Pengembangan permainan domino sebagai media pembelajaran kosakata dan tata bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang / Yunita Wulandari

 

Improving studens reading comprehension through intensive reading activity at MTs Negeri 3 Surabaya / Dyah Argirini

 

ABSTRACT Argarini, Dyah. 2008. Improving Students’ Reading Comprehension Through Intensive-Extensive Reading Activity at MTsN 3 Surabaya (Classroom Action Research). Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. E. Sadtono, Ph.D. (II) Dr. Roembilin Soepadi, M.A. Key words: Improving, Reading Comprehension, Intensive-Extensive Reading Activity (INEXRA) Reading, as one of the fourth skills, is necessary to be developed in English teaching. In many second language or foreign language-teaching situation, reading receives a special focus. The reason is that most of the students consider reading as one of their most significant goals. Reading enables them to get information and pleasure beside career and study purposes. It will also help the students in the process of language acquisition. Students learn to read by reading and that comprehension will take care of itself. In other words, students with certain level of ability in English can learn to read by extensive reading activity. However, it is not possible to claim that extensive reading is sufficient for most ESL/EFL students to learn to read English. Students have to know more about the language components, vocabulary, grammar and sounds, to support their language ability. Comprehension should be trained as well. Intensive reading activity is also needed to train the reading skill. It means that skills training is also necessary for EFL students. In brief, both intensive and extensive reading activities are very advantageous for the students to improve their ability in comprehending the reading text. That is why a strategy which combines those activities in reading instruction should be better constructed by teachers. This study tries to develop an appropriate strategy of Intensive-Extensive Reading Activity to improve the reading comprehension achievement of the first year students at Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Surabaya or to find out how Intensive-Extensive Reading Activity (INEXRA) can be implemented to improve the reading comprehension achievement of the first year students at Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Surabaya. The design of this study is a collaborative classroom action research (CAR). It was intended to implement the extensive reading activity to improve the students’ reading comprehension. This research was conducted through two cycles. Each cycle consisted of planning, implementing, observing, and reflecting. The result of the reflection became an input for the planning in the next cycle. In this study, the researcher worked together with one of the English teachers to apply Intensive-Extensive Reading Activity. She conducted the action in cyclical process, while the researcher’s collaborator acted as an observer. On the basis of the research findings and discussions elaborated in the preceding chapters, the researcher is able to draw some conclusions for this case. First, the appropriate model of strategy using INEXRA in teaching reading for the first year students of MTsN 3 Surabaya encompasses the following procedures: (1) leading students to the topic by giving some questions and/or showing a picture(s) , (2) asking the students to predict the topic of the text, (3) assigning the students to read the text silently, (4) asking the students to underline the difficult words while reading the text, (5) discussing the difficult words with the class, (6) reading the text clearly, aloud, and slowly and asking some students to re-read the text, (7) providing some comprehension questions and explaining the questions, (8) grouping the students, (9) assigning the students to answer the comprehension questions, (10) providing the students a text with the same topic as the previous one, (11) assigning the students to read the text and creating some questions and the answers about the content, (12) discussing the assignments with the class, (13) assigning the students to read an English reading book or magazine at home, (14) asking the students to write and present individual and group report about the materials. In comparison with the students’ reading comprehension achievements revealed in the result of the pre-test, it turned out that the use of Intensive-Extensive Reading Activity could improve the reading comprehension achievements of the students at MTsN 3 Surabaya. It can be identified that statistically, after the implementation of the action there is a significant improvement on the students’ average score in reading comprehension in every cycle. The students’ average score in the first cycle was 57.65. The increase of the students’ average score from the test in the preliminary study (43.62) to the average score obtained in Cycle 1 which less than 60.00 had not fulfilled the criteria of success yet. In Cycle 2, the students’ reading comprehension achievement was better than that in the preliminary study and Cycle 1 with the average score of 71.17. It had fulfilled the first criterion of success in term of the score improvement. Furthermore, INEXRA has successfully encouraged students to actively participate especially in the motivation and developing background, the directed reading, the skill building, and the follow-up activity as shown in the result of observation in the appendix. Nevertheless, improvement is still needed in reading report presentation. In brief, it can be stated that INEXRA has some benefit to improve the students’ reading comprehension both in the literal and interpretive comprehension. It is possible to consider it as one of various strategies to be applied by teachers to improve their students’ reading comprehension.

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD untuk meningkatkan kerjasama dan hasil belajar geografi siswa kelas XI-IPA-2 semester 2 SMA Negeri 1 Sampang pada pokok bahasan persebaran sumber daya alam dan pemanfaatannya / Dimas Bayu Perdana Putra

 

Berdasarkan Hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 20 dan 30 desember 2007 di kelas XI IPA-2 SMU Negeri I Sampang diketahui bahwa sebagagian besar kegiatan belajar mengajar (KBM) masih didominasi oleh guru, sedang siswa hanya duduk, mendengar dan mencatat sehingga siswa terlihat kurang aktif dan kurang kerjasama dalam kegiatan pembelajaran karena jarang diberikan model-model pembelajaran terbaru, dalam kegiatan pembelajaran dan juga guru cenderung menggunakan metode ceramah di dalam kegiatan pembelajaran dan masih banyak juga siswa yang hasil belajarnya belum tuntas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan kerjasama dan hasil belajar siswa. Salah satunya dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD untuk meningkatkan kerjasama dan hasil belajar geografi siswa XI IPA-2 semester 2 SMA negeri I sampang pada pokok bahasan persebaran sumber daya alam dan pemanfaatannya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Clasrom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan setiap siklus terdiri atas satu kali pertemuan selama 2 jam pelajaran. Subyek penelitian yang digunakan adalah dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI IPA-2 semester genap tahun ajaran 2006-2007 SMU Negeri I Sampang yang berjumlah 43 siswa, terdiri 19 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa kerjasama dan hasil belajar siswa. Kerjasama siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata presentase kerjasama siswa dan taraf keberhasilan tindakan, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih pre- tes dan pos tes serta ketuntasan belajar pada masing-masing siklus. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi kerjasama siswa dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya peningkatan kerjasama dan hasil belajar siswa XI IPA-2 SMU Negeri Sampang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata presentase kerjasama siswa dan keberhasilan tindakan dari 53,84 (kurang) pada siklus I meningkat menjadi 79,95 (baik) pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata selisih skor pre-tes dan pos tes sebesar 18,14 pada siklus I meningkat menjadi 21,12 pada siklus II, sedangkan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 64,11% kemudian meningkat lagi menjadi 92,31% pada siklus II.

Pengaruh cara belajar, fasilitas belajar di rumah dan bimbingan belajar oleh orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi kelas X Akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar / Ulfa Himatul Syaharin

 

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Berhasil atau tidaknya belajar dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor- faktor yang mempengaruhi belajar antara lain cara belajar, fasilitas belajar di rumah dan bimbingan belajar oleh tua. Oleh karena itu penelitian ini membahas tentang pengaruh cara belajar, fasilitas belajar di rumah dan bimbingan belajar oleh orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah eksplanasi (eksplanatory research).Populasinya yaitu seluruh siswa kelas X Akuntansi SMK Negeri 2 Blitar. Teknik pengumpulan data menggunakan random sampling. Sedangkan teknik analisis data menggunakan regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas (cara belajar, fasilitas belajar di rumah dan bimbingan belajar oleh orang tua) terhadap variabel terikat ( prestasi belajar). Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh positif antara cara belajar dengan prestasi. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis regresi diperoleh nilai t hitung sebesar 2.303 sedangkan signifikansi t sebesar 0.028 < 0.05. Sedangkan koefisien beta untuk cara belajar adalah sebesar 0.252. Selain cara belajar, fasilitas belajar di rumah juga berpengaruh positif terhadap prestasi hal ini ditunjukkan dari analisis regresi diperoleh nilai t hitung sebesar 3.042 sedangkan signifikansi t sebesar 0.005 < 0.05. Sedangkan koefisien beta untuk fasilitas belajar di rumah adalah sebesar 0.489. Selain cara belajar dan fasilitas belajar di rumah, yang berpengaruh positif terhadap prestasi adalah bimbingan belajar oleh orang tua. Hal ini ditunjukan dari analisis regresi diperoleh nilai thitung sebesar 3.042 sedangkan signifikansi t sebesar 0.005 < 0.05. Sedangkan koefisien beta untuk fasilitas belajar di rumah adalah sebesar 0.48. Cara belajar,fasilitas belajar di rumah dan bimbingan belajar oleh orang tua secara simultan berpengaruh terhadap prestasi hal ini ditunjukkan dengan hasil uji ANOVA diperoleh Fhitung 37.526 dengan tingkat signifikansi 0.000 < 0.05. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, peneliti memberikan saran yaitu untuk memaksimalkan prestasi belajar maka hendaknya siswa membentuk kelompok belajar yang merupakan salah satu cara belajar yang baik, siswa memiliki fasilitas belajar berupa buku-buku penunjang dan sumber belajar lain seperti majalah, koran, jurnal ilmiah dan lainnya. Selain itu, hendaknya sekolah membuat program yang bisa menjalin komunikasi antara guru dengan orang tuasiswa agar bisa mengetahui perkembangan yang terjadi pada siswa.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar matadiklat manajemen perkantoran kelas X pada SMK PGRI 6 Malang / Doddy Dwi Rakhman

 

Pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) melibatkan siswa sejak perencanaan baik dalam menentukan topik maupun cara mempelajarinya melalui investigasi. Pembelajaran ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, menjadikan siswa lebih aktif dalam berkomunikasi dan pembelajaran kooperatif model GI merupakan variasi dalam pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton dengan hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa tidak merasa bosan. Penelitian dilakukan untuk menguji keefektifan pembelajaran kooperatif model group investigation pada bab wewenang, tanggung jawab dan kepemimpinan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran kooperatif model group investigation; (2) untuk mengetahui faktor penghambat dan faktor pendukung pelaksanaan pembelajaran kooperatif model group investigation, (3) untuk mengetahui bagaimanakah tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran metode kooperatif model Group Investigation dalam matadiklat manajemen perkantoran, (4) untuk mengetahui tanggapan guru terhadap proses pembelajaran kooperatif model group investigation dalam matadiklat manajemen perkantoran, (5) untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diadakan pembelajaran kooperatif model group investigation dalam matadiklat manajemen perkantoran. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah kelas X APK 2 SMK PGRI 06 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes, panduan observasi, format penilaian dan angket untuk siswa. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran dengan model group investigation diawali dengan kegiatan inti pada pertemuan pertama yaitu pembentukan kelompok, kesepakatan siswa dalam pembagian tugas, kegiatan pemantapan dan pengembangan melalui presentasi pada pertemuan pertama dan kedua yang mana siklus II siswa lebih aktif daripada siswa pada siklus I; (2) terdapat 2 hal yang menjadi penghambat dalam penelitian yaitu minimnya sarana yang dimiliki dan motivasi siswa yang menurun, dan terdapat 2 hal yang menjadi pendukung penelitian yaitu adanya penambahan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan kerjasama guru yang baik; (3) tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation secara umum positif yaitu antara lain siswa merasa bahwa metode group investigation menyenangkan dan bisa dijadikan variasi kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran tidak monoton, hanya beberapa siswa yang merasa terbebani dengan penerapan pembelajaran ini; (4) tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation cukup positif, guru beranggapan bahwa metode tersebut dapat membuat siswa aktif bekerja dalam mengemukakan pendapat dalam diskusi; (5) hasil belajar siswa dilihat dari nilai yang diperoleh pada post test siklus I dan siklus II menunjukkan peningkatan dimana dari siklus I sampai siklus II terjadi kenaikan hal ini dapat dilihat bahwa hampir 80 % nilai siswa telah memenuhi standart kelulusan yang telah ditentukan yaitu 70. Dari penelitian penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation, saran yang dapat dikemukakan diantaranya: (1) untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) PGRI 06 Malang diharapkan pembelajaran kooperatif model group investigatioan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembelajaran selanjutnya; (2) untuk guru dapat menambah wawasan dalam meningkatkan minat siswa dalam proses belajar sehingga tercipta pembelajaran yang efektif dan sesuai standart kompetensi yang diharapkan; (3) bagi peneliti hendaknya dapat digunakan sebagai pengetahuan dan pengalaman dalam mengajar nantinya; (4) bagi siswa diharapkan dapat memandang pengetahuan secara konstruktif dan memiliki hubungan interpersonal dalam proses kelompok secara efektif; (5) bagi Universitas Negeri Malang (UM) dapat digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah mahasiswa selanjutnya.

Penggunaan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA pokok bahasan sifat-sifat cahaya kela V SDN Tekung 02 Lumajang / Dhia Suprianti

 

Pembelajaran IPA dianjurkan menggunakan pendekatan keterampilan proses, melalui pendekatan keterampilan proses siswa dipandang sebagai subyek yang harus aktif, karena itu diperlukan pemilihan metode yang tepat. Salah satu metode yang menunjang keterampilan proses adalah metode eksperimen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar dan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk melaksanaan pembelajaran IPA dengan metode eksperimen dalam proses belajar mengajar IPA kelas V pokok bahasan sifat-sifat cahaya, Peningkatan keterampilan proses pada siswa saat pembelajaran IPA pokok bahasan sifat-sifat cahaya, Mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas V terhadap pembelajran IPA dengan metode eksperimen dalam proses belajar mengajar pokok bahasan sifat-sifat cahaya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) guru sebagai peneliti. Guru terlibat secara penuh dalam proses perencanaan, aksi (tindakan), dan refleksi. Keterlibatan pihak lain dalam penelitian ini tidak dominan. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran di kelas dengan cara mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik pembelajaran dan melihat pengaruhnya dari upaya tersebut. Penelitian ini dilakukan di SDN Tekung 02 Lumajang mulai bulan Maret sampai Agustus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus pembelajaran. Analisis hasil penelitian dilakukan secara bersamaan. Penggunaan metode eksperimen terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran IPA kelas V SDN Tekung 02 Lumajang yaitu nilai prestasi meningkat dari nilai pre-tes yang rata-rata hanya mencapai 59,5 meningkat pada siklus I menjadi 74,75 dan pada siklus II mencapai 81,50. Dari prestasi belajar yang dicapai siswa pada siklus I yang memenuhi ketuntasan individu terdapat 9 siswa ( 45% ) yang tuntas dan memenuhi ketuntasan individu, 11 siswa (55%) belum memenuhi kriterian ketuntasan individu. Pada siklus II ada 4 siswa (20%) yang belum mencapai ketuntasan individu dan yang telah mencapai ketuntasan individu 16 siswa (80%) menurut ketuntasan kelas sudah dinyatakan tuntas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembelajaran IPA dengan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil dan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar para guru membiasakan menggunakan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA. Menciptakan kondisi belajar yang terpusat pada siswa. Meningkatkan pelatihan pemanfaatan alat pelajaran atau alat percobaan. Dalam kegiatan belajar mengajar guru perlu memperhatikan hal-hal yang mendukung peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa.

Penerapan pembelajaran teknik salt (suggestive accelerated learning and teaching) dalam mata pelajaran matematika kelas IV materi perkalian di SDN Gadungan 01 Gandusari Blitar tahun pelajaran 2007/2008 / Jarwati

 

Masalah-masalah dalam pembinaan teater di SMA Negeri Kota Malang dan alternatif pemecahannya / Dini Alfiyanti

 

Evaluasi karakteristik dan kelengkapan pengguna keselamatan kendaraan roda dua (Studi kasus Kecamatan Klojen Kota Malang) / Sukarda Afif Mey Doni

 

Sistem lalu lintas dapat dikatakan terdiri dari tiga komponen: jalan, manusia, dan kendaraan. Untuk keberhasilan pengoperasian, ketiga komponen saling keterkaitan satu dengan yang lain yaitu jalan, kendaraan, dan manusia harus kompatibel. Dalam kenyataan sehari-hari akan tidak menunjukan keseimbangan dalam pelaksanaan, akibatnya sistem lalu lintas seringkali gagal dan menimbulkan kecelakaan lalu lintas, kemacetan dan gangguan lalu lintas. Untuk itu pelaku pergerakan umumnya dalam melakukan aktivitas akan mengambil sebuah keputusan dalam pemilihan moda. Sepeda motor menjadi pilihan paling praktis dan ekonomis sebagai alat transportasi baik pribadi maupun keluarga. Kemudahan memperoleh sepeda motor belum dibarengi dengan kesadaran berkendara dengan baik dan aman. Misalnya pengendara tidak memakai peralatan keselamatan contoh: helm, asessoris (kelengkapan) sepeda motor yang dikurangi fungsinya, tidak mematuhi penggunaan kelengkapan sepeda motor, sehingga faktor tersebut antara lain menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan faktor lain disebabkan kesadaran pengguna kendaraan sepeda motor yang kurang baik. Oleh karena itu sangat menarik untuk ditinjau perilaku pengguna kendaraan sepeda motor dan kelengkapannya. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui karakteristik pengendara dan kelengkapan keselamatan kendaraan roda dua (sepeda motor). Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa reponden laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan rentang usia 17-25 tahun, memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA/SMK dan memiliki jenis pekerjaan sebagai mahasisiwa/siswa dengan belum memiliki penghasilan tetap. Jumlah anggota keluarga rata-rata 5 orang dan jumlah kendaraan yang dimiliki sebanyak 1 buah kendaraan sepeda motor dengan tujuan sekolah menuju ke perguruan tinggi/kampus, pergerakan lain yang sering dilakukan responden adalah bekerja, rekreasi dan belanja. Karakteristik pengendara sepeda motor di wilayah tersebut adalah sudah memiliki kesadaran untuk berkendaraan dengan aman dan nyaman. Sementara untuk kelengkapan kendaraan, masyarakat di wilayah tersebut sudah memenuhi standart ketentuan dan masyarakat di wilayah ini sudah mengerti akan hal-hal yang harus dilakukan sebelum melakukan perjalanan demi keselamatan saat berkendaraan.

The use of movie for improving studens' speaking ability at englishland course Malang / Dyah Ayuningtias

 

This study is intended to find out how movie viewing activity can improve students’ speaking ability. It was conducted at Englishland Course Malang because its students do not seem to have motivation and have difficulties in speaking English. This study is a descriptive qualitative research because (1) the researcher works in a natural setting, (2) it concerns with the process rather than with the outcomes, (3) it describes the facts of the subjects, (4) the researcher is the key instrument in collecting the data. The subjects are 20 students of four classes with different levels, level 1, level elementary A, level pre-intermediate B, and level basic B. In this study, the instruments used are observation guide, questionnaire, and interview guide for the students and the teacher. From the findings, it can be concluded that the students had speaking problems, which hampered them from expressing their ideas in the movie viewing activity. The problems that occurred in the movie viewing activity were “students-do-not-use-English” and “students-do-not-want-to-speak-English”. To minimize the students’ problems, the teacher employed some strategies i.e. giving direct translation, giving reward/praise (“very good,” “you can do it,” etc), and helping them to re-arrange the sentences. Based on the research findings, some suggestions are formulated in order to minimize the students’ speaking problems. For the students, they must follow the teacher’s instructions well so that they can improve their speaking ability. They should be aware that the teacher uses these strategies not only to minimize the problems occurred but also to improve their speaking ability. It is also hoped that the students will be more active in using English while doing movie viewing activity so that they can improve their speaking ability. In addition, they must support one another in order to create a conducive learning atmosphere in the class that can stimulate motivation in improving their speaking ability. For the teacher, she must help students to minimize their speaking problems so that the movie viewing activity may run well and she can achieve the target of the teaching by employing the learning strategies well. Since lack of motivation and reluctance appear to be problems of the students in movie activity, the teacher has to be able to create appropriate strategies to encourage the students to use English in expressing their ideas. For example, giving exciting movies or unknown movies can make them curious about the story. In addition, the teacher should give some instructions before the activity begins.

Penerapan pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang luas bangun datar di kelas IV SDN Kalirejo V / Rizki Candra Septanto

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas IV SDN Kalirejo V Kabupaten Malang pada pokok bahasan Luas Bangun Datar yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Konstruktivisme. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus karena pada siklus 1 belum memenuhi standar indikator keberhasilan. Pada tiap siklus terdapat 4 tahapan yaitu, (1) Perencanaan Tindakan (planning); (2) Pelaksanaan Tindakan (action); (3) Observasi (observation); (4) Refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah siswa kelas 4 SDN Kalirejo V Kabupaten Malang yang berjumlah 45 siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan indikator keberhasilan kelas sebesar 70% dan indikator individu setiap siswa mempunyai nilai minimal 70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Pendekatan Konstruktivisme pokok Bahasan Luas Bangun Datar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 SDN Kalirejo V Kabupaten Malang. Hal ini dilihat dari perolehan skor tes yang meningkat, dari nilai rata-rata sebelumnya (Pra Tindakan) 61,34 menjadi 68,56 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 77,13 pada siklus II. Pada siklus II sudah dicapai indikator keberhasilan kelas 68,89% siswa mempunyai nilai di atas 70, untuk pencapaian indikator individu masih terdapat 13 siswa yang berada di kisaran nilai antara 60 sampai 70. Hal ini dikarenakan 13 siswa tersebut termasuk anak yang lambat dalam belajar. Dampak dalam penggunaan Pendekatan Konstruktivisme dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 SDN Kalirejo V Kabupaten Malang.

Pengaruh penggunaan multimedia dan gaya belajar terhadap hasil belajar geografi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngantang Kabupaten Malang pada materi keragaman bentuk bumi, proses pembentukan, dan dampaknya dalam kehidupan / Martina Lona Jusita

 

Pembelajaran merupakan peristiwa kompleks yang dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal siswa. Kondisi eksternal merupakan peristiwa yang dapat diamati seperti pengaturan stimulus yang diterima siswa dan hasil belajar sebagai respon. Perubahan internal yang terjadi diharapkan relatif tetap sebagai akibat proses belajar yang memungkinkan siswa melakukan unjuk kerja atau penampilan (performance). Perubahan internal inilah yang disebut dengan learning outcomes, kemudian dinamakan hasil belajar. Geografi sebagai bagian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VII khususnya pada materi keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya dalam kehidupan memerlukan media yang dapat memperjelas konsep materi yang disajikan. Media yang paling sesuai adalah gambar, foto, dan media visual lainnya. Kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan media sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang beragam. Dalam satu kelas terdiri dari beberapa karakteristik siswa yang berkaitan dengan cara memahami konsep-konsep materi pelajaran, menyerap informasi, mengatur dan memroses informasi, serta mengeluarkan informasi. Dalam memproses informasi terdapat berbagai cara unik yang ditampilkan siswa; sebagian lebih mudah memproses melalui informasi visual, sebagian lagi dengan mudah memproses bila ada suara (auditorial), dan lainnya akan memahami dengan mudah jika melakukannya dengan praktek secara langsung. Guru hendaknya menghindari asumsi bahwa semua siswa identik tanpa memperhatikan potensi yang berkaitan dengan gaya belajar. Pemilihan media pembelajaran hendaknya dapat mengakomodasi kebutuhan siswa, dari satu media pembelajaran diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing siswa berkaitan dengan gaya belajar. Penelitian ini dimaksudkan untuk membuktikan ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok yang menggunakan multimedia dengan tanpa multimedia; ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok siswa yang memiliki gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Disamping itu, untuk membuktikan ada interaksi secara signifikan antara penggunaan multimedia dan gaya belajar terhadap hasil belajar siswa. Hipotesis yang diuji dalam penelitian, yaitu(1)Ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok siswa yang belajar dengan menggunakan multimedia dengan kelompok siswa yang belajar tanpa menggunakan multimedia;(2)Ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok siswa yang memiliki gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik; dan(3)Ada interaksi secara signifikan antara penggunaan multimedia dan gaya belajar terhadap hasil belajar siswa. Untuk menguji hipotesis, penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain faktorial 2 x 3. Variabel penelitian, yaitu(1)Variabel terikat adalah hasil belajar siswa;(2)Variabel bebas adalah multimedia;dan(3)Variabel moderator adalah gaya belajar. Data hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes hasil belajar, data gaya belajar dengan angket gaya belajar. Data hasil pengukuran tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan ANOVA, Regresi Ganda, dan Uji-t dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS for Windows versi 13. Skor tes hasil belajar geografi ditentukan berdasarkan perbedaan skor pascates dan skor prates atau gain score ( skor pascates dari masing-masing subjek dikurangi skor prates). Gain score menggambarkan hasil belajar geografi dari semua subjek, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Data gaya belajar berupa angket gaya belajar terdiri dari tiga bagian; pertanyaan-pertanyaan bagian A berhubungan dengan visual, bagian B berhubungan dengan auditorial, bagian C berhubungan dengan kinestetik. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan Anava faktorial dua jalur menunjukkan bahwa penggunaan multimedia (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil uji-t juga menunjukkan ada perbedaan mean hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol dengan signifikansi 0,046 atau p < 0,05. Disamping itu, dengan menggunakan uji-t hasil penelitian membuktikan bahwa ada perbedaan signifikan hasil belajar antara siswa yang memiliki gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Dengan menggunakan Uji Regresi menunjukkan tidak ada interaksi penggunaan multimedia (X1) dan gaya belajar (X2) secara signifikan terhadap hasil belajar. Penggunaan multimedia dalam pembelajaran sangat efektif dan berdaya guna, terutama bila disajikan dengan tepat akan memiliki dampak signifikan terhadap hasil belajar. Pembelajaran dengan menggunakan multimedia secara signifikan berpotensi membantu mengakses secara luas pengetahuan dan informasi dalam pembelajaran, mempertinggi pengalaman belajar, serta secara efektif akan mempertinggi aksesibilitas lingkungan pembelajaran untuk kelompok-kelompok dari beragam siswa dalam mengekplorasi materi pelajaran.

Kepimpinan kepala sanggar dalam pelaksanaan program kecakapan hidup (Studi kasus penanganan anak jalanan dan kelaurga pra sejahtera melalui program kecakapan hidup) di sanggar kegiatan belajar kota Malang / Elok Wahyu Widayatri

 

This research abaut Sanggar Kegiatan Belajar leadership has an objective to gain its holistic disription in implemanting life skill program. There are some leadership approaches; those are traits, behavioral, and contingency approach. The choice of those approaches affects the style of leadership developed by the principle of Sanggar Kegiatan Belajar. The technique used to collect data is deep interview, participatory observation, and the last documentary study. The technique used to analyze data is discritive qualitative. It consists of three main activities: data reduction, data presentation, and drawing conclusion . This study has discovered three point: first situational leadership approach can increase Non Formal Educater’s job performace, second, the successful of life skill program affected by the principle’s leadership and well facility, finally the situasional leadership approach has positive influence in executing life skill program further it also can increase the degree street boys and poor family life.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share (TPS) untuk peningkatan keaktifan siswa kelas VII pada pelajaran sejarah di SD-SMP Negeri satu atap bendosari Pujon-Malang / Dewita Harthanti

 

Keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat menentukan prestasi dan keberhasilan siswa. Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya peran guru dan siswa, penerapan metode dan media pembelajaran. Keaktifan peserta didik dalam menjalani kegiatan pembelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Aktivitas merupakan asas yang terpenting dari asas-asas didaktik kerena belajar sendiri merupakan suatu kegiatan dan tanpa adanya kegiatan tidak mungkin seseorang belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan berangkat dari asas bahwa individu merupakan manusia yang belajar aktif dan selalu ingin tahu adalah pembelajaran kooperatif model TPS. TPS adalah suatu strategi diskusi kooperatif yang memberikan kepada siswa waktu untuk berfikir dan merespon serta saling bantu satu sama lainnya. Model ini memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu” yang banyak menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa merespon pertanyaan. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa Dengan pembelajaran TPS siswa menjadi arif dan interaktif di kelas. Karena pada dasarnya tujuan pembelajaran kooperatif model TPS adalah mengembangkan partisipasi siswa dalam kelas melalui diskusi baik dengan pasangan maupun kelas. Melalui model pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya agar dapat menghasilkan ide-ide yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimana penerapan metode pembelajaran kooperatif model TPS pada mata pelajaran sejarah kelas VII di SD-SMP Negeri Satu Atap Bendosari Pujon-Malang? (2) Bagaimana keaktifan siswa kelas VII SD-SMP Negeri Satu Atap Bendosari Pujon-Malang pada mata pelajaran sejarah setelah penerapan model pembelajaran TPS? Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SD-SMP Negeri Satu Atap Bendosari Pujon-Malang tahun ajaran 2007-2008 dengan jumlah 34 siswa. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Teknik analisis data yang dipergunakan adalah teknik analisis data dari Miles dan Huberman yang terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data dan tahap penerikan kesimpulan. Penelitian ini memfokuskan/menilai keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model TPS oleh guru, kegiatan/aktivitas siswa dalam pelaksanaan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif model TPS, dan peningkatan keaktifan siswa kelas VII mempergunakan persentase. Sedangkan i instrumen pengumpulan data yang dipergunakan adalah format observasi untuk keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model TPS oleh guru, format observasi kegiatan/aktivitas siswa dalam pelaksanaan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif model TPS, format observasi peningkatan keaktifan siswa, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model TPS dapat meningkatkan keaktifan siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase seluruh aspek keaktifan siswa yang diamati yaitu dari 53.1% pada siklus I yang jika diklasifikasikan ke dalam persentase keberhasilan tindakan termasuk dalam kategori cukup menjadi 64% pada siklus II dan jika diklasifikasikan ke dalam persentase keberhasilan termasuk dalam kategori baik. Jadi persentase keaktifan mengalami peningkatan sebesar 10.9%. Sedangkan untuk keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model TPS oleh guru juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus ke II yaitu dari 69.7% menjadi 90.8% dengan peningkatan sebesar 21.1%. hal ini mengindikasikan bahwa guru sudah dapat melaksanakan pembelajaran sejarah dengan menggunakan model TPS dengan baik. Dan untuk pelaksanaan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif model TPS oleh siswa mengalami peningkatan sebesar 11.9 %. Dari persentase sebesar 66.7% pada siklus I menjadi 78.6 % pada siklus II. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa telah memahami dan dapat melaksanakan tahapan- tahapan pembelajaran kooperatif model TPS dengan baik. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti sebagai berikut: (1) Bagi guru, model pembelajaran ini baru diterapkan pada materi perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Islam dan kolonial Eropa, jadi perlu juga diterapkan pada materi yang lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya hasil dari pekerjaan siswa baik dalam tahap think maupun pair harus dinilai dan dikembalikan pada siswa. Hal ini dilakukan agar siswa dapat mengukur kemampuan dirinya dan merasa pekerjaannya dihargai. (2) Bagi siswa, siswa harus lebih kooperatif dengan guru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan memahami dan melaksanakan aturan dalam setiap tahapan pembelajaran kooperatif model TPS, (3) Bagi penelitian selanjutnya, peneliti selanjutnya dapat menerapkan metode pembelajaran kooperatif model TPS pada subjek penelitian lainnya untuk mengatasi permasalahan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, peneliti dapat melakukan eksperimen dengan membandingkan efektifitas antara pembelajaran model TPS dengan model pembelajaran lainnya. serta dapat menetapkan kriteria penilaian agar dapat diketahui setiap kualitas dari kegiatan/keaktifan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran kooperatif model TPS di kelas.

Peningkatan kreativitas penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan hasil belajar dalam pembelajaran pendidikan IPS-Geografi di SD melalui metode pemberian tugas bagi mahasiswa DII PGSD di Blitar / Suminah

 

ABSTRAK Suminah. 2008. Peningkatan Kreativitas Penyusunan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Pendidikan IPS-Geografi di SD melalui Metode Pemberian Tugas bagi Mahasiswa DII PGSD di Blitar. Tesis, Program Studi Pendidikan Geografi, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sumarmi, M.Pd.; (II) Dr. Agus Suryantoro, M.Si. Kata Kunci: kreativitas, rancangan pelaksanaan pembelajaran, hasil belajar. Pemilihan pembelajaran untuk menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan hasil belajar melalui metode pemberian tugas bagi mahasiswa D-II PGSD dilatarbelakangi oleh permasalahan belum kreatifnya mahasiswa bagi calon guru dalam membuat indikator, menyusun skenario pembelajaran, mengembangkan materi, menentukan media, menyusun evaluasi, atau komponen-komponen dalam RPP yang ditargetkan dalam GBPP. Hal tersebut disebabkan dalam pembelajaran belum menggunakan metode dan strategi yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui metode pemberian tugas agar mahasiswa dapat menuangkan ide-ide atau gagasannya, (2) meningkatkan hasil belajar dalam menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui metode pemberian tugas agar mahasiswa dapat mengimplementasikan deskriptor-deskriptor yang ada dalam RPP. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus secara berdaur meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pemantauan, (4) perefleksian. Kegiatan perefleksian dilakukan setiap akhir siklus dan dijadikan pedoman untuk perbaikan serta rancangan tindakan pada siklus berikutnya. Tahap pelaksanaan penelitian dilakukan secara kolaboratif antara dosen (peneliti) dengan dosen sejawat (pemantau). Hasilnya dapat direkonstruksikan dengan baik. Penelitian dilaksanakan di kampus PGSD Blitar, dengan sasaran 40 mahasiswa semester 4 tahun akademik 2007/2008. Peningkatan kreativitas dan hasil belajar menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan dengan: (1) pemberian informasi; (2) tanya jawab; (3) pemberian tugas; dan (4) hasil belajar, agar memperoleh hasil yang maksimal. Hasil analisis data tentang kreativitas menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bahwa setiap siklus mengalami kenaikan, yaitu: dari siklus I ke siklus II sebesar 30 persen, siklus II ke siklus III pertemuan 1 sebesar 10 persen, siklus III pertemuan 1 ke siklus III pertemuan 2 sebesar 25 persen, karena waktu yang diberikan lebih dari tiga jam pelajaran (PR). Sedang hasil analisis data tentang hasil belajar menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bahwa setiap siklus mengalami kenaikan, yaitu: dari siklus I ke siklus II naik sebesar 10 persen, siklus II ke siklus III pertemuan 1 sebesar 30 persen, siklus III pertemuan 1 ke siklus III pertemuan 2 sebesar 40 persen, waktu yang diberikan sangat panjang (sebagai PR). Berdasarkan hasil pembahasan, disimpulkan bahwa ada peningkatan kreativitas dan hasil belajar menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pemberian informasi, tanya jawab, pemberian tugas, dan hasil belajar. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat membawa pembelajaran menjadi aktif dan kreatif, mahasiswa dapat menuangkan ide-ide dan gagasannya dalam menyusun RPP. Oleh sebab itu disarankan bagi mahasiswa (calon guru) dapat menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara rutin sebagai tugas sebelum mengajar, agar memiliki kreativitas.

Pengaruh penerapan pembalajaran kooperatif model TGT (Taems-Ganes Tournament) terhadap tingkat motivasi dan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS bidang sejarah kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang / Bustanuddana

 

Pemilihan metode pembelajaran yang tepat, sangat membantu hasil belajar dan memotivasi belajar siswa. Guru mendapat kebebasan dalam memilih metode pembelajaran yang digunakan. Selama ini pelajaran sejarah lebih sering diajar dengan menggunakan metode ceramah yang menuntut siswa bersikap pasif (teacher centered). Salah satu metode yang menekankan pada keaktifan siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang sering digunakan adalah dengan diskusi. Di mana dalam diskusi yang dilakukan peserta diskusi diusahakan beragam (heterogen). Beragam dalam artian bahwa dalam satu kelompok masing-masing individu berbeda dalam hal kemampuan kognitif, jenis kelamin, latar belakang sosial maupun budaya. Hal tersebut dimaksudkan supaya mereka saling bertukar pengalaman dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini diujicobakan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen sekaligus menggembirakan siswa dengan permainan. Metode tersebut adalah pembelajaran kooperatif model TGT. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Singosari dikarenakan pada saat PPL, peneliti melihat adanya permasalahan pada kegiatan pembelajaran mata pelajaran IPS bidang Sejarah. Peneliti melihat kurang adanya antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS bidang Sejarah, bahkan hampir semua siswa tidak memperhatikan guru saat mengajar. Mereka ada yang ngobrol sendiri, tidur, mengerjakan tugas mata pelajaran lain. Hal inilah yang menggerakkan hati peneliti untuk mengadakan penelitian di SMPN 1 Singosari dengan menggunakan salah satu metode yang belum pernah diterapkan di sekolah tersebut, yaitu metode kooperatif model TGT. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif model TGT terhadap tingkat motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS bidang sejarah kelas VIII di SMPN 1 Singosari Malang? (2) Bagaimana perbedaan tingkat motivasi dan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model TGT dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah pada mata pelajaran IPS bidang sejarah kelas VIII di SMPN 1 Singosari? Penelitian ini merupakan eksperimen tidak murni (quasi experiment). Rancangan penelitian yang dipilih adalah model pre-test post-test group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang tahun ajaran 2007/2008. Sampel dalam penelitian ini i adalah siswa kelas VIII D sebagai kelas kontrol dan siswa kelas VIII A sebagai kelas eksperimen. Uji prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan dua rata-rata. Sedangkan uji hipotesisnya menggunakan uji t. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa motivasi belajar sejarah siswa SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajar menggunakan metode konvensional. Dari hasil analisis pula diketahui bahwa prestasi/hasil belajar sejarah siswa SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran konvensional model ceramah.

Pembuatan blus dan rok dengan teknik quilting / Rina Ulfayanti

 

Model perangkat akting dalam pembelajaran drama bagi siswa SMA / Dyah Putri Ekowati

 

ABSTRAK Ekowati, Dyah Putri. 2008. Model Perangkat Akting dalam Pembelajaran Drama Bagi Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd. Kata kunci: model, perangkat pembelajaran, akting, drama. Salah satu kompetensi yang dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah kompetensi drama. Pengembangan kompetensi di bidang seni drama dimaksudkan untuk mengembangkan kompetensi siswa dalam bidang apresiasi, pementasan, dan penulisan krestif naskah drama. Salah satu hal penting dalam pembelajaran drama adalah pementasan drama. Di dalam pementasan, ada hal yang sangat penting, yaitu akting. Dalam membelajarkan akting harus ada sebuah model yang sesuai untuk digunakan dalam pembelajarannya. Model adalah rancangan yang dengan sengaja dibuat untuk menampilkan suatu wujud tertentu. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan buku ajar adalah perangkat pembelajaran yang dibutuhkan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru. Perangkat pembelajaran sebaiknya memuat materi yang dapat digunakan sebagai bekal untuk mempelajari materi berikutnya. Dalam penelitian ini, khususnya pada pembelajaran drama. Selanjutnya yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini bahwa, fakta di lapangan menunjukkan bahwa materi drama yang digunakan di SMA belum memadai. Selain itu, guru juga kesulitan dalam membelajarkan materi drama. Hal ini dikarenakan minat siswa terhadap drama masih rendah. Bahkan untuk mencari sumber belajar yang relevan guru mengalami kesulitan. Sumber belajar yang dimaksud adalah buku ajar yang dapat digunakan sebagai penunjang kompetensi yang ditargetkan, yaitu tentang akting. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah: (1) mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran akting, dan (2) mengembangkan bahan ajar akting. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model prosedural . Model prosedural dikembangkan berdasarkan desain model sistem Dick dan Carey (1985). Prosedur dalam pengembangan perangkat pembelajaran akting ini terdiri atas tiga tahap kegiatan yang meliputi: (1) tahap persiapan, (2) tahap pengembangan produk, dan (3) tahap uji coba. Tahap persiapan dilakukan dengan cara melakukan observasi pada beberapa buku tentang drama dan pembelajarannya, observasi pada para siswa SMA mengenai kemampuan mereka berakting dalam drama, dan melakukan i wawancara pada beberapa guru SMA bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Tahap pengembangan produk yaitu dengan cara mengembangkan praproduk rencana pelaksanaan pembelajaran dan praproduk buku ajar. Sedangkan tahap uji coba dilakukan kepada ahli dan praktisi drama dan pada sepuluh siswa SMA. Berdasarkan tahapan uji coba tersebut, didapatkan beberapa masukan dari pihak-pihak tersebut sehingga menjadi sebuah pertimbangan untuk dilakukan perbaikan ataukah mempertahankan produk yang diujikan tersebut. Hasil pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah bahwa sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran itu harus memiliki komponen- komponen di antaranya adalah identitas RPP, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode, langkah pembelajaran, media , sumber belajar, dan penilaian. Berdasarkan komponen- komponen tersebut sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran dikatakan telah sesuai apabila memenuhi kriteria yaitu: (1) kesesuaian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator; (2) kesesuaian tujuan pembelajaran, (3) kesesuaian pengembangan materi pembelajaran, (4) ketepatan metode pembelajaran, (5) ketepatan langkah-langkah pembelajaran, (6) ketepatan sumber belajar dan media, (7) ketepatan penilaian. Buku ajar dikatakan telah sesuai untuk digunakan apabila memenuhi syarat ketepatan isi, kedalaman isi, keluasan isi, ketepatan penggunaan bahasa, ketepatan organisasi penyajian, dan kreativitas penyajian. Buku ajar dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pertama, kedua, dan ketiga. Bagian pertama adalah buku ajar yang membahas mengenai vokal. Bagian kedua adalah buku ajar yang membahas mengenai ekspresi. Sedangkan bagian ketiga adalah buku ajar yang membahas mengenai gerak. Pada masing-masing bagian dalam buku ajar tersebut terdapat tiga tahap, yaitu tahap kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan lanjutan.. Pada masing-masing buku ajar tersebut selalu ada pemberian petunjuk penggunaan bahan, teori tentang buku yang sedang dibahas, dan tahan- tahapan latihan. Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian pengembangan ini, antara lain; (1) guru dapat lebih selektif dalam memilih buku ajar yang sesuai dengan pembelajaran dan lebih bereksplorasi lagi dalam hal pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) siswa memiliki kemampuan berakting dengan baik dengan memanfaatkan sarana yang ada, seperti buku-buku ajar yang telah tersedia, (3) penulis bahan ajar memiliki pengetahuan yang lebih luas sehingga dapat menulis buku ajar yang lebih variatif dan efisien, dan (4) penulis kurikulum mengecek ulang standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga dapat memaparkan kompetensi dasar secara lebih detail.

Keefektifan evaluasi terpadu bagi sekolah berbasis keagamaan: studi kasus pada yayasan Mardi Wiyata Malang / Paulus Banggur

 

ABSTRAK Banggur, Paulus, 2008, Keefektifan Evaluasi Terpadu bagi Sekolah Berbasis Keagamaan: Studi Kasus pada Yayasan Mardi Wiyata Malang, Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing I: Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, dan Pembimbing II: Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata kunci: keefektifan evaluasi, evaluasi terpadu, sekolah berbasis keagamaan. Rendahnya mutu keluaran pendidikan di Indonesia saat ini merupakan masalah serius yang memerlukan pemecahan secara bersama dan terintegrasi. Dalam hal ini sekolah sebagai institusi pendidikan formal merupakan kunci pokok yang harus dijadikan prioritas solusi. Perlu disadari pula, bahwa mutu keluaran pendidikan sangat ditentukan oleh mutu manajemennya yang meliputi kegiatan perencanaan, penyusunan program, pengorganisasian, pelaksanaan/penggerakan, pengawasan, dan evaluasi. Dua hal terakhir ini hampir merupakan titik lemah dalam manajemen tradisional yang menganggap bahwa fungsi pengawasan/kontrol dan evaluasi pada setiap proses termasuk lembaga pendidikan, dianggap sebagai upaya mengurangi kebebasan dan kemerdekaan para pelaksana kegiatan tersebut. Pada hal, apabila kedua fungsi manajemen tersebut tidak dilaksanakan dengan baik hampir dapat dipastikan bahwa apabila dalam pelaksanaan program terjadi penyimpangan dan pengorganisasian yang tidak sesuai dengan karakteristik program, maka tujuan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, evaluasi sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, baik ditinjau dari segi profesionalisme tugas pendidikan, proses, dan manajemen pendidikan itu sendiri mengharuskan adanya aktivitas evaluasi. Namun, seiring dengan pelaksanaan otonomi pendidikan dituntut adanya perubahan dalam sistem evaluasi yang bukan saja mengemban fungsi pengawasan, tetapi juga fungsi pembinaan dan pemberdayaan terhadap penyelenggaraan pendidikan. Pengawasan dan pembinaan pendidikan dilakukan baik ditingkat satuan pendidikan atau unit kerja maupun tingkat sub perwakilan. Pengawasan dan pembinaan sebagai bagian dari manajemen harus dijalankan secara seimbang dengan fungsi manajemen lainnya, agar dapat dicapai peningkatan kinerja unit kerja secara optimal. Hal ini mendorong adanya pelaksanaan proses evaluasi yang lebih profesional, obyektif, jujur dan transparansi sebagai rangkaian dari pengawasan, pembinaan dan pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Proses evaluasi terhadap seluruh aspek pendidikan harus diarahkan pada upaya untuk menjamin terselenggaranya layanan pendidikan yang bermutu dan memberdayakan sekolah yang dievaluasi, sehingga dihasilkan lulusan pendidikan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Artinya pihak yang dievaluasi, administrator pendidikan, kepala sekolah, guru, dan peserta didik di dalam suatu unit kerja dapat merasakan bahwa kegiatan evaluasi dapat memberi informasi berbagai kelebihan dan kekurangan, serta memberi arahan yang jelas untuk mencapai mutu lulusan yang lebih baik. Guna mengetahui apakah evaluasi terpadu yang dilaksanakan oleh Yayasan Mardi Wiyata Malang, berdaya guna bagi sekolah-sekolah yang diasuhnya, maka dilakukan penelitian terhadap sekolah-sekolah Mardi Wiyata di Malang dengan fokus keefektifan evaluasi terpadu bagi sekolah berbasis keagamaan: studi kasus pada Yayasan Mardi Wiyata Malang, dengan sub fokus sebagai berikut: (1) Alasan pelaksanaan evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah pada Yayasan Mardi Wiyata Malang. (2) Keefektifan evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah pada Yayasan Mardi Wiyata Malang. (3) Faktor pendukung evaluasi terpadu dan pemberdayaannya. (4) Faktor penghambat evaluasi terpadu dan strategi mengatasinya. Untuk memperoleh data yang diperlukan guna menjawab sub fokus penelitian di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, dan studi dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik bola salju dan diperoleh informan kepala sekolah, guru urusan kurikulum yang merupakan peserta evaluasi terpadu (Espad). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) Pelaksanaan evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah Mardi Wiyata, dengan maksud sebagai pemetaan kekuatan serta antisipasi terhadap penurunan kualitas dan kuantitas peserta didik, sarana peningkatan profesionalisme manajemen sekolah, Sarana untuk analisis SWOT, Sebagai antisipasi terhadap kebijakan pemerintah, sarana evaluasi terhadap pelaksanaan visi dan misi Yayasan maupun sekolah-sekolah, sebagai sarana penyusunan program bersama, sebagai gugus kendali mutu bagi sekolah-sekolah Mardi Wiyata; pelaksanaan espad dilaksanakan setiap dua tahun sekali; Pesertanya para kepala unit kerja dan guru urusan kurikulum; Model pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses dimana semua sekolah dievaluasi dalam kaitannya dengan arah dan tujuannya, serta didasarkan kepada kondisi keseluruhan kondisi sekolah sebagai institusi belajar; Teknik pelaksanaannya setiap unit kerja mempresentasikan jawaban hasil refleksi terhadap keseluruhan londisi sekolah; Espad bermanfaat sebagai alat regulasi diri; (2) Keefektifan evaluasi terpadu bagi sekolah-sekolah pada Yayasan Mardi Wiyata membawa perubahan terhadap penataan program kerja sekolah dan Administrasi sekolah (keuangan), kerja sama, SDM guru - pegawai dan sumber daya lainnya, Kualitas lembaga (prestasi), kinerja guru dan kedisiplinan lembaga; (3) Faktor pendukung espad dan pemberdayaannya yakni faktor internal dari dalam (internal) peserta dan faktor dari luar (External) kegiatannya, Pemberdayaanya melalui sosialisasi kepada warga sekolah, membuat program bersama berdasarkan rekomendasi espad, monitoring dari yayasan, evaluasi internal unit kerja; (4) Faktor penghambat espad dan strategi mengatasinya yakni faktor dari dalam yang berkaitan dengan SDM guru-pegawai, siswa yang belum siap menerima perubahan, faktor dari luar adalah faktor waktu dan teknik pelaksanaan; Strategi mengatasinya adalah melalui upaya pembinaan profesi, pembinaan SDM, seminar, pelatihan/workshop. Sebagai kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa keefektifan evaluasi terpadu bagi sekolah-sekolah pada Yayasan Mardi Wiyata telah membawa perubahan di dalam unit kerja-unit kerja. Perubahan-perubahan itu meliputi penataan progran kerja sekolah (termasuk keuangan) ; kerja sama; input dan output (SDM); kualitas lembaga (prestasi); kinerja dan kedisiplinan kerja guru. Semua hal ini bermuara pada suatu titik harapan yakni menghasilkan output pendidikan sekolah-sekolah Mardi Wiyata yang berkualitas (bermutu). Beberapa saran yang bisa disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: espad sebaiknya tidak hanya dihadiri oleh Para Kepala unit kerja dan guru urusan kurikulum saja, tetapi harus diikuti oleh guru urusan yang lainnya sehingga hasil espad lebih mudah diimplementasikan di lapangan; Materi espad harus aktual, nara sumber espad tidak hanya dari Yayasan Pusat, tetapi nara sumber ahli dari luar Yayasan, yang ahli dalam bidang pendidikan, sehingga lebih diperkaya wawasan peserta; Pengurus yayasan, seyogianya membentuk tim evaluator independen untuk evaluasi terpadu; Pengurus Yayasan pusat, sebaiknya terjun ke unit kerja – unit kerja untuk memonitor sosialisasi dan implementasi hasil espad, terhadap warga sekolah; Yayasan pendidikan lainnya dapat belajar dari Yayasan Mardi Wiyata tentang pentingnya kegiatan evaluasi terpadu guna melihat keefektifan proses belajar mengajar di sekolah; Dinas pendidikan dapat memfasilitasi sekaligus mendukung kegiatan serupa bagi sekolah - sekolah di wilayahnya; Bagi peneliti selanjutnya evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah dapat dikembangkan dengan cara yang lain demi keefektifan sebuah lembaga pendidikan; Mengingat keefektifan espad belum sepenuhnya mengubah wajah unit kerja – unit kerja pada Yayasan Mardi Wiyata Malang, maka diperlukan espad yang berkesinambungan.

Penggunaan diksi dalam berita wisata alam dan budaya di situs wisatanet.com / Fitrianto

 

ABSTRAK Fitrianto, 2008. Penggunaan Diksi dalam Berita Wisata Alam dan Budaya. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Abdul Syukur Gh, M. Pd, dan (II) Dra. Nita Widiati, M. Pd Kata Kunci: penggunaan diksi, berita, wisata alam, wisata budaya Indonesia merupakan negara yang memiliki aset wisata yang sangat besar. Pariwisata sebagai suatu gejala industri seharusnya mampu menopang perekonomian masyarakat serta memberikan dukungan devisa bagi Indonesia. Namun, pada kenyataannya sektor tersebut belum memiliki peranan yang optimal. Salah satu penyebab hal tersebut adalah buruknya sarana publisitas yang salah satunya adalah berita. Untuk itulah perlu dilakukan suatu penelitian terhadap berita wisata. Salah satu unsur yang sangat penting di dalam konteks ini adalah masalah pemilihan kata atau yang lazim disebut diksi. Penggunaan diksi akan berimbas pada kualitas suatu berita. Penggunaan diksi yang tepat di dalam berita wisata akan menentukan keberhasilan berita tersebut sebagai sarana publisitas. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penggunaan diksi di dalam berita wisata. Lebih khususnya adalah mendeskripsikan ragam dan penggunaan diksi. Dengan diperolehnya gambaran tersebut diharapkan nantinya dapat berguna bagi perkembangan dunia pariwisata khususnya sebagai acuan penulisan berita yang baik, serta bagi ilmu kebahasaan terutama yang berkaitan dengan diksi. Fokus permasalahan penelitian ini adalah bagaimana penggunaan diksi dalam berita wisata alam dan budaya dari segi jenis diksi, strategi penggunaan diksi, dan perubahan makna diksi, serta penggunaan diksi pada bagian judul, lead, dan isi berita. Penelitian ini menggunakan desain pendekatan deskriptif kualitatif dengan objek kajian berita-berita wisata yang terdapat di situs wisatanet.com. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengopi dan mendokumentasikan berita-berita dari situs wisatanet.com. Tahapan kerja penelitian ini sebagai berikut, (1) pengumpulan berita wisata yang digunakan sebagai sumber data, (2) pengidentifikasian data, (3) penglasifikasian kata, (4) pengodean, dan (5) penyimpulan hasil penelitian. Hasil analisis data menghasilkan paparan tentang jenis diksi yang sering digunakan pada bagian-bagian berita wisata alam dan budaya. Diksi khusus, kongkret, dan denotatif sering digunakan pada bagian judul. Penggunaan ketiga jenis diksi tersebut dikarenakan berita pariwisata alam dan budaya selain berfungsi memmberikan informasi juga menjadi sarana publisitas. Penggunaan kata umum dalam berita wisata alam dan budaya sering digunakan pada bagian awal (lead) berita, sedangkan kata khusus digunakan pada bagian isi. Penggunaan kata umum pada lead berita tersebut kemudian dijelaskan pada bagian isi berita dengan ruang lingkup yang lebih sempit dan khusus. Selain kata umum, lead berita wisata alam dan budaya juga sering menggunakan diksi kongkret dan denotasi. Diksi kongkret menjadi satu ciri tersendiri dari berita wisata alam dan budaya karena hal-hal yang bersifat khas dalam dunia wisata cenderung bersifat kongkret. Penggunaan kata denotatif dalam berita wisata alam dan budaya banyak digunakan untuk memberi informasi. Penggunaan kata konotasi juga ditemukan sebagai alat untuk menambah nilai rasa oleh penutur berita. Diksi abstrak dan kongkret digunakan dalam berita wisata alam dan budaya hanya sebatas sebagai pemberi informasi. Diksi abstrak digunakan untuk memberi informasi tentang sesuatu yang hanya dapat ditangkap oleh alam pikiran manusia seperti aktivitas wisata. Diksi kongkret digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang dapat ditangkap pancaindera manusia seperti objek-objek wisata. Kata-kata amelioratif dan memberi informasi juga banyak ditemukan pada berita wisata alam dan budaya. Kata-kata yang memberi informasi juga digunakan karena hakekat berita wisata sendiri tak jauh beda dengan berita pada umumnya. Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan untuk meneliti penggunaan diksi di dalam berita wisata khususnya yang berkaitan dengan diksi kongkret dan abstrak, ilmiah dan populer, dan kata-kata indria. Bagi pengelola situs pariwisata di internet, disarankan agar memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai masukan dalam menyusun berita, jurnal, ataupun kalender peristiwa karena penggunaan diksi yang tepat akan berpengaruh pada kualitas berita, jurnal, ataupun kalender peristiwa tersebut.

Persepsi siswa tentang pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran gambar teknik bangunan menggunakan perangkat lunak Autocad Program Keahlian Teknik gambar bangunan di SMKN 1 Singosari / Septyan Hadi Wibowo

 

Perancangan iklan layanan masyarakat tema meningkatkan minat baca masyarakat / Budi Hendra S.

 

Rendahnya minat baca menjadikan kebiasaan membaca rendah, hal tersebut dapat berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang secara langsung menentukan kualitas bangsa. Berdasarkan data yang didapat melalui survey dengan menggunakan kuisioner kepada 100 orang remaja usia 14-16 tahun, tingkat minat baca remaja di kota Malang masih tergolong tinggi dengan prosentase 94%. Walaupun tersisa 6% dengan minat baca yang tergolong rendah, namun tetap perlu untuk dilakukan peningkatan.Dengan demikian untuk lebih meningkatkan minat baca remaja di kota Malang, maka penulis membuat sebuah perancangan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan tema meningkatkan minat baca masyarakat untuk masyarakat kota Malang khususnya remaja. Alasan dipilih remaja sebagai sasaran ILM ini yaitu karena kalangan remaja usia 14-16 tahun sedang dalam fase transisi dari usia anak-anak ke usia pra dewasa (pemuda) dimana mereka sedang dalam proses mencari jati diri dengan rasa ingin tahu yang tinggi yang biasanya diwujudkan dengan mencari sumber-sumber atau tokoh panutan. Buku dan media baca lainnya adalah salah satu sumber yang biasanya dijadikan panutan oleh kalangan remaja. Oleh karena itu tujuan perancangan ini yaitu memperoleh konsep atau rancangan dan menciptakan bentuk media ILM yang dapat lebih meningkatkan minat baca remaja. Perancangan ini diawali dengan mengidentifikasi latar belakang, rumusan masalah, dan menetapkan tujuan perancangan, yang dilanjutkan dengan kegiatan pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara, dan kuisioner. Data diidentifikasi dan di analisis kemudian mulai menetapkan sintesis. Setelah itu dilanjutkan dengan menetapkan konsep perancangan yang terdiri dari perencanaan media, perencanaan kreatif, dan perencanaan tata desain. Setelah itu barulah dilakukan proses produksi dan desain untuk mendapatkan hasil akhir berupa ILM. Media ILM yang digunakan dalam perancangan ini yaitu media utama berupa media televisi dan media pendukung berupa media outdoor.

Perencanaan strategik dan implementasinya dalam peningkatan mutu sekolah target (studi kasus di SMPN 2 Plosoklaten Kabupaten Kediri) / Mutmainnah

 

ABSTRAK MUTMAINNAH, 2008. Perencanaan Strategik dan Implementasinya dalam Peningkatan Mutu Sekolah Target ( Studi Kasus di SMPN 2 Plosoklaten Kabupaten Kediri). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Salladien (2) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata-kata kunci : perencanaan strategik, mutu, sekolah target. Untuk mewujudkan tujuan nasional dalam peningkatan mutu pendidikan, dan menuntaskan program wajib 9 tahun, setiap sekolah sangat membutuhkan perencanaan strategik dalam melaksanakan kegiatannya. Dengan perencanaan strategik dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengarahkan kegiatan sekolah dan dapat dipergunakan sebagai patokan yang harus dipegang oleh semua pihak warga sekolah untuk mencapai tujuan. Karena dengan perencanaan strategik, sekolah akan berkembang menjadi organisasi yang maju dan dapat menjaga kelangsungan eksistensinya di masa-masa yang akan datang. Sehingga dapat dikatakan tanpa suatu perencanaan, organisasi itu akan mengalami kegagalan dalam pencapaian apa yang diharapkan. Penelitian bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang “Perencanaan Strategik dan Implementasinya dalam Peningkatan Mutu Sekolah Target (Studi Kasus di SMPN 2 Plosoklaten Kabupaten Kediri)", dengan fokus yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut: (1) Langkah-langkah dalam menyusun rencana strategik dalam meningkatkan mutu sekolah target, (2) Proses pelaksanaan rencana strategik dalam meningkatkan mutu sekolah target. (3) Faktor hambatan dan pendukung yang dihadapi oleh warga sekolah dalam proses pelaksanaan rencana strategik dalam meningkatkan mutu sekolah target. (4) Perkembangan pelaksanaan rencana strategik dalam peningkatan mutu sekolah target dari tahun 2002 -2006. Untuk menjawab keempat fokus permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus observasional yang bersifat terpancang. Pengumpulan data dilaksanakan dengan (1) wawancara mendalam (2) observasi partisipasi (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Sedang untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan (1) Pengecekan kredibilitas yang pelaksanaannya dengan trianggulasi sumber, trianggulasi metode, pengecekannya anggota dan diskusi teman sejawat, (2) dependabilitas, dan (3) konfirmabilitas. Analisis data yang diperoleh dari temuan-temuan peneliti dapat diungkapkan sebagai berikut : (1) Langkah-langkah dalam menyusun rencana strategik dalam meningkatkan mutu sekolah target antra lain dengan: (a) Pembentukan Tim/panitia, (b)Tim/panitia tersebut yang membuat draf renstra dengan langkah sebagai berikut: menyusun visi, misi dan tujuan, identifikasi tantangan nyata, menentukan sasaran sekolah, identifikasi fungsi-fungsi sasaran, analisis SWOT, identifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah, menyusun program peningkatan mutu yaitu dengan menyusun program kerja tahunan, menengah dan panjang , menyusun anggaran dan yang terakhir menyusun jadwal kegiatan. (c) setelah rentra disetujui baik pihak sekolah dan BP-3, renstra tersebut disosialisasikan pada waktu rapat dinas untuk sekolah dan pada waktu rapat pleno BP-3 oleh Ketua BP3 untuk orang tua siswa, baru kemudian ditetapkan renstra tersebut dengan ditanda tangani oleh Kepala Sekolah dan Ketua BP-3. Hal ini mengandung arti bahwa proses perencanaan terjadi koordinasi dan kumunikasi yang baik diantara warga sekolah. (2) Perencanaan strategik dan implementasinya baik mulai perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengevaluasi, dengan mengedepankan koordinasi komunikasi terbuka diantara warga sekolah. Keterbukaan semua pihak warga sekolah dalam ide, gagasan, pendapat, informasi, kepercayaan dan kekompakan memudahkan menyusunan renstra dan pelaksanaanya, serta keinginan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Evaluasi dilaksanakan berdasarkan tujuan masing-masing program yang telah disusun sebelumnya dan sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan (3.1) Factor penghambat dalam pelaksanaan renstra dilihat dari dua sudut pandang yaitu: (3.1.1) dilihat dari pelaksanaan rentra (program kerja) adalah, tempat ibadah (musholla) kurang memadai, kesulitan mencari sumber air bersih, pembina agama, olah raga dan tenaga perpustakaan kurang memadai, sebagian siswa ada yang kurang disiplin dan tingkat kecerdasan yang kurang, media KBM kurang memadai khususnya pelajaran IPA belum ada laboratorium sedangkan (3.1.2) dilihat dari pelaksana renstra baik pada waktu disusun renstra maupun di implementasikan berasal dari perencana, Kepala sekolah (individual based barrier) dan dari para guru, karyawan dan siswa (organizational based barrier). Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi hambatan dengan langkah-langkah kongrit diantaranya: perencana diharapkan dapat melakukan perencanaan yang sebaik-baiknya. Sedangkan para guru dan karyawan tata usaha diminta untuk dapat memahami dampak perubahan yang ditimbulkan dari perencanaan strategik yang telah disusun, Sebaliknya (3.2) faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaan renstra yang dilakukan pihak sekolah yaitu dengan pemberian motivasi guru, karyawan dan siswa, menjalin hubungan dengan orang tua siswa, memelihara hubungan kekompakan diantara warga sekolah, partisipasi warga sekolah dan masyarakat cukup tinggi. (4) Perkembangan implementasi rencana strategik dalam meningkatkan mutu sekolah target. Peningkatan prestasi akademik pada program jangka menengah I (4 tahun) tahun 2002-2006, 220 % dan prestasi non akademik 21 % dari target minimal, hal ini mengandung makna bahwa Kepala sekolah didelegasikan untuk melakukan kegiatan pengelolaaan proses KBM, perencanaan dan evaluasi program kerja dan pengelolaan kurikulum oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri melalui program sekolah target. Pemberian dana sarana dan prasarana serta kesempatan ikut pelatihan bagi guru dan kepala sekolah yang diadakan oleh Proyek PPM Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan agar : (1) faktor pendukung rentra hendaklah dipertahankan dan faktor hambatan hendaklah ditindak lanjuti dengan pemecahan masalah. (2) Khusus siswa kecerdasan kurang hendaklah ada perlakuan khusus dengan program remedi yang efektif dan efisien. Dan (3) sekolah meningkatkan SDM guru dan tenaga administrasi agar dapat membantu memikirkan dan melaksanakan peningkatan mutu sekolah selanjutnya.

Pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di kelas VII MTsN I Malang / Reni Ike Sulistyowati

 

Keterampilan menulis pesan singkat termasuk salah satu kompetensi dasar KTSP di tingkat SMP/MTs khususnya kelas VII. Pembelajaran menulis pesan singkat tidak terlepas dari tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi, baik secara lisan atau tertulis. Kompetensi menulis pesan singkat tercantum dalam KTSP. Sesuai dengan kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum 2006 atau disebut dengan KTSP. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masingmasing satuan pendidikan. Oleh karena itu, dengan adanya kebebasan untuk menyusun kurikulum di tiap satuan pendidikan, guru diharapkan mampu melaksanakan pembelajaran menulis pesan singkat sesuai dengan lingkungan sekitar dan karakteristik siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di kelas VII MTsN Malang I. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan perencanaan pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di MTsN Malang I, (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di MTsN Malang I, (3) mendeskripsikan kegiatan penilaian pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di MTsN Malang I, dan (4)mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di MTsN malang I. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan bentuk penelitian deskriptif. Data penelitian ini berupa kata-kata, deskripsi tindakan, dan dokumen. Sumber data penelitian ini adalah informan, peristiwa berlangsungnya KBM yang dikelola oleh guru, dan dokumen atau arsip seperti silabus dan RPP. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri. Instrumen lain berupa panduan studi dokumentasi, panduan wawancara, dan panduan observasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara observasi partisipasi pasif, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan pertama, perencanaan pembelajaran menulis pesan singkat di kelas VII MTsN Malang I ditinjau dari penyusunan silabus dan RPP sudah sesuai dengan komponen-komponen pengembangan RPP dan silabus dalam KTSP. Kedua, pelaksanaan pembelajaran menulis pesan singkat kelas VII MTsN Malang I tidak sesuai dengan KTSP, disamping itu dalam pelaksanaannya tidak sinkron dengan RPP dan Silabus. Ketiga, kegiatan penilaian pembelajaran menulis pesan singkat kelas VII MTsN Malang I sudah sesuai dengan KTSP dan berpedoman pada PBK. Keempat, faktor pendukung dan penghambat pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP terdiri dari tiga aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Faktor pendukung pada perencanaan adalah adanya kerjasama guru mata pelajaran dalam menyusun dan mengembangkan RPP dan silabus, pada pelaksanaan adalah lingkungan sekolah yang kondusif dan media pembelajaran menulis pesan singkat yang beragam, dan pada penilaian pembelajaran menulis pesan singkat adalah adanya kebebasan bagi guru untuk mengembangkan serta menentukan indikator-indikator sesuai dengan kebutuhan lingkungan sekitar. Faktor penghambat pada aspek perencanaan adalah guru tidak mengalami hambatan, pada pelaksanaan adalah siswa merasa kesulitan untuk menerapkan ide ke dalam bentuk tulisan dan guru kurang bisa mengalokasikan waktu pembelajaran dengan tepat, dan pada kegiatan penilaian adalah terbatasnya waktu penilaian serta jumlah siswa yang terlalu banyak.Dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut. Pertama, guru Bahasa dan Sastra Indonesia diharapkan dapat mengalokasikan waktu pembelajaran dengan tepat supaya tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran menulis pesan singkat yang tercantum dalam RPP dapat dilaksanakan. Kedua,disarankan kepada peneliti selanjutnya supaya meneliti pembelajaran menulis pesan singkat berdasarkan KTSP di sekolah yang berbeda. Ini dimaksudkan agar hasil penelitian berbeda dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis pesan singkat serta menjadi acuan bagi para peneliti selanjutnya.

Karakteristik terminologi debit sungai di daerah aliran sungai Brantas Hulu / Arik Winarno

 

Informasi tentang karakteristik debit sungai diperlukan dalam pengelolaan debit. Untuk mengetahui informasi karakteristik debit sungai berdasarkan terminologinya dibagi menjadi 5 musim yaitu musim kering, musim rendah, musim normal, musim cukup, dan musim lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetah karakteristik terminologi debit sungai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas Hulu dan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para petani untuk menentukan pola tanam. Karakteristik debit sungai berdasarkan terminologinya dilakukan di sungai Brantas Hulu. Data debit yang diteliti diperoleh dari data sekunder pada stasiun Tawangrejeni dan Stasiun Gadang yaitu tahun 1991, 1996, 2001, dan 2006. Metode yang digunakan untuk analisis trend dengan menggunakan uji Kruskal – Wallis. Berdasarkan hasil perhitungan, besar debit musim kering 10,02 m3/dt, debit rendah 14,27 m3/dt, debit normal 19,69 m3/dt, debit cukup 28,07 m3/dt, debit lebih 44,20 m3/dt. Pada debit musim kering tidak ada trend, debit rendah sulit diprediksi, debit normal sulit diprediksi, debit cukup sulit diprediksi, debit lebih tidak ada trend. Jumlah kejadian debit sebanyak; debit musim kering 12 hari, debit rendah 74 hari, debit normal 67 hari, debit cukup 53 hari, debit lebih 68 hari. Trend jumlah kejadian debit musim kering sulit diprediksi, debit rendah tidak ada trend, debit normal sulit diprediksi, debit cukup tidak ada trend, dan debit lebih tidak ada trend. Dengan melihat hasil dari pengujian dapat disimpulkan bahwa pada sungai Brantas Hulu kondisi dalam keadaan rusak tidak terlalu parah. Bagi para petani pada waktu menanam padi disarankan dimulai pada bulan Januari sampai dengan April karena terjadi musim penghujan, dan penanaman palawija disarankan dimulai pada bulan Juli, September, Oktober November karena terjadi musim kering (kemarau).

The implementation of learning community to improve the second year students' speaking ability at MTsN model Padang / Delfaleny

 

This study is aimed at improving the speaking ability of the second year students of MTsN Model Padang by using Learning Community strategy, one of the elements in Contextual Teaching and Learning. This strategy is chosen since it provides practices and meaningful activities necessary for learning to communicate in the target language. The research problem is how Learning Community Strategy can be implemented to improve the second year students’ speaking ability at MTsN Model Padang. This study employs collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborator teacher work together in designing the lesson plan, observing, and making reflection. This research is conducted in a cyclic process starting from planning of the action, implementation of the action, observation and reflection. This research uses qualitative and quantitative data. The qualitative data are obtained from the observation forms, field notes, and interview guide. The quantitative data are obtained from performance assessments. The results of the study reveal that the implementation of the Learning Community strategy has improved the students’ speaking ability. It is revealed through the students’ involvement (81, 83% at the last meeting of cycle 3) and performance assessment (the average score 74, 86 at the third assessment). It is also revealed that there are some procedures of the Learning Community strategy that have improved the students’ speaking ability. The procedures are showing pictures and giving questions to lead the students to the topic, dividing the students into groups, making the topic related with the students real life, giving a clear instruction, clarifying the difficult words and discussing the words, modeling the expected result of the task, leading the classical discussion, presentation, making reflection toward the things that the students just have in the process of the teaching and learning in the classroom. With the findings, it can be inferred that Learning Community strategy is not only effective in improving the students’ speaking ability but also in enhancing their involvement in the learning process. Therefore, it is suggested that the English teachers apply Learning Community strategy since it is beneficial not only in improving the speaking ability but also in motivating students to speak and work together. Further, it is also suggested that the English teachers consider Learning Community strategy-related aspects in teaching speaking so as to achieve the expected outcome. Finally, it is suggested that further researches be done with applying Learning Community strategy in other language skills such as listening, reading, or writing.

Pengembangan model pembelajaran tematik keaksaraan fungsional (functional literacy): studi pengembangan pada komunitas pekerja sektor informal perkotaan di wilayah Kelurahan Arjowinangun Kota Malang / Harun Ahmad

 

Pendidikan keaksaraan sebagai bagian pendidikan non formal yang dimaksudkan untuk memberikan layanan pendidikan kepada warga masyarakat guna mengembangkan kemampuannya. Disamping itu program pendidikan keaksaraan merupakan salah satu program Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PLSP Depdiknas dalam rangka memberantas buta huruf di seluruh Indonesia. Dengan adanya program ini Pemerintah berupaya menyadarkan, memotivasi, dan membantu masyarakat tertinggal agar terbebas dari buta aksara yang selalu terkait erat dengan masalah kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Hasil temuan beberapa penelitian pendahulu menunjukkan bahwa tidak semua Kelompok Belajar Keaksaraan Fungsional (Kejar KF) berhasil atau “dipaksakan“ untuk berhasil, tetapi secara kenyataan di lapangan banyak juga Kejar KF yang gagal. Namun belum pernah terjawab mengapa ada Kejar KF yang gagal dan berhasil serta apa saja menyebabkan kegagalan dan keberhasilan tersebut. Untuk itu dilaksanakan penelitian di Kecamatan Susun untuk memperoleh jawaban – jawaban sekaligus gambaran yang jelas tentang hal – hal yang menyebabkan kegagalan dan keberhasilan Kejar KF. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik Kelompok Belajar KF yang gagal dan berhasil di Kecamatan Susun, dan (2) mengetahui apa yang menyebabkan kegagalan dan keberhasilan Kelompok Belajar Keaksaraan Fungsional di Kecamatan Susun. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data dilaksanakan dengan tiga tehnik, yakni dengan: (1) wawancara mendalam, (2) observasi peran serta, dan (3) studi dokumentasi. Sumber data utama dari penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subyek penelitian atau informan yakni dari warga belajar, tutor, penyelenggara, dan Penilik Dikmas. Sedangkan sebagai sumber pendukung adalah dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam tiga cara agar data menjadi penuh makna yakni reduksi data, display data, kesimpulan/verifikasi. Berdasarkan pada hasil penelitian, ditemukan bahwa: (1) karakteristik kelompok belajar yang gagal yakni: (a) penampilan hanya untuk menandakan bahwa di tempat tersebut terdapat kelompok belajar Keaksaraan Fungsional, (b) kehadiran warga belajar kurang dari 50 % setiap bulannya dalam kegiatan pembelajaran, (c) warga belajar kurang aktif dalam proses pembelajaran, (d) kehadiran tutor kurang dari 50 % setiap bulannya dalam kegiatan pembelajaran, (e) kelompok belajar jarang melaksanakan kegiatan pembelajaran dan tutor tidak memiliki persiapan mengajar, (f) kelompok belajar tidak tertib dan lengkap dalam melaksanakan administrasi kelompok belajar; karakteristik kelompok belajar yang berhasil yakni: (a) memiliki penampilan yang lebih dari sekedar untuk menandakan bahwa di tempat tersebut terdapat kelompok belajar Keaksaraan Fungsional, (b) kehadiran warga belajar lebih dari 80 % dalam kegiatan pembelajaran setiap bulannya, (c) warga belajar aktif dalam proses pembelajaran, (d) kehadiran tutor lebih dari 80 % dalam kegiatan pembelajaran setiap bulannya, (e) kelompok belajar tertib dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan tutor memiliki persiapan mengajar yang baik, (f) kelompok belajar tertib dan lengkap dalam melaksanakan administrasi kelompok belajar, dan (2) penyebab kegagalan yakni: (a) adanya Keaksaraan Fungsional hanya untuk formalitas, (b) kurangnya motivasi belajar warga belajar, (c) kurangnya motivasi tutor, (d) program bukan kebutuhan warga belajar, (e) kemampuan mengajar tutor rendah, (f) pekerjaan sehari-hari tutor tidak relevan dengan tugasnya, (g) kurangnya pengawasan dan pembinaan penyelenggara, (h) ketidakpuasan tutor terhadap gaji, dan (i) rendahnya kinerja tutor; Sedangkan penyebab keberhasilan yakni: (a) tidak sekedar memenuhi formalitas saja tetapi lebih pada kualitas pelaksanaan program, (b) tingginya motivasi belajar warga belajar, (c) tingginya motivasi tutor, (d) kemampuan mengajar tutor tinggi, (e) pekerjaan sehari-hari relevan dengan tugasnya, (f), program bermanfaat bagi warga belajar, (g) pembinaan dari penyelenggara, (h) kemampuan tutor dalam mengelola pembelajaran, dan (i) tingginya kinerja tutor. Berdasarkan temuan diatas, maka disarankan yaitu: (a) dalam perekrutan tutor diharapkan lebih selektif seperti memperhatikan kemampuan mengajar yang dimiliki, dan pekerjaan sehari-hari relevan dengan tugas sebagai tutor seperti guru, (b) memperhatikan insentif bagi tutor sesuai tugas yang diembannya, dan apabila ada penguapan dalam aliran dana sehingga mempengaruhi gaji tutor maka perlu dicarikan solusi yang baik bagi penyelenggara seperti dana langsung didistribusikan kepada penyelenggara tingkat lapangan, bukan tingkat Kabupaten, (c) perlunya rewards bagi kelompok belajar yang berhasil, rewards dapat berupa program Keaksaraan Fungsional lanjutan.

Penerapan pembelajaran model STAD untuk meningkatkan pemahaman fungsi linier siswa kelas X SMK Singhasari Kota Malang / Sumadji

 

Pembelajaran konvensional yang sering dilakukan pembelajar, didominasi oleh ceramah dan cara-cara yang mengedepankan pemberian pengetahuan prosedural. Dengan pembelajaran seperti itu, tidak akan cukup untuk membuat siswa memahami matematika secara bermakna. Oleh karena itu, hendaknya siswa diberdayakan aktif terlibat dalam membangun pengetahuan matematika dengan pengalamannya dalam suatu pembelajaran. Pembelajaran yang memberi kesempatan siswa aktif membangun penge-tahuan matematika dapat terwujud dalam pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams-Achievement Divisions). Pembelajaran STAD adalah pembelaja-ran kooperatif yang membagi siswa ke dalam kelompok kecil masing-masing terdiri atas 4 orang yang bersifat heterogen dalam kemampuan akademik, etnik dan jenis kelamin serta menempuh tahap-tahap tertentu. Berdasarkan pengalaman mengajar bertahun-tahun, peneliti dapat me- ngetahui bahwa siswa SMK Singhasari tidak memahami secara baik materi “pe-nerapan fungsi linier”. Keprihatinan ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian kualitatif yang difokuskan pada “bagaimana penerapan pembelajaran model STAD untuk meningkatkan pemahaman fungsi linier siswa kelas X SMK Singhasari Kota Malang?” Penelitian ini dianggap berhasil apabila skor proses pembelajaran dan skor hasil belajar siswa telah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu skor proses pembelajaran terletak pada interval 75% 100%, skor hasil belajar dari 85% atau lebih siswa mendapatkan skor sedikitnya 65%, dan terjadi peningkatan pe-mahaman siswa selama proses pembelajaran. Dari hasil wawancara diketahui bahwa siswa masih membuat kesalahan matematika sekolah dasar dan terbiasa bekerja tidak teliti. Diperoleh skor rerata proses pembelajaran 89,76% dan hasil belajar siswa 83,29 yang keduanya telah mencapai batas kriteria keberhasilan. Sedangkan akumulasi peningkatan pema-haman siswa terhadap materi ajar adalah 18,78%. Akhirnya penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran model STAD dapat meningkatkan pemahaman fungsi linier siswa kelas X SMK Singhasari Kota Malang dengan tambahan pemberian pekerjaan rumah dan penggunaan soal subyektif pada setiap kuisnya.

Peningkatan kemampuan siswa kelas X.2 SMA Taruna Dra. Zulaeha Probolinggo dalam menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita / Devi Eka Nurjawati

 

Masalah mendasar pada pembelajaran menulis karangan eksposisi di kelas X.2 SMA Taruna Dra. Zulaeha (TDZ) Probolinggo adalah (1) masih kurangnya kemampuan siswa dalam menulis karangan eksposisi dan (2) tidak menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis karangan eksposisi. Penelitian ini dilaksanakan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran eksposisi di kelas X.2 SMA Taruna Dra. Zulaeha Probolinggo, khususnya yang berkaitan dengan hasil belajar sehingga hasil belajar siswa dalam menulis karangan eksposisi dapat meningkat. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita pada siswa. Hal ini nantinya untuk mendeskripsikan bagaimana peningkatan kemampuan hasil belajar siswa kelas X.2 SMA Taruna Dra. Zulaeha dalam pembelajaran menulis karangan eksposisi. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Data penelitian ini terdiri dari data proses pembelajaran menulis karangan eksposisi dan data hasil kemampuan siswa dalam menulis karangan eksposisi dari aspek (1) judul, (2) pengembangan paragraf, dan (3) penggunan ejaan dan tanda baca. Sumber data penelitian ini adalah guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas X.2 SMA Taruna Dra. Zulaeha Probolinggo. Instrumen penelitian ini terdiri dari instrumen utama dan instrumen penunjang. Instrumen utama dalam penelitian ini yaitu peneliti, sedangkan instrumen penunjang dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan pedoman penilaian hasil belajar siswa. Hasil penelitian pada pretes diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis karangan eksposisi masih tergolong kurang. Hal ini ditandai dengan rata-rata kelas dalam menulis karangan eksposisi belum mencapai standar minimal (70%) yaitu hanya 66,06% dengan tingkat keberhasilan 41,17%. Untuk itu perlu adanya tindakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan eksposisi. Untuk itu, tindakan yang diberikan supaya kemampuan siswa dalam menulis karangan eksposisi dapat meningkat dengan menggunakan media pembelajaran yang berupa teks berita dalam pembelajaran menulis karangan eksposisi. Hasil penelitian pada tindakan siklus I diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis karangan eksposisi yaitu 78,56% dengan tingkat keberhasilan 79,41. Diketahui dari hasil refleksi, ternyata masih ada siswa yang kesulitan dalam hal: (1) membuat judul, (2) memaparkan informasi, (3) menciptakan kesatupaduan karangan, (4) menggunakan piranti kohesi, (5) membuat ketegasan dalam karangan, dan (6) menggunakan ejaan dan tanda baca yang disesuaikan. Hal ini karena siswa belum memahami betul apa saja aspek yang perlu diperhatikan dalam menulis sebuah karangan eksposisi.Dari hasil refleksi dan identifikasi masalah, perlu adanya upaya perbaikan pada penyampaian materi, khususnya mengenai teknik penulisan karangan eksposisi. Setelah dilakukan perbaikan dalam proses pembelajaran menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita, maka dilakukan tindakan siklus II. Hasil postes siklus II ini ada peningkatan. Rata-rata kelas mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 4,65% menjadi 83,21% dengan tingkat keberhasilan sebesar 100%. Berikut ini merupakan peningkatan kemampuan siswa untuk setiap komponen penilaian.(1) Kemampuan siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita pada aspek perumusan judul mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 1,47% dengan tingkat keberhasilan 88,34% pada postes siklus II. (2) Peningkatan hasil belajar siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita pada aspek pengembangan paragraf yaitu (a) kemampuan siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi pada subaspek pemaparan informasi menurun 5,15% tetapi dengan tingkat keberhasilan 88,24% pada postes siklus II, (b) kemampuan siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi pada subaspek kasatupaduan mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 5,88% dengan tingkat keberhasilan 100% pada postes siklus II, (c) kemampuan siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi pada subaspek keterpautan mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 8,83% dengan tingkat keberhasilan 97,06% pada postes siklus II, (d) kemampuan siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi pada subaspek ketegasan mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 1,47% dengan tingkat keberhasilan 100% pada postes siklus II. (3) Kemampuan siswa kelas X.2 SMA TDZ dalam menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita pada aspek penulisan ejaan dan tanda baca mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 9,56% dengan tingkat keberhasilan 100% pada postes siklus II Adapun beberapa saran yang bisa disampaikan sehubungan dengan pembelajaran menulis karangan eksposisi dengan menggunakan media teks berita yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran adalah sebagai berikut. (1) Hendaknya guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan minat siswa dan kemampuan guru/sekolah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran menulis karangan eksposisi. (2) Alokasi waktu untuk pembelajaran menulis perlu dipertimbangkan mengingat pembelajaran menulis karangan eksposisi merupakan materi yang membutuhkan proses.(3)sebaiknya siswa juga diajak untuk melakukan penilaian terhadap tugas yang telah dikerjakan sehingga siswa mengetahui dan lebih memperhatikan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menulis.

Penerapan sapa II untuk meningkatkan prestasi belajar IPA Siswa kelas III MIN Druju Sumbermanjing Kabupaten malang / Lilik Fauziyah

 

ABSTRAK Shodiq, Muhammad, Mahsus. 2008. "Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi pada Pemilik Televisi SHARP di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar)". Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si (2) Afwan Hariri Agus Prohimi, SE, M.Si Kata Kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian Seiring dengan perkembangan teknologi, televisi merupakan media yang sangat dibutuhkan masyarakat. Televisi merupakan media informasi yang efektif, hal ini ditandai dengan munculnya merk baru di pasaran, sehingga persaingan diantara produk televisi semakin tajam. Atribut produk merupakan salah satu cara yang dilakukan produsen untuk membedakan produknya dengan produk pesaing, sehingga produk tersebut tetap disukai konsumen. Untuk itu produsen televisi SHARP perlu untuk mengetahui atribut produk yang dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian televisi diantaranya harga, mutu, merk, desain produk, layanan pendukung dan garansi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Pengaruh harga, mutu, merk, desain produk, fasilitas (layanan pendukung), garansi secara parsial terhadap keputusan pembelian televisi SHARP oleh masyarakat Kec. Nglegok Kab. Blitar.(2) Pengaruh harga, mutu, merk, desain produk, fasilitas (layanan pendukung), garansi, secara simultan terhadap keputusan pembelian televisi SHARP oleh masyarakat Kec. Nglegok Kab. Blitar.(3) Atribut Produk (harga, mutu, merk, desain produk, fasilitas (layanan pendukung), dan garansi yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian televisi SHARP oleh masyarakat Kec. Nglegok Kab. Blitar Penelitian ini merupakan penelitian merupakan penelitian korelasional yaitu penelitian yang berusaha untuk menentukan apakah terdapat hubungan (asosiasi) antara dua variabel atau lebih, serta seberapa jauh korelasi yang ada diantara dua variabel yang diteliti..Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebasnya yaitu atribut produk terdiri dari 6 sub variabel yaitu harga (Xl), mutu (X2), merek (X3), desain produk (X4), layanan pendukung (X5) dan garansi (X6). Sedangkan variabel bebasnya (Y) adalah keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah pemilik televisi SHARP di kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Karena sukar memprediksi berapa pemilik televisi SHARP di Kecamatan Nglegok kabupaten Blitar maka penelitian ini menggunakan infinite populatian, Sampel dalam penelitian ini sebesar 140 orang. Penentuan sampel menggunakan Accidental Sampling dimana peneliti membagikan kuesioner pada responden yang secara kebetulan memiliki televisi SHARP dan saat itu dapat ditemui peneliti. Adapun metode pengumpulan data dengan menyebarkan angket/ kuesioner, kepada pemilik televisi SHARP di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F. Hasil penelitian terbukti bahwa: (1) Ada pengaruh yang positif signifikan secara parsial antara atribut harga, mutu, merek, disain produk, layanan pendukung dan garansi secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam membeli Televisi SHARP di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, (2) Ada pengaruh yang positif signifikan secara simultan antara atribut harga, mutu, merek, disain produk, layanan pendukung dan garansi secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli Televisi SHARP di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar (3) Atribut produk (harga, mutu, merk, desain produk, layanan pendukung dan garansi) yang dominan mempengaruhi keputusan konsumen dalam Televisi SHARP di Kecamatan Nglegok kabupaten Blitar adalah desain produk. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitan adalah (1) Bagi perusahaan Kondisi atribut produk yang dijabarkan penelitian ini kiranya dapat dipertimbangkan untuk ditindak lanjuti, misalnya dengan memaksimalkan faktor yang dominan serta meningkatkan kualitas faktor-faktor yang tidak dominan. (2) Bagi Peneliti berikutnya yang ingin meneliti lebih jauh tentang atribut produk televisi dan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen, hendaknya mengembangkan atribut produk lain yang belum digunakan dalam penelitian ini seperti kemasan, label dan lain-lain.

Hubungan antara sistem layanan registrasi akademik online dan kepuasan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri malang / Agus Riana Retno Sandarwati

 

ABSTRAK Retno, Agus Riana. 2008. Hubungan Sistem Registrasi Akademik Online dan Kepuasan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. A. Supriyanto, M. Pd. M. Si, (II) Dr. H. Imron Arifin, M. Pd. Kata kunci: Layanan registrasi akademik, kepuasan mahasiswa. Layanan registrasi akademik adalah pelayanan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan pada semester tertentu, dengan syarat mahasiswa tersebut telah melakukan registrasi administrasi. Kegiatan registrasi akademik meliputi konsultasi rencana studi, pendaftaran matakuliah, pengisian dan pengesahan KRS, pengumuman hasil pemrosesan KRS (Universitas Negeri Malang, 2004). Peningkatan mutu pendidikan tinggi (mutu layanan akademik dan mutu pengajaran) merupakan upaya UM dalam memberikan layanan yang berkualitas dan memberikan kepuasan bagi mahasiswanya. Layanan registrasi akademik secara online merupakan wujud perubahan sistem sebagai upaya peningkatan pelayanan akademik yang tanggap akan kebutuhan sistem informasi. Bentuk penilaian terhadap kualitas layanan tersebut dapat diketahui apabila layanan tersebut dirasa baik dan memberikan kepuasan bagi mahasiswa sebagai pelanggan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa baik sistem layanan registrasi akademik online; seberapa tinggi tingkat kepuasan mahasiswa terhadap sistem layanan registrasi akademik online; untuk mengetahui hubungan antara sistem layanan registrasi akademik online dan kepuasan mahasiswa di FIP UM. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa FIP UM, lokasi penelitian di UM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional. Populasi dan sampel penelitian adalah mahasiswa FIP UM tahun angkatan 2004-2006 yang berjumlah 1654 orang. Sampel penelitian berjumlah 322 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah proportional stratified random sampling, yaitu membagi sampel sesuai dengan proporsi dan tahun angkatan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket tertutup. Analisis yang digunakan adalah analisis korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, mahasiswa FIP UM menilai sistem layanan registrasi akademik online adalah baik, dengan nilai mean (rata-rata) sebesar 48,30. Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan tersebut berada pada kualifikasi memuaskan, dengan nilai mean (rata-rata) sebesar 96,36. Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini menjelaskan bahwa, terdapat hubungan antara sistem layanan registrasi akademik online dan kepuasan mahasiswa. Besarnya nilai r hitung = 0,756 untuk taraf signifikansi 5% dengan N= 322, ini berarti bahwa nilai r hitung > r tabel. Saran agar tetap dapat memberikan layanan terbaik, hendaknya UM secara umum dan FIP secara khusus dalam memberikan layanan registrasi akademik secara online dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu serta kualitas secara terus-menerus dari masa ke masa, hal ini karena dapat memberikan citra tersendiri bagi pelanggan eksternal maupun internal. Hendaknya mahasiswa dapat memberikan aspirasinya secara objektif terhadap penelitian tentang layanan-layanan lain di UM agar hasilnya memang benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi baru serta motivasi bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian terhadap layanan-layanan lain di UM.

Translation of metaphors in Surah Al Baqarah of the Holy Qur'an English translation by Abdullah Yusuf Ali / Ridwan Nasharudin

 

ABSTRAK Nasharudin, Ridwan. 2008. Translation of Metaphors in Surah Al Baqarah of the Holy Qur’an English Translation by Abdullah Yusuf Ali. Tesis, Program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Abdul Wahab, M.A., Ph.D., (II) Prof. H.M.F. Baradja, M.A., Ed.D. Key words: metaphors, the Holy Qur’an, English translation Penerjemahan memiliki peran yang penting di dalam mentransmisi budaya, memperkaya bahasa, menafsirkan teks, menyebarkan pengetahuan, menyelami hubungan antara bahasa dan pikiran, dan untuk meningkatkan pemahaman antar bangsa. Lebih jauh lagi, teks yang diterjemahkan memperkaya kehidupan intelektual terhadap sebuah komunitas; penerjemahan terkadang memperkenalkan struktur atau jenis bahasa baru kedalam bahasa sasaran. Akan tetapi pada prakteknya kegiatan penerjemahan dirasakan pertama kali sangat melelahkan dan sulit bagi seorang penerjemah ketika memulai melakukan penerjemahan. Kesulitan terdapat didalam memutuskan prinsip apa yang harus dipakai oleh seorang penerjemah; apakah penerjemahan harus cenderung kepada bahasa sumber atau bahasa sasaran; apakah harus setia atau indah, harus literal atau bebas, dan apakah harus mengutamakan bentuk atau mengutamakan isi . Di antara hal-hal yang berpotensi menjadi masalah dalam penerjemahan, adalah penerjemahan kalimat idiom dan ma’na figurative yang banyak menjadi masalah dalam penerjemahan, ketika kalimat itu mengandung ungkapan-ungkapan metaphor. Sebab pada dasarnya kalimat figurative atau ungkapan ungkapan yang mengandung ma’na metaphor sangat sulit diterjemahkan dibandingkan dengan menerjemahkan kalimat yang mengandung ma’na literal. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana metaphor di dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh diterjemahkan oleh Abdullah Yusuf Ali ke dalam bahasa Inggris. Secara spesifik penelitian ini ditujukan untuk mengetahui strategi yang digunakan oleh Abdullah Yusuf Ali didalam menterjemahkan metafor yang terdapat di dalam Surat Al Baqoroh kedalam bahasa Inggris dan mencari alasan kenapa Abdullah Yusuf Ali menggunakan strategi tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan qualitative. Disain penelitian adalah analisis konten. Sumber data penelitian ini adalah data tekstual terjemah Al Qur’an surat Al Baqoroh dari bahasa Inggris kedalam bahasa Arab oleh Abdullah Yusuf Ali. Dengan kata lain, data penelitian ini adalah kata, prase, dan kalimat dalam bahasa Inggris sebagai hasil penerjemahan surat Al Baqoroh. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca secara seksama teks penerjemah Al Qur’an karya Abdullah Yusuf Ali. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik snowballing, yaitu data dianalisa dan disimpulkan di tengah proses penelitian dan kesimpulan dilakukan beberapa kali sampai peneliti mendapatkan kesimpulan akhir. Dari hasil analisis ditemukan ada tiga jenis strategi penerjemahan metaphor yang diterapkan oleh Abdullah Yusuf Ali di dalam menterjemahkan metaphor yang terdapat dalam surat Al Baqoroh kedalam bahasa Inggris. Dari 37 metafor, 83.8 % diterjemahkan kedalam metaphor (M-M), 5.4 % diterjemahkan kedalam metaphor ditambah kalimat literal (M-M+P), dan 10.8% metaphor diganti kedalam kalimat atau prasa literal (M-P). Penemuan ini menunjukan bahwa penerjemah lebih mengutamakan keaslian metaphor dalam bahasa sumber yang memiliki kekuatan estetika bahasa yang tinggi. Walaupun beberapa pembaca mungkin merasakan bahasa tersebut sulit, tapi tidak mustahil dapat dipahami. Tiga jenis strategi yang digunakan oleh Abdullah Yusuf Ali di dalam menterjemahkan metaphor dalam surat Al Baqoroh kedalam bahasa Inggris adalah (1) penerjemah menerjemahkan kembali metaphor di dalam bahasa sumber kedalam metaphor di dalam bahasa sasaran (M-M), (2) penerjemah menerjemahkan kembali metaphor di dalam bahasa sumber kedalam metaphor di dalam bahasa sasaran ditambah kalimat literal (M-M+P), (3) penerjemah mengganti metaphor di dalam bahasa sumber kedalam kalimat literal di dalam bahasa sasaran (M-P). Dari penelitian ini, beberapa saran dapat diberikan kepada para penerjemah atau mahasiswa yang sedang belajar menerjemahkan. Pertama, mereka harus memiliki penguasaan yang bagus, baik terhadap bahasa sumber atau bahasa sasaran. Kedua, mereka harus memiliki pengetahuan yang memadai terhadap teori penerjemahan yang akan memberikan petunjuk langsung supaya penerjemahan menjadi sebuah karya sastra yang meyakinkan. Terakhir, untuk mendapatkan kesuksesan di dalam menerjemahkan metaphor, para penerjemah atau mahasiswa yang sedang belajar menerjemahkan harus memperhatikan ketepatan referensial dan kontekstual dalam sebuah penerjemahan metafor. Ketepatan referensial menandakan kualitas kesetiaan penerjemah terhadap bahasa sumber. Dan ketepatan kontekstual menandakan kealamian dan keberterimaan penerjemahan tersebut di dalam bahasa sasaran.

Kemampuan menulis surst pribadi berbahasa Jawa siswa kelas V SD Negeri Karangbesuki II Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Enda Nur Hidayati

 

Hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi kerja karyawan tata usaha (TU) di Sekolah Menengah Atas Negeri se Kota Kediri / Diah Puspitawati

 

Motivasi Berprestasi merupakan suatu dorongan atau keinginan untuk melakukan pekerjaan yang berprestasi lebih baik daripada prestasi orang lain. Motivasi berprestasi menyebabkan seseorang berusaha mencapai tujuan-tujuan, baik sadar ataupun tidak sadar. Motivasi berprestasi ini pula yang menyebabkan seseorang itu berperilaku dan mamahami tugasnya masing-masing, menetapkan arah umum yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mencapai suatu keberhasilan. Keberhasilan karyawan dalam meraih prestasi tidak hanya berhubungan dengan kemampuan karyawan, tetapi juga dalam bekerja sangat besar hubungannya terhadap keberhasilan karyawan. Seseorang dikatakan berprestasi baik, apabila hasil yang telah diperoleh mencapai standar yang telah ditentukan. Untuk mencapai standar yang telah ditentukan dan prestasi kerja yang lebih tinggi, maka dibutuhkan adanya motivasi berprestasi untuk melaksanakan pekerjaannya. Motivasi berprestasi ini pula akan membantu meningkatkan semangat kerja untuk mencapai prestasi kerja yang lebih tinggi pula. Hal ini seperti yang dijelaskan Siswanto (1990) bahwa”prestasi adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya”. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat motivasi berprestasi karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri; mengetahui tingkat prestasi kerja karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri; mengetahui hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi kerja karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri, lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri di Kota Kediri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional yaitu bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis serta menginterprestasikan data sehingga penelitian ini berawal dari suatu permasalahan dan berakhir pada jawaban permasalahan yang dipertanyakan, dalam hal ini yaitu menggambarkan hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi kerja karyawan tata usaha. Penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat, adapun variabel bebasnya (X) adalah motivasi berprestasi dan variabel terikatnya (Y) adalah prestasi kerja karyawan tata usaha. Populasi dan sampel penelitian adalah karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri yang berjumlah 175 orang. Sampel penelitian berjumlah 122 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik pengambilan sampel secara acak (proportional random sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, motivasi berprestasi karyawan tata usaha adalah berkualifikasi sedang, dengan nilai mean (rata-rata) sebesar 105,6230 sedangkan prestasi kerja karyawan tata usaha adalah berkualifikasi tinggi, dengan nilai mean (rata-rata) sebesar 85,0492. Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini menjelaskan bahwa, terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan prestasi kerja karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri. Besarnya nilai rhitung= 0,545, rtabel 0,177 sedangkan taraf signifikansinya 0,000 dengan N= 122, ini berarti bahwa nilai rhitung > rtabel. Dengan kata lain semakin tinggi motivasi berprestasi maka prestasi kerja akan semakin tinggi pula. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar: 1) Bagi Karyawan Tata Usaha SMA Negeri: Agar prestasi kerja karyawan tata usaha SMA Negeri tetap berada pada kualifikasi tinggi, maka diupayakan tetap mempertahankan prestasi kerja yang telah dicapai, terlebih lagi meningkatkan motivasi berprestasi yang masih berada pada kualifikasi sedang diperlukan peningkatan motivasi berprestasi, 2) Universitas Negeri Malang dan Jurusan Administrasi Pendidikan: Hendaknya mengadakan kegiatan pelatihan karyawan tata usaha atau seminar mengenai motivasi berprestasi dan prestasi kerja agar pekerjaan yang dilaksanakan oleh karyawan tata usaha SMA Negeri dijalankan dengan baik dan penuh semangat untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal, 3) Dinas Pendidikan Kota Kediri: Sebaiknya berperan serta dalam memberikan dukungan terhadap karyawan tata usaha. Bentuk dukungan tersebut tidak harus dalam bentuk dukungan materi, melainkan dapat berperan serta dalam memberikan peluang untuk berprestasi bagi tiap karyawan yang dapat membantu terselesainya pekerjaan dengan mencapai hasil yang maksimal, dengan cara mengadakan pelatihan dan promosi, 4) Peneliti Lain: Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi kerja karyawan tata usaha di SMA Negeri Se Kota Kediri. Bagi peneliti lain apabila ingin melakukan penelitian yang sejenis sebaiknya penelitian ini lebih dikembangkan dengan tiga komponen motivasi berprestasi secara lengkap dan subjek yang berbeda serta lebih mengembangkan variabel, sub variabelnya, dan indikatornya karena ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat cepat.

Kemampuan representasi matematis siswa SD kelas IV melalui pendidikan matematika realistik pada konsep pecahan dan pecahan senilai / Mozez Y. Legi

 

Hubungan kepedulian guru terhadap inovasi, budaya sekolah, dan kompetensi profesional dengan keefektifan sekolah pada sekolah dasar negeri di kota Banjarmasin / Dwi Atmono

 

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa. Pendidikan sebagai salah usaha mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan serta ikut bertanggung jawab atas penyiapan tenaga kerja terdidik dengan kualifikasi yang dapat diandalkan untuk menjamin prestasi dan performance yang sepadan dengan tuntutan masa depan. Keunggulan daya saing sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia , dan hal itu tidak akan datang dengan sendirinya. Kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan melalui proses pendidikan. Tantangan yang akan dihadapi oleh guru adalah perubahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang menyangkut kepedulian guru terhadap inovasi, budaya sekolah, peningkatan kompetensi guru terhadap perubahan yang menyangkut keefektifan sekolah. Mengacu pada pandangan perubahan dan peningkatan mutu guru Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin terhadap inovasi pembelajaran telah banyak hal yang sudah dilakukan antara pelatihan, penataran, workshop dan sosialisasi yang telah dilaksanakan akan tetapi dalam kenyataannya belum terlihat secara signifikan ada kepedulian terhadap inovasi yang akan berkaitan dengan peningkatan mutu hasil belajar siswa. Tingkat penerimaan terhadap inovasi dipengaruhi oleh: keuntungan relative, kerumitan, keterandalan dan teramati. Sedangkan keberhasilan pembaharuan sekolah sangat ditentukan oleh gurunya, karena guru adalah pemimpin pembelajaran, fasilitator, dan sekaligus merupakan pusat inisiatif pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh kepedulian terhadap inovasi yang terefleksikan pada ,budaya sekolah, kompetensi profesional guru dengan keefektifan sekolah pada guru SD Negeri di Kota Banjarmasin serta memperoleh kejelasan model hubungan struktural antar variabel-variabel tersebut, dan menemukan ada tidaknya hubungan antara masing-masing variabel, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil populasi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Banjarmasin yang berada di lima kecamatan yaitu: Banjarmasin Barat, Banjarmasin Timur, Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Utara dan Banjarmasin Tengah dengan besar populasi 2183 orang dan dan secara random sampling diambil sampel sebanyak 261. Untuk menjaring data digunakan kuesioner dan untuk menganalisis data digunakan analisis SEM dengan program AMOS. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung kepedulian guru terhadap inovasi yang terefleksikan dalam informational, personal, management, konsekuensi, kolaborasi dan refokusing terhadap budaya sekolah yang terefleksikan pada orientasi profesional, struktur organisasi, kualitas lingkungan belajar dan fokus pada siswa, (2) terdapat pengaruh langsung kepedulian guru terhadap inovasi dengan keefektifan sekolaah yang terefleksikan pada misi, iklim yang positif, harapan yang tinggi, monitoring yang berkelanjutan, kesempatan belajar dan keterlibatan orang tua, (3) terdapat pengaruh langsung kepedulian guru terhadap inovasi dengan kompetensi profesioanl guru, (4) terdapat pengaruh langsung antara budaya sekolah dengan keefektifan sekolah, (5) terdapat pengaruh lansung antara kompetensi profesional guru dengan keefektifan sekolah, namun demikian dalam penelitian ini ditemukan bahwa (6) terdapat pengaruh antara kompetensi profesional guru terhadap budaya sekolah Dalam hal pengaruh tidak langsung, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: (7) terdapat pengaruh tidak langsung dari variabel kepedulian guru terhadap inovasi terhadap keefektifan sekolah melalui budaya sekolah dan (8) terdapat pengaruh tidak langsung antara kepedulian guru guru terhadap keefektifan sekolah melalui kompetensi profesional guru, serta (9) pengaruh tidak langsung antara budaya sekolah terhadap keefektifan sekolah melalui kompetensi profesional guru. Selanjutnya temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepedulian guru terhadap inovasi sekolah yang akan terdiri dari kelompok; Pertama, guru yang menganggap inovasi tersebut sesuai dengan keinginan mereka dan ingin menggunakannya dalam pembelajaran di sekolah. Kedua, kelompok yang masih ragu-ragu dalam arti inovasi tersebut baik tetapi mereka akan menggunakannya apabila ada keputusan resmi dari pemerintah. Kelompok ketiga, adalah yang menolak inovasi tersebut karena menganggap inovasi tersebut menjadi beban.

Pembelajaran perkalian bilangan dengan strategi interaksi sebagai upaya membangun kemampuan koneksi matematika siswa kelas II SDN 6 Panarung Palangka Raya / Orhan

 

This study is done due to the problem faced by students of state elementary school 6 of Panarung Palangkaraya in studying the numbering multiplication in the second grade, in which they cannot reach the standardized learning and they cannot do the mathematical connection especially those connected with the repeated addition with the multiplication, and they cannot do the numbering multiplication in their every day lives. In the other side, in the teaching of numbering multiplication, the teachers only use the lecturing teaching method and give assignment; students listen to teacher’s explanation, take note, memorize and do the exercises written on the blackboard. That is why; this study is aimed at building the students’ mathematical connection ability in the mathematics learning on numbering multiplication by using the interaction strategy. This study aims at producing the learning steps in studying numbering multiplication by using the interaction strategy which is believed to be able to build the students’ mathematical connection ability of State elementary school 6 of Panarung Palangka Raya. The numbering multiplication teaching by using the interaction strategy which is probably followed by negotiation, intervention, collaboration, and evaluation in studying is executed in two cycle. Sycles first is done through two meetings and in the second cycle in one meeting. Each of the meetings of learning is done into three learning phase ; those are the introductory activity, main activity, and closing activity. The introductory activities include (1) learning orientation, (2) student’s organization, (3) topics presentation and learning objectives, (4) encouraging students’ motivation to study and apperception. The main activities include: (1) students are intervened by given a study problems in student’ workbook, (2) students and teacher negotiate the application of studying by using the students’ workbook, (3) students have the collaboration, evaluating each other and negotiate to do the problems study by using the students’ workbook in pairs, (4) students evaluate and negotiate the learned concept in such classical way. The closing activities include (1) students and teacher negotiate on making the summary or the topic conclusion learned so far, and (2) teacher do the evaluation by giving the independent assignment. During the teaching and learning process students interact with their teacher and other students and with the handouts in the form of students’ workbook and other learning material and sources to do the mathematical connection on the numbering multiplication. After students have used to study by using the interaction strategy in which students tend to do the learning activity in such enjoy way and feel really enthusiastic on the subjects of numbering multiplication. The result of students study on numbering iii multiplication also meet the standardized level in such classical way that is about 90% students have got the 65 score or more. From the study result and the interview test, it is found out that the teaching of numbering multiplication by using interaction strategy is proven to be able to improve students’ mathematical connection ability of students of second grade of State elementary school 6 of Panarung Palangka Raya. Based on the research result, it is suggested that mathematics teachers to implement the interaction strategy in teaching mathematics so that it will be more active and creative. Then, teachers are also suggested to make and design teaching material in the form of students’ workbook so that students will get more interaction activity in studying. The arrangement on the number of students in one class should not be too big or it should not be more than 26 students so that the interaction activity in studying can be really effective Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang dihadapi siswa SDN 6 Panarung Palangka Raya dalam belajar perkalian bilangan di kelas II, yaitu hasil belajarnya tidak mencapai ketuntasan belajar dan siswa tidak dapat melakukan koneksi metematika terutama menghubungkan penjumlahan berulang dengan perkalian, dan tidak dapat menggunakan perkalian bilangan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain dalam pembelajaran perkalian bilangan guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan, siswa mendengarkan penjelasan guru, mencatat, disuruh menghapal, dan mengerjakan soal-soal yang guru tuliskan di papan tulis. Oleh karena itu penelitian ini berupaya membangun kemampuan koneksi matematika siswa dalam pembelajaran perkalian bilangan dengan strategi interaksi. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menghasilkan langkah-langkah pembelajaran perkalian bilangan dengan strategi interaksi yang dapat membangun kemampuan koneksi matematika siswa kelas II SDN 6 Panarung Palangka Raya. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut digunakan penelitian kualitatif jenis penelitian tindakan kelas. Pembelajaran perkalian bilangan dengan strategi interaksi yang memungkinkan terjadinya negosiasi, intervensi, kolaborasi, dan evaluasi dalam belajar dilaksanakan di dalam dua siklus. Pada siklus pertama pembelajaran dilaksanakan dua kali pertemuan dan di siklus kedua satu kali pertemuan. Masing-masing pertemuan langkah pembelajaran dilaksanakan dalam tiga tahap pembelajaran, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan mencakup : (1) orientasi pembelajaran, (2) pengorganisasian siswa, (3) penyampaian topik dan tujuan pembelajaran, (4) pembangkitan motivasi belajar dan apersepsi. Kegiatan pada tahap inti pembelajaran adalah : (1) siswa diintervensi dengan pemberian masalah belajar dalam lembar kerja siswa (LKS), (2) siswa dan guru bernegosiasi tentang bagaimana belajar dengan LKS, (3) siswa melakukan kolaborasi, saling evaluasi dan negosiasi mengerjakan tugas-tugas belajar menggunakan LKS secara berpasangan, (4) secara klasikal siswa saling evaluasi dan negosiasi untuk memahami konsep yang dipelajari, (5) siswa mengerjakan tugas-tugas tambahan untuk lebih memahami konsep yang dipelajari. Kegiatan penutup mencakup : (1) siswa dan guru bernegosiasi membuat rangkuman atau simpulan topik yang dipelajari, dan (2) guru melakukan evaluasi dengan memberikan tugas mandiri. Selama pembelajaran siswa berinteraksi dengan guru, sesama siswa, dan dengan bahan ajar yaitu LKS atau bahan serta alat belajar lainnya untuk melakukan koneksi matematika pada pembelajaran perkalian bilangan. Setelah siswa mulai terbiasa belajar dengan strategi interaksi dimana siswa lebih banyak melakukan aktivitas belajar siswa merasa lebih senang dan antusias dalam belajar perkalian bilangan. Hasil belajar siswa untuk perkalian bilangan juga i dapat memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal yaitu 90 % siswa telah memperoleh skor 65 atau lebih. Dari tes hasil belajar dan wawancara juga diketahui bahwa pembelajaran perkalian bilangan dengan strategi interaksi dapat membangun kemampuan koneksi matematika siswa kelas II SDN 6 Panarung Palangka Raya. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru matematika untuk menerapkan strategi interaksi dalam belajar matematika agar lebih aktif dan kreatif mendesain dan membuat bahan ajar berupa lembar kerja siswa yang memungkinkan siswa lebih banyak melakukan aktivitas interaksi dalam belajar. Pengaturan jumlah siswa dalam satu kelas hendaknya tidak terlalu besar atau tidak melebihi 26 siswa, agar kegiatan interaksi dalam belajar dapat berjalan secara epektif.

Partisipasi komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) se Kabupaten Blitar / Faridatus Sholihah

 

ABSTRAK Faridatus, S. 2008. Partisipasi Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di SMA se-Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Sultoni, M. Pd. Pembimbing (II) Dr. Bambang Budi Wiyono, M. Pd. Kata kunci : partisipasi, komite sekolah, peningkatan, mutu pendidikan Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai fungsi dan tujuan tersebut diperlukan suatu sistem pendidikan yang komprehensip yang mengikut sertakan secara aktif peserta didik, masyarakat sekolah dan masyarakat umum. Hal ini mengingat perencanaan pendidikan dan kegiatan pendidikan pada umumnya tidak bisa terlepaskan dari masyarakat, terutama masyarakat disekitarnya. Sebab ada hubungan saling memberi, saling mendukung dan saling menggantungkan antara lembaga pendidikan dan masyarakat. Itu pula sebaliknya mengapa masyarakat diharapkan ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kelancaran proses pendidikan dalam lembaga dan lembaga pendidikan diharapkan bekerja sama dengan masyarakat. Seiring dengan perkembangan dan tujuan masyarakat terhadap mutu pendidikan dan hasil pendidikan serta dalam rangka mencapai tujuan pendidikan melalui upaya peningkatan mutu, pemerataan dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan maka diperlukan adanya partisipasi masyarakat yang lebih luas dari pada sekedar wali murid saja, yaitu melalui wadah komite sekolah yang mempunyai fungsi dan peran sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaankebijakan pendidikan,sebagai pendukung penyelenggaraan pendidikan baik moril maupun materiil, sebagai pengontrol trasparansi dan akuntabilitas satuan pendidikan serta sebagai mediator antara pemerintah dan masyarakat satuan pendidikan. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah kurangnya partisipasi orang tua siswa dan masyarakat terhadap penyelenggaraan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Keberadaan komite sekolah diharapkan dapat membantu peningkatan mutu pendidikan disetiap jenjang pendidikan baik mulai pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Namun kenyataan keberadaan organisasi tersebut belum efektif untuk membantu peningkatan mutu pendidikan karena komite sekolah lebih cenderung diarahkan sebagai lembaga penggalang dukungan finansial saja, dan belum sampai menyeluruh kedalam proses manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah, serta belum sampai dengan peran dan fungsinya dalam membantu peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Penelitian ini dilakukan di SMA se-Kabupaten Blitar bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat partisipasi komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan dan membandingkan partisipasi komite sekolah negeri dan komite sekolah swasta dalam peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kabupaten Blitar. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatan komparatif atau uji perbandingan/perbedaan, metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket/kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi komite sekolah negeri yang menjadi sampel dalam penelitian dalam kategori sedang pada bukti rata-rata 71,22% sama halnya partisipasi komite sekolah swasta juga dalam kategori sedang bukti rata-rata 97,75%. Data variabel partisipasi komite sekolah negeri dan komite sekolah swasta variansnya homogen. Koefisien Leven 3,353 pada taraf signifikansi 0.05 ternyata hasilnya 0.061 Fhitung sebesar 3,353 pada taraf kepercayaan 95% signifikannya 0,05< 0,61 sehingga dapat disimpulkan menerima hipotesis yang menyatakan ada perbedaan partisipasi komite sekolah negeri dan komite sekolah swasta dalam peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kabupaten Blitar. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan partisipasi komite sekolah negeri dan komite sekolah swasta dalam peningkatan mutu pendidikan di SMA se-Kabupaten Blitar. Hal ini bisa disebabkan belum terealisasi peran, fungsi dan tugas komite sekolah, selain itu komite sekolah perlu mensosialisasikan perubahan konsepsional Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) menjadi komite sekolah. Tentunya dibarengi dengan program sebagai tindakan nyata dari keberadaan komite sekolah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dikemukakan sebagai beriukut: (1) bagi kepala sekolah diharapkan memberi peluang kepada komite sekolah untuk menjalankan perannya dalam penyelenggaraan peningkatan mutu pendidikan di sekolah, (2) bagi komite sekolah, diharapkan dapat mengembangkan peran yang dimilikinya dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, (3) bagi peneliti lain, diharapkan dengan penelitian lanjutan yang berkaitan dengan topik ini, terbuka peluang mengembangkan dan mengkaji lebih mendalam tentang peran komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan.

Peningkatan keterampilan menulis paragraf melalui penerapan kegiatan menulis jurnal dan pemamfaatannya untuk penilaian autentik pada siswa kelas II MTS Sunan Kalijogo Kota Malang / oleh Agus Jatmiko

 

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media audiovisual pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang / Hilida Fatiriya

 

ABSTRAK Fafiriya, Hilida. 2008. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Menggunakan Media Audiovisual pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 10 Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Kata kunci: Peningkatan, Menulis, Puisi, Media Audiovisual Selama ini masyarakat cenderung menggunakan budaya lisan daripada budaya tulis. Hal itu disebabkan kegiatan menulis yang dianggap sulit sehingga sangat kurang diminati. Kegiatan menulis seharusnya diajarkan dan ditanamkan kepada anak sejak dini karena melalui kegiatan menulis, anak dapat menuangkan ide, pendapat, pikiran dan perasaan kepada pembaca dalam bentuk tulisan. Menulis puisi merupakan kegiatan aktif dan produktif. Dikatakan aktif karena dengan menulis puisi, seseorang telah melakukan proses berpikir; dikatakan produktif karena seseorang dalam menulis puisi dapat menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Untuk membantu siswa dalam menulis puisi dengan baik, guru dituntut dapat menggunakan media pembelajaran di antaranya media audiovisual secara kreatif. Pembelajaran kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media pembelajaran yang kreatif, efektif, dan menarik akan mampu membuat siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Terkait upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi, dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah proses peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang dengan menggunakan media audiovisual pada tahap (a) pratulis, (b) saat tulis, dan (c) pascatulis; dan (2) bagaimanakah hasil peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang dengan menggunakan media audiovisual pada tahap (a) pratulis, (b) saat tulis, dan (c) pascatulis? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindak kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 10 Malang pada kelas VIIIE. Subjek yang diteliti sebanyak 29 siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan teknik observasi, sedangkan pengumpulan data hasil dilakukan dengan analisis karya siswa. Dari hasil analisis ditemukan bahwa pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan media audiovisual terbukti dapat meningkat meningkatkan proses dan hasil menulis puisi siswa yang memuaskan. Proses peningkatan kemampuan menulis puisi pada tahap pratulis dilakukan kegiatan berikut (a) guru dan siswa bertanya jawab tentang hal yang terkait dengan isi VCD yang akan ditayangkan, (b) siswa bertanya tentang kesulitan yang dialaminya dalam menulis puisi, (c) guru menjelaskan tentang pengetahuan yang diperlukan untuk menjawab kesulitan siswa tentang menulis puisi, (d) guru memancing siswa untuk dapat mengungkapkan perasaannya, menggambarkan peristiwa, dan menggunakan pengimajian pada butir-butir ungkapan perasaan melalui rekaman VCD, (e) siswa mendengarkan dan mencermati contoh puisi yang terkait dengan isi VCD yang telah ditayangkan, (f) siswa merenungkan makna isi tayangan, dan membuat ungkapan perasaan sesuai dengan isi tayangan yang telah dilihat. Pada tahap saat tulis dilakukan kegiatan berikut (a) siswa dibimbing oleh guru untuk menentukan diksi yang sesuai, yaitu kata konkret, kata konotatif, dan kata khusus serta pemilihan majas dan citraan, (b) siswa dibimbing dalam pemilihan judul yang sesuai dengan isi puisinya. Pada tahap pascatulis dilakukan kegiatan berikut (a) siswa tampil membacakan hasil puisinya, (b) guru memberikan penghargaan berupa hadiah berupa pensil kepada siswa yang tampil untuk membacakan puisinya di depan kelas. Hasil peningkatan kemampuan menulis pada tahap pratulis diketahui bahwa pada kemampuan siswa dalam menulis ungkapan perasaan sebagian besar (82,6 %) siswa dapat mengungkapkan perasaannya dengan tepat. Pada tahap saat tulis diketahui bahwa kemampuan menulis puisi (100%) seluruh siswa mencapai nilai di atas SKM. Pada tahap pascatulis diketahui bahwa sebagian besar (71,4%) siswa tampil membacakan puisi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis dengan menggunakan media audiovisual dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis puisi dengan menggunakan media audiovisual dapat meningkat pada proses dan hasil pada tahap pratulis, saat tulis, dan pascatulis. Berdasarkan simpulan penelitian ini disarankan kepada kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di lingkungan sekolah untuk menerapkan penelitian tindakan kelas agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan dapat mengetahui kelemahan pembelajaran. Kepada guru sebagai pembina mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia disarankan agar menggunakan media audiovisual atau yang lain secara lebih kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mencapai suatu kompetensi pembelajaran, terutama media pembelajaran sastra yang selama ini kurang diprioritaskan. Kepada peneliti berikutnya disarankankan agar menggunakan dan mengembangkan media audiovisual sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain dengan lebih kreatif atau mengembangkan keterampilan berbahasa yang lainnya.

Peningkatan pemahaman konsep bilangan pecahan dengan media benda asli dan gambar bagi siswa kelas III SD Muhammadiyah 6 Mergosono Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Lusiana Chandra Erwanti

 

ABSTRAK Chandra Erwanti, Lusiana. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Bilangan Pecahan dengan Media Benda Asli dan Gambar Bagi Siswa Kelas III SD Muhammadiyah 6 Mergosono Kota Malang Tahun Pelajaran 2007/2008. Skripsi, Jurusan KSDP Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Ahmad Samawi, M.Hum (II) Drs. H Izhar Hasis. Kata Kunci: bilangan pecahan, media, benda asli dan gambar. SD Muhammadiyah 6 Mergosono Kota Malang merupakan sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diberlakukan mulai tahun ajaran 2006-2007. Di dalam kurikulum 2006, konsep bilangan pecahan diajarkan pada siswa kelas III mulai semester II. Berdasarkan hasil observasi penelitian di SD Muhammadiyah 6, pemahaman konsep bilangan pecahan siswa kelas III SD Muhammadiyah 6 ditemukan kondisi tentang rendahnya motivasi dan aktivitas belajar siswa di dalam kelas yang cenderung ramai dan tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep bilangan pecahan bagi siswa kelas III SD Muhammadiyah 6 dengan pembelajaran yang menggunakan media benda asli dan gambar. Subyek penelitian ini ialah siswa kelas III Sekolah Dasar Muhammadiyah 6 Tahun Pelajaran 2007-2008. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan Tindakan (3) Observasi dan (4) Refleksi. Jika ada siswa yang belum berhasil pada siklus awal diberi remidi pada siklus berikutnya sampai pembelajaran berhasil dan keberhasilan mencapai 75% atau lebih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan pemahaman konsep bilangan pecahan. Pada tes awal menunjukkan nilai pemahaman konsep bilangan pecahan sebagian besar keberhasilannya mencapai 25% memiliki skor tes awal dengan nilai rata-rata 52,92 (dikategorikan kurang). Setelah belajar dengan menggunakan media benda asli dan gambar pemahaman konsep bilangan pecahan pada siklus I sebagian besar keberhasilannya mencapai 46% nilai rata-rata meningkat menjadi 64,79 (dikategorikan cukup), pada siklus II pemahaman konsep bilangan pecahan sebagian besar keberhasilannya mencapai 54 % nilai rata-rata meningkat menjadi 68,54 (dikategorikan cukup), dan pada siklus III pemahaman konsep bilangan pecahan sebagian besar keberhasilannya mencapai 83% nilai rata-rata meningkat menjadi 76,25 (dikategorikan baik). Dengan demikian pemahaman konsep bilangan pecahan baik nilai rata-rata tes awal, nilai rata-rata pada siklus I, nilai rata-rata pada siklus II, dan nilai rata-rata pada siklus III pada siswa kelas III SD Muhammadiyah 6 Mergosono Kota Malang dapat dikatakan ada peningkatan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: (1) penggunaan media benda asli dan gambar dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep bilangan pecahan, (2) peningkatan pemahaman siswa tentang konsep bilangan pecahan tercermin pada peningkatan nilai hasil tes setelah tindakan. Nilai siswa rata-rata naik 23,33, (3) pembelajaran yang melibatkan siswa tahap demi tahap, membuat pembelajaran menjadi menarik. Saran-saran berdasarkan hasil penelitian ini hendaknya guru: (1) menggunakan media benda asli dan gambar dalam pembelajaran konsep bilangan pecahan, (2) melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, (3) pandai memilih, membuat dan mengembangkan media, serta kreatif dan dinamis dalam pembelajaran. (4) menggunakan pendekatan yang sesuai dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian produk rexona : (Studi pada Mahasiswa Dakultas Teknik Angkatan 2005 reguler Universitas Negeri Malang) / Adiek Dirgantara Sondie

 

Globalisasi saat ini membawa dampak yang sangat besar terhadap persaingan dunia bisnis yang semakin ketat, terutama pada pemasaran dan produk yang dihasilkan. Daya tarik suatu produk tidak dapat dilepaskan dari atribut produk yang ada, karena atribut produk merupakan salah satu dari wujud nyata suatu produk. Atribut produk dapat menjadi pendorong bagi konsumen untuk membeli, karena tidak jarang keputusan untuk membeli suatu produk terjadi karena pengaruh atribut produk yang ada pada produk tersebut. Atribut produk merupakan alat yang cukup efektif dalam mempengaruhi konsumen, melalui atribut produk dapat merangsang konsumen untuk melakukan pembelian produk dan memakai produk tersebut secara berulang-ulang. Oleh karena itu atribut produk sebaiknya tetap jadi perhatian karena atibut produk dapat menimbulkan pengaruh konsumen untuk melakukan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel atribut produk terhadap keputusan pembelian produk Rexona. Penelitian ini mempunyai 2 variabel, yaitu variabel independen (X) yang terdiri dari Merek (X1), Label (X2), Kemasan (X3), dan Kualitas (X4), dan variabel dependen (Y) Keputusan Pembelian. Penelitian ini dilakukan pada Mahasiswa Fakultas Teknik Angkatan 2005 Reguler Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis regresi berganda, data diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner tertutup. Populasi telah diketahui jumlahnya karena sebelum terjun lapangan langsung, peneliti mengobservasi terlabih dulu pengguna produk Rexona, maka pengambilan sampel menggunakan teknik sampel jenuh atau sampel populasi. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 76 orang. Analis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 12,0. Setelah dilakukan proses pengolahan data dan analisis regresi berganda diketahui hasil penelitian menyatakan (1) Merek, dari hasil analisis data diperoleh nilai 1 = 0,468; t hitung = 0,4280; signifikan t = 0,000. Hal ini menunjukkan Merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (2) Label, dari hasil analisis data diperoleh 2 = -0,103; nilai t = -1,065; signifikan t = 0,290. Hal ini menunjukkan Label tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (3) Kemasan, dari hasil analisis data diperoleh 3 = 0,222; nilai t = 2,330; signifikan t = 0,023. Hal ini menunjukkan Kemasan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (4) Kualitas, dari hasil analisis data diperoleh 4 = 0,299; nilai t = 3,162; signifikan t = 0,002. Hal ini menunjukkan Kualitas berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan secara parsial terdapat 3 variabel yang menunjukkan signifikansi terhadap keputusan pembelian yaitu Merek, Kemasan, dan Kualitas, sedangkan variabel Label tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Secara simultan Merek, Label, Kemasan, dan Kualitas berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah (1) Bagi Perusahaan sebaiknya dalam memproduksi produk juga memperhatikan label agar lebih dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian, (2) Sebaiknya perusahaan memperhatikan mengenai desain gambar dan tulisan, informasi kandungan isi, informasi cara penggunaan agar lebih menarik sehingga mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian, (3) Sebaiknya perusahaan memberikan inovasi untuk penjualan sehingga produk Rexona lebih dikenal dan digunakan oleh konsumen secara luas, (4) Bagi Peneliti Apabila digunakan sebagai rujukan penelitian, sebaiknya memperluas ruang lingkup penelitian sehingga hasil penelitian akan lebih baik lagi, (5) Sebaiknya digunakan sebagai sarana untuk memperluas wawasan dengan mengaplikasikan materi dan ilmu yang didapatkan selama kuliah dengan fakta-fakta yang ada di lapangan.

Kualitas batu saren dari batu kumbung (Dolomit) sebagai bahan pasangan dinding konstruksi gedung di desa Merek Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan / Herdita Agus Setyawan

 

Tanah liat dari Kabupaten Lamongan tidak layak digunakan untuk bahan pembuatan bata merah pejal untuk pasangan dinding disebabkan mengandung kadar garam. Sebagai pengganti digunakan bahan altenatif yaitu batu saren dari batu kumbung (dolomit). Sampai saat ini belum ada pengujian terhadap kualitas batu saren sebagai bahan konstruksi bangunan, penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas batu saren dan diharapkan layak digunakan sebagai bahan pasangan dinding. Batu saren yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Desa Merek Kec. Paciran Kab. Lamongan, yaitu batu kumbung (dolomit) yang dipotong keliling menggunakan gergaji dan siap dijual dengan ukuran panjang 27 cm, lebar 12 cm dan tebal 8 cm, bentuk prisma segi empat panjang, warna putih dengan rumus kimia CaMg(CO3)2 dan tidak memiliki kandungan garam. Batu kumbung (dolomit) yang berkualitas adalah yang berada di bawah permukaan tanah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang, tanggal 7 Juli sampai 20 Juli 2008 dengan sampel 30 buah batu saren. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah aksidental sampling. Variabel yang diuji meliputi sifat tampak, ketepatan ukuran, kerapatan semu, penyerapan air dan kuat tekan. Hasil pengujian dibandingan dengan SNI 15-2094-2000 dan khusus hasil pengujian kuat tekan dibandingkan juga dengan PUBI-1982, penarikan kesimpulan berdasarkan hasil perbandingan antara hasil pengujian dengan standart Hasil pengujian (1) sifat tampak (keadaan fisik) mendiskripsikan rata-rata 82% memenuhi standart berbentuk prisma segi empat panjang, rusuknya siku, bidang-bidang datar rata dan tidak menunjukkan retak-retak, (2) ketepatan ukuran mendiskripsikan rata-rata penyimpangan panjang 3,97 mm memenuhi standart karena <  5 mm, lebar 2,50 mm memenuhi standart karena <  6 mm, tebal 2,37 mm memenuhi standart karena <  3 mm, (3) koefisien kerapatan semu rata-rata 1,5 gram/cm3 memenuhi standart karena > 1,2 gram/cm3, (4) koefisien penyerapan air rata-rata 6% memenuhi standart karena < 20%, (5) koefisien kuat tekan rata-rata 123 kg/cm2 memenuhi standart PUBI-1982 pada kelas 25, 50 dan 100 serta memenuhi syarat SNI 15-2094-2000 pada kelas 50 dan 100. Hasil pengujian menyimpulkan bahwa batu saren dari Desa Merek Kec. Paciran Kab. Lamongan layak digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi pasangan dinding.

Strategi pemasaran produk pada PT. Telekomunikasi Indonesia (Studi di PT. Telkom Kandetel Malang) / Dimas Hadi Mariani

 

Alat pengepres Fitting Hose AC mobil dengan penggerak hidrolik / Arik Susanto, Deny Dwi Arisandi

 

Dalam bidang transportasi, pemodelan matematika digunakan untuk menggambarkan kondisi pergerakan lalu lintas jalan raya yang diperoleh dari berbagai asumsi hasil pengamatan. Pemodelan matematika tentang arus lalu lintas ini, berupa sebuah persamaan diferensial, yang kemudian dari persamaan tersebut akan dicari selesaiannya. Skripsi ini membahas bagaimana dinamika pergerakan mobil di sekitar lampu Traffic Light. Hal menarik yang ingin diamati adalah bagaimana dinamika mobil sekitar lampu Traffic Light hingga menyala lampu hijau. Deskripsi sederhana dari permasalahan di atas, dimodelkan secara matematis dalam bentuk persamaan diferensial biasa delay (waktu tunda). Model ini dibangun dengan asumsi pergerakan mobil satu arah dan badan jalan hanya memuat satu mobil. Metode yang digunakan dengan menghasilkan selesaian persamaan diferensial biasa delay car-following adalah dengan transformasi Laplace. Utamanya adalah penggunaan teorema Shifting. Dengan meneganalisis parameter yang muncul dalam penyelesaian tersebut, dapat dideskripsikan beberapa hal 1. Jarak antar mobil berpengaruh pada kemungkinan terjadinya tabrakan. Yaitu jika jarak antar mobil semakin kecil, maka kemungkinan tabrakan akan semakin besar. 2. Jika diasumsikan bahwa lebar badan jalan dapat memuat dua mobil, maka tabrakan tidak akan terjadi melainkan terjadi mobil yang saling mendahului. 3. Tabrakan akan terjadi lebih cepat jika (sensitivitas mobil untuk bergerak) lebih besar dan posisi tabrakan akan semakin dekat dengan lampu traffic light jika besarnya (percepatan mobil pertama) semakin kecil. 4. Model sederhana car-following belum dapat mendeskripsikan secara lengkap untuk dinamika mobil di jalan raya.

Alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna / Ali Mustofa

 

ABSTRAK MUSTOFA, ALI. 2008. Alat Bantu Identifikasi Warna Bagi Penderita Buta Warna. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Siti Sendari, S.T, M.T, dan (II) Ilham Ari Elbaith Zaeni, S.T. Kata kunci: Identifikasi warna, buta warna. Mata merupakan panca indera yang berguna sebagai indera penglihatan, tidak semua orang mempunyai indera penglihatan yang dapat berfungsi secara sempurna. Bagi penderita buta warna sejak mereka dilahirkan tidak mempunyai mata yang dapat melihat secara sempurna atau dikarenakan sesuatu hal misalnya menderita suatu penyakit atau terkena suatu musibah kecelakaan, sehingga mata mereka tidak dapat lagi berfungsi secara sempurna. Dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipungkiri bahwa orang penderita buta warna sudah menjadi bagian dari masyarakat dan mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama, tetapi dalam kenyataan banyak dijumpai kendala dalam kehidupan mereka terutama menyangkut fasilitas-fasilitas vital yang dapat membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan utama yang mereka hadapi yaitu mengidentifikasi warna. Rumusan masalah dalam pembuatan Alat Bantu Identifikasi Warna Bagi Penderita Buta Warna adalah: (1) Bagaimana respon sensor warna agar dapat memberikan tanggapan terhadap warna yang diterima ; (2) Bagaimana merekam dan mengatur suara yang dikeluarkan loud speaker menggunakan media IC ISD2560; (3) Bagaimana mengaplikasikan Mikrokontroler AT89S51 sebagai pengendali utama alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna tersebut; (4) Bagaimana mengaplikasikan agar sistem dapat menghasilkan suara dan menampilkan karakter huruf sesuai dengan warna yang diterima oleh sensor warna. Alat bantu identifikasi warna ini tersusun dari beberapa blok rangkaian yaitu: (1) Modul sensor warna IC TCS230; (2) Mikrokontroler AT89S51; (3) LCD (Liquid Crystal Display) M1632; (4) Rangkaian perekam/pemutar ulang suara ISD2560 dan (5) Tombol start push-button. Hasil pengujian Alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna adalah: (1) Sensor warna dapat mendeteksi warna kertas asturo spectra warna polos dan tidak mengkilap; (2) IC ISD2560 dapat mengeluarkan suara sesuai warna kertas yang di-scan; (3) LCD dapat menampilkan karakter tulisan sesuai dengan warna kertas yang di-scan; dan (4) Tombol push-button dapat bekerja sesuai dengan desain perancangan Alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Warna yang dideteksi 13 warna tertentu, yaitu: (a) hitam, (b) putih, (c) merah, (d) merah muda, (e) hijau, (f) hijau muda, (g) biru, (h) biru muda, (i) jingga, (j) kuning, (k) coklat, (l) ungu dan (m) abu-abu; (2) Perekaman (record) yang bertujuan menyimpan data suara (audio) dalam chip ISD2560 dan pemutaran ulang (playback) terhadap data-data audio yang dikeluarkan melalui loud speaker, dapat bekerja dengan baik sesuai dengan desain; (3) Mikrokontroler dapat menyimpan data frekuensi dari masing-masing filter merah, filter hijau, filter biru yang dikeluarkan sensor warna sebanyak 5 buffer untuk masing-masimg filter, serta mengolah data tersebut sehingga dapat menampilkan suara dan karakter tulisan pada LCD sesuai dengan warna yang di-scan. Untuk pengembangan lebih lanjut, penulis menyarankan untuk: (1) Pendeteksian warna dapat dikembangkan dengan pendeteksian lebih dari 13 warna, sehingga bisa mengukur gradasi warna; (2) Dikembangkan dengan memakai power supply batteray sehingga alat mudah untuk dibawa kemana-mana; (3) Dikembangkan dengan menambahkan rangkaian power amplifier sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih keras; (4) Ruang pendeteksian diperkecil sehingga dapat mengukur media yang berukuran kecil dan dalam 1 media lebih dari 1 kombinasi warna.

Kemampuan dan kemauan membayar (ability and willingness to pay) pengguna angkutan umum jalur SKL di Kabupaten Malang / Hendra Kiswiyanto

 

Sebagai sarana dalam melaksanakan pergerakan baik orang maupun barang dari tempat asal ke tempat tujuan dibutuhkan transportasi. Berkembangnya ekonomi suatu wilayah, akan mengakibatkan meningkatnya aktivitas untuk melakukan pergerakan, sehingga menyebabkan tuntutan terhadap jasa transportasi juga meningkat. Demikian juga di Kabupaten Malang dalam menunjang kegiatan pergerakan kehidupan sehari-hari selain kendaraan pribadi masyarakat juga menggunakan sarana transportasi jenis angkutan umum. Dalam menyelenggarakan angkutan umum, pemerintah daerah telah menentukan besarnya tarif dan rute trayek angkutan umum dalam wilayah Kabupaten Malang, terutama jalur angkutan umum SKL (Singosari – Ketangi – Landungsari). Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi karakteristik pengguna angkutan umum jalur SKL di Kabupaten Malang, (2) menentukan Ability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP) para pengguna angkutan umum SKL. Hasil penelitian menunjukkan: pengguna angkutan umum terbanyak berjenis kelamin pria, usia antara 36-45 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir SMA/SLTA, bekerja sebagai wiraswasta dan tidak memiliki kendaraan. Penghasilan rata-rata perbulan Rp 750.000,00 – Rp 1.000.000,00 dengan rata-rata biaya hidup perbulan kurang lebih sama dengan Rp 250.000,00. Biaya transport perbulan rata-rata Rp 135.250,00 dan alokasi biaya transport untuk jasa angkutan rata-rata sebesar Rp 101.680,00. Biasanya dalam sehari melakukan perjalanan rutin sebanyak 1 kali dengan panjang perjalanan sekitar 10 km/hari dan perjalanan mereka biasanya menuju industri/pabrik, dengan maksud perjalanan adalah bekerja. Berdasarkan dari persepsi pengguna jumlah armadanya sedikit, waktu tunggu untuk mendapatkan angkutan umum lama, kondisi jalan yang sempit dan jarak tempuhnya yang cukup jauh membuat pengguna membutuhkan waktu lama dalam mencapai tujuan, tetapi kondisi angkutan umum ini masih bagus, sesuai dengan standard yang ada, kondisi jalan yang dilewati masih baik serta selama perjalanan sopir mengutamakan kenyamanan, keamanan dan keselamatan. Hasil analisis WTP sebesar Rp 4.710,74 tarif yang berlaku sebesar Rp 5.000,00 dan ATP sebesar Rp 6.302,48, ini berarti jika pelayanan angkutan umum terhadap pengguna ditingkatkan, maka pengguna masih bersedia membayar lebih mahal.

Relevansi latar belakang pendidikan dengan kinerja guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP negeri kelas VIII se-kota Blitar / Rida Kurniawati

 

Latar belakang pendidikan guru memberikan kontribusi terhadap kualitas dan kemampuan dalam mendidik peserta didik. Keberhasilan pendidikan yang ditempuh seorang guru berpengaruh terhadap kompetensi diri dan kinerja. Kinerja guru merupakan prestasi kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang telah diembannya. Kinerja guru meliputi kemampuan seorang guru dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Latar belakang pendidikan yang tinggi mampu menciptakan suatu kinerja yang matang. Kedua hal tersebut berhubungan erat dan memiliki relevansi atau kesesuaian yang mampu meningkatkan kualitas kinerja yang baik dengan latar belakang yang sesuai. Ada tiga permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) latar belakang pendidikan guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, (2) kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, dan (3) hubungan latar belakang pendidikan dengan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul Relevansi Latar Belakang Pendidikan dengan Kinerja Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri Kelas VIII se-Kota Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang pendidikan guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, (2) mendeskripsikan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, dan (3) mendeskripsikan hubungan latar belakang pendidikan dengan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel, yaitu latar belakang pendidikan guru sebagai variabel bebas (Vx) dan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai variabel terikat (Vy). Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri se-Kota Blitar yang berjumlah 56 guru, sedangkan sampelnya adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII di SMP Negeri se-Kota Blitar yang berjumlah 23 guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket tertutup. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif, yaitu berupa persentase dan analisis korelasi Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar adalah sarjana (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan hanya seorang guru yang berlatar belakang magister (S2) Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, terdapat pula seorang guru yang berlatar belakang sarjana dari Pendidikan Olahraga. Jenjang pendidikan yang ditempuh setiap guru berbeda-beda, ada yang ditempuh secara bertahap, yaitu melalui jenjang diploma terlebih dahulu selanjutnya jenjang sarjana dan ada pula yang secara langsung menempuh jenjang sarjana, tidak secara bertahap. Sementara itu, kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar tergolong baik. Penilaian kinerja tersebut berdasarkan tiga tahapan kegiatan pembelajaran, yaitu tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan tahap evaluasi pembelajaran. Adapun hubungan antarkedua variabel tersebut menunjukkan adanya kesesuaian hubungan yang signifikan. Berdasarkan data yang telah dianalisis, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan yang diperoleh melalui perhitungan analisis korelasi dengan nilai probabilitas rtabel (0,415). Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada pihak-pihak berikut. Pertama, guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya terus meningkatkan kemampuan diri secara profesional, salah satunya dengan mengikuti berbagai pelatihan atau dengan melanjutkan tingkat pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, guru hendaknya menyiapkan diri semaksimal mungkin dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Kedua, kepala sekolah hendaknya senantiasa melibatkan guru untuk aktif dalam berbagai kegiatan, baik di dalam maupun di luar sekolah yang berhubungan dengan peningkatan kinerja guru. Ketiga, peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan mampu menemukan subvariabel lain yang lebih luas dan variatif sehingga mampu menyempurnakan hasil penelitian sehubungan dengan keterbatasan hasil penelitian ini.

Peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan cerpen sebagai sumber belajar pada siswa kelas VIII-B SMP Negeri I Binangun Kabupaten Blitar / Anita Kurnia Rachman

 

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disebutkan bahwa keterampilan menulis naskah drama wajib dikuasai oleh siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengenal, memahami, dan dapat menulis naskah drama. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama diperlukan sebuah sumber belajar yang tepat. Dalam penelitian ini sumber belajar yang digunakan adalah cerpen. Dengan sumber belajar ini siswa belajar menyusun kerangka naskah drama yang akan dikembangkan menjadi naskah drama yang utuh. Dalam meningkatkan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan sumber belajar cerpen dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap perencanaan naskah, tahap penulisan naskah drama berdasarkan perencanaan naskah, serta tahap penyuntingan dan revisi. Masalah umum dalam penelitian ini adalah bagaimana media cerpen dapat meningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Adapun tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penetapan subjek yang diteliti didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan dan prates yang dilakukan oleh peneliti. Subjek umum yang diberi tindakan adalah seluruh siswa kelas VIII SMP sedangkan subjek khususnya adalah 22 siswa yang memperoleh skor penilaian proses dan hasil di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 5 Januari 2008 sampai dengan 13 Juni 2008 dalam dua siklus. Data penelitian meliputi data verbal berwujud tuturan lisan proses peningkatan keterampilan menulis naskah drama maupun hasil tertulis peningkatan keterampilan menulis naskah drama dan data nonverbal berupa rekaman tindakan siswa dalam foto dan tindakan yang ditranskripsikan dan dimasukkan dalam pedoman observasi dan catatan lapangan. Data diperoleh melalui instrumen utama, yaitu peneliti yang didukung dengan instrumen penunjang berupa RPP, pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan untuk mengetahui proses dan hasil keterampilan menulis naskah drama siswa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis naskah drama pada siswa dengan menggunakan sumber belajar cerpen. Peningkatan ini dapat dilihat dari siklus I dan siklus II yang melalui tahap perencanaan naskah, tahap penulisan naskah drama berdasarkan perencanaan naskah, serta tahap penyuntingan dan revisi. Pada tahap perencanaan naskah, kegiatan yang dilakukan, yaitu membaca cerpen dan menganalisis unsur intrinsik cerpen untuk menyusun kerangka naskah drama. Penggunaan media cerpen dapat merangsang siswa dalam berimajinasi untuk mengembangkan sebuah kerangka naskah drama karena siswa terbukti dapat menentukan tema, tokoh dan watak tokoh, setting, dan alur yang bervariasi. Sedangkan peningkatan kemampuan siswa pada tahap menulis dapat terlihat dari kemampuan siswa dalam mengembangkan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh. Hal ini juga ditunjang dengan kemampuan siswa dalam menggembangkan ide, gagasan, dan imajinasi siswa. Pada tahap terakhir yaitu tahap penyuntingan dan revisi kemampuan siswa terlihat dalam membacakan naskah drama didepan kelas dengan penuh rasa percaya diri, mampu membangun interaksi sosial antarsiswa, dan melatih siswa untuk menunjukkan prestasi. Penggunaan media cerpen pada tahap pascamenulis dapat meningkatkan kemampuan siswa tidak hanya aspek menulis saja, tetapi juga pada aspek menyimak, membaca, dan berbicara. Ketiga tahapan ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis naskah drama dan KKM yang telah ditetapkan sekolah dapat tercapai. Peningkatan itu terlihat dari jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus I yaitu 74,3% dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II meningkat menjadi 89,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk menggunakan media pembelajaran dengan lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama. Penggunaan media cerpen dapat juga diterapkan dalam pembelajaran sastra yang lain seperti pembelajaran menulis puisi, menulis cerpen, dan menyusun opini berdasarkan cerpen. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di lingkungan sekolah juga disarankan untuk memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai kepada guru untuk melakukan kerja sama dengan para peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kepada calon peneliti yang ingin menggunakan dan mengembangkan media cerpen, diharapkan dapat mengembangkan media cerpen pada kompetensi dasar pembelajaran sastra yang lain.

Sistem informasi keberangkatan Kereta Api berbasis mikrokontroler / Ronny Prasetyo

 

Pengaruh iklan billboard terhadap keputusan pembelian rokok Sampoerna A Mild (studi pada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Oki Setiawan

 

Iklan dianggap sebagai suatu media promosi yang efektif dan efisien dalam menjaring konsumen maupun menyampaikan produk. Media Billboard adalah salah satu media periklanan. Iklan melalui media Billboard bisa kita jumpai setiap saat karena, media ini sendiri biasanya dipasang di sepanjang pinggiran jalan raya dan karena itulah media ini bisa digunakan sebagai alat penjaring konsumen yang cukup efektif dan efisien. Iklan sangat dibutuhkan sebagai wahana publikasi dan sosialisasi sebuah produk, sehingga iklan dapat mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklan Billboard terhadap keputusan pembelian konsumen rokok Sampoerna A Mild. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini meliputi iklan sebagai variabel bebas dan keputusan pembelian sebagai variabel terikat. Pesan iklan Billboard rokok Sampoerna A Mild sebagai variabel bebas memiliki sub variabel antara lain: isi pesan, struktur pesan, format pesan dan sumber pesan. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan responden mahasiswa manajemen S1 yang masih aktif mengikuti perkuliahan sebagai populasinya. Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan uji t dan uji f dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian ini dijaring dengan menyebarkan kuisioner kepada 100 sampel mahasiswa manajemen yang masih aktif mengikuti perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dan menggunakan Accidental Sample dimana proses pengambilan sample dilakukan dengan pengambilan sampel pada konsumen rokok Sampoerna A Mild yang secara kebetulan peneliti temui. Hasil analisis data menunjukkan bahwa keputusan pembelian secara signifikan dipengaruhi oleh: isi pesan (X1), struktur pesan (X2), format pesan (X3), sumber pesan (X4) baik secara individu maupun bersama-sama. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis memberikan saran yang dapat dijadikan pertimbangan yaitu hendaknya konsumen lebih selektif dalam memilih produk yang diiklankan melalui media Billboard.

Sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMA negeri se-kota Kediri / Reza Zaki Mubarok

 

Supervisi Kunjungan kelas adalah kunjungan yang dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor untuk mengamati proses belajar-mengajar secara langsung. Tujuan pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah membantu guru dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi selama proses belajar-mengajar dan membantu guru meningkatkan profesionalitas mereka. Bentuk dukungan atau penolakan dari guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat dilihat dari sikap mereka yang menjadi bentuk respon mereka terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Guru akan menerima atau mendukung pelaksanaan supervisi kunjungan kelas apabila mereka mengetahui fungsi, tujuan dan manfaat dari supervisi kunjungan kelas. Di sisi lain, perilaku kepala sekolah sebagai supervisor juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMAN Se-Kota Kediri, yang selanjutnya dijabarkan lagi menjadi tiga bagian, yakni sikap guru terhadap awal pelaksanaan supervisi kunjungan kelas, sikap guru terhadap inti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas dan sikap guru terhadap akhir pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yang berusaha untuk menggambarkan sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMAN Se-Kota Kediri. Populasi penelitian ini sebanyak 526 orang guru, dan diambil 217 guru sebagai sampel yang tersebar dalam delapan sekolah. Teknik sampel yang digunakan adalah teknik proportional random sampling, yang membagi sampel sesuai dengan proporsi guru pada tiap-tiap sekolah. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner atau angket. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMAN Se-Kota Kediri adalah setuju yakni sebesar 144 orang atau 66,36% dari total sampel sebanyak 217 orang guru dengan rata-rata 84,71 pada kategori setuju. Sehingga, dapat diartikan bahwa guru menerima dan mendukung pelaksanaan supervisi kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah. Sikap guru terhadap awal pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah setuju yakni 63,59 % atau 138 orang dengan rata-rata 31,28 pada kategori setuju. Hal ini berarti bahwa tahap awal pelaksanaan supervisi kunjungan kelas selama ini sudah diterima dengan baik. Sikap guru terhadap tahap inti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah setuju sejumlah 135 orang (62,21 %) dengan mean/rata-rata 21,83 pada kategori setuju. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa inti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas memberikan nilai positif bagi guru dalam mengembangkan profesionalitas mereka dalam mengajar. Sikap guru terhadap akhir pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah setuju sebanyak 138 (63,59 %) dari 217 responden dengan mean 31,59 pada kategori setuju. Hal ini berarti bahwa tahap akhir pelaksanaan supervisi kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah mendapat dukungan dari guru-guru di SMAN Se-Kota Kediri. Kepala sekolah hendaknya mempertahankan dan meningkatkan pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Hal ini bertujuan agar kualitas proses belajar-mengajar dapat lebih optimal. Di sisi lain, guru-guru hendaknya juga lebih meningkatkan pemahaman mereka mengenai fungsi, tujuan dan manfaat dari adanya pelaksanaan supervisi kunjungan kelas khususnya yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Alat bantu informasi keberangkatan armada Bus di Terminal / Resky Febry Nurdiyanto

 

Pengembangan media CD pembelajaran geografi menggunakan komputer untuk topik bumi dan perkembangannya dengan aplikasi macromedia flash MX dan 3D studio max / M. Aris Fahroni

 

Materi bumi dan perkembangannya merupakan materi pelajaran geografi yang mengkaji tentang proses alam dan objek alam dalam skala ruang yang luas, sehingga dalam penjelasannya tidak cukup hanya dengan cara lisan saja. Kondisi ini menyebabkan kesulitan siswa dalam memahami materi, khususnya proses-proses alam, seperti: susunan tata surya, terbentuknya tata surya, terpecahnya benua serta tabrakan lempeng tektonik. Hal tersebut disebabkan guru kesulitan untuk menunjukkan secara langsung proses-proses alam di dalam kelas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media pembelajaran interaktif. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan media pembelajaran interaktif yang dapat menunjukkan proses terjadinya tata surya khususnya bumi dan proses perkembangannya yang dapat membantu siswa memahami materi. Media ini dikembangkan dengan menggunakan program macromedia flash mx dan 3D studio max yang merupakan program animasi yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, dan animasi sehingga proses terjadinya bumi, perkembangan bentuk muka bumi dapat dipresentasikan. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, yang terdiri dari kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Data penelitian bersifat kuantitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data hasil uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa media ini ”valid”. Hasil uji coba produk diperoleh nilai 88 % dengan kriteria ”layak”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah. Dari temuan penelitian disarankan guna meningkatkan manfaat dan pengembangan CD pembelajaran yang akan datang adalah: (1) guru hendaknya menggunakan media ini dalam pembelajaran di kelas khususnya untuk materi bumi dan perkembangannya, (2) digunakan LCD Proyektor untuk memperoleh tampilan yang lebih besar (3) pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lainnya seperti: litosfer, dan atmosfer.

Data logger suhu ruangan / Moh Syarif

 

Mengetahui dan mengamati keadaan suhu pada suatu perindustrian merupakan salah satu aspek yang sangat penting sebagai tindakan awal perawatan (preventif maintenance). Suhu merupakan suatu besaran yang mudah berubah-ubah. Oleh karena itu pengukuran dan pengamatan yang berulang-ulang yang hasilnya disimpan untuk dikaji lebih lanjut perlu dilakukan. Pendataan dan pengamatan tersebut masih banyak yang dilakukan secara manual yang kenyataannya memiliki kelemahan-kelemahan diantaranya adalah banyaknya waktu yang diperlukan untuk melakukan pendataan dan pengamatan, kepresisian hasil pendataan, dan teknik pengambilan data masih bisa diragukan. Sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut maka dibuat Data Logger suhu yang dapat menyimpan data secara otomatis. Tujuan dalam pembuatan tugas akhir ini sebagai berikut (1) Merancang hardware sistem Data Logger Suhu Ruangan. (2) Membuat aplikasi komputer dari Data Logger Suhu Ruangan. (3) Menguji kinerja dari sistem Data Logger Suhu Ruangan. Sistem keseluruhan Data Logger Suhu Ruangan terdiri dari : (1) sensor suhu. (2) pengkondisi sinyal. (3) analog to digital converter. (4) pengendali waktu. (5) keypad. (6) memori eksternal. (7) LCD (liquid crystal display) dan seven segment. (8) interface USB. (9) Mikrokontroler. (10) aplikasi database komputer. Cara kerja alat ini adalah dimulai dengan mendeteksi suhu yang kemudian diubah menjadi data digital oleh ADC. Sinyal yang dihasilkan oleh ADC kemudian diproses oleh mikrokontroler untuk ditampilkan di LCD dan disimpan dalam sebuah memori. Proses pengambilan data ditentukan melalui pengaturan dari keypad sesuai dengan yang dibutuhkan. Data yang tersimpan dalam memori data logger dapat dipindah ke database komputer setelah pengambilan data selesai. Hasil dari perancangan tugas akhir ini adalah Data Logger Suhu Ruangan mampu menyimpan data besaran suhu, waktu, dan rentang waktu pengambilan data. Data hasil pengukuran memiliki rata-rata kesalahan (error) sebesar 1.23 %. Aplikasi Interface database komputer dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi. Data yang disimpan di memori Data Logger Suhu Ruangan dapat ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik serta disimpan dalam format Excel pada komputer.

Profil manajemen layanan usaha kesehatan sekolah: studi kasus SD Negeri Sumbersono Kabupaten Mojokerto / Urut Adi Tanoyo

 

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah suatu tempat untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan siswa-siswi sedini mungkin, dan perpaduan antara pendidikan dan kesehatan, yang pada gilirannya nanti diharapkan siswa-siswi dapat mandiri dalam melaksanakan pola hidup sehat. Dalam menjalankan UKS ini tidak terlepas dari pengelolaan atau manajemen yang diawali dari proses perencanaan layanan UKS, pengorganisasian layanan UKS, pelaksanaan layanan UKS, dan evaluasi layanan UKS. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana pengelolaan layanan UKS SD Negeri Sumbersono. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan empat sub fokus penelitian yaitu: (1) perencanaan layanan UKS; (2) pengorganisasian layanan UKS; (3) pelaksanaan layanan UKS; dan (4) evaluasi layanan UKS. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Sumbersono sebab merupakan salah satu sekolah yang menjadi juara nasional lomba sekolah sehat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik pengamatan berperan serta; (2) teknik wawancara terbuka; dan (3) teknik dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut dianalisis guna menyusun temuan lapangan. Pengecekan keabsahan data dengan (1) kriteria kredibilitas (derajat kepercayaan); (2) perpanjangan keikutsertaan; dan (3) teknik trianggulasi. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) perencanaan layanan UKS adalah dengan merencanakan program UKS (pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat), pengadaan obat-obatan, pengadaan peralatan UKS, pengadaan dana UKS, dan pembuatan tata tertib UKS; (2) pengorganisasian layanan UKS adalah dengan membuat struktur organisasi UKS yang di dalamnya mengatur mengenai pembagian tugas dari masing-masing unit; wewenang dari masing-masing unit; garis tanggung jawab dari masing-masing unit; kerja sama dari masing-masing unit; (3) pelaksanaan layanan UKS adalah melaksanakan rencana kerja pembinaan dan pengembangan UKS yaitu a) pendidikan kesehatan; b) pelayanan kesehatan; dan c) pembinaan lingkungan sekolah sehat; (4) evaluasi layanan UKS meliputi: a) supervisi; b) monitoring; c) evaluasi; dan d) pelaporan. Dari temuan penelitian ini disarankan sebagai berikut: dinas-dinas terkait diharapkan untuk memberikan dukungan pada sekolah-sekolah lain dalam pengembangan UKS. Bagi sekolah diharapkan lebih memperhatikan pentingnya pengelolaan UKS dan lebih memaksimalkan ide serta gagasan untuk mengembangkan UKS. Bagi guru diharapkan lebih memotivasi dan i

Pembuatan busana pesta model rok circle berbahan lycra / Kardina Sidni Arfiyanti

 

Kualitas batu putih (Dolomite) sebagai bahan material dinding dari daerah Sumenep / Eko Azwar Ramdan

 

Pemanfaatan batu putih dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan karena tanpa melalui proses pencetakan, pengeringan dan pembakaran. Sampai saat ini belum ada pengujian terhadap kualitas batu putih sebagai bahan material dinding, maka penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas penyerapan air, kerapatan semu, dan kuat tekan batu putih dari daerah Sumenep dan diharapkan layak digunakan sebagai bahan material dinding. Batu putih yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Desa Guluk-guluk Kec. Batu putih Kab. Sumenep, yaitu batu putih (dolomite) yang berbentuk prisma segi empat panjang dan siap dijual dengan ukuran: panjang 28 cm, lebar 13 cm dan tebal 8 cm, warna putih dengan rumus kimia MgCO3 yang sifatnya dapat berubah karena air laut. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang, tanggal 7 Juli sampai 14 Juli 2008 dengan sampel 16 buah batu putih. Rancangan penelitian menggunakan research eksploratif. Teknik sampling yang digunakan adalah aksidental sampling. Jenis pengujian yang digunakan yaitu pengujian penyerapan air, kerapatan semu, dan kuat tekan. Analisa hasil penelitian ini dibandingan dengan SNI 15-2094-2000. Hasil pengujian kualitas penyerapan air batu putih rata-rata adalah sebesar 13% <20% yang berarti masih memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 15-2094-2000. Hasil pengujian kerapatan semu rata-rata adalah sebesar 1,4 gram/cm3 >1,2 gram/cm3 yang berarti masih memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 15-2094-2000. Hasil pengujian kuat tekan rata-rata batu putih adalah 106,6 kg/cm2 (106,6 kg/cm2 >50 kg/cm2), (106,6 kg/cm2 >100 kg/cm2), dan (106,6 kg/cm2 <150 kg/cm2) yang berarti untuk kelas 50 dan 100 memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 15-2094-2000 sedangkan untuk kelas 150 tidak memenuhi syarat dikarenakan kuat tekan untuk kelas tersebut adalah 150 kg/cm2. Kajian ini menyimpulkan bahwa kualitas batu putih dari Sumenep layak sebagai bahan dinding untuk bangunan sederhana.

Pemanfaatan media pembelajaran di pusat pendidikan dan pelatihan SDM Perum Perhutani Madiun / Rifky Ardiansyah

 

Media pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Media pembelajaran yang dimanfaatkan dapat membantu mempermudah pembelajaran secara efektif dan efisien. Sehingga peranan instruktur sangat berpengaruh baik dalam menggunakan, memanfaatkan dan pemilihan media. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti akan mengungkap tentang pemnafaatan media pembelajaran di Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Perum Perhutani Madiun.Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan media pembelajaran yang dimanfaatkan oleh instruktur di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun; (2) Kriteria apa saja yang dipakai dalam pemilihan media pembelajaran; (3) Untuk mendeskripsikan frekuensi instruktur dalam memanfaatkan media pembelajaran; (4)Untuk mendeskripsikan pola pemanfaatan media pembelajaran di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun; (5) Faktor - faktor yang mempengaruhi pemanfaatan media pembelajaran di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun. Penelitian disini menggunakan metode diskriptif dan instrumen penelitian yang dipakai adalah angket dan pedoman observasi. Sampel dalam penelitian ini adalah instruktur di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun berjumlah 8 orang. Penggumpulan data menggunakan analisis statistik presentase. Hasil penelitian adalah: 1) Media yang dimanfaatkan hampir seluruh instruktur (87,5%) adalah buku pelajaran, praktek lapangan dan foto; Media yang sebagian besar dimanfaatkan adalah papan magnet/white board, bagan, modul, CD audio, internet, OHP dan transparansi (75%) slide dan video (62,5%); Separuh media yang dimanfaatkan adalah papan tulis flip chart, peta, poster, grafik, surat kabar, widyawisata, cordless microphone, dan LCD (50%); Media yang sebagian kecil dimanfaatkan adalah brosur/lift letter, specimen, tape recorder (37,5%), film dan televisi (25%). 2) Media yang selalu dimanfaatkan oleh instruktur adalah media papan, media cetak dan media pandang (50%); Yang sering dimanfaatkan media benda sebenarnya dan media dengar(50%); Yang kadang-kadang dimanfaatkan oleh instruktur adalah media grafis dan pandang dengar (50%). 3) Kriteria pemilihan media pembelajaran memilih media sesuai dengan isi atau materi (100%); Berdasarkan pencapaian tujuan pembelajaran (87,5%); Dimanfaatkan sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan dan sesuai dengan karakteristik peserta (62,5%); Memilih media sesuai dengan kualitas media (25%). 4) Kegiatan sebelum memanfaatkan media kegiatan yang dilakukan oleh instruktur hampir seluruhnya mempelajari urutan materi yang akan disampaikan; Selama pemanfaatan media seluruhnya adalah menjelaskan materi dengan menggunakan media; Selama pemanfaatan media seluruhnya adalah menjelaskan materi dengan menggunakan media; Untuk pola pemanfaatan media dalam kelas secara klasikal (87,5%), secara kelompok (62,5%); Pola pemanfaatan media yang diluar kelas secara terkontrol (100%). 5) Faktor pendukung pemanfaatan media pembelajaran dengan media peserta lebih termotivasi; Faktor penghambat sebagian besar menyebutkan jenis media yang terbatas. Berdasarkan hasil penelitian beberapa ada saran yang ingin disampaikan, yaitu: 1). Kepada instruktur untuk: a) memanfaatkan media pembelajaran secara menyeluruh dan optimal; b) memilih media pembelajaran dengan memperhatikan prinsip-prinsip pemilihan media; c) frekuensi pemanfaatan media harus divariasikan hal ini supaya peserta didik tidak bosan; d) untuk pola pemanfaatan instruktur harus bisa mengelola media baik sebelum, selama dan sesudah memanfaatkan media dan juga pemanfatan di dalam maupun di luar kelas; e) menambah jumlah media pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan diklat 2). Untuk Pusdiklat SDM: a) Perum perhutani hendaknya menambah jumlah media pembelajaran; b) instruksi kepada instuktur juga diperlukan supaya dalam kegiatan diklat memanfaatkan media pembelajaran, 3). Untuk peneliti selanjutnya hendaknya menambah permasalahan dan melengkapi kekurangan dari hasil penelitian ini.

Sistem pengendalian tenaga kerja pada proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang / By Bing Ahyudo

 

Keterlambatan waktu pelaksanaan suatu proyek dapat disebabkan oleh faktor dokumen administrasi yang kurang lengkap, keuangan, ketenagaan, material/logistik, kondisi alam, dan teknis. Keterlambatan waktu pelaksanaan proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang diperkirakan disebabkan oleh pengendalian tenaga kerja yang kurang baik. Tujuan studi lapangan ini untuk mengetahui faktor penyebab keterlambatan waktu pelaksanaan yang disebabkan pengendalian tenaga kerja yang kurang baik, dan diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan keterlambatan waktu pelaksanaan yang disebabkan oleh faktor ketenagakerjaan tersebut. Pengendalian tenaga kerja terdiri atas rekruitmen, penempatan, pembinaan dan promosi, dan pengupahan. Di dalam proses rekruitmen dilakukan seleksi untuk mendapatkan tenaga kerja kerja yang berkualitas, penempatan tenaga kerja berdasarkan keahlian tenaga kerja, pembinaan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan keahlian dan kualitas tenaga kerja, dan sistem pengupahan yang harus memperhatikan biaya hidup dan upah minimum lokal. Objek studi lapangan adalah sistem pengendalian tenaga kerja pada proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi untuk memperoleh data tentang pergantian tenaga kerja, metode interview/tanya jawab untuk memperoleh data tentang rekruitmen tenaga kerja, penempatan tenaga kerja, pembinaan dan promosi tenaga kerja, dan sistem pengupahan, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data struktur organisasi proyek dan daftar upah tenaga kerja. Kesimpulan ditarik melalui pengkajian hasil pengumpulan data lapangan dan kajian pustaka. Hasil studi lapangan menunjukkan bahwa rekruitmen tenaga kerja dilakukan sesuai jenis ketenagaannya. Untuk tenaga kerja tetap dilakukan seleksi dengan wawancara untuk mengetahui keahlian yang dimiliki tenaga kerja. Untuk tenaga kerja tidak tetap rekruitmennya dilakukan melalui Mandor. Dalam penempatan tenaga kerja telah sesuai dengan keahlian yang dimiliki tenaga kerja. Tidak dilakukan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. Pengupahan yang diberikan telah sesuai dengan standar dan peraturan pemerintah setempat. Kesimpulan, keterlambatan waktu pelaksanaan disebabkan tenaga kerja tidak tetap yang direkrut kurang berkualitas akibat tidak dilakukannya seleksi, sering terjadinya bongkar pasang tenaga kerja tidak tetap, mandor dalam pelaksanaan kurang, tidak dilakukan pembinaan dan pelatihan tenaga kerja. Penempatan tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap keterlambatan, karena telah sesuai dengan keahlian tenaga kerja demikian juga pengupahan tidak berpengaruh, karena telah sesuai dengan standar yang ada.

Peran mahasiswa PPL dalam memotivasi siswa belajar bahasa Jerman di MAN 1 Malang / Dimas Pahlawanita Damayanti

 

Dalam proses belajar mengajar terjadi transfer pengetahuan dari guru ke siswa, siswa ke guru, dan siswa ke siswa. Selama proses belajar-mengajar guru sangat berperan dalam menumbuhkan motivasi belajar pada diri siswa, terutama pada pembelajaran bahasa Jerman. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil belajar yang baik juga. Prestasi yang diraih siswa sangat tergantung pada kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah maupun kelas. Selain mengajar, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jerman yang melaksanakan program PPL di MAN 1 Malang juga mempunyai tugas sebagai motivator. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat berbagai kesulitan yang dialami oleh mahasiswa PPL, guru bahasa Jerman, maupun para siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk meneliti mengenai peran mahasiswa PPL dalam pembelajaran bahasa Jerman di MAN 1 Malang dan strategi yang efektif untuk memotivasi siswa belajar bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang peran mahasiswa PPL dalam pembelajaran bahasa Jerman di MAN 1 Malang dan strategi yang digunakan untuk memotivasi siswa dalam belajar bahasa Jerman. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) penyebaran angket. Dari hasil penelitian, pembaca dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa PPL dalam upaya memberikan motivasi belajar bahasa Jerman kepada siswa, yang meliputi metode mengajar, strategi yang digunakan dalam memberikan motivasi belajar, dan berbagai kendala yang dihadapi selama pelaksanaan PPL. Dari serangkaian kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jerman telah berusaha menjadi teladan bagi para siswa dan memberikan motivasi belajar bahasa Jerman kepada siswa selama melaksanakan program PPL di MAN 1 Malang, tetapi tidak semua mahasiswa PPL melakukan perannya sebagai motivator dengan baik. Ada siswa yang tidak menyukai strategi yang digunakan oleh sebagian mahasiswa PPL, akibatnya siswa menjadi semakin tidak tertarik untuk mempelajari bahasa Jerman. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada para calon mahasiswa PPL yang selanjutnya untuk melakukan persiapan secara matang sebelum terjun ke sekolah dan mengajar di kelas, serta memahami tugas tambahan sebagai seorang guru, sedangkan bagi guru bahasa Jerman dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Jerman yang meliputi metode pengajaran, media pengajaran, bahan ajar yang digunakan secara kreatif sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Analisis faktor-faktor motivasi mahasiswa memilih jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Edwin Arfiani

 

Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, sehingga faktor-faktor mahasiswa dalam memilih jurusan berbeda pula. Seorang calon mahasiswa akan memilih suatu jurusan tertentu dengan harapan, bahwa jurusan yang ditempuhnya nanti akan dapat menunjang proses pendidikannya di kemudian hari dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Mahasiswa harus mengambil keputusan dalam memilih jurusan yang diinginkan dan diharapkan dengan mempertimbangkan hal-hal yang penting untuk masa depannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi motivasi mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang? Faktor apakah yang paling dominan yang mendorong mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang? Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) Mengetahui faktor-faktor yangmenjadi motivasi mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang, dan (2) Menemukan faktor yang paling dominan yang mendorong mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian exsploratory karena bermaksud untuk mengeksplorasi kesemestaan fenomena alam ataupun sosial. Populasi yang berjumlah 375 orang. Sampel penelitian berjumlah 160 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik pengambilan sampel secara acak (proportional random sampling). Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti menggunakan angket terbuka dan tertutup. Hasil penelitian menunjukkan ada 8 faktor motivasi mahasiswa memilih Jurusan AP FIP UM meliputi: (1) faktor bakat, (2) faktor biaya, (3) faktor sarana, (4) faktor dorongan orang lain, (5) faktor karier, (6) faktor minat, (7), faktor tenaga pengajar, dan (8) faktor harapan. Saran bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya penelitian ini dapat menambah keilmuan dalam bidang manajemen pendidikan. Bagi mahasiswa hendaknya dengan masuk ke Jurusan AP FIP UM mahasiswa lebih meningkatkan motivasinya agar apa yang diharapkan tercapai di masa depan, bagi peneliti lain penelitian ini perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor motivasi mahasiswa secara rinci.

Perancangan power pack untuk penggerak hidrolik pada alat pelepas dan pemasang bearing transmisi otomotif / Arif Ferdiansyah, Nuryl Alfan Riben

 

Pengaruh kemasan sikat gigi yang menggunakan tutup (helm) terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada anggota KSR PMI Universitas Negeri Malang) / oleh Dian Eka Prasastianta

 

Kemasan yang menarik dapat menjadi pendorong bagi pembeli untuk mencobanya, karena tidak jarang keputusan unhrk membeli suatu produk terjadi hanya karena terpengaruh oleh bungkus yang menarik. Sering pula terjadi suatu produk dipilih karena bungkusnya lebih menarik dari pada produk lain yang sejenis. Kemasan dapat diiadikan sebagai alat promosi yang baik, karena melalui kemasan yang menarik dapat merangsang konzumen unfirk mencoba menggunakan produk tersebut. Oleh sebab itu kemasan yang menarik masih harus tetap diperhatikan karena kemasan tersebut dapat menimbulkan kesan pada barangnya. Penelitian ini berhrjuan rmhrk mengetahui pengaruh secara parsial dan simtrltan faktor kemasan terhadap keputusan pembelian konsunen. Responden penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah anggota KSR PMI Universitas Negeri Malang. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu lzriabel independen (X) yang terdiri dari bahan kemasan (X1), daya tarik visual kemasan (Xz), daya tarik praktis kemasan (Xr) dan etika kemasan (&). Sedangkan variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini menggr.nakan pendekatan deskriptif korelasional, data diperoleh dengan menggunakan teknik angket/kuesioner tertutup. Jurnlah populasi sebanyak 307 orang dengan pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling sebanyak 77 responden. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows release 11.0. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis data regresi berganda maka dapat diketahui hasil penelitian yang menyatakan: (l) nilai0 r:0,270;ntlai t:3,951 dans ignifikanst:i0 ,0.00 SE:29,38%, SR:20,45% membuktikan bahwa pengaruh variabel independen X1 (bahan kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sigrifikan atau dapat dipercaya, (2) nilai Fz: 0,289; nilai t : 3,692 dan signifikansit : 0,000 SE : 20,660/oS. R : 14,38% membuktikan bahwa pengaruh variabel independen X2 {daya tarik visual kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sigrifikan atau dapat dipercaya, (3) nilai Fr : 0,406; nilai t: 5,692 dm sigrifikansi t - 0,000 SE:30,20%, SR : 21,02o/om embuktikan bahwa pengaruh variabel independen X: (daya tarik praktis kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sigaifikan atau dapat dipercaya(, a) nilai Ba- A,279;n ilai t : 4,074 dans ignifikansit : 0,000 SE : 19,76%, SR: 13,75%m embuktikanb ahwa penganrhv ariabel independen) la (etika kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sipifikan atau dapat dipercaya. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat dttank kestmpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada pengaruh yang signifikan antara bahan kemasan (Xr), daya tarik visual kemasan (Xz), daya tarik praktis ii kemasan (X3) dan etika kemasan (Xa) secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian konsumen telah terbukti. Saran yang bisa dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian ini adalah: (1) Dalam membuat kemasan suatu produk hendaknya produsen memperhatikan bahan dari kemasan. (2) Kemasan suahr produk memainkan peranan yang cukup besar guna menarik lebih banyak konsumen atau calon pembeli. (3) Dalam membeli suatu produk seorang konsumen tentunya menginginkan produk yang dibelinya memberikan kemudahan saat pemakaian dan penyimpanannya, serta dapat melindungr produk dari kontaminasi. (4) Suatu produk yang didukung dengan penampilan yang menarik dapat dijadikan sebagai alat advertensi bagi perusahaan. (5) Kemasan dapat menciptakan kesan pada barang atau produknya, apabila kesan tersebut bagus maka citra perusahaan juga ikut bagus.

Permainan ular tangga meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bilangan bulat siswa kelas IV SDN Kebonagung 06 Pakisaji Malang / Nanik Agustina

 

dasar suatu mata pelajaran. Oleh sebab itu guru yang mengajar mata pelajaran tertentu di Sekolah Dasar harus mampu menyampaikan konsep tersebut dengan benar dan mudah dipahami siswa. Untuk dapat membekali siswa dengan penguasaan konsep yang memadai, maka kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran yang membuat siswa mudah menerimanya sangat diharapkan agar siswa menyenanginya. Hendaknya tidak dilakukan secara abstrak, tetapi sedapat mungkin dilakukan dengan cara pembelajaran yang dimulai konkrit menuju abstrak, dari hal-hal yang mudah ke hal-hal yang sulit atau dari sederhana ke kompleks. Sejalan dengan teori Piaget, siswa Sekolah Dasar berusia 11-12 tahun mengalami tahap operasi konkrit. Dipadukan dengan pendapat Zoltan P. Dienes bahwa dalam mengajarkan konsep matematika melalui enam tahap, salah satunya dengan metode permainan. Oleh sebab itu permainan ular tangga diterapkan dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Diharapkan dengan metode yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika. Adapun langkah pelaksanaan penggunaan permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat adalah sebagai berikut a). Mengajak siswa bermain ular tangga, b). Menerapkan permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi bilangan bulat. Dari uraian tersebut dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut; a). Bagaimana hasil belajar siswa sebelum digunakannya metode permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat?, b). Bagaimana hasil belajar siswa setelah digunakannya metode permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat?, c). Apakah penggunaan metode permainan ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas secara kolaboratif antara guru kelas dan peneliti yang dilaksanakan di kelas IV SDN Kebonagung 06 Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang dengan jumlah siswa 46 yang terdiri dari 24 siswa perempuan dan 22 siswa laki-laki dari tanggal 1 sampai dengan 30 April 2008. Penelitian ini menggunakan lembar observasi pelaksanaan kegiatan dan soal tes sebagai instrumen pengumpulan data. Dari hasil observasi ditemukan data nilai rata-rata siswa pelajaran matematika pada ujian tengah semester 2 tahun 2007/2008 hanya mencapai 52,5. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebelum penggunaan permainan ular tangga hasil belajar siswa rata-rata mencapai 67,3 dengan jumlah siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 sebanyak 22 siswa. Hasil penggunaan permainan ular tangga pada pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dapat dikemukakan sebagai berikut; a). Siklus I; rata-rata nilai post tes siswa adalah 72,9 dengan 29 siswa (63%) mendapat nilai 70-100 dan mengalami ketuntasan belajar individu. Sedangkan 17 siswa (37%) mendapat nilai <50-65 belum mengalami ketuntasan individu. b). Siklus II; rata-rata nilai post tes adalah 85,2 dengan 45 siswa (97,8%) mendapat nilai 70-100 dan mengalami ketuntasan belajar individu. Sedangkan 1 siswa (2,2%) belum mengalami ketuntasan individu. Siswa tersebut adalah siswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Siswa tersebut merupakan siswa pindahan dari sekolah lain yang disekolah asal pernah tinggal kelas 1 kali pada kelas III. Dengan melihat ketuntasan belajar kelas pada siklus II menunjukkan bahwa penggunaan permainan ular tangga pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sudah berhasil dengan persentase banyaknya siswa yang tuntas belajar 97,8%, sedangkan siswa yang belum tuntas belajar 2,2%. Dari paparan di atas menunujukkan bahwa penggunaan permainan ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal ini terbukti pada hasil belajar siswa yang telah dicapai oleh siswa. Bertitik tolak dari penemuan di atas, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah salah satunya dengan memperhatikan perkembangan mental anak yaitu tahap operasi konkrit dan dengan metode permainan sesuai dengan tahap-tahap dalam menanamkan konsep matematika. Diharapkan siswa dapat dengan mudah menerima konsep dengan mudah.

Using wh-question technique to improve the second year students' abilities in generating ideas of writing recount in MTs Surya Buana Malang / Wiwid Ananing Reny

 

Analisis kecelakaan lalu lintas di kota Malang (Studi kasus pengguna sepeda motor pada ruas jalan Kolenel Sugiono sampai dengan ruas jalan Tumenggung Suryo) / Ferdian Yulianto

 

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya, mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. Faktor-faktor penyebab kecelakaan yaitu:1) faktor manusia, 2) kendaraan, dan 3) lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mendominasi membentuk pola kecelakaan dan daerah mana saja yang menjadi daerah rawan kecelakaan (black site). Jenis data berupa data sekunder dan data primer, data sekunder berupa jumlah kecelakaan, jenis kendaraan, profil kecelakaan, dan kepemilikan SIM, sedangkan data primer berupa data volume lalu lintas harian rata-rata (LHR). Pengumpulan data-data kecelakaan dilakukan dengan cara mencatat data kecelakaan dari buku register di Satlantas Kota Malang, sedangkan untuk survey lapangan dengan cara: 1) mencatat volume kendaraan (LHR), dan 2) mengukur panjang jalan, sehingga dapat ditentukan daerah rawan kecelakaan (black site). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kendaraan jenis sepeda motor merupakan jenis kendaraan paling besar yang memberikan sumbangan terhadap terjadinya kecelakaan sebesar 60,90%, sedangkan faktor utama penyebab kecelakaan adalah faktor manusia, khususnya para pelajar tingkat SLTA yang mencapai 43,61% dari total 66 kejadian di lokasi studi, sedangkan ruas jalan Kolonel Sugiono sampai dengan ruas jalan Laksamana Martadinata diidentifikasi menjadi daerah rawan kecelakaan karena memiliki tingkat kecelakaan yang paling besar yaitu 31,89%.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran seni budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang / Indra wardani

 

ABSTRAK Wardani, Indra. 2008. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar pada Mata Pelajaran Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Moeljadi Pranata, M. Pd, (II) Drs. Eko Budi Winarno. Kata Kunci : pelaksanaan, pembelajaran, seni budaya. Mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya. Di dalamnya tetap mencakup Seni Rupa, Seni Tari ,Seni Musik, dan Seni Teater (drama), namun dengan pendekatan budaya terutama budaya lokal daerah setempat. Sifat-sifat yang melekat pada pendidikan seni antara lain: imajinatif, sensibilitas, kebebasan, dan memberikan peluang bagi terciptanya proses pengembangan kreativitas dan apresiatif. Penerapan KTSP memberikan peluang bagi setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri. Untuk itu tiap guru yang akan mengajar di kelas dituntut memiliki kemampuan untuk menyusun kurikulum yang tepat bagi peserta didiknya. Berdasarkan permasalahan tersebut dilakukan penelitian untuk menggali bagaimana pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang. Rancangan penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan penelitian ini ialah dua orang guru Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang. Data yang diperoleh ditrianggulasi dengan menggunakan trianggulasi metode dan sumber. Variabel-variabel yang diusut meliputi: (a) persiapan pembelajaran, (b) pelaksanaan pembelajaran, (c) penilaian pembelajaran, dan (d) sumberdaya dukung dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini menemukan hasil bahwa guru Seni dan Budaya telah melakukan persiapan pembelajaran sebelum mereka melakukan pembelajaran. Guru dapat melakukan persiapan dengan baik karena faktor (a) latar belakang pendidikan yang sesuai, (b) pengalaman belajar yang cukup lama, serta (c) terbiasa membuat persiapan yang sama sejak KBK. Guru juga tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam hal ini guru mampu mengembangkan tujuan, materi, media, dan metode dengan relatif baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa guru melakukan penilaian pembelajaran Seni dan Budaya sesuai dengan KTSP. Hal ini karena penilaian masih dipengaruhi oleh kebijakan sekolah, yang berorientasi pada penggunaan materi dan dipengaruhi oleh pelaksanaan kurikulum tradisional. Usaha guru untuk menerapkan pembelajaran secara maksimal juga terkendala atau keterbatasan sumberdaya dukung. Pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya menurut KTSP belum didukung oleh ketersediaan studio seni (peralatannya) serta buku-buku memadai yang seharusnya diketahui penerintahan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan belajar mengajar Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang masih dipengaruhi oleh pola kurikulum berbasis materi. Meskipun demikian, guru Seni dan Budaya terus berusaha agar dapat menjalankan KTSP dengan sungguh-sungguh dan benar. Disarankan agar untuk penelitian lanjutan diadakan penelitian serupa, utamanya untuk sekolah-sekolah di wilayah pinggiran kota.

Hubungan antara prestasi belajar matakuliah prasyarat paket desain interior/eksteior terhadap prestasi belajar matakuliah tinjauan desain interior/eksterior pada mahasiswa angkatan 2004 Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang / Rif Ri

 

ABSTRAK Izza, Rif Rinda Himmatul. 2008. Hubungan Antara Prestasi Belajar Matakuliah Paket Prasyarat Desain Interior/Eksterior Terhadap Prestasi Belajar Matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior Pada Mahasiswa Angkatan 2004 Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Indrawati, (II) Dra. Tjitjik Sri Wardhani. M.Pd. Kata kunci: Prasyarat, Paket Tinjauan Desain Interior/Eksterior Matakuliah Desain Interior/Eksterior dipilih jika sudah menempuh beberapa matakuliah yang disyaratkan dan dinyatakan lulus. Dalam hal ini akan timbul sebuah anggapan bahwa keberhasilan matakuliah berhubungan dengan prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior, matakuliah prasyarat yang telah ditempuh oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah pilihan khususnya Tinjauan Interior/Eksterior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar matakuliah prasyarat paket Desain Interior/Eksterior yang disyaratkan dan dinyatakan lulus. Dalam hal ini akan timbul sebuah keberhasilan matakuliah sehubungan dengan prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior, matakuliah prasyarat yang telah ditempuh oleh mahaiswa yang mengambil matakuliah pilihan khususnya matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prestasi belajar matakuliah prasyarat Nirmana II semester Genap Tahun 2004/2005, Gambar Teknik semester Gasal Tahun 2004/2005, Gambar Bentuk II semester Genap Tahun2004/2005, dan Desain Terapan 2D semester Genap Tahun 2005/2006 terhadap prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior semeter Genap Tahun 2005/2006. dengan prestasi belajar matakuliah prasyarat sebagai variabel bebas (prediktor) dan prestasi belajar matakuliah tinjauan desain interior/eksterior sebgai variabel terikat (kreterium). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase dan analisis korelasi Product Moment Pearson, dengan analisis korelasi product moment ini dapat diketahui sumbangan efektif masing-masing prediktor. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada kepada mahasiswa untuk lebih meningkatkan kegiatan belajarnya sehingga nantinya prestasi belajar mahasiswa dalam matakuliah prasyarat untuk matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior bisa lebih meningkat. Mengingat besarnya pengaruh yang disumbangakan yaitu nilai B dengan kualifikasi banyak terhadap prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior.

A Studi on the implementation of english speaking program at MAN 3 Malang Dormitpry / Devinta Pustpita Ratri

 

Speaking skill is one important skill of English learning which needs practice in order to master English well. Creating an English environment is one way of improving English speaking skill. With this phenomenon, MAN 3 Malang dormitory has developed an environment which requires the members of MAN 3 Malang dormitory to speak English in dormitory zone. This research aims to study the implementation of English speaking program at MAN 3 Malang dormitory, and the description of the program is expected to provide information for English learners on how to improve their English speaking skill by creating real-life communication, and also can be useful as information for English learners and English teachers from other schools that perform or have implemented similar program. The subjects of the study were the students of grade XI and XII of MAN 3 Malang dormitory. This study was carried out at MAN 3 Malang dormitory in July 2008. The descriptive qualitative design was used in order to collect information to answer the research problems. The data were obtained through interview, questionnaire, and field notes. They were then presented descriptively after being classified into related aspects. The finding of the study was that the English speaking program which applies the rules of requiring dormitory students to speak English at the dormitory zone was well implemented since the member of MAN 3 Malang dormitory tried to make a good cooperation in creating an English environment. In implementing English speaking program, punishment was given as a consequence to the students who disobey the rules. There were 10 supporting programs which sustained the English speaking program. Those supporting programs aimed to ease students in implementing the English speaking program. As much as 88% of respondents gave positive response toward the implementation of the English speaking program. They realized the English speaking program was important to improve their skill in speaking English. It is suggested to the other schools which have dormitory to implement a similar program which is the English speaking program at MAN 3 Malang dormitory. By implementing English speaking program, English learners can do more practice in speaking English. They will be able to speak English better because they have conducive English learning environment in the dormitory as the one implemented at MAN 3 Malang dormitory.

Motivasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra mengikuti aktivitas Sanggar tari Karawitan ASRI Kusuma Universitas Negeri Malang / Atmi Hapsari

 

Pengembangan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas untuk kelas IV SD Negeri Besuk Agung Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo / Haris Taufikur

 

Pengembangan bahan ajar ini dilakukan karena masih sangat minim bahan ajar yang digunakan dalam penyampaian materi penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas di SD Negeri Besuk Agung, sedangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SD Negeri Besuk Agung terdapat kompetensi dasar yang terkait dengan kesehatan yaitu penyakit yang ditularkan nyamuk dan unggas yang diberikan pada siswa kelas IV. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas untuk kelas IV SD Negeri Besuk Agung Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo yang dapat digunakan sebagai bahan ajar atau juga sebagai media penyampaian materi penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas pada mata pelajaran pendidikan jasmani. Prosedur pengembangan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan nyamuk dan unggas ini menggunakan model pengembangan Dick and Cerey yang terdiri dari 10 langkah. Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk mengembangkan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan nyamuk dan unggas ini adalah sebagai berikut: 1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, 2) melaksanakan analisis, 3) mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, 4) menulis tujuan, 5) mengembangkan butir-butir tes yang kriterianya sudah ditentukan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pengajaran, 8) menyusun dan melaksanakan evaluasi formatif, 9) merevisi pengajaran, 10) melaksanakan evaluasi sumatif. Lokasi penelitian adalah di SD Negeri Besuk Agung. Subyek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 3 orang ahli yaitu 1 ahli media pembelajaran, 2 orang ahli Kesehatan dan satu orang ahli pendidikan jasmani, (2) ujicoba kelompok kecil adalah siswa SD Negeri Besuk Agung kelas IV sebanyak 10 orang dengan menggunakan random sampling, dan (3) uji kelompok besar adalah siswa SD Negeri Besuk Agung kelas IV sebanyak 43 orang. Pengambilan sampel ini dilakukan pada seluruh kelas. Setelah dievaluasi oleh para ahli dan siswa terdapat beberapa masukan yang meliputi ukuran buku, format penulisan buku ajar, bahasa yang digunakan, kejelasn gambar,ilustrasi,dan kemenarikan cover. Setelah dilakukan revisi, dihasilkanlah produk berupa bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas untuk kelas IV SD Negeri Besuk Agung Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo.

Pengaruh kualitas model pembelajaran kooperatif think pair share tehadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 7 Malang pada mata pelajaran akuntansi tahun ajaran 2007/2008 / Vita Agustina

 

The implementation of experimential leraning to improve the ability of eigh graders of SMPN 1 Singosari in writing personal recount paragragraphs / Nine Febrie Novitasri

 

Improving the eighth-grade studens' reading skill at MTs Negeri Manado through the jigsaw technique / Lily Korniaty

 

Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan ketrampilan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan teknik jigsaw. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknik jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa di MTs Negeri Manado. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana peneliti dan guru bekerja sama dalam melaksanakan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai guru sedangkan guru bahasa Inggris menjadi kolaborator peneliti untuk mengobservasi pelaksanaan teknik jigsaw. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Prosedur penelitian ini mencakup empat tahap utama yaitu perencanaan tindakan, implementasi tindakan, observasi dan refleksi. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa instrumen seperti format observasi, catatan lapangan, dan nilai membaca siswa. Subyek penelitian ini adalah 32 siswa kelas dua MTs Negeri Manado pada tahun ajaran 2007/2008. Semua siswa merupakan subyek penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur yang tepat untuk menerapkan teknik jigsaw dalam pembelajaran membaca pemahaman dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) membentuk kelompok jigsaw. (2) mengarahkan siswa kepada topik bacaan dengan memberikan beberapa pertanyaan dan/atau menunjukkan gambar. (3) menjelaskan topik dan tujuan pembelajaran. (4) menyuruh siswa menebak kata-kata yang terdapat di dalam teks. (5) membacakan teks dengan jelas, keras dan perlahan dan menyuruh beberapa siswa membaca ulang teks. (6) mendiskusikan isi dari teks dengan menanyakan ide utama dari setiap paragraf. (7) Memberikan model kepada siswa dalam meneukan informasi yang literal dan inferensial dalam teks. (8) membimbing siswa untuk menemukan jawaban atas pertanyaan literal dan inferensial. (9) membagi lembar kerja ahli kepada setiap siswa. (10) membagi siswa kedalam kelompok-kelompok kecil ahli. (11) menyuruh siswa mendiskusikan jawaban dan mencatat hal-hal penting dalam teks. (12) menyuruh siswa mempresentasikan hasil diskusi yang diperoleh dalam kelompok ahli kepada semua anggota kelompok. (13) memeriksa jawaban kelompok dengan menggunakan kompetisi grup. (14) menulis jawaban yang benar di papan tulis. (15) meminta siswa menyimpulkan pelajaran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan teknik jigsaw dalam pembelajaran membaca pemahaman efektif dalam meningkatkan ketrampilan membaca pemahaman siswa. Peningkatan yang dimaksud ditandai dengan peningkatan nilai rata-rata siswa. Nilai rata-rata siswa meningkat dari nilai awal 41.88 menjadi 61.67 pada siklus 1, 67.19 pada siklus 2, dan 76.22 pada siklus 3.

A study on the techniques of teaching english in the first grade of the International primary school laboratory of UM / Suci Maharani

 

Perancangan media komunikasi visual Baitul Maal Wa Tamwil Perdana Surya Utama Malang sebagai media promosi / Erwin Tito Afiyanto

 

Hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran seni budaya / Riska Roniawan

 

ABSTRAK Roniawan, Riska. 2008. Hubungan Motivasi Berprestasi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung Pada Mata Pelajaran Seni Budaya. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd., (II) Drs. Muhadjir. Kata kunci: motivasi berprestasi, hasil belajar, pendidikan seni, korelasi Prestasi belajar seorang siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi faktor fisik (keadaan fisik, kondisi panca indera) dan aspek psikologis (minat, motivasi, bakat, kemampuan kognitif). Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, meliputi aspek lingkungan sosial, lingkungan alam, dan aspek instrumental. Motivasi berprestasi sebagai salah satu faktor dalam diri siswa akan menjadi alat penggerak yang mendorong siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin demi penghargaan pada diri sendiri. Dalam pencapaian prestasi belajar yang diharapkan, siswa melakukan suatu karya prestasi lebih baik dari prestasi karya orang lain yang diwujudkan dalam keberhasilan menyelesaikan tugas-tugasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya. Variabel bebas penelitian ini adalah motivasi berprestasi (x) dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar pada mata pelajaran Seni Budaya (y). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional dengan pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis prosentase dan Korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Subjek penelitian sebanyak 130 siswa yang diambil dari populasi siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya berada pada kategori sedang (43,3%). Prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya berada pada kategori sedang (59,2%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya (rhitung = - 0,137, rtabel dengan N:130, Sig. 5% = 0,172). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya. Sehingga disarankan bagi peneliti yang tertarik pada permasalahan yang sama hendaknya menindaklanjuti dengan jangka waktu yang lama, sampel yang lebih besar, dan memperluas cakupan variabelnya misalnya minat, sosial ekonomi atau variabel lainnya. i

Peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas VII SMPN 1 Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menggunakan strategi mind mapping / Dian Kurniasari

 

Studi tentang struktur pembelajaran seni budaya di SMPN 1 Malang / Saiful Mizan

 

ABSTRAK Mizan, Saiful. 2008. Studi Tentang Struktur Pembelajaran Seni Budaya di SMPN I Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Ida Siti Herawati M.Pd, (II) Dra. Tjitjik Sri Wardani M.Pd. Kata Kunci : struktur pembelajaran, seni budaya. Dalam mata pelajaran Seni Budaya sesuai kurikulum 2007 di SMP terdapat dua tipe bahan ajar yaitu apresiasi seni dan ekspresi seni sehingga perlu dikembangkan struktur pembelajaran yang dapat mengembangkan daya apresiasi dan ekspresi anak didik sebagai upaya peningkatan kompetensi siswa dibidang Seni Budaya. Salah satu sekolah yang telah menerapkan kurikulum KTSP adalah SMPN I. Pembelajaran Seni Budaya di SMPN I Malang tergolong maju, terbukti memiliki berbagai fasilitas kesenian, yaitu ruang musik, dan ruang tari, memiliki banyak prestasi disegala bidang, tidak terkecuali bidang seni, khususnya seni rupa serta berstatus PSBI (Perintis Sekolah Bertaraf Internasional). Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur pembelajaran Seni Budaya Seni Rupa dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan dikelas VII di SMPN I Malang. Rancangan penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif, peneliti berperan langsung sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analisis data, dan sekaligus pelapor data. Lokasi penelitian adalah SMPN I Malang yang berada di Jln. Lawu No. 12 Malang. Sumberdata menggunakan data primer yang diperoleh dari guru mata pelajaran Seni Rupa, dan data sekunder diperoleh dari dokumentasi tentang perangkat, media, sumber serta sarana prasarana pembelajaran. Sedangkan proses pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara juga dilakukan kepada 10 siswa secara acak untuk melengkapi dan mengecek keabsahan data. Tahapan-tahapan analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data melalui metode triangulasi dan pengecekan referensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran Seni Budaya Seni Rupa kelas VII di SMPN I Malang untuk tipe bahan ajar apresiasi seni rupa, menggunakan Model akademik dengan pendekatan ekspositori dan inquiry. Proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode ceramah, dan pemberian tugas, media pembelajaran yang digunakan berupa VCD, gambar-gambar, buku sebagai penunjang, dan lukisan yang dipamerkan di Perpustakaan Umum kota Malang sebagai sumber belajar. Evaluasi yang berlangsung yaitu siswa mengidentifikasi seni rupa terapan modern yang mereka saksikan di video dengan arahan dan bimbingan guru dalam mengidentifikasikan, serta evaluasi berbentuk formatif. Sedangkan untuk tipe bahan ajar ekspresi seni juga menggunakan model pembelajaran akademik dengan pendekatan ekspositori dan inquiry serta metode ceramah, diskusi, pemberian tugas, dan demonstrasi. Media yang digunakan adalah VCD, gambar-gambar, lukisan, dan sumber belajar berupa gambar-gambar. Evaluasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung yaitu berupa tanya jawab. Selain itu evaluasi yang diberikan adalah evaluasi formatif. Saran bagi guru kesenian dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran yang bervariatif dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dan tipe bahan ajar. Disarankan pula untuk meneliti lebih lanjut pada pembelajaran Seni Budaya pada semua aspek pembelajaran.

Implementasi pendekatan proses untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SD Inpres 1 Tanah Tinggi Ternate / Kodrat HI. Karim

 

Perbedaan hasil belajar mahasiswa pendidikan Jasmani Universitas Negeri Malang angkatan 2004 input PMDK, SPMB dan seleksi sendiri pada semester I-VII / Windy Lukito

 

Strategi belajar adaptasi lembaga keluarga dan dinamika kehidupan masyarakat Desa Paciran terkait pembangunan wisata bahari Lamongan / Ayu Ratna Puspita Ningrum

 

Intensive course students' independent study learning and visit patterns in the english self-access center at the state University of Malang / Nina Inayati

 

Implementasi pengukuran dalam penilaian berbasis kelas mata pelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang / Qurrotul A'yuni

 

Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penilaian ini dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Oleh karena itu disebut PBK. PBK dilakukan dengan pengumpulan hasil kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengukuran dalam PBK pada pelajaran bahasa Arab yang dilaksanakan di MAN 3 Malang yang meliputi (1) jenis-jenis pengukuran dalam PBK mata pelajaran BA yang digunakan oleh guru bahasa Arab, (2) faktor yang mendukung implementasi pengukuran dalam PBK mata pelajaran bahasa Arab di MAN 3 Malang, dan (3) faktor yang menghambat implementasi pengukuran dalam PBK mata pelajaran bahasa Arab di MAN 3 Malang. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sedangkan instrumen penunjang berupa wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah 2 guru bahasa Arab MAN 3 Malang dan 10 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan empat kegiatan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) jenis-jenis pengukuran dalam PBK mata pelajaran BA yang digunakan di MAN 3 Malang adalah tes tertulis, unjuk kerja, hasil karya dan penilaian sikap. Tes tertulis yang digunakan adalah tes objektif dan tes subjektif. Bentuk tes tertulis obyektif yang digunakan oleh guru BA berupa soal benar-salah (true false), tes isian (competition test), penjodohan (macthing test), dan pilihan ganda (multiple choice test) sedangkan bentuk tes subjektif berupa tes ingatan sederhana, dan tes dengan jawaban pendek (2) faktor pendukung implementasi pengukuran dalam PBK adalah keseriusan siswa dalam mengerjakan tugas, rapor berkala dan penggunaan media yang efektif dan (3) faktor penghambat dari implementasi pengukuran dalam PBK adalah waktu yang terbatas, jumlah siswa, kurangnya perbendaharaan kata (mufrodat), dan kurangnya motivasi siswa belajar BA. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan (1) kepala MAN 3 Malang: tetap membantu dan memberikan motivasi kepada guru dalam memahami PBK dan memantau pelaksanaannya dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Arab karena PBK merupakan bagian yang tak terpisahkan dari KTSP, (2) para guru bahasa Arab, agar berupaya keras untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang PBK dan jenis-jenis PBK, lebih variatif dalam melakukan penilaian misalnya dengan memanfaatkan portofolio sebagai alat pengukuran, membuat bank soal yang terkait dengan PBK, dan lebih memperhatikan faktor penghambat pelaksanaan PBK dalam PBA (3) para peneliti lain, agar memfokuskan penelitiannya pada salah satu jenis PBK misalnya portofolio atau unjuk kerja.

Analisis visualisasi iklan televisi "Rumahku Indonesiaku" / Dyah Adi Pertiwi

 

ABSTRAK Pertiwi, Dyah Adi, 2008. Analisis Visualisasi Iklan Televisi “Rumahku Indonesiaku” Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc (II) Moch. Abdul Rohman, M.Sn. Kata Kunci : Analisis visual, Iklan televisi, Rumahku Indonesiaku Peran visualisasi dalam sebuah iklan televisi terhadap pesan yang ingin disampaikan merupakan hal yang utama dalam sebuah iklan televisi, karena merupakan kunci dari suatu strategi komunikasi kreatif yang memungkinkan adanya komunikasi yang baik antara pengiklan dan sasaran iklan tersebut. Visualisasi mempunyai kedalaman ekspresi, gagasan/ide dan merupakan hasil proses berfikir yang mempunyai hubungan dengan suatu konsep. Oleh sebab itu visualisasi iklan bukan hanya indah tetapi juga harus memiliki nilai atau pesan yang ingin disampaikan dalam iklan. Untuk mengetahui penerapan tema budaya dan alam pada visualisasi iklan televisi “Rumahku Indonesiaku”, maka digunakan metode analisis isi untuk membahas dan menjabarkan tema tersebut dengan lebih luas. Dengan analisis ini dapat diketahui bahwa secara garis besar visualisasi iklan membahas tentang kekayaan budaya dan alam yang tersebar di wilayah indonesia. Kekayaan-kekayaan tersebut merupakan aset yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Namun karena kurangnya kesadaran dan kecintaan terhadap bangsa, potensi-potensi tersebut belum diolah secara optimal bahkan terjadi banyak penyimpangan yang secara tidak langsung berdampak pada kehancuran potensi-potensi tersebut. Analisis visual berdasarkan prinsip desain digunakan untuk dapat menguraikan nilai keindahan dalam sebuah iklan karena suatu karya visual yang baik akan memiliki nilai keindahan walau sekecil apapun. Iklan televisi “Rumahku Indonesiaku” merupakan iklan yang terdiri dari banyak sekwen. Dengan penerapan prinsip desain yang terdiri dari balance, movement, unity, dan emphasis maka suatu iklan yang memiliki beragam sekwen dapat dirasakan keterkaitannya dan tampak sebagai satu kesatuan desain yang utuh. Analisis ini menggunakan motode deskriptif kualitatif. Prosedur pengumpulan data melalui (1) pengamatan (2) dokumentasi (3) wawancara yang semuanya dilakukan dalam rangka mengumpulkan data baik primer maupun sekunder sebagai bahan analisis. Analisis ini dilakukan melalui tahapan identifikasi data yang kemudian dilanjutkan dengan proses analisis. Dengan analisis diatas diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan masukan tentang pentingnya pemahaman teori dalam penciptaan suatu karya desain.

Perancangan visual merchandising "Sanabel Comp." Jakarta / Deina Nurrakhmah

 

ABSTRAK Deina Nurrakhmah. 2008. Perancangan Visual Merchandising Sanabel Comp. Jakarta. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn. (II) M. Abdul Rahman, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci : perancangan, visual merchandising, Sanabel Comp. Merchandising dalam arti harfiah berarti perdagangan. Bila dikaitkan dengan bidang desain komunikasi visual, merchandising merujuk pada visual merchandising dan memiliki definisi singkat sebagai metode display produk. Visual merchandising adalah menciptakan pemajangan visual dan mengatur berbagai macam barang dalam toko atau ruang untuk meningkatkan kesan tataruang dan mempresentasikan barang tersebut sehingga meningkatkan perdagangan dan penjualan. Sanabel Comp. adalah perusahaan yang secara khusus menyediakan kebutuhan komputer dalam bentuk mobile (selanjutnya disebut notebook) dan perlengkapan aksesorisnya. Sanabel Comp. berdiri pada pertengahan tahun 2007 dan terletak di lantai dua e-center Supermall Karawaci, Tangerang. Perusahaan ini khusus menawarkan pelayanan barang dan jasa berupa distribusi notebook, penyediaan aksesoris-aksesoris pendukung performa notebook, upgrade notebook, jasa pengantar notebook ke tempat pelanggan, dan jasa teknisi perbaikan notebook. Sejak pertama kali dibuka hingga kini, Sanabel Comp. belum membuka kiosnya setiap hari dan penjualannya masih terbatas pada penjualan langsung. Sanabel Comp. kini dalam tahap pembaharuan berkaitan dengan tujuan Sanabel Comp. untuk mempergunakan kios sebagai ajang komunikasi langsung dengan calon konsumen yang menjadi target audien selain mewujudkan fungsinya sebagai tempat penjualan produk secara langsung. Visual Merchandising ditawarkan sebagai solusi atas permasalahan Sanabel Comp. sebab dapat membantu kios Sanabel Comp. dengan menciptakan tampilan penawaran produk yang unik sehingga kios Sanabel Comp. tidak tenggelam diantara kios-kios disekitarnya dan tujuan Sanabel Comp. memiliki kios dapat dilaksanakan. Metode perancangan yang digunakan adalah model prosedural deskriptif dengan menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media besertai deskripsi konseptual. Langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi : (1) latar belakang dan rumusan masalah, (2) pengumpulan data, (3) analisis data,(4) menentukan konsep kreatif desain, (5) visualisasi desain, (6) hasil desain. Perancangan ini menghasilkan beberapa media komunikasi visual, yaitu souvenir, point-of-purchase,window display, closed display, penutup dinding, dan papan penanda. Perancangan Visual Merchandising Sanabel Comp. ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah konsumen.

Studi tentang penciptaan, makna, pengelolaan, dan aplikasi logo Persatuan Sepak Bola Arek Malang (PS Arema) / Yoyok Satrio Nugroho

 

ABSTRAK Nugroho, Yoyok Satrio. 2008. Studi Tentang Penciptaan, Makna, Pengelolaan, dan Aplikasi Logo Persatuan Sepak Bola Arek Malang (PS Arema). Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni & Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Indrawati, (II) Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si. Kata kunci: desain, logo, arema. Logo PS Arema telah populer di kalangan masyarakat, khususnya Malang Raya, terlihat dari banyaknya aplikasi logo yang muncul di masyarakat baik untuk tujuan komersial maupun nonkomersial. Namun terdapat perbedaan pemahaman terhadap makna dan sejarah penciptaan logo PS Arema di masyarakat. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap logo PS Arema dengan tujuan untuk mengidentifikasikan sejarah proses penciptaan logo PS Arema, mendeskripsikan makna yang terkandung dalam logo PS Arema, mendeskripsikan tentang bagaimana PS Arema dalam mengelola dan mengaplikasikan logo PS Arema. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif. Data tersebut dipaparkan secara deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa terjadi transformasi logo dari logo PS Arema pertama sampai logo yang dipakai saat ini tahun 2008, logo belum dikelola secara komersial oleh PS Arema, dan tidak ada konsistensi pada pengaplikasian logo. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar PS Arema menetapkan satu bentuk logo, memahami sejarah penciptaan dan makna logo, mengoptimalkan pengelolaan logo untuk kepentingan komersial, menertibkan pelanggaran terhadap hak cipta logo, serta membuat Graphic Standard Manual (GSM).

Penerapan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang / Ribut Widianti

 

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran IPA kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang (2) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas keterampilan proses yang dimiliki siswa kelas V SDN Pandanwangi II SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing kota Malang. Berdasarkan tes formatif yang diberikan guru, hasil belajar mata pelajaran IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 menunjukkan nilai 53. Dari 23 siswa, sejumlah 12 siswa mendapatkan nilai di atas rata-rata kelas. Perbaikan yang ditempuh dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Adapaun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut (1) Bagaimanakah penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran IPA kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang ? (2) Bagaimanakah peningkatan keterampilan proses yang dimiliki siswa kelas V SDN Pandanwangi II SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang? (3) Apakah penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing kota Malang ? Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut :(1) Hasil observasi penerapan Pendekatan Keterampilan Proses siklus I adalah 87,1 % dengan kategori baik, dan hasil observasi penerapan Pendekatan Keterampilan Proses siklus II adalah 94,4 % sehingga terjadi peningkatan penerapan Pendekatan Keterampilan Proses, (2) Hasil observasi aktivitas keterampilan proses siswa siklus I adalah 79 % dengan kategori baik, dan hasil observasi aktifitas keterampilan proses siswa siklus II adalah 84,7 % sehingga terjadi peningkatan aktifitas keterampilan proses siswa, (3) Rata-rata hasil belajar siswa siklus I sebesar 72 dengan kategori baik, dan rata-rata hasil belajar siswa siklus II sebesar 73 dengan kategori baik, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan Pendekatan Keterampilan Proses hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang mengalami peningkatan.

Pola pembelajaran dan penyebaran bengkel ketog magic (sebuah studi kasus perkembangan bengkel ketog magic dari Desa Bangsri Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar) / Miranu Triantoro

 

ABSTRAK Triantoro, Miranu, 2008, Pola Pembelajaran dan Penyebaran Bengkel Ketog Magic, (Sebuah Studi Kasus Perkembangan Bengkel Ketog Magic dari Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar). Thesis, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sanapiah Faisal, Pembimbing (II) Dr. Supriyono M.Pd. Kata kunci : pembelajaran non formal, pendidikan luar sekolah, bengkel ketog magic Focus dalam penelitian ini adalah bagaimana pola pembelajaran dan penyebaran bengkel Ketog Magic dari desa Bangsri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar terjadi. Dengan demikian penelitian ini akan mencari jawab atas permasalahan (1) bagaimana pola pembelajaran yang dilakukan dalam bengkel “ketog magic”?, (2) mengapa transfer pengetahuan dan ketrampilan itu diperlukan dalam sebuah bengkel ketog magic ? dan (3) Bagaimana pola penyebaran “Bengkel Ketog Magic”, sehingga dapat berkembang di berbagai wilayah? Untuk menemukan jawaban atas permasalahan tersebut di atas, penelitian ini dirancang dengan mempergunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, sehingga kehadiran peneliti sangat penting dalam memperoleh data yang lengkap dan akurat. Untuk itulah dalam proses pengumpulan data dipergunakan tiga teknik, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, yaitu wawancara mendalam (in dept interviu), observasi maupun dokumentasi. Untuk kepentingan analisis data dipergunakan model interaktif Miles dan Habermas, yang diawali dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan, yang dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Sedangkan untuk mengecek keabsahan data dan hasil penelitian senantiasa dilakukan dengan mempergunakan (1) uji kredibilitas, baik melalui pengamatan secara terus menerus, meningkatkan kecermatan , trianggulasi data, menganalisa kasus negative maupun dengan melakukan member check; (2) Uji transferabilitas; (3) Uji dependabilitas dan (4) Uji Confirmabilitas. Berdasarkan pada temuan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa pola pembelajaran yang dilakukan di bengkel kenteng teter/ketog magic, tidaklah dilakukan secara berjenjang sebagaimana pembelajaran-pembelajaran di lembaga-lembaga formal. Hal ini terkait dengan warga belajar dalam bengkel kenteng teter sendiri yang terdiri dari berbagai usia dan latar belakang pengalaman yang berbeda. Namun demikian dalam proses pelaksanaan pembelajarannya mengenal pentahapan-pentahapan dalam rangka penguasaan berbagai jenis ketrampilan hingga seseorang dikatakan mahir atau memiliki ketrampilan sebagai tukang teter di sebuah bengkel kenteng teter atau ketog magic. Adapun tahapan-tahapan sekaligus tingkatan-tingkatan dalam bengkel kenteng teter/ketog magic tersebut adalah (1) tahapan sebagai kuli alat / pesuruh/pemagang awal (2) tahapan sebagai kuli pendamping/penglamak, dan (3) tahapan sebagai kuli tukang/mahir. Masing-masing tahapan memiliki kharakteristik tersendiri, baik dilihat dari segi tujuan, bahan/meteri, metode, alat/media, evaluasi maupun jangka waktu yang diperlukan. Berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang ada di bengkel kenteng teter atau ketog magic, perlu dan penting sekali untuk disampaikan kepada generasi muda sebagai penerusnya, karena disamping dengan ketrampilan tersebut seseorang telah memiliki bekal untuk mengembangkan diri dan berwiraswasta, sekaligus dapat dipergunakan untuk membuka peluang kerja dan membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial yang menjadi peran sosialnya, baik terkait dengan upaya untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi jumlah pengangguran maupun memberi kesempatan kepada seseorang yang tidak bisa tertampung melalui pendidikan formal, karena alasan ekonomi, putus sekolah maupun yang lainnya. Sedangkan pola penyebaran bengkel kenteng teter/ketog magic yang akhirnya berkembang diberbagai wilayah Indonesia bahkan di Luar Negeri (misalnya: Philipina, Malasyia, dan Singapura) dilakukan secara berantai, yaitu diawali dengan melalui system magang, dimana seseorang yang belum memiliki ketrampilan sama sekali, belajar dan bekerja pada sebuah bengkel hingga akhirnya memiliki keahlian yang cukup untuk mendirikan bengkel; kenteng teter tersendiri. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut di atas, maka penerapan sistem magang dengan model “Learning by doing” yang dilakukan di bengkel kenteng teter atau ketog magic hendaknya lebih diintensifkan pelaksanaannya baik berkenaan dengan proses dan program pembelajaran maupun pembinaan-pembinaannya oleh lembaga-lembaga yang terkait (baik material maupun spiritual), sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat. Akhirnya melalui penelitian ini mudah-mudahan dapat dan mampu menjadi titik awal untuk melakukan pengkajian-pengkajian secara seksama terhadap berbagai fenomena sosial yang ada dan berkembang di masyarakat, terutama terkait dengan eksistensi bengkel kenteng teter atau ketog magic yang telah terbukti keberadaannya dalam memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Hubungan antara pola pembelajaran dan kualitas berpikir divergen guru dengan kualitas berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika kelas V SDN di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Arsanti Dwi Utami

 

ABSTRAK Utami, Arsanti Dwi. 2008. Hubungan Antara Pola Pembelajaran dan kualitas Berpikir Divergen Guru Dengan Kualitas Berpikir Divergen Guru Dalam Pemecahan Masalah Matematika Kelas V SDN di Kecamatan Lowokwaru. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan PraSekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1). Drs. H.Suhartono, S.Pd (2). Dra. Purwendarti. M.Pd. Kata Kunci: Berpikir divergen, pola pembelajaran, pemecahan masalah matematika Sebagian besar guru dalam penyampaian materi khususnya mata pelajaran matematika kepada siswa atau cara guru mengajar masih menggunakan metode yang konvensional yang kurang memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada siswa untuk memecahkan masalah-masalahnya dengan caranya sendiri, sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa cepat dilupakan. Siswa cenderung dituntut untuk memberikan jawaban yang benar menurut guru dan siswa kurang diberi kesempatan untuk memberikan alternatif-alternatif jawaban tertentu yang harus menumbuhkan kreativitasnya. Hal ini menyebabkan siswa kurang dapat memecahkan masalah dalam matematika baik di sekolah maupun di dalam kehidupan sehari-harinya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Mendiskripsikan pola pembelajaran matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru, (2) Mendiskripsikan kualitas berpikir divergen guru dalam pemecahan masalah matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru, (3) Mendiskripsikan kualitas berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru, dan (4)Mendiskripsikan hubungan antara pola pembelajaran matematika dan kualitas berpikir divergen guru dengan kualitas berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu deskriptif korelasional. dalam bentuk penelitian survey waktu lalu (post time survey) yang tujuannya untuk mendeskripsikan keadaan yang ada dan terjadi di lapangan pada waktu tertentu sebelumnya yang dilaksanakan di kelas V SDN Kecamatan Lowokwaru dengan jumlah siswa yang diteliti 213 siswa, 8 guru matematika kelas V. Instrumen penelitian ini menggunakan pedoman wawancara dan soal tes. Dari hasil analisa data pola pembelajaran dari 4 pola pembelajaran yang cenderung digunakan di sdn kecamatan Lowokwaru (8 SDN) adalah brainstorming (4 SDN), sedangkan kualitas berpikir divergen gurunya 5 guru berada pada kriteria sedang dan 3 guru berada pada kriteria tinggi. Kualitas berpikir divergen siswa dari 213 siswa sebagian besar dari 108 siswa kualitas berpikir divergen siswanya pada kriteria sedang, 91 siswa kriteria rendah dan 9 siswa kriteria tinggi. Korelasi antara pola pembelajaran dan kualitas berpikir divergen guru dengan kualitas berpikir siswa adalah dengan nilai = 614,651 Sedangkan nilai tabel untuk db= 35 pada taraf kepercayaan 5 % adalah 22,5. maka hasilnya signifikan

The evaluation of the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang / Achmad Hasan Ashari

 

ABSTRACT THE EVALUATION OF THE READING COMPREHENSION FORMATIVE TEST OF THE ELEVENTH GRADERS IN MAN 3 MALANG Ashari, Achmad Hasan. 2008. The Evaluation of the Reading Comprehension Formative Test of the Eleventh Graders in MAN 3 Malang.. Thesis, English Language and Education Faculty of Letters The State University of Malang. Advisor: Prof. H. Mohammad Adnan Latief, M.A, P.hD. Key Word : the content validity evidence, reliability, level of difficulty. In a teaching process, a test is generally needed by teachers and test administrators as a feedback from the teaching process to decide the aspects which are difficult to the student individually or in groups, by analyzing the students’ mistakes and how much the objectives have been achieved. The purpose of this study is directly investigating the validity and reliability of the scores obtained by the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang. Besides, items analysis is needed in this study to decide the level of difficulty. The result of the study gives a great value for the society especially for the test administrators or English teachers, as the test makers. It means that the result of this study is used as a consideration in designing a good test because it gives an accurate information for the teachers or the test administrators in measuring the students’ ability. The study evaluates the scores obtained by the test instrument to get the information about the validity evidence and reliability estimation, also the difficulty level of the items in the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang by using the descriptive-quantitative method. The researcher interprets the data in two ways. The first, the researcher describes the content validity evidence of the test instrument based on the curriculum. The second, the researcher estimates the reliability by interpreting the scores obtained by the test instrument using a formula developed by Kuder and Richardson-21 (Tinambuan, 1988:22)and level of difficulty (Heaton:1998,178) The result of the study shows that the evaluation of the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang approximately has the criteria of a good test. The content validity evidence of the test items goes in line with the curriculum for SMA / MA that it can be said the test instrument provides a strong evidence as good content validity. The reliability estimation shows that the interval between the two correlation is too wide, they are 0.56 and 3.1 which means that the researcher does not find enough evidence to say that the scores obtained by the test instrument have high level of reliability. The level of difficulty estimation shows that the items in the test instrument are averagely easy since the index falls between 0.75 to 1.00. Based on the implication of the method used in the study and its result, it is concluded that the instrument need to be improved to get the criteria of a good test. i ii

Using songs to increase the vocabulary retention of the 5th grade students of SDN Taman Satriyan 1, Tirtoyudo, Malang / Ina Hidayati

 

ABSTRACT Hidayati, Ina.2008. Using Songs to Increase the Vocabulary Retention of the 5th Grades students of SDN Taman Satriyan 1, Tirtoyudo, Malang. Thesis, Department of English, Faculty of Letters. State University of Malang. Advisor, (1) Dra. Furaidah, M.A Key words: vocabulary retention, song, positive attitude. This study is intended to increase the vocabulary retention of the 5th grade students of SDN Taman Satriyan 1, Tirtoyudo, Malang. The vocabulary retention was chosen as the focus of the study because vocabulary problem occurred every time English lesson began. English was the most preferred lesson by the students there. However, their great enthusiasm was not followed by good achievements. Especially for the 5th grade students, in the teaching learning process, it is difficult for the students to concentrate. They frequently got bored and they forgot the new words they had learned easily. For those reasons, the researcher was interested in increasing the students’ vocabulary retention by using song. This is because teaching young learners needs different teaching techniques from those used for adult learners. Young learners like to learn by doing. They need teaching techniques which are not boring and monotonous. They need attractive activities that can motivate them to learn the foreign language. The study was an action research with two cycles. Each of which consisted of four stages, namely planning, implementation, observation and reflection. The subjects were the 5th grade students of SDN 1 Taman Satriyan, Tirtoyudo, Malang. The instruments used to collect the data were oral assessment, vocabulary test, and field notes. The data about the students’ progress in vocabulary retention was taken by using oral assessment and vocabulary test The results of this study showed that the use of songs increased the 5th grade students’ vocabulary retention. First, the use of song in English teaching and learning could increase the quality results. The result of oral assessment and scores from the vocabulary test showed that most of the students reached the success criterion of that school. Second, the condition or situation of the class became active or live. This was indicated by their positive attitude during the teaching learning process. There are several suggestions that ought to be considered by the teachers when they conduct the teaching and learning English using songs. In choosing the songs, the teacher needs to be very selective since not all English songs are suitable for teaching. Teachers should consider the language level. For low-grade classes, it is suggested that the teacher use songs which are not too long and which are easy to memorize. In implementing the song activities, the teacher needs to ask the students to do some body movements such as clapping hands and standing up because it will make the situation more alive and fun.

Pengajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh Tambakberas Jombang / Muhimmatul Muyassarah

 

Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh adalah salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah atas yang mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran wajib, jam pelajaran ini diberikan cukup padat, yaitu disamping ada jam pelajaran formal, madrasah ini juga menyajikan bahasa Arab sebagai intensif yang diberikan 10 jam per minggu. Mata pelajaran ini diikuti oleh semua siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. dan madrasah ini merupakan madrasah unggulan dibidang bahasa termasuk bahasa Arab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh Tambakberas-Jombang. Tujuan khususnya adalah untuk mendeskripsikan: (1) latar belakang guru bahasa Arab, (2) kurikulum pengajaran bahasa Arab, (3) materi pengajaran bahasa Arab, (4) metode pengajaran bahasa Arab, (5) media pengajaran bahasa Arab, dan (6) evaluasi pengajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa, guru bahasa Arab, dan kepala sekolah Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen inti, sedangkan instrumen bantu yang digunakan adalah: pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar angket. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data, dilakukan cara: (1) observasi terus menerus, (2) mendiskusikan data dan hasil analisis dengan pihak tertentu yang dipandang ahli, (3) memeriksa kembali catatan lapangan secara cermat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang guru bahasa Arab di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh adalah berlatar belakang pendidikan. Kurikulum yang digunakan adalah perpaduan antara kurikulum Depag dan kurikulum pesantren. Dalam kurikulum tersebut memuat materi yang akan diajarkan dalam KBM. Guru telah membuat silabus sendiri dengan acuan silabus dari Depag. Dalam silabus memuat materi dan skenario pengajaran. Materi yang diajarkan diambil dari buku ta’limul lughagh Al-arabiyyah. Untuk kelas 1 terdiri atas 2 jilid, sedangkan untuk kelas 2 dan 3 hanya 1 jilid. Buku penunjang yang digunakan adalah Al-arabiyyah baina Yadaik, Al-Arabiyyah lin Nasyi’in, dan muhawarotul Hadistah. Guru mengajar dengan menggunakan metode yang variatif dalam pengajaran bahasa Arab. Metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar adalah: metode audiolingual, metode langsung, metode membaca, dan menggunakan permainan. Permainan yang digunakan adalah bisik berantai dan bermain peran. Guru melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar seperti: memecahkan masalah, membuat kalimat, menterjemahkan, dan membaca. Selain metode-metode tersebut, guru juga menggunakan metode lain yaitu: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode sosiodrama, metode penugasan, poster session, role playing, jigsaw, information search, concept map, learning start with question, team quiz, change out group, brain storming, mind mapping, dan snow balling untuk mengajar. Media yang tersedia di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh adalah kaset, tape recorder, OHP, CD film, CD pembelajaran, TV, VCD, sound system, dan white board. Sedangkan media yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar adalah kartu kata, kartu gambar, dan benda-benda asli. Evaluasi dilakukan dengan 2 macam cara, yaitu: penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung, sedangkan penilaian hasil ada 3 macam cara, yaitu: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester. Jenis tes yang digunakan adalah tes tulis dan tes lisan. Untuk kelas 3, madrasah mewajibkan siswanya membuat karya tulis ilmiah dalam bahasa Arab/Inggris sebagai syarat kelulusan.

Alat pendeteksi kelelahan pada pengemudi kendaraan bermotor / Desy Lailatul Fadilah

 

ABSTRAK Fadilah, Desy Lailatul. 2008. Alat Pendeteksi Kelelahan Pada Pengemudi Kendaraan Bermotor. Proyek Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Heru Wahyu Herwanto, S.T.,M.Kom. (2) Mokh. Sholihul Hadi, S.T. Kata kunci: Sensor Suhu LM35, Mikrokontroler ATmega16, LCD. Masalah kecelakaan yang semakin meningkat menimbulkan rasa khawatir para pengguna jalan. Salah satu faktornya adalah karena kelelahan, sedangkan seorang pengemudi membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelelahan adalah besarnya tenaga yang dikeluarkan, Frekuensi dan lama bekerja, cara dan sikap dalam melakukan aktivitas, dimana hampir semua energi dilepaskan oleh metabolisme pada akhirnya diubah menjadi panas tubuh yang mengakibatkan suhu tubuh pun mengalami peningkatan. Untuk mendeteksi kelelahan tersebut maka dibuatlah alat pendeteksi kelelahan yang dapat diukur melalui suhu tubuh dengan tampilan LCD. Perancanagan dan pembuatan alat ini menggunakan sensor suhu yaitu sensor LM35, yang mempunyai keluaran dalam skala oC. Data hasil pengkonversian suhu dari sensor suhu LM35 diolah oleh mikrokontroler ATmega16, kemudian hasil pengolahan ditampilkan pada LCD. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Bahasa C. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa perancangan hardware dan software alat pendeteksi kelelahan pada pengemudi kendaraan bermotor tersebut sesuai dengan yang diharapkan, namun masih terdapat perbedaan hasil antara alat yang dibuat dengan termometer yaitu 0.58 Volt dan 0.60 Volt. Untuk tampilan pada LCD terhadap suhu terukur sesuai dengan yang direncanakan.

Pengaruh pelatihan pengenalan diri terhadap self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang / Titik Endah Cahyowati

 

ABSTRAK Cahyowati, Titik Endah. 2008. Pengaruh Pelatihan Pengenalan Diri terhadap Peningkatan Self-Esteem Remaja Panti Asuhan Aisyiah Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Ika Andrini Farida, M.Psi. Kata Kunci : pelatihan pengenalan diri, self-esteem Pada masa remaja, seseorang mulai tertarik untuk melihat penilaian orang lain mengenai dirinya. Remaja sering kali beranggapan bahwa orang lain melihat dirinya dari status yang mereka miliki. Sehingga apabila status sosialnya dianggap tidak memadai dari sudut pandang sosial, mereka merasa tertolak dan berakibat munculnya self-esteem yang rendah. Self-esteem yang rendah ini dapat ditingkatkan melalui suatu program Pelatihan Pengenalan Diri. Pelatihan Pengenalan Diri adalah pelatihan yang disusun untuk membantu individu dalam mengenali dirinya melalui proses pengungkapan diri dan umpan balik. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Aisyiah Malang. Disain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain eksperimen ulang non random dengan menggunakan kelompok kontrol (non randomized pretest-postest control group design). Desain ini merupakan desain yang dilakukan dengan pre test sebelum perlakuan diberikan dan post test sesudahnya, sekaligus ada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Penelitian menggunakan 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen terdiri dari 5 anak dan kelompok eksperimen terdiri dari 5 anak. Kedua kelompok berasal dari remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang yang memiliki kriteria sebagai berikut : remaja putri berusia 13-19 tahun, tinggal di Panti Asuhan Aisyiah Malang, waktu tinggal di panti asuhan minimal 1 tahun, memiliki tingkat self-esteem sedang dan rendah. Analisis data menggunakan formula Mann-Whitney dengan bantuan program SPSS 12.0 for windows. Instrumen penelitian berupa skala self-esteem dan Buku Pedoman dan Materi Pelatihan Pengenalan Diri untuk meningkatkan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang. Skala self-esteem terdiri dari 4 aspek, yaitu significance, power, virtue, dan competence. Sedangkan untuk Buku Pedoman dan Materi Pelatihan Pengenalan Diri untuk meningkatkan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang ini menggunakan 4 metode, antara lain ceramah, pemberian tugas, diskusi, dan permaianan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan pengenalan diri memiliki pengaruh terhadap peningkatan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis data yang menunjukkan nilai Mann-Whitney sebesar 0,500 (α = 0,011 < 0,05). Dengan demikian maka hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh pelatihan pengenalan diri terhadap peningkatan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang diterima. Saran bagi remaja putri Panti Asuhan sebaiknya dapat menilai diri secara keseluruhan, baik dari sisi negatif maupun sisi positifnya. Penilaian diri ini dapat dilakukan dengan saling memberikan masukan antar teman yang sudah cukup dekat di panti. Bagi pengasuh Panti Asuhan sebaiknya bekerja sama dengan para ahli psikologi untuk memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan diri bagi remaja Panti Asuhan sehingga diharapkan remaja yang tinggal di panti asuhan ini dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti dengan topik yang sama, diharapkan untuk menambahkan variabel pembeda pada subyek penelitian, seperti tipe kepribadian untuk menentukan tipe pembelajaran yang sesuai dengan subyek. Pengawasan terhadap variabel kontrol juga diharapkan dapat dilaksanakan dengan semaksimal mungkin oleh peneliti, sehingga dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih akurat. Pemberian pos-test juga sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali. Hal ini bertujuan untuk melihat tingkat pengaruh jangka panjang dari pelatihan pengenalan diri bagi subyek pelatihan.

Pengaruh intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang / Marissa Ulfa

 

ABSTRAK Ulfa, Marissa. 2008. Pengaruh Intellectual Intelligence (IQ), Creative Intelligence, Dan Gaya Belajar Terhadap Prestasi Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi Di SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) DR. Nurika Restuningdiah (II) Dra. Hj. Endang Sri Andayani, SE. Ak, M.Si. Ak. Kata Kunci: Intellectual Intelligence (IQ), Creative Intelligence, Gaya Belajar, Prestasi Siswa. Tingkat intelegensi dapat diukur dari berbagai jenis intelegensi. Pada umumnya tingkat intelegensi diukur melalui Intellectual Intelligence (IQ). Aspek penting lain dari tingkat intelegensi yaitu Creative Intelligence (kecerdasan kreatif). Dari tingkat intelegensi dan kreatifitas yang dimiliki siswa, maka dapat menumbuhkan gaya belajar yang berbeda antar siswa. Jika terjadi sinergi yang baik antara intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar maka prestasi yang baik mampu diraih siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar terhadap prestasi siswa serta untuk mengetahui variabel yang paling dominan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang mendapatkan pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang, sedangkan sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI dan XII IPS SMA Negeri 7 Malang. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data melalui angket dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisa data regresi linier berganda dengan dummy variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan intellectual intelligence (IQ) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi, creative intelligence yang ditunjukkan dari skor tes profil potensi kreatif berpengaruh signifikan terhadap prestasi, dan gaya belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi. Intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar berpengaruh simultan signifikan terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang. Sedangkan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap prestasi siswa adalah variabel creative intelligence. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar sekolah selalu rutin mengadakan tes intellectual intelligence (IQ), tujuannya agar siswa mampu mencapai prestasi yang maksimal sesuai dengan kemampuan intelektualnya. Selanjutnya dengan kemampuan intelektual yang dimiliki, siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui pengarahan guru yang kemudian siswa dapat dengan sendirinya menemukan gaya belajar yang sesuai dengan intelektual dan kreatifitasnya sehingga dapat mempermudah siswa tersebut untuk meraih prestasi yang baik. iii

Hubungan body image dengan self esteem pada remaja putri Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang di Malang / Hunty Ilmawati

 

ABSTRAK Ilmawati, Hunty. 2008. Hubungan Body Image dengan Self Esteem pada Remaja Putri Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang di Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Moh Irtadji, M.si, (II) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata kunci: body image, self esteem, remaja putri. Body image merupakan pandangan subyektif seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Body image rendah menandakan ketidakpuasan remaja terhadap kondisi fisiknya yang dapat menyebabkan rendahnya self esteem. Self esteem yang rendah dapat mempengaruhi proses interaksi sosialnya. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk: (1) mengetahui gambaran body image remaja putri; (2) mengetahui gambaran self esteem remaja putri; dan (3) mengetahui seberapa besar hubungan body image dengan self esteem pada remaja putri di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukandengan desain deskriptif-korelasional. Data body image dikumpulkan dengan skala Body Image (α = 0,895), dan data self esteemi dikumpulkan dengan skala Coopersmith Self Esteem Inventory (α = 0,924). Populasi penelitian ini adalah remaja putri di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2005-2007 yang termasuk dalam kategori remaja akhir (18-21 tahun) berjumlah 551 orang. Ukuran sampel sebesar 110 responden (20 % populasi) diambil dengan teknik random sampling. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan korelasi product moment menggunakan program SPSS versi 12,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar remaja putri memiliki body image tinggi; (2) sebagian besar remaja putri memiliki self esteem tinggi, dan (3) ada hubungan positif dan signifikan body image dengan self esteem pada remaja putri, yang berarti semakin tinggi body image, semakin tinggi self esteem (rxy = 0,407 dan p = 0,000<0,05). Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) remaja yang memiliki body image tinggi sebaiknya dipertahankan dengan tetap merawat dan menjaga kesehatan tubuhnya. Sedangkan remaja yang memiliki body image rendah sebaiknya merubah cara berpikirnya menjadi lebih positif dengan menyibukkan diri pada kegiatan kemahasiswaan atau mengembangkan hobi. Selain itu, olah raga dan menerapkan pola makan sehat dapat membuat tubuh semakin sehat dan berstamina; 2) Orang tua sebaiknya memberikan pengasuhan yang positif agar anak merasa diterima, dan perasaan itu akan mempengaruhi sikap penerimaan terhadap dirinya; 3) ketua Jurusan Manajemen dapat mengadakan seminar tentang perkembangan remaja atau pelatihan mengenai konsep diri; (4) peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang body image sebaiknya meneliti faktor lain, selain self esteem.

Hubungan persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek (cheating) di lingkungan pendidikan / Dessy Ramadhani Al Fitria

 

ABSTRAK Ramadhani A, Dessy. 2008. Hubungan Persepsi Remaja terhadap Peran Ayah dan Perilaku Menyontek (Cheating) di Lingkungan Pendidikan. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed (II) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata kunci: persepsi remaja terhadap peran ayah, perilaku menyontek (cheating) Keterlibatan ayah khususnya dalam kegiatan belajar dan juga sekolah mempengaruhi prestasi akademik remaja dan motivasi ke sekolah. Dengan motivasi yang tumbuh khususnya secara intrinsik, maka remaja akan lebih tulus dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan belajar sehingga berbagai godaan dalam proses pembelajaran seperti menyontek tentu tidak akan dilakukan. Penelitian ini mempunyai tiga tujuan yaitu: (1) untuk mengetahui persepsi remaja terhadap peran ayah terkait dalam kegiata belajar; (2) untuk mengetahui perilaku menyontek remaja; dan (3) untuk mengetahui hubungan persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek di lingkungan pendidikan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif-korelatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 SLTPN 1 Pandaan yang berjumlah 320 orang. Sampel diambil dengan teknik purposive random sampling dengan memilih siswa yang saat ini masih memiliki ayah dan secara langsung berperan dalam kehidupan siswa, dengan proporsi 30 % dari sampel diperoleh subyek penelitian sebanyak 95 orang.Variabel yang diteliti adalah persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek (cheating). Pengukuran variabel tersebut dengan menggunakan skala persepsi remaja terhadap peran ayah dalam kegiatan belajar dan perilaku menyontek (cheating) model Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat persepsi remaja terhadap peran ayah khususnya dalam kegiatan belajar berada pada klasifikasi tinggi, (2) tingkat perilaku menyontek remaja berada pada klasifikasi rendah, dan (3) ada hubungan negatif antara persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek (cheating) di lingkungan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) bagi ayah hendaknya tetap berperan menjadi provider, teacher, roblem solver, teladan, sebagai pembentukan karakter remaja karena bagaimanapun peran ayah tidak boleh diabaikan dan juga tidak bisa digantikan oleh seorang ibu sekalipun, 2) bagi guru hendaknya memahami keinginan remaja serta tidak bersifat konvensional sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa, 3) bagi remaja hendaknya lebih giat belajar dan menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuan yang dimiliki daripada harus menyontek, 4) Peneliti selanjutnya selain menggunakan skala, hendaknya menggunakan metode pengumpul data yang lain seperti misalnya wawancara sehingga dapat diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 |