Perbandingan prestasi belajar fisika siswa Madrasah Aliyah An-Nur Bululawang Malang antara siswa yang bertempat tinggal di dalam pondok pesantren dengan yang di luar pondok pesantren / oleh Ida Nurin Ni'mah

 

Pengaruh kadar SiO2 terhadap porositas dan kekerasan nanokomposit HA-SiO, berbasis batuan onyx Bojonegoro / Yeyehn Dwi Sugara

 

ABSTRAK Sugara, Yeyehn Dwi. 2015. Pengaruh Kadar SiO2 terhadap Porositas dan Kekerasan Nanokomposit HA-SiO2 Berbasis Batuan Onyx Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Fisika,Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Yudyanto, M.Si. (II) Dra.Hartatiek, M.Si. Kata Kunci : kadar silika, nanokomposit hidroksiapatit- SiO2, porositas, kekerasan, metode kopresipitasi Hidroksiapatit (HA) merupakan salah satu biokeramik yang banyak digunakan pada aplikasi biomedis. HA memiliki sifat biokompaktibel, bioaktivitas dan biodegradabel. HA dapat disintesis dengan menggunakan material alam. Namun, HA memiliki sifat mekanik yang rapuh. Untuk memenuhi syarat sebagai material substitusi tulang, maka HA dikompositkan dengan material yang memiliki sifat mekanik yang baik. Salah satu material tersebut adalah nanosilika. Pada penelitian ini, sintesis HA dilakukan dengan menggunakan metode kopresipitasi. Bahan dasar pembuatan HA adalah batu onyx Bojonegoro yang dijadikan sebagai sumber Ca dengan kemurnian 94,33%. Sedangkan sumber fosfat diperoleh dari Ammonium Dihidrogen Fosfat (ADP) Merck 101126. Tahap awal sintesis HA adalah pelarutan serbuk onyx ke dalam HNO3 2M dan distirer dengan kecepatan 700 rpm selama 30 menit. Selanjutnya ADP ditambahkan ke dalam larutan distirer dengan kecepatan 700 rpm selama 1 jam sambil ditetesi NH4OH untuk mengontrol pH 9-10. Hasil yang didapatkan diendapkan selama 24 jam. Endapan dicuci menggunakan DI water dan dikeringkan pada suhu 100oC selama 1 jam. Serbuk HA yang telah jadi dikompositkan dengan nanosilika. Besarnya komposisi komposit HA-SiO2 yang digunakan dalam penelitian ini adalah 90:10%, 80:20% dan 70:30%. Hasil nanokomposit HA-SiO2 dikarakterisai menggunakan XRD, SEM-EDX, microhardness vikers dan dilakukan uji porositas Hasil XRD menunjukkan bahwa fasa yang terbentuk adalah 100% HA dengan ukuran kristal 22,5 nm. HA yang diperoleh memiliki perbandingan nilai Ca/P sebesar 1,46. Hasil uji kekerasan dengan menggunakan microhardness vikers menunjukkan adanya pengaruh penambahan nanosilika pada kekerasan HA. Besarnya nilai kekerasan untuk masing-masing kadar silika 10%, 20% , 30% adalah 38,2; 42,3; 43.1 HVN sedangkan nilai porositasnya adalah 44,4; 40,7; 39,3 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penambahan nanosilika dapat meningkatkan nilai kekerasan HA disertai dengan menurunnya porositas HA.

Pengaruh leverage keuangan terhadap pendapatan per lembar saham (Studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007) / Didit Januarto

 

ABSTRAK Januarto, Didit. 2009. Debt to Equity Ratio (DER), Degree of Financial Leverage (DFL) terhadap pendapatan per lembar saham pada Perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2007. Program S1 Akuntansi, fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Sri Andayani, SE, M.Si, AK, Pembimbing (II) Dra. Makaryanawati, SE, M.Si, Ak Kata Kunci : Kebijakan Hutang (DER), Degree of Financial Leverage (DFL), Earning Per Share (EPS) Leverage keuangan adalah suatu ukuran yang menunjukkan sampai sejauh mana sekuritas berpenghasilan tetap ( utang dan saham preferen ) digunakan dalam strutur modal perusahaan.. Penggunaan Leverage juga menimbulkan risiko keuangan bagi pemegang saham. Risiko bisnis sebagian akan bergabtung pada sampai berapa besar komposisi biaya tetap sebuah perusahaan di dalam operasinya. Jika hal-hal lain dianggap konstan, semakin tinggi biaya tetap sebuah perusahaan, maka semakin besar risiko bisnisnya. Jika sebagian besar biaya adalah biaya tetap, maka perusahaan tersebut dikatakan memiliki tingkat leverage operasi yang tinggi Pada dasarnya tujuan perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan agar mempunyai nilai lebih bila dibandingkan dengan perusahaan lain. Pendapatan per lembar saham suatu perusahaan adalah salah satu pertimbangan bagi investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan, karena pendapatan per lembar saham perusahaan menunjukan nilai perusahaan yang tinggi di pasar agar diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham, Para investor dapat menggunakan informasi berupa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan seperti kebijakan dividen dan kebijakan hutang serta rasio keuangan sebagai indikator untuk menilai kinerja perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh antara Degree of Financial Leverage (DFL) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap pendapatan per lembar saham perusahaan baik secara simultan maupun secara partial. Degree of Financial Leverage (DFL) dan Debt to Equity Ratio (DER) diukur dengan menggunakan nilai yang ada pada laporan keuangan perusahaan tahun 2007. Untuk pendapatan per lembar saham perusahaan diukur dengan menggunakan harga saham rata-rata pada penutupan tahun 2007. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2007. Dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel penelitian. Hasilnya, terdapat 59 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari ICMD. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Degree of Financial Leverage (DFL) dan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh langsung positif dan signifikan terhadap pendapatan per lembar saham. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah dengan menambah variabel penelitian seperti ROE,ROI, dan beban bunga, jumlah sampel perusahaan manufaktur dan tahun penelitian.

Perancangan media komunikasi visual taman rekreasi keluarga Kebonrojo kota Blitar / Irfan Susanto

 

ABSTRAK Irfan Susanto. 2010. Perancangan Media Komunikasi Visual Taman Rekreasi Keluarga Kebon Rojo Kota Blitar. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujiyanto, M.Sn, (II) Rudi Irawanto S.Pd, M.Sn. Kata Kunci: perancangan, media komunikasi visual, taman rekreasi, Kebon Rojo Kota Blitar. Taman Kebon Rojo merupakan taman rekreasi keluarga yang berada dikompleks Rumah Dinas Walikota Blitar yang disediakan untuk masyarakat umum/wisatawan secara gratis. Sebelum menjadi tempat rekreasi, Taman Kebon Rojo merupakan taman hutan kota yang dibangun untuk daerah resapan air dan pelestarian lingkungan hidup. Guna menumbuhkembangkan citra Taman Kebon Rojo yang baik di mata masyarakat serta meningkatkan jumlah pengunjung, maka salah satunya dengan melalui perancangan media komunikasi visual. Media komunikasi visual merupakan sarana media promosi yang digunakan untuk mengkomunikasikan produk barang atau jasa kepada masyarakat. Penggunaan media komunikasi visual menjadi bagian dalam stategi komunikasi periklanan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan media komunikasi visual yang disertai dengan paparan diskriptif konseptual. Perancangan disini merupakan perancangan media promosi bagi Taman Kebon Rojo Blitar. Perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif sekaligus meningkatkan kunjungan wisata dari Taman Kebon Rojo di kota Blitar Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap Taman Kebon Rojo. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi (3) kepustakaan. Teknik analisis non hipotesis dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan komunikasi visual (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yakni (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan (3) dan tahap penyusunan laporan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media komunikasi visual Taman Kebon Rojo di kota Blitar sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna, ilustrasi, fotografi, tipografi serta media yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu untuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif sekaligus meningkatkan kunjungan wisata dari Taman Kebon Rojo di kota Blitar, maka penggunaan perancangan media promosi merupakan suatu solusi yang tepat.

Perbedaan efektifitas pembelajaran antara metode kooperatif model numbered heads together (NHT) dengan model examples non example terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi (Studi pada siswa kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 SMA Negeri 1 Kandat, Kediri) /

 

ABSTRAK Arkhadia, Lelly. 2010. Perbedaan Efektifitas Pembelajaran Antara Metode Kooperatif Model Numbered Heads Together (NHT) Dengan Model Examples Non Example Terhadap Pretasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi (Studi Pada Kelas XI IPS 1 dan Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Kandat, Kediri). Skipsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sri Pujiningsih, S.E.,M.Si.,Ak., (2) Triadi Agung Sudarto, S.E.,M.Si.,Ak. Kata Kunci: perbedaan efektifitas pembelajaran, metode kooperatif, model numbered heads together (NHT), model examples non example. Pembelajaran kooperatif menurut adalah berbagai macam metode pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompokkelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya untuk saling mempelajari materi pelajaran. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui perbedaan efektifitas pembelajaran antara menggunakan metode Numbered Heads Together dengan menggunakan metode Example Non Example. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif Explanasi. Dalam penelitian ini bertujuan mencari perbedaan efektifitas pembelajaran antara menggunakan metode Numbered Heads Together dengan menggunakan metode Example Non Example. Penelitian ini mengunakan instrumen berupa soalsoal pre test dan post test. Materi yang disampaikan dalam enelitian ini yaitu siklus akuntansi. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kandat, Kediri. Sampel yang diambil adalah kelas XI IPS 1 yang terdiri dari 36 siswa dan XI IPS 2 yang terdiri dari 36 siswa. Untuk kelas XI IPS 1 diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together, sedangkan kelas XI IPS 2 diberi perlakuan menggunakan model Examples non Example. Hasil penelitian dari penggunaan dua metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together dan model Examples non Example menunjukkan bahwa model Number Heads Together lebih efektif daripada model Examples non Example. Hal ini ditunjukkan dengan hasil rumusan regresi Y = 63.505 + 0.676 X1 + 0.485 X2 + e. Dapat diartikan bahwa X1 mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada pengaruh yang diberikan oleh X2. Sehingga hipotesis yang dirumuskan terbukti. Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah: (1) Bagi peneliti yang akan datang, topik yang digunakan dalam penelitian harus setara, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan tepat. (2) Bagi peneliti yang akan datang layaknya menggunakan pokok bahasan lain dan instrument yang benarbenar mengukur aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. (3) Bagi Guru Akuntansi SMA Negeri 1 Kandat, sebaiknya dapat menggunakan metode pembelajaran kooperatif dengan berbagai variasi modelnya dalam pembelajaran akuntansi, terutama model Numbered Heads Together.

Pengaruh intellegent quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI dan XII ilmu sosial SMA Negeri 4 Malang / Yuni Hastiningsih

 

158 ABSTRAK Hastiningsih, Yuni. 2010. Pengaruh Intellegent Quotient (IQ), Emotinal Quotient (EQ), dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Akuntansi Siswa Kelas XI dan XII IS SMA Negeri 4 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ika Putri Larasati, S.E, M Com, (II) Diana Tien Irafahmi, S.Pd, M.Ed Kata kunci: Intellegent Quotient (IQ), Emotinal Quotient (EQ), Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas kehidupan suatu bangsa. Oleh karena itu bidang pendidikan termasuk hal yang sangat diperhatikan di Indonesia. Melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah, siswa yang merupakan generasi penerus bangsa diharapkan dapat meraih prestasi sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan intelektualnya. Saat ini pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan satu potensi yang dimiliki siswa, namun telah meluas ke arah pengembangan berbagai potensi diri siswa. Salah satunya adalah pengembangan emosional dan memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam belajar. Intellegent Quotient (IQ) adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional, dan mampu menghadapi lingkungan secara efektif. Emotional Quotient (EQ) adalah himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Sedangkan motivasi belajar merupakan faktor yang sangat penting dalam menetukan prestasi belajar siswa di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Intellegent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan motivasi belajar baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI dan XII Ilmu Sosial SMA Negeri 4 Malang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 144 siswa dengan jumlah sampel sebesar 60 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sedangkan metode analisis datanya menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa variabel Intellegent Quotient (X1), Emotional Quotient (X2), dan motivasi belajar (X3) mempunyai nilai thitung masing-masing (9,269; 6,659: 7,660 ) dan ttabel 2,002, sehingga thitung > ttabel. Sedangkan nilai Fhitung sebesar 59,646 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai i α = 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Intellegent Quotient (X1), Emotional Quotient (X2), dan motivasi belajar (X3) berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi belajar akuntansi siswa (Y) baik secara parsial maupun simultan. Saran yang dapat direkomendasikan adalah (1) bahwa proses belajar di sekolah diharapkan mampu mengembangkan potensi intelektual dan emosional siswa; (2) diharapkan guru mampu menjadi motivator bagi siswa, sehingga siswa memiliki rasa percaya diri akan kemampuannya; (3) bagi penulis lain hendaknya lebih memperluas atau memperbesar sampel dan tempat penelitian.

Pengaruh persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru akuntansi dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar akuntansi kelas XI IPS Negeri 1 Kauman / Rollis Astriani

 

4. Ibu Dra. Tri Laksiani, S.E, M.M., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan saran, semangat, tuntunan serta dengan kesabaran membimbing dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Kepala sekolah SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian. 6. Orang tua yang tercinta, Bapak Sudarmadi dan Ibu Sumiyati beserta keluarga besarku yang telah memberikan doa, dukungan, semangat dan kasih sayang yang tiada tara sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 7. Temanteman seperjuanganku Off C khususnya Dini, Ima, Lusi dan temanteman 98B yang telah memberi dukungan dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu segala saran yang membangun, penulis harapkan untuk penyempurnaan sebuah ilmu pengetahuan untuk penelitian selanjutnya. Malang, Desember 2009 Penulis ii Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com ABSTRAK Astriani, Rollis. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa atas Keterampilan Mengajar Guru Akuntansi dan Motivai Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurika Restuningdyah S.E, M.Si, Ak (II) Dra. Tri Laksiani S.E, M.M .Kata Kunci: Keterampilan Mengajar Guru, Motivasi Belajar, Prestasi belajar Keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar merupakan salah satu diantara faktorfaktor yang berpengaruh dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Keterampilan mengajar guru yang baik dan motivasi belajar yang tinggi tentu akan meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Kauman Tulungagung dan subyek penelitiannya yaitu siswa kelas XI IPS SMAN 1 Kauman. Jumlah populasi yang diambil sebanyak 163 siswa dan sampel yang dipakai dalam penelitian ini berjumlah 62 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi. Data diambil dari populasi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Kauman Tulungagung. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan proportional random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan Pearson Product Moment untuk uji validitas, Alpha Cronbanch untuk uji reliabilitas, dan regresi berganda untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan dari variabelvariabel dalam penelitian. Dari hasil analisis data diketahui terdapat pengaruh parsial antara keterampilan mengajar guru akuntansi terhadap prestasi belajar dengan nilai sig t (0,000) < �� 0,050 dan motivasi terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai sig t (0,000) < �� 0,050. Terdapat pula pengaruh simultan antara keterampilan mengajar guru akuntansi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai sig F (0,000) < �� 0,050. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan para guru untuk mempertahankan / meningkatkan keterampilan mengajarnya dengan mengikuti pelatihanpelatihan yang menambah keterampilan dalam mengajar agar siswa memiliki persepsi yang positif sehingga siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar dan tidak cepat merasa jenuh dengan mata pelajaran yang dihadapinya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com optimal. Bagi siswa diharapkan sebisa mungkin selalu meningkatkan motivasi belajarnya karena motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan prestasi belajar.

Pengaruh brand equity terhadap proses pengambilan keputusan (Studi pada siswa kursus mengemudi "Natuna" Malang) / Andy Hakim Permadi

 

ABSTRAK Permadi, Andy Hakim. 2009. Pengaruh Brand Equity terhadap Proses Pengambilan Keputusan (Studi Pada Siswa Kursus Mengemudi “NATUNA” Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Sopiah, M. Pd., M.M., (II) Hj. Ita Prihatining Wilujeng, S.E., M.M. Kata kunci: brand equity, proses pengambilan keputusan. Peranan brand equity suatu produk dapat dijadikan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Pengolahan brand equity suatu produk dapat dijadikan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi brand equity kursus mengemudi “NATUNA” Malang, proses pengambilan keputusan pada siswa kursus mengemudi “NATUNA” Malang, pengaruh brand equity (yang terdiri dari brand awareness, brand association, perceived quality, brand loyalty) terhadap proses pengambilan keputusan secara parsial dan secara simultan pada siswa kursus mengemudi “NATUNA” Malang. Penelitian ini dilakukan di kursus mengemudi “NATUNA” Jalan Brigjen Slamet Riadi 2 A Malang pada tanggal 3 Agustus sampai 19 Agustus 2009. Populasi penelitian adalah siswa kursus mengemudi “NATUNA” Malang bulan Agustus sebanyak 150 siswa, sedangkan untuk sampel sebanyak 100 siswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi brand awareness kursus mengemudi “NATUNA” Malang dinyatakan baik, hal ini dibuktikan dengan 58% responden memberikan penilaian setuju terhadap item-item pertanyaan dalam kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 siswa, sedangkan sisanya 19% memberikan penilaian sangat setuju, 17% ragu-ragu, 6% tidak setuju, dan 0% sangat tidak setuju. Kondisi brand association kursus mengemudi “NATUNA” Malang dinyatakan baik, hal ini dibuktikan dengan 38% responden memberikan penilaian setuju terhadap item-item pertanyaan dalam kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 siswa, sedangkan sisanya 4% memberikan penilaian sangat setuju, 37% ragu-ragu, 19% tidak setuju, dan 2% sangat tidak setuju. Kondisi perceived quality kursus mengemudi “NATUNA” Malang dinyatakan baik, hal ini dibuktikan dengan 50% responden memberikan penilaian setuju terhadap item-item pertanyaan dalam kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 siswa, sedangkan sisanya 17% memberikan penilaian sangat setuju, 28% ragu-ragu, 4% tidak setuju, dan 1% sangat tidak setuju. Kondisi brand loyalty kursus mengemudi “NATUNA” Malang dinyatakan baik, hal ini dibuktikan dengan 49% responden memberikan penilaian setuju terhadap item-item pertanyaan dalam kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 siswa, sedangkan sisanya 10% memberikan penilaian sangat setuju, 34% ragu-ragu, 7% tidak setuju, dan 0% sangat tidak setuju. Sedangkan untuk proses pengambilan keputusan, 52% responden dari 100 siswa memberikan penilaian setuju, sedangkan sisanya 37% sangat setuju, 10% ragu-ragu, 1% tidak setuju, dan 0% sangat tidak setuju. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara brand equity (yang terdiri dari brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty) terhadap proses pengambilan keputusan secara parsial. Hal ini dibuktikan dari hasil uji t, yaitu pada brand awareness dapat dilihat bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,000 < 0,05 dan thitung (4,556) > ttabel (1,985), Brand association dapat dilihat bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,024 < 0,05 dan thitung (2,286) > ttabel (1,985), Perceived quality dapat dilihat bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,002 < 0,05 dan thitung (3,147) > ttabel (1,985), Brand loyalty dapat dilihat bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,002 < 0,05 dan thitung (3,261) > ttabel (1,985). Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara brand equity (yang terdiri dari brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty) terhadap proses pengambilan keputusan secara simultan. Hal ini dibuktikan dengan uji F, yaitu bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,000 < 0,05 dan Fhitung (32,960) > Ftabel (2,467). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kondisi variabel-variabel brand equity (brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty) kursus mengemudi “NATUNA” Malang sudah cukup baik. Selain itu, variabel-variabel brand equity (brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty) baik secara simultan (bersama-sama) maupun secara parsial (sendiri-sendiri) berpengaruh positif dan signifikan terhadap proses pengambilan keputusan. Angka R sebesar 0,762 menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara variabel brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty dengan proses pengambilan keputusan adalah kuat, karena angka ini berada di atas 0,5. Adapun saran dari penelitian ini berkaitan dengan brand association, dimana pada penelitian ini menunjukkan bahwa brand association mempunyai pengaruh dan kontribusi paling kecil diantara variabel-variabel brand equity yang lain dengan nilai β (0,184), hendaknya perlu memperhatikan lebih serius dengan melalui perbaikan serta peningkatan kualitas, harga, dan fasilitas sehingga asosiasi merek di benak konsumen akan semakin kuat dan dapat memberikan dampak positif kepada perusahaan. Besar Adjusted R square adalah 0,564, hal ini berarti 56,4% proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh variabel-variabel brand equity (brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty), sedangkan sisanya 43,6% dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel-variabel brand equity equity (brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty). Oleh karena itu, dalam penelitian selanjutnya faktor lain yang berpengaruh tersebut harus dicari dan dikembangkan lagi demi kesempurnaan penelitian ini.

Minat belajar matematika melalui pembelajaran berbantuan komputer di kelas IX MTs. Mu'allimat Malang / Abdur Rosyid

 

Kemajuan teknologi sangat membantu perkembangan di beberapa bidang. Di bidang pendidikan, dapat dikembangkan media pembelajaran dengan menggunakan teknologi komputer. Sebagian besar metode yang digunakan dalam pembelajaran di MTs. Mu’allimat adalah metode konvensional, termasuk diantaranya pembelajaran di bidang studi matematika. Dengan metode konvensional tersebut, sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena siswa sangat suka dengan media komputer, yang nampak pada kegiatan ekstrakurikuler komputer yang sangat digemari oleh siswa, meskipun hanya berupa microsoft office (Ms. Word, Ms. Excel, dan Ms. Power point), maka penggunaan komputer untuk pembelajaran perlu dipertimbangkan. Dalam hal ini, peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer dengan menggunakan Macromedia Flash 8. Peneliti mengembangkan media pembelajaran yang dikemas dalam bentuk program pembelajaran yang merupakan kombinasi teks, gambar, seni grafik, dan animasi yang dapat menyajikan materi pembelajaran lebih menarik, memudahkan penyampaian dalam mata pelajaran/bidang studi, informasi yang dihasilkan memiliki nilai komunikatif interaktif, serta dapat meningkatkan semangat belajar siswa. Dari hasil angket minat siswa terhadap media pembelajaran tersebut, diperoleh 100% dari 30 siswa kelas IX MTs. Mu’allimat memiliki minat yang tinggi dalam pembelajaran berbantuan komputer. Hal ini dapat dijadikan contoh kepada guru-guru yang lain untuk menggunakan pembelajaran berbantuan komputer dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, khususnya di MTs. Mu’allimat Progress of technology can help developments in some planes. In education, It useful to improve learning media by using computer technology. Most of learning method using in MTs. Mu’allimat is conventional method, such as learning in mathematic. By the conventional method, most students still feel difficult to understand the lesson which explanded by the teacher. Because of the students like computerized learning, that seems on computer extracurricular that is interested by the students, althought just microsoft office (Ms. Word, Ms. Excel, and Ms. Power point), then using computer for learning is necessary to be considered. In this media, researcher want to produce computer assisted learning media by using macromedia flash 8. Researcher improve the learning media that formed learning program in text, pictures, grafic, and animation, the media can display learning material more interesting, and easily to present. Its information has a high interactive communicative value, and can also improve the student’s spirit in studying. Based on that quotioner we conclude that all students in the IX grade MTs. Mua’llimat have high interest in computer assisted learning. Media can be becomed an example for other teachers to use the computer assisted learning media in the class, especially in MTs. Mu’allimat.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen (Studi pada rumah sakit ibu dan anak Puri Bunda Malang) / Shinta Dhestyana

 

ABSTRAK Dhestyana, Shinta. 2009. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen (Studi Pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang). Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. (2) Elfia Nora, S.E, M.Si. Kata Kunci: Bukti Fisik (Tangible), Keandalan (Reliability), Daya Tanggap (Responsiveness), Jaminan (Assurance), dan Empati (Emphaty), Kepuasan Konsumen Saat ini kebutuhan akan komunikasi merupakan kebutuhan yang mutlak bagi masyarakat sebagai salah satu sarana dalam menunjang aktifitas yang makin kompleks. Kondisi tersebut memicu terjadinya kompetisi di berbagai bidang aspek kehidupan tidak terkecuali pada sektor jasa. Sering terdapat perbedaan antara harapan dan persepsi konsumen terhadap kualitas yang diterimanya. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus selalu melakukan evaluasi apakah kualitas yang ditawarkannya telah sesuai dengan harapan konsumen atau belum. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas layanan, kepuasan pasien Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang dan apakah ada pengaruh antara kualitas layanan (yang terdiri dari: bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati) terhadap kepuasan pasien secara parsial dan simultan serta dimensi mana yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan pasien pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang dengan menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang sedang melakukan pengobatan maupun operasi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang sebanyak 429 pasien, sedangkan teknik pengambilan sampelnya diambil secara aksidental sampling sebanyak 90 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner. Variabel dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas layanan yang terdiri dari: bukti fisik (tangible) (X1), keandalan (reliability) (X2), daya tanggap (responsiveness) (X3), jaminan (assurance) (X4), dan empati (emphaty) (X5) sedangkan variabel terikatnya (Y) dalam penelitian ini adalah kepuasan konsumen. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression) dengan pengujian t dan uji F serta sumbangan efektif dan relative. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh baik secara parsial maupun simultan antara kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang dengan hasil analisis bukti fisik (tangible) (X1) 0,149 dengan nilai t hitung 2,700, keandalan (reliability) (X2) 0,513 dengan t hitung 3,298, daya tanggap (responsiveness) (X3) 0,386 dengan t hitung 3,745, jaminan (assurance) (X4) 0,195 dengan t hitung 3,024, dan empati (emphaty) (X5) 0,973 dengan t hitung 5,674. Sedangkan pengujian F didapat nilai F sebesar 20,676 dengan signifikansi 0,000. Selain itu faktor yang memiliki pengaruh dominan terhadap kepuasan konsumen Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang yaitu variabel empati (emphaty) (X5) sebesar 0,491 dengan signifikansi sebesar 0,000 serta sumbangan relatifnya sebesar 17,08%. Kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian ini adalah: (1) Kualitas pelayanan yang terdiri dari: bukti fisik (tangible), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (emphaty) pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang sangat dipengaruhi oleh kinerja pihak manajemen dan sumber daya manusianya dalam menciptakan kondisi loyalitas pasien pada lingkungan persaingan dengan rumah sakit ibu dan anak lainnya. (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas layanan yang terdiri dari: bukti fisik (tangible), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (emphaty) secara parsial terhadap kepuasan konsumen pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang. (3) Secara simultan dari kelima variabel bebas (yang terdiri dari: bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati) secara keseluruhan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang. (4) Variabel kualitas pelayanan yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap kepuasan pasien Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang adalah variabel empati (emphaty) (X5). Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh setelah melakukan penelitian ini adalah: (1) Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang perlu secara rutin mengamati pelayanannya agar dapat mempertahankan kelebihan-kelebihan yang ada dan selalu meningkatkan kualitas pelayanan pada variabel-variabel yang masih kurang penilaiannya atau menurut penilaian pasien belum sesuai dengan yang diharapakan oleh pasien, hal ini bisa dilakukan dengan lebih memperhatikan terhadap kebutuhan dan keinginan pasien, peningkatan fasilitas sarana dan prasarana, jaminan rasa aman, nyaman, dan kepercayaan serta pelayanan yang dijanjikan secara cepat, akurat dan pasti sehingga akan meningkatkan kepuasan pasien. (2) Semua unsur dimensi kualitas pelayanan diatas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pasien sehingga Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda Malang perlu memperhatikan lebih khusus dimensi-dimensi tersebut serta mencari terobosan baru yang dapat meningkatkan kepuasan pasien.

Pengembangan modul pembelajaran matematika materi balok dan kubus secara kontekstual untuk siswa kelas V sekolah dasar / Dewi Astutik

 

iii ABSTRAK Astutik, Dewi. 2009. Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Materi Balok dan Kubus secara Kontekstual untuk Siswa Kelas V Semester 2 Sekolah Dasar. Skripsi. Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan lmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc, (2) Drs. Slamet, M.Si. Kata Kunci: modul, kontekstual, matematika, balok, kubus Berdasarkan kelebihan pendekatan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran dengan menggunakan modul, maka dikembangkan modul dengan pendekatan kontekstual. Sehingga modul kontekstual dapat didefinisikan sebagai paket bahan ajar yang memuat serangkaian aktivitas belajar agar semua siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran dan disusun secara sistematis dengan menerapkan komponen pembelajaran kontekstual yang meliputi konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Prosedur pengembangan modul terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan (dengan mempelajari cara penyusunan modul, mengkaji beberapa modul Matematika, kurikulum dan pendekatan kontekstual), penyusunan (dengan menentukan materi, pokok-pokok bahasan, tujuan pembelajaran, menyusun isi, perangkat evaluasi dan kelengkapan modul) dan tahap validasi dan revisi (dengan menentukan desain validasi, validator, jenis data yang digunakan, instrumen pengumpulan data, proses validasi, analisis data dan revisi modul). Uji coba untuk modul dilakukan kepada ahli dalam bidang pendidikan, karena pengembang ingin mengetahui ketepatan penggunaan pendekatan kontekstual dan menghasilkan nilai untuk aspek-aspek modul yang meliputi materi atau isi modul: 91,7%, penggunaan pendekatan kontekstual: 94,7%, kelengkapan modul: 90,5%, dan penggunaan bahasa: 95,8%. Semua hasil tersebut termasuk dalam kriteria ”sangat valid”, sehingga tidak perlu revisi. Selain itu, juga diperoleh data kualitatif yaitu komentar dan saran dari validator yang digunakan sebagai revisi. Komponen modul yang dihasilkan meliputi isi modul yang terdiri dari empat pokok bahasan dan kelengkapan modul yang terdiri dari halaman sampul, halaman judul, daftar isi, pendahuluan, tujuan pembelajaran, petunjuk pembelajaran, deskripsi kegiatan belajar, pre test, refleksi dan evaluasi, post test dan kunci jawaban, serta daftar pustaka. Materi dalam modul adalah materi tentang balok dan kubus untuk kelas V SD. Karena keterbatasan waktu, biaya dan kemampuan pengembang, uji coba hanya dilakukan kepada ahli dalam dunia pendidikan. Sehingga untuk mengetahui keefektifan modul kontekstual dalam pembelajaran sesungguhnya perlu diadakan penelitian lebih lanjut terhadap penggunaan modul kontekstual dalam pembelajaran sesungguhnya di sekolah.

Pengaruh kebangkrutan perusahaan terhadap volume perdagangan saham / Dian Pramita Sari

 

ABSTRAK Sari, Dian Pramita. 2009. Pengaruh Kebangkrutan Perusahaan Terhadap Volume Perdagangan saham. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Makaryanawati, S.E, M.Si, Ak. (2) Sri Pujiningsih, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci: Financial Distress, Kebangkrutan, Z-Score, Volume Perdagangan Saham Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dalam mengambil keputusan. Penggunaan informasi keuangan melalui laporan keuangan oleh pihak luar digunakan untuk membuat keputusan investasi dalam menentukan sumber daya yang akan diinvestasikan, adanya informasi berkaitan dengan kesulitan keuangan (financial distress) yang bisa mengarah pada kebangkrutan perusahaan akan menyebabkan adanya sentimen negatif, dan sebaiknya informasi yang berkaitan dengan perbaikan kinerja akan menyebabkan adanya sentimen positif. Model prediksi kebangkutan merupakan salah satu model yang dikembangkan untuk mendeteksi ada tidaknya tanda-tanda financial distress perusahaan sejak dini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari tingkat kesehatan perusahaan dilihat dari analisis Z-Score terhadap volume perdagangan saham. Penelitian dilakukan menggunakan seluruh populasi terhadap 11 perusahaan yang bergerak dalam sektor industri plastics and glass products di BEI pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2007. Berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis, penelitian ini mampu membuktikan adanya pengaruh tingkat kesehatan perusahaan yang diukur dengan menggunakan nilai Z-Score terhadap volume perdagangan saham. Hasil tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai potensi kebangkrutan perusahaan tersebut mempunyai kandungan informasi yang dapat direspon oleh pasar. Saran bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai preferensi dalam menentukan alternatif berinvestasi terhadap saham. Sedangkan bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada manajemen dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam berinvestasi dan juga diharapkan perusahaan mampu meningkatkan nilai perusahaannya yang tercermin dalam harga saham.

Peningkatan motivasi dan keaktifan belajar melalui penerapan model pakem pada siswa kelas IV SDN Gading Kasri Kota Malang / Muyoto

 

Pembelajaran PAKEM adalah proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran PAKEM dirancang agar mengaktifkan peserta didik, mengembangkan kreatifitas sehingga proses pembelajaran efektif dalam suasana yang menyenanglan. Berdasarkan observasi di SDN Gading Kasri Kota Malang menunjukan bahwa hasil belajar anak pada mata pelajaran IPA sangat rendah, dimana masih banyak siswa yang nilainya dibawah SKBM perorangan maupun kelompok yang sudah ditentukan dalam kurikulum sekolah sebesar 65% untuk SKBM perorangan dan 85% untuk SKBM kelompok. Disamping itu minat dan aktifitas siswa dalam pembelajaran sangat rendah sekali. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Dalam penenlitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan instrument penelitian menggunakan lembar pengamatan dan soal test. Sedangkan data yang di deskripsikan meliputi data hasil pengamatan dan data hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pertemuan silklus I dan siklus II dengan subjek siswa kelas V SDN Gading Kasri Kota Malang. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan penerapan model pembelajaran PAKEM, keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi mengalami peningkatan dengan kriteria yang semula sedangh menjadi sangat baik. Sedangkan hasil belajar sisa juga mengalami peningkatan dimana pada pra tindakan hasil belajar siswa hanya ada 35% siswa yang tuntas belajarnya, kemudian setelah penerapan pembelajaran PAKEM menunjukan kenaikan yaiti pada siklus I mencapai 77% dan pada siklus II mencapai 90%. Hal ini menunjukkan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya semakin berkurang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa serta hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Gading Kasri Kota Malang.

Perancangan company profile aquanos cafe Malang : Booklet dan Web media / Varief Wandan Setyawan

 

Semakin tumbuh dan berkembangnya pola pikir masyarakat Kota Malang terhadap trend dan gaya hidup, memicu para pengusaha untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bidang usahanya, terlebih dalam usaha mempromosikan dan menjaga loyalitas pelanggannya. Jenis usaha cafe –terutama yang menyediakan fasilitas hotspot area-- merupakan salah satu usaha yang menjanjikan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan sebuah tempat yang menunjang ekspresi terhadap gaya hidup mereka kini. Aquanos Cafe adalah salah satunya, cafe ini memiliki pelanggan yang masih diragukan loyalitasnya, dikarenakan persaingan dari jumlah dan USP (Unique Selling Preposition) cafe-cafe kompetitor sejenis di Kota Malang. Keunggulan Aquanos Cafe, selain dari fasilitas hotspot area, adalah dari segi konsep cafe yang unik, menu yang tergolong langka, harga yang kompetitif dan lain sebagainya. Aquanos Cafe belum pernah melakukan kampanye promosi secara intensif, sehingga image/citra perusahaan dimata konsumennya masih diragukan. Berdasarkan latar belakang di atas diperlukan perancangan media promosi yang dianggap efektif dalam rangka mengungkapkan karakter dan membentuk image positif dari Aquanos Cafe di mata masyarakat Kota Malang, media yang dianggap tepat adalah berupa logo perusahaan, paket Company Profile dalam bentuk print-media (booklet) dan digital-media (website) berserta media pendukungnya, mempertimbangkan karakteristik dan kecenderungan target audience untuk mengakses berbagai informasi melalui banyak sumber. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap perusahaan Aquanos Cafe. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Streght, weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan Company Profile (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan Company Profile. Hasil dari perancangan ini adalah berupa booklet dan web-media yang secara umum memiliki karakteristik mampu mengungkapkan karakter Aquanos Cafe kepada audience secara personal, dengan spesifikasi utama adalah informasi tentang company profile, beserta keunggulan dan nilai-nilai positif tentang Aquanos Cafe. Diharapkan dengan pemilihan media promosi yang tepat untuk Aquanos Cafe maka akan meningkatkan jumlah konsumen dan membentuk image positif di audience. Keterbatasan perancangan ini adalah belum melalui proses uji coba, sehingga untuk mengetahui tingkat keefektifan dari perancangan ini, hendaknya dilakukan uji coba secara langsung kepada target audience.

A content analysis on english e-Book for Junior High School Grade VII, "English in Focus" / Nuryantiningsih Pusporini

 

English is a tool for global communication and students should master English to understand and strengthen their local and national culture as well as to know and understand international culture. The importance of English affects the way English are taught. English is not only taught in formal schools, but also many non-formal schools or institutions which offer certificates that can be used as one of job requirements. That is why it is important to increase the quality of English teaching. To improve English teaching, we have to improve the five components of language instruction. However, this study will only focus on the quality of textbook as one of the materials. Textbooks hold an important role in teaching and learning activities. Considering the importance of textbooks, teachers as well as students should have easy access to get textbooks. Indonesian government, through the National Education Department, provides the electronic school books (Buku Sekolah Elektronik) or e-book for elementary, junior high and senior high school. Although the government claimed that the e-book has already passed the National Education Standard, the result of the evaluation is not published. The teachers who use the books may not know which aspects of the books should be fully adapt or need to be improved. Hereby, the writer, as a future teacher, wants to analyze whether the government’s e-book has met the EFL textbook standard. The study is intended to analyze English e-book for junior high school grade VII, “English in Focus”, based on the EFL textbook evaluation criteria. The study is also expected to find out what criteria that have been fulfilled by English e-book for junior high school grade VII, “English in Focus”. The EFL textbook evaluation criteria used in this study is based on the criteria from Jahangard (in The Asian EFL Journal, 2007). The results of the study are (1) “English in Focus” is considered relevant to the EFL textbook evaluation criterion which can be seen from the level of suitability. The level of suitability of “English in Focus” is 90.91%, and it belongs to approximately relevant. It means that this book can be used with only several improvements.; and, (2) the criteria that are fulfilled by “English in Focus” are Objectives, Good Vocabulary Explanation and Practice, Periodic Review and Test Sections, Appropriate Visual Materials Available, Clear Instructions, Clear Attractive Layout, Content Clearly Organized and Graded, Good Grammar Presentation and Practice, Fluency Practice in All Four Skills, Encourage Learners.

Pengaruh pembelajaran bermodel kooperatif tipe Sen-A-Problem terhadap hasil belajar matematika siswa SMA Negeri 8 Malang kelas XI IPA / Luqman Jaya

 

ABSTRAK Jaya, Luqman. 2008. “Pengaruh Pembelajaran Bermodel Kooperatif Tipe Send-a-Problem terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Negeri 8 Malang Kelas XI IPA”. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc. (II) Drs. H. Imam Supeno M.S Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, send-a-problem, hasil belajar Melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu merupakan tugas guru. Untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, Hudojo (1998:30) menyarankan guru perlu merubah pandangan dalam pembelajaran, yaitu dari yang semula mengikuti pandangan behavioristik menjadi pandangan konstruktivistik. Dalam pelaksanaan pembelajaran matematika berdasarkan pandangan konstruktivis, Hudojo (1998:35) mengemukakan perlunya upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang konstruktivis, yaitu lingkungan belajar yang melibatkan siswa secara emosional dan sosial serta menyediakan berbagai pengalaman belajar matematika. Lingkungan konstruktivis bisa diperoleh dengan menerapkan pembelajaran kooperatif (Hudojo, 2000:49). Send a problem merupakan salah satu dari tipe pembelajaran kooperatif dimana masing-masing kelompok membuat soal beserta jawabanya yang kemudian soal tersebut diberikan ke kelompok lain untuk dikerjakan, setelah soal dijawab, tim penjawab mengevaluasi jawabannya dengan membandingkan jawaban tim pembuat soal (Rogers dkk,1997:46). Oleh karena dirasa pembelajaran kooperatif Send a Problem perlu untuk diterapkan pada pembelajaran matematika, maka peneliti melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika bermodel kooperatif tipe send-a-problem dalam terhadap hasil belajar matematika siswa SMA Negeri 8 Malang Kelas XI IPA. Penelitian ini mempunyai tiga hipotesis yang membedakan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Berdasarkan hasil analisis data tes hasil belajar, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut. (1) Hasil belajar matematika kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem lebih baik dari hasil belajar kelompok siswa yang tidak menggunakan pembelajaran kooperatif send-a-problem. (2) Hasil belajar matematika kelompok siswa perempuan yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem lebih baik dari hasil belajar kelompok siswa perempuan yang tidak menggunakan pembelajaran kooperatif send-a-problem. (3) Hasil belajar matematika kelompok siswa laki-laki yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem lebih baik dari hasil belajar kelompok siswa laki-laki yang tidak menggunakan pembelajaran kooperatif send-a-problem. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka disarankan pembelajaran kooperatif send a problem dapat dijadikan alternatif untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. i

English as a medium of instruction in the International laboratory primary school of Universitas Negri Malang (UM) / Lina Ismuninggar

 

Globalization era forces people to be competitive globally in many aspects. Indonesia, as a developing country, needs to improve itself in order to be able to compete globally. One of the ways to achieve this is by improving human resources through a quality education. To meet the goal, Indonesian government has established schools with international standard. The decree of minister of education No. 20/2003 states that the government and/or local government should develop at least one school at every education level into a national school which has an international standard. A school which has an international standard then is called as Sekolah Berstandard Internasional (SBI). Sekolah Berstandard Internasional (SBI) is a national school which applies national education standard that is Standar Nasional Pendidikan (SNP) and which adapts and adopts other education standards whether they are from Indonesia or other countries (Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, 2006). Since one of the aims of SBI is to create internationally smart and competitive Indonesian people who are able to compete and colaborate globally, the output are expected to be able to master the key of global competencies. Besides a mastery of information and technology, one of those global competencies is a mastery of English as an international language. Graddol (2002 in Denzin and Lincoln, 2005) states that English is used as a mean of global communication as a tool for absorbing and disseminating information of science and technology. Therefore, the mastery of English as an international language is needed not only as a means of communication but also as a tool for exploring, absorbing and developing technology and science for most of principal scientific and technical work books that they have to read are written in English. Consequently, this requirement makes SBI treat English differently compared to national standard primary schools. English in national standard primary schools is treated as a foreign language since it is taught merely as local content subject which is started to be introduced in the fourth grade. In SBI, however, English is treated as a second language since it is taught from the first grade, and is used as a medium of instruction for other subjects as well. As a medium of instruction in Sekolah Berstandard Internasional (SBI), English is used to teach all the subjects taught at the schools. Therefore, teachers must be able to teach those subjects to their students using English, which is neither their students’ first language nor theirs. They have to struggle hard to make the learning process run effectively in class. This is especially more difficult if the students are children of the first grade of primary school who have no background knowledge of English at all. In class teacher has to do a lot of things. Moon (2001) states that a teacher has to manage the classroom through talk. He/she instructs, controls, motivates the students, and provides feedback. In addition, the teacher also serves as a source of language input for learning. In Sekolah Berstandard Internasional (SBI), the teacher has to do all of those things in English although the students have no English background at all; or even if they do, their English is very limited. Moreover, the teacher has to reach the planned instructional goal. Therefore, it is interesting to investigate the use of English as a medium of instruction in the first grade. This study is intende d to describe how English is used as a medium of instruction in the teaching-learning process at the International Laboratory Primary School of Universitas Negeri Malang (UM), which specifically investigated the frequency of Englis h used as a medium of instruction, the purpose of the teacher uses English in her/his instruction, and the strategies the teacher does to make her/his talk understandable. The result of this study is expected to be useful for teachers of international standard schools and other researchers. For teachers of international standard schools, the result of this study is expected to give input to improve and develop their ways of using English as the medium of instruction in their class effectively. While for other researchers, it is expected that the result of the study can be used as a basis for further research concerning with the way English is used as a medium of instruction at international and bilingual schools. For the researcher, it is expected that the study can give richer knowledge about the use of English as a medium of instruction at school.

Pembelajaran matematika dengan pohon matematika materi operasi hiyung pada bilangan bulat bagi siswa kelas VII MTs / Wahid Ibnu Zaman

 

Dari beberapa penelitian telah diperoleh hasil bahwa Problem Posing dan Open Ended mampu meningkatkan prestasi matematika siswa. Namun belum ada suatu pembelajaran yang menggunakan kolaborasi antara Problem Posing dan Open Ended. Oleh karena itu peneliti ingin menerapkan suatu bentuk pembelajaran yang merupakan kolaborasi antara Problem Posing dan Open Ended yaitu pembelajaran menggunakan pohon matematika. Pembelajaran dengan pohon matematika dilaksanakan dengan meminta siswa untuk menggambar daun atau membuat soal dengan membangun masalah dari suatu pohon yang memuat pokok bahasan yang diberikan. Ketika membahas materi Operasi Hitung pada Bilangan Bulat dengan pohon matematika, pohonnya merupakan Operasi Hitung, cabangnya merupakan soal tentang operasi hitung yang hasilnya sudah ditentukan. Kemudian siswa diminta membuat daun atau soal operasi hitung bilangan bulat yang jawabannya sudah ditentukan. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIII-A di MTs Sunan Bonang, Pujon Malang dengan materi operasi hitung pada bilangan bulat. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pohon matematika berjalan dengan baik. Hal ini diperkuat dengan respon siswa terhadap pembelajaran dengan pohon matematika yang juga sangat baik.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMA Negeri 1 Karang Rejo Tulungagung / Aris Endrawan

 

Berdasarkan hasil observasi awal di kelas X-4 SMA Negeri 1 Karang Rejo Tulung Agung, proses pembelajaran ekonomi di kelas X-4 masih menggunakan metode ceramah (metode pembelajaran tradisional) yang cenderung terpusat pada guru (teacher centered) yang menyebabkan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu keadaan kelas menjadi monoton dan mebosankan yang dikarenakan oleh kurang terlibatnya siswa dalam proses pembelajaran secara maksimal. Dari Proses pembelajaran tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa sangat rendah dan tidak memenuhi Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) merupakan salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan dan mengoptimalkan kegitan belajar mengajar di kelas, karena siswa dituntut untuk bertanggung jawab pada proses belajarnya dan terlibat aktif serta memiliki usaha yang besar untuk berprestasi sesuai dengan prinsip proses pembelajaran kooperatif. Siswa bekerja sama secara kolaboratif dan bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Alasan ini mendasari penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dalam penelitian. Berdasarkan hasil observasi, peneliti merumuskan masalah: Apakah penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMA Negeri 1 Karang Rejo Tulung Agung ? Tujuan dari penelitia penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 1 Karang Rejo Tulung Agung melalui pembelajaran yang dilakukan. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 1 Karang Rejo Tulung Agung, dengan jumlah siswa 45 orang siswa yang terdiri dari 20 orang siswa laki-laki dan 25 orang siswa perempuan. Jenis Penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian berupa hasil belajar siswa aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang diperoleh dalam 2 siklus. Data hasil belajar aspek kognitif diperoleh dari skor pre test dan pos test yang diberikan pada setiap siklus. Sedangkan data hasil belajar aspek afektik dan psikomotor diperoleh melalui observasi langsung selama tindakan diberikan dengan mengunakan rublik penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar aspek kognitif pada siklus I menunjukkan persentase rata-rata nilai kelas sebesar 48,13% pada kegitan pre test dan meningkat menjadi 77,67% pada kegiatan pos test. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I sebesar 35,60% pada kegitan pre test dan meningkat menjadi 68.89% pada kegiatan pos test. Sehingga kelas X-4 belum dinyatakan tuntas belajar karena ketuntasan belajarnya masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yaitu sebesar 80%. Pada siklus II persentase rata-rata nilai kelas sebesar 50,40% pada kegitan pre test dan meningkat menjadi 87,62% pada kegitan pos test. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal sebesar 40,00% pada kegitan pre test, dan pada kegiatan pos test ketuntasan belajar klasial meningkat menjadi 91,11%. Sehingga pada siklus II, kelas X-4 dapat dinyatakan telah tuntas belajar karena sudah memenuhi Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar klasikal mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar aspek afektif menunjukkan persentase rata-rata nilai afektif kelas sebesar 72,38% dan mengalami peningkatan sebesar 90,76% pada siklus II. Hasil belajar aspek psikomotor menunjukkan persentase rata-rata nilai psikomotor kelas sebesar 71,58% pada siklus Idan mengalami peningkatan sebesar 84,58% pada siklus II. (2) Respon Siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) secara umum baik. Pada poin 1, siswa yang menjawab a (senang) terhadap penerapan metode pembelajaran koopertif model Numbered Heads Toghether (NHT) sebesar 80% dan tidak senang sebesar 20%. Pada poin 2, siswa yang berpendapat model pembelajaran yang memberikan hasil belajar yang optimal adalah metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) (Model 1) sebesar 75,56%, sedangkan siswa yang menjawab model pembelajaran ceramah atau tradisional (Model 2) sebesar 24,44%. Pada Poin 3, siswa yang menjawab “Ya” untuk penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat memudahkan memahami konsep –konsep pelajaran sebesar 77,78%, sedangkan siswa yang menjawab “Tidak” sebesar 22,22%. Pada poin 4, siswa yang menjawab “Ya” untuk penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan minat belajar terhadap pelajaran ekonomi sebesar 84,44%, sedangkan siswa yang menjawab “Tidak” sebesar 15,56%. Pada poin 5, siswa yang menjawab “Sangat Menarik” sebesar 15,56% untuk penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT), untuk siswa yang menjawab “Menarik” sebesar 57,78%, untuk siswa yang menjawab “Cukup Menarik” sebesar 24,44%, sedangkan siswa yang menjawab “Tidak Menarik” sebesar 2,22%. Untuk poin 6, siswa yang menjawab “Sudah” untuk waktu yang diberikan guru dalam megerjakan tugas (mengerjakan LKS) maupun mengerjakan soal tes sebesar 95,56%, sedangkan siswa yang menjawab “Belum” sebesar 4,44%. Berdasarkan hasil penelitian ini, didasarankan kepada guru ekonomi di SMA Negeri1 Karang Rejo pada khususnya dan semua guru ekonomi sekolah lain pada umumnya untuk menggunkan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) ini. Karena metode ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu bagi guru mata pelajaran lain untuk menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) ini. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) lebih dari dua siklus, agar diperoleh hasil yang obtimal.

Perbedaan atara zat pendingan R-12, MC-12, dan hycool terhadap temperatur dan daya motor pada variasi putaran / Sutrisno

 

ABSTRAK Sutrisno. 2008. Perbedaan Antara Zat Pendingin R-12, Mc-12, Dan Hycool Terhadap Temperatur Dan Daya Motor Pada Variasi Putaran.Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Mesin keahlian Produksi FakultasTeknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing. (I) Drs. Imam Muda Nauri, S.T., M.T. (II) Drs. Yoto, S.T., M.Pd.,M.M. Kata kunci: Zat pendingin, Suhu, Daya, Putaran Motor, AC mobil Semakin menipisnya lapisan ozon adalah salah satu dampak negatif dari penggunaan zat pendingin (refigerant) yang tidak ramah lingkungan. Selain itu juga akan akan mengakibatkan pemanasan global atau GWP (Global Warming Potential). Zat pendingin hidrokarbon telah dipersiapkan sebagai zat pendingin alternatif untuk menggantikan zat pendingin yang tidak ramah lingkungan. Untuk mengetahui perbedaan pemakaian zat pendingin terhadap suhu dan daya yang dihasilkan pada variasi putaran dilakukan penelitian eksperimental dari beberapa zat pendingin tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Antara Zat Pendingin R-12, Mc-12, Dan Hycool Terhadap Temperatur Dan Daya Motor Pada Variasi Putaran Dengan demikian konsumen mengetahui perbandingan dari pemakaian zat pendingin tersebut dan diharapkan para konsumen mau menggunakan zat pendingin yang tepat dan yang tidak ramah terhadap lingkungan berkurang bahkan tidak ada. Zat pendingin yang digunakan dalam penelitian ini adalah R12, MC12 dan HYCOOL. Penelitian ini dilakukan di laboratorium jurusan Teknik Mesin (Otomotif) Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan metode parametrik dan analisis yang dipakai adalah Analisis ANAVA 2 jalur dengan taraf signifikansi 0,01.untuk membandingkan zat pendingin R12, MC12 dan HYCOOL terhadap suhu yang dihasilkan dan daya yag dibutuhkan pada variasi putaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara suhu dan daya yang yang dibutuhkan pada masing-masing zat pendingin pada variasi putaran. Perbedaan suhu yang dihasilkan oleh masing-masing adalah: Selisih perbandingan suhu yang dihasilkan oleh R12 dengan MC12 pada putaran 1000-2000 rpm adalah sebesar 3 oC, 2,58 oC, 1,04 oC, -2.2 oC, 0,06 oC. Untuk R12 dengan HYCOOL pada putaran 1000-2000 rpm adalah sebesar 2,2 oC, 5,46 oC 7,6 oC, 11,68 oC, 12,2 oC.Untuk MC12 dengan HYCOOL pada putaran 1000-2000 rpm sebesar 0,8 oC, 2,88 oC, 6,56 oC, 13,88 oC, 12,14 oC. Selisih perbandingan daya yang dibutuhkan oleh R12 dengan MC12 pada putaran 1000-2000 sebesar 0,0825 HP, 0,0536 HP, 0,1772 HP, 0,2944 HP, 0,0704 HP.untuk R12 dengan HYCOOL adalah 0,059 HP, 0,4368 HP, 0,348 HP, 0,2712 HP, 0,1766 HP.untuk MC12 dengan HYCOOL adalah 0,1416 HP, 0,3832 HP, 0,1708 HP, 0,0232 HP, 0,1062 HP. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar konsumen beralih ke zat pendingin yang ramah terhadap lingkungan yaitu zat pendingin hidrokarbon. Selain itu diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada topik yang berhubungan dengan penelitian ini.

Upaya peningkatkan pembelajaran IPS kelas III melalui pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran SDN Dayu 01 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Haryono

 

ABSTRAK Haryono, 2009. Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III SDN Dayu 01 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Skripsi.Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs.H. Hadi Mustofa, M.Pd (2) Drs. Sunyoto, M.Si Kata Kunci : media pembelajaran, lingkungan, hasil belajar, Konsep-konsep pelajaran IPS erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan. Kalau guru cermat mengkaji kurikulum, guru dapat menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran. Lingkungan dalam hal ini adalah segala sesuatu baik yang berupa benda hidup maupun benda mati yang terdapat di sekitar kita. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran lingkungan. Diharapkan siswa mudah untuk memahami konsep yang diajarkan oleh guru. Pelaksanaan pembelajaran IPS di SDN Dayu 01 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar masih menggunakan pendekatan tradisional, yakni guru mengajar hanya menggunakan metode ceramah. Siswa hanya pasif mendengarkan penjelasan. Kondisi yang demikian membuat siswa tidak memahami konsep yang diajarkan oleh guru. Guru dalam proses pembelajaran tidak menggunakan media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran IPS dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatann kualitatif dengan jenis penelitian tindakan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Dayu 01 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara: (1) pemberian angket/Kuisioner, (2) Observasi, (3) Dokumentasi, (4) Wawancara (5) Tes. Teknik analisis kualitatif. Kegiatan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari data penilaian hasil siklus I diketahui bahwa 13 anak telah dikategorikan tuntas belajar dengan kriteria ketuntasan individu 70% dan 8 siswa lainnya belum tuntas. Pada siklus II ini, berdasarkan penilaian hasil, diketahui bahwa 18 siswa telah dikategorikan tuntas belajar dengan kriteria ketuntasan individu 70%. Sedangkan ketuntasan kelas yang diharapkan adalah 80% telah tercapai 80%. Berdasarkan analisis data yang yang diperoleh maka dapat disimpulkan. Melalui pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran dapat membawa pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar siswa setelah pembelajaran. Dari hasil belajar siklus I sebesar 65% dan siklus II sebesar 80% sehingga ada peningkatan 15%. Saran dari penelitian yaitu, guru harus dapat menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran pemanfaatan untuk meningkatkan hasil,belajar siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada IPS pokok bahasan hubungan kenampakan alam, sosial dan budaya, serta gejalanya di SDN Gambirkuning Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan / Sitti Safiah Rumakey

 

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat serta luasnya materi pelajaran IPS di sekolah dasar seringkali siswa merasa kesulitan, bahkan pada umumnya nilai mata pelajaran IPS kurang memuaskan. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata tes standarisasi UTS semester I tahun 2008-2009 SDN Gambirkuning siswa kelas IV adalah 50. Hal ini disebabkan karena dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan cara konvensional/ceramah, kegiatan pembelajaran cenderung didominasi oleh guru, sehingga kebersamaan dan kerjasama siswa kurang diterapkan.Untuk itu perlu diterapkan model pembelajaran kooperaif jigsaw. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan model pembelajaran kooperatif jigsaw dalam IPS pokok bahasan hubungan kenampakan alam, sosial dan budaya serta gejalanya; (2) mengetahui apakah pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Gambirkuning kecamatan Kraton kabupaten Pasuruan pada IPS pokok bahasan hubungan kenampakan alam, sosial dan budaya serta gejalanya. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah guru lebih menambah wawasan, pengetahuan dan kemampuannya dalam menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan dalam praktik pendidikan sehari-hari di kelas. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw, sedangkan subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 46 siswa dan guru kelas IV SDN gambirkuning, Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Gambirkuning kecamatan Kraton kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu 70.54 menjadi 88.04 setelah menerapkan pembelajaran kooperatif jigsaw. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan Pembelajaran kooperatif jigsaw pada mata pelajaran IPS dengan materi hubungan kenampakan alam, sosial, dan budaya serta gejalanya pada siklus I belum mencapai target yang diinginkan karena siswa belum memahami materi dengan baik, kerjasama dalam kelompok belum tampak dan juga interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa belum tampak, Pada siklus II pembelajaran kooperatif jigsaw sudah mencapai target yang diinginkan yaitu siswa sudah memahami materi dengan baik, kerjasama dalam kelompok sudah terlihat baik, dan interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa sudah tampak, sesuai dengan lima unsur yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif jigsaw, penerapan pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Gambirkuning kecamatan Kraton kabupaten Pasuruan. Saran pada penelitian ini adalah Sebaiknya guru hendaknya mengikuti perkembangan zaman dan kreativitas dalam inovasi pembelajaran yang menunjang mutu pendidikan, bagi peneliti lain hendaknya lebih kritis dan tanggap terhadap berbagai permasalahan dan pembaharuan dalam dunia pendidikan, semoga pembelajaran kooperatif jigsaw yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat diterapkan pada penelitian-penelitian lain.

Studi tentang perencanaan pembelajaran mata diklat menyediakan layanan makanan dan minuman (ITHHBFBSO3AIS) kelas XI SMK Negeri 6 Surabaya / Siti Yuliani

 

Yuliani, Siti. 2009. Studi Tentang Perencanaan Pembelajaran Mata Diklat Menyediakan Layanan Makanan Dan Minuman (ITHHBFBS03AIS) Kelas XI SMKN 6 Surabaya. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Syarif Suhartadi M. Pd, (II) Ir. Ummi Rohajatin M.P. Kata kunci : perencanaan pembelajaran, menyediakan layanan makanan dan minuman Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan instrumen pedoman penilaian. Adapun subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar Mata Diklat Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman pada kelas XI di SMK Negeri 6 Surabaya sebanyak 5 orang. Sedangkan yang diteliti adalah berupa dokumen atau produk persiapan pengajaran guru yaitu RPP Mata Diklat Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman kelas XI SMK Negeri 6 Surabaya yang berjumlah 5 buah. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah statistika deskriptif kuantitatif dengan persentase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penetapan guru produktif bidang Keahlian Restoran dalam pembuatan perencanaan pembelajaran Mata Diklat Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman kelas XI SMK Negeri 6 Surabaya. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa RPP yang digunakan oleh 5 guru bidang Keahlian Restoran di SMK Negeri 6 Surabaya adalah sama, sehingga hasil skor nilai setiap item yang diperoleh sama yaitu 100%. Kesamaan tersebut disebabkan adanya kelas paralel yang ada di Jurusan Tata Boga SMK Negeri 6 Surabaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kenyataannya RPP yang digunakan oleh guru SMK Negeri 6 Surabaya adalah sama dan kemampuan pembuatan RPP Mata Diklat Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman kelas XI SMK Negeri 6 Surabaya dikategorikan baik. Untuk perbaikan perencanaan pembelajaran Mata Diklat Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman kelas XI SMK Negeri 6 Surabaya disarankan kepada guru agar membuat RPP sesuai dengan ketentuan yang ada, yaitu setiap guru wajib membuat RPP sendiri sesuai dengan keadaan siswa dikelas masing-masing

Analisis Rasio Keuangan Sebagai Salah Satu Alat Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada PT. Bukit Barisan Traco Malang / Asri Widyastutik

 

Perusahaany ang bergerak di bidang kontruksi merupakan salah satu perusahaayna ng memegangp eranp enting dalam mempercepapt embangunanD. alam melakukanb isnisnyap erusahaank ontruksi dituntut untuk dapatm enciptakans trategi yang tepat dengan selalu berorientasi pada penyelesaian proyek tepat pada waktu yang telah disepakati dengan pemberi proyek. Persaingan yang semakin ketat memicup erusahaank ontruksi untuk mer{adi yang terbaik dan tidak mengecewakan pihak pemberi kerja. Kemampuan untuk dapat bersaing ditentukan oleh kinerja perusahaanit u terutarna di bidang keuangan. Salah satu cara untuk mengetahui kondisid an kinerja keuangana dalahd enganm enggunakana nalisisr asio keuangan. Penelitian ini mempelajari tentang bagaimanakah kinerja keuangan perusahaaanp abila dilihat dari hasil analisar asio likuidias, rasio leverage,r asio aktifitasd, anr asiop rofit abilitas. Jenisp enelitiany ang dipakai adalahp enelitiand eskripty''kuantitatifT. eknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan wawancara. Sedangkaann alisa data yaug digunakan adalah analisa perbandingand an commonsize, analisa rasio, dan analisa trend least-square. Sedangkan pendekatan rasio keuangadne nganm enggunakanp endekatanti me serieso nalysis. Posisi keuangan perusahaan menunjukkan distribusi sumber dana terbesar terletak pada aktiva lancar dengan proporsi tertinggi ada pada piutang proyek, perusahaadna lam membiayaii nvestasid an operasil ebih bergantungp ada pihak luar terutama pinjaman dari bank, modal kerja yang dimiliki perusahaan cenderung menunrnd, an omset penjualant iap tahun merosots ehinggab erdampakm enunrnnya laba bersih perusahaanT. ingkat rasio yang dicapai perusahaanp ada tahwt 1999 sampadi engant ahm2002 adalah:C urrent rotio yang dicapai termasukt inggi (di atas standa2r 00%). Quick Ratiojuga masih di atass tandaru mum 100%.TotaDl ebt to Equity Ratio di atas standar maksimal l00o/o. Total Debt to Assets Ratio terlampau tinggi (diatas standar 20Vo). Inuentory Turnover meningkat di tahun 2000 dan menurun di tahun berikutnya. Receivable Turnover cenderung menurun kecuali di tahun 1999. Average Collection Period di tahun 1999 lebih pendek dari tahun berikutnya yang lebih dari satu tahtn. Fixed Assets Turnover berflulrtuasi dan cenderunmge nurunk ecualti ahun2 000.T blulA sscts'l'urnovcbre rfluktuasmt, enurun di tahuni OOOa * 2002,m eningkatd i tahun 1999d an200l. OperatingP rofit Margin iO utu, ,tunAu, t9%) kicuali uituk tuhun 2002 yanghW7l,1,.5Vg, Net Profit Margin ta "* standar6 %) kecualiu ntuk tahun2 002 mencapa5i ,8o/o. (iross -l'rcfit Murgin ',ngutulnip€nunrnandaritahunketahun.Returnon]nvestmenldanReturnon E'q ui't yb erflukluasid a:rc enderungm enurun' Dad perhitungand nalisar asio diatasd apatd ilihat bahwar asio likuiditasnya sangatti nggi, rasio l&erage masih diatas s!1nd3ry anghal tersebutk urang baik bagi ;ff.d; rasio aktifitis kurang efektif _dan cenderung menurun, dan rasio prontuUittasy ang kurang baik. Sihingga disimpulk- -Uthyl^Iinerja keuangan perusatraadna lamk urun iaktu empatt ahuny aitu tahun 1999-2002k urangb aik dan cenderungm enurun. Saran-saranya ng dapatd iberikan adalahp erusahaanh l5.lebih memperketat kebijaksanaantr eait setrlnggap engelolaanp iutang akan lebih gtttif, Tingkat p"rputut* modal kerja p"itu Ctiopi.alkan sehingga da',at mendukung efisiensi i.rig*r* modal kerja, dan perlu adanya peningkatan dalam omset penjualan fiasa ioniirksi), dimana peningkatan ini diharipkan dapat meninCkatf?n gross profit murgin dun ,", profit iargin sehingga nantinya dapat menaikkan laba yang diharapkan.

Perilaku agresi pada remaja yang memperoleh pengalaman hukuman fisik masa anak / Anisa Puspita Sari

 

Perilaku agresi adalah suatu perilaku fisik maupun perilaku verbal yang diniatkan untuk melukai obyek yang menjadi sasaran. Tujuan dari agresi ini bukan hanya menyakiti subyek sendiri atau orang lain, tetapi untuk mencapai kepuasan melalui pemuncakan emosi sehingga subyek yang disekitarnya merasa terancam dan takut untuk bersosialisasi dengan aggressor. Pengalaman memperoleh hukuman fisik masa anak adalah perlakuan kasar orang tua secara jasmani yang dapat menimbulkan rasa sakit sebagai resiko atau akibat dari kesalahan yang dilakukan seseorang. Pengalaman ini akan berdampak dari segi fisik maupun psikologis anak yang akan menimbulkan trauma pada anak dan sikap modelling dari perilaku yang diterima oleh anak tersebut. Walaupun itu hukuman fisik, ini juga mengakibatkan rasa sakit secara fisik atau jamani. Hukuman fisik ini juga mengakibatkan psikologis yang terganggu pada korbannya yang menyebabkan si anak menjadi trauma tersendiri atau malah anak terbentuk suatu sifat atau sikap untuk membalas dendam apabila sudah menginjak remaja. Ini adalah akibat dari pengalaman memperoleh hukuman fisik masa anak. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu pengamatan langsung ke lapangan untuk mendapatkan gambaran dan informasi yang utuh tentang bagaimana perilaku agresi pada remaja yang memperoleh pengalaman hukuman fisik masa anak. Berdasarkan kriteria, terpilih subyek penelitian ini 4 orang serta data-data yang diperoleh bisa membantu data yang diperlukan dari orangtua subyek, teman/sahabat subyek, dan guru Bimbingan Konseling SMA Pawyatan Daha. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara: (1) Wawancara adalah percakapan yang dilakukan antara peneliti dan subyek penelitian. Dalam menggunakan teknik wawancara, informasi yang didapat mengarah pada sasaran, antara lain yaitu pengalaman hukuman fisik pada masa anak dan perilaku agresi remaja. (2) Observasi adalah pengamatan yang dilakukan selama melangsungkan kunjungan lapangan termasuk kesempatan-kesempatan selama pengumpulan bukti-bukti yang lain seperti wawancara. Dari hasil yang diperoleh penelitian ini bahwa perilaku agresi remaja itu terdapat salah satu faktor penyebabnya adalah pengalaman hukuman fisik oleh orangtua yang diperoleh ketika anak masih kecil. Hukuman fisik diterapkan oleh orangtua karena pada dasarnya sikap dari orangtua keras, hukuman fisik sebagai alat pendidikan dan membuat anak jera, hukuman fisik diberikan karena anak yang memiliki perilaku di mana orangtua menganggap perilaku itu sangat menyimpang. Anak melakukan tindakan agresi yaitu karena pengaruh lingkungan eksternal (teman, masyarakat, televisi, dll) dan internal (dalam diri) anak.

Perancangan film dokumenter: "menelusuri jejak Singhasari" / Rizky Al Fajr

 

ABSTRAK Al Fajr, Rizky. 2009. Perancangan Film Dokumenter :“Menelusuri Jejak Singhasari”. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Moeljadi Pranata, M. Pd, (II) Andy Pramono, S. Kom, M. T. Kata kunci : Perancangan, Film Dokumenter, Singhasari. Indonesia terkenal dengan kejayaan masa lalunya. Beberapa kerajaan besar pernah berdiri di bumi persada ini. Mulai dari kerajaan Sriwijaya di Sumatera, Kutai Kertanegara di Kalimantan dan juga Majapahit di Jawa. Beberapa peninggalan kepurbakalaan menerangkan wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan tersebut. Mulai dari yang hanya melingkupi sebuah pulau sampai dengan yang mencakup beberapa pulau bahkan menyebrangi benua. Salah satu kerajaan terbesar di tanah air adalah kerajaan Majapahit, kerajaan yang memiliki kisah sangat panjang dalam masa kejayaanya. Kerajaan ini berawal dari runtuhnya kerajaan Singhasari. Berakhirlah masa-masa kejayaan kerajaan Singhasari, kini yang tersisa hanyalah beberapa peninggalan arkeologi yang menggambarkan betapa besar dan jayanya kerajaan tersebut. Peninggalan-peninggalan purbakala yang terkenal adalah candi Singosari, dua patung Dwarapala, candi Sumberawan, petirtaan Watugede dan candi Telih yang semuanya berada di wilayah kecamatan Singosari kabupaten Malang. Beberapa peninggalan arkeologi itu menjelaskan betapa majunya peradaban pada masa kerajaan Singhasari. Akan tetapi sampai saat ini, lokasi persis istana kerajaan tersebut belum diketahui. Tujuan perancangan film dokumenter ini untuk menghasilkan sebuah media yang memberikan informasi kepada penonton film ini tentang peninggalan-peninggalan kerajaan Singhasari dan gambaran tentang dugaan lokasi pusat kerajaan Singhasari yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti keberadaanya. Pada prosedur perancangan dipaparkan langkah-langkah prosedural yang ditempuh dengan menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media, Langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi (1) perumusan masalah, (2) pengumpulan dan analisis data, (3) penetapan konsep perancangan dan (4) program perancangan. Hasil dari perancangan berupa film dokumenter dalam dengan format video compact disc (VCD) dengan durasi kurang lebih 24 menit. Produk ini dilengkapi dengan beberapa media pendukung film dokumenter ini yang berupa cover box VCD, cover box DVD, poster film, x-banner dan kaos merchandise. Keefektifan film dokumenter ini belum diujicoba. Disarankan agar dilakukan ujicoba menurut konteks media maupun isi pembelajarannya agar dapat diketahui keefektifannya.

Pengaruh bauran pemasaran jasa (service marketing mix) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen dalam melakukan service dan maintenance (studi pada konsumen GE Computer Malang) / Muharti Femmi Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Muharti Femmi. 2009. Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa (Service Marketing Mix) Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen dalam Melakukan Service dan Maintenance (Studi pada Konsumen GE Computer Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. F Danardana Murwani, M.M (II) Drs. Djoko Dwi K, M.Si Kata Kunci: jasa, bauran pemasaran jasa, proses keputusan pembelian konsumen Bauran pemasaran (Marketing Mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Bauran pemasaran jasa (Service Marketing Mix) 7P’s merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan jasa untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran yang meliputi produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan bukti fisik. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel atau lebih dengan menjelaskan hubungan antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis serta memberi gambaran yang jelas tentang keadaan-keadaan objek penelitian. Variabel yang diteliti adalah masalah bauran pemasaran jasa sebagai variabel bebas (X) yang terdiri dari (X1) product, (X2) price, (X3) promotion, (X4) place, (X5) people, (X6) process, (X7) physical evidence dan variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah proses pengambilan keputusan pembelian konsumen. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner tertutup dengan menggunakan skala likert dengan 5 pilihan jawaban dan disebarkan kepada 55 orang responden sebagai sampel dengan menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian ini dilakukan di GE Computer Malang. Berdasarkan hasil analisis data secara parsial diketahui bahwa pengaruh variabel produk (X1) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β1 = 0.228 dan nilai t Hitung = 2.059 dengan tingkat signifikansi 0.045. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan antara variabel Produk terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Pengaruh variabel harga (X2) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β2= 0.150 dan nilai t Hitung = 2.255 dengan tingkat signifikansi 0.029. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan variabel Harga terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Pengaruh variabel promosi (X3) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β3= -0.067 dan nilai t Hitung = -1.004 dengan tingkat signifikansi 0.321. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat pengaruh positif signifikan variabel Promosi terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Pengaruh variabel tempat (X4) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β4= -0.080 dan nilai t. Hitung = -0.926 dengan tingkat signifikansi 0.359. Hal ini membuktikan bahwa bahwa tidak terdapat pengaruh positif signifikan variabel Tempat terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Pengaruh variabel orang (X5) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β5= -0.071 dan nilai t Hitung = -0.842 dengan tingkat signifikansi 0.404. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat pengaruh positif signifikan variabel Orang terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Pengaruh variabel proses (X6) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β6= 0.217 dan nilai t Hitung = 3.280 dengan tingkat signifikansi 0.002. Hal ini membuktikan terdapat pengaruh positif signifikan variabel Proses terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Pengaruh bukti fisik (X7) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β7= 0.628 dan nilai t. Hitung = 5.816 dengan tingkat signifikansi 0.000. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan variabel Bukti Fisik terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen. Berdasarkan hasil analisis data secara simultan diketahui bahwa dari hasil uji ANOVA atau F Test diperoleh nilai F Hitung = 29.470 dengan tingkat signifikansi F 0.000 < 0.05 sehingga terbukti bahwa Produk, Harga, Promosi, Tempat, Orang, Proses, dan Bukti Fisik (Bauran Pemasaran Jasa) secara simultan berpengaruh terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen dalam melakukan service dan maintenance di GE Computer Malang. Selain itu dari hasil regresi model summary diketahui bahwa nilai Adj. R Square 0.787. Hal ini berarti 79% proses pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi oleh bauran pemasaran jasa yang terdiri dari produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan bukti fisik. Sedangkan sisanya 21% dipengaruhi oleh faktor lain selain produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan bukti fisik yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Berdasarkan analisis dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran jasa (service marketing mix) yang terdiri dari produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan bukti fisik yang telah diterapkan GE Computer Malang telah mampu menarik respon yang baik dari konsumen. Secara simultan bauran pemasaran jasa (service marketing mix) yang terdiri dari produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan bukti fisik memiliki pengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen. Selain itu secara parsial produk, harga, proses dan bukti fisik memiliki pengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen sedangkan promosi, tempat dan orang tidak memiliki pengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen. Diantara ketujuh unsur bauran pemasaran jasa tersebut, variabel bukti fisik memiliki pengaruh paling dominan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan kepada pihak manajemen GE Computer Malang yaitu mempertahankan atau lebih meningkatkan produk, harga, proses, dan bukti fisik yang diberikan kepada konsumen guna meningkatkan omzet penjualan jasa, lebih meningkatkan efektifitas promosi, tempat, dan orang sehingga dapat menarik minat beli konsumen dan menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam proses pengambilan keputusan dalam memilih jasa service dan maintenance, serta disarankan pada penelitian selanjutnya untuk menggunakan obyek penelitian yang menyediakan jasa berbeda dengan penelitian ini serta menggunakan sampel dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan penelitian ini.

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan keterampilan metakognitif kemampuan berpikir dan pemahaman konsep ekonomi siswa SMA Negeri 1 Srengat Kabupaten Blitar / Istiana

 

Keterampilan metakognitif merupakan pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi, tentang pemikiran manusia dan cara kerjanya, yang diakumulasikan melalui pengalaman, dan disimpan didalam memori jangka panjang. Keterampilan metakognitif merupakan salah satu komponen yang dapat menunjang kemampuan berfikir. Pemberdayaan kemampuan berfikir selama pembelajaran sangat penting untuk dilakukan. Keterampilan metakognitif dan kemampuan berfikir dapat diberdayakan melalui penerapan strategi pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw. Pemberdayaan kedua Keterampilan tersebut akan berimplikasi pada pemberdayaan pemahaman konsep siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berfikir, dan pemahamn konsep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berfikir, dan pemahaman konsep. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dimulai tanggal 25 Agustus sampai dengan 20 November 2008. Penelitian ini dilakukan untuk seluruh siswa kelas X-H di SMA Negeri I Srengat- Blitar. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan keterampilan metakognitif siswa yang ditunjukkan meningkat skor metakognitif dari sebelum pelaksanaan mendapat skor rata-rata kelas 3,98 meningkat menjadi 4,27 pada siklus I, dan 4,95 pada siklus II. Strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa dari rata-rata ketercapaian kelas sebesar 43,53% meningkat pada siklus II menjadi 63,03%. Penerapan strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya rata-rata kelas pemahaman konsep awal adalah 62,63 meningkat menjadi 79,47 pada siklus I dan meningkat pada siklus II menjadi 87,36. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulakan bahwa penerapan strategi pembelajaran kooperatif model jigsaw memiliki potensi untuk meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berfikir, dan pemahaman konsep siswa. Dapat disarankan bahwa pembelajaran kooperatif jigsaw ini paling cocok apabila diterapkan pada materi yang membutuhkan penalaran, selain itu juga perlu persiapan matang.

Penggunaan bahasa dalam surat undangan resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Ngunut Kabupaten Tulungagung tahun pelajaran 2008/2009 / Muhamad Yasin

 

ABSTRAK Yasin, Muhamad. 2008. Penggunaan Bahasa dalam Surat Undangan Resmi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Ngunut Kabupaten Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Ida Lestari, M.Si. Kata kunci: penggunaan bahasa, surat undangan resmi, ejaan dan tanda baca, diksi, kalimat. Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pesan atau informasi dari individu kepada individu lain, baik secara lisan maupun tulis. Penyampaian informasi secara lisan biasanya dilakukan individu dengan berbicara langsung dengan individu lain, sedangkan bentuk penyampaian informasi secara tulis salah satunya dapat dilakukan dengan menggunakan media yang disebut surat. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, materi menulis surat resmi diajarkan pada siswa kelas VIII SMP sehingga perkembangan keterampilan siswa dalam menulis surat undangan resmi tersebut perlu untuk selalu dipantau, terutama dalam hal penggunaan bahasanya. Salah satu bentuk usaha pemantauan terhadap penggunaan bahasa dalam surat undangan resmi siswa adalah dengan melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan bahasa dalam surat undangan resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Ngunut Kabupaten Tulungagung tahun pelajaran 2008/2009, terutama dalam hal penggunaan ejaan dan tanda baca, diksi, serta kalimat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan instrumen utama berupa human instrument atau peneliti sendiri. Selain instrumen utama, penelitian ini menggunakan instrumen pendukung berupa lembar petunjuk pengerjaan dan lembar analisis data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini berupa deskripsi tentang penggunaan ejaan, diksi, dan kalimat dalam surat undangan resmi siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penggunaan bahasa yang benar dan penggunaan bahasa yang salah dalam surat undangan resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Ngunut. Hal ini terbukti dengan ditemukan kebenaran dan kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca, ketepatan dan ketidaktepatan penggunaan diksi, serta keefektifan dan ketidakefektifan penggunaan kalimat. Pertama, kebenaran dan kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca meliputi penggunaan tanda baca titik, koma, titik dua, hubung, penulisan huruf kapital, dan penulisan di sebagai kata depan maupun sebagai awalan. Kedua, ketepatan dan ketidaktepatan penggunaan diksi meliputi penggunaan kata yang benar dan salah, jelas dan tidak jelas, serta efektif dan tidak efektif. Ketiga, keefektifan dan ketidakefektifan penggunaan kalimat meliputi penggunaan kalimat yang sederhana dan tidak sederhana, ringkas dan tidak ringkas, jelas dan tidak jelas, serta sopan dan tidak sopan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diberikan saran kepada beberapa pihak, yaitu pemerintah, instansi pendidikan, guru bahasa Indonesia, dan peneliti lanjutan. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan yang baru untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam penyusunan kurikulum yang lebih baik. Bagi guru Bahasa Indonesia, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan dan perancangan pembelajaran menulis surat undangan resmi yang lebih baik. Bagi instansi pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi sekolah, khususnya sekolah pada jenjang SMP, untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran menulis surat undangan resmi. Bagi peneliti lanjutan, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk mengadakan penelitian lanjutan tentang penggunaan bahasa dalam surat undangan resmi, tetapi dengan menggunakan data, sumber data, ataupun penerapan media dan strategi pembelajaran yang berbeda.

Pengembangan model sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA / Sasmita Rahayu

 

Keberhasilan proses penyesuaian individu dalam interaksi di masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah keterampilan pengelolaaan emosinya. Keterampilan hidup termasuk keterampilan pengelolaan emosi, dapat dibelajarkan dan ditingkatkan di sepanjang rentang kehidupan individu. Proses pembelajaran keterampilan-keterampilan hidup dapat dilakukan di lingkungan manapun, salah satunya di lingkungan sekolah. Sosiodrama sebagai salah satu teknik pembelajaran di sekolah, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah model sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa, yang pada penelitian pengembangan ini difokuskan untuk siswa SMA. Sesuai latar belakang di atas, maka tujuan pengembangan penelitian ini adalah untuk menghasilkan model sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA yang telah berterima secara teoritis melalui uji ahli dan telah berterima secara praktis melalui uji coba produk (uji lapangan). Rancangan penelitian ini adalah penelitian pengembangan prosedural dengan mengadaptasi langkah-langkah dari Borg and Gall. Langkah- langkah dari Borg and Gall yang diadaptasi penulis dalam penelitian ini meliputi, menentukan potensi dan masalah penelitian, mengumpulkan informasi, mendesain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk dan revisi produk. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel penelitian siswa kelas XI SMAN 8 Malang. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata hasil penilaian ahli pada produk pengembangan adalah 3,6. Nilai rerata ini memiliki makna bahwa panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA ini sangat baik. Untuk itu, model sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA ini telah berterima secara teoritis Dari uji coba produk didapatkan peningkatan rerata skor keterampilan pengelolaan emosi dari rerata skor pretest sebesar 34,15 menjadi 39,47 pada rerata skor postest, dengan probabilitas 0,000<0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan hasil uji lapangan sebelum dan sesudah dilaksanakan sosiodrama. Untuk itu, model sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA ini telah berterima secara praktis. Kesimpulannya, model sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA ini telah berterima secara teoritis dan praktis. Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:(1)Sekolah hendaknya menyediakan ruangan kelas yang fleksibel untuk digunakan dalam proses belajar pembelajaran dengan berbagai teknik belajar,(2) Konselor hendaknya mengaplikasikan panduan sosiodrama ini dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling,(3) Peneliti selanjutnya diharapkan memperluas subyek dan wilayah penelitian untuk memperluas tingkat kebergunaan produk.

Persepsi guru SMK Negeri 7 Malang tentang program sertifikasi bagi guru / Billy Marten Antromeda

 

ABSTRAK Antromeda, Billy Marten. 2009. Persepsi Guru SMK Negeri 7 Malang Tentang Program Sertifikasi Bagi Guru. Skripsi, Program Studi S1 Kependidikan Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Andoko, S. T., M.T., (2) Dra. H. Rina Rifqie Mariana. Kata Kunci: Persepsi, Guru, Sertifikasi, SMKN 7 Malang. Program sertifikasi bagi guru merupakan program pemerintah yang sedang populer dikalangan guru. Sebagian besar guru sudah mengetahui adanya program sertifikasi ini dari berbagai sumber informasi. Informasi yang diperoleh dari masing-masing guru tersebut, terdapat kemungkinan bisa menimbulkan persepsi yang berbeda pada setiap guru. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan/mendeskripsikan apaadanya berbagai persepsi guru tentang program sertifikasi guru yang meliputi profesionalitas, penilaian portofolio, PLPG, pendidikan profesi guru, dan kesejahteraan guru melalui sertifikasi. Sumber data pada penelitian ini adalah guru SMK Negeri 7 Malang yang belum tersertifikasi. Instrumen penelitian yang dipergunakan adalah angket dan pedoman wawancara. Analisis data yang dipergunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan hasil pengisian angket dan wawancara. Hasil penelitian persepsi guru tentang program sertifikasi menunjukkan 1) sebagian besar guru SMK N 7 Malang berpersepsi positif terhadap program sertifikasi yang dapat menjadikan guru profesional; 2) penilaian portofolio dipersepsi positif, yaitu sudah tepat dijadikan sebagai pengukuran/pengakuan profesionalitas guru melalui penilaian 10 macam dokumen yang mencerminkan 4 kompetensi dasar guru; 3) pendidikan dan pelatihan profesi guru yang merupakan tindak lanjut bagi guru yang tidak lulus penilaian portofolio dipersepsi positif dapat menjadikan guru profesional dan kompeten; 4) sebagaian besar guru SMKN 7 Malang berpersepsi negatif yang menyatakan tidak setuju dengan persyaratan peserta pendidikan profesi hanyalah guru berprestasi saja dan bagi lulusan sarjana jurusan apapun, dan persepsi positif diutarakan guru SMKN 7 Malang terhadap tujuan utama program sertifikasi melalui pendidikan profesi/portofolio bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi; 5) guru SMKN 7 Malang berpersepsi positif dengan menyetujui pemberian tunjangan profesi bagi guru yang telah bersertifikat dan berpersepsi negatif yang menyatakan besarnya tunjangan profesi sebesar 1 kali gaji pokok belum dapat mensejahterahkan guru; 6) berdasarkan persepsi guru SMKN 7 Malang terdapat dampak positif dan negatif dari program sertifikasi guru, tetapi dampak positif yang ditimbulkan lebih besar daripada dampak negatif yang muncul.

Pengaruh lingkungan belajar dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar (studi pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun pelajaran 2008/2009) / Narulita Dian Purnamasari

 

ABSTRAK Purnamasari, Narulita Dian. 2009. Pengaruh Lingkungan Belajar Dan Fasilitas Belajar Terhadap Prestasi Belajar (Studi Pada Siswa Kelas XI APK SMK Muhammadiyah 2 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009). Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sarbini, Pembimbing (II) Imam Bukhori, S.Pd., M.M. Kata Kunci: Lingkungan Belajar, Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar Siswa Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun kehidupan bangsa. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dilaksanakan melalui jalur pendidikan, baik pendidikan formal, informal maupun nonformal. Jalur pendidikan formal merupakan proses pendidikan yang dilaksanakan disekolah seperti pendidikan TK, SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Sedangkan jalur pendidikan informal dan nonformal merupakan proses pendidikan yang dilaksanakan diluar sekolah. Adapun salah satu pendidikan formal yang ada yaitu, pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memiliki tujuan utama yakni mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja, menciptakan lulusan yang terlatih, terampil, cakap sesuai dengan bidang keahliannya. Sekolah Menengah Kejuruan jelas membutuhkan lingkungan belajar dan fasilitas belajar yang dapat mendukung prestasi belajar peserta didik. Dengan kelengkapan fasilitas belajar dan kenyamanan lingkungan belajar baik di lingkungan keluarga maupun dilingkungan sekolah diharapkan siswa mampu mengembangkan dirinya dan mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin canggih. Sehingga kualitas prestasi belajar siswa dapat dipertanggungjawabkan dengan baik yang dihasilkan dalam bentuk nilai yaitu Raport. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI APK SMK Muhammadiyah 2 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu deskriptif korelasional. Varibel penelitian ini adalah lingkungan belajar (X1) dan fasilitas belajar (X2). Sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI APK SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 30 siswa. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu angket/kuisioner dan dokumentasi. Angket untuk memperoleh data variabel bebas yaitu lingkungan belajar (X1) dan fasilitas belajar (X2), sedangkan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data variabel terikat yaitu prestasi belajar (Y) yang berupa nilai rata-rata raport semester genap tahun pelajaran 2007/2008. Data yang dipeoleh diolah dengan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis linier berganda. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan lingkungan belajar, fasilitas belajar dan prestasi belajar. Sedangkan analisis linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar (X1) dan fasilitas belajar (X2) terhadap prestasi belajar baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Analisis presentase dari 30 siswa menunjukkan bahwa sebesar 83,3% (25 responden) memperoleh prestasi belajar dengan kriteria lulus cukup. Untuk variabel lingkungan belajar diketahui bahwa 63,3% (19 responden) menyatakan dalam keadaan baik. Dan sebesar 60% (18 responden) menyatakan fasiltas belajar dalam keadaan baik. Analisis regresi linear berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 10% secara parsial dapat diketahui bahwa variabel lingkungan belajar (X1) mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar (Y) karena terbukti nilai Sig-t 0,010 < 0,1 dan variabel fasilitas belajar (X2) mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar (Y) karena terbukti nilai Sig t 0,005 < 0,1. Dari uji regresi linear berganda diketahui bahwa variabel lingkungan belajar dan fasilitas belajar secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI APK SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun pelajaran 2008/2009. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi F sebesar 0,000 < 0,1 dengan nilai Fhitung = 13,437, nilai koefisien regresi (R Square) = 0,499. Dari hasil analisis diketahui 49,9% prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh lingkungan belajar dan fasilitas belajar. Sedangkan sisanya 50,1% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dijelaskan pada penelitian ini. Disimpulkan bahwa variabel lingkungan belajar dan fasilitas belajar secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI APK SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun pelajaran 2008/2009. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pada siswa agar lebih meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan guru dan pihak sekolah, disarankan sebaiknya menyediakan fasilitas belajar yang diperlukan dalam proses pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar disekolah yang nyaman, agar siswa termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan untuk orang tua disarankan untuk menyediakan fasilitas belajar dirumah dan juga menciptakan suasana lingkungan keluarga yang aman, nyaman dan tenang.

The use of English in the mathematics teaching and learning of the international standard class at SMPN 1 Malang / Ety Dwi Jayanti

 

ABSTRACT Jayanti, Ety Dwi. 2008. The Use of English in the Mathematicss Teaching and Learning of International Standard Class in SMPN 1 Malang. Thesis, Malang: English Language Education Program, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Niamika El Khoiri, S.Pd., M.A. Key Words: the use of English, classroom language, International Standard Class This study was conducted in order to describe the use of English as a medium of instruction for mathematics teaching and learning in an International Standard Class at SMPN 1 Malang. The main aspect that needs to be studied is the use of English as the medium of instruction in an International Standard Class at SMPN 1 Malang. Then, it was elaborated into several aspects such as (1) the way the teacher teach mathematics in the International Standard Class, (2) the proportion of English and Bahasa Indonesia used during the mathematics teaching and learning process, (3) the conditions in which the teacher used English and Bahasa Indonesia, (4) the English expressions used as classroom language, (5) the students’ responses toward the use of English as a medium of instruction, and (6) the problems the teacher faces in using English as the medium of instruction. The descriptive design was used in this study. To collect all information related to the research problems, the researcher interviewed the mathematics teacher, observed the teaching and learning process, recorded the classroom conversations, and delivered questionnaire to the students. Then, the information was classified into some aspects and presented descriptively. The study was conducted at SMP Negeri 1 Malang involving class VIIE. The school is located at Lawu Street No.12 Malang. One mathematics teacher and 28 students of class VIIE became the subjects of this study. The study confirmed that the implementation of the International Standard Class especially in mathematics at SMP Negeri 1 Malang already fulfilled the International Standard School characteristics in term of the use of English as the medium of instruction, the teacher quality and the use of information technology. Yet, the English language used was still not persistent. It was synchronized with the students’ English proficiency. The problem the teacher should face was the difficulty in communicating the lesson to the students. To solve that problem, the school should take some actions such as conducting an English For Special Purpose Course for the teachers especially for those who teach International Standard Class, improving school facilities, being consistent in encouraging the teachers to use English as the medium of instruction, and evaluating students’ progress in the form of English Contest which can be held at the end of the semester.

Upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X PJ melalui pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) pada mata pelajaran ekonomi di SMK Islam Batu / Reza Faizal Rachman

 

ABSTRAK Rachman, Reza Faizal. 2009. Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pj Melalui Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournament) Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMK Islam Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si (II) Imam Bukhori, S.Pd, M.M Kata Kunci: TGT (Teams Games Tournament), aktivitas, dan hasil belajar Rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa disinyalir karena kurang adanya inovasi dalam pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Pembelajaran yang berlangsung selama ini yaitu dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran konvensional, guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, yang disertai dengan pemberian tugas. Hal inilah yang disinyalir dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa. Dari pemikiran tersebut, maka peneliti bermaksud untuk memberikan inovasi dalam pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Adapun model yang digunakan dalam pembelajaran kooperatif ini adalah model TGT (Teams Games Tournament). Model TGT merupakan metode pembelajaran yang masih tergolong baru dan belum banyak diterapkan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pembelajaran kooperatif model TGT pada mata pelajaran Ekonomi, menganalisis faktor pendukung dan faktor penghambat pembelajaran kooperatif model TGT, serta menganalisis peningkatan aktivitas dan hasil belajar melalui pembelajaran kooperatif model TGT. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kualitatif, karena data yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk verbal. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, lembar observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas X Pj SMK Islam Batu. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif. Adapun materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah Kebutuhan dan Nilai Guna Barang & Jasa yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pada penelitian ini tindakan yang dilakukan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT pada mata pelajaran Ekonomi adalah: 1) peneliti memperkenalkan pembelajaran kooperatif model TGT kepada siswa; 2) peneliti melaksanakan pembelajaran kooperatif model TGT yang diawali dengan pemberian pre test, kemudian penyajian kelas, kerja kelompok, game/turnamen, pemberian post test, dan penghargaan kelompok; 3) penilaian aktivitas belajar siswa dinilai dengan menggunakan lembar observasi, sedangkan hasil belajar siswa diperoleh dari nilai pre test dan post test. Adapun faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif model TGT adalah: 1) metode ini mendapat tanggapan positif baik dari guru bidang studi maupun dari siswa; 2) penghargaan kelompok bagi kelompok terbaik dapat memacu semangat belajar siswa; 3) tahap turnamen membuat siswa merasa bersemangat dan menikmati proses pembelajaran; 4) metode ini membantu guru dalam membuat variasi metode belajar. Sedangkan faktor penghambatnya adalah: 1) metode ini masih terkesan baru bagi guru bidang studi Ekonomi; 2) siswa belum terbiasa belajar dengan menggunakan metode TGT sehingga pada saat pembelajaran berlangsung membuat keadaan kelas menjadi gaduh tidak terkendali; 3) metode ini membutuhkan pengalokasian waktu belajar yang tidak sedikit; 4) metode ini membutuhkan media belajar yang cukup banyak, mulai dari LKS, bahan ajar, serta media penunjang yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X Pj SMK Islam Batu. Dalam hal aktivitas belajar siswa, rata-rata persentase aktivitas belajar siswa dan taraf keberhasilan pada tindakan siklus I yaitu sebesar 61,59% dengan taraf keberhasilan cukup, sedangkan pada siklus II meningkat 10,48% dari 61,59% (siklus I) menjadi 72,07% (siklus II) dengan taraf keberhasilan baik. Sedangkan untuk hasil belajar siswa, rata-rata skor tes sebelum tindakan (pre test siklus I) adalah 68,47, kemudian meningkat 3,63 dari 68,47 (pre test siklus I) menjadi 72,1 pada tindakan siklus I (post test siklus I), dan kemudian pada tindakan siklus II meningkat 2,56 dari 72,1 (post test siklus I) menjadi 74,66 (siklus II). Dalam hal persentase ketuntasan belajar siswa kelas X Pj, pada saat sebelum tindakan (pre test siklus I) persentase ketuntasan belajar siswa yaitu sebesar 71,88%, kemudian meningkat 3,12% dari 71,88% (pre test siklus I) menjadi 75% (post test siklus I), dan pada tindakan siklus II meningkat 15,63% dari 75% (post test siklus I) menjadi 90,63% (post test siklus II). Skor tes mengalami peningkatan meskipun kurang signifikan. Hal ini terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah: kurang adanya kedekatan emosional antara guru dan murid dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena minimnya kesempatan guru untuk mengenal siswa lebih dekat lagi karena keterbatasan waktu yang tesedia; selain itu, guru hanya dianggap sebagai pengganti guru bidang studi sebenarnya yang tidak mempengaruhi dalam perolehan nilai dalam penilaian akhir (rapor). Hal ini dapat menyebabkan siswa tidak berusaha keras dalam pembelajaran, sehingga dapat berpengaruh terhadap nilai yang mereka peroleh. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu: 1) guru SMK Islam Batu disarankan mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT karena mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa; 2) sekolah hendaknya mensosialisasikan berbagai penerapan metode pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivisme kepada guru; 3) peneliti perlu belajar lebih banyak tentang penelitian tindakan kelas (PTK); 4) ruang lingkup untuk penelitian selanjutnya perlu diperluas untuk mendapatkan data yang lebih lengkap dan akurat.

Mutu organoleptik kecap teri dengan perendaman air nanas dalam waktu yang berbeda / Sri Maslikah

 

Kecap merupakan poduk olahan atau awetan kedelai dengan tekstur cair (asin) atau kental (manis), berwarna cokelat kehitam-hitaman yang digunakan sebagai bahan penyedap masakan. Kecap teri adalah kecap yang terbuat dari hancuran teri , teri digunakan sebagai bahan pembuat kecap karena banyak mengandung protein. Di Indonesia kecap teri belum banyak dikenal. Secara tradisional pembuatan kecap ikan sangat lama sehingga diperlukan bahan lain yang dapat mempersingkat proses pembuatan kecap ikan yaitu dengan perendaman dalam air nanas. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan perendaman ikan teri dalam air nanas selama 2 hari, 3 hari dan 4 hari. Pengamatan dilakukan terhadap perubahan sifat organoleptik yang meliputi rasa, warna dan aroma melalui uji mutu hedonik, uji hedonik dan uji kandungan protein dari masing-masing perlakuan. Analisa data yang digunakan adalah analisa sidik ragam dan dilanjutkan dengan Ducan's Multiple Range Test (DMRT) apabila ada perbedaan. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada rasa dan warna tetapi tidak ada perbedaan untuk aroma dengan perlakuan perendaman ikan teri dalam air nanas selama 2 hari, 3 hari dan 4 hari. Skor tertinggi rasa kecap teri terdapat pada perendaman selama 3 hari dengan rasa sedap (3.63), skor tertinggi warna kecap teri terdapat pada perendaman selama 4 hari dengan warna coklat gelap (3.17). Persentase tertinggi kandungan protein kecap teri terdapat pada perendaman selama 3 hari. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa rasa kecap teri yang paling disuka panelis adalah dengan perendaman selama 3 hari (rasa sedap). Warna yang paling disuka panelis adalah dengan perendaman selama 4 hari (coklat gelap). Aroma yang paling disuka panelis adalah dengan perendaman selama 3 hari (Aroma teri kuat). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin lama perendaman warna kecap teri semakin gelap, rasa kecap teri terasa sedap pada perendaman selama 2 hari dan 3 hari tetapi setelah itu menurun. Kandungan protein kecap teri paling banyak terdapat pada perendaman selama 3 hari.

Analisis sosial budaya terhadap pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja pesantren (studi kasus di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'ien Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung) / Retnowijayanti

 

ABSTRAK Wijayanti, Retno. 2008. Analisis Sosial Budaya Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja Pesantren (Studi Kasus di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung). Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Siti Malikah Thowaf , M.A, Ph.D, (II) Dra. Hj. Sri Sumartini, M.Si. Kata kunci: Pendidikan Kesehatan Reproduksi/ Pendidikan Seks, Remaja, Pesantren Perubahan fisik dan perkembangan kejiwaan yang terjadi pada masa remaja/ pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan seks. Untuk itulah perlu kiranya memberikan informasi masalah seksualitas/ kesehatan reproduksi diantaranya melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud sering diistilahkan dengan pendidikan seks. Istilah lain menyebutnya dengan pendidikan kesehatan reproduksi. Peranan pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sangat intensif membahas masalah agama Islam yang berguna bagi masyarakat luas, sudah semestinya membahas seksualitas melalui pendidikan seks/ pendidikan kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan pendidikan kesehatan reproduksi tidak terlepas dari kehidupan manusia. Akan tetapi realitasnya, bahasan kesehatan reproduksi masih tergolong tema yang sangat jarang dan sensitif di kalangan pesantren serta kurang mendapat porsi yang memadai dalam program pendidikan pesantren. Akibatnya berpengaruh pada penerapan pendidikan kesehatan reproduksi yang kurang maksimal. Selain itu dapat memicu dampak yang sangat besar yakni kondisi social budaya santri dalam mengelola seksualitasnya yang terekam dalam perilaku pergaulannya. Kondisi seperti itu juga bisa saja terjadi di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien (PPHM) Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung. Untuk itulah penelitian ini mengangkat permasalahan tentang bagaimana kondisi PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung sebagai lembaga pendidikan Islam, bagaimana pola pergaulan remaja putri di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung, dan bagaimana permasalahan kesehatan reproduksi remaja putri yang terjadi di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung, serta bagaimana pendidikan kesehatan reproduksi yang telah diterapkan di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung sebagai lembaga pendidikan Islam, mengetahui pola pergaulan remaja putri di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung, mengetahui permasalahan kesehatan reproduksi remaja putri yang terjadi di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung, dan mengetahui permasalahan kesehatan reproduksi remaja putri, serta mengetahui pendidikan kesehatan reproduksi yang telah diterapkan di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan penelitian kualitatif berjenis diskriptif. Sedangkan data yang diperoleh ii adalah menggunakan observasi dan sumber lisan melalui wawancara dengan pengasuh, para dewan guru, para santri senior, madya, dan yunior (berdasarkan lamanya nyantri/ mondok). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung sebagai lembaga pendidikan Islam yang dikelola secara sistemik ternyata kurang adanya keseimbangan sistem. Indikasinya adalah jumlah santri dan pengurus yang kurang seimbang, seringkali terjadi hubungan yang tidak harmonis di antara beberapa lembaga pendidikan yang ada di dalamnya. Keterbatasan interaksi santri dengan dunia luar pesantren berpengaruh pada peraturan yang diterapkan. Pola pergaulan remaja putri di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung, dalam kesehariannya memang dihabiskan berinteraksi dengan sesama jenisnya. Namun karena mayoritas pengurusnya adalah laki-laki maka tidak menutup kemungkinan terjadi interaksi dengan lawan jenis meskipun sangat dibatasi. Permasalahan kesehatan reproduksi remaja putri di PPHM Asrama Sunan Pandanaran di Tulungagung, terjadi ketika hubungan antara lawan jenis sedemikian diperketat dalam segala kondisi, sedangkan hubungan dengan sesama jenis sudah dianggap biasa. Ternyata keadaan seperti itu dapat menimbulkan keadaan lain yang tidak diduga sebelumnya bahkan luput dari perhatian banyak pihak pesantren. Keadaan yang dimaksud adalah munculnya gejala kecenderungan intim dengan sesama jenis. Pendidikan kesehatan reproduksi yang diterapkan di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung telah diberikan sejak kelas VI Ibtida’iyyah berupa funun (bidang kajian) kitab-kitab fiqh. Kajian kitab-kitab fiqh dimasukkan dalam kurikulum sekolah diniyah dan sebagai pengajian kitab yang bersifat ekstrakulikuler. Kajian kesehatan reproduksi di luar kajian kitab kuning, seperti seminar dan penyuluhan di puskesmas di bawah organisasi HMHF (Hidayatul Mubtadi’ien Healthy Federation) hanya sebagai formalitas. Namun dalam proses edukasinya masih kurang memadai. Kondisi sosial budaya pesantren yang sedemikian rupa dapat berdampak pada berbagai hal baik positif maupun negatif. Namun dampak negatif seperti adanya kecenderungan hubungan intim sesama jenis merupakan suatu hal yang kadarnya sangat serius dan memerlukan solusi yang serius pula. Hal ini mengingat pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang nota bene merupakan lembaga yang ditugaskan mendidik moralitas masyarakat.

Tanggapan siswa kelas X restoran SMK Negeri 7 Malang terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair-Share) / Lidia Koen

 

ABSTRAK Koen, Lidia. 2009. Tanggapan Siswa Kelas X Restoran SMK Negeri 7 Malang Terhadap Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TPS (Think-Pair-Share). Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Amat Nyoto. M. Pd, (II) Dra. Rina Rifqie Mariana. Kata kunci: Tanggapan, Penerapan, Pembelajaran Kooperatif Model TPS (Think-Pair-Share). Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui data tentang tanggapan siswa kelas X restoran SMK Negeri 7 Malang terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share). Jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif, penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau suatu fenomena yang ada. Rancangan penelitiannya adalah menyiapkan materi yang akan diterapkan, membuat instrument, penerapan pembelajaran, pengambilan data dan menganalisis serta melaporkan hasil penelitian. Hasil penelitian tentang pemahaman siswa Kelas X Resto 2 SMK Negeri 7 Malang terhadap pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) adalah sebanyak 40% memberikan tanggapan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi antar siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata, sebanyak 48% responden memberikan tanggapan bahwa model TPS merupakan model pembelajaran yang dapat membuat siswa bisa belajar mandiri, sebanyak 56% responden memberikan tanggapan bahwa pembelajaran kooperatif model TPS merupakan pembelajaran kelompok yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan bekerja sama, bersosialisasi dengan teman, sebanyak 48% responden memberikan tanggapan bahwa dengan pembelajaran kooperatif model TPS, materi yang diterima lebih mengerti karena dapat diberikan beberapa kesempatan seperti Think-Pair-Share. Hasil penelitian tentang tanggapan siswa kelas x resto 2 SMK Negeri 7 Malang tentang pembagian kelompok diskusi dalam pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) adalah positif karena 72% responden memberi tanggapan bahwa pembelajaran kooperatif model TPS merupakan pembelajaran dalam bentuk kelompok diskusi, maka pembagian kelompok perlu dilakukan, dan 80% responden memberikan tanggapan bahwa dalam pembagian kelompok guru berperan langsung dalam proses pembagian kelompok tersebut agar tidak ada rasa cemburu diantara sesama anggota kelompok. Sebanyak 64% responden tidak setuju dengan pembagian kelompok secara heterogen atau sesuai dengan jenis kelamin, kemampuan akademik. Hasil penelitian tentang tanggapan siswa kelas x resto 2 SMK Negeri 7 Malang tentang materi yang diberikan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif kodel TPS (Think-Pair-Share) adalah positif hal tersebut ditunjukan dengan sebanyak 76% responden memberikan tanggapan sebelum mengerjakan soal yang diberikan untuk didiskusikan, siswa terlebih dahulu membaca dan mencermati materi agar memudahkan dalam mengerjakan soal dan 100% responden memberikan tanggapan bahwa soal yang didiskusikan sudah sesuai dengan materi yang diajarkan. Hasil penelitian tentang tanggapan siswa Kelas X resto 2 SMK Negeri 7 Malang terhadap tahap Think dalam pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) adalah positif karena sebanyak 76% responden memberikan tanggapan positif terhadap pelaksanaan tahap Think, tahap Think dilakukan agar dapat melatih diri siswa untuk memikirkan jawaban secara individu, sebelum bergabung dengan anggota kelompok yang lain atau sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Hasil penelitian tentang Tanggapan siswa kelas x resto 2 SMK Negeri 7 Malang terhadap tahap Pair dalam pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) adalah positif hal tersebut ditunjukan sebanyak 60% dalam pembelajaran kooperatif model TPS, karena dengan tahap pair materi yang diberikan lebih dipahami, jawaban lebih bervariasi, dan menambah wawasan dari anggota kelompok yang lainnya. Hasil penelitian tentang tanggapan siswa kelas x resto 2 SMK Negeri 7 Malang terhadap tahap Share dalam pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) adalah positif karena sebanyak 80% responden memberikan tanggapan positif terhadap tahap sharing yang dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif model TPS, diskusi di depan kelas dilakukan agar bisa sharing dengan semua teman dalam kelas, tidak hanya dalam kelompok, tetapi dengan sharing di depan kelas maka, wawasan lebih bertambah karena lebih banyak lagi masukan dari kelompok yang lain. Hasil penelitian tentang tanggapan siswa kelas x resto 2 SMK Negeri 7 Malang tentang pemberian evaluasi dan tes yang dilakukan dalam pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) adalah positif karena sebanyak 60% responden memberikan tanggapan bahwa pemberian tes tiap akhir pertemuan dilakukan agar dapat mengetahui apakah materi yang disampaikan sudah dikuasai atau belum oleh siswa dan sebanyak 80% responden memberikan tanggapan terhadap evaluasi yang dilakukan oleh guru tiap akhir pertemuan sebelum siswa diberikan tes, berguna untuk mengingat kembali materi yang telah disampaikan dan memudahkan siswa dalam menyelesaikan tes. Untuk SMK Negeri 7 Malang, disarankan agar dalam penyampian materi menggunakan variasi model pembelajaran agar siswa lebih termotivasi untuk menerima pelajaran dan dalam pelaksanaan pembelajaran sebaiknya siswa diberikan buku sebagai pegangan atau pedoman untuk siswa dalam mengikuti pelajaran. Pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) perlu disosialisasikan kepada para guru dapat diterapkan pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, hal tersebut dilakukan agar dapat memacu siswa untuk belajar mandiri, bersosialisasi dengan sesama teman dan menambah wawasan jika sudah berada dilingkungan masyarakat nyata.

Problematika pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 Penjualan 1 SMK Negeri 1 Tulungagung (studi kasus pada siswa kelas 3 Penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung tahun pelajaran 2008/2009) / Verry Meitawati

 

ABSTRAK Meitawati, Verry.2008. Problematika Pembelajaran Kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 SMK Negeri 1 Tulungagung. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Mulyoso, S.E., M.Si, (2) Rachmad Hidayat, S.Pd Kata kunci : Pembelajaran, kewirausahaan, moving class. Pendidikan mempunyai peran penting dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Berbagai bentuk pembaharuan telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya adalah pembelajaran menggunakan sistem moving class. Sistem moving class memungkinkan terjadinya suasana belajar yang nyaman dan kondusif, fasilitas belajar yang memadai, kesiapan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran serta guru menemukan kreasi dan inovasi pengelolaan kelas untuk menunjang proses belajar mengajar yang lebih efektif. Permasalahan pendidikan ini adalah (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan di SMK Negeri 1 Tulungagung (2) apa saja problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 program keahlian penjualan (3) apa saja problematika yang dihadapi siswa dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 program keahlian penjualan (4) apa saja solusi yang digunakan untuk mengatasi problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 program keahlian penjualan Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung (2) mendeskripsikan problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung. (3) mendeskripsikan problematika yang dihadapi siswa dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung (4) mendeskripsikan solusi yang digunakan untuk mengatasi problematika pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 SMK Negeri 1 Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptip kualitatif (studi di SMK Negeri 1 Tulungagung). Subyek penelitian ini adalah guru kewirausahaan dan siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket/kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah (1) reduksi data (2) penyajian data (3) interprestasi data (4) menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan (1) pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung mengalami kesulitan yaitu ruang kelas yang sempit dan kelelahan siswa saat harus berpindah kelas. Pembelajaran dimulai dari membuka pelajaran, menyampaikan materi dan menutup pelajaran. Selama proses pembelajaran guru menggunakan sumber, metode dan media pembelajaran yang sesuai. Penilaian dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung maupun setelah menyelesaikan satu atau semua standar kompetensi dalam bentuk tes tulis dan tes lisan dan pelaksanaan pembelajaran secara moving class ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa (2) problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung adalah keterlambatan siswa masuk ke dalam kelas, kurangnya konsentrasi siswa saat mengikuti pelajaran kewirausahaan dan adanya waktu yang tersita karena pergantian jam pelajaran.(3) problematika yang dihadapi siswa dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 di SMK Negeri 1 Tulungagung adalah kesulitan dalam pembelajaran kewirausahaan, seringnya bawaan siswa yang tertinggal, kurangnya kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan. (3) solusi yang digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran kewirausahaan secara moving class terhadap prestasi belajar siswa kelas 3 penjualan 1 SMK Negeri 1 Tulungagung adalah a) keterlambatan siswa, disini guru membuat kesepakatan tentang batas waktu keterlambatan b) untuk mengatasi kurangnya konsentrasi siswa saat mengikuti pelajaran kewirausahaan maka guru menciptakan belajar aktif dan memberi motivasi berupa tugas-tugas c) Untuk mengatasi waktu yang tersita karena pergantian jam pelajaran maka guru harus menyiapkan bahan ajar yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Sedangkan untuk mengatasi problematika yang dihadapi siswa adalah guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, sedangkan untuk mengatasi kurangnya siswa dalam menjaga kebersihan dan seringnya bawaan yang tertinggal maka guru selalu mengingatkan siswa sebelum pelajaran berlangsung. Berdasarkan temuan penelitian ini disarankan agar sekolah lebih meningkatkan penyelenggaraan sistem pembelajaran moving class karena dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pembelajaran moving class sangat memerlukan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai, misalnya: ruang pembelajaran yang nyaman, serta media pembelajaran, oleh karena itu dukungan dari pihak sekolah sebagai penyedia sarana dan prasarana sangat diperlukan. Guru harus dapat memotivasi siswa untuk mengadakan kesiapan belajar dirumah sebelum materi disampaikan. di sekolah dengan cara memberi tahu siswa bahwa setiap kali pertemuan akan diadakan pre tes dan post tes sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk belajar sebelum materi disampaikan.Guru hendaknya mempertimbangkan alokasi waktu dan kedisiplinan siswa saat perpindahan ruang kelas, agar pembelajaran dengan menggunakan sistem moving class berlangsung efektif. Sehingga siswa dapat juga berperan aktif dalam pelaksanaan pembelajaran secara moving class, bagi peneliti berikutnya agar dapat melakukan penelitian tentang pembelajaran secara moving class pada mata diklat lain selain mata diklat kewirausahaan dan dapat dikembangkan untuk sekolah-sekolah lain.

Pengaruh pemanfaatan fasilitas belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Bojonegoro / Anang Mustahmid Nur Rohman

 

ABSTRAK Mustahmid, Anang, N. 2008. Pengaruh Pemanfaatan Fasilitas Belajar di Sekolah dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Kelas XI di SMK Negeri 1 Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Pendidikan Tataniaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Mugianto, SE, M.Si, (II) Drs. Moh. Hari, M.Si. Kata Kunci : Pemanfaatan Fasilitas Belajar, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Pendidikan merupakan suatu yang penting dan dianggap paling utama dalam kehidupan manusia dan dapat memberi bekal hidup kepada peserta didik dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehubungan dengan itu maka sudah menjadi kewajiban bagi lembaga pendidikan di Indonesia untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut baik lembaga pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan sekolah merupakan lembaga yang mempunyai tujuan pembelajaran yang sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya menusia (SDM). Sebagai tempat proses belajar mengajar, sekolah harus menyediakan fasilitas belajar yang menunjang untuk berlangsungnya proses belajar tersebut. Kondisi itu diantaranya adalah menyediakan sarana dan prasarana agar dapat menemukan berbagai pengetahuan yang dibutuhkan dan juga melibatkan siswa dalam proses belajar tersebut. Dalam kegiatan proses belajar mengajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan dapat memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tercapai tujuan yang dikehendaki. Motivasi belajar dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perkataan, ketajaman konsentrasi, aktivitas dan partisipasi dalam proses pembelajaran. Meskipun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau bakat siswa dan materi yang akan diajarkan, namun apabila tidak dibarengi dengan motivasi belajar siswa, maka proses belajar mengajar tidak akan berlangsung optimal. Selain itu tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauan untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Dengan adanya pemanfatan fasilitas belajar dan motivasi belajar dapat dilihat perubahan prestasi yang akan diraih oleh siswa-siswi di sekolah. Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh seorang siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu atau setelah menyelesaikan program tertentu. Prestasi belajar juga merupakan bukti keberhasilan usaha yang dicapai, sedangkan belajar memiliki suatu proses mental yang mempengaruhi pada penguasaan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilakukan sehingga menimbulkan tingkah laku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu nilai yang memajukan hasil yang dicapai siswa setelah melalui proses belajar. Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka dapat diketahui tujuan penelitian yaitu (1) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah yang ada di SMK Negeri 1 Bojonegoro, (2) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis tingkat motivasi siswa di SMK Negeri 1 Bojonegoro, (3)Untuk mendeskripsikan dan menganalisis tingkat prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bojonegoro, (4) Untuk menentukan besarnya pengaruh pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah terhadap prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bojonegoro, (5) Untuk menentukan besarnya pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bojonegoro, (6) Untuk menentukan besarnya pengaruh pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar secara simultan terhadap prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bojonegoro. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi obyektif fasilitas belajar di sekolah, motivasi belajar siswa dan prestasi belajar siswa. Sedangkan analisis statistik inferensial yaitu regresi linier berganda atau ubahan untuk mengetahui besarnya pengaruh pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar siswa secara simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Bojonegoro. Variabel bebas penelitian ini terdiri dari pemanfaatan fasilitas belajar (X1), dan motivasi belajar (X2). Sedangkan variabel terikatnya prestasi belajar siswa (Y) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Bojonegoro yang berjumlah 292 siswa dan sampelnya sebesar 70 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster Proportional Random Sampling. Dari pengolahan data melalui uji hipotesis dapat diketahui bahwa pada variabel pemanfaatan fasilitas belajar (X1) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar terbukti besaran probabilitas (Sig) t pada variabel pemanfaatan fasilitas belajar (X1) adalah 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada variabel motivasi belajar secara parsial juga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar dengan besaran probabilitas (Sig) t pada variabel motivasi belajar (X1) adalah 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sedangkan secara simultan berdasarkan dari hasil uji F diketahui besaran probabilitas (Sig.) F 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa pemanfaatan fasilitas belajar dan motivasi belajar terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Bojonegoro. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya meneliti pemanfaatan fasilitas belajar dan motivasi belajar saja yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, tetapi masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti faktor guru sebagai pendidik harus mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan dengan metode pembelajaran kooperatif, kemampuan IQ siswa ataupun keadaan kehidupan ekonomi serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga hasil penelitian lebih reliable dan dapat memperkuat teori serta penemuan yang telah ada sebelumnya.

Perancangan dan pembuatan alat pemantau putaran mesin, kecepatan dan suhu mesin digital sepeda motor 4 tak silinder tunggal / Jeppy Chandra Juna

 

ABSTRAK Chandra, Jeppy J. 2008. Perancangan dan Pembuatan Alat Pemantau Putaran Mesin, Kecepatan dan Suhu Mesin Digital Sepeda Motor 4 Tak Silinder Tunggal. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Partono, M. Pd. (II) Drs. Yoto S.T., M.Pd.,M.M. Kata Kunci: Putaran dan suhu mesin sepeda motor, Sensor suhu LM35, Analog to Digital Converter, Optocoupler, Mikrokontroler. Tachometer atau RPM meter, alat ini sangat membantu para pengendara untuk mengetahui dan mengontrol putaran mesin. Dimana dengan memantau putaran mesin kita akan mengetahui saatnya memindah gigi persnelling pada putaran yang tepat. Selain itu dengan adanya pemantau putaran kita akan lebih mudah dalam menyeting karburator. Penggunaan sepeda motor dengan putaran mesin tinggi dalam waktu yang lama tentu akan menyebabkan suhu mesin meningkat. Penggunaan oli dengan mutu yang buruk selain akan mempercepat ausnya komponen yang bergerak juga akan menyebabkan suhu mesin cepat meningkat pula. Settingan karburator yang tidak pas juga dapat menyebabkan suhu mesin cepat meningkat. Dengan pemasangan sebuah alat pengukur suhu maka pengendara akan mengetahui lebih dini gejala-gejala seperti diatas. Dari latar belakang diatas diperoleh rumusan masalah yaitu bagaimana menggunakan LM35 sebagai sensor panas untuk mendeteksi suhu mesin, bagaimana menggunakan optocoupler untuk mendeteksi putaran pada mesin dengan tujuan membuat alat pengukur putaran dan suhu mesin untuk sepeda motor. Metodologi penyusunan yang dipakai adalah studi literatur meliputi mencari dan memahami dasar-dasar teori komponen yang dipakai, yaitu LM35, Mikrokontroler, optocoupler, dan ADC. Kemudian perencanaan realisasi alat yang meliputi perencanaan sensor suhu dan penempatanya, ADC dan resolusinya, perencanaan optocoupler sebagai pendeteksi putaran, sistem mikrokontroler, serta penggunaan LCD sebagai penampil. Setelah alat direalisasikan maka tahap selanjutnya adalah pengujian dan pembahasan alat, dimana dari hasil pengujian didapat kesimpulan bahwa alat dapat bekerja dengan baik untuk melakukan pengukuran suhu dan putaran mesin dengan tingkat penyimpangan untuk pengukur suhu pada pengujian pertama suhu air didalam bak pemanas sebesar 0,48% dan pada pengujian kedua didalam crankcase sebesar 0,52% serta untuk pengukur putaran mesin sebesar 1,43%.

Faktor penghambat pelaksanaan mata pelajaran seni budaya dan keterampilan di Sekolah Dasar Negeri Parangargo II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Renti Selena Yohanis

 

ABSTRAK Yohanis, Renti, Selena. 2008. Faktor Penghambat Pelaksanaan Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di Sekolah Dasar Negeri Parangargo II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I).Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd, (II). Dra. Ninik Harini. Kata kunci: Faktor penghambat, Pelaksanaan Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di Sekolah Dasar adalah mata pelajaran yang memuat tentang materi ajar seni. Di SDN Parangargo II pada pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan tidak maksimal. Guru hanya memberi tugas menggambar pada siswa dan guru mengajak siswa bernyanyi sehingga timbul persepsi dari siswa bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah menggambar dan menyanyi. Dalam kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Berbasis Satuan Pendidikan), materi ajar dapat dikembangkan oleh sekolah masing- masing sesuia dengan fasilitas yang dimiliki sekolah dan setiap sekolah dapat mengembangkan minimal satu bidang seni. Adapun tujuan penelitian adalah : 1. Untuk mengetahui pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di SDN Parangargo II, 2. Untuk mengetahui faktor penghambat pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di SDN Parangargo II, 3. Untuk mengetahui usaha apa yang dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di SDN Parangargo II. Penelitian ini dilakukan di SDN Parangargo II yang terletak di jalan Juwetmanting no 2 Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Subyek penelitian adalah guru kelas I sampai dengan guru kelas VI, siswa, dan Kepala Sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan pendekatan yang digunakan pendekatan fenomenologi.Kehadiran peneliti di tempat penelitian sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Data dikumpulkan oleh peneliti melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di SDN Parangargo II melalui tiga tahap yaitu persiapan dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, tahap pelaksanaan yang meliputi pelaksanaan sesuai jadwal, materi ajar, metode, media dan evaluasi. Faktor penghambat pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan meliputi faktor penghambat dari guru, dari siswa, sarana dan prasarana. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat telah dilakukan dari sekolah yaitu usaha guru kelas dan kebijakan yang diambil Kepala Sekolah. Dari luar sekolah adalah usaha yang dilakukan oleh orang tua siswa dalam mengatasi faktor penghambat yang ada. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan dapat dijadikan masukan bagi guru kelas khusus di SDN Parangargo II untuk memilih metode yang tepat dan menggunakan media ajar. Dengan penelitian ini juga disarankan kepada guru SDN Parangargo II untuk lebih dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah dengan maksimal

Analisis rasio keuangan daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Trenggalek periode anggaran 2004-2006 / Nurlita Sukmandari

 

ABSTRAK Pemerintah Daerah sebagai lembaga tertinggi di tingkat Kabupaten/Kota, pada era dimana adanya tuntutan pemberian Otonomi Daerah dari Pemerintah Pusat, memiliki tugas mengelola sumber daya daerah yang ada secara efisien untuk membiayai kegiatan rumah tangga daerahnya dalam rangka mewujudkan kemandirian daerah. Otonomi Daerah memberikan keleluasaan bagi Pemerintah Daerah dalam mengelola kekayaan yang ada untuk mencapai tujuan yang ungin dicapai sesuai dengan kepentingan, prioritas, dan potensi daerah yang bersangkutan. Salah satu aspek dari Pemerintah Daerah yang harus diatur secara hati-hati adalah pengelolaan keuangan daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu bentuk dari pengelolaan keuangan daerah. Anggaran keuangan daerah merupakan tulang punggung dari pembangunan daerah. Dari anggaran keuangan daerah tersebut dapat diketahui arah pembangunan daerah dan kinerja Pemerintah Daerah selama periode anggaran. Hasil dari penulisan ini adalah: (1) angka rasio dari rasio-rasio keuangan daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Trenggalek, (2) implementasi angka-angka rasio keuangan tersebut pada daerah Kabupaten Trenggalek. Dari uraian di atas, dapat disarankan (1) untuk meningkatkan tingkat kemandirian daerah, Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek harus meningkatkan jumlha penerimaan PAD, (2) jumlah penerimaan PAD dapat ditingkatkan dengan meningkatkan jumlah penerimaan pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama dari PAD, (3) pajak daerah dan retribusi daerah dapat dioptimalkan pemerimaannya dengan memberlakukan kebijakan-kebijakan tentang pajak dan retribusi daerah, (4) untuk meningkatkan efisiensi belanja dan menekan pertumbuhan belanja, maka harus dipertimbangkan antara manfaat yang akan diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan/belanja tersebut.

Evaluasi sistem pengendalian intern terhadap prosedur penyaluran kredit gadai pada Perum Pegadaian Cabang Wlingi / Fery Erdiana

 

Pegadaian sebagai salah satu lembaga keuangan non Bank yang ada di Indonesia telah turut serta dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian negara dan pendapatan masyarakat melalui aktivitas pembiayaan berdasarkan hukum gadai. Salah satu produk dari Pegadaian yaitu KCA ( Kredit Cepat dan Aman ) merupakan layanan kredit yang memberikan uang pinjaman berdasarkan barang jaminan berupa barang- barang perhiasan, barang elektronik, sepeda, kendaraan bermotor dan barang berharga lainnya. Dari hasil penelitian di lapangan dapat diketahui bahwa Perum Pegadaian Cabang Wlingi telah menjalankan prosedur pemberian dan pelunasan kredit gadai sesuai dengan Pedoman Operasional Kantor Cabang. Selain itu Perum Pegadaian Cabang Wlingi telah menjalankan sistem pengendalian intern yang cukup efektif dengan adanya pemisahan tugas, otorisasi atas transaksi, dokumen-dokumen yang memadai serta praktik kerja yang sehat sehingga tujuan sistem pengendalian intern dalam mengamankan aktiva, mengecek ketelitian dan kecermatan data akuntansi, meningkatkan efisiensi serta mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen dapat tercapai. Dalam pelaksanaan prosedur pemberian dan pelunasan kredit gadai masih terdapat beberapa kelemahan diantaranya manajer sebagian besar terjun langsung dalam pemberian dan pelunasan kredit gadai dan melaksanakan tugas yang bukan menjadi kewenangnya. Penaksir selain menaksir barang jaminan juga berwenang memproses data ke dalam komputer. Slip pelunasan dari kasir dibuat rangkap satu. Kasir berwenang membuat catatan pelunasan uang pinjaman ke dalam buku pelunasan. Dari kesimpulan yang ada disarankan agar pengendalian intern lebih diefektifkan lagi terutama dalam pemisahan tugas dengan memisahkan petugas administrasi dengan fungsi lain, bagian pemroses data ke dalam komputer terpisah dengan fungsi penaksir, slip pelunasan dibuat rangkap dua, kasir tidak berwenang mencatat buku pelunasan tetapi hanya membuat laporan harian kas. Selain itu Pegadaian Cabang Wlingi perlu melakukan tindakan pengamanan untuk mengakses data di dalam komputer dengan membuat password khusus bagi petugas yang berwenang mengoperasikannya serta memperluas promosi yang dilakukan, khususnya di daerah pedesaan.

Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja melalui komitmen organisasi (studi pada pabrik gula Djombang Baru) / Betty Puspa Wardhani

 

ABSTRAK Wardhani, Betty Puspa. 2009. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan melalui Komitmen Organisasi(Studi Kasus Pada Pabrik Gula Djombang Baru) Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Drs. I Nyoman Saputra M.Si (II) Madziatul Churiyah S.Pd, M.M. Kata kunci: Budaya Organisasi, Kinerja Karyawan dan Komitmen Organisasi Salah satu kunci keberhasilan suatu perusahaan terletak pada sumber daya manusianya. Di dalam usaha kebutuhan sumber daya manusia yang cerdas dan terampil merupakan tuntutan yang harus dipenuhi, dengan sumber daya manusia yang berkualitas diharapkan dapat membawa perusahaan ke arah kemajuan dan kesuksesan. Untuk memenuhi tujuan tersebut maka perusahaan harus meningkatkan kinerja karyawan, dalam usaha meningkatkan kinerja karyawan perlu memperhatikan komitmen organisasi dan budaya organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara: (1) budaya organisasi terhadap komitmen organisasi, (2) budaya organisasi terhadap kinerja karyawan, (3) komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan, (4) budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui komitmen organisasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah Explanatory research yaitu menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yang dipilih adalah karyawan PG Djombang Baru 275 orang. Pengambilan sampel penelitian ana dilakukan dengan menggunakan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan rumus slovin sehingga sampel yang digunakan adalah sebanyak 75 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu variabel bebas (independent variable) adalah budaya organisasi (X), variabel intervening komitmen organisasi (Z). dan variabel terikat (dependent variabel) adalah kinerja karyawan (Y). Hasil dari analisis yang didapat melalui penyebaran kuisioner menunjukkan bahwa: (1). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara variabel budaya organisasi terrhadap komitmen organisasi PG Djombang Baru Jombang sebesar 0,713, (2). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara variabel budaya organisasi terhadap kinerja karyawan PG Djombang baru Jombang sebesar 0,272, (3). Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan PG Djombang Baru sebesar 0,750, (4). Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara variabel budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui komitmen organisasi PG Djombang Baru sebesar 1,463. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) bagi perusahaan: (a)membudayakan nilai yang ada dalam organisasi dengan mengkomunikasikan nilai-nilai budaya kepada kartawan sehingga tercipta kondisi kerja yang nyaman. (b) pengukuran terhadap kinerja hendaknya dilakukan setiap periode tertentu untuk mengetahui tingkat kinerja ii karyawan dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki kinerja karyawan yang buruk dan mempertahankan kinerja yanga baik untuk mencapai tujuan perusahaan. (c) hendaknya meningkatkan upaya untuk mempertahankan karyawan karena dilihat dari penelitian ini hasilnya cukup baik, yang bisa dilakukan dengan cara memberikan penghargaan, pujian, peningkatan gaji dan sebagainya kepada karyawan yang berprestasi. (2) bagi karyawan: melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur perusahaan dan standar yang telah ditetapkan sehingga kinerja tetap baik. (3) bagi peneliti selanjutnya: menambah lebih banyak variabel bebas yang bisa berpengaruh terhadap kinerja karyawan seperti: kompensasi, motivasi, kedisiplinan, dsb.

Pengaruh lingkungan keluarga dan fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa (studi pada siswa kelas XII Program Keahlian APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Margetwoe Erly Ferindra

 

ABSTRAK Ferindra, Margetwoe Erly. 2008. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Fasilitas Belajar Di Rumah Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Studi pada Siswa Kelas XII Program Keahlian APK Di SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Program Studi Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen,Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.Sarbini, (2) Imam Bukhori, S.Pd,M.M Kata kunci : Lingkungan Keluarga, Fasilitas Belajar Di Rumah, Prestasi BelajarSiswaDalam kehidupan suatu Negara yang modern, pendidikan memegangperanan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Negara, karenaperanan pendidikan besar artinya bagi kemajuan bangsa dan Negara. Untuk meningkatkan pendidikan, masyarakat biasanya menyerahkan pada sekolah. Tetapi sebenarnya pusat pendidikan yang utama dan pertama adalahkeluarga. Lingkungan keluarga adalah salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Keluarga merupakan sumber pendidikan yang utama karena segala sesuatu tentang pengetahuan dan kecerdasan manusia yang diperoleh pertama-tama dari orang tua dan anggota keluarga sendiri. Keluarga harus ikut bertanggung jawab terhadap kelancaran pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah fasilitas belajar dirumah. Untuk mencapai prestasi belajar dibutuhkan fasilitas belajar dirumah yang sangat mendukung dan mutlak dibutuhkan. Semakinlengkap fasilitas belajar dirumah semakin bisa belajar dengan baik.Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan lingkungan keluarga siswa kelas XII APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang, (2) untuk mendeskripsikan fasilitas belajar dirumah siswa kelas XII APK SMK Muhammadiyah 2 Malang, (3) untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa kelas XII APK SMK Muhammadiyah 2 Malang, (4) untuk menganalisa pengaruh lingkungan keluarga dan fasilitas belajar dirumah terhadap prestasi belajar siswa kelas XII APK SMK Muhammadiyah 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Analisa deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan kondisi lingkungan keluarga sebagai variabel X1, kondisi fasilitas belajar dirumah sebagai variabel X2, dan prestasi belajar siswa sebagai variabel Y. Metode regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga (X1) dan fasilitas belajar dirumah (X2) terhadap prestasi belajar siswa kelas XII APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang yang berjumlah 42 siswa. Penentuan sampel dengan cara purposive random sampling dan menggunakan rumus slovin sehingga sampel berjumlah 30 siswa. Pengumpulan data dengan menggunakan angket dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai Nopember. Dari hasil penelitian ini, menggambarkan bahwa lingkungan keluarga siswa kelas XII APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang sebagian besar atau sebanyak 18 (60%) menunjukkan lingkungan keluarga mendukung terhadap prestasi belajar. Fasilitas belajar dirumah siswa kelas XII APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang sebagian besar atau sebanyak 17 (56,7%) menunjukkan fasilitas belajar dirumah mendukung terhadap prestasi belajar. Prestasi belajar siswa kelas XII APK SMK Muhammadiyah 2 Malang sebanyak 22 (73,2%) siswa dari 30 siswa prestasi belajarnya cukup baik. Lingkungan keluarga secara parsial mempengaruhi prestasi belajar siswa di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 3,376 > ttabel 1,701 dengan sig t 0,002 <  0,1. Fasilitas belajar dirumah secara parsial mempengaruhi prestasi belajar siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 2,942 > ttabel 1,701 dengan sig t 0,007 <  0,1. Lingkungan keluarga dan fasilitas belajar dirumah secara simultan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai Fhitung 17,371 > Ftabel 2,511 dengan signifikansi 0,000 < 0,1. Besarnya R square adalah 0,563. Hal ini berarti prestasi belajar siswa (Y) dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga (X1) dan fasilitas belajar dirumah (X2) sebesar 56,3%, sedangkan sisanya 43,7% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Dari hasil penelitian ini penulis mengharapkan kepada pihak sekolah agar meningkatkan komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan orang tua siswa, karena antara pihak sekolah dan orang tua memiliki keterikatan yang erat dengan prestasi belajar siswa. Guru khususnya wali kelas hendaknya harus bisa bekerjasama dengan orang tua/wali murid untuk memberikan motivasi belajar kepada siswa untuk meningkatkan prestasi belajar. Orang tua diharapkan memberikan perhatikan dan motivasi serta melakukan pemantauan dalam kegiatan belajar anak dan tidak menyerahkan masalah pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, sehingga akan terdapat kesamaan antara tujuan sekolah dan keluarga dalam mendukung prestasi belajar siswa. Orang tua sebisa mungkin harus dapat memenuhi segala fasilitas dan kebutuhan belajar dirumah anak-anaknya, agar mereka dapat belajar dengan baik sehingga prestasi belajar akan meningkat. Selain itu, siswa diharuskan untuk belajar dengan rajin dan menciptakan motivasi belajar pada dirinya sendiri. Siswa juga harus bisa menggunakan sebaik mungkin fasilitas belajar yang sudah ada baik di rumah maupun di sekolah.

Sejarah dan dinamika fungsi arsitektur Indis Jambe Dawe (Hotel Kartika Wijaya) di Kota Batu serta muatan edukasinya / Yenny Paramita Sari Krisna

 

Bangunan Indis merupakan bangunan kuno yang didirikan pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda sejak awal abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 (1940-an). Tidak semua bangunan Indis menyimpan peristiwa sejarah yang penting, namun keberadaannya perlu dijaga sebagai bukti sejarah yang penting bagi perkembangan dunia pendidikan. Bangunan Indis ini banyak tersebar di daerah Kota Batu dalam kondisi yang beragam. Salah satu bangunan Indis di Kota Batu yang terawat dan menjadi menyimpan peristiwa sejarah adalah bangunan Jambe Dawe yang sekarang menjadi Hotel Kartika Wijaya. Sejak dibangun pada sekitar tahun 1890 hingga sekarang bangunan ini telah mengalami perubahan fungsi sebanyak tujuh kali. Terjadinya perubahan fungsi itu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di sekitarnya. Objek penelitian ini adalah bangunan Indis Jambe Dawe (Hotel Kartika Wijaya) yang terletak di Kota Batu. Sedangkan fokus kajiannya adalah sejarah dan dinamika fungsi dari Jambe Dawe serta muatan edukasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui latar sejarah arsitektur Indis Jambe Dawe, (2)Memgetahui ragam fungsi yang pernah diemban arsitektur Indis Jambe Dawe dari masa ke masa sesuai dengan alih kepemilikan sejak tahun 1890, (3)Menjelaskan korelasi antara alih kepemilikan dan alih fungsi Jambe Dawe dari masa ke masa serta dampaknya terhadap eksisitensi bangunan, (4)Menjelaskan muatan edukasi yang terkandung dalam sejarah dan dinamika fungsi arsitektur Indis Jambe Dawe dalam hubungannya dalam arti luas. Penelitian ini merupakan penelitian historis dengan langkah-langkah: (1)pemilihan topik, (2)pengumpulan sumber atau heuristik, (3)kritik, (4)interpretasi, (5)penulisan atau historiografi. Dalam melakukan analisis untuk interpretasi, penelitian menggunakan ilmu bantu arkeologi yang terdiri dari analisis morfologi, analisis teknologi, analisis gaya, analisis kontekstual dan analisis perbandingan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)Jambe Dawe merupakan bangunan kuno yang memiliki nilai sejarah. Pada saat pertama kali didirikan tahun 1890-an ia berfungsi sebagai villa, (2)Jambe Dawe dalam perkembangannya kemudian berfungsi sebagai rumah tinggal, kamp intenir, Markas Detasemen TNI dan dapur umum, markas militer Belanda, Rumah Rakit khusus AD dan terakhir menjadi hotel, (3)Peralihan fungsi Jambe Dawe ini berdampak terhadap perubahan arsitekturnya. Meski demikian bentuk asli bangunan Induknya tetap dipertahankan, dengan alasan pelestarian benda cagar budaya, (4)di dalam peralihan fungsi dan perubahan arsitektur Jambe Dawe ini i termuat makna edukatif yang berguna baik bagi masyarakat luas maupun bagi para pelajar. Peralihan fungsi Jambe Dawe dapat menjadi pengetahuan tentang kesejarahan lokal Batu. Pelajar juga dapat mengambil Jambe Dawe sebagai salah satu contoh hasil kebudayaan yang ditinggalkan pada masa Pemerintahan Kolonial. Selanjutnya setelah mengetahui kesejarahan Jambe Dawe, diharapkan para pelajar dan masyarakat luas dapat memahami arti penting bangunan kuno, kemudian ikut berperan serta dalam melakakan pelestarian terhadapnya. Karena bangunan Indis merupakan bangunan kuno yang dapat digolongkan dalam benda cagar budaya, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Analisis deskripsi kerja dan spesifikasi jabatan kepala perpustakaan sekolah menengah pertama se-kota Malang / Mukhammad Esmed Husairi

 

ABSTRAK Husairi, Mukhammad Esmed. 2008. Analisis Deskripsi Kerja dan Spesifikasi Jabatan Kepala Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama Se-Kota Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd., (II) Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Kata Kunci: Deskripsi Kerja, Spesifikasi Jabatan, Perpustakaan Sekolah. Perpustakaan sekolah sangat berperan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, karena fungsi utama perpustakaan sekolah adalah sebagai penunjang kegiatan pendidikan dan pengajaran sekolah melalui upaya penyediaan, pengorganisasian dan pendayagunaan informasi pustaka bagi warga sekolah. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, maka bagaimanapun lengkapnya bahan pustaka dan sarana prasarana perpustakaan sekolah tidak akan bisa menunjang penyelenggaraan pendidikan sekolah secara maksimal. Untuk itu, kepala perpustakaan sekolah sangat berperan penting dalam pengelolaan perpustakaan dan bertugas untuk a) Melaksanakan pengadaan, b) Mengolah bahan pustaka, dan c) memberdayakan bahan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi kerja Kepala Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang secara rinci dan dimensi tugas paling dominan yang dikerjakan Kepala Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah kuisioner/angket. Analisis data yang dipergunakan adalah analisis data kuantitatif dengan menggunakan analisis faktor eksploratori dan analisis deksiptif. Hasil penelitian telah ditemukan 7 (tujuh) konsep mengenai deskripsi kerja kepala perpustakaan yang dikelompokkan menjadi tujuh faktor/variabel meliputi: 1) faktor mengelola layanan perpustakaan, 2) faktor mengelola sarana dan tata ruang perpustakaan, 3) faktor mengelola administrasi personalia perpustakaan, 4) faktor mengelola pengorganisasian koleksi, 5) faktor mengelola pengembangan dan pengadaan bahan pustaka, 6) faktor mengelola promosi perpustakaan dan bimbingan minat baca, 7) faktor mengelola pelestarian dan perawatan koleksi perpustakaan. Masing-masing faktor/variabel terdiri dari deskripsi kerja kepala perpustakaan yang telah dirinci sesuai pengelompokkannya, sedangkan dimensi kerja yang paling dominan dikerjakan oleh kepala perpustakaan Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang adalah tugas sebagai pengelola layanan perpustakaan. Atas dasar kesimpulan dari hasil penelitian, saran-saran yang dikemukakan adalah sebagai berikut: (1) Kepala Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama Se-Kota Malang disarankan untuk selalu memberikan pelayanan perpustakaan yang terbaik bagi para pengunjung, dengan menyediakan jenis layanan perpustakaan yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan pengunjung, yang dilengkapi dengan sistem layanan yang modern dengan pengembangan komputerisasi yang dapat mempermudah pengunjung dalam mencari bahan pustaka, serta menerapkan tata tertib dalam pelayanan perpustakaan yang telah ditentukan sebelumnya dengan sebaik-baiknya; (2) Kepala Sekolah Menengah Pertama Se-Kota Malang hendaknya senantiasa melakukan pembinaan bagi tenaga pustakawan melalui berbagai pelatihan mengenai ketatausahaan perpustakaan, dan sebagainya sehingga kinerja mereka bisa lebih ditingkatkan lebih profesional; (3) perpustakaan SMP se-Kota Malang, terutama di SMP-SMP yang berada di daerah pinggiran agar lebih memperhatikan kondisi perpustakaan sekolah baik pengadaan bahan pustaka yang menjadi koleksi perpustakan, kualitas fisik, kualitas sarana penunjang pembelajaran serta kualitas tenaga-tenaga pengajarnya, sehingga tidak terlalu jauh tertinggal dengan perpustakaan di SMP-SMP yang berada di daerah perkotaan; (4) Universitas Negeri Malang dan Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan, seminar kepala perpustakaan sekolah agar pekerjaan yang dilaksanakan dapat dengan baik dan penuh semangat dijalankan untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal sehingga mereka dapat meningkatkan mutu dan kualitas mereka sebagai kepala perpustakaan sekolah dalam turut memajukan pendidikan dan memperlancar program belajar mengajar melalui penyediaan bahan pustaka secara lebih profesional; (5) Dinas Pendidikan Kota Malang hendaknya melakukan penilaian atas spesifikasi jabatan dari calon kepala perpustakaan sekolah yang akan ditugaskan, sehingga mereka yang terpilih menjadi kepala perpustakaan sekolah mempunyai mutu dan kualitas kerja yang tinggi demi kemajuan pendidikan di sekolahnya; (6) para peneliti dan akademisi yang berkecimpung dalam Bidang Perpustakaan, khususnya pada kajian teori deskripsi kerja kepala perpustakaan, hendaknya melakukan penelitian lebih mendalam terhadap temuan deskripsi kerja kepala perpustakaan ini dengan cara melakukan penelitian baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif serta tidak menggunakan satu macam alat pengumpul data saja, misalnya melakukan wawancara dan partisipasi langsung. Di samping itu temuan-temuan penelitian ini dapat dijadikan wacana pengembangan teori-teori jabatan kepala perpustakaan agar bisa mengembangkan fungsi perpustakaan secara optimal bagi seluruh warga sekolah sebagai pengguna perpustakaan.

Pengaruh program sertifikasi guru terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja guru SMA Negeri se-kota Malang / Mika Marsely

 

ABSTRAK Marsely, Mika. 2008. Pengaruh Program Sertifikasi Guru Terhadap Kesejahteraan dan Motivasi Kerja Guru SMA Negeri se-Kota Malang. Skripsi. Jurusan Akuntansi. Program Studi Pendidikan Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Puji Handayati, S.E, M.M, Ak Kata Kunci: Sertifikasi Guru, Kesejahteraan, Motivasi Kerja Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk selalu meningkatkan profesionalismenya demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka peningkatan kemampuan profesional guru perlu dilakukan sertifikasi. Tujuan dari program sertifikasi yaitu untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru. Selain itu juga untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Dengan adanya peningkatan kesejahteraan tersebut, diharapkan guru bisa lebih termotivasi untuk melaksanakan pekerjaannya. Karena beban guru untuk memikirkan kebutuhan hidupnya sudah sedikit terkurangi dan guru jadi mempunyai waktu utuk mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu penelitian ini membahas tentang bagaimana pengaruh program sertifikasi terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja guru yang mempunyai tujuan sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui pengaruh secara langsung program sertifikasi terhadap kesejahteraan guru SMA Negeri se-Kota Malang. 2) Untuk mengetahui pengaruh secara langsung kesejahteraan guru terhadap motivasi kerja guru SMA Negeri se-Kota Malang. 3) Untuk mengetahui secara langsung pengaruh program sertifikasi terhadap motivasi kerja guru SMA Negeri se-Kota Malang dan 4). Untuk mengetahui pengaruh tidak langsung program sertifikasi terhadp motivasi kerja guru melalui kesejahteraan guru SMA Negeri se-Kota Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi (explanatory research). Analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Variabel dalam penelitian ini meliputi: program sertifikasi (X) sebagai variabel bebas dan kesejahteraan (Y1) dan motivasi kerja (Y2) sebagai variabel terikatnya. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMAN se Kota Malang yang lulus sertifikai dari Tahap II yaitu sebanyak 74 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive smpling, yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 57 orang, yaitu para guru yang sudah lulus sertifikasi, menerima sertifikat pendidik dan telah menerima tunjangan profesi satu kali lipat gaji pokok. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket (kuesioner), dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan ada pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara program sertifikasi terhadap kesejahteraan guru SMAN se-Kota Malang. Hal ini terbukti dari hasil analisis diperoleh thitung = 8,225 yang lebih besar dari ttabel = 2,0025. Dan untuk variabel kesejahteraan guru juga berpengaruh secara langsung yang positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru SMAN se-Kota Malang. Hal ini terbukti dari hasil analisis diperoleh thitung = 6,848 yang lebih besar dari ttabel 2,0025. Sedangkan untuk variabel program sertifikasi juga berpengaruh secara langsung yang positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru SMAN se-Kota Malang. Hal ini terbukti dari hasil analisis diperoleh thitung = 4,107 yang lebih besar dari ttabel 2,0025. Sementara itu, program sertifikasi lebih baik mempengaruhi motivasi kerja guru secara tidak langsung melalui kesejahteraan guru yang memiliki nilai sebesar 0,504 daripada langsung mempengaruhi motivasi kerja guru yang memiliki nilai lebbih rendah sebesar 0,484. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan mengacu pada hasil temuan yang menyatakan program sertifikasi guru berpengaruh positif terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja guru adalah hendaknya pemerintah terus mengadakan sosialisasi program sertifikasi guru dan segera merealisasi gaji guru yang masih tertunda. Dan Bapak/Ibu guru hendaknya dapat lebih meningkatkan motivasinya untuk mengajar sehingga mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dan bagi peneliti selanjutnya yang sejenis, hendaknya lebih memperbesar ukuran sample dan populasi dan lebih mengembangkan kuesionernya agar permasalahan yang dikaji lebih mendetail.

Pengaruh profitabilitas dan arus kas operasi terhadap return saham (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2007) / Grezy Nia Sahara

 

ABSTRAK Sahara, Grezy Nia. 2008. Pengaruh Profitabilitas dan Arus Kas Operasi terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2005-2007, Fakultas Ekonomi, Unversitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mulyoso, S.E., M.Si., dan pembimbing (II) Ely Siswato S. Sos, M.M. Kata Kunci : profitabilitas, arus kas operasi, return saham. Motif investor dalam menanamkan modalnya dalam bentuk saham adalah untuk mendapatkan nilai tambah dari kegiatannya berupa Return saham. Oleh karena itu investor harus membuat pertimbangan-pertimbangan dalan melakukan investasi. Peran investor melakukan pertimbangan keputusannya dengan melihat laporan keuangan perusahaan sebagai sarana membaca kondisi perusahaan yang akan dituju untuk melakukan investasi. Laporan keuangan tersebut berisi informasi tentang profitabilitas dan arus kas perusahaan yang nantinya akan berpengaruh terhadap return saham. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi profitabilitas, arus kas operasi terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam kriteria 50 Biggets Market Capitalization, untuk mengetahui secara simultan dan parsial variabel profitabilitas dan arus kas operasi terhadap return saham. Data yang digunakan adalah data sekunder yakni laporan keuangan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2005-2007 sedangkan pengambilan sampel berdasarkan daftar perusahaan yang termasuk dalam 50 Biggets Market Capitalization yang dilakukan dengan metode purposive sampling dan dihasilkan 13 perusahaan yang memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 15.0 for windows. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh profitabilitas dan arus kas operasi baik secara parsial maupun secara simultan terhadap return saham. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada taraf signifikansi 5% secara parsial ada pengaruh yang signifikan antara profitabilitas terhadap return saham dengan sub variabel dari profitabilitas yang dominan adalah ROA dan tidak ada pengaruh yang signifikan antara arus kas operasi terhadap return saham serta secara simultan ada pengaruh antara profitabilitas dan arus kas operasi terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang menggunakan variabel lain misalnya dividen, rasio-rasio keuangan lain baik sebagai variabel terikat ataupun variabel bebas.

Pengaruh iklan dan perilaku konsumtif terhadap pengambilan keputusan membeli HP Sony Ericsson pada remaja di Malang / Dwi Irmayani

 

ABSTRAK Irmayani, Dwi. 2009. Pengaruh iklan dan perilaku konsumtif terhadap pengambilan keputusan membeli Handphone Sony Ericsson pada remaja di Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.si., (2) Dyah Sulistiyorini, M.Psi. Kata Kunci : iklan, perilaku konsumtif, pengambilan keputusan membeli Banyaknya merek HP menuntut produsen berkompetisi untuk meningkatkan omset penjualan. Pengambilan keputusan membeli HP Sony Ericsson adalah mutlak menjadi kewenangan seorang konsumen, namun tidak lepas dari kemungkinan dapat disebabkan oleh beberapa pengaruh, terutama penayangan iklan dan perilaku konsumtif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh iklan dan perilaku konsumtif terhadap pengambilan keputusan membeli Handphone Sony Ericsson pada remaja di Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan kausal relationship pada 87 orang subyek pemilik HP Sony Ericsson sebagai total sampel di SMAN 4 Malang. Data Iklan diperoleh dengan kuesioner iklan (validitas internal item ≥ 0,307; α 0,897), data perilaku konsumtif diperoleh dengan skala perilaku konsumtif (validitas internal item ≥ 0,213; α 0,572) dan data pengambilan keputusan membeli diperoleh dengan kuesioner pengambilan keputusan membeli (Validitas internal item ≥ 0,278; α 780), dan dianalisis menggunakan uji regresi ganda yang dilakukan dengan program SPSS 14 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh iklan terhadap pengambilan keputusan membeli Handphone Sony Ericsson pada remaja di Malang [R²: 0,351; F: 45,926; p: 0,000 < 0,05; beta: 0,592; y = 7,135 + (0,592X1)], terdapat pengaruh perilaku konsumtif terhadap pengambilan keputusan membeli Handphone Sony Ericsson pada remaja di Malang [R²: 0,248; F: 28,102; p: 0,000 < 0,05; y = -1,35 + (0,498X2)], dan terdapat pengaruh iklan dan perilaku konsumtif terhadap pengambilan keputusan membeli Handphone Sony Ericsson pada remaja di Malang [R²: 0,434; F: 32,160; p: 0,000 < 0,05; y + - 1,635 + (0,468X1) + (0,313X2)]. Variabel iklan dan perilaku konsumtif menyumbang sebesar 41,9% dalam pengambilan keputusan membeli HP Sony Ericsson pada remaja di Malang. Berdasarkan kesimpulan penelitian, bagi remaja disarankan agar memperhatikan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian dan hasil dari pembelian yang merupakan aspek penting dalam pengambilan keputusan membeli. Bagi pemasang iklan disarankan agar menyajikan pesan iklan yang lebih mendidik karena hal itu berpengaruh terhadap pengambilan keputusan membeli para remaja. Sedangkan Bagi peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji pengambilan keputusan membeli disarankan agar melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif dengan cara menambah variabel-variabel yang mempengaruhi pengambilan keputusan membeli.

Sistem presensi karyawan menggunakan RFID / Syaiful Bahri

 

Perkembangan teknologi yang semakin maju mempermudah manusia dalam menjalankan aktivitas. Salah satu bentuk pengembangan teknologi yakni cara presensi yang dapat diakses secara otomatis. Sistem presensi sekarang ini masih dilakukan secara manual dan waktu presensinya terlalu lama, seperti presensi dengan barcode. Sistem presensi yang menggunakan barcode saat ini masih banyak kelemahannya yaitu label barcode pada permukaan yang tidak rata sulit sekali dibaca oleh scanner, arah pembacaannya juga sudah ditentukan (line of sight). Kode barcode sendiri makin lama makin terbatas jumlahnya, sehingga untuk 5 sampai 10 tahun yang akan datang barcode dinilai akan tidak efektif lagi. Dari permasalahan tersebut, diperlukan suatu teknologi baru untuk mengidentifikasi karyawan yang mempunyai banyak keunggulan yaitu pembacaan dapat dilakukan secara cepat, otomatis, dan tahan lama. Salah satu teknologi tersebut adalah RFID. RFID ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan barcode, yaitu Data yang dapat ditampung lebih banyak daripada alat bantu lainnya (kurang lebih 2000 byte). Selain itu, ukuran sangat kecil (untuk jenis pasif RFID) sehingga mudah ditempatkan dimana-mana. Bentuk dan design yang fleksiibel sehingga sangat mudah untuk dipakai di berbagai tempat, karena chip RFID dapat dibuat dari tinta khusus. Sehingga pembacaan informasi sangat mudah, karena bentuk dan bidang tidak mempengaruhi pembacaan, seperti sering terjadi pada barcode, dan magnetik. Selain itu, Jarak pembacaan yang fleksibel bergantung pada antena dan jenis chip RFID yang digunakan. Seperti contoh pembayaran pada jalan tol, penghitungan stok pada ban berjalan, dan sistem presensi yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam proyek akhir ini.

Pembelajaran model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas IX SMPN 2 Sumenep / Faizal Rahman Syah

 

ABSTRAK Faizal Rahman Syah. 2009. Pembelajaran Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Sumenep. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhardjito, M.S., (2) Sugiyanto, M.Si. Kata Kunci: Problem Based Learning, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar. Konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi dengan dunia nyata memegang peranan penting sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan hasil pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan tersebut, siswa merasakan pentingnya belajar dan makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar merupakan langkah yang tepat dalam upaya lebih mendekatkan keterkaitan antara dunia kehidupan nyata dengan materi pembelajaran. Kegiatan menghitung biaya listrik yang dibayarkan memberikan pengalaman kepada siswa mengetahui menghitung biaya listrik tersebut. Diharapakn dengan pengalaman pembelajaran tersebut dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari sehingga timbul pemahaman bagaiaman cara memamnfaatkan energi lsitrik dengan tepat. Siswa kelas IX 2 SMP Negeri 2 Sumenep dirasakan kurang aktif dalam pembelajaran dengan jumlah siswa yang cukup besar yaitu sebanyak 46 orang. Siswa akan menyampaikan pendapatnya jika mendapat instruksi atau arahan dari guru. Selain itu interaksi antar siswa masih kurang. Interaksi ini dibutuhkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa dalam berinteraksi dengan yang lain. Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang menjadikan permasalahan dalam dunia nyata sebagai langkah awal dalam pembelajaran. Hal ini selain untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran juga merupakan langkah yang tepat dalam menerapkan keterkaitan antara pembelajaran dengan dunia nyata sehingga pembelajaran yang bermakna secara fungsional dapat terlaksana. Artinya peserta didik dapat menerapkan pembelajaran dalam kehidupan nyata dan berpengaruh terhadap perilaku kehidupannya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif sebanyak dua siklus, dilakukan di SMP Negeri 2 Sumenep pada bulan November sampai Desember. Subyek yang menjadi penelitian adalah siswa kelas IX II dengan jumlah siswa sebanyak 46 orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketercapaian pelaksanaan pembelajaran model Problem Based Learning sebesar 4.5%. Kemampuan berpikir siswa meningkat sebesar 15% dengan rincian kemampuan memberikan penjelasan meningkat sebesar 10%, membangun keterampilan dasar sebesar 2%, menyimpulkan meningkat sebesar 17%, memberikan penjelasan meningkat sebesar 24%, mengatur strategi dan teknik meningkat sebesar 23%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan sebesar 18% dari 53% pada siklus I menjadi 71% pada siklus II. Dengan demikian model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa.

Hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dan pencarian sensasi dengan perilaku seksual beresiko HIV/AIDS pada mahasiswa pariwisata / Nadiya Andromeda

 

ABSTRAK Andromeda, Nadiya. 2008. Hubungan antara Pengetahuan HIV/ AIDS dan Pencarian sensasi dengan Perilaku Seksual Beresiko HIV/ AIDS pada Mahasiswa Pariwisata di Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan. Pembimbing (I) Dra. Endang Prastuti. M.Psi, Pembimbing (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M. Psi, Psikolog. Kata Kunci: Pengetahuan, pencarian sensasi, perilaku, HIV/ AIDS, mahasiswa. Secara teoritis, perilaku seksual yang beresiko terjangkiti HIV/ AIDS dapat diramalkan dengan mengetahui tingkat pengetahuan HIV/ AIDS dan traits pencarian sensasi. Tingkat pengetahuan tentang HIV yang kurang memadai dan traits pencarian sensasi yang tinggi tentunya akan diikuti oleh perilaku seksual beresiko pula. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan pengetahuan mahasiswa pariwisata di Malang tentang HIV/AIDS. 2) Untuk mendeskripsikan pencarian sensasi-nya 3) Mendeskripsikan perilaku seksual beresiko terjangkiti HIV/AIDS pada mahasiswa pariwisata. 4) Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan mahasiswa pariwisata tentang HIV/ AIDS dengan perilaku seksual beresiko HIV/ AIDS. 5) Mengetahui hubungan antara tingkat pencarian sensasi mahasiswa pariwisata dengan perilaku seksual beresiko HIV/AIDS. 6) Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang HIV dan tingkat pencarian sensasi dengan perilaku seksual beresiko terjangkiti HIV/ AIDS mahasiswa pariwisata. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Pencarian sensasi, sedangkan variabel terikatnya adalah perilaku seksual beresiko HIV/ AIDS. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif korelasional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengetahun tentang HIV/ AIDS, skala pencarian sensasi dan skala perilaku seksual beresiko HIV/ AIDS. Tes pengetahuan HIV memiliki indeks diskriminasi yang berkisar antara 0,23- 0,95 dengan indeks kesukaran item yang berkisar antara 0,225- 0,95 dengan reliabilitas sebasar 0,740. Skala pencarian sensasi memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,000- 0,692 dengan nilai reliabilitas 0,806. Skala perilaku seksual beresiko HIV/ AIDS -0,260 - 0,797 dengan nilai reliabilitas0, 932. Prosedur sampling penelitian ini adalah disproportionate stratified random sampling yaitu populasi akan diambil sampel secara acak dari strata yang berbeda. Sampel yang digunakan berjumlah 63 mahasiswa. Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif korelasional. Analisis korelasional dengan menggunakan rumus product moment Pearson dan Mulptiple regression. Hasil penelitian menunjukkan 1) Tidak ada korelasi negatif antara pengetahuan tentang HIV dengan perilaku seksual beresiko HIV/AIDS pada mahasiswa jurusan pariwisata dengan nilai (rxy)= – 0,045 dengan p= 0,362 > 0,05. 2) Tidak ada korelasi positif antara pencarian sensasi terhadap perilaku seksual beresiko HIV/ AIDS pada mahasiswa pariwisata. Hasilnya didapatkan korelasi dengan nilai (rxy) sebesar 0,099 dengan p= 0,220 > 0,05. 3) Tidak ada korelasi ada korelasi antara pengetahuan tentang HIV/ AIDS dan pencarian sensasi dengan perilaku seksual beresiko HIV/ AIDS mahasiswa pariwisata di Malang nilai (rxy) sebesar 0,114 dengan p= 0, 675> 0,05 Dari hasil penelitian disarankan agar peneliti selanjutnya memperhatikan atau meninjau faktor lain diluar faktor pengetahuan HIV/ AIDS dan pencarian sensasi.

Hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X pada mata diklat gambar proyeksi bangunan Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 6 Malang / A'an Puspita

 

ABSTRAK Puspita, A’an. 2008. Hubungan antara Minat Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas X pada Mata Diklat Gambar Proyeksi Bangunan Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd., (II) Drs. Bambang Widarta, M.T. Kata kunci: minat belajar, prestasi belajar. Seorang guru perlu mengetahui faktor-faktor yang dapat mendukung peningkatan prestasi belajar siswa. Diantara faktor yang mendukung adalah minat belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar siswa, dan diharapkan dapat digunakan oleh guru sebagai dasar dalam merancang metode pembelajaran yang inovatif. Penelitian ini dilakukan pada siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 6 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 6 Malang sebanyak 72 siswa yang sekaligus sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan sensus sampling. Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan korelasi Product Moment Pearson dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis data tentang minat belajar menunjukkan sebanyak 30 siswa (41,7%) memiliki minat belajar tinggi, 39 siswa (54,2%) memiliki minat belajar sedang, dan 3 siswa (4,2%) memiliki minat belajar rendah dengan skor rata-rata minat belajar siswa sebesar 71,667 pada kategori sedang. Sedangkan pada data prestasi belajar menunjukkan sebanyak 17 siswa (23,6%) memiliki prestasi belajar tinggi, dan 52 siswa (72,2%) memiliki prestasi belajar sedang, dan 3 siswa (4,2%) memiliki prestasi belajar rendah dengan nilai rata-rata prestasi belajar siswa sebesar 82,46 pada kategori sedang. Hasil korelasi Product Moment Pearson dengan program SPSS untuk menguji hipotesis menunjukkan bahwa harga r = 0,274 pada p = 0,02 < 0,05. Ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar dengan prestasi belajar. Adapun kekuatan hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar siswa tergolong lemah. Mengingat hasil penelitian menujukkan bahwa hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 6 Malang tetapi kekuatan korelasinya lemah, maka disarankan agar penelitian lebih lanjut menggunakan variabel-variabel yang masih belum diteliti antara lain tingkat kecerdasan (IQ), bakat, motivasi, kurikulum, sarana dan prasarana, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pengaruh tingkat pendidikan dan masa kerja terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN Area Pelayanan dan Jaringan Malang / Ika Mifa Geriarti

 

ABSTRAK Geriarti, Ika Mifa. 2008. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Masa Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan PT. PLN APJ Malang. Skripsi, jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Adm. Perkantoran FE Universitas Negeri Malang Pembimbing : (I) DR. Suwarni, M.Si (II) Imam Buchori, S.Pd.,M.M Kata kunci : Tingkat pendidikan, masa kerja, prestasi kerja Pendayagunaan dan pemberdayaan sumber daya yang ada merupakan faktor penentu bagi keberhasilan suatu organisasi. Manusia sebagai modal terpenting dan pennggerak utama kelancaran proses pelaksanaan kegiatan dalam organisasi, menuntut organisasi untuk mendapatkan karyawan yang berprestasi baik. Tingkat pendidikan dan masa kerja merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi kerja karyawan. Penelitian ini dilaksanakan di PT. PLN APJ Malang dengan tujuan untuk mengetahui : (1) Tingkat pendidikan, masa kerja dan prestasi kerja karyawan PT. PLN APJ Malang, (2) Pengaruh tingkat pendidikan dan masa kerja terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN APJ Malang secara partial dan simultan, (3) Variabel mana yang lebih dominan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan bagian pengelolaan di PT. PLN APJ Malang. Penelitian ini dilakukan dengan metode angket, wawancara dan dokumentasi. Adapun sampel yang diambil adalah sebanyak 48 responden dari 95 karyawan. Pengambilan sampel berdasarkan proporsional random sampling. Dalam penelitian ini pengelolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial. Dari hasil analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : (a) Kondisi tingkat pendidikan karyawan di PT. PLN APJ Malang adalah sangat tinggi. Hal ini terbukti 24 responden (50 %) tergolong memiliki tingkat pendidikan sangat tinggi (sarjana dan diploma), 22 responden (46 %) memiliki tingkat pendidikan tinggi (SMA/sederajat), 2 responden (4 %) memiliki tingkat pendidikan sedang (SMP/sederajat). (b) Kondisi masa kerja karyawan di PT. PLN APJ malang sangat tinggi, terbukti dari 19 responden (39 %) mempunyai masa kerja ≥16 tahun, 11 responden (23 %) mempunyai masa kerja 11 – 15 tahun, 8 responden (17 %) mempunyai masa kerja 6 – 10 tahun, 10 responden (21 %) mempunyai masa kerja 1 – 5 tahun. (c) Kondisi prestasi kerja karyawan PT. PLN APJ Malang tinggi. Hal ini ditunjukkan 3 responden (6 %) mempunyai prestasi kerja sangat tinggi, 45 responden (94 %) mempunyai prestasi kerja tinggi. (d) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara kondisi tingkat pendidikan terhadap prestasi kerja karyawan terbukti dari nilai sig t 0,043 <0,05, (e) secara parsial terhadap pengaruh yang signifikan antara masa kerja terhadap prestasi kerja karyawan yang di tunjukkan dengan nilai sig t 0,015 <0,05 (f) secara simultan terhadap pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan dan masa kerja terhadap prestasi kerja karyawan yang ditunjukkan oleh sig t 0,037<0,05 dan Adjusted R Square 0,098, (g) variabel yang lebih dominan berpengaruh terhadap prestasi kerja adalah variabel masa kerja yang ditunjukkan oleh t hitung yang lebih besar yaitu 0,280. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pihak perusahaan dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasi kerja yang sudah baik menjadi lebih baik lagi dengan memberikan pelatihan – pelatihan guna meningkatkan kecakapan dan kemahiran kerja serta memberikan timbal balik yang sesuai dengan masa kerja yang telah dilalui karyawan.

Pengaruh partisipasi siswa di koperasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 9 Malang / Riyanti

 

Koperasi sekolah adalah koperasi yang anggotanya para siswa atau murid-murid dari suatu sekolah, yang fungsinya sebagai wadah untuk mendidik tumbuhnya kesadaran berkoperasi di kalangan anggota. Tujuan pendirian koperasi sekolah adalah sebagai berikut : (1) mendidik menanamkan dan memelihara suatu kesadaran hidup gotong royong dan setia kawan serta jiwa demokrasi di atara para siswa, (2) memupuk dan mendorong tumbuhnya kesadaran serta semangat berkoperasi serta wirausaha siswa, (3) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berkoperasi yang berguna bagi para siswa untuk bekal terjun ke masyarakat, (4) menunjang program pembangunan pemerintah di sektor perkoperasianmelalui progran pendidikan sekolah, (5) membantu dan melayani pemenuhan kebutuhan ekonomi para siswa melalui pengembangan pelbagai kegiatan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui bagaimana partisipasi siswa di koperasi sekolah di SMA Negeri 9 Malang, (2) mengetahui bagaimana prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 9 Malang, (3) mengetahui dan menganalisis pengaruh partisipasi siswa di koperasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 9 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan IX SMA Negeri 9 Malang, dengan jumlah sampel 87 siswa. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 18-21 Nopember 2008 dengan cara pemberian kuesioner. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eks post facto dengan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tingkat partisipasi siswa di koperasi sekolah dalam bidang organisasi, bidang usaha, dan bidang modal di SMA Negeri 9 Malang adalah tinggi, yaitu sebesar 75%, (2) prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi sangat baik, yaitu sebesar 87,3%, (3) ada pengaruh positif dan signifikan antara partsisipasi siswa di koperasi sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi yaitu nilai t hitung = 9,315 > t tabel = 1,980 dan signifikansi 0,000 > 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan: (1) Bagi Kepala Sekolah : Memberikan dukungan bagi perkembangan koperasi sekolah dengan sering mengikutsertakan koperasi sekolah dalam ajang perlombaan antar koperasi sekolah, baik dalam wilayah daerah, maupun nasional, sehingga koperasi sekolah dapat berkembang lebih pesat dan menjadi laboratorium yang baik bagi siswa. (2) Bagi guru mata pelajaran ekonomi : Menggunakan koperasi sekolah sebagai wadah atau fasilitas belajar yang dapat digunakan siswa untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar ekonomi. Menggunakan koperasi sekolah sebagai laboratorium bagi siswa untuk mengenal ekonomi secara lebih dekat dan meneliti perilaku ekonomi secara lebih nyata. (3) Bagi pengurus koperasi sekolah : Meningkatkan profesionalisme sebagai pengurus koperasi sekolah dengan banyak belajar dan meminta bimbingan dan arahan pada guru pembina koperasi sekolah. (4) Bagi siswa : Meningkatkan keaktifan siswa di koperasi sekolah dengan ikut serta mengembangkan koperasi sekolah ke arah yang lebih baik lagi guna menunjang peningkatan prestasi belajar siswa pada umumnya.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (think pair share) untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran mata pelajaran penanganan tamu dan telepon (kelas X APK di SMK Negeri I Pogalan, Kabupaten Trenggal

 

Suatu model pembelajaran adalah interaksi antara guru dan siswa dalam suatu kelas. Seorang guru harus dapat menentukan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran karena salah satu kebutuhan siswa sebagai remaja yang mempunyai kebutuhan aktif menemukan, mengemukakan ide dan pendapatnya serta kebutuhan untuk berinteraksi dengan siswa yang lain. Berdasarkan informasi dari guru mata pelajaran penanganan tamu dan telepon di SMK Negeri I Pogalan, Kabupaten Trenggalek, diketahui bahwa kondisi sebagian besar siswa di kelas X APk masih belum dapat aktif dalam mengikuti Proses Belajar Mengajar (PBM) di kelas. Sebagian besar siswa masih cenderung ragu-ragu dalam berbicara mengemukakan pendapat, pertanyaan maupun gagasan. Hal ini karena para siswa masih menempuh semester awal dan juga masih sebagai siswa baru di SMK, sehingga masih membawa kebiasaan waktu di sekolah sebelumnya Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share). Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, bertukar pikiran, saling berbagi dan berinteraksi dengan siswa yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model TPS sebagai upaya meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif model TPS terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap think (berpikir), yaitu siswa diminta untuk berpikir secara individu mengenai pertanyaan yang diberikan oleh guru. Sedangkan pada tahap pair (berpasangan) siswa akan berpasangan untuk mendiskusikan jawaban yang telah dipikirkannya dan berbagi pendapat untuk memperoleh jawaban yang sempurna. Dan pada tahap share (berbagi) siswa diminta untuk mempresentasikan jawaban kelompoknya dan mendiskusikan bersama dengan semua teman sekelasnya. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan dalam 2 siklus yaitu pada bulan September-Nopember 2008. Sumber data dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, siswa kelas X APk di SMK Negeri I Pogalan, Kabupaten Trenggalek yang mengikuti proses belajar mengajar sebanyak 38 siswa serta guru mata pelajaran Penanganan Tamu dan Telepon sebagai sumber informasi saat melakukan observasi sekaligus juga sebagai observer dalam penelitian ini. Untuk hasil belajar kemampuan afektif dan kemampuan psikomotorik siswa yang diambil menjadi subjek penelitian sebanyak empat orang dengan kemampuan yang berbeda-beda, yaitu satu orang kemampuan tinggi, dua orang berkemampuan sedang dan satu orang berkemampuan rendah. Subjek yang diambil mempunyai kemampuan heterogen dengan harapan mampu mewakili semua siswa di kelas X APk. Mata pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penanganan Tamu dan Telepon. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar panduan observasi, tes, rubrik kemampuan afektif dan psikomotorik, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pembelajaran kooperatif model TPS dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa. Peningkatan keterampilan berbicara siswa dapat diamati dari jumlah siswa yang melakukan aktivitas berbicara pada siklus I sebanyak 12 siswa sedangkan pada siklus II sebanyak 16 siswa. Hasil belajar siswa meningkat pada siklus I dan siklus II. Skor rata-rata hasil tes pada kemampuan kognitif meningkat. Adapun peningkatan yang terjadi pada tes awal siklus I dengan tes siklus II adalah sebanyak 14,4% dan peningkatan pada tes akhir siklus I dengan tes siklus II adalah sebanyak 0,7%. Persentase skor untuk kemampuan afektif dan kemampuan psikomotorik pada empat subjek yang diamati secara khusus masing-masing subjek mengalami peningkatan. Untuk kemampuan afektif subjek 1 mengalami peningkatan sebanyak 6,2%. Subjek 2 mengalami peningkatan sebanyak 31,2%. Subjek 3 mengalami peningkatan sebanyak 18,8%. Subjek 4 mengalami peningkatan sebanyak 21,9%. Sedangkan pada kemampuan psikomotorik subjek 1 mengalami peningkatan sebanyak 8,4%. Subjek 2 mengalami peningkatan sebanyak 12,5%. Subjek 3 mengalami peningkatan sebanyak 16,6%. Subjek 4 mengalami peningkatan sebanyak 37,5% Dan diketahui perolehan penghitungan angket respon siswa yaitu sebanyak 57,9% siswa menyukai pembelajaran kooperatif model TPS dan sebanyak 42,1% siswa cukup menyukai pembelajaran tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS dapat meningkatkan aktivitas siswa di kelas, keterampilan berbicara dan hasil belajarnya. Adapun respon siswa terhadap pembelajaran model TPS adalah sebagian besar siswa menyukai pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar guru sebagai fasilitator harus dapat lebih memotivasi siswa agar dapat aktif dan terampil berbicara pada tahap share. Pembelajaran kooperatif model TPS dapat dipertimbangkan agar dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas karena dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa dan hasil belajarnya, serta tidak hanya diperoleh kecakapan siswa secara akademik saja melainkan juga diperoleh kecakapan sosial.

Alat pendeteksi kebocoran tabung gas elpiji berbasis mikrokontroler / Risky Herdy Wardana

 

Ada bermacam-macam jenis dan kebutuhan gas. Salah satu contoh gas yang digunakan oleh masyarakat adalah Elpiji, gas ini berbentuk cairan dan tidak berwarna yang baunya menyengat. Elpiji terbentuk dari dua macam campuran senyawa Hydrocarbon yang di kenal butana dan propana. Secara umum berat jenis gas Elpiji jauh lebih besar dari udara dan tiak mempunyai sifat pelumas terhadap metal. Ciri khas dari gas Elpiji sensitif terhadap api, mudah terbakar, tidak berbau dan berwarna, untuk mengetahui gas tersebut bocor atau tidak maka gas Elpiji di beri zat odor, yaitu Ethyl Mercaptane. Penggunaan Gas Elpiji secara umum digunakan di restoran, rumah tangga untuk memasak, rumah sakit, laboratorium. Industri yang menggunakan Elpiji sebagai bahan bakar adalah pabrik-pabrik, penyulingan, perusahaan keramik, bengkel, dan semacamnya. Elpiji jenis campuran yang dipasarkan di masyarakat merupakan bahan bakar yang mudah terbakar dan sensitif tarhadap api. Sehingga sering terjadi kejadian seperti kebakaran. Untuk menanggulangi adanya kejadian kebakaran maka diperlukan suatu alat yang dapat mendeteksi adanya gas yang bocor. Sistem ini bekerja dengan cara mendeteksi gas dari elpiji itu sendiri. Cara kerja dari sensor TGS2610 adalah sensor bekerja saat kebocoran gas elpiji dalam ruangan, perubahan suhu pada heater itu sendiri akan merubah resistansi dari sensor. Keluaran sensor akan diolah oleh pengondisi sinyal dan hasilnya akan dikonversi oleh rangkaian ADC. Output ADC akan oleh Mikrokontroller dan keluaran akhirnya akan ditampilkan pada LCD dan IC perekam sebagai alarm. Oleh karena kemampuan sensor yang sangat terbatas dalam mendeteksi kadar LPG, maka data yang nantinya akan ditampilkan pada LCD tidak dapat tepat menunjukan berapa persen kandungan alkohol dalam larutan. Hal ini bisa diatasi dengan memberikan range pada setiap kadar alkohol yang dideteksi. Kesimpulan dari perancangan sistem pendeteksi kebocoran gas Eepiji berbasisi mikrokontroller ini adalah: (1) Sistem ini mampu mendeteksi kadar elpiji dari 300 ppm hingga 1500 ppm, (2) Selang waktu sensor untuk membaca keadaan suatu ruangan butuh waktu 30 menit untuk memanaskan sensor.

Penggunaan strategi cek dan ricek untuk meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas X-5 SMA Negeri 1 Lawang tahun ajaran 2008/2009 / Dyah Ayu Larasati

 

Keterampilan menyimak selama ini sering diabaikan oleh guru. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, salah satunya adalah karena keterampilan menyimak dianggap sebagai keterampilan yang cenderung pasif. Padahal keterampilan menyimak juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang wajib dikuasai siswa, yang bersifat aktif reseptif. Karena keterampilan ini bersifat aktif reseptif, maka pembelajaran menyimak juga harus menggunakan metode atau strategi yang sesuai agar pembelajaran lebih bermakna dan tidak membosankan bagi siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyimak siswa kelas X-5 SMA Negeri I Lawang setelah menggunakan strategi Cek dan Ricek. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SMA Negeri I Lawang dengan subjek penelitian siswa kelas X-5. Jenis data yang dikumpulkan adalah nilai hasil pemahaman kegiatan menyimak yang didukung oleh data catatan lapangan serta data hasil refleksi peneliti bersama guru. Berdasarkan tindakan yang telah dilaksanakan pada sikluis I dan 2, dapat dideskripsikan proses penerapan strategi Cek dan Ricek dalam pembelajaran menyimak yang meliputi tahap pembangunan skemata, tahap aplikasi strategi, dan tahap unjuk kerja. Tahap pertama adalah tahap pembangunan skemata. Dalam tahap ini siswa diberi informasi mengenai kerangka teoritis materi yang akan dipelajari pada kegiatan pembelajaran serta tata cara penerapan strategi cek dan ricek. Siswa dan Guru juga melakukan sesi tanya jawab seputar materi dan penerapan strategi yang akan dilakukan sebentar lagi. Tahap kedua, yaitu tahap aplikasi strategi, di mana siswa mulai melakukan penerapan strategi dengan cara saling mengajukan pertanyaan pada siswa di kelompok lain dan berusaha mendapatkan skor tertinggi. Dan ketiga, tahap unjuk kerja. Pada tahap ini siswa mengerjakan post tes yang di dalamnya terdapat bentuk uraian yang memuat indikator KD yang harus dicapai siswa, antara lain menemukan hal-hal penting dalam artikel, menyarikan ide-ide pokok, dan menyusun kesimpulan dari artikel yang telah disimak Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. Sebagian besar siswa berhasil menemukan pokok-pokok informasi dengan benar serta mampu menyusun kesimpulan dengan tepat. Siswa yang memperoleh skor 81-100 sebanyak 29 orang (82,85%), skor 60-80 sebanyak 6 orang (17,14%), dan tidak ada siswa yang memperoleh skor di bawah 60. Semua siswa mengalami peningkatan keberhasilan belajar, dilihat dari nilai skor yang di atas 80. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini diantaranya adalah keterampilan menyimak siswa kelas X-5 bisa ditingkatkan dengan menggunakan strategi Cek dan Ricek, sehingga jumlah siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata keberhasilan bisa berkurang ataupun bahkan sama sekali tidak ada. Mengingat manfaat yang dapat diperoleh siswa, maka disarankan bagi guru untuk menerapkan strategi Cek dan Ricek ini untuk meningkatkan kemampuan menyimak bagi siswa yang mempunyai permasalahan yang sama. Bagi siswa, penelitian ini bisa memotivasi dan meningkatkan minat siswa pada pembelajaran menyimak.

Upaya meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas III dengan metode masyarakat belajar di SDN Sumbersari 03 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Ericca Retna Kusumawati

 

ABSTRAKSI Kusumawati, Ericca Retna. 2009. Upaya Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas III dengan Metode Masyarakat Belajar di SDN Sumberasri 03 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutansi, M.Pd. (II) Drs. Suhel Madyono, M.Pd. Kata Kunci : Kemampuan berbicara, keruntutan berbicara, kelancaran berbicara, metode Masyarakat Belajar. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menekankan beberapa aspek, dian-taranya menulis, membaca, menyimak, dan berbicara. Diantara keempat aspek tersebut, aspek berbicara merupakan aspek yang penerapanya sangat sulit karena membutuhkan keterampilan dan latihan. Kenyataan pembelajaran aspek berbicara di SDN Sumberasri 03 belum mencerminkan pembelajaran yang meningkatkan kemampuan berbicara dalam hal keruntutan dan kelancaran. Berdasarkan studi pendahuluan dalam pelaksanaan pembelajaran aspek berbicara diperoleh permasa-lahan sebagai berikut: (1) hasil belajar siswa dalam keruntutan berbicara hanya 16% siswa yang tuntas dalam belajar, (2) hasil belajar siswa dalam kelancaran berbicara hanya 21% siswa yang tuntas dalam belajar. Tujuan penelitian ini ada-lah untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam hal keruntutan dan kelancaran berbicara, serta untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa dalam lingkup masyarakat. Selain itu perlu adanya inovasi untuk meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan suatu metode. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah Masyarakat Belajar (Learning Community), yaitu suatu metode untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam suatu kumpulan atau komunitas (masyarakat). Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan kuantitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek Penelitian adalah siswa SDN Sumberasri 03 yang berjumlah 19 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan wawancara.teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analis data kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan pada hasil tes yang dilaksanakan pada masing-masing siklus. Analisis deskriptif adalah menggunakan sistem Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan dilakukan terhadap hasil belajar keseluruhan. Penelitian dilak-sanakan selama dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi, dan refleksi. Dengan pembelajaran menggunakan metode masyarakat belajar di peroleh hasil belajar yang semakin meningkat. Pada pembelajaran siklus I hasil belajar mengalami peningkatan, yaitu hasil penilaian individual secara klasikal mencapai tingkat ketuntasan 63% dan ketuntasan kelompok 60%, sedangkan dalam kelanca-ran berbicara mencapai ketuntasan individu 53% dan kelompok 60%. Pada siklus II hasil ketuntasan dalam ke-runtutan berbicara secara individual mencapai ketun-tasan 100% dan kelompok juga 100%, dan dalam kelancaran berbicara ketuntasan individu mencapai 100% dan kelompok 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode Masyarakat Belajar dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik dalam hal keruntutan dan kelancaran berbicara, selain itu peserta didik dapat mengembang-kan kemampuan berbicara dalam masyarakat. Dengan hasil yang diperoleh dalam menggunakan metode Masyarakat Belajar semakin baik, maka diharapkan metode ini dapat digunakan untuk mengembangkan materi pembelajaran yang lainnya agar pembelajaran mencapai hasil optimal.

Pembuatan busana pesta gaun hallter neck / Seviana Eka Prasetya Nugraha

 

Busana merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Busana adalah segala sesuatu yang dipakai mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk semua aksesories dan pelengkap busana yang dikenakan untuk menambah keindahan bagi pemakai busana (Shofia, 2006:1). Awal perkembangannya, busana atau pakaian dipakai sebagai pelindung tubuh dari sengatan matahari dan rasa dingin. Pada akhirnya tidak hanya kedua fungsi tersebut yang menjadi tujuan utama berbusana, tetapi busana menjadi bagian penting dari hidup manusia karena mengandung unsur etika dan estetika dalam masyarakat. Berbusana yang harmonis dan serasi akan menambah penampilan diri lebih baik. Sejalan dengan perkembangan busana, mode atau fashion selalu mengalami perubahan sesuai dengan selera dan keinginan masyarakat, dengan model yang sangat bervariasi baik bagi busana kerja, busana rumah, busana bepergian, dan busana pesta. Dalam laporan ini, penulis membuat busana pesta yang terinspirasi dari sebuah film hollywood futuristic yang berjudul the chronicles of riddick. Pengertian Busana pesta menurut sofia (2005:1) adalah busana yang dikenakan untuk ke pesta, yang disesuaikan dengan waktu dan tempat, yang dirancang khusus dengan tambahan aksesories. Busana pesta sangat menarik karena busana pesta sangat beragam mulai dari jenis dan warna bahan yang disesuaikan dengan warna kulit, karakter, bentuk tubuh pemakai busana pesta, dan disesuaikan juga dengan kesan yang ingin diciptakan oleh pemakai busana pesta. Tokoh wanita dalam film hollywood futuristic yang berjudul the chronicles of riddick mengenakan busana yang terdiri atas bustier dengan beberapa garis hias, terdapat ballyn pada semua potongan garis hiasnya dan tutup tarik pada bagian belakang, dipadukan rok susun dengan panjang sampai batas lutut. Berdasarkan tokoh tersebut, maka timbul ide untuk membuat busana pesta yang dimodifikasi dari busana yang dikenakan tokoh wanita dari film chronicles of riddick menjadi busana pesta gaun halter neck yang tampak cantik dan menarik. Gambar busana dari film chronicles of riddick dapat dilihat pada lampiran 1. Menurut Poespo (2003:32) model gaun halter neck adalah model gaun yang memiliki panel tinggi pada bagian depan gaun atau blus tersebut, ditalikan di bagian belakang leher, dengan membiarkan punggung dan pundak telanjang (bare shoulder), Busana pesta gaun halter neck ini, terdiri atas bustier dengan potongan ditengah yang berbentuk seperti huruf V sampai batas pinggang dengan beberapa garis hias. Terdapat ballyn pada semua potongan garis hiasnya, dan tutup tarik pada bagian belakang. Pada gaun ini terdapat tali panjang pada bagian depan gaun, ditalikan di bagian belakang leher, dengan membiarkan punggung dan pundak telanjang (bare shoulder). Gaun ini dipadukan dengan rok bawah bertingkat-tingkat yang diselipkan busa berbentuk kelopak bunga sebanyak 14 buah dengan panjang rok sampai pertengahan betis. Busana ini berbahan utama kain chiffon casionic dengan satin sebagai bahan untuk melengkapi kekurangan dari sifat kain chiffon yang transparant Pada busana pesta ini penulis memilih bahan chiffon karena menurut Poespo (2005:77), chiffon mempunyai sifat kuat, menyerap, menahan panas badan, tdak kusut, tidak lapuk, tidak mudah terkena jamur dan kotoran, melangsai., ringan, halus dan warna kain akan berubah warna jika terkena sinar matahari terlalu lama. Tekstur bahan bagus, lembut, dan berkilau. Sifat inilah yang cocok dipakai untuk busana pesta gaun halter neck. Selain bahan utama diatas juga digunakan bahan penunjang lain berupa kain satin jepang, tavetta dyed, tule net shinning, dan vuring silky jepang, Bahan penunjang ini digunakan untuk melengkapi kekurangan dari kain chiffon casionik yang mempunyai sifat transparan. Dengan menggunakan bahan utama chiffon casionik, membuat busana pesta tersebut terlihat anggun dan penuh pesona. Busana pesta gaun halter neck diatas dihiasi pula dengan lekapan burci untuk menambah kesan cantik pada si pemakai. Alasan penulis memakai lekapan burci, supaya busana terkesan glamour dan feminim. Pembuatan busana pesta gaun halter neck diharapkan dapat mampu menarik minat para remaja yang penuh ekspresi dan menyukai busana pesta yang lain. Pembuatan busana pesta gaun halter neck akan dibahas pada bab II.

Pengaruh desain kemasan (packaging) tek kotak jasmine tea Ultrajaya 300 ml terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Sandradevi Crisdiana Sahatta

 

ABSTRAK Sahatta, Sandradevi C. 2008. Pengaruh Desain Kemasan (Packaging) Teh Kotak Jasmine Tea Ultrajaya 300 ml Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang). Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. F. Danardana Murwani, M. M., (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M. Si. Kata kunci: desain kemasan, keputusan pembelian konsumen, Teh kotak jasmine tea Ultrajaya 300 ml Teh Kotak Jasmine Tea Ultrajaya ukuran 300 ml sangat praktis dan ekonomis, praktis yang berarti kemasan tersebut mudah dibuka, mudah dibawa, mudah disimpan dan isi yang sesuai kebutuhan konsumen untuk sekali minum. Kemasan yang ekonomis dengan harga yang relatif terjangkau oleh konsumen hanya Rp 2.000,00 (Dua Ribu rupiah) per bungkusnya membuat produk ini mempunyai pangsa pasar yang luas jika dibandingkan dengan Teh Kotak rasa buah maupun Teh Bunga dengan produsen yang sama maupun Teh Kotak Sosro dengan produsen yang berbeda. Sebuah kemasan yang baik mampu mengajak pembeli untuk membeli barang tersebut. Oleh karena itu, diadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh desain kemasan Teh Kotak Jasmine Tea Ultrajaya 300 ml terhadap keputusan pembelian konsumen dengan sampel mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan menggunakan variabel bebas yaitu desain fungsional kemasan (X1), desain grafis kemasan (X2) dan etika kemasan (X3) serta variabel terikat (Y) yaitu keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bersifat korelasi kausalitas yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel atau lebih dengan menjelaskan hubungan antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis serta memberi gambaran yang jelas tentang keadaan-keadaan objek penelitian. Pengambilan data menggunakan teknik sampling purposive kepada 80 responden. Untuk memenuhi tujuan dari penelitian ini, maka digunakan analisis statistik deskriptif atas data yang diperoleh dari penyebaran angket sebagai instrumen penelitian dan analisis statistik inferensial untuk mengetahui pengaruh ketiga unsur kemasan secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian konsumen. Berdasarkan hasil analisis data secara parsial diketahui bahwa pengaruh variabel desain fungsional kemasan (X1) terhadap pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β1 = 0,385 dan nilai t Hitung = 3,987 dengan tingkat signifikansi 0.000. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel desain fungsional kemasan terhadap pengambilan keputusan konsumen. Pengaruh variabel desain grafis kemasan (X2) terhadap pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β1 = 0.247 dan nilai t Hitung = 3,001 dengan tingkat signifikansi 0.004. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel desain grafis kemasan terhadap pengambilan keputusan konsumen. Pengaruh variabel etika kemasan (X3) terhadap pengambilan keputusan konsumen diperoleh nilai β1 = 0.223 dan nilai t Hitung = 2,334 dengan tingkat signifikansi 0.022. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel etika kemasan terhadap pengambilan keputusan konsumen. Sedangkan berdasarkan hasil analisis data secara simultan diketahui bahwa dari hasil uji ANOVA atau F Test diperoleh nilai F Hitung = 20,064 dengan tingkat signifikansi F 0.000 < 0.05 sehingga terbukti bahwa desain fungsional, desain grafis dan etika kemasan secara simultan berpengaruh terhadap Pengambilan Keputusan Konsumen Teh Kotak jasmine Tea Ultrajaya 300 ml. Selain itu dari hasil regresi model summary diketahui bahwa nilai Adj. R Square 0,420. Hal ini berarti 42% pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi oleh desain kemasan yang terdiri dari desain fungsional kemasan, desain grafis kemasan dan etika kemasan. Sedangkan sisanya 68% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Dari ketiga variabel bebas tersebut, desain fungsional kemasan memberikan pengaruh yang dominan terhadap keputusan pengambilan konsumen dengan nilai β = 0,385 dan besarnya sumbangan efektif sebesar 23%. Hal ini karena kemasan terebut memberikan jaminan akan kualitas bahan kemasan minuman dan kepraktisan kemasan yang berarti kemasan mudah dibuka, mudah dibawa, mudah disimpan dan isinya yang sesuai dengan kebutuhan konsumen untuk sekali minum. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan hendaknya produsen terus mengembangkan kemasan produknya lebih inovatif sebagai strategi untuk memperbesar volume penjualan diantaranya dengan melakukan diferensiasi kemasan produk atau perubahan desain kemasan yang lebih menarik sesuai saran yang diberikan konsumen dari kuesioner. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden setuju menganggap bahwa desain fungsional kemasan, desain grafis kemasan dan etika kemasan Teh Kotak Jasmine Tea Ultrajaya 300 ml sudah cukup baik meskipun hanya berpengaruh sebesar 42% terhadap tipe keputusan pembelian konsumen.

Peran ICT sebagai media pembelajaran pada kompetensi prepare and produce curry paste (ITHHINA02AIS) di SMK Negeri 1 Batu / Ratih Kusuma Wardhani

 

ABSTRAK Wardhani, Ratih Kusuma. 2009. Peran ICT sebagai Media Pembelajaran Pada Kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) di SMK Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Siswanto, M.A (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata Kunci: ICT, Media Pembelajaran, ITHHINA02AIS Information and Communication Technology (ICT) digunakan untuk pembelajaran tutorial apabila digunakan untuk menyampaikan informasi atau bahan ajar. Penggunaan ICT untuk pembelajaran berlaku apabila ICT digunakan sebagai media untuk mencari dan mengakses informasi dari internet. Interconnecting Network (Internet) merupakan sumber informasi untuk mencari, menyebarkan segala ilmu pengetahuan keseluruh penjuru dunia dengan mudah. Dengan demikian, segala informasi yang berkaitan dengan pembelajaran di internet itu dapat dijadikan sumber belajar dan sumber informasi. Proses Pembelajaran adalah kegiatan dari pelaksanaan proses belajar mengajar untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, yang salah satunya ditunjang dengan adanya media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat peraga atau alat bantu untuk membantu menyampaikan pesan belajar kepada siswa. ICT berperan sebagai media penunjang dalam pembelajaran pada kompetensi Menyiapkan, Membuat Bumbu dan Mengolah Masakan Prepare and Produce Curry Paste dengan kode (ITHHINA02AIS). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tentang (1) Peran ICT sebagai media pembelajaran pada kompetensi keahlian Restoran, (2) Pemanfaatan ICT sebagai media pembelajaran pada kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (3) Faktor pendukung dalam ICT sebagai media pembelajaran pada kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (4) Faktor penghambat dalam ICT sebagai media pembelajaran pada kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (5) Cara mengatasi hambatan-hambatan dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran pada kompetensi Prepare and Produce Curry Paste. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 1 Batu, pada tanggal 16 -26 Desember 2008. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian siswa kelas X Keahlian Restoran yang berjumlah 44 siswa dan 6 orang guru produktif. Teknik pengambilan data menggunakan angket, wawancara dan dokumentasi. Analisis hasil penelitian menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Peran ICT sebagai media pembelajaran berperan pada kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) bagi guru dan siswa, sebagai alat mengakses informasi dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. (2) Pemanfaatan ICT sebagai Media Pembelajaran pada Kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) di SMK Negeri 1 Batu, sangat berrmanfaat bagi guru untuk mengakses informasi, sehingga informasi dapat memperkaya pengetahuan tentang klasifikasi bumbu, macam-macam bumbu, teknik pengolahan dan teknik penyimpanan makanan Indonesia. Bagi siswa ICT, sebagai sumber informasi dan sumber belajar, karena sebagian besar (65,91%) siswa menyatakan pemanfaatan ICT dalam mengakses informasi khususnya tentang klasifikasi bumbu, sebagian besar (70,45%) tentang macam-macam bumbu, sebagian besar (61,36%) tentang teknik pembuatan makanan Indonesia, sebagian besar (65,91%) tentang cara penyajian masakan Indonesia. Sebagian besar (68,81%) siswa menyatakan pemanfaatan ICT dalam mengakses informasi tentang teknik penyimpanan bumbu dan rempah, sedangkan sebagian lainnya (59,09%) tentang menggarnish hidangan pada kompetensi Prepare and Produce Curry Paste di SMK Negeri 1 Batu kelas X Keahlian Restoran. (3) Faktor pendukung pemanfaatan ICT sebagai Media Pembelajaran pada Kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) di SMK Negeri 1 Batu adalah: sumber informasi dan sumber belajar bagi guru dan siswa. Selain itu dapat meningkatkan motivasi siswa pada proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. (4) Faktor penghambat pemanfaatan ICT sebagai Media Pembelajaran pada Kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) di SMK Negeri 1 Batu adalah, koneksi yang lama dan kurangnya fasilitas baik ruang maupun komputer dan kelengkapannya.(5) Cara mengatasi hambatan-hambatan dalam penggunaan ICT sebagai Media Pembelajaran pada Kompetensi Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) di SMK Negeri 1 Batu, melibatakan berbagai pihak untuk meningkatkan proses belajar mengajar lebih baik dan sesuai dengan tujuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian tentang pengembangan ICT sebagai media utama pembelajaran jarak jauh bagi guru dan siswa pada kompetensi Keahlian Restoran di SMK Negeri 1 Batu.   SUMMARY Wardhani, Ratih Kusuma. 2009. ICT’s functions for Education Tool in Competence Prepare and Produce Curry Paste (ITHHINA02AIS) at 1 Batu State Vocation School. Skripsi, Major Industrial Technology. Technique Faculty, State University of Malang. 1st Guidance Drs. Siswanto, M.A, 2nd Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Key Word: ICT, Education tool, ITHHINA02AIS Information and Communication Technology (ICT) is use for tutorial education when it using for material of lesson or information. ICT will be useful if it using for education tool to access and search some information from internet. Interconnecting Network (Internet) is information resource for search and share skill or knowledge to all a part of the world easily. So, all about information which relate with education in internet, can be using for education and information resource. Education learning is activity from teaching and learning change behavior more better with support by education tool. Education learning is visual tool to help telling information to the students. ICT ‘s function is for visual tool in education competence Prepare and Produce Curry Paste with code (ITHHINA02AIS). The research’s purpose is descriptive about (1st) ICT function for education tool in Restaurant skill competence, (2nd) ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste (3th) Support factor in ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste (4th) Inhibitor factor in ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste (5th) The method to solve obstacle as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste. The research has been doing in 1 Batu State Vocation School, at 16th-26th December 2008. Descriptive of research is using qualitative and quantitative analysis. Subject research is the student class X Restaurant skill which has 44 students and 6 active teachers. Technique interpretation data use questionnaire, interview and documentation. The analysis result research use percentage analysis. The research result is: (1st) ICT’s functions for education tool take a part in competence Prepare and Produce Curry Paste for teacher and students, to education and information resource. (2nd)The using of ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste at 1 Batu State Vocation School is very useful for teacher to access information, so it can increase teacher’s knowledge in spices classification, kind of spices, method of cooking, and saving technique Indonesian food. For the students, ICT as information and education resource, because more of it (65,91%) the students declare that using of ICT in access information specially about classification of spices, (70,45%) about kind of spices, (61,36%) about method of cooking Indonesian food, (65,91%) about prepare and produce Indonesian food. More of (68,81%) students declare that using of ICT in information access about saving technique spices, but (59,09%) about garnish for dish service in competence Prepare and Produce Curry Paste at 1 Batu State Vocation School class X Restaurant skill. (3th) Support factor in ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste at 1 Batu State Vocation School is information and education resource for teacher and students. Then beside of that it can increase student’s motivation in education learning which active, creative, effective and gratify. (4th) Inhibitor factor in ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste at 1 Batu State Vocation School is slow connecting, minimum facility as like room and computer accessories. (5th) The method to solve obstacle in using of ICT as education tool in competence Prepare and Produce Curry Paste at 1 Batu State Vocation School, would involve partner for increase teaching and learning process better and as like the purpose. According to research result, I suggest to do research in the next time about ITC’s increase as primary tool long distance education for teacher and student at competence Restaurant skill in 1 Batu State Vocation School.

Evaluasi kinerja trayek pada angkutan kota Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) Kota Malang / Andi Novan Setiawan

 

Kenyataan di lapangan angkutan umum jalur AMG ini sering menurunkan dan menaikkan penumpang di sembarang tempat, selain itu banyak lagi yang menyebabkan pergerakan transportasi terganggu diantaranya: (1) tidak mentaati rambu-rambu lalu lintas, (2) ngetem di sembarang tempat, (3) memperlambat perjalanan di tempat yang padat, dan (4) berhenti mendadak, sehingga mengganggu laju mobil maupun sepeda motor di belakangnya. Angkutan umum jalur AMG yang ngetem di sembarang tempat serta memperlambat perjalanan akan mempengaruhi waktu tunggu penumpang, waktu perjalanan, serta kecepatan perjalanan. Melihat kondisi tersebut maka perlu adanya suatu analisa mengenai kinerja angkutan umum untuk trayek AMG. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja angkutan umum jalur AMG. Pengambilan data yang digunakan untuk penelitian ini diantaranya: (1) survei on Board yaitu untuk mendapatkan jumlah naik turunnya penumpang, jumlah penumpang, waktu perjalanan, dan hambatan perjalanan, (2) survei off Board untuk mendapatkan jumlah penumpang dan headway, (3) lay over time untuk mendapatkan waktu henti angkutan di terminal. Penelitian dilakukan mulai 06.00-18.00. Selain data riel di lapangan yang digunakan dalam penelitian ini ada juga data pendukung yang diperlukan, diantaranya (1) panjang rute, (2) jumlah angkutan, dan (3) rute angkutan umum. Hasil penelitian ini diperoleh: (1) waktu tunggu penumpang rata-rata dari terminal Arjosari ke terminal Gadang adalah 0,32 menit dan dari terminal Gadang ke terminal Arjosari adalah 0,26 menit, (2) waktu perjalanan rata-rata dari terminal Arjosari ke terminal Gadang 39,54 menit dan dari terminal Gadang ke terminal Arjosari 44,03 menit, (3) kecepatan rata-rata dari terminal Arjosari ke terminal Gadang adalah 18 km/jam dan untuk arah terminal Gadang ke terminal Arjosari adalah 20 km/jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kinerja angkutan umum jalur AMG perlu perbaikan terutama dari sisi headway, waktu tunggu penumpang dan waktu henti di terminal. Saran tentang penelitian angkutan umum jalur AMG adalah perlu penataan jadwal keberangkatan angkutan umum, sehingga nantinya tidak berimbas pada waktu tunggu penumpang, waktu perjalanan, serta kecepatan kendaraan.

Analisis faktor-faktor motivasional mahasiswa dalam berorganisasi intra-kampus di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Haima Chairinna Widya Sanca

 

Mahasiswa sebagai salah satu komponen Perguruan Tinggi atau civitas academica perlu dibekali pengetahuan organisasi dan kepemimpinan demi kelanjutan pembangunan bangsa. Oleh karena itu, dalam melaksanakan atau menjalankan suatu organisasi harus dilandasi minat, motivasi dan apresiasi yang tinggi untuk memperoleh hasil yang maksimal. Namun pada kenyataannya yang terjadi, mahasiswa yang memiliki minat, motivasi dan apresiasi terhadap Ormawa sangatlah sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang sebegitu banyaknya, terutama Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) yang berjumlah 5566 mahasiswa, sedangkan yang aktif Ormawa hanya berjumlah 406 mahasiswa saja. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: (1) Memperoleh deskripsi objektif mengenai faktor-faktor apa saja yang secara signifikan melatarbelakangi keaktifan mahasisiwa dalam organisasi mahasiswa intra-kampus di FIP UM. (2) Mengetahui seberapa besar sumbangan faktor-faktor kebutuhan rasa aman, kebutuhan eksistensi, kebutuhan sosial, kebutuhan aktualisasi, kebutuhan harapan, kebutuhan keadilan, kebutuhan penguatan dan kebutuhan kekuasaan yang melatarbelakangi keaktifan mahasiswa dalam Ormawa Intra-kampus di FIP UM. Penelitian ini mengunakan rancangan analisis faktor eksploratori yang bermaksud meringkas faktor-faktor motivasional mahasiswa dalam berorganisasi intra-kampus di FIP UM. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Aspek-aspek motivasional mahasiswa dalam Ormawa Intra-kampus di FIP UM, yaitu mendapat pujian, kebijakan yang adil, menjalin hubungan baik dengan civitas academica, pengembangan psikologis, motivasional aman secara fisik, aman secara psikologis, mendapat penghormatan, perlakuan yang memuaskan dan sepadan, mendapat posisi atau jabatan, mengenal dunia luar, mendapat penghargaan atau hadiah, mempertahankan martabat dan harga diri, mempertahankan eksistensi diri di kampus, lebih bertanggung jawab, lebih dewasa, pengembangan inetelektual, aspek motivasional, dapat direduksi atau diringkas menjadi 5 faktor yang lebih sederhana; (2) Faktor 1 : faktor pengakuan dari relasi memberikan sumbangan sebesar 14,8154%, faktor 2 : faktor kedamaian bermartabat memberikan sumbangan sebesar 13,936%; faktor 3 : faktor advantasi status memberikan sumbangan sebesar 10,441%; faktor 4 : faktor eksistensi diri memberikan sumbangan sebesar 10,077%; faktor 5 : faktor kematangan pribadi memberikan sumbangan sebesar 9,951%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada fungsionaris organisasi kemahasiswaan, para Pembantu Dekan III dan para pembina Himpunan Mahasiswa Jurusan untuk mendukung diselenggarakannya wahana dalam bentuk event kompetitif atau olimpiade seperti Lomba Debat, Lomba Pidato, dan lomba-lomba lainnya pada level jurusan, fakultas, dan kampus. Dengan lomba-lomba tersebut potensi mahasiswa yang beraneka macam dapat diakomodasi dan diberi peluang untuk memperoleh pengakuan dari individu mahasiswa lainnya. Disarankan kepada Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III FIP UM agar mempermudah akses para aktivis mahasiswa untuk memanfaatkan sekretariat organisasi kemahasiswaan. Hal ini bisa dilakukan melalui penghapusan batasan waktu dalam pemanfaatan sekretariat organisasi kemahasiswaan dan jika perlu membangun sekretariat organisasi kemahasiswaan baru yang tidak menjadi satu dengan gedung perkuliahan seperti sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas. Dengan demikian mahasiswa akan merasakan kedamaian bermartabat karena bisa menempati dan memanfaatkan rumah aktivis (sekretariat organisasi kemahasiswaan) tanpa adanya hambatan. Disarankan kepada para pejabat struktural Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang agar selalu memberikan respon positif terhadap setiap kegiatan organisasi kemahasiswaan di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan dukungan moril maupun materiil. Dukungan moril bisa diberikan dalam bentuk datangnya para pejabat struktural fakultas (Dekan, Pembantu Dekan III dan pembina Himpunan Mahasiswa Jurusan) untuk memberikan sambutan hangat ataupun do’a restu terhadap kelancaran kegiatan. Dukungan materiil dapat berupa dukungan pendanaan yang memadai terhadap setiap kegiatan yang diselenggarakan. Selain itu, adanya pemberian “beasiswa unggulan aktivis” merupakan salah satu bentuk dukungan materiil bagi para mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi sehingga budaya tersebut perlu dipertahankan. Disarankan kepada para pejabat struktural FIP UM utuk memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengadakan kegiatan yang meliputi kegiatan bakat minat, penalaran dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini merupakan bentuk pengakuan terhadap eksistensi diri para mahasiswa yang aktif dalam organisasi intra-kampus di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan. Kepada peneliti selanjutnya yang tertarik mendalami hasil penelitian ini disarankan agar melakukan penelitian secara lebih komprehensif. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian yang lain (misalnya, deskriptif kualitatif, deksriptif komparatif ataupun deskriptif korelasioanal) dan menambah variabel-variabel lainnya.

Reading mimicry in Dreamgirls the movie / Mawar Firdausi

 

ABSTRACT Firdausi, Mawar.2009. Reading Mimicry in Dreamgirls the Movie. Thesis. English Language and Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: M. Nasrul Chotib, M. Hum. Key terms: slavery, Sambo, inferiority complex, mimicry, resistance. Slavery had accompanied historical development of Afro-Americans in the United States. The most dangerous version of slavery had been the ‘humanist’ way in which the slaves were guaranteed of all their primitive needs for psychological and security to build a distinct personality that is docile, childlike and dependent: Sambo. The result of Sambo-like personalities was hegemonic process of identification to the reality imposed upon the Afro-American. As their reasoning capacity grew paralyzed, it was becoming more guided and could not generate logic other than that introjected into them. This dumb-founding produced inferiority complex that led Afro-American to take Whites as their ‘natural’ master. The consequence of such complex is not merely adjustment, but also elimination of characteristics pertaining to their identity. The Blacks start mimicking their master as to be equally being recognized. This phenomenon is known as mimicry and becomes this thesis major issue. Mimicry is defined as the desire for a recognizable other, to be the same but not quite. However, mimicry does not necessarily take place in linear way. As Bhabha asserts, mimicry is constructed around an ambivalence which eventually creates resemblance and, at once, menace toward the colonial. The process of mimicry is revealed through film studies and post-colonialist approaches. The object of analysis is Dreamgirls the movie. The discussion reveals that the movie presents two types of mimicry: those who prefer to stay ‘original’ and those who welcome ‘change.’ The first Blacks are intoxicated and delusioned by their specific false consciousness that unconsciously puts the identity of the Whites as the superior. The more they alienate and separate, the more they continually make the Whites as the only model of negation. Eventually, they would become a simple ‘not White,’ instead of original Blacks. While resisting the idea to alter identity, these Blacks are actually menacing the power of the Whites. The rejection represents a conscious effort, showing recognition of position, thus, the ‘self’, as they manage to acknowledge their existence consciously. Hence, they are no longer a mere overpowered individual yet possessing a potential self-power that constitutes threat to the colonial power. Once accumulated, it could represent that the massive Afro-Americans’ collective consciousness is able to withstand colonial power. The second Blacks also falsely believe that Whites are better, thus correlatively think that ‘blackness’ is worse. The more they compels their way to become whiter, the more they become the Fanonian character of “black skin, white mask.” Once accepting this character as subject, the Whites are not only admitting the whiteness of this character, but also the character’s remaining blackness. Inside, this character represents incessant threat that corrupts and infects colonial power. Conclusively, despite being manipulated by colonial power, subjects of mimicry are also capable of retaliating back by doing mockery toward the authority of the colonial. What is left from mimicry is the impure, artificial identity that presents mimicry as a form of a menace than resemblance, or of a rupture than consolidation toward the original identity, both for the slave-Blacks and the master-Whites.

Perbedaan kinerja keuangan bank (metode Camels) sebelum dan sesudah listing di BEI (Bursa Efek Indonesia) periode 2000-2007 / Akhmad Rijal

 

Penilaian kinerja keuangan sangat penting dilakukan baik oleh manajemen, pemegang saham, pemerintah maupun stockholder yang lain karena menyangkut distribusi kesejahteraan diantara mereka. Metode CAMELS merupakan metode yang terlihat lebih mengarah pada ukuran-ukuran kinerja perusahaan secara internal, mulai dari permodalan, kekayaan, manajemen, keuntungan, likuiditas dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan sebelum dan sesudah listing. Kinerja keuangan bank dinilai dengan mengggunakan CAMELS, yang terdiri dari 6 aspek, Capital, Asset, Management, Earnings, Liquidity dan Sensitivity to market risk. Subyek penelitian ini, adalah bank-bank yang terdaftar di BEI selama tahun 2000-2007. Jenis penelitian ini adalah event study dengan menggunakan metode purposive sampling, diperoleh 8 bank dijadikan sampel. Periode penelitian selam 4 tahun sebelum dan setelah listing. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji (paired two sample fair mean test). Pada aspek permodalan setelah menjadi perusahaan publik bank mampu menutupi kerugian tetapi pada uji hipotesis tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah listing. Kualitas aset bank menunjukkan perbaikan dengan indikasi jumlah aktiva produktif yang telah diklasifikasikan menurun, tetapi pada uji hipotesis tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah listing. Kinerja manajemen semakin baik pada permodalan, kualitas aktiva, manajemen umum, rentabilitas dan likuiditas untuk memperoleh laba tetapi pada uji hipotesis tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah listing. Rentabilitas menunjukkan penggunaan dana semakin efektif untuk menghasilkan laba. tetapi pada uji hipotesis tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah listing. Likuiditas bank menunjukkan kemampuan membayar hutang pada uji hipotesis terdapat perbedaan kinerja keuangan bank sebelum dan sesudah listing. Sensitivitas menunjukkan mengusahakan kemampuan bank dalam mengantisipasi interest yang diterima oleh bank lebih kecil dibanding dengan interest yang dibayar meningkat, hasil uji hipotesis terdapat perbedaan sebelum dan sesudah listing. Penelitian berikutnya diharapkan dapat memperbaiki pengukuran kinerja variabel kinerja bank. Penggunaan rasio CAMELS dengan pola BI diharapkan dapat dilakukan sepenuhnya. Untuk itu diperlukan adanya perbaikan terhadap format dan transparasi pelaporan keuangan.

Pembelajaran menulis puisi melalui strategi B-G-T (baca gunting tempel) teks cerita pendek (studi kasus pada siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Malang) / Ulfie Mufida

 

Salah satu aspek yang diajarkan dalam pembelajaran sastra adalah menulis puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi, siswa diharapkan mampu menuliskan apa yang dirasa, atau apa yang dipikirkan dalam bahasa yang indah yang mengandung bahasa kiasan, dan berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis sastra yang diajarkan di kelas VIII. Untuk itu, dibutuhkan strategi pembelajaran yang memudahkan siswa dalam menulis puisi. Strategi B-G-T (Baca-Gunting-Tempel) teks cerpen dipandang dapat memudahkan siswa dalam menulis puisi. Strategi B-G-T merupakan strategi pembelajaran yang diawali dengan tahap membaca. Dalam kegiatan ini siswa menangkap objek penulisan puisi yaitu berupa teks cerpen yang kaya akan diksi yang akan digunakan dalam menulis puisi. Pada tahap ini, siswa memilih diksi teks cerpen. Diksi tersebut dijadikan diksi puisi, kemudian diksi tersebut digunting. Setelah menggunting, dilakukan kegiatan menempel. Pada tahap ini siswa menyusun diksi yang telah mereka gunting menjadi puisi yang menarik secara kreatif. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pemanfaatan teks cerpen dalam pembelajaran menulis puisi dengan strategi B-G-T yang meliputi, (1) proses pembelajaran, (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis puisi, (3) hasil karya tulis puisi siswa, dan (4) kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis puisi di kelasVIII SMP. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif, dengan rancangan studi kasus. Data dalam penelitian ini adalah informasi yang berupa kata-kata, tindakan, dan dokumen hasil karya tulis puisi siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII C dan VIII D SMP 19 Malang sebanyak 71 orang siswa. Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu sumber data manusia dan sumber data nonmanusia. Sumber data manusia adalah siswa dan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sumber data nonmanusia berupa peristiwa berlangsungnya pembelajaran menulis puisi serta dokumen yang berupa puisi hasil karya siswa. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Berdasarkan hasil analisis data tentang kegiatan dan hasil pembelajaran menulis puisi melalui strategi B-G-T teks cerpen disimpulkan empat temuan sebagai berikut. Pertama, tahap pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa dibagi dalam tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Dalam kegiatan awal, guru melakukan kegiatan apersepsi tentang puisi, dan siswa memaparkan skemata yang dimiliki tentang puisi, bahasa puisi, dan pengalaman siswa dalam menulis puisi. Dalam kegiatan inti, siswa melakukan tahapan menulis puisi melalui strategi B-G-T dengan memanfaatkan teks cerpen, dengan melakukan kegiatan membaca, menulis, dan menggunting teks cerpen. Tahap membaca dilakukan siswa dengan membaca dua buah cerpen. Siswa menentukan tema dan diksi cerpen yang akan digunakan untuk menulis puisi. Setelah itu, siswa menulis puisi berdasarkan tema yang telah ditentukan, dan menulis puisi menggunakan diksi yang telah dipilih. Tahap menggunting dilakukan dengan kegiatan menggunting diksi yang terdapat dalam teks cerpen. Tahap selanjutnya adalah menempel, yaitu menempelkan diksi yang telah digunting untuk disusun menjadi sebuah puisi berdasarkan puisi yang telah ditulis sebelumnya. Kegiatan penutup yang dilakukan adalah kegiatan refleksi. Dalam kegiatan ini, guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kedua, aktivitas siswa yang mendukung pembelajaran yaitu, (1) siswa tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi, (2) siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, (3) melaksanakan instruksi dan arahan yang diberikan oleh guru, (4) memusatkan perhatian pada penjelasan yang diberikan oleh guru, (5) memusatkan perhatian pada tugas yang diberikan oleh guru, (6) memberikan perhatiannya pada puisi yang dibacakan oleh siswa, (7) bersungguhsungguh dalam menyelesaikan tugas, (8) tugas dikumpulkan tepat waktu, dan (9) mengerjakan tugas dengan baik. Ketiga, hasil karya tulis puisi siswa dengan strategi B-G-T pada teks cerpen menggunakan berbagai tema, yaitu tema kerinduan (26%), penantian pada kekasih (26%), ungkapan rasa cinta (17.5%), dan sisanya adalah bertema ketulusan, kenangan pada kekasih, serta tema keindahan alam. Diksi digunakan sebagai pembentuk majas dan citraan. Majas yang digunakan siswa dalam puisinya yaitu personifikasi, metonimia, sinekdok, metafora, dan simile. Citraan yang muncul dalam puisi siswa yaitu citra penglihatan, rabaan, gerak, dan pendengaran. Makna yang disampaikan oleh penulis puisi adalah ungkapan perasaan atas permasalahan yang dihadapi. Tipografi yang digunakan siswa dalam menuliskan puisinya yaitu model zig-zag, model tidak beraturan dan model konvensional. Keempat, dalam pelaksanaan pembelajaran menulis puisi melalui strategi BG- T siswa mengalami kesulitan. Kesulitan yang dihadapi oleh siswa yaitu, (1) kesulitan menggali ide yang akan dikembangkan menjadi sebuah puisi, (2) kesulitan mencari diksi dalam cerpen yang telah dibaca, (3) kesulitan merangkai diksi yang telah didapat menjadi sebuah puisi, dan (4) belum mengetahui cara menulis puisi yang benar. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP untuk memberikan bacaan tentang puisi lebih banyak, dan mengenalkan puisi lebih banyak kepada siswa. Kepada peneliti lain disarankan untuk menggunakan strategi ini dalam penelitian yang lain. Kepada badan penyelenggara pendidikan, seperti sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang berbasis aktivitas siswa, dan menyediakan bahan pustaka yang berkaitan dengan puisi.

Hubungan Intensitas Promosi, Kualitas layanan Pelatihan dan Keberhasilan Penempatan Lulusan Dengan Minat Menjadi Siewa BLKI di Jawa Timur / oleh Susilo Edhi Hartono

 

Peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD di kelas IV SDN Turi 1 Kota Blitar / Rida Tridiana

 

Berdasarkan hasil observasi sementara, pembelajaran IPS di sekolah dasar ini menunjukkan rendahnya prestasi belajar dapat dilihat Salah satu indicator rendahnya prestasi belajar tersebut dapat kita dilihat dari nilai ulangan formatif atau ulangan harian maupun ulangan semester. Dalam 3 tiga kali ulangan harian pada standart kompetensi mendeskripsikan kenampakan alam dilingkungan kabupaten/kota dan provinsi serta hubungannya dengan keragaman social budaya, dengan kompetensi memajukan jenis dan persebaran alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi dilingkunbgan setempat hasil evaluasi belaja siswa rata-rata mendapat nilai 5,7 pada nilai formatif pertama, kedua mendapat 6,0 sedangkan pada formatif tiga rata-rata siswa hanya 5,8. Dan ternyata nilai ketiga formatif tersebut dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), SND Turi 1 mematik KKM rata-rata 7,5. Penelitian ini berdasarkan permasalahan (a) Bagaimana meningkatkan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model STAD? (b) Bagaimana pengaruh metode pembelajaran kooperatif model STAD terhadap prestasi belajar siswa? Tujuan dari penelitian ini adalah (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model STAD. (b) Ingin mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. Peneliti menggunakan penilaian tindakan ( action researcb )sebannyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu rancangan kegiatan, pengamatan,refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian adalah siswa kelas III. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dan basil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai dengan siklus II yaitu siklus I ( 52 %) dan Siklus II (88%). Simpulan dan penelitian ini adalah metode pembeljaran kooperatif model STAD dapat berpengaruh positif terhadap prestasi hasil belajar siswa kelas IV serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran IPS.

Pengembangan paket pembelajaran dengan model Dick, Carey & Carey pada mata pelajaran fisika bagi siswa kelas X semester 1 SMA Negeri 5 Palu Sulawesi Tengah / Emmi Sianturi

 

Abstrak: Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah mengidentifikasi dan memecahkan masalah belajar. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pembelajaran mata pelajaran fisika di SMA Negeri 5 Palu belum menggunakan bahan ajar atau buku yang dirancang khusus untuk keperluan proses pembelajaran. Oleh, karena itu dirasa perlu untuk merancang dan mengembangkan suatu paket pembelajaran fisika.Paket pembelajaran yang dikembangkan berupa mata pelajaran fisika bagi siswa kelas X semester 1 terdiri dari 3 bagian yaitu: bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa. Pengembangan paket pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan proses pembelajaran, membantu guru dalam memfasilitasi pembelajaran. Hasil uji coba ahli isi untuk bahan ajar berada dalam kategori sangat baik, hasil uji coba ahli desain untuk bahan ajar berada dalam ketegori sangat baik untuk panduan guru dalam kategori baik dan panduan siswa dalam kategori sangat baik. Hasil uji coba ahli media bahan ajar berada dalam ketegori baik, panduan guru dalam kategori sangat baik, panduan siswa sangat baik. Hasil uji coba perorangan bahan ajar terdapat 18 kesalahan dalam pengetikan, 15 kesalahan dalam penggunaan tanda baca, 5 huruf yang seharusnya huruf besar, 1 huruf yang seharusnya huruf kecil, 4 hal-hal lain yang perlu diperbaiki, hasil uji coba kelompok kecil bahan ajar dalam kategori sangat baik, panduan siswa dalam kategori sangat baik Hasil uji coba lapangan bahan ajar hasil tanggapan siswa dalam kategori sangat baik, hasil tanggapan guru dalam kategori sangat baik, panduan siswa dalam kategori sangat baik dan panduan guru dalam kategori sangat baik. Hasil pre tes dan post tes dengan derajat kebebasan 29 dan taraf signifikansi 0,05 di dapat t hitung = 19,44 lebih besar dari t tabel = 2,042, maka dapat dikatakan bahwa perbedaan mean tersebut menyakinkan atau dengan kata lain bahan ajar yang digunakan efektif.

Sistem pengisian sepeda listrik menggunakan dinamo / Novanda Tri E.

 

ABSTRAK T.E, Novanda. 2008. Sistem Pengisian Sepeda Listrik Menggunakan Dinamo.Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardji, M.Kes, (II) Retno Wulandari, S.T.,M.T. Kata kunci: dinamo, pengisian , sepeda listrik Sumber penggerak listrik adalah salah satu alternatif yang dikembangkan oleh produsen kendaraan dalam beberapa tahun terakhir, dari kendaraan listrik yang dikembangkan ternyata sepeda dan skuter listriklah yang paling sukses. Penggerak listrik mempunyai kelebihan yaitu tanpa bahan bakar dan oli serta tanpa pembakaran sehingga tidak menimbulkan polusi namun memilih kelemahan mendasar yaitu kemampuan baterai yang terbatas. Karena itu dibutuhkan sebuah instalasi pengisian yang dapat digunakan kapan saja dan di mana saja, instalasi ini menggunakan dinamo yang disambungkan ke roda selama kendaraan melaju sehingga putaran roda dapat mengisi baterai pada skuter atau sepeda listrik Desain sistem pengisian ini mengacu pada sistem pengisian sepeda motor yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pengisian sepeda listrik.Dinamo yang digunakan yaitu Dinamo AC 3 fase yang digerakkan oleh roda belakang untuk menghasilkan energi listrik, di mana besar energi listrik di sesuaikan dengan kapasitas baterai dan banyaknya baterai dalam satu box cadangan. Hasil uji coba dinamo pengisian diketahui kecepatan 5 km / jam; 20 Volt; 12 km/jam, 30 volt , 19 km/jam, 38 volt. Sedangkan daya listrik yang dihasilkan 80 watt ( 5 km/jam ); 120 watt ( 12 km/jam ) ; 152 watt (19 km/jam). Kemudian lama pengisian 5 jam (5 km/jam); 3,3 jam (12km/jam) ; 2,6 jam (19km/jam) hasil uji coba menunjukkan tegangan, daya dan lama pengisian tergantung pada kecepatan yang digunakan sepeda listrik. Berdasarkan hasil diatas diharapkan adanya pengembangan lebih lanjut dari para mahasiswa yang akan datang pada sistem pengisian ini

Uji organoleptik kulit hakaw tepung tangmien dengan substitusi tepung sagu / Eline Wijaya Rukmi

 

Hakaw merupakan salah satu jenis dimsum. Dimsum istilah dari bahasa China ( dianxin ) yang artinya adalah “ makanan kecil”. Dimsum dikonsumsi antara makan pagi dan makan siang ( brunch ) . Dimsum terdiri dari berbagai macam makanan kecil yang biasanya merupakan hidangan pendamping minum teh yang dalam bahasa China disebut yamcha. Kulit hakaw berbahan dasar tepung tangmien yang berciri khas menghasilkan adonan kulit transparan sehingga isinya di dalam dapat terlihat. Tangmien adalah pati gandum yang dalam istilah lainnya adalah starch, starch merupakan jenis karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air dingin. Biasanya digunakan untuk adonan kulit dimsum karena sifatnya yang transparan apabila diberi air panas sehinga isi didalamnya dapat terlihat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan pembuatan kulit hakaw yaitu komposisi tepung tangmien substitusi tepung sagu dengan persentase berbeda yaitu 10%, 20%, dan 30%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis meliputi kejernihan dan plastisitas.Masing masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Analisis data yang digunakan adalah analisis Sidik Ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada kejernihan dan plastisitas terhadap kulit hakaw subtitusi tepung sagu 10%,20%,dan 30% . Skor tertinggi kejernihan pada kulit hakaw substitusi 10% adalah jernih (3,63), skor tertinggi pada plastisitas ialah kulit hakaw pada substitusi 10% adalah plastis (3,38). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada tingkat kesukaan panelis terhadap kejernihan dan plastisitas kulit hakaw subtitusi tepung sagu 10%, 20%, dan 30%. Skor tertinggi pada tingkat kesukaan panelis terhadap kejernihan kulit hakaw substitusi tepung sagu 10% yaitu suka (3,56), sedangkan skor tertinggi pada tingkat kesukaan panelis terhadap plastisitas kulit hakaw substitusi tepung sagu 10% yaitu suka (3,25). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah substitusi tepung sagu dalam pembuatan kulit hakaw menghasilkan kejernihan dan tingkat plastisitas yang semakin berkurang.

Perbandingan metide membaca AL-Qur’an bagi pembelajar pemula di TKA/TPQ Masjid Quba dan Masjid Al-Amin Bareng Malang / oleh Supardi

 

Hubungan antara pendekatan pengelolaan kelas dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa di sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) se-kota Malang / Tatag Murdiawan

 

Kata kunci : pendekatan pengelolaan kelas, motivasi belajar siswa, prestasi belajar siswa. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang berdirinya suatu bangsa. Suatu bangsa tanpa pendidikan akan mudah dipengaruhi oleh bangsa lain yang bisa mengakibatkan kehancuran suatu bangsa. Guru yang berkompetensi yaitu guru yang memiliki kinerja tinggi dalam menjalankan amanah keguruannya, memiliki kreatifitas tinggi dan selalu memikirkan bagaimana siswanya dapat menguasai ilmu pengetahuan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki peranan penting dalam mencetak generasi muda yang tidak semata-mata memiliki prestasi dalam pengetahuan namun juga membekali siswanya keterampilan praktis untuk berkompetisi dalam lapangan pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) hubungan pendekatan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa di SMKN se-Kota Malang; (2) hubungan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa di SMKN se-Kota Malang; (3) hubungan pendekatan pengelolaan kelas dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa di SMKN se-Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah korelasional. Penelitian ini dilakukan di SMKN Malang (SMKN 1, SMKN 2, SMKN 3, SMKN 4, SMKN 5, SMKN 6, SMKN 8, SMKN 9, SMKN 10, SMKN 11 dan SMKN 12 Malang) dengan populasi siswa kelas X Jurusan Teknik Komputer Jaringan di SMKN Kota Malang yang berjumlah 1447 orang dan yang menjadi sampelnya berjumlah 217 orang . Teknik pengambilan sampelnya menggunakan purposive random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan Pearson Product Moment untuk uji validitas, Alpha Cronbanch untuk uji reliabilitas, korelasi dan regresi berganda untuk analisis hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa (1) terdapat hubungan yang signifikan antara pendekatan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa dengan nilai rhitung = 0,811 > rtabel = 0,133 dan nilai rsquare 65,7%; (2) terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa dengan nilai rhitung= 0,942 > rtabel= 0,133 dan nilai rsquare 88,8%; serta (3) terdapat hubungan yang signifikan antara pendekatan pengelolaan kelas dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa dengan nilai rhitung = 0,951 > rtabel= 0,133 dan nilai rsquare 90,4%.

Pelaksanaan strategi lokasi, tata letak dan atmosfer toko pada lesehan & galeri Joglo Dau Malang / Suryadani Khoiriyanti

 

Setiap perusahaan menginginkan usahanya sukses dalam persaingan. Dalam mencapai tujuan tersebut dibutuhkan suatu strategi pemasaran untuk menciptakan dan mempertahankan konsumen. Sehubungan dengan hal tersebut Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang melaksanakan salah satu strategi pemasaran yaitu dengan strategi pemilihan lokasi, tata letak dan atmosfer toko yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan. Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui: (1) Pelaksanaan strategi lokasi toko pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang, (2) Pelaksanaan strategi tata letak toko pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang, (3) Pelaksanaan strategi atmosfer toko pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang, dan (4) Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan strategi lokasi, tata letak dan atmosfer toko pada Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa (1) Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang memilih lokasi usaha di Jl. Raya Sumber Sekar Dau, Malang adalah dengan adanya beberapa pertimbangan dari aspek pemasaran antara lain harga lahan yang murah, lokasi dekat dengan tempat wisata dan pemukimam, lokasi sesuai dengan tema toko yaitu Back to Nature dengan nuansa Jawa serta mudah dijangkau, (2) Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang menggunakan jenis tata letak aliran bebas sehingga pengunjung dapat bebas memilih sendiri tempat yang diinginkan, (3) Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang menggunakan atmosfer toko sebagai berikut: tata cahaya redup dan lembut, ketinggian langit-langit dibuat tinggi sesuai dengan bangunan joglo, tanda petunjuk parkir dan lokasi untuk memudahkan konsumen dan (List Price) untuk mempublikasikan atau memberitahukan harga produknya pada konsumen, warna yang digunakan oleh Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang yaitu warna coklat dan didominasi kayu, dan musik yang digunakan yaitu musik slow dan oldish sebagaimana tema Joglo yang ditonjolkan untuk memberikan kesan santai, tradisional dan romantis, (4) Faktor pendukung pelaksanaan strategi lokasi, tata letak dan atmosfer toko adalah: adanya kerjasama yang baik antara tim manajemen (pengelola) dengan para karyawan, lokasi yang dekat dengan tempat wisata dan pemukimam serta juga mudah untuk dijangkau oleh berbagai kendaraan baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, adanya udara yang sejuk yang mendukung, penataan ruang yang menarik dengan didukung pelayanan yang ramah dan baik sehingga konsumen merasa nyaman saat melakukan pembelian, suasana yang dirancang semenarik mungkin mampu menarik minat konsumen untuk berkunjung dan melakukan pembelian kembali, fasilitas-fasilitas yang disediakan sangat memadai, salah satunya dengan adanya tempat parkir yang luas dan aman. Sedangkan faktor penghambat adalah lokasi toko tidak berada di jalan utama (mainroad), bahan bangunan yang didominasi kayu mengharuskan pihak Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang untuk selalu berhati-hati akan kemungkinan musibah kebakaran, adanya kesulitan untuk mendapat stok ikan laut pada saat cuaca buruk sehingga menyebabkan banyak nelayan tidak berlayar. Hal ini akan berpengaruh pada pelayanan konsumen sehingga adakalanya konsumen kecewa. Beberapa saran bagi Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang sebagai berikut: (1) Pihak pengelola harus lebih intensif lagi dalam mempromosikan Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang karena letak lokasinya bukan berada di jalan utama (mainroad). Sehingga lebih banyak konsumen yang mengetahui keberadaan Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang, (2) Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang harus mampu mempertahankan keunikan, kenyaman dan pelayanan yang telah diciptakan karena hal-hal tersebut yang membangun citra baik Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang dimata konsumen, (3) Seharusnya tersedia peralatan pemadam kebakaran yang mudah dijangkau dan dapat dipakai sewaktu-waktu untuk meminimalkan resiko kebakaran yang bisa terjadi kapan saja, dan (4) Dalam hal pengadaan ikan laut, seharusnya pihak pengelola tidak hanya bergantung pada pemasok ikan laut dari kota Pasuruan saja. Sehingga jika pemasok tidak dapat mengirimkan ikan laut masih ada pemasok dari daerah lain yang dapat mengirimkan ikan laut jadi konsumen tidak kecewa saat menginginkan menu ikan laut.

Sistem transaksi kartu ATM dan SMS banking pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) TBK di Cabang Tulungagung / Dika Urda Prabuditama

 

PT Bank BNI (Persero) Tbk di Cabang Tulungagung menjalin hubungan erat dengan nasabah, hal tersebut diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan terhadap produk yang ditawarkan. Seperti menawarkan produk-produk perbankan terbaru yaitu BNI CARD (kartu ATM) dan SMS bangking. Produk-produk terbaru tersebut banyak nasabah yang belum mengetahui cara menggunakannya dan manfaatnya. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui sistem transaksi kartu ATM dan SMS banking yang ada pada PT Bank BNI (Persero) Tbk di Cabang Tulungagung. Metode yang digunakan untuk pemecahan masalah ini adalah deskriptif kualitatif, deskriptif kualitatif adalah metode pemecahan masalah dengan cara memberikan penjelasan-penjelasan terhadap data-data yang diperoleh dari bahan pustaka yang relevan untuk mendiskripsikan mengenai sistem transaksi kartu ATM dan SMS banking yang ada pada PT Bank BNI (Persero) Tbk di Cabang Tulungagung. Mekanisme transaksi kartu ATM dimulai dari pembuatan kartu ATM, setelah nasabah mendapatkan kartu ATM maka nasabah akan mendapatkan nomor PIN yang digunakan untuk membuka rekening pada mesin ATM. Apabila nasabah melakukan transaksi dengan cara memasukkan kartu ATM dan nomor PIN pada mesin ATM. Permasalah dari sistem transaksi kartu ATM yaitu uang didalam mesin ATM yang terlipat dapat diatasi dengan pemeriksaan yang lebih teliti dalam penyusunan uang dan Mesin ATM yang kehabisan uang dapat diatasi dengan pemeriksaan setiap saat oleh perusahaan yang ditugaskan untuk mengelola mesin ATM agar mesin ATM tidak kehabisan uang pada saat nasabah sedang melakukan transaksi. Mekanisme transaksi transaksi SMS banking dimulai dari registrasi pada mesin ATM BNI , setelah melakukan registrasi pada mesin ATM maka nasabah harus datang ke bank BNI terdekat untuk melakukan akativasi. Nasabah yang sudah melakukan registrasi dan aktivasi dapat menggunakan SMS banking. Sistem transaksi SMS banking sudah berjalan baik, tetapi gangguan pada transaksi SMS banking disebabkan oleh operator ponsel nasabah tersebut. Efektifitas penggunaan kartu ATM dan SMS banking pada PT Bank BNI (Persero) Tbk di Cabang Tulungagung kurang bejalan baik. Penggunaan kartu ATM kurang bejalan baik karena sering terjadi antrian panjang yang dapat diatasi dengan menambah jumlah mesin ATM yang ada. SMS banking kurang baik, karena banyak orang yang belum mengetahui manfaat produk SMS banking dapat diatasi dengan melakukan sosialisasi melalui media massa, elektronik dan menempatkan pegawai bank untuk menawarkan produk tersebut pada waktu nasabah melakukan transaksi baik dibank maupun pada mesin ATM

Analisis sistem prosedur tata laksana giro pada Bank BNI Cabang Blitar / Idarotul Khanifah

 

Dunia perbankan saat ini semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank yang menghimpun dananya. Salah satunya dalam bentuk giro. Untuk menunjang agar penghimpunan dana terhindar dari praktik yang tidak sehat, maka BNI Cabang Blitar perlu menerapkan kebijakan untuk mencegah adanya cek kosong. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan tata lakasana giro dan sistem pengendalian intern terhadap kebijakan tata laksana giro. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara studi lapangan dengan mempergunakan tehnik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penulisan tugas akhir ini menunjukkan bahwa penerapan sistem prosedur tata laksana giro pada BNI Cabang Blitar sudah cukup baik, buktinya dapat dilihat dari kebijakan yang dilakukan yaitu harus menyertakan NPWP, dengan asumsi bahwa NPWP dapat dijadikan database untuk menentukan apakah nasabah termasuk dalam daftar hitam Bank Indonesia. Dilihat dari sistem pengendalian intern juga sudah cukup efektif dilihat dari segi otorisasi, pemisahan tugas, dokumen dan catatan yang memadai, pembatasan akses terhadap aktiva, pengecekan independent atas kinerja. Meskipun begitu masih terdapat kelemahan yaitu adanya perangkapan tugas yang diajabat oleh bagian PNC (Pelayanan Cabang) yaitu mengurusi pembukaan rekening giro, deposito, dan tabungan. Dengan adanya kelemahan tersebut, penulis memberikan saran: a. Diadakannya pemisahan tugas antara bagian penerimaan pembukaan rekening giro, deposito, dan tabungan, karena bagian PNC terdiri dari 5 orang, maka bagian penerimaan pembukaan rekening giro 1 orang, bagian penerimaan pembukaan rekening deposito 1 orang, bagian penerimaan pembukaan rekening tabungan 3 orang b. Merekrut karyawan yang benar-benar kompeten dalam bidangnya sehingga tidak terjadi peran ganda dalam artian menghindari perangkapan tugas.

Implementasi strategi saluran distribusi pada sub-distributor Arnott's di swalayan Prasada Mart Blitar / Raras Wangi Susanti

 

Menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin ketat dan kompetitif, maka strategi pemasaran yang baik sangat perlu dimiliki perusahaan, agar kelangsungan bisnisnya terjaga sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan. Pemasaran merupakan kegiatan akhir dari suatu industri. Di antara aspek-aspek pemasaran yang ada, saluran distribusi memiliki peranan penting, karena melalui saluran distribusi produsen dapat memperlancar arus penyaluran produknya ke tangan konsumen. Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang saluran distribusi. Sub-Distributor ini bertugas menyalurkan produk-produk dari Arnott’s untuk area Blitar. Sub-Distributor ini juga memiliki jaringan distribusi yang luas sehingga berpotensi menjadi perusahaan yang besar. Hal itu telah melatarbelakangi penulisan Tugas Akhir ini, yaitu untuk mengetahui: (1) Bagaimana tipe saluran distribusi pada Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar, (2) Bagaimana implementasi strategi saluran distribusi pada Sub-Distributor di Swalayan Prasada Mart Blitar dan (3) Apakah faktor-faktor baik yang menjadi pendukung dan penghambat implementasi strategi saluran distribusi pada Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar. Adapun dalam implementasi strategi saluran distribusi pada Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar ini terdiri dari tiga hal, yaitu: (1) Tipe saluran distribusi, yaitu dalam penerapan saluran distribusi pada Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar dibagi menjadi dua tipe, diantaranya: saluran distribusi langsung dengan menggunakan Selling at the producer’s retail store dan saluran distribusi tidak langsung, yaitu dari produsen melalui perantara agen, kemudian disalurkan kepada pedagang besar, pedagang besar disalurkan ke pengecer dan berakhir pada konsumen. Pihak Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar bertindak sebagai pedagang besar. (2) Implementasi strategi saluran distribusi, dimana dalam pelaksanaannya pada Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar menggunakan strategi struktur saluran distribusi dengan menggunakan metode financial approach. (3) Faktor-faktor baik yang menjadi pendukung maupun penghambat implementasi strategi saluran distribusi, yaitu: (a) Faktor pendukung terdiri dari: lokasi perusahaan yang strategis, sarana transportasi yang memadai, gudang toko yang cukup luas, semangat kerja karyawan, produk Arnott’s termasuk dalam kategori barang tahan lama, harga yang ditawarkan dari agen, pelayanan dari pihak agen, hubungan kemitraan usaha dengan para pengecer. (b) Faktor penghambat terdiri dari: kurangnya jumlah karyawan, waktu pengiriman produk pesanan (order) dari agen, persaingan yang kompetitif, dan kondisi alam atau cuaca. Oleh karena itu berdasarkan pemaparan di atas, dapat diberikan beberapa saran untuk mengatasi faktor penghambat implementasi strategi saluran distribusi pada Sub-Distributor Arnott’s di Swalayan Prasada Mart Blitar yaitu: (1) Perlunya menambah karyawan, (2) Membuat perjanjian tertulis dengan pihak agen, (3) Pihak Sub-Distributor Arnott’s Di Swalayan Prasada Mart Blitar sebaiknya harus lebih cermat dan memiliki strategi khusus dan (4) Mengatasi masalah ketidakpastian cuaca, maka sebelum menngunjungi outlet yang dituju sebaiknya menghubunginya terlebih dahulu guna memastikan keadaan cuaca.

Penerapan strategi pelayanan jasa kepada pelanggan di PT. PLN (Persero) UPJ Blitar / Widyaning Restu Palupi

 

Setiap perusahaan selalu menginginkan produk yang dihasil terjual dengan tingkat penjualan yang tinggi, untuk itu mereka menerapkan berbagai macam strategi. Dalam hal ini yang digunakan adalah strategi pelayanan yang identik dengan pelayanan jasa yang tak berwujud fisik karena menyangkut kepuasan konsumen. Pengertian pelayanan (service) sering kali berbeda diantara para pakar atau tokoh tetapi pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama. Menurut Peter F.Drucker dalam Oka A Yoeti “pelayanan adalah kepuasan kebutuhan pelangan atas dasar pertimbangan dan apa yang dihasilkan suatu usaha baginya tidak begitu penting (Yoeti, 2000:31). Adapun pendapat lain yaitu Kotler (2002:46) “pelayanan adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak lain yang pada dasarnya adalah bersifat intangible (tidak berbentuk fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu”. PT. PLN (Persero)UPJ Blitar merupakan perusahaan unit listrik dan bergerak dalam bidang pelayanan jasa ketenaga listrikan bagi kepentingan umum. Saat ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan kegiatan ekonomi pada umumnya, serta mendorong peningkatan pembangunan ekonomi pada khususnya. Tenaga listrik merupakan salah satu energi sekunder yang dibangkitkan dan didistribusikan untuk segala macam keperluan. PT. PLN merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalam bidang jasa kelistrikan yang melayani pelanggan dan sesuai dengan kebutuhan dengan tujuan memuaskan pelanggan, selain itu juga untuk memperoleh citra yang baik dimayarakat. Seiring berjalannya waktu perusahaan ini selalu berupaya meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Agar PT. PLN (Persero) UPJ Bitar dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan, perusahaan juga menggunakan strategi pelayanan. Didukung dengan kecanggihan teknologi dan petugas yang handal diharapkan pelayanan prima dapat tercapai. Tujuan dari penulis Tugas Akhir ini adalah untuk mendiskripsikan pelayanan jasa yang bertujuan untuk menghindari kekeliruan dan mempermudah dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan sehingga menjadikan lebih efektif dan lebih effisien.Terdapat tiga masalah yang dapat dikaji yaitu :(1) Pelayanan apa saja yang diberikan PT. PLN (Persero) UPJ Blitar, (2) Bagaimana strategi pelayanan yang digunakan PT. PLN (Persero) UPJ Blitar, (3) Faktor penghambat dan pendukung dalam memberikan pelayanan di PT. PLN (Persero) UPJ Blitar. Dalam pengumpulan data penulis mendapatkan pelayanan dari pegawai dengan metode wawancara dan mencari data secara sendiri langsung, misalnya data-data yang telah ada dikomputer atau dengan mengaksese di internet yang telah di sediakan PLN. Berdasarkan hasil kegiatan selama PKL ini antara lain dapat mengetahui pelayan apa saja yang diberikan PT. PLN (Persero) UPJ Blitar. Ada beberapa kesimpulan dan saran yang dapat meningkatkan pelayanan terhadap penggunaan jasa pos yang diberikan PT. PLN (Persero) UPJ Blitar yaitu : (A) Kesimpulan (1) Pelayanan yang diberiakan PT. PLN (Persero) UPJ Blitar antara lain, pelayanan pemberian informasi penyambungan tenaga listrik kepada calon pelanggan/pelanggan dan masyarakat umum lainnya, Pelayanan permintaan penyambungan baru, pelayanan permintaan perubahan daya ( tambah daya/turun daya/penyesenyusuaian daya), pelayanan permintaan berhenti sebagai pelanggan (atas permintaan pelanggan, atas permintaan bukan pelanggan yang bersangkutan), pelayanan permintaan perubahan nama pelanggan (ganti nama pelanggan, balik nama pelanggan), pelayanan permintaan perubahan golongan tarif, pelayanan permintaan penyambungan sementara, pelayanan pembayaran tagihan susulan dari penerbitan pemakaian tenaga listrik (P2TL), pelayanan permintaan pemutusan sementara dan kemudian meminta dipasang kembali, pembongkaran sambungan tenaga listrik tanpa penyambungan kembali, pelayanan pengaduan pelanggan (lewat telepon/datang sendiri ke pln), pelayanan permintaan pembayaran kembali(restitusi), pelayanan permintaan angsuran, pelayanan permintaan reduksi, pelayanan pembayaran dimuka rekening listrik. (2) Strategi yang pelayanan yang digunakan pada PT. PLN (Persero) UPJ Blitar. Strategi yang digunakan adalah strategi Relationship Marketing, Strategi Superior Custumer Service, Strategi Unconditional Guarantees / Extraodinary Guarantees, Strategi Penanggan Keluhan yang Efektif, strategi peningkatan kinerja perusahaan (PT. PLN (Persero) UPJ Blitar). (3) Faktor yang mendukung dalam memberikan pelayanan kepada pelangan pada PT. PLN (Persero) UPJ Blitar antara lain, fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, penggunaan teknologi informasi yang mendukung sistem pelayanan jasa yang diberikan oleh PT.PLN (Persero) UPJ Blitar, keramahan Customer Service Officer yang sangat ramah dan handal serta ditunjang dengan penampilan yang menarik, menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai mitra kerja yang dapat mendukung dan membantu, Lokasi yang strategis yang terletak ditengah kota sehingga mudah dijangkau oleh semua lapisan pelanggan.Faktor yang menghambat dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan pada PT. PLN (Persero) UPJ Blitar antara lain, sumber daya manusia yang belum secara merata menguasai teknologi yaitu computer, sarana yang transportasi yang masih terbatas, adanya kesalah pahaman antara pelanggan dan petugas, terbatasnya persediaan pasokan energi listrik dari distributor yang menyebabkan PT.PLN (Persero) tidak dapat memenuhi permintaan listrik secara merata untuk seluruh pelanggannya, pelanggan yang tidak bisa menerima saat terkena opal (operasi listrik), belum meratanya penggunaan fasilitas pelayanan seperti PRAQTIS belum semua pelanggan dapat memanfaatkan fasilitas yang ada, hanya kalanggan tertentu saja yang sudah menggunakannya, dalam menanggani keluhan pelangan kurang cekatan dan kurang professional. (B) Saran: peningkatan pelayanan kepada pelanggan yang menggunakan , meningkatkan pendekatan kepada pelanggan dengan memberikan informasi yang tepat dan akurat, komunikasi dan penampilan yang baik, berlaku jujur, ramah tamah, sabar, bersikap sopan terhadap pelanggan, pegawai harus dapat memaksimalkan pemberian strategi pelayanan kepada pelanggan yang akan menggunakan jasa kelistrikan, mengutamakan sumber daya manusia yang berkualitas, agar lebih bisa mengurangi angka kesalahan yang terjadi selama ini. Dengan adanya saran ini diharapkan PT. PLN (Persero) UPJ Blitar dapat berjalan lebih baik lagi.

Penerapan pakem dengan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi benda dan sifatnya di kelas V SDN Kebonsari 4 Kota Malang / Martini Dwi Purnama

 

ABSTRAK Purnama, Martini, Dwi. 2009. Penerapan PAKEM dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA di Kelas V SDN Kebonsari 4 Kec. Sukun Kota Malang. Skripsi, Jurusan KSDP, Program Studi S1-PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang Pembimbing I : Drs. H. Sutarno, M.Pd, Pembimbing II: Dra Sri Estu Winahyu, M.Pd Kata Kunci: PAKEM, Metode Eksperimen, Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis dan studi di lapangan dan melakukan wawancara pada sebagian guru ditemukan beberapa permasalahan yang di hadapi pada pembelajaran IPA tersebut, diantaranya siswa cenderung terpaku pada teori yang ada dalam buku pegangan dan cenderung mempelajari konsep-konsep yang ada dengan cara menghafal. Begitu juga dengan metode yang digunakan oleh pengajar yang kerap kali menggunakan metode ceramah. Kondisi yang demikian ini mengakibatkan lemahnya minat siswa untuk mempelajari IPA yang berakibat rendahnya hasil belajar siswa dan menimbulkan motivasi belajar pada pada siswa berkurang. Untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif siswa aktif dan antusias terhadap pembelajaran kreatif terhadap hal-hal yang baru, efektif dan yang menyenangkan bagi siswa, supaya tujuan pembelajaran dalam bidang studi IPA dapat tercapai. Guru harus dapat menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode eksperimen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas yang dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat fase yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Jenis tindakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode eksperimen. Adapun pelaporannya dilakukan secara deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan disederhanakan dan disajikan dalam bentuk paparan data yang akhirnya ditarik kesimpulan. Tindakan pada siklus I dan siklus II difokuskan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dari aspek proses dan hasil belajar dari aspek pemahaman siswa SDN Kebonsari 4. Siswa belajar melalui penerapan metode eksperimen dan guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan moderator dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini dapat diketahui adanya beberapa faktor yang merupakan hasil dari penelitian, yaitu : 1) langkah-langkah PAKEM dengan metode eksperimen meliputi, siswa secara mandiri melakukan kegitaan eksperimen, mengikuti suatu proses kegiatan eksperimen sesuai dengan tahap-tahap yang ada, mengamati suatu obyek kegiatan yang akan dieksperimenkan dengan menggunan semua indera dan merangsang keaktifan dan kreatifitas yang dimiliki anak kemudian mencatatnya, menganalisis dengan cara memperinci dan menggolongkan perubahan yang terjadi pada sebuah benda yang mengalami perlakuan, membuktikan diperoleh dengan cara siswa langsung mencoba dan mengalami suatu proses, menarik kesimpulan dari kegiatan yang telah dieksperimenkan. 2) Adanya peningkatan hasil belajar siswa dari aspek proses selama berlangsung kegiatan pembelajaran melalui lembar aktifitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran dari siklus I ke siklus II sebesar 23.8 dari 56,8 menjadi 80,6. 3) Adanya peningkatan hasil belajar siswa dari aspek pemahaman sebelum penerapan tindakan dan sesudah penerapan tindakan sebesar 29% dari 67.8 menjadi 78. Dari fakta diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan penerapan PAKEM dengan menggunakan metode eksperimen yang dilaksanakan di kelas berdampak positif pada perbaikan kualitas pembelajaran dan peningkatan proses dan hasil belajar siswa.

Penggunaan permainan tradisional "gotri ala gotri" untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian mata elajaran matematika pada siswa kelas II SDN Penanggungan Malang / Eri Tri Murtini

 

ABSTRAK Murtini, Eri Tri. 2009. Penggunaan Permainan Tradisional “Gotri Ala Gotri” Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Perkalian Mata Pelajaran Matematika Pada Siswa Kelas II SDN Penanggungan Kota Malang. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan Kependidkan Sekolah dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD. Pembimbing (1) Prof. Dr. Moch. Sochib, M. Pd (2) Drs. Tomas Iriyanto, M. Pd Kata Kunci : Permainan Tradisional “Gotri Ala Gotri”, Penguasaan Konsep Perkalian, Mata Pelajaran Matematika Berdasarkan pengamatan awal peneliti dalam proses pembelajaran matematika di kelas II SDN Penanggungan Malang, menemukan fakta bahwa siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep perkalian. Itu disebabkan karena guru dalam pembelajaran di kelas hanya menggunakan ceramah yang monoton yang membuat siswa jenuh dan tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Salah satu cara untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian siswa adalah dengan menggunakan media permainan. Media permainan merupakan salah satu media pembelajaran yang pada dasarnya dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Untuk itu perlu dilakukan suatu tindakan kelas yaitu penggunaan media permainan tradisional “Gotri Ala Gotri” dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan rumusan masalah penelitian, adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penguasaan konsep perkalian siswa kelas II SDN Penanggungan Malang sebelum menggunakan permainan tradisional “Gotri Ala Gotri”, (2) Mendeskripsikan penguasaan konsep perkalian siswa kelas II SDN Penanggungan Malang setelah menggunakan permainan tradisional “Gotri Ala Gotri”, (3) Mendeskripsikan keaktifan siswa kelas II SDN Penanggungan Malang saat menggunakan permainan tradisional “Gotri Ala Gotri” dalam pembelajaran perkalian, dan (4) Mendeskripsikan penggunaan permainan tradisional “Gotri Ala Gotri” dalam meningkatkan penguasaan konsep perkalian siswa kelas II SDN Penanggungan Malang. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas II SDN Penanggungan Malang sebanyak 30 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian soal pre test yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal yang berkaitan dengan soal perkalian. Hasil yang diperoleh melalui pemberian soal pretest kepada siswa menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa adalah 63,50 dengan nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 40 dimana siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masih ada 12 siswa (40%) dan hanya 18 siswa (60%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Perbaikan yang dilakukan melalui PTK ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tes dan observasi keaktifan siswa. Setelah diberikan tindakan pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 70,33 namun ada 8 anak (27%) yang belum mencapai ketuntasan sehingga peneliti melanjutkan untuk memberikan tindakan pada siklus II dan rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 82,75. Keaktifan siswa yang meliputi antusiasme, kreativitas dan keaktifan siswa, pada pertemuan I (siklus I) mencapai persentase 58% dinyatakan dengan taraf keaktifan siswa baik. Sedangkan keaktifan siswa pada pertemuan II (Siklus I) mencapai persentase 67% dinyatakan dengan taraf keaktifan siswa baik. Keaktifan siswa pada pertemuan III (Siklus I) mencapai persentase 83% dinyatakan dengan taraf keaktifan siswa sangat baik. Sedangkan keaktifan siswa pada pertemuan I dan II (Siklus II) mencapai persentase 92% dinyatakan dengan taraf keaktifan siswa sangat baik dan 100% dinyatakan dengan taraf keaktifan siswa sangat baik. Berdasarkan hasil peneliti, dapat disarankan kepada para guru, siswa dan peneliti selanjutnya adalah: (1) Bersumber dari permainan tradisional “Gotri Ala Gotri” ini, hendaknya guru dapat mengembangkan permainan-permainan tradisional yang lainnya yang telah dimodifikasi yang nantinya dapat digunakan untuk membelajarkan pokok bahasan lain dalam pelajaran matematika atau bahkan pokok bahasan lain dalam mata pelajaran lain, (2) Siswa disarankan untuk tetap melakukan permainan tradisional “Gotri Ala Gotri” ini baik pada saat proses pembelajaran maupun pada saat jam istirahat tanpa arahan atau bimbingan dari guru agar konsep perkalian yang telah diperoleh semakin terasah dan bermakna serta bertahan lama dalam ingatan, (3) Penelitian Tindakan Kelas ini perlu dikembangkan lebih lanjut melalui tindakan serupa dengan media permainan yang berbeda di karenakan media permainan tradisional “Gotri Ala Gotri” terbukti telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep perkalian. Namun media ini terdapat kelemahan yaitu diperlukan persiapan yang matang untuk merancang RPP agar hasilnya lebih maksimal. Melalui penelitianpenelitian serupa akan diperoleh berbagai ragam permainan yang sesuai dengan ragam sub pokok bahasan mata pelajaran Matematika.

Pengaruh ekuitas merek terhadap keputusan pembelian (studi pada konsumen air mineral merek Aqua kemasan galon di perumahan Panorama Megah Blitar) / Rika Sayu Fitriana

 

Semakin banyaknya merek-merek baru yang bermunculan, membuat persaingan merek semakin sengit. Hal ini memaksa setiap perusahaan untuk terus berupaya membuat konsumen selalu mengingat, dan memiliki preferensi terhadap mereknya. Ketikasebuahmerek memiliki ekuitas yang tinggi, maka merek tersebut akan dipersepsikan oleh konsumen dengan hal-hal yang bersifat positif. Dengan pengelolaan ekuitas merek secara tepat akan menciptakan asosiasi terhadap merek, yang akhirnya sebuah merek dapat memiliki posisi yang strategis di pasar, memiliki product life cycle lebih panjang, dan dapat menahan gempuran dari pesaing. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah kondisi ekuitas merek dan keputusan pembelian, pengaruh secara parsial dan simultan variabel bebas, yaitu ekuitas merek yang meliputi unsur kesadaran merek (X1), asosiasi merek (X2), persepsi kualitas (X3), dan loyalitas merek (X4), terhadap variabel terikat yaitu keputusan pembelian (Y), dan nilai ekuitas dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekuitas merek dan keputusan pembelian, pengaruh secara parsial dan simultan variabel bebas dan variabel terikat, dan nilai ekuitas dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini bersifat deskriptif kausalitas. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar yang berjumlah 103 KK. Sampel yang diambil sebanyak 51 KK/responden. Sedangkan teknik pengambilan sampel dilakukan secara simple random sample. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis regresi berganda, uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F, serta perhitungan nilai dominan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Konsumen air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar memiliki kondisi ekuitas merek (kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek) yang sangat tinggi; (2) Konsumen air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar dalam membuat keputusan sangat memperhatikan pilihan produk, pilihan merek, pilihan penyalur, waktu pembelian, dan jumlah pembelian; (3) Secara parsial, kesadaran merek mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar. Asosiasi merek mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar. Persepsi kualitas mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar. Namun, loyalitas merek tidak mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar; (4) Secara simultan ada pengaruh signifikan kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek terhadap keputusan konsumen dalam membeli air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar; dan (5) Ekuitas merek yang paling dominan mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli air mineral merek AQUA kemasan galon di Perumahan Panorama Megah Blitar adalah kesadaran merek. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran-saran yang dapat peneliti berikan kepada Perusahaan AGM (Aqua Golden Mississippi) adalah sebagai berikut: (1) Tidak berhenti mengkomunikasikan mereknya kepada konsumen, baik melalui kegiatan promosi ataupun alat publisitas lainnya seperti melakukan kegiatan periklanan yang bertujuan mengingatkan konsumen terhadap produk AQUA; (2) Melakukan kegiatan peningkatan kualitas dan kuantitas produk melalui produk-produk terbaru yang inovatif seperti AQUA dengan rasa buah, teh, dan lain sebagainya; (3) Semakin meningkatkan mutu produk dan memberikan kualitas yang sebanding dengan harganya; dan (4) Memberikan pengalaman yang baik kepada pelanggan misalnya distributor yang mampu berkomunikasi dengan baik (penampilan menarik, ramah, dan sopan), serta jangkauan distribusi yang luas dan cepat.

Developing listening courseware for first grade students of SMA / Agung Wicaksono

 

Listening is a critical element in the competent language performance of second language learners, whether they are communicating at school, at work, or in the community. Wolvin and Coakley (1991) cited in Duzer (1997:1) found that listening was perceived to be crucial for communication at work with regards to entry-level employment, job success, general career competence, managerial competency, and effectiveness of relationships between supervisors and subordinates. It is no doubt that listening comprehension is an essential skill that EFL learners should acquire as early as possible. As Dunkel (1986) cited in Wen-Shuenn (2005:149) pointed out that most researchers of listening comprehension agreed that “listening comprehension should be the focal methodology in foreign/second language instruction, particularly at the initial stages of language study”. Some SLA theorists (e.g. Krashen) have also stressed the role of listening in facilitating second language acquisition. Krashen (1981) stated that listening comprehension provides the right conditions for language acquisition and development of other language skills. Based on the regulation of the Minister of Education (no. 22 of 2006), the current curriculum is called Standard of Content (Standar Isi) where English is taught in elementary (SD), junior (SMP), and senior high school (SMA). The goals of teaching English are as a means of communication to access the information in daily life, as a means to build interpersonal relationship, and to exchange the information. According to the regulation of the Minister of Education (no. 22 of 2006), it is stated that the teaching of English integrates the four skills which include listening, speaking, reading, and writing. It is also stated that listening gets equal attention to other language skills. Teaching and learning listening are not easy because teachers and students face many problems. There are six problems that students have (Ur, 1996:111-112): problem with the sounds, problem to understand every word, problem to understand fast natural native speech, the need to hear things more than once, problem to keep up, and problem of getting tired. Talking about media in teaching and learning listening, it is hard to find the suitable media for SMA students. Although there were a lot of multimedia materials available in the market, many of them were for children and the content was not based on curriculum. To solve this problem, the researcher tried to make multimedia material suitable for the SMA students and teachers’ need. Multimedia applications for foreign language learning can provide a more realistic picture of the new language and culture in the classroom, including not only linguistic but also paralinguistic features such as body language, gestures, prosody, etc., which help to convey meaning to the learners (Brett, 1995). Because it is hard for the students to practice listening by the limited material inside and outside the classroom, it is necessary to develop listening courseware for them. Listening courseware contains graphic, audio, and video which can be more attractive for the students to learn English more easily. Thus, the objective of the study is to develop listening courseware for the first grade of SMA which is for classroom used by the teachers. This study adopts the framework of instructional design developed by Taba (1962:12) cited in Dubin and Olshtain (1986:2) and framework of material development by Hall (1994) cited in Tomlinson and Masuhara (2004:19). The material development consists of seven steps. They are (1) listing theories of language learning, (2) conducting need analysis, (3) selecting potential materials, (4) materials development, (5) materials evaluation, (6) revision, and (7) the final product.

The clash between religion and science: the compromise in Van Helsing / Ghalih Ghufron Trijaya

 

Modern men tend to perceive Evil (thus God) to be more scientific than religious. This shifting of perspectives has continually been depicted in modern horror icons. Yet, post-modern society also develop another perspective which is more of a compromise rather than a conflict. Using Goldmann’s Genetic Structuralism, this thesis seeks that (re)conciliation world view that underlies the cultural products of post-modern society as depicted in Van Helsing the movie. Such (re)conciliating world view has been found in Van Helsing the movie such as the holy water, crosses, candles, skulls, bats, and eggs appear within the movie. Yet, all of those religious icons are accompanied by the modern technology gadgets, serums, and sets of laboratories equipments in the Frankenstein’s and Dracula’s experiment. The cooperative idea of religion and science is supported by characters’ depictions. Van Helsing, as the main character, is actually a fallen angel who, despite his being endowed with divine power, chooses to take advantages of modern devices to overcome Evils. Carl the Friar, the side-hero of the story, is busier spending his time in laboratory rather than in his clerical dormitory.

Diksi dalam iklan makanan ringan di televisi / Insan Lestario Basuki

 

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan diksi dalam iklan makanan ringan di televisi ditinjau dari segi jenis diksi, perubahan makna diksi, dan strategi penggunaan diksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi mengenai diksi dalam iklan makanan ringan ditinjau dari segi jenis diksi, perubahan makna diksi, dan strategi penggunaan diksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan objek kajian tayangan iklan makanan ringan di televisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) transkripsi tayangan iklan makanan ringan, (2) pengidentifikasian data, (3) klasifikasi data, (4) kodifikasi data-data telah yang diperoleh, dan (5) penyimpulan penggunaan diksi dalam iklan makanan ringan di televisi. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, dari hasil analisis data, ditemukan lima jenis diksi, yaitu: (a) diksi umum dan khusus, (b) diksi kongkret dan abstrak, (c) diksi denotatif dan konotatif, (d) diksi standar dan nonstandar, dan (e) diksi khas kuliner. Diksi khas kuliner adalah diksi yang bersifat imajinatif-persuasif, yang berarti calon konsumen dapat mengetahui secara pasti wujud, tekstur, dan rasa suatu makanan tanpa harus membeli atau mengkonsumsi produk tersebut terlebih dahulu. Kedua, dari hasil analisis data, ditemukan dua jenis strategi perubahan makna, yaitu perubahan dengan gejala generalisasi (perluasan makna) dan sinestesia (pertukaran makna). Jenis diksi yang tidak ditemukan adalah diksi yang mengalami gejala spesialisasi, ameliorasi, peyorasi, dan asosiasi. Ketiga, dari hasil analisis data, ditemukan empat strategi penggunaan diksi, yaitu (a) sebagai pemberi informasi, (b) sebagai pemersuasi, (c) sebagai pengingat, dan (d) sebagai pembanding. Strategi pembanding adalah strategi yang digunakan untuk membandingkan, baik secara eksplisit maupun implisit suatu produk dengan produk serupa yang dimiliki oleh kompetitor. Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, disarankan pada (1) peneliti lanjutan, untuk meneliti diksi dalam jenis iklan yang lain demi mendapatkan hasil penelitian mengenai konteks periklanan secara utuh, (2) komentator atau pengulas bahasa, untuk memanfaatkan hasil penelitian ini agar dijadikan bahan referensi dalam menilai jenis-jenis iklan lain yang ditayangkan di televisi dilihat dari aspek diksinya, dan (3) produsen iklan, agar hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi produsen iklan dalam menyusun atau meramu kata-kata dalam iklannya dengan menggunakan diksi yang unik, khas, menarik dan tepat sasaran.

Hubungan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan kinerja tenaga pendidik di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri se-kota Malang / Anna Dwi Istianti

 

Motivasi intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik menyebabkan seseorang terdorong untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik ini pula yang menyebabkan seseorang mencapai keberhasilan. Keberhasilan yang mereka peroleh dalam meraih suatu tujuan dapat dilihat dari hasil kinerja yang telah mereka lakukan. Seseorang dapat dikatakan memperoleh kinerja yang baik, apabila telah mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan. Hasil kinerja tersebut, dapat diperoleh apabila ada motivasi dari dalam individu (intrinsik) dan motivasi yang datangnya dari luar individu (ekstrinsik) untuk melaksanakan pekerjaannya. Motivasi ini pula yang akan membantu meningkatkan semangat kerja tenaga pendidik untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi motivasi kerja intrinsik tenaga pendidik; mengetahui seberapa tinggi motivasi kerja ekstrinsik tenaga pendidik; mengetahui seberapa tinggi kinerja tenaga pendidik; melihat hubungan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan kinerja tenaga pendidik di SMA Negeri Se-Kota Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga pendidik/guru; lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskripsi korelasional, yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat menganalisis serta menginterprestasikan data sehingga penelitian ini berawal dari satu permasalahan yang dipertanyakan. Penelitian ini memiliki 3 variabel. Variabel bebas adalah motivasi intrinsik (X1) dan motivasi ekstrinsik (X2), serta variabel terikat (Y) adalah kinerja tenaga pendidik. Populasi dan sampel penelitian adalah seluruh tenaga pendidik/guru SMA Negeri Se-Kota Malang yang berjumlah 675 orang. Sampel penelitian berjumlah 262 orang. Teknik pengambilan data adalah dengan proporsional random sampling dengan menggunakan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, motivasi intrinsik tenaga pendidik adalah berkualifikasi sedang, dengan nilai mean (rerata) sebesar 39,1908 dan motivasi ekstrinsik tenaga pendidik adalah berkualifikasi sedang, dengan nilai mean (rerata) sebesar 63,2977. Sedangkan pada kinerja tenaga pendidik adalah berkualifikasi sedang dengan nilai mean (rerata) sebesar 93,5114. Hasil pengujian hipotesis penelitian dapat dibuktikan bahwa terdapat hubungan positif antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan kinerja tenaga pendidik di SMA Negeri Se-Kota Malang. Besarnya nilai rhitung= 0,711, rtabel 0,05 sedangkan taraf signifikansinya 0,000 dengan N= 262, ini berarti bahwa nilai rhitung > rtabel. Dengan kata lain semakin tinggi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik maka akan semakin tinggi pula kinerja tenaga pendidik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar: 1) tenaga pendidik di SMA Negeri: agar motivasi intrinsik dan ekstrinsik di SMA Negeri tinggi, maka diperlukan peningkatan semangat dan keinginan untuk memperoleh hasil kerja yang lebih tinggi. Disamping itu kinerja dapat dihasilkan dengan baik jika motivasi lebih ditingkatkan dengan cara menciptakan kerjasama dan suasana kerja yang menyenangkan serta membina hubungan yang baik dengan sesama guru karena mereka yang berperan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia bagi para peserta didiknya, 2) SMA Negeri di Kota Malang: Agar lebih meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik sehingga dalam melaksanakan suatu pekerjaan kinerja tenaga pendidik akan terus meningkat dan lebih efektif secara berkesinambungan, 3) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan: hendaknya mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan atau seminar mengenai kinerja guru agar pekerjaan yang dilaksanakan oleh guru dapat dijalankan dengan baik dan penuh semangat untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal, 4) peneliti lain: hasil penelitian ini menunjukkan hubungan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan kinerja tenaga pendidik di SMA Negeri Se-Kota Malang. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan atau acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya. Apabila ingin melakukan penelitian yang sejenis sebaiknya penelitian ini lebih dikembangkan secara lengkap dengan subjek yang berbeda serta lebih mengembangkan variabel, sub variabel, dan indikatornya, karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang sangat cepat.

Evaluasi tingkat profesionalisme guru ekonomi (studi kasus kompetensi pedagogik guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Pacitan) / Tituk Dhamayanti

 

ABSTRAK Dhamayanti, Tituk. 2009. Evaluasi Tingkat Profesionalisme Guru Ekonomi (Studi Kasus Kompetensi Pedagogik Guru Ekonomi yang Telah Lulus Program Sertifikasi Guru di Kabupaten Pacitan). Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dr. Hari Wahyono, M. Pd. Pembimbing II: Farida Rahmawati, SE, ME. Kata kunci: Sertifikasi, Guru profesional. Bagi para guru yang telah lulus program sertifikasi guru selain mendapat predikat guru profesional juga mendapatkan tambahan tunjangan profesi, seorang guru yang telah lulus program sertifikasi guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Dalam kompetensi pedagogik seorang guru dituntut untut untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik. Dengam demikian kesuksesan guru yang telah lulus program sertifikasi harus dibarengi dengan peningkatan profesionalisme mereka dalam mengajar. Permasalahannya, apakah guru yang sudah lulus program sertifikasi dapat dijamin bahwa guru tersebut adalah guru yang profesional dan bisa menjadi contoh bagi orang lain, karena perubahan yang dilakukan baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pengembangan diri. Jumlah assesor yang memang lebih sedikit daripada jumlah guru yang akan disertifikasi, menyebabkan assesor hanya memeriksa secara teoritis tanpa tahu bagaimana cara guru tersebut melakukan proses belajar mengajar di kelas. Tujuan penulisan ini adalah: (1) Untuk mengetahui tingkat profesionalisme guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Pacitan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) Untuk mengetahui tingkat profesionalisme guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Pacitan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, dikumpulkan data dengan cara observasi non partisipatif dan studi dokumentasi. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yaitu cara pengolahan data agar dapat memberikan gambaran secara deskriptif mengenai tingkat profesionalisme guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Pacitan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pacitan dengan jumlah guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi sangat minim sekali, hanya 2 orang yaitu Guru ekonomi SMPN 1 Ngadirojo Kabupaten Pacitan (Kardimin, S. Pd) dan Guru ekonomi SMP PGRI Tulakan Kabupaten Pacitan (Sri Hartati, S. Pd). Hasil penelitian secara keseluruhan adalah 100% guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Pacitan dalam merencanakan pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori ”profesional”. Hasil penelitian secara keseluruhan adalah 100% guru ekonomi yang telah lulus program sertifikasi guru di Kabupaten Pacitan dalam pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori ”sangat profesional”.

Manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra di taman kanak-kanak (studi multi kasus di TK Negeri Pembina Banjarbaru dan TK Fantasha Banjarbaru) / Zaitun

 

ABSTRAK Zaitun, 2008. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Sentra di Taman Kanak-kanak (Studi Multi Kasus di TK Negeri Pembina Banjarbaru dan TK Fantasha Banjarbaru). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd, (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata kunci: manajemen, pembelajaran sentra. Kegiatan belajar mengajar adalah inti proses pendidikan yang berlangsung di Taman Kanak-kanak. Dalam hal ini manajemen kurikulum dan pembelajaran di Taman Kanak-kanak diarahkan pada upaya penciptaan situasi belajar yang tertib dan teratur. Kepala sekolah bertanggungjawab terhadap manajemen kurikulum dan pembelajaran yang baik agar tercipta proses belajar mengajar yang dengan mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan dan dievaluasi. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Taman Kanak-kanak pendekatan pembelajaran memegang peranan yang sangat penting dalam upaya menyampaikan materi bahan ajar pada anak didik, salah satu pendekatan pembelajaran yang baru diterapkan adalah pendekatan pembelajaran sentra atau BCCT (Beyond Centers and Circle Time) yaitu konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong anak didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Depdiknas, 2005). Fokus penelitian ini adalah manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra di Taman Kanak-kanak dengan rincian sebagai berikut: (1) bagaimanakah perencanaan pembelajaran sentra di TK Negeri Pembina Banjarbaru dan TK Fantasha Banjarbaru; (2) bagaimanakah pengorganisasian pembelajaran sentra di TK Negeri Pembina Banjarbaru dan TK Fantasha Banjarbaru; (3) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran sentra di TK Negeri Pembina Banjarbaru dan TK Fantasha Banjarbaru; dan (4) bagaimanakah pemantauan program pembelajaran sentra di TK Negeri Pembina Banjarbaru dan TK Fantasha Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan multi kasus, karena dua kasus penelitian dengan latar yang berbeda. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yakni: (1) wawancara mendalam, (2) observasi berperan serta pasif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan alur (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan, (d) analisis data kasus individu, (e) analisis data lintas kasus. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan tiga kriteria: (1) kredibilitas, (2) dependenitas, dan (3) konfirmabilitas. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra di Taman Kanak-kanak merupakan usaha yang dilakukan oleh sekolah dalam rangka terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efesien. Efektivitas dan efesiensi pembelajaran tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra sebagai berikut: Pertama, perencanaan pembelajaran sentra, terdiri atas: (1) pengembangan kurikulum, pengembangan harus perhatikan tujuan dari pendidikan Taman Kanak-kanak, Kurikulum TK 2004 dan Kurikulum Muatan Sekolah; (2) tim pengembang kurikulum, dibentuk pada tiap awal setiap semester untuk menyusun program semester dan program kegiatan mingguan; dan (3) penyusunan program pembelajaran, terdiri atas penyusunan program semester, program kegiatan mingguan, dan program kegiatan harian. Kedua, pengorganisasian pembelajaran sentra, terdiri atas:(1) pembagian tugas guru, terdiri dari guru sentra dan guru wali kelompok; (2) pengaturan ruang kelompok, diatur dengan sistem ruang sentra atau moving class; dan (3) penyusunan jadwal sentra, secara bergiliran, sehingga setiap kelompok mendapatkan jadwal kegiatan belajar disemua sentra. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran sentra, terdiri atas: (1) kegiatan belajar mengajar, terdiri atas; kegiatan pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan penutup; (2) pijakan dalam sentra merupakan aturan, yaitu: pijakan lingkungan, pijakan sebelum main, pijakan saat main dan pijakan setelah main; (3) puncak tema, dilaksanakan setiap sub tema selesai disampaikan dan melibatkan orangtua untuk memberikan dukungan dana. Keempat, pemantauan program pembelajaran sentra, terdiri atas: (1) pelaksanaan observasi kelompok, dilaksanakan secara berkala dan terjadwal, baik formal dan in formal; (2) tindak lanjut hasil observasi yang bersifat individual dan kelompok; dan (3) evaluasi hasil belajar anak didik merupakan penilaian hasil belajar anak didik dilakukan oleh guru sentra dan guru wali kelompok. Berdasarkan temuan penelitian tentang manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra, ada beberapa saran yang ditujukan kepada: Pertama, bagi Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, hendaknya dapat mensosialisasikan pelaksanaan manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra kepada seluruh Taman Kanak-kanak di Kota Banjarbaru, agar para kepala sekolah dan guru mampu dan bisa menerapkan pembelajaran sentra dengan baik. Kedua, bagi GOPTKI Kota Banjarbaru, kiranya memberikan dukungan kepada sekolah dalam penerapan pembelajaran sentra. Berupa pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran sentra. Ketiga, bagi IGTKI Kota Banjarbaru, hendaknya dapat mengadakan pelatihan bagi kepala sekolah dan guru Taman Kanak-kanak mengenai pelaksanaan manajemen kurikulum dan pembelajaran sentra di Taman kanak-kanak. Keempat, bagi kepala sekolah, kiranya lebih meningkatkan pelaksanaan pemantauan program pembelajaran sentra lebih intensif, sehingga kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran sentra dapat segera dicarikan solusinya. Kelima, bagi para peneliti selanjutnya, kiranya dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pembelajaran sentra di Taman Kanak-kanak, misalnya mengenai kepemimpinan dalam pembelajaran sentra di Taman Kanak-kanak.

Hubungan persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di SMA Negeri se-kota Malang / Dian Purana Sari

 

Setiap organisasi selalu berupaya agar para pegawai yang terlibat dapat memberikan prestasi kepada organisasi demi mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi itu sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan atasan kepada bawahan. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi, mengajak, membimbing seseorang dalam suatu usaha bersama guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal-hal yang sering dijumpai dalam suatu organisasi, salah satunya adalah ketidakdisiplinan bawahan dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Hal ini mungkin disebabkan salah satunya adalah semangat kerja dari bawahan tersebut. Peningkatan atau penurunan semangat kerja bisa dikarenakan faktor internal maupun eksternal. Mengetahui hal tersebut, maka seorang pemimpin harus dengan segera menimbulkan kembali semangat kerja pada diri bawahan tersebut. Motivasi kerja adalah suatu kekuatan yang ada dalam diri seorang untuk mau melakukan tugas-tugasnya. Pemberian motivasi kepada bawahan dimaksudkan agar mereka dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pemberian motivasi merupakan salah satu fungsi dari kepemimpinan. Motivasi merupakan faktor pendorong seseorang untuk bertindak atau bekerja dalam suatu organsasi yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi. Persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah berbeda-beda. Hal ini dapat berpengaruh terhadap motivasi kerja yang dimilki para guru. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri se-Kota Malang? (2) Seberapa tingkat motivasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Malang? (3) Adakah hubungan persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Malang? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri se-Kota Malang, (2) Untuk mengetahui seberapa tingkat motivasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Malang, (3) Untuk mengetahui hubungan persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu menggunakan rancangan deskritif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak ada hubungan antara persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru. Teknik sampling yang digunakan yaitu proportional random sampling. Uji kualitas data yang digunakan adalah validitas dan reliabilitas. Analisis yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif dan teknik analisis korelasional dengan menggunakan rumus korelasi product moment pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri se-Kota Malang dalam kualifikasi sangat baik, kondisi motivasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Malang pada kualifikasi tinggi dan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi guru tentang fungsi kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di SMA Negeri se-Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, walaupun secara umum kondisi fungsi kepemimpinan kepala sekolah berada pada kualifikasi sangat baik, bukan berarti tugas kepala sekolah di SMA Negeri se-Kota Malang telah selesai. Kepala sekolah harus mampu mempertahankan kondisi tersebut serta meningkatkan motivasi kerja guru sampai berada pada kualifikasi sangat tinggi. Bagi para guru, dengan mengetahui bahwa pelaksanaan fungsi kepemimpinan yang dilakukan kepala sekolah di SMA Negeri se-Kota Malang sudah berada pada kualifikasi sangat baik, maka para guru harus mampu mempertahankan dan meningkatkan motivasinya dalam bekerja dengan jalan meningkatkan kemampuan, baik kemampuan dalam pekerjaan maupun kemampuan pribadi, sehingga pada akhirnya motivasi tersebut berada pada kualifikasi yang sangat tinggi. Bagi Dinas Pendidikan Kota Malang, diharapkan lebih peduli dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas pendidikan khususnya terkait dengan pelaksanaan fungsi kepemimpinan kepala sekolah dan peningkatan motivasi kerja guru. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan lebih selektif agar tidak terjadi kesamaan dalam menentukan objek penelitian selanjutnya mengenai kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru. Selain itu, bagi peneliti lain yang berminat pada masalah yang serupa hendaknya hasil penelitian ini dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas baik variabel maupun populasinya sehingga dapat memperkaya hasil penelitian ini.

Hubungan perilaku penyesuaian soal dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa pada beberapa SMUN di Kota Malang / Muh. Shaleh

 

Classroom interaction in the teaching and learning of English at the twelfth grade of MAN 3 Malang / Tri Widyaningsih

 

The present study is conducted to describe the English classroom interaction that takes place in the teaching and learning process, especially in the teaching and learning of listening. The general research problem of this study is “How is the classroom interaction in the teaching and learning of English in MAN 3 Malang?” Particularly, this study is aimed to answer three questions: (1)What categories of teacher-talk occur during the teaching and learning process? (2)What categories of student-talk occur during the teaching and learning process? and (3) What are the patterns of interaction that occur during the teaching and learning process? The subjects of the study are two English teachers teaching in the twelfth grade from two different classes. In the study, the researcher is the key instrument in the sense that she takes the data directly in the classroom. The data of the study are the utterances produced by the teacher and the students during the teaching and learning process. The data are collected through recording, observation, and field notes. The procedure of data analysis comprises four steps, namely: data collection, data reduction, data display, and conclusion. The finding shows that in the English classroom, the teacher and the students interact well. It means that they interact well in which they understand to each other’s meaning. However, the teacher speech dominates more in the interaction. There are seven categories of teacher talk namely (1) dealing with feelings; (2) praising and encouraging; (3) using ideas of students; (4) asking questions; (5) giving information; (6) giving directions; and (7) criticizing students’ behavior. Among those categories, the fourth category occurs frequently due to the listening materials which emphasize practicing and drilling of exercises. In responding to the teacher, students use some categories of student talk that includes; (1) students’ specific response, (2) students’ open ended response, (3) silence, (4) confusion (work-oriented), (5) laughter, and (6) uses of the native language. Meanwhile, in the teaching-learning process three patterns of interaction occur, namely (1) teacher-whole class interaction, (2) teacher-student interaction, (3) student-teacher interaction. The first pattern of interaction occurs frequently among the other patterns since the class activities are focus on whole class activity in which the teacher becomes the initiator in the class. On the basis of the above findings, some suggestions are proposed. First, it is recommended that in the classroom activities, the teacher need to give more changes and stimulation to the students to talk. Second, the teacher is suggested not to only ask questions to the whole class, but also to an individual student. By doing so, a silent student will also be involved in the interaction, not just the active students. Third, the teacher also needs to apply pairs or group work activity so that students can interact with their friends and do not feel shy to practice the language.

Pembelajaran Dengan Pendekatan Realistik Untuk Pemahaman Konsep Statistika Siswa Kelas VI SD Negeri 20 Kubang Payakumbuh / oleh Yetti Ariani

 

Proses berkarya tugas akhir siswa kelas XII Program Keahlian Kriya Keramik SMK Negeri 5 Malang tahun ajaran 2007-2008 / Hady Susanto

 

ABSTRAK Susanto, Hady. 2009. Proses Berkarya Tugas Akhir Siswa Kelas XII Program Keahlian Kriya Keramik, SMK Negeri 5 Malang Tahun Ajaran 2007-2008. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujianto, M.Sn, (II) Drs. Ponimin, M.Hum. Kata Kunci : Teknik Pembentukan Keramik, SMK Negeri 5 Malang. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Malang adalah sekolah yang telah dicanangkan sabagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan salah satunya adalah Program Keahlian Kriya Keramik. Berdasarkan pengamatan di lapangan khususnya untuk karya tugas akhir siswa (TA) kelas XII Program Keahlian Kriya Keramik, SMK Negeri 5 Malang, tahun ajaran 2007- 2008, terdapat masalah dalam teknik membuat karya tugas akhir (TA). Masalah yang terjadi pada karya TA siswa kelas XII adalah pemilihan teknik dalam proses pembentukan karya TA yaitu teknik-teknik yang sederhana. Hal ini mempengaruhi hasil karya TA dengan hasil yang biasa-biasa saja, kurang menarik dan tidak inovatif. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang masih lebih baik dan lebih berani menghadapi resiko dengan memilih teknik yang lebih sulit. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti hasil karya tugas akhir (TA) berdasarkan keragaman teknik yang diterapkan para siswa. Untuk mengetahui teknik pembentukan keramik yang diterapkan oleh para siswa kelas XII untuk membuat karya tugas akhir (TA) tersebut, dilakukan dengan cara mewawancarai, mengobservasi dan mengkaji dokumen tentang teknik pembentukan keramik yang diterapkan oleh para siswa kelas XII untuk membuat karya tugas akhir (TA). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang teknik pembentukan keramik yang diterapkan oleh para siswa kelas XII untuk membuat karya tugas akhir (TA). Diharapkan penelitian ini akan menjadi masukan bagi para semua guru SMK Negeri 5 Malang dan calon guru seni rupa dan kerajinan yang akan memberikan pembelajaran tentang praktik membuat karya keramik serta bagi peneliti, diharapkan menjadi tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan pembelajaran serta penilaiannya terhadap karya/produk keramik atau produk-produk seni rupa lainnya. Data dan sumber data pada penelitian ini adalah Ketua Program Keahlian, guru pembimbing dan dokumen yang mendukung penelitian tentang teknik pembentukan keramik yang diterapkan oleh para siswa kelas XII untuk membuat karya tugas akhir (TA), Tahun Ajaran 2007-2008 di SMK Negeri 5 Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret s/d Mei tahun 2008, tahun ajaran 2007-2008. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Analisa yang digunakan adalah model studi kasus tunggal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada proses pembuatan proposal para siswa cenderung "ambil mudahnya saja" yaitu, terlihat siswa hanya membuat produk yang sederhana saja, tanpa harus mengadakan survei pasar. Pada tahap pelaksanaan terdiri dari 3 proses pembentukan, siswa kebanyakan menerapkan teknik cetak tuang dan teknik slab walaupun 2 siswa diantara 14 siswa lainnya menggunakan teknik bebas. Pada tahap akhir/finishing menggunakan teknik engobe, teknik toreh/inclay, teknik sqraffito dan teknik slip trailling. Selain itu beberapa siswa menggunakan teknik menghias karyanya setelah dibakar yaitu dengan penambahan aksesoris seperti tali, pengait dan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut. Misalnya, apresiasi karya Tugas Akhir siswa kelas XII SMK Negeri 5 Malang atau metode/ strategi pembelajaran keramik untuk berbagai tingkat pendidikan, serta penelitian tentang perilaku di dunia pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif atau dengan menggunakan pendekatan kritik holistik untuk penelitian tentang apresiasi karya keramik. Bagi Ketua Program Keahlian dan guru pembimbing TA disarankan agar dalam melakukan bimbingan siswa dituntut untuk lebih inovatif juga dalam pemilihan teknik pembentukan keramik harus bisa menerapkan semuanya materi praktik yang telah diajarkan. Selain itu siswa diharuskan melakukan survei pasar sebelum membuat konsep untuk berkarya agar karya-karya TA siswa tidak ketinggalan jaman (out of date).

Perancangan media promosi Program Studi D3 Game Animasi Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Utari Triyanika

 

ABSTRAK Triyanika, Utari. 2009. Perancangan Media Promosi Program Studi D3 Game Animasi Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Pujiyanto, M.Sn, (II) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn Kata kunci: Media Promosi, Game Animasi Dalam perindustrian di Indonesia, seiring kemajuan teknologi mengalami perkembangan pesat. Salah satunya industri Game Animasi. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu dasar hingga dibukanya Program Studi D3 Game Animasi Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang pada tahun 2008. Dan antusiasme dalam mencetak game maker yang mampu menciptakan game yang menunjukkan lokalitas bangsa dan berbasis edukasi tentunya untuk mengatasi problem dalam dunia game yang telah menjadi gaya hidup dalam masyarakat era kini. Sehingga, sebagai Program Studi baru perlu adanya promosi untuk mengenalkan dan menanamkan image di benak masyarakat sebagai lembaga yang tidak hanya menciptakan game maker yang biasanya bersifat entertainment namun lebih ke arah edutainment dan menunjukkan lokalitas bangsa. Dari uraian latar belakang muncul permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: merancang media promosi yang dibutuhkan oleh Program Studi dan memiliki nilai estetik dan menyampaikan informasi yang sesuai. Strategi ini ditempuh dengan tujuan agar mampu menarik target audience hingga pencapaian target market yang sesuai. Metode perancangan yang digunakan adalah model parancangan prosedural, yaitu bersifat deskriptif. Adapun proses perancangan media promosi ini tersusun dalam pencarian data dengan melakukan observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Produk yang dihasilkan berupa 12 media promosi yang sesuai dengan kebutuhan jangka panjang dan jangka pendek berupa media above the line dan media below the line yang meliputi Multimedia interaktif, Billboard, Mini Billboard, Bando, Iklan Surat Kabar, Iklan Majalah, Poster, Brosur, Katalog, Horisontal Banner, X-banner, dan Merchandise yang meliputi Laptop bag, CD Folder, Mouse Pad, Headrest. Pesan yang ingin disampaikan melalui media promosi ini yaitu menginformasikan adanya Program Studi D3 Game Animasi Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang yang nomor satu di Jawa Timur. Program Studi tersebut menawarkan hal yang dibutuhkan target market yaitu segala fasilitas yang menunjang sistem pembelajaran. Selain itu ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa Program Studi tersebut memiliki antusiasme dalam mencetak game maker yang mampu menciptakan game yang menunjukkan lokalitas bangsa dan berbasis edukasi tentunya untuk mengatasi problem dalam dunia game yang telah menjadi gaya hidup dalam masyarakat era kini.

Hubungan antara pengungkapan diri (self disclosure) remaja terhadap orang tua dengan kenakalan remaja kelas XI SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung / Tutik Herawati

 

ABSTRAK Herawati, Tutik, 2008. Hubungan antara Pengungkapan Diri (self disclosure) Remaja terhadap Orang Tua dengan Kenakalan Remaja Kelas XI SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci: Remaja, Pengungkapan Diri, dan Kenakalan Remaja. Pengungkapan Diri dapat diartikan sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain termasuk kepada orang tua. Dengan pengungkapan diri (self disclosure) terhadap orang tuanya, remaja akan lebih mengenal dirinya dan kemudian belajar menerima dirinya sebagai manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Hal ini sangat berguna bagi remaja untuk lebih peka terhadap stimulus dari lingkungan dan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi termasuk masalah kenakalan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui deskripsi pengungkapan diri (self disclosure) remaja terhadap orang tuanya, (2) mengetahui deskripsi kenakalan remaja, dan (3) mengetahui hubungan antara pengungkapan diri (Self Disclosure) remaja terhadap orang tuanya dengan kenakalan remaja di SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi adalah sejumlah 228 siswa yang terdiri dari seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung. Cara pengambilan sampel menggunakan tehnik random sampling. Penelitian ini menggunakan 6 kelas diambil 50%, maka diperoleh 3 kelas secara acak yaitu kelas IPA 1, IPS 2, dan IPS 3, dengan jumlah 110 siswa. Instrumen yang digunakan berupa angket pengungkapan diri (Self Disclosure) dan angket kenakalan remaja. Tehnik analisis data menggunakan persentase dan analisis korelasi product moment. Hasil analisis deskriptif menunjukkan 68,18% siswa yang pengungkapan dirinya berada pada kriteria kurang terbuka, sedangkan pada kenakalan remaja secara umum sebagian besar berada pada kriteria cukup nakal dengan persentase 56,36% siswa. Dan uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment di ketahui nilai rxy = 0,730 (p = 0,000 < 0,05) dengan taraf kepercayaan sebesar 95% (alpha 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa rxy sebesar 0,730 > rtabel sebesar 0,195 yang berarti Ho yang berbunyi “ Tidak ada hubungan antara pengungkapan diri (self disclosure) remaja terhadap orangtuanya dengan kenakalan remaja kelas XI SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung” ditolak dan Ha yang berbunyi “Ada hubungan antara pengungkapan diri (self disclosure) remaja terhadap orangtuanya dengan kenakalan remaja kelas XI SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung” diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan : (1) Bagi konselor untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan layanan bimbingan pribadi dan sosial yang berkaitan dengan pengungkapan diri (self disclosure) sehingga mereka tidak sampai memiliki pengungkapan diri (self disclosure) yang kurang. Sedangkan bagi siswa yang memiliki kenakalan remaja cukup, dapat dibantu dengan memberikan konseling individu atau kelompok, (2) Pada orang tua hendaknya bisa memberikan kebebasan pada anaknya untuk mengungkapkan diri kepada orang tua, dan diharapkan orang tua mampu memberi solusi yang baik atas curahan hati anak-anaknya, dan (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian dengan topik yang sama diharapakan dapat menambah jabaran variabel dalam instrumen yang digunakan, sehingga data hasil penelitian dapat lebih akurat lagi. Peneliti juga diharapkan dapat mengembangkan populasi atau wilayah penelitiannya.

Studi tentang penerapan pembelajaran Program Keahlian Teknik Permesinan kompetensi mengamati dan menggunakan mesin proses (M3P) di SMK Negeri 6 Malang / Luhur Suprayogo

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah wujud penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang berbasis kompetensi (depdiknas, 2005). KTSP merupakan langkah konkret dalam rangka memenuhi tuntutan pembaruan pendidikan nasional. KTSP menuntut pembaruan sesuai dengan kemampuan sekolah termasuk sarana dan prasarana penunjang pembelajaran. Sedangkan di dalam proses pembelajaran terjadi perubahan metode, media pembelajaran. Berubahnya metode dan media pembelajaran mempengaruhi motivasi siswa terhadap pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran berdasarkan KTSP pada program keahlian Teknik Pemesinan kompetensi Mengamati dan Menggunakan Mesin Proses (M3P) yang berkaitan dengan metode pembelajaran, media pembelajaran, motivasi siswa, faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dan upaya untuk meningkatkan motivasi siswa. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 6 Malang. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran M3P berdasarkan KTSP di SMK Negeri 6 Malang cukup baik seperti metode yang digunakan oleh guru adalah (1) ceramah; (2) tanya jawab; (3) tugas; (4) demonstrasi dan praktik di bengkel; (5) diskusi; dan (6) VCD Interaktif. Media pembelajaran yang digunakan adalah (1)LCD dan Laptop; (2) VCD interaktif; (3) mesin bubut; (4) peralatan pendukung; (5) perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); (6)Alat ukur presisi. Motivasi siswa terhadap pembelajaran adalah baik dengan dukung oleh guru serta pemanfaatan sarana dan prasarana secara maksimal. Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi motivasi siswa, yaitu: (1) Media pembelajaran LCD dan VCD interaktif; (2) perbandingan jumlah mesin dengan jumlah siswa; (3) materi; (4) demonstrasi guru; (5) sarana dan prasarana; (6) ketersediaan mesin untuk praktik dan alat pendukungnya; (7) ketersediaan bahan-bahan untuk praktik; dan (8) kebersihan ruangan. Berkaitan dengan upaya meningkatkan motivasi siswa, yaitu: (1) memberikan penjelasan yang singkat dan jelas;(2) menggunakan media pembelajaran;(3) memberikan bahan untuk praktik dengan cepat; (4) selalu menjaga mesin agar siap pakai; (5) penyesuaian jumlah mesin dengan jumlah siswa; (6) memotivasi siswa tentang dunia kerja; (7) demonstrasi guru atau praktik secara langsung; dan (8) evaluasi hasil praktik.

Peningkatan pengembangan menulis karangan bebas siswa kelas V melalui pendekatan komunikatif di SDN Modangan 05 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Richa Andriana Sari

 

ABSTRAK Sari, R. A. 2009. Peningkatan Pengembangan Menulis Karangan Bebas Siswa Kelas V Melalui Pendekatan Komunikatif Di SDN Modangan 05 Kecama-tan Nglegok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Da-sar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suhel Madyono, S. Pd., M. Pd., (II) Drs. Sri Nuryati, Mp. Pd. Kata kunci: prestasi belajar, menulis karangan bebas, pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa da-lam pengembangan menulis karangan bebas. Untuk mengetahui adanya peningka-tan prestasi belajar siswa, maka dilakukan dengan penerapan pendekatan komuni-katif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa dalam pengembangan menulis karangan bebas melalui pendekatan komunikatif siswa kelas V Sekolah Dasar. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digu-nakan oleh pada guru membantu dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, yaitu pada materi pokok pengembangan menulis karangan bebas. Penelitian ini dilakukan di SDN Modangan 05 Kecamatan Nglegok Kabu-paten Blitar, tanggal 22 Oktober 2008 sampai 12 Januari 2009. Rancangan peneli-tian yaitu dilakukan melalui tahap siklus. Di mana setiap siklus terdiri dari peren-canaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sebelum dilaksanakan tahap siklus, terlebih dahulu dilakukan studi pendahuluan yaitu melalui pra tindakan sebagai awal identifikasi masalah. Analisis data penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar sis-wa kelas V dalam pengembangan menulis karangan bebas melalui pendekatan komunikatif. Peningkatan prestasi belajar terjadi baik secara individu maupun kla-sikal. Peningkatan rata-rata prestasi belajar siswa secara individu pada pra tinda-kan yaitu 65,45 % meningkat menjadi 70,09 % pada siklus I, kemudian dari siklus I yaitu 70, 09 % meningkat menjadi 77,77 % pada siklus II. Sedangkan secara klasikal pada pra tindakan yaitu 22,72 % meningkat menjadi 59 % pada siklus I, kemudian dari siklus I yaitu 59 % meningkat menjadi 82 % pada siklus II. Sehing-ga ada 17 siswa yang tidak tuntas pada pra tindakan, ada 9 siswa yang tidak tuntas pada siklus I, dan 4 siswa yang tidak tuntas pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan yaitu bagi para guru un-tuk menggunakan pendekatan komunikatif pada pembelajaran pengembangan me-nulis karangan bebas, bagi sekolah untuk lebih bekerja keras dalam meningkatkan mutu pendidikan secara kreatif dan inovatif, bagi pemerintah untuk memberikan motivasi dan sarana prasarana yang mendukung pada sekolah, dan bagi peneliti lain agar menggunakan pendekatan komunikatif dalam penelitiannya tentang pembelajaran pengembangan menulis karangan bebas.

Minat siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kelas ekstrakurikuler seni budaya bidang lukis di SD Negeri 2 Tlogomas Malang / Adi Kurniawan

 

Siswa yang telah menentukan pilihannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler kesenirupaan (seni lukis) yang sesuai dengan bakat dan minatnya, diharuskan mengikuti kegiatan tersebut dengan baik. Kegiatan melukis juga memiliki dipengaruhi oleh bakat, mereka yang mempunyai bakat dalam melukis akan merasa senang dan berminat untuk melukis sebaliknya anak yang tidak memiliki bakat melukis tetapi memilih seni lukis sebagai kegiatan ekstrakurikuler dalam menjalani kegiatannya maka anak tersebut akan menjadi kurang berminat. Rumusan masalahnya (1) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran seni lukis pada kelas ekstrakurikuler di SD Negeri 2 Tlogomas Malang? (2) Bagaimana gambaran minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni budaya bidang lukis di SD Negeri 2 Tlogomas Malang? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran seni lukis pada kelas ekstrakurikuler di SD Negeri 2 Tlogomas Malang. (2) Mendeskripsikan minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni budaya bidang lukis di SD Negeri 2 Tlogomas Malang. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni budaya bidang lukis di SD Negeri 2 Tlogomas Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi menurunnya minat siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni lukis adalah (1) Ingin mencoba kegiatan ekstrakurikuler yang lain (2) Pengaruh teman (3) Pengaruh orang tua (4) keterbatasan media (5) Lebih fokus pada pelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Gambaran minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni budaya bidang lukis di SD Negeri 2 Tlogomas Malang adalah pada awalnya mereka menyenangi kegiatan ekstrakurikuler seni lukis tersebut yang ia peroleh di sekolahan, sehingga dengan menekuni kegiatan seni lukis tersebut akhirnya mereka pandai berimprovisasi dalam seni lukis yang ditunjukkan dengan hasil karya-karyanya yang indah. (2) Pelaksanaan pembelajaran seni lukis pada kelas ekstrakurikuler di SD Negeri 2 Tlogomas Malang, membutuhkan beberapa faktor dari diri siswa itu sendiri sebagai calon pelukis, di mana para siswa diharapkan memiliki ketelitian dalam melukis yang akan membawa keberhasilan dalam mengikuti lomba-lomba. Adapun sraan-sarannya adalah (1) Untuk mendeskripsikan minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni budaya bidang lukis di SD Negeri 2 Tlogomas Malang, diharapkan para guru seni lebih bisa menanamkan jiwa seni pada diri siswa, yang menyangkut ketelitian, ketelatenan dan lain sebagainya agar para siswa lebih berhati-hati dan lebih terfokus pada apa yang ada di hadapannya. (2) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran seni lukis pada kelas ekstrakurikuler di SD Negeri 2 Tlogomas Malang, diharapkan para guru seni lukis tersebut mampu menanamkan metode yang lebih mudah agar para siswa lebih mudah untuk memahami dan mempraktekkannya. Menciptakan suasana yang damai adalah lebih bagus dari pada suasana yang tegang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 |