Pengaruh kualitas jasa terhadap loyalitas pelanggan (Studi pada pelanggan jasa cuci kendaraan bermotor di UD. Mitra Olie Kabupaten Blitar) / Budi Prasetyanto

 

Di era over of supply saat ini semua perusahaan sulit untuk membentuk loyalitas pelanggan. Perusahaan semakin ketat bersaing. Berjalannya proses pemasaran menunjukkan arti penting dari suatu konsep pemasaran yang tak hanya teori, dimana penyedia produk tak hanya berkutat pada target laba yang dihitung melalui rupiah maupun persentase pendapatan per-bulan. Diungkapkan Swa online (2006) ada tahap baru dalam pemasaran bahwa ”customer satisfaction is worthless : customer loyalty is priceless”. Karena memiliki pelanggan loyal menjadi prioritas dan strategi terdepan para pemasar apalagi kenyataannya, program meretensi pelanggan dan membuat pelanggan loyal ternyata biayanya lebih murah dibanding membidik pelanggan baru yang biasanya menuntut keberadaan promosi agresif dengan biaya yang pasti mahal. Selain itu, membangun loyalitas pelanggan berarti berurusan dengan pihak yang selama ini sudah jelas-jelas pernah menjadi pelanggan (existing customer). Dengan berkembangnya konsep kualitas jasa secara keseluruhan memiliki peluang yang menarik, dimana dengan membangun kualitas jasa yang baik maka kita memiliki aset berharga yang mampu mendatangkan laba dalam hasil aktifitas pemasaran, yaitu persepsi atas positioning suatu usaha. Namun itu belum cukup. Kualitas adalah suatu atribut prodak dari suatu usaha baik barang maupun jasa, yang mampu mempengaruhi pengalaman pelanggan. Pengalaman yang baik maka akan ada daya tarik yang sangat kuat untuk membuat keputusan membeli menjadi lebih cepat dan dengan lebih yakin namun hal ini belum tentu membuktikan bahwa mereka loyal pada jasa. Hanya loyalitas pelanggan yang mampu mendatangkan keuntungan lebih dari jasa anda, dengan loyalitas pelanggan anda akan terhindar dari biaya-biaya besar untuk menjaga pelanggan dari pesaing. Kendaraan bermotor baik mobil maupun sepeda motor yang sering dipakai senantiasa diharapkan senantiasa bersih, sehingga dalam pengguna kendaraan tersebut nyaman. Mencuci kendaraan bermotor bisa dilakukan sendiri pemilik atau pemakai kendaraan. Namun saat pemilik atau pemakai kendaraan tersebut tidak punya waktu luang untuk mencuci sendiri, disini peran penyedia 2 jasa cuci kendaraan sangat dibutuhkan untuk membantu menjadikan kendaraan bermotor jadi bersih. Usaha semacam ini sudah cukup banyak macamnya mulai dari konvensional, semi otomatis dan dengan memakai mesin pencuci otomatis atau car wash machine. Keuntungan mengkilap dari mobil mengkilap, mengungkap banyak jenis pelayanan yang ditawarkan untuk membersihkan dan membuat kendaraan anda mengkilap. Bengkel jasa cuci kendaraan bermotor dibutuhkan bagi mereka yang ingin praktis dalam mencuci kendaraannya, maka bengkel proses pencucian kendaraan tersebut berperan sebagai tempat konsumen mengevaluasi diri dari informasiinformasi atas beragam produk untuk memenuhi kebutuhannya. Segala aspek dalam kualitas jasa yang diwakili interaksi, lingkungan fisik dan hasil. Aspekaspek tersebut merupakan suatu yang tidak bisa dipisahkan oleh penyedia jasa dalam memenuhi kebutuhannya sehingga cukup mempu membuat persepsi pelanggan terhadap kualitas jasa, dan bagaimana loyalitas pelanggan akan dapat tercapai dengan mengelola aspek-aspek tersebut. Untuk memberikan jasa yang baik sehingga mampu menjadikan pelanggan loyal dalam memanfaatkan jasa cuci kendaraan bermotor di UD. Mitra Olie Blitar, maka pengelola harus memahami manfaat pengelolaan kualitas jasa yang meliputi faktor kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, dan kualitas hasil sebagai suatu faktor penting untuk bersaing dengan penyedia jasa cuci kendaraan bermotor lain.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together (NHT) pada mata diklat melakukan negoisasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI program keahlian penjualan di SMK "Ardjuna" 01 Malang / Weny Febrianti

 

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis berbasis praktikum dan diskusi pada mata pelajaran fisika pokok bahasan zat dan wujudnya untuk meningkatkan kecakapan sosial dan kecakapan akademik siswa kelas VII-2 SMP Negeri 2 Kalianget Sumenep /

 

ABSTRAK Istiqomah, Lianita.2008. Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivis yang Berbasis Praktikum dan Diskusi pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Zat dan Wujudnya untuk Meningkatkan Kecakapan Sosial dan Kecakapan Akademik Siswa Kelas VII-2 SMP Negeri 2 Kalianget Sumenep. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Sugiyanto, S.Pd, M.Si, (II) Hari Wisodo, S.Pd, M.Si Kata kunci: konstruktivis, praktikum, diskusi, kecakapan sosial, kecakapan akademik Persoalan yang dihadapi SMP Negeri 2 Kalianget bukan hanya terbatas pada upaya membuat kegiatan belajar mengajar lebih menarik tetapi juga bagaimana menumbuhkan dan meningkatkan kecakapan kecakapan sosial dan kecakapan akademik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yaitu studi sistematis terhadap praktik pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan melakukan penerapan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang berbasis praktikum dan diskusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan keterlaksanaan penerapan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang berbasis praktikum dan diskusi, 2) mendeskripsikan peningkatan kecakapan sosial siswa kelas VII-2 SMP Negeri 2 Kalianget Sumenep, dan 3) mendeskripsikan peningkatan kecakapan akademik siswa kelas VII-2 SMP Negeri 2 Kalianget Sumenep. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa guru fisika di kelas ini masih menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, tidak biasa melatih siswa untuk berpikir mandiri, selalu menerapkan sistem teacher center, kecakapan sosial dan kecakapan akademik siswa masih rendah. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai Desember 2008, terdiri dari dua siklus. Hasil refleksi awal mengarahkan peneliti untuk menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang berbasis praktikum dan diskusi, sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran, meningkatkan kecakapan kecakapan sosial kecakapan akademik siswa. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang berbasis praktikum dan diskusi meliputi pembelajaran yang diorientasikan pada kecakapan personal, berpikir, sosial, akademik dan vokasional siswa. Penerapan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang berbasis praktikum dan diskusi dapat terlaksana dengan baik, dengan prosentase keterlaksanaan yang semakin meningkat selama siklus I dan siklus II. Hal ini mengindikasikan bahwa guru dan siswa semakin akrab dan kreatif dengan pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan. Kecakapan sosial dan kecakapan akademik siswa selama penerapan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang berbasis praktikum dan diskusi pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan pada semua aspek kecakapan sosial dan kecakapan akademik, baik pada level individu maupun level kelas.

Pengaruh keterampilan sosial (Social Skill) terhadap minat wirausaha siswa kelas III program keahlian penjualan SMK Negeri 2 Tuban / Nur Mufidah Sa

 

Mewujudkan fungsi pendidikan nasional, peran aktif Sekolah Menengah Kejuruan sebagai salah satu lembaga pendidikan adalah menyiapkan peserta didik agar dapat menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggungjawab. Lulusan Pendidikan Kejuruan secara umum harus memiliki minimal kacakapan pengetahuan dan keterampilan sosial, emosional dan fisik dalam kehidupan sosial. Salah satu bentuk kemandirian adalah sebagai pencipta lapangan pekerjaan dan bukan sebagai pencari pekerjaan. Hal semacam ini adalah salah satu bentuk kemampuan seorang wirausaha. Oleh sebab itu, Sekolah Menengah Kejuruan diharapkan dapat mengembangkan potensi siswa untuk dapat memotivasi lulusannya menjadi seorang wirausahawan dikemudian hari. Dengan demikian siswa terlebih dahulu harus memiliki ketertarikan berbentuk minat pada bidang kewirausahaan. Minat wirausaha salah satunya dapat didukung oleh keterampilan sosial. Karena keterampilan ini merupakan salah satu bentuk keterampilan yang dapat mempengaruhi minat wirausaha siswa. Keterampilan sosial diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain dengan menunjukkan sikap yang sesuai untuk memperlancar usaha yang sedang ditekuni. Karena seorang wirausaha selalu membutuhkan berinteraksi dengan pelanggan, pemasok, distributor, mitra kerja dan lain-lain. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh keterampilan sosial terhadap minat wirausaha siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan penelitian korelasi. Rancangan deskriptif dapat digunakan untuk menggambarkan, mencatat, menganalisis serta menginterpretasikan data dari variabel keterampilan sosial siswa yang terdiri dari sub variabel ekspresi emosi, kepekaan emosi, kontrol emosi, ekspresi sosial, kepekaan sosial, kontrol sosial dan manipulasi sosial sebagai variabel bebas. Sedangkan variabel terikatnya adalah minat wirausaha. Penelitian korelasi digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel keterampilan sosial terhadap minat wirausaha siswa. Dalam penelitian ini menggunakan keseluruhan populasi sebagai obyek penelitian yaitu siswa kelas III program keahlian penjualan SMKN 2 Tuban. Sedangkan analisis penelitian ini menggunakan regresi linier berganda karena untuk mengetahui pengaruh variabel bebas baik secara parsial maupun simultan terhadap variabel terikat. Dari hasil analisis deskriptif penelitian menunjukkan tingkat eksperesi emosi sosial siswa tergolong tinggi, kepekaan emosi siswa tergolong tinggi, kontrol emosi siswa tergolong tinggi, ekspresi emosi siswa tergolong tinggi, kepekaan sosial siswa tergolong tinggi, kontrol sosial siswa tergolong sangat tinggi, dan minat wirausaha yang sebagian besar dimiliki siswa adalah baik. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda diketahui bahwa 1) terdapat pengaruh positif signifikan antara ekspresi emosi terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi parsial 0,158. 2) terdapat pengaruh positif signifikan antara kepekaan emosi terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi parsial sebesar 0,305. 3) tidak terdapat pengaruh signifikan antara kontrol emosi terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi -0,018. 4) terdapat pengaruh positif signifikan antara ekspresi sosial terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi parsial 0,380.5) terdapat pengaruh positif signifikan antara kepekaan sosial terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi parsial 0,451. 6) terdapat pengaruh positif signifikan antara kontrol sosial terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi secara parsial 0,137. 7) terdapat pengaruh positif signifikan antara manipulasi sosial terhadap minat wirausaha dengan nilai regresi 0,136. Secara simultan seluruh sub variabel keterampilan sosial secara simultan mempengaruhi minat wirausaha siswa sebesar 75,7%. Bagi pihak sekolah diharapkan dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa yang terdiri dari ekspresi emosi, kepekaan emosi, kontrol emosi, ekspresi sosial, kepekaan sosial, kontrol sosial dan manipulasi sosial mengingat kepentingan materi tersebut dalam bidang kewirausahaan. Keterampilan sosial siswa dapat dikembangkan melalui metode kooperatif non konvensional. Hendaknya pihak sekolah bertindak sebagai mediator atas tersalurnya minat wirausaha siswa. Populasi dalam penelitian ini terbatas pada siswa kelas III program keahlian penjualan SMK Negeri 2 Tuban, maka untuk memperoleh hasil yang meyakinkan hendaknya diadakan penelitian kembali disekolah lain.

Peningkatan kemampuan menulis diskripsi dengan metode windows pada siswa kelas IV B SD Islam Tompokersan Lumajang / Ulfa Fitria Rachmi

 

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks karena melibatkan aspek pengolahan gagasan, penataan kalimat, dan pengembangan paragraf. Pembelajaran menulis deskripsi perlu diberikan kepada siswa agar siswa dapat melukiskan atau merinci sesuatu secara objektif melalui kata-kata. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) meningkatkan kemampuan menulis deskripsi pada aspek isi yang mencakup penguasaan kerincian isi, kesesuaian isi, kelengkapan isi, dan organisasi karangan dan (2) meningkatkan kemampuan menulis deskripsi pada aspek kebahasaan yang mencakup ketepatan penggunaan ejaan, diksi, dan tatabahasa. Kemampuan menulis deskripsi dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode WINDOWS (word-imagination-drawing objectwriting script). Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian tindakan, diantaranya (1) studi pendahuluan untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran menulis di SD, (2) rencana tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, (5) refleksi, dan (6) hasil tindakan. Sumber data penelitian ini berasal dari hasil penelitian siklus I dan II. Analisis data dilakukan dengan (1) menelaah data terkumpul, (2) mereduksi data, (3) menyimpulkan, dan (4) memverifikasi data. Dengan menganalisis data berupa hasil tulisan deskripsi siswa, peneliti dapat mengetahui keberhasilan tindakan berdasarkan aspek yang dinilai. Kemampuan menulis deskripsi siswa kelas IVB SD Islam Tompokersan Lumajang mengalami peningkatan setelah diterapkannya metode WINDOWS. Berdasarkan hasil analisis, penguasaan kerincian isi mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan rata-rata hasil menulis deskripsi siswa mencapai 45 pada siklus I dan meningkat menjadi 77 pada siklus II. Penguasaan kesesuaian isi juga meningkat. Peningkatan tersebut ditunjukkan dengan tidak ditemukannya unsur narasi pada tulisan deskripsi siswa pada siklus II. Padahal pada siklus I, tulisan deskripsi deskripsi masih bercampur dengan narasi. Peningkatan kelengkapan isi pada tulisan deskripsi siswa terbukti dengan rata-rata siswa mencapai 50 pada siklus I dan 81 pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis, penguasaan organisasi karangan siswa mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut terlihat dari 20 siswa termasuk pada kualifikasi kurang pada siklus I, sedangkan pada siklus II terdapat 19 siswa dengan kualifikasi baik. Penggunaan ejaan pada tulisan deskripsi siswa menunjukkan peningkatan. Hal ini terbukti dengan rata-rata penguasaan ejaan siswa pada siklus I mencapai 41 dan 69 pada siklus II. Peningkatan diksi diketahui dengan rata-rata siswa 43 pada siklus I dan mencapai 68 pada siklus II. Peningkatan penggunaan tatabahasa dapat diketahui dengan 20 iv siswa termasuk dalam kualifikasi kurang pada siklus I, sedangkan pada siklus II, 20 siswa termasuk dalam kualifikasi baik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disarankan kepada guru bahasa Indonesia untuk membimbing siswa menentukan objek yang akan dideskripsikan. Selain itu, guru bahasa Indonesia disarankan untuk mengklasifikasikan objek berdasarkan tingkat kesulitan dan jenjang kelas siswa. Peneliti-peneliti lanjutan juga disarankan dapat meneliti dan menganalisis kegiatan berimajinasi dan menggambar dalam metode WINDOWS untuk mengetahui peningkatan yang terjadi.

Pengaruh similar name packaging terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk oreo dan rodeo (studi terhadap perilaku konsumen di Indomaret Jl. Raya Singosari No. 1 Malang) / Murtinah

 

Banyak produk beredar di pasar memiliki kemasan (warna, bentuk, simbol, logo) yang mirip satu dengan yang lainnya. Satu merek mungkin menjadi pemimpin pasar, sedangkan lainnya adalah pengikut (follower). Meskipun hanya meniru produk, bukan berarti market follower menjalankan usaha tanpa suatu strategi apapun. Perusahaan market follower juga perlu mempertahankan konsumennya dan memperoleh tambahan pelanggan. Strategi similar name hampir sama dengan me-too product yaitu pesaing ingin menciptakan suatu citra produk yang hampir sama atau mirip dengan produk dari pemimpin pasar di mata konsumen. Dengan strategi ini diharapkan minimal konsumen melakukan perbandingan harga. Selain itu perusahaan mengharapkan agar konsumen berfikir bahwa produk yang mirip tersebut mempunyai rasa dan kualitas yang sama dan bahkan konsumen bisa berfikir bahwa produk tersebut merupakan turunan atau masih saudara dengan produk yang ditiru. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) pengaruh yang positif dan signifikan antara warna kemasan, bentuk kemasan, logo kemasan, ukuran kemasan, kualitas kemasan, dan informasi penunjang secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No. 1 Malang, (2) pengaruh yang positif dan signifikan antara warna kemasan, bentuk kemasan, logo kemasan, ukuran kemasan, kualitas kemasan, dan informasi penunjang secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No. 1 Malang, (3) Variabel similar name yang dominan mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No.1 Malang. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis regresi. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli Oreo atau Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No.1 Malang. Penelitian ini tergolong infinite population yaitu populasi yang jumlahnya tidak diketahui. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling dengan rumus Daniel&Terrel sehingga didapatkan jumlah sampel sebesar 121. Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara similar name (warna, bentuk, logo, kualitas, dan informasi penunjang) dengan keputusan konsumen dalam membeli Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No.1 Malang. Hal ini dibuktikan bahwa sub variabel warna kemasan mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu 3,453 > 1,980 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,001 ≤ 0,05, untuk sub variabel bentuk kemasan mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu 4,038 > 1,980 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05, untuk sub variabel logo kemasan mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu 5,050 > 1,980 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05, untuk sub variabel kualitas kemasan mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu 4,249 > 1,980 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05, untuk sub variabel informasi penunjang mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu 6,204 > 1,980 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05. Tetapi ada satu sub variabel dari similar name yang tidak signifikan yaitu ukuran kemasan yang mempunyai nilai thitung < ttabel yaitu 0,259 > 1,980 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,796 ≥ 0,05. Secara simultan dapat diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara similar name (warna, bentuk, logo, ukuran, kualitas, dan informasi penunjang) dengan keputusan konsumen dalam membeli Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No.1 Malang. Hal ini dibuktikan dengan nilai Fhitung > Ftabel, yaitu 731,181 > 2,19 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti ≤ 0,05. Diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0, 973 yang artinya sebesar 97,3% keputusan konsumen dalam membeli produk Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No.1 Malang dipengaruhi oleh variabel similar name, dan sisanya sebesar 2,7% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar penelitian. Berdasarkan hasil analisis tersebut juga diketahui bahwa variabel similar name yang dominan mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli Oreo dan Rodeo di Indomaret Jl Raya Singosari No.1 Malang adalah informasi penunjang. Berdasarkan temuan di atas, saran yang dapat diberikan peneliti bagi pihak PT Khong Guan Indonesia yang menaungi PT Serena Indopangan Bogor yang memproduksi produk Rodeo yaitu agar dapat melakukan inovasi atau bahkan menciptakan produk baru yang bisa menyaingi Oreo. Untuk PT Nabisco Foods Indonesia, hendaknya melakukan inovasi dan diversifikasi pada produk Oreo baik dari segi rasa maupun dari kemasannya agar mempunyai ciri khas yang sulit ditiru oleh perusahaan lain. Saran untuk penelitian selanjutnya yang sejenis agar lebih berfokus pada variabel harga dan rasa dari produk Oreo dan Rodeo yang dihububungkan dengan keputusan konsumen dalam membeli produk Oreo dan Rodeo

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran think pair share terhadap pemahaman konsep, ketrerampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan respon siswa kelas XII di MAN 3 Malang / Andayani

 

Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia berakibat pada berubahnya sistem pendidikan di Indonesia dari paradigma behaviorisme berubah menjadi paradigma konstruktivisme. Perubahan ini terjadi akibat perubahan pemahaman terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Perubahan tersebut disikapi oleh Pemerintah dengan ditandai perubahan kurikulum yang digunakan, mulai dari kurikulum 1984 berubah menjadi kurikulum 1994 yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak saja memiliki pengetahuan melainkan keterampilan, khususnya keterampilan berpikir untuk memecahkan masalah dengan menggunakan prinsip dan prosedur proses sains. Pada kurikulum 1994 sudah nampak terjadinya perubahan paradigma bahwa belajar bukan berbasis pengetahuan namun berbasis keterampilan. Selanjutnya paradigma tersebut diperkuat lagi dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dengan konsep pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup (life skill). Setelah disempurnakan lagi dengan keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006. Berdasarkan peraturan menteri tersebut maka pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan atau sekarang disebut sebagai KTSP. Reformasi pada kurikulum juga berimbas pada reformasi belajar biologi, dimana belajar biologi harus dapat mengembangkan sikap, keterampilan berpikir, serta meningkatkan keterampilan motoriknya. bukan hanya usaha untuk mencari pengetahuan tentang makhluk hidup. Dilihat dari segi input dan output pembelajaran biologi masih sangat rendah. Berdasarkan observasi di MAN 3 Malang Menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi, belum pernah mengukur kemampuan berfikir kritis dan keterampilan metakognitif. Berdasarkan obervasi tersebut maka peneliti menggunakan strategi pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) dan strategi pembelajaran kooperatif model think pair share yang dipadu dengan strategi metakognitif (TPS + SM). Sehingga dalam penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) apakah ada pengaruh strategi pembelajaran TPS, (TPS + SM) terhadap pemahaman konsep, keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa, (2) apakah ada pengaruh kemampuan akademik siswa terhadap pemahaman konsep, keterampilan metakognitif, dan kemampuan berpikir kritis siswa, (3) apakah ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik siswa terhadap pemahamana konsep, keterampilan metakognitif, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Maka untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan menggunakan kelas XII IPA 1 dan IPA 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII IPA 3 sebagai kelas kontrol. Data diambil dengan menggunakan instrumen kuesioner untuk data keterampian metakognitif dan insrumen tes esai untuk data pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis. Dari hasil penelitian yang telah diperoleh menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan strategi pembelajaran terhadap pemahaman konsep siswa, sedangkan kemampuan akademik siswa berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep, dan interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep. Strategi pembelajaran, kemampuan akademik, dan interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap keterampilan metakognitif. Sedangkan strategi pembelajaran dan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa., dan interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis. Dari sembilan hipotesis penelitian yang diajukan hanya tiga hipotesis yang signifikan, sedangkan enam hipotesis lainnya tidak signifikan. Pada variabel terikat keterampilan metakognitif untuk tiga hipotesis yang diajukan semuanya menunjukkan hasil tidak signifikan. Hal ini terjadi karena pada saat mengisi lembar kuesioner keterampilan metakognitif siswa masih menggunakan logika khususnya pada saat prates. Dalam hal ini siswa tidak mengembalikan setiap pernyataan pada diri sendiri sedangkan pada saat postes siswa baru menyadari dan menjawab sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Semua interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap keterampilan metakognitif, dan kemampuan berpikir kritis tidak signifikan. Hal ini menandakan bahwa interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik saling melemahkan, kecuali untuk interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep yang memperlihatkan bahwa pengaruh kemampuan akademik (atas) sangat kuat terhadap strategi pembelajaran. Respon siswa setelah diberi pengajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran menunjukkan bahwa 80% siswa dari kelas TPS menyatakn setuju dengan penerapan straegi pembelajaran think pair share (TPS) dan 78% siswa menyatakan setuju dengan penerapan strategi pembelajaran think pair share yang dipadu dengan strategi metakognitif (TPS + SM). Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diajukan oleh peneliti untuk calon peneliti dan guru adalah (1) Hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang keterampilan metakognitif siswa, baik oleh calon peneliti yang akan melakukan penelitian ataupun oleh pihak sekolah dalam hal ini guru mata pelajaran yang terkait. Bagi guru dalam mengajar perlu adanya variasi strategi pembelajaran yang digunakan dan salah satunya TPS dan (TPS + SM) dan dapat juga strategi pembelajaran yang telah digunakan oleh guru dikombinasikan atau dipadukan dengan strategi metakognitif. Selain itu guru harus memperhatikan kemampuan berpikir kritis siswa melalui tes tulis esai dan memperhatikan kemampuan akademik siswa terutama dalam kelompok belajar.

Pengembangan pembelajaran akuntansi dengan pendekatan konstruktivistik melalui metode problem based learning untuk meningkatkan prestasi belajar di SMK Muhammadiyah 2 Malang / Murni Wijayanti

 

Pembelajaran akuntansi yang diterapkan di SMK Muhammadiyah 2 Malang adalah model ceramah, penugasan, tanya jawab. Selain itu diketahui bahwa kegiatan pembelajaran masih berorientasi pada target kurikulum, sehingga apa yang dikerjakan siswa kurang bermakna. Siswa hanya memberikan soal-soal untuk dikerjakan dan tidak memahami konsep pembelajaran tersebut. Hal ini menyebabkan siswa kurang bisa mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Hal ini akan berakibat pada kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari, sehingga prestasi belajar siswa khususnya pada kelas akuntansi kurang optimal. Agar siswa memiliki kemampuan dalam memahami konsep materi, sikap positif, serta kerampilan dalam pembelajaran ini maka digunakan pendekatan konstruktivistik metode problem based learning. Melalui pendekatan konstruktivistik guru akan menggali pengetahuan awal siswa terhadap materi dan siswa yang membangun sendiri pemahannya, guru sebagai fasilitator. Kemudian dilanjudkan metode problem based learning dimana guru (1) mengorientasikan siswa pada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar (3) membantu penyelidikan individu atau kelompok (4) menyajikan hasil karya (5) analisis dan evaluasi pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus, dimana tiap-tiap siklus meliputi (1) perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, dokumentasi, angket. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) aktivitas siswa dan guru dalam mengikuti pembelajaran akuntansi dengan pendekatan konstruktivistik metode problem based learning, (2) persepsi siswa terhadap pembelajaran akuntansi dengan pendekatan konstruktivistik metode problem based learning, (3) persepsi guru terhadap pembelajaran akuntansi dengan pendekatan konstruktivistik metode problem based learning, (4) pengembangan pembelajaran pembelajaran akuntansi dengan pendekatan konstruktivistik metode problem based learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran akuntansi yang diterapkan menjadikan siswa lebih aktif, dalam hal ini guru sebagai fasilitator dan memberikan bimbingan pada siswa. Aktivitas siswa yang meliputi mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan dan materi yang dipelajari, menjawab pertanyaan, membentuk kelompok belajar, mempresentasikan hasil diskusi, mengikuti jalannya diskusi dengan memberikan pertanyaan, sanggahan, tanggapan atas jawaban yang diberikan, dan menyimpulkan hasil diskusi pada siklus I 87,5 %

Pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pembelian pupuk NPK 15-15-15 merak padi unggul (Studi pada pelanggan UD. Tani Murni Wates Kediri) / Titik Lestari

 

Pertumbuhan industri di Indonesia saat ini semakin meningkat, hal ini tentu juga mendorong adanya persaingan yang semakin tajam, dimana perusahaan harus bersaing agar tetap dapat bertahan di dunia bisnisnya. Persaingan yang terjadi tidak hanya dengan usaha-usaha yang sejenis namun juga dengan usaha-usaha yang berpotensi untuk memproduksi barang pengganti. Berdasarkan keadaan bisnis di atas secara otomatis akan menimbulkan persaingan-persaingan yang ketat dan cenderung untuk menghancurkan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lain. Hal ini mendorong tiap-tiap perusahaan untuk senantiasa memproduksi produk-produk dengan kualitas yang lebih baik dari produk-produk terdahulu. Peningkatan kualitas produk ini sangat penting, karena persaingan yang ketat membuat konsumen dihadapkan pada berbagai pilihan barang maupun jasa yang disediakan oleh perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) deskripsi bauran promosi, (2)pengaruh bauran promosi (X) baik secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian (Y) dan (3) subvariabel yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian pupuk NPK15-15-15 Padi Unggul pada UD. TANI MURNI Wates Kediri.. Variabel bebas dalam peenlitian ini adalah periklanan (X1), promosi penjualan (X2), penjualan personal (X3), dan hubungan masyarakat (X4) dan variabel terikatnya adalah keputusan konsumen (Y). Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen UD.TANI MURNI Wates Kediri tahun 2007. Penentuan sampel mengunakan rumus Slovin sehingga diperoleh sampel sebanyak 75 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan Purposive sampling dan Accidental sampling untuk menentukan jmlah sampling untuk menyebarkan kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 4 alternatif jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis statistik inferensial regresi berganda. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner, dokumentasi dan wawancara. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) 44 responden (58,7%) menyatakan setuju terhadap periklanan yang dilakukan oleh UD. TANI MURNI Wates Kediri, 42 responden (56,7%) menyatakan setuju terhadap promosi penjualan yang dilakukan oleh UD. TANI MURNI Wates Kediri, penjualan personal, sebagian besar 48 responden (64,0%) setuju terhadap penjualan personal yang dilakukan oleh UD. TANI MURNI Wates Kediri. 41 responden (54,7%) setuju terhadap hubungan masyarakat yang dilakukan oleh UD. TANI MURNI Wates Kediri. 45 responden (60,0%) setuju terhadap keputusan pembelian yang dilakukan oleh UD. TANI MURNI Wates Kediri. Terdapat pengaruh positif yang signifikan secara parsial ada antara periklanan, promosi penjualan, penjualan personal dan hubungan masyarakat terhadap keputusan pembelian pupuk NPK15-15-15 Padi Unggul pada UD. TANI MURNI Wates Kediri dengan nilai ß1 = 0,244, thitung = 3,787 dan nilai sig t =0,000 ; ß2 = 0,156, thitung = 2,184, sig t = 0,032; ß3= 0,288, thitung = 2,339 sig t = 0,022 dan nilai ; ß4 = 0,273, thitung = 2,0273 sig t = 0,266. Terdapat pengaruh yang signifikan antara periklanan (X1), promosi penjualan(X2), penjualan personal (X3)dan hubungan masyarakat (X4) secara simultan terhadap keputusan pembelian pupuk NPK15-15-15 Padi Unggul pada UD.TANI MURNI Wates Kediri. Berdasarkan nilai Fhitung sebesar 21,029 dengan tingkat siginifikansi 0,000. Subvariabel bauran promosi yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian pupuk pada UD.TANI MURNI Wates Kediri adalah periklanan dengan nilai sumbangan efektif sebesar 16,9 %. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,520. Hal ini berarti bahwa 52,0 % keputusan pembelian dipengaruhi oleh periklanan , penjualan personal,promosi penjualan, dan hubungan masyarakat. Sedangkan sisanya sebesar 48 % dipengaruhi faktor lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Hubungan masyarakat dalam penelitian ini memberikan sumbangan efektif yang paling rendah dibandingkan dengan bauran promosi yang lain. Oleh karena itu diharapkan pada waktu-waktu yang akan datang perusahaan lebih sering menjadi sponsorship pada acara-acara pertanian yang melibatkan para petani, karena dengan menjadi sponsorship pengunjung atau tamu yang hadir pada cara tersebut secara tidak langsung akan mendapatkan informasi tentang produk-produk yang tersedia pada UD.TANI MURNI Wates Kediri. (2) Sebaiknya perusahaan lebih meningkatkan pelaksanaan pameran karena dari pameran masyarakat akan lebih cepat dan lebih mudah memperoleh informasi tentang produk-produk UD.TANI MURNI serta keunggulan-keunggulan penggunaannya.(3) Perusahaan sebaiknya meningkatkan promosi penjualan melalui percobaan gratis (DEM), garansi produk. Hal ini sangat efektif dilakukan untuk menarik konsumen.

Perancangan enviroment graphic obyek wisata sungai Musi Palembang / Maya Sari Opakna

 

Environment graphic (grafis lingkungan) bisa juga disebut sebagai system tanda yang merupakan media informasi dan komunikasi lingkungan, baik dalam ataupun luar ruangan yang menggunakan tanda (sign). Penggunaan environment graphic menjadi bagian dalam stategi komunikasi periklanan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan environment graphic yang disertai dengan paparan diskriptif konseptual. Objek wisata air sungai Musi Palembang merupakan objek wisata alam yang ada di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Wisata ini menawarkan keindahan alamnya yang masih alami serta bangunan sejarah yang . Dalam kegiatan promosi objek wisata sungai Musi Palembang.dipegang langsung oleh Dinas Pariwisatakota Palembang, namun selama ini perkembangan medianya masih sangat kurang dan memerlukan media komunikasi sebagai penunjang dalam hal peningkatan jumlah pengunjungnya dan memperkuat positioningnya melalui bentuk desain serta visualisasi media komunikasi visual yang terencana dan lebih efektif. Metode perancangan yang digunakan adalah model prosedural dengan menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media dan disertai deskripsi konseptual. Langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi : (1) latar belakang dan rumusan masalah, (2) pengumpulan data, (3) analisis data,(4) menentukan konsep kreatif desain, (5) visualisasi desain, (6) hasil desain. Perancangan ini menghasilkan beberapa media komunikasi visual, yaitu, system sign, landmark, led display, guide sign, signage, enterance sign, identity sign, roof sign, dan advertising sign. Media komunikasi visual objek wisata sungai Musi Palembang ini diharapkan dapat digunakan dengan baik sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

Sistem pengeloaan kearsipan pada perusahaan daerah jasa yasa Kabupaten Malang / Rizky Kurnia

 

Setiap pekerjaan dan kegiatan di perkantoran memerlukan data dan informasi. Salah satu sumber data adalah arsip, karena arsip adalah bukti dan rekaman dari kegiatan mulai dari kegiatan yang paling depan dilaksanakan sampai kepada kegiatan-kegiatan itu selesai digunakan. Untuk pengambilan keputusan, arsip diolah baik secara manual maupun komputer menjadi suatu informasi yang dipakai dasar dalam pengambilan keputusan. Kearsipan merupakan dasar dari pemeliharaan surat, kearsipan mengandung proses penyusunan dan penyimpanan surat-surat sedemikian rupa, sehingga surat tersebut dapat ditemukan kembali bila diperlukan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : jenis arsip, pengelolaan surat masuk dan surat keluar, sistem penyimpanan arsip, penemuan kembali arsip, perlengkapan arsip, pemeliharaan arsip, penyusutan dan pemusnahan arsip yang terdapat pada PD Jasa Yasa Kabupaten Malang. Metode yang digunakan untuk mendapatkan segala informasi yang berhubungan dengan pengelolaan sistem kearsipan pada PD Jasa Yasa menggunakan metode wawancara, observasi, dokumentasi dan tes kecepatan penemuan kembali arsip. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat maka digunakan pengecekan keabsahan data yaitu dengan menggunakan triangulasi yaitu triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Sedangkan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian digunakan teknik deskriptif kualititatif yaitu data mengenai jenis arsip, pengelolaan surat masuk dan surat keluar, sistem penyimpanan arsip, peralatan arsip, pemeliharaan arsip, penyusutan dan pemusnahan arsip yang terdapat pada PD Jasa Yasa Kabupaten Malang dan teknik deskriptif kuantitatif yaitu untuk memperoleh data tentang besarnya angka kecepatan kembali arsip dan besarnya angka efisiensi penemuan kembali arsip. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis arsip yang disimpan adalah arsip yang berhubungan dengan kegiatan PD Jasa Yasa misalnya arsip umum, arsip keuangan dan arsip kesejahteraan rakyat. Pengelolaan surat masuk dan surat keluar menggunakan sistem buku agenda karena lebih mempermudah pegawai arsip dan sesuai dengan kebutuhan dari segala kegiatan surat menyurat yang dilakukan oleh PD Jasa Yasa Kabupaten Malang. Sistem penyimpanan menggunakan sistem subjek berkode dan azaz yang diterapkan menggunakan azaz gabungan sentralisasi-desentralisasi. Penemuan kembali arsip yang telah dilakukan oleh pegawai arsip PD Jasa Yasa adalah sebesar 46% dikategorikan kurang cepat karena lebih dari 3% sedangkan untuk tingkat kecermatan berada dalam kategori kurang cermat yaitu sebesar 7,14% walaupun untuk penemuan kembali arsip pegawai arsip dapat memanfaatkan waktu secara efisien sehingga dikategorikan efisien karena data yang diperoleh sebesar 60,3 detik dimana 1 menit dikategorikan efisien. Perlengkapan arsip yang terdapat pada PD Jasa Yasa terdiri dari perlengkapan alat tulis dan perlengkapan bukan alat tulis yaitu 2 ruangan yaitu ruang arsip yang bergabung dengan ruang baguan umum dan ruang tempat penyimpanan arsip yang sudah habis masa berlakunya dimana kedua ruangan tersebut berukuran 3x4 meter, 1 filling cabinet, 2 lemari arsip, komputer dan beberapa odner untuk penyimpanan arsip, sedangkan untuk pemeliharaan arsip menggunakan bahan pencegah berupa kapur barus dan selelu membersihkan ruangan maupun tempat penyimpanan arsip setiap hari. Proses penyusustan dan pemusnahan arsip yang diterapkan pada PD Jasa Yasa hampir sama yaitu menyesuaikan dengan jenis arsip yang akan disusutkan untuk arsip yang bersifat biasa penyusutan dilakukan setiap 1 tahun sekali sedangkan untuk arsip yang bersifat penting disusutkan setiap 20 tahun sekali. Untuk pemusnahan arsip yang bersifat biasa dilakukan dengan cara dibakar sedangkan untuk arsip yang bersifat penting pegawai arsip harus membuat berita pemusnahan arsip atau laporan kepada Pemerintah Kabupaten Malang untuk mendapat persetujuan setelah mendapat persetujuan maka arsip dapat segera dimusnahkan dengan cara dibakar. Berdasarkan kesimpulan yang telah disajikan, PD Jasa Yasa Kabupaten Malang disarankan : (1) untuk lebih meningkatkan sistem penyimpanan arsip agar lebih efisien sebaiknya untuk tempat penyimpanan ditambah lagi untuk lemari arsip maupun filling cabinet untuk mempermudah penemuan kembali arsip (2) sebaiknya disediakan ruangan untuk kearsipan yang lebih luas supaya tempat penyimpanan, peralatan dan perlengkapan kearsipan dapat lebih lengkap sehingga segala kegiatan dan kebutuhan yang berkaitan dengan pengelolaan kearsipan dapat terpenuhi dengan baik dan pengelolaan kearsipan berjalan lancar pada PD Jasa Yasa Kabupaten Malang.

Peningkatan prestasi belajar melalui model pembelajaran learning cycle 5E pada mata pelajaran akuntansi di SMA Muhammadiyah Blitar / Dwi Putri Gayanti

 

Gayanti, Dwi Putri. 2012. Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Model Pembelajaran Learning Cycle 5E Pada Mata Pelajaran Akuntansi di SMA Muhammadiyah Blitar. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi. FE. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Tuhardjo, S.E., M.Si. Ak (2) Diana Tien Irafahmi, S.Pd., M.Ed. Kata kunci: model pembelajaran Learning Cycle 5E, prestasi belajar Akuntansi.      Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, pembelajaran akuntansi di kelas XI IPS SMA Muhammadiyah Blitar diperoleh gambaran bahwa proses pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga menyebabkan siswa pasif serta nilai ulangan harian yang cenderung fluktuatif dengan rata-rata rendah yaitu 53,6. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar dan dapat mengembangkan peran aktif siswa adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IS SMA Muhammadiyah Blitar melalui penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data yang dipergunakan selama proses penelitian berlangsung bersumber dari data observasi, hasil wawancara, tes, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E dapat meningkatkan prestasi belajar dilihat dari aspek kognitif dan afektif. Perbandingan hasil belajar aspek kognitif siklus I dan siklus II setelah diterapkan model pembelajaran learning cycle 5E mengalami peningkatan. Dimana siklus I hanya memperoleh skor rata-rata 74,14% dan untuk siklus II mendapat skor rata-rata 83%. Perbandingan hasil belajar aspek afektif siklus I dengan siklus II setelah diterapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E juga mengalami peningkatan. Dimana pada siklus I memperoleh skor rata-rata 74,33% menjadi skor 80,74% pada siklus II. Saran dari peneliti yang bisa sampaikan yaitu, (1) Untuk kesempurnaan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E maka harus disediakan alokasi waktu yang cukup agar tidak mengurangi tahap berpikir dalam kegiatan diskusi siswa, (2) Pemberian motivasi dan arahan pada siswa harus diberikan secara intens untuk memacu semangat dan keberanian siswa dalam proses pembelajaran, serta (3) Guru hendaknya membuat variasi model pembelajaran, dengan memadukan atau mengembangkan model pembelajaran Learning Cycle 5E dengan metode yang lain.

Implementasi otonomi bidang pendidikan pada tingkat sekolah (studi multi situs pada tiga SMA Negeri di kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa) / oleh Fientje J.A. Oentoe

 

Peran kepala sekolah dalam mengelola SLTP Terbuka (studi kasus di SLTP Terbuka Suboh Kabupaten Situbondo) / Fathor Rakhman

 

Pertanyaan yang digunakan guru dalam interaksi belajar mengajar bahasa Indonesia di kelas II SMP negeri 6 Manado / oleh Andrintje Tamangendar

 

Strategi meminta dalam bebrbahasa Indonesia anak usia sekolah dasar / Nurlaksana Eko Rusminto

 

Peranan warok reog Ponorogo dalam pewarisan nilai moral dan budaya bagi masyarakat di Kabupaten Ponorogo / Rida Azizah

 

Warok merupakan salah satu bentuk kebudayaan Jawa yang sudah diakui dan dikenal khususnya bagi masyarakat Ponorogo. Bagi masyarakat Ponorogo warok bukan merupakan suatu hal yang asing lagi, justru seseorang akan merasa bangga dan tersentuh hatinya bila disebut Warok. Warok diyakini oleh masyarakat Ponorogo sebagai seseorang yang mempunyai keluhuran budi dan tingkah laku serta memiliki kelebihan ilmu dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) sejarah Warok dalam Reog Ponorogo, (2) kriteria seseorang yang berstatus sebagai seorang Warok, (3) perilaku warok yang menggambarkan nilai-nilai moral di masyarakat, (4) peranan Warok dalam mewariskan nilai-nilai moral dan budaya bagi masyarakat di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ponorogo yang terfokus pada 5 Eks Pembantu Bupati (EPB) yaitu Kecamatan Ponorogo, Sukorejo, Badegan, Kauman, dan Jetis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Dalam penelitian ini subjek penelitian adalah tokoh Warok dari kelima Eks Pembantu Bupati yang eksistensinya masih diakui oleh masyarakat Ponorogo. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sejarah munculnya Warok dalam Reog Ponorogo ada dua versi. Pertama, Warok muncul bersamaan dengan jathil yang membawa gong pada saat mengiringi Prabu Klana Sewandana yang hendak mempersunting Dewi Sanggalangit putri dari Kerajaan Kediri. Kedua, munculnya Warok adalah membonceng pada kesenian reog, (2) kriteria seseorang yang berstatus sebagai seorang Warok dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, Warok memiliki tipologi dan profil, berpakaian khas Ponorogo (Penadon) dengan warna khas baju hitam celana hitam, beserta atribut-atribut sebagai pelengkapnya. Warok mempunyai wibawa, disegani dan dihormati oleh masyarakat. Selain itu Warok juga sebagai pemimpin sekaligus pemain barongan yang mengerti arti hidup dan kehidupan. Dilihat dari tataran ilmu, Warok adalah figur yang kebak ilmu, artinya menguasai ilmu baik lahir maupun batin. Selain itu, Warok juga memiliki ilmu kesaktian dan ilmu kekebalan badan. Kedua, jalan (lelaku) yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai Warok terlebih dahulu harus bisa memenuhi 9 (sembilan) syarat pokok, yaitu: berhati bersih dan berpikir positif; sopan santun; jujur, tidak berkata kotor dan berhati-hati; mengurangi keinginan nafsu; berjiwa perwira; adil, bijaksana dan tidak membeda-bedakan; suka menolong tanpa pamrih; sabar; tidak sombong. Selanjutnya seseorang harus melaksanakan Tapa Brata. Terakhir melakukan puasa dari tahap awal, tengah, sampai akhir. (3) perilaku Warok yang menggambarkan nilai-nilai moral di masyarakat antara lain diekspresikan dengan Hasta Brata (delapan laku kepemimpinan), bergaya hidup sederhana yang tidak memikirkan kepentingan duniawi dan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat disamping kepentingannya sendiri. Selain itu Warok selalu bersikap jujur, sopan santun dan berhati-hati dalam berucap dan bertingkah laku, berani membela kebenaran, tidak sombong, rendah hati, selalu berfikir jernih dan berani bertanggung jawab, (4) peranan Warok dalam mewariskan nilai moral dan budaya bagi masyarakat di Kabupaten Ponorogo yaitu: sebagai teladan dan panutan bagi masyarakat; sebagai pemimpin, guru serta pembimbing; sebagai pengajar/pelatih, baik dalam membuat perlengkapan reog maupun melatih tari reog; dan sebagai penggerak massa untuk aktif dalam kegiatan kemasyarakatan sekaligus sebagai pengarah, penunjuk, dan pembimbing. Berdasarkan temuan penelitian ini, agar disarankan bagi masyarakat Ponorogo dan pelaku kesenian Reog Ponorogo agar mencontoh perilaku-perilaku yang diwariskan oleh Warok serta mengembangkan potensi dengan menciptakan kreasi-kreasi baru dalam berkarya, supaya kesenian Reog bisa tetap eksis sekaligus bisa lebih menarik perhatian penonton. Selain itu figur Warok agar selalu berpegang teguh pada karakteristiknya. Mengingat Reog Ponorogo dan Warok memiliki potensi dan mampu menjadi aset pariwisata daerah, Pemerintah Kabupaten Ponorogo diharapkan melakukan pembinaan serta memfasilitasi sarana dan prasarana kepada para tokoh Warok dalam konteks kesenian Reog.

Pengaruh lesson study terhadap ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Jerman kelas X SMA Laboraturium UM Malang / Jeki Purnami

 

ABSTRAK Purnami, Jeki. 2008. Pengaruh Lesson Study Terhadap Ketuntasan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Jerman Siswa Kelas X SMA Laboratorium UM Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Herri Akhmad Bukhori, M.A, M.Hum Kata Kunci : Lesson Study, Ketuntasan Belajar. Banyak usaha yang di lakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, diantaranya adalah menyempurnakan kurikulum, meningkatkan fasilitas pengajaran di tiap-tiap sekolah, serta meningkatkan kompetensi guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Dari hasil pengamatan selama praktik mengajar di SMA Laboratorium UM Malang diketahui sekolah ini sedang mengembangkan sebuah kegiatan yang bernama Lesson Study. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang berkesinambungan untuk meningkatkan kompetensi guru. Guru yang semakin berkompeten diharapkan dapat meningkatkan prestasi siswa sehingga dapat memenuhi target ketuntasan belajar sesuai dengan Standar Kemampuan Minimal ( SKM) yang telah ditetapkan untuk setiap matapelajaran yakni 7,5. Pada akhirnya rangkaian proses Lesson Study ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Lesson Study terhadap ketuntasan belajar siswa. Pengaruh ini ditandai dengan ada tidaknya perbedaan nilai ketuntasan belajar antara siswa yang mendapatkan Lesson Study dan yang tidak mendapatkan Lesson Study. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Laboratorium UM Malang. Dengan asumsi kemampuan rata-rata tiap kelas setara, maka peneliti menggunakan random sampling dalam menentukan sampel dan hasilnya dapat digunakan untuk mewakili populasi. Dalam penelitian ini, kelas X-4 menjadi kelas eksperimen dan Kelas X-2 menjadi kelas kontrol. Desain penelitian yang digunakan adalah The static group comparison: Randomized control-group only design, yakni membandingkan 2 kelompok dengan satu kali pengukuran. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, pemberian perlakuan dan pemberian tes, kemudian data dianalisis menggunakan rumus t- test Independent Sample. Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan awal kelas eksperimen adalah 74.2581 dengan jumlah siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 14 orang, sedangkan pada kelas kontrol nilai rata-rata kemampuan awal adalah 73.00 dengan jumlah siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 13 orang. Setelah kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi perlakuan dan diberi post test diketahui nilai rata- rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, yakni 80.774194 >73.06667. Siswa yang tidak tuntas belajar di kelas ekperimen sejumlah 4 orang, sedangkan pada kelas kontrol sejumlah 13 siswa. Dapat dilihat bahwa jumlah siswa yang tidak tuntas di kelas eksperimen lebih sedikit dibandingkan kelas kontrol (4 <13). Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan nilai rata-rata dan angka ketuntasan belajar antara siswa yang mendapatkan Lesson Study dan siswa yang tidak mendapatkan Lesson Study. Simpulan dari penelitian ini adalah kegiatan Lesson Study dapat meningkatkan ketuntasan belajar mata pelajaran bahasa Jerman siswa kelas X SMA Laboratorium UM Malang. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada guru bidang studi bahasa Jerman untuk lebih sering melaksanakan kegiatan ini dan kepada peneliti lain untuk mengembangkan penelitian ini dengan populasi dan sampel dari sekolah lain.

Studi tentang sistematika mengajar guru pendidikan jasmani sekolah dasar ditinjau dari latar belakang pendidikan see-Kacamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan / Wahyu Dwi Prasetyo

 

Pendidikan jasmani adalah semua aktifitas pendidikan secara keseluruhan yang mengembangkan aspek kebugaran jasmani yang intensif dan dilaksanakan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan perkembangan kesehatan jasmani, perkembangan mental emosional, perkembangan sosial dan perkembangan intelektual. Fenomena yang terjadi adalah pembelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Dasar sebagian ditangani guru dengan latar pendidikan yang berbeda, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana sistematika mengajar guru bidang studi pendidikan jasmani dan guru kelas Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani ditinjau dari latar belakang pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistematika mengajar guru bidang studi pendidikan jasmani dan sistematika mengajar guru kelas SDN se-Kecamatan Sukorejo dalam pembelajaran pendidikan jasmani ditinjau dari latar belakang pendidikan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian sistimatis deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode observasi dangan instrumen non-tes yang berupa Check list, hasil data observasi dalam bentuk skor kemudian diolah menjadi nilai presentase dengan interpretasi masing-masing rentangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik statistik deskriptif dengan presentase deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Subyek penelitiannya adalah guru bidang studi pendidikan jasmani dan guru kelas SDN se-Kecamatan Sukorejo. Dari hasil penelitian ini, sistematika mengajar guru bidang studi pendidikan jasmani SDN se Kecamatan Sukorejo 81,56% yang berarti berada pada klasifikasi baik. Hal tersebut diperoleh dengan menjumlahkan rata-rata sistematika mengajar guru dalam persiapan pribadi sebesar 97,50%, rata-rata sistematika mengajar guru dalam persiapan sarana dan prasarana 80%, dan proses pembelajaran yang terdiri dari; rata-rata sitematika mengajar guru dalam tahap pendahuluan sebesar 88%, rata-rata sistematika mengajar guru dalam tahap inti sebesar 79,16%, rata-rata sistematika mengajar guru dalam tahap penutup sebesar 57,50%. Sedangkan sistematika mengajar guru Kelas SDN se Kecamatan Sukorejo 64,84% yang berarti berada pada klasifikasi cukup. Hal tersebut diperoleh dengan menjumlahkan rata-rata sistematika mengajar guru dalam persiapan pribadi sebesar 59,38%, rata-rata i sistematika mengajar guru dalam persiapan sarana dan prasarana 62,50%, dan proses pembelajaran yang terdiri dari; rata-rata sitematika mengajar guru dalam tahap pendahuluan sebesar 71,25%, rata-rata sistematika mengajar guru dalam tahap inti sebesar 67,70%, rata-rata sistematika mengajar guru dalam tahap penutup sebesar 46,87%. Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan bahwa guru bidang studi pendidikan jasmani dan guru kelas dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani perlu ditingkatkan lagi, terutama bagi guru kelas karena guru sangat berperan besar dalam meningkatkan sumber daya manusia terutama siswa. Lembaga Dinas Pendidikan untuk memperhatikan kekurangan guru pendidikan jasmani di Sekolah Dasar, hal ini disesuaikan dengan PP 38 tahun 1992 yang mengisyaratkan bahwa 1 SD minimal 1 orang guru pendidikan jasmani.

Pengembangan media pembelajaran menggunakan microsoft powerpoint sebagai media pembelajaran fisika di SMA / Indah Esti Nur Hayati

 

Terdapat kontradiksi antara harapan dan kenyataan pada bidang fisika di Indonesia. Di satu sisi pemerintah mengharapkan adanya pengembangan kemampuan siswa dalam bidang sains, khususnya dalam bidang fisika. Sementara di sisi lain, kebanyakan siswa menganggap fisika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipelajari. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk menghilangkan anggapan tersebut, sekaligus untuk menjawab tantangan jaman yang semakin modern. Upaya yang ditawarkan dalam karya tulis ini adalah dengan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer. Pemilihan media ini didasarkan pada fakta bahwa semakin banyak siswa di Indonesia yang mulai akrab dengan dunia komputer. Pengembangan media pembelajaran ini, bertujuan untuk menunjukkan bahwa Microsoft PowerPoint dapat dijadikan media pembelajaran alternatif dalam pembelajaran fisika. Di samping itu juga untuk mendeskripsikan efek penggunaan Microsoft PowerPoint sebagai media pembelajaran fisika dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan media ini menggunakan model prosedural, yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama terdiri dari lima langkah, yaitu: (1) menetukan pokok bahasan yang akan disusun media pembelajarannya, (2) menyusun storyboard, (3) menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memperkaya media pembelajaran yang dikembangkan, (4) mengembangkan media pembelajaran berdasarkan storyboard, dan (5) menyempurnakan media pembelajaran dengan berbagai fasilitas yang dapat digunakan. Tahap kedua adalah tahap uji coba produk hasil pengembangan. Tahap ketiga terdiri dari dua langkah, yaitu: (1) analisis hasil uji coba produk, dan (2) revisi produk. Produk hasil pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer ini telah melalui tahap uji perseorangan. Data uji perseorangan tersebut diperoleh melalui instrumen pengumpulan data berupa angket untuk tiga validator, yang dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan September 2007, dan wawancara langsung dengan ketiga validator. Dari hasil analisis terhadap uji perseorangan tersebut, persentase rata-rata yang diperoleh adalah 78,70%, sehingga program media pembelajaran ini dinyatakan valid dengan beberapa catatan untuk bahan perbaikan.

Analisis interferensi gramatikal Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman tulis mahasiswa jurusan Sastra Jerman angkatan 2009 Universitas Negeri Malang / Lis Setyowati

 

Interferensi merupakan penyebab timbulnya kesalahan dalam pembelajaran bahasa asing, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam pembelajaran bahasa Jerman juga masih banyak ditemui adanya interferensi, khususnya dalam bahasa tulis. Hal itu dapat diketahui dari Tagebuch mahasiswa angkatan 2006. Banyak kesalahan yang ditemukan dalam Tagebuch mahasiswa akibat interferensi bahasa Indonesia. Interferensi gramatikal adalah masuknya kaidah-kaidah gramatika bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman yang menimbulkan gangguan pemakaian bahasa Jerman tulis. Interferensi gramatikal meliputi dua aspek yaitu morfologi dan sintaksis. Kajian penelitian ini meliputi urutan kata, penanggalan predikat, dan penambahan preposisi yang merupakan bagian dari aspek sintaksis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk interferensi gramatikal bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman tulis mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Angkatan 2006 Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan subjek penelitian mahasiswa angkatan 2006 yang mengikuti matakuliah Aufsatz I yang berjumlah 17 orang. Sumber data yang digunakan adalah Tagebuch mahasiswa yang ditulis selama satu semester. Data dikumpulkan dari kalimat-kalimat dalam Tagebuch mahasiswa yang terinterferensi bahasa Indonesia, kemudian selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interferensi gramatikal bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman muncul pada urutan kata, penanggalan predikat, dan penambahan preposisi. Interferensi urutan kata ditandai dengan adanya kesalahan peletakan kata kerja, yang masih banyak dibuat oleh mahasiswa. Interferensi penanggalan predikat ditandai dengan tidak hadirnya predikat pada sebuah kalimat, yang tidak banyak dibuat mahasiswa. Interferensi penambahan preposisi ditandai dengan adanya tambahan preposisi pada kalimat yang dibuat mahasiswa, yang hanya sedikit ditemukan. Interferensi gramatikal tersebut terjadi karena mahasiswa tidak mengetahui struktur gramatikal bahasa Jerman dengan baik, oleh karena itu masih cenderung memakai struktur bahasa Indonesia yang sudah mereka kuasai.

Pengembangan instrumen evaluasi midole I pada perkulihan fisika dasar I Mahasiswa Jurusan Fisika semester gasal tahun akademik 2007/2008 / Dewi Kurniawati

 

Dalam dunia konstruksi di zaman sekarang menuntut suatu kenyamanan dan efisiensi biaya. Untuk menghasilkan bangunan yang murah, kuat, dan nyaman harus melalui beberapa tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan. Perencanaan merupakan awal dalam proyek pembangunan yang meliputi perhitungan anggaran biaya, desain bangunan, dan perhitungan struktur bangunan.Tahap pelaksanaan adalah suatu langkah yang bertujuan merealisasikan suatu perencanaan yang telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternartif meterial untuk meminimalkan biaya pekerjaan bekisting kolom Galery Conveyor pada proyek pembangunan pabrik NPK Petrokimia Gresik. Penulis mencari alternatif material untuk separator bekisting kolom, yang semula menggunakan material dari besi diganti dengan separator bekisting yang menggunakan pipa PVC. . Data yang diperoeh dengan cara melakukan penelitian yaitu mengamati secara langsung kegiatan di lapangan, dengan cara interview yaitu melakukan wawancara dengan pihak yang terkait dengan proyek, dan dengan cara dokumentasi yaitu pengambilan gambar dan foto. Setelah itu penulis menghitung perbandingan biaya kebutuhan bekisting yang menggunakan separator dari besi dengan bekisting yang menggunakan separator dari pipa PVC ¾”. Kemudian dicari nilai efisiensinya. Dari hasil studi diperoleh nilai bekisting yang menggunakan separator dari besi polos sebesar Rp. 57.380.900,00. sedangkan bekisting yang menggunakan separator dari pipa PVC ¾ ” sebesar Rp. 38.425.000,00. Dari perhitungan efisiensi material tersebut diperoleh bekisting yang menggunakan separator dari bahan PVC ¾” lebih efisien sebesar 33,035 % dibandingkan dengan konstruksi bekisting yang menggunakan separator dari besi polos. Berdasarkan studi lapangan, disarankan bahwa telah didapat suatu alternatif separator bekisting, yaitu separator yang terbuat dari pipa PVC ¾”. Material ini dapat mengurangi biaya pelaksanaan pekerjaan bekisting dan lebih efisien dari segi biaya . Tapi dari segi waktu bekisting yang menggunakan separator dari bahan PVC ¾” tidak efisien karena membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengerjaannya.

Kajian prestasi belajar apada mata pelajaran ekonomi analisis menurut motivasi belajar, kebiasaan belajar dan persepsi tentang fasilitas belajar siswa secara umum di SMA Negeri 1 Kepanjen Kabupaten Malang / Anifa Wulan Lestari

 

Kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan sistem pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Berbagai usaha telah dilakukan demi pembaharuan sistem pendidikan nasional. Tujuannya agar sistem pendidikan itu lebih terarah dan relevan dengan perkembangan zaman. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaharui proses pembelajaran. Salah satu usaha upaya memperbaharui proses pembelajaran terutama yang ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran, dengan menumbuhkan motivasi dalam diri siswa, menumbuhkan kebiasaan belajar yang baik, teratur dan berkesinambungan serta menyediakan fasilitas belajar yang baik dan lengkap. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang kuat, ia akan senang melakukan kegiatan belajar dan mempunyai kebiasaan belajar yang baik. Kebiasaan belajar yang dilakukan dalam belajar rutin, terjadwal dan didukung adanya dorongan baik dari guru, orang tua dan masyarakat akan mencapai hasil prestasi yang baik. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat menumbuhkan kebiasaan belajar yang baik salah satunya dengan menyediakan fasilitas belajar yang baik dan lengkap. Fasilitas belajar merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu agar siswa dapat mencapai prestasi belajar secara maksimal maka sekolah perlu melengkapi fasilitas belajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Kepanjen. (2) Untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Kepanjen. (3)Untuk mengetahui kebiasaan belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Kepanjen. (4) Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan fasilitas belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Kepanjen. (5)Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh prestasi belajar terhadap motivasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Kepanjen. (6) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh prestasi belajar terhadap kebiasaan belajar siswa di SMA Negeri 1 Kepanjen. (7) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh prestasi belajar terhadap tingkat pemanfaatan fasilitas belajar siswa di SMA Negeri 1 Kepanjen. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen yang terdiri dari 127 siswa dengan sampel 96 siswa. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini ditemukan bahwa (1) Siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen mempunyai prestasi belajar yang baik (2) Siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen mempunyai motivasi belajar yang cukup baik (3) Siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen mempunyai kebiasaan belajar yang cukup baik (4) Siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen menyatakan tingkat pemanfaatan fasilitas belajar yang sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPS SMA Negeri I Kepanjen Kabupaten Malang dalam diri individu, siswa mempunyai keinginan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik yang tinggi yaitu mendapatkan keterampilan tertentu dari hasil belajarnya, memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang berbagai hal untuk menambah pemahaman dalam rangka peningkatan prestasinya, memperoleh pemahaman tentang bidang studi yang mereka pelajari, dapat menikmati manfaat dari ilmu pengetahuan yang diperoleh, dapat diterima oleh orang-orang disekitarnya, baik teman, guru, keluarga dan masyarakat. Motivasi yang diberikan dari luar siswa (motivasi ekstrinsik) antara lain berupa penghargaan atau hadiah bagi siswa yang mempunyai prestasi tersendiri, memberikan hasil belajar siswa setiap evaluasi agar siswa tahu akan kemampuannya dan mendorong siswa meningkatkan prestasinya, mendorong siswa agar berkompetisi atau bersaing untuk mendapatkan prestasi di dalam maupun di luar sekolah, serta hukuman untuk siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Dalam hal kebiasaan belajar, siswa mempunyai kebiasaan belajar yang cukup baik, walaupun tidak selalu teratur dan berkesinambungan yaitu mempunyai kebiasaan yang baik dalam mengikuti pelajaran di sekolah dan di rumah, mempunyai kebiasaan yang baik dalam belajar kelompok, mempunyai kebiasaan yang baik dalam membaca buku, dan mempunyai kebiasaan yang tinggi atau baik dalam menghadapi ujian. Persepsi siswa menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan fasilitas belajar sangat mempengaruhi terhadap prestasi belajar yaitu dengan pengggunakan dan pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia dengan maksimal agar dapat mencapai prestasi belajar yang baik, pengadaan fasilitas belajar di sekolah yang memperhatikan kebutuhan belajar siswa terutama kebersihan ruang lingkup sekolah dan peningkatan fasilitas belajar yang ada terutama fasilitas yang menunjang proses pembelajaran seperti; keadaan penataan ruang kelas, keadaan laboratorium, keadaan taman sekolah karena fasilitas yang ada sangat berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Gejala depresi setelah ibu melahirkan pada ibu bekerja dan ibu tidak bekerja di Rumah Sakit Ibu-Anak IMC Bintaro / Maya Sobrina Wati

 

Wanita memiliki kesempatan luas untuk berkarya dalam bidang pekerjaan, aktif di bidang sosial maupun terlibat dalam kegiatan politik. Meskipun demikian, sebagian besar dari mereka tetap menjalani pula suatu peran yang tradisional, yaitu sebagai ibu yang melahirkan. Rasa sakit dan tidak nyaman yang dialami ibu setelah proses melahirkan dapat menyebabkan depresi yang disebut depresi setelah melahirkan. Depresi setelah melahirkan tidak dialami oleh semua wanita. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah ada perbedaan gejala depresi setelah ibu melahirkan pada ibu bekerja dan ibu tidak bekerja di Rumah Sakit Ibu-Anak IMC Bintaro. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian komparasi. Subjek penelitian ini adalah ibu bekerja dan ibu tidak bekerja yang melahirkan di Rumah Sakit Ibu-Anak IMC Bintaro sebanyak 70 orang. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2007 sampai 26 Januari 2008. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive. Instrumen penelitian adalah skala depresi setelah melahirkan yang merupakan pengembangan dari Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) sebanyak 60 item. Karena subjek penelitian ini terbatas maka peneliti menggunakan try out terpakai. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah uji-t. Hasil analisis yang didapat adalah sebagian besar ibu bekerja mengalami gejala depresi setelah melahirkan rendah dan sebagian besar ibu tidak bekerja mengalami gejala depresi setelah melahirkan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan gejala depresi setelah melahirkan yang signifikan antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Berdasarkan hasil penelitian disarankan 1) bagi ibu bekerja dan ibu tidak bekerja yang mengalami depresi setelah melahirkan hendaknya berkonsultasi dengan dokter atau psikolog agar segera dapat diketahui penyebab terjadinya depresi tersebut. Selain merawat bayi dan memikirkan pekerjaan-pekerjaan di rumah atau di kantor, hendaknya ibu meluangkan waktu untuk beristirahat. 2) bagi peneliti selanjutnya dapat memperbanyak jumlah subjek penelitian, memperdalam mengenai karakteristik pekerjaan ibu, latar belakang pendidikan ibu maupun latar belakang sosial ibu agar didapat hasil penelitian yang lebih baik karena banyak hal yang mempengaruhi depresi setelah melahirkan selain status pekerjaan ibu.

Penerapan model daur belajar pada pembelajaran materi pemisahan campuran dalam upaya peningkatan hasil belajar dan kualitas pembelajaran di SMPN 4 Malang / Dina Khitthotul Husniyah

 

Sejak kurikulum 2004 digunakan, yang disebut dengan KBK, IPA mencakup 3 mata pelajaran yaitu fisika, biologi, dan kimia. Kimia sebagai mata pelajaran baru,untuk itu perlu di lakukan eksplorasi terhadap metode pembelajaran kimia di SMP. Metode dan materi tersebut haruslah sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini, yakni KTSP yang merupakan penyempurnaan dari KBK. Penelitian ini mengkaji penerapan model daur belajar dalam pembelajaran materi pemisahan campuran. Penerapan model daur belajar diduga dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas proses IPA kimia SMP. Rancangan penelitian ini adalah penelitian semi eksperimental (Quasy experiment design). Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 4 Malang pada bulan Desember-Januari 2008. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII yang tersebar dalam 8 kelas. Sampel penelitian dipilih 2 kelas secara acak, sehingga didapat kelas VIII-D sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-B sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa sama yaitu 46. Instrumen dalam penelitian ini adalah (1) tes, (2) lembar observasi dan (3) angket. Untuk instrumen tes digunakan tes pilihan ganda dengan jumlah soal 30 dan 5 alternatif jawaban. Soal sebelum di uji cobakan telah divalidasi, dengan tingkat kevalidan 0.324-0.504, koefisien reliabilitas 0.789. Untuk mengetahui kualitas proses dan persepsi siswa data yang didapat dianalisis secara deskriptif, sedangkan data hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan teknik analisis uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang diajar dengan model daur belajar lebih baik pada aspek kognitif dengan nilai rata-rata 75.87 dan standar deviasi 11.83 daripada kelas kontrol yang diajar dengan konvensional dengan nilai rata-rata 68.17 dan standar deviasi 9.15. Pada aspek psikomotorik juga menunjukkan hasil yang lebih baik pada kelas eksperimen yakni, 65.23% daripada kelas kontrol 58.70%. Persepsi siswa terhadap pembelajaran kimia dengan model daur belajar adalah positif, yakni 78.26% serta kualitas proses juga lebih baik dengan 84.74% siswa kelas eksperimen sedangkan untuk kelas kontrol 30.43%.

Pengembangan lembar kegiatan siswa untuk pembelajaran logika kelas X berdasarkan standar proses koneksi pada NCTM / Eka Martina Muawana

 

Lembar Kegiatan Siswa adalah suatu komponen yang membantu siswa dalam melakukan pendekatan dari suatu masalah menuju suatu konsep. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang tepat bagi peserta didik karena LKS membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. Kegiatan pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan Lembar Kegiatan Siswa materi logika. Materi logika merupakan salah satu bahan kajian siswa-siswa SMA kelas X. Uraian materi dan soal-soal latihan dalam LKS berdasarkan standar proses koneksi pada NCTM. LKS yang dikembangkan terdiri dari 4 subbab yaitu konjungsi, disjungsi, implikasi, dan biimplikasi. Masing-masing subbab ditampilkan dengan menarik agar siswa lebih semangat belajar. Adapun proses dalam pengembangan LKS tersebut yaitu analisis kurikulum, menyusun kebutuhan LKS, menentukan topik-topik dalam LKS, dan menyusun perangkat evaluasi. LKS logika yang dikembangkan telah divalidasi dan diujicobakan untuk memperoleh bagian-bagian LKS yang perlu direvisi. LKS telah divalidasi oleh 1 orang dosen matematika Universitas Negeri Malang dan 2 orang guru matematika SMA. Uji coba melibatkan 34 siswa Kelas X SMAN 7 Malang. Hasil validasi maupun uji coba menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan adalah valid. Kelebihan dari LKS yang dikembangkan yaitu (1) memunculkan aspek keterkaitan atau koneksi, (2) kesesuaian materi dengan kurikulum 2006, (3) tampilan LKS yang menarik karena LKS disajikan dengan berwarna. Adapun kelemahannya yaitu pengembangan LKS ini baru sampai pada tahap uji coba kepada 34 siswa kelas X-5 (1 kelas) SMAN 7 Malang dan belum diujicobakan kepada seluruh siswa kelas X.

Pengaruh faktor ekstern dan intern konsumen terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung (Studi pada PT. Graha Service Indonesia) / Handito Canggih Prabowo

 

Perilaku konsumen sangatlah komplek dan dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor ekstern dan faktor intern. Faktor ekstern meliputi budaya, sosial, dan kelompok referensi. Sedangkan faktor intern meliputi individual/pribadi dan psikologis. Perkembangan jaringan atau perusahaan dipengaruhi oleh pemahaman perusahaan tentang perilaku konsumen. Semakin perusahaan memahami perilaku konsumen maka semakin tepat strategi yang digunakan untuk menarik konsumen. Tidak terkecuali hal ini juga berlaku bagi perusahaan Samsung. Semakin banyak paham tentang perilaku konsumen maka semakin banyak pula konsumen pengguna produk Samsung, khususnya produk pengguna handphone Samsung. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Pengaruh faktor ekstern perilaku konsumen secara parsial terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung, (2) Pengaruh faktor intern perilaku konsumen secara parsial terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung (3) Pengaruh faktor ekstern dan intern perilaku konsumen secara simultan terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis regresi. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen pengguna handphone Samsung pada bulan maret yang ada di PT. Graha Service Indonesia cabang Malang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode sensus. Jumlah sampel yaitu sebesar 81 orang. Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara faktor ekstern perilaku konsumen terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 3, 520 > 1,66 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05. Faktor intern perilaku konsumen ternyata juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 5, 015 > 1, 66 atau dengan memperhatikan nilai signifikansi t = 0,000 ≤ 0,05. Secara simultan dapat diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara faktor ekstern dan intern perilaku konsuman terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung. Hal ini dibuktikan dengan nilai Fhitung > Ftabel, yaitu 23, 892 > 3,11 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti ≤ 0,05. Diketahui pula bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0, 364. Berdasarkan temuan di atas, saran yang dapat diberikan peneliti bagi pihak PT. Graha Service Indonesia cabang Malang adalah di sarankan agar produsen dari ponsel Samsung untuk dapat terus memperhatikan variabel atau hal-hal yang dipertimbangkan oleh konsumen dari PT. Graha Service Indonesia (yang dimana perusahaan tersebut merupakan anak cabang perusahaan dari Samsung sendiri) khususnya pengguna handphone Samsung dalam membeli ponsel Samsung tersebut agar kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan Samsung dapat mengikuti kebutuhan konsumen diantaranya produsen harus memperhatikan sistematis kinerja dari ponsel Samsung tersebut karena konsumen akan merasa puas dengan pelayanan dan kinerja yang memuaskan.Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan agar penelitian-penelitian berikutnya dapat menggali variabel-variabel baru selain faktor ekstern dan faktor intern perilaku konsumen terhadap keputusan pembelian produk handphone Samsung. Misalnya variabel promosi dan beberapa variabel lainnya yang dapat dijadikan temuan baru dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

Perbedaan kebiasaan belajar, gaya belajar, dan motivasi belajar mahasiswa reguler dan non reguler serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar: studi kasus pada mahasiswa jurusan S1 akuntansi angkatan 2005 FE. UM. / Ermila Nora Tiya Sari

 

Mahasiswa reguler dan non reguler Jurusan S1 Akuntansi Universitas Negeri Malang dibedakan atas dasar seleksi masuk perguruan tinggi sebagai mahasiswa baru, dengan adanya perbedaan input tersebut apakah juga akan menyebabkan adanya perbedaan kebiasaan belajar, gaya belajar, dan motivasi belajar. Yang pada akhirnya perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa S1 Akuntansi FE UM. Atas dasar landasan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kebiasaan belajar, gaya belajar, dan motivasi belajar mahasiswa reguler dan non reguler serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan eksplanasi atau uji hubungan, dengan sampel yang digunakan sebanyak 65 mahasiswa reguler dan non reguler S1 Akuntansi angkatan tahun 2005 FE UM. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji beda atau Uji t untuk mengetahui perbedaan mahasiswa reguler dan non reguler dan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kebiasaan belajar, gaya belajar, motivasi belajar, dan prestasi belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hasil penelitian yang kedua secara parsial ada pengaruh signifikan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa S1 Akuntansi Angkatan Tahun 2005 FE UM. Secara parsial ada pengaruh signifikan gaya belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa S1 Akuntansi Angkatan Tahun 2005 FE UM. Secara parsial ada pengaruh signifikan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa S1 Akuntansi Angkatan Tahun 2005 FE UM. Dan yang terakhir secara simultan ada pengaruh signifikan kebiasaan belajar, gaya belajar, dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Variabel prestasi belajar dijelaskan oleh variabel kebiasaan belajar, gaya belajar, dan motivasi belajar sebesar 69.7%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian. Bagi dosen diharapkan untuk dapat menanamkan kebiasaan belajar yang baik, merangsang mahasiswa untuk mengenali gaya belajar mereka sendiri sehingga dapat belajar dengan optimal, serta menumbuhkan semangat dan motivasi belajar mahasiswa sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik mahasiswa tersebut. Untuk peneliti selanjutnya disarankan dapat memperluas variabel yang diteliti sehingga faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa juga dapat dikaji dan dikembangkan, seperti misalnya faktor keluarga, profesionalisme dosen, sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan psien (Studi pada pasien rawat inap BPK RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar) / Sandi Eka Suprajang

 

Sektor jasa dewasa ini telah mengalami peningkatan yang dramatis dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa sangat berperan dalam mempengaruhi serta memajukan perekenomian suatu bangsa. Perusahaan jasa perlu memahami ketentuan penting yang harus dipatuhinya supaya bisa melayani jasa sesuai pengharapan pelanggan, dengan mengidentifikasikan kegagalan pelayanan jasa yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan dimensi kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien, serta untuk mengetahui variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan pasien. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini adalah variabel bebas dimensi kualitas pelayanan yang meliputi bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5) serta variabel terikat yaitu kepuasan pasien (Y). Untuk mengetahui kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien dengan cara menggali informasi dari para konsumen atau pengguna jasa melalui pengisian angket atau kuesioner dan pertanyaan terbuka. Penelitian ini bersifat deskriptif korelasional. Populasi sebanyak 116 pasien yang terdiri dari ruangan anggrek terdapat 6 pasien, cempaka 24 pasien, bougenville 15 pasien, dahlia 14 pasien, melati 18 pasien, nusa indah 26 pasien, dan mawar 13 pasien. Sampel sebanyak 93 orang. Sedangkan teknik pengambilan sampel dilakukan secara Proportional Startified Random Sampling. Analisis hasil penelitian yang dipakai analisis regresi berganda dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positip. Berdasarkan hubungan yang terjadi maka: (1) nilai a1 = 0,462; nilai t = 2,753 dan nilai signifikansi t = 0,007 SE = 28,8% membuktikan bahwa pengaruh variabel bebas X1 (bukti langsung) terhadap variabel terikat Y (kepuasan pasien) signifikan atau dapat dipercaya , (2) nilai a2 = 0,135; nilai t = 2,188 dan nilai signifikansi t = 0,031 SE = 12% membuktikan bahwa pengaruh variabel bebas X2 (keandalan) terhadap variabel terikat Y (kepuasan pasien) signifikan atau dapat dipercaya, (3) nilai a3 = 0,448; nilai t = 2,354 dan nilai signifikansi t = 0,021 SE = 37,6% membuktikan bahwa pengaruh variabel bebas X3 (daya tanggap) terhadap variabel terikat Y (kepuasan pasien) signifikan atau dapat dipercaya, (4) nilai a4 = 0,666; nilai t = 2,162 dan nilai signifikansi t = 0,033 SE = 36,6% membuktikan bahwa pengaruh variabel bebas X4 (jaminan) terhadap variabel terikat Y (kepuasan pasien) signifikan atau dapat dipercaya, (5) nilai a5 = 0,829; nilai t = 4,248 dan nilai signifikansi t = 0,000 SE = 46,2% membuktikan bahwa pengaruh variabel bebas X5 (empati) terhadap variabel terikat Y (kepuasan pasien) signifikan atau dapat dipercaya. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ada pengaruh yang signifikan antara bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4) dan empati (X5) secara parsial dan simultan terhadap kepuasan pasien telah terbukti. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian ini adalah: (1)Dari hasil analisis secara parsial, variabel empati memiliki pengaruh yang dominan terhadap kepuasan pasien yang pernah menggunakan jasa BPK RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar sehingga hendaknya perusahaan mempertahankan pelayanan berupa empati seperti dokter berusaha menjalin hubngan yang interaktif, dokter memberikan perhatian secara total, perawat memahami keinginan pasien dan dokter yang bersifat adil dengan membuktikan kepada calon pasien bahwa pelayanan yang ditawarkan sesuai dengan apa yang akan didapatkan. Dengan demikian pasien akan merasa puas dan melakukan pembelian (jasa) ulang. Dalam usahanya memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien, maka harus diciptakan suatu budaya perusahaan yang menitikberatkan pelayanan kepada pasien. (2) Memisah ruang inap antara pasien laki-laki dan perempuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga privasi pasien rawat inap. (3) Membangun fasilitas umum seperti toko serba ada atau swalayan, kantin umum, warung telekmunikasi (wartel), apotik selama 24 jam, mushola, dan anjungan tunai mandiri (ATM). (4) Memperbaiki fasilitas fisik seperti kamar mandi dan memasang fasilitas pelengkap lainnya seperti korden agar pasien satu dengan yang lain merasa nyaman. (5) Segera diseleseikan pembangunan BPK RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar yang terletak di jalan Kalimantan No. 51 agar tidak terjadi pasien yang merasa di permainkan. (6) Agar kiranya untuk mempertahankan persepsi atau penilaian pasien tentang kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan maka pihak perusahaan harus dapat memberikan perhatian yang lebih khusus kepada pasien yang menggunakan jasa pelayanan ini sehingga pasien nantinya akan tetap memberikan kesan yang positif dan tetap menggunakan jasa perusahaan ini.

Penerapan model pembelajaran kooperatif jenis jigsaw untuk meningkatan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang / Ratih Tri. A

 

Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah pembelajaran dengan metode diskusi yang selama ini dilakukan di kelas X SMA Negeri 7 Malang kurang efektif. Metode diskusi yang dilakukan membutuhkan waktu lama tetapi hasil yang didapatkan siswa kurang optimal. Hal ini dapat terjadi karena kemampuan komunikasi siswa yang kurang, sehingga dalam menyampaikan informasi hasil diskusi kepada teman kurang jelas. Inilah yang membuat teman atau kelompok lain kurang memperhatikan. Mereka tidak jelas menerima informasi atau materi yang disajikan. Padahal menurut Wartono (2003:50), diskusi merupakan suatu kegiatan yang dapat melatih siswa untuk mengemukakan pendapat dan meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Proses diskusi melatih murid bersikap kritis, mampu berinteraksi sosial dan dapat berkomunikasi secara langsung. Model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif yang dipilih adalah model jigsaw. Pada pembelajaran jenis jigsaw bab tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, yang mengajak setiap anggota kelompok menjadi ahli pada satu bagian. Setiap siswa bertanggung jawab untuk mengajar anggota lain dalam kelompoknya tentang hal tersebut sehingga ini menuntut siswa untuk terampil berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam upaya meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dan prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang. Berkenaan dengan tujuan penelitian untuk mengetahui proses pembelajaran yang berlangsung maka penelitian ini dalam bentuk penelitian tindakan kelas ( PTK ), penelitian ini berlangsung dalam dua siklus. Dalam pembelajaran jigsaw ini siswa melakukan empat tahapan yaitu, bahan ajar, diskusi kelompok ahli, diskusi kelompok asal, pengetesan dan penghargaan. Pada saat diskusi dilakukan penilaian untuk kemampuan komunikasi siswa dengan rubrik penilaian yang telah disediakan. Melalui pembelajaran model jigsaw kemampuan komunikasi siswa dapat meningkat karena pada pembelajaran model jigsaw ini ada dua kali diskusi, yaitu diskusi kelompok ahli dan diskusi kelompok asal. Dalam diskusi kelompok ahli setiap kelompok membahas materi yang berbeda, sehingga menuntut siswa dapat mengkomunikasikan informasi yang diperolehnya pada teman satu kelompok asal. Hasil kemampuan komunikasi siswa pada siklus I sebesar 81,60%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 83,60%. Selain itu dalam pembelajaran jigsaw ini siswa merasa tidak malu untuk bertanya pada teman apabila mengalami kesulitan, sehingga semua siswa dapat memahami materi yang dibahas. Hal ini nampak dari hasil tes siswa pada siklus II lebih baik dibandingkan nilai tes pada siklus I, rata – rata nilai siklus II adalah 90 dan rata – rata nilai siklus I adalah 76,55.

Penerapan pendekatan kontekstual model inkuiri terbimbing dalam upaya meningkatkan keterampilan proses siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Malang / Agrista Hermaya Tanjung Ciptana Sari

 

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 1 Malang, diketahui bahwa fasilitas pembelajaran yang ada di sekolah sangat lengkap. Guru masih dominan menggunakan metode ceramah. Guru jarang melakukan demonstrasi dan melakukan percobaan. Siswa hanya mencatat penjelasan guru, menghafal konsep dan mengerjakan soal-soal. Siswa jarang melakukan pengamatan, membuat hipotesis dan melakukan percobaan. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya menumbuhkan keterampilan proses siswa masih rendah. Salah satu upaya untuk menumbuhkan keterampilan proses siswa di kelas VIIIA melalui penerapkan pembelajaran kontekstual model inkuiri terbimbing. Model pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki empat tahapan, yaitu: pengajuan masalah, penstrukturan masalah, pengajuan hipotesis, dan eksperimen. Pembelajaran dengan metode ini menuntut keterlibatan siswa secara langsung dengan benda konkrit. Siswa dapat mengalami sendiri konsep yang dipelajari dan mengembangkan keterampilan proses siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri terbimbing yang dapat meningkatkan keterampilan proses siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Siklus I pada pokok bahasan pemantulan cahaya dan siklus II pada pokok bahasan pembiasan cahaya. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan proses siswa secara keseluruhan. Peningkatan keterampilan proses tersebut dari siklus I ke siklus II adalah 22,50% untuk keterampilan melakukan pengamatan, 21,25% untuk keterampilan menyusun hipotesis, 24,25% untuk keterampilan melakukan percobaan, 15,75% untuk keterampilan mengumpulkan data, 8,75% untuk keterampilan membuat gambar, 18,75% untuk keterampilan menyusun laporan percobaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa keterampilan proses siswa mengalami peningkatan melalui pendekatan kontekstual model inkuiri terbimbing.

Penerapan pendekatan problem posing untuk meningkatkan pemahaman membaca cerpen siswa kelas X SMA Negeri !! Malang / Inggit Mustika Sari

 

Eksistensi upacara adat "Selamatan Kali" dalam melestarikan kehidupan gotong royong masyarakat desa Cendono Kecamatan Purwasari Kabupaten Pasuruan / Mahsusil Luthfiyanti

 

Upacara adat merupakan rangkaian kegiatan yang bersifat religius magis, dimana pelaksanaannya mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang mempunyai hajat melaksanakan upacara tersebut. Upacara adat mengekspresikan suatu kebudayaan yang memberikan anggota masyarakatnya suatu rasa memiliki keunikan dan nilai kegunaan. Salah satunya adalah upacara adat ”selamatan kali” yang ada di Desa Cendono Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan upacara adat ”Selamatan Kali” di Desa Cendono, yang meliputi (1) latar belakang upacara adat selamatan kali, (2) nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat selamatan kali, (3) eksistensi upacara adat selamatan kali dalam melestarikan kehidupan gotong royong masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Adapun data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan langkah mencacat seluruh hasil data yang diperoleh, mengumpulkan dan mengklasifikasikan data untuk menjawab rumusan masalah, dan mencari makna hubungan-hubungan temuan terkait dengan rumusan masalah. Dalam melakukan analisis data, peneliti melakukan reduksi data, display data, dan mengambil kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, (1)latar belakang terjadinya upacara adat selamatan kali adalah karena pengalaman Sungai Telasih yang pernah angok atau sumber mata air kecil, (2)nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat selamatan kali meliputi nilai religi, nilai gotong royong, dan nilai persatuan, (3)semangat serta kerja sama warga masyarakat dalam menyiapkan peralatan dan perlengkapan upacara adat selamatan kali, mampu menjaga kehidupan gotong royong masyarakat Desa Cendono.

Pengaruh kompetensi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan (Studi pada Hotel Pelangi Malang) / Puja Putra Trilaksana

 

Perusahaan kini semakin menyadari bahwa aset yang paling bernilai dan memiliki kemampuan adaptasi yang fleksibel adalah sumber daya manusia. Untuk mendapatkan kepuasan kerja yang tinggi sehingga para karyawan mempunyai komitmen terhadap organisasi yang tinggi, maka karyawan harus dimotivasi untuk meningkatkan prestasi kerjanya. Suatu cara untuk memotivasi karyawan agar kepuasan kerja dan komitmen terhadap organisasi meningkat adalah dengan memberikan kompensasi. Karena dengan adanya pemberian kompensasi yang benar berarti perusahaan itu telah menunjukkan penghargaannya terhadap karyawannya melalui jaminan keselamatan kerja, keadaan fisik perusahaan, tunjangan penyerta, pembayaran gaji, pengakuan atas pekerjaan dengan baik, kebebasan untuk mengerjakan yang terbaik, dan peluang kenaikan posisi, sehingga dengan adanya karyawan yang puas , maka mereka akan memiliki komitmen terhadap organisasi yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara langsung antara: (1) kompensasi terhadap komitmen organisasi, (2) kompensasi terhadap kepuasan kerja, (3) Kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi, (4) pengaruh tidak langsung kompensasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research yaitu menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yang dipilih adalah karyawan Hotel Pelangi Malang sebesar 85 orang. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan rumus slovin sehingga sampel yang digunakan adalah sebanyak 70 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu variabel bebas (independent variable), variabel intervening dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kompensasi (X), variabel intervening kepuasan kerja adalah (Z), sedangkan variabel terikatnya adalah komitmen organisasi (Y) Hasil dari analisis yang didapat melalui penyebaran kuesioner menunjukkan bahwa: (1). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara variabel kompensasi terhadap kepuasan kerja karyawan Hotel Pelangi Malang sebesar 0,605, (2).Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara variabel kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi karyawan Hotel Pelangi Malang sebesar 0,355, (3). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara variabel kompensasi terhadap komitmen organisasi karyawan Hotel Pelangi Malang sebesar 0,278.(4).Tidak terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara variabel kompensasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan Hotel Pelangi Malang sebesar 0,215. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1). Dalam memberikan kompensasi yang adil terhadap karyawan hendaknya manajemen personalia Hotel Pelangi Malang memperhatikan yaitu antara lain tingkat gaji, kenaikan gaji, tunjangan atau bonus, administrasi dan struktur gaji. (2). Hotel Pelangi Malang hendaknya dalam membangun komitmen organisasi harus memperhatikan kerja keras yang dilakukan karyawan, bangga bekerja pada perusahaan, kesetiaan terhadap perusahaan, berbicara pada teman sebagai perusahaan yang hebat, dan kepedulian karyawan terhadap perusahaan. Sehingga apabila komitmen organisasi dimiliki oleh karyawan Hotel Pelangi Malang, maka perusahaan tidak sering kehilangan karyawan yang potensial (3). Hotel Pelangi Malang dalam meningkatkan komitmen karyawan pada perusahaan hendaknya memberikan kompensasi yang layak serta meningkatkan kepuasan kerja karyawan.

Penerapan pembelajaran kooperatif motode think pair share dalam mata kuliah Deutsch II / Nida Anisatus Sholihah

 

Enkripsi data dengan menggunakan cellular automata / Nida Anisatus Zdakiroh

 

Kriptografi adalah suatu ilmu atau seni mengamankan pesan dengan cara mengkonversikan plaintext (pesan yang tidak disandikan) ke ciphertext (pesan yang disandikan). Kriptografi mempunyai dua buah operasi dasar yaitu enkripsi dan dekripsi. Enkripsi adalah proses mengamankan suatu informasi dengan membuat informasi tersebut tidak dapat dibaca tanpa diberi kuncinya. Sedangkan dekripsi adalah proses membaca suatu pesan yang telah dienkripsikan dengan menggunakan kuncinya. Manfaat dari enkripsi data ini antara lain: Menjaga isi pesan dari siapapun kecuali yang memiliki otoritas atau kunci rahasia untuk membaca pesan yang telah di sandikan tersebut, menjaga isi pesan dari manipulasi data yang tidak sah oleh pihak-pihak yang tidak berhak, antara lain penyisipan, penghapusan, dan pensubstitusian data lain ke dalam data yang sebenarnya. Enkripsi data ini sangat bermanfaat jika digunakan pada sistem yang luas seperti internet e-commerce, jaringan telepon bergerak, dan ATM pada bank. Salah satu cara enkripsi data adalah dengan menggunakan cellular automata satu dimensi. Pada program enkripsi data ini pesan yang digunakan adalah berbentuk huruf/karakter dengan menampilkan binernya berdasarkan ASCII. Pesan yang sudah dalam bentuk biner tersebut kemudian digabungkan dengan kunci enkripsi menggunakan aturan tertentu sehingga menghasilkan pesan terenkripsi. Skripsi ini menghasilkan program enkripsi data dengan mempunyai beberapa parameter antara lain: aturan cellular automata, posisi sel awal pada cellular automata, dan jumlah sel awal pada cellular automata. Nilai parameter yang berbeda akan menghasilkan pesan terenkripsi yang berbeda. Hasil ini sesuai dengan program enkripsi data yang dikerjakan oleh Stephen Wolfram yang ditulis dalam bukunya A New Kind of Science. Program enkripsi data ini mempunyai beberapa parameter pengembangan antara lain: kolom yang dipilih sebagai kunci, byte ke-n yang dipilih sebagai kunci, dan jumlah byte yang dipilih sebagai kunci. Parameter-parameter tersebut memungkinkan terjadinya lebih banyak variasi untuk menghasilkan kunci dan pesan terenkripsi.

Simulasi aliran pepsida dalam tanah berbasis cellular automata / Sri Astutik

 

Kekerasan lunak (soft violence) adalah salah satu bentuk penyimpangan perilaku antisocial, yang bersifat destruktif pasif dengan tingkat agresif yang rendah. Perilaku-perilaku anak seperti itu sering dijumpai di berbagai sekolah dasar mulai dari bentuk pelanggaran terhadap perintah guru (tidak mengerjakan PR berulang kali), berbuat keributan, mengganggu teman, bertengkar, menulis/membuat tulisan dengan kata-kata jorok, mencuri, merusakkan barang temannya. Soft violence ini menjadi fenomena tersendiri pada anak-anak usia 7-12 tahun. Pada usia tersebut seorang anak berada pada satu tahapan transisi untuk dapat berinteraksi dengan teman sebayanya. Namun demikian, terkadang tugas perkembangan anak mengalami hambatan seperti yang ditimbulkan dari perilaku soft violence di atas. Adapun dampak yang dimaksud di antaranya adalah: 1). Anak merasa tidak nyaman dan tidak konsentrasi pada suatu kegiatan tertentu, 2). Adanya kebohongan-kebohongan tingkah-laku yang dilakukan anak, 3). Anak terlalu dipenuhi dengan rasa ketakutan (Griffith, 2004). Penelitian pengembangan ini dilakukan sebagai upaya alternatif pencegahan penyimpangan perilaku yang terjadi pada anak di usia pendidikan sekolah dasar. Sebagai upaya pencegahan dan perbaikan, tentunya pendidikan memerlukan sarana penunjang berupa buku paket untuk membantu anak dalam menghadapi perkembangan kepribadian dan pendidikannya pada masa depan. Paket yang tersusun dari hasil penelitian pengembangan ini yakni: panduan untuk guru dan siswa, serta materi paket. Adapun topik yang ada dalam paket pelatihan ini adalah; 1) Keributan di Kelas, 2). Berkelahi/bertengkar, 3). Berbohong, 4). Menggertak, 5). Merusak dan mencuri barang orang lain. Pelatihan ini mengikuti tahap kegiatan role-playing Shaftel dengan acuan pada kegiatan pengantar apersepsi, diskusi, dan simulasi bermain peran. Hasil penelitian ini adalah Paket Pelatihan Bimbingan Pencegahan Perilaku Kekerasan Lunak (soft violence) Siswa Sekolah Dasar yang memiliki kriteria akseptabilitas dan efektifitas dan berdaya guna. Analisis data yang digunakan adalah analysis tendence central dengan perhitungan prosentase dengan hasil sebagaimana berikut: a) Penilaian isian dari kelima topic; topik 1 (keributan di kelas) bernilai 76 %. topik 2 (berkelahi) bernilai 100%, topik 3 (berbohong) bernilai 95 % dan topik 4 (menggertak) bernilai 93 % dan yang terakhir topik 5 (merusak dan mencuri barang orang lain) bernilai 100%. b) Penilaian tahap diskusi I dan II, pada tahap diskusi I 14 responden, dengan skor tertinggi berarti 56 % dari jumlah keseluruhan 25 responden. Pada diskusi II, semua responden mendapatkan nilai tertinggi 100%. c) Penilaian tahap interview ada 13 responden yang mendapatkan nilai tertinggi 81 %. Setelah melalui proses penilaian ahli bimbingan konseling dan pengguna terhadap produk pengembangan yang dihasilkan, diperoleh tiga kesimpulan sebagaimana berikut: 1) Secara umum menurut uji ahli bahwa komponen-komponen produk pengembangan ini sudah layak, baik dari aspek ketepatan, kelayakan dan kegunaan. Hasil uji ahli menunjukkan 68 % menyatakan tepat, sedangkan kelayakan menunjukkan nilai yang tertinggi 100 %. Sedangkan pada variable kegunaan menunjukkan nilai 78 % bermanfaat dan 22 % sangat bermanfaat. 2) Berdasarkan pengamatan para pengguna bahwa hasil produk pengembangan ini dapat digunakan dan diterapkan di Sekolah Dasar. Menurut mereka (para guru) bahwa tingkat akseptabilitas (respon afeksi positif siswa) menunjukkan ketertarikan siswa terhadap kegiatan pelatihan tersebut dengan nilai 86%. 3) Kesimpulan dari hasil ujicoba ahli dan pengguna terhadap produk pengembangan paket pelatihan bimbingan pencegahan kekerasan lunak (soft violence) bagi siswa SD ini memiliki kelayakan, dan daya tarik yang tinggi baik dari aspek tujuan dan rancangan kegiatan pelatihannya. Oleh karena itu, produk pengembangan ini dianggap layak dan memenuhi syarat untuk dijadikan bahan referensi dalam pelaksanaan bimbingan bagi siswa-siswi di tingkat Sekolah Dasar.

Pengembangan tari muang sangkal sebagai materi bahan ajar apresiasi seni tari untuk siswa SMAN II Sumenep / Susantin Imam

 

Tari Paraben Madura, merupakan pengembangan Tari Muang Sangkal yang diringkas menjadi sebuah garapan tari tradisional kontemporer yang menceritakan tentang perkembangan anak remaja menjadi dewasa. Obyek ekspresinya dilakukan oleh siswa SMA di SMAN II Sumenep. Penyusunan ini dilakukan di Kabupaten Sumenep Madura dengan mengggunakan pendekatan restrukturisasi (menyusun kembali), yang meliputi penggarapan gerak, tata busana, tat arias, musik, dan penyajiannya secara menyeluruh disusun dengan tidak menghilangkan warna khas masyarakat Madura, yaitu pola dari unsur Gellang Soko (gelang kaki) dan Sanggul Bellu’ (sanggul yang berbentuk angka 8) yang didukung oleh musik khas Madura, yaitu musik Tong-tong. Tujuan penyusunan sebuah karangan yang berjudul” Pengembangan Tari Muang Sangkal Sebagai Materi Bahan Ajar Apresiasi Seni Tari Untuk Siswa SMAN II Sumenep” untuk mengetahui struktur Muang Sangkal yang telah dikembangkan menjadi Tari Paraben Madura serta diapresiasi oleh siswa SMAN II Sumenep. Kesimpulan hasil penyusunan ini adalah sebuah karangan yang berjudul” Pengembangan Tari Muang Sangkal Sebagai Materi Bahan Ajar Apresiasi Seni Tari Untuk Siswa SMAN II Sumenep”

Analisis modul mata pelajaran Bahasa Jerman Kelas X SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Luluk Isnaeni

 

Politeness strategies used by Indonesian chatters internet replay chat (IRC) / Ima Khalimatus Sa'diyah

 

On-line chat-channels in Internet Relay Chat (IRC) have become a popular environment for meeting new people and for general conversations. These chat-channels are comparable to “real-life” situations where participants interact at the same time and often in the same spatial environment. The same conversational rules are adhered to both in chat-channel conversations and in face-to-face interaction. However, some specific features of chat-channel conversation, such as the politeness strategies, might be different from those we meet outside the cyberspace. The purpose of this study is to find out politeness strategies used by Indonesian chatters in the discourse of online environment specifically in IRC channels. This study investigates three downloaded data of written conversations or messages in the IRC. The data were collected by logging in into an IRC channel, which is #Cafeislam, for approximately two hours and then copying the conversations or messages written by the Indonesian chatters in the channel into the computer hard disk. The written conversations or messages that are taken as data are only the one containing face-threatening act (FTA). The data are analyzed using Brown and Levinson’s theory of politeness strategy (1987). Based on Brown and Levinson’s model of politeness strategy (1987), the politeness strategies used in chat conversations to reduce the FTA are grouped into four main strategies: Bald on Record, Positive Politeness, Negative Politeness, and Off-the-Record. The results of the analysis show that bald on record strategy is most widely used by Indonesian chatters in IRC. It may happen due to the setting of the conversation that is the cyber world where the people communicate there may not really know each other and they may never meet in the ‘real’ world. This setting makes them able to say whatever they want to say without any risk to themselves. Positive politeness is also quite widely used by Indonesian chatters in the IRC in order to show their respect and regard toward the other chatters. While negative politeness strategy is generally used by Indonesian chatters in IRC when they want to ask other chatters to do something and to show that the interlocutor recognizes the addressee’s want to have his freedom of action unobstructed. The least politeness strategy used is off-the-record strategy. In line with bald on record strategy, it may happen due to the setting of the conversation which is the virtual community where there is almost no boundary for everyone to say what they want to say.

Penerapan pembelajaran quantum learning dengan perpaduan antara teknik pemetaan pikiran (mind mapping) dan Think Pair Share untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi kelas X IPS 2 SMAN 8 Malang semester genap tahun ajaran 2014/2015 / Amanda Defi Nura

 

Pengaruh motivasi dan cara belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata dikltlat akuntansi di SMK PGRI 02 Malang / Taufik Rachman

 

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi semua manusia, karena pendidikan akan mencerminkan kepribadian untuk menempuh kehidupan yang lebih baik. Pendidikan dapat tercapai dengan sukses apabila siswa dan guru sama-sama berperan aktif. Siswa di harapkan memiliki motivasi belajar dan cara belajar yang efektif, karena kedua hal tersebut sangat di butuhkan dalam proses belajar-mengajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar baik dan cara belajar yang efektif akan memperoleh hasil belajar yang maksimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) menjelaskan pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar, (2) menjelaskan pengaruh cara belajar terhadap prestasi belajar, (3) menjelaskan pengaruh motivasi belajar dan cara belajar terhadap prestasi belajar. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi. Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel motivasi belajar, cara belajar dan prestasi belajar. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas satu dan dua jurusan akuntansi tahun ajaran 2007/2008 pada SMK PGRI 02 Malang. Populasi siswa kelas satu dan dua tersebut sebanyak 78 siswa, semua populasi di jadikan sampel penelitian tekhnik pengumpulan data ialah angket dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, dimana syarat untuk melakukan analisis ialah terpenuhinya uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadapprestasi belajar dengan nilai t hitung sebesar 7.186 dan nilai signifikansi (0.00<0.05), (2) cara belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dengan nilai t hitung sebesar 6.053 dan nilai siginifikansi (0.00<0.05), (3) motivasi belajar dan cara belajar berpengaruh siginfikan terhadap prestasi belajar dengan nilai F hitung sebesar 64.322 dan nilai signifikansi (0.00<0.05). Keterbatasan penelitian menunjukkan bahwa masih banyak variabel di luar motivasi belajar dan cara belajar yang memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar. Saran bagi para siswa di SMK PGRI 02 Malang yaitu, agar siswa senantiasa memperbaiki motivasi belajar dan cara belajar mereka untuk meningkatkan hasil belajar meraka sendiri. Saran bagi para guru di sekolah, hendaknya guru memberikan pengetahuan mengenai pentibngnya peranan motivasi belajar dan cara belajar terhadap prestasi belajar siswa. Saran bagi peneliti yang ingin meneliti prestasi belajar, hendaknya mengkaji faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar yang belum di ungkap dan di bahas dalam penelitian ini, selain itu juga untuk memperluas populasi penelitian.

Kinerja Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang (Studi kasus di Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang) / Rani Ika Ramayanti

 

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan salah satu unsur dalam pemerintahan desa. Keberadaan BPD dalam pemerintahan desa adalah bukti pelibatan masyarakat dalam bidang penyelengaaraan pemerintahan. Pada masa orde baru pelibatan masyarakat di dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di laksanakan melalui pembentukan Lembaga Musyawarah Desa (LMD) dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Namun lembaga tersebut kurang berfungsi secara proporsional, hanya berfungsi sebagai tangan kanan dari Kepala Desa. Partisipasi masyarakat rendah dan pemerintahan diselenggarakan tidak demokratis. Hal ini dibuktikan dengan kekuasaan Kepala Desa yang dapat dikatakan analog dengan kekuasaan diktator atau raja absolut, sehingga masyarakat tidak leluasa menyalurkan aspirasinya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Kinerja Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai mitra kerja pemerintah desa dalam menyalurkan partisipasi dan aspirasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Kinerja Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai mitra kerja pemerintah Desa dalam menyalurkan partisipasi dan aspirasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Sumber data berasal dari: Orang yaitu ketua BPD, tokoh masyarakat dan kepala desa, Peristiwa berupa seluruh aktivitas BPD dan Dokumentasi tentang gambaran umum desa, profil BPD. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Keabsahan data dilakukan dengan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) kinerja BPD Pulungdowo ditinjau dari sisi proses, penyelenggaraan pemerintahan yang mengedepankan aspirasi, partisipasi dan tanggungjawab demi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.Hal ini berarti penyelenggaraan pemerintahan mengandung prinsip responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas. Ditinjau dari sisi produk, kinerja Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pulungdowo diwujudkan dengan adanya pembentukan tata tertib BPD, Pembuatan Perdes bersama dengan Pemerintah Desa, pengangkatan dan pemberhentian kepala desa serta bebrapa keputusan BPD. Hasil kinerja BPD di bidang pembangungan (fisik) contoh pengaspalan, pengerasan jalan (makadam), pembuatan jembatan. (2) Faktor pendukung yang mempengaruhi kinerja BPD Pulungdowo sumber daya dari anggota BPD. kelengkapan sarana dan prasarana (fasilitas yang ada), tersedianya sumber dana untuk kegiatan operasional, proses komunikasi, kepemimpinan dan pengambilan keputusan dan koordinasi antar organisasi. Sedangkan faktor penghambat kinerja BPD yaitu kondisi sosial masyarakat yang masih belum percaya dengan adanya BPD, masyarakat masih merasa bahwa BPD belum benar-benar menjalankan tugasnya sesuai dengan harapan dari masyarakat. Rekomendasi yang diberikan antara lain: (1) Mempertahankan kinerja BPD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, sebagai bukti kinerja BPD difokuskan sesuai dengan keinginan dan aspirasi masyarakat; (2) Perlu dikembangkan lebih intensif komunikasi yang sehat, baik secara horizontal maupun vertikal dan komunikasi yang mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi / kelompok; (3) Perlu adanya masukan dari lembaga-lembaga lain misal Pemdes, LPMD, Muspika yang bersifat membangun dan meningkatkan kinerja BPD demi tercapainya kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat; (4) Perlu mempertahankan kebersamaan antara BPD, Pemdes, LPMD dan masyarakat dalam menyikapi program yang diharapkan pemerintah dan keinginan masyarakat sesuai dengan kemajuan jaman; (5) Masyarakat harus lebih aktif dan kritis di dalam menyikapi berbagai kebijakan dan produk hukum yang dihasilkan oleh BPD, serta di dalam proses penyusunan kebijakan.

Pemanfaatan media pembelajaran oleh guru ukuntansi kaitannya dengan prestasi belajar di SMA Negeri II Kota Blitar semester 1 tahun 2007/2008 / Danavid, Azhari

 

Guru sebagai pelaksanaan utama dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran sekolah,sudah seharusnya menempatkan siswa sebagai pusat perhatian utama.Pola kegiatan belajar mengajar dikelas tidak hanya ditentukan oleh metode yang digunakan yaitu media pembelajaran, melainkan guru juga aktif dalam kegiatan pembelajaran. Guru yang aktif dalam mengunakan media pembelajaran juga dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu medie pembelajaran yang digunakan gurumempunyai peranan penting dalam proses interaksi belejar mengajar. Ini berarti media pembelajaran ikut menentukan berkualitas atau tidaknya prestasi belajar siswa, disamping factor-faktor lainya seperti keluarga, intelegensi,kompetensi dan minat siswa itu sendiri sebagai individu. Tujuan penelitian ini adalah : (1)Mendeskripsikan keragaman media pembelajaran yang dimanfaatkan oleh guru Bidang Studi Akuntansi dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas SMA Negeri II Blitar. (2)Menjelaskan adanya pola atau kecenderungan tertentu dalam pemanfaatan media pembelajaran antara satu guru dengan guru lain dan alasan-alsan yang melatarbelakangi kecenderungan tersebut. (3) Menjelaskan hubungan pemanfaatan media pembelajaran dengan prestasi belajar siswa. Rancangan penelitian ini adalah eksplanasi. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 63 siswa, semua dijadikan respoden sehingga penelitian ini disebut penelitian populasi. Alat yang digunakan adalah analisis produt moment karena melukiskan hubungan antara dua variabel yaitu media pembelajaran akuntansi dan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa (1) Berkaitan dengan ragam media pembelajaran yang digunakan untuk sementara ini,sarana dan prasarana yang minim tidak senantiasa membuat mereka tidak menggunakan media tapi justru memacu kreativitas untuk dapat mengusahan secara mandiri.Sedangkan penggunaan media belajar untuk saat ini dapat dikatakan cukup efektif dan efisien karena senantiasa disesuaikan dengan materi yang sedang diajarkan, kondisi dan karakteristik siswa, ketersediaan media disekolah serta anggaran yang di keluarkan sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. (2) Prestasi belajar dengan kategori baik sebanyak 19,18%, prestasi belajar siswa pada kategori cukup 64,38%, prestasi belajar siswa pada kategori kurang 16,44% dari analisis data yang tercantum pada daftar prestasi belajar, rentangan prestasi rata-rata siswa yaitu tertinggi 88 terendah 42 dan diambil antara 20 interval. (3) Penelitian ini menujukan ada pengaruh yang signifikan antara media pembelajaran guru akuntansi dengan prestasi belajar siswa pada meta pelajaran akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan guru Akntansi kelas III yang berada di lingkup SMAN II Blitar dapat lebih mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran, meskipun kenyataan yang terjadi menunjukkan adanya kecenderungan terhadap pemanfaatan media,guna memperlancar kegiatan belajar mengajar pada pelajaran akuntansi.

An archetypal study on J.R.R. tolkien's the lord of the rings / Nurul Laili Nadhifah

 

Archetype often appears in many forms of literature, especially in the form of story. Archetype which appears in literature has its roots in mythology. That archetype is like a typecasting, repeated again and again as characters in a story. It causes archetype is able to be used in both classic and contemporary. Since The Lord of the Rings trilogy by J.R.R. Tolkien is well known as one of the greatest mythological novel appreciated by the public for years until now which is not only full of mythology but also rich of signs, it is absolutely chosen as the object of the analysis here. The Lord of the Rings is a literary product which contains myth, fairy stories, dreams, and fantasy. It is about the conflict between good and evil, where the protagonist has to endure a series of journey and obstacles to destroy his or her enemy. The scope and the aim of this study is on the analysis of archetypal and intertextual toward the journey which is endured by the main characters in The Lord of the Rings and the magical items used in this story. This analysis begins by examining the archetype patterns found in the three main journeys, they are the journey of Frodo, the journey of Aragorn, and the journey of Gandalf. All of journeys have the same purpose, for forcing the characters to overcome a series of obstacles so that they can transform themselves into more powerful, wiser, and greater for fulfilling their faith. As a novel based on myth, fairy stories, dreams, and fantasy, people may find so many magical items used which play important roles in the accomplishment of the characters to reach their goal. They are used not only by those who want to save the Middle-earth but also by their villains. Some of those artifacts clearly look as powerful as they have to be, while some others seem so weak in the first time but in fact are important. Several of them become the basic weapons of their owners, some work by their own power and can not be manageable by the stronger power outside, while few are only kind of signs related to the status of the owners. Beside using archetypal study to analyze, further analysis might be done since this novel can be examined through many other areas such as study about gender domination which might be using feminism, study on the subject of Marxist idea found here, and many more. Furthermore, it is a kind of particular importance for the readers to pay attention to the constructor aspects behind this story. It will make them appreciate the reading that they read more since they already know that the story they read has some important aspects as sources.

Nilai-nilai pembangunan masyarakat desa dalam kesenian jemblung di Desa Tanjung Kecamatan Udanawu Kabupaten Malang / Nurul Laili Rahmawati

 

Jemblung merupakan sebuah produk kesenian. Kesenian Jemblung di Desa Tunjung mengalami pasang surut. Hal ini terlihat dari berkurangnya frekuensi pementasan di Desa Tunjung tetapi lebih banyak tampil di daerah lain. Namun demikian jika diamati dari pesan yang disampaikan ternyata mengandung berbagai fungsi, antara lain sebagai sarana penghibur, sarana pendidikan bahkan sebagai sarana penyampai pesan nilai-nilai pembangunan. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui asal-usul Kesenian Jemblung di Desa Tunjung, mengetahui karakteristik Kesenian Jemblung di Desa Tunjung, mengetahui pelaksanaan dari pertunjukan Kesenian Jemblung di Desa Tunjung dan untuk mengetahui nilai-nilai pembangunan masyarakat desa yang terkandung dalam Kesenian Jemblung di Desa Tunjung. Untuk mencapai tujuan tersebut maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Informan terdiri atas pelaku Kesenian Jemblung (dalang), tokoh masyarakat dan kepala desa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data sebagai berikut: perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian menyatakan: (1) asal-usul Kesenian Jemblung mulai dikenal masyarakat Desa Tunjung pada tahun 60-an dengan tokoh Mbah Modin Bakri, Mbah Dul Manap, Pak Sahir dan Kang Kanan. Penggunaan nama Jemblung diambil dari nama tokoh dalam serat menak yang bernama Jemblung Marmadi dan diambil dari suara instrumennya yang berbunyi blang... blung... blang... blung...; (2) pada umumnya Kesenian Jemblung dapat dimainkan antara lain pada acara keagamaan, acara nasional, bersih desa, sepasaran bayi dll dengan ongkos yang relatif murah. Lagu mirip sholawatan, campursari dan dangdut selalu mengiringinya, bahkan ada unsur humor yang dikemas dalam bentuk parikan (pantun), instrumen yang digunakan meliputi jedor, kendang, kentrung, kenthuk, terbang, kempling, organ, keyboard, gamelan. Cerita diambil dari serat menak, riwayat wali songo, dan cerita kontemporer; (3) pelaksanaan pertunjukan Jemblung terdiri dari tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, pada tahap pelaksanaan terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu pembuka, babaran (penyampaian) cerita dan penutup; (4) nilai-nilai pembangunan masyarakat desa yang terkandung dalam Kesenian Jemblung yaitu nilai religi, nilai gotong-royong, nilai persatuan, nilai sosial, dan nilai musyawarah. Agar Kesenian Jemblung di Desa Tunjung tetap eksis, seharusnya pihak-pihak yang terkait seperti pelaku Kesenian Jemblung, warga masyarakat dan pemerintah setempat menjaga dan mengembangkan potensi Kesenian Jemblung dengan mengadakan pembinaan serta memberikan perhatian yang lebih serius lagi.

Pemanfaatan media pembelajaran berupa alat peraga dan alat eksperimentasi yang berkaitan dengan peristiwa sehari-hari pada pokok bahasan kalor untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas X SMAN 9 Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Elly

 

Situasi kelas X SMAN 9 Malang terkesan ramai. Ketika guru menjelaskan, siswa bicara sendiri dengan teman sebangkunya, siswa terkesan jenuh dan bosan me-ngikuti pelajaran. Siswa juga merasa ngantuk bahkan ada yang tidur pada saat pelaja-ran fisika berlangsung. Pada saat diberi kesempatan untuk bertanya, siswa jarang atau bahkan tidak ada yang bertanya. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas bela-jar siswa kelas X masih rendah. Selain itu, diperoleh informasi bahwa siswa kelas X, memiliki prestasi belajar fisika yang masih rendah. Hal ini ditandai dengan hasil skor rata-rata ulangan harian siswa kelas X pada pokok bahasan alat-alat optik yang dica-pai hanya 60. Hasil skor ulangan harian tersebut masih jauh dari harapan, karena Standar Kelulusan Minimal (SKM) yang ditetapkan SMAN 9 Malang untuk mata pe-lajaran fisika adalah 75 dengan kriteria kelulusan 75%. Rendahnya aktivitas dan prestasi belajar fisika di SMAN 9 Malang ini diatasi dengan mengubah metode ceramah dengan metode baru yaitu pemberian alat peraga dan alat eksperimentasi khususnya pemanfaatannya di dalam kelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pemanfaatan media pembelajaran berupa alat peraga dan alat eksperimentasi di dalam kelas dalam proses pembelajaran fisika dan mengetahui pengaruh pemberian alat peraga dan alat eksperimentasi terhadap aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 9 Malang Tahun Pelajaran 2007/2008. Sampel pene-litian dipilih dua kelas secara random dan terpilih kelas X-4 dan X-6 yang berjumlah 60 siswa masing-masing dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan kelompok pembanding. Kedua kelas tersebut diajar dengan metode yang berbeda. Kelas X-4 diajar dengan metode ceramah dan kelas X-6 diajar dengan metode pemberian alat peraga dan alat eksperimentasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Aktivitas belajar siswa pada kelompok eksperimen (60% de-ngan taraf keberhasilan baik) lebih tinggi daripada kelompok pembanding (37,9% dengan taraf keberhasilan kurang). Sedangkan prestasi belajar siswa pada kelompok pembanding meningkat sebesar 3,46 yaitu dari 62,37 menjadi 65,83 dan pada kelom-pok eksperimen meningkat sebesar 13,3 yaitu dari 62,70 menjadi 76. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa pemanfaatan media pembela-jaran berupa alat peraga dan alat eksperimentasi dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Proses pemanfaatan media pembelajaran berupa alat peraga dan alat eksperimentasi di dalam kelas pada pokok bahasan kalor dilakukan pada dua tahapan yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan.

Penerapan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan pemahaman konsep luas segitiga pada matapelajaran matematika siswa kelas IV SDN Rampal Celaket I Kota Malang / Purnamasari Pertiwi

 

Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wahana atau aturan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemamapuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada pada diri siswa SD. Pendekatan keterampilan proses juga mengembangkan keterampilan siswa SD melalui aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Pembelajaran konsep luas segitiga dengan pendekatan keterampilan proses, memberikan keempatan pada siswa SD untuk mengembangkan keterampilan sesuai dengan kemampuannya. Pemahaman siswa SD tentang konsep luas segitiga dapat meningkat melalui pendekatan keterampilan proses. Melalui pendekatan keterampilan proses, keaktifan dan kreativitas siswa juga akan meningkat. Masalah yang diteliti adalah 1) Apakah penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pengukuran luas segitiga pada mata pelajaran matematika siswa kelas IV di SDN Rampal Celaket I Malang ? 2) Apakah dengan penerapan keterampilan proses dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa kelas IV dalam pembelajaran konsep luas segitiga pada matapelajaran matematika di SDN Rampal Celaket I Malang ? 3) Bagaimanakah Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam meningkatkan interaksi guru dan siswa kelas IV di SDN Rampal Celaket I Malang ? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas / classroom based action research (CAR). Penelitian ini dilakukan di SDN Rampal Celaket I Malang pada siswa kelas IV, dengan jumlah siswa 33 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes, observasi, dan pemotretan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa pembelajaran konsep pengukuran luas segitiga melalui pendekatan keterampilan proses, dari tes awal sampai akhir siklus II, adalah nilai rata-rata 34,2%, nilai maksimum 25%, dan nilai minimum 66,7%. Dari hasil analisis disimpulkan 1) Langkah-langkah pembelajaran dengan penerapan pendekatan keterampilan proses. 2) Penerapan pendekatan keterampilan proses mampu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 3) Penerapan pendekatan keterampilan proses mampu meningkatkan pemahaman konsep pengukuran luas segitiga. Disarankan Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan pemahaman siswa Pembelajaran hendaknya selalu memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan pendapat, baik secara tertulis maupun lisan, karena hal itu akan meningkatkan aktifitas dan kreatifitas pada diri siswa. Perlunya penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman siswa SDN Rampal Celaket I Malang

Pembelajaran matematika menggunakan metode silih tanya dengan refleksi pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 6 Malang / Ambar Muksinah

 

Selama mengikuti Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 6 Malang, peneliti memperoleh informasi bahwa pelaksanaan pembelajaran matematika masih bersifat kon¬ven¬sional, yaitu guru berperan sebagai pemberi informasi dengan menjelaskan konsep atau prosedur matematika, memberikan contoh-contoh permasalahan dan latihan-latihan soal. Penelitian ini bertujuan : (i) menyusun rancangan pembelajaran yang memenuhi kriteria validitas dan keefektifan, (ii) mengetahui respon siswa terhadap penerapan pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 6 Malang dan materi yang diajarkan adalah pengukuran sudut dan konsep fungsi trigonometri. Proses pengembangan pembelajaran dalam penelitian ini didasarkan pada fase-fase pengembangan menurut Plomp dengan melakukan beberapa modifikasi. Fase-fase pengembangan tersebut yaitu fase investigasi awal, fase desain, fase realisasi, serta fase tes, evaluasi dan revisi. Pada fase investigasi awal, peneliti menentukan jenis-jenis instrumen penelitian yang diperlukan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan. Pada fase desain, peneliti merancang berbagai aspek yang diperlukan dalam menyusun instrumen penelitian. Pada fase realisasi, peneliti menyusun berbagai instrumen yang telah dirancang pada fase desain dengan memperhatikan kriteria validitas dan efektifitas. Pada fase tes, evaluasi, dan revisi, peneliti menganalisis data dan konsultasi dengan ahli untuk mengetahui validitasnya dan melakukan uji coba lapangan untuk mengetahui keefektifan rancangan pembelajaran. Hasilnya adalah rancangan pembelajaran yang telah dibuat adalah valid dan efektif.

Identifikasi konsep sukar dan keselahan konsep stoikiometri pada siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Niken Lilya Anjarwati

 

Konsep kimia yang kompleks hanya dapat dipahami jika konsep-konsep yang lebih fundamental ikut dalam pembentukan konsep telah benar-benar dipahami. Konsep yang bersifat abstrak berpotensi membuat siswa kesulitan memahami konsep tersebut. Kesulitan memahami konsep mengakibatkan konsep tersebut menjadi konsep sukar yang memungkinkan siswa mengalami kesalahan konsep. Siswa memiliki kesalahan konsep apabila memberikan jawaban salah yang sama pada soal yang berbeda secara konsisten. Kesalahan konsep pada konsep yang fundamental akan berdampak pada pemahaman konsep yang tingkatannya lebih tinggi. Stoikiometri merupakan bagian ilmu kimia yang memiliki konsep abstrak dan merupakan konsep fundamental yang sangat penting untuk dipahami dalam mempelajari konsep-konsep kimia lain yang berhubungan dengan perhitungan kimia sehingga wajib untuk dipelajari. Konsep abstrak tersebut yang seringkali sulit untuk dipahami siswa sehingga berpotensi terjadi salah konsep. Konsep kimia yang dimiliki siswa kelas X, XI, dan XII SMA adalah berbeda. Semakin tinggi jenjang pendidikan siswa maka semakin banyak konsep kimia yang dimiliki siswa. Penelitian yang dilaksanakan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang dengan konsep stoikiometri (konsep massa atom relatif, massa molekul relatif, massa rumus relatif, massa molar dan konsep mol) bertujuan untuk mengidentifikasi: (1) konsep sukar yang dimiliki siswa kelas X, XI, dan atau XII SMA; (2) kesalahan konsep yang terjadi pada siswa kelas X, XI dan atau XII SMA; (3) persentase siswa yang salah konsep; (4) perbandingan pemahaman konsep siswa kelas X, XI, dan XII SMA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah siswa kelas X sebanyak 22 siswa, kelas XI sebanyak 42 siswa, dan kelas XII sebanyak 33 siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2007/2008. Instrumen dalam penelitian ini berupa tes obyektif sebanyak 22 butir soal dengan validitas dari 0,09 sampai dengan 0,64 dan nilai reliabilitas soal adalah 0,87. Soal berupa pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban, yang diperkuat dengan alasan pemilihan jawaban dan hasil wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengukur jenis-jenis kesalahan konsep yang dimiliki siswa. Berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan, hasil penelitian menunjukkan konsep sukar dan kesalahan konsep yang dimiliki siswa kelas X, XI, dan atau XII. Identifikasi konsep sukar yang dimiliki siswa adalah: (a) definisi massa atom relatif di kelas X, XI dan XII; (b) massa 1 atom di kelas X, XI dan XII; (c) satuan massa atom (sma) di kelas XII; (d) definisi massa molekul relatif di kelas XII; (e) jenis partikel senyawa molekul NH3 di kelas X, XI dan XII; (f) jenis partikel senyawa molekul CCl4 di kelas X, XI, dan XII; (g) definisi massa rumus relatif di kelas X, XI dan XII; (h) hubungan mol dengan jumlah partikel senyawa molekul di kelas X, XI dan XII; (i) hubungan mol, massa dan Mr di kelas X dan XI; (j) hubungan mol, massa, Mr dan jumlah partikel di kelas X dan XI. Identifikasi kesalahan konsep yang terjadi pada siswa kelas X, XI, dan atau XII adalah: (a) massa atom relatif: atom sama dengan unsur, besarnya massa atom relatif ditentukan oleh massa 1 mol unsur, besarnya massa atom relatif ditentukan oleh massa 1 molekul; (b) massa molekul relatif: besarnya massa molekul relatif ditentukan oleh massa 1 atom penyusunnya, besarnya massa molekul relatif ditentukan oleh massa 1 mol molekul; (c) jenis partikel senyawa molekul: senyawa NH3 dan CCl4 adalah senyawa ion, arti indeks menunjukkan banyaknya molekul unsur suatu senyawa molekul, arti indeks menunjukkan banyaknya atom disebelah atom didekatnya; (d) massa rumus relatif: besarnya massa rumus relatif ditentukan oleh massa 1 mol senyawa; (e) hubungan mol dengan jumlah partikel senyawa molekul: jumlah molekul sama dengan jumlah atom penyusunnya; (f) hubungan mol, massa, Mr, dan jumlah partikel: ion Mg2+ dalam 2 mol MgCl2 adalah senyawa molekul. Persentase kesalahan konsep siswa kelas X, XI, dan atau XII adalah: (a) massa atom relatif dimiliki oleh 50% siswa kelas X, 47,62% siswa kelas XI, dan 45,45% siswa kelas XII; (b) massa molekul relatif dimiliki oleh 5% siswa kelas X; (c) jenis partikel senyawa molekul dimiliki oleh 18% siswa kelas X, 7% siswa kelas XI, dan 36% siswa kelas XII; (d) massa rumus relatif yang dimiliki oleh 2% siswa kelas XI; (e) hubungan mol dengan jumlah partikel senyawa molekul dimiliki oleh 18% siswa kelas X, 40% siswa kelas XI, dan 9% siswa kelas XII; (f) hubungan mol, massa, Mr, dan jumlah partikel dimiliki oleh 41% siswa kelas X, 43% siswa kelas XI, dan 18% siswa kelas XII. Perbandingan pemahaman konsep stoikiometri siswa kelas X, XI, dan XII adalah: (a) siswa kelas X, XI, dan XII kurang memahami konsep definisi massa atom relatif; (b) siswa kelas X dan XI lebih memahami konsep satuan massa atom (sma) daripada kelas XII; (c) siswa kelas X, XI, dan XII kurang memahami konsep massa 1 atom; (d) pemahaman konsep definisi massa molekul relatif kelas X dan XI adalah lebih baik dibandingkan kelas XII; (e) pemahaman konsep siswa kelas X, XI, dan XII adalah sama dalam konsep jenis partikel yaitu lebih memahami apabila ditampilkan dalam bentuk gambar mikroskopisnya; (f) pemahaman algoritmik siswa kelas X, XI, dan XII lebih baik dibandingkan dengan pemahaman konseptual massa molekul relatif; (g) siswa kelas X, XI, dan XII kurang memahami konsep definisi massa rumus relatif; (h) siswa kelas X, XI, dan XII telah memahami konsep jenis partikel senyawa ion; (i) pemahaman algoritmik siswa kelas X, XI, dan XII lebih baik dibandingkan dengan pemahaman konseptual massa rumus relatif; (j) siswa kelas X, XI, dan XII telah memahami konsep massa molar dengan baik; (k) siswa kelas X, XI, dan XII telah memahami dengan baik konsep hubungan mol dengan massa; (l) siswa kelas X, XI, dan XII telah memahami dengan baik konsep hubungan mol dengan jumlah partikel unsur; (m) pada konsep hubungan mol, massa, dan Mr, siswa kelas XII lebih memahami dibandingkan dengan siswa kelas X dan XI; (n) pada konsep hubungan mol, massa, Mr, dan jumlah partikel siswa kelas XII lebih memahami dibandingkan dengan kelas X dan XI.

Penyelesaian traveling salesman problem dengan menggunakan metode cheapest insertion heuristic / Ahmad Lutfi

 

Teori graph merupakan salah satu cabang dari ilmu matematika yang mempunyai banyak aplikasi terutama untuk membantu menyelesaikan suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu permasalahan yang dapat diselesaikan dengan bantuan teori graph adalah Traveling Salesman Problem (TSP), yaitu permasalahan seorang salesman yang harus mengunjungi semua kota dimana tiap kota hanya dikunjungi sekali, dan dia harus mulai dari dan kembali ke kota asal. Tujuannya adalah menentukan rute dengan jarak yang paling minimum. Salah satu teknik yang digunakan untuk mempercepat pencarian solusi masalah TSP adalah dengan teknik heuristic. Heuristic adalah seni dan ilmu menemukan. Heuristic tidak selalu dapat memecahkan masalah, tetapi sering kali memecahkan masalah dengan cukup baik dan lebih cepat dari pencarian solusi secara lengkap karena teknik heuristic bertujuan untuk mengurangi jumlah pencarian solusi Salah satu algoritma dalam heuristic yang cukup efektif digunakan untuk menyelesaiakan masalah TSP adalah algoritma penyisipan. Dalam algoritma penyisipan terdapat beberapa metode, salah satunya adalah metode cheapest insertion heuristic yang dibahas pada skripsi ini. Metode cheapest insertion heuristic membangun suatu tour dari sikel-sikel kecil dengan bobot minimal dan secara berturut-turut ditambah dengan titik baru. Pemilihan titik baru tersebut dilakukan bersamaan dengan pemilihan sisi sehingga didapatkan nilai penyisipan minimum. Selanjutnya titik baru tersebut disisipkan di antara dua titik yang membentuk sisi yang telah terpilih. Untuk mempermudah perhitungan, maka dibuat program komputer yang dapat merepresentasikan metode tersebut, dengan Borland Delphi. Pada contoh aplikasi dalam mencari rute pendistribusain barang pos dari Kantor Pos dan Giro Ponorogo ke beberapa pondok pesantren, dengan metode cheapest insertion heuristic didapatkan rute dengan jarak total 1038,1 km. Dalam contoh yang lain, pemilihan titik awal berpengaruh pada rute yang terbentuk. Hasil perhitungan dengan metode cheapest insertion heuristic tidak selalu menghasilkan solusi yang lebih minimum jika dibandingkan dengan metode nearest insertion heuristic, farthest insertion heuristic, maupun arbitrary insertion heuristic, tetapi metode ini seringkali memberikan solusi yang cukup baik karena untuk proses seleksi titik yang akan disisipkan dilakukan pada setiap titik di luar tour dan setiap sisi di dalam tour.

Hubungan pola asuh orang tua dan kematangan emosi dengan perilaku agresi remaja awal di Sekolah Menengah Kejuruan Islam 1 Blitar / Mohamad Fani Rosyidi

 

ABSTRAK Rosyidi, Mohamad Fani. 2008. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Kematangan Emosi dengan Perilaku Agresi Remaja Awal di SMK Islam 1 Blitar. Skripsi. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Endang Prastuti M.Si, (2) Ika Andrini Farida, S.Psi, M.Psi. Kata kunci : pola asuh orang tua, kematangan emosi, perilaku agresi. Perilaku agresi sangat marak di lingkungan pendidikan, hal ini dapat kita ketahui dari fenomena tawuran antar pelajar yang menjadi masalah yang sangat merugikan bagi pihak sekolah maupun masyarakat di sekitarnya. Fenomena ini juga terjadi di SMK Islam 1 Blitar yang mayoritas siswanya masih berada dalam fase remaja awal. Remaja yang melakukan perilaku agresi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor pola asuh orang tua dan kematangan emosi. Sebagai faktor eksternal, penerapan pola asuh orang tua yang terdiri dari otoriter, demokratis, dan permisif , akan berpengaruh dalam membentuk perilaku agresi. Selain itu sebagai faktor internal, remaja yang belum stabil dan kurang matang emosinya dapat lebih mudah muncul perilaku agresinya daripada yang telah matang emosinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua (otoriter, demokratis, permisif) dan kematangan emosi dengan perilaku agresi pada remaja awal. Penelitian ini dilakukan pada remaja awal di SMK Islam 1 Blitar. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Subjek yang dijadikan sampel penelitian adalah siswa SMK Islam 1 Blitar kelas X jurusan otomotif, mesin, listrik, gambar dan bangunan sebanyak 86 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratified Proportional Random Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala pola asuh orang tua yang menggunakan distribusi respon jawaban ya dan tidak serta skala Kematangan Emosi dan skala Perilaku agresi dengan menggunakan skala Likert. Analisis deskriptif berdasarkan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Analisis korelasional menggunakan teknik analisis regresi linier berganda dengan taraf signifikansi 5 % dengan bantuan SPSS 12 for windows. Hasil penelitian menunjukkan Pola Asuh Orang Tua yaitu: 29 remaja atau 33.72% masuk dalam tipe otoriter, 33 remaja atau 38.37% masuk dalam tipe demokratis, dan 24 remaja atau 27.91% dalam tipe permisif. Kematangan Emosi remaja awal dalam kategori tinggi yaitu sebesar 48 remaja atau 55.81%. Perilaku Agresi remaja awal termasuk dalam kategori tinggi sebesar 43 remaja atau 50% dan kategori rendah sebesar 43 remaja atau 50%. Ada hubungan positif antara Pola Asuh Otoriter dengan Perilaku agresi (rxy = 0,535;p = 0,000 < 0,05), ada hubungan negatif antara Pola Asuh Demokratis dengan Perilaku agresi (rxy = -0,597; p = 0,000 < 0,05), dan ada hubungan positif antara Pola Asuh Permisif dengan Perilaku agresi (rxy = 0,630; p = 0,000 < 0,05), serta ada hubungan negatif antara Kematangan emosi dengan Perilaku agresi (rxy = -0.632; p = 0,000 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan remaja dapat mengontrol emosi terhadap segala perilakunya dengan lebih aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler; untuk pihak orang tua disarankan menerapkan pola asuh demokratis karena dapat mencegah perilaku agresi; bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menambah jumlah sampel penelitian dan diusahakan untuk mewakili seluruh tingkatan kelas atau mewakili satu tingkat kelas dalam suatu wilayah (sampel yang beragam).

Perancangan media komunikasi visual lailai market buah sebagai media promosi / Yurisman

 

Munculnya persaingan bisnis usaha pada perusahaan market buah sebagai dampak dari perkembangan dalam bidang penyedia pangan sehat, membuat para pengelola perusahaan market buah untuk menyusun strategi pemasaran yang tepat dan efektif, guna menciptakan citra yang baik di mata masyarakat dengan melalui perancangan media komunikasi visual. Media komunikasi visual merupakan suatu bentuk langkah rancangan periklanan, dimana hal tersebut dapat digunakan untuk menciptakan maupun meningkatkan citra positif dari perusahaan, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan penjualan produk. Perancangan disini merupakan perancangan media komunikasi visual Lai Lai market buah sebagai media promosi. Perancangan ini diharapkan untuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari Lai Lai Market Buah. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap Lai Lai Market Buah. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi dan (3) kepustakaan. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Streght, weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan hasil pengumpulan data kepustakaan yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan komunikasi visual (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yakni (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan (3) dan tahap penyusunan laporan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media komunikasi visual Lai Lai Market Buah sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna, ilustrasi, fotografi, tipografi serta media yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu untuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari Lai Lai Market Buah, maka penggunaan perancangan media komunikasi visual merupakan suatu solusi yang tepat.

Motivasi belajar sejarah siswa kelas X di Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) SMA Negeri 2 Lumajang / Asep Irwan Gunawan

 

Tujuan pendidikan adalah mewujudkan manusia yang dapat menggunakan segala kemampuan yang ada pada dirinya dalam menghadapi tantangan hidup maupun mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul sepanjang hidupnya. Salah satu lembaga yang banyak menaruh perhatian terhadap upaya peningkatan sumber daya manusia adalah lembaga pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki, guru harus jeli membaca situasi, kondisi dan permasalahan yang ada pada anak didiknya. Salah satu yang harus ditumbuhkembangkan dalam diri siswa adalah motivasi belajar, sebab motivasi belajar mempunyai peranan yang penting dalam menentukan keberhasilan atau prestasi belajar siswa. Proses pembelajaran sejarah seringkali dianggap oleh kebanyakan peserta didik sebagai sesuatu yang membosankan karena hanya mengungkapkan faktafakta kering yang membuat peserta didik seperti dibebani untuk menghafal urutan tahun dan peristiwa yang terjadi. Kondisi ini terjadi di kelas X-4 Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) SMA Negeri 2 Lumajang, dimana berdasarkan observasi awal diperoleh informasi dan data bahwa kondisi motivasi belajar sejarahnya tergolong kurang memuaskan. Hal inilah yang mendasari penelitian ini dilakukan, untuk mengetahui dan memastikan kondisi dari motivasi belajar sejarah kelas X yang sesungguhnya. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Bagaimana kondisi motivasi belajar sejarah siswa kelas X di Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) SMA Negeri 2 Lumajang? Penelitian ini adalah penelitian survei dengan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dengan jumlah 229. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 57, diambil dari masing-masing kelas X dengan teknik proporsional random sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Pengujian angket dilakukan dengan penghitungan validitas dan realibilitas. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 2 Lumajang terkategori baik (47,3%). Sedangkan kategori motivasi belajar sejarah yang lain berturut-turut adalah motivasi belajar sejarah yang terkategori sangat baik sebesar 22,8%, terkategori kurang baik sebesar 26,3%, dan yang terkategori tidak baik sebesar 3,5%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 2 Lumajang terkategori baik. Berdasarkan hal ini disarankan kepada guru mata pelajaran sejarah hendaknya dapat lebih membangkitkan dan meningkatkan lagi motivasi belajar sejarah siswanya. Dalam kaitan dengan keterbatasan penelitian, maka disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dan rumusan masalah dengan mengkorelasikan motivasi belajar dengan prestasi belajarnya.

Pandangan ulama terhadap mata pelajaran seni tari di SMP / Mts (Studi Kasus pada Ulama Pesantren Ilmu Al-Quran Singosari dan Ulama Pesantren Luhur Malang) / Anis Mufidah

 

SMP/MTs sebagai lembaga pendidikan menengah pertama memiliki peran penting dalam menentukan arah siswa demi pendidikan selanjutnya. Pihak SMP/MTs yang menerapkan mata pelajaran Seni Budaya memiliki wewenang untuk memilih sub mata pelajaran seni tari diantara seni rupa, seni musik dan seni drama. Seni tari sebagai bagian dari budaya yang selalu berkembang perlu dijaga tata nilainya agar tidak tercampur dengan budaya asing yang tidak sesuai dengan tata nilai di Indonesia. Kondisi semacam ini ternyata menimbulkan pro dan kontra terutama di kalangan ulama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan ulama terhadap kedudukan seni tari dalam dunia pendidikan terutama di SMP/MTs. Ruang lingkup penelitian ini meliputi; (1) pandangan ulama terhadap seni tari, (2) pandangan ulama terhadap tujuan mata pelajaran seni tari di SMP/MTs, (3) pandangan ulama terhadap fungsi seni tari, (4) pandangan ulama terhadap bentuk penyajian tari, (5) pandangan ulama terhadap penerapan mata pelajaran seni tari dalam kurikulum SMP/MTs. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah ulama tradisional dari Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari dan ulama modern dari Pesantren Luhur Malang. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrumen atau alat pengumpul data utama. Dalam teknik pengumpulan datanya, peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dirancang sebelumnya. Analisis data secara induktif dilakukan dengan menarik kesimpulan berdasarkan catatan hasil wawancara dan disajikan secara sistematis berdasarkan ruang lingkup yang dirumuskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan ulama tradisional maupun ulama modern terhadap mata pelajaran seni tari di SMP/MTs adalah tidak menolak atau boleh diterapkan dalam kurikulum sekolah, demi pembentukan akhlaq dan masa depan siswanya. Dilihat dari fungsinya untuk menumbuhkembangkan potensi siswa maka bentuk penyajian tari di SMP/MTs yang terdiri dari: (a) penari, (b) gerakan, (c) busana tari, (d) dan tema tari perlu dikemas sesuai syari’at Islam. Perbedaan aliran kedua ulama ini membawa pandangan yang berbeda pula pada bentuk penyajian tari yaitu pada pementasan tari dan musik iringan tari yang digunakan. Ulama tradisional menghendaki pementasan tari yang dilaksanakan di sekolah tidak terdapat percampuran antara penonton laki-laki dan perempuan kecuali mahram. Alat musik yang menimbulkan berbagai macam bunyi tidak diperbolehkan seperti piano, seruling dan sejenisnya. Sedangkan ulama modern memperbolehkan dengan catatan tujuannya baik dan tidak terdapat unsur kemaksiatan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi guru yang melaksanakan mata pelajaran seni tari di SMP/MTs dapat mengaplikasikan tata nilai di Indonesia utamanya nilai agama Islam di sekolah, sehingga seni tari diapresiasi siswa sebagai mata pelajaran yang memiliki tata nilai yang sesuai dengan budaya Indonesia. Bagi masyarakat dan para pendidik dapat menyikapi secara bijak dalam menempatkan seni tari sebagaimana tata nilai yang diterapkan di Indonesia.

Pelabelan total ajaib pada sikel C, dalam Graph Whell "dengan" bilangan ganjil / Afianti

 

ABSTRAK Afianti. 2008. Pelabelan Total Ajaib pada Sikel C3 dalam Wheel n dengan n Bilangan Ganjil. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Dr. Purwanto, Pembimbing II : Dr. Sisworo. Kata Kunci: Pelabelan, Pelabelan Total Ajaib, Sikel, Wheel. Salah satu cabang ilmu matematika yang paling menarik untuk dipelajari adalah teori Graph. Banyak aplikasi dari teori graph yang dapat diterapkan dalam menyelasaikan permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah masalah pelabelan graph untuk diterapkan dalam pembagian anggota kemiliteran ke setiap daerah dengan jumlah yang sama sehingga setiap daerah mendapat keamanan yang lebih kuat. Pada skripsi ini akan dibahas mengenai pelabelan total ajaib pada sikel C3 dalam wheel n dengan n bilangan ganjil. Pelabelan graph merupakan pemberian nilai (label) pada titik, sisi, kedua titik dan sisi ataupun pada bidang. Sedangkan pelabelan ajaib pada graph G(V,E) didefinisikan sebagai fungsi satu-satu dan pada yang memenuhi kondisi bahwa: f(uv) + f(u) + f(v) = k (konstan), untuk setiap sisi uv di E(G) dan u, v di V(G). Konstanta k disebut sebagai angka ajaib untuk pelabelan tersebut. Pelabelan total ajaib dapat terjadi dalam berbagai macam graph, termasuk dalam graph sikel dan graph wheel. Wheel (roda) dengan n sisi dilambangkan dengan Wn adalah graph dengan n + 1 titik yang diperoleh dari graph sikel Cn dengan menambah satu titik baru yang terhubung dengan semua titik di sikel tersebut. Ada beberapa angka ajaib yang diperoleh dari pelabelan total ajaib untuk graph wheel n dengan n ganjil yang ada dalam pembahasan skripsi ini.

Penerapan model daur belajar dalam pembelajaran materi perubahan fisika dan kimia sebagai upaya peningkatan kualitas proses dan hasil belajar siswa kelas VII MTs Almaarif 01 Singosari-Malang / Mani'ul Fitnah Afrilinda

 

Pembuatan prototype perangkat lunak pada mining berbasis Web untuk penggalian kaidah asosoasi (Mining Association Rules) berdasarkan algoritma apriori menggunakan PHP / Tomi Listiawan

 

Akhir-akhir ini kemampuan sistem komputer dalam menghasilkan dan mengumpulkan data meningkat dengan pesat. Namun data ini seringkali diperlakukan hanya sebagai rekaman tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga tidak mempunyai nilai guna lebih untuk keperluan masa mendatang. Padahal analisa dari tiap koleksi data tersebut akan menghasilkan pengetahuan atau informasi yang sangat berharga untuk menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Ketersediaan data dari suatu database transaksional, telah mendorong pengembangan teknik-teknik yang secara otomatis dapat menemukan asosiasi produk atau item-item yang tersimpan dalam database. Teknik penemuan aturan asosiasi antar produk yang tersimpan dalam database inilah yang dikenal dengan teknik mining association rules. Banyak teori dan algoritma yang dikembangkan untuk melakukan teknik mining association rules. Salah satu algoritma yang dikembangkan adalah Apriori. Metode atau algoritma apriori ini mempunyai tujuan utama untuk mencari maksimal frequent itemset. Frequent itemset inilah yang selanjutnya di-generate menjadi aturan-aturan asosiatif, yang sebelumnya sama sekali tidak muncul dalam database, menjadi suatu informasi berharga untuk bahan pertimbangan proses pengambilan keputusan. Algoritma apriori yang merupakan interpretasi teknik mining association rules, akan di implementasikan dalam suatu perangkat lunak berbasis web. Perangkat lunak ini dibuat dengan menggunakan seperangkat komputer berprosesor Intel Celeron 1,86GHz, memori 512 MHz,dan dengan kapasitas hardisk 80 GB. Software (perangkat lunak) yang digunakan meliputi software desain web Macromedia Dreamweaver, pengolah database MySQL, webserver Apache, browser Internet Explorer, bahasa pemrograman PHP, serta PHPEdit-06. Pada uji coba perangkat lunak yang diterapkan pada beberapa data yang berbeda, diperoleh suatu kesimpulan bahwa waktu yang diperlukan untuk proses penggalian kaidah asosiasi sangat tergantung pada jumlah kemunculan setiap item pada transaksi, jumlah transaksi, minimum support, dan minimum confidence. Sedangkan semakin kecil nilai minimum support dan minimum confidence yang dimasukkan, maka aturan asosiasi yang dihasilkan akan semakin banyak, demikian pula sebaliknya.

Pelabelan graph sikel ajaib pada graph roda dan graph kincir angin / Nita Ariani

 

Pelabelan merupakan fungsi atau pemetaan dari unsur-unsur pada suatu graph yang berupa titik, sisi, atau titik dan sisi ke bilangan bulat positif. Pelabelan yang sering digunakan yaitu pelabelan titik, pelabelan sisi, dan palabelan total (titik dan sisi). Selanjutnya suatu pelabelan dikatakan sebagai pelabelan ajaib jika ada fungsi bijektif dari unsur-unsur pada graph yang berupa titik, sisi, atau titik dan sisi ke bilangan bulat positif sehingga dapat menghasilkan suatu konstanta k yang disebut dengan angka ajaib. Pelabelan ajaib yang ada diantaranya pelabelan total sisi-ajaib, pelabelan total sisi-ajaib super, pelabelan total titik-ajaib, dan pelabelan total titik- ajaib super. Selanjutnya didefinisikan graph roda Wn = Cn + {v} sebagai roda dengan lingkaran berorder n. Graph roda Wn merupakan graph yang terbentuk oleh sikel-sikel dengan panjang tiga. Selain graph roda didefinisikan pula graph kincir angin W(r, k) dengan r menyatakan panjang sikel dan k menyatakan banyak sikel sebagai graph yang dibentuk oleh beberapa sikel yang saling disjoin, dengan r  3, k  2 dan satu titik v sebagai titik pusat. Apabila diberikan suatu pelabelan pada kedua graph tersebut sehingga terbentuk suatu pelabelan ajaib maka graph tersebut selanjutnya disebut dengan pelabelan ajaib Cr pada graph roda atau pelabelan ajaib Cr pada graph kincir angin. Pada skripsi ini akan dibahas tentang pelabelan yang diberikan pada graph roda dan graph kincir angin. Dari penelusuran yang telah dilakukan oleh A. Lladó (2004) didapatkan bahwa graph Roda Wn untuk n ≥ 5, n ganjil, merupakan graph C3 ajaib super. Kemudian didapatkan pula bahwa graph Kincir Angin W(r, k) dengan r  3 dan k  2 merupakan graph Cr ajaib super. Dari pembahasan diperoleh beberapa contoh pelabelan Cr ajaib super pada graph kincir angin. Selain itu juga didapatkan empat rumus umum yang berkaitan dengan angka ajaib pada graph kincir angin. Rumus umum angka ajaib pada graph W(r, k) diantaranya,  untuk k = 2 berarti W(r, 2), angka ajaibnya adalah {(|V| + |E|)  r} + 1,  untuk k = 3 berarti W(r, 3), angka ajaibnya adalah {(|V| + |E|)  r} – (r – 1),  untuk k = 4 berarti W(r, 4), angka ajaibnya adalah {(|V| + |E|)  r} – (r + (r – 3)),  untuk k = 5 berarti W(r, 5), angka ajaibnya adalah {(|V| + |E|)  r} – (2r +(r – 2)).

Penerapan problem based learning (PBL) untuk mengembangkan prestasi belajar siswa pada subpokok bahasan garis singgung lingkaran di SMP Negeri 9 Malang / Siti Anisah

 

Guru matematika di SMP Negeri 9 Malang masih menerapkan metode konvensional ketika mereka mengajar matematika termasuk garis singgung lingkaran. Akibatnya, siswa mereka sering melakukan kesalahan dalam menerapkan rumus menentukan panjang garis singgung persekutuan dua lingkaran. Salah satu metode pembelajaran yang secara teoritis dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dialami siswa SMP Negeri 9 Malang untuk materi garis singgung persekutuan dua lingkaran adalah metode PBL. Dalam PBL pembelajaran dipusatkan pada siswa dengan melalui pemberian masalah di awal pembelajaran yang nantinya mampu membawa siswa untuk berpikir kritis, kreatif dan mempunyai keterampilan memecahkan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep dasar dari materi yang diajarkan tersebut. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan PBL untuk melihat aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Malang pada materi garis singgung persekutuan dua lingkaran. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan orientasi siswa kepada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbingnya dalam penyelidikan individual maupun kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 adalah 97,4% sedangkan presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar pada siklus 2 adalah 100%. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan SMP Negeri 9 Malang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai minimal 65 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan PBL dalam penelitian ini berhasil. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil observasi aktivitas siswa yang masuk dalam kategori “Sangat baik” pada siklus 1 dan siklus2, serta hasil wawancara terhadap siswa yang menunjukkan bahwa secara umum siswa senang terhadap pembelajaran dengan PBL.

An implementation of audience/purpose related strategies to improve the quality of eighth graders writings at SMP Negeri 1 Singosari / Riski Lestiono

 

School is a place for students to learn how to be able to produce good writings. Therefore, it is the responsibility of teachers to develop students’ ability to identify some questions before they write. Those questions include: What is the purpose of my writing? Who is going to read my writing? Why do I choose this topic? and What kind of writing is this? The result of the preliminary study revealed that the English teacher of SMP Negeri 1 Singosari conducted writing instruction by simply giving students certain topics to compose and asking them to submit without mentioning the purpose and intended audience of writing. This implies that the writing activity in the class is still less contextualized and does not suit the Contextual Teaching and Learning (CTL) Approach which emphasizes the relation between subject matter and real world situation. Contextualization in writing can be done by implementing audience/purpose-related strategies in writing. This study was then intended to achieve this purpose. The research problem was formulated as follows: “How can audience/purpose-related strategies be implemented to improve the quality of English writing of junior high school students?” This study was conducted by using action research with two cycles. Every cycle consisted of four stages: planning an action, implementation of action, observing, and analysis and reflection. The researcher, at the same time, acted as the English teacher in the class. The action research was conducted at SMP Negeri 1 Singosari which was located at Jl. Raya 1 Singosari in Class VIII G. The data in this study were the students’ writings. In Cycle 1, the researcher assigned the students to write two recount texts with the same topic to two different readers (brothers/sisters as familiar audience and the school headmaster as the other audience). In Cycle 2, the data were collected by assigning the students to write two announcements with the same message to two different readers (schoolmates/classmates as familiar audience and school teachers as the other audience). A functional text “announcement” was chosen because of its clarity on purpose and audience upon writing it. The study found that the students performed better in their writings when they wrote announcements (non-narrative texts). The students could adapt their writings based on the purpose and audience by using appropriate voice and register. In conclusion, audience/purpose-related strategies could be implemented at SMP Negeri 1 Singosari, class VIII G. Since the success of the action implementation was reached in cycle 2, the stages (planning the action and implementation of action) in the cycle become the answer of the research problem. Planning the action consisted of determining audience/purpose-related strategies, designing lesson plan, and making the indicator of success. In accordance with what had been planned, the action implementation was conducted. The researcher conducted usual teaching and learning process based on the lesson plan, namely pre-activity, main activity, and post activity. Before assigning the students to write their announcements, the researcher explained purpose and audience in writing and asked the students to imagine the readers. Then, the researcher went around the class to help some students having problems in writing. It is recommended that teachers mention purpose and audience in every writing activity and other researchers use more readers than just two kinds of reader, familiar and other audience, as it was in this study, for every writing assignment, so that various types of writing can be trained to students.

Analysis of code switching and code mixing in the novel macarin anjing by Christian Simamora / Najmah Soraya Wahdani

 

This study aims at investigating the use of code switching and code mixing in the novel Macarin Anjing by Christian Simamora. There are three research problems in this research, namely: (1) What are the types of code switching and code mixing found in the dialogue of the novel Macarin Anjing by Christian Simamora? (2) What are the probable reasons why the characters in the novel Macarin Anjing by Christian Simamora mix their bahasa Indonesia with English or switch from bahasa Indonesia into English, or the other way around? (3) In what context do the characters in the novel Macarin Anjing by Christian Simamora mix their bahasa Indonesia with English or switch their bahasa Indonesia into English? The research design of this study is descriptive qualitative. It is because all the data collection is in the form of words. There is only one kind of sources of data in this research, that is, the dialogues spoken by the characters in the novel Macarin Anjing by Christian Simamora. The characters in this novel are mostly high school students since this novel tells about the love stories of teenagers (about 16-18 years of age). The results show that most characters use Intra-sentential switching in their conversation because there are many of English terms that are familiar to them so that they can use in their sentences easily. This type occurs 74 times (46,8 %). Then, in the second place is Intersentential switching which occurs 51 times (32,3 %). Next, intra-lexical code mixing occurs 12 times (7,6 %). It occurs because the characters are still being influenced by the structure of Bahasa Indonesia (the use of se-, -mu, -nya, etc). The next type which involves a change of spelling occurs 9 times (5,7 %). It is a new type found in this research. Then, emblematic switching occurs 7 times (4,4 %). It is less frequently used by the characters because they do not frequently use tag questions in their dialogues. And the last type, establishing continuity with the previous speaker occurs the least, 5 times (3,2 %). It may occur because the characters think that they do not have to respond to the utterances of the speakers which contain code switching and code mixing in the same way. Actually, there is another type given by Hoffman; that is involving a change of pronunciation. Yet, it does not occur in the data. The results also show that most characters switch or mix their dialogues because of expressing their group identity. It occurs 53 times (22,8 %). Then, in the second place, the characters often talk about particular topic using the code switching and code mixing. It occurs 43 times (18,5 %). Then, in the third place, the characters use code switching and code mixing because of real lexical need. It occurs 40 times (17,2 %). Then, in the fourth place, the characters use code switching and code mixing because of showing their empathy about something. It occurs 22 times (9,5 %). Then, in the fifth and sixth place, the characters use code switching and code mixing to repeat their statement for clarification and to soften or strengthen their request or command. They have the same frequency, 21 times (9,1 %). Then, in the seventh place, the characters use code switching and code mixing because of their intention of clarifying the speech content for interlocutor. It occurs 17 times (7,3 %). Then, in the eighth place, the characters use code switching and code mixing for interjection (inserting sentence fillers or sentence connectors). It occurs 14 times (6,0 %). And in the last place, the characters use code switching and code mixing because of quoting somebody else. It occurs the least, just once (0,4 %). Actually, there is another reason of code switching and code mixing which is given by Saville-Troike; that is excluding other people when a comment is intended for only a limited audience. Yet, it does not occur in the data. This research may suggest the sociolinguistics students not to reject sociolinguistics researches, since they may always stand up-to-date and they can always be done to any up-to-date media. It is also expected that the future researchers can develop this research by including all related aspects of code switching and code mixing, especially about the language of the dialogue in a novel.

Code switching in Indonesia pop songs / Ifa Dewi Safitri

 

This study aims at describing code switching found in Indonesian pop songs composed by some Indonesian pop song composers. There are two research problems in this study, namely: what types of code switching are found in Indonesian pop song composed by Indonesian pop song composers and what are the reasons why the composers switch the language in their songs. This study is expected to give some useful contributions to the theory of Sociolinguistics, particularly the theory of code switching. The findings of this study are expected to give some useful insights to English Department students in order to get better understanding of the use of code switching by Indonesian pop song composers. The research design of this study is descriptive qualitative and the data of the study is in the form of written lyrics. There are three steps for collecting the data: (1) finding the lyrics of Indonesian pop songs in the internet and in the songs magazines, (2) selecting lyrics that consist of Indonesian-English code switching, and (3) coding the selected code switching (data) by giving numbers to help the analysis run well. The results show that there are 4 types of code switching which are used by Indonesian pop song composers. They are: (1) intra-sentential switching, (2) inter-sentential switching, (3) emblematic switching, and (4) involving a word within a sentence. There are 6 reasons why Indonesian pop song composers code switch from one language into another in their composed songs. They are: (1) talking about a particular topic, (2) inserting a sentence fillers or sentence connectors, (3) repetition used for clarification, (4) expressing group identity, (5) softening and strengthening request or command, and (6) inserting a real lexical need. From the findings, Inter-sentential switching is mostly used by some Indonesian pop song composers because they prefer to express their messages from one language then code switch it into another language. Emblematic switching is the least code switching which is found in this study because emblematic code switching as tags or exclamations as an emblem of bilingual character is usually found in exchange, whereas most of the songs tell about stories. It is known that Indonesian pop song composers do code switching because they mostly talk about particular topics, namely love, unity, and party, and they intent to “show off” their group identity as Indonesian pop song composers who are able to code switch into English in their composed songs. Inserting a sentence fillers or sentence connectors is the least reason why the Indonesian pop song composer code switches her language from Bahasa Indonesia into English because sentence fillers or sentence connectors sometimes are used in conversation which occur intentionally or unintentionally. Besides, usually, bilingual or multilingual uses them because he/she has been familiar with them.

Sumbangan efektif motivasi pemain masuk sekolah sepakbola AMS Kepanjen terhadap disiplin latihan / Rahmat Hidayat

 

Hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang yang pembelajarannya dengan pendekatan problem posing / Rahmat Ni'mah

 

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti di SMA Negeri 4 Malang, pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan metode tanya jawab dan pemberian tugas, ternyata hal tersebut belum bisa memperoleh hasil yang optimal dan masih ada siswa yang mengalami kesulitan. Kesulitan siswa dalam belajar matematika akan mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran matematika sangatlah penting untuk memilih metode yang tepat, salah satu metode tersebut adalah menggunakan pembelajaran dengan pendekatan problem posing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem posing dan siswa yang mendapat pembelajaran biasa (tanpa pendekatan problem posing). Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif jenis penelitian eksperimen semu. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang. Data hasil belajar diperoleh dari tes hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih tinggi dibanding siswa yang mendapat pembelajaran biasa. Peneliti menyarankan sebaiknya pembelajaran dengan pendekatan problem posing dijadikan sebagai alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran khususnya untuk SMA Negeri 4 Malang. Bagi peneliti lain yang ingin menerapkan bentuk pembelajaran ini, dapat melakukan penelitian serupa terhadap materi yang lain.

Sintesis dan karakterisasi sabun aluminium dari minyak Jatropha curcas Linn (jarak pagar) melalui reaksi trans-saponifikasi dengan aluminium sulfat / Vitria Novita

 

Sabun yang selama ini dikenal oleh masyarakat sebagai agen pembersih (sabun cuci atau sabun mandi) merupakan garam karboksilat suku tinggi dengan natrium atau kalium. Sabun natrium dikenal sebagai sabun cuci dan sabun kalium dikenal sebagai sabun mandi. Sabun natrium atau kalium dibuat melalui reaksi saponifikasi, yaitu dengan mereaksikan natrium atau kalium hidroksida dengan minyak atau asam lemak. Menurut Considine (1984:42) sabun adalah garam dari asam karboksilat suku tinggi (asam lemak). Berdasarkan pengertian sabun sebagai suatu garam, maka natrium dan kalium dapat diganti dengan logam lain salah satunya dengan aluminium. Penelitian tentang sintesis dan karakterisasi sabun aluminium melalui reaksi trans-saponifikasi telah berhasil dilakukan sebelumnya oleh Sutrisno, dkk. Tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis sabun aluminium dari minyak jarak pagar dengan aluminium sulfat melalui reaksi trans-saponifikasi dan mengkarakterisasinya. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, Laboratorium Kualitas Air Perum Jasa Tirta I Malang, dan Laboratorium IR Institut Teknologi Bandung. Tahap-tahap penelitian adalah sebagai berikut: (1) sintesis sabun natrium melalui reaksi saponifikasi minyak jarak pagar dengan natrium hidroksida, (2) sintesis sabun aluminium melalui reaksi trans-saponifikasi sabun natrium hasil tahap (1) dengan aluminium sulfat, (3) pemurnian senyawa hasil sintesis dengan cara pencucian menggunakan aquades, (4) karakterisasi sabun hasil sintesis yang meliputi: uji kelarutan, penentuan titik lebur, analisis kualitatif ion aluminium dan ion sulfat, analisis kuantitatif natrium dan aluminium dengan spektrofotometer serapan atom (Atomic Absorption Spectrophotometer, AAS), penentuan bilangan iod, (5) identifikasi gugus fungsi senyawa hasil sintesis dengan spektrofotometer inframerah (IR). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sabun aluminium dapat disintesis dari minyak jarak pagar melalui reaksi saponifikasi dengan natrium hidroksida, yang kemudian dilanjutkan dengan reaksi trans-saponifikasi antara sabun natrium yang terbentuk dengan aluminium sulfat. Sabun aluminium berupa serbuk putih kekuningan dengan rentang titik lebur 264oC-322oC, tidak larut dalam air dingin maupun panas, etanol, aseton, larut sebagian dalam dietil eter dan n-heksana, larut dalam kloroform, larut sebagian dalam minyak jarak pagar (dengan penambahan 3,3% dan 2,5% sabun aluminium), dan larut sempurna dalam minyak jarak pagar dengan penambahan 0,4% sabun aluminium.

Analisis kesesuaian KTSP bahasa Jerman Program Bahasa di SMA dengan Europaische referenzrahmen / Novalia Andriyanti

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan potensi masing-masing sekolah. Pengembangan ini dilakukan untuk semua mata pelajaran, termasuk bahasa Jerman. Hal ini akan nampak pada sajian materi bahasa Jerman di SMA Program Bahasa. Dalam mempelajari bahasa Jerman, ada pedoman lain yang digunakan di wilayah Eropa, yakni Europäische Referenzrahmen. Oleh karena itu peneliti akan melakukan analisis kesesuaian isi KTSP Bahasa Jerman dengan Europäische Referenzrahmen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian KTSP Bhasa Jerman Program Bahasa di SMA dengan Europäische Referenzrahmen, dilihat dari tema, gramatika, serta kemampuan berbahasa. Pada penelitian ini digunakan metode dokumentasi, karena peneliti melakukan analisis isi. Data-data yang menjadi objek analisis berupa tema, gramatika, dan kemampuan berbahasa yang diperoleh dari KTSP Bahasa Jerman Program Bahasa di SMA dan standar penguasaan bahasa di Eropa. Adapun instrumen yang digunakan adalah ceklis yang disajikan dalam tabel atau daftar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, tema-tema yang terdapat dalam KTSP Bahasa Jerman SMA kurang bervariasi dan masih memerlukan pengembangan. Gramatika yang dipelajari sudah sesuai untuk tingkatan sekolah menengah atas. Adapun analisis pada kemampuan berbahasa, menunjukkan bahwa tidak dijumpai adanya tingkatan kemampuan yang jelas. Pada bagian ini sekolah maupun guru bahasa Jerman tidak dapat melakukan pengembangan karena memang sudah ditentukan oleh pusat. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti dapat memberikan saran kepada guru mata pelajaran agar lebih kreatif dalam mengembangkan kurikulum bahasa Jerman di masing-masing sekolah, terlepas bahwa ada ketentuan dari pusat yang menjadi acuan KTSP Bahasa Jerman.

Pembuatan busana pesta wanita "Sexinees of Egypt Queen" / Aulina Yukebel

 

Rancangan pendirian betok resto di Jalan Sukarno Hatta Kota Malang / Widiya Vertin

 

Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Pariwisata yang terdapat di kota Malang menjadi daya tarik tersendiri yang layak menjadi tujuan wisata. Salah satunya adalah wisata belanja dan usaha kuliner khususnya makanan dan minuman. Salah satu contoh usaha kuliner adalah usaha jasa restoran. Sebagian besar restoran di Malang menjual makanan Indonesia, Continental, dan Oriental. Konsep dasar Betok Resto merupakan sebuah usaha yang bergerak dibidang usaha jasa makanan yang menjual menu makanan khas dengan satu jenis yaitu menu makanan bebek yang kemudian diolah menjadi beraneka menu makanan. Mendirikan sebuah restoran dengan satu jenis bahan makanan dari bebek merupakan peluang tersendiri yang perlu dikembangkan. Hal tersebut yang penting bagi penulis untuk mendirikan usaha Betok Resto. Tujuan umum perencanaan pendirian Betok Resto adalah diharapkan dapat tersusunnya perencanaan pembangunan usaha jasa makanan yang mempunyai ciri khas tersendiri dan dapat bersaing dengan restoran yang menyediakan menu bebek. Dipilihnya bebek sebagai menu khas makanan dikarenakan daging bebek jauh lebih gurih dari pada daging ayam. Dalam pengelolaan Betok Resto akan dipilih karyawan yang memiliki kompetensi dibidang usaha jasa makanan dengan memiliki pengalaman kerja dibidang jasa makanan, memiliki pengalaman dibidang pelayanan restoran, memiliki pengalaman dalam manajemen keuangan restoran. Sistem pemasaran yang akan diterapkan di Betok Resto meliputi beberapa aspek, antara lain: analisis kebutuhan pasar, segmentasi pasar atau penentuan target market dan bauran pasar atau marketing mix. Betok Resto merupakan restoran dengan penataan ruangan (lay out) yang bernuansa tradisional (etnik). Penyediaan furniture yang bernuansa alami yang akan lebih memperindah ruangan yang sesuai dengan perencanaan konsep di Betok Resto. Sistem keuangan yang akan diterapkan di Betok Resto meliputi beberapa aspek, antara lain: modal usaha, struktur permodalan, perkiraan arus kas, perhitungan analisis titik impas atau BEP dan sistem pembukuan. BEP direncanakan akan tercapai pada Rp. 364.292.028,10 /tahun dan Pay Back Period direncanakan akan tercapai pada tahun ketiga. Dengan perencanaan yang telah disusun sebaik mungkin, diharapkan Betok Resto mampu bersaing dengan restoran bebek yang sudah ada di Malang, diminati masyarakat kota Malang dan menghasilkan keuntungan yang memuaskan.

Pembuatan busana pesta tahun 1980-an dengan sentuhan pleat skirt accordion / choirul Nur Hayati

 

Rancangan outlet star bakery di daerah Malang / I Wayan Sumarsa

 

Outlet Star Bakery merupakan salah satu usaha yang bergerak dalam bidang penjualan produk pastry dan bakery. Perkembagan outlet bakery, secara tidak langsung menyebabkan persaingan yang cukup ketat diantara pengusaha yang bergerak dalam bidang usaha bakery. Menyikapi hal tersebut, sebelum outlet Star Bakery didirikan, terlebih dahulu dilakukan perancangan usaha. Tujuan dari perancangan adalah tersusunnya rancangan outlet bakery yang layak serta memiliki keunggulan dibandingkan dengan usaha bakery yang lain. Perancangan diawali dengan analisis SWOT, meliputi identifikasi: kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan outlet Star Bakery memiliki peluang yang cukup baik serta layak untuk didirikan. Aspek perancangan outlet Star Bakery terdiri dari analisis aspek sumber daya manusia, aspek pemasaran, aspek teknis produksi, dan aspek keuangan. Hasil analisis rancangan outlet Star Bakery menetapkan, perencanaan sumber daya manusia diawali dengan melakukan analisis pekerjaan terlebih dahulu, perekrutan dilakukan oleh manajer operasional. Target market outlet Star Bakery yaitu para pengunjung ruko yang ada di sekitar kompleks ruko Bendungan Sutami, produk yang ditawarkan adalah aneka produk pastry dan bakery. Konsep yang ditawarkan modern minimalis dan sistem pelayanan self service. Tempat yang dipilih untuk pendirian outlet Star Bakery kompleks ruko Bendungan Sutami. Promosi yang dilakukan yaitu: advertising, personal selling, pemberian diskon, dan pemberian voucher. Furniture di kitchen area terbuat dari bahan stainless steel dan di service area adalah furniture terbuat dari bahan kayu. Modal yang dibutuhkan untuk mendirikan outlet Star Bakery Rp91.658.467,00. BEP unit yang harus dicapai outlet Star Bakery setiap bulan 1.464 unit produk pastry dan bakery. BEP dalam rupiah yang harus dicapai setiap bulan Rp23.365.312,00. Dengan penghitungan payback periode dapat diketahui modal yang diinvestasikan dapat kembali dalam waktu 1 tahun 4,5 bulan. Kesimpulan hasil rancangan outlet Star Bakery berdasarkan hasil analisis SDM, pemasaran, teknis produksi, dan keuangan, outlet Star Bakery layak untuk didirikan. Disarankan bagi peneliti lebih lanjut untuk mengembangkan standar resep, variasi produk yang dijual, dan atmosphere yang telah dirancang saat ini. Bagi Jurusan Teknologi Industri disarankan untuk menambah referensi mengenai pastry dan bakery.

Sistem informasi kehadiran dosen di jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Erwin Hermawanto

 

Abstrak: Sistem Kehadiran Dosen di setiap institusi pada umumnya masih menggunakan sistem menandatangani di kolom presensi manual. dengan menggunakan sistem manual ini permasalahan banyak muncul sepertihalnya pada saat pelaksanaan perkuliahan ketika dosen tidak bisa hadir mahasiswa sulit menghubungi dosen untuk mengklarifikasi tugas kuliah, tidak hanya itu dosen datang tanda tangan selanjutnya keluar dari jurusan tanpa konfirmasi ke bagian pengajaran. Untuk itu perlu adanya suatu sistem yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu metode yang penulis tawarkan adalah dengan merancanga sistem kehadiran dosen sehingga dapat memberikan kemudahan bagi mahasiswa, dosen serta bagian pengajaran. Sistem data kehadiran dan informasi kehadiran dosen ini terdiri dari tiga unit utama yaitu pertama, unit sentral yang terdiri dari komputer kabel data sebagai pengubung komputer server ke HP server. HP berfungsi sebagai penerima pesan dari dosen. Softwere yang digunakan Borland Delphi 7 sebagai pengolah database kehadiran dan infomasi dari dosen dan memakai database Paradox. Hasil pengujian alat menunjukkan bahwa sistem mencatat kehadiran dosen secara berkala dan dalam bentuk hardcopy dan softcopy secara individu. Informasi kehadiran dosen ini dapat menampilkan dosen hadir atau tidak hadir, Sedangkan data-data dosen dapat tersimpan dalam database komputer. Jumlah karakter pengiriman pesan maksimal sampai 160 karakter. Cara pengetikan pesan diawali dengan “PIN” “KODE_MK” isi pesan. Sedangkan jumlah maksimal dosen pengajar 999 nama dosen. Alat ini mempunyai kecepatan pengiriman 115200 bps.

Pengisi pakan anak ayam secara otomatis dengan menggunakan smart crane / Wheni Leo Augusta

 

Kemajuan teknologi banyak mendukung kegiatan berwirausaha, sehingga usaha dapat dijalankan lebih mudah, lebih efisien, dan efektif. Pemberian pakan anak ayam dapat dipermudah dengan penggunaan alat mekanik yang dikontrol oleh peralatan elektronik. Proyek Akhir ini bertujuan untuk merancang dan membuat alat kontrol yang mampu memberikan pakan anak ayam secara otomatis setiap saat. Perancangan dan pembuatan alat kontrol ini adalah aplikasi dari teknologi smart relay yang sudah ada dipasaran. Pengujian alat dilakukan di Laboratorium Elektro Universitas Negeri Malang. Pengujian alat dilakukan pada masing-masing rangkaian sensor, motor, dan rangkaian solenoide. Analisa dilakukan pada masing-masing obyek pengujian. Hasil pengujian pada masing-masing obyek menunjukkan bahwa perancangan dan pembuatan alat kontrol pemberian pakan anak ayam otomatis dapat bekerja sesuai fungsi yang diharapkan. Pada pengujian keseluruhan menggunakan simulasi (miniatur) alat kontrol pemberian pakan anak ayam dapat berjalan untuk pengecekan serta mengisi bak pakan yang kosong dan kembali ketempat semula. Untuk perpindahan dari posisi A ke posisi 2, dari posisi 2 ke 3, dari posisi 3 ke 4, dari posisi 4 ke B dan B ke posisi arah balikan. Dalam penggunaan alat perlu diperhatikan untuk pakan anak ayam yang digunakan adalah pakan yang kering. Berdasarkan hasil perancangan dan pembuatan alat kontrol dengan aplikasi teknologi smart relay dapat dikembangkan dengan ukuran dan model kandang sesuai kebutuhan.

Alat pembaca KWH meter digital menggunakan remote wireless berbasis mikrokontroler / Adi Bangga

 

ABSTRAK Bangga, Adie. 2008. Alat Pembaca KWH Meter Digital Menggunakan Remote Wireless Berbasis Mikrokontroler. Proyek akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Slamet Wibawanto, M.T. dan (II) Drs. Hari Putranto. Kata kunci: KWH Meter Digital, Remote Wireless, Mikrokontroler, Database komputer. PLN (Persero) sebagai salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dibidang jasa kelistrikan berusaha meningkatkan kualitas pelayanannya, baik dalam hal pemasangan, pembayaran maupun pecatatan data KWH meter. Dalam hal pencatatan data KWH meter ini, PLN masih menggunakan cara manual yaitu ada petugas khusus dari PLN yang mendatangi rumah ke rumah bertugas untuk mencatat nilai yang tertera pada KWH meter tiap bulannya. Kenyataan ini masih kurang efektif karena petugas pencatat data KWH meter sering kali tidak bisa mencatat data KWH meter disebabkan keadaaan pagar rumah yang tinggi dan terkunci. Selain itu juga mengganggu privasi pelanggan sehingga dalam kenyataan di lapangan akan timbul kekurangan-kekurangan yang dapat merugikan perusahaan listrik itu sendiri, seperti: keakuratan data yang tidak maksimal, keaslian data, human error, dan waktu yang tidak efisien. Dwi, Franky Setyaatmoko (2007) telah mengembangkan data logging beban listrik KWH meter menggunakan SMS (Short Message Service). Alat ini memiliki tingkat ke-efektifan yang baik, diantaranya: mampu mengambil data KWH meter dari jarak jauh, serta tidak memerlukan tenaga manusia. Disamping kelebihan alat SMS ini, juga memiliki kelemahan, diantaranya: kerugian PLN harus memasang HP (handphone) disetiap KWH meter, memakai pulsa HP, sinyal HP juga menentukan pengambilan data. Selain itu juga kerugian dalam pemberdayaan petugas PLN. Dari permasalahan tersebut muncul ide yakni alat pembaca KWH meter digital dengan pemancar dan penerima sistem remote wireless. Alat ini memiliki kelebihan dalam sistem dibandingkan alat menggunakan SMS, yakni mudah dbuat dan diakses dari mana saja tanpa menggunakan pulsa HP. Selain itu, alat ini dapat mengambil data KWH meter ke rumah-rumah pelanggan dari jarak sekitar 50 meter tanpa memasuki rumah-rumah tersebut. Alat ini menggunakan sensor arus dan tegangan jenis transformator dan pengolah sinyal menggunakan mikrokontroler AT89S51, dengan tampilan LCD. Data yang ditampilkan adalah data pemakaian energi (KWH), tegangan dan arus. Pengiriman data dari transmiter ke receiver menggunakan mode FSK (Frequency Shift Keying) dengan media HT (Halky Talky). Data dari receiver di-download ke PC.

Desain sistem kendali otomatis eskalator on demand menggunakan smart relay / Adi Sutrisno

 

Sejauh ini beban rumah tangga. beban perkantoran, beban pabrik, beban lampu penerangan khususnya penerangan yang ada di swalayan dan mal - mal masih sangat tidak hemat energi. Dengan demikian perlu yang namanya ide-ide segar guna mensukseskan program hemat energi yang dicanangkan pemerintah tahun 2005. Dari situlah sistem kendali otomatis eskalator on demand menggunakan smart relay ini akan sedikit membantu program pemerintah tentang hemat energi tersebut, dan kebetulan sasaran dari alat ini adalah swalayan dan mal - mal yang kebanyakan menggunakan eskalator. Desain sistem kendali otomatis eskalator on demand menggunakan smart relay ini berbeda dengan sistem eskalator yang ada sebelumnya. Jika sebelumnya bersifat manual dan eskalator bekerja terus menerus dari jam buka swalayan dan mal-mal hingga tutup, jelas sekali eskalator jenis ini sangat tidak hemat energi. maka sistem eskalator on demand akan sangat berbeda, karena sistem hanya akan bekerja jika ada beban, artinya jika tidak ada beban maka eskalator akan berhenti, level ketinggian akan menjadi solusi keamanan. Perlu diingat sistem ini bekerja secara otomatis. Tujuan dari perancangan yaitu membuat dan mengatur letak sensor pada rancangan eskalator on demand menggunakan smart relay . Adapun metode dalam perancangan meliputi: (1) study literatur dan pengumpulan data;(2) blok diagram;(3) Percobaan atau eksperimen;(4) Perancangan mekanik;(5) desain motor penggerak;(6) Perancangan elektrik. Sedangkan perancangan dan pengujian meliputi: (1) pengujian sensor;(2) pengujian catu daya;(3) Pengujian motor;(4) Pengujian program smart relay;(5) Pengujian konveyor;(6) Pengujian dan pembahasan secara keseluruhan Dari hasil pengujian didapatkan eskalator on demand bekerja dengan baik mampu menjalankan beban sesuai sistem yang diinginkan, yaitu mampu menghemat energi sebesar ±80%.

Pembuatan blus, bustier dan hotpants sebagai busana pesta / Dwi Oktavia Wulandari

 

Pernacangan nama Mi-za (Mini Pizza) kafe sebagai salah satu unit usaha jasa boga di Malang / Riri Fahriabuna

 

Kegiatan perekonomian Kota Malang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang kontribusi terbesar terhadap PDRB didominasi oleh sektor Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Peluang pasar di bidang industri makanan semacam pizza ternyata sangat terbuka luas. Tujuan perancangan adalah tersusunnya rancangan pendirian Mama Mi-Za Kafe sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar yang berupa makanan, minuman, dan pelayanan serta memberikan keuntungan secara finansial bagi pemilik modal Perancangan ini diawali dengan pelaksanaan analisis SWOT, meliputi: kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan, Mama Mi-Za Kafe cukup layak dan memiliki peluang yang cukup baik. Metode pengambilan data untuk perancangan adalah observasi, wawancara, dan pengisian quisioner. Kafe yang akan didirikan dianalisis dari beberapa aspek, antara lain: aspek SDM, mencakup perencanaan sumber daya manusia, rekruitmen, struktur organisasi, dan sistem pengupahan. Aspek pemasaran, mencakup analisis kebutuhan konsumen, penentuan segmentasi pasar, penentuan sasaran pasar, dan Marketing Mix. Aspek teknis dan produksi, mencakup penentuan lokasi usaha, perencanaan kebutuhan alat, lay out, perencanaan menu, standarisasi resep, sistem pengadaan dan penyimpanan bahan, dan standar operasional service area dan kitchen restoran. Aspek keuangan, mencangkup rencana penjualan, proyeksi rugi/laba, arus kas, BEP, dan pay back period. Rancangan analisis aspek sumber daya manusia, hasil dari perancangan aspek sumber daya manusia adalah jumlah karyawan yang dibutuhkan sebanyak 13 orang dengan menggunakan struktur organisasi garis dan terdiri dari lima bagian atau department. Sistem upah yang digunakan yaitu sistem upah menurut waktu dan diberikan per bulan. Hasil aspek pemasaran adalah target market potensial yang dituju adalah mahasiswa dan masyarakat sekitar. Produk yang ditawarkan adalah kafe bernuansa modern yang menyediakan aneka pizza mini dan aneka minuman. Sistem pelayanan yang digunakan adalah American service. Letak Mama-Mi-Za Kafe di jalan Gajayana 19 kav 9 Malang. Kegiatan promosi yang dilakukan adalah advertising, personal selling, sales promotion, dan grand opening. Hasil aspek teknis dan produksi adalah sistem menu yang digunakan adalah A’la Carte Menu. Beberapa hal yang akan distandarkan dalam merancang menu di Mama Mi-Za Kafe, antara lain mutu bahan, besarnya porsi, cara pengolahan, dan cara penyajian. Hasil aspek keuangan adalah jumlah kebutuhan modal awal adalah Rp 93.354.791,00. Perkiraan kauntungan bersih pertahun mencapai Rp 106.371.139,00. Dengan menghitung BEP, dapat diketahui bahwa kafe tidak akan mengalami kerugian dan juga tidak untung pada jumlah penjualan 1.917 unit per bulan dan dalam rupiah BEP dicapai pada omzet penjualan Rp 23.364.153,00 per bulan. Berdasarkan pay back period perkiraan balik modal yang ditanamkan di awal yaitu pada bulan ke 11. Berdasarkan hasil perancangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Mama Mi-Za Kafe cukup layak didirikan secara finansial.

Perencangan pendirian cafe browsweat di Jalan Raya Tlogomas / Erma

 

Prencangan usaha istana pizza di kota Malang / Vica Oktavia

 

Pembuatan busana kesempatan khusus "The Flourescent" / Irmawati

 

Pembuatan busana futuristik "Super Wolferine" / Kiki Mahendra Sari

 

Perancangan pendirian space lounge di Jalan Sultan Agung Batu Malang / Melchiorita Yosiana Hallatu

 

Space Lounge merupakan sebuah tempat usaha yang menjual minuman jus dan minuman herbal. Lounge sendiri belum begitu familiar di masyarakat Indonesia khususnya. Lounge adalah ruangan dengan tatanan lampu dan tatanan kursi yang khas, sambil menikmati pertunjukkan live music dan tamu dapat memesan minuman melalui pelayan lounge bar (capitol lounge) atau waiter/waitress. Perancangan pendirian Space Lounge dilakukan berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan, sehingga Space Lounge dapat berkembang, dengan menganalisis kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Lounge, sedangkan peluang dan tantangan dilihat dari sisi luar Space Lounge dan masyarakat umum. Sumber data penulisan Tugas Akhir ini adalah masyarakat umum, karyawan perkantoran di daerah Sultan Agung, pengunjung Jatim Park, Agro Wisata, penjual buah (tengkulak) dan pemilik restoran atau café pesaing. Hasil perancangan Space Lounge meliputi:(1) sistem pemasaran, (2) standarisasi pelayanan, (3) perencanaan sumber daya manusia dan (4) standarisasi keuangan. Sistem pemasaran Space Lounge meliputi: segmenting, targeting, positioning, differentiated marketing, dan marketing mix. Segmentasi pasar Space Lounge adalah individu-individu yang mementingkan kesehatan dan berusaha mengubah pola makan, individu-individu tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan usia, pekerjaan, penghasilan dan gaya hidup. Target pasar Space Lounge tidak hanya orang yang mementingkan kesehatan tapi juga seperti ibu hamil dan menyusui, individu yang memiliki kesadaran tinggi akan kesehatan. Sedangkan untuk posisi dan pembedaan pasar Space Lounge menempatkan produknya menurut posisi nilai dan posisi manfaat dari produknya yaitu nilai terbaik yang diberikan adalah bahan-bahan yang digunakan untuk jus buah dan sayuran merupakan buah dan sayuran organik. Khasiat atau manfaat yang diberikan terpenuhinya nutrisi yang dibutuhkan tubuh, ini yang membedakan Space Lounge dengan restoran atau café lainnya. Pelayanan tidak langsung Space Lounge terdiri dari: fasiltas produksi, menu yang ditawarkan dan peralatan yang dimiliki, pelayanan yang diterapkan American Service Adapun produk yang di jual di Space Lounge adalah jus buah dan sayuran, minuman herbal dan makanan sepinggan, untuk pengembangan promosi di Space Lounge menggunakan neon box, brosur, leftglat, stasiun radio dan televisi, sehingga Space Lounge dapat maju dan berkembang. Space Lounge menerapkan job enlargement pada sistem pengupahan yang bertujuan untuk meminimalisir jumlah SDM sehingga anggaran gaji karyawan (labor cost) dapat ditekan dan menerapkan organisasi fungsional pada struktur organisasinya. Penetapan struktur gaji berdasarkan pada UMK Kota Batu sebesar Rp 578.000,00 Hasil evaluasi Space Lounge memerlukan dana operasional Lounge sebesar Rp 269.599.116,00. dengan sumber modal berasal dari pemilik usaha, investor dan pinjaman Bank. Hasil dari perhitungan BEP (Q) untuk menutupi biaya operasional dalam 1 hari Space Lounge harus menjual 1.309/bln produk dan BEP (Rp) Rp 17.252.799,00 dalam 1 bulan berdasarkan kapasitas yang dimiliki. Diasumsikan hasil penjualan dalam 1 tahun adalah Rp 373.425.439,00 dengan keuntungan bersih Rp 99.575.948,00. Berdasarkan hasil perancangan disimpulkan: (1) penentuan segementasi pasar berdasarkan usia, pekerjaan, penghasilan dan gaya hidup konsumen, (2) pelayanan dibagi menjadi 2 bagian yaitu proses produksi dan pelayanan restoran, Space Lounge menerapkan American service, (3) Space Lounge menerapkan job enlargemen untuk meminimalisir jumlah karyawan sehingga biaya gaji karyawan dapat ditekan dan (4) sumber modal untuk mendukung operasional restoran diasumsikan berasal dari pemilik usaha, investor, dan pinjaman Bank

Perancangan usaha Smart Cafe di Jalan Raya Dieng Malang / Widha Ayu Rima M

 

Smart Café dibuka dan digunakan sebagai upaya untuk dijadikan tempat yang bernuansa edukatif di Kota Malang yaitu café yang dilengkapi dengan fasilitas taman baca. Hal ini sejalan dengan tujuan Kota Malang sebagai kota pendidikan. Tujuan dari rancangan usaha café ini adalah untuk memperoleh rancangan mengenai Manajemen Pemasaran, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Teknik dan Produksi, dan Manajemen Keuangan yang akan diterapkan di Smart Café. Metode yang dilakukan dalam rancangan ini adalah analisis terhadap kekuatan dari usaha yang akan dikembangkan, letak kelemahannya, peluang yang dimiliki dalam pengembangan usaha, dan tantangan yang dihadapi apabila rancangan usaha tersebut terlaksana. Segmen pasar dari Smart Café adalah mahasiswa dan masyarakat umum. Mengingat lokasi Smart Café yang berada dalam pusat keramaian maka pihak manajemen Smart Café mengadakan promosi supaya Café lebih dikenal oleh masyarakat umum. dalam mempromosikan produk, Smart Café melakukan beberapa metode antara lain: Advertising, Grand opening dan Bazaar. Sumber daya manusia yang dirancang dalam operasional Smart Café adalah alumni tata boga dan pihak umum yang memiliki kemampuan dalam bidang restoran dan café. Jumlah karyawan tetap yang dibutuhkan dalam operasional F&B Service adalah 8 orang termasuk manajer, untuk F&B Product dibutuhkan 2 orang. Menu yang digunakan dalam operasional Smart Café adalah Ala Carte Menu, dan Smart Café memiliki menu unggulan berupa minuman coffee dengan paduan susu kedelai, salah satu manfaat dari susu kedelai yaitu berguna untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan yang rusak, dan penambah iminitas tubuh. Harga yang ditawarkan oleh Smart Café adalah berkisar antara Rp 3.000 – Rp 10.000 baik makanan maupun minuman, dengan system pelayanan menggunakan American service. Design lay out ruangan cukup layak dengan kapasitas 78 orang. Lokasi café yang berada dalam pusat keramaian diharapkan mampu dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin untuk meningkatkan pendapatan café. Selain itu ciri khas /brand dari Smart Café diperlihatkan dengan jelas dengan tujuan masyarakat mampu mengenal dan mengingat akan adanya Smart Café. Rancangan operasional café membutuhkan dana sebesar Rp.139.330.360, dana tersebut direncanakan diperoleh dari modal sendiri dan pinjaman bank, pengembalian modal dilakukan dalam jangka waktu 2 tahun. Berdasarkan prediksi jumlah konsumen yang akan datang dalam sehari minimal 96 orang, target penjualan dalam sebulan minimal Rp. 28.617.120. Perkiraan keuntungan yang diperoleh oleh Smart Café dalam setahun sebesar Rp. 143.630.006. Berdasarkan hasil perancangan yang telah dilakukan, Smart Café cukup layak untuk didirikan.

Analisa perancangan pendirian usaha Griya Tama Katering / Dian hasty Kurnia

 

Usaha Griya Tama Katering adalah usaha katering yang berlokasi di jalan Puncak Mandala-Tidar. Usaha katering didirikan di daerah Tidar karena di daerah tersebut belum ada usaha katering yang sejenis. Griya Tama Katering menyediakan berbagai macam hidangan, mulai dari hidangan Indonesia, hidangan Oriental, hidangan Continental, aneka kue tradisional dan aneka es.Griya Tama katering menyediakan rangkaian janur, ukiran buah dan sayur serta lipatan daun untuk berbagai eventnya. Hal ini yang membedakan antara Griya Tama Katering dengan katering yang lainnya. Untuk hidangan unggulannya, Griya Tama katering menyediakan nasi briani dan facri nenas. Usaha Griya Tama Katering perlu dikembangkan dengan cara melakukan perancangan pada aspek pemasaran, aspek sumber daya manusia, aspek teknis dan produksi, dan aspek keuangan. Studi kelayakan yang dilakukan berdasarkan metode perancangan yang dilakukan yaitu analisis SWOT dengan menganalisa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Griya Tama katering, sedangkan peluang dan tantangan dilihat dari sisi dan ekstern daripada Griya Tama Katering. Pengambilan data penulisan Tugas Akhir ini dilakukan dengan cara melakukan observasi ke daerah pendirian usaha, serta menyebarkan angket kepada masyarakat sekitar lokasi usaha. Perancangan usaha Griya Tama Katering yaitu: (1) Perancangan manajemen pemasaran dengan menerapkan marketing mix yang terdiri dari product, price, promotion dan place; (2) Perancangan manajemen sumber daya manusia yang meliputi struktur organisasi katering, job description, tahapan kerja dalam manajemen SDM dan penetapan sturktur penggajian; (3) Perancangan manajemen teknis dan produksi meliputi menu, resep standar, proses pelaksanaan produksi, layout ruang produksi, sistem pelayanan dan peralatan katering; (4) perancangan manajemen keuangan akan menerapkan analisis titik impas, prediksi pendapatan penjualan, perhitungan penetapan harga jual menu, dan sistem pembukuan. Pengembangan pada aspek pemasaran akan dilakukan dengan menyebarkan brosur disekitar lokasi usaha katering. Satu minggu sebelum usaha katering didirkan, akan diadakan open house guna memperkenalkan produk dan rasa hidangan yang akan dijual di Griya Tama Katering. Pengembangan pada aspek sumber daya manusia akan menitikberatkan calon karyawan kepada keahlian mereka dalam mengolah dan melayani konsumen sehingga usaha katering benar-benar memiliki karyawan yang siap untuk bekerja sama dalam upaya mengembangkan usaha katering. Pengembangan aspek teknis dan produksi akan menitikberatkan pada menu dan resep standar. Harga yang ditawarkan untuk lunch box mulai dari Rp 12.500 - >Rp 12.500, sedangkan untuk menu prasmanan mulai dari Rp 15.000 - >Rp 15.000. Untuk menu Ala Cartenya berkisar mulai dari Rp 1.000 – Rp 50.000. Pelayanan yang digunakan adalah buffet service atau pelayanan prasmanan.dan sistem pengadaan bahan. Pengembangan pada aspek keuangan akan dilakukan perhitungan dengan cara jumlah biaya operasional yang dikeluarkan setiap bulan, harus dibawah jumlah pendapatan tiap bulan, sehingga laba yang diinginkan tercapai. Rancangan modal yang dibutuhkan dalam perancangan usaha katering adalah sebesar Rp 108.763.202, dan direncanakan dana tersebut diperoleh dari modal sendiri dan pinjaman ke bank yang dirancang dana tersebut akan dikembalikan dalam waktu 1 tahun. Berdasarkan perhitungan BEP, maka dalam operasional Griya Tama Katering, konsumen yang diharapkan memesan makanan dan minuman di Griya Tama Katering adalah minimal 195 orang sedangkan BEP dalam rupiah minimal Rp 1.443.005 sehari. Target penjualan dalam sehari sebesar Rp 1.726.735. Untuk asumsi minimal 239 orang sehari dan Rp 2.555.929 sehari. Perkiraan keuntungan yang diperoleh oleh Griya Tama Katering dalam waktu 1 tahun adalah sebesar Rp 244.965.879, dana tersebut akan dialokasikan untuk pengembalian modal dan sisanya akan digunakan untuk simpanan hasil usaha, kesejahteraan karyawan, dan pengembangan alat katering.

Perancangan pendirian Usaha Donut Home / Henry Winnarko

 

Kota Malang merupakan kota yang memiliki potensi untuk pemasaran produk secara langsung maupun tak langsung sehingga peluang untuk mendirikan usaha donat sangat besar. Tujuan perancangan adalah tersusunnya perancangan pendirian usaha Donut Home dan evaluasi kelayakannya. Perancangan ini diawali dengan pelaksanaan analisis SWOT, meliputi: kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang yang dimiliki oleh Donut Home. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan, Donut Home cukup layak dan memiliki peluang yang cukup baik. Donut Home yang akan didirikan dianalisis dari beberapa aspek, antara lain: aspek pemasaran meliputi marketing mix (product, price, place, and promotion) dan segmentasi pasar. Aspek SDM meliputi struktur organisasi, perekrutan, job description, dan sistem pengupahan. Aspek teknis dan produksi meliputi penentuan posisi usaha, tata ruang restoran/lay out, perencanaan menu, standar resep, dan perencanaan kebutuhan alat. Aspek keuangan meliputi BEP, perhitungan rugi laba dan perhitungan arus kas. Hasil analisis aspek pemasaran meliputi konsep kafe yang akan diterapkan adalah konsep modern. Kegiatan promosi yang akan dilakukan oleh Donut Home adalah advertising meliputi brosur, display, show dan reklame (neon sign), personal selling, dan grand opening. Sistem pelayanan yang diterapkan adalah American service. Hasil analisis aspek SDM meliputi struktur organisasi yang digunakan adalah struktur garis. Pengelolaan dilakukan oleh tenaga profesional berdasarkan hasil perekrutan sebanyak 13 orang. Donut Home dibuka mulai pukul 08.00-21.00 WIB. Hasil analisis aspek teknis dan produksi meliputi tempat untuk mendirikan Donut Home adalah di Jalan Bendungan Sutami 37D Malang. Sistem menu yang akan diterapkan di Donut Home adalah A’la Carte Menu. Makanan yang akan dijual adalah aneka donat dengan berbagai macam jenis topping. Harga makanan yang dijual berkisar antara Rp 2.500,00-Rp 9.000,00 untuk makanan, dan Rp 2.000,00-Rp 6.000,00 untuk minuman. Total kapasitas kafe adalah 36 orang. Hasil analisis aspek keuangan meliputi jumlah kebutuhan modal di awal adalah Rp 86.505.347,00. Prediksi penjualan Donut Home adalah Rp 357.581.812,27 per tahun. Perkiraan keuntungan bersih pertahun mencapai Rp 77.497.204,69. Dengan perhitungan BEP (Break Even Point), dapat diketahui bahwa kafe tidak akan mengalami keuntungan dan tidak juga rugi pada jumlah penjualan 140 unit perhari dan dalam rupiah BEP dicapai pada omzet penjualan Rp 642.868,36 perhari. Target penjualan yang harus dicapai dalam satu hari adalah 195 unit, sehingga keuntungan sebesar Rp 3.000.000,00 yang ditargetkan setiap bulan dapat terpenuhi. Berdasarkan pay back period atau perkiraan balik modal yang ditanamkan yaitu pada 1 tahun 2 bulan. Berdasarkan analisis keuangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Donut Home cukup layak didirikan secara finansial.

Perancangan pendirian Home Industry Keripik dan Rempeyek usus Ayam di Kota Malang / Anggi Martiningtyas Januwati Saputri

 

“Satya Keripik Usus” merupakan salah satu home industry yang akan didirikan di kota Malang, tepatnya di jalan Sumbersari gang 5 no 478 Malang. Produk yang akan dibuat adalah keripik dan rempeyek usus ayam dengan variasi rasa, yaitu rasa manis, pedas, dan gurih. Rancangan pendirian home industry “Satya Keripik Usus” diawali dengan pelaksanaan analisis SWOT, meliputi identifikasi mengenai: kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang yang dimiliki oleh “Satya Keripik Usus”. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan, “Satya Keripik Usus” cukup layak dan memiliki peluang yang cukup baik untuk didirikan. Usaha yang akan didirikan dianalisis dari beberapa aspek, antara lain: aspek pemasaran, aspek teknis dan produksi, aspek Sumber Daya Manusia, dan aspek keuangan. Rancangan aspek pemasaran dengan menerapkan marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi, dan tempat. Rancangan produk yang akan dijual di “Satya Keripik Usus” adalah keripik dan rempeyek usus ayam dengan variasi rasa. Rancangan Sumber Daya Manusia akan diawali dengan analisis pekerjaan yang ditentukan keahlian dan kewajiban yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dalam struktur organisasi. Jumlah karyawan yang dibutuhkan adalah 5 orang, meliputi 1 orang manager, 1 orang bagian pembukuan, 2 orang bagian produksi, dan 1 orang bagian pemasaran. Job description yang digunakan sesuai dengan masing-masing jabatan.Rancangan aspek keuangan dengan menerapkan perhitungan analisis titik impas, rencana penjualan dan biaya, prediksi pendapatan penjualan, dan penetapan harga jual keripik dan rempeyek usus. Berdasarkan hasil rancangan yang telah dilakukan, diharapkan kepada perancang selanjutnya agar melakukan pengembangan dari segi konsep pemasaran khususnya promosi mengingat selera konsumen selalu berubah setiap saat dan persaingan dalam usaha makanan yang semakin kompetitif.

Perancangan usaha rumah makan sate kilo di Jalan Galunggung Malang / Syaiful

 

Perancangan Rumah Makan Sate Kilo menawarkan perubahan dan pembaharuan. Konsep yang ditawarkan berbeda, dari segi menu seperti sate kilo, yaitu sate yang di pesan berdasarkan berat (gram/kg) daging yang dibutuhkan konsumen. Dilihat dari segi medis Rumah Makan Sate kilo memberikan kemudahan bagi konsumen yang ingin mencukupi kebutuhan gizi secara seimbang karena konsumen dapat memesan daging sate sesuai berat (gram/kg) yang anjuran dari ahli gizi. Tujuan perancangan tersebut untuk merancang sebuah rumah makan sate yang layak dan mendatangkan keuntungan secara finansial bagi pengusaha yang ingin berbisnis di bidang boga. Dasar pemikiran perancangan Rumah Makan Sate kilo adalah berdasarkan analisis konsumen melalui quisioner, anaisis SWOT, wawancara, pengamatan, observasi lapangan dan sumber-sumber lainnya. Perancangan ini membahas mengenai: aspek sumber daya manusia, pemasaran, teknis dan produksi serta aspek keuangan. Rancangan yang dibahas dalam aspek sumber daya manusia meliputi: sistem perekrutan karyawan, job discription, sistem pengupahan, struktur organisasi, dan sistem evaluasi kerja. Rancangan aspek pemasaran meliputi segmentasi pasar dan sistem bauran pemasaran atau marketing mix. Rancangan teknis dan produksi membahas mengenai: rancangan tata ruang atau lay out, rencana kebutuhan furniture, rancangan kebutuhan peralatan, analisis ketersediaan bahan, rancangan pengadaan dan penyimpanan bahan, dan sistem operasional rumah makan. Rancangan keuangan di Rumah Makan Sate Kilo meliputi: rancangan kebutuhan permodalan, struktur permodalan, perhitungan rencana pendapatan, perkiraan arus kas, penentuan harga jual, perhitungan BEP, perhitungan pay back period, dan prediksi rugi laba. Hasil perancangan Rumah Makan Sate Kilo mengenai aspek sumber daya manusia antara lain Rumah Makan Sate Kilo dikelola oleh tenaga kerja yang terampil, jam operasional selama 16 jam yang dibagi dalan 2 shift kerja, dan memiliki 11 karyawan yang digaji sesuai standart upuh minimum regional kota Malang. Rancangan aspek pemasaran antar lain: Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 3.500-Rp 20.000 serta kegiatan promosi yang dilakukan meliputi Advertaising, personal selling, sponsor ship, pemberian bonus, diskon serta voucer dan target market yang dituju adalah mahasiswa. Hasil perancangan aspek terknis dan produksi antara lain Menu sate yang dijual antara lain sate ayam, sate kambing, sate sapi dan sate ikan, beserta menu pendamping lainnya. Jam operasional rumah makan di mulai pada pagi hari. Sistem menu yang diterapkan adalah A’la carte menu dengan sistem pelayanan American service. Bangunan Rumah makan Sate Kilo terdiri memiliki dua lantai, dan desain furniture banyak mengunakan bahan dasar kayu, hal ini dilakukan untuk menambah kesan etnik Jawa Timur yang ditawarkan. Hasil rancangan keuangan yang dilakukan dengan menggunakan perhitungan BEP atau break ivent point didapatkan hasil BEP dalam unit dicapai pada tingkat produksi 112 unit/hari dan BEP dalam rupiah dicapai pada pendapatan Rp 836.415,00/hari. Menurut perhitungan dengan metode pay back period didapatkan hasil modal yang diinvestasikan dapat kembali dalam waktu 2,5 tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Rumah Makan Sate Kilo layak secara financial .

Sistem pengendalian peralatan pada proyek pembangunan club house Villa Puncak Tidar Malang / Nevi Elindawati

 

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sistem pengendalian peralatan dalam pelaksanaan proyek Pembangunan Club Hose Villa Puncak Tidar Malang. Permasalahan yang hendak dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan sistem pengadaan peralatan, penyimpanan peralatan, perawatan peralatan, serta cara pengoperasian peralatan dan rata-rata waktu keterpakaian peralatan. Pengendalian peralatan adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standart yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang sistem informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standart, menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan antara pelaksanaan dan standart, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang dibenarkan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yang bersifat kualitatif, sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah kata-kata atau ucapan suatu tindakan yang diperoleh melalui wawancara dan pengamatan. Berdasarkan tujuan yang telah dipaparkan di muka yaitu mendeskripsikan bagaimana sistem pengendalian peralatan pada proyek pembangunan Club House Villa Puncak Tidar, maka jenis penelitian yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengadaan peralatan ke lokasi proyek sebagian besar langsung dibawa oleh tukang, (2) penyimpanan peralatan di lokasi proyek menggunakan gudang khusus, (3) perawatan peralatan dilakukan sendiri oleh tukang, (4) waktu keterpakaian peralatan pada proyek ini adalah 7 bulan 3 minggu. Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada pihak PT. Panorama Argotirta agar lebih memperhatikan sistem pengendalian peralatan di lokasi proyek agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh peralatan yang tidak layak pakai. Sebaiknya terdapat penelitian lanjutan tentang sistem pengendalian peralatan pada proyek konstruksi lainnya agar dapat diperoleh informasi yang lengkap tentang sistem pengendalian peralatan pada proyek konstruksi.

Perancangan usaha kafe triple A (3A) di Jalan MT. Haryono No. 120 Malang / Syawaluddin

 

Bisnis Kafe dewasa ini semakin tumbuh dab berkembang di Indonesia. Hal ini terbukti dari banyaknya kafe yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berbagai jenis kafe telah hadir yang tentunya memiliki bermacam-macam konsep dan penawaran aneka makanan dan minuman yang di berikan. Dengan melihat prospek usaha kafe kedepan yang sangat bagus maka peneliti merancang sebuah usaya yaitu ”pendirian Kafe Triple A” sebagai suatu usaha kafe karena dilihat dari jenis usahanya berbeda dengan usaha yang sudah ada dan sesuai dengan hasil survei yang dilakukan didaerah MT. Haryono dan Gajahyana. Ternyata banyak masyarakat yang menyukai minuman campuran (moktail). Perancangan ini diawali dengan pelaksanaan analisis SWOT, meliputi identifikasi mengenai: kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang yang dimiliki oleh Kafe Triple A. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan, Kafe Triple A cukup layak dan memiliki peluang yang cukup baik untuk mendirikan kafe. Kafe yang akan didirikan dianalisis dari beberapa aspek, antara lain: aspek pemasaran, aspek teknis dan produksi, aspek SDM, dan aspek keuangan. Hasil analisis Kafe Triple A menetapkan konsep Kafe yang akan diterapkan adalah sebagai tempat ngumpul. Menu yang akan dijual adalah aneka makanan kecil (snack) dan minuman, juga menjual minuman campuran non alkohol (moktail) yang merupakan minuman khas dari Kafe Triple A. Harga makanan yang dijual berkisar antara Rp 1.000,00 – Rp 6.500,00. Sistem pelayanan yang diterapkan adalah American service. Pengelolaan Kafe Triple A dilakukan oleh karyawan yang telah direkrut dan memiliki keahlian dibidangnya masing-masing. Berdasarkan hasil perancangan disimpulkan: (1) penentuan segementasi pasar berdasarkan usia, pekerjaan, penghasilan dan gaya hidup konsumen, (2) pelayanan dibagi menjadi 2 bagian yaitu proses produksi dan pelayanan kafe, Kafe Triple A menerapkan American service, (3) Kafe Triple A menerapkan sistem pengupahan berdasarkan evaluasi pekerjaan dengan sistem peringkat/rangking yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab setiap karyawan pada sectionnya masing-masing untuk meminimalisir jumlah karyawan sehingga biaya gaji karyawan dapat ditekan dan (4) sumber modal untuk mendukung operasional kafe diasumsikan berasal dari pemilik usaha (modal pribadi), dan bantuan dari keluarga. Keuangan yang dilihat dari BEP didapatkan sebesar 3.108,11 unit atau Rp 70.778.294,5 per tahun, sedangkan BEP dalam satu bulan sebesar 259 unit atau Rp 5.898.191,21, sehingga dapat diketahui investasi yang diinginkan dapat kembali pada masa 1 tahun 7 bulan.

Perancangan usaha A.Ya's strawberry cafe di Jalan Soekarno Hatta Malang / Lellya Iriana Nur Makhmuda

 

Strawberry (Fragaria chiloensis), berasal dari daerah pegunungan Chili, Amerika Latin. Ada beberapa jenis varietas buah Strawberry di Kota Malang, yaitu Sweet Charlie, Tristar, dan Selva. Ditinjau dari segi konsumsi, banyak kalangan masyarakat menyukai buah strawberry mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik dikonsumsi secara langsung atau dibuat jus. Sehingga memilih berbisnis buah strawberry memiliki peluang tinggi untuk mencapai keuntungan. Hasil dari survei tentang aneka olahan buah strawberry, banyak panelis mengkonsumsi buah strawberry dalam bentuk jus strawberry, ice cream strawberry, kue, buah segar strawberry dan panelis mengharapkan variasi lain aneka olahan dari buah strawberry. Berdasarkan data tersebut menu yang direncanakan aneka olahan buah strawberry antara lain: strawberry smootie, pancake strawberry, lalapan ayam sambal strawberry dan lain-lain. Malang merupakan Kota pelajar, banyak berbagai aktifitas kuliner telah berkembang, seperti: restoran, café, lounge, warung, frenchise, catering, dan usaha kaki lima. Perencanaan berbisnis buah strawberry diaplikasikan dalam bentuk café, karena aktivitas berkelompok atau berbincang-bincang telah menjadi suatu trend (gaya hidup) bagi mahasiswa setelah seharian melakukan aktifitas, dan aktivitas berkelompok itu menjadi inspirasi peneliti untuk memilih berbisnis dalam bentuk café. Dalam membuka sebuah usaha café, brand café menjadi icon yang penting, karena melalui sebuah brand café mudah diingat dan mencerminkan jati diri café tersebut. Café yang direncanakan bernama A.ya’s Strawberry Café. Arti dari A.ya’s Strawberry Café adalah Cahaya Afif Yacoeb, yang disingkat dengan A.ya’s, yaitu sosok seseorang yang penuh semangat, tangguh dan tidak pernah putus asa dalam hidup peneliti. Sehingga dalam pengelolaan bisnis A.ya’s Strawberry Café tidak mengenal kata putus asa dan selalu tangguh dalam berbisnis. Sistem menu yang akan diterapkan adalah a’la carte menu yang merupakan suatu susunan daftar makanan dan minuman yang memuat masing-masing nama makanan disertai dengan harga sendiri. Perancangan ini diharapkan dapat menciptakan sebuah café yang dapat dijadikan sebagai suatu bisnis yang layak untuk dijalankan dan dapat memberikan keuntungan.

Rancangan usaha martabak Bangka Cafe Di Kota Malang / Jansen Steven Oroh

 

Martabak Bangka Cafe memiliki konsep yang berbasis cafe yang mempunyai tujuan utama yaitu menyediakan tempat kepada konsumen agar dapat menikmati martabak langgsung di tempat. Perancangan usaha ini diawali dengan pelaksanaan analisis SWOT, meliputi: identifikasi mengenai: kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang yang dimiliki oleh Martabak Bangka Cafe untuk mendirikan usaha. Teknik analisis data yang dilakukan dengan cara wawancara langsung, quesioner, observasi lapangan. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan, Martabak Bangka Cafe cukup layak dan memiliki peluang yang cukup baik untuk dijadikan usaha dalam bentuk cafe. Cafe yang akan didirikan dianalisis dari beberapa aspek, antara lain: aspek pemasaran, aspek teknis dan produksi, aspek SDM, dan aspek keuangan. Martabak Bangka Cafe akan menjual aneka martabak manis dengan ditambah variasi rasa yang berbeda seperti rasa buah yang dibuat dari buah-buahan segar dengan tekstur yang lembut dan tebal. Minuman yang ditawarkan adalah jenis minuman hangat yang disajikan cocok dengan martabak manis. Harga makanan dan minuman yang dijual berkisar antara Rp5.000,00–Rp21.000,00. Harga yang ditawarkan dibedakan menjadi dua sesuai dengan ukuran porsi yang dipesan. Segmen pasar yang dituju adalah karyawan perkantoran dan masyarakat umum yang berkunjung ke pusat Kota Malang. Promosi yang dilakukan adalah periklanan, penjualan pribadi, dan promosi penjualan. Design lay out ruangan yang digunakan adalah bernuansa tradisional dengan suasana yang nyaman dengan kapasitas ruangan 40 orang. Sistem pengadaan bahan langsung disuply dari pasar besar Kota Malang. Sistem pelayanan yang diterapkan adalah American service karena pelayanan ini sangat cepat dan praktis. Karyawan yang direkrut merupakan individu yang berkompeten dengan spesifikasi yang telah ditentukan khususnya untuk cook direkrut langsung dari Bangka. Karyawan yang dibutuhkan untuk mengelola usaha ini adalah 10 orang dengan pembagian jam kerja yaitu dibagi menjadi 2 Shift. Sistem penggajian ditetapkan berdasarkan UMR. Modal usaha yang diperlukan untuk membangun usaha cafe ini adalah sebesar Rp189.290.210. Berdasarkan rencana penjualan dan biaya diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp146.343.003 per tahun. Berdasarkan hasil perancangan yang telah dilakukan, diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar melakukan pengembangan dari segi konsep pemasaran khususnya promosi, produk yang dijual, pengembangan dalam pengambilan data agar tepat sasaran, pengembangan untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas terutama pada pengolahan adonan martabak sehingga kualitas produk dapat terjaga.

Rancangan pendirian Rumah Makan Gudeg kendil Djogja Di Jalan Raya Sengkaling / Ike Maria Fitriyani

 

Perancangan Rumah makan Gudeg Kendil Djogja merupakan salah satu usaha yang bertujuan untuk merancang pendirian Rumah makan terstandar, sehingga Rumah makan Gudeg Kendil Djogja bisa menjadi referensi untuk masyarakat pada umumnya yang ingin mendirikan usaha sejenis. Perancangan pendirian mencakup (1) Pengembangan kondisi fisik dengan menambah ruang kantor, toilet dan kolam taman; (2) Rancangan teknis produksi dengan merancang teknis produksi, rancangan standarisasai menu, dan rancangan lay out; (3) Rancangan pemasaran dengan menentukan target market, marketing mix, dan sistem pelayanan; (4) Rancangan keuangan meliputi menentukan rencana penjualan, rencana biaya, prediksi pendapatan penjualan, dan Break Even Point (BEP); (5) Perencanaan Sumber Daya Manusia dengan membuat struktur organisasi, menentukan diskripsi pekerjaan, perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen dan seleksi, pengembangan sumber daya manusia. Perancangan di Rumah Makan Gudeg Kendil Djogja dilakukan berdasarkan metode analisis SWOT dimulai dari menganalisis kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan tantangan (threat) yang dimiliki oleh Rumah Makan Gudeg Kendil Djogja untuk merancang sistem pengelolaan terstandar. Hasil rancangan pendirian Rumah Makan Gudeg Kendil Djogja adalah dengan penambahan bangunan untuk kantor 5m x 5m. Sistem pelayanan American Service dan lay out ruangan direncanakan dengan konsep lesehan. Segmen pasar yang dituju adalah mahasiswa terdekat salah satu universitas di Malang, pengunjung tempat wisata Sengkaling, perkantoran, perumahan, dan pengguna jalan. Promosi yang digunakan adalah dengan memasang papan nama, personal selling, menyebar brosur, merancang kalender event dan memberikan bonus atau diskon. Menu yang disajikan masakan khas daerah Yogyakarta, dengan harga minimum Rp 2.500,00 sampai dengan Rp 6.000,00 dan harga minuman rata-rata Rp 2.500,00. Penetapan harga makanan dan minuman dengan menggunakan percentase food cost. Jumlah kebutuhan modal awal adalah Rp 54.962.446,00. BEP yang harus dicapai adalah Rp 32.649.168,00 per bulan atau Rp 1.088.305,00 per hari, sedangkan target penjualan Rumah makan Gudeg Kendil Djogja Rp 42.398.300,00 per bulan atau Rp 1.413.276,00 per hari. Sumber daya manusia yang terlibat 8 orang, sedangan struktur organisasi yang di gunakan adalah struktur organisasi garis. Rekrutmen calon pegawai lulusan SMK, seleksi dilakukan mulai penerimaan surat lamaran, ujian tulis, wawancara dan pengenalan pekerjaan maupun keputusan untuk mendapatkan bagian di mana dalam menentukan pekerjaan. Pengembangan sumber daya manusia dilakukan dengan cara pengenalan tempat usaha dan pelatihan dalam menbuat mebu gudeg di Rumah makan Gudeg Kendil Djogja.

Pelayanan taman rekreasi Sengkaling dalam meningkatkan kepuasan pelanggan / Novi Oktavia

 

Strategi pelayanan merupakan strategi yang membutuhkan komitmen untuk mencapai keberhasilan suatu perusahaan. Persaingan yang semakin ketat dalam bidang pelayanan mengakibatkan terjadinya persaingan antara perusahaan sejenis guna mendapatkan keloyalitasan konsumen. Persaingan tersebut memaksa para pelaku usaha untuk lebih cermat dalam mengambil keputusan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini untuk mengetahui : (1) Strategi pelayanan yang di terapkan Taman Rekreasi Sengkaling dalam meningkatkan kepuasan konsumen, (2) Bentuk pelayanan Taman Rekreasi Sengkaling dalam meningkatkan kepuasan konsumen, (3) Faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pelayanan di Taman Rekreasi Sengkaling dalam meningkatkan kepuasan konsumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Strategi pelayanan yang di terapkan Taman Rekreasi Sengkaling, antara lain Strategi Relationship Marketing, Superior Customer Service, Extraordinary Guaranties, Penanganan Keluhan, dan Peningkatan kinerja. Sedangkan sikap yang harus dimiliki setiap karyawan dalam meningkatkan kepuasan konsumen adalah kecepatan, ketepatan keramahan dan kenyamanan. (2) Bentuk pelayanan Taman Rekreasi Sengkaling antara lain pelayanan secara langsung dan pelayanan secara tidak langsung. Hal-hal yang mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada di Taman Rekreasi Sengkaling, antara lain :Bukti Fisik (Tangibles), Keandalan (Reliability), Daya Tanggap (Responsiivenness), Jaminan (Assurance), Empati (Emphaty). Metode yang digunakan Taman Rekreasi Sengkaling dalam mengukur kepuasan konsumen adalah Sistem keluhan dan saran, Survey kepuasan pelanggan, Analisis kehilangan pelanggan. (3) Terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkn pelayanan di Taman Rekreasi Sengkaling, faktor pendukungnya adalah : sikap baik, ramah dan sopan dalam melayani pengunjung dan juga dibekali kemampuan untuk berbicara jujur dan berwibawa, memberikan ide-ide yang inovatif terhadap produk atau jasanya sehingga konsumen tidak merasa bosan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah: kualitas Sumber Daya Manusia karyawan yang kurang, kurangnya kerjasama antara karyawan dalam memberikan pelayanan Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pelayanan yang ada di Taman Rekreasi Sengkaling selalu di tingkatkan. Dalam peningkatan pelayanan perlu di bangun fasilitas bagi orang cacat, selain itu juga perlu pembaharuan terhadap fasilitas-fasilitas permainan.

Pelaksanaan strategi bauran pemasaran pada dealer Yamaha dalam rangka menghadapi persaingan dengan usaha sejenis (Studi pada Dealer Unggul Motor Malang) / Fika Irmawati

 

Strategi bauran pemasaran merupakan cara yang dilakukan oleh Yamaha (Dealer Unggul Motor Malang) dalam usaha menjual produknya. Strategi bauran pemasaran yang dilakukan oleh Dealer Unggul Motor Malang meliputi strategi produk, strategi harga, strategi tempat (saluran distribusi), dan strategi promosi. Tujuan dari pelaksanaan bauran pemasaran ini adalah untuk meningkatkan penjualan produk Yamaha dan untuk menghadapi persaingan dengan usaha sejenis. Dalam penyusunan Tugas Akhir yang diawali dengan kegiatan PKL di Dealer Unggul Motor Malang pada tanggal 13 Februari sampai 14 Maret 2008, penulis berusaha untuk mengetahui: (1) Bagaimana pelaksanaan strategi produk pada Dealer Unggul Motor Malang, (2) Bagaimana pelaksanaan strategi harga pada Dealer Unggul Motor Malang, (3) Bagaimana pelaksanaan strategi distribusi pada Dealer Unggul Motor Malang, (4) Bagaimana pelaksanaan startegi promosi pada Dealer Uggul Motor Malang, dan (5) Apakah faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan strategi bauran pemasaran pada Dealer Unggul Motor Malang. Dari hasil penelitian ini dapat ditunjukkan bahwa strategi bauran pemasaran yang dilakukan oleh Yamaha (Dealer Unggul Motor Malang) adalah: (1) Strategi produk yang meliputi: (a) Strategi positioning yang dilakukan pada produk Yamaha jenis Jupiter-MX, (b) Strategi strategi desain yang dilakukan pada produk Yamaha jenis Mio Soul, Vega R, dan Jupiter-MX, (c) Strategi produk baru yang dilakukan pada produk Yamaha jenis V-ixion yang merupakan produk baru yang dikembangkan melalui usaha riset dan pengembangan, serta Jupiter-MX yang merupakan produk baru yang disempurnakan dalam hal teknologi dan desain, serta jenis Mio, Jupiter Z, dan vega R yang merupakan strategi produk baru yang dimodifikasi dalam hal desain maupun penambahan fasilitas produknya, dan (d) Strategi diversivikasi yang dilakukan pada semua jenis produk Yamaha. (2) Strategi Harga yang dilakukan meliputi: (a) Strategi penetapan harga produk baru yang dilaksanakan pada produk Yamaha jenis V-ion dan Jupiter-MX yang dilakukan dengan menggunakan skimming pricing, (b) Strategi penetapan harga produk yang sudah mapan yang dilakukan dengan mempertahankan harga untuk semua jenis produk Yamaha, (c) Strategi leasing, dalam pelaksanaan strategi ini Dealer Unggul Motor Malang bekerja sama dengan BAF, SUMMIT OTO Finance, ADIRA Finance. (3) Strategi Distribusi yang dilakukan adalah: (a) Strategi struktur saluran distribusi, dalam pelaksanaan strategi ini Dealer Unggul Motor Malang menggunakan distribusi langsung, (b) Strategi cakupan saluran distribusi, dalam pelaksanaan strategi ini lebih ditekankan pada distribusi selektif. (4) Strategi promosi yang dilakukan adalah: (a) Strategi bauran promosi yang dilakukan melalui push strategy dan pull strategy, (b) Strategi pengeluaran promosi yang dilaksanakan dengan menerapkan Affordable Method, (c) Strategi pemilihan media, dalam pelaksanaan strategi ini dipilih media cetak berupa koran dan brosur. (5) Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan strategi bauran pemasaran adalah: (a) Faktor pendukung meliputi dalam hal produk Yamaha lebih unggul dengan menguasai segmentasi, penetapan harga yang kompetitif membuat perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan sejenis dan strategi mempertahankan harga yang dilakukan Yamaha membuat harga jual kembali produk Yamaha tetap tinggi dibandingkan dengan produk sejenis, strategi distribusi yang dilakukan adalah pada letak dealer yang tidak jauh dari kompetitor, Promosi yang dilakukan secara sentralisasi dapat memperkecil biaya promosi perusahaan, selain itu karena merupakan main dealer pelayanan terhadap keluhan pelanggan lebih cepat diatasi. (b) Faktor peghambatnya yaitu karena Dealer unggul Motor Malang merupakan main dealer maka seluruh aktifitas bauran promosinya sama dengan pusat. Hal ini menjadikan dealer tidak dapat berkembang. Dari penelitian ini dapat disarankan agar Dealer Unggul Motor Malang mengefektifkan kegiatan promosi melalui media cetak berupa koran. Dengan melakukan promosi melalui media koran dapat dimungkinkan masyarakat dapat lebih mengetahui tentang keberadaan Dealer Unggul Motor Malang. Selain melalui media cetak, promosi melalui media TV juga dapat dicoba. Untuk meminimalkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dapat memuat iklan pada TV lokal di wilayah Malang. Dan untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen Dealer Unggul Motor Malang dapat menambahkan dengan membuka usaha pencucian sepeda motor seperti yang telah dilakukan oleh beberapa dealer sepeda motor lainnya.

Penerapan strategi pelayanan dalam upaya menciptakan kepuasan pelanggan pada agen AJB Bumiputra 1912 Kantor Cabang Malang Dieng / Dwi Pramodya Ningsih

 

Setiap perusahaan pasti membutuhkan konsumen, karena itu konsumen merupakan satu-satunya alasan adanya suatu perusahaan. Setiap perusahaan pasti mempunyai prioritas utama adalah kepuasan konsumen. Kata kunci untuk memenangkan persaingan yang ketat adalah memahami kebutuhan konsumen, keinginan konsumen, dan harapan konsumen serta memberikan pelayanan yang maksimal sehingga tercipta kepuasan konsumen. Setiap strategi yang dilakukan tujuannnya untuk menarik perhatian dan mempengaruhi konsumen agar mau membeli produk yang ditawarkan dan menciptakan kepuasan bagi pelanggannya. Strategi pelayanan sangat mempengaruhi kepuasan konsumen, apabila pelayanan yang diberikan baik , maka konsumen akan cenderung tetap loyal lebih lama. Pelanggan sangat mempengaruhi perkembangan perusahaan, sehingga mempertahankan pelanggan sangat perlu dilakukan oleh sebuah perusahaan. Setiap pelanggan dalam memilih produk/jasa yang akan dibeli perlu mempertimbangkan harga, kualitas serta mutu produk yang dimiliki perusahaan serta memberikan kepuasan bagi pelanggannya. Oleh karena itu perusahaan harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan menciptakan kepuasan konsumen bagi nasabahnya. Apabila perusahaan memberikan pelayanan untuk memuaskan konsumen sehingga konsumen merasa nyaman dan terjalin rasa kekeluargaan antara pembeli dan penjual maka akan terjadi pemebelian ulang dari pihak pelanggan. Tujuan penulisan laporan tugas akhir ini, untuk mengetahui bagaimana strategi pelayanan seseorang agen perusahaan AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng dalam memberikan kepuasan pelayanan bagi para calon nasabah ( pelanggan ), untuk mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan oleh agen AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng dalam rangka menciptakan kepuasan pelanggan, untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat bagi pelaksanaan strategi pelayanan untuk menciptakan kepuasan pelanggan pada agen AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng. Hasil yang didapat dari pengalaman yang dilakukan selama dilaksanakannya PKL di Perusahaaan AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng adalah (1) Strategi yang diterapkan dalam upaya menciptakan kepuasan pelanggan oleh agen AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng adalah strategi pemasaran berupa relationship marketing, strategi superior customer service, strategi pelayanan keluhan yang efisien serta strategi personal value yang terdiri dari ekspresi, komunikasi, penampilan dan kebiasaan. (2) Kualitas Pelayanan yang diberikan oleh agen AJB Bumiputera 1912 Cabang Malang Dieng adalah dengan memberikan pelayanan efektif meliputi kecepatan, kenyamanan, kecepatan dan keramahan. (3) Faktor pendukung dalam strategi pelayanan untuk menciptakan kepuasan pelanggan pada agen AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng adalah (1) Para agen bersikap baik, ramah dan sopan dalam melayani nasabah dan dibekali kemampuan untuk bicara tegas, jujur dan berwibawa sehingga dapat menyakinkan konsumen (2) agen yang dipilih merupakan agen yang profesional sehingga setiap agen mampu menjelaskan produk-produk yang ditawarkan untuk calon nasabah dengan baik (3) Sikap cepat dan tanggap para agen dalam menangani semua keluhan dari pelanggan, hal ini dipergunakan untuk mempertahankan pelanggan dan agar terjadi pembelian berkelanjutan sedangkan faktor penghambat pada strategi pelayanan untuk menciptakan kepuasan pelanggan pada Agen AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng adalah (1) Minimnya fasilitas yang dimiliki oleh pihak perusahaan sehingga menghambat kerja agen misalnya kurangnya sarana transportasi bagi agen sehingga agen harus naik kendaraan umum yang mengakibatkan agen tidak datang tepat waktu (2) para agen kurang memahami pentingnya penampilan pada saat pasar sasarannya dari golongan menengah ke bawah maka agen memakai pakaian tidak formal tetapi kalau targetnya dari kalangan dosen maka agen mamakai pakaian formal (3) Banyak munculnya perusahaan asuransi yang sama menyebabkan bertambahnya para pesaing dan ini menjadi motivator bagi perusahaan AJB Bumiputera 1912 Cabang Malang Dieng untuk meningkatkan pelayanan dan menciptakan kepuasan pelanggan bagi nasabahnya. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut disarankan kepada AJB Bumiputera 1912 Kantor Cabang Malang Dieng (1) Perlu ditingkatkan pendidikan dan pelatihan bagi agen AJB Bumiputera 1912 Cabang Malang Dieng dalam cara mencari dan melayani pelanggan serta harus belajar dengan baik untuk dapat menjelaskan secara detail tentang hal-hal yang berhubungan dengan produk kepada pelanggan agar pelanggan merasa puas (2) Perlu mengenali nasabah dengan sebaik mungkin melalui pendekatan terhadap pelanggan yang terdiri dari ekspresi, komunikasi, penampilan dan kebiasaan dengan mengenali target market ( nasabah ) sehingga tercipta kepuasan tersendiri bagi pelanggan (3) Perlunya peningkatan pelayanan dari karyawan pihak perusahaan AJB Bumiputera 1912 dalam hal memberikan pelayanan secara cepat dan tanggap dalam menangani semua keluhan dari pelanggan untuk mempertahankan pelanggan sehingga terjadi pembelian berkelanjutan (4) Perlunya peningkatan pelayanan dari karyawan perusahaan AJB Bumiputera 1912 dengan bersikap ramah serta sopan pada saat pelanggan membayar di kasir.

Pelaksanaan strategi pelayanan dalam meningkatkan volume pengunjung di Taman Rekreasi Sengkaling / Ratna Prasetyaningsih

 

Strategi pelayanan merupakan salah satu hal pokok yang perlu diperhatikan dalam menunjang keberhasilan atau kesuksesan suatu perusahaan, terutama pada perusahaan yang bergerak pada bidang jasa. Untuk itu banyak perusahaan yang saling bersaing demi mendapatkan loyalitas pelanggannya dengan cara menetapkan tujuan perusahaan yaitu untuk memuaskan pelanggan dalam pelayanan karena dengan itu perusahaan dapat bertahan dan memenangkan persaingan bisnis. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan, dimensi pelayanan, serta adanya strategi pelayanan pihak perusahaan akan mengetahui kapan pelanggan itu kan datang dan kapan para pelanggan akan pergi, setelah mendapatkan pelayanan yang diberikan oleh perusahaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat di ketahui bahwa strategi pelayanan adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk jangka panjang di butuhkan komitmen yang baik menyangkut dana maupun sumber daya manusia yang digunakan perusahaan Taman Rekreasi Sengkaling ada 5 macam diantaranya : 1) Strategi Relationship Marketing, 2) Strategi Superior Customer Servis, 3) Strategi Extra ordinary , 4) Strategi Penanganan Keluhan, 5) Strategi Peningkatan kinerja. Sedangkan yang mempengaruhi dimensi kualitas jasa di Taman Rekreasi Sengkaling terdiri dari 5 diantaranya : 1) Keandalan (reability), 2) Daya Tanggap ( responsivenees), 3) Kepastian (assurance), 4) Bukti fisik (tangible), 5) Empati ( empaty). Ini semua tidak terlepas dari faktor yang mendorong PT Taman Bentoel menerapkan strategi ini yang tidak lain adalah dengan banyak pesaing dalam bidang jasa. Disamping itu adapun kendala yang di hadapi oleh perusahaan, dan perusahaan mempunyai solusi dalam menghadapi kendala tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar pelayanan yang ada di Taman Rekreasi Sengkaling harus di tingkatkan, agar pengunjung yang datang bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih baik selama berkunjung di Taman Rekreasi Sengkaling. Dalam peningkatan pelayanan perlu dibangun fasilitas bagi orang cacat, selain itu perlu juga adanya perbaikan pada fasilitas arena permainan.

Pelaksanaan diversifikasi produk pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang / Adam Khasbullah Mawantoro

 

Di era yang semakin maju ini pada umumnya setiap perusahaan mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk dapat berkembang dengan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari produk yang diproduksi dan dipasarkan. Dan agar dapat mewujudkan tujuan tujuan tersebut perusahaan dituntut agar mampu bersaing dan menciptakan produk yang memiliki kualitas yang lebih baik dalam menarik konsumen. Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat tersebut para produsen harus dapat menghasilkan produk yang tepat dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan diversifikasi produk (Penganekaragaman Produk) agar dapat menarik perhatian konsumen tersebut guna meningkatkan penjualan dan laba perusahaan. Tujuan dari penulisan tugas akhir (TA) ini untuk mengetahui 1) Pelaksanaan diversifikasi produk pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang, 2) Tujuan diversifikasi produk pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang, 3) Faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan diversifikasi produk pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang. Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo didirikan Pada tahun 1991 yang dirintis oleh bapak Puspo Wardoyo yang sekaligus scbagai pemilik dan pernimpin dan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo dengan menerapkan bisnis waralaba didalam pengembangan usahanya. Praktek kerja lapangan (PKL) dilaksanakan kurang lebih selama 1 bulan dimulai tanggal 21 Januari sampai dengan 21 Februari 2008 dan ditempatkan dibagian customer service yang berhubungan langsung dengan konsumen. Pelaksanaan diversifikasi produk pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang yaitu dengan menerapkan diversifikasi konsentris dan horizontal demi untuk meningkatkan jumlah penjualan dan mempertahankan serta mengejar pertumbuhan perusahaan. Tujuan diversifikasi produk pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo adalah 1) Untuk memberikan kepuasan pada konsumen, 2) Memperkecil resiko kerugian, 3) Meningkatkan omset penjualan. Untuk itu rumah makan Ayam Bakar Wong Solo dituntut tanggap atau jeli dalam memilih produk apa saja yang akan dijual dan didiversifikasi. Sehingga konsumen akan merasa puas saat melakukan kegiatan konsumsinya. Faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan diversfikasi produk pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang adalah 1) diversifikasi produk, 2) diversifikasi pelayanan, 3) merk, 4) jaminan “Halalan Thayyiban, 5) adanya label Indonesia “Indonesia Cuisine”, 6) Standarisasi bahan baku, 7) persepsi konsumen. Dan faktor penghambatnya adalah 1) barang yang dijual adalah tergolong bahan yang tidak tahan lama, 2) kondisi ekonomi masyarakat pada dewasa ini mengalami penurunan sehingga berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin menurun, 3) sistem pergudangan yang kurang memadai dan terlihat agak kumuh sehingga dapat menurunkaan kualitas bahan-bahan produksi yang tersimpan digudang. Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan selama melaksanakan kegiatan praktek kerja lapangan (PKL)maka dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk meningkatkan jumlah penjualan dan mempertahankan serta mengejar pertumbuhan perusahaan maka rumah makan Ayam Bakar Wong Solo melakukan Diversifikasi produk. Terkait untuk itu rumah makan Ayam Bakar Wong Solo pada dasarnya telah melaksanakan diversifikasi konsentris dan horizontal. Saran yang bisa penulis sampaikan kepada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo adalah, 1) Sebaiknya rumah makan Ayam Bakar Wong Solo lebih memperhatikan sistem penggudangannya yang kurang memadai dan terlihat agak kumuh sehingga dapat menurunkan kualitas bahan-bahan produksi yang tersimpan di gudang, 2) membuat produk baru dengan nama yang menarik sehingga konsumen tertarik dan tetap loyal terhadap produk Ayam Bakar Wong Solo, 3) Untuk pelayanan sebaiknya lebih ditingkatkan karena konsumen akan merasa puas dengan pelayanan yang ramah dan cepat apa lagi didukung dengan berbagai varian menu sehingga konsumen akan merasa puas 4) Sebaiknya rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cabang Malang menambah jumlah alat produksinya misalnya, alat/kompor pemanggang ikan dan sebagainya. Sehingga pada saat konsumen semakin ramai rumah makan Ayam Bakar Wong Solo dapat melayani dan menyuguhkan menu pesanan dengan cepat dan memuaskan.

Penerapan strategi bauran pemasaran jasa produk pengiriman express, kilat khusus dan paket pada PT. Pos Indonesia (Persero) Malang / Ria Rezky Kamaru

 

Praktikum Manajemen Pemasaran III yang diperuntukkan bagi mahasiswa Manajemen Pemasaran, ini diselenggarakan tanggal 25 Januari 2008 sampai tanggal 25 Pebruari 2008, bertempat di PT. Pos Indonesia (Persero) Malang Blimbing. Penelitian ini lebih mengkaji terhadap masalah penelitian sehingga menghasilkan data deskrptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan dokumentasi, wawancara dan observasi. Penelitian ini dilatar belakangi realitas bahwa integrasi dalam penerapan bauran pemasaran jasa saat mengembangkan dan menawarkan produk jasa baru, seperti jasa pengiriman express, kilat khusus, dan paket. Dengan keuntungan pengirimannya lebih cepat serta pengirimannya memiliki resi sebagai tanda bukti pengiriman, lain halnya dengan perangko dimana pengirimannya membutuhkan waktu lama minimal 3 hari. Maka bagi perusahaan jasa seperti PT. Pos Indonesia (Persero) Malang. Secara tepat merupakan faktor pendukung utama, yaitu memuaskan konsumen dengan layanan terbaik dan memperoleh profit yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bauran pemasaran jasa yang terdapat pada produk jasa pengiriman PT. Pos Indonesia (Persero) Malang adalah (1) Products jasa pengiriman express , kilat khusus dan paket PT. Pos Indonesia (Persero) Malang adalah pengiriman secara cepat dan perhitungan yang akurat melalui online dengan memiliki resi sebagai tanda bukti untuk pengirim, apabila terdapat keluhan dalam proses pengiriman. (2) Pricing pada produk jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket PT. Pos Indonesia (Persero) Malang adalah menetapkan harga dalam pengiriman barang sesuai dengan jauhnya kota tujuan serta berat barang tersebut. (3) Place pada produk jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket PT. Pos Indonesia (Persero) Malang, pengirimannya meliputi seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. Sementara itu dalam hal lokasi, jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket, merupakan layanan multilokasi sesuai dengan jumlah kantor pos yang ada, dimana pelanggan mendatangi penyedia jasa. (4) Promotion pada produk jasa pengiriman PT. Pos Indonesia (Persero) Malang, sebagaian besar memberikan brosur atau pendekatan terhadap pelanggan dengan menjelaskan produk jasa baru yang lebih cepat dibandingkan perangko. Selain itu melakukan promosi penjualan di media cetak dan elektronik. Sementara itu PT. Pos Indonesia (Persero) Malang melakukan sebagaian kecil kegiatan promosi dengan memanfaatkan komunikasi Word Of Mouth. (5) People pada produk jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket PT. Pos Indonesia (Persero) Malang adalah Pegawai PT. Pos Indonesia (Persero) Malang yang statusnya terbagi menjadi dua yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mempunyai Nippos dan Tenaga Kontrak Karya yang ditugaskan oleh anak perusahaan PT. Pos Indonesia (Persero) Malang. (6) Physical Evidence pada produk jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket PT. Pos Indonesia (Persero) Malang terbagi menjadi dua yaitu Essential Evidence yang berkaitan dengan tata letak ruangan kantor pos dan peripheral evidence yang berkaitan dengan perangkat pendukung jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket, seperti hardware, software, printer dan resi/ bukti transaksi. (7) Process pada produk jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket PT. Pos Indonesia (Persero) Malang berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk rekonsiliasi/validasi semua hasil transaksi harian PT. Pos Indonesia (Persero) Malang. (8) Layanan Pelanggan yang diberikan jasa pengiriman express, kilat khusus dan paket PT. Pos Indoneisa (Persero) Malang terbatas pada saat transaksi.

Pelaksanaan strategi layanan sebagai upaya mencapai kepuasan pelanggan pada dealer Yamaha Ungul Motor Oro-Oro Dowo Malang / Ni Nengah Riska Prawitasari

 

Dalam era globalisasi yang semakin maju yang tentunya diikuti dengan perkembangan ekonomi dan bisnis yang semakin pesat. Maka, tidak dapat dipungkiri persaingan dalam pasar juga akan semakin ketat, apalagi juga didukung dengan teknologi canggih dan pengetahuan yang modern di abad ini. Tentunya akan banyak bermunculan produk dengan kualitas terbaik bahkan dengan harga yang cukup bersaing. Sehingga, banyak perusahaan menerapkan berbagai macam strategi untuk menarik konsumen, utamanya dalam mencapai kepuasan dan loyalitas konsumen. Salah satu strategi untuk mencapai hal itu adalah dengan memberikan layanan yang terbaik dan berbeda sehingga dapat memuaskan pelanggan. Tujuan diadakan penulisan tugas akhir ini adalah 1.) untuk mengetahui apa saja strategi layanan untuk kepuasan pelanggan yang telah dilaksanakan dealer Yamaha Unggul Motor Oro-Oro dowo Malang, 2.) serta faktor-faktor apa sajakah yang mendukung maupun menghambat dalam pelaksanaan strategi layanan dealer Yamaha Unggul Motor Oro-Oro dowo Malang. Dan untuk meneliti hal tersebut maka penulis melakukan praktikum kerja lapangan (PKL) di dealer Yamaha Unggul Motor. Dalam pelaksanaan strategi layanannya untuk menarik konsumen, dealer Yamaha Unggul Motor Oro-Oro Dowo Malang telah melakukan diferensiasi layanan demi mencapai kepuasan pelanggan, yaitu dimulai dari kemudahan pemesanan serta pembelian (ordering easy), pengiriman (delivery), konsultasi pelanggan (costumer consulting), pemeliharaan dan perbaikan (maintance and repair) serta layanan lain-lain. Dalam pelaksanaan layanan tersebut juga ditemukan beberapa faktor-faktor yang menjadi pendukung seperti adanya penghargaan ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award) yang secara tidak langsung juga mendongkrak nama dealer Yamaha Unggul Oro-Oro Dowo, serta status ACS (authorized claim shop) yang artinya dealer Yamaha Unggul Motor dipercaya menerima klaim garansi oleh Yamaha pusat juga beberapa faktor pendukung lainnya. Untuk faktor penghambat adalah ruangan yang sempit dan tidak rapi, letak yang tidak strategis dan lain sebagainya. Selain itu, juga terdapat beberapa saran yaitu agar dealer memiliki kreatifitas lebih supaya tidak kalah dengan sub-dealer, menambah kursi di counter sales (bagian menerima penjualan),memberi gambar atau peta lokasi pada brosur promosi dan lebih profesional dalam mendidik pegawai baru

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |