Kebiasaan menonton telivisi dan kebiasaan belajar siswa SD/MI di Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis / Lilik Kurniyati

 

ABSTRAK Kurniyati, Lilik.2009.Kebiasaan Menonton Televisi dan Kebiasaan Belajar Siswa SD/MI di Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis. Skripsi, Jurusan Pendidikan pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1)Drs. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd.,MH (II) Drs. H. Petir Pudjantoro, M.Si. Kata kunci: kebiasaan menonton televisi, belajar Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh siswa dalam belajar semakin banyak salah satunya dengan adanya televisi, dimana dalam penayangan acara-acara sampai 24 jam nonstop. Bagi siswa menonton televisi merupakan hiburan yang sangat menari. Menyaksikan televisi memiliki dampak bagi siswa baik dampak negatif maupun positif,. Peranan orang tua sangat penting dalam mengawasi anak dalam menonton tayangan televisi di rumah. Orang tua dapat memberikan batasan saat di rumah jika di sekolah batasan diberiakn oleh guru. Melihat dampak menonton televisi yang begitu banyak berpengaruh terhadap kebiasaan belajar siswa dan prilaku siswa. penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kebiasaan menonton televisi dan kebiasaan belajar siswa Sekolah Dasar, dan diharapkan dapat digunakan untuk memberikan gambaran-gambaran pada guru dan orang tua mengenai kebiasaan siswa dan memberikan batasan pada siswa dalam menyaksikan tayangan televisi Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4, 5 dan 6 SD/MI tahun ajaran 2008/2009 yang keseluruhannya berjumlah 1528 orang siswa. Sampel berjumlah 153 orang. Adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah Proporsional Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan angket. Analisis hasil penelitian menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan (1)Kebiasaan menonton televisi siswa dilakukan setelah pulang sekolah, mereka biasa menonton televisi 3 jam setiap hari dan kadang-kadang lupa waktu dikarenakan tidak membuat jadwal menonton televisi, Teman saat menonton televisi siswa yang selalu memberikan penjelasan dan memberikan pengertian tentang tayangan televisi yang baik dan buruk adalah ibu. Kebiasaan menonton televisi siswa dilakukan di rumah sendiri dan biasanya siswa sambil makan camilan. Film kartun yang menjadi kegemaran siswa adalah Tom and jarry, acara musik Idola Cilik, acara sinetron Upik abu dan laura dan acara berita Seputar Indonesia. Siswa kadang-kadang menonton film horor(misteri),Dampak menonton televisi bagi siswa kadang-kadang siswa menceritakan dan memperagakan setiap kejadian yang dilakukan tokoh favorit dalam film dan siswa merasa takut setelah menonton berita kriminal. (2)Kebiasaan Belajar siswa dimulai dimulai pada saat menjelang malam 17.00-19.00 siswa belajar 1 jam, saat belajar siswa ditemani oleh ibu yang membantu memecahkan kesulitan siswa dalam belajar. Kebiasaan untuk mempermudah memahami materi siswa biasanya dengan cara membaca kembali, membuat ringkasan,dan memberi tanda selain itu untuk membuat betah belajar siswa biasanya belajar dalam keadaan rumah yang sepi. Berdasarkan hasil penelitian di atas,s saran yang disampaikan dalam penelitian ini agar siswa lebih dapat mengatur waktu belajar dan menonton televisi dan bisa membedakan tayangan yang baik dan buruk. Guru disarankan agar menyampaikan pesan kepada siswa agar senantiasa hati-hati dalam memilih tayangan televisi untuk ditonton dan memberikan penyuluhan kepada orang tua siswa agar mempunyai kepedulian terhadap semua kegiatan putra-putrinya selama berada diluar jam sekolah dan memberikan dorongan pada siswa agar rajin belajar. Sekolah disarankan agar bekerja sama dengan orang tua siswa dalam hal pengawasan anak-anak terhadap tayangan yang yang tidak mendidik dan memberikan perhatian dan bimbingan saat siswa belajar. Bagi orang tua disarankan untuk mengawasi anak-anaknya dalam menonton televisi, mengatur jadwal bagi anak dan menyediakan waktu untuk menemani siswa belajar dan menonton televisi.

Pengembangan sistem informasi manajemen laboratorium otomotip pada SMK berbasis data base Microsoft Access / Taufik Didik Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Taufik Didik. 2009. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen La-boratorium Automotive Pada SMK Berbasis Data Base Microsoft Access. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Univer-sitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. (2) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, sistem informasi manajemen, laboratorium. Proses pembelajaran teknik dan kejuruan diarahkan untuk menemukan inti materi pelajarannya dengan pendekatan pembelajaran praktis. Untuk itu diperlu-kan sarana atau laboratorium yang layak sebagai penunjang pembelajaran teknik kejuruan, yang pada hakikatnya Laboratorium adalah suatu ruangan untuk kegi-atan praktek atau penelitian yang ditunjang oleh peralatan dan infrastruktur laboratorium yang lengkap. Semua kegiatan di laboratorium memerlukan adminis-trasi yang teratur dan terorganisir, sehingga laboratorium dapat ditata dan berfung-si secara optimal. Berdasar dari hal tersebut perlu dilakukan studi awal untuk melihat kegiatan-kegiatan dan sekaligus kebutuhan perbaikan pelayanan adminis-trasi di laboratorium SMK. Studi kelayakan pada beberapa SMK dengan tujuan untuk menggali informasi tentang sistem pendistribusian, pengadaan, inventaris, dan perawatan peralatan praktek didiskripsikan sebagai berikut: (1) mekanisme pelayanan admi-nistrasi peminjaman peralatan masih menggunakan sistem manual, yaitu siswa harus mencatat di kartu atau buku untuk perekapan data peminjaman alat. Administrasi peminjaman sistem manual ini belum memudahkan siswa maupun administrator dalam aktifitas pelayanan administrasi peminjaman, (2) prosedur pengadaan peralatan masih menggunakan sistem konvensional yakni belum dimanfaatkannya pengolah data secara otomatis dengan komputer baik perekapan data peminjaman maupun data inventaris untuk memudahkan sistem kerja administrator maupun pimpinan yang menggunakan data tersebut sebagai informasi pendukung keputusan dalam pengadaan peralatan yang lebih cepat dan akurat, (3) prosedur inventarisasi peralatan belum memudahkan sistem kerja administrator dalam merekap maupun pelaporan data inventaris dan (4) sistem perawatan peralatan belum terdata secara sistematis yang dapat menginformasikan dengan cepat baik kepada siswa maupun pengelola guna mengoptimalkan kegiatan atau pembelajaran di laboratorium. Diskripsi pengelolaan laboratorium tersebut merefleksikan bahwa pengelolaan di laboratorium membutuhkan mekanisme pelayanan yang sederhana dan cepat maupun adanya sistem informasi yang dapat membantu/mendukung proses pengambilan keputusan. Berdasarkan diskripsi ini peneliti/pengembang terdorong untuk mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Laboratorium guna mengoptimalkan pemanfaatan komputer pada SMK sebagai sarana untuk mempermudah atau mempercepat pelayanan administrasi dan pendukung proses pengambilan keputusan. Selanjutnya untuk mengembangkan SIM Laboratorium dilakukan modifikasi langkah-langkah pengembangan SIM (Sutanta, 2003) dan metode penelitian pengembangan (Sugiono, 2006). Sehingga komposisi dari metode pengembangan ini terdiri atas tiga tahap yaitu: (1) analisis kegiatan di laboratorium, peranan SIM, dan perancangan SIM, (2) prosedur pengembangan, dan (3) uji coba produk. Untuk tahap 1 dan 2 dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan studi pengumpul data yaitu wawancara, dokumentasi dan observasi. Sedangkan untuk tahap uji coba digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan kualitatif pada uji ahli dan pendekatan kuantitatif pada uji kelompok kecil atau demo produk. Alat pengumpul data pada pendekatan kuantitatif adalah angket dengan menggunakan Skala Semantik Differensial dan dianalisis dengan statistik sederhana. Hasil akhir pengembangan adalah berupa produk Sistem Informasi Mana-jemen Laboratorium berbasis teknologi komputer yang mencakup bidang sistem pendistribusian peralatan, sistem pengadaan, sistem inventaris, dan sistem pera-watan. Produk ini didukung oleh software Data Base Microsoft Access. Pemakai pasif pada produk ini adalah siswa atau peminjam, dan pemakai aktif adalah laboran dan pengelola laboratorium. Out put dari SIM Laboratorium adalah penyajian layanan administrasi (peminjaman) serta informasi dalam bentuk yang sistematis, cepat, tepat, dan terjamin keakuratannya. Oleh karena itu, SIM Labo-ratorium dapat digunakan untuk mempermudah atau mempercepat pelayanan ad-ministrasi dan mendukung proses-proses pengambilan keputusan. ABSTRAK INGGRIS The aim of study process of vocational engineering is to find the content of the lesson with practical study approach. Therefore, proper facilities or laboratory is required as a supporting means for the study process of vocational engineering; fundamentally Laboratory is a room for carrying out practices or researches supported by complete equipments and laboratory infrastructure. All activities in laboratory require regular and organized administration, so the laboratory can be arranged and functioned in an optimal manner. Based on that, an initial study is needed to see the activities and, at the same time, the need of improvement of administrative services in SMK laboratory. Feasibility study at some SMK with a purpose to dig information about distribution system, supplying, inventory, and maintenance of practical equipment is described as followed: (1) the administration services mechanism in equipment loaning is still using manual system, in which the students have to note in card or book for the recapitulation data of loaning equipment. This manual loaning administration system has not facilitated the students as well as the administrator in loaning administration services activity, (2) the supplying procedure is still using conventional system, that is there is no exploitation of automatic data processing with computer for loaning and inventory data recapitulation to facilitate administrator or management work system who use the data as decision-supporting information for faster and more accurate equipment supplying, (3) inventory procedure has not facilitated administrator work system in inventory data recapitulation or report and (4) the data of equipment maintenance system has not been made systematically which can inform the student or the organizer to do the activity or learning process in laboratory optimally. The description of the laboratory management reflects that the laboratory management needs a simple and fast services mechanism and information system which is able to help/support the decision-making process. Based on this description, the researcher/developer is encouraged to develop Laboratory Management Information System to maximize the computer exploitation in SMK as a medium to ease or quicken administration services and to support decision-making process. Furthermore, in order to develop Laboratory SIM, the modification of SIM development stages (Sutanta, 2003) and development research method (Sugiono, 2006) is completed. As a result, the composition of the development method is composed of three stages that is (1) activity analysis in the laboratory, SIM role, and SIM design, (2) development procedure, and (3) product testing. Stage 1 and 2 is done with qualitative approach using interview, documentation and observation as a means to collect the data. While two approaches are applied for testing the product, that is qualitative approach at expert test and quantitative approach at small group test or demonstration of product. The data collector in quantitative approach is questionnaire using Differential Semantics Scale and is analyzed with simple statistic. The end result of development is in the form of Laboratory MIS product based on computer technology including equipments distribution system, supplying system, inventory system, and maintenance system. This product is supported by software Data Base Microsoft Access. Passive consumer of this product is student or lender, and active consumer is tool man and laboratory organizer. Output from MIS of Laboratory is presentation of administration service (loaning) and information which is systematic, fast, precise, and has guaranteed accuracy. Therefore, MIS of Laboratory is applicable to facilitate or quicken administrative services and support decision-making processes.

Implementasi pembelajaran kooperatif model stad (Student Teams-Achievement Division) untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan prestasi belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas X-6 SMA Negeri II Blitar / Fiko Yuantoro

 

ABSTRAK Yuantoro, Fiko. 2008. Implementasi Pembelajaran Kooperatif STAD (Student Teams-Achievement Division) untuk Meningkatkan Aktivitas Kooperatif dan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X-6 SMAN II Blitar.Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mardono M.Si, (II) Drs. Yohanes Hadi Susilo M.Div, M.E Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif model STAD, prestasi belajar Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan siswa dan guru bidang studi Ekonomi kelas X-6 SMAN 2 Blitar, pada bulan Oktober-November, diketahui bahwa keadaan pembelajaran yang dilakukan cenderung menoton, guru sering menggunakan metode ceramah atau merangkum. Selain itu, siswa cenderung pasif dalam belajar. Kemampuan akademik siswa tergolong rendah, dari 33 siswa yang ada hanya 15,52% yang tuntas belajar. Hal ini menunjukkan masih banyak siswa yang masih belum mencapai SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) yang ditentukan oleh sekolah. Selain itu, guru jarang menerapkan pembelajaran kooperatif dalam pengajaran di kelas, masih cenderung menggunakan metode ceramah. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas lima tahap, yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi tindakan. Penelitian ini dilakukan pada kelas X-6 SMAN 2 Blitar yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 2008 sampai 18 November 2008. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah: lembar observasi aktivitas guru, lembar aktivitas siswa, soal tes, dan catatan lapangan. Penelitian ini menerapkan pembelajaran STAD yang tahapan pembelajarannya: 1) Penyajian kelas, 2) Belajar kelompok, 3) Tes atau kuis, 4) Skor peningkatan individu, dan 5) Penghargaan kelompok. Pada pembelajaran ini siswa diorganisasikan dalam bentuk kelompok kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I aktivitas belajar siswa 79,37% (B), sedangkan pada siklus II 89,52% (A). Penerapan pembelajaran STAD juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Skor awal rata-rata siswa sebesar 70, skor rata-rata siklus I sebesar 76,18, dan skor rata-rata siklus II 84,24. peningkatan prestasi ini juga dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa yang mencapai SKBM. Pada data awal siswa yang mencapai SKBM sebesar 15,52%, pada siklus I sebesar 73%, dan siklus II sebesar 93,94%.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan pelatihan pamong belajar di Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) Wilayah Regional IV Surabaya / Ach. Rasyad

 

ABSTRAK Rasyad, Ach. 2008, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Pelatihan Pamong Belajar di Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLS) Regional IV Surabaya, Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd; (II) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd; (III) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. Kata kunci: keefektifan, manajemen pelatihan, pamong belajar Keefektifan merupakan tujuan utama manajemen pelatihan, dalam arti bagaimana mengelola semua sumberdaya pelatihan sehingga diperoleh hasil yang sesuai dengan yang direncanakan. Pamong Belajar sebagai salah satu pendidik pada pendidikan nonformal memiliki posisi strategis sebagai: (a) pendidik masyarakat secara langsung, (b) sebagai pendidik dan pelatih pendidik dan tenaga kependidikan nonformal yang lain, dan (c) pengembang dan peneliti pendidikan nonformal. Banyak pelatihan yang telah dilakukan untuk meningkatkan kompetensi Pamong Belajar, antara lain pelatihan yang diselenggarakan di Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) tetapi evaluasi terhadap keefektifan pelatihan sebagai salah satu indikator mutu manajemen pelatihan dengan menggunakan kerangka teorotik sebagaimana dikembangkan oleh Bosker (1997), Wentling (2001), diperkuat dengan temuan penelitian Muller dan Sharma (2005) Pearson (2006) dan Litchfield (2007) belum banyak dilakukan. Atas dasar itulah peneliti melakukan penelitian ini, dengan tujuan untuk menemukan tingkat keefektifan pengelolaan pelatihan Pamong Belajar di BPPLSP Regional IV, menguji pengaruh positif yang signifikan dari faktor-faktor peserta pelatihan, masukan instrumental dan masukan lingkungan terhadap keefektifan proses pelatihan Pamong Belajar di BPPLSP Regional IV, menguji pengaruh positif yang signifikan dari faktor-faktor peserta, masukan instrumental, masukan lingkungan terhadap keefektifan hasil pelatihan Pamong Belajar di BPPLSP Regional IV secara menyeluruh dan menguji pengaruh tidak langsung yang signifikan positif faktor peserta terhadap hasil pelatihan melalui proses pelatihan, faktor masukan instrumen terhadap hasil pelatihan melalui proses pelatihan, dan faktor lingkungan terhadap hasil pelatihan melalui proses pelatihan Pamong Belajar di BPPLSP Regional IV Surabaya Penelitian ini dirancang sebagai penelitian evaluasi (evaluation Research). Pelatihan Pamong Belajar pada tahun 2006 ada 2 pelatihan, yaitu pelatihan manajemen diklat dan penulisan karya ilmiah, yang masing-masing pesertanya 30 orang maka yang menjadi populasi dan sekaligus sampel dari penelitian ini adalah 60 peserta (total sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik angket. Instrumen dikembangkan setelah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan dengan analisis jalur (path analysis) setelah data diuji keberadaan multikolinearitas, normalitas, homogenitas dengan analisis uji homoskedastisitas, dan uji linearitas memenuhi syarat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengelolaan pelatihan berlangsung secara efektif baik dalam proses pelatihan maupun hasil pelatihan dan terdapat pengaruh langsung yang signifikan positif antara: (1) faktor peserta terhadap keefektifan proses penyelenggaraan pelatihan, (2) faktor masukan instrumental terhadap keefektifan proses penyelenggaraan pelatihan, (3) faktor masukan lingkungan terhadap keefektifan proses penyelenggaraan pelatihan, (4) faktor peserta terhadap hasil pelatihan, (5) faktor masukan lingkungan terhadap hasil pelatihan dan (6) faktor proses penyelenggaraan pelatihan terhadap hasil pelatihan. Sedangkan (7) faktor masukan instrumental tidak berpengaruh langsung terhadap keefektifan hasil pelatihan. Demikian pula terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan positif antara: (1) faktor peserta terhadap hasil pelatihan melalui proses penyelenggaraan pelatihan, (2) faktor masukan instrumen terhadap hasil pelatihan melalui proses penyelenggaraan pelatihan, dan (3) faktor lingkungan terhadap hasil pelatihan melalui proses penyelenggaraan pelatihan Pamong Belajar di BPPLSP Regional IV Surabaya. Atas dasar temuan penelitian ini, untuk meningkatkan keefektifan manajemen pelatihan disarankan: (1) prosedur pengelolaan pelatihan ditata ulang mulai dari perekruitan oleh pimpinan yang lebih melibatkan peserta, (2) dirancang pola pengelolaan pengaruh antara narasumber dengan peserta pelatihan tidak hanya berhenti ketika pelatihan selesai, namun dilanjutkan dengan memfasilitasi pengaruh lanjut antara mereka pasca pelatihan untuk pendampingan dan konsultasi bila peserta menghadapi kesulitan menerapkan hasil pelatihan, (3) perlu dikembangkan pengelolaan layanan materi belajar lanjutan yang bisa diterima peserta pasca mengikuti pelatihan, dan (4) pengelolaan lingkungan perlu juga ditataulang dengan melahirkan kebijakan-kebijakan yang mendukung penerapan hasil pelatihan serta peningkatan keuntungan relatif dan kemanfaatan hasil pelatihan bila diterapkan oleh peserta. Effectiveness is the main goal of training management, in which how training resources are well managed in order to achieve the planned results. As one of the non-formal educators, the facilitators posses strategic positions as: (a) direct community educators, (b) educators and trainers of the non-formal educators as well as other educational personnel, and (c) researchers of non-formal education. Much training has been conducted in order to improve the competence of the facilitators. One of them is the training organized by The Development Center of Out of School and Youth Education (BPPLSP and since 2008 it changed by BPPNFI) for instance. However, evaluation of the training effectiveness, as one of the quality indicators of the training management, which is based on the theoretical frameworks developed by, for instance, Bosker (1997), Wentling (2001), Muller and Sharma (2005), Pearson (2006), and Litchfield (2007), has not been greatly carried out. Considering these conditions, the researcher initiate this research which was intended: (1) to find out the effectiveness of training management of the learning facilitators held by The Development Center of Out of School and Youth Education Regional IV Surabaya, (2) to examine the positive direct effect significance of the factors of training participants, instrumental and environmental inputs to the effectiveness of training processes, (3) to examine the positive effect significance of training participants, and instrumental and environmental inputs factors to the training effectiveness entirely, and (4) to examine the significance of indirect effect of training participants, and instrumental and environmental inputs factors to the training results through the processes of training for facilitators at The Development Center of Out of School and Youth Education Regional IV Surabaya. The research was designed as an evaluation research. Two training programs were conducted in 2006—training for management of education and training and training for scientific writing. Each training involved 30 participants, all of them, then, were involved as the population as well as the samples of this study. A questionnaire was used as instrument for collecting data. Tests of validity and reliability were carried out in developing the instrument. Path analysis technique was used for analyzing the data. All statistical assumptions for path analysis were evaluated as well. The results show that all training programs were conducted effectively both viewed from their processes and results. The research also found the presence of significant positive direct effects between: (1) participant factor to the effectiveness of training process; (2) instrumental input factors to the effectiveness of training process; (3) environmental input factors to the effectiveness of training process; (4) participant factor to the training results; (5) environmental input factors to the training results; (6) the training process factors to the training results; and (7) instrumental input factors have no positive direct effect to the training achievement. Finally, the research found the presence of positive indirect effects from participant factors, instrumental input factors, and environmental input factors to the training results through the effectiveness of training process at The Development Center of Out of School and Youth Education, Regional IV Surabaya. In order to increase the effectiveness of the training management, based on the findings, it is recommended that: (1) the procedure of training management should be reorganized entirely, from the recruitment by involving more of the participant, (2) the influence of the facilitators to the participants should not be ended as the training completed, but also sustained by facilitating further influence following the training among them through guidance and consultancy services for participant encountering difficulties in implementing the training results, (3) management of further learning services acceptable by participants should be developed, and (4) environmental management should be reorganized through creating policies that support the implementation of training results and improvement of relative benefit and usefulness of the training results whenever participants implement them

Pelaksanaan pembinaan disiplin kerja pegawai di BAPPEDA Kabupaten Daerah Tingkat II Malang oleh Siti Asiyah

 

Kedisiplinan sangat diperlukan sekali bagi kemajuan suatu organisasi. Disiplin kerja merupakans ikap yang mendasarid alam pelaksanaantu gas organisassi ehinggat ujuan organisasid apat tercapai.M aka perlu adanya peningkatanp embinaand isiptin yaqg dapat dilakukan denganm elaksanskan pengawasanm elekata tau pengawasana tasanl angsung. Permasalahand alam penelitiani ni adalah: (1) Bagaimanak ondisi pengawasanm elekatd i BAPPEDA KabupatenD ATI Ir Malang, (2) Bagaimana kondisi disiplin kerja pegawai di BAPPEDA Kabupaten DATI II Malang, (3) Upaya apa saja yang dilakukan pimpinan dalam membina disiptin kerja pegawai(, 4) Hambatana pa saja yang ada dalam menegakkand isiplin pegawai. sedangkantu juan penelitian adalahu ntuk memperolehd eskripsio byektif tentangk ondisi pengawasanm elekat,k ondisi obyektif disiplin kerja pegawai, upaya dalam membina disiplin kerja pegawai dan hambatan yang dihadapi dalam membina disiplin kerja pegawai. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penggunaanm etoded eskriptif adalah untuk memperolehg ambarany ang obyektift entangp ermasalahany ang dikaji. Penelitian ini dilaksanakan di BAPPEDA Kabupaten DATI II Malang. Illetode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan angket, dekumentasiw, awancara.S ubyekp enelitiana dalahs emuap egawaiB AppEDA DATI II Malang yang sudah berstatus PNS sebanyak 50 orang pegawai. Untuk mengumpulkand ata digunakani nstrumen yang berupaa ngket.A nalisis data yangd igunakana dalaht eknik analisad eskriptifyangd isajikand alamb entuk tabel frekwensi dan presentase. Ilasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi obyektif pengawasan melekat secara umum di BAPPEDA Kabupaten DATr rr Malang berada dalam klasifikasib aik sebesar8 0,77voy ang ditunjukkan oleh 21 respondens, elebihnya kfasifikasis angatb aik sebesar7 ,69Yod itunjukkan oleh 2 respondend, an klasifikasic ukup baik ll,54y" ditunjukkan oleh3r espondens. edangkank ondisi obyektif disiplin kerja pegawai secara umum di BAPPD,DA Kabupaten DATI rr ir: f tl J

Perbedaan return, abnormal return, dan trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah pengumuman perubahan bond rating perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007 / Dewi Andriati

 

Keberadaan suatu informasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan pasar modal melalui informasi tersebut, suatu perusahaan dapat menentukan kelangsungan perusahaannya yang tercermin melalui keputusan yang diambilnya. Salah satunya melalui informasi yang diberikan oleh lembaga penunjang pasar modal yaitu pemeringkat efek melalui pemeringkatan obligasi yang dimaksudkan dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi pasar modal yaitu menunjukkan perubahan harga sesuai dengan teori efisiensi pasar setengah kuat. Dengan adanya informasi mengenai perubahan bond rating diharapkan mampu menjadikan tambahan informasi yang murah untuk melakukan keputusan investasi, dan dengan adanya publikasi informasi tersebut diharapkan mampu memberi kontribusi kepada investor dan pasar dalam bentuk return, abnormal return maupun trading volume activity. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah ada perbedaan return, abnormal return, dan trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah pengumuman perubahan bond rating perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007. Hipotesis penelitian ini yaitu diduga terdapat perbedaan return, abnormal return, dan trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah pengumuman perubahan bond rating perusahaan yang listing di BEI. Adapun populasi dalam penelitian adalah seluruh perusahaan yang mengalami perubahan bond rating pada tahun 2005-2007 yaitu sebanyak 36 perusahaan, sedangkan sampel yang digunakan adalah sebanyak 6 perusahaan yang diambil secara purposive sampling. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis non parametrik karena data tidak terdistribusi dengan normal, dengan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui tingkat perbedaan return, abnormal return, dan trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah pengumuman perubahan bond rating. Kondisi return sebelum dan sesudah event menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Kondisi Abnormal Return sebelum dan sesudah event mengalami kenaikan nilai mean abnormal return sesudah event. Kondisi Trading Volume Activity sebelum dan sesudah event mengalami pergolakan yang tidak begitu tajam, dan terjadi peningkatan volume perdagangan saham sesudah event. Dari hasil pengujian dapat diketahui tidak adanya perbedaan antara return, abnormal return, dan trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah pengumuman perubahan bond rating, sehingga dengan demikian dapat disimpulkan tidak adanya respon dari investor terhadap pengumuman perubahan bond rating, karena pada umumnya investor beranggapan bahwa perubahan tersebut disebabkan karena ekpektasi agen pemeringkat terhadap penjualan, laba, dan arus kas masa depan perusahaan. Sehingga investor cenderung mengabaikan informasi bond rating dalam melaksanakan aktivitas perdagangan saham, yang menyebabkan pengumuman perubahan bond rating di Indonesia bukan salah satu kejadian yang dapat memperngaruhi return, abnormal return, maupun volume perdagangan saham dan juga bukan merupakan informasi yang mempunyai kandungan nilai ekonomi. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Bagi investor , hendaknya dipertimbangkan perubahan dan kualitas bond rating sebagai salah satu informasi yang relatif murah disamping mengkaji catatan emiten obligasi, (2) Bagi lembaga pemeringkat, Untuk meningkatkan kualitas jasa proses pemeringkatan untuk menciptakan kepercayaan investor pada perusahaan bond rating, (3) Bagi peneliti berikutnya untuk menguji dengan memperhatikan penurunan bond rating, menggunakan pengumuman dari lembaga pemeringkat lain guna membandingkan rating yang digunakan, dan membedakan jenis dan besarnya perusahaan sampel.

Strategi kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah (Studi kasus di SMP plus Darus Sholah Jember) / Zainal Arifin

 

ABSTRAK Arifin,Zainal. 2009. Stategi Kepala Sekolah dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Studi kasus di SMP Plus Darus Sholah Jember. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. (II). Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: strategi kepala sekolah, manajemen berbasis sekolah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah salah satu bentuk pengelolaan manajemen sekolah yang diterapkan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Penerapan model ini dilandasi beberapa asumsi antara lain: (1) sistem sentralisasi pendidikan yang diterapkan selama ini belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan, (2) kebijakan pendidikan selama ini lebih berfokus pada pendekatan input dan output; (3) Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management) lebih memberikan kesempatan dan kebebasan kepada kepala sekolah dan stakeholders untuk mengembangkan sekolahnya sesuai kondisi dan potensi daerah masing-masing.. untuk meningkatkan dimensi keberhasilan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah berhasil dengan baik, diperlukan strategi kepala sekolah yang mampu berperan sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggungjawabnya. Fokus penelitian ini adalah strategi kepala sekolah dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah. dengan rincian fokus (1) Strategi kepala sekolah dalam melaksanakan transparansi manajemen, (2) Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran, (3) Strategi kepala sekolah dalam memberdayakan peran serta masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yakni: (1) wawancara mendalam, (2) observasi berperan serta pasif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan alur (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria: (1) kredibilitas, (2) transferbilitas, (3) dependenitas, dan (4) konfirmabilitas. Dari hasil paparan data penelitian di lapangan ditemukan bahwa kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar dalam mensukseskan program Manajemen Berbasis Sekolah peran yang dilakukan oleh kepala sekolah yaitu (1) Melakukan transpransi manajemen di dalam pengelolaan sekolah yang tercermin dari keputusan yang diambil oleh kepala sekolah bersifat partisipatif dan pengelolaan keuangan bersifat transparan.(2) trategi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran yaitu meningkatkan profesionalisme guru dan menerapkan model pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), (3 strategi kepala sekolah dalam memberdayakan peran serta masyarakat yaitu kepala sekolah melakukan hubungan dengan komite sekolah dan masyarakat bersifat kekeluargaan dan melibatkan komite sekolah dalam penyusunan, pelaksanaan, maupun evaluasi program sekolah. Adapun saran berdasarkan temuan-temuan penelitian ini adalah (1) bagi pihak penyelenggara pendidikan, khususnya bagi kepala sekolah agar secara berkesinambungan bersama-sama dengan warga sekolah, komite sekolah meningkatkan mutu pendidikan dengan mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah, (2) Bagi kepala Dinas Pendidikan dan Depag Kabupaten Jember hendaknya terus melaksanakan sosialisasi Manajemen Berbasis Sekolah secara berkelanjutan baik melalui kegiatan ilmiah (seminar, pelatihan dan sebagainya) agar implementasi kebijakan pendidikan tentang Manajemen Berbasis Sekolah dapat terus ditingkatkan. dan meningkatkan kualitas kepala sekolah dengan cara menciptakan sistem pendidikan atau pelatihan serta setifikasi terhadap jabatan kepala sekolah secara professional dengan standart-standart profesi yang baik. (3) Bagi kepala sekolah agar menjadi pemimpin yang professional dan memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu kepala sekolah harus selalu berinovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan, salah satunya yaitu dengan mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah. (4) Bagi masyarakat atau para pengurus komite sekolah untuk lebih meningkatkan peran sertanya dalam mewujudkan program-program yang telah disusun bersama, selain itu harus bisa menjembatani kepentingan kepentingan masyarakat/wali murid dengan sekolah, dan hubungan yang selama ini sudah terjalin hendaknya terus dibina. (5) Bagi peneliti. Sekalipun penelitian ini penuh dengan kekurangan, maka peneliti berikutnya dapat melanjutkan untuk melakukan penelitian tentang strategi kepala sekolah terkait dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah untuk memperkuat temuan penelitian ini. Sehingga peran kepala sekolah pada konteks ini menjadi perhatian yang cukup menarik ABSTRACK Arifin, Zainal. 2009. The Strategy of Principal in Implementing School Based Management: A case Study at SMP Plus Darus Sholah Jember. Thesis, Departement Of Education Program Management. Post Graduate Programe, State University of Malang. Advisor: (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Key Word: Strategy of The Principal, School Based Management School Based Management is one of the School Management which is occupied to improve the quality of education in school. The implementation of this model is based on some assumsion including; 1). The centralization of education system which has been administered during the time still remains unsatisfactory. 2). The education policy merely focused on input and output approach. 3). School Based Management gives more chance and autonomy to the principal and stakeholders to develop their school conforming to each local atmosphere. To increase success of the implementation School Based Management. It is required the strategyof the principal that can play a role that associate wit his duty, his authotity and his responbility. This research focused on the strategy of the principal in applying School Based Management that encompasses the following points: 1). The effort of the principal in implementing School Based Management at SMP Plus Darus Sholah Jember, 2). The strategy of the principal of the principal in performing management transparance, 3). The strategy of the principal in enhancing the quality of learning, 4). The strategy of the principal in empowering social participation. This study employs qualitative approach with a case study design. The data are collected using three ways, (1) deep interview, (2) passive observation, (3) study of documentation. The selection of informants in this study is done with the snowball sampling technique. The data are analyzed descriptively with the following procedures (a) reducing data, (b) describing data, (c) making conclusion. To make sure the validity of data, the four criteria are employed. (1) credibility, (2) transferability, (3) dependability, and (4) conformability. The finding then shows that the principal has a significant role in succeeding the program of School Based Management. The role of the principal include: 1). Socialization the program of School Based Management within school environment and its surrounding; the principal, furthermore, formulate the vision, and mission together with them, 2). Doing management transparence in managing the school which is reflected in the decision of the principal made is characterized as partisipative and transparently financial management, 3). The strategy of the principal to enhance the quality of teaching and learning is done trough teachers’ professionalism as well as applying the model of active, creative, effective and fun learning, 4). The strategy of the principal in empowering people’s participation is done by making connection between school committee and people surrounding to organize, to applicate, and to evaluate the school program. Based on findings, suggestions of this research are (1) education organizers, especially headmasters, school parties, and school committee, should continuously increase the quality of education in favor of implementing School-Based Management; (2) the Chief of education and Religious Department of Jember Regency should always conduct socialization of School-Based Management through scientific activities (seminar, training, etc) in order to increase the implementation of education policy in terms of School-Based Management and improve the quality of headmasters by creating the education or training system, and certification of headmaster position professionally by the good professional standards; (3) headmasters should be the professional leaders and have strong commitment in improving the quality of education. Therefore, they should constantly innovate in order to improve the quality of education; one of them is by implementing School-Based Management; (4) community or school committees should increase their involvement in realizing the arranged plans, besides they should extend community/parents’ interests in schools, and the existing relationship that should be lasted forever; and (5) though this research has several limitations, further researchers should persist to conduct research about the strategy of headmasters related to the implementation of School-Based Management inasmuch as reinforce findings of the research so that the role of headmasters in this context become the interesting attention.

Kepemimpinan pada lembaga pendidikan non formal (Studi multikasus pada tiga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB): SKB Kota Malang, SKB Kabupaten Situbondo dan SKB Kabupaten Bondowoso) / Bambang Hari Susanto

 

Susanto, Bambang Hari. 2012. Kepemimpinan Pendidikan Pada Lembaga Pendidikan Nonformal (Studi Multikasus pada Tiga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB): SKB Kota Malang, SKB Kabupaten Situbondo dan SKB Kabupaten Bondowoso). Disertasi (tidak dipublikasikan) Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (III) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd Kata kunci: kepemimpinan, pendidikan nonfomal, sanggar kegiatan belajar. Pendidikan Nonformal (PNF) bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan kepada semua lapisan warga masyarakat yang tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan sebelumnya, agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan vokasional, pengembangan sikap dan kepribadian profesional, sehingga PNF dapat pula berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam mendukung pendidikan sepanjang hayat. Kepemimpinan Pendidikan Nonformal, setiap satuan pendidikan nonformal dipimpin oleh seorang pemimpin/kepala.Yang dapat memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sebagai satuan lembaga PNF, SKB memiliki tugas untuk menyelenggarakan program-program PAUDNI percontohan atau lembaga tempat ujicoba berbagai model program baik yang digagas oleh PP-PNFI, BP-PNFI, maupun BPKB di provinsinya. Disamping tugas tersebut, kepada SKB juga ditugaskan untuk pengendalian mutu program PAUDNI di wilayah kerjanya, karena lembaga tersebut memiliki tenaga fungsional, yaitu Pamong Belajar, sebagai pendidik PNF yang berstatus PNS. Untuk mengkaji lebih lanjut mengenai kepemimpinan pendidikan pada lembaga PNF, mengarahkan kepada substansi kepemimpinan pada Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dalam hal ini adalah kepemimpinan Kepala SKB. Dalam penelitian ini memilih tiga lokasi penelitian yaitu SKB Kota Malang, SKB Kabupaten Situbondo dan SKB Kabupaten Bondowoso, dengan mengedepankan keunikan dan perbedaan tentang situasi dan kondisi geografis serta kehidupan sosial masyakatnya yang kompleks antara masyarakat perkotaan, masyarakat daerah pantai dan masyarakat pegunungan/pedesaan sebagai sasaran obyek pelayanan pendidikan nonformal dengan lembaga SKB yang berprestasi serta memiliki keunggulan dibanding SKB lainnya di Jawa Timur, sehingga ke tiga lokasi penelitian tersebut layak untuk dijadikan studi multikasus. Pembahasan dalam penelitian ini ditekankan pada aspek kepemimpian Kepala SKB dengan fungsinya sebagai pengelola dan pemimpin lembaga PNF, karena kemampuan personal dan perilaku seorang pemimpin sangat menentukan kualitas dan eksistensi organisasi. Fokus penelitian ini adalah kompetensi kepemimpinan kepala SKB sebagai pengelola lembaga pendidikan nonformal; tipe kepemimpinan kepala SKB berdasarkan perilakunya dalam menjalankan fungsi sebagai pimpinan lembaga pendidikan nonformal; gaya kepemimpinan kepala SKB dalam pengelolaan lembaga pendidikan nonformal; dan kepemimpinan yang efektif pada lembaga SKB yang berprestasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan multi kasus. Data yang diperoleh berupa dokumen profil lembaga SKB serta dokumen/data-data lain yang dibutuhkan peneliti. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan metode interaktif meliputi wawancara mendalam dan pengamatan peranserta, sedangkan informasi yang diperoleh dengan teknik wawancara melibatkan beberapa informan terutama para Kepala SKB, Pamong Belajar, Kasubbag. TU dan beberapa Informan lain yang terkait dengan permasalahan dalam fokus penelitian. Hasil penelitian berdasarkan temuan pada kasus individu maupun temuan lintas kasus dapat disimpulkan bahwa, penampilan fisik dan kondisi lembaga SKB sangat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang kualitas baik dan kurang baiknya lembaga SKB. Kompleks SKB yang memiliki gedung yang besar dan megah, lingkungan eksklusif, indah, bersih, dan terawat cenderung membuktikan adanya organisasi SKB yang kondusif dengan efektivitas kepemimpinan Kepala SKB, sehingga dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan yang dikelola dibawah kepemimpinan yang profesional. Kepala SKB di tiga wilayah lokasi penelitian memenuhi syarat sebagai pemimpin lembaga pendidikan , dengan memiliki kemampuan personal berupa kompetensi kepemimpinan (kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan dan kompetensi sosial), tipe kepemimpinan kepala SKB sangat dipengaruhi oleh perilaku setiap personel pimpinan, sehingga muncul bermacam-macam tipe kepemimpinan tetapi kecenderungan pada tipe kepemimpinan demokratis dapat mengantarkan lembaga SKB berprestasi; penerapan gaya kepemimpinan Partisipasi-Suportif di lembaga SKB adalah paling tepat, sebab di SKB memiliki relevansi kematangan tingkat 3. Kepemimpinan yang efektif di lembaga SKB adalah bersifat situasional untuk mewujudkan SKB sebagai lembaga yang berprestasi. Berdasarkan hasil temuan penelitian dan kesimpulan hasil penelitian, disarankan bagi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota; Agar dalam menempatkan pemimpin/Kepala SKB adalah berasal dari tenaga profesional dalam bidang PNF sehingga dapat mengimplementasikan kebijakan pendidikan nonformal dan mengelola organisasi tepat sasaran serta menyentuh langsung pada masyarakat terutama rakyat yang marginal (tidak mampu/miskin, terisolir, terbelakang kondisi sosialnya, dan sebagainya) maka disarankan untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut; Sebaiknya dalam mensosialisasi atau mengkomunikasikan program PNF selalu memberikan kepercayaan kepada SKB sebagai unit pelaksana teknis dinas pendidikan (UPTD). Sebaiknya Bupati/Wali Kota mempunyai staf ahli yang berkompeten dalam bidang kebijakan pendidikan sehingga mampu menjadi policy entry bagi Pemerintah Kabupaten/Kota untuk memperbaiki kinerja aparatur dari tingkat elit birokrasi dalam upaya peningkatan profesional dan responsivitas serta akuntabilitas untuk menuju terwujudnya good governance sehingga birokrasi pemerintahan berjalan efektif, efisien, responsif dan akuntabel. Para peneliti lain; dapat dijadikan dasar mengadakan penelitian lanjutan dan sebagai tambahan referensi. Bagi Masyarakat, Pendidik dan Tokoh Keagamaan, diharapkan agar menyebarluaskan wawasan dan kesadaran kepada masyarakat luas serta lembaga pendidikan nonformal lainnya memiliki nilai-nilai spiritual yang dapat memberi kepuasan dan meningkatkan kualitas kehidupan.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivitas dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XII semester 2 pada materi pokok polimer dan komponen biokimia / M. Muchson

 

i ABSTRAK Muchson, M. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbasis Konstruktivistik dan Kontekstual Untuk SMA/MA Kelas XII Semester2 Pada Materi Pokok Polimer dan Komponen Biokimia. Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra.Sri Rahayu, M. Ed., (2) Drs.Prayitno, M. Pd. Kata Kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, konstruktivistik, kontekstual, LCC-5E, REACT, polimer, komponen biokimia. Pengesahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006 merupakan salah satu wujud pembaruan sistem pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah di dalam rangka menunjang upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). KTSP adalah kurikulum operasional yang harus dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan di tingkat dasar dan menengah, baik SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/MA. Esensi dari KTSP adalah pemberian kewenangan kepada guru, termasuk guru kimia, untuk mengembangkan indikator pembelajarannya secara otonom berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Siswa cenderung menganggap kimia sebagai salah satu pelajaran yang sulit karena selama ini kimia seringkali disajikan dalam bentuk pembelajaran yang kurang menarik. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah melalui KTSP telah menyarankan bentuk pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Konstruktivistik merupakan bentuk pembelajaran berpusat pada siswa (Student Centered Learning) yang mengutamakan keterlibatan siswa secara aktif di dalam proses pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri. Secara fisik, pembelajaran konstruktivistik dapat diterapkan dengan menggunakan model pembelajaran terpadu learning cycle-cooperatif 5E (LCC–5E). Kontekstual merupakan bentuk pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa untuk dapat membuat kaitan antara materi yang dipelajari di dalam kelas dengan penerapannya di dalam kehidupan nyata. Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam menerapkan pembelajaran kontekstual adalah strategi REACT, yaitu Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, dan Transfering. Secara operasional, strategi REACT dapat dintegrasikan ke dalam model pembelajaran terpadu LCC–5E. Untuk dapat merealisasikan pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual sebagimana diamanatkan oleh KTSP, maka diperlukan sekali suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional dan dapat diterapkan secara fisik di dalam kelas. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terbatas pada materi pokok Polimer dan Komponen Biokimia, karena topik ini belum pernah dikembangkan sebelumnya. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian utama. Bagian pertama merupakan Panduan Guru (Teacher’s Guide) yang terdiri atas Silabus dan Sistim Penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Instrumen penilaian, serta Buku Guru (Teacher’s Book). Bagian kedua adalah Buku Siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Metode yang digunakan di ii dalam penelitian ini adalah survei kondisi lapangan, kemudian dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran. Langkah selanjutnya dilakukan validasi sedangkan pengembangan produknya berdasarkan model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Desain validasi penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis perhitungan persentase skor item kuesioner. Berdasarkan hasil validasi dari ke empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 82,80% dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah. Namun, untuk mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji lapangan. Perangkat pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual juga perlu dikembangkan untuk topik yang lain.

Pengaruh faktor eksternal dan faktor internal terhadap kemandirian dan kesejahteraan masyarakat (miskin/prasejahtera) di Kabupaten Bima dan Kota Bima / Mariani

 

Abstrak Mariani., 2008. Pengaruh Faktor Eksternal dan Faktor Internal Terhadap Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat Di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Disertasi Program Studi Pendidikan Ekonomi Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Promotor, Prof. Dr. Salladien; Co Promotor I, Prof. H.Umar Nimran, M.A., Ph.D; Co Promotor II, Prof. Dr. Wahjoedi, M.E. Kata kunci: Faktor Eksternal, Faktor Internal, Kemandirian, Kesejahteraan Masyarakat (miskin/pra-sejahtera). Pengaruh faktor eksternal adalah upaya meningkatkan pengaruh lingkungan sosial budaya masyarakat yang dapat meningkatkan posisi tawar dan daya saingnya dalam upaya mengembangkan kegiatan usaha ekonomi kompetitif. Hal ini mendukung faktor internal yang sudah dimiliki masyarakat miskin terutama dalam meningkatkan akses masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan termasuk informasi. Jadi faktor eksternal, merupakan kelembagaan yang mampu mempromosikan asas kemanusiaan, keadilan, persamaan hak, dan perlidungan bagi masyarakat rentan. Sehingga dibutuhkan pengembangan penciptaan lapangan kerja yang produktif, bantuan modal usaha, serta pemantapan skema jaminan sosial ditingkat lokal yang dapat menjangkau kelompok sasaran yang membutuhkan dalam pengambilan keputusan publik. Kemandirian dan Kesejahteraan tidak dapat tercapai dengan sendirinya, melainkan ada beberapa faktor yang ikut menentukan. Faktor Pelayanan kesehatan, Mutu pelayanan pendidikan, Kesempatan kerja, Budaya Lokal, Motivasi dan Hubungan sosial terhadap Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat (miskin/pra-sejahtera) di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan: (1) pengaruh faktor eksternal terhadap kemandirian masyarakat miskin di Kabupaten Bima dan Kota Bima; (2) pengaruh faktor ekseternal terhadap kesejahteraan masyarakat miskin di Kabupaten Bima dan Kota Bima; (3) pengaruh faktor internal terhadap kemandirian masyarakat di Kabupaten Bima dan Kota Bima; (4) pengaruh faktor internal terhadap kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bima dan Kota Bima; dan (5) pengaruh faktor kemandirian terhadap kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan pendekatan penelitian kuantitatif jenis survei, dengan rancangan deskriptif korelasional. Sampel diambil dari 240 masyarakat (miskin/prasejahtera/sejahtera) (kepala keluarga/individu miskin) di Kabupaten Bima dan Kota Bima, dengan teknik proporsional sampel. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dengan instrumen kuesioner. Selanjutnya data di analisis menggunakan teknik Model Persamaan Struktural (SEM) menggunakan LISREL, dengan program AMOS 4.0 Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) ada pengaruh pelayanan kesehatan terhadap kemandirian dan kesejahteraan masyarakat (cr < 0,05) semakin baik kesehatan masyarakat juga makin meningkat kemandirian dan kesejahteraan masyatakat; (2) ada pengaruh motivasi terhadap kemandirian dan kesejahteraan masyarakat (cr < 0,05). Hasil statistik menujukkan bahwa kemandirian berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat (cr < 0,05); (3) Budaya lokal berpengaruh secara langsung terhadap kemandirian dan kesejahteraan masyarakat (cr < 0,05); Motivasi secara langsung dan signifikan terhadap kemandirian dan kesejahteraan masyarakat (cr < 0,05); (4) Mutu pelayanan pendidikan berpengaruh tidak signifikan terhadap kemandirian masyarakat (cr > 0,05); dan Kesempatan kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kemandirian masyarakat (cr > 0,05). (5) Mutu pelayanan pendidikan berpengaruh tidak signifikan dengan kesejahteraan masyarakat (cr>0,05); (6) Kesempatan Kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian hipotesis tersebut secara keseluruhan dari keempat faktor berpengaruh secara signifikan terhadap kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Temuan penelitian ini adalah: Pertama, dari sisi praktis akademik, diharapkan dapat menambah temuan baru bagi teori pendidikan Ekonomi khususnya, pada jurusan pendidikan ekonomi pembangunan, ekonomi koperasi, dan akutansi, serta pada program magister jurusan pendidikan ekonomi Universitas Negeri Malang. Kedua, Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan atau menyempurnakan sistem dan program kesejehteraan masyarakat (miskin/pra-sejahtera/sejahtera) di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Ketiga, dari sisi implikasi teori, hasil temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa variabel Mutu pelayanan pendidikan dan Kesempatan kerja cukup dominan, memberikan penegasan kembali bahwa kesejahteraan masyarakat di Bima merupakan faktor utama dalam meningkatkan kemajuan pembangunan masyarakat di daerah, terutama sekali pada variabel mutu pelayanan pendidikan dan kesempatan kerja. Keempat, sebagai sumber informasi untuk para peneliti yang bermaksud untuk mengembangkan lebih lanjut penelitian yang berhubungan dengan kemandiran dan kesejahteraan masyarakat miskin di masing-masing daerah. Dengan meningkatkan pelayanan kesehatan, mutu pelayanan pendidikan dan kesempatan kerja yang semakin baik, maka akan mendorong peningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dan pada akhirnya meningkatkan taraf hidup dan kehidupan masyarakat miskin serta meningkatkan kualitas hidupnya.

Karakteristik puisi siswa kelas III SD Negeri Janti II Kecamatan Papar Kabupaten Kediri / Heny Dyah Wulandari

 

Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdapat empat keterampilan dasar, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan yang paling sering diajarkan adalah keterampilan menulis. Pada kelas I, siswa sudah diperkenalkan sekilas tentang puisi. Kompetensi Dasarnya, yaitu menyalin puisi anak sederhana dengan huruf lepas dan menyalin puisi anak dengan huruf tegak bersambung. Begitu pula pada kelas II, siswa diajarkan menulis puisi dengan Kompetensi Dasarnya, yaitu menyalin puisi anak dengan huruf tegak bersambung yang rapi. Kemudian Kompetensi Dasar pada kelas III, yaitu melengkapi puisi anak berdasarkan gambar dan menulis puisi berdasarkan gambar dengan pilihan kata yang menarik. Berdasarkan hal di atas, perlu diadakan penelitian ini. Adapun masalah dari penelitian ini adalah bagaimana karakteristik siswa kelas III SD Negeri Janti II Kecamatan Papar Kabupaten Kediri menulis puisi secara keseluruhan, meliputi karakteristik menulis puisi dari segi penggunaan diksi, rima, tema, dan tipografi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran objektif tentang karakteristik menulis puisi siswa kelas III SD Negeri Janti II Kecamatan Papar Kabupaten Kediri, meliputi karakteristik menulis puisi dari segi penggunaan diksi, rima, tema, dan tipografi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Janti II Kecamatan Papar Kabupaten Kediri dengan subjek penelitian siswa kelas III SD Negeri Janti II Kecamatan Papar Kabupaten Kediri. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan bantuan instrumen pendukung berupa tabel penjaring data. Hasil penelitian menunjukkan deskripsi karakteristik puisi siswa kelas III SD Negeri Janti II Kecamatan Papar Kabupaten Kediri. Karakteristik puisi siswa antara lain sudah memperhatian diksi, rima, tema, dan tipografi. Kategori pada diksi antara kata konkret, simbol, dan citraan. Kata konkret terdiri dari kata konkret berupa kata benda, kata konkret berupa kata kerja, dan kata konkret berupa kata sifat. Aspek rima tersebut terdiri dari dua kategori, yaitu rima berpola dan rima tidak berpola. Katagori tema yang dikemukakan siswa dalam puisinya adalah tema lingkungan sekitar, pengalaman pribadi penyair, perjuangan, dan kemuliaan tugas guru. untuk menggunakan tema tentang lingkungan sekitar. Jenis tipografi yang dijumpai pada puisi hasil siswa, yaitu bentuk tradisional dan bentuk pengubahan pola tradisional. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan karakteristik siswa dalam menulis puisi dari penggunaan segi diksi, rima, tema, dan tipografi tersebut diajukan. Saran yang diajukan tersebut adalah (1) guru disarankan sering memberi pengarahan tentang puisi, unsur-unsur puisi, serta tentang seluk-beluk puisi secara mendalam; sering memberikan contoh dan latihan-latihan berkenaan dengan puisi; dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran menulis puisi; dan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar siswa memiliki kepercayaan diri dan dapat terus mengasah kemampuan yang telah dimiliki, (2) peneliti selanjutnya disarankan untuk mengadakan penelitian terhadap kegiatan pembelajaran menulis puisi dengan metode penelitian dan rumusan masalah yang berbeda. Hal tersebut perlu dilakukan agar dapat mengetahui metode pembelajaran lain yang baru. Selain itu, akan diketahui juga bagaimana karakteristik puisi siswa jika dilihat dari kriteria penilaian yang berbeda dengan penelitian ini, dan (3) penulis buku teks disarankan mengembangkan latihan-latihan pembelajaran menulis puisi dengan memperhatikan pengembangan kompetensi diksi, rima, tema, dan tipografi.

Pengaruh atribut toko terhadap keputusan pembelian dalam berbelanja di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang / Depi Krisdianto

 

ABSTRAK Krisdianto, Depi 2008. Pengaruh Atribut Toko terhadap Keputusan Pembelian dalam Berbelanja di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Agus Hermawan, M.Si., M.Bus. (2) Titis Shinta Dhewi, S.P., M.M Kata kunci: atribut toko, keputusan pembelian. Dunia perdagangan sekarang ini semakin maju, terbukti dengan banyaknya jumlah supermarket, pasar swalayan, hypermarket, dan usaha ritel sejenis yang beroperasi tidak hanya di pusat kota tetapi juga sudah merambah daerah pelosok. Pada jenis usaha ritel ini mulai terjadi persaingan antara pengusaha ritel yang satu dengan peritel yang lain. Melihat persaingan yang berkembang sekarang ini manajer pemasaran harus dapat berfikir dengan cepat dan memperbaharui strategi yang harus diterapkan. Peritel harus bisa menganalisa apa yang dibutuhkan oleh seorang konsumen dan kemudian menyediakan apa yang dibutuhkan tersebut. Dan salah satu peritel yang ada di kota Malang Alfamart berusaha mewujudkan hal tersebut dengan melakukan perbaikan dalam berbagai hal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembuatan atribut toko yang berbeda dengan toko lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang sedang dan pernah melakukan pembelian di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang pada periode november 2008 sebanyak 11250 orang. Dalam pengambilan sampel penelitian ini, peneliti menggunakan teknik accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan artinya siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Dan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 100 orang. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh atribut toko terhadap keputusan pembelian dalam berbelanja di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah atribut toko yang terdiri dari kelengkapan barang, harga, lokasi toko, dan pelayanan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier berganda yang meliputi Uji t, Uji F, dan koefisien determinasi dengan progam komputer SPSS 13.0 for windows dan menggunakan  = 5 %. Hasil analisis regresi berganda menunjukan bahwa secara parsial kelengkapan barang, lokasi toko, dan pelayanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dalam berbelanja di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang. Sedangkan harga secara parsial berpengaruh secara tidak signifikan terhadap keputusan pembelian dalam berbelanja di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang. Secara simultan kelengkapan barang, harga, lokasi toko, dan pelayanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian berbelanja di Alfamart Jl. Bendungan Sutami Malang. Peneliti memberikan saran kepada peritel untuk menambah produk-produk yang ditawarkan, peningkatan kualitas pelayanan. Peneliti selanjutnya diharapkan menambah jumlah variabel bebas yang diteliti dan mengambil tempat penelitian yang sejenis yang lokasinya jauh dari tempat pendidikan.

Pengaruh teknik diskusi prokonet (Pro, kontra, dan netral) terhadap kemampuan berbicara siswa kelas X SMA Islam Malang / Siti Nur Aini

 

Kemampuan berbicara harus dimiliki siswa kelas X, khususnya berdiskusi karena merupakan tuntutan kompetensi dasar kurikulum 2006. Salah satu cara agar kemampuan berbicara siswa menjadi lebih baik adalah dengan menggunakan sebuah teknik diskusi. Teknik diskusi yang dapat dikembangkan dalam kelas adalah debat. Debat sangat menarik dijadikan sebagai metode pembelajaran diskusi, tetapi dalam debat kecil kemungkinan menemukan titik temu masalah atau penyelesaian masalah. Peneliti mencoba mengembangkan debat menjadi teknik diskusi prokonet dengan menambahkan satu komponen sebagai penyelesai masalah dalam pembelajaran diskusi prokonet. Oleh karena itu, penelitian ini mencari pengaruh teknik diskusi prokonet yang dikembangkan dari debat terhadap kemampuan berbicara siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik diskusi prokonet terhadap kemampuan berbicara siswa kelas X SMA Islam Malang. Penelitian ini dilakukan di SMA Islam Malang pada tanggal 21 Agustus sampai 8 September 2008. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah pedoman penilaian dan checklist. Adapun data penelitian ini adalah nilai kemampuan berbicara siswa dari segi logat bicara, tatabahasa, kosakata, kelancaran berbicara, dan pemahaman isi Pembicaraan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil penelitian tentang pengaruh penggunaan teknik diskusi prokonet terhadap kemampuan berbicara setelah pengujian hipotesis pada aspek logat bicara, tatabahasa, kosakata, kelancaran berbicara, dan pemahaman isi pembicaraan diperoleh hasil bahwa nilai kemampuan berbicara siswa kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan analisis data tersebut disimpulkan ”Ada pengaruh yang signifikan teknik diskusi prokonet terhadap kemampuan berbicara siswa kelas X SMA Islam Malang”. Terbukti pada kemampuan berbicara siswa aspek logat bicara nilai rata-rata kelompok kontrol 72.80 dan kelompok eksperimen 86.00, aspek tatabahasa nilai rata-rata kelompok kontrol 76.26 dan kelompok eksperimen 86.66, aspek kosakata nilai rata-rata kelompok kontrol 73.26 dan kelompok kontrol 88.06, aspek kelancaran berbicara nilai rata-rata kelompok kontrol 76.86 dan kelompok eksperimen 87.60, aspek pemahaman isi pembicaraan nilai rata-rata 79.86 dan kelompok eksperimen 89.66. Nilai rata-rata siswa yang menggunakan teknik diskusi prokonet lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata siswa yang menggunakan debat. Berdasarkan hasil ini, dapat disarankan bagi guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya bisa menerapkan pembelajaran berbicara dengan i menggunakan teknik diskusi prokonet sebab kemampuan berbicara siswa menjadi lebih baik. Bagi peneliti lain, jika ingin melakukan penelitian dengan teknik diskusi disarankan untuk mencoba mengembangkan metode pembelajaran lain agar siswa memiliki kemampuan berbicara yang lebih baik. Selain itu, pembelajaran dengan teknik diskusi prokonet sampel dan populasi lebih diperluas jenjang pendidikannya. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa pada aspek penilaian berbicara hendaknya lebih ditingkatkan lagi dengan menambahkan aspek dalam mengukur kemampuan berbicara siswa

Peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas I MTs Sunan Kalijogo Malang melalui strategi pemetaan pikiran / Wayan Pageyasa

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe stad (Student teams achievement divisions) berbantuan VCD pembelajaran pada materi asam, basa, dan garam kelas VII SMP Negeri 20 Malang / Devi Winda Sari

 

ABSTRAK Sari, Devi Winda. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) Berbantuan VCD Pembelajaran pada Materi Asam, Basa, dan Garam Kelas VII SMP Negeri 20 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Drs. Muhadi. Kata kunci: pembelajaran STAD, VCD pembelajaran, hasil belajar Peran guru dalam pengembangan kurikulum IPA di SMP sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga siswa dapat termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya, sebab sebagian besar konsep dalam pembelajaran kimia yang merupakan salah satu bagian dari IPA bersifat abstrak. Salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut adalah penggunaan model pembelajaran inovatif yaitu pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) menggunakan media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah media audio visual yang berupa VCD pembelajaran. Dalam penelitian ini, dikembangkan VCD pembelajaran pada materi Asam,Basa, dan Garam. VCD pembelajaran tersebut selanjutnya diterapkan dalam pembelajaran Sains-Kimia menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan VCD pembelajaran pada materi Asam, Basa, dan Garam, 2) Mengetahui hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa bantuan VCD pembelajaran pada materi Asam, Basa, dan Garam, 3) Mengetahui perbedaan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan VCD pembelajaran dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa bantuan VCD pembelajaran pada materi Asam, Basa, dan Garam. Hipotesis yang diajukan adalah, ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan VCD Pembelajaran dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan ganda, yaitu rancangan eksperimen semu dan deskriptif. Variabel penelitian ini adalah varibel bebas yaitu VCD pembelajaran, variabel kontrol yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD, materi pelajaran yang disajikan, waktu pengajaran, penggunaan hand out, dan peneliti sebagai guru yang mengajar pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta variabel terikat yang berupa hasil belajar. Populasi penelitian adalah seluruh kelas VII SMP Negeri 20 Malang semester ganjil tahun ajaran 2007/2008, dengan VII-G sebagai kelas eksperimen dan VII-H sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan terdiri dari instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan meliputi silabus, RPP, LKS, handout, lembar diskusi siswa dan VCD pembelajaran. Instrumen pengukuran terdiri dari soal pre tes yang digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa, soal post tes yang sebelumnya di uji coba, lembar observasi keaktifan dan keterampilan siswa beserta kisi-kisinya, dan lembar observasi pembelajaran kooperatif beserta kisi-kisinya. Hasil belajar pada kelas eksperimen berupa nilai kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan rata-rata nilai, afektif = 84,28, psikomotorik = 80,78 , dan kognitif = 76,86. Pada kelas kontrol dengan rata-rata nilai, afektif = 81,90 psikomotorik = 76,18, dan kognitif = 71,14. Pada pelaksanaan unsur-unsur pembelajaran kooperatif persentase ketercapaian setiap indikator pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol, penghargaan kelompok yang diperoleh oleh kelas eksperimen juga lebih baik daripada kelas kontrol. Dari pengujian hipotesis diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan VCD pembelajaran dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai hasil belajar (kognitif), afektif dan psikomotorik pada kelas eksperimen yang lebih baik daripada kelas kontrol.

Survei mengenai pelaksanakan aspek-aspek penilaian proses dan hasil belajar berdasarkan KTSP yang dilakukan guru-guru kimia di SMAN se-kota Malang tahun pelajaran 2007-2008 / Supratman

 

Upaya pemerintah khususnya Depdiknas untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional salah satunya adalah dengan menyempurnakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan. Fungsi SKL adalah sebagai pedoman penilaian, yang berarti KTSP menghendaki sistem penilaian yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui hasil belajar siswa, tetapi juga untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, lingkup penilaian mencakup dua sasaran pokok, yaitu proses pembelajaran dan hasil-hasil belajar. Untuk mengetahui apakah guru kimia kelas X SMAN se-Kota Malang telah melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar, maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini terkait dengan 3 hal, yaitu: pelaksanaan penilaian proses dan hasil belajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru kimia dalam menilai proses dan hasil belajar kimia, dan usaha-usaha yang dilakukan guru kimia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan penilaian proses dan hasil belajar kimia. Subyek penelitian ini adalah guru kimia kelas X SMAN se-Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 18 orang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket dan wawancara bebas. Validasi angket yang digunakan adalah validasi isi yang dipandang dari segi alat ukur. Hasil validasi angket mencapai tingkat validasi 95%. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perhitungan persentase jawaban responden dan pemberian rangking pada tiap sub variabelnya. Hasil analisis data dideskripsikan dan disimpulkan sehingga diperoleh informasi mengenai pelaksanaan penilaian proses dan hasil belajar berdasarkan KTSP yang dilakukan guru-guru kimia di SMAN se-Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian proses dan hasil belajar yang dilakukan guru kimia kelas X di SMAN se-Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 sudah mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, dan presentasi keterlaksanaan adalah 87,79% dengan kualifikasi sangat baik. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru kimia kelas X dalam menilai proses dan hasil belajar kimia sebagian besar terdapat pada pembuatan instrumen penilaian, dan mengamati kemampuan siswa. Hal ini terjadi karena kurangnya penguasaan terhadap penilaian, dan jumlah siswa yang terlalu banyak sehingga penilaiannya tidak maksimal. Usaha-usaha yang dilakukan guru kimia kelas X dalam mengatasi kesulitan-kesulitan penilaian proses dan hasil belajar kimia diantaranya dengan mengikuti MGMP, bertanya kepada yang lebih senior, membaca pedoman penilaian KTSP, mengikuti seminar KTSP, dan membaca artikel mengenai penilaian berdasarkan KTSP. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan aspek-aspek penilaian proses dan hasil belajar berdasarkan KTSP yang dilakukan guru-guru kimia di SMAN se-Kota Malang adalah sangat baik, ini dilihat dari hasil pelaksanaan penilaian yang sangat baik, walaupun terdapat kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya

Penerapan lesson study dalam proses pembelajaran ekonomi kelas XII Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Mira Churnia Wijayanti

 

ABSTRAK Wijayanti, Mira Churnia. Penerapan lesson study dalam proses pembelajaran ekonomi kelas XII program ilmu pengetahuan sosial (IPS) di SMA laboraturium UM.Skripsi Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi. Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Suparti,MP (II) Drs. H. Sumadi, S.E,M.M Kata kunci: Lesson study,pembelajaran Banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah menyempurnakan kurikulum, meningkatkan fasilitas pengajaran di tiap-tiap sekolah serta meningkatkan kompetensi guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar. SMA Laboraturium UM adalah salah satu sekolah yang menyelenggarakan kegiatan lesson study. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang berkesinambung untuk meningkatkan kompetensi guru. Guru yang semakin berkompeten diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan 1) Implementasi kegiatan lesson study dalam pembelajaran ekonomi dan akuntansi di SMA Laboraturium Universitas Negeri Malang,2) Aktivitas siswa di kelas saat dilaksanakan lesson study di SMA Laboraturium Universitas Negeri Malang,3) Prestasi belajar siswa setelah dilaksanakan lesson study khususnya pada mata pelajaran ekonomi dan akuntansi. Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi langsung terhadap kegiatan lesson study yang terdiri atas tahap plan, do dan see. Dari kegiatan observasi peneliti membuat catatan lapangan sebagai penguat bagi peneliti terhadap data data yang terstruktur dan data-data yang belum terstruktur. Selain itu peneliti juga menggunakan tehnik wawancara yang tidak terstruktur, pihak yang diwawancara adalah guru, tim Akadasi dan siswa. Berdasarkan temuan peneliti yang sudah dilakukan diperoleh data bahwa di SMA Laboraturium telah dilaksanakan lesson study dengan baik. Pada saat dilaksanakan lesson study siswa telihat aktif mengikuti proses pembelajarab dan Dengan adanya lesson study ini menurut hasil dari wawancara rata-rata prestasi siswa meningkat, hal ini disebabkan siswa lebih termotivasi dalam belajar jika guru tepat dalam menggunakan metode pembelajaran. Implementasi lesson study pada pelajaran ekonomi akuntansi di SMA Laboraturium Universitas Negeri Malang sudah sesuai dengan prosedur pelaksanaan lesson study yang meliputi tahapan plan, do, dan see Aktivitas siswa dalam pembelajaran saat lesson study terlihat aktif hal ini bisa dilihat pada saat diskusi kelas Dengan pelaksanaan lesson study, prestasi siswa khususnya dalam pelajaran ekonomi akuntansi cenderung meningkat. Dari penelitian ini disarankan kepada guru untuk mengikuti kegiatan lesson study ini dengan baik dalam rangka meningkatkan kualitas guru dan untuk sekolah lain diharapkan untuk segera menerapkan lesson study ini dan untuk peneliti berikutnya untuk lebih mengkaji tentang lesson study.

Penerapan sistem kearsipan pada sub bagian umum Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo / Rahmawati Setianingrum

 

ABSTRAK Setianingrum, Rahmawati. 2008. Penerapan Sistem Kearsipan Pada Sub Bagian Umum Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Agus Hermawan M.Si, M. Bus (II) Imam Bukhori S.Pd. M.M Kata Kunci : Penerapan, Sistem, Arsip Kegiatan kearsipan mempunyai peranan yang sangat penting pada setiap organisasi baik swasta maupun pemerintah. Hal ini karena arsip memiliki berbagai sumber informasi penting bagi setiap kegiatan atau aktifitas organisasi sehari-hari. Informasi tersebut bisa berupa catatan atau rekaman dari setiap kegiatan yang dilakukan sebagai alat untuk mengingat. Dengan demikian arsip harus disimpan dengan baik dan benar agar sewaktu-waktu diperlukan dapat ditemukan dengan tepat dan cepat. Penelitian yang berjudul “ Penerapan Sistem Kearsipan Pada Sub Bagian Umum Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo” ini dilakukan pada Sub Bagian Umum Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo dan beralamat di jalan Gondosuli No 35 Ponorogo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem kearsipan yang ada pada instansi tersebut. Sub Bagian Umum merupakan tempat untuk memproses surat masuk dan surat keluar yang telah diperiksa oleh pimpinan. Penelitian ini dimulai pada bulan oktober sampai dengan november 2008. Responden yang diambil dalam pelaksanaan penelitian ini adalah para pegawai pada Sub Bagian Umum Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggambarkan tentang penerapan sistem kearsipan dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi serta tes kecepatan penemuan kembali arsip. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan beberapa hal meliputi: (1) jenis arsip yang disimpan yaitu arsip penting dan arsip biasa, (2) sistem pengelolaan surat masuk dan surat keluar menggunakan sistem buku agenda, (3) sistem penyimpanan yang diterapkan yaitu menggunakan sistem tanggal dan sistem subyek, (4) asas penyimpanan yang diterapkan yaitu asas desentralisasi, (5) peralatan yang digunakan untuk menyimpan arsip jumlahnya masih terbatas, (6) pemeliharaan arsip yang dilakukan masih bersifat sederhana, (7) pada penemuan kembali arsip hasil dari tes kecepatan yang dilakukan menunjukkan angka kecermatan penemuan kembali arsip dikategorikan kurang cermat karena hasil penghitungan tes menunjukkan angka 7, 14% yang melebihi kriteria angka kecermatan, sedangkan jangka waktu penemuan kembali arsip menunjukkan rata – rata waktu yang digunakan untuk menemukan arsip yaitu kurang dari 1 menit, (8) peminjaman arsip yang dilakukan belum menggunakan formulir peminjaman, (9) untuk petugas kearsipan instansi ini belum memiliki petugas kearsipan khusus, (10) prosedur penyusutan dan pemusnahan belum pernah dilakukan pada instansi ini. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan pada Sub Bagian Umum Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo untuk menempatkan petugas kearsipan khusus yang memiliki pengetahuan tentang kearsipan yang bagus sehingga berbagai bentuk kekurangan pada sistem kearsipannya dapat segera diatasi, selain itu untuk menghindari penumpukan arsip instansi tersebut hendaknya melakukan penyusutan dan pemusnahan pada arsipnya yang sudah tidak memiliki nilai guna.

Pengaruh asimetri informasi dan ukuran perusahaan terhadap cost of equity capital (studi pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia) / Agustin Rahayuningsih

 

ABSTRAK Rahayuningsih, Agustin. 2008. Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan terhadap Cost of Equity Capital (Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: (I) Dr. Puji Handayati, S.E, Ak, M.M, (II) Makaryanawati, S.E, M.Si, Ak. Kata kunci: asimetri informasi, cost of equity capital, bid-ask spread, ukuran perusahaan Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor maupun manajer dalam pengambilan keputusan ekonomi. Informasi dapat mengurangi ketidakpastian yang terjadi, sehingga keputusan yang diambil diharapkan akan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai pengurangan asimetri informasi yang ditangkap oleh naiknya likuiditas pasar sehingga dapat menurunkan cost of equity capital dan perbedaan penurunan cost of equity capital yang diukur dengan menggunakan bid-ask spread. Sampel yang digunakan sebesar 37 emiten dan diambil dengan menggunakan purposive sampling. Model analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua variabel bebas, yaitu asimetri informasi dan ukuran perusahaan secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap cost of equity capital. Hal ini berarti bahwa semakin besar asimetri informasi yang terjadi di antara partisipan pasar modal maka semakin besar biaya modal sendiri yang ditanggung oleh perusahaan. Selain itu, semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar pula biaya modal sendiri yang ditanggung oleh perusahaan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua variabel bebas, yaitu asimetri informasi dan ukuran perusahaan secara bersamaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap cost of equity capital. Hal ini berarti bahwa semakin besar perusahaan maka semakin besar pula asimetri informasi yang terjadi di antara partisipan pasar modal dan pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan pada biaya modal sendiri yang ditanggung oleh perusahaan Kesimpulan penelitian ini adalah adanya pengaruh positif secara parsial asimetri informasi dan ukuran peruhaan terhadap cost of equity capital serta pengaruh simutan asimetri informasi dan ukuran peruhaan terhadap cost of equity capital. Keterbatasan penelitian ini meliputi kecilnya variabel prediktor yang digunakan untuk menguji variabel yang berpengaruh terhadap cost of equity capital (hanya dua variabel bebas yang digunakan), sampel yang diuji adalah perusahaan LQ-45 sehingga perlu ada penambahan jumlah sampel agar dapat digeneralisir ke dalam populasi, kelemahan CAPM dalam mengukur cost of capital.

Pengaruh kinerja keuangan perbankan berdasarkan analisis eagles terhadap harga saham dan return saham (Studi kasus pada Bank Umum Swasta Nasional uang listing di Bursa Efek Jakarta periode 2002-2006) / Emy Ristyani

 

ABSTRAK Ristyani,Emy. 2008. Pengaruh Kinerja Keuangan Perbankan Berdasarkan Analisis EAGLES Terhadap Harga Saham dan Return Saham (Studi Kasus Pada Bank Umum Swasta Nasional yang Listing di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2006). Skripsi, Jurusan Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M., (II) Dr.H. Agung Winarno, M.M. Kata Kunci: Kinerja keuangan (Analisis EAGLES), harga saham, dan return saham. Kinerja keuangan merupakan prestasi yang dicapai perusahaan dalam periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatannya. Salah satu cara mengukur kinerja keuangan perbankan adalah dengan menggunakan analisis EAGLES. Alasan keterbatasan data maka mengakibatkan penelitian ini mengukur kinerja keuangan berdasarkan analisis EAGLES hanya dengan menggunakan menggunakan enam variabel yaitu Earning Ability, Asset Quality, Growth Rate, Liquidity, Equity Capital, dan Strategic Management . Harga Saham menggambarkan penilaian pasar atas kemampuan (kinerja) perusahaan. Return Saham adalah hasil yang diperoleh dari investasi sekuritas saham yang terdiri dari dividend dan capital gain yang terjadi dari adanya perubahan harga saham. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kondisi kinerja keuangan (analisis EAGLES), (2) kondisi harga saham, (3) kondisi return saham, (4) ada tidaknya pengaruh secara parsial kinerja keuangan terhadap harga saham, (5) ada tidaknya pengaruh secara parsial kinerja keuangan terhadap return saham, (6) ada tidaknya pengaruh secara simultan kinerja keuangan terhadap harga saham, (7) ada tidaknya pengaruh secara simultan kinerja keuangan terhadap return saham Bank Umum Swasta Nasional yang listing di Bursa Efek Jakarta periode 2002-2006. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Sumber data penelitian ini berupa dokumentasi. Sumber data dokumentasi berupa laporan keuangan dan JSX Monthly Statistics Bank Umum Swasta Nasional. Analisis data yang digunakan adalah multiple regression dan menggunakan uji hipotesis berupa uji t dan uji F. Hasil penelitian menunjukkan, (1) Kinerja keuangan Bank Umum Swasta Nasional terlihat bahwa dengan rasio ROA masih diatas standar menunjukkan bahwa bank telah mampu menghasilkan laba dan mengendalikan biaya dari pengelolaan aktivanya. Rasio KAP(1) menunjukkan bahwa tidak adanya kredit macet yang berarti kualitas aktiva produktif dan kinerja kredit Bank Umum Swasta Nasional yang dijadikan sampel penelitian sangat baik. Rasio LGR menunjukkan bahwa meningkatnya kemampuan manajemen dalam meningkatkan pertumbuhan dari kegiatan utamanya, yaitu dalam pemberian kredit (loan) kepada nasabahnya. Rasio LDR berada dibawah nilai standar yang ditetapkan Bank Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa secara umum kinerja likuiditas baik dan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas serta penerapan manajemen risiko likuiditas kuat. Rasio CAR bank telah berhasil memenuhi kewajibannya dalam penyediaan modal minimum. Rasio SRQ By Personalia menunjukkan kemampuan manajemen dalam menggunakan faktor produksinya dengan tepat guna dan berhasil guna atau efektif dan efisien; (2) Tingkat harga saham mengalami peningkatan tiap tahunnya; (3) Return saham Bank Umum Swasta Nasional cenderung fluktuatif; (4) Secara parsial terlihat bahwa equity capital berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan asset quality, growth rate,liquidity,earning ability, dan strategic management tidak berpengaruh terhadap harga saham; (5) Secara parsial terlihat bahwa earning ability, equity capital, dan strategic management berpengaruh terhadap return saham. Sedangkan asset quality dan liquidity tidak berpengaruh terhadap return saham; (6) Secara simultan terlihat bahwa earning ability, asset quality, growth rate, liquidity, equity capital dan strategic management berpengaruh terhadap harga saham; (7) Secara simultan terlihat bahwa earning ability, asset quality, growth rate, liquidity, equity capital dan strategic management tidak berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada investor bahwa kinerja keuangan yang dianalisis dengan menggunakan EAGLES dapat digunakan untuk memprediksi harga saham dan return saham. Perusahaan harus menjaga kinerja keuangan perusahaan agar harga saham dan return saham meningkat sehingga dapat meningkatkan nilai kekayaan perusahaan. Penelitian ini bisa dikembangkan untuk mengetahui pengaruh-pengaruh lain yang mempengaruhi harga saham dan return saham.

Implementasi pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran teknologi perkantoran untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 3 Singosari Malang / Ase Sarniati

 

ABSTRAK Sarniati, Ase. 2008. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share (TPS) Pada Mata Pelajaran Teknologi Perkantoran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran Di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Adminstrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si.,M.Bus (II) Drs. Sarbini. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share (TPS), hasil Belajar Penerapan pembelajaran yang bersifat konvensional dengan menggunakan menggunakan metode ceramah secara terus menerus masih banyak diterapkan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang seperti ini lebih banyak di dominasi oleh guru dan jarang melibatkan siswa sehingga mengakibatkan siswa cenderung pasif selama proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran ini kegiatan siswa lebih banyak duduk diam, mendengarkan, mencatat dan mengerjakan soal, sehingga siswa terkesan malas dan jarang berpikir aktif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu cara guru dalam memberikan ilmu pada siswa secara aktif untuk perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share (TPS). Penerapan pembelajaran ini menekankan keaktifan dan kemandirian siswa baik secara fisik maupun mental, siswa diberi kesempatan untuk belajar berpikir, bertukar pikiran (kerjasama) dan berinteraksi dengan siswa lain (presentasi). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share (TPS) pada Mata Pelajaran Teknologi Perkantoran sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 3 siklus dilaksanakan pada bulan Nopember-Desember 2008. Dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan melalui empat tahapan yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Subyek yang diteliti adalah kelas X Program Keahlian APK I di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Malang sebanyak 38 Siswa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung pada subyek yang diteliti. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, pencatatan lapangan, rubrik penilaian, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share (TPS) dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis hasil belajar menunjukkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif siklus I jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 29 siswa (76,32%) meningkat pada siklus II yaitu siswa yang tuntas belajar sebanyak 30 siswa (78,95%) dan meningkat kembali pada siklus III yaitu siswa yang tuntas belajar sebanyak 32 siswa (86,47). Hasil belajar pada aspek afektif menunjukkan pada siklus I jumlah siswa yang tuntas sebanyak 28 siswa (73,68%), pada siklus II jumlah siswa yang tuntas cenderung meningkat yaitu sebanyak 34 siswa (89,47%) dan pada siklus III jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat kembali yaitu 37 siswa (97,37%) sedangkan hasil belajar pada aspek psikomotorik menunjukkan hasil dan persentase yang sama pada aspek sebelumnya yaitu pada siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 29 siswa (76,32%), pada siklus II siswa yang tuntas belajar sebanyak 30 siswa (78,95%) dan meningkat kembali pada siklus III yaitu siswa yang tuntas belajar sebanyak 33 siswa (86,84%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun saran yang dapat diajukan yaitu (1) Pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share (TPS) dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Penerapan pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) hendaknya disesuaikan dengan mata pelajaran dan kondisi siswa, (3) Penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan menggunakan tindakan kelas lebih dari 3 siklus agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Korelasi antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VII pada pembelajaran materi power point bidang studi komputer semester II tahun ajaran 2007/2008 di SLTP Negeri 2 Kediri / Tri Agustina

 

Korelasi adalah hubungan antara dua variabel atau lebih. Dua variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar dan prestasi belajar yang diperoleh berdasarkan tes hasil belajar. Motivasi belajar merupakan suatu dorongan yang ada pada diri individu terhadap proses belajar yang dapat menyebabkan perubahan tingkat prestasi belajar, karena motivasi belajar merupakan salah satu diantara faktor penunjang keberhasilan belajar. Terdapat dua faktor motivasi belajar yaitu faktor dari dalam (intrinsik) dan faktor dari luar (ekstrinsik). Motivasi intrinsik merupakan dorongan atau keinginan bertindak yang disebabkan oleh faktor pendukung dari dalam diri siswa-siswi SLTP Negeri 2 Kediri. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi siswa-siswi SLTP Negeri 2 Kediri yang keberadaannya karena pengaruh rangsangan dari luar atau orang lain. Motivasi belajar yang tinggi akan dapat meningkatkan prestasi belajar yang lebih baik yang diperoleh oleh siswa. Siswa yang mempunyai motivasi belajar akan bertindak dan menggunakan seluruh kemampuan yang ada pada dirinya untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan korelasi antara motivasi intrinsik belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII SLTP Negeri 2 Kediri; (2) mendeskripsikan korelasi antara motivasi ekstrinsik belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII SLTP Negeri 2 Kediri; dan (3) mendeskripsikan korelasi antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII SLTP Negeri 2 Kediri. Untuk mencapai tujuan penelitian, rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya korelasi antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII SLTP Negeri 2 Kediri. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII SLTP Negeri 2 Kediri tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 42 orang. Adapun rincian jumlah subyek penelitian adalah 20 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen kuesioner tertutup dan tes hasil belajar pada bidang studi komputer. Analisis data yang digunakan adalah persentase dan korelasi Product Moment Pearson yang dioperasikan dengan progam SPSS 12.0 for Windows, sesuai dengan jenis data yang dianalisis, yaitu interval-interval. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) terdapat korelasi positif yang signifikan antara motivasi intrinsik belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII di SLTP Negeri 2 Kediri. Hal ini terbukti dari perhitungan analisis korelasi menunjukkan angka sebesar 0,513, lebih besar jika dibandingkan dengan r tabel yaitu 0,304 pada taraf signifikan 5%; (2) terdapat korelasi positif yang signifikan antara motivasi ekstrinsik belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII di SLTP Negeri 2 Kediri. Hal ini terbukti dari perhitungan analisis korelasi menunjukkan angka sebesar 0,649, lebih besar jika dibandingkan dengan r tabel yaitu 0,304 pada taraf signifikan 5%; (3) terdapat korelasi positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar pada bidang studi komputer kelas VII di SLTP Negeri 2 Kediri. Hal ini terbukti dari perhitungan analisis korelasi menunjukkan angka sebesar 0,650, lebih besar jika dibandingkan dengan r tabel yaitu 0,304 pada taraf signifikan 5%. Dari hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara sub-sub variabel motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VII SLTP Negeri 2 Kediri pada bidang studi komputer semester II Tahun Ajaran 2007/2008. Secara keseluruhan penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VII pada pembelajaran materi power point pada bidang studi komputer semester II tahun ajaran 2007/2008 di SLTP Negeri 2 kediri. Semakin tinggi motivasi belajar siswa maka akan semakin tinggi pula prestasi belajar yang akan diperolehnya. Berdasarkan temuan penelitian, peneliti memberikan saran sebagai berikut: (1) orang tua, hendaknya terus menjadi motivator bagi anak-anaknya untuk mendorong prestasi belajarnya agar dapat memperoleh hasil yang maksimal; (2) siswa, hendaknya lebih meningkatkan motivasi belajar terutama motivasi intrinsik karena dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu dalam kegiatan belajar disekolah; (3) guru, sebagai pemegang peranan penting dalam pendidikan dan pengajaran dapat meningkatkan ketrampilan mengajarnya dalam proses belajar mengajar dikelas yang memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar; dan (4) peneliti selanjutnya, hendaknya mengadakan penelitian lanjutan yang terkait menganalisa korelasi antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa.

Pengaruh sistem penilaian portofolio, kompetisi diri, efikasi diri, dan lingkungan keluarga guru terhadap profesionalisme guru SMAN se-Kota Malang / Anastasia Yuwan Arismawati

 

Lingkungan Keluarga Guru, Profesionalisme Guru Kompetensi diri, efikasi diri merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan profesionalisme kerja guru. Untuk menilai hasil kerja yang mencerminkan kompetensi guru tersebut, maka pemerintah mengadakan program sertifikasi dengan sistem penilaian portofolio agar hasilnya benar – benar menggambarkan prestasi kerja selama kurun waktu tertentu. Selain faktor internal dari seorang guru, faktor eksternal lingkungan keluarga juga turut menentukan keprofesionalan seorang guru.Profesionalme tidak akan terwujud jika tidak di sertai dukungan yang besar dari lingkungan keluaganya. Jadi faktor sistem penilaian portofolio, kompetensi diri, efikasi diri, dan lingkungan keluarga guru merupakan empat faktor yang dapat mempengaruhi keprofesionalan guru SMA Negeri se Kota Malang. Sehingga Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Pengaruh Sistem Penilaian Portofolio terhadap Profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. (2) Pengaruh Kompetensi Diri Guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. (3) Pengaruh efikasi diri guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. (4) Pengaruh lingkungan keluarga guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. (5) Pengaruh sistem penilaian portofolio, kompetensi diri, efikasi diri, dan lingkungan keluarga guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dengan jenis penelitian eksplanasi.Sedangkan subyek penelitian ini semua guru SMAN se Kota Malang yang sudah tersertifikasi sebanyak 74 orang.Teknik analisis yang diterapkan yaitu analisis deskriptif untuk menggambarkan kondisi obyektif sistem penilaian portofolio, kompetensi diri, efikasi diri, lingkungan keluarga guru, dan profesionalisme guru. Sedangkan analisis regresi linear berganda, analisis uji t, dan analisis uji F untuk mengetahui besarnya pengaruh sistem penilaian portofolio, kompetensi diri, efikasi diri, lingkungan keluarga guru sebagai variabel bebas (X) terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang sebagai variable terikat (Y),baik secara parsial maupun simultan. Hasil analisis menunjukkan (1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara sistem penilaian portofolio dengan profesionalisme guru SMAN se Kota Malang.Hal ini terbukti dari besarnya nilai t hitung sebesar 4,925 dengan tingkat signifikansi 0,000<0,05. (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetensi diri terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. Hal ini terbukti dari besarnya nilai t hitung sebesar 2,360 dengan tingkat signifikansi 0.021<0,05. (3) Tidak ada pengaruh yang signifikan antara efikasi diri terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. Hal ini terbukti dari besarnya nilai t hitung sebesar ix 0,267 dengan tingkat signifikansi 0.790>0,05.(4) Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan keluarga guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. Hal ini terbukti dari besarnya nilai t hitung sebesar 3,165 dengan tingkat signifikansi 0,002<0,05.(5) Terdapat pengaruh yang signifikan antara sistem penilaian portofolio, kompetensi diri, efiakasi diri, dan lingkungan keluarga guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. Hal ini terbukti dari besarnya nilai F hitung sebesar 25,800 dengan tingkat signifikansi 0,000<0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara sistem penilaian portofolio, kompetensi diri, dan lingkungan keluarga guru terhadap profesionalisme guru SMAN se Kota Malang. Sedangkan variabel efikasi diri tidak ada pengaruhnya terhadap profesionalisme guru.Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian adalah seorang guru harus meningkatkan prestasi akademiknya, kompetensi diri, dan keharmonisan dalam lingkungan keluarganya guna mencapai keprofesionalan di sekolah.

Pengaruh pemberian kompensasi finansial dan kompensasi non finansial terhadap kinerja karyawan (studi pada PT. Somawi Surya Semesta, Kediri) / Dian Sukma Novita Sari

 

ABSTRAK Novita Sari, Dian Sukma. 2008. Pengaruh Pemberian Kompensasi Finansial dan Kompensasi Non Finansial Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada PT. Somawi Surya Semesta, Kediri). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Sarbini, (II) Elfia Nora, S.E, M.Si Kata kunci : Kompensasi Finansial, Kompensasi Non Finansial, Kinerja Sumber daya manusia salah satu faktor produksi yang digunakan dalam perusahaan. SDM adalah faktor produksi yang hidup, dinamis dan sekaligus merupakan kesatuan ekonomis, psikologis dan sosial, hal ini berarti bahwa SDM tersebut memiliki keinginan, emosi, rasio atau akal, dan lingkungan, karena itulah manusia tidak patut disamakan dengan faktor produksi lainnya. Perusahaan hendaknya memberikan kompensasi terhadap karyawannya secara tepat, artinya kompensasi yang diberikan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar karyawannya. Dengan demikian jelas bahwa perasaan mempengaruhi perilaku kerjanya seperti rajin, produktif, malas, tidak bersemangat, dan lain sebagainya. Hasil kerja karyawan tercerminkan dari tinggi rendahnya kinerja karyawan secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Tinggi rendahnya kinerja karyawan berkaitan erat dengan sistem pemberian kompensasi yang diterapkan oleh lembaga atau organisasi tempat mereka bekerja. Pemberian kompensasi yang tidak tepat dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : kondisi pemberian kompensasi finansial, kompensasi non finansial, dan kinerja karyawan PT. Somawi Surya Semesta, Kediri. pengaruh pemberian kompensasi terhadap kinerja karyawan pada PT. Somawi Surya Semesta, Kediri secara parsial dan simultan. Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan PT. Somawi Surya Semesta, Kediri yang berjumlah 35 orang, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 32 orang dengan teknik sampling Proportionate Stratified Random Sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif untuk mendeskripsikan kondisi pemberian kompensasi finansial (X1), kompensasi non finansial (X2) dan kinerja karyawan (Y). Teknik analisis regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompensasi finansial (X1), kompensasi non finansial (X2), terhadap kinerja karyawan (Y). Hasil penelitian ini adalah secara parsial variabel pemberian kompensasi finansial (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Sedangkan variabel pemberian kompensasi non finansial (X2) juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Dari hasil uji parsial diketahui bahwa variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap kinerja karyawan pada PT. Somawi Surya Semesta, Kediri adalah variabel pemberian kompensasi finansial dengan sumbangan efektif sebesar 37,22%. Secara simultan variabel pemberian kompensasi finansial dan kompensasi non finansial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Somawi Surya Semesta, Kediri. Kinerja karyawan dipengaruhi oleh pemberian kompensasi finansial dan kompensasi non finansial sebesar 61,8%, sedangkan sisanya sebanyak 38,2% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat disampaikan pada PT. Somawi Surya Semesta Kediri agar tetap mempertahankan atau lebih meningkatkan pelaksanaan pemberian kompensasi finansial maupun kompensasi non finansial.

Pengaruh ekuitas merek (Brand Equity) terhadap keputusan pembelian konsumen pada pelembab olay (Study pada konsumen Swalayan Batu Gajah Mada Malang) / Agus Yulianto

 

Yulianto, Agus. 2008. “Pengaruh Ekuitas Merek (Brand Equity) Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Pelembab Olay (Studi kasus pada konsumen di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang)”. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1): Dr. F. Danardana Murwani, M.M, Pembimbing (II): Ita Prihatining Wilujeng, S.E, M.M. Kata Kunci : Ekuitas Merek, Keputusan Pembelian Konsumen. Kecenderungan perkembangan perang pemasaran saat ini telah menjadi pertempuran antar merek, yaitu persaingan untuk memperebutkan dominasi merek. Olah karena itu, merek akan menjadi aset perusahaan yang paling bernilai. Salah satu pemain untuk kategori pelembab saat ini adalah PT Procter & Gamble Indonesia dengan produknya pelembab merek Olay. Untuk dapat terus bersaing dengan pesaing lainnya, maka ekuitas merek Olay perlu dikelola dikembangkan, diperkuat dan ditingkatkan kualitasnya secara berkelanjutan karena merupakan intangible asset sehingga tidak mudah ditiru oleh pesaing lainnya. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang ekuitas merek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesadaran merek (X1), asosiasi Merek (X2), kesan kualitas (X3) dan loyalitas merek (X4) secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian konsumen. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan Accidental Sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kebetulan, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 73 orang konsumen di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang dengan menggunakan rumus Infinite Population Daniel & Terrel. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, observasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesadaran merek (X1) secara parsial mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap konsumen pada pelembab Olay di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang , asosiasi Merek (X2) secara parsial mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap konsumen pada pelembab Olay di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang, kesan kualitas (X3) secara parsial mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap konsumen pada pelembab Olay di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang dan loyalitas merek (X4) secara parsial mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap konsumen pada pelembab Olay di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang. Secara simultan kesadaran merek (X1), asosiasi Merek (X2), kesan kualitas (X3) dan loyalitas merek (X4) juga mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada pelembab Olay di Swalayan Ratu Gajah Mada Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada pihak perusahaan sebaiknya (1) menciptakan keunikan produk yang mampu membedakan dengan merek pesaing lainnya, misalnya bentuk kemasan yang menarik, aroma pelembab yang lembut sehingga akan menarik konsumen untuk melakukan pembalian, (2) meningkatkan kualitas produk Olay dengan melakukan riset dan pengembangan untuk menciptakan produk berkualitas misalnya dari bahan-bahan alami atau yang tidak berbahaya bagi konsumen, (3) meningkatkan inovasi produk dan variasi produk Olay. Oleh karena itu produsen Olay dituntut untuk tetap menjaga konsistensi merek dan selalu mengikuti perubahan yang terjadi di pasar, menjaga keunggulan, kekuatan merek dan perusahaan harus inovatif dengan menciptakan variasi produk baru sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya, (4) meningkatkan citra pelembab Olay di mata konsumen. Oleh karena itu citra merek tersebut harus tetap dijaga dan dipertahankan dengan cara menciptakan produk yang mengutamakan standar mutu yang tinggi. Dengan citra merek yang melekat di benak konsumen akan membuat konsumen loyal dan akan selalu membeli produk Olay tersebut. Sedangkan untuk peneliti di masa mendatang yang ingin menggunakan variabel ekuitas merek, peneliti menyarankan agar menggunakan variabel citra suatu negara asal (Country of Origin Image) sebagai variabel bebas dan dimensi ekuitas merek (Brand Equity Dimensions) sebagai variabel interveningnya serta ekuitas merek (Brand Equity) sebagai variabel terikat.

Penerapan metode pembelajaran problem solving untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran pada standar kompetensi bejkerjasama dengan kolega dan pelanggan (Studi pada siswa kelas X AP 1 di SMK Negeri 2 Nganjuk) / Shanti Nugro

 

ABSTRAK Sulistyowati, Shanti Nugroho. 2009. Penerapan Metode Pembelajaran Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran Pada Standar Kompetensi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan (Studi Pada Siswa Kelas X AP 1 di SMK Negeri 2 Nganjuk). Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sarbini, (II) Imam Bukhori, S.Pd, M.M. Kata Kunci: Metode Pembelajaran Problem Solving, Hasil Belajar Siswa, Respon Siswa, Hambatan Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa perlu adanya suatu pemilihan metode belajar yang diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, metode yang dapat digunakan salah satunya adalah problem solving. Metode Problem solving adalah metode belajar dalam kegiatan pembelajaran dengan cara siswa dihadapkan pada berbagai masalah baik itu masalah pribadi maupun masalah kelompok untuk dipecahkan baik secara individu maupun kelompok. Penelitian ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode problem solving pada standar kompetensi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan di kelas X AP 1 SMK Negeri 2 Nganjuk. Penilaian hasil belajar dilakukan pada tiga ranah yaitu ranah afektif, psikomotorik, dan kognitif. Penilaian aspek afektif dilakukan dengan dengan mengamati tingkah laku siswa selama proses belajar mengajar berlangsung pada siklus I dan siklus II, penilaian aspek psikomotorik dilakukan dengan menilai hasil diskusi dan proses diskusi, sedangkan penilaian aspek kognitif diambil berdasarkan nilai pre test dan post test siklus I dan pre test dan post test siklus II. Respon siswa diperoleh dari hasil penyebaran angket kepada siswa kelas X AP1. Hambatan dalam pelaksanaan penelitian ini diketahui dari hasil pengamatan yang dilakukan pengamat I dan II, serta pengamatan peneliti yang bertindak sebagai guru standar kompetensi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang berusaha menggambarkan atau melukiskan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya. Penelitian ini berusaha menggambarkan dan memaparkan secara rinci mengenai penerapan metode pembelajaran problem solving pada standar kompetensi bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan di kelas X AP 1 SMK Negeri 2 Nganjuk sebagaimana adanya. Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk mengetahui: (1) Penerapan metode pembelajaran problem solving di SMK Negeri 2 Nganjuk; (2) Hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran problem solving; (3) Respon/tanggapan siswa terhadap penerapan metode pembelajaran problem solving; (4) Hambatan-hambatan dalam penerapan metode pembelajaran problem solving. Subyek dalam penelitian adalah 40 siswa putri kelas X AP 1 SMK Negeri 2 Nganjuk tahun ajaran 2008/2009. Prosedur pengumpulan data menggunakan lembar observasi, tes, angket, skenario pembelajaran, wawancara, catatan lapangan, dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model alir (flow model) yang meliputi tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian penerapan metode pembelajaran problem solving dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran pada standar kompetensi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan di SMK Negeri 2 Nganjuk adalah sebagai berikut: (1) Pelaksanaan pembelajaran dengan metode pembelajaran problem solving pada standar kompetensi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan dapat berjalan dengan baik, peneliti sebagai guru standar kompetensi dapat menerapkan metode pembelajaran dengan baik dan mendapat respon positif dari guru standar kompetensi Bekejasama dengan Kolega dan Pelanggan SMK Negeri 2 Nganjuk, (2) Hasil belajar siswa mengalami peningkatan hal tersebut dapat ditandai dengan meningkatnya hasil pre test siklus II (60,5) dan post test siklus II (80,25) dibandingkan dengan hasil pre test siklus I (53,25) dan post test siklus I (77,5), dengan hasil ini guru standar kompetensi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan antusias dan mendapat respon positif (3) Berdasarkan hasil penyebaran angket respon/tanggapan siswa terhadap penerapan metode pembelajaran problem solving menunjukkan respon dengan kriteria sangat kuat. Mereka mengakui pembelajaran yang dilaksanakan lebih menyenangkan dan cocok apabila diterapkan pada standar kompetensi Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan, hal ini mendapat respon positif karena siswa lebih aktif dan kreatif (4) Terdapat beberapa hambatan yang terjadi pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan metode problem solving adalah karena kurangnya pengalaman peneliti dan belum terbiasanya siswa dengan kehadiran peneliti dalam kelas serta panjangnya waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut. (1) Bagi Siswa diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat dan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti pelajaran dan dapat mengungkapkan pendapat sehingga menjadi bekal saat siswa lulus dari SMK dan masuk dalam dunia kerja, (2) Bagi guru standar kompetensi, pembelajaran dengan metode problem solving dapat dijadikan alternatif pilihan metode dalam upaya meningkatkan hasil belajar, (3) Bagi sekolah perlu menambah fasilitas belajar mengajar yang telah ada seperti dengan menyediakan OHP / LCD dan lain-lain agar kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran problem solving berjalan lebih lancar dan siswa tidak jenuh sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup, (4) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian tentang penerapan metode pembelajaran problem solving pada standar kompetensi lain yang relevan dengan metode problem solving, atau pada subjek penelitian yang lain sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil belajar agar diperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

Profile of a good senior High School English teacher based on students' point of view in SMAN 1 Durenan Trenggalek / Ahmad Soedarmawan

 

ABSTRACT Soedarmawan, Ahmad. 2008. “Profile of a Good Senior High School English Teacher Based on Students’ Point 0f View in SMA N 1 Durenan. Thesis, English Language Education Program, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Prof. Dr. H. Ali Saukah, M.A., Ph.D. Key words: profile, good English teacher, students’ point of view. A teacher has an important role in increasing students’ proficiency. He/ she is one of the important factors in education. Thus, teacher must have several competences. Permendiknas Number 16/ 2007 obliged teacher to have four competences; pedagogical competence, personal competence, social competence and professional competence. Accordingly, this study was intended to investigate the profile of a good senior high school English teacher according to students’ point of view and whether or not the profile match with the criteria stated in the Permendiknas Number 16/ 2007; pedagogical competence, personal competence, social competence and professional competence. This study employed a descriptive-qualitative design. The data were obtained from the English teacher, the colleague, the students, and the headmaster. The main instrument in the study was the researcher. The results of interviews and observation from the research are analyzed and drawn into conclusions in line with the problems of the study. Based on the findings, there were 18 profile of a good English teacher; able to speak English fluently, explains the grammar well, uses humor in the class, able to make the enjoyable teaching, able to make the teaching learning process as student-centered, able to deliver the main idea to the students, explains clearly, teaches using various techniques, accustoms the students to speak in English, understands the students’ characteristics, gives score fairly, uses the appropriate proportion of English – Indonesia in explaining the lesson, able to use the technology in teaching learning process such as laptop, can correct students’ mistakes, able to answer all of the students’ questions and understand students’ capacity and ability, able to socialize with the students and know the teenager’s world. The findings proved that the best English teacher has met the profile expected by the students and the standard of the Permendiknas Number 16/ 2007. In conclusion, students expected their English teacher to have 3 competences: pedagogical competence, professional competence and social competence. However, the students tend to choose pedagogical competence at most. Based on the research findings, some suggestions were given to the headmaster, English teacher, and the next researchers. The Headmaster is suggested to provide various media to support teaching learning process, such as providing the listening facility. For the English teachers, they are suggested to keep improving their knowledge through self development. The last is for next researchers, they are suggested to conduct research about teacher with other aspects, such as profile of a good English teacher based on Junior High School students’ points of view.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Jombang / Ika Arinta Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Ika Arinta. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negei 3 Jombang. Jurusan Ekonomi Pembangunan Program S1 Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Sapir S. Sos., M.Si. Pembimbing (2) Dra. Hj. Lisa Rokhmani M.Si. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, model Think Pair Share dan hasil belajar. Pada pembelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Jombang umumnya guru masih menggunakan metode ceramah, LKS dan masih kurang bervariasi. Kemudian motivasi siswa kelas X masih rendah. Hal tersebut dibuktikan pada saat proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung pasif dan hanya siswa – siswa tertentu saja yang mau menjawab pertanyaan. Rendahnya motivasi belajar ekonomi dan sikap siswa tersebut berdampak terhadap hasil belajar yang diperoleh oleh siswa kelas X SMA Negeri 3 Jombang. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar siswa yang mengikuti remidi karena skor yang diperoleh kurang memenuhi Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang ditetapkan di SMA Negeri 3 Jombang yaitu 75 ke atas. Selain itu untuk pelajaran ekonomi di kelas X, guru masih menggunakan pembelajaran tradisional. Untuk diskusi sering dilakukan namun masih bersifat tradisional. Sehingga siswa masih berpusat atau tergantung pada teman atau guru dan siswa kurang aktif untuk berfikir. Untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan suatu strategi dan metode pembelajaran yang dapat melibatkan peran aktif siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Salah satu strategi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model TPS (Think Pair Share). Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan struktur yang dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan akademik dan memberikan kepada siswa waktu untuk berfikir dan merespon siswa saling membantu satu sama lain. Struktur yang ada dalam model pembelajaran Think Pair Share(TPS) yaitu siswa diberi waktu untuk berfikir (thinking), bekerjasama dan menyampaikan ide – idenya dengan teman sebangku atau dalam bentuk diskusi kelompok kecil (pairing) dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil kepada diskusi kelas (sharing), sehingga seluruh siswa dapat berpatisipasi aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas X.2 SMA Negeri 3 Jombang dan (2) Untuk mengetahui apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X.2 SMA Negeri 3 Jombang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penerapan model Think Pair Share(TPS) dilakukan dengan dua siklus, yang terdiri dari empat kali pertemuan. Penelitian ini mengambil subyek siswa kelas X.2 SMA Negeri 3 Jombang pada tanggal 6 Desember 2008 sampai dengan 16 Desember 2008. Teknik pengumpulan datanya menggunakan tes, lembar observasi, rubrik, angket, catatan lapangan dan dokumentasi. Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa hasil observasi belajar siswa dari aspek keaktifan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 16%. Motivasi dari aspek keantusiasan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 16%. Motivasi siswa dari aspek keceriaan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 10%. Sedangkan hasil angket motivasi siswa aspek keaktifan dari siklus I ke siklus II mengalami peningktan sebesar 12%. Angket motivasi siswa aspek keantusiasan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 4%. Angket motivasi siswa aspek keceriaan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 9%. Dan hasil analisis data hasil belajar siswa aspek kognitif dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 26%. Hasil belajar siswa aspek afektif menunjukkan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 26%. Sedangkan hasil belajar siswa aspek psikomotorik dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 62 %. Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang dikemukakan: (1) Guru mata pelajaran ekonomi disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dalam pembelajarannya agar dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi; (2) Guru ekonomi disarankan pada saat menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup.

Pengaruh perputaran piutang, perputaran persediaan dan leverage terhadap return on equity (ROE) pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang lisying di Bura Efek Indonesia (BEI) (Periode tahun 2004-2006) / Astika Purwantika

 

ABSTRAK Purwantika, Astika. 2009. Pengaruh Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan dan Leverage Terhadap Retun On Equity (ROE) Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Hari. Msi. (2) Lulu Nurul Istanti, SE, M.M Kata Kunci: Return On Equity (ROE), Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan dan Leverage. Salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas perusahaan berjalan dengan baik adalah modal kerja. Modal kerja mengandung elemen-elemen aktiva lancar yang terdiri dari kas, surat berharga, piutang dan persediaan. Elemen-elemen tersebut diperlukan perusahaan untuk melakukan kegiatan operasi normal dan rentan sekali mengalami perputaran. Perpaduan yang sesuai antara antara pendanaan jangka pendek dan pendanaan jangka panjang yang digunakan untuk mendukung investasi akan mempengaruhi hasil yang diharapkan yaitu profitabilitas (Return On Equity). Return On Equity merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan modal sendiri (ekuitas) yang dimiliki. Tujuan dari penelitian ini adalah meliputi untuk mengetehui kondisi perputaran piutang, perputaran persediaa, leverage dan ROE pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perputaran piutang, perputaran persediaan, leverage terhadap ROE secara parsial. Dan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perputaran piutang, perputaran persediaan dan leverage terhadap ROE secara bersama-sama pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI. Hasil analisis membuktikan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel perputaran piutang terhadap ROE dari perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEJ. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel perputaran persediaan terhadap ROE dari perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI. Selanjutnya terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel leverage terhadap ROE dari perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI. Perputaran piutang, perputaran persediaan dan leverage secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ROE dari perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI. Saran yang dapat diajukan yaitu diharapkan perusahaan untuk memperhatikan mengenai kebijakan atas perputaran piutang, perputaran persediaan dan leverage. Diharapkan para investor yang akan melakukan investasi pada perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI diharapkan memperhatikan kondisi tingkat ROE perusahaan. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk mengamati pergerakan Return On Equity (ROE) yaitu dengan menambah jangka waktu (periode) agar hasil penelitian berikutnya berkembang.

Implementasi manajemen mutu sekolah menengah kejuruan dengan standar ISO 9001:2000 (studi kasus di SMK Negeri 6 Malang) / Defi Yuni Saputra

 

Manajemen mutu adalah semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijakan mutu, tujuan-tujuan dan tanggung jawab. Dalam manajemen mutu, termasuk manajemen pendidikan dan pelatihan diperlukan seperangkat standar mutu yang di sepakati oleh banyak negara dan diakui secara internasional. Standar tersebut adalah ISO yang berfungsi sebagai auditor eksternal yang independen (independent external auditor) yang bermarkas di Inggris. Proses untuk memperoleh ISO 9001:2000 tentunya sangat sulit karena harus melalui seleksi, audit dan tahap yang ketat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan SMK Negeri 6 Malang dalam mengimplementasikan manajemen mutu ISO 9001:2000 tersebut. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 6 Malang yang terletak di Jl. Ki Ageng Gribig 28, Madyopuro, Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui metode mereduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) alasan diperlukannya ISO 9001:2000 bagi SMK Negeri 6 Malang, yaitu sebagai investasi jangka panjang, untuk meningkatkan mutu produk (lulusan), dan meningkatkan kepuasan pelanggan; (2) strategi yang digunakan SMK Negeri 6 Malang untuk memperoleh ISO 9001:2000 adalah memperoleh komitmen dari manajemen puncak, melakukan pelatihan (training), pembentukan tim pelaksana ISO 9001:2000, menyiapkan dokumen sistem mutu, uji coba sistem mutu, uji audit eksternal, memilih register, dan melakukan registrasi; (3) manfaat ISO 9001:2000 bagi SMK Negeri 6 Malang, adalah dapat meningkatkan daya saing lulusan, ketersediaan data/dokumen yang akurat, dapat mendorong peningkatan mutu lulusan karena sistem ini menekankan pada kepuasan pelanggan; (4) pelaksanaan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 di SMK Negeri 6 Malang sudah berjalan dengan baik, tetapi masih banyak ditemui ketidaksesuaian (KTS); (5) dampak diperolehnya ISO 9001:2000 bagi SMK Negeri 6 Malang, adalah meningkatkannya self confidence di antara calon lulusan, peluang kerja lebih besar baik di dalam maupun di luar negeri, kesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi semakin terbuka lebar, meningkatkan rasa puas pelanggan atas lulusan maupun yang masih belum lulus; (6) kendala yang dihadapi SMK Negeri 6 Malang dalam mengimplementasikan ISO 9001:2000 adalah permasalahan dana dan SDM. Saran yang bisa dikemukakan dalam penelitian ini adalah (1) bagi SMK Negeri 6 Malang, agar secara berkesinambungan memperbaiki dan mengawasi pelaksanaan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000, karena masih ditemukan banyak KTS, serta memperbaiki SDM yang ada, karena sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 memerlukan peran serta aktif dari seluruh elemen SMK Negeri 6 Malang; (2) bagi Dinas Pendidikan, agar lebih memperhatikan SMK yang menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000, terutama dalam hal pendanaan sertifikasi ISO; (3) bagi peneliti yang akan datang, diharapkan untuk melakukan penelitian di SMK lain sehingga dapat diketahui perkembangan pendidikan berbasis sistem manajemen mutu ISO.

Pengembangan inventori perilaku asertif siswa SMA di Malang / Lailina Atiqoh

 

Perilaku asertif sangat dibutuhkan oleh siswa SMA dalam memenuhi salah satu tugas perkembangannya dalam kehidupan sosial, yaitu membina hubungan dengan orang lain. Suatu alat untuk mengetahui gambaran perilaku asertif sangat dibutuhkan konselor, alat tersebut dapat berbentuk inventori. Namun kenyataan di lapangan inventori mengenai perilaku asertif belum dikembangkan. Oleh sebab itu inventori perilaku asertif ini dikembangkan. Selanjutnya di dalam pengembangan inventori perilaku asertif ini permasalahan yang lebih khusus terletak pada bagaimana tingkat validitas, reliabilitas, maupun norma yang digunakan. Perilaku asertif adalah suatu perilaku untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain baik itu positif maupun negatif, mampu mempertahankan hak pribadi namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Inventori adalah sejumlah pernyataan yang harus dipilih dan diisi siswa, sesuai dengan karakteristik dirinya. Pada inventori tidak ada jawaban benar atau salah, melainkan jawaban yang sesuai dengan karakteristik individu. Inventori perilaku asertif dikembangkan menggunakan konstruk teori perilaku asertif Galassi & Galassi (1977), yang mengemukakan bahwa perilaku asertif terdiri atas tiga (3) aspek perilaku yaitu, pengungkapan perasaan positif, afirmasi diri, dan pengungkapan perasaan negatif, yang dikembangakan dengan menggunakan model pengembangan Borg dan Gall (1983). Pengembangan inventori perilaku asertif ini mempunyai tujuan untuk: (1) menghasilkan inventori yang memiliki validitas memadai; (2) menghasilkan inventori yang memiliki reliabilitas memadai; dan (3) menetapkan norma. Inventori perilaku asertif diuji tingkat konsistensi internalnya dengan menggunakan rumus Product Moment Pearson, dengan taraf signifikansi P<0,05. Inventori juga diuji tingkat reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Populasi pengembangan ini adalah siswa SMA kelas XI di Malang tahun ajaran 2008/2009 berjumlah 1086 orang, subyek pengembangan sebanyak109 subyek (10% dari populasi) diambil dengan teknik proportional cluster area random sampling. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa: (1) inventori perilaku asertif memiliki tingkat validitas yang tinggi, memenuhi syarat konsistensi internal pada P<0,05; (2) inventori perilaku asertif memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi α=0, 873; (3) inventori perilaku asertif memiliki ketetapan norma yang diwujudkan dalam bentuk norma persentil. Berdasarkan hasil pengembangan disarankan; 1) hasil produk pengembangan inventori perilaku asertif dapat digunakan konselor sebagai salah satu alat pengumpul data pribadi untuk mengetahui perilaku asertif; 2) bagi pengembang selanjutnya, khususnya mengenai pengembangan inventori perilaku asertif, hendaknya menindaklanjuti dengan terus melakukan pengembangan, baik dalam konstruk teoritis, penulisan item-item pernyataan, isi item pernyataan, subyek yang digunakan, desain produk pengembangan, dan teknik analisisnya, sehingga dapat lebih menyempurnakan produk pengembangan yang sudah ada.

Pengaruh persepsi siswa tentang gaya mengajar guru dan kualitas sekolah terhadap motivasi belajar siswa Jurusan Akuntansi di SMK Negeri 1 Magetan / Bekti Wahyuni Dwi Sulistyowati

 

ABSTRAK Sulistyowati, B.W.D., 2008. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Gaya Mengajar Guru dan Kualitas Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswa Jurusan Akuntansi di SMK Negeri 1 Magetan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si. Ak (II) Triadi Agung Sudarto, S.E. Ak., M.Si. Kata kunci: persepsi siswa, gaya mengajar guru, kualitas sekolah, motivasi belajar Gaya mengajar guru adalah salah satu komponen dari ketrampilan menggunakan variasi. Gaya mengajar guru berbeda-beda tergantung dari kretivitas guru untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menarik. Penggunaan variasi dalam mengajar diperlukan untuk mengatasi kebosanan atau kejenuhan yang dialami siswa di dalam proses belajar di kelas, sehingga siswa memiliki motivasi belajar. Motivasi belajar siswa juga dapat ditimbulkan dari kualitas sekolahnya. Apabila siswa telah merasa puas dengan kualitas sekolahnya maka akan muncul feed back yang berbentuk tingkah laku, salah satunya adalah dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa beranggapan bahwa sekolah mereka berkualitas baik, sehingga agar tidak tertinggal dari siswa lainnya maka mereka akan berlomba-lomba untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang gaya mengajar guru dan kualitas sekolah baik secara parsial maupun simultan terhadap motivasi belajar siswa. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanasi (explanatory research) dengan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa jurusan Akuntansi di SMK Negeri 1 Magetan dan penggunaan sampelnya menggunakan teknik ”proportional stratified random sampling”. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan Pearson Product Moment untuk uji validitas, Alpha Cronbach untuk uji reliabilitas, dan regresi berganda untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan dari variabel-variabel dalam penelitian ini. Dari hasil analisis data diketahui bahwa: (1) persepsi siswa tentang gaya mengajar guru berpengaruh terhadap motivasi belajar yang terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t = 4,149 dan signifikan t = 0,000; (2) persepsi siswa tentang kualitas sekolah tidak berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa yang terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t = 1,963 dan signifikan t = 0,053; (3) persepsi siswa tentang gaya mengajar guru dan kualitas sekolah berpengaruh secara simultan terhadap motivasi belajar siswa yang terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F = 1,963 dan signifikan F = 0,000. Adapun koefisien determinasi variabel bebasnya (R square) adalah sebesar 0,364 atau sebesar 36,4% merupakan kontribusi dari gaya mengajar guru (X1) dan kualitas sekolah (X2) terhadap motivasi belajar (Y). Sedangkan sisanya sebesar 63,6% merupakan kemungkinan berubahnya motivasi belajar siswa yang disebabkan oleh variabel lain yang tidak diteliti atau di luar penelitian ini.

Penggunaan metode pembelajaran koopeartif model numbered head together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata diklat mengikuti prosedur K 3 (Studi pada siswa kelas X APk 2 SMK Negeri 1 Turen Malang) / Fentiyus Yunanie

 

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di SMK Negeri 1 Turen Malang, diperoleh informasi bahwa pembelajaran Mengikuti Prosedur Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja sudah mulai menggunakan variasi bentuk model-model pembelajaran, namun dalam pelaksanaannya masih belum maksimal. Hal ini karena model-model pembelajaran yang dilakukan hanya ceramah dan tanya jawab saja. Akan tetapi pada pokok bahasan tertentu terkadang menggunakan diskusi sebatas diskusi model konvensional yang rawan dengan menurunnya aktivitas belajar siswa saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Salah satu model pembelajaran yang dapat memperbaiki proses belajar mengajar di kelas tersebut adalah pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT). Pembelajaran kooperatif model numbered head together adalah strategi pembelajaran dimana para siswa aktif bekerja sama dalam kelompok kecil yang dimulai dengan penomoran ,pengajuan pertanyaan, berpikir bersama, dan pemberian jawaban. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) pada mata diklat mengikuti prosedur keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja sudah berjalan dengan lancar, hal ini ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa, Didalam pembelajaran kooperatif harus ada elemen yang terkandung didalam setiap pembelajaran antara lain: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, pertanggungjawaban individu, keterampilan menjalin hubungan antar pribadi; (2) tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) secara umum positif yaitu antara lain siswa merasa bahwa metode Numbered Head Together (NHT) menyenangkan dan bisa dijadikan variasi kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran tidak monoton, hanya beberapa siswa yang merasa terbebani dengan penerapan pembelajaran ini; (4) tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) cukup positif, guru beranggapan bahwa metode tersebut dapat membuat siswa aktif bekerja dalam mengemukakan pendapat dalam diskusi; (5) hasil belajar siswa dilihat dari 3 ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pelaksanaannya terdapat peningkatan dimana dari siklus I sampai siklus II terjadi kenaikan hal ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh nilai siswa telah memenuhi standart kelulusan yang telah ditentukan yaitu 70. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan saran: (1) Bagi sekolah hasil penelitian diharapkan menjadi pertimbangan dalam upaya perbaikan penerapan strategi pembelajaran di SMK Negeri 1 Turen karena pembelajaran model Numbered Heads Together dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) Bagi guru mata diklat Mengikuti Prosedur Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja di SMK Negeri 1 Turen Malang, dianjurkan menggunakan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa. Selain itu juga siswa dapat dilatih saling bekerjasama dengan teman, melatih rasa percaya diri siswa dan dapat menerima pendapat orang lain. Dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT), (3) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) pada mata diklat lain sebagai salah satu metode pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar yang valid. Seperti pada mata diklat Humas, berkomunikasi melalui telepon dan bekerjasama dengan kolega, (4) Bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan kreatifitas mereka untuk berfikir lebih maju dan berani mengungkapkan pendapat. Selain itu siswa diharapkan dapat saling bekerjasama dalam suatu kelompok dan berusaha menghargai orang lain.

Makna pekerjaan bagi santri penghafal Al-Qur’an (Studi kasus di Pesantern Nurul Qur'an Kraksaan Probolinggo Jawa Timur) / oleh Muslihati

 

Perbedaan sel esteem antara siswa SMA Negeri dan siswa SMA Swasta di Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Irna Kurdiana

 

ABSTRAK Kurdiana, Irna. 2009. Perbedaan Self esteem antara Siswa SMA Negeri dan Siswa SMA Swasta di Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Skripsi. Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Widada, M. Si, (2) Drs. H. Imam Hambali, M. Pd. Kata Kunci: Self esteem,SMA Negeri, SMA Swasta Menghargai diri sendiri sebagaimana layaknya adalah kunci utama mencapai sukses dalam kehidupan. Perkembangan konsep diri yang positif dan menghargai diri sendiri secara objektif sangat penting bagi kebahagiaan dan keberhasilan anak dan remaja, terutama saat yang bersangkutan menempuh ilmu pada lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana self esteem siswa SMA Negeri, (2) bagaimana self esteem siswa SMA Swasta, (3) bagaimana perbedaan self esteem siswa SMA Negeri dan SMA Swasta di Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI di SMA Negeri dan SMA swasta di Kecamatan Turen Kabupaten Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Sampel dalam penelitian ini adalah 111 siswa SMA Negeri dan 74 siswa SMA Swasta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Propotional Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan alat ukur berupa inventori self esteem dari Coopersmith yang diadopsi dari tesis Mangantes. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 10 November 2008 di SMA Negeri dan pada tanggal 26 November s/d 3 Desember 2008 di SMA swasta di Kecamatan Turen Kabupaten Malang yang dilaksanakan oleh peneliti sendiri. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis persentase dan uji-t. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Self esteem siswa SMA Negeri adalah sedang dengan persentase 54,1% dan tinggi dengan persentase 45,9%; (2) Self esteem siswa SMA swasta adalah sedang dengan persentase 77% dan tinggi dengan 23%; (3) berdasarkan hasil analisis uji-t, nilai t tabel dengan df=183 adalah 1,960 dan nilai t hitung adalah sebesar 2,146 dengan signifikansi (sig)=0,05. karena nilai t hitung (2,146)>t tabel (1,960) dengan demikian hipotesis dalam penelitian yang berbunyi ada perbedaan self esteem antara siswa SMA Negeri dan SMA swasta diterima. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) Konselor: mampu menanamkan dan membimbing siswa mencapai self esteem yang tinggi dan mencegah self esteem yang rendah yang dapat diberikan melalui layanan bimbingan kelompok yang berupa kegiatan out bond yang berupa training pemahaman diri yang berisi peningkatan harga diri dan rasa percaya diri karena self esteem juga memegang peranan penting dalam pencapaian prestasi belajar dan cita-cita; (2) Kepala sekolah: hendaknya memberikan dukungan untuk pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling khususnya mengenai self esteem untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap self esteem serta memberikan dukungan kepada konselor untuk mengikuti seminar, pelatihan-pelatihan, workshop, agar nantinya konselor dapat lebih membantu dan memahami siswa.; (3) Guru: menanamkan rasa percaya diri dan penghargaan diri pada siswa baik dalam jam pelajaran maupun diluar jam pelajaran sehingga self esteem siswa meningkat; (4) Orang tua: memberi penghargaan diri pada putra putrinya sehingga mereka memiliki potensi dan self esteemnya terus berkembang; (5) Peneliti lain: permasalahan yang berhubungan dengan self esteem untuk waktu yang akan datang akan lebih kompleks, oleh karena itu diharapkan peneliti selanjutnya mengembangkan dengan variabel-variabel yang lain yang berhubungan.

Studi kesulitan belajar dan pemahaman konsep struktur atom pada siswa SMA Negeri 8 Malang / Nurul Umaida

 

ABSTRAK Umaida, Nurul. 2009. Studi Kesulitan Belajar dan Pemahaman Konsep Struktur Atom pada Siswa SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M. S., (2) Drs. Supardjito Kata kunci: Kesulitan Belajar, Pemahaman Konsep, Struktur Atom, SMAN 8 Malang Konsep dalam ilmu kimia umumnya bersifat kompleks dan abstrak. Konsep yang bersifat abstrak cenderung berpotensi menyebabkan kesulitan belajar dan pemahaman konsep yang salah pada siswa. Struktur atom merupakan konsep yang sukar, karena mengandung konsep-konsep abstrak yang sulit dipahami oleh sebagian besar siswa. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan siswa masih mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep struktur atom. Konsep yang dimiliki siswa di kelas X, XI, dan XII selalu mengalami perkembangan. Semakin tinggi jenjang pendidikan siswa, maka semakin luas pula pengetahuan yang dimilikinya. Namun, kemungkinan terjadinya kesalahan konsep juga besar. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang pemahaman siswa terhadap konsep kimia yang bersifat abstrak, salah satunya adalah konsep struktur atom. Adapun tujuan penelitian adalah (1) mengetahui pada konsep apa saja dalam materi struktur atom siswa mengalami kesulitan, (2) mengetahui persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari struktur atom, dan (3) mengidentifikasi tingkat kesulitan siswa dalam mempelajari struktur atom. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan kelas XI Ilmu Alam di SMA Negeri 8 Malang yang secara keseluruhan mempunyai kemampuan yang sama (homogen). Kelas yang bersifat homogen ditunjukkan oleh nilai rata-rata kimia yang relatif sama. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak terbatas melalui undian kelas. Dari hasil undian pada masing-masing kelas (jenjang), diperoleh kelas X-4 dan kelas XI.A-4 yang masing-masing terdiri dari 39 dan 38 siswa sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian berupa tes objektif sebanyak 25 butir soal dengan 5 alternatif jawaban yang diperkuat dengan alasan jawaban. Dari hasil analisis 25 butir soal yang telah valid diperoleh reliabilitas instrumen sebesar 0.595. Untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mempelajari struktur atom, ditentukan dengan menghitung persentase kesalahan seluruh siswa pada setiap butir soal yang kemudian dikualifikasikan ke dalam 5 kategori tingkat kesulitan, yaitu sangat kecil, kecil, cukup besar, besar, dan sangat besar. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa tingkat kesulitan paling besar yang dialami siswa dalam memahami pokok bahasan struktur atom pada Subkonsep Perkembangan Teori Atom meliputi: (a) penentuan eksperimen yang mendukung teori atom Thomson (87.2% di kelas X dan 84.2% di kelas XI), (b) penentuan konsep yang mendasari teori atom Modern (89.5% di kelas XI), dan (c) penentuan pengertian orbital atom (61.5% di kelas X dan 71.1% di kelas XI). Pada Subkonsep Partikel Dasar Penyusun Atom meliputi: (a) penentuan sifat-sifat elektron (84.6% di kelas X dan 86.8% di kelas XI), (b) penentuan eksperimen yang mendasari ditemukanya proton (74.4% di kelas X dan 84.2% di kelas XI), (c) penentuan definisi nomor massa (74.4% di kelas X dan 76.3% di kelas XI), (d) menghitung massa rata-rata dari isotop-isotop suatu unsur sebesar 84.6% di kelas X, dan (e) penentuan kelimpahan isotop berdasarkan massa atom relatif (84.6% di kelas X). Sedangkan pada Subkonsep Konfigurasi Elektron meliputi: (a) penentuan konfigurasi elektron dari ion negatif (87.2% di kelas X), dan (b) penentuan definisi elektron valensi (64.1% di kelas X dan 84.2% di kelas XI). Dari hasil penelitian tyang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak, berupa definisi, ciri-ciri, dan kesulitan dalam soal hitungan. Selain itu, beberapa siswa juga mengalami kesalahan konsep tentang teori atom dan definisi elektron.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model numbered heads together (NHT) pada mata diklat melakukan penyerahan atau pengiriman produk untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI Pj 2 di SMK Negeri 1 Turen / Arinta Istiana

 

Pendidikan merupakan komponen terpenting dalam pembangunan bangsa dan negara, karena pendidikan merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Seiring dengan kemajuan IPTEK dibutuhkan sumber daya manusia yang harus memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Sebagai salah satu subsistem dari sistem pendidikan nasional, sesuai dengan ketentuan pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidang kejuruan untuk dapat bekerja dalam bidang keahlian tertentu. Lebih spesifik lagidalam Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah sebagai lembaga formal yang mendidik siswanya untuk mampu menjadi seorang tenaga kerja yang handal, cerdas, kompetitif dan mampu bersaing, dibutuhkan pemantapan ilmu dan skill untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. Fenomena praktek pembelajaran di kelas pada mata diklat Melakukan Penyerahan atau Pengiriman Produk di kelas XI Pj 2 di SMK negeri 1 Turen cenderung masih menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah, penugasan, dan jarang meggunakan metode diskusi. Hal ini menyebabkan motivasi belajar siswa menjadi rendah yang berakibat pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan.Berkaca dari fenomena tersebut, maka diperlukan variasi metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Salah satu metode tersebutadalah metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT). Dengan pembelajaran ini, siswa dapat bekerja sama antar anggota kelompok, saling menyumbangkan pikiran, dan adanya sikap tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Model pembelajaran ini melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka tentang isi pelajaran. Pembelajaran kooperatif NHT ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi waktu lebih banyak berpikir, menjawab, serta saling membantu satu sama lain. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran NHT (2) Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran NHT (3) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran NHT. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, tes, angket, catatan lapangan. Sedangkan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun subyek dalampenelitian ini adalah siswa kelas XI Pj 2 SMK Negeri 1 Turen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Deskripsi penerapan model pembelajaran NHT dalam pelaksanaanya terdiri dari; tahap awal yaitu peneliti melakukan aktivitas rutin di awal tatap muka, tahap inti penerapan modelpembelajaran NHT yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap penomoran (Numbering), tahap pengajuan pertanyaan (Questioning), tahap berpikir bersama (Heads Together), dan tahap pemberian jawaban (Answering), tahap akhir yaitupada tahap ini peneliti memberikan tes untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan dan melakukan aktivitas rutin akhir tatap muka. (2) Motivasi belajar siswa dalam penelitian ini diperoleh dari lembar observasi selama PBM berlangsung dan dari angket motivasi belajar yang diisi oleh siswa. Motivasi belajar yang diperoleh dari lembar observasi mengalami peningkatan sebesar 11% yaitu pada siklus I diperoleh hasil analisis observasi motivasi belajar sebesar 81% dalam ketegori baik dan pada siklus II meningkatsebesar 92% dengan kategori amat baik. Sedangkan peningkatan motivasi siswa dari hasil analisis angket motivasi belajar sebesar 0,3 atau 30 % yaitu diketahuipada siklus I diperoleh hasil analisis sebesar 3,46 dengan kategori cukup dan padasiklus II meningkat sebesar 3,76 yang masuk dalam kategori baik. (3) Hasil belajar siswa dalam penelitian ini yaitu diukur dari aspek kognitif saja. Hasilbelajar siswa pada siklus I mengalami peningkatan dimana nilai rata-rata kelas siswa sebelum diterapkannya pembelajaran NHT (hasil pre test) adalah 57,87 dan setelah diterapkannya pembelajaran NHT meningkat sebesar 80,12 (hasil post test). Hal ini dapat diartikan hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 22,25%. Dan hasil belajar siswa pada siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 32,25% dengan nilai rata-rata kelas sebelum tindakan (hasil pre test)adalah 56,37 meningkat menjadi 88,62 setelah diterapkannya pembelajaran NHT (hasil post test). Jadi, dapat disimpulkan penerapan pembelajaran NHT hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 8,5% dari siklus I dimana rata-rata kelas sebesar 80,12 meningkat menjadi 88,62 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan adalah sebagai berikut:(1)Bagi sekolah, hasil penelitian diharapkan menjadi pertimbangan dalamupaya perbaikan penerapan strategi pembelajaran di SMK Negeri 1 Turen karena pembelajaran model Numbered Heads Together terbukti dapat meningkatkanmotivasi dan hasil belajar siswa, (2)Bagi guru, dalam pelaksanaan pembelajaran NHT hendaknya guru membentuk kelompok yang heterogen, memotivasi siswa untuk saling membantu dalam mengerjakan tugas, mendorong siswa untukmemberikan pendapat dalam diskusi kelompok, mendorong siswa untuk tidak mendominasi serta pembagian peran yang baik dalam menyelesaikan tugas, mendorong siswa untuk berani mengungkapkan pendapat didepan dan memberikan motivasi pada seluruh siswa terutama pada siswa yang berkemampuan lebih rendah agar mereka lebih aktif dalam pembelajaran, karenadapat mendorong peningkatan motivasi siswa dalam belajar dan peningkatan hasil belajar, (3) Bagi siswa, hendaknya lebih meningkatkan keaktifan siswa dalampembelajaran untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, (4) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian tentang pembelajaran NHT pada mata diklat lain, Selain itu peneliti lain juga diharapkan membuat variasi metodepembelajaran dengan memadukan model pembelajaran NHT dengan metode lain.

Hubungan antara minat jabatan dan prestasi belajar dengan arah pemilihan jabatan siswa kelas X di SMK Negeri 2 Malang / Dwi Wahyu Kretanty

 

Di SMK Negeri 2 Malang terdapat beberapa masalah yang sering dihadapi oleh para siswanya, salah satunya yaitu berkaitan dengan masalah arah pemilihan jabatan. Kebanyakan siswa di SMK Negeri 2 Malang memiliki kesulitan dalam menentukan arah pemilihan jabatan yang sesuai dengan minat jabatan dan prestasi belajarnya. Selain itu pula di SMK Negeri 2 Malang belum pernah dilaksanakan penelitian yang berkaitan tentang minat jabatan, prestasi belajar dan arah pemilihan jabatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui minat jabatan, pencapaian prestasi belajar, arah pemilihan jabatan, dan hubungan antara minat jabatan dan arah pemilihan jabatan, hubungan antara prestasi belajar dengan arah pemilihan jabatan dan hubungan antara minat jabatan dan prestasi belajar dengan arah pemilihan jabatan siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat korelasional. Populasinya adalah siswa kelas X di SMKN 2 Malang dengan sampel, siswa kelas X Pekerja Sosial 3, siswa kelas X Layanan Kesehatan 2, siswa kelas X Usaha Jasa Pariwisata 2, siswa kelas X Akomodasi Perhotelan 2, dan siswa kelas X Restoran 3. Tehnik pengambilan sampel secara proporsional random sampling sebanyak 30% dari jumlah siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) minat jabatan siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang secara umum pada kategori sedang; (2) prestasi belajar siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang dapat dikatakan sebagian besar berkategori sedang; (3) sebagian besar siswa mempunyai arah pemilihan jabatan dengan kategori semi profesional; (4) ada hubungan yang signifikan antara minat jabatan dengan arah pemilihan jabatan siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang; (5) ada hubungan positif yang signifikan antara prestasi belajar dengan arah pemilihan jabatan siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang (6) ada hubungan positif yang signifikan antara minat jabatan, prestasi belajar dengan arah pemilihan jabatan siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang. Saran yang dapat diberikan yaitu: (1) untuk kepala sekolah, menerima dan menggolongkan siswa kedalam jurusan disesuaikan dengan minat jabatan yang dimilikinya; (2) untuk konselor, dapat mendorong siswa untuk melanjutkan pendidikan ketingkat perguruan tinggi baik melalui program diploma maupun SI dalam rangka membantu siswa mencapai cita-cita kariernya; (3) untuk peneliti selanjutnya, perlu diadakan penelitian dengan menggunakan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi arah pemilihan jabatan sehingga dapat menambah nilai lebih dari penelitian ini.

Perbedaan ketakutan terhadap intimasi dalam berpacaran pada remaja akhir ditinjau dari jenis kelamin. pendidikan dan lama hubungan pacaran / Novianty Dwi Anggraeny

 

ABSTRAK Anggraeny, Novianty Dwi. 2009. Perbedaan Ketakutan Terhadap Intimasi dalam Berpacaran pada Remaja Akhir Ditinjau dari Jenis Kelamin, Pendidikan, dan Lama Hubungan Pacaran, Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Alwisol, M.Pd., (II) Anies Syafitri, M.Psi., Psikolog. Kata Kunci: ketakutan, intimasi, pacaran, remaja Pacaran merupakan salah satu bentuk dari tugas perkembangan remaja yaitu membentuk hubungan baru dan lebih matang dengan lawan jenis sekaligus sebagai persiapan untuk perkawinan dan kehidupan berkeluarga. Dalam berpacaran remaja mendambakan hubungan yang intim-akrab tetapi hubungan ini tidaklah selalu berjalan mulus. Kegagalan pada hubungan yang sebelumnya dapat menyebabkan remaja menjadi takut untuk intim dengan pasangannya. Intimasi adalah hubungan akrab, intim, menyatu, saling percaya dan saling menerima antara individu satu dengan lainnya. Penelitian ini bertujuan: (1) Mengetahui perbedaan ketakutan terhadap intimasi dalam berpacaran pada remaja laki-laki dan perempuan, (2) Mengetahui perbedaan ketakutan terhadap intimasi dalam berpacaran pada remaja ditinjau dari usia, pendidikan, dan lama hubungan, (3) Mengetahui hubungan antara ketakutan terhadap intimasi dalam hubungan yang sedang dijalani dengan ketakutan terhadap intimasi pada hubungan sebelumnya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan skala adaptasi The Fear-of-Intimacy Scale dari Descutner dan Thelen. Data dianalisis menggunakan dua teknik analisis yaitu Uji Normalitas dan Uji Homogenitas data dengan p > 0,05. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Tidak ada perbedaan ketakutan terhadap intimasi ditinjau dari jenis kelamin, (2) Ada perbedaan ketakutan terhadap intimasi ditinjau dari pendidikan, (3) Ada perbedaan ketakutan terhadap intimasi ditinjau dari lama hubungan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk para remaja tidak perlu takut untuk menjadi intim-akrab dengan pasangannya karena intimasi merupakan hal utama yang harus ada dalam suatu hubungan. Untuk peneliti yang tertarik lebih jauh mengenai intimasi agar memperbanyak jumlah subyek penelitian dan menambah interview atau wawancara agar hasil penelitian yang diperoleh lebih valid.

Penelitihan tentang pembinaan Kepala Sekolah terhadap guru kelas VI di Sekolah Dasar Negeri se Kodya Malang dalam melaksanakan Pendidikan Moral Pancasila(PMP) dengan memanfaatkan media pelajaran / Samijono Kadipurwanto

 

Hubungan prestasi matakuliah proses belajar mengajar (PBM) terhadap prestasi matakuliah praktek pengalaman lapangan (PPL) pada mahasiswa angkatan 2003 di Jurusan Seni dan Desain Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang / Muhamad Izudin Ika

 

ABSTRAK Ika, Muhammad Izudin.2008. Hubungan Prestasi Matakuliah Proses Belajar Mengajar Terhadap Prestasi Matakuliah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Pada Mahasiswa Angkatan 2003 Di Jurusan Seni Dan Desain Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Indrawati, (II) Drs. Andi Harisman. Kata kunci: Hubungan, Prestasi Matakuliah PBM, Prestasi Matakuliah PPL. Dalam Matakuliah Proses Belajar Mengajar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang diharapkan memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan secara utuh sebagai tenaga pengajar professional, dalam penerapan Proses Belajar Mengajar untuk dapat diterapkan dalam praktek nyata. Dengan mempertimbangkan hal tersebut diharapkan penguasaan matakuliah PBM merupakan penguasaan dari pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain jika Prestasi matakuliah PBM baik maka secara logika prestasi matakuliah PPL baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai: (1) deskripsi prestasi matakuliah Proses Belajar Mengajar pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan 2003, (2) Deskripsi prestasi matakuliah PPL baik PPL I maupun PPL II pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan 2003, (3) Deskripsi hubungan antara prestasi matakuliah Proses Belajar Mengajar terhadap prestasi matakuliah Praktek Pengalaman Lapangan pada mahasiswa angkatan 2003 Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang Penelitian ini merupakan penelitian eskplanasi atau uji hubungan. Teknik Pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi. Data tentang prestasi matakuliah PBM diambil dari data yang ada di Fakultas Sastra, dan data tentang prestasi matakuliah PPL diambil dari data yang ada di UPT PPL Universitas Negeri Malang. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara prestasi matakuliah PBM dengan Prestasi Matakuliah PPL.ini terlihat dari hasil analisis korelasi yang diketahui r adalah sebesar 0,770 dengan nilai sig. sebesar 0,000. Karena r (0,770) > r (0,456) dan nilai sig. (0,000) < 0,05 maka dapat disimpulkan dapat bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PBM dan PPL. hitunghitungtabel Berdasarkan hasil dalam penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai hubungan Prestasi matakuliah PBM dan matakuliah PPL serta hal-hal yang berpengaruh terhadap hal tersebut agar didapat informasi lebih mendalam.

Perbandingan efektivitas pemeranan tokoh dengan tipe casting dan antitipe casting pada siswa SMP Negeri 1 Turen / Frida Siswiyanti

 

Secara umum, pembelajaran drama di sekolah masih terfokus pada pembelajaran yang bersifat penyajian teori dan jarang diimbangi dengan kegiatan praktik. Adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kurang dijalankan dengan maksimal. Padahal, ada target tertentu yang harus dicapai pada pembelajaran drama, khususnya pada siswa kelas VIII, sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang kini terapkan. Dalam KTSP 2006 kelas VIII semester 1, salah satu standar kompetensi yang harus dicapai adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran. Proses pembelajaran bermain peran ini memerlukan alokasi waktu yang tidak pendek dan cukup sulit diterapkan pada jam pelajaran normal di sekolah. Fenomena ini yang tampak di SMP Negeri 1 Turen, sehingga membuat kemampuan siswa dalam bermain drama kurang maksimal. Alokasi waktu yang pendek akan membuat siswa kurang memiliki pengalaman dalam tahapan-tahapan bermain drama (sebelum pementasan). Dalam proses pemilihan peran pun guru akan mengalami kesulitan. Hal tersebut dikarenakan, proses pemilihan peran (casting) merupakan dasar pembentukan karakter aktor sebelum memerankan suatu tokoh, jadi memerlukan suatu ketelitian dan proses yang cukup panjang. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis ingin memfokuskan penelitian ini kepada kemampuan pemeranan tokoh yang khusus dipilih melalui teknik pemilihan peran tipe casting dan antitipe casting. Berdasarkan kedua teknik pemilihan peran tersebut akan ditemukan perbandingan efektivitas dalam memerankan tokoh. Hal ini dapat dijadikan acuan untuk menemukan strategi bagi para pelatih atau guru drama di sekolah dalam meningkatkan kemampuan bermain peran di sekolah dengan alokasi waktu tertentu. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan efektivitas pemeranan tokoh dengan tipe casting dan antitipe casting. Secara khusus, penelitian ini bertujuan antara lain: (1) mendeskripsikan efektivitas pemeranan tokoh pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Turen yang dipilih melalui tipe casting, (2) mendeskripsikan efektivitas pemeranan tokoh pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Turen yang dipilih melalui antitipe casting, dan (3) mendeskripsikan perbandingan efektivitas dan tingkat ketercapaian pemeranan tokoh pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Turen yang dipilih melalui tipe casting dan antitipe casting. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Turen yang mengikuti ekstrakuler drama. Dari 15 siswa yang mengikuti ekstrakurikuler drama, akan diambil 12 siswa untuk memerankan tokoh dalam naskah drama “Orang Asing” karya Rupert Brooke. Dua belas siswa tersebut akan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok tipe casting dan antitipe casting. iv Dalam proses mendapatkan data penelitian, peneliti melakukan kegiatan pemilihan peran (casting) dengan tipe casting dan antitipe casting, pelatihan terhadap siswa dalam tiga tahapan, dan evaluasi.Tahapan-tahapan latihan tersebut digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa, baik siswa yang dipilih dengan tipe casting maupun antitipe casting dalam memerankan tokoh pada penggalan dialog naskah drama “Orang Asing”. Evaluasi dilakukan dalam tiga tahapan dalam kurun waktu yang berbeda dan dilakukan tiap akhir tahapan latihan. Dalam analisis data, peneliti menggunakan analisis deskriptif. Dalam tiga tahapan latihan dengan kurun waktu lima minggu, peneliti akan mengamati, mencatat, dan memaparkan perkembangan dan keberhasilan memerankan (mengaktingkan) dialog tokoh. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan vocal dan gerak sesuai dengan karakter yang dituntut oleh naskah. Kemampuan vokal meliputi antara lain: (1) aspek intonasi, (2) aspek artikulasi; (3) aspek intensitas emosi. Kemampuan gerak meliputi (1) aspek gesture; dan (2) aspek ekspresi wajah (mimik). Hasil analisis tersebut berupa uraian ( visualisasi pada saat siswa mengaktingkan dialog pada tiap tahapan latihan). Berdasarkan hasil analisis data tersebut, akan ditemukan perbandingan efektivitas (keberhasilan) antara tokoh tipe casting dan antitipe casting dalam memerankan (mengaktingkan) tokoh tiap tahapan latihan. Hasil tersebut akan diuraikan dan dibuat suatu penafsiran. Berdasarkan analisis data tersebut, secara umum dapat disimpulkan bahwa Berdasarkan tiga tahapan latihan dalam kurun waktu lima minggu, dengan memperhatikan aspek intonasi, artikulasi, intensitas emosi, gesture, dan ekspresi wajah dapat disimpulkan bahwa teknik pemilihan peran tipe casting lebih efektif dibandingkan antitipe casting. Secara khusus dapat disimpulkan bahwa, (1) pada aspek intonasi, dalam kurun waktu lima minggu, tokoh tipe casting memiliki kemampuan lebih baik dalam mengucapkan dialog dengan intonasi yang tepat dibandingkan dengan tokoh yang dipilih dengan antitipe casting; (2) pada aspek artikulasi, tokoh tipe casting memiliki tingkat ketercapaian yang lebih baik dibandingkan tokoh antitipe casting. Pada tahap latihan pertama sampai latihan ketiga menunjukkan bahwa tokoh tipe casting lebih mampu mengucapkan dialog dengan artikulasi yang jelas dan mampu memberikan penekanan yang lebih pada dialog yang diucapakan; (3) pada aspek intensitas emosi, dalam kurun waktu lima minggu, tokoh tipe casting memiliki kemampuan mengatur (mengontrol) intensitas emosi yang lebih baik pada saat mengucapkan dialog dibandingkan dengan tokoh antitipe casting; (4) pada aspek gesture dan ekspresi wajah, Pada aspek gesture dan ekspresi wajah, dalam kurun waktu lima minggu pemeran yang dipilih dengan tipe casting memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatur dan men mengeksplorasi gerak dan ekspresi saat memerankan tokoh dibandingkan dengan tokoh yang dipilih dengan antitipe antitipe casting.

Nilai-nilai pendidikan dalam lagu-lagu anak Madura / Widarti Cahya Ningrum

 

ABSTRAK Cahya Ningrum, Widarti, 2008. Nilai-nilai Pendidikan dalam Lagu-lagu Anak Madura. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ghazali M.Pd. Kata Kunci: nilai pendidikan, lagu-lagu anak Madura Saat ini lagu-lagu daerah kurang diminati. Akibatnya lagu-lagu daerah hampir tidak dikenal lagi oleh anak-anak Indonesia. Kedudukan lagu-lagu daerah sudah digeser oleh kemajuan teknologi. Apabila upaya pelestarian dan apresiasi terhadap lagu-lagu daerah khususnya lagu-lagu anak Madura jarang dilakukan, maka lagu-lagu daerah tersebut dalam waktu dekat akan lenyap. Nilai-nilai pendidikan dalam lagu-lagu daerah, khususnya lagu-lagu anak Madura hendaknya dijadikan pedoman hidup bermasyarakat dan berbangsa. Berdasarkan isi teks lagu-lagu anak Madura, secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam teks lagu-lagu anak Madura. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam teks lagu-lagu anak Madura yang meliputi nilai-nilai religius, nilai-nilai sosial, nilai-nilai kepribadian, nilai-nilai moral, dan nilai sejarah. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Peneliti sebagai human instrumen, hal yang dilakukan adalah mencari kepustakaan yang relevan lalu menyusun instrumen. Sesudah itu melakukan kegiatan pengumpulan data yang diperlukan, dilanjutkan dengan mengolah data dengan teknik yang telah ditentukan. Pengambilan data dalam lagu-lagu anak Madura menggunakan analisis tekstual dengan kriteria yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa dalam lagu-lagu anak Madura juga mengajarkan tentang filosofi orang Madura. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan filosofi orang Madura yang meliputi: (1) menghormati sesepuh, hukum, dan agama; (2) menjaga mulut, perilaku, dan kegiatan; (3) menghindari sifat kejam, keji, dan kekurangpasrahan; (4) memiliki kesetiaan, kesucian hati, dan kejujuran; (5) mengusahakan pencapaian kesepakatan, kesenangan lahir, dan kebahagiaan batin; dan (6) mampu mengelola waktu, harta, dan kesehatannya Hasil analisis data yang telah dikerjakan dan interpretasi yang dilakukan menunjukkan bahwa dalam lagu-lagu anak Madura terdapat nilai-nilai pendidikan yang berupa (1) nilai religius tentang keimanan kepada Tuhan, yang terdapat pada lagu yang berjudul Lir-saalir, (2) nilai sosial tentang gotong royong, adil terhadap sesama, dan cinta kasih terhadap sesama, yang terdapat pada lagu yang berjudul Terete, Lir-saalir, Ta’ goyang tul-tul, Hurjak mano’, Pan-sampanan, Mon-temon buko, Oramba’-orambe, Es lilin, Yargiyar, Sekkar jambu, Sir-basiran, Trunojoyo, dan Panembahan Ronggosukowati, (3) nilai kepribadian tentang kewaspadaan hidup, kesederhanaan hidup, teguh pendirian, keberanian hidup, kejujuran, dan kepahlawanan yang terdapat pada lagu yang berjudul Terete, Lir-saalir, Ta’ goyang tul-tul, Gangga meno, Hurjak mano’, Pan-sampanan, Rarari, Bing ana’, Gai’ bintang, Es lilin, Yargiyar, Sambung lealebung, Sekkar jambu, Yayaya, Kerraban sape, Trunojoyo, dan Cakranengrat, (4) nilai moral tentang toleransi, komitmen, banyak akal, loyalitas, kejujuran, kerjasama, kepedulian, humor, tanggung jawab, dan rasa bangga yang terdapat pada lagu yang berjudul Terete, Lir-saalir, Ta’ goyang tul-tul, Gangga meno, Hurjak mano’, Pan-sampanan, Rarari, Gai’ bintang, Mon-temon buko, Oramba’-orambe, Es lilin, Yargiyar, Sekkar jambu, dan Kerraban sape, dan (5) nilai sejarah tentang pahlawan, yang terdapat pada lagu yang berjudul Trunojoyo, Cakranengrat, dan Panembahan Ronggosukowati. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada: (1) Guru Bahasa Daerah Madura untuk menggunakan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan dalam pemilihan alternatif materi sastra, khususnya puisi untuk para siswa. Melalui pembelajaran apresiasi puisi, guru Bahasa Daerah Madura dapat melatih siswa untuk menemukan nilai-nilai pendidikan dalam lagu-lagu anak Madura ataupun lagu lainnya, (2) siswa dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan materi tambahan untuk memperdalam pengetahuan tentang nilai-nilai pendidikan, dan (3) Peneliti sastra dapat menindaklanjuti penelitian ini pada genre sastra lain, karena tidak tertutup kemungkinan masih banyak hal-hal yang perlu dikembangkan misalnya cerita rakyat, peribahasa, dan lain-lain.

Penerapan model Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Sendang I Kecamatan Senori Kabupaten Tuban / Diah Novitasari Jauhari

 

Kata Kunci: Model STM, aktivitas belajar, hasil belajar. Hasil observasi pra tindakan menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah masih kurang. Selain itu siswa kurang diberi kesempatan dalam menentukan penyelesaian masalah dan mengaplikasikan prinsip sains yang dipelajarinya. Masalah tersebut terjadi akibat guru masih kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih untuk menemukan masalah serta merumuskan pemecahannya. Selama pembelajaran siswa dituntut untuk membaca materi, mendengarkan penjelasan guru, dan mengerjakan soal-soal latihan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: 1) penerapan model STM yang dapat meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Sendang I; 2) peningkatan Aktivitas Belajar siswa kelas V melalui penerapan model STM; 3) peningkatan Hasil Belajar siswa kelas V dengan penerapan model STM. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengamatan, refleksi, serta perbaikan perencanaan. Analisis data dilaksanakan secara kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sendang I yang berjumlah 21 siswa. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada peningkatan aktivitas belajar, yaitu siswa sudah bisa mengidentifikasi masalah yang ada di lingkungannya dan menentukan solusi permasalahan serta mengaplikasikan solusi. Selain itu hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, pada siklus pertama persentase siswa yang mencapai KKM adalah sebesar 48%. Sedangkan pada siklus dua, persentase siswa yang mencapai KKM adalah sebesar 86%, sehingga sudah mencapai kriteria ketuntasan klasikal yang diharapkan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa model STM dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Untuk itu disarankan pada guru untuk menerapkan model STM pada pembelajaran IPA khususnya pada materi yang berbasis lingkungan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-4 pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang / Dwi Lindasari Saputri

 

ABSTRAK Saputri, Dwi Lindasari. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-4 pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 5 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si, (II) Imam Mukhlis, S.E, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS), motivasi belajar, hasil belajar. Dewasa ini, pendidikan telah mengalami perkembangan yang semakin pesat, serta informasi dan komunikasi juga berkembang setiap saat. Hal tersebut mengakibatkan adanya persaingan yang sangat ketat dalam dunia pendidikan, maka untuk menghadapinya diperlukan kualitas pendidikan yang bermutu dan semakin meningkat. Oleh karena itu, perlu diadakan pembaharuan dalam hal pendidikan. Guna mendukung pembaharuan dalam hal pendidikan tersebut, pihak sekolah, khususnya guru yang secara langsung mengajar siswa, perlu mengadakan kerjasama dan perhatian yang lebih dari pemerintah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah penyempurnaan kurikulum yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh siswa, kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006). Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara langsung di kelas, seperti diskusi kelompok dan diskusi kelas, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap belajarnya seiring dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan mereka. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). Tujuan pembelajaran tersebut adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir,ketrampilan intelektual dan kemampuan bekerjasama, baik dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Selain itu, dengan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS), diharapkan akan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimanakah motivasi belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 5 Malang setelah penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan perilaku konsumen dan perilaku produsen? (2) Bagaimanakah hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 5 Malang setelah penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan perilaku konsumen dan perilaku produsen? Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2008/2009, dengan jumlah siswa 38 orang, yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang terdiri dari dua siklus. Instrumen yang digunakan adalah observasi untuk mengetahui motivasi belajar siswa, serta tes dalam bentuk tes tulis (post test) berupa tes subjektif (uraian terbatas) untuk menilai hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dapat diterapkan pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang pokok bahasan perilaku konsumen dan produsen dalam kegiatan ekonomi. Motivasi belajar siswa pada siklus I dan siklus II, yang diperoleh dengan observasi meningkat 11% (83% pada siklus I meningkat menjadi 94% pada siklus II). Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II juga mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I siswa yang tuntas dalam belajar sebanyak 31 orang (82%) dan yang belum tuntas dalam belajar sebanyak 7 orang (18%), serta pada siklus II siswa yang tuntas dalam belajar adalah seluruh siswa, yaitu 38 orang (100%). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru mata pelajaran ekonomi dapat menggunakan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) pada pokok bahasan manfaat dan nilai suatu barang dan perilaku konsumen dan produsen untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup, dan bagi masing-masing satuan pendidikan dan guru ekonomi khususnya disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dalam melaksanakan proses pembelajaran agar mendapatkan hasil yang maksimal dan berkualitas.

Implementasi Sekolah Menengah Kejuruan bertaraf Internasional (SMK-BI) (Studi kasus di SMK Negeri 1 Singosari - Malang) / Asrilatif Junaedi

 

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tugas meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dengan menghasilkan lulusan profesional dalam bidangnya. Pengembangan sekolah menjadi tanggung jawab bersama. Salah satu usaha dengan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional (SMK-BI). Landasan Perwujudan SMK-BI tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3), juga Peraturan Pemerintah (PP) No 19 Tahun 2005 Pasal 61 ayat(1). Pemerintah melalui Direktorat PSMK sejak tahun 2006 telah merintis 179 SMK-BI yang tersebar di kabupaten/kota. Salah satu rintisan SMK-BI di Malang adalah SMK Negeri I Singosari. Penelitian ini bertujuan mengetahui implementasi SMK-BI berkaitan dengan persiapan, model kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, ketercukupan sarana dan prasarana, peran pimpinan, pendidik dan tenaga kependidikan, kendala dan solusi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Persiapan awal pengembangan SMK-BI adalah menyusun School Development & Invesment Plan (SDIP); 2) Kurikulum yang digunakan KTSP, kompetensi kurikulum juga mengadopsi dari STF Swiss dan Astra; 3) Model pembelajaran menggunakan teknologi informasi komunikasi (TIK); penggunaan bahasa Inggris sudah diterapkan, meskipun belum optimal; kerjasama praktik industri dengan industri luar negeri belum ada; 4) Pemenuhan sarana secara kuantitas belum, namun diantisipasi dengan penggunaan sistem pembelajaran berkeliling; 5) Pimpinan, berperan dalam mengelola kompetensi guru dan memotivasi; Guru lebih ditekankan memiliki kompetensi pedagogik; Tugas tenaga kependidikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi; 6) Kendala terkait dana, untuk mengatasinya mengusahakan mendapat bantuan dari pemerintah; Kendala penggunaan bahasa Inggris dengan mengadakan pelatihan untuk guru dan karyawan, juga penggunaan dalam kegiatan sehari-hari; Kendala dalam menjalin kerjasama dengan industri luar negeri dengan menjalin industri dalam negeri berskala internasional. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar: 1) SMK lebih memprioritaskan kerjasama dengan industri luar negeri yang berskala internasional; Guru dan karyawan lebih meningkatkan keterampilan bahasa Inggris; 2) Dinas Pendidikan terus mengembangkan SMK-BI lain di kota Malang; 3) Program Studi Pendidikan Teknik Mesin agar meningkatkan kemampuan lulusannya; 4) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti implementasi SMK-BI di kota Malang.

Pengaruh financial leverage dan operating leverage terhadap earning per share (EPS) pada Perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEJ) periode 2005-2007 / Kurniawan Hadi Saputra

 

ABSTRAK Saputra, Kurniawan, Hadi. 2009. Pengaruh Financial Leverage dan Operating Leverage terhadap Earning Per Share (EPS) pada Perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 20052007. Skripsi, Program Studi Manajemen Keuangan, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. F. Danardana Murwani, M.M, (II) Fadia Zen, S.E., M.M. Kata kunci: Financial Leverage, Operating Leverage, Earning Per Share (EPS). Dalam melaksanakan kegiatannya, setiap perusahaan memerlukan dana untuk membiayai operasinya. Pendanaan yang dilakukan oleh perusahaan dapat berasal dari modal sendiri (equity) maupun berasal dari hutang, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Besar kecilnya pendanaan perusahaan yang berasal dari hutang merupakan cerminan tingkat leverage dari suatu perusahaan. Tingkat leverage tersebut akan menentukan jumlah besar kecilnya Earning Per Share (EPS) yang akan diterima pada setiap lembar sahamnya, sehingga dapat diketahui kemampulabaan perusahaan dalam menghasilkan laba (earning) tiap lembar sahamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Debt to Equity Ratio (DER), Beban Bunga, Times Interest Earned Ratio (TIER), Degree of Financial Leverage (DFL), Degree of Operating Leverage (DOL) dan Earning Per Share (EPS) pada perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007. Serta untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara Debt to Equity Ratio (DER), Beban Bunga, Times Interest Earned Ratio (TIER), Degree of Financial Leverage (DFL), dan Degree of Operating Leverage (DOL) terhadap Earning Per Share (EPS) pada perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007 baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007 sebanyak 153 perusahaan. Sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 12 perusahaan yang diambil secara purposive sampling yaitu teknik pengambilan jumlah sampel yang tergolong dalam sampel non probabilitas dan pemilihannya dilakukan berdasarkan kriteria tertentu sehingga memenuhi keinginan dan kepentingan peneliti. Sedangkan analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan uji hipotesis. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa secara parsial variabel Debt to Equity Ratio (DER) dan Beban Bunga berpengaruh signifikan terhadap Earning Per Share (EPS). Sedangkan variabel Times Interest Earned Ratio (TIER), Degree of Financial Leverage (DFL), dan Degree of Operating Leverage (DOL) tidak berpengaruh signifikan terhadap Earning Per Share (EPS). Secara simultan variabel Debt to Equity Ratio (DER), Beban Bunga, Times Interest Earned Ratio (TIER), Degree of Financial Leverage (DFL), dan Degree of Operating Leverage (DOL) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Earning Per Share (EPS) pada perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) bagi perusahaan, sebaiknya memperhatikan kondisi Debt to Equity Ratio (DER) dalam pengambilan keputusan pendanaan khususnya yang dibiayai hutang, (2) bagi investor, variabel Debt to Equity Ratio (DER), Beban Bunga, Times Interest Earned Ratio (TIER), Degree of Financial Leverage (DFL) dan Degree of Operating Leverage (DOL) dapat dijadikan pedoman sebelum mengambil keputusan dalam menginvestasikan dananya, (3) bagi kalangan akademis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi, (4) bagi peneliti selanjutnya, agar menambah besar variabel dan sampel sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share pada mata diklat melakukan negoisasi untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas X program keahlian penjualan di SMK Negeri 1 Kademangan Blitar / Agung Eko Saputro

 

ABSTRAK Seputro, Agung Eko. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share pada Mata Diklat Melakukan Negosiasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X Program Keahlian Penjualan di SMK Negeri 1 Kademangan Blitar. Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Tata Niaga, FE. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Hari, M.Si, (II) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model think-pair-share, hasil belajar Fenomena praktek kegiatan pembelajaran Melakukan Negosiasi di SMK Negeri 1 Kademangan Blitar masih didominasi oleh metode konvensional yaitu menggunakan ceramah dan tanya jawab, sehingga siswa mengalami kejenuhan di kelas. Siswa kurang aktif dalam kelas dan kurang memberi kesempatan pada siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, sehingga mengakibatkan aktivitas siswa sangat rendah. Hal ini juga menyebabkan hasil belajar yang diperoleh siswa belum memenuhi Standar Kelulusan Minimum (SKM) secara keseluruhan. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa dapat bekerja sama antar anggota kelompok, saling menyumbangkan pikiran, dan adanya sikap tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran model think-pair-share. Model pembelajaran ini melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka tentang isi pelajaran. Berdasarkan studi pendahuluan diperoleh keterangan bahwa pembelajaran kooperatif model think-pair-share siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran baik secara fisik maupun mental artinya siswa belajar untuk mengontruksi pengetahuan mereka sendiri dan guru hanya sebagai mediator atau fasilitator serta siswa dapat melatih kerjasama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dengan siswa lainnya. Pembelajaran kooperatif model think-pair-share adalah suatu model pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk terlibat dalam berpikir aktif, berdiskusi dengan teman pasangannya dan menyampaikan hasilnya di depan kelas. Langkah-langkah yang harus dilakukan di dalam penelitian ini adalah berpikir (thinking), berpasangan (pair), dan berbagi (share). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model think-pair-share pada mata diklat Melakukan Negosiasi sub bab segmentasi, targeting, positioning, dan klausul jual beli, untuk mengetahui hasil belajar siswa dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif model think-pair-share. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan dalam penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus mempunyai empat tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Penjualan di SMK Negeri 1 Kademangan Blitar yang berjumlah 43 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tulis yang dilaksanakan pada awal dan akhir siklus, lembar observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, tes, dan dokumentasi. Dari analisis data hasil belajar siswa dari aspek kognitif pada siklus I dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 19 siswa (44,19%) dan pada siklus II jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 40 siswa (93,03%). Berdasarkan hasil penelitian, saran utama yang dapat diajukan adalah (1) Dalam penerapan pembelajaran kooperatif model think-pair-share perlu persiapan yang baik sehingga perlu dipertimbangkan kesiapan siswa, sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran dan yang lebih penting lagi adalah kesiapan guru yang akan menerapkan model pembelajaran ini di sekolah. (2) Bagi guru yang ingin menerapkan pembelajaran kooperatif model think-pair-share hendaknya memperhatikan antara lain, (a) Alokasi waktu, (b) Aktivias siswa, dan (c) Tahapan-tahapan dalam pembelajaran.

Laju erosi Sub Daerah aliran sungai ngasinan Pasca kerusakan hutan di Kecamatan bendungan Kabupaten Trenggalek / Septi Juwita Sari

 

Kerusakan hutan yang terjadi di Kecamatan Bendungan merupakan penyebab perubahan nilai laju erosi yang terjadi pada Sub Daerah Aliran Sungai Ngasinan. Proses erosi terus terjadi di daerah ini, sehingga pada waktu tertentu akan menimbulkan lapisan batuan induk terbuka. Material hasil erosi akan terbawa aliran air dan mengendap pada daerah rendah seperti selokan, sungai dan waduk. Endapan di sungai akan memperkecil kapasitas air dan kapasitas tampung sehingga akan menimbulkan bahaya banjir. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh daerah dimana erosi t erjadi (daerah hulu) tetapi juga didaerah yang dilalui aliran sungai (daerah tengah) dan daerah hilir. Selain disebabkan oleh kondisi fisik wilayah juga disebabkan oleh penduduk kurang memperhatikan pengelolaan dan pelestarian hutan. Kecamatan Bendungan memiliki ketinggian 825 m di atas permukaan laut dengan kondisi wilayah merupakan daerah pegunungan dengan topografi kasar dan lereng yang curam lebih dari 15 %. Order tanah termasuk order Entisol dan order Oxisol dengan luas wilayah keseluruhan 9.084 ha. Penelitian ini menggunakan metode survey yang bertujuan menggambarkan keadaan sebagaimana adanya dengan mengumpulkan data yang berkaitan dengan laju erosi dan kerusakan hutan di Kecamatan Bendungan. Objek dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yang didasarkan dari hasil tumpang susun peta yaitu peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan peta penggunaan lahan sehingga diperoleh satuan lahan sebagai objek penelitian. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan persamaan RUSLE untuk memprediksi laju erosi. Data yang diperlukan berupa data primer meliputi struktur, tekstur, bahan organik, kemiringan lereng, panjang lereng dan permeabilitas tanah untuk mencari nilai erodibilitas tanah, sedangkan data sekunder meliputi data curah hujan, peta kemiringan lereng, peta jenis tanah dan peta penggunaan lahan di kecamatan Bendungan. Data tersebut diperoleh dengan observasi lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju erosi yang terjadi di daerah penelitian menyatakan nilai laju erosi tertinggi terjadi pada satuan lahan 3.IV.H yaitu sebesar 971.562,9 ton/ha/th karena memiliki kemiringan lereng 42 %, mempunyai sedikit kandungan bahan organik yaitu 0,4% dan penggunaan lahan yang tidak sesuai d engan kemiringan lereng yaitu 50% padang rumput, 30% ubi kayu, dan 20% pisang, sedangkan nilai laju erosi terendah terjadi pada satuan lahan 2.III.H yaitu sebesar 134.551,8 ton/ha/th karena memiliki kandungan bahan organik yang banyak yaitu 4,17 %, kemirin gan lereng yang tidak terlalu terjal. Faktor utama penyebab erosi adalah perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi ladang dan penebangan kayu untuk bahan bangunan yang tidak bisa dikendalikan. Mengingat tingginya nilai laju erosi, maka sebaiknya tidak memanfaatkan lahan yang memiliki kemiringan lereng yang curam untuk kegiatan pertanian akan tetapi menggunakannya untuk lahan hutan dengan kerapatan tinggi agar nilai laju erosi dapat ditekan. Arahan konservasi yang perlu dilakukan oleh dinas kehutanan ses uai dengan perhitungan peneliti adalah konservasi vegetatif dengan mengubah jenis tanaman, mengubah kerapatan tanaman dan reboisasi.

Pengembangan media permainan ular tangga dalam pembelajaran Bahasa Arab untuk meningkatkan pemerolehan kosakata siswa kelas V MI / Nino Indrianto

 

Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan guru dalam mengelola kelas, terutama kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang bisa menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menarik minat dan mengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran baik secara mandiri ataupun kelompok. Salah satu cara untuk menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran adalah dengan bermain. Oleh karena itu dibutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat menarik minat dan mengaktifkan semua siswa. Diantara media pembelajaran itu adalah media permainan ular tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan pemerolehan kosakata siswa kelas V MI. Pada akhirnya media permainan ular tangga ini layak digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat menunjang pembelajaran bahasa Arab, khususnya untuk meningkatkan pemerolehan kosakata sehingga dapat meningkatkan ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa Arab secara lebih efektif dan efisien. Pengembangan media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan pemerolehan kosakata siswa kelas V MI melalui tahapan berikut (1) analisis kebutuhan, (2) pengembangan produk, (3) uji coba produk, (4) tinjauan ahli media dan ahli materi, (5) uji coba lapangan, (6) revisi, dan (7) hasil produksi. Hasil akhir dari kegiatan pengembangan ini adalah pengembangan media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan pemerolehan kosakata siswa kelas V MI, yaitu berupa seperangkat permainan ular tangga yang terdiri atas (1) papan permaianan, (2) petunjuk pemanfaatan, (3) peraturan permainan, (4) dadu, (5) pion, (6) tempat dadu, (7) kartu bergambar, dan (8) contoh soal evaluasi siswa. Hasil uji kevalidan media permainan ular tangga oleh ahli media sebesar 85% dengan keterangan valid. Data hasil uji kevalidan media permainan ular tangga oleh ahli materi sebesar 81,11% keterangan valid. Sedangkan data hasil uji coba kevalidan media permainan ular tangga pada audiens atau responden sebesar 89,15% keterangan valid. Secara keseluruhan berdasarkan kriteria kelayakan produk, dapat disimpulkan bahwa media permainan ular tangga tersebut masuk dalam kriteria valid sehingga layak digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan pemerolehan kosakata siswa kelas V MI. Berdasarkan hasil perhitungan statistik uji t diperoleh nilai harga t hitung= 3,527 > 2,77 artinya t hitung>t tabel selanjutnya dilakukan penelaahan pada tabel dengan taraf signifikan 99%. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa pengujian hipotesis dengan menerapkan rumus statistik diperoleh hasil Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai akhir dengan nilai awal dalam pembelajaran dengan menggunakan media permainan ular tangga. Jadi penggunaan media permainan ular tangga cukup efektif untuk meningkatkan pemerolehan kosakata siswa kelas V MI. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Arab hendaknya produk media ular tangga yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan dengan menggunakan media permaianan ular tangga dalam pembelajarana Bahasa Arab. Bagi pengembang berikutnya, diharapkan dapat melakukan uji coba dengan subjek yang lebih besar dan waktu pembelajaran yang lebih lama untuk mendapatkan tingkat keefektifan dan efisiensi yang lebih baik.

Perbedaan penerapan strategi pembelajaran troubleshooting dan strategi pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar kompetensi tune up motor bensin siswa kelas III Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Pekerjaan UMUM Malang / Achmad Rachmandar

 

ABSTRAK Rachmandar, Achmad. 2007. Perbedaan Penerapan Strategi Pembelajaran Troubleshooting dan Strategi Pembelajaran Konvensional terhadap Hasil Belajar Kompetensi Tune Up Motor Bensin Siswa Kelas III Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Pekerjaan Umum Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardi Wiyono, S.T., M.Pd, (II) Drs. Andoko, M.T. Kata kunci: strategi pembelajaran troubleshoting, hasil belajar kompetensi tune up Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kompetensi tune up motor bensin antara siswa yang menggunakan strategi pembelajaran troubleshooting dan siswa yang menggunakan strategi pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental, dengan rancangan post-test only with control grup design. Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 3 MO-1 dan 3 MO-2 SMK Pekerjaan Umum Malang sebagai responden. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran troubleshooting (X1) dan pembelajaran konvesional (X2) serta hasil belajar kompetensi tune up motor bensin (Y) sebagai variabel terikatnya. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji-t yang sebelumnya dilakukan pengujian persyaratan analisis, yang meliputi uji normalitas dan uji homoginitas. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman pengetahuan dan kinerja siswa yang menggunakan strategi pembelajaran troubleshooting: 18 (45,00%) siswa memiliki kemampuan sangat baik, 22 (55,00%) siswa memiliki kemampuan baik, dan rerata pemahaman pengetahuan siswa adalah 81,63. Hasil analisis kinerja siswa: 11 (27,50%) siswa memiliki kemampuan sangat baik, 27 (67,50%) siswa memiliki kemampuan baik, 2 (5,00%) siswa memiliki kemampuan cukup, dan rerata 80,04. Sedangkan pemahaman pengetahuan dan kinerja siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional: 1 (2,50 %) siswa memiliki kemampuan sangat baik, 19 (47,50%) siswa memiliki kemampuan baik, 20 (50,00%) siswa memiliki kemampuan cukup, dan rerata pemahaman pengetahuan siswa adalah 67,50. Hasil analisis kinerja siswa: 24 (60,00%) siswa memiliki kemampuan baik, 16 (40,00%) siswa memiliki kemampuan cukup, dan rerata 71,00. Berdasarkan hasil analisis t-tes diperoleh t = 6,136, signifikan pada 0,000 (<0,05), sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang menggunakan strategi pembelajaran troubleshooting dan siswa yang menggunakan strategi pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru pengajar kompetensi tune up motor bensin untuk mengembangkan dan menggunakan strategi pembelajaran troubleshooting, sehingga siswa mampu menguasai kompetensi tune up motor bensin dengan baik. Penggunaan media praktek yang sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran, lebih luas harus dikembangkan secara lebih komprehensif.

Proses mengkonstruksikan pengetahuan pada siswa dalam pembelajaran matematika berdasarkan komunikasi antara guru dan siswa / Rizqi Azizah Rahma

 

ABSTRAK Rahma, Rizqi Azizah. 2008. Proses Mengkonstruksi Pengetahuan pada Siswa dalam Pembelajaran Matematika Berdasarkan Komunikasi antara Guru dan Siswa. Skripsi. Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: ( I ) Dra. Ety Tejo Dwi C, M.Pd., ( II ) Drs. Sudirman, M. Si. Kata kunci : proses konstruksi pengetahuan, komunikasi antara guru dan siswa. Siswa memperoleh pengetahuan selama pembelajaran. Pengetahuan bukanlah barang yang bisa ditransfer begitu saja. Pembentukan pengetahuan terjadi melalui proses penginterpretasian dan pengkonstruksian oleh siswa melalui pengalamannya. Pada saat mengkonstruksi pengetahuan selalu terbentuk struktur pengetahuan melalui proses asimilasi atau akomodasi. Dalam pembelajaran juga terjadi komunikasi antara guru dan siswa. Guru harus pandai dalam berkominikasi agar ide, konsep, atau pengetahuan lain dapat diterima dan dipahami oleh siswa. Sering terjadi kegagalan dalam pembelajaran karena lemahnya komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran dan konstruksi pengetahuan yang terjadi pada siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititif karena datanya dinyatakan dalam bentuk verbal dan peneliti sebagai instrumen utama. Ada empat subjek yang digunakan yaitu S1 (siswa dengan kemampuan tinggi), S2 dan S3 (siswa dengan kemampuan sedang), serta S4 (siswa dengan kemampuan rendah). Sebelum pembelajaran logaritma, semua subjek diwawancarai untuk mengetahui pengetahuan awal mereka. Selanjutnya setiap kali selesai pembelajaran, subjek diwawancarai lagi untuk mengetahui apa yang dipahami siswa selama pembelajaran. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa komunikasi yang diterapkan guru selama pembelajaran adalah komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi yang dominan selama pembelajaran adalah komunikasi satu arah. Selama pembelajaran S1 mengkonstruksi semua pengetahuan yang diajarkan melalui asimilasi. S2 mengkonstruksi secara langsung semua pengetahuan kecuali sifat yang dikonstruksi melalui akomodasi dan sifat tidak dapat dikonstruksi oleh S2. S3 dapat mengkonstruksi melalui asimilasi semua pengetahuan kecuali sifat yang tidak dapat dikonstruksi. Sedangkan S4 tidak dapat mengkonstruksi syarat-syarat pada definisi logaritma, hubungan logaritma dengan perpangkatan, sifat dan , serta rumus untuk menentukan penyelesaian persamaan logaritma. Selain pengetahuan itu, S4 dapat mengkonstruksinya melalui asimilasi. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar dalam pembelajaran guru tidak hanya menerapkan komunikasi satu arah saja tetapi juga komunikasi dua arah dan multi arah, agar siswa bisa lebih berperan aktif dalam pembelajaran dan guru dapat mengetahui kesalahan konsep yang terjadi pada siswa.

Perbedaan hasil belajar dan aktivitas belajar fisika antara siswa yang diajar fisika dengan peta konsep dan siswa yang diajar fisika tanpa peta konsep kelas VII SMP 4 Malang / Dadang Prabowo

 

ABSTRAK Prabowo, Dadang. 2008. Perbedaan Hasil Belajar dan Aktivitas Belajar Fisika Antara Siswa yang Diajar Fisika dengan Peta Konsep dan Siswa yang Diajar Fisika Tanpa Peta Konsep Kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Subani. (2) Drs. Sirwadji Kata kunci : Peta konsep, Hasil belajar, Aktivitas belajar Mata pelajaran fisika merupakan salah satu pelajaran yang paling tidak disukai siswa. Berdasarkan hasil ulangan siswa pada pokok bahasan Besaran Satuan dan Massa Jenis, nilai rata-rata hasil belajar fisika yang dicapai siswa masih berada di bawah nilai rata-rata yang ditetapkan sekolah yaitu 7.25. Hal tersebut mengindikasikan, bahwa hasil belajar fisika siswa masih rendah. Dampak paling serius yang ditimbulkan yaitu penguasaan siswa terhadap suatu konsep fisika juga rendah. Selain itu, dari hasil pengamatan langsung yang dilakukan peneliti didapat aktivitas belajar fisika siswa rendah. Hal itu ditunjukkan pada saat siswa diberi kesempatan bertanya, siswa justru diam dan kurang antusias. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan suatu strategi belajar dengan menggunakan peta konsep. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain The Post-tes Only Control Group Design, yaitu hanya memberikan post-test di akhir perlakuan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 4 Malang. Sedangkan, sampel dalam penelitian ini adalah kelas 7C sebagai kelompok eksperimen dan kelas 7D sebagai kelompok pembanding. Kedua sampel tersebut dipilih secara acak dengan cara mengundi. Kelompok eksperimen diajar fisika dengan peta konsep dan kelompok pembanding diajar fisika tanpa peta konsep. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen tes hasil belajar yang berupa soal pilihan ganda, lembar observasi aktivitas siswa, dan angket penilaian siswa terhadap pembelajaran fisika dengan peta konsep. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar dengan menggunakan uji t, diperoleh hasil belajar fisika siswa kelompok eksperimen lebih baik daripada hasil belajar kelompok pembanding. Sedangkan aktivitas belajar siswa kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok pembanding. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar. Penyebaran angket juga diperoleh sebagian besar siswa berpenilaian baik terhadap pembelajaran fisika dengan peta konsep. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran fisika dengan peta konsep, hasil belajar fisika siswa menjadi lebih baik.

Daya antibakteri beberapa macan madu terhadap echerichia coli dan staphylococcus aureus / Ririn Munica

 

ABSTRAK Munica, Ririn. 2008. Daya Antibakteri Beberapa Macam Madu terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si. Kata kunci: anti bakteri, macam madu, E. coli, S. aureus Madu adalah pemanis tertua yang pertama kali dikenal dan digunakan oleh manusia jauh sebelum mengenal gula. Madu berasal dari saripati bunga (nektar) yang dikumpulkan oleh lebah. Nektar ini kemudian diolah menjadi madu dalam kelenjar lebah pekerja. Madu memiliki kadar gula yang tinggi. Kadar gula yang tinggi ini mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Madu juga bersifat asam sehingga bakteri patogen tidak dapat bertahan hidup. Beberapa madu dinamai sesuai dengan sumber utama pakan lebahnya. Contohnya, lebah yang hidup di perkebunan randu akan menghasilkan madu yang dinamai madu randu, lebah yang hidup di daerah yang banyak tanaman mangga akan menghasilkan madu yang dinamai madu mangga. Adapula madu yang dinamai berdasarkan daerah asal madu, misalnya madu putih Sumbawa untuk madu yang berasal dari Sumbawa dan madu murni lokal untuk madu yang diternakkan di wilayah setempat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2008 di laboratorium Mikrobilogi, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa macam madu terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Macam madu yang dipergunakan sebanyak empat macam, yaitu madu murni lokal, madu mangga, madu putih, dan madu randu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengukuran daya antibakteri dilakukan berdasarkan daya hambat madu murni lokal, madu putih dari Sumbawa, madu mangga, dan madu randu terhadap pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat macam madu berpengaruh terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini terdapat perbedaan pengaruh keempat macam madu terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia coli, yaitu madu murni lokal memiliki pengaruh (rerata diameter zona hambat) paling tinggi dan juga terdapat perbedaan pengaruh keempat macam madu terhadap penghambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus, tetapi tidak berbeda nyata satu sama lain. ii KATA PENGANTAR Alhamdulillaah atas segala kenikamatanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Daya Antibakteri Beberapa Macam Madu terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program sarjana Biologi di Universitas Negeri Malang. Shalawat salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad beserta pengikut dan penerus perjuangannya yang istiqomah hingga akhir zaman. Serangkaian kegiatan penelitian dan penyusunan skripsi ini dapat terlaksana dengan baik atas kerja sama dari semua pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd selaku pembimbing I, atas pengarahan dalam pengambilan data, masukan, saran, dan pembimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 2. Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si selaku pembimbing II, atas masukan, saran, dan bimbingan selama berlangsungnya penyusunan skripsi ini. 3. Dr. Endang Suarsini, M.Ked selaku penguji, atas masukan dan saran selama ujian dan penyusunan revisi skripsi ini. 4. Segenap dosen jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang atas segala ilmu yang diberikan selama masa studi penulis. 5. Bapak Hariyono, Ibu Mujiati, dan Mbok Mutini atas dukungan dan kerja kerasnya membiayai studi penulis selama kuliah. 6. “Ayah” Dedy Kurniawan, atas doa, dukungan, dan semua usaha yang dikerahkan demi membantu kelancaran penulis menyelesaikan skripsi ini.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda Motor Honda (Study rehadap perilaku konsumen sepeda Motor Honda di lingkungan Combong Kecamatan Garum Kabupaten Blitar) / Aris Wijayana

 

Atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dianggap penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian (Tjiptono, 2002:103). Dunia transportasi darat saat ini mencapai kemajuan yang sangat mengagumkan. Hal ini terbukti dengan terciptanya berbagai produk seperti kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat, dan lain-lain yang merupakan hasil dari teknologi yang semakin lama semakin sempurna. Salah satu dari alat transportasi roda dua tersebut yang hampir semua kalangan punya adalah produk sepeda motor, terutama produk sepeda motor Honda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui hubungan antara atribut produk (merek, mutu, harga dan jaminan) secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor “Honda” di Lingkungan Combong. (2) Untuk mengetahui hubungan antara atribut produk (merek, mutu, harga dan jaminan) secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor “Honda” di Lingkungan Combong. (3) Untuk mengetahui atribut produk yang berpengaruh dominan terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor “Honda” di Lingkungan Combong. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), dimana variabel bebasnya yaitu Atribut Produk (X) yang meliputi: (Merek(X1), Mutu (X2), Harga (X3) dan Jaminan(X4)) Sedangkan variabel terikatnya adalah Keputusan pembelian . Penelitian ini merupakan penelitian jenis rancangan deskriptif korelasional. Populasi yang tercakup dalam penelitian ini meliputi konsumen yang telah membeli motor merek Honda di Lingkungan Combong Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi tak terhingga, dengan pengambilan sampel adalah 113,096704 yang dibulatkan menjadi 115. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental sampling. Sedangkan metode pengumpulan data yang digunanakan adalah kuesioner. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) Terdapat pengaruh positif signifikan antara atribut produk (merek, mutu, harga dan jaminan) secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor “Honda”. (2) Terdapat pengaruh positif signifikan antara atribut produk (merek, mutu, harga dan jaminan) secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor “Honda”. (3) Harga (X3) merupakan sub variabel yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan pengamatan yang diperolah selama penelitian adalah (1) Kondisi atribut produk hendaknya dapat digunakan PT Astra Honda Motor sebagai bahan pertimbangan guna terus menjaga serta meningkatkan kualitas produknya sehingga dapat meningkatkan keputusan pembelian konsumen. (2) Hendaknya PT Astra Honda Motor terus berupaya meningkatkan kualitas produknya dengan selalu memperhatikan perilaku konsumen, sehingga kualitas produknya tetap dipercaya oleh masyarakat dan tidak akan tersaingi oleh produk perusahaan motor lain. (3) Peneliti berikutnya yang ingin meneliti lebih jauh tentang atribut produk dan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen, hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini, sehingga hasilnya bisa lebih baik.

Pengaruh struktur kemilikan saham terhadap kebijakan hutang pada Perusahaan Properti dan REal Estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2004-2006 / Rizaniyah

 

ABSTRAK Rizaniyah. 2009. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2004-2006. Skripsi Jurusan Manajemen Progam Studi S1 Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Ely Siswanto, S. Sos., M.M (2) Fadia Zen, S.E., M.M. Kata Kunci : Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Menyebar, dan Kebijakan Hutang. Keputusan dalam menentukan kebijakan hutang sangatlah penting bagi suatu perusahaan. Dengan penggunaan hutang, perusahaan dapat memperoleh keuntungan penghematan pajak, namun di lain pihak juga dapat menimbulkan risiko ketidakmampuan aliran kas perusahaan untuk memenuhi kewajibannya sehingga menimbulkan kesulitan keuangan. Oleh karena itu, perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan hutangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham (kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, serta kepemilikan menyebar) terhadap kebijakan hutang perusahaan properti dan real estate yang listing di BEI periode 2004-2006. Penelitian ini berupa penelitian asosiatif. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan properti dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2004-2006. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Diperoleh sampel penelitian sebanyak 12 perusahaan yang memenuhi persyaratan. Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua variabel bebas yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, serta kepemilikan menyebar berpengaruh terhadap kebijakan hutang perusahaan properti dan real estate. Variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan hutang perusahaan. Sedangkan variabel kepemilikan menyebar berpengaruh secara tidak signifikan terhadap kebijakan hutang perusahaan. Variabel bebas yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, serta kepemilikan menyebar mempunyai kemampuan untuk menjelaskan perubahan variabel terikat yaitu kebijakan hutang yang masih rendah jika dibandingkan dengan peneliti yang telah dilakukan oleh Ismiyanti dan Hanafi (2003), hal ini dikarenakan sebagian besar perubahan variabel terikat dijelaskan oleh variabel-variabel diluar penelitian. Mengingat kebijakan hutang perusahaan merupakan keputusan penting dalam suatu perusahaan untuk dapat meningkatkan nilainya, disarankan bagi pemilik perusahaan dan pihak manajemen harus dapat mempertimbangkan dengan tepat mengenai variabel-variabel yang mempengaruhinya, agar perusahaan tidak mengalami risiko keuangan yang besar. Begitu juga dengan para investor harus dapat memutuskan keputusan investasi apa yang akan dipilih dengan mengamati 7 kebijakan hutangnya agar memperoleh keuntungan yang maksimal. Serta kreditur juga harus memperhatikan bagaimana perusahaan dapat mengembalikan hutangnya pada saat jatuh tempo dan kesanggupan membayar bunga pinjaman tiap periode yang telah ditentukan, dapat diketahui dari kemampuan perusahaaan dalam menghasilkan laba dan efektifitas laba yang dihasilkan. Dan juga berasal dari ukuran perusahaan tersebut.

Penerapan model pembelajaran assesment portfolio pada mata diklat menghasilkan dokumen sederhana untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI APK SMK PGRI 2 Malang / Triesninda Pahlevi

 

ABSTRAK Pahlevi, Triesninda. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Assesment Portfolio pada Mata Diklat Menghasilkan Dokumen Sederhana untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI APK SMK PGRI 2 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Gatot Isnani, M.Si, (2) Drs. I. Nyoman Suputra, M.Si. Kata Kunci: Model pembelajaran assesment portfolio, Prestasi belajar Perubahan di era Reformasi yang menuntut manusia untuk lebih maju dalam berbagai bidang terutama ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Dewasa ini pemerintah telah melakukan perbaikan mutu pendidikan di Indonesia melalui pembaharuan sistem pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dapat ditempuh dengan berbagai cara, antara lain: peningkatan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan kualitas penilaian hasil belajar siswa, serta penyediaan sarana belajar dan bahan ajar yang memadai. Salah satu peningkatan kualitas pendidikan adalah peningkatan kualitas penilaian hasil belajar siswa. Peningkatan kualitas penilaian hasil belajar siswa dapat ditempuh melalui Penilaian Berbasis Kelas (PBK). PBK dilakukan dengan cara mengumpulkan bukti kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pencil test). Model pembelajaran assesment portfolio merupakan evaluasi secara menyeluruh dalam proses pembelajaran dengan mendokumentasikan hasil kerja peserta didik pada suatu file yang sudah ditetapkan oleh guru. Di dalam penerapan model pembelajaran assesment portfolio guru bertindak sebagai fasilitator dan siswa diberikan keleluasaan untuk memilih sumber belajarnya sendiri sesuai dengan landasan untuk menyusun (contructifism) yang terjadi di dalam dunia nyata sehingga siswa memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam pekerjaan atau tugas-tugasnya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi (pengamatan), interview (wawancara), catatan lapangan, studi dokumenter, dan tes. Sedangkan analisis datanya menggunakan analisis model alir yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI APK SMK PGRI 2 Malang yang berjumlah 42 siswa. Mata diklat yang digunakan pada penelitian ini adalah Menghasilkan Dokumen Sederhana untuk kelas XI Administrasi Perkantoran semester I tahun pelajaran 2008/2009, yaitu terfokus pada kompetensi dasar ”Menghasilkan Dokumen Sederhana”. Untuk mengetahui aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran assesment portfolio maka dilakukan observasi dengan menggunakan instrumen lembar pengamatan. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ditinjau dari aspek kognitif, yang dilakukan perhitungan nilai pre-test dan post-test kedua Siklus, serta aspek afektif yang dilakukan melalui lembar pengamatan aktivitas siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran assesment portfolio dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari keaktifan belajar siswa dalam penilaian portofolio. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai tes setelah tindakan (post-test) pada Siklus II yang meningkat menjadi 81,27 dengan nilai terendah sebesar 60 dan nilai tertinggi sebesar 100. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran setelah tindakan pada Siklus II sebanyak 38 siswa (92,68%) dan tidak tuntas sebanyak 3 siswa (7,32%). Jika dibandingkan dengan rata-rata nilai tes sebelum tindakan (pre-test) pada Siklus II yang hanya mencapai 68,59 dengan nilai terendah sebesar 45 dan nilai tertinggi sebesar 80. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran sebelum tindakan pada Siklus II hanya sebanyak 17 siswa (43,59%) dan tidak tuntas mencapai 22 siswa (66,41%). Artinya terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum dan sesudah pemberian tindakan pada Siklus II sebesar 49,09%. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Guru harus pandai mengalokasikan waktu yang dipergunakan untuk menghasilkan satu macam dokumen portofolio sehingga alokasi waktu tepat sesuai dengan sasaran. (2) Guru hendaknya memiliki ketekunan, kesabaran dan keterampilan karena guru harus bisa mengarahkan siswa dalam menyusun portofolionya sehingga menghasilkan portofolio yang baik dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. (3) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya dapat menyusun perencanaan dan persiapan yang lebih matang untuk menerapkan model pembelajaran assesment portfolio sehingga tujuan dalam penerapan model pembelajaran assesment portfolio dapat tercapai. (4) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya metode pembelajaran yang dipergunakan tidak hanya metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Metode pembelajaran dapat ditambahkan dengan metode yang lain yang lebih menyenangkan agar siswa tidak bosan selama proses belajar mengajar. Misalnya dengan menambahkan metode inquiri sehingga siswa akan lebih aktif dan berani dalam mengemukakan suatu pendapat.

Peranan warung bisu sebagai instrumen pengujian moralitas mahasiswa Universitas Negeri Malang / Nurul Muidah

 

Kreativitas siswa kelas XII SMA Negeri 5 Malang dalam memecahkan masalah trigonometri / Ratna Jamilatul Luthfiyah

 

ABSTRAK Luthfiyah, Ratna Jamilatul. 2008. Kraetivitas Siswa Kelas XII SMA Negeri 5 Malang Dalam Memecahkan Masalah Trigonometri. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd ; Pembimbing (II) Indriati Nurul Hidayah S.Pd, M.Si Kata kunci: Kreativitas, Pemecahan masalah, trigonometri Salah satu materi dalam matematika yang banyak diaplikasikan dalam dunia nyata adalah materi trigonometri. Trigonometri dapat diaplikasikan pada bidang astronomi, pelayaran, artsitektur dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang dalam menyelesaikan masalah trigonometri, diketahui bahwa dalam memecahkan suatu masalah matematika selain dibutuhkan penguasaan konsep dan strategi yang baik diperlukan juga kreativitas. Suatu kreativitas dari siswa akan mendorong banyak gagasan atau ide-ide yang dapat digunakan untuk menemukan solusi dari suatu masalah. Kreativitas siswa dalam memecahkan masalah trigonometri dapat ditumbuhkan jika siswa sering dihadapkan pada masalah trigonometri yang berbeda beda, yang menantang dan bukan hanya sekedar menerapkan prosedur rutin dari konsep yang sudah ada. Selain itu kreativitas siswa juga dapat dikembangkan dengan cara meminta siswa untuk mencari cara lain, selain cara yang telah digunakan oleh siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan subyek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 3 SMAN 5 Malang menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kreativitas siswa dalam memecahkan masalah trigonometri. Data yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari hasil tes tertulis siswa dan juga observasi. Berdasarkan hasil tes tertulis, siswa kelas XII IPA 3 memiliki persentase kreativitas siswa dalam memecahkan masalah trigonometri antara 23% - 53%. Siswa yang memiliki tingkat kreativitas siswa dalam memecahkan masalah trigonometri dengan tingkatan sedang yaitu pada persentase 31% - 70% sebanyak 26 siswa atau sebesar 83% dari 30 siswa yang mengikuti tes. Sedangkan siswa yang memiliki kreativitas dalam memecahkan trigonometri dengan tingkatan rendah yaitu pada persentase 0% - 30% sebanyak 4 siswa atau sebesar 13% dari 30 siswa yang mengikuti tes. Tidak ada satu siswa pun yang memiliki kreativitas dengan kriteria tinggi. Kreativitas siswa dalam memecahkan masalah trigonometri dalam penelitian ini hanya dilihat dari hasil pekerjaan siswa dalam mengerjakan soal-soal yang telah ditentukan berdasarkan pada petunjuk pengerjaan soal. Pada penelitian selanjutnya diharapkan peneliti lain dapat mengembangkan penelitian yang serupa namun pengumpulan datanya tidak hanya sampai pada tes tertulis tetapi juga sampai pada wawancara proses berfikir kreatif siswa.

Pemanfaatan komputer multimedia beserta hambatan-hambatan yang di timbulkan pada mata diklat menghasilkan dokumen sederhana (Studi pada siswa kasus XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Turen) / Arie Aditya

 

Penggunaan komputer sangatlah penting dalam dunia usaha. Penerapan dan penggunaan teknologi komputer juga di transformasikan ke dalam dunia pendidikan yang diharapkan menghasilkan keluaran atau output yang siap bersaing dan mengisi suatu pekerjaan di bidang usaha maupun kantor. Diharapkan keluaran dari lembaga pendidikan khususnya SMK tersebut mempunyai dan dibekali pengetahuan serta ketrampilan dibidang yang ditekuninya masing – masing. Sehingga nantinya siswa yang dihasilkan dari SMK ini dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab di tempat kerjanya dengan penuh semangat dan tidak mengalami kendala. Penggunaan media pembelajaran khususnya dengan menggunakan komputer memberikan daya tarik tersendiri dalam proses pembelajaran di kelas. Suasana di kelas berbeda dengan pembelajaran yang tidak menggunakan media pembelajaran. Rasa keingintahuan siswa menjadi lebih meningkat dengan penggunaan media pembelajaran komputer multimedia yang diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas oleh guru mata diklat menghasilkan dokumen sederhana. Selain menerima dan memahami materi yang diajarkan oleh guru penggunaan komputer multimedia bagi siswa juga merasa terhibur dengan fitur – fitur yang menjadi komponen di dalam komputer multimedia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan dan hambatan yang ditimbulkan dalam penggunaan komputer multimedia dalam proses kegiatan belajar mengajar pada mata diklat menghasilkan dokumen sederhana ( MDS ). Laboratorium kelas Apk di SMK Negeri 1 Turen merupakan sebagai tempat untuk pembelajaran menggunakan komputer multimedia pada mata diklat menghasilkan dokumen sederhana.. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di labotorium Apk tersebut. Untuk mengetahui aplikasi penggunaan komputer multimedia sebagai akibat dalam proses pembelajaran pada mata diklat menghasilkan dokumen sederhana, penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana pemanfaatan media komputer dalam menunjang proses pembelajaran bagi siswa?, (2) Bagaimana interaksi Guru dan Siswa di kelas dalam pemakaian media komputer dalam menunjang proses pembelajaran?, (3) Bagaimana kesulitan atau hambatan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media komputer ? , (4) Bagaimana usaha – usaha atau solusi yang ditempuh dalam mengatasi kesulitan atau hambatan – hambatan dalam proses pembelajaran menggunakan media komputer?. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif serta dilaksanakan di SMK Negeri 1 Turen program studi adiministrasi perkantoran dalam mata diklat menghasilkan dokumen sederhana. Penelitian ini dilakukan di 2 ( dua ) kelas Apk yang terdapat di SMK Negeri 1 Turen, yaitu kelas XI Apk 1 dan XI Apk 2. metode yang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Selain itu untuk melengkapi data, pada penelitian ini juga menggunakan angket sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Hasil penelitian yang dilakukan di kelas XI Apk ditemukan dari data angket bahwa :1) pemanfaatan komputer multimedia dalam mata diklat menghasilkan dokumen sederhana ini yang diteliti mengenai dua aspek yang dianggap penting, yaitu : a) pemanfaatan komputer dilihat dari dampak psikologi yang ditimbulkan bahwa sebagian besar siswa 67,47 % setuju mengatakan bahwa secara psikologi penggunaan komputer bagi siswa memberikan semangat dan menyenangkan atau tidak membosankan dalam proses pembelajaran MDS serta dapat menimbulkan daya tarik dan motivasi belajar pada diri siswa. Sedangakan aspek yang kedua adalah mengenai dampak secara langsung yang ditimbulkan dalam penggunaan komputer multimedia saat kegiatan belajar mengajar berlangsung adalah, b) sebagian besar siswa 73,49 % setuju mengatakan bahwa secara langsung manfaat penggunaan komputer memungkinkan siswa belajar mandiri dan kreatif, memberikan kemudahan pemahaman materi pelajaran, menyelesaikan tugas – tugas dengan cepat dan dapat di aplikasikan pada kegiatan sehari – hari pada khususnya. (2) sebagian besar siswa 69,88 % setuju mengatakan bahwa guru merupakan prioritas bertanya jika siswa mengalami kesulitan dalam penggunaan komputer, dan siswa menyukai materi praktek yang diberikan guru dari pada pemberian teori. (3) sebagian besar siswa 74,70 % setuju mengatakan bahwa secara langsung proses pembelajaran sedikit terganggu dengan adanya salah satu komputer mengalami kerusakan, pembagian waktu yang tidak proposional menyebabkan kurang ketrampilan yang dimilki siswa tersebut. (4) Hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan secara garis besar usaha yang dilakukan oleh guru mata diklat untuk menciptakan keberhasilan siswa – siswanya dan menyelesaikan masalah yang paling utama, yaitu : 1) guru mata diklat memberikan kesempatan dan mempersilahkan siswa – siswa yang kurang mengerti materi yang di ajarkan menanyakan langsung kepada guru pengajar;2 ) di sekolah juga telah disediakan ahli komputer untuk menangani jika ada komputer yang rusak maupun yang heng atau restart sendiri; 3) guru memberikan buku pegangan mengenai materi pembelajaran menghasilkan dokumen sederhana ( MDS ) kepada masing – masing siswa agar siswa tersebut dapat memahami materi yang akan diajarkan; 4) siswa mendapatkan penjelasan materi yang sama untuk keseragaman memperoleh kemampuan menyelesiakan tugas yang diberikan oleh guru. Saran yang diperkirakan dapat meningkatkan pemanfaatan media komputer dalam kegiatan belajar mengajar. Saran yang diajukan tersebut adalah : (1) Kepala sekolah diharapkan untuk dapat memberikan fasilitas sarana dan prasaranan komputer yang baik dan memperbaiki komputer yang mengalami kerusakan secara berkala sehingga siswa dapat belajar secara optimal yang nantinya pembelajaran yang diinginkan dapat turwujud; (2) bagi guru pemberian materi sangatlah penting sebagai pemahaman siswa sebelum mengerjakan tugas – tugas yang akan diberikan; (3) Siswa diharapkan mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam mata diklat menghasilkan dokumen sederhana ( MDS ) secara serius sehingga nantinya siswa mengerti dan memahami serta mampu menerapkan materi yang diajarkan; (4) Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian ini secara lebih rinci dan dapat meneliti data – data yang sekiranya belum diteliti dalam penelitian ini sehingga memperoleh data – data yang lebih lengkap.

Tarqiyatu maharatil kitabah bistikhda:MI derby writing fil Madrasah Al-Mutawasithah Al-Aslamiyah Nurul Huda Malang / Siti Zubaidah

 

Berdasarkan angket yang telah disebarkan di siswa MTs Nurul Huda, diketahui bahwa mereka merasa kesulitan dalam kitabah karena merasa takut salah dan sulit mengungkapkan ide-ide mereka secara tertulis sehingga mereka hanya mampu menulis sedikit kalimat, oleh karena itu penulis menawarkan solusi untuk mengatasinya dengan menerapkan derby writing. Artikel penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan derby writing dalam pembelajaran kitabah di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Malang, (2) kemampuan menulis siswa sebelum menggunakan derby writing, (3) kemampuan siswa setelah menggunakan derby writing, (4) dan efektifitas penggunaan derby writing dalam pembelajaran kitabah. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII MTs Nurul Huda. Hasil penelitian dalam artikel ini menunjukkan bahwa (1) penerapan derby writing sesuai dengan RPP yang telah disusun, (2) kemampuan siswa sebelum menggunakan derby writing masih kurang, tidak ada siswa yang dapat memenuhi standar dalam menulis, (3) kemampuan siswa meningkat dalam menulis, hanya satu siswa yang belum bisa memenuhi kompetensi dasar, (4) pembelajaran dengan derby writing merupakan pembelajaran yang efektif karena mampu mengatasi kesulitan siswa dalam menulis dan mampu mewujudkan pembelajaran yang kondusif

Pengaruh komunikasi penugasan dan karakteristik individu terhadap efektivitas kerja pegawai (studi pada Kantor Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Malang) / Angela Sitaresmi

 

Manusia merupakan sumberdaya terpenting dalam proses administrasi dan penggerak utama dalam lembaga. Sehubungan dengan hal itu tentunya diperlukan pegawaiy ang berkualitasd alam pengelolaannya"A. danya pegawaiy ang berkualitas yaitu pegawai yang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan efektif, efisien dan bertanggungjawaba tast ugasy ang diberikan atasan,m aka tujuan lembagaa kan dapat tercapai sesuai dengan yang telah ditentukan. Dalam lembaga atau organisasi, komunikasi memegang peran penting. Proses kerjasamat idak akan berjalan lancar jika komunikasi penugasany ang berlangsung mengalami hambatan atau macet. Penelitian ini diadakan pada Kantor Balai Taman Nasional Bromo Tengger SemeruM alang.T ujuanp enelitiani ni adalahu ntuk memberikang ambarante ntangl ) kondisi komunikasip enugasanp ada Kantor Balai TamanN asionalB romo Tengger SemeruM alang,2) kondisik arakteristikin dividu padaK antor Balai TamanN asional Bromo Tengger Semeru Malang, 3) Pengaruh Komunikasi penugasan dan karakteristik individu terhadap efektivitas kerja pegawai pada Kantor Balai Taman NasionaBl romoT enggerS emeruM alang. Populasi dalam penelitian ini yaitu berjumlah 105 pe{4wai, sample yang diambil berjumlah 38 pegawai. Analisis data menggunakand ua metodea nalisisd ata,y aitu analisisp rosentase dana nalisisr egresil inearb ergandaA. nalisisp rosentasdei gunakanu ntuk mengetahui tingkat variable komunikasi penugasan dan variable efektivitas kerja pegawai. Sedangkaann alisisr egresil inearb ergandad igunakanu ntuk mengetahuai dat idaknya pengaruhk omunikaspi enugasand ank arakteristiki ndividu terhadape fektivitask erja pegawai. Dengan perhititungan tersebut, maka hipotesis alternatif yang berbunyi terdapat pengaruh komunikasi penugasan terhadap efektivitas kerja pegawai pada KantorB alai TamanN asionalB romo TenggcrS emeruM alang dinyatakand iterima, haliniditunjukkandengansignifikansinilaitsebesar0,016<0,S0e5d. angkanuntuk hipotesis alternatif yang berbunyi terdapat pengaruh yang signifikan antara karakteristik individu terhadap efektivitas kerja pegawai pada Kantor Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Malang dinyatakan tidak diterima, hal ini ditunjukkano leh signifrkansin ilai t 0,87 > 0,05. Untuk pengaruhs ecaras imulatan komunikasip enugasand an karakteristik individu terhadape fektivitas keqa pegawai padaK antorB alai TarnanN asionalB romoT enggerS emeruM alangd inyatakanti dak berpenganrhN. ilai korelasi (r') komunikasi penugasante rhadape fektivitask erja pegawaia dalah 0,1552, ini berarti variable komunikasi ponugasanm enjelaskan variablee fektivitask erja pegawais ebesa1r 5,5%d an sisanya8 4,5%d ipengaruhoi leh variablela in diluar penelitiani ni. Saran yang dapat disumbangkand alam penelitian ini adalah: l) Dalam instansis ebaiknyak omunikasip enugasana ntaraa tasand an bawahanb erjalanb ai. Maksudnyaa tasanh arusm en:.perhatikanu nsure-unsudr ari tugasi tu, kemampuand an factor-faktolra in yang mendoronga tau menghambapt enyelesaiatnu gas,2 ) Kondisi efektivitas kerja pegawai Kantor Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Malang sudah baik, sebaiknya kondisi ini dapat terus dipertahankan oleh pegawai dengan peran s€rta manajemen yang baik dari atasan demi tercapainya tujuan orsanisasi.

Pengaruh komunikasi internal organisasi terhadap prestasi kerja pegawai administrasi Universitas Negeri Malang / Eka Dyah Novi Suwanti

 

Komunikasi merupakan salah satu unsur yang penting dalarn kehidupan organisasi. Kemudian organisasi yang diatur dan diselenggaraka dergan efektit akan endorong semangat kerja bagl bawahan dan dapat meningkattan kepuasan pekerja selanjutnya ukao -ettdor*g seseorang untuk meningkatkan prestasinya dalam rangkap engembangank arirnya. Rumusanmasalahpenelitianiniadalah:(l)bagaimanakahproses komunikasi imternal organisasi pada Pegawai Administrasi Universitas Negen Malang, (2) bagaimanakahti ngkat prestasi ker.la pada Pepwai Admimstrasi Univeilitas-Negirl Vdang dan (3) adakah pengaruh antara komunikasi internal organisasi tertraoap preGsi kerja Pegawai Administr-asi Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (l) mendeskripsikan proses komunikasi internal organisasi pada Pegawai Administrasi Universitas Negeri Malang, (2) mendeskripsikan tingkat prestasi kerja Pegawai Administrasi Univeiitas Negen Malang dan (3) mengetahui pengamh antara komunikasi internal organisasi terhadap prestasi keqia Pegawai Administrasi Universitas Negeri Malang Manfaat hasil penelitian ini khususnya bagr Pegawai Bagtan Administrasi Universitas Negeri Malang adalah urruk dijadikan bahan masukan dalarn rangka membina dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas keqa pegawai agar prestasi kerja dapat dikembangkan. -Ieknik yang digunakan dalam penelitianin i, pengumpuland ata dengana ngket,w awancarad, an dokurnentasi. Sedangkapne ngambilans ampeld idasarkanp adam etodes ampelr andom. Hasil penghitungand ari penelitian diperoleh dengan menggunakan2 metodea nalisisd atay aitu analisisp rosentased an analisisr egresil inier hergatda. Analisi prosentase digunakan untuk mengetalrui tingkat variabel kornunikasi intemal organisasid an variabel prestasik erja sedangkana nalisis regresi linicr herganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengarufi antara komunikasi internal organisasi terhadap prestasi kerja. Dari hasil pengelolaan data yang dif akukand enganb antuanS PSS1 0.0I ;or Ll/'indrmslle lqse,m enggunakanm etode regresib ergandad iperolehh asil bahwav ariabelb ebasy aitu komunikasiin temal organsasmi empunyapi engaruhy ang signifikant erhadapv ariabelt erikat yaitu prestasik erja sebesa7r 8,17o.S ecarap arsiald iperolehh asil bahrvaa ntarav ariabel bebas dan variabel terikat mempunyai hubungan yang erat sebesar 0.884. Hasil analisis statistik ini juga menunjukkan bahrva komunikasi intemal organlsasl mernpunyaki ontribusid ominant erhadapp restasik erja. Dari penghitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasr intemal organisasi mempunyai pengaruh yang sigpifikan terhadap prestasi kerja pegawai. Saran yang dapat penulis sumbangkan dalam penelitian ini adalah pimpinan dan pepwai di bagian Administrasi Universitas Negeri Malang harusnya tetap menjalankan komunikasi intemal organisasi dengan sebaikbaiknya sebab komunikasi internal organisasi sangat penting dalam kehidupan organisasiD. i mana salah satu usaham enciptakani klim organisasyi ang efektif adalah terletak pada bagaimana proses komunikasi yang berkembang dalam organisasi tersebut. Di samping itu komunikasi internal juga bermanfaat untuk m€rnecahkan masdah pribadi aau umum )€ng berkaian dengan pekerjaan. Interaksi yang harmonis hendaknya selalu diciptakan, tidak hanya melalui hubungan s€cara lisao tetapijuga secara tertulis. Dalam melakukan penilaian prestasi kelja pegawai bagian Administrasi Univenitai Negeri Malang, hendaknya pimpinan melihat dari segl kualitas, kuantitas, sikap kerja, disiplin kerj4 tanggung jawab, kerja sama" dan laeativitas dalam melaksanakanp ekerjaany ang dibebankank epadanya.U nnrk mencapai prestasi ke{a yang tinggi maka dalam pelaksanaan tugas sehari-hari hendaknya pimpinan selalu memperdulikan faktor kornunikasi dalam organisasi baik dengan para bawahan,s esamaa tasan,s esarnab awahan,m aupun bawahant erhadap atasafiI)a. Hal tersebutd apat dilakukan denganc ara mengadakanp ertemuanpertemuan rutin baik bersifat formal maupun informal, seperti: rapat, diskusi, konsultasir, ekeasi, olahragad, an bakti sosial.K ondisi yangtelahb erjalan dengan baik tetap dipertahankan dan bilamana terus ditingkatkan demi tercapainya tujuan secara bersama" dengan cara tetap menciptakan loyalitas kepada organisasi, pekerjaan dan atasannya.

Reading texts for primary school students using a comic format / Noer Chasanah

 

Pengaruh kurs rupiah terhadap harga saham PT. H.M. Sampoerna, Tbk dan harga saham PT. Gudang Garam, Tbk di Bursa Efek Jakarta / Hendri Irawan

 

Kontribusi iklim organisasi, perilaku kepemimpinan rektor, dan kemampuan profesional dosen terhadap kinerja dosen di Universitas Swasta Kota Kediri / Nur Kholis

 

Pelaksanaan kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) sekolah dasar (studi kasus di wilayah kepengawasan VI Kedungkandang Kota Malang) / Zainuri

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMAN 5 Malang pada mata pelajaran ekonomi / Shara Pawesti

 

ABSTRAK Pawesti, Shara. 2008. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMAN 5 Malang pada Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M.Pd., (II) Dwi Wulandari, S.E, M.M. Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, model Think-Pair-Share, Prestasi belajar. Proses belajar mengajar di sekolah dulu hanya menggunakan metode konservatif yang sangat tergantung dengan kemampuan guru untuk menyampaikan materi atau disebut dengan teacher oriented. Dunia pendidikan merupakan jalur yang tepat untuk membentuk dan membekali SDM agar mampu berpikir logis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi perlu ditingkatkan mutu dan kualitasnya baik secara konvensional maupun inovatif untuk menjawab tantangan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Agar siap memasuki era informasi, siswa perlu diajarkan bagaimana caranya untuk mendapatkan informasi sendiri, apakah berasal dari guru, teman, bahan-bahan pelajaran ataupun sumber-sumber lain. Dari permasalahan tersebut, peneliti mencari solusi dengan mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning), di dalamnya terdapat berbagai metode pembelajaran yang dapat diterapkan guru. Alasan penerapan metode pembelajaran kooperatif karena guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented). Dengan kata lain, penerapan metode pembelajaran kooperatif dapat digunakan sebagai solusi untuk mengakhiri dominasi pembelajaran guru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada perbedaan dari metode pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN 5 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 5 Malang tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 316 siswa yang terbagi ke dalam 9 kelas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi eksperimental dengan menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu siswa kelas X2 sebagai kelas kontrol dan siswa kelas X4 sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS, sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan cara memberikan tes kemampuan awal dan akhir dalam pembelajaran ekonomi pada sub pokok bahasan permintaan, penawaran dan harga keseimbangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara metode pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan metode pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN 5 Malang. Hal itu ditunjukkan dengan adanya perbedaan antara prestasi belajar yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan prestasi belajar yang menggunakan pembelajaran konvensional, terbukti dari hasil uji-t yang menunjukkan Thitung 4,287 > Ttabel 1,99. Berdasarkan hasil penelitian ini, bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas X SMAN 5 Malang siswa cenderung lebih pasif hal ini karena pada metode pembelajaran ini guru yang lebih aktif dalam memberikan materi kepada siswa. Sedangkan pelaksanaan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS siswa lebih aktif dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran hal ini karena pada saat akhir pembahasan sub pokok bahasan kelompok yang paling aktif akan mendapatkan tambahan poin. Selain itu pembelajaran kooperatif TPS juga dapat meningkatkan prestasi belajar. Hal ini dibuktikan pada nilai rata-rata kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan pembelajaran TPS lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Peningkatan pemahaman budaya nasional melalui pengenalan keragaman pakaian adat pada siswa kelas IV SDN Pukul Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan / Nafsia Rumbou

 

ABSTRAK Rumbou, Nafsia. 2009. Meningkatkan Pemahaman Budaya Nasional Melalui Pengenalan Pakaian Adat Pada Siswa Kelas IV SDN Pukul Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah (KSDP) FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Muchtar S. Pd, M. Si (II) Dsr.H. Rumidjan, M. Pd Kata kunci: Budaya Nasional, Pakaian Adat, SD. Pakaian adat merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia seharusnya, para siswa dapat mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Namun, belum banyak siswa yang mengenal dan memahaminya. Melalui proses pembelajaran, pengenalan dan pemahaman tersebut diupayakan untuk dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengenalkan gambar Pakaian Adat Daerah pada pembelajaran ilmu pengetahuan sosial untuk meningkatkan pemahaman siswa menghargai keragaman pakaian adat yang ada di Indonesia pada siswa kelas IV SDN pukul Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunkan metode kualitatif interaktif dengan Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan model kalaboratif antara guru kelas IV dan Peneliti, dan subjek penelitian adalah siswa kelas IV yang berjumlah (39 siswa) dan guru kelas IV di SDN Pukul kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Instrumen yang diguanakan adalah obeservasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) pada pra tindakan (tes awal) pemahaman keragaman pakaian adat daerah dengan ketercapaian sebesar 47. 03% termasuk katagori rendah (2) metode pada siklus I yaitu metode diskusi dapat meningkatakan pemahaman siswa dalam menghargai keragaman pakaian adat daerah dengan tingkat ketercapaian sebesar 64.62% termasuk dalam katagori sedang, (3) pada siklus II mengalami peningkatan memahami keragaman pakaian adat daerah dengan tingkat ketercapaian sebesar 81. 36% hal ini termasuk katahgori tenggi dan pembelajaran mengalami ketuntasan. Berdasarkan kesempulan, disarankan pada guru Sekolah Dasar agar dapat menggunakan media gambar yang berkaitan dengan materi yang diajarkan terutama pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam menerima pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dengan memperhatikan masalah di atas maka peneliti memberikan saran kepada guru agar lebih banyak menggunakan media-media dalam mengajar, sehingga siswa tidak bosan dalam menerima pelajaran yang di sajikan guru.

Peran unit produksi sebagai media belajar berwirausaha bagi siswa kelas X di SMK Cor Jesu Malang / Silvi Intriani

 

ABSTRAK Intriani, S. 2009. Peran Unit Produksi Sebagai Media Belajar Berwirausaha Bagi Siswa Kelas X di SMK Cor Jesu Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Amat Nyoto, M.Pd., (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata Kunci: Unit Produksi, Media Belajar, Berwirausaha Unit produksi adalah suatu proses kegiatan usaha yang dilakukan sekolah secara berkesimnambungan bersifat bisnis dengan para pelaku warga sekolah, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan lingkungan, dalam berbagai bentuk unit usaha (produk maupun jasa) yang dikelola secara profesional. Unit produksi merupakan kegiatan kewirausahaan di sekolah maka dalam pelaksanaannya harus dikelola secara bisnis dan dilembagakan dalam wadah usaha. SMK Cor Jesu Malang yang menyediakan unit produksi sebagai media belajar berwirausaha, dengan tujuan memberikan pengalaman langsung pada sebuah kegiatan usaha bidang boga. Program kewirausahaan melalui unit produksi perlu dikelola secara profesional dan sebagai tempat belajar siswa untuk berwirausaha tersebut diperlukan adanya dorongan dalam diri (maksud, keinginan, hasrat, rasa senang, perhatian, ketertarikan dan kecenderungan) yang dapat menjadi penggerak, semangat, sikap, perilaku, kemampuan, dan kreativitas dalam mengelola dan mengembangkan usaha. Tujuan penelitian untuk mengetahui peran unit produksi dalam: (1) menumbuhkan percaya diri berwirausaha, (2) cara mengorientasikan tugas dan hasil dalam berwirausaha, (3) menumbuhkan keberanian megambil resiko berwirausaha, (4) menumbuhkan jiwa kepemimpinan berwirausaha, (5) melatih kepiawaian berwirausaha, (6) cara pikir berorientasi ke masa depan berwirausaha, dan (7) melatih kejujuran dan ketekunan berwirausaha siswa kelas X SMK Cor Jesu Malang. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif tentang peran unit produksi sebagai media belajar berwirausaha, dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan bulan Januari 2009 di SMK Cor Jesu Malang. Data diperoleh dari responden sebanyak 61 siswa, yaitu siswa kelas X Jurusan Akomodasi Perhotelan dan Jurusan Restoran tahun ajaran 2008/2009, 1 orang informan yaitu pembina unit produksi sebagai data pendukung, dan beberapa data dokumenter. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan: pada umumnya atau seluruhnya (81,97%) siswa menyatakan setuju unit produksi berperan dalam menumbuhkan percaya diri berwirausaha siswa. Sebagian besar (65,56%) siswa menyatakan setuju unit produksi berperan dalam cara mengorientasikan tugas dan hasil berwirausaha. Sebagian besar (80,33%) siswa menyatakan setuju unit produksi berperan dalam menumbuhkan keberanian mengambil resiko berwirausaha. Pada umumnya atau seluruhnya (88,53%) siswa meyatakan setuju unit produksi berperan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan berwirausaha. Sebagian besar (73,77%) siswa meyatakan setuju unit produksi berperan dalam melatih kepiawaian berwirausaha. Sebagian besar (80,33%) siswa menyatakan setuju unit produksi berperan dalam cara pikir berorientasi ke masa depan berwirausaha. Dan pada umumnya atau seluruh (90,16%) siswa menyatakan setuju unit produksi berperan dalam melatih kejujuran dan ketekunan berwirausaha siswa kelas X SMK Cor Jesu Malang. Kesimpulan (1) unit produksi beperan dalam menumbuhkan sikap percaya diri, yaitu sebagai media belajar berwirausaha memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam berwirausaha sehingga siswa dapat belajar mengukur kemampuan diri; (2) unit produksi berperan dalam cara mengorientasikan tugas dan hasil yaitu gambaran langsung dunia usaha yang akan melatihnya untuk lebih berprestasi; (3) unit produksi berperan dalam menumbuhkan keberanian mengambil resiko karena dalam mengelola unit produksi tidak selamanya berada pada kondisi yang aman, karena permintaan pasar yang turun naik; (4) unit produksi berperan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan karena dalam melatih keterampilan menjadi pemimpin tersebut tidak diperoleh tanpa adanya usaha, karena wirausaha akan menghadapi tantangan dan permasalahan yang timbul disekitarnya; (5) unit produksi berperan dalam melatih kepiawaian karena dalam mengelola unit produksi siswa banyak belajar, salah satunya berkreasi dalam menentukan hidangan. Oleh karena itu siswa menjadi kreatif dan inovatif, serta menjadikannya serba bisa dan fleksibel; (6) unit produksi berperan dalam cara pikir berorientasi ke masa depan karena menjadi seorang wirausaha harus selalu mempunyai visi, pandangan jauh ke depan, sebagai sasaran yang akan dituju dalam perjuangannya meraih kesuksesannya; dan (7) unit produksi berperan dalam melatih kejujuran dan ketekunan karena kejujuran itu sangat mahal, usaha jika dilakukan dengan ketidakjujuran akan berdampak pada kegagalan. Saran yang dapat dikemukakan adalah unit produksi dapat menjadi organisasi yang lebih menarik bagi siswa selain untuk mendapatkan pengalaman tetapi dengan sedikit memperhitungkan tenaga kerja sesuai dengan kemampuan unit produksi, sehingga siswa lebih termotivasi dalam mengelola unit produksi. Dengan keadaan unit produksi seperti itu maka bagi peneliti selanjutnya dapat diteliti tentang motivasi siswa dalam mengelola unit produksi.

Isolasi dan identifikasi komponen minyak astiri daun tembakau dan minyak biji tembakau (Nicotiana tabacum L.) serta uji aktifitasnya sebagai Kairomon / Anggi Ayunda Komalasari

 

ABSTRAK Komalasari, Anggi Ayunda. 2008.Isolasi dan Identifikasi Komponen Minyak Atsiri dari Daun dan Minyak Biji Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Serta Uji Aktifitasnya sebagai Kairomon. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd., (II) Dr. Subiyakto. Kata kunci: Isolasi, Minyak atsiri, Daun dan Biji Tembakau (Nicotiana tabacum L.), Kairomon Minyak atsiri banyak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan itu sebagian besar minyak atsiri diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri. Tembakau merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai bau khas. Hal ini memberi indikasi bahwa di dalam tanaman tembakau mengandung minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi minyak atsiri daun dan minyak dari biji tembakau, mengidentifikasi kandungan utama minyak atsiri daun dan minyak biji tembakau, serta menguji aktifitasnya sebagai kairomon yang diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai pemantau serangga. Penelitian ini bersifat eksperimen laboratoris yang meliputi persiapan sampel yaitu daun tembakau yang telah dirajang kering dan biji tembakau. Setelah itu minyak atsiri diisolasi dari sampel daun tembakau dengan menggunakan metode destilasi uap air. Sedangkan minyak dari sampel biji tembakau diisolasi dengan menggunakan metode sokhletasi. Minyak yang diperoleh dihitung rendemennya, diidentifikasi komponen minyak atsiri daun tembakau dan minyak biji tembakau, serta diuji aktifitasnya sebagai kairomon. Hasil isolasi minyak atsiri daun tembakau menghasilkan rendemen sebesar 0,0135%. Sedangkan untuk minyak biji tembakau menghasilkan rendemen sebesar 0,76%. Berdasarkan data GC-MS, komponen minyak atsiri daun tembakau sebanyak 22 senyawa. Untuk keperluan analisis hanya digunakan 9 puncak tertinggi. Komponen-komponen yang dapat dianalisis pada minyak atsiri daun tembakau antara lain 8-metil-5-(1-metilen)-6,8-nonadien-2-ona; 2-metil-3,6-pentadekadiuna; 6,10-dimetil-3,5-undekadiena; 17-asetoksi-19-kauranal; 14-labdien-8-ol dan 9-oktilheptadekana. Sedangkan untuk komponen minyak biji tembakau terdapat 23 senyawa. Untuk keperluan analisis hanya digunakan 9 puncak tertinggi. Komponen-komponen yang dapat dianalisis pada minyak biji tembakau antara lain 3,7-dimetilokt-6-enilasetat; trikosan dan pentatrikontana. Berdasarkan uji aktifitasnya sabagai kairomon, minyak atsiri daun tembakau menunjukkan uji positif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya serangga yang masuk ke dalam perangkap yang telah dipasang minyak atsiri daun tembakau. Sedangkan minyak biji tembakau menunjukkan uji negatif. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya serangga yang masuk ke dalam perangkap yang telah dipasang dengan minyak biji tembakau.

Using summarizing technique to improve the reading comprehension of the students of the english study program of state polytechnics of Jember / Agus Setia Budi

 

Based on the preliminary study conducted at the English Study Program, the second semester students who join Reading II class still have problems in comprehending reading text. Their ability in comprehending reading texts was still insufficient. The insufficient ability of the students might be caused by several factors. First, the students’ reading skills in finding information from the text were still insufficient. Second, they still had limited vocabulary. Third, their motivation in learning English, especially in reading a text was also still low. Many of them were passive during the teaching and learning process. This study is designed to improve the students’ reading comprehension by using summarizing technique. It aims at finding out how the summarizing technique can be used to improve the reading comprehension of the students of the English Study Program of State Polytechnics of Jember. The study employed a classroom action research design in which the researcher and the research collaborator worked together in designing the lesson plan, implementing the action, analyzing the data and doing reflections. The subjects of this research were 31 second-semester students of English Study Program of State Polytechnics of Jember of the 2007/2008 academic year. This study was conducted in two cycles, following the procedure of action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle of the study comprises 3 meetings. The data of this study was obtained through (1) observation checklists, (2) field notes, (3) rubric for assessing the students’ summary, (4) the students’ questionnaire, and (5) the reading comprehension test. They were taken during the implementation of the action. The findings showed that the best procedures of implementing the summarizing technique in the teaching-learning of reading comprehension of the study were (1) stimulating the students’ prior knowledge, (2) giving some leading questions related to the picture, (3) having brainstorming, (4) writing the students ideas on the white board, (5) making a conclusion about the topic being discussed, (6) reading the text once or twice either aloud or silently, (7) identifying the general topic of the text, (8) identifying the pattern of the text development, (9) discussing the difficult words and find synonym for them, (10) identifying the main idea of each paragraph, (11) identifying supporting details of each paragraph, (12) classifying the details of each paragraph into important and not important details, (13) drawing the outline of the text based on the main idea and the important details, (14) making a summary from the text being studied based on the outline already prepared, (15) doing exercises related to the text, (16) reviewing the text content and checks the students’ reading comprehension by asking questions to the students based on the text, (16) giving some questions of the text related to their own knowledge and experiences, and (17) making a conclusion about the content of the text. The study also shows that the implementation of summarizing technique in the teaching-learning of reading comprehension is able to improve the students’ reading comprehension. The students’ mean score increased from 54.26 in the preliminary study to 59.36 in Cycle 1 and 61.81 in Cycle 2. Based on the findings of the study, some suggestions are made. It is suggested for the teachers to (1) make a well-prepared lesson plan which focuses on the selection of the instructional material and media as well as the time allocation, (2) provide students with an opportunity to discuss texts and to further develop the skills that will help them better comprehend texts, (3) provide a series of questions to the students to highlight the most important elements of a piece of text, (4) give a model of how to make a summary correctly by demonstrating the steps with a model of passage, (5) assign the students to make a summary individually, (6) encourage the students to make a summary by using their own words, (7) display the students’ best works as the benchmark on the class wall or in the school paper, (8) make an evaluation on the process and on the result of teaching and learning, and (9) design subjective formative tests to measure the students’ achievement. Finally, it is recommended for the English teachers to apply this technique as one of the alternatives in the teaching of reading comprehension.

Ketahanan beberapa varietas tebu terhadap penurunan rendemen akibat tunda giling dan penentuan rendemen secara cepat menggunakan pH dan % Brix melalui persamaan regresi / Sari Maulidia

 

ABSTRAK Maulidia, Sari. 2009. Ketahanan Beberapa Varietas Tebu terhadap Penurunan Rendemen Akibat Tunda Giling dan Penentuan Rendemen secara Cepat Menggunakan pH dan % Brix melalui Persamaan Regresi. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Munzil, S. Pd, M. Si, (II) Bambang Edi Santoso, S. ST. Kata Kunci: tunda giling, rendemen , pH, % brix, persamaan regresi Pengalaman di pabrik pengolahan tebu sering dijumpai bahwa tebu di emplasemen (tempat penggilingan tebu) pabrik gula menunjukkan kualitas yang rendah, baik akibat dari kadar kotoran maupun kadar sukrosanya. Padahal dari hasil analisis secara acak di kebun tebu menunjukkan potensi rendemen tebu yang cukup tinggi. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah faktor tebang-angkut yang belum dilaksanakan dengan baik. Tebu mengalami kerusakan atau penurunan kadar sukrosa (rendemen) akibat waktu tunda tebu antara tebang giling yang terlalu lama. Hal tersebut akan berakibat kepada inefisiensi pabrik gula karena hasil produksi yang rendah. Untuk membuktikan adanya penurunan rendemen akibat adanya faktor tunda giling, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui besarnya penurunan kualitas nira (pH, brix, gula reduksi, sukrosa) dengan mengamati perubahan kualitas yang terjadi pada hari ke-0 hingga ke-11, dan mencari koefisien dari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penurunan rendemen dan persamaan regresi yang dapat digunakan untuk memprediksi rendemen nira tebu secara cepat. Penelitian ini bersifat eksperimen menggunakan sarana di Laboratorium Analitik Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan. Objek penelitian adalah nira dari lima varietas tebu R1, R2, R3, R4, dan R5 yang mengalami tunda giling selama 0 -11 hari. Kelima varietas tebu tersebut adalah varietas tebu yang ditanam oleh petani tebu dan digunakan dalam produksi pabrik gula. Penurunan rendemen akibat tunda giling ditentukan dengan cara mengukur kadar sukrosa sebelum dan setelah inversi untuk masing-masing varietas pada waktu tunda giling 0 -11 hari. Sementara persamaan untuk menentukan rendemen (R) diperoleh dari hasil substitusi persamaan regresi gula reduksi dan TSAS kedalam persamaan sukrosa (S) menggunakan 90 buah data percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan pH dan kadar sukrosa nira pada tebu yang mengalami tunda giling, dan terjadi peningkatan terhadap % brix dan kadar gula reduksi. Penurunan kadar sukrosa lima varietas tebu R1, R2, R3, R4, dan R5 sampai hari ke-11 berturut-turut sebesar 32,67%, 29,41%, 20,41%, 22,65%, dan 48,03%. Untuk ketahanan terhadap penurunan kadar sukrosa akibat tunda giling dimulai dari yang paling tahan berturut-turut adalah tebu varietas R4, R2, R3, R1, dan R5. Berdasarkan uji statistik diperoleh suatu persamaan regresi yang akan digunakan untuk memprediksi kadar gula atau rendemen (R) tebu secara cepat dimana X1 = pH dan X2 = brix, yaitu: R={(-11929,779+6839,412 X1-91,938 X2 -1172,8264 X12 +9,8781 X22 -38,0776 X1X2 + 60,1676 X13 -0,0380 X32 -1,424433 X1X22 +8,7768 X2X2)–0,26 X2}%

Kualitas program pembelajaran guru mata pelajaran ekonomi SMA yang telah lulus sertifikasi se-Kabupaten Gresik / Nofi Rosyidah

 

ABSTRAK Rosyidah, Novi. 2009. Kualitas Program Pembelajaran Guru Mata Pelajaran Ekonomi Sekolah Menengah Atas Yang Telah Lulus Sertifikasi se-Kabupaten Gresik, Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. Pembimbing (II) Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd. Kata kunci: Kualitas Program Pembelajaran, Sertifikasi Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia belum menemukan hasil yang menggembirakan. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, tetapi yang paling besar mempengaruhinya adalah kondisi guru. Guru memiliki peranan yang cukup penting dalam dunia pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan sangat membutuhkan guru yang berkompetensi dalam bidangnya. Misi pendidikan akan berhasil apabila dilaksanakan oleh guru yang baik pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kualitas guru mata pelajaran ekonomi SMA yang telah lulus sertifikasi se-Kabupaten Gresik dalam: (1) penyusunan RPP, (2) pelaksanaan pembelajaran di kelas, dan (3) evaluasi hasil pembelajaran Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah guru mata pelajaran ekonomi SMA yang telah lulus program sertifikasi se-Kabupaten Gresik, yang meliputi lima guru mata pelajaran ekonomi dari Sekolah Menengah Atas Negeri dan empat guru mata pelajaran ekonomi dari Sekolah Menengah Atas swasta. Penelitian ini menggunakan instrumen pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dengan tabel persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Berdasarkan hasil observasi penyusunan Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP) yang dilakukan pada 9 orang guru mata pelajaran ekonomi SMA yang telah lulus program sertifikasi diperoleh hasil bahwa sebanyak 2 orang guru atau sekitar 22,2 persen dinyatakan memiliki tingkat kualitas sangat tinggi, 6 orang guru atau sekitar 66,7 persen memiliki tingkat kualitas tinggi dan 1 orang guru atau sekitar 11,1 persen memiliki tingkat kualitas yang cukup. Jadi kualitas guru ekonomi yang telah lulus sertifikasi dalam penyusunan RPP mempunyai kualitas yang tinggi, (2) Dari hasil observasi dalam Pelakasanaan Pembelajaran yang dilakukan pada 9 orang guru mata pelajaran ekonomi SMA yang telah lulus program sertifikasi diperoleh hasil bahwa sebanyak 9 orang guru yaitu 2 orang guru atau sekitar 22,2 persen memiliki tingkat kualitas tinggi, dan 7 orang guru atau sekitar 77,8 persen memiliki tingkat kualitas cukup. Jadi guru ekonomi SMA yang telah lulus program sertifikasi se-Kabupaten Gresik merupakan guru yang berkualitas dalam melaksanakan pembelajaran dikelas dan (3) Dari hasil wawancara pada evaluasi hasil pembelajaran yang dilakukan pada 9 orang guru mata pelajaran ekonomi SMA yang telah lulus program sertifikasi diperoleh hasil bahwa sebanyak 7 orang guru atau sekitar 77,8 persen memiliki tingkat kualitas tinggi dan 2 orang guru atau sekitar 22,2persen memiliki tingkat kualitas cukup. Jadi dapat disimpulkan bahwa guru ekonomi SMA yang telah lulus program sertifikasi se-Kabupaten Gresik merupakan guru yang berkualitas dalam evaluasi hasil pembelajaran.

Perbedaan abnormal return, trading volume activity, security return variability dan Bio-ask spread saham sebelum dan sesudah akuisisi pada Perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (REI) periode 2002-2006 / Ana Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Ana. 2008. Perbedaan Abnormal Return, Trading Volume Activity, Security Return Variability dan Bid-Ask Spread Saham Sebelum dan Sesudah Akuisisi Pada Perusahaan yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2002-2006. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M, (II) Yuli Soesetyo S.E, M.M Kata kunci: Akuisisi, Abnormal Return, Trading Volume Activity, Security Return Variability dan Bid-Ask Spread Saham Strategi akuisisi merupakan salah satu alternatif untuk perluasan usaha perusahaan. Dengan penggabungan dua perusahaan atau lebih, maka akan saling menunjang kegiatan usaha. Para pelaku pasar modal akan mengevaluasi setiap pengumuman yang diterbitkan oleh emiten, hal tersebut akan menyebabkan beberapa perubahan pada transaksi perdagangan saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan abnormal return, trading volume activity, security return variability dan bid-ask spread Saham sebelum dan sesudah akuisisi pada perusahaan yang listing di BEI periode 2002-2006. Variabel dalam penelitian ini adalah abnormal return, trading volume activity, security return variability dan bid-ask spread saham. Maka jenis penelitian ini adalah komparatif. Sampel penelitian sebanyak 9 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan data sekunder eksternal dalam bentuk data harian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis uji beda atau uji-t untuk data yang berdistribusi normal dan uji Kormogorov Smirnof Goodness of Fit Test (K-S) untuk data yang berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian: (1) terjadi penurunan rata-rata abnormal return saham sebelum dan sesudah akuisisi; (2) terjadi penurunan trading volume activity saham sebelum dan sesudah akuisisi; (3) terjadi kenaikan security return variability saham sebelum dan sesudah akuisisi; (4) terjadi penurunan rata-rata bid-ask spread saham sebelum dan sesudah akuisisi; (5) tidak terdapat perbedaan rata-rata abnormal return saham sebelum dan sesudah akuisisi; (6) tidak terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity saham sebelum dan sesudah akuisisi (7) tidak terdapat perbedaan rata-rata security return variability saham sebelum dan sesudah akuisisi; (8) terdapat perbedaan rata-rata bid-ask spread saham sebelum dan sesudah akuisisi dengan signifikansi pada tingkat 10%. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, disarankan sebaiknya perusahaan mempertimbangkan dengan lebih teliti tentang rencana akuisisi, agar akuisisi memberikan manfaat sinergi dalam jangka panjang. Bagi investor sebaiknya memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup mengenai kondisi pasar dan memilih strategi yang tepat sehingga tidak dirugikan oleh kebijakan yang diambil oleh emiten sedangkan untuk peneliti selanjutnya dalam menghitung expected return sebaiknya menggunakan market-model dan melakukan uji beda antara akuisisi yang dilakukan secara internal dan eksternal.

Pengaruh cairan folikel pada medium TCM-199 terhadap maturasi oosit kambing jawa secara in vitro / Ratnaningsih

 

ABSTRAK Ratnaningsih. 2009. Pengaruh Cairan Folikel pada Medium TCM-199 terhadap Maturasi Oosit Kambing Jawa secara In Vitro. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Amy Tenzer, M.S, (II) Dr. Umie Lestari, M.Si. Kata kunci: cairan folikel, maturasi oosit, kambing jawa, in vitro, ekspansi sel-sel kumulus ooforus Peningkatan produksi kambing Jawa secara kualitas dan kuantitas terus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan protein hewani bagi seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan kualitasnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan bioteknologi reproduksi. Dasar pengembangan bioteknologi reproduksi adalah pengembangan teknologi fertilisasi in vitro, dengan teknologi ini ovarium normal hewan yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber oosit kemudian dikembangkan menjadi embrio. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan fertilisasi in vitro adalah keberhasilan maturasi oosit secara in vitro. Proses maturasi oosit ini, sangat dipengaruhi oleh kondisi medium kultur. Salah satu medium yang sering digunakan adalah TCM-199. Penggunaan cairan folikel (CF) kambing sebagai suplemen dalam medium maturasi oosit in vitro belum banyak dilakukan. Apabila hal ini dapat dilakukan akan sangat menguntungkan, karena cairan folikel (CF) dapat menggantikan bahan-bahan untuk pematangan oosit yang harganya mahal. Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui pengaruh cairan folikel terhadap maturasi oosit kambing secara in vitro, dan (2) mengetahui konsentrasi cairan folikel yang berpengaruh paling baik terhadap maturasi oosit kambing secara in vitro. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei sampai bulan September 2008 di ruang Kultur Jaringan Hewan Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan acak kelompok (RAK). Medium pematangan oosit yang digunakan: (1) TCM-199; (2) TCM-199 + 15% CF; (3) TCM-199 + 20% CF; (4) TCM-199 + 25% CF. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Data persentase ekspansi sel-sel kumulus ooforus pada tingkat 2 (sel-sel kumulus berekspansi sempurna) yang telah ditransformasi menggunakan transformasi sudut (Arcsin), dianalisis dengan analisis varians tunggal (ANAVA) pada taraf signifikansi 95% menggunakan SPSS 16.00, dan dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5% untuk mengetahui konsentrasi cairan folikel yang paling berpengaruh terhadap maturasi oosit kambing Jawa secara in vitro. Hasil analisis didapatkan nilai signifikansi 0,001 (kurang dari 0,05); dengan demikian hipotesis penelitian diterima yang berarti bahwa suplementasi cairan folikel berpengaruh terhadap maturasi oosit kambing Jawa secara in vitro. Berdasarkan notasi pada uji lanjut, diketahui bahwa ekspansi sel-sel kumulus ooforus pada semua medium perlakukan (dengan suplementasi cairan folikel) lebih besar dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol. Medium maturasi dengan suplementasi 25% CF memberikan rerata paling besar tetapi tidak berbeda nyata dengan medium maturasi dengan suplementasi 20% CF, sehingga dapat disimpulkan bahwa medium maturasi yang memberikan pengaruh paling baik terhadap maturasi oosit kambing Jawa secara in vitro adalah medium maturasi dengan suplementasi 20% CF. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pemanfaatan CF sebagai bahan maturasi oosit kambing Jawa, sehingga CF dapat menggantikan bahan-bahan pematangan oosit secara in vitro misalnya serum dan hormon yang harganya cukup mahal.

Hubungan persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik, peranan dosen, iklim kelas, layanan perpustakaan dan motivasi belajar dengan prestasi belajar pada program PGSD dan PGTK LPTK Negeri di Pulau Jawa / Sita Ratnaningsih

 

Upaya peningkatan mutu pendidikan yang diadakan LPTK (Lembaga Penyelenggara Tenaga Kependidikan) di Indonesia umumnya masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Dalam upaya meningkatkan prestasi belajar mahasiswa tersebut, banyak faktor yang dapat mendukung, antara lain adalah persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik, peranan dosen, iklim kelas, layanan perpustakaan, dan motivasi belajar mahasiswa. Sehubungan dengan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan langsung antara : 1) persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik dengan motivasi belajar, 2) peranan dosen dengan motivasi belajar, 3) peranan dosen dengan iklim kelas, 4) peranan dosen dengan layanan perpustakaan, 5) layanan perpustakaan dengan motivasi belajar, 6) layanan perpustakaan dengan prestasi belajar, 7) iklim kelas dengan motivasi belajar, 8) motivasi belajar dengan prestasi belajar, 9) hubungan tidak langsung antara persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar, 10) peranan dosen dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar, 11) iklim kelas dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar. Desain penelitian ini menggunakan metode survei, tipe korelasional. Sebagai populasi penelitian adalah mahasiswa semester IV jurusan PGSD & PGTK pada LPTK Negeri di Pulau Jawa yang mengikuti ujian tahun ajaran 2007/2008. Berdasarkan tabel Krejcie dan nomogram Harry King, dari 1008 mahasiswa diambil 205 orang sebagai sampel. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik proporsional random sampling. Untuk mengumpulkan data digunakan angket dan dianalisis memakai teknik analisis SEM ( Structural Equation Modelling) dengan program AMOS 4.10. Kesimpulan hasil penelitian adalah sebagai berikut : 1) rata-rata tingkat persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik, peranan dosen, iklim kelas, layanan perpustakaan, dan motivasi belajar mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi, 2) model yang dikembangkan adalah baik (fit). Hal ini berarti model yang dikembangkan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, 3) ada hubungan langsung antara : a) peranan dosen dengan motivasi belajar, c) peranan dosen dengan iklim kelas, d) peranan dosen dengan layanan perpustakaan, e) layanan perpustakaan dengan motivasi belajar, f) layanan perpustakaan dengan prestasi belajar, g) iklim kelas dengan motivasi belajar, h) motivasi belajar dengan prestasi belajar, dan hubungan tidak langsung antara : i) persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar, j) peranan dosen dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar, k) iklim kelas dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar. Berdasarkan temuan penelitian, kesimpulan, dan implikasi hasil penelitian, maka beberapa saran yang disampaikan adalah sebagai berikut : 1) ketua jurusan PGSD & PGTK hendaknya mengadakan wawancara khusus terhadap para calon mahasiswa yang masuk nominasi diterima pada waktu seleksi penerimaan mahasiswa baru PGSD & PGTK di LPTK Negeri pada masing-masing lembaga tersebut, 2) para dosen di lingkungan jurusan PGSD & PGTK di LPTK Negeri di Pulau Jawa agar memperhatikan kondisi kelas tempat diadakan perkuliahan dan melengkapi berbagai fasilitas didalam kelas sehingga dapat tercipta kondisi kelas yang lebih nyaman untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar yang berlangsung antara mahasiswa dan dosen dikelas, 3) dosen perlu lebih akrab dengan mahasiswa untuk mengintensifkan interaksi antara dosen dengan mahasiswa serta interaksi antar mahasiswa sehingga iklim kelas jadi kondusif dalam situasi yang menyenangkan dan kondusif, 4) para dosen perlu mengadakan aturan didalam kelas jurusan PGSD & PGTK pada LPTK Negeri di Pulau Jawa yang dibuat oleh para dosen bersama dengan mahasiswa serta disetujui oleh ketua jurusan untuk menjunjung disiplin kelas yang tinggi, 5) para dosen jurusan PGSD & PGTK di LPTK Negeri di Pulau Jawa agar memberikan penguatan motivasi intrinsik mahasiswa dengan mengingatkan bahwa belajar merupakan tanggung jawab mahasiswa serta mereka didorong untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga dapat membangkitkan rasa antusiasme dan minat mahasiswa untuk mempelajari bahan kuliah dan praktek dilapangan, 6) mahasiswa disamping harus giat mengikuti kuliah harus rajin untuk belajar keperpustakaan, karena perpustakaan merupakan salah satu fasilitas penunjang untuk keberhasilan belajar para mahasiswa, untuk itu maka pihak kampus sebaiknya menyediakan perpustakaan dengan segala fasilitasnya dengan baik, 7) untuk peneliti mendatang yang ingin meneliti tentang prestasi belajar, lebih diutamakan terhadap variabel-variabel yang belum diungkap atau mungkin setelah ada perbaikan manajemen dalam kampus-kampus tentang peningkatan prestasi belajar mahasiswa.

Diagnosis kesulitan siswa memecahkan masalah matematika pokok bahasan persamaan kuadrat di kelas X SMAN 8 Malang / Fuad Rifai

 

ABSTRAK Rifai, Fuad. 2008. Diagnosis Kesulitan Siswa Memecahkan Masalah Matematika Pokok Bahasan Persamaan Kuadrat di Kelas X SMAN 8 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd, (II) Drs. Rustanto Rahardi, M.Si. Kata kunci: diagnosis, kesulitan siswa, memecahkan masalah Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian masalah tersebut, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang tidak rutin. Rutin atau tidak suatu soal merupakan hal yang sangat relatif. Suatu soal yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin belaka. Perbedaan soal rutin dan soal tidak rutin adalah bahwa soal rutin biasanya mencakup aplikasi suatu prosedur matematika yang sama atau mirip dengan hal yang baru dipelajari. Sedangkan dalam soal tidak rutin, untuk sampai pada prosedur yang benar diperlukan pemikiran yang mendalam. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika, dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Pemecahan masalah merupakan sesuatu yang harus dipelajari oleh siswa. Di dalam pemecahan masalah, siswa diharapkan memahami proses penyelesaian masalah tersebut dan menjadi terampil dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian, dan mengorganisasikan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya. Prosedur pengembangan soal yang digunakan meliputi dua tahapan, yaitu tahap studi pendahuluan dan tahap pengembangan. Tahap studi pendahuluan meliputi dua bagian, yaitu survey pendahuluan dan studi kepustakaan. Sedangkan tahap pengembangan terdiri dari kegiatan penyusunan instrumen dan validasi. Hasil penelitian adalah bentuk-bentuk kesulitan yang dihadapi siswa dalam memecahkan masalah matematika.Bentuk-bentuk tersebut antara lain adalah : Kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dikategorikan dalam tiga bagian sebagai berikut. Pertama adalah kesulitan dalam menerapkan konsep. Kesulitan ini meliputi dua hal yaitu kesulitan atau kesalahan dalam mamaknai suatu istilah atau definisi dalam suatu soal dan kesulitan atau kesalahan siswa dalam menuliskan bentuk matematika dari suatu istilah atau definisi matematik. Kedua adalah kesulitan dalam menerapkan prinsip. Kesulitan ini meliputi dua hal yaitu kesulitan atau kesalahan prinsip yang melibatkan konsep atau menyangkut konsep tertentu dan Kesulitan atau kesalahan prinsip yang merupakan kesalahan perhitungan aljabar. Ketiga adalah kesulitan dalam memecahkan masalah verbal. Kesulitan ini meliputi tiga hal yaitu kesulitan yang pertama muncul dari ketidak tahuan siswa mengenai persamaan yang dibentuk dari permasalahan yang diberikan, kesulitan atau kesalahan siswa dalam membuat sketsa permasalahan yang diberikan dan Kesalahan dalam menentukan model matematika dikarenakan tidak menggunakan sketsa model.

Studi tentang kualitas proses dan hasil belajar ikatan kimia dengan model pembelajaran kooperatif stad di kelas X MAN 3 Malang / Lila Ana Wirani

 

ABSTRAK Anawirani, Lila. 2009. Studi Tentang Kualitas Proses dan Hasil BelajarKimia dengan Model Pembelajaran Kooperatif STAD di Kelas X MAN 3Malang. Skripsi, Program Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dermawan Affandy, M.Pd., (II) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: model pembelajaran kooperatif STAD, kualitas proses dan hasil belajar, ikatan kimia Pendidikan saat ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin meningkat, baik ragam, lebih-lebih kualitasnya, termasuk pendidikan pada MAN 3 Malang. Oleh sebab itu pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan dengan jalan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan diterapkannya KTSP, maka dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk menggunakan model pembelajaran berbasis kompetensi. Model pembelajaran yang banyak dikembangkan adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme. Salah satunya adalah pembelajaran kooperatif STAD. Pembelajaran ini menekankan aspek pengelolaan kelas terpusat pada siswa, artinya lebih mengutamakan peran siswa dalam pemerolehan konsep dan pengalaman langsung untuk mengembangkan potensi siswa melalui keterampilan-keterampilan kooperatif siswa. Dengan pembelajaran ini diharapkan kegiatan pembelajaran kelas menjadi lebih kondusif. Melihat kondisi siswa MAN 3 Malang ketika proses pembelajaran dilaksanakan, diketahui bahwa keterampilan kooperatif yang dimiliki siswa belum optimal. Untuk itu perlu satu upaya untuk meningkatkan keterampilan kooperatif siswa. Oleh karena itu model pembelajaran STAD diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran kimia di MAN 3 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas proses dan hasil belajar ikatan kimia melalui penerapan model pembelajaran kooperatif STAD. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental yang melibatkan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol diajar dengan metode konvensional sedangkan kelas eksperimen diajar dengan model pembelajaran kooperatif STAD. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MAN 3 Malang tahun ajaran 2008/2009 yang terdiri dari tujuh kelas. Sampel dalam penelitian ini ada dua kelas yaitu kelas X-B dan kelas X-C. Pemilihan sampel berdasarkan nilai rata-rata kelas. Instrumen penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu: (1) Instrumen evaluasi untuk mengukur kualitas hasil belajar dan (2) Instrumen evaluasi untuk mengukur kualitas proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan; (1) Aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan STAD yang dominan adalah berlatih melakukan keterampilan kooperatif, (2) Keterampilan kooperatif siswa dalam pembelajaran dengan STAD yang dominan adalah mengambil giliran dan berbagi tugas, (3) Siswa menyatakan senang dan baru terhadap model pembelajaran, (4) Model pembelajaran kooperatif STAD memiliki kualitas hasil belajar yang lebih baik (76,47% siswa telah tuntas belajarnya) dibandingkan dengan pembelajaran ceramah (33,82% siswa telah tuntas belajarnya).

Variasi genetik kerbau lokal (Bubalus bubalis) Blitar dengan teknik relp (Restriction Fragment Length Polymorphish) DNA / Saiful Ahmad Maulana Saichu

 

ABSTRAK Saichu, Saiful Ahmad Maulana. 2008. Variasi Genetik Kerbau Lokal (Bubalus bubalis) Blitar dengan Teknik RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism) DNA. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. agr. Mohamad Amin, M.Si, (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked . Kata-kata Kunci: variasi genetik, kerbau, RFLP DNA Kerbau merupakan jenis ternak potong yang memiliki kadar protein tinggi. Kualitas ternak kerbau mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan cara perkawinan antara individu yang mempunyai hubungan keluarga dekat (inbreeding). Diduga inbreeding menyebabkan menurunnya sifat fenotip misalnya ukuran tubuh, fertilitas, dan daya tahan tubuh. Apabila berlangsung terus-menerus dikhawatirkan kerbau akan mengalami kepunahan dan masyarakat Indonesia akan mengalami kerugian yang sangat besar karena kehilangan plasma nutfah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi fenotip, variasi genetik serta hubungan antara variasi fenotip dan variasi genetik kerbau. Kerbau yang digunakan berasal dari Kecamatan Selorok Kabupaten Blitar. Teknik yang dilakukan adalah pemotongan DNA total dengan enzim restriksi HaeIII. Kerbau pada umur yang sama terdapat perbedaan ukuran lingkar dada, panjang badan, dan tinggi badan. Secara keseluruhan dari sampel juga terjadi variasi warna kulit tubuh. Genetik yang diperoleh adalah 2 variasi potongan DNA yaitu 1 fragmen (1500 bp) dan 2 fragmen (1500 bp dan 1300 bp). Pada penelitian ini ditemukan variasi fenotip kerbau lokal Blitar dalam hal lingkar dada, panjang badan, tinggi badan, warna kulit dan juga diperoleh variasi genetik dengan nilai polimorfisme sebesar 0,40. Perbedaan secara genetik belum tentu menunjukkan variasi fenotip.

Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi (Studi pada siswa kelas X SMAN I Kesamben) / Dian Astiani

 

ABSTRAK Astiani, Dian. 2008. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Terhadap Prestasi Belajar (Studi pada Siswa kelas X SMAN I Kesamben). Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. J.G. Nirbito, M.Pd, (II) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata kunci: Pembelajaran Konvensional, Pembelajaran STAD, Prestasi Belajar. Dalam interaksi belajar mengajar, hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) harus menunjukan adanya hubungan yang bersifat edukatif (mendidik), yang mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu. Bersifat mendidik artinya adanya perubahan tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan. Dalam interaksi belajar mengajar guru akan berusaha semaksimal mungkin dengan menggunakan berbagai ketrampilan dan kemampuan agar anak (murid) dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu guru harus memperhatikan komponen yang harus dipenuhi dalam interaksi belajar mengajar, antara lain: tujuan interaksi belajar mengajar, bahan yang akan disampaikan, pendidik dan terdidik, alat atau sarana pendidikan, metode yang digunakan dan situasi lingkungan. Dengan kondisi dan karakter siswa kelas X di SMAN I Kesamben sebagai obyek penelitian yang masih belajar dengan intruksi atau perintah pengajar dan siswa belum mampu menciptakan kondisi belajar yang mandiri. Selain itu pelaksanaan pembelajaran ekonomi masih bersifat klasik, hanya berpusat pada teknik ceramah dan tanya jawab. Sejauh ini kebanyakan guru yang mengajar di SMAN I Kesamben menggunakan metode Konvensional, metode ini yang sering membuat siswa merasa bosan untuk mengikuti pelajaran. Hal ini yang menyebabkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran sangat rendah karena siswa tidak dapat berperan aktif dalam mengikuti pelajaran. Pemilihan metode pembelajaran sebagai salah satu komponen yang penting bagi tercapainya tujuan pembelajaran merupakan strategi pembelajaran guru agar kondisi pembelajaran dapat mengaktifkan peran siswa. Metode STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kelompok yang paling awal ditemukan. Metode ini sangat popular dikalangan para ahli pendidikan di John Hopkins Univercity, dan telah banyak diterapkan sebagai suatu metode pembelajaran kelompok. Metode STAD juga sebagai suatu metode alternative yang sangat mudah untuk diterapkan. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara metode pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dengan metode pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN I Kesamben Kabupaten Blitar. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN I Kesamben Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 339 siswa yang terbagi ke dalam 7 kelas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi eksperimental dengan menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu siswa kelas XC sebagai kelas kontrol dan siswa kelas XG sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division), sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan cara memberikan tes kemampuan awal dan akhir dalam pembelajaran ekonomi pada sub pokok bahasan permintaan, penawaran dan harga keseimbangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dengan metode pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN I Kesamben Kabupaten Blitar. Hal itu ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan prestasi belajar yang menggunakan pembelajaran konvensional, terbukti dari hasil uji-t yang menunjukkan Thitung 3,223 > Ttabel 1,99. Berdasarkan hasil penelitian ini, bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas X SMAN I Kesamben siswa cenderung lebih pasif hal ini dikarenakan pada metode pembelajaran ini guru yang lebih aktif dalam memberikan materi kepada siswa. Sedangkan pelaksanaan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas X SMAN I Kesamben siswa lebih aktif dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran hal ini juga dikarenakan pada saat akhir pembahasan sub pokok bahasan kelompok yang paling aktif akan mendapatkan penghargaan. Selain itu pembelajaran kooperatif STAD juga dapat meningkatkan prestasi belajar. Hal ini dibuktikan pada nilai rata-rata kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan pembelajaran STAD lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Pengaruh pemberdayaan trhadap kinerja koperasi di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur / F. Sumantri

 

ABSTRAK F. Sumantri, 2008. Pengaruh Pemberdayaan Terhadap Kinerja Koperasi di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Disertasi Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing I Prof. Dr. J.G. Nirbito, M.Pd.; Pembimbing II Prof. Agus Suman, SE, DEA, Ph.D., dan Pembimbing III Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd. Kata Kunci: Pemberdayaan, SDM, dan Kinerja Koperasi Penelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu keyakinan bahwa koperasi merupakan salah satu instrumen penting yang dapat dipergunakan untuk membangun perekonomian suatu bangsa, termasuk Bangsa Indonesia. Oleh karena itu sangatlah perlu adanya dukungan terhadap kehadiran koperasi di seluruh nusantara oleh masyarakat melalui dinas terkait. Dukungan terhadap kehadiran koperasi dapat diwujudnyatakan melalui berbagai bentuk kegiatan pemberdayaan. Pemerintah Daerah Kota Kupang melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menemgah/KUKM Kota Kupang juga sudah melaksanakan pemberdayaan koperasi di wilayahnya dari sejak pemerintahan itu terbentuk, yaitu tanggal 20 Maret 1996. Tujuan pemberdayaan itu untuk meningkatkan kinerja koperasi di Kota Kupang. Penulis bermaksud megetahui pengaruh pemberdayaan itu terhadap kinerja koperasi di Kota Kupang. Rentang waktu yang penulis amati adalah tahun 2004 - 2006. Dalam kurun waktu itu intensitas pemberdayaan koperasi di daerah itu sedang meninggi. Hal ini tampak pada semakin besarnya jumlah dana yang dikucurkan oleh Dinas KUKM Kota Kupang untuk membiayainya. Ada banyak bentuk pemberdayaan, namun yang penulis amati dalam penelitian ini Diklat/X1, Permodalan/X2, dan KMK/X3. Permasalahan mendasar penelitian ini adalah seberapa jauh pengaruh pengaruh pemberdayaan terhadap Kinerja koperasi/Y di Kota Kupang, seberapa besar sumbangan efektif masing-masing subvariabel kinerja, yaitu Keuangan/Y1, Organisasi/Y2, Keanggotaan/Y3, Kemitraan/Y4, dan Pemasaran/Pelayanan/Y5 terhadap Y. Tujuan penelitian ini: untuk menjelaskan pengaruh pemberdayaan terhadap kinerja koperasi di Kota Kupang. Hipotesis: pemberdayaan berpengaruh signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap sumber daya manusia koperasi (SDMK/X4) dan Kinerja koperasi di Kota Kupang, Data diambil dari koperasi primer sample yang memenuhi syarat, yang diwakili oleh Pengurus, Pengawas dan Manajer. Syarat sample: koperasi primer yang pernah mendapat pemberdayaan berupa Diklat, Permodalan, dan KMK dari Dinas KUKM Kota Kupang. Sampel diambil secara cluster purposive proportional sampling dari 265 populasi. Populasi tersebar di empat kecamatan dalam Kota Kupang, yaitu Kecamatan Oebobo, Kelapalima, Alak, dan Kecamatan Maulafa. Dengan menggunakan formula tabel Krejcie dan Nomogramnya Harry King (Sugiyono, 1999:63-64), akhirnya bisa diperoleh 130 unit primer koperasi sampel yang memenuhi syarat. Data dikumpulkan dengan sistem angket. Data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan menurut sistem Balance Scorecard dalam lima kelas yaitu: Unggul untuk skor 5, Baik untuk skor 4, Cukup Baik untuk skor 3, Kurang untuk skor 2, dan Buruk untuk skor 1. Analisis deskripsi menunjukkan bahwa pemberdayaan koperasi oleh pemerintah Kota Kupang berupa Diklat, Permodalan dan KMK, secara riil memang ada. Menu descriptives dari 130 responden menunjukkan bahwa persepsi koperasi terhadap Diklat cenderung ke Baik, Permodalan cenderung ke Cukup Baik, KMK cenderung ke Baik, SDMK cenderung ke Cukup Baik, dan terhadap Kinerja cenderung ke Cukup Baik Kontribusi Subvariabel Kinerja terhadap variable Kinerja, sebagai berikut: Keuangan, cenderung ke Baik (mean 3,90); Organisasi, cenderung ke Cukup Baik (mean 3,32); Keanggotaan, cenderung ke Baik (mean 3,52); Kemitraan, cenderung ke Cukup Baik (mean 3,25); dan Pemasaran/Pelayanan, cenderung ke Baik (mean 3,63). Hasil analisis jalur, Uji F maupun dan Uji t atas blok 1 menunjukkan bahwa: Diklat, Permodalan, dan KMK berpengaruh signifikan baik secara parsial dan maupun simultan terhadap SDMK. Selanjutnya, analisis jalur, Uji F dan Uji t atas blok 2 menunjukkan bahwa KMK dan SDMK berpengaruh positip langsung dan signifikan, baik secara parsial maupun simultal terhadap Kinerja koperasi di Kota Kupang, sedangkan Diklat dan Permodalan pengaruh langsung dan parsialnya tidak signifikan. Selanjutnya, semua subvariabel Y berkonribusi posistip dan signifikan terhadap Kinerja koperasi di Kota Kupang. Dari deskripsi dan analisis statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan dapat meningkatkan kemampuan SDM koperasi dalam berkoperasi, yang selanjutnya dapat meningkatkan kinerja koperasi di Kota Kupang, walau belum mencapai kualifikasi Baik, apa lagi Unggul. Oleh karena itu program yang sudah lama berlangsung itu perlu dilanjutkan, disertai berbagai modifikasi agar selain dapat menghasilkan Kinerja Unggul, juga dapat lebih relevan dengan political will pemerintah Kota Kupang. Dalam hal permodalan perlu didahului atau disertai dengan Diklat pola terpadu dengan pendekatan andragogis. Hal ini dimaksudkan agar selain dapat tertanam dan terbentuk jiwa wiraswasta dalam benak SDMK, juga dapat tercipta profil koperasi yang dicita-citakan, sehingga dapat menunjang terwujudnya NTT sebagai provinsi koperasi.

Pengembangan modul pembelajaran matakuliah umum Bahasa Indonesia pada Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang / Iwan Setiawan

 

ABSTRAK Sundari, Yetti. 2008. Perbedaan Abnormal Return, Security Return Variability (SRV), Risiko Sistematis (β), Trading Volume Activity (TVA), dan Bid-Ask Spread Sebelum dan Sesudah Stock Split pada Perusahaan yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2003-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. DR.H. Bambang Banu Siswoyo, M.M., (II) Yuli Soesetio, S.E, M.M. Kata Kunci: Abnormal Return, Security Return Variability (SRV), Risiko Sistematis (β), Trading Volume Activity (TVA), dan Bid-Ask Spread Stock split dilakukan oleh perusahaan untuk menyampaikan informasi tentang prospek keuntungan di masa depan dan juga untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham. Stock split masih menjadi fenomena yang kontroversial. Pertama, stock split dinyatakan murni hanya sebagai “kosmetik”. Kedua, stock split dinyatakan mempunyai efek yang nyata terhadap saham. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini mengingat pentingnya informasi stock split dan juga adanya ketidakkonsistenan hasil penelitian mengenai stock spli . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rata-rata dan perbedaan abnormal return, security return variability (SRV), risiko sistematis (β), trading volume activity (TVA), dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003-2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan didapatkan 19 perusahaan. Periode pengamatan dilakukan selama 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah stock split. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Godnes of Fit Test (K-S). Untuk data berdistribusi normal digunakan statistik parametrik, yaitu uji rata-rata dua kelompok sampel berpasangan atau uji t, sedangkan data tidak terdistribusi normal menggunakan alat analisis Wilcoxon Signed Rank Test dengan signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata abnormal return dan SRV perusahaan sebelum dan sesudah stock split mengalami penurunan, sedangkan risiko sistematis (β), TVA, dan bid-ask spread mengalami peningkatan. Secara statistik, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan abnormal return, SRV, dan TVA yang signifikan, selain itu terdapat perbedaan risiko sistematis (β) dan bid-ask spread yang signifikan sebelum dan seudah stock split pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2003-2007. Disarankan bagi investor sebaiknya dalam berinvestasi tidak terpengaruh oleh stock split, selain itu dalam menganalisis informasi stock split investor harus memperhatikan variabel sistematis (β) dan bid-ask spread. Bagi perusahaan agar lebih transparan kepada pasar mengenai kinerja keuangannya dan perlu pertimbangan yang matang sebelum melakukan stock split. Bagi penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan model perhitungan yang berbeda pada variabel abnormal return dan memperpanjang periode pengamatan serta menggolongkan sampel penelitian berdasarkan sektor industrinya.

Makna pembelajaran kewirausahaan berbasis agribisnis, semangat kerja dan kemandirian komunitas Pondok Pesantren (Studi kasus pada Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Bacem Sutojayan Blitar) / Moh. Nadjib

 

ABSTRACT Moh. Nadjib. 2009. Elucidating Teaching of Agribusiness-Based Entrepreneurship, Work Enthusiasm and Community Autonomy of Pondok Pesantren (A Case Study on “Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin”). Dissertation of the Program of Study of Economics Education. Post Post Graduate Program of the State University of Malang. Advisors: (I) Prof.Dr.H. Bambang Swasto, ME., (II) Prof. Dr. Wahjoedi, ME., and (III) Dr.Sa’dun Akbar, M.Pd. Key Word: entrepreneurship teaching, agribusiness, work enthusiasm, and community’autonomy of Pondok Pesantren. Each person wants autonomy in his/her life, it mean that he/she is able to meet all of his/her needs and is able to solve his/her problem without any help from others. To attain that autonomy the work enthusiasm is needed, and to attain work enthusiasm, entrepreneurship teaching is needed, specially agribusiness-based entrepreneurship. The purpose of this research is to find the elucidating teaching of agribusiness-based entrepreneurship, work enthusiasm, and community autonomy of pondok pesantren (Islamic traditional education system) Sirojuth Tholibin Bacem Sutojayan Blitar as a Pondok Pesantren (Islamic traditional education system) it on agriculture-based. By qualitative research approach, it attention is focused on analysis of research object, and interpretation of elucidation from data in the field, it resulting general findings that Sirojuth Tholibin relatively has been succeeded on teaching of agribusiness-based entrepreneurship to enhance work enthusiasm and community’s autonomy of “pondok pesantren”. Specifically, on teaching of agribusiness-based entrepreneurship are found: teaching vision, the grounded values, approach, methods, learning resources, and lesson materials in Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin based on spiritual values and economical values, approach used is worship approach, learning resources contains of something exists in surrounding environment. Teaching methods used in this research are methods of lectures, question and answer, parallel tutorial, and modelling. The success of entrepreneurship teaching, spiritual strength of “kyai” (Islamic spiritual leader) has a great influence. Within the teaching of agribusiness-based entrepreneurship implemented in Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin found some weaknesses: the curriculum of entrepreneurship teaching is not found in written form, unclear teaching materials, time of teaching is unscheduled. In teaching of agribusiness-based entrepreneurship, besides explaining something concerning agribusiness it self, it also explains about compulsory efforts, be patient, visiting each other, be honest, be low profile, which could enhance the enthusiasm of entrepreneurship and autonomy. It is recommended that (1) general education and education world in general, is expected set forth religious values, as the basic of education, beside the exiting basic of education, to guide the children to ward the Indonesian wholly human being, (2) whorships approach and human relationship are considered as teaching approaches, (3) the religious entrepreneurship teaching in the national educational system need to be developed to develop morally economics, (4) this finding can be adopted by educational institution and can be implemented in accordance with the existing situation, (5) to develop these research findings there need to be other follow up research.

Peningkatan pemahaman konsep luas persegi dan persegi panjang melalui pembelajaran kontekstual (CTL) pada siswa kelas III SDN Gaprang 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Wiwit Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Wiwit. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Luas Persegi dan Persegi Panjang Melalui Pembelajaran Kontekstual ( CTL ) Pada Siswa Kelas III SDN Gaprang 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Pra Sekolah Program Studi Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. M Zainudin, M.Pd, (2) Drs. Imam Hanafi, M.M Kata Kunci: Luas Persegi dan Persegi Panjang, Pembelajaran, Kontekstual Proses pembelajaran matematika di SDN Gaprang 03masih menggunakan pendekatan tradisional yaitu guru yang selalu aktif dalam mengajarkan matematika, memberikan contoh dan latihan, disisi lain siswa hanya mendengarkan, mencatat dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Kesempatan diskusi jarang dilakukan dan kurangnya interaksi dan komunikasi antara guru dengan siswa, sisw dengan siswa. Kegiatan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar seharusnya memuat secara tegas bagaimana siswa belajar metematika. Belajar merupakan proses mengkontruksi pengetahuan baik alami maupun manusiawi. Proses kontruksi itu dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses yang aktif. Beberapa factor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dimiliki, kemampuan kognitif dan lingkungan berpengaruh terhadap hsil belajar. Kegiatan pembelajaran yang dalam tahapan pembelajarannya memuat secara tegas bagaimana siswa belajar matematika yaitu pembelajaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Konsep Luas Persegi dan Persegi Panjang Melalui Pembelajaran Kontekstual ( CTL ) Pada Siswa Kelas III SDN Gaprang 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 3 SDN Gaprang 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara: (1) pemberian angket atau kuisioner; (2) observasi; (3) dokumentasi; (4) wawancara; (5) tes. Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang diperoleh, dan pembahasan dari hasil refleksi serta temuan temuan yang da diperoleh suatu kesimpulan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan tindakan selanjutnya. Penerapan pembelajaran kontekstual membawa pengaruh positif terhadap kualitas belajar siswa. Penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan aktivitas selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dan peningkatan hasil belajar siswa. Aktifitas dari siklus I ke siklus II juga meningkat dari 80% menjadi 86% berarti terjadi peningkatan aktifitas siswa 6%. Pada siklus I ketuntasan belajar mencapai 67% dan siklus II meningkat menjadi 80%, hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar sebesar 13%. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah agar pembelajaran matematika yang kontekstual dapat diimplementasikan dengan baik, hendaknya pada awal pembelajaran guru memulai dengan mengkondisikan untuk mengaitkan konsep awal yang dimilikinya dengan konsep yang akan dipelajarinya, sehingga konsep konsep baru akan tertanam dalam diri siswa.

Pengaruh kebiasaan belajar dan bimbingan orang tua terhadap motivasi belajar siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang / Istiawati

 

Motivasi belajar adalah dorongan yang timbul dari diri seseorang untuk melakukan suatu perbuatan dengan tujuan tertentu yaitu belajar Terdapat dua faktor (internal dan eksternal) yang mempengaruhi motivasi belajar. Faktor internal yang digunakan dalam studi ini adalah kebiasaan belajar; sedangkan faktor eksternalnya adalah bimbingan orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan belajar, bimbingan orang tua dan motivasi belajar siswa Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang. Serta untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan kebiasaan belajar dan bimbingan orang tua terhadap motivasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 122 responden, dalam pengambilan sampel digunakan teknik quota sampling dengan mengambil 55 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan menggunakan regresi linier berganda yaitu untuk mengetahui pengaruh kebiasaan belajar (X1) dan bimbingan orang tua (X2) terhadap motivasi belajar (Y) baik secara parsial maupun simultan dengan menggunakan program SPSS 11.5 For Windows. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Kebiasaan belajar siswa Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang cukup baik dengan prosentase 54,55% (30 responden). (2) Bimbingan orang tua siswa Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang menunjukkan kecenderungan yang kurang baik dengan prosentase 54,54% (30 responden). (3) Motivasi belajar siswa Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang menunjukkan kecenderungan kurang baik dengan prosentase 80% (40 responden). (4) Kebiasaan belajar secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar dengan thitung 2,304 > ttabel 2,00 atau Sig-t = 0,025 < 0,05. (5) Bimbingan orang tua secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar dengan thitung 4,086 > ttabel 2,00 atau Sig-t = 0,000 < 0,05. (6) Kebiasaan belajar dan bimbingan orang tua secara simultan berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar dengan Fhitung 13,038 > Ftabel 3,17 atau Sig-F 0,000 < 0,05. Dari hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa: (1) Bagi pihak Muhammadiyah 2 Malang yaitu optimalisasi pembelajaran dengan berorientasi pada praktek, agar siswa tidak hanya menerima teori, melainkan dapat melakukan aktivitas pekerjaan dalam situasi yang sebenarnya. (2) Bagi orang tua diharapkan lebih memberikan bimbingan saat belajar dan lebih memperhatikan perkembangan pendidikan sang anak dalam membimbing serta membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi anak dalam kegiatan belajar secara berkelanjutan, misalnya menyediakan fasilitas belajar yang memadai, mengambil kesempatan disela-sela waktu istirahat bekerja dan memanfaatkannya untuk melakukan bimbingan dan mengingatkan untuk belajar, mendampingi serta membantunya bila mengalami kesulitan agar tercapai tujuan belajar. Menghargai prestasi anak dengan memberikan pujian dan hadiah, serta pemilihan konsekuensi atau hukuman dengan hati-hati sehingga anak akan merasa percaya diri dan termotivasi untuk belajar. (3) Bagi peneliti lain yaitu penelitian berikutnya sebaiknya menambahkan variasi dengan menambahkan variabel yang lain yang belum tercantum dalam penelitian ini misalnya lingkungan belajar, fasilitas belajar, tingkat intelegensi, dan keadaan sosial ekonomi orang tua. Serta penelitian dilakukan di tempat yang berbeda dengan menggunakan metode analisis yang berbeda untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh tetap konsisten.

Penerapan pembelajaran berbasis penilaian portofolio untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata pelajaran menangani surat masuk-keluar siswa kelas XI APK 1 SMK Muhammadiyah 3 Singosari Malang / Ratnawati

 

ABSTRAK Ratnawati. 2008. Penerapan Pembelajaran Berbasis Penilaian Portofolio Pada Mata Pelajaran Menangani Surat Masuk-Keluar Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI APK 1 Semester Gasal Tahun Ajaran 2008/ 2009 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen. Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Supriyanto, M.M., (2) Madziatul Churiyah S.Pd., M.M. Kata kunci: penilaian portofolio, motivasi belajar, hasil belajar Pendidikan memegang peranan penting dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan sesuai dengan derap langkah kemajuan zaman. Dengan demikian diperlukan peningkatan kualitas pendidikan. Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan tersebut, pemerintah melalui departemen pendidikan nasional merumuskan kebijakan penyempurnaan kurikulum 2004 menjadi KTSP 2006. Perubahan kurikulum juga membawa implikasi terjadinya perubahan penilaian. Penilaian baik dalam KBK maupun KTSP menganut prinsip penilaian berkelanjutan dan komprehensif guna mendukung upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri. Salah satu jenis penilaian yang dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan siswa dalam proses pembelajaran adalah penilaian portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa. Hasil kerja tersebut sering disebut dengan artefak. Artefak-artefak dihasilkan dari pengalaman atau proses pembelajaran siswa dalam periode waktu tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pembelajaran berbasis penilaian portofolio dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar mata pelajaran Menangani Surat Masuk-Keluar siswa kelas XI APK 1 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) perencanaan; (2) tindakan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI APK (Administrasi Perkantoran) 1 di SMK 3 Muhammadiyah 3 Singosari, Malang pada tahun ajaran 2008/ 2009, yang berjumlah 31 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, lembar catatatan lapangan, dokumen portofolio siswa, dan tes. Dokumen portofolio yang dibuat berisi tugas-tugas siswa yaitu berupa: jurnal belajar; refleksi akhir pembelajaran, hasil diskusi, hasil praktek, dan Pekerjaan Rumah (PR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Motivasi siswa dari hasil angket motivasi siklus I sebesar 3,57 . dan siklus II sebesar 3,78. Peningkatan motivasi siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 0,21 atau 21%. Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dimana rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 79,21 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 70%. Pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa adalah 86,06 dengan prosentase ketuntasan belajar 100%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan disarankan pada 1) pihak sekolah SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Malang untuk menggunakan metode-metode penilaian hasil belajar siswa yang dapat melihat kemampuan siswa dari proses dan hasil akhir siswa, serta dilakukan secara berkesinambungan, salah satunya adalah penilaian portofolio. Bagi guru mata pelajaran Surat Masuk-Keluar agar hendaknya dilaksanakan secara team teaching, sebaiknya ada kesepakatan antara guru dan siswa mengenai tugas-tugas yang dimasukkan dalam portofolio, serta dalam penentuan kriteria penilaian portofolio hendaknya disepakati dengan siswa, guru bahkan orangtua. Sedangkan bagi peneliti disarankan untuk menerapkan penilaian portofolio atau jenis Penilaian Berbasis Kelas (PBK) lainnya pada mata pelajaran yang berbeda.

Peningkatan pemahaman konsep perkalian bilangan cacah melalui pendekatan pembelaran matematika realistik (PMR) pada siswa kelas II SDN Karangsari 01 Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung tahun ajaran 2008/2009 / Sri Wahyuni

 

Perkalian bilangan cacah pertama kali diajarkan pada siswa kelas II SD. Dari hasil observasi yang telah dilaksanakan diketahui bahwa siswa kelas II belum begitu memahami konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang a x b = b + b sebanyak ax. Siswa cenderung menyamaartikan perkalian sebagai penjumlahan karena dalam pembelajarannya guru menggunakan media konkret dan hanya menggunakan buku paket saja. Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan pelaksanaan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik tentang konsep perkalian pada kelas II SD dan (2) mendeskripsikan peningkatan dalam pemahaman konsep pembelajaran perkalian bilangan cacah melalui Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik pada siswa Kelas II SDN Karangsari 01 Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung, Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik. Dalam pendekatan PMR siswa memanfaatkan lingkungan nyata untuk memahami konsep perkalian bilangan cacah. Hasil yang dicapai pembelajaran konsep perkalian bilangan cacah siswa kelas II SDN Karangsari 01 dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik sangat memuaskan, dilihat dari pencapaian prestasi siswa dari 15 siswa yang mengalami ketuntasan belajar 12 siswa dan yang tidak mengalami ketuntasan 3 siswa saja. Sehingga dapat diperoleh prosentase 80% siswa mengalami ketuntasan dan 20% siswa yang tidak mengalami ketuntasan. Hal ini menunjukkan prestasi siswa dalam konsep perkalian bilangan cacah dengan pembelajaran matematika realistik melebihi batas minimal prosentase keberhasilan siswa yaitu 60%. Ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan pembelajaran matematika realistik mengacu pada KTSP. Pembelajaran Matematika Realistik dalam pemahaman konsep bilangan cacah sangat membantu karena siswa dihadapkan pada benda-benda yang nyata dan sudah tidak asing bagi siswa seperti sepeda, meja, kelereng, gelas, batu, kantong plastik, jari tangan dan kaki dan lain-lain.Dengan siswa dihadapkan pada situasi yang nyata maka pemahaman konsep belajar mereka akan meningkat.Oleh karena itu pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik dapat terus digunakan karena dapat meningkatakan pemahaman suatu konsep pada siswa. Bertukar pendapat dan ide dengan siswa lain akan memudahkan untuk menemukan alternatif pemecahan masalah dan membuat belajar lebih bermakna.

Pengaruh kualitas layanan terhadap keputusan pembelian di rumah makan ayam bakar wong solo cabang Malang / Arisatul Silfiyah

 

ABSTRAK Silfiyah, Arisatul. 2009. Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Keputusan Pembelian Pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang. Skripsi, Program Studi Manajemen Pemasaran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Budi Eko Soetjipto,M.Ed.M.Si (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajonto, M.Si. Kata Kunci : Kualitas Layanan, Keputusan Pembelian, Penduduk Indonesia yang semakin bertambah merupakan pasar yang potensial bagi perusahaan-perusahaan dalam memasarkan produknya. Perusahaan dalam negeri dan luar negeri berusaha untuk mendirikan bisnis dan menciptakan produk yang nantinya digemari oleh para konsumen. Semua perusahaan baik dari sektor jasa maupun manufaktur dituntut untuk selalu mengantisipasi perubahan yang terjadi, baik lingkungan internal maupun eksternal. Perusahaan yang memiliki konsumen atau pelanggan yang banyak, mereka akan memperoleh keuntungan yang lebih dibanding perusahaan yang lain. Sebuah perusahaan jasa harus menjaga kualitas layanan yang ditawarkan, harus berada diatas pesaing dan lebih hebat dari yang dibayangkan oleh konsumen. Apabila kualitas layanan yang diterima oleh konsumen lebih baik atau sama dengan yang dibayangkan, maka ia akan cenderung untuk melalukan keputusan pembelian dan akan mencoba kembali.akan tetapi apabila perceiped service lebih dari expected service maka konsumen akan kecewa dan akan menyetop hubungan dengan perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan penyedia jasa/perusahaan dalam memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten. Untuk mencapai keputusan pembelian, perusahaan jasa harus memperhatikan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Pengaruh keandalan (X1) terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang, (2) Pengaruh daya tanggap (X2) terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang, (3) Pengaruh jaminan (X3) terhadap keputusan pembelan di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang, (4) Pengaruh empati (X4) terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang, (5) Pengaruh bukti fisik (X5) terhadap keputusan pembelin di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang, (6) Pengaruh secara simultan keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang.Data yang diperoleh menggunakan angket tertutup. Sampelnya adalah 100 pelanggan yang melakukan pembelian di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas layanan yang meliputi keandalan (reliability) X1, Daya Tanggap (responsibility) X2, jaminan (assurance) X3, empati (empathy) X4, dan Bukti Fisik (tangible) X5. Variabel terikatnya keputusan pembelian (Y) Analisis data yang dilakukan dengan bantuan SPSS for Windows Release 12, dengan taraf signifikansi 5%. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis regresi diketahui hasil penelitian menyatakan bahwa (1) β = 0,210 kualitas layanan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. (2) Sedangkan β = 0,228 keputusan pembelian mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, (3) sedangkan β = 0,246 kualitas layanan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. (4) Sedangkan β = 0,278 keputusan pembelian mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. (5) Sedangkan β = 0,188 keputusan pembelian mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. (6). ada pengaruh postif yang signifikan antara kualitas layanan (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik)secara simultan terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang. Dari hasil uji ANOVA dan F tes, diperoleh nilai Fhitung 46,964, signifikansi 0.000 <0,05 Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1)Dimensi kualitas layanan pada keandalan yang diberikan oleh Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. (2) Dimensi kualitas layanan pada daya tanggap yang diberikan oleh Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang kepada pelanggan berpengaruh terhadap keputusan pembelian. (3) Dimensi kualitas layanan pada jaminan yang diberikan oleh Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. (4) Dimensi kualitas layanan pada empati yang diberikan kepada pelanggan berpengaruh terhadap keputusan pembelian. (5) Dimensi kualiats layanan pada bukti fisik yang diberikan kepada pelangan berpengaruh pada keputusan pembelian. (6) 69,9% keputusan pembelian dipengaruhi oleh dimensi kualitas layanan (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik) sedangkan sisanya sebesar 30,1% dipengaruhi oleh faktor lain selain dimensi kualitas layanan yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian yang telah diuaraikan dalam bab V, maka saran yang dapat peneliti berikan kepada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang adalah: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi kualitas layanan mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan hasil penelitian dimensi kualitas layanan pada bukti fisik paling rendah nilainya, oleh sebab itu Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Malang harus meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan dengan cara selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah makan dan mendesain ulang atau jika dimungkinkan melakukan perubahan tampilan fisik (layout) rumah makan baik desain eksterior maupun interior, dan juga yang harus diperhatikan adalah kerapian pada pelayan atau pramusaji karena penampilan atau kerapian pelayani juga pempengaruhi kualitas layanan.

Penerapan media untuk meningkatkan interaksi dan hasil belajar biologi siswa SMPN 4 Malang / Siti Nur Fadlilah

 

ABSTRAK Nur Fadlilah, Siti. 2008. Penerapan Media Untuk Meningkatkan Interaksi dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMPN 4 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Margono, M.A (II) Dra. Murni Saptasari, M. Si Kata kunci: media, interaksi, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan peneliti diketahui adanya permasalahan mengenai rendahnya interaksi belajar dan hasil belajar dalam mata pelajaran Biologi di SMP Negeri 4 Malang kelas VII-B. Orientasi pembelajaran dikelas VII-B pada umumnya sudah menggunakan metode yang bervariasi tetapi untuk penerapan media belum melibatkan siswa sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi belajar dan hasil belajar siswa kelas VIIB dengan menerapkan media benda nyata dalam mata pelajaran Biologi di SMP Negeri 4 Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sedangkan jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Subyek dari penelitian ini adalah kelas VII-B SMP Negeri 4 Malang dengan jumlah 41 siswa. Setiap siklus PTK terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, angket interaksi belajar dan tes belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah ketercapaian interaksi belajar siswa (interaksi individu, interaksi kelompok dan interaksi kelas) dan hasil belajar siswa (ranah kognitif). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada interaksi belajar dan hasil belajar siswa dari sebelum diberi tindakan dan setelah tindakan penerapan media dari siklus I sampai siklus II. Interaksi kelas sebelum tindakan dikategorikan sangat rendah, setelah diberi tindakan pada siklus I interaksi kelas 8,4 dengan taraf keberhasilan cukup dan pada siklus II interaksi kelas meningkat menjadi 13,5 dengan taraf keberhasilan cukup. Hasil belajar siswa untuk ranah kognitif juga mengalami peningkatan sebelum tindakan dan setelah tindakan dengan pembelajaran penerapan media dari siklus I sampai siklus II. Sebelum tindakan diperoleh rerata 68 dan ketuntasan belajar klasikalnya 31,70% sedangkan rerata siklus I 73,90 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 70,73%; siklus II rerata 87,90 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 92,68%. Peningkatan antara interaksi dan hasil belajar siswa tersebut juga dipengaruhi peran peneliti di dalam kelas saat menerapkan media. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara interaksi belajar dan hasil belajar siswa kelas VII-B di SMP Negeri 4 Malang, dengan hasil analisis korelasi rxy = 1 > rtabel = 0,308. Penerapan media yang menggunakan benda nyata dan LKS bagi mata pelajaran Biologi diperlukan sebagai alternatif dan solusi untuk meningkatkan interaksi dan hasil belajar siswa.

Pengembangan bahan ajar menulis cerpen dengan strategi dari cerpen ke cerpen siswa kelas X si SMAN I Malang / Sri Susilowati

 

Pengembangan bahan ajar menulis cerpen dengan strategi pemodelan adalah bahan ajar yang menyajikan materi, latihan, dan berbagai pemodelan/contoh cerpen yang diharapkan dapat membantu siswa dalam menulis cerpen yang memfokuskan pada pengembangan peristiwa dan tokoh. Peristiwa dan tokoh merupakan unsur cerpen yang saling berhubungan, yang juga tidak terlepas dari unsur-unsur yang lain, seperti latar, gaya, sudut pandang, dan tema. Berdasarkan hal tersebut, secara implisit unsur cerpen peristiwa dan tokoh dalam bahan ajar menulis ini saling berhubungan dan saling menghidupi. Untuk mencapai standar kompetensi menulis cerpen dalam pembelajaran, diperlukan strategi yang tepat. Strategi yang diduga tepat dalam penelitian ini adalah strategi pemodelan Dari Cerpen ke Cerpen (CKC) karena strategi tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif dalam pembelajaran antara lain dengan mengembangkan silabus, mengembangkan materi dalam produk bahan ajar menulis cerpen dengan strategi Dari Cerpen ke Cerpen pada siswa kelas X di SMA Negeri I Malang. Sehingga proses evaluasi/penilaian menulis cerpen dapat dianalisis sesuai dengan strategi Dari Cerpen ke Cerpen pada siswa kelas X di SMA Negeri I Malang. Dalam pembelajaran menulis cerpen tidak terlepas dari bimbingan guru sehingga siswa mampu memilih tema, mengembangkan ide pokok, mengembangkan tokoh baik langsung maupun tidak langsung, mengembangkan peristiwa, menyusun draf yang dikembangkan dari kerangka, dan mengedit naskah cerpen atau merevisi. Kegiatan menulis cerpen dengan strategi pemodelan dalam bahan ajar bertujuan agar siswa mengalami proses dalam beberapa tahapan kegiatan belajar. Tahapan kegiatan yang dilewati itu meliputi: (1) memilih topik, (2) mengembangkan ide pokok, (3) mengembangkan tokoh baik langsung maupun tidak langsung, (4) mengembangkan peristiwa, (5) menyusun kerangka, (6) menulis cerpen, dan (7) mengedit atau merevisi. Untuk mencapai standar kompetensi menulis cerpen, diperlukan strategi yang tepat. Strategi yang tepat dalam penelitian ini adalah pemodelan Dari Cerpen ke Cerpen (CKC) karena strategi tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri. Proses belajar secara alamiah mulai dengan langkah mengamati suatu objek, siswa menemukan masalah dan terdorong untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak siswa akan memotivasi mereka untuk selalu mencari jawabannya. Strategi Dari Cerpen ke Cerpen dapat diterapkan pada pembelajaran menulis, khususnya menulis cerpen. Dikatakan demikian karena salah satu model untuk mendapatkan bahan cerpen adalah melalui pengamatan, bertanya, menemukan apa yang telah diamati, mengolah, dan memprosesnya. Kegiatan tersebut merupakan salah satu komponen yang terdapat dalam strategi Dari Cerpen ke Cerpen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peneliti penyusunan silabus dengan strategi pemodelan yang meliputi komponen standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, hal tersebut bertujuan agar pembelajaran terarah sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan. Peneliti merancang kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dengan menghasilkan produk cerpen karya siswa. Pengembangan materi, tema, dan latihan dalam bahan ajar yang disesuaikan dengan penyusunan silabus sangat efektif untuk mencapai Kompetensi Dasar pengembangan materi, tema, dan latihan dalam bahan ajar yang disesuaikan dengan penyusunan silabus sangat efektif untuk mencapai kompetensi dasar. Pemanfaatan bahan ajar tersebut memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. Penambahan/pengembangan materi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan lingkungan siswa dan pengalaman siswa. Evaluasi/ penilaian pembelajaran yang digunakan peneliti antara lain penilaian hasil dan penilaian proses menulis cerpen berhasil karena strategi pemodelan mampu mengembangkan proses kreativitas siswa menulis cerpen. Peneliti melakukan evaluasi pembelajaran menulis cerpen dengan menyajikan latihan-latihan pada setiap pembahasan materi, karena hal tersebut sangat penting untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan. Dalam hal ini, siswa dilatih lebih banyak dalam mempraktikkan menulis cerpen, bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai atau menghafalkan teori tentang bahasa karena keterampilan menulis itu merupakan suatu proses pertumbuhan melalui banyak latihan. Pengembangan bahan ajar dengan strategi pemodelan Dari Cerpen ke Cerpen menunjukkan kesesuaian dengan asumsi penelitian, yakni melibatkan keterampilan berbahasa lainnya seperti membaca secara terpadu karena melibatkan berbagai unsur belajar. Hal tersebut terbukti dalam penyajian bahan ajar peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami materi menulis cerpen dengan teknik membaca contoh cerpen terlebih dahulu sebelum menghasilkan cerpen yang sempurna. Siswa termotivasi untuk menulis cerpen dengan tema kehidupan mereka sesuai dengan pengalaman siswa sehingga pembelajaran menjadi kontekstual dan bermakna serta menyenangkan bagi siswa. Hasil uji coba oleh uji ahli antara lain: (a) ahli isi menyarankan agar tema dan gambar pada setiap indikator yang tidak relevan dengan tema awal perlu dihilangkan. (b) Kelemahan utama dalam pengembangan bahan ajar ini adalah dalam menyusun kegiatan menulis cerpen dan penggunaan bahasa. Dalam menyusun kegiatan menulis cerpen, teori-teori harus diurutkan kembali sesuai dengan saran ahli isi dan ahli sastra agar siswa dapat secara sistematis memahami langkah-langkah dalam menulis cerpen. Selain hal tersebut perlu dilakukan penyortiran teori-teori yang tidak relevan dengan SK, KD, dan indikator menulis. Menurut saran ahli isi dan sastra bahwa teori dan latihan-latihan harus disesuaikan dengan tema yang diambil, yakni tentang kehidupan. (c) Ahli sastra menyarankan bahwa kriteria dalam instrumen penilaian perlu diperjelas sehingga hasil tagihan menulis cerpen siswa mencapai nilai maksimal. (d) Ahli kelompok kecil siswa menyarankan bahwa warna dan gambar dalam bahan ajar yang dikembangkan agar lebih mencolok karena kurang menyenangkan. Setelah melalui tahapan revisi, bahan ajar yang dikembangkan peneliti memperoleh hasil yang memuaskan dan produk layak untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia

Analisis data pengaruh orientasi medan magnet terhadap rapat arus kritis pita superkonduktor BSCCO-2223/Ag / Beliarova Franciska Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Beliarova, Franciska. 2009. Analisis Data Pengaruh Orientasi Medan Magnet Terhadap Rapat Arus Kritis Pita Superkonduktor BSCCO-2223/Ag. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Markus Diantoro, M. Si, (II) Drs. Abdulloh Fuad, M. Si. Kata kunci: orientasi medan magnet, rapat arus kritis, pita superkonduktor. Orientasi medan magnet luar yang dikenakan pada pita superkonduktor dapat mempengaruhi nilai rapat arus kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh orientasi medan magnet terhadap rapat arus kritis pita superkonduktor BSCCO-2223/Ag, BSCCO-2223/Ag didoping SrCO3 10%, dan BSCCO-2223/Ag didoping BaZrO3 10%. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk rujukan tentang pengaruh orientasi medan magnet terhadap rapat arus kritis pita superkonduktor. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pengukuran nilai arus I dan tegangan V menggunakan 4-probe pada medan magnet luar H = 0,1 T dan 0,5 T, suhu 77 K serta sudut orientasi medan magnet dari 0o-90o yang dilakukan di labolatorium IEE-SAV Brastislava Slovakia. Penelitian ini menganalisis data pengaruh orientasi medan magnet terhadap rapat arus kritis pita superkonduktor BSCCO-2223/Ag, BSCCO-2223/Ag didoping SrCO3 10%, dan BSCCO-2223/Ag didoping BaZrO3 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rapat arus kritis Jc menigkat secara eksponensial dengan pola yang serupa seiring pemberian sudut orientasi medan magnet dari 0o sampai 90o. Hal ini sebabkan medan magnet B berkurang seiring penigkatan sudut orientasi dari 0o sampai 90o, superkonduktivitas semakin luas sehingga kemampuan menghantarkan arus super menigkat sehingga rapat arus kritis juga menigkat. Sesuai dengan persamaan gaya pinning , dimana nilai dari Fp semanding dengan rapat arus kritis Jc. Penambahan medan magnet menyebabkan nilai rapat arus kritis Jc menurun. Penigkatan medan magnet luar menyebabkan vorteks yang menembus semakin banyak, sehingga jarak vorteks semakin rapat yang mengakibatkan superkonduktivitas menurun. Sehingga kemampuan menghantarkan arus super menurun, sebagai akibatnya rapat arus kritis Jc juga menurun. Dengan kata lain, gaya pinning bahan pada kondisi ini mengecil, sesuai paersamaan gaya pinning .

Penerapan metode pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) dengan menggunakan penilaian portofolio untuk meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar ekonomi (Studi kasus: siswa kelas XI IPS 4 SMA Islam Malang) / Nur Dhani Palupi

 

ABSTRAK Palupi, Nur Dhani. 2008. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan Menggunakan Penilaian Portofolio untuk Meningkatkan Motivasi dan Ketuntasan Belajar Ekonomi (Studi Kasus: Siswa Kelas XI IPS 4 SMA ISLAM Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Ekonomi, FE, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ir. Yohanes Hadi Susilo, M.Div, M.E., (II) Imam Mukhlis, S.E, M.Si. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT), Penilaian Portofolio, Motivasi, Ketuntasan belajar Untuk lebih mendukung terwujudnya kondisi yang kondusif dalam KTSP perlu diperhatikan dalam pemilihan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga mampu mengarahkan siswa untuk lebih aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran sehingga ketuntasan belajarnya dapat tercapai. Maka dari itu diperlukan adanya pengembangan usaha dalam rangka menarik minat siswa dalam metode pembelajaran yang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, yaitu salah satunya dengan menggunakan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT). Begitu juga dalam melaksanakan penilaian terhadap siswa. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada hasil tes tertulis yang pada umumnya hanya mengungkapkan kemampuan kognitif siswa sedangkan kemampuan afektif dan psikomotor siswa belum terukur. Untuk mengukur kemampuan siswa dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor yaitu penilaian portofolio. Penilaian portofilio ini menekankan pada penilaian proses dan hasilnya sekaligus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas XI IPS 4 SMA ISLAM Malang dengan penerapan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan penilaian portofolio. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan selama dua siklus dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMA ISLAM Malang yang terletak dijalan Kartini No.2 Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 4 dengan jumlah siswa 32 orang. Instrumen yang digunakan meliputi jurnal belajar siswa, nilai tes, lembar refleksi akhir pembelajaran, lembar pengecekan dan penilaian portofolio, observasi berupa lembar motivasi siswa, lembar keterlaksanaan keterlaksanaan pembelajaran oleh guru, lembar keterlaksanaan penilaian portofolio, angket, wawancara dan catatan lapangan Dari penelitian ditemukan bahwa dengan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan penilaian portofolio dapat meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas XI IPS 4 SMA ISLAM Malang. Motivasi dan ketuntasan belajar siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. Motivasi siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 yaitu sebesar 13.37%. Sedangkan hasil ketuntasan belajar pada penilaian portofolio mengalami peningkatan pada siklus 2 yaitu sebesar 34.36% yaitu pada siklus 1 sebanyak 14 siswa dengan persentase sebesar 43.76% penilaian portofolio pada siklus 2 ketuntasan belajar siswa, sejumlah 25 anak dengan persentase 78.12%. ii Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar peneliti selanjutnya dapat lebih memberikan motivasi selama proses diskusi sehingga semua siswa dapat ikut berpartisipasi , dalam penilaian oleh teman hendaknya ditukartukarkan secara acak agar tidak terjadi kerjasama dan sebaiknya lembar penilaian portofolio oleh siswa sendiri setelah selesai melakukan penilaian dikumpulkan terlebih dahulu agar nantinya pada waktu penilaian oleh teman tidak mencontek dari hasil penilaian oleh siswa sendiri serta lebih memberi bimbingan dan arahan karena penilaian portofolio merupakan hal baru bagi siswa.

Pengaruh lama penyinaran terhadap pencapaian kedewasaan seksual dan panjang siklus estrus mencit (Mus musculus) Galur balb C / Mariam Ratna Sari

 

Cahaya berpengaruh terhadap reproduksi, baik berupa penurunan atau peningkatan aktivitas reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyinaran berbeda terhadap pencapaian kedewasaan seksual dan panjang siklus estrus mencit (Musmusculus) Galur Balb C. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan masing-masing lima ulangan. Data dianalisis dengan Anava tunggal dan dilakukan uji lanjut menggunakan uji BNT 5% bila terdapat perbedaan. Prosedur penelitian meliputi pertama pemilihan dan pemeliharaan yaitu memilih mencit berumur 21 hari (lepas sapih) dengan berat badan 6,3-8,3 gram sebanyak 25 ekor dan kedua adalah tahap perlakuan yaitu mencit berumur 21 hari diberi cahaya dengan lama penyinaran yang berbeda yaitu 0 jam/hari, 6 jam/hari, 18 jam/hari, dan 24 jam/hari, dengan kontrol 12 jam/hari sampai tercapai umur kedewasaan seksual, kemudian pemberian cahaya dilanjutkan sampai umur 8 minggu, dan mengalami 3x siklus estrus. Hasil penelitian pencapaian kedewasaan seksual mencit yang diperlakukan dengan lama penyinaran dibawah kontrol yaitu 0 jam/hari dan 6 jam/hari memiliki rata-rata kedewasaan seksual 36,4 hari dan 35,4 hari. Pencapaian kedewasaan seksualnya cenderung lebih lambat dibandingkan dengan kontrol (34,4 hari). Pencapaian kedewasaan seksual mencit yang diperlakukan dengan lama penyinaran diatas kontrol yaitu 18 jam/hari dan 24 jam/hari memiliki rata-rata kedewasaan seksual 34,2 hari dan 32 hari. Pencapaian kedewasaan seksualnya cenderung lebih cepat daripada kontrol (34,4 hari). Begitu juga dengan panjang siklus estrus mencit yang diperlakukan dengan lama penyinaran yang berbeda, diketahui bahwa lama penyinaran dibawah kontrol yaitu 0 jam/hari dan 6 jam/hari memiliki ratarata panjang siklus estrus 4,66 hari dan 4,62 hari cenderung lebih lambat daripada kontrol (4,58 hari), sedangkan lama penyinaran diatas kontrol yaitu 18 jam/hari dan 24 jam/hari memiliki panjang siklus estrus 4,46 hari dan 4,4 hari cenderung lebih cepat dari kontrol (4,58 hari). Berdasarkan analisis data dari tabel data pencapaian kedewasaan seksual dan panjang siklus estrus, diperoleh F hitung lebih kecil dari F tabel dengan taraf signifikasi 5%. Hal ini menunjukkan bahwa lama penyinaran yang berbeda tidak berpengaruh terhadap pencapaian kedewasaan seksual dan panjang siklus estrus mencit (Mus musculus) galur Balb C.

Peran Partai Keadilan Sejahtera dalam pelaksanaan Pendidikan Politik kepada kader di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Wahyu Aprilianto

 

ABSTRAK Aprilianto, Wahyu. 2009. Peran Partai Keadilan Sejahtera Dalam Pelaksanaan Pendidikan Politik di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: Drs. Suparlan Al-Hakim, M. Si Rusdianto Umar, SH, M.Hum Kata Kunci: Peran, Pendidikan Politik, PKS Pendidikan politik merupakan usaha secara sadar dalam rangka mencerdaskan warga negara dalam bidang politik. Sehingga warga negara menjadi sadar akan hak, kewajiban serta tanggung jawabnya terhadap bangsa dan negara. Tujuan dari pada penulisan skripsi ini adalah untuk, a) mengetahui karakteristik pendidikan politik, b) mengetahui karakteristik Partai Keadilan Sejahtera, c) mengetahui program-program yang telah dicanangkan oleh Partai keadilan Sejahtera Kanigoro, dan d) mengetahui peran Partai Keadilan Sejahtera dalam pelaksanaan pendidikan politik kepada kader di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Untuk mencapai tujuan tersebut metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kedalam jenis penelitian deskriptif, yaitu berupaya menggambarkan keadaan yang sebenar-benarnya yang terjadi di lapangan. Teknik dalam pengumpulan data serta informasi adalah, a) observasi, yaitu peneliti sebagai instrument utama terjun langsung ke lapangan atau lokasi penelitian, b) wawancara, digunakan sebagai salah satu alat pengumpul informasi dari informan yang telah ditetapkan, c) dokumentasi, digunakan sebagai pelengkap serta memperkuat data serta informasi yang ada. Pokok-pokok permasalahan tersebut adalah secara garis besar adalah, a) karakteristik pendidikan politik, b) karakteristik Partai Keadilan Sejahtera, c) program dari Partai Keadilan Sejahtera Kanigoro, d) peran Partai Keadilan Sejahtera dalam pelaksanaan pendidikan politik di Kanigoro Pendidikan politik mempunyai karakter-karakter atau ciri khas yang membedakan pendidikan politik dengan pendidikan-pendidikan yang lain, karakter tersebut terlihat apabila pendidikan politik telah tuntas dipelajari, karakteristik pendidikan politik terdapat dalam konsep pendidikan politik, tujuan pendidikan politik, materi pendidikan politik, bahan pendidikan politik. Partai Keadilan Seahtera mempunyai karakteristik dari pada partai yan lain yaitu melaui tujuan partai, kegiatan partai, sasaran yang hendak dituju partai serta agenda dakwah partai. PKS diKanigoro mempunyai program-program termasuk program jangka pendek serta program jangka panjang. Pendidikan politik yang dilakukan oleh Partai Keadilan sejahtera di Kanigoro adalah melalui beberapa yaitu, a) melalui program yang telah tersusun termasuk didalamnya adalah program jangka pendek serta program jangka panjang partai, b) melalui kegiatan tarbiyah atau pendidikan termasuk didalamnya adalah pendidikan politik serta c) pendidikan politik dalam arti sebagai layanan, baik layanan kepada kader serta masyarakat.

Penggunaan dekak-dekak untuk meningkatkan penguasaan penjumlahan bilangan cacah pada siswa kelas II SDN Rampal Celaket I Kecamatan Klojen Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Lailul Indrawati

 

Pelaksanaan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar sampai saat ini masih berlangsung secara konvensional di mana kegiatan masih terpusat pada guru, monoton dan menjenuhkan, akibatnya perolehan belajar siswa pada mata pelajaran matematika tersebut masih sangat rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Guru masih menggunakan metode lama yaitu metode ceramah metode ini mengakibatkan anak kurang kreatif dan kurang berkreasi dalam pembelajaran. Siswa tidak bisa mengembangkan dasar matematika yang ia miliki, siswa hanya meniru yang dikerjakan dan diperintahkan oleh guru. Akibatnya siswa tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang dia dapat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu adanya terobosan baru dalam mendorong arah kualitas pembelajaran matematika di sekolah khususnya Sekolah Dasar. Salah satu faktornya adalah penggunaan media pembelajaran, dekak-dekak merupakan alat bantu dalam pembelajaran penjumlahan bilangan cacah. Dengan adanya dekak-dekak ini diharapkan siswa dapat berkreasi, ulet, kreatif dan kualitas pembelajaran juga berlangsung secara atraktif, bermutu serta menyenangkan bagi anak didik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran penjumlahan dengan menggunakan dekak-dekak (2) mendiskripsikan penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah sebelum menggunakan media dekak-dekak (3) mendiskripsikan penguasaan siswa terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah sesudah menggunakan media dekak-dekak (4) mendiskripsikan peningkatan penguasaan siswa kelas II SDN Rampal Celaket I kecamatan Klojen, kota Malang tentang penjumlahan yang diajarkan dengan menggunakan alat bantu dekak-dekak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang fenomena yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung yaitu situasi kelas dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah PTK mengikuti alur Kurt Lewin dan Stephen Kemmis, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan ,(3) Observasi,(4) Refleksi. Subyek penelitian terdiri dari siswa kelas II-A SDN Rampal Celaket I Malang, yang berjumlah 36 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui tes formatif pada akhir tindakan, observasi, wawancara. Analisis data terdiri dari 3 komponen kegiatan yang dilakukan secara berurutan yaitu kegiatan reduksi, sajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil-hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dekak-dekak dapat meningkatkan penguasaan penjumlahan bilangan cacah pada siswa kelas II-A. Hal ini ditunjukkan pada pelaksanaan pratindakan penguasaan siswa terhadap konsep penjumlahan masih sangat kurang dari 36 siswa 25% yang mampu menguasai penjumlahan bilangan cacahdengan rata-rata 49,72. Pada siklus I penguasaan siswa sudah meningkat dari 25% menjadi 75% sudah mencapai kriteria ketuntasan dan rata-rata 80,28. Siklus II dari 36 siswa semua (100%) sudah mencapai kriteria ketuntasan dengan rata-rata 87,5. Dengan hasil-hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada guru untuk meningkatkan penggunaan media pembelajaran yaitu dekak-dekak untuk membantu meningkatkan penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah pada kelas II. Guru juga bisa memanfaatkan dekak-dekak untuk mendorong keaktifan dan keuletan siswa didiknya. Untuk Kepala Sekolah lebih memperhatikan sarana dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru-gurunya untuk menunjang kelancaran pembelajaran dikelas. Sedangkan untuk peneliti lain hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini pada bilangan-bilangan yang lebih tinggi (penjumlahan ribuan dan puluhan ribu), sehingga anak didik kita benar-benar mencapai hasil belajar yang optimal.

Pengaruh persepsi siswa tentang strategi pembelajaran Team Teaching terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo / M. Dendy Zaimulya

 

Team teaching merupakan sebuah pengaturan khusus yang melibatkan sedikitnya dua guru dalam perencanaan, penyampaian, dan penilaian kemampuan siswa. Mereka bekerja sama sebagai suatu team, bukan sebagai individu. Keberadaan strategi pembelajaran team teaching di sekolah akan menimbulkan persepsi siswa untuk lebih termotivasi dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Dengan meningkatnya motivasi belajar siswa akan berpengaruh terhadap hasil belajar atau prestasi belajar siswa secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh langsung persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching terhadap motivasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo, (2) pengaruh langsung persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching terhadap hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo, (3) pengaruh langsung motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo, (4) pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang dilakukan pada 74 siswa kelas XI IPS1 dan XI IPS2 SMA Negeri 2 Situbondo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanasi asosiatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,365, (2) persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,667, (3) motivasi belajar siswa dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,395, (4) persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching berpengaruh pada hasil belajar siswa melalui motivasi belajar siswa sebesar 0,144. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah: (1) guru team teaching hendaknya meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih kreatif lagi agar siswa memiliki persepsi yang positif sehingga siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar dan tidak cepat merasa jenuh dengan mata pelajaran yang dihadapinya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu, guru team teaching diharapkan dapat memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar sehingga hasil belajar dapat tercapai secara optimal, (2) siswa diharapkan sebisa mungkin selalu meningkatkan motivasi belajarnya karena motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan hasil belajar. Selain itu, siswa hendaknya selalu memiliki persepsi yang positif terhadap guru team teaching agar dapat selalu merasa nyaman ketika belajar bersama guru team teaching sehingga hasil belajar dapat tercapai secara optimal, dan (3) bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas, misalnya: latar belakang sosial ekonomi, lingkungan sosial siswa, atau minat siswa sehingga dapat mengungkapkan lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil dari temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek / Widhy Maita Kusuma Wardhani

 

ABSTRAK Wardhani, Widhy Maita Kusuma. 2008. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek . Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M. Sc, (2) Dra. Susy Kuspambudi A. , M. Kom Kata kunci:. Pembelajaran Kontekstual, hasil belajar. Pemilihan metode pembelajaran matematika yang tepat dapat berdampak positif terhadap hasil belajar matematika siswa. Banyak kegiatan yang diadakan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan metode pembelajaran matematika, misalnya dengan kegiatan akademik seperti pelatihan, seminar, dan penyuluhan. Kegiatan akademik tersebut diharapkan dapat banyak mengubah kebiasaan guru dalam megajar. Metode pembelajaran yang diduga selama ini banyak digunakan khususnya di SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek adalah metode pembelajaran biasa, dimana kegiatan di kelas didominasi oleh guru, sehingga perlu diciptakan proses belajar matematika yang baik dan banyak menuntut keaktifan dan keterlibatan siswa, supaya pengetahuan yang ditemukan siswa sendiri menjadi lebih bermakna. Salah satu pembelajaran yang menuntut keterlibatan siswa di kelas adalah pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Memahami betapa pentingnya memilih metode yang tepat dalam meningkatkan hasil belajar, maka peneliti mengadakan penelitian tentang Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif jenis penelitian eksperimental semu. Penelitian eksperimental semu ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran kontekstual mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek. Hipotesis dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran biasa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek pada semester I Tahun Ajaran 2008 / 2009 dan sebagai sampel adalah 84 orang siswa yaitu kelas IX-F dengan jumlah siswa 43 sebagai kelas eksperimen dan kelas IX-E dengan jumlah siswa 41 sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak. Kelas eksperimen diajar dengan pembelajaran kontekstual sedangkan kelas kontrol diajar dengan pembelajaran biasa. Dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS diperoleh P-Value < alpha 0,05 yaitu 0,002 < 0,05 yang berarti H0 ditolak atau H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran biasa.

Motif-motif sanggul masa majapahit: suatu penelitian melalui ungkapan bentuk sanggul terakota figurin manusia koleksi pusat informasi Majapahit / Erry Setia Nurma Wahyuni

 

ABSTRAK Erry, Setia Nurma Wahyuni. 2008. Motif Sanggul Masa Majapahit: Suatu Penelitian Melalui Ungkapan Bentuk Sanggul Pada Terakota Figurin Manusia di Pusat Informasi Majapahit. Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Blasius Soeprapto, M.Hum, (II) Drs. Sisbar Noersya, M.Pd. Kata kunci: motif, sanggul, terakota figurin manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan bahwa benda-benda arkeologi merupakan peninggalan dari budaya masyarakat pendukungnya. Ini terlihat dari bentuk-bentuk temuan terakota masa Majapahit di situs Trowulan yang kini menjadi koleksi PIM. Namun, dilihat dari bentuk temuan terakota, tidak semua terakota digunakan sebagai sarana upacara/religi, alat memasak, alat bermain, alat produksi, dan lain-lain. Salah satu di antaranya adalah terakota figurin manusia yang digambarkan sangat ekpresif , bentuk dan cara pakaian serta tata rambut yang bervariatif. Hal ini menandakan bahwa pengrajin masa Majapahit menggambarkan benda seni dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosial maupun budaya masyarakat . Masalah yang diteliti bertalian dengan, (A) bentuk temuan terakota koleksi PIM, (B) bentuk terakota figurin manusia koleksi PIM, (C) bentuk sanggul terakota figurin manusia, (D) motif sanggul masa Majapahit berdasarkan ungkapan bentuk sanggul terakota figurin manusia koleksi PIM. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji sanggul terakota figurin manusia koleksi PIM adalah pendekatan arkeologi yang berusaha untuk mendiskripsikan dan menganalisis data berupa kebudayaan material (artefak) yang berupa terakota. Pada akhirnya hasil telaah arkeologis ini dijadikan bahan untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan dari masyarakat terteliti. Hasil penelitian ini meliputi beberapa hal sebagai berikut. Pertama, temuan terakota koleksi PIM menunjukkan beberapa bentuk antara lain: relief, kala, jaladwara, arca Ghana, bata berelief, genteng, saluran air, bata segi enam (ubin), bata lengkung (sumur), selubung tiang, kemuncak, jambangan, tempayan, kendi, botol, buyung, periuk, tutup, piring, mangkuk, lampu, celupak, pot bunga, vas, kelereng, terakota figurin manusia dan binatang, kowi, cetakan, kumparan, pedupaan, kendi, peripih, celengan, bandul jala. Kedua, bentuk terakota figurin manusia di antaranya menggambarkan sikap arca, bentuk dan ekspresi wajah, bentuk dan cara berpakaian, pemakaian hiasan, tata rambut, dan figur orang asing. Ketiga, bentuk-bentuk sanggul terakota figurin manusia mempuyai kesamaan dengan sanggul tradisional. Keempat, dari bentuk sanggul yang terdapat pada terakota figurin manusia diketahui ada beberapa motif sanggul masa Majapahit, antara lain: sanggul samping kiri; sanggul supit urang; sanggul konde; sanggul jata, sanggul keling.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |