Pengaruh kebiasaan merokok terhadap prediksi kapasitas oksigen maksimal (VO2 maks) pada mahasiswa Pendidikan Jasmani angkatan 2006 Universitas Negeri Malang / Ariadi Kurniawan

 

Kapsitas oksien maksimal atau yang sering disebut dengan VO2 Maks adalah tolok ukur dari daya tahan. Nilai VO2 Maks dapat menurun karena kebiasaan merokok. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan apakah ada pengaruh antara kebiasaan merokok dengan prediksi kapasitas oksigen maksimal (VO2 Maks) pada mahasiswa Pendidikan Jasmani Angkatan 2006 Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian semi ekperimental. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa putra Pendidikan Jasmani Angkatan. Sampel penelitian adalah 13 mahasiswa perokok dan 13 mahasiswa bukan perokok yang memenuhi karakteristik yang relatif sama, diantaranya adalah mahasiswa yang berumur 19-20 tahun, aktivitas fisik, status gizi (pola makan), memiliki BMI (Body Mass Index) normal dan kadar hemoglobin yang relatif sama. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket dan tes. Untuk analisis data mengunakan SPSS (Statistical Package of Social Science) for Windows 10.10. Hasil penelitian yang diperoleh adalah ada perbedaan yang signifikan antara prediksi kapasitas oksigen maksimal (VO2 Maks) kelompok perokok dengan kelompok bukan perokok, dengan nilai p = 0.007. Dan mean VO2 Maks perokok 41.715 ml/kgBB/menit, mean VO2 Maks bukan perokok 48.477 ml/kg BB/menit.

Pemanfaatan kartu huruf untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa kelas 1 SDN Tulusrejo V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Sri Wahyuningsih

 

Dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas I sekolah dasar, unsur yang perlu diperhatikan adalah kemampuan siswa dalam membaca suku kata, kata, dan kalimat sederhana. Membaca permulaan di kelas I SDN. Tulusrejo V sebelum diadakan penelitian ada kecenderungan mendapat nilai kurang. Untuk mengatasi hal tersebut, maka peneliti mengadakan penelitian tentang ? Pemanfaatan Kartu Huruf untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN. Tulusrejo V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang?. Berdasarkan latar belakang masalah, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran membaca dengan memanfaatkan kartu huruf pada siswa kelas I SDN. Tulusrejo V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, (2) untuk mendeskripsikan dampak pembelajaran membaca dengan memanfaatkan kartu huruf dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas I SDN. Tulusrejo V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan tes. Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDN. Tulusrejo V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang berjumlah 21 anak. Hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) nilai rata-rata pre tes siklus I adalah 46,2, (2) nilai rata-rata post tes siklus I adalah 60,9, (3) nilai rata-rata post tes siklus II adalah 76,6. Nilai rata-rata post tes siklus I mengalami peningkatan pada post tes siklus II, karena menggunakan alat peraga kartu huruf. (4) dampak pemanfaatan kartu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat, aktivitas, perhatian, dan kreativitas adalah (a) siklus I : 55% sangat berminat, 48% cukup berminat; 57% sangat aktif, 24% cukup aktif, 19% kurang aktif; 48% sangat perhatian, 38% cukup perhatian, 14% kurang perhatian; 52% sangat kreatif, 43% cukup kreatif, 5% kurang kreatif; (b)Siklus II: 76% sangat minat, 24% cukup minat; 86% sangat aktif, 9% cukup aktif, 5% kurang aktif; 67% sangat perhatian, 33% cukup perhatian; 67% sangat kreatif, 33% cukup kreatif Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kartu huruf dapat meningkatkan keterampilan membaca pada siswa kelas I SDN. Tulusrejo V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, Bertitik tolak pada hasil penelitian, disarankan kepada guru untuk pembelajaran membaca permulaan diperlukan penggunaan alat peraga yang menarik minat belajar siswa mengingat siswa SD cara berfikirnya secara konkrit khususnya kelas I SD.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student teams-achievement divisions (STAD) untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa kelas VII A SMP PGRI Purwosari Kabupaten Pasuruan / Ellyana

 

Penelitian Tindakan Kelas telah dilakukan di SMP PGRI Purwosari Kabupaten Pasuruan pada bulan Nopember tahun 2006 sampai dengan bulan Januari tahun 2007. Peneliti dan guru bidang studi biologi kelas VII A di sekolah tersebut melakukan kolaborasi untuk menemukan permasalahan dan pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran biologi di kelas. Berdasarkan hasil observasi, diperoleh beberapa permasalahan yaitu model pembelajaran yang digunakan guru bersifat monoton (hanya berceramah), motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran koperatif STAD. Penerapan model pembelajaran ini juga akan mengatasi permasalahan model pembelajaran guru agar lebih variatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuali-tatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 3 tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengamatan, serta refleksi. Materi yang diajarkan pada siklus I adalah Ciri-ciri Makhluk Hidup, sedangkan pada siklus II adalah Klasi-fikasi Makhluk Hidup. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tindakan guru, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa selama mengikuti pem-belajaran kooperatif model STAD. Analisis yang digunakan untuk menguji hipo-tesis tindakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa. Keber-hasilan tindakan guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif STAD pada siklus I dan siklus II adalah 100%. Peningkatan motivasi belajar siswa yaitu sebesar 10,8% untuk aspek usaha, 6,5% untuk aspek perhatian, dan 7,1% untuk aspek penampilan. Peningkatan aktivitas belajar siswa pada kelompok IV sebesar 15%, kelompok V sebesar 10%, kelompok VI sebesar 20%. Kelompok I, II, III, VII, dan VIII tetap yaitu sebesar 100%. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjuk-kan oleh adanya peningkatan ketuntasan belajar klasikal sebesar 13,16%, yaitu dari 71,05% pada siklus I menjadi 84,21% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat diberikan saran sebagai berikut. Bagi sekolah, pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD oleh guru yang terampil dan kompeten hendaknya dapat dijadikan salah satu alternatif usaha perbaikan mutu sekolah terutama pada peningkatan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa. Bagi guru, pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD memer-lukan waktu yang relatif lama. Oleh sebab itu, hendaknya guru dan mahasiswa calon guru dapat memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin. Bagi siswa, pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD hendaknya dijadikan sarana untuk lebih meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajarnya.

Pengembangan modul biologi dengan pendekatan kontekstual materi keanekaragaman hayati untuk kelas X di SMA Negeri 2 Malang / Endah Sefitri

 

Salah satu prinsip pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik. Berdasarkan hasil analisis konteks di SMA Negeri 2 Malang ditemukan kenyataan minimnya sumber belajar berupa bahan ajar yang dimiliki siswa, LKS yang dimiliki siswa kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri, teknik mengajar guru yang kurang menarik perhatian siswa, dan tidak adanya pemberian peranan terhadap perbedaan individual di antara siswa. Solusi atau pemecahan masalah tersebut adalah dengan dikembangkannya suatu modul. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul biologi dengan pendekatan kontekstual materi keanekaragaman hayati untuk kelas X di SMA Negeri 2 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan modul. Prosedur pengembangan modul meliputi pengkajian potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, revisi desain, uji coba produk, dan revisi penyempurnaan produk. Subjek validasi modul (validator) adalah dua orang dosen biologi Universitas Negeri Malang dan dua orang guru biologi SMA Negeri 2 Malang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi (1) data kuantitatif berupa skor angket penilaian dari validator dan siswa, nilai hasil uji coba modul ke siswa, alokasi waktu yang diperlukan siswa untuk mengerjakan modul, dan (2) data kualitatif berupa saran dan komentar dari validator, deskripsi keterlaksanaan uji coba modul, dan kesulitan siswa selama mengerjakan modul. Hasil pengembangan ini berupa modul dalam dua kegiatan belajar yaitu (1) konsep keanekaragaman hayati, dan (2) keanekaragaman hayati Indonesia, usaha pelestarian, dan pemanfaatannya. Masing-masing kegiatan belajar menerapkan strategi umum dalam pendekatan kontekstual (relating, experiencing, cooperating, applying, transferring, dan evaluating). Hasil penilaian dari para validator sebesar 85,05% yang berarti cukup valid sedangkan penilaian dari siswa sebesar 87,17% yang berarti cukup valid. Alokasi waktu yang dibutuhkan siswa untuk mengerjakan modul kegiatan belajar I menunjukkan rerata sebesar 134,16 menit dan 159 menit untuk kegiatan belajar II. Uji coba modul menunjukkan lebih dari 75% siswa sampel telah menyelesaikan modul dengan baik. Berdasarkan hasil penilaian dan uji coba, maka modul yang dikembangkan telah dapat digunakan dalam pembelajaran biologi SMA kelas X. Berdasarkan hasil pengembangan, disarankan (1) modul ini perlu untuk diuji coba pemakaian dengan lingkup yang lebih luas (2) kegiatan evaluasi sebaiknya dilakukan sendiri oleh siswa, (3) adanya modul remidial yang disediakan bagi siswa yang lamban dan mengalami kesulitan belajar, dan (4) perlu adanya pengembangan modul dengan materi lain yang lebih menarik dan sempurna dengan pendekatan kontekstual sehingga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran dan juga dalam rangka menyongsong Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

An Analysis on Metaphorical Symbols of Richard Marx's Songs / by Adi Witono Waluyo

 

Poetryc ontainst he experience,f eelings,e motiona nd thoughto fthe poet. There is a mixture of real world and imagery which is transfened into the imagery of the poem.P oetso ften usef igurative languagein order to revealt heir ideas, imagination, feelings and thought. The use of figurative language makes the poems sophisticateda nd unrarelyc omplicated,s o that the readersf ind diffrculties in analyzingth em. Metaphor is one of figurative language which is frequently used by the poets in their poems.T he poetst ake the phenomenain their environmenta nd changet hem into symbolsto represenwt hatt heyf eel.T he symbolse nricht hep oemsw ith words ande xpressionsw hich challenget he readerst o catcht he hiddenm essagea nd meaningsb ehindt he symbols.B y comprehendingth e symbols,t he readersm ight anjoy poems easily and wholly. The study is conductedt o investigatet he useo f metaphoricals ymbolsi n the lyrics of Richard Marx's songs. The design of the study is descriptive-qualitative sincei t obbainsin formation concerningt he currents tatuso f phenomenaa nd determinesth e natureo f situationa s it existsa t the time of the study.T he study belongst o documentarys tudiess incei t usest he lyrics of Richardl v{arx's songsa s the sourceso fthe data.P opulationo fthe studyc onsistso f66 songst aken from the seven albums of Richard Marx. All the lyrics are used in the study unless Baby Blues which is not available. The lyrics are analped based on the &eory of metaphor and symbolsA. s the basist o judge thatt he sigrrificri s univenal,t he concepto f Haley which is called Hierarchical Model of Univenal Semantic Domain is used. The symbolsf ound are classifiedi nto the nine categorieso f the model sucha sB eing, CosmosE, nergt, Substonce,T'enestriaOl,b jectsL, iving Animatea nd Humanin ordert o knowt he frequencyo fthe distributiono fthe symbols. The results reveals that there are266 kinds of symbols found in the lyrics. The mostf requentd istributiono f symbolsis Beingc ategoryw ith 50.38%.T henO bjects iii ( 16.17%H, uman1 0.90%E, nergy6 .390/oT,e rrestria4l .89o/oC, osmosa ndA nimate 4.510/o,anSdu bstancaen dL iving l.l3%.It seemsth at RichardM arx prefersu sing thea bstracts ymbolsi n composingh is sorrgsth an the real symbols.I t is perhapsd ue to his limited knowledge of the universe and its contents. The study reveals a conclusion that his imagination plays a big role in composing his lyrics proved by the use of abstract symbols which are categorized into Being. The symbols used are mostly the conventional ones of which the symbolic meanings are widely known His songs contain moral value that are importantf or the studentsto leam how to strugglef or life and to respectt he life itself. lv

Kajian komunitas gulma di perkebunan apel Desa Bulukerto Batu Jawa Timur pada bulan Juli 2007 / Rafitri Heni Yuwono

 

Gulma adalah tumbuhan lain yang tumbuh pada suatu areal perkebunan yang dipelihara oleh manusia, dan manusia berusaha membuangnya. Kota Batu merupakan salah satu kota penghasil apel di Jawa Timur. Penelitian tentang gulma belum secara menyeluruh dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) jenis-jenis gulma yang ditemukan, (2) keragaman jenis-jenis gulma, (3) jenis-jenis gulma yang menjadi karakteristik komunitas, (4) keterkaitan faktor fisiko kimia lingkungan terhadap Indeks Nilai Penting gulma di perkebunan apel Desa Bulukerto Batu Jawa Timur pada bulan Juli 2007. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan data dilakukan dengan petak cuplikan ukuran 2 m x 2 m secara sistematik. Jenis-jenis gulma diidentifikasi sampai tingkat genus atau species. Indeks Nilai Penting dilakukan berdasarkan penghitungan kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif. Karakteristik komunitas gulma ditentukan dari dua spesies gulma yang memiliki Indeks Nilai Penting terbesar. Keterkaitan faktor fisiko lingkungan terhadap Indeks Nilai Penting tertinggi di analisis Regresi Stepwise-Backward. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis gulma ditemukan sebanyak 50 species dari 21 familia. Keragaman jenis gulma yang memiliki nilai Indeks Nilai Penting terbesar adalah Ageratum conyzoides L. sebesar 46,76 dan Bidens pilosa L. sebesar 45,17, sedangkan yang memiliki nilai Indeks Nilai Penting terkecil adalah Phyllanthus urinaria L., Raphanus sativus L., Eragrostis ambilis O.K., Sorghastrum nutans, Euphorbia sp. 1, Euphorbia heterophyla L., dan Euphorbia geniculata Ortega. yang masing-masing memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 0,12. Karakteristik komunitas gulma adalah vegetasi Asteraceae. Keterkaitan faktor fisiko kimia lingkungan terhadap Indeks Nilai Penting gulma secara bersama-sama menunjukkan hasil yang signifikan, pH tanah, kelembaban tanah, dan intensitas cahaya sebagai faktor kunci penentu terhadap tinggi rendah Indeks Nilai Penting gulma.

Analisa efisiensi tentang biaya dan waktu pelaksanaan pekerjaan perancah dan bekisting pada perumahan Istana Dieng Kav. 5 Malang / Hermanto

 

Proyek adalah kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber untuk kemanfaatan. Kegiatan tersebut dapat berbentuk investasi baru dalam berbagai macam pabrik, pembuatan jalan raya atau kereta api, irigasi, bendungan, perkebunan, pembukaan hutan, pendidikan gedung-gedung sekolah atau rumah sakit-rumah sakit, berbagai macam program latihan, program keluarga berencana, berbagai macam survei atau penelitian, perluasan atau perbaikan program-program yang sedang berjalan dan lain-lain Perancah adalah konstruksi yang memikul atau menerima beban dan memberi kekuatan serta kestabilan pada bekisting. Perancah ada yang bersifat fabrikasi seperti perancah scaffolding dan ada yang konvensional seperti perancah bambu. Pemilihan penggunaan perancah bambu disebabkan karena sifat kekakuan dan ukuran yang tersedia di lapangan, serta termasuk harga pembeliannya yang tidak mahal. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan hingga analisa biaya pada proyek pembangunan perumahan Istana Dieng kav. 5, Malang secara khusus studi lapangan ini mengungkapkan : (1) pelaksanaan, (2) perencanaan, (3) analisa biaya pekerjaan perancah. Metode penelitian yang digunakan dalam studi lapangan ini adalah metode penelitan survey. Untuk mendapatkan data yang akurat dapat dilakukan dengan cara observasi (pengamatan), wawancara, dokumentasi dan melalui buku pedoman. Hasil penelitian menyebutkan bahwa perencanaan pekerjaan perancah menggunakan material kayu, bambu. Waktu pelaksanaan pekerjaan perancah bulan Desember adapun kegiatan pelaksanaan kegiatan tersebut meliputi perakitan bekisting pelat, pemeriksaan bekisting pelat, dan pembongkaran bekisting. Analisa biaya pekerjaan bekisting meliputi biaya material dan biaya pekerja. Berdasarkan hasil setudi lapangan ini, disarankan untuk lebih meningkatkan kinerja para pekerja agar memperoleh bobot prestasi pekerja yang lebih baik.

Pengaruh faktor intern dan ekstern terhadap prestasi belajar mata diklat mengetik manual siswa kelas 1 SMK PGRI 6 Malang / Tantina Kurnia Dewi

 

Salah satu lembaga pendidikan formal yang mencetak lulusan siap kerja adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebab siswa dibekali teori sekaligus praktik agar siswa mampu mengimpletasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari teori. Kemampuan siswa dalam mengimpletasikan pengetahuan dan keterampilannya tercermin dalam prestasi belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa SMK PGRI 6 Malang yang berupa nilai tes formatif ada dua, yaitu faktor intern (individual) dan faktor ekstern (sosial) (Purwanto, 2000: 102). Faktor intern berupa minat belajar dan kebiasaan belajar, sedangkan faktor ekstern berupa fasilitas belajar, lingkungan belajar, dan kemajuan tekhnologi. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi faktor intern, faktor ekstern, prestasi belajar siswa dan kaitan ketiga variabel tersebut baik secara parsial maupun simultan. Rancangan penelitian yang digunakan yaitui deskriptif korelasional dengan metode ex post facto. Variabel bebas penelitian ini adalah faktor intern (X ) dan faktor ekstern (X ). Sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang tidak menggunakan sampel, sebab subyek penelitian ini kurang dari 100 orang. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas I APK K SMK PGRI 6 Malang yang terdiri dari dua kelas yaitu I APK, dan I APK Tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 86 siswa. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu angket/ kuesioner dan dokumentasi. Angket untuk memperoleh data variabel bebas yaitu faktor intern (X ) dan faktor ekstern (X ), sedangkan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data variabel terikat yaitu prestasi belajar (Y) yang berupa nilai tes formatif mata diklat mengetik manual. Data yang diperoleh diolah dengan teknik analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran faktor intern, faktor ekstern, dan prestasi belajar. Sedangkan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh faktor intern dan faktor ekstern terhadap prestasi belajar baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Analisis persentase dari 86 siswa menunjukkan bahwa sebesar 37,2% memperoleh prestasi belajar dengan kategori cukup pada mata diklat mengetik manual. Sebesar 54,7% masuk kategori baik pada faktor intern dan faktor ekstern sebesar 61,6% masuk kategori baik. Analisis regresi linier berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5% secara parsial dapat diketahui bahwa variabel faktor intern (X ) mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar (Y) dan variabel faktor ekstern (X2) mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar (Y). Dari uji regresi linier berganda juga diketahui bahwa variabel faktor intern dan faktor ekstern secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa kelas I APK SMK PGRI 6 Malang pada mata diklat mengetik manual. Hal ini dibuktikan dengan signifikan F sebesar 0,000<0,05 dengan nilai = 62,183, nilai koefisien regresi (Multiple R) = 0,774, dan nilai koefisien determinasi = 0,600. Disimpulkan bahwa variabel faktor intern dan faktor ekstern berpengaruh secara siginifikan terhadap prestasi belajar baik secara parsial maupun secara simultan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pada siswa agar lebih meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan guru dan pihak sekolah, disarankan sebaiknya menyediakan fasilitas belajar berupa mesin ketik manual yang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, agar siswa termotivasi untuk belajar mengetik manual sehingga siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD pada mata diklat bekerjasama dengan kolega dan pelanggan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pamekasan / Indri Dwiyanti Ningrum

 

Dalam upaya memperbaiki mutu pendidikan nasional, pemerintah telah melakukan berbagai upaya diantaranya dengan penyempurnaan kurikulum. Saat ini kurikulum pendidikan di Indonesia dikembangkan dengan pendekatan Berbasis Kompetensi yang kemudian disempurnakan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dimana penyempurnaan kurikulum tersebut bertujuan agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif yang sesuai dengan standar mutu nasional. Kurikulum yang saat ini dipakai memberikan alternatif metode-metode pembelajaran untuk diterapkan sesuai dengan kondisi dari sekolah masing-masing. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah metode pembelajaran kooperatif yang memiliki berbagai macam model. Salah satunya yaitu model Student Teams Achievement Division (STAD). Pembelajaran model ini memungkinkan keleluasaan bagi siswa untuk belajar, bekerja dan berinteraksi antar siswa dengan siswa, maupun siswa dengan guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD pada siswa kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pamekasan, mengetahui hasil belajar mata diklat Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan siswa kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pamekasan yang diajarkan dengan model STAD, mengetahui apakah metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar mata diklat Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan siswa kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pamekasan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi pengetahuan dasar komunikasi dan berkomunikasi ditempat kerja dengan subjek penelitian siswa kelas X AP I SMK Negeri 1 Pamekasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Dari hasil observasi yang dilakukan saat diskusi kelompok berlangsung, dari aspek bertanya siklus I dan II tidak mengalami peningkatan yaitu sebesar 70,36 %, aspek mengambil giliran dan berbagi tugas meningkat 9,26 % dari 77,77 % pada siklus I menjadi 87,03 % pada siklus II, aspek memeriksa ketepatan pada siklus I sebesar 74,07 % meningkat menjadi 88,88 % dengan jumlah peningkatan sebesar 14,81 %, dan aspek menghargai konstribusi meningkat sebesar 3,71 % dari siklus I sebesar 96,29 % menjadi 100 % pada siklus II. Data hasil belajar siswa menunjukkan perolehan skor awal (pre test) siklus I sebesar 58,97 % dengan skor terendah 30 dan skor tertinggi 80, meningkat menjadi 68,75 % pada siklus II dengan skor terendah 50 dan tertinggi 85. Demikian pula dengan perolehan skor akhir (post test) pada siklus I sebesar 70,22 % dengan skor terendah 40 dan skor tertinggi 90 meningkat menjadi 80,68 % pada siklus II dengan skor terendah 60 dan tertinggi 95. Standart Deviasi untuk siklus I pada pre test sebesar 11,0356 dan post test sebesar 10,15 sedangkan untuk pre test siklus II menurun menjadi 7,7397 dan post test menurun menjadi 8,0395. Ketuntasan belajar pada siklus I yaitu sebesar 88,63 % dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 39 siswa dan tidak tuntas 5 siswa. Siklus II jumlah ketuntasan belajar sebesar 95 % dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 42 siswa dan tidak tuntas 2 siswa. Respon yang diberikan siswa setelah pembelajaran selesai yaitu sebagian besar siswa merasa senang dengan pembelajaran kooperatif model STAD ini. Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan juga aktivitas belajar siswa, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran materi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diajukan sebagai berikut: (1) Bagi guru mata diklat Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan disarankan untuk mencoba pembelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model STAD untuk lebih meningkatkan aktivitas belajar siswa serta hasil belajar siswa, (2) Pembelajaran kooperatif model STAD merupakan pembelajaran yang lebih memaksimalkan aktivitas siswa dalam belajar melalui kelompok. Untuk itu, guru sebaiknya benar-benar memperhatikan pengaturan alokasi waktu yang tersedia, (3) Sebelum pelaksanaan diskusi, sebaiknya siswa diminta untuk mempelajari materi terlebih dahulu sehingga pada saat diskusi berlangsung, siswa telah memiliki bekal pengetahuan dan hanya memberikan pendapat atau tangggapan dalam mengerjakan tugas yang diberikan, (4) Penelitian ini hanya terbatas pada siswa kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pamekasan, hendaknya penelitian ini dapat diteruskan pada kelas dan sekolah lain agar dapat meningkatkan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa disekolah lainnya.

Implementasi pembelajaran kontekstual model role playing guna meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran merencanakan dan melakukan pertemuan (studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas 2 APK 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosa

 

Menghadapi tata dunia global yang saling bertautan antara satu negara dengan negara lainnya diperlukan suatu perubahan secara menyeluruh, terutama di bidang pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja, karena pendidikan adalah kehidupan itu sendiri yang akan tumbuh dan berkembang seiring perubahan itu sendiri dalam peradaban manusia. Warna dari perubahan itu berawal dari proses pendidikan yang di dalamnya ada kegiatan transformatif berupa belajar mengajar, kegiatan ini bertujuan dapat membekali peserta didik berinteraksi dengan lingkungan kehidupannya. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu program pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Kurikulum tersebut diharapkan mampu memecah berbagai persoalan bangsa, terutama di bidang pendidikan. Pendekatan kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas. Dengan konsep tersebut, diharapkan proses pembelajaran bukan merupakan kegiatan transfer pengetahuan dari guru, melainkan siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari. Strategi pembelajaran ini lebih mementingkan hasil belajar dari pada proses. Pendekatan kontekstual dapat melatih siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam suatu situasi. Guru sebagai salah satu subyek pendidikan yang berinteraksi langsung dan bersifat kontinuitas dengan peserta didik, maka guru bertanggung jawab dalam mensukseskan pendidikan dalam konteks meningkatkan kualitas peserta didik. Sebagai upaya menuju meningkatkan kualitas peserta didik, guru berkompenten memilih dan memilah metode dan model pembelajaran, karena hal tersebut berimplikasi pada proses kegiatan belajar mengajar yang selalu menuntut arah transformasi kedua belah pihak baik guru dan peserta didik maupun penguasaan materi dan kompetensi bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan dengan menggunakan penerapan pembelajaran kontekstual model role playing dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik. Sebagai lokasi penelitian, peneliti memilih meneliti siswa keahlian administrasi perkantoran kelas 2 APk 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari Kabupaten Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Siklus I dan siklus II ditempuh selama enam kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan evaluasi, serta analisis dan refleksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah prosedur pertemuan, etika rapat dan gaya komunikasi, teknik membuka dan menutup rapat, teknik memimpin rapat, teknik bertanya dan mengajukan pendapat, tata tertib rapat, serta notula rapat. Subjek penelitian ini adalah siswa keahlian administrasi perkantoran kelas 2 APk 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari yang terdiri dari 38 orang. Data yang diperoleh meliputi pengelolaan pembelajaran guru, penilaian kinerja kelompok, hasil belajar peserta didik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, respon peserta didik dan guru terhadap proses pembelajaran. Prosedur pengumpulan data menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, wawancara, angket, tes, pengamatan partisipan, dan dokumentasi. Pada penelitian ini dibagi menjadi empat tahap kegiatan: pertama, peneliti bersama guru bidang studi menentukan topik pembahasan yaitu mengenai penyelengaraan pertemuan dengan membentuk kelas menjadi empat kelompok dari 38 orang peserta didik. Kedua, Perencanaan kegiatan belajar role playing dilaksanakan oleh peneliti bersama peserta didik. Ketiga, Merencanakan kerjasama dalam menyelesaikan tugas merupakan bagian terpenting untuk melibatkan setiap anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas. Keempat melakukan diskusi kelompok dilaksanakan setelah permainan peranan telah selesai. Hasil penelitian ini terbukti pada siklus I terjadi kenaikan jumlah rata-rata yang signifikan antara pre-test dengan post-test. Rata-rata perbandingannya 58,95 : 68,16. Sedangkan siklus II terjadi kenaikan ketika pre-test dengan post-test. Rata-rata perbandingannya 63,39 : 75,42. Begitu juga terjadi kenaikan rata?rata kinerja peserta didik antara siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata sebesar 78,75 : 80,25. Rata- rata tersebut menjelaskan pada dua subyek pelaku, satu sisi respon peserta didik dan sisi lain respon guru bidang studi. Pertama, respon peserta didik terhadap pembelajaran kontekstual model role playing sangat positif. Hal ini dikarena menuntut siswa aktif serta kreatif sehingga proses pembelajaran tidak membosankan, serta dapat melatih keberanian dan meningkatkan rasa percaya diri. Kedua, respon senang juga diungkapkan oleh guru bidang studi sekaligus observer. Proses pembelajaran pada mata pelajaran merecanakan dan melaksanakan pertemuan bisa berjalan dengan lancar dengan menggunakan pembelajaran model role playing, karena siswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengaktualisasikan diri. Selain itu dengan bermain peran peserta didik akan lebih mudah untuk mengingat pengalamannya yag berkaitan dengan materi yang dipelajari. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah pertama, bagi guru yaitu pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model role playing dapat dijadikan alternatif pilihan dalam praktek pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Kedua, bagi sekolah yaitu perlu adanya sarana prasarana yang menunjang bagi keberhasilan proses belajar untuk keefektifan penerapan pembelajaran kontekstual model role playing, Ketiga, bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan pembelajaran kontekstual model roleplaying dengan menggunakan kompetensi yang berbeda.

Efektivitas penerapan model pembelajaran role playing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan di SMK PGRI 2 Malang / Yiyin Dwi Winarni

 

Pembelajaran yang menyenangkan merupakan titik awal keberhasilan pembelajaran. Pembelajaran akan lebih menyenangkan bila didukung oleh guru yang aktif. Strategi pembelajaran yang digunakan guru yang aktif itu sangat bervariasi, dinamis, dan senantiasa disesuaikan dengan materi pelajaran, situasi dan kondisi siswa serta proses pembelajarannya. Salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat dikembangkan adalah dengan menerapkan model pembelajaran Role Playing (bermain peran). Role Playing melatih siswa untuk berinteraksi dan menemukan kemungkinan pemecahan masalah, karena masalah yang diangkat berasal dari lingkungan mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan model pembelajaran Role Playing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMK PGRI 2 Malang Kelas 1 program keahlian Penjualan, semester I Tahun Ajaran 2007/2008, pada tanggal 29 September sampai dengan 13 Desember 2007. Waktu penelitian berlangsung selama tiga kali pertemuan dengan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Analisis hasil penelitian untuk data aktivitas siswa adalah dengan menghitung persentase frekuensi indikator aktivitas yang muncul. Kriteria taraf keberhasilan tindakan yang digunakan adalah 0 ? 49% (sangat kurang), 50% ? 54% (kurang), 55% ? 69% (cukup), 70% ? 84% (baik), 85% ? 100% (sangat baik). Hasil belajar terdiri dari aspek kognitif dengan menganilisis hasil pre tes dan post tes setiap siklus. Sedangkan aspek afektif dan psikomotor dianalisis dengan menghitung persentase frekuensi setiap indikator yang muncul. Ketentuan nilai batas minimum ketuntasan belajar siswa untuk mata diklat Kewirausahaan adalah 68. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif karena guru telah melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik, dimana skor rata-rata total yang diperoleh Guru pada Siklus I sebesar 82.7% meningkat pada Siklus II sebesar 98.1%. Persentase keaktifan siswa meningkat pada Siklus I sebesar 69.1% menjadi 80.6% di Siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada aspek kognitif persentase ketuntasan belajar siswa pada post tes meningkat di Siklus I sebesar 53.3% (24 siswa) menjadi 91.1% (41 siswa) di Siklus II. Pada aspek afektif nilai rata-rara meningkat di Siklus I sebesar 81, menjadi 95 di Siklus II dan dikatakan tuntas. Sedangkan hasil belajar psikomotor juga meningkat di Siklus I sebesar 63 menjadi 74 di Siklus II dan dikatakan tuntas. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa model pembelajaran Role Playing dapat digunakan dalam proses belajar mengajar pada mata diklat lain sebagai alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dukungan Kepala Sekolah sangat diharapkan untuk mengupayakan Guru supaya memiliki pengalaman dalam pembelajaran model Role Playing Kepada peneliti selanjutnya disarankan agar melibatkan pakar Role Playing dalam melakukan penelitian tindakan kelas lebih lanjut.

The branches of conversational maxims in Oscar Wilde's The Importance of Being Earnest / Lutfinda Pratiti

 

This study aims to find out how the characters in The Importance of Being Earnest flout, violate, opt out and clash the conversational maxims, and what the functions of those breaches. The result of this study is expected to enrich the study of conversational maxims and to show that linguistic tools can be used to gain more understanding of literary works as well as to gain understanding on everyday conversation. The drama text of The Importance of Being Earnest is used as the data source in this study because the drama is about creating fictive persons and leading a double life to escape from social obligation. Another reason for choosing this drama is because there are breaches of the conversational maxims expressed through the utterances of the characters. Previously, the preliminary study was conducted at the first time I read the drama text. The utterances in the drama contain lies which might be categorized into violations of the maxim of quality. The data are in the form of utterances. They are numbered and classified into each type of breach based on the context. Together with classifying the data, the functions of the breaches are also interpreted. The results of this study show that there are 24 flouts, 31 violations, 4 opt outs, and 2 clashes of conversational maxims in The Importance of Being Earnest. The most frequent breach is the violation of the maxim of quality. There are 30 violations of this maxim. The frequent violation of the maxim of quality is related to the plot of the drama. The Importance of Being Earnest is about two men that lead a double life. Jack Worthing pretends to have a brother named Ernest in town to get away from his social obligation as a guardian of a girl in the country. His bestfriend, Algernon Moncrieff pretends to have an invalid friend named Bunbury to be able to escape from his social obligation as a member of high-society. They create lies to keep their secrets. Those lies cause the frequent violations of the maxim of quality. The least breached maxim is the maxim of relevance it. The maxim of relevance is violated by the speaker to avoid telling the truth. There is only 1 violation of this maxim in The Importance of Being Earnest because in this drama, the speakers also do other breaches to other maxims in attempt to avoid telling the truth, which is, by flouting the maxim of quality, flouting the maxim of relevance, violating the maxim of quality, and opting out the maxim of quantity. Based on the results of this study, future studies can apply other linguistic tools to interpret literary works, or applying the same tool to a different subject with a different focus.

Desain pembelajaran untuk proses pendidikan karakter anak (studi fenomenologi pada SD Kanisius Mangunan Yogyakarta) / Kristien Yuliarti

 

Seiring tingginya tuntutan ekonomi yang makin menyibukkan orangtua dan besarnya arus perubahan nilai di masyarakat, peran sekolah untuk turut membangun karakter positif anak didiknya semakin besar. Hal ini tidak mudah karena sekolah pun menghadapi persoalan menyangkut strategi penyelenggaraan pendidikan karakter. Terlebih lagi dengan tanggung jawab sekolah dalam memenuhi target materi sesuai kurikulum formal. Mengatasi persoalan tersebut, SD Kanisius Mangunan (SDKM) berupaya untuk mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembelajarannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam dan komprehensif serta mendeskrispsikan desain pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter yang diterapkan SDKM. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Orientasi teoritis yang digunakan bertumpu pada pendekatan studi fenomenologi. Lokasi penelitian ialah SD Kanisius Mangunan yang terletak di dusun Mangunan, desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada Juli-Agustus 2006 dan dilanjutkan Maret-Juni 2007. Sumber data dalam penelitian ialah tulisan-tulisan YB. Mangunwijaya dan hasil-hasil penelitian serta dokumentasi tentang SDKM yang sesuai dengan tujuan penelitian, anak didik SDKM, guru/staf/kepala sekolah SDKM, staf DED, orangtua anak didik SDKM, dan alumni SDKM. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni telaah dokumentasi, pengamatan berperanserta, wawancara, pengisian kuesioner, dan pengambilan gambar. Analisis data dilakukan secara induktif dengan prosedur reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk keperluan pengecekan keabsahan data dilakukan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi (sumber dan metode). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDKM menempatkan pendidikan karakter sebagai visi utama proses pendidikannya. Tujuan proses pendidikan SDKM ialah menumbuhkembangkan watak atau karakter anak didik yang integral, yakni pribadi berkemampuan eksploratif dan kreatif dalam relasi yang humanis dan selaras dengan diri sendiri, sesama, alam sekitar dan Tuhan, yang berdasarkan nilai Pancasila. SDKM menggunakan pendekatan tidak langsung dalam proses pendidikan karakter, yaitu mengintegrasikannya ke dalam seluruh kegiatan pembelajaran di kelas dan dinamika sekolah. Untuk itu, SDKM merancang desain pembelajaran yang meliputi a) penyusunan pengalaman/materi belajar, b) penetapan strategi kegiatan belajar di kelas, dan c) pengorganisasian program sekolah. Pengalaman/materi belajar yang diberikan pada anak didik disusun dalam Sistem Pembelajaran Terpadu Berbasis Tematis. Penjabaran materinya dituangkan dalam bentuk Jaringan Topik. Strategi kegiatan belajar SDKM meliputi: a) interaksi antara guru/staf SDKM dengan anak didik dilakukan dengan prinsip Ajrih Asih, b) penciptaan banyak kesempatan bagi anak didik untuk menumbuhkembangkan karakter positif, c) merancang mata pelajaran/kegiatan khusus yakni Komunikasi Iman, penggunaan lagu sebagai bentuk ungkapan doa, sarapan pagi dan makan siang, kotak pertanyaan, membaca buku bagus, ?hari bebas?, dan perubahan posisi tempat duduk. Pengorganisasian program SDKM diselaraskan dengan tujuan pendidikan karakter, yakni berupa a) keterlibatan orangtua dalam kegiatan sekolah, dan b) penetapan kebijakan diterimanya penerimaan anak-anak berkebutuhan khusus dan prinsip kesederhanaan dalam program sekolah. Dampak dari desain pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter, yakni a) anak didik memperoleh banyak kesempatan untuk menumbuh-kembangkan perilaku positif sehingga membantu berlangsungnya proses internalisasi karakter tersebut dalam dirinya, b) semua guru memiliki peran dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan proses pendidikan karakter. Temuan pokok dari penelitian ini: a) sekolah bisa menjadi locus pendidikan karakter, b) pendidikan karakter perlu memuat nilai-nilai humanis universalistik serta nilai lokal, yaitu nilai yang didasarkan pada konteks masyarakat dan negara yang menjadi lingkungan sekolah, agar anak didik mampu menjawab kebutuhan dirinya sendiri dan masyarakat, c) sistem pembelajaran terpadu berbasis tematis akan membiasakan anak didik berpikir holistik, tidak fragmented, dan menemukan nilai-nilai yang ada pada peristiwa di sekitarnya, yang saling terkait. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada institusi sekolah untuk lebih memberikan perhatian pada proses pendidikan karakter anak didiknya, di samping proses pencerdasan intelektual. Untuk itu, disarankan juga kepada pemerintah untuk memberi perhatian serius pada upaya pengembangan kompetensi guru dalam menyusun kurikulum eksperiensial, agar guru peka terhadap dinamika realitas sosial yang terjadi di lingkungan sekolah, yang kemudian dirumuskan sebagai bagian dari strategi pembelajaran. Sedangkan bagi kalangan akademisi yang menekuni bidang Teknologi Pembelajaran, disarankan untuk meningkatkan pengembangan domain desain (soft technology) pada studi Teknologi Pembelajaran. Soft technology lebih penting untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar.

Pengaruh penggunaan jet koreksi udara terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang pada motor bensin empat langkah Toyota 4K / Aris Widodo

 

Jet koreksi udara merupakan lubang (jet) kecil yang menghubungkan antara jet utama dengan udara luar yang berfungsi untuk membatasi jumlah aliran bensin yang semprotkan pada nozzle dan memberikan udara tambahan sebelum disemprotkan ke nozzle sehingga komposisi campuran udara dan bahan bakar sesuai (lebih homogen). Lubang tersebut berfungsi melewatkan campuran bahan bakar dan udara. Dengan menambahkan udara tersebut maka aliran bensin pada sistem utama dapat dibatasi dan campuran yang dihasilkan dapat lebih homogen, pembakaran yang terjadi lebih sempurna. Pada karburator double barrel terdiri dari dua buah jet koreksi udara yang terletak pada venturi primer dan terletak pada venturi skunder. Perangkat jet koreksi udara ini mempunyai kelebihan yaitu untuk menimbulkan emulsi bahan bakar pada sistem utama sehingga perbandingan bahan bakar dan udara lebih tepat. Jet koreksi ini terletak pada saluran utama merupakan lubang kecil yang berada input udara masuk menuju ke venturi. Ketika putaran mesin dinaikkan dan bensin menyemprot pada bagian nozzle, maka sejumlah aliran udara akan masuk ke dalam pipa jet koreksi bercampur dengan bensin. Dengan terbentuknya emulsi pada saluran bensin antara jet utama dan nozzle berarti campuran bahan bakar akan menjadi lebih homogen. Sehingga perbandingan campuran bahan bakar dan udara pada saat putaran mesin meningkat dapat dipenuhi pada berbagai tingkat kecepatan karena semakin tinggi putaran mesin maka komposisi campuran bahan bakar dan udara yang dibutuhkan dalam ruang silinder semakin kurus sehingga mesin dapat bekerja secara maksimal, pembakaran yang terjadi di dalam silinder lebih sempurna, sehingga dapat menghemat bahan bakar serta meminimalkan kadar emisi gas buang yang dihasilkan dari pembakaran ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan pada konsumsi bahan bakar antara karburator dengan penggunaan jet koreksi udara dan karburator tanpa penggunaan jet koreksi udara dan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan pada kadar karbonmonoksida antara karburator dengan penggunaan jet koreksi udara dan karburator tanpa penggunaan jet koreksi udara dan untuk mengetahui ada perbedaan yang signifikan pada kadar hidrokarbon antara karburator dengan penggunaan jet koreksi udara dan karburator tanpa penggunaan jet koreksi udara pada motor bensin empat langkah Toyota 4K. Penelitian ini dilakukan di laboratorium bengkel FT Universitas Negeri Malang secara langsung pada obyek penellitian, tanggal 15-16 Desember 2007. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 4x3. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis uji anova dua arah atau Two Way Anava. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jet koreksi udara berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi bahan bakar dan emisi gas buang pada motor bensin 4 langkah Toyota 4K yitu ada perbedaan yang signifikan pada konsumsi bahan bakar antara karburator dengan penggunaan jet koreksi udara dan karburator tanpa penggunaan jet koreksi udara dan ada perbedaan yang signifikan pada kadar karbonmonoksida antara karburator dengan penggunaan jet koreksi udara dan karburator tanpa penggunaan jet koreksi udara dan ada perbedaan yang signifikan pada kadar hidrokarbon antara karburator dengan penggunaan jet koreksi udara dan karburator tanpa penggunaan jet koreksi udara. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengaruh penggunaan jet koreksi udara terhadap daya dan torsi atau pengaruh diameter lubang jet koreksi udara pada karburator double barrel yang bertujuan meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang ini.

Perbedaan pilihan karier dan pilihan pendidikan lanjutan siswa SMA Negeri 4 dan SMK Shalahuddin di Kota Malang / Nining Pujiati

 

Berdasarkan tugas perkembangannya siswa SMA dan SMK berada dalam masa kritis, yaitu dalam usia remaja akhir. Mereka menghadapi banyak keputusan dan pilihan. Salah satunya adalah pilihan untuk melanjutkan studi atau bekerja. Pada pendidikan umum mengutamakan persiapan siswa untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sedangkan pada pendidikan kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Pemilihan karier dan pemilihan pendidikan lanjutan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Dalam memilih karier dan pendidikan lanjutan, siswa memerlukan perencanaan dalam mengambil keputusan. Pemilihan karier dan pendidikan lanjutan harus disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Oleh karena itu, peranan bimbingan konseling terutama bimbingan karier di sekolah sangat penting dan dibutuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pilihan karier dan pilihan pendidikan lanjutan siswa SMA dan SMK. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 4 Malang dan SMK Shalahuddin Malang kelas XI dan yang dijadikan sampel penelitian adalah 100 siswa SMA dan 91 siswa SMK. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen berupa angket dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan yang signifikan pilihan karier siswa berdasarkan jenis sekolah, SMA dan SMK (χ2 = 25,472 > r tabel 14.067; Asymp sig 0,001), (2) ada perbedaan yang signifikan pilihan pendidikan lanjutan siswa berdasarkan jenis sekolah, SMA dan SMK (χ2 = 70.489 > r tabel 7.815; Asymp sig 0,000), (3) tidak ada perbedaan yang signifikan pilihan karier dan pilihan pendidikan lanjutan siswa berdasarkan jenis sekolah, SMA dan SMK (χ2 = 17.824 < r tabel 32.671; Asymp sig 0.660), (4) ada perbedaan yang signifikan pilihan karier siswa ditinjau dari layanan bimbingan karier menurut pendapat siswa (χ2 = 18.657 > r tabel 14.067; Asymp sig 0,009), (5) ada perbedaan yang signifikan pilihan pendidikan lanjutan ditinjau dari layanan bimbingan karier menurut pendapat siswa (χ2 = 8.593 > r tabel 7.815; Asymp sig 0,035), (6) tidak ada perbedaan yang signifikan pilihan karier dan pilihan pendidikan lanjutan siswa ditinjau dari layanan bimbingan karier menurut pendapat siswa (χ2 = 30.262 > r tabel 32.671; Asymp sig 0,087). Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada beberapa pihak, yaitu (1) bagi konselor SMA bahwa bimbingan karier yang diberikan lebih difokuskan pada pemberian bantuan kepada siswa untuk melanjutkan studi, (2) bagi konselor SMK lebih difokuskan pada pemberian bantuan yang mengutamakan pilihan karier siswa yang sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya, (3) bagi pendidik/ guru diharapkan dapat bekerja sama membantu siswa agar dapat mencapai suatu prestasi yang optimal dan cita-cita yang sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki oleh siswa.

Pengaruh earning per share (EPS), return on equity (ROE) dan price earning ratio (PER) terhadap return saham pada perusahaan manufactur yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 2004-2006 / Mita Santi Yuniastri Bandi

 

Perkembangan pasar modal menunjukkan perkembangna yang luar biasa sejak semester 1 tahun 1989. hal ini bisa dilihat dari semakin bertambahnya jumlah perusahaan yang go public, besarnya nilai dana yang terserap dari masyarakat dan rata-rata volume dan nilai saham yang diperdagangkan setiap harinya. Aktivitas tersebut bisa juga dipengaruhi oleh adanya aktivitas dari para investor. Investasi dalam saham adalah kepemilikan atau pembelian saham-saham perusahaan lain oleh suatu perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan return atau tambahan pendapatan di luar pendapatan dari usaha pokoknya. Penanaman modal dalam bentuk saham memerlukan informasi yang akurat, sehingga investor tidak terjebak dalam kondisi yang meragukan karena investasi di bursa efek dinilai mempunyai resiko yang tinggi dengan pendapatan yang tinggi pula. Salah satu upaya yang telah dan terus dilaksanakan pemerintah adalah dengan meningkatkan peran pasar modal. Pasar modal tidak hanya diarahkan sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha sekaligus sebagai media investasi bagi masyarakat, sehingga melalui pasar modal potensi dan kreasi masyarakat dapat dikerahkan dan dikembangkan menjadi sesuatu kekuatan yang nyata bagi kemakmuran masyarakat. Perkembangan pasar modal Indonesia dapat dikatakan cukup pesat, hal ini nampak dari kegiatan untuk menarik pemodal asing yang terus mengalami peningkatan, dan kegiatan penawaran umum saham mencapai sekitar 80% dari jumlah dana yang dihimpun (Tjager dan Pramadi, 1996). Maraknya perdagangan pasar modal saat ini tidak terlepas dari peranan pemodal yang melakukan transaksi di pasar modal. Namun para investor tidak begitu saja melakukan pembelian saham sebelum melakukan penilaian yang baik terhadap emiten (perusahaan). Salah satu aspek yang menjadi bahan penilaian bagi investor adalah kemampuan emiten menghasilkan laba, apabila laba meningkat secara teori harga saham juga akan meningkat. Sebagaimana yang dikemukakan juga oleh Husnan (1990), bahwa kalau kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat. Harga saham di bursa efek ditentukan menurut hukum permintaan dan penawaran. Semakin banyak orang yang ingin membeli saham, maka harga saham akan cenderung naik, sebaliknya banyak orang ingin menjual saham tersebut, maka harga saham akan cenderung bergerak turun (Usman, 1990). Secara ideal harga saham memang akan mengalami kenaikan maupun penurunan sesuai dengan prospek perusahaan yang diperkirakan akan terjadi. Namun harga saham di pasar pada dasarnya telah memasukkan berbagai ekspektasi baik situasi perekonomian maupun prestasi perusahaan individual, sehingga banyak pertanyaan tentang kewajaran penilaian harga saham (Husnan, 1990). Beberapa indikator yang penting untuk melihat perkembangan pasar modal (Suta, 1998) adalah: 1) Indeks Harga Saham Gabungan, 2) Nilai Kapitalisasi Pasar, 3) Nilai Rata-rata Perdagangan per hari, 4) Porsi Perdagangan Investasi Asing dan Investasi Domestik. Namun dalam kenyataannya berinvestasi dalam saham dikatakan memang memiliki risiko yang tinggi karena saham sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam segala bidang, seperti ekonomi, politik, keamanan, dan lain sebagainya. Selain itu berinvestasi dalam saham juga berhadapan dengan resiko: 1) Capital loss, yaitu harga jual di bawah harga beli, sehingga investor mengalami kerugian sebesar selisih dari penjualan dan pembelian; 2) Risiko likuidasi, yaitu perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh apa-apa. Ini merupakan risiko yang terberat dari seorang pemegang saham; 3) Tidak mendapatkan dividen; 4) Delisting, yaitu keadaan dimana saham di delist dari bursa karena kinerjanya yang buruk; 5) Di-suspend, yaitu saham dihentikan perdagangannya oleh otoritas bursa efek karena sebab tertentu. Untuk menghindari atau memperkecil adanya risiko, para investor harus mengetahui informasi mengenai kinerja dari perusahaan yang menjual sekuritas tersebut, baik kinerja masa lalu, sekarang dan prediksi yang akan datang. Dengan demikian investor dapat menilai bagaimanakah prospek dari perusahaan yang menjual sekuritas tersebut, sehingga dapat menentukan pilihan dimana ia harus menanamkan investasinya dan berapa jumlahnya. Demikan juga bagi para pemilik usaha, informasi yang lengkap tentang kondisi perusahaannya dapat dijadikan sebagai sumber pengelolaan dimasa yang akan datang. Bentuk informasi yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian terhadap investasi antara lain Earning Per Share (EPS), Return On Equity (ROE), dan Price Earning Ratio (PER). Sehingga dengan ketiga model penilaian ini diharapkan nantinya para investor atau pemilik saham mampu memberikan penilaian agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik meneliti pengaruh EPS, ROE dan PER terhadap return saham, dengan obyek penelitian yang digunakan yaitu perusahaan manufactur yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ), judul yang diambil peneliti yaitu: “Pengaruh Earning Per Share (EPS), Return On Equity (ROE), dan Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufactur Yang Listing Di BEJ Tahun 2004 - 2006”.

Implementasi pembelajaran akuntansi berorientasi life skill serta kesesuaian praktik kerja industri berdasarkan kurikulum nasional dan lokal pada pola pendidikan sistem ganda di SMK Negeri 2 Kediri / Niken Hapsari Gusmeirina

 

Sekolah Menengah Kejuruan dalam mewujudkan lulusan yang berkompeten dalam memasuki dunia kerja diperlukan pengembangan kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan melalui Pendidikan Sistem Ganda. Tercapainya tujuan ini dilihat dari kesesuaian praktik kerja industri berdasarkan kurikulum. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Implementasi pembelajaran akuntansi Life Skill melalui Pendidikan Sistem Ganda, (2) Kesesuaian Praktik Kerja Industri dengan Kurikulum Nasional, dan (3) Kesesuaian Praktik Kerja Industri dengan Kurikulum Lokal SMK Negeri 2 Kediri. Jenis penelitian adalah deskriptif komparatif. Subyek penelitian siswa XII Akuntansi 2007. Teknik pengumpulan data yaitu angket, wawancara, dan dokumen. Analisis secara deskriptif berupa narasi serta menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Life skill yang didapat pembelajaran akuntansi SMK Negeri 2 Kediri melalui Pendidikan Sistem Ganda meliputi personal skill, social skill, academic skill dan vocational skill serta terdapat manfaat siswa yaitu siswa mendapat pengalaman, mengetahui cara kerja di dunia nyata, menambah pengetahuan dan keahlian (skill) yang nantinya sebagai bekal di masa depan. Praktik kerja industri yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Kediri telah sesuai dengan Kurikulum Nasional. Dari hasil penelitian terhadap operasionalisasi praktik kerja industri menunjukkan sebagian besar siswa yaitu 67,8% siswa menilai sedang (sesuai). Implementasi praktik kerja industri yang didasarkan pada kurikulum SMK Negeri 2 Kediri menunjukkan kesesuaian. Hal ini dapat diketahui dari sejumlah siswa yang bidang pekerjaan praktik industrinya termasuk pada kualifikasi akuntansi adalah 63,25% serta sebagian besar siswa yaitu 81,6% telah melakukan kompetensi yang didasarkan pada Kurikulum SMK Negeri 2 Kediri. Berdasarkan hasil penelitian maka kesimpulannya implementasi pembelajaran akuntansi life skill melalui PSG adalah sangat baik, namun terdapat kendala yang dihadapi siswa maka disarankan agar siswa lebih banyak meningkatkan personel skill vocational skill serta comunication skill dengan orang lain. Kesesuaian prakerin dengan Kurnas adalah baik namun terdapat ketidaksesuaian maka disarankan agar materi pelatihan dan fasilitas pelatihan disesuaiakan dengan tuntutan industri. Kesesuaian prakerin dengan KTSP SMK Negeri 2 Kediri adalah baik namun praktik siswa yang dilakukan kurang kepada akuntansi maka disarankan praktik pengerjaan siklus akuntansi perusahaan jasa dan dagang yaitu pencatatan transaksi keuangan, laporan keuangan dan skilus akuntansi dilakukan dalam praktik di industri.

Meningkatkan kemampuan menulis deskripsi dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan strategi adrafsi siswa kelas XI IPA di SMA Negeri XI Malang / Heri Suyano Isjunaedi

 

Membaca merupakan hal penting terutama bagi yang sedang menimba ilmu pengetahuan. Kegiatan membaca merupakan suatu usaha untuk menggali ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, dan memperkaya pengalaman. Dengan membaca anak akan memperoleh pengetahuan sesuai dengan lingkungannya dan bermanfaat bagi perkembangan daya pikirnya. Akan tetapi, jika anak kurang mampu membaca, maka ia mengalami kesulitan dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Berdasarkan Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 atau yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), salah satu penekanan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas I adalah membaca permulaan yang dapat diajarkan dengan menggunakan metode yang tepat, baik di luar maupun di dalam kelas. Akan tetapi, kenyataannya di dalam kelas, seperti di SD Negeri Karangwidoro II Kecamatan Dau Kabupaten Malang, masih terdapat siswa yang belum mampu membaca. Hal itu perlu mendapatkan perhatian serius di kalangan pendidik, terutama oleh guru yang mengajar di kelas I SD. Dalam proses pembelajaran, membaca terdiri atas dua tahap, yakni (1) membaca permulaan, dan (2) membaca lanjut. Pembelajaran membaca permulaan diberikan sejak siswa kelas I SD dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode yang diarahkan pada pengenalan simbol-simbol bunyi bahasa. Pengenalan simbol-simbol bunyi bahasa merupakan tahap awal yang perlu dikuasai siswa sebelum mampu membaca. Membaca permulaan merupakan tahapan penting dan mutlak dijalani siswa. Hal tersebut disebabkan membaca permulaan ditujukan untuk membentuk kemampuan dasar membaca yang memadai bagi siswa SD. Jika kemampuan membaca permulaan sudah terbentuk dengan baik, siswa akan mudah memahami dan menerapkan aspek kebahasaan dalam berkomunikasi. Sementara, pembelajaran membaca lanjut atau lazim disebut membaca pemahaman baru diberikan di kelas III SD. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan di sekolah dipengaruhi oleh faktor guru, siswa, materi, metode, dan penilaian. Dalam penelitian ini, faktor metode dan guru merupakan yang dominan mempengaruhi keberhasilannya. Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah perencanaan pembelajaran membaca permulaan dengan mengunakan metode SAS di kelas I SD Negeri Karangwidoro II Kecamatan Dau Kabupaten Malang?, (2) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan mengunakan metode SAS di kelas I SD Negeri Karangwidoro II Kecamatan Dau Kabupaten Malang?, dan (3) bagaimanakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran membaca permulaan dengan mengunakan metode SAS di kelas 1 SD Negeri Karangwidoro II Kecamatan Dau Kabupaten Malang? Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian survei. Data dalam penelitian ini adalah data perencanaan, pelaksanaan, dan data evaluasi dalam pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS. Sumber data, yakni guru dan siswa dalam konteks pembelajaran. Instrumen penelitian ini adalah peneliti yang bertindak sebagai pengumpul data dengan menggunakan instrumen penunjang yang berupa pedoman pengamatan, pedoman wawancara, dan pedoman cacatan lapangan. Sementara, data dianalisis melalui empat tahap, yakni (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penyimpulan dan verivikasi, serta (4) penarikan kesimpulan akhir. Hasil penelitian, disajikan berikut. Pertama, dalam hal perencanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS, guru kelas I SD N Karangwidoro II belum membuat persiapan pembelajaran dengan menggunakan metode SAS. Akan tetapi, dalam mengajar guru yang bersangkutan berpijak pada rancangan pembelajaran yang sudah ada. Adapun perencanaan pembelajaran tersebut meliputi (a) program tahunan, (b) program semester, (c) programpengajaran, (d) analisis materi pelajaran, (e) program satuan pelajaran, dan (f) rencana pembelajaran. Sementara, tahap perencanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS, yakni (a) pemilihan dan penetapan materi pembelajaran, (b) perumusan TPK, (c) perencanaan dan penetapan KBM, (d) pemilihan dan penetapan media atau sumber belajar, dan (e) perencanaan penilaian. Kedua, pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS dibagi dua tahap, yakni (a) membaca permulaan tanpa buku dan (b) membaca permulaan dengan menggunakan buku. Sementara, penerapan metode SAS guru juga menggunakan pendekatan konstruktivis. Pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan tanpa buku yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa secara umum siswa belum memiliki kesiapan yang baik dan memadai untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. Ketidaksiapan siswa yang dimaksud terkait dengan (a) kemampuan melafalkan, membedakan, mengingat-ingat kosakata (bahasa lisan), (b) minatnya terhadap pembelajaran, (c) pemahaman siswa terhadap perintah guru secara lisan, (d) perkembangan fisik, kesehatan, kemampuan pendengaran, perkembangan emosional dan sosial (keberanian, pengenalan sesama siswa), serta (e) latar belakang pengalamannya. Ketiga, dalam hal evaluasi pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS meliputi (a) penilaian yang dilakukan ketika pembelajaran berlangsung (process assessment) dan (b) penilaian pada akhir pembelajaran (product assesment). Kedua penilaian pembelajaran itu secara umum bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS. Berdasarkan kesimpulan di atas, dalam penelitian ini disarankan tiga hal. Saran-saran itu, yakni (a) bagi peneliti berikutnya disarankan untuk melakukan penelitian eksprimental yang bertujuan untuk meneliti perbedaan penguasaan pembelajaran membaca permulaan antara siswa yang diajarkan menggunakan model konvensional dengan model konstruktivis, (b) bagi kepala sekolah disarankan agar memberikan masukan dan dorongan kepada guru untuk membuat persiapan pembelajaran terlebih dahulu dan mengirim guru mengikuti pelatihan-pelatihan seperti dalam wadah MGMP dalam meningkatkan profesionalismenya, (c) kepada guru disarankan agar sebelum mengajar di kelas, terlebih dahulu membuat perencanaan pembelajaran. Selain itu, memahami secara komprehensif dalam hal penggunaan metode SAS supaya penggunaan metode SAS dalam pembelajaran membaca permulaan dapat dilaksanakan secara tepat, benar, serta optimal.

Pengaruh baruan pemasaran terhadap keputusan pembelian (studi pada konsumen Sentra Keramik Dinoyo Malang) / Ridho Satya Harpawan

 

Sentra Keramik Dinoyo merupakan salah satu UKM yang bergerak di bidang industri keramik yang memiliki ciri khas dan menjadi salah satu ikon Kota Malang. Dengan adanya ketidakstabilan kondisi ekonomi, seperti kenaikan harga minyak dunia, tentu akan berdampak pada eksistensi UKM tersebut. UKM bisa eksis jika memiliki kemampuan untuk menarik pasar sasaran. Mengingat pasar sasaran tidak lain adalah konsumen, maka perlu ada upaya untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen tersebut. Bauran pemasaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian konsumen sentra keramik Dinoyo Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran (X) yang terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), dan promosi (X4) terhadap keputusan pembelian (Y) baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli keramik Dinoyo dengan pesanan mulai dari bulan Januari 2006 sampai dengan bulan Nopember 2007. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 100 responden. Adapun teknik penentuan responden pada penelitian ini adalah dengan menggunakan simple random sampling. Penyebaran kuesioner dilaksanakan pada tanggal 23 Nopember sampai 14 Desember 2007. Sedangkan analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bauran pemasaran berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen sentra keramik Dinoyo Malang. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi (B1) 0,505, thitung = 5,374, dan taraf signifikansi adalah 0,000, nilai B2 = 0,410; thitung = 3,627 dengan taraf signifikasi 0,000, nilai B3 = 0,452; thitung = 3,267 dengan taraf signifikasi 0,002, nilai B4 = 0,237; thitung = 2,535 dengan taraf signifikasi 0,013. Selain itu, bauran pemasaran juga berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen sentra keramik Dinoyo Malang. Hal ini dibuktikan dengan nilai F hitung 242,288; dan taraf signifikansinya 0,000. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan hasil penelitian di atas adalah (1) Sentra keramik Dinoyo Malang sebagai salah satu ikon kota Malang hendaknya selalu menjaga kualitas dan ciri khas sebagai identitas yang merupakan daya saing dalam dunia keramik di Indonesia, (2) Bauran pemasaran menjadi sangat penting bagi peningkatan keputusan pembelian sehingga sentra keramik Dinoyo dapat bertahan bahkan memenangkan persaingan, jadi diharapkan untuk selalu mengevaluasi dan meningkatkan implementasi dari bauran pemasaran, (3) Dengan adanya teknologi yang makin lama makin maju seyogyanya para perajin juga mengadaptasi teknik pembuatan keramik dengan tidak mengabaikan ciri khas keramik Dinoyo, (4) Untuk Pemerintah Kota Malang hendaknya lebih memperhatikan kondisi sentra keramik Dinoyo terutama dari segi penataan kampung wisata dan area parkir yang aman dan memadai. Caranya adalah membongkar tugu yang ada di pintu masuk Jalan MT Haryono IX sehingga memudahkan kendaraan besar seperti bus untuk masuk. Kemudian mengadakan tempat parkir di depan pabrik Keramik Dinoyo Malang. Kesemuanya itu bertujuan untuk meningkatkan animo masyarakat untuk mengunjungi sentra keramik Dinoyo Malang, (5) Untuk penelitian selanjutnya agar lebih memperluas cakupan penelitian dengan meneliti 16 perajin gips dan 32 showroom keramik di sentra keramik Dinoyo Malang

Pengaruh perubahan return on assets, perubahan debt to equity ratio, dan perubahan cash ratio terhadap perubahan dividend payout ratio pada perusahaan makanan dan minuman yang go public di BEJ / Trisna Yusitawati

 

Kebijakan dividen pada dasarnya adalah penentuan pembagian keuntungan kepada pemegang saham dan keuntungan yang ditahan dalam perusahaan. Besar porsi keuntungan yang diberikan kepada pemegang saham dinamakan Dividend Payout Ratio. Faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan dividen terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Studi ini mengangkat faktor internal perusahaan yaitu Perubahan Return On Assets (ROA), perubahan Debt to Equity Ratio (DER), dan perubahan Cash Ratio. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh baik secara simultan maupun parsial pengaruh perubahan Return On Assets (ROA), perubahan Debt to Equity Ratio (DER), dan perubahan Cash Ratio terhadap perubahan Dividend Payout Ratio (DPR). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman yang go public di BEJ tahun 2000 ? 2006. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dan diambil 5 perusahaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Perubahan Return On Assets (ROA), perubahan Debt to Equity Ratio (DER), dan perubahan Cash Ratio secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perubahan Dividend Payout Ratio (DPR), (2) Perubahan Return On Assets (ROA) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap perubahan Dividend Payout Ratio (DPR), (3) Perubahan Debt to Equity Ratio (DER) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan Dividend Payout Ratio (DPR), (4) Perubahan Cash Ratio secara parsial berpengaruh signifikan terhadap perubahan Dividend Payout Ratio (DPR). Dari hasil analisis dapat diberikan saran bahwa: (1) Perusahaan makanan dan minuman yang go public di BEJ harus menilai dengan baik faktor-faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio (DPR), (2) Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak rentangan periode penelitian yang lebih panjang dan menambah faktor-faktor yang berpengaruh serta menggunakan metode analisis yang berbeda, (3) Oleh karena adanya perbedaan hasil antara penelitian-penelitian sebelumnya dengan hasil penelitian ini, yaitu pengaruh antara Return On Assets (ROA) dan Dividend Payout Ratio (DPR). Penelitian ini ikut mendukung penelitian yang memperoleh hasil berpengaruh positif. Jadi penelitian berikutnya bisa mengkaji lebih dalam antara Return On Assets (ROA) dan Dividend Payout Ratio (DPR), (4) Bagi calon investor dalam menerima informasi pembagian dividen sebaiknya lebih teliti dalam memakainya.

Pengaruh personal selling dan citra toko terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada Bandung Sport) / Slamet H. Pradhana

 

Dewasa ini kita dihadapkan pada suatu sistem pemasaran modern. Perkembangan bisnis yang kompetitif membuat para pemasar selalu mengembangkan ide dan gagasan untuk memahami keinginan dan kebutuhan konsumen Dalam memahami keputusan pembelian konsumen, pemasar harus mempelajari tahap-tahap dalam proses pembelian produk dan juga pemasar harus dapat mengkomunikasikan produk yang ditawarkan.. Promosi penjualan adalah jenis komunikasi pemasaran yang sering dipakai oleh pemasar. Dalam promosi penjualan peran dari personal selling atau penjualan tatap muka sangatlah penting. Begitupun Citra sebagai bagaian dari komunikasi pemasaran adalah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Bandung Sport adalah toko ritel yang menerapkan kualitas pelayanan dari personal selling agar nantinya dapat menciptakan citra toko yang positif yang sesuai dengan pasar sasarannya, yaitu anak muda. Rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah metode deskriptif korelasional. dan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.

Strategi produk pada rumah makan ayam bakar Wong Solo Cabang Malang / Deni Ayyubilluthfi

 

Semakin meningkatnya kebutuhan manusia (konsumen) dan seiring dengan berkembangnya teknologi maka perlu adanya penyediaan sarana dan prasarana. Dalam persaingan dunia usaha, perusahaan dituntut agar mampu bersaing dan menciptakan produk yang memiliki kualitas yang lebih baik serta berstrategi dalam menarik konsumen. Pelaksanaan strategi yang dilakukan oleh perusahaan adalah beraneka ragam diantaranya strategi produk, strategi penetapan harga, strategi distribusi, strategi promosi. Dari berbagai strategi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut, maka perusahaan harus menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan salah satu strategi tersebut. Salah satu strategi yang dilakukan perusahaaan dalam upaya untuk memksimalkan penjualan adalah stategi produk. Tujuan dari penulisan ini adalah (1) untuk mengetahui pelaksanaan strategi produk pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang. (2) Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan strategi produk pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang. (3) Keunggulan bersaing/kompetisi pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang. Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang dirintis tahun 1991 oleh Poespo Wardoyo. Manajemen perusahaan kini telah menerapkan bisnis waralaba didalam pengembangan usahanya. Pelaksanaan PKL dilaksanakan kurang lebih selama 1 bulan dimulai tanggal 25 Januari sampai dengan 25 Pebruari 2007 dan ditempatkan dibagian customer service yang berhubungan langsung dengan konsumen. Pelaksanaan Strategi Produk pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang meliputi. Segmennya adalah masyarakat yang tinggal di daerah Malang, Batu, dan Kepanjen yang berpenghasilan menengah keatas dan menyukai masakan tradisional Jawa. Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Memposisikan dirinya sebagai Top Leader dalam industri rumah makan jenis Java Specially Restaurant. Pelaksanaan Strategi Produk pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang meliputi (1) Perluasan Product Mix (2) Difersifikasi Layanan. Selain itu Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo juga mengutamakan atribut produk yang merupakan tindak lanjut dari produk dan guna mempertahankan pertumbuhan produk, atribut produk adalah unsur- unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Adapun atribut produk yang diterapkan oleh Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo antara lain: (1) Merek (2) Kemasan (3) Pemberian Label (4) Layanan Pelengkap (5) Jaminan. Faktor yang mendukung pelaksanaan strategi produk pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo adalah (1) Diferensiasi produk (2) Diversifikasi pelayanan (3) Merek ?Ayam Bakar Wong Solo? yang sudah mempunyai bargain di pasaran (4) Jaminan ?Halalan Thayyiban? dalam pelaksanaan bisnisnya (5) Label ?Indonesia Cuisine? ciri khas dari Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (6) Standarisasi bahan baku dan produk (7) Kemasan yang menarik (8) Citarasa khas Solo. Sedangkan faktor penghambatnya adalah (1) Barang yang dijual tergolong bahan yang tidak tahan lama (2) Kondisi ekonomi masyarakat (3) Lokasi dan sistem pergudangan yang kurang memadai.

Pemahaman orang tua tentang mendidik anak usia dini di Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo / Meyla Zukhrufi Fatmarahadi

 

Pendidikan bagi anak sangatlah penting, khususnya pendidikan sejak usia dini. Telah menjadi hak setiap anak memperoleh pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan dan meningkatkan sumber daya manusia. Di setiap wilayah di Indonesia sebenarnya banyak terdapat anak usia dini baik yang sudah memasuki lembaga pendidikan formal seperti TK (Taman Kanak-kanak) atau RA (Raudhatul Athfal) dan pendidikan nonformal seperti Kelompok Bermain (KB). Disisi lain, banyak juga yang belum memasuki lembaga pendidikan formal dan nonformal tersebut. Seperti halnya di Kelurahan Paju, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, banyak sekali terdapat anak usia dini. Masyarakat di daerah penelitian ini bisa dikatakan termasuk daerah yang belum modern. Selain itu, masyarakatnya memiliki bermacam-macam karakteristik. Peran orang tua sangat vital dalam pendidikan anak usia dini. Selain itu, minat mereka pada pendidikan juga kurang, karena orang tuanya kurang memahami tentang ilmu bagaimana mendidik dan apakah hakikatnya mendidik anak dengan baik. Sehingga perlu diketahui seberapa besar pemahaman orang tua tentang mendidik anak usia dini Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman orang tua pendidikan anak usia dini. Selain untuk mengetahui pemahaman orang tua, skripsi ini juga bertujuan untuk mengetahui intensitas upaya orang tua dalam mengembangkan pendidikan anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitif. Adapun penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik area random sampling, yaitu teknik sampel yang dilakukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi. Jumlah populasi sebanyak 150 orang dan sampel yang diambil sebanyak 50 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang pendidikan anak usia dini, yang termasuk katgori sangat baik yaitu pada pertanyaan tentang cara mengembangkan pendidikan moral bagi anak usia dini, cara mengembangkan pendidikan bahasa dan komunikasi bagi anak usia dini, cara mengembangkan pendidikan fisik bagi anak usia dini, cara mengembangkan pendidikan gizi/nutrisi bagi anak usia dini, dan cara mengembangkan pendidikan seni bagi anak usia dini; yang termasuk kategori baik yaitu pada pertanyaan tentang tujuan pendidikan anak usia dini, dan cara mengembangkan pendidikan agama bagi anak usia dini; yang termasuk kategori cukup yaitu pada pertanyaan tentang usia yang termasuk anak usia dini, pengertian pendidikan anak usia dini, cara mengembangkan pendidikan pola pikir anak usia dini bagi anak usia dini, dan cara mengembangkan pendidikan sosial-emosional bagi anak usia dini; yang termasuk kategori kurang yaitu pada pertanyaan manfaat pendidikan anak usia dini Kemudian pada upaya orang tua mendidik anak usia dini dalam berbagai aspek, yang termasuk kategori sangat baik yaitu aspek moral dan nilai-nilai agama, aspek pengembangan gizi anak, dan aspek pengembangan fisik anak. Kemudian yang termasuk kategori baik adalah aspek pengembangan bahasa anak, aspek pengembangan kognitif anak, aspek pengembangan sosial-emosional anak, dan aspek pengembangan seni anak. Sehingga pemahaman orang tua antara teori dengan prakteknya dalam kehidupan sehari-hari orang tua di Kelurahan Paju, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo hampir seimbang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada orang tua anak usia dini agar mengembangkan perannya sebagai orang tua dalam keluarga dengan memberi contoh dan mendidik anaknya menjadi lebih baik, dan menambah pengetahuan dalam mendidik anak khususnya sejak dini, serta memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuannya. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, disarankan menyediakan bahan penunjang kepustakaan serta sebagai bahan penunjang kurikulum PAUD dengan penyuluhan pada orang tua, kepustakaan, serta sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan terhadap permasalahan khususnya tentang pemahaman orang tua terhadap perkembangan anak, khususnya anak usia dini. Bagi Pengambil Kebijakan Berkait dengan Pendidikan Anak Dini Usia yaitu penyelenggara program PAUD, disarankan untuk meningkatkan dan lebih memperhatikan program-program untuk pendidikan anak usia dini, serta memberikan fasilitas pendidikan anak usia dini dan mengadakan kegiatan-kegiatan yang menunjang pendidikan anak usia dini berupa penyuluhan, seminar, atau menyebarkan selebaran yang berupa informasi agar orang tua lebih meningkatkan pendidikan untuk anak usia dini. Bagi pemerintahan Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo, disarankan untuk lebih memperhatikan pendidikan di daerahnya secara menyeluruh dan memberikan fasilitas yang memadai serta layanan pendidikan yang maksimal kepada masyarakatnya.

Upacara ruwatan masal di kayangan api Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro: suatu studi komersialisasi tradisi / Andamari Kusuma Wardhany

 

Upacara ruwatan merupakan salah satu upacara yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Kabupaten Bojonegoro. Upacara ruwatan ini bertujuan untuk membuang sengkolo atau bencana yang ada pada tubuh seseorang yang mempunyai sukerto (kotoran). Bentuk pelaksanaan upacara ruwatan dilakukan secara masal oleh masyarakat Kabupaten Bojonegoro dengan harapan bencana yang akan menimpa hidupnya bisa terlepas dan kembali menjadi orang yang bersih. Upacara ruwatan masal masih dilaksanakan dan mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan (1) menjelaskan terjadinya proses perubahan bentuk upacara ruwatan di daerah Bojonegoro, (2) menjelaskan perubahan makna upacara ruwatan dari para pelaku Upacara ruwatan, (3) menjelaskan proses komersialisasi dalam upacara ruwatan masal di Kayangan Api. Metode yang digunakan dalam dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari hasil observasi proses upacara ruwatan masal, hasil wawancara dari para informan, dan data tertulis yang berupa dokumentasi desa. Hasil penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa upacara ruwatan masih penting untuk dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat Bojonegoro. Pelaksanaan upacara ruwatan dilakukan oleh masyarakat Bojonegoro dengan berbagai cara. Mengadakan pertunjukan wayang bagi masyarakat yang mampu; dilakukan dengan cara hanya mengundang dalang tanpa melakukan pertunjukan wayang dan gamelan bagi yang kurang mampu; dilakukan dengan memanggil kiai dengan pembacaan ayat suci Al- Qur?an sebagai media pengambilan sukerto bagi yang beragama Islam. Ketiga bentuk pelaksanaan ini dilakukan secara individu. Upacara ruwatan di jaman modern ini dilakukan secara masal di Kayangan Api dengan koordinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Bojonegoro. Terjadi perubahan bentuk upacara ruwatan dari ruwatan individu menjadi ruwatan masal yang disebabkan adanya biaya yang sangat tinggi bila dilaksanakan secara individu. Upacara ruwatan masal terjadi melalui tiga tahap pelaksanaan yaitu tahap pra acara, tahap acara inti, dan tahap penutupan. Upacara ruwatan masal ini dikemas semenarik mungkin agar layak untuk dijual dan layak untuk dikunjungi. Perubahan bentuk upacara ruwatan menyebabkan terjadinya perubahan makna. Tingkat kesakralan yang dirasakan pada upacara ruwatan telah luntur seiring diadakan secara masal. Dengan adanya sponsor yang mendukung acara menyebabkan perubahan makna upacara dari makna religi menjadi makna yang berorientasi ekonomi. Please purchase 'e-PDF Creator' on http://www.e-pdfconverter.com to remove this message. Trial version of e-PDF Document Converter Trial version of e-PDF Document Converter Upacara ruwatan masal dilakukan satu kali dalam satu tahun pada bulan suro terhitung sejak tahun 2001. Upacara ruwatan masal telah melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro sebagai panitia pelaksana yang didukung oleh LSM Mutitomo dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) serta para sponsor. Tempat pelaksanaan upacara ruwatan masal adalah di Kayangan Api, yaitu sumber api abadi yang berada di tengah-tengah hutan dan tempat ini dianggap sakral oleh penduduk Bojonegoro. Terjadi upaya komersialisasi tradisi dalam pelaksanaan upacara ruwatan masal. Tujuan dari adanya komersialisasi ini adalah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Bojonegoro. Adanya komersilialisasi tradisi ini telah menguntungkan banyak pihak yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro dan para pendukungnya yaitu LSM Mutitomo, Pepadi, dan para sponsor yang mendukung. Sponsor-sponsor adalah PT. Gudang Garam Cabang Bojonegoro, Rumah Makan Singapore, CV. Noeralisa ?Athis?, dan Rumah Makan New Planet 99. Dengan adanya para sponsor ini merupakan implementasi dari adanya komersialisasi tradisi.

Pengaruh model pembelajaran (kontekstual VS konvensional) dan gaya belajar terhadap pemahaman konsep/prinsip, kemampuan psikomotor dan pemecahan masalah pada mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang / Ridwan

 

Pesatnya perkembangan dunia industri dewasa ini membawa dampak dalam sistem pendidikan teknologi dan kejuruan dan kebutuhan tenaga kerja di Indonesia. Pendidikan teknologi dan kejuruan selama ini didominasi oleh model pembelajaran konvensional, sehingga sekolah-sekolah tradisional seringkali gagal menyiapkan lulusannya untuk masuk dunia kerja karena kurang pengalaman kerja dan kurang mampu memecahkan masalah nyata sehari-hari. Pembelajaran model ini menekankan pada pembiasaan dan latihan, sedangkan kemampuan memahami konsep dan pemecahan masalah belum dilakukan secara optimal. Oleh sebab itu, diperlukan model alternatif pembelajaran teknik dan kejuruan yang dapat mengembangkan pemahaman konsep, kemampuan psikomotor dan pemecahan masalah. Model pembelajaran kontekstual merupakan model alternatif yang diajukan dalam penelitian ini karena model ini memadukan beberapa teknik yang membantu mahasiswa secara aktif dan reflektif peduli terhadap lingkungan dan memahami apa yang dipelajari. Komponen utama dari model pembelajaran kontekstual adalah membuat konteks yang bermakna, belajar dari dorongan diri sendiri, melakukan pekerjaan yang berarti, kolaborasi, berfikir kritis dan kreatif, dan penilaian otentik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji (1) efektivitas model pembelajaran kontekstual terhadap pencapaian hasil belajar mahasiswa dalam pemahaman konsep/prinsip kelistrikan (PK), kemampuan psikomotor (KP) dan pemecahan masalah (PM) bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, (2) perolehan hasil belajar mahasiswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik dalam PK, KP dan PM. (3) pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap hasil belajar dalam PK, KP dan PM. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental dengan pretest-posttest control group design dengan rancangan faktorial 2 x 2. Penelitian ini dilaksanakan pada program studi Teknik Elektro FT UNP, tahun akademik 2006/2007 pada mata kuliah sistem kendali. Perlakuan pembelajaran dilakukan selama 10 kali efektif tatap muka, 2 sks/hari/minggu, 50 menit per jam sks; atau setara dengan 16 jam 40 menit. Subjek penelitian berjumlah 64 orang terdiri dari 32 orang untuk kelompok pembelajaran kontekstual dan 32 orang untuk kelompok konvensional. Subjek ditentukan secara intact group dengan pertimbangan bahwa berdasarkan distribusi hasil pretest tiap kelas diketahui memiliki karakteristik yang sama. Variabel bebas penelitian ini adalah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran konvensional. Variabel moderator adalah gaya belajar dengan tipe visual dan kinestetik. Sedangkan variabel terikat adalah pemahaman konsep/prinsip kelistrikan, kemampuan psikomotor dan kemampuan pemecahan masalah. Mahasiswa pada kedua kelompok model pembelajaran diberikan pretest dan posttest. Angket dan test divalidasi dengan bantuan pembimbing dan ahli kemudian dihitung nilai indeks reliabilitas dari kedua instrumen. Sebelum menguji hipotesis, dilakukan uji normalitas dan homogenitas antar kelompok. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa data yang terkumpul normal dan homogen. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan rancangan MANCOVA 2 x 2 faktorial menggunakan program SPSS 10.0 PC FW. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan hasil-hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, terdapat perbedaan yang signifikan dalam pemahaman konsep/prinsip kelistrikan mahasiswa antara kelompok kontekstual dan kelompok konvensional (F = 20,503; p<0,05). Kedua, terdapat perbedaan yang signifikan dalam pemahaman konsep/prinsip kelistrikan mahasiswa antara kelompok gaya belajar visual dan kinestetik (F = 11,941; p<0,05). Ketiga, tidak terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap pemahaman konsep/prinsip kelistrikan (F = 0,149; p>0,05). Keempat, terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan psikomotor mahasiswa antara kelompok kontekstual dan kelompok konvensional (F = 5,500; p<0,05). Kelima, terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan psikomotor mahasiswa antara kelompok gaya belajar visual dan kinestetik (F = 4,839; p<0,05). Keenam, tidak terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan gaya belajar. terhadap kemampuan psikomotor (F = 0,003; p>0,05). Ketujuh, terdapat perbedaan yang signifikan dalam pemecahan masalah mahasiswa antara kelompok kontekstual dan kelompok konvensional (F = 5,806; p<0,05) Kedelapan, terdapat perbedaan yang signifikan dalam pemecahan masalah mahasiswa antara kelompok gaya belajar visual dan kinestetik (F= 5,351; p<0,05). Kesembilan, tidak terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap pemecahan masalah (F = 0,234; p>0,05) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual lebih efektif dari pada model pembelajaran konvensional dalam pemahaman konsep/ prinsip kelistrikan, kemampuan psikomotor dan pemecahan masalah karena model pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada kegiatan berfikir kritis dan kreatif; belajar dari dorongan sendiri, kolaborasi: mengerjakan pekerjaan yang berarti dan penilaian otentik Untuk penelitian selanjutnya disarankan agar mempertimbangkan variabel lain seperti sikap, motivasi atau jenis kelamin dan lain-lain. Diharapkan pula jurusan?jurusan lain di Universitas Negeri Padang; sekolah-sekolah teknik dan kejuruan; dan lembaga pendidikan teknik lainnya dapat menerapkan pembelajaran kontekstual ini sebagai model alternatif untuk meningkatkan hasil belajar dalam pemahaman konsep, kemampuan psikomotor dan pemecahan masalah

Implementasi sistem informasi manajemen pada administrasi akademik perguruan tinggi online (studi kasus di Universitas Lampung) / Sumadi

 

Pembangunan pendidikan di Indonesia saat ini lebih diarahkan pada peningkatan mutu, agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu menghadapi persaingan global. Begitu pula manajemen di perguruan tinggi, dituntut untuk lebih efektif dan efisien. Implementasi sistem informasi manajemen untuk administrasi akademik diharapkan dapat mempercepat proses, menghasilkan data yang akurat serta memiliki tingkat keamanan yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan mutu manajemen dan lulusan. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang implementasi Sistem Informasi Administrasi Akademik (SIAKAD) Online di Unila. Adapun fokus yang dicermati dalam penelitian ini adalah; Proses manajemen yang meliputi (a) organisasi, (b) perencanaan, (c) penganggaran, (d) pelaksanaan program, (e) evaluasi dan pelaporan, serta (e) sikap dan perilaku dosen dan mahasiswa terhadap program SIAKAD Online. Berdasarkan karakteristik subyek dan fokusnya, penelitian ini meng-gunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan rancangan studi kasus. Untuk mengungkap fenomena dalam penelitian ini dilakukan pengamatan secara mendalam dengan latar yang alami. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan pengkajian dokumen. Analisis data dengan teknik induktif-konseptualistik. Adapun pengecekan keabsahan data dilakukan melalui kriteria kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas data penelitian. Temuan penelitian ini adalah: Pertama, perencanaann SIAKAD Online melalui pendekatan bottom up dengan minta masukan dari fakultas dan jurusan, dan top down dengan memperhatikan arahan dari Dirjen Dikti Depdiknas, dan Renstra Unila. Perencanaan pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras, ditangani oleh dosen Unila sendiri yang menjalin kerja sama dengan Central Exellen Microsoft dan PT Telkom. Kedua, struktur organisasi SIAKAD Online, masih merupakan bagian dari UPT Pusat Komputer, dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung-jawab kepada Rektor. Pengelola SIAKAD Online dibutuhkan orang-orang yang memiliki keahlian di bidangnya, sehingga dapat bekerja secara profesional, dan harus memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi. Ketiga, sumber pembiayaan SIAKAD Online berasal dari (a) iuran mahasiswa, (b) penerimaan negara bukan pajak, (c) APBN, (d) hibah, (e) block grand, dan 6) income generate, sedangkan dalam pertanggungjawaban anggarannya merupakan bagian dari Unila secara keseluruhan mengikuti ketentuan APBN. Keempat, aplikasi perangkat lunak SIAKAD Online menggunakan back end database Oracle dengan mesin IBM serta HP Proliant dan Operating System Linux ES 3. Untuk aplikasi server-nya menggunakan Preprocessor Hipertext Programming berjumlah 6 server. Pengelolaan bandwidth dilakukan oleh mesin gatedial.unila.ac.id dengan sistem operasi Free BSD dan Traffic Shaper Altq. Sistem jaringan yang digunakan untuk intranet berbentuk bintang bertingkat, sedangkan jaringan untuk internet disediakan oleh switch yang terdapat di BBS Switching, dan server-nya ter-dapat di simpul MISTC. Pengguna utama SIAKAD Online adalah; maha-siswa, dosen, ketua jurusan, ketua program studi, dan Pembantu Dekan I. Kelima, Evaluasi pelaksanaan program SIAKAD Online dilakukan oleh Tim Monev dibawah koordinasi Pembantu Rektor I Unila, meliputi proses, prosedur operasi, pelaksanaan, pengamanan dan kendala serta ke-rusakan yang terjadi. Laporan pelaksanaan program SIAKAD Online berupa LAKIP dan digabung dengan Laporan Tahunan Unila secara keseluruhan. Keenam, sikap dosen terhadap implementasi SIAKAD Online pada awalnya banyak yang menolak yaitu para dosen yang berusia lanjut dan gagab teknologi. Perilaku dosen terhadap implementasi SIAKAD Online dapat dikategorikan; (a) dosen yang sejak awal menerima dengan baik dan melaksanakan tugas secara mandiri, (b) dosen yang dari awal menerima dengan baik tetapi belum melaksanakan tugas secara mandiri, dan (c) dosen yang sejak awal sampai sekarang masih menolak. Sikap mahasiswa terhadap implementasi SIAKAD Online sebagian besar menyambut dengan baik serta merasa senang dan hanya sebagian kecil kurang senang. Perilaku mahasiswa sangat aktif mengakses SIAKAD namun, sebagian besar masih mengguna-kan jaringan intranet. Saran untuk penyelenggara; (a) harus diperhatikan aspek perangkat keras, perangkat lunak, sumberdaya manusia, dan manajemen dengan cermat dan proporsional; (b) perlu dilakukan pengkajian dan peninjauan organisasi SIAKAD Online agar sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan organisasi; (c) perlu penggalian dana yang lebih intensif dari berbagai sumber untuk pembiayaan SIAKAD Online; (d) infrastruktur program SIAKAD Online, masih harus ditingkatkan baik jumlah maupun kapasitasnya; (e) sumberdaya manusia yang terlibat dalam pelaksanaan SIAKAD Online perlu ditingkatkan kemampuan dan ketrampilannya; (f) evaluasi program SIAKAD Online seyogyanya juga mengevaluasi keterpaduan sistemnya, pengoperasiannya, pengamanannya, dan prosedurnya; (g) perlu upaya khusus untuk membina dan melatih para dosen yang masih menolak dan gagap teknologi, sebab melalui sosialisasi saja tidak cukup.

Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi, iklim organisasi, kepuasan kerja guru dan komitmen guru dengan kinerja guru SMA negeri di Kabupaten Buton dan Kota Bau-bau / La Ode Usa

 

Salah satu masalah pendidikan adalah kinerja guru yang kurang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran apakah ada hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi, iklim organisasi, kepuasan kerja guru dan komitmen guru dengan kinerja guru SMA Negeri di Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau. Penelitian ini menggunakan rancangan survei korelasional. Pengumpulan data menggunakan angket. Sumber data adalah 222 guru PNS dengan tehnik distratified proportional random sampling. Data deskriptif yakni persentase.Analisis jalur terdiri dari lima blok. Hasil penelitian deskriptif menunjukkan bahwa.tingkat gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim organisasi tergolong baik, budaya organisasi tergolong kuat, guru tergolong tidak puas bekerja, komitmen guru tergolong rendah, serta kinerja guru tergolong tinggi. Sedangkan, hasil penelitian jalur hubungan langsung menunjukkan bahwa: 1) ada hubungan langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya organisai, 2) ada hubungan langsung yang signifikan secara simultan atau parsial antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi dengan iklim organisasi, 3) ada hubungan langsung yang tidak signifikan secara parsial antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi dengan kepuasan kerja guru. Ada hubungan langsung yang signifikan antara iklim organisasi dengan kepuasan kerja guru. Ada hubungan langsung yang signifikan secara simultan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi dan iklim organisasi dengan kepuasan kerja guru, 4) ada hubungan langsung yang tidak signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi secara parsial dengan komitmen guru. Ada hubungan langsung yang signifikan antara iklim organisasi, kepuasan kerja guru secara parsial dengan komitmen guru. Ada hubungan langsung yang signifikan secara simultan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi iklim organisasi dan kepuasan kerja guru dengan komitmen guru, 5) ada hubungan langsung yang tidak signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi, iklim organisasi, kepuasan kerja guru secara parsial dengan kinerja guru.Ada hubungan langsung yang signifikan antara komitmen guru dengan kinerja guru. Ada hubungan langsung yang signifikan secara simultan gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi, ilim organisasi, kepuasan kerja guru dan komitmen guru dengan kinerja guru. Sementara itu, hasil penelitian jalur hubungan tidak langsung menunjukkan bahwa: 1) ada hubungan tidak langsung yang tidak signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim organisasi melalui budaya organisasi, 2) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru melalui budaya organisasi dan iklim organisasi. Ada hubungan tidak langsung yang tidak signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru melalui budaya organisasi. Ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru melalui iklim organisasi, 3) ada hubungan tidak langsung yang tidak signifikan antara budaya organisasi dengan kepuasan kerja kerja guru melalui iklim organisasi, 4) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan komitmen guru melalui budaya organisasi, iklim organisasi, dan kepuasan kerja guru, 5) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara budaya organisasi dengan komitmen guru melalui iklim organisasi dan kepuasan kerja guru, 6) Ada hubungan tidak langsung yang tidak signifikan antara iklim organisasi dengan komitmen guru melalui kepuasan kerja guru, 7) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru melalui budaya organisasi, iklim organisasi, kepuasan kerja guru, dan komitmen guru, 8) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara budaya organisasi dengan kinerja guru melalui Iklim organisasi, kepuasan kerja guru, dan komitmen guru Ada hubungan tidak langsung yang tidak signifikan antara budaya organisasi dengan kinerja guru melalui iklim organisasi Ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara budaya organisasi dengan kinerja guru melalui kepuasan kerja guru Ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara budaya organisasi dengan kinerja guru melalui komitmen guru terhadap organisasi, 9) Ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara iklim organisasi dengan kinerja guru melalui kepuasan kerja guru dan komitmen guru, 10) Ada hubungan tidak langsung yang tidak signifikan antara kepuasan kerja guru dengan kinerja guru melalui komitmen guru. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka: 1) Kepala Dinas Diknas Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau disarankan agar hasil penelitian tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi, iklim organisasi, kepuasan kerja guru, komitmen guru serta kinerja guru dapat dijadikan dasar dalam menetapkan kebijakan pembangunan dalam bidang pendidikan pada tingkat persekolahan, 2) Kepala SMA Negeri di Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau disarankan agar hasil penelitian tentang gaya kepemimpina kepala sekolah, budaya organisasi dan iklim organisasi dapat dijadikan dasar dalam menentukan strategi peningkatan kepuasan kerja guru, komitmen guru dan kinerja guru serta upaya pengembangan kebijakan dan manajemen organisasinya, 3) mahasiswa program manajemen terutama program manajemen pendidikan disarankan agar hasil penelitian tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi, iklim organisasi, kepuasan kerja guru, dan komitmen guru serta kinerja guru dapat dijadikan sebagai salah satu informasi ilmiah, 4) peneliti lanjutan disarankan agar menguji variabel lain yang secara teoritis maupun empirik berhubungan dengan kinerja guru.dan melakukan perubahan terhadap teori yang memiliki peranan yang lemah terhadap peningkatan kinerja guru sehingga didapatkan teori baru yang lebih fungsional.

Penerapan belajar kooperatif model "Team Assisted Individualization" (TAI) untuk pemahaman konsep persamaan kuadrat pada siswa kelas III SLTP / Moch. Anwar

 

Analisis struktur kristal zeolit di Desa Kedung-Banteng Kecamatan Turen Malang Selatan dengan metode difraksi sinar-X (X-RD) / Ribut Sulichati

 

Telahd ilakukanp enelitianm engenapi engaruhs uhud anw aktu sintering terhadapn ilai konstantak isi kristal dan sistemk ristal dari fase-fasey ang muncul dalam sampel bahan zeolit yang berasal dari suatu tempat berpotensi di Desa Kedung-bantenKg ecamatanT uren Malang Selatany angm empunyaik enampakkan fisik berwamak rem denganm enggunakanm etoded ifraksi sinar-X. Sampelb ahand ipreparasim elalui berbagaip rosesa ntaral ain penggerusaIn, kalsinasiy aitu pemanasanp adas uhu3 00"C selama2 jam yang bertujuanu ntuk menguapkanu ap air dan unsurk arbon.K emudiand ilanjutkan denganp roses penggerusaInI, yang selanjutnyaz eolit yang sudahh alus disaringd engan menggunakasnc renebr erukuran1 20m esh.S etelahit u bahand isinteringd engan variassi uhu 5000C( Bl ), 6000C( B2), 7000C( 83) dan 8000C( B4) danv lriasi wakru sintering3 jam (Cl) dan5 jam (C2). Kemudianb ahand ianalisisd engand ifraksi sinar-Xd an untuk memperolehn ilai konstantak isi kristalnyam enggunakans oftware cellref Hasil penelitianin i menunjukkanb ahwas uhud an waktus interingt idak berpengaruthe rhadapn ilai konstantak isi sampebl ahanz eolit akant etapis uhud an waktus interingb erpengaruthe rhadapfa se-faseya ngt erbentukd idalams ampebl ahan zeolit, sistem kristal yang diperoleh dengan variasi suhu dan waktu sintering antara laino rthorombikt,e tragonaml, onoklinikd ant riklinik.

Peranan kepala sekolah dalam peningkatan sarana dan prasarana pendidikan (studi kasus di Sekolah Dasar Negeri Mayangan IV Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo) / Edy Purnomo

 

The instrument and infrastructure generally has an important role in KBM or PBM (Studying Process or Activity) and to increase the education quality. Based on the problem of the study, this study tries to reveal the role of headmaster increasing of education instrument and infrastructure which focuses: (1) What the headmaster role which can be function to increase the increasing of the education instrument and infrastructure in school is, (2) What the education instrument and infrastructure which can be priority to be increased is, (3) How the headmaster carries on the effort to increase the increasing of education instrument and infrastructure.The collection data uses (1) detail interview, (2) observation, (3) survey, and (4) documentation. To get the cridibility of valid data, the writer uses: (1) the extension of study in the research location, (2) the intensive observation, (3) using the triangulation test. The data analysis is done during the collecting data and after the collecting data using categories coding as the development of coding and selecting data.

Pengaruh interaktif strategi pembelajaran problem-based learning dan konvensional serta gaya belajar terhadap hasil belajar mata kuliah klinik keperawatan pada mahasiswa Program Studi Keperawatan Politeknik Kesehatan Malang / Atti Yudiernawati

 

Sesuai dengan tujuan pendidikan D-III keperawatan dan berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 239/U/1999 yaitu untuk menghasilkan lulusan yang profesional, proses belajar mengajar dapat diperoleh dari berbagai pengalaman belajar, antara lain melalui pengalaman belajar klinik yang di fokuskan pada kemampuan pemecahan masalah klien, fenomena yang ada banyak mahasiswa yang memiliki pengetahuan faktual cukup tetapi gagal menggunakan pengetahuannya saat menangani pasien sesungguhnya. Salah satu faktor penyebab masalah dikarenakan terjadi dalam proses belajar mengajar pada saat program akademik berlangsung, antara lain peran dosen yang dominan, strategi pembelajaran yang tidak mendukung aktifitas mahasiswa serta kurang memperhatikan gaya belajar dari mahasiswa, untuk itu perlu dipikirkan adanya perubahan dalam strategi pembelajaran . Problem-based learning merupakan salah satu model pembelajaran konstruktif yang merupakan salah satu strategi pembelajaran inovatif, yang memberikan fasilitasi terhadap proses konstruksi pengetahuan berdasarkan penelitian dan upaya yang dilakukan mahasiswa, terutama dalam pengintegrasian pembelajaran bidang ilmu dan ketrampilan pemecahan masalah, dengan dua tahap inti yaitu analisis pemecahan masalah secara kolaboratif dan self-directed learning. Hipotesis dalam penelitian ini adalah (1) ada perbedaan pembelajaran dengan menggunakan strategi Problem-Based Learning dan konvensional, (2) ada perbedaan hasil belajar mahasiswa pada mahasiswa yang memiliki gaya belajar berbeda dan (3) Ada interaksi antara gaya belajar dan strategi pembelajaran dengan strategi PBL terhadap hasil belajar klinik keperawatan. Metode penelitian yang digunakan rancangan quasi eksperimental, variabel penelitian (1) variabel bebas strategi pembelajaran PBL dan konvensional,(2) variabel terikat hasil belajar pembelajaran klinik keperawatan dan (3) variabel moderator gaya belajar mahasiswa (visual, auditory dan kinestetik). Subyek penelitian mahasiswa Prodi Keperawatan Malang tingkat II sejumlah 94 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan test baik untuk gaya belajar maupun hasil belajar klinik keperawatan. Tehnik analisa data menggunakan analisa varians (ANOVA) 2 jalur. Untuk analisis data dilakukan dengan bantuan komputer SPSS 11. Hasil penelitian diperoleh 1). Terdapat perbedaan hasil belajar mahasiswa dengan strategi problem based learning, 2) Tidak terdapat perbedaan hasil belajar pada mahasiswa dengan gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik,3) Tidak terdapat perbedaan interaksi antara penggunaan strategi problem based learning dan gaya belajar mahasiswa terhadap hasil belajar klinik keperawatan Dari hasil penelitian beberapa rekomendasi yang dapat diberikan adalan institusi pendidikan keperawatan sebaiknya mampu membuat kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam mengembangkan model/strategi pembelajaran yang menekankan pada tugas keprofesian mahasiswa melalui berbagai alternatif seperti lokakarya dan seminar, bagi dosen/pengajar sebaiknya terus mengembangkan diri dalam hal memfasilitasi mahasiswa untuk belajar, salah satunya derngan lebih mengenali karakteristik mahasiswam terutama kecenderungan gaya belajar mahasiswa yang digunakan, dan untuk penelitian lebih lanjut dapat dikembangkan padfa mata kuliah keperawatan secara komprehensif, serta mengembangkan penelitian lain yang terkait dengan strategi pembelajaaran lain yang terkait dengan pengembangan kualitas pembelajaran.

Pengaruh tayangan iklan televisi terhadap citra merek dan dampaknya kepada keputusan pembelian soft drink Fanta (studi kasus pada SMA Negeri 1 Talun Blitar) / Saiful Anwar

 

Setiap perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis pasti menginginkan kesuksesan dalam usahanya. Pada dasarnya tujuan suatu bisnis adalah menciptakan para pelanggan yang terpuaskan melalui penjualan produk yang dihasilkan dengan mempertahankan, meningkatkan, berinovasi terbaik, menjaga kualitas dan kuantitas produk sesuai dengan permintaan konsumen. Walaupun demikian perusahaan tidak cukup hanya dengan memproduksi barang dan atau jasa yang berkualitas sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen, tetapi perusahaan juga harus mengkomunikasikan barang dan jasa agar diketahui masyarakat sehingga mereka sadar akan keberadaan produk tersebut. Komunikasi pemasaran merupakan usaha untuk menyampaikan pesan kepada publik terutama konsumen sasaran mengenai keberadaan produk di pasar. Konsep yang secara umum sering digunakan untuk menyampaikan pesan adalah apa yang disebut sebagai bauran promosi. Disebut bauran promosi karena biasanya sering menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintegrasi dalam suatu rencana promosi produk. Terdapat 5 jenis promosi yang biasa disebut bauran promosi yaitu iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (publicity and public relation) serta pemasaran langsung (direct marketing). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Deskripsi produk soft drink merek Fanta (2) Deskripsi siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar, (3) Pengaruh tayangan iklan televisi secara langsung baik secara parsial maupun simultan terhadap citra merek soft drink Fanta pada Siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar.(4) Dampak tayangan iklan televisi terhadap keputusan pembelian soft drink merek Fanta pada Siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar. (5) Pengaruh secara langsung citra merek terhadap keputusan pembelian soft drink Fanta pada Siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar.(6) Pengaruh secara langsung tayangan iklan televisi terhadap keputusan pembelian soft drink Fanta pada Siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksplanatory dengan menggunakan teknik analisis jalur, dalam penelitian ini terdapat tiga jenis variabel yaitu: (1) variabel bebas yang terdiri dari: isi pesan (X1), struktur pesan (X2), format pesan (X3), sumber pesan (X4);(2) variabel antara yaitu citra merek (Y); (3) variabel terikat keputusan pembelian konsumen (Z). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar sebanyak 965 siswa, sampel yang diambil sebanyak 80 siswa dengan pengambilan menggunakan propotionate random sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen yang berupa angket dan wawancara. Dari hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Fanta merupakan salah satu merek dari The Coca-Cola Company. Fanta merupakan merek untuk minuman ringan dengan rasa buah-buahan yang sangat menonjol. Di Indonesia produk Fanta mulai dipasarkan pada tahun 1973. Konsumen fanta di berbagai belahan dunia, terutama remaja, mengasosiasikan fanta dengan keceriaan bersama teman dan keluarga (2) Mayoritas siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar merespon siswa setuju terhadap isi pesan, format pesan, srtruktur pesan, sumber pesan iklan Soft drink Fanta sesuai dengan citra merek soft drink Fanta yang ceria, dan memiliki minat yang tinggi untuk memutuskan membeli soft drink merek Fanta (3)Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara tayangan iklan televisi terhadap citra merek soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar dengan nilai R Square(0,607) dan signifikansi F (0,000); Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara isi pesan terhadap citra merek soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar dengan thitung (2,669) dan signifikansi t (0,009)Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara struktur pesan terhadap citra merek soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar dengan thitung (5,742) dan signifikansi t (0,000); Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara format pesan terhadap citra merek soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar dengan thitung (2,808) dan signifikansi t (0,006); Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara sumber pesan terhadap citra merek soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar dengan thitung (3,270) dan signifikansi t (0,002). (4)Terdapat dampak yang positif dan signifikan antara tayangan iklan televisi terhadap keputusan pembelian konsumen soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar dengan nilai pengaruh sebesar 0,214 (5) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara citra merek terhadap keputusan pembelian konsumen soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar thitung (4,128) dan signifikansi t (0,000); (6)Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara tayangan iklan televisi terhadap keputusan pembelian konsumen soft drink Fanta pada siswa SMA Negeri 1 Talun Blitar thitung (5,937) dan signifikansi t (0,000).

Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (Studi Pengembangan Model Sistem Informasi Manajemen Bidang Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan pada FKIP Unsyiah) / oleh Burhanuddin Yasin

 

Pengaruh atribut produk terhadap loyalitas konsumen (studi pada pelanggan kartu seluler prabayar IM3 di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru-Kota Malang) / Dina Mufida

 

Kartu seluler prabayar IM3 merupakan salah satu produk kartu seluler dari PT Indosat Tbk. Setiap produk memiliki berbagai keunggulan, begitu pula dengan produk kartu seluler prabayar IM3. Keunggulan dari kartu seluler prabayar IM3 yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat adalah biaya SMS yang lebih murah dibandingkan dengan kartu seluler lain yang sejenis. Sedangkan produk Indosat yang lain seperti kartu Mentari, Matrix, dan Star One kesemuanya memiliki keunggulan masing-masing. Sekarang ini persaingan di bidang bisnis telekomunikasi sebagai operator kartu seluler sudah banyak bermunculan. Promosi besar-besaran menjadi senjata bagi operator baru dengan berbagai macam iming-iming, misalnya dengan menawarkan program SMS gratis dalam kurun waktu tertentu ke sesama pengguna kartu seluler dari satu operator yang dihsilkannya. Selain itu ada pula yang menawarkan biaya bicara yang sangat memikat calon konsumen. Melihat persaingan yang begitu ketat dibidang telekomunikasi, operator kartu seluler prabayar IM3 melakukan berbagai macam strategi agar pelanggan yang sudah ada berubah menjadi konsumen yang loyal dan menarik minat konsumen baru dengan memberikan keunggulan dalam atribut produk yang melekat pada kartu seluler prabayar IM3 yang diberlakukan untuk periode waktu tertentu dan akan berubah sesuai kondisi persaingan yang ada Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Pengaruh secara parsial atribut produk yang terdiri dari: harga, merek, mutu, dan fasilitas terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3 (2) Pengaruh secara simultan atribut produk yang terdiri dari: harga, merek, mutu, dan fasilitas terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3 (3) Faktor yang dominan mempengaruhi loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis regresi berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan kartu seluler prabayar IM3 di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru-Kota Malang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling. Karena jumlah populasi dalam penelitian tak terhingga, maka untukpenentuan jumlah sampel digunakan rumus Daniel & Terrel dan diperoleh sampel sebanyak 155 orang, akan tetapi dibulatkan menjadi 160 orang responden. Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan harga terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartui seluler prabayar IM3. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 2,004 > 1,900 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,003 ≤ 0,05. Terdapat pengaruh positif dan signifikan merek terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 9,334 > 1,900 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05. Terdapat pengaruh positif dan signifikan mutu terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 3,829 > 1,900 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05. Terdapat pengaruh positif dan signifikan fasilitas terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 5,556 > 1,900 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05. Secara simultan dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan harga , merek, mutu, dan fasilitas terhadap loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3.. Hal ini dibuktikan dengan nilai Fhitung > Ftabel, yaitu 90,347 > 2,43 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti ≤ 0,05. Diketahui pula bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0, 692. yang berarti bahwa atribut produk secara simultan mempengaruhi loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3 sebesar 69,2% sedangkan sisanya 30,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diketahui pula bahwa variabel yang dominan mempengaruhi loyalitas konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3 adalah merek. Berdasarkan temuan di atas, saran yang dapat diberikan peneliti bagi pihak operator kartu seluler prabayar IM3 adalah dapat memberikan tarif menelepon yang lebih murah, jaringan yang lebih luas, kualitaas suara yang lebih jernih, dan memberikan kejutan-kejutan baru yang menarik minat konsumen kartu seluler prabayar IM3. hal ini mengingat jumlah konsumen kartu seluler yang terus bertambah, sehingga konsumen akan semakin selektif dalam memilih kartu seluler yang murah, punya daya saing, dan bermutu tinggi serta tidak segan beralih ke produk merek lain apabila merasakan ketidakpuasan. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan agar penelitian-penelitian berikutnya dapat menggali variabel-variabel baru selain harga, merek, mutu, dan fasilitas yang dapat mempengaruhi loyalitas konsumen. Misalnya variabel kualitas, daya jangkauan dan beberapa variabel lainnya yang dapat dijadikan temuan baru dalam penelitian-penelitian selanjutnya. Peneliti selanjutnya diharapkan lebih selektif dalam memilih teknik pengambilan sampel, agar sampel yang dihasilkan dapat mewakili populasi secara keseluruhan.

Pengaruh ekuitas merek (brand equity) terhadap loyalitas konsumen dalam membeli produk kosmetik Pond's (study kasus pada swalayan "Ratu" Plaza Gajahmada Malang) / Nurul Aslamiyah

 

Pasar global yang hiperkompetitif, menjadikan tidak ada suatu bisnis yang bisa bertahan lama tanpa didukung oleh kepuasan dan loyalitas konsumen. Perkembangan produk kosmetik khususnya krim pencerah dan pembersih wajah yang sangat pesat di Indonesia, menjadikan perusahaan kosmetik berlomba-lomba untuk meningkatkan loyalitas konsumen mereka dengan memanjakan konsumen melalui produk yang berkualitas dan terjamin keamanannya. Konsep nilai konsumen merupakan usaha pertama untuk secara serius memahami pikiran, kebutuhan, harapan dan perilaku konsumen dalam mendefinisikan nilai tambah (value added). Sedangkan kualitas produk berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaian untuk mengimbangi harapan konsumen. Beragam motivasi untuk membeli memainkan peranan kuat pada berbagai waktu dan tempat. Saat ini, konsumen memberikan bobot yang lebih besar pada kualitas dan nilai dalam membuat keputusan membeli. Oleh karena itu, agar dapat memenangkan persaingan akibat banyaknya produk sejenis dipasaran, maka produk Kosmetik Pond?s harus mampu meningkatkan ?Brand equity? atau ekuitas merek dan tidak mudah ditiru yang dapat memiki keunggulan kompetitif sehingga dapat menciptakan loyalitas kepada perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran objektif tentang: Pengaruh secara langsung antara kesan kualitas terhadap loyalitas konsumen; pengaruh secara langsung antara kesan yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar terhadap loyalitas konsuemen; pengaruh secara langsung antara keunikan merek terhadap loyalitas konsumen; pengaruh secara langsung antara kesediaan untuk membayar harga premium terhadap loyalitas konsumen; pada konsumen pengguna Kosmetik Pond?s di Swalayan Ratu Gajahmada Malang. Dalam penelitian ini, variabel bebasnya adalah ekuitas merek (X) terdiri dari empat elemen yaitu kesan kualitas (perceived quality-X1), kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar (perceived value for the cost-X2), keunikan merek (brand uniqueness-X3), dan kesediaan untuk membayar harga premium (willingness to pay a price premium-X4). dan variabel terikatnya adalah loyalitas konsumen (Y). Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif korelasional Ekuitas merek harus dikelola secara terus-menerus oleh perusahaan karena dapat memperkuat program memikat para konsumen baru, atau merangkul kembali konsumen lama. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui teknik regresi linear berganda. Untuk mendukung kelengkapan data dalam penelitian ini maka digunakan metode dokumentasi dan wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang berkunjung di Swalayan Ratu plaza Gajahmada Malang tanpa membedakan pemakai baru maupun pemakai lama berjumlah 1000 orang. Penentuan sampel menggunakan rumus Arikunto dari buku yakni apabila subyeknya kurang dari 100, maka diambil semua. Sebaliknya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. dengan menggunakan  = 0,05, sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan accidental random sampling untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 4 tingkat. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 30 responden. Proses pengolahan data menggunakan software SPSS for Windows 11.5. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) 58 responden (58%) menyatakan sangat setuju terhadap kesan kualitas Kosmetik Pond?s, (2) 50 responden (50%) menyatakan setuju terhadap kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar kosmetik pond?s, (3) 78 responden (78%) menyatakan setuju terhadap keunikan merek Kosmetik Pond?s, (4) 45 responden (45%) menyatakan setuju terhadap kesediaan membayar harga premium Kosmetik Pond?s, dan (5) 50 responden (50%) menyatakan setuju terhadap loyalitas konsumen. Terdapat pengaruh kesan kualitas (X1), kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar (X2), keunikan merek (X3), dan kesediaan membayar harga premium (X4) secara parsial terhadap loyalitas konsumen dalam menggunakan kosmetik pond?s. dengan nilai 1 = 0.301 dan nilai t1 = 0.001; 2 = 0.292 dan nilai t2 = 0.000; 3 = 0.396 dan nilai t3 = 0.001; 4 = 0.352 dan nilai t4 = 0.000. Terdapat pengaruh kesan kualitas (X1), kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar (X2), keunikan merek (X3), dan kesediaan membayar harga premium (X4) secara simultan terhadap loyalitas konsumen dalam menggunakan kosmetik pond?s berdasarkan nilai Fhitung sebesar 25,896 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari ekuitas merek yang dominan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen dalam menggunakan Kosmetik Pond?s adalah kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar dengan nilai sumbangan efektif sebesar 16,40%. Selain itu diketahui R square = 0,522 yang berarti korelasi atau hubungan antar variabel bebas adalah kuat. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) ekuitas merek berdasarkan variabel kesan kualitas, responden menyatakan sangat setuju, (2) ekuitas merek berdasarkan variabel kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar, responden menyatakan setuju, (3) ekuitas merek berdasarkan variabel keunikan merek merek, responden menyatakan setuju, (4) ekuitas merek berdasarkan variabel kesediaan untuk membayar harga premium, responden menyatakan setuju, (5) konsumen menyatakan setuju untuk loyalitas konsumen. Secara parsial ada pengaruh positif signifikan kesan kualitas terhadap loyalitas konsumen, ada pengaruh positif signifikan kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar terhadap loyalitas konsumen, ada pengaruh positif signifikan keunikan merek terhadap loyalitas konsumen, ada pengaruh positif signifikan kesediaan untuk membayar harga premium terhadap loyalitas konsumen. Sedangkan secara simultan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif signifikan kesan kualitas, kesan nilai yang dirasakan untuk harga yang telah dibayar, dan kesediaan untuk membayar harga premium terhadap loyalitas konsumen. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) 1. Keunikan dari merek produk kosmetik pond?s ini harus lebih ditingkatkan lagi terutama dengan kemasan yang unik, aroma kosmetik yang lembut, dengan mem-positioning-kan slogan ?Memutihkan wajah dalam 6 minggu? dan merek yang populer dalam benak konsumen. (2) Meningkatkan kualitas produk pond?s seperti mengurangi atau sama sekali tidak mengunakan bahan-bahan yang berbahaya bagi kulit seperti bahan hydrokinon dan bahan merkuri. (3) Meningkatkan inovasi produk dengan meningkatkan variasi merek Pond?s, sehingga loyalitas konsumen dapat meningkat lebih tinggi lagi. Dengan memperhatikan variabel-variabel lain yang terkait dengan ekuitas merek seperti hak paten, merek dagang, saluran distribusi, dan lain-lain. (4) Lebih terbuka kepada kalangan akademisi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh perusahaan pesaing. Sebagai masukan untuk produk Kosmetik Pond?s melalui hasil penelitian yang telah dilakukan serta menjadi suatu bentuk komunikasi word of mouth yang sangat efektif. Sehingga akhirnya loyalitas konsumen dapat tertanam pada konsumen karena konsumen menganggap perusahaan menghargai dan peduli terhadap masukan dan kebutuhan konsumen. (5) Meningkatkan citra produk Kosmetik Pond?s sebagai produk yang inovatif, melalui promosi yang lebih inovatif dan menarik pada berbagai media dan menambah nilai positioning produk. Hal ini dapat dioptimalkan agar dapat membendung keinginan para konsumen pengguna produk Kosmetik Pond?s yang cenderung untuk beralih merek.

Analisis variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan food and beverage yang go public di BEJ periode 2003-2006 / Farida Hakim

 

Struktur modal merupakan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Setiap perusahaan melalui kebijaksanaan struktur modalnya menginginkan struktur modal optimal yang selalu ingin dicapai. Agar kondisi tersebut dapat dicapai, maka perlu dipertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal, antara lain: stabilitas penjualan; struktur aktiva; leverage operasi; tingkat pertumbuhan; profitabilitas; pajak; pengendalian; sikap manajemen; sikap pemberi pinjaman dan perusahaan penilai kredibilitas; kondisi pasar; kondisi internal perusahaan dan fleksibilitas keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara parsial maupun simultan variabel bebas yang terdiri dari variabel pertumbuhan penjualan, struktur aktiva, profitabilitas yang diwakili oleh Return On Asset (ROA), dan leverage operasi terhadap variabel terikat struktur modal pada perusahaan food and beverage serta untuk mengetahui variabel yang dominan mempengaruhi struktur modal. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory, dengan mencari hubungan antara variabel-variabel yang diteliti melalui suatu pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan food and beverage yang go public di BEJ periode 2003-2006. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil dari penelitian ini menunjukkan variabel pertumbuhan penjualan, struktur aktiva, profitabilitas, dan leverage operasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Sedangkan secara parsial seluruh variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi perusahaan food and beverage untuk memperhatikan variabel-variabel lain yang mempengaruhi struktur modal sehingga tercapai kebijakan struktur modal yang optimal.

Penerapan scaffolding learning pada pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Yeni Kusuma Wardani

 

Scaffolding learning merupakan suatu pembelajaran dimana guru memberikan bantuan sementara kepada siswa kemudian mengurangi bantuan tersebut dan pada akhirnya menghilangkan sama sekali sehingga mendorong siswa untuk membangun pengetahuan dan kemampuan berpikirnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan scaffolding learning terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS 3 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Siklus I dan siklus II ditempuh selama enam kali pertemuan. Masing-masing terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan siklus II berupa penerapan rencana pembelajaran dengan scaffolding learning. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal dan posting ke buku besar pada perusahaan jasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa yaitu sebesar 56% dengan kriteria cukup meningkat menjadi 90 % dengan kriteria baik sekali. Nilai rata-rata aspek kognitif siswa pada siklus I sebesar 67 meningkat pada siklus II menjadi 87,9. Hasil penilaian aspek afektif pada siklus I dan siklus II diperoleh persentase berdasarkan aspek yang dinilai yaitu (1) kerjasama dalam kelompok sebesar 73,6% dengan kriteria baik meningkat menjadi 92% dengan kriteria sangat baik; (2) keaktifan dalam kelompok dari 56,2% dengan kriteria cukup meningkat menjadi 73% dengan kriteria baik; serta (3) keberanian bertanya dan menjawab sebesar 52,8% dengan kriteria cukup menjadi 79,8% dengan kriteria baik. penilaian aspek psikomotorik pada siklus I diperoleh persentase yaitu kemampuan menyiapkan buku jurnal 58,3% dengan kriteria cukup, melakukan pencatatan transaksi dalam jurnal umum 52,8% dengan kriteria cukup dan ketelitian pencatatan dalam jurnal umum 56,2%. Sedangkan pada siklus II diperoleh persentase kemampuan menyiapkan buku besar 78,4% dengan kriteria baik, melakukan posting dari jurnal umum ke dalam buku besar 79,8% serta teliti melakukan posting ke dalam buku besar 82,7%. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan adalah sebagai berikut: (1) bagi guru dalam pelaksanaan scaffolding learning harus lebih sering berkeliling kelas untuk memberikan bantuan kepada siswa; (2) bagi siswa harus belajar mandiri dan tidak tergantung pada bantuan yang diberikan guru serta dapat bekerjasama dengan teman.

Pengaruh emotional quotient terhadap prestasi belajar siswa-siswi kelas II dan III Program Keahlian Akuntansi pada mata pelajaran akuntansi di SMK PGRI 2 Malang / Purwati

 

Pada saat proses belajar mengajar berlangsung diperlukan interaksi yang baik antara guru dengan murid dan interaksi antara siswa dengan siswa. Interaksi yang terjadi dalam kelas maupun di sekolah dibutuhkan kecerdasan emosional agar dapat mengatur serta mengenali emosi yang ada dalam diri pribadi maupun orang lain atas suatu masalah yang dihadapi sehingga dapat menginterprestasikan tindakan secara tepat. Kecerdasan emosional banyak mempengaruhi aktivitas manusia, termasuk aktivitas belajar siswa pun dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional mempengaruhi prestasi belajar siswa akan terlihat pada saat proses belajar berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Emotional Quotient (EQ) terhadap prestasi belajar siswa-siswi kelas II dan III program keahlian akuntansi pada mata pelajaran akuntansi di SMK PGRI 2 malang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket atau koesioner dan dokumentasi. Dan teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif yaitu menentukan distribusi frekuensi data Emotional Quotient dan prestasi belajar siswa dan teknik analisis regresi sederhana yaitu untuk mengetahui pengaruh Emotional Quotient terhadap prestasi belajar siswa-siswi kelas II dan III program keahlian akuntansi pada mata pelajaran akuntansi. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh signifikansi 0,000 < 0,05 dan 6,491 > 2,002 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang positif antara kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar akuntansi siswa-siswi kelas II dan III program keahlian akuntansi SMK PGRI 2 Malang. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Emotional Quotient berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa-siswi kelas II dan III program keahlian akuntansi pada mata pelajaran akuntansi di SMK PGRI 2 Malang. Saran yang diberikan bagi siswa diharapkan bisa mengembangkan kecerdasan emosionalnya dengan cara selalu terbuka dan jujur pada diri sendiri dan orang lain, mengikuti proses belajar mengajar dengan baik dan berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah sehingga kemampuan-kemampuan yang terkait dengan kecerdasan emosional dapat terlatih dengan baik seiring dengan prestasi yang juga akan meningkat dengan baik pula.

Pengaruh cara belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar akuntansi pada siswa SMK Arjuna 01 Malang dan SMK PGRI 02 Malang / R. Andreas Budi Sutanto

 

Peranan nyata yang dilakukan oleh sekolah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ialah dengan membekali pengetahuan pada anak didik. Pada SMK pengetahuan tersebut berupa pengetahuan praktis untuk diterapkan pada dunia kerja. Pemberian pengetahuan tersebut melalui proses belajar-mengajar. Proses belajar mengajar menunjukkan suatu interaksi antara guru dengan siswa. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa antara guru dengan siswa harus sama-sama berperan aktif. Salah satu peran aktif siswa ialah belajar. Siswa yang belajar secara maksimal akan mengalami peningkatan hasil belajar. Belajar maksimal dapat dilakukan melalui cara belajar yang efektif serta memiliki kebiasaan belajar yang baik. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1)menjelaskan besarnya pengaruh cara belajar terhadap prestasi belajar, (2)menjelaskan besarnya pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar, (3)menjelaskan besarnya pengaruh cara dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi. Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel cara belajar, kebiasaan belajar, dan prestasi belajar. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas satu jurusan akuntansi tahun ajaran 2006/2007pada SMK Arjuna 01 Malang dan SMK PGRI 02 Malang. Populasi siswa kelas satu tersebut sebanyak 69 siswa, semua populasi dijadikan sampel penelitian Teknik pengumpulan data ialah angket dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, dimana syarat untuk melakukan analisis ialah terpenuhinya uji asumsi klasik Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)cara belajar berpengaruh secara positif terhadap prestasi belajar sebesar 29.12% dengan signifikansi (0.00<0.05) , (2) kebiasaan belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar sebesar 45,79%. (3)Cara belajar dan kebiasaan belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajarsebanyak 74,9% dengan signifikansi (0.00<0.05) Keterbatasan penelitian menunjukkan, bahwa masih banyak variabel di luar cara belajar dan kebiasaan belajar yang memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar. Saran bagi para siswa di SMK Arjuna 01 Malang dan SMK PGRI 02 Malang yaitu, agar para siswa senantiasa memperbaiki cara belajar dan kebiasaan belajar mereka untuk meningkatkan hasil belajar mereka sendiri. Saran bagi para guru di sekolah, hendaknya guru dapat memberikan pengetahuan mengenai pentingnya peranan dari cara belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar. Saran Bagi peneliti yang ingin meneliti mengenai prestasi belajar, hendaknya mengkaji faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar yang belum diungkap dan dibahas dalam penelitian ini, selain itu juga perlu untuk memperluas populasi penelitian

Pengaruh penerapan metode pembelajaran kooperatif model TGT-problem posing terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XII SMA Negeri 2 Bangkalan / Dewi Sri Sundari

 

Metode pembelajaran akuntansi yang diterapkan di SMA Negeri 2 Bangkalan adalah metode konvensional yakni ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Dalam metode pembelajaran ini, siswa hanya berperan sebagai penerima informasi secara pasif karena hanya mencatat dan mendengarkan informasi dari guru saja. Salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran adalah metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing. Metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat soal atau pertanyaan sesuai dengan konteks bahasan atau materi yang diberikan guru dan menyelesaikan soal yang telah dibuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui pengaruh Metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XII IPS SMA Negeri 2 Bangkalan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XII IPS di SMAN 2 Bangkalan tahun pelajaran 2007/2008. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Sampel yang didapat adalah siswa kelas XII IPS3 sebagai kelas eksperimen yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing dan siswa kelas XII IPS1 sebagai kelas kontrol yang diajar dengan metode konvensional. Penelitian ini diukur dari aspek kognitif. Analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata kemampuan awal dan uji hipotesis dengan uji t one-tailed. Hasil analisis diperoleh t hitung sebesar 6,629 dan t tabel sebesar 1,665 dengan nilai signifikasi (0,000) < (0,05) maka H0 ditolak dan H1 diterima , dapat disimpulkan metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pretasi belajar antara siswa yang diajar melalui metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing dengan prestasi belajar siswa yang diajar melalui metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) untuk mengukur indikator lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti aspek afektif dan psikomotorik. (2) diharapkan melakukan penelitian tindakan kelas supaya prestasi belajar siswa dapat diketahui secara detail.

Meningkatkan prestasi siswa melalui pembelajaran berbasis penilaian portofolio pada mata pelajaran akuntansi di SMK "Ardjuna" 01 Malang / Yayuk Endang Kusrini

 

Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan portofolio sebagai salah satu bentuk penilaian (assessment) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran akuntansi. Portofolio merupakan kumpulan hasil siswa dari kerja yang sengaja diperbuat siswa untuk menunjukkan bukti kompetensi, pemahaman, dan capaian siswa dalam mata pelajaran tertentu. Rancangan portofolio dalam penelitian ini meliputi : catatan hasil belajar, tugas rangkuman materi, tugas individu dan kelompok, soal kuis dan revisinya, soal ulangan harian, dan lembar refleksi diri. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X jurusan akuntansi SMK ?Ardjuna? 01 Malang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan persentase dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Analisis data dilakukan setiap kali pemberian tindakan berakhir dan sesudah pengumpulan data. Untuk penyajian data dilakukan dengan menyusun sekumpulan informasi secara naratif (data yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumen) maupun statistik dengan metode persentase (data yang diperoleh dari masing-masing skor portofolio). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dilihat dari keaktifan dan pemahaman siswa terhadap materi yang dilihat dari hasil nilai ulanagn harian. Pada siklus I keaktifan siswa sebesar 6.67% dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 20%. Nilai ulangan siswa pada siklus I hanya mencapai ketuntasan sebesar 43.33%, akan tetapi pada siklus II meningkat mencapai 90% dari jumlah keseluruhan siswa, sedangkan untuk keberhasilan tindakan menunjukkan peningkatan sebesar 12.09%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis penilaian portofolio dapat diterapkan dengan baik dan dapat meningkatakan prestasi siswa dalam pembelajaran akuntansi di SMK ?Ardjuna? 01 Malang. Untuk penelitian selanjutnya disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya terhadap evaluasi dan kinerja guru. Selain itu, penelitian hendaknya dilakukan pada waktu yang relatif lebih lama misal satu semester dengan pemilihan waktu yang tepat agar penelitian dapat berjalan lancar.

Studi tentang penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran biologi kelas X dan XI di MA Negeri se-kota Malang / Frida Nur Azizah

 

Kegiatan belajar mengajar akan efektif bila didukung oleh kegiatan penilaian yang efektif pula. Penilaian merupakan kegiatan menghimpun fakta-fakta dan dokumen belajar peserta didik dan dapat dipercaya untuk melakukan perbaikan program. Obyek yang dinilai pada kegiatan penilaian adalah hasil belajar siswa. Kemampuan siswa yang sangat kompleks tidak dapat dinilai dengan paper and pencil tes saja. Diperlukan sebuah alternatif penilaian yang bisa menilai kompleksnya kemampuan siswa. Salah satu bentuk alternatif penilaian adalah penilaian berbasis kelas. Penilaian berbasis kelas harus menerapkan asesmen autentik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui bentuk asesmen autentik yang digunakan pada pembelajaran Biologi di MA Negeri se-Kota Malang, (2) mengetahui penerapan asesmen autentik pada pembelajaran Biologi di MA Negeri se-Kota Malang, (3) mengetahui kendala yang dihadapi dalam penerapan asesmen autentik pada pembelajaran Biologi di MA se-Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan diskriptif, karena penelitian ini berusaha mengungkapkan gambaran mengenai sejauh mana penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran. Instrumen yang digunakan berupa wawancara, observasi, angket, dan dokumen. Subyek penelitian ini adalah guru Biologi kelas X dan XI MA Negeri se-Kota Malang. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan Oktober sampai November 2007. Hasil penelitian ini adalah (1) bentuk asesmen autentik yang di terapkan guru biologi di MA Negeri se-kota Malang adalah: a) laporan praktikum; b) rubrik; c) diskusi; d) menjawab pertanyaan; e) proyek; f) portofolio; g) jurnal; h) tes tulis; dan i) produk, 2) penerapan asesmen autentik yang dilakukan oleh guru biologi di MA Negeri se-Kota Malang telah dilaksanakan dengan baik, meskipun belum secara maksimal, dan (3) dalam penerapan asesmen autentik guru masih mengalami kendala baik yang berasal dari diri sendiri, siswa, maupun sekolah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: agar guru sebaiknya merencanakan dengan rinci terlebih dahulu sebelum menerapkan asesmen autentik dengan cara menyiapkan segala perangkat asesmen yang dibutuhkan dan memahami indikator yang akan dicapai, kendala-kendala dalam asesmen autentik diharapkan segera diatasi agar pelaksanaan asesmen autentik dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan yang diharapkan oleh kurikulum, lembaga kependidikan atau lembaga-lembaga berwenang diharapakan lebih mengadakan sosialisasi secara menyeluruh sehingga semua guru paham betul tentang asesmen autentik.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Ampelgading Kabupaten Malang / Fivin Lisarifah

 

Sejak diperkenalkannya Kurikulum 2004 atau biasa disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi, maka teori-teori belajar, pendekatan pembelajaran, dan model-model pembelajaran berkembang dengan sangat pesat dan mulai diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia. Penerapan teori-teori belajar, pendekatan pembelajaran, dan model-model pembelajaran tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu contoh model pembelajaran yang berkembang adalah pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). TPS pertama kali dikenalkan pada tahun 1981 di Universitas Maryland oleh Prof. Frank Lyman. Pembelajaran dengan menggunakan TPS mengharuskan siswa untuk bekerja berpasangan satu sama lain sehingga akan tercipta suatu situasi belajar yang menyenangkan. Melalui suasana yang menyenangkan, diharapkan siswa akan lebih tertarik untuk memahami materi yang sedang diajarkan, dengan demikian maka pemahaman siswa terhadap materi tersebut akan lebih baik. Selain itu, dengan bekerja berpasangan, maka siswa akan belajar untuk bekerjasama dengan siswa lain dan menghindari sifat egois dan egosentris. Susilo (2005) menyebutkan bahwa TPS terdiri dari 4 tahap, yaitu guru memberikan pertanyaan, siswa berpikir secara individu, siswa berdiskusi dengan pasangannya, dan siswa berbagi jawaban dengan seluruh anggota kelas. KBK sudah diterapkan sejak tahun 2004 sampai sekarang, akan tetapi pada kenyataannya masih ditemukan sekolah-sekolah yang belum menerapkannya atau sudah menggunakan KBK namun pelaksanaannya masih kurang sesuai dengan KBK, misalnya saja SMP Negeri I dan 2 Ampelgading, serta SMA Ampelgading. Kurikulum 2004 mengharapkan adanya student-centered dalam proses pembelajarannya, akan tetapi pada kenyataannya, pada sekolah tersebut pembelajaran masih berpusat pada guru, yang ditandai dengan seringnya ceramah dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SMP Negeri 2 Ampelgading, dapat diperoleh informasi bahwa dalam proses pembelajaran, guru lebih banyak aktif daripada siswanya, sehingga siswa nampak lebih pasif. Hal ini akan berdampak pada hasil belajarnya yang belum terlalu membanggakan. Peneliti merasa metode TPS cocok untuk diterapkan di SMP Negeri 2 Ampelgading. Hal ini disebabkan di SMP ini, aktivitas dan hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Pada saat pembelajaran, masih tampak guru yang lebih banyak berperan, dan hasil belajar siswa masih rendah, ditandai dengan lebih dari 40% yang kemampuan belajarnya berada di bawah SKBM (SKBM= 75). TPS diterapkan dengan harapan setiap siswa akan mau berpikir, bekerja berpasangan, dan berbagi jawabannya dengan seluruh siswa yang berada di dalam kelas, sehingga hal ini akan membantu siswa dalam mempelajari materi. Hal ini nantinya diharapkan akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh TPS dalam meningkatkan aktivitas, motivasi, dan hasil belajar siswa dan berbagai penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa pembelajaran menggunakan model TPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 2 Ampelgading kelas VIII a tahun pelajaran 2007/2008. Jumlah siswa sebanyak 24 siswa, 10 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Data diambil dengan menggunakan teknik wawancara, tes, dan observasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan 2 siklus dengan masing-masing siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan dengan waktu untuk satu pertemuan adalah 2X45 menit. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Ampelgading dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model TPS. Aktivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keaktifan dalam melakukan praktikum, mengerjakan LKS, bekerja secara berkelompok, presentasi, bertanya dan menanggapi pada saat dilakukan presentasi. Hasil belajar yang dimaksud adalah nilai yang diperoleh siswa pada postes yang dilakukan pada tiap akhir siklus. Aktivitas siswa pada siklus I adalah sebesar 53,82% dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 60,44% atau mengalami kenaikan sebesar 15,62%, sedangkan untuk hasil belajar, pada siklus I sebesar 70,80% dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 95,83% atau dapat dikatakan naik 25.03% atau dapat dikatakan apabila pada siklus I belum tuntas kelas, pada siklus II sudah tuntas kelas. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Ampelgading. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka peneliti dapat menyarankan kepada guru untuk menerapkan metode TPS pada mata pelajaran atau pokok bahasan yang lain karena terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa SMP Negeri 2 Ampelgading untuk pokok bahasan Struktur dan Fungsi Tubuh Tumbuhan.

Pengembangan multimedia CD interaktif berbasis komputer pada pembelajaran biologi materi daur biogeokimia untuk siswa SMA kelas X / Vita Yuanita Fandi

 

Untuk mewujudkan tujuan nasional perlu adanya dukungan proses pembelajaran yang berkualitas. Tetapi kualitas pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan saat ini masih relatif rendah. Masalah yang menyebabkan masih rendahnya kualitas pembelajaran antara lain adalah model pembelajaran yang kurang menarik dan belum banyaknya guru yang menggunakan media dalam pembelajaran. Media pembelajaran memiliki manfaat yang sangat besar dalam penggunaannya, terutama untuk memudahkan siswa dalam mempelajari isi materi pelajaran, sehingga siswa dengan mudah bisa memahami materi yang diajarkan. Selain bermanfaat bagi siswa, penggunaan media juga bermanfaat bagi guru, karena dengan menggunakan media, tugas guru menjadi lebih ringan. Oleh karena itu keberadaan media pembelajaran sangat dibutuhkan. Multimedia berbasis komputer adalah penggabungan teknologi komputer dengan berbagai sumber materi baik dalam bentuk teks, gambar, grafik, dan suara yang ditampilkan melalui layar komputer. Penggabungan media tersebut memungkinkan penyampaian sebuah pesan diterima dengan jelas. Selain itu, hasil dari multimedia berbasis komputer adalah CD interaktif yang dalam penggunaannya, pengguna tidak hanya dapat melihat dan mendengar tetapi juga dapat memberikan respon secara aktif. Hal inilah yang membuat multimedia berbasis komputer lebih tepat digunakan untuk pembuatan media pembelajaran, terutama untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan alam sekitar dan kejadian yang prosesnya sulit diamati secara langsung. Salah satu materi dalam mata pelajaran biologi adalah daur biogeokimia. Daur biogeokimia merupakan daur materi yang melalui makhluk hidup, tanah dan reaksi kimia yang kejadiannya sulit untuk diamati secara langsung oleh manusia. Sehingga tepat untuk pembuatan multimedia berbasis komputer. Daur biogeokimia terdiri atas 5 macam daur diantaranya adalah daur air, daur nitrogen, daur karbon dan oksigen, daur belerang, dan daur fosfor. Multimedia pembelajaran CD interaktif ini dibuat untuk membantu siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Diharapkan dengan adanya multimedia ini siswa menjadi lebih bersemangat lagi dalam belajarnya. Selain itu, siswa juga lebih mudah dalam memahami dan mengerti tentang materi pelajaran. Sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Pengembangan media pembelajaran berbasis CAi (computer assisted) untuk materi perkembangan prenatal manusia kelas XI semester 2 SMA Negeri 2 Lamongan / Sirlai Gunawan

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri 2 Lamongan diketahui bahwa sarana dan prasarana berupa laboratorium komputer belum bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber belajar siswa. Laboratorium komputer hanya dimanfaatkan untuk kegiatan ekstrakurikuler komputer serta pembelajaran untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi dan beberapa siswa SMA Negeri 2 Lamongan, diperoleh informasi bahwa: 1) media untuk pembelajaran materi perkembangan prenatal manusia hanya menggunakan papan tulis, buku teks, dan LKS yang memiliki gambar yang tidak jelas dan tidak berwarna; 2) Siswa kurang termotivasi saat mengikuti materi perkembangan prenatal manusia karena merasa kesulitan untuk membayangkan perkembangan manusia di dalam rahim. Dengan demikian, upaya inovasi dan kreatif yang mengarah kepada pencapaian kompetensi materi perkembangan prenatal manusia tersebut mutlak diperlukan di SMA Negeri 2 Lamongan. Secara teoritis, untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya dengan memproduksi media pembelajaran yang mampu memvisualkan perkembangan manusia di dalam rahim ibu. Media pembelajaran yang diproduksi adalah media pembelajaran biologi berbasis CAI (Computer Assisted Instruction) yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran individual. Media pembelajaran berbasis CAI ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik, dan animasi grafik (graphic animation). Keberadaan animasi dapat memperjelas uraian konsep sehingga pemahaman konsep lebih mudah jika dibandingkan dengan memakai sumber belajar yang statis berupa buku teks, papan tulis, ataupun LKS. Media pembelajaran berbasis CAI ini juga mampu memberikan balikan (feedback) sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi. Selain itu, media juga dapat meningkatkan motivasi dan perhatian siswa untuk belajar dan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih langsung untuk menjelaskan materi perkembangan prenatal manusia. Bentuk pembelajaran CAI (Computer Assisted Instruction) yang diberikan adalah bentuk tutorial bercabang. Bentuk pembelajaran tutorial secara umum melibatkan dua fase pertama pembelajaran, yaitu memaparkan informasi (presenting information) dan membimbing siswa (guiding the student). Desain uji coba penelitian meliputi validasi isi dan uji coba di lapangan (implementasi). Validasi isi diperoleh dari penilaian dan tanggapan dari validator ahli materi dan ahli media yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kelayakan dan bagian media CAI yang perlu direvisi. Uji coba di lapangan dilakukan dengan mencobakan media CAI kepada siswa dan guru bertindak sebagai observer. Siswa belum pernah mempelajari materi perkembangan prenatal manusia melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Data yang diperoleh bersifat kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data berupa kuesioner (angket) serta nilai pretes dan postes. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu media pembelajaran berbasis CAI yang diproduksi memiliki tingkat kelayakan tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil validasi kelompok ahli terhadap media yang dikembangkan adalah 94,85 % (valid). Sedangkan hasil validasi audiens pada uji kelompok satu lawan satu adalah 95,83 % (valid); kelompok kecil 94,99 % (valid); serta kelompok uji coba lapangan 92,03 % (valid). Peningkatan nilai postes dari pretes menunjukkan bahwa media pembelajaran yang diproduksi efektif untuk pembelajaran individual. Peningkatan nilai postes dari pretes pada saat uji coba satu lawan satu sebesar 23,33; uji coba kelompok kecil sebesar 21,67; serta uji coba lapangan sebesar 24,67. Selain itu, hasil observasi guru pada saat uji coba lapangan menunjukkan bahwa siswa sangat termotivasi belajar materi perkembangan prenatal manusia menggunakan media CAI dan lebih mudah dalam memahami materi tersebut. Oleh sebab itu, secara umum media pembelajaran berbasis CAI tersebut layak digunakan sebagai alternatif pemecahan masalah di SMA Negeri 2 Lamongan untuk materi perkembangan prenatal manusia. Saran pemanfaatan produk yang dapat dikemukakan setelah dilaksanakan penelitian pengembangan ini adalah 1) media pembelajaran berbasis CAI sebaiknya digunakan pada komputer dengan spesifikasi minimal Pentium IV, RAM 256 MB; 2) sebaiknya digunakan oleh siswa yang telah memahami materi prasyarat, yaitu struktur sistem reproduksi dan gametogenesis; 3) guru dapat bertindak sebagai pembimbing, 4) terutama ditujukan pada siswa yang telah memiliki kemampuan dasar mengenai pengoperasian komputer, dan 5) jika mengalami persoalan terkait dengan pengoperasian produk, siswa bisa mempelajari menu help atau Petunjuk Penggunaan Siswa. Saran diseminasi produk yang dapat dikemukakan setelah dilaksanakan penelitian pengembangan ini adalah 1) media CAI ini dapat diterapkan secara bertahap, yaitu guru menjelaskan cara pembelajaran kemudian siswa belajar mandiri; 2) agar dapat diterapkan di sekolah lain perlu diperhatikan karakteristik siswa dan sekolah yang bersangkutan. Saran pengembangan produk lebih lanjut yang dapat dikemukakan setelah dilaksanakan penelitian pengembangan ini adalah 1) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka mengeliminasi kekurangannya; 2) media pembelajaran berbasis CAI untuk materi lain perlu dikembangkan; 3) perlu dikembangkan media pembelajaran berbasis CAI yang online, dapat diakses melalui internet.

Pengembangan media pembelajaran interaktif berbantuan komputer untuk pembelajaran biologi pokok bahasan virus di SMA N 1 Situbondo / Laria Kartika

 

Upaya untuk mencapai keberhasilan proses belajar mengajar dapat diperoleh dengan cara yang sistematis yaitu melalui sistem pembelajaran. Elemen yang menunjang sistem pembelajaran yaitu siswa, guru, kurikulum, metode, sarana dan prasarana, masyarakat, dan proses belajar mengajar. SMA N 1 Situbondo adalah sekolah menengah atas negeri yang terletak di jalan PB. Sudirman No.5. Sekolah ini mempunyai visi yaitu menjadi tempat tumbuh kembangnya insan yang religius, santun, cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Sedangkan misi sekolah yakni membentuk kegiatan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan dengan dukungan media pembelajaran yang memadai. Berdasarkan pengamatan peneliti pada saat pelajaran biologi di kelas X-5, materi yang diberikan kepada siswa menggunakan metode diskusi/tanya jawab dan ceramah dari guru. Tingkat keaktivan siswa sekitar 40 % dalam hal bertanya, menjawab pertanyaan, mengungkapkan ide gagasan, menganalisis suatu masalah dan proses pembelajaran lainnya. Untuk itu dibutuhkan pedoman atau petunjuk mengenai materi dalam kegiatan pembelajaran yaitu dapat berupa modul/perangkat pembelajaran berisikan panduan kegiatan siswa, dan media pembelajaran berbantuan komputer. Berdasarkan sarana dan prasarana yang ada disekolah, maka petunjuk/pedoman yang memungkinkan diberikan kepada siswa adalah media pembelajaran berbantuan komputer. Penggunaan media berbantuan komputer dalam pembelajaran tidak hanya menjelaskan keabstrakan suatu konsep tetapi secara tidak langsung memberikan pengetahuan tambahan kepada siswa yaitu penggunaan komputer dalam pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran komputer diperlukan penyusunan secara matang. Pengembangan media yang akan dikembangkan oleh peneliti memiliki tahapan yaitu A-nalyze learner characteristisc, S-tate objectives, S-elected, modify or design material, U-tilize materials, R-equire learner response, E-valuation atau mengikuti penerapan teknologi model The ASSURE. The ASSURE merupakan suatu model instruksional yang lebih mengedepankan respon aktif siswa dalam pembelajaran dengan memperhatikan sifat pengalaman siswa. Model The ASSURE memiliki tahapan yaitu menganalisis siswa, menetapkan tujuan pembelajaran, pemilihan media dan materi, menggunakan materi, mendorong keaktivan siswa, mengevaluasi/ merevisi. Prosedur pengembangan yang digunakan untuk memproduksi media pembelajaran virus mengikuti model The ASSURE. Pada tahap pemilihan media dan materi dapat ditentukan bahwa proses pemilihan media yang sesuai adalah dengan mengembangkan materi baru. Hal ini dikarenakan materi sebelumnya ii tidak ada yang sesuai dengan media yang akan dikembangkan dan pola pembelajaran yang diberikan juga berbeda. Media pembelajaran berbantuan komputer yang dihasilkan memiliki karakteristik ?Programmed Instruction?dengan ciri-ciri yaitu (1) small steps, yaitu keseluruhan tingkah laku, materi dipecah-pecah kedalam bagian kecil yang berwujud langkah-langkah kecil setapak demi setapak, (2) active responding, yaitu pembelajaran terprogram mampu membuat siswa aktif dalam merespon media pembelajaran, (3) immediate feedback, yaitu pembelajaran terprogram mampu memberikan umpan balik kepada siswa sebagai keuntungan setelah selesainya setiap langkah. Uji kevalidan media secara perseorangan dilakukan oleh ahli media, ahli materi, guru biologi, dan beberapa siswa secara individual. Hasil validasi bahwa media pembelajaran valid, tetapi perlu dilakukan revisi berdasarkan komentar dan masukan yang diberikan oleh validator. Komentar yang diberikan yaitu warna tampilan gambar bergerak/animasi harus lebih kontras, pemberian label pada setiap bagian dari gambar bergerak/animasi, gambar bergerak harus lebih detail, fokus gambar bergerak pada bagian yang secara konseptual sulit untuk dipahami, beberapa font tulisan pada media diperbesar, musik haruslah dapat memotivasi belajar siswa, fleksibilitas link harus mempermudah siswa dalam menggunakan media pembelajaran ini, link remidi harus jelas dan rinci, instruksi tulis diberi warna yang berbeda, perbaikan sejumlah pertanyaan yang ada didalam media pembelajaran, perbaikan kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan materi, penyertaan spesifikasi yang dibutuhkan untuk menampilkan media tersebut. Setelah dilakukan revisi berdasarkan komentar dari validator, maka tahap berikutnya dilakukan uji coba siswa lapangan. Uji coba dilakukan di SMA N 1 Situbondo pada siswa kelas X. Hasil uji coba siswa lapangan menyatakan bahwa media pembelajaran berbantuan komputer interaktif ini layak digunakan dalam pembelajaran biologi. Hal ini berdasarkan nilai selisih pretest dan postest yang diperoleh siswa terdapat peningkatan perolehan belajar setelah menggunakan media berbantuan komputer ini yaitu sebesar 18,7. Persentase jawaban angket siswa terhadap media pembelajaran ini yaitu sebesar 97,24 % bahwa media pembelajaran berbantuan komputer ini layak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran biologi dan perhitungan menggunakan Gain Score diperoleh peningkatan belajar sebesar 0,83 yang menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif berbantuan komputer ini efektif dan layak digunakan dalam pembelajaran biologi. Respon siswa secara psikis dan intelektual pada saat mengikuti pembelajaran menggunakan komputer yaitu sangat antusias dan tertarik mengikuti semua prosedur dalam media, serta komentar siswa yaitu penggunaan media berbantuan komputer dalam pembelajaran lebih ditingkatkan lagi. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yang telah diproduksi adalah layak dan efektif untuk digunakan dan dimanfaatkan dalam membantu proses belajar dan pembelajaran biologi di SMA N 1 Situbondo.

Pengembangan multimedia berbantuan komputer untuk pembelajaran topik sel sebagai unit struktural dan fungsional terkecil makhluk hidup / Alfiyah Nazlatus Su'adah

 

Materi sel menjadi materi yang bersifat abstrak karena objek pengamatan yang terlalu kecil sehingga susah diamati. Penyampaian materi sel umumnya bersifat verbalisme berakibat pada kurangnya keterlibatan dan kemandirian siswa selama proses pembelajaran. Karakteristik siswa yang beragam juga membuat informasi yang disampaikan tidak dapat diterima secara keseluruhan. Salah satu alternatif untuk mengatasi kendala penyampaian materi sel sehingga dapat mencapai kompetensi yang diinginkan adalah dengan menggunakan multimedia berbantuan komputer, oleh karena itu dilakukan penelitian pengembangan, tujuan pengembangan untuk memproduksi multimedia berbantuan komputer dengan pembelajaran topik sel sebagai unit struktural dan fungsional terkecil makhluk hidup, yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan kemampuan belajar mandiri sesuai dengan minat dan kemampuannya. Pengembangan multimedia berbantuan komputer ini mengikuti tahapan pengembangan: 1) analisis kebutuhan, 2) analisis karakteristik siswa, 3) perumusan tujuan pembelajaran, 4) perumusan materi pembelajaran, 5) penyusunan alat evaluasi, 6) produksi media, dan 7) tes dan revisi media. Uji coba produk dilakukan pada tiga orang subjek yaitu ahli media, ahli materi, dan responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan pengembangan multimedia berbantuan komputer ini berupa angket. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan persentase dan data kualitatif. Hasil validasi yang dilakukan oleh ahli media dan ahli materi memperoleh nilai sebesar 87,002% dan 86,126% yang menunjukkan bahwa multimedia yang dikembangkan bersifat valid dan tidak perlu revisi. Uji terapan dengan responden siswa kelas XI SMAN 2 Malang mendapatkan nilai multimedia sebesar 88,52% untuk uji multimedia materi bagian I dan 87,26% untuk uji multimedia semua bagian materi. Produk yang dihasilkan adalah multimedia berbantuan komputer untuk topik sel sebagai unit struktural dan fungsional terkecil makhluk hidup SMA kelas XI yang dikemas dalam compact disc (CD). Multimedia dikembangkan untuk pencapaian kompetensi dasar 1) mendeskripsikan komponen kimiawi sel, struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan, 2) mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan dengan alokasi waktu pembelajaran 5 x 45 menit. Multimedia ini terdiri atas 1) bahan penarik perhatian, 2) tujuan pembelajaran, 3) petunjuk penggunaan, 4) materi pembelajaran, 5) balikan, dan 6) evaluasi. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa multimedia tersebut mampu menyajikan materi pembelajaran secara terstruktur, menyajikan fakta sehingga siswa dapat belajar melalui proses penemuan konsep secara mandiri, dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sebelum kegiatan belajar mandiri dilaksanakan hendaknya segala sesuatu yang berkaitan dengan media dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar siswa tidak mengalami hambatan operasional dalam belajar.

Penerapan pembelajaran biologi berorientasi kecakapan hidup (life skill) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-2 di SMAN 2 Malang / Ary Mamiati

 

Di SMAN 2 Malang masih banyak siswa menganggap bahwa pelajaran biologi merupakan pelajaran yang sulit karena harus menghafal dan materi yang banyak. Selain itu masih banyak metode pembelajaran yang digunakan pada pelajaran biologi sangat membosankan dan kurang variatif sehingga hasil belajar siswa pada matapelajaran biologi masih kurang. Kegiatan pembelajaran biologi pada umumnya kurang menarik sehingga aktivitas siswa juga rendah. Pembelajaran biologi dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dan peduli terhadap lingkungannya. Oleh karena itulah pembelajaran biologi sebaiknya lebih ditekankan pada perolehan pengalaman langsung yang lebih bermanfaat bagi siswa salah satunya melalui penerapan pembelajaran biologi berorientasi kecakapan hidup. Pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup bukan hanya bertujuan untuk mencapai hasil belajar dalam aspek kognitif tetapi juga dalam aspek afektif dan psikomotorik karena diutamakan memberikan bekal keterampilan kecakapan hidup pada penyampaian materi. Pada pembelajaran berorientasi kecakapan hidup terdapat hubungan yang sangat erat dan saling berpengaruh antara kehidupan nyata, aspek kecakapan hidup dan mata pelajaran. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilakukan dalam dua siklus dengan tiga kali pertemuan setiap siklusnya. Penelitian ini dilakukan selama bulan Nopember-Desember 2007. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-2 SMAN 2 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi, perangkat mengajar, catatan lapangan, dan tes prestasi belajar. Dari hasil penelitian ini ditemukan peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II yang ditunjukkan dengan ketuntasan belajar siswa pada siklus I siswa belum tuntas belajar yakni masih ada 14,7%. Sedangkan pada siklus II siswa sudah tuntas belajar mencapai 100%. Aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I (63,01%) ke siklus II (90,47%) sehingga peningkatan aktivitas sebanyak 27,46%. Selain itu indikator pencapaian kecakapan hidup juga meningkat dari siklus I (66,42%) ke siklus II (96.42%)dengan persentase peningkatan sebanyak 30%. Penerapan pembelajaran biologi berorientasi kecakapan hidup (life skill) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-2 di SMAN 2 Malang. Saran untuk pihak terkait adalah hendaknya guru dapat menerapkan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup pada semua materi pelajaran agar kualitas output siswa lebih baik karena siswa akan memiliki beberapa kecakapan hidup yang akan bermanfaat dalam menghadapi permasalahan di masa depan.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif pada topik sel subtopik transpor pada membran sel untuk siswa kelas XI SMA Negeri I Bangil / Alexia Sadiyah Nuril Amri

 

Belajar biologi tidak dapat dilakukan di dalam kelas saja, tetapi juga perlu ada pengamatan baik yang dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Hal ini karena objek biologi yang berupa makhluk hidup sehingga diperlukan proses sains untuk mencocokkan teori yang didapat dengan kenyataan. Hal yang sering terjadi adalah bahwa objek biologi yang diamati tersebut bersifat abstrak terutama yang menyangkut transpor pada membran sel. Oleh karena itu keberadaan media sangat diperlukan. Dengan media yang dapat mengintegrasikan teks, gambar, dan suara diharapkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi mengenai transpor pada membran. Selain itu dengan media CD interaktif diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk mengembangkan suatu media pembelajaran harus mengikuti langkah-langkah yang prosedural yaitu 1) analisis kebutuhan media, 2) analisis karakteristik siswa, 3) perumusan tujuan pembelajaran, 4) perumusan materi pembelajaran, 5) penyusunan alat evaluasi, 6) produksi media, dan 7) tes dan revisi media. Media CD interaktif yang dikembangkan mempunyai karakteristik yang menjadi spesifikasi multimedia yang dihasilkan yaitu meliputi a) bahan penarik perhatian, b) tujuan pembelajaran, c) petunjuk penggunaan, d) penyampaian materi, e) balikan, dan f) evaluasi. Berdasarkan data hasil validasi, ahli media memberikan nilai 86,875% dan ahli materi memberikan nilai 89%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa media yang dikembangkan bernilai valid dan merekomendasikan bahwa media sudah layak dan tidak perlu revisi. Selain itu media CD interaktif juga diujikan kepada responden kelompok kecil untuk mengetahui persepsi siswa mengenai media. Berdasarkan nilai perolehan angket penilaian siswa, responden kelompok kecil menyatakan bahwa media CD interaktif sangat menarik serta mendukung dalam proses belajar. Selanjutnya dilakukan uji terapan kelompok besar setelah media direvisi sesuai dengan kritik dan saran dari ahli media, ahli materi dan responden kelompok kecil. Uji terapan dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2008 di SMAN I Bangil dengan jumlah responden sebanyak 34 siswa. Uji terapan dilaksanakan selama 2x45 menit. Pada uji terapan siswa menyatakan tertarik dengan media yang dikembangkan dan lebih bersemangat dalam belajar serta dapat memotivasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan supaya guru tetap mendampingi siswa selama belajar, sebelum kegiatan belajar mandiri dilaksanakan sebaiknya guru memberikan arahan mengenai pengoperasian multimedia.

Pengaruh aspek psikologis terhadap keputusan pembelian sepeda motor Honda Tiger (studi pada klub motor Neo Gat's Malang) / Machfud

 

Ketatnya persaingan di era pasar bebas sekarang ini merupakan hal yang lazim dalam dunia bisnis. Persaingan tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Banyak pengamat manajemen yang meramalkan bahwa persaingan akan semakin ketat dimasa yang akan datang. Perusahaan harus mempunyai strategi yang unggul di dalam merebut pangsa pasar dan dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli produk mereka. Untuk menciptakan dan mengidentifikasi produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, sehingga konsumen dapat memutuskan pembeliannya pada suatu produk, salah satu faktor yang menentukan adalah faktor psikologis dari masing-masing konsumen itu sendiri. Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor psikologis utama yaitu persepsi, pembelajaran serta sikap dan keyakinan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara langsung aspek psikologis yang meliputi persepsi, pembelajaran, serta sikap dan keyakinan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Honda Tiger. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional, data yang diperoleh menggunakan angket tertutup. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota klub motor Neo GAT?S (Gabungan Tiger Sporty) Malang, dengan menggunakan penghitungan populasi, didapatkan sampelnya adalah 60 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling. Pengambilan data primer dalam penelitian ini menggunakan instrumen penelitian yang berupa angket atau kuesioner, yang sebelumnya telah diuji melalui uji validitas dan uji reliabilitas yang diujikan kepada 10 responden di luar sampel yang akan diteliti. Instrumen penelitian tersebut menggunakan Skala Likert dengan 4 skala pengukuran untuk diferensiasi penelitian yang meliputi: sangat setuju (4); setuju (3); tidak setuju (2); sangat tidak setuju (1). Hasil dari penelitian ini adalah: (1) nilai β1=0,339 ; SE sebesar 18,23% ;nilai t hitung =3,583 > t tabel = 2,000 dengan tarif signifikansi 0,05 maka diperoleh kesimpulan bahwa persepsi berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Honda Tiger. (2) Nilai β2=0,284 SE sebesar 1,68%; nilai t hitung =3,360 > t tabel =2,000 dengan tarif signifikansi 0,05 maka diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Honda Tiger. (3) Nilai β3=0,333; SE sebesar 17,72; nilai t hitung =3,470 > t tabel =2,000 dengan taraf signifikansi 0,05 maka diperoleh kesimpulan bahwa sikap dan keyakinan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Honda Tiger ; nilai F=23,132; signifikasi F =0,000 dan R Square sebesar 0,529. Dimensi aspek psikologis yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Honda Tiger adalah persepsi. Saran penulis adalah (1) agar PT. Honda Astra Motor mempertahankan persepsi yang ada di mata masyarakat, terutama untuk sepeda motor Honda Tiger, karena sepeda motor Honda Tiger sudah mendapatkan persepsi yang baik di mata masyarakat, (2) agar PT. Honda Astra Motor selalu memberikan semua yang terbaik yang diinginkan konsumen, terutama untuk produk sepeda motor Honda Tiger karena ini akan menjadi suatu pembelajaran bagi konsumen dengan cara lebih memperkenalkan keunggulan dari sepeda motor Honda Tiger daripada sepeda motor lain yang sekelas.

Pengaruh ekuitas merek terhadap loyalitas pelanggan rokok Sampoerna A Mild (studi pada mahasiswa jurusan S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya angkatan 2004-2005) / Ariyanto Nugroho

 

Ekuitas merek dapat dinyatakan sebagai tingkat kemampuan sebuah merek dalam memenuhi kebutuhan dan harapan penggunanya yang dinilai dari kualitas produk dan jasa, serta persepsi konsumen secara keseluruhan. Ekuitas merek dapat dinilai dari kesadaran merek, asosiasi merek, loyalitas merek, dan kualitas merek. Perusahaan perlu dan harus menjaga ekuitas merek setiap produk yang dihasilkannya guna meningkatkan loyalitas pelanggan atas produk-produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel kesadaran merek, asosiasi merek, loyalitas merek, dan kualitas merek terhadap loyalitas pelanggan pada rokok Sampoerna A Mild. Penelitian ini mempunyai 2 variabel, yaitu variabel independen (X) yang terdiri atas kesadaran merek (X1), asosiasi merek (X2), loyalitas merek (X3), kualitas merek (X4), dan variabel dependen (Y) yaitu loyalitas pelanggan. Penelitian dilakukan pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan S-1 Akuntansi Universitas Brawijaya Angkatan 2004-2005. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional, dimana data diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner terbuka. Teknik pengambilan sampel dengan Teknik Purposive Sampling, dimana rumus Slovin digunakan untuk menentukan jumlah sampel. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 orang responden. Analisis data yang digunakan dalam penelkitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS For Windows Release 12,0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran merek merek, secara parsial berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,003 dan nilai itu kurang dari tingkat signifikansi α sebesar 0.05. Variabel asosiasi merek merek, secara parsial berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, dengan nilai signifikansi sebesar 0,004 dan nilai itu kurang dari tingkat signifikansi α sebesar 0.05. Variabel loyalitas merek , secara parsial berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,004 dan nilai itu kurang dari tingkat signifikansi α sebesar 0.05. Variabel kualitas merek (X4), secara parsial berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,000 dan nilai itu kurang dari tingkat signifikansi α sebesar 0.05. Jadi, secara parsial variabel-variabel ekuitas merek berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan pada rokok Sampoerna A Mild. Secara simultan variabel kesadaran merek, asosiasi merek, loyalitas merek, dan kualitas merek berpengaruh simultan terhadap variabel loyalitas penggan, dimana nilai signifikansinya sebesar 0,000 dan nilai itu kurang dari tingkat signifikansi α sebesar 0.05. Variabel kualitas merek adalah variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap variabel loyalitas pelanggan, dengan nilai koefisien beta sebesar 0,408. Saran yang dapat diajukan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah: (1). Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat membahas lebih luas lagi mengenai variabel lain yang dapat mempengaruhi ekuitas merek terhadap loyalitas pelanggan karena variabel ekuitas merek dari segi kesadaran merek, asosiasi merek, loyalitas merek, kualitas merek berpengaruh sebesar 65,6 % terhadap loyalitas pelanggan. Sedangkan sebesar 35.4 % dipengaruhi variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini. Variabel lain dapat berupa aset-aset merek lainnya seperti kemasan, logo, hak paten, saluran distribusi dan lainnya. (2). Bagi perusahaan penelitian ini dapat dijadikan sebagai wacana dalam menetapkan kebijakan lebih lanjut, manajemen merek yang efektif mempengaruhi program pemasaran masa depan. Dalam penguatan merek, ekuitas merek dikuatkan dengan program pemasaran yang konsisten mencakup arti dari merek bagi pelanggan dalam hal produk yang ditawarkan, keuntungan yang diperoleh konsumen, kepuasan dari memakai produk, dan keunggulan produk dari produk sejenis dengan merek lain.

Analisis eagles untuk mengukur kinerja keuangan pada perusahaan perbankan sebelum dan sesudah go public di Bursa Efek Jakarta tahun 2000-2006 / Lutfiah

 

Kemampuan perusahaan perbankan diukur melalui kinerja keuangannnya Pada penelitian ini kinerja keuangan diukur menggunakan analisis EAGLES yang terdiri dari enam aspek penilaian kinerja keuangan yaitu earning ability, asset quality, growth rate, liquidity, equity, dan strategic management. Analisis EAGLES adalah sebuah aspek penilaian kinerja keuangan bank yang dipelopori oleh John Vong (1995), sebagai pendekatan yang disarankan untuk mengukur dan membandingkan kinerja bank secara lebih tepat, objektif, dan konsisten. Dengan melakukan Go Public diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan perbankan. Melalui penawaran umum perdana saham (Go Public) sebuah perusahaan dapat menjual saham atau efeknya kepada masyarakat. Dari segi perusahan, dana yang masuk dari masyarakat ke perusahaan akan memperkuat posisi permodalan ; khususnya utang berbanding modal. Dana dapat digunakan untuk ekspansi, diversifikasi produk atau mengurangi hutang. Hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan kinerja keuangan antara sebelum dan sesudah Go Public. Penelitian ini dilakukan kepada 11 perusahaan perbankan yang melakukan Go Public pada tahun 2000-2003. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan individu bank yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, dan laporan kualitas aktiva produktif. Dalam penelitian ini menggunakan dua alat uji statistik, Wilcoxon Signed Rank Test digunakan untuk mengetahui adanya perbedaaan kinerja keuangan bank sebelum dan sesudah Go Public dari rasio EAGLES secara parsial. Sedangkan Manova Test digunakan untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan yang signifikan pada kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan analisis EAGLES secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan meskipun terdapat perbedaan yang signifikan pada pengujian hipotesis secara simultan untuk 2 tahun sebelum dan 1 tahun sesudah Go Public, serta perbedaan yang signifikan pada beberapa rasio EAGLES secara parsial, akan tetapi pada pengujian hipotesis 1, 2, dan 4 secara simultan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kinerja keuangan yang signifikan untuk sebelum dan sesudah Go Public. Dari hasil pengujian hipotesis secara parsial selama 4 tahun periode penelitian, hanya rasio likuiditas yang menunjukkan perbedaan secara signifikan.

Pengaruh faktor psikologi dan faktor sosial terhadap keputusan pembelian komputer di lingkungan mahasiswa (studi kasus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang) / Devi Wahyuddin Syaf

 

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian suatu barang, seperti yang dikemukakan oleh Suharto (2001:3) bahwa proses pengambilan keputusan pembelian di pengaruhi oleh 2 faktor yaitu : faktor sosio kultur (kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi) dan faktor psikologis (sikap, persepsi, motivasi dan gaya hidup). Sedangkan Kotler (2000:204) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan pembelian meliputi: tahap pengenalan masalah/kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap evaluasi alternatif, tahap keputusan pembelian, dan tahap perilaku paska pembelian. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang pada kelas regular semester genap 2006/2007. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik aksidental sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Kesimpulan hasil penelitian yaitu sebagai berikut: pertama, secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor psikologi (X1) dan faktor sosial (X2) terhadap keputusan pembelian komputer pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Kedua, terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan faktor psikologi (X1) dan faktor sosial (X2) terhadap keputusan pembelian komputer pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang pada kelas reguler semester genap 2006/2007. Ketiga, koefisien regresi masing-masing faktor dapat diuraikan yaitu faktor psikologi (X1) yaitu sebesar 0,101 dan faktor sosial (X2) sebesar 0,313. Berdasarkan hasil koefisien regresi masing-masing variabel bebas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa faktor sosial merupakan faktor yang mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian komputer pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang pada kelas reguler semester genap 2006/2007. Saran yang dapat diajukan yaitu diharapkan para pemilik usaha penjualan komputer untuk memperhatikan faktor sosial para konsumen yang akan melakukan pembelian komputer, yaitu dengan menjual produk yang benar-benar sesuai dengan keinginan para konsumen sehingga mereka merasakan dengan memiliki komputer tersebut dapat memberikan manfaat yang positif terhadap fungsi komputer dan dapat menunjukkan status mereka sebagai mahasiswa dan selalu mengikuti perkembangan komputer serta memberikan garansi yang sesuai dengan ketentuan.

Analisis kelayakan investasi usaha budidaya lobster air tawar oleh Gentle Face Farm / Ferry Adiwiraga

 

Peluang usaha budi daya lobster air tawar yang masih terbuka lebar membuat Gentle Face Farm berencana untuk melakukan perluasan usaha. Rencana investasi tersebut membutuhkan modal yang sangat besar karena besarnya kapasitas produksi yang diinginkan. Karena besarnya modal yang akan dikeluarkan maka perlu diadakan studi kelayakan untuk menilai investasi yang akan dilakukan oleh Gentle Face Farm tersebut. Untuk menilai kelayakan investasi, khususnya dari aspek finansial dapat menggunakan metode penganggaran modal. Dimana di dalam penganggaran modal terdapat kriteria penilaian untuk menentukan layak tidaknya suatu proyek. Sebelumnya dihitung terlebih dahulu biaya modal yang akan ditanggung Gentle Face Farm, yaitu sebesar 8%. Angka ini akan digunakan untuk mendiskonto aliran kas yang dapat diproyeksikan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai pembanding. Dari empat kriteria penilaian, yaitu Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return, dan Indeks Profitabilitas, semuanya menghasilkan nilai yang mengatakan proyek investasi usaha budi daya lobster air tawar tersebut layak untu dijalankan. Nilai tersebut adalah Payback Period selama 3 tahun 10 bulan 21 hari, waktu ini lebih cepat dari umur ekonomis proyek yang diperkirakan selama 8 tahun. Net Present Value menghasilkan nilai yang positif, Internal Rate of Return yang lebih besar dari pada Cost of Capital-nya, dan nilai Indeks Profitabilitas diatas nilai 1. Semua hasil tersebut memuaskan, sehingga Gentle Face Farm tidak perlu ragu untuk menjalankan usaha tersebut jika ditinjau dari aspek financial, dan diharapkan dengan berdirinya usaha tersebut akan diikuti profesionalisme perusahaan dalam mengelola peternakan. Serta penulis sarankan untuk segera merealisasikan rencana investasi tersebut guna merebut pasar yang masih besar sehingga akan mendapatkan konsumen yang lebih besar daripada competitor yang lain.

Hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar ekonomi dengan minat, motivasi, dan prestasi belajar siswa kelas X semester I SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Mohammad Wasil

 

Persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar merupakan suatu daya mengenal siswa dari hasil mengamati, mengetahui, dan mengartikan setelah alat indera siswa mendapat rangsangan dari yang ditampilkan oleh guru ketika mengajar. Keterampilan guru dalam mengajar merupakan stimulus yang menghendaki adanya tanggapan dari siswa yang bisa ditanggapi sebagai hal yang positif atau negatif, tergantung siswa akan mempersepsikan apakah positif sehingga minat dan motivasi belajarnya dapat terkelola dengan baik untuk mencapai keoptimalan proses belajar ataukah sebaliknya. Persepsi siswa akan berhubungan dengan minat dan motivasi serta prestasi belajarnya karena merupakan kesan pertama untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pengajaran. Untuk mengetahui hubungan persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar maka masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar ekonomi, (2) Bagaimana minat belajar siswa terhadap mata pelajaran ekonomi, (3) Bagaimana motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran ekonomi, (4) Adakah hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar dengan minat belajar, (5) Adakah hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar ekonomi dengan motivasi belajar siswa, dan (6) Adakah hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar ekonomi dengan prestasi belajar di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar ekonomi dengan minat, motivasi, dan prestasi belajar siswa kelas X semester I SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2007-2008. Jumlah kelas X terdiri dari 6 kelas dengan jumlah keseluruhan 178 siswa. Sedangkan sampel yang diambil 25% dari populasi yaitu berjumlah 48 siswa yang ditetapkan dengan teknik random sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan angket, dan data yang terkumpul dilakukan uji coba validitas dan uji coba reliabilitas untuk mengetahui gugur tidaknya butir angket dengan bantuan analisis data SPSS For Windows 12. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh: (1) Persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar guru ekonomi dalam kondisi baik yaitu menunjuk pada tingkat persentase 49,99%, (2) Minat belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dalam kondisi yang baik dengan tingkat persentase 72,91%, (3) Motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dalam kondisi baik dengan tingkat persentase 70,83%, (4) Ada hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar dengan minat belajar siswa pada koefisien korelasi (r) sebesar 0,550, (6) Ada hubbungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar dengan motivasi belajar siswa pada koefisien korelasi (r) sebesar 0,408, dan (6) Ada hubungan antara persepsi siswa terhadap keterampilan guru mengajar dengan prestasi belajar siswa pada koefisien korelasi (r) sebesar 0,733. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi sekolah untuk tetap memantau dan mengevaluasi para guru dalam mengajar; para guru disarankan untuk tetap aktif mengikuti MGMP; bagi siswa hendaknya meningkatkan minat dan motivasi belajarnya; untuk peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang terkait dengan sistem pendidikan dan stategi pendidikan bagi lembaga keguruan, agar sistem pendidikan sesuai dengan keterampilan guru/kebutuhan kualitas guru sehingga nantinya mampu mendukung peningkatan prestasi belajar siswa.

Profil pengelolaan bantuan operasional sekolah (BOS) di SMPN 06 Tulungagung / Dwi Prasetyowati

 

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang sudah dicanangkan pemerintah, belum sepenuhnya bisa dikatakan tuntas. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyaknya anak usia sekolah yang tidak mampu menuntaskan pendidikan dasar akibat dana pendidikan yang tidak mampu mereka penuhi. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk menuntaskan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun adalah dengan melaksanakan Program Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pendidikan. PKPS-BBM Bidang Pendidikan diberikan dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk seluruh SD/MI./SDLB/SMP/MTs/SMPLB. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Profil Pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan BOS Buku di SMPN 06 Tulungagung untuk mendiskripsikan dan menganalisis : (1) Pengelolaan dana BOS dan BOS Buku di SMPN 06 Tulungagung sesuai dan tidaknya dengan ketentuan pelaksanaan program.(2) Permasalahan yang dihadapi oleh SMPN 06 Tulungagung dalam pelaksanaan pengelolaan BOS dan BOS Buku, (3) Upaya-upaya penyelesaian masalah pengelolaan BOS dan BOS Buku di SMPN 06 Tulungagung, (4) Perkembangan sekolah SMPN 06 Tulungagung setelah mendapat BOS dan BOS Buku dari pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang diterapkan dalam hal penetapan lingkup/obyek/variabel informasi data, untuk memperoleh data cara mengolah data, dan analisis data, sumber data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata atau ucapan yang diperoleh melalui wawancara, teknik pengumpulan data atau perekam data yang digunakan adalah melalui pengamatan atau observatif, wawancara dan dokumentasi. Variabel penelitian ini adalah profil pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah yang meliputi pengelolaan dana BOS dan BOS Buku Di SMPN 06 Tulungagung sesuai dan tidaknya dengan ketentuan pelaksanaan program, permasalahan apakah yang dihadapi oleh SMPN 06 Tulungagung dalam pelaksanaan pengelolaan BOS dan BOS Buku, bagaimana upaya-upaya penyelesaian masalah pengelolaan BOS dan BOS Buku di SMPN 06 Tulungagung, perkembangan sekolah SMPN 06 Tulungagung setelah mendapat BOS dan BOS Buku dari pemerintah. Penelitian ini dilakukan di SMPN 06 Tulungagung. Responden dalam penelitian ini diantaranya adalah: kepala sekolah, bendahara sekolah, guru-guru sekolah, siswa-siswi. Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa (1) ) Pengelolaan dana BOS dan BOS Buku Di SMPN 06 Tulungagung sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pelaksanaan program (jutlak dan juknis).(2) Tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh SMPN 06 Tulungagung dalam pelaksanaan pengelolaan BOS dan BOS Buku, (3) Jika ada permasalahan dalam pengelolaan dana BOS upaya-upaya penyelesaian masalah yang dilakukan SMPN 06 Tulungagung adalah membicarakan dan mendiskusikan dengan DINAS Kabupaten Tulungagung, (4) Perkembangan sekolah SMPN 06 Tulungagung setelah mendapat BOS dan BOS Buku dari pemerintah adalah semakin bertambahnya koleksi buku-buku pelajaran yang ada diperpustakaan dan semakin sejahteranya sekolah. Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa penggunaan dana BOS di SMPN 06 Tulungagung sudah sesuai dengan ketentuan berlaku yang dibuat oleh Pemerintah dengan bukti dana yang telah diterima digunakan sesuai dengan jutlak dan juknis BOS dan sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati bersama komite-komite sekolah serta digunakan secara transparan dan dikelola secara akuntabel sehingga dana BOS yang telah diterima mencukupi kebutuhan sekolah dan penggunaan bisa berjalan lancar serta tidak menyimpang dari peraturan yang berlaku. Berdasarkan hasil skripsi, peneliti memberikan saran kepada, kepada Kepala Sekolah dan Bendahara Sekolah yang bertanggungjawab mengelola dana BOS hendaknya selalu menjaga dan mempertahankan pengelolaan dana BOS yang telah dilakukan agar pengelolaan dana BOS untuk periode-periode berikutnya bisa lebih efektif, kepada Dinas Pendidikan Tulungagung hendaknya selalu mementau sekolah-sekolah yang mendapat dana BOS dalam pengelolaan dana BOS. Oleh SMPN 06 Tulungagung dengan senantiasa memberikan dukungan terhadap segala kegiatan pengelolaan dana BOS yang dilakukan, kepada peneliti lanjutan hendaknya mengadakan penelitian pada subjek yang lain, luas dengan yang lebih beragam yang juga mengetengahkan masalah pengelolaan dana BOS.

Perbedaan kemandirian manusia usia lanjut (manula) yang tinggal bersama keluarga dan yang tinggal di panti jompo di Kecamatan Lawang / Mutimmatul Maududah

 

Dikatakan oleh Sarwono dan Koesoebjono dalam Suara Pembaruan (2004) bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang proses penuaan penduduk-nya paling cepat di Asia Tenggara. Usia lanjut seringkali dikaitkan dengan masa yang tidak produktif lagi dimana pada periode ini ditandai dengan adanya kemunduran fisik dan mental yang terjadi secara perlahan dan bertahap. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah ini adalah dengan meningkatkan kualitas hidup manula yaitu dengan adanya kemandirian. Kemandirian sangat dibutuhkan oleh manusia usia lanjut, dimana mereka nanti bisa mengurus diri sendiri dan mengatur pola hidupnya tanpa campur tangan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kemandirian manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga, (2) kemandirian manusia usia lanjut yang tinggal dipanti jompo, (3) Perbedaan kemandirian manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga dan yang tinggal di panti jompo di Kecamatan Lawang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga dan yang tinggal di panti jompo dengan karakteristik yaitu Usia 60-75 tahun, berdomisili di Kecamatan Lawang, statusnya belum atau sudah ditinggalkan oleh pasangan, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, masih mampu melakukan komunikasi dengan baik. Populasi sebanyak 1077 orang yang tinggal bersama keluarga dan 78 orang yang tinggal di dua panti yang ada di Kecamatan Lawang. Sampel diambil sebanyak 25 orang yang tinggal bersama keluarga dan 25 orang yang tinggal di panti jompo. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif persentase dan analisis komparatif uji - t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa skor rata-rata kemandirian pada manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga sebesar 30,04 sedangkan yang tinggal di panti jompo sebesar 15,56 dan klasifikasi kemandirian berdasarkan norma kelompok pada masing-masing kelompok yaitu untuk manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga dengan kategori tinggi sebesar 44% dan kategori rendah 56% begitu juga untuk manusia usia lanjut yang tinggal di panti jompo dengan kategori tinggi sebesar 44% dan kategori rendah sebesar 56%. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemandirian antara manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga dan yang tinggal di panti jompo, yaitu kemandirian manusia usia lanjut yang tinggal bersama keluarga lebih tinggi dibandingkan dengan manusia usia lanjut yang tinggal di panti jompo.

Hubungan pelaksanaan layanan bimbingan konseling dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa SLTP Negeri 2 di Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar / Ratna Kunjarwati

 

Pelaksanaan layanan bimbingan konseling mempunyai arti penting dalam rangka menumbuhkan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Demikian juga halnya prestasi belajar, juga merupakan salah satu penunjang kegiatan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Tujuan seseorang memasuki suatu lembaga pendidikan yang paling nyata adalah untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Dengan prestasi belajar yang diperolehnya, maka seseorang dapat hidup secara layak di tengah ? tengah masyarakat dan memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikannya.

Implementing picture sequences to improve students' ability in writing narrative texts / Yuli Astuti Hasanah

 

The writing ability of the second year students of SMP N 6 Malang was unsatisfactory. They were unable to express their ideas into writing and write in a good order. Picture sequences were proposed as an alternative strategy to solve the problems. The study was designed to improve students? writing ability through implementing picture sequences. The objective of the study was to find out how picture sequences can be implemented to improve students? writing ability. This study was a collaborative classroom action research, which consisted of three cycles, each of which consisted of four steps, namely: planning the action, acting on the plan, observing the action, and reflecting on the observation. The subjects of this study were 40 students of VII-I class of SMPN 6 Malang, in the academic year of 2007/2008. The instruments used to collect the data were the observation checklists, field notes, questionnaires and the students? writings. The data from the observation and questionnaires were presented in the form of tables, while the data gained from the field notes and students? writing were analyzed and reported descriptively. The result of this study showed that the picture sequences strategy was effectively improving the students? writing ability. The improvement on the students? writing ability could be seen from the result of the students? writings which showed that they were able to express the ideas, tell the stories in a good order, and write the stories with the appropriate content, language use, and spelling. Moreover, the implementations of pictures sequences also brought positive students? attitude during the teaching and learning process. They were happy and excited to have picture sequences. There were some procedures to be followed in implementing the picture sequences strategy. First, the students were introduced to the picture sequences. Second, they were asked to identify the aspects of stories and determine the objects of the stories based on the picture sequences. Third, they were asked to make the outline and develop the outline into a paragraph. Finally, they were asked to edit the stories in terms of the content, language use, and spelling. In addition, the students were taught the sentence structure, organization, vocabulary, punctuation and spelling. It is suggested that English teachers use picture sequences in teaching writing in order to make students get used to the writing activities. It is also suggested other researchers conduct similar studies with different skills, setting and more respondents for the improvement of the writing skills.

Pengembangan bentuk-bentuk formasi latihan pertahanan dalam permainan bolavoli di kegiatan ekstrakurikuler SMA Negeri Kunir Kabupaten Lumajang / Adi Novia

 

Dalam permainan bolavoli banyak orang beranggapan bahwa smash adalah bagian yang paling menarik, tetapi teknik bertahan juga dapat membangkitkan daya tarik tersendiri bagi para penggemar. Pertandingan yang seimbang antara tim yang mempunyai pertahan yang bagus terhadap serangan dari lawan akan menciptakan permainan yang menarik untuk ditonton. Dalam permainan bolavoli teknik bertahan sangat penting untuk mempertahankan serangan dari regu lawan agar bola melambung di udara (tidak jatuh ke lantai). Pertahanan adalah membaca serangan lawan sehingga dapat mengetahui arah datangnya suatu smash. Sebuah smash yang keras memiliki kecepatan yang sangat tinggi sehingga hanya membutuhkan waktu setengah detik untuk jatuh ke lantai. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di ekstrakurikurikuler bolavoli SMA Negeri Kunir Kabupaten Lumajang latihan teknik dasar pertahanan sudah diberikan namun untuk latihan formasi pertahanan yang diberikan yaitu drill passing sedangkan latihan formasinya belum begitu muncul. Berdasarkan dari pemain dan wawancara antara peneliti dengan pelatih, maka akan dilakukan Penerapan formasi pertahanan dalam permainan bolavoli di ekstrakurikuler SMA Negeri Kunir Kabupaten Lumajang. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu belum adanya bentuk-bentuk formasi pertahanan di ekstrakurikuler bolavoli SMA Negeri Kunir Kabupaten Lumajang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan formasi pertahanan yang baik dan sesuai untuk pemain bolavoli di ekstrakurikuler bolavoli SMA Negeri Kunir Kabupaten Lumajang, yang nantinya dengan adanya penerapan formasi pertahanan pemain lebih semangat dan antusias dalam mengikuti latihan. Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk para ahli dan pemain. Dengan kualifikasi, 2 ahli kepelatihan bolavoli dan 1 ahli pembelajaran (permainan) bolavoli, sedangkan untuk pemain dilakukan uji coba (kelompok kecil) sebanyak 12 pemain, dan uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 24 pemain. Hasil penelitian berupa bentuk-bentuk formasi pertahanan ini adalah sebagai berikut: dari 2 ahli kepelatihan bolavoli sudah sesuai di berikan kepada siswa, dari ahli pembelajaran (permainan) bolavoli sudah sesuai di berikan kepada siswa, dari uji coba (kelompok kecil) yaitu persentasenya 87,78%, dan dari uji lapangan (kelompok besar), yaitu persentasenya 94,51%.

Studi tentang tingkat kesegaran jasmani dan keterampilan bolavoli peserta ekstrakurikuler bolavoli SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang / Agus Fawanda Sisardhana

 

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di SMPN 1 Singosari, diketahui bahwa prestasi peserta ekstrakurikuler bolavoli cenderung menurun. Pada beberapa tahun sebelumnya ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari selalu mendapat juara tiga besar di kejuaraan bolavoli tingkat SMP/MTs SeKecamatan Singosari. Tetapi pada tahun 2006-2007 ini peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari tidak mendapat juara sama sekali. Menurunnya prestasi olahraga voli ini diduga karena peserta ekstrakurikuler mempunyai kesegaran jasmani yang tidak cukup prima, serta penguasaan keterampilan dasar bermain bolavoli belum cukup baik. Hal ini terkait dengan kurangnya frekuensi latihan ekstrakurikuler bolavoli yang dilakukan seminggu sekali. Penelitian ini merupakan suatu studi mengenai tingkat kesegaran jasmani dan keterampilan bolavoli peserta ekstrakurikuler bolavoli, yang bertujuan untuk mengetahui: tingkat kesegaran jasmani peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari; keterampilan bolavoli peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari; keterampilan servis bawah bolavoli peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari; dan keterampilan passing bawah bolavoli peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Singosari, yang dilaksanakan mulai bulan Juli-Agustus 2007. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Multistage Fitness Test untuk mengetahui tingkat kesegaran jasmani, tes servis bawah dari French-Cooper untuk mengetahui tingkat keterampilan servis bawah, dan tes passing bawah dari AAHPERD tingkat keterampilan passing bawah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kesegaran jasmani peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN1 Singosari rendah. Rerata VO2 maks yang diperoleh peserta adalah sebesar 26,20 ml/kg bb/mnt (Kategori Kurang), hal ini masih jauh dari patokan VO2 maks minimal untuk cabang olahraga bolavoli dari Pusat Ilmu Olahraga PIO KONI, yaitu sebesar 60 ml/kg bb/mnt. Selain itu tingkat keterampilan bolavoli peserta ekstrakurikuler bolavoli SMPN 1 Singosari juga rendah. Untuk servis bawah, sebagian besar peserta mempunyai tingkat keterampilan servis bawah dalam kategori kurang dan sedang. Sedangkan untuk keterampilan passing bawah sebagian besar peserta mempunyai tingkat keterampilan passing bawah dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dapat mengembangkan program latihan yang mengarah pada peningkatan kesegaran jasmani dan keterampilan bolavoli, misalnya dengan meningkatkan frekuensi latihan, dari satu kali seminggu menjadi tiga atau empat kali seminggu.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI-IPS3 SMA Negeri 7 Malang / Irma Wahyu Wulandari

 

Perkembangan ilmu pendidikan yang begitu pesat. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah dilakukan oleh pemerintah dengan berbagai strategi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan perubahan kurikulum, yaitu dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau kurikulum 2004 menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif mampu menyediakan kondisi yang menyebabkan siswa satu dengan yang lainnya saling aktif berinteraksi dan berlomba untuk meningkatkan prestasinya. Pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe, salah satunya adalah tipe TPS (Think Pair Share). Dalam pembelajaran kooperatif tipe TPS siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya. Kelompok terdiri dari beberapa siswa dengan tingkat heterogenitas. Salah satu penyebab kesulitan belajar siswa adalah cara mengajar guru tidak sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki siswa. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) sesuai untuk diterapkan pada mata pelajaran Ekonomi pokok bahasan kebijakan pemerintah di bidang fiskal dan moneter di SMA Negeri 7 Malang? (2) Bagaimanakah hasil belajar ekonomi setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) siswa kelas XI-IPS3 di SMA Negeri 7 Malang? Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dan deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 7 Malang kelas XI-IPS3 semester 1 tahun ajaran 2007/2008. Sampel penelitian terdiri dari 6 kelompok yaitu kelas XI-IPS3 sebanyak 42 siswa. Instrumen yang digunakan berupa tes kognitif (post-test), lembar observasi, angket minat terhadap pembelajaran kooperatif tipe TPS dan perangkat pembelajaran. Keterlaksanaan pengajaran ekonomi dengan model kooperatif tipe TPS dideskripsikan secara kualitatif. Dengan penerapan pembelajaran TPS (Think Pair Share) hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa aspek kognitif dari rata-rata sebesar 68,93 di siklus I meningkat menjadi 79,02 pada siklus II. Adapun saran yang dapat diberikan kepada peneliti selanjutnya adalah: (1) Bagi guru mata pelajaran ekonomi dapat menggunakan pembelajaran TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa, (2) Penerapan pembelajaran TPS (Think Pair Share) hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan (3) Penelitian ini hendaknya dapat didteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan kelas serta sekolah dan materi yang berbeda, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan tindakan lebih dari dua siklus. Sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal.

Assesmen kebutuhan sumber daya pelatihan dalam upaya meningkatkan ketrampilan kerja calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) di Balai Latihan Kerja Pertanian dan Pengembangan Tenaga Kerja Luar Negeri (BLKPPTKLN) Jawa Timur di Malang / Sutikno Hartono

 

Implementasi metode pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 2 Pasuruan / Nofan Rizqi Fauji

 

Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, diperlukan sesuatu strategi atau pola pendidikan yang tepat, sehingga apa yang menjadi tujuan dapat tercapai. Upaya pengembangan strategi pendidikan yang tepat itu tercermin pada salah satu indikatornya, yaitu bagaimana cara untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang akhirnya menjadikan hasil belajar yang diperoleh peserta didik tersebut dapat meningkat. Motivasi memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, karena pada hakekatnya proses pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan untuk dapat membelajarkan peserta didik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dari hasil pengamatan pendahuluan di lapangan menunjukkan bahwa motivasi belajar mata pelajaran Ekonomi peserta didik masih rendah, salah satu penyebab rendahnya motivasi belajar pada mata pelajaran Ekonomi ini adalah kecenderungan menerapkan metode pembelajaran yang tidak variatif. Usaha meningkatkan motivasi belajar peserta didik mata pelajaran Ekonomi perlu diciptakan suatu kondisi yang melibatkan peran aktif dari peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menerapkan pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang melibatkan peserta didik sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan sikap sosial antar sesama peserta didik sebagai latihan hidup dalam suatu masyarakat yang nyata. Penelitian ini bertujuan untuk yang Pertama adalah mengetahui penerapan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw pada pelajaran Ekonomi. Kedua, Aktivitas dan keterampilan kooperatif siswa dalam melaksanakan metode pembelajaran model Jigsaw pada pelajaran Ekonomi. Ketiga, Bagaimanakah respon peserta didik dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw pada pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Pasuruan. Keempat, Mengetahui motivasi belajar siswa pada pelajaran Ekonomi setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model Jigsaw Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dan pemberi tindakan. Data penelitian dikumpulkan melalui: 1) observasi, 2) wawancara, 3) angket, 4) catatan lapangan dan 5) dokumentasi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X.3 di SMA Negeri 2 Pasuruan yang berjumlah 36 siswa. Teknik analisis data melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, paparan data, penyimpulan hasil analisis data. Pengecekan keabsahan data menggunakan kriteria derajat kepercayaan yang meliputi 1) ketekunan/keajegan pengamatan, 2) triangulasi, 3) pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Penelitian tindakan kelas 2 dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus mencakup 5 tahap yaitu: 1) Membentuk kelompok asal, 2) Membentuk kelompok ahli, 3) Diskusi inti kelompok asal, 4) menyajikan laporan/presentasi kelompok dan 5) penutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pembelajaran kooperatif model Jigsaw kepada peserta didik secara umum telah dilaksanakan dengan baik, 2) kerjasama peserta didik dalam pembelajaran ini juga berlangsung dengan baik, dimana peserta didik tidak membedakan kemampuan akademik, latar belakang sosial, maupun jenis kelamin, tetapi lebih didorong oleh rasa tanggung jawab mereka dalam menyelesaikan tugas; 3) respon peserta didik dalam penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw sangat positif, dan 4) Motivasi peserta didik terhadap pembelajaran kooperatif model Jigsaw sudah baik, hal ini ditunjukkan dengan berdasarkan pemerolehan skor dan persentase, dari 35 siswa kelas X.3 yang mengisi angket motivasi belajar, terdapat 23 peserta didik mengalami peningkatan motivasi dalam belajar, 10 peserta didik mengalami penurunan dan 2 peserta didik tidak mengalami kenaikan maupun penurunan motivasi (stagnan). kenaikan tertinggi yaitu sekitar 18,4, sedangkan penurunan sekitar -12,8. Sehingga dengan adanya peningkatan motivasi perserta didik secara umum, maka akan memberikan dorongan yang kuat kepada keseluruhan peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar, dan ketika kegiatan belajar berjalan dengan baik, tujuan dari pembelajaranpun juga dapat tercapai dengan baik. Dari hasil penelitian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa 1) penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw pada mata pelajaran Ekonomi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang dibuktikan dengan kerjasama peserta didik dalam menyelesaikan tugas sangat baik, selain itu respon peserta didik pada pembelajaran ini sangat positif, 2) pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan keterampilan dan aktivitas peserta didik dalam belajar. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu: 1)Untuk mencapai kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil belajar yang baik dalam pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw diperlukan persiapan perangkat pembelajaran yang cukup memadai, misalnya Rencana Pembelajaran dan Lembar Kegiatan Siswa yang harus dimiliki oleh setiap siswa, dan instrumen penilaian baik untuk penilaian formatif (kuis) maupuan penilaian sumatif. 2) Bagi pihak lain yang ingin menerapkan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan oleh peneliti ini, sedapat mungkin terlebih dahulu dianalisis kembali untuk disesuaikan penerapannya, terutama dalam hal alokasi waktu, fasilitas pendukung termasuk media pembelajaran, dan karakteristik siswa yang ada pada sekolah tempat perangkat ini akan diterapkan. 3) Bagi guru, pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas, 4) Bagi peserta didik, pada saat pembelajaran kooperatif model Jigsaw diterapkan, perlu meningkatkan keberanian dalam mengajukan pertanyaan maupun berargumentasi guna lebih memahami terhadap materi yang dipelajari.

Pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo / Najiyatul Musfiroh

 

Kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor penunjang tercapainya prestasi belajar siswa. Agar seseorang dapat belajar dengan baik, dia harus mengetahui cara-cara belajar yang efisien kemudian dipraktekkan setiap hari sampai menjadi suatu kebiasaan. Suatu kebiasaan apabila dilakukan secara efisien dan sistematis akan membantu kemudahan dalam belajar yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap belajar. Penilaian prestasi belajar bagi siswa sangat penting, karena dapat diketahui sejauh mana taraf pengetahuan yang dicapai siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Dalam penelitian ini, pretasi belajar yang dimaksud adalah nilai ujian tengah semester tahun pelajaran 2007/2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar dan kaitan keduanya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu angket dan dokumentasi. Angket untuk memperoleh data variabel bebas yaitu kebiasaan belajar di sekolah (X1) dan kebiasaan belajar di rumah (X2) sedangkan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data variabel terikat yang berupa nilai Ujian Tengah Semester mata diklat kewirausahaan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) sebagian responden memiliki kebiasaan belajar di sekolah yang cukup baik dengan persentase 58,89%, (2) sebagian responden memiliki kebiasaan belajar di rumah yang cukup baik dengan persentase 55,56% dan (3) prestasi belajar mempunyai tingkatan yang baik dengan frekuensi 33 (36,67%). Dari hasil analisis regresi linier berganda diketahui bahwa kebiasaan belajar (X) berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap prestasi belajar siswa (Y) pada mata diklat kewirausahaan di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo. Hal ini dibuntikan dengan Sig F sebesar 0,000 < 0,05 dengan nilai Fhitung sebesar 50,860 nilai koefisien regresi (Multiple R) yang dimiliki adalah 0,734 dan nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) yang disesuaikan adalah sebesar 0,528. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pada siswa agar lebih memperhatikan kebiasaan belajar yang kurang sesuai, guru diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar menanamkan kebiasaan belajar yang baik pada dirinya sendiri sehingga dapat memperoleh prestasi belajar yang optimal dan orang tua siwa hendaknya mengarahkan anaknya dalam belajar misalnya mengingatkan anaknya agar belajar tepat waktu. Selain itu orang tua juga harus berkomukasi dengan pihak sekolah mengenai perkembangan atau sikap dan kebiasaan belajar anak di sekolah.

Pengaruh strategi pembelajaran timbal balik (reciprocal teaching) terhadap prestasi belajar siswa (studi pada matadiklat ekonomi kelas XI SMK Ardjuna 01 Malang) / Andy Leta Setiawan

 

Pendidikan tidak dimaksud sekadar mencetak orang yang pandai menghafal dan berhitung, tetapi melahirkan orang-orang berpribadi matang. Pendidikan tidak hanya tempat mengasah ketajaman otak, tetapi tempat menyemai nilai-nilai dasar kehidupan guna menggapai masa depan dan hidup bermasyarakat.. Ekonomi sebagai ilmu sosial berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami gejala sosial secara sistematis merupakan integral dari kehidupan modern, bidang studi ekonomi harus lebih dipandang sebagai usaha untuk membantu proses pengkonstruksian pengetahuan dan penyadaran akan tanggung jawab siswa tentang proses pembelajaran yang dilakukannya, seperti cara memperoleh informasi, mengeksperesikan dirinya, bagaimana belajar lebih mudah dan efektif sehingga siswa memperoleh keterampilan berfikir dan termotivasi untuk menggali dan mengolah informasi serta memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan reciprocal teaching dalam pembelajaran ekonomi dimaksudkan agar dapat memenuhi harapan guru, orang tua dan pemerhati pendidikan agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, membentuk pemahaman yang mendasar tentang ekonomi, serta meningkatkan kerja sama kelompok, komunikasi, pola berpikir kritis terhadap ilmu ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) prestasi belajar siswa kelas XI semester I SMK Arjduna 01 Malang pada matadiklat ekonomi sebelum penerapan strategi pembelajaran timbal balik (reciprocal teaching) (2) prestasi belajar siswa kelas XI semester I SMK Arjduna 01 Malang pada matadiklat ekonomi setelah penerapan strategi pembelajaran timbal balik (reciprocal teaching) dan (3) apakah penerapan strategi pembelajaran timbal balik (reciprocal teaching) berpengaruh terhadap prestasi belajar matadiklat ekonomi siswa kelas XI SMK Arjduna 01 Malang Jenis penelitian eksperimen sebab akibat (kausalitas) dengan rancangan control group pre-test, post-test instrumen penelitian yang digunakan meliputi rancanagan pembelajaran, soal pretes dan postes. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI semester I SMK Arjduna 01 Malang. Seluruh kelas XI berjumlah 90 siswa yang terdiri dari 30 siswa kelas Penjualan, 28 siswa kelas Administrasi Perkantoran dan 32 siswa kelas Akuntansi. Dalam penerapan penelitian eksperimen, dipilih dua kelas yaitu kelas Administrasi Perkantoran sebagai kelas eksperimen dan kelas Akuntansi sebagai kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis data pretes menyatakan bahwa diperoleh thitung = 0, 500 dan dari tabel t diperoleh ttabel = 2,002 probabilitas (Sig.) = 0,619 dengan derajat kebebasan 28 + 32 ? 2 = 58 dan taraf signifikan 5 %. Harga thitung (0,500) < ttabel (2,002) dan nilai Sig. (0,619) > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara kemampuan awal siswa yang diajar menggunakan strategi pengajaran timbal-balik dengan kemampuan awal siswa yang diajar menggunakan kelompok belajar konvensional.Berdasarkan hasil analisis data postes diperoleh hasil thitung = 2,134; dari tabel t diperoleh ttabel = 2,002; dan harga probabilitas (Sig.) = 0,037 dengan derajat kebebasan 58 dan taraf signifikan 5 %. Nilai Sig. (0,037) < 0,05 dan harga thitung > ttabel, artinya H0 ditolak sehingga ada perbedaan antara prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan strategi pengajaran timbal-balik dengan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan kelompok belajar biasa. Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan strategi pengajaran timbal-balik (reciprocal teaching) dengan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode kelompok belajar biasa. Rata-rata prestasi belajar siswa kelas eksperimen (73,2600) lebih tinggi dari pada dengan rata-rata prestasi belajar siswa kelas kontrol (66,4959). Berdasarkan temuan di atas, saran yang dapat diberikan adalah penelitian ini adalah (1) strategi pengajaran timbal balik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga perlu diterapkan dalam pembelajaran dikelas sebagai variasi guru mengajar, terutama untuk materi-materi yang bersifat teori atau berupa wacana, (2) sebaiknya dalam menggunakan srategi ini, setiap siswa dapat merasakan semua peran sebagai predictor, clarifier, questioner dan summarizer sehingga siswa dapat memiliki keterampilan dari masing-masing peran, (3) guru hendaknya merancang skenario pembelajaran sesuai kemampuan siswa di kelas, agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif, efisien dan berhasil,(4) guru hendaknya memberi kesempatan siswa untuk membaca materi sebelum proses pembelajaran berlangsung, agar siswa mempunyai kesiapan kognitif yang baik , sehinggadapat melakukan aktivitas pembelajaran yang meyakinkan, kritis dan kreatif dalam mengkontruksi pengetahuan baru. (5) eksperimen ini dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan hanya pada satu materi pelajaran sehingga perlu dilakukan pemelitian dengan perencanaan waktu yang dan materi pelajaran yang lebih banyak, agar lebih dapat meningkatkan kompetensi siswa secara maksimal.(6) Sekolah hendaknya lebih mendorong guru, untuk lebih inovatif meningkatkan dan menggunakan berbagai pnggunaan variasi strategi serta metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar sebagai sarana menunjang pembelajaran.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas I Program Keahlian Teknologi Informasi SMK Muhammadiyah 3 Singosari Malang / Arief Budi Setiawan

 

Masa depan ditandai dan dibanjiri oleh informasi teknologi dan juga perubahan yang amat cepat (massif). Hal ini dikarenakan masyarakat dunia telah terjangkiti oleh revolusi di bidang ilmu, teknologi dan seni, serta arus globalisasi, sehingga menuntut kesiapan semua pihak untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Artinya kita harus mampu menghadapi masyarakat yang sangat kompleks dan global. Dalam konteks inilah pembaharuan dalam bidang pendidikan dan pembelajaran selalu dilaksanakan dari waktu ke waktu dan tak pernah henti (never ending process). Pendidikan dan pembelajaran yang kreatif merupakan contoh hasil perubahan dimaksud dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting untuk mewujudkan cita-cita dan program pembangunan nasional secara menyeluruh, karena dalam dunia pendidikan terdapat aspek pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai subyek dan juga obyek pembangunan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas I Multimedia 2 Program Keahlian Teknologi Informasi SMK Muhammmadiyah 3 Singosari Malang yang siswanya berjumlah 33 orang, teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan Observasi, Catatan lapangan, Dokumentasi, dan Tes, teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis. Pengecekan keabsahan data dilakukan untuk menjamin keabsahan (trustworthiness) data yang telah diperoleh peneliti dengan menggunakan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu yang meliputi: kriteria derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability) Hasil dalam penelitian ini menunjukan adanya peningkatan kemampuan atau hasil belajar siswa dalam aspek kognitif setelah dilakukan dengan pendekatan berbasis masalah yaitu dari tiga siswa yang tidak tuntas belajar atau sekitar 91% dari total siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar berbasis masalah yang diukur dari rumus ketuntasan belajar turun menjadi 1 orang yang tidak tuntas belajar dengan persentase 97% dari total siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis masalah, hal ini dapat menjadi poin perhatian tersendiri untuk mengembangkan secara lebih lanjut. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah (1) sikap peserta didik dalam pembelajaran berbasis masalah sangat positif, peserta didik berpendapat dengan pembelajaran seperti ini tugas yang diberikan oleh guru dapat terselesaikan dengan mudah dan cepat. Pada saat melakukan kerjasama terdapat kegiatan saling tukar menukar informasi sehingga pemahaman tehadap materi yang dibahas dapat lebih dipahami. (2) Aktivitas yang diberikan peserta didik terhadap pembelajaran kooperatif berbasis masalah juga sangat positif, peserta didik menyatakan senang dengan pembelajaran ini karena menuntut peserta didik untuk aktif sehingga kegiatan pembelajaran tidak membosankan, (3) aktivitas peserta didik juga cenderung meingkat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab dari mulai mencari literatur sampai penyajian hasil laporannya. Dengan pembelajaran seperti ini dapat menimbulkan rasa saling membutuhkan, saling menyayangi, dan saling tenggang rasa diantara sesamanya, (4) Hasil belajar peserta didik dalam ranah kognitif dalam pembelajaran ini terlihat baik dan meningkat. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah (1) Bagi SMK Muhammadiyah 3 Singosari Malang perlu meningkatkan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektivitas penerapan pembelajaran berbasis masalah yaitu berupa pengadaan ruang laboratorium bagi tiap-tiap program keahlian dan penambahan buku literatur guna mempermudah peserta didik dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas, (2) Bagi guru, pembelajaran berbasis masalah dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas, (3) Bagi peserta didik, pada saat pembelajaran berbasis masalah diterapkan, perlu meningkatkan keberanian dalam mengajukan pertanyaan maupun berargumentasi guna lebih memahami terhadap materi yang dipelajari, (4) Bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pendekatan pembelajaran berbasis masalah pada pengajaran mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lainnya di tempat yang berbeda untuk lebih mengembangkan hasil dari pendekatan pembelajaran ini.

Penerapan model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan prestasi belajar mata diklat kewirausahaan di SMK Ardjuna 01 Malang / Rika Selviana

 

Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah jenis pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran. Pendekatan yang cenderung menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi (pasif) dan guru sebagai pemberi informasi dapat meminimalkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran. Berdasarkan observasi awal di SMK Ardjuna 01 Malang, pendekatan metode pembelajaran yang digunakan masih cenderung pada metode ceramah dan pemberian tugas. Metode pembelajaran tersebut kurang dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik terutama pada mata diklat Kewirausahaan. Penelitian dengan penerapan model pembelajaran problem solving ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. Karena dalam model pembelajaran ini lebih menekankan kemampuan peserta didik dalam menghadapi masalah dan menentukan penyelesaian masalah. Peserta didik di pacu untuk kreatif, aktif dan tanggap terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan mata diklat Kewirausahaan. Sedangkan guru memotivasi, memberikan arahan, dan menjadi fasilitator. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) penerapan model pembelajaran problem solving di SMK Ardjuna 01 Malang; (2) peningkatan prestasi belajar mata diklat Kewirausahaan di SMK Ardjuna 01 Malang; (3) hambatan-hambatan yang muncul selama diterapkannya model pembelajaran problem solving di SMK Ardjuna 01 Malang; (4) tanggapan/ respon siswa terhadap model pembelajaran problem solving di SMK Ardjuna 01 Malang Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian dilakukan dalam konteks kelas yang bertujuan untuk melaksanakan perbaikan-perbaikan dalam hal penyempurnaan kegiatan belajar-mengajar guru di kelas. Sehingga dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar peserta didik, Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif yang dirancang dalam dua siklus kegiatan. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/ observasi dan refleksi. Kegiatan pada siklus I berupa pemberian tes awal kepada siswa (pre-test), yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, adanya pengelompokan kelas menjadi 6 kelompok, mengadakan diskusi pemecahan masalah, presentasi dan tanya jawab, serta memberikan tes evaluasi di akhir siklus (pos-test). Subyek/ sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas 2 Administrasi Perkantoran yang berjumlah 28 peserta didik pada mata diklat Kewirausahaan, sedangkan tekhnik analisis data dalam penelitian ini yaitu, untuk aspek kognitif (peningkatan prestasi belajar) dan aspek afektif dianalisis dengan membandingkan rata-rata skor tes sebelum diberi tindakan dengan rata-rata skor tes setelah diberi tindakan (baik pada siklus I maupun siklus II). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa prestasi belajar peserta didik ditinjau dari segi aspek kognitif dan aspek afektif pada pembelajaran model problem solving mengalami peningkatan, yaitu (1) peningkatan prestasi belajar aspek kognitif peserta didik kelas 2 Administrasi Perkantoran dibuktikan melalui peningkatan rata-rata pos test siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata pos test siklus I yang diperoleh peserta didik adalah 70,2 dengan 18 peserta didik mendapat nilai di atas rata-rata dan 12 peserta didik mendapat nilai di bawah rata-rata. Sedangkan siklus II nilai rata-rata pos test peserta didik adalah 81,8 dengan 21 peserta didik mendapat nilai di atas rata-rata dan 9 peserta didik mendapat nilai di bawah rata-rata; (2) peningkatan prestasi belajar peserta didik dari aspek afektif dapat dianalisa dari jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 15 siswa (54%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar 13 siswa (46%). Sedangkan Pada siklus 2 jumlah siswa yang dikategorikan tuntas belajar sebanyak 25 siswa (89,3%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar 3 siswa (10,7%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar ditinjau dari aspek afektif dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan 35,3% Saran dalam kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) kepada guru mata diklat Kewirausahaan SMK Ardjuna 01 Malang, disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran model problem solving, dikarenakan siswa memberikan respon positif terhadap penerapan pembelajaran problem solving; (2) untuk peserta didik agar mengeluarkan pendapat serta membiasakan diri untuk percaya diri, sehingga pada waktu proses pembelajaran dan kegiatan presentasi kelompok, peserta didik dapat aktif dalam mengungkapkan pendapat; (3) peserta didik juga diharapkan lebih mempersiapkan kelengkapan pembelajaran, seperti buku pelajaran dan LKS, sehingga dapat memudahkan guru dalam memulai pelajaran, dan waktu yang digunakan dapat berjalan secara efektif dan efisien; (4) peserta didik diharapkan untuk lebih meningkatkan kerjasama dalam diskusi kelompok dan presentasi pemecahan masalah; (5) peserta didik juga diharapkan lebih meningkatkan lagi prestasi belajar mereka, meskipun dalam penelitian prestasi belajar peserta didik telah mengalami ketuntasan belajar melebihi dari standart yang telah ditentukan oleh sekolah 7.00 untuk mata diklat Kewirausahaan.

Pengaruh perlengkapan kantor dan tata ruang kantor terhadap semangat kerja pegawai (studi pada Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo) / Nidya Errizandhi

 

ABSTRAK Errizandhi, Nidya. 2007. Pengaruh Perlengkapan Kantor dan Tata Ruang Kantor terhadap Semangat Kerja Pegawai (Studi Pada Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran S-I Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sarbini, (2) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si. Kata Kunci: Perlengkapan Kantor, Tata Ruang Kantor, Semangat Kerja Perlengkapan kantor merupakan salah satu hal yang turut menentukan lancar tidaknya suatu aktivitas pada suatu instansi dalam mencapai tujuan demikian juga dengan tata ruang kantor, dengan adanya pengaturan ruang kantor yang baik akan mendorong pegawai beraktivitas dengan baik serta tercipta semangat kerja yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi obyektif perlengkapan kantor, tata ruang kantor dan semangat kerja pegawai pada kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo, serta menganalisis secara parsial dan simultan pengaruh perlengkapan kantor dan tata ruang kantor terhadap semangat kerja pegawai. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Korelasional, data yang diperoleh menggunakan angket, dokumentasi, wawancara, dan observasi. Instrument penelitian menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang teruji. Meski demikian uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Populasi dalam penelitian adalah seluruh karyawan Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo yang berjumlah 57 orang. Sedangkan sampelnya diambil 36 orang pegawai. Analisis data menggunakan bantuan SPSS 13.00 for windows. Dari analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut; (a) perlengkapan kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo ada dalam keadaan baik, terbukti 58,3% responden menyatakan sangat baik, 11,1% responden menyatakan baik dan 30,6% responden menyatakan kurang baik, dengan skor rata-rata 59,97% yang artinya kondisi perlengkapan kantor yang terdapat pada kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Krtas Leces (Persero) Probolinggo dalam keadaan baik; (b) tata ruang kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas leces (Persero) Probolinggo ada dalam keadaan baik, terbukti 50% responden menyatakan sangat baik, 44,4% responden menyatakan baik dan 5,6% responden menyatakan kurang baik, dengan skor rata-rata 73,11% yang artinya kondisi tata ruang kantor yang terdapat pada kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo dalam keadaan baik; (c) Semangat kerja pegawai di kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo ada dalam keadaan baik, terbukti 44,5% responden menyatakan sangat baik, 52,8% responden menyatakan baik dan 2,8% responden menyatakan kurang baik, dengan skor rata-rata 56,61% yang artinya kondisi semangat kerja pegawai yang terdapat pada kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo dalam keadaan baik; (d) secara parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara perlengkapan kantor dengan semangat kerja pegawai terbukti Sig t (0,680) > (0,050); (e) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara tata ruang kantor dengan semangat kerja pegawai terbukti Sig t (0,000) > (0,050); (f) secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara perlengkapan kantor dan tata ruang kantor dengan semangat kerja pegawai terbukti Sig F (0,000) > (0,050) dan Adjusted R Square 0,589. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa kondisi perlengkapan kantor, tata ruang kantor dan semangat kerja pegawai di kantor Departemen Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces (Persero) Probolinggo dalam keadaan baik, sehingga saran yang dapat diberikan adalah; (1) meskipun perlengkapan kantor dan tata ruang kantor mempunyai pengaruh yang signifikan, hendaknya pimpinan tetap mempertahankan keadaan kantor, dengan menyediakan perlengkapan kantor dan manata tata ruang kantor dengan baik sehingga pegawai senang dalam melakukan pekerjaan dan mempunyai semangat kerja yang lebih baik; (2) diharapkan pegawai juga ikut serta dalam menjaga dan merawat peralatan dan perabotan kantor agar dapat digunakan untuk bekerja serta menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja maupun dengan pimpinan.

Pengembangan media pembelajaran kimia berbasis komputer untuk materi minyak bumi dan gas alam / Galuh Mahardika

 

Kemajuan teknologi membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Komputer sebagai produk yang dihasilkan dari perkembangan teknologi, sangat membantu dunia pendidikan, baik dalam bidang administrasi maupun pembelajaran. Guru sangat berpengaruh dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran kepada siswa. Oleh karena itu guru harus dapat membantu siswa dalam belajar. Salah satu caranya adalah dengan menyiapkan sarana belajar yang tepat bagi siswa. Guru dapat menyediakan media pembelajaran dengan komputer sebagai alat bantu pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menghasilkan media pembelajaran berbasis komputer untuk materi minyak bumi dan gas alam yang sesuai dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) di SMA, (2) mengetahui kelayakan media pembelajaran berbasis komputer yang telah dikembangkan untuk pembelajaran kimia di SMA kelas X. Pengembangan media pembelajaran minyak bumi dan gas alam ini dilakukan menurut rancangan pengembangan Dick and Carrey dengan beberapa penyesuaian. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi tujuan umum pengembangan media, (2) melaksanakan analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan dan memilih material pengajaran, (7) mendesain dan melaksanakan uji kelayakan, (8) merevisi bahan pembelajaran (media pembelajaran). Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data validasi pada penelitian ini adalah angket/kuesioner. Uji validasi ada 2, yaitu validasi isi dan uji kelayakan. Validator isi dipilih dari 2 dosen jurusan kimia yang ahli isi, sedangkan uji kelayakan melibatkan 3 orang guru kimia SMA. Pengumpulan data diambil setelah paket program komputer yang dibuat telah selesai disusun. Hasil penelitian pengembangan ini adalah media pembelajaran Minyak Bumi dan Gas Alam berbentuk CD. Media ini terdiri dari 6 bagian yaitu (1) pendahuluan, (2) materi, (3) peta konsep, (4) identitas materi, (5) latihan soal, (6) soal tes. Hasil validasi media ini mencapai tingkat validasi 79,44% yang berarti bahwa secara isi media ini telah layak digunakan sebagai bagian perangkat pembelajaran untuk mengajarkan Minyak Bumi dan Gas Alam di SMA Kelas X. Walaupun demikian, efektivitas penggunaan media ini masih perlu diteliti lebih lanjut melalui kegiatan implementasi di kelas.

Kajian tentang kesulitan belajar siswa kelas XI IPA SMAN 7 Malang dalam menyelesaikan soal-soal laju reaksi / Dwi Cahyu Agestiani

 

Karakteristik ilmu kimia memiliki peranan sangat penting dalam pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia sebagai produk dan proses. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pengajaran kimia yaitu memperoleh pemahaman yang tahan lama, mengembangkan kemampuan mengenal dan memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah maka terlebih dahulu dilakukan kajian kesulitan belajar siswa dalam mempelajari ilmu kimia. Hal ini dikarenakan sifat dari konsep-konsep ilmu kimia yang secara umum abstrak menjadi salah satu faktor yang diduga sebagai penyebab ketidakmampuan siswa dalam memahami materi kimia. Materi laju reaksi merupakan salah satu materi yang memuat banyak konsep abstrak dan konsep konkrit. Kesulitan memahami suatu konsep dapat menimbulkan kesulitan dalam memahami konsep-konsep lain yang berkaitan sebab suatu konsep kimia yang kompleks hanya dapat dikuasai jika konsep-konsep yang mendasar ikut dalam pembentukan konsep telah benar-benar dikuasai dan dipahami. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat kesulitan belajar siswa dalam memahami dan menyelesaikan soal-soal laju reaksi serta mengetahui letak kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal-soal laju reaksi tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan populasi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2007/2008. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 125 siswa. Sampel penelitian diambil secara random dan didapatkan 2 kelas yaitu kelas XI IPA 1 dan XI IPA 3 yang berjumlah 83 siswa. Instrumen penelitian ini berupa tes obyektif terdiri dari 34 soal pilihan ganda dengan lima item jawaban. Sebelum digunakan, instrumen diujicobakan pada siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Berdasarkan hasil ujicoba instrumen penelitian termasuk valid dan didapatkan reliabilitas yang tinggi yaitu sebesar 0,7533. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan banyaknya siswa yang menjawab salah tiap indikator dengan jumlah sampel dan dihitung persentasenya. Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata persentase kesalahan siswa dalam menjawab pertanyaan diperoleh data 38,9% siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar laju reaksi dan 41,4% siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal hitungan laju reaksi. Dari kedua persentase tersebut dapat diuraikan dalam setiap indikator yaitu: (1) dalam memahami konsep dasar laju reaksi: (a) 6,8% siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan definisi laju reaksi, (b) 46,4% siswa mengalami kesulitan dalam menyimpulkan pengaruh konsentrasi, suhu, katalis, dan luas permukaan bidang sentuh pada laju reaksi berdasarkan data hasil pengamatan, (c) 74,5% siswa mengalami kesulitan dalam menjelaskan pengertian orde reaksi dari suatu persamaan laju reaksi, dan (d) 28% siswa mengalami kesulitan dalam menggambarkan kecenderungan orde reaksi, (2) dalam menyelesaikan soal-soal hitungan laju reaksi: (a) 50% siswa mengalami kesulitan dalam merumuskan persamaan laju reaksi berdasarkan data konsentrasi versus laju reaksi, (b) 48,3% siswa mengalami kesulitan dalam menyimpulkan pengaruh konsentrasi, suhu, katalis, dan luas permukaan bidang sentuh pada laju reaksi berdasarkan data hasil pengamatan, (c) 41,7% siswa mengalami kesulitan dalam menjelaskan pengertian orde reaksi dari suatu persamaan laju reaksi, dan (d) 25,5% siswa mengalami kesulitan dalam menentukan persamaan laju reaksi dengan metode laju reaksi awal.

Isolasi dan identifikasi komponen minyak atsiri mint dari mentha arvensis var. Javanica / Anissa Yustisia

 

Indonesia memiliki kekayaan alam yang salah satunya berupa rempah-rempah yang umumnya dimanfaatkan di bidang kuliner. Dengan perkembangan jaman, beberapa rempah-rempah yang telah diketahui khasiatnya mulai diaplikasikan ke beberapa bidang lainnya. Salah satu rempah-rempah yang mudah tumbuh di Indonesia adalah tanaman mint. Tanaman ini memiliki efek menyegarkan sehingga pemanfaatannya tidak terbatas dibidang kuliner, namun juga sebagai bahan tambahan obat-obatan. Walaupun memiliki banyak manfaat, tidak semua tanaman mint diketahui kandungan kimianya karena tanaman mint memiliki ± 2300 jenis. Mentha arvensis var. javanica adalah salah satu tanaman mint yang tumbuh di Indonesia namun pemanfaatannya masih jarang dilakukan. Pada penelitian ini dilakukan isolasi minyak atsiri dari mentha arvensis var. javanica dan mengidentifikasi 10 kandungan utama senyawa penyusun minyak atsiri tersebut. Penelitian ini bersifat eksperimen laboratoris. Penelitian dilakukan pada bulan Pebruari-Mei 2006 bertempat di laboratorium Universitas Negeri Malang dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sedangkan langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan pemilihan tanaman mint yang seragam, yaitu dengan panjang sampai 5 tingkat daun dari ujung batang. Setelah mendapatkan sampel yang memenuhi persyaratan tersebut, sampel dibagi menjadi tiga bagian, dimana bagian I langsung diisolasi, bagian II dan III disimpan dalam keadaan terbuka dan tidak terkena sinar matahari secara langsung selama 2 dan 5 hari sejak pemetikan. Isolasi dilakukan dengan menggunakan metode destilasi uap-air. Minyak atsiri yang didapatkan dari hasil destilasi kemudian dihitung rendemennya dan diidentifikasi dengan menggunakan GC-MS (Gas Chromatography Mass Spectrofotometer). Hasil isolasi 1000 gram sampel untuk menghasilkan minyak atsiri mint pada penyimpanan selama 0 hari, 2 hari, dan 5 hari berturut-turut adalah 0,51 mL; 0,7 mL; 1,11 mL. Dari ketiga perlakuan berbeda pada sampel tersebut, maka untuk mendapatkan minyak atsiri dengan hasil yang maksimum sebaiknya dilakukan penyimpanan tanaman mint selama 5 hari pada udara terbuka dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Identifikasi kandungan minyak atsiri dilakukan dengan menganalisa 10 puncak terbesar pada spektrum GC-MS adalah 2-metil-5-(1-metiletilen)-2-sikloheksen-1-on = 64,00%; piperitenon oksida = 16,96%; limonena = 8,61%; karyofilen oksida = 2,75%; -bourbonena = 2,58%; trans-karyofilena = 1,32%; -mirsena = 1,06%; nonanal = 1,08%; 7-metil-3-metilen-1,6,9-dekatriena = 0,93%; p-2-menthen-1-ol = 0,69%.

Hubungan stres kerja dan frustasi dengan perilaku agresi pada polisi di Polresta Malang / Syelvy Ferdiana Zahro

 

Fenomena yang sering terjadi saat ini yakni polisi melakukan perilaku agresi pada saat menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Perilaku agresi yang dilakukan oleh polisi dipengaruhi oleh beberapa faktor pemicu diantaranya adalah stres kerja dan frustrasi yang dialami aparat polisi. Kondisi stres kerja yang dialami oleh polisi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan baik secara fisik, psikologis maupun perilaku. Kondisi stres kerja yang dialami polisi dapat memberikan efek tertentu terhadap perilakunya, salah satunya yakni terjadinya perilaku agresi pada saat menjalankan tugas. Polisi yang mengalami frustrasi seringkali mengalami gangguan emosi, enggan menerima tanggung jawab, dan menjadi pesimis atau mudah putus asa. Frustrasi yang dialami akan menimbulkan reaksi-reaksi tertentu yakni secara positif dan negatif. Salah satu bentuk reaksi frustrasi secara negatif adalah munculnya perilaku agresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dan frustrasi dengan perilaku agresi pada polisi. Penelitian ini dilakukan di Polresta Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan korelasional. Subjek yang dijadikan sampel penelitian adalah polisi di Polresta Malang sebanyak 100 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa stres kerja, skala frustrasi dan skala perilaku agresi dengan menggunakan model penskalaan Likert. Analisis deskriptif menggunakan persentase berdasarkan nilai mean dan standar deviasi. Analisis korelasional menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment dan teknik analisis regresi linier dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat stres kerja polisi pada kategori sedang yaitu sebanyak 56%, tingkat frustrasi polisi pada kategori sedang yaitu sebanyak 69% dan memiliki tingkat perilaku agresi pada kategori sedang yaitu sebanyak 74%. Hasil analisis korelasional menunjukkan ada hubungan stres kerja dan perilaku agresi (r = 0.643), semakin tinggi stres kerja maka perilaku agresi juga semakin tinggi; ada hubungan positif antara frustrasi dan perilaku agresi (r = 0.600), semakin tinggi frustrasi akan menghasilkan perilaku agresi yang tinggi. Analisis regresi linier menunjukkan ada hubungan simultan antara stres kerja dan frustrasi terhadap perilaku agresi (R Square= 0.452), berarti bahwa stres kerja dan frustrasi memberikan sumbangan efektif terhadap munculnya perilaku agresi sebesar 45.2%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan polisi dapat menyikapi stres kerja dan frustrasi dengan cara yang lebih positif sehingga justru menjadi pemicu dalam meningkatkan prestasi kerja serta mengurangi terjadinya perilaku agresi saat menjalankan tugas.

Hubungan antara konsep diri dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Batu / Martsel Mulya Jaya

 

Konsep diri berkembang pada masa remaja, yakni rentangan antara usia 13-17 tahun. Pada masa ini individu berusaha mencari identitas dirinya dan mencari kedudukan dirinya di lingkungan. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang didirikan oleh dan untuk masyarakat yang dikelola oleh piranti pendidikan. Dalam sekolah setiap siswa pasti mengharapkan prestasi belajar yang maksimal. Keberhasilan siswa dalam sekolah ditunjukkan dengan prestasi belajar. Kemampuan masing-masing individu dalam memperoleh prestasi akademik yang baik, salah satunya dipengaruhi oleh kemampuan siswa dalam memandang seberapa pentingkah dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) konsep diri siswa kelas XI, (2) prestasi belajar siswa kelas XI, (3) hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Batu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMU Negeri 2 Batu. Sejumlah 270 siswa, menggunakan teknik cluster random sampling dengan sampel penelitian sebanyak 90 siswa. Instrumen yang digunakan adalah skala konsep diri. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasional. Penelitian dilakukan bulan November sampai dengan Desember 2007. Berdasarkan hasil penelitian ini, konsep diri siswa kelas XI SMU Negeri 2 Batu pada umumnya termasuk dalam kategori sedang sebanyak 64 siswa. Sedangkan yang memiliki konsep diri tinggi sebanyak 15 orang, dan sisanya berjumlah 11 orang termasuk kedalam kategori rendah dengan mean sebesar 94,26. Prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Batu pada umumnya masuk dalam kategori sedang. Dari 90 subyek penelitian ditemukan 60 siswa termasuk kategori sedang. Sedangkan yang memiliki prestasi belajar tinggi sebanyak 19 siswa. Serta yang masuk kedalam kategori rendah sebanyak 11 orang dengan mean sebesar 1006,36. Diketahui ada hubungan positif antara konsep diri dengan prestasi belajar dengan taraf sigifikansi r = 0,470. Apabila diadakan penelitian lanjutan mengenai topik ini, maka disarankan untuk lebih cermat dalam memilih populasi dan sampel.

Motivasi mahasiswa putri dalam memilih Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang tahun akademik 2007/2008 / A. Faisol Husan

 

Berdasarkan latar belakang masalah adalah tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, banyak lembaga formal dalam bidang pendidikan dibentuk dalam upaya mencapai pendidikan nasional mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, salah satu lembaga bertaraf lembaga perguruan tinggi adalah Universitas Negeri Malang (UM) yang mempunyai banyak fakultas dan jurusan, salah satu jurusan yang banyak peminatnya adalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (PJK), karakteristik dari Pendidikan Jasmani dan Kesehatan sendiri adalah karakter yang melekat pada individu seperti: tipe tubuh, kondisi fisik, motivasi dan atribut lain yang membedakan dengan jurusan lain, terdapat suatu fenomena bahwa tidak hanya mahasiswa putra saja tetapi juga mahasiswa putri yang dari tahun ketahun mengalami peningkatan, kemudian ada motivasi tersendiri dari mahasiswa putri Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dalam memilih program studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan, maka tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji apa motivasi mahasiswa putri dalam memilih program studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang tahun akademik 2007/2008. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa putri program studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang pada tahun 2007/2008 yang berjumlah 31 orang. Rancangan Penelitan berdasarkan permasalahan, maka penelitian menggunakan survey. Ditinjau dari tujuan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrumen berupa angket skala lickert. Sesuai dengan judul penelitian, maka instrumen yang digunakan berupa instrumen non tes berbentuk angket, yang terdiri dari pedoman angket/kuesioner dan butir-butir pernyataan yang dilengkapi dengan alternatif jawaban berupa ?sangat setuju sekali?, ?sangat setuju?, ?setuju?, dan ?tidak setuju?. Teknik angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket terstruktur berbentuk tertutup karena instrumen tersebut untuk mendapatkan data tentang motivasi mahasiswa putri dalam memilih program studi Pendidikan Jasmani tahun akademik 2007/ 2008. Instrumen angket disusun dengan mengacu pada tabel kisi-kisi yang dikembangkan dari tabel penjabaran variabel yang diteliti berupa pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban yang masing-masing diberi skor sesuai dengan jawaban yang dipilih. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa hasil analisis uji coba koefisien reliabilitas instrumen diperoleh koefisien reliabilitas skor total pernyataan motivasi intrinsik 0,9496 dan pernyataan motivasi ekstrinsik 0,9152. Berdasarkan hasil data dari tinjauan penelitian, dari 31 responden mahasiswa putri maka dapat dikemukakan bahwa pada pernyataan indikator motivasi intrinsik mahasiswa dominan memilih jawaban ?sangat setuju sekali? pada indikator ingin menyalurkan bakat, ingin menyalurkan hobi dan ingin mengembangkan potensi pada salah satu bidang olahraga yang dipilih oleh 19 responden dengan jumlah rata-rata skor dari keseluruhan jawaban yang dipilih responden adalah 104,25 (83,57%). Berdasarkan hasil deskripsi data tersebut diatas, dari 31 responden mahasiswa putri maka dapat dikemukakan bahwa pada pernyataan indikator motivasi ekstrinsik mahasiswa dominan memilih jawaban ?sangat setuju? pada indikator peluang memperoleh pekerjaan lebih terbuka yang dipilih oleh 23 responden dengan jumlah rata-rata skor dari keseluruhan jawaban yang dipilih responden adalah 81,45 (72,47%). Berdasarkan data dari tinjauan hasil penelitian dan pembahasan penelitian yang berjudul ?Motivasi Mahasiswa Putri dalam Memilih Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang? tahun akademik 2007/2008. Dapat disimpulkan secara keseluruhan adalah baik dalam hal motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Survei tentang tingkat kapasitas erobik maksimal (VO2 maks) pada wasit bola basket Perbasi Pengko Malang tahun 2007 / Ferdo Hendriawan

 

Dalam beberapa tahun ini perkembangan kompetisi bola basket dikota Malang sangat pesat yang ditandai dengan banyaknya kompetisi antar club, sekolah, sampai perguruan tinggi dan fakultas. Namun dengan banyaknya kompetisi tersebut, perkembangan perwasitan PERBASI PENGKO Malang minim akan prestasi berskala nasional, karena hanya ada 1 orang wasit yang bersertifikat atau lisensi A dan 1 orang berlisensi B1 dari 21 orang wasit yang ada di Malang. Dalam memimpin pertandingan, pada menit-menit awal mereka mampu memimpin pertandingan dengan baik dan konsentrasi yang baik, namun setelah memasuki babak kedua mereka mulai kehilangan konsentrasi yang kemungkinan disebabkan para wasit mengalami kelelahan. Hal ini diperkirakan penyebabnya adalah tingkat kapasitas erobik maksimal (VO2 maks) wasit bola basket PERBASI PENGKO Malang pada tahun 2007 rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kapasitas erobik maksimal (VO2 maks) wasit bola basket PERBASI PENGKO Malang tahun 2007. Untuk mengukur variabel penelitian tingkat kapasitas erobik maksimal (VO2 maks) instrument yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrument tes lari multistage.

Penerapan pembelajaran kooperatif model role playing pada mata diklat "Berkomunikasi melalui telepon" di kelas X APK 1 SMK PGRI 6 Malang / Rizki Sandi Oktaria

 

Sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2004, pemerintah saat ini sedang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang dikenal dengan istilah KTSP. Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. Sama halnya dengan kurikulum sebelumnya, KTSP juga dapat menggunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Sehubungan dengan itu, pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada beberapa hal, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif (CL) memerlukan pendekatan pengajaran melalui pembentukan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Selain itu, interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil penerapan pembelajaran kooperatif model role playing pada mata diklat Berkomunikasi Melalui Telepon di kelas X APK 1 SMK PGRI 6 Malang. Pada penilaian proses pembelajaran kooperatif model role playing dapat dilakukan dengan mengamati tingkah laku siswa selama proses pembelajaran dan unjuk kerja. Selain penilaian proses, dalam pembelajaran kooperatif model role playing ini juga terdapat penilaian hasil. Penilaian dilakukan dengan menggunakan alat berupa penugasan. Tugas yang diberikan guru yaitu guru meminta siswa untuk membuat skenario pemeranan dengan materi Respon untuk Panggilan Telepon Masuk. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, jenis penelitian deskriptif kualitatif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian deskriptif kualitatif sendiri memusatkan perhatiannya pada penemuan fakta-fakta sebagaimana keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini berusaha menggambarkan dan memaparkan secara rinci mengenai penerapan pembelajaran kooperatif model role playing pada mata diklat Berkomunikasi Melalui Telepon di kelas X APK 1 SMK PGRI 6 Malang sebagaimana adanya. Penelitian dilaksanakan di SMK PGRI 6 Malang, semester gasal, tahun ajaran 2007/2008. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X APK 1 dengan jumlah siswa sebanyak 42 siswa perempuan dan 1 orang guru kompetensi Berkomunikasi Melalui Telepon. Data yang diperoleh meliputi: (1) deskripsi pelaksanaan pembelajaran kooperatif model role playing, (2) deskripsi penilaian dalam pembelajaran kooperatif model role playing, (3) deskripsi respon peserta didik terhadap pembelajaran kooperatif model role playing, (4) deskripsi hambatan dalam pembelajaran kooperatif model role playing. Prosedur pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, catatan lapangan, lembar penilaian, dokumentasi, dan angket. Hasil penelitian penerapan pembelajaran kooperatif model role playing pada mata diklat Berkomunikasi Melalui Telepon di kelas X APK 1 SMK PGRI 6 Malang adalah sebagai berikut. (1) Pelaksanaan pembelajaran kooperatif model role playing pada mata diklat Berkomunikasi Melalui Telepon dilakukan dengan sangat baik oleh guru kompetensi, (2) Penilaian proses dan penilaian hasil dilakukan dengan baik oleh guru kompetensi, (3) Berdasarkan hasil penyebaran angket respon peserta didik, dapat ditarik kesimpulan bahwa peserta didik menunjukkan respon yang positif terhadap kegiatan pembelajaran kooperatif model role playing. Mereka mengakui pembelajaran yang dilakukan terasa lebih bermakna dan menyenangkan sehingga lebih efektif untuk diterapkan dalam mempelajari kompetensi Berkomunikasi Melalui Telepon, (4) Terdapat beberapa hambatan yang terjadi pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif model role playing yaitu, kurangnya kemampuan siswa dalam memahami skenario pemeranan, ruangan yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan pembelajaran tidak begitu rapi karena terlalu banyak perabot dan suhu ruangan yang terlalu tinggi, kondisi eksternal atau luar kelas ruangan yang digunakan untuk pelaksanaan pembelajaran kooperatif model role playing ini adalah ramai, dan kurangnya kedisiplinan peserta didik dalam mengumpulkan tugas yang diberikan kepada mereka pada saat usai pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut. (1) Bagi guru, pembelajaran kooperatif model role playing dapat dijadikan alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas, (2) Bagi sekolah, perlu menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung keefektifan penerapan pembelajaran kooperatif model role playing, (3) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan kegiatan lebih lanjut tentang penerapan pembelajaran kooperatif model role playing misalnya dengan kompetensi yang lain dan subjek penelitian yang berbeda sehingga ditemukan hasil penelitian yang berbeda.

Pengembangan modul perubahan fisika dan kimia untuk SMP/MTs kelas VII dengan model belajar learning cycle 5 fase sebagai penunjang kurikulum tingkat satuan pendidikan / Anissa Yustisia

 

Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum penyempurna kurikulum sebelumnya. Diberlakukannya KTSP merubah pola belajar siswa dari behaviouristik menjadi konstruktivistik. Perubahan pola belajar ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru, terlebih guru sains-kimia SMP/MTs karena kimia mulai diperkenalkan di tingkat tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan modul belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami konsep kimia dengan mudah dan dapat membangun pengetahuannya secara mandiri. Salah satu model pembelajaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan modul pembelajaran adalah model Learning Cycle (LC) 5 fase. Sejauh ini belum ada modul pembelajaran kimia untuk SMP/MTs dengan model LC 5 fase yang menggunakan KTSP sebagai acuan kurikulum. Tujuan utama penelitian pengembangan ini adalah membuat modul pembelajaran dengan menggunakan model belajar LC 5 fase pada materi perubahan fisika dan kimia untuk siswa SMP/MTs kelas VII sesuai dengan KTSP. Penelitian pengembangan ini merupakan penelitian pengembangan prosedural yang mengacu pada 10 langkah Gall dan Borg. Namun karena adanya keterbatasan waktu dan dana, langkah yang dilakukan hanya sampai pada langkah ketiga. Langkah-langkah tersebut adalah (1) penelitian dan pengumpulan data; (2) perencanaan pengembangan modul; (3) pengembangan modul; (4) uji lapangan awal; (5) merevisi hasil uji coba; (6) uji coba lapangan; (7) penyempurnaan produk hasil uji lapangan; (8) uji pelaksanaan lapangan; (9) penyempurnaan produk akhir; dan (10) diseminasi dan implementasi. Validasi isi dilakukan oleh 1 orang dosen kimia UM dan 3 orang guru SMP/MTs. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis rata-rata dan persentase. Hasil penelitian pengembangan ini adalah: (1) modul pembelajaran yang terdiri dari beberapa komponen yaitu, cover, kata pengantar, petunjuk penggunaan, daftar isi, daftar gambar, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, kegiatan belajar (perubahan fisika dan kimia, dan reaksi kimia sederhana), umpan balik, kunci jawaban, dan daftar pustaka; (2) hasil validasi dalam skala 1-4 menunjukkan nilai rata-rata 3,54 (88,5%) yang termasuk dalam kriteria valid. Sehingga modul pembelajaran yang dikembangkan layak untuk mengajarkan materi perubahan fisika dan kimia pada siswa SMP/MTs kelas VII.

Penerapan hukum waris Islam pada masyarakat Desa Bataan Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso / Moch. Arif Hidayatullah

 

Di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 pada dasarnya telah dimulai untuk mempelajari dan mengajarkan hukum Islam, tinggal sekarang bagaimana penerapan hukum tersebut ( hukum waris Islam) dalam lingkngan kehidupan masyarakat muslim Indonesia secara konsisten. Adalah hal yang tidak dapat dipungkiri, bahwa hukum waris Islam bagi seorang muslim mempunyai kedudukan yang utama dibandingkan dengan hukum waris lainnya, sebab sudah jelas hukum waris Islam tersebut telah disyariatkan dalam Al-qur?an maupun sunnah (bahkan merupakan hal yang wajib dilaksanakan). Apalagi peran pengadilan agama yang telah ditetapkan oleh undang-undang pokok kekuasaan kehakiman Nomor 14 tahun 1970 sebagai pengadilan yang berdiri sendiri, dan mempunyai kewenangan penuh untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kewarisan bagi masyarakat yang memeluk Agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang penerapan Hukum Waris Islam, hukum apa yang digunakan dalam pembagian harta warisan, cara menyelesaikan perkara warisan pada masyarakat di Desa Bataan Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Lokasi penelitian ini difokuskan di Desa Bataan Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Sedangkan sifat dari penelitian ini adalah penelitian hukum sosiologis atau empiris. Dimana penelitian hukum ini merupakan suatu penelitian untuk menemukan inkonkrito yang meliputi barbagai kegiatan untuk menemukan apakah yang merupakan hukum yang layak untuk diterapkan secara inkonkrito untuk menyelesaikan suatu perkara tertentu. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum sosiologis adalah pendekatan yuridis kualitatif, pendekatan ini digunakan untuk mengetahui serta mendiskripsikan secara jelas dan rinci tentang permasalahan yang sedang diteliti yaitu untuk mengetahui sejauh mana penerapan hukum waris Islam di Desa Bataan Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso, dengan melihat keadaan dan fenomena sosial budaya yang bersifat alamiah. Dimana penelitian kualitatif ini menitik beratkan pada aspek sosial dan sikap mental para penerap hukum waris Islam. Sedangkan data yang diperoleh bersumber dari masyarakat yang menjadi ahli waris dan wawancara pada tokoh masyarakat dan perangakt Desa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa penerapan hukum waris Islam di Desa Bataan belum diterapkan sepenuhnya oleh masyarakat Desa tersebut, hanya sebagian kecil warga saja yang sudah melaksanakan penerapan Hukum Waris Islam. Dalam pembagian harta warisan dalam keluarga masih tetap menggunakan kebiasaan yang sejak lama digunakan (hukum adat ), dimana harta tersebut diberikan kepada anaknya secara merata, tidak ada seorang ahli waris yang memperoleh bagian lebih. Pembagian harta warisan pada masyarakat Desa Bataan moyoritas penduduk Desa tersebut menggunakan pilihan hukum adat yang berkembang dalam keluarga. Sebab hukum adat dianggap lebih mudah dan cepat selain memang sudah diterapkan sejak lama dalam pembagian hal warisan. Alasan lain dalam pemilihan hukum adat dalam pembagian harta warisan adalah demi kerukunan antar ahli waris. Cara penyelesaian perkara warisan di Desa Bataan yaitu mayoritas warga dalam menyelesaikan perkara warisan dilakukan dengan cara musyawarah antar ahli waris demi kerukunan antar ahli waris sehingga tidak menyebabkan perpecahan dalam keluarga. Jika tidak menemui kesepakatan atau jalan buntu maka pihak perangkat Desa akan ikut membantu menyelesaikannya jika warga tersebut telah membuat laporan terlebih dahulu atas pembagian hartanya. Dalam hal ini pihak perangkat Desa hanya sebagai penengah saja untuk memberikan suatu keadilan. Jika telah sepakat maka perlu membuat kesepakatan tertulis, untuk dijadikan sebagai bukti yang kuat. Jika masih belum menemukan kesepakatan maka jalan yang harus ditempuh adalah melalui peradilan.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMP (studi di SMP Sriwedari Malang) / Sofyan Bakhtiar

 

Penyampaian materi yang dilakukan guru dengan metode konvensional membuat siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran konvensional ini membuat siswa menjadi pasif karena sebagian besar aktivitas didominasi oleh guru. Dengan demikian perlu dilakukan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas maupun hasil belajar siswa salah satunya dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw, karena dalam pembelajaran ini melibatkan siswa secara langsung. Pembelajaran kooperatif model jigsaw menuntut siswa untuk bertanggungjawab terhadap materi yang telah menjadi bagiannya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui prosedur penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw di SMP Sriwedari Malang. (2) Mengetahui aktivitas belajar siswa pada pembelajaran kooperatif model jigsaw. (3) Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Sriwedari Malang setelah penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian PTK yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Sriwedari Malang dengan jumlah siswa 24 yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data meliputi: tes di awal dan akhir siklus, observasi aktivitas dan ketrampilan kooperatif siswa, wawancara dan catatan lapangan. Langkah pembelajaran yang berorientasi pada metode pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah (1) menyajikan re3ncana dan tujuan pembelajaran dan motivasi siswa, (2) menyajikan informasi, (3) mengorganisasi siswa kedalam kelompok belajar, (4) membbimbing kelompok bekerja dan belajar, (5) evaluasi, dan (6) penghargaan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan data aktivitas siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I dengan rata-rata 52,79% dengan taraf keberhasilan ?cukup? sedangkan pada siklus II dengan rata-rata 68,41% dengan taraf keberhasilan ?baik?. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan rata-rata kelas tiap siklus. Pada siklus I rata-rata kelas meningkat dari 52,08 menjadi 58,75 dan persentase siswa yang tuntas belajar yaitu 20,83% menjadi 41,67%. Pada siklus II rata-rata kelas meningkat dari 53,33 menjadi 69,17 dan persentase siswa yang tuntas belajar yaitu 25% menjadi 79,17%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas VII A SMP Sriwedari Malang, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran PKn dan dapat disarankan kepada guru untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model jigsaw karena dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Peran koperasi persusuan pada kesejahteraan peternak sapi perah KUD Turen Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Masiti Hariyanti

 

Menurut Hatta dalam Baswir (2000 :2) yang lebih diutamakan dalam koperasi adalah peningkatan kesejahteraan ekonomi para anggotanya, karena itu keberadaan koperasi harus dapat berperan lebih dalam perekonomian. Hal ini merupakan tantangan bagi koperasi terutama Unit Sapi Perah KUD Turen yang tergolong baru dibidang persusuan. Oleh karena itu, agar bisa berperan dalam upaya peningkatan kesejahteraan anggota demi peningkatan perekonomian nasional, koperasi dituntut untuk memberikan fasilitas, pelayanan, dan penyuluhan secara maksimal, efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran koperasi persusuan pada kesejahteraan peternak sapi perah KUD Turen Kecamatan Turen Kabupaten Malang yang meliputi deskripsi gambaran umum KUD Turen, hambatan-hambatan/faktor penghambat, upaya peningkatan budidaya sapi perah, upaya permodalan, usaha peningkatan produksi susu, upaya pemasaran, dan keadaan ekonomi peternak sapi perah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja KUD Turen yang berpusat di kantor KUD Turen. Penelitian ini tidak menggunakan sampel atau populasi tetapi menggunakan informan untuk mendapatkan informasi atau data yang diperlukan di lapangan. Prosedur pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi/ pengamatan peran serta, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam bentuk prosentase. Untuk interprestasi data menggunakan tujuh kategori yaitu seluruhnya, hampir seluruhnya, sebagian besar, separuh, sebagian kecil, hampir tidak ada, tidak ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan-hambatan tersebut sebagian besar berasal dari KUD Turen itu sendiri terutama dibidang permodalan dan produksi. Upaya peningkatan budidaya sapi perah membuktikan bahwa hampir seluruhnya sapi perah peternak yang menggunakan jasa tenaga Inseminasi Buatan/IB. Sebagian besar berhasil dengan hanya satu kali IB saja dan sebagian kecil saja yang harus melakukan lebih dari satu kali suntikan. Hampir seluruh peternak melakukan pengamatan reproduksi 2-3 kali sehari. Seluruh peternak menggunakan modal sendiri untuk memulai usaha sapi perah. Peternak dalam pengembangan usahanya hanya sebagian kecil yang mengambil kredit dari SP/Simpan Pinjam. Sedangkan pemberian dana bergulir hampir tidak ada peternak yang menerima dalam kurun waktu satu tahun. Upaya peningkatan produksi yang dilakukan KUD Turen dengan memberi bantuan penyaluran pakan tambahan hanya sebagian besar sapi perah mendapatkan konsentrat sesuai dengan ransum per harinya. Seluruh hasil produksi susu dari peternak memiliki kualitas di atas standart yang ditentukan. Sebagian besar penyakit yang bisa mempengaruhi produksi susu sapi perah adalah mastitis, yaitu salah satu jenis penyakit yang diderita oleh sapi perah dengan gejala pembengkakan pada puting susu yang disebabkan karena masuknya kuman ke dalam saluran puting susu. Hasil produksi susu setiap hari hampir seluruhnya dikirimkan ke PT Nestle. Hal ini disebabkan karena koperasi bisa menjadi penyalur susu segar ke PT Nestle apabila produksi susunya sudah lebih dari 4000 liter. Sedangkan produksi per hari KUD Turen mencapai 5000 liter. Sisa yang tidak dikirim diolah menjadi susu segar siap minum. Jadi, hanya sebagian kecil saja yang diolah menjadi susu segar siap minum/pasteurized. Hampir tidak ada masyarakat umum yang membeli susu segar murni. Pemasaran susu segar siap minum seluruhnya masih menggunakan sistem pesan. Kebijakan harga susu segar murni seluruhnya berada di tangan PT Nestle. Sedangkan kebijakan harga untuk susu segar siap minum sebagian besar berada ditangan KUD Turen. Peternak hampir seluruhnya menjadikan usaha ini sebagai penghasilan utama di samping penghasilan lainnya. Hal ini disebabkan karena prospek perkembangan usaha yang menjanjikan pada masa ? masa mendatang untuk peningkatan kesejahteraan keluarga. Menjalani usaha peternakan sapi perah memiliki jaminan kemudahan-kemudahan yang diberikan KUD Turen terutama perputaran uang sangat cepat, karena setiap 10 hari ada hasil yang dapat diperoleh dari menekuni usaha peternakan sapi perah. Kesejahteraan peternak juga meningkat, hal ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan pendapatan 16.61 % dari pendapatan sebelumnya yaitu peternak sapi daging. Selain itu peternak hampir seluruhnya berada dalam kelompok keluarga sejahtera II dan keluarga sejahtera III. Hampir tidak ada peternak sapi perah yang masuk dalam kelompok keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I. Jika ada peternak yang berada dalam kelompok pra sejahtera jumlahnya sangat sedikit, sekitar 1,2 % dari keseluruhan peternak. Berdasarkan hasil penelitian di atas, KUD Turen diharapkan lebih berperan lagi dalam usaha peningkatan kesejahteraan peternak sapi perah yaitu dengan melakukan langkah-langkah yang sesuai untuk meningkatkan budi daya sapi perah, produksi susu, dan pemasaran hasil produksi susu. Yaitu dengan pembinaan budidaya sapi perah yang baik, pencukupan modal kerja, subsidi pakan ternak, penyediaan tenaga penyuluh dan kesehatan diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi susu peternak sapi perah. Dengan adanya peningkatan produksi susu selain akan menambah nilai keuntungan bagi KUD Turen, juga akan meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah dengan seiring peningkatan penghasilan yang berasal dari usaha sapi perah.

Studi kemampuan guru dalam menyusun silabus PKn berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi di SMA Negeri Kabupaten Tulungagung / Dian Kristiana Palupi

 

Guru merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pendidikan formal yang merupakan kurikulum hidup yang akan memfungsionalkan program pengajaran. Kurikulum sebagus apapun tanpa ditunjang kemampuan mengajar yang baik dari seorang guru hasilnya tidak akan maksimal. Jadi kompetensi guru untuk mendukung sebuah kurikulum yang kompeten, saling berkaitan. Untuk melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi diperlukan tenaga pengajar atau guru yang profesional, yaitu guru yang mempunyai kepribadian tinggi, mampu mengelola pembelajaran yang didalamnya menyangkut kemampuan menyusun rencana pembelajaran yang dituangkan dalam silabus, mau mengembangkan diri, pengetahuan luas dan tanggung jawab. Dalam kenyataannya ternyata tidaklah semudah yang diharapkan oleh sebuah kurikulum. Masih banyak guru yang kesulitan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi terutama dalam menyusun silabus PKn. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana kemampuan guru dalam menyusun silabus PKn di SMA Negeri Kabupaten Tulungagung? (2) Apa saja kendala kendala yang dihadapi guru dalam menyusun silabus PKn berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi? (3) Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab munculnya kendala dalam penyusunan silabus PKn di SMA Negeri Tulungagung? (4) Upaya apa yang dilakukan guru untuk mangatasi kendala dalam penyusunan silabus PKn di SMA Negeri Kabupaten Tulungagung? Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kemampuan guru dalam menyusun silabus PKn di SMA Negeri Kabupaten Tulungagung, (2) untuk mengetahui kendala guru dalam menyusun silabus PKn berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi, (3) untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menjadi penyebab munculnya kendala guru dalam menyusun silabus PKn di SMA Negeri Kabupaten Tulungagung, (4) Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi kendala dalam menyusun silabus PKn di SMA Negeri di Kabupaten Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik sampel bertujuan atau purposive sample. Berdasarkan teknik pengambilan sampel tersebut ditetapkan yang menjadi sampel dalam penelitian yaitu 19 guru PKn kelas X dan XI yang berasal dari 10 SMA Negeri Kabupaten Tulungagung Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah angket atau kuisioner dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif, yaitu analisis yang berbentuk angka-angka yang kemudian dituangkan dalam bentuk rumus prosentase. Kemampuan guru dalam menyusun silabus PKn di SMA Negeri Kabupaten Tulungagung menunjukkan bahwa 49% guru PKn mampu menyusun silabus, 47% guru PKn kurang mampu menyusun silabus dan 4% guru PKn lain-lain (sesuai kondisi sekolah). Kendala yang dihadapi guru PKn dalam menyusun silabus yaitu (1) menentukan materi pokok dan uraiannya, (2) menentukan pengalaman belajar, (3) menentukan indikator, (4) menentukan penilaian, (5) menetukan alokasi waktu, (6) mengalami kendala dalam menentukan sumber, bahan, alat pembelajaran. Faktor penyebab munculnya kendala guru PKn dalam menyusun silabus yaitu (1) kompetensi guru dalam menyusun silabus kurang, (2) kurang pelatihan pembuatan silabus, (3) tidak ada buku acuan yang tepat, (4) materi luas dan banyak, (5) fasilitas sekolah kurang lengkap, (6) waktu terbatas, (7) sumber daya siswa rendah, (8) sulit menentukan kriteria penilaian aspek afektif, (9) standar penilaian terlalu tinggi. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala penyusunan silabus PKn yaitu (1) silabus disusun per tim, (2) sering di berikan pelatihan penyusunan silabus, (3) lebih kreatif lagi mencari sumber/bahan/media yang relevan, (4) menyederhanakan materi, (5) lebih kreatif lagi dalam mengelola fasilitas sekolah yangada (6) menggunakan waktu cadangan, (7) lebih memahami kemampuan siswa, (8) melakukan pengamatan secara langsung berkaitan aspek afektif, (9) berusaha menurunkan standar kompetensi minimal. Berdasarkan kesimpulan yang di peroleh, maka di sarankan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung dan SMA-SMA Negeri Kabupaten Tulungagung sering memberikan pelatihan penyusunan silabus, bagi guru PKn SMA Negeri Kabupaten Tulungagung sebaiknya lebih kreatif lagi dalam mengelola waktu, mencari dan mengelola sumber, bahan, media pembelajaran.

Pengaruh gaya kepemimpinan partisipatif terhadap kinerja pegawai melalui motivasi kerja (studi pada karyawan tenaga penjualan CV. Subur Abadi Plosokandang-Tulungagung) / Wahyu Yuniarko

 

Keberhasilan dalam suatu organisasi ditentukan oleh gaya kepemimpinan dan peranan dari karyawan agar karyawan dapat bekerja dengan baik dan mencapai kinerja yang diharapkan. Peranan pemimpin dalam memimpin dan memotivasi bawahannya sangat menentukan, karena karyawan merupakan aset perusahaan yang dinamis dan selalu berkembang. Dalam arti yang luas kepemimpinan dapat dipergunakan setiap orang dan tidak hanya terbatas berlaku dalam suatu organisasi atau instansi tertentu, melainkan kepemimpinan bisa terjadi dimana saja asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini dilaksanakan di CV. Subur Abadi pada Bulan Desember 2007. Sampel dalam penelitian ini adalah tenaga penjualan dan HRD CV. Subur Abadi berjumlah masing-masing 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk menjabarkan kondisi deskriptif gaya kepemimpinan partisipatif, motivasi kerja dan kinerja pegawai pada CV. Subur Abadi Plosokandang-Tulungagung, (2) Untuk menjabarkan pengaruh langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan partisipatif terhadap motivasi kerja pada CV. Subur Abadi Plosokandang-Tulungagung, (3) Untuk menjabarkan pengaruh langsung yang signifikan antara motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada CV. Subur Abadi Plosokandang-Tulungagung, (4) Untuk menjabarkan pengaruh tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan partisipatif terhadap kinerja pegawai melalui motivasi kerja pada CV. Subur Abadi Plosokandang-Tulungagung. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas adalah Gaya Kepemimpinan Partisipatif (X), variabel intervening adalah Motivasi Kerja (Z) dan variabel terikat adalah Kinerja Pegawai (Y). Data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: angket/kuesioner, wawancara/interview, dokumentasi dan observasi. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga uji coba kuesioner untuk menguji instrumen tidak perlu dilakukan. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Berdasarkan teknik analisis deskriptif diketahui bahwa sebanyak 53,3% atau 16 orang menyatakan bahwa Gaya Kepemimpinan Partisipatif yang diterapkan di CV. Subur Abadi adalah baik, sebanyak 80% atau 24 orang menyatakan bahwa Motivasi Kerja yang diberikan pimpinan CV. Subur Abadi adalah baik, sementara sekitar 70% atau 21 orang menyatakan bahwa tenaga penjualan CV. Subur Abadi mempunyai kinerja yang baik. Sedangkan berdasarkan teknik analisis inferensial atau analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5% secara parsial dapat diketahui: variabel Gaya Kepemimpinan Parisipatif (X) mempunyai nilai t sig α (0,002<0,005), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan Partisipatif (X) berpengaruh secara signifikan terhadap Motivasi Kerja (Z) secara langsung. Variabel Motivasi Kerja (Z) mempunyai nilai t sig α (0,001<0,005), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Motivasi Kerja (Z) berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Pegawai (Z) secara langsung. Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara Gaya Kepemimpinan Partisipatif terhadap Kinerja Pegawai melalui variabel Motivasi Kerja sebesar 0,864. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti kepada CV. Subur Abadi adalah Pihak pimpinan/manajamen hendaknya lebih meningkatkan lagi tingkat gaya kepemimpinan partisipatif. Dengan jalan lebih menekankan adanya partisipasi yang aktif dan efektif dengan para bawahan, mengkonsultasikan permasalahan-permasalahan yang timbul, memberikan kesempatan kepada para karyawan untuk memberikan saran-saran atau ide-ide yang bermanfaat, seta terus memotivasi pegawai agar dapat bekerja lebih baik dan terus meningkatkan prestasi kerja dari yang ada sekarang demi kemajuan perusahaan. Pemimpin sebaiknya mengetahui seberapa jauh jumlah petunjuk, pengarahan, dan hubungan sosioemosional yang ia berikan serta tingkat kematangan yang ada pada pegawai dalam melaksanakan tugas agar mencapai hasil yang diharapkan.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan penumpang angkutan kota (mikrolet) di Kota Malang / Andi Rusli

 

Banyak perusahaan (termasuk perusahaan jasa) yang menyatakan bahwa tujuan perusahaan yang bersangkutan adalah untuk memuaskan pelanggan. Dalam memilih perusahaan jasa, konsumen biasanya mengukur dari tingkat harapan yang akan dicapainya. Perkembangan dari waktu ke waktu menunjukkan semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan penyediaan industri jasa transportasi. Penumpang sebagai konsumen produk jasa transportasi tidak hanya sebagai pengguna jasa angkutan saja tetapi juga membutuhkan kenyamanan dan keamanan dalam berkendara. Untuk dapat memberikan kepuasan kepada konsumen (penumpang) maka perusahaan jada harus dapat memahami dimensi kualitas jasa yang akan memberikan kerangka kerja kepada perusahaan tentang apa yang akan dijadikan indikator oleh pelanggan dalam menilai kualitas jasa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pengelola Angkutan Kota (Mikrolet) dalam menentukan kebijaksanaan di bidang jasa transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran obyektif tentang : (1) Pengaruh bukti langsung terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang; (2) Pengaruh keandalan terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang; (3) Pengaruh daya tanggap terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang; (4) Pengaruh jaminan terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang; (5) Pengaruh empati terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang; (6) Pengaruh bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara simultan terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang; (7) Variabel yang dominan pengaruhnya terhadap kepuasan penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini yaitu variabel bebas kualitas jasa meliputi bukti langsung (bukti fisik), keandalan (kemudahan), daya tanggap (kesediaan membantu penumpang), jaminan (kemampuan pelayanan), empati (perhatian terhadap penumpang) serta variabel terikat kepuasan penumpang. Populasi penelitian ini adalah seluruh penumpang Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang dengan jumlah sampel 140 responden (penumpang) dengan pertimbangan jumlah penumpang yang tak terhingga, keterbatasan waktu dan biaya, sedangkan teknik pengambilan sampel secara aksidental sampling. Penelitian ini dilakukan di Terminal Arjosari Malang tanggal 20 ? 22 September 2007. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F. Metode pengumpulan data berupa angket/kuesioner dengan jumlah sampel sebesar 140 responden (penumpang) yang sedang dan pernah menggunakan Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum kualitas pelayanan Angkutan Kota (Mikrolet) di kota Malang dipersepsikan cukup. Dari hasil analisis regresi dan uji hipotesis menunjukkan bahwa secara parsial maupun simultan ada pengaruh yang signifikan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan penumpang. Empati merupakan dimensi kualitas jasa yang mempunyai pengaruh dominan terhadap kepuasan penumpang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada pengelola Angkutan Kota (Mikrolet) agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan jasa transportasi Angkutan Kota (Mikrolet) melalui: (1) Fasilitas fisik Angkutan Kota (Mikrolet) yang memberikan kesan pertama terhadap penumpang harus dijaga kebersihan dan peningkatan uji kelayakan terhadap hak jalan Angkutan Kota (Mikrolet) tersebut; (2) Keandalan yang baik yang dimiliki oleh Angkutan Kota (Mikrolet) hendaknya harus dipertahankan dan ditingkatkan sehingga apa yang menjadi daya tarik bagi penumpang tetap terjaga; (3) Pengetahuan yang memadai bagi sopir Angkutan Kota (Mikrolet) untuk menunjang kemudahan pelayanan bagi penumpang; (4) Keamanan yang dirasakan penumpang hendaknya harus tetap dijaga dan ditingkatkan keberadaannya dengan mengontrol sistem keamanan baik keamanan kendaraan maupun keamanan penumpang dalam perjalanan, sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi penumpang akibat kecelakaan maupun kriminalitas; (5) Perhatian yang penuh terhadap penumpang dengan mendengarkan keluhan-keluhan yang disampaikan oleh penumpang baik secara tidak langsung maupun secara langsung.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan (studi pada pelanggan warung internet Seika Net Malang) / Hestia Priyowinati

 

Pada era globalisasi saat ini, persaingan bisnis semakin kompetitif. Hal ini membuat pelaku pasar lebih termotivasi dan terus bersaing agar dapat bertahan di dunia bisnisnya. Untuk itu, perusahaan perlu mempertahankan pasar dengan menetapkan tujuan kegiatan pemasaran. Tujuan kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi pelanggan agar bersedia membeli produk perusahaan. Agar kegiatan pemasaran dapat mencapai tujuannya, perusahaan harus memahami perilaku pelanggan. Dengan memahami perilaku pelanggan, perusahaan dapat melakukan kegiatan pemasaran secara tepat dengan memilih segmen pasar dan memasarkan produk pada pasar sasaran secara tepat pula. Selain itu, perlunya melakukan berbagai upaya mempertahankan pasar yang sudah ada melalui usaha meningkatkan loyalitas pelanggan serta memberikan nilai lebih berupa pelayanan yang sesuai atau melebihi harapan maupun tuntutan dari pelanggan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara langsung bukti fisik (tangible), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance) dan empati (empathy) terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis dengan teknik regresi berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan yang menjadi member warung internet Seika Net Malang. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode simple random sampling. Jumlah populasi sebanyak 1400 member sehingga sampel penelitian ditentukan sebesar 130 responden. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu variabel dimensi kualitas pelayanan yang meliputi bukti fisik (tangible) (X1), keandalan (reliability) (X2), daya tanggap (responsiveness) (X3), jaminan (assurance) (X4) dan empati (empathy) (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah loyalitas pelanggan (Y). Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS for Windows Release 12,0, dengan taraf signifikansi 5%. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis regresi berganda diketahui hasil penelitian menyatakan bahwa: (1) bukti fisik mempunyai β = 0,331 (2) keandalan dengan nilai β = 0,413 (3) daya tanggap mempunyai β = 0,260 (4) jaminan dengan nilai β = 0,483 dan (5) empati dengan memiliki nilai β = 0,421. Secara simultan dimensi kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan. Sedangkan secara parsial kelima dimensi kualitas pelayanan yang meliputi bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Hasil penelitian ini menyimpulkan: (1) hasil analisis regresi berganda menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan dimensi kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara simultan terhadap loyalitas pelanggan warung internet Seika Net Malang; (2) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara bukti fisik terhadap loyalitas pelanggan; (3) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara keandalan terhadap loyalitas pelanggan; (4) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara daya tanggap terhadap loyalitas pelanggan; (5) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara jaminan terhadap loyalitas pelanggan; (6) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara empati terhadap loyalitas pelanggan. Berdasarkan penelitian, pelanggan memang merasa puas dengan kelima dimensi kualitas pelayanan akan tetapi pada dimensi keandalan dan daya tanggap, perlu adanya peningkatan kualitas pelayanan seperti meningkatkan pengetahuan karyawan dan menambah kecepatan akses internet untuk lebih meningkatkan loyalitas pelanggan yang diinginkan.

Pengaruh penerapan model pembelajaran learning cycle 5 fase pada pokok bahasan struktur atom, sistem periodik, dan ikatan kimia terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri I Talun Kabupaten Blitar tahun ajaran 2006/2007 / Lutfi Nur Azizah

 

Pendidikan memegang peranan penting dalam era globalisasi sehingga perlu dilakukan perubahan dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Upaya pembaharuan dalam bidang pendidikan dilakukan melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum ini mengarahkan pada proses pembelajaran konstruktivistik agar siswa dapat membangun pengetahuannya melalui serangkaian proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang mengacu pada proses pembelajaran konstruktivistik adalah model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional, (2) mengetahui persepsi siswa terhadap pelajaran Kimia dan terhadap model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri I Talun pada tahun ajaran 2006/2007. Sampel dalam penelitian terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diambil secara acak kelas. Instrumen dalam penelitian adalah tes dan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik dan analisis deskriptif. Analisis statistik dilakukan pada data kemampuan awal siswa dan data hasil belajar siswa, sedangkan analisis deskriptif dilakukan pada data persepsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Learning Cycle (LC) 5 Fase dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, dimana rata-rata nilai hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle (LC) 5 Fase lebih tinggi (81,13) daripada dengan pembelajaran konvensional (74,53), (2) Keaktifan siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase lebih banyak (39% siswa menjawab, 22,4% siswa menanggapi, dan 21,5% siswa bertanya) daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional (20,2% siswa menjawab, 9,2% siswa menanggapi, dan 8,3% siswa bertanya), (3) Persepsi siswa menunjukkan bahwa sebanyak 71,05% siswa menyatakan persepsi yang positif terhadap pelajaran Kimia dan sebanyak 63,16% siswa menyatakan persepsi positif terhadap model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menyukai pelajaran Kimia dan model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar penggunaan model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam proses pembelajaran dan dapat disosialisasikan di sekolah-sekolah, karena memberikan hasil belajar siswa yang cukup baik dan meningkatkan minat serta kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.

Dampak penguatan media pembelajaran VCD pada metode student teams achievement divisions (STAD) terhadap hasil belajar siswa kelas XI semester I dalam mempelajari materi struktur atom dan sistem periodik / Yulia Fajar Rini

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang digunakan saat ini menawarkan perubahan yang cukup besar untuk mendorong siswa membangun sendiri pemahamannya. Konsekuensi dari diterapkannya KTSP, guru diharapkan menggunakan metode pembelajaran yang berorientasi pada kontruktivistik. Diantara metode tersebut adalah metode pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD). Selain itu, digunakan media pembelajaran untuk membantu siswa memahami materi yang dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan media pembelajaran VCD materi struktur atom dan sistem periodik untuk SMA Kelas XI semester I, (2) mengetahui kelayakan media pembelajaran VCD materi struktur atom dan sistem periodik untuk SMA Kelas XI semester I, dan (3) mengetahui perbedaan hasil belajar antara pembelajaran STAD tanpa penguatan VCD dengan pembelajaran STAD dengan penguatan VCD untuk materi struktur atom dan sistem periodik pada siswa kelas XI SMAN 7 Malang. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah tahap pengembangan media pembelajaran VCD dan tahap kedua adalah tahap uji coba media pembelajaran VCD kepada siswa dan uji kelayakan oleh para guru dan dosen. Pada tahap pertama media dikembangkan dengan rancangan Dick and Carrey. Model Dick and Carrey terdiri dari langkah-langkah mengidentifikasi tujuan umum dari pembelajaran, melaksanakan analisis pembelajaran, mengidentifikasi karakteristik siswa, merumuskan tujuan performansi, mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih material pembelajaran, mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif, dan merevisi bahan pembelajaran. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen semu yang melibatkan dua kelas yaitu kelas kontrol dan kelas ekperimen. Lokasi penelitian adalah SMAN 7 Malang. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI-IPA SMAN 7 Malang yang terdiri dari 126 siswa. Sedangkan sampel adalah siswa kelas XI-IPA 1 dan XI-IPA 2. Instrumen yang digunakan berupa instrumen angket untuk uji kelayakan oleh guru dan dosen dan instrumen berupa tes sebagai instrumen pengukuran hasil belajar. Instrumen perangkat pembelajaran berupa silabus, Rencana Pembelajaran, Hand Out, Worksheet untuk kegiatan diskusi kelompok, Lembar Penilaian kegiatan kooperatif STAD, kuis dan VCD pembelajaran. Juga angket sikap siswa terhadap media pembelajaran. Sebelum diberikan kepada siswa, khusus instrumen tes diujikan kepada siswa kelas XII-IPA 3. Dan diperoleh hasil tes yang valid sebanyak 44 soal dan reliabilitas soal sebesar 0,84. Untuk mengetahui pengaruh media terhadap hasil belajar siswa dilakukan analisis terhadap nilai tes akhir siswa. Analisis data dilakukan dengan membandingkan nilai tes akhir materi struktur atom dan sistem periodik menggunakan uji-t pihak kanan. Kelayakan media dianalisis dengan menggunakan teknik analisis diskriptif kualitatif dengan persentase menggunakan instrumen angket. Hasil pengembangan berupa VCD pembelajaran untuk materi Struktur Atom dan Sistem Periodik untuk Kelas XI Semester I berdurasi 45 menit yang terdiri dari pembukaan, materi dan penutup. Materi yang disajikan terdiri dari Perkembangan Model Atom Dalton hingga Model Atom Rutherford, Model Atom Bohr, Model Atom Mekanika Kuantum, Perbedaan Model Atom Bohr dan Model Atom Mekanika kuantum, Penentuan Posisi Elektron pada Model Atom Mekanika Kuantum melalui Bilangan Kuantum, Pengisian Konfigurasi Elektron Berdasarkan Model Atom Mekanika Kuantum, Menentukan Posisi Elektron dengan Bilangan Kuantum, Penentuan Harga Keempat Bilangan Kuantum dari Elektron Valensi, Penentuan Letak Golongan, Periode dan Blok dari Unsur Dalam Sistem Periodik melalui Bilangan Kuantum dari Elektron Valensinya. Dari hasil uji kelayakan media oleh guru dan dosen diperoleh kelayakan media pembelajaran sebesar 85,16%. Hasil uji coba pada siswa menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar menggunakan STAD dengan penguatan media lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajar hanya dengan STAD (nilai rata-rata kelas eksperimen 81,58 dan kelas kontrol 69,08; uji-thitung 6,48 > ttabel 1,66) . Penguatan media pembelajaran VCD untuk materi struktur atom dan sistem periodik dengan metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) terbukti meningkatkan hasil belajar siswa sehingga media pembelajaran VCD yang dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran.

Kualitas pelaksanaan pembelajaran praktik kerja kayu pada bidang keahlian teknik bangunan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Singosari / Deni Amijaya

 

Peran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sangat besar dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) mampu bersaing dalam dunia kerja/industri, untuk itu pembelajaran dan pelatihan praktik memegang peranan penting untuk membekali lulusannya agar mampu beradaptasi dengan lapangan kerja, yang salah satunya yaitu praktik kerja kayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kualifikasi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran praktik kerja kayu.. Metode pengumpulan data menggunakan cara penyebaran angket atau kuesioner kepada guru siswa. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: (1) tabulasi data, hasil yang diperoleh dari penyebaran kuesioner (angket) dimasukkan dalam tabel, (2) analisa deskriptif dengan menggunakan mean (rata-rata), dan (3) menyimpulkan hasil analisa tersebut sebagai pembahasan. Berdasarkan hasil analisa dari data penelitian dapat disimpulkan bahwa kualifikasi terhadap pelaksanaan pembelajaran praktik kerja kayu pada SMKN 1 Singosari dalam hal perencanaan pembelajaran praktik kerja kayu termasuk dalam kualifikasi sangat baik, sedangkan pelaksanaan pembelajaran praktik kerja kayu termasuk dalam kualifikasi baik, dan untuk evaluasi pembelajaran praktik kerja kayu termasuk dalam kualifikasi sangat baik. Komponen perencanaan pembelajaran yang paling tinggi yaitu pembuatan perencanaan program pembelajaran praktik kerja kayu, pembuatan perencanaan sumber/media pembelajaran praktik kerja kayu, dan pembuatan perencanaan strategi/metode pembelajaran praktik kerja kayu. Pada pelaksanaan pembelajaran praktik kerja kayu komponen yang paling tinggi adalah penggunaan pakaian kerja dalam kegiatan pembelajaran praktik kerja kayu. Untuk evaluasi pembelajaran praktik kerja kayu yang termasuk komponen paling tinggi adalah pengadaan evaluasi pada tiap akhir semester oleh guru, setiap hasil evaluasi belajar siswa digunakan untuk keperluan perbaikan pembelajaran, setiap hasil evaluasi belajar siswa digunakan sebagai bahan balikan bagi siswa. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dan pedoman dalam peningkatan kualitas pelaksanaan pembelajaran praktik kerja kayu pada SMKN 1 Singosari khususnya dan sekolah menengah kejuruan lainnya pada umumnya. Dengan adanya upaya peningkatan kualitas pembelajaran praktik kerja kayu pada sekolah menengah kejuruan secara optimal, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menerapkan ilmunya dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di dalam dunia kerja.

Perbandingan berat pengisian berbagai tipe refrigerant untuk AC mobil (pada temperatur 4?C dan putaran 2000 RPM) / Mujibur Rahman

 

Semakin menipisnya lapisan ozon adalah salah satu dampak negatif dari penggunaan zat pendingin (refigerant) yang tidak ramah lingkungan. Selain itu juga akan akan mengakibatkan pemanasan global atau GWP (Global Warming Potential). Refrigerant hidrokarbon telah dipersiapkan sebagai zat pendingin alternatif untuk menggantikan refrigerant yang tidak ramah lingkungan. Untuk mengetahui perbedaan jumlah berat pemakaian refrigerant yang tidak ramah lingkungan dan refrigerant hidrokarbon dilakukan penelitian eksperimental dari kedua refrigerant tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengisian berat refrigerant R-12 dengan R-134a; R-12 dengan MC-12 dan R-134a dan MC-12 pada temperatur 4?C dan putaran 2000 rpm. Dengan demikian konsumen mengetahui perbandingan dari pemakaian zat pendingin tersebut dan diharapkan penggunaan zat pendingin yang tidak ramah terhadap lingkungan berkurang bahkan tidak ada. Refrigerant yang digunakan dalam penelitian ini adalah R-12, R-134a dan MC-12. Penelitian ini dilakukan di laboratorium jurusan Teknik Mesin (Otomotif) Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan metode nonparametrik dan analisis yang dipakai adalah kruskal-wallis test dan uji U atau mann-whitney test untuk membandingkan refrigerant R-12, R-134a dan MC-12 terhadap jumlah berat pemakaiannya pada suhu 4?C di evaporator dan putaran 2000 rpm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara jumlah berat pemakaian dari zat pendingin R-12 dengan R-134a; R-12 dengan MC-12 dan R-134a dengan MC-12. Jumlah berat pemakaian tersebut adalah 206 grf untuk refrigerant R-12, 180 grf untuk refrigerant R-134a dan 132 grf untuk refrigerant MC-12 Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar konsumen beralih ke refrigerant yang ramah terhadap lingkungan yaitu refrigerant hidrokarbon. Selain itu diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada topik yang berhubungan dengan penelitian ini.

Solusi persamaan Schrődinger osilator harmonis satu dimensi dan tiga dimensi serta penggambarannya dengan paket program mathematica 5.0 / Fika Suryana

 

Persamaan Schrődinger merupan perangkat untuk menggambarkan perilaku partikel sub atomik. Solusi persamaan Schrődinger merupakan fungsi gelombang yang menyimpan seluruh informasi fisis sistem, dengan merupakan kerapatan peluang untuk mendapatkan partikel pada posisi dan waktu tertentu. Telah dilakukan pengkajian persamaan Schrődinger untuk osilator harmonis berdasarkan penjabaran analitik dan penggambaran grafik solusinya dengan bantuan paket program Matematika 5.0. Alasan pemilihan sistem osilator harmonis adalah karena osilator harmonis merupakan pendekatan perilaku partikel di alam, contohnya perilaku molekul diatomik. Penyelesaian sistem osilator harmonis dilakukan pada masalah satu dan tiga dimensi. Metode analitik mampu menyelesaikan persamaan Schrődinger osilator harmonis satu dimensi secara eksak, akan tetapi terdapat kerumitan jika sistem yang ditinjau adalah osilator harmonis dalam tiga dimensi. Paket program Mathematica 5.0 memberikan bantuan yang signifikan untuk menyelesaikan persamaan Schrődinger osilator harmonis dalam tiga dimensi. Oleh sebab itu, penyelesaian juga dilakukan dengan bantuan paket program Mathematica 5.0. Digunakan paket program Mathematica 5.0 untuk mendapatkan grafik solusi persamaan Schrődinger dan rapat peluangnya. Dengan paket program Mathematica 5.0 memungkinkan untuk memperoleh solusi bagi keadaan tereksitasi, n yang sangat tinggi, yang secara umum sangat sulit dilakukan secara analitik. Penyelesaian yang dilakukan secara analitik maupun dengan bantuan paket program Mathematica 5.0 mempunyai solusi yang sama. Keunggulan paket program Mathematica 5.0 adalah paket program ini dapat mempresentasikan grafik fungsi gelombang dan kuadrat absolut fungsi gelombang secara langsung.

Hubungan konsep diri dan motivasi menyelesaikan skripsi pada mahasiswa program S1 dengan perpanjangan masa studi di perguruan tinggi Kota Malang / Siti Yuli Yanti

 

Berdasarkan kondisi fisik dan psikis yang normal, semakin berkembang seseorang, maka semakin mampu dia mengatasi lingkungannya. Selain mengetahui lingkungannya, dia juga mengetahui siapa dirinya yang dikenal sebagai konsep diri. Perkembangan pembentukan nilai dan konsep diri seseorang dapat pula dibentuk melalui pendidikan perguruan tinggi. Sesuai dengan teori bahwa konsep diri memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap motivasi dalam menyelesaikan tugas yang di hadapinya. Khususnya bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi yang tidak menutup kemungkinan menghadapi kesulitan, sehingga banyak mahasiswa program S1 yang harus melakukan perpanjangan masa studi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan konsep diri dan motivasi menyelesaikan skripsi pada mahasiswa program S1 dengan perpanjangan masa studi. Rancangan yang digunakan adalah penelitian korelasional. Uji coba instrumen dilakukan pada 40 mahasiswa sedangkan penelitian dilakukan pada 100 mahasiswa yang tersebar di empat Perguruan Tinggi Kota Malang menggunakan teknik sampling Stratified Proportional Random Sampling dan disempurnakan oleh teknik Equal Probability Random Sampling. Metode yang digunakan untuk menyusun skala konsep diri dan skala motivasi adalah metode Rating yang dijumlahkan (Methods of Summated Rattings) dari Rensis Likert. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsep diri pada mahasiswa program S1 dengan perpanjangan masa studi termasuk dalam kategori sedang yaitu sebanyak 59 mahasiswa, sedangkan tingkat motivasi juga termasuk dalam kategori sedang yaitu sebanyak 66 mahasiswa. Ada hubungan positif antara konsep diri dan motivasi menyelesaikan skripsi dengan hasil uji korelasi product moment diperoleh nilai koefisen korelasi hitung sebesar 0,621, yang berarti hubungan kedua variabel menunjukkan adanya hubungan kuat. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi orang tua hendaknya lebih memahami serta mengarahkan konsep diri dan motivasi mahasiswa ke arah yang lebih positif, hal ini dapat dilakukan dengan cara berkonsultasi ke bagian kemahasiswaan, selalu memberi dukungan dan mengembangkan rasa percaya dirinya. Bagi para mahasiswa agar dapat seobyektif mungkin dalam memandang diri sendiri untuk dapat meningkatkan konsep diri dan motivasinya ke arah yang lebih positif. Bagi pengelola perguruan tinggi selain merancang program belajar guna meningkatkan kreatifitas mahasiswa terutama pada saat menyelesaikan skripsi, juga lebih meningkatkan layanan bimbingan bagi mahasiswa/orang tua. Bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk mengembangkan teori psikologi sehingga dapat diaplikasikan tidak hanya pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi dan melakukan perpanjangan masa studi, namun juga pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi dan tidak melakukan perpanjangan masa studi.

Perancangan dan pembuatan alat retribusi angkutan kota pada terminal dengan sistem prabayar menggunakan RFID / Bagus Seto Nugroho

 

Proses penarikan retribusi di terminal angkutan kota arjosari masih ditangani secara manual yang dilakukan oleh beberapa orang petugas DLLAJ secara bergantian, biasanya terdiri dari 2 orang atau lebih. Dari sistem retribusi yang telah ada mempunyai kelemahan yaitu terjadinya tindak kecurangan yang dilakukan sopir angkutan kota dengan cara meminjam karcis retribusi pada sopir angkutan kota yang lain karena tidak mau membayar biaya retribusi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ada petugas yang mencatat nomor kendaraa angkutan kota yang keluar terminal dan melihat pada buku catatan apakah sopir angkutan kota tersebut telah membayar retribusi atau belum serta petugas yang lain memberikan karcis dan menerima uang retribusi dari sopir angkutan kota, sehingga akan diketahui apabila ada sopir angkutan yang bertindak curang. Rumusan masalah dalam pembuatan alat retribusi dengan sistem prabayar adalah: (1) bagaimana koneksi mikrokontroler dengan PC; (2) bagaimana mengidentifikasi kendaraan; dan (3) bagaimana membuat database kendaraan. Metode yang digunakan dalam pembuatan alat retribusi angkutan kota pada terminal dengan sistem prabayar menggunakan RFID adalah : (1) mengkoneksikan mikrokontroler dengan PC; (2) mengidentifikasi kendaraan menggunakan RFID; dan (3) membuat database. Hasil pengujian alat retribusi dengan sistim prabayar adalah : (1) komunikasi mikrokontroler dengan PC utuk memperoleh data ID card; (2) identifikasi kendaraan untuk mengetahui data kendaraan; dan (3) database digunakan untuk menyimpan data kendaraan. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) RFID reader dapat mengidentifikasi tag (RFID card) dengan cara medekatkan RFID card pada RFID reader, nomer seri yang tertera pada RFID card digunakan sebagai identifikasi kendaraan yang sebelumnya data dari RFID card (nomer seri RFID card) telah dimasukkan ke dalam database; (2) Pembuatan database menngunakan database desktop; dan (3) Dengan membuat program delphi yang didalamnya terdapat database identitas kendaraan yang dapat digunakan untuk akses satu hari, dan untuk komunikasi antara PC dengan mikrokontroler menggunakan RS 232 Untuk meningkatkan kerja alat agar lebih maksimal, penulis menyarankan: (1) untuk mempermudah akses pembacaan RFID dengan jarak yang lebih jauh sebagai identifikasi kendaraan, maka RFID reader bisa ditambahkan antena external; (2) alat ini bisa ditambahkan sensor yang berfungsi untuk menutup palang pada saat angkot telah keluar dari terminal.

Studi lapangan pelaksanaan konstruksi dinding penahan tanah (retaining wall) pada pembangunan gedung convention hall di Universitas Negeri Malang / Yoyok Suwiknyo

 

Dinding penahan tanah (retaining wall) merupakan suatu dinding penahan untuk mencegah suatu kelongsoran pada daerah yang mengalami perbedaan tinggi. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan konstruksi dinding penahan tanah yaitu tentang metode penulangan, pengecoran, bekisting, pengecoran, dan perawatan beton setelah pengecoran. Manfaat dari studi lapangan ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pengajaran dalam bidang Teknik Sipil tentang dinding penahan tanah. Dinding penahan tanah dapat ditinjau dari tiga kategori dasar yaitu dinding gravitasi (gravity wall), dinding rusuk penguat (counterfort wall), dinding konsol (cantilever wall). Studi lapangan ini dilaksanakan pada proyek pembangunan Convention Hall di Universitas Negeri Malang, jl. Surabaya No 6 Malang. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, tanya jawab, dokumentasi (foto), dan dokumen pekerjaan (RKS dan RAB). Dari hasil studi lapangan disimpulkan bahwa jenis dinding penahan tanah (retaining wall) pada proyek ini dilihat dari fungsi dan ukuran merupakan dinding penahan konsol (cantilever wall). Pada pekerjaan pembesian dinding penahan tanah (retaining wall) ini dilaksanakan di lapangan. Tulangan yang dipakai untuk dinding penahan tanah (retaining wall) ini adalah dengan tulangan polos ? 12 dan tulangan ulir D 13 mm. Penulangan dinding penahan ini tidak menggunakan beugel, tetapi menggunakan kursen. Pelaksanaan bekisting menggunakan bahan yang meliputi; kayu dengan ukuran 5/7 dan 6/12 serta triplek dengan tebal 10 mm. Alat yang akan digunakan antara lain adalah: palu, paku, pensil, meteran, unting-unting dan gergaji. Pada proyek ini pengecoran dilakukan dengan menggunakan Readymix yang langsung didatangkan dari perusahaan SPU Mix dengan mutu beton K 225. Teknis pengecoran dengan cara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan timba atau ember untuk menuangkan kedalam bekisting. Pe Berdasarkan studi ini dapat disarankan dalam pelaksanaan pekerjaan dinding penahan tanah (retaining wall) untuk penggunaan besi tulangan hendaknya diperhatikan dalam pemilihan dan penggunaannya, dalam pembuatan dan pembongkaran bekisting harus lebih hati-hati dalam memperhitungkan penggunaan penyangga pada bekisting, dalam pengecoran jika menggunakan cara manual, harus lebih cepat dan lebih hati-hati, karena pendistribusian adonan beton ke bekisting membutuhkan waktu dan adanya kemungkinan tercecer, dan sebaiknya perawatan beton yang dilakukan setelah pengecoran lebih maksimal yaitu menyiram air pada permukaan beton.

Penerapan efektifitas customer selling officer dalam meningkatkan jumlah nasabah dan simpanan dana pihak ketiga pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Malang / Diana Rahmawati

 

Pelaksanaan bauran promosi pada koperasi Sumber Insan Mandiri Cabang Sawit Boyolali / Muhamad Arfan

 

Promosi merupakan alat yang sering di pakai oleh perusahaan atau instansi untuk memperkenalkan, membujuk, dan menginagtkan akan keberadaan suatu produk. Pada dasarnya promosi terdiri dari periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, penjualan secara pribadi, dan pemasaran langsung. Setiap perusahaan dapat mengunakan salah satu dari kelima bauran promosi maupun kombinasi dari elemen bauran promosi tersebut. Hal ini dikarenakan betapa berkualitasnya suatu barang dan jasa tetapi masyarakat tidak mengetahuinya maka kemungkinan besar barang atau jasa akan gagal di pasarkan. Tujuan petulisan tugas akhir ini adalah (1) Untuk mengetahhui layanan jasa yang dilakukan Koperasi Sumber Insan Mandiri Cabang. Sawit Boyolali (2) Untuk mengetahui promosi yang dilakukan Koperasi Sumber Insan Mandiri Cabang. Sawit Boyolali. (3) Untuk mengetahui keberhasilan pelaqksanaan promosi yang dilakukan Koperasi Asumber Insan Mandiri Cabang Sawit Boyolali. Dalam penulisan tugas akhir ini, informasi diperoleh dengan melakukan pengamatan atau observasi yang dilakukan selama menjalankan prakter kerja laanggan (PKL) praktikum manajemmen pemasaran III. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pelaksanaan periklanan di Koperasi Sumber Insan Mandiri Cabang Sawit, Boyolali meliputi iklan media elektronik yang ditayangkan di televisi, iklan media cetak yang di muat di surat kabar, media luar ruanggan seperti brosur, sepanduk, papan reklame yang ditempel di pingir-pingir jalan. Promosi penjualan yang di lakukan Koperasi Sumber Insan Mandiri Cabang Sawit Boyolai meliputi pemberian bunga dan hadiah. Pemberian hadiah yang dilakukan koperasi Sumber Insan Mandiri tidak melalui proses pengundian tetapi dengan melihat seberapa besar nasabah meng investasikan hartanya dikoperasi Sumber Insan Mandiri. Saran bagi koperasi Sumber Insan Mandiri 1. Dalam melaksanakan promosi sebaiknya koperasi Sumber Insan Mandiri lebih agresif sehingga konsumen dapat mengetahui sifat dan karakteristi produk jasa yang ditawarkan oleh koperasi ?SIM?. 2. Koperasi ?SIM? harus secara berkala mengadakan evaluasi terhadap bauran promosi yang telah dilaksanakanselama ini untuk mengantisipasi adanya peluang baru serta perubahan strategi promosi yang akan dilaksanakan berikutnya. 3. Untuk bauran promosi hubungan masyarakat sebaiknya koperasi Sumber Insan Mandiri lebih mempertimbangkan bentuk hubungan yang telah dilakukan dalam hal ini koperasi Sumber Insan Mandiri dapat menyediakan tempat kritik atau saran atas pelayanan yang dilakukan selama ini agar para nasabah juga dapat memberikan masukan demi perkembangan koperasi Sumber Inasan Mandiri. 4. Untuk pelayanan tentang keramahan dan ketepatan pemberian jasa atas bunga yang diberikan koperasi terhadap nasabah diharapkan lebih ditingkatkan agar nasabah loyal terhadap produk yang dihasilkan oleh koperasi Sumber Insan Mandiri dan akan menarik nasabah lain untuk menjadi loyal melalui iklan word of mouth (dari mulut ke mulut).

Analisis sistem pengendalian intern terhadap persediaan buku pada PT. Gramedia Asri Media-Malang / Dyah Yenny Puspita Dhewi

 

Persediaan Barang Dagangan merupakan hal yang sangat pokok bagi perusahaan dagang. Tanpa adanya Persediaan, perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen. Dalam mencapai persediaan yang optimal diperlukan suatu Sistem Pengendalian Intern yang baik dan efektif. Hal ini dimaksudkan untuk membantu perusahaan dalam upaya mengatasi kendala dan hambatan terhadap pengadaan Persediaan Buku. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui; Sistem Pengendalian Intern terhadap persediaan buku pada PT. GRAMEDIA ASRI MEDIA-Malang, kendala yang dihadapi dalam penentuan persediaan buku secara optimal, dampak yang ditimbulkan dari kendala dalam penentuan persediaan buku secara optimal yang telah ada di perusahaan. Berdasarkan hasil analisis data maka: (1) Sistem Pengendalian Intern terhadap Persediaan Barang Dagangan pada PT. GRAMEDIA ASRI MEDIA-Malang cukup baik. Hal ini didukung oleh pengawasan pihak pimpinan yang baik,yaitu: a) Struktur organisasi telah terbentuk dengan baik, setiap tugas dan tanggung jawab setiap fungsi digambarkan dalam bagan alir (flow chart), sehingga setiap karyawan dapat melakukan fungsinya dengan baik, b) Sistem wewenang yang baik dan didukung dengan dokumen-dokumen yang bernomor urut tercetak, c) Telah dilakukan praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi, d) Memiliki karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawab, (2) Masih adanya kendala dalam penentuan persediaan secara optimal, hal ini dikarenakan dalam penentuan persediaan perusahaan hanya menggunakan peramalan tanpa adanya metode yang tepat, (3) Dan dampak yang ditimbulkan adalah belum tercapainya tujuan perusahaan yaitu penentuan persediaan secara optimal. Beberapa saran yang dapat diajukan dalam mengatasi kendala yaitu: a) Ketika melakukan pembelian, perusahaan hanya menggunakan peramalan saja yang berakibat kesalahan prediksi, b) Perusahaan juga tidak menetapkan safety stock atau persediaan pengaman. Hal ini sangat berpengaruh tehadap kepuasan konsumen karena kemungkinan terjadi stock out lebih besar, c) Kegiatan pengamanan terhadap persediaan kurang maksimal karena hanya menggunakan tenaga security saja yang terbatas dalam pengawasannya, sehingga kemungkinan pencurian oleh calon pembeli masih relatif tinggi, d) Efisiensi pegawai juga kurang maksimal karena bagian gudang memiliki tugas dan tanggung jawab yang terlalu banyak dengan jumlah pelaksana yang sedikit sehingga dimungkinkan penyelesaian tugas yang kurang maksimal

Analisis sistem pengendalian intern terhadap penyimpanan barang jaminan nasabah pada perusahaan umum (Perum) Pegadaian Cabang Kepanjen Malang / Hesti Ika Prawitasari

 

Suatu perusahaan akan berjalan dengan baik apabila sistem yang digunakan juga baik dan apabila sistem yang dijalankan suatu perusahaan sudah baik, secara tidak langsung pengendalian intern yang dihasilkan pun akan baik pula. Pengendalian intern sangat berguna dalam melindungi aktiva perusahaan terhadap kecurangan, pemborosan dan pencurian yang dilakukan oleh pihak di dalam maupun di luar perusahaan. Perusahaan Umum Pegadaian yang selanjutnya disebut sebagai Perum Pegadaian merupakan salah satu lembaga keuangan non Bank di Indonesia yang menyediakan fasilitas pinjaman dengan jaminan tertentu. Terhadap barang jaminan, perusahaan memiliki hak menguasai barang jaminan sepanjang hutang belum lunas. Karena itu perusahaan wajib menyimpan dan memelihara barang jaminan serta menjaganya dari kerusakan, cacat maupun kehilangan baik sebagian maupun keseluruhannya sehingga kondisi dan nilainya tidak berkurang pada saat uang pinjaman dilunasi. Salah satu faktor terjadinya kerusakan, cacat, kehilangan barang serta berbagai macam penyimpangan-penyimpangan lainnya disebabkan lemahnya pengendalian intern khususnya pengendalian intern terhadap barang. Oleh karena itu, pengendalian barang perlu mendapat perhatian secara proporsional dan diselenggarakan secara professional dalam setiap barang. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui sistem penyimpanan barang jaminan nasabah dan sistem pengendalian intern yang digunakan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang lebih memfokuskan pada pengolahan data yang berbentuk kalimat uraian atau pemikiran logis maupun teori-teori yang digunakan perusahaan. Selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan penyimpanan barang jaminan nasabah dan sistem pengendalian intern yang digunakan perusahaan sudah cukup baik, terutama untuk pencatatan transaksi yang berpengaruh pada kebenaran saldo barang jaminan. Tetapi yang kurang adalah tidak adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab yang jelas antara penaksir dan bagian administrasi serta kurangnya penerangan dan pengaturan suhu dalam gudang penyimpanan barang jaminan. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disarankan agar dilakukan pemisahan fungsi atau tanggung jawab yang jelas antara penaksir dengan bagian administrasi dan agar lebih diperhatikan mengenai penerangan dan pengaturan suhu dalam gudang penyimpanan barang jaminan.

Evaluasi sistem pengendalian intern dalam pemberian pembiayaan kepada calon debitur koperasi syariah BMT Ar-Rahman di Tulungagung / Dwi Ervina Rahmawati

 

Setiap tahapan dalam proses pemberian pinjaman atau dalam istilah pada BMT disebut dengan pembiayaan, prinsip kehati-hatian haruslah diperhatikan hal ini berfungsi untuk mengurangi resiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya kredit kurang lancar bahkan macet, jumlah yang diberikan tidak sesuai dengan jumlah kembalinya, terjadinya kelalaian petugas dalam melakukan survey lapangan dalam menilai layak tidaknya seorang debitur diberi pinjaman, prinsip terlalu percaya kepada calon debitur. Hal-hal seperti inilah yang dapat merugikan pihak BMT sebagai lembaga penghimpun dana sekaligus penyalur dana. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana prosedur dan kebijakan yang diambil pengelola dalam pemberian pembiayaan kepada calon debitur khususnya di BMT Ar-Rahman Tulungagung, perbedaan apa yang membedakan antara perhitungan dalam penyusunan perencanaan pembiayaan dengan menggunakan penerapan sistem bagi hasil di BMT Ar-Rahman khususnya pada produk pembiayaannya di banding dengan Bank-Bank konvensional lainnya, serta aspek atau kriteria-kriteria apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memberikan pinjaman kepada calon debiturnya Berdasarkan uraian di atas, diperoleh hasil diataranya tidak adanya pemisahan tugas kasir yaitu pemisahan tugas pencatatan dan penerimaan uang, sehingga penerapan sistem pengendalian intern kurang efektif, untuk itu perlu adanya pemisahan tugas kasir bagian penerimaan uang dan pencatatan transaksi. Penggunaan kriteria pemberian pembiayaan dengan prinsip 5C saja masih dirasa kurang cukup sehingga perlu ditambah dengan penggunaan penerapan prinsip analisis 7P dan studi kelayakan. Kesimpulan dari karya tulis ini yaitu prosedur dan kebijakan dalam pemberian pembiayaan ditinjau dari unsur-unsur pokok dalam sistem pengendalian intern di BMT Ar-Rahman sudah cukup baik tetapi masih terdapat kelemahan yaitu tidak adanya pemisahan fungsi kasir dalam mencatat dan menerima uang. Jumlah angsuran per bulan pada BMT lebih meringankan nasabah dibandingkan dengan bank konvensional lainnya. Penerapan analisis 5C dalam pembiayaan masih belum cukup baik, untuk itu perlu adanya peningkatan sistem pengendalian internal yaitu dengan mengadakan pemisahan tugas kasir. Pemberian bagi hasil sebaiknya yang selayaknya saja untuk menghindarkan image kinerja lembaga yang kurang baik di mata anggota.

Analisis pengenalan dan pengembangan PT. BRI Syariah Cabang Malang / Wahyu Agustiningsih

 

Produk-produk syariah merupakan karakteristik yang dimiliki Bank Syariah yang menjadi ciri khusus dari bank tersebut dan belum dimiliki oleh perbankan lain. Karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan produk-produk syariah ini sehingga perbankan syariah perlu mengenalkan dan mengembangkannya produk-produknya agar sistem perbankan ini lebih dikenal masyarakat. Dalam penulisan Tugas Akhir ini permasalahannya yaitu: bagaimana upaya PT. BRI Syariah Cabang Malang dalam mengenalkan dan mengembangkan produk-produknya kepada masyarakat, kendala-kendala apa saja yang dialami perbankan syariah dalam mengenalkan dan juga mengembangkan produk-produknya tersebut, dan upaya apa saja yang dilakukan dalam mengatasi kendala-kendala yang ada. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk menunjang terlaksananya penyusunan tugas akhir ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tugas akhir ini bertujuan: (1) mengetahui upaya bank syariah dalam mengenalkan dan mengembangkan produk-produknya, (2) mengetahui kendala-kendala bank syariah dalam mengembangkan produk-produknya, dan (3) mengetahui upaya bank syariah dalam mengatasi kendala-kendala yang ada. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Dari hasil pembahasan dapat diketahui bahwa permasalahan dalam mengenalkan dan mengembangkan produk-produk syariah adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kegiatan operasional perbankan syariah, terbatasnya sumber daya manusia yang kompeten dan profesional, inovasi produk syariah yang masih terbatas,Bank Rakyat Indonesia Syariah belum bisa online, dan belum adanya ATM pada Bank Rakyat Indonesia Syariah. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar PT. Bank Rakyat Indonesia Syariah hendaknya terus melakukan sosialisasi pada masyarakat yang tidak terbatas hanya pada masyarakat muslim, memberikan loyalitas atau pelayanan yang memuaskan untuk mempertahankan nasabahnya, memaksimalkan kinerja para karyawan, dan melakukan beberapa tahapan yang diharapkan bisa mendukung pengembangan perbankan syariah.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 |