Konstribusi intelegensi, motivasi berprestasi, sikap dan pemanfaatan sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA di SLTP 3 Jember / Oleh Wiwik Eny Sawitri Hami Seno

 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe stad (Student Teams Achievement divisions) untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII B SMP Sriwedari Malang / Sri Rahayu

 

Kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi, dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Disamping itu, dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta adanya rasa percaya diri, sedangkan dari segi hasil guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku sebagian besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik (Hamalik,2008:12). Selama ini fenomena yang sering dijumpai di sekolah adalah kurangnya efektivitas dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang diterapkan umumnya masih terpusat pada guru. Pembelajaran ekonomi yang terpusat pada guru tersebut akan menyebabkan kecenderungan siswa bersifat pasif dan menimbulkan kebosanan dan akibatnya nilai prestasi belajar siswa banyak yang masih di bawah SKM (Standar Ketuntasan Minimal). Oleh karena itulah guru dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas dalam pembelajaran. Tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian materi informasi kepada para siswa. Sesuai dengan kemajuan dan tuntunan jaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami siswa dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kesulitan belajar dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh siswa. Dalam pada itu guru dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing dan mengembangkan kemampuannya secara optimal. Tanpa adanya kecakapan maksimal yang dimiliki guru, maka kiranya sulit bagi guru untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Peningkatan kemampuan itu juga meliputi kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas di dalam sekolah dan kemampuan yang diperlukan untuk merealisasikan tanggung jawabnya di luar sekolah. Kemampuan-kemampuan itu harus dipupuk dalam diri pribadi guru sejak ia mengikuti pendidikan guru sampai ia bekerja. Seiring dengan kemajuan dan teknologi yang sangat pesat, media belajar yang bisa digunakan memiliki macam dan jenis yang beragam. Dalam keragaman jenis media yang tersedia guru bisa membuka dan mengambil informasi dari manapun dan kapanpun guru suka, bisa berdiskusi dengan teman sejawat ataupun belajar sendiri. Adalah penting sekali bagi guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar murid, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi murid-murid (Hamalik, 2008:27). Sesuai dengan kenyataan dilapangan di SMP Sriwedari Malang, pembelajaran yang dilakukan oleh guru berdasarkan wawancara tidak terstruktur, pembelajaran yang dilakukan sudah cukup baik tetapi perlu untuk ditingkatkan lagi. Para guru kebanyakan lebih sering menggunakan metode ceramah dan penugasan. Sebenarnya metode ceramah memang tidak bisa ditinggalkan dari pembelajaran, karena metode ceramah dapat memberikan tambahan informasi yang tidak ada dalam buku. Tetapi kalau hanya metode ceramah saja yang dilakukan dalam proses pembelajaran maka siswa menjadi pasif. Padahal dalam metode ceramah, guru yang lebih dominan, sehingga kesempatan siswa untuk aktif dan mengembangkan kompetensi masih kurang. Pola pembelajaran yang bersifat teacher centered memberikan beberapa dampak negatif bagi siswa diantaranya siswa menjadi kurang kreatif. Bahkan dalam aktivitas, siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat apa yang dijelaskan guru, siswa masih menunggu guru datang ke kelas daripada berinisiatif untuk belajar sendiri, selama guru belum hadir jarang siswa yang berdiskusi dengan teman tentang materi yang akan diajarkan atau materi yang telah lalu. Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran yang diharapkan upaya atau usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan cara memperhatikan siswa, menguasai materi pelajaran dan memilih metode pembelajaran yang tepat. Salah satu untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa adalah dengan memilih suatu metode pembelajaran yang tidak membosankan (monoton). Pemilihan metode yang tepat untuk meningkatkan keefektifan proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan STAD (Student Teams Achievement Divisions). Dengan metode STAD siswa mempunyai tanggung jawab supaya setiap anggota kelompok dapat memahami pelajaran dengan saling mempelajari dan belajar dari temannya. Hasil diskusi kelompok akan berdampak pada pemberian poin pada kelompok lewat tes individu. Adanya tahap penghargaan yang berorientasi pada kelompok dengan terpilihnya kelompok terbaik maupun penghargaan individu yang dilihat dari skor tertinggi perkembangan individu dengan penerapan tipe STAD akan mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi kelompok kecil yang mengarah pada tercapainya tujuan belajar. Metode STAD adalah salah satu model dari pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar bersama dalam kelompok kecil untuk mencapai keberhasilan belajar, selain itu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Keunggulan dari STAD adalah adanya kerjasama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok tergantung keberhasilan individu, sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Pendekatan kooperatif learning tipe STAD merupakan pendekatan yang menekankan pada aktivitas dan interaksi antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Dari uraian di atas maka peneliti menerapkan STAD dalam pembelajaran yang dilakukan di SMP kelas VIII B Sriwedari Malang untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar ekonomi. Sehingga peneliti menggunakan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas VIII B SMP Sriwedari Malang”.

The Students' learning styles in learning english at SMPN 1 Wonosari / Yayang Rinastalia Madika

 

ABSTRACT Madika, Yayang Rinastalia. 2008. The Students’ Learning Styles in Learning English at SMPN 1 Wonosari. Study Program of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dr. Suharmanto, M.Pd. Keywords: Learning styles, Learning English, SMPN 1 Wonosari The success of teaching-learning process is not only determined by how the teachers teach but also, most importantly and principally is determined by how the students learn. Language learning styles is one of the main factors that help determine how the students learn a second or foreign language. However, the students have different personalities so they learn in many ways or styles. Moreover, the match between the students’ learning styles and the teachers’ teaching styles can enhance an effective teaching-learning process. Thus, it is important for teachers to be aware of their students learning styles. It is clear then that one factor which can lead to the success of a language teaching-learning process is the match between students` learning styles and the teaching methods used by the teachers. Due to the importance of knowing the students` learning style and limited number of studies done on identifying the students` learning style difference, this study is conducted. This study investigates the learning styles preferences of the SMPN 1 Wonosari students according to two variables: gender and levels of the study whether the differences are significant. The students’ learning styles preferences to be measured are visual, auditory, kinesthetic, tactile, group and individual. The design of this study is principally descriptive quantitative. A descriptive study is aimed at describing the current phenomena that is the real situation at the time of conducting the research. This study is a Replication of the previous studies by Reid (1987). However, this study only uses two variables: gender and levels of the study. The other variables such as cultural background, English ability are omitted because of the homogeneity of the subjects. There are 351 students at SMPN 1 Wonosari which consist of 180 males and 171 females. For a practical reason, this study takes only one class of each grade as a sample. As a result, VII-A, VIII-A, and IX-C classes were chosen as the samples of this study. VII-A class consists of 38 students, while VIII-A class is comprised 44 students, and IX-C class has 37 students. Therefore, there are 119 students as the subjects of this study. The instrument used to collect the data is the perceptual learning styles questionnaire, designed by Joy M Reid, consisting of 30 items that the students rate on a five-point scale from 4 to 0. These items are randomly arranged sets of 5 statements on each of the six learning styles preferences to be measured. To facilitate the learners’ response and to avoid misinterpretation, the questionnaire is translated into Indonesian by Sari (2001). For the data analysis, first, the writer collects data from the questionnaires from the students. Then, the data from the questionnaire is then classified according to each of the students’ variables. The students’ scores on each learning 6 style for each variable are then classified into three categories set up by Reid: major, minor, and negative learning styles preferences. Then, to find the significant differences among the variables, Analysis of Variance (ANOVA) was applied. The study indicates that the students of SMPN 1 Wonosari preferred to have group and auditory as their major learning styles, visual, kinesthetic, tactile and individual as their minor learning styles and they do not have any negative learning styles. The result of the study also shows that according to gender, females prefer group and auditory as major learning and visual, kinesthetic, tactile, and individual as their minor learning styles. Auditory and group are male’s major learning styles and their minor learning styles are visual, kinesthetic, and tactile, while individual is their negative learning styles. Analysis of variance (ANOVA), using SPSS for windows, of each style shows that there is significant differences at the .05 level at the auditory learning styles; it shows that female students are more auditory than male students. The students’ learning styles preferences means of three levels of study shows that the first graders prefer group, visual, and auditory as their major learning styles Whereas, kinesthetic, tactile, and individual are their minor learning. Group and auditory are the second graders’ major learning styles and visual, kinesthetic, tactile, and individual as their minor learning styles. Auditory and group are the third graders’ major learning styles and their minor learning styles are visual, kinesthetic, and tactile. ANOVA finds significant difference at the .05 level at the auditory learning style. It is found that the first graders are the less auditory than the other levels, while the most auditory is the second graders. ANOVA also shows that there is a significant difference at the visual learning style; it is found that the first graders are the most visual than the other levels. The results also showed that the first graders are likely to be successful learners since they have multiple learning styles and they do not have any negative learning styles so they seem not to have any difficulties in learning since they can process information in whatever way it is presented. Based on the finding the writer suggests that English teachers help their students identify their learning style preferences. Then, Identification of the students learning styles should also be followed by applying various ways of teaching. The writer also suggests that the students be aware or their learning styles so they will be aware of their strength and weakness. After that, they can find the most suitable strategies for their learning. This school is also expected to do any efforts to support the students by providing such learning facilities, such as tape recorder and cassettes or other medias that can help the students learn English well.

Partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan layanan pengumpulan data diri siswa sebagai bagian dari program bimbingan di SMA Negeri se-kota Bangkalan Madura / Indriyana Yulianti

 

ABSTRAK Yulianti, Indriyana. 2008. Partisipasi Wali Kelas Dan Guru mata Pelajaran Dalam Pelaksanaan Layanan Pengumpulan Data Diri Siswa Sebagai Bagian Dari Program Bimbingan Di SMA Negeri Sekota Bangkalan . Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Imam Hambali, M.Pd, (II) Muslhati S.Ag. M Pd. Kata kunci: Partisipasi, Layanan Pengumpulan Data, Program Bimbingan Partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan layanan pengumpulan data turut menentukan keberhasilan pelaksanaan program bimbingan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan layanan pengumpulan data di SMA Negeri se kota Bangkalan. Populasi penelitian ini adalah seluruh wali kelas dan guru mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas Negeri Se-kota Bangkalan. Sampel sekolah diambil secara purposive. Jumlah responden yang menjadi sampel penelitian 36 guru mata dan 36 wali kelas. Penelitian terdapat satu variabel yaitu partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif survai. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket dengan teknik analisisnya persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat partisipasi wali kelas menunjukkan sangat aktif dalam pelaksanaan layanan pengumpulan siswa dalam kegiatan bimbingan adalah partisipasi dalam merekap nilai dan mengklarifikasikan siswa yang mendapat nilai rendah mengumpulkan keterangan tentang tingkah laku siswa, membuat catatan tingkah laku siswa. (2) tingkat partisipasi guru mata pelajaran menunjukkan sangat aktif adalah partisipasi dalam merekap nilai siswa yang mendapat nilai rendah, mengumpulkan keterangan tentang tingkah laku siswa, menanyakan kesulitan kepada konselor yang dihadapi, mencatat kejadian tingkah laku siswa. Saran dari penelitian ini hendaknya wali kelas dan guru mata pelajaran dapat memanfaatkan data dari konselor dalam membimbing siswa, dan menyempatkan diri berkomunikasi dengan personil sekolah dan siswa dalam proses pembimbingan. iv

Pengaruh pengumuman dividen kas dan kualitas auditor kantor akuntan publik (KAP) terhadap harga saham pada Perusahaan Manufaktur yang listing di bursa efek Indonesia / Imam Wahyudi

 

ABSTRAK Wahyudi, Iwan. 2008. Pengaruh Pengumuman Dividen Kas dan Kualitas Auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak., Pembimbing (II): Drs. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak. Kata Kunci: Pengumuman dividen kas, kualitas auditor Kantor Akuntan Publik (KAP), dan harga saham Investor berinvestasi dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan berupa dividen atau capital gain. Investor dalam berinvestasi memerlukan informasi mengenai kondisi perusahaan untuk pengambilan keputusan. Salah satu informasi tersebut adalah pengumuman dividen kas. Pengumuman dividen kas dapat digunakan para investor untuk mengambil keputusan dan memprediksi prospek perusahaan dimasa mendatang. Oleh karena itu, pasar akan bereaksi dengan naik dan turunnya harga saham. Selain itu informasi lain yang dapat digunakan oleh investor adalah laporan keuangan. Auditor sebagai pihak independen yang mengaudit laporan keuangan. Dalam hal ini, perusahaan akan memilih auditor yang berkualitas tinggi dengan tujuan untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengumuman dividen kas dan kualitas auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap harga saham pada perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi peristiwa (event study) yaitu suatu studi yang mempelajari bagaimana suatu pasar bereaksi terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai pengumuman. Sampel yang digunakan adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang mengumumkan dividen kas tahun 2006-2007 di BEI. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling, sehingga diperoleh 41 perusahaan. Data penelitian berupa data sekunder yang terdiri dari: 1). Daftar nama perusahaan yang mengumumkan dividen kas, 2). Tanggal pengumuman dividen kas, 3). Daftar nama auditor KAP, dan 4). Harga saham harian (penutupan) 15 hari sebelum dan 15 hari sesudah pengumuman dividen kas. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik non parametrik yaitu uji wilcoxon signed rank test dan uji mann-whitney u test, dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Berdasarkan uji wilcoxon signed rank test disimpulkan bahwa pengumuman dividen kas tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata harga saham, 2). Berdasarkan uji mann-whitney u test dapat disimpulkan bahwa kualitas auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) terdapat pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata harga saham. Saran yang bisa dikemukakan antara lain: 1). Pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan 2). Penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang lebih variatif untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Pengaruh kinerja perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode tahun 2000-2009 / Avicenna Syaiful Hidayat

 

Kata kunci: tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia, ROA, ROE,PI Penelitian ini, mencoba mendeskripsikan kondisi pertumbuhan perekonomian di Indonesia yang dipengaruhi oleh performa kinerja perbankan di Indonesia. Periode yang dipilih adalah periode dalam waktu sepuluh tahun terakhir yaitu tahun 2000-2009. Ada hubungan positif dan negatif antara performa kinerja perbankan dengan perekonomian, oleh sebab itu perlu kiranya diteliti secara lebih lanjut mengenai kondisi hubungan ini. Variabel yang dijadikan objek penelitian untuk mewakili kinerja perbankan adalah analisis rasio keuangan ROA, ROE, dan PI. Alat analisis yang dipergunakan dalam penelitian kali ini adalah Regresi Liniear Berganda. Dengan hasil regresi secara parsial, variabel ROA saja yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan variabel yang lain tidak signifikan. Sedangkan hasil regresi secara simultan didapat kinerja perbankan pada penelitian kali ini tidak signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Hal ini dimungkinkan karena adanya dampak krisis global sehingga terjadi ketakutan publik dan menyebabkan para petinggi perbankan lebih memilih mengalokasikan dananya pada instrument keuangan seperti SBI dan SUN. Diharapkan pada para peneliti selanjutnya, agar mengambil variabel kinerja perbankan lainnya yang sekiranya mampu berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Serta menggunakan alat analisis lainnya sehingga model yang akan diteliti telah teruji kevalidannya.

Pendekatan pengajaran model training within industri untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X Teknik Bangunan pada mata diklat kerja Batu di SMK Negeri 1 Balikpapan / Sumaryoto

 

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan kemampuan siswa kelas X, kualitas pada mata diklat praktik kerja batu masih rendah, sehingga diperlukan suatu metode yang tepat, untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X, Program Studi Teknik Konstruksi Batu. Sehubungan hal tersebut perlu dilakukan perbaikan-perbaikan, terutama pada konsep-konsep teknik, dengan penerapan model pembelajaran yang lebih bervariasi dan inovatif. Dalam penelitian tindakan kelas ini diuji cobakan penerapan pembelajaran dengan Model Training Within Industri. Tujuan penelitian ini, adalah untuk mengetahui pendekatan pengajaran model training within industri terhadap prestasi belajar siswa, dan diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran yang inovatif untuk peningkatan prestasi belajar siswa. Model training within industri adalah suatu cara pembelajaran yang menekankan pada kegiatan mulai dasar, sehingga diharapkan siswa dapat memiliki keterampilan yang lebih tinggi dan terlatih dari yang sudah dimilikinya. Dalam penerapan pembelajaran dengan model training within industri terdapat empat tahap yaitu: (1) persiapan, (2) peragaan, (3) praktik dan (4) evaluasi. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri I Balikpapan, mulai tanggal 12 Nopember sampai 26 Nopember 2008. Obyek penelitian adalah siswa kelas X Program Studi Teknik Bangunan Gedung, pada mata diklat Konstruksi Batu, sebanyak 27 siswa yang dibagi menjadi delapan kelompok. Dilaksanakan dua siklus. Setiap siklusnya meliputi tahapan perencanaan, tindakan, obsevasi dan refleksi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dapat meningkat, pada siklus I hasil yang dicapai adalah, dari 27 siswa perolehan rata-rata nilai tes tulis siswa 6.99 dan nilai praktik siswa 6.88. Nilai prestasi belajar/kompetensi siswa pada siklus I, adalah 6.92 dan 52% jumlah siswa belum tuntas dalam pembelajaran. Pada siklus II hasil yang dicapai adalah dari 27 siswa perolehan rata-rata nilai tes tulis siswa 7.19 dan nilai praktik siswa 7.53. Nilai prestasi belajar/kompetensi siswa pada siklus II adalah 7.39 dan 85% jumlah siswa tuntas dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model training within industri dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran pada mata diklat kerja batu, karena terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengaruh variasi konsentrasi ion Cu2+ dan suhu reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-Cu sebagai katalis dalam konversi metanol menjadi gasoline / Kartika Sri Wahyuningsih

 

ABSTRAK Wahyuningsih, Kartika Sri. 2009. Pengaruh Variasi Konsentrasi Ion Cu2+ Dan Suhu Reaktor Terhadap Uji Aktivitasnya Sebagai Katalis Dalam Konversi Methanol Menjadi Gasolin. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (1) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si., (2) Adilah Aliyatulmuna, ST., M.ST. Kata kunci: Zeolit, katalis, tembaga, metanol, gasoline. Memasuki akhir abad ke dua puluh ini, para ahli minyak bumi sedang disibukkan dengan penelitian mencari bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan minyak bumi sebagai bahan bakar yang sudah lebih dari ratusan tahun telah dijadikan sumber energi. Sehubungan dengan hal tersebut, kekhawatiran tentang kurang optimalnya pengganti minyak bumi, sedikit terungkap setelah beberapa peneliti dan ahli geologi melakukan penelitian merubah peran metanol menjadi bahan bakar dengan cara mengkonversinya menjadi gasoline (MTG adalah metanol to gasoline) dengan menggunakan katalis zeolit, hal ini telah membawa perubahan yang cukup besar pada penelitian tentang zeolit. Zeolit alam tersebut diaktivasi dan diimpregnasi dengan larutan CuSO4.5H2O dan disebut zeolit-Cu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ion Cu2+ dan suhu reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-Cu sebagai katalis dalam konversi metanol menjadi gasoline. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan berasal dari desa Sumbermanjing Wetan kabupaten Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi konsentrasi ion Cu2+ yang diimpregnasi ke dalam zeolit dan suhu reaktor, sedangkan variabel terikatnya meliputi karakterisasi keasaman dan kemampuan zeolit-Cu sebagai katalis pada konversi metanol menjadi gasoline. Penelitian ini meliputi persiapan sampel, modifikasi zeolit, pengukuran keasaman, dan uji katalitik. Ukuran zeolit yang digunakan adalah 8-10 mesh. Modifikasi dilakukan dengan mengaktivasi zeolit dengan larutan HF 1%, HCl 6M, NH4NO3 1M, kemudian dikalsinasi pada suhu 750oC sehingga diperoleh zeolit aktif dan mengimpregnasi dalam larutan ion tembaga 5%, 10%, dan 15% kemudian dikalsinasi pada suhu 750oC sehingga diperoleh zeolit-Cu. Kemudian dilakukan pengujian terhadap banyaknya ion tembaga yang teradsorp pada permukaan zeolit diukur dengan AAS. Sedangkan pengukuran keasaman padatan diukur dengan cara gravimetri, dan uji katalitik dengan menggunakan reaktor dan penentuan gasoline dengan menggunakan GC, dan karakterisasi gasoline dengan uji kalor pembakaran zat, titik didih, dan uji nyala. Hasil penelitian ini menunjukkan keasaman dari Z-Cu 5%, Z-Cu 10%, Z-Cu 15%, sebesar 2,882 mmol/g; 4,838 mmol/g; dan 5,013 mmol/g. Kemampuan teradsorpsi ion tembaga pada Z-Cu 5%, Z-Cu 10%, Z-Cu 15%, sebesar adalah 76,8%; 82,77%; dan 85,25%. Suatu hidrokarbon memiliki rantai karbon panjang jika titik didihnya dan kalor pembakaran zat semakin tinggi. Titik didih dan kalor pembakaran zeolit-Cu masuk dalam rentang titik didih gasoline. Hal ini menunjukkan bahwa rantai karbon pada Z-Cu panjang yaitu rantai karbon C5-C6.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bululawang / Yeri Devianto Aditya

 

ABSTRAK Devianto Aditya. Yeri. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk Meningkatkan Kemampuan Bertanya dan Ketuntasan Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI IPS SMA negeri 1 Bululawang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Moch. Ichsan, S.E., M.Pd.,M.Si, (II) Dwi Wulandari S.E.,M.M. Kata-kata kunci: Two Stay Two Stray, Kemamapuan Bertanya, Ketuntasan Belajar. Berdasarkan obsevasi awal yang penulis lakukan di SMA Negeri 1 Bululawang, diketahui bahwa metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah dan latihan soal. Metode pembelajaran semacam ini membuat siswa kurang semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran siswa tampak bosan, mengantuk, sering tidak memperhatikan penjelasan guru dan siswa cenderung pasif dalam bertanya. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) atau Dua Tinggal Dua Tamu. Model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk saling bekerjasama dan saling bertanya jawab dalam menyelesaikan suatu persoalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemamapuan bertanya dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bululawang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA 1 Bululawang yang berjumlah 31 siswa, yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan pada pokok bahasan perdagangan internasional. Alat pengumpulan data menggunakan, lembar observasi, lembar catatan lapangan, Soal tes, Angket, dan Dokumentasi. Hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan persentase peningkatan skor tiap siklus. Persentase nilai rata-rata ketepatan guru menerapkan pembelajaran meningkat dari 70% menjadi 85%. Persentase nilai rata-rata untuk kemampuan bertanya meningkat 5,16% dari 67,14% menjadi 72,3% sedangkan Ketuntasan belajar ekonomi siswa juga mengalami peningkatan dimana siklus pertama rata-rata sebesar 67,7% dan pada siklus kedua menjadi sebesar 87,1%. Dengan demikian dapat disimpulkan dari penerapan pembelajaran koopeartif model Two Stay Two Stray (TSTS) yaitu: (1). Dapat meningkatkan kemampuan bertanya dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Bululawang. (2). Kemapuan bertanya siswa kelas XI IPS SMAN 1 Bululawang setelah diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) meningkat. (3). Ketuntasan belajar ekonomi kelas XI IPS SMAN 1 Bululawang setelah diterapkan Model Pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) meningkat. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan adalah Guru SMA Negeri 1 Bululawang Malang, disarankan untuk mencoba menerapkan metode pembelejaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) karena mendapat respon positif dari siswa, Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam upaya memperbaiki penerapan strategi pembelajaran di SMA Negeri 1 Bululawang. Bagi peneliti selanjutnya yang hendak meneliti pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray sebaiknya disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Bagi siswa hendaknya lebih sering bertanya terutama terhadap pelajaran yang masih belum dimengerti.

Perancangan media komunikasi visual perusahaan auto 2000 di Malang sebagai media promosi / Muhammad Ady Nugraha

 

Munculnya persaingan bisnis usaha pada Perusahaan AUTO 2000 sebagai akibat dari perkembangan dalam bidang otomotif, membuat para pengelola perusahaan untuk menyusun strategi pemasaran yang tepat dan efektif, guna menumbuhkembangkan citra yang baik di mata masyarakat dengan melalui perancangan media komuikasi visual. Media komunikasi visual merupakan suatu bentuk langkah rancangan periklanan, dimana hal tersebut dapat digunakan untuk menciptakan maupun unuk meningkatkan citra positif dari perusahaan, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan penjualan produk maupun jasa pada perusahaan. Perancangan di sini merupakan perancangan media komunikasi visual perusahaan AUTO 2000 sebagai media promosi. Perancangan ini diharapkan untuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari perusahaan AUTO 2000. Perancangan menggunakan metode prosedural yang bersifat diskriptif terhadap perusahaan AUTO 2000. metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi (3) web/ internet (4) koesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Streght/ kekuatan, Weakness/ kelemahan, Opportunity/ kesempatan, dan Threats/ ancaman) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, internet dan penyebaran koesioner yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan komuikasi visual (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan (3) dan tahap penyusunan laporan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media komuikasi visual perusahaan AUTO 2000 sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna, ilustrasi, fotografi, tipografi serta media yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu unuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari perusahaanAUTO 2000, maka penggunaan perancangan media komunikasi visual merupakan suatu solusi yang tepat.

Perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin dan status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang / M. Arif Rahman Hakim

 

ABSTRAK Hakim, M Arif Rahman. 2009. Perbedaan Tingkat Kenakalan Remaja Ditinjau dari segi Jenis Kelamin dan Status Keluarga Siswa SMA Negeri di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A. (II) Drs. Djoko Budi Santoso. Kata Kunci: kenakalan remaja, jenis kelamin, status keluarga Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Kenakalan remaja semakin populer dan menjadi masalah yang kompleks di era modern ini. Dalam penelitian ini siswa SMA Negeri di Kota Malang menjadi subyek. Saat ini kenakalan remaja tidak hanya dilakukan oleh remaja laki-laki, tetapi juga perempuan. Selain itu juga tidak hanya remaja yang berasal dari keluarga tidak utuh yang melakukan kenakalan remaja, remaja dari keluarga utuh juga tidak menutup kemungkinan melakukan kenakalan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat kenakalan remaja siswa SMA Negeri di Kota Malang, (2) perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin siswa SMA Negeri di Kota Malang, (3) perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri se-Kota Malang. Teknik sampel yang digunakan area probability sample, diperoleh sampel penelitian dengan jumlah 357 orang. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik persentase dan Uji-t. Data penelitian menunjukkan bahwa sedikit sekali (0,3%) siswa SMA Negeri di kota Malang yang tingkat kenakalan remajanya dalam kategori tinggi, banyak (70,6%) siswa SMA Negeri di kota Malang yang memiliki tingkat kenakalan remaja dalam kategori sedang, dan sedikit (29,1%) siswa SMA Negeri di kota Malang yang tingkat kenakalan remajanya dalam kategori rendah. Dari hasil pengujian hipotesis tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin siswa SMA Negeri di Kota Malang dengan teknik Uji-t didapat p (0,000) < α (0,05) maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin siswa SMA Negeri di Kota Malang. Adapun hasil pengujian hipotesis tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang didapat p (0,349) > α (0,05) maka dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Konselor hendaknya dalam memberikan layanan BK tentang pencegahan kenakalan remaja dengan memperhatikan aspek jenis kelamin siswa dan tidak perlu memperhatikan status keluarga mereka, (2) peneliti selanjutnya hendaknya menindaklanjuti penelitian ini dengan: (a) Melibatkan faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi kenakalan remaja, dan (b) Memperluas wilayah dan subyek penelitian sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan dengan populasi yang lebih luas.

Meningkatkan hasil belajar PKn dengan strategi TTW (Think - Talk - Write) siswa kelas III SDN Gampeng II / Dianika Ratnasari

 

ABSTRAK Ratnasari, Dianika. 2008. Meningkatkan Hasil Belajar PKnDengan Strategi TTW ( THINK-TALK-WRITE ) Siswa Kelas III SDN Gampeng II. Kata kunci : Strategi, TTW, Hasil Belajar Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas III melalui model pembelajaran TTW Think-Talk-Write. Dalam pembelajaran TTWada tiga tahap atau proses yang harus dilalui siswa. Tahap ke-1 Think, siswa membaca teks dan membuat catatan. Pada tahap ini siswa berdialog dalam dirinya sendiri untuk mendapatkan pemahaman isi teks. Tahap ke-2 Talk, pada tahapm ini siswa sharing dan bercerita tentang catatan yang sudah dibuat berdasarkan isi bacaan dengan teman yang dipilih untuk mendapat informasi. Tahap k2-3 write, pada tahap ini siswa menyelesaikan masalah dan menuliskannya dalam LKS. Dal;am Bahasan Sumpah Pemuda diharapkan siswa mampu memahami dan menceritakan kembali isi dari sejarah tersebut. Untuk itu peneliti menggunakan strategi TTW ini agar siswa terlatih bercerita tentang sejarah sumpah pemuda baik lisan maupun tulisan. Ketika peneliti menganalisis hasil ulangan harian siswa tidak mencapai keberhasilan yang disyaratkan atau 85 % dari jumlah siswa tidak tuntas belajar. Dari 19 siswa yang ada, minimal 16 siswa harus tuntas belajar. Penelitian tindakan ini mengunakan metode penelitan kualitataf dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana dampak Strategi Pembelajaran TTW (Think-Talk-Write) yang diterapkan dalam belajar mata pelajaran Pkn terhadap Hasil belajar siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Gampeng II Kecamatan Ngluyu Nganjuk Tahun Pelajaran 2008/2009. Rancangan penilitian adalah Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari kegiatan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru serta hasil belajar siswa. Tahap perencanaan meliputi: pembuatan rencana pembelajaran, pemilihan metode, media, Tahap pelaksanaan atau tindakan dalam pembelajan, dan terakhir adalah refleksi akhir untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Strategi Pembelajaran TTW (Think-Talk-Write) dapat meningkatkan Hasil belajar Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri Negeri Gampeng II Kecamatan Ngluyu Nganjuk. Sebagai buktinya bahwa, dari 19 siswa yang melakukan kegiatan belajar didapatkan nilai 50 dan 60 oleh sejumlah 0 siswa dengan prosentase 0%, sedangkan kategori hasil belajar cukup adalah nilai 70 dengan frekuensi 3 dan prosentase 15,79%, nilai cukup baik adalah 80 dengan frekuensi 9 dan prosentase 47,38%. nilai baik adalah 90 dengan frekuensi 4 dengan prosentase 21,05%, sedangkan siswa yang memperoleh nilai 100 (sangat baik) sebanyak 3 siswa dengan prosentase 15,79%. Ketuntasan siswa mencapai 85 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa stratefi TTW dapat meningkatkan hasil belajar PKn, Pokok Bahasan Sumpah Pemuda. Adapun siswa yang tidak tuntas belajar karena siswa tersebut malas belajar dan tidak ada motivasi belajar dari orang tua.

Hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Nurul Dini Safitri

 

Kecerdasan emosional berpengaruh cukup besar dalam kehidupan seseorang. Tanpa kecerdasan emosional seseorang tidak mampu mengenali emosi yang ada dalam dirinya, mengelola emosi dirinya, memberikan motivasi kepada dirinya sendiri, mengenali emosi yang dialami orang lain, dan tidak akan mampu membina hubungan dengan orang lain. Pada aspek emosional, seseorang belajar menghadapi konflik yang ditemui dalam kehidupannya, hal tersebut bertujuan untuk membangun kecerdasan emosinya agar dapat mengendalikan perasaan dan menyalurkannya dengan cara-cara positif dan produktif. Hal ini juga terkait dengan prestasi belajar seseorang dibidang akademik, seseorang tersebut akan merasa kesulitan meraih prestasi yang lebih baik jika kecerdasan emosional yang dimilikinya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Siswa SMA sebagai remaja yang tidak hanya memiliki kematangan fisik saja, tetapi juga dari segi psikologisnya. Remaja tidak lagi mengungkapkan emosinya dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau bicara, atau dengan suara lantang mengkritik orang-orang yang menyebabkan dirinya marah, karena remaja yakin bahwa dengan perilaku seperti itu emosi mereka dapat terungkapkan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kecerdasan emosional siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, (2) prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, dan (3) hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Populasi yang dipilih adalah seluruh siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, mulai kelas X, XI, dan XII. Sampel penelitian dipilih secara acak (cluster random sampling), yaitu kelas X-5, XI-IPS 1, dan XII-IPA 2 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Instrumen yang digunakan yaitu teknik dokumentasi melalui angket kecerdasan emosional, dan raport sisipan tengah semester gasal tahun ajaran 2008/2009. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian kecerdasan emosional diperoleh data bahwa banyak siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang juga tergolong tuntas dengan perolehan rata-rata 88,07. Hasil pengujian hipotesis antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar diperoleh p (0,076 > 0,05), artinya bahwa pernyataan ada hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang ditolak. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan bahwa guru hendaknya menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan emosional siswa, agar siswa merasa nyaman dan senang terlebih pada saat peroses belajar mengajar berlangsung, yang nantinya berdampak pada hasil prestasi belajar siswa yang memuaskan. Konselor hendaknya memiliki alat ukur kecerdasan emsoional yang dapat digunakan sewaktu-waktu sesuai dengan program yang ada. Selain itu, peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian serupa dengan memperluas sampel dan populasi penelitiannya, sehingga hasilnya akan memperjelas hasil penelitian ini.

Kontribusi gaya kepemimpinan kasubag dan motivasi kerja pegawai terhadap semangat kerja pegawai di Universitas Negeri Malang oleh Suyono

 

Analisis kontribusi kantin sekolah terhadap tingkat pendapatan lembaga pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri se-Kota Malang (Manajemen Layanan Khusus) / Sinta Kurniawati

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar biaya kontribusi yang seharusnya diberikan oleh pihak penyewa kantin terhadap tingkat pendapatan lembaga pendidikan di SMAN Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Laba/Rugi perkiraan Desember 2008. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya sewa yang ditetapkan oleh pihak sekolah terhadap pihak penyewa kantin lebih sedikit daripada pendapatan yang diterima oleh pihak penyewa kantin. Dari hasil penelitian penulis memberikan saran (1) Bagi kepala sekolah, diharapkan sekolah dapat menetapkan biaya sewa kantin yang sesuai dengan omzet bisnis kantin. Serta pihak sekolah memperbaiki perjanjian sewa atau kontrak yang di dalamnya memuat mengenai penyediaan fasilitas air dan listrik menjadi salah satu tanggungan dari pihak penyewa kantin, (2) Penyewa kantin, diharapkan dapat membukukan biaya operasional dan pendapatan yang diperoleh setiap hari sehingga dapat mengetahui pasti perkembangan kantin dari waktu ke waktu, (3) Jurusan Administrasi Pendidikan, dapat dijadikan pengetahuan tambahan bagi materi matakuliah manajemen layanan khusus bahwa adanya manajemen layanan khusus memberikan aplikasi yang cukup besar bagi sekolah tidak hanya secara implisit namun juga secara finansial, (4) Dinas Pendidikan Kota Malang, hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan untuk mulai mengawasi dalam pengelolaan kantin sekolah dalam konteks layanan khusus kepada peserta didik guna mendukung proses belajar mengajar.

Hubungan antara motivasi memilih sekolah dan prestasi belajar siswa kelas XII di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Malang / Siti Rofi'atul Islamiyah

 

Motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak atau daya pendorong yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu hal dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi dibagi menjadi dua golongan yaitu yang pertama adalah motivasi intrinsik yang merupakan motivasi yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Motivasi yang kedua yaitu motivasi ekstrinsik yang merupakan motivasi yang berasal dari luar diri individu. Motivasi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru yang diberikan kepada peserta didiknya. Motivasi merupakan salah satu kegiatan penunjang proses belajar mengajar dan motivasi juga digunakan sebagai alat untuk pencapaian suatu tujuan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan manajemen peserta didik yaitu mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut dapat menunjang proses belajar mengajar sehingga dapat berjalan dengan lancar dan teratur, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Prestasi berkaitan dengan hasil belajar atau hasil evaluasi guru terhadap peserta didiknya dalam kurun waktu tertentu yang digunakan untuk mengetahui perkembangan yang terjadi pada peserta didiknya. Dalam belajar motivasi memegang peranan yang sangat penting terutama intensitas belajar siswa, karena motivasi adalah sebagai pendorong siswa dalam belajar. Sehingga motivasi tidak bisa dipisahkan dari aktivitas belajar siswa. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat motivasi yang dimiliki oleh siswa dan tingkat prestasi belajar siswa tersebut, serta untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi yang dimiliki siswa dan prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Tujuan tersebut berdasarkan rumusan masalah yang akan dibahas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasional. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (X) yaitu motivasi dan variabel terikat (Y) yaitu prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan di SMKN 4 Malang dengan populasinya adalah siswa kelas XII yang berjumlah 641 siswa dengan sampel yang diambil sebanyak 128 siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Teknik tersebut digunakan karena di sekolah tersebut terdapat beberapa program keahlian sehingga pada setiap program keahlian diambil sebagian secara acak untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket, sedangkan perhitungan validitas dan reliabilitasnya dengan sistem komputerisasi melalui program SPSS 12.00 for Windows. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh hasil dari 23 item terdapat 3 item yang tidak valid sehingga jumlah item yang digunakan dalam penelitian sebanyak 20 item. Hasil dari penelitian ini adalah motivasi yang dimiliki oleh siswa rata-rata memiliki motivasi yang sedang, sedangkan motivasi yang paling dominan adalah motivasi intrinsik yang terdiri dari beberapa indikator yaitu mengembangkan bakat, keaktifan dalam proses belajar mengajar, ketertarikan terhadap mata pelajaran, dan harapan. Prestasi yang diraih oleh siswa rata-rata yang tinggi. Dari hasil tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan juga bahwa motivasi yang dimiliki siswa memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi yang diraih siswa. Dari hasil penelitian yang ada penulis memberikan masukan bagi para guru di SMKN 4 Malang agar lebih peduli dan peka terhadap motivasi yang dimiliki oleh siswa, karena dengan kepedulian tersebut maka guru bisa dengan mudah membuat siswa lebih tertarik untuk ikut dan aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Hubungan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada Pendidikan Menengah di Kota Gorontalo / Abd. Kadim Masaong

 

ABSTRAK Masaong, Abd. Kadim. 2008. Hubungan Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Iklim Sekolah dengan Kinerja Sekolah pada Pendidikan Menengah Di Kota Gorontalo. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Achmad Sonhadji KH, M.A., Ph.D, (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd. Kata kunci: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan, iklim sekolah, kinerja sekolah. Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia dan sempurna. Kemuliaan dan kesempurnaan itu ditandai dengan dikaruniainya otak dan akal untuk menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Otak manusia terbagi atas tiga aspek, yaitu cortex cerebri, system limbic dan lobus temporal. Cortex cerebri berfungsi mengatur kecerdasan intelektual, system limbic berfungsi mengatur kecerdasan emosional dan lobus temporal berfungsi mengatur kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan ini dapat berfungsi secara bersinerji dan dapat pula berfungsi secara terpisah sehingga berdampak pada bervariasinya gaya kepemimpinan kepala sekolah. Bervariasinya gaya kepemimpinan kepala sekolah, berpengaruh pula terhadap iklim dan kinerja sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo. Selain itu, untuk mengetahui ada tidaknya hubungan masing-masing variabel, baik hubungan secara langsung maupun hubungan tidak langsung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian survey yang menggunakan pendekatan “cross sectional survey”. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan subyek yang berkaitan dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo. Anggota populasinya adalah guru-guru pada pendidikan menengah yang berjumlah 885 orang. Sampel diambil dari anggota populasi sebesar 16% atau 145 orang yang dapat mewakili populasi dengan teknik random dan strata. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuessioner untuk menjaring data keenam variabel yaitu: (1) data kecerdasan intelektual, (2) data kecerdasan emosional, (3) data kecerdasan spiritual, (4) data gaya kepemimpinan kepala sekolah, (5) data iklim sekolah, dan (6) data kinerja sekolah. Hasil penelitian menunjukkan: (1) kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual berada dalam kategori tinggi, (2) gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah berada dalam kategori baik; (3) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (4) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (5) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (6) terdapat hubungan tidak langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan iklim sekolah melalui gaya kepemimpinan kepala sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (7) terdapat hubungan tidak langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan kinerja sekolah melalui gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (8) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (9) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (10) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (11) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja sekolah melalui iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, dan (12) terdapat hubungan secara bersama-sama yang signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo. Berdasarkan temuan penelitian ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: (1) diharapkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Nasional dan Kanwil Departemen Agama agar dalam pelaksanaan rekrutmen, seleksi dan pengangkatan kepala sekolah tidak hanya melihat dari aspek kecerdasan, (2) disarankan kepada Dinas Pendidikan Nasional dan Departemen Agama dalam pengembangan kapasitas guru dan staf lebih diutamakan yang bersentuhan langsung dengan pengembangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, (3) diharapkan pada kepala sekolah dalam mengembangkan dan menyusun program sekolah senantiasa berorientasi pada pendidikan berbasis multiple intelligence (kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual peserta didik) secara seimbang, (4) kepala sekolah dan guru-guru diharapkan selalu meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya karena kecerdasan ini dapat dikembangkan tanpa mengenal batas umur, (5) diharapkan pada kepala sekolah agar dalam upaya peningkatan kinerja sekolah senantiasa berorientasi pada pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual warga sekolah, dan (6) bagi para peneliti yang berminat meneliti tentang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah, disarankan agar memperluas variabel penelitian, karena masih terdapat beberapa variabel yang dapat berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah dan kinerja sekolah.

Analisis faktor-faktor motivasi siswa Sekolah Menengah Atas Negeri se-Kabupaten Tulungagung untuk memilih program studi di Perguruan Tinggi Negeri / Dewi Rianti

 

Motivasi untuk mendapatkan suatu pekerjaan akan membuat individu berusaha dengan kemampuan yang dimiliki untuk mendapatkan jabatan dalam pekerjaan tersebut. Dengan demikian individu termotivasi melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka memenuhi keinginannya, sehingga keinginan terhadap suatu jenis pekerjaan merupakan salah satu prasarat yang penting dalam belajar. Dengan berkembangnya IPTEK yang semakin pesat dewasa ini menuntut dunia pendidikan harus terampil dan kreatif dalam meningkatkan kemampuannya untuk menghasilkan mutu pendidikan yang berkualitas. Untuk mencapai kualitas pendidikan tersebut seyogyanya perlu langkah-langkah konkrit yang dapat mempermudah seseorang belajar diberbagai tempat tingkat atau jenjang pendidikan. Faktor utama yang perlu menjadi pertimbangan adalah menyesuaikan minat dan bakat dari siswa sendiri. Tidak ada seseorang yang berhasil apabila bertentangan dengan minat dan bakatnya. Orang lain dapat mempengaruhi antara lain orang tua, tapi dari siswa sendiri yang menentukan pilihan program studi yang akan diambil. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah siswa mencari informasi sebanyak-banyaknya sebagai bahan pertimbangan memilih program studi. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah; (1) faktor-faktor motivasi apa saja yang menjadi pertimbangan siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri, (2) faktor apa yang paling dominan dipertimbangkan oleh siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) mengetahui faktor-faktor motivasi yang menjadi pertimbangan siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri, (2) mengetahui faktor motivasi yang paling dominan dipertimbangkan oleh siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Penelitian ini dirancang menggunakan metode analisis faktor eksploratorik. Metode ini bertujuan menemukan faktor-faktor baru hasil rotasi faktor-faktor yang telah ada. Populasi penelitian adalah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri Se-Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 2527 siswa. Sampel dari penelitian berjumlah 97 siswa yang berpedoman pada keterwakilan anggota populasi, sehingga diupayakan dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Untuk itu teknik pengambilan sampelnya menggunakan systematic and proportional random sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang disusun dalam butir-butir pernyataan berjumlah 68 butir. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis deskriptif menggunakan program komputer SPSS (Statistical Package for The Social Sciences) for Windows Version 15.0. Hasil penelitian ini menunjukkan pembentukan faktor-faktor baru hasil dari analisis faktor. Faktor-faktor tersebut adalah; (1) kelompok faktor pengembangan potensi merupakan faktor paling dominan untuk menggambarkan tentang motivasi siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri, di antaranya adalah kesempatan mengembangkan kecerdasan, bakat, minat, dan cita-cita mereka pada jurusan yang mereka pilih, (2) kelompok faktor kesiapan belajar merupakan tinjauan tentang faktor kesiapan belajar siswa berupa adanya dukungan dari pengalaman belajar siswa di SMA sebagai bekal belajar pada tingkat yang lebih tinggi, (3) kelompok faktor stimulan belajar merupakan tinjauan tentang faktor yang dapat menstimulus semangat siswa dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi negeri pada program studi yang mereka pilih, (4) kelompok faktor biaya pendidikan merupakan tinjauan tentang faktor biaya yang dikeluarkan oleh orang tua selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini saran yang dikemukakan oleh penulis bahwa hendaknya para kepala sekolah dan staf pengajar (guru-guru) SMA negeri di Tulungagung memberikan pandangan dan pengalamannya yang bertujuan untuk memudahkan para siswa tersebut dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Lain dari pada itu, para siswa SMA negeri se-Tulungagung disarankan agar tidak sekedar ikut-ikutan teman, tetapi harus dipertimbangkan dengan baik sesuai keinginan dan kebutuhannya berdasarkan kemampuan diri (minat, bakat, cita-cita) dan keluarganya (dukungan dan ketersediaan biaya). Bagi pihak program studi di Perguruan Tinggi Negeri hendaknya memiliki dan memfasilitasi apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh siswa SMA pada program studi yang ditawarkan kepada mereka. Sedangkan bagi peneliti lain hendaknya melakukan kajian terhadap penelitian dengan cara menguji kebenaran hasil penelitian. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa apabila ternyata faktor-faktor tersebut benar-benar merupakan keinginan dan kebutuhan siswa SMA negeri se-Tulungagung, maka sepatutnya menempatkan hasil penelitian ini sebagai salah satu referensi yang memperkaya wawasan teori motivasi belajar di perguruan tinggi. Sebaliknya apabila ternyata faktor-faktor tersebut tidak benar, maka sebaiknya disanggah dengan mengemukakan teori baru atau teori lainnya sebagai suatu faktor yang memotivasi siswa SMA untuk memilih program studi di Perguruan Tinggi.

Mendokumentasikan upacara Odalan masyarakat Hindu Dharma dusun Djunggo Kota Batu / Adi Kusumajaya

 

Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki banyak ragam kebudayaan, suku, ras dan agama yang memberikan daya tarik tersendiri untuk diketahui. Salah satu diantaranya ialah upacara adat istiadat masyarakat Hindu Dharma dusun Djunggo kota Batu Jawa Timur. Masyarakat di dusun Djunggo yang berjumlah sekitar kurang lebih 80 kepala keluarga ini yang beragama Hindu merupakan masyarakat yang memegang teguh adat istiadatnya yang didalamnya termasuk juga kehidupan sosial baik antar sesama umat Hindu ataupun dengan umat dari agama lain, ajaran-ajaran agamanya, dan juga tentang tata cara keagamaan Hindu itu sendiri baik tata cara upacaranya ataupun hari-hari besarya. Dengan adanya perancangan film dokumenter ini diharapkan menciptakan suatu rancangan film dokumenter dan rancangan desain tentang upacara Odalan masyarakat Hindu Dharma dusun Djunggo kota Batu lewat pendekatan audio visual yang menarik dan komunikatif. Perancangan ini dilakukan dengan pengambilan gambar di susun Djunggo kota Batu , tanggal 18 Juni 2008 pada saat upacara Odalan berlangsung. Pada perancangan film dokumenter ini digunakan model prosedural, yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan satu bentuk film dokumenter yang lebih natural dan lebih obyektif Hasil perancangan ini menghasilkan sebuah produk film dokumenter tentang upacara Odalan dari dusun Djunggo kota Batu. Film ini dibuat dengan durasi 20 menit yang disajikan dalam dua format yaitu DVD (Digital Video Disc) dan VCD (Video Compact Disc) dan menghasilkan media pendukung film dokumenter ini yang berguna untuk sarana komunikasi dan memperkenalkan upacara Odalan sebagai wacana menambah pengetahuan kebudayaan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil perancangan film dokumenter upacara Odalan ini dapat dijadikan bahan kajian perancangan film dokumenter berikutnya dan sebagai penyempurnaan pada perancangan di masa datang. Demikian kajian dan saran terhadap produk maupun pengembangan lebih lanjut dari film dokumenter tentang upacara adat Odalan yang diproduksi tahun 2008 ini.

Perancangan buku kamus bergambar Inggris-Indonesia untuk anak-anak dengan latar cerita"Timun Mas" / Wedhanta Pralampita

 

Sebuah kamus bergambar Inggris – Indonesia dengan cerita Timun Mas yang ditujukan untuk anak-anak sekolah dasar. Topik ini diangkat dengan pertimbangan bahwa masa dimana batas-batas Negara tidak lagi berlaku semakin mendekat seiring terjajahnya mental anak-anak Indonesia oleh budaya luar negeri sehingga budaya bangsa semakin tenggelam di Negara Indonesia. Dari uraian latar belakang muncul permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: Diperlukan sebuah kamus bergambar dengan cerita Timun Mas yang mengusung warna dan gambar yang menarik sehingga anak-anak senang belajar bahasa Inggris tanpa melupakan budaya Indonesia. Selaras dengan rumusan masalah tersebut, tujuan perancangan ini adalah untuk membuat kamus bergambar Inggris – Indonesia dengan cerita Timun Mas sehingga anak-anak Indonesia senang belajar bahasa Inggris tanpa melupakan budaya Indonesia. Perancangan kamus bergambar dengan cerita ini menggunakan model perancangan yang bersifat linear dan terdeskripsi langkah-langkah kerjanya,sehingga jelas arah berpikir dalam menyusunnya yang disebut sebagai model rasional. Dalam model perancangan rasional, langkah-langkah perancangan dilakukan secara sistematik dan terstruktur, berurutan dari awal sampai dengan akhir. Produk yang dihasilkan berupa sebuah kamus bergambar Inggris – Indonesia dengan Cerita Timun Mas. Produk ini berupa buku berwarna dengan ukuran A4 (21 cm x 29,7 cm) dengan 34 halaman berwarna yang dicetak diatas kertas kertas Art Paper 180 gram dan dibuat dengan software pendukung yaitu Adobe Photoshop dan Corel Draw. Untuk mendukung kamus bergambar ini maka dibuat juga media promosi komunikasi visual berupa poster, stiker, iklan majalah dan souvenir berupa stiker. Kelemahan dari kamus bergambar ini adalah kurangnya jumlah halaman sehingga kamus ini menjadi terlalu tipis karena semakin banyak halaman berwarna maka akan semakin mahal harga buku, sehingga perancangan buku ini disikapi sedemikian rupa agar nantinya tidak terlalu mahal. Anak-anak merupakan target audience kamus bergambar dengan cerita ini, tetapi bagi para penggemar buku bergambar yang berusia lebih dewasa tidak menutup kemungkinan juga untuk menggunakan produk ini sebagai bahan referensi yang dapat dipelajari kelebihan dan kekurangannya.

Pengaruh informasi arus kas dan laba bersih perusahaan terhadap expected return saham pada perusahaan LQ-45 yang listing di bursa efek Indonesia (BEI) periode Februari 2004-Januari 2008 / Fena Ulfa Aulia

 

ABSTRAK Aulia, Fena Ulfa. 2008. Pengaruh Informasi Arus Kas dan Laba Bersih Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan LQ-45 yang Listing di BEI Periode Febuari 2004-Januari 2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Triadi Agung S, SE, M.Si, Ak. (II) DR.Puji Handayati, S.E, MM, Ak Kata kunci: informasi arus kas, laba bersih, expected return, lq-45 Salah satu pertimbangan utama seorang investor sebelum berinvestasi dalam bentuk saham yaitu mengenai return yang akan diperolehnya. Untuk itu, investor membutuhkan banyak informasi mengenai kondisi dan prospek perusahaan yang akan dipilih. Syarat utama yang diinginkan oleh para investor untuk bersedia menginvestasikan dananya kepada suatu perusahaan melalui pasar modal adalah perasaan aman akan investasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi tersebut. Perasaan aman tersebut diperoleh dari informasi yang diterima investor berupa informasi yang jelas, wajar, dan tepat waktu sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasinya. Berkaitan dengan hal ini, maka informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan investasi adalah informasi yang bersumber dari laporan keuangan. Parameter kinerja perusahaan yang mendapat perhatian utama dari investor dari laporan keuangan ini adalah laba dan arus kas. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh informasi arus kas dan laba bersih terhadap expected return saham perusahaan LQ-45, baik secara individual maupun simultan. Informasi arus kas ini diproksikan dengan rasio arus kas operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan. Selanjutnya, laba bersih diukur dengan earnings after tax index. Dan untuk expected return saham diukur menggunakan E (Ri) = Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang dirancang dengan menggunakan design korelasi/ asosiatif. Populasi pada penelitian ini adalah semua perusahaan yang listing di BEI selama tahun 2007. Dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel penelitian. Dalam penelitian ini terdapat 25 perusahaan LQ-45 sebagai perusahaan sampel yang listing di BEI selama periode Febuari 2004- Januari 2008. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan arus kas, laporan laba-rugi dan expected return saham triwulanan. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa signifikansi kualitas informasi arus kas berbeda pada setiap komponennya. Berdasarkan hasil uji t terbukti bahwa informasi arus kas operasi tidak berpengaruh terhadap expected return saham karena nilai t hitung (0.658) lebih kecil dari t tabel (1.967). Berbeda dengan arus kas operasi, informasi arus kas investasi, pendanaan dan laba bersih secara parsial berpengaruh signifikan terhadap expected return saham. Hal ini dapat ditunjukkan dari nilai t hitung (2.222) untuk arus kas investasi, (2.942) untuk arus kas pendanaan dan (9.335) untuk laba bersih yang lebih besar dari t tabel (1.967). Dari hasil pengujian hipotesis tersebut menunjukkan bahwa informasi arus kas dan laba bersih secara simultan berpengaruh signifikan terhadap expected return saham. Hal ini berarti investor sebaiknya menggunakan informasi laporan keuangan arus kas dan laba bersih sebagai pertimbangan dalam membuat keputusan investasi terkait dengan tinkat expected return saham.

Penerapan strategi bermain kartu domino perkalian untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN Sepanjang II Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang / Inin Ma'rifa

 

Anak usia dini seperti siswa kelas 1 sampai 3 SD sangat dominant kegiatan bermainnya. Bermain merupakan kebutuhan yang utama bagi siswa dalam usia sedini itu. Untuk itu, kita perlu menfasilitasi pembelajaran matematika yang sesuai dengan karakteristik anak SD. Salah satu strategi yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah belajar melalui bermain. Dengan strategi bermain dalam pembelajaran matematika diharapkan siswaw dapat memiliki konsep-konsep (daya serap) mengenai bahan atau materi pakok bahasan sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam kurikulum 2006. penelitian bertujuan untuk mengetahui : (1)Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan strategi bermain kartu domino perkalian pokok bahasan perkalian dikelas III, (2)Hasil belajar siswa kelas III SDN Sepanjang II dengan penerapan strategi bermain kartu domino perkalian pada pokok bahasan perkalian. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan PTK dengan model penelitiannya adalah siswa kalas III SDN Sepanjang II yang berjumlah 30 anak. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, LKS, lembar tes. Untuk tes yang diberikan kepada siswa, sebelumnya dilakukan validasi dengan hasil 0,756 dan rehabilitas 0,86. penelitian ini menggunakan standar ketuntasan belajar berdasarkan KTSP yaitu 75% untuk ketuntasan individu dan 80% untuk ketuntasan kelas. Hasil belajar siswa pada pokok bahasan perkalian dengan penerapan strategi bermain menunjukkan ada peningkatan.Hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata sebelum menerapkan strategi bermain bermain hanya mencapai 65,3dengan 28 siswa (93,33%)yang belum tuntas dengan hanya 2siswa (6,67%)kemudian setelah menerapkan strategi bermain rata-rata siswa pada siklus I mencapai 73,2 dan di peroleh hasil dari 18 siswa (60%) telah mencapai ketuntasan indvidu dan 12 siswa (40%)belum mencapai ketuntasan individu.Dari siklus II mengalami peningkatan lagi yaitu hasil belajar dari 30 siswa telah di peroleh hasil 30 siswa telah mencapai ketuntasan individu (100%),untuk ketuntasan kelas juga sudah memenuhi criteria 80% dengan nilai rata-rata yang di peroleh 80. Penerapan strategi bermain kartu domino perkalian dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III di SDN Sepanjang II Kecamatan Gondanglegi.Hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata siswa pada siklus I yang mencapai 73,2,kemudian meningkatkan lagi pada siklus II sebanyak 9,2%dengan nilai rata-rata 80. Saran dari adanya penelitian ini adalah guru dapat menerapkan strategi bermain pada pembelajaran dengan cara memberikan bimbingan pada siswa dengan cara belajar melalui bermain yang menyenangkan sehingga konsep akan tertanam dengan sendirinya pada diri siswa.

Strategi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial kajian sejarah dengan pendekatan dialog (Studi kasus di Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 1 Malang dan Sekolah dasar Negeri Kotalama 1 Malang) / Susanto

 

Tujuan mempelajari IPS kajian sejarah, ialah (1) untuk membangkitkan dan memelihara semangat kebangsaan, (2) membangkitkan hasrat mewujudkan cita-cita kebangsaan, (3) membangkitkan hasrat mempelajari sejarah kebangsaan yang merupakan bagian sejarah dunia, (4) menyadarkan anak tentang cita-cita nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pendekatan pembelajaran yang dialogis. Pendekatan pembelajaran yang dialogis membawa kesadaran untuk saling adanya keterbukaan yang satu dengan yang lain, menemukan kebaikan, komunikasi yang rasional dan kritis, serta memahami bahwa orang lain berbeda dengan dirinya. Pendekatan ini bermaksud memperbaiki kualitas pembelajaran. Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, diawali dengan penetapan variabel metode. Variabel metode diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) strategi pengorganisasian (organizational strategy), (2) strategi penyampaian (delivery strategy), dan (3) strategi pengelolaan (management strategy). Strategi pengorganisasian pembelajaran mengacu kepada suatu tindakan seperti pemilihan urutan isi, pembuatan sintesis, dan pembuatan rangkuman. Strategi penyampaian pembelajaran mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa, dan strategi pengelolaan pembelajaran mengacu kepada upaya menata penjadualan penggunaan strategi, catatan kemajuan belajar siswa, motivasional, dan kontrol belajar. Masalah umum penelitian ini adalah bagaimana strategi pembelajaran IPS kajian sejarah dengan pendekatan dialog di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang. Secara khusus, masalah penelitian ini difokuskan pada empat hal, yakni, (1) Bagaimana strategi pengorganisasian materi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (2) Bagaimana strategi penyampaian materi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (3) Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (4) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang, dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus ganda. Studi kasus ganda merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “mengapa” atau “bagaimana”, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada konteks kehidupan nyata. Data penelitian ini terdiri atas data verbal dan non verbal yang diperoleh dari latar alamiah pada saat guru mengajar IPS kajian sejarah dengan pendekatan dialog. Untuk menjaring data penelitian ini digunakan teknik observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh gambaran sesungguhnya tentang perilaku guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh pemaknaan penelitian, sedangkan dokumentasi untuk mendukung data yang diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif yang komponennya melibatkan kegiatan pengumpulan data, sajian data, reduksi data, dan verfikasi/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian tentang strategi pengoganisasian pembelajaran pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang menunjukkan bahwa materi menjelang proklamasi kemerdekaan disusun dalam bentuk diktat dan materi yang lain menggunakan buku ajar. Pendekatan dialog yang melibatkan pemanfaatan media, interaksi siswa dengan media, dan bentuk pembelajaran merupakan determinan utama strategi penyampaian pembelajaran. Hasil penelitian pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang menunjukkan bahwa pendekatan dialog dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah yang divariasikan dengan dialog, melalui tanya jawab, pemberian tugas, bermain peran. Pelaksanaan metode bermain peran dapat membantu siswa untuk memperoleh makna dari peristiwa sejarah secara optimal. Penjadualan pembelajaran oleh guru lebih dipandang sebagai upaya memberi kesempatan kepada siswa untuk berdialog agar memperoleh penghayatan terhadap tokoh pejuang kemerdekaan berupa nilai juang 1945, yaitu musyawarah, patriotik, dan rela berkorban. Pengelolaan motivasional direpresentasi guru dalam bentuk ungkapan verbal dan nonverbal serta kontrol belajar yang direpresentasi memberi kesempatan pilihan belajar yang menyenangkan, tampak terbukti pada ke dua sekolah terteliti. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang, yakni kegemaran dan kecintaan mengajar kajian sejarah menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan, menarik siswa, kreatif, dan inovatif. Pandangan dan sikap orang tua/wali murid, guru bidang studi non IPS dan pimpinan sekolah ikut mempengaruhi strategi pembelajaran. Pendekatan dialog merupakan temuan penelitian yang sangat berharga dalam pembelajaran kajian sejarah. Oleh karena itu pendekatan dialog menjadi rekomendasi peneliti sebagai model pembelajaran kajian sejarah yang utama.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk / Malisa Dewi Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, M. Dewi. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TGT Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Pra Sekolah Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Ahmad Samawi, M. Hum., (II) Drs. Sunyoto, S. Pd., M. Si. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Model TGT , Hasil Belajar Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk, (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk setelah penerapan model TGT (Teams Game Tournaments), (3) mengetahui dampak TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dilakukan atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Rancangan yang digunakan adalah PTK dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas (a) Perencanaan, (b) Pelaksanaan, (c) Observasi, dan (d) Refleksi. Instrument yang digunakan adalah (a) Pedoman Observasi, (b) Tes, (c) Angket, (d) Pedoman Wawancara. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan model TGT (Teams Game Tournaments) adalah belajar disertai diskusi kelompok, permainan dan turnamen, (2) pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk, yaitu dari rerata skor 67,92 dan daya serap klasikal 16% pada pra tindakan dan setelah tindakan menjadi rerata skor 70 dan daya serap klasikal 54% pada siklus I, dan rerata skor 87,2 dan daya serap klasikal 88% pada siklus II, (3) dampak pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa adalah semangat kerjasama siswa yang meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok dan langkah-langkahnya terdiri dari penyajian kelas, kerja kelompok, turnamen dan penghargaan kelompok, (2) Pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu berdasar pada paparan data pratindakan jumlah rerata skor 67,92 dan daya serap klasikal 16%, dan setelah diadakan tindakan pada siklus I rerata skor meningkat 70 dan daya serap klasikal meningkat menjadi 54%. Jumlah rerata skor dan daya serap mengalami peningkatan lagi pada siklus II yaitu 87,2 dan 88%, (3) Dampak TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk adalah suasana kelas makin menyenangkan dengan adanya belajar sambil bermain terutama saat turnamen, dampak lain adalah tampak adanya peningkatan interaksi antar individu dalam kelas khususnya pada kelompok. Disarankan (1) Kepada guru agar menggunakan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) ini dalam pembelajaran lain, (2) penggunaan model TGT (Teams Game Tournaments) ini dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk karena pembelajaran yang diterapkan sangat sesuai dengan karakteristik anak SD yaitu belajar sambil bermain sehingga menumbuhkan semangat siswa dalam belajar maupun kerjasama dalam kelompok.

Peningkatan pembelajaran menulis melalui penerapan pendekatan konstruktivisme di kelas IV SDN Trenceng I Kabupaten Tulungagung / Eny Afifah

 

Berdasarkan hasil observasi di kelas IV SDN Trenceng I Kabupaten Tulungagung dalam materi mengarang guru belum menggunakan pendekatan Konstruktivise dan siswa beranggapan bahwa sekali menulis langsung jadi karangan tanpa menerapkan fase- fase dalam menulis karangan. Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan masalah, yaitu (1) Apakah pendekatan Konstruktivisme meningkatkan pada prapenuisan?,( 2) Apakah pendekatan Konstruktivisme meningkatkan pada saat penulisan?, (3) Apakah pendekatan Konstruktivisme meningkatkan pada pascapenulisan? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme pada prapenulisan (2) Mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme pada saat penulisan (3) Mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme pada prapenulisan. Pelitian yang dilaksanakan dengan diawali pra tindakan siswa belum melaksanakan fase- fase menulis karangan sehingga hasilnya o %, pada siklus I siswa menulis karangan berdasarkan pengalamannya dengan menerapkan fase- fase menulis karangan, nilainya meningkat menjadi 47, 36 %. Pada siklus II siswa mengarang berdasarkan gambar dengan menerapkan fase- fase menulis karangan, hasilnya meningkat menjadi 78,94 %. Pada siklus III siswa mengarang dengan mengamati lingkungan sekolah serta menerapkan fase- fase menulis karangan, hasilnya meningkat menjadi 100 %. Pada siklus III telah mencapai ketuntasan sehingga tidak perlu ada perbaikan lagi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan tiga kali siklus kepada siswa kelas IV yang berjumlah 20 siswa, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme melalui fase- fase menulis yaitu fase prapenulisan, fase saat penulisan, dan fase pascapenulisan dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas IV SDN Trenceng I Tahun Ajaran 2008/2009. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan perlu diberikan kepada siswa agar siswa tidak mengalami kebosanan belajar. Guru hendaknya menerapkan pendekatan- pendekatan pembelajaran yang bervariasi serta menentukan tujuan pembelajaran yang jelas sehingga tercapai kompetensi dasar yang ditargetkan serta dapat mengembangkan potensi- potensi yang dimiliki siswa.

Penggunaan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang / Eny Sutarti

 

Skenario pembelajaran dirancang guru untuk mendapatkan tujuan pembelajaran seefektif dan seefesien mungkin sesuai yang diinginkan. Tetapi, ada kalanya pembelajaran yang dirancang tersebut dapat memberikan hasil yang kurang maksimal. Seperti terlihat pada observasi, penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang lebih rendah dengan operasi bilangan yang lain dengan nilai rata-rata kelasnya adalah 51. Dari 30 siswa, 13 siswa mendapatkan nilai di atas rata-rata kelas dan 17 siswa mendapatkan nilai di bawah rata-rata kelas. Hal ini karena guru lebih sering menerapkan metode pembelajaran yang kurang melibatkan keaktifan siswa dan pengalamam langsung pada diri siswa. Permasalahan tersebut dicoba diatasi dengan menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan pada pembelajaran matematika tentang perkalian kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang sebelum menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan, (2) Mendeskripsikan penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang setelah menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan, (3) Mendeskripsikan aktivitas siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang dengan menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan, (4) Mendeskripsikan penggunaan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan dapat meningkatkan penguasaan perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah pedoman obsevasi, soal, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut: (1) penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang sebelum menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan jauh dari kriteria keberhasilan yang diharapkan yaitu nilai rata-rata kelas operasi perkalian pra tindakan adalah 41 dengan kategori kurang baik, (2) penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang setelah menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan mengalami peningkatan. Nilai rata-rata kelas siklus I adalah 62 dan siklus II adalah 81. Sehingga penguasaan konsep perkalian siswa dari pra tindakan ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 97 % dengan kategori sangat baik, (3) hasil observasi aktivitas siswa saat pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan pada siklus I sebesar 75 % dengan kategori baik dan hasil observasi aktivitas siswa saat pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan pada siklus II sebesar 83 % dengan kategori baik. Sehingga aktivitas siswa dikategorikan baik, (4) Hasil observasi penggunaan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan siklus I adalah 83 % dengan kategori baik. Hasil observasi penggunaan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan siklus II adalah 95 % dengan kategori sangat baik. Secara keseluruhan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan dapat meningkatkan penguasaan konsep perkalian siswa kelas III SDN Pandanwangi 2 Malang. Saran dari penelitian ini dikemukakan sebagai berikut: (1) bagi guru, dapat menggunakan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan dalam kegiatan pembelajaran perkalian matematika; (2) bagi siswa, dapat mengembangkan potensi diri dengan cara belajar melalui media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan sehingga konsep matematika dapat tertanam pada diri siswa berdasarkan pengalaman langsung; (3) bagi peneliti lain, penggunaan media pembelajaran "Pohon Perkalian" dengan teknik permainan dalam pembelajaran yang digunakan dalam penelitian dapat digunakan oleh peneliti-peneliti lain sebagai pembelajaran yang inovatif.

Pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007 / Septiana Widya Kristanti

 

ABSTRAK Kristanti, Septiana Widya. 2009. Pengaruh Struktur Modal Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Periode 2005-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurika Restuningdiah, SE, Ak, M.Si, (II) Yuli Widi Astuti, SE, Ak, M.Si Kata kunci: Struktur Modal (DAR (debt to assets ratio), DER (debt to equity ratio), LDER (longterm debt to equity ratio), Profitabilitas (return on investement (ROI)) Seorang kreditor sebelum memberikan dana pinjaman ke perusahaan sebaiknya memperhatikan kondisi struktur modalnya dan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan bersih terhadap aktiva yang dimiliki atau return on investment (ROI). Struktur modal merupakan perimbangan antara jumlah hutang dan modal yang dimiliki perusahaan. Untuk menilai kondisi struktur modal suatu perusahaan dapat menggunakan rasio debt to assets ratio (DAR), debt to equity ratio (DER), dan longterm debt to equity ratio (LDER). Sedangkan untuk menilai profitabilitas menggunakan rasio return on investment (ROI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang antara debt to assets ratio (DAR), debt to equity ratio (DER), dan longterm debt to equity ratio (LDER) sebagai variabel bebas terhadap return on investment (ROI) sebagai variabel terikat secara parsial pada perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007 sebanyak 153 perusahaan. Sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 18 perusahaan yang diambil secara purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2008. Sedangkan analisis yang digunakan adalah uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan analisis regresi linear berganda. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa secara parsial variabel debt to assets ratio (DAR) dan debt to equity ratio (DER) berpengaruh terhadap return on investment (ROI). Sedangkan variabel longterm debt to equity ratio (LDER) tidak berpengaruh terhadap return on investment (ROI) karena diduga kondisi makro ekonomi mempengaruhi kebijakan pendanaan perusahaan. Secara simultan variabel debt to assets ratio (DAR), debt to equity ratio (DER), dan longterm debt to equity ratio (LDER) mempunyai pengaruh terhadap return on investment (ROI) pada perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007. Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian yaitu (1) bagi perusahaan, sebaiknya memperhatikan keadaan variabel debt to assets ratio (DAR) dan debt to equity ratio (DER) untuk meningkatkan profitabilitas atau return on investment (ROI), (2) bagi kreditor, variabel debt to assets ratio (DAR) dan debt to equity ratio (DER) dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan dalam memberikan modal pinjaman, (3) bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian sejenis agar menambah jumlah variabel lain yang lebih berpengaruh terhadap return on investment (ROI).

Studi tentang pembelajaran tari Cempe pada kegiatan ekstrakurikuler di SDN Banjarejo 1 Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang / Dhirgan Grudhowaringin

 

Grudhowaringin, Dhirgan. 2013. Studi Tentang Pembelajaran Tari Cempe Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Di SDN Banjarejo I Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Program Studi S1 Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (1) Dra. Ida Siti Herawati, M.Pd, (2) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Pembelajaran, Tari Cempe, Ekstrakurikuler, SD. Pembelajaran seni tari di Sekolah Dasar mempunyai fungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa, memberikan perkembangan estetik, dan membantu penyempurnaan kehidupan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tari tersebut, SDN Banjarejo I mengadakan kegiatan ekstrakurikuler seni tari dengan materi tari Cempe. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan proses pembelajaran tari Cempe pada kegiatan ekstrakurikuler di SDN Banjarejo I. 2) Mendeskripsikan faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran tari Cempe pada kegiatan ekstrakurikuler di SDN Banjarejo I. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian berada di SDN Banjarejo I Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Narasumber dalam penelitian ini adalah guru ekstrakurikuler seni tari. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, kemudian penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada pengecekan keabsahan data menggunakan teknik trianggulasi waktu dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Cempe merupakan karya tari untuk kategori anak-anak yang menceritakan tentang kehidupan cempe (anak kambing). Penelitian ini mendeskripsikan tentang: 1) Proses pembelajaran tari Cempe meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan yang dilakukan oleh guru yakni menyusun program kegiatan, menentukan materi ajar, dan menentukan waktu pelaksanaan. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru menerapkan metode demonstrasi, menggunakan media, dan melakukan usaha pengelolaan kelas. Sedangkan untuk evaluasi pembelajaran, guru melakukan penilaian sesuai dengan kriteria penilaian dalam tari untuk anak-anak, yakni hafalan dan ekspresi, ketepatan irama, serta bentuk dan teknik gerak. 2) Faktor pendukung dalam pembelajaran tari Cempe yakni guru memiliki ketrampilan mengajar, siswa memiliki minat yang tinggi, dan peran sekolah yang sangat mendukung. Sedangkan faktor penghambat dalam pembelajaran yakni ruang latihan yang kurang memadai. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada: 1) Kepala sekolah, agar dapat memberikan dukungan berupa kelengkapan sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran tari Cempe. 2) Guru, agar lebih memahami kendala-kendala dalam proses pembelajaran tari Cempe dan menjadikan sebagai evaluasi untuk pembelajaran selanjutnya. 3) Mahasiswa PSTM, agar melakukan penelitian pembelajaran ekstrakurikuler dengan materi tari yang lain atau jenjang yang lebih tinggi, misalnya SMP dan SMA.

Kompetensi profesional guru seni rupa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Malang / Nala Ristanti

 

ABSTRAK Ristanti, Nala. 2008. Kompetensi Profesional Guru Seni Rupa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Ida Siti Herawati, M. Pd. (II) Dra. Tjitjik Sriwardani, M.Pd. Kata kunci: Guru Seni Rupa, Kompetensi Profesional Guru Seni Rupa yang profesional adalah tenaga kependidikan yang memiliki pengetahuan yang luas bidang studi seni rupa serta penguasaan metodologi dalam arti memiliki konsep teoritis, serta mampu memilih dan menggunakan metode mengajar di dalam proses pembelajaran seni. Seni bertujuan menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya nusantara sebagai pembentukan sikap menghargai, toleransi, demokrasi, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya majemuk. Berbagai hal yang dikemukakan di atas dapat tercapai apabila guru mempunyai kompetensi yang memadai dalam membelajarkan seni. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kompetensi profesional guru seni rupa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui survey. Teknik pengambilan sampel secara Area probability proportional sampling. Subyek penelitian sebanyak 23 guru diambil dari 12 sekolah sebagai sampel dari tiap- tiap wilayah kecamatan di Kota Malang. Analisis data yang digunakan adalah analisis prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru pada SMP Negeri di Kota Malang, yaitu: (1) Dalam penguasaan materi konsep memiliki kompetensi cukup (4.13), (2) Penguasaan materi apresiasi memiliki kompetensi cukup (3.96), (3) Penguasaan materi berkarya seni memiliki kompetensi baik (4.52), (4) Penguasaan wawasan kependidikan khususnya KTSP mempunyai kompetensi cukup (5.22), (5) Penguasaan metode pembelajaran mempunyai kompetensi cukup (1.96), (6) Penguasaan media pembelajaran mempunyai kompetensi baik (2.43), (7) Kompetensi pada penguasaan penilaian yaitu baik (2.04). Guru SMP Negeri di Kota Malang yang mempunyai kompetensi cukup sampai baik pada penguasaan materi konsep sebanyak 17 (73.91%) guru. Pada penguasaan materi apresiasi sebanyak 20 (86.96) guru. Pada penguasaan materi berkarya seni sebanyak 10 (43.48%) guru. Pada penguasaan KTSP sebanyak 17 (73.91%) guru. Pada penguasaan metode pembelajaran sebanyak 17 (73.91%) guru. Pada penguasaan media pembelajaran sebanyak 12 (52.17%) guru. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disarankan bagi peneliti yang tertarik pada permasalahan yang sama hendaknya menindaklanjuti dengan jangka waktu yang lama, sampel yang lebih besar, dan memperluas cakupan variabelnya misalnya kompetensi dari segi afektif ataupun psikomotorik.

Pemanfaatan industri rumah tangga sebagai sumber belajar siswa kelas V dengan pokok bahasan perekonomian untuk meningkatkan prestasi belajar IPS di SDN Widang III Tuban / Camelia Said

 

Penelitian ini bertujuan untuk melaksanakan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar yaitu industri rumah tangga kue yang digunakan sebagai sumber belajar siswa, dengan mengajak siswa ke industri rumah tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan pemahaman tentang perekonomian di daerah Widang serta menerapkan siswa sejak dini pentingnya memiliki ketrampilan yang akan bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat kelak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan Rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus siklus pertama pembelajaran di dalam kelas siklus ke dua pembelajaran di luar kelas, pelaksanaannya meliputi empat langkah: (1) Perencanaan; (2) Tindakan; (3) observasi; (4) refleksi. Subyek pada penelitian ini adalah siswa 21 orang dengan jumlah siswa laki-laki12 orang dan siswa perempuan 9 orang. Instrumen yng digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah peningkatan hasil dari kegiatan observasi pada siklus I tentang kegiatan belajar siswa dinilai dengan skor 59,1% dengan kategori C yaitu siswa kurang baik dalam melaksanakan pembelajaran IPS sedangkan pada siklus II di luar kelas meningkat menjadi 83,1% dengan kategori nilai A yaitu siswa sangat baik dalam melaksanakan pembelajaran IPS diluar kelas. Sedangkan untuk hasil belajar siswa sebelum masuk siklus I dengan rata-rata 63,1 pada siklus I meningkat menjadi rata-rata kelas 71,9 sedangkan pada siklus II meningkat lagi dengan rata-rata kelas menjadi 83,1. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sekitar salah satunya industri rumah tangga dapat memudahkan guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran IPS serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Saran bagi guru agar dapat menerapkan pembelajaran-pembelajaran yang lain dengan menggunakan masyarakat sekitar sebagai sumber belajar siswa.

Penerapan creative approach untuk meningkatkan kreativitas, kerja ilmiah dan pemahaman konsep siswa pokok bahasan elastisitas dan gerak harmonis sederhana di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Karangrejo Tulungagung / Devi Retnaning Tiyas

 

2 ABSTRAK Tiyas, Devi Retnaning. 2009. Penerapan Creative Approach Untuk Meningkatkan Kreativitas, Kerja Ilmiah Dan Pemahaman Konsep Siswa Pokok Bahasan Elastisitas Dan Gerak Harmonis Sederhana Di Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Karangrejo Tulungagung. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Purwaningsih, M.Si (II) Dra. Chusnana Insjaf Yogihati, M.Si Kata Kunci: Creative approach, peningkatan kreativitas, peningkatan kerja ilmiah, peningkatan pemahaman konsep. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru fisika SMA Negeri 1 Karangrejo nilai KKM fisika pada kelas XI IPA 1 adalah 65, dan terdolong rendah jika dibandingkan dengan kriteria nilai ketuntasan minimum yaitu 75. Rendahnya nilai menunjukkan rendahnya pemahaman konsep siswa. Proses pembelajaran yang dilaksanakan adalah teacher centered. Guru tidak pernah melakukan pembelajaran dengan metode inovatif yang mengajak siswa lebih aktif mengemukakan gagasan.Pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa adalah pertanyaan tertutup, yang mengakibatkan kualitas gagasan siswa rendah. Siswa juga jarang diajak melakukan penyelidikan, karena guru khawatir target menyelesaikan materi akan terhambat, sehingga siswa kurang memperoleh pengalaman dalam percobaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui keterlaksanaan creative approach, peningkatan kreativitas, peningkatan kerja ilmiah dan peningkatan pemahaman konsep fisika kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Karangrejo. Dalam penelitian ini adalah yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Sebagai subjek penelitiannya adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Karangrejo Tulungagung, berjumlah 44 siswa. Tiap siklus menerapkan metode brainstorming, problem solving dan inkuiri. Instrumen yang dipakai adalah observasi tahapan pembelajaran creative approach, tes kreativitas, observasi kerja ilmiah dan juga tes pemahaman konsep melalui pre-test dan post test. Hasil penelitian kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Karangrejo menunjukkan keterlaksanaan creative approach baik, mengalami peningkatan kreativitas, kerja ilmiah dan pemahaman konsep setelah diberi tindakan sesuai RPP. Guru sudah melaksanakan semua tahap dari creative approach yang telah direncanakan. Sehingga berpengaruh pada aktivitas siswa, rata-rata aktivitas siswa pada siklus I mencapai 20,45% menjadi 24,96% pada siklus II. Penerapan creative approach dapat meningkatkan kreativitas, kerja ilmiah, dan pemahaman konsep siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Karangrejo. Sebelum siklus I rata-rata nilai kreativitas siswa pada kriteria kurang, setelah siklus II rata-rata nilai kreativitas pda criteria bagus. Rata-rata persentase kerja ilmiah siswa meningkat dari 71,19% (cukup) pada siklus I menjadi 91,03% (baik) pada siklus II. Selisih rata-rata antara pre-test dan post test sebesar 17,56 dengan gain score sebesar 0,37 pada siklus I meningkat menjadi 26,16 dengan gain score 0,57 pada siklus II. Ketuntasan belajar siswa sebesar 20,45% pada siklus I menjadi 85% pada siklus II. Pembelajaran dengan creative approach mengajak siswa untuk beraktivitas mengemukakan gagasan, sehingga meningkatkan kreativitas, kerja ilmiah dan pemahaman konsep fisika siswa.

Kontribusi peran ibu dan motivasi berpretasi terhadap kemampuan sosialisasi anak di SMPK Mardiwiyata Malang / Maria Yovita Hambu

 

Penggunaan media kartu kata dan gambar untuk penguasaaan kosakata Bahasa Jerman di SMA Negeri 4 Balikpapan / Megaria Tamba

 

Media Pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Jerman cukup banyak. Beberapa di antaranya adalah media kartu kata dan gambar. Media ini dianggap dapat membantu siswa dalam mempelajari bahasa Jerman, khususnya untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jerman karena siswa, dalam hal ini kata benda. Biasanya siswa mengalami kesulitan dalam mengingat dan menghafal kosakata bahasa Jerman karena salah satu penyebabnya adalah kurangnya penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu penulis melaksanakan penelitian tentang Penggunaan Media Kartu Kata dan Gambar dalam pembelajaran kosakata di SMA Negeri 4 Balikpapan.. Penelitian ini bertujuan 1) untuk mendeskripsikan penguasaan kosakata bahasa Jerman sebelum penggunaan media kartu kata dan gambar, 2) mendeskripsikan langkah-langkah penggunaan media kartu kata dan gambar, dan 3) mendeskripsikan penguasaan kosakata bahasa Jerman setelah penggunaan media kartu kata dan gambar di SMA Negeri 4 Balikpapan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 4 Balikpapan kelas XI IPA, yaitu sebanyak 26 siswa. Data dalam penelitian ini adalah nilai pretes dan postes, hasil angket penilaian dan tanggapan siswa, dan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan adalah angket, tes dan pedoman observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar siswa. Sebelum menggunakan media kartu kata dan gambar dalam proses pembelajaran siswa memperoleh nilai rata-rata 75,76, dan nilai rata-rata siswa setelah menggunakan media ini adalah 83,65. Aktifitas siswa semakin meningkat dan respon siswa terhadap penggunaan media kartu kata dan gambar sangat positif. Hal tersebut terbukti dari hasil pengamatan, di mana selama mengikuti pembelajaran siswa terlibat secara lebih aktif. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media kartu kata dan gambar dapat digunakan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa.

Pembelajaran terpadu model connected untuk meningkatkan pemahaman materi pelajaran IPS kelas IV SDN Karangploso 02 Kabupaten Blitar / Henny Pusporini

 

IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Dalam pembelajaran nilai hasil belajar siswa rendah, siswa cenderung hanya menghafalkan materi, siswa menjadi pasif, sehingga timbul anggapan siswa bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran yang sangat membosankan. Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran terpadu model connected. Melalui model pembelajaran ini memungkinkan siswa baik secara individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep secara holistik, bermakna dan otentik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan peningkatan proses belajar IPS di SDN Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar tahun ajaran 2008/2009 setelah menggunakan pembelajaran terpadu model connected. (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS pada kelas IV SDN Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar tahun ajaran 2008/2009, setelah menggunakan pembelajaran terpadu model connected. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis and Taggart, sedangkan bentuk penelitiannya kolaboratif antara peneliti dengan guru mata pelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kelompok dari siklus I untuk aktivitas individu (1,53) menjadi (2,18), aktivitas klasikal (24,7) menjadi (34,75) dengan kategori tinggi. Sedangkan hasil belajar meningkat dari rata-rata nilai pada pra tindakan sebesar 46,56 dengan ketuntasan klasikal 0% menjadi 60,5 dengan ketuntasan klasikal 37,5% pada siklus I hingga menjadi 74,68 dengan ketuntasan klasikal 81,45% pada siklus II dengan kategori tuntas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui ketuntasan belajar dapat dicapai pada siklus II, sehingga tidak perlu dilakukan pembelajaran siklus III. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terpadu model connected dapat meningkatkan pemahaman materi IPS kelas IV SDN Karangsono 02 Kabupaten Blitar tahun ajaran 2008/2009.

Penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V pada pembelajaran IPS di SDN Tlogo 03 Kabupaten Blitar / Desi Kusuma Dewi

 

Peningkatan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VII MTsN Terate Pandian Sumenep melalui penggunaan media gambar seri / Hindana Sofiah

 

Hindana Sofiah. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas VII MTsN Terate Pandian Sumenep Melalui Penggunaan Media Gambar Seri. Jurusan Sastra Indonesia, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia & daerah Universitas Negeri Malang. Kata Kunci: peningkatan, kemampuan menulis cerpen, penggunaan media gambar seri. Pemilihan pembelajaran menulis cerpen melalui penggunaan media gambar seri, sebagai pokok penelitian bertolak dari masalah bahwa siswa kelas VII MTsN Terate belum lancar mencurahkan gagasan dalam bentuk menulis. Hal tersebut disebabkan belum dilaksanakan pembelajaran menulis cerpen dengan media yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan berupaya dalam pelaksanaan pembelajarannya dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VII MTsN Terate Pandian Kabupaten Sumenep. Upaya-upaya yang ditempuh dalam penelitian ini dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, tindakan observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan tindakan sangat membantu guru dalam (1) pelaksanaan pembelajaran, dan (2) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran menulis cerpen melalui penggunaan media gambar dilakukan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga tahap pembelajaran. Tiga tahap pembelajaran ini adalah tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Berdasarkan analisis data diketahui adanya peningkatan kemampuan menulis cerpen melalui penggunaan media gambar seri pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Pada tindakan siklus I dan II terjadi perubahan yang cukup signifikan pada proses dan hasil pembelajaran. Pada tahap pramenulis tindakan siklus I, dari segi proses siswa belum menampakkan keseriusan da antusiasme dalam mengembangkan unsur cerpen berdasarkan gambar dan membuat kerangka cerpen. Pada segi hasil, sebanyak sebanyak 24 siswa atau 58,5% sudah bisa mengembangkan unsur cerpen berdasarkan gambar seri dan membuat kerangka cerpen dengan baik. Sedangkan sisanya sebanyak 17 siswa atau 41,5% belum bisa mengembangkan unsur cerpen berdasarkan gambar seri, dan membuat kerangka cerpen dengan baik. Pada tahap pramenulis siklus II, dari segi proses, antusias siswa dalam membuat kerangka sangat baik, hal ini terlihat keaktifan dan ketekunan siswa pada kegiatan ini. Dari segi hasil ini didapat sebanyak 41 siswa atau 100% siswa sudah bisa mengembangkan unsur cerpen berdasarkan media gambar seri, dan membuat kerangka cerpen dengan baik. Pada tahap menulis siklus II, dari segi proses, siswa masih butuh perhatian dan arahan dalam mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen utuh. Dari hasil pengembangkan kerangka cerpen menjadi sebuah cerpen dapat dinilai bahwa sebanyak 3 siswa atau 7,3% sudah bisa mengembangkan kerangka cerpen menjadi sebuah cerpen, sedangkan sebanyak 38 siswa atau 92,7% masih belum bias mengembangkan kerangka cerpen menjadi sebuah cerpen. Pada tahap menulis siklus II, dari segi proses, sebagian siswa sudah tidak mengalami kesulitan dalam mengembangkan kerangka cerpen. Hasil pada tahap ini adalah 34 siswa atau 82,9% siswa sudah bisa mengambangkan kerangka cerpen menjadi sebuah cerpen dengan baik, sedangkan sebanyak 7 siswa atau 17,1% masih belum bias mengembangkan kerangka cerpen yang dibuatnya menjadi sebuah cerpen. Pada tahap pascamenulis siklus I, dari segi proses, hanya sebagian siswa yang melakukan perevisian dan pemajangan. Dari segi hasil, sebanyak 15 siswa atau 36,6% sudah bisa merevisi hasil cerpennya dan memajang hasil akhir cerpennya. Sedangkan sebanyak 26 siswa atau 63,4% siswa masih belum bias merevisi dan terkesan masih malu-malu dalam memajang hasil akhir cerpennya. Pada tahap pascamenulis siklus II, dari segi proses, semua siswa sudah dapat bekerja sama. Masukan-masukan, pendapat, dan ide yang diberikan setiap siswa sangat membantu dalam penyelesaian perevisian yang dibuat. Adapun hasil pada tahap ini adalah sebanyak 32 siswa atau 78% siswa sudah berhasil merevisi dan mememajang hasil akhir cerpen di mading, sedangkan 9 siswa atau 22% siswa masih belum berani memajang hasil akhirnya di mading meskipun mereka sudah bisa merevisi dengan baik. Berdasarkan hasil pembahasan disimpulkan bahwa penggunaan media gambar dapat meningkatkan hasil pembelajaran menulis cerpen siswa kelas VII MTsN Terate Pandian Sumenep, baik berupa proses maupun hasil. Oleh sebab itu dapat disarankan bahwa penggunaan media gambar seri dapat dijadikan strategi alternatif dalam peningkatan kemampuan pembelajaran menulis cerpen.

Peningkatan proses dan hasil belajar PKn melalui metode problem solving di kelas V SDN Mojoduwur I Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang / Pipit Berlianawati

 

Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menerapkan berbagai pendekatan dan metode untuk meningkatkan poses dan hasil belajar siswa. Metode pembelajaran yang dibahas dalam penelitian ini adalah metode problem solving yaitu pembelajaran yang menitik beratkan masalah sebagai bahan pembelajaran untuk ditemukan alternatif pemecahan dan ditelaah akibatnya. Hasil observasi awal diketemukan bahwa hasil belajar siswa di SDN I Mojoduwur Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang belum menerapkan metode problem solving sebagian besar siswa belum mampu mencapai krieria ketuntasan kelas yang diharapkan minimal 80%. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:(1) Mendiskripsikan penerapan metode problem solving dalam meningkatkan proses belajar siswa kelas V SDN Mojoduwur I Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, (2) Mendiskripsikan penerapan metode problem solving dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Mojoduwur I Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan 2 siklus. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan belajar kelas yaitu 80% dari jumlah subyek penelitian dengan rata-rata ketuntasan belajar individu minimal 80. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Mojoduwur I Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang sejumlah 26 siswa dengan jumlah laki-laki 17 anak dan perempuan 9 anak. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Proses belajar siswa diukur menggunakan lembar pengamatan observasi dimana semua kegiatan siswa akan dicatat, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan soal pre tes dan post tes dalam pembelajaran PKn dengan penerapan metode problem solving. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya peningkatan proses pembelajaran melalui menerapkan aspek-aspek problem solving (kemampuan mengidentivikasi masalah, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengajukan solusi dan membuat kesimpulan) siswa di SDN Mojoduwur I Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang telah berhasil meningkatkan aktivitas proses pembelajaran. Hal ini terbukti terbukti semua siswa (100%) telah mencapai hasil yang diharapkan. Sedangkan Hasil pembelajaran PKn siswa kelas V SDN Mojoduwur I Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang sebelum penerapan problem solving rendah dari 26 siswa (100%) 24 siswa (92,30%) belum mampu mencapai criteria ketuntasan kelas yang diharapkan minimal 80%. Tetapi setelah diberikan perlakuan atau tindakan dengan penerapan metode Problem solving berhasil meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti sebagian besar siswa (96,15%) telah mencapai ketuntasan individu yang ditetapkan yaitu 80. Meskipun ada 1 siswa (3,84%) yang belum mencapai ketuntasan individu. Namun ketuntasan belajar kelas sudah tercapai yaitu 80%.

Peningkatan pembelajaran kemampuan berbicara melalui the role playing model di kelas III SDN Selodono / Wahyuni Miftahul Janah

 

ABSTRAK Janah, Wahyuni, Miftahul. 2009. Peningkatan Pembelajaran Kemampuan Berbicara Melalui The Role Playing Model di Kelas III SDN Selodono. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sutansi, M.Pd, (2) Drs. Suhel Madyono, M.Pd. Kata Kunci : hasil belajar, siswa, berbicara, role playing. Berdasarkan observasi di kelas III SDN Selodono khususnya pembelajaran kemampuan berbicara, pembelajarannya masih dengan cara tradisional sehingga siswa jenuh dalam belajar dan berdampak pada hasil belajar. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal model pembelajaran yang salah satunya adalah The Role Playing Model. Penelitian ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar dalam penggunaan lafal, intonasi serta ekspresi; (2) Mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar dalam keruntutan berbicara; (3) Mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar dalam kelancaran berbicara.Rancangan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi 3 siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Data yang digunakan dalam penelitian adalah (1) RPP, (2) Observasi pada KBM, (3) Evaluasi. Sedangkan sumber datanya adalah guru kelas dan juga siswa kelas III SDN Selodono. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuatitatif dengan teknik prosentase. Hasil penelitian pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas III SDN Selodono membuktikan bahwa dengan penerapan The Role Playing Model dapat meningkatkan hasil belajar siswa, pada: (1) penggunaan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat; (2) Keruntutan; dan (3) Kelancaran dalam berbicara. Penggunaan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 74,33%, siklus I naik menjadi 79,13%, siklus II naik menjadi 86,46%, dan siklus III menjadi 93,79%. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar pada pra tindakan 46,15%, siklus I 61,54%, siklus II menjadi 93,21% dan siklus III 100%. Untuk jumlah siswa yang tidak tuntas pada pra tindakan mencapai 53,85%, siklus I turun menjadi 38,46%, pada siklus II turun sangat drastis menjadi 7,69% dan siklus III tidak ada siswa yang tidak. Keruntutan dalam berbicara pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 75,64%, siklus I naik menjadi 76,92%, siklus II naik menjadi 85,13%, siklus III naik menjadi 86,67%. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar pada pra tindakan 56,41%, siklus I 71,79%, siklus II menjadi 94,87% dan siklus III naik menjadi 97,44%. Untuk jumlah siswa yang tidak tuntas pada pra tindakan mencapai 43,59%, siklus I turun menjadi 28,21%, siklus II turun sangat drastis menjadi 5,13% dan siklus III hanya tinggal 2,56%. Kelancaran dalam berbicara pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 75,15%, pada siklus I naik menjadi 80.00%, pada siklus II naik menjadi 82,05%, pada siklus III naik menjadi 86,41%. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar pada pra tindakan 61,54%, pada siklus I 74,36%, pada siklus II menjadi 84,62% dan pada siklus III mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu 84,470%. Untuk jumlah siswa yang tidak tuntas pada pra tindakan mencapai 38,48%, pada siklus I turun menjadi 25,64%, pada siklus II turun sangat drastis menjadi 15,38% dan pada siklus III hanya tinggal 5,13%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan supaya: (1) Guru-guru hendaknya memilih model pembelajaran yang efektif bagi siswa dalam menyampaikan materi pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu dengan menggunakan The Role Playing Model, (2) Kepala Sekolah hendaknya dapat mensosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru-guru di sekolahnya, (3) Dinas Pendidikan hendaknya selalu memberikan bimbingan terhadap guru tentang pemilihan model pembelajaran Bahasa Indonesia yang sesuai, dengan menggunakan The Role Playing Model dan hendaknya selalu memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan kompetensi atau kemampuan melalui penataran.

Penerapan asemen portofolio untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IVB SDN Tlogomas 2 Kota Malang pokok bahasan benda dan sifatnya / Tanjung Sooko Amastani

 

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan dimana proses belajar terjadi. Sekolah memiliki tugas untuk memberikan pengajaran dan pendidikankepada anak-anak didiknya supaya menjadi orang yang berguna bagi dirinya,orang tua, agama, bangsa dan negaranya. Interaksi yang baik antara guru dansiswa sangat diperlukan dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan nasionalyang berkualitas.Pendidikan memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kualitassumber daya manusia agar siap menghadapi perkembangan masyarakat yangsemakin kompleks, oleh karena itu pembaharuan melalui jalur pendidikan harusdiprioritaskan. Dalam dunia pendidikan atau pengajaran terdapat tiga komponenpenting yaitu, (1) tujuan, (2) metode, dan (3) evaluasi. Ketiga komponen itudisebut tiga mata jangkar (three anchor points) yang merupakan suatu perpaduanatau kesatuan yang saling berhubungan (Subiyanto, 1990:17) Evaluasi merupakan bagian terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajaryang perlu dilakukan oleh guru secara berkelanjutan. Guru biasanyamengumpulkan informasi mengenai tingkat pemahaman siswa melalui berbagaicara seperti mengajukan pertanyaan, mengobservasi aktivitas dan keterlibatansiswa dalam kegiatan pembelajaran, memberikan tugas, atau memberikan tes.Informasi yang diperoleh guru sangat bermanfaat dalam menentukan tingkatpenguasaan siswa, mengevaluasi keefektifan proses pembelajaran danmengidentifikasi topik-topik tambahan yang diperlukan dalam prosespembelajaran. Informasi yang akurat mengenai hasil belajar, minat, dankebutuhan siswa dapat diperoleh melalui asesmen dan evaluasi yang efektif.Asesmen yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan kita padaumumnya adalah melalui tes. Alat evaluasi ini dipergunakan secara luas denganpertimbangan praktis baik dalam penyusunan alat evaluasinya, caramenyelenggarakan maupun koreksinya. Namun demikian Nur dalam Mulyana(2005:susinur.blogspot.com) menjelaskan bahwa alat evaluasi konvensional inidipandang banyak memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan yang dimiliki tesadalah bahwa tes hanya memberikan gambaran tentang apa yang telah dikuasaidan dimiliki siswa pada saat mengerjakan tes saja dan kurang memberikangambaran yang cukup tentang proses belajar yang yang telah dilakukan dandipahami siswa serta mempunyai kecenderungan membuat lebih pasif karenapeserta didik hanya dibiasakan untuk mengingat materi yang dihafalnya.Menurut Mulyana (2005:susinur.blogspot.com) proses pembelajaran IPASD menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan dari kognitif, afektif, serta psikomotor terbentuk pada diri siswa,maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atausubyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa dalammelakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan hasilkarya belum diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selamamengerjakan tugas dari guru baik berupa tugas untuk melakukan percobaan,peragaan maupun pengamatan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model stad untuk meningkatkan kerjasama dan hasil belajar IPA pokok bahasan lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat pada siswa kelas III semester I SDN Kebonagung II tahun ajaran 2008/2009 / Asri Septyan Pratiwi

 

Analisis soal biologi ulangan umum bersama catur wqulan III kelas 1 Madrasah Aliyah Swasta Status disamakan di Kabupaten Malang tahun ajaran 1999/2000 oleh Bekti Sugiarsih

 

Penerapan pendekatan multikultural untuk meningkatkan rasa cinta tanah air pada pembelajaran PKn kelas III SDN Sukomoro I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk / Tri Ratna Sari

 

ABSTRAK Tri Ratna Sari. 2008. Penerapan Pendekatan Multikultural Untuk Meningkatkan Rasa Cinta Tanah Air Pada Pembelajaran PKn Kelas III SDN Sukomoro I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar, FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Samawi,M.Hum., (2) Drs. H.Hadi Mustofa,M.Pd Kata Kunci : Pendekatan Multikultural, Rasa Cinta Tanah Air, Pembelajaran PKn Penelitiian dilakukan karena adanya permasalahan pada pembelajaran PKn karena kurangnya pemahaman siswa tentang rasa cinta tanah air. Maka peneliti menerapkan pendekatan multikultural dalam penelitiannya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pemahaman siswa di SDN Sukomoro I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk setelah penerapan pendekatan multikultural . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dilakukan atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Rancangan yang digunakan adalah PTK dengan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas a) Perencanaan, b) Pelaksanaan, c) Observasi, dan d) Refleksi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan multikultural sangat membantu guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Sehingga siswa dapat lebih meningkatkan pemahaman tentang rasa cinta tanah air dalam pembelajaran PKn.

Hubungan gaya komunikasi kepala sekolah dengan iklim organisasi di Sekolah Menengah Atas Negri Kota Probolinggo / Tantri Danu Kumara

 

Peran kepala sekolah sangat dibutuhkan untuk mengelola sumber daya manusia yang ada dalam organisasi sekolah, baik guru, staf, maupun peserta didiknya. Kepala sekolah akan berhadapan dengan pribadi-pribadi yang memiliki perbedaan karakter yang ada pada setiap individu. Kepala sekolah harus dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif. Lingkungan belajar yang kondusif memungkinkan orang-orang di dalamnya untuk ikut berperan serta mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Komunikasi yang efektif sangatlah penting dilakukan untuk menjelaskan program-program sekolah, upaya melaksanakannya, dan hasil yang akan dicapai maupun yang telah dicapai. Kepala sekolah setidaknya sering melakukan pertemuan dengan pejabat-pejabat terkait dan juga dengan orang tua/wali murid. Semuanya itu akan menciptakan suasana yang harmonis di dalam suatu organisasi sekolah, yang akan memudahkan tercapainya suatu visi dan misi sekolah tersebut. Iklim organisasi sekolah juga harus mampu menunjang kemajuan pendidikan. Kondisi organisasi yang harmonis akan dapat meningkatkan kinerja pada setiap personil dan akan terus mengembangkan kualitas kerjanya demi tercapainya tujuan pendidikan. Dalam hal ini, kepala sekolah juga memiliki peran yang sangat penting bagi iklim organisasi sekolah. Ini dapat dilihat pada kedisiplinan dan sikap seorang kepala sekolah terhadap personil sekolah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) seberapa tinggi tingkat intensitas gaya komunikasi kepala sekolah di SMA Negeri kota Probolinggo? (2) seberapa tinggi tingkat kualifikasi iklim organisasi di SMA Negeri kota Probolinggo? (3) apakah terdapat hubungan yang signifikan antara gaya komunikasi kepala sekolah dengan iklim organisasi di SMA Negeri kota Probolinggo? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui seberapa tinggi tingkat intensitas gaya komunikasi kepala sekolah di SMA Negeri kota Probolinggo; (2) mengetahui seberapa tinggi tingkat iklim organisasi di SMA Negeri kota Probolinggo; (3) mengetahui hubungan antara gaya komunikasi kepala sekolah dengan iklim organisasi di SMA Negeri kota Probolinggo. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMA Negeri Kota Probolinggo, yaitu berjumlah 185 orang. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proportional random sampling. Jumlah sampel sebanyak 126 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket sedangkan analisis datanya menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat intensitas gaya komunikasi kepala sekolah di SMA Negeri kota Probolinggo termasuk dalam kategori tinggi; (2) kondisi iklim organisasi di SMA Negeri kota Probolinggo termasuk dalam kualifikasi yang kondusif; (3) gaya komunikasi kepala sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan iklim organisasi yang ada di SMA Negeri kota Probolinggo. Dari penelitian ini penulis memberi saran (1) kepala sekolah di SMA Negeri kota Probolinggo disarankan untuk meningkatkan kinerjanya dengan intensitas gaya komunikasi menjadi sangat tinggi yang akan mempengaruhi iklim organisasi menjadi sangat kondusif; (2) guru yaitu dalam hal proses komunikasi dengan kepala sekolah, disarankan untuk memberikan umpan balik yang positif demi terciptanya iklim organisasi yang lebih kondusif; (3) peneliti lain dapat meneliti tentang bahasan ini dengan lebih mendalam dan juga dengan menggunakan teknik penelitian yang lain sehingga dapat menghasilkan temuan-temuan baru.

Keefektifan konseling multimodal untuk mengelola stres mahasiswa (Studi Pra-Eksperimental) / Kustyarini

 

Setiap individu mempunyai keinginan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Dari cita-cita inilah maka kebutuhan untuk berprestasi dimiliki oleh setiap individu. Usaha untuk mencapai sesuatu kebutuhan berprestasi tidak menutup kemungkinan menyebabkan individu mengalami hambatan dalam mencapai cita-cita yang pada akhirnya dapat menyebabkan individu mengalami tekanan atau stres. Setiap individu mempunyai respon dan cara yang berbeda dalam menghadapi situasi yang sama. Masing-masing orang memandang dunia secara berbeda dan merespon terhadap sesuatu itu berbeda pula. Kemampuan seseorang atau tidak adanya kemampuan untuk mengatasi kejadian dan reaksi yang dialami individu menimbulkan stres dan sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Stres merupakan suatu respon fisik dan psikologis yang biasa dialami oleh individu hampir di semua kalangan, baik orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Jenis-jenis permasalahannya tentunya beraneka ragam. Stres belajar merupakan salah satu jenis stres yang banyak dialami oleh mahasiswa. Berkaitan dengan fenomena di atas, maka perlu kiranya dikembangkan pendekatan psikologis untuk membantu mahasiswa mengelola stres. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan ”Multimodal Therapy” dari Lazarus untuk mengelola stres mahasiswa. Lazarus menyebut konsep BASIC ID (behavior, affect, sensation, imagery, cognition, interpersonal relationships, drugs-biology-nutrition-exercise) sebagai tujuh bidang pencetus stres. Lazarus bermaksud bahwa BASIC ID dapat membawa setiap insan untuk mengatasi ketidakberesan dalam setiap bidang kehidupannya lewat tindakan nyata, oleh dirinya sendiri Tujuan penelitian ini adalah: (1)Untuk menguji Konseling multimodal (KM) yang teruji keterterimaannya (acceptability) pada aspek kegunaan (utility), kelayakan (fesiability) dan ketepatan (accuracy), dan (2) Untuk menguji keefektifan Konseling Multimodal (KM) dalam mengurangi stres mahasiswa. Rancangan penelitian ini adalah pra-eksperimental, dengan menggunakan the one-group pretest-posttest design. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana angkatan 2006/2007, yang memiliki keterampilan mengelola stres rendah. Penelitian ini menggunakan dua jenis instrumen yaitu: a) bahan perlakuan, dan b) instrumen pengukuran. Untuk mengetahui signifikansi keefektifan Penerapan Konseling Multimodal (PKM) dalam mengelola stres mahasiswa dilakukan analisis data dengan menggunakan statistik non parametrik. Hasil pretest menunjukkan bahwa subyek penelitian terindikasi mengalami stres. Hal ini terlihat dari sebaran nilai pretest untuk setiap modalitas. Hampir semua pertanyaan dijawab dengan nilai skor 2. Hasil post-test yang diberikan setelah mahasiswa diberi penerapan tujuh modalitas (perilaku, emosi, penginderaan, khayalan, pikiran,interaksi dengan orang lain, biologi/obat-obatan) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai skor antara pretest dan post-test. Nilai rata-rata post-test lebih besar daripada nilai rata-rata pretest. Pada modalitas perilaku, dari rerata 1,91 sebelum penerapan menjadi rerata 2,57 sesudah penerapan. Pada modalitas emosi, dari rerata 1,73 sebelum penerapan menjadi rerata 2,65 sesudah penerapan. Pada modalitas penginderaan dari rerata 1,72 sebelum penerapan menjadi rerata 2,58 sesudah penerapan. Pada modalitas khayalan, dari rerata 1,80 sebelum penerapan menjadi rerata 2,59 sesudah penerapan. Pada modalitas pikiran, dari rerata 1,73 sebelum penerapan menjadi rerata 2,69 sesudah penerapan. Pada modalitas interaksi dengan orang lain, dari rerata 1,74 sebelum penerapan menjadi rerata 2,47 sesudah penerapan. Pada modalitas biologi/obat-obatan, dari rerata 1,67 sebelum penerapan menjadi rerata 2,29 sesudah penerapan Konseling Multimodal. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setelah mahasiswa diberi pelatihan seperti yang dimaksud dalam Konseling Multimodal (KM) terjadi peningkatan untuk semua modalitas yang dilatihkan. Adanya perbedaan antara mean sebelum penerapan dan mean sesudah penerapan yang terbaca pada hasil uji beda menunjukkan berkurangnya gejala stres yang dialami mahasiswa, berarti Konseling Multimodal (KM) efektif mengelola stres mahasiswa. Dari hasil evaluasi terhadap pelatihan ketujuh modalitas ini, mengindikasikan bahwa pelaksanaan Konseling Multimodal (KM) ini telah terlaksana dengan hasil sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini berarti bahwa Konseling Multimodal (KM) efektif dan dapat diterapkan untuk mengelola stres mahasiswa.

Upaya peningkatan keterampilan membaca pemahaman isi bacaan melalui penerapan model belajar dialog kreatif di kelas III SDN Plosokerep 02 kota Blitar / Azizatul Badiah

 

Keterampilan membaca berperan penting bagi keberhasilan siswa dalam mengikuti pelajaran. Pembentukan kemampuan membaca secara kritis dan kreatif dalam rangka pemahaman isi bacaan dapat dilakukan di kelas dengan menerapkan model belajar dialog kreatif. Memahami pentingnya keterampilan membaca bagi siswa, maka hendaknya keterampilan membaca mendapatkan perhatian serius dari seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah. Namun kenyataannya, pengajaran membaca di SDN Plosokerep 02 Kota Blitar kurang membantu siswa untuk menangkap dan memahami materi pelajaran. Hal ini menyebabkan siswa menjadi bosan, putus asa dalam belajar, dan bersikap masa bodoh terhadap hasil belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan adanya peningkatan keterampilan membuat pertanyaan pada siswa kelas III SDN Plosokerep 02 Kota Blitar Tahun Ajaran 2008/2009 setelah diterapkan model dialog kreatif. (2) Mendeskripsikan adanya peningkatan pemahaman siswa tentang isi bacaan setelah diterapkan model dialog kreatif Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Tagart. PTK termasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Bentuk penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pengamat terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membuat pertanyaan secara bertahap pada pra tindakan (37,04%), siklus I (73,08%), dan Siklus II (100%). Sedangkan keterampilan memahami isi bacaan pada pra tindakan diperoleh ketuntasan belajar sebesar (62,96%), siklus I (80,77%), dan siklus II (100%). Hasil tersebut menunjukkan adanya ketuntasan belajar pada pelaksanaan siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan dua siklus kepada siswa kelas III yang berjumlah 29 siswa, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model belajar dialog kreatif dapat meningkatkan keterampilan membuat pertanyaan dan keterampilan membaca pemahaman isi bacaan siswa kelas III SDN Plosokerep 02 Tahun Ajaran 2008/2009.

Upaya peningkatan keterampilan membaca pemehaman melalui pendekatan keterampilan proses di kelas IV SDN Ponggok 01 Kabupaten Blitar / Mirna Suseno

 

Memahami pentingnya keterampilan membaca bagi siswa, maka hendaknya keterampilan membaca mendapatkan perhatian serius dari seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah. Namun kenyataannya, pengajaran membaca di SDN Ponggok 01 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar kurang membantu siswa untuk melaksanakan tugas belajar dan pemahaman terhadap materi pelajaran. Hal ini menyebabkan siswa menjadi tidak mengerti dan memahami pelajaran, merasa bosan dan putus asa dalam belajar, serta bersikap masa bodoh terhadap hasil belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pendekatan keterampilan proses dalam meningkatkan pemahaman terhadap isi bacaan dan dalam meningkatkan kemampuan mengungkapkan isi bacaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas. PTK termasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, sedangkan model penelitian ini adalah kolaboratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan membaca siswa kelas IV yang ditunjukkan dari peningkatan prosentase ketuntasan membaca siswa pada setiap siklus. Pada tahap pra tindakan prosentase memahami isi bacaan dijadikan dasar bagi siklus I, yaitu 71,43% menjadi 80,95%. Dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan menjadi 100%. Sedangkan untuk prosentase mengungkapkan isi bacaan pada tahap pra tindakan mencapai 57,14%, siklus I mencapai 80,95%, dan pada siklus II mangalami peningkatan mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan dua kali siklus kepada siswa kelas IV yang berjumlah 21 siswa, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan pendekatan keterampilan proses dengan jenis kegiatan membaca dalam hati, dan metode diskusi kelompok dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelas IV SDN Ponggok 01 Tahun Ajaran 2008/2009. Dari hasil penelitian ini, diharapkan siswa mampu meningkatkan keterampilan dalam memahami isi bacaan dan mengungkapkan isi bacaan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada aspek membaca pemahaman dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses. Selain itu, harapan dari penelitian ini adalah semoga hasil penelitian ini membantu guru, siswa, maupun membaca lain dalam memajukan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia, sehingga mutu pendidikan akan terwujud dengan baik.

Penerapan pembelajaran realistic mathematics education (RME) untuk meningkatkan penguasaan konsep operasi perkalian bilangan cacah pada siswa kelas II SDN Sumberbening I Kabupaten Ngawi tahun pelajaran 2008/2009 / Milanita Puspita Willyanti

 

Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK), yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP), telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran di sekolah, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Hal ini tampak pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Guru masih mendominasi dalam pembelajaran, guru masih menjadi pemain dan siswa penonton, guru aktif dan siswa pasif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Padahal, tuntutan KBK, pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain, jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Guru dalam pembelajarannya tidak lepas dari kesulitan. Kesulitan itu bisa muncul dari guru itu sendiri yang tidak menguasai materi atau tidak menemukan metode pembelajaran yang sesuai dan dari siswa yang kesulitan menerima pembelajaran karena kurang memahami apa yang diajarkan. Salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa adalah mata pelajaran matematika. Hudoyo (1983) menyatakan bahwa matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir. Karena itu matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik sejak SD, bahkan sejak TK. Namun matematika ada pada hakekatnya merupakan suatu ilmu yang cara bernalarnya deduktif formal dan abstrak, harus diberikan kepada anak-anak sejak SD yang cara berpikirnya masih pada tahap operasi konkret. Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam menanamkan konsep matematika. Di satu pihak siswa SD berpikirnya masih sangat terbatas, artinya berpikirnya dengan dikaitkannya dengan benda-benda kongkrit ataupun gambar-gambar, dipihak lain matematika itu obyekobyek penelaahnya abstrak, artinya hanya ada dalam pemikiran manusia sehingga matematika itu hanyalah suatu hasil karya dari kerja otak manusia. Sebagai guru matematika terlebih lagi di SD perlu disadarkan bahwa matematika itu mempunyai sifat-sifat seperti disebutkan di atas, walaupun dalam menyampaikan bahan-bahan matematika harus berorientasi kepada kepentingan siswa. Dengan demikian seorang guru SD semestinya tidak keliru dalam menanamkan konsep-konsep matematika kepada siswanya, sebab sekali konsep matematika keliru diterima siswa, sangat sulit untuk mengubah pengertian yang keliru tersebut. Selain itu para pengajar matematika diharuskan menjadi seorang profesional yang memiliki kemampuan dan menerapkan metode mengajar yang tepat, memilih pendidikan pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran serta mampu melibatkan siswa berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Menurut Hudojo (dalam Huda, 2006) menyatakan bahwa matematika semakin berkembang dan sasarannya ditujukan ke hubungan pola, bentuk dan struktur. Oleh karena itu matematika bisa juga untuk melatih cara berpikir dan bernalar untuk menarik kesimpulan. Materi dasar yang diharapkan dipahami oleh siswa pada pelajaran matematika adalah materi operasi perkalian. Perkalian mempunyai peranan penting dan mendasari operasi-operasi yang lain sebagai contoh pada siswa SLTP sudah membahas materi aljabar dan aritmatika sosial dimana materi dipelajari merupakan pengembangan dari materi perkalian pada bilangan. Tidak sedikit siswa pada tingkat lanjutan (SLTP dan SMA) yang mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Hal ini dapat dikarenakan konsep perkalian yang mereka pelajari belum dipahami secara maksimal. Konsep perkalian di SD kelas dua merupakan dasar materi operasi bilangan yang nantinya akan digunakan dalam pengembangan materi yang lain. Konsep yang diajarkanpun sudah terfokus pada operasinya. Siswa diharapkan memahami konsep ini dengan mantap untuk dapat menunjang konsep-konsep selanjutnya. Penulis menggunakan materi perkalian di kelas II SDN Sumberbening I Kabupaten Ngawi karena berasal dari hasil wawancara yang penulis lakukan kepada guru kelas II SDN Sumberbening I yang mengatakan bahwa kesulitan yang dihadapi anak kelas adalah masalah perkalian. Guru dalam mengajarkan konsep perkalian hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa sulit memahami hal yang bersifat abstrak selain itu anak juga merasa bosan. Padahal penggunaan benda-benda kongkrit sangat membantu anak untuk memahami matematika yang abstrak. Nilai matematika siswa kelas II SDN Sumberbening I pada ujian semester yang lalu rata-rata 50. Nilai rata-rata matematika merupakan nilai yang paling rendah dibanding nilai rata-rata mata pelajaran yang lain itu menandakan bahwa matematika marupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa kelas II. Siswa menganggap matematika pelajaran yang sangat sulit. Dapat diketahui bahwa anak seusia kelas II cara berpikirkan masih kongkrit. Terutama Materi perkalian di kelas II merupakan dasar konsep matematika yang diharapkan dapat dipahami siswa sebelum mempelajari konsep yang lain. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan pada siswa kelas rendah adalah dengan memberikan hal nyata kepada mereka. Tentunya pemberian hal yang nyata ini sesuai dengan materi yang diajarkan. Realistic Mathematics Education (RME) merupakan salah satu pembelajaran matematika yang mengaitkan materi pelajaran matematika dengan kehidupan nyata. Kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan nyata. Hal ini menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan sendiri ideide matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran lebih bermakna. Penerapan pembelajaran RME dalam berbagai materi pelajaran matematika sudah terbukti berhasil pada penelitian-penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Irianto (2008) dalam penelitiannya menemukan bahwa dengan menggunakan RME prestasi belajar anak-anak SD kelas III SDN Rampal Celaket I Kecamatan Klojen Kota Malang, yaitu pada siklus I ada 33 siswa (84,6%) sedangkan pada siklus II yang berhasil memperoleh nilai ≥ 75 sebanyak 38 anak (97%), ini berarti ada peningkatan yang sangat berarti sebesar 12,4 poin. Demikian juga penelitian yang dilakukan C, Dwi dan Nurhakiki (2003) bahwa prestasi belajar siswa dengan menggunakan RME di kelas II SD Laboratorium Universitas Negeri Malang terbukti cukup baik hal ini dapat terlihat dari hasil tes yang diberikan setelah siklus II, penguasaan siswa > 80. Dengan demikian bahwasanya anak-anak yang diajar dengan pembelajaran RME prestasi belajarnya dapat meningkat. Penulis yakin dengan menggunakan pembelajaran RME pada siswa kelas II di SDN Sumberbening I ini akan berhasil sehingga kesulitan yang dihadapi guru Kelas II SDN Sumberbening I dapat teratasi. Dengan demikian pembelajaran ini akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa. Oleh karena itu penulis memilih pembelajaran ini dalam penelitian. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dimaksudkan untuk menerapkan pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) dalam meningkatkan penguasaan konsep operasi perkalian pada siswa kelas II di SDN Sumberbening I Kabupaten Ngawi agar siswa mampu menguasai konsep perkalian dengan mudah sehingga siswa dalam pembelajaran aktif dan meningkat prestasi belajarnya.

Penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare / Tasrif Akib

 

ABSTRAK Tasrif Akib, 2008. Penggunaan Media Gambar Seri untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Narasi Siswa Kelas III SD Negeri 46 Parepare. Tesis (Tidak dipublikasikan), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Monica Djoehana D.Oka, M.A., (II) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D Kata kunci: menulis, karangan narasi, media gambar seri, meningkatkan Pada dasarnya, semua keterampilan dalam bahasa Indonesia penting untuk dikuasai, tetapi menulis memang harus diakui sebagai sebuah aktivitas yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan berbicara, membaca dan menyimak. Menulis bukanlah kemampuan yang dapat dikuasai dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses pembelajaran sehingga memang diperlukan sebuah proses panjang untuk menumbuhkembangkan tradisi menulis. Siswa sekolah dasar diharapkan dapat menyerap aspek-aspek dasar dari keterampilan menulis sebagai bekal ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Dengan kata lain, pembelajaran keterampilan menulis di sekolah dasar berfungsi sebagai landasan untuk latihan keterampilan menulis di jenjang sekolah selanjutnya. Salah satu bentuk menulis adalah menulis narasi yang sengaja dipilih dalam penelitian ini karena merupakan bentuk karangan yang bertujuan menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang peristiwa pada suatu waktu kepada pembaca. Hal terpenting dalam karangan narasi adalah unsur tindakan sehingga ketika membaca karangan narasi pembaca seolah-olah melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu sendiri. Namun, kenyataan menunjukkan keterampilan menulis karangan narasi siswa masih sangat rendah. Rata-rata nilai keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare menunjukkan belum ada siswa yang mencapai SKBM 70 dari 27 siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan siswa yang pada penelitian ini difokuskan pada (1) bagaimana meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare dalam hal organisasi karangan, (2) bagaimana meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare dalam hal kualitas gagasan, dan (3) bagaimana meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare dalam hal ejaan dan penggunaan tanda baca. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III. Tindakan dilaksanakan pada dua siklus yang difokuskan pada 27 orang siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare. Berdasarkan hasil analisis data penelitian, diketahui bahwa proses pengajaran diwujudkan dalam pembelajaran dengan menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi dalam hal pengorganisasi karangan, kualitas gagasan, dan penggunaan ejaan dan tanda baca. Kegiatan diawali dengan apersepsi dengan pusat perhatian ditujukan kegambar seri yang ditampilkan, menginterpretasikan setiap urutan gambar, kemudian mengarahkan topik karangan yang sesuai dengan gambar seri lalu menentukan atau memilih salah satu topik karangan yang sesuai dengan gambar seri. Setelah itu pembahasan kalimat-kalimat secara klasikal untuk membuat kerangka karangan dalam bentuk draf sesuai dengan urutan gambar seri. Proses selanjutnya mengembangkan kerangka karangan dengan memperhatikan pengembangan ide, penggunaan unsur kebahasaan, dan penggunaan gaya bahasa. Pada tahap akhir pembelajaran diarahkan untuk mengedit karangan berdasarkan penulisan ejaan, huruf kapital, kosakata, dan struktur kalimat yang digunakan sehingga hasil karangan dapat dipublikasikan. Guru selalu menggunakan strategi tanya jawab, bimbingan klasikal, dan individu pada kegiatan yang dilakukan siswa pada setiap siklus sama, yaitu memeriksa kembali draf awal berupa kekeliruan dalam menggunakan ejaan dan tanda baca, pilihan kata yang tidak tepat, struktur kalimat yang tidak jelas, paragraf yang belum padu, pengembangan ide, dan alur cerita disesuaikan dengan kronologi peristiwa sehingga cerita yang tertera dalam media gambar seri ceritanya mudah dipahami. Selanjutnya siswa dan guru, melakukan perbaikan draf awal dengan mengganti, menambah, menghilangkan, memindahkan, dan memperjelas gagasan yang ada pada draf awal karangan. Guru selalu memberi penguatan sehingga siswa mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri pada awal pertemuan setiap siklus. Hasil keseluruhan yang dicapai siswa terteliti dalam pembelajaran menulis karangan narasi dengan media gambar seri menunjukkan peningkatan. Paragraf yang ditulis siswa umumnya telah memiliki gagasan utama dan gagasan pengembang yang jelas. Gagasan-gagasan itu dikembangkan secara logis sesuai dengan kronologi peristiwa yang ditampilkan pada media gambar seri dengan pengorganisasian yang baik. Struktur kalimat dan peralihan antara gagasan dalam paragraf sudah memperlihatkan keefektifan. Kualitas gagasan dalam cerita yang digunakan juga cukup baik dan mewakili gagasan yang dikemukakan walaupun masih terdapat kekurangan tetapi tidak mempengaruhi kualitas gagasan yang dihasilkan. Beberapa kesalahan dalam penggunaan ejaan dan tanda baca masih ditemukan, tetapi tidak banyak dan tidak sampai mengaburkan makna gagasan yang dikemukakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa, baik dari segi kuantitas maupun kualitas paragraf yang dihasilkan. Kegiatan menulis karangan narasi dengan media gambar seri juga membuat kegiatan menulis menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya guru memberi respon, mengembangkan dialog, memodelkan cara menulis karangan yang benar, mencermati kesalahan yang kerap dilakukan siswa, membiasakan secara tetap, serta memberikan berbagai arahan untuk membangkitan kreativitas siswa dalam menulis karangan narasi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan baik kepada guru kelas maupun guru bahasa Indonesia di SD untuk membiasakan kegiatan menulis dengan disertai bimbingan yang intensif dan terarah. Dengan mencermati isi tulisan siswa, disarankan pula kepada guru mata pelajaran lain sebaiknya kegiatan menulis ini dapat dipadukan dalam mata pelajaran karena selain melatih keterampilan menulis, juga dapat mengkomunikasikan serta merefleksikan hasil belajar dan perkembangan pribadi siswa.

Perhitungan dalam suatu segitiga / oleh Mutini

 

Penerapan teknik perkalian nafir untuk meningkatkan hasil belajar matematika tentang pekalian dalam pembelajaran looperatif model Stad pada siswa kelas IV SDN Kaweron 02 Kabupaten / Anita Zunarni

 

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang erat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pemahaman konsep yang benar terhadap matematika sangat diperlukan. Perkalian merupakan salah satu materi dalam matematika yang utama. Dalam menyelesaikan perkalian dengan teknik bersusun, siswa kelas IV SDN Kaweron 02 mengalami kesulitan sehingga siswa tidak dapat mencapai SKM yang ditentukan. Karena itulah peneliti melakukan penelitian tindakan kelas untuk mencapai ketuntasan siswa dalam belajar sesuai dengan SKM yang ditetapkan dalan KTSP SDN Kaweron 02. Tindakan yang dilakukan adalah dengan menerapkan teknik perkalian Nafir dalam pembelajaram kooperatif model STAD. Penelitian dirancang dengan menggunakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian dilakukan menurut tahap yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart. Subjek peneliti berjumlah 30 siswa. Data yang diambil adalah data tentang hasil belajar siswa, kemampuan bekerjasama, kemampuan menerima perbedan kemampuan akademik siswa lain, kegiatan mengajar guru, dan respon siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan angket. Teknik analisa data disesuaikan dengan instrumen, untuk hasil belajar digunakan SKM sebagai standar ketuntasan siswa dalam belajar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep secara klasikal mengalami peningkatan dari siklus I 40%, siklus II 63,3%, dan siklus III 86,67%. Kemampuan bekerjasama siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I 33,3 %, siklus II 63,3 %, dan siklus III 93,3%, sedangkan untuk penerimaan terhadap perbedan kemampuan akademik siswa lain juga mengalami peningkatan dari siklus I 33,3%, siklus II 66,67%, dan siklus III 86,67%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik perkalian Nafir dalam pembelajaran kooperatif model STAD dapat memberikan peningkatan hasil belajar siswa tentang perkalian. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan teknik perkalian Nafir untuk membantu mengatasi kesulitan siswa menyelesaikan perkalian, sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata di pengadilan negeri pamekasan / Faradivana

 

ABSTRAK Divana, Fara. 2009. Pelaksanaan eksekusi Dalam Perkara Perdata Di Pengadilan Negeri Pamekasan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Kt. Diara Astawa, S. H., M. Si. (2) Sutoyo, S.H., M.Hum. Kata Kunci : Eksekusi, Perkara Perdata Eksekusi merupakan suatu rangkaian putusan hakim yang merupakan pengakhiran dari proses perkara perdata yang menyangkut hak, kewajiban seseorang dalam suatu perkara atau persengketaan, ketentuan eksekusi juga mengatur bagaimana putusan Pengadilan dapat dijalankan atau bagaimana suatu ganti rugi dapat diwujudkan sebagai akibat dari adanya pelanggaran hukum perdata. Apabila suatu perkara tidak dapat diselesaikan secara damai oleh pihak – pihak yang berperkara, maka jalan terakhir yang dapat ditempuh adalah meminta penyelesaian melalui Pengadilan Negeri yang berwenang. Gugatan yang di ajukan kepada ketua Pengadilan Negeri itu disebut perkara perdata. Suatu perkara perdata ini diajukan oleh pihak yang bersangkutan kepada Pengadilan untuk mendapatkan pemecahan atau penyelesaian. Pemeriksaan perkara memang diakhiri dengan putusan, akan tetapi dengan dijatuhkan putusan saja belumlah selesai persoalannya. Putusan itu harus dapat dilaksanakan atau dijalankan. Suatu putusan pengadilan tidak ada artinya apabila tidak dapat dilaksanakan. Pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi pada hakekatnya tidak lain adalah realisasi dari pada kewajiban pihak yang kalah untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Syarat-syarat proses pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan; (2) Macam-macam pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan; (3) Proses pelaksanaan eksekusi perkara perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan dan; (4) Kendala yang ada di dalam pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan. Manfaat penelitian ini diantaranya yaitu : (1) Bagi peneliti yaitu menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman terkait dengan kegiatan penelitian dilapangan, mengetahui dan memahami secara mendalam mengenal manfaat, tata cara serta praktek pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan, mempraktekkan teori penelitian selama perkuliahan di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, pengalaman melaksanakan penelitian diharapkan dapat menjadi bahan dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut; (2) Bagi jurusan Hukum dan Kewarganegaraan yaitu menambah sumber bacaan serta kajian terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan eksekusi dan sebagai bahan acuan bagi peneliti berikutnya yang berkaitan dengan ”Pelaksanaan Eksekusi Dalam Perkara Perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan”; (3) Bagi Pengadilan Negeri ii Pamekasan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata di Pengadilan Negeri Pamekasan. Jenis penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif karena di dalam penelitian kualitatif dilihat dari sisi definisinya merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau sekelompok orang. Sehingga penelitian kualitatif bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian. Hasil penelitian (1) Syarat-syarat proses pelaksanaan eksekusi adalah menjalankan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, putusan tidak dijalankan secara sukarela, putusan yang dapat dieksekusi bersifat kondemnatoir, eksekusi atas perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri; (2) Macam-macam pelaksanaan eksekusi yaitu eksekusi putusan yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang, eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan suatu perbuatan, dan eksekusi riil; (3) Proses pelaksanaan eksekusi adalah peringatan atau aanmaning, surat perintah eksekusi, dan berita acara eksekusi; (4) Kendala yang ada di dalam pelaksanaan eksekusi adalah berhubungan dengan kurangnya kesadaran hukum masyarakat pihak yang tereksekusi sehingga menentang petugas ata pelaksana, kurang kompaknya antara pelaksana dengan instansi sehingga pelaksanaan eksekusi tidak bisa berjalan dengan lancar, adanya perlawanan dari pihak ketiga dan dari segi keamanan yang kurang mendukung. Berdasarkan pada hasil penelitian, ada beberapa saran di dalam pelaksanaan eksekusi yaitu : (1) Demi kelancaran eksekusi hendakya pemohon eksekusi sebelum mengajukan permohonan eksekusi supaya berkonsultasi terlebih dahulu ke pengadilan untuk mengetahui syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi sehingga jauh-jauh sebelumnya dapat dipersiapkan syarat-syarat tersebut; (2) Di dalam putusan hakim pasti mempunyai kekuatan eksekutorial yaitu kekuatan yang mempunyai kepala putusan yang berbunyi ”Demi Keadilan berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa” Jadi putusan itu harus dapat dilaksanakan atau di jalankan.; (3) Di dalam pelaksanaan eksekusi petugas hendaknya memperlakukan pihak tereksekusi secara manusiawi; (4) Perlu adanya kerja sama yang baik antara instansi terkait.

Peningkatan kemampuan membaca peta melalui pelatihan melengkapi peta pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Rubaru Kabupeten Sumenep / Muhammad Chalid Mawardi

 

Geog Hasil penelitian dalam tindakan siklus I, II, dan III pada pembelajaran geografi (materi peta tentang pola bentuk-bentuk muka bumi) melalui pelatihan melengkapi peta setelah dilakukan refleksi, evaluasi serta analisis statistik deskriptif ternyata memperoleh peningkatan dalam hal; pertama, kemampuan membaca peta pada pra tindakan hanya memperoleh nilai 50% akan tetapi setelah dilakukan tindakan dalam setiap siklus ternyata mengalami peningkatan yaitu 56% (siklus I), 63% (siklus II), dan 72% (siklus III); kedua, proses pembelajaran geografi (materi peta tentang pola bentuk-bentuk muka bumi) pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Rubaru melalui pelatihan melengkapi peta pada setiap siklus juga memperoleh peningkatan yaitu 63% (siklusI), 65% (siklus II), dan 70% (siklus III); ketiga, aktivitas belajar siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan yaitu 50% (siklus I), 65% (siklus II), dan 75% (siklus III). Temuan penelitian ini mendukung teori perkembangan yang dikemukakan Piaget dan Vygotsky bahwa proses pembelajaran menurut pandangan konstruktivistik dan perkembangan kognitif anak ada pada Zone of Proximal Development (ZPD) (dalam Moll, 1994), bahwa belajar berpusat pada siswa bukan pada guru, dalam hal ini siswa sendirilah yang membangun pengetahuannya. Potensi aktual anak dapat dikembangkan melalui peer collaboration, hal ini berkaitan dengan aktivitas siswa dalam mengerjakan tugas melengkapi peta baik secara individu maupun kelompok dalam proses pembelajaran di kelas.

Teacher’ question in english classes at SMP Negeri I Banjarbaru / by Fakhriati

 

Hubungan antara konsep diri dengan sikap sosial siswa SMP Negeri I Malang / Nur Fauziah

 

Konsep diri penting dimiliki semua orang terutama pada siswa SMP yang berada pada masa puber karena pada masa tersebut remaja akan mulai mengembangkan diri dalam penyesuaian sosialnya. Konsep diri berasal dari hasil interaksi dengan orang lain. Konsep diri merupakan faktor yang menentukan bagi perkembangan sosial remaja, untuk mencapai keberhasilan sosial remaja dalam hubungan sosialnya diperlukan konsep diri yang positif. Dalam hubungannya dengan sikap sosial diperlukan konsep diri yang positif sebagai dasar dalam bertingkah laku dalam waktu sekarang dan masa yang akan datang serta menentukan pengambilan keputusan dan aspirasi-aspirasi individu bagi masa depannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) konsep diri siswa, (2) sikap sosial siswa, (3) hubungan antara konsep diri dengan sikap sosial siswa SMP Negeri I Malang. Rancangan penelitian yang digunakan deskriptif korelasional. Sampel penelitian sebanyak 124 orang dari keseluruhan populasi SMP Negeri I Malang sebanyak 834 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Sampel Random. Untuk mengumpulkan data digunakan inventori, sedangkan pengolahan data menggunakan teknik analisis Persentase dan korelasi Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) sangat banyak (97,6%) siswa SMP Negeri I Malang yang memiliki konsep diri yang baik, 2) sangat banyak (67,7%) siswa SMP Negeri I Malang yang memiliki sikap sosial yang baik, dan 3) ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan sikap sosial. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan sebagai berikut: 1) bagi peneliti selanjutnya harus melalui penelitian sejenis dengan melibatkan faktorfaktor yang diperkirakan mempengaruhi sikap sosial, dan memperbanyak subyek dan wilayah penelitian agar dapat digeneralisasikan dan diaplikasikan pada populasi yang lebih luas. 2) bagi konselor diharapkan mengembangkan program layanan bimbingan dan konseling yang dapat mengembangkan konsep diri dan sikap sosial siswa SMP Negeri I Malang yang termasuk dalam kriteria cukup baik dan baik menjadi sangat baik salah satu caranya yaitu dengan melalui proses konseling yang berkesinambungan. Konselor juga diharapkan dengan mengembangkan program layanan bimbingan dan konseling dapat meningkatkan konsep diri dan sikap sosial siswa SMP Negeri I Malang yang termasuk dalam kriteria kurang baik menjadi baik yaitu dengan cara konselor menggunakan layanan bimbingan kelompok seperti: pemahaman mengenai emosi, prasangka, konflik, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat serta pemecahannya, pengembangan hubungan sosial yang efektif dan produktif.

Pengungkapan diri (Self disclosure) siswa dalam pelaksanaan konseling di SMAN 4 Malang / Ratna Andila Putri Dewi

 

Pengungkapan diri (self disclosure) seseorang pada orang lain dipengaruhi oleh jenis kelamin, sasaran orang, topik pembicaraan dan budaya. Begitu juga pengungkapan diri siswa pada saat konseling dengan konselor. Dengan adanya pengungkapan diri konseli yang tinggi pada konselor, maka akan terjalin komunikasi yang lancar, pencarian informasi yang lebih mendalam dan hambatan dalam pelaksanaan konseling pun dapat dikurangi. Dari beberapa alasan diatas maka penelitian ini mengambil judul Pengungkapan diri (Self Disclosure) Siswa dalam Pelaksanaan Konseling di SMAN 4 Malang. Pengungkapan diri adalah pola komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan memberikan informasi yang akurat tentang diri sendiri pada orang lain baik itu mengenai perasaan, pemikiran ataupun pendapat atas dasar kepercayaan dan ketertarikan pada lawan bicara. Pengungkapan diri yang diteliti pada penelitian ini hanya pada saat siswa melakukan konseling. Konseling adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh ahli professional (konselor) pada seseorang yang sedang mengalami masalah (konseli) yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kelamin konselor terhadap pengungkapan diri siswa dalam proses konseling siswa SMAN 4 Malang. Selain itu untuk mengetahui hal–hal baru yang berhubungan dengan pengungkapan diri siswa dalam konseling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memecahkan fenomenal-fenomenal sosial. Penelitian ini dilakukan pada siswa yang melakukan konseling pada konselor yang sesama jenis atau yang berbeda jenis kelamin, mulai tanggal 6 Mei sampai tanggal 31 Juli 2008 di SMAN 4 Malang. Cara menentukan subyek dengan menggunakan teknik bola salju (snowball sampling) yaitu memilih unit-unit yang mempunyai karakterisitik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya. Sedangkan teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah wawancara dan observasi. Analisis dalam penelitian ini mendeskripsikan dan mengolah data dari lapangan tentang pengungkapan diri siswa dalam pelaksanaan konseling di SMAN 4 Malang, mulai dari tahap pralapangan, kegiatan lapangan dan analisis intensif (pengumpulan data, reduksi data, menyusun data dalam satuan, satuan dikatagorikan sesuai dengan karakteristik data dan mengadakan pemeriksaan keabsahan data). Usaha untuk mencapai keabsahan data, dalam penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi yaitu menyilangkan informasi yang diperoleh dari subjek peneliti, sehingga pada akhirnya hanya data yang absah saja yang digunakan untuk mencapai hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengungkapan diri dapat tinggi rendah tergantung cara klien datang, atas kemauan sendiri maka pengungkapan diri lebih tinggi dibandingkan dengan cara di undang/dipanggil. (2) Antara laki-laki/perempuan atau yang sesama jenis atau yang berbeda jenis kelamin memiliki tingkat pengungkapan diri yang sama dalam hal pengungkapan diri tentang keadaan diri, pengungkapan yang dianggap umum, sedangkan perempuan memiliki pengungkpan diri yang lebih luas dengan pembicaraan yang lebih pribadi. (3) pengungkapan diri dilihat dari segi sasaran orang, perempuan lebih tertarik melakukan pengungkapan diri pada sesama jenis kelamin sedangkan laki–laki lebih tertarik mengungkapakan diri pada lawan jenis kelamin. (4)l aki-laki memiliki kedalaman pengungkapan diri yang lebih rendah dibandingkan dengan perempuan karena laki-laki lebih cenderung menyimpan masalah yang pribadi tetapi lebih terbuka pada yang bersifat umum. (5) pengungkapan diri negatif, pengungkapan diri antara laki-laki dan perempuan memiliki pengungkapan diri yang hampir sama dengan alasan seseorang kurang menyukai hal-hal yang berdampak menyakiti orang lain. (6) Pengungkapan diri yang positif cenderung lebih mudah untuk mengungkapkanya karena orang akan lebih suka mendapatkan pujian atau sanjungan dari orang lain baik laki-laki maupun perempuan. (7) Waktu, Dari frekuensi pengungkapan diri perempuan cenderung lebih luas dibandingkan dengan laki–laki, baik pada saat melakukan pengungkapan diri dengan sesama jenis ataupun dengan berlainan jenis kelamin. Durasi pengungkapan diri antara laiki–laki dan perempuan memiliki tingkat yang seimbang. Jarak yang diperlukan dalam satu pengukapan diri ke pengungkapan diri yang berikutnya kira–kira 5-10 menit hal ini hampir sama baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada konselor, hendaknya konselor: (a) Konselor perlu mengembangkan cara-cara khusus untuk meningkatkan pengungkapan diri pada siswa dengan jenis kelamin laki-laki, (b) Konselor perlu mengembangkan metode khusus untuk meningkatkan pengungkapan diri negatif, (c) mengungkapkan pikiran dan saran yang tepat agar dapat memancing mengungkapkan diri konseli yang lebih luas dan mendalam, (d) membina hubungan yang erat dan hangat pada semua siswa baik didalam kelas ataupun diluar kelas, agar dalam konseling yang akan dilakukan siswa dapat melakukan pengungkapan diri yang tinggi, Pihak sekolah hendaknya: (a) Jika pihak sekolah ingin memanggil siswa untuk melakukan pengungkapan diri, maka hendaknya memperhatikan karakteristik jenis kelamin agar siswa dapat mengungkapkan diri dengan luas. (b) Pihak sekolah memberikan keleluasaan pada semua siswa untuk melalukan pengungkapan diri dengan siapa pun yang diinginkan oleh siswa. (c) Mempertimbangkan waktu yang tepat jika ingin memanggil siswa. Peneliti yang akan melakukan penelitian berikutnya hendaknya mempertimbangkan: (a) Ketepantan dan kesiapan subjek yang akan dijadikan subjek penelitian, (b) Melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengungkapan diri khususnya dalam konseling, seperti pengungkapan diri dari konselor maupun dari konseli karena dalam konseling terdapat pengungkapan diri konselor dan konseli.

Pengembangan modul pembelajaran Bahasa Inggris paket B setara SMP kelas VIII semester I dengan model Dick, Carey, dan Carey di paket B Sulamul Mufthadi Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat / Abdul Hafiz Efendi Wijaya

 

Buku-buku pembelajaran yang digunakan Paket B saat ini pada umumnya belum memenuhi tuntutan dunia pendidikan. Modul masih menggunakan kurikulum lama, sekalipun ada buku yang menggunakan kurikulum KTSP tetapi buku itu merupakan buku untuk peserta didik formal. Sementara itu kondisi paket B yang kurang kondusif, minimnya waktu belajar, minimnya fasilitas pendidikan yang tersedia, dan warga belajar memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan peserta didik formal. Sementara itu sudah terbukti bahwa buku pembelajaran formal terlalu akademis untuk warga belajar. Lalu bagaimana mungkin tercapai tujuan paket B untuk setara dengan SMP apabila kondisi seperti ini tidak diminimalisir. Kondisi ini juga menggambarkan kesenjangan yang tentunya menghambat tujuan-tujuan yang akan dicapai. Masalah utama yang tidak dapat diminimalisir yaitu minimnya waktu belajar tatap muka bersama tutor. Apabila menambah waktu belajar seperti pendidikan formal maka artinya melenceng dari konsep pendidikan non formal. Sementara warga belajar memiliki masalah tersendiri seperti separuh waktu harus bekerja bahkan karena faktor ekonomi orang tua maka mereka harus membantu orang tua bekerja. Masalah-masalah ini adalah kesenjangan-kesenjangan yang semestinya tidak ada, harus diminimalisir dengan cara-cara tertentu salah satunya yaitu menggunakan modul dan sistem belajar mandiri. Akhir-akhir ini kepercayaan terhadap kemampuan individu untuk menjalankan proses pembelajaran semakin meningkat akan tetapi warga belajar tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Oleh karena itu, di dalam modul harus menggunakan petunjuk-petunjuk yang akurat, jelas dan mudah diikuti. Demikian pula komponen dan materi pembelajaran untuk warga belajar diatur sedapat mungkin agar tidak terlalu akademis. Sementara itu orientasi pembelajaran terutama bahasa Inggris untuk warga belajar sedapat mungkin menjawab kebutuhan-kebutuhan pembelajaran warga belajar paket B dan seharusnya sesuai dengan kurikulum nasional yang sedang berlaku. Salah satu langkah yang sangat berarti sebagaimana dipilih oleh peneliti yaitu mengembangkan modul pembelajaran. Modul berisi materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum nasional, dapat dipelajari sendiri, dan memenuhi kebutuhan warga belajar baik untuk melanjutkan dan untuk memasuki lapangan pekerjaan. Dalam pengembangan modul ini, peneliti juga menentukan 9 langkah sistematis dalam model Dick, Carey, dan Carey (2001) sebagai prosedur pengembangan. Penelitian pengembangan ini menghasilkan 3 (tiga) produk yaitu 1) modul pembelajaran, 2) panduan untuk warga belajar, dan 3) panduan untuk tutor. Ketiga produk ini diuji coba untuk mendapatkan data-data yang dapat digunakan untuk merevisi produk sehingga produk menjadi produk yang efektif, efisien, dan menarik. Setting tempat dan populasi ditentukan yaitu warga belajar paket B Sulamul Muftadi desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lotim- NTB. Sebelum uji coba, terlebih dahulu modul direview oleh 1 (satu) orang ahli bidang studi untuk menemukan kesalahan dan memastikan keakuratan materi, review 1 (satu) orang ahli rancangan pembelajaran, dan review oleh 1 (satu) orang ahli media pembelajaran. Selanjutnya uji coba dilakukan dalam 3 (tiga) tahapan. Data yang terkumpul dianalisis dengan 2 (dua) cara yaitu kualitatif dan kuantitatif; 1) uji coba perorangan yang mengambil 3 (tiga) orang warga belajar sebagai responden. Uji coba perorangan ini dimaksudkan untuk menemukan keserasian materi dan kesalahan-kesalahan baik salah ketik ataupun struktur kalimat, dan lainnya seperti gambar dan ilustrasi. Kedua, uji coba kelompok kecil dengan responden 8 (delapan) orang untuk mengetahui efektifitas perubahan evaluasi perorangan, Mengidentifikasi permasalahan yang timbul pada saat pembelajaran, dan untuk menentukan apakah instruksi dapat digunakan untuk belajar sendiri tanpa interaksi dengan pembelajar. Uji coba lapangan terhadap 15 (lima belas) orang dimaksudkan untuk menemukan apakah pembelajaran dengan modul efektif, efisien, dan menarik bagi warga belajar. Alhasil, uji coba modul ini menunjukkan bukti kuantifikasi uji coba perorangan yaitu 79,3%. Uji coba kelompok kecil 78,5% tetapi perlu direvisi. Setelah direvisi berdasarkan tanggapan dan saran responden. Pada uji coba lapangan menunjukkan hasil sekitar 84% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul efektif mencapai tujuan pembelajaran, efisien bila dibandingkan dengan rasio penggunaan waktu, dan menarik bila memperhatikan skala sikap dan observasi terhadap antusias warga belajar. Untuk pemanfaatan dan pengembangan kedepan, beberapa saran disampaikan; warga belajar disarankan aktif bertanya, belajar dirumah, disiplin waktu, tutor aktif mengontrol, meluangkan waktu membantu, warga belajar dan tutor sebaiknya membaca pedoman sebelum menggunakan modul. Untuk diseminasi disarankan mengadakan pendekatan, menggunakan pendekatan sesuai karakter warga belajar. Untuk pengembangan selanjutnya sebaiknya bersama media lain, dan pengembangan modul paket B mungkin ke depan kurang dibutuhkan karena kebijakan gratis wajar 9 tahun dan perlu dialihkan selain paket A dan B.

Hubungan perilaku kemimpinan, iklim oraganisasi dan motivasi kerja terhadap kepuasan kerja pegawai kantor pusat Universitas - Mataran / Syukran Ma'sum

 

Dalam suatu organisasi sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan suatu organisasi. Kedudukan manusia dalam hal ini pegawai yaitu orang-orang yang bergabung dalam organisasi adalah sangat penting sebagai pendukung tercapainya tujuan organisasi tempat mereka bekerja. Menyadari hal tersebut peranan kepemimpinan sebagai pemimpin dan manajer adalah sangat mutlak. Dalam upaya mempengaruhi perilaku pegawai, pemimpin menggunakan pendekatan pola kepemimpinan yang berorientasi pada tugas pegawai dan hubungan manusia. (initiating structure dan consideration). Initiating structure adalah cara kepemimpinan melukiskan hubungannya dengan pegawai dalam mengorganisasi kerja, hubungan kerja dan tujuan. Kepemimpinan pada posisi tingkat tinggi dalam initiating structur untuk memberi perintah kepada pegawai melaksanakan tugas. Sedangkan consideration, hubungan kerja atas dasar kepercayaan, menghargai gagasan pegawai, menunjukkan kepedulian, kesejahteraan, keamanan, dan kepuasan pegawai. Dalam organisasi terjadi saling berinteraksi sesama pegawai dengan pemimpin. Kondisi yang demiklian akan memungkinkan terwujudnya iklim organisasi, iklim organisasi adalah lingkungan manusia di dalam mana para pegawai organisasi melakukan pekerjaan mereka. Iklim dapat mempengaruhi motivasi dan kepuasan kerja. Hal itu dengan membentuk harapan pegawai tentang konsekwensi yang akan timbul dari berbagai tindakan. Harapan menimbulkan motivasi atau mendorong pegawai melakukan kegiatan-kegiatan guna mencapai tujuan, dalam rangka memenuhi kebutuhan mulai dari kebutuhan fisiologis, sosial, rasa aman, penghargaan dan aktualisasi diri. Terpenuhinya kebutuhan sesuai harapan mendatangkan kepuasan kerja. Kepuasan kerja adalah sikap senang atau tidak senang terhadap pekerjaannya, pegawai yang senang dengan pekerjaannya mempunyai sikap positif, pegawai yang tidak puas mempunyai sikap negatif. Perilaku kepemimpinan, iklim organisasi, dan motivasi kerja hubungannya terhadap kepuasan kerja dengan rumusan masalah ; (1) Apakah terdapat hubungan antara perilaku kepemimpinan dengan kepuasan kerja pegawai Kantor Pusat Universitas Mataram (2) Apakah terdapat hubungan antara iklim organisasi dengan kepuasan kerja pegawai Kantor Pusat Universitas Mataram (3) Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja pegawai Kantor Pusat Universitas Mataram. (4) Apakah terdapat hubungan antara perilaku kepemimpinan, iklim organisasi, dan motivasi kerja dengan kepuasan kerja pegawai Kantor Pusat Universitas Mataram. Hipotesis penelitian yaitu terdapat hubungan antara perilaku kepemimpinan, iklim organisasi, dan motivasi kerja terhadap kepuasan kerja pegawai Kantor Pusat Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah semua pegawai yang berada pada lingkungan Kantor Pusat Universitas Mataram yang berjumlah 182 dari 6 bagian Unit Kerja. Teknik sampel menggunakan proportional stratified random sampling cara undian. Dari jumlah populasi dan bagian unit kerja diambil sampel terdiri dari bagian perencanaan dan sistim informasi 10 responden, bagian pendidikan dan kerjasama 14 responden, bagian kemahasiswaan 10 responden, bagian kepegawaian 11 responden, bagian keuangan 17 responden, dan bagian umum, hukum tata laksana dan perlengkapan 62 responden, berjumlah 124. Perhitungan sampel menggunakan tabel “KREJCIE” didasarkan atas kesalahan 5% dan memiliki tarap kepercayaan 95% - terhadap populasi. Pengumpulan data menggunakan instrumen disusun dalam bentuk angket sebanyak 116 butir yang valid dan reliabel, dari 134 butir. Masing-masing variabel perilaku kepemimpinan 26 butir, iklim organisasi 27 butir, motivasi kerja 35 butir dan kepuasan kerja 28 butir. Teknik analisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan korelasi parsial dan product moment dari Pearson. Dari hasil analisis membuktikan bahwa (1) ada hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan terhadap kepuasan kerja pegawai Kantor Pusat Universitas Mataram. Namun hasil analisis menggunakan korelasi parsial dengan menyisihkan variabel iklim organisasi dan motivasi kerja menunjukkan hubungan antara perilaku kepemimpinan terhadap kepuasan kerja tidak signifikan. (2) ada hubungan yang signifikan antara iklim organisasi terhadap kepuasan kerja pegawai di Kantor Pusat Universitas Mataram, dan (3) ada hubungan yang signifikan antara motivasi kerja terhadap kepuasan kerja pegawai di Kantor Pusat Universitas Mataram dan (4) ada hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan, iklim organisasi, dan motibasi kerja secara bersama-sama terhadap kepuasan kerja pegawai di Kantor Pusat Universitas Mataram. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diajukan adalah (1) Kepada pemimpin senantiasa untuk mempertahankan keefektifan kepemimpinannya melalui penerapan model kepemimpinan yang tepat sehingga tercapai tujuan bersama. Hendaknya dalam sikap dan perilaku dapat dijadikan contoh yang baik bagi pegawai. (2) Pemimpin hendaklah selalu mengupayakan penciptaan iklim kerja yang kondusif, aman, nyaman, terbuka dan menyenangkan. (3) Kepada pemimpin untuk senantiasa memberikan dorongan, dan memperhatikan kebutuhan pegawai agar motivasi kerja pegawai dapat dipertahankan dan lebih meningkat ke arah tercapainya produktivitas kinerja. (4) Diharapkan setiap kebijakan dan peraturan yang diterapkan di lingkungan kerja Kantor Pusat Universitas Mataram lebih memperhatikan kepentingan manusiawi, sehingga dapat menimbulkan kepuasan kerja.

Meningkatkan kemampuan menbaca melalui pembelajaran membaca melalui pembelajaran membaca cepat di kelas IV SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk / Aan Afidana Setyawan

 

Membaca di sekolah dasar lebih menekankan pada kegiatan membaca dan menulis permulaan di kelas I dan II sekolah dasar. Sedangkan membaca tidak hanya sekedar menyuarakan bunyi – bunyi bahasa atau mencari kata – kata sulit dalam suatu teks bacaannya. Membaca cepat melibatkan pemahaman memahami apa yang dibacanya, apa maksudnya dan apa implikasinya. Ketika siswa mengalami kesukaran memahami suatu teks jika mereka tidak bisa memahami suatu teks bacaan, tugas mengajar membaca semakin kompleks. Bagaimana siswa bisa belajar dari suatu teks jika mereka tidak bisa memahami tugas membaca yang diberikan kepada mereka. Di SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk ketika penulis mengadakan pengamatan pendahuluan ternyata di sekolah ini kemampuan membaca siswa siswinya belum bisa dikatakan maksimal. Hal ini dapat dilihat dari kebanyakan siswa masih menggunakan cara-cara membaca yang justru menghambat untuk membaca cepat seperti para siswa masih bersuara saat membaca, menggunakan tangan untuk menunjuk kata demi kata, ini sebenarnya merupakan teknik membaca yang lambat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah dengan penerapan membaca cepat dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan kebahasaan siswa kelas IV SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk ? (2) Apakah penerapan membaca cepat dapat mempengaruhi kemampuan memahami bacaan siswa kelas IV di SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk ?. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mendiskripsikan penerapan membaca cepat dalam meningkatkan kemampuan pengetahuan kebahasaan siswa kelas IV SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk (2) Untuk mendiskripsikan penerapan membaca cepat dalam memahami bacaan siswa kelas IV di SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk. Metode penelitian menggunakan menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan desain penelitian ini menggunakan PTK ( penelitian tindakan kelas ) teknik analisa data dalam penelitian ini adalah menggunakan intervew, obsevasi dan dokumentasi. Rencana penelitian yang digunakan adalah PTK yang terdiri dari dua siklus. Masing – masing siklus berhubungan satu sama lain seperti tergambar dalam spiral tindakan menurut Hopskins. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk Berjumlah 20 anak yang terdiri dari 8 putra dan 12 putri, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan test. Teknik analisis yang digunakan adalah diskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan dari pra siklus sampai siklus II yaitu: pada pra siklus prosentase pengetahuan kebahasaan mencapai 50% dan pemahaman isi bacaan mencapai 55% sedangkan dalam siklus I pengetahuan kebahasaan mencapai 70% sedangkan pengetahuan isi bacaan mencapai 75% dan dalam siklus II kebahasaan mencapai 100% dan pengetahuan isi bacaan juga mencapai 100%. Kesimpulan ini adalah: (1) Dengan penerapan membaca cepat dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan kebahasaan siswa kelas IV SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk hal ini dapat diketahui dari prosentase kenaikan tingkat kebahasaan dari mulai pra tindakan sampai pada siklus II, tinkat kenaikan tersebut antara lain dalam penerapan metode membaca yang tepat yaitu dengan cara menghilangkan cara-cara membaca yang dapat mengurangi pemahaman siswa. (2) Penerapan membaca cepat dapat mempengaruhi kemampuan memahami bacaan siswa kelas IV di SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk hal ini dapat diketahui dari meningkatkan kemampuan memahami bacaan dari mulai pra siklus sampai siklus II. Tingkat kenaikan tersebut antara lain: kemampuan siswa memahami isi bacaan secara detail, menemukan ide pokok, mampu mengingat apa yang telah dibaca, mengetahui kata kunci. Kepada pendidik dan masyarakat diharapkan berpartisipasi dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk Serta lebih meningkatkannya, hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan pemerintah. Kepada pengurus lembaga serta penyelenggara pendidikan diharapkan mampu meningkatkan secara terus menerus kegiatan membaca di SDN Betet II Kec. Ngronggot Kab. Nganjuk

Hubungan pembinaan profesional oleh kepala sekolah dan prestasi kerja guru di SMAN se-kota Kediri / Renny Dewi Ambar Mukti

 

Pembinaan Profesional merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka menciptakan profesionalisme guru. Pemerintah maupun Kepala sekolah telah banyak melakukan upaya pembinaan kepada guru melalui berbagai cara. Beberapa teknik yang dilakukan dalam kegiatan pembinaan profesional yaitu kunjungan kelas, rapat guru, pertemuan pribadi, dan pertemuan kelompok kerja guru, dan sebagainya. Prestasi kerja guru sebagai faktor penentu peningkatan mutu pelaksanaan pendidikan di suatu sekolah. Maka dari itu perlu dikembangkan kemampuan profesional guru. Perkembangan kemampuan profesional guru, dapat dibina melalui suatu kegiatan pembinaan profesional. Dapat dikatakan, bahwa hubungan antara pembinaan profesional oleh kepala sekolah dan prestasi kerja guru sangat erat dan berkesinambungan, karena dengan pembinaan profesional guru, maka mutu pendidikan suatu sekolah dapat meningkat. Dengan kata lain, untuk mencapai tingkat mutu pendidikan yang tinggi sesuai tujuan yang dicapai, guru perlu memiliki tingkat kemampuan dan keterampilan yang tinggi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Sebarapa tingkat pembinaan profesional oleh kepala sekolah di SMA Negeri se-Kota Kediri; (2) Sebarapa tingkat prestasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Kediri; (3) Adakah hubungan pembinaan profesional oleh kepala sekolah dan prestasi kerja guru di SMA Negeri Se-Kota Kediri. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui tingkat pembinaan profesional oleh kepala sekolah di SMAN se-Kota Kediri; (2) mengetahui tingkat prestasi kerja guru di SMAN se-Kota Kediri: dan (3) mengetahui hubungan pembinaan profesional oleh kepala sekolah dan prestasi kerja guru di SMAN se- Kota Kediri. Penelitian ini dilakukan di SMAN se-Kota Kediri. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari pembinaan profesional sebagai variabel bebas dan prestasi kerja sebagai variabel terikat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional dengan menggunakan analisis dari Pearson Product Moment. Dengan tujuan untuk mengetahui hubungan pembinaan profesional oleh kepala sekolah dan prestasi kerja guru di SMAN se- Kota Kediri. Populasi penelitian ini adalah guru SMAN di Kota Kediri yang berjumlah 526 orang guru. Jumlah sampelnya adalah 217 orang guru. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Proportional Random Sampling (sampel proporsional). Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket. Skala yang digunakan Skala Likert dengan 4 pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen menggunakan uji validitas dan estimasi. Teknik analisis yang dipilih adalah deskriptif persentase dan korelasi Pearson Product Moment. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer yaitu program SPSS 15.0 for windows.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai r hitung sebesar0, 534, sehingga dapat disimpulkanbahwa ada hubungan yang signifikan antara pembinaan profesional dan pretasi kerja guru di SMAN se-Kota Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pembinaan profesional guru di SMAN se-Kota Kediri berada pada kategori tinggi. Adapun Prestasi Kerja Guru di SMAN se-Kota Kediri berada pada kategori sangat tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pembinaan profesional oleh kepala sekolah dan prestasi kerja guru di SMAN se-Kota Kediri. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada: (1) kepala sekolah agar dapat melaksanaka pembinaan profesional secara rutin di sekolah baik dengan teknik individual dan teknik kelompok, karena hal ini memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi kerja guru; (2) para guru diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasi kerja agar kualitas mutu pendidikan disekolah, kualitas lulusan, dan kemajuan sekolah tempat dimana para guru dalam penelitian ini bekerja dapat meningkat; dan untuk penelitian lebih lanjut dengan memperbanyak variabel penelitian, maupun pengembangan metode yang akan digunakan dalam penelitian; (3) jurusan Administrasi Pendidikan dapat menambah referensi baik berupa buku pedoman maupun hasil penelitian mengenai pembinaan profesional dan prestasi kerja guru untuk mengembangkan jurusan; (4) hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai acuan apabila mahasiswa dan peneliti lain berminat meneliti lebih lanjut tentang pembinaan profesional dan prestasi kerja guru dengan variabel, populasi yang berbeda serta instrumen yang tidak hanya mengambil dari persepsi guru, namun juga mencakup sudut pandang pimpinan, teman sejawat, dan murid.

Efektivitas penggunaan inventori self disclosure dalam interview awal (Intake Interviiew) konseling di SMA Negeri 4 Malang / Nurlani Damayanti

 

Kemampuan siswa dalam melakukan komunikasi terutama komunikasi interpersonal mempunyai kontribusi yang penting dalam mencapai kesuksesan akademik. Salah satu aspek penting dalam komunikasi interpersonal adalah self disclosure. Self disclosure dapat membantu seseorang berkomunikasi dengan orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, hubungan menjadi lebih akrab, mengurangi perasaan bersalah dan rasa cemas. Menurut pengamatan penulis yang pernah melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), kecenderungan siswa berperilaku self undisclosure masih cukup banyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan inventori self disclosure dalam interview awal konseling pada siswa SMA Negeri 4 Malang, terutama untuk menurunkan perilaku yang cenderung self undisclosure yaitu perilaku siswa yang tertutup atau tidak mau terbuka tentang dirinya.

The Implementation of concept mapping to improve the performance of the eight grade students of SMPN 4 Malang in writing descriptive texts / Shanti Chandra Dewi

 

More than half of the students of class VIII D of SMP Negeri 4 Malang in the first semester of 2008/2009 academic year still have poor ability in writing descriptive texts. The major problem that the students faced was how to get an idea and develop it. To overcome the problem, an alternative strategy was applied in the teaching of writing, namely concept mapping technique. This technique was chosen since it helped the students to generate ideas and develop them. The strategy involved in the writing process including prewriting, writing, and post writing. The main objective of the study is aiming at developing concept mapping strategy to improve the students’ performance in writing descriptive texts. In this study, the research design used is Classroom Action Research. This research was conducted in three cycles. Every cycle consisted of four stages: planning, implementing the action, observing the action, and reflecting the action. The researcher, at the same time, acted as the English teacher in the class. The subjects of this research were the students of class VIII D of SMP Negeri 4 Malang in the first semester of 2008/2009 academic year which consisted of 39 students. The instruments used were writing assignment, field note, and scoring rubric. There were two kinds of data gained, namely the students’ writing scores and students’ attitude and classroom atmosphere. The data gained from the students’ writing scores were analyzed in terms of content, organization, and language use by using scoring rubric. The students’ attitude and classroom atmosphere was taken from the field notes. Both students’ writing score and attitude were supported by the result of the questionnaire on students’ responses on the application of concept mapping in writing. The research finding showed that concept mapping could be implemented to improve the students’ writing performance in writing descriptive texts and solved the students’ problem in generating and developing ideas. In Cycle 1, the implementation of the action was not fully successful; the mean score of the students’ writing for all the three assessed criteria did not significantly increase compared with the score in the preliminary study and there were some students producing descriptive writing below the standard level. So, it was continued to the next cycle that was Cycle 2. The mean score of the students’ writing in Cycle 2 significantly increased compared with the previous cycle; however, there were some students producing descriptive writing below the standard level. So, it was continued to the next cycle that was Cycle 3. The implementation of the action was fully successful in Cycle 3 since the students’ writing performance was better and there was no student producing descriptive writing below the standard level for all the three assessed criteria of writing that were content, organization, and language use. In conclusion, concept mapping technique could be implemented at SMP Negeri 4 Malang, class VIII D. Using concept mapping in prewriting stage was suitable to help the students to improve their writing performance in terms of content, organization, and language use. The implementation of concept mapping in writing descriptive texts not only improved the students’ writing performance in terms of content, organization, and the language use, but also brought students’ positive attitude during the teaching and learning process, which at the end improved the students’ writing performance in class. Since the success of the implementation of the action was reached in Cycle 3—the students’ writing had been satisfactory and met the criteria of success that had been made before—, the stages in the cycle become the answer of the research problem. The procedures of concept mapping strategy used in this study covered four stages, namely planning, implementing, observing, and reflecting. Planning included four things, which were preparing the lesson plan and media, developing concept mapping strategy into an appropriate model, preparing research instruments, and preparing the criteria of success. The concept mapping strategy involved process approach and using three-phase techniques in the implementation, namely pre activity, main activities, post activity. The pre activities included reviewing the students’ knowledge about descriptive text and concept mapping. The main activities involved assigning the students to generate ideas using concept mapping on free topics, asking them to start writing their drafts, reminding them of some linguistic points, asking them to proofread and give comments on each other’s work, and giving them time to edit and revise their work. The post activity involved submitting the students’ final work, asking their feeling and difficulties in learning using concept mapping, and eliciting them to conclude the lesson. The success of the implementation of these procedures was by implementing concept mapping in writing descriptive texts on free topics. The topics that had to be developed by the students were not determined by the teacher so that the students could write freely and more creative. It is recommended that the English teachers implement this technique in the teaching of descriptive writing. It is also recommended that either the junior high school or senior high school English teachers who possibly find similar problem in the teaching of descriptive texts use this technique by adjusting some parts of the procedures to suit the students’ level of ability and also the existing conditions. It is also suggested that other researchers conduct further research concerning to the use of concept mapping technique to improve students’ performance in writing the other text types. They are also recommended to conduct other research on the use of concept mapping technique in teaching the other skill like reading and language component like vocabulary. It is also suggested that future researchers conduct research using other techniques of writing different text types involving more respondents in different setting and conditions to see whether the technique can be implemented effectively or not.

Perbedaan nilai produktif siswa sebelum dan sesudah melaksanakan praktik kerja industri pada program keahlian restoran di SMK Negeri 3 Malang / Rita Kiswa Dewi

 

ABSTRAK Kiswa Dewi, Rita. 2008. Perbedaan Nilai Produktif Siswa Sebelum dan Sesudah Melaksanakan Praktik Kerja Industri Pada Program Keahlian Restoran di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Rina Rifqie Mariana, (II) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P. Kata Kunci : Nilai Produktif, Praktik Kerja Industri Nilai produktif adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya. Untuk mengetahui perbedaan nilai produktif siswa sebelum dan sesudah melaksanakan praktik kerja industri dilakukan dengan cara membandingkan nilai produktif siswa sebelum dan sesudah melaksanakan praktik kerja industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai produktif siswa sebelum dan sesudah praktik kerja industri, dan diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan literatur bagi tim prakerin dan tim kurikulum sekolah. Dunia usaha dan dunia industri yang digunakan praktik kerja industri oleh siswa dipilih melalui seleksi oleh sekolah. Diharapkan setelah praktik kerja industri, setiap siswa benar-benar dapat meningkatkan ilmunya, ketrampilannya dan wawasannya. Penelitian ini dilakukan pada Program Keahlian Restoran SMK Negeri 3 Malang pada tanggal 10 November sampai 13 Desember 2008. Rancangan penelitian adalah rancangan penelitian eksperimental. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis t-Test. Dengan jumlah sampel sebanyak 30 siswa dan level signifikan 5% serta tingkat kepercayaan 95% didapatkan hasil atau -9.402 < 2.045 dan Ho ditolak. Sehingga dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan signifikan ke arah positif terhadap nilai produktif siswa sebelum dan sesudah melaksanakan praktik kerja industri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik kerja industri berpengaruh terhadap nilai produktif siswa setelah melaksanakan praktik kerja industri, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai mata diklat menyiapkan dan mengolah sup. Pemilihan tempat praktik kerja industri juga harus diseleksi dan dievaluasi secara ketat mengingat tempat praktik kerja industri adalah tempat untuk mencari ilmu dan meningkatkan skills atau kompetensi siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap nilai produktif mata diklat lain yang berkaitan dengan praktik kerja industri. Dengan harapan setelah melaksanakan praktik kerja industri, setiap siswa lebih dapat meningkat kompetensinya (knowledge, skills, attitude, behaviour, speed) dalam mata diklat menyiapkan dan mengolah sup.

Penerapan pendekatan discovery untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA konsep kenampakan bulan siswa kelas IV SDN Sukoharjo II Kota Malang / Mashuri Warat

 

Kata Kunci: Aktivitas, Hasil belajar, IPA, Pendekatan Discovery Pendekatan discovery merupakan salah satu pendekatan yang memberikan suasana belajar aktif dan memberi kesempatan kapada siswa untuk melakukan proses penemuan. Berdasarkan data yang di peroleh dari hasil baelajar siswa konsep kenampakan bulan menunjukan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas IV adalah 67.56. Hasil belajar siswa tersebut masih kurang dari standar ketuntasan individu maupun klasikal yang ditentukan 70%, pembelajaran cenderung berpusat kepada guru dikarenakan pendekatan pembelajaran yang di gunakan masih bersifat informatif. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Sukoharjo II Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivtas dan hasil belajar melalui penerapan pendekatan discovery. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif jenis penelitian tindakan kelas (PTK) collaborative yang dilakukan dengan terapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan/observasi, dan refleksi. Subyek dalam Penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sukoharjo II Kota Malang yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan dengan jumlah keseluruhan sebanyak 39 siswa. Hasil penelitian diperoleh data bahwa nilai rata-rata aktivitas siswa pada akhir siklus I yaitu 68,37% dan hasil belajar akhir siklus I yaitu 70,48. Pada akhir siklus II nilai rata-rata aktivitas siswa yaitu 87,77% dan hasil belajar akhir siklus II yaitu 90%. Hasil tersebut telah mencapai standar ketuntasan klasikal baik aktivitas maupun hasil belajar siswa.. Sehinggga dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPA konsep kenampakan bulan telah tuntas. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka disimpulkan bahwa Penerapan pendekatan discovery pada pembelajaran IPA dapat menciptakan suasana belajar yang lebih di peran oleh siswa dan guru sebagai pembimbing belajar (siswa aktif dan guru pasif). Dengan menggunakan pendekatan discovery aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Sesuai kesimpulan diatas maka dapat disarankan kepada: guru yang mengembangkan pembelajaran IPA melalui pendekatan discovery di harapkan dapat memberikan hasil yang optimal kepada siswa untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Bagi sekolah Sebagai bahan pertimbangan dalam pengembagan mutu pendidikan serta pengetahuan yang dijadikan sebagai sumber dalam menciptakan tenaga lulusan yang Skill Continius Quality di masa yang akan datang serta bagi peneliti dapat mengembangkan pendekatan discovery pada sekolah yang akan diabdinya dan dapat lebih memperdalam lagi pendekatan discovery agar memperoleh hasil yang lebih baik.

Studi tentang hasil gambar proporsi tubuh pada kompetensi dasar menggambar busana di SMK Negeri I Batu / Indah Maya Sari

 

Kompetensi dasar menggambar busana merupakan salah satu mata pelajaran produktif pada jurusan tata busana. Pada kompetensi dasar menggambar busana ini terdapat materi menggambar proporsi tubuh yang menuntut siswanya untuk menguasai dan membuat gambar proporsi tubuh mulai dari proporsi tubuh anak-anak, proporsi tubuh wanita, dan proporsi tubuh pria dengan berbagai pose mulai dari tampak depan, ¾ bagian, dan belakang. Selain itu gambar proporsi tubuh ini merupakan dasar dari menggambar mode busana, untuk itu siswa harus dapat menggambar proporsi tubuh dengan proporsional sesuai pedoman/patokan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hasil gambar proporsi tubuh pada kompetensi dasar menggambar busana di SMK Negeri 1 Batu. Penelitian ini dilakukan pada bulan oktober 2007 sampai september 2008 di SMK Negeri 1 Batu. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif kemudian jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif yang menggunakan metode dokumentasi sebagai data utama dan metode angket sebagai data penunjang dengan sampel hasil gambar proporsi tubuh pada kelas X . Hasil menggambar proporsi tubuh pada kompetensi dasar menggambar busana di SMK Negeri I Batu untuk proporsi tubuh wanita dikualifikasikan banyak (77,2 %) siswa yang gambarnya sudah proporsional, dan proporsi tubuh pria dikualifikasikan banyak (76,2%) siswa yang gambarnya sudah proporsional, proporsi tubuh anak dikualifikasikan banyak (75,5 %) siswa yang gambarnya sudah proporsional, untuk pose tampak depan dikualifikasikan cukup banyak (50,5%) siswa yang gambarnya sudah proporsional, dan pose tampak ¾ bagian dikualifikasikan sedikit (49,4 %) siswa yang gambarnya sudah proporsional, serta pose tampak belakang dikualifikasikan sedikit (49,4 %) siswa yang gambarnya sudah proporsional, dan untuk garis dikualifikasikan sedikit (48,2 %) siswa yang menggambar dengan garisnya baik, dan kesan garis yang dibuat dikualifikasikan sedikit (28,1%) siswa yang gambarnya dibuat dengan kesan garis yang sempurna. Dari penelitian ini disarankan agar siswa dapat banyak berlatih menggambar proporsi tubuh manusia diluar jam pelajaran dengan intens agar hasil goresan semakan luwes, spontan dan sempurna, untuk guru mata pelajaran harus lebih sering memberikan tugas menggambar di rumah sebagai latihan, agar keterampilan menggambar siswa dapat terus ditingkatkan, untuk sekolah sesegera mungkin memperbaiki sistem KBM dan menambah alokasi waktu jam pelajaran menggambar busana sehingga kekurangan waktu tidak menjadi masalah lagi

Strategi penyaluran kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Malang / Puspa Ningsih

 

Salah satu tujuan diselenggarakannya SMK adalah menyiapkan peserta didik untuk dapat bekerja di lapangan kerja dan untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Strategi penyaluran kerja lulusan SMK N 4 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang strategi yang digunakan, faktor pendukung, faktor penghambat, merumuskan alternatif permasalahan, dan merumuskan pemecahan masalah yang dihadapi dalam penyaluran lulusan. Lokasi penelitian berada di SMK Negeri 4 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang akan berusaha untuk mendeskripsikan suatu permasalahan dari objek penelitian yang diambil oleh peneliti. Pengumpulan datanya menggunakan beberapa prosedur, yaitu (1) dokumentasi; (2) wawancara; (3) metode observasi atau pengamatan langsung. Adapun teknik analisis data peneliti membagi dalam tiga langkah, yaitu: (1) reduksi data; (2) sajian data; dan (3) penarikan kesimpulan penelitian. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah strategi yang digunakan untuk menyalurkan lulusan SMK Negeri 4 Malang, meliputi (1) Pihak sekolah bekerjasama dengan pihak industri sebagai pemakai lulusan yang terkait; (2) Mengadakan open house/promosi sekolah; (3) Meningkatkan kualitas lulusan di segala bidang dan member bekal keahlian yang professional kepada lulusan; (4) Membekali peserta didik yang sedang melaksanakan praktik kerja industri dengan kemampuan yang memadai. Faktor pendukung yang ditemukan di lapangan tentang penyaluran lulusan (1) Permintaan pasar yang tinggi terutama dalam bidang grafika; (2) Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi yang dimiliki oleh SMK Negeri 4 Malang; (3) Kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki pihak sekolah menjadi salah satu faktor pendukung dalam Proses Belajar Mengajar (PBM); (4) Kualitas lulusan yang dimiliki oleh SMK Negeri 4 Malang; (5) Kinerja siswa yang bagus dalam menjalani praktik kerja industri di industri; (6) Kepercayaan industri pada pihak sekolah dalam perekrutan karyawan. Faktor penghambat yang ditemukan di lapangan tentang penyaluran lulusan (1) Kurang baiknya kinerja peserta didik pada saat praktik kerja industri; (2) Kurangnya menguasai peserta didik dengan pekerjaan yang diberikan oleh pihak industri kepadanya pada saat praktik kerja industri; (3) Kurangnya rasa disiplin siswa pada saat melaksanakan praktik kerja industri. Alternatif permasalahan yang dihadapi dalam penyaluran lulusan (1) Kurangnya lulusan yang kurang memiliki keahlian dalam suatu bidang tertentu; (2) Adanya lulusan dari SMK Negeri 4 Malang yang kinerjanya kurang bagus di suatu industri yang menjadi rekanan dari SMK Negeri 4 Malang. Alternatif pemecahan masalah yang dihadapi dalam penyaluran lulusan (1) Pihak sekolah membekali keterampilan yang lebih kepada peserta didik; (2) Mengingatkan kepada semua lulusan agar berkelakuan baik pada saat bekerja di industri.

Kontribusi realisasi penerimaan Bea masuk dan Cukai terhadap pendapatan perpajakan pada anggaran pendapatan belanja negara (APBN) (Studi pada kantor pelayanan dan pengawasan bea dan cukai tipe A3 Malang) / Prilia Sri Nugroho

 

Pada tahun 2004 masalah yang dihadapi bangsa Indonesia adalah menurunkan defisit APBN dan stok utang pemerintah untuk menciptakan kesinambungan fiskal dalam jangka menengah (Propernas). Dalam hal ini pemerintah mengupayakan melalui program peningkatan penerimaan Negara melalui penerimaan perpajakan yang berasal dari penerimaan bea masuk dan cukai. Kemudian hasil kebijakan tersebut dilakasanakan pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Malang. Maka untuk mengetahui kontribusi dari pendapatan bea masuk dan cukai terhadap pendapatan perpajakan pada APBN telah dilakukan observasi pada kantor pelayanan dan pengawasan bea dan cukai tipe A3 Malang. Data yang dianalisis merupakan data realisasi penerimaan bea masuk dan cukai tahun 2007 dan semester satu tahun 2008 menggunakan metode kuantitatif. Berdasarkan kajian pustaka diketahui pajak merupakan iuran wajib yang dipungut oleh Negara dari masyarakat untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang tercantum dalam APBN. Penerimaan Perpajakan dalam APBN terbagi menjadi dua yaitu Penerimaan Pajak Dalam Negeri yang salah satunya terdiri dari pos penerimaan Cukai dan Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional yang salah satunya berasal dari Penerimaan Bea Masuk. Hasil dari data yang diperoleh dan kemudian dinalisa dapat diketahui bahwa penerimaan bea masuk tahun 2007 pada Kantor Bea dan Cukai Tipe A3 Malang dapat terealisasi 113,56% dari target penerimaan, dan untuk pencapaian realisasi sampai dengan semester satu pada tahun 2008 adalah sebesar 47,94%. Sedangkan untuk realisasi penerimaan cukai tahun 2007 mencapai 120,36% dari target yang ditetapkan serta sampai dengan semester satu tahun 2008 penerimaan cukai telah mencapai 60,10%. Sedangkan kontribusi penerimaan bea masuk terhadap penerimaan pajak perdagangan internasional pada tahun 2007 yaitu sebesar 0,011327% dan untuk tahun 2008 sampai dengan semester satu, realisasi penerimaan bea masuk memberikan kontribusi terhadap pendapatan pajak perdagangan internasional sebesar 0,005780% serta untuk realisasi penerimaan cukai tahun 2007 memberikan kontribusi terhadap pendapatan Pajak Dalam Negeri sebesar 0,855830% dan untuk realisasi cukai tahun 2008 sampai dengan semester satu memberikan kontribusi terhadap pendapatan pajak dalam negeri sebesar 0,804442%. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat diadakan penelitian lebih lanjut untuk analisis dari kontribusi bea masuk dan cukai terhadap pendapatan pajak pada APBN tahun berikutnya sehingga dapat membantu menilai dari kinerja kantor bea dan cukai tipe A3 malang khususnya dan lembaga dijajaran departemen keuangan pada umumnya.

Pengaruh atmosfer toko terhadap pengambilan keputusan konsumen untuk berbelanja di Plaza Araya Malang / Yuki Patriasari

 

Peritel pada masa kini, haruslah menemukan retailing mix untuk menarik dan mempertahankan konsumen. Selain itu alasan untuk mempertimbangkan kembali retailing mix adalah untuk menghadapi meningkatnya persaingan dari pusat perbelanjaan lain yang saat ini mulai banyak berkembang di Kota Malang. Retailing mix tersebut salah satunya adalah atmosfer toko. Hal ini yang dilakukan juga oleh Plaza Araya Malang. Dengan memperhatikan atmosfer toko, Plaza Araya Malang berhasil bertahan dengan pangsa pasar tersendiri walaupun persaingan yang ada saat ini semakin berat. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi atmosfer toko, mengetahui pengaruh variabel atmosfer toko secara parsial terhadap pengambilan keputusan konsumen, mengetahui pengaruh atmosfer toko secara simultan terhadap pengambilan keputusan konsumen dan mengetahui variabel atmosfer toko yang mempunyai pengaruh dominan terhadap pengambilan keputusan konsumen di Plaza Araya Malang. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya yakni Atmosfer Toko (X) yang terdiri dari variabel Desain Toko (X1), Perencanaan Toko (X2), Komunikasi Visual (X3), dan Visual Merchandising (X4). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel Pengambilan Keputusan Konsumen (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah seluruh pengunjung Plaza Araya Malang. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 80 responden yang dipilih secara accidental sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel Atmosfer Toko yang terdiri dari Desain Toko (X1) sebesar 7,427, Perencanaan Toko (X2) sebesar 6,408, Komunikasi Visual (X3) sebesar 3,804, dan Visual Merchandising (X4) sebesar 5,537, secara parsial terhadap Pengambilan Keputusan Konsumen di Plaza Araya Malang, dan juga terdapat pengaruh antara variabel Atmosfer Toko yang terdiri dari Desain Toko (X1), Perencanaan Toko (X2), Komunikasi Visual (X3), dan Visual Merchandising (X4) sebesar 120,662 secara simultan terhadap Pengambilan Keputusan Konsumen di Plaza Araya Malang, dan variabel Perencanaan Toko (X2) merupakan variabel yang dominan mempengaruhi Pengambilan Keputusan Konsumen di Plaza Araya Malang. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,858, yang berarti bahwa 86% pengambilan keputusan untuk berbelanja di Plaza Araya Malang dipengaruhi oleh variabel atmosfer toko. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa variabel atmosfer toko dapat digunakan perusahaan untuk dapat mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen untuk berbelanja di Plaza Araya Malang. Hal ini yang menjadi titik perhatian perusahaan dalam rangka menyiapkan suasana toko yang sesuai untuk kelompok orang yang berorientasi “belanja adalah rekreasi”. Karena kelompok orang yang berorientasi “belanja adalah rekreasi” mempunyai dua perspektif di dalam pengambilan keputusan, yaitu perspektif experiental dan perspektif pengaruh perilaku. Yang keduanya dipengaruhi oleh atmosfer toko. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan dan perhatian terhadap faktor-faktor dari atmosfer toko tersebut misalnya memperbanyak amusement centre, menghadirkan musik-musik terbaru di dalam Plaza, meningkatkan kenyamanan tempat parkir, memaksimalkan keberadaan information centre, menghadirkan tenant-tenant yang berbeda dari yang lain. Dan untuk faktor perencanaan toko harus menjadi perhatian khusus karena perencanaan toko merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen untuk berbelanja di Plaza Araya Malang yakni dengan lebih memperhatikan layout dan alokasi ruang di Plaza Araya Malang.

Upaya peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas III melalui pembelajaran tematik di SD Negeri Srengat 03 Kabupaten Blitar / Dwi Nurdiana

 

Hasil pengamatan di SD Srengat 03 tentang pembelajaran Bahasa Indone-sia khususnya dalam aspek berbicara masih kurang diperhatikan dan belum mak-simal, siswa terlihat tidak aktif dalam pembelajaran dan hanya mengerjakan soal dan soal. Apabila anak disuruh ke depan kelas kemudian bercerita, meskipun de-ngan tema yang ada berkaitan dengan pengalaman siswa, sebagian besar siswa tidak mau bercerita dan cenderung diam di depan kelas. Untuk mengatasi perma-salah tersebut, maka dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan pembelajaran tematik yang mengintegrasikan atau menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan bahwa pene-rapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan kelancaran berbicara siswa kelas 3 SDN Srengat 03, (2) Untuk mendeskripsikan bahwa penerapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan keruntutan berbicara siswa kelas 3 SDN Srengat 03. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK temasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas III SDN Srengat 03 yang ditunjukkan dari peningkatan prosentase ketuntasan berbicara siswapada setiap siklus. Pada tahap pra tindakan prosentase kelancaran berbicara dijadikan dasar bagi siklus I, yaitu 40% menjadi 47.02% (tidak tuntas).Siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dari 47.02% menjadi 83.33 % (tidak tuntas). Siklus II ke siklus III mengalami peningkatan dari 83.33% menjadi 100% (tuntas). Sedangkan untuk prosentase keruntutan berbicara pada tahap pra tindakan dan siklus I, yaitu45% menjadi 47.02%. Siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dari 47.02% menjadi 83.33%. Siklus II ke siklus III mengalami peningkatan dari 83.33% menjadi 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran tematik yang menggabungkan atau mengintegrasikan beberapa mata pelajaran dalam satu tema dapat meningkatkan kelancaran serat keruntutan berbicara siswa kelas III SDN Srengat 03. Guru seharusnya menggunakan berbagai macam metode, media pembel-ajaran serta memahami kemampuan dan karakteristik peserta didiknya, karena setiap peserta didik memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda dengan lainnya, sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai.

Persepsi guru tentang pelaksanaan program sertifikasi guru dan hubungannya dengan stres kerja guru di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Plosokaten Kabupaten Kediri / Mohammad Irfan Taufiq

 

Dewasa ini pendidikan sangat memerlukan figure seorang pendidik yang profesional. Upaya pemerintah dalam meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Guru sebagai pendidik yang akan ditingkatkan kualitasnya. Dalam hal ini pemerintah mengeluarkan kebijakan program sertifikasi guru. Kebijakan ini menimbulkan persepsi yang berbeda antar guru. Sebagian menyambut positif dengan kebijakan ini, namun ada anggapan negatif terhadap kebijakan ini karena sangat memberatkan dan menjadikan beban bagi guru yang berakibat pada stres kerja. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional, menggambarkan variabel-variabel dan menghubungkan dua variabel, yaitu persepsi guru terhadap pelaksanaan program sertifikasi dan stres kerja guru. Teknik Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan proportional random sampling. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh guru baik yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) maupun GTT (Guru Tidak Tetap). Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk angket yang diberikan kepada responden. Uji validitas menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Selain dengan angket, pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Pengukuran korelasi dalam penelitian ini menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: persepsi guru tentang pelaksanaan program sertifikasi di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri dalam kualifikasi baik dan stres kerja guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri dalam kualifikasi rendah. Ada hubungan yang signifikan antara persepsi guru tentang pelaksanaan program sertifikasi dan hubungannya dengan stres kerja guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Berdasarkan hasil penelitian, saran ditujukan kepada 1) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri diharapkan meningkatkan kegiatan yang mendukung guru untuk mempersiapkan diri mengikuti sertifikasi guru, karena persepsi guru dalam kondisi baik dan terhindar dari stres, 2) guru diharapkan mencari informasi sebanyak mungkin tentang program sertifikasi, sehingga dapat mempersiapkan diri apabila masuk dalam kuota peserta program sertifikasi guru, 3) peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitiannya dengan menambah variabel-variabel lain dan memperluas jangkauan objek penelitian agar kajian tentang program sertifikasi lebih bervariasi.

Perbedaan persepsi guru dan siswa tentang kinerja konselor terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 2 Bangkalan / S. Subaidah SM

 

Persepsi merupakan suatu proses yang membuat seseorang menjadi sadar akan keadaan atau peristiwa di lingkungan sekitar sebagai akibat terjadinya persentuhan indera manusia dengan obyek sekelilingnya. Persepsi guru dan siswa adalah tanggapan dan penilaian yang diberikan guru dan siswa tentang kinerja konselor terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling. Persepsi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain suasana hati, pengalaman masa lalu, dorongan yang ada pada diri individu, seperti : ingatan, motivasi, daya tangkap, kecerdasan, dan harapan-harapan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (1) Persepsi guru tentang kinerja konselor terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 2 Bangkalan, (2) Persepsi siswa tentang kinerja konselor terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 2 Bangkalan, (3) Perbedaan persepsi guru dan siswa tentang kinerja konselor terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 2 Bangkalan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 2 Bangkalan. Sampel penelitian ini adalah guru dan siswa kelas XI tahun 2008/2009. Teknik pengambilan sampel guru dan siswa menggunakan Proporsional Random Sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase dan analisis uji-t. Intrumen yang digunakan adalah angket terstruktur. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sedikit (40, 0%) guru yang mempunyai persepsi tentang kinerja konselor, cukup banyak (54, 3%) termasuk dalam kriteria tepat dalam persepsi tentang kinerja konselor, sangat sedikit (5,7%) yang kurang tepat, dan sangat sedikit (0%) yang mempunyai persepsi tentang kinerja konselor tidak tepat. Adapun persepsi siswa tentang kinerja konselor menunjukkan bahwa sangat sedikit (3, 1%) siswa yang mempunyai persepsi tentang kinerja konselor sangat tepat, sangat banyak siswa (87, 7%) tepat dalam persepsi tentang kinerja konselor, sangat sedikit siswa (9, 2%) yang termasuk dalam kriteria kurang tepat dalam persepsi tentang kinerja konselor, yang sangat sedikit (0%) siswa yang mempunyai persepsi tentang kinerja konselor tidak tepat. Hasil analisis menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi yang lebih tepat/lebih unggu/lebih baik mengenai kinerja konselor bila dibandingkan siswa,sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan persepsi guru dan siswa tentang kinerja konselor terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 2 Bangkalan. Konselor diharapkan mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya yang berhubungan dengan tugas-tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling. Selanjutnya konselor hendaknya mengembangkan bimbingan dan konseling terutama dalam kaitannya bekerjasama dengan personil sekolah (guru) dan siswa. Hal itu demi kelancaran program yang telah direncanakan konselor sehingga dengan kerja sama yang baik maka tugas perkembangan akan tercapai dengan optimal. Bagi peneliti lanjutan perlu dilakukan dengan melibatkan variabel-variabel yang lebih banyak dan wilayah penelitian yang lebih luas.

Pengembangan inventori tipe kepribadian dalam bentuk software untuk siswa Sekolah Menengah Atas di Blitar / Agustin Dana Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Agustin Dana. 2009. Pengembangan Inventori Tipe Kepribadian Dalam Bentuk Software Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas Di BLITAR . Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Widada, M.Si, (II) Drs.Hariadi Kusuma Kata kunci: tipe kepribadian, inventori, software Psikologi kepribadian merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang sangat kuat berdasar pada pengalaman kehidupan sehari-hari. Di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang kurang lebih memperoleh pengetahuan tentang manusia atau orang lain. Karena setiap hari kita bergaul dengan banyak orang, dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain. Dengan demikian kita memperoleh pengalaman-pengalaman. Sampai taraf tertentu kita mengenal diri kita sendiri dan mengenal orang lain. Apabila tidak demikian kita tidak mungkin dapat hidup normal. Karena situasi kehidupan minta misal bahwa kita harus mempunyai perasaan terhadap reaksi orang lain. Tetapi kadang kita tidak dapat memahami perasaan dan reaksi orang lain. Hal ini merupakan hal yang spontan yang ada dalam kehidupan keluarga, pergaulan, sekolah dan lain sebaginya. Di dalam kehidupan sehari-hari itu kita tidak hanya memahami orang lain tetapi juga diri kita sendiri. Di dalam setiap tindakan kita tanpa sadar kita selalu memperhitungkan apa yang dapat kita selesaikan, apa yang baik bagi kita dan lain sebagainya. Jadi kita juga mempunyai pengetahuan tentang diri kita sendiri. Pengetahuan tentang manusia yang menyangkut diri kita dan orang lain itu sangatlah membantu kita untuk menyelaraskan dan menyeimbangkan diri kita di dalam berbagai macam situasi. Untuk itu peneliti mengembangkan inventori tipe kerpibadian dalam bentuk software dimana atau dapat dikatakan saat ini belum ada inventori tentang kpribadiaan siswa khususnya siswa SMA maupun yang sederajat. Tipe kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe kepribadian menurut Hippocrates-Gallenus yang dibagi menjadi empat yaitu sanguinis (kepribadian popular), melankholis (kepribadian sempurna) , koleris (kepribadian kuat), phlegmatis (kepribadian damai. Inventori adalah alat pengumpul data yang berisi sejumlah pernyataan-pernyataan yang harus dipilih dan diisi oleh individu sesuai dengan kedaan dirinya (Oppenheim,1966). Sedangkan software adalah sekumpulan dari perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan tertentu untuk memerintah komputer untuk melaksanakan tugas tertentu. Software dapat digolongkan dalam beberapa jenis antara lain: sistem informasi, aplikasi, utilitas dan bahasa (Leman,1998). Software merupakan bagian dari sebuah sistem informasi yang bertujuan untuk menyajikan data/informasi. Tujuan pengembangan dilakukan untuk menghasilkan inventori tipe kepribadian dalam bentuk software bagi siswa Sekolah Menengah Atas yang memiliki validitas dan reabilitas yang baik sehingga dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan bimbingan pribadi sosial. Metode pengembangan inventori tipe kepribadian ini menggunakan model pengembangan yang dikembangkan oleh Borg&Gall (1983). Model ini dinamakan penelitian dan pengembangan (research and development)yang terdiri i dari 10 langkah pengembangan yaitu 1) penelitian dan pengumpulan informasi 2) perencanaan 3) pengembangan 4) uji permulaan yaitu dengan ahli 5) revisi produk utama 6) uji lapangan utama 7) revisi produk operasional 8) uji lapangan operasional 9) revisi produk akhir dan 10) implementasi Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 2 BLITAR.SMA Negeri 2 BLITAR. Populasi yang dijadikan subjek pengembangan adalah siswa SMAN 2 Blitar kelas XI. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kelas XI telah mampu menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan sekolah dan memiliki realisasi yang baik dalam kehidupan disekolahnya. Bagi siswa kelas X tidak dimasukkan populasi sebab kelas X dianggap masih dalam taraf penyesuaian diri pada lingkungan sekolah yang akan mempengaruhi realisasi terhadap eksistensi dirinya. Sedang untuk kelas XII dalam persiapan menghadapi ujian akhir. Pengembangan inventori tipe kepribadian dalam bentuk software yang dikembangkan oleh peneliti ini memiliki manfaat sebagai berikut: Secara teoritis konselor dapat memanfaatkan inventori tipe kepribadian sebagai instrumen pengumpul data untuk mengungkap dan mengetahui karakteristik dari siswa dalam hal ini adalah tipe kepribadian dari siswa. Secara praktis 1) dengan menggunakan software konselor dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerjanya, khususnya dalam melancarkan dan menganalisis tipe kepribadian siswa 2) inventori tipe kerpibadian dapat menjadi salah satu dasar untuk menyusun program layanan pribadi sosial bagi siswa 3) siswa lebih mudah untuk mengetahui tipe kepribadian yang dimiliki dan inventori tipe kepribadian ini dapat membantu siswa memahami dirinya dalam mengembangkan kepribadiannya. Berdasarkan uji validitas dari uji lapangan utama diketahui tingkat signifikasi dari setiap item pernyataan yang ada. Dari 80 item pernyataan yang subyek penelitian sebanyak 62 siswa diperoleh bahwa semuanya valid karena item pernyataan dinyatakan valid apabila p ≤ 0,05 atau r Hitung ≥ r Tabel. Sedangkan reliabilitas dinyatakan dengan koefisien reliabilitas, yang angkanya berada dalam rentang 0 (nol) sampai dengan 0.99. Semakin tinggi koefisien reliabilitasnya mendekati 1,00 maka semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 (nol) berarti semakin rendah reliabilitasnya. Bagi penelitian selanjutnya, khususnya mengenai tipe kepribadian hendaknya menindak lanjuti dengan terus diadakannya pengembangan baik dalam konstruk teoritis, penulisan butir-butir pernyataan, isi butir pernyataan, subyek yang digunakan dan teknik analisisnya sehingga dapat menggambarkan sebagai seperangkat alat ukur psikologis. Dalam pengembangan inventori peneliti perlu lebih memperhatikan mengenai validitas dan reliabilitasnya serta intrumen yang dikembangkan perlu di uji ahlikan berulang kali supaya mendapatkan hasil yang lebih baik dan inventori layak dipakai.

Penerapan teknik painting pada busana pesta berbahan denim / Noviana Wahyu Prasetya

 

Kata kunci : Teknik Painting, Bunga Sakura, Busana Pesta, Denim. Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pengertian busana adalah segala sesuatu yang kita pakai mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Segala sesuatu yang meliputi busana antara lain adalah tatanan rambut, make-up, pakaian, accessories dan millinaries. Fungsi pakaian sesungguhnya pada jaman dahulu adalah sebagai penutup tubuh, terutama di daerah berhawa dingin. Namun seiring perkembangan jaman, tujuan berbusana saat ini menjadi semakin kompleks, yaitu: memenuhi unsur etika dan estetika, menutup aurat bagi kaum muslim, menutupi cacat/kekurangan pada tubuh, menunjukkan identitas seseorang, menunjukkan status sosial ekonomi, serta menjadi gaya hidup (lifestyle) seseorang. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk menggambarkan trend dan keinginan seseorang dalam berbusana saat ini. Busana pesta adalah busana yang dipergunakan untuk menghadiri acara atau jamuan pesta baik yang bersifat formal, semi formal atau non formal. Jika seseorang menerima undangan pesta sebaiknya diperhatikan jenis pestanya, barangkali ada “dresscode” atau jenis busana yang harus dikenakan agar tidak terjadi “saltum” atau salah kostum. Denim adalah tekstil kasar jenis cotton twill (kepar) yang dalam proses penenunannya benang pakan (weft) melewati dua atau tiga lungsi (warp). Denim merupakan jenis bahan yang pada umumnya digunakan untuk busana casual. Namun pada kesempatan ini, penulis mencoba merubah image denim yang pada umumnya digunakan untuk busana casual menjadi denim sebagai bahan pembuatan busana pesta. Untuk menjadikan denim sebagai bahan pembuatan busana pesta, maka diperlukan sesuatu yang membuat busana tersebut terkesan lebih indah dan mewah, seperti penambahan motif dengan teknik painting. Teknik painting atau yang sering disebut sebagai melukis di atas kain adalah teknik membuat motif atau menghias kain dengan cara melukis langsung di atas kain. Perbedaan melukis di atas kain dengan melukis di atas kanvas adalah jika melukis di atas kain cat yang digunakan yaitu cat khusus yang tahan dicuci dan disetrika. Selain penambahan motif dengan teknik painting, mode busana juga mempengaruhi busana tersebut terkesan lebih indah dan mewah. Mode busana yang dibuat oleh penulis merupakan modifikasi kimono, oleh sebab itu penambahan detail berupa motif bunga sakura sangat sesuai dengan mode busana tersebut. Perpaduan antara mode busana dan motif bunga sakura, serta bahan denim yang diwarnai merah menjadikan busana pesta tersebut terkesan unik, mewah, serta exclusive. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang berbusana bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, namun juga mengikuti trend. Seseorang berbusana karena ingin terlihat menarik dan lebih menonjol daripada yang lain terutama pada saat acara-acara khusus seperti pesta, oleh sebab itu busana pesta modifikasi kimono dengan motif bunga sakura dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tersebut di atas.

Penerapan pembelajaran kontekstual model siklus belajar untuk meningkatkan prestasi belajar fisika pokok bahasan getaran dan gelombang pada siswa kelas VIII-F SMP Negeri 2 Doko Blitar tahun ajaran 2010/2011 / Erni Suprihatin

 

Hubungan efikasi diri dan motivasi berprestasi siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang / Qorry Ika Septiningtyas

 

Abstrak : Efikasi diri atau self efficacy penting bagi siswa dalam proses belajarnya karena efikasi diri dapat mempengaruhi tingkah laku belajar yaitu, menentukan seberapa besar usaha yang diberikan seseorang dalam melakukan aktivitasnya, seberapa lama mereka dapat bertahan menghadapi sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Terpacu atau tidaknya anak untuk belajar dan mengerjakan semua tugas didorong oleh kekuatan mental yang berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi yang disebut dengan motivasi untuk berprestasi. Bimbingan dan konseling sebagai bagian dari pelayanan yang ada disekolah, dituntut secara aktif dapat memberikan layanan untuk perkembangan siswa secara optimal. Siswa kelas XI sekolah menengah atas termasuk pada usia remaja. Individu pada usia remaja memiliki efikasi diri yang cenderung menurun dibandingkan dengan ketika masih berusia anak-anak sehingga ada kemungkinan akan mempengaruhi motivasi berprestasinya.

Penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan prestasi belajar PKn pokok nahasan sistem pemerintahan siswa kelas IV SDN Sepanjang 04 Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang / Nurul Qomariyah

 

PKn merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting karena berhubungan dengan sikap atau mental anak dimasa datang. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran PKn harus dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa di SDN Sepanjang 04 Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang belum menerapkan metode pembelajaran bermain peran. Sebagian siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan kelas 80%. Berdasarkan hal tersebut, metode pembelajaran bermain peran sangat tepat digunakan sebagai alternativ dalam proses pembelajaran, karena dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Mendiskripsikan penerapan metode pembelajaran bermain peran dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IV SDN Sepanjang 04; 2) Mendiskripsikan dampak penerapan metode pembelajaran bermain peran terhadap aktivitas dan partisipasi siswa kelas IV SDN Sepanjang 04; 3) Mendiskripsikan peningkatan prestasi belajar PKn pada pokok bahasan sistem pemerintahan melalui metode pembelajaran bermain peran siswa kelas IV SDN Sepanjang 04. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 (dua) siklus, siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai nilai standar minimal 75 dengan ketuntasan belajar kelas 80% dari jumlah subyek penelitian. Subyek penelitian ini adalah guru dan 26 siswa kelas IV SDN Sepanjang 04. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa pedoman wawancara, APKG II, alat penilaian aktivitas belajar siswa, pedoman observasi partisipasi siswa dalam bermain peran, dan post test. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa: 1) Pada pembelajaran PKn siklus I dengan penerapan metode pembelajaran bermain peran, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP mencapai skor 88 dengan prosentase keberhasilan 88%, dan pada siklus II mencapai skor 97 dengan prosentase keberhasilan 97%; 2) Untuk aktivitas belajar siswa secara klasikal pada siklus I mencapai nilai rata-rata kelas 71,53 dan pada siklus II mencapai nilai rata-rata kelas 86,92; 3) Untuk partisipasi siswa dalam bermain peran pada siklus I mencapai nilai rata-rata kelas 78 dan pada siklus II mencapai rata-rata kelas 87 ; 4) Hasil belajar siswa pada waktu pra tindakan (sebelum penerapan metode pembelajaran bermain peran) mencapai rata-rata kelas 69,23 dengan ketuntasan belajar 26,92%, pada siklus I mencapai nilai rata-rata kelas 72,5 dengan ketuntasan belajar 46,15%, sedangkan pada siklus II mencapai nilai rata-rata 87,30. Meskipun terdapat 3 siswa (11,53%) yang tidak mencapai kriteria ketuntasan individu namun ketuntasan belajar kelas sudah tercapai 88,46%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: penerapan metode pembelajaran bermain peran pada siswa kelas IV SDN Sepanjang 04 dilaksanakan dengan langkah-langkah pemilihan pemain peran, pemilihan pengamat, persiapan panggung, pelaksanaan permainan peran, dan diakhiri dengan diskusi kelas. Penerapan metode pembelajaran bermain peran berdampak positif terhadap aktivitas dan partisipasi belajar siswa. Aktivitas belajar siswa pada siklus I mendapat nilai rata-rata kelas 71,53 menjadi 86,92. Partisipasi siswa dalam bermain peran juga mengalami peningkatan dari rata-rata kelas siklus I 78 menjadi 87 pada siklus II. Penerapan metode pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dari pra tindakan mendapat nilai rata-rata kelas 69,23 dengan ketuntasan belajar kelas 26,92% menjadi 72,5 dengan ketuntasan belajar kelas 46,15% pada siklus I. Kemudian mengalami peningkatan yang signifikan lagi pada siklus II menjadi 87,30. Meskipun terdapat 3 siswa (11,53%) yang tidak mencapai kriteria ketuntasan individu namun ketuntasan belajar kelas sudah tercapai yaitu 88,46%. Selanjutnya peneliti menyarankan kepada guru agar dapat menerapkan metode pembelajaran bermain peran pada pembelajaran PKn dengan kompetensi lain ataupun mata pelajaran lain, dengan demikian siswa dapat mengembangkan potensi diri melalui bermain peran. Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan bandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Analisis pemahaman intuitif siswa terhadap pengukuran luas segitiga pada siswa kelas 1, 2 dan 3 SD Negeri I Godean / oleh Yenni Dian Anggraini

 

Perancangan komik tentang informasi ketertiban umum dalam masyarakat / Yon Ade Lose Hermanto

 

ABSTRAK Hermanto, Yon Ade Lose. 2009. Perancangan Komik tentang Informasi Ketertiban Umum dalam Masyarakat. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Muhadjir, (II) Drs. Didiek Rahmanadji. Kata Kunci: perancangan, komik, ketertiban, masyarakat Komik merupakan salah satu media komunikasi visual yang dapat dipakai untuk mempengaruhi pembaca dengan cerita dan ilustrasinya. Komik dengan kekuatan visual dan cerita yang terkandung didalamnya dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang suatu hal. Dalam perancangan ini, komik digunakan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang ketertiban umum, yang berisi pelanggaran-pelanggaran ketertiban yang biasa dilakukan masyarakat. Tujuan perancangan komik ini adalah untuk mengingatkan atau memberikan informasi kepada masyarakat tentang pelanggaran-pelanggaran ketertiban yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Komik ini juga menyertakan konsep identifikasi, informasi, serta persuasi dalam komponen-komponennya. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data berupa beberapa isi dari informasi serta penggunaan konsep-konsep tersebut yang akan diaplikasikan dalam komik. Hasil dari perancangan ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan konsep-konsep tersebut, memungkinkan komikus lebih efektif memberikan informasi ketertiban kepada masyarakat. Perancangan ini merupakan langkah awal dari upaya penulis untuk mengembangkan komik dengan muatan pesan moral untuk pembaca. Berdasarkan perancangan ini, dapat disarankan untuk perancangan selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan komik dan ilustrasi, agar memasukkan suatu informasi positif dan pesan moral dalam karya yang dihasilkan.

Penggunaan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Jabupaten Malang / Endri Kurniadi

 

ABSTRAK Kurniadi, Endri. 2010. Penggunaan Lingkungan Sekitar sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah-Program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi H. Sy., M.Pd., (2) Drs. Ir Endro Wahyuno, M.Si. Kata Kunci: lingkungan sekitar, media pembelajaran, hasil belajar, IPA SD Pembelajaran IPA di kelas IV yang selama ini dilakukan guru merupakan cara pembelajaran yang konvensional. Selama pembelajaran berlangsung guru memegang otoritas penuh, sedanglan siswa hanya pasif saja. Dengan pembelajaran yang seperti itu menyebabkan hasil belajar yang diperoleh siswa rendah. Berdasarkan permasalah tersebut, peneliti merasa perlu mengadakan perbaikan pembelajaran IPA dengan menggunakan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah penggunaan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran di SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang?, (2) apakah penggunaan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk siswa kelas IV SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa?, (3) bagaimana dampak penggunaan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran terhadap aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang?, (4) bagaimana tanggapan guru terhadap penggunaan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran di SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang?, (5) bagaimana tanggapan siswa terhadap penggunaan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran di SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang?. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lingkungan sekitar sebagi media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Rejosari 1 Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Nilai pada pratindakan rata-rata kelasnya adalah 55,71, nilai pada siklus I rata-rata kelasnya adalah 71,43, dan nilai pada siklus II rata-rata kelas adalah 80,71. Ketuntasan belajar secara klasikal pada pratindakan adalah 35,71%, pada siklus I adalah 64,29%, dan pada siklus II adalah 85,71%. Selain hasil belajar, aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I rata-rata kelasnya adalah 60,43 dan pada siklus II adalah 74,00. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kapada guru kelas IV agar menggunakan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran, sehingga dalam pembelajaran IPA siswa aktif belajar. Selain itu dengan menggunakan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran siswa dapat menerapkan pengetahuannya secara langsung, sehingga lebih dekat dengan alam sekitarnya.

Penggunaan KIT IPA untuk meningkatkan hasil belajar pokok bahasan rangkaian listrik siswa kelas VI di SDN Ngenep 03 Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Bedy Rudyansyah Jai

 

ABSTRAK Jai, Bedy Rudyansyah. 2009. Penggunaan KIT IPA untuk meningkatkan Hasil Belajar Pokok Bahasan Rangkaian Listrik Siswa Kelas VI di SDN Ngenep 03 Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Skripsi, Program S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing (1) Dra. Purwendarti, M.Pd., (II) Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata-kata kunci : KIT IPA, Peningkatan Hasil Belajar, IPA, Rangkaian Listrik Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai siswa kelas VI SDN Ngenep 03 pada pokok bahasan “Rangkaian Listrik”. Terbukti dari hasil observasi yang dilakukan peneliti, hasil belajar siswa rendah, ketuntasan belajar belum maksimal dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, perlu adanya inovasi dalam pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan media kita IPA. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsi penggunaan KIT IPA, untuk mendeskripsikan penggunaan KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA, dan untuk mendeskripsikan penggunaan KIT IPA dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA pokok bahasan “Rangkaian Listrik” kelas VI di SDN Ngenep 03 Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Ngenep 03 dengan jumlah siswa 27. Rancangan penelitian ini disusun dalam 5 siklus. Hal ini karena banyaknya materi yang terangkum dalam pokok bahasan “Rangkaian Listrik”. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi, analisis data secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan KIT IPA dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar, siswa lebih antusias dalam belajar, motivasi siswa untuk belajar juga tinggi khususnya pada pokok bahasan “Rangkaian Listrik”. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada guru hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media dalam pembelajaran IPA sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas.

Model pembelajaran kooperatif tipe team games tournamen (TGT) sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matediklat pengetahuan dasar teknik mesin (PDTM) pokok bahasan pengecoran pada siswa kelas 1 mesin produksi (MP) 1 SMK Negeri 6 Malang / A.N Tau

 

Metode pembelajaran kooperatif dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi pembelajaran di SMK. Konsep ini menempatkan guru dan murid sebagai subyek dalam sebuah proses pendidikan, karena pembelajaran kooperatif mampu menyediakan kondisi yang menyebabkan siswa satu dengan yang lainya saling aktif berinteraksi dan berlomba untuk meningkatkan hasil belajar. Metode ini mengedepankan kerja-kerja dalam kelompok, sehingga siswa mampu berso-sialisasi dan berdiskusi dengan baik. Model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) merupakan salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif yang dirancang dengan permainan-permainan tertentu, sehingga siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keter¬libatan belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki lima langkah, yaitu: (1) penyajian kelas, (2) belajar kelompok, (3) permainan (game), (4) per¬tandingan (tournament), dan (5) penghargaan kelompok. Siswa kelas 1 MP 1 SMK Negeri 6 Malang memiliki motivasi dan prestasi yang rendah. Gejala yang menunjukkan rendahnya motivasi belajar pada mata-diklat PDTM, yaitu: (1) tidak semua siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, (2) tidak semua siswa memperhatikan ketika guru sedang menyam-pai¬kan materi pelajaran, bahkan siswa cenderung apatis, sehingga ketertiban kelas menjadi terganggu, (3) jika tidak diberikan sangsi tertentu atau diberi penguatan dalam bentuk menakut-nakuti, siswa akan melakukan kegiatan lain di dalam kelas seperti mengerjakan PR matadiklat lain, tidur ataupun berbicara sendiri. Hal ini dikarenakan kurangnya keterlibatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, sehingga kebanyakan siswa cenderung pasif dan hanya siswa-siswa tertentu saja-deretan kursi terdepan-yang mau dan mampu menjawab pertanyaan. Rendahnya moti¬vasi belajar dan aktivitas siswa tersebut berdampak terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa kurang memuaskan. Masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah (1) apakah model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan motivasi belajar, (2) apakah model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar, (3) bagaimana respon siswa kelas 1 Mesin Produksi (MP) 1 terhadap mo-del pembelajaran kooperatif tipe TGT. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 Mesin Produksi (MP) 1 SMK Negeri 6 Malang. Data motivasi belajar siswa diperoleh dari pengamatan oleh dua orang pengamat berupa lembar penilaian motivasi belajar pada siklus 1 dan 2 yang memuat empat aspek, yaitu: minat, perhatian, konsentrasi, dan kete-kunan. Kemudian dianalisis untuk mengetahui persentase peningkatan motivasi belajar serta diperkuat oleh data pendukung berupa catatan lapangan. Data prestasi belajar meliputi 3 aspek, yaitu: kognitif, afektif, dan psiokomotorik. Data aspek kog¬nitif diperoleh dari tes akhir siklus 1 dan 2. Sedangkan data aspek afektif dan psikomotorik diambil dari lembar penilaian afektif dan psikomotorik siklus 1 dan 2. Skor prestasi dibandingkan antara siklus 1 dan 2 untuk mengetahui peningkatan skor rata-rata prestasi belajar dan ketuntasan belajar secara klasikal. Data respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif TGT diperoleh dari catatan lapangan, wa-wan¬cara, dan angket yang dibagikan diakhir kegiatan pembelajaran. Teknik ana-lisis data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh: (1) pembelajaran kooperatif model Team Game Tournament (TGT) pada matadiklat PDTM pokok bahasan pengecoran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, yaitu pada siklus 1 memiliki persentase se-besar 60,12 % yang berarti baik dan pada siklus 2 memiliki persentase sebesar 69,15 % yang berarti baik. Peningkatan persentase sebesar 9,03 %. (2) pembelajaran kooperatif model Team Game Tournament (TGT) dapat mening-katkan prestasi belajar, yaitu sebelum tindakan skor rata-rata kelas sebesar 46,50 dengan persentase ketuntasan sebesar 0%, pada siklus 1 persentase ketuntasan belajar siswa dilihat dari aspek kognitif adalah 12,50%, aspek afektif 21,88%, dan aspek psikomotorik 71,87%. Pada siklus 2 persentase ketuntasan belajar siswa dilihat dari aspek kognitif sebesar 65,50%, aspek sfektif 56,25%, dan aspek psikomotorik 96,87%. Sedangkan nilai rata-rata siklus 1 dilihat dari aspek kognitif sebesar 51,50, aspek efektif 62,75, dan aspek psikomotorik 73,0. Pada siklus 2 nilai rata-rata dilihat dari aspek kognitif sebesar 75,00, aspek afektif 72,25, dan aspek psikomotorik 87,0. Besar persentase kanaikan ketuntasan belajar siswa aspek kognitif adalah 53,0%, aspek afektif 34,37%, dan aspek psikomotorik 25,0%. Sedangkan kenaikan rata-rata kelas pada aspek kognitif adalah 23,50, aspek afektif 9,50, dan aspek psikomotorik 14,0. (3) Pembelajaran kooperatif TGT dapat memberikan respon yang positif terhadap diri siswa, hal ini dapat dilihat dari angket yang disebarkan dan hasil dari semua pernyataan menyatakan positif. Saran yang diajukan yaitu, (1) disarankan kepada Bapak/Ibu guru untuk menggunakan pembelajaran kooperatif dengan tipe Teams Games Tournament (TGT) yang telah terbukti dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa, (2) kepada SMK Negeri 6 Malang atau sekolah lain disarankan agar menerapkan meode pembelajaran kooperatif tipe TGT di sekolahnya, (3) kepada Pemerin-tah/Dinas Pendidikan disarankan untuk memfasilitasi penelitian-penelitian pendi-di¬kan khususnya dibidang model pembelajaran, (4) kepada Universitas Negeri Ma-lang/kampus yang berlatar belakang pendidikan disarankan membekali maha-siwanya dengan metode pembelajaran kooperatif, baik TGT atau model yang lain sebelum menempuh matakuliah PPL, (5) bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang model pembelajaran kooperatif dengan tipe Teams Games Tournament (TGT) pada matadiklat yang sama atau matadiklat lainnya di tempat yang berbeda.

Penerapan pendekatan inquiri dalam meningkatkan hasil prestasi belajar pada mata pelajaran sains siswa kelas IV SDN Gogodeso 01 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Retno Dwi Budi Cahyanti

 

Hasil prestasi belajar sains di SDN Gogodeso 01 kecamatan Kanigoro kabupaten Blitar berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran pra tindakan masih belum tuntas. Hal ini disebabkan metode pembelajaran guru mayoritas menggunakan metode ceramah dan tidak melibatkan partisipasi siswa. Guna meningkatkan hasil prestasi belajar siswa di SDN Gogodeso 01 tersebut, peneliti menguji cobakan pendekatan inquiri. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inquiri dalam meningkatkan hasil prestasi belajar pada mata pelajaran sains siswa kelas IV SDN Gogodeso 01 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar; (2) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inquiri dalam meningkatkan prestasi hasil belajar siswa kelas IV SDN Gogodeso 01 Kecamatan Kanigoro kabupaten Blitar pada mata pelajaran sains. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)dengan metode pengumpulan datav berupa observasi dan wawancara. Peneliti terlibat secara penuh dalam kegiatan penelitian baik perencanaan, palaksanaan, pengamatan maupun refleksi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan sebanyak 3 siklus , diketahui ketuntasan belajar siswa yang ditunjukkan oleh hasil prestasi siswa (hasil evaluasi). Dengan menerapkan pendekatan inquiri, ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siklus I 42%, siklus II 58% dan siklus III 92%. Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan inquiri dalam pembelajaran sains dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa secara tuntas pada siklus III (92%) sehingga tidak perlu dilakukan kegiatan pembelajaran siklus IV. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru dapat memilih metode dan kreatif dalam mencoba ide baru agar proses pembelajaran berhasil dengan baik dan tidak membosankan misalnya dengan menggunakan pendekatan inquiri agar dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Harapan peneliti, semoga dengan pengalaman peneliti ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan yang terjun di dunia pendidikan.

Identifikasi pengaruh variasi waktu pengelasan dan ketebalan plat terhadap kekuatan geser hasil pengelasan titik pada plat tipis stainless steel 304 / Ngainun Rofiq

 

Salah satu alasan las tahanan titik digunakan oleh sebagian besar dunia industri adalah kemudahan dalam prosedur dan proses pengelasan yang sederhana, tetapi kenyataan dalam praktiknya masih saja terjadi kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan kurang bagusnya kwalitas pengelasan. Hal ini disebabkan belum diketahui ketebalan plat dan waktu yang sesuai untuk mendapatkan hasil pengelasan titik yang optimal, sehingga hasilnya kekuatan geser kurang bagus dan mudah terlepas. Selain itu selama ini belum diketahui secara pasti lama waktu pengelasan yang sesuai pada masing-masing ketebalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruhi variasi waktu pengelasan, dan ketebalan plat terhadap kekuatan geser hasil pengelasan titik pada bahan stainless steel 304. Rancangan penelitian yang dipakai adalah penelitian kuantitatif. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah anova 2 jalan variasi kuat arus yang dipakai adalah 3 detik, 6 detik, dan 8 detik, sedangkan variasi ketebalan yang dipakai adalah 1,2 mm, 1,5 mm, dan 1,7 mm. Dari hasil pengujian plat stainless steel 304 diperoleh bahwa pada plat ketebalan 1,2 mm diperoleh rata-rata kekuatan geser tertinggi pada waktu pengelasan 8 detik sebesar 1340 N/mm2, sedangkan pada ketebalan 1,5 mm terletak pada waktu 6 detik dengan rata-rata kekuatan geser 1280 N/mm2. Sedangkan pada ketebalan1,7 mm terletak pada waktu pengelasan 6 detik dengan rata-rata kekuatan geser sebesar 1446,67 N/mm2. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan: (1) Ada pengaruh yang signifikan antara variasi waktu pengelasan terhadap kekuatan geser plat stainless steel 304. (2) Ada pengaruh yang signifikan antara variasi waktu pengelasan terhadap kekuatan geser plat stainless steel 304.(3) Tidak ada pengaruh yang signifikan antara variasi waktu pengelasan terhadap kekuatan geser plat stainless steel 304. Dalam penggunaan pengelasaan titik plat stainles steel 304 sebaiknya menggunakan plat dengan ketebalan 1,7 dengan waktu pengelasan 6 detik untuk mendapat kekuatan geser yang optimal.

Pengembangan media pembelajaran sejarah berbasis macromedia director MX 2004 pada pokok bahasan candi Hindu-Budha untuk siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang / Ulfatun Nafi'ah

 

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, siswa dituntun untuk bersikap aktif, kreatif dan inovatif dalam menanggapi setiap pelajaran yang diajarkan. Salah satu prinsip pelaksanaan dari KTSP adalah kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Oleh karena itu peranan sekolah sangat penting untuk mengarahkan siswa belajar sesuai dengan kondisi lingkungannya termasuk dalam belajar sejarah, khususnya materi candi Hindu Budha. Salah satu cara untuk menayampaikan materi candi Hindu Budha adalah dengan memanfaatkan sarana dan media yang sudah ada diantaranya dengan metode karyawisata. Akan tetapi, menurut guru sejarah di SMP 10 Malang hambatan yang muncul ketika siswa harus melakukan karyawisata untuk langsung mengunjungi tempat-tempat candi tersebut adalah sulitnya mengkoordinasikan siswa untuk belajar dan membutuhkan alokasi waktu belajar yang cukup banyak. Untuk mengatasi kendala penyampaian materi Hindu Budha agar pembelajaran bisa bermakna dan mencapai kompetensi yang diinginkan adalah dengan menggunakan multimedia yakni Macromedia Director MX. Oleh karena itu dilakukan penelitian pengembangan dengan rumusan masalah 1) bagaimana bentuk pengembangan media pembelajaran sejarah berbasis Macromedia Director MX yang baik dan menarik untuk memermudah suatu metode pembelajaran sejarah pada pokok bahasan Hindu-Budha di kelas VII SMP Negeri 10 Malang, 2) bagaimana proses penerapan media pembelajaran sejarah berbasis Makromedia Director MX pada materi Hindu Budha di kelas VII SMP Negeri 10 Malang, 3) bagaimanakah hasil belajar siswa kelas VII yang mengalami pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran sejarah berbasis Makromedia Director MX pada materi candi Hindu Budha di SMP Negeri 10 Malang. Adapun tujuan pengembangan adalah 1) untuk menghasilkan bentuk pengembangan media pembelajaran sejarah berbasis Macromedia Director MX yang baik dan menarik untuk mempermudah suatu metode pembelajaran sejarah pada materi candi Hindu Budha di kelas VII SMP Negeri 10 Malang, 2) untuk mengetahui proses penerapan media pembelajaran sejarah berbasis Macromedia Director MX pada materi candi Hindu Budha di kelas VII SMP Negeri 10 Malang, 3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas VII yang mengalami pembelajaran dengan pendekatan media pembelajaran sejarah berbasis Macromedia Director MX pada materi candi Hindu Budha di SMP Negeri 10 Malang. ii Pengembangan media pembelajaran sejarah mengikuti tahapan pengembangan 1) analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, 2) analisis tujuan, 3) perumusan materi pembelajaran, 4) penyusunan naskah, 5) penyusunan alat evaluasi, 6) produksi media, 7) tes dan revisi media. Uji coba produk delakukan pada tiga orang subjek yaitu ahli materi, ahli media, dan responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran sejarah berupa angket. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif yang dianalisis dengan prosentase. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis dengan mencari t hitung. Hasil validasi kelayakan pengembangan media pembelajaran secara keseluruhan memiliki rata-rata nilai 90,12% setelah di validasi oleh ahli materi, ahli media dan uji coba kelompok kecil. Hal ini menunjukkan bahwa media yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk membantusiswa dan guru pada proses pembelajaran tanpa direvisi. Produk yang dihasilkan adalah media pembelajaran sejarah ada pokok bahasan candi Hindu Budha yang dikemas dalam CD (Compact Disc). Pengembangan media pembelajaran sejarah berbasis Macromedia Director MX untuk pencapaian Kompetensi Dasar “ Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan emerintahan pada masa Hindu Budha serta peninggalan-peninggalannya”. Dengan alokasi 2x40 menit. Multimedia terdiri dari: (a) bahan penerik perhatian, (b) tujuan pembelajaran, (c)petunjuk penggunaan, (d) penyampaian materi , (e) balikan, dan (f) perangkat evaluasi. Hasil Belajar siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang pada uji coba perorangan dari nilai hitung t adalah 11,10 dan nilai tabel t adalah 4,30 maka dapat dikatakan nilai hitung t lebih besar dari nilai tabel t . Pada uji coba kelompok kecil nilai dari hitung t adalah 11,60 dan nilai tabel t adalah 2,02 maka dapat disimpulkan bahwa nilai hitung t lebih besar dari tabel t . Sedangkan untuk uji terapan nilai hitung t adalah 19,91 dan untuk nilai tabel t adalah 2,02 maka dapat dikatakan nilai hitung t juga lebih besar dari tabel t . Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan uji t dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak karena dari keseluruhan uji coba terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah belajar mandiri dengan menggunakan media pembelajaran sejarah. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan sebelum siswa belajar mandiri dengan menggunakan media pembelajaran sejarah terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan media, agar tidak mengalami hambatan operasional pada saat proses pembelajaran berlangsung. Selain itu guru sejarah hendaknya membuat media pembelajaran pada pokok bahasan lainnya.

Perencanaan media pembelajaran pada pelaksanaan kegiatan apresiasi di SMP Negeri 1 Tulungagung / Efi Hekhmawati

 

ABSTRAK Hekhmawati, Efi. 2008. Perencanaan Media Pembelajaran pada Pelaksanaan Kegiatan Apresiasi di SMP Negeri 1 Tulungagung. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Drs. A.A.G. Rai Arimbawa. Kata Kunci : Perencanaan, Persiapan, Penggunaan, Media Pembelajaran. Dalam pembelajaran dikenal berbagai media yang digunakan sebagai pendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya media, siswa akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar. Seorang guru perlu membuat sebuah perencanaan media. Perencanaan media merupakan keharusan dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Perencanaan media pembelajaran yang tepat tentu mempengaruhi kualitas proses maupun kualitas hasil pembelajaran. Oleh karena itu, guru, yang memiliki peran strategis, dituntut untuk mampu menentukan media pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran dapat berlangsung efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejauhmana guru merencanakan media pada pelaksanaan kegiatan apresiasi, (2) sejauhmana guru melakukan persiapan penggunaan media pada pelaksanaan kegiatan apreasiasi, dan (3) sejauhmana guru menggunakan media dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatifkuantitatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya dengan angket, wawancara, dan observasi. Proses analisis data penelitian ini terdiri atas (1) data dikelompokkan menurut kategorinya, (2) data dianalisis langsung dan dikaitkan dengan data sejenis pada kelompok kategori yang sama, (3) hasil analisis data dideskripsikan, dan (4) data diinterpretasi dan disimpulkan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan (1) semua guru telah membuat perencanaan media dan mencantumkannya dalam silabus dan RPP; (2) kecenderungan guru memilih media sesuai SK dan KD, memilih sesuai dengan karakteristik siswa, memilih sesuai dengan karakteristik pesan, mampu menentukan jenis-jenis media yang akan digunakan, mampu membuat media sendiri (5 orang guru); (3) masing-masing guru menggunakan cara/teknik sendiri dalam menggunakan media pada pelaksanaan kegiatan apresiasi. Kecenderungan teknik yang digunakan guru adalah melaui ceramah, baik disertai dengan mengamati karya/gambar atau mendengarkan lagu, tanya-jawab, tugas, diskusi, atau demonstrasi. Kecenderungan guru menggunakan pendekatan kontekstual / CTL (Contextual Teaching and Learning) (4 dari 5 guru). Bertolak dari temuan penelitian ini disarankan diadakan penelitian lanjutan yang sejenis dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda.

Pengaruh dimensi kualitas pelayanan terhadap kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu / Reisha Zuhriana

 

ABSTRAK Zuhriana, Reisha. 2008. Pengaruh dimensi Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Wisatawan Pasca Berkunjung di Jawa Timur Park Batu. Skripsi, jurusan Manajemen FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi K, M.Si, (II) Titis Shinta Dhewi, S.P,M.M. Kata Kunci: Dimensi Kualitas Pelayanan, Kepuasan Konsumen (Wisatawan) Saat ini industri pariwisata di Indonesia sendiri merupakan sektor kegiatan perekonomian sebagai penghasil devisa terbesar kedua setelah minyak gas (migas). Industri pariwisata merupakan usaha di bidang jasa yang selalu berorientasi pada konsumen (Wisatawan). Jawa Timur Park yang merupakan ikon pariwisata Jawa Timur yang terletak di Kota Batu adalah perusahaan jasa pariwisata yang selalu melakukan inovasi dalam meningkatkan kepuasan wisatawan. Peningkatan kualitas pelayanan tersebut dilakuakn dengan mengoptimalkan dimensi kualitas pelayanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dimensi kualitas pelayanan, mengetahui pengaruh dimensi kualitas pelayanan secara parsial terhadap kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu, mengetahui dimensi kualitas pelayanan secara parsial terhadap kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu, dan mengetahui variabel dimensi kualilas pelayanan yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa timur Park. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya yakni Kualitas Pelayanan (X) yang terdiri dari variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel Kepuasan Wisatawan (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah pengunjung Jawa Timur Park Batu. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 80 responden dengan menggunakan teeknik Purposive Sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel kualitas pelayanan yang terdiri dari Bukti Fisik (X1) sebesar 3,663, Keandalan (X2) sebesar 4,743, Jaminan (X4) sebesar 4,310, dan Empati (X5) sebesar 3,731 secara parsial terhadap kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu, sedangkan variabel Daya Tanggap (X3) sebesar – 1,665 tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu. Terdapat pengaruh antara variabel kualitas pelayanan yang terdiri dari Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) sebesar 19,857 secara simultan terhadap kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu, dan variabel Keandalan (X2) merupakan variabel yang dominan mempengaruhi kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,544, yang berarti bahwa 54% kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu dipengaruhi oleh dimensi kualitas pelayanan. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa dimensi kualitas pelayanan masih efektif digunakan sebagai sumber keberhasilan perusahaan yang dapat mempengaruhi kepuasan wisatawan pasca berkunjung di Jawa Timur Park Batu. Oleh karena itu perlu disarankan adanya peningkatan dan perhatian terhadap faktor-faktor dari Kualitas Pelayanan tersebut misalnya dengan selalu mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan, disamping fakto tersebut pihak jawa timur park juga harus memenuhi komitmennya untuk menyuguhkan 3 wahana baru tiap tahun, serta lebih bijak dalam penetapan harga tiket masuk. Dan untuk faktor keandalan harus menjadi perhatian khusus karena keandalan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kepuasan wisatawan yakni dengan tetap menjaga pelayanan yang baik pada setiap wisatawan.

Penerapan model siklus belajar (Learning Cycle) dengan metode eksperimen pada pokok bahasan benda dan sifatnya untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa kelas IV-B semester I SDN Bareng I Kota Malang / Suci Wijayanti

 

ABSTRAK Wijayanti, Suci. 2009. Penerapan model siklus belajar (learning cycle) dengan metode eksperimen pada pokok bahasan benda dan sifatnya untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa kelas IV-B semester 1 SDN Bareng I Kota Malang. Skripsi, Program Studi S1-PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sukamti, M.Pd (2) Drs. H. Sutarno, M.Pd. Kata kunci: siklus belajar, kerja ilmiah, hasil belajar kognitif. Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam pembentukan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan pendidikan di masa yang akan datang. Kondisi ini menuntut adanya perbaikan sistem pendidikan nasional. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah menyempurnakan kurikulum. Kurikulum yang sedang disempurnakan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengembangkan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan beberapa siswa kelas IV-B SDN Bareng I Kota Malang diketahui bahwa pembelajaran yang diterapkan guru selama ini masih cenderung menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Sedangkan pembelajaran yang mengaktifkan siswa belum banyak digunakan misalnya eksperimen, hal ini karenakan guru khawatir materi yang disampaikan tidak selesai sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Pendekatan siklus belajar juga belum pernah diterapkan di SDN Bareng I Kota Malang. Berdasarkan permasalahan di atas maka dalam penelitian ini digunakan pendekatan siklus belajar dengan metode eksperimen. Metode Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV-B SDN Bareng I Kota Malang yang berjumlah 24 siswa yang terdiri dari 11 putri dan 13 putra. Penelitian dilaksanakan mulai 25 Nopember 2008 sampai 24 Desember 2008. Hasil penelitian setelah diterapkan siklus belajar dengan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA pokok bahasan benda dan sifatnya menunjukkan adanya peningkatan kerja ilmiah siswa dari siklus I dengan rata-rata 67,5% ke siklus II meningkat rata-ratanya menjadi 70%. Sehingga dapat diketahui bahwa ada peningkatan kerja ilmiah sebesar 2,5%. Begitu juga dengan hasil belajar kognitif siswa meningkat dari siklus I dengan rata-rata 71,87 ke siklus II meningkat rata-ratanya menjadi 76,25. Persentase ketuntasan kelas pada siklus I adalah 71%, dan pada siklus II meningkat menjadi 93%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan agar di dalam pembelajaran IPA khususnya menerapkan siklus belajar dengan metode aksperimen untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa.

Pilihan program studi di Perguruan Tinggi berdasarkan jurusan di SMA Negeri 1 Turen / Yuni Setyo Utami

 

Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan salah satu jenjang pendidikan menengah yang ditempuh anak Indonesia dalam pendidikan formal. Sasaran pendidikan sekolah menengah adalah menyiapkan lulusan untuk memasuki pendidikan lanjutan. Tahun 2006 sekitar 14 % anak usia 19-24 tahun melanjutkan ke pendidikan tinggi. Pemilihan program studi di pendidikan tinggi kadang tidak berdasar pada jurusan di SMA. Hal itu dibuktikan dari banyaknya mahasiswa di perguruan tinggi yang mengambil program studi tertentu tidak sesuai dengan urusan mereka pada saat duduk di bangku SMA. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan pilihan program studi di perguruan tinggi berdasarkan jurusan. Rancangan penelitian yang digunakan deskriptif survey. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 1 Turen tahun ajaran 2008/2009 yang merencanakan melanjutkan studi setelah lulus. Teknik pengambilan sampel adalah cluster sampling dengan sistem acak atau random, dimana penarikan sampel dilakukan dengan membagi populasi atas kelompok berdasarkan area atau cluster, yaitu IPA, IPS, dan Bahasa, sehingga total sampel sebesar 123 siswa. Pengambilan data dengan cara studi dokumentasi, wawancara, dan angket. Analisis data dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sangat banyak (90,4 %) siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen yang memilih program studi di perguruan tinggi sesuai dengan jurusan, sangat banyak (83,3 %) siswa kelas XI IPS SMAN 1 Turen yang memilih program studi di perguruan tinggi sesuai dengan jurusan, dan sangat banyak (93,1 %) siswa kelas XI Bahasa SMAN 1 Turen yang memilih program studi di perguruan tinggi sesuai dengan jurusan. Berdasarkan penemuan di atas, saran ditujukan kepada pihak sekolah untuk mengarahkan dan mempersiapkan siswa dalam memilih program studi yang diinginkan dan sesuai dengan kemampuan, bakat, minat serta prospek ke masa depan. Konselor disarankan menyusun program bimbingan khususnya bimbingan karir yang akan diberikan kepada siswa sesuai kebutuhan mereka yaitu terkait dengan program studi di perguruan tinggi. Misalnya: memberikan informasi karir sedini mungkin dan selengkap mungkin walaupun mereka masih kelas XI, sebab hal itu berguna sebagai ancangan dalam merencanakan program studi yang akan diambil setelah lulus nanti. Pemberian informasi tersebut dapat dilakukan bersama-sama dengan pihak-pihak lain dalam sekolah. Diharapkan peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian serupa akan dapat mengembangkan instrumen yang sesuai dengan perkembangan program studi yang akan datang dan lokasi penelitiannya bisa lebih luas lagi, yaitu dalam suatu lingkup tertentu misalnya: se-Kecamatan, se-Kabupaten/Kota, dan lain-lain.

Persepsi siswa SMA Negeri 3 Malang terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan tahun ajaran 2008/2009 / Sutiono

 

Dalam pembelajaran di sekolah, terdapat tiga subkomponen pendidikan yang memiliki peranan besar yaitu guru, siswa, dan kurikulum. Guru merupakan subkomponen penting dalam pembelajaran karena perannya sebagai mediator dalam pembelajaran. Guru sebagai mediator memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Sehingga semua guru tanpa terkecuali guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dituntut agar bisa mengerti dan memahami harapan siswa terhadap dirinya dan pembelajaran. Dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seorang guru di tuntut untuk lebih dekat dengan siswa dan memahami apa yang menjadi harapan siswa terhadap dirinya dan pelajaran yang dibimbingnya. Seorang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan harus senantiasa berusaha mengumpulkan persepsi siswanya mengenai profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan agar mengetahui bagaimana seharusnya guru tersebut. Dengan demikian sangat menarik untuk dikaji dan perlu diadakan suatu penelitian mengenai persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan berkenaan dengan aspek fisik, moral, hubungan sosial, kemampuan olahraga, dan pengetahuan kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrumen angket semi terbuka yang telah dijustifikasi oleh 4 orang ahli dan memenuhi syarat validita dan reliabilita instrumen penelitian yang baik dalam pengumpulan data. Sedangkan subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMA Negeri 3 Malang berjumlah 216 orang siswa terdiri dari 71 orang siswa kelas X, 69 orang siswa kelas XI, dan 76 orang siswa kelas XII yang diambil sebesar 25% dari jumlah keseluruhan siswa yang ada dengan menggunakan teknik stratified purposive propotional systematic random sampling. Setelah dilakukan pengambilan data dan menganalisis data yang terkumpul, diperoleh suatu kesimpulan tentang persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan sebagai berikut: 1) persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan berkenaan dengan aspek fisik adalah berbadan ideal, aktif bergerak waktu pembelajaran, berpenampilan rapi, serta mampu menyesuaikan suaranya, 2) persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan berkenaan dengan aspek moral adalah tepat waktu, memberikan penilaian dan hukuman secara adil (obyektif), menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan kurikulum, dan mengawasi semua siswanya selama pembelajaran berlangsung, 3) persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan berkenaan dengan aspek hubungan sosial adalah dekat dengan semua siswa, dan berusaha memahami masalah yang dihadapi siswa, 4) persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan berkenaan dengan aspek kemampuan olahraga adalah mengerti, memahami, dan menguasai semua teknik permainan dalam olahraga, senantiasa mampu menjelaskan dan memberikan contoh berbagai keterampilan atletik kepada siswa, senantiasa mampu menjelaskan dan memberikan contoh berbagai keterampilan yang ada pada olahraga beregu kepada siswa, dan mampu menjelaskan dan memberikan contoh berbagai keterampilan yang ada pada olahraga perorangan kepada siswa, dan 5) persepsi siswa terhadap profil guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan berkenaan dengan aspek pengetahuan kesehatan adalah mengetahui dan mampu memberikan pertolongan pertama pada siswa yang mengalami kecelakaan pada waktu pembelajaran dengan cepat dan tepat, senantiasa menganjurkan dan menjalani pola hidup sehat dan senantiasa mengajarkan dan mengajak siswa untuk menjaga lingkungan dengan baik.

Studi eksplorasi tentang faktor-faktor budaya akademik mahasiswa Universitas Negeri Malang / Neni Sugiharti

 

ABSTRAK Sugiharti, Neni. 2008. Studi Eksplorasi Tentang Faktor-faktor Budaya Akademik Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M. Pd, (II) Drs. Bambang Setyadin, M. Pd. Kata kunci: faktor-faktor budaya akademik mahasiswa. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat atau biasa disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi melibatkan semua unsur civitas academica yang terdiri atas mahasiswa, dosen, staf, dan wali amanah yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. Mahasiswa sebagai salah satu unsur civitas academica memiliki hak untuk menerima pendidikan, pengajaran, dan pelayanan akademik dalam rangka pengembangan diri, namun dalam rangka pengembangan diri mahasiswa tidak hanya cukup memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap mental yang baik. Oleh karena itu, mahasiswa dipandang perlu menjunjung tinggi nilai-nilai yang tertanam dan telah membudaya di perguruan tinggi, bahkan tidak hanya mahasiswa saja tetapi setiap orang yang melibatkan diri dalam aktivitas akademik harus menjunjung nilai-nilai ini. Nilai-nilai yang tertanam di lingkungan perguruan tinggi tersebut merupakan budaya akademik. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: (1) faktor-faktor apa sajakah yang disebut sebagai budaya akademik mahasiswa universitas negeri malang (UM), (2) di antara faktor-faktor itu, faktor apakah yang paling dominan pada budaya akademik mahasiswa UM. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk: (1) menemukan faktor-faktor budaya akademik mahasiswa UM, (2) mengetahui faktor yang paling dominan pada budaya akademik mahasiswa UM. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode analisis faktor eksploratori. Metode ini dirancang untuk menemukan faktor-faktor yang disebut sebagai budaya akademik mahasiswa UM. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa UM sampai dengan semester gasal 2008/2009, kecuali mahasiswa angkatan 2008; (karena mahasiswa angkatan 2008 ini masih baru mengikuti kegiatan akademik sehingga belum bisa diukur budaya akademiknya) yang berjumlah 14.626 orang. Sampel penelitian berjumlah 411 orang yang diambil dengan teknik systematic & proportional random sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang berisi 123 butir pernyataan yang memiliki reliabilitas sebesar 0,978. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis faktor eksploratori dan analisis deskriptif menggunakan program komputer Statistical Product and Special Services (SPSS) for Windows Version 14.00. Hasil penelitian ini menunjukkan pembentukan faktor-faktor baru dari hasil analisis faktor. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) lingkungan kondusif, (2) interaksi edukatif , (3) perilaku perfectionist, (4) fokus atensi, (5) rasa memiliki lingkungan, (6) bebas dari tindak kriminal, (7) komunikasi terbuka, (8) transformasi saintifik, (9) penonjolan identitas, (10) aktualisasi diri, (11) pengendalian diri, (12) sistem meritokrasi, (13) disiplin waktu, (14) toleransi, (15) kemandirian, (16) kepedulian terhadap sarana pembelajaran, (17) kejujuran, (18) partisipasi terhadap aktivitas ilmiah, (19) tradisi riset, (20) keakraban, (21) rutinitas belajar, (22) berpacu dalam karya ilmiah, (23) pelayanan kesejahteraan, (24) berlatih mengemukakan argumentasi, (25) kepatuhan aturan, (26) integritas moral saintifik, (27) konsistensi pada kebenaran objektif, (28) solidaritas religius, (29) percaya diri, (30) setia pada keyakinan, (31) penghargaan atas hasil karya, dan (32) menjaga kesopanan. Berangkat dari hasil penelitian ini, penulis mengemukakan saran yakni: (1) bagi pimpinan UM, hendaknya pimpinan UM dengan memperhatikan hasil penelitian ini dapat memperbaiki kebijakan-kebijakan yang mengarah kepada peningkatan budaya akademik yang sudah ada serta terus berbenah untuk meningkatkan kualitas seluruh civitas academica dan mendorong civitas academicanya untuk menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi sesuai dengan kebenaran ilmiah, (2) bagi mahasiswa UM, hasil penelitian ini hendaknya bisa menjadi cerminan bagi mahasiswa UM untuk berperan serta secara aktif dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan mengembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demi terciptanya keragaman budaya akademik di lingkungan UM, (3) bagi pimpinan Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya melakukan kajian ulang tentang budaya akademik mahasiswa sehingga bisa mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki, (4) bagi peneliti lain, hendaknya melakukan kajian ulang terhadap hasil penelitian dengan cara menguji kebenaran hasil penelitian ini. Apabila ternyata budaya tersebut benar-benar merupakan budaya akademik mahasiswa UM, maka dapat dikembangkan penelitian berikutnya sehingga menghasilkan temuan-temuan baru.

Perbedaan keterampilan asertif siswa kelas reguler dengan siswa kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Malang / Amri Aminudin

 

ABSTRAK Aminudin, Amri. 2008. Perbedaan Ketrampilan Asertif antara Siswa Kelas Reguler dengan Siswa Kelas Akselerasi di SMP Negeri 3 Malang. Skripsi, Program Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Widada, M.Si. (II) Drs. H. Imam Hambali, M.Pd. Kata Kunci : Ketrampilan Asertif, Reguler, Akselerasi Pada masa peralihan, remaja mempunyai kesempatan untuk mencoba cara berperilaku yang baru. Perilaku tertentu yang memungkinkan remaja dapat diterima oleh kelompoknya. Kemampuan berkomunikasi secara terbuka sangat dibutuhkan untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur pada orang lain. Perilaku asertif dapat ditandai dengan adanya kemampuan berkomunikasi yang terbuka, jujur dan sebagaimana mestinya terhadap orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (a) tingkat ketrampilan asertif siswa kelas reguler; (b) tingkat ketrampilan asertif siswa kelas akselerasi; dan menjelaskan perbedaan ketrampilan asertif antara siswa kelas reguler dengan siswa kelas akselerasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan populasi siswa kelas reguler dan siswa kelas akselerasi tahun pelajaran 2007/2008. Dalam pengambilan sampel digunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan angket. Analisis hasil penelitian menggunakan persentase dan uji-t. Hasil penelitian siswa kelas akselerasi yang ketrampilan asertifnya tinggi sebesar 93.2 % dan ketrampilan asertif sedang 6.8 %. Siswa kelas reguler yang memiliki ketrampilan asertifnya tinggi sebesar 86.3 %, dan ketrampilan asertif sedang 13.8 %. Hasil analisis komparatif menunjukkan ada perbedaan ketrampilan asertif antara siswa kelas reguler dengan siswa kelas akselerasi (p = 0.008 < 0,05). Ketrampilan asertif siswa kelas akselerasi lebih tinggi daripada siswa kelas reguler (mean = 5,848). Saran bagi siswa berlatih mengungkapkan perasaan-perasaan dan mempertahankan hak-haknya akan membuat siswa lebih bisa menghargai dirinya dan orang lain. Bagi konselor untuk memberikan layanan informasi sekaligus melatihkan mengenai berperilaku secara asertif kepada siswa. Bagi orang tua, orang tua menjadi model perilaku bagi anak dengan begitu anak akan berperilaku secara asertif. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menggunakan populasi yang lebih luas, atau mungkin memberikan suatu pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan asertif siswa.

Penanaman konsep keliling persegi panjang melalui pendekatan realistic mathematic education pada siswa kelas III di SDN Darungan 01 Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar / Siti Fatimah

 

Berdasarkan hasil diskusi dengan guru sebelum melaksanakan penelitian ini, siswa sering melakukan kesalahan konsep mencari keliling persegi panjang, misalnya dengan mengalikan panjang sisi – sisi persegi panjang. Berdasarkan hal – hal diatas, peneliti berusaha menemukan segala sesuatu yang melatar belakangi, beserta pemecahannya khususnya pada materi keliling persegi panjang dengan menggunakan pendekatan realistic mathematic education. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui (1)gambaran tentang pemahaman konsep keliling persegi panjang pada siswa kelas III SDN Darungan 01 melalui pendekatan realistic mathematic education , (2)Mengetahui gambaran tentang hasil belajar siswa kelas III SDN Darungan 01 pada penanaman konsep keliling persegi panjang melalui pendekatan realistic mathematic education. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, dengan memberikan pengalaman belajar yang mencerminkan pembelajaran realistic matematika, yaitu pemanfaatan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari – hari. Untuk melaksanakan tindakan ini disusunlah rencana tindakan melalui 2 siklus Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat antara lain: (1) untuk dapat dijadikan bahan masukkan dalam mempelajari konsep keliling persegi panjang pada khususnya, (2) dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan dalam menentukan kebijakan untuk perencanaan penyelenggaraan pendidikan, (3) sebagai langkah lanjut untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika yang berorientasi pada RME untuk pokok bahasan keliling persegi panjang siswa kelas III SD melalui kegiatan: 1) mengelilingi halaman sekolah dengan berjalan kaki, 2) menghitung keliling benda yang ada disekitar, 3) menghitung keliling triplek dengan ukuran yang berbeda – beda, 4) menggambar dan membuat persegi panjang Data dalam penelitian diambil dari hasil evaluasi pada tiap akhir siklus pembelajaran, sedangkan data tersebut dalam bentuk angka – angka yang disajikan dalam tabel. Dengan demikian untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam pembelajaran keliling persegi panjang dapat dilihat dari pencapaian nilai dan ketuntasan siswa pada tiap – tiap siklus. Untuk siklus I dengan jumlah 24 siswa, diperoleh siswa yang tuntas belajar 15 siswa dengan prosentase 62,5%. Pada siklus ke II dengan jumlah 24 siswa, diperoleh siswa yang tuntas belajar 20 siswa dengan prosentase 83,3%. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar dapat diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan telah berhasil.

Pengaruh kepimpinan transformasional terhadap organization citizenship behavior (OCB) melalui kepuasan kerja dan komitmen organisasi (Studi pada karyawan Jawa Timur Park, Batu) / Dwi Arie Setiawan

 

Peningkatan efektivitas, efisiensi, dan kreatifitas suatu organisasi sangat bergantung pada kesediaan para karyawan untuk berkontribusi secara positif dalam menyikapi perubahan. Perilaku untuk bersedia memberikan kontribusi positif pekerja ini diharapkan tidak hanya terbatas dalam kewajiban kerja secara formal, melainkan idealnya lebih dari kewajiban formalnya. Perilaku dalam bentuk kerelaan untuk memberikan kontribusi yang lebih dari kewajiban formal ini biasa disebut sebagai organizational citizenship behaviors atau disingkat OCB. Beberapa penelitian dalam bidang organisasi menemukan bahwa beberapa faktor terpenting dalam membentuk organizational citizenship behavior adalah kepemimpinan dalam organisasi, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memaparkan: (1) Pengaruh secara langsung kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja pada karyawan Jawa Timur Park. (2) Pengaruh secara langsung kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. (3) Pengaruh secara langsung kepuasan kerja karyawan terhadap komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. (4) Pengaruh secara langsung kepemimpinan transformasional terhadap OCB pada karyawan Jawa Timur Park. (5) Pengaruh secara langsung kepuasan kerja karyawan terhadap OCB pada karyawan Jawa Timur Park. (6) Pengaruh secara langsung komitmen organisasi terhadap OCB pada karyawan Jawa Timur Park. (7) Pengaruh secara tidak langsung kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja pada karyawan Jawa Timur Park. (8) Pengaruh secara tidak langsung kepuasan kerja terhadap OCB melalui komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. (9) Pengaruh secara tidak langsung kepemimpinan transformasional terhadap OCB melalui kepuasan kerja dan komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory (penjelasan), sedangkan berdasarkan tingkat penjelasannya, penelitian yang digunakan adalah penelitian assosiatif. Bentuk hubungan antar variabel dalam penelitian ini adalah hubungan kausal. Populasi penelitian adalah seluruh karyawan Jawa Timur Park. Penelitian ini menggunakan teknik random sampling, dimana sampel diambil secara acak dengan jumlah sampel sebanyak 67 dari 202 karyawan yang ada di Jawa Timur Park. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Berdasarkan hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan antara lain: (1) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan kepuasan kerja pada karyawan Jawa Timur Park. (2) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. (3) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. (4) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan tidak signifikan kepemimpinan transformasional terhadap OCB pada karyawan Jawa Timur Park. (5) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan tidak signifikan kepuasan kerja terhadap OCB pada karyawan Jawa Timur Park. (6) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan komitmen organisasi terhadap OCB pada karyawan Jawa Timur Park. (7) Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang positif dan signifikan kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasi yang ditengahi oleh kepuasan kerja pada karyawan Jawa Timur Park. (8) Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang positif dan signifikan kepuasan kerja terhadap OCB yang ditengahi oleh komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. (9) Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang positif dan signifikan kepemimpinan transformasional terhadap OCB yang ditengahi oleh kepuasan kerja dan komitmen organisasi pada karyawan Jawa Timur Park. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada manajer di Jawa Timur Park: (1) Manajer Jawa Timur Park perlu melakukan evaluasi atas gaya kepemimpinan yang berjalan selama ini, dan perlu mempertimbangkan reorientasi gaya kepemimpinan yang mengarah pada gaya kepemimpinan transformasional. (2) Untuk peningkatan OCB di Jawa Timur Park, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Melalui sosialisasi visi, misi, tujuan dan nilai-nilai yang ada di Jawa Timur Park kepada seluruh karyawan melalui rapat pertemuan secara berkesinambungan, (b) Peningkatan tingkat kepuasan kerja melalui pengembangan kemampuan pengawasan, peningkatan hubungan karyawan, promosi bagi yang berprestasi, dan peningkatan kesejahtraan melalui pemberian insentif atau tunjangan, memberikan pekerjaan yang menantang kepada karyawan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan, (c) Peningkatan komitmen organisasi karyawan berupa rasa memiliki, kebersamaan dan loyalitas karyawan melaui pertemuan formal maupun informal secara berkesinambungan dengan memperhatikan ketiga konsep yaitu affective, normative dan continuance commitment.

Peningkatan pemahaman konsep operasi hitung bilangan bulat melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) pada siswa kelas V SDN Tumpakkepuh 02 Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar / Fitri Luthfiyati

 

ABSTRAK Luthfiyati, Fitri. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Operasi Hitung Bilangan Bulat Melalui Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) Pada Siswa Kelas V SDN Tumpakkepuh 02 Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Zainuddin, M.Pd, (II) Drs. Imam Hanafi, M. M Kata Kunci: CTL, Pembelajaran, Matematika Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) merupakan pendekatan yang mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata yang dihadapi siswa. Dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, dibuat suasana yang menarik, strategi belajar yang menyenangkan, maupun materi yang tidak terlalu sulit, tetapi menantang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pemahaman siswa tentang konsep operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas V SDN Tumpakkepuh 02 Tahun Ajaran 2008/2009, (2) mendeskripsikan penggunaan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dalam pembelajaran konsep operasi hitung pada siswa kelas V SDN Tumpakkepuh 02., (3) mendeskripsikan peningkatan pembelajaran konsep operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas V SDN Tumpakkepuh 02 setelah menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL). Penelitian ini dilakukan di SDN Tumpakkepuh 02 Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar, tanggal 13 Oktober sampai 18 Agustus 2008. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada model spiral dari Kemmis dan Taggart, 1988, yaitu terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus yang dilakukan dalam penelitian ini sebanyak 2 siklus, tiap siklus dua kali pertemuan. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dapat mengatasi masalah siswa dalam memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal ini dapat diketahui dari hasil belajar dan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran pada setiap siklus mengalami peningkatan. Pada siklus I dengan dua kali pertemuan hasil ketuntasan belajar siswa adalah 46,15%. Sedangkan pada siklus II dengan dua kali pertemuan hasil ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 76,92%. Selain menggunakan pendekatan CTL, dalam pembelajaran operasi hitung bilangan bulat ini, juga menggunakan permainan untuk menarik perhatian siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada para guru bahwa peranan guru dalam meningkatkan konsep operasi hitung bilangan bulat sangat besar. Oleh karena itu guru seyogyanya menyajikan bahan pelajaran yang menarik perhatian berupa pemecahan masalah, sehingga siswa tidak merasa bosan. Selain itu, agar siswa mempunyai kesenangan dan kegemaran dalam belajar matematika, hendaknya guru dapat menciptakan situasi yang menunjang kegiatan belajar mengajar, yaitu dengan menggunakan berbagai metode, menggunakan media, dan membuat suasana yang bisa menarik perhatian siswa untuk mengikuti pembelajaran.

Meningkatkan kemampuan menulis dengan model pembelajaran cooperative integrated reading compotition (CIRC pada siswa kelas 3 SDN Banaran 1 Kota Kediri / Ashlihatun Nikmah

 

ABSTRAK Nikmah, Ashlihatun. 2008. Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) pada Siswa Kelas 3 SDN Banaran 1 Kediri. Skripsi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Dr. H. Alif Mudiono, M. Pd, Dra. Sri Nuryati, M. Pd Kata kunci: menulis, pembelajaran, model, kooperatif. Masalah yang dihadapi oleh guru adalah tingkat keterampilan menulis karangan siswa kelas 3 di SDN Banaran 1 masih sangat rendah. Pada umumnya siswa tidak dapat membuat kalimat yang baik dan sesuai dengan soal yang dimaksud, sehingga kalimat yang dibuat oleh siswa tidak sesuai dan melenceng dengan apa yang diinginkan oleh soal. Misalnya ada gambar mengenai kerusakan lingkungan, seharusnya siswa menuliskan tentang keadaan yang ada pada gambar, akan tetapi kalimat yang dituliskan oleh siswa masih belum sesuai dengan gambar dan tidak sesuai dengan pola kalimat yang baik dan benar. Masalah yang diteliti antara lain, Bagaimanakah upaya meningkatkan kemampuan menulis melalui model pembelajaran Cooperative Integrated Read-ing and Composition (CIRC) di kelas 3 SDN Banaran 1 Kota Kediri? Apakah dengan model CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifi-kasi topi dan mengorganisasikannya dalam kelompok kerja?Apakah dengan model CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat rencana kerja kelompok dengan baik?Apakah dengan model CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam melaksanakan pembelajaran?Apakah dengan model CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempersiapkan laporan akhir? Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas 3 SDN Banaran 1 Kota Kediri, mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi topik dan mengorganisasikannya dalam kelompok kerja melalui model pembelajaran CIRC, mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa membuat rencana kerja kelompok dengan baik melalui model pembelajaran CIRC, mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalam melaksanakan pembelajaran melalui model pembelajaran CIRC, dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalam mempersiapkan laporan akhir melalui model pembelajaran CIRC. Penelitian dilakasanakan di SDN Banaran 1 Kota Kediri, dengan mengambil sampel siswa kelas 3.Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan maksud agar mendapatkan data yang valid, maka peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut, membuat alat penelitian untuk mengevaluasi hasil belajar siswa kelas 3 SDN Banaran 1 Kota Kediri, melaksanakan evaluasi sebanyak dua kali untuk aspek menulis, mengumpulkan hasil pekerjaan dari siswa untuk memperoleh data kualitatif dan daya serap siswa. Data yang diperoleh setelah penelitian dilaksanakan antara lain: siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran CIRC melalui beberapa tahap, yaitu mengidentifikasi topik dan mengorganisasikannya dalam kelompok, membuat rencana kerja kelompok, melaksanakan pembelajaran, dan yang terakhir mempersiapkan laporan akhir. Tahap-tahap pembelajaran tersebut dilaksanakan pada kegiatan pra tindakan, siklus I dan siklus II. Pada kegiatan pra tindakan, ketuntasan siswa hanya 53,25%, masih jauh dari ketuntasan yang dikehendaki yaitu 85%. Kemudian pada siklus I sudah mengalami peningkatan yaitu mencapai 83,33%, namun juga masih belum mencapai ketuntasan yang dikehendaki. Ketuntasan 90,63% sudah tercapai pada kegiatan siklus II. Pada siklus II, ketuntasan yang dikehendaki sudah tercapai, dan siswa sudah memiliki keterampilan menulis sesuai dengan tahap pembelajaran pada model pembealajaran CIRC yang telah dilaksanakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC, siswa yang awalnya tidak terampil menulis karangan sesuai dengan ejaan yang baik dan benar, menjadi terampil dalam menulis karangan sesuai dengan ejaan yang baik dan benar. Karanga yang ditulis siswa sudah runtut sesuai dengan alur cerita yang diinginkan oleh soal. Dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) siklus I dan II memiliki dampak positif pada ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar tersebut menunjukkan tingkat/persentase pemahaman siswa terhadap isi bacaan. Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang dilakukan selama 2 siklus, maka dapat diketahui perbandingan nilai hasil karangan siswa yang menunjukkan ketuntasan belajar siswa secara klasikal Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar dalam meningkatkan keterampilan menulis karangan, guru hendaknya menyajikan kegiatan pembelajaran yang kooperatif dan menyenangkan sehingga tidak membosankan bagi siswa. Guru hendaknya menentukan tujuan pembelajaran menulis yang diinginkan secara jelas agar kompetensi dasar minimal yang ditargetkan pada kurikulum dapat tercapai dan dapat mengembangkan potensi-potensi keterampilan berbahasa yang lain.

Analisis kinerja keuangan PT. Bank Mandiri (Persero) TBK sebelum dan sesudah melakukan penawaran umum perdana di bursa efek Indonesia periode 1999-2007 / Nina Laely

 

ABSTRAK Laely, Nina. 2008. Analisis Kinerja Keuangan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Sebelum dan Sesudah Melajukan Penawaran Umum Perdana di Bursa Efek Indonesia Periode 1999-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. H. Agung Winarno MM, (II) Drs. Mugianto SE, MSi Kata kunci: Kinerja Keuangan, Analisis CAMELS, Penawaran Umum Perdana Penawaran umum perdana merupakan strategi privatisasi BUMN dengan cara menjual sebagian saham yang dikuasai pemerintah kepada investor publik untuk yang pertama kalinya. Disamping sebagai sumber dana, privatisasi juga diharapkan dapat meningkatkan kinerja Badan Usaha Milik Negara sehingga dapat bersaing di pasar global dan dapat menghasilkan keuntungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penjualan saham di pasar modal. Ukuran kinerja perusahaan merujuk pada rasio dan indeks yang menunjukkan hubungan data keuangan. Kinerja bank didasarkan pada lima indikator yang dikenal dengan istilah CAMEL yaitu, Capital Adequacy (Permodalan), Assets Quality (Kualitas Aktiva Produktif), Management, Earning Ability (Rentabilitas) dan Liquidity (Likuiditas). Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk sebelum dan sesudah penawaran umum perdana ditinjau dari aspek permodalan, kualitas aktiva produktif, rentabilitas dan likuiditas, dan 2) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kinerja keuangan pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk sebelum dan sesudah penawaran umum perdana pada aspek permodalan, kualitas aktiva produktif, rentabilitas dan likuiditas. Jenis penelitian ini yaitu penelitian expose facto atau penelitian yang mengungkapkan keadaan berdasarkan fakta yang sesungguhnya terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dimana kinerja keuangan yang diteliti adalah kinerja keuangan dari PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. periode tahun 1999 sampai dengan tahun 2007 (4 tahun sebelum dan 4 tahun sesudah). Data yang digunakan adalah data laporan keuangan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Analisis data menggunakan metode analisis rasio keuangan yang dilanjutkan dengan pengujian statistik uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengukur perbedaan kinerja bank sebelum dan sesudah penawaran umum perdana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari analisis Capital Ratio, secara umum setelah melakukan penawran umum perdana kemampuan permodalan perusahaan menjadi lebih kuat dan dapat digunakan untuk menutupi kerugian yang terjadi termasuk dalam hal pemenuhan kewajiban yang telah jatuh tempo. Asset Ratio berdasarkan KAP(1) secara umum mengalami peningkatan tiap tahunnya. Sedangkan kinerja keuangan berdasarkan KAP(2) mengalami penurunan dan NPL mengalami peningkatan. Earning Ratio berdasarkan ROA mengalami peningkatan kinerja, sedangkan ditinjau dari BOPO mengalami penurunan. Liquidity Ratio berdasarkan LDR mengalami penurunan kinerja meskipun ii nilainya sudah memenuhi standar yang ditetapkan yaitu dibawah 100%. Hasil pengujian hipotesis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja bank sebelum dan sesudah penawaran umum perdana. Meskipun kinerja PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk sesudah penawaran umum perdana tidak menunjukkan adanya perbedaan, tetapi dana hasil penjualan saham perdana yang diperoleh dipergunakan untuk memperbaiki kualitas aktiva produktif dan sebagian dipergunakan untuk pelunasan kewajiban bank yang telah jatuh tempo. Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan untuk penelitian selanjutnya dengan menggunakan rasio CAMELS sebaiknya melibatkan faktor manajemen dan sensitivitas terhadap resiko pasar agar diperoleh hasil analisis yang lebih relevan dan komprehensif. Untuk penelitian yang sama dimasa yang akan datang diharapkan dapat lebih teliti lagi dalam mengukur masing-masing nilai rasio dari variabel CAMELS dengan menggunakan format laporan keuangan yang telah dikeluarkan perusahaan yang bersangkutan.

Peningkatan pemahaman konsep perkalian melalui pemanfaatan benda-benda di lingkungan sekitar pada siswa kelas 3 di SDN Slumbung 02 / Endah Ernawati

 

ABSTRAK Ernawati, Endah. 2008. Peningkatkan Pemahaman Konsep Perkalian Melalui Pemanfaatan Benda-Benda Di Lingkungan Sekitar Pada Siswa Kelas 3 Di SDN Slumbung 02. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. HM. Zainuddin, M. Pd, (II) Drs. Sunyoto, S. Pd, M. Si. Kata kunci: konsep perkalian, pemanfaatan, benda, lingkungan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan benda-benda di lingkungan sekitar dalam pembelajaran, selain itu untuk mengetahui pemahaman konsep perkalian dan hasil belajar siswa dengn menggunakan media benda nyata. Media merupakan sarana untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada orang lain. Media merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Selama ini guru tidak pernah menggunakan media dalam mengajarkan konsep perkalian. Siswa hanya menghafal perkalian tanpa tahu konsep perkalian yang sebenarnya. Untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian, peneliti menggunakan media benda-benda yang ada di lingkungan sekitar seperti batu, daun, buah dll. Benda-benda tersebut diperoleh dari lingkungan sekolah. sehingga mudah didapat dan tidak membutuhkan biaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kegiatan PTK terdiri dari 2 siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksaan, observasi, refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas 3 SDN Slumbung 02 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar tahun ajaran 2008/2009 dengan jumlah siswa 22 orang, pada tanggal 25 Nopember sampai 02 Desember 2008. Penelitian ini berpijak pada teori belajar Bruner yang menyatakan bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsep–konsep dan struktur–struktur mtematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan–hubungan antara konsep–konsep dan struktur–struktur matematika. Bruner melukiskan anak–anak berkembang melalui 3 tahap perkembangan mental, yaitu tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik. Instrumen yang digunakan adalah tes, angket, lembar observasi, pedoman wawancara Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar dalam pembelajaran, membuat siswa lebih memahami konsep perkalian, siswa lebih senang dan tertarik dalam belajar. Siswa juga lebih aktif selama pembelajaran berlangsung. Hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang antusias dalam menjawab pertanyaan dan mempraktekkan perkalian dengan menggunakan batu dan daun. Serta dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan di luar kelas. Siswa juga dapat memahami konsep perkalian dengan baik sehingga hasil belajarnya juga baik Pada siklus I nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 84,31 dan ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar dan pada siklus II nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 90, 32 dan ketuntasan belajar mencapai 86, 36% atau ada 19 siswa dari 22 siswa yang tuntas belajar. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa benda-benda di lingkungan sekitar, misalnya batu, daun, buah dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan konsep perkalian pada siswa kelas 3, penggunaan benda-benda di lingkungan sekitar dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep perkalian sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Tathbiq al-thoriqoh al-ittishofiyah wanatijatuha fi tarqiyah maharah al-kalam li tholabah al-shoff al-tsani fi al-Madrasah al-Mutawassithah al-Anwar Trenggalek / Ana Akhyat

 

Abstrak: Tujuan penelitian ini mendiskripsikan penerapan metode komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II di SMP Terpadu Al-Anwar Trenggalek. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif kuantitatif dan termasuk penelitian tindakan kelas. Latar penelitian ini adalah kelas II SMP Terpadu Al-Anwar Trenggalek . Peneliti sebagai instrument utama dalam penelitian dan menggunakan instrument pembantu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode komunikatif mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam berbicara bahasa Arab. 46% siswa memperoleh nilai baik sekali, 18% siswa memperoleh nilai baik, 30% siswa memperoleh nilai cukup dan 6% siswa gagal. Rata-rata nilai kelas yaitu 66,06. Rata-rata ini tergolong sedang. Kata-kata kunci: metode komunikatif, keterampilan berbicara, lingkungan bahasa.

Kajian historis kehidupan sosial ekonomi masyarakat Bantaran daerah aliran sungai (DAS) Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang dan makna pendidikannya / Reki Dwi Cahyono

 

ABSTRAK Cahyono, Reki D. Kajian Historis Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang dan Makna Pendidikannya. Skripsi. Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs Nur Hadi, M.Pd, M.Si. (2) Drs. Kasimanuddin Ismain Kata Kunci: Masyarakat, Sosial Ekonomi, Pendidikan Masyarakat perkotaan di Indonesia pada umumnya sumber ekonominya bercorak non agraris. Kota yang berkembang di sektor ekonomi menjadi pemicu pendatang untuk datang ke perkotaan. Kemampuan dan ketrampilan yang mereka miliki tidak sesuai dengan pekerjaan di perkotaan, karena umumnya mereka bekerja sebagai petani di daerah asalnya. Mayoritas masyarakat di Kota Malang Khususnya di bantaran DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas Kelurahan Kesatrian berasal dari dari daerah luar Malang dan mereka disebut sebagai pendatang. Mereka umumnya bekerja di sektor informal seperti buruh, pedagang, wiraswasta, dan lain-lain. Hal yang menarik pada masyarakat bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian adalah terdapat masyarakat yang heterogen yaitu pendatang dari masyarakat etnis Jawa dan Madura, sehingga hal ini memungkinkan terjadinya interaksi sosial yaitu hubungan-hubungan sosial dan konflik. Selain itu masyarakat pendatang yang dulunya bekerja sebagai petani sekarang beralih bekerja di sektor informal, hal ini menyebabkan masyarakat pendatang berusaha beradaptasi dari lingkungan sosial maupun pekerjaannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang historis keadaan masyarakat bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang? (2) Bagaimana keadaan sosial ekonomi masyarakat Bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang? (3) Bagaimana makna pendidikan yang digali dari kehidupan sosial ekonomi masyarakat bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan latar belakang historis keadaan masyarakat Bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang. (2) Mendeskripsikan dan menganalisis keadaan sosial ekonomi Masyarakat Bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang. (3) Mendeskripsikan dan menganalisis makna pendidikan yang digali dari Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif karena peneliti mendeskripsikan atau menggambarkan dengan kata-kata secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dari informan, dan data sekunder dari data tertulis dan foto penelitian. Untuk menganalisis dan mengolah data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Komunitas masyarakat di daerah bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian mayoritas adalah pendatang dari luar daerah dan sebagian kecil adalah penduduk asli. Terdapat dua faktor yang melatarbelakangi adanya komunitas masyarakat di bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian pertama, faktor keselamatan, pada tahun sekitar 1962 terjadi banjir Brantas dar Kota Batu. Banjir tersebut meluas sampa ke daerah selatan Malang, yang mengakibatkan masyarakat selatan Kota Malang mengungsi ke dataran yang lebih tinggi yaitu ke Kota Malang khususnya di daerah bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian. Kedua, karena faktor ekonomi, masyarakat pendatang di bantaran DAS Brantas mayoritas datang karena faktor ekonomi yang disebabkan penghasilan yang rendah di daerah asal dan pekerjaan petani yang tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu masyarakat datang ke Kota Malang khususnya untuk mencari pekerjaan. Masyarakat pendatang berusaha untuk bekerja di luar sektor pertanian yang mayoritas adalah sektor informal. (2) didalam keadaan sosial masyarakat Bantaran DAS Brantas masih ada hubungan-hubungan sosial seperti tolong menolong serta komunikasi antar masyarakat pendatang maupun dengan masyarakat asli. Sedangkan keadaan ekonomi masyarakat bantaran DAS Brantas mayoritas adalah di sektor informal, seperti wiraswasta, pedagang keliling, buruh, dan lain-lain. (3) pendidikan formal lebih ditekankan pada budaya lokal daerah, karena pembelajaran tidak hanya pada kompetensi dari buku pelajaran saja tetapi juga budaya lokal lebih ditampilkan seperti masalah sosial ekonomi masyarakat bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang. Sedangkan pendidikan non formal atau pendidikan masyarakat lebih ditekankan pada pendidikan masyarakat bantaran DAS Brantas dalam beradaptasi pada lingkungan sosial dan ekonomi perkotaan. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: 1) bagi masyarakat bantaran DAS Brantas Diharapkan pada masyarakat bantaran DAS Brantas tetap membina sebuah hubungan sosial dengan sesama meskipun berlainan daerah dan budaya. Dalam kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, olah raga, arisan, dan lain-lain lebih digalakkan karena diharapkan bisa timbul proses pengenalan antara pendatang dengan penduduk asli daerah bantaran DAS Brantas. Dalam hal ekonomi diharapkan masyarakat bantaran DAS Brantas lebih banyak membuka usaha kecil tetapi dapat menyerap tenaga kerja dari warga bantaran DAS Brantas khususnya agar diwaktu mendatang akan bisa membuka usaha kecil secara mandiri. 2) bagi pemerintah kota Malang diharapkan pemerintahan kota juga ikut campur dalam kemajuan ekonomi masyarakat bantaran DAS Brantas yang mayoritas bekerja di sektor informal. Dan juga diharapkan pemerintahan kota ikut memberikan bantuan dana untuk kemajuan dari usaha kecil masyarakat bantaran DAS Brantas. 3) bagi peneliti selanjutnya lebih menggali informasi tentang proses peubahan struktur sosial ekonomi masyarakat bantaran DAS Brantas Kelurahan Kesatrian Kota Malang

Pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Sukun Malang / Lailatul Badriyah

 

Kata kunci: Pembelajaran Bahasa Arab, Ponpes Nurul Ulum. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran bahasa Arab di PPNU Kebonsari Sukun Malang. Secara khusus bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kurikulum PBA. (2) metode PBA yang digunakan, (3) materi atau bahan ajar yang digunakan, (4) media PBA yang digunakan, (5) evaluasi PBA yang digunakan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah ustad dan ustadzah bahasa Arab yang berjumlah 13 pengajar, para santri PPNU yang berjumlah 490 santri putri. Peneliti bertindak sebagai instrumen inti. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, angket dan dokumen. Langkah-langkah analisis data: (a) reduksi data, (b) penyajian data, dan (c) penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan temuan, dilakukan (a) observasi terus menerus, (b) mendiskusikan data dan hasil analisis dengan pembimbing, (c) memeriksa kembali catatan lapangan secara cermat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) rancangan kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum integrasi yang memadukan antara matapelajaran bahasa Arab dan matapelajaran madrasah diniyah lainnya seperti ilmu fiqih, akhlaq, dan tauhid (2) metode yang digunakan lebih mendekati dengan metode eklektik. Adapun beberapa metode yang digabungkan yaitu metode membaca, metode terjemah, metode tanya jawab. (3) Bahan ajar yang digunakan adalah buku madarij addurus al ‘arobiyah jilid 1-4, karangan KH Bashori Alwi (4) Media berupa alat tulis dan papan tulis.(5) Evaluasi yang dilakukan ini adalah tes tulis dan tes lisan, dan dilakukan 3 tahap yaitu ujian harian, UTS, dan UAS. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberi saran kepada: (a) Lembaga pendidikan Pondok Pesantren Nurul Ulum agar menyediakan media pembelajaran berupa audio visual (CD berupa rekaman atau vidio) guna untuk mendukung proses pembelajaran (b) ustad dan ustadzah bahasa Arab, agar membuat RPP sebelum mengajar dan membuat peraturan yang mengharuskan para pengajar dan santri aktif dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab baik di kelas maupun di luar kelas, (c) peneliti selanjutnya, bahwasannya penelitian ini masih terbuka peluang untuk dilakukan penelitian lanjutan guna untuk memperoleh hasil yang maksimal untuk perbaikan PBA di PP Nurul Ulum atau pondok lainnya. Seperti penelitian tentang media dan buku penunjang yang digunakan untuk PBA di PP Nurul Ulum. Dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda seperti pengembangan media atau melakukan tindakan atau eksperimen dalam kelas sehingga lebih memperluas kajian seputar pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 |