Penggunaan kalimat tidak efektif dalam rubrik "Opini" surat kabar Jawa Pos / Evi Dian Ulan Sari

 

Opini merupakan salah satu rubrik surat kabar Jawa Pos yang memuat tulisan tentang pendapat seseorang terhadap suatu peristiwa saat itu. Dalam penulisan Opini, penulis dibatasi oleh waktu dan mengharuskan untuk bekerja cepat sehingga kemungkinan untuk berbuat kesalahan cukup besar. Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh gambaran penggunaan kalimat tidak efektif dalam rubrik ?Opini? surat kabar Jawa Pos, khususnya tentang penggunaan (1) kalimat tidak logis, (2) kalimat tidak hemat, (3) kalimat tidak padu, (4) kalimat rancu, (5) kalimat tidak memiliki kesatuan gagasan, dan (6) kalimat tidak paralel. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk mendiskripsikan suatu kondisi apa adanya. Sumber data penelitian ini adalah rubrik ?Opini? surat kabar Jawa Pos (16-30 Juli, 2007), sedangkan data penelitian diklasifikasikan berdasarkan penggunaan (1) kalimat tidak logis, (2) kalimat tidak hemat, (3) kalimat tidak padu, (4) kalimat rancu, (5) kalimat tidak memiliki kesatuan gagasan, dan (6) kalimat tidak paralel. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) membaca rubrik ?Opini? yang diteliti berulang-ulang, dan (2) memberi nomer pada setiap kalimat yang tidak efektif. Adapun analisis data yang digunakan adalah (1) membaca dengan seksama seluruh sumber data, (2) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan seluruh data sesuai dengan pokok masalah, dan (3) menjelaskan ketidakefektifan kalimat yang teridentifikasi dan menuliskan kalimat efektifnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam rubrik ?Opini? surat kabar Jawa Pos terdapat penggunaan kalimat tidak efektif, yaitu (1) kalimat tidak logis tentang hubungan subjek dengan predikat tidak jelas dan ketidaksesuian keterangan yang digunakan; (2) kalimat tidak hemat tentang pengulangan kata yang telah disebutkan, penggunaan dua kata yang searti, pengulangan sebjek, dan penggunaan kata yang tidak perlu; (3) kalimat tidak padu tentang ketidaksesuaian kata yang digunakan dalam kalimat; (4) kalimat rancu tentang kesalahan dengan penggabungan dua kata yang menyatakan hubungan kohesif; (5) kalimat tidak memiliki kesatuan gagasan tentang ketidakjelasan subjek dan pikiran dalam satu kalimat, ;dan (6) kalimat tidak paralel tentang kesalahan keparalelan bentuk predikat. Berdasarkan penelitian ini, saran yang dapat ditujukan oleh penulis kepada pengajar bahasa Indonesia agar pengajaran penulisan tentang kalimat efektif lebih ditingkatkan. Selain itu, data ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran. Peneliti selanjutnya yang berminat untuk melakukan penelitian tentang kebahasaan disarankan dapat menindaklanjuti dengan mengambil masalah yang berbeda (kesalahan penalaran atau kesalahan ejaan dan tanda baca) yang dapat dilakukan dengan mengambil sumber data yang lain. Saran ini juga diajukan kepada penulis Opini agar lebih banyak membaca referensi-referensi tentang kalimat efektif supaya tidak terjadi kesalahan dalam penulisan kalimat. Di samping itu, dalam penulisan kalimat harus tepat pilahan kata yang digunakan.

Peran partai politik dalam pemilihan umum (studi pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Demokrat di Kota Malang) / Andik Wijaya Kusuma

 

Partai politik sebagai salah satu lembaga dan sarana penyalur aspirasi rakyat selama ini kinerjanya di masyarakat masih dikatakan belum optimal. Banyaknya partai politik yang ada maupun berdiri belum menjamin aspirasi masyarakat dapat tersalurkan. Akan tetapi hal tersebut setidaknya dapat menjadikan pilihan bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasinya. Meskipun pada kenyataanya di lapangan, apa yang diharapkan oleh rakyat tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sebelumnya. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Bagaimana kegiatan partai politik sebelum Pemilihan Umum, Bagaimana kegiatan partai politik pada saat Pemilihan Umum dan Bagaimana kegiatan partai politik Pasca Pemilihan Umum. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisa datanya dilakukan dengan menggunakan analisis data interaktif yakni dengan (a) reduksi data, (b) penyajian data dan (c) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kegiatan partai politik sebelum Pemilihan Umum adalah membangun internal partai, melakukan pola-pola kaderisasi terhadap kader partai, Partai juga melakukan penjaringan dan penetapan calon legislatif, melakukan penyerapan aspirasi konstituen, melakukan sosialisasi kepada masyarakat, (b) kegiatan partai politik pada saat pemilihan umum meliputi kegiatan kampanye, pencoblosan dan pelantikan, (c) kegiatan partai politik pasca Pemilihan Umum untuk calon-calon yang telah terpilih dan dilantik mereka bersama dengan pengurus Partai lainnya akan menemui dapil (daerah pemilihan). Selain itu juga kepada calon legislatif yang terpilih diharapkan dapat membina masyarakat daerah lingkungan sekitar mereka. Jadi boleh dikata bahwa Partai Politik telah melakukan semacam kontrak politik dengan masyarakat pemilih atau konstituen. Selain itu juga tampaknya partai politik juga berupaya untuk menyiapkan kader-kadernya untuk menyongsong pemilu berikutnya. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar Partai Politik hendaknya dapat menjadi jembatan kepada masyarakat dalam melakukan proses pendidikan politik. Dalam hal pencarian kader, partai hendaknya dapat benar- benar mencari dan menjaring kader yang militan.

Pengaruh minat dan motivasi berprestasi siswa terhadap program akselerasi di SMA Negeri 3 Malang / Fiatin Nasiroh

 

Mekanisme pelaporan atas penerimaan pajak bumi dan bangunan pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Mojokerto / Siska Eli Nugrah Eni

 

PBB merupakan salah satu pajak Negara yang dipungut oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Mojokerto berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1994. Saat otonomi daerah mulai diberlakukan di Indonesia pada tanggal 1 januari 2001 maka pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada daerah untuk melaksanakan fungsinya secara efektif. Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut, pajak dan retribusi kembali memberikan kontribusi yang besar terhadap berjalannya suatu system pengelolaan keuangan. Sejalan dengan tuntutan masyarakat untuk menciptakan iklim pertanggungjawaban pemerintah yang mengutamakan transparansi dan akuntabilitas maka mekanisme pembukuan dan pelaporan PBB dapat menjadi tolok ukur akuntabilitas daerah otonom. Penelitian mengenai mekanisme pembukuan dan pelaporan PBB ini dilakukan di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Mojokerto pada tanggal 25 juli sampai dengan 03 agustus 2007. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, studi lapangan, observasi dan dokumentasi. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme pemungutan, pembukuan dan pelaporan PBB pada Dipenda Kabupaten Mojokerto telah melibatkan banyak pihak mulai dari petugas pemungut yang bertugas di setiap wilayah desa sampai dengan Bupati Mojokerto yang saling mengontrol fungsi satu sama lain sehingga menghasilkan Laporan Penerimaan Mingguan PBB yang dipertanggungjawabkan kepada Gubernur. Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa hambatan yang dapat memperlancar proses pembukuan dan pelaporan PBB. Oleh karena itu dapat disarankan bahwa harus dilakukan sosialisasi secara rutin kepada WP, diperlukan ketegasan dan ketelitian oleh pegawai Dipenda serta menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh pihak yang terlibat dalam pembukuan dan pelaporan PBB.

Penerapan pendekatan Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat) melalui TPS (Think-Pair-Share) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan / Mufarohatul Islamiyah

 

Berdasarkan penjajakan lapangan yang dilaksanakan peneliti selama dua kali pembelajaran biologi di kelas X-3 SMAN 1 Paciran Lamongan yaitu pada tanggal 16 dan 23 Agustus 2007, diketahui bahwa kelas X-3 tergolong kelas yang heterogen, yaitu terdiri dari siswa-siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara informal selama peneliti melasanakan penjajakan lapangan di SMAN 1 Paciran Lamongan dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran sudah diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam hal ini guru bidang studi biasa menggunakan metode ceramah dan pembahasan LKS yang sudah terlebih dahulu dikerjakan di rumah. Pembelajaran seperti ini ternyata kurang maksimal karena pada saat pembelajaran berlangsung masih ada beberapa siswa yang hanya ikut-ikutan menjawab pertanyaan dari LKS temannya dengan alasan LKS tertinggal di rumah, atau ada juga beberapa siswa yang LKSnya masih kosong, sehingga terlihat kurang antusias dalam pembelajaran. Dari sini siswa terlihat kurang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena siswa lebih banyak mendengar penjelasan guru lalu mencatatnya di buku atau LKS. Selain itu, dari segi proses dan hasil belajar ternyata siswa kurang maksimal, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa yang tidak tuntas belajar pada pelaksanaan ulangan KD 1. Diperoleh informasi bahwa di SMA Negeri 1 Paciran Lamongan belum pernah menerapkan pembelajaran salingtemas yang digabungkan dengan TPS (Think-Pair-Share). Berdasarkan alasan di atas maka peneliti menerapkan pembelajaran salingtemas yang digabungkan dengan TPS untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Paciran Lamongan pada bulan September 2007 sampai dengan Desember 2007. Pendekatan yang digunakan adalah salingtemas melalui TPS yang diterapkan melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) penyusunan rencana tindakan, (2) implementasi atau pelaksanaan tindakan, (3) observasi atau pengamatan tindakan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan yang berjumlah 24 siswa. Teknik pengumpulan data melalui lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi proses kegiatan belajar siswa, tes dan angket siswa tentang respons siswa terhadap pembelajaran salingtemas dengan TPS. Analisis data ditulis secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui peningkatan proses belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan dengan penerapan pendekatan salingtemas melalui TPS (Think-Pair-Share), (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan dengan penerapan pendekatan salingtemas melalui TPS (Think-Pair-Share), (3) mengetahui respons siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan mengenai penerapan pendekatan salingtemas melalui TPS (Think-Pair-Share). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran salingtemas dengan TPS ini dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, serta mendapat respons yang sangat bagus dari siswa. Persentase proses belajar pada siklus I 70,82% dengan taraf keberhasilan baik, dan siklus II 72,5% dengan taraf keberhasilan baik. Jadi proses belajar mengalami peningkatan 1,68%. Untuk hasil belajar siklus I pada ranah kognitif, nilai rata-rata adalah 80,56 dan pada siklus II 82,25. Jadi hasil belajar pada ranah kognitif mengalami peningkatan 1,69%. Untuk ranah afektif pada siklus I 63,59% dan pada siklus II 79,79%. Jadi hasil belajar pada ranah afektif mengalami peningkatan sebesar 16,2%. Dengan demikian dapat disarankan bahwa sebaiknya pembelajaran salingtemas dengan TPS dijadikan alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran untuk peningkatan proses dan hasil belajar siswa SMA.

Penerapan pembelajaran kooperatof model jigsaw berbasis kecakapan hidup dalam upaya meningkatkan motivasi belajar, aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 10 Malang / Izza Nurdiana

 

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru Biologi kelas X-4 SMA Negeri 10 Malang adalah metode kerja kelompok yang sering didominasi oleh siswa pandai sehingga motivasi belajar siswa menurun dan terjadi kesenjangan pada hasil belajar. Pembelajaran biologi yang dilakukan di sekolah juga masih cenderung secara teoritik, dengan demikian siswa tidak mampu menghubungkan antara ilmu yang telah dipelajari di sekolah dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup. Pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup adalah suatu metode pembelajaran kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pem-belajaran sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Selama kegiatan pembelajaran siswa dibekali dengan kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang disebut kecakapan hidup. Tujuan penerapan pembelajaran ini adalah motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat dengan di-terapkannya pembelajaran pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 10 Malang, pengambilan data dilakukan pada bulan November-Desember 2007. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 yang berjumlah 36 siswa. Materi yang diajarkan adalah materi jamur. Data penilitian berupa motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi maupun aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Persentase siswa yang mempunyai aktivitas baik pada siklus I sebanyak 75,7% dan meningkat menjadi 80,5% pada siklus II. Hasil belajar juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 82,6% dan pada siklus II meningkat menjadi 87,9%. Ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 66,7% sebelum penelitian, menjadi 91,7% pada siklus I dan menjadi 97,2% pada siklus II. Hasil belajar ranah afektif maupun ranah psikomotorik juga menunjukkan terjadi peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 10 Malang tentang penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup yang dapat meningkatkan motivasi belajar, aktivitas belajar dan hasil belajar siswa maka disarankan kepada para guru hendaknya untuk menerapkan metode ini dalam proses pembelajaran di sekolah.

Rancang bangun sistem otomasi buka tutup pintu dengan kartu magnet / Wilhanul Hakim Atawai

 

Privasi terhadap barang milik pribadi semakin dibutuhkan. Kamar pada sebuah hotel atau loker di kantor yang memberikan jaminan keamanan terhadap barang di dalamnya. Dengan mengaplikasikan kartu magnet sebagai alat untuk membuka pintu yang hanya memungkinkan pemilik kartu yang dapat membuka. Sehingga orang lain tidak dapat membukanya. Suatu sistem keamanan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dalam memecahkan kode akan menjadikan sistem itu pilihan untuk dipakai sebagai pengamanan. Merekam kode pada kartu magnet beserta pembacaannya mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Untuk itu perancangan sistem ini bertujuan untuk membuat suatu sistem buka dan tutup pintu dengan kartu magnet. Sistem otomasi ini disusun atas tiga unit yaitu pertama fuction generator dan mikrokontroler yang terintegrasi dengan preamp head yang berfungsi untuk merekam data pada pita magnet. Pita magnet yang telah tersimpan data selanjutnya kita sebut dengan kartu magnet. Kedua adalah preamp head dan FSK demodulator. Preamp berfungsi untuk mengolah sinyal magnet pita menjadi sinyal listrik FSK. Untuk sinyal FSKdiolah oleh FSK demodulator, preamp head, komparator, sipo. Ketiga adalah komparator data tiga bit yang berfungsi untuk memberikan nilai apakah data kartu magnet tersebut true atau false. Nilai tersebut memberikan dasar untuk melakukan perintah menjalankan motor stepper oleh mikrokontroler. Sistem ini dilengkapi dengan motor stepper untuk membuka dan menutup pintu yang dikontrol dengan mikrokontroler. Sistem coding dengan mengaplikasikan kartu magnet sebagai data kode dapat diterapkan pada rancang bangun sistem otomasi buka tutup pintu. Tiga bit data berhasil disimpan pada kartu mgnet dalam penelitian ini. Ketika data pada kartu magnet dibaca dan diterjemahkan memberikan nilai true dengan kode 010 maka mikrokontroler memerintahkan motor stepper untuk memutar kekiri sehingga pintu akan terbuka, tetapi jika false dengan kode 101 lampu indikator led menyala.

Pengembangan pemanasan: senam erobik pada pencak silat melalui media VCD di Universitas Negeri Malang / Dadang Candra Lesmana

 

Pemanasan dalam kegiatan olahraga apapun selalu dilakukan. Pemanasan ini dilakukan sebelum melakukan kegiatan olahraga inti. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghindari cidera dan meningkatkan suhu tubuh. Pencak silat yang merupakan aktifitas beladiri memerlukan kegiatan pemanasan sebab kegiatan pencak silat merupakan aktifitas beladiri. Selama ini pemanasan yang dilakukannya adalah pemanasan yang pada umumnya, yaitu peregangan, senam dan lari-lari kecil. Untuk menghindari dari rasa kejenuhan dalam berlatih diperlukannya sebuah variasi dalam latihan. Pengembangan yang merupakan kegiatan untuk menciptakan hal yang baru demi pengajaran yang berdasarkan masalah aktual, maka akan dibuat suatu pengembangan dalam pemanasan pada latihan pencak silat dengan rangkaian senam erobik. Tujuan dari pengembangan ini adalah mengembangkan pemanasan untuk latihan pencak silat dengan rangkaian senam erobik, yang gerakannya adalah kombinasi dari gerak dasar dari senam erobik dan gerak dasar pencak silat, yang ditayangkan dalam bentuk VCD dan dalam latihan tersebut nantinya akan didapatkan sebuah variasi agar tidak lagi mengalami kejenuhan. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan yang dikemukakan oleh Sadiman (2003:40), dan alur dari pengembangan ini adalah(1) analisis kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan teknik dasar gerakan senam erobik pencak silat, (4) penulisan naskah, (5) evaluasi dan revisi, (6) uji coba kelompok kecil, (7) revisi produk I, (8) uji coba kelompok besar, (9) revisi produk II, (10) naskah siap produk, (11) produksi final. Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah lapangan depan gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang atau yang lebih dikenal dengan ?lapangan pantai?. Subjek yang digunakan adalah ahli senam erobik, ahli pencak silat, ahli media yang masing-masing ahli terdiri dari 2 orang ahli. Atlet Pencak Silat Universitas Negeri Malang yang berjumlah 10 orang sebagai subjek uji coba kelompok kecil dan 15 orang sebagai kelompok besar. Teknik dari pengumpulan data menggunakan angket dan analisis data yang digunakan adalah persentase. Dalam pengembangan pemanasan pada latihan pencak silat dengan senam erobik melalui media VCD di dapatkan hasil penelitian sebagai berikut: (a) dari evaluasi ahli senam erobik didapatkan kesesuaian produk dengan tujuan pengembangan sebesar 80,84%, (b) dari evaluasi ahli pencak silat didapatkan kesesuaian produk dengan tujuan pengembangan sebesar 75,84%, (c) dari evaluasi ahli media didapatkan kesesuaian produk dengan tujuan pengembangan sebesar 75%, (d) dari uji coba kelompok kecil di dapatkan kesesuaian produk dengan tujuan pengembangan sebesar 79.3%, (e) dan dari uji coba kelompok besar didapatkan kesesuaian produk dengan tujuan pengembangan sebesar 81,6%. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang dengan subjek yang lebih besar agar pengembangan ini lebih baik dan diharapkan adanya penelitian yang lebih lanjut dalam tingkat keefektifan agar penelitian ini lebih bermanfaat.

Kepuasan mahasiswa terhadap kinerja layanan registrasi akademik Universitas Negeri Malang / Fiethalies Arie Mahardhika Fangohoy

 

Universitas Negeri Malang (UM) merupakan salah satu perguruan tingg negeri yang berkedudukan di kota Malang. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, UM menyelenggarakan kegiatan yang bersifat edukatif dan administratif. Kegiatan edukatif meliputi belajar-mengajar sebagai fungsi utama yaitu menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan dan pengajaran di atas pendidikan menengah, dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, sosial budaya, dan seni, termasuk keguruan dan ilmu pendidikan. Selain kegiatan edukatif, diselenggarakan pula kegiatan administratif, meliputi segenap pengelolaan sembe daya organisasi untuk menunjang proses belajar-mengajar sebagai fungsi utama dari lembaga pendidikan. Registrasi akademik merupakan salah satu layananadministratif yang pelaksanaanya pada tingkat fakultas bagi mahasiswa dalam memperoleh hak dan izin untuk mengikuti perkuliahan pada semester tententu dengan ketentuan, bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah melakukan registrasi administrasi. Sebagai sebuah layanan, registrasi akademik memiliki kualitas yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa. Penyelenggaraan layanan yang optimal akan membuat mahasiswa puas dan menguatkan kepercayaan pada unit penyelenggara dan institusi. Mahasiswa yang puas terhadap layanan akan membagi pengalaman tersebut kepada komunitas sosialnya, proses transfer informasi ini akan memberi pengaruh positif pada citra UM. Registrasi akademik sebagai sebuah layanan memiliki karakteristik sifat bervariasi karena bergantung kepada siapa, kapan dan di mana dihasilkan, dengan demikian pelaksanaan layanan yang berada pada tingkat fakultas berdampak pada perbedaan tingkat kepuasan mahasiswa antar unit tersebut. Studi pendahuluan dengan metode wawancara tentang pengalaman registrasi akademik yang dirasakan mahasiswa terhadap mekanisme pelayanan menunjukan indikasi layanan yang kurang efektif Oleh karena itu dibutuhkan informasi untuk menentukan solusi yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tingkat harapan mahasiswa terhadap layanan registrasi akademik UM; (2) mendeskripsikan tingkat persepsi mahasiswa terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM; (3) mendeskripsikan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM; (4) mengetahui perbedaan harapan mahasiswa antar fakultas terhadap layanan registrasi akademik UM; (5) mengetahui perbedaan persepsi mahasiswa antar fakultas terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM; dan (6) mengetahui perbedaan tingkat kepuasan mahasiswa antar fakultas dalam layanan registrasi akademik UM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal komparatif, karena membandingkan harapan, persepsi dan kepuasan mahasiswa antar fakultas terhadap kinerja layanan registrasi akademik. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2002 – 2005 dengan pertimbangan bahwa mahasiswa pada kategori tersebut memiliki pengalaman yang cukup dalam menilai kinerja layanan. Penarikan sampel penelitian menggunakan cluster sampling dan proporsi sampling dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup. Analisis deskriptif dilakukan untuk menjawab hipotesis pertama, menghasilkan kesimpulan bahwa 77, 01% tingkat harapan mahasiswa berada pada kualifikasi sangat tinggi. Persepsi mahasiswa terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM 57,60% berada pada kualifikasi tinggi, yang berarti persepsi mahasiswa adalah baik. Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM adalah 65,24% kualifikasi rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM adalah rendah dan terjadi ketidakpuasan. Hasil pengujian dengan menggunakan teknik analisis one way ANOVA mengasilkan kesimpilan untuk hipotesis kedua diketahui bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, dengan demikian terdapat perbedaan tingkat harapan mahasiswa antar fakultas terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM. Pengujian hipotesis ketiga mengasilkan kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterima, dengan demikian terdapat perbedaan tingkat persepsi mahasiswa antar fakultas terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM. Pengujian hipotesis keempat mengasilkan kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterima, dengan demikian terdapat perbedaan tingkat kepuasan mahasiswa antar fakultas terhadap kinerja layanan registrasi akademik UM. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah terjadi fenomena ketidakpuasan terhadap kinerja layanan registrasi akademik. Tingkat harapan, persepsi dan kepuasan mahasiswa antar fakultas di UM memiliki variasi yang beragam. Fenomena ketidakpuasan yang ditemukan dalam penelitian ini hendaknya menjadi motivasi bagi institusi untuk meningkatkan kualitas layanan dan profesionalisme lembaga sehingga mampu menyajikan pelayanan yang optimal, mewujudkan pelanggan pendidikan yang loyal dan citra lembaga serta menjadi dorongan bagi staf dalam mengembangkan motivasi, moral dan kemampuan diri dan kelompok untuk menyukseskan profesionalisme lembaga dan individu selaku bagian dari layanan yang berkualitas. --Kata sandi-- open )* : 103131463754

Pengembangan perangkat pembelajaran minyak bumi dan petrokimia di SMA/MA berorientasi model problem based learning / Wiji Rahayu

 

Dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran diperlukan suatu perangkat pembelajaran, salah satunya berupa bahan ajar. Implementasi modul pembelajaran berbasis masalah pada siswa SMA/MA yang telah dilakukan beberapa peneliti diantaranya Sel Elektrolisis dan Korosi (Setyowati, 2007) dan Sel Volta (Sukowati, 2007) telah dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Oleh karena itu, dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan materi minyak bumi dan petrokimia. Pengembangan perangkat pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif dalam mengajarkan materi minyak bumi dan petrokimia. Tujuan pengembangan ini adalah (1) Untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran minyak bumi dan petrokimia menurut 4D-Model yang dikembangkan oleh Thiagarajan, (2) Untuk memperoleh produk pengembangan yang berwujud perangkat pembelajaran minyak bumi dan petrokimia yang berorientasi model PBL, (3) Untuk mengetahui tingkat validitas perangkat pembelajaran hasil pengembangan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan model yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model pembatasan (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate). Keempat D dalam 4D-Model merupakan tahap-tahap atau sintak dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Rancangan perangkat pembelajaran ini hanya diadopsi sampai pada D yang ketiga, yakni hingga tahap pengembangan (develop). Validasi dilakukan oleh dua dosen Jurusan Kimia UM dan dua guru mata pelajaran Kimia SMA/MA Negeri kelas X di Malang. Instrumen yang digunakan adalah angket penilaian dan angket tanggapan terhadap perangkat pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Produk yang dihasilkan dalam pengembangan adalah perangkat pembelajaran kelas X semester 2 untuk materi pokok minyak bumi dan petrokimia. Perangkat utama yang dikembangkan berupa: (a) bahan ajar yang terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi, panduan bagi pengguna bahan ajar, pendahuluan, uraian materi, rangkuman, daftar istilah utama, daftar pustaka, (b) soal-soal latihan dan kunci jawaban, (c) Lembar Kegiatan Siswa, (d) silabus dan RPP yang dilengkapi dengan instrumen penilaian (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Hasil validasi terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan secara keseluruhan (dosen Jurusan Kimia dan guru Kimia SMA) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,5 yang bermakna bahwa secara keseluruhan perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah layak digunakan sebagai alternatif sumber belajar dengan tingkat validitas sebesar 88% yang bermakna valid.

Potensi waduk Banjaranyar untuk kebutuhan air irigasi lahan pertanian padi di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik / Amerion Fipianto

 

Penerapan model pembelajaran teknik inkuiri untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran akuntansi, studi kasus pada siswa kelas 1 Akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang / Anif Riyanti

 

Dengan munculnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), berkembang pula satu pendekatan pembelajaran yang diterapkan dengan pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching Learning). Dalam pendekatan kontekstual inilah dikenal asas inkuiri yang merupakan suatu teknik penemuan yang cara penyajian bahan pelajaran lebih banyak melibatkan siswa dalam proses-proses mental. Kesadaran siswa terhadap proses inkuiri dapat ditingkatkan sehingga para siswa dapat diajarkan prosedur-prosedur pemecahan masalah secara ilmiah, dan hal tersebut dapat dipergunakan untuk mengatasi sikap siswa yang cenderung masih pasif dalam mengikuti pelajaran berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan. Faktor penyebabnya guru mata diklat masih menggunakan metode ceramah dan penugasan. Sehingga dengan penerapan model pembelajaran teknik inkuiri ini diharapkan mampu merangsang siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran dengan teknik inkuiri yang efektif didalam pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 1 akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk tindakan kelas yang dirancang dalam tiga siklus kegiatan. Kegiatan pada setiap siklus diarahkan pada penerapan langkah-langkah pembelajaran inkuiri secara bersama-sama. Dimana pada setiap siklus dilakukan tindakan-tindakan perbaikan untuk setiap ada kelemahan yang nampak. Pada siklus I siswa masih mengalami kesulitan didalam menyesuaikan diri dengan penerapan metode baru dan hanya beberapa siswa yang berani aktif. Pada siklus II siswa mulai terbiasa dan mencapai tujuan pembelajaran teknik inkuiri. Sebagai pemantapan dilaksanakan kegiatan di siklus III dengan latihan-latihan soal yang lebih mendalam. Dari hasil analisis dan refleksi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran teknik inkuiri yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya hasil evaluasi siswa pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif siswa sebelum penerapan teknik inkuiri memiliki nilai rata-rata 62.04, pada siklus I meningkat menjadi 69.79, kemudian pada siklus II didapatkan nilai rata-rata 77.3, dan 79.04 pada siklus III. Peserta didik juga mampu meningkatkan prestasi afektif mereka pada setiap siklus pembelajaran. Pada siklus I dicapai hasil evaluasi aspek afektif siswa dengan nilai rata-rata 86.6, di siklus II 79.3, dan di siklus III 90.1. Pada aspek psikomotorik dapat dijelaskan hasil evaluasi yang diperoleh peserta didik sebagai berikut. Di siklus I aspek psikomotorik siswa mencapai persentase total ketercapaian 66.67%, siklus II 73.33%, dan di siklus III 76.67%. Semua hasil evaluasi tersebut menunjukkan kualifikasi nilai dalam kategori baik (untuk kategori penilaian aspek psikomotorik). Disamping itu indikator lain adalah siswa menjadi aktif dalam mengikuti kegiatan belajar dan dalam menjawab pertanyaan serta mengemukakan pendapat dan bertanya. Dengan demikian, hasil yang diperoleh sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan, yaitu benar bahwa penerapan model pembelajaran teknik inkuiri dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran akuntansi.

Pengembangan modul pembelajaran sistem pencernaan mMakanan berbasis kontekstual dengan siklus belajar untuk SMP kelas VIII / Dwi Lestari

 

Mulai tahun 2006 pemerintah telah mengeluarkan Permen Diknas no. 22, 23, dan 24 . Diberlakukannya Permen tersebut disertai adanya perubahan kurikulum menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan. Kurikulum ini dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah yang berpedoman pada standar isi. Untuk mengetahuii sejauh mana kesiapan sekolah dalam menerapkan kurikulum ini maka diperlukan analisis konteks sebelum pelaksanaan kurikulum ini. Analisis konteks dilakukan di SMPK Celaket 21 yang meliputi analisis potensi dan kekuatan yang ada di sekolah, analisis peluang dan tantangan, serta identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dari analisis konteks diperoleh beberapa masalah yang muncul serta alternatif pemecahannya. Beberapa masalah yang muncul adalah kurang optimalnya penggunaan laboratorium IPA, sumber belajar yang hanya berasal dari LKS, proses pembelajaran yang monoton, serta karakteristik individu tidak diakui. Dari hasil analisis masalah maka diperoleh solusi pemecahan yang salah satunya adalah pengembangan modul pembelajaran berbasis kontekstual dengan siklus belajar. Dengan pembelajaran menggunakan modul siswa dapat belajar mandiri, maju sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk pengembangan berupa modul pembelajaran yang berbasis kontekstual- Learning Cycle. Modul pembelajaran yang dikembangkan berupa Buku Petunjuk Guru, Lembar Kegiatan Siswa, Kunci Lembar Kegiatan Siswa, Lembaran Tes, Kunci Lembaran Tes. Pengembangan modul pembelajaran ini menggunakan model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan dkk (1974), yakni 4D-Model (Define, Design, Development, dan Disseminate). Keempat D dalam 4D-Model merupakan tahap-tahap dalam pengembangan modul pembelajaran, namun rancangan penelitian ini mengadopsi sampai D yang ketiga. Subyek validasi adalah 2 dosen ahli pengembangan modul dan materi, serta 2 guru SMPK Celaket 21 Malang. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Subyek penelitian adalah siswa SMPK Celaket 21 Malang kelas VIII. Setelah dilakukan hasil uji validasi secara keseluruhan dari buku petunjuk guru memiliki kriteria cukup valid dengan persentase masing-masing kevalidan dari V1 sebesar 75,64 %, V2 sebesar 91,66 % , V3 sebesar 76,81 %, dan V4 sebesar 88,40 %. Sedangkan kevalidan keseluruhan dari lembar kegiatan siswa diperoleh persentase sebesar 79,36 % dengan kriteria cukup valid. Kunci lembar kegiatan siswa memperoleh angka kevalidan dari V1 71,42 % dengan kriteria kurang valid, dan dari V2 sebesar 91,66 % dengan kriteria cukup valid. Lembaran tes memperoleh angka kevalidan dari V1 sebesar 100 % dengan kriteria valid, dan dari V3 dan V4 memperoreh kevalidan sebesar 83,33 %, kriteria cukup valid. Kunci lembaran tes memperoleh angka kevalidan dari V1 sebesar 94,44 % dengan kriteria valid (tidak direvisi), dari V3 sebesar 83,88 % dengan kriteria cukup valid, dan dari V4 memperoleh persentase kevalidan sebesar 100 % dengan kriteria cukup valid. Dari validasi implementasi diperoleh persentase sebesar 93,17 %. Beberapa revisi tetap dilakukan penulis berdasarkan saran-saran maupun masukan yang diberikan oleh validator dengan tujuan untuk menyempurnakan modul pembelajaran yang dikembangkan. Pada akhir penelitian ini dihasilkan produk berupa modul pembelajaran sistem pencernaan makanan berbasis kontekstual dengan siklus belajar yang siap digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA 2 YPK Malang / Christina Simatupang

 

Berdasarkan hasil observasi peneliti pada tanggal 23 - 27 Juli 2007 di kelas XI IPA SMA 2 YPK, diperoleh data bahwa pola pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered) sehingga siswa kurang berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan kurang terlibat secara maksimal dalam pembelajaran. Metode ceramah yang digunakan di kelas, kurang menarik minat siswa sehingga dapat menjadi salah satu penyebab kurang aktifnya siswa. Rendahnya motivasi belajar Biologi tersebut berdampak pada hasil belajar yang diperoleh yang secara umum kurang memuaskan, karena tidak memenuhi standar ketuntasan minimum (SKM) yang ditetapkan. Dari upaya untuk meningkatkan motivasi belajar Biologi demi tercapainya proses pembelajaran yang lebih baik, maka dilakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA 2 YPK Malang”. Dalam pembelajaran struktural model Numbered Heads Together siswa di libatkan dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran. Metode ini memiliki prosedur yang ditetapkan untuk memberi waktu lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling membantu antar anggota dalam satu kelompok. Kelebihan – kelebihan dari metode tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa apabila di terapkan dalam penelitian tindakan kelas, sehingga hasil belajar siswa meningkat dan siswa dapat mencapai standar ketuntasan minimum (SKM) yang di tentukan oleh sekolah. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan pokok bahasan sistem gerak. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai perancang kegiatan, pelaksana kegiatan, pengumpul data, penganalisis data dan penyusun hasil penelitian. Data dalam penelitian ini adalah motivasi dan hasil belajar, sumber data diperoleh dari siswa kelas XI IPA SMA 2 YPK Malang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI SMA 2 YPK Malang. Peningkatan motivasi ini juga diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penulis mengharapkan bahwa penelitian ini tidak hanya diterapkan pada pokok bahasan Sistem Gerak tetapi juga dapat diterapkan pada pokok bahasan lainnya.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelompok satu di kelas X-C pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Ponggok / Ary Cahyo Nugroho

 

Berdasarkan peran, fungsi dan kegunaannya, semestinya pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang penting untuk dipelajari, menarik dan menyenangkan, tetapi kenyataan di sekolah-sekolah tidak demikian. Seringkali siswa memandang pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang membosankan karena penuh dengan hafalan, fakta kering, tahun dan peristiwa-peristiwa belaka, hal tersebut menyebabkan siswa menjadi subyek yang pasif dan pada akhirnya hasil belajar siswa menjadi kurang maksimal. Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru pembina mata pelajaran sejarah kelas X di SMAN 1 Ponggok, ditemukan permasalahan utama dalam proses belajar mengajar yaitu sebagian besar siswa kelompok satu di kelas X-C cenderung mempunyai motivasi belajar sejarah yang masih rendah. Berdasarkan keadaan tersebut, peneliti mengusulkan diterapkannya suatu model pembelajaran yang secara teoritis bisa meningkatkan motivasi belajar siswa, dan model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning. Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang dapat membuat siswa bisa belajar berpikir kritis, kreatif dan trampil dalam memecahkan masalah. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah penerapan pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran sejarah terhadap siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Ponggok, (2) bagaimanakah motivasi belajar sejarah siswa kelompok satu di kelas X-C sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran berbasis masalah? (3)apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah di kelas X-C dapat meningkatkan motivasi belajar sejarah siswa kelompok satu? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar sejarah semua siswa kelompok satu setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis masalah mengalami peningkatan, adapun peningkatan tersebut diukur berdasarkan lima indikator motivasi yaitu perhatian, waktu belajar, usaha, irama perasaan, dan penampilan. Peningkatan motivasi belajar sejarah siswa kelompok satu tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan masing-masing indikator motivasi diatas pada tiap-tiap siswa kelompok satu. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru sejarah sebaiknya tidak hanya menggunakan metode ceramah atau konvensional sebagai satu-satunya metode dalam menyampaikan materi sejarah. Model pembelajaran yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan materi dan karakteristik pelajaran sejarah.

Perbedaan cara negosiasi dan cara agresi dalam penyelesaian konflik berpacaran remaja akhir / Marheinasti

 

Pada setiap hubungan konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Begitu pula pada hubungan berpacaran remaja. Konflik yang timbul harusnya dapat diselesaikan dengan baik oleh pihak-pihak terkait. Penyelesaian konflik yang dilakukan dalam sebuah hubungan bisa menggunakan cara negosiasi dan cara agresi. Setiap orang memiliki kebiasaan sendiri dalam menyelesaikan konfliknya yang dapat disebabkan karena latar belakang remaja. Latar belakang masing ? masing remaja yang tidak sama akan menyebabkan penyelesaian konflik berpacaran akan menjadi berbeda. Latar belakang yang digunakan untuk melihat perbedaan itu adalah jenis kelamin, usia, suku, lama hubungan, pendidikan remaja, dan pendidikan orang tua. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian komparatif. Sampel penelitian memiliki karakteristik yaitu berusia 17 ? 22 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, serta sedang membina hubungan pacaran heteroseksual. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Sampel seluruhnya berjumlah 100 orang, dengan rincian: 55 orang laki-laki dan 45 orang perempuan, membina hubungan selama 1 ? 7 tahun, berasal dari beberapa suku. Sampel penelitian seluruhnya merupakan mahasiswa, ayah dan ibunya berpendidikan SD sampai sarjana. Instrumen yang digunakan adalah skala adaptasi penyelesaian konflik yang terdiri dari 78 item. Informasi mengenai latar belakang remaja didapatkan dari lembar informasi diri yang disertakan pada skala penyelesaian konflik. Teknik analsisa yang digunakan adalah crosstabulation untuk mengetahui kecenderungan pemilihan cara penyelesaian konflik dan T test 2 sampel untuk mengetahui perbedaan cara negosiasi dan cara agresi. Hasil penelitian: (1) Ada kecenderungan pemilihan cara agresi dalam penyelesaian konflik ditinjau dari suku asal subjek; (2) Ada perbedaan agresi ditinjau dari jenis kelamin, t = 2,539 (p = 0,013 < 0,05). Laki-laki memiliki perilaku agresi yang lebih tinggi dari perempuan; (3) Ada perbedaan agresi ditinjau dari suku, (p = 0,016 < 0,05). Remaja yang berasal dari Madura memiliki perilaku agresi yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok suku yang lain. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada remaja untuk dapat menambah wawasan mengenai cara membina hubungan dan menyelesaikan konflik agar dapat mengurangi cara penyelesaian konflik dengan agresi.

Hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku asertif siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Vinda Kurnia Prayuhana

 

Dalam melakukan tugas perkembangannya, seringkali remaja dihadapkan pada keragu-raguan dalam memilih cara berperilaku. Oleh sebab itu kecerdasan emosional sangat penting dan perlu dilatihkan kepada anak sehingga anak dapat berperilaku asertif (tegas). Kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Sedangkan perilaku asertif adalah perilaku individu dalam mengekspresikan perasaan (baik positif maupun negatif) dan pikirannya secara tegas dan bebas dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain atau dengan kata lain mempertahankan hak sendiri tanpa mengganggu hak orang lain. Secara umum perilaku manusia dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu: perilaku nonasertif (pasif), asertif (tegas) dan agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui 1) Bagaimana gambaran kecerdasan emosional siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, 2) Bagaimana gambaran perilaku asertif siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, 3) Adakah hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku asertif siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif dan korelasional. Populasinya siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Sampel penelitian sejumlah 136 orang siswa, diambil dengan menggunakan teknik clusster ramdon sampling. Penulis menyusun angket kecerdasan emosional berdasarkan teori Golema dan perilaku asertif berdasarkan teori Galassi dan Galassi. Angket disusun dengan menggunakan angket terstruktur dengan disertai 4 (mpat) pilihan jawaban. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase untuk melihat gambaran kecerdasan emosional dan perilaku asertif siswa. Sedangkan untuk mengetahui hubungan antara keduanya menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil uji coba instrumen kecerdasan emosional menunjukkan reliabilitas instrumen 0,906 sedangkan instrumen perilaku asertif menunjukkan reliabilitas instrumen 0,904. Dari hasil analisis instrumen kecerdasan emosional diperoleh 63 item yang valid dan 5 item yang tidak valid sedangkan instrumen perilaku asertif diperolah 54 item yang valid dan 6 item yang tidak valid. Hasil penelitian tentang kecerdasan emosional ini adalah sebesar 16,18% siswa memiliki kecerdasan emosional tinggi, 52,94% siswa memiliki kecerdasan emosional sedang dan 30,88% siswa memiliki kecerdasan emosional rendah. Sedangkan klasifikasi perilaku asertif adalah 33,09% siswa mempunyai perilaku asertif yang tinggi, 59,56% siswa mempunyai perilaku asertif sedang dan 7,35% siswa mempunyai perilaku asertif rendah. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa SMA Laboratorium UM memiliki kecerdasan emosional dan perilaku asertif sedang. Untuk melihat hubungan antar variabel, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku asertif siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, yaitu bahwa kecerdasan emosional terhadap perilaku asertif menunjukkan hasil (r = 0,662) dan (p = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar (1) Kepala sekolah diharapkan dapat menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan program di sekolah, (2) Konselor hendaknya dapat meningkatkan perhatiannya atau dapat merencanakan secara sistematis pemberian materi bimbingan, khususnya informasi tentang kecerdasan emosional, (3) Guru sebagai orang tua siswa di sekolah disarankan agar lebih berperan dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa dan tidak semata-mata hanya mengajarkan materi pelajaran yang sesuai dengan pedoman kurikulum saja, (4) Bagi peneliti selanjutnya hendaknya mengadakan penelitian pada subyek yang lebih luas lagi sehingga dapat melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya yang juga mengetengahkan masalah kecerdasan emosional dan perilaku asertif.

Sistem dan prosedur pengelolaan arsip pada Dinas Pendidikan Kota Malang / Kurniawan

 

Dalam setiap lembaga atau organisasi baik pemerintah atau swasta pasti membutuhkan penyelenggaraan administrasi yaitu segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokak yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam bekerjasama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu unsur administrasi berupa ketatausahaan yang kegiatannya adalah menyelenggarakan kegiatan adaministarasi. Setiap organisasi mempunyai unit kecil yang bertugas mengelola arsip. Meskipun unit kecil tapi mempunyai peranan yang sangat besar dalam menunjang kegiatan administarasi sehari-hari sehingga peranannya sangat penting dalam setiap instansi. Penelitian ynag berjudul ?Sistem Dan Prosedur Pengelolaan Arsip Pada Dinas Pendidikan Kota Malang? bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sietem kearsipan dan sejauh mana tingkat pengelolaan kearsipan di kantor Dinas Pendidikan Kota Malang. Adapun pengelolaan arsip yang diteliti meliputi:(1) Sistem penyimpanan arsip yang diterapkan, (2) Prosedur penyimpanan arsip, (3) Tingkat kecermatan penemuan kembali arsip, (4) Azas penyimpanan arsip apa yang diterapkan, (5) Peralatan apa yang dipergunakan untuk menyimpan arsip.(6) Tingkat efisiensi lpenemuan kembali arsip Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang Jl Veteran No 19 Malang mulai bulan Oktober sampai Nopember 2007. Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Sub Bagian Umum, pegawai Sub Bagian Umum. Jenis penelitian ini adalah deskiptif, Teknik prosedur pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dengan tes kecepatan. Berdasarkan dari hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan di kantor Dinas Pendidikan Kota Malang Sistem penyimpanan yang dilakukan dikantor Dinas Pendidikan Kota Malang yaitu dengan mengunakan sistem subyek yang artinya arsip akan dikelompokkan sesuai dengan kode klasifikasi yang sudah ditetapkan. Prosedur penyimpanan arsip yang diterapkan pada kantor Dinas Pendidikan Kota Malang adalah arsip surat yang masuk maupun keluar yang berupa copyan dari surat yang sudah ditindak lanjuti tersebut akan diteliti terlebih dahulu, dan kemudian akan ditentukan perihal dari surat keluar yang kemudian akan disimpan. Kemudian surat akan dikelompokkan pada permasalahan atau perihal dari arsip. Setelah itu surat akan disimpan pada tempatnya yang tentunya sesuai dengan subyek surat. Hasil dari penelitian yang dilakukan pada kantor Dinas Pendidikan Kota Malang dengan mengunakan tes ketrampilan penemuan kembali arsip dikategorikan, hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan angka kecermatan yang lebih dari 3% sedangkan jangka waktu penemuan kembali arsip memerlukan waktu 45,7 detikuntuk mencari 30 lembar surat masuk dan surat keluar. Waktu yang dibutuhkan tersebut dikategorikan dalam kritiria efisien karena jangka waktu penemuan kembali arsip kurang dari 1 menit. Dari 30 lembar surat yang diminta dalam tes kecepatan penemuan kembali arsiip, petugas arsip dapat menemuakan surat sebanyak 29 lembar. Dari uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa petugas arsip dapat menemukan arsip sudah sangat efisien. Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, disarankan pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang agar: 1. Lebih memperhatikan pada perawatan dan pemeliharaan arsip yang ada, sehingga arsip-arsip tersebut tidak mudah rusak karena arsip merupakan sumber informasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, 2. Sebaiknya memberikan batasan waktu yang tegas atas penyerahan arsip yang diproses maupun arsip yang dikeluarkan sehingga arsip dapat tersimpan seluruhnya dan apabila sewaktu-waktu arsip diperlukan dapat dengan mudah diketemukan kembali dengan cepat, 3. Hendaknya semua petugas melaksanakan perkerjaan masing-masing khususnya dalam bidang kearsipan sehingga tidak terjadi kesalahan kerusakan atau bahkan kehilangan arsip, 4. Hendaknya para arsiparis mendapat pelatihan penemuan kembali arsip lagi sehinghga dalam pencarian arsiparis dapat dengan mudah dan cepat menemukan arsip yang diperlukan.

Analisis penerapan sistem pengendalian intern terhadap penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. Puma Logistics Indonesia di Surabaya / Ika Agustina

 

Sistem pengendalian intern merupakan suatu cara yang ditempuh perusahaan untuk mengendalikan usahanya yang meliputi struktur organisasi, cara-cara, metode serta alat-alat yang dikoordinasikan guna mencapai tujuan perusahaan Sistem Pengendalian Intern pada dasarnya bertujuan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Metode yang digunakan untuk menyajikan data atau informasi adalah melalui penganalisaan data yang telah ada dengan cara membandingkan antara teori yang diperolah di bangku kuliah dengan kenyataan yang terdapat di dunia kerja selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan. Hasil evaluasi dari pengamatan, wawancara dan dokumentasi tentang Sistem Pengendalian Intern terhadap penerimaan dan pengeluaran kas untuk mengetahui penerapannya pada PT. Puma Logistics Indonesia di Surabaya. Dari evaluasi tersebut ditemukan beberapa system yang kurang sesuai untuk diterapkan sebagai Sistem Pengendalian Intern terhadap penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. Puma Logistics Indonesia, hal tersebut dapat dilihat dari kurang pedulinya pihak perusahaan terhadap bukti-bukti transaksi yang menyebabkan penerimaan kas dan kurangnya pengawasan terhadap pengeluaran kas sehingga banyak pengeluaran yang tidak ada bukti transaksi yang dapat dijadikan arsip. Dengan adanya Sistem Pengendalian Intern yang baik terhadap PT. Puma Logistics Indonesia dapat mencegah segala penyelewengan baik dari luar maupun dalam. Dengan mensyaratkan bukti transaksi dan otorisasi dari pihak-pihak yang berwenang terhadap semua transaksi baik penerimaan maupun pengeluaran kas akan memudahkan pengontrolan terhadap kas dan mencegah adanya pengeluaran fiktif yang mungkin dilakukan oleh staff PT. Puma Logistics Indonesia.

Korelasi antara persepsi siswa tentang motivasi kerja
dan kemampuan mengajar guru, dengan motivasi berprestasi siswa program akselerasi SMAN 3 Malang / Widya Trisnawati

 

Penyelenggaraan strategi pendidikan secara regular yang dilaksanakan di Indonesia selama ini bersifat klasikal-massal, yaitu memberikan perlakuan standar (rata-rata) kepada semua siswa, padahal setiap siswa memiliki kebutuhan berbeda. Akibatnya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas kecepatan belajar siswa lainnya akan merasa jenuh, sehingga sering berprestasi di bawah potensinya (under achiever). Berkenaan dengan hal tersebut, dipandang perlu adanya pelayanan pendidikan yang berkualitas, yaitu penyelenggaraan program akselerasi. Tujuan program akselerasi adalah memberikan kesempatan kepada siswa yang berprestasi dan memiliki potensi untuk menyelesaikan pendidikan lebih cepat daripada waktu yang telah ditentukan dengan jenjang yang sama (Widyastono, 2001:1). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara persepsi siswa tentang motivasi kerja dan kemampuan mengajar guru, dengan motivasi berprestasi siswa program akselerasi SMAN 3 Malang; (2) mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara persepsi siswa tentang motivasi kerja guru dengan motivasi berprestasi siswa program akselerasi SMAN 3 Malang; dan (3) mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru dengan motivasi berprestasi siswa program akselerasi SMAN 3 Malang. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya korelasi antara persepsi siswa tentang motivasi kerja dan kemampuan mengajar guru, dengan motivasi berprestasi siswa program akselerasi SMAN 3 Malang. Subyek penelitian adalah 16 orang siswa yang terdiri 7 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan program akselerasi kelas XI angkatan 2006/2007. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah persentase dan korelasi product moment yang dioperasikan dengan diagram pencar serta program SPSS 13.0 for windows, sesuai dengan jenis data yang dianalisis, yaitu interval-interval. Hasil analisis data tentang motivasi kerja dan kemampuan mengajar guru diinterpretasikan berdasarkan persepsi siswa terhadap guru bidang studi Agama, PPKn, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan Geografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif rendah yang signifikan antara persepsi siswa tentang motivasi kerja guru dengan motivasi berprestasi siswa berdasarkan korelasi product moment menggunakan hitungan diagram pencar (rhitung = 0,758 dan rtabel = 0,497); sedangkan persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru dengan motivasi berprestasi siswa (rhitung = 0,709 dan rtabel 0,497). Selanjutnya persepsi siswa tentang motivasi kerja guru dengan motivasi berprestasi siswa berdasarkan korelasi product moment menggunakan hitungan SPSS 13.0 for Windows (rhitung = 0,663 dan rtabel = 0,497); sedangkan persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru dengan motivasi berprestasi siswa (rhitung = 0,836 dan rtabel = 0,497). Hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut: (1) persepsi siswa tentang motivasi kerja guru masuk dalam kualifikasi rendah, (2) persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru masuk dalam kualifikasi sangat rendah, (3) motivasi berprestasi siswa termasuk dalam kualifikasi cukup, (4) terdapat korelasi positif rendah yang signifikan antara persepsi siswa tentang motivasi kerja guru dengan motivasi berprestasi, (5) terdapat korelasi positif rendah yang signifikan antara persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru dengan motivasi berprestasi siswa. Berdasarkan analisis di atas, ditemukan korelasi positif rendah tentang persepsi siswa antara motivasi kerja guru dengan motivasi berprestasi siswa, dan persepsi siswa antara kemampuan mengajar guru dengan motivasi berprestasi siswa program akselerasi SMAN 3 Malang karena itu diajukan saran, agar para guru: 1) meningkatkan kinerjanya dengan lebih menegakkan disiplin kerja, memberikan tugas saat tidak hadir saat mengajar, memotivasi kerja dan memberikan pujian/ancaman kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar; 2) memperhatikan peningkatan kemampuannya melalui pengembangan diri secara intrinsik yaitu menguasai bahan pelajaran, cinta pelajaran yang diajarkan, menggunakan variasi metode mengajar, dan memanfaatkan teknologi informasi, serta secara ekstrinsik yaitu mengikuti pelatihan-pelatihan untuk guru misalnya: work shop, seminar, penelitian tindakan kelas, dan studi banding.

Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang (studi kasus pada PT. TIKI Jalur Nugraha Ekakurir Pandaan, Kabupaten Pasuruan) / Ika Dhesi Kristanti

 

Perkembangan sektor jasa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Salah satu perusahaan jasa pengiriman barang yang cukup eksis di Indonesia adalah PT. TIKI JALUR NUGRAHA EKAKURIR atau yang lebih dikenal dengan JNE. Untuk dapat bersaing dengan kompetitornya diperlukan strategi pemasaran yang tepat. Salah satunya berkenaan dengan bauran pemasaran jasa yang diterapkannya. Bauran pemasaran jasa dalam penelitian ini terdiri dari tujuh elemen yaitu produk (product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion), orang (people), proses (process), dan layanan konsumen (costumer service). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: pelaksanaan bauran pemasaran jasa serta keputusan pemilihan konsumen yang melakukan pengiriman barang di JNE Pandaan, pengaruh bauran pemasaran jasa (X) baik secara parsial maupun simultan terhadap keputusan konsumen memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), promosi (X4), orang (X5), proses (X6), dan layanan konsumen (X7) serta variabel terikatnya adalah keputusan pemilihan konsumen (Y). Jenis penilitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pengiriman barang di JNE Pandaan berjumlah 913 konsumen terhitung mulai bulan Januari sampai dengan April 2007. Penentuan sampel menggunakan rumus infinite population dengan  = 5%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 73 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan Multy Stage Sampling. Tahapan pertama adalah purposive sampling dan tahap selanjutnya adalah accidental sampling untuk menyebarkan kuisioner pada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini adalah : (1) 47 responden (64,38%) menyatakan kurang setuju terhadap produk yang ditawarkan JNE Pandaan, dengan nilai B1 = - 0,035, nilai thitung = - 0,474, dan nilai sig t = 0,637, (2) 34 responden (46,56%) menyatakan kurang setuju terhadap harga (tarif) yang ditawarkan JNE Pandaan, dengan nilai B2 = 0,083, nilai thitung = 1,407, dan nilai sig t = 0,164, (3) 41 responden (56,17%) menyatakan setuju terhadap tempat JNE Pandaan, dengan nilai B3 = 0,496, nilai thitung = 3,720, dan nilai sig t = 0,000, (4) 43 responden (58,90%) menyatakan kurang setuju terhadap promosi yang dilakukan JNE Pandaan, dengan nilai B4 = 0,080, nilai thitung = 1,656, dan nilai sig t = 0,102, (5) 36 responden (49,32%) menyatakan setuju terhadap orang (karyawan) JNE Pandaan, dengan nilai B5 = 0,146, nilai thitung = 3,217, dan nilai sig t = 0,002, (6) 34 responden (46,56%) menyatakan kurang setuju terhadap proses yang dilakukan JNE Pandaan, dengan nilai B6 = 0,423, nilai thitung = 3,381, dan nilai sig t = 0,001, (7) 30 responden (41,09%) menyatakan setuju terhadap layanan konsumen yang diberikan JNE Pandaan, dengan nilai B7 = 0,009, nilai thitung = 0,118, dan nilai sig t = 0,906. Terdapat pengaruh secara signifikan tempat (X3), orang (X5), dan proses (X6) secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan. Sedangkan tidak terdapat pengaruh secara sinifikan produk (X1), harga (X2), promosi (X4), layanan konsumen (X7) secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan. Terdapat pengaruh produk (X1), harga (X2), tempat (X3), promosi (X4), orang (X5), proses (X6), dan layanan konsumen (X7) secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan berdasarkan nilai Fhitung sebesar 29,120 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sub variabel dari bauran pemasaran jasa yang dominan berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan adalah tempat dengan nilai sumbangan efektif sebesar 17,56% selain itu diketahui Adjusted R2 = 0,732 yang berarti korelasi/ hubungan antar variabel bebas adalah kuat. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) mayoritas responden sebanyak 64,38% menyatakan kurang setuju terhadap produk yang ditawarkan JNE Pandaan, (2) mayoritas responden sebanyak 46,56% menyatakan kurang setuju terhadap harga (tarif) yang ditawarkan JNE Pandaan, (3) mayoritas responden sebanyak 56,17% menyatakan setuju terhadap tempat JNE Pandaan, (4) mayoritas responden sebanyak 58,90% menyatakan kurang setuju terhadap promosi yang dilakukan JNE Pandaan, (5) mayoritas responden sebanyak 49,32% menyatakan setuju terhadap orang (karyawan) JNE Pandaan, (6) mayoritas responden sebanyak 46,56% menyatakan kurang setuju terhadap proses yang dilakukan JNE Pandaan, (7) mayoritas responden sebanyak 41,09% menyatakan setuju terhadap layanan konsumen yang diberikan JNE Pandaan. Secara parsial ada pengaruh positif signifikan tempat, proses, dan layanan konsumen terhadap keputusan pemilihan konsumen. Sedangkan secara simultan ada pengaruh positif signifikan produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan layanan konsumen terhadap keputusan pemilihan konsumen. Sedangkan sub variabel bauran pemasaran jasa yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pemilihan konsumen adalah tempat. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Adanya standardisasi dalam layanan pengiriman barang yang variatif sehingga standar pelayanan yang diberikan di seluruh cabang JNE relatif sama sehingga akan menciptakan kepuasan konsumen, (2) Perusahaan hendaknya menyesuaikan harga yang mahal dibanding perusahaan lokal sejenis dengan memberikan pelayanan yang berkualitas karena harga menjadi indikasi dari kualitas jasa suatu perusahaan, (3) Promosi dilakukan dengan membuat situs di internet juga memasang brosur yang berisi segala informasi mengenai JNE Pandaan di tempat-tempat strategis, (4) Layanan konsumen hendaknya juga disertai dengan memberikan jaminan keamanan barang, baik keutuhan barang maupun keamanan saat pengiriman karena pembungkus barang seringkali sudah terbuka ketika sampai di tujuan.

Penerapan pembelajaran berdasarkan masalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Malang semester gasal tahun ajaran 2007/2008 / Nur Vita Sari

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil temuan peneliti saat melakukan observasi di SMA Muhammadiyah 2 Malang. Dari hasil observasi diperoleh data bahwa: (1) Khususnya pada mata pelajaran Biologi pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered) daripada berpusat pada siswa (student centered). (2) Siswa jarang diajak melakukan pengamatan, praktikum maupun belajar secara kooperatif. (3) Siswa tidak memiliki buku ajar (buku Biologi). Akibatnya sebagian besar siswa menjadi siswa yang pasif di kelas. Selama pembelajaran para siswa cenderung berbicara sendiri dengan teman-temannya, tidak mendengarkan penjelasan guru dan terlihat kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Selain itu skor tes menunjukkan bahwa lebih dari 80% siswa belum mencapai standar ketuntasan minimal (SKM) mata pelajaran Biologi yang ditetapkan di sekolah. Dengan kata lain keadaan tersebut berpotensi menimbulkan kejenuhan, kebosanan, serta menurunkan motivasi dan hasil belajar siswa. Sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, perlu adanya penerapan metode pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif pengganti dari pembelajaran yang teacher centered. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, melalui penelitian ini peneliti mencoba keefektifan dari Pembelajaran Berdasarkan Masalah dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui peningkatan motivasi belajar biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Malang semester gasal tahun ajaran 2007/ 2008 selama mengikuti pembelajaran dengan Pembelajaran Berdasarkan Masalah, dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Malang semester gasal tahun ajaran 2007/ 2008 setelah mengikuti pembelajaran dengan Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dirancang dalam dua siklus dengan subjek penelitian siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi kemudian dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan data dilaksanakan mulai tanggal 9 November sampai 26 November 2006. Hasil penelitian menunjukkan (1) Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Malang semester gasal tahun ajaran 2007/ 2008. Peningkatan motivasi belajar Biologi siswa SMA Muhammadiyah 2 Malang sebesar 12,2 % yaitu dari 71,9 % pada siklus 1 menjadi 84,1 % pada siklus 2.(2) Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Malang semester gasal tahun ajaran 2007/ 2008. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan pada aspek kognitif; jumlah rata-rata hasil belajar klasikal dari pra tindakan ke siklus 1, dan dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan yaitu 48 pada Pra tindakan menjadi 68 pada siklus 1 dan 74,5 pada siklus 2. Pada aspek afektif; skor hasil belajar siswa secara klasikal mengalami peningkatan dari 109 pada siklus 1 menjadi 117 pada siklus 2. Untuk aspek psikomotorik; skor hasil belajar siswa secara klasikal mengalami peningkatan dari 74 pada siklus 1 menjadi 90 pada siklus 2. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menerapkan dan mengembangkan metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBM) dengan meningkatkan kualitas pertanyaan tes sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

Persuasi dalam brosur produk komputer / Mochammad Zainy

 

Dunia periklanan di Indonesia berkembang pesat, seiring kemajuan teknologi maupun perkembangan lainnya.Iklan yang terletak di media massa, daya persuasinya terletak pada bahasa. Persuasi merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengubah keyakinan, nilai, ataupun sikap orang lain tersebut. Iklan mempunyai daya persuasi yang tinggi. Daya persuasi tersebut dapat dikaji dari segi bahasa yang meliputi diksi dan gaya bahasa. Dalam penelitian ini, masalah yang diangkat adalah kekhasan diksi, gaya bahasa, ungkapan dan teknik persuasi dalam brosur produk komputer. Sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan diksi, gaya bahasa, ungkapan dan aspek-aspek persuasi yang terdapat dalam brosur produk komputer. Pembagian jenis iklan bermacam-macam, tergantung sudut pandang yang digunakan untuk melihatnya. Bila dilihat dari segi fungsi dan tujuan sponsor, iklan yang diteliti termasuk jenis iklan produk. Yang dimaksud iklan produk yaitu iklan yang menonjolkan manfaat suatu produk. Pada iklan produk yang ditemukan dalam brosur komputer, terdapat banyak penggunaan diksi, gaya bahasa, ungkapan dan aspek-aspek persuasi yang diteliti dan dicermati lagi penggunaannya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata dan bukan angka-angka. Data penelitian ini berasal dari iklan yang terdapat dalam brosur produk komputer. Instrumen dalam penelitian ini adalah penulis sendiri. Data dikumpulkan dengan menggunakan kisi-kisi penjaring data berupa tabel. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara induktif. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa diksi dalam iklan brosur produk komputer meliputi; 1) diksi dengan teknik gagasan (bujukan) dengan hadiah dan bujukan tanpa hadiah, 2) diksi dengan teknik membungkus (packing), 3) diksi dengan teknik menempel. Gaya bahasa yang ditemukan meliputi; 1) moral appeals (gaya bahasa erotis, hiperbola, sinekdoke), 2) emotional appeals (gaya bahasa asindeton, polisindeton, aliterasi, simile), dan 3) rational appeals. Ungkapan yang ditemukan terdapat banyak ungkapan kepuasan atau luapan kegembiraan. Sedangkan teknik persuasi yang banyak dimunculkan meliputi; 1) memerintah menggunakan produk secara langssung atau tidak langsung, 2) memuji keunggulan produk (manfaat produk bagi pemakai produk), 3) menjelaskan kandungan produk, 4) menghina produk lain, 5) menegaskan nama produk. Peneliti menyarankan kepada para pembaca agar dapat memanfaatkan hasil penelitian ini yaitu menambah wawasan tentang iklan-iklan yang kini banyak beredar, juga bagi para pengiklan, calon konsumen, guru bahasa Indonesia, dan peneliti selanjutnya.

Pengembangan modul pembelajaran biologi dengan model siklus belajar (learning cycle) 4 tahap berbasis konstruktivistik untuk siswa kelas XI SMA Negeri 10 Malang / Puji Rahmawati

 

Berdasarkan Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1 dan 2, maka disusun dan dikembangkan suatu kurikulum baru yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Mengacu pemberlakuan KTSP, guru harus memiliki kreativitas yang lebih untuk mengembangkan pembelajaran di kelas, dan dapat memanfaatkan potensi siswa, seperti bakat, minat dan tingkat kecerdasan, sehingga siswa dapat mengkonstruk konsep pengetahuannya sendiri menurut potensi masing-masing. Pembelajaran berbasis konstruktivistik dengan menggunakan siklus belajar adalah salah satu solusi dalam mengembangkan pembelajaran yang aktif dan mandiri. Modul merupakan salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan untuk memenuhi pembelajaran yang aktif dan mandiri. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul pembelajaran Biologi dengan Model Siklus Belajar (learning cycle) 4 tahap Berbasis Konstruktivistik untuk Siswa SMA Negeri 10 Malang Kelas XI. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Modul yang dikembangkan adalah modul pembelajaran Biologi dengan Model Siklus Belajar (learning cycle) 4 tahap Berbasis Konstruktivis untuk Siswa SMA Negeri 10 Malang Kelas XI. Prosedur pengembangan modul meliputi studi pendahuluan untuk mengkaji kurikulum, pengembangan produk, validasi produk, revisi produk, uji coba produk, dan penyempurnaan produk. Subyek validasi modul (validator) adalah 3 orang dosen Biologi Universitas Negeri Malang dan 3 orang Guru SMA Negeri 10 Malang. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) data kuantitatif yang diperoleh dari skor lembar penilaian yang diisi oleh validator, dan skor angket siswa, dan (2) data kualitatif yang diperoleh dari saran dan kritik dari validator dan saran dari siswa pada saat keterlaksanaan uji coba. Hasil pengembangan berupa modul yang mempunyai dua kegiatan belajar yaitu Sistem Peredaran Darah Hewan dan Sistem Peredaran Darah Manusia. Masing-masing kegiatan belajar terdiri dari model siklus belajar empat tahap, yaitu: eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, dan evaluasi. Hasil penilaian dari validator sebesar 83,02% dengan rerata 3,31 yang berarti valid, sedangkan penilaian dari siswa sebesar 75,23% yang berarti cukup valid. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba lapangan modul ini dapat digunakan pada pembelajaran Biologi SMA kelas XI terutama pada materi sistem peredaran darah. Modul ini telah diuji cobakan dalam lingkup terbatas, dan perlu diuji cobakan dalam lingkup yang lebih luas lagi.

Manajemen kelas berbasis alam (studi kasus di Taman Kanak-Kanak Alam Ar-Rayyan Malang) / Venny Elana Tio Febriani

 

ABSTRAK Febriani, Venny Elana Tio. 2015. Manajemen Kelas Berbasis Alam (Studi kasus di TK Alam Ar-Rayyan Malang). Skripsi. Jurusan Administrasi PendidikanFakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1)Dr.Agus Timan, M.Pd, (2) Desi Eri Kusumaningrum, S.Pd.,M.Pd. Kata kunci : manajemen kelas, taman kanak-kanak, sekolah alam Salah satu inovasi pendidikan di Indonesia adalah dengan adanya sekolah alam. Sekolah alam ini didirikan dengan berbeda dari sekolah pada umumnya. Sekolah alam ini lebih menekankan pada kegiatan belajar di lingkungan alam sehingga peserta didik dapat lebih berkembang secara alamiah. Peserta didik lebih didekatkan dengan alam sehingga mereka akan lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Sekolah alam diterapkan pada beberapa tingkat satuan pendidikan diantaranya TK, SD, dan SMP. Ada beberapa TK yang menerapkan sekolah alam sebagai konsep sekolahnya. Hal ini dilakukan mengingat bahwa sekolah alam mengajarkan peserta didik untuk lebih dekat dengan alam sehingga baik untuk diterapkan sejak dini. Sekolah pada umumnya melakukan kegiatan belajar di dalam ruangan yang sudah disiapkan, namun untuk sekolah alam kegiatan belajar lebih banyak dilakukan di luar ruangan. Pelaksanaan kelas di luar ruangan tentunya memerlukan manajemen kelas yang baik. Manajemen kelas merupakan usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan kondisi optimal dalam kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu mengetahui dan menjelaskan beberapa hal diantaranya (1) perencanaan manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang, (2) pelaksanaan manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang, (3) pengevaluasian manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang, (4) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang, dan (5) upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala yang terjadi dalam proses manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian yaitu di TK Alam Ar-Rayyan Malang yang beralamatkan di Jalan Cengger Ayam Dalam No. 49 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Proses analisis data yang dilakukan peneliti yaitu dengan melakukan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data diuji dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu pertama, perencanaan manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang dilakukan dengan perencanaan penataan perlengkapan di dalam kelasdisusun berdasarkan area yang terdiri dari 11 area. Untuk kegiatan di luar ruangan dilakukan berdasarkan tema pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Kedua, pelaksananaan manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Kegiatan di dalam ruangan sama dengan sekolah lain pada umumnya. Sedangkan untuk kegiatan di luarruangan dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan alam sebagai media pembelajarannya. Ketiga, pengevaluasian manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang dilakukan dengan melihat peningkatan belajar peserta didik. Pelaksanaan manajemen kelas dikatakan berhasil apabila peserta didik merasa nyaman pada saat di kelas. Dengan suasana kelas yang nyaman peserta didik akan lebih bisa meningkatkan prestasinya. Keempat, dalam pelaksanaan manajemen kelas berbasis alam terdapat beberapa kendala yang dialami oleh sekolah. Kendalatersebut berupa kendala cuaca pada saat kegiatan di luar ruangan. Selain itu kendala yang disebabkan oleh peserta didik sendiri yaitu keadaan emosional peserta didik yang tidak menentu setiap hariya. Kelima, upaya tang dilakukan dalam menghadai kendala yang terjadi adalah peran guru sangat penting. Guru memberikan pendekatan terhadap peserta didik yang sulit dikendalikan. Untuk kendala cuaca guru mengalihkan atau mengurangi kegiatan belajar sehingga tetap berlangsung meskipun tidak maksimal. Berdasarkan temuan penelitian dapat disarankan bagi: pertama kepala TK Alam Ar-Rayyan Malang hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan atau evaluasi untuk meningkatkan manajemen kelas berbasis alam di TK Alam Ar-Rayyan Malang. Diharapkan kepala TK Alam Ar-Rayyan Malang dapat lebih meningkatkan inovasi pembelajaran agar dapat menjadi contoh bagi sekolah alam lainnya. Kedua Guru-guru TK Alam Ar-Rayyan Malang hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru TK Alam Ar-Rayyan Malang dalam lebih meningkatkan kreativitas mengajarnya serta lebih meningkatkan inovasi dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik di TK Alam Ar-Rayyan Malang.Ketiga Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literatur dalam mengembangkan ilmu Manajemen Kelas. Keempat Peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan penelitian mengenai manajemen kelas salah satunya di sekolah alam atau sekolah dengan konsep lainnya dengan metode penelitian yang kualitatif atau kuantitatif.

Pengaruh perubahan komposisi dan temperatur terhadap resistivitas ferroelektrik Ba1-xLaxTiO3 / Gristin Prabandari

 

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh perubahan komposisi dan temperatur terhadap resistivitas ferroelektrik Ba1-xLaxTiO3. Bahan Ba1-xLaxTiO3 merupakan ferroelektrik yang memiliki sifat PTC (Positive Temperature Coefficient). Sifat PTC ditandai dengan peningkatan resistivitas seiring meningkatnya temperatur di sekitar titik Curie (Tc). Bahan ini dapat digunakan sebagai komponen termistor yang banyak digunakan pada berbagai peralatan terutama pemanas sebagai pengontrol suhu otomatis (self temperature control), sebagai pemanas yang mengatur suhu secara mandiri (self regulating heater), choke elektrik, sensor suhu, kompresor AC dan lain sebagainya. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisika Material Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang menggunakan peralatan pengukuran arus-tegangan (I-V) dengan metode karakterisasi two point probe. Hasil penelitian menunjukkan resistivitas bahan ferroelektrik Ba1-xLaxTiO3 dengan x = 0,002, x = 0,003 dan x = 0,004 meningkat cukup drastis pada Tc. Tc untuk sampel x = 0,002 adalah 80oC, Tc untuk x = 0,003 adalah 60oC dan 130oC sedangkan Tc pada x = 0,004 adalah 110oC . Peningkatan resistivitas pada Tc berkaitan dengan sifat intrinsik bahan. Material ferroelektrik pada komposisi Ba0,998La0,002TiO3 merupakan isolator dengan rentang nilai antara 6,34x106 Ω.m sampai 6,36x108 Ω.m. Pada Ba0,997La0,003TiO3 nilai resistivitas berkisar antara 3,84x106 Ω.m sampai 8,92x106 Ω.m, sedangkan pada material ferroelektrik Ba0,996La0,004TiO3 merupakan isolator dengan nilai resistivitas antara 1,80x107 Ω.m sampai 2,95x107 Ω.m. Nilai resistivitas ferroelektrik Ba1-xLaxTiO3 meningkat dengan meningkatnya komposisi lanthanum.

Studi tentang keanekaragaman dan kemelimpahan zooplankton sebagai dasar pertimbangan budidaya perikanan laut sistem tambak di muara sungai Rejoso Pasuruan / Hafid Zain Muttaqien

 

Ketersediaan plankton baik zooplankton maupun phytoplankton sangat mempengaruhi kesuburan suatu ekosistem muara sungai. Dalam pengelolaan tambak payau di kawasan muara, petani tambak selalu mengganti air tambak pada saat air pasang, sehingga secara langsung petani tambak sangat bergantung pada ketersediaan plankton yang ada. Permasalahan dari penelitian ini meliputi tingkat keanekaragaman, tingkat kemelimpahan zooplankton, serta sistem pengelolaan tambak yang baik berdasarkan ketersediaan plankton yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Perhitungan keanekaragam-an dihitung dengan menggunakan nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wiener, sedangkan kelimpahan dihitung dengan menggunakan indeks dominansi, waktu penelitian adalah waktu pengambilan sampel yaitu pada bulan Agustus 2004 pada saat pasang purnama, sedang tempat penelitian adalah di kawasan muara sungai Sungai Rejoso Pasuruan. Dari hasil pengamatan dan penghitungan zooplankton diketahui terdapat 18 spesies zooplankton, yang tersebar dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 25. Nilai Indeks keanekaragaman di ketahui bahwa nilai keanekaragaman tertinggi adalah pada stasiun ke-3 sebesar 2,6333. Sedangkan nilai keanekaragaman yang paling rendah adalah pada stasiun ke-24 sebesar 1,187. Sedangkan untuk nilai kemerataan diketahui nilai kemerataan tertinggi adalah pada stasiun ke-25 sebesar 0,9894, dan pada stasiun ke-1 menunjukkan nilai kemerataan terendah, yaitu sebesar 0,6667. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap indeks keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan zooplankton adalah salinitas (kadar garam), konduktivitas, suhu air, dan tingkat kecerahan air

Studi komparatif manajemen klub sepakbola peringkat 1, 6 dan 12 di kompetisi divisi 1 PSSI Kota Malang tahun 2012 / Mokh. Danny Permata U.

 

Utomo, Mokh. Danny Permata 2013. Studi Komparatif Manajemen Klub Sepakbola Peringkat 1, 6 dan 12 di Kompetisi Divisi 1 PSSI Kota Malang Tahun 2012. Skripsi, Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Asim, M.Pd dan (II) I Nengah Sudjana, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Komparatif, manajemen, sepakbola, peringkat. Klub sepakbola diharapkan menjadi jalan keluar bagi anak-anak untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam bermain sepakbola sehingga kedepannya anak-anak tersebut dapat menjadi pemain sepakbola yang profesional. Begitu juga manajemen klub sepakbola yang juga patut diperhatikan demi tercapainnya tujuan klub tersebut, melihat dari observasi langsung yang telah dilakukan oleh peneliti di PS. Indonesia Muda Malang yang mengikuti kompetisi divisi 2 PSSI Kota Malang di tahun 2012 dan melihat dari kejadian langsung di lapangan sebagai bagian dari tim semenjak tahun 2005, bahwa manajemen dari klub tersebut dinilai masih kurang baik, yang meliputi: perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, pengawasan. Dan dapat dilihat dari segi sarana dan prasarana seperti bola, cone, gawang mini, lapangan yang kurang baik, program jadwal latihan yang kurang, dan yang paling utama kurangnya sumber daya manusia, dll. Sehingga setiap mengikuti kejuaraan lokal yang diadakan di Kota Malang sering kali tidak bisa menjuarainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara manajemen Klub Sepakbola yang telah menduduki peringkat 1, 6 dan 12 di kompetisi divisi 1 PSSI Kota Malang tahun 2012. Metode penelitian ini yang dipakai adalah metode kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah para pengurus yang ada di masing-masing klub diantarlain: ketua, wakil ketua, bendahara, sekertaris, pelatih, asisten pelatih, pelatih kiper dan salah satu pemain semuanya berjumlah 24 orang. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan instrumen penelitian berupa angket tertutup. Hasil penelitian ini didasarkan pada deskriptif data kemudian menggunakan rumus persentase dan untuk mengetahui perbandingan hasil penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis varian satu jalur (one-way anova) dengan menggunakan SPSS 17. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa manajemen klub yang menduduki peringkat pertama lebih baik dengan nilai manajemen klub sepakbola peringkat 1 di kompetisi divisi 1 PSSI Kota Malang adalah 81,45% yang berarti dinyatakan “sangat baik”. Dibandingkan dengan nilai manajemen klub sepakbola peringkat 6 di kompetisi divisi 1 PSSI Kota Malang adalah 80,59% yang berarti dinyatakan “baik”. Kemudian manajemen klub sepakbola peringkat 12 di kompetisi divisi 1 PSSI Kota Malang adalah 79,32% maka dinyatakan “baik”. Dan dengan membandingkan nilai manajemen klub rata-rata peringkat satu adalah 153,13, peringkat enam adalah 151,50 dan peringkat duabelas adalah 149,13 dan dapat disimpulkan bahwa manajemen klub yang menduduki peringkat satu lebih baik dari pada manajemen peringkat enam dan duabelas yang berarti terdapat perbedaan.

Pengembangan perangkat pembelajaran senyawa hidrokarbon di SMA/MA berbasis konstruktivistik / Fetty Hanna Syahziza

 

Sebagai manifestasi dari implementasi pembelajaran yang berbasis konstruktivistik maka diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional, salah satunya berupa bahan ajar. Beberapa pengembangan perangkat pembelajaran yang berbasis pada konstruktivistik telah banyak dilakukan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dengan materi pokok senyawa hidrokarbon. Pengembangan perangkat pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif dalam mengajarkan materi senyawa hidrokarbon. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam mengembangkan perangkat pembelajaran menurut 4D-Model yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dan untuk memperoleh serta menguji tingkat validitas perangkat pembelajaran senyawa hidrokarbon yang berbasis konstruktivistik. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan model yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model yang meliputi Pembatasan (Define), Perencanaan (Design), Pengembangan (Develop), dan Penyebarluasan (Disseminate). Keempat D dalam 4D-Model merupakan tahap-tahap atau sintak dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Rancangan perangkat pembelajaran ini hanya diadopsi sampai pada D yang ketiga, yakni hingga tahap pengembangan (develop). Validasi dilakukan oleh dua orang dosen jurusan kimia di UM dan dua orang guru mata pelajaran kimia SMA Negeri kelas X di Malang. Instrumen yang digunakan adalah angket penilaian dan angket tanggapan terhadap perangkat pembelajaran. Analisis datanya menggunakan analisis deskriptif. Produk yang dihasilkan dalam pengembangan adalah perangkat pembelajaran kelas X semester 2 untuk materi pokok senyawa hidrokarbon. Perangkat utama yang dikembangkan berupa: (a) bahan ajar yang terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi, panduan bagi pengguna bahan ajar, pendahuluan, uraian materi, rangkuman, daftar istilah utama, daftar pustaka, (b) soal-soal latihan dan kunci jawaban, (c) Lembar Kegiatan Siswa, (d) silabus dan RPP yang dilengkapi dengan instrumen penilaian (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Hasil penilaian perangkat pembelajaran secara keseluruhan dari semua validator (guru kimia SMA dan dosen kimia) diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,4 yang bermakna perangkat pembelajaran yang dikembangkan relatif cukup layak digunakan sebagai alternatif sumber belajar siswa SMA/MA kelas X semester 2 dengan tingkat kevalidan adalah 86% sehingga perangkat pembelajaran senyawa hidrokarbon yang berbasis konstruktivistik tergolong valid.

Pelaksanaan strategi promosi dalam upaya untuk memperkenalkan produk pada PR. Jaya Makmur Panarukan-Kepanjen / Shinta Dynasti M.

 

Dalam dunia perdagangan, persaingan merupakan salah satu permasalahan yang cukup penting, dimana berkaitan dengan penjualan atau pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Persaingan yang semakin ketat menimbulkan konsekwensi bagi setiap perusahaan agar lebih unggul dalam persaingan guna meningkatkan usahanya. Selain itu, perusahaan juga dituntut untuk memanfaatkan peluang pasar yang ada dengan memenuhi kebutuhan konsumen. PR. Jaya Makmur memiliki kompetitor dan menghasilkan produk yang sama fungsinya dengan kelebihan hampir sama. Mengingat PR. Jaya Makmur sebagai perusahaan yang sedang berkembang, penerapan strategi promosi sangat penting dilakukan untuk memperkenalkan produknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi promosi yang digunakan oleh PR. Jaya Makmur, faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh PR. Jaya Makmur dalam menetukan strategi promosi yang digunakan untuk memperkenalkan produknya, selain tiu juga untuk mengetahiu faktor-faktor yang mendukung dan yang menghambat selama kegiatan promosi di PR. Jaya Makmur. Strategi yang digunakan oleh PR. Jaya Makmur Kepanjen dalam memperkenalkan produknya dengan media periklanan, promosi penjualan, penjualan pribadi, dan hubungan masyarakat. PR. Jaya Makmur Kepanjen dalam menentukan strategi promosi yang akan diterapkan dipengaruhi beberapa faktor, yaitu (1) situasi; (2) pasar sasaran; (3) tahap siklus hidup produk; (4) strategi dorong lawan strategi tarik. Dalam pelaksanaan kegiatan promosi ini kekompakan, kretifitas tim manajemen, kualitas kerja dari sales force, serta sarana dan prasarana yang lengkap sangat menunjang pelaksanaan kegiatan promosi. Sedangkan hal yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan promosi ini terkait dengan biaya promosi yang cukup besar sehingga manajemen harus lebih selektif, masalah intern yang mengganggu kegiatan promosi. Untuk itu dalam setiap penggambilan kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan maupun manajemenm hendaknya dikomunikasikan terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat menghambat kerja dari manajemen

The teaching of speaking at SMA Negeri 4 Malang / Hamdiyah Qudsi

 

The mastery of speaking skills in English is a priority for many second language learners. Learners sometimes evaluate their success in language learning based on their success on how they have improved their spoken proficiency. It means that the teaching of speaking plays an important role to promote learners speaking ability. The fact shows that students of senior high school cannot speak English although they have learned it for three years. Therefore, it is interesting to investigate the teaching of speaking at senior high school. This study was intended to describe the teaching of speaking focused on the techniques and media which are used by the English teacher of SMA 4. It was expected that the description of this study was beneficial as a feedback for the teachers and school to improve their students speaking ability, and it was also beneficial for all English teachers in Indonesia who concern with English instruction. This study was descriptive qualitative research. The subjects were the English teachers of SMA 4 Malang. The main instrument in the study was the researcher, who was supported by some instruments, i.e.: observations, interview, and questionnaires. The result showed that the English teacher of the first year applied some techniques like, reading aloud, repetition drills, discussion, presentation, and question and answer. In the second year the English teacher applied discussion, presentation, role play and question and answer. While in the third year the teacher applied discussion, presentation, repetition drills, dialogue and description. In relation to the use of media, the English teachers used real things, motion pictures and audio recordings. Referring to the barrier faced by the teacher in applying the techniques, they found difficulties to encourage the students to speak. Sometimes, the students reluctant to speak English because of some factors like, lack of vocabularies, fear of making mistakes and shy to express themselves. Based on the research findings, some suggestions were given for the betterment of teaching learning process especially in teaching speaking. They are: (1) the English teachers should give more attention to the development of speaking skill, (2) the English teachers should stimulate and create enjoyable situation in order to motivate the students to speak English, (3) the English teachers should applied various kind of techniques in teaching speaking. In relation to the use of media the English teachers should maximize the use of media in the classroom. In other words the teacher should be creative in providing the teaching and learning activities which can be applied by using media. For the next researchers, it is suggested to conduct research about the teaching of speaking by using an audiotaped dialogue journal in promoting the students speaking ability. They can do research about the teaching of speaking with more specific media or activities so that the teaching of speaking can be described and analyzed more deeply.

Pengaruh pemberian balikan (feedback) dan bakat mekanik terhadap hasil belajar praktikum pengelasan lanjut mahasiswa Prodi S1 PTM angkatan 2011 FT-UM / Wahyu Suryo Adhi

 

ABSTRAK Suryo, Wahyu. 2015. Pengaruh Pemberian Balikan (Feedback) Dan Bakat Mekanik Terhadap Hasil Belajar Praktikum Pengelasan Lanjut Mahasiswa Prodi S1 PTM Angkatan 2011 FT-UM. Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Widiyanti M.Pd (2) Drs. Suwarno. M. Pd. Kata kunci : Pemberian Balikan (feedback), Bakat mekanik, hasil belajar Mata Kuliah Praktikum Pengelasan Lanjut adalah mata kuliah keteknikan yang membantu mahasiswa dalam mempelajari cara-cara pengerjaan dengan mesin las sesuai dengan job sheet yang ada. Pada saat melakukan praktik mahasiswa sering dihadapkan pada permasalahan yang terjadi selama bekerja. Seorang dosen dapat menganalisis hasil dari berbagai kesulitan mahasiswa dan memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang masalah yang dihadapinya. Pengarahan tersebut dapat dikatakan sebagai pemberian umpan balik atau balikan (feedback) kepada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui pengaruh pemberian balikan (feedback) secara individu dan secara kelompok terhadap hasil belajar praktikum pengelasan lanjut mahasiswa S1 PTM angkatan 2011 FT-UM. (2) Mengetahui pengaruh bakat mekanik tinggi, sedang, dan rendah terhadap hasil belajar praktikum pengelasan lanjut mahasiswa S1 PTM angkatan 2011 FT-UM. dan (3) Mengetahui interaksi antara pemberian balikan (feedback) dan bakat mekanik terhadap hasil belajar praktikum pengelasan lanjut mahasiswa S1 PTM angkatan 2011 FT-UM Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian balikan dan bakat mekanik terhadap hasil belajar Praktikum Pengelasan Lanjut. Berdasarkan tujuan penelitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu (quasy experimental design) tanpa pre-test yang melibatkan 2 kelas sebagai subjek. Kelas A sebagai subjek I yang diberi balikan secara individu dan kelas B sebagai subjek 2 yang diberikan balikan secara kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Teknik Mesin program studi S1 Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2011 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Sampel yang diambil untuk penelitian adalah offering A2 sore yang berjumlah 12 mahasiswa sebagai kelas A (subjek 1), dan offering A1 pagi yang berjumlah 20 mahasiswa sebagai kelas B (subjek 2). Penentuan kelas dilakukan secara keseluruhan (total smpling). Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan hasil belajar mengelas antara kelompok mahasiswa yang diajar dengan balikan secara individu dan kelompok mahasiswa yang diajar balikan secara kelompok dikarenakan p-value < α. (2) terdapat perbedaan hasil belajar mengelas berdasarkan perbedaan bakat mekanik antara siswa yang memiliki bakat mekanik tinggi, siswa yang memiliki bakat mekanik sedang, dan siswa yang memiliki bakat mekanik rendah dikarenakan p-value < α. (3) tidak ada intrekasi yang signifikan antara pemberian balikan (feedback) dan bakat mekanik mahasiswa terhadap hasil belajar praktikum pengelasn lanjut dikarenakan p-value > α.

Studi perbandingan penerapan panca usaha tani di Desa Kedawung Wetan dan Desa Kedawung Kulon Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan

 

Pengembangan variasi model latihan teknik dasar chest pass (operan dada) dan bounce pass (operan pantulan) permainan bola basket dalam usaha meningkatkan keterampilan bermain bolabasket peserta ekstrakurikuler di SMP Negeri 10 Malang / R. Rieska Fasah Ana

 

Dalam permainan bolabasket, pemain sangat perlu menguasai teknik passing. Di antara teknik-teknik passing yang ada, chest pass dan bounce pass merupakan 2 teknik passing yang paling sering digunakan dalam permainan bolabasket , dan oleh karena itu harus lebih sering dilatih-latihkan. Namun demikian berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan analisis kebutuhan di SMP Negeri 10 Malang khususnya peserta ekstrakurikuler bolabasket diketahui bahwa latihan chest pass dan bounce pass yang dilakukan masih belum bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan variasi model latihan teknik dasar chest pass (operan dada) dan bounce pass (operan pantulan) permainan bolabasket dalam usaha meningkatkan keterampilan bermain bermain bolabasket peserta ekstrakurikuler di SMP Negeri 10 Malang, yang nantinya dengan adanya pengembangan variasi model latihan teknik dasar chest pass (operan dada) dan bounce pass (operan pantulan) permainan bolabasket, siswa lebih semangat dan antusias dalam mengikuti latihan, sehingga keterampilan bermain bolabasket dapat meningkat. Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall yang dimodifikasi, terdiri dari: (1) melakukan penelitian dan pengumpulan data informasi termasuk kajian pustaka dan analisis kebutuhan, (2) mengembangkan bentuk produk awal (berupa variasi model latihan chest pass dan bounce pass), (3) evaluasi ahli dengan kualifikasi yaitu, 1 pelatih bolabasket, 2 ahli bidang bolabasket, dan uji coba (kelompok kecil), (4) revisi produk pertama (sesuai dari hasil evaluasi para ahli dan uji coba), (5) uji coba lapangan, dengan mengujicobakan hasil revisi produk awal, (6) revisi produk akhir (sesuai dari hasil uji lapangan), (7) Melakukan revisi produk (berdasarkan saran-saran dan hasil uji lapangan). Lokasi penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 10 Malang. Subjek uji coba dari pengembangan ini terdiri dari (1) Evaluasi pelatih bolabasket dan 2 ahli bidang bolabasket, (2) uji coba kelompok kecil sebanyak 10 siswa, dan (3) uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 30 siswa. Dari pengembangan dan prosedur yang dilakukan di atas, diperoleh kesimpulan bahwa pengembangan variasi model latihan teknik dasar chest pass (operan dada) dan bounce pass (operan pantulan) permainan bolabasket ini dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subjek yang lebih besar dan diharapkan ada peneliti lain yang meneliti efektivitas variasi model latihan teknik dasar chest pass (operan dada) dan bounce pass (operan pantulan) ini agar lebih bermanfaat.

Efektivitas penerapan game komputer terhadap prestasi belajar siswa dikategorikan menurut motivasi di kelas X SMA Negeri 5 Malang / Nia Megahwita

 

Sebagaimana disadari, peningkatan kualitas pendidikan menjadi agenda nasional yang penting di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Perbaikan dan pengembangan aspek pedagogis, filosofis, proses dan output dilakukan sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Konsekuensinya proses pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik harus memperhatikan tahap perkembangannya. Disadari atau tidak, peserta didik Sekolah Menengah Atas adalah remaja yang sedang mengalami proses perkembangan yang pesat, aktif, dinamis, antusias, bersifat egosentris, kaya akan fantasi dan imajinasi serta masa yang paling potensial untuk memunculkan inovasi dan kreativitas. Konsekuensi dari perkembangan remaja, kegiatan pembelajaran harus menjadi kegiatan yang menyenangkan dan dapat dinikmati. Menerapkan bermain dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat dinikmati. Bermain sambil belajar akan membuat siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari proses belajar yang menyenangkan, tujuannya menyampaikan materi pelajaran tetapi metodenya bermain. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) untuk mengetahui prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan game komputer pada pelajaran ekonomi, (2) untuk mengetahui prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan pengajaran biasa pada pelajaran ekonomi, (3) untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar ekonomi antara siswa yang diajar menggunakan game komputer dengan siswa yang diajar menggunakan pengajaran biasa. Penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah posstest-only control design. Sampel sebanyak dua kelas dari kelas X dengan tehknik purposive sampling. Populasi adalah siswa kelas X di SMA Negeri 5 Malang dengan jumlah 348 siswa serta sampael yang diambil sebanyak 50 siswa. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 Malang mulai tanggal 9 April sampai dengan 30 April 2007. Sebelum dianalisis diadakan uji t untuk menguji beda dua rata-rata kemampuan awal, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas, homoskedistas dan uji linearitas digunakan untuk menguji kemampuan akhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Nilai skor rata-rata kemampuan awal untuk kelas eksperimen sebesar 77,56 dan untuk kelas kontrol sebesar 77,92. Hal ini dapat dilihat dari analisis yakni thitung = ?0,134 < ttabel = 2,064 dan nilai probabilitas (sig) = 0,894 > 0,005 siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama secara signifikan. Nilai skor rata-rata kemampuan akhir untuk kelas eksperimen sebesar 61, 60 dan untuk kelas kontrol sebesar 56,00. Hasil analisis Signifikansi Multivarian yakni baris Motivasi pada angka yang diuji dengan prosedur Pillai (0,000), Wilk?s Lambda (0,000), Hoteling (0,000) dan Roy?s (0,000) menunjukkan angka signifikansi di bawah 0,05, sehingga prestasi belajar pada kedua kelas tersebut secara bersama-sama menunjukkan perbedaan yang signifikan pada berbagai kategori motivasi.Angka signifikansi berdasarkan uji Tests of Between-Subjects Effects terlihat untuk variabel prestasi belajar (game), angka signifikansi 0,013 (di bawah 0,05) sehingga perarti prestasi belajar (game) dipengaruhi motivasi. Sedangkan untuk variabel prestasi belajar (biasa), angka signifikansi 0,086 (di atas 0,05sehingga prestasi belajar (biasa) tidak dipengaruhi motivasi. Dari hasil pengujian post-hoct dengan analisis Bonferoni terlihat bahwa pasangan rata-rata motivasi yang berbeda adalah pada motivasi kategori tinggi dan rendah untuk kelas eksperimen, sedangkan pada kategori lain rata-rata motivasi adalah sama. Dengan demikian penerapan game komputer terbukti lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dengan tingkat motivasi tinggi dan siswa dengan tingkat motivasi rendah dibandingkan pengajaran biasa. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran antara lain: (1) bagi guru mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang pada khususnya dan para guru ekonomi di sekolah lain untuk menerapkan game komputer berjudul Lemonade Tycoon sebagai salah satu alternatif pembelajaran di kelas. Karena hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa penerapan game komputer dapat meningkatkan motivasi belajar; (2) bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini lebih lanjut disarankan untuk menggunakan desain penelitian eksperimental yang lain untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang sama jika dalam proses belajar mengajar menerapkan game komputer yang berjudul Lemonade Tycoon.

Studi perbandingan efektivitas pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) antara sekolah negeri dengan sekolah swasta (studi lapangan di Kota Malang) / Candra Krisnadi Anshori

 

Dana BOS merupakan bantuan pemerintah pusat kepada seluruh siswa Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah se-Indonesia baik negeri maupun swasta atas pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). BOS bertujuan untuk memberikan bantuan kepada sekolah dalam rangka membebaskan iuran siswa, tetapi sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Pelaksanaan pengelolaan dana BOS adalah suatu keberhasilan sekolah dalam mengelola dana BOS melalui suatu proses kerjasama yang sistematis mulai dari perencanaan, penggunaan sampai dengan pertanggungjawabannya untuk mendukung kelancaran dari semua program pendidikan yang ada. Populasi penelitian ini adalah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama baik swasta maupun negeri se-Kota Malang. Sedangkan sampel yang diambil sebanyak 40 sekolah dimana terdiri dari 10 sekolah dasar negeri, 10 sekolah dasar swasta, 10 sekolah menengah pertama negeri dan 10 sekolah menengah pertama swasta. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pengelolaan dana bantuan operasioanal sekolah di sekolah negeri dan swasta kemudian membandingkannya. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif. Teknik yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan persentase, yaitu data yang bersifat kualitatif dikuantitatifkan terlebih dahulu dengan memberikan skor-skor untuk kemudian dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan sehingga diperoleh persentase lalu ditafsirkan ke dalam kalimat yang bersifat kualitatif. Penelitian ini juga menggunakan (One Sampel Kolmogorov-Smirnov Test) melalui bantuan program SPSS 12.00 for Windows. Dan jyga menggunakan uji perbedaan rata-rata (mean) untuk mengetahui perbedaan dari efektivitas pengelolaan dana BOS antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Hasil penelitian ini adalah pelaksanaan pengelolaan dana BOS di sekolah negeri menunjukkan angka yang sangat tinggi empat sekolah, angka tinggi terdapat 15 sekolah, sedang satu sekolah sementara untuk kategori rendah dan sangat rendah tidak ada. Sedangkan untuk sekolah swasta untuk kategori sangat tinggi ada satu sekolah, untuk kategori tinggi ada tiga sekolah, untuk kategori sedang ada tiga belas sekolah, untuk kategori rendah ada tiga sekolah dan kategori sangat rendah tidak ada. Variabel pelaksanaan pengelolaan dana BOS pada sekolah negeri terdistribusi dengan normal. Hal ini terbukti dengan nilai probabiltas di atas 5% atau 0,05 (0,920 > 0,05). Dan variabel pelaksanaan pengelolaan dana BOS pada sekolah swasta terdistribusi dengan normal. Hal ini terbukti dengan nilai probabiltas di atas 5% atau 0,05 (0,690 > 0,05). Terdapat perbedaan pelaksanaan pengelolaan dana BOS antara sekolah negeri dan sekolah swasta hal ini dibuktikan dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,004 < 0,05. Kesimpulan terdapat perbadaaan pelaksanaan pengelolaan dana BOS antara sekolah negeri dan sekolah swasta, tingkat pelaksanaan pengelolaan dana BOS di sekolah negeri lebih tinggi daripada pelaksanaan pengelolaan dana BOS di sekolah swasta. Saran yang dapat diberikan bagi bendahara BOS hendaknya selalu membuat laporan yang transparan dan melaporkan semua pengeluaran yang dilakukan dengan dana BOS tersebut.

Kajian motif batik Satrio Manah di Desa Bengoan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung / Ariesta Fitri W.

 

Fitri wulansari, Ariesta. 2014. Kajian Motif Batik Satrio Manah di Desa Bangoan kecamatan Kedungwaru kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Esin Sintawati, M.Pd., (II) Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn Kata Kunci : Batik, Motif Batik, Batik Satriomanah Tulungagung     Batik adalah menghiasi suatu kain dengan cara menutup dan mencelup dengan zat pewarna, menutup kain dengan menggunakan malam atau lilin yang bertujuan agar tidak terkena zat pewarna pada motif yang telah ditutup, menggunakan canting sebagai alat untuk menitik-nitik sesuai dengan motif yang memiliki kekhasan.     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif batik Satrio Manah di desa Bangoan kecamatan Kedungwaru Tulungagung. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan ada 3 yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara dan pedoman dokumentasi. Analisis data ada tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan ketekunan dan triangulasi. Triangulasi sumber data yang meliputi (1) pemilik batik Satrio Manah, (2) pengrajin batik Satrio Manah, (3) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung, dan Triangulasi teknik yang digunakan meliputi (1) wawancara, (2) Observasi, (3) dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa: (1) Motif flora di batik Satrio Manah ada 5macam yaitu bunga mawar, bunga kaca piring, kaca simpur, daun mawar, daun keladi, (2) Motif fauna di batik Satrio Manah ada dua yaitu burung nuri dan kupu-kupu, (3) batik Satrio Manah menggunakan pewarnaan buatan atau sintetis.   Penelitian ini perlu ditindak lanjuti lebih lanjut terutama dalam hal kualitas batik Satrio Manah, Produk Hasil batik Satrio Manah dan Proses daur ulang limbah pewarnaan batik Satriomanah. Pengusaha batik Satrio Manah sebaiknya (a) lebih memperbanyak design tentang flora dan faunanya, sehingga memiliki banyak motif yang dimiliki oleh batik Satrio Manah, (b) Hasil karya yang dimiliki batik Satrio Manah didokumentasikan dan dibukukan agar data-data berupa arsip batik Satrio Manah dari tahun-ketahun memiliki dokumennya, (c) Lebih mengembangkan karya batiknya dan lebih sering mengikuti pameran batik agar batik Satrio Manah lebih dikenal lain dikalangan lebih luas didalam kota maupun diluar kota. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung (a) memiliki data-data batik Satrio Manah seperti dokumentasi maupun buku guna untuk dijadikan referensi bahwa batik Satrio Manah adalah salah satu sentra batik yang dimiliki di kabupaten Tulungagung, (b) membantu promosi sentra batik Satrio Manah dengan mengarahkan wisatan untuk berkunjung ke galeri Satrio Manah terserbut, (c) Mempatenkan batik Satrio Manah sebagai upaya melestarikan kekayaan budaya di Tulungagung.

Pengaruh minat dalam memilih program studi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Fenny Ariyanti

 

Mahasiswa sudah tentu ingin mencapai prestasi belajar yang optimal. Prestasi belajar yang optimal merupakan jalan yang dapat memudahkan proses kelanjutan studi dan dalam mencapai cita-cita. Sama halnya dengan usaha untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal, usaha untuk mengatasi kesulitan belajar pun tidak mudah dilakukan. Hal ini disebabkan proses belajar merupakan suatu proses yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana minat dalam memilih program studi dan motivasi belajar mempengaruhi prestasi belajar. Penelitian ini mempunyai 2 variabel bebas (X) minat dalam memilih program studi (X1) dan motivasi belajar (X2) dan variabel terikat (Y) prestasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan memiliki tingkat minat yang tinggi dalam memilih program studi yaitu 31 dari 48 mahasiswa atau 64,58%. (2) mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang memiliki tingkat motivasi belajar yang tinggi yaitu , terdapat 41 dari 48 mahasiswa atau 85.817%yang memiliki motivasi belajar tinggi (3) mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan memiliki prestasi belajar yang baik yaitu 37 dari 48 mahasiswa atau 77,08% mempunyai prestasi belajar dalam kategori (4) Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara minat dalam memilih program studi terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran sebesar 32% (5) Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran sebesar 25,2%. (6) Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara minat dalam memilih program studi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran sebesar 50,6 %. Fakultas Ekonomi diharapkan meningkatkan kualitas sarana pembelajaran dan menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga mahasiswa termotivasi untuk belajar. Fakultas Ekonomi hendaknya aktif memberikan informasi terhadap SMU tentang program studi pendidikan Administrasi Perkantoran, sehingga menumbuhkan minat memilih pada siswa sejak dini. Peneliti selanjutnya hendaknya mengembangkan penelitian ini dengan meneliti indikator lainnya.

Pengaruh kualitas produk terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia (studi pada mahasiswa program S-1 non kependidikan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Wina Piskawidya

 

Persoalan kualitas produk dan kepuasan konsumen kini semakin menjadi hal yang penting dan genting bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus membangun sistem manajemen kualitas produk, mengidentifikasikan kesenjangan-kesenjangan yang mungkin terjadi, serta pengaruhnya bagi kepuasan konsumen dan perilaku konsumen purnalayanan produk. Melalui pemahaman ini diharapkan perusahaan akan mampu mengeliminasi tuntutan konsumen dan mengoptimalkan kepuasan konsumen. Adapun data dalam penelitian ini adalah bersifat kuantitatif serta berjenis data ordinal. Populasinya adalah mahasiswa Program S1 Non Kependidikan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik propotionate random sampling. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kualitas produk yang dilakukan oleh ponsel Nokia, yaitu: (1) pengaruh kinerja produk terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, (2) pengaruh keistimewaan produk terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, (3) pengaruh keandalan produk terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, (4) pengaruh kemampulayanan produk terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, (5) pengaruh persepsi kualitas produk terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, (6) pengaruh kinerja produk, keistimewaan produk, keandalan produk, kemampulayanan produk, persepsi kualitas produk secara simultan terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, (7) dari kelima dimensi kualitas produk tersebut, dimensi mana yang paling dominan mempengaruhi kepuasan konsumen produk ponsel Nokia. Hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) signifikansi t < 0,05, maka dapat disimpulkan Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara kinerja produk (X1) terhadap kepuasan konsumen (Y) produk ponsel nokia ditolak. Sedangkan Ha yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara kinerja produk (X1) terhadap kepuasan konsumen (Y) diterima, (2) signifikansi t < 0,05, maka dapat disimpulkan Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara keistimewaan produk terhadap kepuasan konsumen ditolak, sedangkan Ha yang berbunyi adanya pengaruh yang signifikan antara keistimewaan produk terhadap kepuasan konsumen diterima. (3) signifikansi t 0,000 < 0,05, maka Ho yangberbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara kenadalan produk terhadap kepuasan konsumen ditolak, sedangkan Ha yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara keandalan produk dan kepuasan konsumen diterima, (4) signifikansi t 0,000 < 0,05, maka Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara kemampulayanan produk terhadap kepuasan konsumen ditolak, dan Ha yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara variabel kemampulayanan produk terhadap kepuasan konsumen diterima, (5) signifikansi t 0,001 < 0,05, maka Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi kualitas produk terhadap kepuasan konsumen ditolak, dan Ha yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara variabel persepsi kualitas produk terhadap kepuasan konsumen diterima. Variabel yang berpengaruh dominan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia adalah kinerja produk (performance) dengan nilai sumbangan efektif (SE) sebesar 24,48%, dengan taraf signifikansi 0,000. sedangkan kemampulayanan produk (serviceability) adalah varaibel yang paling lemah berpengaruh terhadap kepuasan konsumen produk ponsel Nokia, dengan sumbangan efektif (SE) sebesar 12,33%. Berdasarkan pada penelitian yang telah diperoleh maka disarankan kepada Nokia corporation untuk (1) Dalam hal kinerja produk ponsel Nokia, harus lebih ditingkatkan lagi. Utamanya dari sisi kejernihan/kenyaringan nada dering dan ketajaman/kejelasan layar/LCD ponsel Nokia yang sampai saat ini masih tersaingi oleh ponsel merek lain, (2) Tingkat keandalan produk ponsel Nokia juga harus lebih ditingkatkan, melihat terkadang masih terdapat kasus kegagalan (error) pada ponsel yang secara otomatis akan menghilangkan kepercayaan akan citra Nokia yang baik, (3) Harga Nokia memang selalu di atas ponsel merek lain. Jika harga sesuai dengan kualitas, tidak akan jadi masalah. Tapi penting juga bagi Nokia menetapkan harga yang bersaing, utamanya bagi tipe-tipe yang serupa, dengan fitur-fitur yang sama dengan ponsel merek lain, (4) Terkadang juga masih terdapat masalah dalam hal penanganan keluhan konsumen (customer care), sehingga hal ini juga perlu ditingkatkan. Karena pelayanan purna jual sangat penting untuk mempertahankan retensi pembelian.

Pengaruh temperatur sintering terhadap pembentukan senyawa polikuasikristal AlxCu0,85-xFe0,15 dan karakteristiknya / Febrina Hariana Gultom

 

Kuasikristal merupakan padatan yang tidak memiliki periodesitas, seperti yang ditunjukkan oleh kristal biasanya dan memiliki sudut putar selain n = 1, 2, 3, 4, dan 6 pada simetri rotasi 3600/n, atau memiliki simetri putar dengan n = 5, 8, 10, 12,15. Kuasikristal memiliki keunikan yaitu kekerasan yang tinggi, energi permukaan yang rendah yang disertai dengan nilai koefisien gesek yang rendah, tahan terhadap korosi, tahan terhadap oksidasi, tahan aus, tahan terhadap goresan, konduktivitas termal dan listrik rendah. Paduan kuasikristal dimanfaatkan untuk produk?produk komersil seperti pelapis, peralatan bedah, alat cukur listrik, peralatan untuk komponen listrik, pelindung permukaan hard disk, sebagai komponen matriks logam, tanki penyimpan hidrogen, sensor inframerah dan lain sebagainya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah paduan AlxCu0,85-xFe0,15 dengan komposisi x = 0,60; x = 0,65; x = 0,70 dan x = 0,75. Sintesis menggunakan reaksi padatan. Variasi temperatur sintering yang digunakan Ts = 5000C; 8000C; 9500C dengan waktu sintering masing-masing 4 jam. Sampel diuji kekerasan dan mikrostrukturnya. Kekerasan diuji dengan menggunakan Mikrovickers. Struktur kristalnya dikarakterisasi menggunakan X-RD, kemudian data difraksi dianalisis menggunakan metode phase matching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu sintering Ts = 5000C; 8000C; 9500C lama sintering masing-masing 4 jam terbentuk senyawa polikuasikristal Al0,65Cu0,20Fe0,15. Sedangkan pada komposisi x = 0,60 dengan Ts = 5000C dan x = 0,65 dengan Ts = 8000C; 9500C memiliki kekerasan yang paling tinggi. Nilai kekerasan bahan cenderung turun pada Ts = 8000C dan meningkat pada temperatur sintering 9500C. Dari mikrostruktur bahan dapat diketahui ukuran butiran dan bentuk butiran. Selain itu ditemukan bahwa perbedaan komposisi mempengaruhi mikrostruktur bahan.

Penerapan pembelajaran berbasis konstruktivistik model siklus belajar sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang / Nikmatul Musyarofah

 

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), permasalahan yang diteliti adalah permasalaahn yang ada di kelas X-5 SMA Negeri 8 Malang, yaitu rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hal tersebut dilaksanakan pembelajaran Biologi menggunakan Siklus belajar yang berbasis konstruktivistik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar Biologi siswa melalui pembelajaran dengan menggunakan siklus belajar. Siklus belajar merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan konstruktivisme. Dari adanya suatu model pembelajaran, siklus belajar merupakan suatu upaya membelajarkan siswa untuk belajar berdasarkan pengalaman atau pengetahuan awal siswa tentang suatu konsep. Dari pengetahuan awal yang telah dimilikinya itu siswa dibimbing untuk menemukan konsep, kemudian menerapkan dalam situasi lain atau dalam kehidupan sehari-hari. Siklus belajar yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari empat fase, yaitu eksplorasi (menggali pengetahuan awal siswa), eksplanasi (penemuan konsep), ekspansi (perluasan atau pengembangan konsep), dan evaluasi (penilaian). Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Penelitian dilaksanakan mulai dari observasi awal sampai dengan pelaksanaan tindakan, yaitu 20 Nopember ? 11 Desember 2007. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-5 sebanyak 37 siswa pada tahun ajaran 2007-2008 semester I. Pokok bahasan yang diajarkan adalah Jamur. Teknik pengambilan datanya menggunakan lembar observasi, tes kognitif, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Analisis data dilaksananakan secara deskriptif kualitatif dengan mengkaji semua data yang diperoleh. Data hasil penelitian dianalisis dengan cara menghitung persentase keberhasilan tindakan yang dilanjutkan dengan menentukan taraf keberhasilannya. Sedangkan data yang berupa prestasi belajar siswa dianalisis untuk mengetahui persentase keberhasilan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian setelah penerapan pembelajaran konstruktivistik model siklus belajar, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan pada masing-masing aspek. Pada siklus I rata-rata aktivitas belajar siswa (64,5%) menjadi 81,8% pada siklus II sehingga meningkat 17,3%. Sedangkan prestasi belajar siswa yang ditinjau dari ketuntasan belajar klasikal pada siklus I sebesar 70,2% menjadi 94,5% pada siklus II sehingga mengalami peningkatan sebesar 24,3%.

Perbedaan harga saham, volume perdagangan saham dan bid-ask sebelum dan sesudah pengumuman dividen di Bursa Efek Jakarta tahun 2007 (studi kasus pada perusahaan keuangan yang listing di Bursa Efek Jakarta) / Sefti Herdianingsih

 

Syarat utama yang diinginkan oleh pihak investor untuk menyalurkan dananya melalui media pasar modal adalah perasaan aman akan investasinya, sebab investor dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi cukup rasional karena mereka tidak mau mengambil keputusan dengan hanya berspekulasi. Keberadaan suatu informasi dapat mengurangi ketidakpastian yang terjadi dalam pengambilan suatu keputusan sehingga diharapkan keputusan yang ada akan sesuai dengan tujuan utamanya. Pengumuman dividen merupakan bagian dari informasi yang tersebar dan terserap pada pasar cukup kuat sehingga cepat direaksi oleh pihak investor karena erat hubungannya dengan usaha pihak investor untuk memaksimumkan return. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kondisi harga saham, volume perdagangan saham dan bid ask spread sebelum dan sesudah pengumuman pada perusahaan keuangan dividen di Bursa Efek Jakarta tahun 2007 yang merupakan sebagian dari informasi itu. Sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh kemampuan peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang listing di BEJ. Sedangkan metode pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi. Analisis datanya memakai analisis statistik deskriptif, analisis inferensial yaitu memakai uji normalitas dan uji hipotesisnya mempergunakan metode uji beda (uji t) dengan Paired Differnces t Test. Dari hasil penelitian diketahui bahwa (1)Terdapat perbedaan yang signifikan antara saham (price) sebelum dan sesudah pengumuman dividen, (2) Terdapat perbedaan yang signifikan antara volume perdagangan saham pada masa sebelum dan sesudah pengumuman dividen, (3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara bid-ask spread pada masa sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Kesimpulannya setelah diadakan penelitian hasil uji t menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan besarnya saham, volume perdagangan saham, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Hal ini berarti bahwa pengumuman dividen mempunyai pengaruh terhadap perubahan harga saham saham, volume perdagangan saham dan bid-ask spread , atau dengan kata lain bahwa pengumuman dividen mengandung informasi bagi investor. Bagi investor dan calon investor dalam berinvestasi di pasar modal sebaiknya para investor dan calon investor selalu memperhatikan dan memanfaatkan pengumuman dividen dalam membeli dan menjual saham agar terhindar dari kerugian.

Industri kecil kerajinan "gendang" di Sentul Blitar: kajian historis dan prospek pemasarannya / Nanang Hardiantoro

 

Pada masa perdagangan bebas seperti saat ini persaingan disektor industri kecilpun tidak dapat dihindari baik itu industri kecil maupun besar, pada sektor industri kecil menengah terbukti mampu dalam mengantisipasi kelesuan ekonomi yang diakibatkan inflasi maupun berbagai faktor penyebab lainnya. Dan keberadaan industri kecil ini juga mampu meenyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar baik sebagai tenaga upahan maupun bagi pengusaha sendiri serta industri kecil ini telah menekan angka pengangguran. Melihat kenyataan tersebut usaha kecil dan menengah diharapkan dapat menjadi pondasi ekonomi bangsa dalam mewujudkan ekonomi kerakyatan dimasa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang pengusaha dalam memilih usaha pembuatan gendang, gambaran umum usaha pembuatan gendang (proses produksi), gambaran proses pemasaran produk gendang, faktor pendukung dan penghambat kegiatan usaha gendang, pemecahan masalah yang dihadapi pengusaha gendang dan pendapatan yang diterima pengusaha gendang di Kelurahan Sentul Kodya Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif. Informan kunci dalam penelitian ini adalah pemilik usaha gendang. Dalam pemgumpulan data dilakukan dengan menggunakan 3 metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan meliputi; reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan atau verifikasi, dan untuk keperluan pengecekan keabsahan data digunakan; perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan teknik triagulasi (untuk keabsahan data peneliti melakukan triagulasi dengan memanfaatkan data dan informasi). Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa kegiatan usaha gendang ini sudah ada sejak tahun 1974, latar belakang pendirian usaha ini karena adanya keinginan atau inisiatif pengusaha untuk memperbaiki perekonomian keluarga, mengingat usaha ini menjanjikan keuntungan dan keinginan untuk tetap melestarikan usaha warisan yang turun-temurun dari keluarganya dan modal yang digunakan pengusaha adalah merupakan modal pribadi. Pada gambaran umum usaha pembuatan gendang ini dapat di tinjau dari beberapa aspek yaitu; aspek bahan baku, teknik produksi, proses produksi, tenagakerja, pemasaran produk, faktor pendukung dan penghambat usaha, pengembangan pemasaran, permodalan, dan sumberdaya manusia. (1)dalam proses produksi gendang pengusaha melakukan pengadaan bahan baku sendiri yang diperoleh datri sekitar tempat lokasi usaha berdiri. (2)peralatan yang digunakan masih menggunakan peralatan atau teknologi sederhana dalam seperti dalam pertukangan. (3)para pengrajin menghasilkan dua jenis gendang yaitu gendang djimbe merupakan gendang yang berukuran besar dan jenis gendang bongo merupakan gendang yang berukuran kecil. (4)teknik produksinya dengan melakukan pemotongan kayu sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. (5)proses produksi dimulai dari tahap awal (mentahan),tahap pembuatan, tahap plituran, tahap pengkulitan, dan yang terakhir adalah tahap penyetelan. (6)tenaga kerja yang digunakan dalam produksi gendang ini banyak berasal dari anggota keluarga sendiri dan dalam perekrutannya tidak secara resmi atau menentukan persyaratan secara formal. (7)hasil produksi berupa gendang yang dipasarkan dikota-kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta dan Bali, bahkan diekspor keluar negeri dengan melalui eksportir atau galeri di Bali. Dalam saluran distribusinya dikategorikan saluran distribusi tidak langsung karena pengusaha menjualnya pada tengkulak yang ada di sebuah galeri. (8)faktor pendukung yang membantu usaha gendang di Kelurahan Sentul Kodya Blitar ini adalah ketersediaannya bahan baku yang mudah didapat dengan harga yang relatif murah, respon masyarakat dengan adanya usaha gendang ini sangat mendukung karena dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan mereka, sarana transportasi dan telekomunikasi didaerah ini sangatlah mendukung. Selain memiliki faktor pendukung usaha ini juga memiliki faktor penghambat yaitu pengusaha masih terbebani dalam masalah pemasaran produk gendang karena masih harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk pengangkutan sampai pada tujuan, dan terjadinya persaingan diantara pengrajin gendang. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada; pemerintah pusat agar membuat kebijakan yang dapat mendukung perkembangan usaha kecil menengah dan memberikan penyuluhan serta mambantu dalam pengadaan pinjaman modal usaha, pemerintah daerah hendaknya terus memperhatikan perkembangan industri kecil dan menengah didaerahnya khususnya disini adalah pihak kelurahan agar membina para pengrajin untuk bersatu menjalin kerjasama yang baik dengan melalui koperasi sebagai wadah supaya berbagai masalah yang timbul dapat teratasi, dan bagi pengusaha haruslah melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam perkembangan usahanya.

Analisis kegiatan usaha bercocok tanam (studi kasus) pada petani di Desa Sukonolo Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang / Khamim Zarkasi

 

Negara Indonesia sebagai negara yang bercorak agraris sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Keberhasilan usaha tani tidak hanya ditentukan petani selaku produsen tetapi juga sangat tergantung pada kondisi alam, begitu juga dengan tingkat harga yang sering mengalami fluktuasi menyebabkan pendapatan yang diperoleh petani tidak menentu. Pasar bebas merupakan beban sekaligus tantangan bagi petani karena produk pertanian dari negara asing bebas masuk kedalam negeri tanpa adanya tarif maupun kuota, dikatakan sebagai tantangan karena produk negara asing dapat dijadikan tolak ukur bagi para petani agar lebih termotivasi untuk meningkatkan mutu maupun produktifitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang pemilihan jenis tanaman oleh petani, gambaran proses produksi, pendapatan yang diterima petani dan jenis tanaman yang dapat memberikan keuntungan paling besar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yang bersifat kualitatif diskriptif, informan kunci dalam penelitin ini adalah petani padi, petani cabe merah, petani tomat, petani ketimun, petani tebu dan ketua kelompok tani. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan meliputi: mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan.Untuk keperluan pengecekan keabsahan data digunakan; perpanjangan keikutsertaan peneliti, penggunaan teknik triangulasi dan ketekunan pengamatan. Dari analisis data dapat diketahui bahwa yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman dari masing-masing petani antara lain petani padi yaitu teknik bercocok tanamnya sederhana, tidak terlalu banyak memerlukan pekerjaan, ada petugas pengairan tersendiri. Petani cabe merah; karena sudah terbiasa dan mempunyai pengalaman yang cukup tentang teknik bercocok tanam cabe merah, berharap dengan menanam cabe merah mendapatkan harga yang mahal. Petani tomat; produktifitas yang dihasilkan sangat besar, cara bercocok tanamnya tidak terlalu sulit. Petani ketimun; menghindari kebosanan menanam satu jenis tanaman tertentu, tidak memerlukan biaya yang banyak, perawatannya juga tidak terlalu sulit. Petani tebu; hasil bercocok tanam palawija kurang begitu memuaskan bahkan sering mangalami kerugian yang disebabkan murahnya harga pada waktu panen, harga tebu relatif stabil. Proses produksi pada kegiatan usaha tani melibatkan empat komponen yaitu tanah/lahan pertanian yang digunakan petani menanam berbagai jenis tanaman adalah lahan sawah, kedua tenaga kerja,yang dipekerjakan setiap petani sebanyak 2-3 orang sistem upah yang diterapkan upah borongan dan harian. Ketiga modal, yang digunakan petani modal pribadi saja ada pula yang menggunakan modal pribadi dan pinjaman, besarnya modal petani padi Rp 425.000 petani cabe merah Rp 5.000.000 petani tomat Rp 2.800.000 petani ketimun Rp 1.500.000 dan petani tebu Rp 3.500.000. Keempat teknik produksi yang terdiri dari beberapa tahap antara lain tahap pembibitan, pengolahan tanah, penanaman bibit, pemeliharaan dan pemanenan. Produk yang secara umum dihasilkan petani meliputi padi, cabe merah, tomat, ketimun dan tebu. Pendapatan yang diterima oleh petani adalah bervariasi sesuai dengan jenis tanaman yang ditanamnya, pendapatan yang paling besar diperoleh petani tebu sebesar Rp 2.522.200 ditambah simpanan di KUD Rp 235.000 dan gula sebanyak 263 kg, kedua petani padi Rp 769.000, sedangkan petani palawija kesemuanya menglami kerugian, adapun kerugian yang diderita masing-masing petani yaitu petani cabe merah Rp 423.950, petani tomat Rp 388.250, petani ketimun Rp 246.400. Dengan memanfaatkan lahan pertanian jenis sawah seluas seperempat hektar akan memberikan pendapatan paling besar jika lahan tersebut ditanami tebu atau padi karena harga kedua jenis tanaman ini sampai saat ini masih stabil dan teknik bercocok tanamnya juga tidak terlalu sulit. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada Pemerintah terutama Dinas Pertanian agar lebih memperhatikan nasib para petani melalui bimbingan, penyuluhan, pemberian informasi yang terkini serta penyuluhan tentang administrasi keuangan. Petani diharapkan membuat administrasi keuangan dan jika ingin mendapatkan penghasilan yang pasti dalam melaksanakan kegiatan usaha tani supaya menanam tebu atau padi. Kepada kalangan akademisi agar menjadi partner bagi petani dengan memberikan bimbingan, sumbangan pemikiran. Kepada penuntut ilmu untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik analisis kegitan usaha bercocok tanam agar diperoleh masukan-masukan demi pengembangan kegiatan usaha ini.

Sintesis dan pemanfaatan senyawa kompleks tembaga (II) dengan ligan asetilaseton sebagai bahan pewarna nyala hijau / Dwi Cahyo Nugroho

 

Nyala lilin cair dan alat penerangan berbahan bakar minyak adalah kuning kemerahan. Salah satu cara merubah warna nyala yang dihasilkan adalah dengan melarutkan ion logam pada bahan dasar lilin cair atau minyak, sehingga bercampur secara homogen. Ion-ion logam tidak dapat bercampur secara homogen dengan lilin cair atau minyak karena perbedaan kepolaran. Oleh karena itu, untuk melarutkan ion-ion logam ke dalam bahan dasar lilin cair dan minyak maka kepolaran ion logam harus diturunkan denga cara mengubah ion logam menjadi senyawa kompleks dengan ligan-ligan organik. Dalam penelitian ini digunakan ligan asetilaseton (acac) yang memiliki gugus nonpolar dan ion logam tembaga (II), yang memberikan warna nyala hijau apabila dibakar pada suhu nyala lilin. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa kompleks yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna nyala hijau. Penelitian ini meliputi 3 tahap, yaitu: 1) sintesis senyawa kompleks, 2) karakterisasi senyawa kompleks dan (3) aplikasi senyawa kompleks. Tahap sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan reaksi langsung antara garam tembaga(II) dan asetilaseton dengan perbandingan 1:3 dalam pelarut metanol. Larutan yang diperoleh diperlakukan dengan dua cara. Pertama, larutan yang diperoleh diuapkan perlahan pada suhu kamar untuk memperoleh kristal. Kedua, larutan yang diperoleh diuapkan pada suhu 40°C untuk memperoleh endapan. Tahap karakterisasi meliputi penentuan titik lebur, pengukuran dengan UV-Vis, penentuan bilangan koordinasi dengan metode Jobs, penentuan gugus fungsi dengan IR, dan penentuan muatan kompleks dengan elektrolisis. Pada tahap aplikasi dilakukan penambahan kompleks pada parafin cair, dan minyak goreng kemudian dinyalakan. Pada tahap ini juga diteliti pengaruh penambahan besi(III)-acac- ke dalam larutan kompleks Cu(II)-acac- terhadap intensitas dan kejernihan warna nyala hijau yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis dari Cu(NO)3.3H2O dan asetilaseton dengan penguapan perlahan pada suhu kamar dihasilkan kristal berwarna biru berbentuk jarum. Senyawa kompleks yang dihasilkan dengan cara penguapan pada suhu 40°C adalah serbuk hijau. Dari hasil karakterisasi diprediksikan senyawa kompleks yang terbentuk memiliki rumus [Cu(acac)Lx]NO3 (L = H2O, CH3OH ; x=2 atau 4), tidak larut dalam parafin dan minyak tetapi larut baik dalam alkohol. Penambahan endapan senyawa kompleks pada spiritus, lilin cair dan minyak goreng dengan bantuan oktanol memberikan warna nyala hijau saat dibakar. Penambahan larutan kompleks besi (III)-acac- terhadap larutan kompleks Cu-acac- meningkatkan intensitas dan kejernihan warna nyala hijau yang dihasilkan.

Pengaruh perputaran piutang dan perputaran persediaan terhadap rentabilitas perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006 / Aris Setiyadi

 

Rentabilitas merupakan salah satu indikator untuk menilai baik buruknya kinerja perusahaan. Tingkat Rentabilitas mencerminkan kemampuan modal perusahaan dalam menghasilkan keuntungan melalui kegiatan operasionalnya. Operasional perusahaan diantaranya dipengaruhi oleh besar kecilnya perputaran piutang dan perputaran persediaan dimana akan berdampak pada tingkat perolehan keuntungan perusahaan. Sebagaimana tujuan utama perusahaan yaitu untuk mencapai keuntungan yang optimal, maka setiap perusahaan selalu meningkatkan kemampuan usahanya untuk menghasilkan laba. Salah satunya dengan cara mengelola piutang dan persediaan perusahaan yang bersangkutan seefisien mungkin sehingga mampu mencapai laba yang diinginkan. Tingkat Rentabilitas yang tinggi mencerminkan efisiensi yang tinggi pula. Mengukur efisiensi perusahaan dengan mendasarkan pada jumlah keuntungan semata-mata kuranglah tepat, sebab keuntungan yang tinggi belum mesti disertai rentabilitas yang tinggi pula. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh perputaran piutang dan perputaran persediaan secara parsial maupun simultan terhadap rentabilitas pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006. Dimana rentabilitas yang digunakan adalah rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri. Penelitian ini dilakukan di Pojok BEJ Universitas Brawijaya dan ditekankan pada analisa laporan keuangan perusahaan farmasi yang Listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006. Penelitian ini termasuk jenis penelitian Kuantitatif, dengan menggunakan rasio perputaran piutang, rasio perputaran persediaan, rasio rentabilitas ekonomi dan rasio rentabilitas modal sendiri. Teknik Pengumpulan yang digunakan adalah Teknik Dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Berganda dengan uji asumsi klasik, uji t, dan uji F. Keseluruhan analisis dalam penelitian ini menggunakan bantuan Software SPSS Versi 13.0 for windows. Hasil pengolahan data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh tidak signifikan terhadap rentabilitas ekonomi secara parsial maupun simultan. Perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh tidak signifikan terhadap rentabilitas modal sendiri secara parsial maupun simultan pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan bagi perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) hendaknya lebih meningkatkan lagi perputaran piutang dan perputaran persediaan guna mencapai laba/tingkat rentabilitas yang semaksimal mungkin, adapun cara yang bisa diambil yaitu ii dengan meningkatkan omzet penjualan dan memberikan potongan tunai kepada para pelanggannya dengan tujuan agar pelanggan lebih bergairah lagi dengan tetap memperhatikan laba yang merupakan tujuan dari perusahaan, selain itu sektor industri di Indonesia selalu terbentur dengan ekonomi biaya tinggi perlu dikurangi dengan menerapkan metode just in time. Bagi peneliti berikutnya disarankan untuk meneliti pengaruh dari variabel-variabel lain terhadap rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat menggunakan sampel selain perusahaan farmasi.

Perubahan status sosial ekonomi TKW (studi kasus di Desa Paowan Kec. Panarukan Kab. Situbondo) / Yandik Sri Rahmawati

 

TKW yang bekerja di luar negeri mempunyai tujuan meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi keluarga. Meskipun menjadi TKW mengalirkan nilai balikan ekonomi pada keluarganya di desa, sesungguhnya juga meninggalkan persoalan berupa perubahan sosial dan ekonomi yang tak selalu berdimensi positif di desa asal mereka. Perubahan terjadi pada struktur keluarga, pola pengasuhan anak, pola interaksi sosial dan gaya hidup serta perubahan orientasi terhadap materi. Bertolak dari hal itu dilakukan penelitian tentang perubahan status sosial ekonomi TKW. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan profil TKW, keadaan sosial ekonomi keluarga sebelum menjadi TKW, keadaan sosial keluarga setelah menjadi TKW serta perubahan status sosial ekonomi keluarga TKW. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data dari orang, peristiwa dan dokumen. Data orang/informan diperoleh melalui wawancara dengan perangkat Desa Paowan dan TKW serta keluarga. Data peristiwa melalui observasi kejadian dan fenomena terkait dengan perubahan status sosial ekonomi TKW. Data dokumentasi dari foto-foto mengenai keadaan sosial ekonomi TKW. Proses pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dan wawancara. Analisis data yang dipakai adalah model interaktif yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedang untuk mendapatkan kebenaran pemaparan dilakukan dengan cara triangulasi dan member cek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) profil TKW yang bekerja di luar negeri adalah rata-rata umur 24-54 tahun; TKW lulusan SMA sebagai baby sister dan pelayan toko sedangkan lulusan SD sebagai PRT, panti jompo dan penjahit; lama jam kerja PRT, baby sister dan panti jompo selama 16-18 jam antara jam 05.00-22.00 sedangkan pelayan toko dan penjahit selama 7-8 jam antara jam 08.00-16.00; Upah di Malaysia 300 RM-700 RM (Rp 600.000 s/d Rp 1.400.000) perbulan sedangkan TKW di Arab Saudi 600 Real-800 Real (Rp 1.500.000 s/d Rp 2.000.000) perbulan; jumlah tanggungan keluarga 1-12 orang; alasan TKW bekerja ke luar negeri memperbaiki ekonomi keluarga dan pendidikan anak; pola pengasuhan anak diserahkan pada suami dan orang tua serta saudara; keterlibatan mantan TKW pada kegiatan masyarakat yaitu PKK, arisan RT dan kegiatan keagaman, (2) keadaan sosial ekonomi sebelum menjadi TKW, pemenuhan makan dan gizi kurang; pakaian seadanya; dinding rumahnya dari anyaman bambu dan kayu; lantainya dari tanah dan semen; perabot rumah tangga tradisional; sarana komunikasi, informasi/hiburan tidak ada; kendaraan sepeda kayuh; layanan kesehatan mengandalkan dukun; MCK memanfaatkan sungai; penerangan rumah masih menyambung dari tetangga; rekreasi tidak pernah dilakukan; tidak memiliki tabungan; pola pengasuhan anak oleh ibu sendiri; penanaman nilai-nilai agama diserahkan pada ustad; kegiatan kemasyarakatan mengikuti arisan RT dan pengajian, (3) keadaan sosial ekonomi setelah menjadi TKW, pemenuhan makan dan gizi terpenuhi; mampu membeli pakaian 1-2 pasang dalam setahun; dinding rumahnya dari tembok; lantainya dari keramik; perabot rumah tangga modern; sarana komunikasi, informasi/hiburan terpenuhi; kendaraan sepeda motor dan mobil; layanan kesehatan menggunakan jasa dokter/Puskesmas; MCK milik sendiri; penerangan rumah sudah pasang sendiri melalui jasa PLN; rekreasi dilakukan 4-5 bulan sekali; memiliki tabungan; pola pengasuhan anak oleh suami dibantu orang tua dan saudara; penanaman nilai-nilai agama diserahkan pada guru ngaji; organisasi kemasyarakatan yang diikuti PKK, arisan RT dan pengajian (tahlilan, sholawatan), (4) perubahan status ekonomi pada keluarga TKW mengalami peningkatan perekonomian, hanya saja untuk pola pengasuhan anak bergeser pada suami, ibu dan saudara, status sosial suami TKW dalam kehidupan bermasyakat meningkat, sedangkan status sosial TKW menurun semula istri kemudian menjadi janda (single parent). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) bagi TKW agar memanfaatkan hasil kerjanya untuk kebutuhan produktif seperti modal usaha dagang (toko), membeli tanah/sawah, hewan ternak dan mobil untuk disewakan bukan untuk konsumtif, (2) mantan TKW dan suami untuk lebih meningkatkan kinerja dari peran sosial yang telah diberikan masyarakat, (3) bagi TKW dan pihak keluarga istri wajib mengingatkan dengan tegas suami yang berselingkuh bahkan jika perlu menggugat suami tersebut di pengadilan agama untuk membatalkan pernikahannya yang dilakukan tanpa seijin istri di luar negeri.

Protokol transfer data serial sebagai pengendali motor langkah pada aplikasi mobil robot berbasis PC dan mikrokontroler AT89C51 / Erwin Rudianto

 

Sistem otomatisasi memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia, perkembangan teknologi tersebut telah banyak menyentuh berbagai lingkup aktivitas masyarakat, salah satunya termasuk pemakaian komputer dan mikrokontroler sebagai alat bantu utama dalam sistem otomatisasi pemantauan dan pengaturan berbagai aktivitas manusia sehingga pekerjaan yang berbahaya, rutin, atau memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dapat digantikan dengan peralatan-peralatan elektronik. Komunikasi data memegang peranan penting dalam suatu sistem otomatisasi dikarenakan perangkat elektronik yang dapat bertukar data dengan peralatan elektronik pendukung yang lain akan dapat membentuk peralatan kendali yang efektif dan efisien. Kehandalan dari komunikasi data bergantung dari protokol data yang dipergunakan, sebab keseluruhan sistem pengendali tersebut tergambarkan dari protokol data tersebut yang nantinya dipakai untuk mengolah jalannya alur logika dalam rangkaian peralatan digital. Protokol pengendali dalam sistem ini dirancang untuk dapat menjembatani jalur komunikasi antara sebuah komputer dan sistem minimum yang terhubung melalui port serial. Protokol yang diterapkan di sistem kendali ini dipergunakan untuk mengolah deretan bit–bit serial dari komputer menjadi sebuah alur logika gerak robot mobil pada sitem minimum mikrokontroler AT89C51. Hasil pengujian sistem secara keseluruhan diketahui bahwa sistem dapat mengendalikan dua motor langkah secara bergantian melalui transfer data serial dari komputer. Berdasarkan pengujian software di bagian personal computer maupun di bagian mikrokontroler AT89C51 dapat berinteraksi untuk mengendalikan gerak dari 2 motor langkah melalui algoritma gerak sebuah mobil. Dengan demikian sistem ini dapat bekerja cukup baik.

Analisa anggaran pendapatan jasa pelayanan dalam upaya perencanaan dan pengendalian pada RSD Mardi Waluyo Blitar / Nuri Setyowati

 

Anggaran adalah suatu hal yang sangat penting bagi operasional suatu perusahaan, karena dengan anggaran perusahaan dapat memperkirakan besarnya penerimaan dan pengeluaran yang akan terjadi pada setahun mendatang. Disamping itu, melalui adanya anggaran, perusahaan dapat memperkirakan pos-pos mana yang efektif untuk menghasilkan pendapatan, pos-pos mana yang kurang efektif, pos – pos mana yang membutuhkan anggaran besar serta pos- pos mana yang harus menjadi prioritas dan pos-pos mana yang bisa dinomorduakan. Untuk menyusun anggaran yang baik, diperlukan suatu langkah-langkah penyusunan anggaran, sehingga penyusunan anggaran tersebut dapat tepat sesuai yang diinginkan perusahaan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui anggaran pendapatan jasa pelayanan pada RSD Mardi Waluyo Blitar dan kontribusi pendapatan jasa pelayanan dalam merencanakan biaya operasional pada RSD Mardi Waluyo Blitar. Metode-metode yang digunakan dalam pengumpulan data laporan tugas akhir ini adalah Studi Lapangan dan Studi Pustaka sedangkan teknik yang digunakan adalah Observasi atau Observation, Wawancara atau Interview dan Dokumentasi atau Documentation . Metode dan teknik pemecahan masalah yang digunakan adalah metode penaksiran yang bersifat kuantitatif yaitu dengan menggunakan metode trend moment, Indeks musiman, trend bulanan dan variasi musiman. Hasil analisa ini adalah bahwa penganggaran pendapatan jasa di RSD Mardi Waluyo Blitar dari tahun–tahun mengalami peningkatan. Kenaikan ini sesuai dengan peningkatan biaya-biaya yang harus ditanggung rumah sakit berkenaan dengan operasionalnya. Penganggaran pendapatan jasa pelayanan berfungsi untuk perencanaan, koordinasi, motivasi maupun pengendalian dan evaluasi biaya yang dikeluarkan RSD Mardi Waluyo Blitar agar tidak terjadi penyimpangan. Selain itu sebaiknya RSD Mardi Waluyo Blitar dalam menentukan target pendapatan jasa juga memperhatikan teori tanpa meninggalkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada agar hasil atau target yang dibuat mendekati realisasi pendapatan.

Pengaruh penggantian mesin pada kendaraan tempur tank AMX-13 terhadap keefektifan dan efisiensi kerja mesin / Nugroho Yudo Prihanto

 

Strategi pemerolehan kompetensi pragmatik anak usia prasekolah / Dyah Werdiningsih

 

Proses pemerolehan bahasa, termasuk pemerolehan kompetensi pragmatik, dilakukan anak dengan menggunakan strategi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah mengkaji strategi pemerolehan kompetensi pragmatik berbahasa Indonesia (ber-BI) anak usia prasekolah. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji strategi belajar dalam pemerolehan kompetensi pragmatik ber-BI anak usia prasekolah dan (2) mengkaji strategi komunikasi dalam pemerolehan kompetensi pragmatik ber-BI anak usia prasekolah. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan rancang-an penelitian bujur. Instrumen penelitian ini adalah peneliti yang berlaku sebagai instrumen kunci dengan instrumen pendukung berupa pedoman pengamatan dan alat perekam elektronik dan pencatatan lapangan. Data penelitian ini berupa tuturan lisan yang diambil dengan teknik pengamatan terhadap delapan subjek, yang terdiri atas anak usia 2, 3, 4 dan 5 tahun masing-masing dua orang. Data dianalisis berdasarkan teknik analisis performansi. Dengan teknik ini, analisis data dilakukan berdasarkan perilaku berbahasa dan tuturan aktual yang diperformansikan subjek sebagai wujud dari kempetensi pragmatik dan cara pemerolehannya. Berdasarkan analisis data diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pertama, strategi belajar dalam pemerolehan kompetensi pragmatik yang digunakan anak usia prasekolah adalah strategi kognitif dan strategi sosial. Strategi kognitif yang digunakan anak usia prasekolah adalah (1) peniruan tuturan, yaitu peniruan karena kesulitan penuturan dan peniruan karena kesalahan penuturan, (2) pengulangan tuturan, yaitu pengulangan tuturan sendiri, pengulangan tuturan orang dewasa, dan pengulangan tuturan teman sebaya, (3) penggunaan pola tuturan, yaitu penggunaan pola keseharian dan penggunaan pola kreatif, (4) perbaikan tuturan, yaitu perbaikan tuturan oleh mitra tutur dan perbaikan tuturan sendiri, dan (5) penerjemahan, yaitu penerjemahan kata/frase BJ ke dalam BI dan penerjemahan kalimat BJ ke dalam BI. Strategi sosial yang digunakan anak usia prasekolah adalah (1) permintaan klarifikasi, yaitu permintaan penuturan kembali dan penjelasan maksud tuturan dan (2) pertanyaan responsi-timbal balik. Penggunaan tipe dan variasi tipe strategi belajar tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab, yaitu faktor usia, tingkat penguasaan bahasa, kedwibahasaan, kepribadian anak, tujuan komunikasi, dan situasi belajar. Dalam proses pemerolehan kompetensi pragmatik penggunaan tipe dan variasi tipe strategi belajar tersebut berfungsi untuk menguasai bentuk-bentuk tuturan yang digunakan anak untuk menyatakan berbagai maksud kepada mitra tutur. Kedua, strategi komunikasi dalam pemerolehan kompetensi pragmatik yang digunakan anak usia prasekolah adalah strategi penggunaan bentuk nonverbal dan strategi penggunaan bentuk verbal. Strategi penggunaan bentuk nonverbal yang digunakan anak usia prasekolah meliputi (1) penggunaan isyarat dan gerakan, (2) penggunaan gerakan, (3) penggunaan gambar, dan (4) penggunaan lagu. Strategi penggunaan bentuk verbal yang digunakan anak usia prasekolah adalah (1) strategi penggunaan bentuk tuturan dan (2) strategi pengungkapan isi tuturan. Strategi penggunaan bentuk verbal yang digunakan anak usia prasekolah meliputi (a) pengalihan kode tuturan, yaitu pengalihan kata/frase BI ke dalam BJ dan pengalihan kalimat BI ke dalam BJ, (b) pemaparan tuturan, yaitu penggunaan kata-kata sendiri, penggunaan contoh-contoh, penggunaan rekonstruksi kalimat, dan penggunaan analogi, (c) penciptaan kata, yaitu penggunaan bagian kata/-frase, penggunaan sinonim, dan penggunaan asosiasi kata. Strategi pengungkapan isi tuturan yang digunakan anak usia prasekolah meliputi (a) penajaman maksud tuturan, (b) pengalihan topik tuturan, dan (c) pemutusan pesan. Penggunaan tipe dan variasi tipe strategi komunikasi oleh anak usia prasekolah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab, yaitu faktor usia, tingkat penguasaan bahasa, kedwibahasaan, kepribadian pembelajar anak, dan intensitas masukan dan interaksi. Dalam proses pemerolehan kompetensi pragmatik penggunaan tipe dan variasi tipe strategi komunikasi oleh anak usia prasekolah tersebut berfungsi untuk mengatasi kendala komunikasi untuk menggunakan bentuk-bentuk tuturan untuk menyatakan berbagai maksud kepada mitra tutur. Secara teoretis, hasil penelitian ini berimplikasi pada pengembangan teori strategi pemerolehan bahasa, khususnya teori strategi belajar dan strategi komunikasi dalam pemerolehan kompetensi pragmatik oleh pembelajar anak. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memperluas wawasan pendidik tentang proses pemerolehan kompetensi pragmatik anak sehingga dapat memaksimalkan perannya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kompetensi pragmatik anak. Dari hasil penelitian ini ditemukan adanya pengaruh lingkungan dan budaya terhadap proses pemerolehan kompetensi pragmatik. Terkait dengan hal ini disarankan bagi peneliti berikutnya untuk mengkaji lebih lanjut dengan fokus kajian pada pengaruh lingkungan dan budaya terhadap pemerolehan kompetensi pragmatik anak usia prasekolah.

Improving students' writing ability by using scafflding strategy in the process of writing at SLTP Negeri 3 Tolitoli / Noornanang Katilie

 

Hubungan antara intensitas supervisi oleh kepala sekolah, motivasi kerja guru, dengan kinerja guru di SLTP Negeri Kabupaten Malang / Bambang Sugiyono

 

Pendekatan supervisi dan sumbangannya terhadap peningkatan kualitas profesional guru SLTP negeri dan swasta di Kota Batu / Mistin

 

Pagelaran wayang kulit sebagai kritik sosial politik di Kabupaten Ponorogo: studi tentang kritik sosial politik dalam lakon parikesit grogol di paseban Kabupaten Ponorogo / Herva Andhi Putra Setyawan

 

Kritik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial politik suatu sistem politik, masyarakat dan negara. Langkah untuk mengetahui pengaruh kritik sosial politik terhadap kehidupan masyarakat dapat dilihat dari pemanfaatan media untuk menyampaikan kritik politik di muka umum. Penilaian masyarakat terhadap kritik sosial politik cenderung negatif karena aktivitas kritik-mengkritik dianggap sebagai awal terjadi konflik sosial politik. Hal ini dapat terlihat dari respon yang disampaikan oleh pihak yang dikritik cenderung menanggapi dengan sifat emosional. Fenomena ini, membuat para seniman dan aktivis berpikir tentang media yang tepat untuk menyampaikan kritik tanpa membuat orang yang menjadi sasaran kritik merasa tersinggung dan emosi. Salah satu alternatif yang direalisasikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo melalui Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Ponorogo dan PEPADI Cabang Kabupaten Ponorogo memilih media wayang kulit untuk menyampaikan kritik sosial politik di muka umum. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kritik sosial politik yang ada dalam prosesi pagelaran wayang kulit, (2) Bentuk kritik sosial-politik, (3) Adegan yang mengandung kritik sosial-politik dan (4) Mengetahui sasaran kritik sosial politik yang terdapat dalam pagelaran itu. Kritik politik yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pagelaran akhir bulan PEPADI Kabupaten Ponorogo yang mengambil lakon “Parikresit Grogol”yang dimainkan oleh Ki Yatno Gondo Darsono. Penelitian ini dilakukan di Paseban alon-alon utara Kabupaten Ponorogo tanggal 25 Oktober sampai 15 November 2006. Pendekatan-penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif yang menitikberatkan pada satu tema (lakon) yakni Parikesit Grogol. Analisis hasil penelitian yang digunakan untuk mengkaji adalah Analisis Interaktif Simbolik karena dalam pagelaran wayang kulit penyampaian pesan dalang sering menggunakan bahasa nonverbal selain bahasa verbal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Bentuk kritik sosial politik yang terdapat dalam pagelaran wayang kulit yang dikomunikasikan dalang disesuaikan dengan konteks adegan sehingga kritik tidak merusak alur cerita, (2) proses komunikasi kritik sosial politik dipilih pada adegan yang bersifat dialogis dan kapasitasnya disesuaikan dengan waktu pagelaran sehingga dalang dituntut dapat berkreasi dan berimprovisasi saat menyampaikan kritik sosial politik tanpa mengurangi subtansi kritik, (3) sasaran kritik sosial politik dalam pagelaran wayang kulit bersifat manifestasi-reflektif yaitu membangun kesadaran individu melalui tokoh yang mewakili eksistensinya di masyarakat, oleh karena itu, penonton hendaknya memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai yang ada dalam pagelaran itu. Proses analisis terhadap nilai sendiri ditentukan dari tingkat kedewasaan masing-masing penonton yang akan berpengaruh pada sikap dan perilaku sebelum dan sesudah menyaksikan pegelaran wayang kulit. Pagelaran ini juga memberikan contoh masyarakat tentang bagaimana menyampaikan kritik yang santun Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan terhadap mahasiswa (aktivis) yang hendak berpikir reflektif sebelum mengadakan aksi demonstrasi untuk mengkritik perilaku atau kebijakan yang dianggap salah dengan memilih media yang tepat dan tidak menimbulkan permusuhan antar kedua pihak (2) selain itu, seyogyanya pihak yang dikritik baik itu Pemerintah, Pemerintah Daerah, Anggota DPR maupun DPRD bersikap bijaksana dalam mengambil sikap dan penilaian bahwa adanya kritik sosial politik merupakan masukan, motivasi sekaligus partisipasi rakyat sebagai upaya kontrol sosial politik dalam mewujudkan kehidupan politik yang demokratis dan pemerintahan yang bersih (Good Government). Peneliti berharap ada mahasiswa lain yang mau melakukan penelitian lebih lanjut membahas subtansi dari karya ilmiah ini. Adapun judul yang disarankan penulis misalnya Efektifitas Kritik Sosial Politik melalui Media Wayang Kulit dalam Membangun Komunikasi partisipatif antara Elit Politik dengan Rakyat. Dalam penyampaian kritik sosial politik yang perlu diperhatikan adalah tingkat pemahaman individu dan transmisi pesan itu sendiri.

Efektivitas pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) terhadap peningkatan prestasi belajar biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kepanjen / Vita Fitria

 

Pengembangan strategi pembelajaran koopeatif model GI (Group Investigation) mempunyai 6 tahapan yaitu 1. seleksi topik, 2. merencanakan kerjasama, 3. implementasi, 4. analisis dan sintesis, 5. penyajian hasil akhir, dan 6. evaluasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah efektivitas pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dapat meningkatkan prestasi belajar Biologi khususnya materi sistem pencernaan siswa kelas VIII-B dan VIII-D SMP Negeri 1 Kepanjen. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 6 November-21 November 2007. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yaitu penelitian yang subyeknya diberi perlakuan (treatment) kemudian diukur akibat perlakuan tersebut pada diri subyek, yaitu pada awal pembelajaran dilakukan pretes kemudian melakukan pembelajaran model GI (Group Investigation), dan pada akhir pembelajaran dilaksanakan postes lalu hitung selisih skor pretes dan postes. Rancangan penelitin ini adalah Pretest-Postest Control Group Design (Rancangan Kelompok Kontrol dengan Pretest Dan Postest). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-B (kelas eksperimen) yang berjumlah 47 siswa dan siswa VIII-D (kelas kontrol) yang berjumlah 45 siswa. Data penelitian ini berupa prestasi belajar siswa yang diperoleh dari selisih skor pretest dan postest dan menghitung kenaikan jumlah siswa yang mendapat nilai 100 sebelum maupun setelah diberi perlakuan. Data tentang prestasi belajar siswa dianalisis melalui 3 tahap yaitu: uji normalitas, uji homogenitas, dan uji beda rata-rata dengan taraf signifikan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji kemampuan awal siswa data diambil dari nilai ulangan harian sebelum penelitian yaitu dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Pada uji normalitas diketahui Fhitung = 0,14556 sedangkan Ftabel (0,05:db=1) = 3,842. Fhitung < Ftabel, maka kemampuan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen mengikuti distribusi normal. Uji homogenitas diketahui bahwa Fhitung = 1,182 dan Ftabel (0,05:46,44) = 1,635. Fhitung < Ftabel, maka kemampuan siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki kemampuan yang sama. Sedangkan uji beda rata-rata menggunakan data nilai rata-rata selisih pretes dan postes. Nilai rata-rata selisih pretes dan postes siswa kelas eksperimen sebesar 36,915 lebih tinggi dari kelas kontrol sebesar 26,889. Uji hipotesis uji beda ratarata menghasilkan nilai thitung = 2,743 lebih besar dari ttabel = 1,9867, sehingga hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa peningkatan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model GI lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional diterima. Jadi, pembelajaran koopertif model GI dapat meningkatkan prestasi belajar.

Pengembangan modul dengan pendekatan siklus belajar serta pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA materi pernapasan manusia / Wiwin Widyati

 

Masalah yang ditemukan saat proses pembelajaran di kelas yaitu setiap siswa memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda, perbedaan terletak pada kecepatan belajar dan daya ingat antar siswa. Dalam proses belajar mengajar guru sering menggunakan metode ceramah, dimana dalam metode ini siswa hanya dapat mendengarkan penjelasan dari guru sehingga hanya sebagian kecil ilmu yang didapat oleh siswa. Sumber belajar yang digunakan siswa hanya berasal dari buku teks yang menyajikan teori-teori dan materi tanpa siswa dituntut untuk berfikir aktif dan kreatif terhadap permasalahan yang muncul di sekitar siswa. Metode ini menyebabkan siswa hanya pandai untuk menghafal teori-teori tanpa dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa masalah tersebut sebenarnya dapat dengan menyediakan modul dengan pendkatan siklus belajar, sebab pendekatan siklus belajar menuntut siswa untuk melakukan eksplorasi, eksplanasi, ekspansi dan evaluasi secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui cara membuat modul dengan pendekatan siklus belajar materi Sistem Pernapasan bagi siswa kelas XI dan pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Komponen modul yang di buat, meliputi: (1) bagian pendahuluan (cover, kata pengantar, panduan penggunaan modul, daftar isi) (2) bagian isi (kompetensi dasar, indikator, kegiatan siswa dengan pendekatan siklus belajar, rangkuman, evalusi, daftar pustaka dan kunci jawaban). Modul pembelajaran yang dibuat mempunyai 4 tahapan siklus belajar (Eksplorasi, Eksplanasi, Ekspansi dan Evaluasi). Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan modul. Modul yang dikembangkan adalah modul untuk siswa dan buku petunjuk untuk guru. Prosedur pengembangan modul dengan siklus belajar ini mencakup 1) Mengkaji kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), 2) Mengkaji pendekatan pembelajaran, 3) Menentukan materi yang akan dikembangkan, 4) Menganalisis sumber belajar, 5) Menyusun modul, 6) Penilaian modul, dan 7) Revisi modul. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi data kuantitatif (skor angket penilaian validator beserta siswa dan nilai hasil belajar siswa) dan data kualitatif (tanggapan dan saran dari validator serta deskripsi keterlakasanaan uji coba modul). Modul divalidasikan kepada 4 validator (2 Dosen Biologi dan 2 Guru Biologi). Hasil validasi modul didapatkan presentase sebesar 79,26% yang berarti modul pembelajaran cukup valid dan tidak perlu diadakan revisi, karena telah melebihi nilai skala yang ditetapkan yaitu 60-80%. Berdasarkan nilai rata rata skor angket dari 40 siswa SMA Negeri 9 Malang Kelas XI IPA1 di dapatkan presentase sebesar 77% berarti modul dapat dinyatakan valid dan tidak revisi karena telah melebihi skala nilai yaitu ≥60-80 %. Berdasarkan uji coba diperoleh data 62.5% siswa telah mendapatkan skor diatas 81, hal ini dapat dikatakan modul dapat digunakan oleh siswa karena nilai presentase yang didapatkan melebihi nilai 81. Dari hasil penelitian ini peneliti menyarankan penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan kelas, sekolah dan materi yang berbeda.

Social depiction of Victorian England through Oscar Wilde's short stories: a mimetic analysis / Nabhan Fuad Choiron

 

This thesis examines representations of the Victorian era in a series of canon fictions by Oscar Wilde’s best five short stories; “The Happy Prince,” “The Nightingale and The Rose,” “The Selfish Giant,” “The Devoted Friend” and “The Remarkable Rocket.” This study, in the tradition of sociological studies which uses mimetic theory, especially the basic theory of Plato and Aristotle and Theory Mimetic of René Girard, assumes that those five short stories at best really portray the social life of Victorian England. This thesis adds to the critical discussion of these texts a focus on which particular images of the Victorian era they produce and to what ends. The Victorian age, in which was a transition time between the romantic traditional era and the modern twentieth century era, was expanded by a big Industrial Revolution. There were many consequences that are influenced by the Industrial Revolution; the social life, economic life, religious life, literature, etc. A critical reading of Wilde’s best five short stories posits the narrativity of history and the uncertainty of historical knowledge, but it shows, too, that the short stories is infused also with the desire to know and re-create the past. The short stories enter as a double-enténdre; as social criticism and social correction toward Victorian society. Correlated to mimetic theory, the short stories depict social condition of society during Industrial Revolution. The gap between the rich and the poor really portray the upper and lower class of Victorian society. The short stories also come with the plot in exploiting the lower class people especially children and women, which is so much resemble to the world of Industrial Revolution. The spirit of Christianity is brought there by Wilde as social correction toward Victorian who are so much profound to the revolution. Together, these textual analyses demonstrate that the short stories’ representation of the Victorian era stems from a desire to remember the period as part of our shared history. It describes the society of England especially during the late 19th (nineteenth) century, the Victorian Era, particularly in terms of the children’s life, relationship among classes, and religion life, and how it is useful towards the society at that time as a criticism as well as a companion to the situation of the society at present.

Strategi pemberdayaan berbasis lembaga lokal dalam penanganan kemiskinan di perkotaan / Mohamad Ainul Haq

 

Penelitian ini bertujuan memahami penanganan kemiskinan berbasis kelembagaan lokal yang berbeda dengan penanganan kemiskinanan yang dilakukan sebelumnya. Penelitian ini difokuskan pada aspek input, proses, dan hasil capaian program serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif (pemahaman, pandangan, dan tanggapan) para informan di lapangan yang menghasilkan data deskriptif, yakni gambaran implementasi program di lapangan secara sistematis dan faktual. Data tersebut diperoleh melalui wawancara mendalam dengan para informan, disamping studi dokumentasi, dan observasi. Penentuan informan dilakukan secara purposive sampling, yakni atas dasar penilaian bahwa para informan mengetahui secara baik pemasalahan yang sedang diteliti. Untuk itu, informan dalam penelitian ini adalah pengurus lembaga lokal, ketua dan anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), pemuka masyarakat, dan perangkat desa setempat. Hasil penelitian menunjukkan, meskipun lembaga lokal (masyarakat) telah menunjukkan kinerjannya pada awal implementasi program, dimana telah mampu, menyalurkan dana kepada KSM, dan telah mampu menggulirkan beberapa kali, tetapi jika dicermati setelah program menginjak lima tahun, dapat dinyatakan belum/tidak terjadi proses pemberdayaan khususnya bagi warga miskin, karena: (a) tidak terjadi transfer daya kepada warga miskin, sebab program lebih dimanfaatkan oleh kelompok yang mampu; (b) proses belajar sosial tidak berlangsung, sebab program lebih bernuansa economic; dan (c) lembaga lokal masyarakat lebih berperan sebagai penyalur kredit dari pada lembaga pemberdayaan. Adapun faktor pendukung program Proyek penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan P2KP adalah kemudahan dalam peminjaman dana dengan bunga ringan, adanya masyarakat yang rutin dalam pengembalian dana. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kurangnya pertisipasi perangkat desa, banyaknya anggota KSM yang menunggak dan pelaksana progam kurang aktif. Terkait dengan itu, saran ditekankan pada kualitas pelaku program (khususnya di lapangan), yaitu: (a) perlu mempunyai pemahaman secara baik terhadap konsep P2KP; (b) perlunya pelaksanaan sosialisasi program secara benar yang lebih diarahkan pada penyadaran tentang permasalahan yang dihadapi dan tumbuhnya semangat untuk memecahkan secara mandiri; (c) perlunya pendampingan secara berkelanjutan terhadap lembaga lokal masyarakat dalam kurun waktu tertentu, sehingga lembaga lokal masyarakat tersebut dipandang mampu melakukan penanganan masalah kemiskinan warganya secara mandiri

Efektivitas penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi pada siswa kelas 2 SMK Ardjuna 01 Malang) / Evy Erlinawati

 

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi, dkk). Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di kelas 2 Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Ardjuna 01 Malang diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan oleh guru selama ini masih menggunakan pola-pola pembelajaran konvensional, dimana peran guru masih sangat dominan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pemberian tugas. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini diindikasikan sebagai penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa. Atas dasar inilah, maka penelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas pembelajaran baik oleh guru maupun siswa, minat belajar siswa, hasil belajar siswa dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 Program Keahlian Administrasi Perkantoran semester gasal tahun ajaran 2007/2008 SMK Ardjuna 01 Malang yang berjumlah 28 siswa dan dilakukan mulai tanggal 24 November sampai dengan 15 Desember 2007. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi penilaian ranah afektif, lembar observasi penilaian ranah psikomotorik, angket minat belajar siswa dan tes. Analisis hasil penelitian menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor persentase keberhasilan tindakan aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 22%, sedangkan hasil observasi aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II tampak adanya peningkatan pada tiap tahapnya, dimana pada tahap I terjadi peningkatan sebesar 4,44%, tahap 2 sebesar 35,60%, tahap 3 sebesar 16,67%, tahap 4 sebesar 20% dan tahap 5 sebesar 30%. Peningkatan minat belajar siswa dapat diketahui dari meningkatnya skor angket minat dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 14,91%. Meningkatnya hasil belajar siswa dari ranah kognitif dapat diketahui dari peningkatan nilai Pre test ke Post test, pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 4,71%, sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 4,46%. Untuk ranah afektif, terjadi peningkatan sebesar 20,58%. Dan ranah psikomotorik terjadi peningkatan sebesar 25,72%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan, (1) bagi para guru mata diklat di SMK Ardjuna 01 Malang hendaknya menggunakan model pembelajaran PBL sebagai alternatif pembelajaran untuk lebih meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, (2) penciptaan iklim belajar yang kondusif untuk penerapan model PBL sangat diperlukan dan penyediaan bahan acuan serta perangkat pembelajaran akan memperlancar proses penerapan model pembelajaran ini, (3) dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah, siswa harus didorong untuk memperkaya pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dan terarah, (4) di dalam melaksanakan model pembelajaran berbasis masalah hendaknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas dengan pemberian artikel saja, tetapi sebaiknya juga dilakukan diluar kelas/mengajak siswa untuk terjun langsung secara bersama-sama ke lapangan untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan materi, (5) dalam model pembelajaran berbasis masalah peran guru adalah sebagai motivator, innovator dan fasilitator, (6) penerapan model pembelajaran berbasis masalah memerlukan alokasi waktu yang agak lama, guru hendaknya memperhatikan pembagian alokasi waktu jika menggunakan model pembelajaran ini, (7) penerapan model pembelajaran berbasis masalah perlu dukungan dari seluruh komponen yang ada di sekolah, (8) hendaknya diperhatikan kualitas siswa (input), (9) untuk penelitian selanjutnya, hendaknya diterapkan pada bidang studi /program keahlian yang lain.

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode stad dalam upaya peningkatan hasil belajar ekonomi (studi kasus pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung) / Nia Nurmala Tamba

 

Metode pembelajaran merupakan unsur terpenting yang mendukung tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar. Melalui metode pembelajaran, seorang guru dapat merancang dan mengarahkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Oleh karena itu guru harus peka dan mampu memilih serta menentukan metode pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar agar tercapai hasil belajar yang optimal. Berdasarkan hasil obervasi awal yang penulis lakukan di SMA Negeri 1 Boyolangu Tulung Agung, diketahui bahwa metode pembelajaran yang sering digunakan guru ekonomi adalah ceramah dan pemberian tugas. Metode pembelajaran ini menekanakan peran guru yang lebih dominan dibandingkan siswa selama proses belajar, sehingga siswa cenderung pasif, dan jenuh dalam belajar. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan kurang optimalnya hasil belajar siswa. Melihat kondisi tersebut, hendaknya guru menerapkan metode pembelajaran yang lebih variatif dan menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar untuk meningkatkan hasil belajarnya. Strategi pembelajaran yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan bekerjasama, kreatif, dan berfikir kritis, serta ada kemauan membantu teman dalam hal belajar. Salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif adalah STAD (Student Team Achievement Divisions). Dalam metode STAD, siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang heterogen berdasarkan tingkat kemampuan dan jenis kelamin, ras, serta, agama bila memungkinkan. Dalam setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota. Setiap anggota dalam kelompok diharapkan dapat bekerjasama dan saling membelajarkan dalam hal penguasaan materi dan diskusi kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif metode STAD pada mata pelajaran ekonomi. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung kelas XI IPS-1 pada semester gasal tahun ajaran 2007/2008. Jumlah siswa sebanyak 45 siswa yang terdiri dari 25 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu pada bulan Oktober sampai November 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran kooperatif dengan metode STAD mengalami peningkatan yaitu sebesar 16,94% dari 64,08% pada siklus I menjadi 81,02% pada siklus II. Adapun hasil belajar siswa setelah menggunakan metode STAD pada siklus I mengalami peningkatan dari rata-rata kemampuan awal sebelum pembelajaran dengan metode STAD sebesar 64,00 menjadi 74,00 setelah melalui pembelajaran dengan metode STAD dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 51,11%. Pada siklus II, rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari rata-rata kemampuan awal sebelum pembelajaran dengan metode STAD sebesar 70,44 menjadi 82,00 setelah menggunakan metode STAD dengan ketuntasan belajar klasikal yaitu 80%. Perbandingan hasil belajar dan ketuntasan belajar antara siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut: (1) Nilai rata-rata pre-test siswa meningkat dari 64,00 pada siklus I menjadi 70,44 pada siklus II, (2) Nilai rata-rata post-test siswa meningkat dari 74,00 pada siklus I menjadi 82,00 pada siklus II, (3) Ketuntasan belajar klasikal pada pre-test mengalami peningkatan dari 17,78% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 8 siswa pada siklus I menjadi 35,56% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa pada siklus II, dan (4) Ketuntasan belajar klasikal pada post-test mengalami peningkatan dari 51,11% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 23 siswa pada siklus I menjadi 80,00% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 36 siswa pada siklus II. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan metode STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang dikemukakan yaitu (1) Bagi guru mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung pada khususnya dan guru ekonomi di sekolah lain, disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD sebagai salah satu alternatif pembelajaran di dalam kelas, karena hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa pembelajaran dengan metode STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Namun dalam pelaksanaannya guru harus memperhatikan alokasi waktu, bersikap tegas terhadap siswa dan menggunakan kalimat yang jelas dalam menyampaikan materi, (2) Bagi pelaksana penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengadakan penelitian tentang pembelajaran kooperatif dengan metode STAD pada sekolah atau jenjang pendidikan yang lain, seperti SD, SMP, SMK atau yang sederajat dan pada materi yang berbeda. Selain itu disarankan kepada pelaksana penelitian selanjutnya untuk mengembangkan penelitian pada ranah lain dan melakukan pengamatan tentang respon siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkan, dan (3) bagi siswa, disarankan untuk meningkatkan keaktifan dan kerjasama dalam belajar guna mencapai hasil belajar yang optimal.

Kajian penggunaan metode gabion mattreses untuk mencegah penggerusan (scouring) pada pilat jembatan berbentuk bulat / Raditya Tri M.

 

Karakteristik transformasi konformal pada bidang kompleks / Dian Heppy Megawati

 

Fungsi analitik mempunyai sifat yang sangat penting yang mengkaitkan bentuk suatu bangun dengan bentuk bangun hasil transformasi oleh fungsi yang diberikan. Transformasi konformal dapat dipikirkan sebagai interpretasi geometrik pada analitisitas. Aspek geometric utama pada kekonformalan, ialah kesamaan sudut dalam besar dan arahnya. Untuk menyelidiki kekonformalan suatu fungsi di suatu titik, misalkan z , harus dikaji terlebih dahulu apakah fungsi tersebut analitik di titik z dan turunannya di z tidak nol. Penulisan kajian ini adalah dengan menggunakan metode kajian kepustakaan yang hasilnya diharapkan dapat digunakan dalam pengajaran matematika di kampus, yaitu pada materi mata kuliah Fungsi Kompleks. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kekonformalan suatu fungsi mempunyai sifat dapat mengawetkan sudut dan arah yang dibentuk di bidang-z yang titik sudutnya z dengan sudut yang dibentuk di bidang-w yang titik sudutnya w = f(z ) baik dalam besar maupun arahnya. Hasil selanjutnya memperlihatkan bahwa suatu transformasi konformal di z dapat mengubah sudut inklinasi kurva mulus A yang melewati z sebesar arg f ?(z ) dengan pembesaran atau pengecilan bayangan panjang garis segmen dari bidang-w terhadap panjang garis segmen bangun semula di bidang-z sebesar . Lebih jauh lagi suatu transformasi konformal dapat mengawetkan sudut yang dibentuk 2 kurva mulus yang berpotongan di z .

Kajian kedalaman lembar lubang, dan pola kontur gerusan (scouring) pada pilar jembatan berbentuk bulat / Joko Putro Adie

 

Hubungan antara supervisi pengawas sekolah, kepemimpinan kepala sekolah, perilaku mengajar guru, motivasi belajar siswa, dan pemanfaatan fasilitas belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Sulawesi Tengah / Sumarno A. Hulinggi

 

Pengembangan modul pembelajaran berbasis kontekstual dengan model siklus belajar pada materi pokok protista untuk pembelajaran biologi SMA/MA kelas X semester 1 / Nur Miftakhul Rizqi

 

Perubahan kurikulum yaitu kurikulum 1994 yang diperbaiki menjadi kurikulum 2004 (kurikulum berbasis kompetensi), kemudian dalam perkembangannya disempurnakan dengan ditetapkannya Peraturan Menteri No. 22 Tahun 2006 berisi: Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Standar Isi) yang lebih dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mencakup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Observasi di SMAN 9 Malang menunjukkan bahwa mereka mempercayakan buku teks sebagai sumber belajar siswa, sehingga pembelajaran kontekstual tidak terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul yang berbasis kontekstual dengan siklus belajar, mencakup: model Buku Petunjuk Guru dan model Buku Siswa. Pelaksanaan pengembangan modul dalam penelitian mengunakan model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan dkk (1974), yakni 4D-Model (Define, Design, Develop, dan Disseminate). Keempat D dalam 4D-Model merupakan tahap-tahap dalam pengembangan modul, namun rancangan penelitian ini mengadopsi sampai D yang ketiga. Validasi isi perangkat dilakukan oleh ahli bidang pengembangan medi pembelajaran yaitu Drs. Pudyo Susanto, M.Pd dan ahli materi Dra. Murni Saptasari, M.Si. Validasi implementasi modul ini dilakukan oleh Guru mata pelajaran Sain-Biologi (Ibu Ruliati, S.Pd.dan Ibu Ellya, S.Pd) dan siswa kelas X5 dan X6 semester 1 SMAN 9 Malang. Hasil validasi isi modul yang dikembangkan memperoleh pencapaian 78,23% dari validator 1, 81,37% dari validator 2, 92,06% dari validator 3, dan 96,82% dari validator 4.Persentase tersebut sesuai dengan kriteria cukup baik, tanpa direvisi. Sedangkan hasil validasi implementasi diperoleh sebesar 86,36% sesuai dengan kriteria baik, tanpa direvisi. Beberapa revisi tetap dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh validator, dengan tujuan untuk menyempurnakan modul yang dikembangkan. Pada akhir penelitian ini dihasilkan produk berupa modul berbasis kontekstual yang valid dan siap digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Studi pemetaan kesiapan guru ekonomi dalam menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMA se-kota Batu Malang / Anggun Yulvira Swastika

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah dan karakteristik peserta didik. Dengan kata lain kurikulum ini memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada sekolah untuk mengembangkan. Beberapa karakteristik KTSP, yaitu Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi, kepemimpinan yang demokratis dan profesional, Tim Kerja yang kompak dan transparan. Kesiapan guru adalah suatu kondisi dimana guru harus mampu menyiapkan, mengajarkan dan menyampaikan bahan ajar atau materi tertentu kepada siswa-siswanya. Kesiapan itu berkaitan dengan bahan yang harus diajarkan baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, konsep maupun sikap. Berkaitan dengan kesiapan ini, seorang guru harus menguasai jauh melampaui daripada yang harus dan akan disampaikannya dikelas. Kesiapan guru mengajar ,menggambarkan kunci awal kesuksesan suatu pembelajaran. Semakin matang persiapan guru dalam mengajar maka akan semakin bagus pula peluang untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Sebelum mengajar seorang guru harus menyiapkan diri. Pokok pelajaran yang diminta dalam kurikulum harus dikuasai. Untuk itu pemahaman guru terhadap kurikulum dan kesiapan mereka untuk melaksanakan pembelajaran berdasarkan kurikulum itu sangat penting. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan cara wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan dengan 12 orang guru ekonomi yang ada di 10 SMA Se-Kota Malang. Analisis data dari catatan lapangan hasil dari wawancara dengan dua belas informan yang ada. Dari catatan lapangan dibuat kata kunci, kemudian dibuat fokus dan seleksi dan ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini bahwa guru-guru ekonomi di SMA se-Kota Batu Malang siap untuk melaksanakan KTSP ini, walaupun mereka memiliki hambatan antara lain jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas, kurangnya sarana dan prasarana serta pengaruh lingkungan sosial yang ada. Sehingga saran yang dapat diberikan bagi dinas pendidikan adalahdapat melakukan pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar yang terkait dengan KTSP agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Untuk meningkatkan kinerja guru hendaknya Diknas melakukan tindakan pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja guru, Sekolah harus berperan sangat aktif untuk mengsosialisasikan KTSP ini. Bisa dengan cara mengadakan seminar dan pelatihan kepada guru-guru yang ada disekolah dengan mengundang praktisi-praktisi pendidikan, dan sebagai pendidik guru harus tidak pernah berhenti untuk belajar.

Penerapan strategi bauran pemasaran pada toko buku Gramedia Basuki Rahmat Malang / Dini Oktapiany

 

Saat ini perekonomian Indonesia mengalami situasi yang sulit dengan adanya berbagai kejadian seperti adanya pemboman, kerusuhan dan lain sebagainya yang memperburuk keadaan. Dampak dari situasi ini dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat baik para pelaku bisnis maupun masyarakat pada umumnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya perusahaan yang mengalami kepailitan selama situasi tersebut berlangsung. Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan dituntut untuk bisa menerapkan strategi pemasaran yang paling tepat dan sesuai dengan keadaan pasar. Untuk dapat menciptakan suatu manajemen pasar yang baik maka perusahaan harus melakukan analisis-analisis di lingkungan luar yaitu, terjun langsung ditengah-tengah masyarakat yang merupakan pangsa pasar perusahaan. Dengan sistem pemasaran yang baik maka perusahaan akan dapat menentukan langkah-langkah pemasaran untuk memperluas pangsa pasarnya. Praktikum Manajemen Pemasaran III pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang dilaksanakan selama satu bulan, yaitu, mulai tanggal 1 September 2007 – 6 Nopember 2007. Selama kegiatan praktikum, penulis ditempatkan untuk menjaga toko dan pada bagian gudang. Namun demikian, penulis diberikan kebebasan untuk memperoleh data sehubungan dengan penyusunan Tugas akhir. Strategi bauran pemasaran pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang meliputi empat bauran yaitu, produk, harga, distribusi dan promosi. Penerapan strtaegi produk pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang dilakukan merlalui diversivikasi dan diferensiasi produk yang dimiliki. Selain itu, pengadaan produk, proses produksi dan display produk juga menjadi bagian dalam strategi produk yang dilakukan oleh Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. Penerapan strategi harga pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang dilakukan melalui faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga suatu produk. Jenis-jenis harga yang digunakan, metode serta penetapan harga juga menjadi bagian dalam penetapan harga pada toko buku ini. Penerapan strategi distribusi pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang dimulai dari lokasi pendirian perusahaan yang strategis berada di pusat kota. Sedangkan saluran distribusi yang digunakan adalah saluran distribusi tidak langsung dan saluran distribusi langsung. Penerapan strategi promosi pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang dilakukan melalui media promosi periklanan berupa pemasangan spanduk dan pembagian brosur, promosi penjualan melalui diskon, bursa buku murah, dan kupon berhadiah. Sedangkan media promosi penjualan pribadi dan publisitas berupa promo happy hour, persentasi tidak langsung terhadap konsumen. Faktor penghambat dan pendukung strategi pemasaran di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang saling berkaitan. Faktor pendukung antara lain : kualitas produk, lokasi yang strategis dan lain-lain. Sedangkan faktor penghambat antara lain : banyaknya pesaing, daya beli konsumen yang berubah-ubah. Kesimpulan strategi pemasaran yang dilakukan oleh Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang melalui empat bauran pemasaran yaitu penerapan strategi produk, penerapan strategi harga, penerapan strategi distribusi dan penerapan strategi promosi. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang perlu ditingkatkan lagi supaya dapat lebih baik ke depan serta dapat menguasai pangsa pasar. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah differensiasi produk, kualitas pelayanan ditingkatkan, promosi yang digunakan harus lebih efektif dan lain sebagainya.

Pengembangan model assessment ketuntasan belajar dan re-teaching berbantuan komputer bagi siswa kelas XI / Achmad Ferdiansyah

 

ABSTRAK Ferdiansyah, Achmad. 2015. Pengembangan Model Assessment Ketuntasan Belajar dan RE-Teaching Berbantuan Komputer bagiSiswaKelas XI.Tesis, Jurusan PendidikanFisika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sentot Kusairi, M.Si, (II) Dr. Wartono, M. Pd. Kata Kunci:model assessment, ketuntasan belajar, RE-teaching,komputer Assessmentdanpembelajaranremidialmerupakankomponenpentingdalampembelajaran. Assessmentdanpembelajaranremidialbelumdilaksanakansecara optimal olehguru. Beberapapenyebabnyaadalah jumlahsiswa yang besar, setiapsiswamemilikimasalah yang berbeda, dandiperlukanwaktukhusussemen¬¬tara waktu yang dimiliki guru terbatas. Sebagaidampaknya, siswa tidak tuntas pada satu materi dan mengalami kesulitan mempelajarimateri-materi berikutnya.Siswa juga kesulitan menghubungkan konsep-konsep yang terkait karena pada dasarnya Ilmu Fisika bersifat hirarki.Olehkarenaitu, diperlu¬kan sistemremidialdanpengayaanterintegrasidenganassessmentuntukmembantu guru melakukan pembelajaranremidialdanpengayaanberdasarkankemampuansiswa. Tujuan dari penelitian ini adalahmenghasilkan model assessment ketuntasan belajar dan RE-Teaching berbantuan komputer yang valid danefektifpada materi rangkaianarussearah. Penelitianinimerupakanjenispenelitiandan pengembangan (R&D).Sebagai model pengembangandigunakan model pengembanganSukmadinata yang meliputitahapstudipendahuluan, tahapperancangandrafproduk, tahappengembangandrafproduk,dantahapujicoba. Ujicobadilakukan di MAN Tulungagung 1 melibatkansiswa, guru, danDosenFisika. Instrumen yang digunakan berupa angket, panduanwawancara, dantes. Data-data yang didapatkanberupadata kuantitatifdankualitatif. Kegiatan validasi meliputi validasi produk pengembangan, validasibukupanduandanvalidasi soal pilihan ganda sebagai komponen produk. Validasi dilaksanakan oleh validator yangberasaldari Dosen Fisika. Data kuantitatif dianalisis menggunakan teknik analisis rata-rata sedangkan data kualitatif digunakanuntukmelakukanrevisiproduk. Produk yang telahdirevisidiujicobapadasiswaKelas XI Akselerasidenganrancanganone group pretest-postest. Hasilujicobadianalisismenggunakanuji Wilcoxon denganmembandingkandatapretesdanpostessiswa. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa isiproduk yang dikembangkantermasukdalamkriterialayak, bukupanduanmendapatkriteriacukuplayakdanbutirsoalpilihangandamendapatkriterialayak.Berdasarkan data kualitatif, produk telah direvisi berdasarkan saran validatordansiswa. Hasil uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon diperoleh kesimpulan bahwa produk yang dikembanganefektif untuk membantu siswa mencapaiketuntasan belajar pada rangkaian arus searah.Beberapa kelebihan produk yang telah dikembangkan adalah sebagai berikut. (1) Produkdapatmembantu siswa mencapai ketuntasan dalam belajar. (2) Produk dapat memberikan umpan balik (feedback) kepada siswa setelah mengerjakan kuis. (3) Produkdapatmempermudah pekerjaan guru dalam mengoreksi kuis atau tugas siswa.

The intensive learning program at the third year of SMPN I Pohjentrek as preparation for the 2007 national examination / Anastasia Sri Yusetiawati

 

Language is basically used as a means of human?s perception and thoughts. Different peoples, based on some factors such as beliefs, culture, and thoughts may perceive some aspects differently, thus, express their perception accordingly, that is the nature of their expression is influenced by the nature of their perception. In perceiving appropriate perception depend on the uses of the language itself, sharing or shaping intention must be properly examined.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif wanita dewasa awal terhadap produk kosmetik / Lettisa Dyah Sukma Wardhani

 

Penelitian ini difokuskan terhadap penggunaan kosmetik pada wanita dewasa awal dengan asumsi wanita pada tahap usia ini mulai menggunakan kosmetik dengan intensitas dan ragam jenis produk yang lebih banyak dari kaum remaja serta asumsi berdasar teori perkembangan Hurlock bahwa pada tahap ini upaya menambah nilai estetika adalah untuk menarik lawan jenis dalam proses berkembang biak manusia. Penelitian ini bertujuan mengetahui memahami faktor apa yang paling kuat pengaruhnya di antara ragam faktor yang dijabarkan dalam teori-teori terbentuknya perilaku konsumsi. Penelitian kualitatif ini menggunakan rancangan studi kasus, oleh karena itu digunakan teknik purposifsampling untuk mendapatkan subyek yang menarik di antara populasinya. Untuk memilih subyek yang memenuhi syarat maka dilakukan seleksi dengan menggunakan alat pengumpul data yaitu dengan mengumpulkan data kuantitatif dari 60 responden awal yang terpilih secara menyebar untuk mengisi angket yang mengukur minat, intensitas pemakaian serta loyalitas merek produk kosmetika, kemudian terpilih 5 orang subyek sebagai sumber data kualitatif melalui wawancara mendalam serta observasi yang dilakukan secara terpisah dan penjagaan privasi waktu dan lokasi. Analisis isi terhadap data wawancara keseluruhan subyek menghasilkan temuan 3 faktor yang paling kuat pengaruhnya dalam pembentukan perilaku konsumsi yaitu; ingin tampak cantik, daya beli, dan karakter fisik. Temuan ini merupakan penyimpulan dari kesamaan ungkapan faktor internal yang tersirat maupun lisan mengenai perilaku konsumsi masing-masing subyek yang sangat berbeda. Validitas dan reliabilitas tidak dapat terukur dari analisa deskriptif dalam bentuk angka namun dapat diperkirakan ketepatannya melalui cek dan kroscek terhadap konsistensi jawaban dalam angket dengan jawaban dalam wawancara, serta konsistensi inti keseluruhan jawaban atau respon verbal dengan hasil observasi penampilan fisik subyek. Melalui cek dan kroscek tersebut peneliti mendapatkan konsistensi yang sangat kuat dan pemantapan bahwa penyataan tertulis pada angket sesuai dengan pemyataan verbal dan bahasa tubuh saat wawancara serta observasi terhadap penampilan subyek.

Pengembangan komik sebagai media pembelajaran biologi untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Gading, Probolinggo / Nining Jumariyati

 

Komik adalah salah satu bacaan yang disukai anak-anak, sehingga dalam penelitian ini komik dijadikan sebagai media pembelajaran. Secara umum komik yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran hampir sama dengan komik pada umumnya, namun isi komik yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran pada pengembangan ini lebih mengarah pada penyajian materi pelajaran, yaitu sistem indera. Tujuan pengembangan komik sebagai media pembelajaran Biologi untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Gading, Probolinggo agar pembelajaran Biologi menjadi menyenangkan, sehingga meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dan dapat digunakan sebagai alternatif atau pelengkap buku pelajaran. Komik yang digunakan pada penelitian ini sebelumnya divalidasi terlebih dahulu oleh ahli media, ahli materi dan siswa. Validasi ini bertujuan untuk mengetahui kekurangan- kekurangan komik, sehingga dapat dilakukan perbaikan terhadap komik agar komik layak bila dimanfaatkan sebagai media pembelajaran pada penelitian ini. Untuk mengetahui keefektifan komik sebagai media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Gading, Probolinggo, maka dilakukan pre test dan post test dan dihitung rata-ratanya dan dihitung selisihnya, kemudian dianalisis dengan Gain Score. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis ketuntasan belajar siswa berdasarkan nilai post test. Berdasarkan analisis dengan Gain Score, maka diperoleh nilai Gain Score sebesar 0,34 dan ditentukan bahwa peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan komik sebagai media pembelajaran termasuk dalam kriteria sedang. Hal ini berarti bahwa komik yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran Biologi, cukup efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Gading, Probolinggo. Berdasarkan hasil analisis ketuntasan belajar klasikal siswa, maka diperoleh hasil 64,71% dengan kriteria ketuntasan minimal 65. Hasil analisis ini berarti bahwa ketuntasan belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri Gading Probolinggo setelah penerapan komik dalam proses pembelajaran, termasuk dalam kualifikasi baik; sehingga penerapan komik sebagai media pembelajaran, efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Gading Probolinggo. Peneliti berharap agar para peneliti lain dapat melakukan inovasi dalam dunia pendidikan dengan lebih kreatif dalam membuat media pembelajaran. Peneliti juga berharap agar hasil penelitian ini tidak sekedar penelitian yang sia-sia, semoga penelitian ini dapat dikembangkan dan benar-benar dapat diterapkan di sekolah.

Karakteristik tindak tutur ilokusi dialog film "Ada Apa Dengan Cinta" karya Jujur Prananto / Mariati Salami

 

Tindak tutur merupakan perilaku berbahasa seseorang yang berupa tindak ujaran seseorang dalam situasi atau posisi ujaran tertentu. Tindak tutur dalam situasi atau posisi ujaran tertentu juga digunakan dalam dialog film. Dialog film merupakan proses komunikasi yang cukup unik, karena di dalamnya terdapat proses komunikasi yang tidak wajar seperti proses komunikasi sehari-hari sehingga penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik tindak tutur ilokusi dialog film. Hal ini ditinjau dari (1) wujud tindak tutur ilokusi, (2) fungsi tindak tutur ilokusi, dan (3) modus tindak tutur ilokusi. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahap, yakni (1) observasi, (2) menyimak, (3) mencatat (mentraskrip), (4) klasifikasi data, (5) memasukkan data ke dalam tabel pengumpul data. Sumber datanya berwujud percakapan (dialog) yang dilakukan aktor maupun aktris yang ada dalam film tersebut. Analisis data dilakukan dalam empat langkah, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: pertama, wujud tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam dialog film AADC meliputi (1) kalimat deklaratif yang digunakan dalam dialog film AADC adalah (a) kalimat deklaratif aktif yang digunakan memiliki predikat dengan awalan me- , ber- dan, ng-, serta akhiran ?in. (b) kalimat deklaratif pasif dengan awalan di-, (2) kalimat interogatif yang digunakan adalah (a) kalimat interogatif total, dengan tanggapan mengiyakan, misalnya dengan kata iya, ya, udah, bisa, bagus, masih, boleh, He-em (dengan mengangguk) sedangkan tanggapan menidakkan, misalnya dengan kata enggak, dan au, (b) kalimat interogatif parsial ditentukan berdasarkan sifat objek, misalnya dengan kata tanya siapa, di mana, apa, apaan, buat apa,kenapa, emangnya kenapa, kapan,gimana,dan ke mana, (3) Kalimat perintah (imperatif) yang digunakan yakni (a) imperatif biasa, (b) imperatif permintaan, misalnya dengan kesantunan kata please, (c) imperatif pemberian izin, misalnya dengan kesantunan kata silakan, (d) imperatif ajakan misalnya dengan kesantunan kata ayo, yuk, (e) imperatif suruhan misalnya dengan kesantunan tolong dan ayo, (f) imperatif sindiran, dan (g) imperatif larangan misalnya dengan kesantunan kata jangan dan nggak. Kedua, fungsi tindak tutur ilokusi dialog film AADC adalah (1) fungsi ilokusi asertif antara lain; menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, mengklaim, dan melaporkan, (2) fungsi ilokusi direktif antara lain; memesan, memerintah, memohon, menasihati, merekomendasikan, (3) fungsi ilokusi komisif antara lain; berjanji dan menawarkan sesuatu, (4)fungsi ilokusi ekspresif antara lain; meminta maaf, memuji, berterima kasih, dan mengancam (5) fungsi ilokusi deklarasi yakni menetapkan. Ketiga, modus tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam dialog film AADC adalah (1) modus langsung, (2) modus tidak langsung. Pada bagian penutup disarankan agar insan perfilman yang semula hanya menonjolkan sisi visual hendaknya juga lebih memperhatikan bentuk, fungsi serta modus yang tepat dalam menghasilkan dialog dari setiap adegan film. Pada dasarnya bentuk, fungsi, dan modus sangat erat kaitannya dengan pencapaian karakter setiap tokoh dan unsur yang ada dalam film tersebut. Bagi peminat sastra, diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah khasanah dalam menghasilkan karya sastra dengan mengaitkan maksud tuturan yang berisikan bentuk, fungsi dan modus agar karya sastra yang dihasilkan dapat menyentuh semua lapisan masyarakat, karena pada dasarnya maksud, fungsi, modus karya sastra kadang sulit untuk dimengerti masyarakat umum. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti keseluruhan aspek yang ada dan belum diteliti oleh peneliti saat ini dan perlu diadakan penelitian lanjutan terhadap dialog film dari konteks tuturan yang berbeda setra dari karakteristik tindak tutur yang berbeda pula.

Penjaminan mutu dengan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 di perguruan tinggi (studi multi situs pada STIE Malangkucecwara Malang dan Universitas Narotama Surabaya) / Sugeng Listyo Prabowo

 

Peningkatan mutu Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia merupakan suatu usaha yang secara terus menerus dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga PT itu sendiri. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pemanfaatan sistem manajemen mutu. Penggunaan sistem manajemen mutu di PT merupakan pengadopsian sistem manajemen yang selama ini diterapkan di lembaga-lembaga manufaktur maupun jasa. Pemanfaatan sistem manajemen mutu ini digunakan untuk memastikan bahwa rencana yang telah disusun benar-benar dapat direalisasikan. Kegiatan untuk memastikan bahwa tujuan yang telah direncanakan tersebut benar-benar dapat dicapai disebut dengan kegiatan penjaminan mutu. Dengan adanya kegiatan ini maka akuntabilitas, akreditabilitas serta otonomi lembaga dapat ditingkatkan sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesehatan organisasi (organization health). Uniknya, proses penjaminan mutu tersebut memiliki pedoman baku yang harus dianut oleh suatu organisasi jika menginginkan untuk mendapatkan pengakuan secara internasional, sistem penjaminan mutu tersebut salah satunya adalah sistem ISO 9001:2000. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) latar belakang diimpelementasikannya sistem penjaminan mutu ISO 9001:2000 di PT, (2) prasyarat yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan sistem penjaminan mutu ISO 9001:2000 di PT, (3) kegiatan sosisalisasi yang dilakukan untuk dapat mengimplementasikan sistem penjaminan mutu ISO 9001:2000 di PT, (4) pelaksanaan sistem penjaminan mutu ISO 9001:2000 di PT yang meliputi tahap, persiapan, memulai implementasi, audit mutu internal dan audit eksternal serta sertifikasi, (5) upaya-upaya PT untuk mempertahankan sertifikat ISO 9001:2000, (6) dampak yang ditimbulkan terhadap lembaga sebagai akibat diterapkannya ISO 9001:2000, dan (7) kondisi budaya mutu setelah diimplementasikannya ISO 9001:2000. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan rancangan studi multi situs. Situs yang digunakan dalam penelitian ini adalah STIE Malangkucecwara Malang dan Universitas Narotama Surabaya. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan proses observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Khusus untuk data angket, dalam penelitian ini hanya digunakan untuk mengetahui gejala umum yang terjadi dan juga digunakan sebagai upaya untuk memperkuat hasil pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara. Data yang terkumpul tersebut kemudian diperiksa kebenaran, kecocokan dan kehandalannya melalui proses triangulasi, yang dalam penelitian ini digunakan triangulasi metode dan sumber. Data hasil wawancara di triangulasi dengan data dari dokumen, observasi, dan angket. Selain itu data hasil wawancara dari suatu responden juga dilakukan pengecekan terhadap responden yang lain. Data yang terkumpul kemudian ditabulasi, diberi kode, dimaknai dan kemudian disimpulkan pada setiap situs penelitian, selanjutnya dibandingkan dengan data pada situs penelitian yang lain dan kemudian ditarik kesimpulan akhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang diimplementasikanya ISO 9001:2000 pada PT terteliti memiliki variasi, beberapa alasan memiliki kesamaan namun beberapa alasan berbeda. Alasan-alasan tersebut merupakan wujud dari keinginan atau cita-cita dari pimpinan puncak PT. Prasyarat penting dalam mengimplementasikan ISO 9001:2000 adalah adanya komitmen pimpinan puncak PT dan adanya organisasi khusus yang memiliki kompetensi dalam menangani ISO 9001:2000. Adanya komitmen pimpinan puncak PT sangat diperlukan karena sistem penjaminan mutu dimungkinkan untuk merombak berbagai sistem yang sudah ada sehingga hanya pimpinan puncaklah yang paling memiliki wewenang dalam hal tersebut. Bekaitan dengan proses implementasi walaupun memiliki langkah-langkah pokok yang sama namun secara detail memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut utamanya disebabkan oleh kebijakan yang berbeda pada lembaga sertifikator (pihak ke 3). Proses implementasi merupakan upaya PT untuk melaksanakan fokus rencana yang telah ditetapkan secara disiplin dengan bantuan dari lembaga sertifikator dengan mengimplementasikan siklus PDCA. Pengimplementasian siklus PDCA ini merupakan upaya lembaga ISO agar supaya PT yang menerapkan sistem penjaminan mutu ISO dapat melaksakan pengembangan secara berkelanjutan (continuous improvement). Upaya-upaya PT terteliti dalam menjaga sertifikat ISO 9001:2000 yang telah diperolehnya memiliki banyak kesamaan. Pada dasarnya upaya untuk mempertahankan sertifikat ISO di PT adalah dengan selalu berupaya untuk menepati ?janji? PT yang telah dinyatakan dalam dokumen mutu ISO, melaksanakan perbaikan secara berkelanjutan dan dilaksanakannya kegiatan surveillance dari lembaga sertifikator ISO secara periodik. Dampak yang ditimbulkan akibat diimplementasikannya ISO 9001:2000 terhadap lembaga dari kedua PT terteliti memiliki perbedaan, namun demikian keduanya memiliki dampak positif dan negatif. Sedangkan budaya mutu yang berkembang pada kedua PT terteliti masih dalam kondisi sedang. Hasil dari kesimpulan pada penelitian ini memiliki beberapa implikasi, yaitu implikasi teoritis, kepemimpinan dan manajemen. Pada implikasi teoritis, penelitian ini menunjukkan bahwa mutu harus didorong dari mutu sebagai tanggung jawab lembaga menuju mutu menjadi tanggung jawab individu dalam upaya mendorong PT dapat berkembang secara berkelanjutan dan menghasilkan produk yang unggul. Pada implikasi kepemimpinan penelitian ini menunjukkan bahwa pemimpin PT harus merubah paradigma menuju kepemimpinan yang berorientasi kompetitif, dan membudayakan perilaku bekerja karyawan untuk bekerja secara terbuka, bekerja secara terpercaya dan bekerja secara mandiri. Sedangkan implikasi dalam bidang manajemen adalah pentingnya manajemen membangun sistem informasi yang baik, untuk mengalirkan data dari tempat kerja ke para manajer PT, menumbuhkan gaya kerja atau perilaku para karyawan dalam organisasi terhadap kedisiplinan dan ketaat asazan, serta berorientasi pada sistem kerja PDCA. Mendasarkan pada temuan ini diharapkan Ditjen Dikti membuat kebijakan yang lebih operasional yang berkaitan dengan klausul-klausul yang harus ada dalam penjaminan mutu di PT, serta mengembangkan sistem penjaminan mutu untuk kegiatan riset, mengingat berbagai standar internasional PT menempatkan riset dalam komponen yang paling penting, selain proses pendidikan dan pengajaran.

Pengaruh budaya organisasi, ketrampilan manajerial kepala sekolah dan pelaksanaan fungsi pengawasan terhadap kinerja guru-guru ekonomi SLTA di Kota dan Kabupaten Blitar / Suwarni

 

Studi ilmiah yang dilakukan untuk memberikan masukan bagi perbaikan mutu pendidikan SLTA di negara ini nampak belum banyak yang dipublikasikan, jika diperhatikan, penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menengah Tingkat Atas memiliki nilai yang amat strategis karena memberikan input kepada dua bidang terpenting. Pertama adalah dunia pendidikan tinggi memerlukan input yang berkualitas baik dari SLTA untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lulusannya agar mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia kerja yang semakin selektif dan kompetitif saat ini. Kedua adalah masyarakat dan dunia kerja menengah memerlukan lulusan SLTA yang berkualitas untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja pada level tersebut. Mengacu kepada dua tuntutan di atas, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian ini guna memberikan masukan kepada pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Yayasan Penyelenggara Pendidikan serta para Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan SLTA di kota dan kabupaten Blitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Pengaruh budaya organisasi terhadap ketrampilan manajerial Kepala Sekolah SLTA di kota dan kabupaten Blitar (2) Pengaruh budaya organisasi dan ketrampilan manajerial Kepala Sekolah terhadap pelaksanaan pengawasan Kepala Sekolah SLTA di Kota dan kabupaten Blitar (3) Pengaruh budaya organisasi, ketrampilan manajerial dan pelaksanaan pengawasan Kepala Sekolah secara simultan terhadap kinerja guru-guru ekonomi SLTA di kota dan kabupaten Blitar. Subyek penelitian terdiri dari 111 orang guru ekonomi kemudian diambil sampel secara random sampling terpilih 57 orang guru-guru ekonomil. Penelitian ini menggunakan metode kuesioner dengan skala Likert 5 opsi jawaban, serta didukung oleh metode dokumentasi untuk mendukung kelengkapan pembahasannya. Analisis data yang digunakan adalah Regresi Berganda (analisis jalur) dengan bantuan SPSS 13.00 for Window. Hasil penelitian mengenai Pengaruh Budaya organisasi, Ketrampilan Manajerial Kepala Sekolah Dan Pelaksanaan Pengawasan Dengan Kinerja guru-guru Ekonomi SLTA di Kabupaten Blitar. ini dilakukan pada subyek penelitian, yaitu guru-guru ekonomi di kota dan Kabupaten Blitar. Penelitian berhasil mengambil data dari 57 orang responden, (1) dengan komposisi 20 orang guru ekonomi SLTA di kota dan Kabupaten Blitar untuk jenis kelamin laki-laki dan 37 orang untuk jenis kelamin perempuan, masa kerja kurang dari 5 tahun sebesar 6 orang, 5-10 tahun sebesar 9 orang, 10-15 tahun sebesar 12 orang dan lebih dari 15 tahun 30 orang, status sekolah untuk sekolah negeri 14 buah sedang sekolah swasta 15 buah sekolah, lokasi sekolah yang berdomisisli di kota 14 sekolah dan yang berdomisili Kabupaten 15 sekolah, beban mengajar kurang dari 10 jam sebesar 4 orang , 11-15 jam sebesar 14 orang , 16-20 jam sebesar 12 orang, 21-30 jam sebesar 27 orang. (2) Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel budaya organisasi terhadap variabel ketrampilan manajerial Kepala Sekolah SLTA di kota dan Kabupaten Blitar dengan R Square 50,2 %. Hal ini berarti bahwa 50,2 % perubahan pada varaibel ketrampilan manajerial Kepala Sekolah di kota dan Kabupaten Blitar disebabkan oleh perubahan variabel budaya organisasi, sedangkan 49,8 .% disebabkan oleh faktor lain diluar variabel budaya organisasi.(3) Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel budaya organisasi dan variabel ketrampilan manajerial terhadap pelaksanaan pengawasan Kepala Sekolah SLTA di kota dan Kabupaten Blitar dengan R Square 84,6 %. Hal ini berarti bahwa 84,6 % perubahan pada varaibel pelaksanaan pengawasan Kepala Sekolah disebabkan oleh perubahan variabel budaya organisasi dan ketrampilan manajerial, sedangkan19,4 % disebabkan oleh faktor lain diluar variabel budaya organisasi dan ketrampilan manajerial Kepala Sekolah SLTA di kota dan Kabupaten Blitar. (4) Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel budaya organisasi, variabel ketrampilan manajerial dan pelaksanaan pengawasan Kepala Sekolah SLTA di kota dan Kabupaten Blitar terhadap variabel kinerja guru-guru ekonomi di kota dan kabupaten Blitar dengan R Square 90,6 %. Hal ini berarti bahwa 90,6 % perubahan pada variabel kinerja guru-guru ekonomi di kota dan Kabupaten Blitar disebabkan oleh perubahan variabel budaya organisasi, ketrampilan manajerial dan pelaksanaan pengawasan, sedangkan 9,4 % disebabkan oleh faktor lain diluar variabel budaya organisasi, ketrampilan manajerial dan pelaksanaan pengawasan Kepala Sekolah SLTA di kota dan Kabupaten Blitar. Saran-saran yang diajukan adalah sebagai berikut : (1) Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan serta manajemen di sekolah perlu memberikan perhatian khusus pada pengelolaan faktor budaya organisasi di sekolah yang dipimpinnya. Hal ini didasarkan atas temuan dalam penelitian ini yang mengungkapkan adanya hubungan pengaruh yang kuat antara budaya organisasi dengan semua aspek kegiatan yang dilakukan di sekolah. Jika kepala sekolah dalam kepemimpinan di sekolah dapat mengelola aspek budaya organisasi dengan baik, maka guru-guru dan staf administrasi, bahkan juga para siswa berada di dalam suasana belajar yang penuh semangat, aktif dan terfokus pada pencapaian kinerjanya masing-masing. (2) Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa ketrampilan manajerial kepala sekolah dapat memberikan sumbangan yang cukup efektif terhadap fungsi pelaksanaan pengawasan dan kinerja dari para guru ekonomi di sekolah. Sehubungan dengan kenyataan itu, maka pihak pengelola pendidikan baik di tingkat propinsi maupun kabupaten dan kota di prpinsi Jawa Timur perlu merumuskan dan mengiplementasikan kegiatan yang bertujuan mengefektifkan dan meningkatkan kemampuan manajerial kepala sekolah SLTA di kabupaten dan kota Blitar. Para kepala sekolah SLTA di kabupaten dan kota Blitar akan lebih termotivasi jika ada perhatian untuk meningkatkan peranan dan kompetensi mereka secara terus menerus dalam melaksanakan tugas-tugas manajerial kepemimpinannya. Upaya demikian memungkinkan kinerja kepemimpinan sebagaimana terungkap dalam penelitian ini dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. (3) Fungsi pengawasan memberikan peluang kepada kepala sekolah untuk mengetahui keberhasilan dan mengadakan suatu program yang dikerjakan oleh para guru. Sehubungan dengan hal itu para kepala SLTA di kabupaten dan kota Blitar diharapkan semakin meningkatkan frekwensi pelaksanaan program pengawasan di sekolah sebagai salah satu cara untuk memaksimalkan kinerja guru ekonomi dalam mengajar Untuk mencapai maksud itu perlu adanya keterbukaan dari kepala sekolah dalam hal memanfaatkan para ahli pendidikan semaksimal mungkin, baik dari kantor dinas, dan perguruan tinggi terkait. Melalui upaya demikian, semua aktifitas yang terkait dengan pengembangan profesi dan kompetensi guru dikelola secara efektif.

Pengaruh faktor-faktor organisasional terhadap kinerja dosen pendidikan ekonomi (studi pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan negeri di Jawa Timur) / Supriyanto

 

Pada era globalisasi dan pasar bebas yang terjadi saat ini, manusia dihadapkan pada berbagai perubahan yang tidak menentu. Kondisi tersebut telah mengakibatkan hubungan yang tidak linier antara pendidikan dan lapangan kerja. Employee outcomes yang baik diharapkan dapat menjadi alternatif solusi hubungan yang tidak linier antara pendidikan dan lapangan kerja. Penelitian ini berangkat dari kepuasan kerja dan kinerja sebagai employee outcomes. Kepuasan kerja menjadi variabel mediator (mediator variable) yang memediasi pengaruh sejumlah variabel independen terhadap kinerja. Dalam hal ini, sejumlah variabel independen, yang terdiri atas budaya organisasi (organizational culture), dukungan organisasi (organizational support), hubungan atasan bawahan (leader-member exchange), dan keadilan organisasi (organizational justice) disebut sebagai faktor-faktor organisasional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor-faktor organisasional baik terhadap kepuasan kerja maupun kinerja. Penelitian ini menggunakan rancangan survei. Populasi penelitian ini adalah semua dosen tetap pendidikan ekonomi perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, yaitu Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Jember yang berjumlah 181 dosen. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik stratifikasi (stratified random sampling), di mana stratifikasi didasarkan atas jabatan akademik dosen, yaitu asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan guru besar. Besar sampel ditentukan berdasarkan formula Daniel dan Terrel (1989) dan terpilih 79 dosen sebagai sampel penelitian. Penelitian ini mengadaptasi sejumlah instrumen pengukuran variabel, yakni instrumen budaya organisasi dari O?Reilly et al., instrumen dukungan organisasi dari Eisenberger et al., instrumen hubungan atasan-bawahan dari Scandura dan Graen, instrumen keadilan organisasi dari Niehoff dan Moorman, dan instrumen kepuasan kerja (Minnesota Satisfaction Questionnaire versi ringkas) dari Moorman. Sebagai catatan bahwa pengadaptasian instrumen di atas merujuk instrumen versi bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Djatmika (2005). Akhirnya, instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja dosen dikembangkan sendiri oleh peneliti berdasarkan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang tercermin dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan penulisan karya ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan penunjuang lainnya. Instrumen penelitian di atas divalidasi berdasarkan validitas isi (content validity), dan diuji reliabilitasnya dengan mengikuti prosedur Cronbach-Alpha. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan statistical software SPSS for Windows Release 11.00. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja, (2) terdapat pengaruh dukungan organisasi terhadap kepuasan kerja, (3) terdapat pengaruh hubungan atasan-bawahan terhadap kepuasan kerja, (4) terdapat pengaruh keadilan organisasi terhadap kepuasan kerja, (5) terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja, (6) terdapat pengaruh dukungan organisasi terhadap kinerja, (7) terdapat pengaruh hubungan atasan-bawahan terhadap kinerja, (8) terdapat pengaruh keadilan organisasi terhadap kinerja, dan (9) terdapat pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja. Kesembilan pengaruh tersebut dapat disatukan menjadi empat pengaruh yang lebih utuh yaitu, (1) terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja secara langsung, dan secara tidak langsung melalui kepuasan kerja, (2) terdapat pengaruh dukungan organisasi terhadap kinerja secara langsung, dan secara tidak langsung melalui kepuasan kerja, (3) terdapat pengaruh hubungan atasan-bawahan terhadap kinerja secara langsung, dan secara tidak langsung melalui kepuasan kerja, dan (4) terdapat pengaruh keadilan organisasi terhadap kinerja secara langsung, dan secara tidak langsung melalui kepuasan kerja. Menindaklanjuti hasil analisis data sebagai temuan penelitian, melalui penelitian ini disampaikan sejumlah saran seperti berikut ini. Pertama, peningkatan kinerja dosen dapat dicapai melalui peningkatan/perbaikan variabel-variabel yang menjadi prediktornya, yaitu budaya organisasi, dukungan organisasi, hubungan atasan-bawahan, keadilan organisasi, dan kepuasan kerja. Fokusnya adalah mendahulukan perbaikan kepuasan kerja sebagai variabel mediator kinerja. Kedua, penelitian di masa datang diharapkan dapat menjangkau populasi yang lebih luas, misalnya menjangkau sejumlah provinsi lain selain Jawa Timur. Tujuannya agar penelitian serupa dapat memberikan hasil yang lebih general mengenai keberadaan kinerja dosen beserta sejumlah prediktornya. Ketiga, penelitian di masa datang diharapkan dapat menghasilkan peningkatan kualitas pengukuran variabel (budaya organisasi, dukungan organisasi, hubungan atasan-bawahan, keadilan organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja). Maksudnya bahwa pemenuhan persyaratan validitas pengukuran tidak hanya memenuhi persyaratan validitas isi, melainkan juga menjangkau pemenuhan persyaratan validitas konstruk (construct validity).

Pengaruh metode pembelajaran kooperatif dan keterampilan sosial terhadap perolehan belajar dan sikap sosial pada siswa sekolah dasar kelas V / Suhirman

 

This research was aimed at (1) analyzing and describing the differences of learning achievement between the group of students using STAD learning method and the group of students using Jigsaw learning method; (2) describing learning achievement differences between the group of students having high social skills and the group of students having low social skills; (3) explaining the interactive effects between the implementation of cooperative learning methods (STAD vs Jigsaw), and the levels of social skills (high and low) toward the learning achievement; (4) analyzing and describing the social attitude differences between the group of students using STAD learning method and the group of students using Jigsaw learning method; (5) describing the social attitude differences between the group of students having high social skills and the group of students having low social skills; and (6) explaining the interactive effects between the implementation of cooperative learning methods (STAD vs Jigsaw) and the levels of social skills (high and low) toward the social attitude differences.

Kinerja penilik sebagai tenaga fungsional PLS (studi kasus: ketidakaktifan penilik dalam melaksanakan tugas pokok penilik di Kab. Mojokerto) / Tanti Lulus U.

 

Penilik sebagai tenaga fungsional Pendidikan Luar Sekolah menuntut seseorang untuk bekerja secara profesional dibidangnya. Di samping ita tugas kepenilikan menuntut kemampuan khusus dari seorang Penilik. Kemampuan khusus tersebut meliputi merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing dan melaporkan kegiatan penilikan PLS, membedakan tugas Penilik dengan profesi lainnya. Kenyataan di Iapangan menunjukkan Penilik di Kabupaten Mojokerto sebagai tenaga fungsional PLS belum memenuhi persyaratan khusus sebagai seorang Penilik sehingga menyebabkan ketidakaktifannya dalam melaksanakan tugas pokok dan hal inilah yang melatarbelakangi penelitian dalam tesis ini. Fokus peneiitian berusaha mengungkap apa sebenarnya yang melatarbelakangi ketidakaktifan penilik dalam melaksanakan tugas pokok. Selebihnya penelitian ini ingin mengungkap makna yang dikonstruksikan dari ketidakaktifan penilik dalam melaksanakan tugas di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Untuk perolehan data dilakukan dengan teknik wawancara, pengambilan peran serta/observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah Penilik di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto yang lidak aktif dalam melaksanakan tugas. Subjek penelitian yang dijadikan informal* diperoleh dengan menggunakan teknik sample bertujuan. Sedangkan Ka Sub Din PLSPO, Kasi PLS dan Ka. Cab. Din dan Staf Sub Din merupakan informan tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kerja Penilik di Kabupaten Mojokerto ada dua pola kerja yaitu aktif dan tidak aktif ditinjau dari aspek moral dan disiplin kerja. Hal-hal yang menjadi alasan ketidakaktifan Penilik dalam melaksanakan tugas adalah (1) belum memiliki kemampuan melaksanakan tugas, (2) pengaruh teman seprofesi dan (3) ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan merupakan alasan yang dikonstruksikan adalah perampingan tugas dan kekecewaan. Bertolak dari hasil penelitian disarankan kepada pihak yang berwenang memberi tugas dan mengangkat Penilik untuk mendesain program Diklat peningkatan kemampuan penilik secara rutin serta menerapkan pembagian tugas secara merata sesuai kemampuan Penilik dan potensi wilayah kerja.

Pengaruh penggunaan analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe stad terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang pada materi pokok laju reaksi / Muhajir

 

Penguasaan ilmu kimia yang mantap selama siswa menjalani pendidikan perlu ditekankan, sebab hal itu sangat menentukan keunggulan kompetitif manusia Indonesia di masa yang akan datang. Penerapan metode pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik seperti model analogi bergambar dan pembelajaran kooperatif tipe STAD ditengarai mampu menjembatani pemahaman siswa kearah yang lebih baik. Fokus penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan: (1) Adakah perbedaan hasil belajar siswa antara yang diajar dengan model analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD saja, (2) Apakah respon siswa cenderung positif atau negatif, pada pembelajaran dengan model analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan pembelajaran kooperatif tipe STAD saja. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan penelitian kuasi eksperimental. Terdapat dua kelompok sampel yang terdiri dari satu kelompok ekperimen yaitu menggunakan model analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan satu kelompok kontrol menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD saja. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPA semester I SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, Kota Malang, Jawa Timur, tahun pelajaran 2007/2008 sebanyak 86 siswa yang tersebar pada dua kelas, dengan materi laju reaksi. Data hasil belajar siswa dikumpulkan dan dianalisis dengan uji t. Data hasil observasi pembelajaran dianalisis secara deskriptif. Hasil yang diperoleh adalah: (1) Hasil belajar siswa yang diajar dengan model analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dari hasil siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD saja, (2) Respon rata-rata siswa terhadap pembelajaran dengan model analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 72,75%, tergolong positif; pada pembelajaran kooperatif tipe STAD saja sebesar 68,36%, tergolong positif. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan model analogi bergambar melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah lebih baik daripada pembelajaran kooperatif tipe STAD saja. Mengacu pada hasil penelitian ini, disarankan bahwa penggabungan model analogi bergambar dan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam satu paket pembelajaran perlu terus dilanjutkan untuk materi-materi kimia yang lain. Hal ini juga berlaku untuk metode-metode pembelajaran lain yang bersesuaian untuk diterapkan bersama-sama, sebab variasi pembelajaran semacam ini benar-benar melibatkan aktivitas mental siswa sebagai pebelajar.

Pelaksanaan kegiatan jasa perbankan dalam menyortir uang untuk diedarkan kembali ke masyarakat pada PT. BCA. Tbk Kantor Cabang Pembantu Batu Malang / Silvia Eka Jayanti

 

Dewasa ini sektor jasa mengalami perkembangan yang pesat. Semakin banyak perusahaan jasa yang masuk ke pasar dan menyebabkan terjadinya persaingan yang ketat. Salah satu bentuk perusahaan yang memberikan jasa adalah Bank. Menurut Undang-Undang RI no. 10 tahun 1998 (dalam Kasmir, 2002:23) bank secara sederhana dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya serta memberikan jasa perbankan yang lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. untuk saat ini maupun di masa yang akan datang, kita tidak akan dapat terlepas dari dunia perbankan jika hendak menjalankan aktivitas keuangan, karena hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai kegiatan keuangan selalu membutuhkan jasa bank. Salah satu bentuk jasa Bank yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah jasa penyortiran uang. Pelaksanaan kegiatan jasa ini bertujuan untuk membantu menghindarkan nasabah dalam memperoleh uang palsu dan uang lusuh serta mengurangi jumlahnya yang beredar di masyarakat karena banyaknya kasus uang palsu yang saat ini sedang maraknya terjadi di sekitar kita dan masyarakat masih belum dapat mengenali betul ciri-ciri uang palsu dan uang asli, serta tidak terlalu memperdulikan banyaknya uang lusuh yang seharusnya tidak layak lagi untuk beredar. Kegiatan jasa penyortiran ini dapat kita temukan pada semua bank, karena ini merupakan suatu bentuk peraturan dari Bank Indonesia. Salah satu bank yang melaksanakan kegiatan ini adalah PT. BCA Tbk KCP Batu Malang, Tempat dimana penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan. Untuk pecahan dan nominal uang yang di sortir adalah uang kertas mulai dari nominal Rp. 1000, Rp. 5000, Rp. 10.000, Rp. 20.000, Rp. 50.000 dan Rp. 100.000, yang cara penyortiran dari masing-masing nominal uang berbeda. Langkah-langkah yang dilalui sebelum uang beredar kembali ke masyarakat dan sebelum masuk ke mesin ATM juga harus dilakukan dengan sangat ketat untuk menghindarkan adanya uang palsu dan uang lusuh supaya tidak beredar kembali ke masyarakat. Penyortiran dilakukan sebanyak tiga kali yang pertama uang disortir oleh teller dengan sinar ultraviolet, yang kemudian disetorkan ke petugas sortir dihitung dahulu menggunakan mesin kipas dan yang terakhir di sortir lagi oleh Pimpinan/Kabag dihitung dengan menggunakan mesin kipas. Uang yang bagus akan diedarkan kembali ke masyarakat, sedangkan uang yang lusuh akan dikirim ke Bank Indonesia untuk dimusnahkan. Untuk penggunaan mesin penyortiran antara Bank Umum dan Bank Indonesia sangat berbeda. Bank Indonesia menggunakan mesin yang sangat canggih, sedangkan Bank Umum masih menggunakan tenaga manusia, yaitu petugas pada bagian sortir uang.

Kajian penggunaan metode sack gabion terhadap penggerusan (scouring) pada pilar jembatan berbentuk bulat / Arifianto

 

Penelitian di bidang gerusan air pada pilar jembatan (scouring) menjadi fokus yang menarik perhatian para Ahli Hidroulik saat ini. Menurut Kepala Subdin PU. Pengairan Ir. Kasir Sahuri keretakan pada pilar jembatan diakibatkan oleh pengaruh gerusan air pada lapisan paling bawah yang menyebabkan gugurnya tebing dan amblasnya batu sack gabion akibat perubahan arus air sungai. Penggunaan batu sack gabion adalah salah satu dari upaya untuk mencegah penggerusan (scouring) pada pilar jembatan, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian : (1) sistem pelindung; (2) sistem pengaruh gerusan (Kim, 2002). Jenis-jenis sistem pelindung dari gerusan salah satunya adalah sack gabion. Sedangkan jenis-jenis pengaruh gerusan meliputi antara lain kolom pelindung, pelat pelindung, sacrificial piles, lowa vanes, flow deflector, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemasangan sack gabion yang efektif untuk mencegah gerusan pada pilar jembatan dan untuk mengetahui ukuran dimensi sack gabion yang efektif untuk mencegah gerusan. Variabel yang dipakai adalah pola pemasangan dan dimensi yang efektif. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hidroulika dan Mekanika Tanah Universitas Negeri Malang Jurusan Teknik Sipil, mulai bulan Juli 2005 sampai dengan bulan Agustus 2005. Pengumpulan data berdasarkan pada pengujian dari masing-masing variabel yang diteliti. Hasil penelitian yang dilakukan dengan berbagai alternatif dimensi sack gabion yaitu semakin panjang (p) sack gabion maka semakin dalam gerusan (ds). Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Yoom dan Kim (2002). Mereka berpendapat bahwa semakin panjang ukuran sack gabion maka semakin kecil kedalaman gerusan. Terbatasnya ketelitian alat ukur dan media penelitian menyebabkan pengukuran kurang akurat. Dapat disimpulkan bahwa pola pemasangan sack gabion yang efektif dalam penelitian ini adalah terpendam penuh di dasar sungai yang memberikan hasil kedalaman gerusan yang lebih kecil bila dibandingkan dengan pola pemasangan sack gabion yang terletak di atas permukaan dasar sungai dan setengah terpendam, disebabkan karena pola ini mampu meredusir energi kinetik dan meningkatkan tegangan geser permukaan dasar sungai.

Alat perbaikan faktor daya beban induktif pada sistem listrik satu fasa 2200 VA / Sigit Sandjaja

 

Menurunnya nilai faktor daya dalam suatu sistem tenaga listrik adalah sebuagh masalah yang harus diminimalkan. Pasalnya, dengan menurunnya faktor daya, baik konsumen dan pemasok energi listrik sama-sama akan mengalami kerugian. Bagi konsumen, kerugiantersebut antara lain; tegangan sistem menjadi drop, pasokan daya tidak bisa dimaximalkan dan klimaksnya adalah pembengkakan tagihan rekening bulanan. Sedangkan bagi pemasok, kerugiannya tersebut adalah naiknya rugi-rugi daya. Faktor yang memmpengaruhi turunnya faktor daya adalah pemakaian beban induktif oleh konsumen. Untuk mengatasinya adalah dengan menambahkan kapasitor kompensator ke sistem dengan tepat. Alat perbaikan faktor daya dalam proyek akhir ini dirancang untuk merealisasikan hal tersebut. Selain itu pula, alat juga dirancang untuk bisa menampilkan faktor daya sistem secara digital. Dalam perancagan alat perbaikan faktor daya ini, permasalahan yang diangkat meliputi: () Cara pendeteksian arus, tegangan, sudut φ secara elektronik (2) Cara mikrokontroller mengontrol kapasitor kompensator dengan tepat (5) Cara mikrokontroller menampilkan nilai faktor daya sistem (6) Cara pengujian kinerja alat baik secara perblok dan keseluruhan. Selain itu pula, dalam perancangan alat ini juga diberikan beberapa batasan masalah sebagai berikut: (1) Arus maximum beban 10 A dengan tegangan 220 V (2) Daya re aktif minimum yang bisa diperbaiki adalah sebesar (3) Beban reatif ayang bisa diperbaiki adalah beban induktif. Untuk merealisasikan alat perbaikan faktor daya ini, metode yang dikembangkan adalah sebagai berikut: (1) Studi literatur (2) Perancangan alat (3) Cara pengujian alat, baik secara perblok dan keseluruhan (4) Pemaparan hasil pengujian beserta deskripsi analisis hasil pengujian. Dari hasil pengujian beserta analisisnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Pendeteksian arus beban bisa dilakukan dengan menggunakan resistor kawat, pendeteksian tegangan sistem bisa dilakukan dengan menggunakan rangkaian resistor pembagi tegangan, sudut φ bisa dideteksi dengan menggunakan zero crossing detector yang bekerja sama dengan rangkaian ex-or gate (2) Mikrokontroller dapat mengetahui tipe beban dengan melihat bagaimana terjadinya selisih fasa antara sinyal arus dan tegangan (3) VRMS dan IRMS dapat dihitung dengan cara mensampling sinyal ketika berharga maximum dan kemudian dikalibrasi dengan beberapa proses aritmatik sedangkan sudut φ bisa dihitung dengan cara menghitung lebar pulsa yang dikeluarkan oleh rangkaian ex-or gate (4) Mikrokontroller dapat mengontrol kapasitor secara tepat dengan cara melihat tipe beban kemudian membandingkan VAR beban dengan VAR ? kapasitor (5) Mikrokontroller dapat menampilkan faktor daya sistem secara digital dengan cara multiplexing (6) Secara per blok alat menunjukkan inerja yang bagus dengan tingkat error yang kecil dan secara keseluruhan alat perbaikan faktor daya dapat memperbaiki faktor daya dari 0,20 menjadi 0,80 sekaligus dapat mengontrol kapasitor dengan tepat secara otomatis.

Pengukuran kinerja dengan balanced scorecard bagi manajemen PDAM Kota Kediri / Sri Mariani

 

Pembangunan nasional telah dilaksanakan dalam suatu sistem yang sistematis sehingga diharapkan efektifitas dan efisiensi yang tinggi. Namun masih terdapat kendala dalam pengelolaan hasil pembangunan khususnya sektor air bersih. Seiring bertambahnya penduduk di Indonesia serta pertumbuhan ekonominya terjadi peningkatan kebutuhan akan prasarana air minum yang semakin meningkat dan waktu ke waktu, baik dan segi penyediaannya, kuantitas maupun kualitasnya. Usaha untuk mencapai sasaran penyediaan air minum, diperlukan suatu strategi yang tepat, mobilisasi potensi pemerintah, peran serta masyarakat serta kerja keras dari semua unsur yang terkait. Pada hakikatnya pengukuran kinerja merupakan pengukuran yang seimbang (balance), terintegrasi dan disusun untuk mengetahui variabel-variabel kritis dalam input, proses dan output dalam suatu organisasi dalam suatu perusahaan. Balanced scorecard memiliki keistimewaan dalam hal cakupan pengukurannya, karena selain mempertimbangkan kinerja keuangan, balanced scorecard juga mempertimbangkan kinerja non keuangan. Dengan adanya balanced scorecard ini, maka seorang manajer akan dapat menilai kinerja perusahaan dengan lebih baik serta mampu meningkatkan efektifitas seluruh karyawan sehingga tujuan utama perusahaan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan hasil yang maksimal. Penelitian yang berjudul Pengukuran Kinerja dengan Balanced Scorecard Bagi Manajemen ini dilakukan di PDAM Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif, yaitu memaparkan indikator perspektif keuangan dan non keuangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan metode balanced scorecard dengan keempat perspektifnya yaitu perspektif keuangan (quick ratio, current ratio, ROl dan ROE), perspektif pelanggan (customer retention, growth rate in revenue dan customer acquisition), perspektif proses internal bisnis(inovasi, yield rate, MCE, dan layanan purna jual), dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (employee turnover dan employee absenteeism). Hasil analisis dan perspektif keuangan menunjukkan indikator ROl yang mengalami fluktuasi yang cukup berarti ini perusahaan kurang dapat menggunakan aktiva lebih efisien dalam menghasilkan laba, sedangkan indikator lainnya mengalami kenaikan terus. Berdasarkan indikator perspektif pelanggan menunjukkan bahwa perusahaan dapat meningkatkan jumlah pelanggan baru. Sedangkan perspektif proses internal bisnis sudah menunjukkan kinerja PDAM yang cukup baik. Indikator pembelajaran dan pertumbuhan bisa dikatakan baik, karena karyawan sudah memiliki kesadaran dalam melaksanakan tanggung jawab dan mempunyai loyalitas terhadap perusahaan. Saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) pihak perusahaan hendaknya lebih meningkatkan volume penjualan air bersih (2) perusahaan hendaknya lebih meningkatkan promosi dengan memperluas distribusi saluran air dan meningkatkan kualitas pelayanan, sarana dan prasarana yang ada; (3) hendaknya perusahaan lebih meningkatkan efektifitas waktu pelayanan kepada pelanggan dan menekan tingkat kehilangan air; dan yang terakhir (4) hendaknya perusahaan mampu menciptakan suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pihak perusahaan dan karyawan.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap loyalitas konsumen menonton film di bioskop Matos 21 Malang / Damayanti Wismaningtyas

 

Pada era modern seperti saat ini, dimana tingkat stress masyarakat menjadi lebih tinggi karena tuntutan pekerjaan dan aktivitas mereka, hiburan dipandang menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mengurangi tingkat stress mereka. Hal inilah yang menyebabkan semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang hiburan. Salah satu bentuk usaha agar mampu bersaing dan menciptakan pelanggan-pelanggan yang loyal adalah dengan menerapkan strategi bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, tempat, promosi, orang, proses dan bukti fisik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran obyektif tentang: (1) pengaruh bauran pemasaran secara parsial terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (2) pengaruh bauran pemasaran secara simultan terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (3) variabel yang berpengaruh dominan terhadap loyalitas konsumen dalam menonton film di Bioskop Matos 21 Malang. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengaruh bauran pemasaran terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang. Variabel bebas (X) pada penelitian ini adalah produk (X1), harga (X2), tempat (X3), promosi (X4), orang (X5), proses (X6), dan bukti fisik (X7), sedangkan untuk variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah loyalitas konsumen. Populasi penelitian ini penonton di Bioskop Matos 21 Malang dengan mengabil sampel sebanyak 92 penonton di Bioskop Matos 21 Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan purposive sampling. Dalam penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan hasil 92 responden. Data diperoleh dengan menggunakan angket atau kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi. Setelah melalui proses pengolahan data dengan regresi linier berganda maka pada penelitian ini menyatakan: (1) nilai variabel produk adalah 0,201, nilai thitung = 2,791, signifikansi t = 0,006, SE = 8,47%, membuktikan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara produk terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (2) nilai variabel harga adalah 0,167, nilai thitung = 2,818, signifikansi t = 0,006, SE = 8,64%, membuktikan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara harga terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (3) nilai variabel tempat adalah 0,165, nilai thitung = 3,015, signifikansi t = 0,003, SE = 9,73%, membuktikan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara tempat terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (4) nilai variabel promosi adalah 0,121, nilai thitung = 2,079, signifikansi t = 0,041, SE = 4,88%, membuktikan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara promosi terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (5) nilai variabel orang adalah 0,171, nilai thitung = 2,854, signifikansi t = 0,005, SE = 8,82%, membuktikan bahwa ada pengaruh positf yang signifikan antara orang terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (6) nilai variabel proses adalah 0,146, nilai thitung = 2,247, signifikansi t = 0,027, SE = 5,66%, membuktikan bahwa ada pengaruh postif yang signifikan antara proses terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (7) nilai variabel bukti fisik adalah 0,160, nilai thitung = 2,396, signifikansi t = 0,019, SE = 6,4%, membuktikan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara bukti fisik terhadap loyalitas konsumen pada taraf kepercayaan 95%; (8) F = 80,966, signifikansi F = 0,000 dan Adjusted R Square sebesar 86% membuktikan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara bauran pemasaran terhadap loyalitas konsumen secara simultan; (9) Tempat merupakan variabel yang memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas konsumen, hal ini dapat dilihat dari SE sebesar 9,73%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan: (1) ada pengaruh yang positif dan signifikan produk terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (2) ada pengaruh yang positif dan signifikan harga terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (3) ada pengaruh yang positif dan signifikan tempat terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (4) ada pengaruh yang positif dan signifikan promosi terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (5) ada pengaruh yang positif dan signifikan orang terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (6) ada pengaruh yang positif dan signifikan proses terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (7) ada pengaruh yang positif dan signifikan bukti fisik terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang; (8) ada pengaruh positif dan signifikan bauran pemasaran terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang secara simultan; (9) tempat merupakan variabel yang memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas konsumen menonton film di Bioskop Matos 21 Malang. Saran dari peneliti ini adalah: (1) meningkatkan kualitas suara, gambar dan lebih memperhatikan pengaturan volume suara; (2) menerapkan harga tiket yang kompetitif; (3) meningkatkan kegiatan sponsorship dan mengembangkan strategi promosi yang lain; (5) mengadakan pelatihan terhadap pegawai guna meningkatkan kualitas pelayanan; (6) memberikan fasilitas yang lebih lengkap seperti menyediakan tempat duduk di ruang lobby; (7) mempertahankan letak gedung bioskop di dalam mall tersebut.

Hubungan kekuatan otot lengan dan kelentukan togok dengan keterampilan servis atas bola voli pada pemain putra klub Gajayana Malang / Bondan Ariansyah R.

 

Bolavoli merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang banyak penggemarnya. Untuk dapat melakukan permainan bolavoli maka perlu penguasaan teknik dasar yang meliputi servis, passing, smash, dan block. Servis merupakan teknik dasar yang penting, karena servis merupakan modal dasar dalam mengawali permainan. Teknik servis terbagi dua: (1) Servis Bawah, (2) Servis Atas. Untuk menunjang keterampilan servis atas tersebut dibutuhkan komponen kondisi fisik yang bagus seperti kekuatan otot lengan dan kelentukan togok. Dengan adanya kekuatan otot lengan dan kelentukan togok yang bagus diharapkan servis atas dapat dilakukan dengan sempurna. Oleh karena itu kedua komponen tersebut menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji ada tidaknya hubungan antara kekuatan otot lengan dan kelentukan togok dengan keterampilan servis atas. Rancangan penelitian adalah korelasional. Subjek penelitian ini adalah tim putra klub bolavoli Gajayana Malang, yang berjumlah 30 orang pemain. Penelitian ini dilakukan di lapangan bolavoli kompleks stadion Gajayana Malang pada tanggal 9 Januari 2005. Instrumen yang digunakan merupakan instrumen tes kekuatan otot lengan, tes kelentukan togok, dan tes keterampilan servis atas bolavoli. Data dikumpulkan dengan teknik tes pengukuran dan data yang diperoleh dianalisis dengan teknik Regresi Jamak yang dilengkapi Korelasi Jamak dan Korelasi Parsial dengan signifikansi α = 0,05. data dianalisis dengan menggunakan SPSS for Windows 10.0 dan manual menggunakan kalkulator (Sony fx 3600). Hasil penelitian menunjukkan, diperoleh koefisien korelasi jamak antara kekuatan otot lengan dan kelentukan togok dengan keterampilan servis atas bolavoli (Rhitung = 0,583 > α(0,05) = 0,361) dan angka determinasi 100. R2 % = 34%. Koefisien korelasi antara kekuatan otot lengan dengan keterampilan servis atas bolavoli (rhitung = 0,535 > α(0,05) = 0,361) dan angka determinasi 100. r2 % = 29% Koefisien korelasi antara kelentukan togok dengan keterampilan servis atas bolavoli (rhitung = 0,443 > α(0,05) = 0,361) dan angka determinasi 100. r2 % = 20%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot lengan dan kelentukan togok dengan keterampilan servis atas bolavoli, sehingga disarankan kepada para calon peneliti lain yang akan melakukan penelitian lebih lanjut hendaknya mengembangkan variabel lain, dengan cara memasukkan variabel bebas yang berbeda tetapi variabel terikatnya bisa sama, koordinasi mata dan tangan misalnya. Karena variabel kekuatan otot lengan dan kelentukan togok secara bersama-sama hanya mempengaruhi keterampilan servis atas sebesar 34%. Bagi para pelatih ataupun guru Pendidikan Jasmani, disarankan dalam melatih anak didiknya memasukkan latihan-latihan kekuatan otot lengan dan kelentukan togok dalam program latihan untuk memantapkan keterampilan servis atas pada anak didiknya.

Penerapan hitung diferensial dalam bidang ekonomi / Ari Budi Setiawan

 

Sebagail mu yang selalub erkembangi,l mu ekonomim emerlukan suatua lat analisisu ntuk memecahkanp ermasalahaenk onomiy ang semakink ompleks.S alahs atum etodeu ntuk menganalisap ermasalahan ekonomia dalahd engans uatum etodek uantitatif yang memadukanil mu ekonomi, matematika dan statistika yang disebr* dengan ekonometrika. Untuk membahasP enerapanH itung Diferensial dalamB idang Ekonomi diperlukanb eberapad efinisi dan teoremat entangk uosien diferensi,d iferensiadl and erivatif,n ilai ekstrimm aksimumd an minimum. Penggunaanh itung diferensiald alamb idange konomi,u ntuk menghitungp ersoalany angb erkaitand engane lastisitasf,u ngsib iaya marjinal,f ungsip enerimaanm arjinald anl abam aksimum.

Pola interaksi dalam organisasi bimbingan konseling di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Siska Indah Novita Sari

 

Penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah melibatkan sejumlah personel sekolah yang terorganisir dan bekerja sama dalam satu struktur dan tujuan yaitu organisasi bimbingan dan konseling. Sebagai suatu sistem yang melibatkan banyak personel, maka dalam pelaksanaannya akan terjadi saling interaksi ataupun komunikasi. Untuk mengetahui pola interaksi dalam organisasi bimbingan konseling dilakukan dengan melihat cara komunikasi yang terjadi dalam pelaksanaan organisasi bimbingan konseling. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan pola interaksi dalam organisasi bimbingan konseling dan hambatan?hambatan yang mempengaruhinya di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, dan diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi SMA Laboraturium Universitas Negeri Malang untuk meningkatkan kinerja para personel khususnya dalam organisasi bimbingan konseling yang kondusif dan efektif. Peneliti ini dilakukan SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, Tanggal 6 Maret sampai 5 April 2007. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa wawancara mendalam dan observasi berperan serta, analisis data yang digunakan adalah analisis pembuatan penjelasan dan pemeriksaan keabsahan data dengan teknik triangulasi. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa pola interaksi dalam organisasi bimbingan konseling di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang berpola interaksi dalam keterikatan dan hambatannya yaitu pada komunikasi vertikal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar personel organisasi bimbingan konseling diharapkan dapat mempertahankan komunikasi horisontal dan hubungan antar personal seperti saat ini sehingga memunculkan pola interaksi dalam organisasi bimbingan konseling yang baik. Serta, kepala sekolah dan atau wakil kepala sekolah yang baik yang penanggung jawab tertinggi organisasi bimbingan konseling diharapkan lebih bersikap terbuka dan lebih meluangkan waktu pada organisasi bimbingan konseling agar komunikasi vertikal antara atasan dan bawahan dapat berjalan dengan baik, sehingga pola interaksi dalam organisasi bimbingan konseling dapat berjalan dengan baik pula.

Penerapan pembelajaran akuntansi dengan pendekatan pakem (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata diklat akuntansi siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 02 Malang / Siti Khusniah

 

Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan seorang guru adalah memilih pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berpartisipasi secara aktif sehingga dapat memahami materi yang dipelajari dan menguasai ketrampilan yang diperlukan. Salah satu pendekataan pembelajaran yang tepat adalah pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan merupakan pembelajaran yang melibatkan keaktifan seluruh siswa sehingga siswa lebih kreatif dan proses belajar mengajar dapat berlangusng efektif dan menyenangkan yang memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kreatif selama proses belajar mengajar dan saling bekerjasama dengan teman. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan dalam 2 siklus yaitu pada bulan Maret-Mei 2007. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung dari subyek penelitian yaitu siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 02 Malang sebanyak 44 siswa. Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal khusus dan buku besar. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara tidak terstruktur, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa, menjadikan pembelajaran efektif dan menyenangkan, dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa meningkat pada siklus I dan siklus II yaitu nilai rata-rata hasil penilaian ranah kognitif siklus I sebesar 76,45 sedangkan siklus II menjadi 83,59. Rata-rata hasil penilaian afektif pada siklus I sebesar 81,06% dan pada siklus II sebesar 87,33%, sedangkan rata-rata hasil penilaian ranah psikomotor pada siklus I sebesar 75,76% dan pada siklus II menjadi 86,63%. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa, menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penerapan pembelajaran ini disarankan sebaiknya guru lebih aktif dalam mengamati, memberikan motivasi dan membimbing siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Pengaruh lama penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi dan kelayakan konsumsi susu pasteurisasi berdasarkan angka lempeng total bakteri / Nining Jumariyati

 

Susu pasteurisasi banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Pada umumnya masyarakat menyimpan susu pasteurisasi dalam lemari es yang masih memung-kinkan bakteri kontaminan tumbuh. Hal ini akan mempengaruhi kualitas dan daya simpan susu pasteurisasi. Keberadaan bakteri kontaminan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kerusakan pada susu pasteurisasi, sehingga dapat menurunkan kualitas dan memperpendek daya simpannya. Kualitas susu pasteurisasi yang mengalami penurunan dapat mempengaruhi kelayakan konsumsinya. Kelayakan konsumsi susu pasteurisasi dapat diketahui melalui uji kualitas mikrobiologi air susu, salah satu diantaranya berdasarkan angka lempeng total. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh perbedaan lama penyimpanan susu pasteurisasi pada suhu 10oC terhadap angka lempeng total, (2) perbedaan kualitas mikrobiologi susu pasteurisasi selama masa penyimpanan pada suhu 10oC, (3) batas waktu penyimpanan susu pasteurisasi yang disimpan pada suhu 10oC agar tetap layak dikonsumsi berdasarkan standar angka lempeng total. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, pada bulan November 2005 sampai April 2006 dan pada bulan Desember 2008. Sampel susu pasteurisasi yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Koperasi SAE Pujon. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Lama penyimpanan susu pasteurisasi pada penelitian ini, yaitu 0x24 jam, 1x24 jam, 2x24 jam, 3x24 jam, 4x24 jam dan 5x24 jam dan suhu penyimpanan 10oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1). angka lempeng total semakin meningkat seiring dengan pertambahan lama waktu penyimpanan, (2) kualitas susu pasteurisasi mengalami penurunan selama masa penyimpanan pada suhu 10oC, (3) batas waktu penyimpanan susu pasteurisasi agar tetap layak dikonsumsi berdasarkan standar angka lempeng total ialah 3x24 jam.

Pengaruh latihan menembak terhadap kemampuan undering shoot pada siswa putri peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMP Negeri 4 Malang / Urin Tri Handayani

 

Pembinaan olahraga prestasi bolabasket pada siswa selain melalui perkumpulan olah raga, juga dapat diwujudkan melaui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Banyak orang beranggapan bahwa menembak dibawah ring itu lebih menguntungkan dan mudah dilakukan, tapi pada kenyataanya hanya 35,095% bola yang masuk ke ring dari tembakan keseluruhan. Permasalahan tersebut diatas dipengaruhi oleh hambatan komponen fisik serta kurangnya variasi pola latihan menembak Menggabungkan keragaman di dalam latihan menembak akan membantu siswa meningkatkan keterampilan bermain bolabasket serta menghilangkan rasa jenuh siswa pada saat latihan bolabasket. Maka sebagai alternatif, pola latihan dapat dijadikan alternatif latihan yang nantinya dapat mendukung kemampuan menembak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan menembak terhadap kemampuan undering shoot pada siswa putri peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMP Negeri 4 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Eksperimen dengan menggunakan rancangan penelitian one group pretest possttest design, yaitu menggunakan satu kelompok subjek, dimana satu kelompok subjek ini diberi tes dua kali yaitu sebelum dan sesudah perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah pola latihan menembak. Subjek penelitian adalah siswa putri peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMP Negeri 4 Malang yang berjumlah 15 orang. Subjek di beri perlakuan selama 6 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali. Berdasarkan hasil tes rata-rata bahwa t hitung > t tabel dan dengan taraf signifikan 99,5 % menunjukkan perhitungan tes rata-rata tersebut adalah signifikan. Maka hasil penelitian ini adalah ada pengaruh latihan menembak terhadap kemampuan undering shoot pada siswa putri peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMP Negeri 4 Malang.

Maximizing the students' learning of vocabulary through keeping and learning vocabulary notebook / Doddy Yustus Sulu

 

Penggunaan teknik pengendalian konflik organsiasi oleh kepala sekolah dalam hubungannya dengan performansi kerja guru sekolah lanjutan tingkat pertama negeri se-kodya Denpasar / Ni Putu Suwardani

 

Hubungan antara latar sosial ekonomi, pemahaman dan kesepahaman terhadap konsep jender dengan usaha peningkatan diri perempuan di Kota Malang / Siti Asmah

 

Peningkatan kemampuan bertanya dan merespon pertanyaan dalam pembelajaran berbicara dengan strategi belajar kooperatif model STAD siswa kelas II SMP Negeri 4 Malang / Oldie Stevie Meruntu

 

Strategi perbaikan sekolah berdasarkan perspektif guru (studi kasus pada tiga SLTP di Kabupaten Minahasa) / Jeffry S.J. Lengkong

 

Media pembelajaran seni tari yang digunakan oleh guru seni tari pada tiga SMP Negeri di Kota Malang / Yetti Ariany

 

ABSTRAK Ariany, Yetti. 2008. Media Pembelajaran Seni Tari Yang Digunakan Oleh Guru Seni Tari Pada Tiga SMP Negeri Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Seni Dan Desain, Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Robby Hidayat, M.Sn, (II) Dra. E.W. Suprihatin D.P. Kata kunci : Media, Seni Tari Seni tari merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Seni dan Budaya yang dipelajari di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Materi yang dipelajari meliputi materi teori dan materi praktek dengan alokasi waktu yang terbatas. Untuk itu perlu adanya penggunaan media pembelajaran untuk membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan penggunaan media pembelajaran belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru dalam pengadaan media pembelajaran. Penelitian yang mengambil judul Media Pembelajaran Seni Tari Yang Digunakan Oleh Guru Seni Tari Pada Tiga SMP Negeri Di Kota Malang ini, bertujuan untuk mengetahui (1) jenis media yang digunakan guru seni tari; (2) alasan guru seni tari dalam menggunakan media pembelajaran; (3) proses penyampaian media pembelajaran oleh guru seni tari; dan (4) manfaat media pembelajaran seni tari bagi guru seni tari pada tiga SMP Negeri di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif kualitatif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Dan untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi yang terdiri dari trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) jenis-jenis media pembelajaran yang digunakan guru seni tari pada tiga SMP Negeri di Kota Malang masih sangat terbatas; (2) para guru belum mampu menggunakan media pembelajaran yang berbasis Informasi Teknologi (IT), dan kesulitan dalam membuat media sehingga media yang digunakan amat terbatas; (3) para guru kurang memahami jenis-jenis media yang sesuai dengan tingkat kesulitan anak; (4) para guru masih sangat terbatas kemampuan dan teknik penyampaian media, dikarenakan minimnya peralatan yang dipunyai oleh guru; (5) sekolah belum mampu menyiapkan alat dan bahan untuk pembuatan media pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar: (1) guru hendaknya lebih aktif untuk menambah pengalaman tentang pembuatan media pembelajaran; (2) guru hendaknya lebih aktif, kreatif dan mau membuat media sendiri dan menyesuaikan media dengan tingkat kesulitan anak.guru harus aktif, kreatif dan mau untuk membuat media sendiri; (3) pihak sekolah diharapkan lebih membantu dan mendukung dalam hal pengadaan media pembelajaran demi lancarnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. (4) kurang lengkapnya media pembelajaran sangat mempengaruhi hasil dari kegiatan belajar mengajar itu sendiri

Konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa / Lilik Wahyuni

 

Laki-laki dan perempuan merupakan pelaku praktik konstruksi jender di media massa. Dalam konteks budaya patriarki, peran masing-masing pelaku diatur oleh norma patriarki sebagai doxa. Norma patriarki tersebut diinternalisasi menjadi habitus para pelaku sehingga tanpa disadari, para pelaku menjalankan peran masing-masing sebagai suatu kewajaran. Akan tetapi, penerimaan terhadap doxa tidak berlangsung selamanya. Pendukung doxa, kelompok orthodoxa, berjuang mempertahankan doxa dan penyerang doxa, kelompok heterodoxa, berjuang untuk memperebutkan doxa. Pertarungan memperebutkan doxa berlangsung terus menerus dan bergerak dinamis. Kelompok yang terpinggir akan terus berusaha menghancurkan tatanan doxa dan berusaha mengambil posisinya. Pertarungan perebutan doxa yang disertai kesadaran tawar-menawar untuk mendapatkan kekuasaan terbesar tersebut menimbulkan trajektori relasi laki-laki dan perempuan. Fakta sosial tersebut sampai saat ini belum dikaji secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian yang berjudul Konstruksi Jender dalam Pertarungan Simbolik di Media Massa dipandang layak untuk dilakukan. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh eksplanasi tentang konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa. Tujuan umum tersebut dirinci menjadi tiga tujuan khusus yaitu untuk memperoleh eksplanasi tentang (1) bentuk verbal konstruksi jender yang terdiri atas bentuk eufimisasi dan bentuk sensorisasi konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa; (2) habitus pelaku konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa yang terdiri atas sikap dan pola pikir pelaku konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa, dan (3) arena konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa yang terdiri atas arena pemertahanan doxa, arena penyerangan doxa, dan arena trajektori pelaku konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa. Berdasarkan tujuan dan objek penelitannya, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori praktik multidisipliner dari teori praktik Bourdieu, perubahan sosial Fairclough, dan teori perencanaan teks Wodak. Ketiga teori tersebut digunakan untuk mengkaji bentuk verbal, habitus, dan arena konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode analisis wacana, dan rancangan hermeneutika Ricoeur. Pendekatan kualitatif digunakan karena fenomena konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa disajikan dalam bentuk verbal bukan angka-angka. Dalam melakukan kajian, peneliti perperan sebagai instrumen kunci, baik dalam pengumpulan data maupun dalam menafsirkan data. Metode analisis wacana digunakan karena bahasa disikapi sebagai praktik pemertahanan, penyerangan, dan trajektori doxa yang membentuk habitus dan arena. Penelitian ini menyikapi bahasa dalam konteks sosial budaya yang melingkupinya. Rancangan hermeneutika digunakan karena penelitian ini memandang fenomena konstruksi jender sebagai peristiwa yang diaktualisasikan dalam kalimat. Data penelitian ini terdiri atas (1) ujaran wartawan, khalayak media, dan partisipan publik, (2) catatan wawancara, dan (3) rekaman dialog di televisi. Ketiga jenis data tersebut dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, wawancara, dan rekaman. Data yang terkumpul dianalisis melalui tahap deskripsi untuk menganalisis ujaran, tahap interpretasi untuk menganalisis proses kognitif, dan tahap eksplanasi untuk menganalisis fakta sosial. Dari hasil analisis diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pertama, bentuk verbal konstruksi jender di media massa terdiri atas bentuk eufimisasi dan bentuk sensorisasi. Bentuk eufimisasi merupakan bentuk penghalusan bahasa sehingga kekerasan simbolik tidak dapat dikenali sedangkan bentuk sensorisasi merupakan bentuk pemilihan bahasa yang melestarikan semua bentuk nilai ?moral kehormatan?. Bentuk eufimisasi dan bentuk sensorisasi dapat dilihat dari diksi dan gaya ujaran penutur. Diksi eufimisasi terdiri atas diksi yang mengkonstruk kepercayaan, kewajiban, kesetiaan, sopan santun, pemberian, hutang, pahala, atau belas kasihan. Gaya ujaran eufimisasi terdiri atas gaya penggantian, penetralan makna umum, dan pendefinisian distingtif. Diksi sensorisasi terdiri atas diksi yang melestarikan nilai kesantunan, kesucian, dan kedermawanan, yang dipertentangkan dengan ?moral rendahan? seperti kekerasan, kriminal, ketidakpantasan, asusila dan kerakusan. Gaya ujaran sensorisasi terdiri atas gaya promosi, produksi ?ilusi kemandirian?, mengorbanan kelompok lain, dan membanggaan pendahulu. Kedua, habitus pelaku konstruksi jender merupakan hasil internalisasi eksterior terhadap wacana di media massa dalam konteks budaya patriarki yang direalisasikan dalam sikap dan pola pikir laki-laki dan perempuan terhadap peran sosial mereka. Sikap pelaku pertarungan simbolik di media massa meliputi sikap ekstrem, sikap multifleksitas, sikap konsisten, sikap relasional, sikap sepadan, dan sikap ambivalen laki-laki dan perempuan. Pola pikir pelaku pertarungan simbolik di media massa meliputi pola pikir birokratik, pola pikir optimistik, pola pikir realistik, pola pikir taoisme, pola pikir mandiri, dan pola pikir perfeksionistik. Ketiga, arena konstruksi jender di media massa terdiri atas arena-arena lain yang lebih kecil yang meliputi arena pemertahanan doxa, arena penyerangan doxa, dan arena trajektori doxa. Dalam arena pemertahanan doxa terjadi praktik pelestarian ideologi patriarki dan pelestarian kelas sosial laki-laki dan perempuan. Pelestarian ideologi dilakukan melalui pelestarian dominasi laki-laki dengan penggunaan wacana pemujaan diri dan penggunaan wacana machoisme sedangkan pembatasan karakter perempuan dilakukan melalui peredaman sikap kritis perempuan, pemberian beban ganda, perlakuan kekerasan terhadap perempuan, dan pengeksploitasian tubuh perempuan. Pelestarian kelestarian kelas sosial dilakukan melalui pensubordinasian dan pemarjinalan. Dalam arena penyerangan doxa terdapat praktik perebutan ideologi yang dilakukan melalui pengangkatan isu pluralisme, peningkatan modal perempuan, penyadaran sosio-kultural, serta penegakan HAM dan supremasi hukum. Dalam arena trajektori terjadi praktik penyesuaian yang dilakukan dengan melalui perubahan ideologi dan penginternalisasian kesadaran bercabang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya, peneliti memberi saran-saran yang ditujukan kepada para guru dan dosen bahasa Indonesia, para peneliti dan pemerhati bahasa Indonesia, dan para psikolog sebagai berikut. Kepada guru dan dosen bahasa Indonesia disarankan agar memanfaatkan hasil penelitian ini untuk merancang pembelajaran multikultural yang menghargai perbedaan peserta didik. Selain itu, guru harus menciptakan budaya komunikasi multiarah dan dialogis sehingga memperbesar peluang setiap peserta didik untuk mengaktualkan diri masing-masing. Kepada peneliti selanjutnya disarankan agar mengembangkan objek, teori, dan instrumen penelitiannya sehingga dapat menghasilkan teori yang lebih mapan agar bisa dimanfaatan untuk melakukan kontrol terhadap media massa. Kepada khalayak media massa disarankan agar mampu memanfaatkan media massa untuk memproduksi ideologi kesetaraan. Kepada para psikolog disarankan agar mampu meredam pertarungan laki-laki dan perempuan sehingga terjadi relasi positif antara laki-laki dan perempuan.

Hubungan peran kepala sekolah dalam pengembangan staf dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri se-kabupaten Tulungagung / Siti Hartanti

 

Guru sebagai staf pendidik mempunyai peran penting di dalam kelas sebab guru merupakan fasilitator kegiatan belajar-mengajar, selain itu mereka juga berkewajiban untuk berusaha mengembangkan kemampuan profesionalnya sesuai dengan perkembangan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa. Penerapan kegiatan pengembangan staf pada guru di sekolah ditekankan pada peran kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah dalam mengembangkan kinerja mengajar guru. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan peran kepala sekolah dalam mengembangkan staf dan kinerja mengajar guru di dalam kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hubungan antara kegiatan membantu dan mendukung staf pendidik berkembang dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung; (2) mengetahui hubungan antara kegiatan kerja sama dengan staf pendidik dalam mengembangkan pengajaran dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung; (3) mengetahui hubungan antara kegiatan membantu persoalan pengajaran yang dihadapi staf pendidik dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung; (4) mengetahui hubungan antara kegiatan menilai performa staf pendidik dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dimana penelitian deskriptif bertujuan untuk mendiskripsikan peranan kepala sekolah dalam pengembangan staf dan kinerja mengajar guru di kelas. Sedangkan penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel prediktor dengan variabel kriterium. Populasi dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar ditingkat 11 dan siswa tingkat 11 yang belajar di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung. Dalam setiap satu orang guru pengajar dinilai oleh 10 orang siswa. Pengambilan sampel untuk guru yang mengajar dilakukan secara proportionate stratified random sampling, dengan tujuan agar penentuan sampel penelitian proporsional sesuai dengan golongan guru yaitu guru tetap dan guru tidak tetap. Sedangkan untuk pengambilan sampel siswa dilakukan secara purposive karena sesuai dengan pertimbangan peneliti yang dapat mewakili populasi siswa tingkat 11 yang ada di SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui angket tertutup yang memberikan lima alternatif jawaban. Hasil penelitian secara diskriptif adalah kepala sekolah di SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung mempunyai peran yang baik. Adapun rinciannya untuk variabel X1 (kegiatan kepala sekolah dalam membantu dan mendukung staf berkembang dengan kinerja mengajar guru di kelas) berada dalam klasifikasi baik dengan rata-rata 31,671875, X2 (kegiatan kepala sekolah dalam bekerja sama dengan staf pendidik dalam mengembangkan pengajaran) berada dalam klasifikasi baik dengan rata-rata 35,375, X3 (kegiatan kepala sekolah dalam mambantu persoalan pengajaran yang dihadapi staf pendidik) berada dalam klasifikasi baik dengan rata-rata 34,5, dan X4 (kegiatan kepala sekolah dalam menilai performa staf pendidik) berada dalam klasifikasi baik dengan rata-rata 36. Secara khusus adalah terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan kepala sekolah dalam membantu dan mendukung staf untuk berkembang dengan kinerja mengajar guru di kelas hal ini ditunjukkan dengan nilai rxyhitung > rxytabel (0,316 > 0,244), terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan kepala sekolah dalam bekerja sama dengan staf pendidik dalam mengembangkan pengajaran dengan kinerja mengajar guru di kelas hal ini ditunjukkan dengan nilai rxyhitung > rxytabel (0, 346 > 0,244), terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan kepala sekolah dalam membantu persoalan pengajaran yang dihadapi staf pendidik dengan kinerja mengajar guru di kelas hal ini ditunjukkan dengan nilai rxyhitung > rxytabel (0, 249 > 0,244), terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan kepala sekolah dalam menilai performa staf pendidik dengan kinerja mengajar guru di kelas hal ini ditunjukkan dengan nilai rxyhitung > rxytabel (0, 276 > 0,244). Hasil hipotesis secara umum adalah terdapat hubungan yang signifikan antara peran kepala sekolah dalam pengembangan staf dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung, hal ini ditunjukkan dengan menggunakan uji F yang menunjukkan bahwa Fhitung (22,067) > Ftabel (4;59;0,05) (2,528). Dengan demikian Ho yang berbunyi ?tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peran kepala sekolah dalam mengembangkan staf dengan kinerja mengajar guru di kelas pada SMK Negeri Se-Kabupaten Tulungagung? dapat ditolak. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyajikan beberapa saran antara lain: (1) perlunya upaya-upaya pengembangan staf secara kontinyu, (2) memperbanyak melakukan pelatihan-pelatihan dan memberikan fasilitas penunjang untuk meningkatkan kinerja mereka, (3) pemantauan oleh kepala sekolah terhadap kegiatan pengembangan yang dilakukan, (4) memotivasi dan mengikut sertakan guru dalam kegiatan pelatihan-pelatihan, (5) lebih meningkatkan hubungan dan kerja sama antara guru dengan kepala sekolah, (6) tidak mengabaikan kebutuhan dan harapan guru, (7) memberikan raport kepada guru, (8) kepada pembaca yang berminat meneliti kasus sejenis sebaiknya lebih mengembangkan permasalahan, variabel serta sebaran yang lebih luas.

Prewriting and drafting strategies of graduate students in writing term papers in English: a case study / Enny Irawati

 

Some graduate students majoring in English Education programs did not have any experience in writing papers in English. It was necessary to study how these inexperienced graduate student writers managed the paper writing assigned by their lecturers. The study employ the cognitive process approach because it aimed at disclosing mental operations the students engaged in while writing. By examining the students? thinking while writing, the strategies they employed to complete the assignment might be revealed. This study focuses on strategies employed by graduate (S2) students of English Education Program during the prewriting and drafting stage when they are writing term papers in English. Its purpose is to identify and describe the strategies they employed during those two stages. It takes a qualitative design with two graduate (S2) students of English Education Program of 2006 class of Advanced Linguistics of State University of Malang as its subjects. From the entrance test of the Graduate Program conducted at June 2006, both subjects were identified as the top fifth students in the result of the test, but they had little experience in writing papers in English.For the purpose of the study they were classified as inexperienced writers. The primary data for the strategies used at prewriting stage were statements produced by the subjects during open-ended interviews done formally and informally . The primary data for strategies used at the drafting stage were protocols from the subjects? think-aloud activities when they were drafting their term papers. The supporting data for further clarification were researcher?s observation notes, protocols of interviews, and quality of written papers produced by both subjects. The findings show that at the prewriting stage the two subjects employed different strategies. D employed an interactive or emergent planning where ideas were not worked out sufficiently and did not result in a hierarchical outline. W, on the other hand, employed a semi-advanced planning, where there were attempts to work out ideas into an outline. At the drafting stage, D employed a search and a copying strategies in an undirectional way, which suggested that the absence or very simple outline produced at the prewriting stage provided little guidance for the drafting stage. Some insights, however, occurred during drafting which led to remapping and reorganizing. Unlike D, W employed a more effective strategy, where the drafting process was dictated by the outline produced at the prewriting stage, which suggested why the drafting was more directional and less halting, although some insights appeared during drafting which led to remapping and reorganizing, suggesting the employment of an interactive strategy. In addition to the general strategy employed by both subjects, there were also local strategies which were used to manage the moment-to-moment steps as the drafting proceeded to the completion of term papers. The local strategies employed were cognitive, metacognitive, writing, and other strategies. (1) Cognitive strategies. D who employed predominantly a search strategy in planning could be seen to employ cognitive strategies in the following order from the most frequently used to the least: resourcing, reasoning, note taking, grouping, analyzing, recording, visualizing, hypothesizing and imagining, and the rest unused categories of exemplification, elimination, summarizing, and verbalizing. W who employed a a more effective strategy could be seen to employ the cognitive strategies in the following order from the most frequent to the least: resourcing, grouping, analysing, verbalizing, reasoning, elimination, summarizing, exemplification, comparing, hypothesizing, visualizing, note taking, recording, and imagining. (2) Metacognitive strategies. D who employed predominantly search strategy during drafting could be seen to employ metacognitive strategies in the following order from the most frequent to the least: self monitoring, advance preparation, self evaluation, delayed production, avoiding, advance organizer, self management, and selective attention. W who employed a more effective strategy could be seen to employ metacognitive strategies in the following order from the most frequent to the least: self evaluation, self monitoring, advance preparation, advance organizer, avoiding, selective attention, and delayed production. (3) Writing strategies. D who employed predominantly a search strategy in planning could be seen to employ writing strategies in the following order from the most frequent to the least: rehearsing, editing, and revising. W who employed a more effective strategy in drafting could be seen to employ writing strategies in the following order from the most frequent to the least: editing, revising, and rehearsing. (4) Other strategies. D who employed predominantly a seacrh strategy in planning could be seen to employ other strategies in the following order from the most frequently used to the least: exclamation, affective, deferral, social, and audience awareness. W who employed a more effective strategy could be seen to employ other strategies in the following order from the most frequently used to the least: affective, social, and audience awareness. The conclusions derived from the findings are (1) when composing term papers in English, graduate students should carry out the the prewriting stages properly because what they do at that stage would influence the process at the drafting stage; (2) when writing a highly conventionalized academic text like term papers, employing an interactive strategy at the prewriting stage is ineffective because it provides the student with little guidance to carry out drafting and would likely lead to low quality papers; (3) inexperienced graduate students? tendency to employ ineffective strategy at prewriting and drafting stages might be caused by their deficits in topic knowledge, genre knowledge, linguistic knowledge, audience knowledge, and task schema. The deficits in those components might be attributed to their limited experience in writing papers. Considering the findings and conclusions derived from the study, it is suggested that graduate students are provided with instructions on using an advanced strategy when writing academic texts. To other researchers, it is suggested to employ more varied data collection methods when conducting future studies on graduate students? writing processes.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |