Sistem penetapan PBB sektor pedesaan sebagai alat pengendalian intern pada KPP pratama Blitar / Dian Wahyuningrum

 

ABSTRAK Wahyuningrum, Dian. 2009. Sistem Penetapan PBB Sektor Pedesaan dan Perkotaan sebagai Alat Pengendalian Intern pada KPP Pratama Blitar. Tugas akhir. Jurusan D3 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Helianti Utami, S.E, M.Si, Ak. Kata kunci: Sistem penetapan PBB, pengendalian intern. PBB merupakan pajak pemerintah pusat yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada daerah yang sebagian besar hasilnya adalah pendapatan daerah dan hasilnya digunakan untuk pembangunan maupun penggerak kegiatan perekonomian. PBB berperan penting terhadap kegiatan perekonomian dan sebagai salah satu sumber penerimaan negara dari aspek pajak selain ekspor minyak gas dan bumi maupun devisa negara. Adapun tujuan penulisan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian yaitu untuk mengetahui sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahapan pemecahan masalah adalah menjelaskan sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan serta mencari kelemahan-kelemahan yang ada dan memberikan rekomendasi atas kelemahan-kelemahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima tahapan sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan yaitu pelaksanaan pendaftaran, pelaksanaan pendataan, pelaksanaan penilaian, pelaksanaan penetapan PBB dan pengendalian penetapan PBB. Pada ke lima tahapan tersebut masih terdapat beberapa kelemahan seperti, pada tahap 1. Pelaksanaan pendaftaran yaitu kelalaian Wajib Pajak, dalam mengisi SPOP tidak jelas, tidak benar dan tidak lengkap, 2. Pelaksanaan pendataan yaitu tidak mengembalikan SPOP, 3. Pelaksanaan penilaian yaitu tidak tersedianya data jual beli atau harga sewa yang wajar untuk penentuan NJOP bumi dan bangunan, 4. Pelaksanaan penetapan PBB yaitu tidak dilampirkannya peta pesanggrahan dan keadaan obyek pajak menurut nilai jual, 5. Pengendalian penetapan PBB yaitu kurangnya pengawasan atas hasil penetapan PBB. Berdasarkan hasil penelitian disarankan KPP Pratama meningkatkan kerja sama dan sosialisasi peraturan perpajakan terhadap pihak-pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan PBB, menambah SDM maupun peralatan seperti komputer, faximile, mesin ketik, dan sarana lain yang nenunjang dan mempermudah kegiatan penetapan dan pengendalian PBB serta meningkatkan mutu kinerja manajemen operasional maupun manajemen keuangan atas pendapatan negara.

Upaya benchmarking pelaksanaan deposito pada PT.BNI (Persero) Tbk cabang Blitar dengan PT. Bank pembangunan daerah Jawa timur cabang Blitar / Fitrotun Nisak

 

Perkembangan dunia perbankan saat ini dapat dilihat dari banyaknya bank yang menghimpun dananya. Salah satunya dalam bentuk deposito. Untuk menunjang agar penghimpunan dana terhindar dari persaingan yang tidak sehat, maka PT. Bank Negara Indonesia (persero) tbk Cabang Blitar dan PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Cabang Blitar menerapkan kebijakan Pelaksanaan deposito secara baik. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara pelaksanaan deposito pada PT. Bank Negara Indonesia (persero) tbk Cabang Blitar dan PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Cabang Blitar. Dan untuk mengetahui perbedaan pelaksanaaan deposito antara PT. Bank Negara Indonesia (persero) tbk Cabang Blitar dengan PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Cabang Blitar. Dengan adanya perbandingan ini maka kita bisa mengetahui Bank mana yang lebih baik terutama mengenai pelaksanaan depositonya. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara studi lapangan dengan mempergunakan tehnik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penulisan tugas akhir ini menunjukkan bahwa antara PT. Bank Negara Indonesia (persero) tbk Cabang Blitar dengan PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Cabang Blitar mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Berdasarkan penelitian dapat disarankan bahwa Dalam pelaksanaan deposito pada PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur cabang Blitar sudah baik, tetapi sebaiknya untuk pencairan dana deposito sebelum tanggal jatuh tempo nasabah tidak perlu dikenakan penalty. Sebaiknya pada PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Cabang Blitar dalam proses pembukaan rekening deposito melalui dua petugas Bank, hal ini untuk pemisahan fungsi petugas. Dan mengenai saldo nominal minimal dalam pembukaan rekening deposito pada PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Cabang Blitar sebaiknya lebih ditingkatkan lagi.

Wiliam Blake's the marriageof heaven and hell : a signifer of institutionalized and reinstitutionalized beliefs / Agnes Retnaningtyas

 

Beliefs that exist in society are varied and people create system to institutionalize and re-institutionalize the beliefs in form of religions, denominations, sects, and cults; those institutions claim to have absolute truth in their concepts. William Blake’s “The Marriage of Heaven and Hell” signifies institutionalization and re-institutionalization of beliefs through system of signs contained in the work. The purpose of this study was to know the evidences in “The Marriage of Heaven and Hell” that signify the institutionalization and re-institutionalization of belief. Through the findings and discussion of this study, it is hoped that people in the society will be more aware of concepts, ideas, and system in the society and encourage people to question believed truth in common concepts in the society. This study employed the written text only of “The Marriage of Heaven and Hell” that was written in twenty seven illuminated plates. Each of the plate was analyzed and seen as sign for institutionalized and re-institutionalized belief. Research design that was employed in this study was qualitative design which applied semiotic analysis. The research instrument was the writer and related literary theories. To collect the data, the researcher read the work, “The Marriage of Heaven and Hell”, and other references that support the study, then obtained the data from the reading. The findings of this study show that twenty seven plates of William Blake’s “The Marriage of Heaven and Hell” have connected ideas which all signify institutionalized and re-institutionalized belief although each plate contains different ideas and presented in different forms. The Marriage of Heaven and Hell also signifies the process of the institutionalization and re-institutionalization of belief into sects, denominations, or cults as the cause of freedom of thinking and the openness of interpretation. However, limited human’s mind and personal or a group’s need many times causes weaknesses in the system of the institutionalized and re-institutionalized beliefs. Based on the findings of this study it is suggested that people realize the most important thing inside a system and that they have courage to question believed truth in the society. It is hoped that by realizing that there is no absolute truth, people who belong to an institution of belief will respect people who belong to other beliefs.

Prestasi belajar sistem persamaan linear dua variabel dengan pendekatan problem posing pada siswa kelas 2 SLTPN I Sindue oleh Ahmad Syah Zaelanil

 

Pengaruh kemampuan bekerjasama dengan teman dan bentuk tugas terhadap prestasi akademik (pada standar kompetensi provide room service di SMK Negeri 2 malang / Dian Hasty Kurnia

 

ABSTRAK Kurnia, Dian Hasty 2009. Pengaruh Kemampuan Bekerja Sama Dengan Teman dan Bentuk Tugas Terhadap Prestasi Akademik Pada Standar Kompetensi Provide Room Service kelas XI SMK Negeri 2 Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Amat Nyoto, M.Pd., (II) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P. Kata Kunci: Kemampuan Bekerja sama, Bentuk Tugas, Prestasi Akademik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) adanya pengaruh kemampuan bekerja sama dengan teman terhadap prestasi akademik; (2) adanya pengaruh yang signifikan bentuk tugas terhadap prestasi akademik; (3) adanya interaksi antara kemampuan bekerja sama dengan teman terhadap bentuk tugas (kelompok & individu); (4 adanya pengaruh yang signifikan antara kemampuan bekerja sama dengan teman dan bentuk tugas terhadap prestasi akademik; (5) apakah kelas dengan model penyelesaian tugas secara kelompok akan memiliki prestasi lebih baik dibanding kelas dengan model individu. Metode penelitian yang digunakan adalah statistik inferensial. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik total sampling, dengan responden yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 29 siswa. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder yaitu angket dan instrumen perlakuan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data uji asumsi dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis data; 1) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara kemampuan bekerjasama dengan teman secara individu terhadap prestasi akademik siswa, terbukti dengan α 5% (0,05) menunjukkan nilai t hitung > t tabel (2,802 > 2,048) 2) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara kemampuan bekerjasama dengan teman secara kelompok terhadap prestasi akademik siswa, terbukti dengan α 5% (0,05) menunjukkan nilai t hitung > t tabel (2,765 > 2,048) ; 3) Secara simultan diperoleh pengaruh yang signifikan antara bentuk tugas terhadap prestasi akademik tetapi kemampuan bekerja sama tidak berpengaruh terhadap prestasi akademik. Kesimpulan penelitian ini adalah; 1) Ada pengaruh kemampuan bekerja sama dengan teman terhadap prestasi akademik; 2) Ada pengaruh bentuk tugas baik bentuk tugas kelompok maupun individu terhadap prestasi akademik; 3) Ada interaksi antara kemampuan bekerja sama dengan teman terhadap bentuk tugas kelompok dan individu; 4) Secara parsial kemampuan bekerja sama dengan teman dan bentuk tugas berpengaruh terhadap prestasi akademik, sedangkan secara simultan bentuk tugas berpengaruh terhadap prestasi akademik tetapi kemampuan bekerja sama tidak berpengaruh terhadap prestasi akademik; 5) Kelas dengan bentuk tugas kelompok memiliki prestasi lebih baik dibandingkan kelas dengan bentuk tugas individu. Saran dari penelitian ini (1) Guru hendaknya menjadikan pemberian tugas kelompok sebagai salah satu alternatif penyelesaian tugas yang siap digunakan di dalam proses pembelajaran; (2) Bagi peneliti lain menindaklanjuti dan mengembangkan penelitian dengan populasi dan sampel yang lebih besar.

Pengoptimalan kemampuan membaca puisi dengan pendekatan emotif siswa kelas II SMPN 2 Dagangan Kabupaten Madiun / oleh Mamik Pirnawati

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian produk makanan (studi kasus dirumah makan ayam bakar wong solo cabang Malang) / Indrayani

 

Keputusan pembelian konsumen adalah hal terpenting dalam sebuah pembelian. Memutuskan berarti menjatuhkan suatu pilihan. Hal tersebut mengimplikasi bahwa terdapat dua buah alternatif yang sedang dipertimbangkan, di mana pihak pembuat keputusan akhirnya melakukan suatu pilihan. Keputusan pembelian konsumen adalah hal terpenting dalam sebuah pembelian, karena seorang konsumen dihadapkan pada pilihan di mana konsumen menunda, menghindari atau membeli suatu produk yang ditawarkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam memilih produk makanan, studi kasus di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) cabang Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan metode persentase. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik accidental sampling, dan diperoleh sampel sebanyak 72 (Slovin dalam Umar, 2002:141). Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen di Rumah Makan ABWS cabang Malang adalah: faktor produk sebesar 90 % dengan klasifikasi sangat baik, setelah itu diikuti oleh faktor budaya sebesar 71 %, faktor jasa sebesar 69 %, faktor tempat sebesar 68 %, faktor gaya hidup sebesar 65 %, dengan klasifikasi baik dan faktor keluarga sebesar 60 %, faktor informasi sebesar 57 % dan faktor harga sebesar 53% dengan klasifikasi cukup baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh faktor produk, jasa, harga, tempat, informasi, budaya, keluarga, dan gaya hidup, dan faktor yang dominan adalah faktor produk. Bersadarkan hasil penelitian diharapkan para penyedia jasa produk makanan memperhatikan kualitasnya, selanjutnya perlu dilakukan promosi dengan mengandalkan kualitas produk. Untuk mengetahui lebih lanjut perlu dilakukan penelitian dengan variabel-variabel lain, untuk mengetahui hubungan variabel dengan keputusan pembelian.

Penerapan model pembelajaran inkuiri induktif dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan keterampilan proses dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Ardjuna Malang / Ahmad Luthfin

 

Perkembangan teknologi dan pengetahuan itu menuntut penggantian kurikulum yang terdahulu dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ). KTSP diberlakukan di SMA Ardjuna akan tetapi pembelajaran fisika disana mengutamakan model ceramah. Hal tersebut menjadikan siswa jenuh dan konsentrasi belajarnya berkurang sehingga prestasi belajar dan keterampilan proses siswa rendah. Hakekat Pembelajaran dalam KTSP menuntut siswa untuk mengembangkan kemampuan ketrampilan proses. Tampak siswa kelas X SMA Ardjuna Malang prestasi belajarany rendah dibawah 5 dan salah dalam mengoprasikan dan memegang ala, hal ini menunjukkan keterampilan prosesnya masih renda. Sehingga perlu dilakukan pembelajaran yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif yakni model pembelajaran inkuiri induktif dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan ketrampilan proses dan prestasi belajar siswa. Tujuan pada penelitian adalah untuk mengetahui penerapan model inkuiri induktif untuk meningkakan ketrampilan proses dan prestasi belajar serta untuk mengetahui besarnya peningkatan ketrampilan proses dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Ardjuna Malang. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Model pembelajaran ini dilakukan dua siklus dengan siklus pertama dilakukan pada bahasan Asas Black dengan durasi waktu 4x45 menit untuk dua kali pertemuan. Siklus II dilakukan pada bahasan perpindahan kalor dengan lama pembelajaran 4x45 menit untuk dua kali pertemuan. Keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I 64% meningkat menjadi 92% pada siklus II. Berdasarkan data hasil observasi didapatkan skor ketercapaian keterampilan proses 55% pada siklus I dan meningkat menjadi 88% pada siklus II. Berdasarkan skor tersebut dapat diperoleh besarnya peningkatan ketrampilan proses dari siklus I sampai siklus II sebesar 29%. Persentase siswa yang mencapai SKM untuk 47% pada siklus I dan meningkat menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan data tersebut tampak peningkatan pada prestasi belajar siswa dari siklus I sampai siklus II besarnya peningkatannya adalah 33%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model inkuiri induktif dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan ketrampilan proses dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Ardjuna Malang.

Perancangan media promosi rumah sakit Wava Husada Kepanjen / Erwan Astadi

 

Rumah Sakit WAVA HUSADA Kepanjen adalah bagian dari pembangunan di bidang kesehatan yang didirikan oleh pihak swasta yaitu PT . ABNASAMANHUDISAUTIKA HUSADA. Rumah Sakit tersebut diharapkan mampu berperan aktif dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pelayanan yang baik dan fasilitas yang memadai menjadi suatu tuntutan bagi sebuah rumah sakit untuk peningkatan mutu dan citra rumah sakit tersebut. Dalam peningkatan mutu dan citra positif terhadap masyarakat pihak rumah sakit kurang memaksimalkan media-media komunikasi periklanan sebagai media media informasi kepada masyarakat sehingga informasi yang tersebar dimasyarakat sangatlah minim. Hal tersebut berdampak kepada masyarakat yang akan menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Rumah Sakit WAVA HUSADA. Perencanaan media komunikasi visual adalah salah satu solusi yang dapat digunakan dalam melaksanakan kegiata publikasi. Akan tetapiu, setiap media dalam kondisi tertentu memiliki peranan dan fungsi yang berbeda, maka perlu perencanaan baik secara konseptual maupun visual setiap perancangan media. Pokok permasalahan dalam perancangan ini adalah jenis media komunikasi visual apakah yang sesuai kebutuhan klien dan target audience,berkenaan dengan promosi Rumah Sakit WAVA HUSADA Kepanjen sebagai rumah sakit swasta yang memiliki kwalitas Nasional dan bagaimanakah konsep desain komunikasi visualnya. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap RS Wava Husada. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi (3) kuisioner dan (4) dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu data-data dari hasil wawancara, observasi dan hasil penyebaran kuisioner akan dianalisa secara deskriptif, yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan desain komunikasi visual (2) proses perancangan (3) visualisasi perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yakni (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. Berdasarkan analisis yang terkumpul, penulis mempertimbangkan, menentukan dan mengkonsep media komunikasi visual Above The Line Media dan Below The Line Media yang dapat digunakan sebagai media penyebaran informasi kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menggunkan fasilitas Rumah Sakit WAVA HUSADA Kepanjen sebagai control, pencegahan dan penyembuhan untuk kesehatan masyarakat merupakan suatu solusi yang tepat.

Pengaruh penerapan stategi pembelajaran PBMP (pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan) dan TPS (Think Pair Share) terhadap keterampilan metakognotif dan pemhaman konsep siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang pada kemampuan akademik berbeda / Fila Prasetyawati

 

Secara umum pada pembelajaran MIPA di Indonesia, penalaran tidak pernah dikelola secara langsung, terencana, atau secara sengaja. Padahal sudah diketahui bahwa penalaran (kemampuan berpikir) memiliki peranan penting terhadap proses pembelajaran, yaitu dalam perolehan konsep (kognitif), sikap (afektif), dan tingkah laku siswa (psikomotorik). Salah satu komponen yang dapat menunjang kemampuan berpikir tinggi dan kritis adalah metakognitif (metakognisi). Dengan memiliki keterampilan metakognitif yang tinggi, siswa akan mampu untuk menyelesaikan tugas belajarnya dengan baik karena mereka mampu untuk merencanakan, mengatur diri, dan mengevaluasi belajarnya. Upaya yang dapat dilakukan untuk memberdayakan kemampuan berpikir siswa adalah melalui pertanyaan. Pembelajaran yang dalam pelaksanaannya menggunakan pertanyaan adalah PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan). Melalui PBMP ini siswa diarahkan untuk menemukan konsepnya sendiri sehingga siswalah yang aktif mencari informasi dan bukan hanya sebagai penerima informasi (konsep jadi). Kegiatan pembelajaran di mana siswa dituntut untuk menemukan konsepnya sendiri secara tidak langsung menuntut guru berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan bukan sebagai pemberi informasi (bersifat student centered). Pembelajaran yang bersifat student centered ditemukan pada pembelajaran pembelajaran kooperatif. Salah satu pembelajaran kooperatif yang dapat menstrukturkan diskusi adalah Think Pair Share (TPS). TPS memberikan waktu tunggu dan waktu berpikir kepada siswa untuk berinteraksi dan saling berdiskusi antar siswa dalam mengkonstruk konsep. Kemampuan akademik siswa yang beragam dalam suatu kelas juga berpengaruh dalam pengkonstruksian konsep siswa. Penerapan strategi PBMP yang digabung TPS ditujukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa pada kemampuan akademik berbeda. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Malang pada semester gasal tahun ajaran 2008/2009 dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X. Sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas X-2 (kelas eksperimen) dan X-1 (kelas kontrol). Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain penelitian non equivalent group design versi faktorial 2x2. Analisis data yang digunakan adalah Anakova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran, kemampuan akademik, dan interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa yang diukur dengan menggunakan hasil pre test dan pos test. Namun setelah ditelaah lebih lanjut, ditemukan bahwa strategi pembelajaran PBMP+TPS maupun pembelajaran multistrategi memiliki potensi yang sama dalam meningkatkan keterampilan metakognitif siswa. Mengenai kesadaran metakognitif siswa yang diukur dengan menggunakan instrumen Metacognitive Awareness Inventory (MAI), ditemukan bahwa siswa berkemampuan akademik tinggi maupun rendah memiliki kesadaran metakognitif yang sama baik pada kelas yang difasilitasi pembelajaran PBMP+TPS maupun multistrategi. Perbedaan hasil pada instrumen tes dan MAI tersebut menunjukkan ketidaksejajaran kedua instrumen tersebut, di mana instrumen tes lebih dapat dipercaya (reliable) dibandingkan dengan instrumen MAI dalam mengungkap kemampuan metakognitif siswa. Hasil penelitian juga menemukan bahwa pembelajaran multistrategi (kontrol) lebih bisa meningkatkan pemahaman konsep siswa daripada strategi pembelajaran PBMP+TPS. Pembelajaran multistrategi mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa sebesar 133,40%, sedangkan pembelajaran PBMP+TPS mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa sebesar 69,23%. Selain itu, ditemukan juga bahwa strategi pembelajaran PBMP+TPS maupun multistrategi dapat mengurangi kesenjangan antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan siswa berkemampuan akademik rendah dalam hal pemahaman konsep. Sehingga pemahaman konsep siswa berkemampuan akademik rendah dapat setara dengan pemahaman konsep siswa berkemampuan akademik tinggi. Berdasarkan hasil penelitian perlu disarankan bahwa (1) penelitian dengan menggunakan strategi pembelajaran PBMP+TPS sebaiknya mempertimbangkan pemberian motivasi yang lebih baik secara personal maupun klasikal pada siswa agar siswa tetap bersemangat dalam belajar; (2) pembelajaran multistrategi perlu diterapkan pada pembelajaran di kelas dengan tetap mempertimbangkan bahwa variasi strategi pembelajaran yang diterapkan adalah yang memberdayakan keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa; (3) perlu diadakan penelitian serupa yang mengkaji pengaruh strategi pembelajaran PBMP+TPS dan kemampuan akademik terhadap keterampilan metakognitif siswa pada jenjang pendidikan yang berbeda.

Peran dinas tenaga kerja kabupaten Malang dalam upaya menertibkan PPTKIS dalam hubungannya dengan Rekrutmen TKI yang akan bekerja ke luar negeri / Yayuk Siti Masri'ah

 

Pada dasarnya setiap manusia yang hidup harus berusaha bertahan hidup dengan cara bekerja untuk mendapatkan hasil yang bisa digunakan untuk membiayai hidupnya. Dengan demikian pekerjaan mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pekerjaan merupakan salah satu sarana bagi manusia untuk bisa mengaktualisasikan diri agar bisa membuat hidupnya manjadi lebih berharga baik bagi dirinya, keluarganya, maupun lingkungannya. Oleh karena itu hak atas pekerjaan merupakan hak asasi yang melekat pada diri seseorang yang wajib dijunjung tinggi dan dihormati. Pentingnya pekerjaan bagi setiap orang tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Maka dalam pelaksanaannya, tiap-tiap warga negara berhak bekerja sesuai dengan keinginannya dan kemampuannya tanpa adanya paksaan dari orang lain, seperti halnya warga negara yang bekerja ke luar negeri. Bahkan para warga negara Indonesia yang bekerja ke luar negeri ini, haruslah mendapatkan perhatian yang khusus dari pemerintah dalam mengawasi proses perekrutan sampai dengan pemulangan apabila sudah waktunya purna kerja. Kabupaten Malang merupakan salah satu kabupaten yang peminat TKInya sangat besar. Kasus seperti pemulangan karena sakit, pemerkosaan, penganiayaan dan sebab-seba lain juga banyak terjadi. Maka untuk meminimalkan kasus-kasus tersebut harus dilaksanakan pengawasan para pekerja ke luar negeri tersebut. Pengawasan tersebut harus di mulai ketika PPTKIS melaksanakan rekruitmen calon tenaga kerja Indonesia di desa-desa, sehingga dengan adanya pengawasan tersebut tindak kecurangan pengiriman TKI ilegal dapat ditekan seminimal mungkin jumlahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan: (1) fungsi dan Peran Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Malang; (2) fungsi dan peran Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) di Kabupaten Malang; (3) peran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam mentertibkan PPTKIS dalam rekruitmen TKI yang akan bekerja ke luar negeri di Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara secara mendalam yang dilaksanakan di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang, PPTKIS dan para mantan TKI dari desa Kromengan. Sedangkan teknik analisis data dalam peneliti menggunakan model interaktif yang dilakukan melalui tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; (1) dalam hal rekruitmen peran dan fungsi dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang menerima surat pengajuan jadi TKI dari pihak PPTKIS yang telah disetujui oleh orang tua dan kelurahan tempat CTKI tersebut tinggal; (2) Untuk peran dan fungsi Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) terkait dengan rekruitmen TKI yang akan bekerja ke luar negeri adalah: Sebagai pemberi informasi lowongan kerja di luar negeri, perekrutan, pendidikan dan pelatihan, Pemasaran jasa TKI, monitoring dan perlindungan TKI di luar negeri, pemulangan TKI; dan (3) peran dan fungsi dinas tenaga kerja Kabupaten Malang terkait dengan rekruitmen TKI yang akan bekerja ke luar negeri antara adalah monitoring dan penyuluhan ke PPTKIS dikabupaten Malang. Adapun bentuk monitoring tersebut salah satunya adalah sosialisasi tentang Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri kepada pihak PPTKIS. Sosialisasi tersebut berkenaan langsung dengan kewajiban bagi para PPTKIS untuk mendaftarkan diri ke disnakertrans agar mendapatkan SIP (surat ijin perekrutan). Untuk penyuluhan-penyuluhan ke PPTKIS biasanya dilaksanakan ketika ada undangan dari pihak PPTKIS yang bersangkutan . Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka disarankan antara lain Untuk meminimalkan tindak kecurangan dan adanya perekrutan para calon TKI oleh para calo maka pihak Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang harus lebih giat dan tegas dalam melaksanakan moinotoring pada PPTKIS. Dalam melaksanakan penyuluhan pihak Dinas Tenaga Kerja harus harus lebih selektif atau jika diperlukan pihak Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang langsung terjun kelapangan untuk mengkroscek kebenaran laporan dari pihak PPTKIS. Hendaknya PPTKIS dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang lebih bisa membangun suasana kerjasama yang baik dan harmonis antara kedua belah pihak, sehingga ketika ada masalah bisa diselesaikan bersama-sama.

Pengembangan variasi model latihan dasar bola basket (Passing, Dribbling, Shooting) untuk ekstrakulikuler bolabasket di SMA Negeri Lawang kabupaten Malang / Novi Dwi Nugroho

 

ABSTRAK Nugroho, Novi Dwi. 2009. Pengembangan Variasi Model Latihan Teknik Dasar Passing, Dribbling, Shooting Untuk Ekstrakurikuler Bolabasket Di SMA Negeri Lawang Kabupaten Malang. Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Pendidikan jasmani Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes, (2) Dr. Saichudin, M.Kes Kata kunci: pengembangan, variasi model latihan, passing, dribbling, shooting Dalam permainan bolabasket terdapat berbagai macam teknik dasar, diantaranya, passing, dribbling, shooting. Berdasarkan hasil survei dan observasi analisis kebutuhan di SMA Negeri Lawang Kabupaten Malang khususnya peserta ekstrakrikuler bolabasket diketahui bahwa kurangnya pengembangan variasi model latihan teknik dasar passing, dribbling, shooting. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan variasi model latihan teknik dasar passing, dribbling, shooting untuk ektrakurikuler di SMA Negeri Lawang Kabupaten Malang. Diharapkan dengan adanya pengembangan model latihan ini siswa dapat menambah pengetahuan tentang bermain bolabasket dan bisa diterapkan secara maksimal dalam pertandingan. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Negeri Lawang Kabupaten Malang. Subyek uji coba dari pengembangan ini terdiri dari (1) Evaluasi ahli atau pelatih bolabasket, (2) uji coba kelompok kecil sebanyak 10 siswa, dan (3) uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 20 siswa. Hasil penelitian dari 3 orang ahli atau pelatih bolabasket didapatkan 84,4%, dapat disimpulkan bahwa pengembangan variasi model latihan ini memenuhi kriteria baik sehingga dalam pemaknaannya pengembangan model latihan passing, dribbling, shooting ini digunakan. Hasil penelitian dari uji coba kelompok kecil didapatkan 93%, dapat disimpulkan bahwa pengembangan model latihan ini memenuhi kriteria sangat baik sehingga dalam pemaknaannya pengembangan model latihan passing, dribbling, shooting ini digunakan. Hasil penelititan dari uji coba kelompok besar didapatkan 90,8%, dapat disimpulkan bahwa pengembangan model latihan ini memenuhi kriteria sangat baik sehingga dalam pemaknaannya pengembangan model latihan passing, dribbling, shooting ini digunakan. Dari hasil penelitian di atas didapatkan beberapa saran sebagai berikut: (1) Hasil pengembangan ini sebaiknya dilanjutkan dan dikembangkan lagi dengan model-model latihan yang lebih variatif sehingga dapat mencapai kesempurnaan dari hasil pengembangan itu sendiri. (2) Subyek penelitian sebaiknya dilakukan pada subyek yang lebih luas, baik itu siswa maupun sekolah yang digunakan sebagai kelompok uji coba. (3) Hasil pengembangan ini hanya sampai tersusun sebuah produk, belum sampai pada tingkat efektivitas produk yang dikembangkan, jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektivitas produk yang dikembangkan. Beberapa saran yang ada dimaksudkan agar pengembangan model latihan passing, dribbling, shooting ini bisa lebih bermanfaat.

Pengaruh ketersediaan fasilitas laboratorium, ketersediaan sumber belajar di rumah, karateristik individu dan kecerdasan emosional tehadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri 1 Malang / Nawang Widarti

 

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Sekolah merupakan wadah pembelajaran yang diharapkan dapat mengembangkan potensi, bakat, dan prestasi belajar siswa. Tetapi ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa diantaranya faktor intern (jasmani, psikologis, kelelahan) dan ekstern (keluarga, sekolah, masyarakat). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara parsial dan secara simultan antara ketersediaan fasilitas laboratorium, ketersediaan sumber belajar di rumah, karakteristik individu dan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS MAN 1 Malang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi.Variabel dalam penelitian ini adalah ketersediaan fasilitas laboratorium (X1), ketersediaan sumber belajar di rumah (X2),karakteristik individu (X3), kecerdasan emosional (X4) dan prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS MAN 1 Malang (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS MAN 1 Malang dan sampelnya adalah siswa kelas XI IPS I MAN 1 Malang yang diperoleh dari metode purposive sampling. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket, yang diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis regresi linier berganda dengan uji t dan Uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial ada hubungan signifikan antara ketersediaan fasilitas laboratorium, ketersediaan sumber belajar di rumah, karakteristik individu dan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS MAN 1 Malang. Secara simultan juga menunjukkan ada hubungan signifikan antara ketersediaan fasilitas laboratorium, ketersediaan sumber belajar di rumah, karakteristik individu dan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS MAN 1 Malang sebesar 60,2% sedangkan sisanya 39,8% diperngaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Saran yang diberikan adalah sekolah diharapkan memperhatikan fasilitas laboratorium agar guru dan siswa dapat memanfaatkannya. Siswa hendaknya memiliki berbagai peralatan belajar di rumah sehingga mempermudah kegiatan belajar di rumah. Guru diharapkan dapat memahami perbedaan karakteristik individu siswa. Siswa hendaknya mengendalikan emosi dalam menghadapi berbagai persoalan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menyempurnakan penelitian ini yaitu dengan menggunakan variabel lain yang lebih banyak.

Steganografi pada foto digital dengan modifikasi Least-Significant Bit / Ahmad Luthfin

 

Menigkatnya penggunaan jaringan komputer telah mampu meningkatkan mutu komunikasi, tetapi memungkinkan juga adanya akses yang tidak sah terhadap suatu data yang dijalankan pada internet.Telah banyak dilakukan penelitian dalam upaya mengamankan suatu data penting. Tindakan pengamanan menggunakan cara tersebut ternyata dianggap belum cukup dalam mengamankan suatu data, karena adanya peningkatan kemampuan komputasi.Untuk mengatasinya maka dikembangkanlah suatu metoda steganografi untuk mengurangi bahaya tersebut. Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui cara penyembunyian data pada foto (citra digital) dengan metode least Significant Bit (LSB), Membuat program untuk menyembunyikan data teks (pesan) pada sebuah foto (citra digital) serta membuat program untuk menampilkan kembali data teks (pesan) yang telah disembunyikan pada citra digital tersebut, menguji ketahanan steganografi metode LSB terhadap penyerangan rotasi, kompresi JPEG, cropping, filter lolos tinggi (high-pass filter), filter lolos rendah (low-pass filter) pada gambar yang telah disisipi pesan . Manfaat dari steganografi ini antara lain: Menjaga isi pesan dari siapapun kecuali yang memiliki otoritas atau kunci rahasia untuk membaca pesan yang telah di sandikan tersebut, menjaga isi pesan dari manipulasi data yang tidak sah oleh pihak-pihak yang tidak berha. Salah satu cara steganografi adalah dengan menggunakan metode least Significant Bit (LSB). Pada steganografi ini setiap satu karakter bilangan biner dari pesan rahasia yang akan disisipkan, diletakkan di bagian paling belakang dari biner gambar yang digunakan sebagai wadah untuk menyembunyikan pesan rahasia, sehingga pada gambar tersebut mengalami perubahan yang tidak berarti. Mata manusia akan melihat bahwa antara gambar yang belum disisipi dan gambar yang sudah disisipi pesan tidak ada perubahan (tetap sama), baik dari segi ukuran, tampilan dan warna gambar. Berdasarkan hasil penilitian ini, steganografi dengan metode LSB tidak tahan terhadap pengubahan (modifikasi) pada cover object. Hal ini terbukti ketika gambar yang telah kita sisipi pesan kita lakukan, rotasi, cropping, low-pass filter, high- pass filter, ternyata ketika diekstrak atau dibaca kembali gambar sudah tidak berisi pesan lagi. Disarankan untuk di lakukan penyempurnaan lebih lanjut agar dengan metode LSB ini bisa menyimpan pesan lebih banyak dengan melakukan preprosessing terhadap berkas data dan pada citra yang akan disisipi pesan. yaitu dengan cara memampatkan (compression) data tersebut.

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan strategi SYNECTICS pada siswa kelas II SMPN 3 Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow oleh Erawati Rudin Liputo

 

Pengaruh pelatihan penalaran terhadap pemahaman teks argumentasi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tanjungpura / Henny Sanulita

 

Tesis Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd, (II) Dr. H. Nurhadi, M.Pd. Kata kunci: Penalaran. membaca pemahaman, teks argumentasi. Penalaran diperlukan dalam kegiatan membaca. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan membaca juga melibatkan proses kognitif pembaca dalam menangkap pesan atau gagasan yang disajikan melalui tulisan. Dari hasil obsevasi terhadap sejumlah mahasiswa dan diri sendiri dalam tugas memahami teks bacaan khususnya teks argumentasi, dapat disimpulkan bahwa pemahaman teks baik literal maupun kritis bukanlah suatu yang mudah dan sederhana bahkan kerap menjadi permasalahan serius yang dapat memengaruhi prestasi akademis.. Oleh karena itu, kemampuan memahami teks argumentasi merupakan hal penting bagi mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang kelak akan memasuki dunia kerja, yang tentunya menuntut taraf kemampuan intelektual tinggi, antara lain kemampuan berpikir abstraktif atau konseptual yang termanifestasi dalam bahasa lisan atau tulis. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah 1) Adakah pengaruh pelatihan penalaran terhadap pemahaman teks argumentasi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tanjungpura? dan 2) Adakah pengaruh pelatihan penalaran terhadap pemahaman kritis teks argumen-tasi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tanjungpura? Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi-experiment) yang digunakan untuk mengkaji perbedaan pemahaman teks argumentasi pada mahasiswa yang diberi pelatihan penalaran dengan mahasiswa yang diberi pelatihan secara konvensional. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pelatihan penalaran, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemahaman teks argumentasi. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester II Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UNTAN tahun akademik 2010/2011 yang terdiri dari dua kelas. Kelas IIa dengan jumlah mahasiswa sebanyak 25 orang yang diberikan pelatihan penalaran, sedangkan IIb yang digunakan sebagai kelas kontrol, terdiri dari 24 orang mahasiswa. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen tes pemahaman terhadap teks argumentasi. berbentuk soal pilihan ganda yang berjumlah 10 dan esai yang berjumlah 8 soal. Dari 10 soal pilihan ganda tersebut, 5 soal digunakan untuk mengukur pemahaman literal dan 5 soal digunakan untuk mengukur pemahaman kritis, sedangkan dari 8 soal esai 4 soal digunakan untuk mengukur pemahaman lieral dan 4 soal untuk mengukur pemahaman kritis.. Data di-kumpulkan dengan menggunakan tes. Tes sebelum perlakuan eksperimen (prates), digunakan untuk mendapatkan data tentang pemahaman mahasiswa sebelum diberikan pelatihan penalaran. Tes setelah perlakuan eksperimen (pascates), digunakan untuk mendapatkan data tentang pemahaman mahasiswa setelah eksperimen dilakukan. Data yang telah dikumpulkan dari pngukuran variabel terikat dan variabel bebas dianalis dengan menggunakan t-test Sebelum data dianalisis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat, meliputi uji normalitas dan homogenitas varians. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji t, pelatihan penalaran berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan pemahaman teks argumentasi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tan-jungpura. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh pelatihan penalaran terhadap pemhaman literal teks argumentasi pada mahasiswa. Pelatihan penalaran lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman literal teks argumentasi dibandingkan pelatihan secara konvensional dengan taraf signikansi 0,001. Berdasarkan hasil tersebut, dalam penelitian ini Ho ditolak dan Ha yang diajukan dalam penelitian diterima (terbukti), dan kedua, ada pengaruh pelatihan penalaran terhadap pe-mahaman kritis teks argumentasi pada mahasiswa. Pelatihan penalaran lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman kritis teks argumentasi dibandingkan pelatihan secara konvensional dengan taraf signikansi 0,000. Berdasarkan hasil tersebut, dalam penelitian ini Ho ditolak dan Ha yang diajukan dalam penelitian diterima (terbukti),

Meningkatkan kemampuan penggunaan KPK dan FPB siswa kelas IV SDN.PAKUNDEN 2 KOTA BLITAR melalui pendekatan koopertif model stad./Puji Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Puji. 2010. Peningkatan Kemampuan Penggunaan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) Dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pakunden 2 Kota Blitar Melalui Pendekatan Kooperatif Model STAD (Student Team Achievement Division). E- Tugas Akhir. Jurusan KSDP Program Studi PJJS-1 PGSD Falkutas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Heru Agus Triwidjaya, M.Pd. Kata Kunci: Pendekatan kooperatif, penggunaan KPK dan FPB Saat ini Sekolah Dasar Negeri Pakunden 2 Kota Blitar telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Beberapa pendekatan pembelajaran telah diterapkan antara lain diskusi, ceramah, tanya jawab, eksperimen, pemberian tugas, proyek dan kooperatif, namun dalam pelaksanaannya belum semuanya diterapkan dengan baik, karena kurang mencerminkan hakekat pembelajaran matematika, pembelajaran masih berpusat pada guru. Selain itu dalam pelaksanaan beberapa pendekatan, siswa masih mengalami kesulitan menerima materi terutama mata pelajaran matematika. Untuk mengatasi hal tersebut maka dicoba diterapkan pendekatan kooperatif model STAD. Dalam pembelajaran kooperatif siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan teman-temannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri, mendengar pendapat temannya, dan bersama-sama membahas permasalahan yang dihadapi, sedangkan guru memberi bimbingan dan memotivasi. Pendekatan kooperatif dapat menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, yaitu menumbuhkan sikap tolong menolong, bekerjasama dan menghargai orang lain. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Pakunden 2 Kota Blitar, mulai bulan Oktober sampai Desember 2009. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kemampuan penggunaan KPK dan FPB dalam menyelesaikan masalah hitung pecahan dan masalah kehidupan sehari-hari siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pakunden 2 Kota Blitar Hasil belajar siswa dilakukan dengan menggunakan analisis, apabila nilai siswa diatas KKM yang ditentukan dan ketuntasan klasikal 75 % maka pembelajaran dinyatakan tuntas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan penggunaan KPK dan FPB dalam menyelesaiakan operasi hitung pecahan dan masalah kehidupan sehari-hari yaitu nilai rata-rata 58,78 pada pra tindakan menjadi 63,93 pada siklus 1 dan 74,54 pada siklus 2. Selin itu juga terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari 36 % pada pra tindakan menjadi72 % pada siklus 1 dan 96 % pada siklus 2

Meningkatkan pemahaman konsep sudut dan peta mata angin siswa kelas I SLTPN 2 Malang menggunakan pendekatan open-ended oleh Sri Hariyani

 

Belajar kooperatif model grup investigasi untuk pemahaman teorema pythagoras pada siswa kelas II SLTPN 6 Donggala oleh Tamrin

 

Peningkatan pemahaman terhadap konsep kubus dan balok melalui pendekatan kontekstual bagi siswa kelas I SLTPN 8 Palu oleh Anto Suliharso

 

Pembelajaran materi peluang melalui pendekatan pendidikan matematika realistik oleh Muhammad Saleh

 

Pembelajaran pemecahan masalah model POLYA dalam menyelesaikan matematika terapan di Politeknik Negeri Malang oleh Mutia Lina Dewi

 

Peningkatan hasil belajar PKn materipokok sistem pemerintahan Kabupaten dan kota dengan menggunakan peta konsep pada siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun kota Malang / Tri Ajeng Muliyanti

 

ABSTRAK Ajeng, Tri Muliyanti. 2009. Peningkatan Hasil Belajar PKn Materi Pokok Sistem Pemerintahan Kabupaten Dan Kota Menggunakan Peta Konsep Pada Siswa Kelas IV di SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Muchtar, S. Pd, M. Si, (II) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.si Kata Kunci: Hasil Belajar, PKn, Peta Konsep, Sistem Pemerintahan Kabupaten dan Kota. Pembelajaran Kewarganegaraan dewasa ini sering dianggap sebagai pelajaran yang kurang menarik dan membosankan bahkan pada umumnya nilai mata pelajaran PKn kurang memuaskan. Hal ini terbukti dari observasi awal peneliti dalam proses pembelajaran PKn di kelas IV SDN Karangbesuki 1 Malang, menemukan fakta bahwa siswa merasa kesulitan dalam memahami materi pembelajaran sistem pemerintahan desa dan kecamatan. Itu disebabkan karena guru dalam pembelajaran di kelas hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan yang monoton sehingga membuat siswa jenuh dan tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Untuk itu peta konsep merupakan cara paling mudah untuk memasukkan informasi ke dalam otak, dan untuk mengambil informasi dari otak. Cara belajar menggunakan bantuan peta konsep merupakan cara untuk meningkatkan hasil belajar. Selain itu peta konsep dapat membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh karena tidak hanya sekedar hafalan, melainkan betul-betul mengidentifikasikan konsep yang diperoleh. Rumusan penelitian pada penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah penerapan peta konsep dengan materi pokok Sistem Pemerintahan Kabupaten dan Kota untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karangbesuki 1 Malang, (2) Apakah peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi pokok Sistem Pemerintahan Kabupaten dan Kota siswa kelas IV SDN Karangbesuki 1 Malang. Berdasarkan rumusan masalah penelitian, adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan peta konsep dengan materi pokok Sistem Pemerintahan Kabupaten dan Kota dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SDN Karangbesuki Malang. (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa menggunakan peta konsep dengan materi pokok Sistem Pemerintahan Kabupaten dan Kota di kelas IV SDN Karangbesuki Malang. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas IV SDN Karangbesuki 1 Malang sebanyak 35 siswa. Penelitian ini diawali dengan melakukan observasi awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal yang berkaitan dengan cara guru mengajar mata pelajaran PKn. Hasil yang diperoleh melalui observasi awal kepada siswa menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa adalah 60,60 dengan nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 45 dimana siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masih ada 14 siswa (40%) dan hanya 21 siswa (60%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Perbaikan yang dilakukan melalui PTK ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tes hasil belajar. Setelah diberikan tindakan pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 68.77 namun ada 15 anak (43%) yang belum mencapai ketuntasan sehingga peneliti melanjutkan untuk memberikan tindakan pada siklus II dan rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 75.64. Berdasarkan hasil peneliti, dapat disarankan kepada para guru, siswa dan peneliti selanjutnya adalah: (1) Bersumber dari peta konsep ini, hendaknya guru dapat mengembangkan kreatifitas dan inovasi pembelajaran yang menunjang mutu pendidikan (2) Penelitian Tindakan Kelas ini perlu dikembangkan lebih lanjut (menilai aspek afektif dan psikomotorik) melalui tindakan serupa karena peta konsep terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pembelajaran persamaan garis lurus dengan pendekatan berakhir terbuka untuk meningkatkan pemahaman sisewa kelas II SLTPN 1 Sojol oleh Abdul Muthalib

 

Belajar kooperatif dengan pendekatan struktural untuk pemahaman konsep statistika siswa kelas II SLTP Laboratorium Universitas Negeri Malang oleh Arif

 

Pengembangan paket pembelajaran dasar listrik dan elektro model Walter Dick dan Lou Carey pada SMK Muhammadiyah I Malang oleh Muhammad Husin

 

Pengaruh metode pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar fisika siswa SMU Katolik Palu / oleh Yusuf Kendek

 

Pengaruh bentuk balikan dan motivasi berprestasi terhadap perolehan belajar fisika di SLTP Al- Yakin Rembang / oleh Fushha

 

Identifikasi kesalahan-kesalahan dalam memahami materi reaksi redoks pada siswa SMUN 3 Palu dan upaya perbaikannya dengan menggunakan metode diskusi kelompok oleh Rachman Ansyari

 

Penerapan pelayanan jasa pada PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu / Frisia Dewi Anggraeni

 

ABSTRAK Anggraeni, Frisia Dewi. 2009. Penerapan Pelayanan Jasa pada PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu. Tugas Akhir Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Hj. Ita Prihatining Wilujeng, SE., M.M. Kata Kunci : Pelayanan Jasa Memasuki abad 21, tingkat persaingan bisnis antar perusahaan semakin ketat baik bagi perusahaan milik negara maupun perusahaan milik swasta. Perusahaan yang ingin berkembang dan mendapatkan keunggulan kompetitif harus dapat memberikan produk barang/jasa yang berkualitas dengan harga yang murah, penyerahan yang lebih cepat, dan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan daripada pesaing. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada industri jasa, kualitas pelayanan haruslah dikelola perusahaan dengan baik karena pelayanan bukan sekedar keunggulan kompetitif melainkan ujung tombak yang membuat suatu industri bisa bertahan dalam persaingan yangg semakin ketat . Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pelayanan jasa yang diberikan PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam pelayanan jasa pada PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu. Hasil dari praktek kerja lapangan menunjukkan bahwa pelayanan jasa yang diberikan PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu antara lain: (1) Pelayanan pada bisnis jasa komunikasi dan bisnis jasa filateli seperti surat pos tercatat, surat pos kilta khusus. (2) Pelayanan pada bisnis jasa logistik seperti paket pos biasa, paket pos kilat khusus. (3) Pelayanan pada bisnis jasa keuangan dan bisnis jasa keagenan seperti wesel pos. (4) Pelayanan jasa dengan pola kemitraan/aliansi seperti Western Union. Adapun faktor pendukung pelayanan jasa pada PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu antara lain adanya fasilitas pojok lowongan yang memudahkan konsumen dalam mencari pekerjaan, memiliki banyak cabang/agen sehingga menjangkau konsumen sasaran dan daerah pemasarannya, tersedia armada yang memadai mulai dari sepeda motor sampai mobil box. Sedangkan faktor penghambat dari pelayanan jasa yang diberikan oleh PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu antara lain sering terjadi keterlambatan produk yang dikirim oleh pihak Pt. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu terutama untuk wilayah yang terpencil/pelosok, kekeliruan dalam mensortir surat/paket barang ke dalam kantong pengemasan, dan kurangnya respon dari para pegawai PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu dalam hal memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diberikan penulis yaknidaya tanggap dan empati pegawai dalam bentuk perhatian kepada pelanggan harus ditingkatkan karena pengguna jasa merasa bahwa keluhannya ditanggapi secara lambat, mengutamakan sumber daya manusai yang berkualitas dengan memberikan pendidikan dan pelatihan untuk mengurangi angka kesalahan yang terjadi, pegawai PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Batu dapat memfokuskan pada kualitas pelayanan jasanya.

Analisis sistem pengendalian intern terhadap penyelesaian klaim produk asuransi kecelakaan pribadi (JP-ASPRI) pada PT Jasaraharja Putera Kantor Perwakilan Kediri / Lilis Anitasari

 

ABSTRAK Anitasari, Lilis. 2009. Analisis sistem pengendalian intern penyelesaian klaim produk asuransi kecelakaan pribadi (JP-Aspri) pada PT Jasaraharja Putera kantor perwakilan Kediri . Tugas akhir, Program Studi Diploma III Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Sriyani Mentari, S.Pd., M. M. Kata Kunci : Asuransi kecelakaan pribadi, Pengendalian intern. Setiap pilihan yang kita ambil mempunyai risiko yang harus kita hadapi. Kecelakaan dapat terjadi dimana saja dan bersifat tiba-tiba. Dinamika dan aktivitas masyarakat dimanapun berada memerlukan perlindungan yang memberi rasa aman dari ketidakpastian, karena risiko selalu ada di segala tempat dan setiap saat. Salah satu cara untuk menghindari atau meminimumkan risiko tersebut adalah dengan mengasuransikannya kepada perusahaan asuransi. Asuransi kecelakaan pribadi adalah asuransi kecelakaan dimana diri pribadi sebagai obyek pertanggungannya dan risiko yang dijamin adalah orang pribadi yang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan luka, cacat, meninggal dunia, yang sifat dan tempatnya dapat ditentukan oleh dokter. Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui pengendalian intern terhadap prosedur penyelesaian klaim asuransi kecelakaan diri dan untuk mengetahui hasil evaluasi atas pengendalian intern terhadap prosedur penyelesaian klaim tersebut. Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka dan studi lapangan, yang diperoleh dengan mengumpulkan dan mempelajari referensi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dan dengan cara wawancara langsung dengan pihak yang terkait, serta dokumentasi data-data yang ada dalam perusahaan yang mendukung permasalahan. Berdasarkan hasil pengamatan dan data yang diperoleh, PT Jasaraharja Putera belum melaksanakan pengendalian intern dengan efektif, dalam pelaksanaan prosedur pengajuan dan pembayaran klaim masih terdapat beberapa kelemahan diantaranya penanggung jawab perwakilan terjun langsung dalam menerima, menyusun dan menyimpan formulir pengajuan klaim, dan membuat catatan administrasi. Bagian klaim yang bertugas menerima klaim juga berwenang memproses data ke dalam komputer. Slip pelunasan dari bagian keuangan dibuat rangkap dua. Bagian keuangan berwenang membuat catatan pembayaran klaim ke dalam buku pelunasan. Dari kesimpulan yang ada disarankan agar pengendalian intern lebih diefektifkan lagi terutama pemisahan tugas dengan memisahkan bagian administrasi dengan bagian lain, slip pelunasan dibuat rangkap tiga, bagian keuangan tidak berwenang mencatat buku pelunasan tetapi hanya membuat rekapitulasi pengeluaran kas. Selain itu, PT Jasaraharja Putera perlu membuat password khusus sebagai tindak pengamanan akses data komputer.

Evaluasi sistem pendistribusian raskin di Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo / Rizky Indah Pawestri

 

ABSTRAK Pawestri, Rizky Indah. 2009. Evaluasi Sistem Pendistribusian Raskin di Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo. Tugas Akhir, Program Studi Diploma III Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Sri Pujiningsih, S.E, Ak, M.Si Kata kunci: Sosialisasi, Prosedur dan Pengendalian Pelaksanaan Program Raskin. Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang menjadi hak setiap warga negara, sejak tahun 1998 pemerintah menetapkan kebijakan penyediaan dan penyaluran beras bersubsidi untuk masyarakat miskin (Raskin). Tugas publik pemerintah ini diamanatkan kepada Perum Bulog dan pendistribusian beras bersubsidi ini telah membantu sebagian besar masyarakat miskin. Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui sosialisasi pelaksanaan program Raskin oleh Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo, mengetahui prosedur pelaksanaan program Raskin, mengetahui pengendalian dari program Raskin pada Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo. Teknik pengumpulan data adalah dokumen dan interview. Teknik pemecahan masalah adalah evaluasi terhadap sosialisasi, prosedur, dan pengendalian program Raskin di Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo. Berdasarkan pembahasan Tugas Akhir ini dapat disimpulkan bahwa dalam sosialisasi pelaksanaan Raskin, Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo dan pihak terkait telah menyampaikan perubahan dalam penyaluran Raskin pada tahun 2008 kepada semua pihak khususnya RTM penerima manfaat. Perum Bulog Subdivre VIII Probolinggo juga telah menerapkan prosedur pelaksanaan Raskin yang sesuai dengan ketentuan yang ada namun hanya ada beberapa hal yang perlu dievaluasi pada mekanisme perencanaan dan pelaksanaan dan pembayaran dan administrasi. Sedangkan dalam hal pengendalian program Raskin, terdapat kelebihan dan kelemahan dalam menerapkannya. Setelah menganalisis data, dapat disimpulkan bahwa dalam sosialisasi perlu pendataan ulang setiap 1 tahun sekali oleh Perum Bulog kepada setiap keluarga. Pada prosedur pelaksanaan Raskin RTM harus melunasi administrasi pembayaran kecuali bagi RTM tidak mampu membayar tunai akan mendapat bantuan untuk menerima beras Raskin. Penambahan dokumen DPM-1 menjadi rangkap 2 saat mekanisme perencanaan dan pelaksanaan program Raskin. Pada pembayaran dan administrasi, SATKER membuat tambahan kuitansi menjadi rangkap 4. Sedangkan pada pengendalian program Raskin adalah pembayaran administrasi dilakukan dengan tepat waktu untuk tercapainya efisiensi dan efektivitas yaitu dalam meminimalkan biaya dan waktu saat proses pendistribusian.

Pelaksanaan strategi pemasaran dan peningkatan sumber daya manusia guna meningkatkan kinerja perusahaan pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Perdana Surya Utama (PSU) Malang / Aprian Ramadhani

 

ABSTRAK Ramadhani, Aprian. 2009. Pelaksanaan Strategi Pemasaran dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Guna Meningkatkan Kinerja Perusahaan pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Perdana Surya Utama (PSU) Malang. Tugas Akhir, Jurusan Manajemen, Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Sarbini. Kata kunci: strategi pemasaran, sumber daya manusia, kinerja perusahaan. Untuk keberhasilan strategi pemasaran yang dijalankan, dibutuhkan 2 hal yang sangat penting, yaitu: (1) target pasar yang dituju, dan (2) bauran pemasaran yang dijalankan. Bauran pemasaran prosuk dikenal dengan istilah 4 P (product, price, promotion, dan place), sedangkan untuk bauran pemasaran jasa dikenal dengan istilah 4 P + 3 P (people, process, dan physical evidence). Hal ini berbeda dengan pemasaran produk barang karena karakter jasa yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan sesuatu. Demikian juga dengan upaya perusahaan dalam peningkatan SDM. Peningkatan SDM salah satunya dapat dikelola melalui audit sumber daya manusia. Dalam penelitian ini, rancangan audit sumber daya manusia difokuskan pada 6 item yaitu: (1) struktur organisasi, (2) uraian/deskripsi posisi, (3) kebijakan rekruitmen, (4) prosedur rekruitmen, (5) program pelatihan, dan (6) fungsi departemen sumber daya manusia. Perancangan audit ini bertujuan untuk memberikan suatu gambaran yang menyeluruh terhadap sumber daya manusia yang ada dan kebijakan mengenai pengelolaannya. Pelaksanaan praktikum ini dilakukan di kantor pusat BMT PSU Jl. Soekarno Hatta 11 Malang dan Juga di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Sumber sari Jl. Raya Sumbersari 254 C Malang, tanggal 4 sampai 27 februari 2009. Kegiatan praktikum sendiri dilakukan di pasar dinoyo Malang disamping juga mengumpulkan informasi melalui pengumpulan data dokumentasi, wawancara, dan kuisioner. Diharapkan pelaksanaan praktikum ini dapat ditemukan pelaksanaan strategi pemasaran serta peningkatan SDM dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Hasil pelaksanaan praktikum ini menunjukkan bahwa pelaksanaan strategi pemasaran yang diterapkan BMT PSU sudah berjalan dengan baik sesuai tujuan perusahaan. Namun berbeda dengan peningkatan SDM dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Hingga saat ini BMT PSU Malang belum pernah dilakukan audit sumber daya manusia sebagai salah satu cara dalam peningkatan SDM, sehingga kinerja perusahaan belum terlaksana dengan baik. BMT PSU belum memiliki departemen SDM sehingga SDM masih belum dapat dikelola secara maksimal. Untuk ditemukan cara meningkatkan kinerja perusahaan, maka disarankan agar: (1) Strategi pemasaran yang telah diterapkan BMT PSU hendaknya dapat terus ditingkatkan, (2) BMT PSU Malang perlu diadakan audit sumber daya manusia secara periodik agar peningkatan SDM dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan dapat terlaksana, dan (3) BMT PSU Malang hendaknya memiliki bagian SDM dan memasukkannya pada struktur organisasi dengan harapan bagian SDM dapat menangani sumber daya manusia dengan baik.

Aplikasi mikrokontroler untuk otomatisasi kran wudhu / Riza Tri Prasetyo

 

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok makhluk hidup. Air juga merupakan barang langka di suatu tempat, seperti pada tempat yang mengalami kekeringan dan daerah pegunungan yang tempatnya jauh dari sumber air. Pada daerah yang kekeringan, akan sangat sulit sekali mendapatkan air sehingga harus membeli dengan harga yang mahal. Pada daerah pegunungan yang jauh dari sumber air, jika ingin mendapatkan air maka harus mengambil air dengan cara mengambil langsung dari sungai atau sumbernya yang harus ditempuh dengan berjalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo meter. Mengingat pentingnya air bagi kehidupan manusia maka air harus dihemat penggunaanya. Di dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar orang menggunakan pompa listrik untuk mendapatkan air. Oleh karena itu penggunaan air secara hemat secara tidak langsung akan menghemat pemakaian energi listrik. Di dalam tempat ibadah seperti masjid tentunya terdapat ruangan untuk wudhu. Kran air wudhu yang ada sekarang digerakkan secara manual oleh penggunanya. Kran seperti ini mudah rusak karena sering diputar-putar dan pemborosan air jika penggunanya lalai menutup kran, sehingga air akan keluar terus-menurus. Kran yang rusak perlu penggantian secara berkala dan kelalaian menutup kran akan berakibat pemborosan air dan secara tidak langsung akan berakibat menambah pemakaian energi listrik yang dikeluarkan oleh masjid. Hal inilah yang sering terjadi di masjid-masjid maupun mushollah sehingga perlu dicarikan solusinya. Mohd. Syaryadhi, Agus Adria, dan Syukurullah, 2007 menghasilkan sistem kendali kran wudhu menggunakan sensor pir berbasis mikrokontroler AT89C2051. Sensor pir hanya mampu beroperasi dengan baik pada suhu 86 0F – 158 0F (Datasheet RE200B Pyroelektric Infrared). Jika suhu ruangan tiba-tiba turun maka yang terjadi adalah sensor tidak mampu bekerja dengan baik, infra merah yang dipancarkan tubuh manusia yaitu terkuat pada panjang gelombang 9,4 μm sehingga banyak noise yang dapat mengganggu kepekaan sensor. Contoh noise yang dapat mengganggu kepekaan sensor yaitu cahaya matahari dan cahaya lampu penerangan dengan kuat cahaya 1200 lux yang sebenarnya juga mengeluarkan gelombang infra merah. Tandon air merupakan tempat untuk penampungan dan persediaan air, biasanya digunakan oleh rumah-rumah, masjid maupun tempat yang lain. Tandon air ini sangat bermanfaat untuk menyimpan persediaan air karena bisa menghemat biaya listrik yang digunakan untuk mengaktifkan pompa. Dalam perancangan kran wudhu, tandon air hampir selalu digunakan. Pada umumnya tandon air ini diletakkan pada sebuah tempat yang lebih tinggi, sehingga dibutuhkan sebuah pompa air untuk mengisi tandon tersebut. Hal ini sering menimbulkan masalah ketika hendak mengisi tandon tersebut, karena tidak dapat diketahui dengan pasti volume air yang sudah ada di dalam tandon. Seringkali air yang diisikan sudah melewati batas daya tampung tandon sehingga banyak air yang terbuang sia-sia. Hal ini tidak hanya menyebabkan pemborosan penggunaan air tetapi juga pemborosan biaya listrik yang harus dikeluarkan untuk mengaktifkan pompa. Oleh karena itu diperlukan suatu cara agar bisa mengendalikan pompa untuk mengisi tandon agar penggunaan air lebih efisien.

Identifikasi pemahaman konseptual dan algoritmik serta miskonsepsi dalam materi kesetimbangan kimia siswa kelas II SMUN di kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara oleh Muhammad Hariun

 

Keefektifan strategi menggunakan peta konsep dalam pengajaran ditinjau dari prestasi dan retensi belajar siswa kelas II SMUN 4 Malang pada materi laju reaksi / oleh Ngadiran Karto Wasono

 

Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran lingkungan dan pelestarian sumber daya alam hayati untk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 1 MAN 3 MAlang oleh Jufri

 

Pengaruh metode organisasi pembelajaran dengan teori elaborasi terhadap hasil belajar biologi di Madrasah Aliyah Mu’allimat Nahdlatul Wathan Pancor Nusa Tenggara Barat oleh Afriana Azizah

 

Meningkatkan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial melalui pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN Kedungringin IV Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Kasiono

 

ABSTRAK Kasiono. 2009. Meningkatkan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Kedungringin IV Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Moch. Shochib, M.Pd., (II) Drs. M. Imron Rosyadi H. Sy, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: Pembelajaran Kontekstual, Prestasi Belajar IPS. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuiya. Pembelajaran yang berorentasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkah panjang. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa diperlukan suatu bentuk pembelajaran yang efektif dan efesien yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Pemilihan pendekatan pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran, karena dengan pendekatan yang sesuai siswa akan lebih memahami hasil belajar yang akan bertahan dalam waktu yang relatif lama. Pembelajaran kontekstual merupakan salah satu yang dapat menjelaskan kemampuhan siswa terhadapa keadaan sosial. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran komtekstual pelajaran IPS siswa kelas IV SDN Kedungringin IV kecamatan Beji kabupaten Pasuruan, ( 2) mendeskripsikan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Kedungringin IV kecamatan Beji kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilasanakan sebanyak 2 siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar siswa. Secara klasikal terjadi peningkatan rata-rata sebesar 27,0 dari pra-tindakan dengan nilai 40,3 menjadi 67,3 pada siklus I dengan nilai 67,3 dan kenaikan rata-rata 13,9 dari siklus I dengan nilai 67,3 menjadi 81,2 pada siklus II. Prosentase jumlah siswa yang tuntas belajar mengalami peningkatan sebesar 35,3 % dari pra-tindakan dengan prosentase ketuntasan 17,6 % menjadi 52,9 % pada siklus I dan kenaikan sebesar 41.2 % dari siklus I dengan prosentase ketuntasan 52,9 % menjadi 94, 1 % pada siklus II. Dari hasil tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan presatasi belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Kedungringin IV kecamatan Beji kabupaten Pasuruan Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) bagi guru diharapkan dapat menerapkan pendekatan kontekstual ini pada materi yang lain, (2) bagi penelitian lanjut diharapkan dapat melakukan penelitian pada mata pelajaran lain.

Keefektifan penggunaan pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif terhadap kemampuan domain kognitif (analisis dan sintesis) dan keterampilan baerkomunikasi pada mata pelajaran biologi kelas II SLTPN 4 Palu / oleh Sunardiyanto

 

Implementing cooperative "Stad" method to improve the reading comprehension achievement of the students of MAN 1 Kota Bima / Najamuddin

 

ABSTRACT Najamuddin. 2009. Implementing Cooperative’ STAD’ Method to Improve the Reading Comprehension Achievement of the Students of MAN 1 Kota Bima. Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. (II) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Key words: Cooperative STAD Method, Reading Comprehension. Realizing the importance of English mastery in improving the quality of Indonesian human resources, the government of Indonesia has decided that English is one of the compulsory subjects especially for junior and senior high school students. Teaching English is directed to master the four language skills namely listening, speaking, reading, and writing (Depdiknas, 2004). Reading is one of the language skills which must be taught in senior high school students. The teaching of reading for senior high school level aims to enable the students to read and understand the text and any materials written in English. However, based on the finding of preliminary study, the teaching of reading in MAN 1 Kota Bima did not facilitate students to be skilled in reading yet. The students still get some difficulties in finding general and specific information, identifying main ideas, identifying explicit and implicit information. This condition was caused by several factors such as; the English teachers are very lack of teaching strategy which can handle the students to be more active toward understanding the materials, the students have low motivation and sometimes passive in learning the English subject, the materials presented in textbook are very difficult for the students, the English teachers do not modify and develop materials from the textbook based on the students’ interest, the English teachers seldom use media to support the learning activity. Therefore, the study is designed to improve the students’ reading comprehension achievement by implementing cooperative STAD method. The objective of this study is to find out how the cooperative STAD method can be implemented to improve the students’ reading comprehension. In Students Team-Achievement Division (STAD) activity, students are assigned to four member learning teams that are mixed in performance level, achievement, skills, and sex. The major function of the team is to make sure that all team members are learning, and more specifically, to prepare its members to do well in the test. The study employs Collaborative Classroom Action Research (CAR) in two cycles, in which the researcher is assisted by a collaborative teacher in conducting the study. The study is conducted in a single class that consists of forty two students as the subjects of the research. The procedure of the research consists of four main steps: planning, implementing, observing and reflecting. To collect the data, the researcher used some instruments such as questionnaire, observation sheets, field notes, and students’ reading test. The findings of the study show that implementing cooperative STAD method in the teaching of reading comprehension is effective in improving the students’ reading comprehension. The improvement is shown by the increase of the students’ average scores in the end of Cycle 2. The students’ average score in pre-test was 58.46. Then, In the end of Cycle 1, the students’ average score did not meet the criteria of success. It was only 64.88. But, in the end of Cycle 2, the students’ average score became 72.44. Based on the strength and weaknesses of implementing cooperative STAD method in teaching reading comprehension, it is suggested that the English teachers who teach in MAN 1 Kota Bima apply this method in their class especially in teaching reading comprehension. Meanwhile, for the students, it is suggested that the finding of this study gives an alternate for them to get the strategy as a variation of learning activities that can improve their reading comprehension. To the future researchers, particularly those who are interested in applying cooperative STAD method in their classroom research, it is suggested that they conduct further study using STAD method to improve the students’ reading comprehension and to lessen their difficulties in reading classes. In additions, they also suggested to study how STAD method can be employed in other language skills.

Hubungan antara pengadaan adan efektifitas pemanfaatan media pembelajaran biologi adengan motivasi dan sikap siswa kelas III IPA didalam proses pembelajaran biolgi di SMAN Kota Bengkulu / oleh Abas

 

Pengaruh penambahan sorbitol terhadap sifat poliblend kitosan dan pati jagung / Luluk Mufidah

 

ABSTRAK Mufidah, Luluk. 2009. Pengaruh Penambahan Sorbitol terhadap Sifat Fisik Poliblend Kitosan dan Pati Jagung. Skripsi, Program Studi Kimia, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sumari, M.Si, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: kitosan, pati jagung, sorbitol, poliblend. Sampah plastik menimbulkan masalah yang sangat serius bagi lingkungan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membuat plastik biodegradabel. Dalam penelitian ini, usaha untuk membuat plastik biodegradabel dipelajari dengan membuat poliblend kitosan dan pati jagung. Bahan pemlastis (plasticizer) sorbitol ditambahkan untuk memperbaiki sifat mekanis bahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat poliblend kitosan dan pati jagung dan mengetahui pengaruh penambahan sorbitol terhadap poliblend kitosan dan pati jagung. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pembuatan poliblend kitosan dan pati jagung. Kitosan dibuat gel terlebih dahulu dengan menambahkan larutan asam asetat 2% sambil diaduk dengan mechanic stirer. Selanjutnya pati jagung digelatinisasi dengan menambahkan aquades sambil diaduk dan dipanasi pada suhu 62-70°C. Gel kitosan dan gelatin pati kemudian dicampur, diaduk, dicetak, dan diangin-anginkan sampai kering. Tahap kedua adalah membuat poliblend kitosan dan pati jagung dengan penambahan sorbitol 1%, 3%, dan 5% dari berat kering poliblend. Tahap ketiga adalah karakterisasi poliblend yang meliputi: pengamatan fisik, uji kelarutan, uji kekuatan tarik, dan uji spektrofotometer FTIR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa poliblend yang dihasilkan merupakan campuran secara fisik, berbentuk lembaran tipis, buram, berwarna kekuningan, lentur, tidak tembus oleh minyak, tidak larut dalam air maupun asam asetat, mempunyai kekuatan tarik 60,4 MPa dan regangan sebesar 6,0 %. Penambahan sorbitol pada poliblend menyebabkan poliblend lebih halus, lebih transparan, lebih lentur, meningkatkan adsorpsi air, menurunkan kekuatan tarik (sorbitol 1% 58,9 MPa, 3% 57,4 MPa, 5% 53,8 MPa) dan regangan (sorbitol 1% 5,5%; 3% 4,5%; 5% 4,6%), dan menyebabkan puncak serapan poliblend bergeser ke arah frekuensi (bilangan gelombang) vibrasi yang lebih kecil. Saran yang bisa diberikan adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan poliblend kitosan dan pati jagung sebagai bahan pembungkus makanan atau obat dan kemampuan degradasinya. Selain itu juga perlu diteliti mengenai penambahan bahan aditif yang sesuai untuk memperbaiki sifat poliblend kitosan dan pati jagung.

Deskripsi pemahaman konsep energi siswa kelas VIII SMPK Bhakti Luhur Malang / Simao Lopes Cardoso

 

ABSTRAK Lopes Cardoso, Simão. 2009. Deskripsi Pemahaman Konsep Energi Siswa Kelas VIII SMPK Bhakti Luhur Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang: Pembimbing (I) Dr. Muhardjito.M.S, (II) Drs. Parno, M.Si Kata kunci: Deskripsi, pemahaman konsep, energi. Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman yang berhubungan langsung dengan konsep-konsep dasar dalam ilmu pengetahuan. Konsep merupakan dasar untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Dengan demikian konsep sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar. Oleh karena itu perlu adanya tindakan dalam memotivasi siswa terhadap pemahaman suatu konsep yang sebenarnya melalui suatu pembelajaran yang efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemahaman siswa terhadap konsep energi pada benda diam dan benda bergerak. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan sejauh mana pemahaman siswa terhadap konsep energi secara kualitatif. Data yang diperoleh berupa data pemahaman konsep. Sebagai sumber data adalah siswa kelas VIII SMPK Bhakti Luhur Malang. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa masih belum sesuai dengan konsep fisika yang sebenarnya.

Implementasi strategi peta konsep dalam usaha membangun pemahaman konsep fungsi komposisi siswa kelas XI-IS, SMAK St. Albertus Malang tahun ajaran 2008/2009 / Selfi Yanti Bali

 

ABSTRAK Bali, Yanti Selfi. 2009. Implementasi Strategi Peta Konsep dalam Usaha Membangun Pemahaman Konsep Fungsi Komposisi Siswa Kelas XI-IPS1 SMAK St. Albertus Malang. Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D (II) Prof. Drs. Purwanto Ph.D Kata Kunci: Pemahaman, Fungsi Komposisi, Strategi Peta Konsep Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. Perkembangan teknologi ini berkaitan erat dengan daya pikir manusia serta pengetahuan yang dimilikinya. Dalam mempelajari matematika tidak cukup hanya dengan menghafal rumus-rumus saja, tetapi membutuhkan pengertian, pemahaman dan ketrampilan secara mendalam. Berpikir tentang masalah memahami materi pembelajaran , peneliti mengambil langkah awal untuk meneliti keadaan ini. Peneliti melakukan wawancara ke beberapa guru SMA dan juga siswa-siswi SMAK St. Albertus Malang. Hasil yang diperoleh peneliti adalah bahwa pemahaman konsep masih sangat minim dimiliki oleh siswa dan bahkan ada yang sama sekali tidak paham akan konsep tetapi menghafal rumus matematika. Bertolak dari masalah pemahaman konsep, diperlukan pembelajaran yang bermakna agar seorang siswa betul-betul memahami materi dari bahan ajar yang diberikan. Siswa diharapkan mampu mengkonstruk pengetahuan baru khususnya mampu mengaitkan antara konsep, prinsip dan fakta yang diperolehnya. Saling keterkaitan antara konsep, prinsip dan fakta dapat digambarkan seperti jaringan konsep. Jaringan konsep ini tidak terjadi secara acak, tetapi perlu dikonstruk. Jaringan konsep hasil dari konstruksi ini disebut dengan peta konsep. Permasalahan mendasar penelitian ini adalah apa rancangan dan bagaimana pelaksanaan pembelajaran melalui strategi peta konsep yang dapat membangun pemahaman konsep Fungsi Komposisi siswa kelas XI-IS1 SMAK St. Albertus Malang. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh rancangan dan pelaksanaan pembelajaran melalui strategi peta konsep yang dapat membangun pemahaman konsep Fungsi Komposisi siswa kelas kelas XI-IS1 SMAK St. Albertus Malang. Penelitian difokuskan pada materi Fungsi Komposisi dengan menerapkan strategi peta konsep untuk membangun pemahaman konsep Fungsi Komposisi para peserta didik di kelas XI-IS¬1 SMAK St. Albertus Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah-langkah pembelajaran adalah: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai suatu siklus yang dapat dilaksanakan secara berulang sampai mencapai tujuan penelitian. Untuk penelitian ini, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Kegiatan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dan siklus II terdiri dari satu kali pertemuan. Masing-masing pertemuan meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Kegiatan pendahuluan meliputi mengucapkan salam, berdoa bersama, menyampaikan maksud dan tujuan dari pembelajaran mengenai peta konsep, menyampaikan hal-hal yang akan dilakukan setiap pertemuan, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan langkah-langkah pembelajaran. Kegiatan inti meliputi guru membagikan LKS, diskusi kelompok, serta tahap penyusunan peta konsep menurut petunjuk yang terdapat pada LKS. Kegiatan penutup meliputi pengumpulan hasi penyusunan peta konsep dan guru menutup pembelajaran pada pertemuan saat itu. Penelitian ini menghasilkan temuan, yaitu (1) Strategi peta konsep yang diterapkan untuk pokok bahasan Fungsi Komposisi dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan pada siklus I dengan teknik diskusi kelompok yang membantu siswa untuk semakin aktif terlibat dalam diskusi yang berhubungan dengan konsep-konsep yang belum dipahami dengan benar, (2) lembar kerja siswa disiapkan dengan prosedur yang jelas untuk membuat peta konsep, (3) Siswa membutuhkan waktu 40 menit untuk satu lembaran kerja siswa pada siklus I, namun hal ini teratasi pada siklus II karena siswa sudah mampu memahami cara menyusun peta konsep, (4) siswa tidak memiliki pengetahuan awal tentang peta konsep sehingga mengalami kesulitan dalam membuat peta konsep serta terbatas dalam menggunakan kata-kata penghubung untuk mengaitkan konsep-konsep yang sudah dipelajari, sedangkan pada siklus II siswa dapat menggunakan kata-kata penghubung dengan lebih baik, (5) Hasil belajar menunjukkan bahwa 40% (12 siswa) mencapai skor dibawah 65 dan 60% (18 siswa) mencapai skor lebih atau sama dengan 65 pada siklus I, namun pada siklus II hasil belajar menunjukkan bahwa 87.5 % siswa mencapai skor 65 ke atas dan hal itu berarti bahwa kriteria keberhasilan sudah tercapai. Dengan demikian siklus pembelajaran sudah dapat dihentikan. Dalam hal ini, Siswa sudah memahami pengertian peta konsep dengan baik, hal ini tergambar dari hasil kerja yang ditunjukkan dan kesanggupan mengerjakan sendiri tanpa adanya diskusi kelompok. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, diberikan beberapa saran sebagai berikut : (1) perlu adanya kesiapan guru sebelum menyampaikan materi kepada siswa terutama dalam penyusunan peta konsep, (2) sebelum pembelajaran dimulai, siswa sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu di rumah. Disamping itu, siswa juga diharapkan tidak mengulang kesalahan yang sama dalam pembuatan peta konsep, khususnya dalam menentukan kata penghubung dan konsep-konsep yang tepat, (3) Bagi para peneliti yang menginginkan penelitian yang sama, tesis ini dapat dijadikan referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya. ABSTRACT Bali, Yanti Selfi. 2009. Implementation of concept mapping in the effort of building students’ comprehending in composition function concept at students in class XI-IPS1 SMAK St. Albertus Malang. Thesis, Mathematics Program, Pascasarjana Program, University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D (II) Prof. Drs. Purwanto Ph.D Kata Kunci: comprehending, composition function, concept mapping strategy. Mathematic is the universal science that base on the development of modern technology. The development of technology is deeply connected with the human mind and knowledge that she/he has it. In learning mathematic, human do not only memorize the roles, but also need understanding, comprehending and skillful in it. Thinking about comprehending problems in instructional material, the research took preleminary step in conducting this situation. She did interview with several senior high schools ’ teachers and also the students at SMAK St. Albertus Malang. The result show that the students’ comprehending of concepts still less and even some did not have comprehending of concept but still memorize the mathematic roles. Based on the problems above, it is needed to have meaningful teaching in order students can realy comprehend the materials that they have it. The students are expected to have construct the new knowledge particularly they are able to make connect among concepts, princips and facts that they study. The interrelation among concpets, princips and facts can be drew like concept lining. The concept lining is not random, but still need to construct. This lining is called concept mapping. The main problem in this research is what design and how the implementation of teaching through concept mapping strategy can build students’ comprehending at students in class XI-IS1 SMAK St. Albertus Malang. The aims of this research are to have the design and the implementation of teaching through concept mapping strategy that can build students ’comprehending of composisition function concept at the students who sit in class XI-IS¬1 SMAK St. Albertus Malang. This reseach is action research with the steps as follows; planning, implementing, observing, reflecting as the cicle that can be conducted reply until the aims are achieved. For this research, the cicyles are applied twice ( two cycles) Teaching activity in first cycle was implemented in three teaching times and in second cycle is done only one teaching time. Each teaching time covers introduction activity, main activity and closing activity. The introduction activity covering greetings, pray, and informing aims of teaching with concept mapping strategy, telling things that have done in every meeting. Main activity covering distrubuting LKS, group discussion, in designing concept mapping based on the instructions in LKS. The closing activity covering the collecting of students’ work and closing the teacing at that moment. The findings of this research show that (1) concept mapping strategy for composisition function concept material is done threee times in the first cycle with group discussion can help students to actively involve in discussion that is related with the concept that they did not rightly understand. (2) students’ work sheets are provided with clearly procedur in designing concept mapping, (3) students need 40 menit in doing the work in frist cycle, although it can be handle in second cycle because of they have able to comprehen the ways in making concept mapping, (4) the students have not pre-knowledge about concept mapping and in the beginning they have difficulties in making concept mapping and also less in using connected words to connect the concepts that they have studied, whereas in second cycle the students can use the connector as good as possible, (5) the tsudnets’ achievement show that 40 % (12 students) can reach under point 65 and 60 % ( 18 students) have point more or same with point 65 in frist cycle, and increase in second cycle when learning achievement show that 87.5% of students have achieve point 65 above, and it means that the success of criteria is achieved. Therefore, the cycle can be stopped. In this case, the students have good comprehending about the materials with the use of concept mapping strategy in which they show their ability in doing tasks independenty without group work. Based on the findings of the study above, some suggestions are provided in this research such as follows: (1) it is needed teachers’ preparation before teachers display the material for the students, particularly in designing concept mapping, (2) before teaching, students need to prepare at home, and it is expected to students do not have make mistake again in making concpet mapping specific in determining words connector and righly concepts. (3) it can be used as useful reference for other research who want to conduct the same research but in different school.

Perbandingan hasil belajar dengan pendekatan kontekstual (CTL) dan pembelajaran konvensional dalam materi kas kecil siswa kelas XII SMK PGRI 6 Malang / Siti Halimatus Sakdiyah

 

ABSTRAK Halimatus, Siti. 2009. Perbandingan Hasil Belajar Dengan Pendekataan Kontekstual (CTL) dan pembelajaran Konvensional dalam Materi Kas Kecil Siswa Kelas XII SMK PGRI 6 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Nergeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Cipto Wardoyo, SE, M.Pd, M.Si, Ak; (2) Dra. Suparti, MP Kata Kunci: Pembelajaran kontekstual (CTL), Hasil Belajar Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan ynag dimiklikinya dengan penerapannya. Dengan konsep tersebut hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa Belajar dengan menggunakan pembelajaran ini dapat memacu dan memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam menerima mata pelajaran karena siswa terlibat langsung dalam kegiatan proses belajar mengajar Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran kas kecil antara hasil belajar yang menggunakan pembelajaran kontekstual dengan hasil belajar yang menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa SMK PGRI 6 Malang Subjek penelitian ini menggunakan siswa kelas XII SMK PGRI 6 Malang, yaitu kelas XII APK 1 dan XII APK 2. Dimana kelas APK 1 sebagai kelas kontrol yaitu kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional dan APK 2 sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang menggunakan pembelajaran kontekstual Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbandingan hasil belajar dengan pendekataan kontekstual (CTL) dan pembelajaran konvensional dalam materi kas kecil siswa kelas XII SMK PGRI 6 Malang, yaitu kelas yang menggunakan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dengan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional, yaitu thitung > t tabel ( 3,759 > 1,668) . Dengan demikian, pembelajaran kontekstual ini dapat digunakan atau diterapkan pada materi kas kecil atau yang lainnya di SMK PGRI 6 Malang sebagai alternatif pembelajaran yang biasanya digunakan Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya perbandingan antara hasil belajar belajar siswa yang menggunakan pembelajaran kontekstual dengan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional

Pengaruh struktur kepemilikan saham, struktur modal, dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufatur yang listing di BEI / Dyah Oktaviana Kusuma

 

ABSTRAK Kusuma, Dyah Oktaviana. 2009. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Struktur Modal, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. (II) Dr. Dyah Aju Wardhani, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci : Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, dan Kebijakan Dividen Tujuan perusahaan adalah menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan dan kesejahteraan pemegang saham selaku pemilik perusahaan. Perusahaan dituntut untuk dapat mengelola keuntungan atau laba yang diperoleh secara tepat dan optimal, karena besar kecilnya laba yang diperoleh perusahaan akan menentukan keberlangsungan perusahaan tersebut di masa yang akan datang. Agar dapat mencapainya, manajer selaku agen dari pemegang saham harus melaksanakan tiga fungsi, yaitu keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan dividen. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional, struktur modal, dan ukuran perusahaan secara parsial dan simultan terhadap kebijakan dividen. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2005 - 2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu perusahaan manufaktur yang memiliki kepemilikan manajerial dan institusional, dan membagikan dividen selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2005 - 2007. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, struktur modal, dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini menunjukkan bahwa keempat variabel ini merupakan faktor-faktor yang akan dijadikan pertimbangan bagi manajer dalam menetapkan kebijakan dividen. Dengan menggunakan signifikansi sebesar 5% secara parsial variabel kepemilikan manajerial dan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan, sedangkan variabel kepemilikan institusional dan struktur modal berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini sejalan dengan bird in the hand theory, dimana para pemegang saham ternyata menginginkan adanya pembagian/ pembayaran dividen. Ada beberapa kelemahan dari penelitian ini, salah satunya adalah tidak memperhitungkan variabel lain yang bisa mempengaruhi kebijakan dividen, seperti kebutuhan dana perusahaan, likuiditas, ketersediaan kas, pajak, dsb. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya, menggunakan faktor lain yang bisa mempengaruhi kebijakan dividen, menggunakan sampel yang berbeda menggunakan metode lain, serta memperpanjang tahun penelitian.

Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada program keahlian teknik mekanik otomotif SMK Negeri 6 Malang / Hafid Prayoga

 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu usaha yang dilakukan agar dapat menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja di tempat kerja secara maksimal. Sasaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam suatu unit produksi ditujukan kepada: (1) tenaga yang melakukan pekerjaan; (2) orang lain yang berada di sekitar tempat kerja; (3) peralatan dan kelengkapan kerja. Syarat-syarat keselamatan kerja ditetapkan dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja pada pasal 3. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 6 Malang yang terletak di Jl. Ki Ageng Gribig 28, Madyopuro, Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui metode mereduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) kebijakan sekolah tentang K3 yaitu secara tersirat, tidak ada pemberitahuan tertulis dari pihak sekolah. Prosedur pembuatan peraturan yang terkait dengan pelaksanaan K3 menjadi kewenangan penuh tiap-tiap Program Keahlian di SMK Negeri 6 Malang; (2) aplikasi K3 pada mata pelajaran kompetensi kejuruan teknik mekanik otomotif di SMK Negeri 6 malang menjadi bagian dari mata pelajaran produktif (terintegrasi). Metode penyampaian kepada siswa dilakukan ketika pembelajaran di kelas dan di bengkel sebelum siswa melakukan praktik; (3) pelaksanaan K3 di bengkel otomotif SMK Negeri 6 Malang berjalan dengan baik ditandai dengan peraturan untuk selalu mengutamakan K3 dan tata tertib bengkel yang jelas, tingkat kedisiplinan siswa, dan pemberian sangsi yang tegas; (4) fasilitas K3 pada bengkel otomotif SMK Negeri 6 Malang dapat dikategorikan cukup baik. Perawatan terhadap sarana praktik dan fasilitas keselamatan kerja dilakukan secara berkala agar selalu siap untuk digunakan; (5) kendala yang dihadapi oleh SMK Negeri 6 Malang dalam melaksanakan K3 adalah jumlah siswa otomotif yang banyak dan alokasi dana yang kurang sehingga menyebabkan jumlah sarana praktik, peralatan praktik, dan alat pelindung diri tidak ada penambahan yang mengakibatkan jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah siswa.

Penerapan metode discovery untuk meningkatkan hasil belajar IPA Siswa kelas V SDN Oro-Oro Ombo kulon I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Maftuhadi

 

Sekolah Dasar Negeri Oro-oro Ombo Kulon I merupakan salah satu sekolah dasar yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Tepatnya terletak di Dusun Selotumpang Desa Oro-oro ombo kulon Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan. Dari hasil wawancara dengan guru Kelas V SDN Oro-oro Ombo Kulon I terdapat permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran IPA, diantaranya siswa sulit memahami materi yang disampaikan. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA semester I tahun pelajaran 2008/2009 dengan nilai rata-rata kelas hanya 65. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode discovery melalui penelitian tindakan kelas. Bentuk penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas V di SDN Oro-oro Ombo Kulon I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap – tiap siklus melalui beberapa tahapan yaitu Planning/Perencanaan, Acting/Tindakan, Obsevasi dan Reflect/Refleksi. Penelitian dilaksanakan di kelas V SDN Oro-oro Ombo Kulon I dengan jumlah siswa 20. Pelaksanaan tindakan mulai tanggal 19 Maret sampai 9 April 2009 melalui dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Oro-oro Ombo Kulon I. Hal ini dilihat dari rata-rata hasil pre tes siswa sebelum dilaksanakan tindakan hanya 44, setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I rata-rata nilai hasil belajar IPA siswa menjadi 71 dan pada siklus II meningkat menjadi 80,5. Ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 60% pada siklus I meningkat menjadi 85% pada siklus II. Penerapan metode discovery dalam proses pembelajaran juga berdampak positif terhadap aktifitas belajar siswa. Rata-rata skor aktifitas siswa pada siklus I adalah 64,9 sedang rata-rata skor aktifitas siswa pada silus II adalah 77,5. Hasil penelitian menunjukkan penerapan metode discovery dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Oro-oro Ombo Kulon I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan

Pengaruh inflasi, tingkat suku bunga, dan kurs rupiah terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2005-2007 / Nindiyas Agustin

 

ABSTRAK Agustin, Nindiyas. 2009. Pengaruh Inflasi, Tingkat Suku Bunga, dan Kurs Rupiah Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2005-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Triadi Agung Sudarto, M.Si,S.E.,Ak. (II) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata Kunci : Inflasi-IHK, tingkat suku bunga SBI, kurs Rupiah, dan harga saham. Pasar modal adalah pasar berbagai instrument keuangan jangka panjang, dimana pasar modal memiliki dua fungsi yaitu menyediakan dana bagi pihak yang memerlukan dana dan mempunyai kelebihan dana untuk menginvestasikan dana yang mereka miliki. Sehingga pasar modal dapat dijadikan sarana bagi perusahaan untuk memperoleh dana jangka panjang dengan cara menerbitkan saham dan sarana bagi investor dalam menanamkan modalnya. Faktor makro ekonomi merupakan faktor eksternal dan pengaruhnya bersifat umum artinya faktor ini akan mempengaruhi semua harga saham perusahaan dengan intensitas yang berbeda antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh fluktuasi inflasi, tingkat suku bunga, dan kurs rupiah sebagai variabel bebas terhadap harga saham sebagai variabel terikat. Dalam penelitian ini digunakan inflasi-IHK, suku bunga SBI, dan kurs rupiah sebagai variabel yang mempengaruhi harga saham. Penelitian ini adalah penelitian eksperiment dengan mengambil 30 perusahaan yang termasuk dalam perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia pada periode 2005- 2007. Dalam pengambilan sampel, penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikatnya. Pengujian hipotesis digunakan uji t untuk mengetahui pengaruh secara parsial dari masing-masing variabel terhadap variabel terikat, dan uji F untuk mengetahui pengaruh secara simultan variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh negatif yang signifikan dari variabel inflasi, pengaruh positif yang signifikan dari variabel tingkat suku bunga SBI, dan pengaruh negatif yang signifikan dari variabel kurs rupiah terhadap harga saham perusahaan Manufaktur. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini maka disarankan agar penelitian lebih lanjut untuk menggunakan periode pengamatan lebih dari tiga tahun dan juga menambah variabel variabel bebas selain variabel inflasi, tingkat suku bunga, dan kurs rupiah. Disamping perubahan inflasi, suku bunga SBI dan kurs rupiah sebaiknya investor juga memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga saham misalnya kurang baiknya keadaan keamanan, keadaan politik, dan keadaan ekonomi.

Peningkatkan penguasaan konsep volume bangun ruang dengan metode penemuan terbimbing berkelompok di MTs Darussa'adah Gubugklakah Kec. Poncokusumo Kab. Malang / Pa'is

 

ABSTRAK Pa’is, 2009, Peningkatan Penguasaan Konsep Volume Bangun Ruang dengan Metode Penemuan Terbimbing Berkelompok di MTs. Darussa’adah Gubugklakah Kec. Poncokusumo Kab. Malang. Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc. dan (II) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D. Kata Kunci : Volume Bangun Ruang, Penemuan Terbimbing Berkelompok Volume bangun ruang mempunyai peranan penting dalam bidang matematika dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, penguasaan terhadap volume bangun ruang perlu ditekankan pada siswa sejak dini. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap volume bangun ruang masih rendah. Siswa cenderung menghafal rumus volume bangun ruang. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri rumus volume bangun ruang. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam membangun penguasaan siswa terhadap volume bangun ruang dengan metode penemuan terbimbing berkelompok. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berkelompok yang dapat meningkatkan penguasaan konsep volume bangun ruang, (2) menjelaskan peningkatan hasil belajar siswa pada konsep volume bangun ruang melalui pembelajaran metode penemuan terbimbing berkelompok, dan (3) mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran metode penemuan terbimbing berkelompok pada konsep volume bangun ruang bagi siswa kelas VIII MTs Darussa’adah Gubugklakah Kec. Poncokusumo Kab. Malang tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIII MTs Darussa’adah Gubugklakah Kec. Poncokusumo Kab. Malang. Subyek wawancara 4 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Pemilihan subyek wawancara berdasarkan hasil tes awal dan pertimbangan bahwa siswa-siswa tersebut mudah diajak komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa metode penemuan terbimbing berkelompok yang dapat meningkatkan penguasaan volume bangun ruang pada siswa kelas VIII MTs Darussa’adah Gubugklakah Kec. Poncokusumo Kab. Malang terbagi dalam tiga tahap pembelajaran, yaitu (1) tahap awal meliputi menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa tentang pentingnya volume bangun ruang, mengingatkan kembali materi prasyarat, pembentukan kelompok, dan pemberian alat peraga, (2) tahap inti meliputi pelaksanaan investigasi oleh kelompok dan presentasi hasil diskusi, dan (3) tahap akhir meliputi membuat kesimpulan dan evaluasi. Respon siswa terhadap pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berkelompok pada materi volume bangun ruang sangat positif. Berdasarkan penelitian ini, maka bagi peneliti lain yang berminat mengadakan penelitian serupa hendaknya melakukan pada sekolah yang lain sehingga akan diperoleh gambaran lebih lanjut mengenai efektifitas pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berkelompok pada materi volume bangun ruang. ABSTRACT Pa'is, 2009, Improving Mastery for the Concept of Solid Volume by Method of Group Guided Discovery at MTs. Darussa 'adah Gubugklakah, Poncokusumo Subdistrict, Malang Regency. Thesis Program of Study Mathematics Education, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc. and (II) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D. Key words: Solid Volume, Group Guided Discovery Solid volume has an important role in mathematics and has been used a lot in daily life. Therefore, mastery for solid volume needs to be emphasized to students since at the early age. However, the fact shows that students’ mastery for this subject is low. Students tend to merely memorize the solid volume formulas. Students are not given opportunity to find by themselves those formulas. Consequently, the serious efforts are needed to build students’ mastery for this subject by group guided discovery. This Study aims at (1) explaining instruction by method of group guided discovery can be used to improve the mastery for the concept of solid volume, (2) explaining improve students’ result of learning for the concept of solid volume through group guided discovery, and (3) finding out students' responds for method of group guided discovery for the concept of solid volume for eighth grade students of MTs. Darussa 'adah Gubugklakah, Poncokusumo Subdistrict, Malang Regency. This study employs a qualitative approach with classroom action research design. It is conducted to eighth grade students of MTs. Darussa 'adah Gubugklakah, Poncokusumo Subdistrict, Malang Regency. The subjects of interview are 4 students consisting of 1 student has high ability, 2 students have medium ability, and 1 of them has low ability. The choice of interview is based on the pretest and the consideration that those students are easy to be invited to have communication. Based on findings, it is found that the method of group guided discovery can be used to improve the mastery for solid volume for eighth grade students of MTs. Darussa 'adah Gubugklakah, Poncokusumo Subdistrict, Malang Regency which is divided into three stages of instruction: (1) initial stage consists of delivering aims of instruction, motivating students about the importance of solid volume, recalling the requirement materials, building the groups, and giving visual aids; (2) main stage consists of conducting investigation by group and doing discussion result presentation; and (3) final stage consists of making conclusion and evaluation. Students’ responds for instruction implementing method of group guided discovery for solid volume materials is very positive. For other researchers who want to arrange some study its better do in other school so will gotten more continued description about instruction activity by improving mastery for the concept of Solid Volume by Method of Group Guided Discovery.

Hubungan persepsi tentang empati dan persepsi penerimaan tanpa syarat perawat terhadap pengungkapan diri pada pasien HIV/AIDs di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya / Ferlinda Dicka Yulandari

 

ABSTRAK Dicka Yulandri, Ferlinda. 2009. Hubungan Persepsi Tentang Empati dan Persepsi Penerimaan Tanpa Syarat Perawat Terhadap Pengungkapan Diri Pada Pasien HIV/AIDS Di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan. Pembimbing (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si. (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Psi. Kata Kunci: empati, penerimaan tanpa syarat, pengungkapan diri. Pengungkapan diri merupakan suatu cara yang sederhana untuk membiarkan detil-detil dari dirinya sendiri diketahui oleh orang lain. Individu yang menjalin hubungan antar pribadi dapat menghayati perasaan yang dialami individu lain. Dengan kata lain pengungkapan diri berhubungan erat dengan memahami perasaan orang lain. Individu dapat memahami perasaan orang lain apabila telah menjalin hubungan antar pribadi yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui hubungan persepsi tentang empati perawat terhadap pengungkapan diri pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. 2) Mengetahui hubungan persepsi tentang penerimaan tanpa syarat perawat terhadap pengungkapan diri pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Dr. Sotomo Surabaya. 3) Mengetahui hubungan persepsi tentang empati dan persepsi penerimaan tanpa syarat perawat terhadap pengungkapan diri pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi empati dan persepsi penerimaan tanpa syarat, variabel terikatnya yaitu pengungkapan diri. Metode penelitian yang dilakukan adalah analisis deskriptif korelasional. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala persepsi empati, skala persepsi penerimaan tanpa syarat dan skala pengungkapan diri. Skala persepsi empati memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,262 – 0,624 dengan reliabilitas 0,809. Skala persepsi penerimaan tanpa syarat memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,275 – 0,724 dengan reliabilitas 0,899. Skala pengungkapan diri memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,256 – 0,510 dengan reliabilitas 0,652. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik purposive incidental sampling yaitu dengan mengambil sampel dari siapa saja yang kebetulan ada yang didasarkan pada ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh sampel tersebut. Sampel yang digunakan berjumlah 60 orang penderita HIV/AIDS. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan 1) Ada hubungan antara persepsi tentang empati perawat terhadap pengungkapan diri pasien HIV/AIDS dengan nilai r = 0,296, nilai p = 0,022 < 0,05. 2) Ada hubungan antara persepsi tentang penerimaan tanpa syarat perawat terhadap pengungkapan diri pasien HIV/AIDS dengan nilai r = 0,270, nilai p = 0,037 < 0,05. 3) Ada hubungan antara persepsi tentang empati dan persepsi penerimaan tanpa syarat perawat terhadap pengungkapan diri pada pasien HIV/AIDS dengan nilai R = 0,340, nilai p = 0,030 < 0,05. Dari hasil penelitian disarankan agar peneliti selanjutnya mempertimbangkan faktor lain di luar faktor empati dan penerimaan tanpa syarat perawat HIV/AIDS.

Ragam bahasa pedagang asongan dalam interaksi jual-beli di terminal Situbondo / Vanda Hardinata

 

ABSTRAK Hardinata, Vanda. 2009. Ragam Bahasa Pedagang Asongan dalam Interaksi Jual-Beli di Terminal Situbondo. Tesis S2: Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, Pembimbing (II) Dr. H. Sumadi, M.Pd Kata Kunci: Ragam Bahasa, Pedagang Asongan Penelitian ini difokuskan pada pemakaian ragam bahasa pedagang asongan dalam interaksi jual beli di terminal Situbondo. Pemeriannya dengan menganalisis ciri-ciri tuturan bahasa Indonesia yang digunakan oleh pedagang asongan pada tiap-tiap tataran, yaitu tataran fonologis, tataran morfologis, tataran sintaksis, tataran diksi dan leksikal, serta tataran intonasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan deskriptif kualitatif. Data berasal dari interaksi jual beli antara pedagang asongan dengan pembeli secara alamiah. Sumber data berasal dari pedagang asongan yang bekerja di terminal Situbondo. Pemerolehan data dilakukan dengan cara penyimakan (teknik simak) dan interview. Penyimakan tersebut dibantu dengan alat perekam multimedia yaitu MP3 Recorder dan Digital Camcorder. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara (1) ketekunan pengamatan, (2) triangulasi, dan (3) kecukupan referensial. Analisis data dilakukan secara deskriptif interpretatif. Metode deskriptif interpretatif yaitu data-data yang diperoleh diinterpretasikan sesuai dengan data alamiah yang ada. Gaya tutur ragam bahasa pedagang asongan diolah menggunakan multimedia program Adobe Audition 1.0 dan Ulead VideoStudio 9 untuk mempermudah dalam menganalisis data. Hasil penelitian tentang ragam bahasa pedagang asongan di terminal Situbondo menjelaskan bahwa pada ciri fonologis ditemukan adanya perubahan fonem, penambahan fonem, dan penghilangan fonem. Gejala perubahan fonem ditandai dengan adanya perubahan fonem vokal menjadi vokal lainnya, atau bisa juga perubahan fonem konsonan menjadi konsonan lainnya. Adanya penambahan fonem pada suatu kata (morfem) lebih sering terjadi pada daerah-daerah yang masih kental unsur bahasa daerahnya. Penambahan fonem merupakan bentuk penambahan atau menyisipkan fonem tertentu ke dalam bentuk kata (morfem). Penghilangan fonem dalam ciri fonologis merupakan salah satu gejala bahasa. Terdapat tiga gejala bahasa yang termasuk penghilangan fonem, yaitu (1) gejala aferesis adalah gejala penghilangan fonem pada awal kata, (2) gejala sinkop adalah gejala penghilangan fonem pada tengah kata, dan (3) gejala apokop adalah gejala penghilangan satu bunyi atau lebih pada akhir kata. Pada ciri morfologis dilakukan pengamatan terhadap penemuan adanya bentuk-bentuk morfem-morfem tertentu, baik yang merupakan alomorf atau bukan. Seperti diketahui bahwa perubahan morfem ada yang merupakan varian morfem, tetapi juga ada yang terjadi karena pengaruh logat yang disebut pungutan logat atau pungutan dialek. Salah satu contoh penemuan data dalam ciri morfologis terdapat pada kata /deggan/, dalam pengucapannya sering berubah menjadi /duggen/. Secara fonetis, bentuk kata /deggan/ berbeda dengan bentuk kata /duggen/, tetapi perbedaan tersebut tidaklah fonemis. Kata /dəggan/ juga termasuk morfem bebas. Oleh karena itu, jika ditemukan bentuk kata /duggən/ dalam suatu ujaran, hal itu bukanlah merupakan alomorf. Secara morfologis bentuk kata /duggən/ tidak berbeda dengan bentuk kata /dəggan/. Ciri sintaksis adalah ciri bahasa yang dapat dilihat dari konstruksi kalimat. Dalam menganalisis kalimat pada ragam bahasa pedagang asongan terutama di terminal Situbondo, hanya terbatas pada interaksi yang terjadi antara pedagang asongan (penjual) dengan calon pembeli (penumpang bus). Hal ini dikarenakan pada interaksi ini terbentuk pembicaraan yang bersifat persuasif dimana terjadi suatu penawaran, pertanyaan, atau ketertarikan calon pembeli terhadap barang yang akan dibeli. Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel) dan keterangan (Ket). Susunan fungsi sintaksis tidak selalu berurutan S, P, O, Pel dan Ket. Kelima fungsi ini tidak harus ada dalam setiap struktur sintaksis. Ciri diksi didefinisikan sebagai pemilihan atau pemakaian kata yang akan digunakan untuk berinteraksi dalam situasi tertentu, sedangkan ciri leksikal merupakan ciri yang dapat dilihat dari kata atau kosakata. Seperti telah disinggung di muka bahwa dilihat dari segi bunyi, ragam bahasa yang digunakan pedagang asongan menunjukkan adanya perubahan fonem, penambahan fonem, dan penghilangan fonem. Adanya perubahan semacam itu disebut pungutan dialek, dalam hal ini dialek Situbondo. Khusus dalam penelitian ini cenderung digunakan istilah pungutan logat. Cara pengucapan kata-kata (aksen) oleh pedagang asongan mempunyai karakteristik tertentu sehingga mengakibatkan timbulnya ciri-ciri khusus dalam setiap pertuturan. Pengucapan-pengucapan seperti itu dirasakan sebagai suatu hal biasa (kebiasaan pertuturan). Penyelidikan tentang ciri intonasi menjadi sulit apabila dianalisis sampai kepada yang paling detail. Oleh karena itu, penganalisisan intonasi didasarkan kepada penandaan yang jauh lebih sederhana agar mudah dipahami. Cara yang lebih mudah untuk memberikan penandaan terhadap intonasi bahasa yaitu dengan angka-angka. Angka 1 sampai dengan 4 yang menunjukkan tinggi rendah nada secara garis besarnya sehingga pola-pola lagu kalimat dapat dilihat secara lebih mudah. Pemakaian angka 1 sebagai nada yang rendah, angka 2 sebagai nada yang sedang, angka 3 sebagai nada yang tinggi, sedangkan angka 4 sebagai nada yang luar biasa tingginya. Peneliti akan menggunakan cara ini bersama persendian untuk menyajikan beberapa keterangan yang menyangkut intonasi. Para pedagang asongan di terminal Situbondo lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dialek Situbondo (bahasa Madura) dan cenderung memakai pola intonasi kalimat dasar, dalam hal ini mereka sering memakai pola-pola intonasi kalimat tanya khususnya pemakaian kalimat elips. Oleh karena itu, untuk menghasilkan bentuk kalimat tanya tanpa memakai kata tanya, lebih banyak tergantung kepada penciptaan pola intonasi. Jadi, hanya memakai intonasi tanya terhadap kata-kata yang menjadi pokok ujaran. Dari segi penggunaan bahasa, interaksi jual beli menunjukkan ciri khas yang membedakannya dengan bentuk interaksi lain, seperti interaksi dalam persidangan, interaksi kelas, maupun percakapan bebas. Perbedaan penggunaan ragam bahasa disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor yang mempengaruhi ragam bahasa diantaranya adalah faktor waktu, faktor kebiasaan, faktor menarik perhatian pembeli, dan faktor agar cepat terjual (laku). Adanya kenyataan bahwa wujud ragam bahasa yang digunakan berbeda-beda berdasarkan faktor-faktor sosial yang tersangkut di dalam situasi pertuturan, seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi penutur, dan lawan tutur.

Meningkatkan hasil belajar IPA pada pembelajaran pesawat sederhana dengan metode inkuiri di kelas V SDN Wonosunyo II Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan / Bahrul Ulum

 

ABSTRAK Ulum, Bahrul. 2009. Meningkatan Hasil Belajar IPA Pada Pembelajaran Pesawat Sederhana Dengan Metode Inkuiri Di Kelas V SDN Wonosunyo II Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Dosen Pembimbing: (1) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.Si, (2) Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: hasil belajar, pembelajaran IPA, metode inkuiri Pembelajaran yang dilaksanakan guru sebagian besar masih didominasi dengan pembelajaran konvensional, di mana kegiatan masih terpusat pada sosok guru. Hal ini menyebabkan pembelajaran yang sedang berlangsung kurang bermakna bagi siswa karena jauh dari konteks kehidupan nyata yang dihadapi oleh siswa. Kejadian ini memunculkan persoalan bagi siswa yakni siswa kesulitan menerapkan ilmunya dalam kehidupan yang dihadapi dan dialami siswa. Dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional (ceramah dan pemberian tugas) juga berakibat pada lemahnya pemahaman konsep dan prinsip dalam pembelajaran IPA, ini dikarenakan siswa tidak diajak untuk mencari, menemukan, menyelidiki, dan mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri secara mandiri. Bertolak dari keadaan itu maka dalam penelitian ini mencoba untuk menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA dengan tujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran pesawat sederhana dengan metode inkuiri, meningkatkan prestasi hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA, dan dampak penggunaan metode inkuiri terhadap kerjasama siswa dalam kelompok. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Taggart, yang terdiri dari beberapa tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan. observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus enam kali pertemuan. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas V SDN Wonosunyo II Gempol Pasuruan. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, LKS, dan lembar tes. Dari penelitian ini dapat diperoleh hasil penelitian Pelaksanaan pembelajaran Pesawat Sederhana dengan Metode Inkuiri di kelas V SDN Wonosunyo II kecamatan Gempol Pasuruan, bahwa penggunaan Metode Inkuiri lebih efektif dan berhasil dengan lebih banyak memberikan penjelasan tentang proses inkuiri dan bimbingan kepada siswa pada saat melakukan kegiatan, dengan penjelasan yang gamblang serta bimbingan yang lebih banyak siswa lebih mudah melakukan proses inkuiri, mengkonstruksi pengetahuan sendiri, dikondisikan untuk belajar mandiri dalam kelompok. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru juga berlangsung efektif dan berhasil serta sesuai dengan RPP yang telah dibuat dengan banyak melakukan refleksi pada setiap akhir pertemuan antara peneliti dengan guru kelas terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. bahwa dari kemampuan guru mengajar menggunakan metode inkuiri dari 50% pertemuan pertama pada siklus satu dan di akhir siklus satu menjadi 68,75% lalu pada akhir pembelajaran siklus dua mengalami peningkatan menjadi 93,75%. Pada kemampuan menemukan konsep pesawat sederhana atau kemampuan inkuiri siswa mengalami kenaikan rata-rata dari 65,06 pada siklus I menjadi 84,63 pada siklus II. Untuk kemampuan kerjasama siswa dalam kelompok diperoleh 45% siswa diawal pertemuan siklus I menjadi 95% pada akhir siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa mengalami kenaikan dari 49,75 pada Pre-tes menjadi 71,25 pada siklus I kemudian menjadi 86,25 pada siklus II dari 20 siswa dan sebagian besar siswa telah mencapai ketuntasan belajar, baik tingkat individu maupun klasikal. Dampak kerjasama siswa dalam kelompok dapat ditunjukkan dari perilaku siswa dalam kerja kelompok yakni (a) partisipasi dalam kelompok, siswa mulai aktif bekerjasama dalam melakukan percobaan dengan melakukan tugas yang telah dibagi oleh kelompok yang bersangkutan; (b) komunikasi dalam kelompok, iswa dapat saling tukar pendapat dan curah pendapat baik itu melalui diskusi dalam kelompok maupun diskusi kelas, dalam hal ini siswa sudah berani menyatakan dan mengeluarkan pendapat baik itu bertanya maupun menyangga pendapat siswa yang lain sehingga pembelajaran menjadi menarik; (c) tanggung jawab dalam kelompok, siswa dapat melaksanakan tugas yang dibebankan oleh anggota kelompok dalam mencari dan mengumpulkan data, melakukan percobaan secara bersama-sama dan bisa memberikan masukan dalam kelompok yang bersangkutan sehingga sampai pada menarik kesimpulan. Bertolak dari hasil penelitian di atas, bahwasanya saran yang dapat dikemukakan adalah guru dapat menggunakan metode inkuiri pada pembelajaran IPA dengan cara mendampingi dan memberikan bimbingan jika siswa mengalami kesulitan atau kebuntuan belajar, dan dengan menggunakan metode inkuiri dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan kerjasama siswa berinteraksi dalam kelompok.

Perancangan Web-Site bilingual dan CD interaktif Band "Begundal Lowokwaru" sebagai media komunikasi dan promosi / Ayyub Anshari S

 

ABSTRAK Anshari, Ayyub 2009. Perancangan Web-Site Bilingual dan CD Interaktif Band “Begundal Lowokwaru” Sebagai Media Komunikasi dan Promosi.Skripsi, Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Sastra.Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M. Pd (II) Andy Pramono, S.Kom, M.T Kata Kunci: website, CD interaktif, perancangan Bentuk promosi industri musik melalui media internet saat ini sangatlah tinggi hal tersebut juga didukung oleh CD interaktif sebagai media promo secara offline. Bentuk promosi tersebut dibutuhkan bagi bagi band-band mapan maupun independen sebagai bentuk komunikasi serta promosi. Tujuan perancangan ini ialah menghasilkan media promosi yang lebih kreatif, inovatif dan universal sehingga dapat meningkatkan jumlah penggemar band Begundal Lowokwaru serta dapat membidik pasar industri musik bagi band Begundal Lowokwaru. Dengan promosi melalui web diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan penjualan album dan penggemar Begundal Lowokwaru dari dalam negeri dan luar negeri tetapi juga dari kalangan umum yang bukan termasuk komunitas punk. Untuk CD interaktif, tujuan promosi ialah untuk menarik minat dari para pelaku industri musik untuk mengkontrak Begundal Lowokwaru dalam pembuatan album, mempromosikan mereka melalui radio, dan segala macam bentuk kegiatan komersil dalam industri musik. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif. Garis-garis besar langkah yang harus diikuti adalah: (1) survey/observasi klien, (2) proses analisa data, (3) penyusunan konsep desain, (4) perancangan media promosi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) observasi, (2) wawancara. Teknik analisa data yang dilakukan adalah SWOT ( Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Simpulan dari perancangan ini adalah perancangan media promosi yang lebih kreatif , inovatif , dan universal dapat meningkatkan jumlah penggemar dan menarik minat pasar industri bagi band Begundal Lowokwaru. Tujuan promosi mengandung misi komunikasi yang tidak hanya dapat meningkatkan jumlah penggemar dan penjualan album tetapi juga untuk menarik minat para pelaku pasar industri musik untuk mengkontrak Begundal Lowokwaru dalam pembuatan album, mempromosikan mereka melalui radio, dan segala macam bentuk kegiatan komersil dalam industri musik. Selanjutnya saran yang dapat diberikan adalah berdasarkan kelemahan dan kelebihan yang dimiliki dalam perancangan media promosi ini diharapkan dapat digunakan sebaik-baiknya bagi klien untuk kemajuan Begundal Lowokwaru.

Implementasi algoritma kriptografi hill 2-cipher dengan menggunakan bahasa pemrograman delphi / Tabah Maneswati

 

ABSTRAK Maneswati, Tabah. 2009. Implementasi Algoritma Kriptografi Hill 2-Cipher dengan Menggunakan Bahasa Pemrograman Delphi. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Darmawan Satyananda, S.T, M.T dan (II) Mahmuddin Yunus, S.Kom Kata Kunci : Hill 2-Cipher, keamanan data, plaintext, ciphertext, enkripsi, dekripsi Kemajuan teknologi berkembang sangat cepat. Namun tidak semua perkembangan tersebut memberikan dampak yang menguntungkan bagi dunia komunikasi. Penyadapan data merupakan hal yang paling ditakuti oleh pengguna jaringan komunikasi, sehingga aspek keamanan dalam pertukaran informasi menjadi sangat penting. Untuk menjawab tuntutan tersebut salah satunya dengan menggunakan sistem kriptografi. Kriptografi adalah ilmu pengetahuan untuk menjaga keamanan informasi. Salah satu algoritma kriptografi adalah Hill 2-Cipher. Hill 2-Cipher termasuk dalam algoritma simetri dimana kunci yang digunakan untuk enkripsi sama kunci yang digunakan untuk dekripsi. Penyandian dengan Hill 2-Cipher dilakukan dengan memanfaatkan operasi modular matriks, dengan ordo matriks yang dipakai adalah 2x2. Hill 2-Cipher juga merupakan algoritma kriptografi klasik yang digunakan orang sejak berabad-abad lalu, sehingga mempunyai kelemahan. Teknik enkripsi dan dekripsi Hill 2-Cipher hanya bisa digunakan untuk huruf besar A-Z, padahal pengkodean pada sistem komputer saat ini menggunakan kode ASCII yang tidak berupa huruf saja tetapi terdiri dari simbol-simbol, karakter, angka, dan lain-lain, sehingga penggunaan Hill 2-Cipher terbatas. Skripsi ini membahas mengenai pembuatan program enkripsi dan dekripsi file dengan algoritma Hill 2-Cipher menggunakan software Delphi yang memanfaatkan kode ASCII sebagai acuan untuk enkripsi dan dekripsinya. Fungsi kode ASCII dalam Hill 2-Ciphers adalah menampilkan nilai desimal dari setiap karakter dan sebaliknya. Karena kode ASCII memberikan lambang sebanyak 256 jenis karakter yang dimulai dari kode 0 hingga 255, jadi sistem modulo yang dipakai dalam penyandian adalah modulo 256. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan Hill 2-Cipher bisa diaplikasikan untuk pengkodean file. Kunci yang bisa digunakan untuk proses pengkodean hanya matriks yang determinannya relatif prima dengan 256. Secara umum lamanya waktu yang diperlukan untuk proses enkripsi dan dekripsi Hill 2-Cipher bergantung pada ukuran file. Semakin besar ukuran file, maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk proses enkripsi dan dekripsi. Dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dengan mengunakan entri kunci yang berbeda, tidak banyak mempengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pengkodean Hill 2-Cipher.

Pengaruh tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2003-2007 / Eka Andriani Shandy

 

ABSTRAK Shandy, Eka Andriani. 2009. Pengaruh Tingkat Inflasi, Suku Bunga, Nilai tukar Rupiah terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia Tahun 2003-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Helianti Utami S.E., M.Si., Ak. Pembimbing II : Sawitri Dwi Prastiti S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Tingkat Inflasi, Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah, Profitabilitas, Bank Umum Syariah. Krisis ekonomi pada tahun 1997 telah menyebabkan bank konvensional banyak mengalami kerugian dan dilikuidasi. Dalam kondisi krisis tersebut bank syariah justru mampu bertahan dan mengalami perkembangan yang pesat. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba tercermin dari tingkat profitabilitas pada periode tertentu. Untuk meningkatkan profitabilitas bank maka tidak lepas dari pengaruh indikator kestabilan ekonomi makro diantaranya inflasi, suku bunga dan nilai tukar rupiah. Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah terdapat pengaruh secara parsial maupun simultan antara tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah terhadap profitabilitas perbankan umum syariah yang diukur menggunakan ROA dan ROE. Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi linier berganda. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sepanjang tahun 2003-2007 tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar dan profitabilitas bank umum syariah bergerak fluktuatif. Tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas yang diwakili oleh ROA. Tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas yang diwakili oleh ROE. Tingkat inflasi negatif tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas baik yang diwakili oleh ROA maupun ROE. Suku bunga negatif tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas yang diwakili oleh ROA. Suku bunga positif tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas yang diwakili oleh ROE. Nilai tukar positif berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas baik yang diwakili oleh ROA amupun ROE Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Cakupan penelitian ini lebih ditekankan kepada aspek makro, maka penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengidentifikasi pengaruh dari aspek makro dan mikro yang dapat berpengaruh terhadap profitabilitas bank umum syariah, (2) Penelitian ini juga bisa dilaksanakan pada bank konvensional sehingga dapat diperoleh penelitian perbandingan, (3) Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan data yang lebih lengkap lagi sehingga diperoleh hasil yang lebih valid, (4) Bagi bank umum syariah diharapkan dapat terus meningkatkan intervensi dan promosi kepada masyarakat sehingga profitabilitasnya semakin meningkat, (5) Bagi pelaku pasar diharapkan dapat memanfaatkan bank syariah sebagai alternatif investasi yang sangat menguntungkan.

Dampak faktor pengetahuan lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat terhadap perusakan ekosistem terumbu karang adi kepulauan Togean Sulawesi Tengah tahun 2003 oleh Sukri Ali

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham pada perusahaan yang masuk dalam indeks LQ-45 periode 2005-2007 / Risa Rosiana

 

ABSTRAK Rosiana, Risa. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham Pada Perusahaan Yang Masuk Dalam Indeks LQ-45 Periode 2005-2007. Skripsi. Jurusan Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Puji Handayati S.E., M.M., Ak., (II) Drs H. Sumadi M.M. Kata kunci : Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), Return On Equity (ROE), dan harga saham. Kondisi perusahaan dapat tercermin dari harga saham perusahaan tersebut. Semakin tinggi harga saham, maka biasanya menunjukkan kondisi perusahaan yang baik. Investor perlu mengetahui semua informasi yang akurat tentang fluktuasi harga saham agar investor bisa mengambil keputusan yang tepat. Indikator untuk mengukur harga saham diantaranya yaitu Earning Per Share yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih per lembar saham, Price Earning Ratio (PER) menunjukkan bahwa investor mengharapkan pertumbuhan dividen yang tinggi, Price to Book Value Ratio (PBV) yang menggambarkan kepercayaan pasar akan prospek perusahaan tersebut, tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan dana untuk tujuan mendapatkan keuntungan dicerminkan oleh besar kecilnya Return On Equity (ROE) perusahaan. Harga saham masa lalu memiliki suatu pola tertentu dan berulang yang dapat digunakan untuk memprediksi harga saham. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara EPS, PER, PBV, ROE, dan harga saham masa lalu terdahap harga saham. Populasi dalam penelitian ini yaitu perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ-45 periode 2005-2007 sebanyak 45 perusahaan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 32 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Linier Berganda yang digunakan untuk menguji pengaruh EPS, PER, PBV, ROE, dan harga saham masa lalu terdahap harga saham. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel EPS, PER, PBV, dan harga saham masa lalu berpengaruh signifikan terhadap harga saham sedangkan variabel ROE tidak berpengaruh. Secara simultan EPS, PER, PBV, ROE, dan harga saham masa lalu berpengaruh signifikan terdahap harga saham sekarang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah periode penelitian dan mengganti objek penelitian, misalnya semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia agar hasil penelitian lebih mencerminkan kondisi pasar modal secara keseluruhan.

Pengembangan sistem informasi pendukung pengambilan keputusan menggunakan data historis bidang akademik melalui teknilogi penambangan data (Studi pengembangan di Polinema) / Andriani Parastiwi

 

ABSTRAK Parastiwi, Andriani. 2009. Pengembangan Sistem Informasi Pendukung Pengambilan Keputusan Menggunakan Data Historis Bidang Akademik Melalui Teknologi Penambangan Data (Studi Pengembangan di Polinema). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Prof. H.A. Sonhadji K.H., M.A., Ph.D.; (II)Prof. Dr. Salladien; (III) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, sistem informasi pendukung pengambilan keputusan, data historis, penambangan data. Pembangunan pendidikan di Indonesia saat ini lebih diarahkan pada peningkatan mutu agar mampu bersaing secara global. Persaingan global telah menimbulkan kompetisi global. Bila dalam bidang ekonomi, kompetisi global ditandai dengan pasar bebas yang akan memberikan kesempatan pada negara manapun untuk memasarkan produknya baik berupa barang dan jasa di negara manapun tanpa adanya batasan, maka dunia pendidikan menyikapinya dengan kolaborasi. Hal ini sudah mulai dirasakan akhir-akhir ini dengan semakin aktifnya para agen lembaga pendidikan luar negeri menawarkan kolaborasi program-programnya secara profesional dan proporsional. Masyarakat dapat lebih memilih lembaga pendidikan yang bermutu. Demikian pula lembaga pendidikan dapat lebih membidik calon peserta didik dengan segmen tertentu. Penjaringan calon peserta didik menjadi lebih terfokus. Penjaringan calon siswa terpadu dapat menaikkan kinerja institusi dan meningkatkan kompetitifnes dari institusi. Hal ini juga berlaku untuk pendidikan tinggi. Kunci pokok dari penjaringan calon peserta didik disini adalah mahasiswa, karena mahasiswa yang akan menerima layanan dan mahasiswa yang harus bekerja keras untuk sukses belajar dengan nilai akademis yang baik. Oleh karena itu sangatlah perlu diketahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut: Siapa mahasiswa yang diterima dan mendaftar ulang selama ini? Bagaimana segmentasi mahasiswa selama ini? Semua pertanyaan diatas dapat dijawab dengan mencermati data akademik mahasiswa yang ada mulai dari saat institusi didirikan sampai saat ini dimana telah terjadi timbunan data dalam berbagai bentuk data sumber. Dengan menggudangkan data sumber ke dalam Gudang Data, maka selanjutnya informasi/pengetahuan dapat digali dengan menggunakan teknologi penambangan data. Penambangan data dapat digunakan untuk menemukan pengetahuan guna melihat pola dan hubungan dalam satu set data mahasiswa yang besar dan kompleks. Dengan penambangan data segmentasi mahasiswa dapat diketahui, karakteristik mahasiswa yang diterima dan sukses belajar juga dapat dibuat. Dari jawaban tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk merencanakan satu bentuk kebijakan terkait layanan kepada mahasiswa Dalam pengembangan ini dikembangkan satu sistem informasi pendukung pengambilan keputusan bidang akademik melalui teknologi penambangan data dengan menggunakan data historis bidang akademik Polinema tahun 2001 sampai tahun 2004 yang sudah menggunung dan tidak digunakan lagi. Kegiatan yang dilakukan dalam mengembangkan produk penelitian ini diawali dengan studi kebutuhan informasi para pengelola institusi pendidikan yang menggunakan produk, sambil mengumpulkan semua data sumber dari berbagai pihak terkait yang ada di organisasi terkait sarana dan prasarana teknologi informasi. Infrastruktur jaringan dan komputer yang dimiliki organisasi juga didokumentasikan untuk menyesuaikan produk dengan lingkungan penerapan nantinya. Hasil studi kebutuhan informasi dan dokumentasi infrastruktur data dan sumberdaya dijadikan landasan pembentukan tim pengembang dan model produk yang dikembangkan. Tim pengembang terdiri dari 4 (empat) unsur organisasi, yaitu pimpinan tertinggi institusi, pimpinan bagian pengelola infrastruktur komputer dan jaringan, wakil ketua jurusan, dan sistem analis. Sistem analis sebagai fasilitator menggambarkan pentingnya pengembangan produk dan memfasilitasi diskusi dalam pengembangan produk. Data sumber yang bervariasi bentuk dan tempatnya selanjutnya siap untuk masuk ke tahapan penggudangan data. Gudang Data dikembangkan dengan memodelkan dimensi dengan menggunakan model dimensi snowflake-schema. Data sumber yang sudah dimodelkan kemudian dilakukan proses pembersihan data dan proses pemasukkan data ke gudang data. Model dimensi snowflake-schema digunakan karena memiliki keunggulan dalam kemampuannya menampilkan informasi/pengetahuan dengan teknologi penambangan data menggunakan algoritma pengelompokkan yang sederhana. Informasi/pengetahuan ini merupakan hasil dari produk yang selanjutnya dapat digunakan oleh pimpinan institusi pendidikan tinggi sebagai tambahan landasan dalam pengambilan keputusan. Ketepatan keputusan yang diambil tidak masuk dalam pengembangan ini. Ujicoba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan daya tarik dari produk yang dihasilkan. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa kekuatan produk hasil pengembangan terletak pada kemudahan operasi. Produk memiliki menu pull-down yang jelas pemanfaatannya, struktur penampilan tiap layar teratur dan lebih menarik daripada tampilan manual. Hasil laporan analisis sangat bermanfaat mempercepat proses pengambilan keputusan terkait layanan ke mahasiswa dan dosen. Selain itu, volume laporan analisis yang disajikan relevan dengan kebutuhan. Keterbatasan produk yang dirasakan oleh para pengguna dalam hal lebih banyak informasi (pengetahuan) yang bisa digali dari sistem. Selain itu, semua pengguna merasa bahwa proses-refresh untuk data tahun berikutnya belum dikembangkan dalam produk ini. Dengan dikembangkannya algoritma penambahan data pada gudang data dan penambahan algoritma untuk penggalian informasi/pengetahuan dari gudang data akan menambah manfaat dari produk. ABSTRACT Parastiwi, Andriani. 2009. Development in Decision Support System using Historical Academics Data with Data Mining Technology (Development Study in Polinema). Dissertation, Educational Management Study Program, Graduate School, State University of Malang. Advisors: (I)Prof. H.A. Sonhadji K.H., M.A., Ph.D.; (II)Prof. Dr. Salladien; (III) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Keywords: research and development, decision support information system, historical academics data, data mining. Indonesia’s educational development is directed to the enhancement of quality in order to participate in global education. Globalization has lead to the global competitive. In the economics, global competitive in the form of open market which give no boundaries for marketing products, whwreas education using colaborations in facing globalization. This can be seen several foreign education’s institution offer their programs profesionally and proporsionally. Society can choose educational institution which suit their standard. So is the educational institution can choose their prospect’s student with excact segmentation in order to be more focus segmented’s recruitment. Integrated educational recruitment can increase the institution’s competence and increase competitiveness as well. This also important for higher education institution.The key factor in educational recruitment is students, because the students will use the services and students will have to work real hard to succeed with good grade. Therefore it’s important knowing the answer of these questions: who were the students accepted? How was the student’s segmentation? All of the above questions can be answered by insemining student’s academics data from the first entrance’s students up to now, hwereas the data are already a huge amount with a various forms. These source of data can be warehoused in a special form of database call data warehouse. The data warehouse can be digged using data mining technology to get knowledge. Data mining can be used to discover knowledge in viewing patterns and relations of a bunch of students’ data. Students’ segmentation using data mining can show the characteristics of the student’s admission and student’s succeed. From the answers of the above questions the planning on students’ services can be developed. This research and development is performed on developing a academics decision supprt system using data mining technology using Polinema’s historical academics data from the year of 2001 up to the year of 2004 which is not used any longger whereas the data are stored in various forms. The study is started with the information requirement of the institution’s managers who will use the product and collecting all data’s sources at the same time. The existance of the computer and network’s infrastructures were documented in order to accomodate the product in the exixting environment. The result of the information requirement and the documentations of the data’s form and resources are the foundation on forming the Development Team and modelling the product. Development Team consist of 4(four), they are: the director as a top manager, manager of the computer and network infrastuctures, head of department as a middle level manager, and a system analyst. System analyst as a facilitator draw the importance of product’s development and facilitate discussion. The various data’s sources forms and places now is ready to the next phase, that is data warehousing. Data warehouse was developed with snowflake-schema dimentional model and the data sources were then cleaned and store them in the warehouse database. The snowflake-schema dimentional model provides a structure that is easier to change as requirement is change and also provide a good ability in finding knowledge using simple data mining’s classification algorithm. The knowledge as a product of the system is now can be used as an additional facts in planning a new policy for the managers. The correctness of the policy taken is not the subject on this research. Product’s testing is used in collecting data on effectiveness, efficiency, and performance of the product. The testing’s results shows that the strength of the product is easiness on operating the product. The product use pulldown menu, every menu’s layer has a self documented name. The structure of every report has a better arangement than the manual reports. The analitical reports from the product are usefull in enhacing decision making process in the issue of making policy for students and lecturers’ services. The users’ eager on getting more knowledge from the product is one obstacle that can be done with more effort on digging more from the warehouse. On the other hand, refresh algorithm is not developed yet in this research. Therefore refresh’s algorithm and more algoritm on digging more information using data mining algorithm from a warehouse database are recommended in getting more usage of the product.

Keefektifan diagram alir (Flow diagram) dalam pembelajaran ketrampilan proses untuk meningkatkan pemahaman konsep asam-basa dan prestasi siswa kelas II SMUN 5 Malang terhadap penggunaan diagram alir oleh Jelita

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-5 SMA Negeri 4 Malang / Lilis Pitriani

 

ABSTRAK Pitriani, Lilis. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TPS (Think Pair Share) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-5 SMA Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd 2) Dra. Sri Rahayu Lestari, M.Si Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif TPS (Think Pair Share), Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi peneliti pada tanggal 20, 24, 27 April 2009 dan 1 Mei 2009 di kelas X-5 SMA Negeri 4 Malang, diperoleh data bahwa pembelajaran di kelas lebih sering menggunakan metode ceramah. Metode ceramah yang selama ini digunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas kurang menarik minat siswa. Pembelajaran ceramah tidak melibatkan siswa secara langsung sehingga siswa tidak terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal tersebut menyebabkan rendahnya motivasi belajar biologi siswa yang berdampak pada rendahnya hasil belajar biologi siswa. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi, maka dilakukan penelitian dengan judul ”Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TPS (Think Pair Share) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-5 SMA Negeri 4 Malang”. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam II siklus dengan materi "Ekosistem". Penelitian ini bertujuan untuk: 1) meningkatkan motivasi belajar siswa, 2) meningkatkan hasil belajar siswa, 3) menerapkan model TPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model TPS: 1) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, terlihat dari persentase rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 73,68% yang termasuk dalam kategori baik, sedangkan pada siklus II sebesar 91,10% dengan kategori taraf keberhasilan sangat baik, 2) dapat meningkatkan hasil belajar dari sebelum tindakan hingga setelah tindakan dengan pembelajaran TPS pada siklus I dan siklus II, sebelum siklus diperoleh rerata 63,07 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 7,14%, rerata siklus I 69,93 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 39,02%; pada siklus II meningkat menjadi 77,43 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 57,14%, 3) pembelajaran kooperatif model TPS terdiri dari tiga tahap yaitu tahap Think, Pair, dan Share. Tahap Think yaitu dengan memberikan pertanyaan pada LKS dan dan siswa dituntut untuk berpikir sendiri/mandiri untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tahap Pair yaitu siswa berdiskusi dengan pasangannya (2 atau 4 orang) untuk menjawab LKS dan tahap Share yaitu diskusi kelas. Siswa bersama pasangannya mempresentasikan hasil jawabannya didepan kelas. Saran dari penelitian ini adalah sebaiknya guru meminta siswa untuk menuliskan pertanyaannya dikertas bagi siswa yang belum sempat mengutarakan pertanyaan pada saat diskusi kelas (tahap share) dan pertanyaan tersebut akan dijawab guru pada pertemuan selanjutnya serta hasil jawaban Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat digunakan sebagai skor kontribusi dalam menetapkan nilai akhir.

Penerapan model pembelajaran peta pikiran (Mind map) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Geografi kelas VII D semester II di SMPN 17 Malang (Materi atmosfer dan hidrosfer) / Windha Puspa Yastama

 

ABSTRAK Yastama, Windha Puspa. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Peta Pikiran (Mind Map) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Geografi Kelas VII D Semester II di SMP Negeri 17 Malang (Materi Atmosfer dan Hidrosfer). Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: peta pikiran, hasil belajar. Ketika dilakukan observasi pada tanggal 20 Januari 2009, metode pembelajaran IPS Geografi yang dilakukan oleh guru mata pelajaran kelas VII D di SMP Negeri 17 Malang adalah ceramah, tanya jawab dan penugasan. Kegiatan siswa pada saat pembelajaran adalah mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi. Siswa tidak memiliki buku penunjang sehingga harus mencatat materi, hal itu menyebabkan siswa sering keluar kelas dan tidak mencatat materi karena capek mencatat materi yang banyak. Hasil belajar siswa juga rendah, rata-ratanya yaitu 54,5. Jumlah itu kurang dari standar ketuntasan minimal, SKM untuk mata pelajaran IPS Geografi di SMP Negeri 17 Malang sebesar 65. Hasil belajar tersebut perlu diperbaiki dengan menerapkan pembelajaran peta pikiran, karena peta pikiran merupakan teknik mencatat yang kreatif sehingga siswa mendapatkan pembelajaran yang berbeda dan catatan siswa lebih ringkas dan menarik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran peta pikiran. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan April 2009. Subjek penelitian yaitu siswa kelas VII D yang berjumlah 38 siswa SMP Negeri 17 Malang. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, teknik pengumpulan data melalui tes. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 1 ke siklus 2. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 54,5 pada siklus 1 meningkat menjadi 60,9 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 75,7. Ketuntasan belajar juga meningkat, pada siklus 1 sebesar 56% pada siklus 2 menjadi 82%. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran peta pikiran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran peta pikiran sebaiknya diterapkan oleh guru IPS Geografi karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sedangkan bagi siswa dapat dibiasakan menerapkan peta pikiran pada proses pembelajaran atau saat belajar di rumah untuk meningkatkan pemahaman dan daya ingat terhadap materi pelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray untuk meningkatkan aktivitas belajar geografi siswa kelas XI IS-3 SMA Negeri 7 Malang pada materi pelestarian lingkungan hidup / Ninja Panju Purwita

 

ABSTRAK Purwita, Ninja Panju. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Geografi Siswa Kelas XI IS-3 SMA Negeri 7 Malang Pada Materi Pelestarian Lingkungan Hidup. Skripsi, Jurusan Geografi Program Studi Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model two stay two stray, aktivitas belajar geografi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SMA Negeri 7 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran geografi, guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan temannya, belajar menyampaikan pendapat, dan menghargai pendapat temannya sehingga siswa terlihat sangat pasif. Pada kegiatan pembelajaran, diketahui siswa yang aktif hanya ada 3 orang (10%), sedangkan 29 orang (90%) belum aktif dalam mengikuti pelajaran geografi. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas belajar geografi siswa kelas XI IS-3 SMA Negeri 7 Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Satu siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Masing-masing pertemuan terdiri dari pertemuan pertama 2 jam pelajaran, pertemuan kedua 1 jam pelajaran dan pertemuan ketiga 1 jam pelajaran. Alokasi waktu 1 jam pelajaran terdiri dari 45 menit. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model two stay two stray. Langkah-langkah model two stay two stray yaitu: (1) Siswa berdiskusi dalam kelompok yang terdiri dari 4 orang, (2) Dua siswa tetap tinggal di kelompok, (3) Dua siswa yang lain bertamu ke kelompok lain, (4) Siswa yang bertamu kembali ke kelompok asal. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran 62%, aktivitas siswa kelompok awal I 53%, aktivitas siswa kelompok TSTS 57%, aktivitas siswa kelompok awal II 48% dan aktivitas siswa saat presentasi 38%. Pada siklus II, aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran 81%, aktivitas siswa kelompok awal I 81%, aktivitas siswa kelompok TSTS 82%, aktivitas siswa kelompok awal II 83% dan aktivitas siswa saat melakukan presentasi 65%. Adapun saran yang diberikan yaitu: (1) Bagi guru geografi disarankan untuk menggunakan model two stay two stray untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, (2) Guru hendaknya melakukan manajemen waktu dan guru harus mampu mengelola kelas dengan baik agar tidak terjadi kegaduhan selama proses pembelajaran berlangsung, (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model two stay two stray dengan subjek penelitian yang berbeda.

Peranan media dalam membantu proses pembelajaran fisika dasar I untuk jurusan kimia FMIPA Universitas Negeri Malang / Fadila Kusumastuti

 

ABSTRAK Kusumastuti, Fadila. 2009. Peranan Media dalam Membantu Proses Pembelajaran Fisika Dasar I Untuk Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs.Sutrisno, M.T,(II) Drs. Asim M.Pd Kata kunci: Media, Website, Fisika Dasar I Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas pengajaran. Fisika Dasar I merupakan matakuliah wajib bagi mahasiswa program studi kimia. Dalam kurikulum program studi matakuliah ini disajikan pada semester I dengan nama fisika dasar I dan pada semester II dengan nama fisika dasar II. Berdasarkan wawancara dengan dosen pengajar matakuliah fisika dasar I dijurusan kimia, Beliau menyatakan bahwa prestasi belajar matakuliah fisika dasar I di jurusan kimia tahun pelajaran 2005/2006 adalah rendah. Hal ini disebabkan oleh karena materi fisika yang terlalu banyak dipelajari, keterbatasan waktu tatap muka antara dosen dan mahasiswa untuk untuk menyampaikan materi perkuliahan, banyaknya peserta matakuliah yang mengikuti matakuliah fisika dasar I di jurusan kimia.Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dikembangkan sebuah desain pembelajaran baru untuk meningkatkan minat belajar siswa yaitu pembuatan media pembelajaran Fisika Dasar I berbasis website. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pembuatan media pembelajaran fisika berbasis website dengan materi pembelajaran Fisika Dasar I sesuai / layak untuk dijadikan media pembelajaran bagi mahasiswa kimia. Produk yang dihasilkan berupa sebuah media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Media tersebut dapat digunakan pada matakuliah fisika dasar I bagi mahasiswa jurusan kimia. Desain pengembangan produk media pembelajaran berbasis website memanfaatkan modifikasi langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang diungkapkan oleh Borg dan Gall. Secara garis besar langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut terdiri dari tiga tahap yaitu studi pendahuluan, pengembangan model, uji model. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan produk media pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti hanya sampai pada ujicoba terbatas. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu untuk melakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Hasil penelitian ujicoba terbatas produk media pembelajaran terhadap ahli media, ahli materi, audien didapatkan persentase >60%. Berdasarkan kriteria evaluasi yang telah dikemukakan maka media ini secara keseluruhan baik dan layak digunakan.

Pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja melalui motivasi kerja guru di lingkungan SMA Negeri 5 Malang / Wahyu Indarwati

 

ABSTRAK Indarwati, Wahyu. 2008. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja melalui Motivasi Kerja Guru di Lingkungan SMA Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen S1 Pendidikan Adminstrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si, (II) Drs. Agus Hermawan, M.Si., M Bus Kata kunci Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja, Kinerja Keberhasilan tujuan pendidikan nasioanal harus memperhatikan komponen pendidikan khususnya sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan sekolah untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Dalam mengembangkan sekolah, kepala sekolah seringkali terfokus pada bagaimana mengembangkan sekolah dan memperbaiki kualitas anak didik mengenai pengelolaan sumber daya manusia yaitu guru, masih merupakan tanda tanya besar. Kendati sering terdengar isu tentang pentingnya pengelolaan kinerja guru di lingkungan sekolah, tetapi penangananya secara terencana dan terfokus, baik oleh Departemen Pendidikan Nasional, pihak sekolah, maupun guru itu sendiri masih jarang dilakukan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas mutu sekolah. Seorang pimpinan baik di sekolah maupun di organisasi apapun dapat mempengaruhi moral, kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektivitas manajer dalam sebuah perusahaan. Kepemimpinan dihubungkan dengan motivasi akan menghasilkan kinerja, dimana kinerja menurut Simanjuntak (2005) (dalam Staffmm, 2007) menyatakan bahwa kinerja seseorang bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kepemimpinan, hubungan industrial, kemampuan dan keterampilan, motivasi, sikap, etos kerja, struktur organisasi, teknologi dan peralatan atau fasilitas kerja dan kondisi kerja. Penerapan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang tepat akan mempunyai pengaruh yang berarti dalam pengambilan keputusan, maupun dalam mempengaruhi guru untuk melakukan pekerjaan yang lebih efisien dan efektif untuk mencapai kinerja guru yang baik. Kinerja guru mengacu pada tingkah laku saat mengajar di kelas. Tingkah laku merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif. Motivasi akan timbul dalam diri guru apabila ada perhatian, kesesuaian, kepercayaan dan kepuasan yang diberikan kepala sekolah, serta komunikasi yang lancar antara guru dan kepala sekolah dan guru dengan guru, akan dapat meningkatkan kinerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara: (1) gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi kerja, (2) gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja, (3) motivasi kerja terhadap kinerja, dan (4) gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja melalui motivasi kerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah adalah seluruh guru di SMA Negeri 5 Malang berjumlah 77 guru. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel i bertujuan (purposive sampling) dengan sampel sebanyak 44 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Motivasi Kerja pada guru SMA Negeri 5 malang sebesar 0,509, (2) Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja pada guru SMA Negeri 5 malang sebesar 0,284, (3) Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara Motivasi Kerja terhadap Kinerja guru SMA Negeri 5 malang sebesar 0,610, dan (4) Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja melalui variabel Motivasi Kerja pada guru SMA Negeri 5 malang sebesar 0,310. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) Pihak kepala sekolah hendaknya lebih meningkatkan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang lebih baik kepada para guru yaitu yang berorientasi pada tugas dan pada hubungan manusia. Dengan jalan lebih jelas dalam memberikan pengarahan tugas suatu pekerjaan dan senantiasa mengkoordinasi kerja anggotanya, mengadakan komunikasi total arah, dengan pendekatan terhadap anggotanya, bersifat terbuka dan mau menerima saran atau pendapat dari anggotanya yang berkaitan dengan kemajuan sekolah serta terusmenerus memotivasi guru agar dapat bekerja lebih baik dan terus meningkatkan prestasi kerja dari yang ada sekarang demi kemajuan sekolah; (2) Kepala sekolah sebaiknya mengetahui keinginan dan harapan para guru, sehingga tujuan yang diharapkan sekolah dapat tercapai; (3) Kondisi motivasi kerja di SMA Negeri 5 Malang dikategorikan sangat tinggi. Oleh karena itu, kepala sekolah diharapkan harus dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi kondisi tersebut. Karena terbukti motivasi memiliki pengaruh positif terhadap kinerja. Cara-cara yang telah diterapkan kepala sekolah selama ini (seperti selalu memotivasi guru senantiasa lebih berprestasi, lebih maju, pemberian kepercayaan dan pengakuan yang penuh terhadap pekerjaan yang dilakukan guru serta memperhatikan kondisi keamanan pekerjaan, gaji yang diterima setiap bulan dan kepala sekolah yang bersikap baik dan adil) harus dipertahankan dan ditingkatkan lagi, selain itu kepala sekolah dapat mempertimbangkan untuk memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada guru untuk mengelola tugasnya secara mandiri, sehingga guru merasa tertantang oleh pekerjaan meraka; (4) Kondisi kinerja guru di SMA Negeri 5 Malang dikategorikan cukup. Kondisi tersebut akan lebih meningkat apabila kepala sekolah dapat mempertahankan dan bahkan mampu meningkatkan hasil kerja yang telah dicapai kearah yang lebih baik di masa mendatang dengan cara memberikan motivasi (dorongan) yang lebih tinggi kepada semua guru agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan mencapai kinerja yang maksimal serta memperbaiki gaya kepemimpinan kepala sekolah yang sesuai dengan anggotanya, sehingga diharapkan jika gaya kepemimpinan kepala sekolah sudah tepat akan mengarah pada kerjasama yang lebih baik dan dapat mewujudkan tujuan sekolah; dan (5) Dalam penelitian selanjutnya agar objek yang di ambil lebih baik adalah sekolah se-Malang Raya. Dengan mengambil sampel pada sekolah se- Malang Raya maka akan memiliki keragaman yang lebih tinggi baik karakter maupun demografi pada guru.

Hubungan antara sikap terhadap film bertema percintaan di televisi dan perilaku berpacaran siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang / Yuwanita Pristiwanti

 

ABSTRAK Pristiwanti, Yuwanita. 2009. Hubungan antara Sikap terhadap Film Bertema Percintaan di Televisi dan Perilaku Berpacaran Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I). Dra. Elia Flurentin, M.Pd, (II). Drs. H. Widada, M.Si Kata kunci : sikap, perilaku berpacaran, film bertema percintaan, siswa SMK Dibalik beragam suguhan dan penayangan film yang variatif dan menarik yang disajikan televisi tidak disadari telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun orang dewasa. Tontonan atau film yang bertema percintaan dapat mendatangkan kenikmatan dan merangsang keinginan melakukan romantisme ke arah yang menyimpang. Keinginan untuk menonton atau tidak menonton tayangan film percintaan di televisi diwujudkan dalam bentuk sikap. Sikap dan perilaku mempunyai hubungan timbal balik yakni sikap merupakan prediksi dari perilaku, di mana perilaku memiliki kecenderungan selalu diawali oleh suatu sikap tertentu. Sasaran kegiatan penelitian adalah siswa kelas X dianggap subyek yang tepat karena pada usia ini sebagian besar siswa sudah memiliki pacar dan telah menonton beberapa film tentang alat reproduksi, proses kelahiran, dan aborsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) sikap siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang terhadap film bertema percintaan di televisi, (2) perilaku berpacaran siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang (3) hubungan antara sikap terhadap film bertema percintaan di televisi dan perilaku berpacaran pada siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang. Dalam penelitian ini, sampel diambil dengan menggunakan teknik Cluster Sampling, di mana jumlah jurusan pada kelas X secara keseluruhan yang ada di SMK Negeri 2 Malang diambil masing-masing 1 kelas perwakilan tiap jurusan secara acak. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa skala sikap terhadap film bertema percintaan di televisi dan skala perilaku berpacaran. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah: menentukan kelas interval, analisis persentase, dan teknik korelasi product moment. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Sikap terhadap film bertema percintaan di televisi pada siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang dikategorikan cenderung jarang menonton. Secara terperinci bahwa tidak ada (0%) responden memiliki kecenderungan sering menonton film bertema percintaan, sedikit (33,6%) responden memiliki sikap cenderung menonton, cenderung jarang menonton banyak (63,5%) dipilih oleh responden dan sangat sedikit (2,9%) reponden bersikap cenderung tidak menonton, (2) Perilaku berpacaran siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang termasuk kategori baik. Secara rinci dapat diketahui bahwa sangat sedikit (0%) responden yang memiliki perilaku sangat baik, banyak (67,6%) berperilaku pacaran yang baik, sedikit (32,4%) perilaku berpacaran cukup baik, dan sangat sedikit (0%) perilaku yang menunjukkan kurang baik, (3) Hubungan antara sikap terhadap film bertema percintaan di televisi dan perilaku berpacaran siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap film bertema percintaan di televisi dan perilaku berpacaran siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang melalui analisis korelasi product moment yang diperoleh hasil r hitung sebesar 0,356 dengan taraf signifikan p < 0.05. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran antara lain: (1) Bagi konselor hendaknya memberikan layanan bimbingan tentang pergaulan remaja yang sehat, pengetahuan tentang pergaulan lawan jenis, akibat dari seks bebas, informasi tentang manfaat dari tayangan di televisi. Memberikan informasi kepada orang tua tentang tugas perkembangan siswa yang menginjak remaja dan hal-hal yang dapat mencegah timbulnya pergaulan yang bebas (2). Kepala sekolah dapat memfasilitasi, memberi kebijakan dan dukungan kepada konselor sekolah untuk mengadakan layanan bimbingan mengenai pergaulan yang sehat, akibat pergaulan bebas dan manfaat dari sebuah tayangan televisi, (3). Orang tua dapat membimbing dan menambah wawasan pengetahuan tentang seks secara dini dengan memperhatikan tugas perkembangan anak, mendampingi anak menonton televisi dengan memberi bimbingan mengenai tayangan yang bermanfaat atau tidak bagi mereka, (4). Siswa diharapkan senantiasa mengikuti layanan bimbingan yang diadakan oleh konselor sekolah/pihak sekolah dan mampu membandingkan tayangan yang bermanfaat atau kurang memberi pengetahuan sesuai dengan perkembangan hidupnya khususnya pergaulan terhadap lawan jenis, (5). Bagi peneliti selanjutnya, dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi atau data tambahan seperti instrumen serta mengembangkan populasi atau wilayah penelitian.

Improving the ability of the second year students of MTsN Beringkanaya Makassar in writing descriptive paragraphs through questioning technique / Muhammad Saleh

 

Abstrak A preliminary study conducted at MTsN Biringkanaya Makassar showed that the ability of the second year students still far from what was expected by the curriculum. The students encountered difficulties in expressing their ideas, thought, and feeling in writing descriptive paragraphs. In arranging sentences into a paragraph, the students still made some errors in terms of content, organization, vocabulary items, and the other components of English language. To solve the problems encountered by the students, the researcher proposed one of the suitable techniques in teaching writing skill, that is, questioning technique. Questioning technique is one of the components of contextual teaching and learning (CTL) that can improve the ability of the students in writing descriptive paragraphs. It is one of the teachers` activities that can encourage and guide the students to be able to express their ideas, thoughts and feeling on a piece of paper. To arrange sentences into a paragraph, the students were given some questions to be answered. The answers of the questions became a guideline for them to arrange sentences into a paragraph. The research problem in this study was formulated as follows: How can the questioning technique improve the ability of the second year students of MTsN Biringkanaya Makassar in writing descriptive paragraphs? This study utilized a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subjects of this study were the second year students of MTsN Biringkanaya Makassar of the 2008-2009 academic year. This study was conducted in two cycles by following the procedure of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The procedures of implementing questioning technique in the teaching and learning of writing of this study were: (1) introducing a topic discussed to the students by showing a picture, (2) assisting the students to understand the topic by giving some questions based on the picture shown, (3) distributing a model of descriptive text, (4) asking the students to mention some words, phrases, related to the topic in the text given, (5) asking them to find the meaning of the words, phrases by matching the words, phrases with the appropriate picture, (6) asking the students to find the meaning of the words and phrases by matching the words and phrases in column A and column B, (7) asking the students to answer the questions given orally using the words provided in the box, (8) asking the students to complete the dialogue with their own words, (9) distributing some questions to each student, (10) asking the students to answer the questions given, (11) asking the students to arrange the answers of the questions into a paragraph, (12) asking the students to write a rough draft based on the answers of the questions, (13) assigning the students to revise the drafts focusing on the content and organization in groups and in pairs, (14) asking the students to share the writing by reading it aloud in front of the class, and (15) reflecting the teaching and learning process of writing. The findings of the study indicated that the model of questioning technique can improve the students' ability in writing descriptive paragraphs. The improvement can be seen in the increased score of the students` writing from the pre-test conducted in preliminary study and the post-test after implementing the questioning technique in Cycle 1 and the post-test after implementing the questioning technique in Cycle 2. In pre-test, the students' mean score on writing test was 52.4. In post-test 1, it was 63.1. Meanwhile, in post-test 2, the mean score became 71.2. Besides, the questioning technique also can develop the students` motivation in joining the process of writing activities in the classroom. The fact can be seen in the students` responses towards the distributed questionnaire and observation checklist. More than 75% of the students agreed that questioning technique was an interesting technique. From the findings, the following suggestions are proposed: (1) the English teachers are recommended to consider the model of questioning technique or strategy developed in this study as one of the many alternative techniques that can be used in teaching writing descriptive paragraphs for the Islamic and or junior high schools; (2) teachers should give a series of questions for the students to produce sentences by providing a suitable picture related to the topic discussed; (3) students are recommended to practice writing descriptive paragraphs with various topics outside the class hours, using questioning technique implemented in the study; (4) future researchers are recommended to conduct action research with same topics in other MTs or SMP levels.

Improving English listening skill of the second-year students at MTsN Model Amuntai through storytelling / Rahmah Fitriah

 

ABSTRACT Fitriah, Rahmah, 2009. Improving English Listening Skill of the Second-Year Students at MTsN Model Amuntai through Storytelling. Thesis, English Language Education. Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A, Ph.D. (II) A. Effendi Kadarisman, M.A, Ph.D. Key words: listening skill, storytelling technique Based on the result of preliminary study, it was found that the listening achievement of the second-year students at MTsN Model Amuntai was still unsatisfactory. Students had difficulty in terms of comprehending and finding detailed information from the text they listened. Those problems are caused by some factors. First, the teachers lack creativity to use available listening material. Second, the teachers lack varieties in teaching listening. The study is designed to improve the students’ listening skill through the use of the storytelling technique. The objective of the study is to find out how the storytelling technique can be used to improve the students’ listening skill in terms of comprehending the story and finding detailed information in the story. Employing an action research design which is based on the classroom, the researcher was assisted by the English teacher in observing the teaching and learning process. This study was conducted in two cycles. The subjects of this study were students of class VIIIF of MTsN Model Amuntai. The instruments were the listening tests, observation checklists and questionnaires. The criteria of success were determined on the basis of students’ improvement on the listening achievement and their interest in the activities during the implementation of the storytelling technique. The criteria of success were achieved when 75% of the students could get the score of more than 6. Besides, the success was also determined on the basis of students’ interest in the activity. The technique is considered successful when 75% of the students have a positive response on the implementation of storytelling technique. With the implementation of the technique, the criteria of success were successfully achieved in Cycle 2. There were 81% of the total number of the students who could get the scores of more than 6 and 80% have positive responses on the implementation of storytelling. The findings showed that the effective procedure of the storytelling technique was (1) showing a large picture (20x25 cm) to the students, (2) asking about the picture, (3) giving the students guided vocabulary related to the story, (4) practicing the pronunciation of the vocabulary, (5) asking the students to check their understanding about the story, (6) telling the story twice to make the it truly comprehensible to the students, and (7) asking the students about their opinion and feeling toward the story. It can be concluded that the storytelling technique has been proven to be able to improve the students’ listening ability in the terms of comprehending the story and finding detailed information in the story. English teachers are recommended to apply the storytelling technique in their teaching to improve students’ listening ability. Other researchers are suggested to conduct research by implementing the storytelling technique in other language skills. Material developers are recommended to develop materials by using stories for MTs students by considering the students’ specific characteristics. Finally, the school principal is suggested to provide facilities, in this case various kinds of English stories and local stories books in the library and to conduct events related with the use of stories such as storytelling competition to improve the students’ interest in stories written in English and also in the English language itself.

Perancangan desain komunikasi visual sebagai media promosi lembaga I Love Brilliant di Kota Malang / Iwan Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Iwan. 2009. Perancangan Media Promosi Lembaga I Love Brilliant Malang. Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujiyanto, M.Sn, (II) Pranti Sayekti S.Sn, M.Si. Kata Kunci: media promosi, perancangan, pra sekolah. Banyak berdirinya lebaga pendidikan pra sekolah di Malang, membuat para pemilik lembaga pendidikan untuk menyusun strategi pemasaran yang tepat dan efektif, guna menumbuhkembangkan antusiasme masyarakat terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini dengan melalui perancangan media promosi. Media promosi merupakan suatu bentuk langkah rancangan periklanan, dimana hal tersebut dapat digunakan untuk menciptakan maupun meningkatkan citra positif dari lembaga, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan keuntungan lembaga. Perancangan disini merupakan perancangan media promosi bagi Lembaga I Love Brilliant Malang. Lembaga I Love Brilliant Malang adalah lembaga pendidikan pra sekolah yang bertujuan mempersiapkan generasi yang memiliki wawasan luas yang mampu bersaing dimasa yang akan datang. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap Lembaga I Love Brilliant Malang. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi (3) kuisioner. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan hasil penyebaran kuisioner yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan komunikasi visual (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yakni (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan (3) dan tahap penyusunan laporan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media promosi Lembaga I Love Brilliant Malang sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan karakter produk beserta media yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu untuk lebih meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari Lembaga I Love Brilliant Malang. Dalam pelaksanaannya, pemasaran lembaga diharapkan bisa lebih luas jangkauanya pada khalayak umum sebagai konsumen maupun calon konsumen.

Efektivitas penggunaan bahan ajar IPA terpadu berbasis salingtemas (sain-lingkungan-teknologi-masyarakat) terhadap prestasi belajar siswa kelas VII-C SMP Negeri 4 Malang / Hairunisa

 

ABSTRAK Hairunisa. 2009. Efektivitas Penggunaan Bahan Ajar IPA Terpadu Berbasis SALINGTEMAS (Sain-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat) terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Lia Yuliati, M. Pd., (II) Drs. Agus Suyudi, M. Pd. Kata Kunci: efektivitas, bahan ajar, IPA terpadu, prestasi belajar. Berdasarkan hasil survei di lapangan bahwa buku yang sudah dikemas dalam kemasan buku paket IPA terpadu yang telah beredar di lapangan masih bervariasi ditinjau dari jenis maupun kualitasnya. Bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah yaitu IPA terpadu yang telah beredar di lapangan belum dikemas ke dalam topik/tema tertentu meskipun sudah berlabel IPA terpadu. Penyajian materi pada bahan ajar masih terpisah-pisah berdasarkan bidang-bidang kajiannya meskipun sudah disatukan dalam sebuah buku. Sebelumnya sudah ada hasil pengembangan bahan ajar IPA terpadu yang disesuaikan dengan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah dengan tema energi kalor dalam kehidupan, namun penulisan yang dilakukan baru dalam tahap pengembangan belum diimplementasikan ke lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur perbedaan dan efektivitas bahan ajar IPA terpadu berbasis salingtemas (sains-lingkungan-teknologi-masyarakat) dan bahan ajar fisika terhadap prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang dengan tema Energi Kalor dalam kehidupan. Rancangan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan Control Group Pre-test-post-test Design, bahan ajar IPA terpadu sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat. Populasi penelitian adalah siswa SMP Negeri 4 Malang kelas VII semester 1 tahun ajaran 2007/2008. Sampel penelitian ditentukan berdasarkan purposive sampling dan cluster sampling yaitu kelas VIIC sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-D sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda dengan 4 pilihan. Analisis statistik menggunakan statistik nonparametrik yaitu Mann-Whitney U Test . Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang menggunakan bahan ajar IPA terpadu dan siswa yang menggunakan bahan ajar fisika. Nilai rerata tes awal kelas ekperimen lebih baik dibandingkan dengan nilai rerata tes awal kelas kontrol. Pada tes akhir setelah diberikan perlakuan nilai rerata kelas eksperimen kurang bagus dibandingkan dengan nilai rerata kelas kontrol. Dari hasil analisis Modified gain score kelas eksperimen diperoleh nilai rerata postes sebesar 64,68, nilai rerata pretes sebesar 56,23 serta rerata Modified gain kontrol adalah 0,26. Pada kelas kotrol nilai rerata postes sebesar 65,57, nilai rerata pretes sebesar 54,32 serta rerata Modified gain score adalah 0,27.

Pengaruh penggunaan lalat buah (drosophila melanogaster) dalam pembelajaran konsep persilangan terhadap akemampuan berpikir rendah (lower-order thinking) siswa kelas III SMPN 1 arga makmur Bengkulu Utara tahun pelajaran 2003/2004 / oleh Calfin Tambunan

 

Studi perkembangan struktur histologis paru-paru tikus putih (Rattus norvegiccus) pada proses pra dan post natal, sebagai upaya mendapatkan media asli pembelajaran struktur dan perkembangan hewan oleh Ridwan Lasampe

 

Studi komparasi efek imunisasi pasif anti bZP3 (antibodi tehadap bZP3) pada tikus wistar (rattus novergicuc) dan mencit (mus musculus) / oleh Yuni Pantiwati

 

Analisis prosedur dan kebijakan pemberian kredit pada PT BPR Jwalita Trenggalek / Yustika Mandasari

 

Tujuan pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, serta merta sesuai dengan pancasila dan UUD 1945. Untuk mewujudkan pembangunan dan tata perekonomian tersebut, perlu ditingkatkan segala potensi dan kreasi masyarakat sesuai dengan perekonomian negara kita. Salah satu potensi yang perlu ditingkatkan adalah bidang perbankan. Seiring dengan kehidupan ekonomi dan perdagangan yang semakin berkembang, bank mempunyai peranan penting dalam melaksanakan distribusi, karena bertindak sebagai perantara antara peminjam dan pemberi pinjaman. Bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima tabungan, deposito berjangka dan kredit, kemudian bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang bagi masyarakat yang membutuhkan uang (Kasmir, 2002:23). Dari pendapat diatas dapat dilihat bahwa bank sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki fungsi utama sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat. Bank menyalurkan dana pada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk kredit. Kredit dapat berupa uang atau tagihan yang dapat di ukur dengan uang (Kasmir, 2002:92). Dari pendapat tersebut diatas dapat diketahui bahwa salah satu sumber penghasilan bank merupakan sumber penghasilan utama yang berasal dari bunga atas kredit diberikan kepada masyarakat sebagi pihak debitur. Berkaitan dengan aktivitas tersebut, bank menghadapi resiko yang cukup besar yaitu tidak sanggupnya debitur membayar pinjaman pokok dan bunga pada saat jatuh tempo. Inilah yang dikenal dengan tunggakan kredit, untuk mengantisipasi hal tersebut bank perlu mempertimbangkan beberapa faktor dalam mengevaluasi pemberian kredit pada debitur antara lain mengenai prinsip-prinsip perkreditan yang dikenal dengan 5C ( The Five C’s Of the bank). Adapun 5C tersebut antara lain : 1. Karakter 2. Kapasitas 3. Modal 4. Jaminan 5. Kondisi ekonomi Hal lain yang merupakan hal penting untuk mengantisipasi resiko kredit adalah diperlukan adanya suatu kebijakan dalam pemberian kredit. Kebijakan kredit tersebut harus secara tertulis karena hanya dengan demikianlah kebijakan itu dapat dipahami dengan jelas dan seragam oleh pejabat bank yang memberikan atau mengesahkan kredit tersebut. Dalam menyusun kebijakan pemberian kredit bank harus memenuhi ketentuan dari Bank Indonesia karena mengingat besarnya resiko yang akan dihadapi oleh bank. Dengan menyadari banyaknya permasalahan dan resiko yang dapat terjadi dalam pemberian kredit, maka sangat diperlukan suatu alat pengawas yang memadai bagi jalannya pengelolaan pemberian kredit dalam suatu bank. Alat pengawas tersebut dikenal dengan Struktur Pengendalian Intern menurut Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).

Analisis penerapan sistem ABD (Activity Based Costing) sebagai dasar penentu strategi harga gula pada pabrik gula Lestari Kertosono, Nganjuk / Ria Asmara Hadi

 

ABSTRAK Hadi.Ria Asmara.2009. Analisis Penerapan Sistem ABC (ACTIVITY BASED COSTING) sebagai dasar penentu strategi harga gula pada Pabrik Gula Lestari. Kertosono, Nganjuk Tugas Akhir, D III Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Ekonomi. Pembimbing Drs. Cipto Wardoyo.S.E,M.Pd,M.Si.Ak Kata Kunci : Sistem ABC, “konvensional”, Harga Pokok Dalam rangka menghadapi persaingan usaha yang semakin tajam diperlukan pengambilan strategi-strategi yang benar. Pengambilan keputusan yang salah akan membuat perusahaan kehilangan kesempatan untuk meraih keberhasilan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi harga. Agar penggunaan strategi harga ini efektif, tentu perusahaan harus memiliki informasi yang akurat tentang elemen-elemen yang membentuk harga tersebut. Dengan demikian perusahaan akan bisa dengan akurat memilah-milah mana biaya yang dapat dibebankan dan mana yang tidak ke biaya produksi dan pada gilirannya akan membentuk harga yang tepat. Sistem ABC sebagai suatu metode pembiayaan yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer perusahaan diharapkan dapat membantu manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan yang stratejik. Sistem ABC menjadi lebih akurat karena membebankan biaya-biaya produksi ke produk melalui aktivitas-aktivitas yang menyerap sumber daya. Pabrik Gula Lestari sebagai obyek penelitian adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri tebu yang memproduksi gula dan tetes. Penetapan beban biaya produksi yang dianut perusahaan saat ini masih kurang akurat karena pembebanan dilakukan hanya berdasarkan pemakaian jam orang. Selain itu biaya yang dibebankan secara langsung ke produk hanya biaya produksi baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan biaya administrasi dan penjualan hanya dibebankan secara periodik dan dianggap sebagai beban usaha. Melihat kondisi ini penulis mencoba untuk menghitung biaya produksi dengan metode ABC. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan perusahaan saat ini, dapat disimpulkan biaya produksi beberapa produk overcosting ataupun undercosting bila dihitung dengan metode ABC. Hasil perhitungan dengan metode ABC ini dapat digunakan perusahaan untuk mengambil keputusan-keputusan stratejik dan sebagai pedoman dalam menetapkan harga jual produk. Dalam penentuan harga pokok produk, sistem akuntansi biaya “konvensional” kurang sesuai lagi untuk diterapkan di era tekhnologi yang modern seperti saat ini. Karena sistem ini mempunyai beberapa kelemahan. Diantaranya adalah memberikan informasi biaya yang terdistorsi (Hansen & Mowen, 2005). Adanya berbagai kelemahan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan metode Activity Based Costing.Activity-Based Costing adalah metode penentuan harga pokok yang menelusuri biaya ke aktivitas, kemudian ke produk. Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara akuntansi biaya “konvensional” dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya)

Penerapan patchwork pada bahan katun untuk busana pesta / Indatuz Zuhroh

 

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, perkembangan mode busana juga mengalami perkembangan dan kemajuan, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Perubahan mode busana didalam negeri banyak dipengaruhi oleh mode busana dari luar negeri hal ini karena banyaknya mode-mode busana luar negeri yang masuk kedalam negeri. Bukan hanya mode busana, seni kerajinannya juga (Muhammad Reza:2008, diakses 11 Mei 2009). Terdapat bermacam-macam seni kerajinan dari luar negeri yang masuk ke Indonesia, salah satunya adalah seni kerajinan patchwork. Patchwork adalah suatu pekerjaan menambal atau menggabungkan sisa potongan kain dengan cara menjahit (Radiani dan Santosa, 2009:8). Pada zaman dahulu wanita-wanita timur tengah sudah membuat patchwork dengan menggunakan bahan-bahan bekas atau pakaian yang tidak terpakai untuk menghasilkan berbagai macam kebutuhan sandang. Seni kerajinan ini pada awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari timur tengah ke negara cina dan jepang, yang awal mulanya mereka hanya berdagang saja. Karena dalam perjalanannya mereka melewati musim dingin, maka pedagang tersebut membawa selimut tebal yang terbuat dari bahan-bahan bekas dengan disambungsambung sehingga membentuk selimut yang tebal dan indah berupa patchwork. Sehingga pada akhirnya banyak pedagang yang berminat untuk membeli selimut tadi. Pedagang yang lain juga membawa produk patchwork ini ke negara-negara di Eropa. Di Amerika Serikat patchwork mulai berkembang, tekstil juga mengalami perkembangan sehingga patchwork tidak menggunakan bahan bekas melainkan dari sisa bahan pembuatan pakaian atau dari bahan yang khusus dibeli untuk memproduksi patchwork. Tjahjadi (2007) mengemukakan bahwa kerajinan patchwork banyak diminati oleh para wanita. Terutama jika dikembangkan menjadi tas dan lenan rumah tangga. Selain sebagai hobi, seni kerajinan ini dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, dan jika ditekuni bisa menjadi kreasi yang bisa dijual dengan pelatihan kursus. Selama ini patchwork lebih sering diterapkan pada lenan rumah tangga saja, dibandingkan pada busana. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk menampilkan penerapan patchwork pada busana. Pada tugas akhir ini penulis akan menerapkan patchwork pada bahan dasar katun untuk busana pesta yaitu busana yang dikenakan pada saat tertentu dengan memperhatikan aturan yang sesuai (aturan pemakaiannya, pagi atau malam). Busana pesta yang dibuat kali ini adalah dengan model garis leher bagian depan dan belakang terbuka seperti huruf V dan menggunakan lengan setali. Bahan yang digunakan adalah bahan katun polos, untuk menonjolkan motif patchwork pada busana pesta ini penulis memakai warna bahan yang berbeda-beda atau lebih dari satu warna agar motif patchwork bisa terlihat dari jauh, disamping itu pada bagian depan dan belakang tengah gaun diberi hiasan payet agar gaun terlihat mewah dan indah.

Pelaksanaan strategi diferensiasi (kajian kelebihan, kekurangan dan solusi) pada Departemen Bakery Divisi Fresh Giant Hypermarket Gajayana Malang / Meilani Fitriana

 

Strategi adalah suatu kesatuan rencana perusahaan yang menyeluruh untuk mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang. Strategi yang harus digunakan oleh perusahaan agar produk yang dipasarkan lebih menarik dan berbeda adalah dengan diferensiasi produk atau biasa disebut sebagai memodifikasi produk. Diferensiasi produk adalah suatu usaha untuk mengembangkan produk yang ada baik produk tersebut produk lama maupun produk baru yang belum dikenal dipasaran guna mengembangkan positioning yang tepat sesuai keinginan konsumen potensial yang ingin dituju, tingkat penjualan serta keuntungan perusahaan. Tujuan dilakukannya diferensiasi produk adalah untuk meningkatkan keuntungan dengan cara melakukan mengeluarkan lini produk baru agar dapat menghasilkan laba yang maksimal serta meminimaliskan resiko kerugian dari produk yang terdahulu yang mengalami penurunan. Dalam penyusunan tugas akhir yang dimulai dari PKL penulis berusaha untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan strategi diferensiasi di Departemen Bakery Giant Gajayana Malang, Strategi manakah yang banyak diterapkan oleh Departemen Bakery serta faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat pelaksanaan strategi diferensiasi tersebut. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa Departemen Bakery melaksanakan dua dari semua elemen diferensiasi yaitu produk, jasa, pelayanan, saluran dan citra. Dimana strategi yang paling efektif dan sering digunakan adalah strategi diferensiasi produk dan pelayanan. Dari hasil pengamatan di Departemen Bakery Giant Gajayana Malang dapat dijelaskan bahwa strategi diferensiasi yang diterapkan sudah efektif karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan, sehingga tujuan dari penggunaan strategi itu dapat dicapai. Saran yang penulis ingin sampaikan pada Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang, diantaranya Departemen Bakery hendaknya meningkatkan kualitas produk yang ada didepartemen bakery agar para pelanggan tidak kecewa pada produk-produk yang tersedia di giant Hypermarket Gajayana Malang serta terus menciptakan ide-ide unik baru dalam pelaksanaan diferensiasi produk agar produk-produknya bisa mngambil hati para konsumennya

Pelaksanaan strategi periklanan, promosi penjualan, dan personal selling pada (BMT) Baitul maal wat Tamwil Perdana Surya Utama Malang / Satriaji Gilang Pradana

 

Promosi penjualan dan periklanan sangat penting bagi perusahaan dan bank. Promosi penjualan terdiri dari kumpulan kiat intensif yang beragam, kebanyakan berjangka pendek, dirancang untuk mendorong pembelian suatu produk atau jasa tertentu secara secara lebih cepat dan/atau lebih besar oleh konsumen atau pedagang (Kotler, 2000:681). Dengan adanya periklanan dan promosi penjualan maka suatu produk dari perusahaan akan dapat dimengerti oleh konsumen yang nantinya bias menimbulkan permintaan ataupun pembelian dari produk tersebut. Pelaksanaan praktikum ini dilakukan di kantor pusat BMT PSU Jl. Soekarno Hatta 11 Malang dan Juga di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Sumber sari Jl. Raya Sumbersari 254 C Malang, tanggal 4 sampai 27 februari 2009. Kegiatan praktikum sendiri dilakukan di pasar dinoyo Malang disamping juga mengumpulkan informasi melalui pengumpulan data dokumentasi, wawancara, dan kuisioner. Diharapkan pelaksanaan praktikum ini dapat ditemukan pelaksanaan strategi periklanan, promosi penjualan, dan personal selling. Penelitian pada BMT Perdana Surya Utama Malang ini mempunyai beberapa masalah antara lain: (a) bagaimanakah pelaksanaan strategi periklanan yang dilakukan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang, dan (b) bagaimanakah pelaksanaan strategi promosi yang dilakukan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang, (c) bagaimanakah pelaksanaan strategi personal selling yang dilakukan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang, (d) Bagaimanakah pendukung dan penghambat strategi periklanan, promosi penjualan, dan personal selling pada BMT Perdana Surya Utama Malang. Dari masalah tersebut, dapat diperoleh tujuan penelitian antara lain: (a) untuk mengetahui pelaksanaan strategi periklanan yang dilakukan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang, (b) untuk mengetahui pelaksanaan strategi promosipenjualan yang dilakukan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang, (c) Pelaksanaan strategi personal selling yang digunakan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang, (d) Pendidiskripsian faktor pendukung dan penghambat strategi periklanan, promosi penjualan, dan personal selling pada BMT Perdana Surya Utama Malang. Strategi periklanan yang diselenggarakan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang adalah melalui media elektronik, yaitu melalui radio RRI dan Mars FM. Melalui media cetak yaitu Koran (Radar Malang). Selain itu, periklanan juga dilaksanakan melalui media brosur, spanduk, dan umbul-umbul, serta melalui kalender. Sedangkan strategipromosi penjualan dilakukan oleh BMT Perdana Surya Utama Malang adalah dengan cara sistem bagi hasil, system jual beli dengan Mark-Up (keuntungan), system non profit, dan pemberian hadia langsung. Agar strategi periklanan, promosi penjualan, dan personal selling berjalan dengan baik, maka disarankan agar BMT Perdana Surya Utama Malang sebaiknya melakukan kegiatan periklanan dan promosi penjualan dengan tepat agar tidak kalah dengan bank-bank pesaing. Cara yang dilakukan antara lain melakukan periklanan tepat sasaran, menyediakan dana khusus untuk periklanan dan menyampaikan iklan dengan jelas kepada konsumen sasaran.

Penerapan sistem saluran distribusi pada Persada Swalayan Malang / Siti Nofiana

 

ABSTRAK Nofiana, Siti. 2009. Penerapan Strategi saluran distribusi pada Persada Swalayan. Tugas Akhir, jurusan D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Titis Shinta Dewi, S.P , M.M Kata Kunci : Strategi, Saluran Distribusi. Dalam memasarkan suatu produk tidaklah mudah. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk memasarkan produknya. Strategi pemasaran memiliki peranan penting dalam mencapai tujuan dari perusahaan. Diantara aspek-aspek pemasaran yang ada, distribusi memiliki peranan yang tidak kalah penting dari aspek-aspek yang lain. Ini terutama pada perusahaan-perusahaan retail seperti mini market dan swalayan, karena barang-barang yang dijual oleh swalayan harus selalu ada agar konsumen mudah mencarinya. Dari penjelasan di atas, maka tujuan penulisan tugas akhir ini adalah : (1).Untuk mengetahui penerapan sistem saluran distribusi pada persada swalayan. (2).Untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi saluran distribusi pada persada swalayan. (3).Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat saluran distribusi pada persada swalayan Dalam penyelesaian tugas akhir ini dilakukan Praktek Kerja Lapangan di Persada swalayan. Persada swalayan berdiri pada tanggal 26 November 2004 dan berada di JL. M T. Haryono no. 11 Dinoyo, Malang. Persada swalayan memiliki 50 karyawan dengan 9 orang karyawan tetap dan 41 orang karyawan. Kegiatan PKL yang dilakukan penulis dilaksanakan pada tanggal 19 Januari sampai 19 Februari. Selama melakukan PKL selain melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi adapun kegiatannya antara lain : Membendit, Mendisplay, melayani konsumen dan lain-lain. Dari kegiatan PKL ini dapat dijelaskan bahwa : (1) tipe saluran distribusi pada Persada swalayan mengikuti pola berikut : Produsen – Pengecer - Konsumen, Produsen - pedagang Besar - Pengecer - Konsumen. Produsen - Agen - Pengecer - Konsumen. (2). Faktor yang mempengaruhi saluran distribusi pada persada swalayan adalah : karakteristik pelanggan, karakteristik produk dan karakteristik perantara. (3). faktor pendukung dan penghambat saluran distribusi pada persada swalayan. adapun faktor pendukung saluran distribusi pada persada swalayan yaitu: letak Persada yang berada di pinggir jalan raya, persada swalayan memiliki gudang yang cukup luas dan persada memiliki alat distribusi sendiri. Sedangkan faktor penghambat saluran distribusi pada persada swalayan meliputi : banyak distributor yang lambat dalam pengiriman barang dan kurangnya tenaga penjualan. Dari penjelasan di atas dapat diberikan saran sebagai berikut : (1). Dalam keterlambatan order barang, sebaiknya persada swalayan menghubungi distributor agar barangnya segera dikirim. (2).sebaiknya persada swalayan menambah tenaga penjualannya. (3). Sebaiknya persada swalayan mengadakan perjanjian tertulis guna mengantisipasi jika terjadi keterlambatan pengiriman.

Keefektifan penggunaan metoda pembelajaran inkuiri terbuka dan inkuiri terbimbing dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar kimia siswa kelas X SMA Laboratorium Malang / Oktavia Sulistina

 

ABSTRAK Sulistina, Oktavia. 2009. Keefektifan Penggunaan Metoda Pembelajaran Inkuiri Terbuka dan Inkuiri Terbimbing dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Kimia Siswa SMA Laboratorium Malang Kelas X. Tesis. Program Studi Pendidikan Kimia. Program Pascasarjana Univesitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., (2) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D. Kata kunci: metoda inkuiri, hasil belajar, proses pembelajaran Penelitian ini mengkaji keefektifan metoda pembelajaran inkuiri terbuka, inkuiri terbimbing, dan konvensional dalam usaha peningkatan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar kimia siswa SMA. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan kualitas proses pembelajaran antar kelompok siswa; dan (2) menganalisis perbedaan keefektifan metoda pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar kimia antar kelompok siswa Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dan deskriptif. Rancangan eksperimen semu menggunakan desain pre-tes dan pos-tes dengan kelompok-kelompok yang diacak, bertujuan untuk melihat perbedaan keefektifan masing-masing metoda pembelajaran yang digunakan. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan proses pembelajaran yang berlangsung. Populasi dan sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Laboratorium Malang. Kelompok eksperimen mendapat pembelajaran dengan metoda inkuiri terbuka, inkuiri terbimbing, dan kelompok kontrol dengan metoda konvensional (ceramah-praktikum). Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Sesuai tujuan penelitian, teknik analisa data yang digunakan adalah teknik anava satu jalur dan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kualitas proses pembelajaran menggunakan metoda inkuiri terbuka dan metoda inkuiri terbimbing, telah memungkinkan terjadinya peningkatan konstruksi pengetahuan dan keterampilan proses serta sikap sains siswa berlangsung dengan kategori baik; dan Kualitas proses pembelajaran menggunakan metoda konvensional, dimana siswa memperoleh pengetahuan melalui metoda ceramah-praktikum berlangsung dengan kategori baik; (2) Terdapat perbedaan keefektifan yang signifikan antara kelompok yang dibelajarkan dengan metoda pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok konvensional, kelompok inkuiri terbuka dengan kelompok konvensional, dan kelompok inkuiri terbimbing dengan kelompok inkuiri terbuka. Keefektifan metoda pembelajaran tersebut dapat dilihat dari rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa. Metoda pembelajaran inkuiri terbimbing efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, dapat dilihat dari rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa yang tinggi yaitu berturut-turut 72,16; 79, 69; dan 80,58. Metoda inkuiri terbuka efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa yang tinggi yaitu berturut-turut 63,39; 80,25; dan 81,43. Berbeda dengan metoda konvensional yang kurang efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, di mana rerata pencapaian hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa berturut-turut 54,14; 70,42; dan 78,65. ABSTRACT Sulistina, Oktavia. 2009. Effectiveness the Uses of Free Inquiry and Guided Inquiry Learning Methods to Improve the Quality of Chemistry Student’s Learning Process and Results of Year 10th Classes Laboratorium Malang Senior High School. Thesis. Chemistry Education Study Program in Graduate Program of State University of Malang. Counsellor : (1) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., (2) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D. Key words: inquiry method, learning results, learning process. This study explored the effectiveness of free inquiry, guided inquiry, and conventional learning methods in promoting quality learning process and results learning of chemistry senior high school students. The aim of this research was to: (1) describe the quality of learning process between the students group; and (2) analyze the difference of effectiveness learning methods in promoting results learning of chemistry between the students group. The designs of the research are quasy-experiment and descriptive. The quasy-experiment method which used pretest and posttest with random groups, to explore the effectiveness differences of the learning methods were used. The descriptive method was to describe the process of learning. The research population and samples were students of year 10th classes Laboratorium Malang Senior High School. The experimental groups conducted their study with methods of free inquiry and guided inquiry, and respectively the control group conducted their study with a conventional method. The instrumental research were an treatment instrument and measurement instruments. Data analysis techniques which were used one way anova and descriptive technical. The Results: (1) The quality of learning process of free inquiry and guided inquiry groups had increased knowledge construction, skill process, and attitude science, had good category; The quality of learning process of conventional groups, where the student got knowledge from conventional method, had good category; (2) There were significant differences of the learning results between groups of free inquiry to conventional, between groups of guided inquiry to conventional, and between groups of free inquiry to guided inquiry. The effectiveness of learning methods in promoting learning results can be seen from the mean scores of cognitive, psychomotor, and affective assessment results. The cognitive, psychomotor and affective learning results of free inquiry and guided inquiry groups were high. The mean scores of psychomotor and affective learning results of free inquiry groups were 63,39; 80,25; and 81,43 and guided inquiry were 72,16; 79,69; and 80,58. The mean scores of cognitive, psychomotor and affective learning results of conventional groups were 54,14; 70,42; and 78,65. It was means that conventional method not effective to improve results learning.

Analisis pemahaman konseptual dan algoritmik materi stoikiometri gas melalui tes pilihan ganda dan tes esai pada siswa kelas X Madrasah Aliyah Al Khairaat Totitoli serta upaya perbaikannya melalui pendekatan mikroskopis-simbolik / Dyah Metianing

 

ABSTRAK Metianing, Dyah. 2009. Analisis Pemahaman Konseptual dan Algoritmik Materi Stoikiometri Gas Melalui Tes Pilihan Ganda dan Tes Essay pada Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Al Khairaat Tolitoli Serta Upaya Perbaikannya Menggunakan Pendekatan Mikroskopis-Simbolik. Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Effendy, M.Pd., Ph.D., (II) I Wayan Dasna., M.Si., M.Ed, Ph.D Kata kunci: pemahaman, konseptual, algoritmik, tes pilihan ganda, tes esai Konsep kimia tersaji dalam tiga kategori representasi, yaitu makroskopis, mikroskopis, dan simbolik. Dari ketiga tingkatan tersebut, hanya tingkat makroskopis saja yang dapat diinderai. Sebagian besar materi kimia yang diajarkan di sekolah tersaji dalam tingkatan simbolik. Siswa yang pemahamannya masih bersandar pada pengalaman panca indera cenderung mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia yang tersaji pada tingkatan mikroskopis dan simbolik, sehingga rawan terjadi kesalahan pemahaman. Pemahaman tentang konsep kimia dibedakan atas pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik. Pemahaman konseptual merupakan dasar bagi pemahaman algoritmik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konseptual siswa cenderung tertinggal dibandingkan pemahaman algoritmiknya. Banyak siswa dapat memecahkan masalah algoritmik tanpa memahami konsep dasarnya. Perbaikan pemahaman konseptual siswa menggunakan pendekatan mikroskois-simbolik akan membuat pemahaman siswa pada konsep kimia menjadi utuh, yaitu siswa mampu memahami konsep kimia secara konseptual maupun algoritmik. Tingkat pemahaman konseptual dan algoritmik siswa dapat dianalisis melalui tes dengan berbagai bentuk, diantaranya adalah bentuk pilihan ganda dan esai. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat pemahaman konseptual dan algoritmik siswa pada materi stoikiometri gas; (2) mengetahui bentuk kesalahan pemahaman yang dialami siswa pada materi stoikiometri gas; (3) mengetahui keefektifan pendekatan mikroskopis-simbolik sebagai upaya memperbaiki pemahaman siswa pada materi stoikiometri gas; dan (4) mengetahui keefektifan tes pilihan ganda dibandingkan dengan tes esai untuk menganalisis pemahaman siswa pada materi stoikiometri gas. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan rancangan eksperimental semu. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman konseptual dan algoritmik siswa pada materi stoikiometri gas, bentuk kesalahan pemahaman yang dialami siswa pada materi stoikiometri gas, dan keefektifan tes pilihan ganda dibandingkan dengan tes esai dalam mengidentifikasi pemahaman siswa pada materi stoikiometri gas. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui keefektifan pendekatan mikroskopis-simbolik sebagai upaya memperbaiki pemahaman siswa pada materi stoikiometri gas. Subyek penelitian adalah siswa kelas X Madrasah Aliyah Al Khairaat Tolitoli tahun ajaran 2006/2007 yang terdiri dari dua kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen yang masing-masing terdiri dari 40 siswa. Pada kelas eksperimen diberikan perbaikan pemahaman materi stoikiometri gas dengan menggunakan pendekatan mikroskopis-simbolik, sedangkan pada kelas kontrol diberikan perbaikan pemahaman materi stoikiometri gas dengan menggunakan pendekatan simbolik. Pemahaman siswa diukur dengan tes pilihan ganda yang terdiri dari 24 item dan tes esai yang terdiri dari 16 item. Dari uji coba instrumen tes diketahui reliabilitas tes, dihitung dengan model Alpha Cronbach SPSS 12.0 for Windows adalah 0.85 untuk tes pilihan ganda dan 0.85 untuk tes essay, serta validitas isi adalah 89.6% untuk tes pilihan ganda dan 96.9% untuk tes essay. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan uji statistik anakova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat pemahaman konseptual dan algoritmik siswa pada materi stoikiometri gas tergolong sangat rendah. Pemahaman konseptual siswa cenderung tertinggal dibandingkan pemahaman algoritmiknya; (2) Kesalahan pemahaman yang terjadi pada siswa pada materi stoikiometri gas adalah: (a) siswa beranggapan bahwa penentuan volume, jumlah partikel, dan jumlah mol gas sebelum dan sesudah reaksi adalah dengan cara menghitung banyaknya jenis gas sebelum dan sesudah reaksi, tidak dengan perbandingan koefisien reaksi; (b) siswa beranggapan bahwa volume, jumlah partikel, dan jumlah mol gas-gas yang terlibat dalam suatu reaksi selalu sama; (c) siswa beranggapan bahwa volume dan jumlah partikel gas sebelum dan sesudah reaksi selalu tetap; (d) siswa beranggapan bahwa yang menjadi pereaksi pembatas adalah zat yang mempunyai jumlah molekul lebih sedikit, tanpa memperhatikan koefisien reaksi; (e) siswa beranggapan bahwa yang menjadi pereaksi pembatas adalah zat yang mempunyai koefisien reaksi lebih kecil, tanpa memperhatikan jumlah mol awal pereaksi; (3) Pendekatan mikroskopis-simbolik lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan simbolik dalam upaya memperbaiki pemahaman siswa pada materi stoikiometri gas; (4) Tes essay lebih tepat digunakan untuk mengidentifikasi pemahaman siswa pada materi stoikiometri gas dibandingkan tes pilihan ganda ABSTRAC Metianing, Dyah. 2009. Analisys of Conceptual and Algorithmic Understanding in Stoichiometry of Gas through Multiple Choice and Essay Tests for Tenth Grade Students of Al Khairaat Islamic Senior High School Tolitoli and The Effort to Correct them Using Microscopic-Symbolic Approach. Thesis, Chemistry Education Department, Faculty of Graduate Study, State University of Malang. Supervisors:(I) Prof. H. Effendy, M.Pd., Ph.D., (II) I Wayan Dasna., M.Si., M.Ed, Ph.D Key words: conceptual, algorithmic, understanding, multiple choice and essay tests The chemistry concepts are delivered in three categories of representations, namely macroscopic, microscopic, and symbolic where only macroscopic level that can be sensed. Most of the chemistry concepts taught at school are represented in symbolic level. Students lying on their sensory experiences tend to be difficult in understanding the chemistry concepts which delivered in microscopic and symbolic level. This tends to induce misunderstanding. Understanding the chemistry concepts divided into two categories: conceptual and algorithmic. Conceptual understanding is the basic of algorithmic one. Many research findings reported that conceptual understanding behind the algorithmic one. Many students are able to solve algorithmic problem without understanding its concept. Correction of students’ conceptual understanding using microscopic-symbolic approach will make students’ understand chemistry concepts completely. In this case students understand chemical concepts, conceptually and algorithmically. Students’ understanding of chemistry concepts may be measured using many forms of test. Two of them are multiple choice and essay tests. The objectives of this research are: (1) to know the level of students’ conceptual and algorithmic understanding in stoichiometry of gas; (2) to know the misunderstanding that students have in stoichiometry of gas, (3) to know the effectiveness of microscopic-symbolic approach as an effort to correct students’ misunderstanding in stoichiometry of gas; and (4) to know the effectiveness of multiple choice test compared to essay test in measuring students understanding in stoichiometry of gas. This research applied descriptive and quasi-experimental designs. Descriptive design was applied to know the level of students’ conceptual and algorithmic understanding in stoichiometry of gas, the misunderstanding that students have in stoichiometry of gas, and the effectiveness of multiple choice test compared to essay test in identifying students understanding in stoichiometry of gas. Quasi-experimental design was applied to know the effectiveness of microscopic-symbolic approach as an effort to correct students’ misunderstanding in stoichiometry of gas. The subject of this research was tenth grade students of Al Khairaat Islamic Senior High School Tolitoli in the academic year of 2006/2007 which consists of two classes with 40 students for each class. Students in experimental class were subjected to correction of understanding in stoichiometry of gas using microscopic-symbolic approach while students in the control class were subjected to correction of understanding using symbolic approach. Students’ understanding of stoichiometry of gas was measured by multiple choice test which consists of 24 items and essay test which consists of 16 items. Trying out of the tests indicated that the reliability of test, calculated with Alpha Cronbach SPSS 12.0 version for Windows, is 0.85 for multiple choice test and 0.85 for essay test. The content validity is 89.6% for multiple choice test and 96.6% for essay test. The results of the research shown that: (1) the level of students’ conceptual and algorithmic understanding in stoichiometry of gas were very low. The conceptual understanding behinds the algorithmic one; (2) the misunderstanding that students had in stoichiometry gas were: (a) students regarded that volume, particles, and moles of gases before and after reaction are determined by calculating the total kinds of gas before and after reaction, not by comparing the coefficient of reaction; (b) students regarded that volume, particles, and moles of gases on the chemical reaction always same; (c) students regarded that volume, particles, and moles gas before and after reaction always constant; (d) students regarded that the substance which was become the limited reactant was the substance which had lower molecules, without focusing on coefficient of reaction; (e) students regarded that the substance which was become the limited reactant was the substance which had smaller coefficient reaction, without focusing on the first moles total of the reaction; (3) microscopic-symbolic approach more effective compared to symbolic approach in correcting of students’ understanding about stoichiometry of gas; (4) essay test is more appropriate for identifying students’ understanding about stoichiometry of gas than the multiple choice test.

Inventarisasi dan pola penyebaran jenis-jenis rotan dihutan produksi pantai barat Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah oleh Udding

 

Pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi makanan tradisional kofo-kofo berdasarkan jumlah total koloni kapang sebagai sarana penunjang materi praktikum mikrobiologi pangan / Kulian Duha

 

ABSTRAK Kulian Duha, 2009. Pengaruh Lama Waktu Pengasapan dan Penyimpanan terhadap Kualitas Mikrobiologi MakananTradisional Kofo-kofo sebagai Sarana Penunjang Materi Praktikum Mikrobiologi Pangan. Jurusan Pendidikan Biologi. Program Pasacasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Dr. agr. Mohamad Amin,S.Pd, M.Si. Kata kunci: kapang, kofo-kofo, kualitas mikrobiologi, daya awet, lama waktu pengasapan, lama waktu penyimpanan. Makanan tradsional kofo-kofo merupakan salah satu produk olahan ikan yang berasal dari Nias Selatan yang digemari oleh masyarakat di sana. Hal ini disebabkan karena rasanya lezat, di samping itu ikan sebagai bahan baku utama dan pisang sebagai bahan perekat mudah diperoleh di wilayah Nias Selatan, sehingga mendukung usaha para pengerajin dalam memproduksi makanan tradisional kofo-kofo. Ikan tongkol (Scomber australisicus) dan pisang kepok (Musa balbisiana), merupakan salah satu jenis ikan dan pisang yang dapat digunakan untuk pembuatan makanan tradisonal kofo-kofo. Berdasarkan hasil observasi di lapangan makanan tradisional kófó-kófó dapat dijadikan sebagai makanan simpanan dengan waktu relatif cukup lama yang disertai dengan pengasapan. Pengasapan merupakan usaha mencegah kerusakan pada makanan tradisional kofo-kofo selama masa penyimpanan, karena ikan dan pisang sebagai bahan baku cepat mengalami kerusakan. Kerusakan makanan dapat disebabkan oleh kapang kontaminan, dan akibatnya nilai gizi dan mutu makanan tradisional kofo-kofo cepat mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk, (1) untuk mengetahui perbedaan pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan terhadap daya awet makanan tradisional kofo-kofo berdasarkan hasil uji organoleptik, (2) untuk mengetahui perbedaan pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi makanan tradisional kofo-kofo berdasarkan jumlah total koloni kapang, (3) untuk mengetahui spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada makanan tradisional kofo-kofo, dan (4) untuk mengetahui kelayakan penyusunan dan pengembangan materi penuntun praktikum pengasapan dan penyimpanan makanan tradisional kofo-kofo sebagai materi praktikum Mikrobiologi Pangan. Penelitian ini adalah penelitian korelasional dan penelitian pengembangan. Penelitian korelasional, menggunakan pendekatan eksperi-men untuk melihat pengaruh lama pengasapan dan penyimpanan makanan tradisional kofo-kofo terhadap kualitas mikrobiologi berdasarkan jumlah total koloni kapang, nilai organoleptik dan daya awet; sedangkan penelitian pengembangan menggunakan pendekatan deskriptif development yang bertujuan untuk melihat kelayakan materi pengasapan dan penyimpanan makanan tradisional kofo-kofo sebagai materi praktikum matakuliah Mikrobiologi Pangan. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2x3, yaitu lama pengasapan 1 jam dan 2 jam, serta lama penyimpanan 1 hari, 2 hari dan 3 hari. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisi dengan menggunakan Analisis Varians berganda dan Uji Lanjut Tukey pada taraf signifikan 5%. Sampel kofo-kofo sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam larutan air pepton 0,1%, lalu dilakukan pengenceran sampai tahap pengenceran 10-6. Selanjutnya masing-masing suspensi pada tahap pengenceran 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6 diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar sebanyak 0,1 ml, lalu diinkubasikan pada suhu 250 C selama 7x24 jam. Kemudian dilakukan penghitungan jumlah total koloni kapang dan jumlah koloni tiap spesies kapang untuk menentukan spesies kapang kontaminan yang paling dominan. Selanjutnya dilakukan analisis pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan kofo-kofo terhadap kualitas mikrobiologi berdasarkan jumlah total koloni kapang yang dirujukkan pada ketentuan kelayakan konsumsi menurut DIRJEN POM. Kemudian dilakukan analisis pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan kofo-kofo berdasarkan hasil uji organoleptik dengan 17 orang responden. Hasil Penelitian ini menunjukan: (1) tidak terdapat perbedaan pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan terhadap daya awet makanan tradisional kofo-kofo berdasarkan hasil uji organoleptik; adapun hasil Uji Tukey pada taraf sigifikan 5% menunjukan kecenderungan panelis untuk memilih berdasarkan kesukaan mereka, yaitu yang mendapat nilai tertinggi ialah kofo-kofo yang berwarna coklat, tekstur padat, kompak, dan kering, aroma harum, serta rasa enak. (2) terdapat perbedaan pengaruh lama waktu pengasapan dan penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi makanan tradisional kofo-kofo; lama waktu pengasapan terbaik ialah 2 jam dan lama waktu penyimpanan terbaik ialah selama 1 hari ditinjau berdasarkan batas jumlah total koloni kapang maksimum yang diizinkan oleh DIRJEN POM, yaitu maksimum 105 cfu/gram sampel. (3) terdapat satu spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada makanan tradisional kofo-kofo, yaitu Aspergillus niger Van Tieghem dengan jumlah koloni 2,60x106 cfu/gram sampel. (4) materi praktikum pengasapan dan penyimpanan makanan tradisional kofo-kofo layak digunakan sebagai materi praktikum matakuliah Mikrobiologi Pangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pembelajaran pada matakuliah Mikrobiologi Pangan dan masukan bagi para pengrajin makanan tradisional kofo-kofo khususnya, jika dalam membuat makanan tradisional kofo-kofo sebaiknya menggunakan lama pengasapan 2 jam dan lama penyimpanan maksimum 1 hari karena memenuhi syarat konsumsi berdasarkan kententuan Dirjen POM 1989. ABSTRACT Kulian Duha, 2009. The Effect of Curing and Storage toward Microbiological Quality of Kofo-kofo a Traditional Food as Supporting Practical Matery of Food Microbiology. Thesis, Biology Education Department Post Graduate Program Malang State University. Adviser: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si. Key word: mold, kofo-kofo, microbiology quality, old of fumigation, old of storage. Kofo-kofo, a traditional food is one of fish manufacture product from South Nias that were fond of people there. This is caused of the deliciousness, beside that the fish as primer standard matterial and banana as glue matter can found easily at Nias region, so can support the craftsnan in production of traditional food kofo-kofo. Tongkol fish (Scomber australisicus) and Kepok banana (Musa balbisiana) is one of fish and banana kind that can be used for production of traditional food kofo-kofo. Based on the result of the observation, traditional food kofo-kofo can be used as a stored food for long time and with curing. Curing is a step for prevent the damage of tradiotional food kofo-kofo storage, because the fish and banana can be damage easily in a long time. Food damage that caused of contaminant mold, and the effect that nutritive value and quality of kofo-kofo traditional food can decrease fast. The research is done on hehalf of: (1) to know the different effect of curing and storage time toward the duration of preservation of traditional food kofo-kofo based on result of organoleptic test, (2) to know the effect of curing and storage time toward microbiological quality of traditional food kofo-kofo based on the total plate count of molds, (3) to know the dominant species of contaminant mold in traditional food kofo-kofo, and (4) to know expediency of arrange and developing the matter of practical guidance about curing and storage traditional food kofo-kofo as the food Microbiology Course. The research is a corelational and developing research. Corelational research, using experiment approach to know the effect of curing and storage of traditional food kofo-kofo toward microbiological quality based on total phate count of mold, organoleptic value and the duration of reservation; and the developing research using development descriptive approach head to see expediency of the matter of practical guidance about curing and storage traditional food kofo-kofo as the food Microbiology Course. Experimental design that used in this research is Factorial Group Random Design (RAFK) 2x3, i.e. the curing duration is 1 hour and 2 hours, and the duration of preservationis 1 day, 2 days, and 3 days for each treatmnet repeated as many as three times repeat. The data is analysed with ANOVA and Tukey Advance Test for 5% significant degree. Kofo-kofo’s samples in 10 gram weight is solute in pepton water 0,1%. Each suspension is prepared in solution grade: 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, and 10-6. The further step is each suspention inoculated on Czapek Agar plate medium as much as 0,1 ml and incubated at temperature of 250 C during 7x24 hours, and then counting the amount of mold total colony and the sum of each mold spesies in order to know the most dominan of contaminan mold spesies. The further step is analysing the effect of curing and storage of kofo-kofo toward microbiology quality based on the sum of the total plate count molds that referenced to the decision of DIRJEN POM at 1989. The effect of curing and duration time storage of kofo-kofo were analyzed based on the organoleptic test that is done by the 17 people respondens. The resuls of this research show: (1) there are no different effect of curing and storage time toward the duration of preservation of traditional food kofo-kofo based on result of organoleptic test; the result of Tukey test for significancy level 5% showing the tendency of the panelist to choose based on what they like, the highest value is kofo-kofo with brown colour, thicky texsture, gathering, dry, flavorous aroma, and tasty, (2) there are different effect of curing and storage time toward microbiological quality of traditional food kofo-kofo based on the total plate count of molds; the best time of curing is two hours and the best storage is one day based on the sum of the total plate count of mold that referenced to the decision of DIRJEN POM, is maximum 105 cfu/gram of sample, (3) there is one contaminant mold species on traditional food kofo-kofo, i.e. Aspergillus niger Van Tieghem with the total colony amount is 2,60x106 cfu/gram of sample. (4) matter of practical for curing and sorage traditional food kofo-kofo are suitable using as the practical matter of Food Microbiology Course. The result of this reseach will be an advice can give constribution for material learning of Food Microbiology Course and for the the worker of home made traditional food kofo-kofo. In processing of traditional food kofo-kofo is better if they using two hours for curing and one day of storage for the best qualify based on Dirjen POM provision at 1989.

Meningkatkan hasil belajar IPS topik dampak globalisasi melalui cooperative learning tipe STAD pada siswa kelasVI C SDN Percobaan Palangka Raya / Penyang T. Junas

 

ABSTRAK Penyang T. Junas, 2009. Meningkatkan Hasil Belajar IPS Topik Dampak Globalisasi melalui Cooperative Learning Tipe STAD pada Siswa Kelas VI C SDN Percobaan Palangka Raya. Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Ach. Fatchan, M. Pd., M. Si., (2) Dr. Agus Suryantoro, M. Si. Kata kunci: dampak globalisasi, hasil belajar, STAD Permasalahan utama dari kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di kelas VI C SDN Percobaan Palangka Raya selama ini adalah sangat rendahnya hasil belajar yang berada di bawah ketuntasan belajar siswa di sekolah. SKBM yang ditetapkan di SDN Percobaan Palangka Raya yakni 7,00 sedangkan kenyataan yang ditemui di lapangan menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa kelas VI C pada tahun 2006 yakni 5,00 dan pada tahun 2007 yakni 5,75. Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi yang diperoleh, rendahnya ketuntasan belajar IPS siswa disebabkan: (1) metode yang digunakan guru kurang bervariasi, (2) hampir tiap tahun ajaran guru IPS berganti, (3) sikap guru yang otoriter, dan (4) latar belakang pendidikan guru bukan IPS/Geografi. Berdasarkan beberapa masalah tersebut riset ini berupaya memberikan solusi dengan cara menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk mencapai ketuntasan belajar dan meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar IPS Topik Dampak Globalisasi pada siswa Kelas VI C SDN Percobaan Palangka Raya melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran. Objek penelitian adalah 33 siswa kelas VI C SND Percobaan Palangka Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas belajar pertemuan dari siklus I pertemuan I ke siklus I pertemuan II sebesar 11,95%, menuju siklus II pertemuan I meningkat sebesar 42,48%, menuju siklus II pertemuan II meningkat sebesar 25,98%. Hasil belajar topik Dampak Globalisasi mengalami peningkatan dari siklus I pertemuan I ke siklus I pertemuan II sebesar 8,02%, menuju ke siklus II pertemuan I meningkat sebesar 10,67%, menuju ke siklus II pertemuan II meningkat sebesar 9,76%. Indikator aktivitas belajar pertemuan Siklus I memiliki rata-rata 50,62% dan pada Siklus II sebesar 86,1%. Selisih keberhasilan pertemuan yang dilakukan dari siklus I ke siklus II sebesar 35,48%. Persentase keberhasilan pertemuan untuk indikator aktivitas belajar mengalami peningkatan sebesar 70,1%. Indikator hasil belajar siswa pada siklus I memiliki rata-rata 69,79 dan pada siklus II memiliki rata-rata 84,26 maka diperoleh selisih tingkat keberhasilan untuk hasil belajar sebesar 14,47. Hasil perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan hasil persentase keberhasilan sebesar 20,73%. Berdasarkan hasil penelitian maka diajukan saran-saran sebagai berikut: (1) untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa dengan menumbuhkan kemampuan berfikir kreatif dan ilmiah, mengembangkan diri, sehingga pembelajaran IPS di kelas menjadi lebih aktif, efektif, dan menyenangkan, (2) bagi guru diharapkan untuk lebih meningkatkan profesionalisme untuk mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran lainnya sebagai pembelajaran inovatif sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa, (3) untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan wawasan bagi peneliti, dan (4) penelitian ini bermanfaat sebagai pedoman pengembangan pembelajaran IPS bagi stakcholder, dapat memberikan motivasi bagi guru lain untuk menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa di SD. ABSTRACT Penyang T. Junas, 2009. Graduate the Result Study of IPS in Globalization Effect Matter by Cooperative Learning STAD Type to Students Class VI C SDN Percobaan Palangka Raya. Thesis, Geography Education Department Post Graduate Program Malang State University. Adviser: (1) Prof. Dr. H. Ach. Fatchan, M.Pd., M.Si., (2) Dr. Agus Suryantoro, M. Si. Key word: globalization effect, result of study, STAD The primer problem of learning process in class VI C SDN Percobaan Palangka raya last time is the result study that very low under the student completeness standard at school. SKBM that remained at SDN Percobaan Palangka Raya is 7,00 and the reality that find its show mean of result study of students class VI C at 2006 is 5,00 and at 2007 is 5,75. Based on the observation and the information that find, low of study completeness IPS caused: (1) method that using by the teacher less variation, (2) almost every year the teacher of IPS is change, (3) the othoritery attitude of the teacher, and (4) back ground of teacher education not from IPS/Geography. Based on the problems this research try to give a solution by implementation the cooperative learning of STAD to realize study completeness and graduate the result study of IPS in students. Aim of the research is to graduate result study IPS with globalization effect to students of class VI C SDN Percobaan Palangka Raya by application cooperative learning STAD type. This research doing in two cycle of learning. Object of research is 33 students class VI C SDN Percobaan Palangka Raya. Result of research show that escalation study activity from cycle I action I to cycle I action II increase 11,95%, to cycle II action I increase 42,48% and to cycle II action II increase 25,98%. Result of study at IPS with globaliasation effect escalation from cycle I action I to cycle I action II is 8,02%, to cycle II action I is 10,67% and to cycle II action II increase 9,76%. Study activity indicator cycle I have average 50,62% and for cycle II is 86,1%. The difference of action successful from cycle I to cycle II is 35,48%. Percentage of action successful for study activity indicator increase is 70,1%. Result of study’s indicator for cycle I have average 69,79 and for cycle II is 84,26, so the difference of result study successful is 14,47 with successful percentage is 20,73%. Based on result of research than give suggestions are: (1) to more graduate the student result study with graduate creative bethink skill and scholarly, developing of self, so IPS learning in the class come to be more active, effective, and comfortable; (2) to the teachers hoped to more graduate the professionalism to develop cooperative learning STAD type in the others course as innovative learning by the conditions and student characters, (3) to upgrade understanding, knowledge, and insight for the researcher, and (4) this research useful as guidance of developing of IPS learning for the stakcholder, giving motivation for another teacher to using the Cooperative Learning Type STAD models to upgrade the students result study of IPS at elementary school.

Analisis penerapan strategi promosi (promotion mix) produk tabungan (studi pada Bank Muamalat Cabang Malang) / Andhika Widhi Prasetya

 

Widhi, Andhika. 2013. Analisis Penerapan Strategi Promosi (Promotion Mix) Produk Tabungan (Studi pada Bank Muamalat Cabang Malang) . Skripsi Jurusan Manajemen, Konsenterasi Manajemen Pemasaran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.M., (II) Afwan Hariri, S.E., M.Si. Kata Kunci: Promosi, Strategi Promosi, Bauran Promosi Promosi memiliki unsur informatif, persuasif dan membangun citra suatu produk maupun perusahaan. Promosi akan berfungsi dengan baik dengan perencanaan strategi promosi yang matang. Strategi promosi terbentuk atas dasar riset tentang keunggulan produk, kelemahan produk, peluang produk dan ancaman produk. Data riset tersebut diolah dan dievaluasi menghasilkan sebuah rancangan strategi promosi. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana Bank Muamalat Cabang Malang membentuk strategi promosi berdasarkan serta penerapanya pada kegiatan promosi Bank Muamalat Cabang Malang. Fokus penelitian meliputi (1) Latar belakang penerapan strategi promosi Bank Muamalat Cabang Malang (2) Penerapan strategi promosi (promotion mix) pada Bank Mumalat Cabang Malang dan (3) Proses pengendalian strategi promosi pada Bank Muamalat Cabang Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang melibatkan peneliti secara langsung dalam proses mengumpulkan dan analisa data. Pengumpulan data melibatkan sumber data (informan) dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Triangulasi sumber data dilakukan mengaitkan data-data yang diperoleh dari semua informan sehingga menjadi suatu informasi hasil penelitian sedangkan triangulasi metode pengumpulan data dilakukan dengan mengaitkan informasi hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Diperlukan perencanaan untuk melakukan kegiatan promosi. Perencanaan tersebut antara lain riset konsumen, kondisi produk sendiri dan kondisi produk pesaing. (2) Pelaksanaan kegiatan bauran promosi memiliki tata cara dan tujuan yang berbeda. Informatif lebih dominan pada periklanan, persuasif lebih dominan pada penjualan langsung, penjualan personal dan promosi penjualan sedangkan pencitraan lebih dominan pada hubungan kemasyarakatan. (3) Pengendalian promosi dilakukan untuk menjaga efektivitas dan efisiensi kegiatan promosi. Promosi tidak harus dilakukan secara terus menerus namun lebih efisien dan efektif jika dilakukan pada saat moment yang tepat berdasarkan data yang diperoleh pada tahap perencanaan promosi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi tambahan ilmu dan rujukan bagi pelaku kegiatan usaha tentang bagaimana melakukan riset, membentuk strategi promosi berdasarkan data yang diperoleh, melaksanakan kegiatan promosi, melakukan pengendalian promosi dan mengevaluasi kegiatan promosi.

Penerapan bimbingan kelompok dalam pengembangan kesadaran multikultural siswa SMA / Ali Rachman

 

Abstrak Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dengan kultur yang berbeda. Begitu pula di sekolah, keberagaman siswa di sekolah dengan latar belakang berbagai kultur sering kali memicu terjadi adanya konflik antar siswa karena perbedaan kultur. Konflik antara siswa dari berbagai budaya bisa memiliki dampak pada pengalaman pendidikan dan sosial di sekolah. Mereka perlu bantuan terutama konselor sekolah dalam hal ini yang diharapkan dapat membantu penyesuaian siswa tersebut terhadap lingkungan sekolah agar dapat membantu siswa memahami terhadap perbedaan budaya berkaitan layanan pribadi sosial siswa. Penerapan bimbingan kelompok dengan menggunakan tahapan kesadaran multikultural merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi perbedaan masalah kultur yang ada pada siswa yang dalam penelitian ini difokuskan pada siswa SMA dengan tujuan agar siswa SMA memiliki pengetahuan dan peka kultur, memiliki sensitivitas berinteraksi dengan orang yang berbeda kultur, dengan melalui bimbingan kelompok diharapkan memiliki kesadaran akan perbedaan kultur yang ada disekitarnya. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan. Penerapan bimbingan kelompok dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran bagaimanakah bimbingan kelompok dengan tahapan kesadaran multikultural berpengaruh meningkatkan pemahaman kesadaran multikultural siswa. Dalam penelitian ini ditemukan gambaran dari tahapan kesadaran multikultural. Gambaran tahapan kesadaran multikultural yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pertama, tahap kesadaran diri. Melalui kegiatan ini siswa memperoleh pemahaman kesadaran diri terutama penerimaan diri, mengenali diri dan memahami diri. Aware tentang keadaan fisik yang ada pada dirinya sebagai bagian dari etnis tertentu, terutama mengakui dan mengekspresikan perasaan tentang dirinya dan penyesuaian diri di dalam nilai-nilai budaya yang ada pada lingkungan sosialnya. Kedua, kesadaran budaya sendiri, pada tahap ini siswa diarahkan kepada pemahaman untuk menentukan sikap apabila dia berada dalam budaya yang lain selain budaya pada dirinya, kesadaran siswa akan budaya sendiri dimunculkan lewat pemahaman bahwa ketika siswa berada dalam suatu situasi budaya yang dimilikinya, jika dibawa untuk hal-hal tertentu mungkin tidak bisa dibenarkan dalam tatakrama dan perilaku. Ketiga, kesadaran ras jenis kelamin dan kemiskinan, pada tahap ini siswa diarahkan pada pemahaman tentang bagaimana memandang efek diantara dirinya dan orang lain, ketika siswa berada dalam suatu etnis yang berbeda. Di dalam kegiatan ini siswa dikondisikan perlunya memahami dirinya dengan keberagaman etnis, suku bangsa dan status sosial yang ada disekililingnya pemahaman akan ada perbedaan ras, jenis kelamin dan kemiskinan yang ada pada masyarakat sekitarnya sehingga mereka menyadari bahwa perbedaan itu ada disekitarnya mereka, kesadaran mereka akan keberagaman etnis semakin meningkat. Keempat, kesadaran perbedaan individu, pada tahap ini siswa ditanamkan pemahaman perbedaan individu dengan latar belakang budaya yang berbeda. Pada tahap ini kegiatan diarahkan agar siswa menyadari akan perbedaan individu dan memahami akan keunikan dari individu dalam keberagaman budaya sampai kepada pemahaman bahwa setiap orang berbeda, seseorang tidak dapat menggeneralisasi suatu budaya pada dirinya untuk digunakan pada semua orang menyangkut budaya tersebut. Kelima, kesadaran budaya lain. Pada tahapan ini siswa diperkenalkan bagaimana pemahaman akan perbedaan budaya dirinya dengan budaya lain, pada bagian kegiatan ini, pemahaman kesadaran yang penting diarahkan bagi diri siswa adalah mereka sensitif akan kata-kata unik pada orang lain terutama orang lain pada budaya tertentu, siswa menyadari keunikan bahasa merupakan salah satu budaya yang dimiliki oleh orang lain. Berdasarkan penerapan itu, ditemukan bahwa pemahaman dan sikap multikultural siswa mengalami peningkatan. Penelitian ini bermanfaat bagi konselor sekolah. Melalui penelitian ini, konselor memperoleh gambaran bagaimana membimbing siswa di sekolah. Konselor dapat merancang dan menggunakan bimbingan kelompok sesuai dengan tujuan yaitu meningkatkan pemahaman dan sikap sosial siswa terhadap keberagaman budaya yang ada disekitarnya.

Pembelajaran jigsaw berbasis problem posing untuk meningkatkan keterampilan menyelesaikan soal cerita operasi hitung bilangan bulat siswa kelas V SD Islam Sabilillah Malang / Ibnu Taufiq

 

ABSTRAK Taufiq, Ibnu, 2009, Pembelajaran Jigsaw Berbasis Problem Posing untuk Meningkatkan Keterampilan Menyelesaikan Soal Cerita Operasi Hitung Bilangan Bulat Siswa SD Islam Sabilillah Malang, Tesis Program Studi Pendidikan Matematika-SD, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc. (II) Drs. H. M. Sohibul Kahfi, M. Pd. Kata Kunci : Kooperatif Jigsaw, problem posing, soal cerita, operasi hitung bilangan bulat Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi hitung cmpuran bilangan bulat di Sekolah Dasar disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah bentuk pembelajaran yang diterapkan di sekolah masih konvensional. Guru lebih banyak mendominasi kegiatan belajar mengajar. Siswa hanya mendengar, memperhatikan contoh yang diberikan guru, kemudian mengerjakan latihan soal. Bentuk pembelajaran seperti ini kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya, akibatnya siswa hanya bekerja secara prosedural. Siswa tidak diberi kesempatan untuk membuat sendiri penyelesaian soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat, sehingga apabila siswa dihadapkan pada soal cerita dalam bentuk yang lain, maka siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Untuk mengatasi kesulitan siswa tersebut, perlu diciptakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif sekaligus memudahkan siswa dalam memahami masalah dalam soal cerita, yaitu dengan strategi jigsaw berbasis problem posing. Pembelajaran jigsaw berbasis problem posing dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa agar aktif dan saling membantu dalam diskusi kelompok dengan cara merumuskan ulang soal cerita menjadi dua soal cerita yang lebih sederhana. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan pembelajaran jigsaw berbasis problem posing yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi hitung bilangan bulat Siswa kelas VC SD Islam Sabilillah Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Data penelitian diperoleh dari hasil tes, hasil wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Pelaksanaan pembelajaran jigsaw berbasis problem posing dilakukan dengan 3 tahap, yaitu (1) kegiatan awal: menyampaikan tujuan pembelajaran soal cerita, memotivasi siswa, menjelaskan aturan jigsaw berbasis problem posing, menggali pengetahuan awal siswa tentang operasi bilangan bulat, (2) kegiatan inti : membentuk kelompok asal, merumuskan ulang soal cerita utama menjadi dua soal cerita yang lebih sederhana, membentuk kelompok ahli, mencari langkah-langkah penyelesaian dua soal cerita dengan berdiskusi, kembali ke kelompok asal, penjelasan penyelesaian dua soal cerita kepada anggota kelompok, dan presentasi kelompok, (3) kegiatan akhir : melakukan evaluasi dengan memberikan tes akhir yang dikerjakan secara individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat dengan strategi jigsaw berbasis problem posing, menunjukkan adanya peningkatan dari tindakan I ke tindakan II pada (a) skor rata-rata tes akhir dari 80,67 menjadi 94,67 (b) rata-rata persentase siswa yang mendapat skor ≥ 76 dari 78,34% menjadi 93,33 % (c) rata-rata skor tes akhir subyek penelitian dari 82,5 menjadi 90 (d) persentase aktivitas peneliti dari 87,5 % menjadi 95,5 % (e) persentase aktivitas belajar siswa dari 89,73 % menjadi 96,10 %, (2) merumuskan ulang soal cerita utama menjadi dua soal cerita yang lebih sederhana, ternyata dapat memudahkan siswa dalam memahami masalah yang ada dalam soal cerita sehingga memudahkan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi hitung bilangan bulat, (3) ternyata terjadi kerjasama yang baik dalam kelompok yang siswanya heterogen dari sisi kemampuan dalam hal (a) merumuskan ulang soal utama menjadi dua soal yang lebih sederhana, (b) mencari langkah-langkah dalam menyelesaikan dua soal cerita, (c) memberikan penjelasan penyelesaian soal cerita kepada anggota kelompoknya. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru matematika (1) untuk menjadikan pembelajaran jigsaw berbasis problem posing sebagai alternatif strategi pembelajaran soal cerita, (2) apabila ingin menerapkan pembelajaran jigsaw berbasis problem posing terutama pada saat diskusi di kelompok ahli dan penjelelasan materi di kelompok asal, agar menggunakan waktu yang lebih lama sehingga pelaksaan diskusi dan penjelasan materi dapat berlangsung dengan baik, (3) dalam kegiatan pembelajaran, agar sering menggunakan kegiatan belajar kelompok yang heterogen sehingga diharapkan dapat terjadi interaksi sosial antar siswa dan munculnya tutor sebaya, (4) dalam pembelajaran soal cerita yang memuat beberapa operasi, disarankan untuk merumuskan ulang soal cerita menjadi dua soal cerita yang lebih sederhana, sehingga memudahkan siswa dalam memahami soal cerita.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TAI ( Team Assisted Indualization ) untuk meningkatkan kemampuan bekerjasama dalam kelompok pada mata pembelajaran akuntansi biaya di SMK Ardjuno 01 Malang / Eko Nurhaji Purnomo

 

ABSTRAK Purnomo, Eko Nurhaji (2009): Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TAI (Team Assisted Individualization) untuk Meningkatkan Kemampuan Bekerjasama dalam Kelompok pada Mata Pelajaran Akuntansi Biaya di SMK 01 Ardjuno Malang. Kata kunci: Model Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization), Kemampuan Bekerjasama dalam Kelompok. Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMK Ardjuno 01 Malang, situasi pada saat proses belajar mengajar siswa terlihat pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak siswa yang menggantungkan kepada siswa yang pandai dalam mengerjakan tugas. Pada saat belajar dalam bentuk kelompok, diskusi didominasi siswa yang pandai, Banyak siswa yang bermain sendiri atau berbicara dengan teman dengan topik yang lain bahkan ada yang diam saja. Hal tersebut menunjukan kurang adanya kerjasama dalam kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan kemampuan bekerjasama dalam kelompok. Berdasarkan tindakan pada siklus I dan siklus II, kemampuan kerjasama untuk aktivitas individu mengalami kenaikan yaitu sebanyak 10 siswa dengan predikat “baik” pada siklus I naik mernjadi 15 siswa pada siklus II, tingkat keberhasilan aktivitas kelompok sebanyak 2 kelompok memiliki kemampuan kerjasama yang baik menjadi 4 kelompok pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembelajaran model TAI (Teams Assisted Individualization) dapat meningkatkan kemampuan bekerjasama dalam kelompok terutama ditahap team study dan Whole class units hal tersebut terlihat terjadi peningkatan kemampuan kerjasama dalam kelompok disiklus II baik aktivitas individu maupun aktivitas kelompok. Keterbatasan pada penelitian ini adalah belum ditemukannya landasan teorotis untuk menentukan keberhasilan tindakan, sehingga penelitian ini dinyatakan berhasil pada siklus ke-II didasarkan pada penelitian terdahulu. Saran yang diajukan dalam penelitian ini antara lain. (1) Bagi guru yang memiliki masalah dalam proses belajar mengajar berupa rendahnya kerjasama siswa dalam proses belajar, maka model pembelajaran TAI (Teams Assisted Individualization) dapat sebagai alternatif khususnya mata pelajaran Akuntansi Biaya standar kompetensi penyajian laporan harga pokok, atau pada mata pelajaran yang memiliki karakteristik sejenis. (2) Sebelum pembelajaran TAI dilaksanakan, hendaknya guru benar-benar mempersiapkan dengan baik perangkat pembelajaran maupun perencanaan pembagian waktu sehingga pembelajaran TAI dapat berjalan dengan efektif.(3) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian mengenai penerapan pembelajaran kooperatif model TAI baik di kelas ini maupun di sekolah lain dengan mencari landasan teoritis mengenai keberhasilan tindakan agar hasil penelitian lebih representatif.

The teacher's techniques of teaching new vocabulary items in the students' english textbook for the elementary school / Ria Aristantya

 

ABSTRACT Aristantya, Ria. 2009. The Teacher’s Techniques of Teaching New Vocabulary Items in the Students’ English Textbook for the Elementary School. Thesis, English Department, State University of Malang. Advisor: Dr. Nur Mukminatien, M.Pd Key Words: Techniques, teaching vocabulary items This present study tries to collect information on the techniques used in the teaching of vocabulary items at SDN Kepulungan 3 Gempol Pasuruan. The research problem is formulated as how the teacher teaches vocabulary items using English textbook entitled “Grow with English” in the classroom. The purpose of this study is to describe the teacher’s techniques of teaching new vocabulary items in the students’ English textbooks for the Elementary School to the first year students. The sources of this study were the English teacher and the first year students of SDN Kepulungan 3 Gempol Pasuruan. The instruments used to collect the data were observation guideline, field notes and interview format. The observation guideline was used to collect the data about the teacher’s activities in teaching vocabulary. Field notes were used to collect data during the observation in the classroom about how the teaching techniques were used by the teacher, while the interview format was used to collect data from the teacher to support the data obtained from the field notes. This study reveals the following findings. In the preparation, the teacher of SDN Kepulungan 3 Gempol Pasuruan made some preparations like pictures as his techniques in teaching vocabulary items, real toys, and chalks. In the pre teaching, the teacher greeted his students and led them to pray before starting the lesson. The teacher asked the students to open the book related to the topic being discussed and take the notebook, paper, and pencil. In the main activities, the teacher showed pictures as his techniques to the students. In this case, he employed pictorial procedure. He asked the students to catch the word in English. If the students did not understand the word, the teacher would help the students by giving the first letter of the word. If the students still did not understand the word, the teacher would show the real toys about that word and sometimes he also pointed the things around the classroom related to the word as his other technique. It was called ostensive procedure. Ostensive procedure is teaching vocabulary items by pointing out the object. Sometimes, he tried to make the students understand by introducing the word through the context and it was contextual procedure. After that, the teacher asked the students to close the book and all the notes. He asked the students to mention the name of all the pictures he had in order to test the memory of his students. He still helped the students by giving clues about the words not directly helping them although they were still in the first class. For example, once he gave the picture of “clock”. The students forgot the name in English at that time so the teacher gave some clues, such as, “the shape is round”, “it has many colors”, “it is seen every day”, “before going to school we see it”,” before sleeping we see it”, “before watching television we see it”, and etc. In this section, the teacher employed differential procedure. The teacher made his students understand learning vocabulary items. Finally, the teacher gave an assignment to the students to put the name in English to the pictures given in two pieces of paper. They stacked the name in English with the suitable picture. Finally, in the post activity, the teacher closed the lesson by asking them to close all the books, asking them to remember the material given, and finally leading the students to pray together. The students were very active. Based on the findings, some suggestions are given as follows. First, English teachers are suggested to use a variety of techniques that are relevant to the lesson objectives to increase students’ interest and innovation. In teaching vocabulary, especially, teachers should be creative in using different learning sources and strategies. Second, in case of limited facilities and learning resources, the teacher should create media as techniques of his/her own. He/she should be able to make inexpensive media as techniques for his/her English classes by himself/herself.

Pengujian logam berat timbal (Ph) terhadap indeks mitosis dan pembentukan mikronukleus pada akar bawang merah (Allium ascalanum L) dengan pewarnaan berbeda oleh Marhamah

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dalam meningkatkan pemahaman matematika pada lingkaran siswa kelas VIII MTs Daruss'abah Poncokusumo Kabupaten Malang / Tandrasokhi Halawa

 

ABSTRAK Tandrasokhi Halawa. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD dalam Meningkatkan Pemahaman Matematika pada Lingkaran Siswa Kelas VIII MTs Darussa’adah Poncokusumo Kabupaten Malang. Tesis, Program Studi Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D., (II) Drs. H.M. Shohibul Kahfi, M.Pd. Kata-kata kunci: Pembelajaran, STAD, Pemahaman, Keliling dan Luas Bidang Lingkaran. Pembelajaran matematika yang digunakan selama ini adalah pem-belajaran konvensional, dimana metode tersebut pengetahuan lebih banyak ditransfer oleh guru kepada siswa. Pembelajaran konvensioanl didominasi oleh ceramah dan cara-cara yang mengedepankan pemberian pengetahuan prosedural. Dengan cara seperti itu, tidak akan cukup untuk membuat siswa memahami matematika secara bermakna. Pembelajaran yang memberikan pebelajar aktif membangun pengetahuan matematika secara bermakna dapat terwujud dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif yang paling sederhana adalah pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams-Achievement Divisions). Pembelajaran kooperatif model STAD adalah pembelajaran kooperatif yang membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang siswa yang bersifat heterogen dalam kemampuan akademik, etnik dan jenis kelamin. Adanya kenyataan nilai rata-rata matematika yang rendah berdasarkan pengalaman mengajar bertahun-tahun, motivasi belajar serta keaktifan siswa yang kurang dan pengakuan praktisi pendidikan matematika di lapangan, dapat diketahui bahwa siswa MTs Darussa’adah Poncokusumo kurang memahami secara baik dan benar materi “keliling dan luas bidang lingkaran”. Keprihatinan ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan partisipan dengan pendekatan kualitatif yang difokuskan pada (1) apakah rancangan dan bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dalam meningkatkan pemahaman keliling dan luas bidang lingkaran siswa kelas kelas VIII MTs Darussa’adah Poncokusumo Kabupaten Malang serta (2) bagaimanakah aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung?. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif serta dilaksanakan di MTs Darussa’adah Poncokusumo Malang di kelas VIII yang terdiri dari 35 siswa. Penelitian ini menggunakan lembar tes, lembar pengamatan dan wawancara sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Wawancara dilakukan kepada 4 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang dan 1 siswa ber-kemampuan rendah. Pembelajaran kooperatif model STAD merupakan salah satu strategi pembelajaran konstruktivistik. Oleh karena itu, penyajian kelas diupayakan agar siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan selanjutnya dibangun oleh siswa dengan cara bekerja sama dengan teman kelompoknya. Setiap siswa dituntut untuk saling bekerja sama. Setidaknya ada dua manfaat yang diperoleh dari belajar kooperatif yaitu manfaat akademik dan manfaat sosial. Secara akademis siswa meningkat pemahamannya dan prestasinya. Secara sosial siswa bisa belajar hidup bermasyarakat. Setelah belajar dalam kelompok dilakukan kuis secara individu untuk mengetahui peningkatan individu dan untuk memotivasi siswa untuk belajar terus sekaligus sebagai pertimbangan bagi guru dalam meneruskan pembelajaran berikutnya. Akhirnya pembelajaran ditutup dengan pemberian penghargaan kepada kelompok yang mencapai prestasi dan predikat tertentu, yaitu baik, hebat dan super. Berdasarkan evaluasi proses dan evaluasi hasil pada setiap pembelajaran keliling dan luas bidang lingkaran dapat dikemukakan bahwa pembelajaran pada tindakan I, baik secara proses maupun hasil belajar sudah baik. Ini terlihat dari hasil pengamatan bahwa siswa bekerja sama dalam kelompok, siswa berani bertanya kepada sesama anggota kelompok dan pemahaman terhadap materi sudah baik. Demikian juga pada pembelajaran tindakan II, secara proses maupun hasil sangat baik. Siswa saling memberikan masukan dan saling memberi penjelasan kepada temannya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa siswa merasa senang dengan belajar kooperatif model STAD. Hal ini ditunjukkan dengan motivasi, aktivitas dan sikap antusis mereka ketika memanipulasi benda-benda konkret untuk menemukan keliling dan luas bidang lingkaran. Hasil belajar siswa yang diukur melalui tes setiap akhir tindakan telah menunjukkan bahwa siswa telah memahami materi dengan baik. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan pembelajaran sebagai berikut. (1) menjadikan pembelajaran kooperatif model STAD sebagai suatu pembelajaran alternatif yang layak diper-timbangkan. (2) mengembangkan penelitian ini di kelas atau jenjang lainnya dengan mengambil materi yang lebih luas lagi agar hasil penelitian ini lebih lengkap dan mendalam. (3) membantu siswa dalam belajar melalui penggunaan alat peraga atau benda-benda konkrit untuk dimanipulasi. Penggunaan alat peraga ini memungkinkan siswa terlibat secara fisik dan mental sehingga dapat menjadikan siswa lebih cepat memahami konsep matematika dengan baik. (4) penyusunan LKS harus secara cermat dan hati-hati karena memungkinkan LKS yang disusun justru dapat mematikan kreativitas siswa. Sebaiknya LKS hanya secara garis besar dan tidak terlalu menuntun langkah yang harus dilakukan siswa. (5) penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan waktu yang relatif singkat dan satu materi pelajaran sehingga perlu dilakukan penelitian dengan perencanaan waktu dan materi pelajaran yang lebih banyak agar proses dan produk pembelajaran lebih efektif, fungsional dan maksimal, dan (6) hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk melakukan pengembangan penelitian lebih lanjut sehingga semakin banyak fakta yang dapat mendukung rancangan penelitian ini untuk menjadi teori yang bisa membantu meningkatkan dunia pendidikan pada umumnya dan proses pembelajaran pada khususnya.

Pengembangan paket bahan ajar tajwid kelas VII SMP Tahfidz Al-Amien Prenduan Sumenep Madura / Abdul Hamid Bakir

 

Kata Kunci: pengembangan, bahan ajar, tajwid, model Dick & Carey. Mata Pelajaran Tajwid merupakan ilmu dasar untuk belajar cara membaca Al-Qur’an secara baik baik dan benar, juga menjadi syarat mutlak bagi siswa SMP Tahfidz Al-Amien sebelum memulai program menghafal Al-Qur’an. Realisasi tujuan mata pelajaran tajwid tersebut memerlukan sumber belajar yang mendukung terhadap proses pembelajaran. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di lapangan melalui observasi dan wawancara ditemukan bahwa mayoritas siswa kelas VII SMP Tahfidz Al-Amien mengalami kesulitan dalam mempelajari Tajwid dengan berbagai alasan yang berbeda-beda diantaranya: kesulitan membedakan antara satu hukum bacaan dengan hukum bacaan yang lain, kesulitan dalam pengucapan huruf hijaiyah dan penerapan kaidah tajwid dalam membaca Al-Qur’an, dan bahan ajar yang digunakan minim dalam penyajian contoh, penjelasan, dan soal latihan. Permasalahan lainnya terletak pada proses pembelajaran hanya ditekankan pada kemampuan siswa untuk menghafal kaidah dan contoh-contoh tanpa dituntut untuk memahami konsep dari contoh maupun kaidah tersebut. Sehingga yang terjadi kemudian adalah ketika kegiatan belajar mengajar selesai siswa hanya pandai secara teori akan tetapi lemah dalam aplikasinya. Salah satu alternatif untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah dengan merancang dan mengembangkan bahan ajar. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan paket bahan ajar mata pelajaran tajwid yang dirancang dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar siswa kelas VII SMP Tahfidz Al-Amien. Model yang digunakan dalam mengembangkan bahan ajar ini adalah model Dick & Carey. Alasan pemilihan model Dick & Carey didasarkan atas pemikiran bahwa model ini: 1) menggunakan pendekatan sistem dengan langkah-langkah yang lengkap. 2) memiliki empat karakteristik yang harus dimiliki dalam pengembangan pembelajaran yaitu: mengacu pada tujuan, terdapat keserasian dengan tujuan, sistematik, dan berpedoman pada evaluasi. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar, panduan guru, panduan siswa, dan media pembelajaran. Produk tersebut telah diuji cobakan melalui beberapa tahapan yaitu: uji coba ahli isi/materi, uji coba ahli desain pembelajaran, uji coba ahli media pembelajaran, uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan. Dari uji coba ahli isi/materi menunjukkan hasil bahwa produk pengembangan dalam kategori baik dan layak digunakan dengan prosentase sebesar 78%. Dari uji coba ahli desain pembelajaran menunjukkan hasil bahwa produk pengembangan dalam kategori baik dan layak digunakan dengan prosentase sebesar 75,5%. Dari uji coba ahli media pembelajaran menunjukkan hasil bahwa produk pengembangan dalam kategori baik dan layak digunakan dengan prosentase sebesar 82,5%. Dari uji coba perorangan menunjukkan hasil bahwa produk pengembangan dalam kategori baik dan layak digunakan dengan prosentase sebesar 75%. Dari uji coba kelompok kecil menunjukkan hasil bahwa produk pengembangan dalam kategori baik dan layak digunakan dengan prosentase sebesar 81,25%. Dari uji coba lapangan menunjukkan hasil bahwa produk pengembangan dalam kategori baik dan layak digunakan dengan prosentase sebesar 76,75%. Berdasarkan hasil dari semua uji coba yang telah dilakukan, maka produk pengembangan secara keseluruhan berada dalam kategori baik dan layak digunakan.

Penerapan pembelajaran pendidikan matematika realistik (PMR) melalui learning cycle untuk meningkatkan pemahaman dan aplikasi konsep peluang siswa SMAN 1 Plosoklaten Kediri / Eni Titikusumawati

 

Titikusumawati, Eni. 2009. Penerapan Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik (PMR) melalui Learning Cycle untuk Meningkatkan Pemahaman dan Aplikasi Konsep Peluang Siswa SMAN 1 Plosoklaten Kediri. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd., M.A., (II) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D. Kata kunci: pembelajaran, pendidikan matematika realistic (PMR), learning cycle, pemahaman, aplikasi, peluang. Penelitian ini bertujuan menghasilkan model pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik (PMR) yang diimplementasikan melalui strategi Learning Cycle. Bertolak dari permasalahan pembelajaran real di kelas XI IPA1 SMAN 1 Plosoklaten Kediri, yaitu banyak siswa masih kesulitan membedakan bilangan bulat dengan bilangan faktorial, siswa kesulitan membedakan permasalahan yang diselesaikan dengan permutasi atau kombinasi, serta siswa tidak bisa memberikan jawaban ketika diberi pertanyaan tentang permutasi siklis. Permasalahan-permasalahan pembelajaran di atas disebabkan oleh lemahnya kemampuan siswa dalam aspek domain kognitif, terutama ranah pemahaman dan aplikasi. Kelemahan tersebut, diduga disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran konvensional oleh guru, dengan ciri utama, cenderung berpusat pada guru, monoton, dan lebih menitikberatkan pendekatan komputasi yang membosankan. Reorientasi pembelajaran matematika oleh guru dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran metematika yang lebih banyak ‘memberdayakan’ dan ‘melaparkan’ rasa ingin tahu siswa sangat dibutuhkan, yaitu model pembelajaran yang student centered dan konstruktivis, yang menekankan konteks sebagai starting point pembelajaran. Model pembelajaran yang dimaksud adalah Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Model pembelajaran PMR mungkinkan siswa belajar matematika lebih bermakna melalui kegiatan menemukan matematika untuk dirinya sendiri. Pengelolaan pembelajaran PMR mengacu pada strategi Learning Cycle, langkah ini ditempuh untuk memberi kekuatan yang lebih besar kepada siswa sehingga ide yang dimiliki dapat dikembangkan melalui penalarannya. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) plan, (2) action, (3) observation, (4) reflection. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 pertemuan pembelajaran. Data penelitian meliputi: (1) pengamatan terhadap proses pembelajaran, (2) tes kognitif siswa untuk aspek pemahaman dan aplikasi, dan (3) respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran PMR melalui learning cycle. Penerapan model pembelajaran PMR melalui learning cycle dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik proses maupun produk. Ketuntasan klasikal pengamatan proses pembelajaran meningkat sebesar 5,1%. Peningkatan ketuntasan klasikal dari siklus 1(66,67%) ke siklus 2(84,6%) sebesar 17,93%. Respon siswa terhadap penerapan model PMR melalui Learning cycle menunjukkan respon yang positif. Skor rata-rata angket umpan balik siswa terhadap penerapan model pembelajaran PMR melalui learning cycle adalah 2,8 masuk dalam kategori Setuju(S). Peningkatan pemahaman dan aplikasi siswa di atas karena siswa belajar dalam bingkai pendekatan realistik, pada tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri(the use of contex and the use of models), model pemecahan informal(model-of). Selanjutnya tahap eksplanasi terjadi interaksi melalui diskusi dan negosiasi antar siswa maupun interaksi siswa dengan guru (student contribution and interactivity), maka salah satu pemecahan yang dikemukakan siswa akan berkembang menjadi model yang formal(model-for). Keterkaitan atau pegintegrasian antar konsep-konsep atau materi pelajaran dalam matematika harus dieksplorasi untuk mendukung proses pembelajaran matematika yang lebih bermakna. Tahap ekspansi dilakukan siswa melalui pengintegrasian(interwinning) antar konsep, topik dan materi pelajaran tersebut akan membantu siswa dalam memecahkan masalah dan pembelajaran menjadi lebih efektif. Proses di atas tidak terlepas dari tahap pematematikaan horizontal, yaitu siswa dengan pengetahuan yang dimilikinya(math tools) dapat mengorganisasikan dan memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan tahap pematematikaan vertikal berkenaan dengan pemrosesan atau proses reorganisasi dalam matematika itu sendiri. Jadi jelas bahwa, pada awalnya siswa memecahkan masalah secara informal dengan menggunakan bahasa atau kata-kata mereka sendiri. Kemudian setelah beberapa waktu, setelah mereka familiar dengan proses/strategi pemecahan yang serupa melalui penyederhanaan(simplifikasi) dan formalisasi, siswa mulai menggunakan bahasa yang lebih formal dan diakhir proses siswa akan menemukan suatu algoritma. Temuan penelitian ini memberikan beberapa saran terkait dengan penerapan model pembelajaran yaitu: (1) bagi para guru dan praktisi pendidikan yang akan menerapkan model pembelajaran PMR melalui learning cycle ini untuk menerapkannya pada tahap yang lebih tinggi, misalnya tahap kemampuan berpikir tinggi (analisis dan sintesis); (2) memberikan pengalaman belajar yang bervariasi akan sangat membutuhkan inovasi dan kreativitas guru untuk mengeksplorasi kemampuannya terhadap konsep yang akan diajarkan. ABSTRACT Titikusumawati, Eni. 2009. The Realistic Mathematics Education (RME) Application through Learning Cycle to Enhance Comprehention and Application of Probability Concept of the Student of SMAN 1 Plosoklaten Kediri. Thesis of the Program of Study of Mathematics Education. Post Graduate Program of the State University of Malang, Advisor: (1) Dr. Cholis Sa’dijah. M.Pd., M.A., (II) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D. Key Word: instruction, realistic mathematics education, learning cycle, comprehention, application, probability. The purpose of this study is to developed the Realistic Mathematics Education (RME) which is implemented through learning cycle strategy. Based on the real instruction problem in 11th years student of Science class of SMAN 1 Plosoklaten Kediri. Those problems are: many student faced with the difficulty to differentiate integer from factorial number, the students feel difficult to differentiate the solution on problem of permutation and combination, as well as they are not able yet to give the answer toward the question about the cycles permutation. The instruction problems discussed above might caused by the weak of students’ ability in cognitive domain aspect, especially in the comprehention and application domain. These weakness are predicted due to the use of conventional instruction model by the teacher, with its main characteristic of teacher centered, monotonous, and more focused on the boring computational approaches. Reorientation of instruction mathematics by the teacher from conventional instruction to mathematics instruction which more ‘empower’ and ‘make hungry’ of feeling curious of the student very need, that is, student centered and constructivist instruction model, which emphasize on the context as starting point instruction. The intended instruction model is Realistic Mathematics Education (RME). RME model makes possibility that the student learn mathematics is more meaningful through invention activity mathematics for herself/himself. The management of RME model reffered to the strategy on learning cycle, this step is conducted to provide more strenght to students so that their own ideas can be developed through their reasoning. This study uses Cass Action Reseach (CAR), with the steps as follows: (1) plan, (2) actions, (3) observation, (4) reflection. Study conducted on 2 cycles, each cycle contains of 3 face-to-face instruction. The study data comprising of: (1) observation toward instruction prosess which contain of three aspects: (a) skillful to use instrument and materials, (b) collaborative in cooperative groups, (c) cooperative group discussion and class discussion; (2) students cognitive test for comprehention and application aspect, and (3) students responses toward the application of RME trough learning cycle, which comprising of three aspect: (a) attitute, (b) affective, and (c) easiness. The application of RME model through learning cycle is able to enhance students; learning outcome, either on the process or the product. The completion of classical process observation of instruction for 5.1%. the increase of classisal completion on cycle 1 (66.67%) to cycle 2 (84.6%) is 17.9%. Students’ response toward the application of RME model through learning cycle shows positive response. The average score of questionare feed back of student toward the application of RME model through learning cycle os 2.8% within the category Agree. The increase of students’ comprehention and application is in the above because the students learn in the framework of realistic approach, in the exploration stage the student are given the probability to develop their model themselves (the use of context and the use of models), model of informal solution (model-of). Futhermore, in the explanation there is an interaction through discussion and negotiation either between the students or between student with teacher (student contribution and interactivity), so one of the proposed solution is the student will be the formal models (model-for). The interrelationalship or intertwinning between the concepst or lesson material in mathematics should be explores to support the process of instruction mathematics which more meaningful. Exploration stage conducted by the atudents through intertwinning between consepts, topic and lesson material will assist the student to solve the problem and instruction to be more effective. The above process cannot be separated from horizontal mathematizing stage; it means that the students with their knowledge (mathematics tools) are able to organize and solve real problems in their daily living. While the vertical mathematizing stage concern with the organizational processing in mathematics itself. So, it is clear that the students first solve the problem informallu by using their own language or words. Then not long after, after they are familiar with the same solution process/strategy through simplified and formalization, they begin tu use more formal language and at the end the will meet an algorithm. Based on the results of this study, some suggestions concerning with the application of RME model are: (1) the application of RME model through learning cycle can increase of students’ comprehention and application on Probability concept, so that for the teacher and educations practitioner can improve the RME model through learning cycle for implementing on high level from Bloom taxonomy, for example in higer order thinking (analisys and sintesis); (2) the application of RME model through learning cycle in average need relatively longer time than the conventional instruction model, therefore, for teachers and other practitioners who wants to apply this model should pay attention to the time managemant in teaching, so that the result will be maximal.

Pembelajaran teorema pythagoras dengan strategi inquiry untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas VIII MTS Diponegoro Tumpang / Joko Suprapto

 

ABSTRACT Suprapto, Joko. 2009. Teaching Theorema Pythagoras by Using Inquiry Strategy to Improve Students’ Problem Solving Skills of Grade VIII in MTs Diponegoro Tumpang. Unpublished Thesis. Mathematics Education Department. Post Graduate Program. State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc, (2) Dr. Edy Bambang Irawan M.Pd. Keywords: teaching of theorema Phytagoras, inquiry strategy, problem solving skill. This study is based on the condition of teaching process in MTs Diponegoro Tumpang. The instructional process is not in line with teachers’ expectation in which students are not active in learning and don’t do the task given by teachers. Based on the writer’s observation, the instructional process in the school is still teacher-centered, meaning that teacher dominates instructional activities in classroom. The task of teacher are explaining material, writing material, giving example and exercise, and students’ task are paying attention on teachers’ explanation, jotting down material and doing exercise. Thus, the instructional process is not innovative, causing boredom and reluctance on the part of the students. To handle the above-mentioned problems, the writer conducted participatory research using qualitative approach. This study is conducted in MTs Diponegoro Tumpang. the aims of this study is to produce instructional steps for teaching of Teorema Pytagoras using inquiry strategy which can improve students’ problem skills of Grade VIII. Teaching teorema Phytagoras using inquiry strategy is an instructional model using the following steps: orientation, formulating problems, making hypothesis, collecting data, testing hypothesis, and drawing conclusion. 1) orientation aims at motivating students by presenting the instructional purpose that will be achieved and steps to achieve them, 2) formulating problems in this step, students formulate problem by considering the question given by teacher. 3) making hypothesis Students make temporary answer for the given question, 4) collecting data Students manipulate instructional media so that they can determine the length and width of each structure, 5) testing hypothesis students test the collected data, 6) drawing conclusion Students draw conclusion concerning the concept of teorema phytagoras. After students are skillful in using inquiry strategy, students conduct most of learning activities, feel happy in learning and their ability in solving problem. It can be observed from the increasing score in cycle I and II. Percentage of learning mastery classically in cycle I is 30,77% and in cycle II is 88,46%. The improvement of students’ ability in solving problems is also supported by the result of students’ work in the form of students’ worksheet and observation sheet of students activity. It can be observed that students work are more focused from students worksheet I up to IV. The result of observation for students’ activity from four observer shows that cycle I is 69,64% and cycle II is 76,78%. It means that students are more active to learn in teaching process in cycle II than those of cycle I. From the questionnaire of students’ response for the teaching of teorema phytagoras with inquiry strategy, the writer obtain the average score of 3,35% for 30 question items. It shows that students’ response to teorema Phytagoras teaching with inquiry strategy is very positive. Based on the finding of this study, the writer proposes the following suggestion for mathematics teacher (1) using inquiry strategy as one kind of instructional strategy that deserve to be considered, (2) developing this study to include other class or level using wider scale of material to make the finding more complete and deep. (3) helping students in learning through the use of instructional media or concrete object to be manipulated.

Pemakaian jaringan saraf tiruan pada USG untuk menentukan usia janin oleh Heriyanto

 

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model project based learning pada siswa kelas V SDN Jingglong 01 Sutojayan Kabupaten Blitar / Fariha Nur Ida

 

Kata kunci: Project Based Learning, deskripsi, menulis Keterampilan menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang terpadu, ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Berdasarkan observasi awal pada siswa kelas V SDN Jingglong 01, dalam pembelajaran menulis deskripsi, materi ini termasuk sulit dikuasai oleh siswa SD, karena siswa merasa kesulitan menuangkan ide, pikiran, perasaan, informasi, dan gagasan secara tertulis. Oleh karena itu, perlu proses pembelajaran yang dapat menciptakan situasi pembelajaran yang bervariasi dan meningkatkan peran serta siswa sehingga dapat meningkatkan keterampilan dalam menulis deskripsi. Salah satunya melalui penerapan model Project Based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran melalui model Project Based Learning yang dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V. Sehingga nantinya dapat dilihat sejauh mana pembelajaran melalui model Project Based Learning dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam hal ini, peneliti adalah instrumen utama. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Jingglong 01 sebanyak 27 siswa. Adapun data diperoleh dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran menulis deskripsi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data dari (1) observasi, (2) hasil tes yang meliputi tes awal sebelum tindakan dan tes akhir setelah tindakan, (3) angket siswa, dan (4) dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pada siklus I sebesar 64,81% siswa dinyatakan tuntas belajar dan 35,18% siswa tidak tuntas belajar, (2) siswa tidak terbiasa mengerjakan tugas secara berkelompok, (3) siswa lebih menyukai pembelajaran secara kontekstual, dan (4) siswa lebih terampil dalam menulis dengan memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca secara tepat melalui kegiatan terbimbing secara langsung, sehingga siswa dapat segera memperbaiki kesalahan. Sedangkan pada siklus II diperoleh hasil bahwa (1) sebesar 77,78% siswa dinyatakan tuntas belajar dan 22,22% siswa tidak tuntas belajar, hasil tersebut menunjukkan bahwa tindakan pada siklus II telah berhasil, (2) terjadi peningkatan keaktifan siswa, dan (3) melalui bimbingan oleh peneliti serta pengawasan yang dibantu oleh observer, pengamatan objek secara langsung di luar kelas dapat dilaksanakan dengan baik dan terkendali.

Pengaruh daur belajar terhadap hasil belajar pokok bahasan sistem pencernaan di Madrasah Aliyah Negeri Malang II / oleh Gufron Amirullah

 

Pengaruh frekuensi pemutaran dan sudut putaran terhadap kelangsungan hidup embrio dan daya tetas ayam buras(Gallus domesticus) / oleh Siti Fatimah

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 |