Fenomena pesugihan di pesarean Gunung Kawi Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang dan muatan pendidikannya / Zamhari Prastyo Hadi

 

Hadi, Zamhari Prastyo. 2014. Fenomena Pesugihan di Pesarean Gunung Kawi Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang dan Muatan Pendidikannya. Skripsi, Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. GM. Sukamto, M.Pd., MSi. Kata Kunci: Fakta, Mitos, Pesugihan, Pesarean Gunung Kawi        Pesarean Gunung Kawi merupakan sebuah tempat wisata religi yang banyak didatangi orang untuk berziarah. Kemasyhuran Pesarean Gunung Kawi sudah tersebar ke seluruh Indonesia bahkan sampai mancanegara. Kondisi Pesarean Gunung Kawi berbeda dengan pesarean pada umumnya. Pengunjung atau peziarah yang datang berasal dari latar belakang etnis, suku dan agama yang berbeda-beda. Rumusan masalah dari penelitian yang dilakukan adalah: (1). latar belakang historis Pesarean Gunung Kawi, (2). Fakta dan mitos yang berkembang di pesarean Gunung Kawi, (3) Perbandingan antara fakta dan mitos yang berkembang di Pesarean Gunung Kawi Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang.    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Lokasi penelitian dalam penelitian ini yaitu di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan dan triangulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini.    Hasil dari penelitian ini yang pertama, secara historis Pesarean Gunung Kawi memiliki latar belakang makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono. Kedua tokoh ini adalah mantan pasukan dan juga orang terdekat Pangeran Diponegoro yang lari ke wilayah Jawa bagian timur setelah kalah pada Perang Jawa. Selama Hidupnya kedua tokoh ini banyak membantu masyarakat dan menyebarkan Islam, hingga sampai kematiannya kharisma mereka masih ada dengan bukti banyaknya peziarah yang datang ke Pesarean Gunug Kawi. Kedua, terdapat berbagai macam fakta dan mitos di sekitar Pesarean Gunung Kawi. Fakta sosial, seperti slametan, ziarah, tahlil akbar satu Selo dan duabelas Suro serta orang-orang yang mengerubungi pohon Dewa Ndaru. Fakta benda yakni, bahwasannya di Pesarean Gunung Kawi terdapat makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, guci Janjam, pohon Dewa Ndaru, tempat peribadatan Kwan Im dan Ciamsi serta beberapa benda atau tempat lain. Di sisi lain ada banyak mitos di Pesarean Gunung Kawi. Namun secara umum mitos yang ada di sekitar Pesarean Gunung Kawi dikaitkan dengan keuntungan atau kekayaan dan keberhasilan. Ketiga, Hasil dari perbandingan antara fakta dan mitos yang ada di Pesarean Gunung Kawi memberikan gambaran bahwa hampir setiap fakta yang ada di sekitar Pesarean Gunung Kawi selalu diikuti oleh mitos-mitos di dalamnya. Perbandingan ini telah memberikan pengetahuan bahwasannya pada bagian-bagian tertentu suatu objek bisa menjadi fakta dan memiliki mitos-mitos di dalamnya. Penelitian lanjutan yang mengenai hal-hal yang ada di Pesarean Gunung Kawi, misalnya meneliti tentang pola pikir para pedagang dan pramuwisata di sekitar Gunung Kawi.

Penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN kalipang 01 kecamatan sutojayan kabupaten Blitar / Suhariningsih Eko

 

ABSTRAK Suhariningsih, Eko. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Dengan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III SDN Kalipang 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar . Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Musa Sukardi, M.Pd Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Metode inkuiri, Hasil Belajar. Dalam pandangan kontekstual pengajaran dan pembelajaran IPA di kelas haruslah berwujud proses inkuiri, sebuah proses yang ditempuh oleh para ilmuwan dan terdiri atas unsur-unsur siklus mengamati, mengajukan pertanyaan, mengajukan penjelasan-penjelasan dan hipotesis-hipotesis, merancang dan melakukan eksperimen- eksperimen, menganalisis data eksperimen, menarik kesimpulan eksperimen, dan membangun model atau teori. Tugas guru hanya memfasilitasi agar terjadi proses belajar. Tetapi pada kenyataannya yang terjadi di SDN Kalipang 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, model pembelajaran yang digunakan selama ini adalah model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah yang bersifat klasikal. Hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya hasil belajar siswa yang disebabkan penerapan model pembelajaran yang berpusat pada guru, murid hanya pasif, duduk diam untuk menerima transfer belajar dari guru. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri, dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Instrumen penelitian berupa lembar pengamatan dan soal tes. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK yang terdiri dari dua siklus tindakan. Data yang didiskripsikan meliputi data kegiatan belajar, data hasil observasi unjuk kerja, data hasil tes tulis, data pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri. Hasil penelitian menyatakan bahwa hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Kalipang 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar sangat baik. Pada tahap pra tindakan nilai rata-rata kelas 48,2. Nilai tertinggi 75, nilai terendah 30. Setelah dilakukan tindakan siklus 1 nilai rata-rata kelas menjadi 57, nilai tertinggi 83 nilai terendah 35, ada 7 siswa (21%) yang tuntas belajar dan 27 siswa (79%) tidak tuntas belajar. Pada tindakan siklus 2 nilai rata-rata kelas yang berhasil dicapai adalah 81,3. nilai tertinggi 100 nilai terendah 60. Siswa yang berhasil mencapai daya serap ≥ 70 mencapai 91 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri terbukti dapat meningkan hasil belajar siswa berupa peningkatan hasil belajar pada siklus 1 dan 2 pada SDN Kalipang 01. Oleh karena itu disarankan agar dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa: 1. Guru menguasai dan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif yang efektif dan menyenangkan siswa, salah satu diantaranya, yaitu model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri. 2. Guru melakukan penelitian pada materi pokok yang lain atau mata pelajaran yang berbeda agar tercapai hasil belajar yang maksimal

Inventarisasi gejala-gejala gangguan komunikasasi sebagai indikator autisme anak / febrianty Tri wahyuni

 

ABSTRAK Wahyuni, Febrianty Tri. 2009. Inventarisasi Gejala-gejala Gangguan Komunikasi sebagai Indikator Autisme Anak. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Alwisol, M.Pd., (2) Anies Syafitri, M.Psi, Psikolog. Kata Kunci : Gejala-gejala gangguan komunikasi sebagai indikator autisme anak. Autism adalah gangguan dalam perkembangan neurologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi (berhubungan) dengan orang lain di sekitarnya. Seorang anak menderita autis dapat dideteksi melalui kemampuan komunikasinya. Hal ini menunjukkan pentingnya indikatorindikator kemampuan komunikasi sebagai alat deteksi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menginventarisir gejala-gejala gangguan komunikasi yang dapat dijadikan sebagai indikator autisme pada anak. Data penelitian didapatkan dengan cara survey observasi dan kemudian data diolah secara deskriptif untuk mengetahui gejala-gejala gangguan komunikasi yang muncul kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik Uji Kolmogorov- Smirnov yang digunakan untuk mengetahui apakah gejala-gejala yang muncul tersebut berbeda dengan gejala-gejala gangguan komunikasi yang tidak dipilih dan untuk memastikan bahwa gejala-gejala gangguan komunikasi tersebut merupakan indikator autisme anak. Penelitian ini adalah penelitian untuk menyusun instrumen diagnosa autis. Dalam proses pengambilan data, peneliti dibantu oleh 4 peneliti lainnya. Subyek dalam penelitian ini memiliki ciri-ciri : mengidap gangguan autisme, usia 5 tahun sampai dengan 15 tahun, mengikuti pendidikan di sekolah anak berkebutuhan khusus, dan sekolah inklusi, jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Penelitian dilakukan di YPAC kota Malang dengan jumlah subyek sebanyak 20 anak dan di yayasan Bhakti Luhur kota Malang dengan jumlah subyek sebanyak 30 anak. Keseluruhan tedapat 50 anak autis yang semuanya dijadikan sebagai subyek penelitian. Sedangkan instrumen dalam penelitian ini menggunakan form observasi, dimana observasi dilakukan secara langsung di kedua tempat penelitian tersebut. Hasil penelitian menemukan 28 gejala gangguan komunikasi pada anak autis. Setelah dianalisis berdasarkan frekuensi kemunculan gejala yang tertinggi, didapatkan 10 gejala yang dipilih sebagai indikator. Sepuluh gejala ini kemudian di uji Kolmogorov-Smirnov dengan 18 gejala yang tidak dipilih untuk menguji bahwa gejala yang dipilih memang yang lebih baik dibanding dengan gejala yang tidak dipilih sehingga dapat dijadikan sebagai indikator autisme anak. Hasilnya kesepuluh gejala tersebut semuanya memiliki signifikansi 0,000 yang < dari 0,005. Maka 10 gejala tersebut dapat dijadikan sebagai indikator autisme anak.

Sikap sosial karyawan penambang batu marmer yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila pada PT IMIT di kabupaten Tulungagung / Yuliana Lestari

 

Lestari, Yuliana. 2014. Sikap Sosial Karyawan Penambang Batu Marmer yang Mencerinkan Pelaksanaan Nilai-nilai Pancasila pada PT. IMIT Desa Besole. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1). Drs. Suparlan Al Hakim. M.Si, Pembimbing (2) Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci: Sikap Sosial, Karyawan Penambang Batu Marmer, Nilai-nilai Pancasila     Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang potensial diantaranya seperti minyak bumi, batu bara, mineral, tembaga, emas, gas dan lain-lain. Salah satu upaya pengolahan sumber daya alam adalah kegiatan pertambangan. Salah satu pertambangan mineral di Jawa Timur adalah penambangan batu marmer yang terletak di Kabupaten Tulungagung. hasil penambangan batu marmer dibawah naungan PT. IMIT dikenal sampai ke manca negara. Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. IMIT sudah berlangsung sejak tahun 1977. Kegiatan pertambangan marmer merupakan kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara individu. Sehingga proses pertambangannya dibutuhkan tim atau kelompok kerja. Kelompok kerja yang terbentuk tersebut menghasilkan interaksi satu sama lain.     Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan realitas kegiatan penambangan batu marmer pada PT.IMIT Desa Besole Kabipaten Tulungagung, (2) mendeskripsikan sikap sosial karyawan penambang batu marmer yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, (3) mendeskripsikan hamabatan dalam menampilkan sikap sosial antar karyawan penambang batu marmer yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, (4) mendeskripsikan upaya untuk mengatasi hamabatan dalam menampilkan sikap sosial antar karyawan penambang batu marmer yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian diskritif. Subyek penelitian adalah karyawan penambang batu marmer, kepala penambang batu marmer, manager personalia PT. IMIT, dan direksi PT. IMIT. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.     Temuan penelitian yaitu (1) realaitas kegiatan penambangan meliputi proses penambangan batu marmer dan alat penambangan batu marmer. Proses penambangan melalui tujuh tahap yakni proses striping atau pengupasan, pengeboran lubang, penggergajian, perobohan, pempolaan dan pengeboran, pembongkaran, dan yang terakhir adalah proses reklamasi. Alat-alat yang dipergunakan dalam proses pertambangan antara lain adalah ekcavator, mesin compresor, mesin core drill, mesin diamond wire saw, mesin bull jack, mesin boor special, derick crane dan truk, (2) sikap sosial karyawan yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila antara lain memanfaatkan waktu istirahat untuk sholat dan saling mengingatkan untuk sholat, idak membeda-bedakan agama dalam bekerja,saling mengucapkan selamat dihari-hari besar agama serta saling mengingatkan untuk puasa sunnah, mengembangkan sikap tenggang rasa, solidaritas, kerjasama, mengembangkan rasa kekeluargaan, kekompakan, melakukan musyawarah sebelum proses penambangan, bertanggung jawab melaksanakan hasil musyawarah, dan bergotong royong, (3) hambatan dalam menampilkan sikap sosial karyawan antar penambang batu marmer antara lain ada beberapa penambang yang memilih tidur dari pada berinteraksi dengan penambang lain, tidak semua penambang berkumpul di pos atas saat istirahat, ada beberapa yang tidak hadir saat musyawarah pembagian kelompok kerja, (4) upaya untuk mengatasi hambatan adalah diberlakukan pada karyawan penambang batu marmer untuk setiap hari Sabtu diberlakukan makan siang di pos utama. Tujuannya adalah untuk menghidupkan suasana kekeluargaan dan semakin akrab satu sama lain. Ketika ada karyawan yang tidak hadir saat musyawarah penentuan atau pembagian kelompok kerja, kepala penambangan selalu menyempatkan untuk memberi tahu lewat telefon dan memastikan untuk hadir saat penambangan batu marmer dilaksanakan.     Dari hasil penelitian disarankan (1) kepada karyawan penambang batu marmer hendaknya terus mengembangkan sikap sosial yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila antar sesama karyawan penambang batu marmer. Serta diharapkan memiliki kesadaran terhadap pentingnya siskap sosial tersebut demi kelancaran kegiatan penambangan batu marmer. (2) kepada kepala penambang batu marmer diharapkan selalu berperan aktif mendorong dan mengembangkan sikap sosial, serta menjadi fasilitator dalam mengembangkan sikap sosial yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila. (3) kepada pihak PT. IMIT hendaknya memberikan himbauan serta tauladan yang baik kepada karyawan penambang batu marmer terkait sikap sosial yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila untuk mendorong keefektifan kegiatan penambangan batu mermer.

Implemenasi pembelajaran M-APOS berseting STAD untuk meningkatkan pemahaman homomorfisma grup bagi mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang / Zuhrotun Nazihah

 

Nazihah, Zuhrotun. 2014. Implementasi Pembelajaran M-APOS Berseting STAD untuk Meningkatkan Pemahaman Homomorfisma Grup bagi Mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang. Tesis. Program studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si (2) Dr. I Nengah Parta, S.Pd, M.Si Kata Kunci: Teori APOS, M-APOS berseting STAD, pemahaman homomorfisma grup. Ahli matematika menyetujui bahwa guru matematika sekolah menengah harus mempunyai pemahaman tentang sistem bilangan real, aljabar abstrak, aljabar linier, geometri modern, peluang dan statistika, serta diferensial dan kalkulus integral (Bell, 1978:3). Salah satu mata kuliah yang mempelajari tentang aljabar abstrak adalah Struktur Aljabar 1. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bahwa pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep dalam Struktur Aljabar 1 masih rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang memperhatikan proses berpikir mahasiswa. Salah satunya adalah pembelajaran berdasarkan teori APOS. Proses berpikir seseorang berdasarkan teori APOS terdiri dari empat konstruksi mental, yaitu aksi, proses, objek, dan skema. Pembelajaran ini dipadukan dengan pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD). Dengan pembelajaran kooperatif, mahasiswa termotivasi untuk melakukan kerja sama dan pembelajaran bermakna.     Tahapan yang digunakan dalam pembelajaran M-APOS berseting STAD adalah (1) presentasi kelas, (2) belajar dalam tim, yang terdiri dari tahapan aktivitas, diskusi kelas, dan latihan dalam pembelajaran M-APOS, (3) kuis, dan (4) rekognisi tim. Tahap presentasi kelas, aktivitas, dan diskusi kelas dilaksanakan pada perteman pertama. Sedangkan tahap latihan soal, kuis, dan rekognisi tim dilaksanakan pada pertemuan kedua.Kegiatan yang dilakukan pada tahap aktivitas menggambarkan kostruksi mental tingkat aksi. Pada tahap diskusi kelas, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengemukakan ide-ide yang diperoleh pada tahap aktivitas. Pada tahap latihan, mahasiswa mengerjakan latihan soal yang menggambarkan kostruksi mental tingkat proses, objek, dan skema. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah 25 mahasiswa angkatan 2012 off A dan 24 mahasiswa angkatan 2012 R2. Data yang diambil adalah proses berlangsungnya tindakan yang terekam dalam LKM, tes akhir, dan lembar observasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran M-APOS berseting STAD membantu meningkatkan pemahaman homomorfisma grup bagi mahasiswa. Hal ini didukung dengan hasil kuis dan tes akhir mahasiswa. hasil tes akhir siklus I, tujuh mahasiswa mencapai tingkat pemahaman objek dan sepuluh mahasiswa mencapai tingkat pemahaman skema. Pada siklus II, tiga belas mahasiswa mencapai tingkat pemahaman objek dan tujuh mahasiswa mencapai tingkat pemahaman skema.

Peningkatan hasil belajar matematika volume kubus dan balok melalui PBL strategi pemecahan masalah HEURISTIK siswa kelas V SDN KRAPYAKREJO II PASURUAN / Umi Kulsum

 

Berdasarkan observasi di kelas V SDN Jeladri I kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan, diketahui terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran matematika dikelas tersebut, diantaranya: (1) siswa cenderung kurang tertarik dan kurang semangat dalam pembelajaran, (2) siswa bosan dengan metode ceramah dan terlihat tegang karena pembelajaran yang dilakukan tidak berdasarkan rasa ingin tahu yang dimiliki siswa, (3) siswa tidak bisa aktif, tidak ada kerjasama antara teman karena tidak ada pembentukan kelompok, (4) siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan soal tentang materi skala, (5) hasil tes kurang memuaskan dengan rata-rata 50,4, sehingga dari hasil ini peneliti melaksanakan tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan, (2) peningkatan aktifitas belajar materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan dengan penerapan model pembelajaran ikuiri, (3) peningkatan hasil belajar materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan dengan penerapan model pembelajaran inkuiri. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari 2 siklus. Subyek penelitian ini siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan sejumlah 23 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data digunakan lembar observasi, wawancara, tes dan catatan lapangan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran materi skala dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa, pada pratindakan (50,4), siklus I nilai rata-ratanya menjadi 73,9, dan siklus II nilai rata-ratanya menjadi 84,4. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan Dengan hasil penelitian tersebut, disarankan agar guru-guru dapat memanfaatkan model pembelajaran inkuiri pada pembelajaran matematika dan pada mata pelajaran yang lain. Serta disarankan bagi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian yang membahas tentang peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran inkuiri.

Pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas "Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)" untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo / Yunita Epa Purnama

 

Purnama, Yunita Epa. 2014 Pemanfaatan Media Sosial (Facebook) oleh Komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)” untuk Menumbuhkan Sadar Budaya Daerah Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si (2) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M. Pd, M.H Kata Kunci: media sosial, facebook, sadar budaya daerah      Komunitas “Semua Tentang Ponorogo merupakan komunitas berdiri atas dasar kesamaan kecintaanya pada seni budaya. Komunitas ini memiliki misi sebagai sarana informasi dan komunikasi demi kemajuan kota Ponorogo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo yang meliputi (1) Latar belakang pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo (2) Cara pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo (3) Macam Budaya daerah Ponorogo yang disebarluaskan oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo melalui media sosial (facebook) (4) Faktor pendukung dan faktor penghambat pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo (5) Upaya mengatasi faktor penghambat pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO)” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo.      Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya yaitu studi kasus, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari manajemen redaksional, menajemen keuangan dan produksi, manajemen sosial komunitas “Semua Tentang Ponorogo serta sahabat dan pembaca akun facebook komunitas “Semua Tentang Ponorogo”. Pengumpulan data dilakukan dengan: wawancara, studi dokumentasi, dan observasi. Analisis data dilakukan dengan tahap analisi sebelum di lapangan; analisis domain terdiri dari cover term, semantic relationship, Include term; dan menulis laporan penelitian. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara: kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), dan kepastian (confirmability).      Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Latar belakang pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo adalah karena facebook mudah diakses dan mudah dikontrol, merakyat, berkembang pesatnya facebook dalam masyarakat saat ini, memiliki banyak keunggulan, digemari masyarakat, media sosial yang menarik, memudahkan penyampaian informasi, kesamaan hobi, mengembangkan budaya daerah Ponorogo yang hampir menghilang, mengobati rasa rindu budaya daerah Ponorogo, meningkatkan nilai ekonomi para pedagang. Kedua, Cara pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo (1) Proses pencarian data yaitu crew datang langsung ke lokasi kegiatan budaya (2)Mengolah data dari hasil reportase yang diperoleh (3)Memperhatikan respon dari pembaca. Ketiga, Macam Budaya daerah Ponorogo yang disebarluaskan oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo melalui media sosial (facebook): Reyog Obyog, Reyog Festifal, Jaranan Teg, Gajah-Gajahan, Gong Gumbeng, Acara Larung Sesaji , Acara Kirab Pusaka dll. Keempat, Faktor pendukung dan faktor penghambat pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo. Faktor pendukung: (1) Perlengkapan yang memadai, 2) Respon positif pembaca (3) Pengolahan postingan yang menarik. Faktor Penghambat: (1) Audience/pembaca, (2) Dana, (3) Jumlah team. Kelima Upaya mengatasi faktor penghambat pemanfaatan media sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo” untuk menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo (1) Audience/pembaca: admin menanggapi dengan tidak emosi; bertanggungjawab sesuai referensi yang digunakan; sebelum berita diposting melihat unsur-unsur yang dapat memicu respon negatif. 2) Dana: dengan berjualan mercendise yaitu kaos maupun stiker; crew ikhlas membiayai kegiatan secara swadana. (3) Jumlah Team; mencari crew baru yang sesuai dengan kriteria.      Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: (1) Pemanfaatan media Sosial (facebook) oleh komunitas “Semua Tentang Ponorogo (SETENPO) menggunkan konsep Citizen Journalism seyogyanya konsisten pada tujuannya menumbuhkan sadar budaya daerah Ponorogo sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas postingannya.(2) Masyarakat seyogyanya mampu memanfaatkan dan menyikapi penggunaan media sosial khususnya facebook agar berpengaruh positif terhadap kehidupan sehingga mampu menumbuhkan nilai-nilai yang membangun.

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL)untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran produktif kompetensi kejuruan standar kompetensi menemukan peluang baru dari pelanggan(studi pada siswa kelas XII program keahlian penjualan di SMK Muhamm

 

ABSTRAK Nurani, Elok. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Produktif Kompetensi Kejuruan Dengan Standar Kompetensi Menemukan Peluang Baru Dari Pelanggan (Studi Pada Siswa Kelas XII Program Keahlian Penjualan di SMK Muhammadiyah 2 Malang)”. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto,M,Si (II) Handri Dian Wahyudi,SE.,S.Pd.,M,Sc. Kata kunci: model pembelajaran berbasis masalah, minat, hasil belajar. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi, dkk). Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di kelas XII Program Keahlian Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan oleh guru selama ini masih menggunakan pola-pola pembelajaran konvensional, dimana peran guru masih sangat dominan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pemberian tugas. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini diindikasikan sebagai penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa. Atas dasar inilah, maka penelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas pembelajaran baik oleh guru maupun siswa, minat belajar siswa, hasil belajar siswa dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Program Keahlian Penjualan semester gasal tahun ajaran 2009/2010 SMK Muhammadiyah 2 Malang yang berjumlah 31 siswa dan dilakukan mulai tanggal 6 Oktober sampai dengan 18 Nopember 2009. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi penilaian ranah psikomotorik, lembar observasi penilaian ranah afektif, angket minat belajar siswa dan tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor persentase keberhasilan tindakan aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 16,67%. Peningkatan minat belajar siswa dapat diketahui dari meningkatnya skor angket minat dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 48,38%. Meningkatnya hasil belajar siswa dari ranah kognitif dapat diketahui dari peningkatan nilai Pre test ke Post test, pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 45,16%. Untuk ranah psikomotorik, terjadi peningkatan sebesar 6,45%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan, (1) bagi para guru mata pelajaran produktif SMK Muhammadiyah 2 Malang hendaknya menggunakan model pembelajaran PBL sebagai alternatif ii pembelajaran untuk lebih meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, (2) dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah, siswa harus didorong untuk memperkaya pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dan terarah, (3) di dalam melaksanakan model pembelajaran berbasis masalah hendaknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas dengan pemberian artikel saja, tetapi sebaiknya juga dilakukan diluar kelas/mengajak siswa untuk terjun langsung secara bersama-sama ke lapangan untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan materi, (4) dalam kegiatan kelompok, setiap anggota kelompok hendaknya memperoleh kesempatan untuk menyajikan hasil kajian dan analisis masalah serta alternatif pemecahannya untuk dibahas secara kritis oleh keompok, (5) penerapan model pembelajaran berbasis masalah memerlukan alokasi waktu yang agak lama, guru hendaknya memperhatikan pembagian alokasi waktu jika menggunakan model pembelajaran ini, (6) penerapan model pembelajaran berbasis masalah perlu dukungan dari seluruh komponen yang ada di sekolah, (7) hendaknya diperhatikan kualitas siswa (input), (8) untuk penelitian selanjutnya, hendaknya diterapkan pada bidang studi /program keahlian yang lain.

Nilai-nilai sosial budaya tradisi Puter Kayun pada masyarakat Using di Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi / Fatmawati

 

Fatmawati. 2014. Nilai-nilai sosial budaya tradisi Puter Kayun pada masyarakat Using Di Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosil, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Sukowiyono, S.H, M.H., (II) Nuruddin Hady, S.H, M.H. Kata Kunci: Tradisi Puter Kayun, Masyarakat Using, Watu Dodol Tradisi Puter Kayun merupakan adat istidat yang dilakukan oleh masyarakat Using di Kelurahan Boyolangu yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Syawal. Tradisi Puter Kayun telah dilakukan secara rutin dan turun temurun. Sesuatu yang menarik dalam tradisi Puter Kayun adalah keliling kota dengan menggunakan dokar menuju Watu dodol dengan jarak 16 km. Perjalan dokar diawali dari Kelurahan Boyolangu lalu keliling Kelurahan Boyolangu dan dilanjutkan keliling kota untuk menuju Watu dodol. Tujuan dari pelaksanaan tradisi Puter Kayun adalah untuk menepati janji yang telah dibuat oleh Ki Buyut Jakso dengan cara demit, sebagai wujud syukur masyarakat Boyolangu karena selama setahun telah diberikan kesehatan, rezeki, dan keamanan oleh Allah SWT, sengingat sejarah Ki Buyut Jakso yang telah membuka jalan untuk kusir dokar dan masyarakat Banyuwangi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yaitu; (1) asal mula tradisi Puter Kayun, (2) prosesi tradisi Puter Kayun, (3) hakekat nilai- nilai yang terkandung dalam tradisi Puter Kayun, (4) pembudayaan tradisi Puter Kayun. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu dengan mendapat data selengkap mungkin mengenai tradisi Puter Kayun pada masyarakat Using di Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi. data tersebut di dapat melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskripsi, yaitu dengan mendeskripsikan data yang telah ditelaah secara faktual. Kemudian data disimpulkan dan dilaporkan. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) asal mula tradisi Puter Kayun berkaitan dengan Watu Dodol, yaitu pemecahan batu besar yang menghalangi akses Banyuwangi ke Surabaya. Pemecahan itu pimpin oleh Nur Iman anak angkat Ki Buyut Jakso bersama para demit. Atas suruhan dari Ki Buyut Jakso. Adapun tujuan dari dilaksanakanya tradisi Puter Kayun adalah untuk mengingat jasa Ki Buyut Jakso karena telah membukakan jalan bagi kusir dokar dan masyarakat Banyuwangi, sebagai wujud syukur atas kesehatan, rezeki, dan keamanan yang diberikan oleh Allah SWT, dan menepati perjanjian yang dibuat Ki Buyut Jakso dengan Raja Demit, (2) prosesi tradisi Puter Kayun, yaitu pertama nyekar di makam Ki Buyut Jakso yang dilanjutkan dengan tahlilan dan bersi desa, kedua arak- arakkan atau pawai keliling kelurahan dengan menampilkan potensi kesenian Kelurahan Boyolangu, dan ketiga tradisi Puter Kayun keliling kota dengan menggunakan dokar menuju Watu dodol dilanjutkan dengan selametan dan mandi air laut, (3) hakikat niali- nilai yang terkandung dalam tradisi Puter Kayun yaitu: nilai religius, nilai tanggung jawab, nilai kepatuhan dan ketaqwaan, nilai gotong royong, nilai patriotisme, nilai kasih sayang, nilai kekeluargaan, toleransi, dan nilai terima kasih dan rasa syukur, (4) pembudayaan pada tradisi Puter Kayun sudah cukup baik dibuktikan dengan hadirnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Camat Giri, dan Lurah Boyolangu bahkan Bupati Banyuwangi ikut dalam acara tradisi Puter Kayun. Serta antusias masyarakat Boyolangu dalam mengikuti tradisi Puter Kayun. Berdasarkan hasil penelitian dapat disaranka beberapa hal yaitu: (1) pemerintah Banyuwangi khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk memasukkan tradisi Puter Kayun ke dalam agenda festival Banyuwangi dan memberikan dorongan tidak hanya berupa kesenian melainkan dana yang lain untk mempermudah panitia dalam merayakan tradisi Puter Kayu, (2) masyarakat Boyolangu sebaiknya menjaga kerukunan terutama bagi tokoh adat, sehingga dapat menyatukan suara dan tidak ada kesalah pahaman antara tokoh adat yang satu dengan tokoh adat yang lain, (3)Peneliti hendaknya apabila melakukan penelitian yang sama dengan penelitian ini diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas lagi dan dalam pengambilan data lebih ditingkatkan serta metode-metode yang digunakan berhubungan dengan yang akan diteliti, sehingga hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai landsasan atau literature untuk penelitian lebih lanjut.

Implementasi kurikulum 2013 oleh guru mata pelajaran sejarah: studi kasus di SMA Negeri 1 Lawang / Yuli Putra Wibawa

 

Wibawa, Yuli Putra. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 oleh Guru Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMA Negeri 1 Lawang. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. R. Reza Hudiyanto. M.Hum (II) Aditya Nugroho Widiadi, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: implementasi, guru sejarah, Kurikulum 2013. Implementasi Kurikulum 2013 yang baru diterapkan pada pendidikan di Indonesia mulai bulan Juli 2013 tidak langsung membawa perubahan yang signifikan. Hal ini dikarenakan sebagai kurikulum yang relatif baru, Kurikulum 2013 menghadapi berbagai masalah dan alasan utama adalah guru masih belum familiar dengan Kurikulum 2013. Seperti di SMA Negeri 1 Lawang,masih terdapat guru-guru yang mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Pentingnya mengetahui implementasi Kurikulum 2013 karena guru merupakan ujung tombak yang berperan penting untuk mensukseskan Kurikulum 2013 dalam rangka menanamkan pendidikan karakter terhadap peserta didik. Oleh karena itu berbagai cara dalam implementasidilakukan oleh guru dapat menjadikan sebuah bahan diskusi dan perbaikan agar implementasi Kurikulum 2013 kedepannya dapat dilakukan secara maksimal. Secara keseluruhan di SMA Negeri 1 Lawang terdapat fasilitas-fasilitas yang mendukung diterapkannya Kurikulum 2013. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah yang akan dikaji yaitu: (1) Bagaimana implementasi Kurikulum 2013 dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Lawang; (2)Apa saja faktor pendukung dan penghambat pengimplementasian Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Lawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Subyek penelitiannya adalah guru mata pelajaran di SMAN 1 Lawang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model Miles dan Huberman, analisis data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (1) reduksi data; (2) penyajian data; (3) penarikan kesimpulan. Supaya mendapatkan data yang akurat peneliti melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara peneliti melakukan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dalam implementasi Kurikulum 2013 pada pembelajaran sejarah guru menggunakan pendekatan saintifik yaitu dengan mengarahkan peserta didik untuk mengamati, menanya, mengumpulkan data, menganalisis, dan mengkomunikasikan (5 M). Supaya dapat menggerakkan peserta didik agar bisa 5 M, guru memfasilitasi peserta didik untuk berdiskusi secara kelompok dan mengkomunikasikan hasil diskusi tersebut kepada kelompok lain; (2) terdapat faktor pendukung implementasi Kurikulum 2013 diantaranya adalah fasilitas sekolah berupa LCD Proyektor, wifi, perpustakaan, dan terdapat juga faktor penghambat diantaranya guru mengalami kesulitan dalam menyusun RPP dan guru mengalami kesulitan dalampenilaian hasil belajar yang terlalu banyak serta guru subyek yang tidak bisa menggunakan media pembelajaran dengan baik. Berdasarkan penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Dinas Pendidikan dan sekolah sebaiknya terus mengadakan pelatihan Kurikulum 2013 secara berkala agar pengimplementasi Kurikulum 2013 lebih optimal; (2) sekolah pada umumnya dan guru subyek pada khususnya diharapkan untuk terus menghidupkan motivasi terhadap Kurikulum 2013 sehingga dapat menerapkan Kurikulum 2013 secara optimal; (3) peserta didik sebaiknya lebih diperhatikan dalam penggunaan media pembelajaran; (4) pemerintah menunda atau membatalkan Kurikulum 2013 karena tidak dikehendaki oleh guru.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan link maps untuk memahamkan siswa pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kelumpang Hulu / Muhammad Rikhfan Muji

 

Muji, Muhammad Rikhfan. 2014. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan link maps untuk memahamkan siswa pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kelumpang Hulu. Tesis. Prodi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Subanji, M.Si, dan (2) Dr. rer. nat. I Made Sulandra, M.Si. Kata kunci: STAD, Link Maps, Pemahaman, Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers Fungsi komposisi dan fungsi invers dipelajari oleh siswa kelas XI IPA. Berdasarkan data nilai ulangan matematika pada materi sebelumnya, terdapat 64% dari 25 siswa tidak memenuhi kriteria ketuntasan. Hal ini menunjukan bahwa pemahaman matematika siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 kelumpang Hulu masih kurang. Salah satu penyebabnya adalah metode pembelajaran yang diterapkan masih kurang melibatkan siswa dan masih berpusat pada guru (teacher centred).Karakteristik siswa SMA Negeri 1 Kelumpang Hulu yang mengelompok dan suka bekerjasama merupakan potensi yang dapat dijadikan untuk menentukan strategi pembelajaran. Potensi kelompok siswa ini bisa ditingkatkan untuk mengoptimalkan pembelajaran kooperatif. Berdasarkan dari situasi dan kondisi di sekolah tersebut maka digunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Salah satu kelemahan dari pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu siswa yang berkemampuan tinggi lebih dominan. Untuk mengatasi kelemahan STAD tersebut, dan semua siswa terlibat aktif digunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan link maps. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan link maps yang dapat meningkatkan pemahaman matematika siswa tentang fungsi komposisi dan fungsi invers. Penelitian ini dirancang dengan metode penelitian tindakan kelas dan dilaksanakan pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kelumpang Hulu dengan subjek penelitian terdiri dari 25 siswa. Data yang diambil meliputi: (1) hasil tes untuk menguji pemahaman dan kemampuan menjawab siswa, (2) hasil wawancara, (3) jawaban kerja kelompok, (4) aktivitas guru dan aktivitas siswa, dan (6) hasil catatan lapangan. Kriteria keberhasilan siklus ditentukan dari 3 komponen berikut: (1) ketuntasan klasikal kelas dikatakan tuntas, jika lebih dari 80% siswa sudah tuntas dan (2) aktivitas guru dan siswa dalam kategori baik atau sampai 80. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan link maps dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers. Langkah-langkah pembelajaran tersebut, yaitu: (1) tes awal, (2) presentasi kelas, penyampaian materi secara garis oleh peneliti dan siswa melengkapi link maps, (3) pembentukan kelompok, heterogen dan terdiri dari 4 - 5 siswa (4) diskusi kelompok untuk menyempurnakan link maps dan jawaban LKK, (5) presentasi hasil diskusi, perwakilan kelompok maju ke depan untuk memaparkan link maps dan jawaban LKK, (6) kesimpulan yaitu mereview dan penguatan materi pembelajaran, (7) tes akhir, dan (8) penghargaan.

Perancangan iklan layanan masyarakat berbasis motion graphic 2 dimensi mengenai manfaat tentang donor darah sebagai mendia pendukung sosialisasi program donor darah PMI Kota Malang / Nur Fitrianingsih

 

Fitrianingsih, Nur, 2014. “Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Berbasis Motion Graphic Mengenai Manfaat Donor Darah Sebagai Media Pendukung Sosialisasi Program Donor darah PMI di kota Malang”. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Pranti Sayekti S.Sn M.Si (II) Andreas Syah Pahlevi, S.Sn M.Sn     Kata Kunci : Donor Darah, Motion Graphic         Donor darah merupakan bagian dari kegiatan sosial yang ada dalam masyarakat. Kegiatan ini merupakan bentuk bagian dari sumbangsih masyarakat untuk membantu saudaranya dalam membutuhkan darah Transfusi darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit (respien). maka dari permasalahan tersebut Palang Merah Indonesian butuh media pendukung untuk kegiatanya. Dari pemaparan permasalahan tersebut, maka solusi pemecahan masalah kebutuhan media melalui karya perancangan “Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Berbasis Motion Graphic Mengenai Manfaat Donor Darah Sebagai Media Pendukung Sosialisasi Program Donor darah PMI di kota Malang” tujuan dari perancnagan ini adalah menghasilkan iklan layanan masyarakat mengani manfaat donor darah, manfaat dari perancangan ini sebagai bahan yang digunakan sebagai referensi mengenai manfaat donor darah.    Perancangan ini menggunakan metode sadjiman ebdi sanyoto dengan model perancangan prosedural yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dalam perancangan ini berupa data primer yang didapat dalam wawancara dan data sekunder yang didapat dalam literatur buku, brosur, dan leaflet yang berhubungan dengan perancangan. Kegiatan perancangan ini diawali dengan Latar belakang masalah perancangan, rumusan masalah perancangan, tujuan perancangan, identifikasi, pengumpulan data, analisis, sintesis konsep perancangan, konsep tata desain, dan desain final.    Hasil dari iklana layanan masyarakat mengenai manfaat donor darah adalah berupa iklan berdurasi kurang lebih 1 menit. Pesan yang disampaikan adalah sosialisasi mengenai manfaat donor darah cara penjabaran secara ringkas dan padat serta visual yang menarik dengan bahasa yang sesuai dengan target audience.

Simplification of identity in Amy Chua's autobiography: Battle Hymn of the Tiger Mother / Renisya Satya Putri

 

Putri, Renisya S. 2014. Penyederhanaan Identitas dalam Otobiografi Amy Chua: Battle Hymn of the Tiger Mother. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Mochamad Nasrul Chotib, S.S., M.Hum. Keywords: induk harimau, identitas, penyederhanaan identitas secara berlebihan, representasi dari identitas, identitas kompleks     Battle Hymn of the Tiger Mother adalah sebuah otobiografi karya Amy Chua sebagai memoar dari perjuangannya sebagai generasi kedua imigran Cina yang menghargai budaya Cina sebagai budaya yang lebih baik dibandingkan dengan budaya Barat dalam membesarkan anak-anak. Sebagai sebuah otobiografi, novel ini memberikan wawasan tentang bagaimana sebuah keluarga China-Amerika hidup dan bertahan dalam masyarakat sebagai model minoritas.     Penelitian ini bertujuan untuk melihat identitas melalui perspektif yang berbeda dari penulis, yang mana identitas tidaklah sesederhana Anda menerapkan tradisi budaya tertentu menjadikan Anda bagian dari kelompok budaya tertentu. Penelitian ini menggunakan kajian budaya untuk menganalisis identitas budaya karakter utama dari novel ini yang juga adalah penulis dari otobiografi ini. Analisis ini dibagi menjadi tiga bagian, bagian-bagian tersebut yaitu: hipotesis (pendapat penulis), antitesis (pendapat peneliti), dan sintesis (penggabungan dari bagian-bagian sebelumnya).     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penulis menyederhanakan identitasnya. Penulis mencoba untuk menyampaikan pendapatnya dengan menunjukkan hal-hal yang ia lakukan sebagai orang Cina. Namun, peneliti mengungkapkan bahwa di beberapa bagian novel, penulis menunjukkan yang sebaliknya. Penulis tidak memiliki identitas Cina yang kuat dan bahkan ia memiliki budaya akar Barat yang lebih kuat. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa identitas adalah hal yang kompleks yang tidak bisa hanya dinilai hanya saat ini; masa lalu dan masa depan juga harus dipertimbangkan karena komponen-komponen tersebut saling terkait satu sama lain dalam mendefinisikan identitas seseorang. Sebuah penyederhanaan identitas dapat diterima, tetapi kita tidak boleh mengabaikan bahwa identitas sebenarnya hal yang kompleks.

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan./ Agus Wahyu H.S

 

ABSTRAK Wahyu, Agus. H.S. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Achmad Fatchan, M.Pd, M.P (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif problem posing, hasil belajar, memecahkan masalah. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada 27 dan 29 Juli 2009 di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan, diketahui siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, guru menjadi satu-satunya sumber belajar bagi mereka, dan hanya ada 5 siswa (10,64%) yang bertanya atau menjawab pertanyaan yang diajukan guru, sehingga kemampuan siswa memecahkan masalah kurang, karena siswa tidak terbiasa berfikir analisis. Selain itu hasil belajar yang dicapai siswa juga masih banyak yang belum memenuhi SKM yaitu 65, ketuntasan klasikalnya pun hanya 10,64% dan masih jauh dari KKM yang ditentukan sekolah yaitu 85%. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan, dimana pada pertemuan pertama dilakukan kegiatan pembelajaran dan pada pertemuan kedua dilakukan tes. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XI IPS 2 semester gasal tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 2 Bangkalan yang berjumlah 47 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II, sedangkan kemampuan siswa memecahkan masalah dilihat dari jawaban tes siswa pada siklus I dan siklus II. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya peningkatan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan maslah. Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai tes pada siklus I yaitu 61,70 dan meningkat menjadi 75,10 pada siklus II, ketuntasan belajar siswa pada siklus I meningkat menjadi 44,68% kemudian meningkat lagi menjadi 91,48% pada siklus II. Rata-rata kemampuan siswa memecahkan masalah juga meningkat dari 61,70 pada siklus I menjadi 75,11 pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bagi guru bidang studi IPS Geografi di SMA Negeri 2 Bangkalan untuk menjadikan pembelajaran kooperatif Problem Posing sebagai salah satu pembelajaran alternatif, agar hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah dapat lebih baik, dan bagi peneliti selanjutnya yang berminat menggunakan pembelajaran kooperatif Problem Posing, agar dapat dikembangkan lebih lanjut pada materi lain dan mengukur aspek yang lainnya.

Pragmatic strategies done by lecturers of English departement at State University of Malang / Devi Silvi Fitriyah

 

Fitriyah, Devi Silvi. 2014. Strategi Pragmatik yang Dilakukan oleh Para Dosen Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd., M.A., Ph.D. Kata kunci: pragmatik, strategi kesantunan, strategi ketidaksantunan Strategi pragmatik berkaitan dengan kesantunan dan ketidaksantunan sangatlah sering dijumpai dalam komunikasi sehari-hari. Kesantunan digunakan oleh kebanyakan orang untuk menjaga agar hubungan mereka dengan yang lain tetap harmonis, sedangkan untuk merusak hubungan yang harmonis antar anggota masyarakat, kebanyakan orang menggunakan ketidaksantunan. Kesantunan dan ketidaksantunan selain ditemukan dalam komunikasi yang dilakukan setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya, juga digunakan oleh dosen ketika mengajar di kelas EFL (English as Foreign Language). Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah: (1) Jenis strategi kesantunan apakah yang digunakan oleh para dosen ketika mengajar? Dan (2) Jenis strategi ketidaksantunan apakah yang digunakan oleh para dosen ketika mengajar? Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menginvestigasi strategi kesantunan dan ketidaksantunan yang digunakan oleh para dosen Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang ketika mengajar. Peneliti memulai kegiatan penelitian dengan menyebarkan kuisioner kepada teman-temannya angkatan 2010 dan 2011 di Jurusan Sastra Inggris untuk menentukan dosen yang akan diobservasi. Setelah itu peneliti mulai menghitung jumlah nama dosen yang paling banyak dipilih oleh mahasiswa. Setelah mendapatkan nama-nama dosen yang akan diobservasi, peneliti meminta ijin kepada ketiga dosen tersebut, mereka adalah Bu A.A, Bu M.A, dan Pak N.C. Setelah mendapatkan ijin, peneliti memulai penelitian. Penelitian tersebut dilakukan selama lima pertemuan pada masing-masing kelasnya, dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan rekaman suara untuk merekam interaksi antara dosen dengan mahasiswanya. Setelah itu peneliti mentranskrip semua rekaman tersebut dan mulai untuk menganalisa data yang telah diperoleh. Dalam menganalisa data, peneliti mengkategorikan ucapan para dosen ke dalam strategi kesantunan dan ketidaksantunan dan kemudian menulisnya dalam bentuk table. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa strategi yang paling banyak digunakan oleh dosen dalam berinteraksi dengan mahasiswanya adalah strategi kesantunan yang meliputi: bald on record, strategi kesantunan positif meliputi: use-in group identity markers, exaggerate, jokes, offer/promise intensify interest to H, presuppose raise/assert/common ground, avoid disagreement. Strategi kesantunan negative meliputi: be direct, be indirect, be pessimistic, apologize. Strategi kesantunan off record meliputi: use rhetorical questions, be ironic, over generalize, use metaphor, understate, use tautologies and displace H. Di sisi lain peneliti juga menemukan bahwa para dosen juga menggunakan strategi ketidaksantunan, yaitu: sarcasm, use taboo words, condescend/scorn/ridicule, dan seek disagreement. Selain itu, peneliti juga menemukan hasil temuan baru. Strategi baru yang ditemukan oleh peneliti kemudian dikategorikan ke dalam strategi kesantunan, yaitu: thanking, suggesting, greeting, asking, disagreeing, congratulating, and advising. Dalam penelitian ini, peneliti menyarankan kepada peneliti lanjut agar melakukan penelitian yang sejenis tetapi dengan menggunakan objek yang berbeda. Peneliti lain dapat juga mengembangkan penelitian ini dengan membuat perbaikan terhadap penelitian ini.

Penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Malang / Bayu Firmantara

 

Firmantara, Bayu. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 1 Man 1Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hendri Purwito, M.Si (2) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd. Kata Kunci: model Pembelajaran Problem Based Learning, kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di MAN 1 MALANG, diketahui bahwa kemampuan berfikir kritis siswa pada mata pelajaran Geografi dapat dikatakan cenderung rendah. Hal ini disebabkan model pembelajaran ceramah yang cenderung memaksa siswa untuk menghafal materi. Model pembelajaran yang disarankan untuk mengatasi rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matapelajaran Geografi siswa di kelas XI IPS 1 MAN 1 MALANG. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari 2 siklus, siklus pertama terdiri dari 2 pertemuan, dan siklus 2 juga terdiri dari 2 pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di kelas XI IPS 1 dengan jumlah siswa 36 orang. Data dalam penelitian ini berupa kemampuan berpikir kritis siswa. Instrumen yang diberikan yaitu lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa dan soal tes. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi dan tes. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan hasil kemampuan berpikir kritis mata pelajaran Geografi kelas XI IPS 1 MAN 1 MALANG. Rata- rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa siklus I adalah 49,85. Pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 87,19. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Malang. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan model pembelajaran Problem Based Learning dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa serta dapat dijadikan landasan untuk melakukan penelitian sejenis di masa mendatang.

Pengembangan sistem pendukung keputusan berbasis web untuk menentukan hasil praktek kerja industri pada Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 3 Malang / Mochamad Aninun Najib

 

Najib, Mochamad Ainun. 2014. Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Web untuk Menentukan Hasil Praktek Kerja Industripada Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 3 Malang.Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Muladi, S.T., M.T., (2) M. Jauharul Fuady, S. T., M. T. Kata Kunci: Praktek kerja industri, sistem pendukung keputusan, Analytic Hierarchy Process Praktek kerja industri adalah kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia usaha atau dunia industri yang relevan dengan kompetensi (kemampuan) siswa.Kerjasama antara sekolah dengan pihak industri atau dunia usaha yang terjalin, diharapkan mampu memberi dampak positif bagi kedua belah pihak. Dampak positif tersebutdapat berupa lapangan pekerjaan maupun tenaga yang terampil dan terdidik. Tujuan dari pengembangan ini adalah tersedianya sistem pendukung keputusan untuk mendukung keputusan terkait hasil praktek kerja industri pada jurusan teknik komputer dan jaringan. Pengembangan sistem menggunakan model pengembangan Waterfall. Tahap pengembangan sistem meliputi tahap komunikasi, tahap perencanaan, tahap desain, tahap membangun (construction), dan tahap perawatan (deployment). Tahap komunikasi merupakan langkah analisis terhadap kebutuhan software, dan tahap untuk mengumpulkan data dengan melakukan komunikasi dengan user (pihak SMK Negeri 3 Malang).Tahap berikutnya adalah tahap perencanaan perangkat lunak, dimana pada tahap ini akan dihasilkan data yang berhubungan dengan keinginan user (SMK Negeri 3 Malang). Selanjutnya tahap desain (Modelling)untuk menerjemahkan kebutuhan dan memberikan gambaran tentang sistem yang akan dibangun, sehingga lebih mudah dalam mengimplementasikansistem pendukung keputusan yang user friendly. Tahap ini berfokus pada rancangan struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi tampilan (interface), dan detail algoritma. Selanjutnya tahap membangun perangkat lunak yang merupakan proses membuat kode. Pengkodean merupakan penerjemahan desain dalam bahasa yang bisa dikenali oleh komputer. Tahap terakhir adalah tahap perawatan, di mana sistem akan disebarkan untuk diterapkan oleh pengguna (SMK Negeri 3 Malang) serta dilakukan pemeliharaan secara berkala. Sistem pendukung keputusan yang dikembangkan menggunakan model Analytic Hierarchy Process (AHP). AHP adalah sebuah hierarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Hierarki memungkinkan dipecahkannya masalah kompleks atau tidak terstruktur dalam sub-sub masalah, lalu menyusunnya menjadi suatu bentuk hierarki. Dalam membuat keputusan, sistem menggunakan kriteria dan subkriteria yang telah ditetapkan di awal. Kriteria yang digunakan sistem adalah: (1) absensi; (2) laporan prakerin; (3) kegiatan umum; (4) kegiatan Teknis; dan (5) kegiatan nonteknis. Subkriteria yang digunakan sistem adalah: (1) sangat baik; (2) baik; (3) kurang baik; dan (4) tidak baik.

Perbedaan karakteristik pemikiran kreatif siswa SMK dalam pemecahan masalah ( Problem Solving) dan pengajuan masalah (Problem Posing) pada materi program linear / Faried Syafii

 

Syafii, Faried. 2014. Perbedaan Karakteristik Pemikiran Kreatif Siswa SMK dalam Pemecahan Masalah (Problem Solving) dan Pengajuan Masalah (Problem Posing) pada Materi Program Linear. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd. M.A., (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D. Kata Kunci: Berpikir Kreatif, Pemecahan Masalah, Pengajuan Masalah, Program Linear    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan karakteristik pemikiran kreatif siswa SMK dalam pemecahan masalah dan pengajuan masalah pada materi program linear. Peneliti ingin memperoleh data yang mendalam secara alami melalui jawaban pada lembar tugas dan hasil wawancara dari setiap subjek. Sehingga data dari penelitian ini merupakan data verbal yang akan dipaparkan sesuai dengan kejadian yang terjadi dalam penelitian dan analisis data yang dilakukan secara induktif. Sesuai dengan karakteristik yang dikemukakan di atas, maka pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Cara berpikir kreatif siswa meliputi kelancaran berpikir (fluency), keluwesan berpikir atau fleksibel (flexibility), originalitas (originality), memperinci (elaboration) dan menilai (evaluation). Cakupan materi program linear tersebar ke dalam lembar tugas yang diberikan pada siswa dari memecahkan masalah sampai proses menemukan masalah dan jawabannya.    Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa perbedaan karakteristik pemikiran kreatif siswa terletak pada hasil dan produk berpikir kreatif yang digunakan. Siswa yang dikatakan berpikir kreatif, jika semua produk berpikir kreatif muncul dalam menjawab lembar tugas yang diberikan. Sebaliknya, siswa yang kurang kreatif tidak mampu memunculkan semua produk berpikir kreatif dalam menjawab lembar tugas materi program linear.    Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan perlu adanya penelitian yang lebih banyak dan mendalam lagi tentang perbedaan karakteristik pemikiran kreatif terhadap objek-objek matematika yang lain dan perlu juga dilakukan konfirmasi yang jelas dan rinci terhadap semua jawaban dan pendapat subjek yang diteliti serta perlu adanya model pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memperoleh dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya.

Dinamika MA Almaarif Singosari Malang tahun 1966-2014 / Affiatus Zahroh

 

Penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar tahun 2009/2010 / Suyati

 

Suyati. 2009. Penerapan Pendekatan Pembelajaran komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar, PTK, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi S1 PJJ PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd. Kata Kunci : Penerapan, Pendekatan Pembelajaran Komunikatif, keterampilan berbicara. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD sangat vital karena erat kaitannya dengan mata pelajaran lainnya. Dengan demikian peserta didik harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, baik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, maupun mata pelajaran lainnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus diajarkan secara terpadu yang meliputi aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Namun demikian di SDN Kendalrejo 04, aspek berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kurang mendapatkan porsi sebagaimana mestinya, akibatnya kemampuan siswa dalam berbicara atau berkomunikasi lisan menggunakan Bahasa Indonesia sangat rendah. Hal ini berpengaruh pula pada Mata Pelajaran lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif yang dapat meningkatkan ketrampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan soal-soal tes. Data yang dideskripsikan meliputi data kegiatan pembelajaran, data hasil observasi keaktifan siswa, data hasil observasi unjuk kerja siswa, dan data hasil tes belajar siswa. Penelitian ini menggunakan langkah-langkah : perencanaan, pelaksanaan / tindakan, observasi, dan refleksi. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun yang berjumlah 28 siswa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa melalui penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif ada peningkatan keaktifan siswa dan peningkatan ketuntasan belajar siswa berupa ketrampilan berbicara. Keaktifan siswa pada siklus I adalah 76%, pada siklus II meningkat menjadi 81%, prosentase keaktifan ini lebih tinggi dari indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 59%, pada siklus II meningkat menjadi 82%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif dapat meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan ketrampilan berbicara siswa.

Pengembangan vcd pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang / Marsudi

 

ABSTRAK Marsudi. 2010. Pengembangan VCD Pembelajaran Teknik Dasar Menggiring (dribble) Bola Basket Untuk Siswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Saichudin. M.Kes (II) Drs. Sapto Adi. M.Kes Kata kunci: pengembangan, Vcd pembelajaran, Menggiring (dribble) Bola Basket. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, ketrampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematis dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang, sebanyak 60% siswa merasa kesulitan dengan materi yang di berikan dan 66% siswa menyatakan tidak senang dengan materi yang diberikan oleh guru. Dari hasil analisis didapat 100% setuju di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang dikembangkan VCD pembelajaran teknik dasar menggiring bola basket. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengembangan model yang efektif dalam VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Dan diharapkan dengan adanya VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang ini dapat mempermudah pemahaman siswa tentang teknik dasar menggiring (dribble) bola basket. Dalam pengembangan VCD pembelajaran ini peneliti menggunakan model pengembangan intruksional dari Sadiman (2003:38), yaitu yang terdiri dari: (1) Penemuan ide, pengumpulan berbagai informasi sebagai kajian pustaka dan observasi lapangan, (2) Penulisan naskah media (hasil produk) berisi rancangan pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble bolabasket, (3) Evaluasi Produk oleh ahli, (4) Revisi Produk I, dilakukan oleh ahli, (5) Produk prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video), (6) Uji coba prototipe, ujicoba (kelompok kecil), (7) Revisi Produk II, revisi dari ujicoba (kelompok kecil), (8) Uji lapangan (kelompok besar), (9) Reproduksi, penyempurnaan produk. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri dari 3 ahli yaitu 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli bolabasket dan 1 ahli media, (2) uji coba kelompok kecil menggunakan 15 siswa kelas VII, dan (3) uji coba kelompok besar menggunakan 30 siswa kelas VII, yang semuanya diambil secara random sampling. Hasil evaluasi model pembelajaran ini yaitu sebagai berikut: dari ahli pembelajaran yaitu: 97,22% (valid), dari ahli bola basket yaitu: 75% (cukup valid), ahli media yaitu: 85% (valid), dari uji coba kelompok kecil yaitu: 89,6% (valid) dan dari uji coba kelompok besar yaitu: 97,7% (valid). Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan yang berupa VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang sebagai sumber untuk mempermudah pemahaman siswa ii tentang teknik dasar menggiring (dribble) bola basket. Hasil penelitian ini hanya sebuah produk VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket, belum sampai pada tingkat efektifitas produk yang dikembangkan, jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektifitas produk yang dikembangkan.

Perancangan film dokumenter batik Druju sebagai media pengenalan batik khas Malang / Hindam Basith Rafiqi

 

ABSTRAK Rafiqi, Hindam Basith. 2016. Perancangan Film Dokumenter Batik Druju Sebagai Media Pengenalan Batik Khas Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc., Ph.D, (II) Gunawan Susilo S.Sn M.Sn. Kata Kunci: Perancangan, Film dokumenter, Batik Druju Batik Drujuberasal dari Desa Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Batik Druju berlokasi di dusun terpencil bernama Wonorejo, di bawah perbukitan gunung kapur Malang Selatan yang membujur hingga pantai selatan Jawa. Suasana alam yang eksotis, mendorong karya batik Druju menjadi masterpiece di dunia. Ditemukan beragam motif flora, motif fauna, motif sinar matahari dan pemandangan alam yang terinspirasi dari alam sekitar desa Druju. Ciri khas warna batik Druju cenderung mengkombinasikan warna-warna kontras, banyak menggunakan unsur garis dan simetris, dan identik dengan warna hitam pekat. Proses penciptaan desain batik menggunakan bahan utama sutera dan dikerjakan dengan teknik tulis dan cap. Ciri khas batik Druju juga terlihat dari corak-corak batik yang menyambung dari bagian depan ke bagian belakang. Motif batik Druju menyambung karena ditorehkan setelah kain dijahit menjadi pakaian. Dan batik Druju juga tidak akan membuka di tempat lain dikarenakan ingin membesarkan sendiri desa mereka. Keberadaan batik Druju masih kurang populer di masyarakat khususnya Malang,halinimenggugahpenulisuntukmerancangsebuah film dokumenter yang menjelaskantentangasalusul, cirikhas motif hinggakeunikan yang adapadabatik Druju. Perancangan ini dirancang dengan tujuan untuk mengenalkanasal usul batikDruju, ciri khas motif dan keunikan batik Druju, serta fungsi sosialnya kepada masyarakat sekitar yang belum banyak mengenal batik Druju. Perancangan ini menggunakan rancangan prosedural denganmenggariskan langkah-langkah yang harus diikuti dalam menghasilkan sebuah produk. Berdasarkan pengertian model diatas yaitu model yang dirancang harus dibuat dengan langkah-langkah dan bertahap. Tahapan tersebut terdiri dari tiga bagian yang lazim yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca produksi. Perancanganinimenghasilkan film dokumenter yang merupakansalahsatu media efektifuntukmengenalkan batik Drujukepadamasyarakat. Diharapkandenganadanyaperancanganini, masyarakat Indonesia bisalebihmenghargaidanikutsertadalammelestarikankeseniantradisional yang ada di Indonesia.

Pengembangan multimedia interaktif dalam pembelajaran tematik kelas III tema Keperluan Sehari-hari / Hetty Agustina Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Hetty Agustina. 2015. Pengembangan Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Tematik Kelas III Tema Keperluan Sehari-Hari. Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Dr. Sunaryanto, M.Pd. Kata Kunci: multimedia interaktif, pembelajaran tematik, ASSURE. Guru yang mempunyai kompetensi profesional harus dapat merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswanya. Berdasarkan studi pendahuluan di SDN Jeru 02 Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang ditemukan bahwa pembelajaran yang dilakukan masih mengacu pada buku teks, guru belum pernah menggunakan multimedia interaktif dalam pembelajarannya padahal di sekolah terdapat sarana multimedia. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas III siswa cenderung malas belajar dan sering menghabiskan waktunya di warnet. Jika hal tersebut dibiarkan terus menerus, tentu berdampak kurang baik dalam kaitannya dengan kualitas pembelajaran. Gaya belajar siswa kelas III yang kebanyakan bergaya belajar visual yaitu menyukai pembelajaran dengan gambar, video, game dan komputer menginspirasi peneliti untuk mengembangkan pembelajaran berbasis multimedia interaktif. Pengembangan multimedia interaktif dalam pembelajaran tematik ini diharapkan dapat membantu guru melaksanakan pembelajaran yang lebih bermakna, membantu siswa memberikan pengalaman yang lebih bermakna dan meningkatkan penggunaan sarana multimedia di sekolah. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk mengembangkan produk multimedia interaktif dalam pembelajaran tematik Kelas III Tema Keperluan Sehari-Hari. Model pengembangan produk menggunakan model ASSURE. Model ini dipilih karena sesuai dengan penelitian pengembangan ini yang menggunakan konsep teknologi dalam membuat produk berupa multimedia interaktif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jenis data kualitatif dan data kuantitatif. Penelitian ini menghasilkan produk multimedia interaktif yang memiliki kevalidan, kemenarikan, keefektifan dan kepraktisan yang tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan analisis penilaian kevalidan produk diperoleh hasil 77% yang masuk kategori “valid”, kemenarikan produk diperoleh hasil 97% yang masuk kategori “sangat menarik”, keefektifan produk diperoleh hasil 91% yang masuk kategori “sangat efektif”, dan kepraktisan produk diperoleh hasil 90% yang masuk kategori “sangat praktis”. Berdasarkan hasil pengembangan produk multimedia interaktif dalam pembelajaran tematik kelas III dapat disarankan untuk dipelajari dan dimanfaatkan oleh guru dan semua siswa kelas III SD yang berada di wilayah Kecamatan Tumpang. Multimedia interktif bisa dikembangkan pada tema dan jenjang kelas yang berbeda, serta dapat diperluas materi yang belum ada di dalam multimedia interaktif yang dikembangkan oleh peneliti.

Pengaruh penggunaan internet terhadap prestasi akademik bagi mahasiswa prodi S1 pendidikan ekonomi angkatan 2007 dan 2008 jurusan ekonomi pembangunan fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang / Ariesta Miftriana S

 

ABSTRAK Susanti, Ariesta Miftriana. 2009. Pengaruh Penggunaan Internet terhadap Prestasi Akademik bagi Mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang.. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Hj.Dra Sri Umi Mintarti W, SE, Ak, Mp (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata Kunci: penggunaan internet, prestasi akademik Internet sebagai sebuah jaringan raksasa yang menghubungkan berjuta-juta komputer di dunia tidak saja berfungsi sebagai medium untuk tukar menukar informasi secara cepat dan murah, namun telah menjadi gudang pengetahuan yang tak ternilai harganya. Internet atau komputer seperti juga peralatan yang dibuat oleh manusia lainnya mempunyai kemampuan yang sangat banyak. Akan tetapi manfaat yang dapat kita peroleh dari Internet menjadi beragam tergantung persepsi dan kemampuan atau kebutuhan yang ada.. Beragamnya motif menggunakan internet tentunya memberikan pengaruh yang beragam kepada pengguna. Berkembangnya informasi dan internet itu sendiri tentu akan menyebabkan terjadinya kelimpahan informasi (information overload) atau kebingungan pengguna dalam memilih, menyaring, dan menilai informasi yang ditemukan di internet sehingga akan mempengaruhi kepuasan pengguna. Variabel bebas dalam penelitian ini pemanfaatan internet terdiri dari sub variabel internet sebagai sumber belajar (X1), penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas (X2), dan persepsi mahasiswa tentang pemanfaatan internet (X3), sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi akademik mahasiswa (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 289 mahasiswa dan sampel berjumlah 74 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multy stage sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner. Tahap pertama purposive sampling yaitu menentukan sampling berdasarkan tujuan penelitian. Tahap kedua yaitu Proportional Sampling yaitu untuk menentukan jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian berdasarkan kelas. Skala yang digunakan skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk menguji kelayakan regresi dilakukan uji asumsi klasik dan keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS Versi 13.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel mengenal internet (X1) memiliki nilai B = 0,027; nilai t hitung = 24,564. Nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,9930 sehingga t hitung > t tabel atau dengan signifikansi t = 0,0000 dimana sig t < 0,05. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui variabel internet sebagai sumber belajar berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. Untuk variabel penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas (X2) memiliki nilai B = 0,025; nilai t i ii hitung = 23,861. Nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,9330 sehingga t hitung > t tabel atau signifikansi t = 0,000 dimana sig t < 0,05. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui variabel penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. Sedangakan untuk variabel persepsi mahasiswa tentang penggunaan internet diketahui bahwa mahasiswa prodi pendidikan ekonomi mempunyai persepsi yang cukup tinggi atau baik. Hal ini dikonfirmasikan berdasarkan distribusi frekuensi yang menunjukkan bahwa sebesar 54 responden (72,97%) mempunyai persepsi yang baik tentang penggunaan internet untuk menunjang prestasi akademiknya. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan: (1) sebagian besar responden menyatakan setuju untuk penggunaan internet sebagai sumber belajar, (2) sebagian besar responden menyatakan setuju untuk penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas , (3) sebagian besar responden meenyatakan setuju untuk persepsi mahasiswa tentang penggunaan internet. Secara parsial ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan internet sebagai sumber belajar terhadap prestasi akademik mahasiswa, ada pengaruh positif penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas terhadap prestasi akademik mahasiswa. Sedangkan secara simultan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan internet sebagai sumber belajar, penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas terhadap prestasi belajar mahasiswa. Sedangkan penggunaan internet sebagai sumber belajar merupakan sub variabel yang memberikan pengaruh paling dominan. Berdasarkan kesimpulan di atas disarankan (1) Dalam penelitian ini pemanfaatan internet berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Oleh karena itu pemanfaatan internet dalam proses belajar mengajar hendaknya semakin ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga nantinya terjadi peningkatan prestasi belajar mahasiwa, (2) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang diharapkan untuk memperbaiki fasilitas internet yang sudah ada sekarang ini, (3) Pemanfaatan internet bagaikan minum air laut yang tiada habisnya, maka hendaknya mahasiswa sebagai subjek belajar mampu menjaga diri agar terhindar dari dampak negatif penggunaan internet.

Hubungan pemahaman keselamatan dan kesehatan kerja siswa dengan penerapannya di Laboratorium Otomotif SMK se-Kota Probolinggo / Arif Fahruddin

 

Fahruddin, Arif. 2013. Hubungan Pemahaman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Siswa dengan Penerapannya di Laboratorium Otomotif SMK se-Kota Probolinggo . Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Any Martiningsih M.Kes (II) Drs.H. Agus Sholah, M.Pd. Kata Kunci : pemahaman K3, penerapan K3     Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran yang dilaksanakan di laboratorium adalah faktor keselamatan dan kesehatan kerja. K3 di sekolah berperan sebagai upaya yang dilakukan untuk mengurangi terjadinya resiko kecelakaan, kerusakan benda/peralatan kerja dimana secara tidak langsung akan merugikan siswa, guru maupun pihak sekolah     Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Mengetahui tentang pemahaman K3 siswa SMK se-Kota Probolinggo, (2) mengetahui penerapan K3 siswa di laboratorium otomotif SMK se-Kota Probolinggo, (3) mengetahui hubungan antara pemahaman K3 siswa dengan penerapan K3 siswa jurusan teknik kendaraan ringan di laboratorium otomotif SMK se- Kota Probolinggo.     Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional yang dilaksanakan pada siswa SMK se-Kota Probolinggo. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 105 siswa dengan metode Cluster sampling Pengambilan data yang digunakan adalah metode angket.     Hasil penelitian terhadap Siswa SMK se-Kota Probolinggo: (1) Siswa memiliki pemahaman K3 dengan kriteria baik, (2) siswa menerapkan K3 dengan kriteria sangat baik, (3) ada hubungan yang signifikan antara pemahaman K3 siswa dengan penerapan K3 siswa. Kesimpulan yang diperoleh: (1) Pemahaman K3 siswa SMK se-Kota Probolinggo berkategori baik, (2) penerapan K3 siswa SMK se-Kota Probolinggo berkategori sangat baik, (3) Ada hubungan yang signifikan antara pemahaman K3 siswa dengan penerapan K3 siswa jurusan teknik kendaraan ringan di laboratorium otomotif SMK se- Kota Probolinggo .

Pengembangan media komik pelestarian lingkungan hidup mata pelajaran geografi siswa SMA kelas XI / Andi Brata Dwi Kusuma

 

Kusuma, Andi Brata Dwi. 2014. Pengembangan media Komik Pelestarian Lingkungan Hidup Mata Pelajaran Geografi Siswa SMA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si, (II) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd. Kata Kunci: media komik, lingkungan, SMA kelas XI     Seorang guru seharusnya memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Siswa akan sulit memahami dan mengingat materi yang diajarkan guru apabila hanya dengan cara ceramah tanpa menggunakan media. Bagi siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi tentu tidak ada kesulitan, namun sulit untuk siswa dengan tingkat kecerdasan kurang atau lamban dalam berfikir. Oleh karena itu, dibutuhkan kejelian dan kreativitas guru dalam strategi pembelajaran sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan tidak merasa bosan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk dalam bentuk media pembelajaran komik geografi topik pelestarian lingkungan hidup yang teruji dapat meningkatkan minat baca siswa dan memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep lingkungan.     Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Model ini menggariskan langkah-langkah umum yang harus diikuti untuk menghasilkan produk, yang terdiri dari kegiatan analisis materi pembelajaran, perumusan tujuan, desain media, produksi, prototype media, validasi, revisi, uji coba, dan produk akhir. Data penelitian bersifat kuantitatif yang diperoleh dari hasil uji coba produk. Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif.     Hasil penelitian ini yaitu 1) validasi materi, konsep ekosistem perlu disempurnakan dan contoh serta penjelasan di perbanyak, 2) validasi media, foto yang masih blur perlu dibenahi dan di pertegas , redesain cover depan , 3) uji coba, media terkategori ”valid” karena persentase angket berada pada rentang 80-100%. Dengan demikian, disimpulkan bahwa produk valid di gunakan sebagai media pembelajaran geografi di SMA kelas XI dengan penambahan materi ekosistem yang kurang, melakukan pertimbangan tertentu, dan perubahan yang dilakukan tidak terlalu besar dan tidak mendasar.     Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang dapat meningkatkan manfaat dan pengembangan produk yang akan datang diajukan adalah: (1) Pada awal pembelajaran, hendaknya guru menarik minat siswa dengan memberikan penjelasan tentang media komik yang akan digunakan dalam pembelajaran lingkungan agar siswa tertarik dan memahami penggunaan media komik dengan baik dan benar, (2) untuk membuat komik mudah didapatkan banyak pihak, maka komik disebarluaskan melalui forum MGMP dan diupload di internet, (3) untuk pengembangan yang akan datang, produk dapat dibuat pada materi lain dengan proses menggambar.

Perbedaan rata-rata hasil belajar pemrograman web dengan penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas X RPL di SMKN 2 Singosari / Muh.Zaenal Hilmi

 

Hilmi, Muh. Zaenul. 2014. Perbedaan Rata-rata Hasil Belajar Pemrograman Web dengan Penerapan Model Pembelajaran Student Team Achievement (STAD) dan Problem Based Learning pada Kelas X RPL di SMKN 2 Singosari. Skripsi, Prodi Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs.Slamet Wibawanto, M.T (II) Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T. Kata Kunci : Model Pembelajaran, Hasil Belajar, Model Problem based Learning, Model Student Team Achievement Division. Guru dituntut dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi siswa mendapatkan pengalaman. Pada pemrograman web, model pembelajaran Student Team Achievement Division dan Problem Based Learning adalah salah satu dari pembelajaran kooperatif yang sesuai. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan siswa untuk dapat bekerja sama dalam kelompok, mengemukakan pendapat, bersosialisasi dan berpikir kritis. Hal itulah yang mendasari penelitian tentang perbedaan kedua model ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah posttest-only control design. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah hasil belajar meliputi ranah kognitif dan afektif siswa kelas X RPL pada materi pemrograman web sebagai variabel terikat sedangkan, variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division dan Problem Based Learning. Teknik pengumpulan data meliputi observasi dan post test. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi penilaian sikap dan tes hasil belajar siswa. Teknik analisis data dengan uji normalitas, uji homogenitas dan uji kesamaan dua rata-rata. Setelah kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda, hasil uji kesamaan dua rata-rata yang didapatkan dengan SPSS Statistic 17 adalah nilai signifikasi sebesar 0,471. Dari hasil analisis tersebut dapat disimpukan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar Pemrograman Web antara siswa yang diajar menggunakan model kooperatif tipe Student Team Achievement Division dan Problem Based Learning.

Pengaruh pengolahan dan pengeringan buah Pare (Momordica charabtia L.) terhadap perubahan kandungan kalsium dan vitamin c dan aplikasinya pada mi basah / Herlina Dwi Saputri

 

Saputri, Herlina Dwi. 2014. Pengaruh Pengolahan dan Pengeringan Buah Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Perubahan Kandungan Kalsium dan Vitamin C dan Aplikasinya Pada Mi Basah. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Amat Nyoto, M.Pd (2) Ir. Ummi Rohajatien, M. P Kata kunci: Tepung buah pare, mi basah, uji hedonik. Buah pare merupakan sayuran buah yang mempunyai kandungan gizi cukup tinggi, diantaranya kalsium dan vitamin C. Fungsi utama kalsium adalah untuk pembentukan tulang dan gigi, sedangkan vitamin C dapat berfungsi sebagai antioksidan. Oleh karena itu buah pare berpotensi untuk dikembangkan menjadi tepung buah pare yang dapat diolah menjadi aneka kuliner. Mi basah merupakan salah satu kuliner yang dipilih sebagai produk aplikasi dari tepung buah pare. Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan tepung buah pare yang baik, serta mendapatkan mi basah subtitusi tepung buah pare yang paling disukai oleh panelis. Metode pengolahan yang digunakan untuk membuat tepung buah pare adalah metode pengolahan blansir dan non blansir dengan proses pengeringan matahari dan cabiner dryer. Uji organoleptik untuk tepung buah pare meliputi uji kimia (kalsium dan vitamin C) dan uji mutu hedonik (warna dan aroma). Rancangan percobaan yang dilakukan adalah rancangan acak lengkap berpola faktorial. Uji organoleptik yang dilakukan terhadap mi basah buah pare adalah uji hedonik (kesukaan) untuk melihat kesukaan konsumen terhadap mi basah dengan subtitusi buah pare 5%, 10%, 15 %. Data dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji DMRT, sedangkan untuk mengetahui perlakuan terbaik digunakan metode indeks efektivitas. Hasil data mi basah buah pare yang paling disukai oleh konsumen dianalisis menggunakan Spider Web. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengolahan dan proses pengeringan berpengaruh terhadap kandungan kalsium tepung buah pare tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan vitamin C tepung buah pare. Kandungan kalsium tertinggi adalah kandungan kalsium tepung buah pare melalui proses pengeringan cabinet dryer dan metode pengolahan non blansir sebesar 838,37 ppm, sedangkan kandungan vitamin c berkisar antara 0.067 mg/100 g (0.67 ppm) sampai dengan 0,073 mg/100 g (0,73 ppm). Berdasarkan indeks efektivitas diperoleh terbaik yaitu tepung buah pare melalui proses pengeringan cabinet dryer dan metode pengolahan non blansir. Mi basah yang paling disukai oleh panelis adalah mi basah subtitusi tepung buah pare 5 %.

Improving the writing ability of the Xth graders of SMA Negeri 1 Sukomoro utilizing mind mapping strategy / Siti Nurul Chamidah

 

Chamidah, Siti Nurul. 2014. Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro dengan Menggunakan strategi Pemetaan Konsep. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I). Prof. Dr. Gunadi H. Sulistyo, M.A. (II). Dr. Ekaning D. Laksmi, M.Pd, M.A. Kata kunci: kemampuan menulis, teks deskriptif, strategi pemetaan konsep Penelitian tindakan kelas kolaboratif ini dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah siswa dalam menulis dengan menggunakan strategi pemetaan konsep. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana strategi pemetaan konsep dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro. Subyek dari penelitian ini adalah 36 siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Sukomoro tahun pelajaran 2013-2014. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket, lembar pengamatan, catatan lapangan, dan tes menulis. Dalam penelitian ini, strategi pemetaan konsep diterapkan melalui modifikasi pendekatan berbasis teks. Modifikasi ini dilakukan dengan melaksakan langkah- langkah pendekatan ilmiah dalam setiap tahapan curriculum cycle dari pendekatan berbasis teks. Ada empat pertemuan untuk melaksanakan keempat tahapan dari curriculum cycle dan satu pertemuan tambahan untuk melaksaksanakan ujian menulis dan mengisi angket. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan strategi pemetaan konsep melalui modifikasi pendekatan berbasis teks mampu meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peningkatan ini ditandai dengan adanya kenaikan peringkat nilai siswa, peningkatan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, dan peningkatan tanggapan positif siswa terhadap pelaksanaan strategi. Berdasarkan temuan dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis siswa dapat ditingkatkan melalui penggunaan strategi pemetaan konsep yang diterapkan dalam modifikasi pendekatan berbasis teks. Oleh karena itu, disarankan kepada guru Bahasa Inggris agar menggunakan strategi pemetaan konsep yang diterapkan dalam modifikasi pendekatan berbasis teks ini untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa mereka. Peneliti di masa mendatang dapat melakukan penelitian tentang penerapan strategi pemetaan konsep, namun menggunakan desain penelitian yang berbeda atau menerapkan strategi pemetaan konsep ini untuk mengajar ketrampilan bahasa yang lain. Selain itu, penelitian lanjutan terhadap penerapan strategi pemetaan konsep dapat dilaksanakan terhadap ketrampilan bahasa yang sama namun pada jenis teks atau tingkatan pendidikan yang berbeda.

Penerapan model pembelajaran problem solving melalui kegiatan lesson study untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X di SMAN 1 Srengat Blitar / Luthfiana Sari

 

ABSTRAK Sari, Luthfiana, 2016.Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving MelaluiKegiatan Lesson Study UntukMeningkatkanKeaktifan Dan HasilBelajarSiswaKelas X Di SMAN 1 SrengatBlitar. Skripsi, Program StudiPendidikanEkonomi, JurusanEkonomi Pembangunan, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. AgungHaryono, S.E., M.P., Ak., (2) Ro’ufahInayati, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Problem Solving, Lesson Study, Keaktifan, HasilBelajarEkonomi. Penelitiantindakankelasini dilatarbelakangiolehpermasalahanbelajarsiswapadamatapelajaranekonomi di SMAN 1 SrengatBlitar, yaitutingkatkeaktifansiswa yang rendahdanrendahnyajumlahsiswa yang tuntasbelajar.Penelitianinibertujuanuntukmeningkatkankeaktifandanhasilbelajarsiswadenganmenerapkan model pembelajaranpenyelesaianmasalahatau yang biasadisebutProblem SolvingmelaluikegiatanLesson Study. Penelitianiniterselesaikandengan 2 siklus yang terdiridari 3 kali pertemuantiapsiklusnya, padapertemuanpertamadilaksanakandengankegiatanLesson Study, pertemuankeduadiskusikelompokdalammenyelesaikanpermasalahan, setelahitumelakukankegiatanevaluasidenganmemberikansiswasoalulanganharian. Teknikdanalatpengumpulan data padapenelitianinimenggunakan data berupadokumenhasilulanganhariansiswauntukmengukurhasilbelajarranahkognitif, dandalamkeaktifansiswadanranahafektifmenggunakandaftarskordarilembarobservasi. HasilpenelitianmenunjukkanbahwapenerapanProblem SolvingmelaluikegiatanLesson Study, keaktifandanhasilbelajarsiswapadaranahkognitifdanafektifpadamatapelajaranEkonomiterjadipeningkatan yang signifikandibandingkansebelumtindakan, setelahsiklus I, dansiklus II padahasilbelajarranahafektif. Presentase rata-rata kelaskeaktifansiswasebelumtindakansebesar32% setelahtindakansiklus I menjadi 63,99% dansetelahtindakansiklus II menjadi 79,42%. Untukpersentasekelashasilbelajarranahkognitifsebelumtindakansebesar 40%, setelahtindakansiklus I menjadi 81%, dansetelahtindakansiklus II menjadi 100%.Padaranahafektifdenganpresentase rata-rata kelassiklus I sebesar 90,73%, menjadi 97,93% padasiklus II. Berdasarkanhasiltersebutpenelitiantindakankelasiniberhasil, sebabtelahmencapai target yang ditentukan.UntukpenelitianselanjutnyadisarankandalampelaksanaanLesson Studyhendaknyadiawasi minimal olehkepalasekolahuntukmeningkatkankeaktifandanhasilbelajarsiswa yang optimal, danmenambahkanvariabelmotivasibelajarpadaranahafektif.

Pengembangan paket pembelajaran pendidikan Agama Islam kelas VII dengan model Dick, Carey, dan Carey di SMPN 2 Banyuwangi / Roudhotul Jannah

 

Kata kunci: pengembangan, paket pembelajaran, pendidikan agama islam, model dick, carey, dan carey. Pembelajaran pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam dari pebelajar, di samping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus membentuk kesalehan sosial. Permasalahan pendidikan agam Islam pada hakekatnya ada dua macam yaitu menghadapi tantangan internal dan tantangan eksternal. Tantangan internal meliputi sempitnya pemahaman terhadap esensi ajaran agama Islam, perancangan dan penyusunan materi yang kurang tepat, metodologi pendidikan agama, dan hasil pembelajaran pendidikan agama Islam menyeimbangkan pengetahuan agama, sikap dan prakteknya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan tantangan eksternal berupa berbagai kemajuan IPTEK, era globalisasi di bidang informasi, perubahan sosial ekonomi dan budaya dengan segala dampaknya yang menuntut kemampuan pembelajar dan pebelajar mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan yang dihadapi. Permasalahan pembelajaran pendidikan agama Islam kelas VII SMPN 2 Banyuwangi diantaranya yaitu 1) kurangnya kemandirian belajar pebelajar, 2) belum ada bahan ajar pendidikan agama Islam yang sesuai dengan karakteristik pebelajar kelas VII SMPN 2 Banyuwangi, 3) pembelajar kesulitan untuk mengembangkan bahan ajar sendiri, 4) kurangnya alokasi waktu yang tersedia. Permasalahan tersebut dipandang perlu dicarikan solusi pemecahannya, maka pengembang mengembangkan paket pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terfokus pada variabel metode, sebab dalam metode pembelajaran terdapat strategi pembelajaran sebagai dasar dari pengembangan paket pembelajaran. Model yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model Dick, Carey & Carey (2001). Prosedur pengembangan model ini terdiri atas sepuluh langkah. Namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sembilan langkah, yakni: 1) mengidentifikasi kebutuhan untuk menentukan tujuan pembelajaran, 2) melakukan analisis pembelajaran pendidikan agama Islam, 3) menganalisis pebelajar dan konteks, 4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus (performance objectives), 5) mengembangkan instrumen penilaian, 6) mengembangkan strategi pembelajaran. 7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran. 8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif pembelajaran, dan 9) merevisi produk pembelajaran. Hasil pengembangan berupa draft paket pembelajaran diujicobakan. Uji coba yang telah dilakukan meliputi uji coba ahli isi mata pelajaran, uji coba ahli desain, uji coba ahli media pembelajaran, uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Hasil penilaian/tanggapan dari masing-masing tahap digunakan sebagai masukan proses penyempurnaan paket pembelajaran. Hasil uji coba ahli untuk bahan ajar, panduan pembelajar, dan panduan pebelajar berada dalam kategori sangat baik. Hasil uji coba perorangan pengembang banyak mendapatkan perbaikan, saran dan masukan. Hasil uji coba kelompok kecil, bahan ajar adalah skor 4 (baik), 5 (sangat baik), panduan pebelajar skor 4 (baik), 5 (sangat baik). Hasil uji coba lapangan bahan ajar skor 4 (baik), 5 (sangat baik), panduan pebelajar skor 4 (baik), 5 (sangat baik), dan panduan pembelajar skor 4 (baik), 5 (sangat baik). Peningkatan hasil belajar pebelajar sangat signifikan, terbukti dengan adanya perbedaan nilai pretes dan postes sebesar 27.161. Artinya paket pembelajaran sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar. Kekuatan paket pembelajaran yang telah disusun adalah (1) paket pembelajaran disusun secara sistematis untuk digunakan pembelajar dan pebelajar dalam kegiatan pembelajaran; (2) paket pembelajaran di tulis dan dirancang untuk kepentingan pebelajar, sehingga pebelajar dapat belajar secara mandiri maupun klasikal, (3) gaya penulisannya komunikatif dan semi formal, (4) paket pembelajaran disusun dengan memperhatikan metode dan strategi pembelajaran sehingga dapat menggunakan alokasi waktu semaksimal mungkin. Sedangkan kelemahan paket pembelajaran ini adalah disusun berdasarkan karakteristik pebelajar kelas VII, sehingga keberadaannya sesuai dengan karakteristik pebelajar SMP N 2 Banyuwangi. Bila paket pembelajaran ingin digunakan secara luas, perlu penyempurnaan atau revisi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pengguna.

Penerapan Pembelajaran kooperatif type stad untuk meningkatkan penguasaan konsep waktu pada mata pelajaran matematika kelas 1 SDN Mronjo 02 kecamatan selopuro kabupaten Blitar / Umi niswatin

 

Matematika merupakan salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Rendahnya prestasi belajar matematika salah satu penyebabnya terletak pada daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika masih kurang. Anggapan yang terjadi pada kehidupan masyarakat matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit dan membingungkan, terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan perhitungan waktu jam secara bulat.Peneliti berasumsi bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD anak akan bersemangat dan mengikuti pembelajaran matematika tentang perhitungan waktu jam secara bulat dapat meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan penguasaan konsep perhitungan waktu jam secara bulat siswa kelas 1 SDN Mronjo 2 Kecamatan. Selopuro Kabupaten. Blitar. (2) Peningkatan penguasaan perhitungan waktu jam secara bulat dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas I SDN Mronjo 02 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN.Mronjo 02 sebanyak 20 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi. Tehnik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SDN Mronjo 02. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pre tes dan post tes, pada siklus I dengan hasil 70%. Sedangkan pada siklus II nilai pre tes dan post tes meningkat menjadi 95 %. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembelajaran ini adalah: a). Proses Pembelajaran Matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat siswa menjadi lebih berani tampil ke depan kelas dan lebih berani bertanya juga menjawab pertanyaan yang di berikan oleh guru. b). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada penguasaan konsep perhitungan waktu jam secara bulat.

Pengembangan model permainan melalui media buku ajar bagi Taman Kanak-Kanak kelompok A gugus 1 Kecamatan Prajuritkulon Kota Mojokerto / Eka Kumala K.D.

 

Kumala, Eka, 2014. The Development of Game Model with the Teaching Book Media for Cluster I Group A Kindergarten, Prajuritkulon Subdistrict, Mojokerto City. Final Paper, Department of Physical and Health Education, Faculty of Physical Exercise Science, State University of Malang. Advisor (I): Dra. Sri Purnami, M.Pd. Advisor (II): Drs. Agus Tomi, M.Pd. Keywords : Development, Game Model, Teaching Book Media     Based on early observation, interview and demand analysis implemented by the author at Cluster I Group A Kindergarten in Prajuritkulon Subdistrict, Mojokerto City, on 1 June 2013, it is revealed that teachers of Cluster I Group A Kindergarten in Prajuritkulon Subdistrict, Mojokerto City, have shown variety of conditions. The findings indicate that (1) forty three teachers (86 %) do not use the teaching book, while seven teachers use the teaching book; (2) forty teachers (80 %) feel impeded in presenting game model, while ten teachers (20 %) do not feel hampered in performing game model; (3) forty two teachers (84 %) never try the rough motoric game which includes jump, catch and run, while eight teachers (16 %) teach the rough motoric game of jump, catch and run; (4) forty eight teachers (96 %) do not need the teaching book media to increase the variation of game, while only two teachers (4 %) consider the teaching book as unnecessary; and (5) fifty teachers (100%) have agreed if the lesson of Physical Education, Sport and Health must be provided with reliable facility or teaching book media.     The development of game model with the teaching book media can be described as follows. Specification of product is variety of learning. The cover is arranged with attractive picture. Foreword, list of content, introduction, material and picture are composed in neatly order. Language is made as easy to understand by teachers. The content of the teaching book for Physical Education, Sport and Health includes (a) crawling with bench, (b) catching the moon, (c) simpai (imitating the monkey), (d) barrier, (e) transforming, (f) kicking the sun, (g) climbing as monkey, and (h) ball circle.     The developmental method suggested by Borg and Gall (1983:775) is used as the developmental method of this research. The author makes few modifications such that the developmental method involves: (1) the analysis of product including field observation, interview, questionnaire and literature study; (2) the development of early product; (3) the evaluation of game expert, media expert and product revision; (4) Stage I trial (small group), (5) revision to Stage I trial product, (6) Stage II trial (big group), and (7) revision to Stage II trial.     Result of Game Model Development with the teaching book media for Cluster I Group A Kindergarten in Prajuritkulon Subdistrict, Mojokerto City, has met several criteria. It meets the adequate criteria from learning expert by 75 %, good criteria from media expert by 87.5 %, good criteria for Stage I trial by 76.80%, and good criteria for Stage II trial by 84.72 %. Hereby, it can be said that this model is useful to be the development media for Cluster I Group A Kindergarten in Prajuritkulon Subdistrict, Mojokerto City.     

Peningkatan hasil belajar matematika tentang pengukuran panjang melalui pendekatan kontekstual metode pemecahan masalah siswa kelas III SDN MANDARANREJO./Sukarsih

 

ABSTRAK Sukarsih, 2010.Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Pengukuran Panjang Melalui Pendekatan Kontekstual Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas III UPT SDN Mandaranrejo II Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program PJJ-SI PGSD. Pembimbing : Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd Kata Kunci:Pembelajaran Kontekastual, Pemecahan Masalah Pengukuran Panjang Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatankontekstual metode pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Apakah pembelajaran kontekstual dengan metode pemecahan masalah dapat meningktkan aktivitas siswa kelas III UPT SDN Mandanrejo II Pasuruan dalam pembelajaran matematika ?,2) Apakah pembelajaran kontekstual dengan metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang pengukuran panjang siswa kelas III UPT SDN Mandanrejo II Pasuruan ?, 3)Bagaimana penerapan pembelajaran Matematika kontekstual dapat meningkatkan kemapuan pemecahan masalah siswa kelas III UPT SDN mandaranrejo II Pasuruan ? Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III UPT SDN Mandaranrejo II Pasuruan sebanyak 32 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan menggunakan alat ukur. Dari 32 siswa 5 orang siswa memperoleh nilai 100, 4 orang siswa memperoleh nilai 80, 8 orang siswa memperoleh nilai 60, 13 orang siswa memperoleh nilai 40, dan 2 orang siswa memperoleh nilai 20. KKM sekolah sebesar 70, artinya siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila telah memperoleh nilai minimal 70. Dari hasil tes awal dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas belajar 9 orang siswa (28% ), sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 23 orang siswa (72%). Sehingga pembelajaran dikatakan tidak berhasil. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1), Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I diperoleh prosentase 79% dengan kiteria tingkat keberhasilan baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II diperoleh prosentase 88, 1 %, dengan criteria keberhasilan amat baik. Hal ini mebuktikan bahwa aktivitas siswa meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 9,1%, (2) Hasil belajar pada akhir I diperoleh nilai rata-rata 72,8 siswa yang tuntas belajar 21 siswa dan siswa tidak tuntas belajar 11 siswa. Hasil belajar pada akhir siklus II diperoleh nilai rata-rata 84.3 siswa yang tuntas belajar 32 siswa (100%). (3) Kemapuan pemecahan masalaha meningkat, dengan kiteria keberhasilan amat baik, karena itu dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran matematika kontekstual kemapuan pemecahan masalah siswa kelas II SDN mandaranrejo II Pasuruan mengalami peningkatan

Hubungan perilaku kesehatan lingkungan biofisik, gizi, serta perawatan dengan morbiditas balita di Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang / Rani Astria

 

Astria, Rani. 2014. Hubungan Perilaku Kesehatan Lingkungan Biofisik, Gizi, serta Perawatan dengan Morbiditas Balita di Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Drs. Soetjipto T.H., S.H, M.Pd. Kata Kunci: Morbiditas, Balita, Biofisik     Kelurahan Kidul Dalem merupakan salah satu dari dari 11 kelurahan yang terdapat di Kecamatan Klojen, dengan populasi penduduk yang cukup padat. Kepadatan penduduk yang tak terhindarkan menyebabkan banyak penduduk yang mendiami pemukiman dibantaran sungai, sehingga perilaku kesehatan lingkungan biofisik masyarakatnya sangat menghawatirkan. Selain itu, kesehatan balita di Kelurahan Kidul Dalem sangat rawan, hal tersebut diindikasikan dengan ditetapkannya Kelurahan Kidul Dalem sebagai salah satu wilayah yang rawan kesehatan, sehingga perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut Dengan kata lain, morbiditas balita di Kelurahan Kidul Dalem, khususnya di pemukiman bantaran sungai diduga cukup tinggi.     Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap Morbiditas Balita di kelurahan Kidul Dalem, serta mengungkap hubungan morbiditas balita dengan perilaku kesehatan lingkungan biofisik, gizi, serta perawatan. Morbiditas diartikan sebagai kekerapan balita sakit, jenis penyakit, dan lama sakit, sehingga dapat dianalisa angka morbiditas balita, berupa insiden terjadi sakit pada populasi balita. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan morbiditas balita, maka dalam penelitian ini digunakan (1) variabel terikat yaitu morbiditas balita, serta (3) variabel bebas yaitu perilaku kesehatan lingkungan biofisik, perawatan, serta gizi.     Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan metode survey. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan tabulasi, tabulasi silang, serta uji khi-kuadrat. Tabulasi dan tabulasi silang digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel penelitian secara rinci, sedangkan uji khi-kuadrat digunakan untuk mengetahui variabel bebas mana yang terkait dengan variabel terikat secara signifikan.     Hasil analisis tabulasi silang, serta Khi- Kuadrat didapatkan bahwa (1)Sebagian besar morbiditas balita tergolong sedang dengan perilaku kesehatan lingkungan biofisik yang kurang baik, sementara itu morbiditas balita termasuk dalam kategori sedang dengan gizi cukup. Sedangkan mayoritas penduduk Kelurahan Kidul Dalem tergolong morbiditas balita sedang dengan perawatan baik. (2) Terdapat hubungan yang signifikan antara Mporbiditas Balita dengan perilaku kesehatan Lingkungan Biofisik. (3)Hasil uji Khi-kuadrat didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perawatan dan Gizi dengan morbiditas balita. Oleh karena itu disarankan untuk pembangunan septik tank masal untuk penduduk di pemukiman bantaran sungai Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, serta sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna meningkatkan perilaku kesehatan lingkungan biofisik penduduk menjadi lebih baik.     

Persepsi kepala sekolah dan teman sejawat terhadap guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK PROBOLINGGO./Maya Faradilla Puspa

 

ABSTRAK Puspa, Maya Faradilla. 2009. “Persepsi Kepala Sekolah Dan Teman Sejawat Terhadap Guru Ekonomi Yang Tersertifikasi Di Sma Dan Smk Probolinggo”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj Lisa Rokhmani. M.Si (2) Dr. Nasikh, S.E.,M.P., M.Pd Kata kunci: Profesionalisme guru, Kompetensi guru, Kinerja guru Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, sehingga mereka harus mendapatkan perhatian yang utama.Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dalam proses belajar mengajar. Perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan persyaratan memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau Diploma IV yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran, seorang guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu guru sehingga pembelajaran di sekolah juga akan berkualitas. Peningkatan mutu dan peningkatan kesejahteraan guru diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan melalui sebuah kinerja guru yang baik.Tujuan sertifikasi adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; meningkatkan martabat guru; dan meningkatkan profesionalise guru. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan variabel dalam penelitian yaitu profesionalisme guru, kompetensi guru dan kinerja guru. Populasi dalam penelitian ini adalah guru ekonomi tersertifikasi di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Probolinggo. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah dan guru (teman sejawat) dari guru yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 37 orang. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode angket/kuesioner tertutup. Analisis data yang digunakan untuk menguji adalah dengan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian untuk tingkat Profesionalisme guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat sudah sangat tinggi atau baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data menyatakan bahwa masing-masing sub profesionalisme yaitu: 83,8 % guru memiliki tingkat ahli bidang teori dan praktek yang sangat tinggi atau baik, 75,7 % guru memiliki tingkat latar belakang kependidikan yang sangat tinggi atau baik, 78,4% guru melaksanakan kode etik guru yang sangat tinggi atau baik, 91,9% guru memiliki tingkat otonom dan rasa tanggungjawab yang sangat tinggi atau baik, 83,8% guru memiliki kerelaaan memberikan bimbingan yang sangat tinggi atau baik, serta 62,2% guru memiliki rasa bekerja berdasarkan panggilan hati nurani yang sangat tinggi atau baik. Hasil penelitian untuk tingkat Kompetensi guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat adalah sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data menyatakan bahwa masing-masing sub kompetensi yaitu: 83,8 % guru memiliki tingkat kompetensi kepribadian yang tinggi, 83,8 % guru memiliki tingkat kompetensi sosial yang tinggi, 75,7% guru memiliki tingkat kompetensi pedagogik yang tinggi, serta 78,4% guru memiliki tingkat kompetensi profesional yang tinggi. Sedangkan untuk kinerja guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat juga sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data masing-masing sub variabel. Dari sub variabel penyusunan program pembelajaran yaitu: 91,9 % guru menyusun program pembelajaran, 83,8 % guru melaksanakan pelaksanaan evaluasi, 62,2 % guru melakukan analisis evaluasi, 78,4 % guru melakukan pelaksanaan perbaikan dan pengayaan, 56,8 % guru melakukan pelaksanaan pembelajaran dengan sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada para guru ekonomi tersertifikasi di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Probolinggo untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dan kinerjanya dalam dunia kependidikan. Sehingga tujuan Sertifikasi guru untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Berbagai program untuk meningkatkan kompetensi dan kinerjanya, hendaknya tidak berhenti begitu saja setelah sertifikat pendidik didapatkan, melainkan tetap membekali diri dengan berbagai program peningkatan pendidikan seperti pelatihan dan seminar yang bermanfaat untuk menambah wawasan di dunia pendidikan.

Pengembangan modul melayani makan dan minum siswa kelas X Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 3 Blitar / Siti Nurjanah

 

Nurjanah, Siti. 2014.Pengembangan Modul Melayani Makan dan Minum Siswa Kelas X Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 3 Blitar. Skripsi. Program Studi Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Teti Setiawati M.Pd., (II) Dra. Wiwik Wahyuni M.Pd. Kata kunci: modul, melayani makan dan minum, SMK, jasa boga Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas baik berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul pada mata pelajaran melayani makan dan minum di SMKN 3 Blitar yang terdiri dari 3 KD yaitu, (1) menjelaskan bagian pelayanan makanan dan minuman, (2) merinci peralatan yang tepat, dan (3) menyediakan layanan makanan dan minuman di restoran. Bahan ajar yang ada di sekolah selama ini masih kurang maksimal pemanfaatannya dalam proses belajar mengajar, sehingga pengembangan bahan ajar ini dapat menambah alternatif siswa untuk belajar. Penelitian pengembangan ini menggunakan langkah pengembangan modul adaptasi Sugiono yang terdiri dari 7 langkah pengembangan, antara lain: (1) potensi dan masalah, (2) mengumpulkan data sebagai bahan perencanaan pengembangan modul, (3) desain produk atau pengembangan produk awal, yaitu pengembangan draf atau produk awal dilakukan oleh pengembang yang bekerjasama atau dibantu oleh para ahli, (4) validasi produk yaitu validasi oleh para ahli, (5) revisi produk, (6) siswa sebagai subjek coba, (7) revisi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) validasi dosen ahli pengembangan media memperoleh persentase kelayakan sebesar 81,25%. (2) hasil validasi ahli materi (dosen dan guru) untuk kelayakan materi memperoleh persentase 86,25%. (3) validasi guru ahli bahasa indonesia memperolah persentase kelayakan sebesar 85%,dan (4) hasil uji coba dari seluruh siswa kelas X memperoleh persentase ketertarikan 0% tidak ada, 100% keseluruhan siswa, 76, 19% 32 siswa, 69,04% 29 siswa, 64, 28% 27 siswa, 61, 90% 26 siswa, 54, 76% 23 siswa, 50% sebagian siswa, 45,23% 19 siswa, 38,09% 16 siswa, 35,71% 15 siswa, 30,95% 13 siswa, dan 23,80% 10 siswa, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan modul melayani makan dan minum dinyatakan menarik.

Analisis potensi retribusi pasar terhadap pendapatan asli daerah (PAD) kota Malang tahun 2004-2008./ Firghansa Ulil Rizky

 

ABSTRAK Rizky, Firghansa Ulil. 2010. Analisis Potensi Retribusi Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Malang Tahun 2004-2008. Skripsi, Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M.Pd, (II) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si. Kata kunci: otonomi daerah, potensi, retribusi pasar, PAD. Otonomi daerah merupakan aplikasi dari suatu kebijakan yang menetapkan bahwa kabupaten maupun kota sebagai titik beratnya. Inti dari pelaksanaan otonomi daerah adalah upaya untuk memaksimalkan hasil yang akan dicapai sekaligus menghindari kerumitan dan hal-hal yang menghambat pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian, tuntutan masyarakat dapat diwujudkan secara nyata dengan penerapan otonomi daerah luas dan kelangsungan pelayanan umum tidak diabaikan, serta memelihara kesinambungan fiskal secara nasional. Meskipun bukan penerimaan retribusi yang utama, namun retribusi pasar Kota Malang memiliki peranan yang cukup penting, yakni sebagai salah satu penyumbang dalam penerimaan retribusi daerah pada khususnya dan PAD pada umumnya. Untuk mengetahui fokus dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah perkembangan retribusi pasar dan PAD Kota Malang tahun 2004-2008? (2) Bagaimanakah hubungan antara retribusi pasar dengan PAD Kota Malang tahun 2004-2008? (3) Bagaimanakah potensi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang tahun 2004-2008? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan Asli Daerah (Dispenda) dan Dinas Pasar Kota Malang dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Populasi terdiri dari retribusi pasar selama 8 (delapan) tahun, yakni mulai tahun 2001 hingga tahun 2008 sedangkan sampel terdiri dari retribusi pasar Kota Malang selama 5 (lima) tahun, yakni mulai tahun 2004 hingga tahun 2008. Sampel diambil dengan teknik sampling purposive. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Prosentase perkembangan retribusi pasar Kota Malang dari tahun ke-tahun mengalami ketidakstabilan. Rata-rata perkembangan penerimaan retribusi pasar menunjukkan angka 10,18% pertahun, sedangkan rata-rata prosentase realisasi retribusi pasar atas targetnya adalah sebesar 100,87% pertahun, (2) PAD Kota Malang mengalami perkembangan setiap tahunnya, namun tidak selalu mengalami peningkatan. Rata-rata perkembangan PAD Kota Malang cukup, yakni 5,97% per-tahun, sedangkan rata-rata prosentase realisasi retribusi pasar atas targetnya adalah sebesar 101,89% pertahun, (3) Retribusi pasar memiliki hubungan linier positif yang menunjukkan bahwa dengan naiknya pendapatan retribusi pasar, maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan naik pula. Namun demikian, retribusi pasar memiliki tingkat korelasi yang rendah dengan Pendapatan Asli Daerah Kota Malang. Korelasi antara dua variabel tersebut menunjukkan angka 0,345, (4) Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, retribusi pasar cukup memiliki potensi dalam menyumbang penerimaan retribusi daerah dan PAD Kota Malang. Menurut perhitungan melalui analisa kontribusi, potensi retribusi pasar dalam menyumbang PAD Kota Malang adalah sebesar 3,66%. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan retribusi pasar dalam kaitannya dengan PAD Kota Malang adalah: (1) Bagi Pemerintah: (a)Perlu diadakan upaya yang lebih intensif lagi dalam pemungutan retribusi pasar sehingga penerimaan retribusi pasar akan selalu mengalami peningkatan yang lebih besar dan stabil setiap tahunnya, dengan cara pengoptimalan kembali usaha intensifikasi dan ekstensifikasi pasar, (b)Pemerintah sebagai stakeholder perlu untuk lebih memperhatikan lagi dan membantu kemajuan sektor penerimaan retribusi pasar, dengan cara memberikan penyuluhan dan bantuan materiil terhadap pedagang melalui kebijakan yang lebih baik lagi agar krisis ekonomi global tidak mengakibatkan kelesuan perdagangan pasar, (c)Penerimaan atas PAD harus lebih dioptimalkan kembali dengan cara mengembangkan potensi dan keunggulan daerahnya sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap Pemerintah Pusat dan bantuan lainnya; (2) Bagi peneliti lain: mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai teknik pengambilan data yang lebih menitikberatkan pada data sekunder, maka penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik dan mendalam dengan menggali sumber data primer.

Kajian Etnozoologi masyarakat Desa Hadiwarno Kabupaten Pacitan dalam konservasi penyu sebagai bahan penyusunan booklet penyuluhan masyarakat / Dwi Setyawan

 

Setyawan, Dwi. 2014. Kajian Etnozoologi Masyarakat Desa Hadiwaarno Kabupaten Pacitan dalam Konservasi Penyu sebagai Bahan Penyusunan Booklet Penyuluhan Masyarakat. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fatchur Rohman, M.Si., (2) Dr. Hedi Sutomo, S.U. Kata Kunci: Etnozoologi, konservasi, penyu, booklet Penyu merupakan hewan langka, sehingga kepunahan penyu di Indonesia akan sangat merugikan, karena merupakan salah satu faktor penyangga ekosistem kehidupan. Apabila pemanfaatan penyu tidak dilakukan dengan bijaksana, maka hal ini dapat menyebabkan penurunan populasi secara permanen. Pemanfaatan penyu oleh masyarakat desa Hadiwarno kabupaten Pacitan dalam perkembangannya mulai kearah konservasi. Sekalipun demikian, masih banyak pemanfaatan penyu yang bersifat eksploitasi. Pemanfaatan penyu secara eksploitasi bukan tanpa sebab, karena masyarakat memanfaatkannya untuk kebutuhan ekonomi dan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Tetapi, sebelum daging penyu dikonsumsi terlebih dahulu harus disembelih oleh dukun sembelih penyu, karena di masyarakat berkembang mitos bahwa penyu merupakan hewan keramat dan siapa saja yang memakannya akan meninggal atau mendapatkan kesialan. Permasalahan tersebut perlu dikaji, yaitu pengaruh latar belakang pendidikan, pengetahuan etnozoologi, status ekonomi keluarga, sikap terhadap pemanfaatan penyu. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung antara latar belakang pendidikan terhadap pemanfaatan penyu di desa Hadiwarno kabupaten Pacitan, (2) menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung antara pengetahuan etnozoologi terhadap pemanfaatan penyu di desa Hadiwarno kabupaten Pacitan, (3) menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung antara setatus ekonomi keluarga terhadap pemanfaatan penyu di desa Hadiwarno kabupaten Pacitan, (4) menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung antara sikap terhadap pemanfaatan penyu di desa Hadiwarno kabupaten Pacitan, dan (5) mengembangkan hasil penelitian sebagai bahan penyusunan booklet untuk penyuluhan masyarakat di desa Hadiwarno kabupaten Pacitan. Jenis penelitian yang digunakan ialah korelasional kausal dengan menggunakan statistik analisis jalur (path-analysis). Variabel eksogen adalah latar belakang pendidikan, pengetahuan etnozoologi, dan status ekonomi keluarga. Variabel endogen adalah sikap dan pemanfaatan penyu. Populasi dibedakan menjadi populasi sampling dan populasi sasaran. Populasi sampling dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di desa Hadiwarno kabupaten Pacitan. yang berprofesi sebagai nelayan dan pengelola konservasi penyu. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh Kepala Keluarga (KK) di desa Hadiwarno kabupataen Pacitan. Analisis data dibedakan atas 2 cara: (1) penelitian deskriptif, dan (2) penelitian korelasional kausal dengan menggunakan analisis jalur. Uji hipotesis menggunakan analisis jalur dengan taraf signifikansi 0,05 (P < 0,05). Sebelum uji analisis jalur, dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, uji multikolinieritas, dan uji autokorelasi. Karena hasil uji prasyarat menyatakan variabel latar belakang pendidikan memiliki nilai kurang dari nilai signifikansi 0,05 (p < 0,05) maka dinyatakan distribusi data tidak normal dan tidak bisa diuji dengan analisis jalur, sehingga pengujian hipotesis tidak dilakukan. Hasil penelitian korelasional kausal menunjukkan: Pengaruh pengetahuan etnozoologi, dan status ekonomi keluarga terhadap sikap. Pengujian secara simultan tidak diterima pada taraf sigifikan p = 0,121 > 0,05. Dilanjutkan dengan pengujian secara individu, “pengaruh pengetahuan etnozoologi terhadap sikap” dengan nilai probabilitas signifikan = 0,041 dan “pengaruh status ekonomi keluarga terhadap sikap” dengan nilai probabilitas signifikan = 0,951. Sehingga perlu diperbaiki melalui metode trimming. “pengaruh pengetahuan etnozoologi terhadap sikap” di dapatkan nilai signifikan p = 0,039 < 0,05. Nilai koefisien diterminasi R2 = 0,044 bermakna bahwa koefisien jalur yang signifikan secara statistik hanya pengetahuan etnozoologi terhadap sikap, sedangkan koefisien jalur status ekonomi keluarga terhadap sikap secara statistik tidak signifikan. Pengetahuan etnozoologi secara individu berpengaruh terhadap sikap sebesar 4,45%, artinya variabel lain juga berpengaruh terhadap sikap sebasar 91,39% dan belum dapat dijelaskan dalam penelitian ini. Pengaruh pengetahuan etnozoologi, status ekonomi keluarga, dan sikap terhadap pemanfaatan penyu. Pengujian secara simultan diterima pada taraf sigifikan p = 0,001 < 0,05. Nilai koefisien diterminasi R2 = 0,162 bermakna bahwa secara bersama-sama pengetahuan etnozoologi, status ekonomi keluarga, dan sikap berpengaruh terhadap pemanfaatan penyu sebesar 16,2%, sedangkan variabel lain juga berpengaruh terhadap sikap sebesar 83,8% dan belum dapat dijelaskan dalam analisis penelitian ini. Pengujian secaara individu “Pengaruh pengetahuan etnozoologi terhadap pemanfaatan penyu” dengan nilai probabilitas (sig.) = 0,013. “Pengaruh status ekonomi keluarga terhadap pemanfaatan penyu” dengan nilai probabilitas (sig.) = 0,041. “Pengaruh sikap terhadap pemanfaatan penyu” dengan nilai probabilitas (sig.) = 0,032. Adapun pengaruh pengetahuan etnozoologi terhadap pemanfaatan penyu sebesar 6,10% status ekonomi keluarga terhadap pemanfaatan penyu sebesar 3,49%. Pengaruh sikap terhadap pemanfaatan penyu sebesar 7,02%. “Pengaruh status ekonomi keluarga dan sikap terhadap pemanfaatan penyu” diterima pada taraf signifikan p = 0,006 < 0,05. Pengaruh status ekonomi keluarga dan sikap secara simultan dan langsung sebesar 1,08%, dan terdapat pengaruh tidak langsung latar sebesar 80,28%. Pengaruh tidak langsung pengetahuan etnozoologi terhadap pemanfaatan penyu melalui sikap sebesar 0,06%. Hasil penelitian pengembangan, yaitu analisis data hasil validasi booklet oleh validator ahli isi dan ahli media pembelajaran. Hasil validasi ahli isi, bahwa booklet masuk dalam kategori sangat baik dan tidak perlu di revisi dengan total nilai sebesar 96,45%. Validator bidang media pembelajaran memberikan putusan bahwa booklet masuk dalam kategori sangat baik dan tidak perlu direvisi dengan total nilai sebesar 93,7%. Dari hasil keputusan oleh tim validator, dapat disimpulkan bahwa booklet dapat digunakan.

Pengembangan media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran PLC (Programable Logic Controller) untuk kelas XII teknik instalasi tenaga listrik di SMK Negeri 6 Malang / Sarwendah Eka Safitri

 

Safitri, Sarwendah Eka. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Web Pada Mata Pelajaran PLC (Programmable Logic Controller) untuk Kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Prihanto S.S.T., M.Pd. (II) Yuni Rahmawati S.T., M.T. Kata Kunci: Pengembangan, Web, PLC (Programmable Logic Controller).    Dewasa ini perkembangan teknologi semakin maju, termasuk pada bidang pendidikan dan selalu mengalami perkembangan secara signifikan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk membuat sebuah media pembelajaran dinamis yang megandung unsur interaktif, atraktif dan dapat mengikuti perkembangan jaman supaya dapat menarik minat siswa untuk lebih termotivasi sehingga mempengaruhi hasil belajar yang jauh lebih baik. Media populer yang dijadikan bahan pertimbangan sebagai media pembelajaran yang menarik adalah web, jenis media yang banyak digunakan dan dapat dibuat dengan cara yang sederhana. Media pembelajaran berbasis web tentunya sudah menjadi hal yang sudah tidak asing untuk untuk dapat dioperasikan, tidak berfungsi menggantikan jenis pembelajaran konvensional, akan tetapi memperkuat model pembelajaran melalui aplikasi dari teknologi dengan pengemasan yang lebih menarik, diharapkan dapat diakses sebagai media bantu guru dalam menyampaikan materi maupun digunakan oleh siswa di luar kegiatan belajar di kelas. Di sebuah ruangan SMK Negeri 6 Malang kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik memiliki menyediakan fasilitas untuk dapat menunjang media pembelajaran berbasis web. Adapun media tersebut telah ada namun tidak difungsikan untuk mata pelajaran PLC. Media pembelajaran berbasis web akan membantu siswa dalam kegiatan pembelajaran demi ketercapaian hasil belajar yang lebih optimal karena menunjang grafis berupa gambar/photo serta audio/video, memiliki konten yang terdiri dari silabus, materi-materi PLC, evaluasi, dan sumber referensi.    Tujuan yang diharapkan pada pengembangan ini adalah: (1) merancang media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran PLC untuk kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 6 Malang, (2) membuat media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran PLC untuk kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 6 Malang, (3) menguji kelayakan media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran PLC untuk kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 6 Malang.    Pengembangan ini menggunakan acuan model pengembangan ADDIE (2009): (1) analyze; (2) design; (3) develop; (4) implement; (5) evaluate. Hasil dari penelitian ini yaitu berupa web untuk mata pelajaran PLC yang telah divalidasi oleh ahli materi, ahli media, dan uji coba lapangan untuk diimplementasikan pada kegiatan pembelajaran seterusnya pada siswa kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 6 Malang.    Berdasarkan validasi ahli media didapatkan hasil persentase sebesar 87,50% (valid). Berdasarkan validasi ahli materi didapatkan hasil persentase sebesar 80,83% (valid). Berdasarkan uji coba lapangan didapatkan hasil persentase sebesar 85,99% (valid). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran PLC untuk kelas XII Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 6 Malang layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Keefektifan model pembelajaran learning cycle ditinjau dari prestasi belajar dan persepsi siswa untuk topik laju reaksi pada siswa kelas II SMA Negeri Kendari / oleh Maysara

 

Penggunaan alat peraga IPA untuk meningkatkan prestasi belajar Fisika siswa kelas VIII E SMPN 2 Malang / Asmoin

 

Kata kunci: penggunaan alat peraga, prestasi belajar. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran fisika kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang menunjukkan bahwa siswa cenderung pasif ketika proses pembelajaran berlangsung. Nilai rata-rata kelas yang dicapai hanya 65 kurang dari kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 70. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru yaitu metode ceramah yang dilengkapi dengan slide melalui LCD. Siswa hanya melihat, mendengar, dan mencatat pelajaran yang disampaikan guru. Metode ini menyebabkan penilaian yang dilakukan guru hanya pada aspek kognitif saja, sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik belum dapat dilaksanakan. Hal ini menandakan bahwa proses pembelajaran tidak dapat menciptakan pemahaman menangkap konsep, fakta, prinsip/hukum serta teori. Untuk mengatasi permasalahan ini diterapkan penggunaan alat peraga IPA untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII E SMPN2 Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar IPA (fisika) siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang yang mencakup aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang yang berjumlah 42 siswa. Peningkatan prestasi belajar pada aspek kognitif diperoleh melalui pemberian soal pre-tes untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan pemberian post-tes setelah proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik diperoleh melalui proses kegiatan praktikum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) penerapan pembelajaran melalui penggunaan alat peraga IPA (fisika) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang yang ditunjukkan oleh peningkatan pada aspek kognitif dengan meningkatnya gain score dari 0,44 dan 0,45 pada siklus I menjadi 0,50 pada siklus II. Peningkatan gain score pada aspek kognitif termasuk kategori ( sedang) dengan 0,7(g)0,3. Adapun pada aspek afektif dalam kegiatan praktikum meliputi keberanian bertanya/menjawab, kerja sama dalam kelompok, keaktifan dalam melakukan percobaan, ketepatan mengumpulkan laporan dan kerapian setelah melakukan percobaan ditunjukkan oleh peningkatan persentase rerata dari 53,24% pada siklus I menjadi 59,23% pada siklus II. Sedangkan peningkatan aspek psikomotorik yang meliputi ketepatan menggunakan alat sesuai obyek, kemampuan mengoperasikan alat, ketepatan membaca alat ukur, dan ketepatan memasukkan data ditunjukkan oleh peningkatan persentase rerata dari 72,32% pada siklus I menjadi 73,45 % pada siklus II.

Perancangan pesona 6 pantai Kabupaten Malang berbasis fotografi / Dimas Maulana

 

Maulana, Dimas. 2014. Perancangan Pesona 6 Pantai Kabupaten Malang Berbasis Fotografi. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn, (II) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn Kata Kunci : perancangan, fotografi, pantai, Kabupaten Malang     Perancangan ini dibuat untuk merumuskan konsep media perancangan yang berbentuk buku eksplorasi fotografi yang menampilkan profil 6 pantai di Kabupaten Malang. Pantai yang ditampilkan adalah Pantai Ngliyep, Balekambang, Goa Cina, Bajol Mati, Sendang Biru, dan Lenggoksono.     Perancangan Eksplorasi Fotografi 6 Pantai Kabupaten Malang menggunakan model perancangan prosedural. Model ini berisi langkah-langkah prosedural yang sistematik dan rasional. Model prosedural ini merupakan model yang bersifat deskriptif naratif, yaitu perancangan yang berusaha untuk memu-tuskan (menggariskan langkah-langkah) pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data empirik dan data referensi, menganalisis dan mengintrefasikan-nya untuk menghasilkan konsep perancangan. Proses perancangan dimulai dengan pengumpulan data. Data tersebut dapat diperoleh dari data pustaka dan artikel-artikel yang terkait. Setelah mendapatkan informasi maka tujuan dari perancangan ini dapat dirumuskan. Langkah selanjutnya pengumpulan informasi dari pustaka dan observasi. Tahap selanjutnya dibuatlah sebuah konsep dari analisis data-data yang sudah terkumpul, yang menjadi awalan perancangan sampai menghasilkan perancangan yang diinginkan. Semua foto yang ditampilkan telah melalui olah digital menggunakan program photoshop dengan pengolahan warna untuk menyatukan kontras. Warna layout yang digunakan cenderung soft dan cerah karena untuk menampilkan sifat alami yang sesuai dengan konten. Buku ini berisi lima puluh halaman, yang memuat foto dan deskripsi tiap pantai, dilengkapi dengan peta dan informasi tentang hotel dan travel di kota Malang. Buku ini memuat informasi tentang daya tarik, fasilitas, lokasi pantai Ngliyep, Balekambang, Bajol Mati, Goa Cina, Sendang Biru, Lenggoksono. Katalog ini juga dapat menjadi media bagi pihak pengelola wisata untuk menyampaikan tentang tempat wisata kepada masyarakat luas. Media Pendukung yang dirancang adalah x-banner, polo shirt, pin, sticker, social media official page.

Penerapan model pembelajaran inquiri sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Blitar tahun pelajaran 2009/2010 / Nanik Guntariati

 

ABSTRAK GUNTARIATI, N. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010 Penelitian Tindakan. Pembimbing Dr. Musa Sukardi M.Pd Kata kunci: Inquiry, Prestasi Belajar Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penentu dalam kelangsungan hidup manusia. Untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang, pendidikan nasional dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pakar, birokrat dan politisi saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru dan orang yang berkiprah di bidang pendidikan dan pengajaran. Kunci dari meningkatkannya kualitas manusia Indonesia seutuhnya adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu diperlukan usaha peningkatan kualitas guru dalam melakukan strategi kegiatan belajar. Berdasarkan fenomena tersebut, ada permasalahan yang perlu dijawab berkaitan dengan masalah peningkatan prestasi. Bagaimanakah Penerapan Model Pembelajaran Inquiry terhadap aktivitas siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran Matematika?, dan Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009/2010 dalam Penerapan Model Pembelajaran Inquiry? Metode yang digunakan dalam pendekatan penyelesaian permasalahan ini adalah model pembelajaran Inquiry dengan rancangan penelitian tindakan perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil dari penelitian ini adalah; (1) siswa pada umumnya masih kesulitan dalam beradaptasi dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hal ini dapat dimaklumi sebab siswa belum pernah melakukan praktek pembelajaran matematika secara mandiri. (2) Guru masih belum secara optimal mengkondisikan kelas, sehingga siswa lebih banyak bermain bersama siswa yang lain daripada memperhatikan guru, dan (3) Siswa pada umumnya masih belum aktif untuk bertanya atau mengambil peran dalam menjelaskan menyampaikan pertanyaan materi maupun menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru. Sedangkan hasil nyata dari evaluasi belajar menunjukkan bahwa model inquiri sangat efektif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar dalam belajar mata pelajaran matematika. Hal ini dibuktikan bahwa diawali dari pra tindakan penelitian Dari 15 siswa yang tuntas dalam belajar ada 4 siswa (26,67%). Tindakan berikutnya pada siklus 1 meningkat yang mengalami ketuntasan dalam belajar ada 9 siswa (60%). Selanjutnya tindakan pada siklus 2, didapatkan hasil belajar dari 15 siswa 13 siswa (86,67%) dinyatakan tuntas dalam pembelajaran.

Penggunaan media bagan tabel dalam pembelajaran operasi hitung bilangan bulat di SDN Tapaan II Pasuruhan-Jawa Timur / Hendrawati

 

ABSTRAK Hendrawati 2009 Penggunaan Media Bagan Tabel dalam Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Bulat Di SDN Tapaan II Kota Pasuruan Tahun Pelajaran 2009 – 2010 Tugas Akhir Program S1 PJJ Universitas Negeri Malang Pembimbing Drs. Sutarno. MPd. Pembelajaran matematika adalah pembelajaran bidang studi yang membutuhkan kedisiplinan cukup tinggi. Melalui penggunaan media bagan tabel yang dipajang setiap hari siswa dapat menyelesaikan soal operasi hitung bilangan bulat. Operasi hitung bilangan bulat dengan berbagai sifatnya sangat berguna untuk mempermudah mencari hasil perhitungan. Sebab operasi hitung bilangan bulat merupakan materi dasar dalam matematika ini ternyata padat dan rumit bagi anak didik. Kesulitan berpikir untuk menyelasaikan operasi hitung bilangan bulat pada umumnya dialami oleh siswa SD, termasuk siswa kelas V SDN Tapaan II Kota Pasuruan karena siswa merasa kesulitan bagaimana awalnya untuk menyelesaikan soal operasi hitung bilangan bulat dengan menggunakan media bagan tabel. Guna mengatasi permasalahan ini, diberikan sebuah tindakan perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan media bagan tabel. Cara ini dianggap efektif karena siswa merasa terbantu untuk mengingat kembali dengan membaca bagan tabel yang dipasang di dinding. Kegiatan perbaikan pembelajaran ini dilakukan dalam dua siklus, prosedur yang dilakukan pada setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil perbaikan pembelajaran secara umum menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyelesaikan soal operasi hitung bilangan bulat dengan nilai prestasi pada siklus I rata-rata 75,29 dan pada siklus II diperoleh rata-rata 83,53.

Kontribusi prestasi belajar bidang produktif, sikap kerja, kondisi sosial ekonomi orang tua, minat kerja terhadap kesiapan kerja siswa SMK Negeri di Kabupaten Bulukumba Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan / Saddang Saputra

 

Saputra, Saddang. 2014. Kontribusi Prestasi Belajar Bidang Produktif, Sikap Kerja, Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua, Minat Kerja Terhadap Kesiapan Kerja Siswa SMK Negeri di Kabupaten Bulukumba Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Tesis. Program Studi Pendidikan Kejuruan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd, (II) Dr. H. Ahmad Dardiri, M.Pd. Kata kunci : prestasi belajar bidang produktif, kondisi sosial ekonomi orangtua, sikap kerja, minat kerja, kesiapan kerja. Kesiapan kerja siswa merupakan usaha mempersiapkan siswa untuk siap kerja. Hal ini disebabkan dua faktor yaitu: (1) faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga; dan (2) faktor internal meliputi kemampuan akdemik, sikap, dan minat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara prestasi belajar bidang produktif, kondisi sosial ekonomi orangtua, sikap kerja, minat kerja, kesiapan kerja terhadap kesiapan kerja siswa SMK Negeri di Kabupaten Bulukumba Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non eksperimen. Sampel dalam penelitian adalah siswa SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kabupaten Bulukumba sebanyak 100 siswa dari 126 populasi yang ada. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Analisis data penelitian menggunakan Structural Equation Models (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh positif antara prestasi belajar bidang produktif terhadap kesiapan kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,407 dengan tingkat signifikan sebesar 0,011; (2) terdapat pengaruh positif antara prestasi belajar bidang produktif terhadap minat kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,237 dengan tingkat signifikan sebesar 0,001; (3) terdapat pengaruh positif antara sikap kerja siswa terhadap kesiapan kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,158 dengan tingkat signifikan sebesar 0,021; (4) terdapat pengaruh positif antara sikap kerja siswa terhadap minat kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,050 dengan tingkat signifikan sebesar 0,018; (5) terdapat pengaruh positif antara minat kerja siswa terhadap kesiapan kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,454 dengan tingkat signifikan sebesar 0,015; (6) terdapat pengaruh positif antara kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap prestasi belajar bidang produktif siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,240 dengan tingkat signifikan sebesar 0,028; (7) terdapat pengaruh positif antara kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap sikap kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,155 dengan tingkat signifikan sebesar 0,035; dan (8) terdapat pengaruh positif antara kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap minat kerja siswa ditunjukkan dengan koefisiensi regresi sebesar 0,060 dengan tingkat signifikan sebesar 0,010 Berdasarkan hasil penelitian, sekolah hendaknya meningkatkan kemajuan belajar siswa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif melalui berbagai bentuk kegiatan praktik di dalam kelas dan di luar kelas dalam pembelajaran bidang produkrif agar siswa merasa siap dan matang untuk bekerja setelah lulus dari sekolah

Studi tentang motif batik pada rumah industri batik "Djojo Koesoemo" Dusun Talok Kabupaten Blitar / Lutfatul Khanan

 

Khanan, Lutfatul. 2014. Studi Tentang Motif Batik Pada Rumah Industri Batik Djojo Koesoemo Dusun Talok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Indrawati, M.Pd, (II) Ike Ratnawati, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Desain, Motif, Rumah Industri Batik, Blitar.      Saat ini batik memang merupakan bagian dari kebudayaan yang sudah populer bagi masyarakat Indonesia. Bahkan batik sudah melekat pada keseharian masyarakat. Keaadaan ini didukung oleh semakin banyaknya rumah industri batik yang muncul disetiap daerah dengan berbagai karya motif baru. Salah satu rumah industri tersebut adalah rumah industri batik “Djojo Koesoemo” yang berdiri sejak tahun 2010 hingga sekarang. Rumah industri batik “Djojo Koesoemo” berasal dari Dusun Talok Desa Pojok Kecamatan Garum Kabupaten Blitar yang didirikan oleh Adib Arifianto. Motif- motif yang dihasilkan merupakan motif yang terinspirasi dari lingkungan sekitar. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui latar belakang dan visualisasi dari motif batik pada rumah industri batik “Djojo Koesoemo”.      Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, berupa paparan data mengenai latar belakang dan visualisasi motif batik pada rumah industri batik Djojo Koesoemo. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan. Kemudian dilakukan trianggulasi sumber data untuk menjaga keabsahan data.      Motif batik yang dibuat, berdasarkan ide dari lingkungan sekitar. Motif batik tersebut dibuat berdasarkan beberapa faktor antara lain: (1) keinginan desainer memperkenalkan potensi daerahnya, (2) keinginan memperkaya ragam motif yang dibuat, (3) keinginan melestarikan warisan tradisi, (4) ingin menyampaikan pesan melalui karya; dan (5) berdasarkan pesanan. Dilihat dari visualisasi motif batik pada karya perajin, ditemukan motif golongan binatang air, tumbuh- tumbuhan, makhluk imajinatif, dan motif pemandangan. Motif batik pada rumah industri batik tersebut merupakan motif yang lengkap dengan ornamen motif dan isen- isen motif, walaupun pada ornamen hanya terdapat ornamen utama tanpa ornamen tambahan.      Dari hasil penelitian, disarankan kepada pemilik rumah industri batik Djojo Koesoemo agar menambah ragam motif batik tentang potensi yang dimiliki kabupaten Blitar, serta mendokumentasikan setiap kaya yang dibuat. Sedangkan untuk peneliti lain disarankan untuk menggali informasi lain yang belum diketahui dari penelitian ini, karena keterbatasan penelitan. Manfaat bagi pelajar atau masyarakat umum dapat digunakan sebagai sumber referensi pencarian data mengenai motif batik dari kabupaten Blitar. Bagi peneliti lain, agar temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk dapat dikembangkan menjadi penelitian yang lebih lanjut.

Peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam memperjuangkan kesejahteraan karyawan dilihat dari nilai-nilai pancasila khususnya sila ke-5 "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" di PT.Trisakti Purwosari Makmur Desa Purwosari Kabupaten Pasuruan / Firdausi

 

Dhulhijjahyani, Firda. 2014. Peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam Memperjuangkan Kesejahteraan Karyawan Dilihat dari Nilai-nilai Pancasila, Khususnya Sila Ke-5, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia” Di PT. Trisakti Purwosari Makmur di Desa Purwosari Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kearganegaraan, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Sukowiyono, S.H, M.Hum, (II) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si. Kata Kunci : Peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Kesejahteraan Karyawan.    Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) merupakan organisasi pekerja di perusahaan yang keberadaannya telah ditetapkan dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yakni, Undang-undang No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. SPSI dibentuk dengan tujuan untuk memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya”.    Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak karyawan (buruh) PT. Trisakti Purwosari Makmur Kabupaten Pasuruan. (2) mendeskripsikan peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam menjembatani hubungan antara karyawan dengan pemilik perusahaan (pengusaha) PT. Trisakti Purwosari Makmur Kabupaten Pasuruan. (3) mendeskripsikan kinerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT. Trisakti Purwosari Makmur yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila ke-5, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.    Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif guna memahami Peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Dalam Memperjuangkan Kesejahteraan Karyawan. Sumber data primer yaitu Afifudin, Musta’in, Zulaikah, Musofi, Joko Purnama. Dan data sekunder yang diperoleh dari dokumen-dokumen Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).    Hasil penelitian yaitu : (1) Peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak karyawan (buruh) PT. Trisakti Purwosari Makmur Kabupaten Pasuruan dengan melakukan/mengingatkan pemilik perusahaan (pengusaha), melakukan musyawarah Bipartit, menyampaikan kepada Disnaker Trans Bagian Pengawasan. (2) Peran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam menjembatani hubungan antara karyawan dengan pemilik perusahaan (pengusaha) PT. Trisakti Purwosari Makmur Kabupaten Pasuruan.yaitu berkomunikasi dengan pihak pengusaha dengan cara: berkomunikasi secara formal dengan perusahaan, bisa juga dengan mengirimkan surat kepada pimpinan perusahaan untuk membahas dan berunding, berkomunikasi dengan Disnaker Trans Kabupaten Pasuruan. (3) Kinerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT. Trisakti Purwosari Makmur yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila ke-5, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” yaitu Sikap saling gotong royong terlihat dari permasalahan-permasalahan tentang penangguhan kenaikan upah tahun 2014; SPSI berusaha semaksimal mungkin agar penangguhan tersebut tidak terealisasi. Dengan cara berunding dengan pimpinan perusahaan sampai dengan adanya demo yang dilakukan SPSI beserta karyawan (buruh) PT. Trisakti Purwosari Makmur.    Saran dari peneliti yaitu : (1) SPSI PT. Trisakti Purwosari Makmur harus senantiasa konsisten untuk melindungi dan memperjuangkan hak-hak karyawan serta meningkatkan kesejahteraan karyawan. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, SPSI harus senantiasa adil, jujur dan berpihak pada karyawan sampai karyawan menerima hak-haknya. (2) Penelitian ini diharapkan bisa memberi tambahan pengetahuan, informasi, dan referensi kepada seluruh warga jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, khususnya mahasiswa Hukum dan Kewarganegaraan. (3) Penelitian ini diharapkan bisa memberi inspirasi kepada para calon peneliti lain untuk mengadakan penelitian tentang organisasi pekerja/organisasi buruh. (4) SPSI sebagai wakil karyawan, haruslah bersinergi dengan perusahaan, dan juga menjadi mitra bagi perusahaan. Agar terwujud hubungan kerja yang harmonis, sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja.

Perancangan aplikasi mobile wisata Blitar menggunakan sistem operasi android / Villa Dwi Erwanto

 

Erwanto, Villa Dwi. 2014. Perancangan Aplikasi Mobile Wisata Kota Blitar Menggunakan Sistem Operasi Android, Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn. (II) Andy Pramono, S.Kom, M.T. Kata kunci : Perancangan, Aplikasi Mobile, Panduan Wisata, Multimedia, Wisata Kota Blitar, Android. Kota Blitar sebagai wilayah yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan pariwisata sedemikian rupa kini menjadi kota wisata yang berkembang. Blitar juga merupakan kota yang kaya akan aset budaya dan wisataannnya. Berbagai jenis obyek wisata yang terdiri dari wisata sejarah, wisata alam, wisata rekreasi dan wisata budaya. Selain keunggulan dari produk wisata yang ada di Kota Blitar itu sendiri, tentunya harus didukung dengan media yang efektif yang dapat mengembangkan, mengolah, dan mengangkat potensi wisata yang ada di kota Blitar. Sehingga dibutuhkan sebuah produk yang dapat menjawab kebutuhan tersebut, sebuah aplikasi mobilewisata kota Blitar khususnya yang mengangkat keanekaragaman budaya serta pariwisata yang ditawarkan melalui produk yang didesain secara modern mengikuti perkembangan teknologi mobile aplikasi, salah satunya adalah menggunakan platform Android. Struktur model perancangan ini dimulai dengan perumusan latar belakang.Pengumpulan data dan latar belakang selanjutnya digunakan untuk menyusun rumusan masalah. Setelah rumusan masalah diperoleh, dapat diketahui tujuan dari perancangan tersebut. Kemudian proses perancangan dapat dilanjutkan dengan menentukan metode atau langkah-langkah yang sesuai dengan target dan konteks perancangan. Produk yang dihasilkan adalah sebuah aplikasi mobile wisata kota Blitar dengan menggunakan sistem operasi android, dan dapat dijalankan pada perangkat android khususnya versi 4.0 (Ice Cream Sandwich) ke atas, dan dirancang dengan resolusi layout 480x800 pixel, full colour dengan gaya desain yang simple dan modern dan dapat diakses dengan offline maupun onlineuntuk memudahkan calon pengguna dalam mengakses informasi tentang wisata kota Blitar dan sebagai panduan berwisata.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui pemberian tugas tambahan siswa kelas II SD Negeri Kepanjenlor 3 Blitar / Sri Indrayaningsih

 

Hasil pengamatan di SDN Kerjen kelas V pada mata pelajaran matematika siswa belum memahami cara dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar untuk memecahkan suatu masalah. Oleh sebab itu pembelajaran matematika hendaknya di mulai dengan pengenalan suatu masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Untuk menciptakan suatu pembelajaran yang sesuai dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melatih memecahkan suatu permasalahan yaitu dengan menerapkan Pembelajaran Berbasis Masalah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan pembelajaran berbasis masalah soal cerita kelas V tentang pecahan di SDN Kerjen Kabupaten Blitar? (2) Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar pada soal cerita siswa kelas V tentang pecahan di SDN Kerjen Kabupaten Blitar? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada soal cerita kelas V di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar soal cerita siswa kelas V di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang di bantu guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan hasil belajar siswa. Rata-rata keterampilan dalam memecahkan masalah pada pra tindakan mencapai 11.4% meningkat menjadi 66.4% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 77%. Sedangkan hasil belajar yang di peroleh setelah kegiatan pembelajaran juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar pada pra tindakan adalah 58.2% meningkat menjadi 68.4% pada siklus I dan pada siklus II meningkatan menjadi 80.4%. Sedangkan ketercapaian belajar secara klasikal pada pra tindakan 37.04% meningkat menjadi 62.96% dan pada siklus II meningkat menjadi 85.2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Dalam membelajarkan siswa guru disarankan menciptakan pembelajaran dengan menghadirkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan.

Pembuatan aplikasi e-learning berbasis web untuk SMA Lab. UM / Yudi Kurniawan

 

Kurniawan, Yudi, 2011. Pembuatan Aplikasi E-Learning Berbasis Web untuk SMA Lab UM. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Darmawan Satyananda, S.T, M.T (II) Mohamad Yasin, S.Kom, M. Kom Kata kunci: E-Learning, Sistem Informasi, Internet, PHP, MySQL E-Learning merupakan media informasi, komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara on-line. E-learning tidak bisa menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi e-learning hanya sebagai media penunjang model belajar tersebut melalui pengembangan teknologi pendidikan. Sistem e-learning yang dibuat merupakan aplikasi berbasis web. Dengan penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran, diharapkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar menjadi lebih baik. Di dalam skripsi ini, dirancang sistem e-learning untuk SMA Lab UM. Tujuan dari pembuatan sistem e-learning ini adalah meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Sistem e-learning ini dibuat dengan PHP (Hyper Text Preprocessor) sebagai bahasa pemrogramannya, dan MySQL sebagai basis datanya.

Penerapan model pembelajaran mind mapping sebagai upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SD Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar tahun pembelajaran 2009/2010 / Misti Dwiana

 

ABSTRAK DWIANA, M., 2009. Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VI SD Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian Tindakan. Pembimbing Dr. Musa Sukardi M.Pd Kata kunci: mind mapping, prestasi belajar Pemilihan model pembelajaran yang cocok dengan materi pembelajaran, maka akan diperoleh suatu pembelajaran yang efektif, sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai dengan baik. Pertanyaan yang muncul adalah Apakah pemilihan model pembelajaran itu harus mutlak diperlukan oleh guru? model merupakan suatu upaya, ataupun langkah-langkah pendekatan untuk mencapai sesuatu tujuan secara optimal. Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dilakukan untuk menghasilkan pembelajaran tersebut tercapai sesuai dengan pendekatan tujuan yang direncanakan. Berdasarkan pada fenomena tersebut di atas, peneliti akan mencoba melakukan suatu penelitian tindakan (action research) yang mengarah pada upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan pendekatan yang lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar. Sehingga hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan. Strategi pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran mind mapping. Mengapa harus model pembelajaran mind mapping? Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Mind Mapping dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009-2010? Apakah dengan penerapan model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009-2010? Hasil dari penelitian tindakan yang dilakukan oleh peneliti, menunjukkan bahwa model mind maping sangat efektif dalam meningkatkan prestasi belajar. Hal ini dibuktikan bahwa dari 16 siswa, pada pembelajaran pra tindakan (belum menggunakan model mind mapping) hanya ada 7 siswa (43,75%) yang tuntas. Berikutnya melalui tindakan 1 (siklus 1) meningkat dari 16 siswa yang tuntas ada 14 siswa (87,50%). Tindakan berikutnya pada siklus 2, diperoleh hasil 15 siswa (93,75%) yang tuntas dari 16 siswa yang melakukan kegiatan pembelajaran. Untuk itun berdasarkan catatan penerapan pendekatan mind mapping dalam pembelajaran, maka, (a) pendekatan model pembelajaran mind mapping perlu dikembangkan pada kegiatan belajar mengajar pada semua mata pelajaran, (b) implementasi pendekatan mind mapping memerlukan guru yang kreatif, inovatif dalam proses belajar mengajar di kelas, dan (c) dengan pendekatan model pembelajaran mind mapping dalam kegiatan belajar mengajar, maka diharapkan dampak dari hasil penelitian tidak hanya terfokus pada motivasi belajar siswa, melainkan dapat dikembangkan pada cara berfikir siswa

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan scaffolding pada pembelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-2 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Bayu Permana Putra

 

ABSTRAK Bayu Permana Putra, 2009. Penerapan Pembelajaran Dengan Pendekatan Scaffolding Pada Pembelajaran Ekonomi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X-2 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi, Program Studi Pendidikan Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Moch Ichsan, S.E.,M.Pd.,M.Si (II) Agus Sumanto, S.E, M.S.A. Kata Kunci : Scaffolding, Ketuntasan Belajar Siswa Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh dari guru ekonomi kelas X.2 SMA laboratorium UM, pembelajaran ekonomi selama ini yang digunakan oleh guru ekonomi di SMA Laboratorium UM sebenarnya telah memakai beberapa metode pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar (misalnya ; Jigsaw, Number Head Togheter, Problem Solving), karena SMA laboratorium Universitas Negeri Malang merupakan SMA percontohan dalam penggunaan berbagai metode pembelajaran tersebut. Namun diketahui bahwa nilai atau hasil belajar siswa SMA laboratorium Universitas Negeri Malang dirasa masih kurang atau belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimum. Dari hal ini mungkin dalam pembelajaran masih perlu pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa serta masih diperlukannya penambahan beberapa metode pembelajaran agar terdapat berbagai variasi metode pembelajaran terhadap siswa sehingga proses pembelajaran akan lebih menyenangkan dan lebih variatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium UM pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X.2 SMA Laboratorium UM dan dilaksanakan pada 18 Mei 2009 sampai dengan 08 Juni 2009. Analisis data yang digunakan dengan model alir yang meliputi tahap mereduksi data, menyajikan data, verifikasi data atau menarik kesimpulan. Pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekonomi, sebab disamping untuk pencapaian tujuan juga harus mempertimbangkan karakteristik dan setting pembelajaran ekonomi tersebut. Pembelajaran ekonomi merupakan suatu siklus sehingga ketrampilan yang satu berkaitan dengan ketrampilan yang lain dan mengutamakan target pencapaian melalui pelatihan yang dialami langsung oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendekatan scaffolding perlu digunakan sebagai upaya peningkatan proses belajar mengajar sehingga siswa memiliki kemampuan dalam memahami konsep materi, sikap positif juga ketrampilan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran dengan pendekatan Scaffolding dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.2 SMA Laboratorium UM. Penerapan pembelajaran ini disarankan sebaiknya disesuaikan dengan materi dan lingkungan belajar serta ketersediaan waktu yang cukup. Hal ini dikarenakan dengan waktu yang optimal pelaksanakan pembelajaran yang dilakukan akan mendapatkan hasil yang efektif dan efisien. Bagi guru mata pelajaran ekonomi, disarankan untuk memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa yang mempunyai hasil belajar dibawah SKM.

Perancangan bumper animasi 2 dimensi sebagai media promosi perusahaan Surfing Cloting-Nusa-Surfwear / Welda Brillian Cipta

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Panggungrejo 01 kec.Panggungrejo Kab.Blitar tahun pelajaran 2009/2010./Djoko Prajitno

 

Prajitno,Djoko.2009.Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw Untuk meningkatkan Hasil Belajar IPS Pada Siswa kelas V SDN Panggungrejo 01 Kec.Panggungrejo Kab.Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010.Penelitian Tindakan Kelas(PTK),Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang.Pembimbing Dr.Musa Sukardi,M.Pd. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif,Teknik Jigsaw,Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan pembelajaran mereka dan antara mereka (Johnson & Johnson,1989).Inti dari pembelajaran kooperatif adalah adanya kerjasama.Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah teknik Jigsaw,yaitu suatu pembelajaran yang mengutamakan aktifitas dan kreatifitas berfikir siswa dalam kegiatan kelompok. Berdasarkan observasi di SDN Panggungrejo 01 Kec.Panggungrejo Kab.Blitar menunjukkan bahwa hasil belajar anak pada mata pelajaran IPS sangat rendah,dimana masih banyak siswa yang nilainya dibawah SKBM perorangan maupun kelompok yang sudah ditentukan dalam kurikulum sekolah sebesar 65 % untuk SKBM perorangan dan 85 % untuk SKBM kelompok.Disamping itu minat dan aktifitas siswa dalam pembelajaran sangat rendah sekali. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model pembelajaran teknik Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan instrumen penelitian menggunakan lembar observasi dan soal tes.Sedangkan data yang dideskripsikan meliputi data hasil observasi keaktifan siswa dan data hasil belajar siswa yang diperoleh mulai pertemuan 1 dan 2 pada siklus 1 dan pertemuan 3 dan 4 pada siklus 2 dengan subyek siswa kelas V SDN Panggungrejo 01 Kec.Panggungrejo Kab.Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw ,keaktifan siswa dalam bertanya ,menjawab pertanyaan,dan berdiskusi mengalami peningkatan dengan kriteria yang semula sedang menjadi sangat baik.Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan diman pada pra tindakan hasil belajar siswa menunjukkan hanya ada 53 % siswa yang tuntas belajarnya,kemudian setelah penerapan pembelajaran dengan teknik Jigsaw menunjukkan kenaikkan yaitu pada pertemuan 1 siklus 1 mencapai 75 %, pertemuan 2 siklus 1 mencapai 81 %,pertemuan 3 siklus 2 mencapai 84 % dan pada pertemuan 4 siklus 2 mencapai 87 % ,Hal ini menunjukkan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya semakin berkurang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa serta hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Panggungrejo Kec.Panggungrejo Kab.Blitar.

Pembelajaran kontekstual dengan model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN TANJUNGSARI 02 kota Blitar./ Kasiati

 

ABSTRAK Kasiati, 2009 : Pembelajaran kontekstual dengan model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar. Penelitian Tindakan Kelas, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Heru Agus Triwijaya, M.Pd. Kata kunci : kontekstual, inkuiri, aktivitas, hasil. SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar adalah salah satu sekolah dasar yang terletak pada pinggiran kota berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar. Berdasarkan observasi dan study dokumenter serta hasil wawancara dengan guru kelas III yang dilakukan pada tanggal 2-3 Agustus 2009 bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di kelas tersebut. Secara umum dapat diindentifikasi ada masalah yaitu aktifitas belajar dan hasil belajar siswa rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri mempunyai kelebihan yang dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan di SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2009. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model Hipkins yang berbentuk spiral yang terdiri dari empat langkah, yaitu Perencananaan, Pelaksanaan Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar yang berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan model inkuiri dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas III SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar.

Analisis metode agregat basis Vs metode individual basis dalam menentukan besarnya pendapat dan cadangan premi asuransi kendaraan bermotor pada PT Asuransi Bintang Tbk. (Bintang General Insurance) Cabang Malang / oleh Bayu Dewantoro

 

Kualitas cerpen berdasarkan kehidupan orang lain karya sisa kelas XII SMA Negeri 1 Pesanggrahan Kabupaten Banyuwangi / Adelia Widyaratri

 

Kata kunci: kualitas cerpen, cerpen berdasarkan kehidupan orang lain, pembelajaran menulis cerpen Dalam kegiatan pembelajaran menulis cerpen di sekolah, setiap siswa memiliki cara yang unik dan berbeda dalam mengembangkan ceritanya, baik dalam penggambaran tokoh, alur, dan latar. Dengan kompetensi dasar menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain kelas XII semester I, siswa belajar hal baru dalam menulis cerpen, yaitu menulis cerpen berdasarkan kisah nyata seseorang. Bertolak dari masalah tersebut, maka penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kualitas cerpen yang mencakup penggambaran tokoh, alur, dan latar karangan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Pesanggaran. Data dalam penelitian ini adalah unit teks cerpen siswa yang menggambarkan tokoh, unit teks cerpen siswa yang menggambarkan alur, dan unit teks cerpen siswa yang menggambarkan latar. Sumber data adalah cerpen berdasarkan kehidupan orang lain yang dikarang oleh siswa kelas XII siswa kelas XII SMA Negeri 1 Pesanggaran. Peneliti sebagai human instrument bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, penafsir data, serta sebagai pelapor hasil penelitian. Pengambilan data dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pesanggaran dengan subjek penelitian siswa kelas XII semester 1. Pengambilan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan menggunakan ceklis untuk mencari variabel yang sudah ditentukan. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, identifikasi data, meng-coding data, dan menginterpretasikan data. Analisis data disesuaikan dengan kriteria permasalahan cerpen siswa dengan aspek yang diteliti meliputi penggambaran tokoh, penggambaran alur, dan penggambaran latar. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggambaran tokoh pada cerpen siswa berdasarkan kehidupan orang lain sudah menunjukkan kualitas yang baik, sebab 63% cerpen siswa sudah memenuhi aspek-aspek ketentuan penggambaran tokoh. Aspek-aspek tersebut, yaitu 1) penggunaan metode langsung, tidak langsung, atau campuran; 2) kesesuaian tokoh dalam cerpen dengan tokoh di kisah nyata; dan 3) perubahan tokoh dalam kisah nyata menjadi tokoh dalam cerpen. Kedua, penggambaran alur pada cerpen siswa berdasarkan kehidupan orang lain menunjukkan kualitas yang tidak baik, sebab 42% cerpen siswa tidak ada klimaks dan penyelesaian dari konflik yang ada. Aspek-aspek pengaluran meliputi: 1) kesesuaian tahap eksposisi dalam cerpen dengan eksposisi dalam kisah nyata; 2) kesesuaian konflik dalam cerpen dengan konflik dalam kisah nyata; 3) kesesuaian klimaks dalam cerpen dengan klimaks dalam kisah nyata; 4) kesesuaian penyelesaian dalam cerpen dengan penyelesaian dalam kisah nyata; 5) kesinambungan antarperistiwa; dan 6) perubahan alur dalam kisah nyata ketika menjadi alur dalam cerpen. Ketiga, penggambaran latar cerpen siswa berdasarkan kehidupan orang lain menunjukkan kualitas yang tidak baik, sebab 58% cerpen siswa tidak ada penggambaran latar sosial dan tidak ada kesinambungan antara latar dalam cerpen dengan latar dalam kisah nyata. Aspek-aspek pelataran meliputi: 1) kesesuaian penggambaran latar tempat dalam cerpen dengan latar tempat dalam kisah nyata; 2) kesesuaian penggambaran latar waktu dalam cerpen dengan latar waktu dalam kisah nyata; 3) kesesuaian penggambaran latar sosial dalam cerpen dengan latar sosial dalam kisah nyata; 4) kesinambungan antarlatar; dan 5) perubahan dari latar dalam kisah nyata ketika menjadi latar dalam cerpen. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang bisa diberikan adalah (1) guru hendaknya menggunakan kehidupan orang lain yang benar-benar dekat dengan kehidupan siswa dalam pembelajaran menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain agar siswa benar-benar memahami karakter tokoh, urutan peristiwa, dan latar yang akan diceritakan, (2) dalam pembelajaran menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain, hendaknya siswa memilih kehidupan orang lain yang benar-benar dipahami peristiwa maupun tokohnya, dan (3) hendaknya peneliti lain lebih konsisten dalam mengembangkan instrumen dan menentukan aspek yang akan diteliti agar tidak menimbulkan kerancuan.

Pengaruh strategi pembelajaran preview, question, read, reflect, recite, review (PQ4R) diintegrasikan dengan peta konsep dan gender terhadap keterampilan metakognitif, berpikir kristis, hasil belajar kognitif biologi, dan retensi siswa SMA di Kota Banjarmasin / Siti Ram

 

Tujuan penelitian ini yaitu untuk (1) mengetahui pengaruh strategi pembelajaran PQ4R diintegrasikan dengan peta konsep terhadap keterampilan metakognitif, berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi serta retensi siswa SMA di kota Banjarmasin, (2) mengetahui pengaruh gender terhadap keterampilan metakognitif, berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi serta retensi siswa kelas XI SMA di kota Banjarmasin, (3) mengetahui pengaruh interaksi strategi PQ4R diintegrasikan dengan peta konsep dan gender terhadap keterampilan metakognitif, berpikir kritis, hasil belajar kognitif biologi, dan retensi siswa SMA di kota Banjarmasin. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan model rancangan “nonequivalent prates-post test control group design”. Populasi adalah siswa SMA Negeri dan Swasta di kota Banjarmasin dan Jumlah total sampel pada penelitian ini yaitu 96 siswa terdiri atas 48 siswa putra dan 48 siswa putri. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan data dari setiap variabel penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik analisis kovariansi (anacova) serta uji lanjut leas significance difference (LSD) menggunakan bantuan program SPSS versi 17 for Windows. Hasil penelitian eksperimen menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan strategi pembelajaran PQ4R, peta konsep, PQ4R diintegrasikan dengan peta konsep, dan konvensional terhadap keterampilan metakognitif, berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi serta retensi siswa kelas XI IPA SMA di kota Banjarmasin. Berdasarkan hasil analisis, perbedaan gender mempengaruhi keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif biologi dan retensi siswa kelas XI IPA SMA di kota Banjarmasin secara signifikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara strategi pembelajaran PQ4R, peta konsep, PQ4R diintegrasikan dengan peta konsep, konvensional dan gender terhadap retensi siswa kelas XI IPA SMA di kota Banjarmasin, namun interaksi tersebut tidak terdapat pada variabel keterampilan metakognitif, berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA di kota Banjarmasin.

Model teoretis hubungan sikap orangtua terhadap anak, sikap guru terhadap siswa dan self-regulated learning dengan prestasi belajar siswa (studi faktor yang mempengaruhi pretasi belajar siswa SMAN di Kota Malang) / Yuzarion

 

Yuzarion, 2014. Model Teoretis Hubungan Sikap Orangtua terhadap Anak, Sikap Guru terhadap Siswa, dan Self-Regulated Learning dengan Prestasi Belajar Siswa. Disertasi, Program Studi Psikologi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (II) Dr. M. Ramli, M.A., (III) Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd. Kata kunci: sikap orangtua, sikap guru, self-regulated learning, dan prestasi belajar     Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan pokok apakah model teoretis hubungan sikap orangtua terhadap anak, sikap guru terhadap siswa, dan self-regulated learning dengan prestasi belajar siswa, hubungan kausal ini mendapat dukungan empiris. Penelitian ini menggunakan desain korelasional eksplanatori. Sampel penelitian ini 285 siswa kelas XI SMAN Kota Malang diambil dengan teknik random sampling independen. Data dikumpulkan dengan tiga instrumen; (1) skala sikap orangtua terhadap anak, (2) skala sikap guru terhadap siswa, dan (3) skala self-regulated learning, semua skala memiliki validitas isi interater berkisar 0,93-1,00; validitas konsistensi internal koefisien korelasi per butir-total 0,304-0,797; validitas konstruk eksploratori loading faktor butir 0,504-0,842; validitas konstruk konfimatori loading faktor 0,706-1,00; dan nilai reliabilitas Cronbach's Alpha dan Construct Reliability 0,861-0,998. Data prestasi belajar berdasarkan nilai rapor. Data dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan software AMOS 20.     Hasil penelitian menujukkan bahwa model struktural telah layak (GFI=0,930, AGFI=0,908>0,90; CFI=0,990, TLI=0,988>0,95; dan RMSEA=0,029<0,08) dan memperoleh dukungan data empiris (X2=169,029 dan p=0,068>0,05). Sikap orangtua terhadap anak, sikap guru terhadap siswa, dan self-regulated learning berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Sikap orangtua terhadap anak, sikap guru terhadap siswa, berpengaruh langsung terhadap self-regulated learning dan berpengaruh tidak langsung terhadap prestasi belajar siswa melalui self-regulated learning. Temuan ini mendukung teori kognitif sosial.     Berdasarkan temuan, penelitian ini menyarankan (1) guru agar (a) bersikap kondusif, peduli, bertanggung jawab, sensitif, dan mendorong kreativitas siswa, (b) menggali dan mengenalkan self-regulated learning dengan 6 faktor pembentuknya dan melakukan pelatihan self-regulated learning, (c) melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, (2) orangtua agar (a) berpandangan positif terhadaap anak, (b) berdiskusi dan menggali potensi diri anak terutama yang berkaitan dengan self-regulated learning, dan (3) peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian tentang variabel pada penelitian ini di tingkat SD, SLTP, dan PT.

Analisis proses penyusunan dan implementasi rencana pengembangan sekolah pada sekolah berbasis multikultural (studi kasus di SMA Selamat Pagi Indonesia Batu) / Nunuk Hariyati

 

Hariyati, N. 2013. Analisis Rencana Pengembangan Sekolah Berbasis Multikultural: Studi kasus di SMA Selamat Pagi Indonesia Batu. Tesis, Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd Kata kunci : rencana pengembangan sekolah, pendidikan multikultural Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan berbasis pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan rencana pengembangan sekolah yang mencakup seluruh substansi manajemen pendidikan yang diorientasikan pada basis multikultural dan keunggulan yang menjadi kekhasan atau karakteristik suatu sekolah. Penelitian di SMA SPI Kota Batu bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Gambaran konteks sekolah yang meliputi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan tantangan (threats) sebagai dasar dalam proses penyusunan dan implementasi RPS berbasis multikultural; (2) Proses penyusunan RPS Berbasis Multikultural; (3) Strategi sekolah dalam memberdayakan kekuatan, mengatasi kelemahan, memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan sebagai dasar penyusunan RPS Berbasis Multikultural; (4) Implementasi RPS Berbasis Multikultural yang mencakup: (a) faktor-faktor yang menjadi kunci keberhasilan implementasi RPS; (b) faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam implementasi RPS Berbasis Multikultural; dan (5) Evaluasi kinerja pengembangan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni pendekatan penelitian yang berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya, sehingga, memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas melalui pengamatan yang mendalam dengan latar alami. Jenis penelitian ini adalah studi kasus eksplanatoris yang berupaya menjawab pertanyaan mengapa konsep pendidikan multikultural diterapkan di SMA SPI Kota Batu dan bagaimana konsep tersebut direalisasikan dalam bentuk RPS. Fokus terhadap RPS Berbasis Multikultural di sekolah tersebut menjadi “unit tunggal” dalam penelitian ini. Instrumen kunci adalah peneliti sendiri, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para guru, siswa, dan ketua komite sekolah dan ketua yayasan. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang berkaitan dengan RPS berbasis multikultural. Data yang diperoleh dianalisis selama dan setelah pengumpulan data, kemudian diklasifikasikan, disaring, dan ditarik kesimpulannya. Keabsahan data yang telah dianalisis menggunakan kriteria kredibilitas data dengan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data. Kesimpulan penelitian meliputi: (1) konteks SMA SPI Kota Batu mencakup: Pertama, kekuatan yang terdiri dari: (a) . Kekhasan konsep pendidikan multikultural yang dikembangkan secara integratif dengan konsep fun-eco-preneur education; (b) Tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional dan memiliki komitmen yang tinggi; (c) iklim sekolah yang kondusif; (d) sarana dan prasarana sekolah yang representatif; dan (e) dukungan yang kuat dari yayasan. Kedua, kelemahan sekolah pada sistem manajemen sekolah yang kurang optimal dalam membangun dan memberdayakan keterlibatan masyarakat terutama komite sekolah dalam pengembangan sekolah. Ketiga, Pengembangan Batu sebagai kota wisata berpeluang bagi SMA SPI Kota Batu untuk melakukan pengembangan sekolah berbasis multikultural dan entrepreneurship. Keempat, tantangan sekolah terkait dengan pemenuhan tuntutan masyarakat luas, yaitu lulusan yang kualitas serta pemenuhan tuntutan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang ditetapkan; (3) tindakan-tindakan yang diambil oleh sekolah ini adalah strategi diversification; (4) Proses penyusunan RPS mencakup tahap persiapan, perumusan RPS (terdiri dari RAKS dan RJKM), dan pengesahan; (5) implementasi RPS, lebih berorientasi pada aplikasi konsep entrepreneurship melalui kegiatan yang dilaksanakan di Kampoeng Kidzs. Kunci keberhasilan implementasi RPS adalah self responsibility dan sense of belonging seluruh warga sekolah. Hal-hal yang menjadi kendala dalam implementasi RPS meliputi: (a) kebergantungan sekolah pada yayasan terkait pembiayaan untuk mendukung seluruh program sekolah; (b) kurangnya partisipasi masyarakat; dan (c) dan minimnya pengetahuan stakeholders tentang misi program penyelenggaraan pendidikan berbasis multikultural; (6) Evaluasi kinerja sekolah melalui akreditasi sekolah, sekolah ini masih perlu melakukan perbaikan. Penyelenggaraan pendidikan multikultural, ditinjau dari empat aspek yakni aspek latar Contex, Input, Process, dan Product, sekolah ini mencakup dua perspektif, yaitu di satu sisi keefektifan di SMA SPI Kota Batu ditunjukkan dengan penguasaan ketrampilan hidup (life skills) atau vocational job dan prestasi oleh para siswa SMA SPI Kota Batu. Pada sisi lain, khususnya pada pencapaian prestasi akademik, seperti pencapaian nilai Ujian Nasional (UN), Ujian Sekolah dan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masih belum memenuhi target yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi: (1) Dinas Pendidikan Kota Batu untuk mendukung perbaikan dan penyempurnaan program-program sekolah melalui kegiatan pembinaan melalui kegiatan supervisi manajerial oleh pengawas yang bermuara pada pendidikan multikultural sebagai basis sekolah; (2) Kepala SMA SPI Kota Batu untuk melaksanakan sosialisasi dan monitoring program sekolah serta melaksanakan supervisi pendidikan secara berkelanjutan; (3) guru-guru SMA SPI Kota Batu agar mengembangkan sikap kreatif, inovatif, kolaboratif serta prinsip belajar sepanjang hayat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (4) sekolah berbasis multikultural lain perlu mencermati faktor-faktor situasional dan karakteristik sekolah dalam mengimplementasikan RPS berbasis multikultural; (5) peneliti lain dapat melanjutkan penelitian sejenis pada aspek berbeda misalnya: (a) pembentukan dan pengelolaan iklim sekolah berbasis multikultural; (b) pembentukan dan pengelolaan budaya organisasi sekolah sebagai organisasi pembelajar, dan (c) aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan sekolah berbasis multikultural.

Penerapan pembelajaran paken untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian siswa kelas II SDN Pakisrejo 2 kecamatan Sregat kabupaten Blitar / Umar

 

ABSTRAK Umar, 2010. Penerapan Pembelajaran Pakem Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Perkalian Siswa Kelas II SDN Pakisrejo 2 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Tomas Iriyanto, M. Pd, (II) Drs. Musa Sukardi, M.Pd Kata Kunci : PAKEM, Perkalian Untuk mewujudkan tujuan pendidikan perlu adanya upaya-upaya dalam penyelenggaraan Pendidikan, seperti peningkatan interaksi timbal balik antar siswa dan guru, ataupun interaksi antar satu siswa dengan siswa lainnya. Interaksi timbal balik tersebut dapat berupa perlakuan khusus pada saat proses belajar mengajar berlangsung atau atau pemberian metode pendekatan pakem terhadap hasil yang dicapai siswa. Yang dimaksud dengan interaksi timbal balik guru murid adalah respon langsung maupun tidak langsung dalam proses belajar mengajar dari guru ke siswa ke guru. Guru hendaknya menggunakan berbagai variasi dalam proses belajar mengajar, satu proses yang monoton saja akan tidak hidup, siswa menjadi pasif, sehingga keberanian tidak berkembang. Untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang menyangkan dan sejalan dengan tingkat perkembangan berfikir anak yaitu dengan penerapan pembelajaran Pakem. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan penerapan model pakem dalam pembelajaran matematika kelas II SDN Pakisrejo 02 Kabupaten Blitar. (2) Untuk mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas II SDN Pakisrejo 02 Kabupaten Blitar setelah diterapkan model pembelajaran pakem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK temasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas II SDN Pakisrejo 02 yang ditunjukkan dari peningkatan prosentase ketuntasan belajar setiap siklus. Pada siklus pertama nilai rata-rata yang diperoleh siswa 69.4 atau 69.4% dan ketuntasan kelas 62.5%. Sedangkan pada siklus kedua rata-rata nilai yang diperoleh siswa 82.5 atau 82.5% sedangkan ketuntasan kelas mencapai 87.5%. Rata-rata perolehan nilai yang diperoleh siswa pada siklus kedua sudah diatas ketercapaian nilai yang telah ditetapkan yaitu untuk ketuntasan individu sebesar 70% dan Ketuntasan kelas 75%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan PAKEM dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang perkalian pada siswa kelas II SDN Pakisrejo 02 Kabupaten Blitar. Guru seharusnya menggunakan berbagai macam metode, media pembelajaran serta memahami kemampuan dan karakteristik peserta didiknya, karena setiap peserta didik memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda dengan lainnya, sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai.

Meningkatkan pemahaman fakta dasar penjumlahan siswa kelas I SDN Lesanpuro III dengan model permainan interaktif / Sumarni

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS MENINGKATKAN PEMAHAMAN FAKTA DASAR PENJUMLAHAN SISWA KELAS I SDN LESANPURO III DENGAN MODEL PERMAINAN INTERAKTIF Oleh : Nama: Sumarni NIM : 606151406771 S1 PGSD Program PJJ Unversitas Negeri Malang

The students and teachers' books When English Rings the Bell for the seventh grade / Septia Ningrum

 

Ningrum, Septia. 2014. The Students’ and Teachers’ Books When English Rings The Bell for the Seventh Grade. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Mohammad Adnan Latief, M. A., Ph. D Kata kunci: buku siswa, buku guru, kriteria buku teks yang baik Evaluasi ini dilakukan untuk mengevaluasi buku guru dan buku siswa yang berjudul When English Rings the Bell yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah buku teks ini sesuai dengan standar buku teks yang baik. Prinsip dasarnya adalah buku teks bahasa Inggris yang baik adalah yang bisa memfasilitasi siswa untuk mengembangkan skill mereka pada tingkat functional literacy. Metode yang digunakan adalah evaluasi dengan mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah buku teks tersebut sudah memenuhi syarat sebagai buku teks yang baik. Data dikumpulkan dan dievaluasi menggunakan checklist sebagai intrumen utama. Kriteria yang digunakan diadaptasi dari prinsip-prinsip Kurikulum 2013, Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP), dan juga teori dari beberapa ahli seperti Cunningsworth (1995), Brown (2007), Sheldon (1998), Harmer (2007), dan juga jurnal dari Razavi (2014). Berdasarkan hasil evaluasi, buku siswa ini telah memenuhi syarat sebagai buku teks yang baik yang mengindikasikan bahwa buku ini dapat digunakan sebagai sumber belajar untuk siswa SMP. Sementara itu, buku guru juga telah memenuhi standar buku guru yang baik. Berdasarkan evaluasi, disarankan bagi penulis untuk meningkatkan kualitas buku siswa dengan mempertimbangkan cakupan materi dan latihan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan skill mereka. Selanjutnya, guru disarankan untuk mengadopsi dan mengadaptasi materi dari sumber yang lain, terutama untuk kemampuan mendengarkan dan membaca. Juga disarankan kepada guru untuk memanfaatkan secara maksimal keberadaan buku guru ini berkaitan dengan teknik baru di Kurikulum 2013. Untuk pengevaluasi lain yang juga ingin melakukan evaluasi buku, disarankan untuk mengevaluasi buku siswa dari aspek yang lain dengan menggunakan kriteria yang lebih detail untuk mengevaluasi buku.

Faktor-faktor yang berrhubungan dengan tingkat fertilitas di Desa Sumbertangkil Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang / Inge Mahartika

 

Mahartika, Inge. 2014. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Fertilitas di Desa Sumbertangkil Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: fertilitas, umur kawin pertama, periode reproduksi, pemakaian alat kontrasepsi, mortalitas bayi, pendidikan, pendapatan, persepsi nilai anak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kelahiran kasar (CBR) desa Sumbertangkil dibanding dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Tirtoyudo. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui hubungan antara umur kawin pertama dengan tingkat fertilitas 2) untuk mengetahui hubungan antara lama periode reproduksi dengan tingkat fertilitas 3) untuk mengetahui hubungan antara lama pemakaian alat kontrasepsi dengan tingkat fertilitas 4) untuk mengetahui hubungan antara mortalitas bayi dengan tingkat fertilitas 5) untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat fertilitas 6) untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat fertilitas 7) untuk mengetahui hubungan antara persepsi nilai anak dengan tingkat fertilitas 8) untuk mengetahui pengaruh secara serempak dari dari seluruh variabel bebas (umur kawin pertama, periode reproduksi, pemakaian alat kontrasepsi, mortalitas bayi, pendidikan, pendapatan, persepsi nilai anak) terhadap fertilitas. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan alat pengumpul data berupa kuisioner yang dilakukan melalui wawancara terstruktur. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Populasi adalah 1.018 wanita pernah kawin usia 15-49 dan sampel yang digunakan berjumlah 100 responden. Analisis data yang digunakan yaitu tabulasi tunggal dan silang, serta regresi berganda untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa: 1) tidak ada hubungan antara umur kawin pertama dengan tingkat fertilitas 2) ada hubungan antara lama periode reproduksi dengan tingkat fertilitas 3) ada hubungan antara lama pemakaian alat kontrasepsi dengan tingkat fertilitas 4) ada hubungan antara mortalitas bayi dengan tingkat fertilitas 5) ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat fertilitas 6) ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat fertilitas 7) ada hubungan antara persepsi nilai anak dengan tingkat fertilitas 8) ada pengaruh secara serantak antara seluruh variabel bebas (umur kawin pertama, periode reproduksi, pemakaian alat kontrasepsi, mortalitas bayi, pendidikan, pendapatan, persepsi nilai anak) terhadap fertilitas sebesar 44,3%. Dengan demikian, disarankan bagi pemerintah desa Sumbertangkil untuk lebih meningkatkan kesehatan masyarakat serta sosialisasi intensif mengenai program Keluarga Berencana (KB) mulai dari pembatasan pernikahan usia dini dengan tegas dan penyuluhan tentang paradigma keluarga kecil bahagia sejahtera.

Perancangan film animasi 3D sebagai sarana penganalan sopan santun bagi siswa sekolah dasar / Rezza Iqbal Alamin

 

    Alamin, Rezza Iqbal. 2014. ” Perancangan Film Animasi 3D Sebagai Sarana Pengenalan Sopan Santun Bagi Siswa Sekolah Dasar”. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Sarjono, M.Sn (II) H.J. Hendrawan, S.Sn, M.Ds. Kata kunci : Perancangan, Film Animasi 3D, Sopan Santun, Sarana Pengenalan.     Film Animasi 3D merupakan salah satu media yang menarik bagi anak-anak. Penokohan dan jalan cerita yang unik dan lucu membuat film animasi menjadi salah satu tontonan favorit anak anak. Film animasi yang menjadikan sopan santuk sebagai pesan utamanya akan dapat secara bertahap merubah perilaku anak anak yang sedang dalam masa mencontoh perilaku orang maupun tokoh yang disukainya.     Film ini berisi tentang bagaimana dua anak kembar yang berangkat sekolah. Imaginasi mereka yang tinggi, membuat perjalan berangkat sekolah menjadi seru dan menegangkan. Penerapan sopan santuk kepada orang tua menjadi bumbu utama dalam film ini yaitu mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah.     Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif. Garis-garis besar langkah yang harus diikuti adalah: (1) ide cerita/ sinopsis, (2) script, (3) desain karakter, (4) storyboard, (5) dubbing, (6) animatic, (7) modelling karakter, (8) modelling environtmen dan properties, (9) teksture, (10) setting karakter, (11) animasi, (12) pengaturan cayaha, (13) render,(14) efek visual, (15) efek suara dan musik, (16) composite.     Diharapkan perancangan film animasi 3D tentang sopan santun ini dapat menjadi media komunikasi visual yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada target audience. Sehingga siswa Sekolah Dasar manpu menerapkan sopan santun dengan baik dan benar.

Penerapan pembelajaran IPA dengan media gambar untuk meningkatkan prestasi siswa kelas II SDN Gunungsari kecamatan Tajinan kabupaten Malang / Luluk Miftakhul Ulumiyah

 

ABSTRAK Ulumiyah, Luluk Miftakhul. 2010. Pembelajaran IPA Dengan Media Gambar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Gunungsari Keacamatan Tajinan Kabupaten Malang. E-TA, Jurusan KSDP Program PJJ S1 PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Lia Yuliati M.Pd. Kata-kunci : Media belajar, Prestasi belajar IPA. Rendahnya prestasi belajar IPA siswa kelas II SDN Gunungsari menarik untuk diteliti, ada beberapa faktor yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah. Rendahnya prestasi belajar IPA diduga karena penerapan model pembelajaran yang kurang tepat dengan karakteristik pelajaran IPA. Pengamatan awal membuktikan bahwa guru dalam pembelajaran IPA hanya menginformasikan konsep-konsep IPA saja pada siswa, padahal IPA berkembang dari mengamati, mencoba memahami apa yang diamati, meramalkan dan akhirnya menyimpulkan. Berdasarkan hal tersebut maka diadakan penelitian dengan menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran IPA. Media pembelajaran disini adalah berupa Gambar. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010 di SDN Gunungsari Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang di kelas II dengan jumlah siswa 25 anak yang terdiri dari 15 anak laki – laki dan 10 anak perempuan. Penelitian ini berlangsung dua siklus dan setiap akhir siklus dilaksanakan tes formatif untuk mengetahui penguasaan konsep IPA pada pokok bahasan pertumbuhan hewan dan tumbuhan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus 1 siswa yang tingkat penguasaannya di bawah 65 sebanyak 9 siswa atau 36 % dan tingkat penguasaannya diatas 65 sebanyak 16 siswa atau 64 %. Dari hasil prestasi belajar IPA dengan media gambar pada siklus 1 sudah menunjukkan tingkat penguasaan yang cukup,tetapi masih perlu mendapat perhatian dalam penggunaan media gambar untuk perbaikan 36 % siswa. Pada siklus II siswa yang tingkat penguasaannya di bawah 65 sebanyak 2 siswa atau 8 % dan tingkat penguasan diatas 65 sebanyak 23 siswa atau 92 %. Dari hasil prestasi belajar IPA dengan media gambar pada siklus II sudah menunjukkan tingkat penguasaan yang baik.Di tinjau dari nilai terendah pada siklus 1 adalah 45, sedangkan nilai terndah pada siklus II adalah 60. untuk nilai tertinggi siklus 1 adalah 80 ada 2 siswa, sedang nilai tertinggi pada siklus II adalah 100 ada 3 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Gunungsari Kecamatan Tajianan Kabupaten Malang.

Penerapan model role-playing untuk meningkatkan pemahaman kedisiplinan tema kehidupan sehari-hari siswa kelas 2 SDN Kauman 3 kecamatan Klojen kota Malang / Harnanik

 

ABSTRAK Harnanik. 2010. Penerapan metode Role-Playing untuk meningkatkan pemahaman kedisiplinan tema kehidupan sehari-hari siswa kelas 2 SDN Kauman 3 Kecamatan Klojen Kota Malang. Penelitian Tindakan Kelas. SDN Kauman 3 Klojen Kota Malang. Kata Kunci: Metode, Role-Playing, Kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: mendeskripsikan penerapan metode Role-Playing dalam pembelajaran di SD, mendeskripsikan pemahaman siswa tentang pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, mendeskripsikan dampak penggunaan metode role playing terhadap pembelajaran kreativitas dan daya pikirnya, mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan matode role-playing, dan mendeskripsikan usaha dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode role- playing siswa kelas 2 SDN Kauman 3. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) rancangan 2 siklus. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, masing- masing siklus dilaksanakan dalam 2 hari. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan sebesar 70 % dari jumlah keseluruhan subyek penelitian dengan rata-rata skor minimal 75. Subyek penelitian adalah siswa kelas 2 SDN Kauman 3 Kecamatan Klojen Kota Malang yang berjumlah 23 anak. Penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa: lembar observasi (pengamatan) untuk mengamati kegiatan siswa, catatan lapangan, LKS, studi dokumentasi dengan hasil tes dan foto-foto pada saat pembelajaran, serta lembar evaluasi untuk menilai pemahaman siswa terhadap konsep keluarga. Hasil penelitian menunjukkan: (a) pelaksanaan pembelajaran role- playing pada siklus I masih banyak kekurangan. Kekurangannya yaitu masih ada beberapa siswa yang merasa malu untuk bermain peran di depan kelas sehingga kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan baik. Pada siklus II diberi perbaikan sehingga pemahaman siswa dan keberanian siswa dalam bermain peran di depan kelas menjadi meningkat. (b) model pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep kedisiplinan dari skor rata-rata pre tes 51,7 menjadi 61,3 pada siklus I dan pada siklus II menjadi 80,4; (c) model pembelajaran role-playing dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, keberanian dan rasa senang siswa dalam belajar. Jumlah siswa yang aktif dalam belajar meningkat dari 55% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Kerjasama siswa dari 51% pada siklus I meningkat menjadi 70% pada siklus II. Keberanian siswa juga mengalami peningkatan dari 49% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Serta rasa senang dalam belajar siswa juga meningkat dari 54% pada siklus I menjadi 70% pada siklus II. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pertama pembelajaran tematik dengan metode role-playing dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengajarkan tentang kedisiplinan. Yang kedua penggunaaan metode role-playing dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari siswa kelas 2 di SDN Kauman 3, yang iv ketiga adalah dampak penggunaan metode role-playing dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, keberanian dan rasa senang siswa dalam belajar. Yang keempat adalah usaha untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode role playing pada pembelajaran kedisiplinan yaitu memotivasi, memberi kesempatan dan selalu memberi bimbingan supaya siswa terampil dan berani dalam bermain peran. Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diberikan saran kepada (a) guru agar menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran role-playing dalam kegiatan belajar mengajar dengan tema-tema yang lain ataupun bagi peneliti lain, (b) bagi kepala sekolah agar selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada guru-guru untuk menerapkan pembelajaran role-playing dalam pembelajaran.

Penerapan model pembeljaran pakem untuk meningkatkan hasil belajar IPA pokok bahasan penyesuaian diri mahluk hidup dengan lingkungannyan pada siswa kelas V SDN Sumberboto 03 kec. Wonotirto kab. Blitar tahun pelajaran 2009/2010 / Teguh Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Teguh. 2010. Penerapan Model Pembelajaran PAKEM untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa Kelas V SDN Sumberboto 03 Kec. Wonotirto Kab. Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010. Tugas Akhir, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Pakem, Hasil Belajar Pembelajaran PAKEM adalah proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran PAKEM dirancang agar mengaktifkan peserta didik, mengembangkan kreatifitas sehingga proses pembelajaran efektif dalam suasana yang menyenanglan. Berdasarkan observasi di SDN Sumberboto 03 Kec.Wonotirto Kab.Blitar menunjukan bahwa hasil belajar anak pada mata pelajaran IPA sangat rendah, dimana masih banyak siswa yang nilainya dibawah SKBM perorangan maupun kelompok yang sudah ditentukan dalam kurikulum sekolah sebesar 65% untuk SKBM perorangan dan 85% untuk SKBM kelompok. Disamping itu minat dan aktifitas siswa dalam pembelajaran sangat rendah sekali. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Dalam penenlitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan instrument penelitian menggunakan lembar pengamatan dan soal test. Sedangkan data yang di deskripsikan meliputi data hasil pengamatan dan data hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pertemuan silklus I dan siklus II dengan subjek siswa kelas V SDN Sumberboto 03 Kec.Wonotirto Kab.Blitar. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan penerapan model pembelajaran PAKEM, keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi mengalami peningkatan dengan kriteria yang semula sedangh menjadi sangat baik. Sedangkan hasil belajar sisa juga mengalami peningkatan dimana pada pra tindakan hasil belajar siswa hanya ada 35% siswa yang tuntas belajarnya, kemudian setelah penerapan pembelajaran PAKEM menunjukan kenaikan yaiti pada siklus I mencapai 77% dan pada siklus II mencapai 90%. Hal ini menunjukkan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya semakin berkurang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa serta hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Sumberboto 03 Kec.Wonotirto Kab.Blitar.

Pemetaan sebaran tingkat sosial ekonomi keluarga pemandu wisata perahu layar di Pantai Pasir Putih Kabupaten Situbondo / Ziaullah Sudiana Rizki

 

Rizki, Ziaullah Sudiana. 2014. Pemetaan Sebaran Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga Pemandu Wisata perahu Layar di Pantai Pasir PutihKabupatenSitubondo. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si (2) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd. Kata Kunci: Pariwisata, Sosial Ekonomi, Pemetaan Secarageografis Kabupaten Situbondo memiliki kekayaan laut salah satunya pariwisata. Keadaan objek wisata menjadi penting bagi masyarakat yang berperan sebagai pekerja di Pasir Putihsalah satunya pemandu.Kekayaan dan pemanfaatan sumber daya laut belum menjamin kelayakan hidup masyarakat. Hal ini disebabkan masyarakat sekitar memanfaatkan keadaan ini menjadi pekerjaan tetap yang membantu perkonomian. Pekerjaan sebagai pemandu wisata perahu layar tidak menjamin mereka yang bekerja. Pada saat tertentu mereka mendapatkan keuntungan dan ada kalanya berhenti bekerja. Hal ini disebabkan adanya siklus musiman yang membuat pengunjung hanya datang pada saat tertentu, tingginya pesaing antar objek wisata, fasilitas wisata, kenyamanan, bencana alam, dan kurangnya koordinasi antar pekerja. Penelitian ini ditujukan untuk memetakan sebaran tingkat sosial ekonomi keluarga pemandu wisata perahu layar. Pemetaan sosial ekonomi membahas tentang umur, pendidikan, beban tanggungan, pekerjaan, beban tanggungan, sistem kerja, pendapatan, kontribusi pendapatan, dan kesejahteraan. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif. Pengambilan data menggunakan purposive sampling melalui observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Analisis data ini mengunakan tabulasi tunggal, rumus kontribusi pendapatan. Karakteristik pemandu wisata berdasarkan hasil penelitian dilihat dari segi geografis dalam memanfaatkan keadaan alam, umur pemandu wisata yang mendominasi berkisar 45-49 tahun dengan jumlah 11, pendidikan pemandu wisata berada pada pendidikan SMA dengan jumlah 34,beban tanggungan pemandu wisata yang mendominasi berkisar >2 dengan jumlah 36, pekerjaan pokok pemandu wisata menjadi pekerjaan tetap, pekerjaan sampingan pemandu wisata yang mendominasi yaitu 8 buruh tani dan 8 pengrajin, sistem kerja bersifat individu, pendapatan pokok pemandu wisata yang mendominasi berkisar Rp.1.000.000-1.200.000 per bulan, pendapatan sampingan pemandu wisata yang mendominasi berkisar Rp.400.000-500.000 per bulan, pendapatan di luar kerja pemandu wisata yang mendominasi berkisar Rp.300.000-400.000 per bulan, kontribusi pendapatan pemandu wisata yang mendominasi berada dikategori 71-80 dengan jumlah 20. Keluarga Sejahtera 1 pemandu wisataberjumlah 38, Keluarga Sejahtera 2 berjumlah8 dan Keluarga Sejahtera 3 berjumlah 4.

Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas masyarakat nelayan di Desa Banjarjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban / Setyo Wulandari

 

Wulandari, Setyo. 2014.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas Masyarakat Nelayan di Desa Banjarjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budijanto, M.sos, (II) Satti Wagistina, SP, M.Si Kata kunci: Fertilitas, dan Masyarakat nelayan Tingginya laju pertumbuhan penduduk merupakan salah satu permasalahan penduduk yang sukar untuk diatasi. Permasalahan tersebut dapat dilihat melalui tingginya tingkat fertilitas atau angka kelahiran. Permasalahan fertilitas tersebut juga dialami oleh masyarakat Desa Banjarjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat fertilitas menjadi tinggi maupun rendah. Pada dasarnya fertilitas dipengaruhi oleh faktor demografi dan non demografi. Faktor demografi meliputi umur kawin pertama, lama periode reproduksi, paritas atau jumlah persalinan yang pernah dialami dan proporsi perkawinan, sedangkan faktor ekonomi meliputi keadaan sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas masyarakat nelayan di Desa Banjarjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan metode kuantitatif. Teknik yang digunakan adalah survey. Populasi dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang memiliki wanita pernah kawin (WPK) umur 15-49 tahun yang ada di Desa Banjarjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban. Sampel yang diambil sebanyak 100 responden dengan cara proporsional random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis tabulasi tunggal, tabulasi silang dan analisis statistik regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor fertilitas yang dibahas dalam penelitian ini keseluruhan memiliki pengaruh terhadap fertilitas, namun tidak semua faktor secara terpisah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fertilitas. Diketahui bahwa yang memiliki pengaruh, yaitu lama periode reproduksi, pemakaian alat kontrasepsi dan nilai anak, sedangkan yang tidak memiliki pengaruh yaitu umur kawin pertama, pendidikan ibu dan pendapatan keluarga. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah umur kawin pertama, lama periode reproduksi, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pemakaian alat kontrasepsi dan nilai anak memiliki hubungan dan pengaruh terhadap fertilitas di Desa Banjarjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban. Saran dari penelitian ini sebaiknya umur kawin pertama masyarakat nelayan Desa Banjarjo mengikuti ketentuan undang-undang perkawinan yang telah ditetapkan yaitu umur kawin pertama pada usia 20 tahun.

Proses berpikir kreatif dalam kegiatan pengajuan masalah (problem possing) materi geometri untuk siswa kelas XI SMAN 1 Ngrayun Ponorogo / Andi Navianto

 

Navianto, Andi. 2014. Proses Berpikir Kreatif dalam Kegiatan Pengajuan Masalah (Problem Posing) Materi Geometri untuk Siswa Kelas XI SMAN 1 Ngrayun Ponorogo. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si., (II) Dra. Santi Irawati, M.Si., Ph.D. Kata kunci: kreativitas, proses berpikir kreatif, kebaruan, pengajuan masalah.     Pada dasarnya setiap siswa memiliki kreativitas. Salah satu upaya mengembangkan kreativitas siswa adalah memahami proses berpikir kreatif yang terjadi pada siswa. Salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk mengungkap proses berpikir kreatif adalah kegiatan pengajuan masalah (problem posing). Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan langkah-langkah berpikir kreatif siswa dalam kegiatan pengajuan masalah (problem posing). Pemilihan materi lingkaran sebagai salah satu topik yang dibahas dalam geometri didasarkan siswa SMAN 1 Ngrayun kelas XI baru saja mendapatkan materi lingkaran. Melalui kegiatan pengajuan masalah merupakan upaya peneliti melihat proses berpikir kreatif siswa sebagai hasil pembelajaran baik di SMA maupun di jenjang pendidikan sebelumnya.     Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Jenis data pada penelitian ini berupa data tertulis dan data verbal. Data tertulis diperoleh dari hasil lembar tugas siswa yang berisi soal-soal matematika yang berhubungan konsep lingkaran yang dibuat siswa. Sedang untuk data verbal diperoleh dari hasil wawancara dan dokumentasi menggunakan alat rekam. Wawancara dilakukan pada tiga kelompok subjek penelitian yang memenuhi , yaitu subjek kelompok atas, subjek kelompok menengah, dan subjek kelompok bawah. Masing-masing kelompok diwakili oleh dua siswa.     Dari hasil penelitian ditemukan bahwa siswa melakukan proses translating di awal kegiatan pengajuan masalah. Proses translating ditunjukkan dengan siswa menerjemahkan informasi yang diberikan ke pengetahuan yang dimiliki dan ke topik yang diinginkan. Ketika siswa tidak mampu dalam menerjemahkan maka siswa menambahkan informasi (add object). Selanjutnya hasil translating dijadikan bahan bagi siswa untuk membuat soal-soal. Selain menambah informasi, siswa juga mengubah informasi (edit information) yang ada dalam proses pembuatan soal. Siswa mengajukan soal baru hasil dari (1) modifikasi soal yang pernah didapatkan siswa, (2) modifikasi soal yang telah dibuat siswa di nomor sebelumnya, (3) kombinasi dari modifikasi soal yang pernah didapatkan dan soal yang telah dibuat siswa di nomor sebelumnya.

Political motives of Pro America's literary challenges against John Steinbeck's the Grapes of Wrath / Dhianita Kusuma Pertiwi

 

Kusuma Pertiwi, Dhianita. 2014. Motif Politik Protes Sastra oleh Pro America terhadap Novel The Grapes of Wrath. Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (a) Inayatul Fariha, S.S., M.A., (b) Muhammad Nasrul Chotib, S.S. M. Hum. Kata kunci: protes, Pro America, The Grapes of Wrath Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis cara penyampaian dan motif politik dari aksi protes Pro America terhadap novel The Grapes of Wrath oleh John Steinbeck. Motif politik dari penyampaian protes merupakan fokus dari studi ini. Hal ini didasarkan pada keingintahuan peneliti mengenai motif yang menggerakkan Pro America sebagai sebuah organisasi nasional perempuan untuk melakukan aksi protes terhadap sebuah karya sastra. Studi ini memberikan penjelasan mengenai metode dan motif politik dari aksi sensor yang dilakukan oleh Pro America terhadap The Grapes of Wrath. Aksi sensor terhadap karya sastra yang dilakukan oleh Pro America, organisasi perempuan nasional di Amerika terhadap Grapes of Wrath diklasifikasikan sebagai aksi sensor dengan dasar politik dengan prosedur monopolisasi pemerintah atau kelompok. Aksi sensor yang termasuk dalam prosedur ini dilakukan oleh pemerintah, kelompok agama atau organisasi yang memiliki kekuatan otoritas di lingkungan masyarakat umum. Motif yang menggerakkan Pro America untuk melakukan aksi sensor terhadap The Grapes of Wrath merupakan salah satu teknik yang digunakan oleh organisasi tersebut untuk mewujudkan gol mereka, yakni mendorong ideologi Amerika ke arah kanan dan anti komunisme. Analisis lebih mendalam yang saya lakukan menunjukkan adanya konflik misi antara dua sisi yang berperan penting dalam kasus ini, yakni Pro America sebagai pihak penyerang dan John Steinbeck sebagai penulis The Grapes of Wrath. Disamping itu, sebagai hasil analisis, penulis juga menemukan beberapa bukti yang menyatakan bahwa John Steinbeck dalam hal ini merupakan pihak yang menceritakan kenyataan mengenai masyarakat Amerika selama era Great Depression melalui karyanya.

Pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap loyalitas melalui kepuasan pekanggan (studipada siswa lembaga pendidikan bahasa asing EF English First Malang)

 

ABSTRAK Lisnasari, Iftitah. 2008. Pengaruh Dimensi Kualitas Jasa Terhadap Loyalitas Melalui Kepuasan Pelanggan (Studi Pada Siswa Lembaga Pendidikan Bahasa Asing EF English First Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Arief, M.Si. (II) Titis Shinta Dhewi, S.P., M.M. Kata kunci: Kualitas Jasa, Kepuasan Pelanggan, Loyalitas. Dengan berkembangnya Lembaga Pendidikan Bahasa Asing dikota Malang, membuat setiap lembaga menentukan berbagai strategi untuk dapat bersaing dengan kompetitor. Sebagai salah satu alternatif untuk meraih pelanggan, lembaga berusaha memperbaiki kualitas jasa (service quality), yang akhir-akhir ini dianggap sebagai sesuatu yang vital harus dimiliki perusahaan/lembaga, karena dengan pelayanan yang baik setelah produk/jasa yang berkualitas, perusahaan/lembaga beranggapan dapat membuat pelanggan puas, dan setelah itu mengharapkan agar pelanggan tersebut akan loyal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey. Jumlah sampel sebanyak 85, sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mendeskripsikan variabel bebas kualitas jasa yang terdiri dari bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), empati (X5), variabel intervening kepuasan pelanggan (Y), serta variabel terikat loyalitas pelanggan (Z). untuk menentukan besar pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari variabel kualitas jasa, kepuasan pelanggan, dan loyalitas menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Hasil perhitungan pada pengujian simultan diperoleh bahwa F hitung (9,648) > dari F tabel (5,79), sedangkan signifikansi (0,000) < dari alpha pada taraf 5 % atau 0,05, artinya variabel kualitas jasa (X) berpengaruh secara simultan terhadap variabel kepuasan pelanggan (Y). sedangkan untuk koefisien determinan (Adjusted R Square) sebesar 0,379 atau 37,9 %. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel bukti fisik (X1) memiliki t hitung X1 0,639 < t tabel 1,990, X1 tidak berpengaruh secara parsial. Variabel keandalan (X2) didapat t hitung 2,603 > t tabel 1,990, X2 berpengaruh secara parsial. Variabel daya tanggap (X3) didapat t hitung -1,200 < t tabel 1,990, X3 tidak berpengaruh secara parsial. Variabel jaminan (X4) didapat t hitung 3,365 > t tabel 1,990, X4 berpengaruh secara parsial. Variabel empati (X5) didapat t hitung 3,081 > t tabel 1,990, X5 berpengaruh secara parsial. Variabel Kualitas Jasa (X) dan kepuasan pelanggan (Y) memiliki pengaruh sebesar 41,1 % terhadap variabel loyalitas (Z). Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada Lembaga Pendidikan Bahasa Asing EF English First Malang agar melakukan survei berkala yang dapat dilakukan tiap triwulan atau tiap semester untuk mengukur tingkat harapan dan persepsi siswa mengingat tumtutan konsumen terhadap kualitas jasa terus berkembang seiring kemajuan jaman dan menghadapi persaingan antar lembaga pendidikan bahasa asing, selanjutnya untuk mencapai loyalitas perlu meningkatkan kepuasan siswa dengan cara pemberian reward kepada siswa yang berprestasi.

Membangun sistem informasi pelanggan siswa menggunakan PHP dan database MySQL pada MTS N 1 Bojonegoro / Faerry Dwi Laksono

 

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat menyebabkan setiap aktifitas manusia tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknologi. Komputer, dan jaringan salah satu teknologi yang cepat berkembang dan merupakan sarana cara mendapatkan informasi dengan cepat, mudah dan efisien. Hal ini berpengaruh terhadap aktifitas antara lain pada sektor pendidikan. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah merupakan kondisi yang sering dihadapi setiap instansi atau lembaga sekolah dalam menegakkan disiplin. MTS Negeri 1 Bojonegoro adalah salah satu lembaga sekolah yang sering menemui pelanggaran yang di lakukan oleh siswa. Dengan banyaknya pelanggaran yang di lakukan maka di tuntut pula dengan sistem manajemen yang baik. Hal ini akan memudahkan dalam pengambilan tindakan apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Sehingga masalah dapat segera di selesaikan. Oleh karena itu perlu di buat sistem informasi tentang pelanggaran di sekolah yang nantinya akan memudahkan guru untuk mengambil tindakan dan memudahkan orang tua untuk memantau anaknya di sekolah. Untuk memudahkan pemberitahuan kepada orang tua maka di dalam tugas akhir ini di buat sistem informasi pelanggaran siswa, yang dapat diakses melalui internet dalam memberikan informasi pelanggaran siswa kepada orang tua. Perancangan sistem informasi pelanggaran siswa yang di buat ini terdiri dari dua unit utama yaitu, unit Hardware yang terdiri dari jaringan internet sebagai media penghubung komputer lokal ke komputer server Web hosting. Dan Software berupa Bahasa pemrograman PHP 5.2.9 dan PHPMyAdmin 3.1.2, dan MySQL 5.0.5 sebagai pengolah database informasi pelanggaran siswa. Dengan adanya sistem informasi pelanggaran siswa ini. Orang tua dapat aktif memantau perkembangan anaknya. Sehingga di harapkan siswa dapat disiplin di Sekolah. Dan nantinya akan berdampak pada prestasi siswa tersebut.

Studi kelayakan busbar gardu trafo tiang 20 Kv (baru) pada jurusan teknik Universitas Negeri Malang / Nuril Anwar

 

Adanya beban puncak secara tidak menentu yang berasal dari gedung-gedung kuliah khususnya di Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, akan menimbulkan pengaruh dari kinerja busbar yang ada dalam Perangkat Hubung Bagi Tegangan Rendah (PHB) TR gardu trafo tiang 20 kV dengan daya 100 kVA di Jurusan Teknik Elektro. Oleh karena itu, diperlukan adanya penghitungan dan analisis terhadap beban dari gedung-gedung yang akan dialiri arus dan daya dari sebuah gardu trafo tiang, khususnya yang ada di Jurusan Teknik Elektro agar kinerja dari gardu trafo tiang khususnya pada busbar dapat bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai pengumpulan arus dari sumber dan membagi-bagikannya ke beban. Hasil analisis perhitungan beban dan penentuan ukuran busbar bertujuan dapat membuktikan hasil teori dan praktek di lapangan khususnya dalam bidang elektro. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data dan melakukan penghitungan untuk menentukan ukuran busbar; (4) melakukan simulasi dengan software Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan diperoleh dengan pendataan arus pada setiap gedung. Dengan melakukan analisis perancangan pada busbar yang akan dipasang pada gardu trafo tiang khususnya yang ada di Jurusan Teknik Elektro, maka dapat diketahui sebelum dipilih ukuran dan bahan busbar yang akan dipasang harus dilakukan analisis dan perhitungan terlebih dahulu dengan mengacu pada aturan-aturan yang di pakai di Indonesia, dengan harapan umur pemakaian suatu alat dapat bertahan lama. Kesimpulan hasil analisis, busbar yang berukuran 40mm x 5mm maupun busbar yang berukuran 12mm x 5mm mampu memikul gaya tekanan (stressing) akibat dari arus beban penuh, arus beban 50%, arus hubung singkat maksimum, dan arus hubung singkat minimum karena gaya tekan yang muncul lebih kecil atau sama dengan kekuatan mulur busbar (yield strenght)

Directives in academic writing: a contrastive corpus-based studi of C-smile and coca / Cita Nuary Ishak

 

Ishak, C. N. 2014. Directives in Academic Writing: A Contrastive Corpus-Based Study of C-SMILE and COCA. Skripsi, Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A. and (II) Prof. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Kata Kunci: reader engagement, directives, C-SMILE, COCA, bald-on-record FTA     Wacana akademik merupakan konstruksi sosial (Swales et al. 1998), sehingga menjaga hubungan dengan pembaca merupakan hal yang sangat penting (Hyland, 2002c). Oleh karenanya, kesadaran penulis akan kehadiran pembaca dan kemampuan menjalin hubungan dengan mereka diperlukan untuk mencapai penulisan akademik yang baik (Hyland, 2001). Di antara lima unsur hubungan yang diusulkan Hyland (2005b), penelitian ini memfokuskan kajian pada directives. Pilihan ini dilakukan karena peran directives yang pada satu sisi berfungsi melibatkan pembaca ke dalam teks, namun pada sisi lain berpotensi merusak hubungan antara pembaca dan penulis, yang disebabkan sifatnya sebagai bald-on-record face threatening act (Brown dan Levinson, 1987). Oleh karena kekhawatiran akan fungsinya yang terakhir ini, directives seringkali diabaikan dalam penelitian (Hyland, 200b; Swales et al. 1998). Dengan demikian, sedikit sekali informasi mengenai peranan directives dalam tulisan-tulisan ilmiah diperoleh. Penelitian ini mencoba menelaah ranah yang terabaikan namun penting tersebut dengan melakukan kajian lebih jauh mengenai penggunaan directives dalam tulisan akademik dari dua korpus yang berbeda.     Fokus kajian penelitian ini adalah penggunaan directives dalam tulisan akademik berbahasa Inggris oleh penutur asing dan penutur asli Bahasa Inggris. Data penelitiannya adalah tulisan akademik bergenre humaniora yang diambil dari korpus karya tulis akademik penutur asing Bahasa Inggris (C-SMILE) dan korpus artikel ilmiah yang dihasilkan oleh penutur asli Bahasa Inggris (COCA). Bentuk directives yang dikaji dalam penelitian ini mengikuti model directives yang ditawarkan Hyland (2002b); bentuk-bentuk tersebut meliputi: imperatives, necessity modals, dan predicative adjectives controlling a complement to-clause. Untuk mendapatkan hasil pencarian yang tepat dan akurat, necessity modal dikombinasikan dengan pronominal pembaca yang dikategorikan oleh Kim dan Thompson (2010). Karena penelitian ini membandingkan hasil kuantitatif dari C-SMILE dan COCA, serta menelaah persamaan dan perbedaan di antara kedua korpus, dan membahas isu-isu penting yang mucul dari temuan penelitian, maka penelitian ini merupakan sebuah studi komparatif korpus.     Penelitian ini menemukan bahwa penutur asing dan penutur asli Bahasa Inggris sama-sama melibatkan pembaca mereka ke dalam teks melalui penggunaan textual imperative see. Persamaan kedua korpus ini terletak pada penggunaan textual imperative see sebagai bentuk directives terbanyak. Akan tetapi, setelah dikaji lebih jauh, terdapat perbedaan dalam penggunaan see. Di COCA, see berfungsi untuk mengarahkan pembaca baik kepada sumber internal maupun eksternal, sedangan di C-SMILE, see digunakan untuk mengarahkan pembaca kepada sumber internal saja. Selaian itu, see pada COCA juga memuat sikap dan penilaian penulis terhadap sumber yang ia maksud dan fungsi see ini tidak ditemukan dalam C-SMILE. C-SMILE dan COCA serupa dalam hal penggunaan pronomina pembaca we, tetapi berbeda pada necessity modal yang mengikuti pronomina tersebut. Isu-isu yang muncul dari temuan-temuan ini adalah (1) permasalahan seputar kurangnya referensi bacaan yang dihadapi oleh mahasiswa S1, (2) imperative see yang kehilangan potensinya untuk merusak hubungan penulis dan pembaca dalam budaya akademik, serta (3) penjelasan logis dibalik penggunaan see yang berlebihan dan kurangnya penggunaan bentuk directives lain. Penelitian ini ditutup dengan saran bagi dosen matakuliah writing agar mengajarkan pentingnya melibatkan pembaca ke dalam teks serta saran-saran pedagogis lainnya sebagai jawaban untuk masalah seputar kurangnya bahan bacaan mahasiswa S1, penggunaan see yang cukup berlebihan, dan kurangnya penggunaan bentuk directives lain dalam korpus C-SMILE.

Analisis soal Ulangan Akhir Semester (UAS) mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI MI Miftahul Astar Desa Dawung Bedug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri tahun ajaran 2012/2013 / Siti Winarsih

 

Winarsih, Siti. 2014. Analisis Soal Ulangan Akhir Semester (UAS) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI MI Miftahul Astar Desa Dawung Bedug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Titik Harsiati, M. Pd, (II) Dr. H. Imam Agus Basuki, M. Pd Kata Kunci: soal UAS kelas VI, mata pelajaran Bahasa Indonesia     Ulangan Akhir Semester merupakan bagian dari evaluasi di sekolah. Menurut Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, UAS adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Pada ulangan Bahasa Indonesia, tes yang digunakan adalah tes bahasa. Tes bahasa yang diujikan dalam UAS berbentuk tes tertulis sehingga yang digunakan dalam ulangan berupa soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa.     Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) mendekripsikan kemampuan yang dinilai dalam soal UAS Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Astar Desa Dawung Bedug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri tahun ajaran 2012/2013, (2) mendeskripsikan pola realisasi kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VI dalam soal UAS bahasa Indonesia Kelas VI Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Astar Desa Dawung Bedug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri tahun ajaran 2012/2013, (3) mendeskripsikan kesesuaian penyusunan butir soal UAS bahasa Indonesia kelas VI Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Astar Desa Dawung Bedug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri tahun ajaran 2012/2013 berdasarkan dengan kaidah penyusunan soal pilihan ganda dan soal uraian.     Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan hasil analisis sesuai dengan kenyataannya. Data dalam penelitian ini berupa paparan verbal kemampuan yang dinilai dalam soal UAS bahasa Indonesia kelas VI, paparan verbal pola realisasi KD bahasa Indonesia kelas VI dalam soal UAS bahasa Indonesia kelas VI, paparan verbal kesesuaian soal UAS bahasa Indonesia berdasarkan dengan kaidah penyusunan soal. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan triangulasi data dengan dosen pembimbing dan rekan sejawat. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap menyeleksi data dan mengklasifikasikan data, tahap menganalisis data, dan tahap menyimpulkan hasil analisis data.     Berdasarkan analisis data diperoleh tiga simpulan penelitian berikut. Pertama, kemampuan yang diukur dalam soal UAS Bahasa Indonesia kelas VI MI Miftahul Astar meliputi enam kategori soal, yakni (1) kemampuan kebahasaan, (2) kemampuan teori, (3) kemampuan membaca sastra, (4) kemampuan membaca nonsastra, (5) menulis langsung, dan (6) menulis tidak langsung. Kedua, kompetensi dasar Bahasa Indonesia kelas VI dalam soal UAS Bahasa Indonesia direalisasikan menjadi kemampuan membaca, teori keterampilan, kebahasaan, dan menulis. Ketiga, penyusunan soal UAS mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VI terbagi menjadi tiga kategori, yakni (a) segi materi, (b) segi konstruksi, dan (c) segi bahasa. Dari segi materi, soal pilihan ganda tidak memenuhi satu kaidah, yakni kesesuaian soal dengan indikator. Selanjutnya untuk soal uraian tidak memenuhi dua kaidah, yakni kesesuaian soal dengan indikator dan kesesuaian materi yang ditanyakan dengan tujuan pembelajaran. Dari segi konstruksi, penyusunan soal pilihan ganda tidak memenuhi satu kaidah, yakni panjang rumusan pilihan jawaban relatif sama. Untuk penyusunan soal jawaban singkat tidak memenuhi satu kaidah, yakni tidak menggunakan kalimat langsung yang diambil dari buku atau dari catatan. Selanjutnya penyusunan soal uraian tidak memenuhi satu kaidah, yakni setiap soal ada pedoman penskorannya. Dari segi bahasa, dari lima kaidah penyusunan soal semuanya dipenuhi oleh semua soal, baik soal pilihan ganda, jawaban singkat, maupun soal uraian, yakni (1) rumusan kalimat soal komunikatif, (2) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, (3) rumusan soal tidak mengandung kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda, (4) tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat, dan (5) tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan peserta didik.     Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu guru hendaknya melakukan perencanaan lebih awal semester agar soal yang dihasilkan lebih berkualitas. Hal itu dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan keterampilan apa saja yang akan diujikan. Berapa sampel soal dari masing-masing kompetensi yang akan diujikan sehingga proporsi soal untuk tiap keterampilan seimbang. Selain itu guru juga dapat membuat kisi-kisi soal terlebih dahulu dan menentukan jenis soal yang akan diujikan beserta rubriknya. Guru juga harus melihat kaidah-kaidah penyusunan soal sehingga soal benar-benar berkualitas dan memiliki validitas yang tinggi. Kepala sekolah harus aktif dalam meningkatkan kualitas guru dalam membuat soal ulangan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat sistem penilaian sejawat sesama guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan juga mengikuti pelatihan pembuatan soal UAS melalui MGMP.

Meningkatkan hasil belajar siswa kelas III tentang pecahan sederhana melalui manipulasi benda konkret di UPT SDN Panggungrejo Kota Pasuruan / Lik Anah

 

ABSTRAK Lik’anah, 2009, Meningkatkan hasil belajar siswa kelas III tentang pecahan sederhana melalui manipulasi benda konkret di UPT SDN Panggungrejo Kota Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program PJJ-S1 PGSD. Pembimbing : Sri Harmini, M.Pd Kata Kunci : pecahan sederhana, manipulatif benda konkret, aktivitas siswa. Pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar, mempunyai peranan yang sangat penting. Sebab jenjang ini merupakan pondasi yang sangat menentukan dalam membentuk sikap, kecerdasan dan kepribadian anak, yang akan digunakan dalam kehidupan sehari – hari maupun untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut : 1. Untuk mendapatkan data empiris tentang pembelajaran siswa kelas 3 SDN Panggungrejo khususnya pada pembelajaran matematika pokok bahasan mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan manipulasi benda konkret; 2. Untuk mendeskripsikan aktivitas siswa selama pembelajaran matematika pada pokok bahasan mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan manipulasi benda konkret. 3. Untuk mendapatkan data empiris tentang peningkatkan hasil belajar siswa kelas 3 SDN Panggungrejo khususnya pada pembelajaran matematika pokok bahasan mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan manipulasi benda konkret; Penanaman konsep pecahan pada anak kelas III sekolah dasar dengan manipulasi benda konkret dapat kita lakukan dengan cara sebagai berikut : Kita akan menunjukkan contoh bahwa 1 = 2 = 4 dengan menggunakan 3 lembar kertas yang berbentuk persegipanjang Dalam Perbaikan Pembelajaran ini dilakukan di UPT SDN Panggungrejo yang terletak di Jl. Letjen S.Parman No. Kecamatan bugul Kidul Kota Pasuruan. Secara geografis, sekolah ini terletak di daerah pinggir pantai ( + 3 kilometer dari pusat kota ). Dengan mata pencaharian penduduk sekitar adalah nelayan, kebanyakan masyarakatnya kurang mampu dan tingkat kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak kurang. Hasil pengolahan tes formatif siklus II yang dibandingkan dengan siklus I serta kriteria ketuntasan minimal didapatkan adanya peningkatan dari siklus I rata-rata nilai 6,15. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran nilai rata-rata menjadi 7,95. Nilai perbaikan siklus II dapat melampaui kriteria ketuntasan minimal yaitu 6,5. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar dari siklus I 50% terjadi peningkatan menjadi 95%, yang telah melebihi harapan peneliti Dalam pembelajaran hendaknya selalu menggunakan alat peraga yang lebih berfariatif dan menarik diharapkan dapat menarik perhatian siswa dalam belajar, merencanakan penggunaan fasilitas pembelajaran secara sistematis dan terarah sehingga akan berfungsi sebagaimana mestinya, dan agar suasana tidak tegang, berilah sedikit humor dari guru untuk menciptakan suasana yang menyenangkan

Peningkatan hasil belajar matematika konsep pengukuran melalui pembelajaran kontekstual metode inkuirisiswa kelas III SDN Kobonagung Pasuruan / Ida Herlina Hari Suwati

 

ABSTRAKSI Peningkatan Hasil Belajar Matematika Konsep Pengukuran melalui Pembelajaran Kontekstual Metode Inkuiri Siswa Kelas III SDN Kebonagong Pasuruan Oleh : Ida Herlina Hari Suwati Permasalahan umum di bidang pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah rendahnya kualitas pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Saat ini, pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional(Permendiknas) yang mengatur standar isi pendidikan di Indonesia, tidak tanggung-tanggung pemerintah mengeluarkan tiga permendiknas sekaligus, yaitu Permendiknas RI No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas RI No 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendiknas RI No 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan kedua Permendiknas di atas. Terbitnya Permendiknas tersebut merupakan angin segar dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya bagi mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : (1) memahami konsep matamatika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.; (2) menggunakan penalaran pada pola atau dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika ; (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dalam simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah ; (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Sementara itu dalam kehidupan sehari-hari matematika masih dipandang sebagai suatu mata pelajaran yang sulit, menakutkan dan membosankan bagi siswa. Begitu pula dengan siswa kelas III D SDN Kebonagung Pasuruan, selama pembelajaran matematika di kelas, menurut pengamatan penulis selaku guru kelas dirasakan hasil belajarnya sangat kurang memuaskan Terbukti setelah usai pembelajaran materi menyelesaikan masalah yang berkaitan menggunakan alat ukur dalam pemecahan masalah diadakan tes tertulis secara individu dengan jumlah soal 5 butir. Dari 31 orang siswa, hasil tes diperoleh nilai rata-rata 59 dengan perincian nilai sebagai berikut : 2 orang siswa memperoleh nilai 100, 4 orang siswa memperoleh nilai 90, 4 orang siswa memperoleh nilai 80, 5 orang siswa memperoleh nilai 60, dan 16 orang siswa memperoleh nilai 40. Dari 10 butir soal yang paling banyak siswa yang salah adalah soal nomor 2 dan 4 tentang hubungan antar satuan panjang. Bertitik tolak dari latar belakang permasalahan tersebut di atas maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Konsep Pengukuran melalui Pembelajaran Kontekstual Metode Inkuiri Siswa Kelas III SDN Kebonagung Pasuruan” Mengingat metode inkuiri mempunyai kelebihan-kelebihan, maka metode inkuiri digunakan dalam pembelajaran matematika untuk lebih mudah menanamkan konsep pengukuran di kelas III SDN Kebonagung Pasuruan. Pembelajaran dengan metode inkuiri tidak selalu menggunakan sarana dan prasarana yang dibeli dengan harga mahal, akan tetapi lingkungan di sekitar daat digunakan sebagai penunjang pembelajaran matematika. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan melalui penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika konsep pengukuran pada siswa kelas III SDN Kebonagung Pasuruan.

Penerapan strategi pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Brawijaya Smart School (BSS) / Imama Wahidah

 

Kata Kunci : Strategi Think Talk Write (TTW), Hasil Belajar, Himpunan Melalui observasi awal, diperoleh informasi bahwa hasil ulangan harian materi sebelumnya diperoleh presentase ketuntasan siswa kelas VII C pada mata pelajaran matematika adalah 54% siswa dari 35 siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat dikatakan masih rendah. Hal ini diduga karena pembelajaran yang diterapkan guru yang sedang diamati masih cenderung bersifat teacher-centered dengan menggunakan faslitas LCD yang menyebabkan siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah menerapkan strategi yang menuntun siswa untuk menemukan solusi dari permasalahan yang mempunyai efek transfer lebih baik bagi hasil belajar siswa. Oleh karena itu dipilihlah strategi Think Talk Write (TTW). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Think Talk Write (TTW) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIC di SMP BSS. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK). Materi pada penelitian ini adalah materi himpunan subbab diagram venn dan Penggunaan konsep himpunan dalam diagram venn. Proses pelaksanaan pembelajaran diawali dengan pemberian masalah kepada siswa, kemudian dilanjutkan meminta siswa untuk menuliskan ide dan kesulitannya dalam catatan kecil. Kegiatan ini disebut Think. Kemudian guru mengorganisasikan siswa untuk berkelompok dalam menyelesaikan permasalahan, setelah itu siswa mempresentasikan hasil diskusinya kepada teman satu kelas, tahap ini disebut Talk. Tahap terakhir pada strategi ini adalah membimbing siswa untuk menulis kesimpulan dari kegiatan Think dan Talk. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa presentase banyak siswa yang tuntas belajar pada siklus I adalah 69%, sedangkan pada siklus II 82,8%. Hasil belajar tersebut didukung pula dengan hasil observasi aktivitas siswa yang termasuk dalam kategori baik dengan skor 80,25, sedangkan pada siklus II termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor 87,5. Selain itu hasil observasi aktivitas guru pada siklus I termasuk dalam kategori baik dengan skor 82,9, sedangkan pada siklus II termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor 86,6. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran strategi Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan ketuntasan siswa yang lebih dari 80%, dan telah memenuhi indikator keberhasilan aktivitas siswa dan aktivitas guru yang minimal termasuk dalam kategori “baik”. Dari hasil penelitian di atas diharapkan strategi ini dapat menjadi pilihan guru matematika untuk digunakan dalam pembelajaran demi meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi ini juga diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi sekolah untuk diterapkan dalam pembelajaran selanjutnya. Selanjutnya untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan strategi ini.

Survei tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru prodi pjk fakultas ilmu keolahragaan Universitas Negeri Malang input SNMPTN tahun 2009 / Novi Erista Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Novi Erista. 2009. ”Survei Tingkat Kebugaran Jasmani Bagi Calon Mahasiswa Baru Prodi PJK Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Input SNMPTN Tahun 2009” Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I). Dra. Siti Nurrochmah, M.Kes, (II) dr. Rias Gesang Kinanti, M.Kes Kata kunci: Kebugaran Jasmani, Calon Mahasiswa Baru Prodi PJK Pencapaian tingkat kebugaran jasmani saat ini menjadi salah satu tujuan pembelajaran pada bidang pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (penjasorkes). Artinya melalui pembelajaran pendidikan jasmani seseorang akan memperoleh tingkat kebugaran jasmani yang sesuai dengan yang diharapkan. Calon mahasiswa baru yang mengikuti seleksi melalui jalur SNMPTN adalah siswa-siswa yang baru lulus dari tngkat pendidikan SMA atau sederajat, para calon mahasiswa tersebut jarang dan bahkan kadang kala tidak banyak melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Berkurangya aktivitas fisik yang dilakukan berdampak pada berkurangnya tingkat kebugaran jasmani para calon mahasiswa tersebut. Tingkat kebugaran jasmani yang rendah akan menjadi masalah, karena aktivitas jasmani tidak dapat dilakukan de ngan baikdan maksimal. Untuk mengetahui keadaan tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 20009 perlu dilakukan pengkajian. Peneliti tertarik untuk mengkaji permasalahan tentang kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mengkaji tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru Jurusan PJK Fakultas Ilmu Keolahragan Universitas Negeri Malang Input SNMPTN tahun 2009. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan survei, survei adalah salah satu jenis pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dengan maksud untuk mengetahui status gejala dan juga bermaksud untuk menentukan keamanan status dengan standart yang sudah ditentukan. Subyek dalam penelitian ini adalah calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009 sebanyak 531 orang mahasiswa, sedangkan dalam pengumpulan data ini peneliti menggunakan teknik observasi berbentuk tes yang dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaaan tes. Tes tersebut adalah tes versi TKJI untuk remaja umur 16 sampai 19 tahun yang dikeluarkan oleh pusat Kebugaran Jasmani dan Rekreasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1992, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani mahasiswa tersebut. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009 berada pada kategori sedang. Hal ini ditunjukan pada hasil tes dengan menggunakan versi tes TKJI dengan 38 orang mahasiswa atau 7,95% tingkat kebugaran jasmani berada pada kategori baik, 269 orang mahasiswa atau 56,28% tingkat kebugaran jasmani berada pada kategori sedang, 157 orang mahasiswa atau 32,84% tingkat kebugaran jasmani berada pada kategori kurang, sedangkan pada tingkat kebugaran jasmani kurang sekali terdapat 14 orang mahasiswa atau 2,93% dan pada tingkat kebugaran jasmani baik sekali tidak terdapat satupun mahasiswa yang berada pada kategori ini. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009 berada pada kategori sedang yaitu 56,28% atau 269 orang mahasiswa dari 478 mahasiswa.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa siswa kelas VIIE MTs Negeri Nglawak Kertosono Kabupaten Nganjuk menggunakan media gambar seri / Ika Sulistyowati

 

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa siswa kelas VII SMP, dari segi proses dan hasil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data hasil berupa hasil karangan narasi berbahasa Jawa dan data proses berupa hasil wawancara, hasil observasi, dan dokumen berupa foto-foto yang mendukung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil pembelajaran menulis karangan narasi berbahasa Jawa.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing melalui model pembelajaran kooperatif GI (Group Investigation) untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang pada topik ruang lingkup biologi / Triana Endahsari

 

ABSTRAK Endahsari, Triana. 2009. Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing melalui Pembelajaran Kooperatif GI (Group Investigation) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang. Skripsi, Program Studi Biologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M. Si., (II) Drs. Fathurrachman, M. Si. Kata kunci: inkuiri terbimbing, GI (Group Investigation), keterampilan proses sains, hasil belajar. SMA Negeri 2 Malang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun ajaran 2007/2008. Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di sekolah melalui adanya perubahan orientasi pembelajaran, dari belajar yang terpusat pada guru menjadi belajar yang terpusat pada siswa. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di SMA Negeri 2 Malang pada tanggal 14 dan 21 Juli 2009, sebagian siswa di kelas X kurang menyukai pelajaran Biologi yang cenderung menghafal dan membosankan serta penuh dengan istilah-istilah yang masih asing. Siswa juga belum dibiasakan untuk melakukan keterampilan proses, hal ini dibuktikan dengan ketidaktahuan siswa tentang apa yang dimaksud dengan keterampilan proses itu. Hasil belajar siswa juga masih rendah, rata-rata di bawah ketuntasan klasikal. Hal ini disebabkan siswa merasa kurang senang dalam mengikuti pembelajaran yang dianggap membosankan dan kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang melalui pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran GI. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Malang selama bulan Juli hingga Agustus 2009. Penelitian tindakan kelas dilakukan selama 2 siklus. Sebelum dilaksanakan siklus 1 terlebih dulu dilakukan tahap observasi awal dan refleksi awal. Setelah pelaksanaan tindakan dilakukan, semua data akan dianalisis untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada siklus pertama. Kelebihan akan dipertahankan, sedangkan kekurangan akan diperbaiki pada siklus kedua. Data penelitian yang dikumpulkan adalah keterlaksanaan pembelajaran yang berupa skor yang diperoleh melalui lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan untuk memonitor keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan peneliti; data keterampilan proses sains yang berupa skor yang diperoleh melalui lembar observasi keterampilan proses sains siswa yang diisi oleh observer selama pembelajaran berlangsung serta data hasil belajar kognitif siswa yang berasal dari hasil tes awal dan tes akhir yang dilaksanakan di awal dan akhir siklus. Data tentang keterampilan proses terdiri dari tiga komponen, yaitu merencanakan investigasi, melaksanakan investigasi, serta mengkomunikasikan hasil investigasi. Komponen mengkomunikasikan hasil investigasi terdiri dari dua jenis, yaitu secara lisan yang dinilai dengan menggunakan lembar observasi, dan secara tertulis dengan menggunakan rubrik penilaian laporan kelompok. Data penunjang lain berupa angket pembelajaran i ii yang digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai metode dan model pembelajaran yang dilakukan. Angket pembelajaran diberikan pada siswa pada akhir siklus 1 agar hasilnya juga dapat digunakan sebagai bahan refleksi siklus 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif siswa. Peningkatan keterampilan proses terjadi pada komponen“merencanakan penyelidikan ilmiah” pada siklus 1 sebesar 55,74 %dan pada siklus 2 sebesar 65,15 %. Pada komponen “melaksanakan penyelidikan ilmiah” siklus 1 mencapai 70,03 % dan pada siklus 2 mencapai 80,13 %. Sedangkan pada komponen “mengkomunikasikan hasil penyelidikan ilmiah” siklus 1 tercapai persentase keberhasilan sebesar 58,91 % dan pada siklus 2 sebesar 87,71 %. Perolehan nilai rata-rata laporan hasil investigasi secara tertulis pada siklus 1 adalah sebesar 67,56 sedangkan untuk siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 12,9 menjadi 80,46. Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, hal ini tampak melalui nilai tes awal dan tes akhir yang dilakukan oleh siswa pada siklus 1 dan siklus 2. Perolehan skor hasil belajar siswa yang dilakukan melalui tes awal dan tes akhir mengalami peningkatan dari siklus 1 dan siklus 2, dengan peningkatan skor untuk hasil belajar kognitif dari tes awal ke tes akhir pada siklus 1 adalah sebesar 14,59, dan pada siklus 2 adalah sebesar 8,25. sedangkan persentase siswa yang tuntas pada siklus 1 adalah 75,60 %, dan di siklus 2 sebesar 100 %. Tanggapan siswa mengenai metode dan model pembelajaran yang dilakukan adalah 82,18 % dari 41 siswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing melalui pembelajaran kooperatif GI dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang.

Pengaruh kemampuan (kompetensi) guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Turen / Nasrullah Helmy Dwi Putra

 

ABSTRAK Helmy, Nasrullah D. P. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kemampuan (Kompetensi) Guru dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Prodi S1 Pendidikan Akuntansi. Pembimbing: (I) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si.Ak. (II) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata Kunci: Persepsi Siswa tentang Kemampuan (Kompetensi) Guru, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Masalah pendidikan seringkali dikaitkan dengan kemampuan guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan yang secara langsung berinteraksi dalam mengajar, mendidik, dan membimbing siswa di sekolah. Ada faktor lain yang harus diperhatikan selain kompetensi guru yaitu motivasi belajar siswa. Kedua hal ini harus berjalan seimbang agar prestasi belajar siswa dapat dicapai secara optimal. Tujuan penelitian: (1) untuk mengetahui kemampuan (kompetensi) guru dalam mengajar, (2) untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas XI jurusan akuntansi, (3) untuk mengetahui pengaruh secara parsial kompetensi guru dan motivasi belajar terhadap prestasi siswa kelas XI Jurusan Akuntansi, (4) untuk mengetahui pengaruh secara simultan kompetensi guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Jurusan Akuntansi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI Jurusan Akuntasi SMK Negeri 1 Turen tahun ajaran 2009/2010 yaitu sebanyak 78 siswa. Teknik sampling adalah teknik acak sederhana (simple random) sehinga sample berjumlah 39 siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kompetensi guru (X1), motivasi belajar (X2), dan variabel terikatnya prestasi belajar siswa (Y). Analisis data dengan regresi linear berganda dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows Releasa 16,0 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil yang diperoleh: variabel kompetensi guru (X1) berpengaruh positif signifikan dengan nilai B=0,402 thitung 4,278 dengan Sig t 0,000. Variabel motivasi belajar (X2) berpengaruh positif signifikan dengan nilai B=0,524 thitung 5,418 dengan Sig t 0,000. selain itu didapat juga nilai Fhitung sebesar 21,924 dengan Sig t 0,000 serta nilai koefisien determinan (Adjuster R2) sebesar 0,524 yang berarti bahwa variabel kompetensi guru dan motivasi belajar mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Turen sebesar 52,4% sedangkan sisanya sebesar sisanya 47,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Disarankan bagi pihak sekolah terutama guru, untuk terus mempertahankan profesionalitasnya sebagai guru agar persepsi siswa tetang kompetensinya dalam mengajar, baik kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Pihak sekolah khususnya para guru harus mampu mencari solusi agar siswa lebih termotivasi dalam belajar. Baik dengan melakukan model pembelajaran yang inovatif, maupun dengan memberikan stimulus berupa penghargaan kepada siswa yang berprestasi di kelas dan memberi hukuman kepada siswa yang berperilaku kurang baik. Pihak sekolah tidak boleh hanya memperhatikan dari satu sisi, baik kompetensi guru maupun motivasi belajar siswa. Maka dari itu perlu dipertimbangkan keselarasan antara kemampuan (kompetensi) guru dalam mengajar dan motivasi belajar siswa agar pembelajaran dapat terlaksana secara optimal. Saran untuk penelitian selanjutnya yang sejenis hendaknya peneliti menambah bahasan mengenai kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Sehingga dari penelitian tersebut dapat dilihat seberapa besar kontribusi tingkat kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dalam hubungannya dalam pencapaian prestasi belajar siswa.

Peranan MGMP pendidikan kewarganegaraan (Pkn) dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang / Sudirman

 

ABSTRAK Sudirman. 2009. Peranan MGMP Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SMA di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Drs. H. Suparlan, M. Si, Pembimbing (II): Drs. H. Edi Suhartono, SH., M. Pd Kata Kunci: MGMP, Profesionalisme Guru, Pendidikan Kewarganegaraan. Guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional. Guru profesional akan menghasilkan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas dalam rangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Oleh karena itu, peningkatan kemampuan profesional guru harus segera dilakukan. Salah satu terobosan yang sedang dilakukan adalah pemberdayaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP merupakan suatu wadah yang disediakan bagi para guru mata pelajaran sejenis untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam upaya peningkatan kualitas profesionalnya. Untuk mewujudkan peran MGMP dalam pengembangan profesionalisme guru, maka peningkatan kinerja MGMP merupakan masalah yang mendesak untuk dapat direalisasikan. Demikian halnya dengan MGMP PKn SMA yang ada di Kota Malang. Peranan MGMP PKn SMA Kota Malang sebagai wadah bagi guru PKN untuk meningkatkan profesionalnya harus segera direalisasikan. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul “Peranan MGMP dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru PKn SMA Kota Malang” untuk kembali mempertegas eksitensi MGMP sebagai organisasi profesi yang benar-benar mampu meningkatkan profesionalisme guru. Berdasarkan permasalahan yang dijabarkan di atas, ditarik suatu rumusan masalah yaitu (1) bagaimana eksistensi MGMP PKn dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? (2) mengapa MGMP PKn harus berperan serta dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? (3) apa kendala yang dihadapi MGMP PKn dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? (4), bagaimana upaya memecahkan masalah MGMP PKn dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mendiekripsikan eksistensi Musyawarah MGMP PKn dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang, (2) mendeskripsikan alasan MGMP harus berperan serta dalam meningkatkan profesionalisme guru PKn SMA di Kota Malang, (3) mendeskripsikan kendala yang dihadapi MGMP dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru PKn SMA di Kota Malang, (4) mendeskripsikan upaya memecahkan masalah yang dihadapi MGMP PKn dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dasar teori fenomenologis. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu berusaha mengungkapan dan menelaah kasus yang terjadi pada MGMP PKn Kota Malang dalam meningkatkan profesionalisme guru PKn. Dalam penelitian ini lokasi penelitian ditetapkan di Organisasi MGMP Pkn SMA di Kota Malang. Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Sedangkan pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu: tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan Dari hasil penelitian diketahui bahwa MGMP PKn SMA Kota Malang pada pengurusan periode 2006-2009 dapat dikatagorikan sebagai organisasi yang aktif. Kegiatan yang direncanakan mampu dilaksanakan dengan baik berupa kegiatan rutin, maupun kegiatan pengayaan. Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya: (1) pembahasan perangkat pembelajaran berupa (silabus, dan RPP), (2) model-model pembelajaran, (3) media pembelajaran. Sedangkan kegiatan pengayaan yang dilakukan MGMP PKn Kota Malang diantaranya: (1) Studi banding ke Jakarta, (2) Studi banding ke Yogyakarta, (3) studi banding ke Surabaya, (4) kunjungan Dubes Finlandia, dan (5) Lomba Cerdas Cermat Keterlibatan di forum MGMP PKn SMA Kota Malang berdampak pada baiknya kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar ditunjukkan dari baiknya kemampuan guru dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengajaran. Baiknya kemampuan guru dalam mempersiapkan pembelajaran ditunjukkan dari pengetahuan guru tentang garis-garis besar program pengajaran secara baik serta kemampuan guru dalam menyusun analisis materi pengajaran, menyusun program pengajaran tahunan, menyusun program semester, membuat rencana pembelajaran, memahami tujuan pengajaran yang hendak dicapai serta mempersiapkan alat evaluasi untuk penilaian guna mencapai tujuan pembelajaran secara baik pula. Namun, MGMP PKn Kota Malang tidak mendapatkan alokasi dana dari pemerintah. Sehingga untuk membiayai kegiatan dan operasional organisasi diperoleh dari sumbangan anggota. Kondisi keuangan yang sulit menjadikan MGMP PKn Kota Malang kesulitan dalam mengadakan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan profesionalsme guru. Solusi yang dilakukan untuk mensiasati kesulitan dana dengan mencari sponsor terhadap perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi. Solusi lain yang dilakukan adalah menjalin kerjasama dengan universitas-universitas yang ada di Kota Malang. Saran dalam skripsi ini sebagai berikut: (1) bagi pemerintah, perlu adanya dukungan dana terhadap MGMP, dan pemberian penghargaan, (2) bagi universitas-universitas yang ada di Kota Malang untuk menjalin kerjasama dan akses networking dengan para anggota MGMP, pengarahan dan pembinaan dalam bidang Ilmu pengetahuan dan teknologi, (3) bagi mahasiswa, perlu ditingkatkan kajian yang mendalam mengenai MGMP, (4) bagi guru PKn sebagai anggota MGMP harus terus meningkatkan keaktifannya dalam forum-forum MGMP, (5) bagi kepala sekolah, harus lebih aktif dalam mengawasi dan mendorong guru PKn untuk aktif dalam forum MGMP.

Karakteristik esai siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Batu / Mira Diah Fajarwati

 

Fajarwati, Mira Diah. 2014. Karakteristik Esai Siswa Kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (II) Dra. Hj. Ida Lestari, M.Si. Kata Kunci: esai, menulis, pembelajaran menulis esai     Esai adalah suatu karya sastra yang membahas tentang objek permasalahan tertentu berdasarkan sudut pandang penulisnya yang diperkuat dengan bukti-bukti pendukung. Esai memiliki karakteristik tresendiri yang membedakan dengan karya tulis lain, begitu pula dengan esai karya siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Batu yang memiliki karakteristik tersendiri yang khas. Oleh karena itu, fokus penelitian ini adalah (1) karakteristik struktur esai siswa (2) pola pengembangan gagasan dalam esai siswa, dan (3) bahasa esai siswa. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan teknik kajian teks. Sumber data penelitian ini berupa esai karya siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Batu. Data penelitian berupa teks esai yang menunjukkan karakteristik esai karya siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara memberikan lembar tugas menulis esai kepada subjek penelitian. Analisis data penelitian ini meliputi (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan teknik kecermatan serta ketekunan pembacaan dan diskusi dengan pakar atau pembimbing. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, dihasilkan deskripsi karakteristik esai karya siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Batu. Karakteristik esai tersebut meliputi (1) struktur esai, (2) pola pengembangan gagasan, dan (3) bahasa esai. Struktur esai meliputi (1) pendahuluan atau pembuka, (2) isi atau tubuh esai, (3) simpulan atau penutup, dan (4) judul. Pola pengembangan gagasan meliputi (1) alamiah, (2) umum-khusus dan khusus umum, (3) perbandingan dan pertentangan, (4) sebab-akibat dan akibat-sebab, (5) analogi, (6) definisi luas, (7) contoh, (8) proses atau langkah, (9) kombinasi. Bahasa esai meliputi (1) diksi dan (2) gaya bahasa. Diksi meliputi (1) kata umum dan kata khusus, (2) kata indra, (3) kata ilmiah, (4) kata idiom, (5) kata atau frasa asing, dan (6) kata pergaulan. Gaya bahasa terdiri dari (1) klimaks dan antiklimaks, (2) pararelisme, (3) antithesis, (4) repetisi, (5) retoris, dan (6) kiasan. Saran berdasarkan penelitian ini ditujukan bagi siswa, guru, dan peneliti selanjutnya. Siswa disarankan untuk memperbaiki kemampuan menulis esai mereka sesuai dengan perkembangan pengetahuan tentang karakteristik esai dan ketrampilan menulis. Guru disarankan untuk menggunakan metode lain dalam pembelajaran menulis esai, misalnya pemodelan untuk memperkenalkan siswa pada bentuk esai baik esai sastra maupun esai nonsatra. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian yang sejenis agar dapat memperkaya temuan karakteristik esai terhadap karya esai lain baik karya siswa maupun karya esais lain yang berbentuk sastra maupun nonsastra. Peneliti sebaiknya memperhatikan proses pengambilan data agar terjamin kevaliditasannya.

Prosedur layanan dan kinerja pustakawan pada bagian layanan di Perpustakaan Pusat Universitas Islam Malang / Endang dewi Kartika

 

Kartika, Endang Dewi. 2014. Kinerja Pustakawan pada Bagian Layanan di Perpustakaan Pusat Universitas Islam Malang. Tugas Akhir, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo Hs., M.Pd, (II) Ali Mas’ud, S.Sos. Kata Kunci: kinerja, pustakawan, kinerja pustakawan, layanan perpustakaan, perpustakaan pusat Universitas Islam Malang (UNISMA)     Pustakawan merupakan ujung tombak yang langsung terlibat kontak dengan pemakai, sehingga baik buruknya layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi sangat bergantung kepada kinerja pustakawan itu sendiri. Untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai kinerja seseorang dalam kurun waktu tertentu, pada suatu lembaga demi peningkatan kesejahteraan mereka dilakukan evaluasi kinerja. Berkaitan dengan itu, maka dibahas tentang kinerja pustakawan pada bagian layanan.     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosedur layanan di Perpustakaan Pusat Universitas Islam Malang, kinerja pustakawan pada bagian layanan di Perpustakaan Pusat Universitas Islam Malang (UNISMA), faktor yang mendukung dan menghambat kinerja pustakawan pada bagian layanan di Perpustakaan Pusat Universitas Islam Malang (UNISMA).     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa semua informasi yang terkait dengan prosedur layanan dan kinerja pustakawan pada bagian layanan. Data tersebut diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan.     Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh tiga simpulan penulisan sebagai berikut. Pertama, prosedur layanan yang diterapkan di lapangan belum sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan, karena pustakawan tidak mengetahui adanya Standar Operasional Prosedur tersebut.     Kedua, kinerja pustakawan pada bagian layanan sudah cukup baik meskipun masih terdapat beberapa kekurangan. Antara lain jumlah pustakawan yang minim, latar belakang pendidikan, dan kurangnya perhatian pustakawan.     Ketiga, faktor pendukung kinerja pustakawan pada bagian layanan antara lain kemauan karyawan untuk menjadi lebih maju, adanya kesempatan untuk menjadi lebih baik, kerjasama antar karyawan, suasana dan lingkungan kerja. Sedangkan faktor penghambat antara lain kurangnya sumber daya manusia, kurangnya wawasan pustakawan, latar belakang pendidikan, dan keterbatasan fasilitas.     Saran yang diberikan dalam penulisan, pertama adalah diberikan sosialisasi tentang Standar Operasional Prosedur kepada semua pegawai di perpustakaan. Kedua, Meningkatkan kinerja dengan menambah jumlah tenaga pustakawan yang memiliki latar belakang perpustakaan, dan meningkatkan pengetahuan pustakawan dengan melakukan studi lanjut maupun pelatihan. Ketiga, menyediakan fasilitas sesuai dengan perkembangan teknologi.

Children's language responses to English as elicited by teaching media in language-rich environment class at Laboratory Kindergarten UM / Diana Putri Rahmadani

 

Rahmadani, D, P. 2014. Respon Bahasa Anak terhadap Bahasa Inggris yang Diperoleh dari Media Pembelajaran pada Kelas Kaya Bahasa di TK Laboratorium UM. Skripsi, Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Enny Irawati, M.Pd. Keywords: Media pembelajaran, Respon bahasa anak, Kelas kaya bahasa Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan respon bahasa anak terhadap bahasa Inggris yang diperoleh dari media pembelajaran pada kelas kaya bahasa di TK Laboratorium UM. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan macam-macam respon bahasa anak terhadap bahasa Inggris yang timbul selama penggunaan media pembelajaran, 2) mendeskripsikan macam-macam media pembelajaran yang menimbulkan respon bahasa anak terhadap bahasa Inggris. Penelitian ini adalah case study yang memfokuskan pada system tertentu di suatu grup tertentu dan bagaimana proses tersebut dilakukan. Pada khususnya penelitian ini difokuskan untuk menyelidiki respon bahasa anak terhadap bahasa Inggris selama penggunaan media pembelajaran. Selain itu, kegunaan dari media pembelajaran yang menimbulkan respon bahasa anak juga dipelajari. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah rekaman video, lembar observasi, pedoman wawancara, dan foto. Data yang diperoleh dari instrumen tersebut kemudian dipilih, diklasifikasikan, dikode, dan dianalisis. Selanjutnya akan diperoleh kesimpulan berdasarkan data yang telah dianalisis. Berdasarkan hasil penelitian, respon bahasa anak yang diperoleh dari penggunaan media pembelajaran adalah penggunakan kata, kalimat sederhana, gerakan, gerakan isyarat, dan pandangan mata. Respon bahasa anak berupa kata dan kalimat sederhana dikategorikan dalam respon bahasa verbal. Kemudian, respon bahasa berupa gerakan, gerakan isyarat, dan pandangan mata dikategorikan dalam respon bahasa nonverbal . Berdasarkan analisis kuantitatif diperoleh penggunaan realia menghasilkan respon bahasa anak tertinggi (202 respon). Kemudian, diikuti dengan foto yang memperoleh 111 respon dan untuk boneka dan kartu abjad adalah 96 respon. Selain itu, flashcard memperoleh 93 respon dari siswa. Yang terakhir permainan dan lagu media pembelajaran memperoleh 54 respon dari siswa. Berdasarkan hasil analisis data dan diskusi pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa respon bahasa anak yang diperoleh dari media pembelajaran pada kelas kaya bahasa di TK Laboratorium UM paling banyak adalah berupa kata dan kalimat sederhana. Selain itu, siswa juga menunjukkan respon bahasa terhadap bahasa Inggris melalui gerakan, gerakan isyarat, dan tatapan mata. Selanjutnya, peneliti memberikan saran kepada guru untuk tetap mengembangkan teknik penggunaaan media pembelajaran dan juga keterampilan dalam komunikasi menggunakan bahasa Inggris untuk merangsang respon bahasa siswa. Peneliti juga memberikan saran kepada TK lain untuk membuat kelas kaya bahasa untuk membantu pebelajar usia dini dalam pembelajaran bahasa Inggris. Selain itu, saran untuk peneliti lain untuk meneliti aspek lain yang berperan dalam meningkatkan respon bahasa anak terhadap bahasa Inggris

Studi kasus mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang yang memprogram skripsi pada semester genap tahun akademik 2013/2014 (faktor-faktor penyebab mahasiswa DKV memilih skripsi jenis penelitian) / Beauty Girl Angga Presty Zainsut

 

Zainsut, Beauty Girl Angga Presty. 2014. Studi Kasus Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang yang Memprogram Skripsi pada Semester Genap Tahun Akademik 2013/2014 (Faktor-Faktor Penyebab Mahasiswa DKV Memilih Skripsi Jenis Penelitian). Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Lilik Indrawati, M.Pd, (2) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn.  Kata Kunci: Studi Kasus, Skripsi, Desain Komunikasi Visual.    Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya beberapa mahasiswa Desain Komunikasi Visual yang lebih memilih skripsi penelitian dibanding memilih skripsi perancangan. Padahal dalam jenjang pendidikan telah ada pemisahan antara pendidikan desain untuk pengembangan keilmuan dan pengembangan keprofesian desain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang memilih skripsi jenis penelitian, sehingga dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi perencanaan dan pengembangan program atau evaluasi pada program studi Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang.    Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan model studi kasus. Sumber data diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling (sampel bertujuan) yaitu mahasiswa Desain Komunikasi Visual yang memilih skripsi jenis penelitian pada semester genap tahun akademik 2013/2014 sebagai sumber data utama dan proposal mahasiswa sebagai sumber data pendukung. Data penelitian diperoleh dari wawancara dan analisis dokumen. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif. Pengecekan keabsahan data temuan dengan menggunakan perpanjangan pengamatan, triangulasi, bahan referensi, dan member check.    Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor internal yang menyebabkan mahasiswa memilih skripsi jenis penelitian adalah (1) faktor keinginan pribadi mahasiswa (faktor utama), (2) faktor kemampuan mahasiswa, dan (3) faktor motivasi berupa tujuan mahasiswa mengambil skripsi jenis penelitian. Sedangkan faktor eksternal yang menyebabkan mahasiswa memilih skripsi jenis penelitian adalah (1) permasalahan di lingkungan kampus, dan (2) faktor masyarakat berupa pengaruh teman sebaya serta mass media. Dalam penelitian ini ditemukan pula faktor penghambat yaitu materi yang diberikan oleh dosen pengampu matakuliah Metpen dan Propen kurang seimbang dan kurang sesuai dengan deskripsi matakuliah. Oleh karena itu, hendaknya dosen pengampu matakuliah dapat memberikan materi serta fasilitas pendukung, misalnya handout secara seimbang agar mahasiswa memperoleh tambahan wawasan pengetahuan yang lebih luas lagi untuk bisa memilih jenis skripsi yang diinginkan secara tepat dan memahami materi secara baik.

Meningkatkan kemampuan membaca intensif melalui metode SQ3R di kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil Pasuruan / Siti Hidayatul Mukaromah

 

ABSTRAK Mukaromah Hidayatul, Siti. 2010. Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif melalui Metode SQ3R di Kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil Pasuruan.Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Dr. Muhana Gipayana M.Pd, (2)Drs. Bambang Soerjono, M.Ed Kata kunci : Metode SQ3R, Kemampuan Membaca Intensif, MI Riyadlul Ulum MI Riyadlul Ulum Bangil adalah salah satu Madrasah Ibtidaiyah swasta yang terletak di Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan observasi di kelas V dan wawancara terhadap guru kelas, kepala sekolah dan siswa kelas V yang dilakukan pada 10 Agustus 2009 diketahui bahwa terdapat permasalahan yang cukup kompleks pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas tersebut. Secara umum permasalahan tersebut dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu kemampuan belajar, kemampuan berpikir dan sikap siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia yang dapat berimbas pada hasil belajar siswa yang diperoleh rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah-masalah tersebut dengan menggunakan penerapan membaca intensif dengan metode SQ3R, melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan; (1) mendiskripsikan bagaimana penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R (survey, question, reading, recite dan review) di kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil, (2) mendiskripsikan apakah penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R (survey, question, reading, recite dan review) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan mulai Nopember 2009 sampai awal Pebruari 2010. Tindakan kelas dilaksanakan bulan Desember 2009 sampai Januari 2010. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri atas 2 pertemuan dan setiap pertemuan terdapat empat fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil yang terdiri dari 15 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R pada mata pelajaran bahasa Indonesia ternyata dapat meningkatkan kemampuan belajar, meningkatkan kemampuan berfikir siswa dan juga dapat meningkatkan rasa senang siswa kelas V MI Riyadlul Ulum Kecamatan Bangil Pasuruan pada pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan melalui 5 tahapan yaitu: (1) siswa membaca dan mengamati dahulu bacaan yang diberikan sehingga menemukan istilah-istilah yang sulit dimengerti, (2) siswa membuat pertanyaan, (3) siswa membaca kembali bacaan yang diberiakan serta mencari jawaban dari pertanyaan yang dibuat, (4) siswa merecall atau menceritakan inti dari setiap paragraf, dan (5) siswa melihat kembali apakah kesimpulan yang diambil dari setiap paragraf sudah sesuai. Kemampuan belajar siswa sesuai dengan tahapan SQ3R meningkat dari 71.25% menjadi 98.75%, kemampuan berpikir dari membuat pertanyaan pada setiap siklus mengalami peningkatan dan penurunan, pada kategori pertanyaan menurun 25%, pada kategori pertanyaan 2 menurun 11.25%, pada kategori pertanyaan 3 meningkat 21.25%, pada kategori pertanyaan 4 meningkat sebesar 5.25% dan pada kategori pertanyaan 5 juga meningkat sebesar 9.75%, sedangkan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan juga mengalami peningkatan dan penurunan pada setiap siklus yakni, kategori jawaban 1 mengalami peningkatan 2%, kategori pertanyaan 2 mengalami penurunan 32%, kategori jawaban 3 naik 23% dan kategori pertanyaan 4 naik 7%, akan tetapi pada kategori jawaban 5 tidak mengalami perubahan, dan juga rasa senang siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia rata-rata nilai menunjukkan nilai 4 dan 5 yang berarti siswa melakukan sesuai deskriptor rasa senang pada instrument.Dengan penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R pada mata pelajaran bahasa Indonesia juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MI Riyadlul Ulum Kecamatan Bangil Pasuruan peningkatan hasil belajar sebesar 24.8 poin (dari siklus I dengan siklus II). Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada kepala sekolah agar dapat memotifasi guru-gurunya untuk menerapkan metode ini dan juga memperhatikan kelebihan dan kekurangannya, sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi siswanya. serta dapat meningkatkan mutu pencapaian tujuan pendidikan

Modality verb can in expressing epistemic stance in opinion editorials of the New York Times and The Jakarta Post newspaper / Siti Nurhalimah

 

Nurhalimah, Siti. 2014. Modalitas Kata Kerja Can dalam Mengekspresikan Sikap Epistemik di Opini Editorial Koran The New York Times dan The Jakarta Pos. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: Prof. Yazid Basthomi dan Evynurul Laily Zen, M.A. Kata Kunci: discourse, kontrastif, modalitas kata kerja, korpus, opini editorial     Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penggunaan modalitas kerja dapat mengekspresikan sikap epistemik dari The New York Times (selanjutnya, NYT) dan The Jakarta Post (selanjutnya, JP). Sebuah studi corpus dilakukan untuk mengungkap penggunaan kontrastif sikap epistemik di kedua surat kabar. Kemudian, korpus data (40 editorial pendapat masing-masing surat kabar) dianalisis menggunakan aplikasi corpus gratis bernama AntConc.     Hasil analisis dengan menggunakan AntConc menunjukkan bahwa kedua surat kabar menggunakan berbagai jenis gaya modalitas verba can. Kemudian, masing-masing makna modalitas verba di NYT dan JP opini editorial diidentifikasi. Dalam sub bab berkutnya contoh dan penjelasan dari masing-masing makna termasuk kerangka teoritis dari beberapa ahli bahasa yang telah bekerja di bawah kasus yang sama diberikan. Hasil analisis dan klasifikasi dalam setiap arti kata kerja modalitas can ditampilkan dalam bab analisis dan temuan. Penelitian ini merujuk pada beberapa sumber dari ahli bahasa lain dan buku di modalitas kata kerja.     Temuan menunjukkan bahwa ada 40 kemunculan dari NYT dan 83 kemunculan dari JP opini editorial. Dalam NYT opini editorial, 12 kemunculan diwakili makna kemungkinan, 4 mewakili makna epistemic, 21 mewakili makna kemampuan, 1 mewakili makna permintaan izin dan 2 mewakili makna kejadian yang tidak bisa diputuskan. Sementara itu di JP opinin editorial, 24 kemunculan mewakili makna kemungkinan, 1 mewakili makna epistemic, 51 mewakili makna kemampuan, 3 mewakili makna permintaan izin dan 5 mewakili makna kejadian yang tidak bisa diputuskan.     Kesimpulannya, ada perbedaan yang jelas antara penggunaan modalitas kerja dalam mengekspresikan sikap epistemik dan makna antara penulis opini editorial di NYT dan JP. Penulis JP opinin editorial menunjukkan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam membangun struktur yang tepat ketika mereka menulis opinin editorial. Kemudian, kemunculan makna kemampuan dalam kata kerja modalitas can lebih besar dari kemunculan makna kemungkinan di kedua opini editorial. Hal ini tidak sesuai dengan aturan teoritis dan tata bahasa di bagian metodologi. Namun, temuan seperti makna permintaan izin dan kejadian yang tidak bisa diputuskan lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan aturan teoritis dan tata bahasa.

Pengaruh lingkungan keluarga dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa SMK program studi akutansi di SMK Ardjuna 1 Malang / Wahyu Angga Tugas Kurniafindi

 

ABSTRAK Kurniafindi, Wahyu Angga Tugas. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi belajar siswa SMK progran studi akuntansi di SMK Ardjuna 1 Malang. Skripsi, Program Studi Akuntansi, Jurusan Pendidikan Ekonomi Konsentrasi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Suparti, MP., (II).Dr. H. Tuhardjo, SE., M.Si., Ak. Kata Kunci: Lingkungan Keluarga, Motivasi belajar, Prestasi belajar Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, diantaranya adalah lingkungan keluarga. Keluarga adalah tempat dan sumber pendidikan awal bagi seorang anak. Sifat dan kebiasaan orang tua dapat mempengaruhi sikap anak dan mempengaruhi prestasi anak. Faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa disamping lingkungan keluarga adalah motivasi belajar sangat membantu dan mutlak dibutuhkan, semakin baik motivasi belajar siswa maka prestasinya juga semakin baik pula. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi lingkungan keluarga siswa-siswi SMK Program Studi Akuntansi semetser genap tahun ajaran 2008/2009, (2) Motivasi belajar siswa-siswi SMK Program Studi Akuntansi semester genap tahun ajaran 2008/2009, dan (3) Pengaruh lingkungan keluarga dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMK Program Studi Akuntansi tahun ajaran 2008/2009. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kausalis. Analisis deskriptif digunakan untuk mendiskripsikan kondisi lingkungan keluarga sebagai variabel (X1), motivasi belajar(X2) dan prestasi belajar siswa (Y). Metode regresi linier berganda digunakan untuk menentukan basarnya pengaruh lingkungan keluarga sebagai variabel (X1), motivasi belajar(X2) dan prestasi belajar siswa (Y) di SMK Ardjuna 1 Malang. Populasi dalam penelitian adalah siswa SMK Ardjuna 1 Malang. Sampel dari penelitian ini adalah siswa Program Studi Akuntansi yang berjumlah 44 siswa. Sample dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Program Studi Akuntansi yang ada di kelas XI semester genap tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah 44 siswa. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu angket dan dokumentasi data. Data angket diperoleh dari lembar kuisoner yang diisi oleh siswa sedangkan dokumentasi data yang berupa keterangan mengenai jumlah siswa dan nilai rapor yang diperoleh dari arsip data Tata Usaha SMK Ardjuna 1 Malang. Lingkungan keluarga siswa SMK Ardjuna 1 Malang berdasarkan pada penilaian siswa secara umum (41%) menunjukkan lingkungan keluarga mendukung keberhasilan belajar siswa. Motivasi belajar secara umum (34,5%) menunjukkan kondisi yang mendukung prestasi belajar siswa.

Penerjemahan dan pemahaman jargon kaum remaja di Jerman (jugendsprache) oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2011 Universitas Negeri Malang / Melly Diah Andini

 

Implementasi model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan team games turnament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi pada siswa kelas XI program keahlian pemasaran SMK Negeri 1 Turen) / Iftitah Lisnasari

 

ABSTRAK Lisnasari, Iftitah. 2009. Implementasi Model Pembelajaran Kolaborasi Jigsaw dan Teams Games Tornament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Diklat Kewirausahaan (Studi Pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Turen). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si., M.Bus. (II) Madziatul Churiyah, S.Pd., M.M. Kata kunci: Model pembelajaran Jigsaw, Team Games Tournament (TGT), Hasil Belajar Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah melalui perbaikan kurikulum. Dengan perbaikan kurikulum, diharapkan kualitas proses pembelajaran akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Tetapi kurikulum bukanlah satu-satunya faktor pendukung keberhasilan pendidikan di Indonesia. Guru juga memegang peranan yang penting dalam proses pembelajaran, sehingga guru sering disebut sebagai ujung tombak dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dengan metode dan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dilaksanakan pada bulan Desember. Dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan melalui 4 tahapan yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Subyek yang diteliti adalah kelas XI Program Keahlian Pemasaran di SMK Negeri 1 Malang, sebanyak 40 siswa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung pada subyek yang diteliti. Tehnik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, catatan lapangan, rubrik penilaian, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis hasil belajar menunjukkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada hasil nilai pre test dan post test pada siklus I dan siklus II. Dalam siklus I nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 62,12 menjadi 73,37 sebesar 18%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 67,12 menjadi 75,25 dengan persentase kenaikan 12%. Hasil belajar pada aspek afektif menunjukkan peningkatan pada tiap siklusnya yaitu pada siklus I sebesar 68,8% menjadi 74% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun saran yang dapat diberikan yaitu: 1) Bagi Guru, Guru di SMK Negeri 1 Turen disarankan untuk mencoba mengimplementasikan model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT serta model-model pembelajaran kooperatif yang lain sebagai alternatif pilihan dalam praktek pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam menerapkan model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT serta model pembelajaran kooperatif lainnya, guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal, efektif dan efisien. 2) Bagi Peserta Didik, dengan implementasi pembelajaran model kolaborasi Jigsaw dan TGT diharapkan siswa dapat bekerjasama dengan baik antar peserta didik, saling menghargai, berani mengungkapkan ide dan pendapatnya serta dapat saling membantu antar peserta didik dalam belajar. Peserta didik hendaknya mempelajari materi sebelum proses pembelajaran berlangsung, sehingga peserta didik mempunyai kesiapan kognitif yang baik. 3) Bagi Peneliti Selanjutnya, dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan implementasi model pembelajaran Jigsaw dan Team Games Tournament (TGT) dengan menggunakan mata diklat dan subyek penelitian yang berbeda.

Pengembangan bahan ajar kimia pada materi sifat fisika zat dengan menggunakan strategi pembelajaran react untuk smk program keahlian analisis kimia / Endang Sunarni

 

ABSTRAK Sunarni, Endang. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Kimia pada Materi Sifat Fisika Zat dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran REACT untuk SMK Program Keahlian Analisis Kimia. Skiripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata kunci: SMK, bahan ajar, strategi pembelajaran REACT, model pengembangan. Kualitas hasil belajar di SMK yang masih rendah merupakan masalah yang sering dibicarakan dalam dunia pendidikan saat ini, terutama dalam pembelajaran kimia sehingga guru berupaya untuk meningkatkan hasil belajar dengan mengembangkan bahan ajar yang digunakan. Bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi kegiatan pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan siswa dan guru dalam proses pembelajaran yang berupa buku siswa dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari bahan ajar yang dikembangkan. Pengembangan bahan ajar dengan menggunakan strategi pembelajaran REACT yang terdiri dari fase relating, experiencing, applying, cooperating and transferring. Tujuan dari pengembangan bahan ajar untuk mengetahui: (1) bentuk dan isi bahan ajar kimia yang berupa buku siswa di SMK serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari pengembangan bahan ajar kimia pada materi sifat fisika zat, (2) kelayakan bahan ajar kimia yang berupa buku siswa di SMK dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari pengembangan bahan ajar kimia pada materi sifat fisika zat dengan strategi pembelajaran REACT. Model pengembangan bahan ajar yang digunakan adalah model pengembangan menurut Borg and Gall. Ada tiga langkah pelaksanaan yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar yaitu: (1) penelitian dan pengumpulan data (research and information colleting), (2) perencanaan (planning), (3) pengembangan draf produk (develop preliminary form of product). Instrumen pengumpulan data berupa angket. Angket yang diberikan terdiri dari 2 bagian yaitu angket penilaian buku siswa dan angket penilaian untuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diberikan ke guru. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase rata-rata, data hasil validasi diperoleh dari 3 validator melalui angket yang telah diberikan. Hasil pengembangan bahan ajar berupa buku siswa dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari pengembangan bahan ajar kimia di SMK. Buku siswa yang dikembangkan terdiri dari halaman sampul/cover, kata pengantar, tahap-tahap penggunaan buku siswa, strategi pembelajaran, petunjuk guru, petunjuk siswa, standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, indikator hasil belajar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, peta konsep, kegiatan belajar yang menggunakan strategi REACT, ringkasan materi, suplemen materi, soal evaluasi, daftar pustaka, kunci jawaban. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terdiri dari identitas mata diklat, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi ajar, uraian materi, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran yang disusun dengan strategi pembelajaran REACT, sumber/alat/bahan belajar, penilaian Berdasarkan hasil analisis dengan teknik persentase rata-rata diperoleh persentase rata-rata hasil validasi terhadap buku siswa sebesar 88,46% sehingga buku siswa dikatakan valid yang berarti tidak perlu direvisi tetapi jika ada komentar dan saran dari masing-masing validator sebaiknya digunakan acuan untuk merevisi buku siswa yang telah dikembangkan, sedangkan persentase rata-rata hasil validasi terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebesar 82,72% yang berarti valid. Hal ini menunjukkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan telah layak dan tidak perlu revisi tetapi jika ada saran dan komentar dari validator sebaiknya digunakan sebagai pertimbangan untuk memperbaiki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dikembangkan. Dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan telah layak diuji cobakan atau dilakukan validasi empirik di sekolah.

Efektivitas pembelajaran matakuliah tugas akhir komputer dan internet di Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang / Wahid Jamaluddin Kaffie

 

Kaffie, Wahid Jamaluddin. 2014. Efektivitas Pembelajaran Matakuliah Tugas Akhir Komputer dan Internet di Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurhidayati, M. Pd, (II) Laily Maziyah, M. Pd. Kata Kunci: Pembelajaran, matakuliah tugas akhir komputer dan internet, jurusan sastra Arab UM Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila pembelajaran tersebut dapat menimbulkan efek sebagaimana yang dikehendakinya, dalam konteks ini berarti pembelajaran matakuliah tugas akhir komputer dan internet dikatakan efektif apabila dapat terlaksana sesuai dengan apa yang ada dalam rancangan perkuliahan semester (RPS). Secara umum tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran matakuliah tugas akhir komputer dan internet di jurusan sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM). Sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kondisi laboratorium komputer yang digunakan sebagai tempat pembelajaran matakuliah tugas akhir komputer dan internet di Jurusan Sastra Arab UM, (2) mendeskripsikan proses pembelajaran matakuliah tugas akhir komputer dan internet di Jurusan Sastra Arab UM, dan (3) Mendeskripsikan efektivitas pembelajaran matakuliah tugas akhir komputer dan internet di Jurusan Sastra Arab UM dilihat dari hasil akhirnya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama didukung oleh 3 instrumen pendukung: (1) kuesioner (angket), (2) pedoman intervieu, dan (3) pedoman observasi. Data diperoleh dari kondisi laboratorium komputer yang digunakan sebagai tempat pembelajaran, proses pembelajaran dan efektivitas pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) kondisi laboratorium komputer tempat pembelajaran berlangsung dinyatakan dalam kondisi baik, (2) matakuliah ini dilaksanakan 2 kali dalam seminggu dan dalam pelaksanaannya pembelajaran matakuliah ini lebih menekankan pada praktek dan metode yang digunakan adalah metode langsung drill, (3) mahasiswa telah siap mengikuti perkuliahan dan kemampuan mahasiswa dalam memahami materi selama perkuliahan terbilang baik, ini ditunjukkan dengan 2 mahasiswa (14,29%) sangat memahami materi yang diberikan dosen selama perkuliahan, 8 mahasiswa (57,14%) mampu memahami materi yang diberikan, dan hanya 4 mahasiswa (28,57%) yang kurang memahami materi yang diberikan, (4) penilaian dilakukan pada setiap pertemuan, (5) faktor penghambat yakni listrik yang terkadang padam, belum adanya modul pembelajaran, mahasiswa kurang memperhatikan penjelasan dosen, untuk faktor pendukung adalah ketersediaan laboratorium komputer dan semua mahasiswa yang telah memiliki laptop, (6) pembelajaran matakuliah Tugas Akhir Komputer dan Internet dilihat dari hasil akhirnya sudah efektif karena telah memenuhi target yang dicapai yaitu merancang media pembelajaran bahasa Arab berbasis e-learning dan CD terprogram. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) diharapkan mahasiswa lebih kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis e-learning agar dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Arab, (2) kepada dosen pengampu matakuliah diharapkan menyediakan modul pembelajaran agar memudahkan mahasiswa dalam belajar dan mengerjakan tugas, dan (3) kepada pihak fakultas sastra diharapkan untuk memperbaiki dan memperbarui sarana yang ada di laboratorium.

Meningkatkan pemahaman konsep pembagian bilangan bulat di kelas V SDN Karanganyar kota Pasuruan melalui pohon matematika / Sri Cahyaniati

 

SDN Karangayar Pasuruan suatu sekolah dasar negeri di Kecamatan Gadingrejo kota Pasuruan yang merupakan SD Inti gugus 05. Berdasarkan observasi di kelas V diketahui bahwa permasalahan yang sering dikeluhkan oleh siswa mata pelajaran matematika tentang perkalian dan pembagian bilangan bulat, akan tetapi secara umum dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu motivasi belajar dan kemampuan berpikir siswa yang masih rendah, yang kemudian berdampak pada masalah hasil belajar siswa yang masih rendah. Masalah terakhir yang perlu mendapat perhatian sangat serius yaitu suatu proses pembelajaran yang belum dilakukan berdasarkan filosofi konstruktivisme. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya kemampuan berpikir, hasil belajar, dan motivasi belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran pohon matematika melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pohon matematika dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan pada kelas V SDN Karanganyar, sehingga model pembelajaran ini digunakan di sekolah tersebut. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan melalui penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir , hasil belajar dan motivasi belajar matematika pada siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan sejak bulan Agustus 2009 sampai Januari 2010. Tindakan kelas dilaksanakan sejak 4 Nopember sampai 18 Nopember 2009. Peneliti menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model pohon matematika , yang terdiri dari empat fase yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan yang terdiri dari 25 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pohon matematika dapat meningkatkan kemampuan berpikir, hasil, moivasi belajar matematika pada siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan. Namun demikian nampaknya masih sangat diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam memberdayakan kemampuan berpikir motivasi dan hasil balajar siswa di sekolah tersebut. Kata-kata kunci: pemahaman konsep, perkalian, pembagian,

Studi kawasan agribisnis berbasis agropolitan sebagai pendorong pembangunan ekonomi di kabupaten Kediri tahun 2004-2008 / Agus Pramono

 

Pengembangan Kawasan Agribisnis berbasis Agropolitan yang dijalankan oleh pemerintah Kabupaten Kediri dengan menetapkan 3 kecamatan sebagai pusat pertumbuhan ( Growth Center ) diharapakan dapat meningkatkan tingkat aksesibilitas komoditi yang ada di wilayah sekitar agar bisa menjadi komoditi unggulan sehingga dinamika pembangunan di sektor pertanian dari waktu ke waktu terus berkembang dengan cepat dan kompleks. Program pembangunan di sektor pertanian dititikberatkan pada agribisnis dan ketahanan pangan. Pengembangan agibisnis tidak mengenal batas-batas administrasi wilayah, sehingga sudah waktunya strategi pengembangan sistem dan usaha agribisnis ditingkatkan menjadi strategi yang mensinergikan pengembangan agribisnis dengan pendekatan wilayah, dalam hal ini dapat dilakukan dengan pendekatan pembentukan dan pengembangan kawasan agropolitan. Tujuan Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Agropolitan adalah untuk menentukan wilayah yang sesuai untuk dijadikan sebagi pusat kawasan agropolitan dan mendeskripsikan perkembangan kontribusi sektor agribisnis dalam mendorong perekonomian di Kabupaten Kediri. Langkah dalam mengetahui Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Agropolitan di Kabupaten Kediri dalam penelitian ini adalah Data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Data sekunder merupakan data yang tidak diperoleh dari sumbernya langsung, melainkan sudah dikumpulkan oleh pihak lain sedangkan metode pengumpulan data dilakukan dengan 2 cara yaitu teknik dokumentasi dan wawancara. Sedangkan analisis data menggunakan LQ dari PDRB Kabupaten Kediri dengan Perbandingan PDRB Jawa Timur untuk mengetahui sektor tersebut basis tau non basis agar bisa melihat keadaan ekonomi wilayah dan potensinya dimasa yang akan datang. Hasil Penelitian Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Agropolitan di Kabupaten Kediri yang terbagi menjadi 3 pusat pertumbuhan (Growth Center ) dapat meningkatkan tingkat aksesibilitas sektor pertanian yang disesuaikan dengan produk unggulan di masing-masing kecamatan menggambarkan bahwa konsep agropolitan berusaha menciptakan pembangunan yang diinginkan oleh masyarakat dan menuntut partisipasi masyarakat. Keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan akan membentuk suatu pola pemberdayaan masyarakat di tingkat bawah. Dengan demikian kualitas SDM di seluruh lapisan dapat meningkat. Sesuai dengan konsep agropolitan yang dikemukakan oleh Friedmann, bahwa konsep agropolitan tidak hanya menyentuh pada sektor pertanian saja tetapi juga menekankan pada sifat pemerintahan yang desentralistik dan demokratis, yang mana menuntut keterlibatan masyarakat untuk menciptakan social welfare. Saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Untuk meningkatkan perkembangan sektor agribisnis di Kabupaten Kediri hal yang selama ini dirasakan kurang adalah kurangnya persedian peralatan pertanian maupun teknologi pertanian yang masih kurang khusunya di daerah puncu dan kepung. Hal ini dirasakan penting karena daerah tersebut penyumbang terbesar di Kabupaten Kediri melalui sektor hortikultura. (2) Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar dapat mengembangkan permasalahan-permasalahan yang lebih luas dari permasalahan dalam penelitian ini, juga hendaklah menambah beberapa faktor atau variabel-variabel yang diperkirakan cocok atau sesuai dengan permasalahan yang sering dihadapi tiap tahun di lapangan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |