Peningkatan hasil dan aktivitas belajar PKn dengan menggunakan metode problem based learning bagi siswa kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Wahyu Prasetyanto

 

ABSTRAK Prasetyanto, Wahyu. 2009. Peningkatan Hasil dan Akivitas Belajar PKn dengan Menggunakan Metode Problem Based Learning bagi Siswa Kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Sutarno, M.Pd. (II) Muchtar, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : Problem Based Learning (PBL), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar PKn Berdasarkan observasi di kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang diketahui terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn. Permasalahan tersebut antara lain; (1.) guru mendominasi pelajaran, (2.) siswa cenderung pasif dalam pembelajaran PKn, hal ini dikarenakan pembelajaran masih menggunakan cara tradisional, (3.) nilai rata-rata kelas siswa pada hasil pretest 57,5 masih kurang dari kriteria yang ditentukan yaitu 80% dari jumlah siswa harus mencapai nilai 65. Dari permasalahan tersebut yang paling utama adalah hasil belajar PKn yang kurang dari standart ketuntasan. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode Problem Based Learning (PBL), melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: 1.) Mendeskripsikan cara penerapan metode Problem Based Learning (PBL) guna meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang, 2.) Mendeskripsikan bahwa penerapan metode Problem Based Learning (PBL) dapat/tidak dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang, 3.) Mendeskripsikan dampak penerapan Problem Based Learning (PBL) terhadap aktivitas siswa kelas IV di SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dengan model model Kemmis dan Taggart dalam Mahanal (2005:20) yang terdiri dari empat tahap; (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan (observasi), dan (4) refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang yang terdiri dari 24 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran PKn dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Namun demikian nampaknya masih diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam meningkatkan hasil belajar di sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan dalam penerapan Problem Based Learning (PBL) membutuhkan waktu yang tidak sedikit agar siswa dapat belajar dan berfikir dalam memecahkan masalah, dan apabila masalah yang dikaji kurang berbobot siswa cenderung bekerja asal-asalan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar pengguna metode Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran PKn perlu ditindak lanjuti oleh guru v SDN Sawahan 01 Kecamatan Turen Kabupaten Malang karena metode Problem Based Learning (PBL) mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Meningkatkan hasil belajar IPA siswa melalui pendekatan kontekstual di kelas IV SDN Karang Besuki I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun ajaran 2008/2009 / Dita Purwoadi Susanto

 

Abstrak: Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual mata pelajaran IPA di kelas IV SDN Karang Besuki I, mendiskripsikan peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Karang Besuki I dengan menerapkan pembelajaran kontekstual, mendiskripsikan dampak dari penerapan pendekatan kontekstual terhadap Sciene Skill dan Social Skill IPA siswa di kelas IV SDN Karang Besuki I, mendiskripsikan tanggapan siswa dan guru kelas IV SDN Karang Besuki I terhadap penerapan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah PTK dengan prosedur kerja dilaksanakan dalam 2 siklus dimana terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan rata-rata sebesar 16,8 dari siklus I dengan nilai 70,3 menjadi 87,1 pada siklus II. Pada sciene skill siswa juga terjadi peningkatan sebesar 12,1 % dari siklus I dengan prosentase ketuntasan 71,4 % menjadi 83,5 % pada siklus II. Social skill siswa juga terjadi peningkatan dari cukup menjadi baik. Sehingga disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karang Besuki I materi Gaya dan Pengaruhnya pada Benda. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan guru menerapkan pendekatan kontekstual ini pada materi yang lain terutama pada mata pelajaran IPA dengan menghadirkan dunia nyata melalui media sehingga siswa mengetahui dan mengalami secara langsung dan konsep yang diperoleh dapat tertanam lebih lama.

Sintesis dan karakterisasi sabun zink dari minyak sawit (Elaeis guinensis) dengan zink sulfat / Rindy Astri Wilujeng

 

ABSTRAK Wilujeng, Rindy Astri. 2009. Sintesis dan Karakterisasi Sabun Zink dari Minyak Sawit (Elaeis guinensis) dengan Zink Sulfat. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: sabun zink, minyak sawit, trans-saponifikasi, zink sulfat Konsep awal tentang sabun sebagai garam karboksilat dari ion logam alkali telah berkembang menjadi sabun lain yang bukan dari logam alkali, dan memilki sifat serta fungsi yang berbeda dari sabun logam alkali. Sabun aluminium telah berhasil disintesis dari asam lemak dan juga minyak nabati seperti minyak sawit, minyak jarak pagar, dan minyak jarak kepyar. Sabun zink oleat dan zink stearat berhasil disintesis menggunakan zink klorida dengan asam stearat dan asam oleat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian tentang pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan pembuatan sabun zink. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis sabun zink dari minyak sawit dan zink sulfat. Penelitian survei laboratoris ini dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut: (1) sintesis sabun natrium melalui reaksi saponifikasi minyak sawit dengan natrium hidroksida, (2) sintesis sabun zink melalui reaksi trans-saponifikasi sabun natrium dengan zink sulfat, (3) pemurnian senyawa hasil sintesis dengan cara pencucian menggunakan aquades, (4) karakterisasi senyawa hasil sintesis yang meliputi: uji kelarutan, penentuan titik lebur, degradasi sabun zink, analisis kualitatif ion Zn2+ dan SO42- secara kimiawi, analisis kuantitatif logam zink dan natrium dengan AAS, (5) identifikasi gugus fungsi senyawa hasil sintesis dengan spektrofotometri inframerah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sabun zink dapat disintesis dari minyak sawit dengan zink sulfat melalui reaksi saponifikasi yang dilanjutkan dengan reaksi trans-saponifikasi. Sabun zink hasil sintesis berupa serbuk putih dengan titik lebur 84-92oC, kelarutannya dalam kloroform 0,002 g/mL; benzena 0,017 g/mL; pernis 0,010 g/mL; serta tidak larut dalam air dingin, air panas, etanol absolut, aseton, petroleum eter, n-heksana, dan oktanol.

Pengembangan model latihan shooting dalam permainan sepakbola di Persatuan Sepakbola Bina Tama Kabupaten Madiun / Eko Sony Wicahyo

 

Shooting adalah salah satu ketrampilan individu dalam permainan sepakbola dengan tujuan memasukkan bola ke gawang lawan untuk memenangkan pertandingan. Langkah perbuatan yang dimaksud berupa melakukan sebuah tendangan sederhana secara umum lebih keras dari sebuah operan dan mempunyai peluang untuk menghasilkan gol dimana kiper tidak mampu menjangkau bola. Shooting merupakan salah satu komponen penting dalam sepakbola yang harus dilatihkan dengan harapan kualitas permainan individu dan tim untuk menciptakan peluang dan kesempatan menciptakan gol lebih besar. Kenyataan yang ada di lapangan khususnya pada Persatuan Sepakbola Bina Tama Kabupaten Madiun, model latihan shooting masih belum mendapatkan perhatian secara khusus, sehingga diperlukan model-model latihan shooting yang jelas dan terprogram. Untuk itu peneliti akan mengembangkan model latihan shooting dalam permainan sepakbola yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan oleh pelatih dalam menerapkan model-model latihan yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model latihan shooting dalam permainan sepakbola di Persatuan Sepakbola Bina Tama Kabupaten Madiun yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan latihan shooting. Prosedur pengembangan model latihan shooting dalam permainan sepakbola melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) penentuan ide-ide, (2) penulisan naskah media (produk), di dalamnya berisi sketsa-sketsa model-model latihan shooting, (3) evaluasi produk, (4) revisi produk I, (5) produksi prototipe, dengan memberikan model latihan shooting pada kelompok kecil maupun kelompok besar, (6) uji coba prototipe, dengan mengujicobakan hasil revisi produk I, (7) revisi produk II, (8) reproduksi, penyempurnaan produk untuk menuju produk akhir yang diharapkan pada pengembangan. Lokasi penelitian dilakukan di lapangan sepakbola Desa Wayut Kec. Jiwan, Kab Madiun. Subyek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 4 orang ahli yaitu 2 ahli Sepakbola dan 2 ahli Kepelatihan (2) uji coba kelompok kecil adalah menggunakan 10 orang pemain sepakbola Persatuan Sepakbola Bina Tama Kabupaten Madiun yang diambil secara random sampling, dan (3) uji coba kelompok besar atau uji coba lapangan yang terdiri dari 20 orang pemain Persatuan Sepakbola Bina Tama Kabupaten Madiun. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan model latihan shooting dalam permainan sepakbola pada pemain sepakbola Persatuan Sepakbola Bina Tama Kabupaten Madiun dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada persatuan sepakbola yang ada di sekitar tempat pengembangan produk, peneliti sendiri dan peneliti lain untuk dikembangkan ke arah lebih lanjut.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X B SMA Negeri 1 Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek / Ririn Dwi Wahyuningtyas

 

Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together merupakan model pembelajaran kooperatif yang memberikan penekanan pada struktur tertentu untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif dalam struktur kelas tradisional, yang terdiri dari 4 langkah : (1) Penomoran ( Numbering ), (2) Pengajuan pertanyaan (Questioning), (3) Berpikir bersama (Heads Together), (4) Pemberian jawaban (Answering) Motivasi Belajar adalah suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil dan tujuan tertentu. Hasil belajar adalah kemampuan belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pelajaran, atau hasil yang telah diperoleh siswa dari pengalaman-pengalaman dan latihan-latihan yang diikutinya selama pembelajaran berupa kognitif, afektif, dan psikomotorik. Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas X B SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek, bahwa motivasi belajar siswa kurang, minat baca sedang dan hasil belajar siswa sedang. Untuk mengatasi hal-hal tersebut diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan meng-gunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui peningkatkan motivasi belajar ekonomi setelah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together siswa kelas X SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek. (2)Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ekonomi setelah penerapan meto-de pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together siswa kelas X SMA Negeri 1 Durenan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Pene-litian dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek yang digunakan adalah siswa kelas X B SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar obser-vasi siswa, lembar observasi guru, soal tes, perangkat pembelajaran, pedoman wawancara dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa meliputi 4 aspek yaitu aspek minat, perhatian, konsentrasi dan ketekunan. Pada siklus I rata-rata keseluruhan dari aspek motivasi sebesar 61,62% meningkat menjadi 75,3% pada siklus II. Sehingga secara keseluruhan motivasi belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 26,14 % dalam taraf keberhasilan baik. Hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dengan nilai post tes. Pada siklus I siswa yang tuntas belajar mencapai 22 siswa (61,11%) dengan nilai rata-rata kelas 71,94, sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas belajar mencapai 31 siswa (86,11%) dengan nilai rata-rata kelas 79,44. Dari hasil penelitian tersebut maka dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Manajemen pembelajaran sentra dan lingkaran: studi multikasus pada lembaga pendidikan anak usia dini Anak Saleh dan Taman Harapan di Kota Malang / Awit Pripasci Putri

 

Metode Pembelajaran Sentra dan Lingkaran (Seling) adalah suatu proses pembelajaran dengan konsep pembelajaran konstruktif yang bertujuan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak usia 2 s.d. 4 tahun melalui bermain yang terencana dan terarah. Metode ini direkomendasikan Direktorat PAUD untuk dirujuk oleh pengelola lembaga PAUD sebagai metode pembelajaran pada Kelompok Belajar (KB) atau playgroup. Di Kota Malang banyak lembaga PAUD yang menerapkan pembelajaran Seling, namun terdapat dua KB yang telah mengikuti pelatihan metode pembelajaran Seling hingga ke tingkat nasional, yaitu KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan. Saat ini kedua KB tersebut menjadi tempat magang bagi guru PAUD dari lembaga lain yang akan mempelajari metode pembelajaran Seling. Berdasarkan informasi tersebut, maka dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui manajemen pembelajaran Seling di KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan, dengan fokus serta tujuan penelitian diantaranya tentang (1) sejarah; (2) sentra-sentra yang ada; (3) perencanaan; (4) pengorganisasian; (5) pelaksanaan; dan (6) penilaian dalam pembelajaran Seling. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif eksplanatoris, yaitu suatu metode penelitian yang tidak menguji hipotesis melainkan memaparkan dan mengolah data. Jenis penelitian ini adalah multikasus karena terdapat dua kasus pada dua objek penelitian, yaitu KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan di Kota Malang. Dalam penelitian ini, peneliti sendiri lah yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah dan guru KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran Seling. Data yang diperoleh dianalisis selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Pada saat pengumpulan data, peneliti melakukan pengerjaan dan pengorganisasian data, dan setelah pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah mengklasifikasi data, menyaring data, dan menarik kesimpulan. Data yang telah dianalisis kemudian dicek keabsahannya dengan menggunakan empat kriteria, yaitu (1) kredibilitas atau kepercayaan; (2) dependabilitas atau kebergantungan; (3) konfirmabilitas atau kepastian, dan (4) transferabilitas atau keteralihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran Seling di KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan, meliputi tahapan-tahapan yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian. Perencanaan pembelajaran dilakukan oleh tim yang terdiri atas kepala sekolah, koordinator KB, guru kelas, serta guru sentra. Adapun perencanaan yang disusun yaitu rencana pembelajaran tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. Di KB Anak Saleh kegiatan pembelajaran dilakukan dengan urutan, (1) kegiatan pagi; (2) makan bersama; (3) transisi, (4) pijakan lingkungan; (5) pijakan sebelum bermain; (6) pijakan saat bermain; (7) pijakan setelah bermain; dan (8) kegiatan penutup. Sedangkan di KB Taman Harapan kegiatan pembelajaran dilakukan dengan urutan, (1) pijakan lingkungan; (2) kegiatan pagi; (3) transisi; (4) pijakan sebelum bermain; (5) pijakan saat bermain; (6) pijakan setelah bermain; (7) makan bersama; dan terakhir (8) kegiatan penutup. Penilaian yang dilakukan di KB Anak Saleh yaitu secara harian, mingguan, tengah semester, dan semester. Adapun penilaian yang dilaporkan kepada orang tua adalah pada saat tengah semester dengan menggunakan Laporan Perkembangan Anak Didik, dan pada akhir semester dengan menggunakan Buku Laporan Perkembangan Anak. Penilaian yang dilakukan di KB Taman Harapan yaitu secara harian, mingguan, dan pada akhir semester dengan melaporakan perkembangan anak pada Laporan Penilaian Perkembangan Anak Didik. Penelitian tentang manajemen pembelajaran Seling yang dilakukan oleh pengelola KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan menghasilkan temuan-temuan penelitian yang dibahas dengan cara membandingkan informasi yang diperoleh dari kedua objek penelitian tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan yaitu dalam: (1) kedudukannya sebagai lembaga PAUD unggulan di Kota Malang; (2) tim perumus perencanaan pembelajaran; (3) tugas guru sentra; (4) pelaksanaan circle time atau waktu membentuk lingkaran; serta (5) penilaian pada proses dan hasil akhir, juga terdapat perbedaan manajemen pembelajaran Seling yang dilakukan oleh pengelola KB Anak Saleh dan KB Taman Harapan di Kota Malang. Perbedaan tersebut meliputi beberapa aspek, yaitu (1) macam-macam sentra bermain yang disediakan; (2) penyusunan perencanaan pembelajaran, waktu belajar, dan kegiatan ekstra; (3) pengelompokan siswa dan tugas wali kelas; (4) karakteristik siswa; (5) urutan pelaksanaan pembelajaran; dan (6) laporan penilaian hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi (1) pengelola KB Anak Saleh agar mempertahankan penggunaan bahasa positif oleh guru ketika berkomunikasi dengan anak pada saat proses pembelajaran Seling; (2) pengelola KB Taman Harapan agar mengembangkan sentra bermain agar pembelajaran semakin optimal; (3) HIMPAUDI dan Forum PAUD Kota Malang agar mengkaji hasil penelitian ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Seling pada lembaga PAUD yang dibimbing; (4) Dinas Pendidikan Kota Malang agar menginformasikan hasil penelitian ini supaya dapat menginspirasi lembaga PAUD lain di Kota Malang; (5) peneliti lain agar melakukan penelitian lanjutan misalnya tentang peningkatan manajemen sarana prasarana dalam menunjang pembelajaran seling, atau upaya pengembangan kompetensi pendidik dalam implementasi pembelajaran Seling.

Manajemen perencanaan dan pelaksanaan pusat pendidikan dan latihan olahraga pelajar (PPLP) panahan mandiri Nojonegoro / Agus Ardianto

 

Abstrak Cabang olahraga prestasi telah berkembang di Indonesia, salah satunya adalah cabang olahraga panahan. Meskipun cabang olahraga panahan kurang memasyarakat, namun saat ini mengalami perkembangaan dan kemajuan yang cukup baik terbukti Olahraga panahan sudah dilombakan di Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Olimpiade. Untuk mencapai prestasi yang tinggi harus dipersiapkan sejak dini, usaha keras dan didukung faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian prestasi. Pembinaan dan pelatihan sejak usia dini harus dilakukan, karena proses untuk mencapai prestasi membutuhkan waktu yang lama. Berkaitan dengan hal tersebut maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Manajemen Perencanaan dan Pelaksanaan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Panahan Mandiri Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Manajemen Perencanaan dan Pelaksanaan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Panahan Mandiri Bojonegoro. Kata-kata Kunci: Perencanaan dan Pelaksanaan, PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro. Olahraga telah membudaya di masyarakat Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat banyak yang gemar berolahraga. Hal ini menunjukkan bahwa, orang telah menyadari akan pentingnya manfaat berolahraga bagi pelakunya. Olahraga dapat meningkatkan derajat kesehatan baik fisik maupun mental. Olahraga juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan dan untuk mencapai prestasi. Menurut pengamatan dan observasi yang telah dilakukan olah peneliti. Berbagai macam cabang olahraga prestasi telah berkembang di Indonesia, salah satunya adalah cabang olahraga panahan. Namun pada kenyataanya cabang olahraga panahan kurang memasyarakat dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya. Hal ini dikarenakan cabang olahraga panahan membutuhkan Sarana dan Prasarana khusus dan lebih mahal. Meskipun cabang olahraga panahan kurang memasyarakat, namun saat ini mengalami perkembangaan dan kemajuan yang cukup baik terbukti olahraga panahan sudah diperlombakan di Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Olimpiade. Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan cabang olahraga panahan, maka untuk mencapai prestasi harus selalu diupayakan semakimal mungkin. Mencapai prestasi panahan secara maksimal tidaklah mudah. Untuk mencapai prestasi yang tinggi harus dipersiapkan sejak dini, usaha keras dan didukung faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian prestasi. Pembinaan dan pelatihan sejak usia dini harus dilakukan, karena proses untuk mencapai prestasi membutuhkan waktu yang lama. Pembinaan dan pelatihan sejak usia dini memungkinkan untuk mencapai prestasi seperti yang diharapkan. Seperti dikemukakan Soeharsono dalam Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:41) menyartakan bahwa, ”pembinaan dan pengembangan atlet hendaknya sudah dilakukan sejak usia anak-anak atau pada usia muda. Hal ini penting sekali untuk diketahui, karena pembinaan dan pengembangan atlet sejak usia muda dan ditangani secara tepat akan dapat berhasil dibandingkan apabila mulainya telah terlambat”. Unsur-unsur yang penting serta mendukung di dalam upaya meningkatkan prestasi panahan antara lain pembinaan teknik, pembinaan fisik, dan pembinaan kematangan juara. Di samping pembinaan tersebut di atas, masih banyak faktor eksternal yang dapat mempengaruhi peningkatan prestasi misalnya Manajemen, Organisasi, Pengurus dan Pelatih. Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) adalah salah satu organisasi yang berada dibawah pengawasan Dinas Pendidikan Olahraga (Dispora) dan berada di bawah naungan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). PPLP sendiri diperuntukan bagi pelajar-pelajar yang ingin berprestasi ditingkat Nasional maupun Internasional. Dana yang diperoleh PPLP berasal dari Menpora dan untuk PPLP Mandiri dana yang diperoleh dari sukarelawan, swasta, ataupun dari dana pribadi untuk kelangsungan organisasi. Sedangkan PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro adalah Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar yang mandiri dimana PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro memperoleh dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) wilayah Kabupaten Bojonegoro. PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro terbentuk pada tahun 2003 dengan mendapatkan rekomendasi dari Dispora Pusat dengan NO 129/OR.3/2003. Pada kejuaraan nasional Junior setiap Pengurus Cabang Persatuan Panahan Indonesia (Pengcab Perpani) dalam satu propinsi dapat mengirimkan sebanyak 3 atlet untuk masuk dalam team. Sedangkan di dalam Pengcab Perpani Bojonegoro terdapat banyak atlet yang berprestasi, kesempatan untuk dapat mengikuti suatu kejuaraan sangatlah ditunggu oleh para atlet untuk menunjukan kemampuannya, agar latihan yang telah dilakukan tidak terbuang sia-sia. Dengan alasan tersebut ketua Pengcab Perpani Bojonegoro berinisiatif untuk mengajukan Pengcab Perpani Bojonegoro sebagai PPLP Mandiri. PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro merupakan salah satu PPLP panahan yang berkembang cukup baik di Indonesia. Hal ini dapat dilihat banyaknya prestasi yang dihasilkan, dimana PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro mampu menjadi juara umum di berbagai kejuaraan nasional. Dengan prestasi yang diraih oleh PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro dan dengan mengetahui keadaan di PPLP Panahan Mandiri Bojonegoro maka perlu diadakan penelitian yang diharapkan dapat memberikan suatu masukan bagi pengurus lain khususnya dalam program pembinaan prestasi. Dengan demikian diharapkan PPLP panahan yang belum maju tersebut dapat meningkatkan prestasinya.

Penerapan media power point untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2008/2009 / Dwi Rahayu

 

Media Power Point merupakan software presentasi yang dapat dipakai untuk menghadirkan data dan laporan atau promosi dalam satu lingkungan. Media Power Point merupakan media audio-visual (pandang dengar) yang dapat menampilkan segala informasi tentang materi pembelajaran. Penelitian ini dilakukan di MTs. Surya Buana dengan subjek penelitian kelas VII B dengan jumlah siswa sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 16 putra dan 13 putri. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pertama, media di MTs. Surya Buana. Kedua, problematika yang dihadapi guru IPS dalam penerapan media di MTs. Surya Buana. Ketiga, penerapan media Power Point untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII B MTs. Surya Buana Media di MTs. Surya Buana Malang sudah cukup lengkap mulai dari media yang sederhana sampai media yang modern. Banyak Media yang telah disediakan oleh sekolah namun hal tersebut masih belum dapat menggugah kesadaran guru untuk menerapkan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Dalam penerapannya, media pembelajaran tersebut tidak digunakan secara maksimal oleh guru di MTs. Surya Buana Malang terutama guru mata pelajaran IPS. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesulitan guru dalam menggunakan media pembelajaran IPS diantaranya yaitu: 1) latar belakang pendidikan, 2) pengalaman mengajar, 3) ketersediaan media, 4) keterampilan guru dalam menggunakan media, 5) keterampilan guru dalam membuat media, 6) alokasi waktu, 7) pendidikan tambahan, 8) dukungan sekolah dalam penyediaan media. Siklus I dilaksanakan di Musholla MTs. Surya Buana pada tanggal 17 Maret 2009 jam 13.00-15.00. Hasil dari tes siklus I menyatakan bahwa hasil rata-rata dari tes tersebut adalah 71,37. Siswa yang nyatakan tuntas belajar (≥65) adalah sebayak 22 siswa atu sebesar 75,86%, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar (≤65) sebanyak 7 siswa atau sebesar 24,13%. Hasil dari tes siklus II menyatakan bahwa hasil rata-rata dari tes tersebut adalah 81,20. apabila dibandingkan dengan rata-rata tes pada siklus I maka tes pada siklus I ini mengalami peningkatan sebesar 9,83%. Siswa yang nyatakan tuntas belajar (≥65) adalah sebayak 26 siswi atau sebesar 89,65%, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar (≤65) sebanyak 3 siswa atau sebesar 10,34%. Berdasarkan hasil tes siklus I dan II maka dapat dimpulkan bahwa penerapan media Power Point dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII B MTs. Surya Buana Malang.

Penerapan metode inkuiri dipadu reciprocal teaching pada mata pelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas siswa kelas V SDN Kebonsari kulon 2 Kota Probolinggo / Indah Pratiwi

 

Pengaruh karakteristik perusahaan terhadap tingkat pengungkapan informasi sosial dalam laporan tahunan perusahaan / Adi Nugraha Purna Putra

 

ABSTRAK Putra, Adi Nugraha Purna. 2009. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Tingkat Pengungkapan Informasi Sosial Dalam Laporan Tahunan Perusahaan. Skripsi, Jurusan S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sriyani Mentari, S.Pd., M.M (II) Helianti Utami, SE., M.Si., Ak. Kata Kunci: karakteristik perusahaan, pengungkapan informasi sosial Pelaporan informasi sosial perusahaan adalah proses komunikasi pengaruh sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan kepada masyarakat luas. Salah satu cara untuk mengkomunikasikan pertanggungjawaban sosial perusahaan adalah dengan melakukan pengungkapan informasi sosial dalam laporan tahuan. Karakteristik dalam penelitian ini yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, dan umur perusahaaan dapat menjelaskan variasi tingkat pengungkapan informasi sosial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan terhadap tingkat pengungkapan informasi sosial perusahaan dalam laporan tahuanannya. Sampel yang digunakan dalam penelitain ini adalah 25 perusahaan yang bergerak dalam sektor agribisnis, pertambangan, industri dasar dan kimia, otomotif, barang konsumsi, transportasi, telekomunikasi dan pariwisata dan telah terdaftar di BEI tahun 2006-2007. Pengambilan sampel berdasarkan metode purposive propotionated random sampling. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Content Analysis sedangkan pengolahan dan analisa data menggunakan software SPSS Versi 15.00 Dari hasil penelitian menunjukkan persamaan regresi sebagai berikut PS = 26,383a + 0,00000046Size + 0,374ROA + 0,009ROE+ 0,063AGE + e. Secara simultan ada pengaruh yang signifikan faktor-faktor ukuran perusahaan, profitabilitas,dan umur perusahaan terhadap tingkat pengungkapan informasi sosial perusahaan. Bila dilihat dari Adjusted R square pengaruh tersebut sebesar 48,7 % sedangkan sisanya sebesar 42,3 % di pengaruhi faktor-faktor lain. Secara parsial hanya ukuran perusahaan yang berpengaruh secara signifikan. Sedangkan profitabilitas dan umur tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan sosial. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu praktek pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilaksanakan masih rendah karena rata-rata perusahaan hanya mengungkapkan sebanyak 37 % dari total pengungkapan. Dalam penelitian selanjutnya sebaiknya disempurnakan dengan dengan menambah periode penelitian yang lebih panjang, dan memperbanyak variabel independen, perusahaan yang diteliti akan lebih baik bukan perusahaan high profile saja tetapi juga terhadap seluruh perusahaan yang terdaftar maupun yang belum terdaftar dalam BEI. Bagi pihak manajemen perusahaan hendaknya memperhatikan praktik pengungkapan sosial sebagai salah satu strategi untuk memasuki pasar global yang menuntut produk perusahaan yang ramah lingkungan sosialnya.

Sejarah kya-kya kembang jepun Surabaya (2003-2008) / Lukluk Zakiyatul Miskiyah

 

Surabaya merupakan salah satu pintu gerbang perdagangan utama di wilayah Indonesia Timur, kondisi tersebut menyebabkan Kota Surabaya menjadi salah satu pusat perekonomian Indonesia. Pada awal abad ke-20, Surabaya merupakan pusat perdagangan di Indonesia. Salah satu perdagangan besar di Surabaya pada masa Jepang terletak di Jalan Kembang Jepun. Pada pertengahan abad ke-20, perdagangan di Kembang Jepun ini mulai menurun dengan adanya pergeseran pudsat perdagangan di segitiga emas yang terletak di Jalan Basuki Rahmat, Jalan Pemuda, dan Jalan Panglima Sudirman. Pada tahun 2000, Surabaya membangun fasilitas perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah kota maupun swasta. Salah satunya adalah menghidupkan kembali kawasan Pecinan di Kembang Jepun dengan menekankan kawasan perdagang tetapi tidak ada tanggapan dari pedagang kaki lima dan masyarakat Kota Surabaya. Pada tahun 2003 akhirnya didirikan pusat perdagangan Kya-Kya di Kembang Jepun oleh pihak swasta dengan pimpinan Dahlan Iskan, yang diterima baik oleh pedagang kaki lima karena Kya-kya menampung pedagang kaki lima. Pendirian Kya-kya ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah Kya-kya merupakan usaha swasta dalam menghidupkan kembali budaya Tionghoa yang pada masa orde baru sempat dilarang dan merupakan perdagangan antar budaya Jawa, Madura ,dan Tionghoa serta merupakan usaha pemerintah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Surabaya. Pemilihan tema “Sejarah Kya-kya Kembang Jepun Surabaya 2003-2008” ini dengan pertimbangan bahwa Kota Surabaya merupakan kota yang menjadi pusat perdagangan di Indonesia sehingga peneliti tertarik tentang sejarah perdagangan Kota Surabaya yaitu perdagangan Kya-kya, selain itu Kya-kya merupakan salah satu perdagangan yang unik di Surabaya, keunikan tersebut dapat dilihat dari arsitektur perdagangan yaitu arsitektur Tionghoa dan pedagang yang ada di Kya-kya bukan hanya pedagang Tionghoa tetapi juga terdapat pedagang Jawa dan Madura meskipun perdagangan Kya-kya berarsitektur Tionghoa. Permasalahan pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kondisi umum Kota Surabaya 2003-2008, (2) Bagaimana berdirinya Kya-kya Surabaya, (3) Bagaimana perkembangan Kya-kya Surabaya 2003-2008. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kondisi umum Kota Surabaya, berdirinya Kya-kya Surabaya serta perkembangan Kya-kya Surabaya 2003-2008. Jenis penelitian ini adalah deskriptif naratif. Metode yang digunakan dari kajian penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut: (1) Pemilihan topik, (2) Heuristik (Pengumpulan sumber) yang terdiri dari sumber primer, sumber skunder, dan sumber tersier. Langkah berikutnya adalah (3) Kritik Sumber yang terdiri dari kritik eksteren dan kritik interen. (4) Interpretasi yang terdiri dari analisis dan sintesis, kemudian langkah yang terakhir yaitu (5) Historiografi. Hasil penelitian ini adalah (1) Surabaya terletak di 07° 21' Lintang Selatan dan 112° 36' - 112° 54' Bujur Timur dan merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kondisi sosial-ekonominya maju, karena Surabaya sebagai salah satu pintu gerbang perdagangan utama di wilayah Indonesia Timur. Banyak pedagang dari berbagai wilayah Indonesia bahkan pedagang Asing ada di Surabaya. (2) Kya-kya merupakan salah satu bentuk usaha Pemerintahan Kota Surabaya dalam meningkatkan pendapatan asli daerah Surabaya. Kya-kya ini dibangun di Jalan Kembang Jepun Surabaya, yaitu perdagangan yang khusus menjual makanan dan minuman yang berarsitektur Tionghoa. Pendirian Kya-kya didukung oleh beberapa faktor yaitu Pada tahun 2003 yaitu pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid mencabut Instruksi Presiden No 14/1967 dan menerbitkan Keputusan Presiden No 6/2000, Perda yang disahkan DPRD Surabaya pada 19 September 2003, tentang PKL Surabaya, dan menghidupkan kembali kawasan Kembang Jepun sebagai pusat perdagangan. (3) Pada awal pembukaan tahun 2003 pedagang Kya-kya mencapai 87 pedagang dan pada tahun 2004 pedagang meningkat mencapai 105 pedagang tetapi pada tahun-tahun berikutnya selalu mengalami penurunan, yang mencapai puncaknya pada tahun 2007-2008 jumlah pedagang hanya 29 pedagang. Perkembangan Kya-kya juga dapat dilihat dari pendapatan Kya-kya yang selalu rugi. Pada tahun 2003-2004 kerugian yang harus ditanggung Rp.(1.551.690.981), kerugian tersebut meningkat pada tahun 2005 sebesar Rp.(1.618.323.417). Jumlah kerugian Kya-kya dari tahun 2003-2008 sebesar Rp.(4.443.782.678). Kerugian Kya-kya disebabkan oleh beberapa faktor Internal yaitu Manajemen yang kurang bagus : pemilihan makanan tidak selektif dan adanya pedagang yang tidak professional. Faktor ekternal yaitu Surabaya Utara adalah wilayah yang dijauhi oleh masyarakat, masyarakat cenderung mendekati daerah Surabaya Selatan sebagai pusat Industri. Selain itu juga kurangnya dukungan pedagang yang ada di pinggiran perdagangan Kya-kya yaitu pada malam hari pedagang-pedagang atau toko-toko tersebut tutup serta tidak adanya sumbangsi dari pemerintah yang akhirnya Kya-kya tepat pada 29 Februari perdagangan ini ditutup. Berdasarkan hasil kajian ini, dapat disimpulkan bahwa Kya-kya merupakan salah satu perdagangan yang latar belakangnya adalah membangkitkan kembali sejarah budaya Tionghoa yang pernah dibatasi pemerintah orde baru. Kya-kya menjadi salah satu perdagangan besar di Surabaya tapi kurang diperhatikan oleh pemerintah Kota Surabaya, yang mengakibatkan runtuhnya Kya-kya tersebut.

Implementasi moodle weekly sebagai media pembelajaran E-Learning di SMA Negeri 1 kedamean - Gresik / Roni Mujiono

 

Sistem informasi sangatlah penting untuk kemajuan suatu lembaga pendidikan, terutama dalam hal proses pembelajaran. Sekolah dikatakan maju jika proses pembelajarannya berkualitas. Selama ini proses pembelajaran masih banyak menggunakan sistem manual, yaitu metode ceramah tanpa adanya media. Proses seperti ini permasalahan banyak muncul misal kurangnya responsif siswa, tidak interaktif, guru hanya berceramah, pengetahuan dan tidak tahun cara penggunaan media belajar. Untuk itu perlu adanya suatu sistem yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu metode yang penulis tawarkan adalah dengan merancang sistem pembelajaran e-learning dengan menggunakan media komputer jaringan sehingga dapat memberikan kemudahan bagi siswa maupun guru dalam proses pembelajaran.. Perancangan sistem e-learning ini terdiri dari unit sentral yang terdiri dari komputer, kabel UTP sebagai penghubung komputer server ke komputer klien.. Softwere yang digunakan Moodle Weekly sebagai pengolah dan menampilkan data, dan Xampp sebagai web server. Data yang diinputkan berupa Microsoft word. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tampilan sistem dan materi dapat di akses oleh siswa menggunakan komputer klien dalam satu jaringan lokal. Pemberian kuis dan jajak pendapat juga bisa dilakukan dengan cara ketik pada addres bar komputer klien http://IP server/moodle .

Model pembelajaran TIK melalui netop pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 11 Pasuruan / Khumairoh

 

Using outlining strategy in the form of word webs to increase students' writing abillity at SMP 10 Malang / Kartini Sari Dewi

 

Writing is usually considered the most difficult skill of English to master. In junior high school level, students face some problems in writing. Most of the students perform poorly in their writing. Based on the researcher’s interview with the students, the major problems faced by them are how to generate ideas and how to organize the ideas well. To overcome the problems, an outlining strategy in the form of word webs is proposed to be applied in teaching writing. The technique is chosen because it is simple and good for students in the junior high school level. To generate and organize their ideas well, students have to answer WH-questions in the word webs. The objective of the study is to increase students’ writing ability in generating and organizing their ideas for writing recount compositions using outlining strategy. Classroom Action Research (CAR) is used in this study. The research is conducted in two cycles, each cycle covers planning an action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. The subjects were the students of class VIII.G of SMP 10 Malang which consisted of 35 students. There were three kinds of data gained: the students’ scores, the result of interviews, and field notes. The data gained from the interviews were converted into a description of the students’ responses toward the implementation of the technique. The field notes were presented into an explanation describing the students’ attitudes and the condition of the classroom. The result of the research showed that the outlining strategy in the form of word webs effectively increased the students’ writing ability in generating and organizing ideas of writing recounts. The scores of the students’ writing in Cycle 2 significantly increased compared to the scores of the students’ writing in the preliminary study. The significant improvement of the students’ scores might also have been influenced by the following additional factors: more time provided to think and practice writing recount compositions and an opportunity for students to choose their own topic. Based on the result of this study, it is suggested that English teachers apply the outlining strategy in the form of word webs in the teaching of writing recount to increase students’ writing ability in generating and organizing their ideas well. In addition, further researchers are suggested to use more respondents in different setting and conditions to see whether the technique can be implemented effectively.

Peningkatan keketerampilan berbicara bahasa Indonesia melalui permainan puzzle siswa kelas 1 SDN Bareng V di Kecamatan Klojen Kota Malang / Frety Octoriza Setyobudi

 

Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Wilkin (dalam Oktarina, 2002) (Online, 23 Maret 2009) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda. Permainan dipandang sebagai aktivitas yang memiliki karakteristik sebagai berikut: aktivitas atas dasar motivasi instrinsik, si pelaku bebas menentukan pilihan, berorientasi pada proses bukan hasil, dan menyenangkan (Johnson, Christie, dan Yanwkey, 1987). Permainan dalam permainan ini menggunakan media puzzle, yaitu papan gambar cerita yang dapat dibongkar dan disusun kembali sepeti gambar semula. Penggunaan permainan puzzle dalam pembelajaran berbicara diterapkan melalui pendekatan konstruktivisme menggunakan metode pembelajaran bermain. Pembelajaran ini diawali dengn kegiatan bercerita, tanya jawab, pembagiann kelompok, membongkar dan menyusun kembali sesuai dengan gambar semula, menceritakannya dengan menggunakan bahasa Indonesia sederhana, dan bermain peran sederhana. Kenyataan yang ada pada siwa kelas 1 di SDN Bareng V Kecamatan Klojen Kota Malang, ada survey awal berdasarkan wawancara dengan guru kelas serta pengamatan langsung penulis pada saat pembelajaran berlangsung dapat diketahui bahwa keterampilan berbicara siswa belum maksimal. Ketika siswa berbicara masih mengalami permasalahan antara lain siswa kurang konsentrasi, masih sering menggunakan bahasa daerah, kurangnya ide, gerak/mimik yang belum sesuai, dan lain sebagainya. Kurang maksimalnya kemamuan berbicara siswa dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: (1) kurangnya motivasi, (2) kurangnya media pembelajaran, dan (3) kurang tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Penelitin ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaboratif (kerjasama) dengan guru kelas 1. Penelitian ini terdiri dari 3 siklus yangdilaksanakan tanggal 27 April 2009 sampai dengan 19 Mei 2009. Siklus 1 dilaksanakan pada hari kamis tanggal 30 April 2009, siklus 2 dilaksanakan pada hari senin tanggal 4 Mei 2009, dan siklus 3 dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19 Mei 2009. Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia diketahui dengan menggunakan lembar observasi, lembar penilaian proses pembelajaran setiap siklus, lembar dokumentasi, dan lembar portofolio Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa melalui permainan puzzle yang meliputi kegiatan menyusun gambar, bercerita dan bermain peran sederhana. Keterampilan berbicara siswa meningkat dari siklus 1 dengan rata-rata kelas sebesar 5,33; siklus 2 dengan rata-rata kelas sebesar 6,85; dan siklus 3 dengan rata-rata sebesar 8,53. Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa pembelajaran dengan menggunakan permainan puzzle dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas 1 khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Bareng V Kecamatan Klojen Kota Malang. Pada penelitian selanjutnya disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan puzzle pada pokok bahasan lain.

Pengaruh tingkat kebangkrutan terhadap harga saham melalui trading volume activity (TVA) pada Perusahaan automotive & allied products yang go public (Periode 2003-2007) / Andoko

 

ABSTRAK Andoko. 2009. Pengaruh tingkat kebangkrutan terhadap harga saham melalui trading volume activity (TVA) pada perusahaan automotive & allied products yang go public (Periode Tahun 2003-2007). Skripsi, Program Studi S1 Manajemen (Konsentrasi Manajemen Keuangan) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Agung Winarno, M.M, (II) Yuli Soesetio, S.E.M.M. Kata Kunci: Tingkat kebangkrutan altman, Trading volume Activity (TVA), Harga Saham. Informasi tingkat kebangkrutan sangat dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan investasi, karena pada dasarnya seorang investor memutuskan untuk berinvestasi dengan melihat semua faktor, termasuk tingkat kebangkrutan. Apabila suatu perusahaan memiliki kondisi keuangan yang sehat yang mencerminkan prospek yang baik, menunjukkan aktivitas perdagangan saham yang baik maka nilai perusahaan tersebut juga akan meningkat yang tercermin pada harga saham perusahaan, demikian pula sebaliknya. Untuk mempelajari tingkah laku investor, terdapat suatu indikator penting yaitu dengan melihat perubahan volume perdagangan saham atau yang disebut Trading Volume Activity. Perubahan tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan saham dan mencerminkan keputusan investasi yang dilakukan investor dalam memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko yang dihadapi. Prediksi kebangkrutan model Altman yang diduga memiliki pengaruh terhadap harga saham melalui trading volume activity. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kebangkrutan, tingkat trading volume activity, tingkat harga saham, serta pengaruhnya terhadap harga saham melalui trading volume activity. Populasi dari penelitian ini berjumlah 19 perusahaan automotive & aliied products. Berdasarkan penilaian kriteria maka sampel penelitian ini memiliki 10 perusahaan yang terpilih. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis path. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kebangkrutan tidak berpengaruh terhadap trading volume activity, dan trading volume activity tidak berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan tngkat kebangkrutan berpengaruh terhadap harga saham tetapi tingkat kebangkrutan terhadap harga saham melalui trading volume activity tidak berpengaruh. Penelitian selanjutnya disarankan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi, beberapa perbaikan yang dapat dilakukan pada penelitian- penelitian berikutnya adalah penambahan metode analisis untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan tidak hanya dengan analisis diskriminan Altman (z- score) saja. Serta penambahan jumlah obyek penelitian mengingat masih ada kemungkinan di masa yang akan datang bahwa perusahaan yang listing di BEI dalam sektor otomotif bertambah.

Pengembangan model latihan strategi serangan futsal di SMA Negeri 9 Malang / Darus Shufi

 

Permainan futsal merupakan hasil pengembangan dari permainan sepakbola lapangan besar. Salah satu ciri permainan futsal adalah bermain dengan kecepatan. Permainan futsal kini merupakan salah satu pilihan sekolah untuk dijadikan kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka kegiatan peningkatan prestasi. Pada umumnya permainan futsal mempunyai tujuan yang sama dengan permainan sepakbola yaitu memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Hal ini membutuhkan sebuah strategi permainan yaitu strategi serangan yang terkoordinasi. Apabila strategi serangan tersebut sudah bisa dikuasai/terkoordinir dengan baik, tentunya permainan futsal akan berjalan dengan baik, menarik, dan dapat memperbesar peluang untuk menghasilkan gol. Pelaksanaan latihan futsal untuk tingkat pemula terlebih dahulu diperkenalkan dengan teknik dasar yaitu teknik dasar passing, controlling, dribbling, dan shooting. Setelah semua teknik dasar dikuasai selanjutnya adalah melatihkan strategi-strategi dalam permainan futsal. Sesuai dengan tujuan permainan futsal, maka strategi serangan yang baik akan ikut menentukan seberapa besar tim tersebut memperoleh peluang untuk menghasilkan gol dan memperoleh kemenangan. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan melalui observasi, wawancara dan kuesioner dengan pihak yang bersangkutan di sekolah SMA Negeri 9 Malang (peserta dan pelatih ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 9 Malang) secara umum diperoleh hasil sebagai berikut: Peserta atau tim kurang menguasai strategi serangan dalam permainan futsal, sedangkan teknik dasar yang dikuasai oleh peserta ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 9 Malang sudah baik. Pelatih belum memberikan model-model latihan strategi serangan futsal yang menarik dan sesuai dengan kondisi saat di lapangan, selama ini strategi yang diberikan oleh pelatih kurang menarik dan kurang relevan dengan keadaan di lapangan karena pelatih hanya memberikan strategi secara lisan dan tidak dipratikkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum adanya model-model latihan strategi serangan futsal yang diterima oleh peserta ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 9 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model-model latihan strategi serangan futsal sehingga dapat memperbesar peluang tim untuk menciptakan gol dan membantu pelatih dalam penyampaian materi strategi serangan. Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk para ahli dan siswa. Dengan kualifikasi, 3 ahli futsal dan 1 ahli media (hanya diambil saran), sedangkan untuk siswa dilakukan uji coba (kelompok kecil) sebanyak 10 siswa, dan uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 24 siswa. Hasil analisis data penelitian berupa pengembangan model latihan strategi serangan futsal di SMA N 9 Malang ini adalah sebagai berikut: dari 3 ahli futsal sudah sesuai di berikan kepada siswa yaitu persentasenya 93,5%, dari uji coba (kelompok kecil) yaitu persentasenya 82,71%, dan dari uji lapangan (kelompok besar), yaitu persentasenya 90,75%, sehingga produk penelitian pengembangan ini memperoleh kelayakan untuk digunakan oleh subjek penelitian. Secara garis besar hasil pengembangan model latihan strategi serangan futsal ini terdiri dari 10 model latihan strategi serangan futsal yang dinamis. Pengembangan model latihan strategi serangan ini didasarkan oleh pola formasi dan unsur-unsur teknik yang dibutuhkan saat melakukan strategi serangan futsal.

Analisis produktivitas kewrja dosen tetap Universitas swasta di kota Malang dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat / oleh Suryani

 

Kontribusi hasil program orientasi dan komitmen terhadap kinerja dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi di IKIP Budi Utomo Malang / oleh Yahmin

 

Peran ganda dosen sebagai tenaga fungsional dan yang memegang jabatan “ struktural” (sudi kasus kemampuan menejerial ketua STAIN Majasari dan fungsinya sebagai dosen / oleh Syukri

 

Sintesis dan karakterisasi zink stearat dari asam stearat dengan zink klorida / Laili Nuzula

 

Sabun yang selama ini dikenal masyarakat merupakan suatu garam dari asam karboksilat suku tinggi dengan natrium atau kalium. Berdasarkan pengertian sabun sebagai suatu garam dari asam karboksilat rantai panjang, maka kation Na+ atau K+ dapat ditukar dengan kation lain misalnya aluminium. Keberhasilan sintesis sabun aluminium mendorong dilakukan penelitian untuk mensintesis sabun zink dengan metode yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis zink stearat dari asam stearat dengan zink klorida dan mengetahui karakterisasinya. Penelitian ini merupakan survei laboratoris melalui eksperimen. Tahapan sintesis zink stearat yang dilakukan adalah: (1) sintesis sabun natrium melalui reaksi saponifikasi asam stearat dengan natrium hidroksida, (2) sintesis zink stearat melalui reaksi trans-saponifikasi sabun natrium dengan zink klorida, (3) pemurnian senyawa hasil sintesis dengan cara pencucian berulang-ulang menggunakan aquades, (4) karakterisasi senyawa hasil sintesis yang meliputi: penentuan titik lebur, uji kelarutan, degradasi dengan asam nitrat 2 M dan asam klorida dengan pH 1, 2, dan 3, analisis kualitatif ion zink dan klorida secara kimiawi, dan analisis kuantitatif zink dan natrium dengan Spektrofotometer Serapan Atom, (5) identifikasi gugus fungsi senyawa hasil sintesis dengan metode spektrofotometri Inframerah. Data yang digunakan untuk mengetahui karakter senyawa hasil sintesis didasarkan pada data-data yang diperoleh dari tahap-tahap penelitian tersebut. Zink stearat hasil sintesis adalah zink dikarboksilat berupa serbuk putih dengan titik lebur 126-130 °C, kelarutan dalam benzena 0,030 g/mL dan pernis 0,020 g/mL. Analisis kuantitatif zink dengan AAS menunjukkan zink stearat hasil sintesis adalah zink dikarboksilat. Identifikasi dengan metode spektrofotometri IR mengandung anion karboksilat pada zink stearat hasil sintesis.

Pengaruh motivasi berprestasi dan cara belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Prodi Tata Boga Universitas Negeri Malang / Widha Ayu Rima M.

 

Berbagai upaya mewujudkan visi dan misi Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM) dan semua Jurusan beserta Program Studi yang ada di dalamnya senantiasa dilakukan secara sistematik. Sedangkan Jurusan Teknologi industri itu sendiri memiliki Visi dan Misi seperti, Visi Teknologi Industri itu sendiri adalah terwujudnya Program Studi (Prodi) S1 Pendidikan Tata Boga sebagai pusat keunggulan dan lembaga rujukan penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan, penelitian dan penerapan ilmu serta teknologi kependidikan dalam bidang Tata Boga yang relevan dengan kebutuhan pembangunan dan masyarakat. Sedangkan Misi Teknologi Industri adalah (1) Menyelenggarakan pendidikan tenaga kependidikan kejuruan bidang Tata Boga yang unggul, (2) Menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas pada bidang Tata Boga sesuai dengan kebutuhan dunia usaha/ industri, dan kebutuhan pembangunan, dengan menerapkan sistem pendidikan yang efektif, efisien, dan fleksibel, (3) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi Tata Boga melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang menghasilkan karya akademik dan temuan-temuan yang berbobot dan bermakna, (4) Menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi Tata Boga yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat dan kemanusiaan, (5) Menjadi pusat informasi dalam bidang pengembangan teknologi Tata Boga dan kewirausahaan berbasis teknologi Tata Boga, (6) Mengembangkan kerjasama dengan berbagai lembaga baik di dalam maupun di luar UM dalam rangka pengembangan pendidikan, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat pada bidang Tata Boga.

Pemahaman siswa kelas X dan XI di SMA Negeri 1 Situbondo tentang pengertian dan tujuan pendidikan jasmani / Dia Hidayanti

 

Pemahaman merupakan suatu proses memahami arti/makna tertentu dan kemampuan menggunakannya pada situasi lainnya (Mrozek, 2000). Sedangkan menurut Sunaryo (1984:7) pemahaman meliputi penerimaan dalam komunikasi secara akurat, menempatkan hasil komunikasi dalam bentuk penyajian yang berbeda, mengorganisasikan secara singkat tanpa merubah pengertian dan dapat mengeksplorasikan. Kata-kata yang dapat dipakai menterjemah, menyatakan kembali, di diskusikan, gambarkan, mengorganisasikan, jelaskan, identifikasi, tempatkan, review, ceritakan, dan paparkan. Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diketahui bahwa pemahaman pada penelitian ini diartikan sebagai kemampuan siswa untuk mengkonstruksi kembali pelajaran yang telah diterima. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemahaman merupakan kemampuan kognitif yang dimiliki seseorang untuk mencerna suatu hal yang dianggap baru atau masih belum mengerti. Pemahaman merupakan tingkatan setelah proses mengetahui sesuatu hal. Selain itu pemahaman diartikan untuk menguasai materi atau bahan yang telah dilihat, didengar, dilakukan, dan dipelajari, sampai dengan mampu menerapkan sendiri untuk menyelesaikan masalah yang terjadi tanpa mengubah sebuah pengertian. Sebagaimana berbagai tingkatan dalam berpikir, maka terdapat berbagai tingkatan pemahaman. Tingkatan pemahaman merupakan tingkatan tertinggi dalam berpikir Burn (1984:177). Adapun macam-macam pemahaman yaitu: (1) pemahaman literal (literal comprehension), (2) pemahaman inferensial, (3) pemahaman kritis (critical comprehension), (4) pemahaman kreatif (creative comprehension). 1)Pemahaman Literal (literal comprehension) Pemahaman literal adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara luas. Pemahaman literal merupakan pemahaman tingkat paling rendah. . Pemahaman literal diperoleh melalui kegiatan pembelajaran secara efektif. 2) Pemahaman Inferensial Pemahaman inferensial merupakan pemahaman yang diperoleh dengan cara memahami pembelajaran secara langsung. 3) Pemahaman Kritis Pemahaman kritis merupakan mengevaluasi materi. Pemahaman kritis pada dasarnya sama dengan pemahaman evaluatif. Pemahaman kritis mencakup kemampuan membuat penilaian/ keputusan yang berkenaan dengna hal-hal sebagai berikut: (a) keputusan tentang kejadian atau peristiwa, (b) keputusan tentang fakta atau opini, dalam hal ini siswa memberikan kesimpulan, (c) keputusan tentang kesahihan, dalam hal ini siswa menilai materi yang diberikan, (d) keputusan tentang ketepatan, (e) keputusan tentang kebenaran. 4)Pemahaman Kreatif merupakan pemahaman yang tertinggi, dimana pada pemahaman ini ada beberapa kemampuan yang mencakup di dalamnya. Kemampuan itu antara lain (a) merespon, (b) mengidentifikasi, (c) mereaksi, (d) mengimajinasi. Pada hakikatnya pendidikan jasmani adalah salah satu mata pelajaran yang dipercaya secara universal sebagai mata pelajaran yang menjadikan proses pendidikan di sekolah menjadi lengkap, utuh, mengantarkan siswa mengalami perubahan dan pertumbuhan total dalam dirinya. Melalui aktivitas jasmani yang berbentuk latihan memberikan manfaat bagi siswa dalam bentuk kesegaran jasmani dan pemeliharaan kesehatan. Berdasarkan Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:01): ”Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan jasmani secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan nasional”. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan yang menggunakan gerak, permainan, olahraga, dan aktivitas fisik lainnya sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Selanjutnya menurut Syarifudin (1997:3) Pendidikan Jasmani menrupakan bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan mengembangkan individu secara organik, neoromuskular, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual. Hal ini diperkuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:01) Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilam motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Pendidikan jasmani yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani yang tepilih secara sistematis. Dengan pendidikan jasmani siswa akan memperoleh berbagai ungkapan yang erat kaitannya dengan kesan pribadi yang menyenangkan serta berbagai ungkapan yang kreatif, terampil, memiliki kebugaran jasmani, kebiasaan hidup sehat dan memiliki pengetahuan serta pemahaman terhadap gerak manusia. Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani terdapat tujuan-tujuan yang harus dilaksanakan, antara lain: Tujuan utama dari program pendidikan jasmani untuk Sekolah Menengah Atas adalah: ”(a) memungkinkan siswa untuk dapat belajar bagaimana gerak lebih terampil, (b) Memungkinkan siswa untuk lebih memahami variabel-variabel yang mempengaruhi partisipasi mereka dalam kegiatan jasmani dan permainan, (c) Membantu siswa menghubungkan keterampilan dalam bentuk pengetahuan yang baru dengan apa yang telah dipelajarinya sebelumnya, (d) Menyempurnakan kemampuan tiap siswa untuk menerapkan keterampilan yang rasional dan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan jasmani dalam masalah-masalah kehidupan nyata”. Dengan demikian dapat disimpulkan pendidikan jasmani di sekolah bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari keterampilan gerak melalui kawasan fisik, psikomotor dan mengembangkan keterampilan baru yang telah dipelajari, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan gerak dalam berolahraga sangat berkaitan dengan kebugaran jasmani, dimana kebugaran jasmani merupakan aspek penting dari psikomotorik. Dalam artian, sering dibedakan konsep kebugaran jasmani ini dengan konsep kebugaran motorik. Keduanya dibedakan dalam hal kebugaran jasmani menunjuk pada aspek kualitas tubuh dan organ. Seperti: kekuatan (otot), daya tahan (jantung dan paru-paru), kelentukan (otot dan persendian) sedangkan kebugaran motorik menekankan aspek penampilan melibatkan kualitas gerak sendiri seperti: kecepatan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan dan lain-lain. Fungsi pendidikan jasmani, dalam buku standart kompetensi mata pelajaran pendidikan jasmani (2003:2) adalah untuk menungkatkan dan mengembangkan aspek organik, aspek neuromuskuler, aspek kognitif, aspek sosial, dan aspek emosional. Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan dan merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani anak didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan dan merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani anak didik. Pemahaman terhadap pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, memahami isi pokok terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolah. Pemahaman terhadap pendidikan jasmani dipengaruhi oleh faktor pengetahuan. Dalam faktor pengetahuan ada beberapa hal yang mempengaruhi yaitu Faktor internal seperti kepribadian, pengalaman, motivasi, nilai-nilai dan sebagainya yang tak dapat dihindari pengaruhnya terhadap pengetahuan dan selanjutnya akan membentuk pemahaman siswi tentang pendidikan jasmani. Faktor eksternal salah satunya adalah keragaman materi pendidikan jasmani yang dipelajari, juga menyebabkan perbedaan penyerapan pemahaman terhadap materi pendidikan jasmani secara keseluruhan. Pemahaman terhadap pendidikan jasmani dapat diukur melalui indikator pengertian dan tujuan pendidikan jasmani, dengan menggunakan angket. Pengukuran dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan memberikan skor terhadap pemahaman siswi mengenai sejumlah pertanyaan tentang pendidikan jasmani.

Perbandingan jaringan lokal yang menggunakan topologi bus dan star yang terkoneksi dengan internet pada SMK 2 Islam Durenan / Yogyantoro

 

Jaringan komputer adalah sebuah kumpulan komputer, primter dan peralatan lainnya yang terhubung dalam satu kesatuan. nformasi dan data bergerak melalui kabel-kabel atau tanpa kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat salimg bertukar dokumen dan data , mencetak pada printer yang sama dan bersama-sama menggunakan hardware atau software yang terhubung dengan jaringan. Dalam pembahasan ini jenis jaringan yang digunakan adalah LAN (Local area network). LAN merupakan jaringan milik pribadi di dalam sebuah gedung atau kampus yang berukuran sampai beberapa kilometer. Sebuah LAN, adalah jaringan yang dibatasi oleh area yang relative kecil, umumnya dibatasi oleh area lingkungan seperti sebuah perkantoran di sebuah gedung , atau sebuah sekolah, dan biasanya tidak jauh dari sekitar 1 km persegi. Jaringan komputer terbentuk dari beberapa komputer yang saling terhubung melalui media komunikasi (kabel,wireless)dan beberapa hardware pendukung. Cara menghubungkan komputer satu dengan lainnya sehingga membentuk jaringan disebut Topologi.ada beberapa jenis Topologi. Diantaranya topologi bus yang merupakan topologi jaringan yang paling sederhana. Seluruh komputer terhubung pada satu media transmisi yaitu kabek coaxial. Ada juga jenis topologi star yang pada tiap komputer dalam jaringan terhubung pada sebuah alat yang disebut switch atau hub.Media koneksi yang digunakan adalah kabel UTP atau 10/100/1000 base-T Tujuan penulisan Tugas Akhir ini untuk membandingkan efektifitas dan efisiensi penggunakan dua jenis topologi ,yaitu antara topologi bus dan topologi star pada SMK 2 Islam Durenan di Kabupaten Trenggalek. SMK 2 Islam Durenan merupakan sekolah swasta yang memiliki jurusan TKJ dengan jumlah murid yang terus bertambah tiap tahunnya. Oleh karena itu penelitian ini akan sangat berguna untuk dijadikan referensi bagi siswa dan yang berkepentingan untuk memilih jenis topologi. Pemilihan jenis jaringan perlu mempertimbamgkan alokasi dana dan kondisi gedung atau alokasi tempat jaringan dibuat. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa di SMKN 2 Durenan penerapan topologi star lebih efektif karena kemudahan untuk menambah, mengurangi dan mendeteksi kerusakan jaringan. Sedangkan untuk pembuatan topologi bus terkendala ketersediaan BNC yang sekarang cukup sulit didapatkan dipasaran.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan dan loyalitas konsumen rumah majan ayam bakar Wong Solo Cabang Malang / Riri Fahriabuna

 

Di kota Malang terdapat beberapa rumah makan yang menyajikan produk khas daerah, salah satunya rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Rumah makan Ayam Bakar Wong Solo merupakan salah satu usaha waralaba di Indonesia yang tangguh dengan falsafah “Halalan Tayyiban” menghadirkan produk yang halal dan baik, dimana rumah makan ini lebih mengutamakan pelayanan kepada pelanggan setelah produk yang berkualitas. Kualitas pelayanan mempengaruhi kepuasan konsumen dan akan menciptakan konsumen yang loyal, hal ini tergambar dari berkembangnya usaha rumah makan Ayam Bakar Wong Solo sampai mencapai 47 cabang diberbagai kota termasuk di kota Malang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: (1) Kualitas pelayanan, (2) Kepuasan konsumen, (3) Loyalitas konsumen, (4) Pengaruh secara langsung antara kualitas pelayanan yang terdiri dari dimensi keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik secara parsial terhadap kepuasan konsumen, (5) Pengaruh secara langsung antara kualitas pelayanan secara simultan terhadap kepuasan konsumen, (6) Pengaruh secara tidak langsung antara kualitas pelayanan terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen, (7) Pengaruh secara langsung antara kepuasan konsumen dengan loyalitas konsumen, (8) Variabel kualitas pelayanan yang paling berpengaruh terhadap kepuasan konsumen. Jenis penelitian yaitu penelitian penjelasan (explanatory research) dengan menggunakan metode penelitian survey. Data yang diperoleh menggunakan angket tertutup skala Likert dengan lima alternatif jawaban. Populasi dalam penelitian ini adalah responden yang makan di rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling. Sumber data berupa data primer dan sekunder, sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda. Penelitian ini mempunyai 3 variabel, yaitu variabel bebas, variabel intervening, dan variabel terikat. Hasil penelitian yaitu: (1) Kualitas pelayanan rumah makan Ayam Bakar Wong Solo cukup banyak responden menyatakan kurang setuju terhadap variabel bukti fisik yaitu indikator tampilan fisik eksterior. (2) Kepuasan konsumen dikatakan baik, hal tersebut berdasarkan cukup banyak responden yang menyatakan setuju. (3) Loyalitas konsumen dikatakan baik, hal tersebut berdasarkan cukup banyak konsumen yang menyatakan setuju. (4) Kualitas pelayanan secara parsial berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan konsumen hal tersebut dapat dilihat dari bukti fisik: nilai B = 0,167, t = 4,529, dan sig = 0,000, keandalan: nilai B = 0,588, t = 11,111, dan sig = 0,000, daya tanggap: nilai B = 0,252, t = 4,059, dan sig = 0,000, jaminan: nilai B = 0,110, t = 3,167, dan sig = 0,002, empati: nilai B = 0,091, t = 3,244, dan sig = 0,002. (5) Kualitas pelayanan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen dengan nilai Fhitung sebesar 121,908, sig = 0,000, dan nilai R square sebesar 55,4% dan 44,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini. (6) Kualitas pelayanan berpengaruh secara tidak langsung terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen dengan nilai Fhitung sebesar 19,640, sig = 0,000, dan nilai R square sebesar 16,7% dan 83,3% dipengaruhi oleh variabel lain. (7) Kepuasan konsumen berpengaruh terhadap loyalitas konsumen dengan nilai Fhitung sebesar 35,835, sig = 0,000, dan nilai R square sebesar 26,8% dan 73,2% dipengaruhi oleh variabel lain. (8) Variabel keandalan paling berpengaruh dominan terhadap kepuasan konsumen sebesar 56,7%. Adapun saran yang dapat diberikan kepada pihak rumah makan ayam Bakar Wong solo yaitu lebih memperhatikan tampilan fisik eksterior seperti meja bagian luar diberi penghalang atau ditutup. Kemudian untuk lahan parkir ada baiknya jika diperluas dan diberi atap. Pada mushola lebih diperhatikan kebersihan dan kenyamanan serta diperluas. Penampilan karyawan hendaknya pada hari tertentu mengenakan seragam yang merupakan karakteristik dari rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Saran bagi peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut variabel kualitas pelayanan agar dapat diperbaiki variabel-variabel yang terdapat pada kualitas pelayanan. Penanganan lebih lanjut untuk variabel bukti fisik indikator tampilan fisik eksterior. Pengaruh kualitas pelayanan perlu diperhatikan hal-hal yang mempengaruhi loyalitas konsumen.

Pakempalan Kawulo Surokarto (PKS) 1932-1943: gerakan sosial dan partisipasi politik kawulo di Surakarta serta keterkaitannya dengan pendidikan sejarah / Indah Wahyu Puji Utami

 

ABSTRAK Utami, Indah Wahyu Puji.2009.Pakempalan Kawulo Surokarto (PKS) 1932-1943: Gerakan Sosial dan Partisipasi Politik Kawulo di Surakarta serta Keterkaitannya dengan Pendidikan Sejarah. Skripsi, Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Joko Sayono, M.Pd, M.Hum, (II) Dra. Hj. Siti Malikhah Thowaf, M.A., Ph.D. Kata kunci: PKS, gerakan sosial, partisipasi politik Penulisan sejarah mengenai periode 1930an didominasi oleh tema-tema organisasi pergerakan nasional, padahal pada saat itu juga muncul berbagai organisasi lokal misalnya PKS. PKS merupakan sebuah organisasi kawulo yang sifatnya lokal, dan menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan sosial politik di Surakarta pada periode 1932-1943. Berbagai kegiatan dan kampanye PKS menunjukkan ide-ide serta semangat perjuangan untuk mengusir penjajah. Hal ini merupakan nilai-nilai yang dapat diteladani oleh generasi mendatang. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah latar belakang pendirian Pakempalan Kawulo Surokarto (PKS) ? (2) Bagaimanakah perkembangan Pakempalan Kawulo Surokarto (PKS) pada tahun 1932-1943? (3) Bagaimanakah partisipasi politik Pakempalan Kawulo Surokarto (PKS) di Surakarta pada tahun 1932-1943? (4) Bagaimanakah keterkaitan nilai- nilai dalam Pakempalan Kawulo Soerokarto (PKS) 1932-1943 dengan pendidikan Sejarah? Penulis melakukan penelitian sejarah guna menjawab rumusan-rumusan masalah di atas. Penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pemilihan topik ini tak lepas dari kedekatan intelektual penulis dan masalah originalitas, yaitu belum ada tulisan yang membahas secara mendalam mengenai PKS sebagai sebuah gerakan sosial yang merupakan perwujudan dari partisipasi politik kawulo. Proses heuristik dilakukan dengan menelusuri sumber-sumber primer maupun sumber sekunder. Kritik yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi kritik ekstern dan kritik intern. Sumber yang lolos dari tahap kritik kemudian diinterpretasi dan ditulis dalam sebuah historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur sosial dan politik Surakarta pada masa itu menempatkan para kawulo dalam posisi yang rendah. Kondisi politik Surakarta awal abad XX diramaikan oleh hadirnya berbagai organisasi bumiputra, antara lain BO, SI, Abhipraya dan PBI. PBI mendorong pendirian PKS dengan tujuan untuk memperluas pengaruh PBI di kalangan rakyat kecil agar dapat menjadi partai rakyat yang sebenarnya. PKS merupakan sebuah organisasi kawulo yang melakukan berbagai kampanye untuk menarik massa di kalangan rakyat Surakarta, baik yang berada di wilayah Kasunanan maupun Mangkunegaran. Kampanye yang dilakukan oleh PKS pada periode awal berkisar pada masalah- masalah agraria, hukum, dan kesejahteraan rakyat, namun pada perkembangan berikutnya juga mengusung ide atau harapan-harapan bahwa bangsa asing akan pergi dari tanah Jawa sehingga Jawa akan kembali dikuasai oleh orang Jawa. Berbagai kegiatan dan kampanye PKS tersebut mampu menarik massa untuk bergabung dalam organisasi ini. Namun seperti organisasi lain, PKS juga pernah mengalami konflik internal sehingga jumlah keanggotaannya menurun tajam pada 1935. PKS berhasil bangkit lagi pada 1937 dan terus berkembang hingga tahun 1943. Kampanye dan kegiatan PKS menimbulkan reaksi dari beberapa pihak. Mangkunegaran yang merasa terusik dengan PKS mendirikan organisasi tandingan dengan nama PKMN. Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengawasan secara intensif pada PKS dan pernah menangkap para pemimpin PKS dengan tuduhan merencanakan pemberontakan. Pemerintah pendudukan Jepang yang melarang organisasi politik pernah melakukan penggeledahan dan penangkapan pada para pemimin lokal PKS atas tuduhan merencakan pemberontakan. PKS adalah sebuah organisasi yang melakukan gerakan sosial. Rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil oleh penguasa menyusun sebuah solidaritas dan identitas kolektif dalam 1 PKS dan menyusun gerakan-gerakan melawan pihak Mangkunegaran, Belanda ataupun Jepang yang mereka anggap sebagai penyebab ketidakadilan yang mereka rasakan. Gerakan sosial yang dilakukan oleh PKS menunjukkan ciri-ciri dari gerakan yang bersifat millenarianistis, mesianistis dan nativistis. Gerakan sosial yang dilakukan oleh PKS tersebut merupakan salah satu bentuk partisipasi politik. Partisipasi politik dalam PKS merupakan perpaduan dari autonomous participation dan mobilized participation. Partisipasi politik tersebut merupakan partisipasi tidak langsung karena rakyat berusaha mempengaruhi pemerintah melalui pihak lain yang dianggap dapat mempengaruhi pemerintah, yaitu organisasi PKS. Partisipasi politik PKS dilakukan melalui cara- cara konvensional maupun cara-cara di luar prosedur. Materi mengenai PKS 1932-1943 mengandung nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme yang dapat diteladani oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu materi ini dapat diajarkan pada tingkat pendidikan menengah maupun sebagai salah satu contoh kajian sejarah lokal, sejarah sosial atau sejarah politik pada tingkat perguruan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai PKS. Penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh PKS dalam sekolah Wuta Sastra.

The teaching of english at "Surya Buana" bilingua nature Islamic elemetary school Malang / Faikhah Falistatunis

 

As the implementation of The Decree of Ministry of Education and Culture (RI/No.0487/1992) that was followed by another one (No.060/4/1993), many elementary schools in Indonesia begin to provide English for their upper-class students, even for their lower-class students. However, based on the findings for a three-year research and from an observation in short training, more or less 80% of English teachers for young learners have a low qualification to teach English in elementary school, such as English education background and English skills. Additionally, there are some schools, which implements new concepts for their school. One of them is “Surya Buana” Bilingual Nature Islamic Elementary School Malang. This school combines two concepts – bilingual and nature concept. Therefore, it is interesting to investigate how is the teaching of English at “Surya Buana” Bilingual Nature Islamic Elementary School Malang that is done by a teacher without English education background. This study was intended to describe the teaching and learning process of English at “Surya Buana” Bilingual Nature Islamic Elementary School Malang. It was expected that the description of this study was beneficial as a feedback for the teacher and school in developing the school’s concepts. This study was a descriptive qualitative research. The subjects were the third-year classes of “Surya Buana” Bilingual Nature Islamic Elementary School Malang of 2008/2009 academic year. Data were obtained from the teacher and the students of the classes. The main instrument in the study was the researcher, who was supported by some instruments, i.e.: observation checklists, interview guide, and field notes. From the findings, it could be concluded that the teaching and learning processes had weaknesses in some aspects. The weaknesses were on the teaching techniques applied, the use of workbook, and the instructional media used. The teaching techniques applied were question-answer, listen-repeat, quiz, and games. The students use workbook instead of textbook. In addition, textbook, workbook, flash cards, and white board were the instructional media used by the teacher in the classroom. The teaching and learning process partially met with the objective of teaching English. Familiarizing English to the students in their daily life was not achieved yet. Consequently, the implementation of bilingual concept was in the low level; the students speak with their mother tongue most of the time. Besides, nature was partially appropriate when it was used as the media in the teaching and learning of learning. Based on the research findings, some suggestions were given for the betterment of teaching and learning process of English in the class. For the English teacher, she should work harder to increase the quality of the teaching learning process of English by implementing various teaching techniques, planning the teaching activities well in advance, selecting interesting instructional materials and media for her students, familiarizing the students with English daily expressions, and joining English course, seminars, or workshops to develop her qualification. For the principal, he should supervise whether the implementation of the program run well or not. The qualification of the teachers needs to be developed. For other people or institutions, they need to prepare well before implementing the same program. For the next researchers, it is suggested to conduct research about teaching English in elementary school with more specific focus so that the teaching of English in elementary school can be described and analyzed more deeply.

Penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi perkalian berbagai bentuk pecahan siswa kelas V SDN Ngerong Pasuruan / Rosanah

 

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas V ditemukan permasalahan-permasalahan antara lain: 1) siswa pasif dalam pembelajaran; 2) suasana pembelajaran yang tegang, dimana siswa dituntut harus segera menyelesaikan tugas yang diberikan guru; 3) penyelesaikan operasai perkalian berbagai pecahan tergantung contoh yang diberikan guru; 4) hasil belajar matematika yang rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa keaktifan, rasa senang, dan hasil belajar matematika siswa masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan secara terencana. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan, rasa senang, dan hasil belajar matematika materi perkalian berbagai bentuk pecahan siswa kelas V SDN Ngerong Pasuruan. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai 24 Pebruari-5 Maret 2009, dan dilakukan dalam 2 siklus. Rancangan penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas(PTK) model Kemmis dan Taggart, yang terdiri dari tahap: Planning/Perencannan, Acting and observasing/Tindakan dan observasi, Reflecting/Refleksi, dan rervise/Revisi. Hasil penelitian selama 2(dua) siklus dapat disimpulkan bahwa: 1) penerapan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran matematika dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas V SDN Ngerong Pasuruan, 2) penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan rasa senang siswa kelas V SDN Ngerong Pasuruan terhadap mata pelajaran matematika,penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Ngerong Pasuruan. Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, saran yang dapat diberikan adalah untuk penelitian selanjutnya hendaknya lebih intensif dalam melakukan pengamatan dan hendaknya pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan pada mata pelajaran lainnya.

Sintesis dan karakterisasi zink stearat dari asam stearat dengan zink sulfat / Kurnia Nuril Hikmah

 

Sabun secara kimia merupakan garam karboksilat dari logam alkali misalnya natrium atau kalium. Sabun natrium atau kalium dikenal masyarakat sebagai agen pembersih. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pula konsep tentang sabun. Sabun tidak hanya dari logam natrium atau kalium tetapi dapat diperoleh sabun yang mengandung logam lain seperti logam Al, Co, Ca, Pb dan Zn yang memiliki sifat dan fungsi yang berbeda dari logam alkali. Salah satu contohnya adalah zink stearat. Adanya keberhasilan mengenai sintesis sabun aluminium dengan menggunakan metode trans-saponifikasi, maka ada kemungkinan bahwa zink stearat juga dapat disintesis dengan menggunakan metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis zink stearat dari asam stearat dan zink sulfat melalui reaksi trans-saponifikasi dan mengkarakterisasinya. Penelitian ini merupakan survei laboratoris dengan metode eksperimen yang dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut: (1) sintesis natrium stearat melalui reaksi saponifikasi asam stearat dengan natrium hidroksida, (2) sintesis zink stearat melalui reaksi trans-saponifikasi natrium stearat dengan zink sulfat, (3) pemurnian senyawa hasil sintesis dengan cara pencucian menggunakan aquades, (4) karakterisasi senyawa hasil sintesis yang meliputi: uji kelarutan, penentuan titik lebur, analisis kualitatif ion Zn2+ dan SO42- secara kimiawi, analisis kuantitatif logam zink dan natrium dengan AAS, dan uji ketahanan zink stearat hasil sintesis terhadap variasi pH, (5) identifikasi gugus fungsi zink stearat hasil sintesis dengan Spektrofotometer Inframerah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zink stearat dapat disintesis dari asam stearat dengan zink sulfat melalui reaksi saponifikasi yang dilanjutkan dengan reaksi trans-saponifikasi. Zink stearat hasil sintesis berupa serbuk putih dengan titik lebur 122-130oC, kelarutan dalam benzena (0,03 gram/mL), tidak larut dalam air dingin, etanol absolut, aseton, petroleum eter, kloroform, dan n-heksana, hasil kuantitatif dengan AAS menunjukkan bahwa zink stearat hasil sintesis merupakan zink dikarboksilat. Zink stearat terdegradasi pada pH 1, 2, dan 3. Identifikasi zink stearat menggunakan metode spektrofotometri inframerah menunjukkan adanya pita-pita khas anion karboksilat.

Peningkatan pembelajaran menulis naskah drama melalui strategi konversi cerita pendek siswa kelas 5 SDN 76 Kota Tengah Kota Gorontalo / Sitti Rachmi Masie

 

Dalam Kurikulum KTSP, menulis naskah drama merupakan kompetensi dasar yang harus diajarkan kepada siswa kelas V SD. Hal ini menunjukkan pembelajaran apresiasi sastra sudah harus diajarkan kepada siswa, yang dapat diintegrasikan dengan empat keterampilan berbahasa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa keterampilan menulis sastra khususnya drama, masih kurang diminati. Salah satu penyebabnya guru kurang termotivasi memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan siswa untuk belajar menulis. Untuk mengatasi masalah tersebut, dipilihlah salah satu strategi yang efektif untuk memotivasi siswa dalam menulis naskah drama (MND), yaitu strategi konversi cerpen (SKCP). SKCP memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama melalui: (1) penentuan tokoh dan penokohan, (2) penentuan latar, (3) penentuan alur, (4) penentuan tema, dan (5) penentuan amanat. Dalam penelitian ini dilalui 3 tahapan, yaitu (1) tahap pramenulis, (2) tahap menulis, (3) tahap pascamenulis Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis naskah drama berdasarkan konversi cerpen tahap pramenulis, menulis, pascamenulis pada siswa kelas V SDN 76 Kota Tengah Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan PTK. Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, perencanaan, tindakan, dan observasi, serta refleksi. Studi pendahuluan adalah wawancara dan observasi. Tahap perencanaan dilaksanakan dengan menyusun rancangan pembelajaran, menyusun materi, menentukan media, menyusun rambu-rambu dan LKS. Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Refleksi dilakukan pada setiap akhir pembelajaran dan pertemuan pada setiap siklus. Data penelitian ini berupa data proses dan hasil tindakan, yaitu hasil observasi, kumpulan catatan lapangan, dan dokumentasi. Sumber data penelitian adalah hasil kerja siswa berupa kartu struktur dan naskah drama. Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui format observasi, format catatan lapangan, dan kartu struktur dan naskah drama. Analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data dilakukan ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pemeriksaan teman sejawat. Tahap pramenulis melalui 2 (dua) kegiatan, yaitu (1) pembangkitan skemata, dan (2) pemahaman cerpen. Pembangkitan skemata pada tahap pramenulis adalah filem, lagu anak, membaca gambar dan cerita. Hasil yang diperloleh dalam pembangkitan skemata yang dilakukan adalah memberikan motivasi kepada siswa untuk dapat belajar memahami cerpen. Sehingga, dengan memahami cerpen, siswa dapat menulis naskah drama. Pemahaman cerpen adalah kegiatan siswa untuk mengenal dan memahami cerpen, agar siswa dapat menulis naskah. Dengan memahami cepen melalui identifikasi struktur cerpen, menjadikan pembelajaran siswa meningkat dalam menulis naskah drama. Tahap menulis dirancang melalui teknik pengubahan kartu strukur yang telah diindentifikasi ke bentuk draf naskah drama. Pelaksanaan menulis naskah drama dipandu lewat LKS serta panduan dan bimbingan guru untuk menulis draft naskah melalui hasil pengerjaan kartu struktur. Hasil karya siswa MND pada setiap siklus mengalami peningkatan. Siklus I, penyusunan naskah drama sangat singkat dan tidak lengkap sesuai cerpen. Penyusunan ejaan dan tanda baca masih kurang. Pada siklus II tidak ada pengembangan tokoh dan ucapan tokoh, dan pada siklus III sudah ada peningkatan, karena siswa berusaha memperbaiki hasil karya MND. Tahap pascamenulis ditandai dengan kegiatan diskusi kelompok, penyajian hasil diskusi, pengeditan, revisi, dan publikasi. Peningkatan dalam hasil pembelajaran MND didasarkan pada hasil isian kartu struktur dan LKS MND siswa pada setiap siklus. Berdasarkan hasil evaluasi dapat dilihat bahwa ada peningkatan keterampilan membaca dan menulis naskah dengan strategi SKCP siswa pada siklus II dan siklus III. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan skor siswa mulai dari siklus I mencapai 75.19 %, siklus II mencapai 86.79% dan siklus III mencapai 90.97%. Berdasarkan kekurangan dan kelemahan pada penelitian ini, peneliti memberi saran sebagai beikut. (1) Pada tahap pramenulis, disarankan kepada guru dapat (a) menggunakan media gambar yang lengkap, (b) kartu struktur diharapkan memiliki panduan yang jelas, agar dapat dipahami siswa dalam mengidentifikasi cerpen, (2) tahap menulis, disarankan (a) guru dapat mendesain langkah-langkah MND melalui SKCP, dengan membuat LKS atau panduan MND yang lebih kreatif, (b) pemodelan naskah drama yang lebih lengkap dan terperinci, misalnya penjelasan setiap adegan dari tokoh/perwatakan, serta naskah yang memiliki gambar, (c) guru berupaya membimbing dan melatih siswa menggunakan ejaan,tanda baca, dan kalimat yang benar, (d) guru diharapkan memandu dan membimbing siswa dalam memahami cerita atau menulis naskah drama, dan (3) tahap pascamenulis, diharapkan (1) memperhatikan dan memotivasi siswa untuk dapat berdiskusi, (2) memperhatikan hasil revisi dan perbaikan MND, (3) mementaskan hasil naskah untuk dipertunjukkan, (4) memperhatikan penilaian proses dan hasil dari setiap siswa, dan (4) memperhatikan alokasi waktu, disarankan kepada guru untuk merencanakan alokasi waktu secara fleksibel.

Penggunaan metode contoh noncontoh untuk meningkatkan kemampuan menarasikan hasil wawancara pada siswa kelas VII H SMP Negeri Negeri 10 Malang / Fika Rahmawati

 

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia (BSNP, 2006). Salah satu standar kompetensi bahasan kajian bahasa Indonesia adalah mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat. Yang dimaksud adalah mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, setelah mengikuti pembelajaran menulis, diharapkan siswa bisa menuangkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat. Menulis diartikan sebagai proses menuangkan atau memaparkan informasi yang berupa pikiran, perasaan atau kemauan dengan menggunakan wahana tulis berdasarkan tataan tertentu sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan penulis (Nurchasanah dan Widodo, 1993:2). Sementara, Lado (dalam Sofyan, 2006:28) menyatakan bahwa menulis adalah meletakkan atau mengatur simbol-simbol grafis yang menyatakan pemahaman suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain dapat membaca simbol-simbol grafis itu sebagai bagian penyajian satuan-satuan ekspresi bahasa. Dengan demikian, menulis dapat diartikan proses mengungkapkan ide, pikiran, atau pendapat seseorang melalui simbol grafis, yaitu dalam bentuk tulisan.

"Pemanfaatan pendekatan lingkungan alam sekitar untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kebonagung 02" / Ester Dwi Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu , Ester Dwi . 2009. “Pemanfaatan Pendekatan Lingkungan Alam Sekitar ntuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Kebonagung 02”. Skripsi, Program Studi S-1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.Si, (II) Dra. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: Pendekatan Lingkungan Alam Sekitar (PLAS), Hasil Belajar IPA Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di SDN Kebonagung 02 Kec. Pakisaji Kab. Malang, penulis menemukan hambatan yang dialami guru dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas IV, sehingga menyebabkan kemampuan siswa dalam memahami materi yang diberikan oleh guru sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai hasil ulangan harian mata pelajaran IPA semester II Tahun Pelajaran 2008/2009. Dari jumlah 41 siswa yang mendapat nilai kurang dari nilai Standart Ketuntasan Belajar Minimal (70) sebanyak 30 siswa . Diperkirakan faktor yang mempengaruhi siswa kurang dapat memahami materi pelajaran tersebut adalah: 1) siswa kurang tertarik/kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar; 2) guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta penugasan tanpa ada variasi dalam pembelajaran; 3) siswa lebih suka belajar di luar ruangan kelas, daripada belajar di dalam ruangan kelas. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan pemanfaatan pendekatan lingkungan alam sekitar (PLAS) dalam pelajaran IPA pada kompetensi dasar perubahan lingkungan akibat hujan, (2) untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kebonagung 02 pada kompetensi dasar perubahan lingkungan akibat hujan dengan pemanfaatan pendekatan lingkungan alam sekitar (PLAS). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan, pada siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan, sedangkan pada siklus II terdiri dari 1 kali pertemuan. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas IV semester II Tahun Pelajaran 2008/2009 di SDN Kebonagung 02 yang berjumlah 41 siswa, yang terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa data hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih pre-tes dan pos-tes. Instrumen yang digunakan adalah soal evaluasi. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan pendekatan lingkungan alam sekitar (PLAS) pada mata pelajaran IPA, siswa mampu memahami keadaan sungai setelah terjadi hujan dan mampu mencari cara untuk mengatasi masalah yang diakibatkan perubahan lingkungan akibat hujan. Terdapat peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kebonagung 02 Kec. Pakisaji Kab. Malang. Pada pretes nilai rata-rata sebesar 58,46. Pada siklus I nilai rata-rata postes siswa sebesar 72,37. sehingga terjadi peningkatan sebesar 13,91. Nilai rata-rata pada postes siklus II terdapat peningkatan nilai rata-rata sebesar 86,84. Peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 28,38.

Membangun router dan proxy dengan operating sistem Linux Debian 4.0 yang terhubung pada WAN / Arifin Yahya

 

Dalam era globalisasi sebuah inforamsi sangatlah penting untuk mendukung semua kegiatan manusia. Sehingga banyak instannsi-instansi yang meminati adanya sistem jaringan WAN alat komunikasi. Dan untuk keamanan dan keefisienan jaringan itu maka diperlukannya sebuah router untuk mendukung dan memenuhi kebutuhan tersebut. Router yang akan dibuat adalah sebuah pc router yang dibuat dari sistem Operasi linux yang dikonfigurasikan dengan iptables dan squid sebagai keamanan. Juga ditambahkan beberapa fasilitas untuk restart automatis pada jam tertentu agar chace memory dari router tidak penuh, pembatasan client untuk ping agar tidak memperpadat bandwidh. Hasil implementasi sistem yang meliputi hasil pengujian routing dengan melakukan ping pada setiap jaringan dan melakukan browsing ke internet dapat berjalan dengan baik. Dan keamanan dari pc router ini juga berjalan dengan baik dan tidak ada kendala.

Sistem informasi akademik di SMA Negeri 1 Manyar Gresik / Muhammad Sholihin, Winarni

 

Pesatnya perkembangan teknologi menyebabkan penyebaran yang melampaui batasan-batasan tradisional yang bertumpu pada besar kecilnya sebuah instansi atau perusahaan–perusahaan besar saja tetapi sudah menjangkau sekolah-sekolah dan perguruan tinggi serta instansi publik. Perkembangan teknologi pada akhirnya menyebabkan penerapan teknologi informasi dalam dunia pendidikan. Selain itu, perkembangan teknologi juga berdampak pada penerapan teknologi tersebut antara lain dalam bentuk komponen–komponen yang lebih baik, tahan lama, lebih efisien dan praktis serta pengembangan kecepatan akses serta daya tampung untuk menyimpan data yang lebih besar. Perkembangan pada software adalah mengoptimalkan cara kerja komputer untuk dapat lebih mempermudah serta lebih banyak mengenal pekerjaan manusia.

Reference and inference roles of humor in shrek the third movie script / Asih Karina

 

Humor seems to be rather indefinable as a theoretical concept. However, this has not prevented scholars of various disciplines, ranging from psychology to sociology to pedagogy to linguistics, from questioning into the topic of humor. The problems involved in defining humor are such that several scholars have doubted that an all-embracing definition of humor could be formulated. Yet, the more interesting focus on studying humor does not concern its complicated definition but the reasons and strategies of why a humor is perceived as a humor by the audience. Humor is not only part of language intelligence which colors civilization but also part of the builder of civilization itself. Humor is developing time to time and becomes a sign of trend and even a symbol of life changes. Therefore, study about humor will not only be exciting but also both enlightening and useful for linguistics improvement. However, a study about humor needs a deep analysis in order to make it sufficiently explainable. There are many approaches used in studying humor including Semantics, Semiotics, Pragmatics, and rhetorical analysis. However, the most explicit device to study humor is reference and inference. Reference is the act in which a speaker or writer uses linguistic forms to enable a listener, or reader, to identify something. While, inference is the act of catching correctly which entity the speaker intends to identify by using a particular referring expression. The two terms discover several possible linguistic devices related to pragmatics to analyze humor. Besides, Semantics approach is also to be explored in this present study to make the humor well-explained. The two main devices are required because sense and reference are part of Semantics, whereas inference is another way of saying implicature. Therefore, the discussion of semantic and pragmatic in this present study is sufficient and required to digest humor in Shrek the Third movie script; the object of this present study, for they are able to state the process of humor deliverance as well as humor acceptance in the script. Shrek the Third is a good object to study due to its high intelligence and contemporary humor. Shrek the Third has outstanding style of humor which needs certain ways to infer. The script covers so many powerful things that show its world excellence of humor deliverance. It has the part where intelligence should be used to infer the meaning correctly as well as the part where fantasy is required. Shrek the Third movie script is world-widely popular for its smart parody and irony and thus its humor is both real and magnificently relates to life value. This is also a plus point for Shrek the Third Movie script to observe in order to reach the objective of this study.

Code switching used by Indonesia celebrities in television infotainment / Maya Rizki Amalyasari

 

This study investigated code switching used by celebrities in television infotainment. The study is focused on the grammatical errors on code switching used by celebrities in television infotainment and the topics of conversations in which celebrities use code switching in their language in television infotainment. The results show that there are so many grammatical errors on celebrities’ utterances in television infotainment. Most of ungrammatical code switching applied by celebrities in television infotainment is when they use the verb (V) in explaining noun (N), such as the word ‘entertainment’ and ‘performance.’ The second grammatical error found by the writer on celebrities’ utterances is the translation process on certain code. The third grammatical error done by celebrities are code switching consisting relative clause, adjective + noun, passive sentences, and also singular and pluralThe application of inappropriate noun, conjunction, past perfect tense, adjective ending in –ing, simple past tense, possessive form, choosing suitable word, verb into adjective were the fourth grammatical error done by celebrities in switching code.

Hubungan antara pelaksanaan sistem moving class dan motivasi belajar siswa bidang keahlian restoran di SMK Negeri 1 Turen / Nur Endah Oktavia Rini

 

ABSTRAK Endah, Nur.2009. Hubungan Pelaksanaan Sistem Moving Class Dan Motivasi Belajar (Bidang Keahlian Restoran SMK Negeri I Turen). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (1) Dra. Titi Mutiara Kiranawati,M.P, (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci: Sistem Moving Class, Motivasi Belajar Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pelaksanaan Sistem Moving Class dan motivasi belajar siswa bidang keahlian restoran di SMK Negeri 1 Turen. Hasil uji validitas instrumen moving class siswa bidang keahlian restoran di SMK Negeri 1 Turen, terdapat 7 butir soal yang tidak valid. Sedangkan hasil uji validitas instrumen motivasi belajar siswa bidang keahlian restoran di SMK Negeri 1 Turen, terdapat 4 butir soal yang tidak valid. Hasil penelitian (1) Pelaksanaan Sistem Moving Class Program Keahlian Restoran SMKN 1 Turen adalah 25,86% responden menyatakan sangat baik, 44,83% responden menyatakan baik, 29,31% responden menyatakan kurang baik dan tidak ada responden yang menyatakan tidak baik. (2) motivasi belajar program keahlian restoran, SMKN 1 Turen adalah 31,04% responden mempunyai motivasi yang sangat tinggi, 25,86% responden mempunyai motivasi yang tinggi, 34,48% responden mempunyai motivasi yang kurang tinggi, dan 8,62% responden mempunyai motivasi yang rendah. (terdapat hubungan yang signifikan antara pelaksanaan Sistem Moving Class dan motivasi belajar siswa program keahlian restoran SMKN I Turen). Ada beberapa saran yang diberikan. Kepada: (1) Sekolah perlu mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana agar pelaksanaan Sistem Moving Class berjalan sesuai dengan teori yang ada, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar. (2) Peneliti lanjutan diharapkan mampu menemukan variabel-variabel yang lebih luas dan variatif tentang Sistem Moving Class.

Pengaruh penerapan model pembelajaran STAD (students team achievement division) - problem posing (PP) terhadap prestasi belajar siswa kelas X pada pokok bahasan alkana, alkena dan alkuna di SMA Negeri 2 Malang / Ummi Khoiriyah

 

Kimia dianggap sebagai matapelajaran yang sulit dan menakutkan bagi sebagian besar siswa, sehingga mereka enggan untuk mempelajarinya, dampaknya prestasi belajar mereka kurang maksimal. Strategi pembelajaran yang membuat siswa bisa dengan santai dan mudah dalam memahami materi pelajaran merupakan salah satu alternatif meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui apakah penerapan strategi pembelajaran STAD – Problem Posing mampu meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan alkana, alkena dan alkuna terhadap siswa kelas X SMAN 2 Malang, 2) Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perpaduan STAD – Problem Posing terhadap keaktifan siswa selama proses pembelajaran dibanding dengan pembelajaran STAD dan PP saja pada pokok bahasan alkana, alkena, alkuna terhadap siswa kelas X SMAN 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Data peningkatan prestasi belajar siswa dalam mengaplikasikan model pembelajaran STAD – Problem Posing dikumpulkan berdasarkan hasil tes siswa (kuis dan tes akhir), keaktifan siswa dan kemampuan siswa membuat soal yang baik. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMAN 2 Malang dan sampelnya adalah 3 kelas yang diambil berdasarkan kemampuan awal yang sama. 1 kelas sebagai kelas eksperimen dan 2 kelas sebagai kelas kontrol. Sebelum diadakan tes akhir terlebih dahulu soal dikonsultasikan ke dosen pembimbing dan divalidasi isi oleh dua dosen kimia dan satu guru bidang studi kimia. Kemudian diadakan ujicoba soal dan hasilnya adalah 30 soal valid dari 40 soal yang diujikan. Dari hasil validasi isi dan ujicoba soal dapat dipastikan bahwa soal tersebut layak digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Model pembelajaran STAD – Problem Posing mampu meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh nilai rata – rata kelas yang diajar dengan model pembelajaran STAD – Problem Posing adalah 82, kelas STAD adalah 75, dan kelas PP adalah 78; 2) Dipadukkannya PP dengan STAD mampu memberi pengaruh yang baik terhadap keaktifan siswa selama proses pembelajaran yaitu siswa lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, siswa memperoleh kesempatan yang sama, dan pemahaman siswa lebih mantap pada materi pelajaran yang diajarkan; 3) STAD memiliki pengaruh terhadap PP dalam hal membentuk siswa yang mampu menyelesaikan segala sesuatu secara berkelompok atau diskusi, dan untuk lebih membentuk siswa yang tidak bersikap egois terhadap teman lainnya. Peningkatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran ditunjukkan oleh nilai rata – rata siswa kelas STAD adalah 79, kelas STAD – PP adalah 88 dan kelas PP adalah 79.

Membangun intranet dengan fasilitas e-learninmg di Sekolah Menengah Kejuruan Negri 3 Malang / Edy Santoso

 

Teknologi jaringan komputer telah berkembang dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir.Seiring dengan perkembangan tersebut, maka perlu adanya pengembangan terhadap jaringan komputeryang sudah ada di sekolah-sekolah,agar jaringan komputer tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai pendukung proses belajar-mengajar. Untuk mewujudkan peningkatan layanan pembelajaran, perlu ditempuh upaya-upaya yang bersifat komprehensif terhadap kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi jaringan komputer sebagai fasilitas belajar. Berkaitan dengan perkembangan teknologi jaringan komputer yang ada sekarang ini, guru dan siswa dapat belajar dengan memanfaatkan perkembangan teknologi jaringan komputer dengan fasilitas e-learning. E-learning yang dapat diaplikasikan pada jaringan komputer lokal atau intranet akan bermanfaat sebagai salah satu fasilitas pembelajaran di sekolah. Program aplikasi yang dipakai adalah ATutor sebagai penyedia fasilitas pembelajaran. Aplikasi e-learning yang digunakan pada jaringan komputer lokal di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Malang ini, yaitu ATutor memiliki fasilitas-fasilitas yang dapat membantu untuk penyampaian informasi dan materi pembelajaran. Fasilitas yang ada pada aplikasi e-learning ini adalah upload materi, perijinan download materi, pertugasan, dan komunikasi antar pengguna. Dalam pelaksanaan tugas akhir ini penulis melaksanakan uji coba pada intranet dengan fasilitas e-learning di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Malang, sehingga sekolah dapat memanfaatakan fasilitas pembelajaran ini dalam proses penyampaian informasi dan materi pembelajaran kepada peserta didik, dan sebgai media komunikasi antar pengguna, yaitu guru dan siswa.

Using jigsaw technique to improve the writing ability of the second year students of MTs Negeri 2 Medan / Raudhatuz Zahrah

 

Berdasarkan pengalaman peneliti dalam mengajar bahasa Inggris dan studi awal yang dilakukan, prestasi siswa pada menulis teks narasi belum memuaskan. Nilai rata-rata tulisan teks narasi siswa adalah 49.6, sedangkan kreteria ketuntasan minimum adalah 60.0. Prestasi yang tidak memuaskan ini dikarenakan (1) siswa mengalami kesulitan untuk memulai menulis, mengorganisasikan dan mengalihbahasakan ide-ide mereka ke dalam teks yang menarik, (2) strategi pengajaran dan pembelajaran menulis yang tidak efektif, dan (3) motivasi siswa untuk menulis sangat rendah. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti mengusulkan salah satu strategi yang sesuai dalam mengajarkan menulis narasi, yaitu teknik Jigsaw. Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan ketrampilan menulis teks narasi siswa dengan menggunakan teknik Jigsaw. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknik Jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa di MTs Negeri 2 Medan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana peneliti dan guru bekerja sama dalam melaksanakan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai pengajar sedangkan guru bahasa Inggris menjadi kolaborator peneliti untuk mengobservasi pelaksanaan teknik Jigsaw. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang mengacu pada prosedur penelitian tindakan yaitu, planning, implementing, observing, dan reflecting. Tiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tiga pertemuan untuk pelaksanaan teknik. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen yaitu lembar observasi, catatan lapangan, kuisener, dan hasil tulisan siswa. Subyek penelitian ini adalah 42 siswa kelas dua MTs Negeri 2 Medan pada tahun ajaran 2008/2009. Semua siswa menjadi subyek penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model teknik Jigsaw yang sesuai dalam pengajaran menulis teks narasi meliputi langkah-langkah berikut: (1) memberikan model teks narasi yang dilengkapi dengan rangkaian gambar berurutan kepada siswa dengan tujuan untuk membangun pengetahuan siswa tentang cerita dan input bahasa berupa kosa kata, tata bahasa, dan ciri-ciri kebahasan dari teks narasi, (2) memerintahkan siswa untuk membaca cerita dan memperhatikan kosa kata, tata bahasa, dan ciri-ciri kebahasaan dari teks narasi, (3) memberikan pertanyaan yang bertujuan untuk menyakinkan pemahaman siswa tentang cerita dan ciri kebahasaan teks narasi, (4) mengelompokkan siswa dalam kelompok ahli yang terdiri dari empat siswa, (5) mendistribusikan sebuah gambar yang khusus dan berbeda dari rangkain gambar yang berurutan yang dilengkapi dengan beberapa kata kunci kepada setiap kelompok ahli, (6) meminta setiap siswa untuk menulis hasil diskusi tentang deskripsi sebuah gambar bagian dari sebuah cerita, (7) mengumpulkan gambar, (8) mengelompokkan kembali siswa ke kelompok jigsaw, (9) meminta siswa untuk mempresentasikan bagian dari cerita yang dikuasainya dan saling bertukar cerita untuk mendapatkan satu cerita yang lengkap, (10) berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk mengawasi proses pembelajaran, (11) meminta siswa untuk menulis kembali cerita tersebut secara perseorangan sehingga mereka menyadari bahwa bagian ini bukan sekedar permainan tetapi juga pembelajaran yang sangat berarti, (12) meminta siswa ntuk memperbaiki tulisan pertama mereka dengan menggunakan petunjuk pebaikan, (13) memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyunting tulisan mereka dengan mengunakan petunjuk penyuntingan, dan (14) mempublikasikan hasil tulisan mereka pada sesi terakhir pembelajaran dengan membacanya di depan kelas atau menempelnya di majalah dinding. Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Jigsaw efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks narasi. Peningkatan dapat dilihat dari kenaikan nilai rata-rata menulis teks narasi siswa dari nilai studi awal 49.6; 60.2 di siklus pertama, dan 70,2 di siklus kedua. Di samping itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teknik Jigsaw sangat efektif dalam meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa. Diketahui bahwa 74.0% siswa termotivasi di siklus pertama dan 83.8% siswa termotivasi di siklus kedua. Selain itu, diketahui bahwa 83.1% siswa berpartisipasi secara aktif di siklus pertama dan 88.9% siswa berpatisipasi di siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan Jigsaw karena teknik ini tidak hanya bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan menulis teks narasi namun juga dalam memotivasi siswa untuk menulis dan bekerja sama dalam mendeskripsikan kejadian yang ada di dalam gambar. Selain itu, Jigsaw juga berguna dalam mendorong siswa untuk ikut serta secara aktif dalam menulis teks narasi. Di samping itu, disarankan agar guru Bahasa Inggris menggunakan teknik lain dari cooperative learning sebagai strategi belajar untuk meningkatkan kemampuan siswa tidak hanya dalam keterampilan menulis tetapi juga pada ketiga keterampilan bahasa yang lain. Selain dari itu, disarankan agar siswa menggunakan teknik Jigsaw sebagai strategi belajar untuk melatih dan meningkatkan kemampuan menulis teks narasi mereka yang dapat dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Untuk calon guru-guru peneliti, khususnya bagi mereka yang mempunyai masalah yang sama dan tertarik untuk melaksanakan penelitian, disarankan untuk menerapkan Jigsaw pada bidang keterampilan yang sama di penelitian mereka atau pada bidang keterampilan bahasa yang lain, seperti keterampilan mendengar. Dalam keterampilan ini, para siswa mendengarkan bagian yang berbeda dari sebuah bacaan, dan kemudian saling bertukar informasi dengan yang lain untuk menyelesaikan tugas. Para siswa dapat melaporkan tugas tersebut secara lisan atau tertulis.

Perancangan media promosi berbasis game animasi SMA Lab School UM / Gunawan Alifianto

 

Saat ini Indonesia sudah memasuki masa yang penuh dengan dunia digital, dimana fungsi digital sudah bukan lagi barang yang asing bagi masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Dengan perkembangan teknologi yang semakin murah tersebut, membuka peluang besar bagi berbagai informasi ikut serta berkembang pesat di dalamnya, diantaranya adalah game animasi. Game animasi merupakan salah satu media informasi digital yang banyak diminati karena kemampuannya untuk menyampaikan informasi secara audio visual, meluas, dan juga lebih efektif daripada media promosi lainnya. SMA Lab School Universitas Negeri Malang (UM), adalah salah satu institusi pendidikan yang berlokasi di Jalan Bromo No 16, Malang. SMA Lab School merupakan SMA swasta yang memiliki kerjasama dengan UM dan JICA. Saat ini SMA Lab School UM menggunakan media promosi yang kurang menarik dan efisien, sehingga menyebabkan kurang maksimal dalam memperoleh target market dan input yang berkualitas. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan sebuah media promosi berbasis game animasi yang efektif dan informatif. Diharapkan dengan adanya media promosi tersebut input siswa SMA Lab School UM dapat meningkat dan berkualitas. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, perumusan masalah dan pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari data perusahaan dan data pemasaran, dengan cara observasi, dokumentasi, wawancara, dan penyebaran kuisioner. Data yang didapat kemudian di analisis dan akhirnya menjadi konsep dari perancangan. Perancangan ini terdiri dari media utama yaitu game animasi yang dikemas dalam bentuk CD free download di internet melalui website, dan media komunikasi visual alternatif lainnya yang digunakan sebagai pendukung. Media pendukung terdiri dari: brosur, baliho, spanduk, x-banner, iklan koran, map ,pendaftaran, website, kaos, stiker, dan pin.

Penerapan strategi react untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan pemehaman konsep fisika siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Jenangan Kabupaten Ponorogo / Faninda Novika Pertiwi

 

ABSTRAK Pertiwi, Faninda Novika. 2009. Penerapan Strategi REACT untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir dan Pemahaman Konsep Fisika Siswa Kelas XI IPA 1 SMAN 1 Jenangan Kabupaten Ponorogo. Skripsi Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Lia Yuliati, M.Pd, (II) Dra. Endang Purwaningsih, M.Si. Kata kunci: strategi REACT, kemampuan berpikir, pemahaman konsep Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMAN 1 Jenangan, ditemukan bahwa nilai rata-rata fisika siswa hanya mencapai 22,60. Nilai ini sangat jauh dari KKM yang ditetapkan yaitu 65. Jumlah siswa yang mencapai KKM juga hanya 1 siswa dari 38 siswa. Pembelajaran yang dilakukan di SMAN 1 Jenangan masih didominasi oleh guru. Siswa jarang mau bertanya, menyampaikan pendapat ataupun menjawab pertanyaan dari guru. Pada waktu guru memberi kesempatan untuk menjawab ataupun bertanya siswa bingung yang akan ditanyakan. Hal ini merupakan indikasi bahwa kemampuan berpikir dan pemahaman konsep fisika siswa rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan pemahaman konsep fisika siswa dengan menerapkan strategi REACT. Strategi REACT terdiri dari 5 tahapan yaitu relating, experiencing, applying, cooperating dan transferring. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Jenangan Ponorogo dengan jumlah 38 siswa, yang terdiri dari 9 orang putra dan 29 orang putri. Pokok bahasan yang digunakan adalah usaha dan energi. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, catatan lapangan, format observasi kemampuan berpikir siswa, dan butir soal. Instrumen pembelajaran yang digunakan berupa RPP dan LKS. Peningkatan kemampuan berpikir dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 37,34 %. Peningkatan pemahaman konsep fisika siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 21,05 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir dan pemahaman konsep fisika siswa meningkat melalui penerapan strategi REACT.

Sintesis dan karakterisasi poliblend polistirena-pati serta biodegradasinya dengan Aspergillus niger / Betty Masruroh

 

Pemanfaatan plastik yang tinggi dan proses degradasi yang sulit menimbulkan masalah bagi lingkungan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membuat plastik biodegradable. Dalam penelitian ini, usaha untuk membuat plastik biodegradable dipelajari dengan membuat poliblend polistirena dan pati tapioka yang kemudian diuji kemampuan biodegradasinya dengan menggunakan Aspergillus niger. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat poliblend polistirena dan pati tapioka dan mengetahui kemampuan biodegradasi poliblend tersebut oleh Aspergillus niger. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang terdiri dari dua tahap utama. Tahap pertama adalah tahap sintesis poliblend polistirena dan pati tapioka. Styrofoam dilarutkan dalam toluena sambil ditambahkan pati tapioka dengan berbagai komposisi dan diaduk dengan magnetic stirer. Campuran ini kemudian dicetak dan diangin-anginkan sampai kering. Tahap kedua adalah uji biodegradasi poliblend selama 1 bulan dengan Aspergillus niger kemudian dilanjutkan dengan karakterisasi poliblend yang meliputi uji viskositas untuk menghitung massa molekul relatif polimer hasil biodegradasi, uji Spektroskopi Infra Merah, dan uji kekuatan tarik poliblend. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa poliblend yang dihasilkan merupakan campuran secara fisik. Hal ini dapat diketahui dari hasil spektrum IR yaitu tidak terjadi penambahan maupun pengurangan gugus fungsi spesifik dari poliblend. Massa molekul relatif polimer hasil biodegradasi menurun seiring dengan bertambahnya massa pati (pati 0% 475.912,474; pati 20% 371.422,071; pati 40% 242.478,232; dan pati 50% 130.638,414), dan kekuatan tarik poliblend menurun seiring dengan bertambahnya massa pati (pati 0% 23,6 Mpa; pati 20% 15,4 Mpa; pati 40% 13,2 Mpa; dan pati 50% 9,8 Mpa).

Pengaruh sabun aluminium (Jat oil-Al2(SO4)3) terhadap viskositas pelumas / Endah Puspita Wardani

 

Sabun aluminium merupakan salah satu jenis sabun yang telah dikembangkan dan memiliki fungsi yang berbeda dengan sabun alkali. Salah satu jenis sabun yang telah berhasil disintesis adalah sabun aluminium (Jat Oil-Al2(SO4)3). Pelumas merupakan campuran hidrokarbon dengan bahan aditif yang berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat pelumas tersebut. Uji potensi aluminium oleat dan aluminium stearat untuk memperkecil penurunan viskositas akibat pengaruh temperatur pada pelumas motor bensin dan diesel telah berhasil dilakukan. Berdasarkan keberhasilan uji potensi aluminium oleat dan aluminium stearat tersebut, serta keberhasilan sintesis sabun aluminium (Jat Oil-Al2(SO4)3) maka perlu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan sabun aluminium (Jat Oil-Al2(SO4)3) terhadap viskositas pelumas dan perubahan viskositasnya akibat pengaruh temperatur. Penelitian ini merupakan survei laboratoris yang dilakukan melalui metode eksperimen di laboratorium yang terdiri dari beberapa tahap yaitu (1) uji kelarutan sabun aluminium dalam pelumas, (2) pengukuran densitas pelumas, (3) pengukuran viskositas pelumas, (4) analisis perubahan viskositas pelumas akibat pengaruh temperatur yang dapat diketahui dari grafik viskositas kinematik terhadap temperatur, koefisien temperatur viskositas (VTC, Viscosity Temperature Coefficient), persamaan Walther dan angka viskositas (VN, Viscosity Number). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelarutan optimum sabun aluminium (Jat Oil-Al2(SO4)3) dalam pelumas pada 0,040 g (0,50%). Penambahan sabun aluminium dapat meningkatkan viskositas pelumas dan memperkecil penurunan viskositas akibat pengaruh temperatur. Hal ini dapat diketahui dari penurunan gradien pada grafik viskositas kinematik terhadap temperatur dan grafik persamaan Walther, penurunan koefisien temperatur viskositas (VTC, Viscosity Temperature Coefficient) dan kenaikan angka viskositas (VN, Viscosity Number).

Pemanfaatan bambu sebagai sumber belajar pada mata pelajaran seni budaya dan keterampilan di kelas V SDN Duwet 03 Kecamatan Tumpang Kab. Malang / Reni Dwi Kristanti

 

Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri atas beribu-ribu pulau yang dihuni oleh berbagai suku bangsa yang memiliki keaneka ragaman adat istiadat, bahasa, agama, kepercayaan, tata cara dan tatakrama pergaulan, seni serta kondisi sosial dan alam yang berbeda-beda. Dengan kata lain, keanekaragaman masing-masing pulau atau daerah di Indonesia bukan hanya pada segi budaya saja, melainkan juga pada kondisi alam dan lingkungan sekitarnya. Keanekaragaman ini memperkaya kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, perlu diupayakan pelestariannya. Salah satu cara untuk melaksanakan usaha pelestarian tersebut adalah melalui proses pendidikan. Sekolah merupakan wahana bagi proses pendidikan secara formal. Sekolah adalah bagian dari masyarakat, maka dari itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekitar sekolah atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk merealisasikan usaha ini, maka sekolah diharapkan dapat menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada peserta didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhasan lingkungan daerahnya, baik yang berkaitan dengan kondisi alam, kondisi lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah Keberadaan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan merupakan pendidikan seni berbasis budaya. Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan di Sekolah Dasar karena keunikan, kebermaknaan, kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/ berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni“, “belajar melalui seni”, dan “ belajar tentang seni“. Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.(Depdiknas, 2006:611). Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam berbagai pengalaman apresiasi maupun pengalaman berkreasi untuk menghasilkan suatu produk berupa benda nyata yang bermanfaat langsung bagi kehidupan siswa. Dalam pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan siswa melakukan interaksi terhadap benda-benda produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungan siswa, dan kemudian berkreasi menciptakan berbagai produk kerajinan maupun produk teknologi secara sistematis, sehingga diperoleh pengalaman kreatif. Orientasi pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan adalah memfasilitasi pengalaman emosi, intelektual fisik, konsepsi, sosial, estetis, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apreasiasi dan kreasi terhadap berbagai produk benda melakukan aktivitas apresiasi dan kreasi terhadap berbagai produk benda di sekitar siswa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, mencakup antara lain; jenis, bentuk, fungsi, manfaat, tema, struktur, sifat komposisi, bahan baku, bahan pembantu, peralatan, teknik kelebihan dan keterbatasannya. Selain itu siswa juga melakukan aktivitas memproduksi berbagai produk benda kerajinan maupun produk teknologi misalnya dengan cara meniru, mengembangkan dari benda yang sudah ada atau membuat benda yang baru. Dari hasil observasi peneliti di lapangan, di SDN Duwet 03 Kec. Tumpang Kab. Malang diperoleh informasi bahwa kegiatan proses belajar mengajar Seni Budaya dan Ketrampilan hanya menggambar dan menyanyi saja setiap minggunya sehingga muncul persepsi pada siswa bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah menggambar dan menyanyi. Hal tersebut ditemui peneliti karena peneliti juga sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut . Setiap proses pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan peneliti melihat siswa kelas rendah sering keluar masuk kelas dengan seenaknya, setelah peneliti amati ternyata guru kelas tidak berada di dalam kelas mereka diberi tugas untuk menggambar sampai jam pelajaran habis. Hal ini tidak hanya peneliti jumpai di kelas rendah saja tetapi penulis jumpai di kelas tinggi terutama kelas V. Pada saat proses pembelajaran berlangsung guru hanya menggunakan metode ceramah dan memberi tugas menggambar saja pada siswa kemudian guru meninggalkan kelas dan mengobrol dengan teman guru di ruang guru. Padahal pada proses belajar mengajar Seni Budaya dan keterampilan guru dituntut untuk dapat memberikan pengalaman baru pada siswa dengan berkreasi/ berekspreasi dan berapresiasi. Pada kenyataannya potensi untuk mengembangkan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan khususnya keterampilan kerajinan tangan dari bambu sangat mendukung untuk diberikan di sekolah ini hal ini terlihat dari banyaknya tumbuhan bambu yang tumbuh disekitar lingkungan siswa dan sebagian besar masyarakat sekitar sebagai pengrajin anyaman bambu. Selain potensi alam dan lingkungan masyarakat sekitar yang mendukung potensi guru di sekolah juga mendukung hal ini terlihat dari adanya guru yang menjadi seorang pengrajin anyaman bambu. Untuk mengenalkan lebih dalam mengenai kerajinan anyaman ini kepada siswa kerajinan ini diperkenalkan pada siswa kelas V yang seharusnya materi tentang anyaman bambu ini diberikan kepada siswa kelas VI. Kerajinan anyaman ini diberikan pada kelas V hanya sebagai pengembangan materi dan pengenalan saja kepada siswa yang tujuannya secara langsung untuk mengenalkan kerajinan ini kepada siswa sebagai bekal di masa yang akan datang yang nantinya juga dapat mengangkat potensi daerah serta menggali manfaat potensi alam yang ada dan menerapkannya di masyarakat. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “ Pemanfaatan Bambu sebagai Sumber Belajar Pada Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di Kelas V SDN Duwet 03 Kec. Tumpang Kab. Malang”.

The flouting of grice's conversational maxims done by the characters in the crash movie / Ani Widianti

 

This study aims to investigate the manner of the characters in the Crash movie in flouting Grice’s conversational maxims and the implicit meanings (implicatures) hidden behind the flouting. This study belongs to qualitative study since the data were collected, analyzed, and described in the form of words. The data of this study were selected from the script of the Crash movie that was taken from an official database of movie script (www.IMSDb.com). The flouting of the conversational maxims in this movie was done by most of the characters that comprised of Black American and White American coming from middle to upper class living in L. A. The flouting of the conversational maxims in this movie happened solely due to the difficult situation faced by the characters and not because of the different socio cultural background existing among them. The results of this study show that the characters in the Crash movie flouted all of the four conversational maxims with the maxim of relation as the most frequently flouted maxim. From the nineteen cases of the flouting of the conversational maxims, the maxim of relation was flouted nine times (47.37 %). Another maxim that was flouted many times is the maxim of quantity. The maxim of quantity was flouted seven times (36.84 %). The less flouted maxim is the maxim of manner that was flouted two times (10.53 %). The least flouted maxim is the maxim of quality that was flouted only once (5.26%). The characters in the Crash movie flouted the conversational maxims in several manners such as by showing irrelevant responses, by giving uninformative responses, by giving obscure responses, and by providing fallacious responses towards their interlocutors’ questions or remarks. The characters in the Crash movie flouted the conversational maxims on behalf of generating implicatures. The meanings of the implicatures they create are varied; they depend on the contexts or the situationsunder which the dialogues happened. Based on the results of the study, some suggestions are given to the future researchers and to the English lecturers. The future researchers who are going to conduct linguistic studies are suggested to use literary works as the subjects of their studies so that they will be able to comprehend linguistic theories and appreciate literary works at the same time. Similarly, the researchers who are going to perform literary study should not study literary works by looking merely on their aesthetic value without considering the linguistic aspects. English lecturers are suggested to use a more interesting teaching media such as movie in explaining linguistic theories so that the class will not be dull and monotonous and the students will feel more interested in studying linguistics.

Kajian prevalensi telur cacing nematoda parasit usus manusia di sungai lekso kota Blitar sebagai upaya pencegahan penyakit kecacingan / Binti Zariatin

 

Kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sepanjang Sungai Lekso Kota Blitar yang menggunakan sungai sebagai tempat untuk mencuci, mandi, membuang kotoran (feses) menjadikan sungai dapat tercemar oleh telur cacing parasit. Kebiasaan yang salah itu, tanpa disadari suatu saat dapat menyebabkan wabah penyakit melalui air sungai, termasuk infeksi Nematoda parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis telur cacing Nematoda apa saja yang ditemukan di Sungai Lekso Kota Blitar, mengetahui prevalensi dari masing-masing telur Nematoda yang ditemukan di Sungai Lekso Kota Blitar, mengetahui perbedaan prevalensi telur cacing Nematoda yang ditemukan di Sungai Lekso Kota Blitar, dan mengetahui upaya pencegahan terhadap penyakit kecacingan di Sungai Lekso Kota Blitar. Obyek penelitian dalam penelitian ini adalah telur cacing Nematoda di Sungai Lekso Kota Blitar pada tiga daerah pengambilan yaitu daerah hulu, daerah tengah, dan daerah hilir. Teknik yang digunakan yaitu teknik flotasi menggunakan NaCl jenuh yang dirujuk dari buku Penuntun Laboratorium Parasitologi Kedokteran (Hadidjaja, 1990). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi FMIPA UM di ruang 305, pada bulan Maret sampai dengan Mei 2009. Penelitian bersifat deskriptif eksploratif dengan mendeskripsikan telur cacing Nematoda yang ditemukan di Sungai Lekso Kota Blitar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telur cacing Nematoda parasit usus manusia yang ditemukan di Sungai Lekso Kota Blitar hanya Ascaris lumbricoides dengan angka prevalensi paling tinggi yaitu di daerah tengah sebesar 48%, kemudian daerah hulu sebesar 30% dan daerah hilir sebesar 22%. Tingginya angka prevalensi pada masing-masing daerah sesuai dengan frekuensi penggunaan sungai sebagai tempat mandi, cuci, kakus (MCK) yaitu daerah tengah memiliki frekuensi paling tinggi penggunaan sungai sebagai tempat MCK, kemudian daerah hulu, dan frekuensi paling rendah di daerah hilir. Belum ada upaya yang dilakukan oleh masyarakat atau Dinas Kesehatan Kota Blitar dalam pencegahan penyakit kecacingan di sepanjang Sungai Lekso Kota Blitar.

Dinamika pergumulan Masyumi dan PMI masa Demokrasi Parlementer tahun 1950-1957 / Nurkamim Ali

 

Dinamika pergumulan antara Masyumi dan PNI pada masa demokrasi parlementer terjadi karena tidak adanya partai yang menguasai mayoritas di parlemen. Masyumi dan PNI adalah dua partai besar pada masa itu dan keduanya berusaha membentuk koalisi dalam rangka membentuk suatu pemerintahan. Namun dalam perkembangannnya koalisi yang dibentuk oleh Masyumi dan PNI ini ternyata tidak mampu membuat pemerintahan yang stabil. Alasan peneliti memilih penelitian pada tahun 1950-1957 adalah karena pada masa revolusi, kerjasama antara Masyumi dengan PNI terjalin dengan baik. Namun hal ini berbeda dengan keadaan pada masa demokrasi parlementer. Pada masa ini kerjasama antara Masyumi dengan partai-partai yang merupakan rekan pada masa revolusi semakin renggang khususnya dengan PNI. Peneliti memilih masalah hubungan antara Masyumi dan PNI karena sebelumnya belum pernah ada penelitian yang membahas secara khusus masalah hubungan Masyumi dan PNI. Kemudian peneliti membatasi penelitian pada tahun 1957 yaitu setelah presiden mengumumkan keadaan darurat perang. Setelah keadaan darurat perang diumumkan, presiden menunjuk dirinya menjadi formatur sehingga hal ini merupakan penyimpangan dari UUDS 1950. Presiden berhasil membentuk kabinet namun Masyumi tidak turut serta dalam kabinet ini. Akibatnya kerjasama antara Masyumi dan PNI berakhir. Hal ini adalah yang menjadi fokus kajian dalam pembahasan dinamika koalisi Masyumi dan PNI tahun 1950-1957 Permasalahan dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimana keadaan politik Indonesia pada masa awal demokrasi parlementer, kedua, bagaimana dinamika pergumulan antara Masyumi dan PNI pada tahun 1950-1957. Pada pembahasan mengenai dinamika pergumulan antara Masyumi dan PNI ini peneliti membagi pembahasan ke dalam beberapa bagian berdasarkan jalannya pemerintahan masing-masing kabinet. Bagian ketiga adalah bagaimana nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari dinamika pergumulan Masyumi dan PNI pada tahun 1950-1957. Dalam karya ini peneliti menambahkan masalah nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari peristiwa ini dengan pertimbangan bahwa sebagai calon pendidik, peneliti harus bisa memberikan nilai-nilai pendidikan bagi siswa dari sebuah peristiwa sejarah yang dibahas. Jenis penelitian dalam kajian ini adalah penelitian sejarah. Peneliti menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan tahapan-tahapan penelitian historis yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini membahas mengenai situasi politik di Indonesia pada tahun 1950-1957 yang memberikan gambaran mengenai dominasi partai-partai politik dalam pemerintahan. Pada masa itu Masyumi dan PNI adalah partai terbesar dan berpengaruh dalam bidang politik. Dalam perkembangannnya partai-partai politik tersebut harus melakukan koalisi dalam membentuk pemerintahan karena tidak ada partai yang mayoritas menguasai parlemen, dan antara Masyumi dan PNI terjadi kesulitan menjalin kerjasama. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan Masyumi didominasi oleh golongan muda di bawah pimpinan Mohammad Natsir yang sulit bekerjasama dengan pimpinan PNI yang didominasi golongan nasionalis radikal dibawah pimpinan Sidik Djojosukarto. Pada masa kabinet Natsir, PNI tidak masuk dalam pemerintahan. Hal ini disebabkan karena terjadinya ketidaksesuaian tawar-menawar kedudukan antara Masyumi dan PNI. Pada saat kabinet Soekiman, Masyumi dan PNI dapat bekerjasama dalam membentuk pemerintahan, namun kerjasama ini tidak dapat bertahan lama karena PNI tidak setuju tindakan Masyumi yang bersedia menerima bantuan MSA. Kemudian masa kabinet Wilopo Masyumi dan PNI mampu bekerjasama membentuk kabinet, namun akhirnya PNI tidak dapat menyetujui kebijakan Menteri Dalam Negeri Mohammad Roem mengenai masalah tanah di Sumatra Utara. Masa kabinet Ali I Masyumi tidak dapat bekerjasama dengan PNI dan Masyumi bertindak sebagai oposisi sedangkan pada masa kabinet Burhanuddin Harahap, PNI menjadi oposisi. Pergumulan antara Masyumi dan PNI ini berakhir setelah kabinet Ali Sastroamidjojo II mengundurkan diri. Pada saat kabinet Ali Sastroamidjojo II Masyumi mengakhiri koalisinya dengan PNI karena perbedaan pendapat mengenai penyelesaian masalah pembangkangan yang dilakukan para pimpinan militer daerah. Setelah kabinet Ali Satroamidjojo II mengundurkan diri, presiden mengumumkan keadaan darurat perang bagi seluruh wilayah Indonesia. Dari pembahasan ini dapat diambil nilai-nilai pendidikan berupa pendidikan moral politik dan keteladanan. Nilai-nilai pendidikan ini dapat digunakan menjadi acuan pada masa sekarang sebagai pedoman untuk bertindak. Dengan demikian berarti bahwa sejarah bukan hanya cerita masa lalu tetapi juga merupakan pedoman bagi kita untuk berbuat. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa kesulitan yaitu kesulitan menemukan sumber-sumber primer mengenai PNI. Peneliti akhirnya banyak menggunakan sumber dari biografi-biografi tokoh-tokoh PNI. Di samping itu peneliti banyak menggunakan sumber-sumber dari pers. Peneliti mengharapkan agar para peneliti selanjutnya yang berminat pada kajian ini dapat mencari sumber-sumber primer lainnya.

Pengembangan program bimbingan dan konseling di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (STAHN-TP) Palangkaraya / oleh I Wayan Karya

 

Partisipasi mahasiswa dalam kelompok belajar (studi kasus pada mahasiswa PPD II PGSD Universitas Terbuka di Pandih Batu Pulang Pisau Kalimantan Tengah) / oleh Saufin S. Mantir

 

Pengembangan bahan ajar matakuliah rancangan pembelajaran dengan menerapkan model elaborasi / oleh Ahmad Syahid

 

Hubungan kualitas layanan , motivasi berprestasi dan prestasi belajar dengan dengan kepuasan mahasiswa politeknik kesehatan jurusan keperawatan Malang / oleh Susi Milwati

 

Makan belajar bahasa Inggris pada kalangan peserta kursus (Studi kasus pada Mario English Course Palangka Raya) / oleh Saiffulah Darlan

 

An Analysis of Junior High School English Texbook Used in Banjar Regency, South Kalimantan / by Fathurrahman

 

Penmgembangan Paket Teknik Kelola Diri Untuk Pelayanan Bimbingan Belajar Mahasiswa di Universitas Terbuka / oleh Titik Setyowati

 

Peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dengan memanfaatkan media lingkungan siswa kelas X-6 SMA Negeri I Talun Kabupaten Blitar / Leita Ninis Restanti

 

ABSTRAK Restanti, Leita Ninis. 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Deskipsi dengan Memanfaatkan Media Lingkungan Siswa Kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. FS. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Dwi Saksomo, M.Si Kata Kunci : keterampilan menulis, karangan deskripsi, media lingkungan Keterampilan menulis diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMA/MA. Salah satu keterampilan menulis adalah menulis karangan deskripsi. Melalui pembelajaran menulis karangan deskripsi, diharapkan siswa mampu menulis karangan deskripsi dengan baik. Berdasarkan observasi, diketahui bahwa pembelajaran menulis di SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar masih kurang optimal. Siswa masih mengalami kesulitan dalam proses menulis karangan deskripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dari segi kesesuaian isi karangan setelah memanfaatkan media lingkungan, (2) peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dari segi kelengkapan isi karangan setelah memanfaatkan media lingkungan, (3) peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dari segi kelengkapan isi karangan setelah memanfaatkan media lingkungan, (4) peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dari segi ejaan dan tanda baca setelah memanfaatkan media lingkungan, dan (5) peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dari segi tata bahasa setelah memanfaatkan media lingkungan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakankan pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan memanfaatkan media lingkungan, yang berlangsung dalam tiga tahapan menulis, yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, serta tahap penyuntingan dan revisi. Melalui media lingkungan ini, siswa dihadapkan dengan keadaan yang sebenarnya sehingga siswa mengalami sendiri dan mencari pengalaman sendiri dengan bimbingan guru. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang terdiri atas 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti. Sedangkan instrumen tambahan yang digunakan adalah LKS, pedoman wawancara, catatan lapangan dan kamera.Data penelitian ini adalah data awal, data pelaksanaan, dan data hasil tindakan. Data awal berupa data hasil wawancara dan karangan deskipsi siswa pada tahap pratindakan. Data pelaksanaan adalah lembar observasi/catatan lapangan selama proses pembelajaran. Data hasil tindakan adalah hasil kerja siswa yang berupa karangan deskripsi siklus I dan siklus II. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun mengalami peningkatan, baik dari aspek isi maupun kebahasaan. Hasil tindakan siklus I menunjukkan bahwa siswa belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini terbukti bahwa hanya 3 dari 37 siswa yang mampu mencapai standar minimal pesentase indikator keberhasilan yang disyaratkan. Aspek yang mencapai nilai cukup baik adalah aspek kebahasaan, sedangkan aspek isi belum tercapai, terutama subaspek kerincian. Hasil tindakan siklus II menunjukkan bahwa siswa telah mencapai standar minimal persentase keberhasilan. Nilai rata-rata siswa pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 27,4% dari siklus I. Nilai rata-rata siswa dalam tes menulis karangan deskripsi mencapai 86,1% Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis karangan deskripsi siswa dengan memanfaatkan media lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar. Strategi ini merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, media lingkungan dapat juga dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain.

Penerapan metode quantum teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang / Desi Rahmawati

 

Berdasarkan hasil observasi awal pada saat PPL selama dua bulan diketahui bahwa aktivitas dan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang dalam proses belajar mengajar masih rendah. Selain itu, model pembelajaran yang dilakukan masih cenderung ceramah dan cenderung berpedoman kepada buku teks, sehingga siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga aktivitas dan motivasi belajar siswa meningkat. Model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah salah satu metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Proses penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing pada siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang, (2) Deskripsi dan analisis penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang, (3) Deskripsi dan analisis penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang, dan (4) Respon siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang terhadap metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlangsung dalam II siklus, yaitu siklus I menggunakan materi Perdagangan Internasional dan siklus II menggunakan materi valuta asing. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang yang terdiri dari 33 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, angket dan catatan lapangan. Tahap-tahap dalam penelitian ini meliputi tahap pra tindakan penelitian, kegiatan tindakan penelitian dan pelaporan hasil penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan, ditemukan bahwa rata-rata nilai aktivitas belajar kelas dalam metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing menunjukkan peningkatan. Rata-rata nilai aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 58% dan pada siklus II meningkat sebesar 33% menjadi sebesar 91%. Sedangkan motivasi belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan sebesar 0,44 dari siklus I sebesar 3,61 (baik) menjadi 4,05 (baik) pada siklus II, hal ini dapat diketahui bahwa peningkatan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing menunjukkan tingkat yang tidak terlalu signifikan. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penggunaan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing yaitu: (1) Penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang. (2) Aktivitas belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang mengalami peningkatan dengan menggunakan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. (3) Motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang meningkat dengan menggunakan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. (4) Respon siswa terhadap metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing adalah positif. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu: (1) Penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup. (2) Penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya. (3) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan tindakan lebih dari dua siklus. Sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal guna perbaikan pendidikan. (4) Untuk peneliti selanjutnya, hendaknya menggunakan bola yang lebih besar dalam permainan Snowball Throwing agar lebih mudah ditangkap. (5) Penerapan model pembelajaran ini hendaknya dilakukan pada sekolah yang mempunyai komposisi siswa heterogen, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

Penggunaan media pembelajaran program macromedia flash professional 8 pada mata pelajaran IPS sejarah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto 2008/2009 / Novita Restuti

 

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kepada salah satu guru IPS dan beberapa siswa di SMP Negeri 1 Dlanggu dalam pembelajaran IPS, guru masih jarang menggunakan variasi dalam proses pembelajarannya khususnya ruangan audio visual, sehingga berdampak pada prestasi siswa yang kurang optimal karena siswa merasa bosan terhadap model pembelajaran sejarah yang dirasa kurang menarik. Alasan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pebedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 dan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (2) Bagaimana prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (3) Bagaimana perbedaan prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran dan yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (2) Untuk mengetahui prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (3) Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran dan yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen. Populasinya adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto semester genap tahun pelajaran 2008/2009. Obyek penelitian adalah 48 orang siswa yaitu kelas VII D sebagai kelas eksperimen dan kelas VII G sebagai kelas kontrol. Pada pelaksanaannya kelas eksperimen diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 dan kelas kontrol diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Data berupa prestasi belajar dikumpulkan melalui tes hasil belajar sebagai instrument untuk pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai kelas eksperimen adalah 77,31 sedangkan kelas kontrol adalah 65,38. Hal ini menunjukkan kelas yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada kelas yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Hasil analisis uji-t terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu thitung adalah 6,739 dan ttabel adalah 2,021 yang berarti thitung  ttabel, yang menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai rata-rata siswa yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 dengan siswa yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Disarankan bagi peneliti lain terutama mahasiswa Jurusan Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah yang tertarik pada penelitian yang sejenis untuk melakukan pengembangan yaitu memilih tema yang lebih mengarah pada penguasaan siswa terhadap mata pelajaran IPS Sejarah. Disarankan untuk mengambil materi selain penjelajahan samudera, mengambil sampel yang lebih luas, mengembangkan instrument penelitian yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan tes prestasi belajar sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

Nilai-nilai Moral Dalam Cerita Rakyat Bugis (telaah Sastra Bugis Klasik Dokumentasi Nur Azizah Syahril) / oleh Syahrul Aman

 

A descriptive analysis of scaffolding instruction in the teaching of writing at SMK Negeri 3 Malang / Mira Kumalasari

 

This study was conducted to describe the scaffolding instruction in the teaching of writing. It aims: to describe (1) the activities done through scaffolding when the teacher teaches writing, (2) the teachers’ and students’ responses towards the scaffolding instruction in the teaching of writing, and (3) the use of scaffolding instruction in the teaching of writing. This study employed a descriptive design because it describes the implementation of scaffolding instruction in the teaching of writing at SMK Negeri 3 Malang, the teachers’ and the students’ responses toward scaffolding instruction, as well as the use of scaffolding instruction in the teaching of writing. The setting of the study was SMK Negeri 3 Malang and the subjects were two classes; the tenth grade classes of Hotel and Restaurant 4 and Fashion 1. The instruments used to obtain the data were observation sheet for field notes, interview guide, and questionnaires. Syllabus, lesson plans, and students’ writings were included to complete the data obtained. Observation was applied in order to know the activities done in the classes. The result of researcher’s observation was also supported by the teachers’ lesson plans and the school syllabus. Interviews were conducted to know the teachers’ responses towards scaffolding instruction and the teaching of writing. For the students, questionnaires were provided for the sake of obtaining the students’ opinions. Moreover, the students’ writings were also included in order to know the result of application of scaffolding instruction in the teaching of writing. The results showed that in the teaching of writing in the two classes, the tenth grade class of Hotel Restaurant 4 and Fashion 1, the teachers applied scaffolding instruction. These classes were in level D of scaffolding which meant the teacher gave verbal explanation and modeling to support the students in learning writing. Both the teachers and the students gave positive responses towards the application of scaffolding instruction in the teaching of writing. The investigation done in the classes showed that the teachers and the students were able to accomplish the writing task well though writing was the most difficult skill to be taught. The students also found that there were no worries to write since the teachers gave guidance and motivated the students to write. Based on the findings, English teachers are suggested to apply scaffolding instruction in the teaching of writing to help students to learn and improve their writing quality. The researcher recommends the following suggestions for the students of SMK. Since one of the scaffolding instruction’s applications is guiding the students to write by such as giving examples to the students and giving verbal explanation, the students should not worry to write. Besides, the practicalii suggestions for further study were given. Other researchers or teachers could examine scaffolding instruction gradually by referring to the level of scaffolding instruction in classroom. Each of the five levels of scaffolding criteria is appropriate for certain students and could improve the students’ writing quality.

Peran manajemen perpustakaan berbasis automation system sebagai pendukung proses pembelajaran pemustaka (studi kasus di Perpustakaan Umum Pemerintah Kota Malang) / Lusiana Dewi Anggraeni

 

Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas, sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi. Perpustakaan umum merupakan organisasi/lembaga penghasil jasa, sehingga peran manajemen perpustakaan sebagai pendukung proses pembelajaran bagi pemustaka harus mendapat dukungan agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memunculkan konsep baru tentang pengelolaan perpustakaan konvensional menjadi pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan sistem otomasi. Dengan adanya sistem tersebut, maka kegiatan pengelolaan perpustakaan akan mengalami banyak perubahan dan kemudahan, karena sistem ini dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang lebih mudah, efektif, dan efisien dalam membantu tugas rutin administrasi perpustakaan serta dapat meningkatkan mutu layanan perpustakaan dengan mudah, cepat dan tepat. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih mendalam tentang sistem otomasi, khususnya pada peran manajemen sebagai pendukung proses pembelajaran pemustaka di Perpustakaan Umum pemerintah Kota Malang. Ada empat fokus dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimanakah proses manajemen perpustakaan berbasis automation system, (2) apa latar belakang penerapkan manajemen perpustakaan berbasis automation system sebagai pendukung proses pembelajaran pemustaka, (3) apa kelebihan dan kelemahan dari manajemen perpustakaan berbasis automation system, (4) apa saja peran manajemen perpustakaan berbasis automation system sebagai pendukung proses pembelajaran pemustaka. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan Peran Manajemen Perpustakaan Umum dengan Sistem Otomasi Perpustakaan sebagai Pendukung Proses Pembelajaran Pemustaka di Perpustakaan Umum dan Arsip Pemerintah Kota Malang, khususnya yaitu: (1) mengetahui proses manajemen perpustakaan berbasis automation system, (2) mengetahui latar belakang penerapkan manajemen perpustakaan berbasis automation system sebagai pendukung proses pembelajaran pemustaka, (3) mengetahui kelebihan dan kelemahan dari manajemen perpustakaan berbasis automation system. Lokasi penelitian di Perpustakaan Umum dan Arsip Pemerintah Kota Malang, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara; (2) teknik pengamatan berperan serta/observasi; dan (3) teknik dokumentasi. Temuan penelitian ini yaitu: (1) latar belakang penerapkan manajemen perpustakaan berbasis automation system adalah untuk meningkatkan layanan kepada pengunjung serta proses pengelolaan perpustakaan secara cepat, tepat dan akurat. Perpustakaan mengembangkan pengelolaan perpustakaan dari perpustakaan konvensional menjadi perpustakaan modern yang berbasis automation system dengan menggunakan software Smart Library Automation (SLA) seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi guna menunjang proses pembelajaran pemustaka, (2) Proses manajemen perpustakaan umum terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengevaluasian, (3) kelebihan dari manajemen perpustakaan berbasis automation system adalah meringankan tugas pengelola perpustakaan umum, tidak memerlukan prosedur kerja yang rumit dan panjang, data koleksi perpustakaan lebih aman, mempermudah akses data, meningkatkan layanan kepada pengunjung perpustakaan secara cepat, tepat dan akurat, menunjang proses pembelajaran pengunjung, dan meningkatkan kerjasama berkaitan dengan pengembangan infrastruktur nasional, regional, dan global. Sedangkan kelemahan dari manajemen perpustakaan berbasis automation system adalah membutuhkan biaya yang mahal, dalam pengoperasiannya membutuhkan ketrampilan dan keahlian agar dapat memperlancar pengoperasian sistem, terjadi gangguan terhadap sistem otomasi karena kesalahan teknis, gangguan lingkungan dan kesalahan manusia, (4) peran manajemen perpustakaan berbasis automation system adalah untuk meningkatan pelayanan prima serta bagi pemustaka berperan untuk mendukung proses serta meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) untuk kepala Perpustakaan Umum Pemerintah Kota Malang, sebaiknya pengembangan profesi petugas perpustakaan dijadikan sebagai prioritas utama dalam rangka merespon perubahan teknologi dan informasi serta kepala perpustakaan diharapkan untuk lebih kreatif dalam memberikan inovasi baru guna meningkatkan performa perpustakaan, (2) petugas perpustakaan, sebaiknya selalu meningkatkan kinerja, mengembangkan pengetahuan diri melalui pelatihan yang berkaitan dengan manajemen perpustakaan berbasis otomasi untuk meningkatkan keberhasilan dan performa perpustakaan. selain itu sebaiknya petugas perpustakaan juga meningkatkan hubungan kerjasama antar pengelola perpustakaan umum, sehingga dapat saling bertukar pikiran dan pengalaman dalam menangani manajemen perpustakaan yang telah menggunakan sistem otomasi, (3) pemustaka, dengan adanya penerapan manajemen perpustakaan berbasis automation system hendaknya dapat memotivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum secara maksimal demi mendukung peningkatan proses pembelajaran, (4) Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya jurusan mengadakan kerjasama dengan perpustakaan umum maupun perpustakaan lain untuk mengadakan pertukaran bahan pustaka dan informasi katalog bahan pustaka, (5) peneliti lain, untuk lebih memperkuat temuan dalam penelitian ini, disarankan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui implementasi sistem otomasi perpustakaan yang ada di Perpustakaan Umum Pemerintah Kota Malang.

Efektivitas metode pembelajaran model numbered head together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi eksperimen pada siswa kelas X SMAN 9 Malang) / Khoirun Nisak

 

ABSTRAK Nisak, Khoirun. 2009. Studi Perbandingan Metode Pembelajaran Model Numbered Head Together (NHT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMAN 9 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Pranowo, S.E, M.Pd, Ak, (II) Drs. Mardono M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Numbered Head Together (NHT), Hasil Belajar. Pendidikan sangat menentukan kualitas kehidupan bangsa. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, dan demokratis. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan pembaruan dan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kualitas, akan menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa ditanggulangi dengan paradigma yang lama, yaitu paradigma pembelajaran behavioristik (pembelajaran yang berpusat pada guru). Salah satu cara untuk mengatasi paradigma lama tersebut adalah dengan cara memberikan peserta didik metode pembelajaran yang bisa membuat mereka lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran yaitu pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat mengajak siswa yang satu dengan siswa yang lainnya saling berinteraksi seta aktif dalam bertukar pengetahuan dalam kelompok untuk meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Numbered Head Together (NHT). Numbered Head Together (NHT) adalah salah satu model atau teknik pembelajaran yang melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk menganalisis bagaimanakah hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 9 Malang yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran model Numbered Head Together (NHT), (2) Untuk mengalisis bagaimanakah hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 9 Malang yang diberi pengajaran dengan metode konvensional (3) Untuk mengetahui dan mengalisis bagaimana perbedaan hasil belajar ekonomi antara siswa yang diberi pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) dengan siswa yang diberi pengajaran dengan metode ceramah. Penelitian ini dilakukan di SMAN 9 Malang pada bulan Maret sampai bulan April 2009. penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design) dengan rancangan penelitian Nonrandomized Pre-test Post-test Control Group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 9 malang tahun ajaran 2008-2009 dengan jumlah 282 siswa yang terbagi ke dalam 7 kelas. Sampel diambil sebanyak dua kelas dari kelas X dengan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling didasarkan atas pertimbangan: (1) Sebelum penelitian dilakukan kedua kelas dalam proses belajar masih menggunakan metode pembelajaran ceramah, (2) Kedua kelas yang dipilih tersebut dibimbing oleh guru yang sama, sehingga memudahkan peneliti dalam melanjutkan materi pelajaran ekonomi, (3) Tidak ada kelas unggulan sehingga kedua kelas tersebut memiliki rata-rata kelas yang sama. Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut terpilih kelas X-4 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X-5 sebagai kelas kontrol. Kelas eskperimen adalah kelas yang proses belajar mengajarnya mengguanakan metode pembelajaran model Numbered Head Together (NHT), sedangkan kelompok kontrol adalah kelas yang proses belajar mengajarnya menggunakan metode ceramah. Data penelitian ini diambil dari siswa kelas X-4 dan X-5 berupa hasil pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji t (t-test). Sebelum data dianalisis terlebih dahulu diuji persyaratan, yaitu uji normalitas dan homogenitas. Uji t digunakan untuk untuk menguji kesamaan dua rata-rata kemampuan awal (pre-test) dan beda dua rata-rata kemampuan akhir (post-test) serta hipotesis penelitian dari gain score. Meningkatnya hasil belajar siswa dapat diketahui dari ketuntasan belajar dan hasil kemampuan akhir siswa atau post-test pada mata pelajaran ekonomi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa terbukti dengan analisis hasil belajarnya yang dapat dilihat dari ketentuan belajar siswa terdapat perbedaan yang signifikan. Yaitu pada kelas kontrol sebesar 80% telah tuntas dan 20% tidak tuntas. Sedangkan kelas eksperimen sebesar 97,5% telah tuntas dan 2,5% yang belum tuntas dalam belajar. Sedangkan dari hasil nilai rata-rata kemampuan akhir siswa kelas kontrol 73,50 dan kelas eksperimen 83,50. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model Numbered Head Together (NHT) lebih baik daipada siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti menyarankan: (1) Bagi guru mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang pada khususnya dan para guru ekonomi di sekolah lain pada umumnya disarankan untuk menerapkan pembelajaran model NHT sebagai salah satu alternatif pembelajaran di dalam kelas dalam rangka meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa.,(2) Pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan langkah-langkahnya agar mendapatkan hasil optimal, dan (3) Selain model pembelajaran NHT diharapkan guru bisa menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran yang lain agar siswa tidak merasa bosan dengan model pembelajaran tersebut.

Profil Aris Budi Prasetiyo pemain sarat pengalaman Persema Malang ditinjau dari kepribadian dan pengalaman pelatih / Farich Trisno Putra

 

Profil dalam penelitian ini adalah perjalanan karier Aris Budi Prasetiyo pada saat mulai menekuni permainan sepak bola hingga menjadi seorang pemain sepak bola yang profesional, serta pengalamannya sebagai seorang pelatih sepak bola. Peneliti ini mengangkat profil Aris Budi Prasetiyo dikarenakan kepribadiannya selama bermain sepak bola, serta mengetahui gaya kepemimpinan Aris Budi Prasetiyo pada saat menjadi pelatih sepak bola. Dengan munculnya sosok pemain seperti Aris Budi Prasetiyo ini diharapkan dapat memotivasi dan menambah kepercayaan diri para pemain sepak bola lainnya dan pelatih-pelatih sepak bola pada umumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan profil kepribadian dan tipe kepemimpinan Aris Budi Prasetiyo sebagai pemain maupun sebagai pelatih sepak bola. Hasil penelitian ini menunjukkan kepribadian dan tipe kepemimpinan yang dimiliki oleh Aris budi Prasetiyo sebagai pemian maupun sebagai pelatih sepak bola. Berdasarkan kajian pustaka, menurut M.A.W Brouwer Aris Budi Prasetiyo mempunyai ciri kepribadian orang Flegmatik (a) Atif, (b) Tenang, (c) Seimbang, (d) Tegar, (e) Bekerja keras, (f) Disiplin, (g) Konsekuen, (h) Optimis. Sebagai seorang pelatih Aris budi Prasetiyo juga memiliki tipe kepemimpinan Situasional, kepemimpinan Demokratis, kepemimpinan Otoriter, kepemimpinan Paternalistik, dan kepemimpinan Pancasila. Di dalam kepemimpinan Pancasila, Prasetya Citra Sukoco memiliki karakteristik antara lain: (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Ing Madyo Mangun Karsa, (3) Tut Wuri Handayani.

Compliment responses used by Indonesians learning English based on the compliment topics and social statutes / Yustika Sari

 

This thesis is a pragmatic study about compliment responses used by Indonesians learning English to respond to English compliments based on the compliment topics (appearance and ability) and social statuses of the addressor (higher, equal, and lower). The data of compliment responses were collected using a Discourse Completion Test (DCT) and a questionnaire. The data were then analyzed using the taxonomy of compliment responses formulated by Herbert (1986:79, as cited in Urano, 1998). The results of this study showed that appreciation token was the most frequently used in all situations given in this study. Moreover, it was revealed that the factor of the subjects’ background (academic year cohort) did not give a significant effect on the preference of the types of compliment responses.

Pengaruh radiasi sinar matahari dan sinar ultra violet pada plastik styrofoam kemasan makanan dan minuman / Lailatur Rizqiyah

 

Styrofoam yang kerap kali ditemukan sebagai plastik pengemas atau pembungkus makanan dan minuman, ternyata dalam penggunaannya tidak boleh sembarangan. Penggunaan styrofoam dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan dan lingkungan. Penelitian oleh Zamroni tahun 2002 menggunakan polistirena murni (100%) menunjukkan bahwa radiasi sinar matahari dan sinar ultra violet terhadap polistirena murni dapat menyebabkan degradasi menjadi monomernya yaitu stirena yang kemudian teroksidasi menjadi stirena oksida. Senyawa ini berbahaya bagi kesehatan karena bersifat karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh radiasi sinar matahari dan sinar ultra violet pada plastik styrofoam kemasan makanan dan minuman dan karakterisasi sifat styrofoam sebagai akibat dari radiasi sinar matahari dan sinar ultra violet Sampel yang digunakan pada penelitian ini berupa styrofoam pengemas makanan dan minuman. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Lembaran styrofoam dibuat bentuk film tipis dan lempeng tipis, selanjutnya diberi perlakuan. Perlakuan yang pertama dengan radiasi sinar matahari dan yang kedua dengan radiasi sinar ultra violet dengan lampu uv yang dengan daya 20 watt dalam waktu yang sama selama 10, 25, dan 40 hari. Adapun sebagai kontrol adalah styrofoam tanpa perlakuan. Karakterisasi styrofoam dilakukan untuk mengetahui terjadinya degradasi atau tidak, yaitu dengan uji tarik, spektroskopi infra merah, dan pengamatan fisik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa radiasi sinar matahari maupun sinar ultra violet dapat menyebabkan degradasi pada styrofoam. Semakin lama waktu radiasi baik radiasi sinar matahari maupun sinar ultra violet dapat mempercepat degradasi. Degradasi yang terjadi akibat radiasi sinar matahari maupun sinar ultra violet dapat menyebabkan penurunan kekuatan tarik, peningkatan konsentrasi relatif stirena oksida, serta menyebabkan penampakan permukaan dan warna styrofoam berubah. Degradasi yang terjadi akibat radiasi sinar matahari menyebabkan sampel berwarna kuning, retak/rapuh, dan muncul butiran-butiran putih. Sedangkan degradasi yang terjadi akibat radiasi sinar ultra violet menyebabkan styrofoam berwarna kusam, retak/rapuh, dan muncul butiran-butiran putih.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007 / Hanik Tri Wilujeng

 

Salah satu alternatif investasi selain saham adalah obligasi. Risiko obligasi lebih kecil dibandingkan saham, meskipun pengembaliannya tidak sebesar yang diberikan saham. Berinvestasi pada obligasi hendaknya memperhatikan peringkat obligasi. Peringkat obligasi memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi investor karena memberikan informasi tentang skala risiko dari obligasi. Peringkat obligasi dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pertumbuhan perusahaan (Growth), Size company (Size), likuiditas, umur obligasi dan auditor. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh pertumbuhan perusahaan (Growth), Size company (Size), likuiditas, umur obligasi dan auditor terhadap peringkat obligasi perusahaan manufaktur secara parsial maupun simultan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 90 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2005-2007. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 15 perusahaan berdasarkan kriteria. Teknis analisis data yang digunakan yaitu asumsi klasik, regresi logistik, pengujian hipotesis dan analisa koefisien determinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh secara parsial dari variabel pertumbuhan perusahaan (growth), likuiditas, dan auditor terhadap peringkat obligasi. Sedangkan untuk variabel size company(size),dan umur obligasi (maturity) terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peringkat obligasi secara parsial. Terdapat pengaruh secara simultan antara pertumbuhan perusahaan (Growth), Size company (Size), likuiditas, umur obligasi dan auditor terhadap peringkat obligasi. Berdasarkan hasil penelitian dalam penelitian ini maka disarankan agar penelitian berikutnya menambah atau mengganti variabel yang mempengaruhi peringkat obligasi selain pertumbuhan perusahaan (Growth), Size company (Size), likuiditas, umur obligasi dan auditor seperti sinking fund dan jaminan, menggunakan sampel dari perusahaan lebih difokuskan seperti perusahaan real estate, tekstil dan sebagainya, menambah jumlah sampel untuk mendapatkan hasil yang akurat, dan memberikan kriteria yang menghilangkan/tidak mengikutsertakan perusahaan yang mengalami kerugian.

Perancangan desain website pariwisata Malang Raya / Nina Ayu Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Nina, Ayu. 2009. Perancangan Desain Website Pariwisata Malang Raya. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn,(II) M. Abdul Rahman, M.Sn. Kata kunci: perancangan, website, pariwisata, Malang. Dalam usaha pengembangan pariwisata kota Malang, Dinas Pariwisata Informasi dan Komunikasi kota Malang selain melakukan pembinaan-pembinaan juga mendirikan Malang Tourist Information Centre yang berlokasi di Alun-alun Kota Malang. Di sini masyarakat bisa memperoleh informasi seputar kepariwisataan Kota Malang. Informasi yang diberikan tidak hanya mengenai pariwisata Kota Malang saja, namun juga mencakup Kabupaten Malang dan Kota Batu. Atau biasa disebut Malang Raya. Sebagai media informasi, Malang Tourist Information Centre memiliki multimedia satu arah yang berisi informasi singkat mengenai obyek wisata Malang Raya, akomodasi mulai dari hotel bintang lima hingga losmen dan home stay, rumah makan dan café, biro perjalanan, dan sarana transportasi. Namun sangat disayangkan media informasi yang dimiliki Malang Tourism Information Center ini ridak dapat diakses dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Karena itulah dibutuhkan sebuah media infomasi yang memiliki tingkat aksesbilitas yang lebih tinggi. Media yang sesuai dengan kriteria tersebut adalah website. Website pariwisata Malang ini berisi informasi obyek wisata di Malang Raya dan sarana pendukungnya. Sebagai media komunikasi visual pendukung website ini adalah billboard, poster, horizontal banner, x banner, stiker, flyer, kaos, pin, iklan surat kabar, dan iklan majalah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah media yang sesuai dengan permasalahan di atas adalah website dengan media komunikasi visual pendukung berupa billboard, poster, horizontal banner, x banner, stiker, flyer, kaos, pin, iklan surat kabar, dan iklan majalah. Beberapa saran yang dapat diberikan kepada Malang Tourism Information Center sebagai klien adalah diharapkan dapat meneruskan kegiatan promosinya agar dapat mencapai visi dan misi yang dimiliki.

Sistem kendali suhu dan kelembaban udara otomatis untuk tanaman anggrek pada green house / Dedy Hariawan

 

Abstrak: Anggrek pada umumnya tumbuh di daerah yang suhunya rendah dengan kelembaban yang cukup tinggi, hal ini sering menjadi kendala bagi para penggemar anggrek untuk memgudidayakan anggrek tersebut, karena mereka harus berhati-hati terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu dan harus juga menyediakan tempat yang khusus untuk menanamnya, akan tetapi itupun masih menjadi kendala, karena masih menggunakan cara yang sangat manual, baik dalam menyesuaikan suhu maupun kelembaban di lahan tersebut. Dengan adanya alat yang bekerja secara otomatis pada ruangan grren house ini, diharapkan dapat mempermudah para pengguna dalam bercocok tanam, agar tanaman tumbuh secara optimal dan mendapat hasil tanam yang sesuai dengan harapan. Prinsip kerja dari alat ini yaitu: Sensor SHT 11 berfungsi untuk mendeteksi tingkat kelembaban pada ruangan miniatur green house, yang kemudian tingkat suhu dan kelembaban yang telah terdeteksi dan dikonversikan menjadi sinyal digital oleh rangkaian ADC yang telah menjadi satu modul dengan sensor tersebut, kemudian sinyal tersebut diproses dan dikontrol oleh Mikrokontroler AT89S51. Mikrokontroler tersebut berfungsi untuk mengontrol heater, kipas satu, kipas dua, kipas tiga dan media pengairan, dengan menggunakan driver solid state untuk mengaktifkan kelima perangkat tersebut. Sehingga dapat menentukan tingkat suhu dan kelembaban udara yang diinginkan pada green house. Jika tingkat suhu udara pada miniatur green house menurun/ kurang dari yang diharapkan, maka kipas tiga dan heater akan aktif bersamaan sampai tingkat suhu yang diharapkan. Sedangakan jika tingkat suhu udara meningkat atau melebihi dari yang diharapkan, maka media pengairan, akan aktif atau bekerja sampai dengan suhu udara yang diharapkan, serta kipas satu dan dua juga akan aktif secara bersamaan dengan media pengairan tersebut sebagai sirkulasi di dalam ruangan miniatur green house. Display (LCD) pada alat tersebut berfungsi untuk menampilkan tingkat suhu dan kelembaban yang terukur dan dapat memudahkan pengguna dalam pengecekan tingkat suhu dan kelembaban udara pada miniatur green house. Hasil dari pengujian yaitu: rata-rata error pada pengujian pertama dengan posisi sensor di tengah ruangan,untuk suhu 1,96 % dan untuk kelembaban 3,54 %. pada pengujian kedua dengan posisi sensor mendekati heater, untuk suhu 1,55 % dan untuk kelembabannya 2,77 %. Pada pengujian ketiga dengan posisi sensor menjauhi heater, untuk suhu 0,79 %, dan untuk kelembabannya 1,10%. Kata Kunci: Sensor, Mikrokontroler, Otomatis, Green House, LCD, Suhu dan Kelembaban.

Management bandwidth menggunakan router mikrotic di SMK Maskumambang 1 Gresik / Khanna Khumaidah

 

Kebutuhan akan akses internet dewasa ini sangat tinggi sekali. Baik untuk mencari informasi , artikel, pengetahuan terbaru atau bahkan hanya untuk chating. Penggabungan 2 IP bandwidth atau dengan kata lain load balancing pada setiap host/user adalah satu bagian yang penting untuk dilakukan bagi penyedia layanan interne (provider). Penerapan penggabungan bandwidth dalam dunia pendidikan sangat penting karenan sangat berpengaruh untuk aktifitas pendidikan, baik itu untuk administrasi sekolah, pada kantor ataupun untuk praktikum siswa. Mikrotik adalah salah satu vendor baik hardware dan software yang menyediakan fasilitas untuk membuat router. Salah satunya adalah Mikrotik Router OS, ini adalah Operating system yang khusus digunakan untuk membuat sebuah router dengan cara menginstallnya ke komputer. Fasilitas atau tools yang disediakan dalam Mikrotik Router Os sangat lengkap untuk membangun sebuah router yang handal dan stabil. Sistem pengabungan bandwidth router mikrotik ini dapat dilakukan berbasis web dan winbox. Karena menggunakan mikrotik untuk membangun sistem tersebut tidak dibutuhkan spesifikasi perangkat yang besar, karena itulah mikrotik sangat terjangkau untuk dunia pendidikan. Sistem ini dapat memberikan potensi kerja yang baik, cepat dan akurat karena didukung pemberdayaan sistem yang handal. Dengan adanya hal tersebut maka akan memberikan peluang atau kesempatan bagi pengguna sistem untuk melakukan pengawasan jaringan dan pengembangan sistem jaringan dan pengembangan sistem lanjutan yang menuju ke arah yang lebih baik.

Membangun PC router pada jaringan lokal di SMK Darut Taqwa Pasuruan dengan menggunakan operating sistem Linux FreeBSD / Jainulloh Bisri

 

Jaringan lokal merupakan network atau jaringan sejumlah sistem komputer yang lokasinya terbatas didalam satu gedung, satu kompleks gedung atau suatu kampus dan tidak menggunakan media fasilitas komunikasi umum seperti telepon, melainkan pemilik dan pengelola media komunikasinya adalah pemilik LAN itu sendiri. Unix FreeBSD adalah sebuah sistem operasi berbasis UNIX yang asal mulanya dikembangkan pada Laboratorium Bell, AT&T. Sistem Operasi adalah perangkat lunak komputer yang mengatur dan mengendalikan operasi dasar dari sistem komputer. Unix FreeBSD terdiri dari sejumlah program (daftar instruksi untuk memperoleh hasil tertentu) yang dirancang untuk mengontrol interaksi antara fungsi-fungsi pada mesin yang beraras rendah dengan program aplikasi. PC Router yang asal mulanya suatu kompuer/PC yang dibuat Router yang berfungsi hampir sama dengan Router yang dapat menghubungkan koneksi dari suatu internet/ISP menuju Swith/HUB, dimana PC router sendiri juga mempunyai keunggulan yang bisa membantu seseorang yang ingin membangun suatu jaringan internet dengan dapat meminimalisir biaya. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pembuatan PC Router dengan menggunakan operasi system freebsd sangatlah mudah dan tidak membutuhkan biaya yang sangat berlebihan.

Sistem informasi pendidikan berbasis web di SMK Darut Taqwa Pasuruan / M. Ali Erkham

 

Pusat penyampaian informasi sekolah SMK Darut Taqwa masih sangat sederhana dan terbatas, yaitu menggunakan majalah dinding. Penyampaian informasi dengan majalah dinding dinilai kurang efektif, efisien dan kurang universal. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dibangun sistem informasi yang berbasis web, diharapkan penyampaian informasi sekolah kepada siswa bisa lebih cepat dan akurat. Metode penelitian yang digunakan adalah study literature, pembuatan program, implementasi program, pengujian, dan pembuatan laporan serta dokumentasi. Perancangan sistem informasi meliputi pengolahan data guru, data siswa, data kelas, data materi pelajaran, data nilai siswa, dan pemberian hak akses kepada siswa. Sedangkan yang melakukan update data dilakukan oleh Admin. Sistem informasi ini dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL yang terkumpul dalam satu kesatuan program PHPTriad. Kelebihan menggunakan bahasa pemrograman PHP yang paling diandalkan dan signifikan adalah dikarenakan dukungan kepada banyak database. Dengan adanya aplikasi ini, maka sirkulasi informasi sekolah dapat dipublikasikan secara efektif dan efisien, kepala bagian administrasi sekolah dapat mengelola dan mengatur pengarsipan data sekolah mengenai data data guru, data siswa, data kelas, data materi pelajaran, data nilai siswa dengan efektif, guru dapat mengolah nilai siswa dengan mudah dan dapat memantau prestasi siswa yang dibimbingnya, dan juga dengan adanya aplikasi ini maka siswa dapat melihat prestasi yang diraihnya. Aplikasi sistem informasi ini masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi desain tampilan maupun fitur yang dimilikinya. Sistem informasi ini masih belum memiliki fitur pencarian data dan fitur untuk mencetak laporan dari hasil input data. Selain itu, untuk sementara sistem informasi ini belum diposting di Internet, sehingga keinginan pempublikasian sistem informasi yang universal belum terwujud.

Analisis perkembangan retribusi pasar dan efektivitasnya dalam rangka usaha peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) di Kota Malang / Khafidz Khasan

 

ABSTRAK Khasan, Khafidz. 2009. Analisis Perkembangan Retribusi Pasar dan Efektifitasnya dalam Rangka Usaha Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Malang. Tugas Akhir. Program Studi : DIII Akuntansi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Suparti, M.P. Kata Kunci: Efektivitas, Kontribusi, Retribusi Daerah, Retribusi Pasar, PAD Otonomi daerah yang bergulir saat ini adalah bagian dari reformasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang diterapkan dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan retribusi pasar, kontribusi retribusi pasar terhadap retribusi daerah dan PAD, serta efektivitas retribusi pasar tahun 2003 sampai 2007. Untuk mendapatkan jawaban, maka diperlukan data target dan realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah kota Malang tahun 2003-2007. Pengambilan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan interview. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode kuantitatif. Dari hasil analisis, diketahui laju pertumbuhan retribusi pasar dari tahun 2003-2007 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Total perkembangan retribusi pasar sebesar 37,04% dan rata-rata pertahun 7,407%. Sedangkan dari analisis kontribusi pasar terhadap retribusi daerah juga berfluktuatif dari tahun ke tahun dan cenderung menurun dengan rata-rata 13,12% per tahun. Sementara itu, kontribusi retribusi pasar terhadap PAD dari tahun 2003 sampai 2007 terus mengalami penurunan dengan rata-rata per tahun 3,87%. Rasio efektivitas penerimaan retribusi pasar selalu mencapai titik aman, karena persentase efektif yang dicapai lebih dari 1 (satu) atau 100%. Meskipun pada tahun 2003, persentase efektifnya sebesar 99,19%. Ketidakefektifan penerimaan secara umum bisa terjadi karena lemahnya data potensi subyek retribusi, latar belakang pendidikan petugas pemungut, tingkat kepatuhan yang minim, serta lemahnya penerapan sanksi hukum. Dinas Pasar dalam pemungutan retribusi pasar mendapat beberapa kendala baik yang bersifat internal maupun eksternal. Beberapa upaya dapat dilakukan Dinas Pasar Kota Malang dalam peningkatan retribusi pasar antara lain menyesuaikan aspek kelembagaan dengan berorientasi pada fungsi, meningkatkan sistem pengawasan dan pengendalian, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), peningkatan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat (sosialisasi), serta validitas data potensi obyek retribusi. Berdasar hasil penelitian ini, dapat disarankan agar PAD di kota Malang lebih ditingkatkan lagi melalui pengelolaan dan peremajaan pasar di kota Malang secara optimal dan berorientasi pada pelayanan masyarakat, mewujudkan penataan dan pengelolaan pedagang kaki lima (PKL) dan asongan.

Analisis pengaruh kondisi keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode tahun 2004-2006) / Vasi M

 

ABSTRAK Maharani, Vasi. 2009. Analisis Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Opini Audit Tahun Sebelumnya, Debt Default, Dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern ( Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2006). Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sumadi, SE, MM, (II) Triadi Agung S, SE M.Si, Ak. Kata kunci: going concern, kondisi keuangan perusahaan, audit tahun sebelumnya, debt default, pertumbuhan perusahaan, regresi logistik Perusahaan merupakan suatu entitas ekonomi yang berdiri sendiri yang berbeda dari pemiliknya. Entitas ekonomi ini dianggap akan terus beroperasi secara berkesinambungan untuk suatu masa yang tidak tertentu yang melebihi satu periode akuntansi (going concern). Asumsi going concern adalah salah satu asumsi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan. Asumsi ini mengharuskan perusahaan secara operasional memliki kemampuan mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern). Kelangsungan hidup suatu entitas merupakan suatu hal yang diutamakan oleh para pemilik kepentingan. Tanggung jawab seorang auditor tidak hanya mengevaluasi laporan keuangan auditee tetapi juga mengevaluasi kemampuan auditee dalam mempertahankan hidupnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara, kondisi keuangan perusahaan (diproksikan dengan The Revised Altman Model), opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan (diproksikan dengan pertumbuhan penjualan) terhadap kemungkinan penerimaan opini audit going concern. Penelitian ini menggunakan 186 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2004-2006 sebagai sampelnya. Selanjutnya sampel tersebut dikelompokkan dalam dua kategori berdasarkan atas jenis opini audit yang diterimanya, yaitu kategori auditee yang menerima opini audit going concern (GCAO) dan auditee dengan opini audit non going concern (NGCAO). Metode yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi logistik. Hasil pengujian membuktikan bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya saja yang berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Untuk variabel kondisi keuangan perusahaan (diproksikan dengan The Revised Altman Model), debt default dan pertumbuhan perusahaan (diproksikan dengan pertumbuhan penjualan) tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Adapun kelemahan dari penelitian ini adalah dalam pengambilan periode penelitian. Penelitian ini hanya mengambil rentang waktu yang pendek yaitu selama tiga tahun (2004-2006) sehingga daya ujinya rendah. Memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan auditor menerbitkan opini audit going concern. Dari keterbatasan-keterbatasan penelitian ini, maka peneliti yang akan melakukan penelitian dengan topik yang serupa di masa yang akan datang diharapkan memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan auditor menerbitkan opini audit going concern.

Evaluasi penerapan pengendalian intern dalam siklus pendapatan layanan jasa paketpos guna mencapai standar waktu penyerahan (SWP) Kantor Pos Pusat Malang 65100 / Mahesha Yoga Sunardi

 

Paketpos merupakan salah satu jenis produk dalam bisnis logistik yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa pengiriman paket. Berdasarkan Surat Edaran nomor 67/2000 paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan ketentuan dan tarif yang telah ditetapkan secara umum oleh perusahaan. Perusahaan harus memenuhi standar waktu penyerahan yang tepat guna meningkatkan pendapatan. Standar waktu penyerahan merupakan waktu tempuh Paketpos yang dihitung sejak diposkan pengirim sampai dengan diantar kepada alamat. Keterlambatan dalam memenuhi standar waktu penyerahan pengiriman Paketpos sangat merugikan perusahaan. Keterlambatan tersebut akan mengurangi pendapatan perusahaan dan biaya klaim akan dibebankan ke perusahaan. Pembahasan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi pentingnya sistem pengendalian intern atas jasa Paketpos pada PT Pos Indonesia guna mencapai standar waktu penyerahan yang ditetapkan.. Dalam penulisan Tugas Akhir ini masalah yang dibahas adalah “Apakah peranan sistem pengendalian intern atas jasa layanan Paketpos Kantor Pos Malang 65100 sudah memenuhi standar waktu penyerahan ?” . Metode pengumpulan data pada Tugas Akhir ini dengan menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Akibat tidak tercapainya standar waktu penyerahan adalah kredibilitas perusahaan dapat menurun, karena kurangnya kepercayaan konsumen terhadap perusahaan. Agar perusahaan tetap survive dan berkembang diperlukan sumber daya manusia dan manajemen yang berkualitas. Hal tersebut dicapai melalui program BIT (Built In Training), pemeriksaan secara rutin terhadap dokumen transaksi. Selain itu juga dengan menambah sarana transportasi yang berperan penting dalam pengangkutan. Dari penulisan Tugas Akhir ini dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengendalian yang digunakan perusahaan sudah memenuhi standar yang ada sehingga resiko dapat diminimalisir. Adapun saran yang dapat diajukan untuk meminimalisasi keterlambatan pengiriman adalah dengan melakukan perekrutan karyawan secara selektif, melakukan pemisahan fungsi yang jelas antara penjualan dan penerima kas, restrukturisasi yang tidak mengakibatkan perubahan negatif yang besar terhadap perusahaan.

Perbandingan regresi logistik biner dengan model peluang linear (Studi kasus kenormalan berat badan bayi lahir di kota Pasuruan) / Eva Rahmia

 

Regresi logistik biner dan model peluang linear merupakan regresi yang responnya berupa variabel kategori atau nominal. Akan tetapi penerapan model peluang linear jarang sekali digunakan. Hal ini dikarenakan adanya pemaksaan terhadap distribusi respon. Tujuan penelitian ini adalah menentukan model hubungan antara kenormalan berat badan bayi lahir di Kota Pasuruan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi logistik biner dan sebagai pembanding menggunakan model peluang linear. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan bayi lahir yaitu: Tinggi badan ibu hamil , berat badan ibu hamil , urutan kehamilan , umur ibu hamil , tekanan darah ibu hamil , dan kandungan gizi ibu hamil . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model hubungan yang terbentuk dengan menggunakan regresi logistik biner antara kenormalan berat badan bayi lahir dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah dengan nilai koefisien determinasinya sebesar 95% . Model hubungan yang terbentuk dengan menggunakan model peluang linear adalah dengan nilai koefisien determinasinya sebesar 59,6%. Oleh karena nilai koefisien determinasi dari model regresi logistik biner lebih besar, maka model yang lebih dapat mewakili model hubungan antara kenormalan berat badan bayi lahir dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah model regresi logistik biner.

Penerapan metode demonstrasi terbimbing dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-C semester I SMP Negeri 10 Malang / Nining Wahyuningsih

 

4 ABSTRAK Wahyuningsih, Nining. 2009. Penerapan Metode Demonstrasi Terbimbing dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII Semester I SMP Negeri 10 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika, Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Purbo Suwasono, M.Si., (II) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd. Kata kunci : demonstrasi terbimbing, prestasi belajar, kualitas pembelajaran Pembelajaran Fisika di SMP Negeri 10 Malang telah menggunakan metode, diantaranya berupa ceramah, diskusi, dan kadang-kadang metode demonstrasi. Namun di dalam implementasinya siswa masih kurang dalam keterampilan proses. Kekurang terampilnya siswa menyebabkan hasil belajar tidak dapat berjalan optimal. Untuk itu perlu diupayakan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi belajar, memberikan penjelasan, dan memberikan stimulus atau rangsangan. Metode demonstrasi terbimbing ini merupakan salah satu metode yang dapat memenuhi keperluan ini. Selain itu pembelajaran pembelajaran fisika di SMP Negeri 10 Malang belum menerapkan metode demonstrasi terbimbing. Dengan penerapan metode demonstrasi terbimbing di dalam pembelajaran fisika, siswa akan lebih termotivasi dalam belajar, siswa akan lebih mendapatkan penjelasan, dan memberikan rangsangan atau stimulus dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajara fisika dan prestasi belajar siswa terhadap pembelajaran fisika. Penelitian ini mengkaji tentang ada tidaknya peningkatan kualitas dan Prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode demonstrasi terbimbing dalam pembelajaran kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-C SMP Negeri 10 Malang semester 1 tahun pelajaran 2008/2009. Setelah dilakukan analisis secara diskriptif diperoleh data analisis prestasi belajar siswa menggunakan pretes dan postes pada siklus I didapat nilai rata-rata kelas 40,92 sedangkan untuk siklus II didapat rata-rata kelas sebesar 61,03. Prestasi siswa mengalami peningkatan sebesar 20,11 artinya setelah diterapkannya metode demonstrasi terbimbing di dalam pembelajaran kualitatif prestasi belajar siswa mengalami peningkatan. Sedangkan untuk kualitas pembelajaran fisika siswa yang diukur dari keterampilan proses dari setiap pertemuan mengalami peningkatan dalam hal: keterampilan dalam menggunakan alat, mengukur, menganalisis data, menarik kesimpulan dan keterampilan dalam bertanya. Diharapkan bagi guru fisika menerapkan metode demonstrasi terbimbing dalam pembelajaran fisika sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas belajar fisika siswa agar prestasi belajarnya makin meningkat.

Pengaruh kualitas layanan koperasi terhadap pencapaian sisa hasil usaha (Studi kasus pada koperasi Unit Desa Batu) / Dedy Rusdiyanto

 

Koperasi mempunyai misi utama yaitu pelayanan terhadap anggota. “Bila koperasi mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anggota lebih besar dari pada pesaingnya, maka tingkat loyalitas anggota terhadap koperasinya akan meningkat” (Hendar dan Kusnadi,1999:17). Sebaliknya jika anggota sudah tidak percaya lagi pada koperasi dan koperasi dirasa sudah tidak dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi anggota, maka anggota menjadi malas untuk memberikan layanan yang loyal terhadap koperasi. Layanan pada anggota pada usaha koperasi merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kelangsungan jalannya koperasi. Tanpa layanan anggota pada usaha koperasi dapat menghambat perkembangan usaha koperasi seperti yang diharapkan dalam pencapaian tujuan bersama. Keberadaan KUD Batu yang bergerak di bidang serba usaha yaitu unit sapi perah, pertokoan, saprodi, lebah dan susu, semua usaha berupa di tengah-tengah masyarakat Batu sangat bermanfaat bagi masyarakat Batu, khususnya para peternak sapi perah sebagai usaha unggulan, karena KUD Batu dapat dijadikan sarana dan wadah untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi usaha mereka dalam beternak sapi perah. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Melihat gambaran umum KUD Batu. (2) Mengetahui kondisi kualitas layanan KUD Batu terhadap pencapaian sisa hasil usaha (SHU). (3) Mengetahui pengaruh yang signifikan antara kualitas layanan terhadap pencapaian sisa hasil usaha (SHU) di KUD Batu. Penelitian ini dilakukan di KUD Batu. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota koperasi dalam hal ini yaitu anggota KUD Batu yang berjumlah 1.900 orang, dengan teknik pengambilan sampel ditetapkan sebesar 72 orang anggota. Teknik pengambilan sampel dala penelitian ini adalah dengan teknik sample random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak. Hasil penelitian ini dengan menggunakan teknik analisis SPSS 12.00 for windows diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Kondisi kualitas layanan KUD Batu dalam pencapaian sisa hasil usaha adalah kualitas layanan yang dimiliki unit sapi perah KUD Batu adalah baik, dimana dalam penyebaran angket kepada anggota sebanyak 72 responden dengan banyak soal 15 butir dengan 4 tingkat klasifikasi yaitu sangat baik, baik, kurang baik dan tidak baik, terdapat 38 orang responden menyatakan baik, 15 orang responden menyatakan kurang baik dan 19 orang responden menyatakan sangat baik. (2) Pengaruh antara kualitas layanan terhadap pencapaian sisa hasil usaha (SHU) di KUD Batu adalah sebagai berikut: Kualitas layanan yang diberikan oleh karyawan terhadap pencapaian sisa hasil usaha yang ada di KUD Batu adalah termasuk dalam kategori tinggi di mana nilai korelasinya sebesar 0,680 atau 68,0%. Di antara keempat variabel yang paling dominan adalah variabel kemudahan dalam pelayanan. Saran-saran yang dapat diberikan adalahsebagai berikut: (1) Bagi KUD, Disarankan agar KUD mampu mempertahankan kualitas pelayanannya dalam melayani para nasabah (2) Bagi anggota, Diharapkan agar para anggota mempunyai kesadaran akan hak tanggungjawabnya sebagai anggota agar sisa hasil usaha (SHU) di KUD tersebut mengalami kenaikan.

Penerapan pembelajaran konstektual dengan pendekatan inkuiri terbimbing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VII D SMPN 1 Pakong - Pamekasan / Zainul Hasan

 

Pursuant to result of [done/conducted] observation on 18, 19, and 26 September 2008 September 2008 [in] SMPN 1 Pakong - Pamekasan known that most school activity ( KBM) still predominated by teacher so that [about/around] 75% student seen less active in activity of study, besides 88,57% student not yet is complete [of] result learn him. To overcome the problems, hence require to be [done/conducted] [by] research about applying of study of which can improve result and activity learn student, one of them with applying of study of kontekstual with approach of inkuiri guided. Through applying of the study expected can improve result and activity learn class student biology of VII D [in] SMPN 1 Pakong - Pamekasan. This research represent Research Of Action Class ( Classroom ActionResearch) which [is] executed in 3 cycle of subjek research [is] class student ofVII D SMPN 1 Pakong - Pamekasan with amount 35 student, compose 23 men student and 12 woman student. Research data [is] result and activity learn student and also supporter data in the form of activity learn and field note. Activity learn student measured pursuant to make-up of mean percentage of activity learn level and student efficacy of action, while result learn student measured pursuant to result of final test answer [of] cycle [is] so that known complete learn student [at] each cycle. used Research instrument that is problem of tes, student activity observation sheet and teacher, and field note. Pursuant to result of solution and research known that applying of study of kontekstual with approach of inkuiri guided can improve result and activity learn class student biology of VII D [in] SMPN 1 Pakong - Pamekasan. Make-Up of activity learn student shown with make-up of mean percentage of activity learn level and student efficacy of action from 43,72% ( less ) [at] cycle of I become 64,76% (enough ) [at] cycle of II, and mount to become 75% (goodness ) [at] cycle of III. Make-Up of result learn student can know from complete learn student [at] cycle of I equal to 48,57% later; then mount to become 65,71% [at] cycle of II, and mount again become 91,43% [at] cycle of III.

Hubungan kepemimpinan transformasional, kelelahan emosional, karakteristik individu, budaya organisasi, dan kepuasan kerja dengan komitmen organisasional para guru SMA di Kota Denpasar / Anak Agung Gede Agung

 

Guru memiliki tanggungjawab sebagai pelaksana sistem pendidikan nasional dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk mengemban tanggungjawab tersebut, guru diwajibkan untuk memiliki komitmen yang tinggi. Seorang guru tidak mungkin dapat melakukan tugas tersebut dengan baik, jika tanpa didukung komitmen yang tinggi. Tinggi rendahnya komitmen organsasional dapat dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang diduga berpengaruh terhadap komitmen organisasional antara lain: kelelahan emosional, karakteristik individu, dan kepuasan kerja. Sedangkan faktor eksternal antara lain: kepemimpinan transformasional, budaya organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai: komitmen orga-nisasional, kepemimpinan transformasional, kelelahan emosional, karakteristik individu, budaya oraganisasi, dan kepuasan kerja di kalangan guru-guru SMA di Kota Denpasar. Di samping itu, penelitian ini juga untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel, baik hubungan secara langsung maupun hubungan tidak langsung. Populasi penelitian ini adalah 759 orang guru-guru SMA Negeri dan Swasta di Kota Denpasar. Dengan menggunakan formula Krejcie & Morgan dan Warwich Lininger diperoleh jumlah sampel sebesar 304 orang. Penetapan besaran sampel tiap sub-populasi menggunakan teknik proporsional random sampling dan pengambilan individu menjadi anggota sampel digunakan teknik undian. Pengumpulan data digunakan kuesioner model skala Likert empat pilihan. Untuk menganalisis data digunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik multivariat SEM-PLS dengan bantuan program software SmartPLS (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kondisi komitmen organisasional berada pada kategori sangat tinggi; kepemimpinan transformasional pada kategori tinggi; kelelahan emosional pada kategori sedang; karakteristik individu pada kategori sangat tinggi; budaya organisasi pada kategori tinggi; dan kepuasan kerja berada pada kategori tinggi. (2) Ada hubungan yang signifikan secara langsung antara kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi; (3) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara karakteristik individu dan budaya organisasi; (4) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara kepemimpinan transformasional dan kepuasan kerja; (5) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara kelelahan emosional dan kepuasan kerja; (6) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara karakteristik individu dan kepuasan kerja; (7) tidak ada hubungan yang signifikan secara langsung antara budaya organisasi dan kepuasan kerja; (8) tidak ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara kepemimpinan transformasional dan kepuasan kerja melalui budaya organisasi; (9) tidak ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara karakteristik individu dan kepuasan kerja melalui budaya organisasi; (10) tidak ada hubungan yang signifikan secara langsung antara kepemimpinan transformasional dan komitmen organisasional; (11) tidak ada hubungan yang signifikan secara langsung antara kelelahan emosional dan komitmen organisasional; (12) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara karakteristik individu dan komitmen organisasional; (13) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara budaya organisasi dan komitmen organisasional; (14) ada hubungan yang signifikan secara langsung antara kepuasan kerja dan komitmen organisasional; (15) ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara kepemimpinan transformasional dan komitmen organisasional melalui budaya organisasi; (16) ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara kepemimpinan transformasional dan komitmen organisasional melalui kepuasan kerja; Anak Agung Gede Agung adalah dosen Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja-Bali. (17) ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara kelelahan emosional dan komitmen organisasional melalui kepuasan kerja, (18) ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara karakteristik individu dan komitmen organisasional melalui budaya organisasi; (19) ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara karakteristik individu dan komitmen organisasional melalui kepuasan kerja; (20) tidak ada hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara budaya organisasi dan komitmen organisasional melalui kepuasan kerja; (21) ada hubungan yang signifikan secara simultan antara kepemimpinan transformasional, kelelahan emosional, karakteristik individu, budaya organisasi dan kepuasan kerja dengan komitmen organisasional.

Belajar bermakna melalui pembuatan konjektur matematis untuk pemahaman siswa menentukan rumus suku ke – n dari barisan aritmatika di kelas III SLTPN 2 Luwuk oleh Kufuan Panjo

 

Penerapan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Kasreman Kecamatan KAndangan Kabupaten Kediri / Shinta Paramita Priananda

 

Kata kunci: inkuiri jurisprudensial, hasil belajar, keaktifan, PKn, SD. Hasil observasi dan wawancara penelitian dalam pemahaman mata pelajaran PKn kelas IV semester II dengan materi pokok globalisasi yang diujikan kepada siswa kelas IV SDN Kasreman menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami masalah globalisasi mendapatkan nilai terendah. Siswa kurang memahami materi globalisasi karena kejenuhan siswa terhadap pelajaran dan guru mengharuskan siswa untuk mendengarkan penjelasan guru. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman materi globalisasi yaitu berdasarkan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial melalui tahap (1) orientasi kasus, (2) identifikasi isu, (3) menetapkan posisi, (4) menyelidiki cara berpendirian, (5) memperbaiki dan mengkualifikasi, dan (6) melakukan pengujian asumsi-asumsi terhadap posisi/pendapat siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah (1) bagaimanakah penerapan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IV SDN Kasreman Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri? (2) bagaimanakah keaktifan siswa pada penerapan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial pada siswa kelas IV SDN Kasreman Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri? dan (3) apakah penerapan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Kasreman Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri?. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seorang guru kelas IV dan seluruh siswa kelas IV SDN Kasreman Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial telah dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapannya. Selain itu, penerapan model pembelajaran inkuiri jurisprudensial dapat membuat siswa menjadi aktif. Hal ini ditandai dengan keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat dengan argumen yang tepat. Peningkatan rata-rata keaktifan siswa dari siklus I dengan nilai 69,00 ke siklus II dengan nilai 78,50 sebesar 13,77%. Sedangkan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 55,73 meningkat menjadi dengan nilai 67,79 dan pada siklus II meningkat dengan nilai 80,21 dengan persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 21,64% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 18,32%, sehingga persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus II sebesar 43,93 %. Peneliti memberikan saran sebaiknya guru menggunakan model pembelajran inkuiri jurisprudensial dalam mengajar PKn sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa terhadap materi globalisasi dan lebih memperhatikan siswa yang ramai, sebaiknya pada penelitian selanjutnya peneliti dapat meminimalisir siswa yang ramai, selain itu sebaiknya kepala sekolah lebih memperhatikan taraf perkembangan siswa dan umur siswa sehingga siswa dapat lebih mudah dalam menguasai materi pelajaran khususnya materi globalisasi.

Pembelajaran barisan dan deret aritmatika yang berorientasi pada vocational skill dengan pendekatan kontekstual di SMK Berdikari Jember oleh Hobri

 

Pemanfaatan media kartu bergambar dalam pembelajaran IPA kelas IV di SDN Cepoko III Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo tahun ajaran 2010/2011 (penelitian tindakan kelas) / Luluk Zulaika

 

Kata Kunci : Media Kartu Bergambar, Pembelajaran IPA, Hasil Belajar. Pemanfaatan Media Kartu Bergambar merupakan pilihan yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di SDN Cepoko III. Karena di lembaga tersebut pembelajaran yang dilakukan guru secara konvensional membuat siswa pasif dan hasil belajarnya rendah. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa, salah satunya yaitu memanfaatkan media kartu bergambar. Fokus dalam penelitian ini yaitu "Bagaimana pemanfaatan media kartu bergambar dalam meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa di SDN Cepoko III Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo, terutama yang berkaitan dengan(1) Proses pelaksanaan pembelajaran IPA ketika memanfaatkan media kartu bergambar. (2) Aktifitas atau partisipasi yang dilakukan siswa terhadap pembelajaran IPA ketika memanfaatkan media kartu bergambar. (3) Hasil belajar siswa setelah memanfaatkan Media Kartu Bergambar dalam pembelajaran IPA . Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena penelitian dimaksudkan untuk mengkaji problem atau masalah pembelajaran yang dirasakan oleh guru dan siswa pada umumnya. Penelitian tindakan kelas (PTK) termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif, meskipun data yang dikumpulkan berbentuk kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif untuk mencari gambaran kongkrit mengenai variabel yang diteliti yang lebih menonjolkan data berupa pernyatan-pernyataan yang diperoleh dari hasil observasi, catatan lapangan, dan angket. Pengolahan data kuantitatif merupakan pengolahan dari hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan (1) Pemanfaatan media kartu bergambar dalam pembelajaran IPA sangat efektif dan efisien karena dapat dilaksanakan dalam dua pokok bahasan yang berbeda yaitu "Penggolongan Hewan Berdasarkan Makanannya" serta "Hubungan Antar Mahluk Hidup Dan Antar Mahluk Hidup Dengan Lingkungannya" dengan metode active learning strategi sort card .(2) memanfaatan media kartu bergambar dapat meningkatakan aktifitas, partisipasi dan motivasi belajar siswa di SDN Cepoko III. Dan (3) secara kuantitatif hasil belajar siswa di SDN Cepoko III setelah memanfaatkan media kartu bergambar dalam pembelajaran IPA menunjukkan tingkat ketuntasan belajar yang tinggi. Karena pada siklus I prosentase ketuntasan belajar sebelum memanfaatkan media kartu bergambar mencapai 55%, dan setelah memanfaatkan media kartu bergambar meningkat menjadi 70%, %. Siklus II prosentase ketuntasan belajar sebelum memanfaatkan media kartu bergambar sebanyak 57% dan meningkat menjadi 78% setelah memanfaatkan media kartu bergambar.

Pengaruh furadan 3G terhadap daya regenerasi ekor berudu katak (Rana catesbeiana) / oleh Sri Utami

 

Analisis sentra industri ditinjau dari aspek produksi dan keberhasilan usaha (studi kasus usaha olahan makananAlen-alen Bu Rohmi di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek / Erwin Yudi Kristanto

 

ABSTRAK Kristanto, Erwin Yudi. 2015. Analisis Sentra Industri Kerajinan Ditinjau Dari Aspek Produksi dan Keberhasilan Usaha (Studi Kasus Usaha Olahan Makanan Alen-Alen “BU ROHMI” di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti W., S.E. AK, M. P. (2) Dr. Imam Mukhlis, SE., M.Si. Kata Kunci : Industri Alen-Alen, Produksi, Keberhasilan Usaha Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah pegunungan yang terletak dibagian selatan Provinsi Jawa Timur. Daerah ini memiliki ratusan pelaku UKM yang tersebar di berbagai kecamatan maupun desa dengan aneka macam produk komoditas yang sangat berpotensi sekali. Usaha olahan makanan alen-alen adalah salah satu contoh jenis UMKM, alen-alen merupakan makanan khas daerah Trenggalek. Makanan ini bisanya dijadikan sebagai makanan ringan dan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan fenomena ini, alen-alen memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan dalam skala yang lebih besar dan lebih bervariasi. Dalam penelitian yang diteliti oleh penulis dengan mengambil topik analisis sentra industri kerajinan ditinjau dari aspek produksi dan keberhasilan usaha dengan menggunakan metode studi kasus usaha oalahan makanan alen-alen BU ROHMI di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi di industri alen-alen BU ROHMI di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek pada aspek produsi dan keberhasilan usaha. Hasil penelitian yang diperoleh dalam wawancara dan observasi pada proses produksi yang dilakukan usaha olahan makanan alen-alen BU ROHMI juga menemui kendala yaitu pekerja yang terampil untuk pembuatan alen-alen ini sudah jarang ditemui, terlebih lagi pada saat proses penggorengan yang butuh keterampilan khusus untuk melakukan proses ini karena pada saat proses ini menentukan keras atau tidaknya produk alen-alen yang dihasilkan. Untuk menyiasati pemilik usaha pada saat menerima pekerja baru memberikan pelatihan atau arahan terlebih dahulu agar bisa menguasai saat proses produksi, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada produktivitas suatu usaha. Dalam usaha olahan makanan alen-alen BU ROHMI untuk meraih keberhasilan usaha lebih ditekankan pada cara pemasaran. Pada pemasaran salah satu cara untuk pemasaran ini dengan cara memasarkan produk alen-alen ini dengan mendatangi dan menawarkan dari toko ke toko yang ada di daerah lokal Trenggalek selain itu usaha olahan makanan alen-alen BU ROHMI juga harus telaten menawarkan produknya dari daerah ke daerah yang ada disekitar kabupaten Trenggalek, seperti kota Tulungagung dan kota Kediri untuk meraih suatu keberhasilan usaha. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan bagi usaha oalahan makanan alen-alen BU ROHMI aspek produksi seharusnya lebih ditekankan pada peremajaan alat dan pelatihan tenaga kerja agar produktivitas maksimal bisa dicapai. Selain itu pengusaha seharusnya melakukan pembagian spesifikasi pekerjaan yang jelas dan tetap. Dalam hal pemasaran sebaiknya pengusaha memasarkan produknya dengan cara pemasaran yang lebih luas, yaitu dengan menggunakan media online agar mudah dikenal oleh masyarakat luas.

Mendiagnosis dan membantu kesulitan siswa dalam menyederhanakan pecahan bentuk aljabar di kelas III SLTP PGRI 6 Malang oleh Ihsan

 

Efektifitas belajar kooperatif model STAD terhadap hasil pembelajaran persamaan linear dengan dua peubah siswa kelas 2 SLTPN I Banjarmasin / oleh Sumartono

 

The Acquisition of avatation teghnical vocabolary of the Students of SBIT TNI AU By Using Individulized Vocabulary Learning / by Romlan Abi Pranoto

 

Developing english course material based on the contextual teaching and learning approach for the first year students of sekolah tinggi energi dan mineral / by Bernadin Maria Noenoek Februati

 

Improving reading comprehension achievement of the third year students of SLTPN 6 Malang by using think-pair –share-square (TPSS) strategy / by Safarudin

 

Perancangan media promosi melalui perangkat pembelajaran cerita bergambar bilingual bertema kebun binatang di TK Laboratorium UM / Prafida Windarini

 

ABSTRAK Windarini, Prafida. 2009. Perancangan Media Promosi Melalui Perangkat Pembelajaran Cerita Bergambar Bilingual Bertema Kebun Binatang Di TK Laboratorium UM. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Pujiyanto, M. Sn Kata kunci: perancangan, media promosi, cerita bergambar bilingual, tema kebun binatang, perangkat pembelajaran,TK Laboratorium UM. TK Laboratorium UM merupakan salah satu sekolah taman kanak-kanak di kota Malang. TK Laboratorium yang terletak di Jl. Magelang ini merupakan TK yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dan juga dibina oleh tenaga guru yang berkualitas. TK Laboratorium UM pada tahun ajaran 2009/2010 akan membuka kelas bilingual. Pembelajaran untuk kelas bilingual masih berpatokan pada kurikulum tahun 2004 namun menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu diperlukan alternatifalternatif media pembelajaran baru yang dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar semakin interaktif dan dapat mengenalkan hewan yang ada di kebun binatang dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Perancangan ini bertujuan untuk membuat alternatif media pembelajaran baru yang berupa buku cerita bergambar bilingual yang disesuaikan dengan kelas bilingual yang akan dibuka. Selain itu juga menciptakan kegiatan belajar yang menarik dan interakif dengan menggunakan buku cerita tersebut terutama pada pembelajaran dengan model cerita. Perancangan menggunakan model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan data yang terkumpul, TK Laboratorium UM membutuhkan sebuah media promosi melalui perangkat pembelajaran cerita bergambar bilingual bertema kebun binatang. Media tersebut antara lain: buku cerita bergambar bilingual, boneka tangan, POP, stiker penghargaan, game edukatif flanel board, penahan buku, buku mewarna dan tas punggung. Dipilihnya media-media tersebut dikarenakan kesesuaian dengan tematik kelas bilingual pada semester awal. Kesimpulan yang dapat ditarik dari perancangan media promosi melalui perangkat pembelajaran cerita bergambar bilingual bertema kebun binatang adalah diharapkan terciptanya kegiatan belajar mengajar yang interaktif dan atraktif sekaligus juga memperkenalkan binatang dalam dua bahasa. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah diperlukannya menambah alternatifalternatif media pembelajaran baru untuk kelas bilingual yang interaktif dan juga yang dapat memperkenalkan binatang di kebun binatang dalam dua bahasa.

The teching of english at sekollah Menengah Pertama Negeri 5 Malang / by I Wayan Sumertha

 

Pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Malang tahun ajaran 2008/2009 pokok bahasan bahan kimia Rumah Tangga / Fadhilla Widyarti Suprapto

 

Konstrustivistik dalam pembelajaran kimia merupakan landasan berpikir pembelajaran dengan metode inkuiri terbimbing. Dengan inkuiri terbimbing, pengetahuan terbangun karena siswa menemukan sendiri apa yang mereka pelajari. Semua yang didapatkan siswa dalam penemuan tersebut merupakan hasil belajar yang berwujud perubahan tingkah laku siswa dalam pengetahuan. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap fakta yang mereka temukan dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, 2) Apakah dengan penerapan model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, serta 3) Mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini menggunakan rancangan ekperimen semu dan deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII. Sampel didapatkan dengan teknik “Cluster Random Sampling” hingga didapatkan bahwa kelas VIII-D sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-E sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah instrumen perlakuan berupa RPP, dan instrumen pengukuran berupa LKS, lembar observasi, angket, dan soal hasil belajar, serta hasil rangkuman. Data hasil belajar dianalisis dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian ini adalah: 1) Adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan hasil belajar siswa kelas konvensional dengan nilai rata-rata 81,21 untuk kelas eksperimen dan 77,46 untuk kelas kontrol, dengan taraf signifikansi 0,05. Hal ini didasari dari hasil uji hipotesis yang menunjukkan bahwa t hitung > t tabel (2,204 > 1,992). Penerapan pembelajaran ini juga berpengaruh, 2) Pada kemampuan berpikir kritis siswa yang mengalami peningkatan sebesar 32,79% pada kelas eksperimen sedang pada kontrol hanya 26,74%. 3) Siswa memberikan persepsi positif pada model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan rata-rata 76,4%.

Pengembangan paket pembelajaran IPA terpadu tema deterjen di SMPN 2 Singosari Malang / Linda Hauliq Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Linda H. 2009. Pengembangan paket IPA terpadu tema deterjen di SMP negeri 2 singosari malang. Skripsi, jurusan pendidikan fisika FMIPA Universitas Negeri Malang: (1) Drs. Eddy Supramono, (2) Drs. Parlan M.Si. Kata kunci : Paket Pembelajaran,IPA Terpadu, Deterjen Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 (2006) secara tegas dinyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/MTs merupakan IPA Terpadu. Berdasarkan hasil penelitian evaluativ terhadap pendidikan IPA di SMP pada tahun 1996 menunjukkan bahwa pembelajaran IPA masih belum menekankan pada pemberian pengalaman langsung melalui kerja ilmiah. Berdasarkan hasil survei yang di selenggarakan proyek MBE (2006) sebagaian besar guru (92 dari 118 guru) kesulitan dalam merancang pembelajaran IPA terpadu yang sesuai dengan standar isi seperti yang terjadi di SMPN 2 Singosari Malang.selain itu pengamatan di beberapa toko buku dimalang menunjukkan belum ditemukan buku IPA terpadu. Penelitian ini mengembangkan paket pembelajaran IPA terpadu tema deterjen dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan paket pembelajaran IPA terpadu di SMPN 2 Singosari. Metode pengembangan paket pembelajaran IPA terpadu ini menggunakan 5 dari 10 tahap penelitian pengembangan Borg and Gall yaitu: (1) Pengumpulan informasi dan penelitian, (2) Perencanaan, (3) Pengembangan bentuk awal produk, (4) Uji lapangan awal, dan (5) Revisi produk. Instrument penelitian berupa angket yang diisi oleh validator. Jenis data yang diperoleh berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan nilai rata-rata angket skala likert, sedangkan data kualitatif berupa saran yang digunakan sebagai masukan dalam memperbaiki paket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket IPA terpadu tema deterjen di SMPN2 Singosari memiliki nilai rata-rata 3.73 dengan kriteria valid/tidak revisi, sehingga paket IPA etrpadu tema deterjen sudah layak untuk digunakan oleh siswa SMPN2 Singosari Malang. Adapun panduan paket IPA terpadu tema deterjen memiliki nilai rata-rata 3.74 dengan kriteria valid/tidak revisi. Sehingga panduan paket IPA terpadu tema deterjen juga sudah layak untuk digunakan oleh guru SMPN 2 Singosari Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa paket IPA terpadu dan Panduan paket IPA terpadu tema deterjen sudah layak digunakan di SMPN 2 Singosari Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan penelitian lebih lanjut dengan melakukan 10 tahapan borg and Gall sehingga dihasilkan paket pembelajaran yang lebih valid dan sempurna.

Peningkatan penguasaan kosakata Bahasa Inggris dengan media flash card pada siswa kelas IV SDN Menganto Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang / Wijayanti

 

ABSTRAK Wijayanti. 2009. Peningkatan Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris Dengan Media Flash Card Pada Siswa Kelas IV SDN Menganto Kecamatan MojowarnoKabupaten Jombang Skripsi, Program Studi S1 PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)Dra. Ratna Tri Eka Agustina, M.Pd., (II)Dra. Purwendarti, M.Pd. Kata kunci: Peningkatan, Kosakata bahasa Inggris, media pembelajaran Flash card. Sesuai hasil studi awal yang dilaksanakan di SDN Menganto di dapati bahwa penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV masih rendah. Rendahnya pengusaan kosakata ditandai adanya kesulitan di beberapa indikator, yaitu siswa kurang mampu (1) mengucapkan dan menulis kata-kata dalam bahasa Inggris, (2) menjawab pertanyaan dari guru, (3) mengungkapkan ide/gagasan. Keadaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) cara pengajaran guru yang masih monoton, (2) guru tidak menggunakan media pembelajaran. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan media yang tepat, efektif, dan menarik. Salah satu media yang dapat digunakan adalah media flash card. Flash card merupakan media pembelajaran berbentuk kartu bergambar yang berukuran 25 x 30 cm. Dengan menggunakan media flash card ini diharapkan Penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa dapat meningkat. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:(1) Mendeskripsikan penggunaan media flash card melalui aktivitas menyanyi dalam meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV SDN Menganto Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, (2) Mendeskripsikan penggunaan media flash card melalui aktivitas bercerita dalam meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV SDN Menganto Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, (3) Mendeskripsikan penggunaan media flash card melalui aktivitas permainan dalam meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV SDN Menganto Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) yang meliputi empat tahapan yaitu : merencanakan, melaksanakan tindakan, mengamati dan evaluasi serta refleksi. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah catatan lapangan melalui kegiatan observasi, hasil wawancara, foto kegiatan, rencana pelaksanaan pembelajaran dan nilai tes jawaban siswa. Sedangkan proses analisis data penelitian ini berpedoman pada langkah-langkah analisis data penelitian kualitatif, yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang dilakukan secara bersamaan yaitu: (1) reduksi data, (2) tabulasi data, (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media flash card melalui aktivitas bernyanyi, bercerita, dan permainan dalam pembelajaran bahasa Inggris siswa kelas IV SDN Menganto kecamatan Mojowarno kabupaten Jombang secara keseluruhan dapat meningkatkan penguasaan kosakata siswa Peningkatan penguasaan kosakata tersebut dapat dilihat dari jumlah kosakata yang i dimiliki siswa, pelafalan dan intonasi, gagasan, kelancaran siswa. Pada refleksi awal memperoleh nilai rata-rata kelas 46, pada siklus I rata-rata meningkat sebesar 21 % menjadi 67 sedangkan pada siklus II rata-rata kelas mengalami peningkatan lagi sebesar 19 % menjadi 86. Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan penggunaan media flash card melalui aktivitas menyanyi memudahkan siswa dalam memahami cara melafalkan kata dan mengetahui makna kata yang dituliskan dalam lagu. Melalui aktivitas bercerita dapat membantu siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasan saat membuat cerita. Penggunaan media pembelajaran flash card melalui permainan sangatlah menyenangkan dan dapat meningkatkan penguasaan kosakata siswa. Saran dari peneliti yaitu: (1) guru hendaknya kreatif dalam memilih dan mengembangkan media yang tepat dalam pembelajaran, (2) dalam pembelajaran bahasa Inggris guru hendaknya menggunakan metode, tehnik dan pendekatan yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Penerapan pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X MA NU Kepuharjo, Karangploso, Malang / Lestiorini

 

Berdasarkan hasil observasi awal dikelas X MA NU Kepuharjo, Karangploso, Malang diketahui siswa terlihat pasif dalam mengikuti pelajaran dan strategi pembelajaran yang dilakukan adalah strategi ekspositori, yaitu bahan pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. Siswa tidak dituntut untuk mengolahnya. Juga, masih banyak siswa yang harus mengikuti remedial untuk memperbaiki nilainya. Menganalisis suatu masalah fisika merupakan salah satu cara untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Siswa melakukan pembelajaran dengan pendekatan STM dapat menemukan konsep yang berguna dalam kehidupan siswa sendiri, selain itu siswa senantiasa dapat mengaitkan konsep dengan situasi yang baru. Jika siswa mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi suatu masalah maka siswa mampu menciptakan suatu hal yang baru yang mungkin berguna dalam kehidupannya, dengan demikian siswa dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X MA NU Kepuharjo, Karangploso, Malang pada pokok bahasan Suhu dan Kalor. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri atas 2 siklus. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas X MA NU Kepuharjo, Karangploso, Malang, berjumlah 22 siswa. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah RPP, LKS, LO ketercapaian pendekatan STM, LO kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika siswa, pada aspek pertanyaan yang diajukan meningkat 41,6% dan pada aspek jawaban meningkat 58,8% dari siklus I ke siklus II. Peningkatan prestasi belajar ditandai dengan peningkatan persentase nilai rata-rata dari sebelum tindakan ke siklus I sebesar 4,55% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 40,91%. Untuk ketercapaian kualitas pembelajaran siswa dengan penerapan pendekatan STM meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 30%.

Perbedaan prestasi belajar siswa kelas X yang diajar menggunakan pembelajaran learning cycle 5 fase, problem based learning dan pembelajaran konvesional pada pokok bahasan dinamika di SMA Negeri 1 Bangil Kabupaten Pasuruan / Trixy Putri Ismawardani

 

Dalam upaya pengembangan pendidikan terdapat perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia yaitu adanya perubahan paradigma belajar dari teacher centered menjadi student center. Model pembelajaran yang mengacu pada teori kontruktivisme adalah model pembelajaran Learning Cycle dan Problem Based Learning. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Learning Cycle dan Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur: Perbedaan prestasi belajar fisika yang diajar menggunakan pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dan konvensional, Problem Based Learning dan pembelajaran konvensional, Learning Cycle 5 Fase dan pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian ini memilih siswa kelas X SMA Negeri I Bangil sebagai populasinya. Sampel dipilih sebanyak tiga kelas, dua kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas lagi sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel bertujuan atau purposive sample. Instrumen pelaksanaan yang dipakai dalam penelitian ini berupa silabus, rencana pembelajaran dan lembar kerja siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data kemampuan awal siswa sebelum diberi perlakuan dan data prestasi belajar siswa. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu, dengan uji asumsi yang digunakan meliputi Uji Normalitas, Uji Homogenitas dan Uji Hipotesis menggunakan Uji t dan ANAVA satu jalur, dari hasil analisis uji normalitas pada pretest kelas X-A menyatakan hasil yang tidak normal, maka untuk uji Hipotesis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, prestasi belajar fisika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran: Learning Cycle 5 Fase lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional, Problem Based Lear-ning lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konven-sional, Problem Based Learning lebih tinggi daripada siswa yang diajar meng-gunakan model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai postest kelompok konvensional (42,67) lebih rendah daripada kelompok Learning Cycle 5 Fase (50,53), rata-rata nilai postest kelompok kon-vensional (42,67) lebih rendah daripada kelompok Problem Based Learning (66,40), rata-rata nilai postest kelompok Leraning Cycle 5 Fase (50,53) lebih rendah daripada kelompok Problem Based Learning (66,40).

Peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar bagi siswa kelas IV SDN Kiduldalem I Bangil Kabupeten Pasuruan / Alif Bahtiar Muhamad Nur

 

Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut: (1) guru lebih dominan sebagai sumber belajar dan kurang memberdayakan sumber belajar yang ada di lingkungan, (2) siswa tidak dapat membayangkan dan mengerti konsep tujuan pembelajaran IPS yang disampaikan oleh guru, karena disampaikan secara klasikal dan (3) rendahnya hasil belajar siswa. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: (1) menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar pada mata pelajaran IPS, (2) mengeksplorasi dan memberdayakan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, dan (3) meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab (1) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran IPS dengan memanfaatkan sumber belajar lingkungan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kiduldalem 1 Bangil dan (2) adakah peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kiduldalem 1 Bangil dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, dengan berpijak pada hipotesis pemanfaatan sumber belajar lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Kiduldalem 1 Bangil kabupaten Pasuruan. Penelitian yang dilaksanakan dengan model Penelitian Tindakan Kelas ini, dilaksanakan di kelas IV SDN Kiduldalem 1 Bangil pada mata pelajaran IPS. Data penelitian ini dijaring melalui instrumen: observasi, wawancara dan tes selanjutnya adalah data dianalisis secara kualitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kiduldalem 1 kecamatan Bangil kabupaten Pasuruan yang berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi selama proses pembelajaran dan post tes di akhir pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini berupa hasil belajar yang dikumpulkan melalui tes tulis pada tahap pra tindakan dan nilai keterampilan proses dan nilai tes tulis pada siklus 1 dan siklus 2 dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar dan indikator pembelajaran IPS mengidintifikasi jenis-jenis kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut : hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan pokok bahasan jenis-jenis kegiatan ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan sumber daya alam mengalami peningkatan nilai rata-rata 56,4 pada pra tindakan, menjadi nilai rata-rata 83,4 pada siklus I dan kemudian meningkat kembali pada siklus II dengan nilai rata-rata 88,3. Peningkatan hasil belajar dari tahap pra tindakan dengan siklus I mencapai 47,9%, dari siklus I dengan siklus II mencapai 5,5%, sedangkan dari tahap pra tindakan dengan siklus II terjadi peningkatan hasil belajar mencapai 56,6%. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar (1) guru mencoba menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar dalam kegiatan belajar mengajar, (2) guru dapat mengembangkan kreatifitas dan kemampuan dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS demi meningkatkan hasil belajar siswa dan mutu pembelajaran di sekolah.

Pengembangan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel / Darmo Mulyo

 

Kemampuan berpidato bagi seorang pemimpin atau tokoh merupakan suatu hal yang sangat penting. Seorang pemimpin yang tidak bisa menyampaikan buah pikiran di hadapan khalayak, dia akan dianggap sebagai pemimpin yang bodoh..Sebaliknya, pemimpin yang mahir menyampaikan buah pikiran dengan baik, dia akan dianggap sebagai pemimpin yang cerdas. Saat berpidato, banyak pemimpin yang menulis terlebih dahulu buah pikirannya dalam teks pidato. Saat berpidato seperti itu, wibawa seorang pemimpin sangat bergantung pada teks pidato yang dibacakan. Apabila teks pidato yang dibacakan baik, wibawa pemimpin bisa iku baik. Namun, wibawa pemimpin akan turun jika teks pidato yang dibacakan adalah buruk. Dengan menyadari betapa penting peranan teks pidato, keterampilan menulis teks pidato dibelajarkan kepada siswa kelas X SMA.. Hal ini bertujuan supaya siswa mahir menuangkan semua gagasan, ide, pendapat, dan pikiran dalam bentuk teks pidato dengan baik. Namun, kenyataanya adalah sebaliknya. Banyak siswa yang kurang mampu menulis teks pidato dengan baik. Bahkan tidak sedikit siswa yang tidak bisa menulis teks pidato dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Bahan ajar ini diharapkan mampu membantu siswa dalam menulis teks pidato dengan baik. Oleh karena itu, rumusan masalah secara umum penelitian ini adalah bagaimana wujud bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel. Secara khusus rumusan masalah penelitian ini adalah (1)Bagaimanakah wujud bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel jika dinilai berdasarkan kajian materi?(2) Bagaimanakah wujud bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel jika dinilai berdasarkan penyajian? (3) Bagaimanakah wujud bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel jika dinilai berdasarkan isi? (4) Bagaimanakah wujud bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel jika dinilai berdasarkan kemudahan mengembangkan unsur-unsur teks pidato? Dan (5) Bagaimanakah wujud bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel jika dinilai berdasarkan kemudahan merangkai unsur-unsur teks pidato? Tujuan umum penelitian ini adalah menghasilkan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel berdasarkan kriteria penilaian kajian materi, (2)mengembangkan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel berdasarkan kriteria penilaian penyajian, (3) mengembangkan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel berdasarkan kriteria penilaian isi, (4) mengembangkan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel berdasarkan kriteria penilaian kemudahan mengembangkan unsur-unsur teks pidato, dan (5) mengembangkan bahan ajar menulis teks pidato siswa kelas X SMA dengan media artikel berdasarkan kriteria penilaian kemudahan merangkai unsur-unsur teks pidato. Untuk mencapai tujuan itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Prosedur penelitian ini dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap persiapan, pengembangan, uji kelayakan, dan revisi bahan ajar. Sumber uji kelayakan adalah empat orang ahli, yaitu satu dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang dan tiga guru bahasa dan sastra Indonesia SMAN 1 Purwosari. Uji kelayakan ini juga dilakukan kepada 39 sembilan siswa kelas X-7 SMAN 1 Purwosari. Metode pengumpulan data dengan menggunakan angket dan wawancara. Analisis data yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Penelitian pengembangan ini menghasilkan bahan ajar menulis teks pidato dengan media artikel dan kelayakan bahan ajar menulis teks pidato. Wujud bahan ajar menulis teks pidato ini adalah buku yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, isi, dan lampiran. Bagian awal berisi sampul buku, mengenal buku, dan kompetensi dasar dan indikator. Bagian isi berisi karakterisitik dan langkah menulis teks pidato, mengumpulkan bahan teks pidato, dan menulis teks pidato. Bagian lampiran berisi artikel dan contoh teks pidato. Untuk mengetahui kelayakan bahan ajar yang dihasilkan, bahan ajar ini diujikan kepada ahli dan siswa. Dari uji ahli ditemukan hasil 1) kelayakan kajian materi adalah sebesar 84,08%, 2) kelayakan penyajian adalah sebesar 84,16%, 3) kelayakan isi adalah sebesar 84,02%, kelayakan kemudahan mengembangkan unsur-unsur teks pidato adalah sebesar 86, 11%, dan 5) kelayakan kemudahan merangkai unsur-unsur teks pidato adalah sebesar 84, 34%. Rata-rata keseluruhan kelayakan bahan ajar ini adalah sebesar 84, 34%. Sementara itu, dari penjaringan data kepada siswa diperoleh data verbal sebagai berikut: Bahan ajar ini bagus karena setiap bagian teks pidato diulas dengan lengkap, lembar jawaban yang disediakan kurang besar sehingga jawaban yang kami tulis terlihat kurang rapi, bahan ajar yang Anda buat cukup bagus,menurut kami buku yang Anda buat sudah baik, tapi akan lebih baik jika variasi gambar diperbanyak lagi, kotak kerja pada halaman 14 kurang besar, artikel tentang bahan menulis teks pidato pidato tersebut bagus, bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami, dan tampilan sampul harus lebih menarik Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar menulis teks pidato ini layak untuk digunakan. Oleh karena itu disarankan kepada guru untuk memanfaatkan bahan ajar ini sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran menulis teks pidato. Namun, untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna disarankan kepada guru 1) memperluas kotak kerja siswa, khususnya halaman empat belas, 2) menambahkan variasi gambar, dan 3) memperindah sampul.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |