Studi survei sarana dan prasarana laboratorium teknik mekanik otomotif di SMK Negeri I Udanawu Kabupaten Blitar / Joko Trilaksono Hadi

 

Kata kunci: Laboratorium, Sarana dan Prasarana, Teknik Mekanik Otomotif Kelengkapan sarana dan prasarana praktik merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan formal terutama sekolah kejuruan (SMK). Ketidak lengkapan sarana dan prasarana memberi dampak pada kurang efektifnya pembelajaran, dan penurunan kualitas skill lulusan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan kesesuain dari sarana dan prasarana laboratorium teknik mekanik otomotif dengan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah, serta usaha-usaha pemenuhan standar sarana dan prasarana yang dilakukan oleh SMK Negeri 1 Udanawu Kabupaten Blitar. Untuk laboratorium teknik mekanik otomotif sendiri, terdiri dari area kerja mesin otomotif, area kerja chasis dan pemindah tenaga, area kerja kelistrikan otomotif, dan juga ruang penyimpanan dan instruktur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survey, kuantitatif dan kualitatif dengan analisis deskriptif menggunakan skala bertingkat (rating scale). Untuk tingkat kesesuaian sarana dari laboratorium teknik mekanik otomotif masing-masing area sebagai berikut area kerja mesin otomotif tingkat kesesuaiannya hanya 54,6%, area kerja chasis dan pemindah tenaga 47,7%, dan area kerja kelistrikan otomotif mencapai 60,6%, sedangkan untuk ruang penyimpanan dan instruktur hanya 36 %. Sedangkan dengan prasarana ruang pada masing-masing area kerja laboratorium teknik mekanik otomotif tersebut yaitu pada area kerja mesin otomotif tingkat kesesuaiannya hanya 25%, area kerja chasis dan pemindah tenaga 28,7%, dan area kerja kelistrikan otomotif juga hanya 25%, sedangkan untuk ruang penyimpanan dan instruktur mencapai 67,5 %. Sekolah melakukan berbagai usaha untuk memenuhi standar sarana dan prasarana yang ada khususnya laboratorium teknik mekanik otomotif, usaha- usaha tersebut meliputi pengajuan proposal dana ke pemerintah pusat maupun daerah, guru-guru diminta untuk mencatat kekurangan sarana yang dibutuhkan sampai menggerakan siswa dalam pembuatan trainer-trainer untuk praktikum. Berdasarkan hasil penelitian diketahui sarana dan prasarana laboratorium teknik mekanik otomotif masih belum mencapai angka 100%. Hal ini dikarenakan sekolah masih belum terlalu lama berdiri sehingga pemenuhan sarana dan prasarana masih dalam tahap proses. Untuk itu dapat disarankan bagi kepala sekolah dan pihak jurusan otomotif untuk saling berkomunikasi dan saling membantu agar sarana dan prasarana khususnya laboratorium teknik mekanik otomotif segera dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan pemerintah melalui BSNP maupun Permendiknas No 40 Tahun 2008.

Pengaruh kinerja keuangan dengan model Altman (z-score) dan kebijakan dividen terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2009 / Winda Maharani

 

Kata Kunci: Revised Z-Score, Dividen Payout Ratio (DPR), Dividen Per Share (DPS), Dividen Yield (DY), Harga Saham Laporan keuangan merupakan sarana utama informasi keuangan yang dikomunikasikan kepada pihak di luar perusahaan, yang berguna untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit. Sesuai dengan signaling theory dimana informasi yang dipublikasikan akan mempengaruhi pengambilan keputusan khususnya investasi, dalam pasar efisien pengaruh tersebut dapat dilihat salah satunya dari perubahan harga saham. Analisis laporan keuangan bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan serta untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh perusahaan dilihat dari kebijakan dividen yang diambil perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pengaruh kinerja keuangan dengan model Altman Z-Score terhadap harga saham, dan (2) pengaruh kebijakan dividen dengan proksi DPR, DPS dan DY terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2009. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2006 sampai tahun 2009 sebanyak 164 perusahaan. Pengambilan sampel didasarkan pada metode purposive sampling. Jumlah sampel yang terpilih sebanyak 11 perusahaan, untuk memenuhi syarat pengujian data maka digunakan teknik pooling data sehingga diperoleh sampel sebanyak 44 sampel. Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi yaitu laporan keuangan dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan uji statistik regresi linier sederhana dengan alat bantu program SPSS (Statistic Package for Social Science) versi 15. Hasil pengujian ini membuktikan bahwa variabel kinerja keuangan dengan proksi revised z-score secara individual berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan kebijakan dividen hanya variabel DPS yang memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan variabel DPR dan DY tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2009. Berdasarkan hasil temuan tersebut, penelitian selanjutnya disarankan dapat menambah variabel lain yang diduga mempengaruhi perubahan harga saham selain kondisi keuangan perusahaan dengan proksi revised z-score dan kebijakan dividen, misalnya seperti nilai tukar rupiah atau kurs, inflasi, tingkat suku bunga dan faktor non-ekonomis seperti kondisi sosial politik, selain itu disarankan untuk memperluas sektor sampel tidak hanya terbatas pada perusahaan manufaktur saja sehingga hasil penelitian bisa benar-benar mencerminkan kondisi semua perusahaan yang ada di Indonesia dan hasil bisa digeneralisir.

Pelatihan pembuatan media promosi sederhana dan pembuatan desain web untuk UPT Pelatihan Kesehatan MAsyarakat Murnajati Lawang / Mahendra Purna S. ... [et al.]

 

Proyek Kreatifitas Masyarakat Mandiri dilaksanakan di sebuah instansi pelatihan untuk kesehatan yaitu UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati Lawang. Pelaksanaan kegiatan ini adalah pendampingan peserta pelatihan pada sub materi tentang perancangan iklan media cetak berupa poster iklan layanan masyarakat, banner dan poster, dan leaflet. Adanya pendampingan ini bertujuan membantu proses pelatihan mulai dari proses sampai pada hasil. Peserta pelatihan adalah petugas penyuluh kesehatan yang secara keseluruhan masih awam atau belum mengenal tentang software aplikasi dalam perancangan desain cetak tersebut. Namun UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati sebagai lembaga penyelenggara pelatihan kesehatan di wilayah Jawa Timur belum memiliki media informasi berupa data yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat dan khususnya oleh petugas kesehatan di lingkup Jawa Timur sendiri. Maka dari permasalahan tersebut, kami menggunakan perancangan web design online sebagai proyek utama selain pendampingan peserta pada pelatihan. Dalam hal ini, tujuan khusus dari Proyek Kreatifitas Masyarakat Mandiri (PKMM) ialah memberikan pendampingan kepada peserta pelatihan dalam membuat media promosi sederhana dengan program photoshop dan coreldraw mulai pada tahap pengenalan, perencanaan, evaluasi sampai pada tahap eksekusi. Selain itu juga perancangan desain web UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati Lawang untuk memudahkan akses informasi terhadap masyarakat melalui internet. Ruang lingkup dalam hal ini merupakan batasan dalam proses kegiatan PKMM yaitu melakukan pendampingan pada peserta pelatihan berdasar basic ilmu desain yang dimiliki mahasiswa. Dalam hal ini, proses pelatihan terbatas pada penggunaan dan aplikasi program desain corel draw dan photoshop saja.

Membangun PC router mikrotik untuk manajemen akses internet pada UPT SDN Bugul Kidul 2 PAsuruan / Fauzia Mulyati

 

Internet merupakan salah satu sarana akses jaringan skala internasional, tanpa ada batasan waktu dan wilayah yang sudah berkembang di segala bidang antara lain bidang pendidikan. Peredaran situs porno pun juga semakin berkembang, hal ini berdampak negatif jika siswa mengakses situs porno tersebut, maka diperlukan suatu sistem yang dapat membatasi akses porno baik browsing maupun searching. Disamping itu untuk mengkoneksikan internet pada setiap PC di laboratorium komputer UPT SDN Bugul Kidul 2 Pasuruan dan manajemen bandwidth agar bandwidth yang diterima setiap client sama rata. Upaya untukmenanggulangi permasalahan di atas adalah Membangun PC Router Mikrotik untuk Managemen Internet Pada UPT SDN Bugul Kidul 2 Pasuruan yang dapat membatasi akses situs porno, dan membagi bandwidth secara merata PC Router Mikrotik merupakan alternatif untuk menekan biaya pembelian router pabrikan seperti Cisco, Juniper dan BayNetwork yang harganyamasih mahal. Digunakannya mikrotik sebagai sistem operasi karena lisensinya murah, tidakmembutuhkan spesifikasi hardware yang besar, instalasi tidak rumit dan administrasinya mudah, bisa diakses melalui console, Webbox (web browser) dan Winbox (windows application). Perancangan PC router berbasis mikrotik ini diawali instalasi mikrotik, dilanjutkan konfigurasi IP address, konfigurasi bandwidth management menggunakan tipe PCQ (Peer Connection Queue) sehingga bandwidth speedy sebesar 285,50 kbps dibagi secara merata setiap client dari 3 client yang aktif, kemudian mengkonfigurasi mikrotik sebagai pusat filterisasi situs porno dengan cara memasukkan alamat situs dan keyword yang mengandung unsur pornografi/pornoaksi pada web proxy access list. Dari hasil pengujian PC router berbasis mikrotik secara keseluruhan diperoleh hasil bahwa piranti sesuai dengan rancangan, yaitu: (1) Membagi bandwidth internet secara merata sesuai dengan jumlah client yang sedang aktif, dan (2) Membatasi akses situs porno berdasarkan daftar blacklist situs porno. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sebagai berikut: (1) Sistem manajemen bandwidth tipe PCQ (Peer Connection Queue) membagi bandwidth internet sama rata sesuai dengan jumlah client yang aktif, bandwidth speedy sebesar 285,50 kbps dibagi 3 client sehingga setiap client mendapatkan bandwidth rata-rata 274 kbps (2) Sistem filterisasi situs porno membatasi pencarian informasi baik menggunakan alamat situs maupun keyword yang terdaftar di blacklist sehingga jika siswa mengakses situs porno muncul keterangan access denied. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan: (1) Memperbarui daftar filterisasi alamat situs dan keyword seiring dengan perkembangan dari situs porno tersebut, (2) Perlu dilakukan upgrade mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router.

Manajemen WAN ( Wide Area Network) menggunakan router mikrotik di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan / Dayinta Nawa Oktavia

 

ABSTRAK Krisna W, Aditya. 2010. Perancangan Komik Digital “Mujizat Isa Almasih” Dalam Injil Lukas Untuk Anak Remaja Awal. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd. Kata kunci: perancangan, komik digital, Mujizat Isa Almasih dalam Injil Lukas, remaja awal. Anak remaja awal tertarik dengan bacaan komik dan tehnologi komputer. Diharapkan dengan kemajuan media tersebut anak remaja mampu mengaplikasikan untuk meningkatkan moral dan iman mereka. Untuk memenuhi keperluan tersebut, perlu media yang dapat menggabungkan komik dengan tehnologi komputer tentang cerita rohani yang menarik untuk remaja awal berupa media komik digital bernuansa kerohanian yang diambil dari Alkitab tentang mujizat Isa Almasih dalam Injil Lukas. Tujuan perancangan ini ialah menghasilkan komik digital bernuansa religi tentang mujizat Isa Almasih dalam Injil Lukas. Komik tersebut ditujukan kepada anak remaja awal dirancang dengan menggunakan software grafis sebagai visualisasi yang mudah dioperasikan. Perancangan ini dikembangkan berdasarkan model prosedural. Agar produk perancangan efektif, proses perancangan dikembangkan berdasarkan cerita pada Alkitab dengan secara konseptual maupun empirik berdasar dari data pustaka maupun data lapangan yang dirancang berdasarkan rumusan konsep perancangan untuk menghasilkan sebuah cerita yang benar-benar suatu mujizat yang ajaib yang divisualisasikan dalam bentuk digital. Proses finishing visual perancangan komik digital menggunakan software adobe photoshop 8, corel draw X3, dan macromedia flash 8. Perancangan ini menghasilkan 2 cerita yang dikemas menjadi satu komik berserta media pendukungnya. Produk utama berupa komik digital, disajikan 2 cerita dalam satu komik masing-masing berjudul (a) angin ribut diredakan (b) perwira Kapernaum. Selain itu dihasilkan beberapa produk pendukung berupa (a) poster (b) banner (c) pembatas buku (d) stiker, (e) mousepad, dan (f) pin. Secara teoritik hasil perancangan ini efektif karena telah dirancang dengan menggunakan pendekatan ilmiah sesuai dengan metodologi perancangan yang lazim. Meskipun demikian dibutuhkan ujicoba keefektifannya agar diperoleh hasil empirik sesuai dengan kebutuhanan fungsinya.

Analisis biaya ekstra belanja peserta didik di SDN Girimoyo 01 Karangploso / Sinta Arianingtias

 

ABSTRAK Arianingtias, Sinta. 2009. Analisis Biaya Ekstra Belanja Peserta Didik di SDN Girimoyo 01 Karangploso. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Bambang Setyadin, M. Pd, (II) Drs. H. Sultoni, M. Pd. Kata Kunci: analisis biaya, ekstra belanja, peserta didik Sekolah adalah rumah kedua dari para peserta didik, oleh karena itu sekolah mempunyai peranan yang sangat penting bagi peserta didik. Selain tempat belajar, sekolah juga merupakan tempat untuk bersosialisasi para peserta didik. Sekolah menjadi sentra utama manajemen pada tingkat strategis dan operasional dalam kerangka penyelenggaraan program pendidikan dan pembelajaran (Danim Sudarwan, 2006:30). Orang tua setiap harinya mengeluarkan biaya untuk ekstra belanja anak dalam arti untuk jajan anaknya. Biaya atau uang yang diberikan orang tuanya tersebut dibelikan makanan, minuman ataupun mainan yang mereka inginkan. Uang saku yang diberikan orang tuanya kadang kala masih kurang untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Besar biaya ekstra belanja yang dikeluarkan orangtua untuk peserta didik dalam satu tahun; (2) Besar biaya keseluruhan ekstra belanja yang dikeluarkan orangtua untuk peserta didik dalam satu tahun; (3) Besar rata-rata biaya ekstra belanja yang dikeluarkan orangtua untuk peserta didik dalam satu tahun; (4) Menemukan perbedaan biaya belanja ekstra di antara variasi jenis kelamin, usia, dan tingkatan kelas peserta didik di SDN Girimoyo 01 Karangploso. Rancangan penelitian ini adalah deskripsi yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu fenomena pada waktu penelitian dilakukan. Populasi penelitian siswa SDN Girimoyo 01 Karangploso yang berjumlah 158 siswa, sedangkan untuk menentukan besarnya sampel penelitian digunakan rumus Sample Size Formula Slovin, dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh sampel penelitian berjumlah Kelas I sebanyak 28 siswa dari 47 siswa, untuk Kelas II 26 siswa dari 45 siswa, untuk Kelas III 27 siswa 46 siswa, untuk Kelas IV 28 siswa dari 47 siswa, untuk Kelas V 27 siswa dari 46 siswa, dan untuk Kelas VI 22 siswa dari 37 siswa. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik angket. Analisis datanya menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa rata-rata besar biaya yang dikeluarkan oleh orangtua dalam 1 tahun adalah Rp 115.275.00,-. Sedangkan, rata-rata besar biaya keseluruhan ekstra belanja yang dikeluarkan oleh orangtua dalam 1 tahun adalah Rp 123.220.200,-. Selain itu hasil penelitian yang lain adalah tidak ada perbedaan yang signifikan biaya ekstra belanja peserta didik berdasarkan variasi jenis kelamin. Sedangkan dilihat dari segi tingkatan kelas, ada perbedaan yang signifikan biaya ekstra belanja peserta didik. Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka implikasi penelitian ini adalah perlu upaya kontrol uang saku yang dibelanjakan peserta didikdi sekolah, sekaligus perlu usaha sekolah mengelola uang yang beredar di sekolah secara tepat bagi kemaslahatan bersama. Berdasarkan dari implikasi tersebut, maka disarankan kepada agar dilakukan pengambangan penelitian jenjang yang sama, akan tetapi sumber datanya yang lebih luas, misalnya siswa, penjual di koperasi, teman peserta didik, guru, dan pegawai TU (Tata Usaha).

Peningkatkan kemampuan berbicara melalui kegiatan bermain peran siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Srengat Kabupaten Blitar dengan menggunakan media rekaman iklan televisi / Radin Indra Pradikta

 

Keterampilan berbicara diajarkan di sekolah diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi secara individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari siswa tidak hanya sebagai individu, tetapi juga bagian dalam kelompok, untuk itulah siswa juga harus berkomunikasi dalam kelompok. Salah satu standar kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran berbicara adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran. Pernyataan tersebut mengacu pada aspek berbicara yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran yakni bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara melalui kegiatan bermain peran pada aspek dialog, ekspresi, vokal dan penghayatan. Dalam hal ini, peneliti membuat strategi dalam pembelajaran berbicara serta memperbaiki beberapa kesalahan dalam strategi pembelajaran ini melalui proses pembelajaran. Dalam meningkatkan kemampuan berbicara melalui kegiatan bermain peran dengan menggunakan media rekaman iklan televisi ini melalui dua tahap, yaitu tahap pembuatan naskah dan tahap pementasan naskah. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan media rekaman iklan televisi untuk meningkatkan kemampuan berbicara melalui kegiatan bermain peran. Beberapa langkah yang dilakukan oleh siswa adalah (1) menyaksikan rekaman iklan televisi, (2) membentuk kelompok, (3) membuat naskah iklan televisi, (4) penyuntingan naskah, dan (5) mementaskan naskah iklan televisi. Rincian prosedur penelitian ini meliputi (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) observasi dan evaluasi, dan (5) refleksi. Data dari penelitian ini adalah hasil tindakan pembelajaran berupa data proses dan data hasil. Data proses berupa aktifitas siswa selama pembelajaran bermain peran dengan menggunakan media rekaman iklan televisi. Data hasil berupa data yang berupa pementasan sederhana dari naskah yang ditulis siswa dalam bentuk rubrik penilaian. Sumber data untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Srengat. Data proses diperoleh dari hasil observasi dan catatan lapangan. Data hasil diperoleh dengan mengukur kemampuan berbicara siswa dalam bermain peran pada aspek dialog, ekspresi, vokal dan penghayatan berdasarkan rubrik penilaian yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media rekaman iklan televisi dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam bermain peran pada aspek dialog, ekspresi, vokal dan penghayatan. Penggunaan media rekaman iklan televisi cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penilaian pementasan siswa berdasarkan aspek dialog, ekspresi, vokal dan penghayatan. Prosentase hasil ketuntasan siswa diperoleh dari jumlah siswa yang tuntas belajar dibagi dengan jumlah siswa yang belum tuntas belajar dikalikan 100%. Pada tahap pratindakan, siswa yang tuntas belajar sebanyak 8 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 30 siswa. Prosentase ketuntasannya adalah 21%. Pada tahap tindakan siklus I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 16 siswa. Prosentase ketuntasannya adalah 58%. Pada tahap tindakan siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 30 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 8 siswa. Prosentase ketuntasannya adalah 79%. Peningkatan kemampuan berbicara siswa pada pratindakan meningkat setelah diberikan tindakan dengan menggunakan dua tahap, yaitu tahap membuat naskah iklan televisi dan tahap pementasan pada siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar selektif dalam memilih media rekaman televisi. Pemilihan media rekaman televisi yang kurang tepat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Pada tahap penulisan naskah perlu diadakan evaluasi secara mendalam agar kualitas naskahnya semakin baik. Dalam pembelajaran berbicara di kelas, disarankan kepada guru untuk mengunakan media pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa.

Manajemen peningkatan profesionalisme guru: Studi kasus di SDN Percobaan I Malang / Indah Tri Estanty

 

Guru merupakan pelaksana lapangan yang keberadaannya sangat menentukan keberhasilan program pendidikan di sekolah. Keberadaan guru profesional akan memberikan dukungan maksimal terhadap semua komponen sekolah misalnya materi, media, sarana dan prasarana, ataupun dana pendidikan. Agar menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas profesionalisme guru sangat diperlukan, oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru yang dilaksanakan secara maksimal tentunya harus melalui pengelolaan yang sistematis dalam arti harus melalui perencanaan yang matang, pelaksanaan yang taat asas dan dievaluasi secara objektif. Oleh karena itu, peran manajemen dalam peningkatan profesionalisme guru perlu dilaksanakan dengan sebaik mungkin sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Fokus penelitian secara umum adalah bagaimana manajemen peningkatan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang. Fokus rinci dan tujuan penelitian memaparkan tentang (1) bagaimanakah perencanaan yang dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang; (2) bagaimanakah pelaksanaan peningkatan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang; (3) bagaimanakah evaluasi peningkatan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang; (4) apa sajakah faktor penunjang upaya peningkatan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang; (5) apa sajakah faktor penghambat upaya peningkatan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian ini terletak di Jalan Magelang No.4 Malang. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian kepala sekolah, wakil kepala sekolah, bendahara sekolah, bendahara komite sekolah serta guru-guru SDN Percobaan I Malang baik Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataupun Guru Tidak Tetap (GTT). Data diperoleh melalui wawancara, observasi serta dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut diorganisasikan, direduksi apabila tidak relevan dengan fokus penelitian, dianalisis guna menyusun dan mengabstraksikan, serta menyimpulkan temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan: (1) memperpanjang kehadiran peneliti di lapangan; (2) triangulasi sumber dan metode; (3) member check; (4) berusaha menyajikan hasil penelitian secara lengkap dan rinci; (5) pengumpulan data dengan tidak mengandalkan kepada pihak lain; dan (6) pemeriksaan oleh auditor (audit trail). Hasil penelitian ini meliputi (1) perencanaan peningkatan profesionalisme guru yang terdiri dari (a) pengadaan tenaga guru yang kompeten dan berkualitas; ii (b) mengidentifikasi masalah guru; (c) menganalisis masalah yang sudah teridentifikasi; (d) menentukan alternatif pemecahan, kepala sekolah membentuk forum kepanitiaan. Kegiatan-kegiatan yang dijadikan sebagai alternatif pemecahan masalah tertuang pada program kerja sekolah dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). Orangtua siswa sebagai penyandang dana dilibatkan untuk menjaga keterbukaan dan transparansi. (2) pelaksanaan peningkatan profesionalisme guru di SDN Percobaan I Malang dilakukan dengan menggunakan teknik supervisi individual yang meliputi kunjungan kelas, percakapan pribadi dan mengikutsertakan guru-guru untuk mengikuti program sertifikasi serta menggunakan teknik supervisi kelompok yang meliputi kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) mini, rapat guru, gugus sekolah, pelatihan komputer dan Teknologi Informasi (TI), serta pelatihan Bahasa Inggris. (3) evaluasi peningkatan profesionalisme guru SDN Percobaan I Malang dilaksanakan oleh (a) kepala sekolah dengan mengawasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, memberikan self evaluation cheklist, menilai guru, mencocokkan hasil penilaian dari guru dengan penilaian dan hasil pengamatan kepala sekolah selama ini; (b) orangtua pada akhir semester diundang sekolah untuk memberikan masukan sekaligus mengevaluasi kinerja guru dan program sekolah (c) hasil evaluasi: kegiatan dilaksanakan sesuai perencanaan, guru mampu menerapkan pembelajaran menarik dan menjalin kekeluargaan, kebersamaan, dan keterbukaan dalam kehidupan sehari-hari serta kepala sekolah berperan sebagai motivator bagi guru; (d) setelah mengetahui hasil, penentuan tindak lanjut didiskusikan oleh kepala sekolah, guru dan orangtua siswa. (4) faktor yangmenjadi penunjang berasal dari (a) guru yang sudah memiliki dedikasi tinggi; (b) sarana dan prasarana sekolah yang memadai; (c) peran orangtua siswa; (d) kepemimpinaan kepala sekolah. Faktor penunjang diberdayakan dengan menjaga hubungan harmonis dengan seluruh stakeholders sekolah. (5) faktor yang menjadi penghambat berasal dari (a) perbedaan kebutuhan dan permasalahan guru; (b) sebagian guru cepat merasa puas dengan keadaan yang dimiliki; (c) nara sumber tidak kompeten dalam menyampaikan materi pada pelaksanaan seminar. lokakarya atau semiloka; (d) keterbatasan waktu dalam mengajar; (e) biaya pendidikan bagi guru. Hambatan diatasi dengan mengambil tema yang menjadi kebutuhan mayoritas guru, membicarakan program dengan sebaik mungkin, memberikan motivasi dan pendekatan persuasi bagi guru, serta menambah jam pelajaran dan latihan soal. Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat disarankan bagi: (1) Kepala SDN Percobaan I Malang untuk mengefektifkan gugus sekolah secara optimal serta mengembangkan teknik supervisi bagi guru SDN Percobaan I Malang; (2) guru SDN Percobaan I Malang untuk tetap mengembangkan dan meningkatkan potensi yang dimiliki, tidak merasa cepat puas dengan keadaan yang dimiliki saat ini, serta turut mengembangkan teknik supervisi di SDN Percobaan I Malang; (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang agar menginformasikan hasil penelitian ini kepada mahasiswa, sehingga dapat menginspirasi mahasiswa untuk meneliti hal yang berkaitan dengan profesionalisme guru dengan lebih baik; (4) peneliti lain untuk melakukan penelitian lanjutan misalnya peningkatan profesionalisme pendidik dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia unggul, atau pelaksanaan supervisi pendidikan sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru.

Membangun wireless local area network (WLAN) menggunakan router mikrotik di SMP Negeri 2 Cerme / Muchibbin, Laili Islakha

 

Jaringan Komputer pada SMP N 2 Cerme pada struktur jaringannya masih membutuhkan penyempurnaan-penyempurnaan dari segi teknis dan non teknis. Secara teknis, jaringan komputer masih dalam tahap pembangunan Local Area Network (LAN) yang menggunakan standart pengalamatan komputer (Subnetting) yang sederhana. Konektifitas komputer satu dengan yang lain masih terbatas pada hubungan antar komputer dan belum mencapai taraf kemudahan dalam koneksi ke jaringan WLAN Router merupakan salah satu media pada jaringan komputer yang bisa difungsikan sebagai penghubung antara jaringan komputer yang satu dengan jaringan komputer yang lain, seperti misalnya jaringan lokal (LAN) dan Jaringan WLAN (Wireless Local Area) yang ada pada setiap ruangan kelas di SMP Negeri 2 Cerme. Sehingga dengan menggunakan media router dapat mempermudah komunikasi antar jaringan lokal tersebut, baik dengan LAN maupun WLAN . Selain itu menggunakan router merupakan salah satu cara untuk menjaga kestabilan dan keamanan pada sistem jaringan komputer yang ada di SMP Negeri 2 Cerme . Dengan adanya jaringan WLAN di SMP Negeri 2 Cerme menggunakan router mikrotik maka akan dapat membantu proses dalam pembelajaran. Dalam jaringan WLAN, mikrotik merupakan sistem operasi dan perangkat lunak yang digunakan untuk menjadikan komputer agar menjadi router network yang handal, mencakup berbagai fitur yang lengkap untuk network dan wireless. Berdasarkan perancangan dan implementasi Wireless Local Area Network dengan menggunakan router mikrotik diperoleh hasil setiap ruangan dan kelas bisa terkoneksi jaringan internet sehingga dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut. Dengan adanya hal tersebut, maka akan memberikan peluang atau kesempatan bagi pengembang sistem untuk melakukan pengembangan sistem lanjutan yang menuju ke arah yang lebih baik. Pemanfaatan wireless network atau WLAN dapat digunakan sebagai media pembelajaran di SMP Negeri 2 Cerme. Router yang dibangun pada SMP Negeri 2 Cerme berfungsi dengan baik,100 % sesuai dengan rencana yang diterapkan

Penerapan group investigation untuk meningkatkan pemahaman matematika siswa kelas VIII pada materi bangun ruang di MTs Ma'arif Udanawu Blitar / Fathul Niam

 

Niam, Fathul. 2014. Penerapan Group Investigation Untuk Meningkatkan Pemahaman Matematika Siswa Kelas VIII Pada Materi Bangun Ruang Di MTs Ma’arif Udanawu Blitar. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd. M.A, (II) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd. Kata Kunci : Group Investigation, pemahaman matematika, bangun ruang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan group investigation untuk meningkatkan pemahaman matematika siswa kelas VIII pada materi bangun ruang di MTs Ma’arif Udanawu Blitar. Penerapan group investigation dalam penelitian ini menggunakan enam langkah yaitu: (1) identifikasi topik dan pembentukan kelompok, (2) perencanaan tugas, (3) pelaksanaan investigasi, (4) penyiapan laporan akhir, (5) presentasi hasil kelompok, (6) evaluasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas(PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII MTs Ma’arif Udanawu Blitar berjumlah 40 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 30 siswa perempuan. Dalam penelitian ini ada beberapa tahapan yang dilaksanakan yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa penerapan group investigation yang mampu meningkatkan pemahaman matematika siswa memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) guru selalu mengadakan tanya jawab tentang materi prasyarat yang dimiliki siswa sampai pemahaman mereka tentang materi prasyarat dipandang memadai untuk melakukan investigasi, (2) guru harus selalu berkeliling ke setiap kelompok dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami masalah secara individual, (3) guru menata posisi tempat duduk siswa dalam setiap pertemuan. . Saran yang dapat dikemukakan untuk pembelajaran berikutnya antara lain: (1) bagi guru yang menerapkan group investigation sebaiknya meyakinkan betul bahwa siswa memiliki materi prasyarat yang memadai, (2) guru harus aktif berkeliling, memantau kemajuan belajar siswanya, dan memberikan bantuan yang diperlukan sesegera mungkin, (3) guru harus berupaya agar dikesankan memberikan perhatian yang adil kepada siswanya. Pengaturan tempat duduk adalah salah satu di antaranya. Tetapi, guru juga perlu mencari strategi yang lain yang menjamin rasa nyaman karena siswa mendapatkan perhatian yang sama dari gurunya.

Harapan dunia usaha/industri dan SMK terhadap soft skill lulusan jurusan Teknik Mesin FT UM / Muhammad Sulton

 

ABSTRAK Sulton, Muhammad. 2009. Harapan Dunia Usaha/Industri dan SMK Terhadap Soft Skill Lulusan Jurusan Teknik Mesin FT UM. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd, (2) Drs. H. Sunomo, M.Pd. Kata Kunci: harapan, dunia usaha, SMK, soft skill Saat ini perguruan tinggi tengah dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya mempunyai kemampuan keilmuan (hard skills) yang memadai, tetapi juga diharuskan mempunyai kemampuan kepribadian (soft skills) yang mumpuni. Jika pada tahun 1990-an serapan tenaga kerja oleh perusahaan berorientasi pada tangible asset saat ini berubah menjadi intangible asset. Akibat perubahan ini tentunya berdampak pada lulusan perguruan tinggi yang akan memasuki pasar kerja. Orientasi mutu lulusan perguruan tinggi yang selama ini hanya berorientasi pada hard skill kini mengalami perubahan dengan dimasukkannya unsur pengembangan soft skill. Soft skill adalah kecakapan fundamental (kecakapan untuk maju dalam pekerjaan: mengelola informasi, berpikir dan menyelesaikan masalah); kecakapan intrapersonal (keyakinan diri dan kemampuan personal dalam mengatur diri sendiri); dan kecakapan interpersonal (kesadaran sosial dan kemampuan sosial dalam berhubungan dengan orang lain) yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk terus berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan harapan dunia usaha/ industri (DU/DI) dan mendeskripsikan harapan SMK terhadap soft skill lulusan Jurusan Teknik Mesin FT UM. Penelitian ini dijalankan dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif, dan dianalisis dengan statistik deskriptif. Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik angket. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa harapan pimpinan DU/DI atau Pusdiklat mengharapkan lulusan Jurusan Teknik Mesin FT UM memiliki soft skill yang sangat tinggi sebesar (66,67%) dan tinggi (33,33%), sedangkan harapan SMK mengharapkan lulusan Jurusan Teknik Mesin FT UM memiliki soft skill yang sangat tinggi sebesar (62,50%) dan tinggi (37,50%). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar penelitian lebih lanjut misalnya tanggapan dunia usaha/industri dan SMK terhadap soft skill lulusan Jurusan Teknik Mesin FT UM.

Pengaruh model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) terhadap hasil belajar geografi kelas X di SMA Negeri 1 Kesamben Blitar / Rosita Tri Rahayu

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining, Hasil Belajar Geografi Penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran akan berdampak pada hasil belajar geografi siswa secara maksimal khususnya pada materi hidrosfer pokok bahasan perairan darat. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan penguasaan materi pembelajaran secara maksimal pada siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining. Model pembelajaran ini akan membuat siswa aktif sebagai fasilitator yang bertugas menjelaskan materi pembelajaran pada teman satu kelompok sedangkan teman yang lain dalam kelompok dapat bertanya dan memberikan pendapat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kesamben Blitar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Quasy Eksperiment (eksperimen semu) dengan mengambil subjek penelitian berjumlah dua kelas yaitu kelas X-5 sebagai kelas kontrol dan kelas X-7 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian yang terdiri dari 6 soal untuk pretest dan posttest. Teknik analisis menggunakan uji t tidak berpasangan (Independent Sample t-Test) dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Berdasarkan hasil analisis uji t didapatkan nilai probabilitas (sig 2-tailed) sebesar 0,037 sehingga nilai probabilitas <0,05 dan karena rata-rata nilai hasil belajar geografi kelas ekperimen (32,79) lebih besar daripada kelas kontrol (27,33) maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar geografi kelas X di SMA Negeri 1 Kesamben Blitar. Saran yang dapat diajukan bagi guru mata pelajaran geografi yaitu jika ingin menggunakan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining diharapkan memperhatikan beberapa masukan yang telah diberikan. Masukan tersebut yaitu melihat kesesuaian jumlah subjek penelitian dengan model pembelajaran dan memberikan waktu belajar lebih panjang pada siswa yang telah ditunjuk sebagai fasilitator.

Analisa bentuk dan karakter Topeng Klana Sewandana pada Tari Topeng Malangan versi Dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / M. Yudha Hari Wibowo

 

Wibowo, Hari, Yudha, M. 2014. Analisa Bentuk Dan Karakter Topeng Klana Sewandana Pada Tari Topeng Malangan Versi Dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra Endang Wara Suprihatin D.P, M.Pd (II) Drs . Supriyono Kata Kunci: analisa bentuk, karakter Topeng Klana Sewandana, Tari Topeng Malangan    Wayang Topeng Malang merupakan sebuah pertunjukan berlakon dengan menggunakan penutup muka atau topeng untuk mengetengahkan karakteristik tokoh-tokohnya.Bentuk figur topeng adalah simbolisasi dari karakter manusia yang ditandai oleh bentuk mata, hidung, mulut, ornament ragam hias serta pewarnaannya. Unsur inilah yang membawa perbedaan karakter serta cara pengapresiannya antara satu figure dengan figure lainnya. Berkaitandenganitu, maka diperlukan pembahasan mengenaianalisa bentuk dan karakter Topeng Klana Sewandana pada tari Topeng Malangan.    Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mendiskripsikan bentuk topeng Klono Sewandono Dusun Kedungmonggo, (2) Untuk mendiskripsikan karakter topeng Klono Sewandono Dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Seluruh data dideskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Nara sumber dalam penelitian ini seniman tari topeng Malang Bapak Tri Handoyo. Analisis data dilakukan secara bersamaan pada saat penelitian dengan tahap-tahap penelitian sebagai berikut (1) Tahap Pengumpulan Data, (2)Tahap Reduksi, (3) Tahap Penyajian Data, (4) Penarik Kesimpulan dan Saran. Peneliti mengambil lokasi penelitian di jalan Prajurit Slamet, Dusun Kedungmonggo, kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Untuk memeperpanjang penelitian dilakukan dengan memperpanjang waktu penelitian, ketekunan/keajegan pengamatan dan trianggulasi.    Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh dua kesimpulan: (1) bentuk Topeng Klana Sewandana yang sudah jadi maupun belum jadi dan (2) karakter warna Topeng Klana Sewandana.Warna topeng Klana Sewandana adalah merah darah. Dan bentuk topeng Klana Sewandana (1) berbentuk bulat, (2) dengan alis blarak sinegar, (3) mata kedhelen, (4) bentuk hidung Klana Sewandana pagotan,(5) mulut Klana Sewandana berbentuk jambe sinegar setangkep, (6) kumis njlaprang, (7) jenggot brewok, (8) dan jamang melati ronce.    Karakter warna pada tokoh Klana Sewandana Sabrang dalam Wayang Topeng Malangan di Dusun Kedungmonggo ini berwarna merah darah.Makna dari warna merah ini menyimbolkan tokoh yang berkarakter keras, pemarah, tidak teguh pendirian, dan sombong.Maka karakter warna dari Tokoh Klana ini merah yang menggambarkan pemberani, amarah.    

Sintesis karakterisasi senyawa kompleks dari kadmium iodida dengan ligan etilenatiourea / Dewi Mustika

 

Mustika, Dewi. 2014. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Kadmium Iodida dengan Ligan Etilenatiourea. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc. (2) Prof. Effendy, Ph.D. Kata-kata kunci: sintesis, karakterisasi, senyawa kompleks, kadmium iodida, etilenatiourea     Senyawa kompleks dari kadmium halida dan tiourea (tu) dengan stoikiometri 1 : 2 telah disintesis dan dilaporkan yaitu [Cd(tu)2X2] (X = Cl, Br, dan I). Senyawa kompleks tersebut merupakan senyawa kompleks molekuler dengan struktur tetrahedral terdistorsi. Senyawa kompleks dari kadmium halida dengan etilenatiourea (etu) pada stoikiometri 1 : 2 yang telah disintesis dan dilaporkan adalah [Cd(etu)2Cl2], senyawa kompleks tersebut merupakan kompleks molekuler dengan struktur tetrahedral terdistorsi. Senyawa kompleks dari CdI2 dengan ligan yang sama belum pernah disintesis. Tujuan penelitian adalah mensintesis dan memprediksi struktur senyawa kompleks yang dihasilkan.     Sintesis senyawa kompleks dilakukan secara langsung yaitu mereaksikan antara CdI2 dan etu dengan perbandingan jumlah mol 1 : 2 dalam pelarut etanol. Senyawa kompleks hasil sintesis diukur titik leburnya dan dianalisis kandungan unsurnya dengan EDX. Hasil analisis EDX memberikan rumus empiris senyawa kompleks. Jenis senyawa ionik atau molekuler, ditentukan berdasarkan hasil uji kualitatif ion iodida dan uji daya hantar listrik. Berdasarkan rumus empiris dan jenis senyawa dapat diramalkan berbagai kemungkinan rumus kimia senyawa kompleks. Dari rumus kimia tersebut dapat diramalkan beberapa struktur yang mungkin. Struktur tersebut dihitung energi bebasnya menggunakan program Spartan ’10 V1.1.0. Struktur yang dapat diterima adalah struktur dengan energi bebas yang paling rendah.     Hasil reaksi antara CdI2 dengan etu berupa kristal-kristal tidak berwarna, berbentuk balok dengan titik lebur 169–171o C. Titik lebur kristal lebih rendah dari titik lebur CdI2 dan etu. Fakta ini menunjukkan bahwa kristal yang terbentuk merupakan senyawa kompleks. Analisis EDX memberikan rumus empiris senyawa kompleks C6H12CdI2N4S2. Hasil uji kualitatif ion iodida dan uji daya hantar listrik menunjukkan bahwa senyawa kompleks yang diperoleh merupakan senyawa kompleks molekuler. Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka rumus kimia senyawa kompleks molekuler yang mungkin adalah [Cd(etu)2I2]. Hasil komputasi dengan Spartan ’10 V1.1.0 menunjukkan bahwa [Cd(etu)2I2] memiliki energi bebas sebesar -634,8451 kJ/mol. Senyawa tersebut merupakan senyawa kompleks yang memiliki bilangan koordinasi 4 dan geometri di sekitar atom pusat adalah tetrahedral terdistorsi. [Cd(etu)2I2] adalah isostruktur dengan [Cd(etu)2Cl2]. Analisis lebih lanjut berdasarkan metode difraksi sinar-X kristal tunggal perlu dilakukan untuk menghasilkan struktur [Cd(etu)2I2] yang lebih akurat.

Pengembangan bahan ajar konsep mol berbasis inkuiri terbimbing / Siska Siti Makmuroh

 

Makmuroh, Siska Siti. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Konsep Mol Berbasis Inkuiri Terbimbing. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Muhammad Su’aidy, M. Pd, (II) Dr. H. Sutrisno, M.Si. Kata kunci: bahan ajar, konsep mol, inkuiri terbimbing. Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan penemuan para kimiawan. Metode penemuannya menggunakan metode ilmiah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam mempelajari ilmu kimia seharusnya siswa belajar layaknya kimiawan memperoleh konsep tentang kimia. Dalam pembelajaran kimia hendaknya siswa tidak hanya diberikan konsep-konsep berupa hasil temuan para kimiawan, melainkan perlu dibimbing agar dapat memperoleh pengetahuan sendiri secara utuh dan terstruktur. Sejalan dengan hal tersebut, proses pembelajaran yang cocok digunakan untuk membelajarkan ilmu kimia adalah inkuiri terbimbing. Inkuiri terbimbing merupakan salah satu pendekatan yang cocok digunakan dalam pengembangan bahan ajar dan mengacu pada Kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar konsep mol berbasis inkuiri terbimbing. Rancangan model pengembangan bahan ajar diadaptasi dari model 4D (4D-model) oleh Thiagarajan, yang terdiri dari empat tahap yaitu membatasi (to define), merancang (to design), mengembangkan (to develop), dan menyebarluaskan (to disseminate). Rancangan pengembangan bahan ajar ini dilakukan sampai pada tahap ketiga, yaitu mengembangkan. Bahan ajar divalidasi oleh satu dosen kimia dan tiga guru kimia SMA, dengan instrumen validasi berupa angket penilaian menggunakan skala Likert empat tingkat, disertai dengan lembar komentar dan saran. Revisi dilakukan berdasarkan komentar dan saran validator, sehingga dihasilkan produk berupa bahan ajar yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar dan panduan pengajaran. Berdasarkan hasil angket penilaian diperoleh persentase kelayakan bahan ajar 92,04%. Nilai tersebut menggambarkan bahwa bahan ajar ini sangat layak untuk digunakan sebagai panduan pengajaran maupun sumber belajar untuk kegiatan pembelajaran bahan kajian konsep mol berbasis inkuiri terbimbing bagi siswa SMA kelas X.

Variasi morfologi tumbuhan suku solanaceae di Materia Medica Batu - Malang Jawa Timur / Selfi Sri Wahyuni

 

Wahyuni, Selfi Sri. 2013. Variasi Morfologi Tumbuhan Suku Solanaceae di Materia Medica Batu-Malang Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Biologi, Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S. (II) Dr. Murni Saptasari, M.Si. Kata kunci: variasi morfologi, tumbuhan suku Solanaceae, Materia Medica Batu-Malang Jawa Timur Solanaceae merupakan suku yang jumlah anggotanya banyak, di Jawa terdiri dari 18 marga yang meliputi 64 spesies. Tumbuhan ini mempunyai nilai ekonomi yang penting, yaitu meliputi sumber pangan, tanaman obat, dan sebagai tanaman hias. Berdasarkan hasil observasi selama Praktik Kerja Lapangan di Materia Medica Batu (MMB), diketahui bahwa tumbuhan suku Solanaceae ditemukan di MMB baik di kebun budidaya maupun tumbuh secara liar, dimungkinkan masih ada jenis yang belum teridentifikasi.     Karakter morfologi merupakan informasi penting yang diperlukan dalam taksonomi, dan merupakan dasar dari klasifikasi. Suku Solanaceae memiliki banyak variasi morfologi baik ditingkat marga maupun spesies. Adanya berbagai variasi morfologi menjadikan suku Solanaceae menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tujuan penelitian untuk mengetahui variasi morfologi dan spesies-spesies yang termasuk tumbuhan suku Solanaceae yang terdapat di MMB. Jenis penelitian yaitu deskriptif eksploratif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari-Juli 2012. Tahapan yang digunakan adalah observasi, koleksi, deskripsi, identifikasi, dan penyusunan kunci identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tumbuhan Suku Solanaceae di MMB memiliki variasi morfologi pada perawakan, batang, yaitu penampang melintang, permukaan, warna, dan arah tumbuh; daun, yaitu bangun, bentuk ujung, pangkal, tepi, bentuk irisan melintang tangkai, tipe trikom, permukaan, dan venasi; bunga, yaitu tipe perbungaan, irisan melintang tangkai, perlekatan daun kelopak maupun mahkota, benang sari, putik, serta variasi pada buah dan biji. Spesies dari suku Solanaceae yang ditemukan ada 12 spesies, yaitu Brugmansia suaveolens (Humb.&Bonpl. Ex Willd.) Bercht. & Presl., Capsicum frutescens L., Datura metel L. var.alba, Datura metel L. var.metel, Lycopersicon lycopersicum (L.) Karsten., Physalis angulata L., Solanum aculeatissimum Jacq., Solanum capsicastrum Link., Solanum nigrum L. var.1, Solanum nigrum L. var.2, Solanum superficiens Adelb., Solanum verbascifolium L.     Hasil penelitian ini menunjukkan adanya variasi morfologi pada tingkat spesies, diperkirakan bahwa masih terdapat spesies yang memiliki varietas tertentu. Untuk mengetahui varietas yang ada beserta variasinya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Pengaruh model pembelajaran STAD dipadu snowball throwing terhadap motivasi dan hasil belajar IPA (studi pada siswa kelas VI SDN Pekauman 1 Banjarmasin) / Maulida Nur Oktaviani

 

Oktaviani, Maulida Nur. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran STAD dipadu Snowball Throwing Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar IPA (Studi pada Siswa kelas VI SDN Pekauman 1 Banjarmasin). Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si., (II) Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd.,Ph.D. Kata Kunci : STAD dipadu Snowball Throwing, Motivasi Belajar, Hasil Belajar     Pelajaran IPA merupakan wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar dan disampaikan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran yang inovatif, kratif, efektif, dan menyenangkan. Pembelajaran akan berhasil apabila melibatkan keaktifan siswa sehingga perlu model pembelajaran untuk membuat siswa bekerjasama dan saling berinteraksi. Model tersebut adalah STAD dipadu Snowball Throwing. Pembelajaran dengan model STAD dipadu Snowball Throwing diharapkan dapat mengembangkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi dan dan hasil belajar IPA pada kelas yang menggunakan model STAD dipadu Snowball Throwing dan Konvensional.     Penelitian ini menggunakan model Quasi Eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design dengan variabel independen yaitu model STAD dipadu Snowbal Throwing dan variabel dependen berupa motivasi dan hasil belajar IPA. Populasi dan sampel penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Pekauman 1 Banjarmasin dengan sampel 60 siswa terdiri dari kelas VIA sebanyak 30 orang sebagai kelas eksperimen dan VIB sebanyak 30 orang sebagai kelas control. Data hasil penelitian adalah data motivasi yang diukur menggunakan angket dan hasil belajar IPA yang diukur menggunakan soal pilihan ganda. Data dianalisis secara deskriptifdan dianalisis menggunakan Independent Sample T Test dengan bantuan SPSS 20 for windows.    Hasil penelitian menunjukkan : (1) ada perbedaan motivasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yang mengikuti pembelajaran konvensional dengan nilai signifikan sebesar 0,005, (2) ada perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan nilai signifikan sebesar 0,001.    Berdasarkan hasil penelitian diatas maka disarankan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran yang inovatif seperti memadukan model STAD dan Snowball Throwing namun perlu disadari tidak semua materi IPA harus diajarkan dengan model STAD dipadu Snowball Throwing. Bagi penelitian selanjutnya perlu memperhatikan kemungkinan munculnya Internal threat dan interaksi kelas antara kelas eksperimen dan kontrol yang dapat mengganggu penelitian. Penelitian ini perlu dikembangkan pada materi yang lain dengan tidak hanya melihat motivasi belajar dan hasil belajar siswa.        

Developing interactive multimedia-based "guessing games" for teaching speaking to eighth graders at SMP Negeri 4 Malang / Sitti Fatimah Saleng

 

Saleng, Sitti Fatimah, 2014. Developing Interactive Multimedia-Based “Guessing Games” for Teaching Speaking to the Eight Graders of SMP Negeri 4 Malang. Thesis. State University of Malang. Graduate Program in English Language Teaching. Advisors: (I) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL.,M.Pd, (II) Dr. Gunadi Harry Sulistyo, M.A. Keywords: Interactive Multimedia, Guessing Games, Teaching Speaking The objective of this research is to develop interactive multimedia-based “guessing games” for teaching speaking to the eight graders of Junior High School. This research employs the design of research and development (R&D) research, which consists of research & information collecting, planning, development of preliminary form of the product, a preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, dissemination and implementation. All the stages were implemented except the implementation of the games to schools since the limitation of time. Then, the procedure for developing games proposed by Trueblood&Szabo (1974) were used as a design of this research, which consists of determining goal of the game, developing materials, designing a set of rules and procedures to play, designing feedback, developing challenging situation, developing possible variation, and evaluating the game concept. The instruments employed to collect data were a checklist at market survey stage and a set of questionnaires at observation, expert validation, and try-out stages. The data elicited from those instruments were then presented both qualitatively and quantitatively. The research products are: a package of application software entitled Interactive Multimedia-Based “Guessing Games” for Teaching Speaking to the Eight Graders of Junior High School in the form of CD-ROM and a teacher’s guidebook. The results of data analysis from validation and try-out stages reveal that the experts of validation, teacher, and students show positive responses towards the use of games in the teaching of descriptive texts. However, some minor revisions should be made by the researcher to improve the quality of the product, such as revision on the cover, content, and display. The activities conducted in the current research lead the researcher to achieve the objective of the research.

Pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia terpadu kelas IV dengan tema peduli terhadap makhluk hidup / Dian Etikasari

 

Etikasari, Dian. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Terpadu Kelas IV dengan Tema Peduli terhadap Makhluk Hidup.Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dawud, M.Pd., (II) Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd. Kata Kunci: bahan ajar bahasa Indonesia terpadu     Secara umum tujuan penelitian ini adalah menghasilkan bahan ajar bahasa Indonesia terpadu kelas IV dengan tema peduli terhadap makhluk hidup. Tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi tujuan khusus, yaitu (1) menghasilkan bahan ajar bahasa Indonesia terpadu kelas IV yang meliputi isi, penyajian, bahasa, dan kegrafikan bahan ajar dan (2) mendeskripsikan keefektifan bahan ajar bahasa Indonesia terpadu kelas IV dalam pembelajaran.     Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang diadaptasi dari model penelitian dan pengembangan Borg dan Gall. Secara umum model pengembangan tersebut terdiri dari (1) melakukan penelitian pendahuluan, (2) melakukan perencanaan produk yang dikembangkan, (3) mengembangkan draf awal produk, (4) uji coba produk kepada tim ahli, (5) revisi produk berdasarkan penilaian dari tim ahli, (6) melakukan uji coba lapangan, dan (7) revisi berdasarkan uji coba lapangan.    Bahan ajar yang dihasilkan berupa buku teks berjudul Menggali Informasi di Sekitar Kita dengan memadukan mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, dan Matematika dengan tema peduli terhadap makhluk hidup. Pada bahan ajar yang dikembangankan dilengkapi kolom khusus yaitu (1) Apa yang Kamu Pikirkan, (2) Mari Membaca, (3) Asah Ingatan, (4) Mari Mengamati, (5) Ayo Mencoba, (6) Ayo Berhitung, (7) Berbagi Cerita, (8) Mari Bertualang dan (9) Menilai Diri Sendiri.     Untuk mengetahui keefektifan bahan ajar, peneliti melaksanakan prates dan pascates terhadap peserta didik kelas IV SDN Blimbing 3. Dari pelaksanaan prates dan pascates diperoleh skor-skor dari hasil belajar peserta didik. Peneliti membandingkan skor prates dan pascates melalui uji-t. Berdasarkan hasil uji-t prates dan pascates kelas uji coba diperoleh t hitung 11,112 dengan P= 0,00 sehingga (P < 0,01). Berdasarkan data tersebut peserta didik yang mendapat skor prates rendah mendapatkan skor pascates tinggi. Jadi (P < 0,01) sehingga produk ini efektif untuk digunakan dalam pembelajaran.     Peneliti berharap bahan ajar yang dikembangkan memberikan kontribusi kepada peserta didik dan guru. Bagi peserta didik diharapkan bahan ajar yang dikembangkan dimanfaatkan untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui sajian materi. Diharapkan bagi guru bahan ajar yang dikembangkan ini bisa dijadikan tambahan dalam mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik di samping bahan ajar yang disediakan oleh pemerintah.

Pengaruh penambahan limbah cair tahun dan tempe pada media tanam sekam padi terhadap produktivitas jamur merang (Volvariella volvacea) sebagai booklet penyuluhan untuk masyarakat petani jamur merang / Cipta Anto

 

    Anto, Cipta. 2014. Pengaruh Penambahan Limbah Cair Tahu dan Tempe pada Media Tanam Sekam Padi Terhadap Produktivitas Jamur Merang (Volvariella volvacea) sebagai Booklet Penyuluhan untuk Masyarakat Petani Jamur Merang. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, dan Pembimbing (II) Dr. H. Abdul Ghofur, M.Si. Kata Kunci: penambahan limbah cair tahu dan tempe, media tanam sekam padi, produktivitas jamur merang, booklet.     Jamur merang (Volvariella volvacea) merupakan salah satu spesies jamur konsumsi. Jamur merang merupakan komoditi yang mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan, memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta permintaan pasarnya terus meningkat, memiliki kandungan protein, asam amino, dan vitamin yang lebih tinggi dibadingkan dengan beberapa jenis sayuran, jamur juga rendah lemak dan sering digunakan sebagai pengganti daging. Jamur merang dalam perkembangannya sangat tergantung pada zat-zat organik dari lingkungan hidupnya. Limbah cair tahu dan limbah cair tempe ditinjau dari unsur kimianya, sangat potensial untuk dijadikan suplemen media tanam jamur merang. Limbah cair tahu dan limbah cair tempe ketersediaannya sangat melimpah, limbah cair tahu dan tempe apabila tidak ditangani dengan baik maka dikhawatirkan akan menyebabkan terganggunya kualitas lingkungan perairan sekitarnya. Budidaya jamur merang memanfaatkan jerami dan serbuk gergaji kayu sebagai media tanam, namun mengingat ketersediaannya yang terbatas dan musiman membuat para petani jamur memanfaatkan bahan lain seperti kardus, limbah kapas, dan sekam padi. Sekam padi ketersediaannya melimpah di Provinsi Jawa Barat, sangat potensial dijadikan media tanam jamur merang. Masyarakat petani jamur merang belum memanfaatkan limbah cair tahu dan tempe sebagai alternative suplemen media tanam jamur merang yang ramah lingkungan, murah, dan dapat meningkatkan nilai produktivitas jamur merang.     Tujuan dari penelitian ini ialah: (1) Menganalisis pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe pada media tanam sekam padi terhadap periode panen jamur merang; (2) Menganalisis pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe pada media tanam sekam padi terhadap jumlah tubuh buah jamur merang; (3) Menganalisis pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe pada media tanam sekam padi terhadap berat total produksi jamur merang; (4) Menganalisis pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe pada media tanam sekam padi terhadap Biologycal Efficiency Ratio (BER) jamur merang; (5) Meng-implementasikan hasil penelitian sebagai materi Booklet tentang budidaya jamur merang dengan media tanam yang diperkaya dengan limbah cair tahu dan tempe.     Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan. Data produktivitas jamur merang yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analisis Varian Satu Arah dan uji lanjut Duncan 5%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa: (1) ada pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe sebagai suplemen media tanam jamur merang terhadap jumlah periode panen jamur merang, (2) ada pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe sebagai suplemen media tanam jamur merang terhadap jumlah tubuh buah jamur merang, (3) ada pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe sebagai suplemen media tanam jamur merang terhadap berat total produksi jamur merang, (4) ada pengaruh penambahan limbah cair tahu dan tempe sebagai suplemen media tanam jamur merang terhadap nilai Biologycal Efficiency Ratio (BER), (5) hasil penelitian tentang penambahan limbah cair tahu dan tempe pada media tanam sekam padi terhadap produktivitas jamur merang disusun sebagai materi booklet penyuluhan bagi petani jamur merang. Booklet penyuluhan berisi tentang: selayang pandang jamur merang, mengenal jamur merang, manfaat dan khasiat jamur merang, media tanam jamur merang, limbah cair tahu sebagai suplemen media tanam jamur merang, tahap-tahap budidaya jamur merang dengan suplemen limbah cair tahu, teknik pengemasan jamur merang, prospek bisnis jamur merang, dan cara mengolah jamur merang.     Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat diajukan ialah: (1) perlu dilakukan penelitian sejenis dengan memanfaatkan jenis limbah lain misalnya limbah kulit kopi, limbah kulit kakao, limbah tongkol jagung, dan sebagainya sebagai suplemen media tanam jamur merang, (2) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemanfaatan limbah cair tahu dan tempe sebagai suplemen media tanam jamur bagi spesies jamur yang dapat dikonsumsi lainnya, (3) bagi masyarakat petani jamur merang disarankan agar dapat memanfaatkan limbah cair tahu atau tempe sebagai suplemen media tanam jamur merang agar dapat meningkatkan produksi jamur merang.

Kajian struktur dan komposisi komunitas serangga predator yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati di Perkebunan Kopi Desa Bangelan Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang / Sandy Ayu Puri Agung

 

Puriagung, Sandy Ayu. 2014. Kajian Struktur dan Komposisi Serangga Predator Sebagai Agen Pengendali Hayati Pada Lahan Perkebunan Kopi di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang.Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ibrohim, M.Si, (II) Dra. Hawa Tuarita, M.S. Kata Kunci: Struktur, Komposisi, Serangga Predator Desa Bangelan Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang yaitu salah satu daerah penghasil kopi di Provinsi Jawa Timur. Perkebunan kopi di Desa Bangelan masih menggunakan sistem konvensional, dimana para petani terus menerus menggunakan pestisida untuk mengurangi jumlah hama. Keberadaan serangga predator di perkebunan kopi sangat penting untuk mengendalikan hama, maka dilakukan penelitian mengenai kajian struktur dan komposisi serangga predator di perkebunan kopi. Untuk mengetahui jenis serangga predator, mengetahui struktur komunitas serangga predator, mengetahui komposisi komunitas serangga predator dan mengetahui serangga predator yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dan dilakukan pada bulan Maret-Juni 2014 di lahan perkebunan kopi yang menggunakan pestisida. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode pengamatan langsung dan menggunakan metode jebakan dengan light trap. Pengumpulan sampel dilakukan dengan cara mengambil dengan menggunakan tangan secara langsung, serangga predator yang terambil di pucuk tanaman kopi dan jebakan light trap dilakukan pada waktu malam hari dengan bantuan cahaya lampu 10 watt. Faktor abiotik yang dihitung dihubungkan dengan Indeks Nilai Penting serangga predator antara siang dan malam secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa jenis serangga predator yang diperoleh di lahan perkebunan kopi yaitu terdiri dari 4 ordo, 9 familia dan 17 spesies. Serangga predator yang ditemukan yaitu Ordo Coleoptera, Hymenoptera, Mantodea dan Hemiptera. Indeks Nilai Penting serangga predator tertinggi dimiliki oleh Curinus coeruleus dengan nilai sebesar 56,92%, sedangkan untuk Indeks Nilai Penting serangga predator tertinggi pada waktu malam hari yaitu dimiliki oleh Deraecoris flavilinea dengan nilai sebesar 35,78%. Keanekaragaman (H’) serangga predator di lahan perkebunan kopi tergolong sedang dengan nilai H’ sebesar 2,120. Kemerataan serangga predator di lahan perkebunan kopi tergolong tidak merata dengan nilai E sebesar 0,884 dan kekayaan serangga predator di lahan perkebunan kopi tergolong sedang dengan nilai R sebesar 3,106. Serangga predator yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati yaitu Dindymus rubiginosus, Curinus corelius, Chilocorus circumdatus, Micraspis frenata, Illeis koebelei, Oenopia cinctella, Coelophora inaequalis, Deraecoris flavilinea, Cantharis bicolor, Tenodera sinensis, Ragonycha sp.

Proses penerimaan siswa baru studi kasus di rintisan sekolah bertaraf internasional SMP Negeri 2 Pare Kabupaten Kediri / Putri Septikasari

 

ABSTRAK Septikasari, Putri. 2009. Proses Penerimaan Siswa Baru Studi Kasus di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare Kabupaten Kediri. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M. Pd, (II) Dr. H. Imron Arifin, M. Pd. Kata kunci: Proses, Penerimaan Siswa Baru, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam proses pembangunan nasional, oleh karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah merupakan upaya strategis dalam meningkatkan sumber daya manusia. Sejalan dengan peru¬bahan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta dinamika global yang begitu cepat menuntut agar setiap sekolah mampu menyesuaikan diri. Salah satu program yang dilaksanakan pemerintah agar perubahan dan perkembangan tersebut dapat direspon dengan cepat adalah dengan meningkatkan kualitas/mutu sekolah dengan mengembangkan sekolah bertaraf internasional.Setiap menjelang tahun ajaran baru, sekolah menyelenggarakan penerimaan siswa baru mulai dari pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan pendidikan Sekolah Menengah. Persyaratan yang ditetapkan oleh masing-masing sekolah dalam menerima siswa baru pun berbeda-beda. Siswa yang bisa masuk sekolah SBI tersebut adalah mereka yang dianggap sebagai bibit-bibit unggul yang telah diseleksi secara ketat. Sehingga penelitian ini difokuskan pada proses penerimaan siswa baru di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Penelitian ini menggunakan metode/pendekatan kualitatif, yang berlokasi di SMPN 2 Pare. Fokus penelitian ini antara lain: (1) Bagaimana kebijakan penerimaan siswa baru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare, (2) Bagaimana sistem penerimaan siswa baru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare, (3) Bagaimana prosedur penerimaan siswa baru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara, (2) teknik observasi, (3) teknik dokumentasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa catatan lapangan, alat perekam, dan alat dokumentasi. Sampel dalam penelitian ini dilakukan secara snowball sampling, dengan informan terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, kepala TU, dan penjaga sekolah. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan melakukan pengorganisasian data, pengelompokan data, pemaparan data, dan perumusan temuan. Untuk memperoleh keabsahan data, dilakukan uji triangulasi sumber data dan metode pengumpulan data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini untuk masing-masing fokus penelitian diinformasikan sebagai berikut: (1) kebijakan penerimaan siswa baru RSBI yaitu berdasarkan acuan dari surat keputusan direktorat pembinaan sekolah menengah pertama dan sekolah yang kemudian mengembangkannya sendiri. (2) sistem penerimaan siswa baru RSBI yaitu menggunakan sistem tes antara lain tes tulis, tes praktek, dan tes wawancara, dan sistem olimpiade. (3) prosedur penerimaan siswa baru yaitu langkah-langkah yang harus ditempuh oleh sekolah dalam penerimaan siswa baru mulai dari pembentukan panitia dan rapat penerimaan siswa baru, pembuatan dan pemasangan pengumuman, pendaftaran, pennyelenggaraan tes (seleksi), penentuan siswa yang diterima sampai dengan pengumuman dan pendaftaran ulang siswa yang diterima. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa proses penerimaan siswa baru di RSBI sangat sistematis dan ketat karena dalam setiap perencanaan, pelaksanaan seleksi sampai dengan penentuan siswa yang diterima harus sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan oleh sekolah. Saran dalam penelitian ini ditujukan bagi kepala SMP Negeri 2 Pare, orang tua siswa, guru dan karyawan, Dinas Pendidikan, dan bagi peneliti lain.

Pengaruh desain aktivitas laboratorium inkuiri terbimbing terhadap penguasaan konsep fisika dan keterampilan proses sains siswa kelas XI SMA Negeri 7 Mataram / Intan Kusuma Wardani

 

Wardani, Intan, Kusuma. 2014. Pengaruh Desain Aktivitas Laboratorium Inkuiri Terbimbing terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI SMA Negeri 7 Mataram. Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muhardjito, M.S. (II) Prof. Arif Hidayat, M. Si, Ph.D Kata kunci: laboratorium inkuiri terbimbing, penguasaan konsep fisika, keterampilan proses sains.     Perkembangan IPTEK yang pesat menuntut perubahan dalam dunia pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing bebas dan memiliki ketangguhan dalam memahami konsep fisika dan melatih keterampilan proses sains. Untuk itu diperlukan model pembelajaran yang dapat memenuhi tuntutan tersebut, salah satunya adalah model pembelajaran dengan kegiatan laboratorium inkuiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan proses sains siswa melalui pembelajaran dengan kegiatan laboratorium inkuiri terbimbing pada pokok bahasan fluida statis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penguasaan konsep fisika dan keterampilan proses sains antara siswa yang belajar dengan laboratorium inkuiri terbimbing dan laboratorium verifikasi, mengetahui penguasaan konsep fisika dan keterampilan proses sains siswa yang lebih tinggi antara siswa yang belajar dengan laboratorium inkuiri terbimbing dan laboratorium verifikasi.     Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen dengan dua sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang belajar dengan menggunakan laboratorium inkuiri terbimbing dan kelas kontrol adalah kelas yang belajar dengan menggunakan laboratorium verifikasi. Data penguasaan konsep diukur di akhir penelitian dengan soal pilihan ganda. Data keterampilan proses sains diukur selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi pembelajaran dan rubrik keterampilan proses sains. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI-IPA SMA Negeri 7 Mataram pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Sampel dipilih secara acak. Kelas XI-IPA 1 terpilih sebagai kelas kontrol dan kelas XI-IPA 5 terpilih sebagai kelas eksperimen. Data dianalisis dengan menggunakan multivariate of anova. Pengaruh pembelajaran diuji dengan uji Tukey.     Analisis data dilakukan dengan menggunakan multivariate of anova, yang didahului dengan uji normalitas dan homogenitas. Setelah dianalisis menunjukkan bahwa setelah proses belajar mengajar berlangsung, kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran dengan kegiatan laboratorium inkuiri terbimbing memiliki kemampuan penguasaan konsep dan keterampilan proses sains lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran dengan kegiatan laboratorium verifikasi. Pada kelas eksperimen terjadi peningkatan secara signifikan pada semua aspek yang diteliti. Siswa merespon positip terhadap model pembelajaran yang digunakan. Sebagian besar siswa mengharapkan model pembelajaran seperti ini dapat diterapkan pada mata pelajaran lain.

Hambatan berpikir siswa sekolah menengah pertama dalam pemecahan masalah matematika PISA dan pemberian scaffolding / Heri Purnomo

 

Purnomo, Heri. 2014. Hambatan Berpikir Siswa Sekolah Menengah Pertama dalam Pemecahan Masalah Matematika PISA dan Pemberian Scaffolding. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si., (II) Dr. Sisworo, M.Si. Kata kunci: hambatan berpikir, pemecahan masalah, literasi matematika PISA, scaffolding          Pada tahun 2012 Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 peserta Programme for International Student Assessment (PISA). Menurut laporan OECD setengah dari siswa tidak mampu memecahkan masalah yang lebih sulit dari masalah dasar. Padahal, kemampuan siswa dalam pemecahan masalah erat kaitannya dengan proses berpikir mereka. Beberapa penelitian yang terkait dengan proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan pada pemecahan masalah. Kesulitan yang dialami siswa dalam pemecahan masalah tersebut menunjukkan adanya hambatan berpikir yang terjadi saat pemecahan masalah.     Penelitian ini mendeskripsikan hambatan berpikir siswa dalam pemecahan masalah matematika PISA dan pemberian scaffolding. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini meliputi enam siswa SMP Negeri 5 Malang kelas VIII dengan 2 siswa kemampuan tinggi, 2 siswa kemampuan sedang, dan 2 siswa kemampuan rendah. Pengumpulan data dilakukan melalui tes pemecahan masalah PISA, wawancara, dan scaffolding. Penelitian ini menganalisis hambatan berpikir siswa dalam pemecahan masalah berdasarkan langkah Polya yaitu understanding the problem, devising a plan, carrying out the plan, dan looking back, dengan memperhatikan literasi matematika PISA proses employ, formulate, dan interprate matematika dalam konteks personal dan scientific serta konten quantity, change and relationship dan uncertainty and data.     Hasil penelitian ini menunjukkan hambatan berpikir siswa dalam pemecahan masalah matematika PISA meliputi hambatan berpikir karena kurangnya kemampuan koneksi matematika siswa, hambatan berpikir karena kurangnya kemampuan analogi matematika siswa, dan hambatan berpikir karena kurangnya pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Hambatan berpikir tersebut ditunjukkan melalui ketidakmampuan siswa pada pemecahan masalah yang meliputi ketidakmampuan memahami, mengidentifikasi dan menggunakan informasi maupun konsep dan ide matematika dalam mengaplikasikannya. Upaya mengatasi hambatan berpikir dalam pemecahan masalah tersebut yaitu dengan pemberian scaffolding seperti yang dipaparkan Julia Anghileri yang meliputi enviromental provisions, explaining, reviewing, restructuring, dan developing coceptual thinking. Setiap pemberian scaffolding akan mengikuti hambatan berpikir yang terjadi. Hambatan berpikir dalam langkah pemecahan yang berbeda akan diberikan juga tahapan scaffolding yang berbeda.

Optimasi isolasi RNA jaringan kanker payudara terfiksasi formalin dari penderita kanker payudara di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang dengan Kit Isolasi RNA Geneaid / Pearlindah

 

Pearlindah, 2014. Optimasi Isolasi RNA Jaringan Kanker Payudara Terfiksasi Formalin dari Penderita Kanker Payudara di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang dengan Kit Isolasi RNA Geneaid. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc, (II) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si. Kata Kunci: isolasi rna, jaringan kanker payudara terfiksasi formalin, penderita kanker payudara di rumah sakit saiful anwar Malang     Isolat RNA total yang didapat dari jaringan kanker yang difiksasi pada umumnya berkualitas rendah. Optimasi untuk mendapatkan isolat RNA total yang berasal dari jaringan terfiksasi formalin dengan kualitas yang tinggi sangat diperlukan. Penelitian ini betujuan untuk mendapatkan protokol yang optimum dengan mengukur dari tingkat rasio kemurnian A260/280 yang menggunakan Nanodrop ND 2000 Spektrofotometer.     Modifikasi protokol yang dilakukan diantaranya menambah banyaknya etanol 70% dalam DEPC treated water dan lisis buffer (RB buffer), menambah reagen lain seperti Proteinase K, mengubah durasi inkubasi tahap elusi RNA dan penambahan Proteinase K, mengubah durasi sentrifugasi tahap lisis sel dan pencucian serta mengubah kecepatan sentrifugasi. Berbagai macam modifikasi protokol isolasi total RNA yang telah dilakukan dengan melihat tingkat kemurniannya ditunjukkan pada penambahan Proteinase K dan tingkat kecepatan sentrifugasi mendapatkan hasil yang murni dan stabil, dengan penambahan Proteinase K sebanyak 30 µl, lama inkubasi selama 30 menit pada suhu 60oC, serta tingkat kecepatan sentrifugasi 15.500 x g atau 16.000 x g. Hal ini telah diketahui bahwa Proteinase K berguna untuk penghancuran protein dalam lisat sel (jaringan, kultur sel) dan pelepasan asam nukleat, karena sangat efektif menonaktifkan DNase dan RNase. Hasil modifikasi protokol dengan kualitas yang baik antara 1.8-2.1 yaitu dengan penambahan Proteinase K dan sentrifugasi 15.500 x g dan 16.000 x g adalah pada protokol 6 dengan kemurnian 2.10, protokol 12 dengan kemurnian 1.80, protokol 13 dengan kemurnian 2.02, dan protokol 14 dengan kemurnian 1.86.

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode two stay two stray (TS-TS) untuk meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI Ak 1 di SMK Negeri 1 Turen / Subrotun Nafsiah

 

ABSTRAK Nafsiah, Subrotun. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Two Stay Two Stray (TS-TS) untuk Meningkatkan Kemampuan Bertanya, Kemampuan Menjawab Pertanyaan, dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Akuntansi Siswa Kelas XI Ak 1 di SMK Negeri 1 Turen. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, FE, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Tuhardjo. S.E., M.Si., Ak (II) Makaryanawati.S.E., M.Si., Ak Kata kunci: Metode Two Stay Two Stray (TS-TS), Kemampuan bertanya, Kemampuan menjawab pertanyaan, dan Hasil belajar Kegiatan pembelajaran akuntansi di SMK Negeri 1 Turen masih menggunakan metode konvensional. Kemampuan bertanya, menjawab dan hasil belajarnyapun rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah melalui penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI Ak 1 SMK Negeri 1 Turen. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Turen, semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan materi persediaan. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI Ak 1 terdiri dari 38 siswa. Teknik Pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan persentase skor hasil kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan dan hasil belajar tiap-tiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS), dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, dan hasil belajar siswa. Persentase skor rata-rata kemampuan bertanya siswa meningkat sebesar 10,47%, dari 71,6% pada siklus I menjadi 82,07% pada siklus II, sedangkan persentase skor rata-rata kemampuan menjawab pertanyaan siswa mengalami peningkatan sebesar 5,36%, dari 78,75% pada siklus I menjadi 84,11%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, persentase rata-rata nilai siswa meningkat dari 81,58% pada siklus I, pada siklus II menjadi 89,39% atau meningkat sebesar 7,81%. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dikemukakan antara lain (1) Bagi Sekolah yang diteliti, Pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dapat menjadi alternatif pertimbangan dalam upaya perbaikan strategi pembelajaran yang ada di SMK Negeri 1 Turen (2)Bagi guru mata pelajaran akuntansi, metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dapat menjadi pilihan variasi metode pembelajaran untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (3) Bagi siswa, tingkatkan kemampuan bertanya, menjawab pertanyaan, dan persiapkan diri sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung (4) Bagi peneliti lain, Lakukan penelitian serupa secara bertahap dan perhitungkan alokasi waktu yang disediakan, kembangkan penelitian serupa dengan subjek dan materi yang berbeda serta selain meneliti hasil belajar secara kognitif teliti juga hasil belajar secara afektif dan psikomotorik.

Pembelajaran matematika melalui model learning cycle 7E untuk meningkatkan hasil belajar geometri siswa kelas VII SMP Negeri 1 Gondanglegi Malang / Anis Hidayati M.S.

 

Hidayati, Anis. 2014.Pembelajaran Matematika Melalui Model Learning Cycle 7EUntuk Meningkatkan Hasil Belajar Geometri Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Gondanglegi Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd., (2) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. Kata Kunci: hasil belajar, model Learning Cycle 7E Pembelajaran matematika di sekolah pada materi geometri khususnya bangun datar yang dilaksanakan oleh guru cenderung menggunakan metode ceramah. Ini menyebabkan siswa tidak bebas mengeluarkan ide-idenya karena pembelajaran didominasi oleh guru. Siswa banyak menghafal konsep matematika yang diberikan guru dan menyelesaikan masalah secara prosedural. Akibatnya pemahaman siswa terhadap konsep dan penerapan masih rendah. Permasalahan tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang tidak optimal. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam membangun pemahaman siswa dan aktivitas belajar siswa terhadap materi geometri. Usaha yang dilakukan adalah dengan menerapkan model Learning Cycle 7E yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk mengetahui hasil pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Learning Cycle 7E pada materi geometri khususnya bangun datar, maka pada penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimanapembelajaran matematikamelalui model Learning Cycle 7E pada materi geometri yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Gondanglegi Malang? Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Gondanglegi Malang yang berjumlah 31 siswa. Subjek wawancara dipilih 3 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 1 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Pemilihan subjek wawancara berdasarkan hasil tes dan masukan dari guru matematika. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa model Learning Cycle 7E dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi geometri khususnya bangun datar di kelas VII SMP Negeri 1 Gondanglegi Malang, model ini terdiri atas 7 tahapan yaitu elicit, engage, explore, explain, elaborate, evaluate, dan extend. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan penelitian ini, maka bagi guru yang ingin melaksanakan pembelajaran serupa hendaknya siswa dibantu dengan menggunakan media pembelajaran atau benda-benda konkret. Sedangkan bagi peneliti lain yang berkeinginan mengadakan penelitian serupa, sebaiknya dilaksanakan pada materi matematika dan sekolah yang berbeda, sehingga akan diperoleh gambaran yang lebih lanjut tentang efektivitas model Learning Cycle 7E.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan / Siti Mutmainah

 

semuanya. ABSTRAK Mutmainah, Siti. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Siswa Kelas XI Bahasa I MAN Lamongan. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs.Muhaiban. Ibnu Syamsul Huda, S.S, MA. Kata kunci: TPS, keterampilan berbicara, MAN Lamongan. Pembelajaran berbicara bahasa Arab sering kali kurang menarik, kurang merangsang partisipasi siswa, dan bersuasana kaku sehingga kegiatan berbicara kadang-kadang menjadi fakum. Keterampilan berbicara bahasa Arab siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan masih rendah. Hal ini dikarenakan guru belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai bagi siswa. Guru dituntut lebih kreatif dalam penyampaian materi baik dari metode pembelajaran, maupun model-model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang fungsional untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa adalah pembelajaran kooperatif model TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model TPS dalam pembelajaran bahasa Arab siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan, dan (2) proses peningkatan keterampilan berbicara bahasa Arab dengan menerapakan pembelajaran kooperatif model TPS pada siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan. Penelitian ini dilakukan di MAN Lamongan pada bulan September sampai Nopember tahun pelajaran 2009/2010 pada saat pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan.. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) tes. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil observasi, wawancara, dan tes. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab dengan pembelajaran kooperatif model TPS dilakukan dengan menyiapkan RPP, lembar observasi guru dan siswa, rubrik penilaian keterampilan berbicara, rubrik penilaian aspek afektif dan psikomotorik. Kemudian pelaksanaannya disesuaikan dengan RPP yang telah disusun. Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif model TPS mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS i dalam pengajaran bahasa Arab dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi kepala sekolah agar menjadikan pembelajaran kooperatif model TPS sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Karena dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa dan siswa tidak hanya memperoleh kecakapan akademik saja akan tetapi juga kecakapan sosial. Bagi guru pengajar diharapkan bisa meningkatkan profesionalisme dan kualitas PBA dengan menciptakan inovasi model pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang sesuai dengan karakteristik siswa untuk diterapkan dalam KBM yang akan dilaksanakan. Sedangkan untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis diharapkan lebih memperluas cakupannya dengan mengembangkan materi yang diajarkan dan dengan waktu yang lebih lama, sehingga hasil penelitian jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guru-guru bahasa Arab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V di SDN Ploso 03 Selopuro Kabupaten Blitar / Dyah Retno Novieni

 

Keprihatinan yang peneliti temui di lapangan berkenaan dengan pembelajaran mata pelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah (1) hasil belajar siswa untuk memecahkan soal matematika masih rendah, (2) guru lebih menekankan pada siswa untuk menerima apa yang disampaikan dan tidak memberikan kesempatan pada siswanya untuk memproses apa yang diterimanya, (3) guru matematika di SMP dalam mengajar di kelas jarang menggunakan media pembelajaran. Kenyataan tersebut mencerminkan bahwa hasil belajar mata pelajaran matematika yang diperoleh oleh siswa ketika selesai mengikuti pelajaran kurang memuaskan sehingga masih perlu ditingkatkan. Salah satu alternatif pemecahannya adalah dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat antara lain dengan metode penemuan terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan kelompok siswa yang diajar dengan metode ekspositori (2) perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah (3) interaksi antara penerapan pembelajaran (metode penemuan terbimbing dan metode ekspositori) dengan tingkat motivasi berprestasi terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas IX SMP. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen. Dengan desain eksperimen nonequivalent control group design. Rancangan pembelajaran dikembangkan oleh peneliti berupa program pelaksanaan pembelajaran beserta LKS dan tes. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menerapkan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositori dengan menggunakan rancangan penelitian kuasi eksperimen factorial 2 x 2. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Rambipuji Jember dan SMP Negeri 3 Tanggul Jember. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling, dimana yang dirandom adalah kelas. Sampel penelitiannya adalah siswa kelas IXA SMP Negeri 1 Rambipuji dan kelas IXB SMP Negeri 3 Tanggul ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing, sedang kelas IXD SMP Negeri 1 Rambipuji dan kelas IXD SMP Negeri 3 Tanggul ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan penerapan metode ekspositori. Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 145. Data dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar siswa berbeda secara signifikan jika diajar dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dari pada metode ekspositori, (2) hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi berbeda secara signifikan dari pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, (3) tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa. Statistik diskriptif menunjukkan bahwa ada pengaruh penerapan metode penemuan terbimbing (rerata 76.00) terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan penerapan metode ekspositori (rerata 70.07). Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa metode penemuan terbimbing dan tingkat motivasi berprestasi berpengaruh terhadap perolehan hasil belajar matematika SMP. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan kepada para guru untuk menggunakan metode penemuan terbimbing dalam mata pelajaran yang diampu pada pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut terkait dengan adanya variabel moderator selain motivasi berprestasi (misalnya minat, bakat, gaya kognitif, intelegensi, sikap dan lain-lain) yang juga berpengaruh terhadap hasil belajar.

Penerapan pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis untuk mengembangkan kompetensi aspek psikomotorik pada siswa kelas XI B, SMAK Diponegoro Blitar / Akik Tri Wanti

 

ABSTRAK Wanti, Akik, Tri. 2009. Penerapan Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gejala Fisis untuk Mengembangkan Kompetensi Aspek Psikomotorik pada Siswa Kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Sutarman, (II) Drs. Subani. Kata kunci : berbasis observasi gejala fisis, aspek psikomotorik Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa aspek psikomotorik siswa tidak atau belum dapat berkembang karena siswa hanya belajar teori saja, tidak dapat berinteraksi langsung dengan obyek kongkret. Pembelajaran fisika tidak hanya belajar teori tetapi juga disertai dengan percobaan. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran, yaitu pembelajaran yang mengacu pada teori konstruktivisme dengan model Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gejala Fisis sebagai pengembangan model belajar generative Osborne. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis yang dapat mengembangkan aspek psikomotorik siswa kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar dan mengetahui dampak pembelajaran ini terhadap perkembangan aspek psikomotorik siswa kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar dalam kegiatan merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, serta mengamati gejala fisis. Penelitian ini dilaksanakan di SMAK Diponegoro Blitar semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar dengan jumlah 40 siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas dengan pemberian tindakan Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gejala Fisis, yang terdiri dari tiga siklus. Siklus III diterapkan untuk memperbaiki siklus II dengan berbagai perbaikan. Pada proses pembelajaran dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran, untuk mengetahui kesesuaian antara pembelajaran yang dilakukan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah rubrik observasi penguasaan aspek psikomotorik serta format observasi pembelajaran berbasis observasi gejala fisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis yang terdiri atas empat tahap yaitu tahap observasi, tahap pengajuan masalah, tahap pemecahan masalah dan tahap pemantapan konsep dapat berjalan dengan baik. Dengan keterbatasan alat dan bahan percobaan ternyata pembelajaran ini dapat diterapkan di kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar. Pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis ini juga dapat mengembangkan aspek psikomotorik yang dimiliki siswa selama pembelajaran berlangsung. Perkembangan hasil rerata aspek psikomotorik siswa pada siklus I sebesar 46,92%, pada siklus II sebesar 62,83% dan pada siklus III sebesar 60,75%. Selain itu, penerapan pembelajaran ini membuat siswa senang karena siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan obyek kongkret.

Pengembangan media pembelajaran mobile learning tentang manipulasi masase untuk peserta matakuliah masase olahraga di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Universitas Negeri Malang / Muhammad Dwi Yanto Putro

 

Putro, Muhammad Dwi Yanto. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Mobile Learning tentang Manipulasi Masase untuk Peserta Matakuliah Masase Olahraga di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes. (2) dr. Agung Kurniawan, M.Kes. Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran Mobile Learning, Manipulasi Masase Olahraga.     Masase Olahraga merupakan salah satu matakuliah yang tercantum dalam kurikulum pendidikan di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Malang. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan juga harus memiliki media pembelajaran yang menunjang aktivitas belajar untuk mahasiswa. Media pembelajaran untuk matakuliah di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang di perlukan harus sesuai dengan sarana dan prasarana yang terdapat di Fakultas dan sesuai dengan kurikulum jurusan tersebut. Masase Olahraga merupakan salah satu matakuliah yang terdapat pada kurikulum di Jurusan PJK. Matakuliah ini terdiri dari Teori dan Praktik.     Tujuan penelitian ini yaitu mengembangkan media pembelajaran masase Olahraga berupa buku digital tentang manipulasi masase olahraga. Dengan harapan buku digital tersebut dapat membantu mahasiswa maupun dosen dalam pembelajaran matakuliah Masase Olahraga dengan lebih baik. Selain itu, buku digital ini diharapkan dapat tercapainya tujuan pembelajaran yaitu peserta didik dapat mempunyai kemampuan dan keterampilan masase olahraga. Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan 7 langkah dari 10 langkah yang dikemukakan oleh Borg & Gall untuk pengembangan media pembelajaran buku digital manipulasi masase olahraga sebagai berikut: 1) Riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan menyebarkan kuesioner/angket kepada 30 mahasiswa PJK FIK UM (2) Perencanaan pengembangan produk, (3) Pengembangan rancangan produk, (4) Persiapan uji coba kelompok kecil, menggunakan 8 subjek, (5) Revisi produk pertama berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil, (6) Uji coba lapangan (kelompok besar) menggunakan 30 subjek, (7) Revisi produk sesuai hasil uji coba kelompok besar. Berdasarkan hasil evaluasi ahli terdapat beberapa saran antara lain: 1) Halaman pembuka atau cover dalam buku digital ini perlu adanya revisi, terkait masalah pemilihan warna, jenis huruf (font) dan penataan gambar (2) Beberapa video dijadikan satu video, (3) Sebaiknya perlu ditambahkan tanda panah diantara gambar sebagai tanda keberlanjutan gambar, (4) Beberapa foto perlu diganti diantaranya foto jari jari tangan dan kaki (5) Perlu adanya perbaikan di setiap bab seperti tambahan untuk bab penutup, (6) Perbaiki beberapa tulisan, (7) Perbaiki letak penempatan setiap bab, dan (8) Berikan penambahan tentang irama, intensitas, ulangan dan durasi waktu manipulasi masase olahraga post activity pada bab 3.     Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil diperoleh persentase rata-rata 80,9% dan pada uji coba kelompok besar diperoleh persentase rata-rata 91% sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran buku digital manipulasi masase olahraga untuk peserta matakuliah Masase olahraga Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan sangat jelas dan menarik untuk digunakan sebagai salah satu sumber belajar. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat menjadi referensi mahasiswa dalam menunjang pembelajaran matakuliah Masase Olahraga.

Pengembangan model latihan teknik renang gaya bebas untuk pemula kelompok umur V melalui buku panduan di Perkumpulan Renang Amarta Aquatic Malang / Pratama Yudha Prawira

 

Prawira, Pratama Yudha. 2014. Pengembangan Model Latihan Teknik Renang Gaya Bebas Untuk Pemula Kelompok Umur V Melalui Buku Panduan di Perkumpulan Renang Amarta Aquatic Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd, (II) Usman Wahyudi, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: penelitian dan pengembangan, model latihan, teknik renang gaya bebas, buku panduan     Renang gaya bebas adalah berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air, kedua kaki digerakkan naik turun ke atas serta ke bawah secara bergantian serta ke dua tangan bergantian mengayuh ke depan. Kenyataan di lapangan dalam proses kegiatan pelatihan renang di Perkumpulan Renang Amarta Aquatic diantaranya: (1) model latihan renang gaya bebas yang diberikan pelatih kelompok Beginner sudah baik namun kurang bervariasi, (2) pada saat latihan berenang gaya bebas, masih ada beberapa atlet yang kurang baik pada teknik dasar gerakan kaki serta gerakan lengan, (3) media yang digunakan atlet di Perkumpulan Renang Amarta Aquatic hanya 1 yaitu pelatih, (4) media untuk pelatihan yang terdapat di Perkumpulan Renang Amarta Aquatic belum ada baik media cetak maupun audio-visual. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah untuk mengembangkan model latihan teknik renang gaya bebas untuk atlet pemula kelompok umur V melalui buku panduan di Perkumpulan Renang Amarta Aquatic. Dengan adanya buku panduan, diharapkan atlet pemula memahami dan menguasai tentang teknik renang gaya bebas dengan baik dan benar serta dapat meningkatkan prestasi atlet. Metode penelitian dan pengembangan ini menggunakan model dari Borg dan Gall. Namun menurut Ardhana, karena disesuaikan dengan keterbatasan waktu, tenaga, biaya serta dengan karakteristik produk yang dikembangkan metode penelitian dimodifikasi sebagai berikut: (1) melakukan penelitian dan mengumpulkan data awal termasuk kajian pustaka dan analisis kebutuhan, (2) mengembangkan produk awal, (3) evaluasi 2 ahli yaitu 1 ahli media, 1 ahli pelatihan renang, (4) uji coba kelompok kecil, (5) revisi produk berdasarkan para ahli dan uji coba kelompok kecil, (6) uji coba kelompok besar, (7) revisi produk akhir berdasarkan hasil kelebihan dan kekurangan dari produk sesuai saran dari hasil uji kelompok besar, (8) hasil akhir dari produk ini adalah buku panduan teknik renang untuk pemula. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil uji coba kelompok kecil, didapat persentase 86,6% dengan kriteria sangat baik, pada uji coba kelompok besar diperoleh persentase 89,5% dengan kriteria sangat baik, maka produk buku panduan model latihan teknik renang gaya bebas untuk pemula dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada kepada pihak-pihak terkait dengan cabang olahraga renang, peneliti sendiri dan peneliti lain untuk dikembangkan ke arah lebih lanjut.

Pengembangan pembelajaran blended berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran S-1 Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Henry Praherdhiono

 

ABSTRAK Praherdhiono, Henry. 2009. Pengembangan pembelajaran blended berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran S-1 jurusan teknologi pendidikan Universitas Negeri Malang. Tesis, Program Studi setingkat Jurusan Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sulton. M.Pd dan Pembimbing (II) Dr. Waras Kamdi. M.Pd Kata Kunci : blended, komputer pembelajaran. Mahasiswa secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai media pembelajaran secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Pengembangan media pembelajaran berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran S-1 jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang menerapkan prinsip (1) didasarkan pada pemecahan masalah dan kebutuhan yang sesuai dengan karakteristik sumber belajar, konten pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang diterapkan untuk melayani mahasiswa, (2) penggunaan perangkat lunak sistem operasi server dan web yang digunakan dalam pengembangan, merupakan aplikasi platform opensource yang distandarisasi untuk kepentingan pembelajaran pada Jurusan Teknologi Pendidikan Univesitas Negeri Malang dan (3) Pembelajaran model blended menjembatani prilaku dan budaya penggunaan pembelajaran berbasis web berupa prilaku individulistis sehingga terintegrasi dengan pembelajaran berbasis tatap muka berupa prilaku kolaboratif pada Jurusan Teknologi Pendidikan S-1 Univesitas Negeri Malang. Matakuliah yang dijadikan model adalah komputer pembelajaran atau Pembelajaran Berbasis Komputer. Pengembangan pembelajaran blended berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran s-1 jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang menghasilkan beberapa spesifikasi produk yaitu, (1) Model Web Pembelajaran matakuliah Komputer Pembelajaran, (2)Material Objek Pembelajaran Komputer Pembelajaran, (3) Panduan Standar Operasional Administrator, (4) Panduan Standar Operasional Dosen Pengampu dan (5) Panduan Standar Operasional Mahasiswa. Prosedur pengembangan pembelajaran blended berbasis web melalui beberapa tahap yaitu : (1) Analisis; (2) Rencana Evaluasi (3) Fase serentak yang meliputi desain, pengembangan sistim, ujicoba dan Implementasi dan evaluasi Formatif. Fase ini dapat dilakukan bekali-kali hingga batas waktu yang tidak ditentukan; (4) Implementasi Menyeluruh dan (5) Kajian Implementasi. Berdasarkan hasil implementasi secara menyeluruh produk pembelajaran melalui penerapan atau implementasi model blended dengan melalui web dapat memberikan keuntungan-keutungan: (1) variasi media, secara umum mahasiswa menggunakan media pembelajaran yang beragam; (2) informasi baru, selain menyediakan informasi melalui lingkup server lokal, adalah bahan ajar dapat diperkaya melalui kegiatan akses internet yang terintegrasi; (3) pengembangan navigasi teknologi level user. Pada setiap tingkatan level akan memperoleh hak akses yang berbeda dan (4) sistem dapat memfasilitasi komunikasi dan interaksi antara mahasiswa dengan dosen/nara sumber, meningkatkan kolaborasi antar mahasiswa untuk membentuk komunitas belajar. (5) perlu adanya evaluasi beberapa aspek sebelum diterapkan pada matakuliah kain. Berdasarkan tinjauan ahli disimpulkan (1) Produk Pengembangan Pembelajaran Model Blended sebaiknya diuji cobakan juga untuk matakuliah yang lain. (2) Produk pengembangan pembelajaran blended berbasis web memiliki keefektifan, efisiensi dan kemenarikan

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi limit untuk siswa kelas X SMA Negeri 1 Blitar / Tiara Dian Pratiwi

 

Pratiwi, Tiara Dian. 2014. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Limit untuk Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Blitar. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Aning Wida Yanti. S.Si, M.Pd. Kata Kunci : Teams Games Tournament, Hasil Belajar.     Berdasarkan hasil pengamatan awal dan wawancara guru matematika kelas X di SMA Negeri 1 Blitar menunjukkan bahwa guru menggunakan metode ceramah pada saat kegiatan pembelajaran. Pemberian soal sebaiknya dimulai dari soal yang mudah kemudian diberikan soal yang sukar. Siswa dengan kemampuan yang sedang apabila diberikan soal lain merasa kesulitan dan hasil belajar siswa dari tahun ketahun untuk materi limit sebagian besar cenderung dibawah standar kelulusan minimum. Keaktifan siswa dengan kategori baik. Maka dari itu untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament.    Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, dokumentasi dan cacatan lapangan. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas X.7 SMA Negeri 1 Blitar yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masig siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Pada penelitian ini tindakan yang dilakukan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, turnamen , dan penghargaan kelompok. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament pada pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Blitar mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada akhir kegiatan penelitian ini dapat diketahui bahwa hasil belajar meningkat sebesar 14,29 % dari 77,14% pada siklus pertama menjadi 91,43% pada siklus kedua dan dikategori tuntas jika siswa memperoleh nilai diatas atau sama dengan 76.

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil dan aktivitas belajar IPA siswa kelas VI SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang / Rendi Agus Triono

 

ABSTRAK Triono, Rendi Agus. 2010. Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil dan Aktivitas Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi S1 PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd., (II) Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: Metode Eksperimen, Aktivitas, Hasil Belajar, IPA Pengamatan yang telah dilaksanakan di SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang dapat diketahui beberapa permasalahan yang timbul pada mata pelajaran IPA. Adapun rincian dari permasalahan yang timbul: (1) nilai rata-rata siswa berdasarkan ulangan harian dan formatif mencapai 34%. Nilai rata-rata tersebut masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh sekolah tersebut, yaitu 75%; (2) guru cenderung masih mendominasi dalam proses pembelajaran; (3) siswa kurang diberi kesempatan untuk mengalami dan memperoleh sendiri pengetahuan yang didapat, sehingga siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Adapun penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki siswa dengan jalan meningkatkan hasil dan aktivitas belajar siswa dengan menerapkan metode eksperimen. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis Taggart yang terdiri dari 5 siklus dan 4 tahapan, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang yang terdiri dari 24 siswa dengan rincian 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil dan aktivitas belajar siswa. Indikasi adanya dampak yang baik terhadap hasil belajar adalah adanya kenaikan rata-rata skor dari nilai siswa yang sebelumnya mencapai 62,2 meningkat menjadi 76,5. selain itu dampak tersebut dapat dilihat dari hasil nilai tes evaluasi pada siklus I mencapai 52%, meningkat pada siklus II menjadi 65%, meningkat pada siklus III menjadi 78%, pada siklus IV sama dengan siklus III yaitu 78%, dan meningkat pada siklus V menjadi 91% serta semakin berkurangnya domiasi guru dalam proses pembelajaran, hal tersebut dapat dibuktikan dari pencapaian guru dalam menerapkan metode eksperimen, yaitu pada siklus I mencapai 64% meningkat pada siklus II menjadi 73%, meningkat pada siklus III menjadi 82%, meningkat pada siklus IV menjadi 87%, dan meningkat pada siklus V menjadi 96%. Untuk dampak terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari semakin meningkatnya berbagai komponen aktivitas belajar siswa mulai dari komponen keaktifan, kerjasama, mengeluarkan pendapat, dan bertanya menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik dari siklus I sampai siklus V. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan agar guru senantiasa dapat menerapkan metode eksperimen yang terbukti dapat meningkatkan hasil dan aktivitas belajar IPA siswa kelas VI di SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang.

Pemanfaatan media alam sekitar untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tematik tema lingkungan di kelas II C SDN Percobaan 2 Malang / Toni Tulus Santoso

 

ABSTRAK Santoso, Toni Tulus. 2010. Pemanfaatan Media Alam Sekitar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Tematik Tema Lingkungan di Kelas IIC SDN Percobaan 2 Malang. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1), Prof. Dr. H. Moch Shochib, M. Pd (2) Drs. Heru Agus Tri Widjaja, M. Pd Kata Kunci : Media, Alam Sekitar, Hasil Belajar, Pembelajaran Tematik Pembelajaran pada kelas II C di SDN Percobaan 2 Malang masih bersifat konvensional dengan metode ceramah, siswa merasa bosan karena guru memegang otoritas penuh, siswa hanya pasif. pemanfaatan media pembelajaran sangat minim. Pembelajaran yang seharusnya tidak memisah-misahkan bidang studi juga belum dilaksanakan sehingga hasil belajar siswa rendah. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan media alam sekitar pada pembelajaran tematik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran tematik tema lingkungan siswa kelas II C SDN Percobaan 2 Malang (2)Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa Kelas II C SDN Percobaan 2 Malang dalam pembelajaran tematik tema lingkungan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas II C SDN Percobaan 2 Malang. Dalam penelitian ini peneliti sebagai sekaligus guru kelas sebagai pengajar di bantu dengan teman guru kelas II A, II B, II C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media alam sekitar dalam pembelajaran tematik tema lingkungan di kelas II C SDN percobaan 2 Malang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Nilai proses (aktifitas) pada pratindakan belum ditemukan karena siswa hanya mendengarkan saja. Nilai proses pada siklus 1 pertemuan 1 adalah 70,9. pertemuan 2 adalah 76,7, siklus II pertemuan 1 adalah 88,8, dan pada pertemuan 2 adalah 95,6. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pratindakan adalah 60,7 siklus I adalah 80 dan pada siklus II adalah 92,5. Ketuntasan belajar klasikal pada pratindakan adalah 20%, pada akhir siklus I adalah 80% dan pada akhir siklus II adalah 93%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pemanfaatan media alam sekitar dalam pembelajaran tematik tema lingkungan dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Saran yang dapat diberikan agar peneliti selanjutnya dapat memanfaatkan media alam sekitar dalam pembelajaran tematik dengan tema yang lain, memasukkan unsur permainan dalam pembelajaran, membuat strategi pembelajaran yang lebih mengkondisikan siswa untuk pembelajaran di luar sehingga pembelajaran lebih kondusif.

Studi pemahaman konsep dan miskonsepsi siswa kelas X SMA pada pokok bahasan unsur, senyawa dan campuran menggunakan tes diagnostik Two-Tier / Anik Ifadatul Husnah

 

Husnah, Anik Ifadatul. 2014. Studi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Siswa Kelas X SMA pada Pokok Bahasan Unsur, Senyawa dan Campuran Menggunakan Tes Diagnostik Two-Tier. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Prayitno, M.Pd., (2) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata kunci : pemahaman konsep, miskonsepsi, unsur, senyawa, campuran, tes diagnostik two-tier Ilmu kimia memiliki peranan penting dalam peningkatan kualitas hidup manusia, sehingga pemahaman terhadap kimia merupakan kebutuhan penting. Siswa mempelajari kimia pada pendidikan menengah, namun sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik konsep yang terdapat dalam ilmu kimia merupakan konsep yang abstrak dan berjenjang. Karakteristik demikian memicu pemahaman yang tidak tepat dan terjadinya miskonsepsi pada siswa. Siswa SMP pertama kali mengenal kimia melalui topik tentang penggolongan zat (unsur, senyawa, campuran) serta perubahan zat (perubahan fisika dan kimia, sehingga siswa SMA telah memiliki struktur kognitif tentang topik tersebut. Pemahaman pada topik ini sangat diperlukan oleh siswa SMA karena mencakup konsep dasar kimia yang diperlukan guna mempelajari topik lain yaitu reaksi-reaksi kimia dan konsep mol yang dipelajari. Tes diagnostik Two-tier adalah salah satu instrumen yang efektif dan efisien untuk mengetahui pemahaman konsep siswa dan mendiagnosa miskonsepsi. Oleh karena itu peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengidentifikasi pemahaman konsep dan miskonsepsi siswa kelas X SMA pada pokok bahasan unsur, senyawa dan campuran menggunakan instrumen tes diagnostik two-tier. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian 87 siswa SMA kelas X. Langkah-langkah penyusunan instrumen diagnostik two-tier meliputi (1) menentukan cakupan konsep, (2) melakukan kajian literatur miskonsepsi, (3) menyusun dan menyebarkan tes terbuka, untuk memperbanyak alternatif jawaban dan alasan jawaban dan (4) penyusunan dan validasi instrumen tes. Instrumen tes yang digunakan mencakup 38 butir soal dengan 2-4 alternatif jawaban disertai 3-5 alternatif alasan pilihan jawaban. Hasil tes diagnostik two-tier kemudian dianalisis guna menentukan pemahaman dan miskonsepsi siswa. Miskonsepsi ditentukan oleh konsistensi jawaban salah pada setiap pasangan soal dan diperkuat melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) pemahaman konsep siswa SMA kelas X pada pokok bahasan unsur, senyawa dan campuran tergolong cukup, (b) temuan miskonsepsi yang diperoleh sebanyak 12, seperti: (1) siswa menganggap unsur merupakan zat yang terdiri atas atom-atom tunggal (monoatomik), (2) siswa menganggap campuran heterogen merupakan campuran yang dihasilkan dari dua zat atau lebih yang berbeda wujud dan (3) siswa mempercayai bahwa gelembung-gelembung yang teramati saat air mendidih merupakan gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2).

Pengembangan soal evaluasi interaktif mata kuliah sofball untuk mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Keolahragaan UNiversitas Negeri Malang / Nasiruddin Tamimi

 

Tamimi, Nasiruddin. 2014. Pengembangan Soal Evaluasi Interaktif Mata Kuliah Softball Untuk Mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sulistyorini, M.Pd, (2) Febrita Paulina Heynoek, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: pengembangan, soal evaluasi, interaktif          Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan, ditemukan fakta bahwa dari evaluasi hasil belajar berupa tes tulis yang selama ini dilakukan, mahasiswa merasa kurang tertarik terhadap jenis evaluasi tersebut. Dari soal mengenai ketidak-tertarikan mahasiswa dengan pilihan jawaban evaluasi, tugas, dan kegiatan pembelajaran ditemukan sejumlah (56,7%) mahasiswa menyatakan tidak tertarik pada tahap evaluasi hasil belajar, (36,7%) mahasiswa menyatakan tidak tertarik pada bagian pemberian tugas, (3,3%) mahasiswa menyatakan tidak tertarik terhadap proses pembelajaran yang dijalani, dan (3,3%) mahasiswa menyatakan tidak tertarik pada pemberian materi. Data ini didukung oleh pernyataan dosen yang dituliskan dalam kuesioner bahwa evaluasi hasil belajar yang selama ini dilakukan berupa tes lisan dan belum bervariasi. Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut, dapat diketahui bahwa mahasiswa belum pernah mendapatkan soal evaluasi berbasis komputer, sedangkan semua mahasiswa memiliki kemampuan menggunakan komputer. Untuk itu, peneliti mengambil fokus pengembangan dari bentuk tes lisan ke dalam bentuk interaktif berbasis komputer yang diharapkan dapat menjadi suatu pembaharuan dalam hal penyajian soal evaluasi yang menarik dengan mempertimbangkan kemenarikan dan kemudahan dalam pengoperasian produk.     Dari hasil analisis data validasi produk oleh ahli pembelajaran softball diperoleh rata-rata persentase validitas 76,21% dan ahli media 66,22%. Dari hasil uji coba kelompok kecil diperoleh rata-rata presentase 82,81% dan kelompok besar 79,53%. Data persentase di atas menunjukkan bahwa produk soal evaluasi interaktif ini memiliki tingkat validitas yang valid dengan kriteria kelayakan layak tanpa revisi. Berdasarkan hasil analisis data ini diperoleh kesimpulan bahwa produk sudah layak secara praktik sebagai salah satu bentuk soal evaluasi hasil belajar. Saran-saran yang diajukan berdasarkan kajian produk ini meliputi saran pemanfaatan, saran diseminasi, dan saran pengembangan lebih lanjut. Saran pemanfaatan yang diajukan yaitu hendaknya produk dimanfaatkan dengan menggunakan komputer yang memenuhi spesifikasi minimal proscessor pentium 4, RAM minimal 256 Mb, Os minimal Windows 7, dan program minimal Flash Player. Saran diseminasi yaitu disebarluaskan ke ruang lingkup yang lebih luas sebaiknya produk ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan sasaran yang ingin dituju baik isi maupun kemasan. Saran pengembangan lebih lanjut yaitu untuk peneliti selanjutnya sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dan untuk subjek penelitian diharapkan lebih luas lagi.

Hubungan kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa SMA negeri dalam mengikuti bimbingan kelompok di Kota Malang / Guruh Sukma Hanggara

 

ABSTRAK Hanggara, Guruh Sukma. 2009. Hubungan Kemenarikan Interpersonal Konselor dan Motivasi Siswa SMA Negeri dalam Mengikuti Bimbingan Kelompok di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Drs. Djoko Budi Santoso. Kata kunci: Kemenarikan Interpersonal, Motivasi, Bimbingan Kelompok. Kemenarikan interpersonal merupakan daya tarik yang dimiliki oleh seorang karena adanya kesan positif yang melekat pada diriorang tersebut, dan merupakan salah satu syarat untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih efektif. Fungsi lain dari kemenarikan interpersonal secara tidak langsung akan membantu untuk mengevaluasi perilaku, yaitu dengan analisa perbandingan sosial. Kemenarikan interpersonal yang kurang dimiliki konselor menyebabkan kedekatannya dengan siswanya menjadi berkurang pula. Minimnya kemenarikan interpersonal tersebut berakibat pada kurangnya motivasi siswa untuk mengikuti layanan tersebut. Dengan kata lain kemenarikan interpersonal penting untuk membangkitkan motivasi sisiwa dalam menerima layanan bimbingan kelompok yang diberikan oleh konselor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa SMA Negeri dalam mengikuti bimbingan kelompok di kota Malang. Penelitian ini mengambil obyek penelitian yaitu siswa SMA Negeri di Kota Malang. Sampel penalitian ini sebanyak 246 siswa dari tiga sekolah dari kecamatan yang berbeda yang ada di Kota Malang. Teknik pengambilan sanpel menggunakan multi stage kluster random sampling, jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala kemenarikan konselor dan skala motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok dengan menggunakan penskalaan likert. Analisis deskriptif menggunakan persentase dan kualifikasi variabel. Analisis hipotesisi menggunakan uji korelasional product moment. Berdasarkan persepsi 246 responden diketahui konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat stabilitas emosional dan moral yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 111 (45,2%) menarik, 6 (2,4%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik karena kestabilan emosional dan moralnya. Sebanyak 51 (20,7%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat kompetensi sosial yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 169 (68,7%) menarik, 26 (10,6%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik. Sebayak 88 (35,8%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat kompetensi intelektual yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 115 (46,7%) menarik, 43 (17,5%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik. Sebanyak 100 (40,7%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat rasa estetika yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 121 (49,1%) menarik, 25 (10,2%) cukup menarik dan tidak ditemukan siswa yang mempersepsi konselornya sebagai pribadi yang kurang menarik. Sebanyak 101 (41,1%) siswa SMAN di kota Malang sangat termotivasi secara intrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok, 142 (57,7%) termotivasi, 3 (1,2%) cukup termotivasi serta tidak ditemukan siswa yang kurang termotivasi dalam mengikuti bimbingan kelompok yang diselenggarakan oleh konselornya. Serta sebanyak 25 (10,2%) siswa SMAN di kota Malang sangat termotivasi secara ektrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok, 174 (70,7%) termotivasi, 47 (19,1%) cukup termotivasi serta tidak ditemukan siswa yang kurang termotivasi secara ekstrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok yang diselenggarakan oleh konselornya. Selai itu juga terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok (r = 0,622) dengan (p = 0,000 < 0,05) dimana (38,7%), motivasi siswa tersebut ditentukan oleh kemanrikan interpersonal konselor dan (61,3%) ditentukan oleh elemen lain. Agar motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok, maka aspek kemenarikan interpersonal yang masih harus ditingkatkan adalah: kompetensi sosial, kompetensi intelektual dan rasa estetika, disamping itu konselor harus pandai-pandai menciptakan motivasi eksternal yang dapat ditempuh adalah harus pandai-pandai dalam memberi peguatan, pandai memilih tempat yang tepat untuk penyelenggaraan bimbingan, serta harus kreatif dalam memilih teknik yang digunakan sehingga kegiatan bimbingan kelompok akan lebih menarik. Penekanan kepala sekolah terhadap konselor untuk senantiasa menampakan kemenarikan interpersonal masing-masing merupakan salah satu hal yang bisa membangkitkan motivasi siswa. Dosen dan pimpinan bimbingan dan konseling di lembaga harus segera bergegas dan berbenah untuk kedepan lebih mengedepankan pelatihan-pelatihan ketrampilan berbasis hati. Berdasarkan hasil penelitian ini maka timbullah suatu gagasan supaya LPTK memprogramkan suatu karantina khusus berkenaan dengan penguasaan aspekaspek kemenarikan interpersonal konselor tersebut. Salah satu kebijakan yang bisa dilakukan oleh lembaga terkait adalah dengan menerbitkan semacam rujukan, jurmal ilmiah, melalui berbagai media yang bisa menambah wawasan dan memupuk kemenarikan interpersonal khususnya pada konselor. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada permasalahan yang sama, bisa diusahakan untuk mengkaji masalah ini dengan jangkauan yang lebih luas dengan menambahkan atau mengembangkan variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.

Pengembangan modul berbasis konsep sukar dan kesalahan konsep pada materi tatanama senyawa biner dan anion poliatomik / Angga Puspitaningrum

 

Puspitaningrum, Angga. 2014. Pengembangan Modul Berbasis Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep pada Materi Tatanama Senyawa Biner dan Anion Poliatomik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc., (2) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: pengembangan modul, konsep sukar, kesalahan konsep, tatanama senyawa biner, anion poliatomik     Tatanama senyawa biner dan anion poliatomik merupakan salah satu materi yang menjadi konsep dasar kimia. Kurangnya pemahaman peserta didik terhadap konsep tersebut dapat mengakibatkan kesulitan dalam memahami materi selanjutnya. Di samping itu, pemahaman konsep yang salah juga dapat menimbulkan persepsi konsep sukar yang berpeluang mengakibatkan salah konsep. Persepsi konsep sukar dan salah konsep pada materi tatanama senyawa biner dan anion poliatomik disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah bahan ajar yang kurang sesuai dengan pola berpikir dan karakteristik peserta didik. Oleh karena itu, perlu suatu alternatif pemecahan, salah satunya dengan mengembangkan suatu modul pembelajaran. Pengembangan modul bertujuan untuk (1) menghasilkan modul berbasis konsep sukar dan kesalahan konsep pada materi tatanama senyawa biner dan anion poliatomik; (2) mengetahui kelayakan modul berdasarkan hasil validasi ahli dan uji keterbacaan peserta didik.     Desain model pengembangan modul yang digunakan adalah model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk. Model 4-D terdiri dari empat tahap, yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate). Pengembangan modul tatanama senyawa biner dan anion poliatomik hanya mengadaptasi model 4-D sampai tahap ketiga. Penilaian terhadap modul hasil pengembangan dilakukan dengan validasi isi dan uji keterbacaan. Validasi isi dilakukan oleh seorang dosen dan dua orang guru kimia sedangkan uji keterbacaan dilakukan oleh peserta didik kelas XI dan XII SMA Negeri 5 Malang. Data hasil penelitian berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan perhitungan persentase rata-rata dan data kualitatif berupa komentar dan saran validator untuk perbaikan modul.     Produk hasil pengembangan berupa modul tatanama senyawa biner dan anion poliatomik. Dasar penyusunan modul adalah persepsi konsep sukar dan kesalahan konsep yang dialami peserta didik. Materi pada modul disajikan dengan hirarki konsep yang ditunjukkan pada peta pemikiran. Hasil validasi isi oleh seorang dosen dan dua orang guru kimia diperoleh persentase kelayakan yang sama yaitu sebesar 86,67% dengan kriteria sangat valid. Hasil uji keterbacaan oleh peserta didik kelas XI diperoleh persentase rata-rata 86,01% untuk tingkat kognitif atas dan 83,03% untuk tingkat kognitif bawah. Persentase kelayakan rata-rata yang diperoleh dari hasil uji keterbacaan oleh peserta didik kelas XII dengan tingkat kognitif atas dan bawah berturut-turut sebesar 86,61% dan 81,84%. Hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa modul hasil pengembangan layak digunakan dalam pembelajaran kimia di SMA.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional (studi multikasus di SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu) / Mahfud Mahmud Gamar

 

ABSTRAK M.Gamar Mahfud, 2009. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mencapai SMK Bertaraf Internasional (Studi Multikasus di SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. A.Sonhadji K.H, M.A.,Ph.D., (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: kepemimpinan kepala sekolah, SMK, sekolah bertaraf internasional Keberhasilan sekolah menengah kejuruan dalam mencapai sekolah bertaraf internasional tidak lepas dari peran kepala sekolah sebagai pemimpin. Keberhasilan SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu dalam usaha mencapai SMK Bertaraf Internasional merupakan faktor kepemimpinan kepala sekolah. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional, penelitian ini difokuskan pada: (1) kepemimpinan kepala sekolah dalam mengubah pola pikir warga sekolah mencapai SMK Bertaraf Internasional, yang terdiri dari melakukan sosialisasi, membangun komitmen seluruh warga sekolah, menumbuhkan kesadaran warga sekolah, memberi contoh teladan, memberi motivasi terhadap warga sekolah, dan (2) kepemimpinan kepala sekolah dalam mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional, yang mencakup membentuk tim SMKRSBI, merumuskan visi ke depan, pembenahan kurikulum dan model pembelajaran, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pembenahan manajemen, perbaikan sarana dan prasarana, menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), dan pendanaan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan berbagai hal berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan kepemimpinan kepala sekolah SMK Negeri 1 Palu dan SMK Negeri 3 Palu mengubah pola pikir warga sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional,(2) untuk mendeskripsikan kepemimpinan kepala sekolah dalam mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan multi kasus, karena dua kasus penelitian dengan latar yang berbeda. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yakni: (1) wawancara mendalam, (2) observasi berperan serta pasif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan alur: (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan, (d) analisis data kasus individu, (e) analisis data lintas kasus. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria, yaitu; (1) kredibilitas, (2) transferbilitas, (3) dependenitas, dan (4) komfirmabilitas Dari hasil paparan data penelitian ini ditemukan: Kasus SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu merupakan Sekolah Bertaraf Internasional fase rintisan yang memiliki: (1) kepemimpinan kepala sekolah merubah pola pikir warga sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional dengan melakukan; (a) sosialisasi, sosialisasi dilakukan terhadap interen dan eksteren sekolah, (b) membangun komitmen bersama, kepala sekolah membangun komitmen bersama guru-guru dan tenaga administrasi, komitmen dengan pemerintah daerah khususnya Dinas Pendidikan Nasional, komitmen dengan komite dan orang tua murid serta komitmen dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri, (c) menumbuhkan kesadaran, untuk mengubah polah pikir warga sekolah sehingga mau melakukan perubahan, kepala sekolah berusaha menumbuhkan kesadaran guru-guru, pegawai dan siswa bahwa sekolahnya adalah SMKRSBI yang tentunya tidak sama dengan sekolah-sekolah lainnya, (d) memberi contoh teladan dengan mencontohkan keteladanan kepada warga sekolah berupa kedisiplinan, tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas, dan pengabdian terhadap sekolah, (e) memberikan motivasi terhadap warga sekolah, kepala sekolah melakukannya dalam bentuk penghargaan yang diberikan kepada guru-guru, tenaga administrasi bahkan satpam yang berprestasi, mendorong agar warga sekolah untuk mengembangkan diri melalui kegiatan seminar, training, pelatihan, diklat, dan meningkatkan kualifikasi pendidikan, dan (2) kepemimpinan kepala sekolah mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional dengan melakukan; (a) membentuk tim SMK RSBI, (b) merumuskan visi ke depan, (c) pembenahan kurikulum dan model pembelajaran, (d) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), (e) pembenahan manajemen, (f) perbaikan sarana dan prasarana, (g) menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), (h) pendanaan sekolah. Kesimpulan penelitian ini adalah; (1) upaya kepala sekolah merubah pola pikir warga sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional dilakukan dengan cara : (a) melakukan sosialisasi, (b) membangun komitmen warga sekolah, (c) menumbuhkan kesadaran dalam diri warga sekolah, (d) memberi contoh teladan, dan (e) memberi motivasi; (2) kepemimpinan kepala sekolah dalam mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional dilakukan dengan cara: (a) membentuk tim kerja SMK RSBI, (b) merumuskan visi kedepan, (c) pembenahan kurikulum dan model pembelajaran, (d) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), (e) pembenahan manajemen, (f) perbaikan sarana dan prasarana, (g) menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), dan (h) pendanaan sekolah. Penelitian ini memberikan beberapa saran. Pertama, bagi sekolah yang diteliti disarankan: (a) kepala sekolah senantiasa berusaha semaksimal mungkin merubah pola pikir warga sekolah dan senantiasa membangun komitmen bersama dengan seluruh warga sekolah dalam mewujudkan visi dan misi sekolah, (b) memotivasi seluruh warga sekolah untuk mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pelatihan-pelatihan, khursus-kursus dan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, khususnya bagi guru dan tenaga kependidikan. Kedua,untuk kepala-kepala pada yayasan dan sekolah-sekolah lain, penelitian ini dapat dijadikan bahan keilmuan dalam rangka mengubah pola pikir warga sekolahnya untuk mencapai sekolah bertaraf internasional dan melakukan upaya-upaya untuk mempercepat tercapainya sekolah bertaraf internasional di sekolahnya. Ketiga, Dinas Pendidikan kota Palu sebagai bagian dari pemerintah, dapat memberikan: (a) kemudahan bagi pihak sekolah untuk melakukan hubungan kerja sama dengan semua pihak termasuk Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI) dalam rangka memajukan sekolah, (b) bantuan dana untuk pembiayaan sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan sekolah serta peningkatan Sumber Daya Manusia sehingga upaya sekolah mencapai sekolah bertaraf internasional tercapai. Keempat, bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan penelitian ini sebagi bahan keilmuan untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah dalam upaya mencapai SMK Bertaraf Internasional dan disarankan untuk melanjutkan penelitian ini pada beberapa aspek yang belum dikemukakan dalam tulisan ini.

Pengembangan moderl latihan teknik dasar drive tenis meja untuk pemula pada Persatuan Tenis Meja Bonanza Blitar / Gemma Sekar Enjing Panengah Siwi

 

Enjing, Gemma Sekar. 2014. Pengembangan Model Latihan Teknik Dasar Drive Tenis Meja untuk Pemula pada PTM Bonanza Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mu’arifin, M.Pd. (II) Dra. Sri Purnami, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, model-model latihan, Drive Tenis Meja     Pukulan drive merupakan salah satu teknik dasar dalam tenis meja. Di PTM Bonanza Blitar diberikan materi tentang pukulan drive. Berdasarkan observasi terhadap 1 orang pelatih dan 16 atlet PTM Bonanza Blitar, banyak atlet yang belum memahami teknik dasar drive dan sedikitnya model-model latihan yang kurang bervariasi. Maka dari itu perlu adanya model-model latihan teknik dasar drive tenis meja sehingga dapat membantu atlet dalam berlatih pukulan drive secara maksimal dan variatif. Maka disusunlah rancangan produk pengembangan model-model latihan teknik dasar drive tenis meja.     Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membuat model-model latihan teknik dasar drive tenis meja di PTM Bonanza Blitar agar lebih menarik dan bervariasi.     Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), langkah-langkah tersebut adalah: (1) melakukan Analisis produk yang akan dikembangkan (2) mengembangkan produk awal (3) validasi ahli (4) uji coba kelompok kecil (5) revisi produk (6) uji coba kelompok besar (7) revisi produk berdasarkan uji coba lapangan. Instrument yang digunakan adalah berupa angket berisi tentang rancangan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa presentase.     Hasil pengembangan penelitian ini yaitu model-model latihan teknik dasar drive yang dikemas dalam bentuk video. Model latihan dalam video ini terdiri dari memantulkan bola pada bet, memantulkan bola pada bet dua sisi, memantulkan bola pada bet dengan memutari meja, memantulkan bola di atas meja, memantulkan bola dilantai, melakukan pukulan drive dengan di umpan yang terdiri dari 9 variasi latihan, dan yang terakhir adalah latihan berpasangan dengan teman yang terdiri dari 7 variasi latihan. Model latihan ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli, yaitu 1 ahli isi produk, 1 ahli media, dan 1 ahli kepelatihan. Secara keseluruhan para ahli setuju dengan rancangan produk yang akan dikembangkan meskipun ada beberapa yang perlu diperbaiki. Hasil data yang diperoleh dari uji coba kelompok kecil mendapatkan rata-rata persentase 89,9% dan hasil data yang diperoleh dari uji coba kelompok besar mendapatkan rata-rata persentase 92,3%. Dalam penelitian ini, peneliti hanya sebatas di PTM Bonanza Blitar saja, diharapkan pada peneliti selanjutnya dapat memperluas subjek penelitiannya.

Pengaruh kredibilitas celebrity endorser pada iklan Pond's terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada mahasiswa pengguna produk Pond's di Universitas Negeri Malang) / Sri Hastuti

 

ABSTRAK Hastuti, Sri. 2009. Pengaruh Kredibilitas Celebrity Endorser Pada Iklan Pond’s Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Pada Mahasiswa Pengguna Produk Pond’s di Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyanto, M. M., (II) Titis Sinta Dewi, S. P., M. M., Kata Kunci: Kredibilitas Celebrity Endorser, Keputusan Pembelian Konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel kredibilitas celebrity endorser terhadap keputusan pembelian konsumen produk Pond’s. Penelitian ini mempunyai 2 variabel, yaitu variabel independen (X) yang terdiri dari Daya Tarik (X1), Keahlian (X2), dan Kepercayaan (X3), serta variabel dependen (Y) Keputusan Pembelian Konsumen. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa pengguna produk Pond’s di Universitas Negeri Malang, data diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner tertutup. Populasi tidak dapat ditentukan berapa jumlah pastinya. Oleh karena itu, untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus infinitive population, dari situ jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 140 mahasiswa. Setelah dilakukan proses pengolahan data dan analisis regresi linier berganda diketahui hasil penelitian menyatakan (1) Daya Tarik, dari hasil analisis data diperoleh nilai β1=0,271; t hitung=5,293; dan signifikansi t=0,000. Hal ini menunjukkan Daya Tarik berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, (2) Keahlian, dari hasil analisis data diperoleh nilai β2=0,169; t hitung=3,531; dan signifikansi t=0,001. Hal ini menunjukkan Keahlian berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, (3) Kepercayaan, dari hasil analisis data diperoleh nilai β3=0,513; t hitung=5,896; dan signifikansi t=0,000. Hal ini menunjukkan Kepercayaan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan secara parsial terdapat 3 variabel yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, yaitu Daya Tarik, Keahlian, dan Kepercayaan. Sedangkan secara simultan variabel Daya Tarik, Keahlian, dan Kepercayaan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Variabel yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen adalah variabel kepercayaan. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah (1) Melihat tanggapan responden yang positif terhadap Gita Gutawa, Sandra Dewi, dan Cut Mini sebagai celebrity endorser pada iklan Pond’s maka PT. Unilever Indonesia, Tbk. tetap mempertahankan penggunaan ketiga selebriti tersebut, karena ketiga selebriti memiliki karakteristik dan kelebihan masing-masing dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, (2) Gita Gutawa, Sandra Dewi, dan Cut Mini sebagai celebrity endorser produk Pond’s perlu menambah pengetahuan mereka tentang Pond’s dan manfaat produknya serta meningkatkan kemampuan dalam mengkomunikasikan pesan iklan Pond’s supaya dapat menarik perhatian konsumen sehingga akan menimbulkan niat untuk membeli. (3) Diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan celebrity endorser dan keputusan pembelian konsumen dengan memasukkan lebih banyak variabel celebrity endorser, yaitu kecocokan selebriti dengan produk dan audiens, public image, dan profesionalisme seorang selebriti sebagai variabel yang akan diteliti. Dengan demikian hasil penelitian akan memberikan masukan yang lebih banyak bagi PT. Unilever Indonesia, Tbk. dan para pemasar serta praktisi iklan.

Pengembangan modul stoikiometri berdasarkan konsep sukar dan kesalahan konsep / Rohmatul Maghfiroh

 

Maghfiroh, Rohmatul. 2014. Pengembangan Modul Stoikiometri Berdasarkan Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fariati, M.Sc, (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: Modul, Konsep Sukar, Kesalahan Konsep, Stoikiometri.     Stoikiometri merupakan salah satu konsep kimia yang memiliki karakteristik abstrak sehingga memungkinkan timbul persepsi konsep sukar dan kesalahan konsep. Hasil penelitian oleh Anjarwati (2008), Vaudhi (2008), Nilawati (2012) dan Roikah (2012) menunjukkan bahwa peserta didik mengalami persepsi konsep sukar dan kesalahan konsep yang perlu dicari solusi pemecahannya. Salah satunya adalah menyediakan modul stoikiometri yang dapat mencegah konsep sukar dan kesalahan konsep. Oleh karena itu, dilakukan pengembangan modul stoikiometri berdasarkan konsep sukar dan kesalahan konsep. Tujuan pengembangan adalah (1) menghasilkan modul stoikiometri dan (2) mengetahui kelayakan modul dengan menggunakan data hasil validasi isi dan uji keterbacaan.     Pengembangan modul menggunakan model 4D oleh Thiagarajan, dkk. Model 4D terdiri dari empat tahapan, yaitu merencanakan (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan menyebarluaskan (disseminate), namun pengembangan hanya dilakukan hingga tahap ketiga, yaitu tahap pengembangan (develop). Modul hasil pengembangan di uji dengan validasi isi dan uji keterbacaan. Validasi isi dilakukan oleh seorang dosen kimia FMIPA UM, guru kimia SMAN 5 Malang dan guru kimia SMA yang sedang menempuh S2. Uji keterbacaan dilaksanakan pada 10 peserta didik kelas XI dan 10 peserta didik kelas XII SMAN 5 Malang. Instrumen pengumpulan data terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah daftar ceklist dengan menggunakan skala likert sedangkan bagian kedua merupakan lembar komentar, kritik dan saran. Data yang diperoleh terdiri dari data kuantitatif berupa skor penilaian angket dan kualitatif yaitu komentar, kritik dan saran. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik perhitungan persentase dan deskriptif.     Produk hasil pengembangan berupa modul stoikiometri. Hasil validasi isi oleh dosen menunjukkan kriteria sangat valid sebesar 84% sedangkan hasil validasi isi oleh tiga guru kimia SMA diperoleh 94% dengan kriteria sangat valid. Subjek uji keterbacaan pada tiap kelas dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok peserta didik dengan tingkat kognitif tinggi dan rendah. Hasil uji keterbacaan pada kelas XI menghasilkan persentase kelayakan sebesar 81% (sangat valid) untuk tingkat kognitif tinggi dan 76% (valid) untuk tingkat kognitif rendah, sedangkan skor hasil uji keterbacaan pada peserta didik kelas XII adalah 89% (sangat valid) dan 79% (valid) berturut-turut untuk tingkat kognitif tinggi dan rendah. Hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa modul layak untuk digunakan sebagai sumber belajar.

Kepercayaan sebagai pemediasi gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja (studi pada karyawan PT Steel Pipe Industry of Indonesia (SPINDO) Unit V Pasuruan) / Wina Prastuti

 

ABSTRAK Prastuti, Wina. 2009. Kepercayaan Sebagai Pemediasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kepuasan Kerja (Studi pada Karyawan PT Stell Pipe Industry Of Indonesia (SPINDO) Unit IV Pasuruan). Program S1 Manajemen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. M.Arief, M.Si, Pembimbing (II) Elfia Nora, S.E, M.Si. Kata Kunci: Kepercayaan, Gaya Kepemimpinan Transformasional, Kepuasan Kerja Pada era globalisasi dan pasar bebas seperti sekarang ini mencari seorang pemimpin yang tepat memang tidak gampang. Hal tersebut disebabkan kebanyakan suplay tenaga profesional yang tersedia cenderung kurang siap untuk menjadi pemimpin yang matang. Banyak pemimpin di indonesia yang sangat minim kesiapan namun tetap saja dipakai demi kepentingan perusahaan. Akibatnya, seperti sekarang ini banyak pemimpin yang malah membawa perusahaannya ke arah keruntuhan. Kepemimpinan memerankan peranan yang dominan penentu keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan. Sikap dan perilaku kepemimpinan manajer sangat besar pengaruhnya terhadap organisasi yang dipimpinnya. Pada masa sekarang ini gaya kepemimpinan yang sering diadopsi oleh perusahaan/organisasi adalah gaya kepemimpinan transformasional, hal ini dikarenakan gaya kepemimpinan ini menyangkut bagaimana mendorong orang lain untuk berkembang dan menghasilkan performa yang melebihi standart yang diharapkan. Kepercayaan merupakan suatu hal yang penting, karyawan yang percaya kepada pimpinan mereka akan berusaha untuk meningkatkan kinerja dan mereka memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik apabila terjadi perubahan dalam perusahaan. Dengan adanya kepercayaan serta kepuasan kerja yang tinggi sehingga proses kerja dapat berjalan sesuai dengan visi dan misi organisasi/perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran deskriptif kondisi gaya kepemimpinan transformasional, kepercayaan, kepuasan kerja, serta pengaruh langsung gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepercayaan dan kepuasan kerja, maupun pengaruh secara tidak langsung kepercayaan memediasi gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja karyawan PT SPINDO unit IV Pasuruan. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh-pengaruh tersebut dilakukan dengan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan SPSS 13.0 for windows dengan taraf sig 5%. Peneitian ini merupakan penelitian penjelasan dengan data yang diperoleh dari menyebarkan angket terrtutup yang menggunakan skala Likert. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji. Namun demikian, uji validitas dan realibilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan realibilitas data yang diperoleh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT SPINDO unit IV Pasuruan yang berjumlah 155 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik proportional random sampling dimana jumlah sampel didapat dengan menggunakan rumus Slovin. Berdasarkan tehnik dan rumus Slovin tersebut, maka peneliti menetapkan nilai presisi (kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditoleransi/ diinginkan) sebesar 5% sehingga didapat jumlah sampel sebesar 112 orang karyawan PT SPINDO unit IV Pasuruan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Kondisi deskriptif gaya kepemimpinan transformasional, kepercayaan dan kepuasan kerja tergolong cukup baik. (2) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepercayaan dan kepuasan kerja. (3) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara kepercayaan terhadap kepuasan kerja (5) Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang positif dan signifikan antara kepercayaan sebagai pemediasi gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja. Saran yang dapat diberikan peneliti berkaitan dengan hasil yang ada dalam penelitian ini adalah dengan adanya pengaruh yang positif dan signifikan diantara variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini maka pihak perusahaan hendaknya mengoptimalkan penerapan gaya kepemimpinan transfomasional yang mana dapat meningkatkan kepercayaan sehingga kepuasan kerja akan meningkat. Untuk meningkatkan penerapan gaya kepemimpinan transformasional yaitu dengan cara pemimpin harus mengarahkan karyawan untuk saling bekerjasama, melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan saran-saran karyawan.

Studi pemahaman konsep dan miskonsepsi calon guru kimia pada topik struktur atom menggunakan instrumen diagnostik Two-Tier / Nike Kusuma Wardhani

 

Wardhani, Nike Kusuma. 2014. Studi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Calon Guru Kimia pada Topik Struktur Atom Menggunakan Instrumen Diagnostik Two-Tier. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Prayitno, M.Pd., (2) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata kunci : pemahaman konsep, miskonsepsi, struktur atom, instrumen diagnostik two-tier Struktur atom merupakan topik yang penting dalam ilmu kimia. Topik ini merupakan topik dasar yang harus dikuasai oleh siswa sebelum mempelajari topik-topik lain yang lebih rumit. Namun hasil penelitian menunjukkan pemahaman siswa mengenai topik ini masih tergolong rendah. Selain itu banyak peneliti menemukan bahwa beberapa siswa memiliki pemahaman yang berbeda dengan yang disepakati oleh masyarakat ilmiah mengenai topik ini, yang disebut dengan miskonsepsi. Miskonsepsi sulit untuk dirubah sehingga dapat menjadi penghalang bagi siswa untuk mempelajari topik-topik berikutnya. Miskonsepsi dapat disebabkan oleh berbagai sumber, salah satunya guru. Bahkan terkadang guru dapat menjadi sumber utama miskonsepsi yang dialami oleh siswa. Miskonsepsi perlu untuk diidentifikasi dan salah satu instrumen yang efektif dan efisien untuk mengidentifikasi miskonsepsi adalah instrumen diagnostik two-tier, yaitu berupa pilihan ganda dua lapis dimana lapis (tier) pertama berisi pilihan jawaban dan lapis (tier) kedua berisi pilihan alasan yang mengacu pada pilihan jawaban. Berdasarkan paparan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan studi pemahaman konsep dan miskonsepsi calon guru kimia pada topik struktur atom menggunakan instrumen diagnostik two-tier. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian 82 mahasiswa program studi pendidikan kimia tahun ketiga Universitas Negeri Malang pada tahun ajaran 2013/2014. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menyusun instrumen diagnostik two-tier adalah (1) menentukan cakupan konsep yang diteliti, (2) melakukan kajian literatur miskonsepsi, (3) menyusun dan menyebarkan tes terbuka untuk mencari kemungkinan pilihan jawaban mahasiswa yang didukung dengan wawancara, dan (4) penyusunan dan validasi instrumen diagnostik two-tier. Instrumen soal yang digunakan berjumlah 32 butir soal dengan 2-5 alternatif jawaban disertai 2-5 alternatif alasan pilihan jawaban. Hasil tes diagnostik two-tier dan wawancara dianalisis secara deskriptif. Miskonsepsi ditentukan dari jawaban yang konsisten salah pada soal-soal dengan konsep yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) secara keseluruhan pemahaman mahasiswa program studi pendidikan kimia tahun ketiga pada topik struktur atom tergolong cukup, (b) miskonsepsi yang ditemukan sebanyak 6 miskonsepsi, yaitu mahasiswa menganggap: (1) muatan inti efektif terhadap elektron di kulit dalam tidak dipengaruhi oleh keberadaan elektron lain di kulit yang lebih luar, (2) besarnya tingkat energi orbital sebanding dengan gaya tarik inti yang dibutuhkan agar elektron pada orbital tersebut tetap berada pada tempatnya, (3) tingkat energi orbital tidak dipengaruhi oleh muatan inti (nomor atom), (4) ukuran orbital tidak dipengaruhi oleh tingkat energi orbital, (5) atom tersusun atas kulit-kulit dan orbital berada pada kulit, dan (6) atom logam memuai ketika dipanaskan dan menyusut ketika didinginkan.

Evaluasi pelaksanaan program kerja tahunan Cabang Olahraga Wushu Indonesia (WI) KONI Kota Malang 2012 / Komar Rubianto

 

Rubianto, Komar. 2014. Evaluasi Pelaksanaan Progam Kerja Tahunan Cabang Olahraga Wushu Indonesia (WI) KONI Kota Malang Tahun 2012. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Drs. Heru Widijoto, M. S., Pembimbing (II): Drs. Mu’arifin, M. Pd. Kata Kunci: Evaluasi, Progam Kerja, Wushu Indonesia (WI) Kota Malang KONI Kota Malang memiliki beberapa cabang olahraga. Setiap cabang olahraga merupakan suatu organisasi, yaitu sebagai wadah untuk mengatur kegiatan cabang olahraga. Setiap cabang olahraga harus membuat progam kerja, rencana anggaran biaya, laporan kegiatan, dan evaluasi baik dari dalam maupun pihak luar yang nantinya diserahkan ke KONI Kota Malang. Akan tetapi hasil observasi peneliti menunjukan bahwa belum diadakan evaluasi dari pihak luar. Sehingga terdapat kesenjangan antara harapan KONI Kota Malang dengan fakta yang ada di lapangan, khususnya cabang olahraga Wushu Indonesia (WI). Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Progam Kerja Wushu Indonesia (WI) Kota Malang tahun 2012 ditinjau dari variabel konteks (context), masukan (input), proses (process), dan produk (product). Analisis yang digunakan adalah teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Data yang terkumpul diolah, dianalisis dan disajikan secara naratif dan presentase. Hasil penelitian terkait dengan keefektifan pelaksanaan progam kerja Wushu Indonesia (WI) Kota Malang tahun 2012 ditinjau dari konsep CIPP adalah 69,06% dengan kategori baik. Evalusi dibagi menjadi empat komponen yaitu ditinjau dari konteks, masukan, proses dan produk. Tingkat keefektifan dari variabel diukur dengan tabel kriteria presentase. Adapun tingkat keefektifan dari variabel konteks yaitu 100% dengan kategori keefektifan sangat baik. Terkait dengan tujuan progam kerja, bidang kesekretariatan memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang keorganisasian memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang pembinaan prestasi memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang bendahara memilikitingkat keefektifan 100% dengan kategori sangat baik. Bidang sarana dan prasarana memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori sangat baaik. Tingkat keefektifan dari variabel masukan adalah 77,83% dengan kategori baik. Atlet memiliki tingkat keefektifan 75,51% dengan kategori baik. Pelatih memiliki tingkat keefektifan 72,73% dengan kategori baik. Bidang kesekretariatan memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang keorganisasian memiliki tingkat keefektifan 90,91% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang pembinaan prestasi memiliki tingkat keefektifan 86,11% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang bendahara memilikitingkat keefektifan 83,33% dengan kategori sangat baik. Bidang sarana dan prasarana memiliki tingkat keefektifan 76,47% dengan kategori baik. Tingkat keefektifan dari variabel proses adalah 67,70% dengan kategori baik. Atlet memiliki tingkat keefektifan 63,17% dengan kategori baik. Pelatih memiliki tingkat keefektifan 78,13% dengan kategori baik. Bidang kesekretariatan memiliki tingkat keefektifan 80% dengan kategori keefektifan baik. Bidang keorganisasian memiliki tingkat keefektifan 87,50% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang pembinaan prestasi memiliki tingkat keefektifan 72,22% dengan kategori keefektifan baik. Bidang bendahara memilikitingkat keefektifan 83,33% dengan kategori sangat baik. Bidang sarana dan prasarana memiliki tingkat keefektifan 88,89% dengan kategori sangat baik. Tingkat keefektifan dari variabel produk adalah 45,40% dengan kategori cukup baik. Atlet memiliki tingkat keefek tifan 25% dengan kategori kurang baik. Pelatih memiliki tingkat keefektifan 61,11% dengan kategori baik. Bidang kesekretariatan memiliki tingkat keefektifan 33,33% dengan kategori keefektifan kurang baik. Bidang keorganisasian memiliki tingkat keefektifan 73,33% dengan kategori keefektifan sangat baik. Bidang pembinaan prestasi memiliki tingkat keefektifan 68,18% dengan kategori keefektifan baik. Bidang bendahara memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori sangat baik. Bidang sarana dan prasarana memiliki tingkat keefektifan 100% dengan kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dijabarkan diatas peneliti merekomendasikan Progam Kerja WI Kota Malang dapat dilanjutkan dengan beberapa aspek yang harus dibenahi sehingga pada tahun-tahun berikutnya pelaksanaan progam kerja dapat berjalan lebih baik lagi. Aspek yang perlu dibenahi pada variabel masukan (1) perlu adanya pemberian uang saku/transport selama melatih, (2) perlu adanya kritetia khusus dalam perekrutan atlet sehingga prestasi atlet yang berada di WI Kota Malang mampu mencapai hasil yang memuaskan, proses (1) diharapkan seluruh pengurus aktif berpartisipasi dalam pelksanaan Progam Kerja WI Kota Malang sehingga pelaksanaan progam berjalan maksimal, produk (1) perlu adanya perbaikan progam latihan guna memperoleh prestasi maksimal dan mendapat juara, (2) diharapkan terutama bidang organisasi agar lebih aktif dan selalu mengajak pengurus lain untuk aktif dalam pelaksanaan progam kerja Wushu Indonesia (WI) Kota Malang tahun-tahun berikutnya.

Pengembangan multimedia pembelajaran kimia pada materi Redoks untuk SMA kelas X / Nanda Try Hastuti

 

Hastuti, Nanda Try. 2013. Pengembangan Multimedia Pembelajaran Kimia pada Materi Redoks untuk SMA Kelas X. Skripsi, Jurusan kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Munzil, S.Pd, M.Si. (II) Drs.Su’aidy, M.Pd.. Kata Kunci : Multimedia, Four-D Model, Reaksi Redoks Pada umumnya pembelajaran kimia di dalam kelas masih menggunakan metode ceramah dan menggunakan media buku dan papan tulis sebagai penunjang . Penggunaan buku dalam pengajaran kimia terkesan membosankan dan monoton dikalangan siswa-siswi SMA/MA. Untuk menggambarkan konsep abstrak dibutuhkan media yang mampu menggambarkan konsep tersebut secara dinamis dalam bentuk makro maupun mikroskopisnya agar lebih mudah dimengerti oleh siswa. Salah satu materi abstrak yang membutuhkan gambaran secara makro dan mikro yaitu meteri reaksi redoks. Cara yang tepat untuk menjelaskan konsep abstrak dalam materi ini yaitu dengan menggunkan multimedia pembelajaran. Multimedia yang dikembangkan guna menambah sumber belajar siswa menyajikan video dan animasi di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu Mengetahui hasil pengembangan multimedia pada materi redoks dan mengatahui kevalidan dari pengembangan media pembelajaran kimia dalam pokok bahasan reaksi redoks untuk SMA kelas X tersebut. Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model Four-D yang terdiri dari dari Define (perencanaan), Design (perancangan), Develop (pengembangan), dan Disseminate (penyebaran). Model ini juga biasa disebut sebagai model pengembangan 4-P. Validasi yang dilakukan adalah validasi terhadap materi dan validasi terhadap media yang dikembangkan. Validasi dilakukan dua tahap, validasi pertama yang akan dilakukan oleh ahli media dari dosen fakultas kimia, dan validasi tahap kedua akan dilakukan oleh ahli materi dari guru SMAN 6 dan SMAN 4 Malang. Kriteria kelayakan validasi media pada angket dengan skala 30-100. Pada skala 80-100 masuk pada kriteria sangat layak, 66-79 masuk pada kriteria layak, 56-65 untuk kriteria cukup layak dan perlu dilakukannya revisi, 40-55 untuk kriteria tidak layak dan perlu dilakukan revisi untuk kriteria tidak layak dan perlu dilakukannya revisi total. Multimedia yang dikembangkan memiliki karakteristik yaitu: (1) terdapat animasi untuk menjelaskan konsep secara mikroskopis, (2) terdapat video untuk menjelaskan konsep secara mikroskopis, (3) terdapat evaluasi untuk mengetahui pemahaman setelah mempelajari multimedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa multimedia pembelajaran redoks yang dikembangkan telah memenuhi kriteria sangat layak pada validasi materi dengan rata-rata nilai 99. Mendapat kriteria layak pada validasi media dengan rata-rata nilai 75. Berdasarkan hasil penilaian tersebut tidak perlu dilakukan revisi terhadap multimedia pembelajaran yang dikembangkan.

Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran variasi gerak dasar ke dalam modifikasi atletik dengan pendekatan bermain untuk siswa kelas V SDN 1 Gador Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek / Agung Ari Wibowo

 

Wibowo, Agung Ari. 2014. Meningkatkan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Variasi Gerak Dasar kedalam Modifikasi Atletik dengan Pendekatan Bermain Untuk Siswa Kelas V SDN 1 Gador Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mardianto, M.Kes, (II) Drs. Lokananta Teguh, H. W, M.Kes. Kata Kunci: aktivitas pembelajaran variasi gerak dasar atletik, peningkatan, bermain Salah satu materi pendidikan jasmani yang terdapat dalam SK dan KD semester I di Sekolah dasar kelas V adalah variasi gerak dasar atletik. Di dalam materi ini meliputi gerak dasar jalan, lari, lompat dan lempar. Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaran gerak dasar atletik yang dilakukan telah diperoleh temuan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani masih kurang, siswa belum terlihat aktif, dan siswa kurang bersemangat dengan pembelajaran gerak dasar atletik jalan, lari, lompat, dan lempar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran gerak dasar atletik yaitu jalan, lari, lompat, dan lempar di kelas V SD Negeri 1 Gador Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek menggunakan pendekatan bermain. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pangamatan, dan refleksi. Perbaikan pembelajaran dalam PTK ini menggunakan permainan, “pos segitiga”, permainan “jalur pelangi”, permainan “benteng takeshi”, permainan “lempar simpai”, permainan” memindahkan bola kedalam balok kardus” dan permainan “lompat katak”. Tujuan penerapan pendekatan permainan ini adalah agar siswa kelas V SDN 1 Gador kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek lebih antusias dalam beraktivitas pada saat pembelajaran gerak dasar atletik. Dalam penelitian ini, melibatkan peneliti sebagai perancang RPP, mempersiapkan alat yang digunakan dan lembar observasi yang digunakan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran gerak dasar atletik jalan, lari, lompat, dan lempar siswa mengalami peningkatan selama siklus 1 dan siklus 2. Sebelum diadakan penelitian tingkat aktivitas siswa sebahai berikut terdapat 14 siswa (42,4%) aktif dan 15 siswa (45,5%) kurang aktif, setelah diadakannya pendekatan bermain maka: 1) pada aktivitas berjalan: terdapat 19 siswa (58%) siswa aktif kemudian meningkat menjadi 27 siswa (82%), terdapat 4 siswa (12%) cukup aktif menurun menjadi 2 siswa atau (6%), terdapat 9 siswa (27%) kurang aktif menurun menjadi 3 siswa (9%). 2) pada aktivitas berlari: terdapat 12 siswa (36%) yang aktif meningkat menjadi 27 siswa (82%), terdapat 9 siswa (27%) cukup aktif menurun menjadi 4 siswa (12%), terdapat 11 siswa (33%) pada ketidak aktifan siswa menurun menjadi 2 siswa (6%). 3) pada aktivitas lompat: terdapat 14 siswa (42%) yang aktif meningkat menjadi 28 siswa (85%), terdapat 8 siswa (24%) cukup aktif menurun menjadi 3 siswa (9%), terdapat 10 siswa (30%) kurang aktif menurun menjadi 2 siswa (6%). 4) pada aktivitas lempar: terdapat 13 siswa (39%) yang aktif meningkat menjadi 28 siswa (85%), terdapat 8 siswa (24%) cukup aktif menurun menjadi 2 siswa (6%), terdapat 11 siswa (33%) tidak aktif menurun menjadi 1 siswa (3%). Berdasarkan hasil temuan pada penelitian dapat disimpulkan bahwa pendekatan bermain dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran variasi gerak dasar atletik jalan, lari, lompat, dan lempar kelas V SDN 1 Gador Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

Survei siswa peserta kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di Sekolah Menengah Pertama Negeri se-Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar / Adin Kurniawan

 

Kurniawan, Adin. 2014. Survei Minat Siswa Kegiatan Ekstrakurikuler Sepakbola di Sekolah Menengah Pertama Negeri Se-Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H.Agus Gatot S,M. Kes (II) Dra. Sri Purnami, M. Pd Kata Kunci: minat siswa, ekstrakurikuler sepakbola, SMP Negeri se-Kecamatan Wlingi     Kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di SMPN Se-Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar ditetapkan berdasarkan kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Kegiatan ekstrakurikuler sepakbola bisa menjadi bagian penting dari sekolah bahkan dapat menjadi ciri khas sekolah dan dapat dijadikan sebagai daya tarik untuk menarik calon siswa baru pada tahun ajaran berikutnya, apalagi olahraga sepakbola menjadi olahraga yang paling digemari oleh masyarakat luas sekarang ini.     Antusiasme siswa peserta kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di SMP Negeri cukup sedikit terutama di SMP Negeri 1 Wlingi dan yang aktif mengikuti kegiatan esktrakurikuler sepakbola di SMPN Se-Kecamatan Wlingi juga berubah-ubah dalam setiap pertemuannya.     Berdasarkan masalah seperti yang telah diuraikan di atas, maka tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui minat siswa peserta kegiatan ekstrakurikuler terhadap kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di SMPN Se-Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara memberikan angket atau kuesioner kepada responden. Subjek penelitian ini adalah siswa peserta ekstakurikuler sepakbola di SMP Negeri Se-Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 71 siswa peserta ekstrakurikuler sepakbola yang dijadikan responden Jumlah sekolah yang diteliti hanya sebanyak 2 sekolah, yaitu SMPN 1 Wlingi yang berjumlah 27 siswa dan SMPN 2 Wlingi yang berjumlah 44 siswa hasil di SMP Negeri Se-Kecamatan Wlingi memiliki minat sebesar 88,31%. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti menyarankan agar (1)Perlu adanya peningkatan motivasi dari pihak pembina atau pelatih, guru dan kepala sekolah kepada siswa untuk meningkatkan minat pada siswa di SMPN Se-Kecamatan Wlingi dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepakbola. (2)Peningkatan sarana dan prasarana olahraga dalam rangka meningkatkan daya tarik siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler sepakbola. (3)Intensitas penyelenggaraan perlombaan-perlombaan baik secara internal maupun eksternal untuk meningkatkan latihan.

Pengaruh atribut produk terhadap proses keputusan pembelian (Studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang membeli dan menggunakan telepon seluler Nokia) / Garry Chrysanta

 

ABSTRAK Chrysanta, Garry. 2009. Pengaruh Atribut Produk Terhadap Proses Keputusan Pembelian (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang Membeli dan Menggunakan Telepon Selular Nokia). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si (II) Titis Shinta Dhewi, S.P, M.M. Kata kunci: Atribut Produk, Proses Keputusan Pembelian Salah satu kemajuan teknologi pada saat ini adalah terdapat pada bidang komunikasi yang ditandai dengan adanya berbagai macam alat komunikasi yang diciptakan untuk memudahkan sistem komunikasi bagi masyarakat dan salah satunya adalah telepon selular. Agar dapat lebih bersaing dengan produsenprodusen telepon selular yang lain, maka produsen telepon selular harus menetapkan strategi-strategi pemasaran yang jitu agar dapat memenangkan persaingan serta mampu mempertahankan market share yang telah diraih agar tidak direbut oleh para pesaing yang mulai memasuki pasar Indonesia salah satunya adalah dengan mengembangkan atribut produk. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian, mengetahui pengaruh variabel atribut produk secara parsial terhadap proses keputusan pembelian, mengetahui pengaruh atribut produk secara simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen yaitu mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang membeli dan menggunakan telepon selular Nokia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yakni Atribut Produk (X) yang terdiri dari variabel Harga (X1), Merek (X2), Mutu (X3), Desain (X4), dan Garansi (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel Proses Keputusan Pembelian (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang Membeli dan Menggunakan Telepon selular Nokia. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 120 responden yang dipilih secara accidental sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen menjawab setuju terhadap keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian telepon selular Nokia, terdapat pengaruh secara parsial antara atribut produk terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, terdapat pengaruh secara simultan antara variabel atribut produk yang terdiri dari Harga (X1), Merek (X2), Mutu (X3), Desain (X4), dan Garansi (X5) terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dan variabel Merek (X2) merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh dominan terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. ii Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa variabel atribut produk sangat efektif digunakan sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sehingga perlu adanya perbaikan dan perhatian khusus terhadap variabel-variabel tersebut terutama untuk variabel mutu karena mutu merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh paling lemah terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Remidiasi pemahaman konsep siswa kelas X GB SMK Nasional Malang pada materi suhu dan kalor menggunakan strategi konflik kognitif / Zamzim Zulfa Rahmawati

 

Rahmawati, Zamzim Zulfa. 2014. Remidiasi Pemahaman Konsep Siswa Kelas X SMK Nasional Malang Pada Materi Suhu dan Kalor Menggunakan Strategi Konflik Kognitif. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Kadim Masjkur, M.Pd, (II) Dr. Sutopo, M.Si Kata kunci: remidiasi, konflik kognitif, suhu, kalor      Fisika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang ditempuh dalam jenjang pendidikan di Indonesia. Ilmu fisika memiliki konsep yang sangat luas, baik yang bersifat abstrak maupun bersifat konkrit. Suhu dan kalor adalah salah satu dari materi fisiska yang bersifat abstrak, sehingga dapat menimbulkan berbagai pemikiran yang berbeda pada diri siswa ketika mempelajarinya. Akibatnya banyak siswa yang memiliki pemahaman yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksud sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan remidiasi terhadap pemahaman konsep siswa pada materi suhu dan kalor dengan strategi konflik kognitif. Pada strategi konflik kognitif siswa akan dihadapkan pada fenomena-fenomena yang bertentangan dengan apa yang dipikirkan siswa dan pada akhirnya siswa dengan sendirinya akan mengubah konsep awal yang salah dengan konsep baru yang benar.     Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek pada penelitian ini sebanyak 24 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang menempuh materi Suhu dan Kalor . Instrumen dalam penilitian ini terdiri dari soal pretest dan postest, rekaman audio, dan catatan observer. Soal pretest dan postest menggunakan jenis soal yang sama yang terdiri dari 12 soal berupa soal pilihan ganda. Siswa diperbolehkan untk memilih lebih dari satu opsi jawabanyang menurut mereka benar. Selanjutnya data dianalisis, melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.     Hasil penelitan dari remidiasi pemahaman konsep siswa dengan menggunakan strategi konflik kognitif tentang konsep kalor, suhu dan kesetimbangan termal, dan keadaan termometrik terhadap suatu zat menunjukkan terjadi penurunan jumlah siswa yang menjawab salah pada setiap nomor soal dari pretest ke postest. Hal ini menunjukkan bahwa strategi koflik kognitif cukup efektif digunakan sebagai strategi dalam pembelajaran remidiasi.

Pengembangan media pembelajaran interaktif pelajaran geografi untuk Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dringu Kabupaten Probolinggo / Yaniar Khoirun Nisya

 

ABSTRAK Nisya, Yaniar Khoirun. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Pelajaran Geografi Untuk Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dringu Kabupaten Probolinggo Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Mohammad Efendi,M.Pd. M.Kes, (II) Drs. Abdul Manan Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Pelajaran Geografi Media dapat diartikan suatu perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima. Sedangkan Multimedia interaktif adalah media yang dapat berinteraksi secara langsung dengan pebelajar, karena interaktif memiliki komunikasi yang bersifat dua arah. Dan dalam proses belajar mengajar perlu diciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga respon yang berkesan akan lebih diingat dibandingkan respon yang tidak berkesan. Pengembang melihat kondisi pada saat belajar geografi di kelas X SMAN 1 Dringu, materi yang diberikan kepada pebelajar masih menggunakan metode diskusi, tanya jawab, dan ceramah dari pembelajar. Tingkat keefektivan pebelajar dalam hal bertanya, menjawab pertanyaan, menggungkapkan ide gagasan, menganalisis suatu masalah dan proses pembelajaran lainnya menurut pengembang kurang efektif, karna geografi merupakan pelajaran yang berhubungan dengan gejala alam, sehingga tidak memungkinkan bagi siswa untuk menggunakan media cetak saja untuk mengembangkan imajinasinya. Pengembangan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan penggunaan pembelajaran interaktif dalam pembelajaran, pendapat siswa tentang penggunaan pembelajaran interaktif, serta pengaruh penggunaan pembelajaran interaktif terhadap kondisional pembelajaran siswa dikelas. Selanjutnya, untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengumpulan data melalui metode tes sebagai instrumen pokok, dokumentasi, observasi, dan angket sebagai instrumen pendukung. Metode tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi, dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pribadi dan nilai siswa, observasi dilakukan untuk mendapatkan data mengenai kondisional pembelajaran siswa, sedangkan angket digunakan untuk mengetahui pendapatsiswa tentang penggunaan pembelajaran interaktif dalam pembelajaran. Media pembelajaran interaktif ini divalidasikan oleh ahli materi sebanyak 2 orang, ahli media sebanyak 2 orang, dan audiens siswa sebanyak 20 orang. Setelah dianalisis media pembelajaran interaktif ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 87,5%, ahli materi 89,16% dan siswa individual 83,9% serta siswa kelompok kecil 84,04%. Hal ini menunjukkan media pembelajaran interaktif cukup dapat memberikan efek positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa secara menyeluruh, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran interaktif sangat efektif digunakan dalam pembelajaran siswa.

Perbedaan pengaruh model pembelajaran inquiry training dan 5E learning cycle terhadap prestasi belajar dan kerja ilmiah fisika siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2013/2014 / Riska Puspandini

 

Puspandini, Riska. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training dan 5E Learning Cycle terhadap Prestasi Belajar dan Kerja Ilmiah Fisika Siswa Kelas X SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2013/2014. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyono Koes H., M.Pd, MA, (II) Dr. Sentot Kusairi, M,Si. Kata Kunci: Inquiry Training, 5E Learning Cycle, prestasi belajar fisika, kerja ilmiah Kurikulum 2013 berorientasi pada proses pembelajaran yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Kurikulum 2013 menuntut adanya suatu pendekatan saintifik yang tercakup dalam model-model pembelajaran inkuiri sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan mengaktifkan siswa melalui kerja ilmiah. Pembelajaran fisika di SMAN 7 Malang dengan menggunakan model pembelajaran 5E Learning Cycle belum sesuai dengan yang diharapkan. Prestasi belajar dan kerja ilmiah siswa masih belum memuaskan. Maka dari itu diajukanlah model pembelajaran lain yang berbasis inkuiri, yakni model pembelajaran Inquiry Training. Model Inquiry Training dipilih karena tiap fase dalam model tersebut mendukung meningkatnya kerja ilmiah siswa dan prestasi belajarnya. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen control group pre-test post-test. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kelas X SMAN 7 Malang. Teknik pemilihan sampel menggunakan Cluster Sampling dimana satu kelas menjadi kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian menggunakan tes pilihan ganda dan tes kerja ilmiah. Instrumen prestasi belajar siswa menggunakan tes pilihan ganda dengan reliabilitas sebesar 0,78. Data dianalisis ada atau tidaknya perbedaan menggunakan uji-t, kemudian dibandingkan rata-ratanya yang mana yang lebih baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar siswa di kelas yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training sebesar 70,3 (sd=0,104) sedangkan rata-rata prestasi belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran 5E learning cycle sebesar 63,8 (sd=0,122). Sementara rata-rata kerja ilmiah siswa di kelas yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training sebesar 78,7 (sd=7,00) sedangkan rata-rata kerja ilmiah siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran 5E learning cycle sebesar 70,8 (sd=7,81). Dapat disimpulkan bahwa (1) prestasi belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran Inquiry Training lebih tinggi dari siswa yang belajar dengan model pembelajaran 5E Learning Cycle, dan (2) kerja ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Inquiry Training lebih tinggi dari siswa yang belajar dengan model pembelajaran 5E Learning Cycle.

Pengembangan media pembelajaran video berbasis kreativitas untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan tahun ajaran 2013/2014 (studi pada siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 1 Boyolangu) / Pandu Wahyudianarta

 

Wahyudianarta, Pandu. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Video Berbasis Kreativitas Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Tahun Ajaran 2013/2014 (Studi Pada Siswa Kelas X Pemasaran SMK Negeri 1 Boyolangu). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd., M.M., (2) Dr. Ludi Wisnu Wardana, S.T., S.Pd., S.E., M.M. Kata Kunci: media pembelajaran video, hasil belajar, kewirausahaan     Banyak usaha dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. SMK yang bertujuan dapat mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini dan yang akan datang. Guru ingin menggunakan media alternatif video sebagai media membantu dalam proses pembelajaran. Penggunaan media yang bisa menarik perhatian siswa, maka seorang guru dituntut pandai dalam membuat media pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswa dan kelas. Salah satu standar kompetensi yang diajarkan di SMK Negeri Boyolangu program keahlian Pemasaran adalah Mengelola Konflik. Tujuan penelitian pengembangan ini untuk (1) menghasilkan produk berupa video media pembelajaran berbasis kreativitas pada standar Mengelola Konflik, (2) untuk mengetahui validitas produk video sebagai media pembelajaran video pada materi Mengelola Konflik, serta (3) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media pembelajaran video dengan yang tidak menggunakan.     Penelitian pengembangan dilakukan dengan menggunakan pendekatan Borg dan Gall. Kemudian peneliti menggunakan model pengembangan Research And Development yang dikembangkan Sugiyono, melalui tahap-tahap: (1) potensi dan masalah, (2) mengumpulkan informasi, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) perbaikan desain, (6) revisi produk, (7) uji coba pemakaian, dan (8) revisi produk. Validitas media dilakukan oleh ahli materi dan ahli media. Uji coba media kepada siswa kelas X PM SMK Negeri 1 Boyolangu. Dengan menggunakan post-test maka perbedaan hasil belajar siswa dapat diketahui.     Hasil validasi ahli materi sebesar 70,78% yang menyatakan materi sudah baik dan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Hasil validasi ahli media menunjukkan 86,33% dan dinyatakan media pembelajaran video sudah sangat baik dan sangat layak.     Kesimpulan dari penelitian pengembangan ini adalah media pembelajaran video berbasis kreativitas ini berguna dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa dari hasil Post Test kelas kontrol dan kelas eksperimen memperoleh hasil nilai < (-2,341 < -2,021) dan Pr (0,02 < 0,05) maka H0 ditolak. Dari nilai rata-rata kelas kontrol 79,71 dan kelas eksperimen 82,74 yang menunjukkan adanya perbedaan nilai post-test pada kedua kelas tersebut.

Pengembangan E-scaffolding getaran dan gelombang berbasis pembelajaran hibrid untuk menumbuhkan sikap ilmiah dan prestasi belajar fisika / Jauharil Wafi

 

Wafi, Jauharil. 2014. Pengembangan E-Scaffolding Getaran dan Gelombang Berbasis Pembelajaran Hibrid untuk Menumbuhkan Sikap Ilmiah dan Prestasi Belajar Fisika. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyono Koes Handayanto, M.Pd, M.A, (II) Drs. Purbo Suwasono, M.Si. Kata Kunci:¬e-scaffolding, pembelajaran hibrid, sikap ilmiah ilmiah, prestasi belajar. Getaran dan Gelombang adalah salah satu materi yang terdapat di dalam matakuliah Fisika Dasar. Prestasi belajar dan sikap ilmiah mahasiswa calon guru pada materi ini untuk masih kurang. Penelitian Koes H, dkk (2012) menyebutkan bahwa pencapaian prestasi belajar mahasiswa LPTK di wilayah Jawa Timur untuk materi Getaran dan Gelombang masih kurang jika ketuntasan minimal yang harus dicapai adalah 75%. Dari hasil wawancara mendalam yang telah dilakukan, kesulitan mahasiswa mempelajari materi Getaran dan Gelombang dipengaruhi oleh sistem perkuliahan yang sering dilakukan secara mandiri, kesulitan menerapkan rumus, serta belum ada bantuan yang diberikan kepada mahasiswa. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya pendampingan kognitif berupa e-scaffolding berbasis pembelajaran hibrid. Metode yang digunakan pada penelitian dan pengembangan ini menerapkan rancangan pengembangan Borg & Gall (1983). Instrumen pengambilan data yang digunakan adalah angket. Penilaian terhadap produk dan pengembangan adalah validasi isi dan uji coba terbatas. Pengambilan data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa e-scaffolding getaran dan gelombang termasuk dalam kriteria baik sehingga e-scaffolding dapat diterapkan dan dapat membantu meningkatkan prestasi belajar dan sikap ilmiah. Uji coba terbatas yang dilakukan terhadap 20 mahasiswa yang sedang menempuh matakuliah Fisika Dasar, 60% diantaranya menyatakan bahwa E-Scaffolding getaran dan gelombang dapat menumbuhkan prestasi belajar, dan 40% diantaranya menyatakan bahwa E-Scaffolding dapat menumbuhkan sikap ilmiah. Produk ini perlu ditindak lanjuti dengan uji coba lebih luas untuk mengetahui efektivitas penggunaan produk dalam menumbuhkan sikap ilmiah dan prestasi belajar.

Penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh basa jawa di kelas V SDN Sumbermanjing Kulon I Pagak Malang / Fatty Purwantie

 

ABSTRAK Purwantie, Fetty. 2009. Penerapan Metode Bermain Peran untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Unggah-Ungguh Basa Jawa di Kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Prasekolah, Program Studi S1 PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H.M Thoha A.R, S.Pd, M. Pd, (2) Drs. H. Rumidjan, M.Pd. Kata kunci: Metode bermain peran, keterampilan berbicara, unggah-ungguh Basa Jawa Ketika seseorang berbicara dengan orang lain dalam Bahasa Jawa maka perlu diperhatikan adanya tatanan dalam berbahasa Jawa yang disebut unggah-ungguh basa. Berdasarkan adanya unggah-ungguh basa dalam pergaulan masyarakat Jawa, diperlukan adanya pengenalan sejak dini terhadap tatanan tersebut. Pembelajaran unggah-ungguh basa di SD kebanyakan hanya menekankan pada kegiatan reseptif berbahasa. Sedangkan aspek produktifnya belum banyak dimunculkan. Sementara keterampilan reseptif yang tidak diimbangi dengan keterampilan produktif akan menjadikan siswa kurang mampu mengekspresikan ide dan berkomunikasi dalam kehidupan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk. (1) Mendeskripsikan penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa di kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang, (2) Mendeskripsikan metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa di kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang yang berjumlah 29 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, dokumentasi dan wawancara. Sedangkan evaluasi yang dilakukan terfokus pada hasil keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa siswa. Pada siklus I siswa kelompok tinggi mengalami kenaikan mengalami kenaikan sebesar 3 (4,41%), siswa kelompok sedang mengalami kenaikan sebesar 6,5 (10,83%), dan siswa kelompok rendah sebanyak 4,5 (8,65%). Pada siklus II kelompok tinggi mengalami kenaikan sebesar 15 (21,12%), siswa kelompok sedang mengalami kenaikan sebesar 16,5 (24,81%), dan siswa kelompok rendah sebanyak 24,16 (42,76%). Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai diatas 75 % sehingga siklus dihentikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah bahwa guru hendaknya menyajikan materi dengan memilih metode yang tepat dan menarik siswa. Hal ini diperlukan untuk meingkatkan kompetensi yang dimiliki siswa dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.

Lingkungan keluarga dan gaya belajar (learning style) terhadap hasil belajar siswa di SMK Wisnu Wardhana Malang / Novi Oktavia

 

Oktavia, Novi.2014. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Gaya Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa SMK Wisnuwardhana Malang. Skripsi. Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sopiah, M.Pd, M.M., (II) Trisetia Wijijayanti,S.E.,M.Ba. Kata Kunci : Lingkungan Keluarga, Gaya Belajar, Hasil Belajar     Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya yaitu faktor belajar lingkungan keluarga dan gaya belajar. Jadi faktor internal yang ada di dalam diri siswa dan eksternal harus seimbang. Lingkungan Keluarga sebagai faktor eksternal harus membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar, dapat mengukur hak dan kewajiban anak didalam lingkungan keluarga. Gaya belajar sebagai faktor internal siswa yang ada didalam diri siswa, siswa harus mengetahui bagaimana cara yang efektif siswa untuk menangkap informasi.     Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Lingkungan keluarga, gaya belajar, dan hasil belajar siswa di SMK Wisnuwardhana Malang; (2) Pengaruh lingkungan keluarga terhadap hasil belajar siswa SMK Wisnuwardhana Malang; (3) Pengaruh Gaya Belajar siswa SMK Wisnuwardhana Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanasi.     Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Wisnuwardhana Malang sebanyak 174 orang. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan menggunakan proportional random sampling, jumlah sampel diperoleh dengan menggunakan rumus slovin dengan jumlah sampel sebanyak 74 orang, teknik analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Lingkungan keluarga di SMK Wisnuwardhana adalah sangat baik, hal ini karena lingkungan keluarga siswa SMK Wisnuwardhana mempunyai peran dalam kegiatan belajar dan mempengaruhi hasil belajar. (2) Gaya belajar baik, hal ini karena siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, dan siswa menguasai gaya belajar mereka. (3) Prestasi belajar siswa SMK Wianuwardhana adalah baik. (4) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara lingkungan keluarga terhadap hasil belajar siswa di SMK Wisnuwardhana Malang. (5) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara gaya belajar terhadap hasil belajar siswa SMK Wisnuwardhana. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang bisa diberikan untuk SMK Wisnuwardhana Malang adalah peneliti menyarankan kepada siswa agar lebih sering berkomunikasi dengan lingkungan keluarga agar orang tua mengetahui kebutuhan anaknya. Di dalam proses belajar mengajar harus memperhatikan penjelasan guru dan mencatat pelajaran agar mudah untuk diingat. Siswa harus pandai-pandai mengarur waktu belajar. Bapak Ibu guru memperhatikan siswa dengan baik, misalnya siswa yang pandai didudukkan dengan siswa yang kurang pandai.

Penerapan model quantum writing untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Karangbesuki I Kota Malang / Pertariasti Hernantiyas

 

ABSTRAK Hernantiyas, Pertariasti. 2009. Penerapan Model Quantum Writing untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Karangbesuki I Kota Malang. Skripsi, Program S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Harry Poerwanto, M.Pd (2) Dra. Wiwik Dwi Hastuti, M.Pd. Kata kunci: Quantum Writing, Pembelajaran Bahasa Indonesia, Menulis Deskripsi Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Menurut Mary Leonhardt (dalam Elizabeth, 2002 : 31) Dari keempat aspek keterampilan tersebut, dapat dikatakan bahwa menulis merupakan aspek berbahasa yang rumit dan kompleks tingkatannya karena menyangkut kemampuan yang lebih khusus dalam pemakaian ejaan, struktur, kalimat, kosakata serta penyusunan paragraf. Pembelajaran menulis pertama kali diajarkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Demikian pula di SDN Karangbesuki I yang mengajarkan pembelajaran menulis sejak kelas I. Dalam pembelajaran menulis masih banyak kesulitan yang dialami oleh siswa. Kenyataan di lapangan menunjukkan kecenderungan pembelajaran menulis siswa hanya terpaku pada buku atau contoh dari guru sehingga siswa mengalami kesulitan untuk mengembangkan tulisannya tersebut, permasalahan lainnya siswa diberi kebebasan untuk menulis namun seringkali tidak ditindak lanjuti sehingga karangan siswa kebanyakan belum sesuai dengan ejaan dan struktur karangan yang benar. Untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi di SD perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang menarik, yaitu dengan model quantum writing. Quantum Writing adalah interaksi dalam proses belajar (menulis) niscaya mampu mengubah pelbagai potensi menulis yang ada dalam diri manusia menjadi ledakan/ gairah yang dapat ditularkan kepada orang lain (Hernowo, 2003:10). Langkah-langkah pembelajaran dalam quantum writing adalah: (1)tahap persiapan; (2) tahap draft kasar; (3) tahap berbagi; (4) tahap perbaikan; (5) tahap penyuntingan; (6) tahap penulisan kembali; (7) tahap evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Penerapan model Quantum Writing dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi siswa kelas V SDN Karangbesuki I; (2) Peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa Kelas V SDN Karangbesuki I menggunakan model Quantum Writing. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang yang berjumlah 32 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pra tindakan adalah 41,29 , nilai rata-rata siklus I adalah 66,98 dan nilai rata-rata siklus II adalah 77, 94. Hasil keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas V SDN Karangbesuki I mengalami peningkatan dari kegiatan pembelajaran siklus I dan kegiatan pembelajaran siklus II. Peningkatan skor keterampilan menulis karangan deskripsi siswa dari pra tindakan, siklus I dan siklus II adalah 36,65 dengan prosentase peningkatan rata-rata sebesar 88,76%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model quantum writing dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa serta memberikan nuansa belajar yang menyenangkan dan membuat siswa aktif, antusias dan bersemangat dalam menulis. Saran bagi Siswa hendaknya lebih aktif mengikuti setiap proses pembelajaran. Saran kepada guru, dalam mengajar hendaknya tidak sekedar mengajarkan dengan acuan pada buku dan menggunakan teknik pembelajaran yang monoton. Sebagai guru SD hendaknya lebih kreatif dan cermat dalam menggunakan suatu metode dalam proses pembelajaran, sehingga siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran dan dapat mengembangkan kreativitasnya.

Pengembangan media pembelajaran fisika virtual lab materi elastisitas untuk SMK kelas X / Charisma Pramuda Wijaya

 

Wijaya, Charisma. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Fisika Virtual Lab Materi Elastisitas SMK Kelas X. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Yudyanto, M.Si (2) Drs. H. Winarto, M.Pd Kata Kunci : media pembelajaran,fisika, virtual lab, elastisitas      Fisika ialah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam. Fisika yang mempunyai bagian-bagian yang dipelajari yaitu fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian sehari-hari, teori fisika dan bekerja ilmiah. Untuk itu diperlukan media pembelajaran Fisika yang dapat menjelaskan teori fisika dan melibatkan siswa dengan baik. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengembangkan media pembelajaran Fisika Virtual Lab materi Elastisitas, dengan harapan media pembelajaran ini dapat digunakan oleh guru dan siswa.      Desain penelitian pengembangan media pembelajaran Fisika Virtual Lab ini menggunakan model Borg dan Gall yang dimodifikasi menjadi lima tahap. Langkah-langkah yang dilakukan sampai revisi produk. Produk yang dihasilkan berupa Virtual Lab materi Elastisitas. Produk dikemas dalam CD atau media penyimpan lainya yang dapat dijalankan di dalam komputer atau laptop.      Pengambilan data uji coba terbatas media pembelajaran dilakukan menggunakan instrumen berupa angket kepada 2 validator dan siswa. Validasi dilakukan oleh Dosen Fisika Universitas Negeri Malang dan Guru SMKN 11 Malang. Uji coba terbatas produk pengembangan dilakukan pada dua puluh siswa kelas X RPL SMKN 11 Malang. Berdasarkan hasil analisis data uji coba terbatas diketahui tingkat kelayakan media pembelajaran yang dikembangkan menurut validator 1 sebesar 80%, menurut validator 2 sebesar 83%, dan siswa sebesar 92.5 %. Media yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria layak dan secara keseluruhan dinyatakan baik serta dapat digunakan dalam pembelajaran.

Pengaruh fasilitas belajar di sekolah latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XII IPS SMA Negeri 6 Malang / Eka Afni Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Eka Afni. 2010. Pengaruh Fasilitas Belajar di Sekolah dan Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Kelas XII IPS SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si, Ak. (2) Satia Nur Maharani, S.E., M.Sa, Ak. Kata kunci: Fasilitas Belajar, Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, setiap siswa tentu berharap akan dapat mencapai hasil yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Kenyataan yang terjadi terkadang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, yang meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Diantara semua faktor tersebut terdapat faktor fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua yang turut mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMAN 6 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (eksplanantory research) dan instrumen yang digunakan berupa kuisioner dan dokumentasi. Jumlah sampel sebanyak 50% dari jumlah populasi, yakni sebesar 55 siswa. Teknik analisis data menggunakan analisis data deskriptif dan analisis linier berganda. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa fasilitas belajar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 4,402 dengan signifikansi 0,000. Latar belakang sosial ekonomi orang tua juga memiliki pengaruh yang sigifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dengan diperolehnya nilai t sebesar 6,902 dengan signifikansi 0,000. Diketahui secara simultan bahwa fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh signifikan tehadap pengaruh prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 27,565 dengan signifikansi 0,000. Saran yang diajukan adalah: (1) Sekolah dalam pengadaan fasilitas belajar hendaknya memperhatikan kebutuhan belajar siswa, terutama kebersihan ruang sekolah dan memperbaiki fasilitas belajar yang telah ada, terutama fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran. (2)Bagi siswa berprestasi dan latar belakang sosial ekonomi orang tuanya kurang mampu diharapkan sekolah bisa memperhatikannya dengan memberikan beasiswa untuk membantu memenuhi biaya pendidikan, sehingga kebutuhan belajar dapat tercukupi dan dapat meningkatkan prestasi belajar. (3) Bagi peneliti berikutnya diharapkan mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua dengan menambah kajian variabel yang lain yang sekiranya mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pengaruh model pembelajaran dan tingkat kemampuan perseptual motorik siswa terhadap hasil belajar keterampilan / Johanis Julius Laemina

 

ABSTRAK OLEH JOHANIS JULIUS LEIMENA Selama ini model pembelajaran untuk pendidikan jasmani lebih lebih diarahkan kepada model tugas gerak dalam bentuk teknik gerakan yang standart atau baku. Model ini menngakibatkan anak pada tingkat sekolah dasar menjauhi kegiatan pendidikan jasmani karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan jasmani anak. Model ini dinamakan model pembelajaran tradisional, dimana guru yang lebih banyak berperan dalam kegiatan pendidikan jasmani. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi dalam model pembelajaran pendidikan jasmani yang teknik geraknya telah dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan anak. Model ini dirancang untuk mempermudah anak menguasai teknik gerakan mulai dari tingkat penguasaan gerak yang sederhana sampai pada tingkat penguasaan gerak yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan (model pembelajaran) terhadap prestasi belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan mempergunakan rancangan versi nonequivalenat control group design. Sampel penelitian sebanyak 80 anak pada sekolah dasar di kecamatan Saparua, Maluku Tengah. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) tidak ada perbedaan hasil belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli antara kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran modifikasi, dan kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran tradisional, (2) tidak ada perbedaan hasil belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli antara siswa yang memiliki tingkat kemampuan perseptual motorik tinggi dan kelompok siswa dedngan tingkat kemampuan perseptual motorik rendah, (3) tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kemampuan perseptual motorik siswa terhadap hasil belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli siswa sekolah dasar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan kepada para guru pendidikan jasmani di sekolah untuk menggunakan model pembelajaran modifikasi dimana model ini menawarkan pentahapan tugas gerak sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga anak akan lebih mudah memahami teknik gerakan dan menguasai tekni gerakan dasar tersebut dengan baik.

Menyelesaikan model getaran pegas dengan transformasi laplace / Risqi Undiansari

 

ABSTRAK Udiansari, Risqi. 2009. Menyelesaikan Model Getaran Pegas dengan Transformasi Laplace. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Rustanto Rahardi, M. Si, (II) Drs. Sudirman, M. Si. Kata kunci: getaran, pegas, Transformasi Laplace. Dalam sains sering ditemukan masalah-masalah yang penyelesaiannya tidak dapat diatasi dengan menggunakan rumus atau konsep yang sudah ada tanpa menggunakan persamaan diferensial. Dalam situasi seperti ini dibutuhkan penyelesaian atau perhitungan matematika secara khusus untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, sebagai contoh, masalah getaran pada pegas. Oleh karena itu diperlukan penyelesaian melalui persamaan diferensial. Transformasi Laplace adalah suatu metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial, yang memetakan masalah nilai awal ke dalam suatu persamaan aljabar atau sistem persamaan yang dapat diselesaikan dengan metode aljabar dan tabel transformasi Laplace. Dengan metode Transformasi Laplace akan dihasilkan solusi khusus secara langsung sesuai dengan kondisi nilai awal yang diberikan. Langkah-langkah menyelesaikan model getaran pegas dengan Transformasi Laplace yaitu pertama, mengetahui model getaran pegas dengan menggunakan Hukum Hooke dan Hukum Newton sehingga diperoleh persamaan diferensialnya. Model getaran pegas dibedakan ada atau tidaknya suatu redaman dan masingmasing dari model tersebut terdiri dari ada atau tidaknya gaya luar yang bekerja pada sistem. Kedua, menyelesaikan model getaran pegas tersebut yang berupa persamaan diferensial dengan Transformasi Laplace. Ketiga, dengan menggunakan alat bantu program maple dapat diketahui hasil Transformasi Laplace tersebut sehingga diperoleh grafik model getaran pegas. Model getaran pegas ini dapat dikembangkan lagi menjadi dua atau lebih derajat kebebasan pada pegas.

Penerapan model learning cycle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA materi sumber daya alam kelas IV SDN Gaprang 03 Kabupaten Blitar / Muhamad Rizqi Mubarok

 

Mubarok, Muhamad Rizqi. 2014. Penerapan Model Learning Cycle untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Materi Sumber Daya Alam Kelas IV SDN Gaprang 03 Kabupaten Blitar, Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd, (II) Dr. Agus Wedi, S. Pd., M.Pd .Kata kunci : Learning Cycle, Hasil belajar     Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 3 Januari 2014 di kelas IV SDN Gaprang 03, ditemukan fakta bahwa pembelajaran IPA belum sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran hanya terikat pada LKS. Kegiatan siswa hanya sebatas mendengarkan penjelasan dari guru kemudian mengisi LKS untuk selanjutnya dibahas bersama-sama di kelas. Hal ini berdampak pula pada hasil belajar siswa, nilai 7 dari 12 siswa atau 58,32 % dari keseluruhan siswa belum mencapai KKM. Penelitian yang akan dilakukan penulis berjudul: Penerapan Model Learning Cycle untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Kelas IV SDN Gaprang 03 Kabupaten Blitar.     Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dilakukan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan dengan tahapan penelitian meliputi perencanan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan model Learning Cycle untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi Sumber Daya Manusia pada siswa kelas IV SDN Gaprang 03 Kabupaten Blitar.     Hasil penelitian ini menunjukkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah sesuai dengan RPP yang telah dibuat, dimana guru dapat mengetahui perannya dalam pembelajaran sesuai dengan penerapan model Learning Cycle. Antusias siswa dalam pembelajaran dari rangkaian tiap pembelajaran mengalami peningkatan dari yang semula takut dan malu pada akhirnya siswa aktif dalam kegiatan menjelaskan hasil pengamatan, mengajukan pertanyaan, dan memberikan tanggapan. Hal ini mendorong siswa dalam proses pemerolehan pengetahuan, penguasaan dan perluasaan konsep, serta aplikasi konsep dalam kehidupan sehari-hari. bahwa rata-rata prosentase keberhasilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dengan model Learning Cycle siklus 1 sebesar 80%. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, dapat diperoleh data mengenai keberhasilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dengan penerapan model Learning Cycle. Rata-rata prosentase keberhasilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dengan model Learning Cycle siklus 2 sebesar 95%.     `Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Learning Cycle dalam pembelajaran IPA materi Sumber Daya Alam dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan proses pembelajaran pada siswa kelas IV SDN Gaprang 03 Kabupaten Blitar. Oleh karena itu guru disarankan untuk menggunakan model pembelajaran Learning Cycle bagi materi IPA dalam pembelajaran agar hasil belajar siswa meningkat dan pemahaman siswa berkembang lebih optimal.

Pengembangan strategi pembelajaran IPS dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan di kelas 7 SMP Negeri 1 Pengarengan Kabupaten Sampang / Fariz Faizal

 

ABSTRAK Faizal, Fariz. 2010. Pengembangan Strategi Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Kelas 7 SMPN 1 Pangarengan Kabupaten Sampang. Skripsi, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Malikah Thowaf, M.A, (II) Drs. Mashuri, M.Hum. Kata kunci: strategi pembelajaran, efektifitas, efisiensi, daya tarik. Dalam strategi pembelajaran, ada tiga variabel utama yang sangat penting yaitu, kurikulum, guru dan pengajaran. Dan guru menempati kedudukan sentral, sebab peranannya sangat menentukan.. Di sekolah-sekolah non unggulan, seperti di SMPN 1 Pangarengan, strategi mengajar IPS kurang bervariasi, kebanyakan di dalamnya adalah menggunakan metode ceramah. Padahal masih banyak metode lain yang bisa digunakan dengan kondisi pembelajaran. Masalah utama adalah kurang lengkapnya sarana/alat yang dihadapi oleh pengajar dalam menerapkan strategi dan media pembelajarannya. Sementara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengharuskan seorang guru untuk menguasai empat bidang studi (Geografi, Ekonomi, Sejarah dan Sosiologi) dalam pelajaran IPS. Maka dari itu guru harus mempunyai strategi yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan melihat kondisi murid dan sekolah. Fokus penelitian ini bagaimana guru mengembangkan strategi pembelajaran IPS yang efektif dan efisien diharapkan menjadi contoh sekolah lain dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sekolah terutama di kelas 7 dengan materi mendiskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Pangarengan di semua kelas 7 (7A,7B, dan 7C). Rancangan penelitian yang digunakan adalah kasus tunggal, bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti melihat secara langsung proses pembelajaran di kelas 7A, 7B dan 7C selama 4X tatap muka dan 2 minggu untuk wawancara dan dokumentasi, pada semester ganjil Tahun Ajaran 2008/2009. Tiga metode yang digunakan dalam mengumpulkan data-data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan bagaimana guru menggunakan strategi pembelajaran dengan pendekatan ekspositori dengan metode ceramah ternyata efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dari aspek kognitif, sedangkan pendekatan inquiri dengan metode diskusi ternyata efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dari aspek psikomotorik dan afektif. Strategi pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi dipilih sesuai dengan kondisi pembelajaran di kelas 7 SMPN 1 Pangarengan dan terbukti efisien waktu kecuali untuk metode diskusi memerlukan waktu yang lebih lama, sedangkan tempat dan biaya relatif sama-sama efisien. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar, strategi pembelajaran hendaknya melihat kondisi siswa dan sekolah agar tidak hanya mempunyai efektifitas tetapi juga efisiensitas, pemerintah supaya memberikan sarana prasarana yang baik kepada sekolah non unggulan agar tujuan pendidikan nasional tercapai dengan merata, dan kepada peneliti selanjutnya diharapkan menggali lebih dalam lagi terkait dengan strategi pembelajaran di lapangan, di karenakan masih banyak masalah dalam pelaksanaan strategi pembelajaran terutama pada sekolah non unggulan atau yang jauh dari pusat pengembangan pendidikan.

Pengembangan media VCD pembelajaran bahasa Inggris materi conversation untuk siswa kelas VIII semester II di SMP Islam Terpadu Asy-Syadzili Pakis Malang / Lutfi Fuad

 

Fuad, Lutfi. 2014. Pengembangan Media VCD Pembelajaran Bahasa Inggris Materi Conversation Untuk Siswa Kelas VIII Semester II di SMP Islam Terpadu Asy-syadzili Pakis Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sihkabuden, M.Pd, (II) Arafah Husna, S.Pd., M.Med.Kom. Kata Kunci: Pengembangan, Media VCD Pembelajaran, Conversation, Bahasa Inggris. Di SMP Islam Terpadu Asy-syadzili Pakis Malang, proses pembelajaran bahasa inggris sudah menggunakan media laboratorium bahasa dan LCD serta perangkat-perangkat audio yang mumpuni sebagai sarana pembelajaran. Kendala yang utama dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru mengalami kesulitan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan pembelajaran conversation, murid merasa kesulitan dalam hal penguasaan kosakata dan berbicara aktif bahasa inggris. Pemanfaatan laboratorium dan LCD juga dianggap minim, karena kurangnya bahan dan media yang mendukung. Permasalahan selama ini yaitu kompetensi berbicara, hal ini dikarenakan kurangnya contoh percakapan yang menyebabkan siswa kurang mampu berbicara aktif dalam bahasa inggris. Untuk menampilkan contoh percakapan memerlukan media yang mampu menampilkan audio visual sehingga siswa juga mampu melatih pronouncation, body language, grammar, dan intonation melalui contoh yang mereka lihat. Melihat hal ini, penulis memberikan alternatif pemecahan yaitu dengan mengembangkan media pembelajaran Bahasa Inggris materi Conversation menggunakan media VCD. Tujuan dari pengembangan media VCD Pembelajaran ini adalah menghasilkan media VCD pembelajaran Bahasa Inggris yang teruji layak digunakan oleh guru dan siswa kelas VIII sebagai pembelajaran di kelas. Untuk mengetahui keefektifan media VCD dalam pembelajaran bahasa inggris materi Conversation. Pengembangan media VCD Pembelajaran ini menggunakan model pengembangan Sadiman. Model pengembangan Sadiman terdiri dari Sembilan langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media, (6) produksi, (7) validasi yang terdiri dari validasi ahli media, ahli materi, dan audiens, (8) revisi, dan (9) media siap digunakan. Hasil pengembangan media VCD pembelajaran Conversation Bahasa Inggris ini menggunakan data sebagai berikut: (a) total persentase ahli media 97,0%, (b) total persentase ahli materi 87,5%, (c) total persentase uji coba perseorangan 91,67%, (d) pada ujicoba kelompok kecil total persentase 87,67%, (e) pada ujicoba lapangan total persentase 87,87%. Berdasarkan data dari validasi tersebut media VCD ini valid digunakan dalam pembelajaran. Untuk hasil belajar siswa diperoleh analisis bahwa dari 25 siswa yang mengikuti tes tulis telah memenuhi skor diatas KKM yang ditentukan. Sedangkan untuk tes lisan I, II, III, diperoleh data 100% memenuhi KKM sehingga dapat di interpretasikan media VCD pembelajaran bahasa inggris efektif digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing pada materi klasifikasi makhluk hidup untuk mengembangkan kompetensi siswa melalui pemanfaatan potensi wilayah pesisir SMPN 4 Nguling Kabupaten Pasuruan / Azka Sadida

 

Sadida, Azka. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Klasifikasi Makhluk Hidup untuk Mengembangkan Kompetensi Siswa melalui Pemanfaatan Potensi Wilayah Pesisir SMPN 4 Nguling Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Ibrohim, M.Si, (2) Dr. Sueb, M.Kes. Kata Kunci: perangkat pembelajaran, inkuiri terbimbing, kompetensi siswa, potensi wilayah pesisir Wilayah pesisir dapat berperan sebagai sumber belajar, namun potensi yang ditemukan di wilayah pesisir belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPA. Sasaran pembelajaran IPA dalam Kurikulum 2013 menekankan pada pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperkuat melalui penerapan pembelajaran berbasis ilmiah dengan metode inkuiri. Keberhasilan pembelajaran IPA diwujudkan melalui perencanaan perangkat pembelajaran yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing pada materi klasifikasi makhluk hidup melalui pemanfaatan potensi wilayah pesisir. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan perangkat pembelajaran dan kompetensi siswa berupa sikap ilmiah, keterampilan proses, dan pemahaman konsep. Model penelitian dan pengembangan ini menggunakan model 4D dari Thiagarajan, et al., (1974) terdiri dari tahap mendefinisikan (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan mendiseminasi (disseminate). Penelitian ini dilakukan sampai tahap mengembangkan (develop). Produk perangkat pembe-lajaran yang telah dikembangkan divalidasi menggunakan instrumen berupa lembar validasi perangkat pembelajaran kemudian diujicobakan menggunakan instrumen lembar keterlaksanaan perangkat pembelajaran, lembar observasi sikap ilmiah, lembar observasi keterampilan proses, dan soal tes pemahaman konsep. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi silabus, RPP, bahan ajar, dan instrumen penilaian. Hasil validasi oleh ahli perangkat pembelajaran dan ahli lapangan memberikan validitas perangkat pembelajaran 94,4% dengan kriteria sangat valid. Rerata validitas komponen perangkat pembelajaran yaitu 93,7% untuk silabus, 94,5% untuk RPP, 92,2% untuk bahan ajar, dan 97,1% untuk instrumen penilaian. Keterlaksanaan perangkat pembelajaran yang diujicobakan pada pembelajaran di kelas VII memiliki kriteria sangat baik dengan rerata tingkat keterlaksanaan sebesar 82,0%. Kompetensi siswa kelas VII menunjukkan kriteria baik dengan rerata penilaian untuk sikap ilmiah sebesar 80,0%, keterampilan proses sebesar 80,1%, dan pemahaman konsep sebesar 76,4%. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran layak digunakan dalam pembelajaran dan dapat membantu siswa memperoleh kompetensi berupa sikap ilmiah, keterampilan proses, dan pemahaman konsep.

Pengaruh pemanfaatan video pembelajaran terhadap hasil belajar siswa tunarungu di SDLB Negeri Kedungkandang Malang / Ari Ashari

 

Ashari, Ari 2014. Pemanfaatan Video Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa Tunarungu di SDLB Negeri Kedungkangdang Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Zainul Abidin, M.Pd. (II) Eka Pramono Adi, S.I.P, M.Si. Kata Kunci : Pemanfaatan, Video Pembelajaran, Hasil Belajar. Dalam kegiatan pembelajaran guru sering dihadapkan pada persoalan berkaitan dengan bagaimana cara mempermudah belajar siswa. Namun, strategi yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran kurang pembelajaran di kelas dapat membatasi pemahaman siswa pada suatu materi pelajaran dan timbulnya persepsi siswa yang berbeda-beda, terutama bagi siswa tunarungu yang memiliki keterbatasan dalam menangkap dan memahami pembelajaran. Mereka menggunakan indra penglihatan untuk memahami informasi di lingkungan. Oleh karena itu visualisasi dari video pembelajaran yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh BPMTP (Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan) akan membantu proses belajar bagi siswa tunarungu. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan video pembelajaran terhadap hasil belajar siswa tunarungu di SDLB Negeri Kedungkandang Malang. Terdapat dua hipotesis dari penelitian ini yaitu: 1) Hipotesis Nol (Ho) : Tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas tunarungu yang memanfaatkan video pembelajaran dengan hasil belajar siswa kelas tunarungu yang tidak memanfaatkan video pembelajaran sehingga tidak ada perbedaan hasil belajar antara keduanya di SDLB Negeri Kedungkandang Malang. 2) Hipotesis alternatif (Ha) : Ada pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas tunarungu yang memanfaatkan video pembelajaran dengan hasil belajar siswa kelas tunarungu yang tidak memanfaatkan video pembelajaran sehingga ada perbedaan antara keduanya di SDLB Negeri Kedungkandang Malang Penelitian ini mengguanakan metode penelitian eksperimen dengan bentuk eksperimen semu (Quasi Eksperimental). Pengumpulan data dilakukan dengan membagi kelas menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, keduanya sama-sama diberikan pretest dan posttest, yang membedakan hanya pada kelas perlakuan kegiatan belajar memanfaatkan video pembelajaran sedangkan kelas kontrol tidak. Dari hasil pengumpulan data bahwa ada pengaruh yang signifikan dari pembelajaran yang memanfaatkan video pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap hasil belajar siswa Tunarungu di SDLB Kedungkandang Malang. Hal tersebut dibuktikan dari nilai rata-rata (postest) kelas eksperimen meningkat menjadi 88.17, yang sebelumnya (pretest) sebesar 41.50. Sedangkan kelas kontrol nilai rata-rata (postest) sebesar 62.33, yang sebelumnya (pretest) sebesar 40.50.

Bahasa dalam wayang jemblung di Kabupaten Tulungagung / Riyan Dasa Candra Effendi

 

Abstrak Dasacandra, Riyan. 2010. Bahasa dalam Wayang Jemblung di Tulungagung. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo HS., M.Pd, (II) Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata kunci: bahasa wayang, wayang jemblung, tulungagung Wayang Jemblung merupakan salah satu jenis wayang tradisional di Jawa Timur. Wayang ini masih ada pengaruh kebudayaan Islam dengan kekhasan alat bedug sebagai alat musik tambahannya. Wayang Jemblung dalam menyajikan ceritanya menggunakan sebuah media melalui wujud wacana dan vokal dalang. Dalam kurun waktu terakhir ini para ahli menyadari penelitian yang menyentuh bahasa dari sebuah wayang Jemblung masih belum ada. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai bahasa wayang Jemblung tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup jenis bahasa yang digunakan, peran bahasa dalan pelakonan, diksi atau pilihan kata, dan gaya bahasa dalam wayang Jemblung di Tulungagung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dekriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan kebahasaan dalam bentuk audio dan visual yang terdapat pada pertunjukan ini yang diperoleh dari rekaman pertunjukan wayang Jemblung dengan lakon “Syech Subakir NumbaliTanah Jawa”. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah jenis bahasa yang digunakan dalam bahasa wayang Jemblung yang melandasi berjalannya sebuah cerita tersebut. Ragam bahasa wayang Jemblung pada umumnya memiliki jenis bahasa Jawa didalamnya. Bahasa Jawa dalam wayang Jemblung meliputi Jawa krama dan Jawa ngoko. Pada konteks tertentu, ragam bahasa Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa arab. Kedua, masalah peran bahasa dalam pelakonan Wayang Jemblung. Peran bahasa dalam pelakonan berdasarkan unsur-unsurnya, dibedakan menjadi dua, yaitu lakon dan catur. Pertama, peran bahasa pada lakon dalam bahasa wayang Jemblung berfungsi informasional. Kedua, peran bahasa pada catur dalam bahasa wayang Jemblung disampaikan melalui tiga jenis wacana dalang, yaitu: a) janturan, b) pocapan, dan c) ginem. Peran bahasa dalam catur, bahasa berfungsi informasional dan ekspresif. Ketiga, masalah diksi dalam Wayang Jemblung. Diksi dalam bahasa wayang Jemblung diungkapkan melalui penggunaan kata lisan dalang wayang Jemblung tersebut. Diksi dalam lisan dalang meliputi: 1) saroja; 2) camboran; 3) dasanama; 4) rangkep; dan 5) garba atau sandi. Pemakaian diksi berfungsi untuk menimbulkan makna-makna tersendiri didalamnya. Keempat, masalah gaya bahasa dalam Wayang Jemblung digolongkan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu perumpamaan atau Pepindhan, peribahasa, persajakan atau purwakanthi, dan bahasa banyolan. Gaya bahasa perumpamaan dalam Wayang Jemblung terdapat suatu pebanding dan pembanding. Pemakaian peribahasa akan lebih menimbulkan keindahan pada kalimatnya. Pada peribahasa, dalam penyampaian maknanya menggunakan sebuah kata kias. Persajakan dalam bahasa wayang Jemblung memberikan efek penekanan atau sekadar keindahan. Bahasa wayang Jemblung melalui wacana dalang terdapat banyolan-banyolan yang menjadi ciri khas wayang Jemblung. Bahasa banyolan wayang Jemblung, diungkapkan dalang wayang Jemblung melalui kata yang dipelesetkan atau yang lainnya.

Penerapan pembelajaran kooperatif NHT dipadu dengan STAD pada mata pelajaran biologi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-MIPA 2 SMA Negeri 1 Tumpang / Serly Frida Silvia Rizki

 

Rizki, Serly Frida Silvia. 2014. Penerapan Pembelajaran Kooperatif NHT Dipadu dengan STAD pada Mata Pelajaran Biologi untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-MIPA 2 SMA Negeri 1 Tumpang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd., (2) Dr. Murni Saptasari, M.Si. Kata Kunci: Numbered Heads Together, Student Teams Achievement Divisions, Motivasi, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas X-MIPA 2 SMA Negeri 1 Tumpang, diketahui bahwa siswa kurang perhatian, kurang senang dan kurang termotivasi. Berdasarkan hasil observasi juga diketahui bahwa guru hanya menggunakan metode pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan tidak menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi. Kurangnya motivasi siswa tersebut berimbas pada rendahnya hasil belajar siswa. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dipadu dengan Student Teams Achievement Divisions. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Tahap penelitian tindakan kelas adalah perenca¬naan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian siklus I dilakukan pada materi Plantae sedangkan siklus II dilakukan pada materi Animalia. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa angket dan tes. Motivasi belajar siswa diukur menggunakan angket motivasi belajar siswa. Hasil belajar kognitif siswa diukur menggunakan tes yang dilak¬sanakan setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan angket, motivasi belajar siswa meningkat dari 51,29% sebelum dilakukan tindakan menjadi 78,17% setelah dilakukan tindakan atau meng¬alami peningkatan sebesar 26,88%. Hasil belajar kognitif siswa mengalami peningkatan sebesar 11,11%. Pada tes akhir siklus I ketuntasan klasikal siswa sebesar 83,33% sedangkan pada tes akhir siklus II ketuntasan klasikal siswa sebesar 94,44%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dipadu dengan Student Teams Achievement Divisions dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-MIPA 2 SMA Negeri 1 Tumpang.

Mutu organoleptik loaf tempe kedelai (Glycien max) dengan perlakuan lama pengukusan yang berbeda / Muhammad Fahmi Hadiyanto

 

Meatloaf pada umumnya daging, selain daging juga ada bahan lain yang dapat digunakan yaitu tempe. Tempe mengandung protein tinggi sehingga dapat diolah menjadi loaf tempe. Pemanfaatan tempe menjadi loaf terkendala bau langu, sehingga bisa diatasi dengan dengan teknik pengukusan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan loaf tempe kedelai dengan lama pengukusan yang berbeda, yaitu 5 menit, 10 menit, 15 menit. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap loaf tempe kedelai yang meliputi tekstur, warna, rasa dan aroma. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian pada uji mutu hedonik pada taraf signifikasi 1% menunjukkan adanya perbedaan sangat nyata pada tekstur, rasa, warna dan aroma dengan perlakuan pengukusan yang berbeda. Tekstur kenyal didapatkan pada lama pengukusan 5 menit, semakin lama pengukusan mengkibatkan tekstur semakin tidak kenyal. Rasa gurih didapatkan pada lama pengukusan 5 menit, semakin lama pengukusan mengkibatkan rasa semakin tidak gurih. Aroma kedelai tajam didapatkan pada lama pengukusan 5 menit, semakin lama pengukusan mengkibatkan aroma kedelai semakin tidak tajam. Semakin singkat lama pengukusan mengakibatkan warna semakin kusam karena diduga kadar air yang rendah sehingga pati yang terkandung dalam tepung tapioka mengalami proses maillard (browning) lebih cepat dan kandungan pigmen alami tempe yaitu flavonoid sedikit yang terlarut bersama uap air yang ditimbulkan oleh proses pengukusan. Hasil uji hedonik menunjukkan tekstur, rasa warna dan aroma kedelai yang disukai panelis. Untuk tekstur sebagian besar panelis (80%) menyukai tekstur pada lama pengukusan 5 menit. Untuk rasa sebagian besar panelis (86,67%) menyukai rasa pada lama pengukusan 5 menit. Untuk warna sebagian besar panelis (81,67%) menyukai warna pada lama pengukusan 5 menit. Untuk aroma sebagian besar panelis (90%) menyukai aroma pada lama pengukusan 5 menit. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saran yang dapat diajukan adalah dilakukan penelitian lanjutan produk dengan lama pengukusan 5 menit yang menghasilkan tekstur kenyal, rasa gurih dan aroma tajam untuk mendapatkan warna putih, tentang daya awet produk, cara pengemasan agar produk dapat diterima dipasaran, analisa finansial agar produk dapat bersaing di pasaran dan penyuluhan serta pelatihan produk kepada masyarakat luas terutama di daerah produksi tempe, agar dapat memajukan perekonomian masyarakat dengan home industri.

Manajemen pembelajaran akselerasi: Studi kasus di Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Sumberbungur Pamekasan / Fajriyah

 

ABSTRAK Fajriyah. 2009. Manajemen Pembelajaran Akselerasi: Studi kasus di Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Mustiningsih, M.Pd, (II) Dra. Maisyaroh, M.Pd. Kata kunci : manajemen pembelajaran, akselerasi. Penyelenggaraan pendidikan secara reguler yang dilaksanakan selama ini masih bersifat massal, yaitu berorientasi pada kuantitas untuk dapat melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Kelemahan yang segera tampak adalah tidak terakomodasinya kebutuhan individual siswa. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tidak terlayani secara baik sehingga potensi yang dimilikinya tidak dapat tersalur dan berkembang secara optimal. Pada dasarnya kemampuan anak memang berbeda tetapi apabila diberi layanan sesuai dengan keadaan masing-masing, maka hasilnya akan sama, yang membedakan waktu belajar. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa perlu mendapatkan penanganan dan program khusus, sehingga potensi kecerdasan dapat berkembang secara optimal. Pengembangan program bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa didasarkan prinsip utama, yaitu akselerasi. Program percepatan belajar (akselerasi) adalah program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk dapat menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dari siswa yang lain (program regular). Fokus penelitian ini meliputi (1) bagaimana perencanaan pembelajaran akselerasi; (2) bagaimana pengorganisasian pembelajaran akselerasi; (3) bagaimana pelaksanaan pembelajaran akselerasi; dan (4) bagaimana penilaian pembelajaran akselerasi di MTsN Sumberbungur Pamekasan 3. Tujuan penelitian ini meliputi (1) mengetahui perencanaan pembelajaran akselerasi; (2) mengetahui pengorganisasian pembelajaran akselerasi; (3) mengetahui pelaksanaan pembelajaran akselerasi; dan (4) mengetahui penilaian pembelajaran akselerasi di MTsN Sumberbungur Pamekasan 3. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) wawancara; (2) observasi; dan (3) dokumentasi. Setelah data tersebut diperoleh kemudian data diuji dengan menggunakan metode trianggulasi sumber, ketekunan pengamatan, dan perpanjangan keikutsertaan. Kesimpulan Penelitian ini adalah (1) perencanaan pembelajaran akselerasi di MTsN Model Sumberbungur Pamekasan 3 pada dasarnya sama dengan kelas reguler, kurikulum yang dipakai yaitu kurikulum MTsN Sumberbungur yang membedakan waktu belajarnya. Isi kurikulum MTsN meliputi struktur dan muatan kurikulum. Struktur kurikulum MTsN memuat kelompok mata pelajaran dengan memperhatikan standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi (SI) yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Bentuk perencanaan pembelajarannya meliputi program tahunan, semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran; (2) Penyelenggaraan program kelas akselerasi di MTsN Sumberbungur Pamekasan 3 dibentuk tim pengelola program akselerasi berdasarkan kesepakatan dewan guru melalui rapat. Setelah pembentukan tim pengelola akselerasi, kemudian penanggungjawab program akselerasi dibantu dengan anggota-anggotanya merekrut guru-guru khusus pengajar akselerasi di MTs Negeri Sumberbungur Pamekasan 3 untuk mempersiapkan guru-guru yang kompeten di kelas akselerasi pihak madrasah menyelenggarakan workshop. Pengelolaan kelas program akselerasi menggunakan model kelas khusus. Ruang belajar untuk kelas akselerasi disendirikan (tidak bergabung dengan kelas reguler), kelas akselerasi menggunakan pola interaksi dengan sistem moving (belajar sesuai dengan mata pelajaran) yang sedang mereka terima. Kelas akselerasi didesain sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tempat duduk siswa disediakan untuk masing-masing siswa dengan meja melekat dan berbaris sejajar; (3) Pelaksanaan pembelajaran meliputi proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas dan luar kelas. MTs Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3 kelas akselerasi menerapkan sistem paket dan waktu belajarnya dengan sistem kredit semester (sks). Metode pembelajaran diarahkan berpusat pada siswa. Guru sebagai fasilitator mendorong dan memberikan ruang peserta didik mengembangkan potensi belajar secara aktif, kreatif, dan menyenangkan. MTsN model Sumberbungur Pamekasan 3 telah menyiapkan di setiap kelas dan ruang yang ada beberapa media antara lain: laptop, LCD beserta perlengkapannya, TV, dan VCD. Media pembelajaran siswa akselerasi yang lain seperti buku-buku atau bahan bacaan, buku ajar dan paket yang disediakan di perpustakaan sekolah. Media pembelajaran juga disediakan di kelas dan di laboratorium termasuk internet, media tersebut digunakan sesuai dengan mata pelajaran yang akan di ajarkan. Kegiatan pembelajaran akselerasi sama dengan pembelajaran reguler yaitu meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir; dan (4) Bentuk penilaian pembelajaran akselerasi dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan keberhasilan belajar siswa. MTs Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3 menetapkan target pencapain kompetensi (TPK) pada masing-masing mata pelajaran. Prinsip penilaiannya mengacu pada belajar tuntas (mastery learning). Saran dari penelitian ini adalah (1) Kepala Sekolah hendaknya menjadikan bahan tambahan untuk lebih meningkatkan kualitas program akselerasi di MTs Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3; (2) Pengelola Akselerasi harus mengembangkan keunggulan-keunggulan yang sudah ada pada program akselerasi, serta terus berbenah untuk mengembangkan keunggulan-keunggulan yang baru; (3) Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya menjadi tambahan referensi bagi Jurusan Administrasi Pendidikan dan lebih meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen pembelajaran; dan (4) Peneliti lain agar lebih menyempurnakan sehingga dapat bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan dan disarankan bagi peneliti lain agar dapat meneliti manajemen pembelajaran akselerasi dari substansi lain dengan latar yang berbeda.

Pengembangan jejaring sosial alumni berbasis web / Devid Heryalesmana Wahid

 

Kata kunci: jejaring sosial, alumni, situs alumni Keberadaan situs alumni saat ini masih kurang optimal, terlihat dari mi-nimnya partisipasi alumni pada situs alumni Universitas Negeri Malang dimana hanya 1.149 dari sekitar 80.000 alumni yang berpartisipasi dalam pengisian data alumni. Padahal, data tersebut sangat dibutuhkan sebagai data pendukung akreditasi. Di sisi lain keberadaan jejaring sosial saat ini sangat diminati oleh semua elemen masyarakat, namun fitur yang tersedia masih terlalu umum dan belum mampu menjawab kebutuhan perguruan tinggi dalam mengumpulkan data alumni. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengembangkan jejaring sosial alumni berbasis web yang sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi dan mengukur tingkat kelayakannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian pengem-bangan. Pengembangan sistem ini merujuk pada model pengembangan waterfall yang terdiri dari 5 tahap pengembangan, yaitu: 1) Analisis kebutuhan; 2) Desain sistem; 3) Penulisan kode program; 4) Pengujian program dan 5) Penerapan program. Subyek uji coba pada penelitian ini terdiri dari alumni Universitas Negeri Malang, administrator perguruan tinggi dan ahli rekayasa web. Teknik pengujian yang digunakan adalah teknik pengujian black-box yang berfokus pada persyaratan fungsional perangkat lunak. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang bersifat tertutup. Setelah data uji coba berhasil didapatkan, maka dilakukan pengolahan data. Pengolahan data hasil uji coba dianalisis menggunakan rumus persentase. Produk yang dihasilkan terdiri dari 3 fitur utama, yaitu fitur pengumpulan data alumni untuk perguruan tinggi, fitur komunikasi alumni, dan fitur lowongan kerja. Berdasarkan hasil uji kelayakan yang dilakukan, untuk validasi ahli reka-yasa web diperoleh hasil rata-rata sebesar 96,15%, untuk hasil uji coba oleh alumni sebanyak 20 responden, diperoleh hasil rata-rata sebesar 85,95%, untuk hasil uji coba oleh administrator perguruan tinggi diperoleh hasil rata-rata sebesar 91,07%. Secara keseluruhan hasil akhir uji coba diperoleh persentase sebesar 91,06%, sehingga jejaring sosial alumni ini dinyatakan valid tidak perlu revisi. Dari data pada tahap analisis dapat disimpulkan bahwa jejaring sosial alumni ini sudah sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi dan layak digunakan.

Upaya peningkatan kinerja RSU dalam rangka peningkatan pelayanan publik (studi kasus di RSUD Dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan)
oleh Denny Tristiyanti

 

ABSTRAK TristiyantiD, enny.2 002. UpayaP eningkatanK inerja I?.f{JD alam llangka Peningkatan Pelayanan Publik (Studi Kasus di RSUD Dr. R Soedarsono Kota pasuruan). Slripsi, JurusanP endidikan Pancasilad an KewarganegaraanF. IP Universitas NegerMi alang.P embimbing( I) Drs. AchmadB udiono,S H.,M . Si. (iI) Drs.N ur WahyuR ochmadiM, .Pd.,M . Si. Katr kunci:u payap, eningkatank,i nerja,p elayananp, ublik Pelayanakne sehatanm erupakans ub sistemp elayananm asyarakatR. umahs akit merupakans alah satu sub sistem-p elayanank esehatan.P ada era globalisasi sebuah rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik sehingga dapat neningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Mencermati pelayanan rumatr satit utamanyaru mah sakit milik pemerintahm asih mengandungb eberapap ermasalahan. oleh sebab itu, agar dapat memberikan pelayanan yang baik, maka diperlukan adanya peningkataknin erja. Berdasarkanla tar belakangd i atas dilakukan penelitian denganf okus penelitian (l) bagaimankao ndisi pelayananru mah sakit, (2) faktor pendukungd an penghambat pelayananru matr sakit pada masyarakat,d an (3) bagaimanau paya yang aitatukan rumah sakit dalam meningkatkan kinerja guna meningkatkan pelayanan publik. Sedangkatunj uan penelitiani ni adalah( 1) mendeskipsikank ondisi peiayanan-rumah sakit,( 2) mendeskripsikafna ktor pendukungd an penghambapt elayananr umah sakit pada masyarakat dan (3) mendeskripsikan upaya yang dilakukan rumah sakit dalam meningkatkaknin erjag unam eningkatkanp elayananp ublik. Metodep enelitiany anl: digunakans tudi kasusd i RSUD Dr. R, Soedarsonkoo ta Pasuruadne nganp endekatank ualitatif. Sementarad ata yang digunakanb ersumberd ari orang,d okumen,d an peristiwa. Prosesp engumpuland ata dilakukan denganw awancara mendalam, pengamatan, analisis dokumen. Analisis data dilakukan dengan metode interaktifd ari Miles danH uberman.K eabsahand ata dilakukan dengant eknili triangulasi dan member check. Temuanp enelitiand apatd ipaparkans ebagabi erikut( l) kondisip elayananR SUD Dr. R. soedarsono masih terdapat beberapa kekurangan sehingga mempengaruhi di dalamm emberikanp elayanany ang baik kepadap ublik meskipun-ouct one RSUD Dr. R. Soedarsonora ta-ratas udahm emenuhis tandarn asional,( 2) Faktor pendukungd aJam meningkatkank inerja adalah( a) bantuans aranad ari berbagaip ihak, (b) pembangunan gjdung baru dengan konstruksi bertingkat dan pemilihan cai yang bagus, (c) dekat dengan area pertokoan maupun apotek dan (d) lokasi rumah sakit yang mudah $janskau. Sedangkan faktor penghambat dalam meningkatkan kinerja aoa*, 1a; kualitasa tau skill sDM yang rendahd an (b) kurangnyad ana operasional(.3 ) upaya yang dilakukanR SUD Dr. R. soedarsonou ntuk meningkatkank inerja dengania ra itensifikasi dan ekstensifikasi. Cara intensifikasi dilakukan dengan peningkatan t

Studi tentang motivasi siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket dan bolavoli / Ganda Irawan

 

ABSTRAK Irawan, Ganda. 2007. “Studi Tentang Motivasi Siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Dalam Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Olahraga Cabang Bolabasket dan Bolavoli”. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Siti Nurrochmah, M.Kes., (II) dr. Rias Gesang Kinanti, M.Kes. Kata kunci: motivasi, ekstrakurikuler, bolabasket, bolavoli SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang merupakan salah satu sekolah yang menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler olahraga. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga yang disajikan oleh SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang banyak macamnya diantaranya ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket, bolavoli, sepakbola, bulutangkis, dan tenis meja. Akan tetapi diantara kegiatan ekstrakurikuler olahraga tersebut cabang bolabasket dan bolavoli yang paling banyak pesertanya dan konsisten. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji motivasi siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket dan bolavoli. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA laboratorium Universitas Negeri Malang yang aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket dan bolavoli yang berjumlah 60 siswa. Terdiri dari 30 siswa peserta kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket dan 30 siswa peserta kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolavoli. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, menyatakan bahwa pada indikator pernyataan motivasi intrinsik siswa memilih kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket dan bolavoli siswa dominan memilih alternatif jawaban sangat setuju dan setuju dengan rerata persentase 87,31%, dan pada pernyataan indikator motivasi ekstrinsik siswa dominan memilih alternatif jawaban sangat setuju dan setuju dengan rerata persentase 60,64%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang rata-rata sangat setuju dan setuju termotivasi secara intrinsik dan ekstrinsik dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga cabang bolabasket dan bolavoli.

Perbedaan trading volume activity dan abnormal return sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2003-2008 / Meryem Shifa P.

 

ABSTRAK Paramitha, Meryem Shifa. 2009. Perbedaan Tading Volume Activity dan Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Stock Split Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI (Periode Tahun 2003-2008). Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mugianto, S.E., M.Si dan (II) Ely Siswanto, S.Sos., M.M Kata kunci: Stock Split, Trading Volume Activity, Abnormal Return Stock split adalah pemecahan jumlah lembar saham menjadi lembar yang lebih banyak dengan menggunakan nilai nominal yang lebih rendah per lembarnya secara proporsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada Trading Volume Activity dan Abnormal Return sebelum dan sesudah Stock Split. Penelitian ini menggunakan 42 perusahaan sebagai sampel di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2003 sampai 2008. Yang diambil dari populasi sebanyak 63 perusahaan. Metode analisis data menggunakan parametric test dengan uji-t yaitu rata-rata dari dua sampel yang berpasangan (paired two sample fair means test). Berdasarkan atas pengujian hipotesis yang telah dilakukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Trading Volume Activity mengalami perbedaan tetapi tidak signifikan Sedangkan Abnormal Return mengalami perbedaan yang signifikan tetapi, nilai Abnormal Return setelah peristiwa bernilai negatif. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal agar tidak menjadikan informasi pengumuman Stock Split sebagai satu-satunya tolak ukur untuk mendapatkan Return tidak normal, bagi emiten yang melakukan Stock Split hendaklah memperhatikan kondisi pasar modal, karena secara teoritis Stock Split hanya meningkatkan lembar saham yang beredar dan tidak secara langsung mempengaruhi cashflow perusahaan walaupun dalam praktiknya berbeda.

Penggunaan internet sebagai media belajar informal yang bersifat komplemen di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Nuris Fajar Rizki

 

Fajar, Nuris. (Penggunaan Internet sebagai Media Belajar Informal yang Bersifat Komplemen di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, (2) Drs. M. Ishom, M.Pd Kata Kunci: Penggunaan Internet, Pendidikan Informal Internet merupakan suatu media yang sangat penting bagi pelajar atau mahasiswa untuk menunjang proses pembelajarannya. Kini sebagian besar mahasiswa lebih memilih internet untuk mencari referensi atau hanya sekedar menambah pengetahuannya daripada membaca atau menggunakan buku cetak. Alasannya ialah karena internet lebih praktis, dapat diakses dimana saja dan kapan saja tergantung kebutuhan mahasiswa dan lebih cepat untuk mencari bahan referensi yang dibutuhkan. Namun kini ada banyak pembicaraan tentang pengaruh-pengaruh dan manfaat Internet. Itu tidak bisa disangkal lagi bahwa banyak terdapat pengaruh dan manfaat Internet yang positif. Namun di lain pihak banyak orang yang berpendapat tentang adanya pengaruh internet yang negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan internet sebagai media informal baik sebagai kegiatan belajar maupun sebagai kegiatan non belajar di kalangan mahasiswa serta hubungannya dengan keberhasilan belajar mahasiswa Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui pendekatan kuantitatif deskriptif kerelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dengan jumlah total mahasiswa pada tahun ajaran 2012-2013 sebanyak 3447 mahasiswa. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah kuesioner, dengan teknik analisis statistik frekuensi dan korelasi yang diolah menggunakan komputer program SPSS. Hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) karakteristik pribadi mahasiswa rata-rata sebagai anak kost atau asrama dan untukkategori tingkat pendidikan orang tua rata-rata berada pada tingkat pendidikan atas, (2) penggunaan internet dalam kegiatan belajar mahasiswa cukup maksimal dalam pemanfaatannya untuk kegiatan belajar, (3) untuk kegiatan non belajar penggunaan internet oleh mahasiswa rata-rata digunakan sebagai media hiburan dan informasi pengetahuan umum, (4) dan untuk media yang digunakan dalam mengakses internet,mahasiswa lebih banyak menggunakan laptop karena lebih praktis, (4) sedangkan dalam pandangan mahasiswa terhadap hasil belajarnya,dikatakan mengalami peningkatan dengan menggunakan internet. Dari hasil penelitian disarankan pada: (1) mahasiswa agar dapat memaksimalkan penggunaan internet dalam kegiatan perkuliahan dan peningkatan hasil belajar, (2) dosen agar dijadikan bahan pertimbangan dan masukan dalam memberikan bahan materi dari internet, (3) pengambil kebijakan kampus agar dapat dijadikan masukan atau bahan pertimbangan guna memfasilitasi mahasiswa dalam penggunaan internet di kampus, seperti akses wifi, atau fasilitas internet bagi mahasiswa yang tidak memakai laptop.

Pengembangan paket bimbingan keterampilan interpersonal bagi siswa SMA / Zen Afif

 

Afif, Zen. 2014. Pengembangan Paket Bimbingan Keterampilan Interpersonal Bagi Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. (II) Drs. Djoko Budi Santoso, M.Pd. Kata Kunci: paket bimbingan, keterampilan interpersonal, siswa SMA    Keterampilan interpersonal merupakan keterampilan berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial dengan cara yang spesifik yang dapat diterima oleh masyarakat, bermanfaat bagi pribadi dan orang lain serta dapat dipelajari. Kondisi rendahnya keterampilan interpersonal remaja bertentangan dengan karakteristik perkembangan remaja. Penjelasan Vigotsky (1978) berarti bahwa pada usia ini sangat penting bagi individu untuk meningkatkan keterampilan interpersonalnya karena keterampilan tersebut mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.    Penelitian bertujuan untuk menghasilkan media bimbingan dalam bentuk paket bimbingan keterampilan interpersonal bagi siswa SMA yang terdiri dari buku panduan paket bimbingan keterampilan interpersonal yang dipergunakan oleh konselor dan buku paket materi bimbingan ketrampilan interpersonal yang digunakan oleh siswa, yang berterima secara teoritis dan praktis. Pengembangan paket bimbingan keterampilan interpersonal bagi siswa SMA menggunakan model Borg and Gall. Uji coba paket, diuji oleh dua orang ahli bimbingan dan konseling, dan dua orang pengguna (konselor). Instrumen yang digunakan adalah format penilaian dalam bentuk skala penilaian serta lembar saran, dan teknik analisis menggunakan rerata.    Hasil penilaian ahli dan calon pengguna terhadap buku materi bimbingan keterampilan interpersonal bagi siswa SMA menunjukkan berguna dari aspek kepergunaan, layak dari aspek kelayakan, tepat dari aspek ketepatan, dan menarik dari aspek kemenarikan. Sedangkan hasil penilaian buku panduan konselor menunjukkan bahwa buku panduan konselor jelas pada pendahuluan, jelas pada tujuan khusus, materi, langkah-langkah kegiatan, dan evaluasi.    Saran yang dapat disampaikan pada penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) untuk konselor di SMA penggunaan buku paket bimbingan ini secara efektif dapat dilakukan dengan memberikan tugas rumah tambahan untuk siswa sebagai tindak lanjut dari kegiatan yang telah dilakukan yang sesuai dengan materi yang ada dalam buku paket bimbingan interpersonal, untuk membentuk pemahaman dan perubahan perilaku pada diri siswa yang lebih dalam mengenai keterampilan interpersonal. (2) untuk peneliti selanjutnya, pengembangan yang telah dilakukan dalam mengembangkan paket bimbingan keterampilan interpersonal ini telah sampai pada tahap uji calon pengguna produk yaitu konselor di sekolah SMA, namun belum sampai pada tahap uji lapangan. Untuk itu saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan uji lapangan sehingga produk yang dikembangkan benar-benar efektif untuk digunakan.    

Perencanaan lapis tambahan (overlay) dan rencana anggaran biaya pada ruas jalan Ponorogo-Menang (STA 202+600-208+000) Kabupaten Ponorogo / Wan Arrowy A.W.S

 

Arrowy A.W.S,Wan 2014. Perencanaan Lapis Tambahan (Overlay) dan Rencana Anggaran Biaya pada Ruas Jalan Ponorogo-Menang (STA 202+600–208+000) Kabupaten Ponorogo. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Drs. H. Bambang Supriyanto, S.T., M.T. Kata Kunci: perencanaan, lapis tambahan, rencana anggaran biaya Pencapaian pertumbuhan di bidang ekonomi selama ini telah menimbulkan berbagai tuntutan baru diantaranya sektor peningkatan jalan. Untuk mendukung agar pertumbuhan perekonomian semakin meningkat, dituntut pula sarana dan prasarana yang memadai. Perbaikan di sektor jalan dirasa perlu untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Berkaitan dengan itu maka diperlukan pembahasan Perencanaan Lapis Tambahan (overlay). Perencanaan Lapis Tambahan (Overlay) ini dengan tujuan untuk meningkatkan sarana dan prasaran jalan, yang sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat, selain itu juga dapat meningkatkan kenyamanan berkendara dalam masyarakat. Penelitan dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan untuk merencanakan lapis tambahan. Data-data yang diperlukan adalah lendutan balik, data lalu lintas harian rata-rata. Selain itu survey permukaan perlu dilaksanakan untuk mendapatkan data foto jalan yang mengalami penurunan, retak, dan mengalami pengelupasan. Berdasarkan penelitian pada Ruas Jalan Ponorogo-Menang mengalami keretakan dan pengelupasan lapisan atas, sehingga berpotensi sebagai penyebab terjadinya penurunan tingkat pelayanan terhadap pengguna jalan. Laporan akhir ini bertujuan untuk merencanakan tebal lapis tambahan untuk mengembalikan fungsi dan mutu jalan. Metode Benkelman Beam digunakan untuk merencanakan tebal lapis tambah, dengan metode Lendutan Balik, dan menggunakan perkerasan Laston. Berdasarkan data yang didapat dari alat Benkelman Beam, dan data LHR maka dilakukan perhitungan tebal lapis tambahan dengan menggunakan metode lendutan balik, diperoleh tebal lapis tambah 3 cm. Berdasarkan analisa anggaran biaya diproleh Rencana Anggaran Biaya Rp 8.662.662.000,00 (Delapan Milyar Enam Ratus Enam Puluh Dua Juta Enam Ratus Enam Puluh Dua Ribu Rupiah) yang dihasilkan dari perhitungan Rencana Anggaran Biaya.

Pengembangan permainan monopoli buah berbintang sebagai media pembelajaran kemampuan kognitif untuk anak kelompok B PAUD Terpadu Pelita Hati Kota Malang / Jessica Festy Maharani

 

Maharani, 2014. Jessica Festy. Pengembangan Permainan Monopoli “ Buah Berbintang” sebagai Media Pembelajaran kemampuan Kognitif Anak Kelompok B di PAUD Terpadu Pelita Hati Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Prodi Pendidiakan Guru Anak Usia Dini Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Ahmad Samawi, M. Hum, (2) Pramono S,Pd,. M.Or. Kata kunci : Permainan, kemampuan Kognitif, PAUD. Anak usia dini di PAUD Terpadu Pelita Hati Kota Malang kurang dapat membedakan antara penjumlahan dan pengurangan. Hal itu karena keterbatasan media, maka dibutuhkan media yang sesuai karakteristik anak dan menarik untuk anak. Berdasarkan karakteristik yang sesuai untuk pembelajaran anak usia dini maka untuk membuat menarik dikembangkan permainan monopoli “berhitung buah berbintang” sebagai media pembelajaran anak kelompok B Tujuan pengembangan ini adalah mengembangkan permainan monopoli buah berbintang sebagai media pembelajaran kemampuan kognitif yang layak atau valid digunakan sebagai pembelajaran anak kelompok B dan untuk perkembangan kognitif anak khususnya kemampuan berhitung. Prosedur langkah-langkah pengembangan menurut Ardhana pada permainan monopoli “buah berintang” sebagai media pembelajaran perkembangan kognitif adalah : (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan, meliputi kemampuan-kemampuan yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau langkah-langkah penelitian, kemungkinan penelitian dalam lingkup terbatas, (3) pengembangan draft produk, pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran dan evaluasi, (4) uji coba lapangan awal 8 subyek, (5) merevisi hasil uji coba, (6) Uji coba lapangan dengan 32 subyek, (7) penyempurnaan produk hasil uji lapangan. Dari analisis data hasil pengujian permainan monopoli buah berbintang didapatkan nilai sebesar 84,38% dari ahli media, 75% dari ahli permainan, 90,7% dari ahli materi sehingga masuk kategori layak. Berdasarkan hasil uji kelompok kecil menunjukkan 93,8% dan hasil uji lapangan 96% sehingga masuk kategori layak Guru menggunakan permainan monopoli “buah berbintang” sebagai media pembelajaran kemampuan kognitif khususnya kemampuan berhitung agar hasil belajar anak terjadi peningkatan untuk peneliti dan pengembang selanjutnya memilih tema yang lain pada subyek yang lebih luas dengan memperhatikan usia dan fasilitas yang ada untuk perkembangan yang lebih menyeluruh. .

Perencanaan alinyemenruas jalan Kuala Kuayan Runting Tada Kabupaten Kota Waringin Timur Kalimantan Tengah / Reo Octyo Cristi Prasetyan

 

Octyo, Reo. Perencanaan Alinyemen Ruas Jalan Kuala Kuayan - Runtimg Tada Kabupaten Kota Waringin Timur Kalimantan Tengah. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Ir. Henri Siswanto, M.T. Kata Kunci: perencanaan alinyemen, Kuala Kuayan – Runting Tada Kabupaten Kota Waringin Timur adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 16.496 km2 dan berpenduduk kurang lebih sebanyak 373.842 jiwa pada tahun 2010. Di daerah ini terdapat beberapa lokasi pariwisata yang banyak di kunjungi para wisatawan asing maupun domestik. Minimnya jumlah ruas jalan di wilayah Kabupaten Kota Waringin Timur menimbulkan biaya transportasi tinggi. Oleh sebab itu, pembangunan jalan sangat penting dilakukan sebagai upaya pemenuhan fasilitas transportasi.Tugas Akhir ini merupakan jenis karya ilmiah yang berupa perencanaan alinyemen jalan yang terdiri dari empat bab.     Tujuan dari perencanaan ini adalah untuk merencanakan alinyemen hori-zontal dan merencanakan alinyemen vertikal.     Dalam perencanaan ini diambil dua titik yang mewakili jenis tikungan yang dirasa kurang sesuai dari awal rencana, dimana Point of Intersection pada rencana awal tikungan adalah Full Circle yang kurang aman, maka direncanakan ulang dengan hasil PI6 sudut sebesar 90 º 11 ' 16.80 ", jenis tikungan Spiral-Circle-Spiral dengan kecepatan rencana 50 km/jam, jari-jari lengkung rencana 80 m, lengkung peralihan 41,67 m, panjang busur lingkaran 83,90 m dan PI11 sudut sebesar 50 º 55 ' 26.22 ", jenis tikungan Spiral-Circle-Spiral dengan kecepatan rencana 60 km/jam, jari-jari lengkung rencana 120 m,lengkung peralihan 38,00 m, panjang busur lingkaran 68,64 m.     Perencanaan ulang pada AlinyemenVertikal dilakukan agar dapat lebih efisien dalam pekerjaan tanah serta lebih aman dan nyaman, maka jalan sebaiknya di letakkan sedikit di atas muka tanah asli sehingga memudahkan dalam pembuatan drainase jalannya.

Model kausal teoritik kecemasan menghadapi ujian pada siswa SMA di Mojokerto Jawa Timur / Syilviantia Najma

 

Najma, Syilviantia. Model Kausal Teoritik Kecemasan Menghadapi Ujian Pada Siswa SMA di Mojokerto Jawa Timur. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Adi Atmoko, M.Si. (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata Kunci : Kecemasan Ujian, Efikasi Diri, Keterampilan Belajar, Persepsi Situasi Ujian Kecemasan ujian merupakan emosi negatif yang sering dialami siswa pada situasi akademik. Kecemasan ujian berpengaruh secara negatif terhadap performa dan prestasi akademik. Kecemasan ujian sebagai reaksi emosi yang tidak menyenangkan dan bersifat situasional muncul pada saat siswa menghadapi situasi evaluatif. Kecemasan ujian melibatkan aspek kognitif afektif dan behavioral dipengaruhi beberapa faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menguji suatu model teoritik kecemasan ujian pada siswa SMA yang disusun berdasarkan pendekatan transaksional. Selain itu, membuktikan apakah model teoritik kecemasan ujian mendapat dukungan empiris dan menjelaskan bagaimana pengaruh antar variabel. Rancangan kuantitatif dan jenis penelitian cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Populasi penelitian terdiri dari seluruh siswa kelas XII di Kota dan Kabupaten Mojokerto yang memiliki kecemasan ujian tinggi dan sangat tinggi. Responden penelitian sebanyak 199 orang yang diambil dengan teknik cluster sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala psikologis yang telah diuji validitas konstruknya dengan teknik analisis faktor eksploratori dan dilanjutkan dengan konfirmatori. Instrumen-instrumen tersebut mengukur kecemasan ujian dengan R = 0,765, keterampilan belajar dengan R = 0,740, efikasi diri dengan R = 0,760 dan persepsi situasi ujian dengan R = 0,625. Data dianalisis dengan teknik statistik structural equation modeling (SEM) dengan bantuan software AMOS. Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa model fit menghasilkan kesimpulan bahwa baik keterampilan belajar, efikasi diri, maupun persepsi situasi ujian tidak terbukti mempengaruhi kecemasan ujian pada siswa SMA di Mojokerto. Dari hasil ini disarankan pada peneliti selanjutnya untuk memilih dan menentukan variabel lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi kecemasan ujian pada siswa SMA, utamanya yang memiliki kecemasan ujian tinggi dan sangat tinggi. Sedangkan kepada konselor disarankan untuk lebih memperhatikan unsur kecemasan ujian dalam diri siswa. Terutama apakah kecemasan tersebut merupakan kecemasan yang memotivasi ataukah kecemasan yang mengurangi performa serta selalu siap melayani siswa dengan pelayanan konseling yang tepat.

Pengaruh model pembelajaran reciprocal teaching terhadap pemahaman mahasiswa dalam matakuliah geografi desa kota pada Prodi Pendidikan Geografi FKIP Unlam / Selamat Riadi

 

Riadi, Selamat. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching terhadap Pemahaman Mahasiswa dalam Matakuliah Geografi Desa Kota pada Prodi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM. Tesis. Jurusan Pendidikan Geografi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si., (II) Dr. Budijanto, M.S. Kata Kunci: Reciprocal Teaching, Pemahaman Reciprocal Teaching merupakan model pembelajaran yang pertama kali dikembangkan oleh Palincsar dan Brown pada tahun 1984 di University of Illinois USA. Model Reciprocal Teaching memiliki empat tahapan, yaitu: merangkum, membuat pertanyaan, memprediksi, dan mengklarifikasi. Model Reciprocal Teaching memiliki kesesuaian apabila diterapkan dalam pem-belajaran matakuliah Geografi Desa Kota, karena memiliki tahapan-tahapan yang mengarah pada kompetensi pemahaman dan sesuai dengan materi pada matakuliah tersebut memerlukan suatu pemahaman dalam pembelajarannya. Beberapa hasil penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa model Reciprocal Teaching berpengaruh terhadap pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model Reciprocal Teaching terhadap pemahaman mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group pretest-posttest Design. Jumlah subjek yang digunakan terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes esai. Data dalam penelitian ini adalah pretest, posttest, dan gain score pemahaman. Data gain score pemahaman dianalisis dengan uji-t untuk menguji hipotesis. Berdasarkan selisih nilai pretest dan posttest, rata-rata gain score kelas eksperimen lebih tinggi dengan skor 44,84 dibandingkan kelas kontrol dengan skor 36,56. Hasil perhitungan analisis uji-t menggunakan independen sample t-test diperoleh data p-level lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) yaitu dengan taraf sig 0,004. Hasil perhitungan ini membuktikan bahwa model Reciprocal Teaching berpengaruh terhadap pemahaman mahasiswa dalam matakuliah Geografi Desa Kota pada Prodi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan: (1) Bagi dosen, Reciproal Teaching disarankan untuk menjadi salah satu model alternatif dalam matakuliah Geografi Desa Kota, terutama untuk meningkatkan pemahaman. (2) Bagi peneliti lainnya, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait pengaruh Reciproal Teaching terhadap pemahaman mahasiswa pada materi dan matakuliah lain, serta ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan yaitu pengelolaan kelas dan alokasi waktu pada setiap kegiatan agar pembelajaran menjadi lebih efektif.

Perancangan aplikasi untuk try out Sekolah Menengah Pertama berbasis PHP dan MYSQL / Adistra Candra Pamungkas

 

Kata kunci: aplikasi, try out, Mysql, PHP. Pada saat ini kemajuan teknologi semakin berkembang pesat. Persaingan teknologi antara negara berkembang maupun negara maju semakin ketat. Sebagai negara berkembang supaya tidak ketinggalan kemajuan teknologi harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing global. Untuk mewujudkan itu semua diperlukan pendidikan yang berkualitas dan bermutu tinggi agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing global. Untuk dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan bermutu tinggi ada banyak jalan yang bisa ditempuh diantaranya dengan melalui aplikasi try out yang dapat digunakan oleh siswa untuk melakukan latihan soal-soal mata pelajaran dengan adaya aplikasi try out ini. Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini untuk peningkatan mutu pendidikan sehingga dapat digunakan pelajar untuk latihan mengerjakan soal-soal UAN sehinga siswa lebih terbiasa pada saat melaksanakan UAN sehingga dapat mengerjakan secara maksimal. Diharapakan aplikasi ini dapat meningkatkan mutu pendidikan sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing global. Metode perancangan meliputi: (1)Spesifikasi produk yang dijelaskan dalam entitas dan atribut sistem. (2)Menggambarkan arus data dalam DFD (Data Flow Diagram ). (3)Menggambarkan struktur data dan hubungan antar entitas sebagai pembentuk sistem dalam ERD (Entity Relationship Diagram). (4)Mendeskripsikan hubungan antara entitas dengan relationship antar tabel. (5)Menggambarkan desain antar muka aplikasi. (6)Prosedur pengujian aplikasi Hasil yang didapat dari pembuatan aplikasi try out SMP berbasis PHP dan MySQL adalah aplikasi untuk try out latihan soal mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) dalam perancangan aplikasi try out SMP berbasis PHP dan MySQl adalah (a) menentukan sistem kerja alat yang akan dibuat, (b) menentukan desain utama, dan, (c) menentukan hasil yang diinginkan. (2) Dalam pembuatan aplikasi try out SMP berbasis PHP dan MySQl agar dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan adalah (a) menentukan alat yang akan dipakai (software dan hardware), (b) melakukan pemrograman dengan PHP, (3) Pengujian aplikasi try out SMP berbasis PHP dan MySQl dilakukan dengan login sebagai siswa di dua komputer dengan username dan password yang berbeda dan melakukan proses try out apakah hasilnya sama dengan yang diharapkan apa belum.

Perencanaan lapis tambahan (overlay) dan rencana anggaran biaya pada ruas jalan Menang-Badegan (STA 208+000-213+800) Kabupaten Ponorogo / Dicky Dwi Laksono

 

Laksono, Dicky. 2014. Perencanaan Lapis Tambahan (Overlay) dan Rencana Anggaran Biaya pada Ruas Jalan Menang-Badegan (STA 208+000–213+800) Kabupaten Ponorogo. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. H. Bambang Supriyanto, S.T., M.T. Kata kunci: perencanaan, overlay, rencana anggaran biaya, kabupaten Ponorogo    Pertumbuhan kendaraan yang terjadi belakangan ini membuat banyak ruas jalan dipenuhi kendaraan, dari situlah dapat ditimbulkanya kemacetan arus lalu lintas. Ruas jalan Menang-Badegan salah satu ruas jalan propinsi yang banyak terdapat kerusakan jalan. Karena hal tersebut fungsi jalan tidak sesuai dengan mestinya.    Proyek Akhir ini bertujuan untuk merencanakan lapis tambahan untuk mengembalikan jalan sesuai dengan fungsinya, metode Benkelman Beam digunakan untuk merencanakan tebal lapis tambahan yang menggunakan Laston AC-WC (Asphalt Concrete-Wearing Course).    Perencanaan dengan menggunakan metode Benkelman Beam dengan pengumpulan data dari Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Timur, ataupun data di lapangan dengan memperhatikan kerusakan seperti keretakan permukaan dan lubang jalan, dan hasil dari alat Benkelman Beam serta data perhitungan lalu lintas rata-rata perhari untuk mengetahui prosentase pertumbuhan lalu lintas dari tahun sebelumnya.    Berdasarkan dari hasil perhitungan dengan data-data yang ada, dapat diperoleh hasil tebal lapisan tambahan guna untuk mengembalikan jalan sesuai dengan fungsinya setebal 3 cm, sepanjang 5.800 m dengan lebar 8 m.    Dari Perhitungan yang dilakukan, maka Rencana Anggaran Biaya pada pelaksanaan pekerjaan lapis tambahan tersebut adalah sebesar Rp 9.438.609.300,00 (Sembilan milyar empat ratus tiga puluh delapan juta enam ratus sembilan ribu tiga ratus rupiah).

Peningkatan hasil belajar geografi menggunakan STAND pada siswa kelas XI-IPS 2 SMAN 1 Pringgasela Kabupaten Lombok Timur / Nurul Ikhwatika

 

Ikhwatika, Nurul. 2014. Peningkatan Hasil Belajar Geografi Menggunakan STAD pada Siswa Kelas XI-IPS 2 SMAN 1 Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Tesis, Pendidikan Geografi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Dr. Achmad Amirudin, M.Pd. Kata kunci: Hasil Belajar, Students Team Achievement Division (STAD). Terdapat beberapa permasalahan dalam pembelajaran geografi di kelas XI-IPS 2 SMAN 1 Pringgasela. Salah satu permasalahan tersebut adalah rendahnya hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara singkat dengan beberapa siswa, diketahui masalah tersebut disebabkan oleh: (1) siswa merasa bosan, (2) siswa sering belajar sendiri, (3) sumber belajar sangat kurang, dan (4) siswa tidak siap menghadapi pembelajaran. Untuk meningkatkan hasil belajar, diterapkan model pembelajaran Students Team Achievement Division (STAD). Model ini dipilih karena STAD mudah diterapkan oleh guru. Ada asistensi untuk teman sebaya pada saat kerja kelompok. Pada bagian akhir pembelajaran terdapat penghargaan atau rekognisi yang mendorong siswa untuk lebih aktif dan termotivasi untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI-IPS 2 SMAN 1 Pringgasela dengan menerapkan model pembelajaran STAD. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan selama 3 x 45 menit. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI-IPS 2 sebanyak 36 siswa yang terdiri atas 16 laki-laki dan 20 perempuan. Data penelitian ini berupa skor hasil belajar siswa. Skor siswa didapatkan melalui tes individual pada setiap akhir siklus. Data tambahan penelitian juga didapatkan dari lembar keterlaksanaan pembelajaran dan catatan lapangan. Berdasarkan analisis data hasil penelitian, diketahui bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Pada pra tindakan nilai rata-rata kelas XI-IPS 2 adalah 71,83 dengan ketuntasan klasikal hanya 52,77%. Pada siklus I ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 75,00 % dengan nilai rata-rata kelas 71,11. Pada siklus II ketuntasan klasikal siswa meningkat menjadi 88,89% dengan rata-rata kelas 75,75. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah tuntas belajarnya karena sudah mencapai standar minimal ketuntasan belajar klasikal yang ditetapkan oleh Depdiknas yaitu ≥ 85 % siswa di dalam kelas mencapai daya serap ≥ 75 (KKM ≥ 75). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Beberapa saran disampaikan berkaitan dengan penerapan STAD sebagai berikut: (1) alokasi waktu harus diatur dengan efisien, (2) guru harus memberikan penjelasan yang detail dan rinci mengenai sintaks-sintaks dalam STAD, dan (3) peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam menggunakan STAD pada materi yang berbeda.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani kentang di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo / Firdaus Ibrahim Y.

 

Ibrahim, Firdaus. 2014.Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Kentang Di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo: (1) Prof. Dr. Ach. Fatchan, M.Pd. M.Si (II) Drs. Mustofa, M,Pd Kata Kunci: Pendapatan, Petani Kentang, Produktivitas, Pertanian merupakan hal yang paling utama yang berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan masyarakat di Kecamatan Sukapuar Kabupaten Probolinggo. Hampir seluruh masyarakat bermata pencaharian sebagai petani, salah satu tanaman yang banyak ditanam adalah kentang. Data menunjukan bahwa tiap tahun ada peningkatan jumlah petani yang menanam kentang dan produktivitas kentang. Dilihat dari kontribusinya dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto pada tahun 2008, sektor ini menyumbang sekitar 25% atau menempati urutan kedua setelah sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel.Hal tersebut mengakibatkan luas lahan dan jumlah petani kentang yang turut meningkat. Harga kentangpada tahun ini bisa dikatakan stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendapatan petani dan mendeskripsikan keterkaitan antara pendapatan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pertanian kentang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksposfacto dengan metode survei. Subjek dalam penelitian ini yakni petani yang memiliki usaha tani kentang.Sampel penelitian diambil dari tiga desa yang mewakili Kecamatan Sukapurayakni desa dengan jumlah petani terbanyak, sedang, dan paling sedikit. Hasilpenelitianmenunjukan46% dari total 100 responden memiliki pendapatan yangterpusatpada10-15 juta rupiah/ha/panen.Pendapatan petani kentang rata-rata memenuhi dari UMR Kabupaten Probolinggo, Namun masih ada yang kurang dari UMR. Hal ini disebabkan karena harga kentang yang masih stabil. Faktor-faktor yang telah diuji menggunakan tabel persentase dan tabulasi silang didapatkan hasil sebagai berikut: (1) ada keterkaitan antara Produktivitas dan Teknik tanam terhadap Pendapatan petani (2) tidak ada keterkaitan antara Biaya produksi dan Mekanisme pemasaran terhadap Pendapatan petani kentang.

Perbandingan profil petani cengkeh Desa Pangklungan dan Desa Wonosalam Kecamatan Wonosalam Kabupatenb Jombang / Muhammad Nur Hidayat

 

Hidayat, Muhammad Nur. 2014. Perbandingan Profil Petani Cengkeh Desa Pangklungan dan Desa Wonosalam Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang, Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Singgih Susilo,M.S, M.Si. (II) Satti Wagistina, S.P, M.Si. Kata Kunci: Perbandingan Profil, Aktivitas Budidaya, Petani Cengkeh. Cengkeh merupakan salah satu komoditi tanaman perkebunan yang dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri rokok, makanan dan obat-obatan. Kecamatan Wonosalam merupakan penghasil cengkeh di Kabupaten Jombang. Desa Wonosalam dan Desa Pangklungan merupakan Desa penghasil cengkeh terbesar di Kecamatan tersebut. Aktivitas budidaya cengkeh dari kedua Desa ternyata berbeda, tanaman cengkeh di Desa Pangklungan lebih bagus jika dibanding tanaman cengkeh di Desa Wonosalam, hal ini ditandai dengan banyaknya tanaman cengkeh yang dalam keadaan baik, sedangkan pada Desa Wonosalam banyak yang mati terkena penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbandingan profil petani dan aktivitas budidaya tanaman cengkeh di Desa Wonosalam dan Desa Pangklungan. Penelitian ini merupakan penelitian survei, dengan studi deskriptif yang bersifat expost facto dengan menggunakan analisis kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu 27 petani Desa Pangklungan dan 30 petani Desa Wonosalam. Tehnik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Hasil dari penelitian ini yaitu. Tingkat pendidikan petani dari kedua Desa tergolong rendah yang hanya pada tingkatan SD saja. Rata-rata pengalaman bertani pada Desa Pangklungan lebih unggul dibanding Desa Wonosalam. Produktivitas tanaman yang dihasilkan petani Desa Wonosalam lebih tinggi dibanding Desa Pangklungan dengan produktivitas rata - rata 23,08 kg/pohon. Pendapatan petani Desa Wonosalam lebih tinggi jika dibanding Pendapatan petani Desa Pangklungan dengan rata-rata berpendapatan Rp.299.616.000. Beban tanggungan yang ditanggung petani dari kedua Desa sebagian besar sama yaitu berada pada interval 2-4 orang. Berdasarkan hasil dari tabulasi silang antara biaya perawatan dengan biaya penanggulangan penyakit, biaya yang dikeluarkan petani Desa Wonosalam lebih besar jika dibanding petani Desa Pangklungan dengan rata-rata Rp.5.392.700. Hasil dari tabulasi silang antara jumlah tenaga kerja dan biaya tenaga kerja diketahui bahwa jumlah dan biaya tenaga kerja yang digunakan petani Desa Pangklungan lebih besar jika dibandingkan dengan petani Desa Wonosalam dengan persentase 51,85% berada pada interval ≥ 45 orang dengan biaya tenaga kerja rata-rata Rp.19.156.923,-. Saran dalam penelitian ini yaitu perlu adanya peningkatan produktivitas dan pendidikan petani dari dinas terkait guna meningkatkan pendapatan dan pengalaman dalam berusaha tani cengkeh.

Meningkatkan motivasi dan kemampuan menulis puisi dengan teknik menulis puisi akrostik (studi pada siswa kelas V SDN Kandangan Kota 1 Kabupaten Hulu Sungai Selatan) / Ermi Yuliana

 

Yuliana, Ermi. 2014. Meningkatkan Motivasi Dan Kemampuan Menulis Puisi Dengan Teknik Menulis Puisi Akrostik (Studi Pada Siswa Kelas V SDN Kandangan Kota 1 Kabupaten Hulu Sungai Selatan) Tesis. Jurusan Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M. Pd, (II) Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad, M. Pd Kata Kunci: Motivasi, Kemampuan menulis puisi,Teknik menulis puisi akrostik Fakta menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia selama ini lebih banyak berlangsung dengan pendekatan konvensional. Selama ini ada kesulitan dalam meningkatkan motivasi dan kemampuan menulis puisi. Teknik menulis puisi akrostik merupakan teknik menulis puisi yang memungkinkan siswa dapat mengalami suatu proses pembelajaran yang terarah dan menyenangkan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kandangan Kota 1 tahun pelajaran 2013/2014. Adapun jumlah murid kelas V di SDN Kandangan Kota 1 30 orang siswa. Jenis data dalam penelitian ini ada dua 2 yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berkaitan hasil belajar siswa, prosentasi aktivitas siswa dan data aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan data kualitatif digunakan untuk berupa catatan guru, hasil observasi. Hasil Penelitian menunjukkan: 1) Hasil belajar pada pertemuan pertama dirasa masih kurang karena belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan, di mana ketuntasan individu hanya 22 orang atau 73%. Sedangkan pada pertemuan kedua mengalami penurunan, di mana ketuntasan individu sebanyak 21 orang atau 70% secara klasikal. Pada pertemuan ketiga ketuntasan individu sebanyak 22 orang atau 73%. Peningkatan motivasi menulis puisi ini juga terjadi pada pertemuan siklus II, yang mencapai rata-rata 148,6 dan pada pertemuan kedua siklus kedua berhasil tuntas dengan ketuntasan klasikal 93%. 2) Motivasi siswa dalam menulis puisi di siklus pertama masih kurang karena kurangnya perhatian, tidak berpikir secara relevan, dan tidak percaya diri untuk menulis puisi. Teknik menulis puisi akrostik adalah teknik menulis puisi yang huruf awal setiap barisnya membentuk kata. Teknik menulisnya dapat dimulai dari a) Tahap Pencarian Ide. b) Pengendapan atau Perenungan. c) Tahap Penulisan. d) Kegiatan terakhir adalah membacakan puisi di kelas kemudian memajangnya di papan panjangan kelas. Dengan adanya Teknik menulis puisi akrostik dapat digunakan sebagai alternatif untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam proses belajar mengajar sehingga motivasi dan kemampuan menulis puisi siswa meningkat.

Penerapan model mind mapping dan inside-outside circle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Pelambuan 7 Banjarmasin / Siti Aulia

 

Siti,Aulia. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping dan Inside-Outside Circle Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas V SDN Pelambuan 7 Banjarmasin. Tesis. Jurusan Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ruminiati, M.Si., (II) Juhriyansyah Dalle, S.Pd., S.Si., M.Kom., Ph.D. Kata kunci : Hasil belajar, Aktivitas Belajar, Mind Mapping, Inside-Outside Circle. Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10 Februari 2014 semester ke-2 yang dilakukan pada SDN Pelambuan 7 Banjarmasin, ditemukan hasil belajar PKn tuntas hanya 35% dan yang tidak tuntas 65% dimana hal ini mengindikasikan tidak tercapainya kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu 65 dan ketuntasan klasikal 80% dari jumlah murid, penyebabnya adalah penggunaan strategi pembelajaran yang kurang tepat sehingga pembelajaran kurang berjalan dengan maksimal dan optimal. Oleh karena itu penting diterapkan perpaduan model Mind Mapping dan Inside-Outside Circle sebagai usaha meningkatkan hasil belajar siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran serta untuk meningkatan hasil belajar PKn siswa dengan menggunakan model Mind Mapping dan Inside-Outside Circle. Metode penelitian yang digunakan adalah berupa PTK yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan dan siklus II terdiri dari 2 kali pertemuan. Sasaran subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN pelambuan 7 Banjarmasin yang berjumlah 20 orang, yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Sumber data PTK ini adalah guru dan siswa yang berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data aktivitas guru dan data aktivitas siswa diambil dengan lembar observasi, serta data hasil belajar siswa diperoleh dengan alat penggali data berupa tes tertulis yaitu hasil kerja siswa, tes akhir dan formatif. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan perpaduan model Mind Mapping dan Inside-Outside Circle dapat meningkatkan kualitas aktivitas guru. Pada siklus I dengan kategori baik dan siklus II dengan kategori amat baik. Aktivitas siswa, Siklus I dengan kategori aktif dan siklus II dengan kategori sangat aktif. Hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan 65% siswa tuntas dan 35% siswa tidak tuntas, kemudian pada siklus II meningkat menjadi 95% siswa tuntas dan 5% siswa tidak tuntas. Disarankan kepada guru, agar secara bertahap dan berkesinambungan mengkaji pola dan strategi pembelajaran yang tepat dalam upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran. Salah satunya adalah dengan penerapan model Mind Mapping dan Inside-Outside Circle. Khususnya dalam pembelajaran PKn, model Mind Mapping dan Inside-Ouside Circle dianggap mampu meningkatkan prestasi belajar siswa baik secara klasikal maupun individual sebagai solusi alternatif dalam pengembangan pembelajaran.

Analisis perbedaan hasil pengukuran koordinat peta situasi antara yang diukur dengan teodolit dan total station / Pratama Yoga Pemelang

 

Yoga Pamelang, Pratama. 2014. Analisis Perbedaan Hasil Pengukuran Koordinat Peta Situasi Antara Yang Diukur Dengan Teodolit Dan Total Station. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tonny Sudianto, M. T., (II) Ir. Titi Rahayuningsih, M. Si. Kata Kunci: Koordinat, Teodolit, Total Station.     Dalam ilmu ukur tanah terdapat berbagai macam unsur-unsur materi yang dipelajari antara lain,(1) perhitungan luas lahan, (2) perhitungan sudut, (3) perhitungan elevasi, (4) perhitungan kontur. Pengukuran dalam ilmu ukur tanah menggunakan beberapa alat diantaranya pesawat penyipat datar (waterpass), pesawat penyipat ruang (teodolit) dan total station. Pelaksanaan pengukuran dan tahap perhitungan dalam ilmu ukur tanah harus dilakukan secara teliti, karena kesalahan dari pengukuran yang dilakukan akan menyebabkan hasil hitungan tidak relevan dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Pengukuran lahan dilakukan menggunakan pesawat teodolit dan total station, dengan menentukan sudut serta jarak dari titik-titik yang ditentukan.     Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan hasil koordinat pengukuran koordinat peta situasi antara pesawat teodolit dan total station.Proses pengukuranteodolit dan total station dilakukan pengukuran ke I dan pengukuran ke II pada titik yang sama, dimana pengukuran ke I sebagai bacaan biasa dan pengukuran ke II sebagai bacaan luar biasa.Lokasi pengukuran pada penelitian ini dilakukan dilingkungan Universitas Negeri Malang, dilakukan pada tanggal11 April 2014. Pengukuran yang dilakukan menggunakan metode polar.Analisa hasil yang digunakan adalah Uji Chi-Square dengan jumlah pengukuran 36 kali pengukuran.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesawat total station digunakan sebagai pedoman pesawat pengukur koordinat yang lain, karena dalam penelitian ini rerata kesalahan pada pengukuran koordinat dengan menggunakan pesawat total stationpada sumbu X yang berbeda pada = 16,7%, sumbu Y = 13,9%, dan sumbu Z = 27,8%. Dengan demikian pesawat total stationdapat digunakan pada pengukuran yang memerlukan ketelitan yang cukup tinggi. Hasil pengukuran koordinat peta situasidengan menggunakan pesawat theodolit didapat rerata kesalahan padasumbu X mencapai = 97,2%, sumbu Y = 91,7%, dan sumbu Z = 100%. Hasil pengukuran koordinat peta situasi dengan menggunakan pesawat total station didapat rerata kesalahan padasumbu X mencapai = 94,4%, sumbu Y = 97,2%, dan sumbu Z = 100%.Setelah diteliti dengan menggunakan metode analisis Chi-Square, kesalahan yang didapat pada pengukuran koordinat peta situasidengan theodolit didapat reratasumbu X= 16,7%, sumbu Y = 13,9%, dan sumbu Z = 27,8%. Dalam pengukuran koordinat peta situasiantara pesawat teodolit dan total station setelah diteliti di dapat hasil bahwa tidak ada perbedaan hasil pengukuran koordinat. Pengukuran koordinat peta situasidengan menggunakan pesawat total station didapat ketelitian hasil yang lebih akurat karena rerata kesalahan pesawat total station(0,001) lebih kecil dari rerata kesalahan dengan menggunakan teodolit (0,014).

Pengaruh penambahan tetes tebu terhadap kuat tekan beton / Arif Sufi Asy Syathori

 

Asy Syathori, Arif S. 2014. Pengaruh Penambahan Tetes Tebu Terhadap Kuat Tekan beton. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sonny Wedhanto, M. T., M. T. (II) Mohammad Sulton, S.T., M.T. Kata Kunci: Tetes tebu, kuat tekan, beton. Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa kandungan disakarida pada tetes tebu dapat digunakan sebagai bahan retarder untuk meningkatkan kuat tekan beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kuat tekan beton yang diberi dan tanpa diberi tambahan tetes tebu. Metode menggunakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment); perlakuan dengan penambahan tetes tebu sebesar 0%; 0,2%; dan 0,3% dari berat semen; tiap perlakuan menggunakan 20 buah sampel benda uji berbentuk silinder beton perbandingan 1PC: 2 Pasir: 3 Kerikil berdasarkan perbandingan berat, dan FAS 0,6. Hasil: (1) pada taraf signifikansi 99% terdapat perbedaan antara kuat tekan beton dengan tambahan dan tanpa tambahan tetes tebu; (2) beton tanpa tambahan tetes tebu menghasilkan kekuatan tekan rata-rata sebesar 23,20 MPa, dengan penambahan 0,2% tetes tebu menghasilkan kuat tekan rata-rata 27,34 Mpa, dan dengan penambahan 0.3% tetes tebu menghasilkan kuat tekan rata-rata 1,79 MPa.

Implementasi PC router di UPT SD Negeri Purworejo 3 Pasuruan dengan menggunakan sistem operasi Linux Mandriva / Shofiyah, Umartinus Pujo Widodo

 

Tujuan dari Implementasi teknologi informasi di UPT SD Negeri Purworejo 3 selain untuk meningkatkan mutu pendidikan juga bertujuan untuk mengkonfigurasi PC router yang menggunakan sistem operasi linux mandriva di UPT SD Negeri Purworejo 3,untuk mengkonfigurasi pengaturan manajemen IP addres dengan menggunakan DHCP (Dynamic Host Control Protocol), dan sebagai filterisasi situs porno dengan cara blocking alamat situs. Dalam pengembangan sistem jaringan ini penulis akan membahas lebih rinci tentang konfigurasi linux mandriva. Dalam perancangan PC router tahapan-tahapannya yang pertama dengan menginstall sistem operasi pada PC router, kedua konfigurasi router linux mandriva. Ketiga konfigurasi NAT (Network Address Translation). Keempat konfigurasi DHCP, dan yang terakhir filterisasi situs porno dengan menggunakan squid, membatasi user dalam mengakses situs yang sudah di blacklist. Hasil pengujian dari setting IP address PC router dapat disimpulkan bahwa proses routing untuk menghubungkan ke gateway dapat berjalan dan diterima dengan baik oleh PC router tersebut. Pada hasil pengujian DHCP server dapat disimpulkan bahwa setiap komputer client dapat terisi secara otomatis sesuai dengan konfigurasi DHCP server. Sedangkan hasil dari filterisasi situs porno dapat disimpulkan bahwa setiap komputer client tidak dapat mengakses situs porno maupun melakukan pencarian dengan kata kunci yang telah terdaftar di dalam file blacklist. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sebagai berikut : (1) PC router dapat meneruskan paket IP sehingga semua komputer client dapat terhubung ke internet meskipun memiliki IP yang berbeda kelas; (2) PC router dapat mengkonfigurasi IP client secara otomatis dengan menggunakan DHCP; (3) PC router dapat memberikan perlindungan, baik menyaring, membatasi atau bahkan menolak aliran paket data yang tidak sesuai dengan konfigurasi, maka akses browsing dan searching dapat diblokir jika alamat situs atau kata kunci tersebut mengandung unsur pornografi/pornoaksi dan terdaftar di blacklist situs porno sesuai dengan data yang telah di blokir oleh administrator; dan (4) Hasil dari pengujian PC router bahwa klien dapat terkoneksi ke internet, klien dapat konfigurasi IP address secara otomatis, dan klien tidak dapat mengakses situs porno karena adanya filterisasi situs porno.

Kajian struktur tari topeng getak dan pembelajarannya pada siswa SMP di Sanggar Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang / Ratih Endah Wahyuning Tyas

 

ABSTRAK Tyas, Wahyuning, Endah, Ratih. 2009. Kajian Struktur Tari Topeng Getak dan Pembelajarannya pada Siswa SMP di Sanggar Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Purwatiningsih, M.Pd, (II) Drs. Supriyono. Kata Kunci: tari topeng getak, struktur tari, pembelajaran tari. Tari Topeng Getak adalah satu-satunya tari yang paling menonjol dan masih sering dipentaskan dan diajarkan pada siswa-siswa usia SMP di Lumajang. Bentuk tari ini bisa disajikan tunggal, berpasangan dan ditarikan secara kelompok atau massal. Sanggar Sekar Arum adalah satu-satunya sanggar yang mempunyai program untuk mendatangkan seniman Topeng Getak guna mengajarkan tari Topeng Getak langsung kepada siswa-siswa sanggar untuk melestarikan tari tradisional yang berkembang di Lumajang sehingga terjadi regenerasi agar tari ini tidak sampai punah. Penulisan ini bertujuan mendeskripsikan sejarah tari Topeng Getak, struktur tari Topeng Getak serta memaparkan pembelajaran tari Topeng Getak pada siswa SMP di Sanggar Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena penelitian yang memperoleh datanya dilakukan secara alami dimana hasil dari penelitian tersebut di deskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Lokasi penelitian ini berada di Sanggar Tari Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Tari Topeng Getak yang ada di Lumajang muncul dan berkembang karena adanya pengaruh kebudayaan yang dibawa oleh masyarakat Madura yang beremigrasi ke Lumajang. Perkembangan tari Topeng Getak tersebut terbagi menjadi dua periode yaitu periode pertama (tahun 1980- 1990) dan periode kedua (tahun 1991-2009). Struktur bentuk gerak meliputi unsur, motif, frase, kalimat dan paragraf gerak. Tari Topeng Getak terdiri dari 4 unsur gerak kepala, 7 unsur gerak tangan, 3 unsur gerak badan, 4 unsur gerak kaki. Tari ini juga memiliki 24 frase gerak, 14 kalimat gerak dan 3 paragraf/ gugus gerak. Iringan musik yang digunakan dalam tari Topeng Getak ini yaitu kendang dan jidor, tiga buah kenong, sronen atau terompet, gong. Tari Topeng Getak tidak menggunakan tata rias. Tata busana yang dipakai yaitu bagian atas: irah-irahan, bagian tengah: selempang, stagen, sabuk, ilat-ilatan, sampur, deker. Bagian bawah: rapek, celana panji, boro-boro, kaos kaki. Properti: sapu tangan dan gongseng. Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran tari Topeng Getak terdiri dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan penutup. Pengelolaan pembelajaran tari Topeng Getak terdiri dari interaktif, menyenangkan, menantang dan motivasi. Manfaat pembelajaran tari Topeng Getak yaitu siswa dapat mempelajari tari tradisional yaitu tari Topeng Getak dari narasumber secara langsung sehingga pakem-pakem yang ada dalam setiap gerakan tari Topeng Getak dapat terekam dengan baik di dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh siswa.

Using semantic mapping technique to improve reading ability of IX - grade students of MTs Maarif Sukorejo - Pasuruan / Robet Aprillianto

 

ABSTRACT Aprillianto, Robet. 2009. Using Semantic Mapping Technique to Improve Reading Ability of IX - Grade of MTs Maarif Sukorejo - Pasuruan. Thesis Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D. (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Keywords: reading comprehension, English texts, semantic mapping technique. This study was carried out based on the problems faced by the researcher as the English teacher at MTs Sukorejo - Pasuruan. The result of the preliminary study at the IX Grade showed that the students’ achievement in comprehending English texts was still unsatisfactory. Besides they had low involvement to participate in the reading activities. To solve the problems, the technique called semantic mapping was chosen. The research problems of this study: (1) How can semantic mapping technique improve the reading ability of the IX Grade students of MTs Maarif Sukorejo? (2) How can semantic mapping technique improve the involvement of IX Grade students of MTs Maarif Sukorejo – Pasuruan in reading comprehension activities? The study employed a collaborative action research design which was intended to improve both reading comprehension and involvement in reading comprehension activities of IX Grade students of MTs Maarif Sukorejo through semantic mapping technique. The technique is selected since it helps students in enabling to comprehend English texts effectively. Further, the technique has been proven, through many studies, to have been able to improve the students’ reading comprehension achievement. The subjects of this research were 36 students (IX A Grade) of MTs Maarif Sukorejo – Pasuruan in the 2008/2009 academic year. This research study was conducted in two cycles by following the procedure of action research, i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle of the research study encompassed three meetings of the technique implementation and one meeting for the quiz. The data of this research study were obtained through reading quizzes, observation checklist and field notes at the end of the cycle. The findings of the study showed that the appropriate procedure of semantic mapping technique in teaching reading comprehension consisted of the following steps: (1) explaining the students to the specific goals of learning and leading the students to the topic by showing pictures; (2) asking the students to make a group and discuss unfamiliar vocabularies; (3) asking the students to find information related with the topic by questioning the pictures; (4) asking the students to map the information or write the information down in the form of phrases in the circles of mapping; (5) informing the students to read a text silently; (6) explaining and asking the students to find and discuss unfamiliar vocabulary meanings contextually in a group; (7) asking the students to find important detailed information of a text by questioning and put the information in the form of phrases into the circles of mapping; (8) asking the students to find and discuss the center of idea or topic in a paragraph by classifying and categorizing with lines then write it into a sentence as a main idea of paragraph; (9) guiding the students to find other vocabulary meanings contextually, important detailed information and main idea in the next paragraphs (10) asking the students to find a topic of a text by identifying the information in the form of phrases or words which frequently appear in the mapping as a topic of the text; (11) asking the students to share and complete mapping with other group by comparing with own group mapping; (12) asking to the students to answer the reading comprehension questions individually then discuss or compare in a group; (13) asking to students to present the answers of reading comprehension individually; (14) asking the students to make a summary of a text they have learnt; and (15) giving feedbacks to the students by checking the right answers of the previous reading comprehension questions. Furthermore, the findings of this research study indicate that the semantic mapping technique is successful in improving both the students’ ability in comprehending English texts (report texts) and the students’ involvement in reading activities. The improvement can be seen from the increase of students’ mean scores and the students’ individual score percentage from preliminary study to Cycle 2. The students’ mean score had improved greatly from 35.00 to 68.33. Besides, The students’ individual score percentage had achieved to a great extent from 0% to 44.44% equal or greater than 70. Those scores obtained by the students in the two cycles were shown by reading comprehension tests or quizzes. Dealing with the students’ involvement, most of students (93.75%) were involved actively in the reading activities in the third meeting of Cycle 2. The students’ involvements in reading activities were shown by the observations checklists and field notes. Based on the effectiveness of the implementation of semantic mapping technique in comprehending English texts, it is suggested that the English teachers should focus on the followings aspects in the reading activities: (1) preparing the aiding tools or pictures in the brainstorming activities; (2) combining the semantic mapping technique with other reading technique (questioning) in order to find important detailed information; (3) asking the students to find vocabulary meaning contextually in order to get the right meaning of words in a text; (4) asking the students to identify the center of idea or main idea of a paragraph by categorizing and classifying the information in the map with lines; (5) asking the students to identify the frequent words or phrases as the topic of a text; (6) explaining the students’ individual tasks in a group clearly; and (7) asking the students to make a summary of a text and present it in the classroom. To the future researcher teachers, particularly those who are interested in applying semantic mapping technique in their research, it is suggested that they conduct classroom action research and implement this technique in the teaching of reading to other English text types (descriptive, narrative, recount, procedure) and other language skills, for instance writing.

A study on the problems faced by English teachers in teaching writing for grade VIII at SMPN 1 Kasembon Malang / Tri Windiyati

 

ABSTRACT Windiyati, Tri. 2010. A Study on the Problems Faced by English Teachers in Teaching Writing for Grade VIII at SMPN 1Kasembon Malang. Thesis, English Education Department of Undergraduate Program, State University of Malang. Advisor: Harits Masduqi, M.Pd., M.Ed. Key words: teaching writing, problems, SMPN 1 Kasembon Malang Writing is very essential to be taught since ignoring the skills to write means not only ignoring writing skills themselves but also ignoring the contribution of writing skills toward the development of other skills. Compared to the other three skills, writing is considered to be the most difficult skill to master. Therefore, teaching writing is not an easy job because teachers might face several problems in the process of teaching writing in the classroom. The significance of this study was to reveal that problems in writing were not only faced by the students but also by the teachers. This study was also intended to find out how the teachers coped and managed their problems in order to help the students to write better. By doing so, it was hoped that the findings of this study can give recommendations for English junior high school teachers so that they can have teaching practice better. This study was a descriptive-qualitative research which was aimed at describing the problems faced by English teachers in teaching writing for grade VIII at SMPN 1 Kasembon Malang. More specifically, it was conducted to find out and analyze (1) the teachers’ problems in relation to the teaching preparation, (2) the teachers’ problems in relation to the teaching techniques, (3) the teachers’ problems in relation to the textbooks used, and (4) the teachers’ strategies to overcome the problems faced in the teaching of writing. The subjects of this study were two English teachers who taught for grade VIII at SMPN 1 Kasembon Malang. The instruments to collect the data were questionnaires, observation sheet, interview guide, and field notes. The data obtained from questionnaires, observation, interview, and field notes was classified then tallied. All the data were analyzed descriptively. This study revealed that problems faced by the teachers in teaching writing were various. The teachers face problems in relation to teaching preparation, teaching techniques, and the textbook used. However, they had strategies to overcome the problems faced. Both teachers made teaching preparation before they taught. However, they only made lesson plans and a semester program for one year in the early semester. As a consequence, the teachers got difficulties in (1) understanding the instructional objectives, (2) choosing themes and topics, (3) combining materials from the textbook and the workbook used, and (4) having insufficient time to prepare all the instructional preparation. In the process of teaching writing, the techniques used by the teachers were almost the same for every meeting. Both teachers rarely used other techniques because of their lack of knowledge on teaching writing and they got difficulties in (1) determining an appropriate technique for the students who had low ability and interest in writing, (2) choosing an activity that could encourage and attract students’ attention to write better, and (3) arranging the activities which were going to be used in the class. To overcome this problematic condition, the teachers explained the materials for several times until the students understood. In relation to the textbook used, the teachers got difficulties because there was not any clear guidance and the instruction given was unclear.

Perancangan komik superhero "Arlang: the Spirit of Malang" sebagai media promosi dan pengenalan Kota Malang / Kresnha Adhitya Zulkarnaen

 

ABSTRAK Zulkarnaen, Kresnha Adhitya. 2009. Perancangan Komik Superhero ARLANG: The Spirit of Malang sebagai media promosi dan pengenalan Kota Malang. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji (II) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn Kata Kunci: Perancangan, Komik , Promosi, kota Malang. Saat ini sangat sedikit komik Indonesia, terutama tema superhero yang menyertakan unsur- unsur local genius atau kebudayaan nasional dalam penciptaannya begitu juga dengan karakter- karakter yang dimunculkan dalam komik tersebut. Padahal hal tersebut sangat penting, dikarenakan untuk memperkenalkan aset kebudayaan nasional maupun tempat- tempat bersejarah Indonesia kepada pembaca terutama generasi muda. Malang merupakan salah satu kota yang cukup penting di Jawa Timur. Kota Malang dikenal sebagai kota pariwisata dan pendidikan. Cukup banyak aset utama di kota Malang yang menjadi ciri khas kota Malang. Saksi sejarah Indonesia pun juga banyak ditemukan di kota yang dikenal dengan kota pendidikan dan kota bunga ini. Dilatar belakangi oleh hal tersebut di atas, maka penulis ingin mengangkat tema kekayaan dan profil daerah atau kota dalam bentuk komik superhero lokal yang tidak hanya bersifat sebagai hiburan yang menarik semata, melainkan juga sebagai media informasi dan media promosi yang efektif untuk memperkenalkan kota Malang kepada publik. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menghasilkan suatu komik superhero kota Malang yang bersifat sebagai media promosi dan pengenalan kota Malang. Selain itu juga untuk menciptakan suatu bentuk karakter superhero komik kota Malang. Model perancangan yang dipakai adalah model perancangan prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk, diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data, perancangan konsep hingga pembuatan karya final. Data yang menjadi acuan adalah data-data yang bersumber dari hasil survei, wawancara, dan buku-buku literatur. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah dalam perancangan media komik, bukan hanya memperhatikan segi visualisasi namun juga memperhatikan jalinan cerita yang menarik sehingga tujuan dari komik itu sendiri dapat terwujud.

Analisis penggunaan ICT sebagai media pembelajaran kelas X standar kompetensi mengoperasikan dan mengamati mesin/proses Program Keahlian Teknik Permesinan di SMK Negeri 1 Singosari / Much. Nur Khalim

 

ABSTRAK Khalim, Much. Nur. 2009. Analisis Penggunaan ICT sebagai Media Pembelajaran Kelas X Standar Kompetensi Mengoperasikan dan Mengamati Mesin/Proses Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sukarni, S.T., M.T., (2) Dr. Eddy Sutadji, M.Pd. Kata Kunci: ICT, media pembelajaran, mengoperasikan dan mengamati mesin/proses. Proses pembelajaran adalah kegiatan dari proses belajar mengajar yang bertujuan merubah tingkah laku yang secara komprehensif, yang ditunjang dengan adanya media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat alat bantu untuk menyampaikan pesan belajar kepada siswa. Information and Communication Technology (ICT) dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan informasi atau bahan ajar. Penggunaan ICT untuk pembelajaran berlaku apabila ICT digunakan sebagai media untuk mengakses informasi dari internet. Interconnecting Network (Internet) merupakan sumber informasi untuk mencari dan menyebarkan segala ilmu pengetahuan keseluruhan penjuru dunia dengan mudah. Dengan demikian, segala informasi yang berkaitan dengan pembelajaran di internet itu dapat dijadikan sumber belajar dan sumber informasi. ICT berguna sebagai media penunjang dalam pembelajaran pada standar kompetensi mengoperasikan dan mengamati mesin/proses. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan ICT bagi guru sebagai media pembelajaran, (2) penggunaan ICT bagi siswa sebagai media pembelajaran, (3) faktor pendukung penggunaan ICT sebagai media pembelajaran, (4) faktor penghambat penggunaan ICT sebagai media pembelajaran, dan (5) bentuk solusi untuk mengatasi hambatan dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X yang berjumlah 33 orang dan 7 orang guru program keahlian. Hasil penelitian ini adalah (1) penggunaan ICT sebagai media pembelajan bagi guru dan siswa, sebagai alat mengakses informasi dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran, (2) faktor pendukung penggunaan ICT sebagai media pembelajaran adalah sumber informasi dan sumber belajar bagi guru dan siswa, (3) faktor penghambat dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran adalah kurangnya waktu luang serta kurangnya fasilitas baik ruang maupun komputer, dan (4) bentuk solusi untuk mengatasi hambatan dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran adalah melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar sekolah melengkapi fasilitas-fasilitas ICT, memberikan jadwal tetap dalam penjagaan, penggunaan laboratorium setiap harinya, sehingga memberikan kesempatan kepada yang berkepentingan.

Analisis semantik teks humor berbahasa Indonesia / Novita Dwi Kusumawati

 

ABSTRAK Kusumawati, Novita Dwi. 2009. Analisis Semantik Teks Humor Berbahasa Indonesia. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sunaryo HS, SH, M. Hum Kata Kunci: folklor, humor, perubahan makna Humor merupakan bagian dari tradisi rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu humor juga termasuk folklor karena bersifat anonim, yang diciptakan, disebarluaskan, dan diwariskan turun-temurun dalam bentuk lisan dan bukan lisan. Humor merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat untuk melepaskan kepenatan pikiran, kebosanan, dan untuk mendapatkan hiburan. Humor sebagai salah satu bagian dari ungkapan tradisional selain dapat diwujudkan dari bentuk dan fungsinya, juga dapat dilihat dari isi dan perubahan makna yang terkandung dalam humor itu. Humor adalah segala bentuk folklor yang menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya tergelitik perasaannya, lucu sehingga membuat tertawa. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh deskripsi isi berdasarkan topik dan perubahan makna yang terdapat dalam teks humor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena datanya berupa paparan bahasa. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi dokumentasi. Studi dokumentasi digunakan untuk meneliti teks-teks yang berupa teks-teks humor. Data penelitian ini adalah data verbal yaitu berupa kata, frase maupun kalimat yang terdapat dalam teks humor. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks humor yang terdapat dalam dua buku kumpulan humor Tertawa Bahagia, KUHP (Kitab Undang-undang Humor Pilihan) dan Humor Van Java Temennya Pak Bambang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara koleksi dan pencatatan dokumen data yang dijadikan objek penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan membaca seluruh isi dari teks humor, pencatatan, penyeleksian data, dan kodifikasi data untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam tabel klasifikasi agar tidak terpisah-pisah. Oleh karena itu, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga langkah, yaitu (1) identifikasi terhadap unsur-unsur isi berdasarkan topik dan perubahan makna dalam teks humor, (2) kodifikasi data unsur-unsur isi berdasarkan topik dan perubahan makna dalam teks humor, dan (3) penafsiran data unsur-unsur isi berdasarkan topik dan perubahan makna dalam teks humor. Dengan menggunakan metode kualitatif dan studi dokumentasi, maka isi berdasarkan topik yang ditemukan dalam teks humor berbahasa Indonesia adalah (1) humor kritik, (2) humor meringankan beban, (3) humor hiburan, (4) humor etnis, (5) humor seks, (6) humor politik, (7) humor agama, dan (8) humor pergaulan. Selanjutnya perubahan makna yang ditemukan dalam teks humor berbahasa Indonesia adalah (1) perluasan makna, (2) penyempitan makna, (3) perubahan makna total, (4) penghalusan makna, dan (5) pengasaran makna.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |