelaksanaan, dan analisis biaya tentang bekisting pelat pada proyek pembangunan gereja St. Vincentius A Paulo Jl. Ananas Malang / Heny Hartanto

 

Perbedaan self disclosure pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari tipe kepribadian ekstravert dan introvert / Aulia Wati Yuniar

 

Setiap hubungan memerlukan adanya komunikasi satu sama lain. Dalam komunikasi tersebut terdapat unsur pengungkapan diri individu. Self Disclosure bersifat timbal balik. Berbagai perilaku dan pola self disclosure salah satunya dipengaruhi oleh variabel tipe kepribadian. Tipe kepribadian dibagi atas salah satunya tipe kepribadian ekstravert dan introvert. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Bagaimana self disclosure mahasiswa Universitas Negeri Malang, 2) Bagaimana tipe kepribadian mahasiswa Universitas Negeri Malang, 3) Apakah ada perbedaan self disclosure pad masa dewasa awal ditinjau dari tipe kepribadian ekstravert-introvert di Universitas Negeri Malang. Desain penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 140 mahasiswa. Alat pengumpulan data berupa skala Self Disclosure yang dikembangkan berdasarkan teori dari Jourard dengan validitas berkisar 0,1- 0,74 dan reliabilitas 0,97 sedangkan Skala Tipe Kepribadian Ekstravert-introvert menggunakan Tes EPI baku adaptasi LPSP3 UI aspek ekstraversi dengan validitas berkisar 0,1647 sampai 0, 4625. Hasil penelitian menunjukkan 1) self disclosure mahasiswa Universitas Negeri Malang, rendah sebanyak 50,72% dan tinggi sebanyak 49,28% 2) tipe kepribadian ekstravert lebih besar (M=97,78) dibandingkan dengan mahasiswa tipe kepribadian introvert (M=92,98), 3) Ada perbedaan yang signifikan antara tipe kepribadian ekstravert-introvert terhadap self disclosure (t=2,658;p=0,011<0,05), Berdasarkan hasil penelitian disarankan 1) Mengingat pentingnya self disclosure dalam pengembangan hubungan dengan individu lain dan peningkatan kesehatan mental seseorang, agar lebih mengembankan self disclosure yang dimiliki dengan cara mengikuti kegiatan atau oraganisasi yang dapat mengembangkan self disclosure 2) Bagi UPT BK ataupun institusi pendidikan, diharapkan penelitian ini sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi konselor dalam melaksanakan layanan informasi serta pelaksanaan program layanan bimbingan konseling dalam bidang sosial, 3) Bagi peneliti yang juga menaruh perhatian pada topik penelitian self disclosure disarankan untuk menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode eksperimen mengingat banyaknya mahasiswa yang memiliki self disclosure rendah. Dalam pengambilan sampel disarankan untuk menggunakan teknik pengambilan sampel yang memberikan ketelitian yang lebih besar serta mengambil sampel dari daerah yang lain sebagai bandingan dan memperbanyak faktor-faktor yang turut mempengaruhi self disclosure , sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat.

Hubungan persepsi siswa tentang kondisi fisik sekolah dan motivasi belajar di SMA Panjura Malang / Vico Retno Syahputri

 

ABSTRAK Syahputri, Vico Retno. 2007. Hubungan Persepsi Siswa tentang Kondisi Fisik Sekolah dan Motivasi Belajar di SMA Panjura Malang. Skripsi Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Drs. Moh.Irtadji, M.Si, Pembimbing II Tutut Chusniyah, M.Si. Kata kunci: persepsi, motivasi belajar Kegiatan belajar siswa akan berjalan dengan efektif dan efisien serta dapat mencapai target yang maksimal, jika terdapat motivasi yang tinggi. Kelengkapan prasarana dan sarana seperti gedung sekolah yang menyenangkan, fasilitas kelas yang bersih, dan lingkungan sekolah yang nyaman sebagai pendorong siswa untuk dapat berprestasi dalam belajarnya. Penelitian deskriptif dan korelasional ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan persepsi siswa tentang kondisi fisik sekolah di SMA Panjura Malang, (2) Mendeskripsikan motivasi belajar siswa di SMA Panjura Malang, (3) Mengetahui hubungan persepsi siswa tentang kondisi fisik sekolah dengan motivasi belajar siswa di SMA Panjura Malang. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMA Panjura Malang yang berjumlah 102 orang siswa. Sampel penelitian ini adalah 102 orang siswa yang diambil dengan teknik purposive random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala persepsi siswa tentang kondisi fisik sekolah dan skala motivasi belajar siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase dan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki persepsi tentang kondisi fisik sekolah tinggi 15,58%, siswa yang memiliki persepsi tentang kondisi fisik sekolah sedang 70,59% , siswa yang memiliki persepsi tentang kondisi fisik sekolah rendah 13,73%, siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi 14,71%, siswa yang memiliki motivasi belajar sedang 73,53%, dan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah 11,76%. Selain itu juga terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa tentang kondisi fisik sekolah dan motivasi belajar di SMA Panjura Malang. Dari hasil penelitian ini, maka saran yang disampaikan, yaitu bagi kepala sekolah, diharapkan dapat menetapkan kebijakan-kebijakan dan menambah fasilitas yang dibutuhkan oleh siswa untuk meningkatkan motivasi belajarnya, bagi konselor, hendaknya dapat memberi materi pelayanan mengenai motivasi belajar, bagi guru, hendaknya mampu memanfaatkan fasilitas sekolah dalam memberi materi pelajaran pada siswa guna meningkatkan persepsi dan motivasi belajar siswa, bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan dengan teknik dan cara yang lebih beragam (observasi, wawancara, dan seterusnya). Selain itu juga variabel dapat dikaitkan dengan uji pengaruh veriabel-variabel lain, sehingga didapat penelitian yang lebih luas dan komperhensif.

Pengaruh financial leverage dan likuiditas terhadap dividend payout ratio melalui profitabilitas pada perusahaan non jasa keuangan yang listing di BEJ tahun 2005 / Andry Putera Ginting

 

Perbedaan prestasi belajar kewirausahaan antara siswa yang diajar dengan metode pembelajaran inquiry social dengan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional (studi pada kelas 1 SMKN 1 Malang) / Mariana Sukmawati

 

Rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadikan konteks pembaharuan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti. Salah satunya adalah peningkatan kualitas pembelajaran.Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif dan lebih memberdayakan potensi siswa. Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan nasional adalah penyempurnaan kurikulum untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional. Kurikulum 2004 ini bertumpu pada empat pilar pendidikan yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (life long learning). Pembaharuan tersebut juga terjadi di mata diklat kewirausahaan yang tidak hanya berisi muatan teori namun juga ketrampilan dan bahkan syarat dengan nilai dan sikap tertentu. Selama ini pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru masih sederhana dan menggunakan metode konvensional dimana guru lebih banyak ceramah dan siswa mendengarkan, guru memberi dan siswa menerima. Prestasi belajar sampai saat ini masih merupakan indikator mutu pendidikan di sekolah. Mata diklat kewirausahaan merupakan salah satu bidang studi yang mempunyai nilai praktis dalam kehidupan sehari-hari, karena mata diklat kewirausahaan tidak hanya digunakan oleh perusahaan melainkan dapat digunakan oleh individu dalam kehi-dupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu diterapkan metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk memecahkan masalah. Social inquiry merupakan salah satu metode mengetahui bagaimana menemukan sesuatu dan bagaimana mengetahui cara untuk memecahkan masalah Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan prestasi belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan siswa yang diajar dengan Metode Pembelajaran Konven-sional. Mendeskripsikan prestasi belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan siswa yang diajar dengan Metode Pembelajaran Inquiry Social. Menganalisis perbedaan prestasi belajar kewirausahaan siswa yang menerap-kan metode pembelajaran inquiry social dengan siswa yang menerapkan metode pembelajaran konvensional. Jenis rancangan penelitian ini adalah Randomized Control Group Only Design. Rancangan ini membutuhkan satu kelas untuk dijadikan kelas eksperimen dan satu-kelas untuk dijadikan kelas control. Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas yang diajar dengan metode pembelajaran inkuri sosial, sedangkan kelas kontrol adalah kelas diajar dengan pembelajran konvensional. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas 1 SMK Negeri I Malang tahun ajaran 2006/2007 Secara purposive diambil dua kelas sebagai sample penelitian, yaitu kelas 1 Pj 1 sebagai kelas eksperimen, dan 1 Pj2 sebagai kelas kontrol. Tidak ada kemajuan yang signifikan antara nilai pretest dengan nilai post test pada siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional. Terlihat dari mean pada pretes sebesar 61,25 sedangakan setelah post tes, prestasi belajar mata pelajaran Kewirausahaan hanya meningkat sebesar 66,13. Diketahui perbedaan prestasi belajar sebelum perlakukan dan sesudah perlakukan adalah sebesar 4,88. Rata-rata nilai siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan saat pretest berada pada ketagori buruk sedangkan, setelah postes hanya meningkat pada kategori cukup. Terdapat kemajuan yang signifikan antara nilai pretest dengan nilai post test pada siswa yang diajar dengan metode pembelajaran dengan pendekatan inquiry social. Kemajuan ini ditandai dengan meningkatnya nilai postes dari nilai pre test setelah diberikan pembelajaran dengan pendekatan inquiry social. Hal ini dibuktikan dengan mean dari pretes sebesar 60,25 sedangakan setelah post tes, prestasi belajar mata pelajaran Kewira-usahaan meningkat sebesar 79,63. Dengan demikian diketahui perbedaan prestasi belajar sebelum penerapan metode inquiry social dan sesudah penerapan metode inquiry social adalah sebesar 19,38. Dimana rata-rata nilai siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan saat pretest berada pada ketagori buruk sedangkan, setelah postes meningkat pada kategori baik Berdasarkan hasil penelitian diketahui terdapat perbedaan prestasi belajar kewirausahaan siswa yang diajar dengan metode pemebelajaran inquiry social dengan siswa yang diajar dengan metode pemelajaran konvensional pada siswa kelas 1 SMK Negeri 1 Malang. Diharapkan bagi guru mata pelajaran kewirausahaan hendaknya menggunakan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran kewirausahaan. Populasi dalam penelitian ini terbatas pada siswa kelas 1 SMK Negeri 1 Malang, maka untuk memperoleh hasil yang meyakinkan hendaknya diadakan penelitian kembali di beberapa sekolah lain. Materi yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada materi pokok merumuskan solusi masalah dan membuat keputusan. Disarankan bagi para peneliti yang berminat untuk mengadakan penelitian dapat melakukan penelitian pada materi pokok yang lain dengan menggunakan pembelajaran kontekstual.

Kontribusi kemampuan kerja dan iklim organisasi terhadap performansi kerja pada karyawan terminal tiket PT. Bayang Prima Lintas Nusa / Elda Suryani

 

ABSTRAK Suryani, Elda. 2007. Kontribusi Kemampuan Kerja Dan Iklim Organisasi Terhadap Performansi Kerja Pada Karyawan Terminaltiket PT. Bayang Prima Lintas Nusa. Skripsi. Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1). Dra. Endang Prastuti M.Si, (2) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata kunci : kemampuan kerja, ikllim organisasi, performansi kerja. Terminaltiket PT. Bayang Prima Lintas Nusa merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa, yaitu perusahaan yang menawarkan kemudahan dan kenyamanan proses pengurusan perjalanan seperti tiket penerbangan. Faktor kemampuan kerja karyawan dan iklim organisasi yang kondusif merupakan faktor penting untuk meningkatkan performansi kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kemampuan kerja dan iklim organisasi dengan performansi kerja karyawan Terminaltiket PT. Bayang Prima Lintas Nusa. Penelitian dilakukan pada karyawan Terminaltiket PT. Bayang Prima Lintas Nusa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasional. Subyek yang dijadikan sampel penelitian adalah para karyawan Terminaltiket sebanyak 67 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional random sampling. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa Skala Kemampuan Kerja, Skala Iklim Organisasi, dan Skala Performansi Kerja dengan menggunakan model penskalaan Likert. Analisis deskriptif menggunakan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Analisis korelasional menggunakan teknik analisis korelasi product moment dan teknik analisis regresi linier berganda dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kemampuan kerja termasuk dalam kategori sedang (68,66%); persepsi karyawan terhadap iklim organisasi termasuk dalam kategori cukup (76,12%); dan performansi kerja termasuk dalam kategori sedang (70,15%). Terdapat hubungan positif antara kemampuan kerja dengan performansi kerja (r = 0,648, p ≥ 0,05); ada hubungan positif antara iklim organisasi dengan performansi kerja (r = 0,518, p ≥ 0,05); dan ada hubungan positif antara kemampuan kerja, iklim organisasi dengan performansi kerja (R Square = 0,478), sumbangan efektif variabel kemampuan kerja sebesar 33,68% terhadap performansi kerja, sedangkan iklim organisasi sebesar 14,12%. Berdasarkan hasil penelitian, kepada karyawan untuk melihat lingkungan kerja atau iklim organisasi secara obyektif sehingga didapatkan kesesuaian diri dengan lingkungan yang akan membuat pekerjaan terasa nyaman. Bagi perusahaan, dalam usaha mencapai performansi kerja karyawan yang tinggi berdasarkan hasil dari sumbangan efektif kedua variabel, maka perusahaan dapat lebih meningkatkan kemampuan kerja karyawannya. Untuk itu perusahaan hendaknya mengadakan training, seminar, dan memberikan informasi tentang kondisi perusahaan secara kontinyu. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk mengembangkan variabel lain yang dapat mempengaruhi tingkat performansi kerja karyawan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model dua tinggal dua tamu untuk meningkatkan proses dan hasil belajar fisika siswa kelas X-1 semester I SMA Wahid Hasyim Malang / Lya Bhektia Agustina

 

Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan di SMA Wahid Hasyim Malang, diketahui bahwa hasil belajar siswa X-1 masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas X-1 untuk mata pelajaran Fisika sebesar 43,83. Hasil belajar yang rendah ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok kecil, dan tanya jawab. Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif dan tidak memberikan cukup ruang pada siswa untuk berkreativitas. Siswa juga kurang semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Pada saat proses belajar mengajar siswa tampak bosan, mengantuk, sering tidak memperhatikan penjelasan guru, dan siswa cenderung santai dalam diskusi kelompok karena kurangnya tanggung jawab individu yang dimilikinya. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu atau TSTS (Two Stay Two Stray). Model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran kooperatif yang memungkinkan siswa untuk saling bekerja sama dalam membelajarkan satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui peningkatan proses belajar siswa kelas X-1 SMA Wahid Hasyim Malang, 2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X-1SMA Wahid Hasyim Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian tindakan kelas peneliti terlibat langsung dalam seluruh proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan data. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi, tes tulis, dan angket. Penelitian dilaksanakan di kelas X-1 SMA Wahid Hasyim Malang dengan jumlah siswa 24 orang, pada materi pokok Tata Surya. Proses pembelajaran yang digunakan meliputi kegiatan persiapan, presentasi guru, kegiatan kelompok, presentasi kelas, dan evaluasi. Temuan penelitian dalam siklus I dan siklus II adalah (a) langkah pembelajaran pada siklus I mencapai prosentase 72,46% dan pada siklus II adalah 87,15%, (b) proses belajar siswa mengalami peningkatan, dilihat dari persentase ketercapaian aktivitas belajar siswa pada siklus I untuk tolok ukur B (baik) mencapai 14.17% meningkat menjadi 53.33% pada siklus II, (c) hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu pada aspek kognitif dan aspek afektif. Peningkatan aspek kognitif dilihat dari nilai rata-rata pre-test dan post-test yaitu sebesar 28,17 dan 42,50 pada siklus I sedangkan pada siklus II adalah 39,67 dan 56,75, dari nilai rata-rata LKS diperoleh sebesar 75.83% pada siklus I dan 89.84% pada siklus II. Nilai rata-rata aspek afektif siswa juga meningkat dari siklus I dan II yaitu sebesar 73.23% dan 79.58%. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan beberapa hal sebagai berikut. Pembelajaran kooperatif model Dua Tinggal Dua Tamu baik untuk diterapkan karena disamping mengandalkan kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan temannya dalam membantu menguasai materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif model Dua Tinggal Dua Tamu juga membantu siswa untuk memiliki beberapa keterampilan sosial seperti bekerjasama, berbagi tugas, mendengarkan pendapat orang lain, menghargai pendapat orang lain, kemampuan bertanya dan lain-lain yang sangat jarang diberikan dalam penerapan pembelajaran tradisional. Hendaknya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk model Dua Tinggal Dua Tamu dengan materi pelajaran yang berbeda serupa dengan materi yang telah diambil penulis, juga dalam pembelajaran model dua tinggal dua tamu ini guru perlu merencanakan waktu pembelajaran dengan tepat agar proses pembelajaran fisika berjalan efektif dan efisien.

Karakteristik masyarakat suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi / Indah Rahayu

 

Deskripsi pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik materi kesetimbangan kimia pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lawang / Retno Rikawati

 

Ilmu kimia mencakup materi yang beraneka ragam, yang meliputi fakta-fakta, konsep, hukum, teori, dan prinsip-prinsip yang sebagian besar bersifat abstrak serta perhitungan matematika. Pemahaman yang berhubungan dengan fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip, hukum, dan teori dikenal dengan pemahaman konseptual sedangkan pemahaman yang berhubungan dengan perhitungan matematika dikenal dengan pemahaman algoritmik. Penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dalam ilmu kimia dapat diketahui melalui evaluasi dalam bentuk tes pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik. Teknik evaluasi yang dilakukan selama ini cenderung lebih menekankan pada aspek algoritmik daripada aspek konseptual. Selama ini anggapan yang sering muncul adalah kesuksesan dalam memecahkan masalah secara algoritmik mengindikasikan kemampuannya dalam memahami konsep kimia. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menjelaskan bahwa banyak siswa yang sukses dalam memecahkan masalah algoritmik tidak memahami konsep kimia yang mendasari penyelesaian masalah algoritmik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek konseptual masih belum optimal dalam pembelajaran. Materi kesetimbangan kimia merupakan salah satu materi yang memuat banyak pemahaman konseptual dan algoritmik. Ada beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan dalam memahami konsep pada materi kesetimbangan kimia, tetapi penelitian tentang aspek konseptual dan algoritmik yang berkaitan dengan materi kesetimbangan kimia masih jarang dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui berapa banyak siswa yang dapat menjawab: a) pertanyaan konseptual dan algoritmik pada materi kesetimbangan kimia; b) dapat menjawab pertanyaan konseptual, tetapi salah menjawab pertanyaan algoritmik pada materi kesetimbangan kimia; c) dapat menjawab pertanyaan algoritmik, tetapi salah menjawab pertanyaan konseptual pada materi kesetimbangan kimia; dan d) tidak dapat menjawab pertanyaan konseptual maupun algoritmik pada materi kesetimbangan kimia; (2) mengetahui apakah pemahaman konseptual siswa tertinggal dari pemahaman algoritmiknya pada materi kesetimbangan kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan populasi adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lawang tahun ajaran 2006/2007. Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah 152 siswa yang terdiri dari 4 kelas yang homogen. Sampel penelitian diambil dengan teknik sampling kelompok yang dipilih dengan cara mengundi dan didapatkan kelas XI IPA 4 yang berjumlah 38 siswa sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian ini berupa tes obyektif terdiri dari 26 soal yang merupakan pasangan soal algoritmik dan konseptual dengan empat alternatif jawaban. Hasil verifikasi instrumen menunjukkan validitas isi tes sebesar 96,2% dan koefisien reliabilitas yang dihitung dengan rumus korelasi product moment sebesar 0,67. Dari hasil uji coba tersebut instrumen dinyatakan reliabel. Analisis data dilakukan dengan cara menentukan tiap jawaban benar dan salah sesuai kategori kemudian menghitung persentase jawaban siswa dalam tiap kategori, selanjutnya memberikan deskripsi tentang pemahaman siswa dalam aspek konseptual dan aspek algoritmik pada setiap kategori. Dari hasil penelitian diketahui bahwa: (1) banyaknya siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lawang yang dapat menjawab pertanyaan konseptual dan algoritmik pada materi kesetimbangan kimia sebagai berikut: (a) sebanyak 24,5% siswa dapat menjawab pasangan pertanyaan konseptual dan algoritmik pada materi kesetimbangan kimia; (b) sebanyak 10,7% siswa dapat menjawab pertanyaan konseptual, tetapi salah menjawab pertanyaan algoritmik pada materi kesetimbangan kimia; (c) sebanyak 28,1% siswa dapat menjawab pertanyaan algoritmik, tetapi salah menjawab pertanyaan konseptual pada materi kesetimbangan kimia; dan (d) sebanyak 36,7% siswa tidak dapat menjawab pertanyaan konseptual maupun algoritmik pada materi kesetimbangan kimia; (2) pemahaman konseptual siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lawang tertinggal dari pemahaman algoritmiknya pada materi kesetimbangan kimia. Hasil penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lawang masih tergolong sangat rendah untuk materi kesetimbangan kimia.

Upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar biologi melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TAi (tem assisted individualization) pada siswa kelas VIIIE SMP Negeri 1 Gedeg Mojokerto / Annis Nur Alifi

 

Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran di SMPN 1 Gedeg Mojokerto menggunakan metode ceramah, diselingi tanya jawab dan diskusi yang pembentukan kelompoknya tanpa memperhatikan kemampuan akademik, sehingga dalam proses pembelajaran siswa cenderung belajar dengan teman sebangku atau teman bermain. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization). Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Gedeg Mojokerto, pengambilan data pada bulan April-Mei 2007. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIE SMP Negeri 1 Gedeg Mojokerto yang berjumlah 41 orang. Data penelitian ini berupa motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket dan lembar observasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari selisih skor pretes dan pos tes. Ketuntasan belajar berdasarkan hasil skor postes dengan kriteria ketuntasan belajar minimal (SKM) yang ditentukan SMPN 1 Gedeg Mojokerto. Siswa mencapai ketuntasan belajar minimal jika telah mencapai skor 60 dan daya serap klasikal 80% siswa yang mencapai skor 60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menununjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase masing-masing indikator yaitu indikator Attention sebesar 20,00%, Relevance 20,02%, Confidence 7,93%, dan Satisfaction 26,83%. Skor motivasi rata-rata angket sebelum tindakan 3,13 meningkat menjadi 3,31 setelah pelaksanaan tindakan. Hasil belajar juga mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 40,00 dan hasil belajar pada siklus II sebesar 46,71 dengan persentase peningkatan sebesar 16,77%. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 78,04% dan pada siklus II meningkat menjadi 90,24%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 12,20%.

Studi komparatif keterampilan motorik dasar antara anak autis yang mengalami disfungsi integrasi sensori (DIS) dan anak autis yang tidak mengalami disfungsi integrasi sensori (non dis) di Laboratorium Sekolah Autisme Universitas Negeri Malang / Sutrisno

 

ABSTRAK Sutrisno, 2007. Studi Komparatif Keterampilan Motorik Dasar Antara Anak Autis yang Mengalami Disfungsi Integrasi Sensori(DIS) dan Anak Autis yang tidak Mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) di Laboratorium Sekolah Autisme Universitas Negeri Malang. Pembimbing: I. Dra. Siti Nurochmah, M.Kes. II. Drs. Lokananta Teguh Hari Wiguno, M.Kes. Kata Kunci : Ketrampilan motorik dasar, Autis, DIS. Kondisi sensori integrasi yang beragam antara individu yang satu dengan yang lain seperti pada anak penyandang autis yang mengalami Disfungsi Integrasi Sensori dan anak penyandang autis yang tidak mengalami Disfungsi Integrasi Sensori berpengaruh terhadap keterampilan motorik seorang anak. Beberapa faktor seperti lingkungan, perilaku, aktivitas bermain, perkembangan fisik ikut mempengaruhi tingkat keterampilan motorik dasar pada anak. Setiap anak membutuhkan keterampilan motorik dasar untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari, untuk itu keterampilan motorik dasar mutlak dimiliki dan dikembangkan pada tiap individu sejak usia dini, begitu pula pada anak-anak penyandang autis. Berdasarkan kondisi sensori yang beragam seperti pada anak penyandang autis yang mengalami Disfungsi Integrasi Sensori dan anak penyandang autis yang tidak mengalami Disfungsi Integrasi Sensori tentunya memiliki pengaruh terhadap keterampilan motorik dasar pada tiap individu. Permasalahan tersebut menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji ada tidaknya perbedaan tingkat keterampilan motorik dasar antara anak autis yang mengalami disfungsi integrasi sensori dan anak autis yang tidak mengalami disfungsi integrasi sensori di Laboratorium Sekolah Autisme Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan observasional berbentuk komparatif. Populasi yang digunakan berjumlah 48 orang anak, teknik sampling berupa proporsi purposive sistematik random sampling dengan porsi 90%, dengan demikian sampel yang digunakan dalam penelitian berjumlah 44 orang anak. Instrumen penelitian menggunakan instrumen non tes berupa observasi sistematik yang dilengkapi dengan daftar cek yang dilengkapi dengan skala likert 1-3 tentang kinerja gerak jingkat 10 m, kinerja lentuk togok, dan kinerja menangkap bola. Penelitian dilakukan di Ruang Sensori Laboratorium Sekolah Autisme Universiata Negeri Malang.. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan dianalisis dengan teknik uji t dengan bantuan kalkulator Casio fx-3600Pv dan pengujian hipotesis menggunakan taraf signifikan α 0.05. Hasil pengolahan data kinerja jingkat menunjukkan thit = 5.487 ttabel = 2.201 (α 0.05), data kelentukan togok menunjukkan thit = 4.77 ttabel = 2.201 (α 0.05) dan data menangkap bola menunjukkan thit = 5.678 ttabel = 2.201 (α 0.05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat ketrampilan motorik dasar antara kelompok anak autis yang tidak mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) dan kelompok anak autis yang mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) di Laboratorium Sekolah Autisme Universitas Negeri Malang. Tingkat keterampilan motorik dasar berupa kinerja jingkat pada anak autis yang tidak mengalami DIS = 75.23 sedangkan pada anak autis yang mengalami DIS = 60.09, tingkat keterampilan motorik dasar berupa kelentukan togok pada anak autis yang tidak mengalami DIS = 77.95 sedangkan pada anak autis yang mengalami DIS = 62.546 dan tingkat keterampilan motorik dasar berupa menangkap bola pada anak autis yang tidak mengalami DIS = 81.59 sedangkan pada anak autis yang mengalami DIS = 65.636. Berarti tingkat tingkat ketrampilan motorik dasar anak autis yang tidak mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) lebih baik di banding anak autis yang mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) di Laboratorium Sekolah Autisme Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil analisis data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa “ada perbedaan yang signifikan tingkat ketrampilan motorik dasar antara kelompok anak autis yang tidak mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) dan kelompok anak autis yang mengalami Disfungsi Integrasi Sensori (DIS) di Laboratorium Sekolah Autisme Universitas Negeri Malang”.

Pengembangan modul pembelajaran fisika materi pokok zat dan wujudnya dengan model pembelajaran 5e learning cycle untuk sains SMP kelas VII / Maya Rizqiatur Rofidah

 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22-23 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), ditetapkan Ku-rikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai kurikulum baru dalam pendi-dikan di Indonesia. KTSP merupakan perwujudan dari kurikulum berbasis kompeten-si. KTSP menuntut agar pembelajaran dilakukan secara konstruktivis, kontekstual dan student center, sehingga diperlukan model pembelajaran yang sesuai yaitu sistem pembelajaran dengan modul. Pada kegiatan pembelajaran buku pelajaran yang digu-nakan oleh siswa masih bersifat informatif, hanya memberikan konsep kepada siswa tanpa memperhatikan proses pembelajarannya. Menurut Burner dalam proses pembe-lajaran hendaknya terjadi pengurutan pembelajaran dari pengaktifan-ikonik-simbolik, agar terjadi perkembangan pola pikir pada ranah kognitif siswa. Oleh karena itu, di-perlukan suatu modul yang dapat membantu siswa untuk dapat belajar mandiri sesuai dengan tuntutan kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan me-ngetahui nilai modul Zat dan Wujudnya dengan model 5E Learning Cycle serta untuk mengetahui implementasi modul di SMPN 4 Malang dan tanggapan siswa SMPN 4 Malang setelah menggunakan modul. Penelitian dan pengembangan modul ini dilakukan melalui 2 tahap yaitu tahap studi pendahuluan dan pengembangan. Tahap studi pendahuluan terdiri dari 3 lang-kah yaitu studi pustaka, survei lapangan dan penyusunan draf produk. Pada penyu-sunan draf produk terdapat proses evaluasi modul oleh evaluator. Evaluator terdiri dari 3 orang guru fisika SMP dan 2 orang dosen fisika UM. Tahap kedua adalah tahap pengembangan. Tahap pengembangan dilakukan sampai uji coba terbatas. Uji coba terbatas dilakukan pada siswa kelas VII-C SMPN 4 Malang, yaitu dengan meng-implementasikan modul dalam pembelajaran. Implementasi modul menggunakan Pe-nelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi tahapan pembelajaran meng-gunakan modul, angket evaluasi modul, dan angket kemenarikan modul menurut sis-wa. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik persentase. Hasil pengembangan modul adalah berupa modul Zat dan Wujudnya dengan model 5E Learning Cycle yang dibagi menjadi empat sub pokok materi. Hasil eva-luasi menunjukkan bahwa komponen-komponen modul yang dikembangkan meme-nuhi kriteria baik dengan persentase 86,35%, modul diperbaiki dengan melakukan re-visi sesuai saran evaluator. Hasil implementasi modul menunjukkan bahwa modul da-pat dimplementasikan dengan baik di SMPN 4 Malang. Hal ini terlihat dari pening-katan persentase ketercapaian pelaksanaan pembelajarannya. Persentase pada siklus I sebesar 75,39 % dan mengalami peningkatan menjadi 89,45 % pada siklus II. Tang-gapan siswa SMPN 4 Malang setelah menggunakan modul pembelajaran fisika ma-teri pokok Zat dan Wujudnya adalah bahwa modul Zat dan Wujudnya menarik untuk dipelajari. Hal ini terlihat dari meningkatnya persentase kemenarikan modul menurut siswa. Persentase pada siklus I sebesar 67,68% dan mengalami peningkatan menjadi 81,33% pada siklus II. Peningkatan ini dikarenakan adanya perbaikan pada modul Zat dan Wujudnya berdasarkan Hasil refleksi siklus I.

Pengaruh penerapan model learning cycle dalam pembelajaran kimia berbahan ajar terpadu (makroskopis-mikroskopis) terhadap hasil, retensi, dan motivasi belajar kimia siswa kelas XII SMA Laboratorium UM pada materi sel elektrolisis / Munifah

 

Ilmu kimia pada dasarnya terdiri dari dua aspek, yaitu aspek makroskopis dan mikroskopis. Untuk dapat memahami kedua aspek tersebut diperlukan kemampuan berpikir yang tidak hanya menjangkau hal-hal konkrit saja tetapi juga hal-hal yang mikroskopis. Kemampuan berpikir ini menurut Piaget disebut kemampuan berpikir formal. Belum mampunya siswa mencapai tahap ini menyebabkan sering terjadinya kesalahan-kesalahan konsep dalam mempelajari kimia. Kesalahan ini dapat direduksi atau bahkan dicegah sama sekali bila strategi pembelajaran yang digunakan di kelas sesuai dengan sifat ilmu kimia dan dengan mempertimbangkan potensi dan kondisi siswanya. Untuk itu, digunakan model Learning Cycle (LC) berbahan ajar terpadu yaitu model pembelajaran kontruktivistik yang terdiri atas tahap eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep yang menggunakan model penggambaran mikroskopis untuk menggambarkan aspek mikroskopis dan metode praktikum untuk menggambarkan aspek makroskopis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model LC dalam pembelajaran kimia berbahan ajar terpadu terhadap hasil, retensi, dan motivasi belajar siswa dalam materi sel elektrolisis. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimental semu dan deskriptif. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan model LC berbahan ajar terpadu terhadap hasil dan retensi belajar kimia siswa. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk menguraikan motivasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model LC berbahan ajar terpadu. Variabel penelitian ini ada dua, yaitu variabel bebas berupa model pembelajaran, dan variabel terikat adalah hasil, retensi, dan motivasi belajar siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA SMA Laboratorium UM tahun pelajaran 2006/2007. Adapun sampel penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA-1 sebagai kelas kontrol dan kelas XII IPA-2 sebagai kelas eksperimen. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-November 2007. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi, angket, tes hasil belajar, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model LC berbahan ajar terpadu lebih baik daripada model konvensional dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA SMA Laboratorium UM. Nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model LC (=51,16) lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan menggunakan model konvensional (=40,34). Nilai rata-rata tes retensi siswa yang diajar dengan menggunakan model LC (=58,09) lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan menggunakan model konvensional (=32,33). Hasil belajar afektif dan psikomotor siswa yang menggunakan model LC berbahan ajar terpadu lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakan model LC. Motivasi siswa yang diajar dengan menggunakan model LC berbahan ajar terpadu menunjukkan hal yang positif. Tanggapan siswa dan guru terhadap pembelajaran model LC berbahan ajar terpadu sangat positif, hal ini terbukti dengan meningkatnya hasil belajar siswa.

Penggunaan modul fisika model siklus belajar 5e untuk meningkatkan kerja ilmiah dan motivasi belajar siswa kelas VII-B SMP Laboratorium UM / Khoiriyah

 

Proses pembelajaran pada pelajaran Fisika di kelas VII-B SMP Laboratorium UM, siswa sudah menggunakan modul hanya saja modul yang digunakan kurang manarik sehingga siswa kurang bersemangat untuk mempelajarinya karena lebih menekankan pada kemampuan kognitif siswa. Pada saat percobaan, siswa kurang mengerti cara melakukan percobaan. Keadaan ini menyebabkan guru kesulitan menghadapi siswa yang semakin banyak bertanya.Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut guru dan peneliti sepakat untuk menggunakan modul fisika model Siklus Belajar 5E pada pokok bahasan Zat dan Wujudnya. Modul Fisika Model Siklus Belajar 5E berbeda dengan modul yang telah digunakan sebelumnya. Modul tersebut terbagi atas 5 tahap yaitu engagement (pendahuluan), exploration (eksplorasi), explanation (penjelasan), elaboration (elaborasi), evaluation (evaluasi). Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa SMP Laboratorium UM kelas VII-B yang berjumlah 39 siswa. Peneliti dan guru bertindak sebagai peneliti/observer. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu, lembar observasi tahapan pembelajaran, lembar observasi kerja ilmiah siswa dan angket motivasi belajar siswa. Teknik analisis yang digunakan pada keterlaksanaan dan ketercapaian tahapan pembelajaran, kerja ilmiah siswa dan motivasi belajar siswa menggunakan persentase. Hasil penelitian penggunaan Modul Fisika Model Siklus Belajar 5E rata-rata keterlaksanaan 100% dan ketercapaian 92.38% semua aspek dalam tahapan pembelajaran dalam siklus belajar dilakukan secara optimal. Kerja ilmiah siswa menunjukkan adanya peningkatan, siswa sudah mulai aktif dalam kegiatan percobaan, pengoperasian alat dapat dilakukan dengan baik, dapat menuliskan data hasil percobaan dengan benar sampai pada pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pada rata-rata kerja ilmiah siswa siklus I dari 68,75% menjadi 73,71% dan pada siklus II dari 82,85% menjadi 89,74%. Selain itu, motivasi belajar siswa juga meningkat pada setiap indikatornya. Perhatian siswa terhadap pelajaran yang semakin baik, tugas-tugas diselesaikan tepat waktu, percaya diri yang tinggi saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru karena persiapan yang lebih sebelum pelajaran dimulai, kepuasan setiap selesai mengikuti pelajaran dan setiap selesai tes.

Efektivitas pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing pada pokok bahasan lingkaran siswa kelas VIII-A SMP Negeri 18 Malang / Deski Diana

 

ABSTRAK Diana, Deski. 2007. Efektivitas Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Posing pada Pokok Bahasan Lingkaran Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soebari, M.Pd, (II) Dra. Etty Tedjo D.C, M.Pd Kata kunci: Efektivitas pembelajaran, problem posing Pada setiap kegiatan pendidikan formal, mulai SD, SMP, SMA, pelajaran matematika selalu diajarkan. Namun kenyataannya matematika merupakan mata pelajaran yang siswa dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Salah satu penyebab matematika dianggap sulit karena metode pembelajaran matematika yang digunakan lebih mengutamakan pada hafalan daripada pengertian sehingga pemahaman konsep oleh siswa kurang. Salah satu penyebab pembelajaran matematika yang digunakan lebih mengutamakan pada hafalan daripada pengertian adalah kebanyakan dalam pembelajaran matematika guru menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi pasif. Pakar pendidikan matematika menyarankan, untuk mengaktifkan siswa dalam belajar matematika, salah satu upayanya agar pembelajaran matematika lebih menekankan pada pengembangan siswa dalam pembentukan soal (problem posing) selain menyelesaikan soal. Menurut Dewan Guru Matematika Amerika Serikat, problem posing merupakan inti dalam kegiatan matematika. Oleh karena itu siswa perlu diberi kesempatan untuk membentuk soal dan menyelesaikannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. Efektivitas pembelajaran di sini dilihat dari ketuntasan belajar siswa dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan problem posing. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 18 Malang kelas VIII-A dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mengalami ketuntasan belajar untuk setiap komponen soal yang diberikan pada tes harian I dan tes harian II dan siswa juga memberikan respon positif terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem posing. Ada tiga komponen soal pada tes harian, yaitu soal pemahaman konsep, soal penalaran dan komunikasi, serta soal pemecahan masalah. Respon positif juga didukung oleh keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Akan tetapi siswa merasa bosan jika pembelajaran untuk materi lain juga dilaksanakan dengan problem posing. Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada guru bahwa pembelajaran dengan pendekatan problem posing dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika karena mampu membuat siswa aktif dalam belajar.

Grafik pengendali statistik berbasis distribusi eksponensial dalam mendeteksi waktu antar kedatangan dan waktu pelayanan pada antrian registrasi mahasiswa UM / oleh Diyan Kusumaningati

 

Grafik pengendali adalah pengendali proses statistik yang paling sederhana. Grafik ini memuat garis tengah yang merupakan rata-rata kualitas yang berkaitan dengan keadaan terkontrol. Dua garis mendatar yang lain adalah batas pengendali atas (UCL) dan batas pengendali bawah (LCL). Distribusi yang sering digunakan untuk membangun grafik pengendali adalah berbasis distribusi Normal. Namun, dalam kenyataanya tidak semua data berdistribusi normal. Dalam suatu antrian berhubungan dengan waktu tunggu yang meliputi waktu antar kedatangan dan waktu pelayanan. Sedangkan distribusi yang berkaitan dengan waktu antar kedatangan dan waktu pelayanan adalah distribusi Eksponensial. Oleh karena itu, dengan menggunakan data waktu antar kedatangan dan waktu pelayanan pada antrian registrasi mahasiswa UM ini akan dibangun grafik pengendali berbasis distribusi Eksponensial. Pada grafik pengendali waktu antar kedatangan diperoleh persentase titik berada di luar batas kendali UCL yang terbesar adalah FE yaitu 33%. Persentase titik berada dalam batas kendali CL yang terbesar adalah FMIPA yaitu 31% dan persentase titik berada di luar batas kendali LCL yang terbesar dalah FT yaitu 49%. Sedangkan pada grafik pengendali waktu pelayanan diperoleh persentase titik berada di luar batas kendali UCL yang terbesar adalah FT yaitu 29%. Persentase titik berada dalam batas kendali CL yang terbesar adalah FIP yaitu 46% dan persentase titik berada di luar batas kendali LCL yang terbesar adalah PPS yaitu 47%.

Pengaruh sistem training berbantuan komputer terhadap perolehan pengetahuan, pembelajaran individu, dan motivasi belajar siswa pada mata diklat mengelas dengan proses las busur metal manual / Achmad Chairuddin

 

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pada mata diklat Mengelas dengan Proses Las Busur Metal Manual belum tersedia sumber belajar selain buku teks. Bahan pembelajaran tidak dapat menvisualisasikan unjuk kerja yang seharusnya dipahami siswa. Pada proses pembelajaran, guru tidak menyampaikan informasi tentang tujuan pembelajaran, remidi, pengayaan, sehingga kurang menarik dan interaktif. Guru belum memanfaatkan komputer sebagai media alternatif pelatihan. Atas dasar hal-hal tersebut perlu segera dikembangkan suatu bahan training berbantuan komputer dan dilakukan penelitian terhadapnya. Dalam penelitian ini bertujuan: 1) untuk memperoleh informasi tentang perolehan pengetahuan mata diklat Mengelas dengan Proses Las Busur Metal Manual Sistem dengan Training Berbantuan Komputer pada siswa SMK; 2) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran individu pada mata diklat Mengelas dengan Proses Las Busur Metal Manual dengan Sistem Training Berbantuan Komputer terhadap pada siswa SMK; 3) untuk mengetahui pengaruh Sistem Training Berbantuan Komputer terhadap motivasi belajar pada mata diklat Mengelas dengan Proses Las Busur Metal Manual pada siswa SMK. Model awal pembelajaran Dick & Carey dijadikan dasar pengembangan bahan pembelajaran training berbantuan komputer pada kompetensi Mengelas dengan Proses Las Busur Metal Manual pada program keahlian Teknik Las. Rancangan penelitian ini termasuk kuasi eksperimen dengan subyek penelitian siswa kelas 1 SMK PGRI 3 Malang, tahun pelajaran 2006/ 2007 jumlah siswa adalah sebanyak 24 orang. Instrumen yang digunakan adalah: 1) Bahan ajar berbantuan komputer dan modul cetak, 2) Tes Kognitif, 3) Angket. Prosedur pengumpulan data meliputi: 1) tahapan persiapan, 2) pelaksanaan dan analisis data. Hasil Penelitan menunjukkan terdapat perbedaan prestasi dengan nilai mean pembelajaran menggunakan modul berbanding komputer 6,9217: 7,8875 dengan standar deviasi berbanding 0,55557 : 0,73916, nilai minimum berbanding 5,27 : 6,5, dan nilai maksimum berbanding 8,33 : 9,50. Penyebaran data secara umum adalah membentuk kurva normal, nilai mean pembelajaran individu menggunakan modul berbanding komputer 9,9167: 15,2500 dengan standar deviasi berbanding 1,47196 : 1,35935, nilai minimum berbanding 7 : 13, dan nilai maksimum berbanding 13 : 19, pada motivasi belajar nilai mean pembelajaran menggunakan modul berbanding komputer 10,9583 : 16,0833 dengan standar deviasi berbanding 1,23285 : 1,76725, nilai minimum berbanding 9 : 13, dan nilai maksimum berbanding 13 : 19. Dan disimpulkan terdapat pengaruh Sistem Training Berbantuan Komputer terhadap perolehan pengetahuan, pembelajaran individu, dan motivasi belajar siswa pada mata diklat Mengelas dengan Proses Las Busur Metal Manual pada siswa kelas I Program Keahlian Teknik Mesin SMK PGRI 3 Malang. Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis memberikan saran-saran sebagai berikut: 1) Sistem Training Berbantuan Komputer dapat digunakan sebagai sistem pembelajaran untuk meningkatkan prestasi siswa dalam aspek pengetahuan, pembelajaran individu, dan motivasi belajar, 2) kepada SMK, Sistem Training Berbantuan Komputer dapat digunakan sebagai rujukan dalam kegiatan training dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan di SMK untuk meningkatkan hasil belajar siswa, 3) kepada guru, Sistem Training Berbantuan Komputer dapat digunakan untuk menerapkan strategi belajar individu sehingga dominasi pola pembelajaran guru sentris dapat dikurangi dan guru akan menjadi fasilitator bagi siswa, oleh karena bahan ajar elektronik sebagai salah satu cara menerapkan pembelajaran individu dan dapat digunakan sebagai bahan ajar alternatif, 4) Training Berbantuan komputer memungkinkan untuk lebih berkreasi bagi guru dalam pembelajarannya guna meningkatkkan motivasi belajar sebab komputer dapat memvisualisasikan konsep abstrak, memusatkan perhatian pada materi yang dipelajari dan membiasakan siswa melakukan akses menggunakan komputer yang lebih sering. A field observation shows that an instructional source is not available for the except textbooks. The instructional material fails to visualize the work demonstration (unjuk kerja) the students are supposed to understand. In the teaching-learning learning process, the teacher does not inform the instructional objectives, remedy, enrichment, making it uninteresting and not interactive. The teacher has not made use of a computer as an alternative instructional media. For those reasons, it is very important to soon develop computer-helped training material and to conduct a research on it. This study aims at: 1) getting information about the knowledge acquirement of vocational school students on the subject of Manual System Shielded Metal Arc Welding with computer-helped training; 2) knowing the individual learning process of vocational school students on the subject of Manual Shielded Metal Arc Welding with computer-helped training system; 3) knowing the effect of computer-helped training system on the learning motivation of vocational school students on the subject of Manual System Shielded Metal Arc Welding. The early instructional model of Dick and Carey is taken as the basis for developing a computer-helped instructional material on the competence of welding with SMAW at the Welding Technique Skill Program. The research design of this study is quasi experiment. The subjects of the research are the first year students of SMK PGRI 3 of Malang in the 2006/2007 academic year. They are 24 in number. The instruments used in this study are: 1) computer-helped teaching material and a printed module, 2) cognitive test, 3) questionnaire. The procedure of data collection includes: 1) preparation stage, 2) implementation and data analysis. The result of the tryout shows that there is different achievement in learning using module compared to the one using computer. The following is the ratio. Mean score: 6.9217: 7.8875; standard deviation: 0.55557: 0.73916; minimum score: 5.27: 6.5; and maximum score: 8.33: 9.50. The data distribution generally shapes normal curve. For the individual learning, the ratio is as follows. Mean score: 9.9167: 15.25000; standard deviation: 1.47196: 1.35935; minimum score: 13: 19; and maximum score: 13: 19. For the learning motivation, the ration is as follows. Mean score: 10.9583: 16.0833; standard deviation: 1.23285: 1.76725; minimum score: 9: 13; and maximum score: 13: 19. it is concluded that there is effect of computer-helped training system on the knowledge acquirement, individual learning, and learning motivation of the first year students of Machine Engineering Skill Program of SMK PGRI 3 Malang on the subject of Manual Shielded Metal Arc Welding Based on the above conclusion, the researcher gives the following suggestions: 1) computer-helped training system can be used as a learning system to improve the students achievement in the aspects of knowledge acquirement, individual learning, and learning motivation, 2) to SMK, computer-helped training system can be used as a reference on the training activity and to create enjoyable learning environment to improve the students’ achievement, 3) to the teachers, computer-helped training system can be used to apply individual learning strategy so that the dominance of teacher-centered teaching pattern can be decreased and the teacher will be the facilitator of the students, because electronic teaching material is one way to apply individual learning and it can be used as an alternative teaching material, 4) computer-helped training enable the teachers to be more creative in their teaching to improve the students’ learning motivation because computer can visualize abstract concepts, focus on the material learnt, and make the students accustomed to access computer more often.

Studi antropologi olahraga tentang budaya masyarakat Pasuruan menjadi suporter Sakeramania (studi pada masyarakat Kabupaten Pasuruan) / Bakhrul Ulum

 

Perhatian masyarakat yang besar pada cabang olahraga sepakbola ternyata telah menimbulkan minat yang berkembang begitu pesat sehingga banyak sekali bermunculan tim-tim sepakbola beserta suporternya. Suporter yang datang dalam suatu pertandingan untuk mendukung membuat semarak dan lebih menghidupkan suatu pertandingan tak terkecuali dalam sportifitas dan kreatifitas digalakkan. Berpegang pada pernyataan ini maka masyarakat Pasuruan, terutama para pecandu sepakbola menginginkan suatu suporter dari daerahnya menjadi baik, kreatif, dan sportif. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah untuk : (1) mendeskripsikan adanya suporter sakeramania di Pasuruan, (2) penggolongan suporter kedalam satuan masyarakat, dan (3) pemberdayaan suporter sakeramania menjadi baik, kreatif dan sportif, Sesuai dengan tujuan rumusan masalah diatas, hasil temuan dari penelitihan adalah : (1) Adanya tim sepakbola di Pasuruan yakni Persekabpas mendorong masyarakat Pasuruan pecinta olahraga sepakbola untuk berkumpul dalam suporter Sakeramania. Sakeramania ada dan terbentuk karena adanya tim sepakbola Pasuruan (Persekabpas). Yang dulunya hanya sebagai penonton biasa kini bergeser menjadi suporter yang berkomitmen dan menetapkan identitas sebagai Sakeramania. Awal mulanya terorganisir melalui paguyuban dan dikembangkan menjadi organisasi yakni korda yang membawai korwil di tingkat kecamatan, dan kordes di tingkat desa, (2) Dalam penggolongan masyarakat suporter sakeramania, maka sakeramania termasuk satuan masyarakat perkumpulan, mengingat hasil data yang diperoleh melalui wawancara dan berdasarkan syarat ikatannya yaitu adanya pusat interaksi, persamaan ciri, potensi untuk berinteraksi, prasarana berinteraksi, kontinuitas, adat-istiadat dan sistem norma, identitas sosial, lokasi kesadaran wilayah, organisasi buatan, sistem pimpinan, dan tidak adanya organisasi adat, (3) Untuk pemberdayaan suporter sakeramania, sesuai dari hasil wawanwancara perlu adanya pembinaan dan sosialisasi di tingkat koordinator daerah, koordinator wilayah, ataupun koodinator desa dan juga Panpel. Pembinaan tersebut bisa berupa saran-saran yakni suporter harus tertib, kreatif dan tidak anarkis. Untuk ketertiban sakeramania haris membawa uang dan beli tiket masuk untuk mendukung, tidak membuat ulah dijalan dengan tidak ”nggandot” truk. Untuk kreatif maka sakeramania diharapkan memakai atribut suporter seperti, kostum Persekabpas, memakai syal, dan juga peningkatan kekreatifan lagu-lagu, drumband dan yel-yel. Dan tidak anarkis sakeramania diharapkan tidak membawa bondet (petasan) dalam mendukung Persekabpas, dan tidak tawuran antar suporter baik suporter sakeramania sendiri ataupun suporter lawan. Dengan hasil ini maka sakeramania diharapkan memiliki budaya selalu nonton dan mendukung Persekabpas bertanding dengan kreatif, tertib, aman, dan tidak anarkis.

Efektivitas pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran matematika siswa kelas V SDN I Mulyoagung / Nurlailah Candrakasih

 

Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam membina prestasi siswa: studi kasus di Sekolah Dasar Negeri Ngunut VI Tulungagung / Eko Prastya Wibisono

 

Perspektif manajemen modern pendidikan yang saat ini sedang berkembang manajemen mutu berbasis sekolah memiliki pandangan bahwa peranan kepala sekolah merupakan komponen pokok organisasi dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Begitu juga dalam usaha membina prestasi siswa, kepala sekolah memiliki peranan secara langsung dengan mengendalikan bawahan agar dapat mewujudkan tujuan. Membina prestasi siswa yang tidak terlepas dari keterlibatan unsur lain seperti langkah-langkah yang diambil kepala sekolah, faktor pendukung dan pemberdayaannya, serta faktor penghambat dan strategi pemecahannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan peranan kepala sekolah dalam membina prestasi siswa, langkah-langkah kepala sekolah menjalankan peranan dalam membina prestasi siswa, faktor pendukung dan pemberdayaannya, serta faktor penghambat dan strategi pemecahannya. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Ngunut VI Tulungangung sebagai sekolah yang pernah menjuarai liga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat internasional, yang dimulai sejak bulan Maret sampai Juli 2007. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis studi kasus dengan landasan berpikir fenomenologis. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitiaan dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti interview, observasi dan studi dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan beberapa hal: pertama, peran kepala sekolah dalam membina prestasi siswa secara tidak langsung dengan dua peranan yaitu: (1) sebagai pemimpin formal sekolah, dan (2) sebagai manajer formal sekolah. Kedua, fokus langkah-langkah kepala sekolah dalam membina prestasi siswa melalui tahapan sebagai berikut: (1) memimpin dan mengelola sumberdaya guru dalam meningkatkan profesionalitas guru, (2) meminpin dan mengelola seberdaya guru dalam meningkatkan kompetensi pengajaran, dan (3) meningkatkan optimalisasi peran orang tua dan masyarakat dalam proses pembinaan prestasi siswa. Ketiga, temuan hasil penelitian tentang fokus faktor pendukung dalam pembinaan prestasi siswa adalah: (1) kecerdasan natural input, (2) loyalitas guru, (3) antusias orang tua, dan (4) sebagai sekolah kolaborasi binaan SEQIP. Selain faktor pendukung temuan juga ditemukan hambatan peran kepala sekolah dalam peranannya membina prestasi siswa yaitu: (1) rendahnya dukungan pemerintah setempat, (2) rendahnya anggaran pendidikan dalam proses pembinaan prestasi siswa, dan (3) kebijakan Sisdiknas yang kurang menguntungkan dalam pembinaan prestasi siswa. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada para kepala sekolah agar selalu berusaha meningkatkan kompetensi mereka agar dapat menjadi pemimpin pendidikan yang profesional. Sekolah disarankan untuk menjalankan prinsip manajemen berbasis sekolah dengan mengaplikasikan prinsip kepemimpinan kolektif dan kolegial dengan tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi sekolah.

Penggunaan metode farthest insertion heuristic dan metode arbitrary insertion heuristic dalam menyelesaikan traveling salesman problem / Dian Ayu Anggraeni

 

Teori graph merupakan salah satu cabang matematika yang banyak bermanfaat kerena dengan menggunakan rumusan atau metode dari teori graph yang tepat maka kita dapat menyelesaikan suatu masalah lebih mudah. Salah satu masalah yang dapat diselesaikan dengan bantuan teori graph adalah Traveling Salesman Problem (TSP). TSP merupakan suatu masalah dalam menemukan sikel Hamilton dengan jumlah bobot sisi minimum. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah TSP. Metode yang akan dibahas dalam menentukan sikel Hamilton adalah metode Farthest Insertion Heuristic dan Arbitrary Insertion Heuristic. Metode Farthest Insertion Heuristic ini membangun suatu tour dari sikel kecil dengan bobot maksimal dan secara berturut-turut ditambah dengan titik baru yang terjauh dari sikel. Titik baru tersebut disisipkan di antara dua titik dalam sikel yang mempunyai nilai penyisipan yang minimum. Sedangkan Metode Arbitrary Insertion Heuristic membangun suatu tour dari sikel kecil dengan bobot minimum dan secara berturut-turut ditambah dengan titik baru yang dipilih secara sembarang dan tidak dalam sikel. Titik baru tersebut disisipkan di antara dua titik dalam sikel yang mempunyai nilai penyisipan yang minimum. Pada skripsi ini, kedua metode akan dibandingkan dengan metode Cheapest Link, Nearest Neighbor Heuristic, dan metode Nearest Insertion Heuristic. Solusi yang diperoleh dengan menggunakan kelima metode tersebut dapat berbeda, hal ini dikarenakan perbedaan konstruksi atau langkah-langkah pada masing-masing metode dalam menemukan sikel Hamilton dengan bobot minimum. Dengan demikian metode Farthest Insertion Heuristic dan Arbitrary Insertion Heuristic dapat digunakan sebagai alternatif untuk mencari sikel Hamilton selain metode Cheapest Link, Nearest Neighbor Heuristic, dan metode Nearest Insertion Heuristic. Agar lebih mudah dalam menyelesaikan TSP, metode Farthest Insertion Heuristic dan Arbitrary Insertion Heuristic dapat direpresentasikan dalam program komputer yaitu menggunakan Borland Delphi.

Hubungan taraf kesukaran dan daya beda terhadap jumlah peserta tes pada alat evaluasi pembelajaran fisika di SMA Negeri 7 Malang / Luluk Kurnia Wati

 

Teori tes modern adalah teori tes yang dikembangkan untuk meningkatkan ketelitian hasil pengujian. Model matematis teori respon butir menyatakan bahwa probabilitas subyek menjawab benar terhadap butir soal tertentu bergantung pada kemampuan subyek dan karakteristik butir soal yang bersangkutan. Karakteristik butir soal ditunjukkan oleh parameter kemampuan yang digunakan yaitu taraf ke-sukaran dan daya beda. Untuk mengetahui sejauh mana keterterapan teori respon butir, maka perlu diadakan pengujian terhadap parameter kemampuan yang digu-nakan dalam teori respon tersebut. Pengujian dilakukan untuk mengetahui hubu-ngan taraf kesukaran dan daya beda terhadap jumlah peserta tes. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2006/2007 yang terdiri dari 7 kelas yang berjumlah 245 siswa. Dari seluruh kelas diambil secara acak empat kelas sebagai sampel pe-nelitian yang berjumlah 151 siswa. Instrumen yang digunakan adalah tes objektif tentang materi alat-alat optik ( mata, kaca mata, mikroskop, dan teropong ). Ana-lisis hasil penelitian menggunakan analisis butir soal ditinjau dari taraf kesukaran dan daya beda yang kemudian dicari hubungan antara taraf kesukaran dan daya beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 butir soal yang diujikan ke-pada 35, 74, 113, dan 151 peserta tes terdapat 3, 5, 6, dan 6 jumlah butir soal yang memenuhi kriteria cukup dan baik pada taraf kesukaran. Selain itu dari 35, 74, 113, dan 151 peserta tes terdapat 3, 4, 6 dan 7 jumlah butir soal yang memenuhi kriteria cukup dan baik pada daya beda. Sedangkan dari 35, 74, 113, dan 151 pe-serta tes terdapat 2, 3, 5, dan 6 jumlah butir soal yang memenuhi kriteria cukup dan baik pada taraf kesukaran dan daya beda. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa semakin banyak jumlah peserta tes maka akan semakin banyak jumlah butir soal yang memenuhi kriteria cukup dan baik pada taraf kesukaran, jumlah butir soal yang memenuhi kriteria cukup dan baik pada daya beda, jumlah butir soal yang memenuhi kriteria cukup dan baik pada taraf kesukaran dan daya beda

Implementasi analisis lintasan (path analysis) terhadap bangkitan pergerakan keluarga di perumahan pinggiran barat Malang / Eddy Marianus DJ

 

Perumahan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi selain kebutuhan akan sandang dan pangan. Dengan berkembangnya pembangunan perumahan, cenderung memberi pengaruh negatif dalam bidang transportasi kota yang akan mengakibatkan terjadi pergerakan yang umumnya menuju pusat kota atau kawasan pusat kegiatan. Pola perjalanan suatu kota umumnya terbentuk dari perjalanan yang berasal dari zona-zona pemukiman menuju kawasan Central Business District (DBD) atau kawasan pusat kegiatan di tengah kota (DBD) karena pusat perkotaan terdapat fasilitas-fasilitas yang mendukung, antara lain: tempat perkantoran, pendidikan, perdagangan, perbelanjaan, industri, pelayanan kesehatan, dan lain-lain. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut tentu saja dapat menarik perjalanan yang berasal dari zona-zona perumahan yang berada di pinggiran kota. Bangkitan pergerakan adalah banyaknya pergerakan (lalu lintas) yang ditimbulkan oleh suatu zona atau daerah persatuan waktu. Bangkitan pergerakan terjadi karena adanya proses pemenuhan kebutuhan yang harus dilakukan setiap hari. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya bangkitan pergerakan, tetapi hanya beberapa faktor yang mempunyai pengaruh yang kuat. Hal ini juga terjadi di kota Malang yang warga pinggiran sangat bergantung pada pusat kota untuk pemenuhan kebutuhan hidup Faktor-faktor yang dianalisis dalam penelitian ini adalah jumlah anggota keluarga, jumlah anggota keluarga yang sekolah, jumlah anggota keluarga yang bekerja, jumlah pendapatan, dan jumlah kendaraan. Sedangkan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap terjadinya bangkitan pergerakan dilakukan analisis lintasan. Berdasarkan analisis lintasan diketahui bahwa faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap terjadinya bangkitan pergerakan adalah jumlah anggota keluarga dan jumlah kendaraan yang dimiliki. Pengaruh langsung jumlah anggota keluarga terhadap bangkitan pergerakan (jumlah pergerakan) adalah sebesar 0.576 yang dapat diinterpretasikan bahwa setiap kenaikan satu simpangan baku dalam nilai jumlah anggota keluarga akan meningkatkan jumlah pergerakan sebesar 0.576 simpangan baku. Demikian pula untuk faktor jumlah kendaraan yang dimiliki, yang mempunyai pengaruh sebesar 0.561. Sedangkan faktor-faktor lain seperti jumlah pendapatan, jumlah anggota keluarga yang bekerja, dan jumlah anggota keluarga yang sekolah mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap terjadinya bangkitan pergerakan.

Hubungan antara self efficacy dan minat belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris pada siswa kelas X di Madrasah Aliyah Negeri I Malang / Kartika Fitria Sari

 

Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama yang diajarkan di sekolah menengah. Sehingga perlu dilakukan usaha peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris. Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor dari luar. Self efficacy adalah suatu keyakinan tentang sejauh mana individu memperkirakan kemampuan dirinya termasuk potensi-potensi yang dimilikinya untuk melakukan tugas-tugas yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan.Minat belajar bahasa Inggris adalah kesadaran individu dengan senang hati pada suatu hal yang bersangkutan dengan dirinya (bahasa Inggris) sehingga individu memiliki kegairahan yang tinggi dan memusatkan seluruh perhatiannya terhadap sesuatu hal atau aktifitas atau obyek minat yang membuat individu tersebut cenderung lebih aktif untuk memenuhi minatnya (belajar bahasa Inggris). Self efficacy dan minat belajar bahasa Inggris adalah faktor intern dari dalam diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui self efficacy siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I.,(2) Untuk mengetahui minat belajar bahasa Inggris siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I.,(3) Untuk mengetahui prestasi belajar Bahasa Inggris siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I.,(4) Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara self efficacy dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I, (5) Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I,(6) Apakah ada hubungan antara self efficacy dan minat belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa MAN I Malang kelas 10 sejumlah 103 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional dengan menggunakan analisis product moment dari karl pearson, dan analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan mean diketahui bahwa dari 103 siswa yang tergolong self efficacy tinggi sebanyak 15 siswa (14,56%),sedang sebanyak 74 siswa (71,85%) dan rendah sebanyak 14 siswa (13,59%). Minat belajar bahasa Inggris tinggi sebanyak 16 siswa (15,53%),sedang sebanyak 74 siswa (71,85%) dan rendah sebanyak 13 siswa (12,62%). Prestasi belajar bahasa Inggris tinggi sebanyak 13 siswa (12,62%),sedang sebanyak 74 siswa ( 71,85%) dan rendah sebanyak 16 siswa (15,53%). Berdasarkan hasil perhitungan product moment diketahui bahwa tidak ada hubungan antara self efficacy dengan prestasi belajar bahasa Inggris dengan r hitung(0,156 < 0,1946),dan signifikansi r sebesar 0,115 > α (0,05). Ada hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris dengan r hitung (0,156 < 0,1946) dan signifikansi r sebesar 0,000< α (0,05). Hasil analisis regresi ganda diperoleh nilai signifikansi F (0,000) < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Self Efficacy (X1) dan Minat (X2) berhubungan secara simultan terhadap variabel Prestasi Belajar (Y). R Square yang diperoleh dari analisis regresi berganda terhadap hubungan antara variabel self efficacy dan minat belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris adalah sebesar 0,376. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel self efficacy dan minat belajar secara simultan memberi kontribusi sebesar 37,6% pada variabel prestasi belajar bahasa Inggris, sedangkan 62,4% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar kedua variabel tersebut. sumbangan efektif (SE) X1 terhadap Y adalah sebesar -70,073% sedangkan (SE) X2 terhadap Y adalah 170,073% dari perhitungan sumbangan kedua variabel bebas tersebut dapat diketahui bahwa tanpa adanya variabel minat belajar maka variabel self efficacy tidak memberikan sumbangan pada variabel prestasi belajar bahasa Inggris. Berdasarkan hasil penelitian,1.bagi lingkungan akademis untuk menambah variabel lain seperti intelegensi,bakat bahasa,motivasi berprestasi,tingkat penghasilan orang tua dsb, 2.bagi siswa agar memperhatikan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar bahasa Inggris agar prestasi belajar bahasa Inggrisnya meningkat,3.bagi orang tua agar selalu mendukung proses belajar bahasa Inggris anaknya serta memasukan anaknya ke tempat kursus bahasa Inggris, 4. Bagi sekolah agar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kreatif untuk menumbuhkan minat belajar bahasa Inggris siswa.

 

Pengaruh motivasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas I Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 3 Singosari Malang / Nuning Oktivasari

 

Mutu organoleptik blondies kukus tepung pisang dengan substitusi maizena / Aftika Andra Sagita

 

Pengaruh budaya organisasi dan motivasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan hotel Pelangi Malang) / Yussy Ardhianto

 

Perkembangan ekonomi pada era globalisasi saat ini banyak dipengaruhi persaingan bisnis yang semakin ketat. Melihat dan memahami tantangan-tantangan di masa sekarang dan masa yang akan datang, perusahaan perlu memperhatikan dan tetap memelihara sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki yaitu karyawan agar dapat terus menjadi aset terpenting bagi perusahaan. Setiap karyawan yang bekerja sangat membutuhkan motivasi dari pimpinannya, serta budaya organisasi yang kuat pada perusahaan tempat mereka bekerja, karena dengan motivasi dapat memacu semangat kerja mereka, dan dengan budaya organisasi yang kuat maka perilaku para karyawan dapat terarah sehingga tujuan perusahaan cepat tercapai. Dengan tercapainya tujuan perusahaan dan terpenuhinya kebutuhan karyawan melalui motivasi, tentu saja kepuasan kerja akan mereka dapatkan pula. Apabila ketiga variabel tersebut, yaitu budaya organisasi, motivasi dan kepuasan kerja telah mereka dapatkan, maka mereka akan merasa betah dan senang bekerja pada perusahaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi dan motivasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan Hotel Pelangi Malang. Penelitian ini dilaksanakan di Hotel Pelangi Malang pada bulan Juni sampai dengan Juli 2007. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan Hotel Pelangi Malang yang berjumlah 81 orang. Sedangkan sampelnya diambil sebanyak 67 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu budaya organisasi (X1) dan motivasi (X2), variabel intervening kepuasan kerja (Z), variabel terikat yaitu komitmen organisasi (Y). Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga uji coba kuesioner untuk menguji instrumen tidak perlu dilakukan. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagaian responden yaitu 69% menyatakan tinggi terhadap variabel budaya organisasi (X1), 49% menyatakan tinggi terhadap variabel motivasi, sedangkan 63% menyatakan puas terhadap variabel kepuasan kerja (Z) dan 73% menyatakan tinggi terhadap variabel komitmen organisasi. Hasil penelitian ini dapat diketahui, (1) ada pengaruh langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kepuasan kerja dengan β sebesar 0,409 dan Sig 0,000, (2) ada pengaruh langsung yang signifikan antara motivasi terhadap kepuasan kerja dengan β sebesar 0,435 dan Sig 0,000, (3) ada pengaruh langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi dengan β sebesar 0,277 dan Sig 0,009, (4) ada pengaruh langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap komitmen organisasi dengan β sebesar 0,204 dan Sig 0,031, (5) ada pengaruh langsung yang signifikan antara motivasi terhadap komitmen organisasi dengan β sebesar 0,481 dan Sig 0,000. Untuk hasil pengaruh tidak langsungnya yaitu (6) pengaruh tidak langsung budaya organisasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja sebesar 0,113 dan koefisien determinasi total yang diperoleh sebesar 0,317, (7) pengaruh tidak langsung motivasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja sebesar 0,120 dan koefisien determinasi total yang diperoleh sebesar 0,601. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak Hotel Pelangi Malang lebih meningkatkan mutu atau kualitas pelayanan kepada tamu hotel dengan memahami dan mengamalkan falsafah Hotel Pelangi karena makna yang terkandung didalam falsafah itu sangat besar sekali dan sangat bermanfaat untuk kepuasan tamu yang menggunakan jasa Hotel Pelangi Malang. Agar terjalin hubungan yang harmonis dan semangat kebersaman diantara karyawan dan pimpinan hotel, sebaiknya secara berkala diadakan kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, seperti rekreasi atau outbond. Selain itu Pimpinan Hotel Pelangi Malang sebaiknya selalu berupaya meningkatkan motivasi kerja serta kepuasan kerja karyawannya, dengan cara lebih memperhatikan kesejahteraan mereka baik gaji, bonus maupun kesempatan promosi

Pengaruh jarak kampuh las, kuat arus listrik, dan kecepatan pengelasan SMAW (shielded metal arc welding) terhadap kekuatan tarik pelat baja ST 37 / Akhmad Ragil Wiratmaja

 

Salah satu pengerjaan dalam industri logam adalah pengerjaan las. Saat ini dikenal berbagai macam pengelasan logam antara lain las asetilen, las SMAW, TIG, MIG, las resistensi listrik dan lain-lain. Dari berbagai macam las tersebut yang paling popular di masyarakat adalah las asetilen dan las SMAW. Untuk mendapatkan hasil lasan SMAW yang baik maka diperlukan parameter pengelasan yang tepat meliputi jarak kampuh, kuat arus, dan kecepatan pengelasan Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya pengaruh jarak kampuh las, kuat arus, dan kecepatan pengelasan terhadap kekuatan tarik secara parsial ataupun secara bersama-sama. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen untuk mendapatkan data penelitian. Bahan yang digunakan adalah pelat baja St 37 tebal 6 mm. Variasi jarak kampuh las 1 mm dan 2 mm. Variasi kuat arus 60 A, 85 A, 110 A. Setiap proses pengelasan dihitung waktu tempuhnya untuk mendapatkan data kecepatan pengelasan. Elektroda yang digunakan E 6013 diameter 2,6 mm, sedangkan arus yang digunakan adalah arus bolak-balik (AC), tegangan pengelasan 30 Volt dan posisi mendatar (G1). Setelah dilakukan pengelasan lalu spesimen diuji tarik. Selanjutnya dianalisis regresi. Hasil (1) Variasi jarak kampuh las secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik, ini ditunjukkan pada hasil uji T yaitu sebesar 0,011 < taraf signifikansi 0,05. (2) Variasi kuat arus las secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik, ini ditunjukkan pada hasil uji T yaitu sebesar 0,085 > taraf signifikansi 0,05. (3) Variasi kecepatan pengelasan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik, ini ditunjukkan pada hasil uji T yaitu sebesar 0,001 < taraf signifikansi 0,05. (4) Variasi jarak kampuh las, kuat arus, dan kecepatan pengelasan secara keseluruhan berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik, ini ditunjukkan pada hasil uji F yaitu sebesar 5,487 > taraf signifikansi 0,004a. Sedangkan pengaruh variabel-variabel independen tersebut terhadap variabel dependen ditunjukkan pada R Square sebesar 34,0 %. Hasil penelitian ini terbatas pada baja karbon rendah (ST-37), variasi jarak kampuh las 1 mm dan 2 mm, variasi kuat arus 60 A, 85 A, 110 A. Dalam penelitian ditemukan bahwa kekuatan tarik terbesar yaitu 840 Mpa didapat pada formula jarak kampuh 2 mm, kuat arus 110 Ampere, dan kecepatan pengelasan 1,52 mm/det. Tidak menutup kemungkinan adanya pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini, baik mengenai jenis bahan yang berbeda, teknologi pengelasan yang dipakai, variasi parameter pengelasan, mesin uji yang lebih canggih, dan macam pengujian material yang lain.

Partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas pendidikan di SDN Turen 06 Kabupaten Malang / Nanang Fatkhurrozi

 

Partisipasi masyarakat merupakan bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela, baik karena alasan-alasan dari dalam dirinya (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) dalam keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan. Bentuk partisipasi tersebut dapat berupa kontribusi materal maupun nonmaterial, keikutsertaan secara aktif maupun nonaktif/pasif. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan perlu perlu ditampung dan disalurkan melalui sebuah lembaga atau badan mandiri yang disebut Komite Sekolah. Peran yang dijalankan Komite Sekolah harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah. Penghambat timbulnya partisipasi masyarakat terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dasar adalah terjadinya jurang pemisah antara pihak sekolah dengan orang tua murid atau masyarakat. Hendaknya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pihak sekolah dengan masyarakat yang melakukan suatu aktivitas bersama dalam mewujudkan perbaikan kualitas pendidikan. Tujuan yang ingin dicapai adalah menganalisis peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Turen 06 Kabupaten Malang, meliputi: (1) Peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di SDN Turen 06 Kabupaten Malang, (2) Peran Komite Sekolah dalam mewadahi partisipasi masyarakat di SDN Turen 06 Malang, dan (3)Partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas pendidikan di SDN Turen 06 Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tahap-tahap penelitian yang terdiri dari: (1) Tahap Persiapan yaitu, penelitian awal, menyusun rancangan penelitian, perijinan dan persiapan pengumpulan data; (2) Proses di Lapangan yaitu, eksplorasi awal, eksplorasi mendalam, dan mengecek serta mengkonfirmasikan hasil penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Turen 06 Kabupaten Malang. Subyek penelitian ini adalah terdiri dari tiga unsur, pertama yaitu pihak institusi sekolah yang meliputi Kepala Sekolah, para dewan guru, siswa, serta data-data sekolah yang dapat dijadikan referensi. Pihak yang kedua yaitu Komite Sekolah yang meliputi ketua Komite Sekolah beserta struktur kepengurusan yang terlibat dalam kegiatan Komite Sekolah. Sedangkan pihak ketiga adalah masyarakat,baik yang tergabung dalam paguyuban orangtua murid maupun yang berpartisipasi secara tidak langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak sekali problematika dalam pendidikan nasional yang harus segera diselesaikan, dan hal tersebut sangat memerlukan partisipasi masyarakat dalam upaya penyelesaian masalah-masalah tersebut. Hal ini terbukti dalam hasil penelitian yang kami laksanakan di Sekolah Dasar Negeri Turen 06, bahwa partisipasi masyarakat dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan, (1) Bagi masyarakat Kecamatan Turen hendaknya berpartisipasi lebih aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui lembaga Komite Sekolah maupun sebagai anggota paguyuban wali murid, karena partisipasi masyarakat sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. (2) Bagi sekolah bila hendak mengadakan pembangunan gedung atau program pengadaan fasilitas yang lain seharusnya dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan seluruh wali murid sehingga mengetahui kemampuan masing-masing wali murid. (3) Bagi Komite Sekolah hendaknya lebih menampung aspirasi dan menyalurkan aspirasi masyarakat untuk peningkatan kualitas pendidikan di SDN Turen 06 Kabupaten Malang. Selain itu Komite Sekolah harus memberikan motivasi dan penghargaan kepada tenaga pendidikan atau kepada seseorang yang berjasa pada sekolah secara profesional sesuai dengan kaidah profesional guru atau tenaga administrasi sekolah. (4) Bagi peneliti yang ingin meneliti hal yang sama, bisa meneliti tentang partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas pendidikan dalam bidang non akademik.(5)Bagi lembaga, khususnya jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan selaku bagian dari civitas akademika hendaknya lebih meningkatkan peranannya dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan seminar tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas pendidikan Sekolah Dasar.

The effectiveness of using portofolio EFL writing class / Salmon Hukom

 

ABSTRAK Hukom, Salmon J. 2007. Efektifitas Penggunaan Portofolio Dalam Pelajaran Menulis Mahasiswa Asing. Tesis yang tidak dipublikasikan. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. M. Adnan Latief, M.A, Ph. D dan Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. Kata Kunci: kemampuan menulis, portofolio, dan penilaian portofolio. Menulis menjadi satu beban bagi semua mahasiswa jurusan bahasa Inggris karena mereka dihadapkan dengan beberapa masalah seperti kurangnya kosa kata, lemahnya tata bahasa Inggris mereka, serta dosen tidak pernah melibatkan para mahasiswa untuk menilai penulisan mereka sendiri dan mereka selalu menggantungkan diri pada dosen untuk mengoreksi dan menilainya. Itulah sebabnya dalam meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa, penggunaan penilaian yang tepat sangatlah diperlukan. Penilain memegang peranan penting dalam pengajaran bahasa sebab penilaian portofolio menekankan pada proses yang berkesinambungan. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan efektifitas penggunaan portofolio dalam meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Pertanyaan umum yang harus dijawab adalah “Apakah kelompok yang diajarkan dengan menggunakan portofolio memiliki kemampuan menulis yang lebih baik dari kelompok yang menggunakan penilaian non portofolio?” Jawaban sementara untuk pertanyaan ini diformulasikan dalam hipotesis kerja yaitu siswa yang diajarkan dengan menggunakan portofolio memiliki kemampuan menulis yang lebih baik dari siswa yang diajarkan dengan menggunakan penilaian non portofolio. Disain penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sampel untuk penelitian ini diambil dari mahasiswa semester empat Jurusan Sastra, Universitas Kristen Cipta Wacana sebagai kelas kontrol serta mahasiswa semester empat pendidikan bahasa Inggris IKIP Budi Utomo sebagai kelas eksperimen. Dalam pengumpulan data, empat produk menulis digunakan, satu produk menulis digunakan dalam pre test, dan tiga produk menulis lainnya digunakan dalam post test. Untuk post test, mahasiswa di kedua kelas penelitian harus menulis dalam bentuk penulisan yang berbeda seperti menulis narasi, menulis deskripsi, dan menulis ekspositori. Dalam menilai hasil penulisan mahasiswa, dua orang penilai bekerja secara independen, yaitu peneliti dan kedua orang dosen pengasuh mata kuliah menulis dari masing-masing kelompok dengan menggunakan Analytic Scoring Rubric. Ada dua langkah dalam analisis data yaitu: (1) uji normalitas dan homogenitas data; (2) dan uji hipotesis. Uji normalitas dan homogenitas data dilakukan untuk menguji normalitas dan homogenitas distribusi data, sementara tujuan uji hipotesis adalah untuk menjawab masalah penelitian. iii Hasil uji normalitas menunjukan bahwa nilai assymp.sig (1 tailed) dari ketiga jenis penulisan pada tingkat signifikan .05 adalah 0.00. Hal ini berarti bahwa distribusi data adalah normal. Sementara untuk uji homogenitas menggunakan F-Levene dengan tingkat signifikan 05. Hasil menunjukan bahwa varian antara kelas control dan kelas eksperimen untuk menulis narasi, menulis deskripsi, dan menulis ekspositori tidaklah berbeda, dengan kata lain homogen. Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas, data dianggap reliable untuk digunakan dalam uji hipotesis. T-test digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pencapain menulis dari kelas kontrol dan kelas eksperimen menggunakan level signifikan 05. Hasil analisis menunjukan bahwa uji T untuk menulis narasi adalah 6.82 (p = .000), uji T untuk menulis deskripsi 6.59 (p = .000), dan uji T untuk menulis ekspository adalah 6.05 (p = .000). Sementara total adalah 7.02 (p = .000). Karena nilai mean dari kelas eksperimen lebih tinggi dari nilai mean dari kelas control maka dapat disimpulkan bahwa terdapat bukti kuat untuk menolak hipotesis null. Sehingga dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang belajar writing dengan menggunakan penilaian portofolio memiliki kemampuan menulis lebih baik dari mahasiswa yang menggunakan penilaian non portofolio. Berdasarkan hasil penelitian di atas, beberapa saran ditujukan kepada para dosen/guru bahasa Inggris, masiswa/siswa, serta peneliti lainnya. Untuk dosen/guru bahasa Inggris dapat mempertimbangkan keuntungan penggunaan penilaian portofolio dalam meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa/siswa. Mahasiswa juga dapat menggunakan penilaian portofolio sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan menulis mereka. Untuk para peneliti lainnya, disarankan untuk mengambil hasil penelitian serta batasan penelitian ini untuk diteliti bagi level mahasiswa yang berbeda (misalnya mahasiswa semester tiga atau semester lima). Penelitian yang sama juga dapat dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan tujuan penelitian meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. iv

Pelaksanaan hak uji materiil (judicial review) peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang terhadap undang-undang oleh Mahkamah Agung di Indonesia setelah amandemen UUD 1945 / Yoppy Sandra Wijaya

 

Setelah terjadi amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, terdapat kejelasan mengenai hak uji materiil (judicial review) peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang di Indonesia. Pada perubahan ketiga, tahun 2001, MPR telah mengadakan perubahan yang cukup prinsipil dalam Pasal 24, khususnya pada Pasal 24A ayat (1), dalam pasal tersebut ditegaskan bahwa Mahkamah Agung berwenang menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Hal ini dipertegas lagi dengan dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dan UU No. 4 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dimana juga menyebutkan bahwa kewenangan menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang dimiliki oleh Mahkamah Agung. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan hak uji materiil (judicial review) peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang terhadap undang-undang oleh Mahkamah Agung di Indonesia setelah amandemen UUD 1945. Tujuan umum dari kajian ini adalah untuk mendeskripsikan pengertian hak uji materiil (judicial review), mendeskripsikan dasar hukum hak uji materiil (judicial review), mendeskripsikan bagaimana kedudukan, fungsi, dan kewenangan Mahkamah Agung, serta mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan hak uji materiil (judicial review) peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang oleh Mahkamah Agung di Indonesia setelah amandemen UUD 1945. Penulisan kajian ini menggunakan teknik library research. Metode yang digunakan adalah (1) studi pustaka, (2) dokumentasi, dan (3) analisis. Adapun hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa kewenangan dalam melaksanakan hak uji materiil (judicial review) peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang dimiliki oleh Mahkamah Agung. Hal tersebut diasarkan atas Pasal 24A ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945, Pasal 11 ayat (2) dan ayat (3) UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Pasal 31 ayat (1), (2), (3), (4), (5) UU No. 5 Tahun 2004 Perubahan atas UU No. 15 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. Sedangkan pelaksanaan hak uji materiil (judicial review) peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang diatur dalam Perma No. 1 Tahun 2004 Tentang Hak Uji Materiil. Sebagai objek hak uji materiil (judicial review) adalah semua peraturan perundang-undangan yang bersifat mengatur (regelling) yang kedudukannya di bawah undang-undang. Berdasarkan hasil kajian ini, dapat disarankan agar hendaknya dikemudian hari pengajuan permohonan hak uji materiil (judicial review) tidak dibatasi oleh tenggang waktu (dalam Perma No. 1 Tahun 2004, dibatasi tenggang waktu 180 hari sejak ditetapkan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan), hal ini dikarenakan masyarakat awam belum mengerti keberadaan peraturan perundang-undangan tersebut. Dan apabila ada dampak yang timbul (baik secara langsung ataupun tidak langsung) yang dirasa merugikan masyarakat awam akibat dikeluarkannya peraturan perundang-undangan tersebut baru dirasakan atau diketahui lebih dari jangka tenggang waktu 180 hari.

Pemetaan sarana fisik dan guru sekolah dasar di Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo / Hendrik Dwi Saputro

 

Sarana pendidikan memegang peranan peranan penting, sehingga penyediaan sarana pendidikan diperlukan untuk tujuan pelaksanaan pendidikan seefektif mungkin. Pendidikan tersebut diatur dalam ruang dengan menggunakan sarana seperti ruang belajar atau gedung, guru dan perabot lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sarana fisik sekolah dasar di Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo dan mengetahui kondisi guru sekolah dasar tersebut. Penelitian tentang Kondisi Sarana Fisik dan Guru Sekolah Dasar ini merupakan penelitian survey, data diambil dengan sensus pada masing-masing sekolah yang ada.Untuk mengetahui kondisi sarana fisik digunakan metode prosentase tabulasi di dasarkan pada kriteria standar pelayananan minimal dari Bapeda kabupaten Ponorogo 2006, dengan asumsi kondisi sarana fisik sangat baik atau bangunan 100% masih utuh, kondisi sarana fisik baik atau bangunan masih 75 % (yang rusak hanya bagian atapnya), kondisi sarana fisik cukup atau bangunan masih 50% (yang rusak pintu, jendela dan atap), kondisi sarana fisik kurang atau bangunan masih 25% (tinggal pondasi dan dinding), dan kondisi sarana fisik sangat kurang atau bangunan masih 10% (tinggal pondasi). Sedangkan untuk mengetahui kondisi guru diasumsikan bahwa sekolah dasar yang mempunyai jumlah guru dibawah 6 berarti kurang dan sekolah dasar yang mempunyai guru 6 keatas berarti cukup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2006 terdapat 29 Sekolah Dasar, dengan kondisi yang berbeda-beda. Pada sarana ruang kelas terdapat 3 sekolah dengan kondisi kurang, 10 sekolah dengan kondisi cukup, 4 sekolah dengan kondisi baik, dan sekolah yang lain kondisinya ruang kelasnya sangat baik. Sarana ruang guru untuk semua sekolah dasar dalam kondisi baik dan sarana ruang labotatorium belum ada pada semua sekolah dasar. Ruang perpustakaan hanya dimiliki oleh 3 sekolah, namun untuk lapangan olah raga dalam kondisi baik pada semua sekolah dasar. Sarana pendukung kamar mandi/WC kondisinya cukup dan hanya 1 sekolah yang belum mempunyai kamar mandi dan WC. Sedangkan kondisi guru pada semua sekolah dasar adalah cukup. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Ponorogo hendaknya segera mengambil kebijakan berhubungan dengan pembangunan ruang baru, rehabilitasi ruang atau gedung yang mengalami kerusakan serta peningkatan kuantitas guru.

Karakteristik dan model partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau permukiman sangat sederhana di Kelurahan Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Emma Wulandari

 

Karakteritik masyarakat dalam penelitian ini meliputi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jumlah anggota keluarga yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap. Pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dapat menanamkan model partisipasi dalam pengelolaan ruang terbuka hijau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan 1) karakteristik masyarakat permukiman sangat sederhana di Kelurahan Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, 2) model partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau permukiman sangat sederhana di Kelurahan Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Responden dihimpun sebanyak 45 KK yang berasal dari RW 01 dan RW 03, pengambilan sampel dengan Proportional Random Sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, angket, dan dokumentasi. Data yang sudah didapatkan akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) karakteristik masyarakat permukiman sangat sederhana yaitu 1) tingkat pendidikan yang tinggi tamat SMU/MA sebesar 48,89%, jenis pekerjaan PNS/ABRI/Pensiunan PNS/ABRI sebesar 55,55%, jumlah anggota keluarga 4-5 orang sebanyak 88,89%, 2) tingkat pengetahuan tinggi sebesar 57,8%, 3) model partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau yaitu partisipasi langsung yang berdasarkan cara keterlibatan masyarakat terhadap ruang terbuka hijau diukur dari luas taman (m2) sebesar 46,67% memiliki luas 0-1 meter persegi, luas jalur hijau depan rumah (m2) sebesar 44,44% memiliki luas 2-3 meter persegi, jumlah pohon, sebesar 24,45% memiliki jumlah pohon antara 2-3, struktur tanaman di dalam pot sebanyak 53,33%, tanaman penutup atau rumput sebanyak 44,45%, tanaman semak/perdu sebanyak 53,33% dan pengelolaan ruang terbuka hijau di pekarangan sebesar 46,7%. Perlu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan serta diadakan penyuluhan-penyuluhan tentang ruang terbuka hijau baik dalam segi fungsi dan manfaatnya, sehingga masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam pengelolaan ruang terbuka hijau. Model partisipasi secara langsung yang berdasarkan cara keterlibatan dirasa masih kurang sehingga perlu ditingkatkan kerjasama masyarakat, pihak pengembang, pemerintah dalam menciptakan permukiman sangat sederhana yang mampu mempertahankan ruang terbuka hijau, agar tercipta kawasan hunian yang memiliki daya dukung linkungan yang tinggi.

Analisis kemampuan makroskopik, mikroskopik, dan simbolik dalam materi reaksi uraian berganda pada siswa kelas XII-IPA-1 SMA Negeri Turen / Sukma Hadi Anugerah

 

Ilmu kimia dapat direpresentasikan dalam tiga tingkat pemahaman yang saling berkaitan, yaitu tingkat pemahaman makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Salah satu jenis reaksi kimia yang diajarkan di SMA/MA adalah reaksi uraian berganda. Selama ini pengajaran tentang reaksi uraian berganda belum mencakup ketiga tingkat pemahaman di atas, begitu juga dengan evaluasi yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat evaluasi yang mengukur pemahaman siswa pada ketiga tingkat pemahaman tersebut. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi gejala-gejala makroskopik reaksi uraian berganda; (2) kemampuan siswa dalam menuliskan persamaan reaksi uraian berganda; (3) kemampuan siswa dalam memberikan gambaran mikroskopik reaksi uraian berganda; (4) kecenderungan kesalahan siswa yang dapat diidentifikasi melalui tes makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII-IPA-1 SMA Negeri 1 Turen semester genap 2006/2007 dengan jumlah siswa 39 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) tes makroskopik berupa penyimpulan hasil pengamatan dari 11 reaksi, dengan rincian lima reaksi dikerjakan pada hari pertama dan enam reaksi pada hari kedua; (2) tes simbolik berupa penulisan persamaan reaksi dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan; (3) tes mikroskopik berbentuk pilihan ganda dengan tiga alternatif jawaban yang dilakukan setelah tes makroskopik dan tes simbolik. Tes mikroskopik berjumlah 22 soal dengan validitas isi sebesar 100% dan koefisien reliabilitas diukur dengan rumus KR-20 sebesar 0,92. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi gejala makroskopik reaksi uraian berganda yang menghasilkan endapan, gas, dan elektrolit lemah tergolong baik; (2) kemampuan siswa dalam menuliskan persamaan reaksi uraian berganda yang menghasilkan endapan tergolong cukup, sedangkan yang menghasilkan gas dan elektrolit lemah tergolong tidak baik; (3) kemampuan siswa dalam memberikan gambaran mikroskopik reaksi uraian berganda yang menghasilkan endapan, gas, dan elektrolit lemah tergolong cukup; (4) kecenderungan kesalahan yang dapat diidentifikasi adalah siswa kurang cermat dalam mengidentifikasi gejala-gejala makroskopik yang menunjukkan berlangsungnya reaksi uraian berganda. Secara lebih rinci kecenderungan kesalahan tersebut adalah sebagai berikut: (a) pada tes makroskopik siswa tidak memahami bahwa timbulnya kekeruhan merupakan indikator berlangsungnya reaksi uraian berganda, siswa salah dalam menginterpretasikan pengujian gas hasil reaksi uraian berganda sebagai tanda berlangsungnya reaksi, dan siswa tidak memahami bahwa reaksi netralisasi menghasilkan elektrolit lemah berupa H2O; (b) pada tes simbolik siswa salah dalam menuliskan rumus kimia senyawa, siswa tidak memahami aturan kelarutan garam-garam dalam air, siswa tidak memahami bahwa zat yang terbentuk dapat terurai menjadi zat-zat yang lebih sederhana yang salah satunya berupa gas, dan siswa salah dalam memberikan fase dari air; (c) kesalahan yang terjadi pada siswa dalam memberikan gambaran mikroskopik larutan yang mengandung elektrolit kuat adalah tidak pahamnya siswa bahwa elektrolit kuat terurai sempurna.

Pengaruh persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar akuntansi siswa akuntansi di SMK BM Ardjuna 01 Malang tahun ajaran 2006/2007 / Sulimah Irawati

 

Kualitas pengajaran sangat menentukan keberhasilan siswa dan salah satunya tergantung bagaimana cara guru menyajikan materi yang harus diajarkan (metode mengajar). Setiap metode mengajar yang dipilih dan digunakan oleh guru membawa pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pencapaian hasil yang diharapkan. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi merupakan stimulus yang menghendaki tanggapan dari siswa dan bergantung bagaimana siswa akan menyikapinya. Persepsi yang merupakan suatu proses kognitif terhadap stimulus yang diterima oleh panca indera berfungsi untuk memberikan motivasi terhadap konsekuensi perilaku. Adanya variasi metode mengajar bertujuan agar siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas sehingga nantinya diharapkan siswa dapat termotivasi untuk mengikuti pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar akuntansi siswa Akuntansi di SMK BM Ardjuna 01 Malang tahun ajaran 2006/2007. Adapun variabel bebas (X) yang digunakan adalah persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru, sedangkan variabel terikat (Y) adalah motivasi belajar akuntansi siswa. Penelitian ini menggunakan penelitian eksplanasi. Populasi penelitian adalah siswa jurusan Akuntansi di SMK BM Ardjuna 01 Malang yang berjumlah 163 siswa. Metode yang dipakai dalam penelitian sampel adalah teknik purposive sampling. Sampel penelitian mengambil siswa kelas II Akuntansi baik dari II-A/Ak maupun II-B/Ak. Penelitian mengambil sampel sebanyak 50 siswa atau sekitar 30% dari populasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dan regresi linier sederhana serta diolah dengan bantuan komputer program SPSS for Windows Versi 10,00. Dari hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai uji t untuk persepsi siswa adalah 4,751 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 sehingga Ho ditolak, Ha diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar akuntansi siswa Akuntansi di SMK BM Ardjuna 01 Malang Tahun Ajaran 2006/2007. Saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah: 1) Peneliti lain yang berminat terhadap masalah yang sama, hendaknya hasil penelitian ini dikembangkan mengingat keterbatasan yang ada, 2) Guru hendaknya lebih meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan metode yang bervariasi agar siswa lebih termotivasi untuk belajar, dan 3) Kepala sekolah hendaknya memperhatikan, memberikan pengarahan dan bantuan bagi guru yang mempunyai masalah dalam mengajar agar keterampilan mengajarnya tetap baik khususnya dalam penggunaan metode mengajar, misalnya dengan pelatihan ataupun seminar guru.

Pengembangan model pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I Jurusan Akuntansi di SMK BM Ardjuna I Malang / Widya Astuti BM

 

Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih menekankan pada proses pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa. Scaffolding learning merupakan pendekatan yang mengacu pada pembelajaran ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan model pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning dan hasil penerapan pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning tersebut dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas I jurusan akuntansi di SMK BM Ardjuna I Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Siklus I dan siklus II ditempuh selama tiga kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan siklus II berupa penerapan rencana pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal penyesuaian dan neraca lajur pada perusahaan dagang. Hasil penelitian pengembangan model pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning sebagai berikut: (1) pengembangan model pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning dinilai berdasarkan pelaksanaan pembelajaran konstruktivism mengalami peningkatan yakni 77,75 dengan kategori baik meningkat menjadi 87,75 dengan kategori baik sekali, (2) hasil belajar siswa dinilai dalam dua aspek yakni aspek keteampilan proses (bertanya, menjawab, menanggapi, dan keaktidfan dalam kelompok) dari 67,75 dengan kategori baik meningkat menjadi 87,75 dengan kategori baik sekali.selain itu, juga dinilai berdasarkan tes tertulis yang meningkat dari 74 menjadi 86,59 yang masuk dalam kategori baik dan baik sekali. Sedangkan kelemahan dalam pembelajaran ini adalah membutuhkan waktu yang babnyak karena tidak semua siswa dapat mengkkonstruksi pengetahuan yang diterima secara cepat. Model pembelajaran ini hanya dapat diterapkan pada materi tertentu. Dan apabila pengeloaan kelas kurang efektif maka dapat menghambat proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Sekolah dapat menjadikan model pembelajaran dengan pendekatan scaffolding learning sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas untuk menggantikan praktik pembelajaran yang selama ini diterapkan; (2) Guru harus dapat mengelola kelas dengan baik sehingga susana menjadi senang dan bersahabat dan bisa memnberikan motivasi kepada siswa.

Pengaruh sikap siswa dalam pembelajaran mata diklat komputer program MYOB terhadap peningkatan keterampilan psikomotorik siswa Jurusan Akuntansi di SMK Negeri 1 Malang / Sufi Arifana

 

Pengaruh kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen Verticillium lecanii (Zimmermann) terhadap keefektifan mengendalikan imago Riptortus linearis (L.) (Hemiptera: alydidae) / Rikhyatul Mufidah

 

Cendawan entomopatogen merupakan cendawan patogen (penyebab penyakit) yang menginfeksi insekta. V. lecanii merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang dapat digunakan sebagai pengendali pengisap polong kedelai R. linearis. Akan tetapi untuk mengendalikan pengisap polong kedelai R. linearis perlu adanya konsentrasi dan frekuensi aplikasi dari cendawan entomopatogen V. lecanii yang tepat untuk meningkatkan keefektifan V. lecanii dalam mengendalikan imago R. linearis. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi V. lecanii terhadap tingkat keefektifan cendawan entomopatogen V. lecanii dalam mengendalikan pengisap polong kedelai R. linearis. Serangga uji R. linearis dan cendawan entomopatogen V. lecanii yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) Kendalpayak, Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah kerapatan konidia V. lecanii, sedangkan faktor ke dua adalah frekuensi aplikasi V. lecanii. Cendawan V. lecanii umur satu bulan ditambah aquades steril dan diambil konidianya serta dihitung dengan menggunakan haemocytometer hingga didapatkan kerapatan konidia 106/ml suspensi, 107/ml suspensi, dan 108/ ml suspensi, dan ditambah tween 80% sebagai bahan perekat, kemudian diaplikasikan pada imago R. linearis sesuai dengan frekuensi aplikasi yang telah ditentukan. Keefektifan cendawan V. lecanii dinilai berdasarkan kematian imago R. linearis (%), polong terserang (%), biji terserang (%) dan jumlah tusukan stilet imago R. linearis (buah) pada biji kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh kerapatan konidia V. lecanii terhadap keefektifan mengendalikan imago R. linearis (kematian imago R. linearis (%), polong terserang (%), biji terserang (%), dan jumlah tusukan stilet imago R. linearis (buah) pada biji kedelai). Kerapatan konidia V. lecanii yang dianjurkan untuk mengendalikan imago R. linearis yaitu dengan menggunakan kerapatan konidia V. lecanii 108/ml suspensi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa frekuensi aplikasi V. lecanii tidak berpengaruh terhadap keefektifan mengendalikan imago R. linearis. Demikian juga dengan interaksi antara kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi V. lecanii tidak berpengaruh terhadap keefektifan mengendalikan imago R. linearis.

Pengaruh struktur kristal dan medan magnet terhadap konstanta dielektrik senyawa Zn0,9Mn0,1O1?δ / Listya Nuri Sultana

 

Spintronik merupakan bahan yang menggunakan derajat kebebasan spin sebagai pembawa informasi sekaligus penyimpan data. ZnO merupakan semikonduktor dengan celah pita yang lebar dan memiliki struktur kristal wurtzite heksagonal, dan Mn3+ merupakan ferromagnetik yang dapat didoping dalam ZnO. Pengaruh struktur kristal dan sifat fisis bahan berkaitan erat dengan sifat kemagnetan, kelistrikan, panas, optik dan superkonduktivitas. Proses sintering juga berpengaruh pada analisis kristal senyawa (Zn,Mn)O. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dilakukan penelitian tentang pengaruh struktur kristal dan medan magnet terhadap konstanta dielektrik Zn0,90Mn0,10O1δ. Sampel Zn0,90Mn0,10O1+ disintesis denagn metode reaksi padatan (solid state reaction). Suhu sintering yang digunakan adalah 1000oC dengan lama sintering 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, dan 10 jam. Karakterisasi konstanta dielektrik (Ke) dihitung dari nilai kapasitansinya dan struktur kristal menggunakan X-RD. Lama sintering menyebabkan perubahan terhadap srtuktur kristal, namun perubahan struktur kristal di atas tidak menyebabkan perubahan fase kristal karena masih dalam grup ruang P63mc. Pemberian medan magnet luar dapat merubah nilai konstanta dielektrik. Medan magnet luar berbanding tebalik dengan nilai konstanta dielektrik. Konstanta dielektrik bahan Zn0,90Mn0,10O1+ berubah sebanding dengan perubahan struktur kristal yang dinyatakan dalam sudut antar atom O_Zn_O, namun berbanding terbalik jarak antar atom Zn_O.

Sintesis bahan pewarna keramik berbasis oksida logam CoO dan Al2O3 menggunakan metode Spinel / Abdul Kholiq

 

Keramik memiliki nilai estetika yang tinggi apabila pada proses finishingnya digunakan pewarna yang menarik. Untuk menambah nilai dekoratif pada finishingnya ditambahkan bahan tambahan glasir frit. Pewarna keramik yang digunakan oleh kebanyakan pengrajin keramik umumnya merupakan pewarna keramik komersial atau import, sehingga harganya relatif mahal. Tujuan penelitian ini untuk membuat variasi bahan pewarna keramik berbasis oksida (oksida CoO dan oksida Al2O3) dengan berbagai perbandingan untuk diterapkan pada keramik jenis tegel. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UM, dan Industri Keramik “Soekardi” Dinoyo Malang. Penelitian ini terdiri dari dua tahapan yaitu: pertama, melakukan sintesis pewarna keramik berbasis oksida CoO dan Al2O3 dengan perbandingan komposisi 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 5:5, 4:6, 3:7, 2:8, 1:9, dan dikalsinasi pada pada suhu 1150 0C selama 5 jam. Kedua melakukan aplikasi hasil pewarna yang telah berhasil disintesis pada bodi keramik dengan mencampurkan masing-masing pewarna dengan glasir frit dan dikalsinasi pada suhu 1200 0C selama 1,5 jam. Hasil penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut: (1) pewarna hasil sintesis dari oksida logam Co dan Al dengan berbagai perbandingan, menghasilkan warna biru tua sampai dengan biru muda. Warna biru tertua diperoleh pada perbandingan oksida logam Co dan Al (9:1), karena oksida CoO yang terdapat dalam campuran oksida lebih dominan dari pada oksida Al2O3 sehingga serbuk oksida Al2O3 sedikit mendegradasi warna oksida CoO pada waktu reaksi campuran oksida berlangsung. Sedangkan warna biru muda diperoleh pada perbandingan oksida logam Co dan Al (1:9), karena oksida Al2O3 yang terdapat dalam campuaran oksida lebih dominan dari pada oksida CoO sehingga serbuk oksida Al2O3 lebih banyak mendegradasi warna oksida CoO pada saat reaksi campuran oksida berlangsung. (2) Semua pewarna hasil sintesis dapat diaplikasikan pada bodi keramik dan hasil aplikasi pewarna hasil sintesis pada bodi keramik menghasilkan warna yang sama dengan warna pewarna hasil sintesis. Saran yang dikemukakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) pada penelitian yang akan datang perlu digunakan variasi oksida yang lain dengan berbagai perbandingan. (2) Pada metode spinel yang suhu dipakai untuk pembakaran 1150 °C, oleh karena itu perlu dicari metode lain yang menggunakan suhu lebih rendah, sehingga diperoleh metode yang efektif dan efesien. (3) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai komposisi antara pewarna hasil sintesis dengan glasir frit sehingga diperoleh komponen pewarna dan glasir frit yang menghasilkan keramik dengan kualitas baik. (4) Perlu dilakukan uji toxisitas pada permukanaan keramik yang dilapisi pewarna sintesis.

Kontribusi gaya kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru madrasah tsanawiyah negeri di Kabupaten Ponorogo / Andi Arif Rifa'i

 

ABSTRAK Andi A. Rifa’i. 2007. Kontribusi Gaya Kepemimpinan Situasional dan Motivasi Berprestasi Terhadap Kinerja Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Ponorogo. Tesis, Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan Situasional, Motivasi Berprestasi, dan Kinerja Guru Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan tinggi rendahnya kualitas SDM suatu bangsa. Tanpa SDM yang berkualitas kita tidak akan mampu bersaing dalam persaingan global. Kualitas SDM kita pada saat ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu perhatian yang serius dari semua pihak terutama pemerintah, para pelaksana pendidikan di sekolah (guru), serta seluruh lapisan masyarakat. Seorang guru dituntut memiliki komitmen yang tinggi terhadap keberhasilan pendidikan. Komitmen guru terhadap pendidikan maupun anak didiknya dapat berupa kinerja yang baik. Tentunya, dalam bekerja seorang guru tidak dapat terlepas dari berbagai faktor pengaruh yang ada pada dirinya maupun lingkungannya. Untuk berkinerja dengan baik dibutuhkan motivasi (dorongan) terutama motivasi berprestasi, sebab salah satu ciri seseorang dikatakan memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah selalu bekerja keras untuk mencapai kesuksesan demi kepuasan batin tanpa memikirkan pujian maupun imbalan (reward). Selain dari pada motivasi berprestasi faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kinerja guru adalah kepemimpinan kepala sekolah. Pola perilaku seorang pemimpin (kepala sekolah) dapat dilihat dari gabungan antara pola perilaku tugas dan pola perilaku hubungan yang disebut dengan gaya kepemimpinan. Dan seorang kepala sekolah yang menerapkan gaya kepemimpinan situasional dapat dilihat dalam penerapan keempat gaya, yaitu; gaya bercerita (S1), gaya menjual (S2), gaya partisipasi (S3) dan gaya pendelegasian (S4). Namun, tidak semua gaya dapat memberikan kontribusi terhadap kinerja guru, hanya gaya-gaya sesuai dengan kondisi situasi saja yang dapat memberikan kontribusi efektif. Melihat pentingnya peranan guru dalam pendidikan maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh dengan melakukan penelitian tentang kinerja guru dengan melihat dua variabel penting, yaitu; gaya kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi. Penelitian dilakukan pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri di Kabupaten Ponorogo dengan rumusan masalah; (1) bagaimana gambaran gaya kepemimpinan situasional kepala MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?, (2) bagaimana gambaran motivasi berprestasi guru MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?, (3) bagaimana gambaran kinerja guru MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?, (4) seberapa besar hubungan gaya kepemimpinan situasional dengan kinerja guru MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?, (5) seberapa besar hubungan motivasi berprestasi dengan kinerja guru MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?, (6) seberapa besar hubungan gaya kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan kinerja guru MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?, (7) seberapa besar kontribusi gaya kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru MTs Negeri di Kabupaten Ponorogo?. Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan gaya kepemimpinan situasional kepala madrasah, motivasi berprestasi dan kinerja guru MTsN di Kabupaten Ponorogo; serta untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar variabel penelitian, yaitu: (2) gaya kepemimpinan situasional (gaya: bercerita, menjual, partisipasi, dan pendelegasian) dengan kinerja guru; (3) motivasi berprestasi dengan kinerja guru; (4) gaya kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi dengan kinerja guru MTsN di Kabupaten Ponorogo; kemudian (6) untuk mengetahui besar sumbangan efektif gaya kepemimpinan situasional, motivasi berprestasi terhadap kinerja guru MTsN di Kabupaten Ponorogo. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dengan sampel sebesar 119 guru. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen angket model tertutup yang dikembangkan oleh peneliti dalam bentuk rating scale. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi ganda untuk uji hipotesis, dengan bantuan komputer program analisis statistik SPSS 10 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional oleh kepala MTsN di Kabupaten Ponorogo: (a) gaya bercerita: rendah, (b) gaya menjual: sedang, (c) gaya partisipasi: tinggi, dan (d) gaya pendelegasian : tinggi (2) tingkat motivasi berprestasi guru MTsN di kabupaten Ponorogo rendah dan (3) tingkat kinerja guru MTsN di Kabupaten Ponorogo tinggi. Sedangkan hasil analisis regresinya (korelasinyaa) adalah (1) terdapat hubungan yang signifikan antara gaya bercerita dengan kinerja guru, (2) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gaya menjual dengan kinerja guru, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara gaya partisipasi dengan kinerja guru, dan (4) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gaya pendelegasian dengan kinerja guru, (5) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru. Sumbangan gaya bercerita, gaya partisipasi, dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru MTsN di Kabupaten Ponorogo adalah sebesar 27,9%. Sedangkan sisanya 72,1% adalah besar sumbangan efektif yang berasal dari berbagai faktor atau variabel lain yang tidak termasuk dalam persamaan model regresi yang telah diperoleh. Hasil temuan dari penelitian ini dapat digunakan oleh Departemen Agama, kepala sekolah untuk menentukan kebijakan yang terkait dengan berbagai program pembinaan kinerja guru. Sedangkan untuk pengembang ilmu manajemen pendidikan diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk bahan perbandingan dan kajian lebih lanjut dengan melakukan penelitian menggunakan variabel lain yang belum tercakup dalam penelitian ini atau menghubungkan variabel-variabel lain dengan kinerja guru. Sehingga nantinya akan diperoleh gambaran teori yang lebih komprehensif dan berguna bagi implementasi manajemen pendidikan di lapangan (dalam dunia pendidikan).

Pengembangan media pembelajaran untuk materi laju reaksi pada SMA kelas XI semester I / Galuh Mustika Argarini

 

Kemudahan siswa dalam menerima suatu pelajaran termasuk salah satu kendala utama bagi penyampaian materi oleh guru. Oleh karena itu media pembelajaran yang akan digunakan harus diintegrasikan dengan tujuan dan isi pembelajaran yang akan disampaikan. Media/model berguna untuk membantu siswa; (1) meningkatkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalahan pemahaman dalam belajar; (2) meningkatkan minat siswa untuk mempelajari isi pelajaran; (3) memberikan pengalaman nyata yang merangsang aktifitas diri sendiri untuk belajar (motifasi intrinsik); (4) mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan dan; (5) menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam. Media pembelajaran merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang dapat membantu siswa meningkatkan pemahamannya tentang materi yang dipelajari. Media pembelajaran yang bervariasi, menarik, dan inovatif diperlukan oleh guru dalam mengajarkan konsep-konsep kepada siswa. Salah satu materi kimia yang diajarkan di SMA adalah laju reaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Langkah-langkah pengembangan media ini terdiri dari: (1) mengkaji kurikulum, (2) membuat diagram alir, (3) mengkaji materi Laju Reaksi, (4) mengembangkan media dengan menggunakan Mindjet MindManager 6, (5) menguji kelayakan media, (6) merevisi media, (7) mentransfer dalam bentuk CD. Validasi hasil pengembangan menggunakan angket/kuesioner. Dalam penelitian ini jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup. Pengumpulan data diambil setelah paket program komputer yang dibuat selesai disusun. Subyek uji kelayakan (validator) terdiri dari dosen Universitas Negeri Malang dan guru Kimia SMA. Data yang diperoleh melalui kuesioner dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan menghitung persentase jawaban masing-masing item pertanyaan yang diberikan responden. Hasil penelitian pengembangan ini adalah media pembelajaran Laju Reaksi berbentuk CD. Media ini terdiri dari 5 bagian yaitu (1) pendahuluan, (2) materi, (3) soal, (4) peta konsep, (5) glosari. Hasil validasi media ini mencapai tingkat validasi 81,58% yang berarti bahwa secara isi media ini telah layak digunakan sebagai bagian perangkat pembelajaran untuk mengajarkan Laju Reaksi di SMA Kelas XI. Walaupun demikian, efektivitas penggunaan media ini masih perlu diteliti lebih lanjut melalui kegiatan implementasi di kelas.

Studi komparatif penggunaan metode cooperative learning model jigsaw dan metode tradisional model ceramah dalam pembelajaran akuntansi di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo / Abu Sofyan Basya

 

ABSTRAK Sofyan Basya, Abu.2007. Studi Komparatif Penggunaan Metode Cooperative Learning Model Jigsaw dan Metode Tradisional Model Ceramah Dalam Pembelajaran Akuntansi Di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo. Skripsi.Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing (I) Sri Pujiningsih,M.Si.,Ak. (II) Sawitri Dwi Prastiti,M.Si,S.E.,Ak Kata Kunci: Jigsaw, Prestasi Belajar. Metode pembelajaran yang diterapkan di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo menggunakan metode konvensional. Metode pembelajaran ini, siswa hanya berperan sebagai penerima informasi secara pasif karena hanya mendengarkan dan mencatat informasi dari guru saja. Metode pembelajaran yang berkualitas bagi siswa adalah metode yang melibatkan siswa untuk ikut serta aktif dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Metode ini didasarkan atas kerja kelompok yang dilakukan untuk memecahkan soal atau memahami suatu konsep dan memberi kesempatan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan metode tradisional model ceramah dan metode cooperative learning model Jigsaw pada mata pelajaran akuntansi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen dengan rancangan eksplanasi. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI IPS tahun ajaran 2006/2007. Teknik yang dipakai dalam pemilihan sampel adalah teknik purposive sampling. Sampel yang terpilih adalah siswa kelas XI IPS sebanyak 2 kelas yaitu kelas XI1 IPS sebagai kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan metode kooperatif model jigsaw serta kelas XI2 IPS sebagai kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode konvensional. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik uji t (t-test) dan uji U Mann Whitney. Berdasarkan hasil uji t test pada penelitian ini diketahui kemampuan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak berbeda secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansinya sebesar (0,831) >0,05. Setelah kedua kelas diajar dengan metode yang berbeda, terdapat perbedaan prestasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Sedangkan pengujian hipotesis terhadap gain score menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Hal ini berarti ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan metode tradisional model ceramah dan metode cooperative learning model jigsaw pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo. Berdasarkan hasil analisis disarankan (1). metode pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat digunakan sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan prestasi belajar akuntansi. (2). hendaknya metode pembelajaran kooperatif model jigsaw ini dapat disosialisasikan dalam pelatihan atau penataran kependidikan karena dapat meningkatkan pemahaman siswa baik pada materi yang berbasis matematis maupun berbasis pemahaman. (3). bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan metode pembelajaran ini diharapkan untuk membahas lebih mendalam dan dalam lingkup yang lebih luas atau meneliti pada ma

Upaya peningkatan motivasi dan prestasi belajar fisika dengan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams-Games-Tournament) siswa kelas XI di MAN Tulungagung 2 / Soumi Romdiyah

 

Selama ini masih banyak keluhan tentang siswa yang kurang mandiri, kurang menghargai pendapat orang lain, siswa kurang bekerjasama atau membantu teman dan siswa sulit untuk mengungkapkan pendapat seperti halnya yang terjadi pada siswa di MAN Tulungagung 2. Pembelajaran yang dilakukan di MAN Tulungagung 2 selama ini masih bersifat konvensional, guru masih menggunakan metode ceramah sehingga siswa hanya mendengarkan dan menjawab kalau ditanya. Di sini siswa kurang diberi kebebasan untuk mengembangkan wawasan dan pendapat mereka, selain itu siswa juga masih sering terlambat dalam mengikuti pelajaran, kesiapan siswa juga masih kurang ketika belajar. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan maka dilakukan pengembangan instrumen. Instrumen yang digunakan adalah berupa perangkat pembelajaran, lembar observasi keterlaksanaan TGT, lembar observasi motivasi belajar, angket motivasi belajar dan instrument prestasi belajar berupa soal pretes dan postes. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, angket dan tes yang nantinya data tersebut diolah dan didiskripsikan. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 karena disamping motivasi untuk belajar rendah prestasi yang diperoleh juga rendah dibandingkan dengan kelas yang lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa adalah dengan menggunakan model kooperatif TGT (Teams-Games- Tournament). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model TGT dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 1 MAN Tulungagung 2. Hal itu dapat dilihat dari hasil skor rata-rata motivasi belajar hasil observasi 65,1% menjadi 75,6% dan dari hasil angket 64,0% menjadi 73,4%, sedangkan prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan kemampuan awal siswa sebesar 7,2 meningkat menjadi 7,7.

Effektivitas penerapan metode pembelajaran siklus lima fase (learning cycle-5E) pada mata pelajaran akuntansi di SMK Shalahudin Malang / Sita Puspitasari

 

Metode pembelajaran siklus lima fase (learning cycle-5E) merupakan salah satu model pembelajaran yang mengacu pada teori konstruktivisme. Pembelajaran dengan metode siklus lima fase (learning cycle-5E) dapat mengembangkan atau memperkaya konsep-konsep yang telah dimiliki siswa sebagai bekal awal kognisinya. Belajar dengan metode pembelajaran siklus lima fase (learning cycle-5E) dapat membuat siswa aktif dan memungkinkan siswa belajar mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan metode pembelajaran siklus lima fase (learning cycle-5E) pada mata pelajaran akuntansi di SMK Shalahudin Malang. Efektivitas penerapan metode pembelajaran siklus lima fase (learning cycle-5E) diukur melaui aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimental desin. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil pengambilan sampel didapat kelas 1Ak.A sebagai kelas eksperimen dan kelas 1Ak.C sebagai kelas kontrol, dimana kedua kelas tersebut sebelumnya mendapatkan pengajaran metode konvensional (ceramah dan tanya jawab). Analisis data meliputi analisis deskriptif menggunakan indikator persentase untuk menilai sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor) siswa, serta analisis hipotesis menggunakan independent-sample t test untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan metode pembelajaran siklus (learning cycle) dibandingkan metode pembelajaran konvensional pada mata pelajaran akuntansi. Analisis data beda rata-rata terhadap kenaikan rata-rata nilai (gain score) menunjukkan taraf nilai signifikansi 0,005 < 0,05 dan thitung (2,925) > ttabel (1,671) hal ini sesuai dengan pernyataan jika signifikansi < 0,05 dan thitung > ttabel maka H0 ditolak. Hasil penilaian sikap (afektif) menunjukkan hasil rata-rata nilai kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh persentase berdasarkan aspek afektif yang dinilai untuk kerjasama dalam kelompok sebesar 96% dan 64,29%, keaktifan dalam kelompok sebesar 82,67% dan 46,43%, keberanian bertanya dan menjawab sebesar 56% dan 47,62%. Hasil penilaian ketrampilan (psikomotor) menunjukkan hasil rata-rata nilai kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh persentase berdasarkan aspek yang dinilai untuk kemampuan menyiapkan pengelolaan buku jurnal sebesar 74,4% dan 75,71%, melakukan pencatatan transaksi dalam jurnal sebesar 53,6% dan 34,29%, dan teliti melakukan pencatatan transaksi dalam jurnal sebesar 66,4% dan 64,29%. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran siklus lima fase (learning cycle-5E) sebagai salah satu alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar.

Alokasi waktu kerja dan sumbangan ekonomi terhadap pendapatan keluarga tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam di Kecamatan Kota Kediri / Mey Yustiningsih

 

Wanita memiliki peranan dan kedudukan dalam masyarakat sebagai penyokong kehidupan rumah tangga, dimana wanita mempunyai 2 peran ganda dalam kegiatan kerja yaitu dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan disisi lain bekerja dengan tujuan mendapatkan pendapatan atau penghasilan. Pendapatan kepala keluarga yang minim sekitar Rp 500.000,00 - Rp 600.000,00 perbulan atau masih di bawah UMR Kota Kediri yaitu Rp 640.000,00 perbulan menjadikan para wanita atau ibu rumah tangga terjun langsung untuk membantu mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik di sektor pemerintahan, pertanian maupun industri. Permasalahan pada penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana rata-rata alokasi waktu kerja?, (2) Bagaimana rata-rata alokasi waktu sampingan?, (3) Bagaimana rata-rata waktu luang yang digunakan untuk keluarga?, (4) Bagaimana rata-rata besarnya pendapatan?, (5) Bagaimana rata-rata besarnya sumbangan atau remitensi untuk keluarga?, (6) Bagaimana hubungan antara masa kerja dengan pendapatan?, (7) Bagaimana hubungan antara macam-macam borongan dengan pendapatan?, (8) Bagaimana hubungan antara pendapatan dengan sumbangan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam bagian produksi borongan di Kecamatan Kota Kediri meliputi: (1) Rata-rata alokasi waktu kerja, (2) Rata-rata alokasi waktu sampingan, (3) Rata-rata waktu luang yang digunakan untuk keluarga, (4) Rata-rata besarnya pendapatan, (5) Rata-rata besarnya sumbangan atau remitensi untuk keluarga, (6) Hubungan antara masa kerja dengan pendapatan, (7) Hubungan antara macam-macam borongan dengan pendapatan, (8) Hubungan antara pendapatan dengan sumbangan. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan metode yang digunakan adalah bersifat survey mengambil sampelnya 126 responden dari jumlah populasi sebanyak 418 dengan menggunakan teknik Proportional Random Sample. Pengambilan datanya menggunakan 3 metode, yaitu observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Data yang sudah didapatkan akan dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Rata-rata alokasi waktu kerja yang digunakan oleh tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam bagian produksi borongan di Kecamatan Kota Kediri adalah 6 jam perhari atau 36 jam perminggu, (2) Rata-rata alokasi waktu sampingan yang digunakan oleh tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam bagian produksi borongan di Kecamatan Kota Kediri adalah 4 jam perhari atau 24 jam perminggu, (3) Rata-rata alokasi waktu luang yang digunakan oleh tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam bagian produksi borongan di Kecamatan Kota Kediri adalah 18 jam perhari atau 108 jam per minggu, (4) Rata-rata besarnya pendapatan tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam bagian produksi borongan di Kecamatan Kota Kediri adalah Rp 125.333,00 perminggu, (5) Rata-rata remitensi atau besarnya sumbangan yang diberikan oleh keluarga tenaga kerja wanita harian pabrik rokok Gudang Garam bagian produksi borongan di Kecamatan Kota Kediri adalah Rp 101.889,00 perminggu, (6) Bahwa antara masa kerja dengan pendapatan memiliki hubungan positif dan erat, yang mana antara keduanya saling mempengaruhi, (7) Bahwa antara macam-macam borongan dengan pendapatan memiliki hubungan positif dan erat, yang mana antara keduanya saling mempengaruhi, (8) Bahwa antara pendapatan dengan sumbangan memiliki hubungan yang positif dan erat, yang mana antara keduanya saling mempengaruhi.

Pengaruh infus daun tapak liman (Elephantopus scaber L.) terhadap spermatogenesis mencit (Mus musculus) galur Balb C / Elzza Armellariea

 

Indonesia memiliki kekayaan flora melimpah yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat, salah satunya adalah tanaman tapak liman (Elephantopus scaber L.), karena di dalam daun tapak liman tersebut mengandung senyawa stigmasterol yang dapat memacu gairah seksual. Stigmasterol merupakan senyawa pembentuk hormon steroid (progesteron), melalui jalur biosintetis hormon steroid, progesteron mengalami konversi menjadi testosteron. Pada hewan jantan, hormon ini diketahui berpengaruh terhadap spermatogenesis. Sehingga dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui apakah infus daun tapak liman berpengaruh terhadap spermatogenesis mencit (Mus musculus) galur Balb C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh infus daun tapak liman terhadap spermatogenesis mencit galur Balb C. Spermatogenesis dalam penelitian ini meliputi tebal epitel germinal, jumlah spermatogonium, jumlah spermatosit primer, dan jumlah spermatid. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK), dengan 5 perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak 5 kali. Hewan coba yang digunakan berupa mencit (Mus musculus) jantan galur Balb C umur 8 – 10 minggu dengan berat badan 23 - 25 gram. Pemberian infus daun tapak liman dilakukan secara gavage selama 36 hari berturut-turut. Infus daun tapak liman yang diperlakukan meliputi konsentrasi 0%, 73%, 75%, 77%, dan 79% sebanyak 0,5 ml. Pada hari ke-37 mencit dibunuh secara dislokasi leher dan diambil testisnya untuk dibersihkan dalam NaCl 0,9%. Setelah itu testis ditimbang dan dimasukkan dalam larutan Bouin selama 1X24 jam untuk selanjutnya dibuat sediaan histologi testis dengan metode parafin. Sediaan histologi testis diiris menggunakan mikrotom dengan ketebalan 12 μm, sehingga terbentuk sebuah preparat irisan testis. Setelah itu preparat diwarnai dengan pewarnaan Haematoxylin Eosin, kemudian diamati di bawah mikroskop. Untuk penghitungan tebal epitel germinal menggunakan perbesaran 10X10, sedangkan untuk penghitungan jumlah spermatogonium, jumlah spermatosit primer, dan jumlah spermatid menggunakan perbesaran 10X40. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian (ANAVA) tunggal. Berdasarkan data yang diperoleh didapatkan bahwa tidak ada pengaruh infus daun tapak terhadap spermatogenesis mencit galur Balb C, tetapi terdapat kecenderungan penurunan sel germa sejalan dengan meningkatnya konsentrasi infus daun tapak liman yang diberikan.

Dinamika pengelompokan sosial siswa di SMAN 4 Malang / Amelya Widyati Suwarno

 

Fenomena pengelompokan sosial banyak ditemui dalam kehidupan remaja di SMA. Siswa SMA sebagai seorang remaja memiliki dorongan yang sama untuk membentuk dan terlibat dalam suatu kelompok. Lingkungan SMA dapat dikatakan sebagai miniatur dari masyarakat secara luas, karena dalam sekolah terdapat siswa dengan beraneka karakter dan berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Keanekaragaman tersebut akan menghasilkan suatu dinamika mengenai kelompok sosial siswa, yang mendorong dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini akan difokuskan pada bentuk-bentuk kelompok sosial yang menonjol, latar belakang terbentuknya kelompok, proses terbentuknya kelompok serta stabilitas kelompok-kelompok yang ada di lokasi penelitian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan model fenomenologis. Peneliti melakukan interaksi langsung dengan subyek penelitian dengan melakukan wawancara dan pengamatan. Lokasi penelitian ini adalah SMAN 4 Malang yang bertempat di Jl. Tugu Utara No.1 Malang. Alat pengumpul data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi. Keseluruhan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis fenomenologis, dan disusun menjadi kesimpulan penelitian. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui metode (1) ketekunan pengamatan, (2) generalisasi empiris, (3) triangulasi, dan (4) verifikasi teori. Hasil penelitian ini mendapatkan 26 bentuk kelompok yang secara umum terdiri dari kelompok terorganisir, chums, clique, kelompok pacaran dan crowds. Kelompok memiliki aktivitas yang relatif seragam, yang melibatkan adanya aktivitas positif dan negatif. Masing-masing kelompok menerapkan adanya norma dan strukturisasi anggota dalam kelompok sosial di sekolah. Pada beberapa kelompok dengan kreativitas yang tinggi ditemukan adanya identitas, properti dan ritual khas kelompok. Latar belakang terbentuknya kelompok secara umum dipengaruhi oleh faktor ketertarikan, kebutuhan dan perasaan. Proses terbentuknya kelompok dapat diklasifikasikan berdasarkan kesengajaan, tujuan dan keberadaannya. Stabilitas kelompok secara garis besar dipengaruhi oleh ketahanan dan kelompok. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada siswa untuk lebih selektif dalam memilih kelompok. Siswa disarankan juga untuk lebih memperluas pergaulannya dengan teman lain di luar kelompok supaya masa remajanya menjadi lebih bermakna dan berwarna. Pihak sekolah disarankan untuk berperan aktif dalam meminimalisir nilai negatif dan memaksimalkan nilai positif dari aktivitas berkelompok. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggali lebih dalam mengenai aktivitas khas kelompok, karena hal itu merupakan sesuatu yang menarik dan memiliki pengaruh langsung terhadap individu siswa.

Hubungan antara faktor fisik-kimia lingkungan dengan keanekaragaman dan pola distribusi echinodermata pada daerah pasang surut Kabupaten Seram bagian barat sebagai sumber pembelajaran ekologi kelautan / Dominggus Rumahlatu

 

Maluku sea is richest with its natural resources have been exploited by many people. The sea resources whish common use by mollucans is sea biota in zone intertidal. The sea biotas are like fish, shrimp, holothuria, and molusca. The use of these sea resources is not balance with the conservation of sea environment. These effects can decrease the quality of sea resource. One of the sea resources is echinodermata. This sea resource is decreased because all the mollucans catch them without consedering their age and size (over fishing). Therefore, its important to conduct future research to see condition in order to survive its communities. This study was conducted from April through Agustus 2007. Location for data collection was the village of Kairatu, Kairatu District which has a rocky mud subsrate area as stasion I and the village of Lokki, West Seram District which has a sandy coral substrate area as stasion II. The study aimed at (1) examining the environmental physic-chemical factors (temperature, salinity, and pH), (2) inventorying types of echinodermata, (3) finding out the index of the diversity of echinodermata, (4) finding out distribution patterns of echinodermata, (5) analyzing the relationships between environmental physic-chemical factors with the diversity of echinodermata, (6) analyzing the relationships between environmental physic-chemical factors with distribution patterns of echinodermata, (7) analyzing diversity difference of echinodermata in a rocky mud subsrate area and in a sandy coral substrate area, (8) analyzing difference of distribution patterns of echinodermata in a rocky mud subsrate area and in a sandy coral substrate area, (9) preparing guidance of practicum for students taking marine ecology class for both lab practices and field practices. The study found that environmental physic-chemical conditions in both rocky mud subsrate area and sandy coral substrate area were not very different. Average temperature of the rocky mud subsrate area was found between 31,57-33,01 oC and that of the sandy coral substrate area was found to be between 30,31-32,99 oC. Salinity average was between 32,94-33,94%0 for the rocky mud subsrate area and that of the sandy coral substrate area was between 33,72-34,16%0. pH average for the rocky mud subsrate area was between 7,70-7,99 and that of the sandy coral substrate area was between 7,90-7,99. Types of echinodermata found in the rocky mud subsrate area were 12 and those of the sandy coral substrate area were 3 classes, 6 orders, 6 families, and 9 genera,with a total of 498 individuals; in the sandy coral substrate area 17 types were found comprising 4 classes, 7 orders, 10 families, and 13 genera with a total of 583 individuals. Diversity index of types of echinodermata in each plot was different. The general diversity index at the rocky mud subsrate and for the sandy coral subsrate area was 2,049 and 2,399. There were different patterns of distributions. In the rocky mud subsrate area there were 11 types found in clusters. One species was evenly spread; in the sandy coral substrate area 16 types were found in clusters. in the meantime one species was evenly spread. Regression analysis found out that there was a significant relationship between environmental physi-chemical factors with diversity index for these types P. lincki, D. setosum, E. calamari, A. radiata, S. purpuratus, and H. nobilis. There was no significant relationships for these: jenis C. novaeguinea, A. vulgaris, H. atra, C. violacea, H. vagabunda, and B. marmorata in the rocky mud subsrate area; in the sandy coral substrate area, on the other hand, there was a significant relationships between environmental physic-chemical factors with diversity for these types O. ophiura, L. laevigata, L. multifora, A. typicus, C. novaeguinea, P. nodusus, D. setosum, E. calamari, S. purpuratus, H. atra, H. vagabunda, and B. marmorata. there was no significant relationships, however, for these types jenis O. aculeafa, A. vulgaris, A. radiata, C. violacea, and H. nobilis. Regression analysis also showed that there was a significant relationship between environmental physic-chemical factors with distribution patterns for Strongylecentrotus purpuratus; while there was no significant relationships between environmental physic-chemical factors with distribution patterns for Culcita novaeguinea, Protoreaster nodusus, Deadema setosum, Echinothrix calamari, Astropyga radiata, Holothuria atra, Chiridota violacea, Holothuria vagabunda, and Bohadschia marmorata in rocky mud subsrate area. In the sandy coral substrate area, there was a significant relationship between environmental physic-chemical factors with distribution patterns in the 17 types of echinodermata found. ANOVA analysis showed that there was a significant difference in diversity index of echinodermata in the rocky mud subsrate area and in the sandy coral substrate area. Substrates made a difference in the existence of echinodermata in a habitat. There was a tendency that presence of the various kinds of echinodermata were very related to ecological conditions of a marine habitat. ANOVA analysis also indicated that there was no different distribution patterns of echinodermata in the rocky mud subsrate area and the sandy coral substrate area. This was presumably caused by the difference of distribution patterns of each type. Besides, there were other influencing factors such as level of physiological stress, availability of food sources, and topographical differences between the two sites. Perairan Maluku yang kaya akan sumberdaya hayati laut sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Sumberdaya laut yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Maluku adalah biota laut yang hidup di perairan pantai terutama di daerah pasang surut (zone intertidal). Biota laut yang dimanfaatkan masyarakaat di daerah ini, antara lain berbagai ikan, udang, lobster, teripang, dan bia manis. Pemanfaatan sumberdaya laut yang tidak diimbangi dengan pelestarian lingkungan laut akan membawa dampak buruk bagi penurunan kualitas sumberdaya laut. Salah satu sumberdaya laut yang mengalami penurunan reproduksi adalah Echinodermata, disebabkan karena kebiasaan masyarakat dalam melakukan penangkapan secara terus-menerus dengan tidak memperhatikan umur dan besarnya ukuran Echinodermata yang akan ditangkap (over fishing), sehingga perlu dilakukan penelitian untuk melihat kondisi sumberdaya Echinodermata supaya tidak berkurang di waktu yang akan datang. Penelitian tentang hubungan antara faktor fisik kimia lingkungan dengan keanekaragaman dan pola distribusi Echinodermata pada daerah pasang surut Kabupaten Seram Bagian Barat sebagai sumber pembelajaran ekologi kelautan telah dilakukan sejak April sampai Agustus 2007. Daerah yang ditetapkan sebagai lokasi pengambilan data adalah desa Kairatu dengan pantai yang memiliki substrat lumpur berbatu sebagai stasion I, serta desa Lokki dengan pantai yang memiliki substrat pasir berkarang sebagai stasion II. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk (1) meneliti kondisi fisik kimia lingkungan (suhu, salinitas dan pH), (2) menginventarisasi jenis Echinodermata, (3) mengetahui indeks keanekaragaman Echinodermata, (4) mengetahui pola distribusi Echinodermata, (5) menganalisis hubungan antara faktor fisik-kimia lingkungan dengan keanekaragaman Echino-dermata, (6) menganalisis hubungan antara faktor fisik kimia lingkungan dengan pola distribusi Echinodermata, (7) menganalisis perbedaan keanekaragaman Echinodermata pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu dan pasir berkarang, (8) menganalisis perbedaan pola distribusi Echinodermata pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu dan pasir berkarang, (9) menyusun petunjuk praktikum matakuliah ekologi kelautan untuk kegiatan praktikum di laboratorium dan di lapangan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis deskriptif dengan jenis analisis regresi (ANAREG), dan ANAVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi fisik kimia lingkungan pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu dan pasir berkarang tidak jauh berbeda. Rata-rata suhu berkisar antara 31,57-33,01 oC dan 30,31-32,99 oC, salinitas berkisar antara 32,94-33,94%0 dan 33,72-34,16%0, pH berkisar antara 7,70-7,99 dan 7,90-7,99. Echinodermata yang ditemukan pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu adalah 12 jenis, terdiri dari 3 kelas, 6 ordo, 6 famili, dan 9 genus, dengan jumlah keseluruhan 498 individu. Sedangkan pada kawasan pantai dengan substrat pasir berkarang ditemukan 17 jenis, terdiri dari 4 kelas, 7 ordo, 10 famili, dan 13 genus, dengan jumlah keseluruhan 583 individu. Indeks keanekaragaman jenis Echinodermata secara umum pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu dan pasir berkarang sebesar 2,049 dan 2,399. Pola distribusi Echinodermata, menunjukan tipe pola penyebaran yang berbeda. Pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu, menunjukan 11 jenis yang pola sebarannya mengelompok, sedangkan 1 jenis yang pola sebarannya merata. Sebaliknya, pola sebaran jenis Echinodermata pada kawasan pantai dengan substrat pasir berkarang, menunjukan 16 jenis yang pola sebarannya mengelompok, sedangkan 1 jenis yang pola sebarannya merata. Analisis regresi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor fisik kimia lingkungan dengan indeks keanekaragaman jenis P. lincki, D. setosum, E. calamari, A. radiata, S. purpuratus, dan H. nobilis. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor fisik-kimia lingkungan dengan keanekaragaman Echinodermata jenis C. novaeguinea, A. vulgaris, H. atra, C. violacea, H. vagabunda, dan B. marmorata pada kawasan pantai dengan substrat lumpur. Sedangkan pada kawasan pantai substrat pasir berkarang, terdapat hubungan yang signifikan antara faktor fisik kimia lingkungan dengan indeks keanekaragaman Echinodermata jenis O. ophiura, L. laevigata, L. multifora, A. typicus, C. novaeguinea, P. nodusus, D. setosum, E. calamari, S. purpuratus, H. atra, H. vagabunda, dan B. marmorata. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor fisik-kimia lingkungan dengan keaneka-ragaman Echinodermata jenis O. aculeafa, A. vulgaris, A. radiata, C. violacea, dan H. nobilis. Analisis regresi juga menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor fisik kimia lingkungan dengan pola distribusi Echino-dermata jenis Strongylecentrotus purpuratus. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara fisik-kimia lingkungan dengan pola distribusi Echino-dermata jenis C. novaeguinea, P. nodusus, D. setosum, E. calamari, A. radiata, H. atra, C. violacea, H. vagabunda, dan B. marmorata pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu. Sedangkan pada kawasan pantai dengan substrat pasir berkarang, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor fisik kimia lingkungan dengan pola distribusi ke-17 jenis Echinodermata yang ditemukan. Analisis varians menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan indeks keanekaragaman Echinodermata pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu dan pasir berkarang. Penyebab perbedaan yang signifikan indeks keanekaragaman disebabkan oleh substrat yang berbeda, sehingga mem-pengaruhi kehadiran Echinodermata pada suatu habitat. Analisis varians juga menunjukan hasil bahwa tidak ada perbedaan pola distribusi Echinodermata pada kawasan pantai dengan substrat lumpur berbatu dan pasir berkarang di daerah pasang surut Kabupaten Seram Bagian Barat. Penyebab perbedaan yang tidak signifikan disebabkan karena pola distribusi dari hasil masing masing jenis Echinodermata tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. Selain itu, adanya faktor lain seperti tingkat stress fisioligis dan ketersediaan makanan dilingkungan hidupnya serta adanya perbedaan topografi pada ke-2 stasion penelitian.

Efektivitas pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran think pair square oada mata pelajaran akuntansi (studi pada siswa kelas I Program Akuntansi SMK Ardjuna I Malang) / Handhi Nugroho

 

Implementasi konsep gender pada pembelajaran kelompok bermain (studi kasus di kelompok bermain Aisyiyah Qurrota Ayun. Jl. Dr. Sutomo No. 59 Bojonegoro) / Diah Ayu Kurniawati

 

Anak merupakan salah satu Sumber Daya Manusia serta asset nasional yang memiliki potensi yang amat besar dalam menentukan kehidupan suatu bangsa. Untuk menciptakan manusia yang berkualitas bukanlah tugas yang ringan serta bisa dilakukan sambil lalu. Oleh karena itu pendidikan dan peningkatan kualitas anak saat ini juga dimasa mendatang mutlak mendapat perhatian dan penanganan yang intensif sejak dini oleh semua pihak. Tertuang dalam Peraturan Pemerintah tahun 1990 Pasal 1 ayat 1 mengemukakan bahwa di Kelompok Bermain merupakan satuan PLS yang penyelenggaraannya diarahkan bagi Pendidikan Anak Usia Prasekolah, yaitu pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik sebelum memasuki sekolah dasar. Kelompok Bermain itu sendiri memiliki tujuan membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, mental, pengetahuan, ketrampilan dan daya cipta yang diperlukan anak usia 2-4 tahun untuk memasuki pendidikan selanjutnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan konsep gender pada pembelajaran di Kelompok Bermain. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 orang yang terdiri dari Kepala sekolah dan Pendidik. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep gender terhadap pembelajaran Kelompok Bermain Aisyiyah masih kurang dikarenakan pengetahuan pendidik dan materi pembelajaran masih bias gender. Sebagai contoh ketika penunjukan pemimpin upacara bendera di hari Senin yang ditunjuk adalah anak laki-laki selain itu ketika pembelajaran seni tari yang dilibatkan hanya anak perempuan saja. Ini diakibatkan masih banyaknya materi pembelajaran yang belum bernuansa netral gender. Walaupun begitu para pendidik berusaha untuk netral karena di sekolah Aisyiyah Qurrota Ayun sekarang sedang dilakukan metode pembelajaran berwawasan gender. Sedangkan perlakuan pendidik terhadap anak didik sudah bagus terlihat diterapkannya metode berwawasan gender. Ini dibuktikan dengan diterapkannya permainan berwawasan gender yang diadakan di sekolah tersebut. Pendidik beranggapan pada usia anak-anak mereka masih dalam tahap perkembangan sehingga kebanyakan anak masih ingin mencoba-coba sesuatu yang baru karena dipicu oleh rasa keingin tahuannya yang tinggi. Dengan adanya metode tersebut diharapkan anak didik khususnya anak perempuan tidak lagi merasa kemampuannya dibawah anak laki-laki. Banyaknya bentuk-bentuk larangan pada anak maka akan menghambat dan mematikan daya kreatifitas anak. Dari penelitian ini dapat diberikan saran, Perlu peningkatan pemahaman tentang gender dikalangan pendidik. Ini dapat ditempuh dengan cara mengadakan pelatihan gender dan pendidik juga diharapkan untuk lebih kritis dan sensitif dalam menelaah serta mencermati segala hal yang terkait dengan ketimpangan gender dalam proses pembelajaran yang berlangsung dalam kerja kesehariannya. Hal ini perlu, sebab setiap kebiasaan dan pola perilaku yang terbentuk pada masa kanak-kanak akan banyak mempengaruhi kebiasaannya kelak ketika dia dewasa.

Peran serta masyarakat dalam pendidikan: studi kasus SD Sukokerto I Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo / Imam Subaweh

 

Peran serta masyarakat mempunyai peran penting untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam UU No.20 tahun 2003 pasal 19 ditegaskan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan sumber daya penyelenggaraan pendidikan. Selanjutnya PP No.19 tahun 2005 menyebutkan pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah ditunjukkan dengan kemandirian, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Fokus penelitian adalah (1) bagaimana peran serta masyarakat dalam mendukung keberhasilan bidang akademik SD Sukokerto I Kecamatan pajarakan, (2) bagaimana pelaksanaan manajemen diterapkan di SD Sukokerto I Kecamatan Pajarakan, (3) bagaimana keterkaitan manajemen dengan peran serta masyarakat dalam pendidikan. Dipilihnya sekolah itu karena sejak menerapkan manajemen berbasis sekolah, SD Sukokerto I menunjukkan peningkatan prestasi akademik dan non akademik yang cukup menonjol. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan rancangan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui : (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipatif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian dengan menggunakan teknik purpasif dipadukan dengan snowball sampling. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua komite, sekretaris komite, guru, pengurus paguyuban, dan wali murid. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan melakukan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Selanjutnya untuk mengecek keabsahan data dilakukan uji keabsahan data dengan uji kredibilitas, dipendabilitas, dan konfirmabilitas. Sesuai temuan data-data di lapangan dan pembahasan berdasarkan fokus penelitian, maka kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut : (1) Peran serta masyarakat memberikan dukungan terhadap keberhasilan akademik dan non akademik SD Sukokerto I Kecamatan Pajarakan, (2) Pelaksanaan manajemen di SD Sukokerto I Kecamatan Pajarakan sangat transparan ditandai dengan pelibatan guru dan komite sekolah dalam perencanaan pelaksanaan dan pengawasan, (3) Pengelolaan sekolah yang transparan meningkatkan peran serta masyarakat. Setelah melakukan penelitian di SD Sukokerto I Kecamatan Pajarakan ini peneliti menemukan temuan-temuan. Temuan-temuan itu meliputi (1) peran serta serta masyarakat; pemberdayaan komite sekolah, pembentukan paguyuban kelas, dan optimalisasi peran paguyuban kelas, (2) pelaksanaan manajemen; perencanaan melibatkan guru dan komite sekolah, pengorganisasian dibicarakan dengan guru, penggerakan guru diajak studi banding ke sekolah yang berhasil, pengawasan guru diajak berbincang-bincang tentang tugasnya. (3) keterkaitan manajemen dengan peran serta masyarakat; keterbukaan menumbuhkan kepercayaan, rasa bangga, semangat untuk membantu, rasa segan dan rasa hormat wali murid dan menumbuhkan pemahaman yang baik tentang kebutuhan sekolah. Temuan-temuan itu selain berguna bagi keberhasilan SD Sukokerto I juga bermanfaat bagi sekolah lain. Untuk itu peneliti perlu memberikan saran-saran berdasarkan temuan-temuan selama penelitian : (1) kepala SD Sukokerto I hendaknya dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan hubungan yang harmonis dengan komite sekolah dan paguyuban kelas, (2) kepala sekolah lain dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bandingan untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolahnya masing-masing, (3) masyarakat (komite sekolah) dapat menjadikan hasil penelitian ini untuk mengetahui peran dan tanggung jawabnya dalam bidang pendidikan, (4) dinas pendidikan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan pembinaan kepala sekolah tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat, (5) peneliti lain dapat melakukan penelitian tentang peran serta masyarakat berkaitan dengan masalah yang lain.

Pengaruh motivasi memilih jurusan dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Nuri Zuhratin J.

 

Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan luar individu. Salah satu faktor dari dalam yang mempengaruhi prestasi belajar adalah motivasi dan kebiasaan belajar. Motivasi merupakan salah satu prinsip yang harus ada guna membangkitkan semangat seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Oleh karena itu dalam pemilihan jurusan pun harus ada motivasinya karena motivasi memilih jurusan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menguasai matakuliah yang ditempuhnya. Tanpa adanya motivasi dari dalam diri mahasiswa untuk mempelajari jurusan yang akan ditempuhnya, maka ia akan sulit untuk mempelajari matakuliah yang ditempuhnya di jurusan yang dipilihnya. Setelah seseorang memilih jurusan berdasarkan motivasinya sendiri maka ia akan terdorong melakukan kegiatan belajar yang dilakukan berulang kali untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi. Kegiatan belajar yang dilakukan berulang kali tersebut dinamakan kebiasaan belajar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi (eksplanatory research) dengan menggunakan analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui pengaruh motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y), motivasi memilih jurusan (X1) terhadap kebiasaan belajar (X2), kebiasaan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y) dan untuk mengetahui pengaruh tidak langsung motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y) melalui kebiasaan belajar (X2). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket dan dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa jurusan pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang diwaili sampel sebesar 10%, yaitu 47 mahasiswa. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis jalur ini menunjukkan bahwa motivasi memilih jurusan mempengaruhi prestasi belajar sebesar 22% dengan thitung = 3,563, signifikansi 0,001 dan tingkat probabilitas 95%. Motivasi memilih jurusan mempengaruhi kebiasaan belajar sebesar 28,6%, dengan thitung = 4,242, signifikansi 0,000 dan tingkat probabilitas 95%. Kebiasaan belajar mempengaruhi prestasi belajar 32% dengan thitung = 4,600, signifikansi 0,000 dan tingkat probabilitas 95%. Hal ini menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi memilih jurusan dengan prestasi belajar, terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi memilih jurusan dengan kebiasaan belajar, terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar dan terdapat hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara motivasi memilih jurusan terhadap prestasi belajar melalui kebiasaan belajar. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh secara langsung dari motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y), motivasi memilih jurusan (X1) terhadap kebiasaan belajar (X2), kebiasaan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y) maupun pengaruh secara tidak langsung dari motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y) melalui kebiasaan belajar (X2). Oleh karena itu disarankan agar mahasiswa lebih meningkatkan motivasinya dalam mempelajari jurusan yang dipilihnya dan meningkatkan kualitas kebiasaan belajar melalui bahan yang dipelajari dan pengelolaan belajarnya.

Penerapan jurnal belajar untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa SMP Islam Diponegoro Malang / Verawati Puji Rahayu

 

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada proses pembelajaran matematika di kelas VIIIb SMP Islam Diponegoro Malang diketahui bahwa di kelas ini siswa kurang menyukai pembelajaran matematika, hal ini terlihat dari antusias siswa untuk bertanya dan mengungkapkan pendapat kurang, siswa bersifat pasif, siswa kurang terbuka terhadap gurunya. Sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajarnya yang berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Oleh karena itu perlu suatu pendekatan pembelajaran yang tetap menunjukkan kelebihan-kelebihan yang siswa miliki dan mengurangi kelemahan yang siswa miliki. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan menerapkan jurnal belajar. Jurnal belajar dapat dimanfaatkan siswa sebagai alat komunikasi dengan guru, dimana siswa akan merasa lebih dekat dengan guru. Demikian juga guru akan lebih memahami kebutuhan belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus belajar. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIb SMP Islam Diponegoro Malang semester I tahun pelajaran 2006/ 2007 yang berjumlah 39 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui soal-soal pre tes dan soal tes formatif, jurnal belajar, hasil belajar siswa dan angket siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan jurnal belajar dinilai kurang berhasil, hal ini bisa dilihat dari masih kurangnya pemanfaatan jurnal belajar oleh siswa. Namun penerapan jurnal belajar cukup meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya hasil belajar siswa, yang diperoleh dengan melihat rata-rata nilai tes siswa dari 40,18 pada siklus 1 menjadi 63,08 pada siklus 2. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah penerapan jurnal belajar siswa kelas VIIIb SMP Islam Diponegoro Malang kurang berhasil. Selain itu penerapan jurnal belajar cukup meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIIIb SMP Islam Diponegoro Malang.

Modifikasi peraturan permainan bolavoli mini untuk siswa kelas V SD Negeri Jambesari 1 Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang / Mochammad Nur Afrianto

 

Permainan bolavoli merupakan bentuk permainan yang ada pada kurikulum SD kelas V. Bolavoli dapat disesuaikan dengan karakteristik fisik siswa dengan cara dimodifikasi menjadi bolavoli mini. Berdasarkan hasil wawancara dengan lima siswa dan seorang guru pendidikan jasmani di SD Negeri Jambesari 1, pembelajaran bolavoli dilakukan dengan memberikan bola kemudian bermain sendiri tanpa bimbingan guru. Bola, net, dan ukuran lapangan yang digunakan adalah ukuran standar. Hal tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam bermain bolavoli. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memodifikasi peraturan permainan bolavoli mini yang sesuai dengan karakteristik fisik siswa kelas V SD Negeri Jambesari I agar mereka lebih mudah untuk mempelajarinya. Metode penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengacu model pengembangan dari Borg & Gall yang telah dimodifikasi, yaitu: (1) melakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi, termasuk observasi lapangan dan kajian pustaka, (2) mengembangkan bentuk produk awal (berupa peraturan permainan bolavoli mini), (3) evaluasi para ahli dengan menggunakan dua ahli bolavoli dan satu ahli pembelajaran, serta uji coba kelompok kecil, dengan menggunakan kuesioner dan konsultasi yang kemudian dianalisis, (4) revisi produk pertama, revisi produk berdasarkan hasil dari evaluasi ahli dan uji coba kelompok kecil. Revisi ini digunakan untuk perbaikan terhadap produk awal yang dibuat oleh peneliti, (5) uji lapangan, (6) revisi produk akhir yang dilakukan berdasarkan hasil uji lapangan, (7) hasil akhir produk peraturan permainan bolavoli mini untuk siswa kelas V SD Negeri Jambesari I yang dihasilkan melalui revisi uji lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diperoleh dari evaluasi ahli (dua ahli bolavoli dan satu ahli pembelajaran), uji coba kelompok kecil (delapan siswa SD Negeri Jambesari 1), dan uji lapangan (35 siswa SD Negeri Jambesari 1). Dari hasil uji coba diperoleh data evaluasi ahli (dua ahli bolavoli dan satu ahli pembelajaran) 79,76% (baik), uji coba kelompok kecil 90,18% (sangat baik), dan uji lapangan 76,66% (baik). Dari data yang ada maka produk peraturan permainan bolavoli mini ini dapat digunakan untuk siswa kelas V SD Negeri Jambesari 1 Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Kesimpulan dari produk pengembangan ini adalah memodifikasi peraturan permainan bolavoli mini sebagai berikut: (1) ukuran lapangan 12 X 6 m, (2) tinggi net putra 2,15 m dan putri 2,10 m, (3) bola yang digunakan untuk putra bola nomor empat, berat 230-250 gr, dan garis tengah 22-24 cm yang terbuat dari kulit yang lentur atau terbuat dari kulit sintetis yang bagian dalamnya dari karet atau bahan yang sejenis, sedangkan untuk putri menggunakan bola foam, dan (4) jumlah pemain empat orang dengan dua cadangan. Kelemahan dari produk ini adalah aspek bola yang memenuhi kriteria kurang baik. Untuk itu perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh efektivitas, efisiensi, dan kemenarikan dari produk.

Analisis rasio keuangan perusahaan sebelum dan sesudah krisis moneter (studi kasus pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk) / Nurma Widarti

 

Krisis moneter di Indonesia yang diawali dengan jatuhnya mata uang “Bath” Thailand yang kemudian diikuti dengan mata uang-mata uang negara tetangga, termasuk rupiah Indonesia pertengahan tahun 1997 dampaknya masih terasakan hingga saat ini. Banyak teori yang menyatakan bahwa krisis moneter lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern yang diwakili oleh sektor perbankan dan koorporasi, lebih-lebih perusahaan-perusahaan berskala besar yang memiliki utang luar negeri dalam jumlah yang besar (dalam mata uang asing/US$). Secara umum kondisi tersebut menyebabkan kinerja finansial perusahaan-perusahaan tersebut yang tercermin dalam rasio-rasio keuangannya mengalami penurunan drastis, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan rasio-rasio keuangan perusahaan sebelum dan sesudah krisis moneter. Analisis rasio keuangan melibatkan penilaian terhadap keadaan keuangan perusahaan di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Tujuannya adalah untuk menemukan kelemahan kinerja keuangan di masa yang akan datang. Rasio keuangan yang biasa diukur dan digunakan adalah rasio likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan rasio-rasio keuangan perusahaan sebelum dan sesudah krisis moneter tahun 1994-200. Sampel penelitian ini adalah PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Uji statistik yang digunakan adalah t-test paired two samples for means dengan taraf signifikansi 5%. Periode pengamatan yang dilakukan adalah 3 tahun sebelum dan 3 tahun sesudah krisis moneter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan rasio likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas sebelum dan sesudah krisis moneter. Berarti bahwa tidak terjadi penurunan yang drastis rasio-rasio keuangan perusahaan periode sebelum dan sesudah krisis moneter. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa perusahaan-perusahaan berskala besar lainnya perlu mencontoh perusahaan sampel dalam penelitian ini dalam menyikapi permasalahan-permasalahan finansial yang timbul akibat terjadinya krisis moneter, sehingga bisa tetap eksis dalam dunia perdagangan dan perindustrian, serta banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya di dalam perusahaan-perusahaan tersebut.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |