Perilaku para pencari informasi Perpustakaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) Malang / Julyana Putri Pertiwi

 

Pertiwi, Julyana Putri. 2014. Perilaku Para Pencari Informasi Perpustakaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang. Tugas Akhir. Program Studi D3 Perpustakaan, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Martutik, M.Pd, (II) Drs. M. Asrukin, M,Si Kata Kunci: para pencari informasi, perpustakaan Balittas Malang. Tugas akhir ini berjudul “Perilaku Para Pencari Informasi Perpustakaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) Malang”. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bidang perilaku para pencari informasi. Data diperoleh dari buku tamu pengunjung Perpustakaan Balittas tahun 2011-2013. Pemustaka/pengunjung dari data tersebut meliputi pegawai Balittas, mahasiswa, siswa, swasta, PNS dan masyarakat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung perpustakaan Balittas tahun 2011-2013 yaitu sejumlah 1321 pengunjung. Sampel yang ditetapkan adalah pengunujung menuliskan tujuan mereka datang ke perpustakaan Balittas di daftar buku pengunjung perpustakaan Balittas sejumlah 1105 pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku pencari informasi yang berlangsung. Perilaku pencari informasi yang dipaparkan adalah kebutuhan para pencari informasi. Model perilaku para pencari informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menganalisis data. Data dikumpulkan dengan cara observasi dan studi dokumentasi. Simpulan penelitian ini adalah kunjungan dari para pencari informasi tidak hanya datang untuk bertatap muka dengan pustawakan melainkan perilaku para pencari informasi diuraikan karna kebutuhan para pencari informasi berbeda. Dari hasil penelitian tersebut, dapat diambil simpulan bahwa tujuan para pencari informasi ke perpustakaan Balittas adalah mencari bahan rujukan meliputi mecari buku, majalah, prosiding dan jurnal. Adapun para pencari informasi datang ke perpustakaan Balittas dengan tujuan meminjam dan mengembalikan buku, majalah, prosiding dan jurnal. Perpustakaan Balittas juga menjadi tempat membaca koran, buku, majalah, prosiding dan jurnal. Perpustakaan Balittas juga sebagai tempat izin untuk melakukan PKL. Pengunjung perpustakaan Balittas tidak selalu ramai, karena perpustakaan Balittas adalah perpustakaan khusus instansi pemerintah yang memberikan informasi tentang tanaman pemanis dan serat.

Pengaruh tingkat suku bunga bank Indonesia (BI rate) dan tingkat inflasi terhadap jumlah kredit investasi Bank Umum Nasional di Jawa Timur / Aditya Sukma Putra

 

ABSTRAK Sukma Putra, Aditya. 2009. Pengaruh Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia(BI Rate) dan Tingkat Inflasi Terhadap Jumlah Kredit Investasi Bank Umum Nasional di Jawa Timur. Skripsi, Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. (II) Farida Rahmawati, S.E, M.E Kata Kunci : suku bunga bank indonesia (bi rate), inflasi, jumlah kredit investasi Tingkat inflasi yang diakibatkan karena kenaikan harga barang-barang secara umum mengakibatkan pendapatan nominal dan pendapatan riil masyarakat menjadi turun. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter menggunakan kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi dengan instrumen penentuan jumlah uang yang beredar di masyarakat dan penetapan tingkat suku bunga acuan atau BI rate. Karena instrumen penetapan jumlah uang yang beredar tidak sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, maka Bank Indonesia beralih menggunakan BI rate karena lebih fleksibel dalam pencapaian inflation targeting. Pengendalian inflasi dilakukan Bank Indonesia dengan pengendalian jumlah uang yang beredar melalui kredit bank umum. Tingkat BI rate digunakan sebagai acuan suku bunga kredit bank umum. Dengan adanya suku bunga acuan, diharapkan agar bank umum mengikutinya dalam penetapan suku bunga kredit, sehingga jumlah uang yang beredar salah satunya dapat dikendalikan melalui kredit investasi bank umum agar dapat mencapai target inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia Berdasar rumusan yang ada, maka dapat dikemukakan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui : (1) pengaruh tingkat BI rate terhadap jumlah kredit investasi. (2) pengaruh tingkat inflasi terhadap jumlah kredit investasi. (3) pengaruh BI rate dan inflasi terhadap jumlah kredit investasi. Dalam pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Statistik Ekonomi Keuangan Daerah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pada hasil penelitian, peneliti menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression). Dari hasil pengolahan data atau analisis data dapat diketahui : (1) Tingkat BI rate berpengaruh terhadap jumlah kredit investasi, (2) Tingkat inflasi tidak berpengaruh terhadap jumlah kredit investasi, (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat BI rate dan tingkat inflasi terhadap jumlah kredit investasi sebesar 41%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat BI rate merupakan faktor yang secara signifikan dan dominan mempengaruhi jumlah kredit investasi, dan secara bersama-sama tingkat BI rate dan tingkat inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kredit investasi. Oleh karena itu peneliti dapat memberikan saran pada perusahaan atau bank umum di jawa timur agar menyesuaikan kebijakan dalam penentuan suku bunga kredit sesuai dengan tingkat suku bunga bank indonesia (BI Rate) agar dapat mendukung Bank Sentral dalam mencapai target pengendalian inflasi. Dengan demikian dapat membantu pertumbuhan sekor riil melalui ekspansi kredit dari bank umum. Untuk peneliti selanjutnya agar menambah variabel yang bisa mempengaruhi jumlah kredit investasi seperti pendapatan perkapita dan Dana Pihak Ketiga (DPK) atau tabungan dan menggunakan periode penelitian yang terbaru sehingga hasil penelitian akan lebih akurat dan relevan.

Penggunaan media kartu master and mastery pada pembelajaran bahasa Jerman materi akkusativ kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Lawang / Dimi Savilla Rani

 

Rani, Dimi Savilla. 2014. Penggunaan Media Kartu Master and Mastery pada Mata Pelajaran Bahasa Jerman Materi Akkusativ Kelas XI SMAN 1 Lawang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tiksno Widyatmoko, M.A., (II) Dudy Syafruddin, S.S., M.A. Kata kunci: Media pembelajaran, kartu Master and Mastery, Akkusativ Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media kartu Master and Mastery dan kesulitan siswa dalam memahami materi Akkusativ. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data pernelitian ini adalah 15 siswa kelas XI Bahasa SMAN 1 Lawang tahun ajaran 2013/2014. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kartu Master and Mastery dapat membantu siswa memahami materi Akkusativ dengan sangat baik. Hal ini diketahui dari hasl analisis tes siswa yang menunjukkan sebanyak 12 siswa mendapat nilai diatas 78 atau diatas standar nilai KKM di SMAN 1 Lawang. Hasil lembar observasi menunjukkan bahwa kegiatan siswa secara keseluruhan meliputi kegiatan awal, inti, dan akhir selama proses pembelajaran berjalan baik dan sistematis. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa penggunaan media kartu ini dapat membantu siswa lebih aktif dan lebih mudah memahami materi Akkusativ.

Analisis sistem transmisi kendaraan taktis panser Nanggala hasil rakitan Bengpuspal TNI AD / Rifai

 

Kurang tersedianya materi-materi bahan ajar bahasa Inggris Teknik yang relevan dengan pengetahuan praktis teknik yang berhubungan dengan teknologi militer di lembaga pendidikan, laboratorium maupun dilapangan, merupakan kendala yang cukup lama di STTAD Kodiklat TNI AD. Sebagian mahasiswa mengatakan bahwa bahan ajar yang digunakan tidak menarik baik dari layout maupun isinya. Materi bahan ajar Bahasa Inggris yang digunakan selama ini kurang relevan dengan kebutuhan siswa dalam konteks terapan lingkungan rekayasa atau keteknikan di bidang teknologi kemiliteran. Siswa lebih mudah mengerti dan mencapai pemahaman yang mendalam jika bisa mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya dan berguna dalam unjuk kerja dalam konteks lingkungan keteknikan. Proses belajar dan mengajarpun hendaknya melibatkan para siswa dalam mencari makna. Proses mengajar haruslah memungkinkan siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi mutu belajar di antaranya yaitu tampilan materi ajar. Bahan ajar adalah format materi yang diberikan kepada siswa dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran lainnya. Masalah utama yang dihadapi pebelajar (siswa) Lemjiantek atau STTAD adalah pebelajar mengalami fenomena psikologi yakni penurunan gairah belajar disebabkan oleh beberapa hal diantaranya 1) Bahan ajar Bahasa Inggris tentang Teknologi Militer yang digunakan sebagai media atau sumber pembelajaran tidak menarik baik desain grafik maupun tata letak gambar dan desain pesan yang kontekstual dengan Teknologi Militer khususnya TNI AD. 2) Pembelajar mengembangkan buku ajar tidak memperhitungkan konsep, teori-teori pembelajaran dan karakteristik siswa. Berbagai kompleksitas permasalahan yang dihadapi tentunya membutuhkan solusi yang tepat untuk mengatasi problem pembelajaran yang ada. Salah satu langkah yang sangat berarti sebagaimana dipilih oleh peneliti adalah merekonstruksi dan mengembangkan desain pesan materi Bahan Ajar Bahasa Inggris tentang teknologi militer sesuai dengan karakteristik Siswa D3 Lemjiantek Kodiklat TNI AD. Produk pengembangan yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini adalah: 1) buku ajar bahasa Inggris, 2) panduan pembelajar (dosen) berisikan petunjuk dan pedoman yang akan digunakan sehingga memudahkan penggunaannya dalam aktifitas pembelajaran, dan 3) panduan pebelajar (mahasiswa) bertujuan agar dapat mengarahkan pebelajar dalam menggunakan buku ajar Bahasa Inggris teknologi militer untuk siswa STTAD. Produk ini berisikan materi-materi yang terkait dengan lingkungan nyata pebelajar yakni lingkungan Teknologi Kemiliteran. Desain bahan ajar disusun berdasarkan karakteristik siswa D3 STTAD yang mayoritas pebelajar usia dewasa dan tujuan materi pelajaran Bahasa Inggris untuk Teknik Militer. Dalam pengembangan bahan ajar ini, peneliti juga menentukan 9 langkah sistematis dalam model Dick, Carey, dan Carey (2001) sebagai prosedur pengembangan. Keterbatasan Pengembangan bahan ajar ini didasarkan pada; (1) pada kebutuhan siswa D3 STTAD Kodiklat TNI AD Malang pada semester 1, (2) bahan ajar yang dikembangkan terbatas pada mata kuliah Bahasa Inggris untuk siswa D3 STTAD Kodiklat TNI AD, (3) topik yang dipilih berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan, (4) pengembangan lebih ditekankan pada desain pesan bahan ajar dengan menggunakan materi-materi pendukung yang lebih kontekstual untuk teknologi militer, (5) dan tujuan pembelajaran/ penyampaian pesan pada Hanjar ini tidak uraikan, tetapi hanya digunakan oleh desainer pesan sebagai rambu-rambu dalam mengorganisasikan pesan. Hal ini disebabkan hanjar ini secara umum dimaksudkan hanya sebagai informasi dasar kepada siswa. Selanjutnya uji coba dilakukan dalam 3 (tiga) tahapan. Data yang terkumpul dianalisis dengan 2 (dua) cara yaitu kualitatif dan kuantitatif; 1) uji coba perorangan yang mengambil 3 (tiga) orang siswa sebagai responden. Uji coba perorangan ini dimaksudkan untuk menemukan keserasian materi dan kesalahan-kesalahan baik salah ketik ataupun struktur kalimat, dan lainnya seperti gambar dan ilustrasi. Kedua, uji coba kelompok kecil untuk mengetahui efektifitas perubahan evaluasi perorangan, Mengidentifikasi permasalahan yang timbul pada saat pembelajaran, dan untuk menentukan apakah instruksi dapat digunakan untuk belajar sendiri tanpa interaksi dengan pembelajar. Uji coba lapangan terhadap 15 (lima belas) orang dimaksudkan untuk menemukan apakah pembelajaran dengan bahan ajar efektif, efisien, dan menarik bagi siswa. Dari uji coba bahan ajar ini menunjukkan bukti kuantifikasi uji coba perorangan yaitu 79,3%. Uji coba kelompok kecil 89,25,5% tetapi perlu direvisi. Pada uji coba lapangan menunjukkan hasil sekitar 93,32% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar efektif mencapai tujuan pembelajaran, efisien bila dibandingkan dengan rasio penggunaan waktu, dan menarik bila memperhatikan skala sikap dan observasi terhadap antusias siswa. Untuk pemanfaatan dan pengembangan kedepan diharapkan; (1) Produk bahan ajar ini perlu dilengkapi dengan lembar soal, lembar perkembangan ( progress sheet ) untuk membantu dosen mata kuliah dalam kegiatan pembelajaran, (2) perlu membuat latihanlatihan berupa interaktif game, exercises, test dalam bentuk software untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris yakni : Listening dan speaking sebagai scaffolding.

Persepsi guru tentang implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang / Vivin Dwi Oktafianti

 

ABSTRAK Oktafianti, Vivin Dwi. 2010. Persepsi Guru tentang Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Pranowo, S.E, M.Pd.Ak., (II) Drs. Mardono, M. Si. Kata kunci: persepsi, implementasi, KTSP Kurikulum dalam suatu sistem pendidikan merupakan komponen yang penting. Dikatakan demikian karena kurikulum merupakan panutan dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, pembaharuan kurikulum merupakan keharusan dalam suatu sistem pendidikan agar pendidikan tetap relevan dengan tuntutan zaman. Kurikulum yang tengah diterapkan oleh pemerintah adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masingmasing satuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru tentang implementasi KTSP di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang dilihat dari pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survey. Penelitian dilaksanakan di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang. Adapun subyek penelitian ini adalah para guru bidang studi ekonomi di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang yang terdiri dari 2 sekolah yaitu SMK Muhammadiyah 3 Singosari dan SMK Kosgoro Lawang dengan jumlah responden sebanyak 9 orang guru bidang studi ekonomi. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner atau angket dan dokumentasi. Selanjutnya untuk menganalisis data penelitian digunakan teknik analisis statistik deskriptif. Penelitian ini menghasilkan temuan yaitu: (1) persepsi guru tentang implementasi KTSP di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang dilihat dari pengembangan program, sebagian kecil responden (44,44%) memiliki persepsi yang sangat baik; (2) persepsi guru tentang implementasi KTSP di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang dilihat dari pelaksanaan pembelajaran, sebagian besar responden (66,67%) memiliki persepsi yang baik; dan (3) persepsi guru tentang implementasi KTSP di SMK Bisnis dan Manajemen Kecamatan Singosari dan Lawang Kabupaten Malang dilihat dari evaluasi pembelajaran, sebagian besar responden (55,56%) memiliki persepsi yang baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa guru mempunyai persepsi yang baik terhadap implementasi KTSP. Namun, karena masih banyaknya guru yang kurang paham dan siap mengimplementasikan kurikulum ini, maka disarankan bagi pihak yang terkait seperti Dinas Pendidikan diharapkan untuk selalu memberikan pemahaman terhadap setiap perubahan pada sistem pendidikan misalnya dengan Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com melakukan sosialisasi kurikulum, bagi pihak sekolah juga bisa dengan cara memberikan motivasi dan kemampuan bagi guru dalam melaksanakan kegiatannya, dan bagi guru sendiri juga harus selalu mampu menjadi facilitate of learning bagi peserta didik sehingga dapat meningkatkan kompetensi peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Pengaruh pelatihan, motivasi, kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja kelompok peternak sapi perah anggota koperasi di Jawa Timur / Waluyo Edi Susanto

 

ABSTRAK Waluyo Edi Susanto. 2009. Pengaruh Pelatihan, Motivasi, Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Kelompok Peternak Sapi Perah Anggota Koperasi di Jawa Timur Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. J.G. Nirbito, M.Pd, (II) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, (III) Dr. Hari Wahyono, M.Pd, Kata-kata kunci: pelatihan, motivasi, kepemimpinan, budaya organisasi dan kinerja, kelompok peternak sapi perah. Koperasi peternak sapi perah berperan dalam memenuhi kebutuhan susu sapi di Indonesia. Koperasi dalam mempermudah pengaturan manajemen terhadap peternak yang berjumlah banyak adalah dengan membentuk kelompok-kelompok peternak. Peningkatan produksi susu baik kualitas maupun kuantitas pada koperasi sangat tergantung pada kinerja kelompok peternak. Kelompok peternak agar dapat meningkatkan kinerja kelompok dan mempunyai daya saing tinggi dibutuhkah peningkatan sumber daya manusia (SDM). Pemberian pelatihan pada kelompok peternak akan meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan SDM dalam memotivasi, mengelola serta menciptakan kepemimpinan dan budaya organisasi kelompok yang kondusif, sehingga mampu meningkatkan kinerja kelompok peternak sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan pengaruh pelatihan terhadap motivasi, kepemimpinan dan budaya organisasi kelompok peternak sapi perah. (2) menjelaskan pengaruh kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap motivasi pada kelompok peternak sapi perah. (3) menjelaskan pengaruh pelatihan , motivasi, kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja kelompok peternak sapi perah. (4) menjelaskan pengaruh pelatihan, kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja melalui variabel antara (intervenning variable) motivasi kelompok peternak sapi perah. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) pelatihan berpengaruh signifikan terhadap motivasi, kepemimpinan dan budaya organisasi kelompok peternak sapi perah. (2) kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi kelompok peternak sapi perah. (3) pelatihan, motivasi, kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja kelompok peternak sapi perah. (4) pelatihan, kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh secara tidak langsung signifikan terhadap kinerja melalui variabel antara (intervenning variable) motivasi kelompok peternak sapi perah. Bertitik tolak dari temuan penelitian tersebut disarankan kepada: (1) Koperasi peternak untuk terus meningkatkan intensitas pelatihan terhadap kelompok peternak sapi perah agar motivasi, kepemimpinan, budaya organisasi, dan kinerjanya juga terus meningkat. Sesuai tujuan koperasi peternak sapi perah disarankan peningatan kurikulum pelatihan yaitu: (a) manajemen beternak sapi perah, agar peternak menjadi produsen yang maju .(b) kewirausahaan, agar peternak menjadi pengusaha yang handal dan (c) perkoperasian, agar peternak menjadi anggota koperasi yang loyal. (2)(a) Sistem pembelajaran pada pelatihan kelompok peternak imbangan teoritis dan praktis sesuai dengan tujuan pelatihan, b) penyediaan kelengkapan alat peraga maupun peralatan praktek sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, c) Pelatihan diajar oleh guru/pelatih menguasai tugasnya sesuai dengan tujuan pelatihan. (3) Kelompok peternak selalu membangun motivasi kelompok peternak dengan selalu aktif mengikuti pelatihan yang diadakan oleh koperasi yang merupakan penyegaran semangat untuk melakukan kerja keras(4) Ketua kelompok peternak untuk memberikan pemikiran-pemikiran konstruktif supaya pendidikan di lembaga koperasi bisa dirasakan oleh anggota melalui pembangunan Koperasi yang berkinerja tinggi. (5) Masing masing kelompok peternak sapi perah selalu bekerja sama bahu membahu meningkatkan sumber daya manusia yang ada sehingga tidak kehilangan karakteristik manajemennya sesuai dengan budaya organisasi yang ada pada kelompok peternak sapi perah koperasi susu di Jawa Timur.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi guru dan fasilitas laboratorium akuntansi terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK negeri 1 Pasuruan / Yozzevi Whina Aquareynica

 

Kata kunci: Persepsi Siswa, Kompetensi Guru, Fasilitas Laboratorium, Motivasi, Prestasi Belajar Siswa. Persepsi memiliki peranan penting dalam perilaku, yaitu sebagai pengembangan fungsi-fungsi kognitif, afektif, dan konatif sehingga berpengaruh terhadap penyesuaian yang lebih utuh dan proporsional. Dalam proses belajar mengajar, tidak lepas dari interaksi antara guru, murid dan lingkungan yang berupa laboratorium. Apabila persepsi siswa positif terhadap guru dan laboratorium maka dapat meningkatkan motivasi siswa yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pengaruh langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru dan fasilitas laboratorium terhadap motivasi belajar siswa; pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru dan fasilitas laboratorium terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa; dan pengaruh langsung motivasi belajar siswa terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research). Teknik analisis yang digunakan adalah analisa jalur (path analysis).Variabel dalam penelitian ini meliputi persepsi siswa tentang kompetensi guru, fasilitas laboratorium, motivasi belajar siswa, dan prestasi belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI jurusan akuntansi yang ada di SMK Negeri 1 Pasuruan pada tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 109 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel random atau sampel acak yaitu sejumlah 52 siswa. Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap motivasi belajar siswa sebesar 0,012. Persepsi siswa tentang kompetensi guru tidak berpengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar sebesar 0,0005. Persepsi siswa tentang fasilitas laboratorium berpengaruh secara langsung yang signifikan terhadap motivasi belajar siswa sebesar 0,347. Persepsi siswa tentang fasilitas laboratorium tidak berpengaruh tidak langsung terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa sebesar 0,0142. Motivasi belajar tidak berpengaruh secara langsung secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,041. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada universitas untuk selalu meningkatkan mutu lulusannya, pihak sekolah menambah fasilitas dan mengoptimalkan pemanfaatan laboratorium, guru untuk mampu menunjukkan kemampuan menguasai bahan yang diajarkan, antusiasisme, dan kemenarikan dalam mengajar sehingga menimbulkan persepsi positif pada siswa, serta bagi calon peneliti selanjutnya perlu menambah sampel dan variabel penelitian.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan media video reality show " Orang Pinggiran" siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Pandaan / Mayang Restiawati

 

Restiawati, Mayang. 2014. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen dengan Media Video Reality Show “Orang Pinggiran” Siswa Kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Pandaan. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd., (II) Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Kata kunci: kemampuan menulis, cerpen, media video reality show Pembelajaran menulis cerpen sudah diajarkan kepada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Pandaan sesuai dengan KTSP. Berdasarkan studi pendahuluan dengan mengamati proses pembelajaran dan menganalisis cerpen siswa, diketahui bahwa kemampuan menulis cerpen siswa masih rendah. Hal ini disebabkan siswa kesulitan menulis kerangka cerpen, mengembangkan ide cerita, serta menciptakan dan menyelesaikan konflik pada alur cerita. Selain itu, keaktifan dan motivasi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen masih kurang karena media yang digunakan kurang menarik. Tujuan umum penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan media video reality show “Orang Pinggiran” siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Pandaan. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah (1) meningkatkan proses pembelajaran menulis cerpen dengan media video reality show “Orang Pinggiran” pada tahap (a) pratulis, (b) tulis, dan (c) pascatulis; (2) meningkatkan hasil menulis cerpen dengan media video reality show “Orang Pinggiran” yang meliputi sub kemampuan mengembangkan (a) tema, (b) tokoh dan penokohan, (c) latar, (d) alur, dan (e) sudut pandang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus dengan target nilai rata-rata kelas atau ketuntasan minimal, yaitu 78. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data dalam penelitian ini berupa data proses dan data hasil. Data proses berupa perilaku siswa saat proses pembelajaran menulis cerpen yang dilakukan di kelas; sedangkan data hasil berupa skor kemampuan menulis cerpen siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan rubrik penilaian proses; sedangkan pengumpulan data hasil dilakukan dengan tes menulis cerpen yang dinilai menggunakan rubrik penilaian menulis cerpen. Data proses dan data hasil dianalisis dengan menyeleksi, mengoreksi, menskor, dan menyimpulkan. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru bahasa Indonesia kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Pandaan. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa secara umum hasil menulis cerpen siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Pandaan meningkat dengan penggunaan media video reality show “Orang Pinggiran” dari siklus I hingga siklus II. Peningkatan proses pembelajaran menulis cerpen terlihat pada tahap pratulis, tulis, dan pascatulis. Pada tahap pratulis kegiatan siswa meliputi (1) menyimak video reality show “Orang Pinggiran” secara utuh, (2) berdiskusi untuk menemukan hasil identifikasi yang tepat, dan (3) mengembangkan hasil identifikasi menjadi kerangka cerpen. Pada kegiatan pratulis siswa tampak aktif bertanya jawab dengan guru mengenai pembelajaran menulis cerpen; perilaku siswa pada siklus II terlihat lebih serius dan antusias dibanding siklus I dalam menyimak dan mengembangkan kerangka cerpen. Pada tahap tulis kegiatan siswa meliputi (1) mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu dan (2) merevisi cerpen yang telah ditulis. Pada tahap tulis siklus II siswa tampak lebih serius dan bersemangat dalam mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu. Pada tahap pascatulis kegiatan siswa meliputi (1) menyunting cerpen milik teman dengan memberikan komentar dan masukan dan (2) memublikasikan cerpennya di depan kelas. Pada tahap pascatulis, siswa lebih kreatif dalam memberi komentar pada cerpen milik teman dalam kegiatan menyunting, mereka juga lebih percaya diri untuk memublikasikan cerpen di depan kelas.     Peningkatan hasil menulis cerpen siswa dari siklus I hingga siklus II terlihat pada setiap sub kemampuan mengembangkan unsur pembangun cerpen. Peningkatan kemampuan menulis cerpen pada sub kemampuan mengembangkan tema, siswa berkategori sangat baik dengan indikator tema baru, menarik, dan sesuai dengan isi video reality show meningkat dari 34,49% pada siklus I menjadi 68,96% pada siklus II dan tidak ada siswa berkategori cukup pada siklus II (berkurang dari 3,44% pada siklus I). Pada sub kemampuan mengembangkan tokoh dan penokohan, siswa berkategori sangat baik dengan indikator deskripsi ciri fisik dan watak tokoh jelas dan mendukung tema meningkat dari 31,04% pada siklus I menjadi 34,48% pada siklus II dan tidak ada siswa berkategori cukup pada siklus II (berkurang dari 3,44% pada siklus I). Pada sub kemampuan mengembangkan latar, siswa berkategori sangat baik dengan indikator latar tempat, waktu, dan suasana dideskripsikan secara rinci meningkat dari 34,49% pada siklus I menjadi 41,38% pada siklus II. Pada sub kemampuan mengembangkan alur, siswa berkategori sangat baik dengan indikator aspek perkenalan, konflik awal, konflik memuncak, klimaks, dan penyelesaian dikembangkan secara runtut dan menarik meningkat dari 10,34% pada siklus I menjadi 37,93% pada siklus II dan tidak ada siswa berkategori cukup pada siklus II (berkurang dari 37,94% pada siklus I). Pada sub kemampuan mengembangkan sudut pandang, siswa berkategori sangat baik dengan indikator penggunaan sudut pandang yang tepat dan konsisten meningkat dari 37,94% pada siklus I menjadi 58,62% pada siklus II dan tidak ada siswa berkategori cukup pada siklus II (berkurang dari 6,89% pada siklus I). Berdasarkan hasil penelitian ini, guru bahasa Indonesia diharapkan menggunakan media video reality show “Orang Pinggiran” untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan media video reality show “Orang Pinggiran” untuk meningkatkan keterampilan berbahasa yang lain.

Pengembangan media pembelajaran pidato siswa kelas IX SMP / Wulan Sebriana Kusumawati

 

Kusumawati, Wulan Sebriana. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Pidato Siswa Kelas IX SMP. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd, (2) Drs. Bustanul Arifin, S.H., M.Hum. Kata kunci: media pembelajaran, pidato, macromedia flash Media pembelajaran adalah alat bantu belajar yang bertujuan untuk memudahkan dan merangsang motivasi siswa. Media pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran. Pentingnya sebuah media pembelajaran dapat dilihat dari studi pendahuluan yang ada di lapangan. Hasil studi pendahuluan di lapangan menunjukkan bahwa siswa memiliki minat yang rendah terhadap pembelajaran pidato. Siswa memiliki skemata bahwa pembelajaran pidato adalah kegiatan belajar yang sulit sehingga cenderung malas untuk belajar. Selain itu, media pembelajaran yang tersedia belum variatif. Hal tersebut membuat siswa mengalami banyak kesulitan dan minat yang rendah untuk belajar pidato. Alasan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan media pembelajaran pidato dengan menggunakan aplikasi macromedia flash. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah (1) dihasilkannya media pembelajaran pidato siswa kelas IX SMP yang menarik untuk pembelajaran bahasa Indonesia, dan (2) dihasilkannya media pembelajaran pidato siswa kelas IX SMP yang layak digunakan untuk pembelajaran bahasa Indonesia. Kemenarikan terdiri dari aspek sajian, aspek grafika, aspek bahasa, aspek tampilan media, aspek kemudahan navigasi, dan aspek kualitas media. Kelayakan terdiri dari aspek isi, aspek bahasa, dan aspek kualitasmedia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang diadaptasi dari model penelitian dan pengembangan Borg dan Gall (Sukmadinata, 2008: 189). Berdasarkan model tersebut, terdapat empat tahap prosedur penelitian dan pengembangan, yaitu (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan produk, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap pascapengembangan. Uji coba produk dilaksanakan sebanyak empat kali, yaitu (1) uji ahli pidato, (2) uji ahli media pembelajaran, (3) uji praktisi, dan (4) uji siswa. Uji coba produk media pembelajaran menghasilkan data yang diperoleh dari angket. Data penelitian ini berupa data verbal yang mengandung saran perbaikan dari ahli, praktisi, siswa dan data nonverbal berupa angka presentase kelayakan dan kemenarikan. Data dianalisis dengan (1) mendiskripsikan kemenarikan produk media pembelajaran melalui validitas analisis nilai rata-rata, dan (2) mendiskripsikan kelayakan produk media pembelajaran melalui validitas analisis nilai rata-rata. Perbaikan media pembelajaran dilakukan berdasarkan saran perbaikan dari ahli, praktisi, dan siswa. Media pembelajaran ini memiliki keunggulan dari media pembelajaran yang lain yaitu penyajian materi, contoh, dan latihan yang menarik. Tahapan menyimpulkan isi pidato yaitu (1) menentukan tema, (2) menulis permasalahan yang diuraikan, (3) menulis solusi yang diberikan pembicara, dan (4) menyimpulkan isi pidato. Tahapan menulis teks pidato yaitu (1) menulis salam pembuka, (2) menulis pemberian sapaan, (3) menulis pembuka, (4) menulis isi, (5) menulis isi, (6) menulis penutup, dan (7) menulis salam penutup. Ketika berpidato harus memerhatikan empat komponen yaitu (1) intonasi, (2) artikulasi, (3) volume suara, dan (4) gerak tubuh. Hasil penelitian dan pengembangan media pembelajaran pidato ini layak dan dapat diimplementasikan. Kemenarikan media pembelajaran pidato mendapatkan persentase sebesar 88,3%, sedangkan kelayakan media pembelajaran pidato mendapat persentase sebesar 85,8%. Walaupun tergolong layak dan dapat diimplementasikan, terdapat bagian-bagian yang harus direvisi sesuai saran perbaikan dari ahli, praktisi, dan siswa. Media pembelajaran pidato ini menjadi salah satu alternatif sumber belajar pidato. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan menggunakan media pembelajaran ini dan siswa dapat menggunakan media pembelajaran ini secara mandiri. Pengembangan media pembelajaran ini dijadikan pertimbangan dan sumber inspirasi dalam mengembangkan media pembelajaran pidato yang lebih baik lagi. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan melalui jurnal penelitian dan forum Musyawarah Guru Matapelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia

Implementasi metode sequential insertion pada permasalahan Vehocle Routing Problem With Backhaul Multiple Trip and Time Window (VRPB-MTTW) / Wida Dwi Hapsari

 

Hapsari, Wida Dwi. 2014. Implementasi Metode Sequential Insertion pada Permasalahan Vehicle Routing Problem with Backhaul Multiple Trip and Time Window. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sapti Wahyuningsih, M.Si., (II) Darmawan Satyananda, S.T, M.T. Kata Kunci : Algoritma sequential insertion, Vehicle Routing Problem with Backhaul Multiple Trip and Time Window, Delphi 7.0 Vehicle Routing Probem with Backhaul Multiple Trip and Time Window (VRPB-MTTW) berkembang ketika sejumlah kendaraan dari depot akan melakukan pendistribusian ke beberapa pelanggan (pelanggan linehaul dan backhaul) dan kembali ke depot yang sama dengan jumlah kendaraan, jarak dan waktu pendistribusian yang minimum tanpa melanggar kendala kapasitas dan kendala waktu (time window).     Algoritma Sequential Insertion pada VRPB-MTTW diawali dengan pemilihan pelanggan pertama (seed customer yaitu pelanggan linehaul). pemilihan pelanggan berdasarkan kriteria earliest deadline (waktu pelayanan tercepat dari depot). Selanjutnya pemilihan pelanggan berikutnya adalah pelanggan yang memiliki waktu perjalanan terkecil dari pelanggan sebelumnya. Hal tersebut berlangsung sampai tidak ada pelanggan linehaul yang dapat dilayani (kapasitas muatannya melebihi kapasitas kendaraan atau melebihi time window), jika sudah tidak ada pelanggan linehaul yang dapat dilayani lanjutkan untuk pelanggan backhaul sampai tidak ada pelanggan backhaul yang dapat dilayani. Apabila masih terdapat pelanggan yang belum dilayani dan waktu pelayanannya kurang dari time window depot, buat tur baru dengan rute yang baru. Hal ini dilakukan sampai semua pelanggan sudah dilayani. Pelanggan backhaul hanya dapat dilayani setelah pelanggan linehaul. Algoritma tersebut bertujuan untuk memperoleh solusi dengan jarak, waktu perjalanan dan jumlah kendaraan yang digunakan optimum.     Implementasi algoritma sequential insertion pada contoh permasalahan dengan 10 pelanggan (6 linehaul dan 4 backhaul) diperoleh 2 tur dalam satu perjalanan dengan total jarak 424 km dan total waktu perjalanan 8,07 jam. Sedangkan dengan 13 pelanggan (6 linehaul dan 7 backhaul) diperoleh 3 tur dalam satu perjalanan dengan total jarak 392 km dan total waktu perjalanan 8,38 jam.

Perbedaan efikasi diri akademik antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert di SMA Negeri 1 Trenggalek / Reny Farida Fatmawati

 

i ABSTRAK Fatmawati, Reny Farida. 2009. Perbedaan Efikasi Diri Akademik antara Siswa yang Berkepribadian Ekstrovert dan Introvert di SMA Negeri 1 Trenggalek. Skripsi. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Widada, M.Si. (II) Dr. Andi Mappiare AT,.M.Pd. Kata Kunci: efikasi diri akademik, kepribadian ekstrovert, kepribadian introvert Efikasi diri akademik pada umumnya tidak sama, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Perbedaan ini salah satunya dipengaruhi oleh kepribadian yang dimiliki oleh siswa tersebut yaitu siswa yang berkepribadian ekstrovert ataupun introvert. Siswa yang berkepribadian ekstrovert memiliki efikasi diri akademik yang lebih tinggi daripada siswa yang berkepribadian introvert. Hal ini karena mereka memiliki keyakinan diri yang tinggi, ketekunan dan tanggung jawab yang kuat dalam meyelesaikan sejumlah tugas. Siswa dengan efikasi diri yang tinggi akan merasa tertantang, tekun ketika menghadapi suatu tugas yang sulit, tidak mudah putus asa, dan menganggap kegagalan sebagai motivasi mereka untuk dapat bekerja lebih baik lagi. Sumber terbentuknya efikasi diri seseorang didapat dari pengalaman keberhasilan, pengalaman vikarius yang didapat dari model sosial, persuasi sosial, dan keadaan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat efikasi diri akademik siswa yang berkepribadian ekstrovert, dan (2) pada siswa yang berkepribadian introvert, serta (3) perbedaan efikasi diri akademik antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif komparatif pada populasi seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Trenggalek tahun ajaran 2009/2010. Sampel diambil dengan teknik random sampling, yaitu teknik yang dilakukan dengan memberikan kemungkinan yang sama bagi individu untuk dipilih menjadi anggota sampel. Data diambil dengan menggunakan angket dan dianalisis dengan teknik persentase dan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa berkepribadian ekstrovert memiliki efikasi diri akademik tinggi yang jumlahnya banyak dan sedang jumlahnya sedikit serta sangat tinggi, rendah dan sangat rendah jumlahnya sangat sedikit, (2) siswa berkepribadian introvert memiliki efikasi diri akademik sedang yang jumlahnya banyak dan tinggi jumlahnya sedikit serta rendah, sangat rendah, dan sangat tinggi jumlahnya sangat sedikit, (3) Ada perbedaan efikasi diri akademik antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert di SMA Negeri 1 Trenggalek (t=8,242 dan signifikan 0,000 ˂ 0,05) dan tingkat efikasi diri akademik siswa yang berkepribadian ekstrovert lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berkepribadian introvert (selisih mean = 57,7708) Berdasarkan hasil penelitian di SMA Negeri 1 Trenggalek, disarankan bagi kepala sekolah untuk membuat kebijakan dengan cara pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan dan efikasi diri akademik. Sementara konselor sekolah ii dapat memberikan layanan tentang percaya diri dan cara untuk meningkatkannya menggunakan teknik ekspositori terutama untuk siswa yang berkepribadian introvert dan memberikan permainan sosiodrama dengan melibatkan siswa terutama siswa yang berkepribadian introvert dengan tema giat belajar. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mengadakan penelitian yang berkaitan dengan efikasi diri akademik dan kepribadian individu faktor-faktor yang melatarbelakangi dan topik-topik lain yang terkait dengan efikasi diri akademik dan tipe kepribadian.

Pengaruh penggunaan turbojet accelerator pada kendaraan berbahan bakar campuran solar dan minyak jarak 20% terhadap kadar emisi gas buang (CO, O2, dan CO2) / Choirul Anam

 

ABSTRAK Anam, Choirul. Pengaruh Penggunaan Turbojet Accelerator Pada Kendaraan Berbahan Bakar Campuran Solar dan Minyak Jarak 20% terhadap Kadar Emisi Gas Buang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sukarni, ST. MT. (2) Dr. Marji, M.Kes. Kata Kunci: Turbojet Accelerator, Minyak Jarak, Emisi Gas Buang. Keterlambatan pemasukan udara ke ruang bakar saat akselerasi maupun putaran tinggi menjadi salah satu penyebab tidak sempurnanya pembakaran. Pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan beberapa emisi gas buang yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Untuk mengurangi kapasitas keterlambatan udara yang masuk ke ruang bakar maka pada motor diesel dipasang turbojet accelerator yang berfungsi mempercepat aliran udara masuk ke ruang bakar. Hasil instalasi turbojet accelerator ini diharapkan dapat menambah pasokan udara di ruang bakar, sehingga terjadi kesempurnaan pembakaran yang berujung pada berkurangnya kadar emisi gas buang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar emisi gas buang (CO, O2, dan CO2) pada motor diesel berbahan bakar campuran solar dan minyak jarak 20% pada faktor variasi putaran mesin, penggunaan turbojet accelerator, dan interaksi antara variasi putaran mesin dan penggunaan turbojet accelerator. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan desain faktorial 5x2. Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah metode anava dua jalur dengan menggunakan turbojet accelerator pada kendaraan berbahan bakar campuran solar dan minyak jarak 20% pada putaran 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar emisi gas buang (CO, O2, dan CO2) ) pada motor diesel berbahan bakar campuran solar dan minyak jarak 20% pada faktor variasi putaran mesin, penggunaan turbojet accelerator, dan interaksi antara variasi putaran mesin dan penggunaan turbojet accelerator. Kadar CO mengalami perbedaan 0,5 % yaitu tanpa menggunakan turbojet accelerator sebesar 2% dan dengan turbojet accelerator sebesar 2,5%. Kadar O2 mengalami perbedaan 6,5 % yaitu tanpa menggunakan turbojet accelerator sebesar 7,5% dan dengan turbojet accelerator sebesar 1%. Kadar CO2 mengalami perbedaan 0,12 % yaitu tanpa menggunakan turbojet accelerator sebesar 3,76% dan dengan turbojet accelerator sebesar 3,86%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan turbojet accelerator pada motor diesel dengan menggunakan prosentase kandungan minyak jarak pada solar di atas 20%, juga disarankan untuk melakukan penelitian mengukur emisi gas buang motor diesel yang lainnya seperti debu dan asap motor diesel.

Peran orangtua murid dalam pembelajaran anak usia dini dengan pendekatan BCCT (studi kasus kelompok bermain Tiara Bangsa Jl. Puncak Jaya No. 2 Malang) / Mamik Yuniarti

 

ABSTRAK Yuniarti, Mamik. 2009. Peran Orangtua Murid dalam Pembelajaran Anak Usia Dini dengan Pendekatan BCCT (Studi Kasus Kelompok Bermain Tiara Bangsa Jl. Puncak Jaya No.2 Malang). Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd (II)Ellyn Sugeng Desyanti, S.Pd, M.Pd Kata Kunci : Peran Orang tua, pembelajaran Anak Usia Dini, Pendekatan BCCT Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran orang tua murid KB Tiara Bangsa dalam pembelajaran Anak Usia Dini dengan pendekatan BCCT. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dari penelitian ini menggunakan metode angket, observasi dan hasil studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah teknik deskriptif untuk data yang diperoleh dari observasi dan teknik prosentase untuk data angket. Hasil penelitian sebagai berikut metode BCCT adalah adalah suatu metode atau pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang bertujuan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (kecerdasan jamak) melalui kegiatan bermain yang terarah. Peran orang tua dalam kegiatan pembelajaran anak adalah melalui tambahan belajar di rumah dengan mengulang pelajaran yang diajarkan di sekolah, mengajarkan kemandirian, dan menciptakan lingkungan belajar yang baik. Saran yang dapat dikemukakan adalah bagi pendidik di KB Tiara Bangsa : (1) perlu dikembangkan lagi metode pembelajaran yang dirasakan sebagai faktor penghambat karena terlalu monoton, sehingga dapat menghidupkan suasana di dalam kelas dan menarik minat anak, (2) penggunaan media sebagai alat bantu dalam menyampaikan materi harus lebih disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan sehingga materi dapat mengena pada anak.Bagi orang tua murid KB Tiara Bangsa : (1) orang tua hendaknya memahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain, sehingga mereka hendaknya tidak memaksakan anaknya untuk duduk tenang dan belajar. Tetapi orang tua dapat mengajak anaknya dengan bermain sehingga lebih menarik minat anak dan menyenangkan, (2) kerjasama yang telah terjalin dengan baik perlu ditingkatkan lagi, sehinggaorang tua lebih memahami perkembangan anak tidak hanya di rumah tetapi juga di sekolah.

Perilaku jangka panjang pergerakan sunspot kelas J pada tahun 1990 sampai tahun 1993 di belahan utara dan selatan matahari / Mahayudha Putra Rakhmatya

 

ABSTRAK Putra, Mahayudha 2009. Perilaku Jangka panjang Pergerakan Sunspot Kelas J Pada Tahun 1990 Sampai Tahun 1993 di Belahan Utara dan Selatan Matahari. Skripsi, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sutrisno, M.T, (II) Ir. Bambang Setiahadi P., B.Sc, M.Sc, D.Sc. Kata Kunci : Matahari,Sunspot, Gerak sunspot, Perilaku Jangka Panjang Matahari merupakan pusat tatasurya dari galaksi Bimasakti dan mempunyai struktur yang berbeda dengan benda-benda yang berada di sekitarnya. Struktur Matahari terdiri dari berbagai macam lapisan, antara lain fotosfer, kromosfer, korona, dan inti. Sebelum lapisan fotosfer, inti Matahari juga diselimuti oleh lapisan yang bersifat radiatif dan konvektif. Matahari juga melakukan aktivitas yang dapat kita amati baik secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan jangka panjang aktivitas Matahari biasanya digunakan parameter Panjang Siklus Bintik (PBS) yang dapat dihitung berdasarkan tahun (epoch) dari amplitudo maksimum ke maksimum atau dari tahun minimum ke minimum siklus bintik dan biasa ditandai dengan munculnya sunspot, granula, fakula, flare, promiensa, dan spikula. Tanda-tanda aktivitas Matahari tersebut lebih mudah diketahui dengan melakukan pengamatan terhadap sunspot, karena sunspot mempunyai bentuk yang cukup stabil dan bertahan lama dibandingkan dengan tanda-tanda aktivitas yang lain. Sunspot mempunyai kecepatan yang tidak stabil karena dipengaruhi oleh letak atau posisi, bentuk, ukuran juga gerakan pada bagian dalam dan luar fotosfer. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode pendekatan grafis. Data diperoleh dari Sistem Pengamatan Matahari (SPM) Watukosek Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berupa sketsa sunspot tahun 1990 sampai dengan 1993. Data tersebut kemudian diolah kembali dengan menggunakan softwere IDL 5.0.3 yang telah dilengkapi dengan program pengoperasiannya. Dari data hasil IDL tersebut peneliti menganalisis dengan menggunakan softwere microsoft office excel 2003 untuk mendapatkan hasis penelitian berupa pendekatan grafis. Grafik perilaku jangka panjang sunspot kelas J pada tahun 1990 sampai tahun 1993 pada belahan utara maupun selatan menunjukkan hubungan polinom. Peneliti memperoleh hasil penelitian berupa pola pergerakan sunspot kelas J pada belahan utara matahari cenderung menjauhi ekuator , dan pada bagian selatan matahari memiliki kecenderungan mendekati ekuator. Hal ini disebabkan oleh aliran konveksi yang ada di dalam lapisan matahari yang berputar menuju ekuator dan kutub, sehingga berpengaruh pada pola pergerakan/ pergeseran posisi sunspot. Disarankan penelitian terhadap sunspot kelas J harus terus dikembangkan, mengingat sunspot kelas J ini memiliki umur yang lebih lama dalam setiap kemunculannya dan memeliki bentuk dan grup sunspot yang relatif sedikit dan sederhana. Sehingga sangat mudah di amati pergerakan sunspotnya.

Pengaruh kualitas produk terhadap proses keputusan pembelian handphone Nokia (studi pada mahasiswa UM UPP 3 Blitar) / Ayu Widyafati Rokhmah

 

ABSTRAK Rokhmah, Ayu Widyafati. 2010. Pengaruh Kualitas Produk terhadapProses Keputusan Pembelian Handphone Nokia (Studi pada Mahasiswa UM UPP 3 Blitar). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Djoko Dwi K, M.Si, (II) Hj. Ita Prihatining W, S.E, M.M Kata Kunci: kualitas produk, proses keputusan pembelian. Dunia pemasaran telekomunikasi yang semakin kompetitif menuntut perusahaan handphone untuk memiliki keunggulan daya saing. Kualitas produk adalah suatu hal yang harus diperhatikan, agar perusahaan mempunyai keunggulan dalam bersaing. Nokia merupakan salah satu nama merek suatu produk telepon genggam yang diproduksi oleh perusahaan telepon genggam, Nokia Corporation. Berdasarkan Market Survey oleh Pixel Research terhadap responden pengguna telepon genggam di Jakarta baru-baru ini diketahui bahwa merek handphone yang paling diingat adalah Nokia (61%), Sony Ericcson (22%), Samsung (6%), dan sisanya ditempati Motorola, Siemens, dan Phillips. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kondisi kualitas produk (kinerja, keistimewaan, keandalan, kemampulayanan dan persepsi kualitas) dan proses keputusan pembelian handphone Nokia pada mahasiswa UM UPP 3 Blitar. (2) Pengaruh kualitas produk secara parsial terhadap proses keputusan pembelian mahasiswa UM UPP 3 Blitar dalam membeli handphone Nokia.(3) Pengaruh kualitas produk secara simultan terhadap proses keputusan pembelian mahasiswa UM UPP 3 Blitar dalam membeli handphone Nokia.(4) Kualitas produk yang berpengaruh paling dominan terhadap proses keputusan pembelian mahasiswa UM UPP 3 Blitar dalam membeli handphone Nokia. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas produk, terdiri dari kinerja, keistimewaan, keandalan, kemampulayanan dan persepsi kualitas. Variabel terikatnya adalah proses keputusan pembelian Handphone Nokia. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Universitas Negeri Malang UPP III Blitar Fakultas Ekonomi tahun akademik 2006/2007 dan tahun akademik 2007/2008 yang menempuh studi di Malang dan menggunakan handphone Nokia.Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Daniel and Terrel, sehingga ditemukan jumlah sample sebanyak 73 mahasiswa. Penelitian menyimpulkan: (1) Terdapat pengaruh positif signifikan dari Kinerja, kehandalan, keistimewaan, kemampulayanan dan persepsi kualitas produk produk berpengaruh positif signifikan terhadap proses keputusan pembelian handphone nokia, secara parsial maupun simultan (2) Keistimewaan produk merupakan sub variabel yang dominan berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian handphone Nokia. Saran yang dapat diberikan antara lain: Perusahaan dapat meningkatkan kemampulayanan produknya dalam menanggapi kritik, saran, keluhan, dan lain-lain sehingga mampu memberikan kepuasan bagi konsumen dan akhirnya meningkatkan keputusan pembelian handphone nokia

Persepsi siswa terhadap pembelajaran mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran di SMK Negeri 7 Malang / Majid

 

ABSTRAK Majid. 2010. Persepsi Siswa Terhadap Pembelajaran Mata Pelajaran Produktif Bidang Keahlian Restoran Di SMK Negeri 7 Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Widiyanti, M.Pd., (2) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci: Persepsi Siswa, Pembelajaran, Mata Pelajaran Produktif. Mata pelajaran produktif merupakan sebagian program keahlian restoran yang membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten, dan merupakan upaya bagi sekolah yang menjadi tempat bernaung bagi siswa sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan yang menitik beratkan pada penguasaan dan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu pada penerapan di lapangan. Berhasil tidaknya proses belajar mengajar pada mata pelajaran produktif di sekolah disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan ditentukan oleh banyak faktor, baik dari internal maupun dari eksternal. Kenyataan yang ada pada saat penelitian awal dilakukan, minat belajar siswa pada mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran di SMK Negeri 7 Malang selalu timbul dan tenggelam, dimana siswa hanya memiliki minat karena adanya paksaan dan jika ditinjau dari daya serap dan kemampuan belajar siswa masih rendah. Berdasarkan pengamatan selama penelitian ini, menunjukkan pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran yang dilakukan di SMK Negeri 7 Malang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Persepsi Siswa Terhadap Pembelajaran Mata Pelajaran Produktif Bidang Keahlian Restoran di SMK Negeri 7 Malang, meliputi: 1) metode pembelajaran, 2) bahan ajar, dan 3) fasilitas pembelajaran. Responden/subjek yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI restoran 1 dan restoran 2 yang ada di SMK Negeri 7 Malang pada tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 20 siswa dari 53 jumlah keseluruhan, sampel yang dipergunakan dari kelas XI restoran 1 sebanyak 10 siswa dan dari kelas XI restoran 2 sebanyak 10 siswa. Teknik atau prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik Sample Non-Random, yaitu setiap individu yang menjadi anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan anggota sampel penelitian. Dikarenakan jadwal yang ada pada siswa kelas XI restoran 1 dan siswa kelas XI restoran 2 SMK Negeri 7 Malang pada tahun ajaran 2009/2010, sudah memasuki masa ujian akhir semester serta jadwal pagelaran boga (restoran) dan busana yang menghambat peneliti untuk melakukan penelitian. Prosedur penelitian yang digunakan adalah teknik sampling Non-Probabilitas Purposive atau yang disebut juga teknik sampling pertimbangan. Metode pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dari paparan data hasil wawancara menunjukkan bahwa dari jawaban siswa terhadap pertanyaan pada saat wawancara bersifat homogen. (1) Persepsi siswa terhadap metode pembelajaran pada mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran di SMK Negeri 7 Malang secara umum kurang baik; (2) Persepsi siswa terhadap bahan ajar pada mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran yang dirasakan siswa secara umum cukup baik; (3) Persepsi siswa terhadap fasilitas pembelajaran pada mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran secara umum kurang baik. Dengan demikian menunjukkan bahwa persepsi siswa SMK Negeri 7 Malang terhadap pembelajaran mata pelajaran produktif bidang keahlian restoran secara umum kurang baik.

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas melalui kepuasan pelanggan (studi pada konsumen toko buku Restu di Kota Blitar) / Elsa Oktaviasari

 

ABSTRAK Sari, Elsa,Oktavia. 2009. Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas Melalui Kepuasan Pelanggan (Studi pada Konsumen Toko Buku Restu di Kota Blitar). Skripsi, Jurusan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sopiah, M.Pd, M.M (II) Drs. Djoko Dwi Kusumojanto, M.Si Kata Kunci: Kualitas Layanan, Loyalitas Pelanggan, Kepuasan Pelanggan. Persaingan yang semakin ketat dan kompetitif dewasa ini membuat pelaku pasar lebih berpacu dan terus bersaing untuk dapat bertahan di dunia bisnisnya karena pelaku binis tidak saja dari dalam negeri tapi juga luar negeri, kompetisi ini bisa diibaratkan sebagai “war of movement”. Yakni dalam segala hal keberhasilan ditentukan pada bagaimana cara perusahaan mengantisipasi pasar dan reaksi cepat terhadap setiap perubahan kebutuhan maupun perilaku konsumen. Dengan adanya situasi persaingan tersebut menyebabkan perusahaan-perusahaan sulit untuk meningkatkan jumlah pelanggan, apalagi di dalam suatu proses pembelian konsumen tidak hanya berhenti sampai proses konsumsi. Konsumen pasti akan melakukan evaluasi terhadap konsumsi yang dilakukannya, sehingga akan timbul perasaan puas atau tidak puas terhadap produk yang telah dikonsumsinya. Di dalam pasar yang sudah ada, terlalu banyak produk dengan berbagai keunggulan serta nilai lebih yang ditawarkan oleh para pesaing. Sehingga sulit bagi perusahaan untuk merebut pangsa pasar pesaing dan alternatif yang lebih baik adalah perlunya melakukan berbagai upaya mempertahankan pasar yang sudah ada. Melalui usaha meningkatkan loyalitas pelanggan serta memberikan nilai lebih berupa pelayanan yang sesuai harapan maupun tuntutan dari konsumen secara teus-menerus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara langsung tangibles (bukti fisik), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan empaty (empati) terhadap kepuasan konsumen, pengaruh kepuasan terhadap loyalitas pelanggan. Pengaruh secara tidak langsung tangibles (bukti fisik), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan empaty (empati) terhadap loyalitas melalui kepuasan pelanggan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuisioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis jalur. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen toko buku Restu di Kota Blitar. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode accidental sampling. Jumlah populasi sebanyak 600 orang sehingga sampel penelitian ditentukan sebesar 112 responden. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu variabel dimensi kualitas layanan yang meliputi tangibles (bukti fisik) (X1), reliability (keandalan) (X2), responsiveness (daya tanggap) (X3), assurance (jaminan) (X4), dan empaty (empati) (X5). Variabel terikat yaitu loyalitas pelanggan dengan variabel intervening kepuasan pelanggan toko buku Restu di kota Blitar. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS for windows release 13.0 dengan taraf signifikansi 5%. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis jalur (path analysis). Diketahui hasil penelitian menyatakan bahwa: (1) bukti fisik mempunyai β = 0,744, (2) keandalan dengan nilai β = 0,851, (3) daya tanggap pempunyai β = 0,876, (4) jaminan dengan nilai β = 0,841, dan (5) empati dengan nilai β = 0,863. variabel intervening yaitu kepuasan memiliki nilai β= 0,962, loyalitas pelanggan dengan nilai e2=0.238, kepuasan pelanggan memiliki nilai β = 0, 962. Ini membuktikan bahwa : (1) Terdapat pengaruh langsung yang signifikan bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati terhadap kepuaan pelanggan, (2) terdapat pengaruh langsung yang signifikan kepuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan, (3) terdapat pengaruh langsung signifikan kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan, dan (4) terdapat pengaruh tidak langsung kualitas layanan terhadap loyalitas melalui kepuasan pelanggan. Berdasarkan penelitian maka saran yang diberikan untuk toko buku Restu di Kota Blitar agar konsumen menjadi lebih loyal yaitu dengan cara membangun suatu komitmen pelanggan dalam memberikan jaminan kepuasan pelayanan yang merupakan kepuasan pelanggn untuk menggunakan jasa toko buku Restu di Kota Blitar.

Penerapan teknik patchwork pada gaun pesta asimetris / Sih Wulansari

 

Gaun Pesta Asimetris adalah busana yang terdiri dari busana yang menutup bagian atas dan menutup bagian bawah terdiri dari satu bagian (one piece), yang dirancang secara pas (fitted) dengan potongan melekuk ke samping atau dengan kata lain keseluruhan sisi kanan dan sisi kirinya berlawanan/tidak simetris. Gaun model ini tampak luwes sebab akan menampilkan lekuk tubuh pemakainya. Gaun asimetris ini diaplikasikan dengan teknik patchwork mengunakan satu jenis bahan yang sama, namun dengan tiga warna yang berbeda yaitu warna merah, jingga dan hijau kebiruan, penggabungan ketiga warna ini memberikan kesan enerjig dan dinamis pada pemakainya. Penggunaan bahan yang dimaksud adalah bahan kain katun, hal ini didasarkan karena kain katun memiliki tingkat kenyamanan yang lebih pada saat dipakai. Patchwork adalah menggabungkan beberapa motif atau warna kain yang berbeda dengan bantuan tangan atau mesin yang akan menjadikan sehelai kain mempunyai motif unik dan langka. Pada pembuatan gaun pesta asimetris dengan teknik patchwork ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain, pada pembuatan gaun ataupun busana dengan penggunaan motif patchwork diusahakan ukuran model tidak berubahubah agar motif tetap menyambung sesuai pola, pemberian interlining sangat berpengaruh pada hasil patchwork agar bagian-bagian patchwork tidak terlihat kusut. Potongan patchwork pada gaun ini menggunakan potongan menyerong, hal ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih sebab kain dengan potongan menyerong mempunyai sifat mudah mulur, sehingga pada pemberian tanda dilakukan dengan cara menjelujurnya.

Pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan di SMA negeri se-kota Probolinggo / Mochamad Anggoro Dwidianto

 

ABSTRAK Dwidianto, Mochamad Anggoro. 2009. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Se-Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Maisyaroh, M.Pd. (II) Dr. H. Achmad Supriyanto, M.Pd, M.Si. Kata kunci: pengelolaan, sarana dan prasarana pendidikan. Menurut Bafadal (2008:1) “pengelolaan merupakan proses pendayagunaan semua sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Tim Pakar Manajemen Pendidikan (2003:86) “pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien”. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti bahwa Kota Probolinggo merupakan penerima Piala Adipura yang ketiga kali, selain itu beberapa sekolah juga menerima Piala Adiwiyata Tingkat Nasional untuk Lomba Sekolah Berbudaya Lingkungan dan Rancangan Sekolah Berstandar Internasional, karena itu peneliti ingin mengetahui apakah pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan di SMAN se-Kota Probolinggo sudah dilaksanakan atau belum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses: perencanaan sarana dan prasarana pendidikan, pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan, penggunaan sarana dan prasarana pendidikan, penghapusan barang inventaris di SMA Negeri se-Kota Probolinggo. Subjek penelitian ini adalah seluruh personel sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, dan pegawai tata usaha sekolah. Lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri di Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini memiliki satu variabel yaitu variabel pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan. Populasi penelitian adalah seluruh personel SMA Negeri Se-Kota Probolinggo yang berjumlah 281 orang. Sampel penelitian berjumlah 165 orang yang tersebar di 4 SMAN Se-Kota Probolinggp. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive proportional random sampling. Pengambilan data menggunakan angket tertutup. Hasil penelitian menunjukkan: (1) proses perencanaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah mengadakan rapat perencanaan sarana dan prasarana sekolah, (b) membuat susunan rencana kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, (c) menyeleksi sarana dan prasarana yang telah direncanakan dengan melihat dana yang tersedia, dan (d) menetapkan rencana pengadaan akhir sarana dan prasarana sekolah. Proses tersebut sebagian besar sudah sering dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (2) proses pengadaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) menganalisis apa saja kebutuhan dan fungsi sarana dan prasarana sekolah, (b) mengklasifikasikan sarana dan prasarana apa saja dibutuhkan, (c) sekolah membuat proposal pengadaan sarana dan prasarana yang ditujukan kepada pemerintah, dan (d) sekolah melakukan pengadaan dengan beberapa cara. Proses tersebut sebagian besar sudah sering dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (3) proses pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah melakukan perawatan terus-menerus, berkala, dan darurat, (b) sekolah melakukan pemeliharaan yang sifatnya sehari-hari, dan (c) perbaikan sarana dan prasarana yang sifatnya ringan dilakukan oleh pihak sekolah sendiri, tetapi apabila kerusakannya berat sekolah mendatangkan teknisi dari luar. Proses tersebut sebagian besar selalu dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (4) proses inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) melaksanakan kegiatan pengadministrasian barang inventaris dengan memasukkan ke dalam buku induk barang inventaris, buku golongan barang inventaris, buku catatan barang non inventaris, daftar laporan triwulan, mutasi barang inventaris, daftar rekap barang inventaris, (b) memberi kode sarana dan prasarana di sekolah, dan (c) membuat laporan triwulan dan tahunan barang inventaris. Proses tersebut sebagian besar selalu dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (5) proses penggunaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah mengatur sendiri petunjuk pemakaian sarana pendidikan yang di beli kepada produsen, (b) mendeskripsikan sendiri dalam bentuk gambar atau tulisan petunjuk pemakaian sarana pendidikan yang baru di beli, (c) menegaskan kembali teknik penggunaan sarana pendidikan yang baru, melalui pelatihan atau memberi contoh penggunaan barang dari pihak yang telah memahami penggunaan barang tersebut, dan (d) sekolah menyesuaikan intensitas penggunaan sarana dan prasarana dengan kepentingan dari pemakai. Proses tersebut sebagian besar selalu dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; dan (6) proses penghapusan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah melaksanakan prosedur penghapusan barang inventaris dengan cara pemusnahan, dan (b) sekolah melaksanakan prosedur penghapusan barang inventaris dengan cara lelang. Proses tersebut sebagian besar tidak pernah dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar: (1) pengawas dan pejabat dinas pendidikan kota probolinggo: agar lebih meningkatkan pengawasan tentang penghapusan sarana dan prasarana di setiap sekolah sehingga kebijakan yang diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, melalui meningkatkan penghapusan sarana dan prasarana yang ada di sekolah; (2) kepala sekolah SMA Negeri se-kota Probolinggo: agar lebih meningkatkan proses penghapusan barang inventaris yang jarang dilakukan oleh sekolah. Sehingga dapat dijadikan titik tolak untuk meningkatkan dalam hal mengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang dipimpinnya dalam rangka pendayagunaan secara optimal; (3) guru dan petugas tata usaha pengurus sarana dan prasarana sekolah: agar penghapusan barang inventaris di sekolah perlu ditingkatkan, sehingga pengetahuan tentang penghapusan barang inventaris pendidikan bukan hanya sebagai wawasan, tetapi sebagai suatu kesatuan dalam proses pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan; (4) jurusan administrasi pendidikan: Hendaknya mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan atau seminar mengenai penghapusan barang inventaris pendidikan, agar pelaksanaan penghapusan barang inventaris pendidikan selalu dilaksanakan secara optimal; (5) peneliti lain: penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan atau acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya.

Pengaruh persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar siswa kelas XII Jurusan Akuntansi pada mata pelajaran akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar / Farida Yanti

 

ABSTRAK Yanti, Farida. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa Mengenai Variasi Metode Mengajar Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Jurusan Akuntansi pada mata pelajaran akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Sugeng, S.E, Ak, M.A, M.M. (II) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata kunci: Persepsi, variasi mengajar, metode mengajar, motivasi belajar. Persepsi merupakan pemberian makna terhadap sesuatu.Variasi adalah penganekaragaman dalam penyajian kegiatan mengajar sebagai salah satu kreatifitas guru untuk membelajarakan siswa. Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru untuk melakukan hubungan dengan siswa untuk melaksanakan proses pemebelajaran. Sedangkan motivasi belajar siswa merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Semakin baik persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru maka motivasi belajar siswa juga akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru trehadap motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Akuntansi pada mata pelajaran Akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (Explanatory) dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Jurusan Akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar yang berjumlah 113 siswa dengan sampel sebesar 39 responden sedangkan teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis deskriptif dan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa persepsi mengenai variasi metode mengajar guru berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi, sebesar 30,9% dan sisanya 69.1% dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti. Dapat dilihat juga dari hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai uji t untuk persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru adalah 4.064 dengan signifikansi 0.000 pada taraf kesalahan 5%. Dari hasil angka signifikansi 0.000 <0.05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Implikasi hasil analisis adalah terdapat pengaruh antara persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi. Saran bagi guru hendaknya memperhatikan metode yang dipilih karena dilihat dari kedudukan metode yang sangat penting dalam pembelajaran, hal tersebut menyangkut motivasi dan keberhasilan peseta didik.

Pengaruh pembelajaran problem solving berbantuan PhET terhadap pengusaan konsep fisika dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMAN 8 Mataram / M. Abdurrahman Sunni

 

Sunni, M. Abdurrahman. 2014. Pengaruh Pembelajaran Problem Solving Berbantuan PhET terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMAN 8 Mataram. Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Wartono, M.Pd. (II) Dr. Markus Diantoro, M.Si Kata kunci: problem solving, PhET, penguasaan konsep, kemampuan berpikir kritis.     Pembelajaran fisika diarahkan agar siswa terlibat aktif dalam mencari tahu dan berbuat. Dengan keterlibatan siswa secara aktif diharapkan dapat menguasai materi pelajaran dengan baik. Siswa yang aktif akan mudah menerapkan pengetahuannya dalam memecahkan setiap masalah. Sejauh ini belum ditemukan laporan penelitian yang mengkaji keunggulan problem solving berbantuan PhET dalam pendidikan fisika. Pembelajaran problem solving merupakan pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah secara ilmiah. Penggunaan problem solving membutuhkan media yang mampu meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan penuh semangat dan menyenangkan. Media simulasi PhET merupakan alternatif yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran problem solving. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran problem solving berbantuan PhET, pembelajarn problem solving, dan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep fisika dan kemampuan berpikir kritis siswa.     Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi dengan posttest only design. Pengambilan data dilakukan dengan tes penguasaan konsep sebanyak 20 soal dan tes kemampuan berpikir kritis sebanyak 5 soal setelah diberikan perlakuan pada 3 kelompok kelas yang terdiri dari 180 siswa. Kelompok pertama adalah siswa yang belajar dengan pembelajaran problem solving berbantuan PhET, kelompok kedua adalah siswa yang belajar dengan pembelajaran problem solving, dan kelompok ketiga adalah siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Sebelum diberikan perlakuan dan pengambilan data, instrumen penelitian yang digunakan telah melalui uji ahli dan uji coba. Teknik analisis data menggunakan uji Manova satu jalur dilanjutkan dengan uji Tukey.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan pembelajaran problem solving berbantuan PhET, pembelajaran problem solving, dan pembelajaran konvensional. Perbedaan ini disebabkan adanya proses pembelajaran yang berbeda antara ketiga kelompok kelas. Penguasaan konsep siswa yang menggunakan pembelajaran problem solving berbantuan PhET lebih tinggi dari siswa yang menggunakan pembelajaran problem solving dan pembelajaran konvensional. Selain itu, kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan pembelajaran problem solving berbantuan PhET lebih tinggi dari siswa yang menggunakan pembelajaran problem solving dan pembelajaran konvensional. Hasil ini diperoleh karena pada pembelajaran problem solving berbantuan PhET, siswa diasah kemampuan berpikir kritisnya melalui penyajian gejala fisika dalam kehidupan sehari-hari dan dikembangkan penguasaan konsep siswa melalui kegiatan eksperimen di laboratorium riil dan simulasi PhET.

Profesionalisme guru ekonomi bersertifikat pendidik dalam jabatan tahun 2008 di SMAN Kota Malang / Emma Yunika Puspasari

 

ABSTRAK Puspasari, Emma, Yunika. 2009. Profesionalisme Guru Ekonomi Bersertifikat Pendidik Dalam Jabatan Tahun 2008 di SMA Negeri Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Nasikh S.E, M.P, M.Pd, (2) Agus Sumanto S.E, M.Sa. Kata Kunci : Profesionalisme guru, Sertifikasi Peningkatan kualitas guru dirancang secara sistematis dan berjangka panjang, dimulai dari regulasi dengan diundangkannya UU NO. 14 tahun 2005, tentang guru dan dosen. Terbitnya UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) ditengarai oleh sebagian besar kalangan sebagai pertanda keseriusan pemerintah dalam menanggapi aspirasi pendidik akan peningkatan kesejahteraan mereka. Pada akhirnya, UUGD menjadi landasan hukum sebuah kebijakan pendidikan yang begitu populer saat ini, yaitu kebijakan sertifikasi pendidik. Menurut PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Pemenuhan keempat kompetensi tersebut dibuktikan dengan sertifikat pendidik melalui uji sertifikasi guru. Dengan ditetapkannya guru sebagai jabatan professional maka guru dituntut memiliki kompetensi tertentu, yang terukur dan teruji melalui prosedur tertentu. Dalam UU No. 14 Tahun 2005 pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa sebagai pendidik profesional, guru mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan keadaan di lapangan tentang profesionalisme guru ekonomi yang bersertifikat pendidik di SMA Negeri Kota Malang. Penelitian ini dilakukan di SMAN Kota Malang dengan jumlah guru ekonomi yang lulus sertifikasi dalam jabatan tahun 2008 sebanyak 10 orang.Dalam penelitian ini dideskripsikan bagaimana profesionalisme guru ekonomi dilihat dari segi kinerja dan kompetensi guru yang telah lulus program uji sertifikasi, untuk mencapai tujuan menggunakan instrumen penelitian yaitu studi dokumentasi dan metode angket atau kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kompetensi profesinalisme guru ekonomi yang lulus sertifikasi dalam jabatan tahun 2008 di Kota Malang adalah sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil analisis data yang menunjukkan bahwa masing-masing sub kompetensi yaitu 70% guru memiliki kompetensi kepribadian sangat baik, 80% guru memiliki kompetensi sosial sangat baik, 90% memiliki kompetensi pedagogik sangat baik, 80% guru memiliki kompetensi profesional yang baik, sedangkan untuk kinerja guru ekonomi yang lulus sertifikasi dalam jabatan tahun 2008 di SMAN Kota Malang adalah sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil analisis data yang menyatakan bahwa masing-masing sub variabel kinerja guru yaitu 80% guru memiliki tingkat kinerja pada penyusunan program pembelajaran yang sangat baik, 60% guru menerapkan pelaksanaan evaluasi pembelajaran dengan sangat baik, 80% guru memiliki tingkat kinerja dalam melaksanakan analisis evaluasi pembelajaran dengan baik, 60% guru memiliki tingkat kinerja dalam pelaksanaan perbaikan dan pengayaan dengan sangat baik, 70% guru memiliki tingkat kinerja dalam pelaksanaan pembelajaran dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan kepada guru ekonomi bersertifikat pendidik dalam jabatan tahun 2008 di SMAN Kota Malang untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi profesionalisme serta kinerja guru dalam dunia kependidikan untuk menciptakan kelayakan guru sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Analisis protein membran spermatozoa kambing peranakan etawa, kambing boer, dan kambing kacang sebagai pendekatan kekerabatan / Gustu Widi Kencana Putra

 

Putra, Kencana Widi Gustu. 2014. Analisis Protein Membran Spermatozoa Kambing Peranakan Etawa, Kambing Boer dan Kambing Kacang Sebagai Pendekatan Kekerabatan. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Umie Lestari, M.Si (II) Sofia Ery Rahayu, S.Pd,M.Si Kata kunci: analisis protein, membran spermatozoa kambing, hubungan kekerabatan kambing, sistem perkawinan kambing. Jenis kambing lokal yang dipelihara di Indonesia diantaranya kambing kacang, kambing Boer, dan kambing Peranakan Etawa (PE). Untuk mencegah dampak negatif perkawinan kambing, maka perlu diketahui hubungan kekerabatan antar hewan dengan menggunakan analisis protein membran spermatozoa kambing. Protein membran spermatozoa kambing merupakan protein yang terekspresi dalam jaringan testis kambing, diantaranya enzim Glutathione S-transferases (GSTs) dengan berat molekul 23 kDa dan 26 kDa. Terdapat juga protein membran sperma yang dikode oleh gen SRY dengan berat molekul 39 kDa. Protein ini digunakan sebagai protein penanda molekuler untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar kambing PE, kambing boer dan kambing kacang. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh profil protein membran spermatozoa secara keseluruhan dan profil membran testicular spermatozoa kambing Peranakan Etawa, kambing boer, dan kambing kacang. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dan dilakukan pada bulan Maret-April 2014 di laboratorium Biologi Molekuler FMIPA Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel sperma kambing dalam bentuk straw diambil dari BBIB Singosari Malang. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik isolasi protein membran spermatozoa kambing dan teknik elektroforesis SDS PAGE (Sodium Dedocyl Sulphate-Polyacrilamide Gel Electrophoresis). Data berupa pita gel elektroforesis, di hitung berat protein standar dengan mencari nilai Rf, kemudian dianalisis regresi linier dengan program SPSS 16. Hubungan kekerabatan antar kambing dilakukan dengan cara dianalisis menggunakan software MVSP (Multivariate Statistical Package) 3.22. Hasil penelitian menunjukan bahwa, profil pita membran spermatozoa kambing peranakan etawa, kambing boer dan kambing kacang, secara keseluruhan menunjukan adanya perbedaan. Perbedaan ini ditunjukan dari berat molekul pita yang terbentuk dari hasil elektroforesis masing-masing isolat protein kambing. Kambing PE memiliki protein penanda molekuler dengan berat molekul 23 kDa dan 39 kDa, kambing boer dengan berat molekul 26 kDa, sedangkan kambing kacang tidak memiliki protein penanda molekuler. Kambing PE berkerabat dekat dengan kambing boer dengan indeks similaritas 0,667 sedangkan kambing kacang berkerabat jauh dengan kambing PE dan boer dengan indeks similaritas 0,500. Dari hubungan kekerabatan tersebut maka sistem perkawinan yang tepat pada kambing tersebut adalah perkawinan silang (cross breeding) antara kambing PE dengan kambing kacang dan kambing boer dengan kambing kacang.

Perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe group investigation dnegan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (metode ceramah) pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 8 Malang /Gusti Ayu Dian P

 

ABSTRAK Purnamasari,Gusti Ayu Dian.2010. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Dengan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Pembelajaran Konvensional (Metode Ceramah) Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nasikh, SE MP, M.Pd, (II) Agus Sumanto, SE, M.SA Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, Group Investigation, hasil belajar, pembelajaran konvensional Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama siswa dalam kelompoknya untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan. Salah satu pembelajaran kooperatif adalah tipe group investigation. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (investigasi berkelompok) ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah,mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis. Melalui model ini siswa diharapkan dapat menganalisis suatu masalah dan dapat bekerjasama dengan temannya. Sedangkan pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang dalam pengajarannya banyak menggunakan metode ceramah sehingga dapat membuat siswa kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dengan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (metode ceramah) pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 8 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah 331 siswa yang terbagi ke dalam 9 kelas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimental. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari 2 kelas yaitu siswa kelas X-4 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X-3 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan model group investigation, sedangkan kelas kontrol kelas yang diajar tanpa menggunakan model group investigation dalam pembelajaran. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan pemberian tes prestasi (data kognitif) dalam pembelajaran ekonomi pada materi circular flow diagram dan peran pelaku ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dengan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (metode ceramah). Hal itu ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar yang menggunakan group investigation dan yang tidak menggunakan group investigation, terbukti dari rerata hasil belajar siswa dari aspek kognitif sebesar 75,51 (kelas eksperimen) sedangkan kelas kontrol sebesar 65. Begitu pula dari aspek afektif rerata hasil belajar kelas eksperimen sebesar 77,78 lebih besar dari kelas control yang hanya 60,4. Group investigation memberikan pengaruh positif terhadap siswa kelas X-4. Dengan group investigation siswa semakin aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas sehingga hasil belajar (kognitif dan afektif) kelas X-4 (eksperimen) lebih tinggi daripada kelas X-3 (kontrol). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe group investigation pada kelas eksperimen dengan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol pada mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 8 Malang. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation kelas X-4 semakin aktif dan antusias dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu dapat disarankan pula kepada guru untuk menggunakan group investigation sebagai variasi dalam kegiatan pembelajaran. Guru hendaknya mempelajari dan melaksanakan tahap-tahap pembelajaran dalam group investigation dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang optimal. Bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang penerapan group investigation pada materi lain sebagai peningkatan kualitas pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diberikan di sekolah-sekolah.

Struktur dan komposisi komunitas arthropoda tanah di lahan perkebunan kopi (Coffea spp.) di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang / Risca Dwi Kusuma

 

Kusuma, Risca Dwi. 2014. Struktur dan Komposisi Komunitas Arhtropoda tanah di Lahan Perkebunan Kopi (Coffea spp.) di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman, M.Si (II) Drs. H. Agus Dharmawan, M.Si Kata kunci: Struktur komunitas, Komposisi Komunitas, Arthropoda Tanah , Lahan Perkebunan Kopi. Kopi adalah salah satu komoditi dengan nilai ekonomi tinggi. Maka dari itu produksi kopi harus di tingkatkan lagi. Lahan yang potensial untuk kopi adalah di Kabupaten Malang tepatnya di Desa Bangelan Kecamatan Wonosari. Lahan perkebunan kopi yang digunakan adalah kopi dengan naungan lamtoro. Luas lahan yang digunakan untuk penelitian adalah 174x52 m2. Penelitian ini menganalisis tentang kelimpahan relatif,indeks nilai penting, keanekaragaman, kemerataan, kekayaan, dan mengetahui hubungan faktor lingkungan terhadap struktur dan komposisi komunitas.     Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Metode yang digunakan adalah Pithfall trap untuk menangkap Arthropoda epifauna dan Isolasi basah untuk menangkap Arthropoda infauna tanah. Waktu pengabilan sampel pada bulan Maret 2014. Pada lahan penelitian di pasang 60 pithfall dan 60 sampel tanah untuk isolasi basah. Pengukuran faktor abiotik pada tiap-tiap plot terdiri dari suhu tanah, pH tanah, kelembaban tanah .Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Regresi Berganda. Hasil penelitian diperoleh ditemukan 23 spesies. Dari 23 spesies di temukan bahwa 19 merupakan Arthropoda epifauna tanah. Sedangkan 4 spesies merupakan Arthropoda infauna tanah. Nilai KRi epifauna tanah tertinggi dimiliki oleh Enthomobryia sp. sebesar 57,53%. KRI infauna tanah tertinggi dimiliki oleh Hypogastrura sp dengan nilai 32,31%, INP arthropoda epifauna tanah tertinggi dimiliki oleh Enthomobryia sp dengan nilai sebesar 48,97 %. INP Arthropoda infauna tanah tertinggi dimiliki oleh Hypogastrura sp dengan nilai sebesar 102,69 %.. Nilai H sebesar 1,72 untuk epifauna dan 1,34 untuk infauna, nilai E sebesar 0,58 untuk epifauna dan 0,96 untuk infauna, nilai R sebesar 2,54 untuk epifauna dan 0,39 untuk infauna.     Dari penghitungan regresi faktor abiotik berpengaruh pada kelimpahan relatif epifauna dan frekuensi relatif epifauna. Kelembaban memiliki sumbangan paling tinggi. Perlu dilakukan penetian selanjutnya tentang pengaruh bahan organik seperti C dan N terhadap Arthropoda tanah baik epifauna maupun infauna.

Penerapan pembelajaran kooperatif metode make-a-match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi pokok bahasan jurnal umum di SMA Kertanegara Malang / Nur Indahwati

 

i ABSTRAK Indahwati, Nur. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode Make AMatch untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS pada Mata Pelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Jurnal Umum di SMA Kertanegara Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Yuli Widi Astuti, S.E,M.Si,Ak (2) Ika Putri Larasati, S.E, M.Com Kata Kunci: Make AMatch, aktivitas belajar, hasil belajar Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran akuntansi di SMA Kertanegara Malang, diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran akuntansi dikelas masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi soal dan tugas. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dan hanya sedikit siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal ini akan berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengikuti remidi karena skor yang diperolaeh kurang memenuhi standar ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 70. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Strategi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif metode Match AMatch. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif metode make a match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran Akuntansi pokok bahasan jurnal umum. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif, yang dilaksanakan di SMA Kertanegara Malang. penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 Oktober hingga 28 Oktober 2009. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu: 1) Reduksi data, 2) Paparan data, dan 3) Penyimpulan hasil analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Make AMatch dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, meskipun belum mencapai 100%. Pada siklus 1 aktivitas belajar siswa dilihat dari proses pembelajaran mencapai 76,67% meningkat pada siklus 2 mencapai 88,33%. Sedangkan aktivitas siswa ditinjau dari aspek afektif siswa pada siklus 1 mencapai 60,9% meningkat pada siklus 2 mencapai 91,3%. Sedangkan pada hasil belajar juga mengalami peningkatan, sebelum tindakan diberikan skor ratarata hasil belajar sebesar 65,7% dengan ketuntasan belajar 52,2%. Pada siklus 1 hasil belajar ditinjau dari aspek kognitif sebesar 65,2% meningkat pada siklus 2 mencapai 87%. Sedangkan hasil belajar dilihat dari aspek psikomotorik pada siklus 1 sebesar 65,2% meningkat pada siklus 2 mencapai 87%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Make A Match (mencari pasangan) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Kertanegara Malang.

The effectiveness of the PQ4R and mind mapping strategies in the teaching of reading comprehension / Affif Ikhwanul Muslimin

 

Muslimin, Afif Ikhwanul. 2014. The Effectiveness of the PQ4R and Mind-Mapping Strategies in the Teaching of Reading Comprehension. Thesis. English Language Teaching, Postgraduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata Kunci: Strategi PQ4R, strategi Mind-Mapping, keefektifitasan, pemahaman literal and inferential Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keefektifitasan strategi PQ4R dan Mind-Mapping dalam membentu mahasiswa jurusan non-bahasa Inggris mendapatan nilai pemahaman membaca yang lebih tinggi. Untuk lebih jelasnya, penelitian ini meneliti keefektifitasan strategi PQ4R dan Mind-Mapping terhadap pemahaman literal dan inferential. Penelitian ini diterapkan pada dua kelompok mahasiswa jursan Teknik Elektro UMM yang diambil secara acak. Strategi PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) dan Mind-Mapping diterapkan pada kelompok eksperimental sedangkan kelompok kontrol menggunakan strategi Direct Reading Activity (DRA). Karena subjek penelitian ini adalah mahasiswa tahun pertama dari jrusan non-bahasa Inggris, maka teks pengajaran yang digunakan adalah teks ekspositoru yang telah disediakan oleh institusi terkait. Sumber data diperoleh dari tes pemahaman membaca yang terdiri dari 30 butir soal pilihan ganda. Tes tersebut dikembangkan berdasarkan prosedur yng dikemukakan oleh Brown. Sebelum menerima atau tidak menerima hipotesa null, independent sample t-test digunakan dalam penghitungan statistic. Sebelum menggunakan t-test, data dari kedua kelompok diuji homogenitasnya berdasarkan Levene’ Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi hitung pada Levene’s Test lebih besar daripada nilai signifikansi yang teah ditetapkan (0.533 > 0.05). hal ini bisa menunjukkan bahwa kedua kelompok adalah homogeny segingga sampel t-test bisa digunakan. Kemudian, hasilnya menunjukkan bahwa thitung lebih besar daripada ttabel (15,946 > 1,995). Hal ini berarti hipotesa peneitian ini diterima. Dengan kata lain, strategi PQ4R dan Mind-Mapping terbukti efektif untuk membantu mahasiswa memperoleh nilai yang tinggi untuk pemahaman membaca. Untuk lebih lengkapnya, telah terbukti bahwa strategi PQ4R dan Mind-Mapping lebih efektif dalam membantu mahasiswa memperoleh nilai pemahaman literal lebih tinggi karena memiliki perbedaan rerata marginal pada post-tesnnya antara kelompok eksperimental dan control adalah 33.67. Hal ini dikarenakan strategi ini melatih mahasiswa menjadi lebih aktif. Namun, strategi PQ4R dan Mind-Mapping efektif dalam membantu meningkatkan pemahaman inferential sekalipun tidak lebih efektif bilamana digunakan untuk meningkatkan pemahaman literal. Karena, perbedaan rerata marginnya adalah19.22. Hal tersebut bias disebabkan oleh tiga faktor: Pertama, strategi tersebut terlalu padat dan hampir membuat mahasiswa kewalahan. Kedua, kebanykan mahasiswa hanya membuat pertanyaan literal saja. Hal ini disebabkan karena untuk membuat pertanyaan inferensial, mereka membutuhkan tingkat pemikiran lebih tinggi. Ketiga, teks pengajaran yang terlalu sulit sehingga mengurangi motivasi mahasiswa. Selebihnya, strategi PQ4R dan Mind-Mapping lebih memberikan kontribusi untuk membantu mahasiswa mencapai pemahaman membaca lebih baik karena mereka bekerja lebih banyak untuk mengisi chechlist strategi PQ4R yang terdiri dari 6 langkah dibandingkan dengan strategi Mind-Mapping yang hanya dikerjakan pada tahapan “Read” saja dari bagian strategi PQ4R. Oleh karena itu, guru dan dosen disarankan untuk mengadopsi atau mengadaptasi tahapan pada strategi PQ4R dan Mind-Mapping untuk mengajar pemahaman membaca daripada DRA. Kemudian disarankan sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, mahasiswa diajarkan untuk membuat pertanyaan inferensial lebih banyak dan menyediakan waktu ekstra bagi mereka untuk menyelesaikan setiap tahapan strategi. Hal ini karena penggabungan dua strategi tentunya akan menambah tahapan menjadi lebih panjang. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menginvestigasi strategi PQ4R dan Mind-Mapping di subyek atau kemampuan bahasa Inggris lainya. Juga, direkomendasikan untuk menambah variabel lebih banyak untuk mendapatkan hasil investigasi lebih baik.

Program Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar dalam pembinaan moral narapidana anak / Oktaviani Puspita Sari

 

Sari, Oktaviani Puspita. 2014. Program Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar dalam Pembinaan Moral Narapidana Anak. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H, M.H. (II) Drs. Kt. Diara Astawa, S.H., M.Si. Kata kunci: pembinaan moral, Lembaga Pemasyarakatan, narapidana anak.     Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan bahwa “Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan”. Moral merupakan kristalisasi dari perbuatan baik dan buruk atau perbuatan yang patut serta tidak patut dilakukan manusia, yang tidak hanya menyangkut pada segi lahiriah saja, tetapi juga batiniah dan dimanifestasikan dalam perbuatan nyata. Moral menyangkut pada entitas kebijaksanaan praktis (phronêsis) manusia yang memiliki integrasi antara rasio dan hati nurani.     Dalam ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan menyebutkan bahwa “Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Berdasarkan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menyatakan bahwa “Anak yang berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.     Penelitian ini membahas tentang bagaimana program Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar dalam pembinaan moral narapidana anak, sehingga dapat diketahui pelaksanaan program pembinaan moral dan internalisasi nilai-nilai moral secara teoritis dan aplikatif pada narapidana anak yang nota bene berlatar belakang juvenile delinquency.     Penelitian ini menggunakaan pendekatan deskriptif kualitatif. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan observer partisipatif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.     Hasil penelitian: (1) program Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar dalam pembinaan moral narapidana anak, (2) pelaksanaan program Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar dalam pembinaan moral narapidana anak, (3) faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan program Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar dalam pembinaan moral narapidana anak, (4) upaya Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Anak Blitar untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan program pembinaan moral narapidana anak.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay rwo stray (TSTS) berbasis praktikum untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas XI IPA MA Assalam Selopuro Blitar / Ramadhoni Zahrotur Rizkia

 

ABSTRAK Rizkia, Ramadhoni Zahrotur. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray (TSTS) Berbasis Praktikum untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas XI IPA MA Assalam Selopuro Blitar. Skripsi, Jurusan Fisika, Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd. (II) Drs. Bambang Tahan Sungkowo, M.Pd. Kata Kunci : model Two Stay Two Stray berbasis praktikum, kemampuan kerja ilmiah, prestasi belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas XI IPA MA Assalam Selopuro Blitar diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan metode ceramah dan diskusi kelas. Metode praktikum dan diskusi dengan teman sebaya belum pernah diterapkan, sehingga kemampuan kerja ilmiah siswa meliputi melakukan pengamatan, menggunakan alat praktikum, melakukan praktikum, mengumpulkan data, menyusun dan melaporkan hasil praktikum dan diskusi, kemampuan bertanya, dan kemampuan menjelaskan belum pernah diamati, dan prestasi belajar fisika siswa rendah. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa dan prestasi belajar fisika siswa adalah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) berbasis praktikum. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas XI IPA MA Assalam Selopuro Blitar melalui penerapan model pembelajaran TSTS berbasis praktikum. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tindakan yang diberikan adalah penerapan model TSTS berbasis praktikum. Penelitian dilakukan di MA Assalam Selopuro Blitar dengan subjek penelitian kelas XI IPA dengan jumlah 21 siswa, terdiri dari 17 siswa perempuan dan 4 siswa laki-laki. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, rubrik kemampuan kerja ilmiah siswa dan tes tulis. Kemampuan kerja ilmiah dikatakan berhasil jika tiap aspek telah mencapai 70% dari skor maksimal. Prestasi belajar dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar telah mencapai 75% dari seluruh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TSTS dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas XI IPA MA Assalam Selopuro Blitar. Kemampuan kerja ilmiah siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 29,47 %. Prestasi belajar mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 18,33 %.

Employing inquiry based learning strategy to improve the writing ability of the seventh graders of SMP Laboratorium Iniversitas Negeri Malang / Desi Puspitasari

 

Puspitasari, Desi. 2014. Employing Inquiry-Based Learning Strategy to Improve the Writing Ability of the Seventh Graders of SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A., (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd., M.Ed. Key words: inquiry, learning, writing ability, seventh graders Based on the preliminary study, it was found that the mean score of the seventh graders’ writing performance was below the passing grade (70). The researcher employed inquiry-based learning (IBL) strategy to solve the problems. It is one of the strategies used in scientific approach. This study was designed to improve the seventh graders’ writing ability in English IBL strategy. Thus, the research problem was formulated as follows: “How can inquiry-based learning strategy improve the writing ability of the seventh graders of SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang?” This study employed classroom action research. The subjects of this research were 38 students of VII-I in SMP Laboratorium UM of the 2013/2014 academic year. The research was conducted in two cycles. It followed the procedure of the action research, namely planning an action, implementing the action, observing the action, and reflecting the observation. The instruments used to collect the data were questionnaires, observation checklists, field notes, and the students’ final writing. The result of the research showed that IBL strategy can improve the students’ ability in writing descriptive paragraphs. It consisted of five stages, namely asking, investigating, creating, discussing, and reflecting. However, the researcher elaborated it into some steps. They were: (1) engaging students to express their ideas in discussion activities, (2) guiding the students’ to construct some questions related to someone’s information (3) guiding the students to investigate or observe the objects, (4) asking the students to make notes on what they have investigated, (5) engaging them to make outline, (6) providing and discussing a model of text, (7) drafting rough draft based on the outline, (8) revising the drafts, (9) conducting proofreading in order to edit the drafts, (10) sharing the writing product, and (11) reflecting the process of writing. The improvement can be seen on the mean score of the students’ writing from test on Cycle 1 and test on Cycle 2. The mean score in test 1 was 65.06 and 73.31 in test 2. In addition, the students were involved actively during the implementation of IBL. 92% of the students also argued that IBL can improve their ability in writing descriptive paragraph. Based on the findings of the research, the following suggestions are proposed. The researcher recommends that the English teachers consider IBL strategy as one of the alternative strategies applied in teaching writing. They also should consider the techniques applied based on the students’ characteristics, the number of the students, and the setting of the class. In addition, the further researcher(s) should develop the instruments. It is also necessary that a further research be conducted to use IBL for different text types, and on different grades and levels of education to see if it can be implemented in solving the students’ problems in improving students’ writing ability.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif pada mata pelajaran bahasa arab pokok bahasan pengenalan dasar-dasar bahasa arab kelas VII MTs N Denanyar Jombang / Fajrutsritinaida

 

ABSTRAK Fajrutsritinaida. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran CD Interaktif pada Mata Pelajaran Bahasa Arab Pokok Bahasan Pengenalan Dasardasar Bahasa Arab Kelas VII MTsN Denanyar Jombang. Skripsi. Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Abdul Manan, M. Pd., (II) Dr. Hj. Mardiah Moenir, M. Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran CD interaktif, Bahasa Arab Media pembelajaran CD interaktif merupakan perwujudan dari multimedia pembelajaran, karena penyampaiannya memadukan unsur audio, visual serta interaktifitas sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan hasil observasi di MTsN Denanyar Jombang, dalam penyampaian materi pelajaran khususnya Bahasa Arab guru masih menggunakan metode ceramah dan buku teks, sehingga siswa cepat merasa jenuh. Pengembang membuat alternatif pilihan media pembelajaran melalui pengembangan media pembelajaran CD interaktif. Media ini di desain menarik yang bertujuan untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar, dan mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran. Pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini diuji cobakan kepada siswa kelas VII MTsN Denanyar Jombang pada mata pelajaran Bahasa Arab, pokok bahasan Pengenalan Dasar-dasar Bahasa Arab. Tujuan pengembangan media pembelajaran CD interaktif adalah (1) Menghasilkan media pembelajaran CD interaktif Bahasa Arab yang dapat digunakan siswa untuk belajar secara kelompok yang didampingi oleh guru, (2) Media pembelajaran CD interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Subyek uji coba dalam pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini adalah siswa kelas VII di MTsN Denanyar Jombang. Pengumpulan data dilakukan melalui instrument angket ahli media, ahli materi, dan audiens/siswa. Untuk hasil belajar siswa digunakan evaluasi bentuk tes, yaitu pre-test dan posttest. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi dan siswa adalah persentase, sedangkan untuk mengolah hasil belajar siswa digunakan perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penggunaan media dengan berpedoman pada SKM (Standar Ketuntasan Minimum) dari MTsN Denanyar Jombang. Hasil pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini adalah (1) Dapat menghasilkan media pembelajaran CD interaktif yang digunakan oleh siswa untuk belajar secara kelompok yang didampingi oleh guru, dikarenakan pada media pembelajaran ini terdapat komunikasi dua arah antara pengguna dan media serta penjelasan dari guru. Hal ini dapat di nilai dari media pembelajaran CD interaktif yang dikembangkan, sehingga siswa dapat memilih materi yang diinginkan untuk di pelajari yang tersedia di dalam Media CD interaktif. (2) Media pembelajaran CD interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan evaluasi post test. Setelah siswa menggunakan media pembelajaran CD interaktif Bahasa Arab hasil belajarnya meningkat lebih tinggi. ii Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk media pembelajaran CD interaktif ini digunakan sebagai media pembelajaran untuk siswa secara kelompok yang di damping oleh guru. sehingga dapat memberikan motivasi dan meningkatkan hasil belajar yang berarti terhadap pembelajaran Bahasa Arab bagi siswa.

Inventarisasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa kelas II dalam mempelajari mata pelajaran biologi di SMU Negeri I Klakah Kab. Lumajang / oleh Evi Utami

 

Using comic strips to improve the speaking skill of the eighth graders of SMP Negeri 10 Malang / David Bagus Setyo Nogroho

 

Keywords: teaching speaking, comic strips, SMP grade 8 The students in SMP Negeri 10 Malang had difficulty in learning English speaking. The lack of motivation and confidence were the main problems in the teaching and learning process. Besides, teacher rarely use media to teach in the class to attract their interest. The purpose of the study is mainly improving the students speaking ability through the use of comic strips as the instructional media. The study was designed as a Collaborative Classroom Action Research (CAR). The subject of the study was 43 students of grade VIIIA SMP Negeri 10 Malang. The Classroom Action Research employed in this study comprises four steps: planning the action, implementing the plan, observing the action, and reflecting the action based on the observation. This study was conducted in one cycle consisted of three meetings. The limited time permitted by the school was the cause why this research was done only in one cycle. The first meeting was for the modeling, the second meeting was for group discussion, and the last meeting was a test for the students’ performance. There were two types of criteria of success; the process oriented criterion and the product oriented criterion. The process oriented criterion was at least 22 out of 43 students should be actively involved in the teaching and learning process. Meanwhile, the product oriented criterion was at least 32 out of 43 students should reached 75 in their final speaking score in scale of 0 to 100. The instruments used in this study were the observation checklist, the field notes, questionnaires, and the scoring rubric. According to the findings of the study, 26 students out of 43 students were active in the teaching and learning process in the meeting one. The number of students who were active in the group discussion conducted in the second meeting was improved. 32 out of 43 students classified into active students during teaching and learning process in the second meeting. Besides, 33 out of 43 students reached 75 in the speaking test done in the third meeting. However, most of students still had difficulties in pronouncing the words and using the grammar in sentences. The use of comic strips in teaching speaking is effective to improve the students’ speaking skill in telling a recount text by improving the students’ interest in learning English. Moreover, the pictures provided in the comic strips help the students to create story based on the context given in the comic strips. The future researchers who have the same interest in developing the use of comic strips in teaching speaking are expected to provide many different comic strips in one activity, so each student can tell different story from the others and share the story to the other students. Besides, the future researchers can use other monologue texts such as narrative and report text to test whether the media of comic strips are applicable in other genres or not.

Pengaruh scientific approach terhadap keterampilan geografi siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu / Aimatus Sholihah

 

Sholihah, Aimatus.2014. Pengaruh Scientific Approach terhadap Keterampilan Geografi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Budi Handoyo, M.Si, (2) Purwanto, S.Pd, M.Si Kata Kunci: Scientific Approach, Keterampilan Geografi     Pembelajaran Geografi menekankan aspek hafalan-hafalan tempat, ruang, penduduk dan interaksinya, selain itu menyiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan, cakap berpikir  dalam pemecahan masalah (skills), dan memiliki sikap dan nilai-nilai positif (attitudes and values). Salah satu permasalahan yang ada pada saat ini yaitu rendahnya keterampilan geografi. Keterampilan Geografi yang dimiliki siswa akan membantu menerapkan pengetahuan, pemahaman serta menganalisis permasalahan. Scientific Approach salah satu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dan didalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mengasosiasi, mencoba, dan mengkomunikasikan.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh scientific approach terhadap keterampilan geografi siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu. Metode penelitian ini menggunakan penelitian quasi eksperiment. Desain penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) ini adalah pretest-postest control group design. Perlakuan pada kelas eksperimen menggunakan scientific approach, sedangkan pada kelas kontrol diberikan perlakuan dengan metode ceramah dan diskusi. Data dikumpulkan dengan cara pretest dan postest. Analisis data dalam penellitian ini menggunakan uji t (t-test) untuk sampel mandiri (independent sampel).     Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sig. (2-tailed) adalah 0,000< 0,05 sehingga H0 ditolak, ini berarti ada pengaruh scientific approach terhadap keterampilan geografi siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu. Hal ini juga dibuktikan dengan nilai gain score antara kelas kontrol dan kelas eksperimen yang diperoleh masing-masing 14,43 dan 22,27. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan geografi siswa antara sebelum dan sesudah adanya perlakuan terhadap kelas kontrol dan kelas eksperimen. Namun dalam pelaksanaannya, harus diperhatikan hal-hal yang penting setiap tahapan scientific approach dan perlu adanya pengelolaan waktu yang baik agar scientific approach dapat terlaksana dengan baik.     

Pengaruh sarana dan prasarana belajar pada kelas RSBI terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pare Kediri (STudi pada mata pelajaran IPS) / Putri Nurrindra Purwidian

 

ABSTRAK Purwidian, Putri Nurrindra. 2010. Pengaruh Sarana Dan prasarana Belajar Pada Kelas RSBI Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Pare Kediri (Studi Pada Mata Pelajaran IPS). (1). Drs. Mardono, M.Si. (2). Dra. Lisa Rokhmani, M.Si. Kata Kunci : Sarana dan Prasarana Belajar, Prestasi Belajar. Dalam suatu proses belajar mengajar, sarana dan prasarana belajar merupakan salah satu penunjang suatu proses belajar mengajar. Seorang siswa dalam melakukan aktivitas belajar memerlukan adanya dorongan tertentu agar kegiatan belajarnya dapat menghasilkan prestasi belajar yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang maksimal, tentunya perlu diperhatikan berbagai faktor yang membangkitkan para siswa untuk belajar dengan efektif. Hal tersebut dapat ditingkatkan apabila ada sarana penunjang, yaitu faktor sarana dan prasarana belajar dan dapat memanfaatkannya dengan tepat dan seoptimal mungkin. Dalam hal ini usaha-usaha yang dilakukan SMP Negeri 2 pare dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran melalui penyediaan sarana dan prasarana belajar yang dimiliki terutama pada kelas RSBI yaitu dengan cara penataan ruang kelas yang lebih nyaman, pengadaan media pembelajaran yang lebih lengkap, pembenahan fasilitas perpustakaan dan lebih melengkapi koleksi buku-buku pelajaran yang dibutuhkan siswa, serta penyediaan sarana internet gratis. Penelitian pendidikan dalam skripsi ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang : (1). Kondisi sarana dan prasarana belajar (ruang kelas, media pembelajaran, perpustakaan dan laboratorium komputer) di SMP Negeri 2 Pare. (2). Prestasi belajar siswa kelas VIII RSBI tahun ajaran 2009/2010 di SMP Negeri 2 Pare pada mata pelajaran IPS. (3). Pengaruh adanya sarana dan prasarana belajar (ruang kelas, media pembelajaran, perpustakaan dan laboratorium komputer) di SMP Negeri 2 Pare terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII RSBI tahun ajaran 2009/2010 pada mata pelajaran IPS. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII RSBI SMP Negeri 2 Pare yang berjumlah 48 siswa, semua siswa dijadikan responden sehingga penelitian ini disebut penelitian populasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif yang digunakan untuk mengetahui keadaan sarana dan prasarana belajar pada kelas RSBI SMP Negeri 2 Pare dan keadaan prestasi belajar IPS kelas VIII RSBI di SMP Negeri 2 Pare. Uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier sederhana yaitu digunakan untuk menganalisis seberapa besar pengaruh sarana dan prasarana belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII RSBI di SMP Negeri 2 Pare secara parsial. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1). Keadaan ruang kelas RSBI di SMP Negeri 2 Pare tergolong dalam kategori baik yang dinyatakan oleh 60,42 % siswa. (2). Keadaan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 2 Pare tergolong dalam kategori baik yang dinyatakan oleh 39,58 % siswa. i ii (3). Keadaan perpustakaan di SMP Negeri 2 Pare tergolong dalam kategori baik yang dinyatakan oleh 56,25 % siswa. (4)Keadaan laboratorium komputer di SMP Negeri 2 Pare tergolong dalam kategori sangat baik yang dinyatakan oleh 60,42 % siswa. (5). Keadaan sarana dan prasarana belajar secara umum pada kelas RSBI di SMP Negeri 2 Pare tergolong dalam kategori sangat baik yang dinyatakan oleh 47,92 % siswa. (6). Prestasi belajar pada mata pelajaran IPS siswa kelas VIII RSBI SMP Negeri 2 Pare tergolong dalam kategori sangat baik yang diperoleh dari 56,25 % siswa, dimana masing-masing siswa memperoleh nilai antara 83 sampai dengan 91. (7). Sarana dan prasarana belajar mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII RSBI SMP Negeri 2 Pare, hal ini terbukti dari signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai R square adalah sebesar 0,935. Hal ini berarti 93,5 % perubahan variabel prestasi belajar disebabkan oleh perubahan variabel sarana dan prasarana belajar, sedangkan sisanya sebesar 6,5 % disebabkan oleh variabel bebas lainnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang komplek sehingga dipengaruhi oleh banyak faktor, sedangkan yang diteliti dalam penelitian ini hanya satu variabel bebas yaitu sarana dan prasarana belajar. Kepada pihak sekolah hendaknya selalu memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana belajar yang ada, terutama sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran secara langsung, seperti ruang kelas, apabila terdapat ketidak layakan perlengkapan yang ada di kelas hendaknya untuk segera diganti atau diperbaiki. Apabila media pembelajaran sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya hendaknya untuk segera diperbaiki. Koleksi buku-buku di perpustakaan hendaknya selalu ditambah sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Peralatan yang ada di laboratorium komputert hendaknya selalu dijaga atau dirawat agar bias digunakan sebagaimana mestinya, karena sarana dan prasarana belajar tersebut sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Kepada para guru hendaknya dapat memanfaatkan sarana dan prasarana belajar yang telah disediakan oleh sekolah secara optimal dalam setiap proses belajar mengajar. Kepada para siswa hendaknya dapat ikut serta meningkatkan pemanfaatan penggunaan sarana dan prasarana belajar yang tersedia dengan semaksimal mungkin dan ikut serta menjaga sarana dan prasarana belajar yang telah ada dengan tidak merusak atau menggunakannya secara sembarangan. Kepada para peneliti yang bermaksud mengadakan penelitian yang berkaitan dengan topik atau tema penelitian ini, maka hendaknya menambah variabel yang akan diteliti karena ada banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, diantaranya faktor internal yang meliputi faktor jasmani dan faktor psikologi. Sedangkan untuk faktor eksternal meliputi faktor keadaan lembaga sekolah, faktor lingkungan keluarga dan masyarakat serta faktor sarana dan prasarana belajar yang telah diteliti dalam penelitian ini.

Analisis plagiarisme dalam penulisan skripsi mahasiswa program studi S1 Pendidikan Ekonomi Pembangunan tahun 2010-2014 Universitas Negeri Malang / Pramita Lidya Yanuarista

 

ABSTRAK Yanuarista, Pramita Lidya. 2015. Analisis Plagiarisme dalam Penulisan Skripsi Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Pembangunan Tahun 2010-2014 Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hari Wahyono,M.Pd. (2) Dr. Dwi Wulandari,S.E,M.M. Kata Kunci: Plagiarisme, skripsi, penelitian kepustakaan Diperguruan tinggi khususnya pada jenjang Strata Satu (S-1), mahasiswa dilatih untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah yang disebut skripsi. Skripsi merupakan sebuah karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa sebagai syarat kelulusan pada jenjang pendidikan Strata Satu (S-1) yang di dalamnya mengandung sebuah filosofis dari penelitian yang objektif terhadap suatu permasalahan disertai dengan tinjauan analisis berdasarkan metodologi penelitian tertentu yang digunakan untuk memecahkan permasalahan tersebut secara teoritis serta dapat dipertanggung jawabkan keasliannya. Tetapi dalam menulis sebuah karya ilmiah masih banyak mahasiswa yang melakukan tindak plagiarisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan penelitian yang bersifat naturalistik. Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa skripsi mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Pembangunan tahun 2010 hingga 2014. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kepustakaan. Analisis data dalam kajian pustaka ini adalah analisis isi, yang merupakan bentuk analisis yang digunakan untuk memberikan gambaran mengenai suatu bentuk obyek penelitian, yang bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk plagiarisme dan tata letak tindak plagiarisme pada susunan skripsi mahasiswa pendidikan ekonomi pembangunan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 3 kategori bentuk plagiarisme dalam masing-masing skripsi dari bab 1,bab 2, dan bab 3. Tingkat plagiarisme paling tinggi yang sering dilakukan mahasiswa pada bab 1 adalah plagiarisme langsung dengan tingkat prosentase hingga 57,69%, kedua tingkat plagiarisme karena kutipan tidak jelas dengan tingkat prosentase hingga 9,52%, dan tingkat plagiarisme mosaik dengan tingkat prosentase hingga 38,46%. Pada bab 2 adalah plagiarisme langsung dengan tingkat prosentase hingga 86,79%, kedua tingkat plagiarisme karena kutipan tidak jelas dengan tingkat prosentase hingga 15,79% dan tingkat plagiarisme mosaik dengan tingkat prosentase hingga 5,66%. Pada bab 3 adalah plagiarisme langsung dengan tingkat prosentase hingga 62,50%, dan tingkat plagiarisme mosaik dengan tingkat prosentase hingga 22,22%. Universitas Negeri Malang disarankan menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan sebagai langkah prefentif penanganan kasus plagiarisme di lingkungan kampus secara holistik dan menyeluruh sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas intelektual dan kecakapan moral yang baik. Bagi Fakultas Ekonomi Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi disarankan mengadakan alat pendeteksi plagiarisme,mewajibkan setiap hasil penulisan karya ilmiah untuk dimuat ke dalam jurnal nasional maupun internasional serta merestrukturisasi dan memperbaharui database skripsi mahasiswa dan kelengkapannya dalam bentuk softcopy dan hardcopy. Bagi mahasiswa disarankan menjunjung tinggi nilai moral dan nilai kejujuran dalam menyusun skripsi berdasarkan kaidah keilmuan dan penulisan skripsi yang bisa dipertanggungjawabkan keasliannya.

Sejarah paguyuban wayang kulit "Setio Laras" 1978-2012 Dusun Rembu Desa Japanan Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto / Ika Wulan Actisya

 

Actisya, Ika Wulan. 2014. Sejarah Paguyuban Wayang Kulit “Setio Laras” 1978-2012 Dusun Rembu Desa Japanan Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing; (1) Drs. I Wayan Legawa, M.Si. (II) Drs. Irawan, M.Hum. Kata Kunci: Wayang Kulit, Paguyuban “Setio Laras”, Mojokerto      Kesenian wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisional yang mampu bertahan di dalam era globalisasi. Salah satu paguyuban yang bergerak dalam melestarikan kesenian wayang kulit di Kabupaten Mojokerto adalah paguyuban “Setio Laras”. Paguyuban “Setio Laras” didirikan pada tahun 1978 oleh Bapak Hadi Suparto. Penelitian ini ditekankan tentang perkembangan dari paguyuban “Setio Laras” mulai dari awal berdiri hingga tahun 2012. Perkembangan paguyuban ini menarik untuk dikaji, karena mampu bertahan dalam persaingan dengan budaya modernisasi.     Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimana latar belakang berdirinya paguyuban “Setio Laras” di Kabupaten Mojokerto? (2) Bagaimana perkembangan paguyuban “Setio Laras” (1978-2012) di Kabupaten Mojokerto?. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan sejarah berdirinya paguyuban “Setio Laras” serta perkembangannya dalam dunia seni pertunjukkan tahun 1978-2012.     Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah terdiri dari lima tahapan yaitu (1) pemilihan topik, (2) heuristik yaitu tahapan untuk pengumpulan data baik primer maupun sekunder, (3) kritik sumber atau verifikasi yaitu tahapan untuk menguji keabsahan sumber yang diperoleh, (4) interpretasi yaitu penggambaran data dan informasi yang sudah diolah agar mudah dipahami, (5) historiografi tahapan dalam penyajian data penelitian secara sistematis.     Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa berdirinya paguyuban “Setio Laras” tidak lepas dari peran Bapak Hadi Suparto. Kecintaan beliau terhadap seni pewayangan yang mendorong beliau untuk belajar mendalang dengan cara nyantrik di dalang senior. Faktor ekonomi juga mempengaruhi pilihan beliau untuk menjadi cantrik dari Dalang Suleman. Perkembangan paguyuban “Setio Laras” pada tahun 1984 hingga tahun 1990an berada pada masa kejayaannya. Perkembangan paguyuban ini sempat mengalami kemunduran akibat dari adanya masuknya video layar tancap pada tahun 1994 dan krisis moneter 1997. Pengakuan UNESCO pada tahun 2003, tidak membawa perubahan dalam perkembangan paguyuban ini. Paguyuban ini mulai mengalami peningkatan dari tahun 2010 hingga 2012, berkat upaya yang dilakukan oleh Bapak Hadi Suparto dengan mengikuti sarasehan yang diadakan oleh pemerintah.     Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat membahas keberadaan paguyuban sebagai organisasi yang bergerak untuk komersialisasi kesenian wayang kulit. Selain itu keberadaan paguyuban yang mulai terpinggirkan dalam era globalisasi menarik untuk dikaji. Perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat telah mempengaruhi makna dari keberadaan paguyuban.

Efektivitas penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Malang / Lukman Efendi

 

ABSTRAK Efendi, Lukman. 2009. Efektivitas Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS Pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Islam Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakulas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Prih Hardinto, M.Si.,(II) Drs. Mardono, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, TGT (Teams Games Tournament), Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk menstimulus siswa agar terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran kooparatif mampu menciptakan pembalajaran yang dapat mengajak siswa satu dan siswa yang lainnya saling berinteraksi serta aktif dalam bertukar pengetahuan dalam kelompok untuk meningkatkan motivasi serta hasil belajarnya. Salah satu pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament ). Dalam pembelajaran model ini siswa tidak hanya mendengarkan guru yang sedang mengajar yang sering kali membuat siswa bosan dan bahkan menjadi pasif, tetapi di TGT ini siswa diajarkan untuk mengeluarkan pendapat dan melatih kemampuan siswa yang nantinya dapat meningkatkan hasil belajar dalam pelajaran ekonomi. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan dan menganalisis hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Islam Malang yang diberi pengajaran dengan menggunakan metode pembelajaran ceramah (2) Mendeskripsikan dan menganalisis hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Islam Malang yang diberi pengajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) (3) Mendeskripsikan dan menganalisis efektifitas penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Islam Malang. Penelitian ini dilakukan di SMA Islam Malang dari bulan September sampai November 2009. yang menjadi subjek penelitian adalah kelas XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan metode TGT, sedangkan pada kelas kontrol diberi perlakuan dengan menggunakan metode ceramah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu. Teknik pengumpulan data melalui tes (pretest dan posttest), lembar observasi dan angket. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data hasil belajar. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji-t Setelah kedua kelas diberi perlakuan berbeda, maka dilakukan pengujian hipotesis penelitian dengan uji t terhadap nilai gain score (selisih antara nilai pretest dan postest) sebagai hasil belajar siswa. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen yang menggunakan metode TGT dan kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah, hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikasi 0,042 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) di SMA Islam Malang lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran ceramah Saran yang dapat peneliti sampaikan antara lain (1) dalam menyampaikan suatu materi hendaknya guru mencoba menerapkan beberapa macam metode pembelajarn kooperatif, salah satu diantaranya adalah metode TGT agar tidak monoton dengan metode ceramah yang bisa juga menimbulkan rasa jenuh bagi siswa. Model pembelajaran TGT ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa (2) dalam menerapkan metode pembelajaran TGT hendaknya guru harus mengalokasikan waktu dengan sebaik mungkin agar tujuan pembelajaran dapat tercapai (3) Guru hendaknya memberi pengawasan penuh pada saat proses diskusi berlangsung agar proses belajar kelompok dapat benar-benar kooperatif (4) Bagi guru yang belum pernah dan ingin menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT hendaknya dibantu oleh beberapa observer, sehingga guru dapat mengetahui kekurangan dari pembelajaran yang disampaikan dan selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan.

Strategi promosi kelompok bermain dalam meningkatkan minat pendaftar (Studi kasus di sekelompok bermain Sunan Ampel Pujon) / Pri Retno Wiji Asih

 

ABSTRAK Wijiasih, Pri Retno.2009.Strategi Promosi Kelompok Bermain dalam Meningkatkan Minat Pendaftar (studi kasus di kelompok bermain Sunan Ampel Pujon). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (l) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd, (II) Dra. Umi Dayati, M.Pd. Kata Kunci : Strategi, promosi, kelompok bermain Strategi promosi sebuah lembaga pendidikan merupakan sebuah tantangan bagi semua lembaga pendidikan anak usia dini. Sebuah promosi dibutuhkan untuk mengikuti persaingan dalam hal memperoleh calon ana k antara lembaga pendidikan yang ada. Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan N asional pasal 1, menjelaskan bahwa standar pendidikan meliputi standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan pra sarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan. Kelompok bermain Sunan Ampel merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang beralamatkan di jalan Abdulmanan Wijaya nomor 256 P ujon. Perkembangan jumlah anak didik yang mendaftar dikelompok bermain ini menunjukkan jumlah peningkatan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi promosi yang dilakukan kelompok bermain Sunan Ampel Pujon dalam meningkatkan pendaftar yang masuk. Jenis metode yang dipergunakan dalam peneli tian ini adalah deskriptif kuantatif. Populasi yang diambil adalah 5 orang pendidik dan tenaga kependidikan serta 25 orang sampel dari orang tua wali murid.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, wawancara dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas dari strategi -strategi promosi yang dijalankan kelompok bermain Sunan Ampel tergantung dari tanggapan masyarakat sekitar lembaga. Jadi dalam penyusunan strategi -strategi promosi harus disesuaikan dengan karakteristik masyarakat sekitar yang menjadi sasaran promosi. Strategi promosi yang diterapkan kelompok bermain Sunan Ampel meliputi bidang sarana dan prasarana, kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, kompetensi anak didik, pengelolaan kurikulum pembelajaran, biaya pendidikan dan hubungan antara lembaga dengan mitra dan masyarakat. Strategi promosi yang diterapkan di kelompok bermain Sunan Ampel dilakukan dengan sosialisasi langsung seperti pada kegiatan PKK, pengajian umum, arisan dan perkumpulan-perkumpulan lain dan melalui media -media promosi seperti brosur, pamflet, dan baliho. Selain itu ada trik-trik lain yang dijalankan yaitu dengan open house dan membuka kelas pra kelompok gratis sebelum masa penerimaan peserta didik baru. Hampir semua strategi promosi yang dijalankan kelompok bermain Sunan Ampel efektif dalam meningkatkan minat pendaftar yang masuk, kecuali pada kurikulum pembelajaran. Sebagian dari orang tua anak didik kurang memperhatikan kurikulum pembelajarannya t etapi lebih memperhatikan bagaimana hasil kompetensi anak didik yang dihasilkan dari proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini, d apat disarankan pada Jurusan PLS hendaknya dapat membantu mempromosikan program pendidikan anak usia dini agar dapa t meningkatkan jumlah peserta didiknya. Untuk pengelola kelompok bermain, adanya penelitian ini maka dapat mengembangkan efektivitas dari strategi -strategi promosi yang diterapkan sehingga berdampak pada peningkatan mutu pendidikan serta peningkatan jumlah pendaftar yang masuk. Bagi dinas pendidikan kecamatan Pujon, agar hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam menjembatani proses sosialisasi kepada masyarakat dalam meningkatkan minat orang tua untuk mengikutsertakan anak di dalam pendidikan an ak usia dini khususnya di wilayah kecamatan Pujon.

Motivasi mahasiswa jurusan pendidikan jasmani dan kesehatan memilih program matakuliah pilihan kepelatihan renang Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Satria Adi Murdani

 

ABSTRAK Murdani, Satria Adi. Januari 2010. Motivasi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Memilih Program Matakuliah Pilihan Kepelatihan Renang Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Tahun 2009. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Sulistyorini, M.Pd, (II) Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: motivasi, kepelatihan renang. Kepelatihan renang merupakan salah satu matakuliah pilihan terdiri 3 sks dan 6 js, yang harus ditempuh oleh mahasiswa untuk prasyarat kelulusan di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji motivasi mahasiswa yang memilih program matakuliah kepelatihan dalam mengikuti kepelatihan renang di Kolam Renang Lembah Dieng dan Kolam Renang Jasdam sebagai salah satu kolam renang yang dipergunakan untuk perkuliahan T&P renang 1 dan 2 maupun kepelatihan renang Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Populasi Penelitian ini adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Memilih Program Matakuliah Pilihan Kepelatihan Renang Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Angkatan 2006 tahun 2009, tetapi yang di ambil sampel hanya 30 orang. Hasil penelitian 48,08% mahasiswa kepelatihan renang termotivasi secara intrinsik, 29,42% termotivasi secara ekstrinsik, dan 22,5% termotivasi secara intrinsik dan ekstrinsik dalam mengikuti kepelatihan renang Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang mengambil kepelatihan renang di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang tahun 2009 termotivasi secara intrinsik. Peneliti menyarankan agar (1) Mahasiswa yang menempuh kepelatihan renang harus sesuai dengan bidang dan kemampuannya. (2) Hasil penelitian ini, diharapkan bisa menjadi acuan bagi Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang dalam memberikan bekal dan keterampilan pada mahasiswa secara efektif dan efisien cabang olahraga renang setelah lulus dari Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. (3) Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, diharapkan ada peneliti lain yang mengadakan pengamatan lebih lanjut dengan menambah variabel dan indikator pernyataan serta jumlah sampel penelitian dan dilakukan uji perbandingan hasil dengan penelitian ini.

Pengaruh pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) terhadap motivasi, hasil belajar, dan retensi siswa kelas X SMA Malang pada pembelajaran biologi / Fatia Rosyida

 

Rosyida, Fatia. 2014. Pengaruh Pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) terhadap Motivasi, Hasil Belajar, dan Retensi Siswa Kelas X SMA Malang pada Pembelajaran Biologi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matermatika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. A. Duran Corebima. M. Pd., (2) Dra. Eko Sri Sulasmi, M. S. Kata Kunci: Pembelajaran SSCS, Motivasi, Hasil Belajar, Retensi Masalah yang banyak ditemukan dari beberapa penelitian adalah masih rendahnya motivasi, hasil belajar, dan retensi siswa. Hasil observasi di SMAN 1 Malang menunjukkan pembelajaran Biologi di SMAN 1 Malang sudah meng-gunakan model pembelajaran yang bervariasi, tetapi masih belum dapat me-ningkatkan hasil belajar siswa. Siswa kurang tertarik dan merasa bosan dengan pembelajaran Biologi, karena mereka beranggapan pembelajaran Biologi meng-hafal materi. Motivasi belajar masih rendah mengakibatkan hasil belajar dan retensi belajar menurun. Salah satu cara untuk memecahkan permasalahan dengan menggunakan pembelajaran SSCS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran SSCS terhadap motivasi, hasil belajar, dan retensi siswa. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Malang semester genap tahun ajaran 2013/2014. Populasi mencakup seluruh siswa SMAN 1 Malang Kelas X MIA tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 8 kelas. Sampel penelitian siswa kelas X MIA 2 yang berjumlah 30 orang dan siswa kelas X MIA 3 yang berjumlah 30 orang sebagai kelas eksperimen. Rancangan penelitian menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian Pretes-Postest Nonequivalent Control Group Design. Data motivasi diperoleh dari angket motivasi yang dianalisis dengan anakova dan lembar observasi motivasi dianalisis dengan anova. Data hasil belajar kognitif yang diperoleh dari hasil pretes dan postes dianalisis dengan Anakova. Data hasil belajar psikomotor diperoleh dari lembar pengamatan psikomotor siswa dianalisis secara deskriptif. Data retensi belajar diperoleh dari hasil postes dan tes retensi dianalisis dengan anakova.     Hasil analisis data angket motivasi dan lembar observasi motivasi diperoleh Sig. p < 0,05. Berdasarkan angket peningkatan motivasi pada pembelajaran SSCS lebih tinggi sebesar 5,12% dibandingkan pada pembelajaran konvensional, sedangkan berdasarkan lembar observasi motivasi menunjukkan 50,79% lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional. Analisis data hasil belajar kognitif diperoleh Sig. p < 0,05. Hasil belajar kognitif pada pembelajaran SSCS lebih tinggi 44,959% dibandingkan pada pembelajaran konvensional, sedangkan hasil belajar psikomotor pada pembelajaran SSCS lebih tinggi 2,8 % dibandingkan pada pembelajaran konvensional. Analisis data hasil retensi siswa diperoleh Sig. p > 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran SSCS berpengaruh terhadap motivasi, hasil belajar kognitif, hasil belajar psikomotor, tetapi tidak berpengaruh terhadap retensi belajar siswa. Saran pembelajaran SSCS harus lebih sering diterapkan dalam pembelajaran agar siswa lebih mengembang-kan kemampuan bernalar, berpikir, dan memahami konsep.

Skrining fitokimia dan penentuan aktivitas antioksidan serta kandungan total fenol ekstrak buah labu siam (Sechium edule (Jacq.)Sw.) / Kurratul Aini

 

Aini, Kurratul. 2014. Skrining Fitokimia dan Penentuan Aktivitas Antioksidan serta Kandungan Total Fenol Ekstrak Buah Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Betty Lukiati, M.S., (II) Balqis, S.pd, M.Si. Kata kunci: skrining fitokimia, aktivitas antioksidan, total fenol, labu siam     Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih elektron kepada radikal bebas. Radikal bebas bersifat sangat reaktif dan mampu mengoksidasi senyawa biologi seperti karbohidrat, DNA, lipid dan protein. Antioksidan dibedakan menjadi antioksidan sintetik dan antioksidan alami berdasarkan sumber perolehannya. Beberapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan antioksidan sintetik tidak aman bagi kesehatan, karena dapat bersifat karsinogenik. Antioksidan alami yang dapat diperoleh dari buah dan sayur saat ini banyak digunakan sebagai alternatif pengganti antioksidan sintetik. Buah labu siam merupakan salah satu contoh yang oleh masyarakat saat ini banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk penyakit diabetes. Buah labu siam ini berpotensi sebagai antioksidan alami.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) kandungan senyawa aktif, (2) melakukan uji aktivitas antioksidan, dan (3) mengetahui kandungan total fenol dalam ekstrak buah labu siam. Kandungan senyawa aktif ekstrak labu siam dapat diketahui melalui skrining fitokimia dengan menggunakan reagen tertentu. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 517 nm dengan menggunakan difenilpikril hidrazil (DPPH) sebagai radikal bebas. Kandungan total fenol ekstrak buah labu siam dilakukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 360 nm dengan menggunakan reagen asam sulfanilat.     Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah labu siam mengandung senyawa alkaloid, fenol, dan flavonoid, tetapi tidak terdeteksi mengandung senyawa golongan terpenoid. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah labu siam diketahui memiliki kekuatan yang lemah dengan nilai IC50 sebesar 191,554 µg/mL. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kandungan total fenol ekstrak labu siam yang sangat rendah, yakni sebesar 0,78%. Saran untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya digunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) untuk skrining fitokimia sehingga dapat diperoleh macam kandungan senyawa aktif yang lebih akurat. Pemeriksaan uji kuantitatif alkaloid dapat dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dilanjutkan dengan densitometer atau menggunakan High Performance Liquid Cromatography (HPLC) dengan detektor spektrofotometer, disamping itu untuk ekstraksi bisa dibandingkan dengan menggunakan pelarut lain seperti metanol, n-butanol, dan etil asetat.

Tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran di SMK Yos Sudarso / Falentinus Bata

 

Bata, Falentinus. 2014. Tindak Tutur Pujian Guru dalam Interaksi Pembelajaran di SMK Yos Sudarso Ende. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roekhan, M.Pd., (II) Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Kata Kunci: tindak tutur pujian guru, interaksi pembelajaran.     Interaksi yang baik dilakukan guru terhadap peserta didik merupakan esensi dari sebuah pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tanggung jawab guru selain memberikan pengetahuan, juga motivasi atau rangsangan yang berfungsi sebagai pengarah demi ketercapaian apa yang menjadi harapan. Keberhasilan dalam sebuah pembelajaran sangat bergantung pada usaha guru membangkitkan motivasi belajar murid. Salah satu cara membangkitkan motivasi belajar dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan memberikan pujian. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan wujud tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran di SMK Yos Sodarso Ende, (2) fungsi tindak tutur pujian guru dalam dalam interaksi pembelajaran di SMK Yos Sudarso, dan (3) modus tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran di SMK Yos Sudarso Ende. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif, yaitu sasaran penelitian dideskripsikan sacara faktual dan alamiah. Di maksudkan dengan alamiah adalah fenomena yang menjadi sasaran penelitian ini tidak dirancang untuk membuat perlakuan terhadap subjek. Data yang dikumpulkan dideskripsi dengan menggunakan kata-kata dan tidak menggunakan angka-angka. Dengan demikian maka penelitian terhadap tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran digolongkan penelitian berpendekatan kualitatif. Penelitian ini meneliti tindak tutur pujian guru berinteraksi dengan siswa. Data penelitian ini berupa transkripsi data verbal wujud, fungsi dan modus tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran di SMK Yos Sudarso Ende. Sumber data penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, PKn, dan Ekonomi dari wacana interaksi di kelas. Dalam pengumpulan data melalui observasi, peneliti menggunakan perekaman dengan tape recorder, catatan lapangan, dan wawancara. Instrumen yang digunakan dalam hal ini adalah peneliti sebagai instrumen kunci. sebagai instrumen kunci, peneliti melakukan serangkaian proses penelitian mulai perencanaan data penelitian, pengumpulan data, penganalisian data, penafsiran, penjelasan makna data, dan penyimpulan hasil penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti menggunakan alat bantu berupa lembar pengamatan, alat perekaman elektronik dan format analisis data. Lembar pengamatan dan alat perekaman elektronik digunakan oleh peneliti sebagai alat bantu pengumpulan data. Format analisis data digunakan oleh peneliti untuk pengolahan data. Dalam proses pengumpulan data berupa tindak tutur pujian guru, peneliti menggunakan teknik pengamatan dan wawancara. Pada saat pengamatan, peneliti berusaha seoptimal mungkin dapat menjaring tindak tutur pujian guru melalui pencatatan dalam lembar observasi dan perekaman data secara elektronik. Wawancara yang dilakukan peneliti tidak berstruktur, dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat tentative dan bersifat situasional. Sedangkan, data catatan lapangan meliputi catatan lapangan bersifat deskriptif dan catatan lapangan bersifat reflektif. Analisis data dimulai dari tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data.     Berdasarkan hasil analisis data, ada tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama wujud tindak tutur pujian guru yang disampaikan kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran dikemukakan sebagai berikut. Pertama wujud tindak tutur pujian guru yang ditemukan beruapa (1) kalimat imperatif, (2) kalimat deklaratif, dan (3) kalimat interogatif. Wujud tindak tutur pujian guru berupa kalimat imperatif yang ditemukan dalam penelitian ini ada empat, yaitu imperatif permintaan, pemberian izin, suruhan, dan larangan. Wujud tindak tutur pujian berupa kalimat deklaratif yang ditemukan,yaitu berbentuk kalimat aktif dan kalimat pasif. Sedangkan kalimat interogatif yang ditemukan, meliputi kalimat interogatif total dan parsial.     Kedua fungsi tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran di SMk Yos Sudarso Ende memiliki lima jenis. Kelima jenis tersebut, meliputi (1) fungsi memperhalus perintah oleh guru kepada siswa,(2) fungsi memperhalus teguran oleh guru kepada siswa, (3) fungsi memberi penguatan oleh guru kepada siswa, (4) fungsi memberi nasihat oleh guru kepada siswa, dan (5) fungsi penerimaan siswa terhadap guru. Ketiga modus penyampaian tindak tutur pujian guru dalam interaksi pembelajaran di SMK Yos Sudarso Ende yang ditemukan dalam penelitian ini, meliputi dua jenis. Kedua jenis modus tersebut adalah (1) modus tuturan langsung dan (2) modus tuturan tidak langsung. Disarankan penelitian ini dikembangkan untuk lebih memfokuskan pada wujud, fungsi dan modus pada latar tutur yang berbeda dan konteks yang lain pula.

Pengaruh penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada materi fotosintesis kelas VIII SMP Negeri 4 Malang / Ima Ruhmawati

 

Ruhmawati, Ima. 2012. Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Fotosintesis Kelas VIII SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ibrohim, M. Si., (II) Dra. Hj. Nursasi Handayani, M. Si. Kata Kunci: LKS Kontekstual, Hasil Belajar Siswa, Fotosintesis, dan SMP Negeri 4 Malang.          Kurikulum tingkat satuan pendidikan menganut pemahaman pembelajaran berpusat pada siswa sehingga siswa harus lebih aktif dan memiliki peranan inti dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran Biologi yang sesuai KTSP dilakukan melalui pendekatan kontekstual. Lembar kerja siswa merupakan media pembelajaran yang umum digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Berdasarkan observasi di SMP Negeri 4 Malang diketahui bahwa LKS IPA-Biologi yang digunakan hanya menekankan pada kemampuan kognitif saja sehingga kurang sesuai dengan pembelajaran kontekstual serta menyebabkan hasil belajar siswa kurang optimal. Fakta yang terjadi memicu peneliti untuk menggunakan media lain yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu LKS Kontekstual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan LKS kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada materi fotosintesis kelas VIII SMP Negeri 4 Malang.     Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang digunakan adalah non equivalent group design dengan jenis faktorial 2x2. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Malang tahun ajaran 2012/ 2013 dengan sampel penelitiannya adalah siswa kelas VIII-D dan kelas VIII-F. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa data kuantitatif yang berupa skor dari hasil belajar (aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek kinerja) pada materi fotosintesis. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan analisis statistik kovarian untuk data hasil pengukuran aspek kognitif dan uji T untuk data hasil pengukuran aspek afektif dan aspek psikomotor.     Hasil belajar siswa yang dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan kinerja menunjukkan bahwa penggunaan lembar kerja siswa (LKS) kontekstual berpengaruh positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fotosintesis kelas VIII SMP Negeri 4 Malang. Berdasarkan hasil penelitian maka merekomendasikan LKS kontekstual untuk dapat digunakan sebagai media pembelajaran biologi di sekolah, khususnya di SMP Negeri 4 Malang.

Hubungan pemberdauyaan guru dan motivasi kerja dengan kinerja guru profesional SMK Negeri di kota Malang / Djonni Bangun

 

ABSTRAK Bangun, Djonni. 2009. Hubungan Pemberdayaan Guru dan Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru Profesional SMK Negeri di Kota Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Djoko Kustono, M.Pd., (II) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd Kata kunci: pemberdayaan, motivasi kerja, dan kinerja guru Penelitian ini dilakukan untuk melihat guru SMK Negeri di Kota Malang yang lulus sertifikasi, apakah juga ditunjukkan dengan adanya peningkatan kinerja sejalan dengan kegiatan pemberdayaan dan motivasi kerja guru yang telah dilakukan sekolah, sehingga mutu pendidikan akan juga meningkat. Pemberdayaan dan motivasi kerja yang dilakukan guru maupun pimpinan sekolah guna meningkatkan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang belum diketahui, sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimanakah pemberdayaan guru, motivasi kerja, dan kinerja guru profesional SMKN di Kota Malang?, Apakah ada hubungan pemberdayaan guru dengan kinerja, motivasi kerja dengan kinerja dan pemberdayaan guru dan motivasi kerja dengan kinerja guru profesional SMKN di Kota Malang?. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional dengan teknik survey. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemberdayaan guru, motivasi kerja, dan kinerja guru profesional SMKN di Kota Malang. Hasil dari riset ini menunjukkan bahwa: (1) Pada umumnya guru professional SMKN di kota Malang merasakan bahwa pemberdayaan guru yang dialami sekarang ini masih dalam kategori sedang, sehingga masih perlu peningkatan. Peran kepala sekolah sangat menentukan dalam pemberdayaan guru, disamping memberdayakan juga harus selalu memberi pembinaan secara profesional. Pemberdayaan guru meliputi peningkatan kemampuan guru dan pemberian kewenangan. Sebagai individu yang sudah menyandang predikat sebagai guru professional, mempunyai konsekuensi yang harus pula dijalani; (2) Motivasi kerja guru profesional SMK Negeri di Kota Malang pada umumnya tergolong berkategori sedang. Seperti halnya pemberdayaan motivasi kerja guru professional ini masih perlu ditingkatkan. Ada tiga faktor yang mempengaruhi motivasi kerja guru yaitu motif, harapan, dan insentif; (3) Kinerja guru professional SMKN di Kota Malang pada umumnya berkategori baik. Kinerja guru professional dipengaruhi oleh beberapa aspek kompetensi, yaitu (a) penguasaan substansi bidang studi dan metodologi keilmuannya, (b) penguasaan struktur dan materi kurikulum bidang studi, (c) menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam pembelajaran, (d) pengorganisasian materi kurikulum bidang studi, dan (e) peningkatan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas: (4) Hubungan pemberdayaan dengan kinerja guru profesional SMK Negeri di Kota Malang adalah signifikan dengan r = 0,732. Besar kecilnya kontribusi variable X1 terhadap Y dinyatakan dengan koefisien determinan = r2 x 100% atau 53,58 % Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi seorang guru melakukan pemberdayaan terhadap profesi guru, maka semakin meningkatkan kinerjanya. Pemberdayaan yang ada pada guru di antaranya dilakukan melalui peningkatan kemampuan guru dan pemberian kewenangan dalam mengembangkan diri dalam mendukung profesi gurunya; (5) Hubungan motivasi kerja dengan kinerja guru professional SMK Negeri di Kota Malang adalah signifikan dengan r = 0,797. Besarnya kontribusi variable motivasi kerja terhadap kinerja guru sebesar 63,52%, sisanya 36,48% ditentukan oleh variabel lain. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi seorang guru memiliki motivasi terhadap profesi guru, maka semakin meningkat kinerjanya. Motivasi yang ada pada guru dipengaruhi oleh motif, harapan, dan insentif yang didapatkan guru; (6) Hubungan secara simultan pemberdayaan dan motivasi kerja guru dengan kinerja guru professional SMK Negeri di Kota Malang berpengaruh secara signifikan. Besar kecilnya kontribusi secara bersama-sama (simultan) sebesar 83,3% dan sisanya 16,7% ditentukan oleh faktor-faktor lain. Faktor lain misalnya: kepemimpinan, iklim organisasi, etos kerja, budaya organisasi, kompetensi, kepuasan, loyalitas, pelayanan, negosiasi, mutu, produktifitas, bauran di pasaran, dan lainnya. Dinas Pendidikan Kota Malang dan Kepala Sekolah SMK Negeri di Kota Malang, agar mendukung dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para guru untuk melakukan peningkatan pemberdayaan terkait dengan fungsi dan tugas profesi guru. Bagi peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan mengkaji kinerja guru pada jurusan yang lebih spesifik sehingga menambah cakrawala dan wawasan lebih luas.

Pengembangan instrumen penilaian kognitif materi gerak tumbuhan dan hama penyakit tumbuhan kelas VIII semester genap tahun ajaran 2013-2014 / Intan Rezki Kurniasari

 

Kurniasari, Intan Rezki. 2014. Pengembangan Instrumen Penilaian Kognitif Materi Gerak Tumbuhan dan Hama Penyakit Tumbuhan Kelas VIII Semester Genap Tahun Ajaran 2013-2014. Skripsi. Jurusan Biologi. Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sunarmi, M.Pd, (II) Ir. Nugrahaningsih, M.P. Kata kunci : instrumen penilaian kognitif, gerak tumbuhan dan hama penyakit tumbuhan      Penilaian merupakan salah satu faktor dalam mengukur keberhasilan proses dan hasil pembelajaran. Hasil belajar diukur menggunakan suatu instrumen penilaian yang berkualitas. Alat ukur hasil belajar adalah tes. Penelitian ini bertu-juan untuk : (1) mengembangkan soal evaluasi Biologi untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas VIII SMP, (2) mengetahui tingkat kesukaran soal Biologi un-tuk mengukur prestasi belajar siswa kelas VIII SMP, (3) mengetahui daya beda hasil tes Biologi untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas VIII SMP, (4) me-ngetahui reliabilitas instrumen tes Biologi untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas VIII SMP, (5) mengetahui validitas konstruk instrumen tes Biologi untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas VIII SMP, (6) mengetahui validitas isi ins-trumen tes Biologi untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas VIII SMP.      Penelitian pengembangan ini menggunakan teori pengembangan Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahap yaitu: define (pendefinisian), design (peran-cangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Pengumpu-lan data diperoleh dari hasil validasi ahli instrumen, materi dan lapangan serta hasil uji coba produk, kemudian dianalisis dengan deskriptif kuantitatif.      Berdasarkan hasil uji kevalidan Instrumen Penilain Kognitif dari ahli instrumen, ahli materi dan ahli lapangan disimpulkan telah valid. Uji coba produk dilakukan di SMPN 4 Malang pada 39 siswa. Produk dari pengembangan instru-men penilaian kognitif ini sebanyak 40 soal dengan bentuk soal obyektif pilihan ganda. Berdasarkan hasil uji coba produk untuk tingkat kesukaran soal mudah 67,7%, soal sedang 22,5% dan soal sukar 10%. Untuk daya beda jelek diperoleh persentase 62,5%, cukup 25%, baik 10%, sangat baik 0% dan negatif 2,5%. Reliabilitas instrumen tergolong sangat tinggi dengan nilai 0,90. Untuk analisis validitas konstruk diperoleh hasil bahwa sesuai dengan tujuan dan validitas isi diperoleh hasil sesuai dengan materi. Jadi instrumen ini bisa digunakan namun sebelumnya melalui tahap revisi.      Saran yang dapat diberikan yaitu instrumen ini bisa digunakan oleh guru pelajaran Biologi namun sebelumnya melalui tahap revisi dan diharapkan peneli-tian ini dilanjutkan sampai pada tahap penyebaran dan melalui program komputer untuk meningkatkan feed back siswa.      

Efek anthelmintika ektrak daun Urena lobata terhadap cacing Fasciola hepatica penyebab penyakit fascioliasis / Ima Ruhmawati

 

Ruhmawati, Ima. 2012. Efek Anthelmintika Ektrak Daun Pulutan (Urena lobata) terhadap Cacing Fasciola hepatica Penyebab Fascioliasis. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Suarsini, M. Ked., (II) Sofia Ery Rahayu, S. Pd., M. Si. Kata Kunci: efek anthelmintika, Urena lobata, Fasciola hepatica, LC50, LT50. Fascioliasis merupakan jenis penyakit yang prevalensinya cukup tinggi, baik pada hewan maupun pada manusia. Obat anthelmintik yang paling sering digunakan adalah obat sintetik. Obat sintetik mempunyai beberapa keterbatasan sehingga mendorong masyarakat untuk lebih memilih menggunakan obat tradisional. Urena lobata merupakan salah satu tanaman obat yang dimungkinkan dapat dijadikan sebagai obat anthelmintik. Berdasarkan uji pendahuluan, diketahui bahwa ekstrak daun Urena lobata dapat memberikan pengaruh terhadap jumlah kematian cacing Fasciola hepatica. Urena lobata dimungkinkan dapat digunakan sebagai obat anthelmintik karena mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai konsentrasi efektif dan waktu efisien, serta hubungan antara keduanya dengan mengacu pada LC50 dan LT50. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah RAK dengan 11 perlakuan dan 3 kali ulangan untuk setiap perlakuan. Obyek penelitian yang digunakan adalah 330 ekor cacing Fasciola hepatica yang diperoleh dari RPH Gadang. Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung jumlah cacing Fasciola hepatica yang mati setelah pendedahan di dalam ekstrak daun Urena lobata. Pengamatan pada cacing Fasciola hepatica yang diberi perlakuan dilakukan setiap 15 menit hingga seluruh cacing mati. Data yang diperoleh berupa jumlah cacing yang mati selanjutnya dianalisis dengan analisis Regresi-Probit program SPSS 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konsentrasi efektif efek anthelmintika ekstrak daun Urena lobata terhadap cacing Fasciola hepatica terdapat pada konsentrasi 3%. Waktu efisien yang dapat memberikan efek anthelmintika ekstrak daun Urena lobata terhadap cacing Fasciola hepatica adalah pada menit ke-23. Berdasarkan grafik hubungan antara konsentrasi ekstrak daun Urena lobata dengan waktu dapat diketahui bahwa terdapat hubungan berbanding terbalik antara kedua variabel untuk mematikan 50% cacing sampel.

Pengaruh umur pada waktu perendaman madu terhadap keberhasilan maskulinisasi larva ikan nila GIFT (Genetic Improvement of Farmed Tilapias) / Dhiessy Wahyu Ratnasari

 

Ratnasari, Dhiessy Wahyu. 2014. Pengaruh Umur Pada Waktu Perendaman Madu Terhadap Keberhasilan Maskulinisasi Larva Ikan Nila GIFT (Genetic Inprovement of Farmed Tilapias). Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dra. Amy Tenzer, M. S, (II) Dra. Hj. Nursasi Handayani, M. Si. Kata Kunci: umur, perendaman madu, keberhasilan maskulinisasi, larva nila gift Budidaya air tawar semakin berkembang, terutama ikan nila GIFT. Nila GIFT jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada betina. Perbedaan pertumbuhan ini menyebabkan potensi ekonomi antara nila jantan dan betina berbeda, sehingga petani ikan cenderung ingin memproduksi ikan jantan saja melalui metode maskulinisasi. Umur ikan berpengaruh dalam maskulinisasi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur pada waktu perendaman madu terhadap keberhasilan maskulinisasi larva ikan nila GIFT. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2014 di Unit Pengelola Budidaya Air Tawar Punten, Kota Batu. Pada penelitian ini, terdapat 4 perlakuan variasi umur dan 1 perlakuan kontrol. Umur larva nila GIFT yang mulai diperlakukan dengan madu yakni umur 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 28 hari sedangkan pada perlakuan kontrol yakni tanpa perendaman madu ialah mulai umur 7 hari. Sejumlah 40 ekor larva ikan nila GIFT dengan umur yang sama diberi perlakuan perendaman madu dengan konsentrasi 0,2% dengan lama perendaman 24 jam, masing- masing diulang 6 kali. Setelah 24 jam perendaman larva di larutan madu, larutan dibuang dan diganti dengan air baru. Pemeliharaan larva dilanjutkan sampai berumur 85 hari kemudian dilakukan identifikasi kelamin melalui metode histologis dengan pewarnaaan asetokarmin. Data yang dihasilkan dianalisis dengan anova satu arah dilanjutkan dengan uji BNT. Perendaman madu pada larva ikan nila semua umur menghasilkan ikan jantan dengan persentase yang lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan kontrol.. Keberhasilan maskulinisasi terbesar terjadi pada perendaman larva umur 7 hari (83,33%) dan 14 hari (71,67%).

Kesalahan terjemahan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman mahasiswa semester VII Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Wilma Akihary

 

Akihary, Wilma. 2014. Kesalahan Terjemahan dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman Mahasiswa Semester VII Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, (2) Prof. Dr. H. Suparno, (3) Dr. Sunaryo HS, S.H., M.Hum. Kata kunci: kesalahan, terjemahan, gramatika , budaya Akurasi transfer informasi dari bahasa asing antara lain, dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia penting. Untuk itu, Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman UM memasukkan terjemahan dalam kurikulum pengajaran bahasa Jerman dengan harapan mahasiswa dapat memahami dasar-dasar teori terjemahan dan mampu menerjemahkan teks berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman dan sebaliknya secara berterima. Namun kenyataannya, saat menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman, terjadi kesalahan dalam struktur teks dan konteks kultural. Untuk itu, analisis kesalahan berbahasa mahasiswa dalam menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman dilakukan dengan fokus pada dua hal, yaitu: (1) wujud kesalahan gramatika dan (2) wujud kesalahan pemahaman budaya. Data terhadap kesalahan dalam terjemahan berupa kata, frasa dan kalimat yang bersumber dari teks tulis tugas ‘Bau Nyale’ hasil terjemahan mahasiswa yang mengambil matakuliah Ubersetzung II. Satuan lingual ini kemudian diolah melalui teknik baca catat dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pengumpulan data. Data berupa teks terjemahan brosur Bau Nyale dikumpulkan oleh peneliti, dan selanjutnya diperiksa oleh penutur asli dan teman sejawat. Gundukan data tersebut kemudian dipilah per kalimat dan diberikan kode alfanumerik; (2) identifikasi kesalahan. Taksonomi kategori linguistik digunakan untuk mengidentifikasi kesalahan pada tataran morfologi dan sintaksis. Untuk menganalisis budaya, peneliti mengidentifikasi konsep budaya mahasiswa dengan mengurai kata, frasa dan kalimat, membuat kamus berisikan diksi yang digunakan mahasiswa, dan mengonsultasikan dengan penutur asli kesalahan pemahaman budaya dari diksi mahasiswa dan alasan diksi yang digunakan penutur asli; (3) klasifikasi kesalahan. Tahapan ini mengarah pada pengategorian. Data kesalahan gramatika yang ada dikelompokkan dan ditetapkan pola-pola berupa pelesapan, penambahan, penyeleksian dan yang terakhir, salah urutan. Data kesalahan pemahaman budaya diklasifikasikan dalam (a) ekologi, (b) sosial budaya, (c) organisasi, adat istiadat, aktivitas dan konsep; (4) penilaian kesalahan yang muncul. Pada langkah ini, dinilai pola kesalahan gramatika yang sering muncul pada tiap tataran dan dibuat perhitungan sederhana sedangkan untuk budaya ditelaah pola kesalahan pemahaman budaya yang terjadi; (5) penyimpulan kesalahan-kesalahan yang muncul. Pada tahap akhir ini, disimpulkan kesalahan yang muncul sehingga dapat dipetakan permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan kesalahan gramatika morfologi yang berkaitan dengan kesalahan infleksi, derivasi dan kompositum. Kesalahan infleksi (verba, artikula, nomina dan adjektiva) terbanyak pada tataran penyeleksian, kesalahan derivasi juga pada tataran penyeleksian dan kesalahan kompositum terbanyak pada tataran salah urutan. Umumnya kesalahan terjadi karena aplikasi aturan yang tidak lengkap dan juga generalisasi yang berlebihan. Data menunjukkan kesalahan infleksi verba terkait dengan kala dan persona. Dari frekuensi penggunaan kala, kesalahan infleksi verba terbanyak terdapat pada kala lampau. Kesalahan infleksi verba terkait dengan pengalihan persona terbanyak terjadi pada kala kini. Pada infleksi artikula takrif dan tak takrif, kesalahan terkait dengan kasus dan tataran permukaan yang berbeda. Pada tataran pelesapan terjadi kesalahan infleksi artikula takrif terkait kasus datif, sedangkan kesalahan infleksi pada artikula tak takrif terbanyak terjadi pada kasus akusatif terutama pada tataran penyeleksian. Pada infleksi nomina, kesalahan terbanyak pada penanda jamak kasus datif pada tataran pelesapan dan penyeleksian. Pada infleksi adjektiva, kesalahan muncul pada tataran pelesapan terutama pada kasus datif dan pada tataran penyeleksian kesalahan terjadi pada semua kasus. Kesalahan derivasi terjadi pada saat verba dikonversi menjadi nomina. Nomina hasil konversi tidak menggunakan huruf besar dan juga tidak menggunakan determinan artikula. Pada kompositum, kesalahan pada tataran salah urutan menonjol karena sistem MD dalam bahasa Jerman yang berbeda dengan sistem DM dalam bahasa Indonesia. Kesalahan gramatika sintaksis berkaitan dengan frasa berupa frasa preposisi, frasa nominal dan frasa verbal, sedangkan kesalahan kalimat berkaitan dengan kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kesalahan frasa preposisi berangkai dengan artikula dan nomina. Kesalahan pada frasa preposisi ini terjadi pada frasa nomina berkasus tertentu tergantung pada verba yang mengikutinya. Penyeleksian ataupun pelesapan terjadi karena mahasiswa menerjemahkan berdasarkan versi bahasa Indonesia. Kesalahan frasa nominal terjadi pada tataran pelesapan karena pengaruh verba dan preposisi sedangkan pada tataran salah urutan terkait dengan penggunaan nama dan gelar. Kesalahan frasa verbal pada tataran penyeleksian terjadi pada verba utama (dalam kalimat pasif), verba bantu yang berpadanan dengan verba utama, dan makna frasa verbal tersebut. Pada kalimat, kesalahan pada kalimat tunggal terbanyak pada kongruensi persona dan verba pada kala kini dan lampau. Sementara itu, kesalahan pada kalimat majemuk dalam hal ini kalimat relatif sering terjadi pada penyeleksian verba. Kesalahan-kesalahan tersebut memperlihatkan bahwa lebih banyak transfer intralingual yang terjadi dalam terjemahan. Kesalahan pemahaman budaya yang terjadi berupa transfer interlingual. Hal ini disebabkan mahasiswa menggunakan konsep berpikir Indonesia dalam menerjemahkan teks ke dalam bahasa Jerman. Kesalahan pemahaman budaya dan juga diksi yang terbatas menyebabkan mahasiswa menerjemahkan secara harfiah sehingga terjemahan membingungkan penutur asli. Kesalahan lainnya adalah penggunaan bahasa daerah yang tidak disertai dengan penjelasan.

Analisis filogenetik kura-kura (Cuora amboinensis) di daerah Sulawesi berdasarkan DNA mitokondria (Cytochrome c Oxidase Sub Unit 1) / Fyrga Afryani

 

Afryani , Fyrga. 2014. Analisis Filogenetik Kura-Kura (Cuora amboinensis) di Daerah Sulawesi Berdasarkan DNA Mitokondria (Cytochrome c Oxidase Sub Unit I). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. dr.agr. H. Mohammad Amin S.Pd., M.Si., (2) Sofia Ery Rahayu S.Pd., M.Si. Kata Kunci : Cuora amboinensis, filogenetik, jarak genetik, cytochrome c oxydase sub unit I (COI). Cuora amboinensis merupakan spesies endemik Indonesia Timur yang sebarannya merata di wilayah Sulawesi dan sekitarnya. Populasi Cuora amboinensis semakin menurun karena perburuan dan perdagangan ilegal. Selain itu masalah pencemaran air dan kerusakan habitat perairan juga menjadi ancaman terhadap keberadaan hewan ini. Maka dari itu IUCN (International Union For Conservation of Nature and Natural Resources) atau Uni Konservasi Dunia telah memasukkan populasi C. amboinensis ke dalam kategori rentan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filogenetik dan hubungan kekerabatan pada Cuora amboinensis di Sulawesi menggunakan gen mitokondria Cytochrome c Oxidase Sub Unit 1 (COI). Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif. Objek berasal dari koleksi jaringan ekor kura-kura yang disimpan di Laboratorium Biologi Molekular Jurusan Biologi FMIPA UM. Semua kura-kura berasal dari pulau Sulawesi di daerah Makasar 2 objek dan Kendari 2 objek dengan pertimbangan sebaran geografis. Amplifikasi menggunakan primer COI Forward : 5- TCG ACT AAT CAT AAA GAT ATC GGC AC -3. Analisis genetik menggunakan software MEGA 5 dengan metode penghitungan jarak genetik dan jumlah mutasi sedangkan untuk analisis filogenetik menggunakan model Neighboor Joining (NJ) dan Minimum Evolution (ME). Berdasarkan analisis data diperoleh hasil perbandingan sekuens dan komposisi basa yang menunjukkan individu Cuora amboinensis dari daerah Makasar dan Kendari memiliki jarak genetik sebesar 0,000 yang berarti memiliki karakter yang sama persis. Hal tersebut dikarenakan persebaran kedua individu berasal dari daerah yang sama yaitu Sulawesi.. Apabila dibandingkan dengan Cuora yunnanensis, Cuora boureti, Cuora aurocapitata, dan Cuora garbinifrons menghasilkan jarak genetik yang jauh, yang berarti sekuens dari individu-individu tersebut tidak sama. Hal tersebut disebabkan oleh persebaran keempat spesies cukup jauh yaitu Cuora yunnanensis, Cuora boureti berasal dari Cina dan Cuora aurocapitata, dan Cuora garbinifrons berasal dari Vietnam. Hubungan kekerabatan COI menggunakan model Neighbor-Joining dan model Minimum Evolution dengan pengolahan bootstrap 1000 terlihat bahwa Cuora amboinensis Makasar dan Kendari membentuk satu subcluster yang sama. Analisis selanjutnya dilakukan pembanding dengan spesies outgroup untuk membuktikan posisi taksa Cuora amboienensis. Spesies yang digunakan moyang adalah Rana pyrenica yang termasuk dalam kelas Amfibi. Hasil topologi pohon filogenetik menunjukkan bahwa outgroup berada pada cabang yang terpisah jauh dengan kelompok sample Cuora amboinensis.

Pengaruh minat baca motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa (Studi kasus pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Srengat) / Venti Mei Wicahyani

 

ABSTRAK Wicahyani, Venti Mei. 2010. Pengaruh Minat Baca dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Studi Kasus Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Srengat). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti W, S.E., M.P., Ak. (2) Agus Sumanto, S.E., M.S.A. Kata Kunci: Minat Baca, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Siswa. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang penting dan dianggap pokok dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan diharapkan dapat meningkatkan sumber daya manusia. Tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan khususnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah minat baca dan motivasi belajar. Minat baca adalah suatu rasa ketertarikan atau kesukaan terhadap kegiatan membaca. Dengan memiliki minat baca dalam diri, maka siswa akan bergerak hatinya untuk terus membaca. Sedangkan motivasi belajar merupakan suatau dorongan untuk melakukan suatu keinginan belajar. Dimana dengan keinginan untuk berprestasi mendorong siswa untuk berusaha agar tercapai hasil belajar yang optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang pengaruh minat baca terhadap prestasi belajar siswa, pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, serta pengaruh minat baca dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode diskiptif kuantitatif. Instrumen dalm penelitian ini berupa angket, kemudian hasilnya dianalisis dengan menggunakan teknik regresi linier berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah 113 siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Srengat tahun ajaran 2009/2010. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 75 siswa. Teknik sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Kemudian sampel penelitian ditentukan secara proporsional yaitu 25 siswa dari masing-masing kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat baca dan motivasi belajar siswa tergolong tinggi dan dari hasil analisis regresi diketahui (1) Terdapat pengaruh minat baca terhadap prestasi belajar siswa, (2) Terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, (3) Terdapat pengaruh minat baca dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa. Prestasi belajar dapat dijelaskan oleh variabel bebas (minat baca dan motivasi belajar) sebesar 51,3% sedangkan sisanya 48,7% disebabkan oleh variabel lain. Dari hasil penelitian diketahui bahwa minat baca merupakan variabel yang yang efektif mempengaruhi prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat penagruh yang simultan dan parsial antara minat baca dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa. Saran yang bisa diberikan (1) Agar guru dapat i lebih meningkatkan pemberian motivasi kepada siswa sehingga siswa lebih giat untuk belajar, Misal dengan selalu menghargai semua hasil karya siswa sehingga siswa akan lebih termotivasi. Serta guru hendaknya lebih sering memberikan tugas-tugas atau latihan-latihan dan lebih mengembangkan latihan tersebut, sehingga memungkinkan siswa untuk lebih banyak membaca dari berbagai literatur buku atau sumber lain. (2) Kepala sekolah sebaiknya Untuk menyediakan sumber belajar yang bervariasi dan bermanfaat bagi siswa sehingga prestasi belajar siswa tercapai secara optimal. (3) Siswa Agar dapat meningkatkan minat baca dengan membaca buku secara kritis, membaca buku dengan mengerti bukan menghafal, dan membaca buku sekaligus membuat catatan yang dianggap penting untuk memudahkan dalam belajar. (4) Bagi peneliti selanjutnya apabila meneliti mengenai hal yang sama dengan penelitian ini diharapkan variable yang ingin diteliti lebih diperluas lagi dan dalam pengambilan data lebih ditingkatkan metode-metode yang digunakan sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan atau bahan literatur untuk penelitian lebih lanjut.

Pelaksanaan layanan bimbingan oleh penasihat akademis dan kaitannya dengan sikap serta kebiasaan belajar mahasiswa Universitas Pattimura / oleh Gaby Pattinama

 

Pengembangan panduan bimbingan dengan teknik diskusi untuk meningkatkan adversity quotient siswa SMA / Riki Anggrian

 

ABSTRAK Anggrian, Riki. 2016. Pengembangan Panduan Bimbingan dengan Teknik Diskusi untuk Meningkatkan Adversity quotient Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: Panduan bimbingan, adversity quotient, teknik diskusi, pendekatan experiential learning Layanan bimbingan dan konseling di sekolah berfungsi untuk membangun kondisi sejahtera bagi siswa agar tercapai perkembangan optimal berdasarkan standard kemandirian. Dalam aktifitas belajar, terkadang siswa mengalami beberapa masalah yang muncul dan mengakibatkan terhambatnya proses belajar mengajar. Masalah tersebut dipengaruhi adanya konflik internal maupun eksternal yang dapat menurunkan daya belajar, menghilangkan gairah belajar, serta menurunkan kepercayaan diri/sikap optimis siswa. Oleh sebab itu, kemampuan siswa dalam menghadapi kesulitan/adversity quotient mutlak diperlukan agar siswa memiliki ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan panduan bimbingan dengan teknik diskusi untuk meningkatkan adversity quotient siswa SMA yang dapat diterima berdasarkan ketepatan, kegunaan, dan kemenarikan. Produk berupa buku panduan bimbingan ini dapat digunakan oleh konselor untuk meningkatkan adversity quotient siswa SMA. Panduan bimbingan untuk meningkatkan adversity quotient ini berisi petunjuk dalam melaksanakan serangkaian kegiatan bimbingan dengan teknik diskusi menggunakan pendekatan experiential learning secara terprogram. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan/research and development, dengan menggunakan desain penelitian yang dikembangkan oleh Borg & Gall. Prosedur penelitian ini dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pengembangan produk awal, (3) uji coba produk, (4) revisi, (5) produk akhir. Instrument penelitian berupa angket/kuesioner. Sedangkan data yang diperoleh berupa data kuantitatif numerikal dan verbal. Analisis data numerikal dilakukan dengan menggunakan perhitungan rerata/mean dan data verbal dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil uji ahli bimbingan dan konseling serta ahli media dan pembelajaran, produk pengembangan dikategorikan ke dalam kriteria sangat tepat, sangat berguna, dan sangat menarik. Hasil uji calon pengguna produk, produk pengembangan dikategorikan ke dalam kriteria sangat tepat, sangat berguna, dan sangat menarik. Sehingga secara keseluruhan produk yang dikembangkan dapat dikategorikan ke dalam kriteria sangat tepat, sangat berguna dan sangat menarik untuk digunakan dalam meningkatkan adversity quotient siswa SMA. Saran bagi kepala sekolah, hendaknya memberikan fasilitas agar pelaksanaan bimbingan untuk meningkatkan Adversity quotient di sekolah terlaksana secara optimal. Saran bagi konselor, hendaknya memahami buku panduan terlebih dahulu, agar pelaksanaan kegiatan bimbingan dapat terlaksana secara efektif. Saran bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menguji efektifitas produk dan mendesiminasikannya pada pertemuan-pertemuan professional atau jurnal ilmiah.

Strategi manajemen pembelajaran dalam mempertahankan keunggulan lokal (studi kasus di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung) / Maya Nickyta

 

Nickyta, Maya. 2013. Strategi Manajemen Pembelajaran dalam Mempertahankan Keunggulan Lokal (Studi Kasus di SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Ahmad Supriyanto, M.Pd, M.Si, (II) Drs. H. Agus Timan, M.Pd Kata Kunci: strategi, manajemen pembelajaran, pendidikan berbasis keunggulan lokal, batik     Penguatan pendidikan berbasis keunggulan lokal dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis kebudayaan. Diakui atau tidak saat ini terjadi krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat dengan melibatkan generasi penerus. Krisis tersebut antara lain berupa kurangnya kesadaran terhadap budaya keunggulan lokal, tidak menghargai kebudayaan daerahnya, dan lebih mengenal keunggulan lokal daerah lain dibanding potensi daerahnya sendiri. Bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitik beratkan pada pengembangan intelektual kognitif semata, sedangkan aspek keterampilan dan keahlian sebagai unsur utama pendidikan berbasis keunggulan lokal belum diperhatikan secara optimal bahkan jika boleh dikatakan cenderung diabaikan karena masih jarang sekolah yang menerapkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Saat ini, ada kecenderungan bahwa target-target akademik masih menjadi tujuan utama dari hasil pendidikan, seperti halnya Ujian Nasional (UN), sehingga proses pendidikan berbasis keunggulan lokal masih sulit dilakukan.     Fokus penelitian ini yaitu bagaimana strategi manajemen pembelajaran, manajemen pembelajaran dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal, penerapan pendidikan berbasis keunggulan lokal, faktor pendukung penerapan pendidikan berbasis keunggulan lokal, hambatan-hambatan yang dialami sekolah, serta upaya mengatasi masalah dalam penerapan pendidikan berbasis keunggulan lokal di SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung.     Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan ini dipilih agar dapat diperoleh data secara alami dan komprehensif mengenai masalah yang diteliti. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci yang merencanakan, melaksanakan, mengumpulkan data, menganalisis, menafsirkan data dan melaporkan hasil penelitian. Data yang diperoleh melalui (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu saat pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Analisis tersebut melalui langkah-langkah yaitu reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan yaitu mengadakan pengamatan lebih tekun dan menguji triangulasi, serta pengecekan anggota.     Temuan penelitian ini yaitu penerapan pendidikan berbasis keunggulan lokal di SMAN 1 Kedungwaru yang diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran di SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung. Tujuan pendidikan ini yaitu untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk dapat mempertahankan keunggulan lokal daerahnya serta memberikan keahlian dan keterampilan dalam kegiatan membatik. Terbentuknya pendidikan berbasis keunggulan lokal ini karena SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung merupakan satu-satunya sekolah model. Sekolah dapat dikategorikan sebagai sekolah model jika melaksanakan sebagai sekolah kategori mandiri, pusat sumber belajar, dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Penerapan pendidikan berbasis keunggulan lokal di sekolah model ini terdapat berbagai faktor pendukung dan penghambat.     Saran yang dapat diberikan yaitu: (1) Kepala SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung, diharapkan membuat manajemen yang baik dalam setiap melaksanakan program kerja, karena manajemen yang kurang matang membuat pelaksanaan program kerja tersebut berjalan kurang maksimal, (2) Guru SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung, tidak hanya dapat memberi manfaat bagi peserta didik, guru dan tenaga pendidik yang lain juga mau belajar membuat batik untuk melestarikan keunggulan lokal, (3) Ketua dan Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UM, memanfaatkan kajian tentang manajemen pembelajaran pendidikan berbasis keunggulan lokal, karena pendidikan berbasis keunggulan lokal ini ini sangat mempengaruhi peserta didik dalam wujud kepeduliannya terhadap kebudayaannya, (4) Peneliti Lain, disarankan agar melakukan tindak lanjut dari peneliti ini berupa melakukan penelitian tindakan dengan mencari model penerapan pendidikan berbasis keunggulan lokal yang efektif.     

Desain dan implementasi evaluasi pada program pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari / Albasit Bhekti Firmansyah

 

Firmansyah, Albasit Bhekti. 2014. Desain dan Implementasi Evaluasi pada Program Pelatihan Otomotif di UPT-PK Singosari. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, FakultasI lmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, (II) Dr. M. Djauzi Moedzakir, M.A. Kata Kunci: Evaluasi, Pelatihan Evaluasi merupakan hal yang sangat penting dalam pelatihan, karena evaluasi dapat mencerminkan perkembangan dan kemajuan kualitas hasil pendidikan. Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja (UPT-PK) Singosari merupakan penggerak di dalam menjalankan program-program kegiatan pelatihan untuk melatih tenaga kerja yang kompeten dan produktif sehingga mempunyai peranan penting untuk memberikan pelayanan pelatihan yang berkualitas.     Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, (1) desain evaluasi hasil belajar pada pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari, (2) desain evaluasi program pada pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari, (3) implementasi evaluasi hasil belajar dan evaluasi pada program pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari.     Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang dirancang dalam bentuk studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, display data, dan mengambil kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode.     Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, desain evaluasi hasil belajar pada pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari bertujuan untuk menggambarkan kemampuan belajar peserta pelatihan pada ranah kognitif yang digambarkan pada evaluasi teori, ranah afektif digambarkan pada evaluasi perfomansi yang terdiri dari penilaian kehadiran, kedisiplinan, kerjasama, dan inisiatif, dan ranah psikomotorik digambarkan pada evaluasi praktik.     Kedua, desain evaluasi program pada pelatihan otomotif yang dilaksanakan di UPT-PK Singosari terdiri dari empat tahap. Tahap pertama adalah tahap untuk mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap penyelenggaraan pelatihan. Tahap kedua adalah tahap untuk mengevaluasi hasil belajar peserta pelatihan selama mengikuti kegiatan pelatihan. Dengan semakin banyak hasil belajar yang didapat oleh peserta pelatihan menunjukkan bahwa program pelatihan tersebut berhasil. Tahap ketiga adalah tahap untuk menunjukkan seberapa besar hasil belajar peserta pelatihan yang telah diterapkan di tempat mereka bekerja. Tahap yang keempat adalah tahap untuk menggambarkan pengaruh pelatihan terhadap peningkatan produksi dan pendapatan perusahaan tempat peserta pelatihan bekerja.     Ketiga, pada tahap perencanaan evaluasi hasil belajar instruktur menyiapkan instrumen yang telah disesuaikan dengan kurikulum pelatihan untuk mengetahui tipe hasil belajar. Kemudian pada tahap pengumpulan data instruktur mengunakan teknik tes dan nontes. Pada teknik tes instrukur sudah mempunyai instrumen pengumpulan data yang cukup baik sedangkan pada teknik nontes instruktur hanya melakukan pengamatan dan langsung memberikan nilai tanpa adanya pedoman pengamatan. Pada tahap pengolahan data instruktur sudah mempunyai rumus baku untuk menentukan nilai peserta pelatihan sehingga dalam pengolahan data bisa dilakukan oleh orang lain selain instruktur pelatihan. Kemudian langkah tindak lanjut dari hasil pengolahan data yang dilakukan adalah dengan memberikan jam tambahan bagi peserta pelatihan yang belum mencapai standard kompetensi yang telah ditetapkan. Evaluasi program pada pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari pada tahap pertama menggunakan angket sebagai alat pengumpul data. Dengan menggunakan angket pihak penyelenggara pelatihan akan menghemat biaya dan waktu dalam pengumpulan data karena angket tersebut terdiri dari 20 pertanyaan. Pada tahap kedua evaluasi program pihak penyelenggara pelatihan menyelenggarakan serangkaian kegiatan tes dan nontes untuk mengumpulkan data. Evaluasi program pelatihan pada tahap ketiga dan keempat memiliki persamaan dalam cara pengumpulan data yaitu dengan melakukan wawancara kepada atasan perusahaan. Pada tahap ketiga evaluator menekankan untuk memperoleh informasi mengenai aplikasi hasil pelatihan di tempat kerja sedangkan pada tahap keempat lebih menekankan pada pengaruh pelatihan terhadap peningkatan produksi dan pendapatan perusahaan.     Berdasarkan hasil penelitian ini, UPT-PK Singosari disarankan agar menjadikan penelitian ini sebagai bahan masukan agar dalam evaluasi program pada tahap perilaku dan hasil menggunakan instrumen pengumpulan data yang baku sehingga dalam melakukan penilaian memiliki sifat yang objektif. Bagi instruktur pelatihan otomotif disarankan lebih memperhatikan pelaksanaan evaluasi hasil belajar pada tahap tindak lanjut. Pada tahap tindak lanjut, instruktur disarankan agar memberikan pembelajaran yang lebih variatif ketika melakukan pembelajaran pada jam tambahan bagi peserta pelatihan yang belum mencapai standard kompetensi.

Masalah sosial dalam cerpen Kompas tahun 2012: deskripsi masalah, bentuk pengungkapan, dan relevansinya untuk pendidikan karakter / Bonefasius Rampung

 

Rampung, Bonefasius. 2014. Masalah Sosial dalam Cerpen Kompas Tahun 2012: Deskripsi Masalah, Bentuk Pengungkapan, dan Relevansinya untuk Pendidikan Karakter. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. (II) Prof.Dr. Suyono, M.Pd. Kata-kata Kunci: masalah sosial, cerpen, semiotik, hermeneutik, stilistika, karakter. Cerita pendek (cerpen) sebagai karya sastra merupakan dokumentasi sosial berisi rekamanan persoalan-persoalan masyarakat baik masyarakat sebagai pencipta karya (penulis) maupun masyarakat pembaca sebagai sasaran. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan berbagai masalah kehidupan dalam cerpen Kompas tahun 2012, menemukan bentuk-bentuk pengungkapnnya, untuk menemukan relevansinya bagi pendidikan karakter. Jenis penelitian yang dipilih adalah kualitatif-deskriptif dengan teori sosiologi sastra dibantu semiotik, hermeneutik, stilistika, dan karakater. Pemakaian lima kerangka teori bertujuan memastikan masalah-masalah dalam cerpen, menempatkan cerpen sebagai sesuatu yang bermakna melalui interpretasi sambil mempertimbangan gaya bahasa sebagai media pengungkapnya. Selanjutnya, dari kerangka teoretis ini pelagai masalah dikaitkan dengan masalah pendidikan karakter. Penelitian ini menemukan bahwa cerpen Kompas tahun 2012 menghadirkan sepuluh masalah pokok yaitu masalah religius, etos kerja, ekologi, etika dan moral, keluarga, politik, budaya, gender, pendidikan, dan keamanan. Semua masalah ini diungkapkan secara tidak langsung melalui pemanfaatan gaya bahasa. Penelitian menemukan bahwa para penulis cerpen mengungkapkan masalah dalam beberapa gaya bahasa yaitu metofora, alegori, retoris, klimaks, repetisi, paradoks, personifikasi, paralelisme, simbolisme, ironi, sinisme, tautologi, dan perbandingan. Setiap masalah yang ditemukan dalam penelitian ini secara paralel menunjukkan adanya nilai-nilai religius, kerja, ekologi, etika dan moral, keluarga, politik, budaya, gender, pendidikan, dan keamanan yang merupakan unsur penting dalam kehidupan. Nilai-nilai yang ditemukan dalam cerpen Kompas 2012 berkorelasi dengan nilai-nilai dalam kurikulum berbasis karakter. Kesejajaran antara nilai-nilai yang ditemukan dengan 18 butir nilai karakter dalam kurikulum 2013 secara meyakinkan temuan ini memiliki relevansi dengan konsep pendidikan karakter. Relevansi tersebut pada tingkatan yang paling intens dalam proses pembelajaran cerpen dapat dimanfaatkan sebagai materi sekaligus media pembelajaran dan penanaman nilai karakter. Kolaborasi antara nilai yang ditemukan di dalam cerpen Kompas 2012 dengan nilai-nilai karakter yang diamanatkan kurikulum 2013 dapat menjadi pilihan yang tepat untuk pendidikan karakter bangsa. Relevansi nilai cerpen untuk karakter dapat diwujudkan dalam pendidikan yang berorientasi pada pembentukan budaya religius, budaya kerja, budaya ekologis, budaya multikultural, dan budaya patriotisme sebagai budaya baru.

Pengaruh penggunaan geogebra dalam pembelajaran geometri model pace terhadap kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa SMP / Hidayah Susatri

 

Susatri, Hidayah. 2014.TheInfluence of Using GeoGebra in the PACE Model of     Learning Geometry on Mathematical Reasoning Ability and Communication skill of Junior High School Students. Thesis. Mathematics Education Study Program,(S2), State University of Malang.     Supervisor: (1) Dr. Abdur RahmanAs'ari, M. Pd, M.A., (2) Dr. Hery     Susanto, M.Si Keywords: PACE model, GeoGebra, Reasoning, Communication     Students' mathematical reasoning ability and communication skill are essential partswhich should be developed in school mathematics learning process. This study aimed to determine 1) the mathematical reasoning ability of students who have learning geometry through the PACE model by using GeoGebrais better than students who have learning through PACE model without using GeoGebra; 2) the mathematical communication skill of students who have learning geometry through the PACE model by using GeoGebra is better than students who have learning through PACE model without using GeoGebra.     This is a type of quasi-experimental study with a Pretest-Postest Control Group Design. The population of studyis the eighth grade students ofSMP Negeri 1 Ampelgading and SMP Negeri 1 Wagir with samples of students in class VIII-A and VIII-C at SMP Negeri 1 Ampelgading respectively as the experimental group and the first control group and students of class VIII-A at SMP Negeri 1 Wagir as the second control group. All three groups are given a pretest, the learning through the PACE model by using GeoGebra for the experimental group and the PACE model of learning without using GeoGebra for the control groups, and ends with a posttest. The instrument of theresearch used to collect the data of students’learning outcomes is in the form of essay test. To analyze thr instrument, it uses Anates V4, whereas to analyze the data of students mathematic learning outcomes, it uses T-Test nd ANOVA test path.     The average score of mathematical reasoning test result given to the experimental group increased by 2.00 and for the first and second control group respectively increased by 1.01 and 1.11. While the average score of test result given of the experimental group mathematical communication increased by 2.06 and for the first and second control group respectively increased by 1.00 and 1.03. Based on the hypothesis test using a significance level of 5% it can be concluded that the mathematical reasoning ability and communication skill of the experimental group is better than the two control groups. In other words, the mathematical reasoning ability and communication sklill of students who have learning geometry through the PACE model by using GeoGebra is better than students who have learning through PACE models without using GeoGebra

Pengembangam e-module pembelajaran tematik kelas IV di SDN Kasin Malang / Aprillia Eka Rahmawati

 

Rahmawati, Aprillia Eka. 2014. Pengembangan E-module Pembelajaran Tematik Kelas VI di SDN Kasin Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd dan (II) Saidah Ulfa, ST., M.Edu., Ph.D Kata Kunci: Pengembangan, E-module Pembelajaran, Flipbook, Tematik Sekolah Dasar.     Pengembangan e-module pembelajaran tematik merupakan bahan ajar yang dirancang secara mandiri dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan modul serta memiliki fungsi secara interaktif (komunikatif), sehingga terdapat hubungan timbal balik antara media dan user (pengguna). Dalam penelitian ini modul tidak tercetak disajikan dalam bentuk flipbook yang bersifat interaktif, sehingga dilengkapi dengan fasilitas teks, audio visual, sound, movie dan program pendukung lainnya. E-module pembelajaran ini mendukung penyelenggaraan pembelajaran tematik yang disesuaikan dengan tuntutan kurikulum 2013 pada sekolah dasar.     Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan produk e-module pembelajaran tematik pada tema 8 subtema 1 “Lingkungan Tempat Tinggalku” kelas IV di SDN Kasin Malang. Dengan subyek uji coba berjumlah 45 siswa di SDN Kasin Malang. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif yang bersumber dari angket yang diisi oleh ahli media, ahli materi dan siswa. Serta data kuantitatif berupa hasil belajar siswa yaitu pre tes dan pos tes guna mengetahui hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan data validasi dari ahli media dengan persentase sebesar 87,5% dengan kategori layak, data validasi ahli materi dengan persentase sebesar 96,25% dengan kategori layak, validasi responden siswa pada uji kelompok kecil dengan persentase sebesar 90,13% dengan kategori layak dan validasi uji lapangan dengan persentase 87,93% dengan kategori layak. Data hasil belajar siswa menujukkan bahwa seluruh siswa talah mencapai KKM, jadi dapat disimpulkan bahwa e-module pembelajaran ini efektif digunakan untuk pembelajaran Tematik kelas IV di SDN Kasin Malang.     Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa Pengembangan E-module Pembelajaran Tematik pada pokok bahasan tema 8 subtema 1 “Lingkungan Tempat Tinggalku” yang diujikan pada siswa kelas IV di SDN Kasin Malang dikatakan digunakan dalam pembelajaran. Dapat dimanfaatkan sebagai pengganti (subtitusi) bahan ajar dalam pembelajaran di kelas. Saran pengembangan ini adalah (1) Bagi guru diharapkan modul pembelajaran interaktif ini dijadikan referensi serta media penunjang dalam pembelajaran tematik pokok bahasan tema 8 subtema 1 Lingkungan tempat tinggalku. (2) Bagi siswa hendaknya meningkatkan kemampuan dalam mengoperasikan perangkat komputer serta kemandirian belajarnya untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.

Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan pemahaman sistem persamaan linear dua variabel siswa kelas X-G smester I MAN Trenggalek / Samsul Bakri

 

Bakri, Samsul. 2014. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Pemahaman Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Siswa Kelas X - G Semester I MAN Trenggalek. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Akbar Sutawidjaja,Ph.D., (II) Dr. Sisworo,S.Pd.,M.Si. Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif tipe NHT, Pemahaman konsep sistem persamaan linear dua variabel.          Pemahaman siswa tentang konsep sistem persamaan linear dua variabel masih belum baik. Pemahaman siswa masih lemah. Hal ini terlihat dari hasil wawancara, tes awal dan hasil pengamatan di lapangan. Pada umumnya tahapan pembelajaran di kelas, yaitu (1) Mempersiapkan dan memotivasi siswa untuk belajar, (2) menjelaskan materi, (3) memberi contoh soal dan latihan. Di kelas siswa tidak aktif. Menurut peneliti untuk menyelesaikan permasalahan di atas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam review materi dan untuk memeriksa pemahaman siswa.     Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Siswa Kelas X-G Semester I MAN Trenggalek”. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan pemahaman konsep sistem persamaan linear dua variabel untuk siswa kelas X-G semester I MAN Trenggalek.     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan pemahaman konsep sistem persamaan linear dua variabel. Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif ini juga sangat positif.

Hubungan antara pengendalian emosi dengan penyesuaian sosial siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang / Riesta Ary Sulistyowati

 

ABSTRAK Sulistyowati, Riesta Ary. 2009. Hubungan antara Pengendalian Emosi dengan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Adi Atmoko M.Si (2) Drs. Djoko Budi Santoso Kata Kunci : Pengendalian Emosi, Penyesuaian sosial. Kemampuan penyesuaian sosial yang ditunjang dengan pengendalian emosi sangat diperlukan dalam pergaulan remaja. Tujuan penelitian untuk mengetahui: (1) pengendalian emosi, (2) penyesuaian sosial, dan (3) hubungan pengendalian emosi dengan penyesuaian sosial siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang. Penelitian dilakukan dengan rancangan korelasional pada subyek sebanyak 280 siswa. Data pengendalian emosi dikumpulkan dengan skala pengendalian emosi (koefisien validitas item antara 0,382 sampai 0,787; koefisien reliabilitas instrumen 0,943). Data penyesuaian sosial dikumpulkan dengan skala penyesuaian sosial (koefisien validitas item antara 0,437 sampai 0,609; dan koefisien reliabilitas instrumen 0,909). Data dianalisis dengan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sangat sedikit (3,9%) siswa yang memiliki tingkat pengendalian emosi yang sangat tinggi, sangat banyak (91,8%) siswa yang memiliki tingkat pengendalian emosi yang tinggi, dan sangat sedikit (4,3%) siswa yang memiliki pengendalian emosi yang sedang, (2) sedikit (24,3%) siswa yang memiliki tingkat penyesuaian sosial yang sangat tinggi, banyak (68,2) siswa yang memiliki tingkat penyesuaian yang tinggi, sangat sedikit (7,5%) siswa yang memiliki tingkat penyesuaian sosial yang sedang, dan (3) ada hubungan positif pengendalian emosi dengan penyesuaian sosial siswa (rxy = 0,483, sig = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada: (1) konselor untuk menyelenggarakan layanan bimbingan strategi self regulation dan emotional regulation untuk mengendalikan emosi misalnya dengan teknik relaksasi dan meditasi, dan menyelenggarakan layanan orientasi dan bimbingan kelompok untuk melatih siswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, (2) siswa menerapkan strategi self regulation dan emotional regulation untuk mengendalikan emosinya dalam rangka proses penyesuaian sosial, dan (3) peneliti selanjutnya diharap melakukan penelitian kualitatif tentang implementasi pengendalian emosi remaja dalam lingkungan pendidikan.

Proses cerpikir aljabar siswa berdasarkan taksonomi Marzano / Yunita Oktavia Wulandari

 

Wulandari, Yunita Oktavia. 2014. Proses Berpikir Aljabar Siswa Berdasarkan Taksonomi Marzano. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd., (2) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si.      Kata Kunci: Proses Berpikir Aljabar, Taksonomi Marzano.          Mengingat pentingnya aljabar, maka sangat diharapkan siswa sekolah untuk menguasai aljabar. Di samping aljabar merupakan gerbang pembelajaran matematika lanjut, aljabar juga mendukung kemampuan siswa untuk memecahkan masalah menggunakan abstraksi dan untuk mengoperasikan entitas matematika secara logis dan mandiri. Berpikir aljabar juga merupakan elemen yang pokok dan penting dari pemikiran dan penalaran matematis. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui proses berpikir aljabar siswa. Dengan mengetahui proses berpikir siswa, guru dapat melacak dimana letak kesalahan siswa dan penyebab kesalahan tersebut. Hal ini berguna sebagai pertimbangan dalam membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dengan proses berpikir siswa.     Penelitian ini dilakukan terhadap 6 siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang yang bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir aljabar siswa pada materi persamaan kuadrat. Data penelitian diperoleh dari respon tertulis pengerjaan instrumen aljabar dan hasil wawancara siswa. Proses berpikir aljabar subjek penelitian dianalisis berdasarkan Taksonomi Marzano yang meliputi tiga sistem yaitu sistem diri (apakah siswa terlibat dalam masalah), sistem metakognitif (bagaimana siswa memahami masalah dan membuat garis besar ide untuk menyelesaikan masalah), sistem kognitif (bagaimana pemrosesan pengetahuan siswa dalam menyelesaikan masalah yaitu level 1 retrieving knowledge, level 2 comprehending knowledge, level 3 analyzing knowledge, level 4 using knowledge).     Penelitian ini mengungkapkan bahwa masing-masing sistem dalam Taksonomi Marzano setiap subjek, yaitu sistem diri, sistem metakognitif, dan sistem kognitif saling berkaitan. Beberapa subjek tertantang, dapat membuat tujuan dan strategi penyelesaian masalah, dan mampu menjalankan strateginya. Terdapat subjek yang telah melalui level 1-4 tetapi menghasilkan jawaban yang salah karena subjek tersebut gagal dalam sistem metakognitifnya. Terdapat juga subjek yang tidak tertantang dengan masalah yang ada sehingga mengakibatkan terhadap hasil penyelesaian yang salah. Ada juga subjek yang cenderung selalu menghindari penggunaan variabel dalam penyelesaian masalah.     Terdapat beberapa hambatan yang muncul saat menyelesaikan masalah aljabar yaitu subjek merasa kesulitan jika berkaitan dengan geometri dan kurangnya kemampuan membaca matematika. Oleh karena itu, didapatkan salah satu implikasi penelitian ini dalam pembelajaran yaitu pentingnya merancang pembelajaran dengan membuat hubungan antara aljabar, bilangan, bentuk dan ruang, dan konteks yang menghubungkan aljabar dengan dunia siswa sehingga mulai membentuk pembelajaran yang bermakna.

Pengembangan perangkat pembelajaran realistik materi sistem persamaan linier dua variabel untuk siswa kelas VIII / Umi Chobsah

 

Chobsah, Umi, 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Untuk Siswa Kelas VIII. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdur Rahman As ari, M.Pd. MA (II) Dr. Hery Susanto, M. Si. Kata Kunci: perangkat pembelajaran matematika, sistem persamaan linier dua variabel Untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan cara pengajarannya. Matematika merupakan hal yang menyenangkan,mudah dipahami, tidak menakutkan, dan banyak kegunaannya.Hal ini dapat dirasakan melalui pembelajaran matematika realistik (Realistic Mathematic Education). Bahan ajar khususnya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang ada selama ini kebanyakan hanya sebatas kumpulan soal-soal, dan sedikit uraian materi di dalamnya. Siswa hanya terpaku pada uraian dalam LKS tanpa menganalisis suatu masalah. Hal ini kurang meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Berdasar fakta yang terjadi di MtsN Paiton untuk materi persamaan linier dua variabel, siswa sudah pernah mendapatkannya di jenjang pendidikan sebelumnya, namun kebanyakan siswa belum paham akan konsepnya. Hal di atas yang mendasari dikembangkannya LKS yang bercirikan Realistic Mathematic Education (RME) yang valid, praktis dan efektif. Adapun langkah-langkah pembelajaran realistik tercermin dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kerja siswa meliputi (a) memulai pembelajaran dengan mengajukan permasalahan riil sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuan peserta didik (b) peserta didik mengembangkan model-model simbolik terhadap masalah yang diajukan (c) pembelajaran berlangsung secara interaktif (d) Penekanan utama bukan pada langkah-langkah prosedural, tetapi lebih pada pemahaman konsep dan penyelesaian masalah,dengan melibatkan masalah yang tidak rutin dan mungkin jawabannya tidak tunggal, (e) Pembelajaran di desain agar materi pelajaran terkait dengan topik atau bahasan lain sehingga lebih bermakna. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Proses untuk memperoleh hasil pengembangan berdasarkan model Plomp, yaitu meliputi (a) prototyping stage, meliputi fase investigasi awal, fase desain /perancangandan fase pengembangan/konstruksi (2) assesment stage meliputi fase implementasi/uji produk dan fase analisis, evaluasi dan revisi. LKS Sistem Persamaan Linier Dua Variabel bercirikan RME divalidasi oleh tiga validator dengan skor 91,67% dan uji coba produk menunjukkan persentase skor ketelaksanaan lembar kerja siswa yang di tunjukkan dari aktivitas siswa adalah 90,00% dengan kriteria sangat baik.Data tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian pengembangan ini berupa rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kerja siswa telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif Saran pengembangan selanjutnya adalah dikembangkannya perangkat pembelajaran bericirikan RME pada materi matematika lainnya dan juga diharapkan dapat dilaksanakan di setiap kelas MTs Negeri Paiton.

Pengaruh perhatian orang tua dan fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa (Studi kasus pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung) / Dhiayu Pitra Hermawati

 

ABSTRAK Hermawati, Dhiayu Pitra. 2010. Pengaruh Perhatian Orang Tua Dan Fasilitas Belajar Di Rumah Terhadap Prestasi Balajar Siswa (Studi Kasus Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Bambang Pranowo, S.E., M.Pd., Ak. (2) Drs. Ir. Yohanes Hadi Soesilo, S.Th., M.Div., M.Si Kata Kunci: Perhatian Orang Tua, Fasilitas Belajar Di Rumah, Prestasi Belajar Siswa. Dalam meningkatkan hasil belajar yang optimal, perlu diperhatikan faktor atau kondisi yang dapat mempengaruhi proses kegiatan belajar. Faktor tersebut ada kalanya dari dalam individu atau bahkan dari luar individu siswa. Adanya dugaan bahwa ada pengaruh kondisi perhatian orang tua dan fasilitas belajar di rumah, maka muncul ide yang mendorong diadakannya penelitian ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi perhatian orang tua siswa, indikator yang dominan dalam perhatian orang tua siswa, kondisi fasilitas belajar di rumah siswa, indikator yang dominan dalam fasilitas belajar di rumah siswa, pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa, pengaruh fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa, serta pengaruh perhatian orang tua dan fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode diskiptif kuantitatif. Instrumen dalm penelitian ini berupa angket, kemudian hasilnya dianalisis dengan menggunakan teknik regresi linier berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah 165 siswa kelas XI IPS 1, 2, 3 dan 4 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung tahun ajaran 2009/2010. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 49 siswa. Teknik sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Kemudian sampel penelitian ditentukan secara proporsional dari masing-masing kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhatian orang tua siswa tergolong baik dengan prosentase 40,82% siswa menyatakan sering mendapat perhatian dari orang tua mereka. Indikator perhatian orang tua yang paling dominan adalah perannya sebagai teacher atau pendidik, sebesar 86,6% siswa menyatakan mendapat bimbingan yang baik dari orang tuanya. Fasilitas belajar siswa tergolong baik, sebesar 42,86% siswa menyatakan sering mendapat fasilitas belajarnya di rumah. Indikator fasilitas belajar di rumah yang dominan adalah tersedianya ruang belajar tersendiri di rumah, sebesar 77% siswa menyatakan mempunyai ruang belajar sendiri di rumah. Prestasi belajar siswa juga tergolong tinggi, sebesar 89,80% siswa mendapat nilai tinggi. Dari analisis regresi diketahui (1) Terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa, (2) Terdapat pengaruh fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa, (3) Terdapat pengaruh perhatian orang tua dan fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa. Prestasi belajar dapat dijelaskan oleh variabel bebas i (perhatian orang tua dan fasilitas belajar di rumah) masing–masing sebasar sebesar 43,1% untuk perhatian orang tua dan 36,9% untuk fasilitas belajar di rumah, sedangkan prosentase sisanya disebabkan oleh variabel lain. Dari hasil penelitian diketahui bahwa perhatian orang tua merupakan variabel yang efektif mempengaruhi prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa perhatian orang tua, fasilitas belajar di rumah, dan prestasi siswa tergolong kategori baik. Indikator yang dominan dalam variabel perhatian orang tua adalah peranan sebagai teacher atau pendidik. Indikator yang dominan dalam variabel fasilitas belajar di rumah adalah tersedianya ruang belajar tersendiri di rumah. Terdapat pengaruh yang simultan dan parsial antara perhatian orang tua dan fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa. Saran yang bisa diberikan (1)Kepada pihak sekolah hendaknya selalu memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana belajar yang ada. Dengan mengoptimalkan penggunaan dana BOS dari pemerintah, dan bekerjasama dengan masyarakat. (2) Kepada para guru hendaknya dapat memanfaatkan fasilitas di sekolah secara optimal untuk melengkapi fasilitas belajar yang tidak tersedia di rumah siswa dan memberikan perhatian lebih pada siswa. Hal tersebut dilakukan dengan cara sesering mungkin menggunakan fasilitas pada aktifitas pembelajaran. (3)Kepada orang tua diharapkan hendaknya memberikan perhatian lebih pada anak, dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas komunikasi. (4)Kepada para siswa hendaknya dapat ikut serta meningkatkan pemanfaatan penggunaan sarana dan prasarana belajar yang tersedia dengan semaksimal mungkin dan ikut serta menjaga sarana dan prasarana belajar yang telah ada dengan tidak merusak atau menggunakannya secara sembarangan.(5)Kepada para peneliti yang bermaksud mengadakan penelitian yang berkaitan dengan topik atau tema penelitian ini, maka hendaknya menambah variabel.

Diagnosis kesulitas siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-pisa melalui pemetaan kognitif dan upaya mengatasinya dengan scaffolding / Agung Prasetyo Abadi

 

Abadi, Agung, Prasetyo. 2014. Diagnosis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Geometri-PISA Melalui Pemetaan Kognitif dan Upaya Mengatasinya dengan Scaffolding. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Subanji, M.Si., (2) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D. Kata Kunci: Diagnosis, Kesulitan Siswa, Geometri-PISA, Pemetaan Kognitif, Scaffolding    Salah satu indikator yang menunjukkan mutu pendidikan di tanah air cenderung masih rendah adalah hasil penilaian internasional tentang prestasi siswa. Survey Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada peringkat 34 dari 45 negara. Prestasi tersebut bahkan relatif lebih buruk pada Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengukur anak usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada pada peringkat 2 terendah dari 40 negara sampel, yaitu hanya satu tingkat lebih tinggi daripada negara Tunisia. Bahkan pada PISA tahun 2012 Indonesia nyaris menjadi juru kunci, Indonesia berada di peringkat 64 dari 65 negara yang ikut berpartisipasi dalam tes.    Penelitian ini mengungkap apa saja kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-PISA dan upaya mengatasinya menggunakan scaffolding. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus karena dalam penelitian ini dilakukan kepada individu secara mendalam, mulai dari mendiagnosis kesulitan sampai pemberian scaffolding. Subjek penelitian ini terdiri 6 siswa dari 3 kelompok kemampuan matematika yang berbeda. Kelompok pertama dengan kemampuan matematika baik, kelompok kedua dengan kemampuan matematika sedang, dan kelompok ketiga dengan kemampuan matematika kurang. Masing-masing kelompok terdiri dari 2 siswa.    Kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-PISA antara lain: (1) memahami masalah, hal ini disebabkan karena siswa jarang atau tidak pernah diberikan latihan dengan soal-soal yang berkarakteristik seperti soal PISA, (2) menuliskan kondisi awal dari apa yang sudah dipahami, hal ini disebabkan karena siswa tidak terbiasa melakukannya di kelas, (3) kesulitan dalam mengaitkan apa yang diketahui dengan apa yang ditanyakan sehingga menghasilkan jawaban yang benar, hal ini disebabkan karena dalam menyelesaikan soal PISA diperlukan beberapa konsep yang saling terkait. Hal demikian masih belum terbiasa dilakukan di kelas, (4) kesulitan dalam melakukan pengecekan jawaban yang telah diperoleh dan kesulitan dalam memberikan kesimpulan terhadap jawaban yang dihasilkan.    Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, maka peneliti memberikan scaffolding kepada subjek penelitian. Berdasarkan pada pengertian dari ZPD yaitu daerah diantara tingkat perkembangan aktual dan perkembangan potensial, atau dengan kata lain daerah di mana siswa belajar secara individu dengan siswa belajar dibantu oleh orang yang lebih mampu (scaffolding), maka scaffolding dikaitkan dengan interaksi di mana guru menstruktur tugas agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam aktivitas pembelajaran.    Anghileri (2006:39) mengusulkan tiga hierarki dari penggunaan scaffolding yang merupakan dukungan dalam pembelajaran matematika yaitu: Level 1: Environmental provisions (Classroom organization, artefacts), Level 2: Explaining, reviewing, and restructuring, Level 3 :Developing conceptual thinking. Peneliti mengaitkan dengan tiga tingkatan scaffolding yang dikemukakan oleh Anghileri (2006) meskipun tidak semua tingkatan digunakan, mengingat kondisi siswa dan materi yang dibahas dalam penelitian ini. Scaffolding yang diberikan berupa dukungan untuk belajar dan mengatasi masalah yang diberikan secara bertahap dan seminimal mungkin dengan mengacu pada tahapan scaffolding Anghileri pada level 2 (Explaining, reviewing, and restructuring).      Dari hasil penelitian ini, peneliti menyampaikan beberapa saran antara lain: (1) Dalam menjelaskan langkah-langkah pengerjaan soal terutama soal cerita, sebaiknya dilakukan dengan rinci, sehingga diharapkan siswa mengetahui manfaat tiap langkah pengerjaan soal, (2) Membiasakan siswa dengan soal-soal yang bukan prosedural, misalnya dengan soal yang sesuai dengan standar PISA. (3) Kajian dalam penelitian ini masih terbatas, sehingga perlu adanya penelitian lain yang lebih mendalam.

Refleksi dunia kebatinan Jawa dalam novel bilangan FU karya ayu utami (Sebuah kajian sosiologi sastra) / Tsabit Nur Pramita

 

ABSTRAK Pramita Tsabit Nur. 2009. Refleksi Dunia Kebatinan Jawa dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami (Sebuah Kajian Sosiologi Sastra). Skripsi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr.Soedjijono, M.Hum Kata Kunci: Kebatinan, Refleksi, Novel, Sosiologi Novel merupakan salah satu bentuk sastra yang berbentuk prosa. Kejadian yang terdapat dalam novel merupakan khayalan atau rekaan yang diceritakan oleh pengarang. Novel memiliki unsur-unsur pembagian cerita. Unsur tersebut berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik. Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja, bersifat imajinatif. Karya sastra merupakan cerminan dari masyarakat. Cerminan atau refleksi dari sebuah kehidupan sosial masyarakat dapat terekam dalam sebuah karya fiksi yang menarik . Sosiologi sastra merupakan penggabungan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu sosiologi dan sastra. Perbedaan antara keduanya, adalah bahwa sosiologi melakukan analisis alamiah yang obyektif, sedangkan Sastra mencoba memahami setiap kehidupan sosial dari relung perasaan yang terdalam. Yang satu beranjak dari hasil pemikiran sedangkan yang satu lagi beranjak dari hasil pergulatan perasaan yang merupakan dua kutub yang berbeda. Seandainya ada dua orang melakukan penelitian sosiologi dengan obyek yang sama, hasil penelitian itu besar kemungkinan mendapatkan hasil yang sama. Sedangkan, seandainya ada dua orang penulis novel membuat sebuah cerita dengan setting tempat dan obyek masyarakat yang sama, hasil yang didapatkan cenderung berbeda sebab cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya berbeda-beda menurut pandangan orang-seorang. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang dunia kebatinan jawa dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan (1) kebatinan jawa dari unsur ajaran agama, (2) kebatinan jawa dari unsur animisme-dinamisme, dan (3) kebatinan jawa dari unsur falsafah hidup yang terkandung dalam novel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan Sosiologi Sastra. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Data berupa unit-unit teks yang berisi deskripsi kebatinan jawa dalam paparan bahasa berbentuk monolog, dialog, dan narasi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data dan peneliti berperan sebagai instrument (human instrument). Peneliti melakukan identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data berdasarkan permasalahan yang dikaji. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi atau studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menyeleksi, mengklasifikasi, menafsirkan, dan memaknai data kemudian mengambil kesimpulan. i Berdasarkan hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan, Pertama, kebatinan jawa dari unsur ajaran agama dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami, memiliki empat tahapan mistik yang diyakini oleh masyarakat Jawa, salah satunya masyarakat desa Watugunung. Empat tahapan mistik tersebut antara lain : syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Keempat tahapan mistik tersebut dimunculkan dalam ritul-ritul mistik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel tesebut. Selain dapat dilihat dari sikap tokoh, hal tersebut juga terdapat dalam alur, setting, dan unsur-unsur cerita yang lain. Kedua, kebatinan jawa dari unsur animisme-dinamisme, yaitu pelaksanaan ritual slametan sebagai ritual pokok yang selalu ada dalam setiap peristiwa yang dialami oleh orang jawa, Slametan dilakukan sebagai wujud rasa hormat dan menghargai makhluk lain yang hidup di jagad raya Ritual ini telah menjadi tradisi yang mutlak dilakukan oleh masyarakat Jawa, termasuk warga desa Watugunung. Bentuk kedua adalah kepercayaan terhadap adanya makhluk halus dan arwah nenek moyang. Masyarakat desa watugunung sangat percaya bahwa arwah-arwah nenek moyang yang pernah menjadi tetua di desa tersebut, masih tinggal di tempat-tempat tertentu di desa tersebut. Untuk itu mereka selalu menghormati dengan tidak mengusik tempat tinggal roh-roh halus tersebut. Jika manusia tidak mengusik kehidupan makhluk-makhluk halus tersebut, maka roh-roh tersebut tidak akan mengusik kehidupan manusia. Ketiga, kebatinan jawa dari unsur Falsafah Hidup, terdiri dari empat aspek, yaitu pasemon atau ungkapan, petungan jawa, wayang, sebagai lambang simbolisme kehidupan, dan pemahaman Mamayu Hayuning Bawana. Ketiga aspek-aspek dalam Falsafah Hidup yang terdapat dalam novel Bilangan Fu tersebut, diwujudkan pada sikap saling menghormati sesama makhluk Tuhan, baik sesama manusia, maupun makhluk halus. Sikap hormat terhadap makhluk halus dilakukan dalam bentuk tidak mengusik tempat tinggal mereka, yaitu pohonpohon yang dianggap keramat. Dengan demikian akan terwujud keseimbangan kosmos.Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan kesimpulan tersebut, yakni (1) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi penelitian dan disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda, (2) bagi pemerhati Sastra, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang dunia kebatinan yang desawa ini semakin jarang menyentuh kesusastraan Indonesia dan (3) bagi pendidik, penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melakukan apresiasi Sastra pada siswa-siswi dalam mengkaji karya Sastra.

Penerapan gabungan model STAD dengan NHT untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Anjir Pasar Kota 2 / Ririen Utami

 

Utami, Ririen 2014, Penerapan Gabungan Model STAD dengan NHT untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SDN Anjir Pasar Kota 2. Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Ruminiati, M.Si., (2) Juhriyansyah Dalle, S.Pd., S.Si., M.Kom., Ph.D. Kata Kunci : Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, STAD, NHT     Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dan rendahnya hasil belajar IPS pada SDN Anjir Pasar Kota 2 yang disebabkan oleh tidak adanya aktivitas kelompok, kuis maupun kegiatan yang membuat siswa tertarik, tertantang dan lebih bersemangat dalam belajar. Terkait dengan kelemahan itu, maka perlu dikembangkan model yang terkait dengan hal itu, yaitu dengan menerapkan gabungan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievment Divisions (STAD) dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT).     Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas, yang terdiri dari 2 siklus. Prosedur penelitian berbentuk siklus dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan dan observasi, serta tahap refleksi. Tahapan pelaksanaan proses analisis sintak gabungan model STAD dengan NHT meliputi, pretest untuk mengetahui skor awal, pembentukan kelompok heterogen, pemberian tugas kelompok berdasarkan nomor, diskusi kelompok, presentasi, pemanggilan nomor, kuis individu dan evaluasi. Subjek dalam penelitian ini adalah 12 siswa kelas V SDN Anjir Pasar Kota 2 semester genap tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan.    Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diketahui bahwa: (1) penerapan gabungan model STAD dengan NHT oleh guru dan siswa dilaksanakan dengan baik melalui tahapan presentasi kelas, tim, game, rekognisi tim meskipun terdapat beberapa masalah pada siklus I, tetapi masalah ini segera diperbaiki pada siklus II sehingga proses pembelajaran bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti. (2) adanya peningkatkan aktivitas siswa, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa dari 45% pada siklus I meningkat menjadi 92%. (3) Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan baik secara individu maupun klasikal. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 33% pada siklus I menjadi 95% pada siklus II. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan gabungan model STAD dengan NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS. Berdasarkan hasil penelitian, diajukan saran sebagai berikut: (1) Guru hendaknya dapat mengelola waktu dengan cermat, memberikan pemahaman dan penjelasan lebih detail kepada siswa tentang aturan pembelajaran dengan nomor dan kuis (2) siswa hendaknya tidak malu menanyakan materi yang dianggap sulit kepada teman yang lainnya, siswa hendaknya lebih meningkatkan keaktifan di kelas seperti bertanya, hendaknya siswa tidak segan membantu temannya, lebih berani mengungkapkan pendapat dan maju di depan kelas. (3) Hasil belajar yang telah dicapai siswa sebaiknya dipertahankan dan semakin ditingkatkan untuk SKM yang dinaikkan semula 70 menjadi 75 untuk mata pelajaran IPS. Kesulitan yang dihadapi dalam penerapan gabungan kedua model ini harus diperkecil, menyediakan fasilitas belajar lainnya untuk membuat peta konsep yang indah, beragam dan menarik tentunya.

Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 7 Kediri / Metha Ika Rachmawati

 

ABSTRAK Rachmawati, Metha Ika. 2009. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 7 Kediri. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi S1 Ekonomi dan Koperasi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Pranowo, SE.M.P.Ak, (II) Farida Rahmawati, SE.ME. Kata Kunci: Faktor Internal, Faktor Eksternal, Prestasi Belajar Ekonomi. Faktor-faktor yang memperngaruhi prestasi belajar siswa ada 2 diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan faktor eksternal adalah faktor – faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor internal terdiri atas faktor fisiologis dan psikologis, sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan faktor internal dan eksternal harus saling mendukung serta dapat meningkatkan faktor internal dan eksternal siswa demi tercapainya prestasi belajar ekonomi yang maksimal. Penelitian bertujuan (1) untuk memberikan gambaran umum mengenai kondisi faktor fisiologis, psikologis, keluarga, sekolah, masyarakat (internal dan eksternal)) dan prestasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 7 Kediri, (2) untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA negeri 7 Kediri. Variabel bebas penelitian ini terdiri dari faktor fisiologis (X1), faktor psikologis (X2), faktor keluarga (X3), faktor sekolah (X4), dan faktor masyarakat (X5). Sedangkan variabel terikatnya prestasi belajar ekonomi (Y). Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Analisis korelasional digunakan untuk mengetahui dan mencari ada tidaknya hubungan antar (X1), (X2), (X3), (X4), (X5), dan prestasi belajar ekonomi siswa (Y). Metode regresi berganda digunakan untuk menentukan besarnya pengaruh faktor fisiologis, psikologis, keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap prestasi belajar ekonomi siswa (Y) di SMA Negeri 7 Kediri. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 7 Kediri yang berjumlah 160 siswa dan sampelnya berjumlah 56 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner, skala yang digunakan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban. Uji kualitas data yang digunakan adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Jenis data menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner, sedangkan data sekunder berupa nilai rapor siswa kelas XI IPS semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. Hasil penelitian di SMA Negeri 7 Kediri menunjukkan bahwa analisis pengaruh faktor fisiologis terhadap prestasi belajar ekonomi diperoleh nilai t hitung 2,273 > t tabel 2,008. dengan sig 0,027 < 0,05, maka faktor fisiologis berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Untuk faktor psikologis t hitung 2,493> t tabel 2,008. dengan sig 0,016 < 0,05, maka faktor psikologis berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Untuk faktor keluarga t hitung 2,552> t tabel 2,008. dengan sig 0,014 < 0,05, maka faktor keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Untuk faktor sekolah t hitung 2,176> t tabel 2,008. dengan sig 0,034 < 0,05, maka faktor sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Dan untuk faktor masyarakat t hitung 2,108> t tabel 2,008. dengan sig 0,040< 0,05, maka faktor masyarakat berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Analisis pengaruh faktor tersebut diatas (internal dan faktor eksternal) terhadap prestasi belajar ekonomi diperoleh nilai Fhitung 25,497> Ftabel 2,400. dengan sig 0,000 < 0,05 maka faktor fisiologis, psikologis, keluarga, sekolah, dan masyarakat (internal dan faktor eksternal) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar ekonomi. Besar Adjusted R Square adalah 0,690. Hal ini berarti prestasi belajar ekonomi (Y) dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut sebesar 69,0% sedangkan sisanya 30,9% disebabkan oleh faktor lain diluar penelitian. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor internal siswa dan faktor eksternal siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 7 Kediri. Saran (1) Orang Tua diharapkan dapat lebih memperhatikan perkembangan dan kebutuhan belajar anak agar anak dapat beprestasi lebih baik lagi, dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian perhatian ketika anak sedang mengalami kesulitan dalam belajar, mendidiknya anak agar selalu rajin belajar setiap hari, memantau /mengontrol perkembangan dan kemajuan belajar anaknya serta selalu memperhatikan kebutuhan sekolah anaknya. (2) bagi guru, hendaknya meningkatkan kondisi faktor eksternal siswanya agar lebih baik lagi sehingga anak didiknya memperoleh prestasi belajar ekonomi yang maksimal dengan cara membaca materi sehingga pada saat mengajar guru dapat menguasai materi serta menyampaikan materi dengan jelas dan sistematis sehingga siswa dapat memahami materi pelajaran. Selain itu guru diharapkan memberikan tugas rumah agar siswa lebih sering belajar tetapi dengan porsi yang berlebihan agar tidak membebani siswa. (3) bagi siswa, diharapkan untuk membaca materi pelajaran ekonomi sebelum mengikuti pelajaran, memperhatikan pelajaran ekonomi sehingga siswa mudah mempelajari, mengulang kembali pelajaran ekonomi yang telah disampaikan guru demi tercapainya prestasi belajar ekonomi yang maksimal. (4) Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya menggunakan penelitian sampel dengan wilayah populasi yang lebih luas dan mengembangkan permasalahan yang terkait dengan prestasi belajar siswa. Dengan demikian hasil yang diharapkan dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Penerapan model pembelajaran learning cycle (Siklus belajar) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran IPS-Ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang / Mila Isnaningtyas

 

ABSTRAK Isnaningtyas, Mila. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle (Siklus Belajar) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS-Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universiras Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lisa Rokhmani, M.Si, (II) Dr. Nasikh, S.E. M.P, M.Pd Kata kunci: Model Pembelajaran Learning Cycle (Siklus Belajar), Aktivitas Belajar Siswa, Hasil Belajar Siswa Seiring dengan berjalannya waktu dan proses perubahan yang cepat dalam lingkungan pendidikan, maka hal tersebut juga berdampak pada perubahan kurikulum pendidikan saat ini, yaitu dengan diterapkannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada sekolah-sekolah sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang cenderung teacher-oriented dari pada student-oriented dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui tuntutan dan target dari kurikulum tersebut, maka diperlukan strategi atau model pembelajaran yang menyenangkan dalam upaya meningkatkan pola pikir peserta didik serta potensi siswa agar berhasil dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar yang diharapkan, upaya atau usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan cara memperhatikan siswa, menguasai materi pelajaran dan memilih metode pembelajaran yang tepat, dengan adanya penggunaan metode yang tepat proses belajar mengajar dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, selain itu baik murid maupun guru harus memiliki sikap kemampuan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) men-deskripsikan penerapan model Learning Cycle dalam pembelajaran ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang, (2) meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang setelah penerapan model Learning Cycle dalam pembelajara ekonomi, (3) meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Nege-ri 18 Malang setelah penerapan model Learning Cycle dalam pembelajaran eko-nomi, (4) mengetahui persepsi siwa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang terhadap penerapan model Learning Cycle dalam pembelajaran ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif den-gan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini berlangsung selama dua siklus dengan pokok bahasan Kebutuhan Manusia dan Kelangkaan Sumber Daya. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMPN 18 Malang yang berjum-lah 40 siswa, selanjutnya siswa tersebut dibagi ke dalam 5 kelompok heterogen. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, angket, cata-tan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penari-kan kesimpulan. Hasil penelitian menunukkan bahwa presentase keterlaksanaan pembela-jaran model Learning Cycle yang dilakukan oleh guru pada siklus I sebesar 83,33% dan pada siklus II sebesar 100%. Dengan demikian terjadi peningkatan keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I ke siklus II sebesar 16,67%. Untuk vari-abel aktivitas belajar siswa diketahui terjadi peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I keaktifan siswa bertanya sebesar 46,67% dan meningkat pada siklus II sebesar 70%; keaktifan siswa merespon pertanyaan pada siklus I sebesar 49,58% dan meningkat pada siklus II sebesar 73,75%; kemampuan siswa bekerja dalam kelompok meningkat dari 82,08% pada siklus I menjadi 91,35% pada siklus II; ketepatan dalam menyelesaikan tugas juga meningkat dari siklus I sebesar 88,75% menjadi 93,75% pada siklus II. Hasil belajar siswa juga men-galami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 73 dan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 7,19% sehingga nilai rata-rata hasil belajar paad siklus II sebesar 78,25. Selain itu, berdasarkan angket yang telah dijawab siswa dapat diketahui bahwa respon siswa terhadap penerapan model Learning Cycle adalah positif, ini ditunjukkan dari skor perhitungan angket respon siswa yang diperoleh sebesar 82,5%. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle dapat meningkatkan aktivitas dan hasil bela-jar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII A SMP Negeri 18 Malang. Sis-wa kelas VIII A memberikan respon yang positif terhadap penerapan model Learning Cycle pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan beberapa hal: (1) model pembelajaran Learning Cycle dapat di-jadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk me-ningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi, (2) pe-nerapan model pembelajaran Learning Cycle hendaknya dilakukan secara ber-tahap sesuai dengan fase-fase yang terdapat dalam pembelajaran Learning Cycle, (3) bagi peneliti selanjutnya sebaiknya penelitian ini dilaksanakan lebih dari dua siklus sehingga hasil penelitian yang diperoleh lebih maksimal.

Aplikasi pembelajaran kolaboratif problem-based learning dan cooperatiive learning tipe group investigation untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar ekonomi siswa kelas X-D MAN Malang 1 / Choiru Umatin

 

ABSTRAK Umatin, Choiru. 2010. Aplikasi Pembelajaran Kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation Untuk Meningkatkan Partisipasi dan Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas X-D MAN Malang I. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Achmad Ali Wafa, (II) Dr. Imam Mukhlis, SE, M.Si Kata kunci: PBL (Problem Based Learning), GI (Group Investigation), Partisipasi dan Prestasi Belajar. Seiring berjalannya waktu dan proses perubahan yang pesat dalam lingkungan pendidikan, maka hal tersebut juga berdampak pada perubahan kurikulum pendidikan saat ini yaitu dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pelaksanaan KTSP telah mengubah tata cara pembelajaran yang telah ada disekolah yang salah satunya mengubah paradigma dalam proses pembelajaran, dari yang bersifat teacher centered (berpusat pada guru) menjadi student centered (berpusat pada siswa) adalah penggunaan strategi atau model pembelajaran yang menyenangkan (pembelajaran yang aktif, kreatif dan efektif) agar pengetahuan dan keterampilan yang diberikan oleh pengajar benar-benar menjadi milik siswa. Untuk mencapai target dalam proses belajar mengajar yang diharapkan, upaya atau usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan cara memperhatikan siswa, menguasai materi pelajaran dan memilih metode pembelajaran yang tepat, dengan adanya penggunaan metode yang tepat, proses belajar mengajar dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan masalah dalam penelitian ini adalah (1)” Untuk mendeskripsikan dan menganalisis aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation (GI) dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa kelas X-D MAN Malang I. (2)Untuk mendeskripsikan dan menganalisis aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation (GI) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-D MAN Malang I. (3)Untuk mendeskripsikan dan menganalisis respon siswa pada mata pelajaran ekonomi terhadap aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation (GI) kelas X-D MAN Malang I Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian maka penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan analisis pendekatan induktif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah kelas X-D MAN Malang 1 tahun ajaran 2009-2010. Alat pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan soal tes, lembar observasi, angket untuk siswa, lembar catatan lapangan, dan pedoman wawancara. Data untuk partisipasi belajar ekonomi siswa dapat diperoleh nilai rata-rata pada siklus pertama sebesar 56,09% dan pada siklus kedua meningkat menjadi 76,47%. Sedangkan prestasi belajar ekonomi siswa juga mengalami peningkatan dimana siklus pertama rata-rata sebesar 67,56% dan pada siklus kedua menjadi sebesar 76,88% Dari penelitian aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation dapat diambil kesimpulan yaitu (1) aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation pada siswa kelas X-D MAN Malang 1 dapat meningkatkan partisipasi belajar ekonomi siswa. (2) aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation pada siswa kelas X-D MAN Malang 1 dapat meningkatkan prestasi belajar ekonomi siswa. (3) respon siswa yang positif pada mata pelajaran ekonomi terhadap aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation kelas X-D MAN Malang 1. Beberapa saran yang dapat dikemukakan diantaranya: (1) untuk MAN Malang 1 diharapkan aplikasi pembelajaran kolaboratif Problem Based Learning dan Cooperative Learning tipe Group Investigation dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembelajaran selanjutnya; (2) untuk guru ekonomi dapat menambah wawasan dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar-mengajar sehingga tercipta pembelajaran yang efektif dan sesuai standart kompetensi yang diharapkan; (3) bagi peneliti hendaknya dapat digunakan sebagai pengetahuan dan pengalaman dalam mengajar nantinya; (4) bagi siswa diharapkan dapat memandang pengetahuan secara konstruktif dan memiliki hubungan interpersonal dalam proses kelompok secara efektif; (5) bagi Universitas Negeri Malang (UM) dapat digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah mahasiswa selanjutnya.

Penerapan pembelajaran problem based learning melalui pendekatan CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA (studi pada siswa kelas V SDN Pengembangan 6 Banjarmasin) / Dede Dewantara

 

Dewantara, Dede. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Melalui Pendekatan CTL untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA (Studi pada Siswa Kelas V SDN Pengambangan 6 Banjarmasin). Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar, Konsentrasi Guru Kelas, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd. (2) Drs. H. Rustam Effendi, M.Pd, Ph.D. Kata kunci: Model Pembelajaran PBL, Pendekatan CTL, Aktivitas, Hasil Belajar dan IPA     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran model PBL dipadukan dengan pendekatan CTL yang dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 (tiga) kali pertemuan atau 6 x 35 menit. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Pengambangan 6 yang berjumlah 20 orang. Data penelitian diperoleh dari hasil tes tertulis, lembar observasi aktivitas siswa. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model PBL yang dipadukan dengan pendekatan CTL dapat meningkatkan hasil belajar dan mendorong semangat siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. siswa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru melalui proses melihat, mendengar, diskusi, dan kerja kelompok. Indikator keberhasilan yaitu dengan meningkatnya kesiapan siswa mengikuti pelajaran, motivasi siswa meningkat, aktif bertanya, berusaha memecahkan masalah, terjalinnya kerjasama yang baik, penuh rasa percaya diri, berani mengeluarkan pendapat dan bertanggung jawab. Aktivitas siswa dari siklus I sampai siklus II selalu menunjukkan peningkatan dengan indikasi semakin banyak siswa melakukan aktivitas seperti yang disebutkan pada indikator yang ditentukan.. Pada evaluasi siklus I sebanyak 60% atau 12 dari 20 siswa berhasil mendapatkan nilai sama atau diatas kriteria ketuntasan minimum dengan rentang nilai 70 s/d 100 dengan nilai rata-rata sebesar 69. Pada siklus II, hasil belajar mencapai 85% atau 17 dari 20 siswa berhasil memperoleh nilai 70 s/d 100 dengan nilai rata-rata sebesar 82.     Berdasarkan data di atas, maka disimpulkan bahwa penerapan model PBL melalui pendekatan CTL di kelas V SDN Pengambangan 6 mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA. Disarankan untuk diadakannya penelitian lanjutan dengan langkah-langkah: (1) memberikan petunjuk permasalahan yang dihadapi secara jelas, (2) menanamkan keterampilan sosial dalam kegiatan pembelajaran sehingga aktivitas siswa dapat meningkat, (3) meningkatkan efektivitas kerjasama dalam rangka membantu pemahaman siswa terhadap materi pengajaran sehingga diperoleh hasil belajar maksimal (4) Guru-guru di Sekolah Dasar hendaknya mencoba menerapkan model pembelajaran PBL melalui pendekatan CTL (5) Peneliti lain hendaknya memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan informasi ilmiah tentang model pembelajaran PBL melalui pendekatan CTL

Korelasi antara kecerdasan emosional dan lingkungan belajar dengan prestasi belajar IPA kelas VI SDK Ende 3 Kabupaten Ende / Depa Don Damianus

 

Depa Don Damianus, 2014. Korelasi Antara Kecerdasan Emosional dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar IPA Kelas VI SDK Ende 3 Kabupaten Ende, Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M.Pd, Pembimbing (II) Dr. Natsir B. Kotten, M.Pd. Kata Kunci: kecerdasan emosional, lingkungan belajar, prestasi belajar Sebagai institusi pendidikan, sekolah berkewajiban menanamkan berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada peserta didik agar menghasilkan output yang handal, dalam arti memiliki sumber daya manusia (SDM) yang siap dimanfaatkan, baik untuk kebutuhan sendiri maupun kebutuhan orang lain atau masyarakat sekitarnya. Keberhasilan atau gagalnya anak dalam belajar di sekolah sangat ditentukan oleh dua faktor penting yang saling berkaitan yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Kecerdasan emosional termasuk bagian dari faktor intern, sedangkan lingkungan belajar faktor eksternnya. Menanamkan hal-hal yang berhubungan dengan kecerdasan emosional sangat penting karena dengan mengetahui dan memahami pribadinya secara baik, siswa dapat mengendalikan diri dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan antara kecerdasan emosional dan lingkungan belajar dengan prestasi belajar. Hipotesis dalam penelitian ini adalah (1) Ada korelasi yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar, (2) Ada korelasi yang signifikan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar,(3) Ada korelasi yang signifikan secara simultan antara kecerdasan emosional dan lingkungan belajar dengan prestasi belajar. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitiannya adalah penelitian eksplanasi (eksplanatory research), sampelnya siswa kelas VI SDK Ende 3 sebanyak 50 orang yang diambil secara random dari populasi 84 orang siswa, teknik analisis korelasi regresi berganda, dengan variable penelitiannya kecerdasan emosional (X1), lingkungan belajar (X2) dan prestasi belajar (Y), teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah (1) kecerdasan emosional berkorelasi secara signifikan dengan prestasi belajar, (2) lingkungan belajar berkorelasi secara signifikan dengan prestasi belajar, dan (3) kecerdasan emosional dan lingkungan belajar secara simultan berkorelasi secara signifikan dengan prestasi belajar

Profil Arif Suyono pemain klub Arema Malang (Ditinjau dari aspek motivasi berprestasi, perilaku dan jiwa sosial) / Yayang Rismamanto

 

ABSTRAK Rismamanto, Yayang. 2009. ”Profil Arif Suyono Pemain Klub Arema Malang (Ditinjau Dari Aspek Motivasi Prestasi, Perilaku dan Jiwa Sosial)”. Skripsi Jurusan Ilmu Keolahragaan Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan. Pembimbing: (1) Dra. Siti Nurrochmah, M.Kes (2) Dra. Sri Purnami, M.Pd. Kata Kunci: Motivasi Berprestasi, Perilaku dan Jiwa Sosial Diera globalisasi seperti saat ini dengan semakin maju pesatnya perkembangan dunia sepakbola, banyak menjadikan dunia sepakbola sebagai ladang bisnis yang menguntungkan. Mulai dari produk sponsor serta atribut yang dipakai oleh seorang pemain, semuanya adalah produk perusahaan. Seperti kompetisi di Indonesia sendiri dibiayai oleh sebuah produk perusahaan ternama. Arif Suyono merupakan salah satu pemain muda berbakat yang ada dipersepakbolaan tanah air, yang mempunyai teknik dan kemampuan diatas rata-rata. Selain itu juga Arif dikenal pemain dengan talenta yang luar biasa walaupun bertubuh kurus tetapi sering membuat kagum penonton ditribun melalui akselarisinya diatas rumput hijau. klub profesional pertama Arif Suyono adalah arema junior, dengan motivasi yang tinggi untuk menjadi seorang pemain yang sukses, dan jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama serta didukung dengan perilaku yang baik didalam lapangan maupun diluar lapangan. Penelitian ini difokuskan pada bagaimana motivasi berprestasi Arif Suyono sebagai pemain klub Arema Malang, bagaimana perilaku Arif Suyono sebagai pemain klub Arema Malang, bagaimana jiwa sosial Arif Suyono sebagai pemain klub Arema Malang. Tujuan Penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji motivasi Arif Suyono sebagai pemain klub Arema Malang, untuk mengetahui dan mengkaji perilaku Arif Suyono sebagai pemain klub Arema Malang, untuk mengetahui dan mengkaji jiwa sosial Arif Suyono sebagai pemain klub Arema Malang. Ditinjau dari fokus penelitian (rumusan penelitian) maka, penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif berbentuk studi kasus yang mengemukakan hal-hal khusus tentang latar belakang pada individu tertentu yaitu seorang pemain sepakbola bernama Arif Suyono. Ia sebagai seorang pemain sepakbola yang cukup banyak pengalamannya sejak dari usia 14 tahun hingga 25 tahun. Pendekatan tersebut dipilih karena peneliti ingin mengetahui profil Arif Suyono pemain klub Arema Malang ditinjau dari aspek motivasi berprestasi, perilaku, dan jiwa sosial. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Motivasi Arif Suyono memiliki motivasi berprestasi analisis teori ini ternyata juga didukung oleh hasil tes psikologi yang menunjukkan bahwa motivasi berprestasi Arif Suyono termasuk kategori sangat baik dengan skor 81. Ini menunjukkan bahwa Arif Suyono memiliki motivasi dan dorongan yang cukup kuat untuk mencapai prestasi dan hasil kerja yang sebaik-baiknya. Motivasi berprestasi yang sangat baik ini juga didukung oleh tingginya skor ketekunan dan keteraturan kerja Arif Suyono yang meraih skor 83. Ini menunjukkan bahwa Arif Suyono memiliki kecenderungan untuk bekerja dengan tekun dan teratur. Terlebih lagi aspek komitmennya juga sangat baik yaitu 80 yang membuatnya selalu konsekuen dalam melaksanakan komitmen seperti perjanjian kerja atau kontrak sehingga memungkinkannya dapat bekerja dengan sebaik-baiknya. Ketiga aspek tes perilaku tersebut yaitu motivasi berprestasi yang sangat baik, ketekunan dan keteraturan dalam bekerja, serta komitmen yang juga sangat baik menjadi sebuah modal yang cukup besar bagi Arif Suyono untuk meraih prestasi dan keberhasilan secara maksimal. Hasil tes psikologi juga mendukung kesimpulan bahwa Arif Suyono termasuk ke dalam golongan orang berperilaku flegmatis yaitu ketekunan dan keteraturan kerja yang ditunjukannya dengan suka bekerja keras dan disiplin menggunaklan waktu, komitmen yang berarti konsekuen untuk melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, mempunyai motivasi berprestasi untuk mencapai prestasi yang lebih baik. Hubungan Arif Suyono dengan orang sekitarnya menunjukkan tingkat kematangan sosial yang sangat menguntungkan baginya. Sebagai seorang pemain sepakbola hubungan tersebut dibutuhkan pada kondisi tertentu yang biasanya menguras emosi seperti pada saat suasana dalam tim mengalami goncangan atau mendapat tekanan dari supporter maupun pihak lawan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT berorientasi pada PAKEM untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Jejangkit Muara 2 / Rahidatul Laila Agustina

 

Agustina, Rahidatul Laila 2014, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TGT Berorientasi pada PAKEM untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SDN Jejangkit Muara 2. Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Ruminiati, M.Si., (2) Juhriyansyah Dalle, S.Pd., S.Si., M.Kom., Ph.D. Kata Kunci : Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games tournament, PAKEM.     Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dan rendahnya hasil belajar PKn pada SDN Jejangkit Muara 2. Usaha yang dapat dilakukan guru untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Teams Games Torunament (TGT) berorientasi pada PAKEM. Model pembelajaran kooperatif TGT berorientasi pada PAKEM terdiri dari beberapa langkah pembelajaran yang merupakan gabungan dari sintaks TGT dan sintaks PAKEM, adapun gabungan kedua sintaks di jabarkan sebagai berikut: (1) penyajian kelas, (2) interaksi, (3) komunikasi (4) permainan, (5) pertandingan, (6) penghargaan serta (7) refleksi.     Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif (PTK Kolaboratif), yang terdiri dari 2 siklus. Prosedur penelitian berbentuk siklus dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan dan observasi, serta tahap refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah 14 siswa kelas V SDN Jejangkit Muara 2 semester genap tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan.     Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diketahui bahwa: (1) penerapan model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) berorientasi pada PAKEM oleh guru dan siswa dilaksanakan dengan baik melalui tahapan presentasi kelas, tim, game, turnamen dan rekognisi tim meskipun terdapat beberapa masalah pada siklus I, tetapi masalah ini segera diperbaiki pada siklus II sehingga proses pembelajaran bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti. (2) adanya peningkatkan aktivitas siswa, indikator yang tampak adalah: aktivitas siswa selama belajar, partisipatif siswa dalam belajar, kreativitas siswa selama belajar, efektivitas kegiatan pembelajaran dan kegembiraan siswa selama belajar. (3) Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan baik secara individu maupun klasikal.     Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: (1) agar guru dapat mengelola waktu dengan cermat, memberikan pemahaman dan penjelasan lebih detail kepada siswa tentang aturan permainan dalam turnamen, pemberian penghargaan kelompok (team rewards) bisa dibuat secara bervariasi bukan hanya berupa hadiah (barang), tetapi bisa juga berupa sertifikat yang berguna bagi siswa, sehingga siswa lebih termotivasi untuk menjadi kelompok terbaik. (2) Siswa dapat bekerjasama dengan kelompoknya, hendaknya tidak malu menanyakan materi yang dianggap sulit kepada teman yang lainnya, hendaknya siswa tidak segan membantu temannya yang berkemampuan kurang, siswa agar lebih meningkatkan keaktifan di kelas seperti bertanya, mengungkapkan pendapat dan maju di depan kelas. (3) Guru sebelum memulai pelajaran hendaknya mengingatkan kembali materi-materi pelajaran sebelumnya melalui pertanyaan-pertanyaan, diperlukan persiapan yang cukup matang untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif TGT berorientasi pada PAKEM, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Pengaruh investasi dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode 1990-2007 / Abid Muhtarom

 

ABSTRAK Muhtarom, Abid. 2009. Pengaruh Investasi, dan Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 1992-2008. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M. Pd. (II) Dr. Imam Mukhlis, S.E., M. Si. Kata Kunci: Investasi, Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi. Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi nasional di samping terus mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan atau perubahan total suatu masyarakat/penyesuaian system sosial secara keseluruhan menuju kondisi yang lebih baik (Todaro, 2004:17). Pertumbuhan Ekonomi dan investasi pada tahun 1990-1996 tidak terjadi perubahan yang signifikan. Berdasarkan data dari Asian Development Bank untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 9,0% ditahun 1990 dibutuhkan nilai investasi US$ 64.790. Pertumbuhan ekonomi 8,9% ditahun 1991 dibutuhkan investasi US$ 80.028. Pada tahun 1992 untuk pertumbuhan ekonomi 7,2%. dibutuhkan investasi US$ 91.512 dan juga 1993 yang tumbuh 7,3% dibutuhkan investasi US$ 97.213. Pada tahun 1994 untuk pertumbuhan ekonomi 7,5%. dibutuhkan investasi US$ 118.707. Pertumbuhan ekonomi 8,2% ditahun 1995 dibutuhkan investasi US$ 145.118, dan juga tahun 1996 pertumbuhan ekonomi sebesar 7,8% dibutuhkan investasi US$ 163.453. Terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, banyak pihak yang merasakan dampak buruk. Walaupun ada beberapa pihak yang merasa diuntungkan dan merasakan dampak positif, namun secara keseluruhan krisis ekonomi memberikan dampak yang negatif bagi bangsa Indonesia. Berdasarkan data dari Asian Development Bank pada tahun 1998 angka invetasi menujukan angka US$ 160.327. Sedangkan pada tahun 1998 tenaga kerja mencapai 92.735 ribu orang. Tingkat tenaga kerja yang terus menurun akibat terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang terjadi pada tahun 1998. Mengakibatkan pendapatan nasional yang menurun, sehingga pemerintah sulit untuk mengatur perekonomian pada saat itu. Pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi mencapai -13,1%, angka ini menunjukkan adanya penurunan pertumbuhan ekonomi. Krisis ekonomi tahun 1998 berdampak pada terpuruknya perekonomian Indonesia. Kondisi situasi moneter, politik, dan keamanan pada masa itu memicu terjadinya capital flight (penarikan modal kembali) secara besar-besaran dari para investor dan lembaga keuangan. Selain itu, krisis ekonomi dan krisis multidimensi (krisis pada beberapa aspek kehidupan) menyebabkan perubahan pada pola pembangunan di Indonesia dengan bergantinya sistem sentralisasi menjadi sistem desentalisasi, yang akhirnya merubah era orde baru menjadi era reformasi. Era reformasi merupakan suatu era baru pembangunan nasional dengan adanya UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Dimana, pelaksanaan pembangunan di Indonesia diarahkan untuk mencapai cita-cita bangsa, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur baik materiil maupun spiritual berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945, salah satu upaya yang ditempuh untuk mencapai cita-cita bangsa adalah pembangunan ekonomi. Berdasarkan fakta maka, pemerintah tentu memiliki tugas yang sangat berat dalam mengendalikan tingkat kestabilan harga untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi. Salah satu kriteria pengukuran keberhasilan pembangunan ekonomi adalah tingkat pendapatan nasional yang tinggi. Hal ini berarti jumlah barang dan jasa yang dihasilkan besar yang dibarengi dengan tingkat kesempatan kerja yang tinggi. Dengan demikian pembangunan ekonomi dianggap berhasil dengan tingginya tingkat pendapatan nasional, maka memungkinkan terciptanya pertumbuhan ekonomi nasioanal yang tinggi dan tidak lepas dengan adanya pembentukan/penanaman investasi dalam jumlah yang besar. Tenaga kerja menjadikan permasalah tersendiri pada bagi pemerintah untuk menigkatkan pertumbuhan ekonomi karena pada masa krisis ekonomi 1998. Berdasar rumusan yang ada, maka dapat dikemukakan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui : (1) Untuk mengetahui pengaruh investasi dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode 1990-2007. (2) Untuk mengetahui faktor investasi dan tenaga kerja mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode 1990-2007. Penelitan ini menggunakan penelitian eksplanatori, yaitu hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Husaini, 2008:5). Dalam pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan Jenis data sekunder. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah sampel yang diambil melalui Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, ADB (Asian Development Bank). Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah dokumentasi. Dari hasil pengolahan data atau analisis data dapat diketahui : (1) Berdasarkan hasil ECM dengan menggunakan logaritma, secara parsial dapat diketahui bahwa investasi terhadap pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara signifikan baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. (2) Dari uji signifikansi secara parsial, diketahui bahwa tenaga kerja dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi, sedangkan tenaga kerja dalam jangka panjang berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Tenaga Kerja dalam jangka panjang berpengaruh signifikan secara negatif merupakan faktor dominan yang mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia periode 1990-2007. Oleh karena itu peneliti dapat memberikan saran pada Pemerintah sebaiknya juga memperhatikan banyaknya pengangguran disebabkan karena lapangan pekerjaan yang rendah dibandingkan jumlah penduduk yang tiap tahun terus bertambah.

Penerapan pembelajaran matematika realistik dan model treefinger untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung pecahan (studi pada siswa kelas V SDN Gunung Makmur 4 Kecamatan Takisung) / Nurhidayati

 

Nurhidayati.2014. Penerapan Pembelajaran Matematika Realistik dan Model Treefinger untuk Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Pecahan (studi pada Siswa Kelas V SDN Gunung Makmur 4 Kabupaten Tanah Laut). Tesis. Jurusan Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Hj. Utami Widianti,M.A, P.h.D. (II) Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Sc, M.Ed. Kata Kunci: Pembelajaran Matematika Realistik, Model Treefinger, dan Hasil Belajar. Matematika adalah mata pelajaran yang masih ditakuti oleh sebagian besar siswa di Sekolah Dasar, tidak terkecuali bagi siswa kelas V SDN Gunung Makmur 4. Permasalahan yang sering dialami oleh siswa tersebut khususnya terkait operasi hitung pecahan diantaranya: (1) Siswa mudah lupa pada materi yang sudah dipelajari sebelumnya;(2)siswa memiliki kemampuan pemecahan masalah operasi hitung pecahan yang rendah dan terikat pada prosedur dan rumus;(3)Hasil belajar siswa kurang memuaskan, hal itu terlihat dari hasil ulangan harian siswa mengenai operasi hitung pecahan, rata rata kelas hanya 54,67 dan hanya 30% siswa berhasil memperoleh nilai di atas KKM (70). Berdasarkan penelitian di atas, peneliti ingin melibatkan proses pembelajaran yang menggunakan dunia nyata dan kreativitas siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk menggambarkan penerapan pembelajaran Matematika Realistik dan Model Treefinger untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Operasi Hitung Pecahan.     Langkah langkah pembelajaran yang digunakan pada pendekatan realistik dan model Treefinger dari tingkat I hingga III pada penelitian ini adalah: (1) Warming up;(2) sumbang saran;(3) Teknik Sintetis; (4)Analisa Morfologi;(5) Teknik Creative Problem solving: (6)Evalusi, dan(7) Pemberian Reward Hasil penelitian ini terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan, dari hasil refleksi tiap siklus menunjukan bahwa rata rata skor hasil belajar siswa diperoleh 69,33 pada siklus I dan pada siklus II skor rata rata meningkat menjadi 86,67. Hal ini menunjukan hasil belajar siswa mengalami peningkatan 17,34, sedangkan untuk ketuntasan klasikal jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal(70) adalah 60% pada siklus I dan 93,33% pada siklus II. Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 33,33% ketuntasan klasikal siswa. Keaktifan siswapun mengalami peningkatan,siswa yang awalnya masih pasif, belum dapat mengidentifikasi masalah dan mengembangkan ide serta masih malu malu dalam menyampaikan pendapat kini sudah aktif dan berfikir kreatif dalam mengidentifikasi masalah, memecahkan maslah dan mengembangkan ide serta pendapat mereka. Hasil penelitian tersebut dapat menunjukan kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran Matematika Realistik dan Model Treefinger dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada materi operasi hitung pecahan.

Penerapan konsep SBI (Sekolah Bertaraf International) pada mata pelajaran menggambar busana (Fashion Drawing) di kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Ainun Nikmah Prawitasari

 

ABSTRAK Prawitasari, Ainun Nikmah. 2010. Penerapan Konsep SBI Pada Mata Pelajaran Menggambar Busana (Fashion Drawing) Dikelas X Jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi. Program Studi Pendidikan Tata Busana Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Dra. Anti Asta Viani, M.Pd. Pembimbing II Dra. Endang Prahastuti, M.Pd Kata Kunci : Konsep SBI, Menggambar Busana, Penerapan Penerapan konsep SBI diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan memiliki pengetahuan secara global agar setingkat dengan para lulusan luar negeri lainnya dan dapat diunggulkan dalam era globalisasi, dimana peserta didik diarahkan kepada lingkungan masyarakat dengan menempatkan IPTEK dan ilmu pengetahuan. Menggambar busana (Fashion Drawing) merupakan salah satu mata pelajaran produktif yang melatih siswa untuk cara menggambar dan mengembangkan ide-idenya tentang busana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) penerapan materi, (2) penerapan media, (3) penerapan metode pembelajaran, dan (4) penerapan evaluasi dalam konsep SBI pada mata pelajaran Menggambar Busana di kelas X Jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan secara kualitatif. Jenis rancangan yang digunakan secara deskriptif. Kehadiran penelitian adalah peneliti secara langsung. Sumber data primer adalah peneliti sebagai pengumpul data, data sekunder adalah Ketua Jurusan, guru, dan siswa. Data penguat yang disertakan adalah dokumentasi dan foto-foto dilapangan, teknik yang digunakan adalah snowball sampling. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawacara, dokumentasi dan observasi, tahap dalam analisis data menggunakan reduksi data, paparan data, dan kesimpulan data. Pengabsahan data menggunakan triangulasi, ketekunan pengamatan dan kecukupan referensial . Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan konsep SBI adalah (1) penerapan materi menunjukkan bahwa pelaksanaan hard skill dan life skill saat menyampaikan berbasis materi (PTD) ini telah menerapkan konsep kecakapan hidup (life skill). Adapun pelaksanaan PTD, khususnya kelas X belum terlaksana, (2) penerapan media berbasis IT, telah menggunakan media berbasis IT dalam PBM dan pelaksanaan bilingual system hanya digunakan sebagai pengenal istilah-istilah busana dalam bahasa inggris dan belum digunakan sebagai bahasa pengantar dalam belajar (3) guru telah menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dalam menyampaikan materi. Adapun penerapan metode pembelajaran PAIKEM belum diterapkan secara utuh oleh guru kepada siswa, dan (4) hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengambilan nilai akhir dalam proses belajar mengajar mengacu pada SKL yang telah sesuai dengan SNP dan standar pada SBI. Saran yang dapat diberi berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) guru menyampaikan materi dasar PTD kepada siswa sehingga siswa berada di v i kelas XI dapat mengembangkan materi tersebut dengan menyesuaikan jurusan yang telah ditentukan, (2) sekolah meningkatkan sarana pembelajaran berupa LCD dan laptop sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar lain yang membutuhkan dan dalam penerapan bilingual system ini, guru maupun siswa meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa inggris, dan (3) sekolah sering mengadakan pelatihan atau mengikuti pelatihan/seminar dan baik guru maupun pihak sekolah selalu mengikuti perkembangan informasi tentang pelatihan /seminar tentang pembelajaran berbasis SBI, terutama tentang metode PAIKEM.

Pengembangan perangkat pembelajaran IPA terpadu berbasis salingtemas dan inkuiri terbimbing untuk membentuk pemahaman terintegrasi pada peserta didik SMP / Laila Khusnah

 

Khusnah, Laila. 2014. Developing Integrated Science Instructional Materials Based on Salingtemas and Guided Inquiry to Build Integrated Understanding on Junior High School Students. Thesis, Biology education study program, Postgraduate of University of Malang. Advisors: (1) Dr. Ibrohim, M.Si. (2) Dr. Abdul Ghofur, M.Si. Keywords: instructional materials, salingtemas, guided inquiry, integrated understanding. Curriculum takes the essential role on guiding and achieving the expected quality of education. And so 2013 curriculum, it wants to implement the integrated science instructional for achieving the balance between cognitive, affective, and psychomotor aspects both in school and in society. However, The results of analysis to the teacher’s lesson plans and survey in SMPN 2 Jember shows that the science instructional process still uses speech method and emphasizes more in cognitive aspect achievement by memorizing some concepts and rules.     The research aims to (1) produce the science instructional materials for SMP based on salingtemas and guided inquiry to build the integrated understanding of students through acquiring cognitive aspect, psychomotor process, and scientific attitude; (2) know the validity and reliability levels of the instructional materials, namely Syllabus, Lesson Plans (RPP), Assessment Instruments, and Students’ Worksheet (LKPD).     The research uses 4D model development research design from Thiagarajan (1974), but it is limited only to the level of develop. The product of the instructional materials is validated by the expert in the instructional materials, the expert in the subject, the science teacher, and then it is implemented to development testing in order to know the validity of and the reliability of cognitive questions and the readability of LKPD in the VIIID class, and also to know the implementable of and the effectiveness of the instructional in the VIIIE class.     The average score of validation evaluative from the experts to syllabus is 3,79; to RPP is 3,71; to cognitive assessment instrument is 3,80; to psychomotor process in science is 3,60, to scientific attitude is 3,78; and to LKPD is 3,81. It means that the product of the science instructional materials has categorized sufficiently valid. The development test result in class VIIID shows that the evaluative average score of readability to LKPD is 3,31. It means that LKPD has qualified sufficiently valid. The reliability score of the multiple choices questions on movement system theme is 0,68 and on simple machine theme is 0,48. The reliability testing of cognitive questions in the form of essay on movement system theme has alpha coefficient score in the amount of 0,63 and on simple machine theme is in the amount of 0,82. It means that the cognitive questions in the form of multiple choices and essay are valid and reliable.     The observation result shows that the science instructional based on salingtemas and guided inquiry in the VIIIE class is able to be implemented well and effectively in line with the expectations of 2013 curriculum. It is proven by the increase of the psychomotor process and students’ scientific attitude in every meeting, the students’ cognitive learning result that is getting classical learning thoroughness in the amount of 86,84%, the students’ positive responses (94,74%) to the implemented instructional.     This research suggests that the product of the instructional materials should be applied and implemented in the real classical learning process in all schools, applied to the class action research or the quasi-experimental to see some specific variables, developed on the themes having the similar characteristics with the themes of motion systems and simple machines, developed on grade VII and IX, and also developed by collaborating with other method/models in order to get more variety products.

Perbedaan penerapan metode mebcontoh dan metode ekspresi terikat kreativitas menggambar siswa ekstrakurikuler menggambar SD Muhammadiyah 08 Dau Malang / Ainun Lathifah Nur Epriliana Safitri

 

Safitri, Ainun Lathifah Nur Epriliana. 2014. Perbedaan Antara Metode Mencontoh dan Metode Ekspresi Terikat Terhadap Kreativitas Menggambar Siswa Ekstrakurikuler Menggambar SD Muhammadiyah 08 Dau. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Iriaji, M.Pd (2) Fenny Rochbeind, S.Pd, M.Sn Kata Kunci : Metode Mencontoh, Ekspresi Terikat, Kretivitas, Menggambar Kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi salah satu sarana yang penting bagi siswa dalam mengembangkan kreativitasnya. Dalam rangka mengembangkan kreativitas, guru ekstrakurikuler menggambar di SD Muhammadiyah 08 Dau mencoba menggunakan metode mencontoh dan metode ekspresi terikat untuk meningkatkan kreativitas siswa. Metode mencontoh adalah suatu kegiatan siswa menggambar dengan mencontoh gambar yang dicontohkan oleh guru. Metode ekspresi terikat adalah suatu kegiatan siswa menggambar dengan bebas, akan tetapi tetap diberikan arahan oleh seorang guru, baik dari segi teknik, tema, dan lain sebagainya.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan kreativitas menggambar siswa, mengetahui hubungan, dan perbedaan antara me-tode yang diterapkan guru yaitu melalui metode mencontoh dan metode ekspresi terikat terhadap kreativitas siswa ekstrakurikuler menggambar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif pra- eksperimen. Sedangkan untuk pengumpulan datanya melalui instrumen dari lembar penilaian dari hasil gambar siswa melalui kedua metode tersebut. Subyek penelitian sebanyak 19 siswa dari kelas rendah yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menggambar. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa hasil gambar siswa, dan teknik analisis datamenggunakan analisis rating scale, dan uji hipotesis melalui uji-t. Hasil penelitian dapat diketahui melalui penilaian pada hasil gambar siswa.Hasil yang diperoleh ada tiga yaitu sebagai berikut. Pertama, siswa ekstrakurikuler menggambar di SD Muhammadiyah 08 Dau memiliki nilai kreativitas yang cukup tinggi dengan metode mencontoh dengan taraf kreativitas sebesar 50%, dan memiliki nilai kreativitas yang tinggi dengan metode ekspresi terikat dengan taraf kreativitas 64%. Metode mencontoh dan metode ekspresi terikat memiliki perbedaan 14% dalam hal kreativitas menggambar siswa. Kedua, metode mencontoh dan metode ekspresi terikat memiliki hubungan yang sangat rendah dengan interpretasi korelasi sebesar 0,169. Ketiga, metode mencontoh dan metode ekspresi terikat memiliki perbedaan dengan diperoleh nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 3,941 > 1,729. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar; 1) pihak sekolah bekerja sama dengan guru untuk meningkatkan kreativitas siswa dengan meningkatkan juga profesionalisme guru tentang metode mengajar, 2)mahasiswa lain yang akan melakukan penelitian sejenis, bahkan bisa dilanjutkan dengan meneliti metode-metode lain yang kerap digunakan oleh guru dalam mengajar.

Pengaruh penggunaan media dakon terhadap kemampuan berhitung penjumlahan siswa kelas IV tunagrahita di SDLB Dharma Putra Daha Gurah Kediri / Tria Libriani Styaningrum

 

Styaningrum, Tria Libriani. 2014. Pengaruh Pengguanaan Media Dakon Terhadap Kemampuan Berhitung Penjumlahan Siswa Kelas IV Tunagrahita di SDLB Dharma Putra Daha Gurah Kediri. Skripsi S1 PLB, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Abdul Huda, M.Pd, (2) Tomas Iriyanto, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: media dakon, kemampuan berhitung, tunagrahita      Pelajaran berhitung penjumlahan yang merupakan salah satu materi mata pelajaran matematika sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari pada siswa tunagrahita. Kemampuan siswa tunagrahita SDLB Dharma Putra Daha Gurah Kediri dalam pelajaran matematika dinilai masih sangat kurang. Siswa tunagrahita tersebut masih menguasai penjumlahan 1-5. Perhatian yang sering teralihkan pada siswa tunagrahita dan pembelajaran yang kurang inovatif menjadi salah satu faktor terhambatnya proses belajar pembelajaran di kelas.      Rumusan masalahnya adalah: (1) Bagaimana kemampuan berhitung penjumlahan siswa kelas IV tunagrahita pada kondisi baseline di SDLB Dharma Putra Daha Gurah Kediri? (2) Bagaimana kemampuan berhitung penjumlahan siswa kelas IV tunagrahita ringan pada kondisi intervensi di SDLB Dharma Putra Daha Gurah Kediri? (3) Adakah pengaruh penggunaan media pembelajaran dakon terhadap kemampuan berhitung penjumlahan siswa kelas IV tunagrahita ringan di SDLB Dharma Putra Daha Gurah Kediri?      Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian Single Subject Research (SSR) desain penelitian A-B. Subjek penelitian ini adalah FN (14 tahun). Pengumpulan data dilakukan dengan soal tes kemampuan berhitung kemudian dianalisis dengan rumus persentase.     Hasil yang diketahui dari penelitian ini adalah (1) mean level kemampuan berhitung penjumlahan siswa tunagrahita pada fase baseline sebesar 58%, (2) mean level kemampuan berhitung penjumlahan siswa tunagrahita pada fase intervensi sebesar 98,7%, (3) terdapat pengaruh media dakon terhadap kemampuan berhitung siswa tunagrahita. Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan dari fase baseline ke fase intervensi, hal ini di pengaruhi oleh adanya media dakon dalam pembelajaran berhitung penjumlahan pada siswa Tunagrahita di SDLB Dharma Putra Daha Kediri.     Saran dalam penelitian ini ditunjukkan kepada: (1) kepala sekolah, dapat mengadakan pelatihan guru dalam menciptakan media pembelajaran yang menarik bagi siswa, (2) guru, dapat menggunakan media dakon pada pembelajaran berhitung penjumlahan, (3) peneliti selanjutnya, dapat mengembangkan media dakon dengan memodifikasi bentuk dakon dan aturan menggunakan media dakon tersebut sehingga dapat melengkapi kekurangan yang terdapat pada penelitian ini.

Pengaruh pendekatan Totally Physical Response (TPR) terhadap peningkatan hasil belajar bahasa Inggris siswa tunarungu kelas X di SMALB Malang / Ruth Rosalia Nababan

 

Nababan, Ruth Rosalia. 2014. Pengaruh Pendekatan Totally Physical Response (TPR) Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa Tunarungu Kelas X di SMALB YPTB Malang, Skripsi, Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. M. Efendi, M.Pd, M.Kes (II) Henry Praherdhiono, S.Si, M.Pd. Kata Kunci: Pendekatan totally physical response, Siswa tunarungu.     Kelainan pendengaran pada anak tunarungu mengakibatkan masalah yang kompleks pada proses pembelajarannya termasuk pembelajaran bahasa Inggris. Berdasarkan observasi siswa tunarungu menunjukkan pembendaharaan kosakata yang sedikit serta kesulitan dalam menyusun kalimat. Oleh karena itu, pembelajaran bagi anak tunarungu memerlukan berbagai pendekatan untuk mengatasi kesulitan belajar mereka. Salah satu pendekatan pembelajaran bahasa Inggris tersebut adalah totally physical response. Totally physical response merupakan pendekatan yang menggunakan perintah-perintah lisan yang harus dilakukan siswa agar dapat menunjukkan pemahaman mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh pendekatan totally physical response terhadap peningkatan hasil belajar bahasa Inggris siswa Tunarungu kelas X di SMALB YPTB Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan totally physical response, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa berupa tes.     Penelitian ini adalah penelitian quasi experiment dengan desain time series. Penelitian ini membandingkan subyek yang sama dengan kondisi yang berbeda yaitu sebelum treatment dan setelah treatment. Instrumen penelitian ini adalah tes pretes dan posttes. Teknik analisis untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan rumus uji Wicolxon Ranks dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata pretes dan posttes. Perbedaan ini ditunjukkan dari perbandingan rata-rata pretes siswa adalah 58,5 sedangkan rata-rata postes siswa 87,75. Hasil output diperoleh bahwa Z adalah 2,201 sehingga Z > 1,96. Berdasarkan kriteria tersebut h0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan totally physical response memiliki pengaruh terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa tunarungu kelas X di SMALB YPTB Malang.     Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendekatan totally physical response efektif untuk dilakukan di kelas karena siswa tampak antusias dan senang dalam pembelajaran, selain itu dengan menggerakan badan mereka lebih fokus pada makna kata. Saran bagi guru adalah pendekatan ini bisa dijadikan bahan referensi untuk pembelajaran bahasa Inggris. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini bisa dijadikan bahan kajian untuk dikembangkan atau diterapkan.

Pengaruh persepsi guru tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi dan kinerja guru di SMK Wisnuwardhana Malang / Rizka Laili Maulidha

 

Maulidha, L. Rizka. 2014. Pengaruh Persepsi Guru tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Motivasi dan Kinerja Guru di SMK Wisnuwardhana Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Univaersitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Suharto S.Pd., M.M., (II) Hj. Madziatul Churiyah S.Pd., M.M. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan, Motivasi Guru, Kinerja Guru Keberhasilan suatu sekolah pada dasarnya terletak pada gaya kepemimpinan yang dipakai oleh kepala sekolahnya. Setiap kepala sekolah mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Menurut Mulyasa (2009:108) menjelaskan gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah cara yang digunakan pemimpin dalam memengaruhi pengikutnya. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kepala sekolah harus mampu meningkatkan kinerja para bawahannya. Uno dkk., (2012:63) mendefinisikan kinerja sebagai “perilaku seseorang yang membuahkan hasil kerja tertentu setelah memenuhi sejumlah persyaratan”. Banyak hal yang mempengaruhi kinerja seseorang, salah satunya sebagai pemimpin harus memberikan motivasi yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk melaksanakan tugasnya secara efektif dan tepat waktu. Penelitian ini dilakukan di SMK Wisnuwardhana Malang dengan metode eksploratif. Yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi guru tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi dan kinerja guru di SMK Wisnuwardhana Malang. Adapun variabel dalam penelitian ini yaitu gaya kepemimpinan kepala sekolah (X), motivasi guru (Z) dan kinerja guru (Y). Populasi dan sampel penelitian ini adalah semua guru SMK Winsuwardhana Malang yang berjumlah 26 guru.Penelitian ini adalah penelitian populasi dimana semua populasi yang ada dijadikan sampel karena jumlahnya kurang dari 100. Analisis data menggunakan analisis data deskriptif, uji validitas dan reliabilitas, dan analisis jalur (Path Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Ada pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi guru dengan taraf signifikasi 0,002 < 0,05. Ada pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru dengan taraf signifikasi 0,011 < 0,05. Ada pengaruh motivasi guru terhadap kinerja guru dengan taraf signifikasi 0,009 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran sebagai berikut: 1) Bagi Kepala Sekolah, dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki kepala sekolah diharapkan selalu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan yang diberikan sehingga kinerja guru semakin meningkat dengan tujuan yang terlaksana secara bersama-sama. 2) Bagi Guru, meningkatkan kinerja melalui prestasi kerja dengan adanya dorongan dari diri sendiri maupun dari pihak lain. Tidak menunggu untuk disemangati dahulu sebelum bekerja namun sudah harus ada komitmen dalam dirinya sehingga tugas dan kewajiban yang sudah ada bisa dikerjakan dengan baik dan benar. 3) Bagi Peneliti, lebih banyak menambah variabel penelitian karena gaya kepemimpinan disini bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Lebih memperbanyak waktu observasi untuk mendapatkan hasil penelitian yang lengkap dan bermanfaat untuk kedepannya.

Pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa (Studi komparasi di sma unggulan dan sma reguler di kota probolinggo) / Dwi Retno Palupi

 

ABSTRAK Retno. Dwi Palupi. 2009. Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Studi Komparasi Di SMA Unggulan dan SMA Reguler Di Kota Probolinggo). Program Studi Ekonomi Koperasi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec (II) Dr. Agung Haryono, S.E, M.P, Ak Kata Kunci : Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah motivasi belajar. Motivasi belajar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sebab siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi juga senantiasa dapat menentukan intensitas usaha belajar dan prestasi belajar bagi siswa. Dalam hal ini lingkungan juga memiliki pengaruh terhadap peningkatan motivasi siswa dalam belajar. Lingkungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sekolah. Sekolah disini dibedakan menjadi dua yaitu sekolah unggulan dan sekolah regular. Tujuan dari pembedaaan sekolah disini adalah peneliti ingin melihat bagaimana motivasi belajar di masing-masing sekolah dan apakah terdapat perbedaan diantara kedua sekolah tersebut. Motivasi yang ingin diteliti dalam penelitian ini juga dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 (SMA Unggulan) dan SMAN 4 (SMA Reguler) di kota Probolinggo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan regresi linier berganda. Populasi penelitian adalah siswa X SMAN 1 dan SMAN 4 dan sample yang digunakan sebanyak 73 responden dari masing-masing sekolah dimana setiap kelas diwakili oleh 12 dan 13 responden untuk SMAN 1 sedangkan di SMAN 4 masing-masing kelas diwakili 14 dan 15 responden. Data diperoleh dengan menyebar angket dan dokumentasi dari guru wali kelas X. Dari hasil analisis statistic deskriptif diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (a) motivasi intrinsik di SMA Unggulan yang tergolong memiliki motivasi tinggi sebesar 21 siswa (28,77%) dan sisanya sebanyak 52 siswa (71,23%) memiliki motivasi intrinsik sedang. (b) motivasi ekstrinsik di SMA Unggulan sebanyak 58 siswa (79,45%) memiliki motivasi ekstrinsik yang tinggi, sedangkan sebanyak 15 siswa (20,55%) memiliki motivasi intrinsik sedang. (c) di SMA Reguler menunjukkan siswa yang memiliki motivasi intrinsik tinggi sebanyak 52 siswa (71,23%) dan sebanyak 21 siswa (28,77%) memiliki motivasi intrinsik yang sedang. (d) untuk motivasi ekstrinsik di SMA Reguler yang termasuk dalam klasifikasi tinggi sebanyak 58 siswa (79,45%) dan sebesar 20,55% (15 siswa) memiliki motivasi ekstrinsik yang sedang. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa (a) motivasi belajar (motivasi intrinsik) memberikan pengaruh yang signifikan sebesar 0,045 terhadap prestasi siswa di SMA Unggulan kota Probolinggo. Dan secara simultan motivasi belajar memberikan pengaruh sebesar 53,7% terhadap prestasi siswa di SMA Unggulan, sedangkan sisanya sebesar 46,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar penelitian. (b) Motivasi belajar siswa (motivasi intrinsik) secara signifikan berpengaruh terhadap prestasi siswa di SMA Reguler sebesar 0,044. Sedangkan secara simultan motivasi belajar memberikan pengaruh sebesar 84,3% terhadap prestasi siswa di SMA Reguler di kota Probolinggo. Dan sisanya sebesar 15,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar penelitian ini. (c) tidak terdapat perbedaan pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa di SMA Unggulan dan di SMA Reguler. Motivasi belajar (motivasi intrinsik) sama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa.

Analisis tata ruang kantor di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 5 Kepanjen / Titah Arum Wahyuningdyah

 

Wahyuningdyah, Titah Arum. 2014. Analisis Tata Ruang Kantor di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 5 Kepanjen. Skripsi, Program Studi Pendidikan administrasi Perkantoran. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Suharto S.M., M.Pd., M.M . (2) Drs. Sarbini Kata kunci: Tata Ruang Kantor      Kantor merupakan pusat seluruh kegiatan pegawai dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Dengan adanya pengaturan tata ruang kantor yang memenuhi standart atau memenuhi asas akan mendukung suatu pekerjaan selesai dengan baik dan lancar serta mudah untuk dicapai. Susunan ruang kantor yang tidak berdesak-desakan dan terkesan rapi serta faktor warna dan pencahayaan yang sesuai dengan ruang kerja dapat memunculkan semangat tersendiri bagi pegawai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik sehingga efisiensi dan efektifitas kerja akan terwujud dan tujuanpun akan dapat dengan mudah dicapai. Ditambah lagi dengan penataan tata ruang kantor dengan beberapa fasilitas yang mendukung.      Dalam penelitian difokuskan pada (1) Bagaimana kondisi atau keadaan tata ruang kantor di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen (2) Bagaimana penataan perlengkapan mesin-mesin dan alat-alat kantor di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen (2) Bagaimana penerapan asas-asas tata ruang kantor di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen      Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif Adapun tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran ataupun lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan atau fenomena yang diselidki. Dengan demikian, data yang dikumpulkan dalam peneliti ini yang diperoleh dari sumber data akan disusun, kemudian di analisis, dan dinterpretasikan serta di bandingkan dengan kriteria yang telah ditentukan, sampai pada akhirnya disimpulkan dengan hasil penelitian.      Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen masih kurang baik dalam menerapkan standarisasi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena terdapat luas bangunan yang tidak hanya ditempati oleh SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen saja, namun ada SD dan juga SMP yang berada pada satu lokasi atau satu lahan sehingga menyebabkan luas bangunan harus disesuaikan dengan bagunan lain dan luas lahan yang ada, hal ini sudah di paparkan diatas mengenai standarisasi luas bangunan dan hasil di lapangan.     Kedua, SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen sudah cukup baik dalam penataan perlengkapan dan mesin-mesin kantor, hanya saja ada beberapa hal yang belum sesuai penataanya yakni mengenai gantungan jaket, almari arsip yang berbeda letak yakni pada lantai 1 (satu) dan juga lantai 2 (dua) sehingga membuang waktu untuk melakukan pekerjaan tersebut.           Ketiga, SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen telah menerapkan beberapa asas yakni asas jarak terpendek, asas rangkaian kerja dan juga asas penggunaan segenap ruangan.            Berdasarkan penelitian ini disarankan yakni pertama, Kendala yang ada dilapangan yang menyebabkan beberapa kekurangan mengenai tata ruang kantor adalah kurangnya ruang atau lahan yang ada, peneliti menyarankan agar SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen membuat rencana kerja untuk tahun berikutnya untuk mengusulkan penambahan lahan atau pembangunan lokal/ruang ke Dinas Pendidikan sesuai kebutuhan sekolah tersebut.      Kedua, Melakukan pemantauan akan tersedianya peralatan perkatoran dan inventaris lainnya serta melakukan perawatan barang-barang inventaris keperluan perkantoran.      Ketiga, Penataan ruang dan letak ruang sudah baik dengan kondisi ruang yang ada namun masih ada kekurangan, peneliti menyarankan agar beberapa teori penataan ruang kantor yang telah diuraikan peneliti diatas nantinya dapat diterapkan seiring dengan penambahan lokal/ruang demi terciptanya tata ruang kantor yang baik sehingga mendukung proses kerja dan kualitas output pekerjaan yang dihasilkan.

Pola asuh dalam pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila di Panti Asuhan Aisiyah Kota Malang / Cindra Rizky Pratama Putra

 

ABSTRAK Putra, Cindra Rizky Pratama April. 2015. Pola Asuh dalam Pembentukan Karakter Anak Berdasarkan Moral Pancasila di Panti Asuhan Aisyiyah Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Margono, S.Pd, M.Si, (2) Nuruddin Hady, SH, MH. Kata kunci: Pola Asuh, Pembentukan Karakter, Moral Pancasila, Panti Asuhan Pola asuh merupakan suatu interaksi antara pengasuh dengan anak asuh. Perlakuan pengasuh mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak asuh. Panti asuhan merupakan suatu lembaga yang menampung anak-anak yang tidak memilki keluarga. Adanya pola asuh yang tepat di panti diharapkan anak asuh dapat memiliki moral yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola asuh yang diterapkan, hambatan pola asuh dan upaya mengatasinya dalam pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila di Panti Asuhan Aisyiyah, Malang. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pola asuh yang diterapkan dalam pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila di Panti Asuhan Aisyiyah, Malang, (2) apakah hambatan pola asuh dan upaya mengatasinya dalam pembentukan karakter anak berdaarkan moral Pancasila di Panti Asuhan Aisyiyah, Malang, (3) bagaimana hasil pola asuh dalam pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila di Panti Asuhan Aisyiyah, Malang. Sehingga penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi tentang pola asuh terhadap pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila. Penelitian mengenai pola asuh dalam pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dan Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu keadaan mengenai pola asuh dalam pembentukan karakter anak berdasarkan moral Pancasila di panti asuhan. Subyek penelitian ini yaitu seluruh perangkat Panti Asuhan Aisyiyah Kota Malang. Prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu, (1) observasi parpartisipatif, (2) wawancara mendalam, dan (3) dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis data kualitatif dengan tahap reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang, ketekunan pengamatan, triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pola asuh yang digunakan dalam pembentukan karakter berdasarkan moral Pancasila, yaitu (1) sistem kekeluargaan (2) sistem keteladanan (3) sistem reward (pemberian hadiah) dan punishment (pemberian hukuman). Kedua, hambatan yang ditemui dalam proses pembentukan karakterter berdasarkan moral Pancasila di Panti Asuhan Aisyiyah yaitu (1) Psikologis anak yang mengalami broken home (2) Kurangnya keterbukaan anak untuk menyampaikan pendapat (3) Kurangnya pengertian pengasuh kepada anak asuh (4) keterbatasan waktu yang dimiliki oleh para pengasuh (5) latar belakang anak asuh yang berbeda-beda. Upaya-upaya yang dilakukan panti asuhan Aisyiyah untuk mengatasi hambatan tersebut adalah (1) Melakukan pendekatan kepada anak asuh dengan penuh kesabaran (2) Memberi motivasi/dorongan mental kepada anak yang memiliki masalah (3) Membantu dan mencarikan solusi dari permasalahan yang sedang dialami oleh anak asuh (4) Memberikan pengawasan yang ekstra kepada anak-anak asuh terutama kepada anak yang sedang mengalami masalah (5) Memberikan nasehat serta masukan sesuai dengan usia dan karakter anak asuh tentang masalah yang dialami (6) Memberikan kasih sayang kepada anak asuh, menganggap mereka adalah keluarganya sendiri (7) Evaluasi dan monitoring tentang perkembangan anak asuh melalui rapat pengurus yang diadakan setiap bulan (8) Menambah dan meningkatkan kualitas pengasuh dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Ketiga, hasil pola asuh berupa perilaku religius, perilaku kemanusiaan, perilaku kebangsaan, perilaku demokrasi dan perilaku keadilan sosial Saran yang diberikan dari hasil penelitian yaitu penambahan kualitas para pengasuh agar gar dalam penyampaian materi pembelajaran, pendekatan dan pemecahan masalah dapat disampaikan secara lebih aktif dan bervariasi sehingga semua problem dapat teratasi dengan baik. Perlu diadakannya suatu pelatihan ataupun seminar-seminar oleh instansi yang berkait agar pengasuh lebih berkualitas. Sarana dan prasaran dilengkapi, sehingga anak asuh dapat berkembang, aktif dan lebih kreatif.

Pengaruh leverage, roi (Return on investment), dan roe (Return on equity) terhadap return sahan pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di bei periode 2005-2008 / Dhika Rosiana

 

ABSTRAK Rosiana, Dhika. 2010. Pengaruh Leverage, ROI (Return On Investment), dan ROE (Return On Equity) terhadap Return Saham pada Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di BEI Periode 2005 – 2008. Skripsi, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Drs. Mugianto, S.E., M.Si., (II) Dr.H. Heri Pratikto, M.Si. Kata Kunci: Sistem Du Pont, Leverage, ROI, ROE, Return Saham Setiap perusahaan dituntut untuk meningkatkan kinerja perusahaannya agar investor tertarik masuk dalam pengembangan usaha. Sumber informasi yang digunakan untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan adalah melalui data keuangan. Data keuangan yang dipergunakan, diambil dari laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut dianalisis dengan mengaplikasikan berbagai teknik atau alat analisis laporan keuangan. Analisis ratio merupakan teknik analisis yang paling sering dipakai dalam praktik. Salah satu cara analisis ratio adalah System Du Pont. Pada penelitian ini, yang akan diteliti adalah pengaruh antara Leverage, ROI, dan ROE terhadap return saham. Rumusan masalah pada penelitian in adalah bagaimana kondisi kinerja keuangan perusahaan Food and Beverages berdasarkan Leverage, ROI, ROE dan return saham pada periode 2005-2008. Selain itu juga apakah ada pengaruh Leverage, ROI, dan ROE, secara simultan dan parsial terhadap return saham. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi kinerja keuangan perusahaan Food and Beverages berdasarkan Leverage, ROI, ROE dan return saham pada periode 2005-2008 serta untuk mengetahui apakah ada pengaruh Leverage, ROI, dan ROE, secara simultan dan parsial terhadap return saham. Jumlah perusahaan Food and Beverages yang dijadikan sampel adalah 14 perusahaan yang diambil dari 19 perusahaan Food and Beverages. Periode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah periode 2005- 2008. Return saham yang diteliti adalah return saham harian. Data pada penelitian ini adalah data kuantitatif. Uji yang dilakukan untuk menganalisis adalah uji regresi berganda serta uji asumsi klasik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa variabel Leverage,ROI, dan ROE , berpengaruh secara secara simultan terhadap return saham. Sedangkan hasil uji secara parsial hanya variabel ROE yang mempunyai pengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini perusahaan diharapkan untuk lebih meningkatkan kinerja keuangan terutama yang berkaitan dengan ROE, sedangkan bagi para investor, diharapkan dalam menganalisis investasinya tetap mempertimbangkan faktor-faktor dari kinerja keuangan perusahaan daripada faktor-faktor diluar kinerja keuangan terutama spekulasi, bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk melibatkan variabel pengukur kinerja keuangan yang lebih banyak, periode waktu yang berbeda dan subyek penelitian yang lebih luas

Pengaruh pemberdayaan karyawan dan iklim organisasi terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (studi pada PT Telkom Indonesia Witel Jatim Selatan Malang) / Ayudesta Wardaningrum

 

Wardaningrum, A. 2014. Pengaruh Pemberdayaan Karyawan dan Iklim Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja (Studi Pada PT Telkom Indonesia Witel Jatim Selatan Malang). Skripsi, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si, (II) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si. Kata Kunci : Pemberdayaan Karyawan, Iklim Organisasi, Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan Terdapat empat variabel penelitian dalam penelitian ini diantaranya Pemberdayaan Karyawan, Iklim Organisasi, Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuh mengetahui pengaruh parsial antara Pemberdayaan Karyawan dan Iklim Organisasi terhadap Kepuasan Kerja, Pemberdayaan Karyawan dan Iklim Organisasi terhadap Kinerja Karyawan dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan. Selain itu, tujuan penelitian ini juga untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung dari keempat variabel tersebut.     Penelitian ini termasuk dalam penelitian asosiatif kualitatif dengan menggunakan teknik analisis Path. Subjek penelitian ini adalah karyawan PT Telkom Indonesia Witel Jatim Selatan Malang yang kemudian sampel diambil diambil dengan menggunakan metode Proportionate Stratified Random Sampling sehingga diperoleh sebesar 116 sampel. Metode pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik wawancara, angket/kuisioner, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberdayaan Karyawan berpengaruh langsung, positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, (2) iklim organisasi berpengaruh langsung, positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, (3) Pemberdayaan karyawan berpengaruh langsung, positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, (4) Iklim organisasi berpengaruh langsung, positif dan tidak signifikan terhadap kinerja karyawan, (5) Kepuasan kerja berpengaruh langsung, positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, dan (6) Pemberdayaan karyawan dan iklim organisasi melalui kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan penelitian ini penulis merekomendasikan agar aspek-aspek dalam variabel bebas diteliti lebih luas, terutama pada variabel iklim organisasi untuk lebih dapat meningkatkan kinerja karyawan.

Pengaruh persepsi siswa tentang lingkungan keluarga dan sekolah terhadap minat berwirausaha siswa Program Keahlian Pemasaran di SMKN 1 Turen / Farida Rahmawati

 

Rahmawati, Farida. 2014. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Lingkungan Keluarga Dan Sekolah Terhadap Minat Berwirausaha Siswa (Studi pada Siswa Progam Keahlian Pemasaran di SMKN 1 Turen). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.H. Agung Winarno, M.M, (II) Dr. Titis Shinta Dhewi, S.P, M.M Kata Kunci: Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Minat Berwirausaha.      Lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah adalah faktor yang mempengaruhi dalam tumbuhnya minat berwirausaha siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga dan sekolah secara parsial terhadap Minat Berwirausaha siswa Progam Keahlian Pemasaran di SMKN 1 Turen.     Penelitian ini merupakan penelitian Ex-post Facto. Jumlah populasi 207 siswa, sampel diteliti menggunakan rumus slovin dengan teknik proportional random sampling, sampel berjumlah 150 siswa. Instrumen penelitian mengunakan skala likert, data diambil menggunakan metode angket . Uji Validitas dan uji reliabilitas instrument angket dilakukan dengan analisis butir menggunakan IBM SPSS 16. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi, yang sebelumnya dilakukan uji analisis meliputi uji normalitas, multikolinieritas, dan heteroskedastitas.     Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan keluarga terhadap Minat Berwirausaha siswa. Artinya siswa Progam Keahlian Pemasaran semakin tinggi pengaruh lingkungan keluarga maka Minat Berwirausaha siswa juga semakin tinggi. Serta, Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan sekolah terhadap Minat Berwirausaha siswa Progam Keahlian Pemasaran. Artinya semakin tinggi pengaruh lingkungan sekolah maka Minat Berwirausaha juga akan semakin tinggi.     Disarankan untuk para siswa meningkatkan minat berwirausahanya, dengan cara melatih kreatifitas yang dimiliki serta berani untuk memulai mewujutkan bakat dan keinginan yang ada pada diri masing-masing siswa. Dan untuk Guru, Hendaknya para Guru senantiasa lebih memperhatikan bakat berwirausaha yang dimiliki masing-masing siswanya saat proses pembelajaran dan memberikan motivasi untuk berwirausaha kepada para siswa. Serta lebih mengembangkan RPP dan mengimplementasikan pembelajaran yang berwawasan kewirausahaan. dengan mengunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskui, di sertai dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif learning team product (TP), team game tournament (TGT), two stay two stray (TSTS), pada saat pembelajaran berlangsung dikelas.

Perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas II MAN Pamekasan yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw dan konvensional / Fatiyatul Jannah

 

Analisis pengaruh nilai tukar rupiah/us$ dan tingkat suku bunga sertifikat bank indonesia (sbi) terhadap indeks harga saham gabungan (ihsg) di bursa efek indonesia (bei) tahun 1998. 1-2008. 12 / Dwi Retno Palupi

 

ABSTRAK Retno,Dwi Palupi.2009. Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/US$ dan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 1998.1-2008.12. Program Studi Keuangan Perbankan. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing(I) Drs. Mardono, M.Si, (II) Dr.Imam Mukhlis,M.S.i Kata Kunci: Nilai Tukar Rupiah/US$, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG merupakan cerminan dari kegiatan pasar modal secara umum. Peningkatan IHSG menunjukkan kondisi pasar modal dalam keadaan bullish dan sebaliknya apabila IHSG mengalami penurunan hal tersebut menunjukkan pasar dalam keadaan bearish. Pergerakan IHSG tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi yang mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi keadaan perekonomian suatu negara. Faktor makroekonomi yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai tukar rupiah/US$ dan Tingkat suku bunga SBI. Namun kebenaran argumen ini masih perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah Nilai Tukar Rupiah/USD dan Tingkat Suku Bunga SBI secara partial dan simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. (2)Apakah faktor dominan yang perpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pengaruh Nilai Tukar Rupiah/USD dan Tingkat Suku Bunga SBI secara partial dan simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. (2) Menganalisis faktor dominan yang perpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan Bank Indonesia. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kausal eksplanatori dengan menggunakan statistic deskriptif dan analisis data menggunakan uji stasioneritas (uji akar-akar unit, uji derajat integrasi), uji ECM (Error Correction Model), uji F, uji t dengan menggunakan program E-views.3 sedangkan uji asumsi klasik (SPSS). Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dalam model time series yang diperoleh melalui studi pustaka. Data yang digunakan adalah data bulanan dalam kurun waktu sebelas tahun yaitu tahun 1998.1 hingga 2008.12. Dari hasil analisis data dengan menggunakan uji akar unit, pada ordo 0 (nol) dari data kurs dan tingkat suku bunga SBI sudah berada pada kondisi stasioner. nilai hitung mutlak ADF dari variable nilai tukar dan tingkat suku bunga yang lebih besar dari nilai kritis mutlak MC Kinnon pada tingkat alpha 10%. Nilai hitung ADF mutlak nilai tukar rupiah sebesar 3,41753 sedangkan nilai suku bunga SBI sebesar 2,752046 dengan nilai kritis mutlak pada tingkat alpha 10% adalah 2,5788. Berbeda dengan variable IHSG yang mempunyai nilai hitung mutlak ADF yang lebih kecil dari nilai kritis mutlak MC Kinnon yaitu 1,266576 sehingga data untuk variable tingkat suku bunga belum stasioner pada ordo 0 (nol). Keadaan tersebut dapat diatasi dengan uji derajat integral atau mengulang kembali uji stasioneritas menggunakan uji ADF pada ordo 1. Pada ordo 1 (satu) semua data berada kondisi stasioner. ordo 0 (nol) dari data nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga SBI dan IHSG sudah berada pada kondisi stasioner. Hal tersebut dapat dilihat pada nilai hitung mutlak ADF dimana nilai hitung mutlak nilai tukar rupiah sebesar 4,989182, tingkat suku bunga SBI sebesar 2,603820 dan IHSG sebesar 8,058165 yang lebih besar dari nilai kritis mutlak MC Kinnon pada tingkat alpha 10% sebesar 2,5788. Berdasarkan dari hasil analisis data yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa (1) secara simultan nilai tukar rupiah/US$ dan tingkat suku bunga SBI secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini terbukti dari besarnya nilai F¬hitung sebesar 7,913970 dengan signifikansi sebesar 0,000002 yang mana tingkat signifikansi tersebut < dari angka signifikan yang ditolerir (0,05) dan nilai R-square sebesar 0,24194. (2) secara parsial nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh secara signifikan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek sebesar 0,5213 dan besarnya signifikansi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang sebesar 0,3650. Sedangkan suku bunga SBI jangka pendek tidak berpengaruh secara signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,467, sedangkan dalam jangka panjang SBI memberikan pengaruh yang signifikan sebesar 0,0485 Berdasarkan dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga SBI dalam jangka panjang merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Adanya pengaruh yang signifikan tersebut terhadap IHSG pada Tahun 1998.1-2008.12 dapat dijadikan sebagai acuan dalam membuat keputusan investasi di Bursa Efek Indonesia pada tahun-tahun berikutnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para investor, pemerintah maupun bagi peneliti selanjutnya. Investor sebaiknya memperhatikan informasi tingkat suku bunga SBI untuk memprediksi IHSG di BEI yang kemudian dapat dijasikan acuan untuk mengambil keputusan apakah akan melalukan investasi dalam bentuk saham atau valuta asing. Pemerintah sebaiknya juga memperhatikan faktor-faktor tingkat suku bunga SBI melalui kebijakan-kebijkan yang diambil, sehingga dapat mendatangkan investor baik domestik maupun asing. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar dan juga dapat dikembangkan secara luas lagi dengan menggunakan faktor-faktor makroekonomi yang lain, selain nilai tukar rupiah/US$ dan Tingkat Suku Bunga SBI.

Penerapan model pembelajaran example non example dengan menggunakan media movie maker pada mata pelajaran kewirausahaan untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari) / Irma Hidayati

 

Hidayati, Irma. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Example Non Example Dengan Menggunakan Media Movie Maker Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa (Studi Pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari). Skripsi. Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sopiah, M.Pd, M.M., (II) Lohana Juariyah, S.E.,M.Si Kata Kunci : Example Non Example, Media Movie Maker, Hasil Belajar Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan siswa dalam proses pembelajaran kewirausahaan di dalam kelas serta untuk mengetahui penerapan model pembelajaran example non example untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari dengan subyek penelitiannya adalah siswa kelas X APK-3. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data berupa observasi, catatan lapangan, wawancara, pelaksanaan tes, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus masing-masing siklus terdiri dari: (1) tahap perencanaan, meliputi: penyusunan model pembelajaran, mempersiapan post test, lembar observasi dan bentuk kelompok belajar siswa, (2) tahap pelaksanaan tindakan, meliputi: pelaksanaan kegiatan dari perencanaan yang dibuat, (3) tahap observasi, yaitu pengamatan dari pelaksanaan tindakan melalui pedoman observasi, dan (4) tahap refleksi. Dari hasil penelitian siklus pertama rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu 80,76% dan siklus kedua 87%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada materi mengelola konflik dapat meningkat melalui penerapan model example non example. Peneliti berharap kepada guru yang mengajar mata pelajaran kewirausahaan agar memvariasikan model pembelajaran yang berbeda pada setiap topik/KD, agar siswa tertarik dalam belajar yang nantinya berdampak pada hasil belajar siswa.

Pengaruh faktor-faktor kepemilikan saham terhadap nilai perusahaan (Studi kasus pada industri real estate dan propeti yang listing di bei periode 2005-2007) / Dewi Tanjung

 

ABSTRAK Tanjung, Dewi. 2009. Pengaruh Faktor–Faktor Kepemilikan Saham Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Kasus pada industri Real Estate dan Properti yang listing di BEI tahun 2005-2007). Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, S.E., M.Si., Ak. (II) Hj. Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan publik, nilai perusahaan. Penelitian ini untuk mengukur nilai perusahaan pada industri Real Estate dan Properti yang listing di BEI pada periode 2005-2007 melalui kepemilikan saham yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan publik. Memilih perusahaan Real Estate disebabkan besarnya potensi jumlah penduduk yang besar dengan rasio pemilikan rumah yang cukup rendah. Sehubungan dengan kondisi yang terjadi dalam industri Real Estate Indonesia seperti saat ini, maka perusahaan tersebut sebenarnya dihadapkan pada suatu keputusan penting dalam bidang keuangan yaitu masalah pendanaan dalam rangka pengembangan usaha untuk memenuhi permintaan dan untuk bersaing dengan industri Real Estate dan Properti lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yaitu struktur kepemilikan saham yang terdiri dari kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan publik terhadap variabel terikat yaitu nilai perusahaan yang diukur dengan menggunakan rasio PBV. Obyek penelitian ini adalah industri Real Estate dan Properti Indonesia yang listing di BEI. Populasi dari penelitian ini sebanyak 30 perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling yang didasarkan pada kriteriakriteria tertentu. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 sampel yang didapatkan dari kombinasi data time series dan data cross section. Periode pengamatan dilakukan antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 dengan sumber data yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Pengujian secara statistik dilakukan dengan menggunakan analisa regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan variabel-variabel bebas yang diteliti tidak mempengaruhi nilai perusahaan dan secara parsial variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan publik tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan penelitian selanjutnya bisa dikembangkan dengan melakukan penambahan terhadap jumlah sampel penelitian serta tahun penelitian. Dengan dilakukan penambahan tersebut diharapkan dapat diperoleh kesimpulan hasil penelitian yang lebih akurat dan memiliki tingkat generalisasi yang lebih tinggi. i

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada standar kompetensi melakukan penyerahan dan pengiriman produk (studi pada siswa kelas XI Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Riska Ayu Norros

 

Norrosyidah, Riska.A. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Standar Kompetensi Melakukan Penyerahan dan Pengiriman Produk (Studi Pada Siswa Kelas XI Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Suwarni, M.Si (2) Drs. Mohammad Hari, M.Si. Kata kunci: Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW), Aktivitas Belajar, Hasil belajar     Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMK Muhammadiyah 2 Malang khususnya kelas XI program keahlian pemasaran pada standar kompetensi melakukan penyerahan dan pengiriman produk diperoleh hasil bahwa siswa kurang aktif selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Masalah tersebut disebabkan oleh adanya anggapan dari siswa bahwa mata pelajaran melakukan penyerahan dan pengiriman produk adalah mata pelajaran yang membosankan karena sebagian besar materinya adalah hafalan. Hal tersebut berakibat pada rendahnya hasil belajar, dimana dari 26 siswa terdapat 10 siswa belum tuntas belajar, dengan nilai rata-rata pada mata pelajaran melakukan penyerahan dan pengiriman produk sebesar 76,6 yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 80.     Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW), aktivitas belajar, hasil belajar, kendala yang ditemukan pada standar kompetensi Melakukan Penyerahan dan Pengiriman Produk dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW). Subyek penelitiannya adalah siswa kelas XI program keahlian Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang sebanyak 26 siswa.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan observer, model pembelajaran TTW berhasil diterapkan karena dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa meningkat dari 72,8% pada siklus I menjadi 81,8% pada siklus II. Sedangkan hasil belajar ranah kognitif yang pada awalnya 76,6% meningkat menjadi 81,8% pada siklus I dengan 20 siswa tuntas mengikuti pembelajaran, dan pada siklus II menjadi 85,8% dengan 24 tuntas.     Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diberikan adalah guru hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) dalam proses pembelajaran di kelas karena model pembelajaran ini mendorong siswa menjadi lebih aktif, mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, tetapi dalam pelaksanaannya juga harus mempertimbangkan alokasi waktu sehingga pencapaian hasil lebih optimal.

Tanggapan pemain sekolah sepakbola (ssb) usia 12-14 tahun terhadap ballnastic (senam bola) dalam permainan sepakbola di kabupaten malang / Agus Budiono

 

ABSTRAK Budiono, Agus. 2009. ”Tanggapan Pemain Sekolah Sepakbola (SSB) Usia 12-14 Tahun Terhadap Ballnastic (Senam Bola) Dalam Permainan Sepakbola Di Kabupaten Malang”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mahmud Yunus, M,Kes., (II) Drs. I Nengah Sudjana, M.Pd. Kata kunci: tanggapan pemain usia 12-14 tahun, ballnastic (senam bola). Banyak orang yang tidak mengerti bagaimana cara berolahraga yang aman dan bermanfaat. Salah satunya adalah dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum beraktivitas olahraga. Seorang pemain disarankan melakukan pemanasan dengan harapan otot-otot tubuhnya tidak tegang. Jadi dengan otot-otot tubuh yang rileks kemungkinan terjadi cedera saat barmain sangat kecil. Dengan pemanasan yang bervariasi dan menyenangkan seorang pemain akan merasa senang. Dari hasil tanya jawab yang peneliti lakukan dengan pemain usia 12-14 tahun dibeberapa sekolah sepakbola (SSB) di Kabupaten Malang yaitu 6 sekolah sepakbola (SSB), pemain malas melakukan pemanasan dengan alasan memberikan alasan materi pemanasan yang diberikan pelatih selama latihan tidak bervariasi hanya melakukan pemanasan tanpa menggunakan bola. Dengan bentuk pemanasan yang monoton dapat membuat pemain menjadi malas-malasan melakukan pemanasan dan saat bermain mudah terjadi cedera. Pada usia dini sangat diperlukan adanya penanaman sikap disiplin terutama saat melakukan aktivitas pemanasan sebelum memulai latihan. Ballnastic (senam bola) merupakan salah satu bentuk pemanasan dengan bola yang menarik dan menyenangkan khususnya untuk pemain usia dini. Untuk itu peneliti tertarik untuk mengetahui tanggapan pemain sekolah sepakbola (SSB) usia 12-14 tahun terhadap ballnastic (senam bola) dalam permainan sepakbola di Kabupaten Malang. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana tanggapan pemain sekolah sepakbola (SSB) usia 12-14 tahun terhadap ballnastic (senam bola) dalam permainan sepakbola di Kabupaten Malang dilihat dari segi pemahaman pemain terhadap ballnastic (senam bola), senang atau tidak dengan ballnastic (senam bola), mudah atau sulit melakukan gerakan ballnastic (senam bola), dan bermanfaat atau tidak ballnastic (senam bola) bagi pemain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemain sekolah sepakbola (SSB) usia 12-14 tahun memahami ballnastic (senam bola), senang dengan ballnastic (senam bola), mudah melakukan gerakan ballnastic (senam bola), dan bermanfaat ballnastic (senam bola) bagi pemain. Penelitian ini dilakukan di 6 sekolah sepakbola (SSB) di Kabupaten Malang, yaitu: SSB Vanris, SSB Sinar Mas, SSB Kanjuruhan, SSB AMS, SSB Sumber Pucung, SSB Taruna Bhakti. Ditinjau dari tujuan penelitian, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya disertai data yang berupa angka. Instrumen yang digunakan berupa instrumen non tes berbentuk angket. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tanggapan pemain dari 6 sekolah sepakbola (SSB) usia 12-14 tahun dengan ballnastic (senam bola) dalam permainan sepakbola di Kabupaten Malang, dapat dejelaskan bahwa total jawaban “sangat setuju” sebanyak 3254 pemain dengan rata-rata prosentasi 61,63%, sedangkan total jawaban “setuju” sebanyak 2008 pemain dengan rata-rata prosentasi 38,03%, sedang total jawaban “tidak setuju” sebanyak 18 pemain dengan prosentasi 0,34%, dan total jawaban “sangat tidak setuju” sebanyak 0 pemain dengan rata-rata prosentasi 0%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 6 sekolah sepakbola (SSB) usia 12-14 tahun menyatakan “sangat setuju” dan memahami bahwa ballnastic (senam bola) adalah rangkaian latihan pemanasan untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tubuh terhadap bola, balnastic (senam bola) adalah bentuk rangkaian latihan pemanasan yang menyenangkan, balnastic (senam bola) adalah bentuk rangkaian latihan pemanasan yang mudah dilakukan, balnastic (senam bola) adalah bentuk rangkaian latihan pemanasan yang bermanfaat.

Pengaruh karakteristik corporate covernance terhadap Effective Taxrate (ETR) (sudi empiris pada BUMN yang terdaftar di BEI periode tahun 2010-2012) / Yohanes Parulian Silitonga

 

Silitonga, Yohanes Parulian. 2014. Pengaruh Karakteristik Corporate Governance Terhadap Effective Tax Rate (Studi empiris Pada BUMN yang Terdaftar di BEI Periode Tahun 2010-2012). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Puji Handayati, S.E., M.M., Ak., (II) Dr. Dyah Aju Wardani, M.Si., Ak . Kata Kunci: Corporate Governance, Kinerja Perusahaan, Effective Tax Rate (ETR), Perusahaan Pemerintah.     Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Karakteristik Corporate governance yang terdiri dari: Komisaris Independen, Komite Audit dan Pemegang Saham Institusional terhadap Effective Tax Rate.     GCG adalah segala hal yang dilakukan oleh perusahaan sebagai usaha untuk meningkatkan atau memberikan nilai tambah bagi perusahaan secara berkesinambungan dengan tidak mengesampingkan kepentingan dari para stakeholder dan juga tetap mematuhi peraturan perundangan dan norma yang berlaku. Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan teknik purpose sampling dalam pengumpulan data. Data diperoleh dari data sekunder laporan keuangan perusahaan pemerintah yang telah diprivatisasi dan listing di BEI selama tahun 2010 hingga tahun 2012. Analisis dilakukan dengan regresi berganda menggunakan program SPSS version 16.00 untuk windows. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa dari tiga hipotesis yang diajukan semua hipotesis diterima. Hipotesis 1 (proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap effective tax rate), hipotesis 2 (ukuran komite audit berpengaruh positif terhadap effective tax rate) dan hipotesis 3 (investor institusional berpengaruh positif terhadap effective tax rate)

Penerapan model pembelajaran latihan inkuiri untuk meningkatkan keteranpilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas vii-3 smpn 1 tanjunganom, nganjuk / Reny Widyawati

 

ABSTRAK Widyawati, Reny. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Latihan Inkuiri untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII-3 SMPN 1 Tanjunganom, Nganjuk. Skripsi Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Suyudi, M.Pd, (II) Drs. Sumarjono. Kata kunci: latihan inkuiri, keterampilan proses sains, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMPN 1 Tanjunganom, Nganjuk, ditemukan bahwa metode yang sering digunakan adalah metode konvensional. Guru jarang sekali mengajak siswa melakukan kegiatan praktikum. Penerapan pembelajaran seperti ini mengakibatkan keterampilan proses sains (mengamati, memprediksi, mengukur, mengklasifikasi, menyimpulkan dan mengkomunikasikan) dan hasil belajar (penguasaan ranah kognitif, penguasaan ranah afektif dan penguasaan ranah psikomotorik) yang ada pada diri siswa rendah yaitu di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas VII-3 SMPN 1 Tanjunganom, Nganjuk dengan menerapkan model pembelajaran Latihan Inkuiri. Model pembelajaran Latihan Inkuiri terdiri atas lima tahap, yaitu: menghadapkan pada masalah, pengumpulan data-verifikasi, pengumpulan data-eksperimentasi, mengorganisasi, merumuskan penjelasan dan menganalasis proses inkuiri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-3 SMPN 1 Tanjunganom, Nganjuk dengan jumlah 35 siswa, yang terdiri atas 20 siswa putri dan 15 siswa putra. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah wujud zat dan massa jenis zat. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi keterampilan proses sains, penguasaan ranah afekfif, penguasaan ranah psikomotor dan keterlaksanaan pembelajaran, serta catatan lapangan. Instrumen tindakan yang digunakan meliputi LKS dan RPP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa secara keseluruhan. Peningkatan keterampilan proses sains pada keterampilan mengamati sebesar 9.05% , keterampilan memprediksi sebesar 8,14%, keterampilan mengukur sebesar 10,52%, keterampilan mengklasifikasi sebesar 2,86%, keterampilan menyimpulkan sebesar 14,29% dan keterampilan mengkomunikasikan sebesar 4,28%. Peningkatan hasil belajar pada ranah afektif sebesar 8,21% dan pada ranah psikomotor sebesar 7,96%. Pada ranah kognitif mengalami penurunan sebesar 5%. Mengenai keterlaksanaan pelaksanaan model pembelajaran Latihan Inkuiri, dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan yaitu sebesar 31,87%.

Pengaruh prestasi belajar dan minat mengikuti Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) terhadap nilai PRAKERIN siswa / Latifah Apriayaningsih

 

Apriyaningsih, Latifah. 2014. Pengaruh Prestasi Belajar dan Minat Mengikuti Praktek Kerja Industri (Prakerin) Terhadap Nilai Prakerin Siswa SMKN 1 Purbaligga. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sopiah, M.Pd, M.M (2) Titis Shinta Dhewi, SP,MM. Kata Kunci: Prestasi Belajar, Minat Mengikuti Prakerin, Nilai Prakerin Prakerin merupakan implementasi dari Pendidikan Sistem Ganda yang dilaksanakan oleh SMK melalui kerjasama degan Du/Di. Hasil pelaksanaan Prakerin tidak terlepas dari bekal teori yang dipelajari siswa selama pembelajaran di Sekolah sebelumnya. Selain prestasi belajar sebelum prakerin beberapa karakteristik siswa juga memiliki pengaruh diantaranya motivasi, bakat, minat, prestasi siswa dan sebagainya.     Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui (1) Pengaruh positif prestasi belajar terhadap nilai prakerin. (2) Pengaruh positif minat mengikuti Prakerin terhadap nilai prakerin. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa SMKN 1 Purbalingga kelas XI jurusan Pemasaran. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa (1) Kondisi prestasi belajar siswa cukup baik, minat mengikuti Prakerin tinggi dan nilai Prakerin siswa baik.(2) Terdapat pengaruh positif Prestasi belajar terhadap nilai Prakerin siswa kelas XI Pemasaran SMKN 1 Purbalingga. (3) Terdapat pengaruh positif minat mengikuti Prakerin terhadap nilai Prakerin siswa kelas XI Pemasaran SMKN 1 Purbalingga.          Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan Bagi siswa, diharapkan senantiasa untuk dapat meningkatkan penguasaan materi produktif yang tercermin dalam prestasi belajar sebelum prakerin dengan cara memunculkan faktor intern belajar yang ada dalam diri. Selain itu siswa diharapkan menumbuhkan minat mengikuti Prakerin terutama pada indikator merasa senang dalam belajar, dengan cara menumbuhkan rasa kebutuhan dalam belajar dan membiasakan diri dengan kegiatan di tempat Prakerin. Bagi guru, hendaknya selalu berusaha untuk terus memaksimalkan proses belajar mengajar selama di sekolah sebagai dasar siswa melakukan prakerin. Salah satu cara untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan melaksanakan tujuh kompetensi pedagogik. Kemudian guru diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan dunia usaha/ industri untuk meningkatkan minat mengikuti Prakerin terumata pada aspek menumbuhkan kesenangan pada siswa selama proses pembelajaran di tempat prakerin. Guru serta atasan di Du/Di dapat memunculkan minat yang sebelumnya sudah ada dalam diri siswa dan mensosialisasikan pentingnya pelaksanaan Prakerin.

Analisis faktor-faktor motivasi Siswa memilih SMKN 1 Pujon / Fitriana Yuliati

 

ABSTRAK Yuliati, Fitriana. 2009. Analisis Faktor-Faktor Motivasional Siswa Memilih SMKN I Pujon. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Sultoni, M. Pd. Pembimbing (II) Dr. Bambang Budi Wiyono, M. Pd. Kata kunci : motivasi siswa, memilih sekolah. Motivasi adalah suatu hal yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan. Tindakan yang dilakukan terdorong dari adanya motivasi untuk mencapai tujuan. Motivasi bisa berasal dari diri seseorang dan luar diri seseorang. Motivasi memilih sekolah adalah hal keinginan untuk memilih sekolah yang disebabkan oleh pihak luar seseorang ataupun diri seseorang tersebut. Berkaitan dengan motivasi memilih sekolah maka penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa sajakah faktor-faktor motivasional siswa memilih SMKN 1 Pujon dan seberapa besar kontribusi faktor-faktor motivasional siswa memilih SMKN 1 Pujon. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif, sedangkan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis faktor eksplotarorik dan analisis deskriptif. Variabel dalam penelitian ini motivasi memilih SMKN 1 Pujon. Populasi penelitian berjumlah 610 siswa sedangkan sampelnya berjumlah 86 siswa dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratifield Proportional Random Sampling dan angket sebagai instrumen penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan pengujian validitas data dan reliabilitas data melalui teknik korelasi product moment, untuk melengkapi penelitian digunakan dokumentasi data dan wawancara. Analisi data diolah dengan menggunakan sistem komputerisasi melalui program SPSS 14.00 for windows release. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 12 faktor baru antara lain: (1) faktor menggapai cita-cita, (2) faktor kondisi fisik sekolah, (3) Faktor lingkungan sekolah, (4) faktor biaya sekolah, (5) faktor kegiatan humas sekolah, (6) faktor rencana diri, (7) faktor lokasi strategis, (8) faktor dukungan orang tua, (9) faktor kesesuaian jurusan, (10) faktor kebahagiaan batin, (11) faktor karyawan yang handal, (12) faktor perhatian orang tua. Dari faktor-faktor tersebut mempunyai kontribusi yang berbeda dalam memotivasi siswa memilih SMKN 1 Pujon antara lain: (1) faktor menggapai cita-cita dan dukungan orang tua memiliki kontribusi yang sangat tinggi dalam motivasional siswa memilih SMKN 1 Pujon. (2) faktor biaya sekolah, kesesuaian jurusan, kebahagiaan batin, karyawan yang handal, dan perhatian orang tua memiliki kontribusi yang tinggi dalam memotivasi siswa memilih SMKN 1 Pujon dan (3) faktor kondisi fisik sekolah, lingkungan sekolah, kegiatan humas sekolah, rencana diri, dan lokasi strategis memiliki kontribusi yang rendah dalam menentukan motivasi siswa memilih SMKN 1 Pujon. Dari hasil penelitian penulis memberikan saran (1) bagi Kepala SMKN 1 Pujon agar memberikan perubahan dan inovasi agar SMKN 1 Pujon bisa lebih diminati oleh masyarakat luas. (2) bagi pimpinan Jurusan Adminstrasi Pendidikan agar memperhatikan hal-hal yang bisa meningkatkan motivasi masyarakat untuk memilih SMKN 1 Pujon. (4) bagi peneliti lain yaitu sebagai tambahan teori untuk menelaah atau meneliti lebih jauh lagi secara rinci tentang identifikasi faktor-faktor yang memotivasi siswa memilih sekolah.

Pengaruh kegiatan ekstrakurikuler penjualan dan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) terhadap hasil belajar mata pelajaran produktif Jurusan Pemasaran di SMKN 1 Turen / Amira Nurlaili Rachma

 

Rachma, A.N. 2014. Pengaruh Kegiatan Ekstrakurikuler Penjualan Dan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran produktif Jurusan pemasaran Di SMKN 1 Turen. Skripsi, Prodi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mohammad Hari, M.Si, (2) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.M. Kata kunci: Kegiatan Ekstrakurikuler Penjualan, Pendidikan Sistem Ganda (PSG), Hasil Belajar Mapel Produktif     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan ekstrakurikuler penjualan dan pendidikan sistem ganda (PSG) terhadap hasil belajar mata pelajaran produktif Jurusan Pemasaran di SMKN 1 Turen.     Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Subjeknya siswa kelas XI PM sejumlah 72 siswa. Data diambil menggunakan metode angket, dokumentasi dan wawancara. Uji validitas instrumen menggunakan korelasi Product Moment dan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach. Uji asumsi klasik menggunakan uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Sedangkan untuk analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis regresi ganda, uji t dan uji F.     Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa kegiatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuriler penjualan termasuk dalam kategori kurang. Kemudian kegiatan siswa dalam pendidikan sistem ganda (PSG) termasuk dalam kategori cukup. Sedangkan hasil belajar mapel produktif termasuk dalam kategori cukup.     Hasil dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh positif dan signifikan kegiatan ekstrakurikuler penjualan terhadap hasil belajar mapel produktif Jurusan Pemasaran di SMKN 1 Turen. (2) Terdapat pengaruh positif dan signifikan pendidikan sistem ganda (PSG) terhadap hasil belajar mapel produktif Jurusan Pemasaran di SMKN 1 Turen. Dan (3) Terdapat pengaruh positif dan signifikan kegiatan ekstrakurikuler penjualan dan pendidikan sistem ganda (PSG) secara simultan terhadap hasil belajar mapel produktif Jurusan Pemasaran di SMKN 1 Turen.     Berdasarkan hasil penelitian diatas, peneliti mengajukan saran untuk kepala sekolah supaya mendukung dan memberikan fasilitas yang maksimal untuk siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler penjualan dan pendidikan sistem ganda (PSG) agar siswa memotivasi dirinya untuk mengikuti kegiatan tersebut dan bisa menambah wawasan siswa sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya.     

Pengaruh kemandirian dan fasilitas belajar yang tersedia di rumah terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang (studi pada siswa kelas X Jurusan Manajemen Niaga SMK PGRI 3 Malang) / Nuke Arlistya Anastasari

 

Anastasari, Nuke Arlistya 2014. Pengaruh Kemandirian Dan Fasilitas Belajar Yang Tersedia Di Rumah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK PGRI 3 Malang (Studi Pada Siswa X Jurusan Manajemen Niaga SMK PGRI 3 Malang). Skripsi. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Suharto, SM, M.Pd, M.M (2) Drs. Djoko Dwi Kusumadjanto, M.Si. Kata Kunci : Kemandirian, Fasilitas Belajar Di Rumah, Prestasi Belajar     Pencapaian suatu keberhasilan belajar mempunyai faktor yang mempengaruhi prestasi yakni kemandirian belajar dan minat belajar. Kemandirian dalam belajar merupakan syarat mutlak bagi siswa guna mencapai hasil yang memuaskan , hal ini dapat dimengerti karena kegiatan belajar merupakan tanggung jawab dari siswa itu sendiri.     Setiap gejala masalah ada yang melatarbelakangi, demikian juga dengan masalah belajar. Misalnya prestasi belajar rendah dapat dilatarbelakangi oleh kecerdasan yang rendah, kurangnya motivasi belajar, kebiasaaan belajar yang kurang baik, gangguan kesehatan, kurangnya sarana belajar, kondisi keluarga kurang mendukung, cara guru mengajar kurang sesuai, materi pelajaran yang sulit, kondisi sekolah tidak baik, fasilitas belajar yang dimiliki dan sebagainya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemandirian dan fasilitas belajar dirumah terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang studi pada siswa kelas X jurusan dan manajemen niaga SMK PGRI 3 Malang Tahun Ajaran 2013/2014.     Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah ex-postfacto. Pelaksanaan penelitiannya mengunakan penelitian sampling. Populasi penelitian ini adalah 126 siswa. Cara pengambilan ukuran sampel mengunakan rumus slovin dengan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh 95 anggota sampel. Teknik pengambilan anggota sampel dilakukan secara acak (Simple Random Sampling) pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket dan dokumentasi. Sebelum pelaksanaan penelitian, terlebih dahulu diadakan uji validitas dan reliabilitas instrumen. Uji validitas mengunakan product moment, sedangkan reliabilitas dihitung dengan Alpha Cronbach. Data penelitian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dilanjutkan dengan pengujian hipotesis yakni uji t dan uji F.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) kemandirian memiliki pengaruh positif dengan prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang tahun pelajaran 2013/2014, dengan nilai ryx1 0,937 dan nilai probabilitas Sig sebesar 0.000, 2) fasilitas belajar dirumah memiliki pengaruh positif dengan prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang tahun pelajaran 2013/2014, dengan nilai ryx2 0,934 dan nilai probabilitas Sig sebesar 0.000, 3) kemandirian dan fasilitas belajar dirumah secara bersama-sama memiliki pengaruh yang positif dengan prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang tahun pelajaran 2013/2014, dengan Ryx2.x2 sebesar 0,968 dan nilai probabilitas Sig. Fchange sebesar 0.000. Saran yang diberikan adalah guru sebagai pendidik diharapkan bisa lebih meningkatkan dan memberikan motivasi kepada siswa untuk menanamkan kemandirian dalam diri mereka terutama pada saat proses belajar mengajar di sekolah ataupun proses belajar di rumah, guru dapat memberikan metode pembelajaran yang bisa mendorong siswa mendapatkan prestasi belajar yang baik.Dan meningkatkan ketersediaan sumber belajar dan fasilitas belajar di sekolah agar siswa melakukan kemandirian belajar lebih baik dan mengeksplorasikan kemampuan dalam diri siswa.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |