Pengaruh persepsi mengenai jurusan dan aspirasi karir terhadap motivasi belajar dan dampaknya terhadap prestasi siswa kelas III SMK PGRI 6 Malang / Santi Mei Wulandari

 

Persepsi mengenai jurusan sangatlah penting karena mempengaruhi pandangan seorang siswa terhadap jurusan yang dimasukinya. Persepsi mengenai jurusan yang baik menjadikan siswa akan lebih termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya di sekolah. Selain adanya persepsi mengenai jurusan setiap siswa mempunyai aspirasi karir yang berbeda-beda. Hal ini terkait dengan saat siswa mengambil keputusan memilih suatu jurusan di SMK. Tentunya juga didasari dengan prospek kerja yang akan dijalaninya kelak. Kedua hal inilah yang nantinya akan berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa yang pada akhirnya berdampak pada prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh persepsi mengenai jurusan terhadap motivasi belajar siswa, (2) pengaruh aspirasi karir terhadap prestasi belajar siswa, (3) pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa, (4) pengaruh tidak langsung persepsi mengenai jurusan dan aspirasi karir terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian sampel yang dilakukan pada 114 siswa kelas III SMK PGRI 6 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi mengenai jurusan dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,293, (2) aspirasi karir siswa berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,287, (3) motivasi belajar siswa dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,341, (4) persepsi mengenai jurusan dan aspirasi karir siswa berpengaruh pada prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa sebesar 0,921 Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah: (1) guru mampu memberikan penjelasan secara jelas tentang jurusan yang dimasuki siswa agar siswa memiliki persepsi yang positif sehingga siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai., (2) guru diharapkan bisa memberikan penjelasan pekerjaan yang cocok dengan jurusan yang dipilihnya harapannya setelah siswa mengetahui pekerjaan yang cocok dengan jurusan yang dipilihnya maka siswa akan selalu termotivasi untuk belajar, dan (3) siswa diharapkan selalu meningkatkan motivasi belajarnya karena motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan prestasi belajar. Selain itu, siswa hendaknya selalu memiliki persepsi yang positif mengenai jurusan yang telah dipilihnya serta siswa mempunyai aspirasi karir yang baik pula agar dapat selalu merasa menyenangkan melalui proses belajar mengajar sekolah sehingga prestasi belajar dapat tercapai secara optimal, (4) Bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas, misalnya: latar belakang sosial ekonomi, lingkungan sosial siswa, atau minat siswa sehingga dapat mengungkapkan lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil dari temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Perlindungan hukum bagi konsumen voucher isi ulang elektrik kartu GSM prabayar atas keterlambatan dan kegagalan pengiriman pulsa oleh operator seluler (Studi di PT Indosat Tbk Cabang Malang) / Ahmat Asta Achir

 

ABSTRAK Akhir, Achmad Asta. 2009. Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Voucher Isi Ulang Elektrik Kartu (GSM) Prabayar atas Keterlambatan dan Kegagalan Pengiriman Pulsa oleh Operator Seluler studi di PT Indosat Cabang Malang. Skripsi, Jurusan PPKn, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Edi Suhartono, SH, M.Pd, (II) Rusdianto Umar, SH, M.Hum Kata kunci: perlindungan hukum, konsumen, voucher elektrik (GSM) Bagi pelanggan yang membeli voucher jenis elektrik, sering kali terjadi kesalahan dari penjual maupun operator seluler yang kadang kala sangat merugikan. Dari segi harga voucher isi ulang elektrik jauh lebih murah dibandingkan isi ulang jenis fisik. Tetapi sering kali terjadi keterlambatan dan kegagalan pengiriman pulsa. Tentu saja hal ini dirasa sangat merugikan konsumen. Dan biasanya pihak penjual seakan-akan lepas tangan dari tanggung jawab mereka.Pulsa dari voucher elektrik tersebut bisa sampai pada pembeli dalam hitungan menit. Tetapi yang sering terjadi adalah adanya gangguan pada provider atau jaringan operator seluler bersangkutan yang mengeluarkan voucher isi ulang jenis elektrik tersebut. Sehingga sering kali terjadi keterlambatan bahkan kegagalan pengiriman pulsa. Secara tidak langsung kita bisa menuntut tanggung jawab dari pihak penjual, karena hal tersebut terjadi karena kesalahan mesin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggung jawab, perlindungan hukum, yang diberikan oleh operator selular maupun penjual voucher elektrik terhadap konsumen voucher isi ulang elektrik, serta mengetahui upaya-upaya apa yang akan dilakukanakn konsumen apabila mengalami keterlambatan dan kegagalan pengiriman pulsa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan yuridis sosiologis yaitu dengan meninjau pada peraturan yang ada yaitu pada pasal 1233 KUH Perdata tentang perikatan, kemudian dihubungkan dengan kenyataan yang sering terjadi didalam masyarakat kota Malang. Lokasi atau tempat penelitian ini adalah PT Indosat Tbk cabang Malang. Data penelitian ini di peroleh dari pihak yang terkait yang dikumpulkan dengan memanfaatkan tekhnik pegumpulan data sebagai serikut: observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun temuan data dan pembahasan dari penelitian pada perlindungan hokum konsumen voucher isi ulang elektrik kartu GSM Prabayar atasa keterlambatan dan kegagalan pengiriman pulsa oleh operator seluler stusi di PT Indosat Tbk cabang Malang sebagai berikut: Di pasaran, konsumen melakukan pengisian ulang pada kartu GSM milik mereka dengan membeli voucher. Voucher adalah tanda peneriman atau surat bukti, dalam hal ini adalah bukti besarnya nominal pulsa di dalam voucher tersebut. Setiap voucer mempunyai masa berlaku yang bisa habis atau kadaluarsa i Jika kesalahan diakibatkan oleh human eror atrau kesalahan yang diakibatkan oleh tindakan manusia, maka ganti rugi akan ditanggung atau diberikan oleh pihak penjual atau counter yang melayani penjuan voucher isi ulang jenis elektrik dari PT indosat Tbk karena murni merupakan kesalannya sendiri tanpa adanya gangguan pada sistem.Konsumen bisa menutut tanggung jawab penjual atau counter tempat dia membeli voucher isi ulang elektrik tersebut. Untuk bisa mendapatkan ganti rugi, konsumen harus membawa tanda bukti yaitu nota pembelian voucher isi ulang tersebut. Pihak PT Indosat Tbk sudah menetukan dari awal, jika masalah keterlambatan dan kegagalan pengiriman pulsa tersebut terjadi, penyelesainnya adalah ganti rugi pada saat itu juga dengan melewati prosedur-prosedur khusus . menurut PT Indosat Tbk, penyelesain dengan cara tersebut dilakukan karena masalah tesebut bisa diselesaikan saat itu juga, jika memang terbukti masalah tersebut terjadi karena adanya kesalahan dari pihak mereka.

Hubungan kecerdasan adversitas dengan kecepatan studi mahasiswa program studi bimbingan dan konseling Universitas Negeri Malang / Tri Murni Setiyawati

 

Masa depan dengan berbagai kesulitan yang mengiringi merupakan tantangan yang mengkondisikan individu agar mampu bertahan dalam hidup. Keberhasilan individu tetap dapat bertahan pada kondisi sulit ditentukan oleh cara individu tersebut merespon kesulitan, yaitu mengembangkan kecerdasan adversitas. Di sisi lain, kecenderungan rendahnya kemampuan mahasiswa dalam mengatasi kesulitan menjadi alasan pentingnya mahasiswa untuk berhasil dalam studinya, guna mempersiapkan masa depan. Masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimana distribusi tingkat kecerdasan adversitas mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang? (2) Bagaimana distribusi tingkat kecepatan studi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang? (3) Apakah ada hubungan antara kecerdasan adversitas dengan kecepatan studi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang?. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008 sejumlah 744 orang. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang yang memenuhi kriteria yaitu sudah lulus dan telah mengikuti yudisium, untuk angkatan tahun 2003 sebanyak 45 orang dan 2004 sebanyak 10 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan dokumentasi. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif, dan analisis statistik korelasi nonparametris dari Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan: (1) cukup banyak (45,5%) mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling yang memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang tinggi., (2) banyak (56,4%) mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling yang lambat dalam menyelesaikan studi, (3) ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan adversitas dengan kecepatan studi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai r = -0,614 dengan nilai p = 0,000:p<0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, semakin tinggi tingkat kecerdasan adversitas, maka semakin cepat masa studi mahasiswa. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian adalah: (1) Program studi Bimbingan dan Konseling hendaknya tidak hanya memperhatikan kecerdasan dari segi akademik mahasiswa, namun juga kecerdasan yang mampu memberikan daya tahan kepada mahasiswa terhadap kesulitan atau hambatan yang muncul ketika menempuh studi melalui pemberian training atau pelatihan yang berkenaan dengan hal tersebut, (2) Hendaknya mahasiswa memiliki kemampuan berpikir, mengelola dan mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola-pola tanggapan kognitif dan perilaku atas stimulus peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan dalam menempuh studinya, sehinggga tujuan yang telah disusun untuk menyelesaikan studi tepat pada waktunya bisa terwujud, (3) Penelitian ini dilaksanakan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Oleh karena itu, bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang tertarik dengan permasalahan yang sama, bisa diusahakan untuk mengkaji masalah ini dengan jangkauan yang lebiih luas dengan menambah atau mengembangkan variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.

Pengaruh persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk / Maya Ria Hapsari

 

Potensi peserta didik terus diupayakan di dalam pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Guru merupakan komponen pendidikan dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha mengembangkan potensi peserta didik yang potensial. Melihat peranan guru yang demikian penting maka guru harus benar-benar menguasai keterampilan mengajar. Melalui keterampilan mengajar tersebut, guru dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga siswa bergairah dan tekun belajar. Timbulnya motivasi belajar di kelas salah satunya dipengaruhi oleh adanya persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru. Dengan adanya motivasi belajar tersebut, akan mendorong siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan pengaruh persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk, (2) menjelaskan pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk, (3) menjelaskan pengaruh persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar siswa, sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk, pengambilan sampel menggunakan teknik sratified proportional random sampling.Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan persentase dan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk. Pengaruh persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar ditunjukkan oleh nilai R Squere sebesar 0,565 hal ini menunjukkan sebesar 56,5% prestasi belajar dipengaruhi oleh dua variabel bebas yaitu persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar, sisanya sebesar 43,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru yang baik dan motivasi belajar yang tinggi mampu mempengaruhi prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nganjuk. Disarankan sebaiknya guru meningkatkan keterampilan mengajarnya di dalam kelas yang memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar dengan giat sehingga siswa dapat meraih prestasi belajar dengan hasil yang optimal.

Pembelajaran volume limas dan kerucut melalui pemecahan masalah realistik pada siswa kelas III SMPN 1 Lhoksukon oleh Zulkarnaini

 

Survey tentang minat siswa SMA Negeri se-Kota Lumajang terhadap ekstrakulikuler futsal / Sigit Arifianto

 

2 ABSTRAK Arifianto, Sigit. 2009. Studi tentang survey minat SMA Negeri seKota Lumajang terhadap Ekstrakurikuler Futsal. Skripsi, Program Studi Pendidikan Jasmani. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roesdiyanto, M.Kes (II) Dra. Sulistiyo Rini, m.pd Kata kunci: Ekstrakurikuler, Minat, Futsal Banyaknya SMA di Kota Lumajang , utamanya SMA Negeri yang berpartisipasi /mengikut sertakan sekolahnya dalam eveneven pertandingan vutsal antar pelajar, akan tetapi hal diatas bertolak belakang dengan tidak dicantumkan futsal sebagai salah satu Ekstrakurikuler di tiaptiap SMA, khususnya SMA Negeri di Kota Lumajang. Tujuan penelitian ini untuk mengetaui minat SMA Negeri se Kota Lumajang terhadap Ekstrakurikuler futsal. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri seKota Lumajang yang terdiri dari 3 SMA, yaitu sebanyak 880 siswa, sampel yang diambil adalah 10% dari 880 siswa yaitu sebanyak 88 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 88 siswa yang dijadikan responden di SMA Negeri seKota Lumajang, pada sub variable keinginan dengan 76% siswa berminat terhadap Ekstrakurikuler futsal, dan 24% menyatakan kurang/ tidak berminat terhadap Ekstrakurikuler futsal. Dari variable rasa suka atau senang diperoleh prosentase rasa suka atau senang sebesar74% dan 24% menyatakan kurang/ tidak berminat terhadap Ekstrakurikuler futsal,sedangkan dari variable ketertarikan diperoleh respon dengan prosentase rasa ketertarikan terhadap Ekstrakurikuler futsal sebesar 76% dan siswa yang kurang / tidak berminat terhadap Ekstrakurikuler futsal sebesar 24% Berdasar hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMA Negeri di Kota Lumajang berminat terhadap Ekstrakurikuler futsal. Peneliti menyarankan agar (1) Perlu hendaknya di Kota Lumajang utamanya di SMANegeri di Kota Lumajang yang dijadikan obyek penelitian, untuk menjadikan permainan futsal sebagai salah satu ektrakurikuler yang diselenggarakan sekolah selain Ekstrakurikuler yang lain (2) Untuk meningkatkan pengetahuan siswa khususnya tentang Ekstrakurikuler futsal, maka diharapkan setiap sekolah di SMA Negeri seKota Lumajang dapat memberikan materi tentang Ekstrakurikuler futsal kepada siswa, sehingga siswa dapat lebih mengetahui tentang Ekstrakurikuler futsal, serta dapat lebih mengembangkan bakatnya di bidang tersebut.(3). Dari hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam mengembangkan minat siswa terhadap ektrakurikuler futsal.(4). Untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan menambah variable dan indicator pertanyaan sampel penelitian

Pengaruh variasi kuat medan magnet terhadap kebisingan mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar / Yudiono

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan variasi kuat medan magnet terhadap kebisingan mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar. Variasi kuat medan magnet yang diujicobakan yaitu 0,122 Tesla, 0,245 Tesla, dan 0,368 Tesla pada putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Penelitian untuk mengetahui kebisingan mesin yang dihasilkan ini dilakukan di laboratorium motor bakar Universitas Brawijaya Malang dengan menggunakan alat sound level meter. Penelitan ini merupakan penelitian eksperimental. Menggunakan analisis anava satu jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kebisingan mesin yang dihasilkan tanpa medan magnet dan dengan medan magnet 0,122 Tesla, 0,245 Tesla, dan 0,368 Tesla pada berbagai putaran mesin, dengan taraf signifikansi 1%. Rata-rata kebisingan mesin tertinggi diperoleh pada putaran mesin 2500 rpm sebesar 97,088 dB dan rata-rata kebisingan mesin terendah diperoleh pada putaran mesin 1300 rpm sebesar 87,713 dB. Kebisingan mesin tertinggi diperoleh bukan dengan medan magnet yang terbesar tetapi dengan medan magnet 0,245 Tesla. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variasi kuat medan magnet pada berbagai putaran mesin berpengaruh nyata terhadap kebisingan mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar.

Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Gadang 1 Kecamatan Sukun Kota Malang / Santi Widiastuti

 

Efektivitas koperasi sekolah sebagai wadah laboratorium siswa dakm berwirauhasa di SMK Ardjuna 01 Malang tahun 2008 / Maya Rohmananda Trisnawati

 

ABSTRAK Trismawati, Rohmananda Maya. 2008. Efektivitas Koperasi Sekolah sebagai Wadah Laboratorium Siswa dalam Berwirausaha Di SMK Ardjuna Malang Tahun 2008. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. J.G Nirbito, M.Pd, Pembimbing (II) Drs. H. Achmad Ali Wafa. Kata Kunci: Koperasi Sekolah, Laboratorium, Wirausaha SMK Ardjuna 01 Malang sebagai sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan melakukan peningkatan pembelajaran melalui pengadaan sarana dan prasarana pendidikan. Ilmu pengetahuan sosial sebagai bagian dari pembelajaran sekolah dapat ditingkatkan melalui pengadaan koperasi sekolah. Koperasi sekolah merupakan salah satu sarana prasarana yang disediakan oleh sekolah. Dengan adanya koperasi sekolah ini siswa diharapkan dapat belajar berwirausaha. Tapi permasalahannya koperasi sekolah ini efektif atau tidak sebagai wadah siswa untuk belajar berwirausaha. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif kualitatif untuk mengetahui efektivitas koperasi sekolah sebagai wadah laboratorium siswa dalam berwirausaha. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK Ardjuna 01 Malang tahun 2008. Pengambilan sampel dilakukan secara random, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian diketahui bahwa: (1) Keberadaan koperasi sekolah di SMK Ardjuna 01 Malang sangat penting bukan hanya bagi siswa tetapi bagi semua warga sekolah SMK Ardjuna 01 Malang. (2) Keterampilan berwirausaha siswa SMK Ardjuna 01 Malang sudah efektif. (3) Koperasi sekolah SMK Ardjuna 01 Malang menyatakan bahwa koperasi sekolah tersebut cukup efektif sebagai wadah laboratorium siswa dalam berwirausaha. Dari paparan data dan temuan penelitian dapat diberikan saran bahwa: (1) Bagi Kepala Sekolah SMK Ardjuna 01 Malang diharapkan untuk selalu meningkatkan pengelolaan koperasi sekolah di SMK Ardjuna 01 Malang, seperti penambahan fasilitas di koperasi sekolah. Peningkatan tersebut diharapkan dapat merangsang minat siswa untuk belajar berwirausaha sehingga siswa dapat lebih mandiri, (2) Guru Pembina Koperasi Sekolah SMK Ardjuna 01 Malang untuk lebih meningkatkan lagi pembelajaran-pembelajaran koperasi dan kewirausahaan terhadap siswa, seperti rasa memiliki koperasi, pembukuan. Agar siswa mampu berkompetensi dan atau bersaing dengan para siswa lain, agar mereka akhirnya lulus dan dapat bersaing dengan dunia luar yang semakin kompetitif, (3) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian pada pokok bahasan materi koperasi sekolah dan kewirausahaan yang ada di dalam kelas dan penerapannya di dalam koperasi sekolah. Sehingga dapat mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh. Dan dalam penelitian menggunakan teknik observasi sehingga data yang didapatkan bisa maksimal.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia untuk meningkatkan prestasi belajar sistem pengapian sepeda motor di kelas X SMKN 9 Cemorokandang Malang / By Habsi Al Farisi

 

By Habsi Al Farisi. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Sistem Pengapian Sepeda Motor di Kelas X SMKN 9 Cemorokandang Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd. (II) Drs. Pryono, S.T, M.T. Kata Kunci: Media Pembelajaran, Prestasi Belajar, Sistem Pengapian Sepeda Motor     Dalam proses belajar-mengajar media pembelajaran mempunyai peranan yang cukup penting yaitu sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran bagi guru. Untuk itu guru dituntut harus mempunyai media pembelajaran yang dapat menarik minat siswa dalam belajar. Karena selama ini proses pembelajaran pada siswa kelas X SMKN 9 Cemorokandang, dimana guru dalam menyampaikan materi masih menggunakan metode konvensional, sehingga siswa tidak dapat memahami semua materi yang diajarkan oleh guru dikarenakan kurangnya guru dalam memanfaatkan metode pembelajaran yang unik.     Tujuan penelitian ini adalah untuk pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia dalam meningkatkan prestasi belajar sistem pengapian sepeda motor siswa kelas X SMKN 9 Cemorokandang Malang.     Metode penelitian yang digunakan adalah metode pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini menggunakan model pengem-bangan menurut Sadiman, perancangan media pembelajaran melalui: (1) mengana-lisis kebutuhan; (2) merumuskan tujuan pembelajaran; (3) merumuskan butir-butir materi; (4) menyusun instrumen evaluasi; (5) menulis naskah media; (6) produksi produk media pembelajaran; (7) validasi ahli; (8) uji coba produk; (9) revisi; 10) hasil produk.     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa validasi materi, diperoleh persentase 68.75% dan tanggapan yang diberikan ahli media pada instrumen angket cukup layak, tetapi ada bagian yang perlu direvisi atas produknya. Dari ahli materi, dengan persentase kevalidannya mencapai 83.33% dan tanggapan yang diberikan ahli media pada instrumen angket kemudian ditindak lanjuti pada bagian revisi produk.Artinya bahwa media pembelajaran berbasis multimedia tersebut valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar. Dari siswa/audiens perseorangan, dengan hasil 91.98%, Maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis multimedia untuk meningkatkan prestasi belajar sistem pengapian sepeda motor valid/layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Penerapan hands on activity dan metode example non example dalam pembelajaran sel dan jaringan tumbuhan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di SMA Diponegoro Tumpang / Dyah Anggraeni

 

ABSTRAK Anggraeni, Dyah. 2008. Penerapan Hands On Activity Dan Metode Example Non Example Dalam Pembelajaran Sel dan Jaringan Tumbuhan untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa di SMA Diponegoro Tumpang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. (II) Dr. Agr. Moch Amin S.Pd., M.Si. Kata kunci: aktivitas, hands on activity, hasil belajar, metode example non example. Berdasarkan hasil observasi di SMA Diponegoro Tumpang, dapat diketahui bahwa kondisi siswa SMA Diponegoro Tumpang kurang menyukai pelajaran Biologi. Mereka berpendapat bahwa pelajaran Biologi cenderung lebih menghafal dan metode pembelajaran yang sering digunakan adalah ceramah dan metode tanya-jawab, sehingga menimbulkan kebosanan. Kebosanan ini timbul karena siswa kurang berperan aktif dalam proses belajar mengajar sehingga berdampak terhadap hasil belajar Biologi. Berdasarkan kondisi tersebut dilakukan penelitian dengan tujuan untuk (1) mengetahui apakah pembelajaran biologi dengan menerapkan hands on activity dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI SMA Diponegoro Tumpang (2) mengetahui apakah pembelajaran biologi dengan menerapkan hands on activity dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA Diponegoro Tumpang (3) mengetahui apakah pembelajaran biologi dengan menerapkan metode example non example dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI SMA Diponegoro Tumpang (4)mengetahui apakah pembelajaran biologi dengan menerapkan metode example non example dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA Diponegoro Tumpang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis kualitatif-kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) aktivitas belajar siswa setelah mengikuti kegiatan hands on activity mengalami peningkatan dari siklus I ke II. Secara berturut-turut skor klasikal siklus I dan II adalah 75,92% dan 83,32%, 2) hasil belajar kognitif siswa yang diukur dengan persentase ketuntasan belajar klasikal mengalami peningkatan dari siklus I ke II. Secara berturut-turut persentase ketuntasan belajar klasikal siklus I dan II adalah 77,14% dan 85,71%. 3) hasil belajar ranah afektif siswa yang diukur dengan ratarata nilai mengalami peningkatan dari siklus I ke II. Secara berturut-turut rata-rata nilai siklus I dan II adalah 86,42% dan 88,42%. Hasil belajar ranah psikomotor yang diukur dengan rata-rata nilai klasikal mengalami peningkatan. Secara berturut-turut siklus I dan II adalah 84,08% dan 86,66%. 3) aktivitas belajar siswa setelah mengikuti metode example non example mengalami peningkatan dari siklus I ke II. Secara berturut-turut skor klasikal siklus I dan II adalah 77,77% dan 89,81%, Penerapan hands on activity dan metode example non example dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dalam hal ini hands on activity merupakan stimulus bagi siswa untuk aktif selama proses 1 pembelajaran. Respons siswa ditunjukkan oleh meningkatnya aktivitas dan hasil belajar siswa. Selama mengikuti kegiatan hands on activity siswa bekerja secara langsung dengan melakukan dan mengamati sendiri. Menurut Dale semakin konkrit informasi yang diterima maka akan semakin besar kemungkinan untuk diserap oleh penerima informasi. Sehingga dengan hands on activity maka informasi yang diterima oleh siswa akan menjadi ingatan yang setia dan tidak mudah terlupakan. Metode example non example adalah taktik untuk mengajarkan konsep, metode ini memicu siswa untuk aktif selama PBM yaitu dengan turut aktif dalam mengklasifikasikan contoh dan non-contoh. Hasil belajar yang dapat diukur melalui metode example non example adalah penguasaan konsep oleh siswa yang ditandai dengan kemampuan dalam memberikan atribut dari suatu konsep. Penerapan hands on activity dan metode example non example ini dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Diponegoro Tumpang, amun pada pelaksanaan pembelajaran, guru harus dapat mengelola kelas secara merata sehingga seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama dan akhirnya dapat meningkatkan indikator aktivitas dan hasil belajar yang belum maksimal.

Perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media komputer dan paket belajar dalam mata pelajaran TIK siswa SMP Negeri 01 Pasuruan / Diah Wika Adi Kinanti

 

ABSTRAK Kinanti, Diah Wika Adi. 2009. Perbedaan Hasil Belajar Siswa yang Menggunakan Media Komputer dan Buku Paket Belajar dalam Mata Pelajaran TIK Siswa SMP Negeri 01 Pasuruan. Skripsi. Program Studi Teknologi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Zainul Abidin, M.Pd; (2) Drs. Joseph Mbulu, M.Pd. Kata Kunci: Perbedaan, hasil belajar, penggunaan, media komputer, Teknologi Informasi dan Komunikasi, buku paket Perkembangan bidang teknologi yang semakin maju menuntut pendidik untuk mengajarkan teknologi yang sedang berkembang kepada siswanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.(TIK). Dengan masuknya pelajaran TIK dalam kurikulum baru maka peranan komputer sebagai salah satu komponen dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran. Pada pembelajaran TIK sangat diperlukan adanya praktek secara langsung (praktikum dengan menggunakan komputer) untuk memberi pengalaman secara nyata kepada siswa tentang materi yang dipelajari bukan hanya mempelajari dan mengerjakan tugas yang ada di buku paket saja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media komputer dan paket belajar pada pelajaran TIK di kelas VII SMP Negeri 01 Pasuruan. Penelitian ini digolongkan ke dalam eksperimen semu (quasi experiment). Eksperimen semu digunakan karena peneliti tidak dapat melakukan kontrol terhadap seluruh variabel terkait dengan pemilihan subjek yang tidak dilakukan secara individual, tetapi secara kelompok yang diduga dapat berpengaruh terhadap hasil belajar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian post-test only control design. Pada penelitian ini menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok eksperimen diberi perlakuan yaitu pembelajaran dengan praktek langsung menggunakan komputer, sedangkan kelompok kontrol menggunakan pembelajaran dengan menggunakan paket belajar. Berdasarkan perhitungan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan uji t didapati mean kelas eksperimen sebesar 79,1875 dan kuadrat deviasi sebesar 3802,876813 sedangkan mean kelas kontrol sebesar 65,15625 dan kuadrat deviasi sebesar 4190,218774 sehingga didapat hasil t hitung > t tabel yaitu 4,943 > 1,661 pada taraf signifikasi 0,05. Hal ini berarti H0 diterima yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan media komputer berbeda dibandingkan hasil belajar siswa yang menggunakan buku paket pada pelajaran TIK di kelas VII SMP Negeri 01 Pasuruan. Selain itu adanya selisih nilai tes hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 14,03125. Jadi selisih hasil belajar siswa yang menggunakan media komputer dan buku paket sebesar 14,03125. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan media komputer berbeda dibandingkan hasil belajar siswa yang menggunakan paket belajar pada pelajaran TIK di kelas VII SMP Negeri 01 Pasuruan. Pembelajaran dengan praktek langsung menggunakan komputer secara signifikan berbeda perolehan hasil belajarnya dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan buku paket. Oleh sebab itu, pembelajaran dengan praktek langsung menggunakan komputer penting untuk diterapkan dalam pembelajaran TIK sebagai upaya untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan guru untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan komputer sebagai salah satu media pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa guna memperbaiki mutu pembelajaran TIK SMP.

Studi kemampuan infeksi sugarcane streak mosaik virus (SCSMV) terhadap beberapa jenis gulma di perkebunan tebu (Saccharum officinarum L.) berdasarkan gejala mosaik berbasis pada daun / Tata Taqiyatuz Zahra

 

ABSTRAK Zahra, Tata Taqiyatuz. 2009. Studi Kemampuan Infeksi Sugarcane streak mosaik virus (SCSMV) Terhadap Beberapa Jenis Gulma di Perkebunan Tebu (Saccharum officinarum L.) Berdasarkan Gejala mosaik Bergaris pada Daun. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Ari Kristini, SP, MPlantProt. Kata kunci: SCSMV, gejala mosaik bergaris, tanaman gulma Tebu merupakan salah satu komoditi pertanian utama Indonesia. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi karena tanaman ini menghasilkan gula yang banyak diperlukan orang. Peningkatan kebutuhan gula harus diimbangi dengan peningkatan produksi dan kualitas gula. Produksi gula dapat turun jika tanaman tebu terserang penyakit atau hama tertentu pada lahan perkebunan tebu. Salah satu penyakit yang dapat menurunkan kadar gula dalam tebu adalah penyakit mosaik yang disebabkan oleh Sugarcane mosaik virus (SCMV) dan Sugarcane streak mosaik virus (SCSMV). Penyebaran virus ini dapat diperantarai oleh serangga. Serangga sering memanfaatkan gulma sebagai inang alternatif, maka tanaman gulma juga dapat terserang oleh SCSMV melalui serangga sebagai vektor virus tersebut. Sehubungan dengan hal itu maka ada kemungkinan bahwa SCSMV dapat menginfeksi tanaman-tanaman gulma tersebut. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui: 1) apakah SCSMV dapat menginfeksi gulma Imperata cylindrica, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum dan Echinochloa sp. 2) ada atau tidaknya pengaruh infeksi SCSMV terhadap gulma Imperata cylindrica, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum dan Echinochloa sp. berdasarkan gejala mosaik bergaris pada daun 3) ada atau tidak adanya perbedaan daya infeksi SCSMV terhadap gulma Imperata cylindrica, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum dan Echinochloa sp. berdasarkan gejala mosaik bergaris pada daun. Jenis penelitian ini ialah penelitian observasional dengan pendekatan eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Peneliti-an ini dilakukan selama bulan Juni-November 2008 di rumah kaca Kelti Proteksi Tanaman P3GI Pasuruan. Metode inokulasi virus yang digunakan ialah metode scrubbing dengan cara menggosokkan kain sabut yang telah dicelupkan kedalam larutan inokulum SCSMV pada daun tanaman gulma yang diteliti. Pengamatan gejala dan pengambilan data dilakukan salama 1 bulan setelah perlakuan infeksi. Analisis data menggunakan anava tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) SCSMV dapat menginfeksi gulma Imperata cylindrica, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum dan Echinochloa sp. 2) secara statistik tidak ada pengaruh nyata infeksi SCSMV terhadap gulma Imperata cylindrica, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum dan Echinochloa sp. berdasarkan gejala mosaik bergaris pada daun. 3 berdasarkan muncul tidaknya gejala mosaik bergaris pada daun ada perbedaan daya infeksi SCSMV terhadap gulma Imperata cylindrica, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum dan Echinochloa sp.

Transformasi pertunjukan kesenian jemblung "Putra Budaya" di susun kemuning Kelurahan Lirboyo Kecamatan Mojokerto Kota Kediri / Mokhamad Syaiful Ali

 

ABSTRAK Ali, Mokhamad Syaiful. 2008. Transformasi Pertunjukan Kesenian Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Skripsi. Jurusan Sejarah. Program Studi Pendidikan Sejarah. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Nurhadi, M.Pd, M.Si, (2) Waskito, S.Sos, M.Hum. Kata Kunci : Transformasi, Pertunjukan, Kesenian Jemblung. Kesenian Jemblung merupakan salah satu seni teater tradisional. Seni Jemblung adalah seni bertutur yang dipentaskan dengan menggunakan alat instrumen kendhang, ketipung, terbang dan jidor. Transformasi dalam penelitian ini dideskripsikan sebagai perubahan bentuk, yaitu perubahan suatu bentuk dari yang asli ke bentuk yang baru. Pertunjukan diartikan sebagai tontonan suatu kesenian yang dipentaskan dan dapat dilihat oleh berbagai kalangan orang banyak. Melalui pementasan Jemblung “Putra Budaya”, maka dapat dilihat adanya transformasi yang terjadi dalam bentuk pertunjukannya. Hal-hal yang perlu diteliti lebih dalam mengenai transformasi pertunjukan Jemblung “Putra Budaya” adalah (1) bagaimana bentuk awal pertunjukan kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya”, (2) bagaimana bentuk pertunjukan kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya”, dan (3) bagaimana proses terjadinya transformasi kesenian Jemblung oleh kelompok Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk awal pertunjukan kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya”, (2) mendeskripsikan bentuk pertunjukan kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya”, (3) mendeskripsikan dan menganalisis proses terjadinya transformasi kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian yang berkaitan tentang gambaran pertunjukan kesenian Jemblung sebelum mengalami transformasi dan sesudah mengalami transformasi serta proses terjadinya transformasi pada kesenian Jemblung di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, diperoleh dengan cara observasi, wawancara, catatan lapangan, kajian pustaka dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa transformasi yang terjadi pada kesenian Jemblung “Putra Budaya” disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain: (1) Bentuk pertunjukan kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri sebelum mengalami transformasi sangat sederhana. Alat instrumen musik i atau gamelannya berupa, kendhang, terbang, ketipung, dan jidor. Cerita bersumber dari serat menak. Tetapi ada juga cerita yang merujuk pada Babad Tanah Jawa. (2) Bentuk pertunjukan kesenian Jemblung pada kelompok Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri sesudah transformasi telah mengalami banyak perubahan. Pada instrumen musik, ditambahkan saron, demung dan peking untuk melengkapi instrumen yang sudah ada. Sedangkan pola penyajian atau pementasannya, “Putra Budaya” menggunakan wayang kulit untuk memvisualisasikan cerita yang dimainkan. Cerita yang ditampilkan sudah tidak selalu berpatokan pada cerita menak. Cerita dari majalah-majalah dan koran kadang diambil sebagai bahan cerita dalam pertunjukannya. Pertunjukan ini membutuhkan perangkat panggung seperti gedebog dan juga diperlukan kelir sebagai wahana memainkannya. (3) Proses terjadinya transformasi kesenian Jemblung oleh kelompok Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri dimulai pada tahun 1990. Transformasi kesenian Jemblung “Putra Budaya” antara lain disebabkan oleh: faktor modernisasi dan globalisasi, faktor lingkungan, faktor penyajian yang dinilai monoton dan membosankan. Sehingga disadari akan perlunya kreasi baru yang mampu menarik minat masyarakat.

Penerapan strategi bauran pemasaran pada departemen meat and chiken divisi fresh giant hypermarket Gajayana Malang / Yuanita Yanuar Rachmad

 

Pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan penukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain, strategi bauran pemasaran atau marketing mix dibagi menjadi dua golongan yakni untuk barang dan jasa. Untuk barang, biasa kita sebut dengan 4P yaitu produk (product),harga (price), distribusi (place),dan promosi (promotion), sedangkan untuk jasa dari 4P tersebut ditambah dengan 3P yakni orang (people), proses (process), dan bukti fisik (physical evidance). Pelaksanaan strategi yang baik dan tepat akan meningkatkan omzet penjualan. Hasil penelitian dari praktik keja lapangan menunjukkan bahwa (1) Pelaksanaan strategi bauran pemasaran pada departemen meat and chicken di Giant Hypermarket Gajayana Malang meliputi strategi produk, strategi harga, strategi distribusi, dan strategi promosi penjualan. (2) Terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kegiatan bauran pemasaran pada departemen meat and chicken di Giant Hypermarket Gajayana Malang. Faktor pendukung antara lain packaging produk yang didesain menarik dengan label merek lisensi dari Australia. Giant Hypermarket melakukan comcheck (competitors checklist) sehingga dapat membandingkan harga jual Giant Hypermarket dengan competitors, dan Giant Hypermarket haruslah yang termurah. Strategi distribusi yang dilakukan adalah strategi distribusi langsung atau saluran distribusi tanpa perantara dan saluran distribusi berganda, yang bertujuan untuk dapat beinteraksi secara langsung dan mengetahui setiap kebutuhan konsumen, dan untuk memperoleh akses yang optimal pada setiap segmen. Strategi promosi yang dilakukan yakni periklanan, promosi penjualan, penjualan perseorangan melalui sales assistant. (3) Strategi yang paling efektif dilaksanakan pada departemen meat and chicken Giant Hypermarket Gajayana Malang adalah melalui promosi dari mulut ke mulut karena perusahaan retail seperti ini harus memperhatikan strategi promosinya ditengah persaingan karena demikian memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi para calon pembeli. Sedangkan untuk faktor penghambat dari kegiatan bauran pemasaran antara lain, departemen meat and chicken Giant Hypermarket mempunyai sebagian produk yang tidak 100% fresh, untuk dijual kembali melalui produk olahan, yang apabila dikonsumsi dapat membahayakan kesehatan konsumen dan juga mempunyai dampak buruk terhadap image Giant Hypermarket dimata konsumen, kelengkapan price card dan price of purchase yang kurang sehingga menghambat proses transaksi penjualan, keterlambatan datangnya produk dari supplier juga menghambat proses penjualan, produk-produk yang dipromosikan rata-rata berjangka waktu pendek dan sering terjadi kekosongan produk atau item yang dipromosikan. Saran yang diberikan penulis yakni pengelola departemen meat and chicken pada khususnya dan Giant Hypermarket pada umumnya melakukan pembenahan terhadap produk-produk yang dijual hendaknya produk yang benar-benar fresh. Pengelolaan program promosi juga harus lebih ditingkatkan salah satu cara adalah melakukan proses order produk kepada supplier jauh-jauh hari, agar ketika produk dipromosikan produk tersebut tidak kosong, sehingga konsumen tidak kecewa ketika melihat list promosi yang ada dan hendak membeli produk tersebut, hal demikian harus diutamakan agar konsumen tidak lari ke produk pesaing mengingat banyaknya pesaing di dalam usaha yang sama.

Survei tingkat kesegaran jasmani anggota Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang pengikut senam erobik / Wahyu Dwi Ari Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Wahyu, Dwi Ari. 2009. Survei Tingkat Kesegaran Jasmani Anggota Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang Pengikut Senam Erobik. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan Rekreasi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mulyani Surendra, M.S, (II) Drs. Sapto Adi, M.Kes. Kata kunci: kesegaran jasmani, sanggar kebugaran, senam erobik. Di jaman yang serba modern, penggunaan teknologi secara tidak langsung akan mengurangi tingkat kebugaran jasmani seseorang. Kebugaran sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Untuk menjaga agar seseorang tetap memiliki tingkat kebugaran jasmani yang prima, salah satu bentuk aktivitas fisik yang dapat dilakukan adalah berolahraga. Olahraga adalah salah satu kegiatan yang dapat membawa manusia untuk menyehatkan jasmani maupun rohaninya. Kegiatan olahraga dapat dilakukan dimana saja, di luar ruangan (out door) atau di dalam ruangan (in door) seperti di Fitness Center dan Sanggar Kebugaran Jasmani. Universitas Negeri Malang adalah salah satu universitas yang memiliki fasilitas olahraga yang dapat dinikmati oleh pelaku olahraga baik dari Universitas Negeri Malang khususnya atau masyarakat di sekitar kampus pada umumnya Berdasarkan salah misi yang termaktub dalam katalog FIP (2007:217) yaitu meningkatkan kesegaran jasmani anggota Sanggar Kebugaran Jasmani UM, maka Sanggar Kebugaran UM memerlukan pengukuran tentang seberapa jauh misi Sanggar Kebugaran Jasmani UM ini sudah tercapai. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesegaran jasmani anggota Sanggar Kebugaran Jasmani UM Pengikut Senam Erobik. Adapun subjek penelitian ini adalah anggota Sanggar Kebugaran Jasmani UM pengikut senam erobik yang berjumlah 25 orang. Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan instrumen tes berupa Harvard Step Up Test. Untuk mengolah data hasil tes dilakukan penghitungan dengan rumus pemulihan denyut nadi cara lambat agar mengetahui indeks kategori tingkat kesegaran jasmaninya, kemudian dimasukkan dalam bentuk persentase. Hasil penelitian anggota Sanggar Kebugaran Jasmani UM pengikut senam erobik adalah sebagai berikut: 4% anggota Sanggar Kebugaran Jasmani UM masuk dalam kategori tingkat kesegaran jasmani amat baik, 40% kategori baik, 36% kategori cukup, 16% kategori sedang dan 4% kategori kurang. Rata-rata tingkat kesegaran jasmani seluruh anggota Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang pengikut senam erobik adalah cukup. Dari hasil penelitian ini, peneliti menyarankan agar pengurus Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang memantau perkembangan tingkat kesegaran jasmani anggota Sanggar Kebugaran Jasmani UM pengikut senam erobik secara berkala untuk dilakukan tes tingkat kesegaran jasmani, sesuai dengan salah satu misi dari Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang.

Hubungan persepsi jamaah tentang kompetensi dan reputasi pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah majelis taklim ahad pagi Masjid As-Salam Malang / Rachman Hardiansyah

 

Majelis taklim adalah salah satu bentuk satuan pendidikan nonformal. Dalam keberlangsungan pengajian, sebagai bentuk kegiatan majelis taklim, tidak terlepas dengan adanya komponen-komponen pendidikan. Dalam penelitian ini komponen pendidik dan peserta didik menjadi subyek penelitian. Kompetensi dan reputasi pendidik adalah faktor-faktor yang diduga mempengaruhi tingkat antusiasme peserta didik. Oleh karena itu diadakan penelitian ada tidaknya hubungan persepsi jamaah tentang kompetensi dan reputasi pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah. Penelitian ini dilakukan di Masjid As-Salam, Jl. Bendungan Riam Kanan Malang. Penelitian bertujuan untuk (1) mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi jamaah tentang kompetensi personal-religius pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah, (2) mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi jamaah tentang kompetensi sosial-religius pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah, (3) mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi jamaah tentang kompetensi profesional-religius pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah, (4) mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi jamaah tentang reputasi pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah, (5) mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi jamaah tentang kompetensi dan reputasi pendidik majelis taklim dengan tingkat antusiasme jamaah Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian ini memakai sampel 55 orang responden, yang sumber datanya diperoleh dari jamaah majelis taklim Ahad Pagi Masjid As-Salam Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur persepsi jamaah tentang kompetensi dan reputasi pendidik dengan tingkat antusiasme jamaah. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi jamaah tentang kompetensi personal-religius pendidik dengan tingkat antusiasme jamaah, (2) tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi jamaah tentang kompetensi sosial-religius pendidik dengan tingkat antusiasme jamaah, (3) tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi jamaah tentang kompetensi profesional-religius pendidik dengan tingkat antusiasme jamaah, (4) tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi jamaah tentang reputasi pendidik dengan tingkat antusiasme jamaah, (5) tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi jamaah tentang kompetensi dan reputasi pendidik dengan tingkat antusiasme jamaah. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan adalah (1) untuk Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah disarankan untuk dalam proses pembelajaran, pendidik dapat memanfaatkan media pembelajaran semisal LCD dan laptop. Sehingga diharapkan dengan penggunaan media tersebut, antusiasme jamaah akan meningkat, (2) untuk jamaah majelis taklim disarankan untuk meningkatkan tingkat antusiasmenya lagi dan diharapkan untuk mengulangi pelajaran yang telah diperoleh di rumah masing-masing, (3) untuk peneliti selanjutnya disarankan mengembangkan ke ruang lingkup yang lebih baik dengan variabel dan sampel yang lebih luas.

Penerapan pembelajaran matematika yang berorientasi pada teori belajar Bruner untuk meningkatkan pemahaman konsep pecahan senilai siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3 Malang / Indah Yulaikah

 

ABSTRAK Yulaikah, Indah. 2008. Penerapan Pembelajaran Matematika yang Berorientasi pada Teori Belajar Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Pecahan Senilai Siswa Kelas IV SDN Jatimulyo 3 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Skripsi, Jurusan S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd. (II) Drs. Thomas Irianto, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Pembelajaran Matematika, teori belajar Bruner, konsep pecahan senilai. Pada standar isi dari standar nasional pendidikan 2006, materi bilangan pecahan di sekolah dasar diajarkan mulai kelas III sampai kelas VI. Hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti menunjukan pemhaman siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3 tahun ajaran 2007/2008 terhadap pecahan senilai relative rendah, hal ini berkaitan dengan pembelajaran yang dilakukan guru selama ini masih konvensional. Untuk itu perlu adanya alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pecahan senilai, yang salah satunya adalah Pembelajaran Matematika yang Berorientasi pada Teori Belajar Bruner. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pemahaman siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3 terhadap pecahan senilai sebelum diterapkannya teori pembelajaran Bruner dalam pembelajaran matematika, (2) mendeskripsikan peningkatkan pemahaman konsep pecahan senilai siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3, setelah penerapan pembelajaran matematika yang berorientasi pada teori belajar Bruner, (3) mendeskripsikan dampak penerapan pembelajaran matematika yang berorientasi pada teori belajar Bruner terhadap terhadap suasana pembelajaran konsep pecahan senilai. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK/ classroom action research). Langkah PTK ini meliputi dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, serta refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3 berjumlah 35 siswa. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif, observasi, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang cukup tinggi pada pemahaman konsep pecahan senilai siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3. Hal itu dilihat dari ketuntasan belajar kelompok yang pada skor awal (pre tes) 25,7 % meningkat menjadi 80 % pada siklus I, dan pada siklus II menjadi 85,71 %. Hasil nilai rata-rata siswa pada siklus I mengalami peningkatan 44,43 % dari kondisi awal, dan pada siklus II meningkat 62,6 % dari kondisi awal. Dampak penelitian ini dapat membuat siswa aktif, antusias, senang dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, serta menciptakan interaksi kelompok yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran matematika yang berorientasi pada teori belajar Bruner dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas IV SDN Jatimulyo 3 terhadap pecahan senilai, dan berdampak membuat siswa aktif, antusias, senang dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. serta menciptakan interaksi kelompok yang tinggi. Dari kesimpulan tersebut disarankan kepada (1) guru agar menggunakan teori belajar Bruner dalam pembelajaran matematika, (2) peneliti selanjutnya melakukan penelitian serupa dalam ruang lingkup yang lebih luas dengan ditunjang dengan teori-teori yang lebih aktual.

Peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam (Studi kasus SD Sekolah Alam Instan Mulia Surabaya) / Eve Readety

 

ABSTRAK Readety, Eve. (2008) Peranan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Sekolah Alam. (Studi Kasus SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya). Tesis (Tidak dipublikasikan), Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. , (II) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: peranan, kepala sekolah, manajemen kurikulum dan pembelajaran, sekolah alam Sekolah Alam merupakan salah satu sekolah alternatif yang muncul dari adanya fenomena MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Konsep sekolah alam ini yaitu memberikan pembelajaran pada anak sesuai dengan alamnya anak atau sesuai dengan perkembangan psikologi anak. Manajemen sekolah yang baik sangat penting untuk meningkatkan mutu sekolah dan menghasilkan output pendidikan yang baik. Manajemen sekolah tidak lain berarti pendayagunaan dan penggunaan sumber daya yang ada dan yang dapat diadakan secara efisien dan efektif untuk mencapai visi dan misi sekolah. Kepala sekolah berada di garda terdepan dan dapat diukur keberhasilannya. Dengan demikian kepala sekolah mempunyai peran yang sangat dominan dalam manajemen sekolah ini. Atas dasar itulah penelitian ini difokuskan pada peranan kepala sekolah dalam arti luas yaitu peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam. Tujuan penelitian untuk: (1) mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam perencanaan kurikulum dan pembelajaran di SD SAIMS; (2) mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam implementasi kurikulum dan pembelajaran di SD SAIMS; (3) mendeskripsikan peran Kepala Sekolah dalam evaluasi kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus observasional yang berkenaan dengan peranan kepala sekolah dan studi kasus tunggal terpancang memusatkan pada kasus yang telah ditetapkan sesuai dengan focus penelitian yang telah dirumuskan. Dengan teknik purposif akhirnya ditetapkan sample yang menjadi sumber data adalah: (1) kepala sekolah; (2) waka sarpras dan humas; (3) waka kesiswaan; (4) guru; (5) administrasi; dan (6)siswa. Teknik pengumpulan data yaitu: (1) wawancara mendalam (indepth interviewing); (2) observasi partisipan (participant observation); dan (3) studi dokumentasi (study of documents). Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk pengecekan keabsahan data agar memperoleh temuan penelitian yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya dengan menggunakan teknik pengujian sebagai berikut: (1) kredibilitas; (2) dependabilitas; (3) konfirmabilitas. Kredibilitas merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan untuk memperoleh data yang valid dapat ditempuh teknik pengecekan data melalui: (1) pengamatan yang terus menerus; (2) trianggulasi; (3) pengecekan anggota; (4) diskusi teman sejawat; (5) pengecekan atas kecukupan referensi. Dari hasil paparan data di lapangan bahwa SD SAIMS merupakan sekolah alternatif yang mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan SAIMS dengan sekolah-sekolah konvensional lainnya. Beberapa karakteristik tersebut dapat dilihat melalui: (1) sarana dan prasarana; (2) kinerja kepala sekolah; (3) kinerja tenaga kependidikan; (4) konsep kurikulum dan pembelajaran; (5) implementasi kurikulum dan pembelajaran; dan (6) evaluasi belajar. Sementara untuk temuan penelitian di lapangan bahwa manajemen kurikulum dan pembelajaran di SD SAIMS ini sangat memprioritaskan peran kepala sekolah dalam: (1) perencanaan kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS; (2) implementasi kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS; (3) evaluasi kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS. Dalam perencanaan kurikulum dan pembelajaran, kepala sekolah SD SAIMS menjalankan perannya yaitu: (1) sebagai manajer merumuskan program tujuan dan tindakan; (2) sebagai pemimpin juga sebagai motivator sekaligus supervisor; (3) sebagai pemimpin juga sebagai penghubung (liasion) antara kepentingan sekolah dengan orang tua siswa; (4) sebagai manajer menyelenggarakan manajemen pengajaran; (5) sebagai pemimpin melakukan koordinasi untuk mengatur pembagian tugas terhadap semua staff. Untuk implementasi kurikulum dan pembelajaran, kepala sekolah SD SAIMS menjalankan perannya yaitu: (1) sebagai pemimpin memberikan kepercayaan dengan mendelegasikan tugas; (2) sebagai pemimpin juga sebagai motivator, memotivasi seluruh tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing; (3) sebagai pemimpin juga sebagai monitor melakukan pengamatan kelas; (4) sebagai pemimpin juga sebagai supervisor; (5) sebagai pemimpin mengendalikan situasi apabila ada permasalahan selama proses pelaksanaan belajar mengajar. Sementara itu, dalam evaluasi kurikulum dan pembelajaran, kepala sekolah SD SAIMS menjalankan perannya yaitu; (1) sebagai pemimpin juga sebagai koordinator; (2) sebagai seorang staf melakukan konsultasi dengan atasan dan meminta pertimbangan dalam proses evaluasi kurikulum dan pembelajaran; (3) sebagai pemimpin menyebarluaskan informasi yang telah diperoleh dari hasil konsultasi dengan tim konsultan kepada para guru; (4) sebagai decision maker; (5) sebagai pendidik, melakukan pemberdayaan guru. Berdasarkan kesimpulan tersebut peneliti menyampaikan beberapa saran: (1) Kepala sekolah hendaknya juga memperhatikan kinerja guru dan staf khususnya dalam pendokumentasian daftar prestasi siswa yang nantinya bisa dipublikasikan ke masyarakat sebagai bagian dari output yang bisa dibanggakan; (2) Bagi para pelaku pendidikan dan masyarakat dapat menggunakan tesis ini sebagai referensi untuk menambah wawasan tentang peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam; (3) Bagi sekolah yang belum atau sudah menerapkan konsep sekolah alam dapat menjadikan tesis ini sebagai salah satu referensi mengenai peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam; (4) Selain mengandalkan yayasan dalam usaha penyediaan saran dan prasarana baik itu dalam bentuk materi atau non-materi, diharapkan sekolah dapat menjalin kemitraan dengan dunia bisnis, kelompok masyarakat sekitar untuk memperkuat dukungan pencapaian tujuan sekolah. Dengan demikian, kepala sekolah diusahakan untuk lebih aktif untuk mencari peluang kerja sama dengan pihak-pihak luar ini; (5) Bagi peneliti lain yang berminat untuk meneliti peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam agar dapat menambahkan fokus penelitian bagaimana peran kepala sekolah alam dalam menyesuaikan pola ujian sekolah dengan ujian nasional yang sampai saat ini masih menjadi kendala khususnya bagi SAIMS. ABSTRACT Readety, Eve. (2008) The principal role in curriculum and learning management of nature school. (case study in SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya). Thesis (is not publicated), Study Program of Educational Management, Post Graduate Program, Malang State University. Counselors: (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. , (II) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd Key words: role, principal, curriculum and learning management, nature school Nature school is one of alternative schools that come up from the SBM (school Based Management) phenomena. The concept of this school is providing students with their exact learning methode based on their characteristics and pshycological need. A proper school managenment is important to increase the output student and school quality. School management here is using any available sources and craeted soources efeciently and efectively to achive vision and mission of the school. Principal is in the front line to lead this management. Therefore, principal has a main role in school management. In this case, this research concerns to the principal role in wider meaning that is the principal role in curriculum and learning management of nature school. The objective of this research are; (1) to describe the principal role in curriculum and learning planning in SD SAIMS; (2) to describe the principal role in curriculum and learning implementation in SD SAIMS; (3) to describe the principal role in curriculum and learning evaluation in SD SAIMS This research uses qualitative approach and observational study case related to principal role and single oriented cases focuses on cases which are determined based on the research focuses. Finally, by the puposif technique, the samples as data sources are determined. They are: (1) principal; (2) vice principal of source and facility; (3) vice principal of student devision; (4) teacher; (5) administration. The techniques of collecting data used are: (1) indepth interviewing; (2) participant observation; and (3) study of documentation. While, the techniques of data analysis used are: data reductiona, data appliance, verification. The techiques for checking the data validity in order to abtain valid research finding are: 1) kredibility; (2) dependability; (3) konfirmability. Kredibility is a condition to meet the value of data and information validity collected. While, the techniques used are: (1) continously observation; (2) trianggulation; (3) member check; (4) friend discussion; (5) reference check. Field collected data reports that SD SAIMS is alternative school that has same characteristics differ it from any convensional school. Some of those characterictics are: (1) source and facility; (2) principal dedication; (3) education subject dedication; (4) curriculum and learning concept; (5) implementation of curriculum and learning; and (6) study evaluation. Meanwhile, research finding shows that curriculum and learning management in SD SAIMS focuses on the principal role in: (1) curriculum and learning planning in SD SAIMS; (2) curriculum and learning implementation in SD SAIMS; (3) curriculum and learning evaluation in SD SAIMS. The principal role in curriculum and learning planning are: (1) as a manager, he formulated the goal and action; (2) as a leader, motivator and supervisor all a once; (3) as a leader, he is also as a liasion to connect the need between school and parents; (4) as a manager, he did teaching management; (5) as a leader, he did coordination to devide the job of each staff. The principal role in curriculum and learning implementation are: (1) as a leader, he delegated the job; (2) as a leader, he is also as a motivator to motivate all the staff to their job; (3) as a leader, he is also as a monitor to do class observation; (4) as a leader, he is also as a supervisor; (5) as a leader, he controled the situation when there are problems found along the process of teaching and learning implementation. The principal role in curriculum and learning evaluation are; (1) as a leader, he is also as a coordinator; (2) as a staff, he did consultation with consultant along the process of curriculum and learning evaluation ; (3) as a leader, he shared the suresult of consultation with the teachers; (4) as decision maker; (5) as an educator, he increased the teacher’s skill. Based on the result, the following suggestions are made; (1) the principal has to maintain the relationship pattern toward teacher and staff; (2) for another school that has implemented nature school concept or hasn’t, can read this thesis as reference about principal role in curriculum and learning management in nature school; (3) the principal has to find another connection to create cooperation in order to support school needs, either it is material or non-material matters.Therefore, school is not rely on it’s foundation merely; (4) the principal should give attention in student achievement list documentation done by teacher and his staf in which it can be publicated to society; (5) for another reseachers who interest in researching principal role in curriculum and learning management in nature school is recommended to add the research focus of how principal adjust the test school pattern with national test pattern. Therefore, the students don’t find difficulties in doing the national test in which it still becomes a problem faced by SAIMS.

Analisis rasio keuangan untuk evaluasi kinerja manajemen perusahaan umum (Perum) pegadaian cabang Trenggalek / Ichsanudin Fanani

 

ABSTRAK Fanani, Ichsanudin. 2008. Analisis Rasio Keuangan Untuk Evaluasi Kinerja Manajemen Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Cabang Trenggalek. Tugas Akhir, Jurusan Diploma Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Dyah Aju Wardhani, M.Si., S.E., Ak. Kata Kunci : Kinerja, Rasio Keuangan Kinerja perusahaan adalah tingkat keberhasilan suatu perusahaan, sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan bagi manajemen, dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan apakah berjalan efektif atau tidak, demi tercapainya efektifitas pelayanan pada konsumen. Pengukuran kinerja yang sering kali dilakukan adalah dengan menggunakan ukuran keuangan. Dari pengukuran ini bisa diketahui seberapa besar tingkat likuiditas, tingkat profitabilitas, serta tingkat solvabilitas suatu perusahaan. Untuk pengumpulan data yang diteliti, diperlukan metode-metode pengumpulan data. Adapun dalam penelitian ini metode-metode pengumpulan data yang digunakan antara lain dokumentasi dan interview. Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Cabang Trenggalek, ditinjau dari tingkat likuiditasnya yang diukur dengan current ratio dan cash ratio menunjukkan bahwa tingkat likuiditasnya berada pada kondisi diatas standart ideal. Hal ini merupakan indikator bahwa perusahaan bisa memanfaatkan aktiva perusahaan yang menganggur dengan optimal sehingga laba bersih perusahaan meningkat. Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Cabang Trenggalek, ditinjau dari tingkat solvabilitasnya yang diukur dengan debt ratio dan debt to equity ratio menunjukkan bahwa tingkat solvabilitasnya kurang bagus. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya total hutang perusahaan pada tahun 2006, yaitu sebesar 80,69%, Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Cabang Trenggalek, ditinjau dari tingkat profitabilitasnya yang diukur dengan menggunakan Return On Investment (ROI), menunjukkan bahwa tingkat profitabilitasnya baik. Hal ini terlihat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada tahun 2006, mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 47,01% dari pada laba yang dihasilkan pada tahun 2005. Hal ini merupakan indikator bahwa tingkat profitabilitas perusahaan tinggi. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat likuiditas Perum Pegadaian Cabang Trenggalek dalam kondisi cukup bagus. Begitu juga dengan tingkat profitabilitas dalam kondisi bagus sedangkan tingkat solvabilitas dalam kondisi kurang bagus, penulis memberikan saran-saran kepada perum pegadaian cabang trenggalek agar current ratio dan profitabilitas perusahaan sebaiknya dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, agar menghasilkan laba bersih yang meningkat dari tahun ke tahun.Untuk Tingkat solvabilitas perusahaan sebaiknya ditingkatkan.

Aplikasi metode biplot pengklasifikasian tanaman kacang hijau berdasrkan sifat-sifat fenotipenya / Deden Ferry Yuliantoro

 

ABSTRAK Yuliantoro, Deden Ferry. 2007. Aplikasi Metode Biplot dalam Pengklasifikasian Tanaman Kacang Hijau Berdasarkan Sifat-sifat Fenotipenya. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Hendro Permadi M.Si (II) Dr. Swasono Rahardjo M.Si Kata kunci : Biplot, dekomposisi, keragaman, fenotipe. Kacang hijau merupakan salah satu tanaman dengan struktur fenotipe yang kompleks. Terdapat banyak sekali faktor-faktor fenoyipe yang dapat dieksplorasi dan diteliti dalam rangka menambah kuantitas maupun kualitas varietas kacang hijau yang sudah ada saat ini. Dalam usaha untuk mengeksplorasi struktur fenotipe yang terdapat dalam tanaman kacang hijau adakalanya dibutuhkan informasi yang akurat mengenai dominasi antar faktor fenotipr serta pengelompokkan yang terjadi antara satu varietas dengan varietas lainnya. Metode biplot sebagai salah satu metode dalam ruang lingkup analisis statistik multivariat merupakan salah satu metode yang dapat mengakomodir informasi yang dibutuhkan seputar dominasi variabel fenotipe maupun pengelompokkan antar varietas tanaman sebagaimana tersebut di atas. Metode biplot merupakan metode yang menampilkan secara grafis dalam dua dimensi hubungan yang terjadi antara variabel pengamatan dengan obyek pengamatan, peragaan grafiknya dilakukan dalam ruang berdimensi dua dengan menggunakan sistem koordinat Cartesius. Analisis yang dilakukan ialah dengan mendekomposisikan matriks pengamatan B ke dalam perkalian dua buah matriks G dan H' dan selanjutnya membuat plot vektor-vektor baris dan vektor-vektor kolom matriks tersebut ke dalam koordinat Cartesius. Dalam penelitianini diamati sebanyak 200 varietas tanaman kacang hijau dengan melibatkan 10 variabel pengamatan yang merupakan faktor-faktor fenotipenya. Dalam proses penelitian dari mulai penyemaian benih hingga panen terdapat 15 varietas yang mati sebelum tiba masa panen, sehingga data obyek pengamatan yang diolah menyusut menjadi 185 varietas. Penerapan metode biplot dari 185 varietas tanaman dengan 10 variabel pengamatan memberikan keragaman total sebesar 48,5%, di samping itu juga diperoleh kesimpulan bahwa variable lebar daun dan panjang polong merupakan variable yang mendominasi di antara struktur fenotipe tanaman kacang hijau dengan panjang vektor berturut-turut 15,86192 dan 6,198105. Kemudian dalam hal pengelompokkan obyek pengamatan terjadi sebanyak satu kelompok saja. Pengelompokkan ini berdasarkan atas dominasi keragaman varaiabel pengamatan dan kedekatan sebaran obyek pengamatan. ABSTRACT Yuliantoro, Deden Ferry. 2007. Biplot Method Application for Classified Mung Bean Based on the Fenotype Characteristics. Thesis. Mathematics Departement, Faculty of mathematics and Natural Science State University of Malang. Advisor : (I) Ir. Hendro Permadi M.Si (II) Dr. Swasono Rahardjo M.Si. Key words : Biplot, decomposition, variance, fenotype Mung bean is one of the plants, that have complex fenotype structure. There are many kinds of fenotype factors which can be explored and researched in order to increase quantity or quality of mung bean variety at present. In order to explore a fenotype structure of mung bean sometimes its needed an accurate information about the dominant fenotype factors and clustering of their varieties. Biplot method as the one method of the multivariate statistical analysis is the one method which can accomodies the information about fenotype variables domination and clustering between the variety. Biplot method tries to graphically illustrated in two dimension the relation between observed variables and the object on the coordinate Cartesian system. This result based on the decomposition of observed matrices B into the product of two matrices G and H' and plotting the rows and column vectors of two later matrices into the Cartesian coordinate. In this research, there are 200 mung bean variety plants with 10 observed variables which their are fenotype characteristic. During planted time there are 15 varieties are died, so the observed data decreased into 185 varieties. The application of biplot method give the conclusion that leaves wide and height pod are the two variables that dominate the other fenotype structures of mung bean, which the total variance is 48,5%. Domination of the two variables indicated by vector length 15,86192 and 6,198105. On the other side, there are only one clustering between the variety. This clustering based on the domination of variables and nearness of object spread.

Penyusunan modul belajar himpunan untuk SMP/MTs kelas VII dengan berpedoman pada standar problem solving dan komunikasi / Deden Ferry Yuliantoro

 

ABSTRAK Yuliantoro, Deden Ferry, 2008. Penyusunan Modul Belajar Himpunan Untuk SMP/MTs Kelas VII dengan Berpedoman pada Standar Problem Solving dan Komunikasi. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Edy Bambang Irawan M.Pd (II) Dra. Etty Tedjo DC M.Pd. Kata kunci : Himpunan, problem solving, komunikasi. Himpunan merupakan salah satu materi yang dipelajari dalam jenjang pendidikan SMP/MTs di negeri ini. Dalam aktifitas siswa mempelajari serta mengeksplorasi materi himpunan tersebut terdapat banyak sarana yang dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kualitas pemahamannya. Diantara media yang dapat digunakan siswa ialah dengan menggunakan modul belajar. Penyusunan modul belajar dikembangkan berlandaskan pada prinsip kemandirian siswa. Artinya siswa dituntut untuk dapat belajar secara mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu siswa dituntut pula untuk dapat mengevaluasi serta merefleksi kemampuannya dalam mempelajari modul tersebut. Penyusunan suatu modul belajar sangat terkait erat dengan tujuan penyusunan serta kompetensi yang hendak dicapai dalam diri siswa. Hal ini berimplikasi pada mekanisme belajar yang direkomendasikan serta metode penggunanaan modul tersebut. Dalam skripsi ini disusun suatu modul belajar dengan materi himpunan yang diperuntukkan bagi siswa-siswi SMP/MTs kelas VII. Spesifikasi penggunaan modul ini lebih difokuskan pada sarana pengayaan bagi siswa untuk menambah wawasannya seputar permasalahan yang berhubungan dengan materi himpunan. Oleh karena itu sistematika yang dirumuskan dalam modul ini disusun secara ringkas dengan memuat komponen ringkasan poin materi, contoh permasalahan, soal latihan dan petunjuk menjawab soal. Pedoman yang dijadikan sebagai acuan dalam menyusun permasalahan atau soal-soal dalam modul merujuk pada rumusan ranah kognitif Bloom yang meliputi penerapan, analisis dan sintesis. Selanjutnya ketiga aspek tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk permasalahan yang bersifat problem solving dengan menekankan pada kemampuan menjawab secara komunikatif. Uji coba modul dilakukan kepada sebanyak 30 siswa untuk mengetahui aspek kekomunikatifan jawaban siswa atas permasalahan yang diberikan. Penekanannya terletak pada penggunaan bahasa matematika yang terdiri dari simbol untuk ide/definisi, simbol relasi, simbol operasi dan simbol tanda baca. Berdasarkan uji coba tersebut diketahui bahwa kesalahan yang kerap dilakukan oleh siswa ialah dalam hal simbol ide ataupun definisi. ABSTRACT Yuliantoro, Deden Ferry, 2008. Composing the Module of Set for Grade VII of Junior High School Based on Problem Solving and Communication Standard. Thesis, Mathematics Department, Faculty of Mathematic and Natural Sciences, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd., (II) Dra. Ety Tedjo, DC., M.Pd. Key words: Set, Problem Solving, Communication. Set is one of the subjects which be learned by the students in junior high school level in Indonesia. There are a lot of things which can be used by the students in order to learn, explore, and also improve their knowledge about the set. One of the media is module. The composing of the module is developed based on students’ self-government principle. It means that the students have to study and be responsible by themselves. Moreover, the students also have to be able to evaluate and reflect their ability in understanding the module. The composing of the module has a strong relationship with the purpose of the composition and also the competency that will be achieve toward the students. Therefore, it has the implication on the mechanism of the study that has been recommended and also the methods that will be used. In this study, the writer tries to compose a set material module which is designed to the students of grade VII of junior high school. The specification of the use of the module is more focused on the medium of students’ enrichment in order to improve their knowledge about any things related to the set. Therefore, the arrangement of the module composition is in simple way that contains these materials; the problems set, the exercises, and the guidance to solve the problems. The method that is used in composing the problems is based on Bloom’s Cognitive which consists of the application, the analysis, and the synthesis of the problems. Then, those three aspects are transferred to any kind of problems which have the characteristic of problem solving so that the students can apply it to solve the problems communicatively. The try out of this module has been done toward 30 students of junior high to investigate the students’ answer based on the communicative aspect. Then, it is focused on the use of this kind of methods toward mathematics ways which consist of symbol of idea/definition, symbol of relation, and symbol of operation and punctuation. It is known that based on the result of the try out, the students often make a lot of mistakes in symbol of idea or definition.

Analisis sistem pengendalian intern terhadap penerimaan kas pada unit pelaksana teknis dinas (UPTD) terminal Arjosari Malang / Mierza Anindita

 

Sistem adalah suatu jaringan prosedur atau kumpulan yang saling berhubungan menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan dalam mencapai tujuannya. Keberadaan sistem akuntansi yang baik dan sesuai untuk diterapkan adalah suatu hal yang penting dalam suatu perusahaan. Semakin baik sistem akuntansi yang diterapkan, maka akan semakin sempurna Sistem Pengendalian Intern yang dimiliki. Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah untuk (1) menganalisis unsur-unsur SPI terhadap penerimaan kas pada UPTD Terminal Arjosari Malang, (2)mengetahui kendala serta upaya apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan SPI yang baik terhadap penerimaan kas. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah: (1)wawancara (2)observasi (3) dokumentasi. Berdasarkan hasil evaluasi dapat disimpulkan : (1)segi organisasi:Ada beberapa fungsi yang terkait yaitu Fungsi Operasi pada Petugas Pungut, Fungsi Penyimpanan/Fungsi Kas pada Pemegang Kas/BKP, Fungsi Akuntansi yang Pencatat Pembukuan dan Pembuat dokumen. Namun juga ditemukan adanya perangkapan jabatan yaitu Fungsi Kas/BKP, selain sebagai fungsi penerimaan hasil pungutan juga merangkap sebagai fungsi penyetoran dan fungsi pencatat pembukuan. (2)sistem otorisasi dan prosedur pencatatan : Di UPTD telah memiliki sistem otorisasi yang memadai dari pejabat yang berwenang untuk transaksi penerimaan kas. Namun segi prosedur pencatatan ada beberapa kelemahan yaitu pencatatan masih menggunakan single entry, tidak dibuat buku besar, tidak adanya neraca saldo serta dokumen dan formulir yang digunakan belum lengkap. (3)praktek yang sehat lainnya : UPTD telah melaksanakan praktek-praktek yang sehat sesuai dengan yang persyaratan dalam pencapaian SPI yang baik. (4)karyawan yang sesuai dengan tanggung jawab yang dipikulnya: instansi telah menetapkan berbagai metode agar para pegawai dapat meningkatkan kualitas kinerjanya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Saran yang dapat penulis berikan adalah : (1)seharusnya ada pemisahan fungsi antara fungsi kas, akuntansi dan penyetoran. (2)sebaiknya dibuat buku besar dan neraca saldo untuk menjamin keandalan data akuntansi. (3)lebih ditingkatkan lagi kecepatan dalam pelaksanaan penyetoran untuk menghindari berbagai kemungkinan penyimpangan yang terjadi. (4) peningkatan kedisiplinan harus terus ditingkatkan dengan diikuti sanksi yang lebih tegas dan manusiawi sehingga para pegawai dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Developing a self-instructed pronunciation multimedia learning resource for the first year students of the english departement of State University of Malang / Santi Kusuma Dewi

 

ABSTRACT Kusuma Dewi, Santi. 2009. Developing a Self-Instructed Pronunciation Multimedia Learning Resource for the First Year Students of English Department of State University of Malang. Thesis, English Department, Faculty of Letter, State University of Malang. Advisor: Dra.Furaidah, M.A. Key words: pronunciation, multimedia, self-instruction, an offline web-based material The study is aimed at developing a self-instructed pronunciation multimedia learning resource for the first year students of the English Department of State University of Malang. This learning resource is expected to be able to help students overcome their pronunciation accuracy problems, understand the systematic differences between English and Indonesian pronunciation, and monitor students’ own speech. This learning resource is also expected to be able to help them become more aware of the rhythm of English in contrast to that of Indonesian, use different stress (strong and weak syllables) appropriately in both words and sentences, and make use of transcription in dictionaries. This study followed a prescribed practice of educational research and development suggested by Gall, Borg & Gall. The R & D design were used with some modifications. This study only used some steps considered applicable to the situation and nature of this study. The learning resource was an offline web-based generated pronunciation material. It was in a CD format. The CD format was chosen because it was accessible and economical for the students. In order to produce the right learning resource, comments from experts and results from try-out were used for revising the learning resource. The result from the experts’ judgment indicated that the materials had a low usability due to (1) the unclear display caused by the small size of the display screen and (2) the absence of model of pronunciation. Thus, the revision was focused on the improvement of those two things. The results from the try-out showed that according to the students, this learning resource was effective and accessible. The use of self-instructed pronunciation multimedia learning resource was useful for the students because it provided supplementary self-instructed pronunciation multimedia learning resource and exposure to pronunciation. These increased exposures to pronunciation also help students overcome their pronunciation accuracy problems. To conclude, the developed material provided an opportunity for the students to exercise responsibilities over their own learning.

Peramalan angka kelahiran dan angka kematian penduduk di Kabupaten Sumbawa Besar Menggunakan Arima / Nova Andriany

 

ABSTRAK Andriany, Nova. 2009. Peramalan Angka Kelahiran Dan Angka Kematian Penduduk Kabupaten Sumbawa Besar Menggunakan ARIMA. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Swasono Rahardjo, SPd. MSi, (II) Drs. Susiswo, MSi. Kata kunci : Peramalan, Angka Kelahiran, Angka Kematian, ARIMA Peramalan merupakan suatu kegiatan memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Peramalan mempunyai peranan sangat penting baik dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan untuk menetapkan kebijakan-kebijakan sebagai upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan kehidupan, terutama masalah kependudukan. Salah satu permasalahan kependudukan yang penting adalah masalah jumlah penduduk. Metode yang digunakan dalam pengolahan data jumlah penduduk pada penelitian ini adalah ARIMA yang lebih dikenal dengan metode Box-Jenkins. Digunakan metode ini karena ARIMA cocok diterapkan secara umum pada data.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana meramalkan jumlah penduduk dengan ARIMA berdasarkan angka kelahiran dan angka kematian. Peramalan dengan ARIMA terdiri dari tiga tahap yaitu identifikasi model, penaksiran dan pengujian serta penerapannya. Tahap identifikasi model terbaik didasarkan pada pemilihan model dari data yang sudah stasioner. Dan pada tahap pengujian dilakukan pemeriksaan apakah model mempunyai sifat white noise dan berdistribusi normal atau tidak. Jika model mempunyai asumsi white noise dan berdistribusi normal maka model layak digunakan sebagai peramalan. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa model yang tepat untuk peramalan jumlah penduduk di Kabupaten Sumbawa Besar berdasarkan : (1) angka kelahiran adalah Zt = -147,7 + (1+0,6029) Zt-1 – (-0,6029)Zt-2 + at , (2) angka kematian adalah Zt = -2,484 + (1 +0,4913)Zt-1 – (0,4913)Zt-2 – at – (1,0572)at-1. ABSTRACT Andriany, Nova. 2009. The forecasting of the total fertility and mortality in Sumbawa Besar by using ARIMA. Thesis, Mathematics Department, mathematics and science Faculty, State Universitas of Malang. Advisor : (I) Dr. Swasono Rahardjo SPd. MSi, (II) Drs. Susiswo, MSi. Key word : Forecasting, Fertility, Mortality, ARIMA Forecasting is an activity to predict what will be happened in the future. It has an important role for planning or deciding the decisions as a way to cover the life problems, especially demography. The most important problem in demography is population. The method, it is known as Box-Jenkins methods. It is used for this research because ARIMA method is very suitable to be applied in the data and it doesn’t need the pattern assumption for the certain data. The objective of this research is to know how to predict to population based on the fertility and mortality by using ARIMA method. Forecasting by using ARIMA method consists of tree steps. They are identification model, estimation&test,and application. The identification model selection of data which have stasioner. In the testing step, we ceck the model, whether it has a white noise and normal distribution organisasi not. If it has such kind of caracteristic, we may conclude that the model can be used as a forecasting. The data that is used in this research is the years population of Sumbawa Besar in 1980’th until 2007’th based on fertility and mortality. Finally, in conclusion, the right model for forecasting the number of Sumbawa Besar population based on the (1) fertility rate is (1) Zt = -147,7 + (1+0,6029) Zt-1 – (-0,6029)Zt-2 + at, (2) mortality rate is Zt = -2,484+ (1+0,4913)Zt-1 –(0,4913)Zt-2 – at – (1,0572)at-1.

Penyusunan modul pembelajaran matematika untuk SMP/MTs kelas VII pada pokok bahasan sudut dan garis / Rengganis Pramudyati

 

Tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah menyusun dan menghasilkan modul pembelajaran dalam bidang matematika untuk SMP/MTs kelas VII pada pokok bahasan sudut dan garis berdasarkan Kurikulum 2006. Modul adalah suatu paket pembelajaran yang memuat serangkaian kegiatan belajar yang disusun secara sistematis dan terarah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan modul, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan, termasuk tujuan pembelajaran matematika. Cara pembelajaran dengan modul ini mengubah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru kemudian berubah menjadi berpusat pada kegiatan siswa. Guna penyempurnaan dalam rangka peningkatan kualitas modul, peneliti melakukan validasi isi. Untuk memperoleh data pada validasi isi diperlukan penilaian dan tanggapan validator terhadap modul. Penilaian dan tanggapan tersebut diperoleh dari angket yang telah diisi oleh validator yang terdiri dari dua orang dosen matematika, dua orang guru matematika, dan dua orang mahasiswa matematika. Hasil data dari angket tersebut menunjukkan bahwa modul pembelajaran pokok bahasan sudut dan garis ini rata-rata valid dan sudah mengarah pada Kurikulum 2006. Walaupun sudah dinyatakan valid, yaitu dengan rata-rata total penilaian 88,96%, revisi tetap dilakukan pada beberapa bagian yang disarankan oleh validator. Walaupun modul ini belum dilakukan validasi secara empirik, tetapi berdasarkan hasil penilaian dari para validator, maka para pendidik (guru) dapat menggunakan modul pembelajaran pokok bahasan sudut dan garis ini sebagai bahan ajar alternatif. Guru juga dapat memadukan modul ini dengan bahan ajar yang lain dan dapat juga mengembangkan modul ini sesuai dengan kondisi sekolah.

Kontribusi iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Negeri kelompok teknologi dan industri se Kabupaten Indramayu / Haryono Suhendro

 

Salah satu permasalahan utama dalam dunia pendidikan adalah pro-fesionalisme guru, yaitu membentuk guru yang memiliki kompetensi standar yang memadai. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hubungan iklim orga-nisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi, dimana variabel inde-penden dikorelasikan dengan variabel dependen. Data Populasi penelitian adalah guru produktif dari 10 SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kue-sioner dengan skala Likert, sedangkan teknik analisis mengunakan teknik ana-lisis regresi linear ganda dan analisis product moment Pearson, yang dihitung menggunakan SPSS for Windows Release 10. Hasil analisis penelitian membuktikan, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru, dan pe-ngetahuan teknologi infomasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se kabupaten Indramayu, yang ditun-jukkan oleh nilai koefisien korelasi secara berurutan: X1 dan Y (0,401), X2 dan Y (0,577), X3 dan Y (0,770), dengan probabilitas (Sign.) lebih kecil dari 0,05 Diperoleh kesimpulan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Saran yang disampaikan adalah perlunya keterlibatan semua pihak dalam membangun iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi untuk meningkatkan nilai profesionalisme guru. ABSTRACT Suhendro, Haryono. (2008). The contribution of school organization climate, emotional intelligence of teacher and knowledge of information technology with professionalism of productive teachers of state Vocational High School of Technology and Industry in Indramayu. Thesis, Study Program of Vocational Education of Postgraduate Program of State University of Malang. Counselors : (I) Porf. H. Ahmad Sonhadji Kosim Hasan, M.A, Ph.D, (II) Drs. Setiadi Cayono Putro, M.T., M.Pd. Keywords : school organization climate, teacher emotional intelligence, Information technology knowledge, teacher professionalism. One of main problem in educational world is professionalism of teacher, that is made the teacher who has adequate standard competence. This research is aimed of describing correlation school organization climate, emotional intelligence of teacher and knowledge of information technology with professionalism of productive teachers of state vocational school technology and Industry in Indramayu. The research uses correlation approach, where independent variable correlated with dependent variable. The Data populations research is productive teachers from 10 state Vocational High School of Tecnology and Industry in Indramayu. The instrument used in this research questionnaire is likert scale, in order to data analysis technical used multiple regression and product moment pearson, which are counted by SPSS for windows release 10. The results of the research analysis proves, that there is significant relation between school organization climate, teacher emotional intelligence and information technology knowledge with professionalism of productive teachers of state Vocational High School of Technology and Industry in Indramayu, that is shown by arrange correlation coeffecient value: X1 and Y (0,401), X2 and Y (0,577), X3 and Y (0,770), with probability (sign) smaller from 0,05. The conclusion is gained that there is significant correlation between school organization climate, emotional intelligence of teachers and information technology knowledge with professionalism of productive teachers state Vocational High School of Technology and Industry in Indramayu, it is self or together way. The suggestions recommended that needed all sectors involve-ment in improving school organization climate, teacher emotional intelligent and information technology knowledge to improve teachers professionalism value.

Developing a communicative english syllabus for pre-service fligh attendant training / Yudi Setyaningsih

 

ABSTRACT Setyaningsih, Yudi. 2009. Developing Communicative English Syllabus for Pre-service Flight Attendant Training. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Arwijati Wahyudi, Dip. TESL., M.Pd. (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Keywords: syllabus, ESP, flight attendants This study is intended to develop a set of communicative syllabus for pre-service flight attendants having their training before going to apply for jobs at airlines. As communicating with passengers are very important, the developed syllabus is based on communicative competence as the medium of instruction. The developmental research is implemented when conducting this study and Yalden’s theory on Language Program Development is used and modified through its eight steps: 1) doing the needs survey, 2) describing the purpose, 3) selecting the syllabus type, 4) writing the proto syllabus, 5) writing the pedagogical syllabus, 6) try-out the syllabus, 7) evaluating/revising the syllabus, and 8) the final product. The needs survey places the very important aspect in this developmental research and therefore, it is done to find out the real interests and needs of some people involved in the activities. The needs survey is implemented to pre-service flight attendants and ESP teachers in the training centers, flight attendants who are still actively working, and foreign passengers who have ever flown with Indonesian airlines. Some interviews were also conducted to them as to get clearer information on what those respondents expect to have dealing with good communication of flight attendants using English. Some other factual data on English materials and its teaching and learning activities were obtained in the training centers. The syllabus contains a set of topics related to actual working condition in-flight. They are: 1) Boarding and seating, 2) Before Take-off, 3) Meals and Drinks Service, 4) socializing/personal service/extra care, 5) Sales On-board, 6) Giving Information and before Landing, 7) After Landing and Parting, 8) Flight Safety Procedure, 9) Announcement, and 10) Language Reinforcement. All topics will be presented in twelve meetings with ninety minutes of session for each meeting. The syllabus, together with its matrix of the course and lessons plan, was then tried out by an ESP teacher teaching at one of the training centers in Malang. After the try-out, the syllabus was then evaluated by syllabus experts and revised until becomes the final product. The proposed syllabus will be very useful for ESP teachers teaching at flight attendant training centers as it is completed with lesson plans that elaborate the syllabus into teaching and learning activities and also its suggested materials being used found especially in the Internet. ESP teachers as well as pre-service flight attendants will find it useful as it is developed by using the results shown in the need survey which accommodate the real interests of people involved in airlines. This syllabus is also reflecting the actual working condition so that the pre-service flight attendants will able to communicate well using correct English that becomes the important aspect in their jobs. A suggestion is made to flight attendant training centers that the use of communicative syllabus developed with the basis of needs survey is urgent as the needs survey accommodates the real needs and interest of people involved in airlines industry. If the proposed syllabus is used then it is hoped that the outcomes will be skillful flight attendants who can serve the passengers well and they can also communicate with the passengers using correct English.

Pengaruh motivational factors terhadap kepuasan kerja karyawan (studi pada karyawan PT. Pos Indonesia (Persero) Malang) / Enggal Putranto Wibowo

 

Kata Kunci : Motivational factors, Kepuasan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeksripsikan kondisi motivational factors (achievement (prestasi), recognition (pengakuan), work it self (pekerjaan itu sendiri), responsibility (tanggung jawab) dan advancement (pengembangan potensi)) dan kondisi kepuasan kerja PT. Pos Indonesia (Persero) Malang, (2) menganalisis pengaruh motivational factors (achievement (prestasi), recognition (pengakuan), work it self (pekerjaan itu sendiri), responsibility (tanggung jawab) dan advancement (pengembangan potensi)) secara parsial dan simultan terhadap kepuasan kerja karyawan PT. Pos Indonesia (Persero) Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Pos Indonesia (Persero) Malang yang berjumlah 232 karyawan. Jumlah sampelnya adalah 146 karyawan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Kondisi achievement (prestasi) , recognition (pengakuan), work it self (pekerjaan itu sendiri), responsibility (tanggung jawab), advancement (pengembangan potensi) dan kepuasan kerja adalah baik. (2) Secara parsial, terdapat pengaruh positif yang signifikan achievement (prestasi), recognition (pengakuan), work it self (pekerjaan itu sendiri), responsibility (tanggung jawab) terhadap kepuasan kerja karyawan dan advancement (pengembangan potensi) tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. (3) Secara simultan, terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivational factors yang terdiri dari achievement (prestasi), recognition (pengakuan), work it self (pekerjaan itu sendiri), responsibility (tanggung jawab) dan advancement (pengembangan potensi) terhadap kepuasan kerja karyawan Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada PT. Pos Indonesia (Persero) Malang untuk melakukan penilaian kinerja agar mengetahui siapa saja karyawan yang layak untuk mendapatkan promosi. Selain itu, PT. Pos Indonesia (Persero) Malang hendaknya memberikan pelatihan-pelatihan secara rutin dan terjadwal sehingga karyawan merasa berkembang selama bekerja di perusahaan.

Pengaruh pengembangan obyek wisata pantai pasir putih terhadap proses sosial ekonomi penduduk Kabupaten Situbondo / Eries Oktorini

 

ABSTRAK Oktorini, Eries. 2009. Pengaruh Pengembangan Obyek Wisata Pantai Pasir Putih terhadap Proses Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Situbondo. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si; Pembimbing (II) Drs. Mustofa. Kata Kunci: wisata, pantai, ekonomi, penduduk. Pengembangan kepariwisataan merupakan pilihan utama bagi daerah-daerah yang mempunyai kondisi ataupun keadaan alam yang khas dan ini tentu saja akan menjadi potensi yang sangat besar bila ditinjau dari segi ekonomi dan sosial. Dari segi ekonomi dapat menciptakan suatu lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan, sedangkan dari segi sosialnya yaitu interaksi antar penduduk satu dengan yang lainnya. Pengembangan potensi wisata Pantai Pasir Putih di Kabupaten Situbondo ini diharapkan mampu mendongkrak proses sosial ekonomi penduduk setempat sebagai dampak penting dari pengembangan kawasan wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan kawasan Wisata Pantai Pasir Putih Kabupaten Situbondo dan proses sosial ekonomi penduduk sekitar obyek wisata Pantai Pasir Putih Kabupaten Situbondo. Penelitian ini dilaksanakan di Obyek Wisata Pantai Pasir Putih Kabupaten Situbondo. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif, data yang diperoleh berdasarka key informan sebagai informan kunci dan diteruskan dengan menggunakan teknik snowball sampling untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci mengenai pengembangan pariwisata Pantai Pasir Putih Situbondo dan proses sosial ekonomi penduduk setempat. Kemudian tahap pengumpulan datanya menggunakan berbagai teknik yakni: teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul yang meliputi beberapa langkah yakni: reduksi data, display data, verifikasi data, dan pengecekan keabsaan data yang diuji melalui derajat kepercayaan, ketergantungan, kepastian hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari pengembangan obyek wisata Pantai Pasir Putih ini telah merubah proses sosial ekonomi penduduk setempat, yang dimana dari proses ekonominya penduduk setempat banyak mendorong munculnya industri-industri kecil sehingga mengurangi tingkat pengangguran. Kemudian lihat dari proses sosial penduduk setempat bahwa interaksi penduduknya masih sangat baik hanya saja waktu bertemunya antara penduduk satu dengan yang lainnya banyak dihabiskan di tempat kerja mereka dari pada di rumah. Dari kebiasaan-kebiasaan penduduk setempat dalam upacara ritual yang biasa disebut dengan petik laut ada sedikit perubahan yakni dari segi religinya tidak ada perubahan sama sekali tetapi dari segi maknanya upacara ritual ini dijadikan salah satu daya tarik yang ditontonkan pada banyak wisatawan yang berkunjung.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri / Fina Rufahnia

 

ABSTRAK Rufahnia, Fina. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penghijauan Lahan Kritis di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs I Nyoman Ruja M.S (II) Satti Wagistina S.P, M.Si Kata kunci: keberhasilan penghijauan, lahan kritis Penyebab lahan kritis di Kecamatan Mojoroto adalah terjadinya alih fungsi lahan, penebangan hutan dan lain sebagainya. Upaya pemulihan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto terus diupayakan, antara lain melalui penghijauan dengan penanaman tanaman keras dan tahunan pada lahan milik petani. Penghijauan selama ini hasilnya kurang optimal, padahal kerjasama dengan pemerintah sudah dilakukan dengan membantu memberikan bibit, obat-obatan dan bantuan teknis lainnya, namun masih ada kendala lain. Permasalahan yang dihadapi petani peserta penghijauan adalah terkait kondisi sosial ekonomi yang terbatas mulai dari pendidikan formal, informal, luas areal lahan garapan dan pendapatan keluarga petani. Permasalahan tersebut merupakan faktor yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keberhasilan penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan formal, pendidikan informal, luas areal lahan garapan dan pendapatan keluarga petani secara parsial terhadap penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yang bertujuan untuk mengungkap faktor yang mempengaruhi keberhasilan penghijauan lahan kritis, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh Kepala Keluarga (KK) yang berada di Kecamatan Mojoroto yang bermata pencaharian sebagai petani. Penentuan sampel dalam penelitian ini ada dua, yaitu sampel daerah dan sampel responden. Sampel daerah ditentukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling, sedangkan sampel responden dengan menggunakan teknik Proporsional Random Sampling. Besarnya sampel yang diambil menggunakan rumus Dixon dan B. Leach, sehingga didapatkan jumlah sampel responden total adalah 81 KK. Data dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder, data primer dikumpulkan dengan teknik wawancara dan observasi sedangkan data sekunder dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji t untuk sampel berpasangan (paired sampel tes) yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan dari setiap variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Hasil penelitian ini adalah (1) pendidikan formal petani secara signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto; (2) pendidikan informal petani secara signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto; (3) luas areal lahan garapan petani secara signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto; (4) pendapatan keluarga petani secara signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mojoroto. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) Pihak penyuluh baik instansi tingkat kecamatan maupun kota diharapkan mengadakan penyuluhan secara intensif untuk memberikan pengetahuan bagaimana meningkatkan produksi dan pemeliharaan tanaman penghijauan yang efektif (2) meningkatkan fungsi kelembagaan kelompok tani secara mandiri agar permasalahan yang berkaitan dengan pembagian bibit tanaman, pupuk, obat-obatan dan lainnya dapat terkoordinasi dengan baik.

Pembelajaran kimia pada materi pokok laju reaksi dengan pendekatan konstruktivis melalui metode praktikum dan diskusi untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI MAN 3 Malang / Nurul Istiqomah

 

ABSTRAK Istiqomah, Nurul.2008.Pembelajaran Kimia pada Materi Pokok Laju Reaksi dengan Pendekatan Konstruktivis Melalui Metode Praktikum dan Diskusi untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S, (2) Drs. Mahmudi, M.Si. Kata kunci: konstruktivis, praktikum dan diskusi, motivasi, prestasi Persoalan yang dihadapi MAN 3 Malang bukan hanya terbatas pada upaya membuat kegiatan belajar mangajar lebih menarik tetapi juga bagaimana menumbuhkan motivasi dan meningkatkan prestasi belajar. Tujuan penelitian adalah untuk: 1) Mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran kimia pada materi pokok laju reaksi dengan pendekatan konstruktivis melalui metode praktikum dan diskusi yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar kimia siswa kelas XI MAN 3 Malang. 2) Membandingkan efektivitas pendekatan kontruktivis melalui metode praktikum dan diskusi dengan pendekatan konvensional dalam meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar kimia siswa kelas XI MAN 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif dan penelitian eksperimental semu (quasi experimental design) dengan dua kelompok yaitu eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan pendekatan konstruktivis melalui metode praktikum dan diskusi, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar dengan pendekatan konvensional. Populasinya adalah seluruh siswa kelas XI MAN 3 Malang semester gasal tahun ajaran 2008/2009. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI -1 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 36 dan kelas XI-4 sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 35 yang di ambil dengan cara acak terbatas. Kelas uji coba instrument soal adalah kelas XI-3 MAN 3 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian terdiri dari perangkat pembelajaran, lembar observasi, angket motivasi belajar yang valid, dan tes prestasi belajar yang terdiri dari 23 butir soal yang valid dengan reliabilitas 0,756, data dianalisis dengan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan penerapan pembelajaran kimia pada materi pokok laju reaksi dengan pendekatan konstruktivis melalui metode praktikum dan diskusi telah terlaksana dengan baik, dengan persentase 83% sampai dengan 100%. Motivasi belajar siswa kelas eksperimen (100) lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol (50) yang diperoleh dari hasil angket evaluasi guru, dan prestasi belajar siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata kelas 16,97 lebih tinggi dibandingkan prestasi belajar siswa kelas kontrol dengan nilai rata-rata kelas 14,51, sehingga pembelajaran kimia dengan menggunakan pendekatan konstruktivis melalui metode praktikum dan diskusi lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan pendekatan konvensional untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji-t yang diperoleh harga thitung (4,522) > ttabel (1,995).

Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dalam pembelajaran Bahasa Arab di MAN Jombang / Zainal Abidin

 

ABSTRAK Abidin, Zainal. 2008. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam Pembelajaran Bahasa Arab di MAN Jombang. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. H. Moh. Khasairi, M.Pd. Kata kunci: kurikulum, KTSP, pembelajaran bahasa Arab. Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah implementasi KTSP dalam pembelajaran bahasa Arab di MAN Jombang. Penelitian dilakukan berdasarkan kenyaataan bahwa KTSP telah diberlakukan di MAN Jombang mulai tahun ajaran 2007/2008. Perbedaan esensial antara KBK dan KTSP tampak pada teknis pelaksanaannya. Jika KBK disusun oleh pemerintah pusat yaitu Depag, sedangkan KTSP disusun oleh tingkat satuan pendidikan masing-masing, dalam hal ini adalah sekolah yang bersangkutan. Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi KTSP dalam pembelajaran bahasa Arab (PBA) di MAN Jombang. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab, dan (3) faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasi KTSP dalam pembelajaan bahasa Arab. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif. Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa program bahasa kelas XI MAN Jombang. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama, dan instrumen penunjang berupa pedoman observasi, pedoman analisis dokumen, pedoman wawancara, dan angket/kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan adanya perencanaan pembelajaran yang meliputi: (a) pemetaan alokasi waktu yang digunakan oleh guru bahasa Arab sudah sesuai dengan format alokasi waktu berdasarkan KTSP, alokasi waktu yang tersedia adalah 42 JP (21 jam x 2 jam), (b) prota yang dibuat oleh guru belum memenuhi komponen-komponen prota pada umumnya, karena dalam pembuatan prota guru tidak mencatumkan SK, dan KD yang ingin dicapai, (c) promes yang dibuat oleh guru belum memenuhi komponen-komponen promes pada umumnya, karena promes yang dibuat oleh guru tidak mencatumkan alokasi waktu dan KD pada setiap pokok bahasan, (d) silabus dan RPP disusun sesuai dengan model dari Depag. Komponen-komponen perangkat pembelajaran tersebut meliputi: identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok, dan alokasi waktu. Sedangkan pelaksanaan KTSP dalam PBA meliputi: (a) bahan ajar/buku teks yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran ketrampilan berbahasa Arab adalah buku Madrasah Development Centre Jawa Timur oleh Sutaman, MA, dkk. Penerbit PT. Wahana Dinamika Karya.2004, (b) pengajaran ketrampilan membaca guru menggunakan metode membaca, pengajaran berbicara dengan metode modelling, menulis dengan metode gramatika terjemah, dan mendengar dengan metode Audio-lingual. Penggunaan metode belum maksimal, sehingga guru kurang bisa menguasai situasi kelas, (c) media pembelajaran yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal. Guru sering menggunakan benda-benda asli dalam kelas seperti buku teks sebagai media pembelajaran, (d) penilaian yang diterapkan ii oleh guru meliputi penilaian proses dan hasil. Kedua penilaian tersebut mencakup aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Penilaian proses dilaksanakan selama KBM berlangsung. Sedangkan penilaian hasil belajar dilakukan setiap selesai pembelajaran. Faktor pendukung implementasi KTSP dalam PBA adalah sarana dan prasarana, tenaga pengajar, kepala sekolah, siswa, dan lingkungan sekolah yang kondusif. Sedangkan faktor penghambat PBA adalah heterogenitas siswa, dan kurangnya pemahaman guru bahasa Arab terhadap KTSP. Disarankan agar Guru bahasa Arab MAN Jombang dalam perencanaan, dan implementsi KTSP dalam pembelajaran menciptakan situasi yang lebih menyenangkan dan mampu memaksimalkan penggunaan metode, media dan setrategi yang kreatif, pihak sekolah diharapkan lebih meningkatkan kerja sama dengan guru, sehingga siswa berkualitas dalam IMTAQ dan IPTEK, dan mengadakan sosialisasi/pelatihan-pelatihan guru-guru bahasa Arab untuk meningkatkan pemahaman dan keahlian guru dalam PBA berbasis KTSP.

Perbedaan konformitas terhadap perilaku membolos ditinjau dari jenis kelamin pada siswa SMP Negeri 18 Malang / Hera Nathalia Fransisca

 

Remaja cenderung untuk berusaha mengikuti arus lingkungannya atau berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya. Konformitas remaja menunjukkan keinginan remaja untuk diterima dalam kelompok dan ketakutan mereka untuk dikucilkan, di mana dapat bersifat positif maupun negatif. Wanita lebih mudah terpengaruh daripada laki-laki. Penelitian yang dilakukan bertujuan mengetahui 1) bagaimana konformitas terhadap perilaku membolos siswa laki-laki SMPN 18 Malang, 2) bagaimana konformitas terhadap perilaku membolos siswa laki-laki SMPN 18 Malang, 3) apakah ada perbedaan konformitas terhadap perilaku membolos remaja ditinjau dari jenis kelamin di SMPN 18 Malang. Rancangan penelitian adalah deskriptif dan komparatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 18 Malang. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 147 siswa. Alat pengumpulan data berupa skala konformitas yang dikhususkan pada perilaku membolos yang dikembangkan berdasarkan teori dari Myers dengan validitas berkisar 0, 208–0, 648 dan reliabilitas 0, 9384, sedangkan jenis kelamin diketahui melalui data isian kuesioner yang diisi oleh subyek. Skala yang digunakan adalah skala model Likert. Penelitian ini dilakukan pada April-Mei. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan 1) tingkat konformitas terhadap perilaku membolos siswa laki-laki SMPN 18 Malang tinggi sebanyak 23, 809%, sedang sebanyak 61, 905%, dan rendah sebanyak 14, 286%, 2) tingkat konformitas terhadap perilaku membolos siswa perempuan SMPN 18 Malang tinggi sebanyak 17, 857%, sedang sebanyak 67, 857%, dan rendah sebanyak 14, 286%, 3) konformitas terhadap perilaku membolos laki-laki lebih besar (M = 117, 68) dibandingkan dengan perempuan (M = 102,69), 4) ada perbedaan yang signifikan antara konformitas terhadap perilaku membolos ditinjau jenis kelamin (t = -3, 798; p = 0, 000 < 0, 05). Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi remaja memiliki sikap dan keyakinan pada dirinya sendiri agar tidak mudah patuh, menerima, dan meniru saat berinteraksi dengan teman sebaya. Bagi orang tua bisa memberikan informasi tentang kerugian membolos, pendidikan agama serta moral, mendidik dengan cara demokratis. Bagi guru, memberikan materi tentang konformitas dan perilaku membolos, dan bagi peneliti selanjutnya bisa membahas tentang hubungan konformitas dan jenis kelamin terhadap perilaku membolos, memperluas ruang lingkup penelitian, menggabungkan teknik penelitian kuantitatif dan kualitatif, dan hendaknya memperhatikan variabel lain yang memiliki keterkaitan dengan variabel konformitas.

Efektivitas pelatihan asertivitas untuk meningkatkan ketrampilan komunikasi interpersonal mahasiswa psikologi UM / Ririn Rochmawati

 

ABSTRAK Rochmawati, Ririn. 2008. Efektivitas Pelatihan Asertivitas Untuk Meningkatkan Ketrampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Psikologi UM. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Marthen Pali, M.Psi, (II) Ika A. Farida, S.Psi, M.Psi Kata Kunci: Pelatihan Asertivitas, Ketrampilan Komunikasi Interpersonal. Berkomunikasi adalah satu keharusan bagi manusia. Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan fungsi yang paling pokok dalam berinteraksi. Komunikasi merupakan pondasi dari semua hubungan interpersonal, dan semua kehidupan kita selalu dipenuhi oleh pengalaman komunikasi dengan sesama. Ketrampilan komunikasi interpersonal merupakan ketrampilan yang penting dalam menjalin hubungan dan mempertahankan hubungan dengan orang lain termasuk ketrampilan yang juga harus dimiliki oleh mahasiswa psikologi sebagai calon profesional helper. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan asertivitas untuk meningkatkan ketrampilan komunikasi interpersonal mahasiswa psikologi UM dengan membandingkan skor ketrampilan komunikasi interpersonal sebelum dan setelah pelatihan diberikan pada kelompok eksperimen, serta membandingkannya dengan kelompok kontrol yang tidak diberi pelatihan. Beberapa ketrampilan komunikasi yang penting dimiliki adalah keterampilan komunikasi yang jujur dan terus terang, kemampuan untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan kepada orang lain, komunikasi empati yang tepat pada klien atau orang lain serta kemampuan mengatakan “tidak”. Ketrampilan-ketrampilan tersebut dapat dilatih dan ditingkatkan lewat pelatihan asertivitas. Pelatihan asertivitas adalah pelatihan yang menggunakan pendekatan behavioristik lewat prosedur (1) Modelling, (2) Role Playing, (3) Feed Back atau umpan balik dan (4) Transfer Of Learning. Pada penelitian terbatas pada tiga topik pelatihan yaitu: (1) Membangun Afirmasi diri, (2) Mengekspresikan Perasaan Positif, (3) Mengekspresikan Perasaan Negatif. Desain penelitian yang digunakan adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design. Penelitian dilakukan di UPT Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang, tanggal 24-26 Juli 2008. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pelatihan asertivitas dan variabel terikat adalah ketrampilan komunikasi interpersonal. Instrumen yang digunakan adalah skala ketrampilan komunikasi interpersonal dan panduan pelatihan asertivitas dengan subyek penelitian sebanyak 11 orang subyek kelompok eksperimen dan 12 orang subyek kelompok kontrol. Analisis hasil penelitian adalah dengan menggunakan signifikansi statistik. Signifikansi statistik menggunakan uji statistik parametrik t. Uji hipotesis amatan ualang pada kelompok eksperimen menunjukkan hasil nilai t=5,788, nilai p=0,006 (p<0,05), sedangkan pada uji hipotesis amatan antar kelompok menunjukkan nilai t=5,529 dengan nilai p= 0,001<0,05.yang mempunyai arti bahwa pelatihan asertivitas efektif untuk meningkatkan ketrampilan komunikasi interpersonal.

Alat penggulung lilitan trafo / Novi Budisantoso

 

ABSTRAK Budisantoso, Novi. 2009. Alat Penggulung lilitan trafo. Proyek akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T., (II) Sujito, S.T.,M.T. Kata kunci: Regulator, Relay, Motor DC Pada kegiatan melilit kembali telah tersedia alat penggulung lilitan trafo secara manual. Dimana alat penggulung manual sangat diperlukan ketelilitian kerapatan pada tiap lapisan gulungan dan jumlah lilitan yang akan digulung. Maka dari itu diperlukan suatu alat yang dapat mempermudah pembuatan lilitan tersebut. Dengan alasan itu dilakukannya penelitian untuk membuat alat yang dapat membantu mempermudah pembuatan lilitan yang dikhususkan untuk pembuatan lilitan trafo atau motor. Alat penggulung lilitan kawat untuk trafo ini didesain dengan sedemikian rupa agar alat ini dapat bekerja secara semi otomatis. Pada alat penggulung lilitan trafo ini, kerjanya tidak dilakukan secara manual tetapi menggunakan 2 buah motor sebagai penggerak, motor penjepit/pengarah yang mengatur kerapatan kawat pada koker, dan counter sebagai penghitung jumlah lilitan. Prinsip kerja pada Alat penggulung lilitan trafo yang menggunakan 2 buah motor yaitu terdapat motor utama/ motor penggulung dan motor penjepit/pengarah Motor DC sebagai penggeser penjepit kawat adalah sebagian pendukung alat penggulung lilitan trafo secara keseluruhan. Fungsi dari alat motor DC sebagai penggeser penjepit kawat digunakan untuk mengatur kerapatan dan kerataan dalam melakukan kegiatan penggulungan. Dimana motor dc pada alat penggeser kawat kecepatan motornya dapat diatur cepat atau lambat, karena kecepatan motor dc tergantung dari diameter atau luas penampang kawat yang akan dililit. Pada pengatur kecepatan motor dc penggeser penjepit kawat dengan cara mengubah tegangan pada motor dc, dimana tegangan yang diberikan semakin besar maka semakin cepat pula putaran yang dihasilkan. Hal ini mempengaruhi diameter kawat semakin kecil kawat maka putaran yang dibutuhkan juga semakin cepat. Motor DC sebagai penggulung kawat merupakan penggerak utama dalam alat penggulung lilitan kawat. Dimana motor dc berfungsi sebagai penggulung lilitan kawat yang dihubungkan dengan as berulir dan telah dipasang koker untuk penggulungan lilitan kawat. Pada alat penggulung lilitan kawat motor yang digunakan jenisnya sama dengan motor penggeser, tetapi untuk kemampuan yang dimiliki berbeda dimana tegangan yang digunakan untuk motor dc penggulung yaitu 18 volt dan tegangannya stabil. Ukuran pada koker yang digunakan alat penggulung lilitan kawat dibatasi, hal ini dikarena kemampuan alat. Dimana lebar koker dan panjang koker yang terbatas yaitu ukuran lebar 15cm, panjang 10cm dan juga berlaku untuk diameter kawat. Untuk batas diameter kawat yaitu ukuran terkecil 0,5mm sampai 1mm. Sistem kerja keseluruhan dari alat penggulung lilitan trafo yaitu Power suplai sebagai suplai utama dari rangkaian pengendali dan motor. Pada alat penggulung lilitan trafo terdiri dari 2 buah power supply dimana salah satunya adalah power supply regulator yang di gunakan untuk menyuplai motor penjepit. Sedangkan untuk power supply ke 2 digunakan untuk menyuplai rangkaian dan motor utama.Counter berfungsi sebagai penghitung putaran atau jumlah lilitan dari motor penggulung utama.Relay pertama sebagai pengendali arah putar dari motor pejepit dan juga sebagai pengendali kerja dari relay kedua.Relay kedua berfungsi sebagai pembalik polaritas tegangan dari motor penjepit.Relay ketiga sebagai pengendali suplai tegangan untuk motor penjepit dan juga pengendali suplai tegangan motor utama.Swicth NO/NC berfungsi sebagai pembatas putaran dari motor penjepit dan membalikkan arah putar motor.Motor utama berfungsi sebagai penggulung kawat pada koker.Motor penjepit berfungsi sebagai perata lilitan kawat pada saat melakukan penggulungan atau melilit kawat

Perancangan media komunikasi visual shutter digital imaging service / Fitria Kartika Candrawati

 

Media Komunikasi Visual merupakan sarana penyampaian informasi secara visual, dalam hal ini penyampaian informasi mengenai produk dari produsen kepada konsumen. Media komunikasi visual digunakan untuk menarik perhatian konsumen, menginformasikan tentang produkmempengaruhi, dan pada akhirnya bertujuan pada penjualan produk. Shutter Digital Imaging Service merupakan perusahaan yang bergerak di bidang fotografi dengan basis teknologi digital. Sebagai perusahaan yang relative masih baru, Shutter butuh menginformasikan seluas-luasnya kepada konsumen mengenai keberadaan perusahaan, ragam produk dan jasa yang ditawarkan, serta kelebihan-kelebihan yang menjadi nilai tambah bagi Shutter. Perancangan Media Komunikasi Visual Shutter Digital Imaging Service didasari oleh kebutuhan perusahaan akan media komunikasi visual yang efektif untuk menyampaikan informasi-informasi tersebut. Perancangan dilakuakan pada media indoor dan outdoor, meliputi in-banner, catalog, kalender, yellow pages, poster, ID card dan crew card, interior dan eksterior bangunan, serta spanduk. Hasil perancangan berbentuk print out dan mock up berbagai media terpilih beserta konsepnya. Perancangan ditekankan pada bentuk media yang simple, eksklusif, dan mencerminkan kualitas tinggi.

Pengembangan modul pembelajaran IPA topik perubahan kenampakan benda-benda langit di SDN Percobaan 1 Malang kelas IV / Helda Kusuma Wardani

 

Kata kunci : IPA, modul pembelajaran, pengembangan Pebelajar seharusnya mendapatkan pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai potensi, tahap perkembangan, dan kondisi pebelajar. Dimensi keindividuan yang layak diperhatikan, dapat direalisasikan dengan penerapan pendekatan konstruktivistik kognitif. IPA menghendaki terbentuk sikap ilmiah, salah satu upaya adalah membaca. Modul pembelajaran melayani keindividuan dan aktivitas membaca. Untuk mendapatkan modul pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dirasa penting melaksanakan penelitian & pengembangan modul pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran IPA topik perubahan kenampakan benda-benda langit yang telah divalidasikan di SDN Percobaan 1 Malang Kelas IV semester 2. Validasi meliputi validasi isi pembelajaran, narasi isi pembelajaran, dan ilustrasi modul pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan. Data penelitian berupa hasil penilaian ahli matapelajaran, ahli bahasa, ahli media sesuai dengan keahlian masing-masing. Instrumen untuk mengumpulkan data berupa instrumen skala nilai dan angket juga digunakan untuk mengumpulkan data dari pembelajar dan pebelajar setelah pemanfaatannya. Teknik wawancara digunakan untuk menggali data dan informasi lebih lanjut tentang saran dan catatan kesalahan yang diberikan oleh konsultan ahli. Analisis data dilaksanakan dengan dua cara, yakni analisis skala nilai dikuantifikasi menjadi persentase dan analisis terhadap saran dan catatan kesalahan oleh para ahli. Hasil skor persentase digunakan untuk menetapkan validitas isi pembelajaran, narasi isi pembelajaran, dan ilustrasi isi pembelajaran. Kemudian dicari penyebab adanya persentase kurang dari 100% yang dijadikan dasar pelaksanaan revisi produk. Dari analisis persentase, semuanya valid atau sangat valid. Seharusnya sesuai kriteria validitas modul pembelajaran, produk tidak perlu direvisi. Modul pembelajaran tetap direvisi, disesuaikan dengan saran dan catatan kesalahan. Dari penelitian pengembangan modul pembelajaran ini diperoleh kesimpulan: (1) berdasarkan penilaian ahli mata pelajaran diperoleh Skor persentase Validitas Isi Pembelajaran (SVIP) sebesar 87,5% dengan kriteria sangat valid; (2) Skor persentase Validitas Narasi Isi Pembelajaran (SVNIP) dari ahli matapelajaran sebesar 79,01% dengan kriteria valid, dari penilaian ahli bahasa diperoleh SVNIP 90,83% dengan kriteria sangat valid, dan penilaian ahli media diperoleh SVNIP 82,81% dengan kriteria sangat valid, dari ketiga ahli rerata SVNIP sebesar 84,22% dengan kriteria sangat valid; dan (3) Skor persentase Validitas Ilustrasi Isi Pembelajaran (SVIIP) penilaian ahli matapelajaran 79,17% dengan kriteria valid dan diperoleh dari penialain ahli media SVIIP sebesar 87,5% dengan kriteria sangat valid, dari kedua ahli diperoleh SVIIP rerata sebesar 83,34% dengan kriteria sangat valid. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran IPA kelas IV SD sangat valid isi pembelajarannya, narasi isi pembelajaran maupun ilustrasi isi pembelajarannya. Namun demikian, para ahli memberikan catatan kesalahan sebagai berikut: (1) isi pembelajaran terjadi kesalahan penggunaan istilah gaya gravitasi disarankan diganti gaya tarik menarik, (2) narasi isi pembelajaran terjadi kesalahan penggunaan kata atau kalimat yang tidak baku; dan (3) ilustrasi isi pembelajaran kesalahan utamanya adalah penomoran dan penamaan gambar ilustrasi. Revisi produk terutama berdasarkan data dan catatan kesalahan. Uji coba lapangan menghasilkan data bahwa modul pembelajaran mempunyai validitas isi pembelajaran (SVIP) 87,5% dengan kriteria sangat valid. SVNIP sebesar 88,34% dengan kriteria sangat valid dan SVIIP sebesar 88,80% dengan kriteria sangat valid. Validitas modul pembelajaran berdasarkan uji coba lapangan secara keseluruhan sebesar 87,92% dengan kriteria sangat valid. Validitas modul pembelajaran dengan kriteria sangat valid ini berbanding lurus dengan perolehan tes akhir yang menunjukkan 93,33% dari banyaknya pebelajar atau 42 orang pebelajar mencapai KKM. Hasil akhir dari penelitian&pengembangan ini adalah prototype modul pembelajaran IPA kelas IV Sekolah Dasar.

Implementasi pembelajaran kooperatif model numbered heads together untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata diklat pelayanan prima (Studi pada siswa kelas X penjualan SMK PGRI 02 Malang) / Eugenia Elma Lasades

 

ABSTRAK Lasades, Eugenia Elma. 2009. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Diklat Pelayanan Prima (Studi Pada Siswa Kelas X Penjualan SMK PGRI 02 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si., (2) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), Prestasi Belajar. Perkembangan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Mengingat dengan adanya tuntutan perkembangan zaman saat ini, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan penyempurnaan proses belajar yang meliputi sistem penilaian dari metode pembelajaran yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif antara lain, yaitu : Student Team Achievement Division (STAD), Team Achievement Instruction (TAI), Teams Games Tournament (NHT), Cooperative Integrade Reading and Composition (CIRC), Jigsaw, Improve, dan Numbered Heads Together (NHT). Dalam penelitian ini metode pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran NHT adalah struktur yang melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman siswa terhadap isi pelajaran tersebut. Pembelajaran kooperatif NHT ini memiliki 4 langkah yaitu penomoran (numbering), pengajuan pertanyaan (questioning), berpikir bersama (heads together), dan menjawab pertanyaan (answering). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi (pengamatan), interview (wawancara), catatan lapangan, angket, dan tes. Sedangkan analisis data meliputi pengelompokan data, reduksi data, paparan data, dan kesimpulan. Adapun subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK PGRI 02 Malang yang berjumlah 40 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X penjualan SMK PGRI 02 Malang, hal ini dapat dilihat dari nilai pre test (sebelum diterapkannya pembelajaran NHT) diperoleh dari nilai rata-rata siswa sebesar 65 dan setelah diterapkan pembelajaran NHT (Post test), maka diperolah nilai rata-rata kelas siswa pada siklus I adalah 75. Hal ini dapat diartikan prestasi belajar siswa mengalami kenaikan sebesar 25%. Prestasi belajar siswa pada siklus II juga mengalami kenaikan sebesar 25% dengan nilai rata-rata kelas sebesar 83. Respon peserta didik dalam metode pembelajaran kooperatif model NHT pada mata diklat Pelayanan Prima sangat positif, siswa senang, menggunakan metode pembelajaran kooperatif model NHT. Adapun kekurangan dalam metode pembelajaran kooperatif model NHT yaitu memerlukan waktu yang relatif banyak, agar semua tahapan dapat dilaksanakan lebih baik dan memerlukan perencanaan serta persiapan yang matang. Berdasarkan paparan data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) pada mata diklat Pelayanan Prima sudah berjalan lancar, hal ini ditandai dengan adanya peningkatan aktifitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II. (2) Prestasi belajar siswa pada pembelajaran kooperatif model NHT sudah mengalami peningkatan, pada siklus II siswa sudah dapat dinyatakan tuntas dalam belajar. Prestasi belajar siswa pada siklus II mencapai peningkatan sebesar 25%. (3) Respon siswa terhadap pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) sangat positif, siswa merasa senang mengikuti materi pada mata diklat Pelayanan Prima dengan pembelajaran model NHT bersama teman-teman sekelas, dapat meningkatkan rasa saling percaya antar sesama teman, siswa bisa lebih aktif dalam pembelajaran di kelas, merasa lebih berani mengungkapkan pendapat, dapat melatih siswa berbagi pengetahuan dengan teman-teman sekelas, dapat belajar menghargai pendapat orang lain, siswa dapat lebih mudah memahami materi, merasa betah belajar di kelas karena suasananya tidak membosankan, siswa bisa saling membantu, dapat membuat siswa bersemangat untuk mempelajari kembali materi yang telah disampaikan di kelas, dan penghargaan yang diberikan kepada siswa yang berprestasi dapat mendorong siswa untuk belajar lebih rajin. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) sangat bermanfaat bagi siswa, karena model pembelajaran ini telah terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Sehingga bagi guru mata diklat Pelayanan Prima dan guru mata diklat lainnya diharapkan dapat menerapkan pembelajaran NHT ini. Dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT hendaknya guru juga harus memperhatikan alokasi waktu dan keaktifan kelas. (2) Guru harus dapat memotivasi siswa untuk mengadakan persiapan belajar di rumah sebelum materi disampaikan di sekolah. Dengan cara memberitahu siswa bahwa tiap kali pertemuan akan diadakan pre test, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk belajar sebelum materi disampaikan. (3) Bagi lembaga, hendaknya lebih mensosialisasikan penerapan berbagai model pembelajaran seperti model NHT, mengingat minimnya informasi yang diterima oleh guru atau calon guru. (4) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) pada mata diklat lain selain mata diklat Pelayanan Prima, dan dapat dikembangkan untuk sekolah-sekolah lain.

Pengaruh cahaya terhadap berat ovarium dan jumlah folikel graaf mencit (Mus musculus) galur balb C / Ima Nurfajriyah

 

Cahaya dapat didefinisikan sebagai suatu bagian dari spektrum gelombang elektromagnet yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya. Cahaya merupakan bagian yang penting dalam kehidupan makhluk hidup, dan diperlukan secara tidak langsung dalam aktifitas reproduksinya. Cahaya mempunyai peranan penting khususnya bagi hewan-hewan diurnal, misalnya digunakan dalam aktivitas mencari makan, berinteraksi dengan lingkungannya bahkan untuk bereproduksi. Peranan cahaya yang terpenting dalam mengatur berbagai fungsi reproduksi terletak pada kemampuannya untuk mensinkronisasikan peristiwa-peristiwareproduksi dan irama (ritme) reproduksi dalam hal ini kaitannya dengan pelepasan hormon gonadotrofin. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh cahaya terhadap berat ovarium dan jumlah folikel graaf mencit (Musmusculus) galur Balb C. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan masing-masing lima kali ulangan. Hewan coba yang digunakan adalah mencit betina yang berumur 3 minggu dengan berat badan 6,3-8,3 gram, yang berjumlah 25 ekor. Diberikan perlakuan dengan pemaparan cahaya lampu 10 watt dengan lama waktu untuk kelompok kontrol 12 jam per hari, sedangkan kelompok perlakuan 0 jam, 6 jam, 18 jam, dan 24 jam per hari. Perlakuan tersebut diberikan setiap hari selama 8 minggu secara terus menerus. Mencit dibunuh pada umur 8 minggu setelah mengalami tiga kali siklus estrus secara dislokasi leher. Ovariumnya diambil dan dibersihkan dengan larutan Nacl 0,9%, kemudian ditimbang dan diamati secara makroskopis dengan mikroskop stereo jumlah folikel graaf. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) dan apabila berpengaruh dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian setelah dianalisis menggunakan ANAVA menunjukkan bahwa Fhitung lebih kecil Ftabel 5 %. Hal ini berarti cahaya tidak berpengaruh terhadap berat ovarium dan jumlah folikel graaf mencit (Mus musculus) galur Balb C.

Pengaruh motivasi terhadap kinerja melalui kepuasan kerja (Studi pada karyawan instalasi pemeliharaan sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang) / Mahandri Bayu Angga

 

ABSTRAK Angga, Mahandri Bayu. 2008. Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja melalui Kepuasan Kerja (Studi Pada Karyawan Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sutrisno, M.M (II) Drs. Mohammad Arief, M.Si Kata Kunci: motivasi, kinerja, kepuasan kerja Perusahaan yang siap berkompetisi harus memiliki manajemen yang efektif untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam manajemen efektif memerlukan dukungan para karyawan yang cakap dan kompeten dibidangnya. Dalam hal ini motivasi yang kuat dan kepuasan kerja sangat mempengaruhi kinerja karyawan. Pimpinan dapat memotivasi bawahannya untuk meningkatkan kinerjanya dengan cara mengevaluasi kinerjanya, menaikkan gajinya, pemberian bonus dan kesempatan promosi. Selain motivasi ada hal lain juga penting dalam melihat kinerja karyawan yaitu kepuasan kerja. Kepuasan kerja merupakan ukuran proses pembangunan manusia yang berkelanjutan dalam suatu organisasi. Menurut pendapat Handoko (2000:194) bahwa para karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja akan melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik. Secara bersama motivasi yang kuat dan kepuasan kerja menambah kemampuan karyawan dalam menigkatkan kinerjanya. Rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah kondisi deskriptif motivasi pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? (2) Bagaimanakah kondisi deskriptif kepuasan kerja pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? (3) Bagaimanakah kondisi deskriptif kinerja pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? (4) Apakah terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara motivasi terhadap kepuasan kerja pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? (5) Apakah terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap kinerja pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? (6) Apakah terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara motivasi terhadap kinerja pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? (7) Apakah terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara motivasi terhadap kinerja melalui kepuasan kerja pada karyawan Instalasi Pemeliharan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang? Penelitian ini merupakan penelitian explanatory (penjelasan). Sedangkan berdasarkan tingkat penjelasannya, penelitian yang digunakan adalah penelitian assosiatif. Bentuk hubungan antar variabel dalam penelitian ini adalah hubungan kausal. Populasi penelitian adalah seluruh karyawan instalasi pemeliharaan sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan tujuan untuk memudahkan identifikasi karyawan dengan jumlah sampel sebanyak 50 dari 57 karyawan yang ada di instalasi pemeliharaan sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan tenik analisis deskriptif dan analisis jalur (path analysis). Berdasarkan hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan antara lain: (1) Karyawan Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang memiliki tingkat motivasi yang baik. (2) Karyawan Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang memiliki tingkat kepuasan kerja yang baik. (3) Karyawan Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang memiliki tingkat kinerja yang baik. (4) Terdapat pengaruh langsung positif, dan signifikan antara motivasi terhadap kepuasan kerja pada Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang. (5) Terdapat pengaruh langsung positif, dan signifikan antara kepuasan kerja terhadap kinerja pada Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang. (6) Terdapat pengaruh langsung positif, dan signifikan antara motivasi terhadap kinerja pada Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang. (7) Terdapat pengaruh tidak langsung, positif, dan signifikan antara motivasi terhadap kinerja melalui kepuasan kerja pada Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada pimpinan Instalasi Pemeliharaan Sarana RSU Dr. Saiful Anwar Malang : (1) Pimpinan instansi sebaiknya mempertahankan dan meningkatkan tingkat motivasi yang termasuk dalam kategori baik. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan apabila ada karyawan dengan tingkat kinerja yang istimewa, memberikan kesempatan promosi kepada karyawan yang hasil kerjanya sangat baik, mengevaluasi hasil kerja karyawan supaya karyawan tahu baik tidaknya hasil kerja mereka dan indikator yang satu ini (kenaikan gaji) hanya dapat ditentukan oleh pangkat dan golongan masing-masing karyawan, jadi kesimpulannya kenaikan gaji ditentukan karyawan itu sendiri. (2) Pimpinan instansi sebaiknya tetap mempertahankan tingkat kepuasan kerja yang sudah baik. Hal ini dapat dilakukan dengan pengawasan yang bersifat kekeluargaan, menciptakan situasi dan kondisi kerja yang baik misalnya dalam penataan ruang yang sangat nyaman dan menyenangkan serta menciptakan rasa persaudaraan diantara rekan sekerja, dan sekali lagi peneliti tekankan bahwa kebijakan gaji ditentukan oleh tingginya pangkat dan golongan jadi karyawan harus berusaha sendiri untuk mendapat gaji yang diharapkan, tetapi dengan adanya pensiun karyawan merasa sangat puas dengan pekerjaanya. (3) Pimpinan instansi sebaiknya mempertahankan dan meningkatkan tingkat kinerja yang termasuk dalam kategori baik. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan bagi karyawan yang memenuhi persyaratan atas tingkat kualitas, kuantitas dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaannya.

Pengembangan paket pelatihan asertivitas siswa SMA Negeri 2 Blitar (panduan untuk konselor) / Novika Ludi Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Novika Ludi. 2009. Pengembangan Paket Pelatihan Asertivitas Siswa SMA Negeri 2 Blitar (Panduan untuk Konselor). Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd., (II) Drs. H. Moch. Bisri, M.Si. Kata kunci: Paket Pelatihan, Asertivitas, Bimbingan dan Konseling, Komunikasi. Manusia pada dasarnya adalah makluk sosial yang selalu melakukan interaksi dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Salah satu bentuk perilaku sosial yang mendukung terakomodasikannya kepentingan-kepentingan sosial dan pribadi adalah perilaku asertif atau tegas. Galassi dan Galassi (1977:3) menyatakan bahwa perilaku asertif adalah pengungkapan secara langsung kebutuhan, keinginan, dan pendapat seseorang tanpa menghukum, mengancam atau menjatuhkan orang lain. Asertif juga meliputi mempertahankan hak mutlak seseorang tanpa melanggar hak orang lain. Untuk dapat meningkatkan dan membudayakan individu berperilaku asertif diperlukan media bantu yang menarik dan sesuai. Media bantu yang dimaksud adalah paket pelatihan asertivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan paket pelatihan asertivitas siswa SMA sebagai panduan untuk konselor. Desain pengembangan diadaptasi dari strategi pengembangan Borg and Gall, dengan tahap-tahap: (1) melakukan penilaian kebutuhan (need assessment) mengidentifikasi kebutuhan siswa, instrumen yang digunakan adalah angket kebutuhan siswa terhadap pelatihan asertivitas. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI dengan jumlah 34 orang siswa, (2) analisis data dan penetapan prioritas kebutuhan. Teknik analisis menggunakan presentase. Penetapan prioritas kebutuhan dengan cara mengelompokkan peringkat dari yang tertinggi, (3) merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus paket pelatihan asertivitas, (4) menyusun paket pelatihan asertivitas siswa SMA, (5) penilaian produk oleh uji ahli. Uji ahli dilakukan oleh seorang ahli BK dan bahasa. Instrumen yang digunakan adalah angket penilaian, (6) revisi produk dari uji ahli, (7) hasil draf, (8) penilaian dan diskusi calon pengguna produk. Calon pengguna produk terdiri dari dua orang konselor. Instrumen yang digunakan adalah angket penilaian uji calon pengguna produk, (9) revisi produk dari calon pengguna produk, (10) produk akhir berupa paket pelatihan asertivitas. Paket Pelatihan Asertivitas ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu: paket yang dibuat mengajak siswa untuk berpartisipasi aktif sehingga tercipta suasana yang menyenangkan, paket berisi materi-materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa sehingga dapat ditemukan solusinya, paket pelatihan asertif siswa SMA belum ada yang mengembangkan, sehingga dapat membantu konselor untuk melaksanakan pelatihan asertivitas di sekolah. Paket ini juga memiliki kelemahan, yaitu: penilaian paket ini baru sampai pada ruang lingkup yang terbatas, yaitu sampai pada uji ahli dan uji calon pengguna produk, proses kegiatan yang ada dalam paket memerlukan waktu yang cukup lama kemungkinan dalam pelaksanaannya ada kendala waktu. i Hasil dari penelitian ini disarankan beberapa hal, yaitu: untuk peneliti selanjutnya, perlu melakukan penelitian lebih lanjut sampai pada tahap uji kelompok kecil untuk siswa dan uji lapangan untuk mengetahui efektivitas dan kelayakan penerapan paket pelatihan asertivitas, untuk sekolah, pelaksanaan pelatihan asertivitas hendaknya dilakukan setiap tahun dan disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi siswa., untuk konselor sekolah yang akan menggunakan paket ini untuk lebih memperhatikan keadaan, waktu, tempat, dan aspek budaya yang mempengaruhi perilaku asertif setiap individu, untuk siswa yang mengikuti pelatihan diharapkan untuk serius dalam mengikuti setiap tahap dalam pelatihan asertivitas.

Hubungan antara kecerdasan emosi dan stres siswa dengan prestasi belajar matematika pada remaja di SMAN 2 Batu / Irfan Anugerah Putra

 

ABSTRAK Putra, Irfan Anugerah. 2009. Hubungan antara kecerdasan emosi dan stres siswa dengan prestasi belajar Matematika pada remaja di SMA Negeri 2 Batu. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Adi Atmoko, M. Si, (II) Ika Andrini Farida, S. Psi, M. Psi. Kata kunci : Kecerdasan Emosi, Stres, Prestasi Belajar, Remaja Ditetapkannya nilai standar kelulusan yaitu 5,25, banyak siswa yang mengalami stres sehingga prestasi belajar matematika menjadi menurun. Matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, sikap terhadap mata pelajaran matematika tersebut membuat orang akan mengalami ketakutan dan menjadi malas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosi dan stres dengan prestasi belajar matematika. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan deskriptif dan korelasional terhadap 134 sampel siswa SMAN 2 Batu. Data dikumpulkan dengan angket dan skala yang semuanya memiliki validitas konsistensi internal lebih besar dari 0,3, dan nilai reliabilitas Alpha Cronbach lebih besar 0,3. Data dianalisis secara deskriptif, regresi linier dan regresi linier ganda menggunakan program SPSS 12 dan 15 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosi berada dalam kategori agak tinggi (50,7%), stres berada dalam kategori agak tinggi (47,8%) dan prestasi belajar berada dalam kategori agak tinggi juga (36,6%). Kecerdasan emosi mempunyai hubungan positif dengan prestasi belajar (R = 0,502; Fhitung = 44,463; p<0,05; Y = -3,091 + 0,601.X), stres mempunyai hubungan negatif dengan prestasi belajar (R = 0,455; Fhitung = 34,452; p<0,05; Y = 98,444+(- 0,355).X1). Dari hasil analisis regresi ganda antara kecerdasan emosi dan stres dengan prestasi belajar matematika diperoleh R = 0,596; Fhitung = 36,027; p<0,05; Y = 42,875 + 0,482. X1 + (- 0,262). X2 hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosi dan semakin rendah stres maka prestasi belajar siswa akan semakin tinggi. Berdasarkan atas temuan, penelitian ini menyarankan : (1) siswa hendaknya mampu mengelola emosi, siswa tidak mudah putus asa dan bersabar menghadapi tekanan stres yang dialami, mengenal emosi diri dan mampu memotivasi diri untuk berprestasi lebih baik lagi, (2) kepala sekolah hendaknya memberi arahan agar siswa mengelola emosi dan memotivasi diri, lebih mengoptimalkan peran bimbingan konseling, dan diharapkan dengan adanya layanan ini menjadi tempat siswa dalam menyampaikan berbagai masalah stres dan menemukan solusinya , (3) para guru lebih membantu siswa lebih mengenal dan mengelola emosi diri, mengarahkan siswa untuk meningkatkan kegiatan siswa ke arah positif, memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar matematika, dan memberi masukan berupa saran untuk menurunkan stres, (5) bagi orang tua siswa hendaknya memberi dorongan motivasi untuk lebih berprestasi lebih baik lagi, mendengarkan keluhan atau stres yang anak mereka alami dan mencari jalan keluar dari masalah yang mereka alami dalam mencapai prestasi belajar, memberikan hadiah agar anak lebih termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar, (6) bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengembangkan teori dari kecerdasan emosi yang lain.

Optimasi pH hasil sakarifikasi oleh aspergillus niger pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar putih dan penentuan rendemen biotanol tanpa sakarifikasi oleh ragi tape dan ragi roti / Evi Anjarwati

 

ABSTRAK Anjarwati, Evi. 2009. Optimasi pH Hasil Sakarifikasi oleh Aspergillus niger pada Pembuatan Bioetanol dari Ubi Jalar Putih dan Penentuan Rendemen Bioetanol Tanpa Sakarifikasi ole Ragi Tape dan Ragi Roti. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Evi Susanti, S.Si., M.Si., (II) Drs. Aman Santoso, M.Si. Kata-kata kunci: bioetanol, fermentasi, pH, sakarifikasi Bioetanol merupakan etanol yang berasal dari biomassa melalui proses fermentasi. Salah satu jenis biomassa yang dapat menghasilkan bioetanol adalah karbohidrat yang mengandung pati seperti ubi jalar. Kadar pati pada ubi jalar khususnya yang ubi jalar putih yang cukup besar yaitu sekitar 20 % dari berat basah, sehingga diprediksikan bahwa dalam 1000 kg ubi jalar mengandung pati sebanyak 150-200 kg yang dapat dikonversikan menjadi 125 L bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH terhadap rendemen bioetanol dan kemurnian Saccharomyces cerevisiae pada pembuatan bioetanol Penelitian ini bersifat eksperimen laboratoris, tahapan penelitian meliputi (1) preparasi ubi jalar putih hingga menjadi tepung, (2) likuifikasi dan sakarifikasi menggunakan Aspergillus niger, (3) penentuan pH fermentasi pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar putih dengan tahap sakarifikasi untuk menghasilkan rendemen bioetanol optimum, (4) penentuan rendemen bioetanol dari bubur ubi jalar putih tanpa sakarifikasi ole ragi tape dan ragi roti, (5) karakterisasi bioetanol yang dihasilkan secara kualitatif melalui uji Seri Amonium Nitrat (CAN), uji FeCl3, uji lucas, dan uji nyala. Kadar alkohol ditentukan dengan alkoholmeter pH optimum hasil sakarifikasi oleh Aspergillus niger untuk fermentasi etanol oleh Saccharomyces cerevisiae yaitu pada pH 4. Pada pH tersebut dihasilkan bioetanol dengan rendemen rata-rata sebesar 108,75 mL/Kg. Fermentasi ubi jalar putih tanpa sakarifikasi oleh ragi tape dan ragi roti masing-masing menghasilkan rendemen bioetanol sebesar 12,35 dan 21 mL/Kg. Hasil uji identifikasi menyatakan bioetanol yang dihasilkan termasuk alkohol primer (etil alkohol).

Hubungan efikasi diri dan kepuasan kerja pada karyawan pemasaran pabrik rokok (PR) Adi Bungsu / Yulmi Sarifatulloh Paranita

 

ABSTRAK Paranita, Yulmi Sarifatulloh.2008. Hubungan Antara Efikasi Diri dan Kepuasan Kerja pada Karyawan Pemasaran Pabrik Rokok (PR) Adi Bungsu. Skripsi, Program studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Moh. Irtadji, M.Si (2) Hetti Rahmawati S.Psi, M.Si Kata kunci : efikasi diri, kepuasan kerja, karyawan pemasaran Karyawan pemasaran memiliki tugas pekerjaan yang utama adalah memasarkan barang atau produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Karyawan pemasaran selalu dituntut atau ditarget oleh perusahaan untuk dapat memasarkan barang. Untuk mencapai tuntutan yang ditentukan oleh perusahaan maka karyawan pemasaran harus mempunyai efikasi diri yaitu keyakinan diri mengenai peluangnya untuk berhasil mencapai target yang ditentukan. Efikasi diri memiliki hubungan dengan kepuasan kerja yang dialami oleh karyawan pemasaran. Tujuan penelitian ini (1) untuk mendeskripsikan efikasi diri karyawan pemasaran di PR Adi Bungsu (2) untuk mendeskripsikan kepuasan kerja karyawan pemasaran di PR Adi Bungsu (3) untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan kepuasan kerja karyawan pemasaran di PR Adi Bungsu. Penelitian dengan rancangan deskriptif dan korelasional menggunakan subyek penelitian 84 orang karyawan PR Adi Bungsu dan instrumen skala efikasi diri dan kepuasan kerja dengan model Likert menggunakan 32 aitem dan 20 aitem. Dari uji coba terpakai diperoleh 23 aitem valid untuk skala efikasi diri dan reliabilitas sebesar 0,833, untuk kuesioner kepuasan kerja diperoleh 17 aitem yang valid dan reliabilitas sebesar 0,703 Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 71,43 % karyawan pemasaran memiliki efikasi diri yang tinggi, dan 55,95% karyawan pemasaran memiliki kepuasan kerja yang tinggi. Hasil analisis korelasional Product Moment Pearson menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara efikasi diri dan kepuasan kerja karyawan pemasaran ( r =0,439; p = 0,000, taraf signifikansi < 0,05). Saran yang dikemukakan:(1) Bagi Manager Human Resource Development (HRD) hendaknya dapat memenuhi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. (2) Bagi karyawan pemasaran Pabrik Rokok Adi Bungsu untuk meningkatkan efikasi diri agar dapat mencapai target penjualan yang ditentukan perusahaan. (3) Bagi peneliti selanjutnya: peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti topik yang sama hendaknya melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang belum sempat terungkap dalam penelitian ini, khususnya mengikutsertakan aspek generality, sehingga efikasi diri dapat diteliti secara lengkap.

Penggunaan pembelajaran kontekstual metode questioning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII-F di SMP Negeri 13 Malang dalam mata pelajaran ekonomi / Arista Marhance

 

ABSTRAK Marhance, Arista. 2009. Penggunaan Pembelajaran Kontekstual Metode Questioning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-F Di SMP Negeri 13 Malang Dalam Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Moch. Ichsan, S.E., M.Pd.,M.Si, (II) Imam Mukhlis, S.E., M.Si Kata-kata kunci: Questioning, Pembelajaran Kontekstual. Kemampuan Berpikir Kritis, Hasil Belajar. Berdasarkan obeservasi awal diketahui bahwa berpikir kritis siswa di kelas VIII-F SMP Negeri 13 Malang masih kurang. Hasil belajar siswa dalam kelas banyak yang belum memenuhi standar minimum (SKM) yaitu 70 ke atas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penggunaan pembelajaran kontekstual metode Questioning dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII-F SMP Negeri 13 Malang. Upaya peningkatan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dilakukan pembelajaran kontekstual metode Questioning. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang menggunakan pembelajaran kontekstual metode Questioning dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan dalam 2 siklus dalam 3 kali pertemuan melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII I-F SMP Negeri 13 Malang yang berjumlah 40 siswa, yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, rubrik dan tes pada akhir setiap siklus. Data kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dari skor kemampuan berpikir kritis siswa pada tahap siklus I dan II dilihat dari 3 aspek yaitu aspek kualitas, relevansi,dan bahasa baik untuk mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan. Pada siklus I kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebanyak 11 pertanyaan. Untuk aspek kualitas pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebesar 36 dengan rata-rata 6,83; aspek relevansi pertanyaan sebesar 34 dengan rata-rata 6,17; dan pada aspek bahasa yang digunakan sebesar 35 dengan rata-rata 6,4. Presentase dari kemampuan bertanya total nilai sebesar 878,16% dengan rata-rata 79,83%. Pada kemampuan menjawab pertanyaan untuk aspek kualitas pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebesar 37 dengan rata-rata 6,73; untuk aspek relevansi sebesar 34 dengan rata-rata 6,2; dan untuk aspek bahasa sebesar 33 dengan rata-rata 6. Persentase pada kemampuan menjawab pertanyaan sebesar 878,89% dengan rata-rata 79,26%. Pada siklus II kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan siswa sebanyak 15 pertanyaan. Untuk aspek kualitas pertanyaan sebesar 49 dengan rata-rata 6,54; aspek relevansi sebesar 47 dengan rata-rata 6,29; dan untuk aspek bahasa yang digunakan sebesar 46 dengan rata-rata 6,13. Persentase pada kemampuan bertanya total nilai 1165,65% dengan rata-rata 77,71%. Untuk kemampuan menjawab pertanyaan pada aspek kualitas menjawab pertanyaan sebesar 50 dengan rata-rata 6,68; pada aspek relevansi sebesar 43 dengan rata-rata 5,74; dan untuk aspek bahasa sebesar 46 dengan rata-rata 6,14. Persentase untuk kemampuan menjawab pertanyaan sebesar 1159,65% dengan rata-rata 77,31%. Kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa dari siklus I ke siklus II terus bertambah dan semakin baik. Hasil belajar siswa kelas VIII-F SMP Negeri 13 Malang jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 31 siswa (77,5%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 9 siswa (22,5%). Jumlah siswa yang nilainya dikategorikan sangat baik (A) sebanyak 3 orang (7,5%), dikategorikan baik (B) sebanyak 12 siswa (30%), dikategorikan cukup (C) sebanyak 16 orang (40%), dikategorikan kurang (D) sebanyak 9 orang (22,5%). Sedangkan pada siklus II siswa yang dikatakan tuntas belajar meningkat sebanyak 35 orang (87,5%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 5 orang (12,5%). Jumlah siswa yang nilainya dikategorikan sangat baik (A) sebanyak 5 orang (12,5%), dikategorikan baik (B) sebanyak 19 siswa (47,5%), dikategorikan cukup (C) sebanyak 11 orang (27,5%), dikatagorikan kurang (D) sebanyak 5 orang (12,5%). Berdasarkan deskripsi data yang telah diuraikan, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa ditinjau dari aspek kognitif dari siklus 1 dan siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 10%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual metode Questioning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII-F di SMP Negeri 13 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagi guru mata pelajaran ekonomi mulai menerapakan pembelajaran kontekstual metode Questioning dan mengembangkannya pada materi yang lain. Penerapannya dalam kelas memerlukan kreativitas guru yang tinggi terutama dalam menyajikan fenomena sebagai pemicu masalah sehingga masalah yang disajikan betul-betul dapat merangsang siswa untuk berpikir ksitis.

Optimasi perbandingan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae serta waktu fermentasi pada pembuatan biofetanol dari ubi jalar putih (Ipomoea Batatas L) dengan teknik sakarifikasi fermentasi simultan / Fenis Fitria Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Fenis Ftria. 2009. Optimasi Perbandingan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae serta Waktu Fermentasi pada Pembuatan Bioetanol dari Ubi Jalar Putih (Ipomoea Batatas L) dengan Teknik Sakarifikasi Fermentasi Simultan (SFS). Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Evi Susanti, S.Si, M.Si., (II) Drs. Aman Santoso, M.Si. Kata-kata kunci: bioetanol, teknik SFS, Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae. Bioetanol merupakan sumber energi alternatif yang potensial sebagai pengganti bahan bakar minyak karena bersifat dapat diperbarui. Salah satu teknik yang dikembangkan untuk produksi bioetanol dari bahan yang mengandung pati adalah teknik sakarifikasi fermentasi simultan (SFS). Teknik SFS menggabungkan kedua tahap pembuatan bioetanol (hidrolisis dan fermentasi) menjadi satu tahap. Biakan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae ditambahkan secara bersamaan pada bahan pati yang digunakan. Aspergilus niger menghasilkan amilase untuk menghidrolisis pati menjadi glukosa, dan Saccharomyces cerevisiae akan segera mengkonversi glukosa yang dihasilkan menjadi etanol. Hal ini dimungkinkan karena kedua mikroba dapat hidup dengan baik pada suhu dan pH yang sama (suhu 37 oC dan pH 4-5). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu optimum pembuatan bioetanol dari ubi jalar dengan teknik SFS pada berbagai perbandingan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae, dan rendemen bioetanol yang dihasilkan, serta perbandingan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae optimum dalam pembuatan bioetanol dari ubi jalar dengan teknik SFS. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UM. Penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu: (1) pembuatan media dan penentuan kurva pertumbuhan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae, (2) preparasi ubi jalar hingga diperoleh tepung ubi jalar, (3) likuifikasi hingga diperoleh bubur ubi jalar, (4) penentuan waktu inkubasi optimum dengan teknik SFS pada berbagai perbandingan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae pada akhir fase logaritmik, (5) karakterisasi bioetanol yang dihasilkan, dan (6) penentuan rendemen bioetanol yang dihasilkan pada waktu optimum untuk masing-masing perbandingan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae. Masing-masing mikroba yang digunakan diambil pada akhir fase logaritmik. Penentuan waktu inkubasi optimum ditentukan berdasarkan kadar glukosa, kadar alkohol, dan tingkat keasaman yang ditentukan secara periodik. Kadar glukosa ditentukan berdasarkan metode Somogy-Nelson, kadar alkohol dengan metode Cohen, dan tingkat keasaman ditentukan dengan titrametri asam-basa. Penentuan rendemen bioetanol yang dihasilkan berdasarkan kadar alkohol yang diukur dengan alkoholmeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum pembuatan bioetanol dari ubi jalar putih dengan teknik sakarifikasi fermentasi simultan (SFS) menggunakan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae (akhir fase logaritmik) pada perbandingan 1:1 terjadi antara jam ke-60 sampai jam ke-68, pada perbandingan 1:2 terjadi antara jam ke- 48 sampai jam ke-56, dan pada perbandingan 2:1 terjadi antara jam ke-52 sampai jam ke-60. Rendemen bioetanol yang dihasilkan dari fermentasi ubi jalar putih dengan teknik sakarifikasi fermentasi simultan (SFS) pada perbandingan Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus niger (1:1, 1:2, dan 2:1) secara berturut-turut adalah 81,6 mL/Kg; 72,1 mL/Kg; dan 84,8 mL/Kg. Perbandingan sel/mL Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus niger yang paling optimum pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar putih dengan teknik sakarifikasi fermentasi simultan (SFS) adalah perbandingan 2:1.

Prediksi kebangkrutan model Zmijewski X-Score dan model Altman (Z-Score) serta hubungannya dengan harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2003-2007 / Gusta Dwi Vidhianto

 

ABSTRAK Vidhianto, Gusta Dwi. 2008. Prediksi Kebangkrutan Model Zmijewski (X-Score) dan Model Altman (Z-Score) Serta Hubungannya Dengan Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2003 –2007. Skripsi. Jurusan Manajemen Konsentrasi Manajemen Keuangan. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I). DR. Agung Winarno, M.M. (II) Drs. Moh. Hari, M.Si. Kata Kunci : Kebangkrutan, Model Zmijewski (X-Score), Model Altman (ZScore), Harga Saham Perkembangan dunia usaha di Indonesia saat ini cukup pesat, kenyataan tersebut ditunjukkan oleh semakin banyaknya perusahaan yang didirikan baik itu perusahaan manufaktur, perusahaan dagang maupun perusahaan jasa. Secara umum tujuan dari semua perusahaan adalah mendapatkan laba yang optimal. Namun, pada kenyataannya tidak semua perusahaan mampu menjaga tingkat likuiditasnya. Prediksi kemungkinan kebangkrutan perusahaan tidak dapat dilihat hanya dari laporan keuangannya saja, tetapi harus diuji dengan menggunakan Model Zmijewski (X-Score) dan Model Altman (Z-Score) untuk memastikan bahwa suatu perusahaan dalam keadaan sehat, kesulitan keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi kebangkrutan perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI serta hubunganya dengan harga saham. Penelitian ini menggunakan sampel 5 perusahaan manufaktur dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sample. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi dan one way anova dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 15.0. Hasil penelitian menunjukkan 1) Adanya potensi kebangkrutan perusahaan yang dihitung dengan Model Zmijewski (X-Score) yaitu diketahui bahwa sebagian besar perusahaan mengalami keadaan rawan. 2) Adanya potensi kebangkrutan perusahaan yang dihitung dengan Model Altman (Z-Score) yaitu diketahui bahwa sebagian besar perusahaan mengalami keadaan rawan. 3) Tidak terdapat perbedaan antara Model Zmijewski (X-Score) dan Model Altman (Z-Score). 4) Terdapat hubungan antara analisis X-Score dengan harga saham namun hubungannya lemah dan tidak searah. 5) Terdapat hubungan antara analisis ZScore dengan harga saham yang cukup kuat dan searah. Dari hasil penelitian ini diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggunakan alternatif model yang lain untuk memperkuat hasil analisis prediksi kebangkrutan perusahaan yang telah diteliti, sehingga dapat dijadikan pertimbangan bagi perusahaan dalam meningkatkan laba yang optimal, sekaligus dapat memberikan informasi yang berharga sebelum melakukan keputusan investasi pada perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Serta Dalam melakukan penelitian sebaiknya menggunakan model Altman (Z-Score), karena memiliki tingkat sensitivitas tertinggi antara kedua model prediksi kebangkrutan dalam penelitian ini.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas konsumen (studi pada konsumen Depot Es Mini 2 di Blitar) / Zainal Khirzuddin

 

ABSTRAK Khirzuddin, Zainal. 2008. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Konsumen (Studi Pada Konsumen Depot Es Mini 2 di Blitar). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mugianto, SE, M.Si (II) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Loyalitas Konsumen Seiring dengan perkembangan dunia usaha yang bertambah pesat banyak perusahaan yang berdiri silih berganti. Tentunya hal ini menimbulkan persaingan dalam merebut konsumen semakin bertambah ketat. Masing-masing perusahaan berlomba-lomba memberi pelayanan terbaiknya untuk konsumen sehingga diharapkan bisa menciptakan kepuasan konsumen. Dalam dunia usaha saat ini, sangat mungkin untuk terjadi persaingan, tetapi suatu perusahaan dapat mempersiapkan strateginya untuk terus dapat memasarkan produknya dengan berbagai cara. Untuk dapat terus bersaing, perusahaan harus dapat terus mempertahankan pelanggannya, karena kelangsungan perusahaan ditentukan ada tidaknya pelanggan. Kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan yang pada akhirnya dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada perusahaan yang memberikan kualitas pelayanan yang memuaskan. Hal ini diharapkan pelayanan nantinya akan memberikan keunggulan kompetitif berupa peningkatan profitabilitas dan pertumbuhan. Kualitas jasa yang baik dapat menimbulkan loyalitas konsumen dan menarik konsumen baru. Pada akhirnya melalui kepuasan konsumenlah perusahaan akan memperoleh keuntungan jangka panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kondisi kualitas pelayanan yang meliputi dimensi-dimensi bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati pada Depot Es Mini 2 di Blitar, (2) kondisi loyalitas konsumen pada Depot Es Mini 2 di Blitar, (3) adanya pengaruh kualitas pelayanan yang meliputi dimensi-dimensi bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara parsial terhadap loyalitas konsumen pada Depot Es Mini 2 di Blitar, (4) adanya pengaruh kualitas pelayanan yang meliputi dimensi-dimensi bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara simultan terhadap loyalitas konsumen pada Depot Es Mini 2 di Blitar, dan (5) dimensi manakah yang paling dominan berpengaruh pada Depot Es Mini 2 di Blitar. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu kualitas pelayanan dengan sub variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Sedangkan variabel terikatnya adalah loyalitas konsumen pada Depot Es Mini 2 di Blitar. Penelitian ini dilakukan di Depot Es Mini 2 Blitar mulai bulan Oktober-November 2008. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian dijaring dengan memberikan kuesioner kepada 140 pelanggan yang berkunjung dan makan di Depot Es Mini 2 di Blitar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa loyalitas konsumen Depot Es Mini 2 di Blitar dipengaruhi oleh dimensi bukti fisik, jaminan dan empati secara parsial, dan dipengaruhi bukti fisik, keandalan, daya tangap, jaminan, dan empati secara secara simultan. Sedangkan kualitas pelayanan yang dominan mempengaruhi loyalitas konsumen pada Depot Es Mini 2 di Blitar adalah empati. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dijadikan pertimbangan manajemen Depot Es Mini 2 di Blitar dalam meningkatkan kualitas pelayanan adalah yang pertama, dengan memberikan jaminan pada konsumen bahwa makanan dan minuman yang disajikan adalah sehat dengan meminta keterangan dari departemen kesehatan setempat. Kedua, penampilan karyawan berseragam, rapi tetapi santai seperti memakai kaos dan perluasan lokasi rumah makan apabila dimungkinkan bisa menarik konsumen yang lebih banyak. Ketiga, perlu adanya penambahan jumlah karyawan dan perbaikan kualitas karyawan dengan cara memberikan pelatihan dan pengontrolan karyawan secara berkala, dan menambah fasilitas yang kurang seiring perkembangan rumah makan supaya pelayanan kepada konsumen lebih optimal.

Kinerja guru IPA SMP di Kota Malang / Febrina Hariana Gultom

 

ABSTRAK Hariana, Febrina. 2009. Kinerja Guru IPA di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Supriyono Koes H., M.Pd, M.A (2) Drs. Eddy Supramono. Kata Kunci: Kinerja Guru IPA, IPA Terpadu KTSP bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, dimana guru dituntut untuk terus mengembangkan kinerjanya agar mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Akan tetapi, dua tahun sudah KTSP diberlakukan di Indonesia, masih ada beberapa sekolah yang belum menggunakan KTSP karena kurangnya kesiapan guru dalam mengembangkan dan menjabarkan KTSP pada setiap satuan pendidikan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, rinci dan akurat mengenai kinerja guru IPA SMP di kota Malang. Subyek pada penelitian ini adalah guru IPA SMP di kota Malang yang ditentukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Variabel penelitian yang dikaji pada penelitian ini adalah kinerja guru IPA. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi yang berasal dari Pedoman Penilaian Praktek Mengajar dalam sertifikasi guru kemudian dikembangkan oleh tim pengembang dan divalidasi oleh beberapa orang ahli. Metode pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini adalah observasi (pengamatan) dan teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. yaitu persentase, rerata dan modus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru IPA kota Malang masih cenderung rendah walaupun ada beberapa aspek yang diamati sudah cukup baik. Kebanyakan guru menguasai materi yang diajarkan, strategi yang digunakan sudah cukup baik, kebanyakan guru juga sudah menggunakan media dalam pembelajaran dan guru juga sudah melakukan penilaian ketika pembelajaran, tetapi jarang sekali guru meminta siswa untuk bertanya, jarang bahkan tidak pernah guru mengkaitkan materi yang dipelajari dengan relevan. Selain itu lebih dari separuh guru yang diobservasi jarang bahkan tidak pernah mengkaitkan materi pelajaran dengan realitas kehidupan dan lebih dari separuh guru IPA kota Malang kadang-kadang melaksanakan pembelajaran kontekstual. Selain itu, refleksi pada akhir pembelajaran masih kurang terlaksana. Kinerja guru IPA kota Malang masih perlu pengembangan. Oleh sebab itu diperlukan panduan atau pelatihan untuk meningkatkan kinerja guru IPA kota Malang khususnya dalam merancang IPA Terpadu. Selain itu, sebaiknya guru IPA kota Malang dapat melakukan refleksi setiap akhir pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana siswa paham mengenai materi yang diajarkan. Hal ini mungkin dapat dilakukan dengan cara guru IPA mulai memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk refleksi di dalam Rencana Pelaksanaan Pengajaran.

Prosedur pencatatan penerimaan dan pengluaran kas atas dana pensiun pada PT. Taspen (Persero) Cabang Malang untuk mengukur tingkat pengendalian intern / Afriliansyah Angga Dewanata

 

Dana pensiun merupakan program yang dikelola oleh pihak pemberi kerja yang diperuntukkan bagi karyawan yang sudah habis masa pengabdiannya sebagai bentuk pengakuan instansi/perusahaan pemberi kerja terhadap jasa-jasa pekerja dengan tujuan menyejahterakan mantan pegawai beserta keluarganya yang dikaitkan dengan pencapaian usia tertentu. Pemerintah menyelenggarakan program Dana Pensiun yang dibayarkan kepada Pegawai Negeri Sipil dengan dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan Pemerintah yang independen yang disebut PT. Taspen (Persero). Seiring dengan pentingnya Dana Pensiun, maka PT. Taspen (Persero) harus mampu memberikan informasi yang lengkap untuk kepentingan pemerintah bersamaan dengan masyarakat.dalam berbagai format yang akomodatif dalam kaitannya dengan pengawasan dan pengendalian. Hal ini pennting untuk memastikan bahwa Dana Pensiun dibayarkan secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. Penelitian mengenai Prosedur Pencatatan Peneimaan dan Pengeluaran Kas atas Dana Pensiun ini dilakukan di Kantor PT. Taspen (Persero) Cabang Malang pada Bulan Januari sampai dengan Maret 2008. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, studi lapangan, observasi dan dokumentasi. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Hasil penelitian pada staf akuntansi dan keuangan pada PT.TASPEN (Persero) Cabang Malang menunjukkan bahwa prosedur pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas dana pensiun melibatkan otorisasi oleh pihak- pihak yang mempunyai wewenang dalam penerimaan dan pengeluaran kas dana pensiun. Sehingga Dana Pensiun dapat dipastikan tepat sasaran dan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya korupsi ataupun kecurangan yang lainnya. Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa hambatan yang dapat memperlancar proses tercapainya sistem pengendalian intern pada PT. Taspen (Persero) Cabang Malang. Oleh karena itu dapat disarankan bahwa mensosialisasikan prosedur pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas yang dilakukan agar masyarakat luas, terutama penerima pensiun mengetahui bagaimana prosedur yang ada pada PT.TASPEN (Persero) Cabang Malang, jadi bukan hanya mensosialisasikan bagaimana cara dan persyaratan agar dapat menjadi penerima dana pensiun.

Pelatihan sikap hidup produktif untuk mengurangi kecemasan terhadap kematian pada manula / Siska Amarini

 

ABSTRAK Amarini, Siska. 2008. Pelatihan Sikap Hidup Produktif Untuk Mengurangi Kecemasan Terhadap Kematian Pada Manula. Skripsi. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Alwisol, M.Pd, (2) Diantini Ida Viatrie, M.Si Kata Kunci : kecemasan terhadap kematian. Memasuki usia tua merupakan masa-masa yang penuh gejolak, bergesernya fungsi-fungsi sosial, masa pensiun dan penurunan kondisi tubuh dapat menimbulkan perasaan galau tersendiri. Pada saat ciri-ciri penuaan akhir seperti uban, rapuh, bahkan penyakit datang, maka kecemasan lain akan tumbuh yaitu cemas akan datangnya ajal yang menjemput. Ketidaksiapan mental untuk kematian hampir dialami oleh seluruh manusia, entah itu akibat takut akan rasa sakitnya mati, kehidupan sesudah mati, takut meninggalkan kejayaan di dunia, maupun tidak siap melepaskan sanak keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengurangi tingkat kecemasan terhadap kematian yang lansia rasakan (2) mengajarkan dan membiasakan sikap hidup produktif bagi lansia dan (3) Mengembangkan sebentuk pelatihan untuk mengisi waktu luang lansia sekaligus dapat menyehatkan mental dengan menurunkan kecemasan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen jenis pre-experimental yang mengunakan pre-test dan post-test tanpa adanya kelompok kontrol, dengan subyek penelitian orang lanjut usia yang mana berdasarkan teori-teori adalah diatas umur 55/60 tahun, menempati panti jompo tresna wredha-jember, masih mampu beraktifitas ringan dan sanggup berinteraksi sosial. Instrumen yang digunakan yaitu skala ketakutan terhadap kematian collet-lester dengan model skala likert dan modul pelatihan sikap hidup produktif. Analisis data yang digunakan adalah paired sample T-test. Uji normalitas digunakan one sample Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05 yang didapatkan untuk pre-test 0,200 dan post-tes 0,165, sehingga data dapat dikatakan berdistribusi normal. Dari hasil uji analisis dapat diketahui bahwa hasil –t hitung = 2,883 dengan taraf signifikansi 0,018 (lebih kecil dari 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan Ho ditolak yang artinya ada penurunan hasil skor post-test terhadap pre-test skala ketakutan terhadap kematian collet-lester. Hasil –t hitung positif berarti menunjukkan rata-rata sebelum pelatihan sikap hidup produktif, taraf kecemasan lebih tinggi dari sesudah pelatihan, sehingga dapat disimpulkan bahwa taraf kecemasan subjek setelah pelatihan menurun dari sebelum diadakannya pelatihan sikap hidup produktif. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah: 1) Bagi lansia disarankan untuk memperhatikan kesehatan jasmani dan rohani serta berusaha tetap produktif sebagai usaha untuk sedikit mengurangi kecemasan terhadap kematian. 2) Bagi pihak lembaga sosial dan pemerhati lansia diharapkan terus mengembangkan usaha-usaha untuk mensejahterakan lansia baik lahir maupun batin. (3) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian maupun pelatihan berikutnya untuk mengatasi kecemasan baik terhadap kematian maupun kecemasan lain

Hubungan antara kecemasan terhadap tes dan motivasi berprestasi pada siswa kelas akselerasi SMAN 3 Malang / Subiyantoro

 

ABSTRAK Subiyantoro, Hubungan Antara Kecemasan Terhadap Tes Dengan Motivasi Berprestasi Pada Siswa Kelas Akselerasi SMAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling Dan Psikologi Fakultas Ilimu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Ella Faridati Zen, M. Pd (II) Drs. Sudjiono, M.Si . Kata Kunci : Kecemasan terhadap tes, motivasi berprestasi, kelas akselerasi Tuntutan untuk dapat meraih prestasi akademik sekolah pada siswa kelas akselerasi akan memunculkan perasaan tertekan, khawatir dan takut akan kegagalan dalam tes yang diikuti siswa. Semua perasaan tersebut merupakan kecemasan yang dialami siswa dalam menghadapi tes dan dapat menurunkan hasil belajarnya. Kecemasan dapat dialami siapapun, tak terkecuali siswa pada kelas akselerasi. Kecemasan yang tinggi akan menjadikan siswa mengalami hambatan dalam mengerjakan soal-soal tes. Namun bila kecemasan yang dialami siswa rendah, dapat menjadikan siswa bersiaga untuk memperkecil dampak dari kecemasan yang dialami, yaitu dengan meningkatkan motivasi belajarnya, Motivasi berprestasi merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Karena motivasi berprestasi akan mendorong individu lebih terpacu berusaha meningkatkan kemampuannya, yang berguna untuk menghilangkan kecemasannya terhadap tes. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1) mendeskripsikan kecemasan terhadap tes; 2) mendeskripsikan motivasi berprestasi dan; 3) mengetahui korelasi antara kecemasan terhadap tes dengan motivasi berprestasi pada siswa kelas akselerasi SMAN 3 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas akselerasi SMAN 3 Malang sejumlah 34 siswa. Semua anggota populasi dalam penelitian ini digunakan sebagai sampel penelitian, sehingga teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling populasi. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan angket, yaitu angket kecemasan terhadap tes dan angket motivasi berprestasi. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan terhadap tes dan motivasi berprestasi pada siswa kelas akselerasi SMA Negeri 3 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Sebagian besar siswa kelas akselerasi SMA Negeri 3 Malang memiliki kecemasan terhadap tes dengan klasifikasi sedang; 2) Sebagian besar siswa kelas akselerasi SMA Negeri 3 Malang memiliki motivasi berprestasi dengan klasifikasi sedang. Sedangkan dari uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negetif yang signifikan, antara kecemasan terhadap tes dan motivasi berprestasi pada siswa kelas akselerasi SMA Negeri 3 Malang dengan nilai keofisien korelasi rxy= -0,687 ( =0,000). Dari hasil penelitian ini, maka disarankan kepada para siswa untuk tidak merasa cemas dalam menghadapi tes. Kecemasan itu bisa dikurangi dengan adanya persiapan menghadapi tes. Persiapan itu meliputi persiapan belajar dan persiapan kondisi fisik dengan istirahat dan makan secukupnya serta datang lebih awal dari dari waktu yang telah ditentukan. Bisa juga dengan melakukan relaksasi dengan menggerak-gerakkan anggota badan seperti senam sebelum memasuki kelas atau pada saat duduk di ruangan ujian. Kepada pihak sekolah, untuk mengurangi tingkat kecemasan siswa terhadap tes disarankan untuk memberikan tambahan pelajaran kepada para siswa yang akan mengikuti tes dan sesering mungkin untuk melakukan uji coba (try out) tes. Bagi para peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji permasalahan ini disarankan untuk menggunakan metode penelitian yang lain dan melengkapinya dengan variabel-variabel lainnya sehingga menjadi lebih sempurna.

Sistem pengendalian intern persedian farmasi pada Rumah Sakit Aisyiyah Malang / Arik Anggraeni

 

A. ABSTRAK Arik, Anggraini. 2008. Sistem Pengendalian Intern Persediaan Farmasi Pada Rumah Sakit Aisyiyah Malang. Tugas Akhir, Program Studi Diploma-III Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Suparti, M.P. Kata Kunci: Sistem,Persediaan,Pengendalian Intern. Sistem adalah suatu jaringan prosedur atau kumpulan sumberdaya yang saling berhubungan menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan dalam mencapai tujuannya. Keberadaan sistem dan prosedur akuntansi yang baik dan sesuai untuk diterapkan adalah suatu hal yang penting bagi suatu perusahaan. Semakin baik sistem dan prosedur akuntasi yang diterapkan semakin kuat Sistem Pengendalian Intern yang dimiliki. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk mencegah adanya kecurangan-kecurangan, pencurian, persediaan dan kesalahan-kesalahan terutama terhadap kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan. Model Sistem Pengendalian Intern yang dilakukan oleh Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang inilah yang menarik untuk dikaji dalam penulisan tugas akhir ini. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui: 1. Bagaimana strategi yang dilaksanakan dalam penentuan persediaan farmasi. 2. Bagaimana prosedur pendistribusian persediaan farmasi pada Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang. Data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah data yang berhubungan dengan penentuan strategi persediaan farmasi dan prosedur pendistribusian persediaan farmasi yang diperoleh selama praktik kerja lapangan di Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang. Metode pengumpulan data yang dilakukan antara lain: 1) metode observasi, 2) wawancara, 3) dokumentasi. Setelah menganalisa data, penulis menyimpulkan bahwa Sistem Pengendalian Intern persediaan farmasi pada Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang belum dilakukan atau dilaksanakan dengan baik atau kurang lengkapnya pencatatan-pencatatan yang seharusnya lebih diperhatikan lagi oleh Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang. Berdasarkan pembahasan masalah di atas, maka saran dari penulis adalah: 1) Dalam penentuan strategi sebaiknya SPI diterapkan lebih baik lagi khususnya untuk pengewasan setiap kegiatan; 2) sebaiknya bagian gudang tidak terlalu menggunakan perkiraan tetapi benar-benar menerapkan metode yang telah adap; 3) Sebaiknya prosedur pendistribusian persediaan farmasi dilakukan pencatatan secara jelas dan tegas untuk mengetahui arah prosedur pendistribusian tersebut mulai dari bagian gudang, bagian apotik dan akuntansi.

Pengembangan WEB sebagai sumber belajar materi perkembangan teori atom kelas XII / Mu'minatin Anzarin M.

 

Web merupakan salah satu fasilitas di internet yang memiliki kemampuan untuk menampilkan berbagai jenis data. Hal inilah yang menjadikan web lebih banyak dipakai sebagai sarana untuk memberikan informasi maupun berkomunikasi oleh berbagai kalangan termasuk kalangan pendidikan. Penggunaan web dalam dunia pendidikan khususnya pada tingkat sekolah menengah secara umum saat ini hanya sebagai media untuk menyampaikan informasi. Berdasarkan tinjauan lapangan sebagian besar web sekolah hanya berisi informasi-informasi administratif dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekolah tersebut. Padahal bagi siswa web merupakan salah satu produk perkembangan teknologi yang sudah tidak asing lagi. Berdasarkan studi lapangan yang telah dilakukan diketahui bahwa banyak siswa SMA sering mengakses internet dengan rentang waktu selama 1-3 jam dalam sekali akses dan pengaksesan dilakukan 2-4 kali dalam satu minggu dengan berbagai tujuan, yaitu chatting, game, browsing dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut tidak terlepas dari fasilitas web yang terdapat dalam internet. Adanya kelebihan yang dimiliki web menjadikan web sesuai untuk dijadikan sebagai media pembelajaran khususnya untuk materi yang sulit dikonkretkan oleh siswa, seperti teori atom. Tulisan ini mengembangkan web sebagai sumber belajar untuk materi perkembangan teori atom dengan tujuan memberikan alternatif sumber belajar bagi siswa yang lebih suka belajar secara mandiri. Metode yang digunakan adalah metode pengembangan yang dikemukakan Alessi dan Trollip yang telah dimodifikasi. Langkah pengembangan tersebut meliputi: analisis kebutuhan pembelajaran, perumusan tujuan, persiapan, pembuatan produk, evaluasi dan revisi. Web yang dihasilkan memiliki beberapa karakteristik antara lain: web dilengkapi dengan mesin pencari yang dimiliki oleh ”google”, animasi yang berhubungan dengan materi yang dipelajari, materi disajikan per subbab, dan latihan soal dilengkapi dengan skor. Web dapat digunakan secara optimal hanya jika diakses melalui internet dan materi maupun animasi yang ada di dalamnya tidak dapat di-download secara langsung. Hasil uji coba produk yang dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media menyatakan produk ini cukup layak dengan persentase 67,05 %., ahli materi menyatakan produk ini layak dengan persentase 85 %, dan audiens menyatakan produk ini layak dengan persentase 84,21 %.

Pengaruh brand extension terhadap proses keputusan pembelian smartphone Lenovo (studi pada mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2014) / Masrifah Auliya

 

ABSTRAK Auliya, Masrifah. 2015. Pengaruh Brand Extension Terhadap Proses Keputusan Pembelian Smartphone Lenovo (Studi pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Angkatan Tahun 2014). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si, (II) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, M. M. Kata Kunci: brand extension, similarity, reputation, perceived risk, innovativeness, proses keputusan pembelian Era globalisasi menuntut perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat moderen yang dapat menyebabkan perubahan besar dalam pasar global. Persaingan dalam sektor bisnis menjadi semakin ketat sehingga perusahaan dituntut untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan konsumen melalui berbagai strategi yang dapat menciptakan proses keputusan pembelian konsumen. Salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan adalah strategi brand extension, sebuah strategi menggunakan nama merek yang sudah mapan dan satu grup yang melakukan diversifikasi produk untuk memasuki kategori produk baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) deskripsi brand extension (similarity, reputation, perceived risk, dan innovativeness) dan proses keputusan pembelian smartphone Lenovo. (2) pengaruh secara parsial brand extension (similarity, reputation, perceived risk, dan innovativeness) terhadap proses keputusan pembelian smartphone Lenovo. (3) pengaruh secara simultan brand extension (similarity, reputation, perceived risk, dan innovativeness) terhadap proses keputusan pembelian smartphone Lenovo. (4) faktor brand extension yang paling dominan mempengaruhi proses keputusan pembelian smartphone Lenovo. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dan korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini mempunyai lima variabel, yaitu variabel bebas (X) yang terdiri dari similarity (X1), reputation (X2), perceived risk (X3), dan innovativeness (X4) serta variabel terikat yaitu, proses keputusan pembelian (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Angkatan Tahun 2014 pengguna smartphone Lenovo. Teknik pengambilan sampel sebanyak 125 orang menggunakan metode probability sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, dan kuesioner disusun dalam bentuk skala likert. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) deskripsi brand extension (similarity, reputation, perceived risk, dan innovativeness) tergolong baik dan proses keputusan pembelian terhadap smartphone Lenovo tergolong baik. (2) brand extension (similarity, reputation, perceived risk, dan innovativeness) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap proses keputusan pembelian smartphone Lenovo. (3) brand extension (similarity, reputation, perceived risk, dan innovativeness) berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap proses keputusan pembelian smartphone Lenovo. (4) Variabel brand extension yang paling dominan mempengaruhi proses keputusan pembelian smartphone Lenovo adalah perceived risk. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada Lenovo Group untuk memperkuat variabel similarity dengan cara membuat desain tampilan fisik smartphone Lenovo dari bahan yang lebih mirip dengan PC/Laptop Lenovo, sehingga tampak jauh lebih elegan dan kokoh, serta memiliki tekstur dan tidak terbuat dari bahan yang didominasi oleh plastik polycarbonate. Hal ini perlu dilakukan agar smartphone Lenovo tidak terkesan murah. Sehingga, konsumen akan lebih yakin bahwa smartphone Lenovo memiliki kualitas dan manfaat sebaik PC/Laptop Lenovo. Untuk peneliti selanjutnya, sebaiknya memperluas variabel yang diteliti, yakni variabel brand extension lain berupa quality, transfer, complement dan substitute yang diduga berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian konsumen.

Pengaruh penayangan iklan di telivisi terhadap keputusan pembelian konsumen Mie Sedaap (Studi pada masyarakat Kelurahan Subersari Kecamatan Lowokwaru kota Malang) / Wahyu Budi Wicaksono

 

ABSTRAK Wahyu Budi.W. 2008. Pengaruh Penayangan Iklan di Televisi terhadap keputusan Pembelian Konsumen Mie Sedaap (Studi Pada Masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si, M.Bus. (II) Titis Shinta Dewi S.p, MM Kata kunci : Iklan, Keputusan Pembelian Konsumen Dalam mengembangkan bisnis, produsen berusaha untuk menguasai pasar dan memenangkan persaingan. Hal ini terjadi pada berbagai sektor bisnis, termasuk bisnis makanan khususnya mie instant. Dimana saat ini banyak bermunculan mie instant dengan berbagai merek. Tiap produsen berusaha menonjolkan keunggulan masing-masing dan menciptakan strategi pemasaran yang sesuai. Hal ini bisa dilakukan dengan periklanan. Periklanan adalah merupakan salah satu kegiatan untuk menyampaikan informasi atau pesan tentang mie sedaap kepada konsumen yang perlu memperhatikan: isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penayangan iklan terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli Mie Sedaap pada masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini bersifat deskriptif korelasional yaitu pengaruh penayangan iklan terhadap keputusan pembelian konsumen. Populasi yang diambil adalah masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang jumlah penduduk yang berusia minimal 17 tahun adalah 11.546 jiwa.. Teknik pengambilan sampel menggunakan proporsionate random sampling, dengan sampel sebanyak 100 responden. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitias dengan sampel uji coba sebanyak 40 responden. Data diperoleh melalui responden menggunakan kuesioner/angket tertutup dan diukur menggunakan skala Likert 1-5. Sedangkan analisis data menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh periklanan yang meliputi isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan terhadap keputusan pembelian baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Periklanan yang meliputi isi pesan, struktur pesan, format pesan, sumber pesan menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli Mie Sedaap. (2) Terdapat pengaruh signifikan periklanan yang terdiri dari isi pesan, struktur pesan, format pesan, sumber pesan secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli Mie Sedaap. (3) Terdapat pengaruh signifikan periklanan yang terdiri dari isi pesan, struktur pesan, format pesan, sumber pesan secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli Mie Sedaap. Selanjutnya saran-saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Bagi Grup Wings (GW) yang merupakan produsen Mie Sedaap dalam beriklan hendaknya lebih memperhatikan struktur pesan. Struktur pesan harus dibuat semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian konsumen. Misalnya dengan adanya penonjolan keunggulan dari berbagai segi, seperti adanya varian rasa Mie Sedaap dan adanya rasa yang khas dibandingkan mie yang lain. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menggunakan variabel bebas di luar variabel isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan seperti budaya, kelompok sosial, usia, motivasi dan lainnya yang berhubungan dengan keputusan pembelian Mie Sedaap.

Pengembangan media pembelajaran multimedia berbasis komputer pada materi makromolekul untuk siswa SMA/MA kelas XII semester 2 / Rofiul Arif Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Rofiul Arif. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Multimedia Berbasis Komputer pada Materi Makromolekul untuk Siswa SMA/MA Kelas XII Semester2. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Munzil, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: kimia, media pembelajaran, makromolekul. Siswa sulit memahami ilmu kimia karena kimia memiliki sifat yang abstrak. Penjelasan guru yang terkadang masih melalui ceramah semakin menimbulkan siswa merasa sulit untuk belajar kimia. Berdasarkan pengalaman pengembang, siswa akan lebih tertarik dengan penyampaian materi melalui suatu media pembelajaran. Salah satu materi kimia yang memiliki keabstrakan yang cukup tinggi adalah materi makromolekul. Sehingga, diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menjelaskan keabstrakan dari materi tersebut. Pengembangan media pembelajaran pada materi makromolekul ini dilakukan mengikuti model rancangan Dick and Carrey. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, (2) melakukan analisis materi pembelajaran, (3) mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik siswa, (4) menuliskan pengalaman belajar, (5) mengembangkan item tes berbasis kriteria, (6)mengembangkan model pembelajaran, (7)mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, (8) merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) melakukan revisi, dan (10) merancang dan melaksanakan evaluasi sumatif. Validator penelitian ini terdiri dari seorang dosen kimia Universitas Negeri Malang, dan dua orang guru kimia MAN 3 Malang sebagai validator uji kelayakan. Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup. Pengumpulan data dilakukan setelah media pembelajaran yang dibuat selesai disusun. Kelayakan hasil media yang dikembangkan ditentukan dari hasil uji kelayakan. Hasil pengembangan media pembelajaran pada materi makromolekul ini adalah dalam bentuk CD pembelajaran yang terdiri dari 3 tampilan, yakni: cover, tampilan pembuka, dan tampilan utama. Pada tampilan utama terdapat 5 menu utama, yakni: menu pendahuluan, menu polimer sintesis, menu karbohidrat, menu protein, dan menu soal evaluasi. Dari hasil uji kelayakan yang berupa validasi konten terhadap seorang dosen kimia Universitas Negeri Malang dan dua orang guru kimia MAN 3 Malang, media ini memiliki persentase kelayakan rata-rata sebesar 84,1% atau dengan kriteria layak sebagai sebuah media pembelajaran. Namun, untuk mengetahui efektifitas media yang telah dikembangkan, perlu di lakukan uji lapangan.

Pola perubahan posisi dan besar kecepatan rotasi sunspot / Umar Kushindradno

 

Matahari merupakan pusat tatasurya dari galaksi Bimasakti dan mempunyai struktur yang berbeda dengan benda-benda yang berada di sekitarnya. Struktur Matahari terdiri dari berbagai macam lapisan, antara lain fotosfer, kromosfer, korona, dan inti. Sebelum lapisan fotosfer, inti Matahari juga diselimuti oleh lapisan yang bersifat radiatif dan konvektif. Matahari juga melakukan aktivitas yang dapat kita amati baik secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan jangka panjang aktivitas Matahari biasanya digunakan parameter Panjang Siklus Bintik (PBS) yang dapat dihitung berdasarkan tahun (epoch) dari amplitudo maksimum ke maksimum atau dari tahun minimum ke minimum siklus bintik dan biasa ditandai dengan munculmnya sunspot, granula, fakula, flare, promiensa, dan spikula. Tanda-tanda aktivitas Matahari tersebut lebih mudah diketahui dengan melakukan pengamatan terhadap sunspot, karena sunspot mempunyai bentuk yang cukup stabil dan bertahan lama dibandingkan dengan tanda-tanda aktivitas yang lain. Sunspot mempunyai kecepatan yang tidak stabil karena dipengaruhi oleh letak atau posisi, bentuk, ukuran juga gerakan pada bagian dalam dan luar fotosfer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan posisi sunspot pada lintasan yang berbeda dan besar kecepatan rotasi sunspot pada lintasan rotasi yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode pendekatan grafis. Data diperoleh dari Sistem Pengamatan Matahari (SPM) Watukosek Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berupa sketsa sunspot tahun 1996 sampai dengan 2006. Data tersebut kemudian diolah kembali dengan menggunakan softwere IDL 5.0.3 yang telah dilengkapi dengan program pengoperasiannya. Dari data hasil IDL tersebut peneliti menganalisis dengan menggunakan softwere microsoft office excel 2003 untuk mendapatkan hasis penelitian berupa pendekatan grafis. Peneliti memperoleh hasil penelitian berupa pola pergerakan sunspot akan cenderung menuju ekuator jika terletak pada koordinat lintang yang rendah (30°LU sampai dengan 30°LS) dan menjahui ekuator jika terletak pada koordinat lintang yang tinggi (>30°LU atau >30°LS). Akan tetepi tidak menutup kemungkinan jika sunspot menjahui ekuator pada lintang rendah, begitupula sebaliknya. Dan kecepatan rotasi dari sunspot akan dipengaruhi oleh posisi sunspot pada koordinat lintang, ukuran, dan kecepatan pada aliran konveksi Matahari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola perubahan pisisi sunspot pada belahan utara Matahari menunjukkan bahwa sunspot akan mengalami perubahan posisi sebesar 0.1° - 2° pada koordinat 0.1°LU - 30°LU dan 2° - 4° pada koordinat <30°LU. Pada belahan selatan, perubahan posisi sunspot sebesar 1° - 3° pada koordinat 1°LS - 30°LS dan 3° - 5° pada koordinat <30°LS. Dan besar kecepatan rotasi sunspot pada koordinat 0.1°LU - 15°LU sebesar 13.5°/hari, 15°LU - 30° LU sebesar 12.8°/hari, <30° sebesar 12.3°/hari dan 1°LS - 15°LS sebesar 13.3°/hari, 15°LS - 30°LS sebesar 12.8°/hari, <30°LS sebesar 12.4°/hari. Secara keseluruhan, sunspot mempunyai kecepatan rotasi rata-rata dari belahan utara sebesar 12.8°/hari dan belahan selatan sebesar 12.8°/hari. Untuk pengembangan penelitian khususnya penelitian lanjutan dari pola perubahan posisi dan besar kecepatan rotasi sunspot dalam bidang Fisika Matahari, peneliti semberikan saran bahwa pemilihan kelas dapat dilakukan dengan memilih kelas A, karena kelas A mempunyai kala hidup yang cukup lama dan paling banyak dijumpai, pelacakan sunspot dengan menggunakan softwere IDL 5.0.3 dapat menggunakan pelacakan 3 titik, karena dengan pelacakan 3 titik tersebut data yang didapatkan lebih falit, dan dapat ditunjukkan dengan menggambar tiap pergerakannya dalam sketsa gambar IDL

Penerapan model pembelajaran problem based learning berbasis lesson study dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Muhammadiyah 3 Singosari / Kurnia Riesty Utami

 

ABSTRAK Utami, Kurnia Riesty. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbasis Lesson Study dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI Akuntansi di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suparti, M.P. (II) Sawitri Dwi Prastiti, SE., M.Si., Ak Kata Kunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning, Lesson Study, Aktivitas belajar, Hasil Belajar Pembelajaran akuntansi kelas XI Akuntansi SMK Muhammadiyah 3 Singosari disampaikan dengan metode konvensional dan pembelajaran lebih berpusat pada teacher center sehingga siswa cenderung bosan dan malas untuk menemukan pengetahuannya sendiri dalam proses belajar yang dapat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar siswa. Secara umum aktivitas dan hasil belajar yang diperoleh siswa masih kurang memuaskan karena aktivitas siswa dalam proses pembelajaran cenderung pasif dan hasil evaluasi pembelajaran yang diberikan masih kurang dari KKM 75. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar kognitif siswa dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berbasis Lesson Study pada siswa kelas XI Akuntansi SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif berbasis Lesson Study. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus, setiap siklus terdiri dari dari tahap perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (do) hingga refleksi (see). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Akuntansi SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Peningkatan aktivitas belajar dapat dilihat dari kenaikan aktivitas belajar siswa yang telah dilakukan meliputi: visual activity, oral activity, writing activity, dan emotional activity. Dengan adanya peningkatkan aktivitas belajar siswa tentunya berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa yang meningkat. Siswa lebih aktif dalam mencari informasi dengan mandiri maupun secara berkelompok dalam memecahkan permasalahan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem based learning terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan berpangaruh positif terhadap hasil belajar. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu observasi terhadap aktivitas belajar siswa masih kurang optimal dan sistem penilaian persediaan belum menyesuaikan standart yang digunakan di Indonesia pada umumnya. Saran yang bisa diberikan dalam penerapan model Problem based learning yaitu meningkatkan kesiapan pengelolaan kelas dalam penerapan model pembelajaran, penggunaan media yang mendukung untuk pembelajaran, dalam proses pembelajaran guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi baik memberikan pendapat maupun pertanyaan sehingga pembelajaran dapat tercapai secara optimal dan lembar kerja siswa yang diberikan disesuaikan dengan model pembelajaran yang digunakan.

Kolerasi antara tingkat pendidikan dan penerapan panca usaha tani dengan tingkat konservasi lahan pernatian di desa Girimoyo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Luluk Sri Muthmainah

 

Pertambahan penduduk dari tahun ke tahun telah menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah masalah penguasaan lahan pertanian. Pertambahan penduduk telah menyebabkan berkurangnya luas lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian. Kondisi ini diperparah lagi oleh masih banyaknya petani yang belum menerapkan teknik konservasi lahan pertanian secara benar, akibatnya produktivitas lahan pertanian ikut menurun. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui kondisi geografis Desa Girimoyo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang; (2) Untuk mengetahui kondisi konservasi lahan pertanian di Desa Girimoyo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang; (3) Untuk mengetahui korelasi antara tingkat pendidikan dengan tingkat konservasi lahan pertanian; dan (4) Untuk mengetahui korelasi antara penerapan panca usaha tani dengan tingkat konservasi lahan pertanian. Penelitian ini menggunakan analisis korelasional yang berupaya untuk mengungkapkan hubungan antar variabel. Variabel bebas meliputi tingkat pendidikan (formal dan non formal) dan penerapan panca usaha tani (pengolahan tanah, penggunaan bibit unggul, pengairan, pemupukan dan pengendalian hama). Sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat konservasi lahan pertanian. Populasi penelitian adalah seluruh petani pemilik lahan basah (sawah) maupun lahan kering (tegalan) yang bertempat tinggal di Desa Girimoyo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan dua cara, yaitu sampel area menggunakan teknik Stratified Random Sampling dan sampel responden menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara terstruktur. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan tabulasi tunggal dan tabulasi silang serta analisis korelasi parsial. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Desa Girimoyo terletak antara 7°51’15” LS - 7°53’58” LS dan antara 112°35’20” BT - 112°36’30” BT, sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian seluas 268,2 Ha (74,79%), memiliki jenis tanah andosol dan regosol, menurut Koeppen termasuk kedalam iklim Am, menurut Schmidt Ferguson termasuk kedalam iklim D, menurut Oldeman termasuk kedalam iklim C3, jumlah penduduk sekitar 4.839 jiwa dengan angka pertumbuhan penduduk sekitar 0,46% per tahun, dan memiliki struktur penduduk muda; (2) Kondisi konservasi lahan pertanian di Desa Girimoyo cukup baik; (3) Tidak ada korelasi antara tingkat pendidikan formal dengan tingkat konservasi lahan pertanian; (4) Ada korelasi yang signifikan antara pendidikan non formal dengan tingkat konservasi lahan pertanian; (5) Ada korelasi yang signifikan antara teknik pengolahan tanah dengan tingkat konservasi lahan pertanian; (6) Ada korelasi yang signifikan antara penggunaan bibit unggul dengan tingkat konservasi lahan pertanian; (7) Ada korelasi yang signifikan antara teknik pengairan dengan tingkat konservasi lahan pertanian; (8) Ada korelasi yang signifikan antara metode pemupukan dengan tingkat konservasi lahan pertanian; dan (9) Ada korelasi yang signifikan antara metode pengendalian hama dengan tingkat konservasi lahan pertanian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara umum kondisi konservasi lahan pertanian di Desa Girimoyo cukup baik. Hanya saja pada pelaksanaannya para petani belum sepenuhnya menerapkan teknik konservasi lahan pertanian secara benar karena rendahnya tingkat pengetahuan yang dimiliki. Disarankan kepada pemerintah melalui Dinas Pertanian setempat untuk lebih intensif dalam memberikan penyuluhan tentang cara pengelolaan lahan yang benar sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi lahan. Bagi petani disarankan untuk lebih aktif dalam mengikuti setiap program penyuluhan pertanian ataupun kegiatan kelompok tani guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang cara mengelola lahan pertanian yang benar sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi lahan yang telah ditetapkan.

Penyelenggaraan pendidikan seni budaya di SMKN 1 Malang / Efendi

 

ABSTRAK Efendi. 2008. Penyelenggaraan Pendidikan Seni Budaya di SMKN I Malang Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni & Desain Fakultas Sastra Universitas Negri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ida Siti Herawati. M.Pd, (II) Dra. Tjitjik Sriwardhani. M.Pd. Kata kunci: penyelenggaraan, pendidikan, seni budaya. Pendidikan seni merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan membangun manusia seutuhnya. Untuk mewujudkan manusia seutuhnya, diperlukan beeragam kecerdasan yang berkaitan dengan pilar kehidupan manusia, yaitu etika, estetika, logika, dan kinestik. pendidikan yang berada pada pilar estetik mengemban tugas dan fungsi utama yang berkaitan dengan pendidikan rasa. Melalui pendidikan seni kemampuan manusian dalam berpikir kritis, bersikap apresiatif dan berperilaku kreatif dapat diberikan sesuai dengan program dan jenjang pendidikan. SMKN I Malang merupakan sekolah kejuruan yang berbasis manajemen dan bisnis. Pendidikan seni budaya merupakan mata pelajaran baru di SMKN I Malang dan kali pertama ada di SMKN I Malang. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap pendidikan seni budaya budaya di SMKN I Malang. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi penyelenggaraan dari pembelajaran seni budaya di SMKN I Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data tersebut dipaparkan secara deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi data, dan dokumentasi. Sumber data meliputi, guru seni budaya, waka kurikulum, RPP (rencana pelaksanaan pengajaran). Analisis data menggunakan komponen, reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan dan verifikasi. Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa keberadaan Seni Budaya di SMKN I Malang selain berdasarkan ketentuan kurikulum juga karena kebutuhan sekolah. Keberadaan guru seni budaya di SMKN I Malang merupakan sarjana seni (Desain Komunikasi Visual) yang bukan berlatar belakang pendidikan dan untuk memenuhi sayarat sebagai seorang guru beliau menempuh kependidikan akta 4. Penyelenggaraan pendidikan seni budaya di SMKN I Malang ditempatkan dalam program normatif, sehingga dalam pelaksanaan pendidikan seni sebagai program pendidikan umum. Program/jurusan di SMKN I Malang meliputi; Administrasi, Perkantoran, Akutansi, Penjualan, Usaha dan Jasa Pariwisata, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Audio Video, Pembibitan. Strktur RPP yang digunakan menggunakan pola diknas. Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan agar guru seni budaya terus meningkatkan kompetensinya sebagai guru seni budaya; pihak sekolah dapat menyediakan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran seni budaya dan dapat memerankan pendidikan seni sesuai porsinya sebagai program pembelajaran seni budaya di SMKN I Malang.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk pons's facial foam (Studi pada mahasiswa Fakultas Sastra Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang) / Heri Murtioso

 

ABSTRAK Murtioso, Heri 2009. “Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Konsumen dalam membeli Produk Pond’s Facial foam (Studi pada mahasiswa Fakultas Sastra Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang)”. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyanto, M.M, (II) Dr. Syihabudhin, S.E, M.Si Kata Kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel atribut produk terhadap keputusan pembelian produk Pond’s Facial foam. Penelitian ini mempunyai 2 variabel, yaitu variabel independen (X) yang terdiri dari Merek (X1), Kualitas (X2), Kemasan (X3), Label (X4), dan Harga (X5), dan variabel dependen (Y) Keputusan Pembelian. Penelitian ini dilakukan pada Mahasiswa Fakultas Sastra Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang, data diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner tertutup. Populasi dapat diketahui jumlahnya dengan menggunakan rumus Solvin, dari situ jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 60 orang. Setelah dilakukan proses pengolahan data dan analisis regresi berganda diketahui hasil penelitian menyatakan (1) Merek, dari hasil analisis data diperoleh nilai 1 = 0,261; t hitung = 2,418; signifikan t = 0,019. Hal ini menunjukkan Merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (2) kualitas, dari hasil analisis data diperoleh 2 = 0,223; nilai t = 2,071; signifikan t = 0,043. Hal ini menunjukkan kualitas berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (3) Kemasan, dari hasil analisis data diperoleh 3 = 0,054; nilai t = 0, 420; signifikan t = 0,676. Hal ini menunjukkan Kemasan berpengaruh tidak signifikan terhadap keputusan pembelian, (4) Label, dari hasil analisis data diperoleh 4 = 0,257; nilai t = 2,046; signifikan t = 0,046. Hal ini menunjukkan label berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (5) Harga, dari hasil analisis data diperoleh 5 = 0,314; nilai t = 2,765; signifikan t = 0,008. Hal ini menunjukkan harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan secara parsial terdapat 4 variabel yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian yaitu Merek, Kualitas, label dan Harga, sedangkan variabel Kemasan menunjukkan berpengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Secara simultan Merek, Kualitas, Kemasan, Label, dan Harga berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah (1) Sebaiknya perusahaan selalu memperhatikan harga produk Pond’s facial foam, hal tersebut didasarkan atas hasil temuan dari penelitian ini dimana variabel harga mempunyai pengaruh yang tinggi dalam penelitian ini, tetapi perusahaan juga tidak boleh mengesampingkan atribut-atribut lainnya dalam membuat produk diantaranya kualitas dll, (2) Dikarenakan persaingan dalam memasarkan suatu produk sangat ketat, sebaiknya perusahaan lebih memperhatikan kemasan agar nantinya kemasan lebih dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.

Penerapan model problem based instruction (PBI) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas XI pada pembelajaran pada pembelajaran lingkaran / Destu Arief Subegti

 

ABSTRAK Subegti, Destu Arief. 2009. Penerapan Model Problem Based Instruction (PBI) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Kelas XI Pada Pembelajaran Lingkaran. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D, (II) Drs. Sudirman, M.Si. Kata Kunci : Penerapan, Problem Based Intruction (PBI), Keterampilan Berpikir Kreatif, Lingkaran Siswa masih menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sulit. Hal ini karena siswa kurang memahami materi-materi pelajaran matematika. Akibatnya, siswa kurang berpikir kreatif dalam memecahkan masalah. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah yang dialami siswa SMA Negeri 5 Malang untuk materi Lingkaran adalah model Problem Based Instruction (PBI). Dalam PBI, kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa melalui pemberian masalah yang nantinya mampu membawa siswa untuk berpikir kritis, kreatif dalam memecahkan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep dasar dari materi yang diajarkan tersebut. Penelitian ini menggunakan model Problem Based Instruction (PBI) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 5 Malang pada materi Lingkaran yang meliputi keterampilan berpikir lancar, luwes, orisinil, merinci, dan menilai. Pembelajarannya diawali dengan orientasi siswa pada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbingnya dalam penyelidikan kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan rancangan Peneltitian Tindakan Kelas (PTK). Keterampilan berpikir kreatif siswa dinilai dengan menggunakan pedoman observasi keterampilan berikir kreatif siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa untuk materi Lingkaran yaitu berpikir lancar sebesar 33,60%, berpikir luwes 24,60%, berpikir orisinil 26,14%, berpikir merinci 16,50%, dan berpikir menilai 26,90%. Secara keseluruhan, keterampilan berpikir kreatif siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 5 Malang mengalami peningkatan sebesar 25,25%. Secara keseluruhan, menurut klasifikasi tingkat keberhasilan keterampilan berpikir kreatif siswa termasuk dalam kategori baik. Sedangkan untuk jenis keterampilan berpikir kreatif yang paling tinggi peningkatannya adalah keterampilan berpikir lancar yaitu sebesar 33,60%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBI dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa. ABSTRACT Subegti, Destu Arief. 2009. The Implementation of Problem Based Instruction (PBI) to Enhance Creative Thinking Skill of XI Grade Students of in Circle Subject. Thesis (Graduate Program), Mathematic Department, Science Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. Sudirman, M.Si. Keywords: Impelementation, Problem Based Instruction (PBI), Creative Thinking Skill, Circle Students still assume that mathematic subject is a complicated matter. This is because students less understand the presented materials in math. Therefore, students have a less creative thinking in solving math problems. One of learning models which can be used in the purpose of solving the problem experienced by the students of SMA Negeri 5 Malang in circle subject is Problem Based Instruction (PBI) model. In PBI model, instructional activity is centered to the students through some given problems which later can lead those students to think critically, creatively while solving the problems; besides, they can acquire the knowledge and the basic concept of the instructed materials. This research uses Problem Based Instruction (PBI) model enhance creative thinking skill of XI grade science program students of SMA Negeri 5 Malang on circle material covering about a fast, flexible, original, elaborating, and assessing the creative thinking. The learning process is started from giving the orientation towards the students about the given problem, then the teacher organize those students to learn and give some advices in group discussion, and ended by presenting the work result and evaluation. The research method uses qualitative approach taking Classroom Action Research. Creative Thinking Skill is measured using observation based on Creative Thinking Skill of student in the time of teaching learning activity. The research result shows that the improvements on the students’ creative thinking skill in circle subject are as follow: fast thinking gets 33.60%, flexible thinking gains 24.60%, original thinking makes 26.14%, elaborative thinking acquires 16.50%, and assessment thinking makes 26.90% improvements. Entirely, the creative thinking skill of XI Grade Science Program Students of SMA Negeri 5 Malang makes 25.25%. In the total sum, based on the classification of successful grade on the students’ creative thinking skill, it is concluded as a good category. While the highest grade of creative thinking skill improvement is fast thinking stage which takes 33.60%.. Therefore, it can be concluded that the implementation of PBI model is successful to increasing creative thinking skill of students.

Pembelajaran fisika dengan metode kerja kelompok terpadu pada pokok bahasan listrik statis untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas II MTS Al-Islamiyah Prenduan Sumenep Madura tahun pelajaran 2002 / 2003 oleh Dahlawi Dahlan

 

Pernbelajaralisni kad enganm etodek erlak elonrpokte rpadua dalahs uatumetodep embelajarayna ngd idahuluid enganp emberianil ustrasim ateri,d andemontrasoi lehg urus ebelums iswam elaksanakakne giatank erjak elompokd andiakhirio lehg urud enganm enyampaikakne simpulank egiatand ant ugasr umahdengantu juanu ntukm eningkatkanh asilb elajarf isika.Penelitianin i bertujuanu ntukm engetahuci arad anh ambatana pas ajay angmunculp adas aatm enerapkapne mbelajarafnis ika dengank erjak elornpokte rpaduuntukm eningkatkanh asilb elajar. Penelitianin i merupakanp enelitianti ndakand, engans ubjekp enelitians iswakelasI I A danI I B MTs Al-IslamiyahP renduaTna hunp elajaran2002/200p3o kokbahasanlis trik statisju mlah siswa5 7 sisway angt erdiri dari 28 putrad an2 9 putri.LangkahJangkamh etodek erjak elompokt erpadua dalahs ebagabi erikut:( a)penyampaiailnu strasmi aterdi and emonstras(ib, ) kerjak elompokd enganm elakukanpercobaadna nd iskuski elompok(,c ) mengawaspie laksanaakne riak elornpotke rpaduyaitup ercobaand,is kuski elompokk ecil,d iskusik elornpokb esadr and iskuski elas,(d) pemberianb imbinganp adat iap kelompok,( e) pengawasayna ngl ebih ketatterhadaps isrva(, f) memberikanw aktuy angs esuai(,g ) mengkajiu langc ontohs oallatihany angb erimbang(,h ) menyampaikakne simpulana khir, dan( i) melaksanakantes. Kesimpuland ari penelitianin i adalahd enganm etodek erjak elompokt erpadusiklusI nilai reratas iswa7 5,6,p ada siklusI I nilai reratas iswa7 1,6r nengalamipenurunank arenab anyakh itungand an rumus-rumusp,a das iklusI II nilai reratasiswa8 1,0.D engand emikianh asilb elajars iswam eningkadt ibandingkahna silbelajars ebelumnyyaa ngn ilai reratanya4 5,6.Hanrbatanya ngm unculs elamap enerapamn etodek erjak elompok terpadu ini dapatd irinci sebagabi erikut,( a) siswae ngganm emintap etunjukj ika mengalamikesulitan,( b)j ika waktuy angd igunakanti dak tepat,( terlalul ama)s iswaa kanr amaidanr nelalaikatnu gas(,c ) siswap andaci enderunmg endorninapsei laksanaakne {akelornpok,s iswa yangb iasanyara rnaia kanm enggunakawn aktuk erjak elornpokuntukb ergurauk, ecenderungasnis wad alamd iskusik elompokb esaru ntukmempenahankhaans Ii kerjanya

Papan iklan elektronik menggunakan SMS (short message service) / Eka Angga Novianto

 

Perkembangan teknologi yang semakin cepat menyebabkan diantaranya perkembangan teknologi nirkabel semakin cepat juga, salah satunya adalah teknologi GSM (Global System for Mobile Communication), SMS (Short Message Service) adalah salah satu fasilitasnya, fasilitas SMS ini merupakan salah satu fitur pada telepon seluler yang sekarang kian murah dan memasyarakat. Selain kebutuhan telepon yang semakin mudah terpenuhi, fitur SMS dengan tarif murah juga dapat dimanfaatkan untuk papan iklan elektronik, perangkat yang dibutuhkan antara lain telepon seluler Siemens M35i, mikrokontroler AT89S52, driver (transistor) dan dot matrik display sebagai penampil karakter. Mikrokontroler AT89S52 ini dapat menampilkan SMS ke sebuah display yaitu dengan cara mengkonversi informasi dari telepon seluler yang berupa data PDU (Protokol Data Unit) untuk dijadikan teks oleh mikrokontroler AT89S52 demikian sebaliknya sehingga mikrokontroler AT89S52 dapat membaca pesan sesuai dengan permintaan yang telah ditentukan. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hasilnya dapat sesuai dengan yang diharapkan, yaitu mikrokontroler AT89S52 mampu menampilkan sebuah pesan singkat berupa SMS (Short Message Service) ke sebuah display yang berupa dot matrik. Sehingga alat ini dapat digunakan sebagai sarana informasi dan papan iklan. Kesimpulan yang dapat diambil dari perencanaan dan hasil yang telah dicapai adalah sebagai berikut : (1) Pengendalian sangat tergantung dengan jaringan GSM, (2) pengiriman dan penerimaan SMS dengan mode PDU dapat dengan mudah dilakukan oleh mikrokontroler AT89S52. Dari hasil pengujian ini disarankan adanya pengembangan lagi, yaitu adanya pembahasan mekanisme up-dating pulsa untuk SIM-card pra bayar dan mengenai baterei dari handphone sehingga tidak diperlukan lagi penchargeran.

Bel penyimpan data keberadaan penghuni asrama pada asrama / Erfan Dwi Sulistiyo

 

ABSTRAK Dwi Sulistiyo, Erfan. 2009. Bel Penyimpan Data Keberadaan Penghuni Asrama pada Asrama. Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dyah Lestari, S. T., M. Eng. (II) Drs. Suwasono, M. T. Kata Kunci: Bel, Pesan Suara, Record, Playback, Audio. Banyaknya para penimba ilmu menuntut banyaknya tempat tinggal yang tersedia. Asrama merupakan salah satu alternatif tempat tinggal para penimba ilmu. Sebagian besar universitas menyediakan asrama bagi penimba ilmu yang berprestasi. Namun asrama yang disediakan kurang memberikan fasilitas bagi para penimba ilmu yang tinggal di asrama Untuk itu universitas dapat memberikan fasilitas komunikasi satu arah pada asrama dengan memberikan bel penyimpan data keberadaan penghuni asrama pada asrama. Dengan adanya alat tersebut maka pengeluaran tiap bulan dapat dikurangi. Alat ini digunakan untuk memberikan informasi keberadaan penghuni asrama yang dicari dan dapat meninggalkan pesan suara yang dapat terjaga kerahasiaan isinya bagi pengunjung jika penghuni yang dituju tidak berada di tempat. Bel Penyimpan Data Keberadaan Penghuni Asrama pada Asrama ini mempunyai komponen yaitu: (1) Keypad 3x4 berfungsi sebagai tombol untuk memasukkan pesan suara, membuka pesan suara dan sebagai pemilih suara bel kamar yang dituju. (2) Limit switch berfungsi sebagai penanda ada dan tidaknya penghuni asrama yang dituju. limit switch dipasang pada setiap slot kunci kamar kos. (3) Mikrokontroler AVR ZTMega 16 berfungsi sebagai pusat kendali utama yang mengkoordinasikan seluruh perangkat input dan output pada sistem. (4) LCD berfungsi sebagai penampil karakter huruf dan angka untuk menampilkan menu dan pilihan. (5) LED berfungsi sebagai indikator penanda durasi perekaman pesan. (6) ISD 25120 berfungsi sebagai perekam, penyimpan, dan pemutar ulang pesan suara. (7) Mikrofon berfungsi sebagai input suara pada ISD25120. (8) Loudspeaker digunakan sebagai output ISD 25120 yaitu untuk mengeluarkan suara dari ISD25120. Dari hasil pengujian dan analisis diperoleh kesimpulan yaitu: (1) Limit switch dapat bekerja dengan baik karena memberikan input pada mikrokontroler sehinga alat dapat mengetahui ada dan tidaknya penghuni asrama yang dicari. (2) Perekaman (record) yang bertujuan menyimpan data suara (audio) dalam chip ISD25120 dan pemutaran ulang (playback) terhadap data-data audio yang dikeluarkan melalui loudspeaker, dapat bekerja dengan baik sesuai perancangan. (3) Data-data yang tersimpan pada memori ISD25120 berupa pesan suara hanya dapat diputar ulang (playback) jika kode pengaman (password) yang ditekan pada tombol keypad sesuai dengan passwod masing-masing kamar. (4) Penggunaan modul LCD M1632 untuk menampilkan menu-menu petunjuk penggunaan alat dapat bekerja dengan baik. Sehingga LCD M1632 dapat menampilkan menu-menu dan karakter tulisan. (5) Dengan mengamati hasil pengujian tiap bagian maupun secara keseluruhan baik untuk hardware maupun software, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perancangan yang dilakukan telah berhasil dan alat dapat bekerja sesuai yang diharapkan.

Software peramalan beban listrik daya terpasang berbasis visual basic 6 / Esti Teguh Prasetyo

 

ABSTRAK Teguh Prasetyo, Esti. 2008. Software Peramalan Beban Listrik Daya Terpasang Berbasis Microsoft Visual Basic 6 Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Elektro FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Yuni Rahmawati,ST,MT (2) Aji Prasetya Wibawa,ST,M.MT. Kata Kunci : Perencanaan, Peramalan, Visual Basic 6, Microsoft Office Access Secara teknis , perencanaan sistem distribusi diperlukan karena kebutuhan masyarakat yang selalu meningkat dan kemampuan jaringan distribusi yang telah ada tidak mampu memenuhi kebutuhan itu. Dilain hal, penggantian jaringan distribusi lama itu didasarkan karena sudah tuanya umur dari jaringan distribusi tersebut dan sudah ada yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena sudah terlalu lama di operasikan. Oleh karena itulah perlu diadakan rehabilitasi jaringan distribusi yang baru ataupun menambahkan yang telah ada. Untuk memenuhi hal-hal tersebut maka yang sangat diperlukan untuk perencanaan dan pengembangan kelistrikan adalah peramalan beban yang tepat. Dalam perencanaan peramalan analisis yang digunakan adalah regresi linier dan untuk aplikasinya bahasa pemrograman yang digunakan adalah Microsoft Visual Basic 6 sebagai interfacing antara pengguna dengan komputer. Untuk melakukan penyimpanan, program database yang digunakan adalah Microsoft Office Access. Dimana didalam setiap proses perhitungan ataupun memasukkan data yang ada dalam peramalan, semua diakses dalam database melalui program yang telah dibuat. Hasil pengujian disimpulkan bahwa analisis data yang digunakan sebagai acuan dalam proses peramalan adalah fungsi forecast pada Microsoft Excel karena memiliki nilai error yang sangat rendah. Adapun untuk hasil pengujian software pada program peramalan beban ini yaitu dengan menguji koneksi pada masing-masing command button dan melakukan uji coba dalam memasukkan data ataupun perhitungan. Pembuatan software yang ini menghasilkan suatu prediksi dalam pemakaian listrik pada tahun-tahun mendatang dengan akurasi yang baik dengan error sebesar 4% sehingga dapat digunakan sebagai suatu alat pertimbangan dalam perencanaan pengembangan kelistrikan.

Strategi harga pada unit usaha swalayan PKPRI Malang / Kholili Aini Rifa

 

Pnetapan harga (price) merupakan salah satu elemen bauran pemasaran selain produk (product), tempat (place) dan promosi (promotion). Elemen harga merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan bagi perusahaan dan paling fleksibel. Penetapan harga adalah hal yang paling mendasar dan harus segera dilakukan, karena semua barang dan jasa tentunya mempunyai harga. Strategi harga yang tepat sangat penting dilakukan oleh perusahaan terutama untuk menghadapi era persaingan yang semakin ketat, karena penetapan harga akan berdampak pada segala aspek. Sebelum menetapkan harga perusahaan harus menentukan dulu tujuan pemasarannya, seperti berorientasi pada laba, berorientasi pada volume, berorientasi pada citra, tujuan stabilisai harga dan tujuan-tujuan lainnya. Setelah diketahui dengan jelas tujuan pemasarannya, kemudian ditentukan metode penetapan harga yang sesuai, ada beberapa metode penetapan harga, yaitu: (1) Metode penetapan harga berbasis permintaan, (2) Metode penetapan harga berbasis biaya, (3)Metode penetapan harga berbasis laba, (4) Metode penetapan harga berbasisi persaingan. Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang yang berlokasi di jalan Tumenggung Suryo No. 20 Malang. PKL dimulai pada tanggal 01 September 2008 sampai dengan 30 September 2008. PKL ini digunakan untuk menyusun Tugas Akhir yang membahas beberapa rumusan masalah, yaitu: (1) Apakah metode penetapan harga yang digunakan oleh Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang ?, (2) Apakah faktor faktor yang mempengaruhi strategi penetapan harga di Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang ?, (3) Apakah faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi oleh Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang dalam menetapkan harga ?. Sedangkan tujuanya adalah : (1) Untuk mengetahui strategi penetapan harga yang di gunakan oleh Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang. (2) Untuk mengetahui faktor faktor apa saja yang mempengaruhi strategi penetapan harga di Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang. (3) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi oleh Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang dalam menetapkan harga. Dari hasil melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) maka dapat diketahui bahwa tujuan pemasaran Unit Kerja Swalayan PKPRI Malang adalah memperoleh pangsa pasar yang besar, berorientasi pada volume, menjaga kelangsungan hidup perusahaan dan menciptakan citra yang baik dimata konsumen, strategi penetapan harga yang digunakan adalah dengan menggunakan metode stndart markup pricing yaitu menambahkan prosentase tertentu dari biaya pada semua item dalam suatu kelas produk. Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang membagi produknya menjadi 2 kategori utma berdasarkan tingkat penjualannya, yaitu produk fast moving dan paroduk slow moving. Untuk kategori produk fast moving Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang menetapkan margin laba sebesar 2,5 % - 5% sedangkan untuk kategori produk slow moving margin laba yang ditetapkan adalah 3% - 5%. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Unit Kerja Swalayan PKPRI Malang dalam menetapkan harga adalah : (1) faktor internal perusahaan yang meliputi tujuan pemasaran perusahaan, biaya, laba yang diharapkan, tingkat penjualan dan organisasi. (2) faktor eksternal perusahaan yaitu elastisitas permintaan, persaingan dan faktor eksternal lainnya. Adapun faktor pendukung dalam melaksanakan strategi penetapan harga yang dihadapi oleh Unit Kerja Swalayan PKPRI Malang adalah : (1) Dalam menetapkan harga antara karyawan sangat terbuka, tidak jarang di musyawarahkan terlebih dahulu, Walaupun keputusan berada di tangan manajer. (2) Image Unit Usaha Swalayan yang memiliki harga murah baik eceran maupun grosir menjadikan konsumen tidak ragu dalam berbelanja di sana, (3) System pembayaran telah menggunakan point of sale. Sedangkan faktor penghambatnya adalah (1) persaingan yang ketat, (2) tidak mengetahui harga pesaing dengan jelas, (3) Label harga yang kadang sudah kadar luarsa dan tidak sesuai dengan tempat produknya, (4) Kekurangan modal. Maka dari itu usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat tersebut adalah: (1) memantau perkembangan harga pesaing agar dapat menetapkan harga secara cepat, (2) Mencari sumber modal yang memadai untuk mengatasi kekurangan modal, misalnya dengan cara meminjam dari bank atau koperasi, (3) senantiasa mengecek label harga pada rak, sehingga tidak kadar luarsa dan sesuai pada produknya. Diharapkan dengan strategi harga yang tepat tujuan dari pemasaran dapat tercapai dan mampu bertahan dalam industri ritel yang memiliki banyak pesa.

Implementasi strategi penetapan harga pembelian pada CV. KM Malang / Husin Humaidi

 

ABSTRAK Humaidi, Husin. 2008, Implementasi Strategi Penetapan Harga Pembelian pada CV. KM Malang. Tugas akhir, Jurusan Manajemen Program Study D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Pembimbing DR.Sopiah, M.Pd., M.M. Kata kunci : Implementasi, Strategi, Harga Persaingan dunia bisnis sudah semakin ketat, hal ini merupakan salah satu implementasi dari globalisasi dunia bisnis yang mengarah pada kebebasan perdagangan antar wilayah, regional maupun global, sudah tidak dapat disangkal lagi, bahwa globalisasi usaha itu sendiri merupakan salah satu mesin kompetisi antar pengusaha. Harga merupakan salah satu unsur dalam bauran pemasaran yang menjadi salah satu kunci untuk dapat memenangkan persaingan. Harga menurut Stantion dalam Angiopora (2002:268) adalah jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Mengingat arti pentingnya harga inilah perusahaan senaniasa dituntut untuk merumuskan strategi penetapan harga yang sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan, sehingga nantinya harga yang dihasilkan bisa memberikan kepuasaan pada pelanggan. Menurut Kotler (1997:36) Kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesenangan terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapannya, yang kesenangan itu akan berorientasi pada nilai yang akan diterima oleh pelanggan (costomer delivered value). CV. KM merupakan salah satu unit usaha dengan tingkat persaingan yang tinggi, karena merupakan penyalur kertas yang sudah berada pada level pemain (penentu harga di pasar) sehingga setiap langkah yang diambil unit usaha ini menjadi salah satu faktor penentu harga di pasar. Berikut ini adalah strategi yang dilaksanakan CV. KM, diantaranya (1) Strategi penetapan harga pada awal berdirinya CV. KM (2) Strategi penetapan harga yang mempengaruhi psikologis konsumen, dan (3) Strategi penetapan harga kompetitif. Tingginya tingkat persaingan ini senantiasa menuntut CV. KM untuk senantiasa mengadakan perubahan dan penyesuaian terhadap situasi dan kondisi harga yang ada di pasar, sehingga strategi penetapan harga yang diterapkan harus bersifat elastis. Dalam implementasinya strategi penetapan harga pada CV. KM senantisa berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan. Berikut ini imlementasi strategi penetapan harga yang ada pada CV. KM: (1) Strategi penetapan harga tinggi, (2) Strategi penetapan harga yang berorientasi pada konsumen dan (3) Strategi penetapan harga yang berorientasi pada pasar, selain itu untuk mendukung pelaksanan strategi di atas CV. KM juga menerapkan sistem bonus (kartu berlangganan) dan antar jemput barang. Dalam situasi persaingan yang tinggi sebagai pedoman dalam penetapan harganya CV. KM menggunakan metode harga dasar dan metode penetapan harga berdasarkan pesaing.

Pelaksanaan strategi bauran promosi sunset policy pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan / Anis Wiji Rahayu

 

Pajak merupakan tulang punggung penerimaan Negara dalam APBN, tetapi di Indonesia kesadaran Wajib Pajak dalam membayar pajak masih rendah. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar sadar pajak, Direktorat Jendral Pajak (DJP) telah mengeluarkan sebuah fasilitas perpajakan yaitu penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atau yang lebih dikenal dengan Sunset Policy. Program atau fasilitas perpajakan ini bisa dikatakan relatif baru, sehingga sangat membutuhkan berbagai macam sarana untuk menginformasikan kepada masyarakat luas mengenai fasilitas perpajakan tersebut. Dalam usaha menginformasikan fasilitas Sanset Policy, KPP Pratama Malang Selatan perlu melakukan kegiatan promosi. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1) Apa saja keuntungan Sunset Policy yang diterapkan oleh KPP Pratama Malang Selatan bagi wajib pajak. 2) Bagaimana pelaksanaan strategi bauran promosi Sunset Policy yang yang digunakan oleh KPP Pratama Malang Selatan. 3) faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaan strategi bauran promosi Sunset Policy yang digunakan oleh KPP Pratama Malang Selatan. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui mengetahui keuntungan yang diperoleh wajib pajak jika memanfaatkan fasilitas Sunset Policy yang ditawarkan oleh KPP Pratama Malang Selatan yaitu: mengetahui strategi bauran promosi yang digunakan oleh KPP Pratama Malang Selatan dalam mempromosikan Sunset Policy, mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan strategi bauran promosi yang digunakan oleh KPP Pratama Malang Selatan dalam mempromosikan Sunset Policy. Strategi bauran promosi yang digunakan oleh KPP Pratama Malang Selatan dalam mempromosikan Sunset Policy yaitu 1) Periklanan melalui media cetak, elektronik, media luar lingkungan dan media lini bawah. 2) Penjualan Perseorangan (personal selling) yaitu memberikan pelayanan yang cepat, ramah dan sopan dalam memberikan pelayanan kepada wajib pajak. 3) Hubungan Masyarakat yaitu mengadakan kampanye simpatik untuk mensosialisasikan Sunset Policy, mengadakan seminar-seminar perpajakan dan sosialisasi seputar Sunset Policy. 4) Pemasaran Langsung yaitu melalui website www.pajak.go.id

Implementasi strategi produk sebagai salah satu variabel bauran pemasaran pada unit usaha swalayan PKPRI Malang / Wabika Nahya

 

Ekspektasi merupakan kekuatan dari kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu tergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil tertentu. Ekspektasi memiliki kaitan erat dengan motivasi seseorang. Motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif, motivasi sebagai kekuatan atau energi yang mendorong kondisi atau keadaaan sikap seseorang untuk memulai atau melajutkan serangkaian tingkah laku atau perbuatan menjadi perbuatan atau tingkah laku yang nyata. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan atau explanatory research. Analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier sederhana. Variabel dalam penelitian ini meliputi ekspektasi mahasiswa jurusan akuntansi atas fasilitas perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebagai variabel bebas (X) dan motivasi belajar sebagai variabel terikat (Y). Sampel penelitian ini terdiri dari 279 mahasiswa jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi Unversitas Negeri Malang. Rancangan pengambilan sampelnya menggunakan rancangan sampel probabilitas yang menggunakan tehnik “Proportional Random Sampling” dan teknik pengumpulan datanya adalah angket, observasi, dan dokumentasi. Dari hasil analisis diketahui bahwa ada pengaruh signifikan dari ekspektasi atas fasilitas perkuliahan terhadap motivasi belajar. Selain itu, dari hasil penelitian ini juga diperoleh data bahwa perubahan motivasi belajar ditimbulkan oleh ekspektasi atas fasilitas perkuliahan sebesar 52,4 dimana sisanya sebesar 47,6 % dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Diharapkan peneliti selajutnya dapat mengembangkan faktor – faktor lain berkaitan dengan peningkatan motivasi belajar mahasiswa, seperti kinerja dosen, perhatian pembimbing akademik dan orang tua mahasiswa, keadaan ekonomi keluarga, tingkat intelegensi (IQ) mahasiswa itu sendiri, dan lain sebagainya. Selain itu populasi penelitian tidak hanya terbatas pada mahasiswa jurusan akuntansi tetapi juga pada mahasiswa jurusan lain di Fakultas Ekonomi UM sehingga nantinya hasil penelitian dapat digeneralisasi.

Pelaksanaan strategi penjualan eceran pada unit usaha swalayan PKPRI Malang / Wahyu Rizqi Hidayah

 

Usaha eceran (Retailing) meliputi semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung ke konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis. Pengecer merupakan kegiatan yang sangat penting, karena mereka memiliki peranan yang besar selain sebagai pemasar, pengecer juga sebagai pelanggan bagi produsen dan grosir. Dalam perkembangan era gloabalisasi saat ini menyebabkan banyak bermunculan jenis-jenis usaha, terutama jenis usaha eceran. Sehingga persaingan dalam jenis usaha eceran juga semakin ketat. Hal ini memaksa pedagang eceran untuk menetapkan strategi penjualan eceran yang tepat. Dalam penetapan strategi penjualan eceran ada 6 hal yang harus diperhatikan, yaitu: (1) Target pasar sasaran, (2) Keputusan ragam produk dan perolehan produk, (3) Pelayanan dan suasana toko, (4) Keputusan harga, (5) Keputusan promosi, dan (6) Keputusan tempat. Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di Swalayan PKPRI Malang yang berlokasi di jalan Tumenggung Suryo No. 20 Malang. PKL dimulai pada tanggal 01 September 2008 sampai dengan tanggal 30 September 2008. PKL ini digunakan untuk menyusun Tugas Akhir yang membahas beberapa rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimanakah pelaksanaan strategi penjualan eceran pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang? (2) Apakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat pelaksanaan strategi penjualan eceran pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang? dan (3) Apakah usaha yang dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat dalam pelaksanaan strategi penjualan eceran pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang? Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui: 1. Pelaksanaan strategi penjualan eceran yang diterapkan pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang. 2. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan strategi penjualan eceran pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang. 3. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat dalam pelaksanaan strategi penjualan eceran pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang. Dari hasil penelitian selama melakukan PKL dapat diketahui strategi penjualan eceran yang dilaksanakan oleh Swalayan PKPRI Malang, yaitu penentuan pasar sasaran, keputusan ragam produk dan perolehan produk, pelayanan dan suasana toko, keputusan harga, keputusan promosi, dan keputusan tempat. Adapun faktor pendukung dalam pelaksanaan strategi penjualan eceran meliputi, (1) Lokasi yang strategis, (2) Dapat memberikan pelayanan, (3) Dekat dengan pasar sasaran, (4) Area parkir yang luas, dan (5) Tersedianya lokasi yang luas. Sedangkan faktor penghambatnya meliputi, (1) Kurangnya modal, (2) Kurangnya tenaga kerja, (3) Kurang melakukan promosi, dan (4) Tata ruang yang kurang menarik. Maka dari itu usaha-usaha yang harus dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat tersebut adalah: (1) Mencari sumber modal yang memadai, misalnya dengan cara meminjam dari bank, (2) Lebih gencar lagi dalam melakukan kegiatan promosi, (3) Merekrut tenga kerja, dan (4) Menata ruang kembali agar lebih menarik. Dari uraian di atas, maka untuk meningkatkan usaha Swalayan PKPRI Malang disarankan untuk selalu memantau perkembangan harga di pasar agar dapat menentukan harga dengan tepat, menciptakan suasana toko yang lebih nyaman dan menarik agar konsumen merasa puas dan tertarik, lebih meragamkan produk dengan berbagai macam merek agar konsumen memiliki banyak pilihan, untuk menunjang kelangsungan dan perkembangan usaha, Swalayan PKPRI Malang disarankan untuk menambah modal, dan untuk meningkatkan kualitas kinerja dan untuk memperat tali silaturahmi sesama karyawan maupun dengan pengurus disarankan untuk mengadakan pelatihan.

Perlakuan akuntansi pendapatan kontrak jasa konsultan teknik dan manajemen pada PT. (Persero) Indra Karya Cabang I Malang / Ira Kusumastuti

 

ABSTRAK Kusumastuti, Ira. 2008. Perlakuan Akuntansi Pendapatan Dalam Kontrak Jasa Konsultasi Teknik Dan Manajemen Pada PT. (Persero) Indra Karya Cabang 1 Malang. Tugas akhir, Jurusan Akuntansi Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Yuli Widi Astuti, SE.,M.Si.,Ak. Kata kunci: pendapatan kontrak Pendapatan adalah salah satu elemen penting penyusun laporan laba rugi, karena besarnya pendapatan yang diakui pada suatu periode akuntansi akan berpengaruh pada beasrnya laba rugi yang akan diakui oleh perusahaan. Permasalahan yang timbul pada perusahaan jasa konsultasi teknik dan manajemen adalah kapan pendapatan dan biaya kontrak dari suatu proyek dapat diakui dan dialokasikan, khususnya untuk proyek jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebijaksanaan perusahaan mengenai penerapan metode pengakuan pendapatan kontrak jasa konsultasi dan menganalisis ketepatan serta keefektifan penggunaan metode pengakuan pendapatan pada perusahaan jasa konsultasi serta kesesuaian dengan kondisi perusahaan dan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Ada tiga metode yang dapat diterapkan oleh perusahaan jasa konsultasi dalam mengakui pendapatannya yaitu metode persentase penyelesaian dengan pendekatan progress phisik atau biaya ke biaya serta metode kontrak selesai. Dalam hal ini, PT. (Persero) Indra Karya Cabang I Malang sebagai perusahaan jasa konsultasi yang diteliti menggunakan metode persentase penyelesaian dengan pendekatan progress phisik dalam pengakuan pendapatannya, dari perhitungannya didapatkan hasil sebagai berikut: pendapatan yang diakui mulai periode I sampai periode IV adalah sebesar Rp. 26.152.672,-, Rp. 204.207.360,-, Rp. 195.774.690,- dan Rp. 143.640.278,-. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode persentase penyelesaian dengan pendekatan biaya ke biaya diperoleh hasil yang lebih proporsional yaitu dengan pengakuan pendapatan sebesar Rp. 7.691.962,- di periode I, dan Rp. 290.813.161,-, Rp. 167.342.917,- serta Rp. 103.926.960,- pada periode-periode selanjutnya. Untuk metode kontrak selesai, pengakuan pendapatan hanya dilakukan diakhir pelaksanaan proyek dengan nilai senesar Rp. 569.775.000,-. Penerapan biaya ke biaya lebih mendekati nilai pendapatan yang seharusnya diakui setiap peiodenya, karena ketidaktepatan dan ketidakefektifan penerapan metode pengakuan pendapatan, akan berpengaruh terhadap penyajian laporan keuangan, khususnya pada laporan laba rugi. Dari hasil analisis dan evaluasi, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan metode pengakuan pendapatan dengan pendekatan progress phisik kurang tepat dan efektif, sehingga disarankan untuk menggunakan metode yang sama dengan pendekatan biaya ke biaya karena pendekatan ini mampu menghasilkan laporan dan informasi yang lebih akurat dan mendekati kelyakan sebagi salah satu syarrat dalam menyajikan laporan keuangan yang baik dan tepat saji.

Pengaruh ekspetasi atas fasilitas perkuliahan terhadap motivasi belajar (Studi pada mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2008/2009) / Gustiyawati

 

Penetuan pH optimum dan pengaruh konsentrasi larutan amilum bekatul pada pembuatan sirup glukosa dari bekatul melalui metode hidrolisis asam oleh Eli Hendrik Sanjaya

 

Bekatuml erupakalnim bahd ari prosesp engolahagna bahm enjadbi erasy ang nongandubnagg ianlu ar berasy angt idakt erbawab ersamab erast,e tapib ercampur th,ngabna gianp enutupb erasK. adara milumd alamb ekatulm asihc ukupt inggi,t etapi selfinian i pemanfaatabne katul rnasihs ebatase bagami akanante rnak.U nftrk neningkatkannila i ekonomisb ekatudl apatd ilakukanh idrolisisa milumb ekatuml enjadi sirupg lukosaT.u juand ari penelitianin i adalahu ntukm engetahupiH optimumd an pngaruhk onsentraslai rutana milumt erhadapre ndemeng lukosap adar eaksih idrolisis anilunmo enjadgi lukosa. Penelitiainn i dilakukand i l,aboratoriumK imia FMIPAU niversitaNs eeeri Malangpadbau lanJ anuar2i 003s ampabi ulanJ uli 2003.l ,angkahp ertamad alam penelitiaini adalahis olasia milumd an bekatuld engu caram €nsuspendsai n penyaringdaenn ganp elaruta quadestK. emudiand ilakukanp rosesh idrolisisa milum dengavna riaski qnsentraslai rutana milum1 0o/o,20o3/o0,% ,4 0%d an5 0ohd enganv ariasi pH1 ,0;1 ,5;2 ,0;2 ,5 dan3 ,0.R endemegnl ukosad ihitungb erdasarkadna tab erata milum yaryd ihidrolisisd anb erats irupg lukosaK. onsentrassii rupg lukosad itentukanm elalui netodes pektrofotoemtr i. Ilasil penelitianm enunjukkanb ahwan ilai rendemente rtinggiu ntuks etiap konsentralasri utana milumt erdapapt adap H 2,0,ywrgberturut-turupta dak onsentpsi 10%,20%,30%,40%danS}Yorendemeandnaylaah 32,769/o,16,96%,11,23%,10,12%, dan8,ZQ%Se. makinb esark onsentraslai rutana milum,r endemeng lukosay ang I dihasilkasne makink ecil.

Mekanisme penghitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak atas sewa kendaraan di Koperasi Pegawai PT. Indosat, Tbk (Kopindosat) Surabaya / M. Fakhrul K.M.

 

ABSTRAK Fakhrul, M. 208. Mekanisme Penghitungan, Pembayaran, dan Pelaporan Pajak Atas Sewa Kendaraan di Koperasi Pegawai PT. Indosat, Tbk (KOPINDOSAT) Surabaya. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Makaryanawati S.E.,M.Si.,Ak. Kata Kunci: pajak leasing Pajak sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian suatu Negara, karena pajak adalah salah satu sumber pendapatan Negara. Banyak masyarakat yang masih belum mengerti bagaimana mekanisme penghitungan, pembayaran, serta pelaporan pajak itu sendiri. Beberapa jenis pajak di Indonesia diantaranya adalah Pajak Penghasilan dan PPN. Objek pajak yang dikenakan PPh Pasal 23 dan PPN adalah mengenai sewa guna usaha. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme penghitungan, pembayaran, serta pelaporan pajak khususnya PPh Pasal 23 dan PPN atas sewa guna usaha dapat digunakan metode-metode seperti menghitung pajak yang harus dibayarkan atau yang terutang dan mengidentifikasi Pajak Masukan yang dapat dikreditkan pada Pajak Keluaran (untuk PPN), serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan bukti pembayaran atau pelunasan pajak yang telah telah dilaksanakan sendiri oleh PKP maupun pihak lain dalam beberapa waktu Masa Pajak sesuai dengan UU perpajakan dan mengumpulkan bukti dan dokumen pelaporan pajak yang telah dibayarkan. Dasar pengenaan PPN atas sewa kendaraan adalah nilai jual, sedangkan untuk PPh Pasal 23 adalah sebesar DPP (Dasar Pengenaaan Pajak). Dalam pemungutannya, untuk PPh Pasal 23 harus disertakan bukti potong yang seharusnya diminta atau diberikan kepada pemberi jasa dalam hal ini disebut lessor. Fungsi SPT Masa PPN dan SPT Masa PPh Pasal 23 adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan jumlah pajak yang terutang. Penyampaian SPT Masa ini paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Berdasarkan PKL yang telah dilakukan, masih perlu adanya pembagian kerja untuk menghemat waktu. Merujuk uraian di atas, dapat disarankan perlunya pembagian kerja yang tepat dan spesialisasi kerja sehinggga selesai dengan baik dan sesuai dengan tujuan. Juga masih perlu adanya pemahaman yang lebih baik dengan pedoman yang ada di buku dalam pelaksanaan penghitungannya.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pendapatan pengrajin gula kelapa di Desa Kedawung Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Yeni Linuwih Legowati

 

ABSTRAK Linuwih, Yeni, Legowati. 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pendapatan Pengrajin Gula Kelapa di Desa Kedawung Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Marhadi Slamet K, M.Si, (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si. Kata kunci: pengalaman kerja, jumlah pohon kelapa, biaya produksi, dan hasil produksi. Industri gula di Desa Kedawung Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar merupakan jenis industri rumah tangga yang dimanfaatkan sebagai pekerjan utama. Di Kecamatan Nglegok terdapat 2.930 unit usaha pembuatan gula kelapa dimana di Desa Kedawung terdapat 210 unit usaha pembuatan gula kelapa. Kecamatan Nglegok merupakan satu-satunya kecamatan di Kabupaten Blitar dengan unit usaha pembuatan gula kelapa terbesar. Industri di pedesaan pada faktanya tidak berjalan lancar karena beberapa hal, faktor-faktor yang berhubungan dengan pendapatan pengrajin gula kelapa antara lain: lama kerja, jumlah pohon kelapa, biaya produksi, dan hasil produksi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui hubungan secara sendiri-sendiri antara lama kerja, jumlah pohon kelapa, biaya produksi dan hasil produksi dengan pendapatan pengrajin gula kelapa di Desa Kedawung Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu berusaha menjelaskan hubungan variabel bebas dengan variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini sebesar 210 dan sampel yang diambil sebesar 100 sampel dengan menggunakan teknik proportional sampling. Selanjutnya data-data yang diperoleh akan dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan secara sendiri-sendiri antara lama kerja, jumlah pohon kelapa, biaya produksi, dan hasil produksi dengan pendapatan pengrajin gula kelapa baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari penelitian ini diperoleh bahwa pendapatan pengrajin per bulan sekitar Rp. 270.000-Rp. 945.000 dimana 47% dari responden mempunyai penghasilan >Rp. 550.000;. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar diadakan pelatihan atau penyuluhan tentang gula kelapa karena selama ini belum pernah ada pelatihan atau penyuluhan baik yang dilakukan oleh pemerintah ataupun swasta, pengrajin gula kelapa harus terus berupaya meningkatkan pendapatan keluarga melalui peningkatan skala usaha dan diversifikasi usaha sehingga dapat mencukupi kebutuhan seluruh keluarga dalam rangka menciptakan keluarga sejahtera salah satunya dengan memproduksi gula kelapa dengan baik, dan bagi peneliti dapat melanjutkan penelitian ini dengan menggunakan variabel yang lain seperti jarak, pemasaran, dan lain-lain.

Impelemntasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah (studi multisitus pada tiga Dinas Pendidikan Kabupaten di kawasan tapal kuda) / Musyaffa Rafiqie

 

Undang – Undang No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dapat dimaknai: (1) Memberikan kewenangan pada daerah yang nyata, luas dan bertanggungjawab dalam melaksanakan prinsip demokrasi yakni dengan melibatkan peran serta masyarakat pada tingkat bawah, namun dengan memperhatikan keanekaragaman, politik, ekonomi, sosial dan budaya daerah. (2) Digunakan sebagai bahan pijakan dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten. (3) Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten tidak lagi menganut sentralistik namun telah menganut sistim desentralisasi. (4) Pemerintah Daerah dalam melaksanakan program pembangunan memperhatikan kebutuhan, kepentingan dan tuntutan masyarakat di daerah. Dan (5) Pemerintah Daerah Kabupaten dalam mengelola, mengatur dan mengurus pemerintahan di daerah memperhatikan idea, gagasan, dan aspirasi masyarakat yang dipimpimnya. Penelitian ini dilaksanakan pada Dinas Pendidikan Tiga Kabupaten Kawasan Tapal Kuda akan menjawab dua fokus penelitian yakni (1) Implementasi Kebijakan Pendidikan pada Sosialisasi atau Komunikasi, Kepatuhan dalam Pelaksanaan dan Penerapan Program Kegiatan, dan (2) Implementasi Kebijakan Pendidikan dalam Mengelola Organisasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Kota Pesantren, Dinas Pendidikan Kabupaten Tape dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bromo. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dan penelitian dirancang dengan menggunakan multi-situs. Sumber data Pejabat Struktural Dinas Pendidikan Kabupaten. Dalam kegiatan pengumpulan data terbagi atas tiga tahapan yakni (1) tahap persiapan, (2) tahap pengumpulan data dan (3) tahap pencatatan data. Data yang terkumpul dianalisa dengan kegiatan (1) pengkoleksian data (2) penampilan data (3) reduksi data dan (4) kesimpulan dan verifikasi data. Pengecekan serta keabsahan data dilakukan dengan mengunakan derajat kepercayaan, derajat keterlibatan, derajat ketergantungan, dan derajat kepastian. Temuan penelitian yang dilaksanakan pada Dinas Pendidikan Tiga Kabupaten Kawasan Tapal Kuda menunjukkan gambaran yang nyata bahwa 1). Implementasi kebijakan pendidikan (1) Sebelum diluncurkannya program kegiatan hasil sebuah kebijakan dilaksanakan sosialisasi atau komunikasi melalui prensentasi, pertemuan, brefing, rapat Dinas, brosur dan dengar pendapat dengan melibatkan unsur Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru dan Pengurus yayasan. (2) Setiap pelaksanaan program kegiatan menggunakan Standar Operating Procedure (SOP) berupa: Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah.(PP), Keputusan Menteri (Kepmen), Peraturan Daerah Perda), dan Surat Keputusan Bupati (SK). SOP merupakan petunjuk atau pedoman pelaksanaan program kegiatan dan merupakan control atas pelaksanaan program kegiatan. Dalam penetapan manajemen pelaksana kebijakan penekanannya pada koordinasi internal dan koordinasi eksternal yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan. Koordinasi internal dilaksanakan oleh Pejabat Struktural Dinas Pendidikan dan koordinasi eksternal dilaksanakan oleh Kepala Dinas beserta Pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten. Kegiatan koordinasi internal diawali dengan identifikasi dan pengecekan program kegiatan yang tertera dalam Rencana Anggaran Biaya Satuan Kerja (RASK) dan Daftar Anggaran Biaya Satuan Kerja (DASK). Unsure yang terlibat dalam pengecekan RASK dan DASK adalah Pejabat Dinas Pendidikan di masing-masing unit kerja. Kegiatan koordinasi eksternal diawali dari Perintah Bupati ke Sekretaris Daerah untuk melaksanakan koordinasi Instansi Pemerintah lainnya. Unsur Instansi Pemerintah yang terlibat adalah Departemen Agama, Dinas Kependudukan dan Keluarga Berencana, Dinas Koperasi dan Perdagangan, Kepala Bagian Hukum, dan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat. (3) Situs 1 dan situs 2 Pejabat pengambil kebijakan dan Pejabat pelaksana kebijakan tingkat pendidikan belum sesuai, namun mempunyai kemampuan yang cukup memadai, sedangkan di situs 3 Pejabat pengambil kebijakan dan Pejabat pelaksana kebijakan tingkat pendidikannya sudah sesuai. 2) Implementasi kebijakan pendidikan dalam mengelola organisasi, temuannya adalah (1) Proses penyusunan dan pembuatan perencanaan diawali dengan rapat di sekolah, lalu di unit kerja masing-masing, selanjutnya rapat dinas dan kemudian Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda). Unsure yang dilibatkan adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah dan Staf Dinas. Tenaga perencana yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan jumlahnya cukup dan kemampuan atau keterampilannya cukup memadai. (2) Struktur Dinas Pendidikan Tiga Kabupaten Kawasan tapal Kuda dibentuk oleh Peraturan Daerah (Perda) di Pemerintah Daerah Kabupaten masing-masing dan strukturnya tergantung kebutuhan Pemerintah Daerah Kabupaten masing-masing. Struktur Organisasinya berbentuk Organisasi Lini yang ditandai adanya hubungan tugas, wewenang, dan tanggungjawab satu arah. Hubungan satu arah dijadikan acuan untuk menentukan kedudukan jabatan dan bagian dalam organisasi. Adanya pembagian kerja yang jelas dan ada unsure pimpinan sebagai penanggungjawab. (3) Pembinaan atau bimbingan dilaksanakan oleh pejabat structural Dinas sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggungjawabnya. Pembinaan atau bimbingan dilaksanakan melalui rapat Dinas, seminar, lokakarya, rapat di unit kerja dan pembinaan perseorangan. (4) Pengawasan dilaksanakan oleh pimpinan unit kerja sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggungjawabnya, dengan menggunakan prinsip secara langsung dan tidak langsung serta dengan menggunakan langkah-langkah pokok pengawasan.

Penerapan pembelajaran dengan menggunakan media pohon matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X SMAN 5 Malang tahun ajaran 2008-2009 / Ria Suwanti

 

Perkembangan globalisasi yang sangat cepat menuntut seseorang untuk beradaptasi terhadap perubahan. Sehingga siswa sekarang dituntut untuk dapat mengembangkan kreativitas lewat pola pikir kreatifnya. Untuk itu diperlukan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Salah satunya adalah pembelajaran dengan media pohon matematika yang merupakan gabungan dari dua pendekatan pembelajaran yaitu problem posing dan open-ended. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas, sebab data yang terkumpul berupa data verbal dan bermanfaat untuk memperbaiki pembelajaran di kelas, terutama untuk kemampuan berpikir kreatif siswa dan hasil belajarnya. Penelitian ini dilakukan di SMAN 5 Malang kelas X.7 semester gasal tahun ajaran 2008-2009 dengan subjek penelitian adalah 37 siswa. Data diambil dari pengamatan selama pembelajaran, wawancara, catatan lapangan. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Di setiap akhir siklus dilakukan 2 tes yaitu tes kreativitas membuat pohon matematika untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa dan post test untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa. Adapun langkah-langkah pembelajaran media pohon matematika yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa adalah : 1) penyajian materi, 2) membuat pohon matematika, 3) koreksi/ evaluasi. Penyajian Materi, siswa diminta mempelajari dan memahami isi handout berkaitan dengan materi yang dibahas, kemudian bersama-sama dengan peneliti melakukan pembahasan. Membuat Pohon Matematika, peneliti menjelaskan aturan dalam membuat pohon matematika kemudian memberikan LKS kepada siswa. LKS berupa pohon matematika dimana terdiri dari beberapa ranting yang sebagian ranting sudah terisi oleh masalah dan sebagian masih kosong. Siswa diminta menumbuhkan daun dari ranting yang sudah terisi kemudian membuat ranting/permasalahan yang masih kosong beserta menumbuhkan daunnya. Koreksi/Evaluasi, peneliti meminta siswa secara berpasangan menukarkan hasil pekerjaan untuk dikoreksi, apakah daun sudah sesuai dengan ranting yang dibuat. Dan apakah ranting yang dibuat merupakan permasalahan yang dibuat sendiri, melihat buku kemudian memodifikasi, menjiplak buku atau menncontoh teman. Dengan penerapan pembelajaran dengan media pohon matematika tersebut, kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat 4.41%, terdiri dari keterampilan berpikir lancar yang meningkat sebesar 13.51% dan 0.91%, keterampilan berpikir orisinil meningkat 2.7%,keterampilan memeperinci (elaborasi) meningkat 0.89%. Hasil belajar siswa meningkat 13.76%. Aktivitas Guru dan siswa dalam menerapkan pembelajaran dengan media pohon matematika meningkat sebesar 8.78% dan 3.11% pada siklus I dan siklus II.

Asking and responding to questions in teaching and learning writing at the State University of Malang / Muliati M.

 

Dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, ruang kelas merupakan tempat menyiapkan pajangan (exposure) dan latihan penggunaan bahasa Inggris. Untuk memaksimalkan fungsinya, pembelajaran di kelas perlu suasana yang nyaman dan memungkinkan terjadinya interaksi yang seimbang antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa. Salah satu bagian interaksi kelas yang banyak digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris yaitu tanya-jawab. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ‘bertanya’ dalam pembelajaran dikelas mempunyai peranan penting dalam belajar dan membelajarkan bahasa Inggris. Teknik tanya jawab dewasa ini diterapkan juga dalam pembelajaran keterampilan menulis melalui pendekatan proses, yang membutuhkan interaksi dalam proses pembelajarannya di kelas. Untuk memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana pertanyaan diajukan dan dijawab dalam pembelajaran menulis, penelitian ini diadakan dengan harapan akan memberi sumbangsih edukatif pada pengajaran menulis. Penelitian ini menyelidiki fenomena bertanya dan merespon pertanyaan dalam pembelajaran keterampilan menulis di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini bertujuan memerikan: 1) bagaimana pertanyaan diajukan oleh dosen; 2) bagaimana pertanyaan dosen direspon oleh mahasiswa; 3) bagaimana pertanyaan diajukan oleh mahasiswa; 4) bagaimana pertanyaan mahasiswa direspon oleh dosen; 5) bagaimana bertanya dan merespon pertanyaan memfasilitasi pembelajaran keterampilan menulis. Fenomena tentang bagaimana pertanyaan diajukan baik oleh dosen maupun oleh mahasiswa mencakup strategi bertanya, tujuan bertanya, jenis pertanyaan, fungsi pertanyaan dan isi pertanyaan. Sedangkan fenomena tentang bagaimana pertanyaan direspon baik oleh dosen maupun oleh mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus dengan pendekatan penelitian kualitatif. Data berupa catatan observasi, traskrip rekaman interaksi verbal selama pelajaran berlangsung, dan transkrip rekaman hasil wawancara dengan seorang dosen dan 11 mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Data dianalisis dengan menggunakan model interaktif yang meliputi: 1) reduksi, 2) presentasi, 3) simpulan sementara, yang disusul dengan verifikasi dengan triangulasi, 4) simpulan akhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertanyaan diajukan oleh dosen dengan tujuan mengecek pemahaman, memperkenalkan materi baru, memperjelas konsep, dan mengarahkan mahasiswa untuk memperbaiki atau melengkapi jawaban. Selanjutnya, pertanyaan dirumuskan dalam berbagai tingkatandan didistribusikan ke mahasiswa secara meneyeluruh atau individual. Dosen mengarahkan jawaban yang benar dan bervariasi dengan cara memfokuskan, menggiring, atau menyederhanakan pertanyaan, dan menangani respon mahasiswa dengan cara menerima dengan atau tanpa pujian, memberi penjelasan tambahan atau melengkapi jawaban, meminta mahasiswa lain untuk memperbaiki atau menambah jawaban yang sudah ada, mengajukan pertanyaan lain yang mengarahkan ke jawaban yang benar, atau menjawab pertanyaannya sendiri. Jenis pertanyaan dosen meliputi pertanyaan tertutup convergent), pertanyaan terbuka (divergent), dan pertanyaan penilaian (evaluative) yang isinya tentang kosakata, tata bahasa, prosedur dan konsep-konsep menulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berfungsi mengawali dan juga meneruskan interaksi yang sudah tercipta, memberi umpan balik kepada dosen mengenai pemahaman mahasiswa, klarifikasi, komfirmasi, atau berbagi pandangan tentang sesuatu hal. Selanjutnya, pertanyaan diajukan oleh mahasiswa dengan tujuan untuk memperoleh informasi lebih jauh dan untuk konfirmasi, dengan menggunakan bentuk yang bervariasi (kata, frase, kalimat sederhana) yang diajukan secara terbuka maupun secara pribadi langsung ke dosen pada saat dosen mendekatinya. Jenis pertanyaan mereka yaitu convergent dan divergent, yang isinya mengenai kosakata, dan konsep menulis yang berfungsi sebagai strategi belajar untuk mengantisipasi tugas menulis yang akan dikerjakan dan untuk menyalurkan keingintahuan atau untuk memperdalam pengetahuaan mereka terhadap suatu hal, dan juga untuk menghidupkan suasana kelas dengan interaksi atau juga untuk berbagi informasi yang berkaitan dengan materi pelajaran. Pertanyaan mahasiswa direspon oleh dosen dengan menjawabnya secara langsung dengan menggunakan bentuk kalimat sederhana yang biasanya diikuti dengan penjelasan. Jenis respon yang diberikan bervariasi: kata, klausa, kalimat, yang disertai dengan penjelasan atau diikuti oleh pertanyaan lain. Selanjutnya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa bertanya dan merespon pertanyaan di kelas dapat memfasilitasi mahasiswa dalam belajar menulis paragraf, yakni dalam aspek-aspek sbb: i) motivasi belajar sebelum dan sesudah belajar di kelas, ii) pemahaman menyeluruh terhadap materi pelajaran, iii) proses menulis (dalam tahap pengumpulan ide, penulisan kerangka, maupun pengungkapan ide dalam kalimat-kalimat yang tersusun secara koherensi), iv) perbaikan karya tulis. Dari hasil temuan ini dapat disimpulkan bahwa strategi yang bervariasi itu dapat mendorong mahasiswa memberi respon dan mengungkapkan apa yang mereka sudah tahu. Hal tersebut dapat menjadi upan balik bagi dosen. Pertanyaan yang berfungsi baik dapat menunjang proses pembelajaran, terutama dalam proses menulis. Berdasarkan simpulan penelitian ini, disarankan kepada peneliti lain menyelidiki pengaruh berbagai aspek bertanya, baik terhadap pengajaran maupun pembelajaran bahasa.

Pengaruh konsentrasi terhadap adsorpsi ion Cu2+ dan Cd2+ oleh arang komersial dan arang sekam padi sebagai adsorben dengan metode batch / Savitska Eistiwijaya

 

Adsorpsi merupakan suatu proses penyerapan atom, ion atau molekul-molekul dalam larutan pada suatu permukaan zat penyerap yang bergerak bebas dari suatu fasa ke fasa yang lain. Proses adsorpsi dipengaruhi banyak faktor, salah satunya ion pengganggu. Penelitian yang dilakukan oleh Wirasthi (2006) dan Widomulyo (2007) tentang pengaruh konsentrasi anion pengganggu terhadap proses adsorpsi ion Cd2+ dan ion NO3- dalam air oleh arang sekam padi dan arang komersial membuktikan bahwa adanya ion pengganggu menyebabkan adsorpsi terhadap ion Cd2+ menjadi terganggu. Dalam penelitian ini digunakan ion Cu2+ sebagai ion pengganggu dalam kemampuan adsorpsi Cd2+. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi kation pengganggu Cu2+ dengan menggunakan sistem batch terhadap adsorpsi ion Cd2+ dan Cu2+ dalam larutan garam Cd(NO3)2 dan Cu(NO3)2 oleh arang sekam padi dan arang komersial. Penelitian ini merupakan penelitian experimental dan dilakukan di laboratorium Kimia Jurusan Kimia Fakultas MIPA UM. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis adsorben dan konsentrasi ion pengganggu Cu2+. Sedangkan variabel terikatnya adalah persentase ion Cd2+ dan Cu2+ teradsorpsi. Sekam padi diperoleh di Batu-Malang, Jawa Timur. Arang sekam padi diperoleh dari karbonasi sekam padi. Arang komersial yang digunakan merupakan merk Sigma Untreated. Adsorbat yang digunakan merupakan campuran larutan Cd(NO3)2 dan Cu(NO3)2 dengan berbagai variasi konsentrasi ion Cu2+ (0, 10, 25,50)ppm dan konsentrasi Cd2+ tetap 25 ppm. Penelitian ini menggunakan metode Batch, yaitu larutan adsorbat yang telah dicampur dengan arang sekam padi dan arang komersial dikocok menggunakan shaker dengan kecepatan 100rpm selama 20 menit. Selanjutnya disaring dan filtrat ditampung. Sebelum dan sesudah proses adsorpsi, konsentrasi ion Cd2+ dan Cu2+ diukur menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Hasil penelitian menunjukkan (a) Peningkatan konsentrasi ion Cu2+ dalam larutan adsorbat dengan konsentrasi ion Cd2+ tetap 25 ppm menyebabkan penurunan persen teradsorpsi ion Cd2+. (b) Peningkatan konsentrasi ion Cu2+ dalam larutan adsorbat dengan konsentrasi ion Cd2+ tetap 25 ppm menyebabkan kenaikan persen teradsorpsi ion Cu2+. (c) Persen teradsorpsi ion Cd2+ pada arang sekam padi maupun arang komersial cenderung lebih tinggi dibandingkan persen teradsorpsi ion Cu2+,namun ion Cu2+ tidak terlihat mengganggu secara signifikan.

Bioekologi populasi tungau kuning polyphagotarsonemus latus (Banks), predator, dan parasit pada beberapa galur harapan wijen di kebun percobaan Sumberrejo Bojonegoro / Dwi Endah Lestari

 

Problematika guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang tahun ajaran 2009/2010 / Rika Dwi Wulandari

 

Media pembelajaran merupakan bagian integral dari proses pembelajaran dan memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses pembelajaran di kelas. Kegiatan belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah diyakini akan memotivasi dan membantu peserta didik untuk menguasai materi sejarah. Dalam pemanfaatan media pembelajaran di kelas, guru sering menghadapi problematika atau kendala baik internal maupun ekternal. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah penggunaan atau pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang ? (2) Bagaimanakah problematika yang dialami guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang ? (3) Bagaimanakah cara mengatasi problematika yang dialami oleh guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang ? Penelitian ini bertujuan : (1) Mendeskripsikan penggunaan atau pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang, (2) Mendiskripsikan problematika yang dialami guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang, (3) Mendiskripsikan cara mengatasi problematika yang dialami oleh guru sejarah dalam pemanfaatan media pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data yang diperoleh berupa kata-kata dari guru sejarah, wakil kepala sekolah, wakasek sarana dan prasarana dan siswa pada kelas RSBI serta dari tindakan guru sejarah dan data arsip sekolah. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif dengan langkah : (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian dan analisis data penelitian ini menunjukkan : (1) pemanfaatan media pembelajaran dalam proses pembelajaran sejarah pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang sudah dimanfaatkan dengan baik namun belum optimal, (2) Hambatan-hambatan yang timbul dalam pemanfaatan media pembelajaran meliputi dari guru sejarah yaitu adanya keterbatasan pengetahuan, masih terpakunya guru sejarah pada metode ceramah serta adanya keterbatasan waktu, dari sekolah yaitu adanya keterbatasan daya listrik dan dari siswa yaitu adanya penyalahgunaan laptop oleh para siswa di kelas RSBI, (3) upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika yang dialami dalam pemanfaatan media pembelajaran yaitu berkoordinasi dengan teman-teman guru yang lain, berusaha sendiri untuk mempelajari media-media yang sekarang belum dikuasai dan memberikan pembatasan serta meningkatkan pengawasan terhadap ii pemanfaatan laptop yang dibawa oleh siswa pada kelas RSBI. Pihak sekolah yaitu SMP Negeri 3 Malang juga berupaya untuk mengatasi problematika yang dialami oleh guru sejarah diantaranya mengadakan workshop dan MGMP tentang media (IT) untuk guru, melengkapi fasilitas yang ada seperti LCD, komputer dan Hot Spot dan memberikan pinjaman lunak bagi guru yang ingin membeli laptop sendiri khususnya pada kelas RSBI. Dari hasil penelitian di atas, maka dikemukakan saran sebagai berikut : (1) Bagi guru sejarah pada kelas RSBI hendaknya berusaha meningkatkan penguasaan terhadap pemanfaatan media pembelajaran dengan mengikuti Workshop dan MGMP tentang media dan lebih kreatif dalam memilih, memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran. (2) Bagi SMP Negeri 3 Malang secara berkala mengadakan Workshop dan MGMP dan juga membuat tata tertib yang jelas tentang pemanfaatan laptop yang dibawa oleh siswa pada kelas RSBI (3) Bagi peneliti lain yang akan membahas permasalahan yang sama, masih ada beberapa hal yang dapat diungkapkan tentang problematika guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI (4) Bagi Universitas Negeri Malang sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang mencetak calon-calon guru profesional hendaknya dapat membekali mahasiswa dengan pengetahuan tambahan tentang media pembelajaran yang berbasis IT sehingga setelah terjun ke sekolah tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam memanfaatkan media pembelajaran.

Studi tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Negeri Kabupaten Bojonegoro tahun 2007 / Isbandriyawati

 

Salah satu unsur penting dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan jasmani adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) sarana dan prasarana pendidikan jasmani untuk materi praktek wajib di SMP Negeri Kecamatan Bojonegero Kabupaten Bojonegoro, dan 2) sarana dan prasarana pendidikan jasmani untuk materi praktek pilihan di SMP Negeri Kecamatan Bojonegero Kabupaten Bojonegoro observasi didasarkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Pendidikan Jasmani tahun 2007. analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif (rata-rata persentase) yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang memadai untuk SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro. Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian observasional (survey). Subyek penelitian pada penelitian ini adalah SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 6 sekolah. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah teknik observasi. Dari hasilpenelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) sarana pendidikan jasmani untuk materi praktek wajib pendidikan jasmani yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 95,25% dan dapat dikatakan dalam katogori baik, sedangkan prasana pendidikan jasmani untuk materi praktek wajib yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 46,11% dan dapat dikatakan dalam kategori kurang baik, dan 2) sarana pendidikan jasmani untuk materi praktek pilihan pendidikan jasmani yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 60,28% dan dapat dikatakan dalam katogori cukup, sedangakan prasana pendidikan jasmani untuk materi praktek pilihan yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 50% dan dapat dikatakan dalam kategori kurang baik

Pengaruh struktur kepemilikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan konsep economic value added (EVA) (Studi pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2004-2006) / Ayub WijayatiSapta Pradana

 

ABSTRAK Pradana, Ayub Wijayati Sapta. 2009. Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Keuangan yang Diukur dengan Konsep Economic Value Added (EVA) (Studi pada Perusahaan yang Listing di BEI tahun 2004-2006). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr., Drs. Bambang Sugeng , S.E. Ak, M.A, M.M. (II) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata Kunci : Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Economic Value Added (EVA), Agency Conflict. Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Namun pihak manajemen perusahaan sering mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut. Sehingga timbul konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham (Wahidahwati, 2001). Struktur kepemilikan saham dapat mempengaruhi besar kecilnya peluang timbulnya agency conflict (Rahayu, 2005). Kepemilikan manajerial yang memposisikan manajemen sebagai pemilik sekaligus pengelola, serta kepemilikan institusional sebagai monitoring agent dapat membuat manajer lebih giat dalam meningkatkan kinerja perusahaan dan tidak menyimpang dari kepentingan pemegang saham, sehingga kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional merupakan salah satu cara untuk mengurangi agency conflict maupun agency cost (Jensen & Meckling, 1976). Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan konsep Economic Value Added (EVA) pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2004-2006. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan go public yang listing di BEI selama tahun 2004-2006 dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 64 perusahaan. Data penelitian menggunakan data cross-section. Teknik analisis data menggunakan teknik regresi linier berganda dengan melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap EVA perusahaan, baik secara simultan maupun parsial. Hasil penelitian ini dapat memperkuat keberlakuan agency theory dan sejalan dengan beberapa temuan empiris sebelumnya yang mendukung agency theory . Ada beberapa kelemahan dari penelitian ini, salah satunya adalah tidak memperhitungkan variabel lain yang bisa mempengaruhi kinerja keuangan, seperti biaya R&D, kondisi ekonomi, dsb. Dianjurkan bagi peneliti selanjutnya, menggunakan faktor lain yang bisa mempengaruhi kinerja keuangan, menggunakan data EVA hasil perhitungan lembaga resmi, serta memperpanjang tahun penelitian.

Pengaruh pembelajaran kooperatif model team games tournament terhadap prestasi dan sikap belajar mata pelajaran CNC TU 3A pada siswa kelas 2 SMK Turen, Malang / Agus Susanto

 

Pengaruh motif pembelian dan faktor lingkungan terhadap keputusan perpindahan merek (Brand Switching) shampo sunsilk (Studi pada siswi kelas XI SMK Negeri 3 Malang) / Evi Susanti

 

Seseorang yang dikatakan sebagai remaja adalah mereka yang memiliki rentang usia antara 15 tahun hingga 20 tahun. Pada fase ini setiap remaja akan mulai memperhatikan penampilannya. Setiap orang khususnya seorang remaja pada awalnya akan mencoba beberapa merek produk sebelum akhirnya mmenemukan salah satu merek yang benar-benar sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Meskipun seorang konsumen sudah merasa puas dan cocok dengan salah satu merek suatu produk, namun bukan berarti mereka tidak akan mencoba merek lain. Ini terjadi karena beberapa hal, baik karena keinginan mereka sendiri maupun karena pengaruh dari lingkungan sekitar mereka. Seorang remaja akan memiliki ketertarikan dan keingintahuan yang cukup besar terhadap sesuatu hal yang baru dan belum pernah dicobanya. Termasuk dalam hal ini adalah produk perawatan rambut yaitu shampo yang digunakan. Hal ini khususnya terjadi pada remaja putri, dimana mereka benarbenar memperhatikan berbagai pilihan merek produk yang dapat menunjang penampilan mereka agar terkesan lebih menarik. Sebaliknya remaja putra cenderung lebih menyukai hal yang simple. Kecenderungan remaja putri ini dapat dimanfaatkan oleh pemasar untuk membidik remaja sebagai pasar sasarannya dengan menciptakan produk-produk yang dekat hubungannya dengan mereka. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Malang merupakan salah satu SMK negeri yang ada di Kota Malang yang memiliki spesifikasi kejuruan dibidang pariwisata dengan sebagian besar muridnya adalah perempuan. Siswi SMK memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga menarik untuk diteliti lebih dalam. Sedangkan di era globalisasi yang terjadi saat ini, dimana banyak produkproduk yang dapat memasuki pasar dalam negeri dengan sangat mudah membuat konsumen mempunyai banyak pilihan merek produk untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan mereka. Di sisi lain perkembangan dunia usaha yang terjadi saat ini begitu pesat sehingga membawa dampak semakin ketatnya tingkat persaingan. Keadaan ini ditandai dengan banyaknya perusahaan yang bermunculan terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha yang sejenis. Begitu juga yang terjadi dengan industri shampo, dimana pasar shampo di Indonesia diramaikan oleh banyaknya produsen baik pendatang baru maupun pemain lama. Keadaan seperti ini membuat para produsen shampo di Indonesia berlomba-lomba untuk dapat menarik minat beli konsumen. Bila menilik peringkat lima besar di kategori industri shampo, yang muncul memang dua nama besar di bisnis toiletries yakni Unilever dan Procter&Gamble (P&G). Unilever mempunyai merek-merek seperti Sunsilk, Clear dan Lifebuoy. Adapun P&G mengandalkan Pantene, Rejoice dan satu produk lagi yang sebenarnya lumayan berbunyi, yaitu Head&Shouders. Diperkirakan lebih dari 90% pasar shampo di tanah air dikuasai dua dedengkot toiletries ini Sukses Sunsilk menjadi pemimpin pasar merupakan buah perjalanan panjang Unilever merintis pasar shampo sejak tahun 1952. Kunci keberhasilan Sunsilk adalah kedekatannya dengan konsumen Indonesia, khususnya dari sisi personalitas wanita Indonesia. Positioning seperti ini memang cukup terlihat dari serial iklannya yang merefleksikan kedekatan sunsilk dengan konsumennya.

Penerapan pembelajaran konstruktivitisme model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil mbelajar siswa pada mata diklat ekonomi (Studi pada siswa kelas X SMK Arjuna 01 Malang) / Senjaning Festiyanti

 

ABSTRAK Kata kunci: Problem Based Learning, Hasil Belajar Siswa Dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan, maka pelaksanaan proses belajar mengajar dituntut untuk menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran yang mengaktifkan interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, serta siswa dengan lingkungannya. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran serta dapat membentuk sendiri pengetahuannya yang disajikan melalui kasus-kasus dalam kehidupan nyata. Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan peneliti sebelumnya di SMK Ardjuna 01 Malang, diketahui bahwa hasil belajar siswa pada mata diklat Ekonomi relatif rendah, yang diindikasikan sebagai penyebabnya adalah kurang tepatnya penggunaan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru, sehingga masih ditemukan kesulitan belajar pada siswa. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini disusun untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan pembelajaran Konstruktivisme Model PBL untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat Ekonomi studi pada Siswa Kelas X SMK Ardjuna 01 Malang.

Pengaruh modernitas individu dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap melek ekonomi (Economic Literacy) siswa di SMA Negeri 9 Malang / Siti Rahmawati

 

Pemahaman ekonomi (lebih dikenal dengan nama melek ekonomi /economic literacy)sangat penting dimiliki oleh setiap orang, sama pentingnya dengan mempunyai kemampuan serta pemahaman baca dan tulis. Melek ekonomi harus diterapkan sejak bangku sekolah. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami konsep-konsep ekonomi dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat melek ekonomi ekonomi siswa dapat dipengaruhi dari faktor intern dan faktor ekstern. Yang merupakan faktor intern, salah satunya adalah modernitas individu siswa, sedang faktor ekstern, yang merupakan faktor dari luar siswa adalah kondisi sosial ekonomi orang tua siswa. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan pengaruh modernitas individu siswa terhadap melek ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI SMAN 9 Malang, (2) mendeskripsikan pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap melek ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI SMAN 9 Malang, (3) mendeskripsikan pengaruh modernitas individu dan kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap melek ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI SMAN 9 Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Sumber data dalam penelitian ini berupa jawaban dari responden yang telah mengisi angket/ kuesioner serta tes. Data yang diperoleh berupa data skor dari angket/kuesioner dan data skor dari tes yang diubah menjadi nilai siswa. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dalam 2 tahap yaitu, (1) analisis deskriptif dan (2) analisis regresi berganda (dengan uji t dan uji f). Berdasarkan analisis data, dapat diketahui bahwa siswa-siswi di SMA Negeri 9 Malang mempunyai tingkat modernitas individu yang sangat baik sebesar 13.11%, tinggi sebesar 73.77 % dan sedang sebesar 13.11%. Tidak ada siswa yang berada pada tingkatan modernitas individu yang rendah dan sangat rendah sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata (33.8) tingkat modernitas individu para siswa di SMA Negeri 9 Malang baik. Untuk kondisi sosial ekonomi sangat kurang terdapat 1 siswa, kondisi kurang ada 2 siswa, kondisi cukup baik ada 25 siswa, kondisi baik ada 21, dan kondisi sangat baik ada 4 siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua siswa di SMA Negeri 9 Malang termasuk golongan menengah ke atas karena angka yang paling banyak muncul pada kondisi sosial ekonomi orang tua cukup baik, kemudian disusul dengan baik. Sedang untuk tingkat melek ekonomi (economic literacy), untuk tingkat sangat kurang hanya ada 1 siswa, kurang ada 2 siswa, dan angka yang paling banyak muncul adalah pada tingkat baik dengan 25 siswa. Dengan rata-rata 71,77, dapat disimpulkan bahwa tingkat melek ekonomi (economic literacy) siswa di SMA Negeri 9 Malang termasuk sangat baik Kesimpulan umum variabel independen (modernitas individu dan kondisi ekonomi orang tua siswa) baik secara serentak (simultan / bersama-sama) maupun sendiri-sendiri (parsial) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen yaitu, melek ekonomi (economic literacy) siswa. Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diajukan peneliti adalah (1) untuk guru hendaknya terus memberikan pelajaran serta menerapkan pemahaman ekonomi dalam diri siswa, bukan hanya secara teori tetapi juga dalam praktek kehidupan sehari-hari para siswa karena pemahaman ekonomi (economic literacy) sama pentingnya dengan pemahaman akan baca dan tulis (2) untuk orang tua hendaknya terus mendukung anaknya untuk maju dan selalu belajar, terutama belajar dan memahami ekonomi karena kehidupan sehari-hari siswa tidak luput dari kehidupan berekonomi sehingga melek ekonomi (economic literacy) sangat dibutuhkan siswa tersebut. Bagi orang tua dengan pendidikan serta ekonomi yang kurang berkecukupan disarankan jangan mengahalangi anaknya untuk belajar. Meski dalam keadaan serba kekurangan, hendaknya orang tua tetap mendukung anaknya untuk belajar, misalnya dengan mewajibkan waktu belajar sebelum membantu bekerja. (3) peneliti yang melakukan penelitian sejenis disarankan untuk meniliti lebih lanjut tentang melek ekonomi (economic literacy) karena faktor yang mempengaruhi tingkat melek ekonomi siswa tidak hanya berasal dari modernitas idividu dan kondisi sosial ekonomi orang tua, masih banyak faktor lain yang bisa diteliti.

Penerapan pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif terhadap kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-A Mts Surya Buana Malang / Umar Kushindradno

 

ABSTRAK Kushindradno, Umar. 2008. Pembelajaran Fisika Berbasis Inkuiri dengan Metode Demonstrasi Induktif untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang. Skripsi, Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Lia Yuliati, M.Pd, (II) Drs. Winarto. Kata Kunci : berbasis inkuiri, kerja ilmiah, metode demonstrasi induktif, pembelajaran fisika, prestasi belajar Pada jenjang SMP atau MTs, siswa diarahkan pada keterampilan berpikir dan proses penalaran. Pengarahan tersebut berupa konsep-konsep yang dipelajari dan penerapannya dalam masalah sehari-hari, tetapi metode yang diberikan guru selama ini tentang cara siswa lebih mudah memahami materi dan memecahkan soal. Di sisi lain siswa kurang paham dengan konsep-konsep yang dipelajari dan penerapannya dalam pemecahan masalah sehari-hari. Pembelajaran yang membuat siswa dapat pemahaman konsep dan penerapannya yaitu dengan pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demontrasi induktif. Pembelajaran tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang yang memperoleh pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif. Rancangan penelitian ini menggunakan perencanaan penelitian tindakan kelas (classroom action research) untuk meningkatkan praktik pembelajaran. Langkah penelitian, meliputi: pengembangan perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe), dan perenungan (reflect). Analisis data menggunakan metode analisis kualitatif dengan teknik diskriptif. Teknik diskriptif yang digunakan adalah verifikasi, pengelolaan dan pongalahan, paparan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Data penelitian ini berupa data hasil kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa. Pada pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif, terjadi peningkatan yang ditunjukan dalam persentase keberhasilan kerja ilmiah siswa sebesar 62,5% dan prestasi belajar siswa sebesar 20%. Dari hasil yang diperoleh tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif berdampak positif terhadap kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa dan dapat terlaksana dengan baik. Saran yang diajukan bagi penelitian yang menggunakan pembalajaran yang sama berdasarkan temuan saat penelitian ini berlangsung adalah sebahai berikut. Peneliti menggunakan dua siklus dan data yang diperoleh kurang falid, maka sedikitnya tiga siklus untuk memperoleh data yang lebih falid. Siswa SMP masih belum banyak yang mengetahui bahasa asing, maka bahasa yang digunakan harus sudah dimengerti oleh siswa. LKS yang dibuat harus sesuai dengan kerteria dan dikonsultasikan dengan guru kelas, karena dengan kreteria yang tepat dan konsultasi akan tersusun LKS yang mudah difahami dan dikerjakan siswa.

Optimasi tahap fermentasi pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar menggunakan aspergillus niger dan saccharomyces cerevisiae / Nur Maulidiah Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Nur Maulidiah. 2009. Optimasi Tahap Fermentasi pada Pembuatan Bioetanol dari Ubi Jalar Menggunakan Aspergillus niger dan Saccharomyces cerevisiae. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Evi Susanti, S.Si.,M.Si., (II) Drs. Aman Santoso, M.Si. Kata kunci: fermentasi, bioetanol, ubi jalar. Ubi jalar merupakan salah satu sumber daya alam yang berpotensi sebagai bahan baku bioetanol. Sebagai upaya untuk mendapatkan kondisi yang optimal dalam fermentasi dari bahan baku ubi jalar menjadi etanol dengan bantuan khamir Saccharomyces cerevisiae, maka telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui lama waktu fermentasi dan jumlah Saccharomyces cerevisiae yang digunakan untuk menghasilkan rendemen bioetanol optimum, serta penentuan rendemen bioetanol yang dihasilkan dari variasi jenis ubi jalar putih dan ungu. Penelitian ini bersifat eksperimental dan dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia FMIPA UM. Ubi jalar yang digunakan diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi).Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi: (1) pembuatan kurva pertumbuhan mikroba yang digunakan, (2) preparasi ubi jalar, (3) optimasi kondisi fermentasi, (4) produksi bioetanol dari ubi jalar putih dan ungu, (5) identifikasi bioetanol yang dihasilkan, (6) penentuan rendemen bioetanol yang dihasilkan dari ubi jalar putih dan ungu. Penentuan waktu optimum fermentasi dilakukan dengan variasi waktu fermentasi 2,3,4,5 hari. Penentuan jumlah optimum Saccharomyces cerevisiae (akhir fase log) dilakukan dengan variasi jumlah biakan pada akhir fase log sebesar 50, 100, 150, dan 200 ml Kemudian dari variasi tersebut dikonversi menjadi jumlah sel yaitu 2,1.109; 4,2.109; 6,3.109; 8,4.109 sel. Kadar etanol ditentukan dengan alkoholmeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) waktu fermentasi optimum pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar putih adalah 3 hari. (2) jumlah biakan Saccharomyces cerevisiae (akhir fase log) pada pembuatan bioetanol dari 200 gram tepung ubi jalar putih yang optimum adalah 3.109 sel. (3) rendemen bioetanol hasil fermentasi dari ubi jalar putih adalah 123,2 ml alkohol/kg ubi jalar, sedangkan dari ubi jalar ungu adalah 60,35 ml alkohol/kg ubi jalar.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XII semester 1 pada materi pokok sifat koligatif larutan / Devy Setyarisa

 

ABSTRAK Setyarisa, Devy.2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbasis Konstruktivistik dan Kontekstual untuk SMA/MA Kelas XII Semester I pada Materi Pokok Sifat Koligatif Larutan. Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., (2) Drs. Prayitno, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, konstruktivistik, kontekstual, koligatif, larutan. Sumber daya manusia merupakan salah satu komponen yang berperan penting dalam perkembangan suatu negara. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas SDM. Salah satu aspek terpenting dalam meningkatkan kualitas SDM adalah pendidikan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya melalui perbaikan kurikulum. Pada tahun 2006 telah diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP, pembelajaran bersifat student centered, artinya siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran dan mampu mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Selain itu, KTSP juga menyarankan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Diharapkan proses pembelajaran ini dapat dilaksanakan guru dalam menyampaikan pelajaran, termasuk dalam pelajaran kimia. Kimia merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran di kelas yang kurang menarik. Oleh karena itu, diperlukan suatu proses pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan dapat mendorong siswa untuk mengaitkan materi dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menerapkan pembelajaran kontekstual tersebut adalah strategi REACT yaitu Relating, Experiencing, Applying, Cooperating dan Transfering yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam model pembelajaran terpadu LCC-5E. Agar guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, maka diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Pengembangan perangkat pembelajaran ini dilakukan mengikuti model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Adapun langkah-langkahnya sebagai beriku: (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, (2) melakukan analisis materi pembelajaran, (3) mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, (4) menuliskan pengalaman belajar, (5) mengembangkan item tes berbasis kriteria, (6) pemilihan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, (8) melaksanakan evaluasi formatif (validasi), (9) melakukan revisi, dan (10) memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan panduan guru (Teacher’s Guide) yang berisi silabus dan sistem penilaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), intrumen penilaian, dan buku guru. Bagian kedua adalah buku siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Berdasarkan hasil validasi dari ke empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 84,65% dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah. Namun, untuk mengetahui efektifitas perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji lapangan.

Perbedaan prestasi belajar matematika anatar siswa yang pembelajarannya dengan metode silih tanya berbantuan kartu model dan yang pembelajarannya secara konvensional di SMAN 8 Malang pada materi logaritma / Ervan Hadi

 

Kemajuan Teknologi yang sangat pesat menjadi suatu tantangan berat bagi generasi muda mendatang. Kompetisi akan semakin kuat untuk bisa “eksis” menghadapi tantangan dunia global. Hanya orang-orang yang kreatif yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap kemajuan teknologi tersebut. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk membentuk generasi muda yang kreatif, kompetitif, dan kooperatif. Sehubungan dengan membentuk generasi muda yang kreatif, kompetitif, dan kooperatif maka paradigma pendidikan harus berubah yang semula guru yang aktif berubah menjadi siswa yang aktif. Selama ini pembelajaran yang terjadi di Sekolah-sekolah masih banyak didominasi oleh guru. Pembelajaran ini kurang bisa membuat anak menjadi kreatif. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mencoba menerapkan pembelajaran matematika dengan metode silih tanya berbantuan kartu model. Diharapkan pembelajaran ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa yang pembelajarannya dengan metode silih tanya berbantuan kartu model dan siswa yang pembelajarannya secara konvensional. Populasi penelitian adalah kelas X SMAN 8 Malang yang terdiri dari 8 kelas. Kelas eksperimen adalah kelas X.8 yang mendapat pembelajaran dengan silih tanya sedangkan kelas kontrol adalah kelas X.7 yang mendapat pembelajaran secara konvensional. Analisis uji prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan dua rata-rata. Sedangkan uji hipotesis yang digunakan adalah uji t dua ekor. Berdasarkan hasil analisis uji hipotesis diperoleh P-Value < α= 0,05. Jadi H0 ditolak dengan kata lain H1 diterima. Berarti ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa kelompok eksperimen dengan prestasi belajar siswa kelompok kontrol. Pada penelitian ini juga diperoleh hasil aktivitas silih tanya yaitu terdapat 407 soal yang telah diajukan oleh siswa. Dari 407 tersebut, 404 soal dapat diselesaikan dan 3 soal tidak dapat diselesaikan. Dari 404 soal yang dapat diselesaikan, terdapat 400 soal yang kunci jawabannya benar dan 4 soal yang kunci jawabannya salah. Dari 404 soal yang dapat diselesaikan terdapat 404 soal yang penulisannya benar dan 8 soal yang penulisannya salah.

Pengaruh trust in brand terhadap brand loyality kartu pra bayar simpati pada karyawan Dinas Pendidikan Jombang / Retnaning Tyas

 

Iklim dunia persaingan senantiasa berkembang searah dengan perkembangan teknologi, hal ini dapat dilihat pada bisnis operator sluler. Pada tiap promosinya selalu berusaha menunjukkan keunggulan dan mencoba menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Hal ini juga dilakukan oleh operator seluler Simpati yang selama ini menjadi pemimipin pasar. Begitu ketatnya persaingan dalam bisnis ini, mengharuskan kartu pra bayar Simpati untuk melaksanakan strategi yang selain untuk mencari konsumen baru tetapi juga mempertahakan konsumen lama atau membentuk loyalitas konsumen pada merek Simpati. Dan salah satu strategi yang dilakukan kartu pra bayar Simpati adalah Trust In Brand yang di dalamnya terdiri atas beberapa variabel yaitu Brand Characteristic, Company Characteristic dan Consumer Bran- Characteristic. Dalam Penelitian ini populasinya adalah karyawan Dinas Pendidikan Jombang yang menggunakan kartu pra bayar Simpati dengan jumlah populasi 150 dan sampel yang diambil sebanyak 60 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Simple Random Sampling. Permasahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh Trust In Brand terhadap Brand Loyalty Kartu pra bayar Simpati pada karyawan Dinas Pendidikan Jombang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Trust In Brand yang terdiri atas Brand Characteristic, Company Charateristic, Consumer-Brand Characteristic, variabel terikatnya adalah Brand Loyalty (loyalitas pada merek). teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier berganda yang meliputi Uji t, Uji F dan koefisien determinasi dengan program komputer SPSS 15.0 for Windows dan menggunakan  = 5 %. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa secara parsial Brand Characteristic berpengaruh namun tidak signifikan. Sedangkan untuk variabel Company Charateristic dan Consumer-Brand Characteristic memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Brand Loyalty kartu prta bayar Simpati pada karyawan Dinas Pendidikan Jombang. Peneliti memberikan saran pada perusahaan pemilik operator seluler kartu pra bayar Simpati untuk memperluas sasaran seperti pada remaja. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk mencari objek penelitian yang memiliki merek yang benar-benar menguasai pasar baik dalam jumlah ataupun citra dari merek tersebut jika ingin menggunakan variabel ini untuk penelitian.

Pengaruh motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar / Kholidul Azhar

 

Dalam proses belajar mengajar keberhasilan seorang siswa dalam menguasai mata pelajaran di sekolah tidak lepas dari faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Salah satu faktor dari dalam diri siswa adalah motivasi. Motivasi sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Selain faktor motivasi, faktor yang turut mendukung dalam keberhasilan siswa dalam menguasai mata pelajaran adalah kebiasaan belajar siswa. Siswa yang memiliki suatu kebiasaan belajar yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan dapat membantu penguasaan siswa terhadap mata pelajaran sehingga pada waktu ujian dilaksanakan siswa sudah benar-benar siap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar, untuk mengetahui pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar, dan untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar. Penelitian ini dilaksanakan di MAN Tlogo Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian ex post facto dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan regresi linear ganda. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI MAN Tlogo Blitar sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 37 responden. Data diperoleh dengan menyebarkan angket dan dokumentasi dari guru mata pelajaran ekonomi. Dari hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. (a) Faktor motivasi berprestasi siswa tinggi, terbukti dari 6 siswa (16,2%) memiliki motivasi rendah, 8 siswa (21,6%) memiliki motivasi tinggi, dan 23 siswa (62,1%) memiliki motivasi sangat tinggi. (b) Faktor kebiasaan belajar baik, terbukti dari 8 siswa (18,9%) memiliki kebiasaan belajar sangat baik, 24 siswa (64,8%) memiliki kebiasaan belajar baik, dan 5 siswa (13,2) memiliki kebiasaan belajar kurang baik. (c) Prestasi belajar siswa sangat baik, terbukti dari 23 siswa (62,16) memiliki prestasi sangat baik dan 14 siswa (37,83) memiliki prestasi baik. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. (a) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar terbukti dari hasil uji analisis secara parsial dengan α 5%(0,05) menunjukkan nilai t hitung > t tabel (3,438 > 1,68). (b). Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar terbukti dari hasil uji analisis secara parsial dengan α 5%(0,05) menunjukkan nilai t hitung > t tabel (6,720 > 1,68). (c) secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar terbukti dari hasil uji analisis secara Simultan dengan α 5%(0,05) menunjukkan nilai F hitung > F tabel (38,971 >4,10). Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. (1) Motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, (2) Kebiasaan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, (3) Kebiasaan belajar merupakan faktor yang dominan mempengaruhi pretasi belajar. (4) Motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan (1) Untuk lebih meningkatkan motivasi dan kebiasaan belajar siswa sebaiknya guru selalu memantau hasil pekerjaan siswa agar siswa lebih termotivasi belajarnya dan selalu mengingatkan dan mengarahkan siswa agar belajarnya lebih teratur, (2) Bagi siswa yang prestasi belajarnya masih kurang, diharapkan selalu berusaha meningkatkan prestasi belajarnya dengan membiasakan belajar lebih teratur, sedangkan siswa yang sudah tinggi prestasi belajarnya diharapkan mampu mempertahankan prestasiya dengan meningkatkan belajarnya.

Penerapan metode role playing untuk meningkatkan minat dan motivasi peserta didik kelas XI program keahlian administrasi perkantoran pada mata diklat surat menyurat Indonesia di SMK "Ardjuna" 02 Malang / Dian Kusumawati

 

Minat dan motivasi memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, karena pada hakekatnya proses pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan untuk dapat membelajarkan peserta didik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil pengamatan di SMK “Ardjuna” 02 Malang proses pembelajaran yang digunakan pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia masih didominasi dengan pembelajaran secara konvensional atau ceramah, sehingga hasil dari pembelajarannya belum maksimal, peserta didik pada saat pembelajaran terkesan bosan, ngantuk dan cenderung diam. Peran peserta didik pada pembelajaran ini hanya sebagai penerima informasi (pasif) dan guru sebagai pemberi informasi. Usaha mengatasi permasalahan tersebut, proses pembelajaran pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia perlu diciptakan suatu kondisi yang melibatkan peran aktif dari peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menerapkan metode bermain peran (role playing) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Melalui kegiatan bermain peran, peserta didik mencoba mengekspresikan hubungan-hubungan antara manusia dengan cara memperagakannya, bekerjasama dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemahaman masalah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada Siklus I dan II sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode role playing. Dalam penerapan metode role playing terdapat tujuh tahap, yaitu menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, memilih peran dalam pembelajaran, menyusun tahap-tahap peran, menyiapkan pengamat, tahap pemeranan, diskusi dan evaluasi pembelajaran serta membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan. Mata diklat yang digunakan pada penelitian ini adalah Surat Menyurat Indonesia kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran tahun pelajaran 2007/2008, yaitu terfokus pada kompetensi dasar ”Menangani Surat Masuk dan Keluar”. Untuk mengetahui ketepatan guru dalam menerapkan pembelajaran metode role playing maka dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan minat dan motivasi belajar peserta didik digunakan angket. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik ditinjau dari aspek kognitif, melalui perhitungan nilai pre-test dan post-test Siklus I dan Siklus II, serta aspek afektif dan aspek psikomotorik yang dilakukan melalui lembar pengamatan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran menggunakan metode role playing. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK “Ardjuna” 02 Malang yang berlokasi di jalan Teluk Pelabuhan Ratu No. 41 Malang, pada tanggal 9 April 2008 sampai 20 Mei 2008. Peserta didik yang menjadi subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI Administrasi Perkantoran pada SMK “Ardjuna” 02 Malang tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 28 peserta didik. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, angket, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penerapan metode role playing dapat dilaksanakan dengan baik; 2) kerjasama peserta didik dalam pembelajaran ini juga berlangsung dengan baik, dimana peserta didik tidak membandingkan kemampuan akademik, latar belakang sosial, maupun jenis kelamin, tetapi lebih didorong oleh rasa tanggung jawab mereka dalam menyelesaikan tugas; 3) minat peserta didik pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia mengalami peningkatan, persentase nilai tertinggi pada Siklus I diperoleh 88,3%, sedangkan pada Siklus II sebesar 95%. Persentase nilai terendah pada Siklus I sebesar 81,67%, pada Siklus II persentase nilai terendah sebesar 88,3%; 4) motivasi belajar peserta didik pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia mengalami peningkatan, dari 28 peserta didik yang mengisi angket hanya tiga peserta didik yang mengalami penurunan. Persentase nilai tertinggi pada Siklus I diperoleh 89%, sedangkan pada Siklus II sebesar 96%. Persentase nilai terendah pada Siklus I sebesar 80%, pada Siklus II persentase nilai terendah sebesar 81% dan 5) hasil belajar aspek kognitif pada Siklus I mengalami peningkatan sebesar 17,89%, sedangkan pada Siklus II mengalami peningkatan sebesar 18,93%, aspek afektif mengalami peningkatan nilai rata-rata sebesar 3,41% serta aspek psikomotorik mengalami peningkatan nilai rata-rata sebesar 3,33%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan metode role playing dapat digunakan sebagai salah satu metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Metode role playing sangat bermanfaat bagi peserta didik karena metode tersebut telah terbukti dapat meningkatkan minat, motivasi belajar serta hasil belajar peserta didik, sehingga bagi guru mata diklat Surat Menyurat Indonesia dan guru mata diklat lainnya dapat menggunakan metode ini pada pokok bahasan yang memiliki kaitan secara langsung dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari; (2) Guru hendaknya lebih membangkitkan minat dan motivasi peserta didik untuk meningkatkan aktivitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran karena minat dan motivasi belajar peserta didik yang tinggi dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik; (3) Bagi peneliti berikutnya, penelitian ini dapat dikembangkan untuk materi selain yang ada pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia dan dapat dikembangkan untuk sekolah-sekolah lain.

Peningkatan lualitas proses dan hasil belajar luas bangun datar trapesium melalui pembelajaran kooperatif konstruktivistik pada siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Arie Ikayanti

 

Proses pembelajaran matematika di SDN Kamulan 01masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik, yakni seorang guru secara aktif mengajarkan matematika, kemudian memberikan contoh dan latihan, disisi lain siswa mendengar, mencatat, dan mengerjakan latihan yang diberikan guru. Kesempatan diskusi di kelas jarang dilakukan serta interaksi dan komunikasi kurang digalakkan. Akibatnya pemahaman siswa akan materi luas bangun datar ini belum seperti yang diharapkan. Hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan guru kurang memuaskan. Ketuntasan belajar secara klasikal yang telah ditetapkan yaitu 70%, pada pembelajaran ini hanya tercapi 50%. Dari seluruh jumlah siswa kelas V yaitu 20 siswa, 10 siswa dinyatakan tuntas belajar dan 10 siswa belum tuntas belajar. Aktivitas siswa dalam pembelajaran adalah 30%. Salah satu penyebab terjadinya hal ini adalah karena siswa hanya menghafalkan rumus dari bangun datar tanpa tahu dari mana proses menemukan rumus itu sendiri. Kegiatan pembelajaran matematika di sekolah dasar (SD) seharusnya dalam tahapan pembelajarannya memuat secara tegas bagaimana siswa belajar matematika. Belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman baik alami mapun manusiawi. Proses konstruksi itu dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses yang aktif. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dipunyai, kemampuan kognitif dan lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar. Kegiatan pembelajaran yang dalam tahapan pembelajarannya memuat secara tegas bagaimana siswa belajar matematika yaitu pembelajaran konstruktivisme. Dan untuk melatih siswa agar mampu menguasai matematika dengan baik dan mampu menggunakannya secara sosial maka dalam pembelajaran konstruktivistik ini dimasukkan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik Konstruktivistik dalam pembelajaran konsep luas bangun datar pada siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar; (2) mendeskripsikan peningkatan peningkatan kualitas proses belajar dengan dengan menerapkan paembelajaran kooperatif Konstruktivistik pada materi luas bangun datar trapesium siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar; (3) mendeskripsikan peningkatanhasil belajar siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar dalam menyelesaikan soal-soal terkait dengan konsep luas bangun datar setelah diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif konstruktivistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara: (1) pemberian angket/kuisioner; (2) observasi; (3) Dokumentasi; (4) Wawancara; (5) Tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu yaitu meliputi proses, makna tindakan, dan pemaknaan. Kegiatan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang diperoleh, dan pembahasan dari hasil refleksi serta temuan-temuan yang ada diperoleh suatu kesimpulan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan tindakan selanjutnya. Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik pada materi luas bangun datar trapesium dilaksanakan secara bertahap dimulai dengan menyajikan materi melalui benda-benda nyata selanjutnya dimulai dengan abstraksi. Dalam pelaksanaan pembelajaran diimplementasikan lima karakteristik pembelajaran kooperatif dan lima hal yang berkaitan dengan pembelajaran konstruktivistik. Lima karakteristik pembelajaran kooperatif meliputi ketergantungan positif, akuntabilitas individu, ketrampilan antar personal, peningkatan interaksi tatap muka, dan pemrosesan. Lima hal yang berkaitan dengan pembelajaran konstruktivistik yaitu pembelajar telah memiliki pengetahuan awal., belajar merupakan proses pengkonstruksian suatu pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki , belajar adalah perubahan konsepsi pembelajar, proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu, pembelajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Dalam mengimplementasikan pembelajaran kooperatif konstruktivistik, kedua ciri pembelajaran tersebut digabung dan dilaksanakan secara bersamaan. Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik membawa pengaruh positif terhadap kualitas proses dan hasil belajar siswa. Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dan peningkatan hasil belajar siswa. Aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II juga meningkat dari 55 % menjadi 70 % berarti terjadi peningkatan aktifitas siswa sebesar 15%. Pada siklus I ketuntasan belajar mencapai 70 % dan siklus II meningkat menjadi 90% hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar sebesar 20%. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah agar pembelajaran matematika yang kooperatif konstruktivistik dapat diimplementasikan dengan baik, hendaknya kegiatan awal pembelajaran dimulai guru dengan mengkondisikan siswa untuk berlatih memprediksi, memanipulasi obyek, mengajukan pertanyaan, berimajinasi dan berinvestigasi dalam upaya mengembangkan konstruksi-konstruksi baru dalam diri anak. Dalam penilaian hasil kerja siswa, hendaknya guru tidak hanya berpedoman pada tes tulis saja tetapi juga menerapkan penilain proses dan penilaian kelompok.

Penerapan portofolio pada pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X.3 SMA Negeri 1 Pakong Pamekasan / Dian Purwanti

 

ABSTRAK Purwanti, Dian. 2009. Penerapan Portofolio pada Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan. Skripsi. Jurusan Biologi. Program Studi Pendidikan Biologi. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sunarmi, M.Pd. (2) Dra. Hj. Susilowati, M.S. Kata Kunci: Portofolio, Pembelajaran model Group Investigation (GI), Aktivitas belajar, Hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan diketahui bahwa aktivitas belajar dan hasil belajar sangat kurang, untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan portofolio pada pembelajaran kooperatif model GI. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) aktivitas belajar biologi siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan, (2) hasil belajar biologi siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri 4 tahap yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subyek yang digunakan adalah siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa, lembar penilaian portofolio, catatan lapangan, dan soal tes. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan portofolio dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa meliputi 2 aspek yaitu aspek afektif dan aspek psikomotor. Aspek afektif yang terdiri dari keaktifan, keantusiasan, dan keseriusan terjadi peningkatan dari 42% pada siklus I menjadi 64% pada siklus II. Aspek Psikomotorik siswa yang terdiri dari aktivitas dan proses juga mengalami peningkatan dari 55% pada siklus I menjadi 65% pada siklus II. Hasil belajar siswa pada aspek kognitif terjadi peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa dari 66% pada siklus I menjadi 94% pada siklus II.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |