The use of persuasive technique in McDonalds' television advertisements / Larasati Zuhro Nur Faizah Surya Putri

 

Putri, Larasati Zuhro Nur Faizah Surya. 2014. Penggunaan Teknik Persuasif dalam Iklan Televisi Produk McDonalds. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Evynurul Laily Zen, S.S, M.A. Kata kunci: teknik persuasi, iklan televisi, produk-produk McDonald’     Iklan bukanlah suatu hal yang aneh, itu menjadi salah satu alat berkomunikasi. Iklan adalah sebuah sistem bagi seseorang atau perusahaan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat. Teknik persuasif diperlukan sebagai strategi dalam menyarankan, mendorong, mempengaruhi, mengumumkan, dan sangat merasuk ke dalam pikiran masyarakat. Di sekitar kita, ada berbagai jenis iklan yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Iklan yang paling efektif adalah dengan cara memanfaatkan televisi sebagai alat bantu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik persuasif yang dipergunakan dan efek yang diinginkan dari penggunaan bahasa sebagai teknik persuasif pada iklan televisi McDonalds.     Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data diambil dari transkrip semua ujaran dari tokoh iklan-iklan McDonald yang dipilih. Dalam penelitian ini, kategori teknik perusasive yang digunakan oleh tokoh iklan dianalisis berdasarkan teori Littel (2008). Peneliti menemukan bahwa terdapat perbedaan frekuensi persuasif teknik yang digunakan pada iklan televisi McDonalds antara tahun 1970 sampai dengan tahun 2000. Pada iklan Happy Meal Menu (1979) terdapat lima persuasif teknik yang digunakan, yaitu individuality (22,2%); emotional appeals (22,2%); loaded language (33,3%); bait and switch (44,4%); glittering generalities (11,1%); pada iklan Big Mac (1975) terdapat tiga persuasif teknik yang digunakan, yaitu plain folk (40,9%); product comparison (54,5%); loaded language (4,5%); pada iklan Breakfast Menu (1970) terdapat tiga persuasif teknik yang digunakan, yaitu plain folk (5%); loaded language (10%); celebrity spokesperson (5%); humor (5%); emotional appeals (20%); pada iklan Cheese Burger (1972) terdapat enam persuasif teknik yang digunakan, yaitu plain folk (6, 25%); individuality (25%); glittering generalities (18,75%); loaded language (6,25%); celebrity spokesperson (6,25%); emotional appeals (18,75%); pada iklan Happy Meal Menu (2013) terdapat tiga persuasif teknik yang digunakan, yaitu emotiona appeals (10%); individuality (30%); humor (10%); pada iklan Big Mac (2013) terdapat tiga persiasif teknik yang digunakan, yaitu glittering generalities (81,8%); product comparison (9,1%); bandwagon (9,1%); pada iklan Breakfast Menu (2001) hanya ada satu persuasif teknik yang digunakan, yaitu glittering generality (12,5%); dan pada iklan Cheese Burger (2011) juga hanya terdapat satupersuasif teknik yang digunakan, yaitu, individuality sebanyak (3,33%).     Dari delapan iklan televisi McDonalds, terdapat perbedaan frekuensi dalam penggunaan teknik persuasif. Meskipun pembuat iklan menggunakan teknik persuasif yang berbeda untuk masing-masing iklan televisi McDonald’. Pada dasarnya hanya ada satu efek yang diharapkan oleh para pembuat iklan, yaitu menarik minat para masyarakat untuk membeli produk mereka. Dan tujuan sebenarnya dari teknik persuasif adalah untuk menarik minat dan mempengaruhi masyarakat untuk membeli sebuah produk.

Pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap kepuasan peserta didik di lembaga bimbingan balajar Kasyful Aqli Malang / Ubaidillah

 

Tumbuhnya berbagai bimbingan belajar menjadi satu fenomena menarik dan menjadi catatan tersendiri bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ketidakpuasan terhadap kondisi pembelajaran di sekolah diyakini sebagai salah satu penyebab tumbuh suburnya berbagai bimbingan belajar tersebut. Sekolah yang memiliki otoritas sebagai tempat untuk menyelenggarakan pendidikan sering dipertanyakan perannya. Hal ini adalah salah satu masalah yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sebagai alternatif belajar di luar sekolah banyak siswa yang menggantungkan harapannya pada bimbingan belajar untuk mendapatkan materi yang tidak diajarkan di sekolah atau mengulang kembali materi yang telah diajarkan di sekolah. Apalagi beberapa tahun belakangan ini muncul standar nilai kelulusan melalui UN (ujian nasional) yang dibuat oleh Depdiknas. Hal tersebut mendorong lembaga bimbingan belajar banyak diminati. Adanya celah dalam sistem penyelenggaraan pendidikan nasional tersebut menjadi alasan munculnya lembaga bimbingan belajar, di mana perkembangan dunia pendidikan menjadi “project” tersendiri bagi para pemilik modal untuk mendirikan lembaga bimbingan belajar karena investasi dan bisnis di bidang pendidikan memberikan prospek yang cukup menjanjikan. Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang merupakan salah satu organisasi jasa pada bidang pendidikan non formal yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didiknya. Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang menawarkan program-program bimbingan belajar mulai tingkat SMP sampai SMA dan lembaga ini berusaha memberikan kualitas jasa yang terbaik bagi para peserta didiknya. Peningkatan kualitas jasa akan mendorong setiap lembaga untuk memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada para pelanggannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap kepuasan peserta didik di Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini meliputi dimensi kualitas jasa sebagai variabel bebas dan kepuasan peserta didik sebagai variabel terikat. Dimensi kualitas jasa sebagai variabel bebas memiliki sub variabel yang terdiri atas bukti fisik (tangible), keandalan (reliability), daya tanggap (responsible), jaminan (assurance) dan empati (empathy). Penelitian ini dilakukan di Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang dengan responden para peserta didik di Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang sebagai populasinya. Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian deskriptif korelasional. Penelitian ini merupakan penelitian populasi sehingga data penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuisioner kepada seluruh responden yang berjumlah 70 orang yaitu seluruh peserta didik tingkat SMP dan SMA yang mengikuti Lembaga Bimbingan KASYFUL AQLI Malang. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS for Windows Versi16 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa distribusi frekuensi responden yang dominan adalah perempuan, tingkat kelas responden yang dominan adalah SMA. Pada hasil analisis regresi linear berganda, uji t menunjukkan bahwa bukti fisik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan peserta didik dengan koefisien regresi 0,132 dan signifikansi 0,001. Variabel keandalan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan peserta didik ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi 0,311 dan signifikansi 0,077. Variabel daya tanggap berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan peserta didik ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi 0,051 dan signifikansi 0,387. Variabel jaminan berpengaruh positif dan signifikan ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi 0,210 dan signifikansi 0,007. Sedangkan variabel empati berpengaruh negatif dan signifikan ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi -0,177 dan nilai signifikansi 0,315. Uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel dimensi kualitas jasa berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan peserta didik ditunjukkan dengan nilai F sebesar 15,461 dan signifikansi 0,000. Variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap loyalitas peserta didik adalah variabel keandalan ditunjukkan dengan beta (β) yang paling besar dibandingkan variabel lain yaitu sebesar 3,452. Diketahui pula hasil regresi model Summary bahwa nilai Adjusted R Square = 0,807 yang artinya proporsi perubahan total variabel kepuasan peserta didik ditentukan oleh keseluruhan variabel bebas dimensi kualitas jasa yang terdiri atas bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati sebesar 80,7%. Sedangkan sisanya sebesar 19,3% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka penulis memberikan saran yang dapat dijadikan pertimbangan yaitu sebaiknya Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang lebih memperhatikan para tutornya agar lebih bisa membantu peserta didiknya dalam menyelesaikan masalah belajar yang dihadapi, dan sebaiknya Lembaga Bimbingan Belajar KASYFUL AQLI Malang menambahkan fasilitas fisik berupa ruang baca atau rak buku yang berisi buku-buku bacaan agar peserta didik tidak merasa bosan saat menunggu bimbingan belajar dimulai.

Error analysis on english translation of bilingual biology textbook for second grade students of senior high school / A. Gusti Efendy

 

Efendy, A. Gusti. 2014. Error Analysis on English Translation of Bilingual Biology Textbook for Second Grade Students of Senior High School. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Arif Subiyanto, M.A. Keywords: Error analysis, translation, bilingual biology textbook            The need of translation knowledge transfer is inevitable and crucial. No wonder that demand of perfect translation is increasing. One of the most important fields which need translation is education especially translating new knowledge from foreign resources which mostly are written in English. Unfortunately, not all translators are good to make standard translation. One example is in the bilingual biology textbook which is published by Yudhistira which is the data source of this study. The purpose of this study is to answer two research questions: (1) what are the errors found in the bilingual biology textbook? and (2) what is the most frequent error in the bilingual biology textbook?      The employed method in this study is descriptive qualitative where the researcher is the main instrument. Besides, he also uses several dictionaries such as Longman Dictionary of Contemporary English and Oxford Advanced Learners Dictionary to consult to find better term in every case the translated text does not sounds so English or violating English Grammar rule.      After the data collection process, the researcher founds that there are three main types of errors in the bilingual biology textbook: grammatical error, diction error, and substandard language. Grammatical error is in the first place of the most frequent (46.79%). Then, it is followed by diction error (28.44%) and substandard language (24.77%). The total error founds in the bilingual biology textbook is 109. The rank of the error from the most frequent to the least one is grammatical error with 51 times appearance, diction error with 31 times appearance, and substandard language error with 27 times of error. In grammatical error, the most frequent type of surface strategy is misformation with 43 times of appearance form 52 times in total of grammatical error. In other words, the percentage is 82.69%.      In conclusion, there are errors in translating Indonesian to English in the bilingual biology textbook. The dominating error is grammatical error. As suggestion, the bilingual biology textbook publisher has to evaluate the performance of the translator and editors. Another suggestion is for students or the users of the bilingual biology textbook for being careful in using English bilingual biology textbook which is produced out of English speaking countries like Indonesia. Finally, future researchers are suggested to look deeper in analyzing translation error in books of other subjects such as nature science text books, social science textbooks, or other source which contain special vocabularies for the specific field.

Penerapan peta konsep untuk meningkatkan hasil belajar siswa X administrasi perkantoran pada mata diklat keterampilan komputer dan pengelolaan informasi (KKPI) di SMK Muhammadiyah 2 Malang / Mia Fajarwati

 

ABSTRAK Fajarwati, Mia. 2009. Penerapan Peta Konsep Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa X Administrasi Perkantoran pada Mata Diklat Ketrampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Sarbini (2) Hj. Madziatul Churiyah, S.Pd, MM. Kata Kunci : Model pembelajaran Peta Konsep, Hasil Belajar Penerapan pembelajaran yang bersifat konvensional dengan menggunakan metode ceramah secara terus menerus masih banyak diterapkan dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang seperti ini lebih banyak di dominisasi oleh guru dan jarang melibatkan siswa sehingga mengakibatkan siswa cenderung pasif selama proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran ini kegiatan siswa lebih banyak duduk diam, mendengarkan, mencatat dan mengerjakan soal, sehingga siswa terkesan malas dan jarang berpikir aktif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu cara guru dalam memberikan ilmu pada siswa secara aktif untuk perlu mendapat perhatian khuaus. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhtikan hal tersebut adalah pembelajaran model peta konsep. Penerapan pembelajaran ini menekankan keaktifan dan kemandirian siswa baik secara fisik maupun mental, siswa diberi kesempatan untuk belajar berpikir, menghapal, menghayati, bekerjasama, berinteraksi, kretif dan terampil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan pembelajaran model peta konsep pada mata diklat Ketrampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dilaksanakan pada bulan Oktober sampai awal November. Dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan melalui 4 tahapan yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Subyek yang diteliti adalah kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang, dengan sebanyak 34 siswa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung pada subyek yang diteliti. Tekhnik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, catatan lapangan, rubrik penilaian, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penerapan pembelajaran model peta konsep dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis hasil belajar menunjukkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada hasil nilai pre test dan post test pada siklus 1 dan siklus 2. Dalam siklus 1 nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 56,62 menjadi 75,91 sebesar 34%. Sedangkan pada siklus 2 nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 82,21 menjadi 89,62 dengan persentase kenaikan 9%. Hasil belajar yang terdiri dari aspek psikomotorik menunjukkan peningkatan dari siklus 1 dan 2 yaitu dari siklus 1 sebanyak 33 (97,06%) siswa yang mengalami ketuntasan belajar, pada siklus 2 peningkatan ketuntasan belajar mencapai 34 siswa (100%). Sedangkan pada aspek afektif menunjukkan peningkatan pada tiap siklusnya yaitu pada siklus 1 ketuntasan belajar mencapai 25 siswa (73,53%), dan siklus 2 ketuntasan belajar juga mencapai 34 siswa (100%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran model peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun saran yang dapat diajukan yaitu: 1) Bagi sekolah, diharapkan dapat menerapkan pembelajaran peta konsep dalam pola pembelajaran bervariasi, 2) Bagi guru, dapat mengimplementasikan pembelajaran peta konsep pada mata diklat lain selain KKPI yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhannya, 3) Bagi peserta didik, dapat bekerjasama yang baik antar sesama teman, membantu dalam penyempurnaan ingatan siswa, dapat membantu siswa belajar dengan efisien, 4) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran peta konsep dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda selain itu dapat menerapkan metode pembelajaran bervariasi yang menarik lainnya yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar.

Pengembangan materi pembelajaran bermain drama berbasis multimedia untuk SMP / Widya Sartika

 

Sartika, Widya. 2014. Pengembangan Materi Pembelajaran Bermain Drama Berbasis Multimedia untuk SMP. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Imam Agus Basuki, M.Pd, (II) Indra Suherjanto, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: Pembelajaran drama, bahan ajar drama, materi bermain drama     Pembelajaran drama di sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan siswa. Tarigan (1986:122) mengatakan bahwa pembelajaran bermain peran (drama) sangat baik dalam mendidik siswa dalam menggunakan ragam-ragam bahasa. Pembelajaran bermain drama perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa tidak cukup tersedianya media berbasis multimedia yang digunakan guru dalam menyampaikan materi. Menurut guru dan siswa yang telah diwawancarai, media yang biasanya digunakan berupa cerpen, puisi, atau gambar yang dijadikan stimulus untuk pembelajaran menulis naskah drama. Sementara itu, media yang digunakan untuk pembelajaran bermain drama khususnya berlatih drama biasanya berupa video pertunjukan drama dan buku teks. Video pertunjukkan dan buku teks yang digunakan sebagai panduan berlatih drama kurang cukup memadai dikarenakan belum adanya contoh latihan drama yang terlihat nyata.     Penelitian ini dilakukan untuk membuat sebuah media berlatih drama yang berbasis multimedia untuk siswa SMP. Multimedia pembelajaran ini berisi stimulus audio visual berupa video serta teks dan gambar yang dibutuhkan dalam pembelajaran berlatih drama. Penelitian pengembangan ini menghasilkan multimedia pembelajaran berbentuk CD (Compact Disk). Multimedia pembelajaran ini dibagi menjadi empat menu utama, yaitu latihan dasar, latihan vokal, latihan ekspresi, dan latihan gerak. Dalam tiap-tiap menu utama ini terdapat sub-sub menu. Menu latihan dasar terdiri atas sub-menu relaksasi, konsentrasi, olah nafas, olah tubuh, dan olah mimik. Menu latihan vokal terdiri atas sub-menu kejelasan ucapan, tekanan ucapan, kerasnya ucapan, nada ucapan, dan tempo ucapan. Menu latihan ekspresi terdiri atas sub-menu imajinasi, penjiwaan, dan variasi karakter. Menu latihan gerak terdiri atas sub-menu business dan gesture. Pada semua sub-menu terdapat paparan-paparan materi berupa teks seperti pengertian-pengertian dan fungsi dilakukannya berbagai latihan dalam multimedia pembelajaran ini. Selain itu juga terdapat video dalam semua sub-menu yang berisi contoh atau model cara berlatih drama sesuai dengan urutannya.     Multimedia pembelajaran ini dibuat dengan menggunakan rancangan penelitian pengembangan bersifat analisis deskriptif kualitatif dengan melihat kebutuhan siswa SMP. Model pengembangan dalam penelitian ini mengadaptasi model pengembangan Borg dan Gall sesuai dengan kebutuhan penelitian. Tahap-tahap penelitian pengembangan multimedia ini, yaitu (1) tahap persiapan atau dikenal dengan tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji kelayakan, (4) tahap revisi multimedia, dan (5) produk akhir. Multimedia pembelajaran ini diujicobakan kepada tiga subjek penelitian, yaitu ahli materi, ahli media, dan siswa SMP. Dalam hal ini, ahli materi adalah dosen drama FS UM, sedangkan ahli media adalah dosen desain komunikasi visual FS UM. Siswa SMP yang dijadikan subjek uji coba adalah siswa kelas 2 dan kelas 3 SMPN 13 Malang. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket atau kuisioner. Angket untuk ahli materi berisi aspek-aspek penilaian tentang kelayakan materi dalam multimedia. Angket untuk ahli media memuat aspek-aspek penilaian tentang kelayakan tampilan dalam multimedia. Sedangkan angket untuk siswa berisi aspek-aspek penilaian tentang kelayakterapan dan keberterimaan siswa terhadap multimedia. Hasil uji coba ahli materi menunjukkan terdapat tiga dari tigabelas aspek penilaian materi memerlukan perbaikan atau revisi. Namun secara keseluruhan hasil uji coba ahli materi, didapatkan prosentase sebesar 73,07% yang berarti tindak lanjut yang diambil adalah implementasi. Hasil uji coba ahli media menunjukkan terdapat empat dari duapuluh aspek penilaian tampilan memerlukan perbaikan atau revisi. Namun secara keseluruhan hasil uji coba ahli media, didapatkan prosentase sebesar 76,25% yang berarti tindak lanjut yang diambil adalah implementasi. Sedangkan hasil uji coba siswa menilai bahwa secara keseluruhan multimedia ini tidak memerlukan revisi. Secara keseluruhan berdasarkan hasil uji coba siswa didapatkan prosentase sebesar 82,15% yang berarti tindak lanjut yang diambil adalah implementasi. Walaupun secara keseluruhan multimedia pembelajaran ini dinilai layak digunakan dan diimplementasikan sebagai multimedia, baik dari segi materi, tampilan, serta keberterimaan siswa, peneliti memutuskan untuk memperbaiki beberapa bagian yang dinilai kurang sehingga menghasilkan multimedia yang lebih sempurna. Berdasarkan hasil uji coba ahli materi, ahli media, dan siswa, multimedia pembelajaran ini dinilai layak digunakan sebagai multimedia pembelajaran berlatih drama tingkat SMP, baik dari segi materi, tampilan, dan keberterimaan siswa terhadap multimedia pembelajaran ini. Berdasarkan hasil simpulan tersebut, disarankan keikutsertaan guru Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran menggunakan multimedia ini. Guru dapat menambahkan materi atau contoh-contoh yang telah ada tanpa terbatas pada materi yang terdapat di dalam multimedia pembelajaran. Bagi siswa, disarankan untuk secara aktif mengikuti pembelajaran dengan menggunakan multimedia ini dan melakukan contoh-contoh latihan yang tersedia. Dengan aktif mengikuti pembelajaran ini, siswa akan merasakan betapa menyenangkannya pembelajaran ini. Bagi peneliti selanjutnya, multimedia ini dapat dijadikan salah satu contoh media yang dapat dikembangkan dan diharapkan mampu melanjutkan pengembangan media dalam pembelajaran drama, baik dalam bentuk manual atau teknologi (multimedia) dengan harapan pembelajaran drama dapat terlaksana dengan lebih baik.

Pengembangan media pembelajaran berbasis audio visual dengan aplikasi movie maker pada mata pelajaran mengelola peralatan kantor untuk meningkatkan hasil belajar (studi kelas X program keahlian administrasi perkantoran SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Malang) / Dhiyah Ayu Ok

 

ABSTRAK Oktaviani, Dhiyah Ayu. 2016. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Audio Visual Dengan Aplikasi Movie Maker Pada Mata Pelajaran Mengelola Peralatan Kantor Untuk Meningkatkan Hasil Belajar (Studi Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Wasiti, S.Sos., M.Si (2) Drs. H. Mohammad Arief, M.Si Kata Kunci: Media Pembelajaran, Audio Visual, Aplikasi Movie Maker, dan Efektivitas Media Pembelajaran Pengembangan media pembelajaran berbasis audio visual dengan menggunakan aplikasi movie maker bertujuan untuk memberikan inovasi guru dalam melaksanakan pembelajaran Mengelola Peralatan Kantor. Berdasarkan informasi dari guru pengampu Mata Pelajaran Mengelola Peralatan Kantor, bahwa kegiatan pembelajaran yang berlangsung hanya menggunakan metode ceramah dengan media papan tulis. Banyak siswa yang kurang memahami dan jenuh dengan pembelajaran yang monoton, guru membutuhkan media pembelajaran agar kegiatan pembelajaran lebih menarik dan memacu semangat belajar siswa sehingga memahami materi secara tuntas dan hasil belajar yang unggul sesuai tujuan pembelajaran. Penelitian ini mengembangkan media pembelajaran berbasis audio visual yang menggunakan aplikasi movie maker pada Mata Pelajaran Mengelola Peralatan Kantor, siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran (APK) SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Malang. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model Borg and Gall yang dikembangkan oleh Sugioyono, yang terdiri dari 10 tahap pengembangan. Berdasarkan hasil validasi ahli media dan ahli materi, dimana hasil validasi media memperoleh rata-rata persentase sebesar 82.5% dari kedua ahli media dan hasil validasi materi memperoleh persentase sebesar 83% dimana jumlah tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis audio visual dengan menggunakan aplikasi Movie Maker memiliki kriteria sangat baik/valid/layak digunakan. Hasil nilai rata-rata pada kelas yang menggunakan media pembelajaran yaitu sebesar 85,89 diperoleh dari jumlah nilai keseluruhan pada kelas X APK 1 kemudian dibagi dengan jumlah siswa. Sedangkan hasil nilai rata-rata pada kelas yang tidak menggunakan media pembelajaran sebesar 81.48 yang diperoleh pada kelas X APK 2 kemudian dibagi dengan jumlah siswa. Kenaikan angka hasil nilai rata-rata pretest dan posttest kedua kelas tersebut diketahui bahwa efektivitas media pembelajaran berbasis audio visual dengan aplikasi Movie Maker dikategorikan “Tinggi”. Saran bagi para pengguna, penggunaan media pembelajaran audio visual dengan bantuan perangkat LCD Projector dan sound sebaiknya perangkat tersebut dalam kondisi baik, agar penayangan dapat maksimal. Hal tersebut harus diperhatikan sebab akan mempengaruhi perfoma media yang ditayangkan.

Pengaruh profitabilitas, solvabilitas dan ukuran perusahaan terhadap audit report LAG (studi pada perusahaan Bada Usaha Miliki Negara (BUMN) yang listed di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012) / Elok Dwi Agustina

 

Agustina, Elok Dwi. 2014. Pengaruh Profitabilitas, Solvabilitas, dan Ukuran Perusahaan terhadap Audit Report Lag (Studi pada Perusahaan Badan Umum Milik Negara (BUMN) yang listed di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012). Skripsi, Jurusan Akuntasi, Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Hj. Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak (II) Dr. Nurika Restuningdyah, S.E., M.Si Ak., CA Kata kunci: Profitabilitas, Solvabilitas, Ukuran Perusahaan, Audit Report Lag     Menjadi perantara informasi penting, audit report lag menjadi fokus pada firma, perusahaan dan investor. audit report lag tidak mempengaruhi pengambilan keputusan secara langsung. Audit report lag disini adalah rentang waktu antara keluarnya laporan keuangan perusahaan hingga ditandatangganinya laporan keuangan tersebut oleh auditor. Penelitian memeriksa audit report lag dari perusahaan BUMN (Badan Umum Milik Negara). BUMN dipilih karena memang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Rentang waktu laporan keuangan perusahaan menjadi salah satu untuk mengukur kinerja perusahaan. Hal ini juga menunjukkan tingkat kesadaran dan besarnya tanggungjawab perusahaan terhadap para pemegang kepentingan khusunya dalam memenuhi perundang-undangan pasar modal. Secara garis besar laporan keuangan dapat diukur melalui laba, modal, dan hutang.     Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh profitablitas, solvabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap audit report lag. Penelitian menggunakan uji asumsi klasik serta uji hipotesis dengan metode pooled data. Penelitian dilakukan pada perusahaan Badan Umum Milik Negara (BUMN) yang listed di BEI. Populasi perusahaan berjumlah 17 perusahaan selama tahun 2010-2012.     Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit report lag. Hal ini dikarenakan banyaknya laba yang dihasilkan serta asset perusahaan yang harus diaudit sehingga menyebabkan rentang waktu audit semakin panjang. Sementara itu, solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap audit report lag. Hal ini dikarenakan hutang yang ada di perusahaan telah discover oleh ekuitas yang ada sehingga auditor akan lebih pendek rentang waktu mengaudit tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya manajemen laba. Dan secara simultan variable independen (profitabilitas, solvabilitas dan ukuran perusahaan) berpengaruh secara signifikan terdapat audit report lag. Hasil laporan keuangan auditan dapat dijadikan informasi untuk para investor menilai bagaimana kinerja perusahaan melalui laba, hutang dan modal perusahaan jika investor akan berinvestasi pada perusahaan tersebut.

Kemampuan menulis puisi dengan rangsang media lagu siswa kelas VIII SMP Kristen 1 YPK Malang / Isbat Baun

 

Baun Isbat. 2014. Kemampuan Menulis Puisi dengan Rangsang Media Lagu Siswa Kelas VIII SMP Kristen 1 YPK Malang 2013/2014. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Suyono. M,Pd. Kata kunci: kemampuan, menulis puisi, rangsang media lagu.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Kristen 1 YPK Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa puisi. Data dalam penelitian ini berupa nilai tentang kemampuan menulis puisi dilihat dari segi (1) pilihan kata (diksi), (2) pengimajian (citraan), dan (3) gaya bahasa (majas). Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 40 siswa yang terbagi menjadi 2 kelas. Kelas yang dijadikan sampel penelitian adalah kelas VIII-B yang memiliki jumlah siswa sebanyak 14 siswa. Instrumen penelitian berupa pedoman penyekoran puisi. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan lembar perintah menulis puisi, sebelum menulis puisi siswa diminta mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals yang berjudul Ibu. Analisis data dilakukan dalam tiga langkah, yaitu (1) persiapan, (2) pengodean, dan (3) penilaian.    Hasil analisis dan pembahasan kemampuan menulis puisi dengan rangsang media lagu siswa kelas VIII SMP Kristen 1 YPK Malang dilihat dari segi pilihan kata (diksi) sebesar 64,29% atau sebanyak 9 siswa sudah mampu mencapai nilai ≥ 70 (SKM) dan siswa yang belum mampu mencapai nilai ≥ 70 sebesar 35,71% atau sebanyak 5 siswa. Dari segi pengimajian (citraan) sebesar 71,42% atau sebanyak 10 siswa sudah mampu mencapai nilai ≥ 70 (SKM) dan siswa yang belum mampu mencapai nilai ≥ 70 sebesar 28,58% atau sebanyak 4 siswa. Dari segi gaya bahasa (majas) sebesar 57,14% atau sebanyak 8 siswa sudah mampu pencapaian nilai ≥ 70 (SKM) dan siswa yang belum mampu mencapai nilai ≥ 70 sebesar 42,84% atau sebanyak 6 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada ketiga segi masih ada siswa yang belum mampu mencapai SKM, terutama pada gaya bahasa (majas). Oleh karena itu, disarankan kepada kepala sekolah untuk menerapkan penelitian tindakan kelas agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan dapat mengetahui kelemahan pembelajaran. Saran untuk guru sebaiknya guru banyak referensi tentang topik yang akan diajarkan sehingga siswa memiliki banyak cara untuk memberikan hasil yang terbaik. Kemudian saran untuk peneliti lain untuk mengkaji kemampuan yang sama dengan kompetensi dasar yang berbeda atau meningkatkan kemampuan siswa pada fokus yang sama dengan penelitian.

Pengaruh kompensasi dan motivasi terhadap kinerja karyawan departemen produksi perusahaan rokok H. Fathurrahman Prima Malang / Mahfudz Fauzi

 

ABSTRAK Fauzi, Mahfudz. 2009. Pengaruh Kompensasi dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan Departemen Produksi pada Perusahaan Rokok HF PRIMA Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen Sumber daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sutrisno, M.M, (II) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si. Kata kunci: Kompensasi, motivasi, kinerja. Keberhasilan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia yang dimilikinya. Sumber daya manusia merupakan asset yang paling vital dalam perusahaan. Banyak sekali cara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang qualified, diantaranya dengan memberikan kompensasi yang adil kepada karyawan. Dengan memberikan kompensasi yang adil diharapkan para karyawan akan meningkatkan kinerjanya sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Kinerja karyawan akan lebih baik lagi jika perusahaan memberikan motivasi kepada karyawannya. Perusahaan akan menggerakkan karyawan sesuai yang dikehendaki, selain itu, hendaknya dipahami motivasi manusia didalam perusahaan tersebut karena motivasi inilah yang menyebabkan, menyalurkan dan menentukan perilaku karyawan supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil optimal. Tujuan dari tindakan menggerakkan karyawan (motivasi) adalah tercapainya kinerja (performance) perusahaan yang optimal. Penelitian ini dilaksanakan di Perusahaan Rokok HF PRIMA Malang mulai bulan Juli-Desember 2009. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan bagian pengepakan Perusahaan Rokok HF PRIMA Malang yang berjumlah 67 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel random atau sampel acak. Analisis data yang dipakai adalah analisis regresi berganda (multiple regression analysis) Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kondisi deskriptif kompensasi, motivasi dan kinerja karyawan bagian produksi Perusahaan Rokok HF PRIMA Malang (2) untuk mengetahui pengaruh faktor kompensasi secara parsial terhadap kinerja karyawan (3) untuk mengetahui faktor motivasi secara parsial terhadap kinerja karyawan (4) untuk mengetahui faktor kompensasi dan motivasi terhadap kinerja karyawan. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas kompensasi (X1) dan motivasi (X2) dan variabel terikat adalah kinerja karyawan (Y). Data diperoleh dari beberapa cara meliputi angket/ kuesioner, dokumentasi dan wawancara sedangkan untuk uji validitas & reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas & reliabilitas data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47 responden (70%) menyatakan bahwa pemberian kompensasi oleh PR. HF. PRIMA Malang adalah baik, sebanyak 47 responden (70%) menyatakan bahwa motivasi kerja karyawan PR. HF. PRIMA Malang adalah sangat tinggi, sedangkan dari penilaian kinerja yang dilakukan oleh supervisor dapat diketahui bahwa 52 responden (78%) karyawan dari PR. HF. PRIMA Malang kinerjanya sangat tinggi. Sedangkan berdasarkan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5% secara parsial dapat diketahui: Variabel kompensasi diperoleh nilai signifikansi t (0,00) < (0,05). Maka dapat disimpulkan ada pengaruh positif yang signifikan antara kompensasi (X ) terhadap kinerja karyawan (Y). Variabel Motivasi (X ) diperoleh nilai signifikansi t (0,01) < (0,05), maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivasi (X ) terhadap kinerja karyawan (Y) bagian pengepakan PR HF PRIMA Malang. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti kepada PR. HF. PRIMA Malang adalah pihak manajemen lebih meningkatkan pemberian kompensasi kepada karyawannya agar karyawannya lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.

Improving the reading ability of the eleventh year students of man Malang I through small-group discussion / Yayuk Khisbiyah Wiryaningsih

 

ABSTRACT Wiryaningsih, Yayuk Khisbiyah. 2009. Improving the Reading Ability of the Eleventh Year Students of MAN Malang I through Small-Group Discussion. Thesis, English language Education, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (1) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. (2) Dr. Arwijati W. Murdibjono, M. Pd, Dip. TESL. Key words: Improving, reading ability, Small-Group Discussion From the preliminary study, it was found that the result of the reading comprehension of the students of MAN Malang I was still unsatisfactory. The problem was caused by these facts: the students’ vocabulary was low, they had trouble with basic reading skills and strategies, and the content of the text was not accessible to the students. These facts were caused by the teacher who instructed the students to do the tasks individually in which the activities in small group work were never applied. Dealing with the condition, an appropriate strategy was needed to improve the students’ reading ability. Accordingly, with the endeavor of improving the students’ reading ability, a small-group discussion strategy was applied in this study. This study was conducted to improve the reading ability of the students of MAN Malang I through small-group discussion. The problem was: How can small-group discussion improve the reading ability of the eleventh year students of MAN Malang I? This study utilized a Collaborative Classroom Action Research through the self-reflexive spiral comprising four steps, namely: planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects of the study were the second-semester XI A3 students of MAN Malang I of the 2008/2009 academic year. This study was implemented to 31 students and it was conducted in two cycles where each cycle consisted of two meetings for the teaching and learning process and a meeting for a test. The instruments used to collect the data were observation checklist, interview guide, field note, and reading comprehension tests. The data taken from the two tests were analyzed and presented quantitatively. Meanwhile, the data derived from checklists, field notes, and interview guide were analyzed and presented qualitatively. The findings of this study indicated that the appropriate model of small-group discussion strategy for teaching reading consisted of the following procedures: (1) grouping students heterogenously, (2) determining the roles for the group’s members, (3) activating the students’ background knowledge before reading, (4) showing pictures related to the topic, (5) connecting the picture with the topic, (6) asking the students to work in group, (7) asking the students to read the text silently, (8) asking the students to discuss the questions and the generic structure of hortatory exposition (9) asking te students to share the answers with the class, (10) recalling the content of the text by stating the statements with true or false, and (11) writing the results of the discussion. Both the process and product of the teaching and learning were improved by using this strategy. The improvement of the process was indicated with the students’ positive responses. It was indicated by their interest in the teaching and learning process. They participated actively in learning activities, worked cooperatively in doing the tasks, and were involved actively in sharing ideas, debating, asking, and answering the questions during the discussion. Meanwhile, the improvement of the students’ reading ability was indicated by both the increasing mean score and the number of students who obtained scores equal to or greater than 70. The mean score increased from 60.97 in the Preliminary study to 68.55 in Cycle 1 and 73.87 in Cycle 2. The number of the students getting higher scores increased from 15 students (48%) in Cycle 1 to 24 students (74%) in Cycle 2. Based on the findings, some suggestions are addressed to the English teachers and the future researchers. It is recommended that the English teachers who have similar problems in reading class apply small-group discussion to improve their students’ reading ability by following the given strategy. For future researchers, it is recommended that further research by using small-group discussion strategy be applied in the other skills, such as in speaking or writing. They can also apply small-group discussion strategy to teach not only hortatory exposition but also the other text types, namely spoof, report, or others. The strategy might be implemented in different levels, at twelveth year or tenth year to investigate the effectiveness of the small-group strategy. It is also recommended that future researchers plan the action well, prepare the lesson plan and the student’s worksheet more carefully, provide the reading comprehension texts and the instructional media appropriately, socialize the strategy to the subjects and the collaborator before conducting the action, and create good relationship with the subjects.

Pengaruh penyaluran kredit, modal kerja, pendapatan operasional, dan tingkat suku bunga kredit terhadap laba operasional pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2007-2011 / Sulistyowati Dewi

 

Sulistyowati, Dewi. 2013. Pengaruh Penyaluran Kredit, Modal Kerja, Pendapatan Operasional, dan Tingkat Suku Bunga Kredit Terhadap Laba Operasional pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2007-2011. Skripsi Jurusan Akuntansi, FE. UM.Pembimbing (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, S.E, M.Si,Ak (II) Diana Tien Irafahmi, S.Pd, M.Ed Kata Kunci :Penyaluran Kredit, Modal Kerja, pendapatan Operasional, Tingkat Suku Bunga Kredit, dan Laba Operasional     Laba operasional muncul dari selisih antara laba kotor dengan total beban operasi. Laba operasional merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja operasional perusahaan. Informasi tentang laba mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam sektor perbankan terdapat beberapa komponen pembentuk laba operasional antara lain penyaluran kredit, modal kerja, pendapatan operasional, dan tingkat suku bunga kredit.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penyaluran kredit, modal kerja, pendapatan operasional, dan tingkat suku bunga kredit terhadap laba operasional. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi dengan populasi yaitu seluruh perusahaan perbankan yang listing di BEI selama periode 2007-2011. Pemilihan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh data sebanyak 35 perusahaan dari 7 perusaahn perbankan selama 5 tahun. Penelitian ini menggunakan regresi berganda secara parsial dan simultan dengan tingkat signifikansi α < 0,05.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyaluran kredit, modal kerja, pendapatan operasional, dan tingkat suku bunga kredit berpengaruh signifikan terhadap laba operasional. Saran dari penelitian ini untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk menggunakan data terbaru untuk mengetahui konsistensi dari penelitian sebelumnya serta lebih melihat pengaruh perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Sedangkan bagi perusahaan untuk lebih mengembangkan kredit mikro atau kredit UMKM karena kredit mikro dapat memberikan keuntungan yang tinggi bagi perbankan. Bagi pemerintah untuk mewajibkan bank-bank yang belum menyalurkan kredit mikro agar segera mungkin menyalurkan kredit mikro.

Isolasi dan karakterisasi minyak biji alpukat (persea americana mill) varietas ijo panjang dan varietas ijo bundar serta indentifikasi asam lemak penyusunan / R.M. Helmy Sujana

 

ABSTRAK Helmy, Sujana, RM.2008. Isolasi dan Karakterisasi Minyak Biji Alpukat (Persea Americana Mill) Varietas Ijo Panjang dan Varietas Ijo Bundar serta Identifikasi Asam Lemak Penyusunnya . Dosen Pembimbing I : Drs. Dermawan Afandi, M.Pd, Pembimbing II : Dra. Dedek Sukarianingsih, MPd, M.Si Kata kunci : isolasi, karakterisasi, minyak biji alpukat, asam lemak Alpukat merupakan tanaman yang dapat tumbuh subur di daerah tropis seperti Indonesia. Sebagian besar masyarakat menfaatkan tanaman alpukat hanya pada buahnya saja sedangkan bagian tanaman alpukat yang lain kurang begitu dimanfaatkan. Buah alpukat merupakan buah yang kaya akan zat gizi seperti lemak yaitu 2,45 gram minyak/lemak per 5 gram berat kering alpukat (Suparmi, 2000:12). Bagian lain dari buah alpukat yang dapat dimanfaatkan adalah biji alpukat. Di Indonesia potensi buah alpukat tersebut dapat ditingkatkan karena di Indonesia tanaman alpukat dapat tumbuh subur. Beberapa varietas diantaranya yang dapat tumbuh subur adalah alpukat varietas ijo panjang dan alpukat varietas ijo bundar. Kedua varietas ini tergolong alpukat unggulan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang isolasi minyak biji alpukat tersebut untuk mengetahui karakteristik, komponen, dan komposisi asam lemak minyak biji alpukat kedua varietas tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang terdiri dari tiga tahap yaitu: 1)Ekstraksi minyak dari biji alpukat varietas ijo panjang dan varietas ijo bundar dengan metode Soxhletasi lalu menghitung rendemen minyak yang dihasilkan ;2)Karakterisasi minyak biji alpukat meliputi indeks bias, berat jenis, bilangan penyabunan, bilangan iod, dan bilangan asam; 3)Mengidentifikasi komposisi asam lemak penyusun minyak biji alpukat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak biji alpukat varietas ijo panjang sebesar 3,457 % atau 3,457 gram dari 100 gram berat kering biji, berwujud cairan kental dan berwarna kuning kehijauan, sedangkan rendemen minyak biji alpukat varietas ijo bundar adalah 3,83 % atau 3,83 gram dari 100 gram berat biji, berwujud cairan kental berwarna kuning kecoklatan. Karakteristik minyak biji alpukat varietas ijo panjang yaitu indeks bias sebesar 1,475, bilangan penyabunan sebesar 119,392, bilangan iod sebesar 126,49, bilangan asam sebesar 8,77, dan berat jenis sebesar 0,672, sedangkan minyak biji alpukat varietas ijo bundar memiliki karakteristik yaitu indeks bias sebesar 1,474, bilangan penyabunan sebesar 132,010, bilangan iod sebesar 137,73, bilangan asam sebesar 5,41, dan berat jenis sebsar 0,567. Identifikasi komponen dan komposisi asam lemak penyusunnya diperoleh minyak biji alpukat varietas ijo panjang mengandung asam palmitat sebanyak 12,75 %, asam linoleat sebanyak 20,72 % dan asam oleat sebanyak 21,86 %, sedangkan minyak biji alpukat varietas ijo bundar mengandung asam lemak asam palmitat sebanyak 14,79 % dan asam linoleat sebanyak 45,14% .

Pembelajaran sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) dengan pendekatan problem based learning (PBL) pada siswa SMP Negeri II Pujon kelas VIII / Hanik

 

ABSTRAK Hanik. 2009. Pembelajaran Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) Dengan Pendekatan Problem Based Learning (PBL) Pada Siswa SMP Negeri II Pujon Kelas VIII. Jurusan Matematika, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M.Pd (II) Dra. Tri Hapsari utami, M.Pd Kata kunci: Problem Based Learning (PBL), Prestasi Belajar, Peningkatan Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri II Pujon sering mengalami kekeliruan mentransfer suatu masalah terutama masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari kedalam pemodelan matematika. Sehingga ketika menjumpai soal SPLDV mereka tidak tahu bagaimana langkah yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru dan apa yang diajarkan bersifat prosedural tanpa upaya membangkitkan kepekaan siswa dalam belajar. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan PBL untuk melihat aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri II Pujon pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan orientasi siswa kepada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbing dalam penyelidikan individual maupun kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi serta refleksi. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus 1 presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar dengan subpokok bahasan membuat dan menyelesaikan model matematika dari suatu SPLDV adalah 77,78% sedangkan pada siklus 2 presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar dengan subpokok bahasan membuat dan menyelesaikan model matematika dari suatu SPLDV adalah 100%. Aktivitas siswa selama pembelajaran dengan pendekatan PBL pada siklus I skor rata-rata 51 dan skor rata-rata pada siklus II adalah 57,25. Dalam analisis skor rata-rata tersebut bahwa aktivitas siswa termasuk kategori sangat baik. Aktivitas guru selama pembelajaran dengan pendekatan PBL pada siklus I skor rata-rata 56,5 dan skor rata-rata pada siklus II adalah 58,75. Dalam analisis skor rata-rata tersebut bahwa aktivitas guru termasuk kategori sangat baik. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan SMP Negeri II Pujon, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurangkurangnya 85% siswa mendapat nilai minimal 65 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan PBL dalam penelitian ini berhasil. Sehingga pembelajaran dengan pendekatan PBL yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dilaksanakan sesuai tahapan PBL serta memberikan penghargaan kepada setiap aktivitas siswa yang positif.

Perbedaan hasil belajar siswa kelas X SMAN 10 Kota Malang yang diajar model problem posing berbantuan bahan ajar dengan yang berbantuan media audio visual pada materi stoikiometri tahun ajaran 2007/2008 / R.M. Helmy Sujana

 

Penelitian ini mengkaji penerapan model pembelajaran problem posing berbantuan berbantuan bahan ajar dan berbantuan media audio visual dan pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) untuk mengetahui dampak penerapan problem posing berbantuan bahan ajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMAN 10 kota Malang pada materi Stoikiometri tahun ajaran 2007/2008, (2) untuk mengetahui dampak penerapan problem posing berbantuan media audio visual terhadap hasil belajar siswa kelas X SMAN 10 kota Malang pada materi Stoikiometri tahun ajaran 2007/2008, dan (3)untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing berbantuan bahan ajar dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing berbantuan media audio visual Rancangan penelitian ini adalah eksperimental semu yaitu adanya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. masing – masing kelompok diberi pretes dan postes yang sama Kelompok kontrol diberi model pembelajaran problem posing berbantuan bahan ajar sedangkan kelompok eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran problem posing berbantuan media audio visual. Kelompok kontrol adalah kelas X-2 dan kelas eksperimen adalah kelas X-5 SMAN 10 Kota Malang. Instrumen yang dipakai berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan berupa Silabus, RPP, LKS, Bahan Ajar, dan Media Audio Visual. Instrumen pengukurannya berupa soal obyektif sebanyak 20 buah yang sebelumnya sudah divalidasi terlebih dahulu dengan tingkat realibilitas tes sebesar 0,801. Analisis data menggunakan analisis statistic uji – t dua pihak dengan α = 0,01 Berdasarkan dari nilai uji t, maka H0 ditolak dan H1 diterima yaitu terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan model problem posing berbantuan bahan ajar dengan siswa diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem posing berbantuan media audio visual. Perbedaan prestasi belajar ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu kebutuhan dan ciri (sifat) siswa, kecocokan dengan materi yang diajarkan, tingkat kesulitan pengoperasian media, interaktivitas media, ketersediaan bahan media,biaya pengadaan media, kualitas dan daya tarik media, keluasan materi , fleksibelitas, dan daya serap siswa terhadap materi. Dari penelitian ini diperoleh nilai rata – rata kemampuan awal kelompok kontrol sebesar 38,5 sedangkan kelompok eksperimen 37,87. Hasil perhitungan menunjukkan kemampuan awal siswa adalah homogen dan nilai uji t menunjukkan tidak ada perbedaan

Penerapan pembelajaran kooperatif model team games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar ips-geografi siswa kelas VIII-D SMP Muhammadiyah Kediri / Arizza Rusita

 

ABSTRAK Rusita, Arizza. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Team Games Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPSGeografi Siswa Kelas VIII-D SMP Muhammadiyah Kediri. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwiyono Hari U, M.Pd, M.Si (II) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd Kata Kunci: Model Team Games Tournament (TGT), Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi, metode yang sering digunakan adalah metode ceramah dan pemberian tugas individual. Di SMP Muhammadiyah Kediri tidak mempunyai kelas unggulan, kemampuan akademik siswa di dalam kelas heterogen. Hanya 47,6% dari 42 siswa pada kelas VIII-D memenuhi standar ketuntasan minimum, sehingga dapat dikatakan kelas VIII-D belum tuntas. Suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya jika dikelas tersebut terdapat 85% siswa telah mencapai ketuntasan individual. Metode pembelajaran yang digunakan guru Geografi membuat siswa di dalam kelas belum memiliki team work, sehingga hubungan personal antar siswa belum terbangun atau bisa dikatakan siswa memiliki sikap individualis. Sikap siswa ini mengakibatkan tingkat pemahaman siswa dalam kelas berbeda-beda. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) diharapkan semua siswa secara merata dapat memahami materi yang diajarkan oleh guru, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPSGeografi siswa kelas VIII-D SMP Muhammadiyah Kediri melalui penerapan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah berupa data pelaksanaan penerapan tindakan yang dilakukan oleh guru, data hasil belajar siswa tiap siklus, catatan lapangan dan lembar observasi proses pembelajaran. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal turnamen, format dokumentasi, lembar observasi pelaksanaan penerapan tindakan guru, catatan lapangan dan lembar observasi proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament dalam bidang studi IPS-Geografi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Kediri. Hasil belajar siswa meningkat pada Siklus I ke Siklus II. Berdasarkan penelitian ini, bagi para guru disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament pada pokok bahasan selain Penyimpangan Sosial dan Hubungan Sosial sebagai alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran. Para guru hendaknya juga lebih mendorong dan memotivasi siswa agar lebih giat belajar baik di rumah maupun di sekolah.

Pengaruh kecocokan audiens dan kecocokan atribut dalam even sponsorship Honda development basketball league terhadap citra merek Honda (Studi kasus pada siswa kelas XII SMA Katolik Kolese Santo Yusup Malang) / Dhiya'u shidiqy

 

Shidiqy, Dhiya’u. 2013. Pengaruh Kecocokan Audiens dan Kecocokan Atribut Dalam Event Sponsorship Honda Deteksi Basketball League Terhadap Brand Image Honda (Studi Kasus Pada Siswa Kelas XII SMA Katolik Kolese Santo Yusup Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Agung Winarno, M.M., (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si. Kata Kunci: Event Sponsorship, Kecocokan Audiens, Kecocokan Atribut, Brand Image     Perkembangan dunia bisnis yang sudah sangat maju menimbulkan persaingan yang ketat. Produsen tidak lagi hanya berpikir tentang berapa volume penjualan produknya, tetapi juga berpikir bagaimana terciptanya asosiasi akan produknya sehingga terbentuk citra merek (brand image) dari produk. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki cara yang kreatif dalam mempromosikan produknya agar dapat menarik perhatian konsumen maupun calon konsumennya dan menciptakan asosiasi yang kuat terhadap merek. Upaya promosi yang telah dilakukan produsen salah satunya adalah dengan menjadi event sponsorship pada berbagai kegiatan masyarakat.     Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan tentang event sponsorship Honda Development Basketball League yang terdiri dari kecocokan audiens dan kecocokan atribut serta menguji pengaruhnya secara parsial terhadap brand image Honda pada siswa kelas XII SMA Katolik Kolese Santo Yusup Malang.     Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Teknik yang digunakan dalam menganalisis data adalah regresi linier berganda dengan variabel bebas event sponsorship, () kecocokan audiens dan () kecocokan atribut, sedangkan variabel terikat (Y) adalah brand image. Penelitian ini dilakukan pada bulan Okteber – November 2013. Penetuan sampel menggunakan simple random sampling dengan 125 sampel yang menjadi responden.     Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Event sponsorship yang terdiri dari kecocokan audiens berpengaruh dalam pembentukan brand image Hondadan konsumen mempunyai persepsi yang baik mengenai brand image Honda, sedangkan untuk kecocokan atribut tidak berpengaruh terhadap pembentukan brand image. (2) Jika dibandingkan dengan dengan kecocokan atribut, kecocokan audiens lebih memiliki pengaruh yang dominan terhadap brand image Honda pada siswa kelas XII SMA Katolik Kolese Santo Yusup Malang. Berdasarkan penelitian ini, saran bagi Honda maupun DBL antara lain: (1) Desain logo Honda Development Baskerball League didesain dengan lebih mencerminkan jiwa mudanya lagi. (2) Alangkah baiknya jika Honda juga turut peduli dan berpatisipasi pada event-event olahraga pelajar yang lainnya.

Hubungan perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, dan motivasi kerja guru dengan kinerja guru SMK Negeri di kota Malang / Rofiq Zianudin

 

ABSTRAK Zainudin, Rofiq. 2010. Hubungan Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah, Iklim Sekolah, dan Motivasi Kerja Guru dengan Kinerja Guru SMK Negeri di Kota Malang. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang,. Pembimbing (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II). Prof. Dr. Salladien. Kata kunci: perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, motivasi kerja, dan kinerja guru Peningkatan kualitas pendidikan nasional merupakan kebutuhan untuk mensejajarkan Indonesia dengan negara lain. Kebutuhan ini akan terpenuhi bila proses pendidikan mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang handal,. Fenomena dimaksud tentu menjadi tanggung jawab banyak pihak terutama dunia pendidikan dimana unjung tombaknya adalah guru. Guru adalah sebuah profesi intelektual yang menuntut berbagai kecakapan, kompetensi dan kemampuan komprehensif. Kondisi dewasa ini belum menunjukkan harapan yang maksimal sehingga masih diperlukan berbagai upaya dan strategi yang tepat guna meningkatkan kinerja guru dengan harapan akan berdampak pada peningkatan pembelajaran di kelas. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, motivasi kerja merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kinerja guru termasuk guru SMK Negeri di Kota Malang. Untuk mengkajinya, penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut: (1) bagaimana perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah dan motivasi kerja guru SMK Negeri di Kota Malang, (2) Apakah ada hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang, (3) apakah ada hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malng, (4) apakah ada hubungan yang signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang, (5) apakah ada hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, dan motivasi kerja secara bersama-sama dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang. Guna menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di dua belas SMK Negeri di Kota Malang dengan populasi sebesar 154 orang dan sampel 105 orang. Sampel diambil secara random proporsional. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner atau angket sebagai instrumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat perilaku kepemimpinan kepala sekolah SMK Negeri di Kota Malang termasuk kategori tinggi (efektif) yakni mencapai 44,8 %, (2) tingkat iklim sekolah SMK Negeri di Kota Malang termasuk kategori sedang 65,7%, (3) tingkat motivasi kerja SMK Negeri di Kota Malang termasuk kategori sangat tinggi 50,5%, (4) tingkat kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang termasuk kategori tinggi 94,3%, (5) terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, dan motivasi kerja dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang dengan sig t 0,000<0,05 berarti ada hubungan yang signifikan, (6) terdapat hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang dengan sig t 0,009<0,05 berarti ada hubungan yang signifikan, (7) terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang dengan sig t 0,002<0,05 berarti ada hubungan yang signifikan, dan (8) terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, dan motivasi kerja dengan kinerja guru SMK Negeri di Kota Malang sig F 0,000<0,05 berarti ada hubungan yang siginifikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) para guru mendapat bahan masukan untuk memperbaiki diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diembankan sehingga terjadi peningkatan profesionalisme diri sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, (2) kepala sekolah menjadikannya sebagai informasi yang berguna dalam rangka perbaikan perilaku kepemimpinan dengan menciptakan iklim sekolah yang kondusif sehingga para guru tetap berupaya meningkatkan kinerja mereka, (3) diharapkan ada langkah yang disikapi oleh Dinas Pendidikan Kota Malang serta instansi terkait lain terhadap penilaian kinerja kepala sekolah dan peningkatan motivasi kerja sebagai upaya mempertahankan dan meningkatkan kinerja mereka, (4) perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui kinerja guru selain variable perilaku kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah, dan motivasi kerja sehingga dapat memperoleh informasi lain tentang upaya peningkatan kinerja guru.

Pengaruh return on asset dan return on equity terhadap harga saham melalui earning per share (studi pada perusahaan pertambangan yang tercatat di BEI periode 20011-2012) / Tifani Ikasari

 

Pengaruh kompensasi dan motivasi terhadap kinerja karyawan (studi pada PT. PLN (Persero) Area Malang) / Manggala Putra Alembana

 

Manggala, Putra. A, 2014. Pengaruh Kompensasi dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada Karyawan PT PLN Persero Area Malang). Skripsi, Jurusan manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj. Wasiti, S. Sos, M, Si. (2) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si. Kata Kunci : Kompensasi, Motivasi, Kinerja.   Sumber Daya Manusia pada hakekatnya merupakan salah satu modal dan memegang peran yang penting dalam mencapai tujuan perusahaan, karena itu perusahaan perlu mengelola Sumber Daya Manusia sebaik mungkin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi Kompensasi, Motivasi yang ada pada PT. PLN Persero Area Malang, untuk mengetahui kondisi kinerja karyawan yang ada pada karyawan PT. PLN ( persero ) Area Malang, serta mengetahui pengaruh Kompensasi dan Motivasi terhadap kinerja secara parsial.   Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kausalitas. Metode analisis penelitian mengarah pada analisis deskriptif pendekatan kuantitatif untuk menganalisis rumusan masalah pertama dan kedua sedangkan untuk rumusan masalah yang ketiga dan keempat menggunaka analisis regresi berganda. Obyek penelitian pada karyawan PT. PLN ( persero ) Area Malang Populasi dalam penelitian ini seluruh karyawan PT. PLN Persero Malang yang berjumlah 65 orang.   Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh hasil Pertama, kompensasi dan motivasi telah diterima dengan baik oleh karyawan pada PT. PLN ( persero ) Area Malang. Kedua, kinerja karyawan telah baik pada PT PLN ( persero ) Area Malang. Ketiga, ada pengaruh positif dan signifikan antara kompensasi terhadap kinerja karyawan pada PT. PLN ( persero ) Area Malang dengan sign sebesar 0,00 ≤ α sebesar 0,05. Keempat, terdapat pengaruh positif yang signifikan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan pada PT. PLN ( persero ) Area Malang dengan sign sebesar 0,00 ≤. α sebesar 0,05. Saran dari hasil penelitian ini diharapkan mempertahankan dan meningkatkan program kompensasi yang sudah terlaksana dengan baik dan mampu mempertahankan motivasi yang sudah baik dalam karyawan dan mampu mengembangkannya menjadi lebih baik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam berbelanja di toko elektronik Gunung Sari Intan Malang (studi pada konsumen Gunung Sari Intan Malang) / Muhamad Baqir

 

Baqir, Muhamad. 2014. Faktor-faktor Yang mempengaruhi Konsumen Dalam Berbelanja Di Toko Elektronik Gunung Sari Intan Malang (Studi pada Konsumen Gunung Sari Intan Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimibing: (1) Dr. Syihabudhin , S.E, M.Si. (2) Titis Shinta Dhewi , S.P, M.M. Kata kunci: analisis faktor, keputusan pembelian     Pada masa sekarang ini, hampir sebagian besar manusia tidak bisa lepas dari peralatan elektronik. Salah satu pihak yang berperan dalam keberadaan barang-barang elektronik adalah peritel barang elektronik. Dengan semakin tumbuhnya bisnis ritel elektronik di Indonesia, akan menyebabkan persaingan antar pengusaha ritel semakin ketat. Pada sisi lain konsumen menjadi lebih cermat dan rasional dalam membelanjakan uangnya. Agar strategi ritel yang diterapkan dapat berhasil, perusahaan sudah seharusnya dapat memahami dengan baik perilaku konsumen pasar sasaran mereka. Diantaranya adalah mengetahui profil mereka, bagaimana keputusan beli yang dilakukan, sikap mereka terhadap atribut-atribut toko yang ada dan sebagainya. Gunung Sari Intan Malang merupakan salah satu dari tiga pemain besar dalam industri ritel elektronik di kota Malang. Dengan persaingan yang ketat diantara para peritel elektronik di Kota Malang, para pengunjung tersebut tentunya mempunyai beberapa pertimbangan ketika lebih memilih Gunung Sari Intan Malang daripada peritel elektronik lainnya. Penelitian ini berusaha menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam berbelanja di Gunung Sari Intan Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang telah melakukan pembelian barang-barang elektronik di Gunung Sari Intan Malang. Menggunakan rumus sampel dalam analisis multivariate oleh Roscoe, diperoleh sampel sebanyak 160 responden. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah purposive sampling. Analisis data penelitian yang digunakan adalah analisis faktor. Hasil penelitian ini menghasilkan lima faktor yang terbentuk dari 16 variabel yang diteliti. Faktor-faktor tersebut adalah : (1) faktor fasilitas toko dan iklan (2) faktor pelayanan (3) faktor kelompok referensi (4) faktor promosi dan (5) faktor dimensi barang. Berdasarkan hasil analisis, faktor fasilitas toko dan iklan merupakan faktor utama yang mempengaruhi konsumen dalam berbelanja di Gunung Sari Intan Malang. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, peneliti memberikan saran agar sebaiknya pihak manajemen Gunung Sari Intan Malang memperbaiki kualitas fasilitas toko yang ada meliputi : kebersihan ruangan, fasilitas parkir dan jasa pengiriman. Dan diharapkan memberikan lebih banyak alternatif pilihan produk yang ditawarkan kepada konsumen. Selain itu bagi penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mencari variabel maupun item lain yang diduga juga berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam berbelanja di Gunung Sari Intan Malang. Atau jika berminat untuk mengembangkan studi ini, diharapkan untuk memperdalam kajian tersebut dengan melanjutkan pada analisis lanjutan seperti analisis regresi linier berganda, deskriminan maupun cluster.

Pengaruh pemberian sertifikat pendidik terhadap profesionalisme guru ekonomi studi kasus di SMAN 2 dan SMAN 5 Malang / Mira Puspita Asri

 

ABSTRAK Asri, Mira Pspita. 2010. “Pengaruh Pemberian Sertifikat Pendidik Terhadap Profesionalisme Guru Ekonomi di SMAN 2 dan SMAN 5 Malang”. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Bambang Pranowo, S.E., M.Pd (2) Dr Nasikh, SE., M.P., M.Pd Kata kunci: kompetensi guru profesional, kinerja guru Peran guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan di Indonesia, sehingga guru harus mendapatkan perhatian yang utama. Guru juga sangat menentukan keberhasilan siswa atau peserta didik terutama dalam proses pembelajaran. Segala kebijakan pemerintah harusnya diarahkan pada kinerja guru dan diikuti dengan pemberian hak-hak yang seharusnya diperoleh guru sebagai pendidik generasi selanjutnya. Seperti halnya yang tecantum pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan persyaratan memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau Diploma IV yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran, seorang guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu melalui peningkatan mutu guru. Hal ini dimaksudkan dapat meningkatkan pembelajaran pada sekolah sehingga lebih berkualitas. Tujuan sertifikasi adalah untuk menentukan standar kelayakan guru dalam melakasanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; meningkatkan profesionalisme guru. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Variabel dalam penelitian ini adalah kompetensi guru dan kinerja guru. Populasi dalam penelitian ini adalah Guru ekonomi yang telah mendapatkan sertifikat pendidik di SMAN 2 dan SMAN 5 Malang. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah dan siswa sekolah dari guru yang diteliti. Populasi yang diteliti sebanyak 60 orang responden dan 4 orang guru yang dimaksud yaitu telah mendapatkan sertifikat pendidik. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode wawancara dan angket/kuesioner tertutup. Analisis data yang digunakan untuk menguji adalah dengan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kompetensi profesionalisme guru ekonomi di SMAN 2 dan SMAN 5 Malang adalah sangat baik. Kompetensi profesionalisme guru ekonomi SMAN 2 dan SMAN 5 Malang yang telah dinyatakan lulus dalam Program Sertifikasi di kota Malang adalah sangat baik. Dari hasil angket yang diberikan kepada responden, diambil kesimpulan bahwa kompetensi yang dimiliki Ibu Tri Rahayu adalah sangat baik, begitu juga dengan kompetensi yang dimiliki Bapak Toni Muharam dan Ibu Sih Wariati, sedangkan untuk Ibu Retno Soetriani kompetensi yang dimiliki sudah baik. Untuk kinerja guru ekonomi SMAN 2 dan SMAN 5 Malang yang telah dinyatakan lulus dalam Program Sertifikasi di kota Malang baik. Hal ini dapat kita ketahui dari hasil angket yang menyatakan bahwa yang bersangkutan yakni Ibu Tri Rahayu, Ibu Retno Soetriani dan Ibu Sih memiliki predikat baik dalam kinerjanya melaksanakan kegiatan pembelajaran, sedangkan Bapak Toni Muharam memiliki predikat sangat baik dalam kinerjanya melaksanakan kegiatan pembelajaran Kinerja guru ekonomi di SMAN 2 dan SMAN 5 Malang pada dasarnya adalah baik hal ini terbukti dari hasil perolehan angket dari masing-masing sub kinerja guru yaitu; 81,7% orang menyatakan sangat baik untuk penyusunan program pembelajaran, tentang pelaksanaan evaluasi sebanyak 40% responden menyatakan baik, tentang analisis evaluasi sebanyak 50% reponden menyatakan baik. Sedangkan untuk perbaikan dan pengayaan yang dilakukan guru sebanyak 41,7% orang menyatakan bahwa kompetensi yg dimiliki guru baik, untuk guru melaksanakan proses pembelajaran sebanyak 61,7% orang menyatakan kompetensi guru untuk pelaksanaan proses pembelajaran sangat baik. Berdasarkan wawancara mendalam dengan guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik kompetensi profesionalisme guru sesuai dengan sub variabel dalam kompetensi profesionalisme guru terhadap 4 orang guru Ekonomi di SMAN 2 dan SMAN 5 Malang dengan keadaan kompetensi guru sebelum mendapatkan sertifikat pendidik diketahui bahwa 25% dengan frekuensi 1 orang guru memiliki kompetensi cukup baik sebelum mendapatkan sertifikat pendidik, sedangkan 75% dengan frekuensi 3 orang menyandang predikat baik. Sedangkan untuk kinerja guru sebelum mendapatkan sertifikat pendidik sejumlah 100% atau sebanyak 4 orang guru memiliki kinerja yang cukup baik. kompetensi yang dimiliki guru setelah mendapatkan sertifikat pendidik dapat diketahui bahwa 100% dengan frekuensi sebanyak 4 orang guru memiliki kompetensi guru yang sangat baik setelah mendapatkan sertifikat pendidik. Sedangkan untuk kinerja yang dimiliki guru setelah mendapatkan sertifikat pendidik sejumlah 100% atau sebanyak 4 orang guru memiliki kinerja yang cukup baik.

Pengaruh Promosi dan persepsi harga terhadap citra merek (studi pada penonton Band Last Child) / Rully Prayogi

 

Prayogi, Rully. 2014. Pengaruh Promosi dan Persepsi Harga terhadap Citra Merk (Studi pada Penonton Band Last Child). Skripsi. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi Kusumojanto, M.Si., (II) Hj. Madziatul Churiyah, S.Pd., M.M. Kata Kunci: promosi, persepsi harga, citra merk Musik adalah media universal yang mampu berbicara dalam berbagai bahasa, mampu menyuarakan isi hati para penciptanya dan mencerminkan kebudayaan dari berbagai macam belahan dunia, belakangan ini musik sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat luas. Sebuah karya seni, khususnya seni musik dalam perkembangannya juga akan dipengaruhi oleh beberapa hal agar tetap mampu bertahan di pasaran. Dalam penelitian kali ini peneliti akan melihat dari tiga faktor, yaitu promosi, persepsi harga dan citra merk yang dilakukan oleh pihak manajemen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi terhadap citra merk Band Last Child, mengetahui pengaruh persepsi harga terhadap citra merk Band Last Child dan mengetahui pengaruh promosi dan persepsi harga secara simultan terhadap citra merk Band Last Child. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuatitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang di wilayah Malang yang pernah menonton Band Last Child pada tahun 2013 yang berjumlah 208 responden. Proses penarikan sampel menggunakan teknik random sampling dan jumlah sampel yang dipakai sebanyak 137 responden. Proses pengumpulan data menggunakan angket. Sedangkan untuk analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Promosi yang dilakukan team manajemen Band Last Child di wilayah Malang sudah cukup sering, sedangkan informasi harga yang dilakukan team manajemen Band Last Child di wilayah Malang sudah cukup baik sehingga mampu membuat konsumen mempersepsikan bahwa harga yang melabeli Band Last Child masih dapat terjangkau dengan tingkat keuangan mereka. Akan tetapi, pembentukan persepsi akan sebuah merk yang dilakukan team manajemen Band Last Child di wilayah Malang belum optimal sehingga belum mampu membuat konsumen dengan cepat dapat mengindentifikasi produk yang dihasilkan Band Last Child, dalam hal ini produk yang dihasilkan adalah lagu, (2) Promosi dapat mempengaruhi secara positif citra merk Band Last Child, (3) Persepsi harga dapat mempengaruhi secara positif citra merk Band Last Child, (4) Promosi dan persepsi harga secara simultan dapat mempengaruhi secara positif citra merk Band Last Child. Bertitik tolak dari temuan penelitian tersebut, dapat disarankan (1) Team manajemen Band Last Child selalu menginovasi bentuk promosi yang dimiliki sehingga konsumen akan lebih tertarik dan loyal terhadap produk jasa yang ditawarkan, misalnya jumlah pemutaran lagu di radio atau televisi di jam efektif dari Band Last Child lebih sering dan review di majalah-majalah music atau majalah-majalah yang membahas anak muda; berusaha memberikan persepsi yang baik terhadap produk atau jasa yang mereka jual terhadap konsumen, misalnya dengan cara selalu memberikan karya-karya music yang selalu disukai konsumen dan mau mengisi acara-acara amal; dan perlu memberikan nilai tambah produk jasa yang dihasilkan dengan cara meningkatkan intensitas promosi dan pembentukan persepsi harga pada benak konsumen, (2) Konsumen disarankan untuk selalu memberikan penilaian yang objektif kepada produk jasa Band Last Child guna meningkatkan produk yang dihasilkan, (3) Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian yang terkait dengan produk jasa dan menggunakan variabel terikat dan variabel bebas yang lainnya.

Preparasi, karakterisasi, dan uji aktivitas katalis Ni-Fe/Zeolit aktif pada perengkahan katalitik minyak goreng bekas / Lale Budi Hutami Rahayu

 

Rahayu, L. Budi Hutami. 2014. Preparasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif pada Perengkahan Katalitik Minyak Goreng Bekas. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si, (II) Dr. Aman Santoso, M.Si. Kata kunci: zeolit, logam Ni-Fe, katalis, impregnasi, perengkahan.     Zeolit dari Sumbermanjing Wetan Malang Selatan dapat dimanfaatkan sebagai katalis heterogen, karena memiliki aktivitas, selektivitas, dan kestabilan yang tinggi. Aktivasi dan impregnasi logam pada zeolit alam dapat meningkatkan kemampuan zeolit sebagai katalis dalam reaksi perengkahan minyak goreng bekas. Diketahui senyawa trigliserida merupakan salah satu penyusun minyak goreng bekas yang dapat direngkahkan menjadi bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mempreparasi dan mengkarakterisasi katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif serta menguji aktivitas katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif dalam perengkahan katalitik minyak goreng bekas.     Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Beberapa tahap dari penelitian ini adalah (1) preparasi katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif dengan aktivasi menggunakan larutan HF 1%, HCl 6 M dan NH4Cl 1 M, kalsinasi pada suhu 800°C dan adsorpsi logam Ni dan Fe dalam zeolit aktif (ZAk) dengan perbandingan konsentrasi Ni:Fe sebesar 5%:5%, 5%:7%, dan 7%:5% sehingga disebut katalis Ni-Fe55/ZAk, Ni-Fe57/ZAk dan Ni-Fe75/ZAk, (2) karakterisasi katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif dengan metode BET, keasaman dan rasio Si/Al, (3) uji aktivitas katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif pada perengkahan katalitik minyak goreng bekas dengan variasi suhu reaktor 350°C dan 450°C, dan (4) identifikasi produk perengkahan dengan analisis GC-MS dan karakterisasi produk perengkahan.     Dari hasil penelitian diperoleh katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif dan hasilnya berupa butiran kemerahan berukuran 30-50 mesh. Karakter katalis Ni-Fe/Zeolit Aktif dengan perbandingan konsentrasi Ni:Fe 5%:5%; 5%:7%; 7%:5% berturut-turut untuk luas permukaan adalah 157,900; 169,383; 143,823 m2/g, jari-jari porinya adalah 12,197; 12,205; 12,244 Å, volume total pori adalah 0,096; 0,103; 0,088 cc/g, jumlah keasaman adalah 4,962; 4,353; 3,100 mmol/g dan untuk rasio Si/Al adalah 5,985; 6,726; 6,162. Katalis Ni-Fe/ZAk berhasil merengkahkan minyak goreng bekas menjadi produk perengkahan, dengan hasil perengkahan optimum dengan rendemen 31,3% menggunakan katalis NiFe55/ZAk pada suhu 450°C dan komposisi senyawa pada produk perengkahan adalah tridekana, 1-tridekena, tetradekana, 1-heptadekena, oktana, nonana, 3-heksadekena, heptadekana, 8-heptadekena dan heptadekana.

Penerapan pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan metode kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri I Puri Mojokerto / Imamatus Sholiha

 

ABSTRAK Sholiha, Imamatus. 2010. Penerapan Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dengan Metode Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-1 SMA Negeri I Puri Mojokerto. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D., (2) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S Kata kunci: PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan), TPS (Think Pair Share), Proses belajar, Hasil belajar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara guru matapelajaran biologi kelas X-I SMA Negeri Puri Mojokerto, bahwa sekolah tersebut sudah memberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Guru biologi di SMA Negeri I Puri Mojokerto masih menggunakan metode ceramah sebagai andalan dalam pembelajaran atau memberikan penjelasan di depan kelas kepada siswanya serta siswa mencatat semua penjelasan yang disampaikan oleh guru, diskusi kelas jarang dilakukan dengan alasan waktu belajar yang sedikit sehingga tingkat berpikir siswa kurang. Pembelajaran seperti ini kurang maksimal karena siswa hanya mendengarkan dan tidak berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga hasil belajarnya tidak maksimal. Hasil observasi dan wawancara juga menunjukkan bahwa guru belum pernah menerapkan pembelajaran PBMP dengan metode TPS. Berdasarkan alasan di atas maka peneliti menerapkan pembelajaran PBMP dengan metode TPS untuk meningkatkan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas X-I SMA Negeri I Puri Mojokerto. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri I Puri Mojokerto pada bulan Desember 2009. Pembelajaran yang digunakan adalah PBMP dengan metode TPS yang diterapkan melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dilakukan dengan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu 1) rencana tindakan, 2) tindakan pembelajaran, 3) observasi dan 4) refleksi. Subjek dari penelitian adalah siswa kelas X-I yang berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data melalui observasi keterlaksanaan pembelajaran, observasi proses belajar siswa, tes dan angket respons siswa terhadap pembelajaran. Analisis data secara deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk:1) meningkatkan proses belajar siswa kelas X-I SMA Negeri I Puri Mojokerto melalui penerapan PBMP dengan metode kooperatif model TPS, 2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-I SMA Negeri I Puri Mojokerto melalui penerapan PBMP dengan metode kooperatif model TPS dan 3) mengetahui respons siswa kelas X-I SMA Negeri I Puri Mojokerto terhadap penerapan PBMP dengan metode kooperatif model TPS Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PBMP dengan metode TPS dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Hasil proses belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan yaitu pada deskriptor 2 (2 orang siswa), deskriptor 3 (3 orang siswa), deskriptor 4 (1 orang siswa), deskriptor 5 (9 orag siswa) dan deskriptor 9 (1 orang siswa). Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan 17,6 atau mengalami kenaikan sebesar 33,3%. Persentase kemampuan afektif: kemampuan bertanya mengalami peningkatan13%, ii menjawab 2,7%, berpendapat 8,8%, kerjasama kelompok 2,1%, dan kehadiran 2,8%, sedangkan kemampuan psikomotor pada siklus II dengan rata-rata sebesar 11 poin dari skor maksimal 12 poin, serta mendapat respons yang positif dari siswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa PBMP dengan metode TPS dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa Berdasarkan hasil penelitian, penerapan PBMP dengan metode TPS perlu dikembangkan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pengembangan permainan sirkuit geometri pada pembelajaran kognitif di Kelompok A Taman Kanak-Kanak Gugus Kecamatan Donomulyo / Puput Restu Pengesti

 

ABSTRAK Restu, Puput Pangesti. 2015. Pengembangan Permainan Sirkuit Geometri Pada Pembelajaran Kognitif Anak Di Kelompok A Taman Kanak-kanak Gugus Kecamatan Donomulyo. Skripsi, Jurusan kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Heru Widijoto, M.S, (2) Wuri Astuti, S.Pd Kata Kunci: kognitif, membedakan bentuk geometri, permainan sirkuit Kemampuan membedakan bentuk geometri dalampelaksanaan pembelajaran kognitif dengan mengenal dahulu bentuk geometri. Pada kenyataannyadari 34 anak diperoleh temuan, minat anak pada pembelajaran kognitif berupa pengenalan geometri dengan kegiatan menyebutkan macam-macam bentuk geometri masih rendah (50%). Anak sudah belajar penambahan dan pengurangan bentuk geometri dengan menggambarkan hasil penjumlahan bentuk geometri tersebut. Pembelajaran tersebut dilaksanakan secara manual dengan guru menggambar bentuk geometri pada papan tulis. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah penelitian pengembangan ini memiliki tujuan mengembangkan permainan sirkuit geometri pada pembelajaran kognitifyang diharapkan menghasilkan permainan sirkuit geometri yang mudah, menyenangkan dan aman bagi anak. Model penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model (research and development) Borg & Gall yang terdiri dari 10 langkah, namun yang digunakan hanya langkah 1 – 7. Subjek penelitian uji coba kelompok kecil 6 anak dan uji coba lapangan (kelompok besar) 34 anak, instrumen penelitian berupa angket, serta teknik analisis data berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Hasil penelitian dan pengembangan berdasarkan uji ahli pembelajaran anak usia dini, ahli kognitifanak, ahli bermain dan permainan anak, dan ahli fisik motorik anak terhadap permainan sirkuit geometri. Data validasi dari ahli pembelajaran anak usia dini mendapatkan rata-rata sebesar 75%, data validasi dari ahli kognitif mendapatkan rata-rata sebesar 75%, data validasi dari ahli bermain dan permainan mendapatkan rata-rata sebesar 81,6%, serta data validasi dari ahli fisik motorik mendapatkan rata-rata sebesar 79,1%. Kesimpulan penelitian dan pengembangan Permainan Sirkuit Geometri adalah mudah, aman dan menyenangkan untuk dilakukan oleh anak kelompok A. Terdapat saran pemanfaatan perlu mempertimbangkan situasi, usia, dan tingkat perkembangan anak.

Persepsi siswa SMK Program Keahlian Teknik Bangunan (PKTB) paket keahlian Teknik Konstruksi Batu Beton (TKBB) terhadap SKKNI di SMKN 1 Singosari / Andik Ardiansyah

 

ABSTRAK Ardiansyah, Andik. 2016. Persepsi Siswa SMK Program Keahlian Teknik Bangunan (PKTB) Paket Keahlian Teknik Konstruksi Batu Beton (TKBB) Terhadap SKKNI di SMKN 1 Singosari . Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Isnandar, MT (II) Drs. Sugiyanto, S.T, M.T Kata kunci: SKKNI, SMK, Kompetensi Sektor jasa konstruksi membutuhkan tenaga terampil dari SMK, adanya keunggulan SMK mempunyai keterampilan dasar dan relatif lebih cepat beradaptasi dengan kondisi lapangan kerja. Lulusan SMK dikatakan kurang berkompetensi jika standar kompetensi yang digunakan tidak relevan dengan dunia usaha dan dunia industri DU/DI. Standar yang digunakan oleh Pemerintah adalah SKKNI, melalui SKKNI diharapkan lulusan SMK mampu sejalan dengan kebutuhan kompetensi DU/DI. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan persepsi siswa terhadap SKKNI yang dibuat oleh Kemenakertrans dengan kompetensi yang diterapkan di SMKN 1 Singosari. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan angket dengan skala likert yang mengacu pada variabel kompetensi SKKNI dengan responden kelas XII sejumlah 64 siswa. Hasil analisis data dari penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap SKKNI yang ditinjau dari : (1) kompetensi membaca dan memahami gambar kerja, (2) kompetensi menghitung perkiraan volume pekerjaan dan menyusun rencana anggaran biaya (RAB) konstruksi, (3) kompetensi membuat jadwal dan rencana kerja, (4) kompetensi melakukan peninjauan dan pengukuran lapangan (setting out), (5) kompetensi memberi instruksi teknis kepada para tukang dan pekerja, (6) kompetensi menyiapkan dan mengatur pembagian tugas serta pemeriksaan bahan bangunan, (7) kompetensi menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja, (8) kompetensi mengukur dan menghitung hasil kerja, (9) kompetensi melaporkan hasil kegiatan pelaksanaan pekerjaan, sudah relevan. Kompetensi yang telah diajarkan di SMKN 1 Singosari sudah sesuai dengan standar kompetensi SKKNI yang ditetapkan oleh Kemenakertrans, seperti halnya menambah pengetahuan siswa dalam mata diklat yang relevan terhadap (Du/Di). Namun ada kompetensi yang belum mencapai KKM yaitu melakukan peninjauan dan pengukuran lapangan (setting out). Untuk kedepannya kompetensi yang kurang memenuhi KKM agar dapat ditingkatkan lagi dan mempertahankan yang sudah memenuhi KKM.

Analisis proteomik profil protein darah kerbau lokal (Bubalus bubalis) di Blitar dan Banyuwangi sebagai upaya peningkatan mutu genetik / Zhentaza Bianca Ardjaka

 

Ardjaka, Zhentaza Bianca, 2014. Analisis Proteomik Profil Protein Darah Kerbau Lokal (Bubalus bubalis) di Blitar dan Banyuwangi Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Genetik. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Umie Lestari, M.Si, (II) Prof. Dr. agr. Moh. Amin, M.Si. Kata Kunci: analisis proteomik, kerbau, protein darah, keragaman genetik, peningkatan mutu genetik.     Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan salah satu hewan endemik Indonesia, yang hingga kini pengembangan populasinya masih relatif tetap, bahkan cenderung berkurang. Populasi kerbau di Pulau Jawa terus mengalami penurunan, terutama terjadi di Jawa Timur, hal tersebut terutama disebabkan karena masyarakat lebih menyukai beternak sapi yang nilai jualnya yang lebih tinggi, kualitas pakan kerbau yang rendah akibat pengurangan tanah pertanian, dan menurunnya kualitas mutu genetik kerbau akibat dari perkawinan kerbau antar individu yang berkerabat dekat atau inbreeding. Strategi yang efektif untuk mendorong pengembangan pembibitan kerbau salah satunya dengan manajemen perkawinan silang, maka perlu dilakukan peningkatkan kualitas indukan melalui identifikasi variasi genetik dengan pendekatan molekuler berdasarkan pola profil protein spesifik dalam darah untuk mendapatkan kerbau dengan mutu genetik yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan estimasi hubungan kekerabatan melalui analisis profil protein spesifik dalam darah.     Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Prosedur penelitian diawali dengan memisahkan darah kerbau menjadi plasma darah dan eritrosit. Plasma darah melalui proses purifikasi terlebih dahulu. Selanjutnya plasma darah dan eritrosit dianalisis dengan teknik elektroforesis, dan dihasilkan protein spesifik meliputi haemoglobin (63-66 kDa), transferrin (80-85 kDa), dan post-transferrin (90-105 kDa). Ketiga protein spesifik tersebut kemudian dianalisis menggunakan software MVSP 3.22 dan Genepop 4.2 untuk mendapatkan estimasi hubungan kekerabatan dan frekuensi ekspresi protein.     Hasil penelitian berupa profil protein darah dari sampel kerbau yang ada serta perbandingan profil protein populasi tersebut sehingga diketahui keragaman genetik pada kedua populasi. Frekuensi ekspresi protein pada lokus post-transferrin pada kedua populasi kerbau di Blitar dan Banyuwangi memiliki variasi ekspresi protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokus haemoglobin dan transferrin. Berdasarkan dendogram analisis felogeni, memperlihatkan bahwa kerbau dari kedua populasi membentuk dua cluster besar. Dari dua cluster tersebut, estimasi perkawinan silang atau cross breeding yang disarankan yaitu semua individu kerbau yang berada pada cluster pertama, meliputi individu Banyuwangi 1, Banyuwangi 2, Banyuwangi 3, Banyuwangi 4 dan individu Blitar 3 dapat disilangkan dengan individu pada cluster kedua, yaitu individu kerbau Blitar 1, Blitar 2, dan Blitar 4.

Pengembangan media presentasi pembelajaran IPA kelas II pokok bahasan tubuh hewan dan tumbuhan di SDN 02 Pasirian / Nurrohma

 

Nurrohma. 2013. Pengembangan Media Presentasi Pembelajaran IPA Kelas II Semester 1 Pokok Bahasan Bagian Tubuh Hewan dan Tumbuhan. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Henry Praherdhiono, S.Si, M.Pd (II) Arafah Husna, S.Pd., M. Med.Kom. Kata Kunci : Pengembangan, Media, Presentasi    Pengembangan adalah seluruh kegiatan yang dimulai dari identifikasi tujuan, analisis pengajaran, perumusan tujuan, mengembangkan materi, mengembangkan alat evaluasi, menyusun naskah, menyusun petunjuk pemanfaatan produk, membuat produk, uji coba dan revisi.    Media pembelajaran adalah media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Multimedia persentasi merupakan paket dari program komputer yang digunakan untuk membantu penggunanya dalam mengolah bahan persentasi.    Tujuan penelitian ini adalah : Memproduksi Media Presentasi Pembelajaran IPA Kelas II Pokok Bahasan Bagian Tubuh Hewan dan Tumbuhan di SDN 02 Pasirian. Mengetahui validitas dan efektifitas Media Presentasi Pembelajaran IPA Kelas II Pokok Bahasan Bagian Tubuh Hewan dan Tumbuhan di SDN 02 Pasirian.     Hasil validasi isi terhadap kelayakan media pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 73%, validasi ahli materi 85%, uji coba perorangan 95%, dan uji coba kelompok kecil 86%, uji lapangan 94,25%. Hasil pengembangan media presentasi pembelajaran ini telah direvisi dan siap digunakan. Saran pengembang untuk pengembang berikutnya yaitu agar terus melakukan peningkatan kualitas terhadap proses pengembangan media, khususnya media presentasi pembelajaran ini.

Analisis protein darah kerbau lokal (Bubalus bubalis) di wilayah Lumajang dan Bangkalan dengan mengunakan teknik SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamide Gel Electrophoresis) sebagai pendekatan kekerabatan / Ayun Wintari

 

Wintari, Ayun. 2014. Analisis Protein Darah Kerbau Lokal (Bubalus Bubalis) Di Wilayah Lumajang Dan Bangkalan Dengan Menggunakan Teknik SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamide Gel Electrophoresis) Sebagai Pendekatan Kekerabatan. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Umie Lestari, M. Si. , (II) Prof. Dr. agr. M. Amin, S. Pd., M. Si. Kata Kunci: analisis protein, protein darah, hubungan genetik, keragaman genetik      Sejak tahun 2009 hingga 2012, populasi ternak kerbau cenderung menurun, terutama di Jawa Timur. Berbagai upaya untuk meningkatan jumlah populasi telah dilakukan. Salah satunya adalah melalui teknik persilangan (breeding). Akan tetapi sejauh ini hasil yang diperoleh dari persilangan tersebut belum mampu meningkatkan jumlah populasi ternak kerbau yang ada. Kondisi ini diduga disebabkan oleh masih rendahnya mutu genetik akibat adanya perkawinan sejenis (inbreeding) dalam suatu populasi. Oleh sebab itu diperlukan teknik dan jenis persilangan yang tepat untuk membantu meningkatkan mutu genetik kerbau, yaitu dengan melihat hubungan kekerabatan tiap individu kerbau dari masing-masing populasi. Untuk dapat melihat hubungan kekerabatan tersebut maka perlu dilakukan studi molekuler, melalui pengamatan profil protein spesifik dalam darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan estimasi hubungan kekerabatan kerbau di Lumajang dan Bangkalan melalui analisis profil protein spesifik darah.      Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Darah kerbau dari kedua populasi dipisahkan menjadi plasma darah dan eritrosit. Bagian plasma di purifikasi dan selanjutnya di elektroforesis sehingga menghasilkan pita protein spesifik meliputi hemoglobin (64-66 kDa), transferin (79-85 kDa), dan post-transferin (95-100 kDa). Selanjutnya dianalisis menggunakan (cluster analysis) MVSP 3.22. dan GENEPOP 4.2 untuk mendapatkan estimasi hubungan kekerabatan dan variasi ekspresi protein.      Hasil penelitian diketahui bahwa frekuensi ekspresi protein kerbau dari dua populasi yaitu ekspresi transferin pada populasi Bangkalan dan post-transferin dari populasi Lumajang lebih variatif dibandingkan ekspresi hemoglobin. Berdasarkan dendogram hasil analisis filogeni rekomendasi persilangan yang dapat dilakukan adalah individu Bangkalan 4 disilangkan dengan semua individu dari kedua populasi. Individu Lumajang 4, Bangkalan 1, dan Lumajang 2 tidak dapat saling disilangkan dengan Individu Bangkalan 2, Lumajang 3, Bangkalan 3 serta Lumajang 1, karena individu-individu tersebut memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Pengembangan e-module pelajaran geografi untuk kelas X semester I SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo / Roby Heri Susanto

 

Susanto, Roby Heri. 2014. Pengembangan E-Module Pelajaran Geografi untuk Kelas X Semester I SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.H. Zainul Abidin, M.Pd, (II) Arafah Husna, S.Pd., M.Med.Kom, Kata kunci: Pengembangan, E-Module, Geografi Penggunaan module dalam proses belajar memiliki nilai tertentu dari segi pemanfaatannya, karena pengguna dapat belajar sesuai dengan kecepatan belajar mereka. Berdasarkan observasi lapangan di SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo belum menggunakan e-module dan hanya menggunakan buku teks dalam proses pembelajarannya. Oleh karna itu perlu adanya pengembangan sumber belajar yang berupa e-module yang didesain dalam bentuk CD. Produk e-module ini dikembangkan dan diuji di SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada standar kompetensi memahami sejarah pembentukan bumi. Tujuan penelitian ini adalah: untuk menghasilkan sebuah produk e-module sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran Geografi Kelas X SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arif Sadiman yang terdiri dari 9 tahapan: (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusan tujuan; (3) perumusan butir-butir materi; (4) perumusan alat pengukur keberhasilan; (5) penulisan naskah media; (6) produksi; (7) tes/ uji coba; (8) revisi; (9) Produk siap dimanfaatkan. Instrument pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada satu ahli media, satu ahli materi, uji coba perorangan dengan 2 orang siswa, uji coba kelompok kecil dengan 10 orang siswa dan uji lapangan dengan 20 orang siswa. Hasil validasi dari pengembangan e-module mata pelajaran Geografi kelas X semester 1 SMA Nurul Jadid yakni ahli materi 98,95%,, ahli media 85,43%, uji coba siswa perorangan 97,86%, uji coba kelompok kecil 98,29%, dan uji coba lapangan 98,17%. Dari tes hasil belajar uji coba perorangan pada post-test persentase siswa yang memenuhi SKM 100%, uji coba kelompok kecil pada post-test persentase siswa yang memenuhi SKM 100%, dan uji coba lapangan pada post-test persentase siswa yang memenuhi SKM 100%. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa media e-module pada mata pelajaran Geografi kelas X semester 1 SMA Nurul Jadid Paiton Probolinggo valid dan efektif digunakan dalam proses pembelajaran.     Saran bagi pengembang berikutnya dikembangkan dengan materi-materi lain sesuai karakteristik bidang studinya dan mengikuti prosedur pengembangan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa SMAN 1 Pamukan Barat / Achmad Fauzi

 

Fauzi, Achmad. 2014. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa SMA Negeri 1 Pamukan Barat. Tesis Program studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd, M.A dan (II) Dr. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si Kata kunci : pembelajaran kooperatif, jigsaw, motivasi belajar Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa pada siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Pamukan Barat. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Pamukan Barat tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 32 siswa.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa meliputi: (a) materi yang akan dibahas dibagi menjadi 4 bagian; (b) sebelum siswa berdiskusi di kelompok asal guru menyampaikan pokok-pokok materi secara lisan dan menuliskan materi tersebut di papan tulis; (c) membentuk kelompok asal yang terdiri dari 4 siswa secara heterogen berdasarkan kemampuan kognitif, untuk mengoptimalkan waktu guru meminta siswa untuk duduk dalam satu kelompok asal sebelum pelajaran dimulai; (d) membagikan LKS dan meminta siswa membaca dan mengerjakan, guru membagikan 4 LKS dengan materi berbeda-beda pada masing-masing kelompok dan memberi kesempatan pada siswa untuk memilih LKS yang ingin dikerjakan; (e) membentuk kelompok ahli yang beranggotakan siswa-siswa dari kelompok asal yang memiliki materi yang sama. Guru mendorong siswa untuk melakukan tutor teman sebaya agar pemahaman dan percaya diri siswa meningkat; (f) menempelkan hasil diskusi di kertas karton yang telah disediakan; (g) diskusi kelompok asal yaitu setiap anggota kelompok asal mempresentasikan hasil yang didapat dikelompok ahli secara bergantian.     Saran yang diberikan adalah (1) Untuk menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diharapkan dapat mengelola waktu dengan baik. Karena siswa harus perpindahan tempat duduk sehingga memerlukan waktu. (2) Agar siswa lebih memperhatikan ketika menyampaikan pokok-pokok materi sebelum siswa berdiskusi sebaiknya menggunakan bantuan multimedia power point bagi daerah yang sudah ada listrik. Sedangkan daerah yang belum ada listrik, guru bisa menggunakan bantuan media manipulatif. (3) Pada saat berdiskusi di kelompok ahli dorong siswa untuk melakukan tutor teman sebaya agar pemahaman dan percaya diri siswa meningkatkan. (4) Sekolah yang belum memiliki buku paket untuk siswa, guru bisa membuat rangkuman materi atau membuat LKS yang lengkap untuk siswa sehingga dapat menghemat waktu belajar siswa. (5) Banyaknya Observer sebaiknya disesuaikan dengan jumlah kelompok yang di observasi agar pengamatan lebih intensif dan detail.

Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Panyipatan melalui strategi pembelajaran REACT / Aminudin

 

Aminudin. 2014. Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Panyipatan melalui Strategi Pembelajaran REACT. Tesis. Pasca Sarjana Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A, (II) Dr. Sisworo, M.Si. Kata kunci: Pemecahan masalah matematis, strategi pembelajaran REACT     Pembelajaran yang tepat perlu diterapkan sebagai upaya meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis pada sub pokok materi pernyataan majemuk, salah satunya dengan menerapkan pembelajaran kontekstual. Salah satu strategi dalam pembelajaran kontekstual adalah strategi pembelajaran REACT yang terdiri atas lima (5) komponen yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring. Strategi pembelajaran REACT dinilai mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis pada sub pokok materi pernyataan majemuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran matematika melalui strategi REACT yang dapat meningkatkan pemecahan masalah matematis pada siswa SMA Negeri 1 Panyipatan.     Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur penelitian dalam penelitian ini memiliki empat (4) tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi , dan refleksi yang dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XA SMA Negeri 1 Panyipatan yang berjumlah 34 siswa. Data yang dikumpulkan berupa hasil observasi guru dan siswa serta hasil tes untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran melalui strategi REACT yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa meliputi: (a) membentuk kelompok (cooperating); (b) mengangkat permasalahan kontekstual di awal pembelajaran (relating); (c) membagikan LKS;(d) memanipulasi alat peraga (experiencing); (e) mendiskusikan masalah pada LKS (applying dan transferring);(f) mempresentasikan hasil diskusi; serta (g) meyimpulkan pembelajaran (2) kemampuan pemecahan masalah matematis siswa meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 9,71%.     Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran REACT dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Panyipatan sehingga srategi pembelajaran REACT ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika.

Assemen kinerja dalam pembelajaran barisan dan deret aritmetika bagi siswa kelas XI SMK Negeri 3 Malang / Tholi'ah

 

ASSESMEN KINERJA DALAM PEMBELAJARAN BARISAN DAN DERET ARITMETIKA BAGI SISWA KELAS XI SMK NEGERI 3 MALANG Tholi’ah Universitas Negeri Malang E-mail : tholiahsmk3mlg@gmail.com Abstrak: Dalam konteks pembelajaran, assesmen sebagai pengendali pengajaran merupakan suatu kegiatan di mana guru mencatat apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan siswa, sehingga dapat dibuat langkah kerja berikutnya (NCTM, 2003) . Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan assesmen kinerja dalam pembelajaran barisan dan deret aritmetika. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti membutuhkan data dan skor respon validator dan siswa yang berupa data non verbal. Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. Data yang diperoleh berdasarkan lembar validasi yang berisi penilaian terhadap rancangan pengembangan assesmen kinerja dalam pembelajaran barisan dan deret aritmetika yang dikembangkan. Assesmen kinerja ini diimplementasikan peneliti dalam tugas – tugas kinerja yang bertujuan untuk mengetahui, apakah dengan mengerjakan tugas – tugas ini dapat meningkatkan pemahaman matematik, pengetahuan strategic, dan komunikasinya. Berdasarkan penilaian proses dan penilaian hasil pada setiap tindakan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan Assesmen kinerja dapat membantu siswa memahami konsep barisan dan deret aritmetika.

Pemgembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika dengan metode penemuan terbimbing untuk SMK Negeri 3 Malang / Laily Mufidah

 

Mufidah, Laily. 2014. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matematika dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk SMK Negeri 3 Malang. Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Sri Mulyati,M.Pd., (II) Dr. Sisworo,M.Si. Kata kunci: pengembangan bahan ajar, Lembar Kegiatan Siswa Matematika, penemuan terbimbing. Bahan ajar memiliki posisi yang penting dalam pembelajaran, yaitu: sebagai wakil dari penjelasan guru di depan kelas. Uraian-uraian, keterangan, dan informasi yang harus disampaikan guru dapat disajikan dalam suatu bahan ajar. Hal tersebut dapat mengurangi kegiatan menjelaskan di depan kelas, tetapi memperbanyak waktu untuk membimbing siswa, sebagai sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar, sebagai wujud pelayanan guru terhadap siswa untuk menyusun bahan ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian pengembangan yang berorientasi pada pengembangan produk beserta efektifitasnya. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dengan metode penemuan terbimbing untuk materi matriks yang disusun diharapkan menjadi salah satu wujud pelayanan bagi siswa SMK Negeri 3 Malnag khususnya yang sedang melaksanakan praktek industri. Prosedur pelaksanaan pengembangan bahan ajar ini mengunakan sembilan langkah yang diadopsi dari model Dick, Carey & Carey (1990), di antaranya: mengidentifikasi kebutuhan untuk menentukan tujuan umum, melakukan analisis pembelajaran, menganalisa siswa dan konteks, merumuskan tujuan khusus, mengembangkan instrumen penilaian, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih bahan ajar, merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, merevisi bahan ajar. Dalam proses pengembangan, produk yang dihasilkan dilakukan validasi oleh ahli materi dan revisi sesuai saran validator. Setelah LKS dinyatakan layak oleh ahli-ahli tersebut selanjutnya LKS di uji cobakan di kelas untuk melihat efektifitas LKS yang dikembangkan tersebut.     Penelitian telah menghasilkan sebanyak 5 LKS. Hasil evaluasi setelah siswa menyelesaikan LKS penemuan terbimbing ini menunjukkan bahwa 87,5% siswa tuntas sesuai KKM SMK Negeri 3 Malang.

Pengembangan pembelajaran berbasis web materi pemasaran mata kuliah pengantar bisnis Program Studi Pendidikan EKonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA) / Erma Suryani

 

Erma Suryani,2014. Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web materi Pemasaran Matakuliah Pengantar Bisnis Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa. Tesis. Program Studi Pendidikan Ekonomi, Pembimbing (I) Dr. Hari Wahyono,M.Pd, (II) Dr. Sri Umi Mintarti,SE.,M.Pd.,Ak Kata Kunci : Pengembangan, bahan ajar berbasis web Kemajuan teknologi dibidang edukasi mengharuskan para pelaku pendidikan, berpacu untuk berinovasi dan berkreasi memanfaatkan kecangihan teknologi informasi dalam setiap aktivitas pembelajaran. Pembelajaran berbasis web memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pelaksanaan proses dan hasil pembelajaran. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan web pembelajaran mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam rancangan penelitian ini adalah rancangan Penelitian Pengembangan Borg & Gall, dengan menggunakan instrument penelitian berupa angket tertutup dan terbuk, dan disertai dengan wawancara. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif, dengan sumber data yang berasal dari validator isi, validator desain pembelajaran, validator media pembelajaran, dosen pengampuh mata kuliah, dan mahasiswa pendidikan ekonomi angkatan 2014 FKIP Universitas Samawa. Prosedur pengembangan ini memiliki 10 tahapan pengmbangan, yaitu: (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan,(3) pengembangan draf produk dan instrument, (4) uji validasi, (5) revisi hasil validasi, (6) uji coba lapangan awal, (7) revisi hasil uji coba, (8) uji coba lapangan, (9) penyempurnaan hasil produk uji coba, (10) produk akhir pengembangan. Produk ini telah melalui serangkaian tahap validasi dan uji coba. Pada validasi ahli isi, bahan ajar berbasis web mendapatkan presentase sebesar 76 % atau berkategori pada tingkat layak dan tidak perlu direvisi. Pada validasi desain, bahan ajar berbasis web mendapat presentase sebesar 77% atau berkategori tingkat layak. Pada validasi media bahan ajar berbasis web mendapat presentase sebesar 92,8 % yang berarti sangat layak. Pada uji coba dosen pengampuh matakuliah bahan ajar berbasis web mendapat presentase sebesar 82% yang berarti layak. Pada uji coba kelompok kecil bahan ajar berbasis web mendapat presentase sebesar 78% atau kategori layak. Dan pada uji coba kelompok besar bahan ajar berbasis web mendapat presentase sebesar 79% atau kategori layak. Hasil dari validasi hingga uji coba tersebut menunjukan bahwa produk yang dikembangkan memiliki nilai validitas yang tinggi dan dapat dinyatakan layak untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Hedges and Boosters in undergraduate students' research articles / Imraatu Salichah

 

Salichah, Imraatu. 2014. Hedges and Boosters in Undergraduate Students’ Research Articles. Thesis, Graduate Program of English Language Teaching. State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Enny Irawati, M. Pd., (2) Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A.     Keywords: hedges, boosters, articles.     This research is aimed at investigating the use of hedges and boosters in undergraduate students’ research articles. There are two problems in this research, those are: (1) How is the use of hedges manifested in the articles written by undergraduate students of English Department at the State University of Malang?, (2) How is the use of boosters manifested in the articles written by undergraduate students of English Department at the State University of Malang?     The design of this research was mixed method research design based on the text analysis. The data of this research were taken from 73 articles consisted of 304.883 words selected from undergraduate students’ research articles of English Department at State University of Malang in the graduation academic year 2012/2013. After collecting all the research articles, the researcher classified the data of hedges into five types of hedges proposed by Hyland (1998a); they are modal verbs, epistemic adjectives, epistemic lexical verbs, epistemic adverbs, and epistemic nouns. Furthermore, based on the taxonomy of boosters proposed by Hinkel (2005), the data were classified into three categories; they are universal pronouns, amplifiers, and emphatics. The supporting instruments used to analyze the data were AntConc 3.4.1w software and the rubrics of hedge and booster classifications.     The results showed that the students used more hedges (69.08%) than boosters (30.92%) in their research articles overused modal verb can (frequency=1.096) or 36.75% of the total modal verbs (frequency= 2.982). The overused modal verb can explained that can is the most familiar hedge typically taught to and digested by Indonesian EFL learners. Furthermore, the researcher also found the misuse of hedging device of can. The misused hedging devices by the students showed that they lacks of knowledge of English rhetoric. Besides, the highest rate of booster is universal pronoun (frequency= 914) or 60.65% of the total boosters (frequency=1.507) found in the articles written by undergraduate students indicated that the students overstated and exaggerated the statements which represented a valid rhetorical means of conveying the power of the writers’ conviction and obvious evidential truths. The use of universal pronoun in the article can project a hyperbolic and inflated impression. Furthermore, the students used more hedges as a way of reducing the risk of opposition, as a mean of being polite and as a way to obscure their authorial identity while advancing their opinion. However, the writers also used boosters to show their research originality and also when they were quite sure that their claims share some universal understanding.     Based on the results, this research suggests the EFL lecturers to pay attention to the significance of hedges and boosters to enrich the students’ knowledge on the parts of discourse. This might become references for advisors to have many attentions on students under their guidance. Familiarizing students with the rule and norms of academic writing might help students, especially those who write their final assignments. Moreover, the present research can be a stepping stone for the future researchers to investigate hedges and boosters in academic context, written or spoken for the comparison. There can be further studies on certain hedges and boosters typically employed by particular group of people. There can also be further research investigating the functions or motivations behind the use of hedges and boosters in academic writings by also interviewing the authors. Finally, the studies on hedges and boosters in academic spoken discourse, for instance in English debate, can be carried out for the sake of exploration of English linguistics in general.

Errors in writing narrative text by the students of senior high school / Dian Luthfiyati

 

Luthfiyati, Dian. 2014. Errors in Writing Narrative Text by the Students of Senior High School. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph. D., (2) Dr. Suharmanto, M.Pd.Tesis, Kata kunci: error, narrative writing. Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk menemukan kesalahan dalam menulis teks narasi yang dibuat oleh siswa SMAN 2 Lamongan dalam kegiatan menulis. Hal ini difokuskan pada menjawab satu pertanyaan; "Apa saja jenis dan frekuensi kesalahan dalam teks tertulis narasi yang ditemukan di kelas dan jurusan yang berbeda dari siswa SMAN 2 Lamongan?" Penulis menggunakan deskriptif kuantitatif sebagai desain penelitian. Subyek penelitian ini adalah kelas X, XI, dan XII siswa SMAN 2 Lamongan. Di kelas X, 40 siswa kelas X-ilmu yang diambil sebagai sampel; di kelas X-sosial 23 siswa diambil sebagai sampel, dan di kelas X-bahasa 12 siswa diambil sebagai sampel. Di Kelas XI, 36 siswa kelas XI-ilmu yang diambil sebagai sampel, di kelas XI-sosial 31 siswa, dan kelas XI-bahasa 8 siswa diambil sebagai sampel. Sementara, di kelas XII, 38 siswa kelas XII-ilmu yang diambil sebagai sampel, di kelas siswa XII-sosial 28 dan di kelas XII bahasa 12 siswa diambil sebagai sampel. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan survei cross sectional. Instrumen utama penelitian ini adalah hasil menulis dari siswa dan petunjuk penilaian narasi. Tes menulis diteliti dalam penilaian subjektif di mana siswa diminta untuk membangun penulisan narasi diadaptasi dari Cohen (1994) dan Coffin, dkk (2003); Hyland (2004). Temuan penelitian menunjukkan bahwa siswa membuat beberapa kesalahan dalam nilai moral, isi, organisasi, tata bahasa, dan kosa kata. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki kesalahan dalam unsur-unsur penulisan narasi. Dari lima jenis kesalahan dalam penulisan narasi, tata bahasa adalah kesalahan yang paling sering dilakukan oleh siswa kelas X, XI, dan XII. Tata bahasa merupakan kesalahan dominan karena itu terjadi di setiap kelas dan masing-masing program. Jenis kesalahan dalam tata bahasa yang terjadi adalah simple past tense. Berdasarkan data, perbedaan kesalahan yang terjadi di setiap kelas tidak berbeda satu sama lain. Hal ini karena ada kesalahan dalam semua kategori di setiap kelas dan jurusan. Alasan mereka membuat kesalahan adalah mereka berpikir bahwa menulis itu sulit. Selain itu, tidak ada waktu khusus untuk mengajarkan tentang tata bahasa. Hal ini dapat mempengaruhi pengetahuan siswa tentang tata bahasa yang digunakan dalam menulis narasi. Temuan ini kemudian mengarah pada saran bahwa guru bahasa Inggris harus mampu memotivasi dan mendukung siswa dalam kelas menulis, dan tidak hanya memberikan penilaian pada tulisan siswa tetapi juga mereka harus memberikan umpan balik pada hasil menulis mereka. Dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis, siswa harus memperhatikan aturan tata bahasa karena menjadi aspek penting dalam belajar bahasa, terutama dalam menyusun paragraf yang baik.

Pengembangan multimedia interaktif mata pelajaran TIK pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis untuk siswa kelas XII semester I di MAN Gresik /Bahrur Rosyidi Duraisy

 

ABSTRAK Duraisy, Bahrur Rosyidi. 2009. Pengembangan Multimedia Interaktif Matapelajaran TIK Pokok Materi Penggunaan Perangkat Lunak Grafis untuk Siswa Kelas XII Semester 1 di MAN Gresik 1. Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Eka Pramono Adi, S.I.P., M.Si., (II) Drs. Zainul Abidin, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Multimedia Interaktif, TIK, Grafis Teknologi komputer dengan elemen multimedianya sangat memberikan dorongan untuk para guru/pengajar dalam menyajikan tugas-tugas dan bahan yang lebih kompleks. Sehingga multimedia interaktif menjadi salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk pengajaran di sekolah khususnya untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Madrasah Aliyah Negeri Gresik 1. Berdasarkan hasil observasi di Madrasah Aliyah Negeri Gresik 1, penyampaian pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dilaksanakan dengan metode ceramah dan praktek. Disisi lain, Pembelajaran TIK di MAN Gresik 1 sudah menggunakan sistem Computer Based Learning dimana pembelajaran dilakukan dengan media komputer sebagai media pembelajaran. Walaupun begitu, sistem ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal, karena berdasarkan hasil observasi hanya beberapa materi tertentu yang menggunakan media tersebut. Disamping itu masih terdapat sedikit kekurangan pada segi konten dan media yang digunakan, yaitu konten atau isi yang disajikan kurang menyeluruh (tidak tuntas). Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran berupa multimedia interaktif yang telah melalui proses validasi pada mata pelajaran TIK di Madrasah Aliyah Negeri Gresik 1. Multimedia interaktif ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari media ini adalah (1) dapat digunakan secara individu sehingga siswa lebih leluasa dalam pengerjaannya, (2) tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengerjakan media ini, (3) multimedia bersifat interaktif sehingga siswa langsung mendapatkan feedback (balikan) dari media ini, dan (4) dilengkapi fitur-fitur pendukung seperti backsound, volume yang dapat diatur besar kecilnya suara, (5) tampilan media disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas XII SMA yaitu dengan penggunaan warna yang cerah dan animasi yang dapat membuat siswa tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan memanfaatkan media ini, (6) multimedia interaktif ini disertai dengan fasilitas blended learning. siswa bisa mengakses internet dari tombol link. Siswa akan mendapat sajian situs-situs grafis baik situs nasional maupun internasional, (7) dilengkapi bahan evaluasi berupa soal latihan atau quiz. Sedangkan kekurangan dari media ini adalah (1) multimedia interaktif ini hanya terbatas pada pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis, (3) hanya bisa digunakan secara individual saja, tidak dalam bentuk kelompok. ii Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi, pre-test dan pos-test, pengembangan multimedia pembelajaran kepada ahli media dan ahli materi kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan multimedia pembelajaran. Hasil pengembangan multimedia interaktif untuk matapelajaran TIK pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 94%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 95%, Siswa/audiens perseorangan mencapai tingkat kevalidan 95%, dan siswa/audiens mencapai tingkat kevalidan 91,9%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif untuk matapelajaran TIK pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Pemanfaaatan kemasan kotak minuman untuk memahamkan siswa mengenai materi barisan dan deret aritmatika melalui pembelajaran dengan strategi REACT di kelas XII B SMA-IT Qardhan Hasana Banjarbaru / Annisa Diniawati

 

Diniawati, Annisa. 2014. Pemanfaatan Media Kemasan Kotak Minuman untuk Memahamkan Siswa Mengenai Materi Barisan dan Deret Aritmetika melalui Pembelajaran dengan Strategi REACT di Kelas XII B SMA-IT Qardhan Hasana Banjarbaru. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. Gatot Muhsetyo, M.Sc, (II) Dr. rer. nat. I Made Sulandra, M.Si Kata Kunci : media manipulatif, memahamkan, barisan dan deret aritmetika, strategi REACT. Berdasarkan observasi awal di SMA-IT Qardhan Hasana Banjarbaru, didapatkan permasalahan bahwa beberapa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi barisan dan deret aritmetika. Permasalahan ini diduga disebabkan oleh (1) siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan hanya menghafal rumus-rumus, (2) guru mengajar dengan menggunakan metode ceramah, belum menggunakan media manipulatif, dan hanya menggunakan buku cetak sebagai sumber belajar. Oleh karena itu, diperlukan media manipulatif untuk memahamkan siswa dan menerapkan strategi pembelajaran yang membuat siswa aktif dalam pembelajaran. Media manipulatif yang digunakan untuk memahamkan siswa berupa kemasan kotak minuman dan strategi yang diterapkan dalam pembelajaran adalah strategi REACT. Penerapan pembelajaran dengan strategi REACT yang memanfaatkan kemasan kotak minuman yang dapat memahamkan siswa mengenai materi barisan dan deret aritmetika, diatur melalui langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Kegiatan awal terdiri dari menggali pengetahuan prasyarat siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa dengan cara mengaitkan (Relating) materi barisan dan deret aritmetika dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan inti terdiri dari (a) memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama (Cooperating) menyelesaikan kegiatan pada LKS seperti kegiatan mengukur dan membuat susunan kemasan kotak minuman sehingga siswa dapat mengalami (Experiencing) sendiri proses membangun pemahamannya mengenai barisan dan deret aritmetika, (b) memberikan permasalahan yang penyelesaiannya menggunakan atau mengaplikasikan (Applying) konsep-konsep yang telah dipelajari siswa seperti suku pertama, beda, dan urutan suku, untuk menentukan suku ke-n barisan dan jumlah n-suku deret aritmetika, dan (c) mengarahkan siswa untuk metransfer (Transferring) pengetahuannya pada situasi atau konteks baru melalui penyelesaian masalah. Kegiatan akhir adalah membuat kesimpulan hasil pembelajaran. Pembelajaran barisan dan deret aritmetika dengan memanfaatkan media kemasan kotak minuman melalui strategi REACT membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar guru mengelolanya dengan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan strategi REACT yang memanfaatkan kemasan kotak minuman yang dapat memahamkan siswa mengenai materi barisan dan deret aritmetika di kelas XII B SMA-IT Qardhan Hasana Banjarbaru. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan rancangan penelitian model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari beberapa siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Hasil siklus I diketahui bahwa siswa belum memahami materi barisan dan deret aritmetika, 7 siswa mempunyai kesalahan konseptual, prosedural dan ketepatan, 1 siswa mempunyai kesalahan prosedural dan ketepatan, 6 siswa mengalami kesalaan konseptual, 1 siswa mengalami kesalahan prosedural, dan 2 siswa mengalami kesalahan ketepatan. Hasil siklus II diketahui bahwa siswa telah memahami materi barisan dan deret aritmetika dengan baik, 6 siswa yang melakukan kesalahan ketepatan dan siswa yang tuntas dalam mengerjakan soal tes 100%. Subyek penelitian adalah siswa kelas XII B semester genap tahun pelajaran 2013/20014 yang berjumlah 20 siswa.

Hubungan antara kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing pada peserta ekstrakulikuler panjat tebing di SMK Negeri 1 Lumajang / Afida Rofiqotur Riza

 

ABSTRAK Rofiqotur Riza, Afida. 2010. Hubungan antara Kekuatan Otot Lengan dan Daya Ledak otot Tungkai dengan Kecepatan Memanjat Tebing pada Peserta Ekstrakurikuler Panjat Tebing di SMK Negeri 1 Lumajang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. M. E. Winarno, M. Pd., (2) Drs. Mahmud Yunus, M.Kes. Kata kunci: panjat tebing, ekstrakurikuler, kecepatan memanjat tebing. Panjat tebing merupakan olahraga petualangan yang relatif aman bila dilakukan sesuai dengan prosedur pemanjatan. Kecepatan memanjat tebing dalam penelitian ini adalah kemampuan melakukan gerakan memanjat tebing buatan secara berkesinambungan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing pada peserta ekstrakurikuler panjat tebing di SMK Negeri 1 Lumajang, serta seberapa besar kekuatan hubungan dan sumbangan efektif tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan positif antara kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing pada peserta ekstrakurikuler panjat tebing di SMK Negeri 1 Lumajang, serta seberapa besar kekuatan hubungan, dan sumbangannya. Penelitian ini dilakukan di Stadion Semeru dan Lembaga Kajian Pengembangan Remaja Lumajang, tanggal 6 Nopember 2009 sampai 30 Desember 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah non eksperimental berupa observasional. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis regresi sederhana, berganda, dan analisis korelasi. Variabel dalam penelitian ini adalah kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai sebagai variabel bebas, serta kecepatan memanjat tebing sebagai variabel tergantung. Alat ukur yang digunakan dalam pengambilan data berupa tes dan pengukuran kekuatan otot lengan dengan butir tes pull up, daya ledak otot tungkai dengan butir tes vertical jump, dan kecepatan memanjat tebing dengan butir tes memanjat tebing. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh peserta ekstrakurikuler panjat tebing di SMKN 1 Lumajang yang berjumlah 20 orang, terdiri dari 11 putra dan 9 putri. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kekuatan otot lengan dengan kecepatan memanjat tebing, persamaan regresi yang diperoleh yaitu Ŷ = 25,34+0,867X1; ditemukan sig. r > α = 0,05 berarti antara variabel bebas kekuatan otot lengan dengan variabel tergantung kecepatan memanjat tebing terdapat hubungan yang signifikan; variabel kekuatan otot lengan telah memberikan sumbangannya (r2) terhadap variabel tergantung sebesar 75,17%. Berarti 75,17% kecepatan memanjat tebing ditentukan oleh variabel bebas kekuatan otot lengan (X1). Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang positif antara antara daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing, persamaan regresi yang diperoleh yaitu Ŷ = 28,68+0,477X2; ditemukan sig. r > α = 0,05 berarti antara variabel bebas daya ledak otot tungkai dengan variabel tergantung kecepatan memanjat tebing terdapat hubungan yang signifikan; variabel daya ledak otot tungkai telah memberikan sumbangannya (r2) terhadap variabel tergantung sebesar 22,75%. Berarti 22,75% kecepatan memanjat tebing ditentukan oleh variabel bebas daya ledak otot tungkai (X2). Kemudian keterkaitan komponen kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai ditunjukkan dengan garis persamaan regresi yang dihasilkan oleh kedua variabel bebas. Adapun bentuk garis persamaan regresi yang dimaksud adalah Ŷ = a+b1X1+b2X2 dimana a = 23,35 jadi Ŷ = 23,35+(-0,933X1)+0,106X2; ditemukan Fhit = 24,078, Ftab(α = 0,05) = 3,20. Oleh karena Fhit > Ftab, berarti garis persamaan regresi tersebut di atas menunjukkan ”berarti” secara signifikan; koefisien R2 ditemukan sebesar 0,827, artinya variabel tergantung kecepatan memanjat tebing 68,39% ditentukan atau tergantung pada kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dalam pencarian bibit pemanjat tebing kategori kecepatan perlu mempertimbangkan kekuatan otot lengan dengan sumbangan efektif 75,17%, dan perlu mempertimbangkan daya ledak otot tungkai untuk memperoleh prestasi yang baik perlu pembinaan lebih terprogram dan terencana; bagi peneliti lain yang hendak mengadakan penelitian sejenis, hendaknya mengembangkan variabel bebas lebih banyak dari komponen fisik yang lain dan jumlah sampel yang banyak pula.

The use of blended learning through facebook to improve students' writing ability / Herlina Yuli Astuti

 

Astuti, Herlina Yuli. 2014. Penggunaan Blended Learning melalui Facebook untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa. Tesis, Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A. (2) Dr. Enny Irawati, M.Pd. Kata kunci: blended learning, Facebook, menulis, teks recount Menulis merupakan keahlian yang paling sulit dalam belajar bahasa Inggris. Berdasarkan observasi pada preliminary study yang dilakukan pada tanggal 22 November 2013, 35 siswa dari kelas X-A-1 tahun ajaran 2013/2014 jurusan Analis Kesehatan dari SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo kebanyakan membuat kesalahan dalam isi, organisasi, dan tata bahasa, dan beberapa dari mereka juga membuat kesalahan dalam mekanik penulisan dan kosakata. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa keahlian menulis para siswa itu rendah. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata pada waktu preliminary study yaitu sebesar 58,5 yang berarti buruk. Dari observasi dan wawancara, ditemukan bahwa gurunya itu tidak mengajar para siswa cara menulis sebuah teks recount melalui proses penulisan yang meliputi prewriting, drafting, revising, editing, dan publishing. Maka dari itu, tidak mengejutkan bahwa 80% siswa kesulitan dalam menulis dan mereka tidak menyukai menulis. Untuk meminimalisir masalah-masalah para siswa dalam menulis sebuah teks recount, peneliti akan menggunakan blended learning melalui Facebook sebagai solusi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dalam penelitian ini yang dilakukan secara kolaboratif. Penelitian ini menggunakan process-genre based approach yang terdiri dari BKoF, MoT, JCoT, dan ICoT. Data-data dikumpulkan mulai tanggal 4 April sampai 9 Mei 2014 dengan menggunakan produk penulisan para siswa, lembar observasi, catatan, dan angket. Ada enam pertemuan termasuk tes menulis. Kriteria keberhasilan untuk produk adalah rata-rata nilai seluruh siswa minimal meningkat ke level cukup (61-70). Untuk prosesnya, kriteria keberhasilannya meliputi minimal 80% siswa terlibat secara aktif pada kegiatan menulis selama implementasi strategi, dan minimal 80% siswa merespon positif terhadap kegiatan menulis melalui penggunaan blended learning melalui Facebook. Berdasarkan penemuan penelitian, ada empat kesimpulan. Pertama, penggunaan blended learning melalui Facebook meningkatkan kemampuan menulis siswa. Nilai rata-rata di siklus 1 yaitu 73,5 yang berarti bahwa nilai rata-ratanya meningkat dari level buruk menjadi baik. Kedua, para siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan penulisan selama implementasi strategi. Hal ini ditunjukkan dari hasil prosentase yaitu 84.9%. Ketiga, respon siswa terhadap implementasi strategi dalam menulis teks recount itu positif. Ada 83% siswa yang berpendapat bahwa fitur-fitur Facebook itu praktis untuk digunakan. Seluruh siswa (100%) berpendapat bahwa blended learning melalui Facebook dapat membantu mereka untuk menulis sebuah teks recount. Keempat, langkah-langkah yang digunakan dalam implementasi blended learning melalui Facebook itu dibagi menjadi beberapa kegiatan baik secara kolaboratif maupun individu. Dalam mengerjakan kegiatan secara kolaboratif (berpasangan), langkah pertamanya adalah bahwa pasangan pertama mengunggah foto dan mereka menulis informasi di setiap foto di aplikasi Life Event di Facebook yang ditandai ke pasangan kedua (interaksi online) sebagai peralatan scaffolding. Kemudian, mereka dapat menulis informasi yang diperoleh dari aplikasi Life Event dari pasangan pertama ke dalam recount scaffold (prewriting). Kemudian, mereka dapat menulis sebuah teks recount dari recount scaffold tersebut (drafting). Pasangan ketiga dapat memberikan feedback dengan menggunakan pedoman proofreading. Selanjutnya, pasangan kedua dapat merevisinya (revising and editing). Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan di ruang kelas (interaksi face-to-face). Kemudian penulisan terakhir akan dipublikasikan di aplikasi Event di grup Facebook (publishing) dan ditandai ke pasangan keempat. Kemudian pasangan keempat harus membaca tulisan yang dipublikasikan tersebut dan memberikan komentar di grup Facebook dan pasangan kedua dapat meresponnya (interaksi online). Dalam mengerjakan kegiatan secara individu, langkah-langkahnya hampir sama seperti yang dilakukan secara kolaboratif. Perbedaannya adalah bahwa kegiatan-kegiatannya dilakukan secara individu. Dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan, setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan semua kegiatan tersebut. Untuk kegiatan online pertama (mengunggah foto dan menulis informasi dari masing-masing foto di aplikasi Life Event di Facebook yang ditandai ke pasangan kedua), para siswa mengerjakannya di rumah melalui Facebook mereka dimulai dari Selasa sampai Kamis dengan mengerjakan prewriting, drafting, revising, dan editing. Untuk kegiatan online selanjutnya (mempublikasikan hasil tulisan akhir di aplikasi Event di Grup Facebook, memberikan komentar di Grup Facebook, dan merespon komentar pasangan lain), para siswa mengerjakannya di rumah dimulai Sabtu sampai Senin. Maka dari itu, setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan blended learning. Berdasarkan hasil penemuan penelitian, ada beberapa saran yang diusulkan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di masa yang akan datang untuk guru bahasa Inggris SMK, kepala sekolah, dan untuk peneliti yang akan datang. Untuk guru bahasa Inggris SMK, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai strategi alternatif untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan pengajaran teks recount. Selain itu, para guru seharusnya selektif dalam memilih topik untuk para siswa. Untuk kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sebuah pertimbangan untuk menggunakan blended learning melalui Facebook untuk menjadi salah satu strategi pengajaran yang efektif untuk mengajar menulis. Jika ya, kepala sekolah dapat memfasilitasi guru-guru untuk mendapatkan akses dan mengimplementasikan strategi ini di kelas. Untuk peneliti yang akan datang, direkomendasikan untuk menggunakan blended learning melalui Facebook untuk melakukan penelitian untuk teks-teks lain dengan menggunakan fitur-fitur Facebook yang lain dan untuk siswa tingkatan lainnya. Selain itu, penelitian ini juga dapat diguankan sebagai salah satu referensi untuk mengeksplor integrasi dari situs sosial lainnya (seperti Twitter, Mailing Lists, WebQuests, Webblogs, dll.) dalam menulis.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe "murder" untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa kelas X sosial 3 SMAN 1 Martapura pada materi persamaan kuadrat / Nadiroh

 

Nadiroh. 2014. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe “MURDER” untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Kelas X Sosial 3 SMAN 1 Martapura pada Materi Persamaan Kuadrat. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd., (II) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe “MURDER”, kemampuan penalaran matematis, persamaan kuadrat     Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Martapura pada kelas X Sosial 3. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe “MURDER” dalam meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa pada materi persamaan kuadrat. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian model Kemmis dan McTaggart dengan menggunakan siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan tes awal untuk mengetahui kemampuan awal siswa, diperoleh 65,63% siswa berada di bawah kategori baik. Penelitian ini terlaksana dalam 2 (dua) siklus. Rata-rata skor tes akhir siklus mengalami peningkatan yaitu dari 66,15 pada siklus I menjadi 77,53 pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, secara klasikal 87,5% siswa berada pada kriteria minimal baik. Persentase rata-rata hasil observasi kegiatan guru maupun siswa dalam pembelajaran meningkat. Persentase rata-rata hasil observasi kegiatan guru adalah 82,81% pada siklus I menjadi 93,75% pada siklus II dalam kriteria sangat baik. Sedangkan, persentase rata-rata hasil observasi kegiatan siswa adalah 82,29% pada siklus I meningkat menjadi 89,58% pada siklus II dalam kriteria baik.     Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe “MURDER” untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa ini terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, yang terdiri dari 6 tahap, yaitu mood (meningkatkan suasana hati yang positif), understand (memahami), recall (mengulang), detect (mendeteksi), elaborate (mengelaborasi), dan review (mempelajari). Kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) pada tahap mood, guru menumbuhkan mood positif siswa dengan memberikan motivasi, informasi-informasi menarik serta fenomena nyata yang bersifat relaksasi dan membuat siswa berfokus pada tugas kelompok, (2) pada tahap understanding, setiap dyad membaca sekaligus memahami bagian materi tertentu pada Lembar Kegiatan Kelompok (LKK), kemudian mengerjakan secara mandiri soal atau masalah di LKK tersebut, (3) pada tahap recall, salah satu anggota pasangan dyad mengungkapkan pemahaman dan alternatif solusi yang telah dikerjakan terhadap kelompoknya secara bergantian baik secara lisan maupun tertulis, (4) pada tahap detect, anggota pasangan dyad lain dalam kelompok tersebut mendengarkan dan mendeteksi kesalahan atau kekurangan dalam penjelasan teman kelompoknya, (5) setelah pasangan dyad selesai mengerjakan tugasnya masing-masing, pasangan dyad1 dengan pasangan dyad2 saling bertukar jawaban sehingga terbentuk laporan lengkap untuk seluruh soal pada LKK, (6) pada tahap elaborate, beberapa kelompok mempesentasikan hasil diskusi mereka secara klasikal, setiap pasangan dyad mencermati penyampaian materi dan hasil pemecahan masalah yang dilakukan oleh kelompok penyaji, jika terdapat ketidakcocokan dan ketidaksesuaian dengan apa yang disampaikan oleh kelompok penyaji, maka diperlukan koreksi terhadap kesalahan yang muncul dengan mengajukan pertanyaan atau pendapat, dan setiap pasangan dyad memberikan contoh atau aplikasi materi yang telah dipelajari, mengemukakan pendapat, dan pertanyaan terkait dengan topik persamaan kuadrat, juga dapat menanggapi dan memberikan sanggahan terkait pertanyaan yang muncul pada tahap detect, dan (8) pada tahap review, setiap kelompok menyimpulkan dan melakukan revisi terhadap LKK yang akan dikumpulkan. Dengan mempertimbangkan hasil penelitian ini, penulis menyarankan dalam proses pembelajaran, hendaknya siswa diberikan lebih banyak kesempatan untuk bekerja, dan berdiskusi.

Efektivitas scaffolding untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan anak usia dini / Sandi Tegariyani Putri Santoso

 

Santoso, Sandy Tegariyani Putri, 2014. Efektivitas Scaffolding untuk Meningkatkan Perilaku Kepemimpinan Anak Usia Dini.Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar, Konsentrasi PAUD, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A, (II) Dr. M. Ramli, M.A Kata kunci: Scaffolding, Perilaku Kepemimpinan, Anak Usia Dini Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Scaffolding untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan anak usia dini. Perilaku kepemimpinan merupakan salah satu aspek dari perkembangan sosial anak yang akan hilang apabila tidak mendapatkan stimulasi, pemberian scaffolding merupakan salah satu bentuk pemberian stimulasi yang sesuai pada pembelajaran anak usia dini. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen dengan subjek tunggal (single subject design) dengan desain ABAB. Subjek penelitian ini adalah 2 anak siswa kelompok B PAUD Tunas Harapan Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar pada tahun pelajaran 2014/2015 yang teridentifikasi belum memunculkan perilaku kepemimpinan pada saat mengikuti aktivitas di sekolah. Data perilaku kepemimpinan anak pada fase baseline dan fase intervensi diperoleh melalui rubrik observasi. Analisis data menggunakan analisis data visual dengan memperhatikan perubahan level dan trend. Hasil penelitian menunjukkan perubahan level dan trend mengalami kenaikan yang tajam. Kedua subjek pada fase baseline pertama (A1) memiliki perilaku kepemimpinan cenderung stabil rendah, memasuki fase intervensi pertama (B1) subjek mengalami perubahan level dan trend meningkat tajam. Memasuki fase baseline kedua (A2) yaitu pada saat intervensi ditarik atau tidak diberikan terjadi penurunan level. Kondisi ini berubah setelah masuk ke fase intervensi kedua (B2) terjadi perubahan level dan trend mengalami peningkatan yang tajam. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian scaffolding pada pembelajaran efektif untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan anak usia dini. Saran penelitian sebagai berikut: (1) Guru diharapkan mampu melihat potensi kepemimpinan yang dimiliki oleh anak dan menyediakan aktivitas yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimilikinya, (2) mengingat pentingnya perilaku kepemimpinan sebagai kebutuhan dasar serta modal untuk dapat diterima sebagai anggota kelompok sosial guru diharapkan memberikan scaffolding agar anak mampu mengembangkan potensi kepemimpinannya, dan (3) penelitian hendaknya ditindaklanjuti dengan menambah populasi penelitian dengan rancangan penelitian lain seperti penelitian tindakan kelas (PTK).

Pengaruh opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan, dan pertumbuhan perusahaan terhadap opini audit going concern (pengamatan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia) / Ambar Khristanty

 

ABSTRAK Khristanty, Ambar. 2009. Pengaruh Opini Audit Tahun Sebelumnya, Kondisi Keuangan, dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Opini Audit Going Concern. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Hj. Endang Sri Andayani, S.E, M.Si, Ak., (II) Dra. Hj. Sutatmi, S.E, M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci: Opini Audit, Going Concern, Kondisi Keuangan Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, Regresi Logistik. Asumsi going concern adalah asumsi dasar yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan. Asumsi ini mengharuskan perusahaan secara operasional memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern). Akuntan publik sebagai auditor eksternal atau auditor independen memiliki tanggung jawab untuk memberikan opini audit going concern kepada perusahaan yang menjadi pemakai jasa profesionalnya. Selain memberikan jasa audit terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen perusahaan, independensi auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan yang diauditnya juga harus mengevaluasi apakah ada kesangsian terhadap kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam kurun waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit. Apabila auditor tidak yakin dengan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya maka auditor harus menyampaikan masalah tersebut dalam laporan audit setelah paragraf opini. Jika tidak, banyak masyarakat yang menganggap bahwa kelalaian auditor yang menyebabkan bangkrutnya perusahaan.Oleh karena itu, bagi banyak pihak masalah pemberian opini audit going concern ini sangatlah penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap opini audit going concern. Pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method dan diperoleh sebanyak 37 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengaruh antara opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Z-score Altman dan pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan rasio pertumbuhan penjualan terhadap opini audit going concern dianalisis dengan menggunakan regresi logistik (logistic regression) karena adanya variabel dummy baik pada variabel dependen maupun pada variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opini audit tahun sebelumnya dan kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Altman Model (1968) berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Namun penelitian ini tidak dapat memberikan bukti adanya pengaruh pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan pertumbuhan penjualan terhadap pemberian opini audit going concern.

Pembelajaran kooperatif berbantuan multimedia untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah materi luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar kelas VIII / Supiat

 

Supiat. 2014. Pembelajaran Kooperatif Berbantuan Multimedia untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Materi Luas Permukaan dan Volume Bangun Ruang Sisi Datar Kelas VIII. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd., M.A., (II) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd. Kata Kunci: Kooperatif, multimedia, kemampuan, pemecahan masalah, luas permukaan, dan volume Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran kooperatif berbantuan instruksi multimedia yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah geometri 3D, khususnya luas permukaan dan volume. Pendekatan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMPN 134 Jakarta. Tiga puluh enam siswa kelas VIII-4 terdiri dari delapan belas laki-laki dan delapan belas siswa perempuan berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa tindakan guru yang dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah geometri, dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif berbantuan instruksi multimedia, adalah sebagai berikut: (1) menyiapkan secara lebih seksama slide gambar dan pertanyaan yang mengajak siswa berinteraksi dengan multimedia yang disedikanan, (2) mendampingi siswa yang kesulitan dalam membuat langkah-langkah, menjalankan langkah-langkah dan membuat kesimpulan penyelesaian, dan membantu mengarahkan siswa menjawab pertanyaan yang kurang paham dari masalah, (3) mengatur posisi tempat duduk kelompok menjadi berbentuk lingkaran dan membuat aturan berdiskusi dalam pembelajaran dengan siswa, (4) memberikan waktu pembelajaran lebih banyak pada tahap inti agar siswa dapat berdiskusi lebih lama. Berdasarkan proses dan hasil yang diperoleh, disarankan agar guru atau peneliti selanjutnya: (1) dapat menyiapkan perangkat pendukung yang diperlukan secara seksama sejak awal, karena kemungkinan perangkat yang diperlukan di sekolah yang terbatas, tidak tersedia atau rusak, (2) dapat memvalidasi instrumen multimedia yang akan digunakan terlebih dahulu, agar didapatkan instrumen multimedia yang valid, (3) dapat membagi waktu yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran, agar waktu yang digunakan dalam penelitian lebih efisien.

Pengaruh penerapan strategis sisnacalisting terhadap kemampuan menulis artikel mahasiswa prodi bahasa dan sastra Indonesia jurusan sastra indonesia fakultas sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2008 /Aida Fithriyah Yuningtyas

 

ABSTRAK Yuningtyas, Aida Fithriyah. 2009. Pengaruh Penerapan Strategi Sisnacalisting terhadap Kemampuan Menulis Artikel Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Suyono, M.Pd. Kata kunci: strategi sisnacalisting, kemampuan menulis artikel, produktivitas menulis artikel, kualitas hasil menulis artikel. Menulis penting bagi kehidupan manusia. Menulis dikatakan penting karena: (1) menulis adalah proses berpikir, (2) menulis merupakan kegiatan berkomunikasi, dan (3) menulis merupakan kemampuan yang perlu dimiliki seorang pembelajar, terutama mahasiswa. Kemampuan menulis artikel perlu dikembangkan. Hal ini dilakukan karena: (1) dengan menulis artikel seseorang dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, (2) dengan menulis artikel seseorang dapat memperoleh keuntungan secara finansial, dan (3) menulis artikel dianggap sebagai suatu kegiatan yang intelek. Kemampuan menulis memiliki peran penting dalam keberhasilan mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Beberapa pembelajaran dalam perkuliahan, menuntut mahasiswa dapat menghasilkan sebuah tulisan. Bahkan, di akhir masa studinya, mahasiswa harus membuat laporan penelitian. Namun, aktivitas menulis di kalangan mahasiswa dapat dikatakan belum berjalan baik. Hal ini disebabkan menulis dianggap kegiatan yang sulit dan kurangnya kesadaran membaca di kalangan mahasiswa untuk meningkatkan kualitas tulisan mereka. Melihat fenomena tersebut, perlu adanya strategi untuk memacu semangat mahasiswa dalam menulis artikel. Salah satu strategi tersebut adalah strategi sisnacalisting. Strategi ini dapat diterapkan karena menulis merupakan suatu proses yang di dalamnya memerlukan beberapa tahapan menulis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pre eksperimental dengan desain one shot case study. Penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok yang dijadikan sebagai kelompok tanpa perlakuan (Kelompok A) dan kelompok dengan perlakuan (kelompok B). Kelompok yang sama ini diteliti dua kali dalam waktu yang berlainan. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2008, yang sedang menempuh matakuliah Menulis Artikel dan Makalah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ceklis dan rubrik penilaian yang tercantum dalam RPP. Adapun data penelitian ini adalah (1) produktivitas menulis artikel mahasiswa, dan (2) kualitas artikel mahasiswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data tersebut dianalisis menggunakan dua teknik analisis data, yaitu (1) Kolmogorof Smirnov untuk menguji hipotesis ada tidaknya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap produktivitas menulis artikel mahasiswa, dan (2) Uji T (desain one shot case study) untuk menguji hipotesis ada tidaknya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kualitas artikel mahasiswa. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa ada pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap produktivitas menulis artikel mahasiswa. Produktivitas ini dilihat dari jumlah atau banyaknya artikel karya mahasiswa yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Untuk jumlah karya yang dihasilkan, masing-masing siswa di kedua artikel hanya menghasilkan sebuah artikel. Namun, di kelompok A ada lima belas mahasiswa (50%) yang tidak menghasilkan sebuah artikel, sedangkan semua mahasiswa pada kelompok B menghasilkan sebuah artikel. Berdasarkan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah artikel, mahasiswa kelompok B juga dapat dikatakan lebih produktif dari pada mahasiswa kelompok A. Hal ini dilihat dari waktu yang diperlukan oleh kelompok A dan kelompok B. Kelompok A membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibanding dengan kelompok B dalam menyelesaikan sebuah artikel. Kelompok A membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk menulis sebuah artikel, sedangkan kelompok B membutuhankan waktu 1-2 minggu untuk menulis sebuah artikel. Selain itu, pengujian hipotesis untuk kedua aspek produktivitas menulis artikel menunjukkan Dhitung lebih besar dari Dtabel, sehingga H0 ditolak, diterima HA. Jadi, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa lebih produktif setelah diterapkan strategi sisnacalisting dalam menulis artikel. Pengujian hipotesis yang kedua menunjukkan ada pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kualitas artikel mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Kualitas artikel mahasiswa dilihat dari mutu artikel karya mahasiswa yang dinilai berdasarkan aspek perumusan judul, pengembangan gagasan, organisasi isi, pengungkapan pendapat, penggunaan tata bahasa, penggunaan kosakata, serta pemakaian ejaan dan tanda baca. Adanya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kualitas artikel mahasiswa dilihat dari pengujian hipotesis yang menunjukkan thitung lebih besar dari ttabel, sehingga H0 ditolak, diterima HA. Selain itu, jumlah rata-rata kelompok B lebih tinggi dari pada jumlah rata-rata kelompok A. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kualitas artikel mahasiswa lebih baik setelah diterapkan strategi sisnacalisting dalam menulis artikel. Berdasarkan analisis data dan pembahasan secara keseluruhan disimpulkan bahwa ada pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kemampuan menulis artikel mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Dampak penerapan strategi sisnacalisting terhadap kemampuan menulis mahasiswa adalah mahasiswa lebih produktif dan artikel mahasiswa lebih berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap produktivitas menulis artikel mahasiswa dan kualitas artikel mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Penelitian ini memberikan hasil yang baik bagi perkembangan media pengajaran dalam pembelajaran menulis artikel. Saran bagi peneliti lain, hendaknya peneliti lain dapat menjadikan penelitian ini sebagai masukan demi tercapainya penelitian berikutnya. Hal ini dikarenakan penelitian ini hanya merupakan penelitian pelacakan tentang ada-tidaknya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kemampuan menulis artikel. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian lebih lanjut, yaitu penelitian eksperimen murni. Saran bagi pengajar atau dosen, hendaknya penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran menulis artikel. Saran bagi mahasiswa, mahasiswa hendaknya lebih meningkatkan kemampuan menulis karena menulis menjadi salah satu penunjang keberhasilan studi.

Pembelajaran TGT berbantuan media lego brick untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat / Miftahul Jannah

 

Jannah, Miftahul. 2014. Pembelajaran Team Game Tournament (TGT) Berbantuan Media Lego Brick untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si., (II) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd. Kata kunci: TGT, lego brick, keaktifan, hasil belajar, operasi hitung bilangan bulat. Salah satu di antara materi matematika yang diajarkan kepada siswa di tingkat sekolah dasar adalah bilangan bulat. Bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat positif, bilangan bulat negatif, dan bilangan 0. Salah satu standar kompetensi pada pelajaran matematika SD/MI kelas IV semester II adalah menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat. Berdasarkan standar kompetensi ini, siswa diharapkan dapat memahami serta mampu mengoperasikan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Namun kenyataannya masih banyak siswa yang belum memahami materi tersebut, hal ini terlihat dari hasil belajar siswa yang masih banyak berada di bawah KKM. Berdasarkan data hasil wawancara dengan guru mata pelajaran matematika dan hasil observasi proses pembelajaran matematika di MI NW Nahdlatul Mujahidin Jempong, peneliti dapat memetakan beberapa persoalan terkait pembelajaran matematika materi bilangan bulat di antaranya: 1) siswa masih mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan bilangan bulat; 2) siswa kesulitan menentukan arah operasi hitung pada garis bilangan; 3) kurangnya keaktifan belajar siswa; 4) guru kurang memanfaatkan metode dan media yang efektif. Dalam rangka mengurai persoalan-persoalan tersebut perlu diupayakan sebuah model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran TGT berbantuan media Lego Brick. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat siswa melalui penerapan model pembelajaran TGT berbantuan media Lego Brick. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dengan enam kali pertemuan. Pertemuan pertama dan kedua membahas tentang operasi hitung penjumlahan bilangan bulat, pertemuan ketiga adalah tes akhir siklus I, pertemuan keempat dan kelima membahas tentang operasi hitung pengurangan bilangan bulat, dan pertemuan keenam merupakan tes akhir siklus II. Hasil penelitian menunjukan Pembelajaran TGT berbantuan media lego brick pada operasi hitung bilangan bulat dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas IV MI NW Nahdlatul Mujahidin Jempong. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Pada siklus I keaktifan belajar siswa mencapai 64,50% (Aktif) sementara pada siklus II meningkat menjadi 81,08% (Sangat Aktif). Demikian juga dengan hasil belajar siswa pada operasi hitung bilangan bulat terjadi peningkatan. Pada siklus I hasil belajar siswa secara klasikal mencapai 70% dan pada siklus II meningkat menjadi 85%.

Penerapan pembelajaran matematika realistik untuk meningkatkan pemahaman konsep pecahan pada siswa kelas IV SD Mononutu Kota Ternate / Rahmat Muhdar

 

Muhdar, Rahmat. 2014. Penerapan Pembelajaran matematika Realistik Untuk Membangun pemahaman Konsep Pecahan Pada Siswa Kelas IV SDN Mononutu Kota Ternate.Tesis, Program Studi Pendiddikan Dasar Konsentrasi Matematik, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D, (II) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. Kata Kunci: Pemahaman, Konsep Pecahan, Realistic Mathematics Education.     Pembelajaran yang diterapkan di sekolah selama ini masih cenderung berpusat pada guru atau masih bersifat konvensional, siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang telah dimilikinya, siswa lebih banyak menerima penjelasan dari guru dan mengerjakan latihan soal yang diberikan, guru hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki tanpa ada timbal balik dari siswa karena pembelajaran didominasi oleh guru. Guru juga dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa sehingga siswa banyak menghafal konsep matematika yang diberikan guru dan menyelesaikan masalah secara procedural. Akibatnya, pemahaman siswa terhadap suatu konsep dan penerapan masih rendah.     Pembelajaran menggunakan pendekatan RME merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara matematika dengan realitas yang ada, dapat dibayangkan dan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari siswa. Langkah langkah pembelajaran menggunakan pendekatan realistik ini ada empat yaitu memahami masalah kontekstual, menyelesaikan masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan, dan menyimpulkan.     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran Realistic Matemattics Educatian (RME) yang dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas IV SDN Mononutu Kota Ternate tentang konsep pecahan melalui penerapan Realistic Matemattics Educatian (RME). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Data tentang kegiatan penelitian dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara dan tes. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan RME dilaksanakan dengan baik sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep pecahan. Langkah-langkah tersebut antara lain: (1) memahami masalah kontekstual yang diberikan dengan materi pecahan, (2) menyelesaikan masalah kontekstual tentang pecahan secara berkelompok dengan menggunakan dan memodelkan sendiri alat peraga yang disediakan, (3) membandingkan dan mendiskusikan hasil pekerjaan siswa dengan meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya, dan (4) menyimpulkan tentang apa yang telah dipelajari dan materi yang didiskusikan. Data dari hasil observasi menunjukan bahwa pembelajaran yang dilakukan termaksuk pada katagori baik dan sangat baik. Data dari hasil wawancara menunjukan respon siswa terhadap pembelajaran sangat positif. Dari hasil tes, persentase skor rata-rata dari keseluruhan siswa yang memperoleh skor pada tindakan II sebanyak 28 dari 29 siswa. Peningkatan skor awal sebelum tindakan dan sesudah tindakan menunjukan bahwa pemahaman siswa tentang materi pecahan mengalami peningkatan.

Pengembangan modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI progran keahlian analisis kimia / Vina Ariana

 

ABSTRAK Ariana, Vina. 2010. Pengembangan Modul Analisis Elektrokimia dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5 Fase untuk Sekolah Menengah Kejuruan Kelas XI Program Keahlian Analisis Kimia. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Si, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata kunci: Modul, Analisis Elektrokimia, Learning Cycle 5 fase. Pendidikan yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam meningkatkan kualitas maupun kuantitas sumber daya manusia. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM di Indonesia adalah dengan meningkatkan jumlah dari SMK yang berkualitas. Namun, ternyata sebagian besar lulusan SMK kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kurang bisa mengembangkan diri sehingga banyak lulusan SMK yang belum mampu masuk dalam dunia kerja. Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu dengan meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi pendidikan kejuruan dengan dunia kerja, yang dapat dilakukan dengan mengembangkan modul yang berstandar nasional maupun internasional. Pembelajaran bermodul memungkinkan guru untuk menilai kinerja siswa secara berkesinambungan dan memungkinkan untuk diketahuinya siswa yang kompeten atau belum kompeten. Pengembangan modul mengacu pada model pembelajaran Learning Cycle 5 fase, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Tujuan pengembangan modul adalah (1) untuk mengetahui bentuk dan isi modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia, (2) untuk mengetahui kelayakan modul hasil pengembangan untuk digunakan sebagai salah satu modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia, (3) untuk mengetahui bentuk dan isi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai pelengkap dari pengembangan modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia, dan (4) untuk mengetahui kelayakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hasil pengembangan untuk digunakan sebagai pelengkap modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia. Penelitian pengembangan ini merupakan penelitian pengembangan prosedural yang mengacu pada 10 langkah Borg dan Gall. Langkah-langkah yang dilakukan hanya sampai pada langkah ketiga karena adanya keterbatasan waktu dan biaya, yaitu (1) penelitian dan pengumpulan data, yaitu diketahui bahwa di Malang belum tersedia bahan ajar untuk SMK program keahlian analisis kimia (2) perencanaan, yaitu dihasilkan rancangan komponen-komponen yang ada dalam modul dan RPP, dan (3) pengembangan draf produk, yaitu dihasilkan modul dan RPP analisis elektrokimia yang siap untuk divalidasi dan dianalisis. Validasi isi dilakukan oleh 1 dosen kimia UM dan 2 guru SMK program keahlian ii Analisis Kimia. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil pengembangan berupa modul dan Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sebagai pelengkap dari pengembangan modul di SMK program keahlian analisis kimia. Modul analisis elektrokimia yang dikembangkan terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) bagian prapendahuluan, (2) bagian pendahuluan, dan (3) bagian isi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) identitas mata diklat, (2) standar kompetensi, (3) kompetensi dasar, (4) indikator pencapaian kompetensi, (5) tujuan pembelajaran, (6) materi ajar, (7) alokasi waktu, (8) metode pembelajaran, dan (9) kegiatan pembelajaran yang meliputi (a) pendahuluan, (b) inti, dan (c) penutup. Hasil validasi terhadap modul menunjukkan persentase 80,32% yang termasuk dalam kriteria valid, sedangkan hasil validasi terhadap Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menunjukkan persentase 78,94% dengan kriteria valid. Dengan demikian, modul analisis elektrokimia yang dikembangkan sudah layak untuk dilakukan uji lapangan awal atau diterapkan dalam pembelajaran dan RPP analisis elektrokimia yang dikembangkan telah sesuai dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan sudah layak digunakan guru dalam proses pembelajaran. Dilihat dari data persentase hasil validasi, modul yang dikembangkan tidak perlu direvisi. Namun, berdasarkan komentar dan saran dari validator ada beberapa bagian modul yang harus direvisi.

Peningkatan hasil belajar PKn cinta lingkungan melalui pembelajaran tematik siswa kelas II Tlumpu kota Blitar / Kiking Duana Tara

 

ABSTRAK Duana Tara, Kiking. 2009. Peningkatan Hasil Belajar PKn Tentang Cinta Lingkungan Melalui Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Widayati, M.H. (2). Suwarti, S.Pd, M.Pd. Kata kunci : peningkatan hasil belajar, Pkn, pembelajaran tematik Peningkatan keberhasilan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh seorang guru. Masalah yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang dialami oleh siswa kelas II khususnya yaitu sangat rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn yang berada di bawah nilai KKM yaitu 70. Tindakan yang dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui upaya penerapan pembelajaran tematik pada pembelajaran PKn Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara dan hasil yang diperoleh dari penerapan pembelajaran tematik pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar. Pembelajaran tematik merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Proses pembelajarannya mengintregrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam sebuah topik atau tema. Pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan pendekatan tematik dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi dalam kurikulum. Dengan penerapan pembelajaran tematik akan dapat memberikan peluang terjadinya proses pembelajaran secara terpadu yang akan lebih menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran dan dapat menumbuhkan kreatifitas siswa dalam memecahkan suatu masalah sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitisn adalah siswa kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar. Dilaksanakan dalam pembelajaran PKn yang dipadukan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik dokumen, observasi, tes. Penelitian dilakukan selama tiga kali yaitu pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada penelitian awal yang dilakukan diperoleh hasil masih banyak siswa yang belum memahami materi yang telah diberikan oleh guru, dan nilai yang diperoleh masih dibawah KKM. KKM yang ditentukan dalam pelajaran PKn yaitu 70. Siswa dikategorikan tuntas belajar apabila nilai siswa yang dicapai berada di atas KKM dan siswa dikategorikan belum tuntas belajar apabila nilai yang diperoleh siswa berada di bawah KKM. Pada siklus I dapat dilihat perolehan hasil belajar siswa secara keseluruhan masih berada di bawah KKM. Pada siklus II hasil belajar siswa sudah mulai meningkat berada di atas KKM tetapi belum secara keseluruhan yaitu dari 37 siswa terdapat 15 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, sehingga pada siklus II siswa dikatakan belum tuntas belajar. Pada siklus III terdapat 27 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, sehingga pada siklus III ini dikatakan siswa sudah tuntas dalam belajar. Ketika sudah dilakukan tahapan-tahapan penelitian, dan mulai menggunakan pembelajaran tematik dalam kegiatan pembelajaran, diperoleh hasil yang sangat berbeda dari semula, yaitu terjadinya peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar.

Pengembangan buku siswa "Aljabar Awal" yang valid, praktis dan efektif bercirikan penemuan terbimbing / Arifin

 

Arifin. 2014. Pengembangan Buku Siswa “Aljabar Awal” yang Valid, Praktis dan Efektif Bercirikan Penemuan Terbimbing. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pem-bimbing (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D., (II) Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd, M.A. Kata Kunci: Pengembangan, buku siswa, aljabar awal, penemuan terbimbing, valid, praktis, efektif. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk bahan ajar matematika kelas VII SMP berupa buku siswa materi aljabar awal pada kompetensi dasar menentukan variabel pada persamaan dan pertaksamaan linear satu variabel, buku siswa yang dihasilkan bercirikan penemuan terbimbing yang valid, praktis dan efektif. Ciri buku siswa yang dihasilkan memuat langkahlangkah penemuan terbimbing yaitu (1) membaca, memahami masalah, (2) menyusun/memproses/ mengorganisir data, (3) membuat dugaan, (4) menyampaikan/menuliskan dugaan dan, (5) latihan soal untuk menguji kebenaran pemahaman dugaan. Melalui buku siswa bercirikan penemuan terbimbing diharapkan dapat memaksimalkan keterlibatan siswa dalam mengonstruksi sendiri pemahamannya terhadap materi yang sedang dipelajari. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan mengadopsi model 4D (four D model) yaitu define, design, develop dan disseminate. Uji produk dilaksanakan di SMP Negeri 2 Gondanglegi kelas tujuh tahun pelajaran 2013/2014. Tahap disseminate tidak dilakukan dengan alasan waktu dan biaya penelitian. Hasil validasi ahli dan praktisi menunjukkan buku siswa yang telah dikembangkan valid dengan skor ratarata aspek isi 2,52. Instrumen yang dikembangkan untuk menguji kepraktisan dan kefektifan buku siswa terdiri dari RPP, lembar observasi keterlaksanaan buku siswa, angket respon siswa dan tes penguasaan materi. Hasil validasi ahli dan praktisi terhadap instrumen diperoleh skor ratarata seluruh aspek berturutturut RPP [2,48], lembar observasi [2,67], angket respon siswa [2,58] dan tes penguasaan materi [2,66], berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan disimpulkan semua instrumen valid. Hasil uji coba buku siswa dalam pembelajaran siswa kelas 7C dan 7A yang diamati oleh 2 orang observer pada keterlaksaan buku siswa diperoleh skor ratarata berturutturut 2,34 dan 2,6 disimpulkan buku siswa memenuhi kriteria praktis. Hasil analisis angket respon siswa dan tes penguasaan materi diperoleh kesimpulan buku siswa efektif. Berdasarkan hasil tersebut disarankan (1) buku siswa dapat digunakan pada pembelajaran di SMP Negeri 2 Gondanglegi; (2) memperbaiki kekurangan pada buku siswa ini diantaranya tidak ada kunci jawaban dari setiap latihan, terlalu banyak katakata membuat siswa jenuh, dan belum ada buku guru; (3) melakukan penelitian lanjutan uji coba buku siswa ini pada sekolah lain di Kabupaten Malang atau tempat lain.

The implentation of the 5E model of vocabulary for vocabulary course at Balikpapan foreign language academy / Muhammad Rochman

 

ABSTRAK Rochman, Muhammad. 2010. Penerapan Kosa Kata Model 5E untuk Mata Kuliah Vocabulary di Akademi Bahasa Asing Balikpapan . Thesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) A. Effendi Kadarisman, M.A. Ph.D, (II) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. Kata kunci: implementasi, kosa kata, mata kuliah Vocabulary, dan 5E model. Mempelajari bahasa asing menuntut mahasiswa untuk mempelajari kosa kata. Tanpa pengetahuan yang cukup tentang kosa kata bahasa Inggris, mahasiswa tidak dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Mahasiswa tidak akan mampu menyampaikan atau menerima pesan secara efektif. Kosa kata memiliki peran yang penting dalam pembelajaran bahasa asing, sebab kosa kata adalah komponen bahasa dalam kemampuan berkomunikasi. Kosa kata adalah unsur yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa; sebab ia menunjang empat ketrampilan berbahasa (membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis). Namun demikian tidak banyak guru bahasa Inggris di Indonesia yang meluangkan waktunya untuk mengembangkan pengajaran kosa kata. Berkenaan dengan pernyataan di atas, berdasarkan pengalaman pribadi penulis sebagai dosen di Akademi Bahasa Asing Balikpapan, pengajaran kosa kata tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Hal ini tampak pada kenyataan bahwa pengajaranya cenderung berpusat pada dosen dengan penggunaan metode ceramah, dan juga mahasiswa cenderung tidak memberikan perhatian yang cukup pada kosa katanya. Mereka mengangap bahwa pengajaran kosa kata dipandang tidak terlalu penting dibandingkan dengan pengajaran mata kuliah membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis. Disebabkan kurangnya perhatian untuk mata kuliah ini; maka nilai mahasiswa dalam mata kuliah ini sering mengecewakan. Dengan adanya persoalan tersebut, maka di pandang perlu adanya perubahan metode mengajar yang selama ini digunakan dengan metode mengajar yang baru. Penerapan 5E model dalam Mata Kuliah Vocabulary harus diawali dengan adanya studi apakah metode yang baru tersebut memang benar lebih baik dari metode sebelumnya. Oleh karena itu, tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan 5E model untuk meningkatkan kosa kata bahasa Inggris mahasiswa di Akademi Bahasa Asing Balikpapan. Persoalan umum yang sering terjadi dalam pembelajaran kosa kata adalah kurangnya motivasi dan keterlibatan mahasiswa pada materi yang disampaikan. Masalah ini berdampak pada kesulitan mahasiswa untuk mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru. Mahasiswa sering kurang terarah untuk mendapatkan kata-kata baru. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri hanya dari dua siklus. Masing-masing siklus terdapat; tiga pertemuan, latihan rekognisi awal, dan latihan rekognisi akhir. Dalam tiap pertemuan terdapat 5 tahapan dari strategi 5E. Kelima tahapan itu adalah; tahap engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate. Subyek penelitian adalah mahasiswa tingkat dua Akademi Bahasa Asing Balikpapan. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian seperti observasi, kuisoner, catatan lapangan dan latihan-latihan (pre-recognition exercise, recognition, and post-recognition exercise). Data dianalisis menggunakan Rubrik Penilaian, sementara itu data yang berasal dari observasi, catatan lapangan dan kuisoner diklasifikasikan dan dijabarkan secara jelas. Nilai-nilai mahasiswa dalam pemahaman kosa kata selama penelitian ini adalah nilai-nilai kosa kata mahasiswa yang berasal dari mengerjakan latihan rekognisi awal dan latihan rekognisi akhir. Latihan rekognisi awal dan latihan rekognisi akhir yang diberikan memiliki kesetaraan dalam tingkat penilaian, tingkat kesukaran, bentuk tes, dan fokus kosa-kata pilihan. Nilai mahasiswa dalam latihan rekognisi akhir meningkat secara signifikan. Hasil nilai mereka meningkat rata-rata 49.9 dibandingkan dengan latihan rekognisi awal. Hasil ini diperoleh setelah mahasiswa diberikan perlakuan dengan menggunakan strategy pengajaran kosa kata 5E. Kriteria keberhasilannya berupa; kriteria pertama adalah minimal 60% mahasiswa mencapai pemahaman 40 kata pilihan dari 60 kata yang ditargetkan, dan kriteria kedua adalah minimal 70% mahasiswa memperoleh nilai diatas 6.0. Hasil dari penelitian ini adalah kedua kriteria terpenuhi sekaligus. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini, disimpulkan bahwa metode pengajaran 5E adalah dapat diterapkan untuk meningkatkan kosa-kata mahasiswa semester dua Akademi Bahasa Asing Balikpapan. Penerapan 5E model harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: pertama, 5 tahapan dalam 5E model harus diikuti secara berurutan sebagai sebuah proses belajar-mengajar dalam kelas kosa kata oleh para dosen yang ingin menerapkan model tersebut; kedua, materi yang dipilih harus konstektual, disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, dan disesuaikan dengan tingkat kepandaian mahasiswa; ketiga, alokasi waktu untuk tiap tahapan dalam 5E model harus disesuaikan dengan aktivitas yang diberikan. Bagi para dosen yang akan menerapkan metode 5E dalam mata kuliah Vocabulary, mereka harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut; pertama, kelima tahapan dalam 5E model harus diikuti secara berurutan sebagai sebuah proses belajar-mengajar dalam kelas kosa-kata; kedua, materi yang dipilih harus konstektual, disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, dan disesuaikan dengan tingkat kepandaian mahasiswa; dan ketiga, alokasi waktu untuk tiap tahapan di dalam 5E model harus disesuaikan dengan kegiatan yang diberikan. Disarankan pada para dosen bahasa Inggris, khususnya yang mengajarkan kosa kata untuk menggunakan model pengajaran kosa kata 5E ini, karena strategi ini dapat meningkatkan pemahaman kosa kata mahasiswa. Pengajaran bahasa Inggris menggunakan model pengajaran 5E akan memberikan tantangan bagi para guru maupun dosen untuk menyesuaikan materinya ke dalam 5 tahapan yang ada. Juga disarankan bagi peneliti yang akan datang untuk menguji aplikasi teknik yang serupa secara lebih intensif.

Pengembangan modul berbasis elektronik pada pembelajaran pantun dan syair dengan pendekatan kontekstual untuk kelas V SDN Sawojajar 4 / Suciati Purwo

 

Purwo, Suciati. 2014. Pengembangan Modul Berbasis Elektronik pada Pembelajaran Pantun dan Syair dengan Pendekatan Kontekstual untuk Kelas V SDN Sawojajar 4. Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd, (2) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd Kata kunci: Modul berbasis elektronik, pembelajaran pantun dan syair, pendekatan kontekstual      Kondisi pembelajaran pantun dan syair di SDN Sawojajar 4 masih belum mencapai standar kompetensi dasar. Guru kelas V SDN Sawojajar 4 sering kali menggunakan bahan ajar cetak dan hanya mengajarkan materi pantun dan syair dengan cara membaca dan menyimak dan tidak mengajarkan menulis dan berbicara. Pada pembelajaran menyimak, guru seringkali menggunakan bahan ajar cetak yang mencantumkan materi simakan, sehingga guru tidak dapat melatih kemampuan menyimak secara maksimal. Selain itu banyak kata dalam materi pembelajaran pantun dan syair yang tidak dimengerti oleh siswa. Oleh sebab itu dibutuhkan bahan ajar yang mampu melatih keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara serta dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dikembangkan elektonik modul pembelajaran pantun dan syair dengan pendekatan kontekstual.     Tujuan penelitian ini adalah (1) menghasilkan elektronik modul pembelajaran pantun dan syair dengan pendekatan kontekstual, (2) menguji tingkat kevalidan modul pembelajaran, (3) menguji tingkat keefektifan modul pembelajaran, (4) menguji tingkat keterlaksanaan modul pembelajaran.     Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan. Penelitian ini dilakukan di SDN Sawojajar 4 dengan subjek penelitian siswa kelas V sebanyak 38 siswa yang terdiri dari 21 laki-laki, dan 17 perempuan.     Hasil penelitian ini adalah (1) tingkat kevalidan modul pembelajaran dari validasi oleh para ahli menunjukan tingkat pencapaian angka persentase 84,4% dengan kategori tinggi atau dengan kriteria valid dan layak digunakan, (2) tingkat keterlaksanaan modul pembelajaran mencapai persentase 87,7% dengan kategori tinggi dan layak digunakan, (3) tingkat keefektifan modul pembelajaran mencapai persentase 89,4% dengan kategori tinggi dan layak digunakan.     Kesimpulan penelitian ini adalah pengembangan elektronik modul pembelajaran pantun dan syair dengan pendekatan kontekstual dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan motivasi yang lebih baik, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara serta memudahkan siswa dalam memahami pantun dan syair yang dipelajari. Pengembangan produk berupa modul pembelajaran ini dapat dikatakan layak digunakan dari segi kevalidan, keefektifan, dan keterlaknaan.     Modul pembelajaran ini memiliki kelebihan di antaranya berisikan materi dan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki siswa, memiliki program pembelajaran secara utuh dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sehingga dapat dipelajari secara mandiri, memiliki penugasan yang menuntut siswa untuk berpikir kritis dan kreatif, memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian autentik, memiliki tampilan dan audio yang menarik, memudahkan siswa dalam memahami materi kerena menggunakan pendekatan kontekstual. Selain memiliki kelebihan, modul ini juga memiliki kelemahan di antaranya masih membutuhkan proses yang sedikit lama pada saat menghubungkan dengan microsoft office world, modul ini hanya dapat digunakan di sekolah yang memiliki Lab Komputer serta memiliki guru dan siswa yang mampu mengoperasikan komputer.      Disarankan untuk pemanfaatan modul selanjutnya, bagi kepala sekolah senantiasa mengadakan program pembelajaran berbasis elektronik dan memberikan sarana yang memadai, bagi guru harus meningkatkan kemandirian siswa dan mengembangkan kompetensi dalam menggunakan media elektronik, bagi siswa hendaknya melatih kemampuan mengoperasikan microsoft office world agar pembelajaran dapat berlangsung efektif. bagi pengembang hendaknya lebih memperhatikan alokasi waktu dan menggunakan software lain yang memiliki fitur yang lebih menarik serta dapat memperkecil memori modul.

Kesalahan berbahasa Indonesia tulis dalam karangan siswa kelas X SMA Swasta Islam Muthmainnah Ende / Zaenab Jamaludin

 

Jamaludin, Zaenap. 2014. Kesalahan Berbahasa Indonesia Tulis pada Karangan Eksposisi Siswa Kelas X SMU Islam Muthmainnah Ende. Program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Widodo, Hs. M.Pd, (2) Dr. Imam Agus Basuki. Kata Kunci : Analisis Kesalahan, berbahasa Indonesia, karangan eksposisi siswa. Kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Kesalahan itu ada yang sifatnya sementara ada juga yang sifatnya permanen. Menurut Pit Corder (1981) kesalahan berbahasa diklasifikasi menjadi tiga bagian yakni, error, lapses, dan mistakes (keliru ). Kesalahan yang diuraikan oleh Corder banyak terjadi pada anak-anak dwibahasawan. Hampir semua anak dwibahasawan tanpa kecuali pasti melakukan kesalahan. Kesalahan tersebut lebih tampak pada bahasa tulis siswa jika dibandingkan dengan bahasa lisan,sebab bahasa lisan jauh lebih mudah dikuasai jika dibandingkan dengan bahasa tulis. Siswa tidak bisa menata pikiranya secara tepat dan menguraikannya dalam bahasa tulis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan-kesalahan siswa dalam (1) tata bentukan kata, (2) pembentukan kalimat, (3) ejaan dalam karangan eksposisi siswa kelas X SMU Islam Muthmainnah Ende, dan (4) faktor penyebab terjadinya kesalahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah deskripsi. Data dalam penelitian ini adalah, kesalahan tata bentukan kata, kesalahan pembentukan kalimat, serta kesalahan ejaan, sedangkan data untuk faktor penyebab terjadinya kesalahan adalah dari teks kuisioner yang tersebar kepada guru dan siswa serta catatan lapangan ketika observasi awal. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan meyusun instrumen berupa tes yakni instruksi untuk siswa mengarang karangan eksposisi sebanyak tiga paragraf dan temanya bebas ditentukan oleh siswa sendiri. Prosedur untuk menganlisis fenomena kesalahan dalam karangan eksposisi siswa digunakan analisis kesalahan. Penelitian ini difokuskan pada ketekunan pengamatan dan editing. Prosedur pengumpulan data untuk menjawab rumusan masalah faktor penyebab terjadinya kesalahan dilakukan dengan mengumpulkan angket berupa kuisioner yang diisi oleh siswa dan guru, serta catatan lapangan waktu observasi awal. Hasil penelitian menunjukan adanya kesalahan dalam tata bentukan kata yang meliputi kesalahan dalam afiksasi dan reduplikasi. Kesalahan dalam afiksasi meliputi. (1) prefiks, yang terdiri atas kesalahan pada prefiks ter-, dan kesalahan pada prefiks me-, (2) konfiks, yang meliputi kesalahan pada konfiks me-i, dan kesalahan pada konfiks me-kan, (3) sufiks, yang meliputi kesalahan pada sufiks an-,dan (4) kesalahan morfologi pada peluluhan bunyi. Kesalahan pembentukan kalimat meliputi (1) kalimat tidak logis, (2) kalimat ambigu, (3) kalimat yang membingungkan, (4) kalimat rancu, (5) susunan kata yang tidak tepat, (6) penjamakan ganda, (7) kalimat mubazir, dan (8) penghilangan konjugasi. Kesalahan ejaan meliputi (1) kesalahan penulisan tanda titik, (2) kesalahan tidak menuliskan tanda baca pada tiap akhir kalimat, (3) penghilangan konjugasi, (4) kesalahan penulisan huruf kapital, (5) kesalahan penulisan bentuk ulang, dan (6) kesalahan penulisan diftong. Faktor penyebab terjadinya kesalahan diperoleh dari jawaban siswa dan guru, antara lain (1) kompetensi guru yang terbatas serta kompetensi siswa juga rendah, (2) metode yang dipilih guru dalam pengajaran keterampilan menulis tidak tepat, (3) jam pembelajaran yang disediakan diseekolah tidak cukup, (4) pengaruh bahasa pertama yang diperoleh siswa, (5) kurangnya kemauan siswa untuk mencari tahu dan bertanya serta lain sebagainya. Dari hasil analisis yang dilakukan terdapat kesalahan-kesalahan yang meliputi kesalahan pembentukan kata, kesalahan pembentukan kalimat, kesalahan ejaan serta faktor penyebab terjadinya kesalahan. Oleh karena itu, peneliti berharap kepada guru untuk memberikan perhatian yang khusus kepada siswa, serta meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk mendampingi mereka dalam hal tulis menulis. Kesalahan-kesalahan itu bisa teratasi dengan baik apabila guru serius untuk menangani persoalan tersebut, guru berperan aktif untuk mendampingi siswa agar kesalahan itu semakin kecil dan berkurang.

Diagnosis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada pokok bahasan logika matematika dengan mapping mathematics serta upaya mengatasinya menggunakan scaffolding / Andika Adikrisna

 

Adikrisna, Andika. 2014. Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Logika Matematika dengan Mapping Mathematics serta Upaya Mengatasinya Menggunakan Scaffolding. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Subanji, M.Si., (II) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata kunci: diagnosis, mapping mathematics, scaffolding Observasi yang dilakukan peneliti di SMAN 1 Kusan Hilir menemukan fakta bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal logika matematika, khususnya soal cerita logika matematika. Penelitian ini bertujuan mendiagnosis letak dan faktor penyebab kesulitan siswa menyelesaikan soal cerita logika matematika menggunakan mapping mathematics, serta upaya mengatasinya menggunakan scaffolding. Langkah scaffolding yang diberikan mengacu pada level 2 dan level 3 scaffolding oleh Anghileri, meliputi explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif eksploratif. Subjek penelitian adalah tujuh siswa kelas X-4 SMAN 1 Kusan Hilir, dipilih berdasarkan kesalahan tes uji pendahuluan dan kelancaran komunikasi. Data penelitian dikumpulkan melalui tes penugasan terstruktur, lembar panduan scaffolding, rekaman wawancara selama proses scaffolding, dan catatan penelitian. Selanjutnya, data direduksi, disajikan, dan disimpulkan. Hasil diagnosis menggunakan mapping mathematics memperlihatkan enam letak dan faktor penyebab kesulitan siswa menyelesaikan soal cerita logika matematika, yaitu: (1) menggunakan huruf untuk merepresentasikan variabel, disebabkan karena anggapan siswa yang keliru bahwa menuliskan representasi variabel boleh diabaikan, (2) menyatakan premis dan konklusi menggunakan simbol, disebabkan karena siswa belum bisa membedakan simbol kata hubung logika, termasuk kata/kalimat yang menjadi kata kuncinya, (3) menuliskan bentuk pernyataan implikasi [(premis 1)⋀(premis 2)…⋀(premis n) ]→konklusi, dengan n= banyak premis, disebabkan karena siswa belum memahami tentang argumen dan bentuk implikasi dari argumen, (4) menuliskan tabel kebenaran pernyataan implikasi pada langkah 3, disebabkan karena siswa belum memahami cara menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk, (5) menentukan kesimpulan, disebabkan karena siswa tidak memeriksa kembali hasil pekerjaannya (dikaitkan dengan pertanyaan soal). Berdasarkan letak kesulitan tersebut, scaffolding yang diberikan: (1) menyampaikan tujuan dan manfaat menuliskan representasi variabel (level 2: explaining), (2) membaca pernyataan majemuk dan memberikan penekanan pada bagian tertentu yang menjadi kata kuncinya (level 2: explaining), mengarahkan siswa melakukan refleksi dan memperbaiki jawabannya (level 2: reviewing), (3) mengarahkan siswa melihat kembali definisi dari argumen (level 2: explaining), (4) mengajukan pertanyaan arahan sehingga siswa mengingat kembali pengetahuan prasyarat tentang cara menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk (level 2: reviewing), (5) mengajukan pertanyaan arahan sehingga siswa mencari hubungan antara nilai kebenaran bentuk implikasi suatu argumen dengan apa yang ditanyakan oleh soal (level 3: developing conceptual thinking).

Pengaruh persepsi siswa tentang penggunaan media dan metode pembelajaran terhadap sikap dan prestasi belajar siswa SMK Negeri 1 Turen / Sefi Miftahul Aflih

 

i ABSTRAK Aflih, Sefi, Miftahul. 2010. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Penggunaan Media dan Metode Pembelajaran Terhadap Sikap dan Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sriyani Mentari S, Pd. , M. M, dan (2) Dra. Suparti M. P Kata kunci: Persepsi Siswa Tentang Penggunaan Media Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Sikap Belajar dan Prestasi Belajar Siswa. Prestasi belajar merupakan hasil belajar siswa yang diperoleh siswa dalam menyerap atau menerima ilmu pengetahuan dan materi pelajaran yang diberikan oleh guru selama proses belajar mengajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk tes atau angka nilai. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain yaitu media pembelajaran, metode pembelajaran dan sikap belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini mengkaji tentang pengaruh langsung persepsi siswa tentang penggunaan media dan metode pembelajaran terhadap sikap belajar, pengaruh langsung sikap belajar terhadap prestasi belajar, dan pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang penggunaan media dan metode pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa di SMK Negeri 1 Turen. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap sikap belajar, pengaruh langsung metode pembelajaran terhadap sikap belajar, pengaruh langsung sikap belajar terhadap prestasi belajar, pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar, pengaruh tidak langsung metode pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa, dan pengaruh secara simultan persepsi siswa tentang penggunaan media, metode pembelajaran, dan sikap belajar terhadap prestasi belajar siswa Akuntansi di kelas XI SMK Negeri 1 Turen. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatory. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan kuesioner (angket). Penelitian ini menggunakan populasi dalam menentukan responden yaitu berjumlah 78 siswa. Metode analisa data yang digunakan adalah path analysis dengan uji 2 asumsi klasik (normalitas dan linearitas). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada pengaruh langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 2) Ada pengaruh langsung metode pembelajaran tehadap sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 3) Ada pengaruh langsung sikap belajar tehadap prestasi belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 4) Ada pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 5) Ada pengaruh tidak langsung metode pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, dan 6) Ada pengaruh secara simultan persepsi siswa tentang penggunaan media, metode ii pembelajaran, dan sikap belajar terhadap prestasi belajar siswa Akuntansi di kelas XI SMK Negeri 1 Turen Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan 1) Sekolah perlu meningkatkan ketersediaan sarana yang dapat membantu guru dalam peningkatan media dan metode pembelajaran, hal ini dilakukan agar dalam proses belajar mengajar dapat tercipta suasana yang kondusif dan terjadi interaksi yang positif antara guru dan peserta didik. Suasana yang kondusif ini dapat membentuk sikap belajar yang baik dan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa; 2) Guru perlu meningkatkan penggunaan media maupun metode pembelajaran agar lebih bervariasi, meskipun metode dan media pembelajaran yang dipakai selama ini sudah mendukung dalam peningkatan prestasi belajar siswa, namun langkah untuk pengembangan media dan metode diperlukan agar peserta didik tidak merasa bosan, dengan media ataupun metode pembelajaran yang selama ini dipakai. Penggunaan media papan tulis yang selama ini dipakai bisa dikembangkan dengan menggunakan OHP atau media yang lain, penggunaan media yang beranekaragam dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap isi dari materi pelajaran. Demikian pula dengan metode pembelajaran yang bervariasi dapat menumbuhkan semangat yang belajar yang baik dari diri peserta didik; 3) Bagi Siswa sebaiknya memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia baik di rumah maupun di sekolah secara optimal guna menunjang kegiatan belajar. Selain itu siswa sebaiknya lebih memperhatikan lagi sikapnya didalam maupun diluar kelas tersebut menjadi lebih baik agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri; dan 4) Penelitian berikutnya, Penelitian berikutnya, apabila meneliti mengenai hal yang sama dengan penelitian ini diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas lagi, dan jika pengambilan data menggunakan pengamatan langsung (observasi) lebih baik menggunakan penskoran agar hasil yang didapatkan akan lebih valid dengan kenyataan yang ada.

Kalkulus peluang untuk peubah acak berdimensi 1
oleh Maryati

 

Implementasi pendekatan scientific untuk meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 10 Banjarmasin / Syamsir Kamal

 

Kamal, Syamsir 2014, Implementasi Pendekatan Scientific Untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika Siswa Kelas X SMA Negeri 10 Banjarmasin. Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc., (II) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : Pendekatan Scientific, Kemandirian belajar matematika siswa     Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kemandirian belajar siswa SMA Negeri 10 Banjarmasin khususnya pada mata pelajaran matematika. Kemandirian belajar siswa dalam matematika merupakan salah satu aspek yang ikut menunjang kesuksesan dan prestasi siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang bisa meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa adalah pendekatan scientific. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan pendekatan scientific yang dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa.     Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas X SMA Negeri 10 Banjarmasin. Data implementasi pendekatan scientiific diperoleh dari observasi aktivitas guru, observasi aktivitas siswa dan wawancara. Data kemandirian belajar matematika siswa diperoleh dari observasi kemandirian belajar siswa, wawancara dan angket kemandirian belajar matematika siswa. Data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes hasil belajar pada setiap akhir siklus.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan scientific yang dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa terdiri dari 5 (lima) langkah atau yang disingkat dengan 5M, yaitu: (1) Mengamati, (2) Menanya, (3) Mengasosiasi, (4) Mengumpulkan informasi dan, (5) Mengomunikasikan mampu meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa. Hal ini tampak dari adanya peningkatan percaya diri, peningkatan inisiatif, peningkatan tanggung jawab dan peningkatan motivasi dalam belajar matematika.     Guru matematika yang ingin menerapakan pembelajaran dengan pedekatan scientific disarankan untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran matematika yang lebih kreatif,inovatif dan interaktif yang dapat membuat siswa semakin asyik dan bersemangat dalam belajar matematika. Guru memotivasi siswa yang pasif atau kurang berani bertanya dan mengemukakan pendapatnya. Guru juga harus lebih banyak menggali informasi, bersikap proaktif dan kreatif sehingga guru akan lebih memahami makna dari masing-masing kegiatan pada tahapan-tahapan pembelajaran dengan pendekatan scientific.

Penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa kelas X SMAN 1 Kintap / Wagiati

 

Wagiati. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Komunikasi Matematis Siswa Kelas X SMAN 1 Kintap. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Mulyati, M.Pd, (II) Dr. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si. Kata kunci: Think Pair Share (TPS) , komunikasi matematis Komunikasi matematis merupakan proses menyampaikan gagasan dan pemahaman matematis siswa agar dapat dipahami oleh orang lain. Namun, berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama mengajar dan hasil wawancara dengan guru matematika di SMAN 1 Kintap menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyampaikan ide-ide atau gagasan matematis mereka masih kurang. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keterampilan komunikasi matematis siswa ketika belajar di kelas, maka siswa harus merasa nyaman dalam mengeksplorasi pengetahuannya. Model pembelajaran yang tepat untuk menciptakan suasana yang kondusif tersebut adalah Think Pair Share (TPS). TPS dapat mengoptimalkan berpikir individu siswa (Think), kemudian saling berdiskusi dalam kelompok kecil (Pair) dan menyampaikan hasilnya ke seluruh kelas (Share). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan model Think Pair Share (TPS) yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi matematis siswa Kelas X SMAN 1 Kintap. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X4 SMAN 1 Kintap tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 17 orang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil validasi perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian, hasil kerja siswa di LKS, hasil observasi kegiatan pembelajaran, hasil wawancara terhadap subyek penelitian, data hasil tes komunikasi matematis tertulis, dan catatan lapangan.Tindakan penelitian dikatakan berhasil jika: (a) hasil observasi kegiatan pembelajaran kooperatif Think Pair Share mencapai persentase minimal 80% atau ketegori baik, (b) hasil tes komunikasi matematis tertulis siswa menunjukkan minimal 80% siswa memperoleh skor minimal 75. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pada siklus I diperoleh data bahwa hasil observasi kegiatan pembelajaran mencapai 100% dengan kriteria sangat baik. Namun, hasil tes komunikasi siswa menunjukkan bahwa hanya 5 siswa (29,4%) yang memperoleh nilai minimal 75 sehingga belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Rata-rata kemampuan komunikasi matematis siswa berada pada skor 2.58 atau cukup memuaskan. Setelah adanya perbaikan yang dilakukan pada siklus II, ternyata hasil kemampuan komunikasi siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tes komunikasi tertulis, diperoleh data bahwa 15 siswa (88,2%) memperoleh nilai minimal 75 dengan nilai rata-rata 81.10. Hasil observasi kegiatan pembelajaran mencapai 100%. Rata-rata keterampilan komunikasi matematis tertulis siswa juga meningkat yaitu berada pada skor 3,17 atau memuaskan. Ini menunjukkan bahwa (a) siswa mampu menyatakan/mengekpresikan soal ke dalam bahasa, simbol, idea atau model matematika dengan benar, (b) pemahaman terhadap konsep sudah baik , (c) argumen/jawaban benar secara logis, (d) menggunakan strategi yang cukup sesuai, serta (e) perhitungan yang sebagian benar. Karena kriteria keberhasilan telah terpenuhi, maka tindakan siklus II dikatakan berhasil.

Kajian proses berpikir siswa SMP kelas VIII dalam menyelesaikan soal matematika untuk konteks instrumen Trend in International of Mathematics and Science Study (TIMSS) 2011 / Fahriza Noor

 

Noor, Fahriza. 2014. Kajian Proses Berpikir Siswa SMP Kelas VIII dalam Menyelesaikan Soal Matematika untuk Konteks Instrumen Trends in International of Mathematics and Science Study (TIMSS) 2011. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si, (2) Dr. Abdul Qohar, M.T. Kata Kunci: Proses Berpikir, Penyelesaian Soal, Soal Matematika TIMSS 2011      Indonesia terlibat dalam ujian TIMSS sebanyak 4 kali, pertama pada tahun 1999 dan terakhir pada tahun 2011. Dari tahun penyelenggaraan TIMSS tersebut prestasi Indonesia sempat meningkat pada tahun 2003, namun setelahnya, prestasi Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan. Prestasi Indonesia terendah terjadi pada tahun 2011. Pada saat itu Indonesia menduduki peringkat 38 dari 42 negara yang berpartisifasi dalam bidang matematika. Selain itu, Indonesia pada tahun 2011 hanya mengikutsertakan kelas VIII pada kompetisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses berpikir siswa SMP Kelas VIII dalam menyelesaikan soal matematika dengan menggunakan butir-butir soal TIMSS 2011.      Subjek dari penelitian ini diambil sebanyak 10 orang yang terdiri dari 5 laki-laki dan 5 perempuran dari berbagai tingkat kemampuan berdasarkan hasil TIMSS 2011. Banyak butir soal yang diadopsi yaitu 12, 4 butir soal pengetahuan, 4 butir soal penerapan dan 4 butir soal penalaran. Soal penerapan merupakan masalah rutin, sedangkan soal penalaran merupakan masalah non rutin. Sementara proses berpikir siswa diidentifikasi melalui kerangka kerja Subanji (2011) dan Piaget (Shadiq & Mustajab, 2011; Saler dan Edgington, 2006).      Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses berpikir “benar” dan “salah” ditemukan pada semua subjek penelitian. Sementara proses berpikir “pseudo salah” ditemukan pada hampir semua subjek penelitian, kecuali subjek laki-laki dengan kemampuan rendah, sedangkan “pseudo benar” ditemukan pada subjek perempuan dengan kemampuan tinggi, sedang, sangat rendah, dan subjek laki-laki sangat rendah. Proses berpikir “pseudo” dan “salah” diawali dari ketidaksempurnaan asimilasi dalam proses penyelesaian pada soal pengetahuan, sedangkan pada soal penerapan dan penalaran diawali dari ketidaksempurnaan asimilasi dalam merencanakan penyelesaian dan pelaksanaannya, tetapi pada soal penalaran juga ditemukan adanya ketidaksempurnaan asimilasi dalam memahami masalah. Selain itu, pada beberapa siswa yang proses berpikirnya benar dalam menyelesaikan soal penerapan ditemukan salah satu komponen berpikir kreatif yaitu flexibility. Ditemukannya proses berpikir “pseudo salah” ini juga menunjukkan bahwa kesalahan yang terjadi pada subjek tidak seluruhnya disebabkan karena subjek mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal TIMSS 2011, melainkan kurang optimalnya subjek dalam melakukan refleksi.

Pengaruh pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Reading Questioning Answering (RQA) terhadap sikap sosial, keterampilan metakognisi dan penguasaan konsep biologi untuk pendidikan multietnis pada siswa SMA di Ternate / Bahtiar

 

Bahtiar. 2014. Pengaruh Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Reading Questioning Answering (RQA) Terhadap Sikap Sosial, Keterampilan Metakognisi dan Penguasaan Konsep Biologi untuk Pendidikan Multietnis pada Siswa SMA di Ternate. Pembimbing (I) Prof. Dr.A.D. Corebima, (II) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd (III) Dr. Endang Suarsini, MS. Kata kunci : TPS, RQA, strategi pembelajaran, sikap sosial, metakognisi, pemahaman konsep, multietnis.    Realitas historis telah menunjukkan bahwa kejayaan Moloku Kie Raha pada abad silam karena adanya falsafah Marimoi Ngone Futuru (bersatu kita teguh) yang merupakan kearifan lokal untuk membangun jalinan persatuan antar etnik, golongan dan agama dalam bingkai kemajemukan di Kota Ternate. Apabila asumsi bahwa terjadinya berbagai konflik sosial di tanah air antara lain karena kurangnya pemahaman dan penghargaan atas budaya etnik lain, maka salah satu usaha menyikapinya adalah dengan mendidik masyarakat agar menghargai berbagai perbedaan budaya. Wujud pendidikan multietnis di antaranya dengan penerapan pembelajaran yang berbasis pada keberagaman etnis, yang menjunjung nilai-nilai heterogenitas, pluralitas dan keragaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi perpaduan strategi TPS dan RQA untuk menigkatkan sikap sosial, keterampilan metakognisi dan penguasaan konsep Biologi siswa SMA multietnis di Ternate.    Penelitian ini adalah penelitian Quasi experiment design, dilakukan pada tiga SMA Negeri di Ternate pada semester ganjil T.A. 2012/2013, dengan menggunakan rancangan Pretest-Postest Control Group. Sebelum eksperimen, terlebih dahulu dikembangkan Silabus, RPP dan LKS yang telah disesuaikan dengan karakter strategi yang diterapkan, yang mengakomodir upaya pembauran etnis antar siswa. Penelitian ini menggunakan tiga kelas eksperimen, yaitu kelas berstrategi TPS, RQA, kelas yang berstrategi perpaduan TPS+RQA, dan satu kelas berstrategi konvensional. Etnis yang diamati adalah etnis lokal di antaranya etnis Makian, Ternate, dan Tidore. Teknik analisis data menggunakan uji ANACOVA.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan berpengaruh terhadap sikap sosial, keterampilan metakognisi, dan penguasaan konsep biologi siswa SMA multietnis di Ternate. Etnis tidak berpengaruh terhadap sikap sosial, keterampilan metakognisi, dan penguasaan konsep biologi siswa SMA mulitietnis di Ternate. Penerapan strategi pembelajaran biologi yang berstrategi TPS+RQA berpotensi meningkatkan penguasaan konsep biologi, keterampilan metakognisi, dan membangun sikap sosial siswa yang terkait dengan kerukunan antar etnis. Strategi pembelajaran perpaduan TPS+RQA merupakan strategi terbaik untuk semua etnis dalam meningkatkan sikap sosial siswa, keterampilan metakognisi, dan penguasaan konsep biologi, dibandingkan dengan strategi TPS, strategi RQA, maupun strategi konvensional.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Tanta pada materi fungsi komposisi / Amalia Jaina

 

Jaina, Amalia. 2014. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Tanta Pada Materi Fungsi Komposisi. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, MA, (II) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si. Keywords: pembelajaran kooperatif tipe NHT, keaktifan, hasil belajar.     Penerapan model pembelajaran yang tepat perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada materi fungsi komposisi, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dinilai mampu untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada materi fungsi komposisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Tanta.     Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang dikumpulkan meliputi: (1) hasil observasi kegiatan guru; (2) hasil observasi kegiatan siswa; (3) hasil observasi keaktifan belajar siswa; (4) tes hasil belajar; (5) hasil wawancara. Prosedur penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang yang didalamnya terdapat empat (4) tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa meliputi tujuh (7) langkah pembelajaran, yaitu: (a) persiapan; (b) pembentukan kelompok; (c) pengajuan pertanyaan; (d) diskusi masalah; (e) memanggil nomor anggota dan pemberian jawaban; (f) memberikan penghargaan; (g) membuat kesimpulan. (2) Keaktifan belajar siswa dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah pembelajaran ini. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Tanta dan penerapan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Pengaruh perasan daun pepaya (carica papaya L) terhadap mortalitas ascaridia galli schrank secara in vitro / Ratih Purwitaningrum

 

i ABSTRAK Purwitaningrum, Ratih. 2009. Pengaruh Perasan Daun Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Mortalitas Cacing Ascaridia galli Schrank secara In Vitro. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Endang Suarsini, M. S ; (II) Drs. Sulisetijono, M, Si. Kata kunci: mortalitas cacing Ascaridia galli, perasan daun pepaya, in vitro. Salah satu cacing Nematoda yang parasit pada hewan adalah Ascaridia dan penyakit yang ditimbulkan oleh cacing Ascaridia disebut askaridiasis. Di Indonesia askaridiasis sering disebabkan spesies Ascaridia galli, yang menyerang unggas ayam. Ayam yang terserang Ascaridia galli dapat menimbulkan kematian. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan cacing usus ayam (askaridiasis) adalah tanaman pepaya. Senyawa yang terkandung dalam daun pepaya adalah alkaloid karpaina, saponin, dan enzim papain yang mampu membunuh cacing parasit. Daun pepaya oleh masyarakat belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengobati parasit cacing pada unggas ayam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi perasan daun pepaya pada mortalitas cacing Ascaridia galli secara in vitro dan untuk mengetahui konsentrasi perasan daun pepaya yang paling efektif pada mortalitas cacing Ascaridia galli secara in vitro. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7 kali ulangan. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2008 di ruang penelitian jurusan BIO FMIPA UM. Variabel terikat penelitian adalah mortalitas cacing Ascaridia galli dan variabel bebas adalah konsentrasi perasan daun pepaya yaitu 0%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%. Perasan daun pepaya dilarutkan dalam medium cairan usus ayam kemudian medium tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri. Setiap cawan petri diisi dengan 6 ekor cacing dan setiap perlakuan terdiri dari 7 ulangan. Data berupa jumlah cacing yang mati, kemudian dianalisis dengan ANAVA Tunggal dan dilanjutkan dengan uji BNT0,01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi perasan daun pepaya (Carica papaya L.) berpengaruh pada pada mortalitas cacing Ascaridia galli secara in vitro konsentrasi yang efektif adalah 15%. Kondisi cacing Ascaridia galli yang mati akibat pemberian perasan daun pepaya tidak kaku (lemas) dan warna tubuhnya kusam disebabkan dalam daun pepaya terkandung enzim papain yang dapat merusak protein tubuh cacing.

Pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa materi logika matematika di SMAN 1 Angsana Kalimantan Selatan / Ika Kartika

 

Kartika, Ika. 2014. Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X – 1 di SMA Negeri 1 Angsana Materi Logika Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Cholis Sa’dijah, M. Pd., M. A dan (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M. Si, Ph. D. Kata Kunci : Pembelajaran Kolaboratif, Aktivitas Siswa, Hasil belajar Berdasarkan studi pendahuluan di kelas X SMAN 1 Angsana, diperoleh informasi bahwa pada saat pembelajaran berlangsung aktivitas siswa dalam kelas hanya datang, duduk, diam dan dengar saja. Selama pembelajaran siswa jarang bertanya kepada guru dan pada saat guru bertanya hanya beberapa siswa saja yang mau menjawab, mereka cenderung diam dan menundukan kepala. Kondisi pembelajaran seperti ini menyebabkan pencapaian hasil belajar siswa selama ini masih rendah khususnya pada materi logika matematika. Salah satu upaya agar dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang akomodatif bagi peningkatan keterampilan siswa diantaranya kerjasama, memecahkan masalah dan menghargai pendapat orang lain sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan sosial siswa. Model pembelajaran yang dapat mengakomodir hal tersebut adalah model pembelajaran kolaboratif yang dilandasi oleh paham konstruktivisme. Lima tahapan yang dilakukan dalam pembelajaran kolaboratif yaitu enggagement, eksploration, transformation, presentation dan reflection. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kolaboratif, pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan April – Mei 2014 dengan subjek siswa kelas X – 1 yang berjumlah 31 siswa. Data yang dikumpulkan meliputi data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui penilaian tes pada akhir tindakan (Siklus I dan II) sedangkan data kualitatif diperoleh dari observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar aktivitas guru, lembar aktivitas siswa dan catatan lapangan. Setelah diterapkannya pembelajaran kolaboratif, aktivitas siswa dalam belajar meningkat, siswa berani bertanya, mengemukakan pendapat, mengemukakan ide dan gagasan serta dapat meningkatkan kemampuan siswa yang berkemampuan rendah. Begitupun dengan persentase aktivitas belajar siswa mengalami kenaikan yaitu sebesar 11,88%. Dimana persentase aktivitas belajar pada siklus I sebesar 82,29% pada kriteria baik menjadi 94,17% pada siklus II pada kriteria sangat baik. Hasil belajar siswa kelas X – 1 SMA Negeri 1 Angsana meningkat setelah dilakukan pembelajaran kolaboratif. Pada akhir tindakan I terdapat 22 siswa yang tuntas belajar dengan persentase 70,10%. Hasil akhir tindakan II terdapat 27 siswa yang tuntas belajar dengan persentase 87,10%. Jadi terjadi kenaikan persentase jumlah siswa yang tuntas belajar yaitu sebesar 17% jika dibandingkan dengan tes akhir tindakan I. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kolaboratif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi logika matematika.

Pengembangan perangkat pembelajaran kontektual berseting kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi trigonometri / Mariani

 

Mariani, 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kontekstual Bersetting Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada Materi Trigonometri, Tesis Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Mulyati, M.Pd, (2) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D. Kata Kunci : Pengembangan, Perangkat Pembelajaran, Kontekstual, Kooperatif, Two Stay Two Stray. Berdasarkan hasil pengamatan selama mengajar matematika di SMA Negeri 5 Banjarmasin dan wawancara dengan guru matematika SMA disimpulkan bahwa pada umumnya pembelajaran di sekolah masih bersifat konvensional yaitu pembelajaran berpusat pada guru dan perangkat pembelajaran yang diantaranya RPP dan LKS masih menggunakan yang sudah jadi bukan buatan guru itu sendiri. Berlatar hal ini perlu diupayakan pembelajaran yang tidak lagi berpusat pada guru dengan perlu didukung RPP dan LKS yang bisa meningkatkan hasil belajar siswa yaitu efektif dan bermakna. Pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pembelajaran matematika yang dapat membuat siswa menemukan makna dalam pembelajaran mereka. Melalui interaksi dalam komunitas belajar, proses dan hasil belajar menjadi lebih bermakna. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa dalam mempelajari materi pelajaran. Salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif adalah Two Stay Two Stray (TSTS). Pada model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini siswa dapat menjadi lebih aktif, yaitu pada saat diskusi dalam kelompok maupun saat bertamu ke kelompok lain. Tujuan pengembangan dalam penelitian ini adalah menghasilkan suatu perangkat pembelajaran kontekstual yang valid, praktis dan efektif bersetting kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi Trigonometri. Desain pengembangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan model Plomp. Fase-fase dalam pengembangan model Plomp, yaitu : (1) preliminary research (fase penelitian awal), (2) prototyping phase (fase prototype ) dan (3) assessment phase (fase penilaian). Subjek pengembangan perangkat pembelajaran ini adalah 30 orang siswa kelas X-1 SMA Negeri 5 Banjarmasin. Hasil validasi menurut kedua validator diperoleh skor kevalidan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP dan LKS berturut-turut 3,66 dan 3,60 dari skor maksimal 4. Sehingga RPP dan LKS yang disusun telah memenuhi kriteria valid. Hasil observasi mengenai tingkat keterlaksanaan penggunaan LKS berada dalam kategori tinggi dan hasil observasi aktivitas guru dalam kategori aktif, sehingga perangkat pembelajaran memenuhi kriteria kepraktisan. Keefektifan diamati melalui beberapa indikator yaitu (1) Nilai akhir siswa, (2) observasi aktivitas siswa dan (3) angket respon siswa. Berdasarkan uji coba yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu sebanyak 100% siswa mendapat nilai minimal 70, sehingga kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan sudah terpenuhi. Observasi aktivitas siswa dalam kategori aktif dan berdasarkan perhitungan angket respon siswa menunjukkan bahwa respon siswa positif. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat disimpulkan perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria keefektifan.

Pengaruh dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan PLN (studi pada PT. PLN (persero)-UP Madiun Kota) / Yogie Dian Rumingga

 

ABSTRAK Rumingga, Yogie Dian. 2009. Pengaruh Dimensi Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan PLN Pada PT PLN (Persero)-UP Madiun Kota. Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr, Supriyanto M.M; (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si. Kata Kunci : Dimensi Kualitas Layanan, Kepuasan Pelanggan Kepuasan pelanggan adalah harapan utama PT PLN (Persero) Area Pelayanan Madiun yang sedang menjalankan usahanya dalam jasa penerangan di bidang kelistrikan, termasuk Unit Pelayanan Madiun Kota. Pelanggan merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam berdirinya suatu perusahaan, maka keberadaannya harus diperhatikan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam perusahaan adalah bagaimana memahami kebutuhan (needs) dan keingginan (wants) dari setiap pelanggan. Sehingga hal ini, merupakan suatu bentuk tuntutan bagi para manajer dalam memahami karakteristik perilaku pelanggannya, kepuasan pelanggan bukan hal yang mudah dicapai, karena setiap pelanggan memiliki penilaian masing-masing tentang kepuasan. Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, seperti dimensi kualitas layanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi (1) pengaruh dimensi kualitas layanan yang meliputi: keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik atau langsung secara parsial terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota, (2) pengaruh dimensi kualitas layanan yang meliputi: keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik atau langsung secara simultan terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan dinoyo, (3) Dimensi kualitas layanan apakah yang dominan pengaruhnya terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan PLN yang menggunakan daya 450-900 watt yang terdaftar di PT PLN (Persero)-UP Madiun Kota per 31 November 2009 sebanyak 33.359 pelanggan PLN. Penyebaran kuisionernya menggunakan teknik accidental. Jumlah sampel yang telah ditentukan 100 pelanggan PLN, jumlah ini diperoleh dengan menghitung berdasarkan rumus Slovin. Peneliti ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel X adalah Dimensi kualitas layanan yang merupakan variabel independen, yang terdiri dari Keandalan (X1), Daya tanggap (X2), Jaminan (X3), Empaty (X4), Bukti fisik/ atau langsung (X5). Sedangkan variabel Y adalah Kepuasan pelanggan rekening listrik yang merupakan variabel dependen. Data diperoleh dari responden dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa angket tertutup. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis regresi berganda, diperoleh temuan: (1) bahwa terdapat pengaruh signifikan secara parsial antara keandalan, jaminan, dan bukti fisik atau langsung terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota, dan terdapat pengaruh tidak signifikan secara parsial antara daya tanggap dan empati terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan Madiun Kota. Adapun kontribusi besarnya pengaruh setiap variabel dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota dimulai dari yang dominan adalah koefisien beta standart untuk variabel bukti fisisik β1= 0,261, variabel keandalan β2=-0,434, variabel daya tanggap β3= 0,196, variabel jaminan β4= 0.188 dan variabel empati β5= 0,166; (2) Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan Madiun Kota, dengan hasil analisis regresi yang menunjukkan nilai bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,469, yang dapat diartikan bahwa variabel keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik atau langsung dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan rekening listrik adalah sebesar 46,9% dan sisanya sebesar 53,1% dipengaruhi hal-hal lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Pernyataan ini diperkuat dengan nilai Sig. Fhitung sebesar 0,000; nilai F sebesar 519,371 (signifikansi F<0,05). Berdasarkan hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang berkualitas dapat kita lihat dengan adanya kinerja yang baik dari petugas PLN dapat menumbuhkan kepuasan yang maksimal. Sementara disarankan kepada PT PLN (Persero) Unit Pelayanan Madiun Kota dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanannya dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) Respon yang cepat dari petugas PLN. (2) Kinerja petugas yang baik dan profesional (3) Cepat tanggap terhadap keluhan dari pelanggan PLN. Dari ketiga hal tersebut memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kepuasan pelanggan PLN pada PT PLN (Persero) Unit Pelayanan Madiun Kota.

Pengaruh dukungan guru, sarana prasarana serta dunia usaha dan industri terhadap kemampuan beradaptasi kerja yang dimediasi oleh keterampilan kerja siswa SMK di Surabaya / Parjono

 

Parjono, 2014. Pengaruh Dukungan Guru, Sarana Prasarana serta Dunia Usaha dan Industri terhadap Kemampuan Beradaptasi Kerja yang Dimediasi oleh Keterampilan Kerja Siswa SMK di Surabaya. Disertasi. Program Studi Pendidikan Ekonomi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Hj. Djumilah Zein, (II) Prof. Dr. J.G. Nirbito, M.Pd, (III) Dr. Sunaryanto, M.Ed. Kata Kunci : Dukungan Guru, Dukungan sarana prasarana, Dukungan DUDI, Kemampuan Beradaptasi Kerja dan Keterampilan Kerja Peran dan fungsi guru, sarana prasarana dan lingkungan dunia usaha/industri/kerja sangat dominan dalam proses transformasi pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan kerja kepada siswa SMK. Proses pembelajaran di SMK bertumpu pada Pendidikan Sistem Ganda yaitu model pembelajaran yang mengintegrasikan kegiatan belajar di sekolah dengan kegiatan nyata di lingkungan dunia usaha/industri/kerja. Prinsip pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan keterkaitan dengan lapangan kerja dan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan dunia usaha/industri/kerja. Pembekalan pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan kerja siswa dilakukan melalui pendidikan dan latihan berbasis kompetensi sehingga siswa mampu menguasai kecakapan mental, kecakapan fisik, kecakapan tehnis, kecakapan kerja, kecakapan hidup yang diperlukan untuk memasuki lapangan kerja dan/atau kehidupan pribadinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisis dan menjelaskan pengaruh langsung dukungan guru, sarpras dan DUDI terhadap pembentukan keterampilan kerja dan pengaruh tidak langsung dukungan guru, sarpras dan DUDI terhadap kemampuan beradaptasi kerja siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanasi. Penelitian ini menggunakan populasi sasaran yang berjumlah 1.036 siswa yang telah melaksanakan kegiatan praktek kerja industri (prakerin) yaitu semua siswa program keahlian keuangan, administrasi perkantoran dan pemasaran di SMKN 1, SMKN 4 dan SMKN 10 Surabaya. Sampel penelitian ditetapkan secara proporsional random sampling sehingga ditetapkan 360 siswa dengan rincian 40 siswa untuk setiap program keahlian. Tehnik pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara terbatas. Tehnik analisis data menggunakan analisis jalur. Simpulan penelitian ini meliputi: (1) Ada pengaruh langsung dukungan guru terhadap keterampilan kerja yaitu semakin efektif guru mentransformasi pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan maka keterampilan kerja siswa juga semakin meningkat; (2) Ada pengaruh langsung dukungan sarana prasarana terhadap keterampilan kerja yaitu semakin lengkap dan terbaru kondisi sarpras maka semakin mudah siswa mengenali peralatan kerja; (3) Ada pengaruh langsung dukungan DUDI terhadap keterampilan kerja, yaitu semakin terbuka lingkungan DUDI dalam menyalurkan, membimbing, mendampingi, menilai dan memberi sertifikasi kerja maka keterampilan kerja siswa juga semakin meningkat; (4) Ada pengaruh langsung penguasaan keterampilan kerja terhadap kemampuan beradaptasi, yaitu semakin lengkap keterampilan kerja maka semakin mudah beradatasi kerja; (5) Ada pengaruh tidak langsung dukungan guru terhadap kemampuan beradaptasi kerja melainkan harus melalui pembentukan keterampilan kerja; (6) Ada pengaruh langsung dukungan sarana dan prasarana terhadap kemampuan beradaptasi kerja meskipun tidak dimediasi keterampilan kerja; (7) Ada pengaruh langsung dukungan DUDI terhadap kemampuan beradaptasi kerja meskipun tidak dimediasi keterampilan kerja.

Pengembangan program bimbingan dan konseling di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Attaraqqie Malang / Lia Eka O.Mormiasih

 

ABSTRAK Lia Eka.O.M. Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling di MTs Attaraqqie Malang. Skripsi Program Studi Bimbingan dan Konseling, Univesrsitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. M. Ramli, M.A, Pembimbing (II) Drs. Hariyadi Kusuma Kata-kata Kunci: Pengembangan, Program Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan bagian yang tida terpisahkan dengan pendidikan dan pengajaran. Bimbingan dan Konseling merupakan suatu kegiatan yang sangat membantu lembaga pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan. Keberadaan Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan disamping administrasi dan penagjaran. Pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling harus sistematis dan dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dilasanakan di sekolah. Tujuan Bimbingan dan Konseling adalah membantu siswa dalam perkembangan dirinya secara optimal, sehingga memandirikan siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu mengoptimalkan layanan Bimbingan dan Konseling secara komprehensif. Program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif adalah program yang disusun berdasarkan kebutuhan siswa dan warga sekolah yang teruji proses pengembangannya. Berdasaran penjajagan awal di MTs Attaraqqie Malang belum terdapat program BK yang dikembangkan berdasar pada kebutuhan siswa. Berdasar pada latar belakang tersebut tujuan pengembangan ini adalah bagaimana mengembangkan program Bimbingan dan Konseling berdasarkan analisis kebutuhan siswa dan warga sekolah yang teruji proses pengembangannya oleh uji ahli. Produk pengembangan yang dihasilkan adalah program Bimbingan dan Konseling di MTs Attaraqqie, yang isinya meliputi: definisi, rasionel, visi dan misi, layanan dasar, perencanaan individual, layanan responsif, dan layanan dukungan sistem. Kedua, panduan pelaksanaan program BK di MTs Attaraqqie Malang, yang isinya meliputi: pendahuluan, tujuan umum, tujuan khusus, strategi pelaksanaan, organisasi dan model pelaksanaan, implementasi program, dan sstrategi evaluasi pelaksanaan program. Pengembangan ini menggunakan prosedur Gysbers dan Henderson yang di dalamnya terdapat empat tahap yaitu: perencanaan, perancangan, penyusunan, dan evaluasi. Untuk menghasilan suatu produk yang teruji proses pengembangannya dan mempunyai tingkat kegunaan (utility), kelayakan (feasibility), dan ketepatan (accuracy), maka perlu dilakukan penilaian produk atau uji ahli. Kesimpulan penilaian dari uji ahli program BK memberi penilaian sangat tinggi terhadap tingkat kegunaan (utility), kelayakan (feasibility), dan ketepatan (accuracy). Hal ini menggambarkan bahwa produk pengembangan program Bimbingan dan Konseling layak untuk diseminasikan di MTs Attaraqqie Malang.

Pengembangan paket bimbingan keterampilan daya pikir anak TK untuk berkesulitan belajar melalui teknik permainan kelompok / oleh Dinny Budiavianti

 

Keefektifan konseling resolusi konflik untuk menyelesaikan konflik interpersonal pada siswa sekolah menengah atas / Budi Purwoko

 

Purwoko, Budi. 2014. Keefektifan Konseling Resolusi Konflik untuk Menyelesaaikan Konflik Interpersonal pada Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Johana Endang Prawitasari, Ph.D., (II) Dr. H. Adi Atmoko, M.Si., (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata Kunci: konseling resolusi konflik, konflik interpersonal, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)       Penelitian ini menguji keefektifan konseling resolusi konflik (KRK) untuk menyelesaikan konflik interpersonal siswa SMA secara konstruktif. Kriteria keefektifan didasarkan pada peningkatan empat indikator yang melingkupi: (1) persepsi positif terhadap konflik, (2) sikap kolaboratif menghadapi konflik, (3) cara menyelesaikan konflik dengan konstruktif, serta (4) hasil penyelesaian konflik yang konstruktif. Penerapan KRK mencakup langkah-langkah yang meliputi: (1) pembinaan hubungan, (2) pemahaman masalah konflik interpersonal, (3) penguatan persepsi dan sikap kolaboratif, (4) kepemilikan keterampilan resolusi konflik konstruktif, serta (5) penerapan resolusi konflik dan pengakhiran.       Rancangan penelitian menggunakan randomized controlled trials: triple blinding. Subyek penelitian sebanyak 24 siswa dengan konflik interpersonal berpola “menang-kalah” ataupun “kalah-kalah”. Mereka terbagi dalam 12 siswa pada kelompok eksperimen serta 12 siswa pada kelompok kontrol, melalui random allocation. Siswa kelompok eksperimen dikenai konseling resolusi konflik, sedangkan siswa kelompok kontrol dikenai konseling sebagaimana biasa. Subyek pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen diberikan pretes maupun postes yang mencakup: (1) inventory persepsi konflik (IPK), (2) skala sikap menghadapi konflik (SSMK), (3) inventory cara menyelesaikan konflik (ICMK), dan (4) angket hasil solusi konflik (AHSK).       Berdasarkan uji statistik ancova, diketahui bahwa konseling resolusi konflik dapat meningkatkan (1) persepsi positif terhadap konflik, (2) sikap kolaboratif menghadapi konflik, (3) cara menyelesaikan konflik dengan konstruktif, serta (4) hasil penyelesaian konflik yang konstruktif. Kesimpulannya, konseling resolusi konflik efektif menyelesaikan konflik interpersonal pada siswa SMA, dibandingkan dengan konseling sebagaimana biasa.       Berdasarkan hasil dan temuan penelitian, direkomendasikan bahwa: (1) konselor sekolah dapat menggunakan KRK sebagai alternatif konseling dalam menyelesaikan konflik interpersonal siswa, (2) sekolah dapat memfasilitasi konselor agar menguasai serta menggunakan KRK sebagai layanan penyelesaian konflik interpersonal, (3) Prodi Bimbingan dan Konseling dapat mengevaluasi, memperbaiki, serta memanfaatkan produk penelitian dalam kajian teoritik maupun praktik yang dapat dimanfaatkan mahasiswa calon konselor, (5) Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia, dapat memanfaatkan KRK dalam kajian isu-isu strategis maupun kebijakan profesi terkait pemanfaatan KRK, (6) rekomendasi peneliti lanjutan diantaranya: perlu menggandeng variabel budaya dalam konteks konflik, memperluas ruang lingkup sasaran konflik dari tataran mikro maupun makro. Dalam hal metode penelitian direkomendasikan bahwa, diperlukan kajian tentang bagaimana proses wawancara KRK dapat mengubah persepsi, sikap, serta kecakapan konseli; diperlukan penelitian yang dapat memodifikasi perlakuan KRK; diperlukan penelitian yang mengendalikan variabel-variabel pengaruh secara ketat; diperlukan perluasan kancah penelitian, penambahan jumlah serta variasi subyek, pengumpulan data maupun analisis data yang lebih bervariatif.

Folding back mahasiswa dalam menyelesaikan limit / Susiswo

 

Penelitian ini bertujuan mengungkap secara detail folding back mahasiswa dalam menyelesaikan masalah limit. Folding back dianalisis berdasarkan salah satu elemen kerangka kerja folding back Martin (2008), yaitu bentuk folding back. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang mengalami folding back ketika menyelesaikan masalah limit. Subjek dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok subjek yang mempunyai kecenderungan pada pengetahuan konseptual dan prosedural. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa bentuk folding back mahasiswa dalam menyelesaikan masalah limit meliputi: bekerja pada lapisan yang lebih dalam, mengumpulkan lapisan yang lebih dalam; keluar topik; menyebabkan diskontinu intervensi invokatif; menyebabkan diskontinu intervensi provokatif; menyebabkan diskontinu tanpa intervensi; mengumpulkan lapisan yang lebih dalam dan keluar topik; keluar topik dan menyebabkan diskontinu intervensi invokatif; keluar topik dan menyebabkan diskontinu intervensi provokatif; keluar topik dan menyebabkan diskontinu tanpa intervensi; mengumpulkan lapisan yang lebih dalam, keluar topik, dan menyebabkan diskontinu intervensi invokatif; mengumpulkan lapisan yang lebih dalam, keluar topik, dan menyebabkan diskontinu intervensi provokatif; dan mengumpulkan lapisan yang lebih dalam, keluar topik, dan menyebabkan diskontinu tanpa intervensi.

Warna lokal Madura dalam kumpulan cerpen Mata Blater karya Mahwi Ait Tawar / Faizin

 

Faizin. 2014.Warna Lokal Madura dalam Kumpulan Cerpen Mata Blater Karya Mahwi Air Tawar. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Maryaeni, M. Pd., (II) Dr. Yuni Pratiwi, M. Pd. Kata kunci : warna lokal, pandangan hidup, sikap dan perilaku Warna lokal merupakan ciri khas yang dimiliki oleh suatu kelompok etnik dari sebuah daerah tertentu. Pengarang cerpen sebagai bagian dari masyarakat, tidak akan terlepas dari pelbagai pengalaman dan lingkungannya. Penggambaran warna lokal ini dapat dijadikan sebagai pedoman pembaca yang menikmati karya sastra untuk mendapatkan ciri khas suatu lingkungan pada masyarakat daerah tertentu. Khususnya yang terkait dengan warna lokal budayanya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan pandangan hidup masyarakat Madura dalam kumpulan cerpen Mata Blater, (2) mendeskripsikan sikap hidup masyarakat Madura dalam kumpulan cerpen Mata Blater, dan (3) menggambarkan perilaku hidup masyarakat Madura dalam kumpulan cerpen Mata Blater.     Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang menonjolkan karya sastra dalam kaitannya dengan dunia nyata. Analisis data secara keseluruhan memanfaatkan penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, yaitu bertindak sebagai perencana, pelaksana pengumpul data, penganalisis dan penafsir data, sekaligus pelapor hasil penelitian. Sumber data adalah kumpulan cerpen Mata Blater karya Mahwi Air Tawar yang diterbitkan oleh Mata Pena, cetakan pertama: Maret 2010. Data penelitian berupa unit-unit teks yang terdapat di dalam cerpen tersebut.     Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa pandangan hidup masyarakat Madura yang tercermin dalam kumpulan cerpen tersebut meliputi (1) keyakinan dan kepercayaan terhadap benda pusaka dan mantra-mantra. Bagi masyarakat Madura hal-hal tersebut dianggap memiliki kekuatan, kekeramatan, dan kesaktian yang bisa digunakan sebagai pelindung dari pelbagai hal buruk serta dapat membantu mereka dalam banyak hal; (2) pandangan terhadap diri sendiri, yakni tidak boleh menyakiti orang lain jika dirinya tidak ingin disakiti serta harus sopan dan santun terhadap semua orang agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Dengan demikian, akan timbul rasa persaudaraan yang tinggi (tretan dhibi’) dan akan saling bantu membantu walau bukan dengan saudara kandung. (3) Pandangan terhadap pekerjaan, yakni bagi masyarakat Madura bekerja sama halnya dengan beribadah. Oleh sebab itu, dalam bekerja harus ulet dan tekun apa pun pekerjaan itu sehingga dapat penghasilan yang halal. (4) Pandangan terhadap harga diri, bagi masyarakat Madura harga diri sangat tinggi kedudukannya. Oleh sebab itu setiap pelecehan terhadap harga diri bagi masyarakat Madura sama halnya dengan mempermalukannya. Masyarakat Madura rela mempertaruhkan nyawanya ango’an poteya tolang etembang poteya mata (lebih baik mati daripada harus menanggung perasaan malu).

Karakteristik ujaran siswa dwibahasawan Indonesia-Ende kelas VII SMP Negeri 2 Ende Selatan Nusa Tengga Timur / Josephina Nirma Rupa

 

Rupa, Josephina Nirma. 2014. Karakteristik Ujaran Siswa Dwibahasawan Indonesia-Ende Kelas VII SMP Negeri 2 Ende Selatan Nusa Tenggara Timur.Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana.Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Abdus Syukur Ghazali, M.Pd dan Pembimbing (II) Dr. Martutik, M.Pd. Kata kunci: bentuk dan fungsi alih kode, bentuk dan fungsi campur kode, ujaran siswa dwibahasawan Indonesia-Ende kelas VII. Penelitian ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam masyarakat dwibahasawan hampir tidak ada penutur yang berkode tunggal. Dalam berkomunikasi ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan seseorang harus memilih kode tertentu untuk kesempatan tertentu, beralih dari kode yang satu ke kode yang lain, atau mencampur kode yang satu dengan kode yang lain. Seorang siswa yang lebih menguasai bahasa daerah sebelumnya, tentu saja akan lebih sering berkomunikasi dengan bahasa daerah tersebut baik dalam situasi resmi (di dalam kelas) dan dalam situasi tidak resmi (di luar kelas) seperti di luar jam pelajaran. Hal ini, dilakukan dengan memanfaatkan alih kode dan campur kode sebagai strategi dalam berkomunikasi agar maksud pembicaraannya lebih mudah dipahami sekaligus untuk menciptakan suasana keakraban antarsiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk alih kode, (2) bentuk campur kode, (3) fungsi alih kode, dan (4) fungsi campur campur kode pada ujaran siswa dwibahasawan Indonesia-Ende kelas VII. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa ujaran siswa kelas VII pada saat proses pembelajaran berlangsung, maupun di luar jam pelajaran khususnya yang berkaitan dengan alih kode dan campur kode. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ende Selatan Nusa Tenggara Timur. Data dikumpulkan dengan cara (1) pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung, maupun di luar jam pelajaran, (2) pencatatan, dan (3) perekaman. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan alat perekam (tape recorderdanhandphone) dan panduan pengumpulan data.Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis untuk diketahui (1) bentuk alih kode, (2) bentuk campur kode, (3) fungsi alih kode, dan (4) fungsi campur kode. Hasil penelitian ini sebagai berikut.Pertama bentuk alih kode dalam situasi resmi (di dalam kelas) maupun dalam situasi tidak resmi (di luar kelas) berupa kalimat berita (deklaratif) memiliki dua (2) pola, yaitu pola satu (1) bahasa Indonesia-Ende dan pola dua (2) bahasa Ende-Indonesia. Kalimat tanya (interogatif) memiliki dua (2) pola, yaitu pola satu (1) bahasa Ende-Indonesia dan pola dua (2) bahasa Indonesia-Ende. Sedangkan pada kalimat perintah (imperatif) memiliki dua (2) pola, yaitu pola satu (1) bahasa Indonesia-Ende, dan pola dua (2) bahasa Ende-Indonesia. Kedua bentuk campur kode berupa kalimat berita (deklaratif) terdapat kata seru (interjeksi) dalam bahasa Ende, yaitu kata si na, ko, na, ro, le, we, siko, dan so. Selain itu, juga ditemukan kata penghubung, yaitu kata ne’e dalam bahasa Ende yang artinya dan atau dengan. Pada kalimat tanya (interogatif) ditemukan berupa kata seru (interjeksi) dalam bahasa Ende, yaitu kata na, ki, we, si, dan so na. Selanjutnya, ditemukan berupa kata penunjuk, yaitu kata sena na, dan na dalam bahasa Ende yang artinya di sana itu dan ini. Sedangkan pada kalimat perintah (imperatif) ditemukan berupa kata seru (interjeksi) dalam bahasa Ende, yaitu kata na, e ko,si na, ko, le, dan nde. Selanjutnya, ditemukan berupa kata penunjuk, yaitu kata reta wawona dalam bahasa Ende yang artinya sebelah atas itu. Adapun juga ditemukan bentuk campur kode pada ujaran siswa dwibahasawan Indonesia-Ende kelas VII SMP Negeri 2 Ende Selatan Nusa Tenggara Timur berupa kata yang terdapat dalam percakapan lainnya. Percakapan tersebut terdapat pada sub bagian tersendiri, yaitu bentuk campur kode yang di dalamnya terdapat penggunaan kata seru/interjeksi dalam bahasa Ende, misalnya kata na, e, na, si, we, so na, su, we, na e, ko, so, le, we, ro, na, dan so. Kata penunjuk, misalnya kata sena na (di sana) kata nore na (itu) dan kata ndie (ini). Kata sambung, misalnya kata ne’e (dengan) dan mbeja na (setelah itu). Kata ulang, misalnya kema-kema (kerja-kerja)dan kata moro-moro (baik-baik). Ketiga, fungsi alih kode baik dalam situasi resmi (di dalam kelas) maupun dalam situasi tidak resmi (di luar kelas) ditemukan dua (2) fungsi bahasa, yaitu fungsi bahasa eksternal dan internal.Fungsi eksternal berupa fungsi bahasa untuk memberi informasi, memohon, bertanya, dan menyuruh.Selain itu, juga ditemukan fungsi eksternal faktor lamanya kontak.Sedangkan fungsi internal berupa fungsi bahasa yang berasal dari dalam diri penutur, meliputi fungsi internal untuk mengeluh, dan rasa senang. Keempat, fungsi campur kode baik dalam situasi resmi (di dalam kelas) maupun dalam situasi tidak resmi (di luar kelas) juga ditemukan dua (2) fungsi bahasa, yaitu fungsi bahasa eksternal dan internal.Fungsi eksternal berupa fungsi bahasa untuk memohon, memberitahukan, bertanya, memberi informasi, dan menyuruh.Sedangkan fungsi internal berupa fungsi bahasa yang berasal dari dalam diri penutur, meliputi fungsi internal untuk menghitung, rasa gembira, dan sebagai ungkapan.

Pola pendidikan karakter siswa melalui pendidikan Islam terpadu / Suyadi

 

Suyadi, 2014. Pola Pendidikan Karakter Siswa melalui Pendidikan Islam Terpadu. Disertasi. Program Studi Psikologi Pendidikan. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Ed.,M.Pd., (II) Dr. Triyono, M.Pd., (III) Dr. Adi Atmoko, M.Si. Kata kunci: Pola Pengembangan Karakter, Pendidikan Islam Terpadu     Pendidikan karakter diperlukan agar setiap individu menjadi orang yang lebih baik, menjadi warga masyarakat yang lebih baik, dan menjadi warga negara yang lebih baik. Untuk itu salah satu yang harus dijalankan oleh para orang tua dan pendidik adalah melestarikan dan mengajarkan nilai-nilai moral pada anak-anak sebagai calon generasi penerus bangsa. Nilai-nilai moral yang ditanamkan akan membentuk karakter yang merupakan fondasi utama terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.     Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan tentang bagaimana pola pendidikan karakter siswa di SDIT Luqman Al-Hakim Yogyakarta yang meliputi (1) integratif, (2) inkulkasi nilai, (3), qudwah hasanah, (4) kooperatif, (5) rawat, resik, rapi, dan sehat, dan (6) berorientasi pada mutu.     Penelitian ini menggunakan studi kasus tunggal, dimana pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada yayasan, kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua, siswa, dan alumni. Pengamatan dilakukan pada perilaku karakter siswa di sekolah maupun di rumah sesuai fokus penelitian, sedangkan studi dokumentasi dilakukan pada dokumen-dokumen dan arsip-arsip sekolah maupun publikasi sesuai fokus penelitian.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pendidikan karakter siswa di SDIT Luqman Al-Hakim Yogyakarta berhasil membentuk karakter siswa yang unggul akademik dan spiritual sebagaimana tertuang dalam 10 muwashofat kepribadian.     Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diberikan kepada SDIT Luqman Al-Hakim Yogyakarta agar senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas karakter siswa maupun seluruh sivitas akademika yang ada di dalamnya dan bersedia membina sekolah-sekolah lain agar program pendidikan karakter bisa dimiliki oleh semua sekolah di Yogyakarta pada khususnya. Untuk penelitian lanjut diharapkan dilakukan penelitian lebih mendalam agar ditemukan teori-teori baru yang lebih subtantif dan aplikatif dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah.

Making use of secret topic game to improve the speaking ability of the third year students of MA Zainul Anwar Kraksaan Probolinggo / Jamaludin

 

ABSTRACT Jamaludin. 2009. Making Use of Secret Topic Game to Improve the Speaking Ability of the Third Year Students MA Zainul Anwar Kraksaan Probolinggo. Thesis, Graduate Program in English Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Arwijati Wahyudi Murdibjono, M. Pd., Dip. TESL (II) Dr. Yazid Basthomi, M.A Key Words: secret topic game, improve, speaking ability The speaking ability of the third year students at MA Zainul Anwar still needed improvement. Based on the teacher’s experience and the results of preliminary study, it was revealed that the students were reluctant to express their ideas in English verbally. They lacked confidence to communicate in English because they were afraid of being underestimated when they made mistakes, meaning that they could not make a spontaneous conversation, therefore they were hardly involved actively in the teaching and learning process. A collaborative classroom action research was employed in this study and was done in three Cycles. The study used three instruments in the forms of observation form, field notes, and students’ self assessment to collect the data. The implementation of Secret Topic Game to teach speaking hopefully could overcome the problems stated above so that the students’ participation and the students’ speaking ability improved. Each Cycle consisted of four stages: (1) planning, (2) action, (3) observation, and (4) reflection. Cycle 1 and 2 took three meetings while Cycle 3 took two meetings. Secret Topic Game procedures that proved to be able to improve are as follows: (1) Students are divided into groups done by the teacher randomly. Each group can consist of five or six students, and two of the members of each group are as the conversation participants chosen by the other group. (2) The conversation participants agree on a topic given by the teacher without telling the other member what it is, then the conversation participants start discussing their hidden topics without mentioning the topics. The topics used are different from the topics used in Cycle 1 and 2. If one member in each group could guess the secret topic, the conversation participants are directly changed with different topic, and so forth. (3) The others listen to the two conversation participants or topics they are talking about. (4) Anyone in the rest of the group who thinks s/he knows what they are talking about, have to write it on a small piece of paper and show it to the two conversation participants before s/he is accepted. (5) The conversation participants look at her/his word(s) written on a small paper, if her/his answer is right, the conversation participants accept her/him to join in the conversation. However, if her/his answer is wrong, s/he is not accepted to join in the conversation, and s/he have to listen again to the conversation. (6) When all of the members of each group have joined in, the game is stopped. (7) Points are awarded according to the number of people who find out the secret topics. After conducting Cycle 3, the result of this study using Secret Topic game procedures indicated the fact that there was an increase in the number of the students’ participation up to 70 % for the group participation, from 17% (4 students) in Cycle 1 to 87% (21 students) in Cycle 3. The students’ individual participation also gradually increased from 2 students (33%) out of 6 students in Cycle 1 to 4 students (67%) in Cycle 2 and 5 students (80%) in Cycle 3 for group 1, from 0 students (0%) out of 6 students in Cycle 1 to 2 students (33%) in Cycle 2 and 5 students (80%) in Cycle 3 for group 2, from 2 students (33%) out of 6 students in Cycle 1 to 3 students (50%) in Cycle 2 and 5 students (80%) in Cycle 3 for group 3, and from 0 student (0%) out of 6 students in Cycle 1 to 2 students (33%) in Cycle 2 and 6 students (100%) in Cycle 3 for group 4. From appendix 5a and appendix 9 we can see that there are a number of significant improvements of the students’ speaking scores assessed in Cycle 3. Applying Secret Topic Games is one of successful and interesting ways that can help teachers in overcoming speaking problem the students have. Games are used not only for fun, but more notably, for the useful practice and review of language lessons, thus leading to the goal of improving learners’ communicative competence. Therefore, it is recommended that the English teachers apply Secret Topic Game as an alternative in teaching speaking to make students actively involved, and for the future researcher it will be a reference and a proof that such game can improve students’ participation and speaking ability.

Peningkatan keterampilan berbicara dengan pendekatan komunikatif pada siswa kelas V di SDN Drenges I Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk / Elmy Arifina

 

ABSTRAK Arifina, Elmy. 2010. Peningkatan Keterampilan Berbicara Dengan Pendekatan Komunikatif Pada Siswa Kelas V Di SDN Drenges I Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sutansi, M. Pd, (II) Dra. Sri Nuryati, M. Pd. Kata kunci : berbicara, kelancaran, keruntutan, komunikatif. Permasalahan dalam penelitian yang dilakukan di SDN Drenges I Kecama-tan Kertosono Kabupaten Nganjuk adalah guru di dalam meningkatkan keteram-pilan berbicara siswa masih menggunakan metode konvensial. Dalam pembel-ajaran anak belum terampil berbicara secara lancar dan runtut. Sehingga perlu diterapkan pendekatan komunikatif di dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan ko-munikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Drenges I, mendeskripsikan penerapan komunikatif yang dapat meningkatkan kelancaran berbicara siswa kelas V SDN Drenges I dan mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif untuk meningkatkan keruntutan berbicara siswa kelas V SDN drenges I. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuali-tatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan da-lam 2 siklus. Untuk menjaring data diperoleh dengan cara observasi, tes dan doku-mentasi. Teknik analisis data dengan cara metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Pada masing-masing siklus ter-jadi peningkatan nilai hasil belajar pada aspek kelancaran dan keruntutan berbica-ra siswa. Hal ini terbukti dengan peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I, persentase ketuntasan belajar siswa dalam aspek kelancar-an berbicara adalah 72,72% dan pada siklus II, persentase ketuntasan belajar ada-lah 100%. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan hasil kelancaran berbicara sis-wa sebesar 27,28%. Penerapan pendekatan komunikatif juga meningkatkan kerun-tutan berbicara siswa. Pada siklus I, persentase ketuntasan belajar siswa dalam aspek keruntutan dalam berbicara adalah 81,81% dan pada siklus II, persentase ketuntasan belajarnya adalah 100%. Ini berarti telah terjadi peningkatan hasil ke-runtutan berbicara siswa sebesar 18,19%. Dari hasil PTK ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan pendekatan komunikatif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Drenges I dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang memaksimalkan potensi siswa untuk berbicara/berkomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti berdialog, berdiskusi, tanya jawab, mengungkapkan pendapat/sanggahan, menanggapi peristiwa/persoalan, bercerita dan lain sebagainya. Penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan kelancaran dan keruntutan berbicara siswa kelas V SDN Drenges I, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.

Partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar (studi multi kasus di SDN Pakunden 2, SDK Yos Sudarso, SDN Sanan Wetan 3, dan SDK Santa Maria Kota Blitar) / Agus Timan

 

Timan, Agus. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Mutu Sekolah Dasar (Studi Multi Kasus di SDN Pakunden 2, SDK Yos Sudarso, SDN Sananwetan 3, dan SDK Santa Maria Kota Blitar). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd, (III) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D. Kata kunci: partisipasi masyarakat, peningkatan mutu sekolah, sekolah dasar          Pendidikan menjadi prasyarat dan berperan penting dalam pembangunan bangsa. Pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar, merupakan jenjang pendidikan yang strategis bagi kelanjutan jenjang selanjutnya. Untuk itu perlu dikelola secara efektif dengan mengikutsertakan masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia telah diatur dalam peraturan perundangan sejak tahun 1950-an. Partisipasi masyarakat mempunyai peran penting untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai bentuk kegiatan. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.     Fokus umum penelitian ini adalah partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar. Secara khusus, fokus penelitian diarahkan pada empat hal berikut: (1) bentuk partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar, (2) unsur masyarakat yang berpartisipasi dalam peningkatan mutu sekolah dasar, (3) langkah-langkah partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar, dan (4) indikator pencapaian mutu sekolah dasar berdasarkan partisipasi masyarakat.     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang mengacu pada fenomenologis. Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi multi kasus (multiple case study) dengan desain komparatif. Lokasi penelitian ini di empat sekolah dasar (dalam hal ini SDN Pakunden 2, SDK Yos Sudarso, SDN Sananwetan 3, dan SDK Santa Maria) di Kota Blitar. Penentuan subyek penelitian dipilih berdasarkan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dua tahap yaitu pertama, analisis kasus individual dilakukan dengan menggunakan model alir dan tahap kedua, dilakukan analisis data lintas kasus. Untuk mendapatkan keabsahan data digunakan tiga kriteria, yaitu derajat keterpercayaan (credibility), ketertransferan (transferability), dan kepastian (confirmability).     Kesimpulan penelitian ini ada empat rumusan meliputi: Pertama, partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar berbentuk kegiatan pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan, dan kegiatan evaluasi yang berkaitan langsung dengan program sekolah maupun aktivitas pendukung untuk menyelenggarakan program sekolah; berlangsung secara terjadwal maupun insidental; berkaitan dengan substansi kegiatan di bidang kurikulum dan pembelajaran, personalia, keuangan, sarana prasarana, dan kesiswaan dengan partisipasi bersifat fisik dan non-fisik; dan bentuk partisipasi masyarakat tersebut dipengaruhi oleh status sekolah dan kebijakan kepala sekolah dalam menyelenggarakan sekolah. Kedua, partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat baik secara perorangan dan terorganisir; jenis unsur masyarakat yang berpartisipasi lebih banyak yang bersifat perorangan, sedangkan yang terorganisir meliputi komite sekolah, peguyuban (kelas/kegiatan), yayasan, instansi kedinasan, dunia usaha, dan lembaga pendidikan lain; dan jenis-jenis unsur masyarakat yang berpartisipasi dipengaruhi oleh status sekolah dan kondisi sekolah. Ketiga, partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah dasar berlangsung mulai dengan proses merencanakan hingga melakukan evaluasi kegiatan dan tindak lanjutnya; dan jenis langkah-langkah partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh kebijakan kepala sekolah serta kompetensi personal dari unsur masyarakat. Keempat, indikator pencapaian mutu sekolah dasar berdasarkan partisipasi masyarakat meliputi prestasi akademik, lulusan, penyelenggaraan kegiatan dan prestasi ekstrakurikuler, juga kondisi sekolah; dan pencapaian mutu sekolah dasar ditandai dengan tingkat kelulusan dan nilai ujian nasional; siswa melanjutkan ke sekolah menengah pertama negeri dan swasta favorit; kegiatan olahraga dan seni; kegiatan yang menjadi ikon sekolah; serta kedisiplinan siswa, keunggulan dalam pembelajaran, kualifikasi tenaga pendidik, pengelolaan perpustakaan, sarana sekolah, dan sekolah adiwiyata.     Berdasarkan hasil penelitian ini diberikan saran kepada enam pihak, yaitu: (1) Kepala SDN Pakunden 2, SDK Yos Sudarso, SDN Sananwetan 3, dan SDK Santa Maria Kota Blitar dapat menggunakannya sebagai bahan masukan dan evaluasi dalam peningkatan mutu sekolah dengan mengintensifkan bentuk partisipasi serta dengan melibatkan lebih banyak lagi unsur masyarakat; (2) Kepala Dinas Pendidikan Daerah Kota Blitar, Kepala UPTD Pendidikan dan pengawas sekolah dapat dijadikan masukan dalam meningkatkan kinerja sekolah di lingkungan kerjanya dan mengevaluasi implementasi kebijakan peningkatan mutu berbasis partisipasi masyarakat yang sedang dijalankan di sekolah dasar; (3) unsur masyarakat (orang-tua, komite sekolah, dan peguyuban) agar dapat lebih memahami serta lebih aktif dan kreatif mendukung program peningkatan mutu sekolah; (4) Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat menjadikannya sebagai salah satu hasil kajian akademik untuk Pusat Kajian Manajemen Berbasis Sekolah dan penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di sekolah dasar; (5) peneliti lain dapat mempertimbangkan hasil penelitian sebagai referensi dalam meneliti kasus-kasus sejenis dengan pendekatan, subyek, tema, variabel atau lembaga pendidikan dengan latar yang berbeda; selain itu dapat melakukan studi lanjut tentang peranan atau pengaruh variabel partisipasi masyarakat terhadap peningkatan mutu sekolah; serta (6) pengembang ilmu manajemen pendidikan (khususnya manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat) dapat memanfaatkan sebagai referensi dalam mengkaji tentang bentuk partisipasi masyarakat, unsur-unsur masyarakat yang dapat dilibatkan, maupun mekanisme partisipasi masyarakat dalam kegiatan pendidikan.

Penerapan teknik reinforcement untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar bahasa daerah dengan pokok bahasan tembung lan seselan siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang / Slamet Ponidi

 

ABSTRAK Ponidi, Slamet. 2010. Penerapan Teknik Reinforcement untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Bahasa Daerah dengan Pokok Bahasan Tembung Lan Seselan Siswa Kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. M. Sochib, M.Pd., (II) Drs. Tomas Iriyanto, M. Pd. Kata kunci: reinforcement, bahasa daerah, motivasi belajar, hasil belajar. Tiga masalah pokok penyebab rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang dalam mempelajari bahasa Daerah adalah (1) terjadinya pergeseran bahasa ibu, (2) minimnya media pembelajaran, dan (3) rendahnya minat belajar siswa. Dampak lebih jauh muncul berbagai perilaku siswa yang tidak adaptif seperti tidak bergairah, menyontek, mengganggu temannya, usil dsb. Salah satu cara untuk mengurangi perilaku siswa yang tidak adaptif ialah menggunakan pengukuhan positif atau reinforcement. Tindakan yang dilakukan berupa reinforcement (1) sosial seperti pujian, senyuman, anggukan setuju, acungan jempol, gerakan jari telunjuk, penepukan punggung dan bahu siswa dsb, (2) nyata, berupa bonus permen, nilai dan kepulangan lebih awal, (3) tanda atau lambang berupa nilai-nilai dari tes harian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan teknik reinforcement dalam kerangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar (2) peningkatan motivasi belajar, dan (3) peningkatan hasil belajar Bahasa Daerah siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Kota Malang setelah penerapan teknik reinforcement dalam pembelajaran Bahasa Daerah. Penelitian dilakukan melalui desain tindakan kelas. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai fasilitator yang berupaya menumbuhkan motivasi internal bagi subjek yang terlibat. Selama di kancah, peneliti menggunakan pendekatan kesejawatan melalui diskusi dengan guru kelas. Pengecekan keabsahan data digunakan teknik triangulasi. Dengan tiga siklus tindakan disimpulkan: (1) Motivasi belajar siswa mengalami kenaikan yang cukup berarti. Pada siklus pertama rata-rata motivasi belajar siswa adalah 74,63%. Pada siklus kedua naik menjadi 86,93%. Dengan demikian melalui teknik reinforcement, motivasi siswa telah tuntas dalam pembelajaran Bahasa Daerah. (2) Hasil belajar siswa mengalami kenaikan yang cukup berarti. Pada siklus pertama rata-rata hasil belajar siswa adalah 82,33. Pada siklus kedua naik menjadi 84,24. Sedang pada siklus ketiga rata-rata hasil belajar siswa tetap 84,24. Tidak adanya perubahan hasil belajar antara siklus II dan siklus III karena ada kaitan antara kuantitas soal-soal antara kedua siklus. Kendati demikian, hasil belajar siswa telah tuntas dalam pembelajaran Bahasa Daerah. Dari kesimpulan di atas diberikan saran-saran: (1) Guru perlu memberikan pengertian pada para siswa bahwa belajar bukan melulu mencari nilai-nilai yang bagus. (2) Agar siswa tidak jenuh diperlukan berbagai variasi dalam memberikan teknik reinforcement. (3) Teknik reinforcement yang telah digunakan perlu dikembangkan pada materi ketrampilan penulisan huruf Jawa. Artinya penggunaan teknik reinforcement untuk pokok bahasan yang lain, perlu penelitian lebih lanjut. (4) Agar kondisi pembelajaran yang disajikan oleh guru Bahasa Daerah dapat membuat siswa merasa senang terhadap matapelajaran yang diajarkan, perlu dibuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. (5) Penelitian tindakan kelas ini perlu dikembangkan lebih lanjut melalui tindakan serupa dengan teknik reinforcement yang berbeda. (6) Agar hasil yang diperoleh melalui penelitian ini lebih bermanfaat dan bernilai ganda, perlu dilakukan penelitian lain dengan sasaran yang lebih luas.

Pemanfaatan lingkungan sekitar untuk meningkatkan prestasi belajar bahasa Indonesia tentang menulis surat undangan kelas V SDN Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Wahyoe Nisfuanah

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V di SD Negeri Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan cenderung didominasi oleh guru. Metode mengajar yang digunakan oleh guru kurang bervariasi, kurang bisa mengaktifkan siswa. Proses Pembelajaran menjadi monoton yang pada akhirnya hasil belajar siswa tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) penerapan lingkungan sekitar pada materi menulis surat undangan dalam meningkatkan keaktifan siswa kelas V SD Negeri Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, (2) mendiskripsikan penerapan pemanfaatan lingkungan sekitar dalam menulis surat undangan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V di SD Negeri Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Sudimulyo I Kec. Nguling Kab. Pasuruan yang berjumlah 28 siswa, terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari tes hasil belajar dan pedoman observasi proses pembelajaran pemanfaatan lingkungan sekitar. Instrumen tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa, sedangkan pedoman observasi digunakan untuk mengamati proses pembelajaran dari aspek keaktifan Hasil penelitian ini adalah: 1) proses pembelajaran Bahasa Indonesia ditinjau dari keaktifan siswa pada saat pembelajaran dengan pemanfaatan lingkungan sekitar berlangsung aktif, dan 2) penerapan pembelajaran dengan pemanfaatan lingkungan sekitar dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada standar kompetensi mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan dan dialog tertulis. Hasil observasi aktivitas guru pada siklus I adalah 90,3%, siklus II sebesar 94,6%, mengalami peningkatan 4,3% secara keseluruhan aktivitas guru dalam proses pembelajaran dikategorikan sangat baik. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I 79,6%, siklus II adalah 84,7%, mengalami peningkatan sebesar 5,1% secara keseluruhan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dikategorikan baik. Pada penilaian hasil tes akhir siklus I adalah nilai rata-rata 70,5, pada siklus II nilai rata-rata 79,8 siswa yang tuntas belajar 28 orang siswa (100%). Berdasarkan temuan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar pada siswa kelas V SDN Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan dikatakan sudah berhasil.

Nilai multikultural teks puisi Husni Djamaluddin dalam kajian hermeneutika / Muliadi

 

Muliadi. 2014. Nilai Multikultural Teks Puisi Husni Djamaluddin dalam Kajian Hermeneutika. Disertasi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Wahyudi Siswanto, M.Pd. (2) Dr. H. Mujianto, M.Pd., dan (3) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata-kata Kunci: teks puisi, nilai, multikultural, dan hermeneutika.     Puisi sebagaimana terbaca dalam TP-HD dipahami sebagai simbiosis sekaligus metamorfosis pengalaman, pengetahuan, dan pengakuan atas fenomena alam dan sosial budaya penyairnya karena itu dapat ditelusuri kembali melalui penanda virtualnya. Penelitian mengenai nilai multikultural dengan memanfaatkan TP-HD sebagai sumber pengkajian belum pernah dilakukan.     Dengan pertimbangan tersebut, penelitian ini mengambil fokus nilai multikultural yang mencakup tiga ranah, yakni (1) nilai multikultural religius, (2) nilai multukltural filosofis, dan (3) nilai multikultural etis. Fokus satu mencakup aspek (a) keyakinan keberagamaan, (b) sikap keberagamaan, dan (c) pengamalan keberagamaan. Fokus dua mencakup aspek (a) kesadaran terhadap ruang dan waktu, (b) kepastian, (c) harapan, (d) keselarasan, (e) keteladanan, dan (f) cinta. Fokus tiga mencakup aspek (a) etis pribadi dan (b) etis sosial.     Data kualitatif berupa kutipan puisi dari sumber data TP-HD yang dipertimbangkan kesesuaiannya dengan tiga fokus tersebut kemudian ditelusuri dengan tiga langkah analisis hermeneutika Ricoeur, yakni (1) pemahaman dari simbol ke simbol, (2) pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna, dan (3) langkah yang benar-benar filosofis. Tiga langkah analisis tersebut berkaitan erat dengan tataran semantik, reflektif, dan eksistensial. Dari ketiga langkah itu diperoleh hasil dan simpulan penelitian, seperti berikut ini.     Ranah religius dipahami bahwa kebenaran keberagamaan dari sudut pandang multikultural menghargai sejarah atau latar belakang yang mendasari perwujudan agama dan kepercayaan yang ada. Dengan pemahaman ini, tidak dikembangkan pembandingan bentuk dan sikap keberagamaan untuk mengklaim kebenaran agama atau kepercayaan yang dianut. Sikap itu tumbuh karena dari sudut pandang multikultural tidak pernah membenturkan sejarah atau latar belakang agama dan kepercayaan yang ada.     Ranah filosofis dipahami bahwa dalam mewujudkan kehendak-kehendaknya dari sudut pandang multikultural ternyata menghargai keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kebenaran yang ada pada masing-masing entitas. Pemahaman itu dikembangkan dari tradisi pengambilan keputusan mengenai kebenaran dari sudut pandang dia/Dia atau kamu/Kamu. Pemahaman tersebut selaras dengan tata nilai ‘siri’ yang dijadikan normatif, wajib dirujuk oleh mereka yang menganutnya dalam memutuskan kebenaran.     Ranah etis dipahami bahwa sudut pandang multikultural memposisikan manusia pada substansi sekunder. Perbedaan yang ada dan dijalani telah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Strata sosial yang ditemukan tidak diukur dari sudut pandang beruntung dan tidak beruntung. Perbedaan itu dimaknai sebagai peluang masing-masing subjek/manusia yang berada dalam kutub berlawanan untuk dapat saling berkonstribusi secara proporsional selaras dengan fakta keberadaannya. Untuk kepentingan pengembangan teori, khususnya teori sosiologi sastra, simpulan tersebut dapat dipilih sebagai penegas bahwa pembandingan bentuk dan sikap keberagamaan untuk mengklaim kebenaran agama dan atau kepercayaan tertentu bertentangan dengan perbedaan sejarah dan latar belakang masing-masing agama dan kepercayaan tersebut. Jika bermaksud melakukan perbandingan, maka hanya sampai pada batas menemukan perbedaan sejarah agama dan kepercayaan dimaksud. Pada sisi lain, langkah analisis dalam menemukan simpulan penelitian ini dapat diadop sebagai teknik, strategi, dan metodologi dalam memandu siswa menemukan nilai religius, filosofis, dan etis pada setiap teks sastra yang dipilih dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Ini berarti guru telah memberikan peluang kepada siswa mewujudkan kemandirian belajar dalam memperkaya dan memaknakan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan hidupnya melalui teks sastra.

Pembelajaran yang menumbuhkan tanggung jawab pebelajar: studi kualitatif-fenomenologis di SD Negeri Piji, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah / Sigit Purnama

 

Sigit Purnama. 2014. Pembelajaran yang Menumbuhkan Tanggung Jawab Pebelajar: Studi Kualitatif-Fenomenologis di SDN Piji, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Disertasi. Program Studi Teknologi Pembelajaran. Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (II) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed., (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd. Kata kunci: tanggung jawab, pebelajar sekolah dasar, model pembelajaran     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran tanggung jawab bagi pebelajar sekolah dasar dengan latar belakang keluarga petani dan buruh. Setelah memperoleh gambaran tersebut, kemudian dideskripsikan sebuah model pembelajaran yang menumbuhkan tanggung jawab pebelajar.     Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Piji, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah pada bulan April 2013 hingga April 2014. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan strategi fenomenologi. Sumber data berupa orang, lokasi, kegiatan-kegiatan, dokumen-dokumen, dan materi-materi visual yang sengaja dipilih karena dapat memberikan informasi dan dapat membantu memahami masalah yang diteliti. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, telaah dokumen, dan materi-materi visual. Analisis data dilakukan selama dan setelah proses pengumpulan data. Data-data yang telah terkumpul ditulis secara utuh, ditranskrip, dikategorisasi, diberi kode, disimpan, dicari, dan diambil kembali untuk kepentingan pemaparan, triangulasi, analisis, dan integrasi data.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penumbuhan tanggung jawab pebelajar merupakan salah satu tujuan, prioritas, dan kebijakan pendidikan di SDN Piji. Pembelajaran diselenggarakan agar para pebelajar memiliki tanggung jawab. Para pembelajar berusaha menumbuhkan tanggung jawab pebelajar dengan penuh tanggung jawab, menerapkan metode-metode pembelajaran di kelas, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sekolah secara umum, seperti ekstrakurikuler. Tanggung jawab yang ditumbuhkan oleh para pembelajar telah diakui oleh para pebelajar dan orang tua, bahwa SDN Piji adalah sekolah yang baik karena para pembelajarnya memiliki tanggung jawab dan berhasil menghantarkan para pebelajarnya berprestasi dan memiliki tanggung jawab.     Penelitian ini juga menghasilkan sebuah model pembelajaran yang menumbuhkan tanggung jawab pebelajar yang dideskripsikan melalui (1) komponen orientasi model yang berupa sasaran, fondasi dasar, dan tujuan pembelajaran; (2) komponen sistem pendukung yang berupa pengaturan sistem sekolah untuk mendukung terwujudnya model; (3) komponen sistem sosial yang berupa lingkungan pembelajaran dimana model diterapkan; (4) sintaks yang berupa prinsip-prinsip dan strategi-strategi pembelajaran yang digunakan oleh pembelajar di kelas maupun strategi-strategi sekolah secara umum; (5) komponen dampak yang berupa dampak pembelajaran yang mendeskripsikan dampak jangka pendek dari digunakannya strategi dan dampak pengiring yang mendeskripsikan dampak jangka panjang yang dapat dicapai dari penggunaan model.

Tindak komunikasi terapis dalam intervensi klinis anak autis gangguan komunikasi / Luluk Sri Agus Prasetyoningsih

 

Tingkat kompetensi menggambar dengan software Autocad dan minat kerja bidang konstruksi siswa kelas XI Jurusan Gambar Bangunan di SMK Kota Malang / Ahmad Nuruzzaman

 

Usaha di bidang jasa konstruksi di bagi menjadi tiga yaitu: (1) perencana konstruksi, (2) pelaksana konstruksi, (3) pengawas konstruksi. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dapat ditempuh melalui jalur pendidikan formal salah satunya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). terdapat 52 SMK di Kota Malang dengan berbagai jurusan. Penelitian ini dilakukan pada jurusan gambar bangunan di dua sekolah yaitu SMK negeri 6 dan SMK Nasional Malang. Autocad banyak digunakan dalam pekerjaan konstruksi saat ini dan menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa jurusan gambar bangunan. Pada penelitian ini masalah yang dianjurkan adalah berapa besar minat siswa untuk bekerja di bidang konsultan perencana, pelaksana, dan pengawas ditinjau dari tingkat kompetensi menggambar dengan software autocad. Hasil penelitian didapatkan tingkat kompetensi di bagi tiga yaitu: tinggi, sedang, dan rendah kemudian dilihat besarnya minat pada bidang kerja konstruksi sebagai berikut (1) bidang kerja perencana diminati oleh siswa kelas XI Jurusan Gambar Bangunan SMK di kota Malang dengan tingkat kompetensi tinggi sebesar 21,7%, tingkat kompetensi sedang sebesar 21,7% dan tingkat kompetensi rendah sebesar 20%. (2) bidang kerja pelaksana diminati oleh siswa kelas XI Jurusan Gambar Bangunan di SMK Kota Malang dengan tingkat kompetensi tinggi sebesar 1,7%, tingkat kompetensi sedang sebesar 8,3% dan tingkat kompetensi rendah sebesar 6,7%. (3) bidang kerja pengawas diminati oleh siswa kelas XI Jurusan Gambar Bangunan di SMK Kota Malang dengan tingkat kompetensi tinggi sebesar 0%, tingkat kompetensi sedang 5%, dan tingkat kompetensi rendah 5%.

Dampak soft skills terhadap kesiapan kerja siswa pada paket keahlian teknik menggambar bangunan di Sekolah Menengah Kejuruan se-kota Makassar / Dwi Wahyuni Aprianti

 

Aprianti, Dwi Wahyuni. 2014. Dampak Soft Skill Terhadap Kesiapan Kerja Siswa pada Paket Keahlian Teknik Gambar Bangunan di Sekolah Menengah Kejuruan Se-Kota Makassar. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Prof. H. A. Sonhadji K.H., M.A., Ph. D. dan (2) Dr. R. Machmud Sugandi, M.T. Kata kunci: kesiapan kerja, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama.    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pendidikan formal memiliki peran penting dalam menyediakan tenaga kerja yang siap pakai sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. SMK dituntut mampu menghasilkan lulusan dengan kompetensi standar yang diharapkan oleh dunia kerja, sesuai dengan bidang pekerjaannya, memiliki daya adaptasi, dan daya saing tinggi.    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) kreativitas, 2) kemampuan berkomunikasi, 3) kemampuan bekerja sama, dan 4) ketiga dampak tersebut secara bersama-sama terhadap kesiapan kerja siswa SMK.    Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian menggunakan desain korelasional, yang bertujuan untuk mengetahui dampak dan kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Penelitian ini melibatkan tiga variabel bebas yaitu kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama. Sedangkan variabel terikatnya adalah kesiapan kerja siswa. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI Teknik Gambar Bangunan (TGB) yang telah melaksanakan Prakerin. Teknik pengumpulan data menggunakan Kuesioner dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi linear sederhana dan analisis regresi ganda.    Hasil penelitian menunjukkan ada dampak yang positif antara kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama terhadap kesiapan kerja siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai kontribusi variabel kreativitas sebesar 21,8%, kemampuan berkomunikasi sebesar 12,5%, dan kemampuan bekerjasama sebesar 10,3%. Sumbangan efektif yang diberikan oleh ketiga varibel (kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama) sebesar 29,3%. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah kreativitas memberikan kontribusi paling besar dari ketiga varibel soft skill yang diteliti.

Dampak pendidikan karakter holistik, lingkungan keluarga, dan lingkungan tempat PRAKERIN terhadap soft skill siswa Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri se-kota Malang / Dianna Ratnawati

 

Ratnawati, Dianna. 2014. Dampak Pendidikan Karakter Holistik, Lingkungan Keluarga, dan Lingkungan Tempat Prakerin terhadap Soft Skill Siswa SMK Negeri se-Kota Malang. Tesis, Pendidikan Kejuruan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. A. Sonhadji K.H., M.A., Ph. D., (II) Dr. Eddy Sutadji, M. Pd. Kata kunci: soft skill, pendidikan karakter holistik, lingkungan, keluarga, prakerin. Soft skill memiliki peranan penting dalam perkembangan karier lulusan. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti dampak yang mempengaruhi kualitas soft skill siswa SMK. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan hasil implementasi pendidikan karakter holistik di SMK Negeri se-Kota Malang; (2) mendeskripsikan kondisi lingkungan keluarga siswa SMK Negeri se-Kota Malang; (3) mendeskripsikan kondisi lingkungan tempat prakerin siswa SMK Negeri se-Kota Malang; (4) mendeskripsikan kualitas soft skill yang dimiliki siswa SMK Negeri se-Kota Malang; (5) mengetahui dampak pendidikan karakter holistik terhadap soft skill siswa SMK Negeri se-Kota Malang; (6) mengetahui dampak lingkungan keluarga terhadap soft skill siswa SMK Negeri se-Kota Malang; (7) mengetahui dampak lingkungan tempat prakerin terhadap soft skill siswa SMK Negeri se-Kota Malang; dan (8) mengungkap dampak pendidikan karakter holistik, lingkungan keluarga, dan lingkungan tempat prakerin, secara simultan terhadap soft skill siswa SMK Negeri se-Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan ex-post facto dengan pendekatan kuantitatif. Untuk menjawab tujuan penelitian digunakan analisis deskriptif dan analisis regresi. Uji prasyarat yang dilakukan adalah uji normalitas, uji linieritas, dan multikolinieritas. Obyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 TKR SMK Negeri se-Kota Malang sejumlah 126 siswa. Sampel penelitian diambil dengan teknik probability random sampling jenis sampling kelompok. Instrumen untuk mengumpulkan data berupa angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum (1) hasil implementasi pendidikan karakter holistik dalam kategori tinggi; (2) kondisi lingkungan keluarga siswa tergolong cukup; (3) kondisi lingkungan tempat prakerin adalah cukup; (4) kualitas soft skill siswa masuk dalam kategori cukup; (5) terdapat dampak positif antara variabel pendidikan karakter holistik terhadap soft skill dengan signifikansi sebesar 19,1%; (6) terdapat dampak positif antara variabel lingkungan keluarga terhadap soft skill dengan signifikansi sebesar 23,4%; (7) terdapat dampak positif antara variabel lingkungan tempat prakerin terhadap soft skill dengan signifikansi sebesar 15,5%; (8) terdapat dampak antara variabel pendidikan karakter holistik, lingkungan keluarga, dan lingkungan tempat prakerin secara simultan terhadap soft skill. Ketiga variabel independen tersebut memberikan dampak sebesar 41,8% terhadap soft skill siswa, sedangkan dampak sebesar 58,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti

Peranan kredit BPR dalam meningkatkan pendapatan pedagang kecil di Kota Malang / Dyah Arum Dwi Lestari

 

Arum, Dyah. 2014. Peranan Kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Dalam Meningkatkan Pendapatan Pedagang Kecil di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Ir. Yohanes Hadi Soesilo, S.Th., M. Div, M.E. (II) Dr. Imam Mukhlis, SE., M.Si Kata Kunci : Kredit, Kredit Mikro, Pendapatan Pedagang Kecil Usaha kecil, mikro dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor usaha yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Namun awal dari berkembangnya UMKM berasal dari pedagang kecil. Oleh karena itu, banyak pihak mengkritisi bahwa sistem perekonomian nasional masih belum cukup memihak dan memberikan kesempatan kepada para pedagang kecil yang mana mereka adalah rakyat kecil yang kurang mampu, terutama dari sisi permodalan. Salah satu lembaga keuangan yang merupakan sumber penyaluran kredit tersebut adalah bank. Bank secara umum memiliki fungsi sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dan menyalurkan dana kembali kepada masyarakat melalui kredit maupun jasa- jasa dalam pembayaran dan peredaran uang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk lebih mengetahui bagaimana peran dalam pengembangan usaha dan peningkatan pendapatan para pedagang kecil. Dalam rangka untuk memperlancar proses penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan instrumen penelitian yaitu observasi dan wawancara langsung ke obyek penelitian. Tujuan penulis menggunakan pendekatan kualitatif adalah berusaha memberikan gambaran yang sistematis dan akurat mengenai pelaksanaan dari kegiatan penyaluran kredit Usaha Mikro Perbankan kepada para Pedagang Kecil. Informan pada penelitian ini yaitu pihak bank BPR Trikarya Waranugraha sebagai lembaga penyalur kredit dan nasabah yang memperoleh bantuan kredit usaha mikro. Sehingga data dan informasi yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah kredit usaha mikro BPR Trikarya Waranugraha lebih efektif dalam membantu pengembangan usaha kecil para pedagang dan meningkatkan pendapatan para pedagang. Kredit Usaha Mikro BPR Trikarya Waranugraha sendiri memiliki tujuan utama dalam memberikan bantuan tambahan modal bagi para pedagang kecil. Selain itu kredit usaha mikro BPR Trikarya Waranugraha juga memberikan fasilitas pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh seluruh nasabah PT. BPR Trikarya Waranugraha. Di lain pihak, perbankan juga menuai keuntungan financial dan meningkatnya kepercayaan kepada bank. Saran dari pembahasan ini yaitu seharusnya Bank Indonesia ikut membantu secara intensif dalam perkembangan usaha kecil melalui BPR. BPR Trikarya Waranugraha juga harus lebih aktif dan kreatif dalam mempublikasikan produk – produk kreditnya.

Pengaruh desain, lingkungan sosial dan ambien terhadap minat pembelian ulang (studi pada konsumen Smesco Mart Al-Hikam) / M Zaenal Abidin

 

Abidin, M Zaenal. 2012. Pengaruh Desain, Lingkungan Sosial Dan Ambien Terhadap Minat Pembelian Ulang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M., (2) Handri Dian Wahyudi, S.Pd., M.Sc. Kata Kunci : Desain, Lingkungan Sosial dan Ambien Toko, Minat Pembelian Ulang.         Perkembangan usaha ritel mengalami perkembangan pesat salah satunya adalah Smesco Mart Al Hikam. Salah satu indikator suksesnya suatu retail adalah minat pembelian ulang yang tinggi. Minat pembelian ulang yang tinggi menunjukkan kepuasan konsumen. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan untuk melakukan transaksi pembelian salah satunya adalah atmotfer toko yang terdiri dari desain, lingkungan sosial dan ambien toko. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel desain, lingkungan sosial dan ambien toko terhadap minat pembelian ulang konsumen Smesco Mart Al Hikam Malang.      Jenis penelitian ini adalah asosiatif kausalitas. Penelitian ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel independen (X) yaitu desain, lingkungan sosial, dan ambien, Sedangkan variabel dependen (Y) adalah minat pembelian ulang konsumen Smesco Mart Al Hikam Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah melakukan transaksi pembelian di Smesco Mart Al Hikam lebih dari satu kali. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling denganjumlah responden ditentukan sebanyak 50 responden sebagai sampel. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda. Data diperoleh melalui responden dengan menggunakan alat pengumpul data berupa angket/kuesioner tertutup dan wawancara serta diukur dengan menggunakan skala Likert.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang. lingkungan sosial tidak berpengaruh terhadap minat pembelian ulang. ambien berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang dan menjadi variabel paling dominan. Saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut (1) kepada Smesco Mart Al Hikam hendaknya selalu meningkatkan atau tetap mempertahankan faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang seperti kerapian rak dan display. (2) serta mengevaluasi faktor yang tidak berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang yaitu pramuniaga berseragam, ramah dan lebih baik dalam melayani.

Implementing process-genre based approach utilizing video to improve the writing ability of the tenth graders of SMA Santo Bonaventura Madiun / Retno Palupi

 

Palupi, Retno. 2014. Menggunakan Process-Genre Based Approach dengan Video untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas Sepuluh di SMA Santo Bonaventura Madiun. Tesis, Program Pascasarjana. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D. (2) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Kata kunci: menulis, media, video, deskripsi, penelitian tindakan kelas      Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas sepuluh di SMA Santo Bonaventura Madiun dalam menulis teks deskripsi. Video diusulkan untuk digunakan dalam pengajaran menulis tidak hanya karena video itu menarik, tetapi juga karena video adalah sebuah media yang bagus untuk merangsang ide untuk menulis teks deskripsi. Selain itu, beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa penggunaan video mampu memotivasi para siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan menulis, sehingga kemampuan menulis mereka bisa meningkat.      Penelitian ini menggunakan collaborative classroom action research. Peneliti dan guru kolaboratornya bekerja sama dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, menentukan kriteria kesuksesan, melaksanakan tindakan, mengamati tindakan, dan melakukan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas XC SMA Santo Bonaventura Madiun tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas, yaitu merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan melakukan refleksi.      Kegiatan inti proses belajar mengajar dalam penelitian ini adalah (1) mengaktifasi pengetahuan siswa tentang teks deskripsi dan unsur-unsur dalam teks, (2) pemberian model teks deskripsi diikuti dengan penulisan teks deskripsi dengan media video (3) menulis secara berkelompok, (4) dan menulis secara individu sebagai tes menulis.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan video melalui process-genre based approach bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks deskripsi. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 56,76 yang termasuk pada tingkat rendah di penelitian awal menjadi 63,58 pada Siklus I. Ini berarti bahwa ada peningkatan tingkat menjadi cukup.      Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menggunakan process-genre based approach dengan video dalam mengajar menulis, khususnya teks deskripsi. Dalam menerapkannya, para guru harus selektif dalam memilih video. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menggunakan process-genre based approach dengan video untuk teks, kemampuan, kelas dan tingkat pendidikan yang berbeda.      

Pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian kartu seluler Simpati (studi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lumajang) / Pradipta Fitri Apriyanto

 

Apriyanto, Pradipta, Fitri. 2014. Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Kartu Selular Simpati (Studi Pada siswa kelas 11 SMA Negeri 1 Lumajang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si (2) Dr. Titis Shinta Dhewi, SP. M.M. Kata Kunci : Citra Merek, Keputusan Pembelian     Banyak hal yang membuat suatu produk tetap bertahan dipasaran secara bertahun-tahun. Salah satunya adalah dengan citra merek yang baik dimata konsumen. Brand yang baik merupakan salah satu aset bagi perusahaan, karena brand tersebut mempunyai suatu dampak bagi setiap persepsi konsumen, dimana masyarakat akan mempunyai kesan positif terhadap produk dan perusahaan.     Image yang dibutuhkan suatu produk adalah apabila produk tersebut mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, yaitu dengan cara membuat dan mengembangan produk sesuai dengan harapan dan selera konsumen, mutu dan kaulitas yang terjamin dan sistem penyampaian produk sehingga konsumen dapat dengan mudah memperoleh produk-produk tersebut.     Tujuan dari peneliian ini adalah untuk mengetahui gambaran citra merk dan keputusan pembelian, mengetahui pengaruh citra merek secara parsial terhadap keputusan pembelian dan mengetahui pengaruh citra merek secara simultan terhadap keputusan pembelian kartu selular simpati pada siswa kelas 11 SMAN 1 Lumajang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan hubungan sebab akibat antara variabel bebas (citra merek) terhadap variabel terikat (keputusan pembelian). Dalam penelitian ini populasinya adalah siswa kelas XI SMAN 1 Lumajang yang menggunakan dan membeli kartu selular simpati dimana jumlah populasinya dapat diketahui (finite population). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 65 siswa, teknik yang digunakan dalam penentuan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling digunakan untuk menentukan jumlah sampel dalam setiap kelas. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistic deskriptif dan teknik analisis inferensial, yaitu analisis regresi linear berganda.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial sub variabel jenis-jenis asosiasi merek, dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek dan keunikan asosiasi merek berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Sedangkan secara simultan menunjukkan bahwa sub variabel jenis asosiasi merek, dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek dan keunikan asosiasi merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian kartu selular simpati pada siswa kelas 11 SMAN 1 Lumajang. Dan variabel yang berpengaruh dapat dilihat pada analisis regresi berganda dengan koefisien determinasi sebesar 78,9%, artinya jenis asosiasi merek (X1), dukungan asosiasi merek (X2), kekuatan asosiasi merek (X3) dan keunikan asosiasi merek (X4) berpengaruh secara signifikan sedangkan sisanya 21,1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.

Lexically-based language teaching to improve young learners' ability in producing classroom lexico-grammatical units at 3 to 6 cec kawi malang /Anisa Risatyah

 

Abstract Risatyah, Anisa. Pengajaran Bahasa Inggris Berbasis Leksikon untuk Meningkatkan Kemampuan Pebelajar Usia Muda dalam Memproduksi Classroom Lexico-grammatical Units di 3 to 6 CEC Kawi Malang. Skripsi. Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd. Kata kunci: Pengajaran Bahasa Inggris Berbasis Leksikon, pebelajar usia muda, classroom lexico-grammatical units, penelitian tindakan kelas. Seiring dengan keharusan menguasai Bahasa Inggris dalam berbagai bidang, pengajaran Bahasa Inggris untuk pebelajar usia muda semakin mendapatkan perhatian dewasa ini, terbukti dengan banyaknya lembaga pra-sekolah yang memperkenalkan Bahasa Inggris kepada murid-muridnya. Meskipun Bahasa Inggris telah mulai dikenalkan pada murid-murid sejak usia dini, pengajar harus memperhatikan bahwa pengenalan ini harus dilakukan dengan benar. Ketrampilan bahasa yang bisa dikembangkan pada anak-anak usia prasekolah adalah ketrampilan berbicara. Para pebelajar usia muda ini telah mengenal Bahasa Inggris, akan tetapi mereka mengalami kesulitan untuk menggunakannya dengan baik dan benar. Sebuah studi pendahuluan yang dilakukan di sebuah kelas anak-anak usia tiga sampai enam tahun di 3 to 6 Children Education Center, menunjukkan permasalahan yang hampir sama yang dihadapi para pebelajar usia muda ini. Mereka kerap membuat kesalahan dalam memproduksi kalimat lengkap, terutama dalam memproduksi bahasa yang diucapkan di kelas (classroom language). Untuk meningkatkan kemampuan pebelajar usia muda ini, pengajaran Bahasa Inggris berbasis Leksikon digunakan dalam penelitian ini. Masalah yang ada kemudian dirumuskan sebagai berikut: “Apakah pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon mampu meningkatkan kemampuan pebelajar usia muda untuk memproduksi classroom lexico-grammatical units di 3 to 6 CEC Kawi Malang?” Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dalam satu siklus. Siklus ini terdiri dari perencanaan, implementasi, observasi, analisa dan refleksi. Peneliti, berkolaborasi dengan Koordinator 3 to 6, melakukan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di 3 to 6 CEC Kawi, berlokasi di Jl. Kawi no 44, Malang. Dengan mengacu pada teori pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon, classroom lexico-grammatical units diperkenalkan melalui cerita. Classroom lexico-grammatical units ini kemudian digunakan selama aktifitas dan interaksi di kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak semakin terbiasa dengan ‘chunk’ atau ‘gumpalan’ bahasa. Mereka juga menunjukkan peningkatan dalam ketrampilan berbicara dan memproduksi classroom lexixo-grammatical units secara lancar dan akurat. Para pebelajar usia muda ini juga menunjukkan peningkatan dalam pengucapan (pronunciation). Dapat disimpulkan bahwa pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon dapat diberikan di 3 to 6 CEC Kawi Malang. Karena keberhasilan implementasi tindakan dapat dicapai pada siklus pertama, tahapan perencanaan dan implementasi adalah sebagai jawaban dari rumusan masalah ini. Tahap perencanaan terdiri dari pemilihan classroom lexico-grammatical units, perencanaan instrumen penelitian, mendesain rencana pembelajaran dan menetapkan kriteria keberhasilan tindakan. Tahap selanjutnya adalah implementasi. Peneliti mengajar di kelas sebagaimana yang terencana dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. Sebelum menilai hasil ketrampilan berbicara siswa, peneliti memperkenalkan classroom lexico-grammatical units melalui kegiatan bercerita. Tindakan selanjutnya adalah memperkuat penggunaan classroom lexico-grammatical units melalui aktifitas dan interaksi kelas. Para pengajar dan praktisi pendidikan diharapkan mampu menerapkan prosedur yang ada dalam penelitian ini. Prosedur yang kurang lebih sama dapat diberikan pada pebelajar pada tingkat yang lebih tinggi, menyesuaikan dengan kemampuan dan kondisi belajar mereka. Peneliti selanjutnya diharapkan mampu melaksanakan penelitian menggunakan pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon pada pebelajar pada tingkat yang lebih tinggi untuk meningkatkan ketrampilan berbicara mereka.

Implementing dictogloss technique to improve the listening comprehension of the eighth graders of SMPN 1 Pajarakan / Tety Mariana

 

Mariana, Tety. 2014. Implementing Dictogloss Technique to Improve the Listening Comprehension of the Eighth Graders of SMPN 1 Pajarakan. Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors (1) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D. (2) Dr. Ekaning Dewanti Laksmi, M.Pd., M.A Key Words: listening, comprehension, dictogloss      This research aimed at investigating how the dictogloss technique can be implemented to improve listening comprehension of the eighth graders of SMPN 1 Pajarakan in Academic Year of 2013/2014. The subjects of this research were 40 students (19 girls and 21 boys) of class 8E. Based on the result of questionnaire and interview that had been gained by the researcher, she found some factors that caused low achievement in listening. They were; (1) lack of practicing in listening activity, (2) less opportunity to have a lot of exposure of group discussing.     This research was conducted through Classroom Action Research (CAR). The research was conducted in one cycle. The implementation of the dictogloss technique was carried out in 5 meetings and one meeting for the listening test. Each meeting consisted of four steps: (1) preparation, (2) dictation, (3) reconstruction, (4) analysis and correction. The researcher used two kinds of data collection; they were qualitative and quantitative data. Qualitative data were obtained from the result of (1) the observation checklist and field notes about activities of the students in teaching and learning process, (2) questionnaire about the students’ response to the implementation of the technique. Quantitative data was obtained from the result of students’ listening score at the end of implementation.      The result of the research showed that there were: (1) improvement of the students in listening comprehension. The mean score in listening test of the students improved. It was from 62.775 in preliminary study to 71.025. It indicated that the dictogloss technique brought positive improvement on students’ listening comprehension. (2) Improvement of students’ response. By analyzing the data of questionnaire and observation checklist, the researcher found that most of the students had positive response in listening. Based on the finding of the research, it is suggested for English teacher to implement dictogloss technique to improve listening comprehension to the students especially in recount text. It is also suggested that dictogloss technique can encourage students to be actively involved in discussion. It theoretically and practically helps students comprehend the spoken text. By group working, the students do not mind to the tasks given because they can share the difficulties to their friends. This research is one of the efforts in improving students’ listening comprehension. There are four stages in dictogloss technique. Those are preparation, dictation, reconstruction, and analysis and correction. In preparation stage, the students are introduced unfamiliar words. In this stage the students know the unfamiliar words to familiarize them during listening. In dictation stage, the students perform listening activities; 1) listening for gist without note taking, it forces the students to understand the whole text using their prior knowledge, 2) note taking to improve language proficiency of grammar and meaning words by individual note taking. In reconstruction stage, the students reconstruct the text in group. The students cooperated to re create the text based on the individual notes. In analysis and correction stage, the students compare their text that they write with the original one. The students compare the texts based on content information given. Discovering the difficulties of listening and writing comprehension enhanced listening performance. It is expected that the finding of this research will be used as starting point of the future research on similar problem. It is suggested that to use different text type, skills and grades.

Analisis makna sistem tanggung renteng bagi pengurus dan anggota koperasi pada Koperasi Setia Budi Wanita di Kota Malang / Tifany Erza Pranasari

 

Pranasari, Tifany Erza. 2014. Analisis Makna Sistem Tanggung Renteng bagi Pengurus dan Anggota Koperasi Setia Budi Wanita di Kota Malang.Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. PembimbingProf. Dr. H. Wahjoedi, M.E., Thomas Soseco, S.E., M.Sc Kata Kunci : Koperasi Wanita, Sistem Tanggung Renteng, Simpan Pinjam          Koperasi dalam menjalankan setiap kegiatan koperasi dimulai dari manajemennya, unit usaha yang dijalankan dan keanggotaan, juga sangat perlu memperhatikan sistem keuangan yang diterapkan didalamnya. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah koperasi serba usaha Setia Budi Wanita di Kota Malang, yang merupakan koperasi wanita terbesar di Kota Malang dan juga dikenal sebagai tempat dicetuskannya sistem tanggung renteng pertama di Kota Malang.     Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami makna sistem tanggung renteng bagi pengurus koperasi dan makna sistem tanggung renteng bagi anggota koperasi. Informan pada penelitian ini yaitu pihak koperasi serba usaha Setia Budi Wanita sebagai pengelola koperasi dan anggota koperasi yang memperoleh bantuan kredit melalui unit simpan pinjam yang berbasis sistem tanggung renteng.     Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah dalam kenyataannya, sistem tanggung renteng tidak hanya memberikan makna bagi pengurus dalam menjalankan fungsi manajemen koperasi dan perubahan perilaku pengurus koperasi menjadi perilaku yang lebih baik. Sistem tanggung renteng juga memiliki makna bagi anggota koperasi dalam hal meningkatkan pengetahuan anggota, meningkatkan pendapatan anggota, serta perubahan perilaku anggota menjadi lebih baik berdasarkan nilai-nilai dasar sistem tanggung renteng. Sistem tanggung renteng juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan sistem keuangan yang terdapat di lembaga keuangan lain, yaitu sistem ini mampu menjangkau masyarakat ekonomi menengah ke bawah dengan persyaratan yang mudah (tanpa agunan), melalui sistem ini anggota mendapatkan pelatihan-pelatihan pengembangan usaha baru serta mempererat hubungan antara pihak koperasi dengan anggota koperasi.

An analysis of reading questions in english e-book entitled "developing english competencies" for grade XI / Radina Anggun Nurisma

 

ABSTRACT Nurisma, Radina Anggun. 2010. An Analysis of Reading Questions in English e- Book entitled “Developing English Competencies” for Grade XI. Thesis, English Language Education Program, Faculty of Letter, State University of Malang. Advisor: S. Nurul Muthmainnah, Dra. M.A. Key words: reading questions analysis, Bloom’s taxonomy Reading comprehension is the primary emphasis in the teaching of English at senior high school Grade XI. The objectives of teaching english is to provide senior high school students with reading ability that will enable them to comprehend the information of English written texts mostly by responding to the reading questions. Hence, the quality of reading questions are important. Therefore, the writer wants to analyze whether the reading questions in the textbook have been constructed well. This study is intended to know the types of reading questions and the frequency of each type of reading questions in English e-book based on reading comprehension level in Bloom’s Taxonomy. Thus, this study was conducted to analyze the reading questions in the textbook Developing English Competencies for senior high school Grade XI. This study was conducted by describing the data with the design of descriptive qualitative. The criteria of Bloom’s taxonomy was chosen for analyzing the data. The analysis were done after data collection. Each reading question in each textbook is analyzed based on the taxonomy in order to find out its type and the frequency of each type of reading questions. The results of the data analysis revealed that the reading questions in the textbook of Developing English Competencies covered five levels of reading comprehension based on Bloom’s taxonomy, namely knowledge, comprehension, application, analysis and evaluation. The knowledge questions dominated in the reading questions of Developing English Competencies followed by application, analysis, and evaluation which are presented in a few questions. It is recommended that the English teachers of senior high school use more higher levels of questions in order to improve students’ comprehension. The textbook writers may take these findings into consideration for further revision of reading questions to develop higher levels of questions on the basis of the level of the students. It is also recommended to conduct further researches with different focuses and designs.

Hubungan antara budaya organisasi dengan kinerja pegawai Perpustakaan Universitas Negeri Malang / Geger Adi Kustanto

 

Kustanto, Geger Adi. 2014. Hubungan Antara Budaya Organisasi Dengan Kinerja Pegawai Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sultoni, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd Kata kunci: budaya organisasi, kinerja pegawai Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, membawa perubahan pula dalam kehidupan manusia. Perubahan–perubahan itu membawa akibat yaitu tuntutan yang lebih tinggi terhadap setiap individu untuk lebih meningkatkankan kinerja mereka sendiri dan masyarakat luas. Pengelolaan sumber daya manusia sangat penting untuk mendapat perhatian guna mencapai tujuan organisasi dalam hal ini adalah lembaga pendidikan. Sumber daya manusia yang handal dan berkualitas sangat diperlukan oleh suatu organisai dalam upaya mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Maju mundurnya suatu organisasi salah satu penyebabnya adalah faktor personelnya, maka dari itu motivasi dari para pegawai sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja yang baik. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana gambaran tentang budaya organisasi pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang, (2) Bagaimana gambaran tentang kinerja pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang, dan (3) Bagaimanakah hubungan antara budaya organisasi dengan kinerja pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang. Penelitian ini mendeskripsikan dan menginterprestasikan data tentang budaya organisasi terhadap kinerja pelayanan pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitaif dengan rancangan non eksperimen. Pada penelitian ini populasinya adalah pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang yang berjumlah 87 pegawai. Dalam penelitian ini dari populasi tersebut diambil sampel sebanyak 42 pegawai. Penelitian ini menggunakan instrument yang berupa angket atau kuisioner, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase dengan menggunakan program komputer SPSS For Windows Release 15. Hasil penelitian menunjukkan masing-masing nilai r hitung dari variabel budaya organisasi dan kinerja pegawai yaitu sebesar 0.384. r hitung 0.384 > r tabel 0.012 dan nilai sig 0.000 < alpha 0.05 dijelaskan H ditolak yang artinya ada hubungan antara varibel budaya organisasi dengan kinerja pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang dan mempunyai nilai hubungan keeratan sebesar 61.6% (100% - 38.4%). Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara budaya organisasi dengan kinerja pegawai perpustakaan Universitas Negeri Malang dengan tingkat keeratan sebesar 61.6%. Kesimpulan penelitian adalah ada hubungan yang signifikan antara Budaya Organisasi dan kinerja pegawai pada perpustakaan Universitas Negeri Malang. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil korelasi koefisien product moment yaitu 0.384. Saran dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagi Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang sebagai bahan informasi dan pertimbangan untuk meningkatkan motivasi dalam bekerja yang berguna dalam peningkatan kualitas dan prestasi kerja pegawai, 2) Pegawai atau Karyawan disarankan untuk meningkatkan kerja serta mengetahui kemampuan yang dimilki untuk bisa dikembangkan, dan 3) Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UM sebagai bahan informasi yang bermanfaat bagi mahasiswa jurusan administrasi pendidikan dalam rangka untuk memperdalam ilmu administrasi secara umum.

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pelajaran geografi siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 8 Malang / Yanin Karuniasih

 

Kata Kunci: Problem Based Learning, kemampuan memecahkan masalah Penerapan sebuah model pembelajaran harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan mengkonstruk sendiri perolehan belajarnya. Kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa proses pembelajaran Geografi masih didominasi oleh pandangan yang menempatkan pengetahuan sebagai fakta yang harus dihafal, dengan sumber belajar yang hanya mengacu pada buku teks dan LKS. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Geografi kelas XI IPS 2 serta pengalaman PPL yang telah dilakukan, permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran adalah rendahnya kemampuan memecahkan masalah pada siswa yaitu hanya mencapai ketuntasan sebesar 18%. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada pelajaran Geografi dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kemampuan memecahkan masalah pelajaran Geografi siswa kelas XI IPS 2 yang sebelum diberikan tindakan hanya mencapai ketuntasan 18% meningkat menjadi 64,7% pada Siklus I dan meningkat kembali menjadi 88,2% pada Siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan kemampuan memecahkan masalah pelajaran Geografi setelah diterapkan pembelajaran model Problem Based Learning .

Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer interaktif (program macromedia flash MX) pada mata pelajaran IPS sekolah dasar kelas V di SDI Dewi Masyitoh Gondanglegi Malang / Chilmiatus Silfiyah

 

Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Warujayeng 3 Kec. Tanjunganom Kab. Nganjuk / Aji Phaqsi Wisnu Wardhana

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Teams Games Tournament, TGT, Hasil Belajar IPS IPS merupakan mata pelajaran dengan struktur isi yang terdiri atas fakta, konsep, dan generalisasi. Oleh karena itu, dibutuhkan metode yang tepat agar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran. Metode belajar yang tepat akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat memunculkan kerjasama dan kompetisi yang dikemas dalam permainan akademik sehingga siswa yang mampu dalam bidang akademik dapat membantu siswa lain sehingga dapat belajar sama baiknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT dan hasil belajar siswa setelah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang diterapkan melalui 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Warujayeng 3 Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk mulai tanggal 11 Februari 2013 sampai 11 Maret 2013. Selama penelitian siklus I dan siklus II berlangsung banyak terjadi peningkatan pada proses belajar siswa kelas V yang berjumlah 32 orang. Pada siklus I masih terlihat ada beberapa siswa yang mendominasi dan siswa yang lain pasif, selain itu sebagian besar siswa juga belum berani bertanya jika tidak memahami materi pelajaran. Sedangkan pada siklus II siswa menjadi lebih aktif dalam berdiskusi dan berani bertanya pada guru ketika mereka kurang memahami materi yang disampaikan. Hasil belajar pada siklus I dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT mengalami peningkatan dari hasil belajar pada tindakan pra penelitian dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil belajar siklus I adalah 80,1% meningkat 22.8% dari hasil hasil belajar tindakan pra penelitian yang hanya 57,3%. Jika dilihat dari nilai rata-rata kelas sudah jauh diatas KKM, namun hasil belajar individu masih ada siswa yang nilainya dibawah 70. Sedangkan hasil belajar pada siklus II mencapai 81,7%, meningkat 24,4% dari tindakan pra penelitian dan meningkat 1,6% dari siklus I. Secara keseluruhan hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan dan mencapai target sesuai dengan yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) dapat meningkatkan proses belajar dan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Warujayeng 3. Dari hasil penelitian ini guru disarankan untuk menerapkan tipe pembelajaran TGT di kelas guna meningkatkan hasil belajar siswa.

Budaya akademik di Madrasa Tsanawiyah Negeri Puncu Kabupaten Kediri / Doni Muslimin

 

Muslimin, Doni. 2014. Budaya Akademik di Madrasah Tsanawiyah Negeri Puncu Kediri. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Maisyaroh, M.Pd (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd Kata kunci: budaya akademik, madrasah tsanawiyah negeri.           Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas manusia. Salah satu unsur yang menjadi pendidikan lebih bermutu, adalah budaya akademik. Untuk mencapai tujuan tersebut lembaga, pendidikan khususnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Puncu Kediri, haruslah memiliki budaya akademik yang mencakup keadaan secara keseluruhan dari madrasah, sehingga dapat menjadi madrasah yang berkualitas. Berkaitan dengan itu, diperlukan penelitian mengenai budaya akademik yang ada di MTsN Puncu Kediri agar dapat bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia.          Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripiskan: (1) budaya akademik di MTsN Puncu Kediri, yang mencakup (a) budaya akademik oleh guru, (b) budaya akademik oleh siswa di MTsN Puncu Kediri, dan (c) pembelajaran di MTsN Puncu Kediri, dan (2) faktor penghambat dan upaya penanggulangannya dalam membangun budaya akademik di MTs Negeri Puncu Kediri.          Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi penelitian ini adalah di MTsN Puncu Kediri. Alasan peneliti memilih madrasah ini dikarenakan budaya akademik yang ada di madrasah ini cukup banyak dan ada beberapa budaya yang di madrasah/sekolah lain belum dilaksanakan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk memperoleh data didapat dari informan dalam berbagai bentuk seperti catatan tertulis, dan foto. Informan kunci dalam penelitian ini terdiri atas: Kepala MTsN Puncu Kediri, guru, dan siswa.          Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, budaya akademik yang ada di MTsN Puncu Kediri dengan nilai-nilai budaya akademik secara umum meliputi (1) nilai-nilai kedisiplinan akademik, (2) nilai-nilai kejujuran, (3) nilai-nilai keagamaan, (4) nilai-nilai penghargaan/reward bagi warga madrasah yang berprestasi; (5) nilai-nilai kegemaran membaca, dan (6) nilai-nilai motivasi belajar. Dari budaya akademik secara umum di MTsN Puncu Kediri dibagi menjadi sub bagian yang mencakup (a) budaya akademik oleh guru; dan (b) budaya akademik oleh siswa. Faktor penghambat dan penanggulangannya dalam membangun budaya akademik di MTsN Puncu Kediri. Faktor penghambat dalam tata tertib meliputi masih ada siswa yang datang terlambat dengan penanggulangannya diberikan sanksi sesuai kartu pelanggaran siswa dan siswa laki-laki yang rambutnya panjang/gondrong dan penanggulangannya adalah untuk masalah tata tertib mengenai rambut gondrong ini satu minggu sebelum sidak sudah diinformasikan kepada para siswa yang rambutnya panjang dimohon untuk dipotong dan dirapikan. Apabila pada saat sidak masih tetap gondrong, maka ya harus kena popolan. Setiap siswa yang melanggar tata tertib akan dicatat di kartu pelanggaran siswa. Hambatan dalam Kegiatan Belajar Mengajar di MTsN Puncu Kediri masih ada siswa yang tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi dan penanggulangannya di beri hukuman untuk mengerjakan tugas atau menjelaskan suatu materi yang guru jelaskan sebelumnya.          Peneliti memberikan saran kepada: (1) Kepala MTs Negeri Puncu Kediri, budaya akademik di MTsN Puncu Kediri sudah sangat baik, hendaknya lebih dipertahankan seperti nilai kedisiplinan, nilai kejujuran dan nilai kegemaran membaca yang selalu diterapkan sebagai kebiasaan sehari-hari di madrasah. (2) Guru MTsN Puncu Kediri, budaya akademik oleh guru sudah sangat bagus, hendaknya tetap mempertahankan budaya akademik di madrasah melalui budaya baca, kegiatan diskusi antar guru, dan selalu mencari ilmu setingi-tingginya. (3) Siswa MTsN Puncu Kediri, dalam budaya akademik siswa sudah cukup bagus tapi masih ada beberapa siswa yang tidak menaati tata tertib sehingga dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar, hendaknya siswa lebih meningkatkan kedisiplinan akademik agar kedepannya lebih baik lagi seperti dengan menaatai tata tertib dan lebih giat dalam belajar.

Pengaruh lokalisasi terhadap perkembangan moral remaja di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk / Nuning Indah Kurnia

 

Kurnia, Nuning Indah. 2014. Keberadaan Lokalisasi dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Moral Remaja di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Skripsi. Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Nur Hadi, M.Pd, M.Si. Pembimbing (2) Dr. Latif Bustami, M. Si Kata Kunci: Lokalisasi, pengaruh, perkembangan, moral remaja Di Kelurahan Guyangan Kecamatan Bagor terdapat lokalisasi Guyangan. Lokalisasi Guyangan menjadi tempat penting untuk bekerja baik wanita tunasusila maupun masyarakat sekitar lokalisasi tersebut. Adanya lokalisasi ini memberikan pengaruh bagi PSK dan masyarakat sekitar yaitu lapangan pekerjaan baru, kejahatan (minuman keras, pembunuhan), menurunnya nilai moral masyarakat terutama para remaja. Tujuan dari penelitan ini adalah (1), untuk mendeskripsikan pergaulan anak remaja di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. (2), untuk mendeskripsikan peran orang tua dalam pembinaan perkembangan moral anak remaja di Kelurahan Guyangan. (3), untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh dari adanya tempat prostitusi terhadap perkembangan moral anak remaja di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian ini di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah kepala Kelurahan Guyangan, perangkat komplek lokalisasi, warga masyarakat Kelurahan Guyangan, germo, PSK lokalisasi dan remaja di komplek lokalisasi. Prosedur analisis data dengan prosedur reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa: (1), pergaulan anak-anak remaja di Kelurahan Guyangan masih tergolong normal selayaknya anak-anak remaja di luar komplek. Hal ini dikarenakan ketatnya pengawasan baik dari orang tua maupun dari pihak keamanan yang ada di dalam komplek. (2), para germo atau mucikari di lokalisasi ini banyak yang mempunyai anak yang berusia remaja. Sedangkan cara mereka untuk meminimalkan pengaruh yang kurang baik bagi anak-anak mereka adalah dengan cara memisahkan tempat tinggal antara keluarga dengan para PSK yang menyewa kamar atau rumah mereka, penanaman ajaran agama sejak kecil, serta melibatkan pengawasan dari pihak sekolah. (3), pengaruh dari keberadaan lokalisasi ini lebih cepat menyebar kepada remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki. Remaja-remaja perempuan yang baru menginjak usia remaja sudah pandai berdandan dan berpakaian selayaknya orang dewasa dikarenakan mengidentifikasi apa yang dilihat dari lingkungannya. Bagi peneliti, berikutnya terkait dengan keberadaan lokalisasi dan pengaruhnya terhadap moral remaja agar orang tua lebih memperhatikan pergaulan anak terlebih bila mempunyai anak remaja perempuan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |