Kualitas batu saren dari batu kumbung (Dolomit) sebagai bahan pasangan dinding konstruksi gedung di desa Merek Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan / Herdita Agus Setyawan

 

Tanah liat dari Kabupaten Lamongan tidak layak digunakan untuk bahan pembuatan bata merah pejal untuk pasangan dinding disebabkan mengandung kadar garam. Sebagai pengganti digunakan bahan altenatif yaitu batu saren dari batu kumbung (dolomit). Sampai saat ini belum ada pengujian terhadap kualitas batu saren sebagai bahan konstruksi bangunan, penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas batu saren dan diharapkan layak digunakan sebagai bahan pasangan dinding. Batu saren yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Desa Merek Kec. Paciran Kab. Lamongan, yaitu batu kumbung (dolomit) yang dipotong keliling menggunakan gergaji dan siap dijual dengan ukuran panjang 27 cm, lebar 12 cm dan tebal 8 cm, bentuk prisma segi empat panjang, warna putih dengan rumus kimia CaMg(CO3)2 dan tidak memiliki kandungan garam. Batu kumbung (dolomit) yang berkualitas adalah yang berada di bawah permukaan tanah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang, tanggal 7 Juli sampai 20 Juli 2008 dengan sampel 30 buah batu saren. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah aksidental sampling. Variabel yang diuji meliputi sifat tampak, ketepatan ukuran, kerapatan semu, penyerapan air dan kuat tekan. Hasil pengujian dibandingan dengan SNI 15-2094-2000 dan khusus hasil pengujian kuat tekan dibandingkan juga dengan PUBI-1982, penarikan kesimpulan berdasarkan hasil perbandingan antara hasil pengujian dengan standart Hasil pengujian (1) sifat tampak (keadaan fisik) mendiskripsikan rata-rata 82% memenuhi standart berbentuk prisma segi empat panjang, rusuknya siku, bidang-bidang datar rata dan tidak menunjukkan retak-retak, (2) ketepatan ukuran mendiskripsikan rata-rata penyimpangan panjang 3,97 mm memenuhi standart karena <  5 mm, lebar 2,50 mm memenuhi standart karena <  6 mm, tebal 2,37 mm memenuhi standart karena <  3 mm, (3) koefisien kerapatan semu rata-rata 1,5 gram/cm3 memenuhi standart karena > 1,2 gram/cm3, (4) koefisien penyerapan air rata-rata 6% memenuhi standart karena < 20%, (5) koefisien kuat tekan rata-rata 123 kg/cm2 memenuhi standart PUBI-1982 pada kelas 25, 50 dan 100 serta memenuhi syarat SNI 15-2094-2000 pada kelas 50 dan 100. Hasil pengujian menyimpulkan bahwa batu saren dari Desa Merek Kec. Paciran Kab. Lamongan layak digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi pasangan dinding.

Strategi pemasaran produk pada PT. Telekomunikasi Indonesia (Studi di PT. Telkom Kandetel Malang) / Dimas Hadi Mariani

 

Alat pengepres Fitting Hose AC mobil dengan penggerak hidrolik / Arik Susanto, Deny Dwi Arisandi

 

Dalam bidang transportasi, pemodelan matematika digunakan untuk menggambarkan kondisi pergerakan lalu lintas jalan raya yang diperoleh dari berbagai asumsi hasil pengamatan. Pemodelan matematika tentang arus lalu lintas ini, berupa sebuah persamaan diferensial, yang kemudian dari persamaan tersebut akan dicari selesaiannya. Skripsi ini membahas bagaimana dinamika pergerakan mobil di sekitar lampu Traffic Light. Hal menarik yang ingin diamati adalah bagaimana dinamika mobil sekitar lampu Traffic Light hingga menyala lampu hijau. Deskripsi sederhana dari permasalahan di atas, dimodelkan secara matematis dalam bentuk persamaan diferensial biasa delay (waktu tunda). Model ini dibangun dengan asumsi pergerakan mobil satu arah dan badan jalan hanya memuat satu mobil. Metode yang digunakan dengan menghasilkan selesaian persamaan diferensial biasa delay car-following adalah dengan transformasi Laplace. Utamanya adalah penggunaan teorema Shifting. Dengan meneganalisis parameter yang muncul dalam penyelesaian tersebut, dapat dideskripsikan beberapa hal 1. Jarak antar mobil berpengaruh pada kemungkinan terjadinya tabrakan. Yaitu jika jarak antar mobil semakin kecil, maka kemungkinan tabrakan akan semakin besar. 2. Jika diasumsikan bahwa lebar badan jalan dapat memuat dua mobil, maka tabrakan tidak akan terjadi melainkan terjadi mobil yang saling mendahului. 3. Tabrakan akan terjadi lebih cepat jika (sensitivitas mobil untuk bergerak) lebih besar dan posisi tabrakan akan semakin dekat dengan lampu traffic light jika besarnya (percepatan mobil pertama) semakin kecil. 4. Model sederhana car-following belum dapat mendeskripsikan secara lengkap untuk dinamika mobil di jalan raya.

Alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna / Ali Mustofa

 

ABSTRAK MUSTOFA, ALI. 2008. Alat Bantu Identifikasi Warna Bagi Penderita Buta Warna. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Siti Sendari, S.T, M.T, dan (II) Ilham Ari Elbaith Zaeni, S.T. Kata kunci: Identifikasi warna, buta warna. Mata merupakan panca indera yang berguna sebagai indera penglihatan, tidak semua orang mempunyai indera penglihatan yang dapat berfungsi secara sempurna. Bagi penderita buta warna sejak mereka dilahirkan tidak mempunyai mata yang dapat melihat secara sempurna atau dikarenakan sesuatu hal misalnya menderita suatu penyakit atau terkena suatu musibah kecelakaan, sehingga mata mereka tidak dapat lagi berfungsi secara sempurna. Dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipungkiri bahwa orang penderita buta warna sudah menjadi bagian dari masyarakat dan mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama, tetapi dalam kenyataan banyak dijumpai kendala dalam kehidupan mereka terutama menyangkut fasilitas-fasilitas vital yang dapat membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan utama yang mereka hadapi yaitu mengidentifikasi warna. Rumusan masalah dalam pembuatan Alat Bantu Identifikasi Warna Bagi Penderita Buta Warna adalah: (1) Bagaimana respon sensor warna agar dapat memberikan tanggapan terhadap warna yang diterima ; (2) Bagaimana merekam dan mengatur suara yang dikeluarkan loud speaker menggunakan media IC ISD2560; (3) Bagaimana mengaplikasikan Mikrokontroler AT89S51 sebagai pengendali utama alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna tersebut; (4) Bagaimana mengaplikasikan agar sistem dapat menghasilkan suara dan menampilkan karakter huruf sesuai dengan warna yang diterima oleh sensor warna. Alat bantu identifikasi warna ini tersusun dari beberapa blok rangkaian yaitu: (1) Modul sensor warna IC TCS230; (2) Mikrokontroler AT89S51; (3) LCD (Liquid Crystal Display) M1632; (4) Rangkaian perekam/pemutar ulang suara ISD2560 dan (5) Tombol start push-button. Hasil pengujian Alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna adalah: (1) Sensor warna dapat mendeteksi warna kertas asturo spectra warna polos dan tidak mengkilap; (2) IC ISD2560 dapat mengeluarkan suara sesuai warna kertas yang di-scan; (3) LCD dapat menampilkan karakter tulisan sesuai dengan warna kertas yang di-scan; dan (4) Tombol push-button dapat bekerja sesuai dengan desain perancangan Alat bantu identifikasi warna bagi penderita buta warna. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Warna yang dideteksi 13 warna tertentu, yaitu: (a) hitam, (b) putih, (c) merah, (d) merah muda, (e) hijau, (f) hijau muda, (g) biru, (h) biru muda, (i) jingga, (j) kuning, (k) coklat, (l) ungu dan (m) abu-abu; (2) Perekaman (record) yang bertujuan menyimpan data suara (audio) dalam chip ISD2560 dan pemutaran ulang (playback) terhadap data-data audio yang dikeluarkan melalui loud speaker, dapat bekerja dengan baik sesuai dengan desain; (3) Mikrokontroler dapat menyimpan data frekuensi dari masing-masing filter merah, filter hijau, filter biru yang dikeluarkan sensor warna sebanyak 5 buffer untuk masing-masimg filter, serta mengolah data tersebut sehingga dapat menampilkan suara dan karakter tulisan pada LCD sesuai dengan warna yang di-scan. Untuk pengembangan lebih lanjut, penulis menyarankan untuk: (1) Pendeteksian warna dapat dikembangkan dengan pendeteksian lebih dari 13 warna, sehingga bisa mengukur gradasi warna; (2) Dikembangkan dengan memakai power supply batteray sehingga alat mudah untuk dibawa kemana-mana; (3) Dikembangkan dengan menambahkan rangkaian power amplifier sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih keras; (4) Ruang pendeteksian diperkecil sehingga dapat mengukur media yang berukuran kecil dan dalam 1 media lebih dari 1 kombinasi warna.

Kemampuan dan kemauan membayar (ability and willingness to pay) pengguna angkutan umum jalur SKL di Kabupaten Malang / Hendra Kiswiyanto

 

Sebagai sarana dalam melaksanakan pergerakan baik orang maupun barang dari tempat asal ke tempat tujuan dibutuhkan transportasi. Berkembangnya ekonomi suatu wilayah, akan mengakibatkan meningkatnya aktivitas untuk melakukan pergerakan, sehingga menyebabkan tuntutan terhadap jasa transportasi juga meningkat. Demikian juga di Kabupaten Malang dalam menunjang kegiatan pergerakan kehidupan sehari-hari selain kendaraan pribadi masyarakat juga menggunakan sarana transportasi jenis angkutan umum. Dalam menyelenggarakan angkutan umum, pemerintah daerah telah menentukan besarnya tarif dan rute trayek angkutan umum dalam wilayah Kabupaten Malang, terutama jalur angkutan umum SKL (Singosari – Ketangi – Landungsari). Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi karakteristik pengguna angkutan umum jalur SKL di Kabupaten Malang, (2) menentukan Ability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP) para pengguna angkutan umum SKL. Hasil penelitian menunjukkan: pengguna angkutan umum terbanyak berjenis kelamin pria, usia antara 36-45 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir SMA/SLTA, bekerja sebagai wiraswasta dan tidak memiliki kendaraan. Penghasilan rata-rata perbulan Rp 750.000,00 – Rp 1.000.000,00 dengan rata-rata biaya hidup perbulan kurang lebih sama dengan Rp 250.000,00. Biaya transport perbulan rata-rata Rp 135.250,00 dan alokasi biaya transport untuk jasa angkutan rata-rata sebesar Rp 101.680,00. Biasanya dalam sehari melakukan perjalanan rutin sebanyak 1 kali dengan panjang perjalanan sekitar 10 km/hari dan perjalanan mereka biasanya menuju industri/pabrik, dengan maksud perjalanan adalah bekerja. Berdasarkan dari persepsi pengguna jumlah armadanya sedikit, waktu tunggu untuk mendapatkan angkutan umum lama, kondisi jalan yang sempit dan jarak tempuhnya yang cukup jauh membuat pengguna membutuhkan waktu lama dalam mencapai tujuan, tetapi kondisi angkutan umum ini masih bagus, sesuai dengan standard yang ada, kondisi jalan yang dilewati masih baik serta selama perjalanan sopir mengutamakan kenyamanan, keamanan dan keselamatan. Hasil analisis WTP sebesar Rp 4.710,74 tarif yang berlaku sebesar Rp 5.000,00 dan ATP sebesar Rp 6.302,48, ini berarti jika pelayanan angkutan umum terhadap pengguna ditingkatkan, maka pengguna masih bersedia membayar lebih mahal.

Relevansi latar belakang pendidikan dengan kinerja guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP negeri kelas VIII se-kota Blitar / Rida Kurniawati

 

Latar belakang pendidikan guru memberikan kontribusi terhadap kualitas dan kemampuan dalam mendidik peserta didik. Keberhasilan pendidikan yang ditempuh seorang guru berpengaruh terhadap kompetensi diri dan kinerja. Kinerja guru merupakan prestasi kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang telah diembannya. Kinerja guru meliputi kemampuan seorang guru dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Latar belakang pendidikan yang tinggi mampu menciptakan suatu kinerja yang matang. Kedua hal tersebut berhubungan erat dan memiliki relevansi atau kesesuaian yang mampu meningkatkan kualitas kinerja yang baik dengan latar belakang yang sesuai. Ada tiga permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) latar belakang pendidikan guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, (2) kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, dan (3) hubungan latar belakang pendidikan dengan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul Relevansi Latar Belakang Pendidikan dengan Kinerja Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri Kelas VIII se-Kota Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang pendidikan guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, (2) mendeskripsikan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar, dan (3) mendeskripsikan hubungan latar belakang pendidikan dengan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel, yaitu latar belakang pendidikan guru sebagai variabel bebas (Vx) dan kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai variabel terikat (Vy). Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri se-Kota Blitar yang berjumlah 56 guru, sedangkan sampelnya adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII di SMP Negeri se-Kota Blitar yang berjumlah 23 guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket tertutup. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif, yaitu berupa persentase dan analisis korelasi Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar adalah sarjana (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan hanya seorang guru yang berlatar belakang magister (S2) Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, terdapat pula seorang guru yang berlatar belakang sarjana dari Pendidikan Olahraga. Jenjang pendidikan yang ditempuh setiap guru berbeda-beda, ada yang ditempuh secara bertahap, yaitu melalui jenjang diploma terlebih dahulu selanjutnya jenjang sarjana dan ada pula yang secara langsung menempuh jenjang sarjana, tidak secara bertahap. Sementara itu, kinerja guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri kelas VIII se-Kota Blitar tergolong baik. Penilaian kinerja tersebut berdasarkan tiga tahapan kegiatan pembelajaran, yaitu tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan tahap evaluasi pembelajaran. Adapun hubungan antarkedua variabel tersebut menunjukkan adanya kesesuaian hubungan yang signifikan. Berdasarkan data yang telah dianalisis, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan yang diperoleh melalui perhitungan analisis korelasi dengan nilai probabilitas rtabel (0,415). Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada pihak-pihak berikut. Pertama, guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya terus meningkatkan kemampuan diri secara profesional, salah satunya dengan mengikuti berbagai pelatihan atau dengan melanjutkan tingkat pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, guru hendaknya menyiapkan diri semaksimal mungkin dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Kedua, kepala sekolah hendaknya senantiasa melibatkan guru untuk aktif dalam berbagai kegiatan, baik di dalam maupun di luar sekolah yang berhubungan dengan peningkatan kinerja guru. Ketiga, peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan mampu menemukan subvariabel lain yang lebih luas dan variatif sehingga mampu menyempurnakan hasil penelitian sehubungan dengan keterbatasan hasil penelitian ini.

Peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan cerpen sebagai sumber belajar pada siswa kelas VIII-B SMP Negeri I Binangun Kabupaten Blitar / Anita Kurnia Rachman

 

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disebutkan bahwa keterampilan menulis naskah drama wajib dikuasai oleh siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengenal, memahami, dan dapat menulis naskah drama. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama diperlukan sebuah sumber belajar yang tepat. Dalam penelitian ini sumber belajar yang digunakan adalah cerpen. Dengan sumber belajar ini siswa belajar menyusun kerangka naskah drama yang akan dikembangkan menjadi naskah drama yang utuh. Dalam meningkatkan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan sumber belajar cerpen dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap perencanaan naskah, tahap penulisan naskah drama berdasarkan perencanaan naskah, serta tahap penyuntingan dan revisi. Masalah umum dalam penelitian ini adalah bagaimana media cerpen dapat meningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Adapun tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penetapan subjek yang diteliti didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan dan prates yang dilakukan oleh peneliti. Subjek umum yang diberi tindakan adalah seluruh siswa kelas VIII SMP sedangkan subjek khususnya adalah 22 siswa yang memperoleh skor penilaian proses dan hasil di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 5 Januari 2008 sampai dengan 13 Juni 2008 dalam dua siklus. Data penelitian meliputi data verbal berwujud tuturan lisan proses peningkatan keterampilan menulis naskah drama maupun hasil tertulis peningkatan keterampilan menulis naskah drama dan data nonverbal berupa rekaman tindakan siswa dalam foto dan tindakan yang ditranskripsikan dan dimasukkan dalam pedoman observasi dan catatan lapangan. Data diperoleh melalui instrumen utama, yaitu peneliti yang didukung dengan instrumen penunjang berupa RPP, pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan untuk mengetahui proses dan hasil keterampilan menulis naskah drama siswa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis naskah drama pada siswa dengan menggunakan sumber belajar cerpen. Peningkatan ini dapat dilihat dari siklus I dan siklus II yang melalui tahap perencanaan naskah, tahap penulisan naskah drama berdasarkan perencanaan naskah, serta tahap penyuntingan dan revisi. Pada tahap perencanaan naskah, kegiatan yang dilakukan, yaitu membaca cerpen dan menganalisis unsur intrinsik cerpen untuk menyusun kerangka naskah drama. Penggunaan media cerpen dapat merangsang siswa dalam berimajinasi untuk mengembangkan sebuah kerangka naskah drama karena siswa terbukti dapat menentukan tema, tokoh dan watak tokoh, setting, dan alur yang bervariasi. Sedangkan peningkatan kemampuan siswa pada tahap menulis dapat terlihat dari kemampuan siswa dalam mengembangkan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh. Hal ini juga ditunjang dengan kemampuan siswa dalam menggembangkan ide, gagasan, dan imajinasi siswa. Pada tahap terakhir yaitu tahap penyuntingan dan revisi kemampuan siswa terlihat dalam membacakan naskah drama didepan kelas dengan penuh rasa percaya diri, mampu membangun interaksi sosial antarsiswa, dan melatih siswa untuk menunjukkan prestasi. Penggunaan media cerpen pada tahap pascamenulis dapat meningkatkan kemampuan siswa tidak hanya aspek menulis saja, tetapi juga pada aspek menyimak, membaca, dan berbicara. Ketiga tahapan ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis naskah drama dan KKM yang telah ditetapkan sekolah dapat tercapai. Peningkatan itu terlihat dari jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus I yaitu 74,3% dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II meningkat menjadi 89,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk menggunakan media pembelajaran dengan lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama. Penggunaan media cerpen dapat juga diterapkan dalam pembelajaran sastra yang lain seperti pembelajaran menulis puisi, menulis cerpen, dan menyusun opini berdasarkan cerpen. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di lingkungan sekolah juga disarankan untuk memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai kepada guru untuk melakukan kerja sama dengan para peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kepada calon peneliti yang ingin menggunakan dan mengembangkan media cerpen, diharapkan dapat mengembangkan media cerpen pada kompetensi dasar pembelajaran sastra yang lain.

Sistem informasi keberangkatan Kereta Api berbasis mikrokontroler / Ronny Prasetyo

 

Pengaruh iklan billboard terhadap keputusan pembelian rokok Sampoerna A Mild (studi pada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Oki Setiawan

 

Iklan dianggap sebagai suatu media promosi yang efektif dan efisien dalam menjaring konsumen maupun menyampaikan produk. Media Billboard adalah salah satu media periklanan. Iklan melalui media Billboard bisa kita jumpai setiap saat karena, media ini sendiri biasanya dipasang di sepanjang pinggiran jalan raya dan karena itulah media ini bisa digunakan sebagai alat penjaring konsumen yang cukup efektif dan efisien. Iklan sangat dibutuhkan sebagai wahana publikasi dan sosialisasi sebuah produk, sehingga iklan dapat mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklan Billboard terhadap keputusan pembelian konsumen rokok Sampoerna A Mild. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini meliputi iklan sebagai variabel bebas dan keputusan pembelian sebagai variabel terikat. Pesan iklan Billboard rokok Sampoerna A Mild sebagai variabel bebas memiliki sub variabel antara lain: isi pesan, struktur pesan, format pesan dan sumber pesan. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan responden mahasiswa manajemen S1 yang masih aktif mengikuti perkuliahan sebagai populasinya. Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan uji t dan uji f dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian ini dijaring dengan menyebarkan kuisioner kepada 100 sampel mahasiswa manajemen yang masih aktif mengikuti perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dan menggunakan Accidental Sample dimana proses pengambilan sample dilakukan dengan pengambilan sampel pada konsumen rokok Sampoerna A Mild yang secara kebetulan peneliti temui. Hasil analisis data menunjukkan bahwa keputusan pembelian secara signifikan dipengaruhi oleh: isi pesan (X1), struktur pesan (X2), format pesan (X3), sumber pesan (X4) baik secara individu maupun bersama-sama. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis memberikan saran yang dapat dijadikan pertimbangan yaitu hendaknya konsumen lebih selektif dalam memilih produk yang diiklankan melalui media Billboard.

Sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMA negeri se-kota Kediri / Reza Zaki Mubarok

 

Supervisi Kunjungan kelas adalah kunjungan yang dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor untuk mengamati proses belajar-mengajar secara langsung. Tujuan pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah membantu guru dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi selama proses belajar-mengajar dan membantu guru meningkatkan profesionalitas mereka. Bentuk dukungan atau penolakan dari guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat dilihat dari sikap mereka yang menjadi bentuk respon mereka terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Guru akan menerima atau mendukung pelaksanaan supervisi kunjungan kelas apabila mereka mengetahui fungsi, tujuan dan manfaat dari supervisi kunjungan kelas. Di sisi lain, perilaku kepala sekolah sebagai supervisor juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMAN Se-Kota Kediri, yang selanjutnya dijabarkan lagi menjadi tiga bagian, yakni sikap guru terhadap awal pelaksanaan supervisi kunjungan kelas, sikap guru terhadap inti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas dan sikap guru terhadap akhir pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yang berusaha untuk menggambarkan sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMAN Se-Kota Kediri. Populasi penelitian ini sebanyak 526 orang guru, dan diambil 217 guru sebagai sampel yang tersebar dalam delapan sekolah. Teknik sampel yang digunakan adalah teknik proportional random sampling, yang membagi sampel sesuai dengan proporsi guru pada tiap-tiap sekolah. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner atau angket. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah di SMAN Se-Kota Kediri adalah setuju yakni sebesar 144 orang atau 66,36% dari total sampel sebanyak 217 orang guru dengan rata-rata 84,71 pada kategori setuju. Sehingga, dapat diartikan bahwa guru menerima dan mendukung pelaksanaan supervisi kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah. Sikap guru terhadap awal pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah setuju yakni 63,59 % atau 138 orang dengan rata-rata 31,28 pada kategori setuju. Hal ini berarti bahwa tahap awal pelaksanaan supervisi kunjungan kelas selama ini sudah diterima dengan baik. Sikap guru terhadap tahap inti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah setuju sejumlah 135 orang (62,21 %) dengan mean/rata-rata 21,83 pada kategori setuju. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa inti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas memberikan nilai positif bagi guru dalam mengembangkan profesionalitas mereka dalam mengajar. Sikap guru terhadap akhir pelaksanaan supervisi kunjungan kelas adalah setuju sebanyak 138 (63,59 %) dari 217 responden dengan mean 31,59 pada kategori setuju. Hal ini berarti bahwa tahap akhir pelaksanaan supervisi kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah mendapat dukungan dari guru-guru di SMAN Se-Kota Kediri. Kepala sekolah hendaknya mempertahankan dan meningkatkan pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Hal ini bertujuan agar kualitas proses belajar-mengajar dapat lebih optimal. Di sisi lain, guru-guru hendaknya juga lebih meningkatkan pemahaman mereka mengenai fungsi, tujuan dan manfaat dari adanya pelaksanaan supervisi kunjungan kelas khususnya yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Alat bantu informasi keberangkatan armada Bus di Terminal / Resky Febry Nurdiyanto

 

Pengembangan media CD pembelajaran geografi menggunakan komputer untuk topik bumi dan perkembangannya dengan aplikasi macromedia flash MX dan 3D studio max / M. Aris Fahroni

 

Materi bumi dan perkembangannya merupakan materi pelajaran geografi yang mengkaji tentang proses alam dan objek alam dalam skala ruang yang luas, sehingga dalam penjelasannya tidak cukup hanya dengan cara lisan saja. Kondisi ini menyebabkan kesulitan siswa dalam memahami materi, khususnya proses-proses alam, seperti: susunan tata surya, terbentuknya tata surya, terpecahnya benua serta tabrakan lempeng tektonik. Hal tersebut disebabkan guru kesulitan untuk menunjukkan secara langsung proses-proses alam di dalam kelas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media pembelajaran interaktif. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan media pembelajaran interaktif yang dapat menunjukkan proses terjadinya tata surya khususnya bumi dan proses perkembangannya yang dapat membantu siswa memahami materi. Media ini dikembangkan dengan menggunakan program macromedia flash mx dan 3D studio max yang merupakan program animasi yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, dan animasi sehingga proses terjadinya bumi, perkembangan bentuk muka bumi dapat dipresentasikan. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, yang terdiri dari kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Data penelitian bersifat kuantitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data hasil uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa media ini ”valid”. Hasil uji coba produk diperoleh nilai 88 % dengan kriteria ”layak”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah. Dari temuan penelitian disarankan guna meningkatkan manfaat dan pengembangan CD pembelajaran yang akan datang adalah: (1) guru hendaknya menggunakan media ini dalam pembelajaran di kelas khususnya untuk materi bumi dan perkembangannya, (2) digunakan LCD Proyektor untuk memperoleh tampilan yang lebih besar (3) pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lainnya seperti: litosfer, dan atmosfer.

Data logger suhu ruangan / Moh Syarif

 

Mengetahui dan mengamati keadaan suhu pada suatu perindustrian merupakan salah satu aspek yang sangat penting sebagai tindakan awal perawatan (preventif maintenance). Suhu merupakan suatu besaran yang mudah berubah-ubah. Oleh karena itu pengukuran dan pengamatan yang berulang-ulang yang hasilnya disimpan untuk dikaji lebih lanjut perlu dilakukan. Pendataan dan pengamatan tersebut masih banyak yang dilakukan secara manual yang kenyataannya memiliki kelemahan-kelemahan diantaranya adalah banyaknya waktu yang diperlukan untuk melakukan pendataan dan pengamatan, kepresisian hasil pendataan, dan teknik pengambilan data masih bisa diragukan. Sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut maka dibuat Data Logger suhu yang dapat menyimpan data secara otomatis. Tujuan dalam pembuatan tugas akhir ini sebagai berikut (1) Merancang hardware sistem Data Logger Suhu Ruangan. (2) Membuat aplikasi komputer dari Data Logger Suhu Ruangan. (3) Menguji kinerja dari sistem Data Logger Suhu Ruangan. Sistem keseluruhan Data Logger Suhu Ruangan terdiri dari : (1) sensor suhu. (2) pengkondisi sinyal. (3) analog to digital converter. (4) pengendali waktu. (5) keypad. (6) memori eksternal. (7) LCD (liquid crystal display) dan seven segment. (8) interface USB. (9) Mikrokontroler. (10) aplikasi database komputer. Cara kerja alat ini adalah dimulai dengan mendeteksi suhu yang kemudian diubah menjadi data digital oleh ADC. Sinyal yang dihasilkan oleh ADC kemudian diproses oleh mikrokontroler untuk ditampilkan di LCD dan disimpan dalam sebuah memori. Proses pengambilan data ditentukan melalui pengaturan dari keypad sesuai dengan yang dibutuhkan. Data yang tersimpan dalam memori data logger dapat dipindah ke database komputer setelah pengambilan data selesai. Hasil dari perancangan tugas akhir ini adalah Data Logger Suhu Ruangan mampu menyimpan data besaran suhu, waktu, dan rentang waktu pengambilan data. Data hasil pengukuran memiliki rata-rata kesalahan (error) sebesar 1.23 %. Aplikasi Interface database komputer dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi. Data yang disimpan di memori Data Logger Suhu Ruangan dapat ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik serta disimpan dalam format Excel pada komputer.

Profil manajemen layanan usaha kesehatan sekolah: studi kasus SD Negeri Sumbersono Kabupaten Mojokerto / Urut Adi Tanoyo

 

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah suatu tempat untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan siswa-siswi sedini mungkin, dan perpaduan antara pendidikan dan kesehatan, yang pada gilirannya nanti diharapkan siswa-siswi dapat mandiri dalam melaksanakan pola hidup sehat. Dalam menjalankan UKS ini tidak terlepas dari pengelolaan atau manajemen yang diawali dari proses perencanaan layanan UKS, pengorganisasian layanan UKS, pelaksanaan layanan UKS, dan evaluasi layanan UKS. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana pengelolaan layanan UKS SD Negeri Sumbersono. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan empat sub fokus penelitian yaitu: (1) perencanaan layanan UKS; (2) pengorganisasian layanan UKS; (3) pelaksanaan layanan UKS; dan (4) evaluasi layanan UKS. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Sumbersono sebab merupakan salah satu sekolah yang menjadi juara nasional lomba sekolah sehat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik pengamatan berperan serta; (2) teknik wawancara terbuka; dan (3) teknik dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut dianalisis guna menyusun temuan lapangan. Pengecekan keabsahan data dengan (1) kriteria kredibilitas (derajat kepercayaan); (2) perpanjangan keikutsertaan; dan (3) teknik trianggulasi. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) perencanaan layanan UKS adalah dengan merencanakan program UKS (pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat), pengadaan obat-obatan, pengadaan peralatan UKS, pengadaan dana UKS, dan pembuatan tata tertib UKS; (2) pengorganisasian layanan UKS adalah dengan membuat struktur organisasi UKS yang di dalamnya mengatur mengenai pembagian tugas dari masing-masing unit; wewenang dari masing-masing unit; garis tanggung jawab dari masing-masing unit; kerja sama dari masing-masing unit; (3) pelaksanaan layanan UKS adalah melaksanakan rencana kerja pembinaan dan pengembangan UKS yaitu a) pendidikan kesehatan; b) pelayanan kesehatan; dan c) pembinaan lingkungan sekolah sehat; (4) evaluasi layanan UKS meliputi: a) supervisi; b) monitoring; c) evaluasi; dan d) pelaporan. Dari temuan penelitian ini disarankan sebagai berikut: dinas-dinas terkait diharapkan untuk memberikan dukungan pada sekolah-sekolah lain dalam pengembangan UKS. Bagi sekolah diharapkan lebih memperhatikan pentingnya pengelolaan UKS dan lebih memaksimalkan ide serta gagasan untuk mengembangkan UKS. Bagi guru diharapkan lebih memotivasi dan i

Pembuatan busana pesta model rok circle berbahan lycra / Kardina Sidni Arfiyanti

 

Kualitas batu putih (Dolomite) sebagai bahan material dinding dari daerah Sumenep / Eko Azwar Ramdan

 

Pemanfaatan batu putih dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan karena tanpa melalui proses pencetakan, pengeringan dan pembakaran. Sampai saat ini belum ada pengujian terhadap kualitas batu putih sebagai bahan material dinding, maka penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas penyerapan air, kerapatan semu, dan kuat tekan batu putih dari daerah Sumenep dan diharapkan layak digunakan sebagai bahan material dinding. Batu putih yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Desa Guluk-guluk Kec. Batu putih Kab. Sumenep, yaitu batu putih (dolomite) yang berbentuk prisma segi empat panjang dan siap dijual dengan ukuran: panjang 28 cm, lebar 13 cm dan tebal 8 cm, warna putih dengan rumus kimia MgCO3 yang sifatnya dapat berubah karena air laut. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang, tanggal 7 Juli sampai 14 Juli 2008 dengan sampel 16 buah batu putih. Rancangan penelitian menggunakan research eksploratif. Teknik sampling yang digunakan adalah aksidental sampling. Jenis pengujian yang digunakan yaitu pengujian penyerapan air, kerapatan semu, dan kuat tekan. Analisa hasil penelitian ini dibandingan dengan SNI 15-2094-2000. Hasil pengujian kualitas penyerapan air batu putih rata-rata adalah sebesar 13% <20% yang berarti masih memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 15-2094-2000. Hasil pengujian kerapatan semu rata-rata adalah sebesar 1,4 gram/cm3 >1,2 gram/cm3 yang berarti masih memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 15-2094-2000. Hasil pengujian kuat tekan rata-rata batu putih adalah 106,6 kg/cm2 (106,6 kg/cm2 >50 kg/cm2), (106,6 kg/cm2 >100 kg/cm2), dan (106,6 kg/cm2 <150 kg/cm2) yang berarti untuk kelas 50 dan 100 memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 15-2094-2000 sedangkan untuk kelas 150 tidak memenuhi syarat dikarenakan kuat tekan untuk kelas tersebut adalah 150 kg/cm2. Kajian ini menyimpulkan bahwa kualitas batu putih dari Sumenep layak sebagai bahan dinding untuk bangunan sederhana.

Pemanfaatan media pembelajaran di pusat pendidikan dan pelatihan SDM Perum Perhutani Madiun / Rifky Ardiansyah

 

Media pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Media pembelajaran yang dimanfaatkan dapat membantu mempermudah pembelajaran secara efektif dan efisien. Sehingga peranan instruktur sangat berpengaruh baik dalam menggunakan, memanfaatkan dan pemilihan media. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti akan mengungkap tentang pemnafaatan media pembelajaran di Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Perum Perhutani Madiun.Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan media pembelajaran yang dimanfaatkan oleh instruktur di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun; (2) Kriteria apa saja yang dipakai dalam pemilihan media pembelajaran; (3) Untuk mendeskripsikan frekuensi instruktur dalam memanfaatkan media pembelajaran; (4)Untuk mendeskripsikan pola pemanfaatan media pembelajaran di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun; (5) Faktor - faktor yang mempengaruhi pemanfaatan media pembelajaran di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun. Penelitian disini menggunakan metode diskriptif dan instrumen penelitian yang dipakai adalah angket dan pedoman observasi. Sampel dalam penelitian ini adalah instruktur di Pusdiklat SDM Perum Perhutani Madiun berjumlah 8 orang. Penggumpulan data menggunakan analisis statistik presentase. Hasil penelitian adalah: 1) Media yang dimanfaatkan hampir seluruh instruktur (87,5%) adalah buku pelajaran, praktek lapangan dan foto; Media yang sebagian besar dimanfaatkan adalah papan magnet/white board, bagan, modul, CD audio, internet, OHP dan transparansi (75%) slide dan video (62,5%); Separuh media yang dimanfaatkan adalah papan tulis flip chart, peta, poster, grafik, surat kabar, widyawisata, cordless microphone, dan LCD (50%); Media yang sebagian kecil dimanfaatkan adalah brosur/lift letter, specimen, tape recorder (37,5%), film dan televisi (25%). 2) Media yang selalu dimanfaatkan oleh instruktur adalah media papan, media cetak dan media pandang (50%); Yang sering dimanfaatkan media benda sebenarnya dan media dengar(50%); Yang kadang-kadang dimanfaatkan oleh instruktur adalah media grafis dan pandang dengar (50%). 3) Kriteria pemilihan media pembelajaran memilih media sesuai dengan isi atau materi (100%); Berdasarkan pencapaian tujuan pembelajaran (87,5%); Dimanfaatkan sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan dan sesuai dengan karakteristik peserta (62,5%); Memilih media sesuai dengan kualitas media (25%). 4) Kegiatan sebelum memanfaatkan media kegiatan yang dilakukan oleh instruktur hampir seluruhnya mempelajari urutan materi yang akan disampaikan; Selama pemanfaatan media seluruhnya adalah menjelaskan materi dengan menggunakan media; Selama pemanfaatan media seluruhnya adalah menjelaskan materi dengan menggunakan media; Untuk pola pemanfaatan media dalam kelas secara klasikal (87,5%), secara kelompok (62,5%); Pola pemanfaatan media yang diluar kelas secara terkontrol (100%). 5) Faktor pendukung pemanfaatan media pembelajaran dengan media peserta lebih termotivasi; Faktor penghambat sebagian besar menyebutkan jenis media yang terbatas. Berdasarkan hasil penelitian beberapa ada saran yang ingin disampaikan, yaitu: 1). Kepada instruktur untuk: a) memanfaatkan media pembelajaran secara menyeluruh dan optimal; b) memilih media pembelajaran dengan memperhatikan prinsip-prinsip pemilihan media; c) frekuensi pemanfaatan media harus divariasikan hal ini supaya peserta didik tidak bosan; d) untuk pola pemanfaatan instruktur harus bisa mengelola media baik sebelum, selama dan sesudah memanfaatkan media dan juga pemanfatan di dalam maupun di luar kelas; e) menambah jumlah media pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan diklat 2). Untuk Pusdiklat SDM: a) Perum perhutani hendaknya menambah jumlah media pembelajaran; b) instruksi kepada instuktur juga diperlukan supaya dalam kegiatan diklat memanfaatkan media pembelajaran, 3). Untuk peneliti selanjutnya hendaknya menambah permasalahan dan melengkapi kekurangan dari hasil penelitian ini.

Sistem pengendalian tenaga kerja pada proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang / By Bing Ahyudo

 

Keterlambatan waktu pelaksanaan suatu proyek dapat disebabkan oleh faktor dokumen administrasi yang kurang lengkap, keuangan, ketenagaan, material/logistik, kondisi alam, dan teknis. Keterlambatan waktu pelaksanaan proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang diperkirakan disebabkan oleh pengendalian tenaga kerja yang kurang baik. Tujuan studi lapangan ini untuk mengetahui faktor penyebab keterlambatan waktu pelaksanaan yang disebabkan pengendalian tenaga kerja yang kurang baik, dan diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan keterlambatan waktu pelaksanaan yang disebabkan oleh faktor ketenagakerjaan tersebut. Pengendalian tenaga kerja terdiri atas rekruitmen, penempatan, pembinaan dan promosi, dan pengupahan. Di dalam proses rekruitmen dilakukan seleksi untuk mendapatkan tenaga kerja kerja yang berkualitas, penempatan tenaga kerja berdasarkan keahlian tenaga kerja, pembinaan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan keahlian dan kualitas tenaga kerja, dan sistem pengupahan yang harus memperhatikan biaya hidup dan upah minimum lokal. Objek studi lapangan adalah sistem pengendalian tenaga kerja pada proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi untuk memperoleh data tentang pergantian tenaga kerja, metode interview/tanya jawab untuk memperoleh data tentang rekruitmen tenaga kerja, penempatan tenaga kerja, pembinaan dan promosi tenaga kerja, dan sistem pengupahan, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data struktur organisasi proyek dan daftar upah tenaga kerja. Kesimpulan ditarik melalui pengkajian hasil pengumpulan data lapangan dan kajian pustaka. Hasil studi lapangan menunjukkan bahwa rekruitmen tenaga kerja dilakukan sesuai jenis ketenagaannya. Untuk tenaga kerja tetap dilakukan seleksi dengan wawancara untuk mengetahui keahlian yang dimiliki tenaga kerja. Untuk tenaga kerja tidak tetap rekruitmennya dilakukan melalui Mandor. Dalam penempatan tenaga kerja telah sesuai dengan keahlian yang dimiliki tenaga kerja. Tidak dilakukan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. Pengupahan yang diberikan telah sesuai dengan standar dan peraturan pemerintah setempat. Kesimpulan, keterlambatan waktu pelaksanaan disebabkan tenaga kerja tidak tetap yang direkrut kurang berkualitas akibat tidak dilakukannya seleksi, sering terjadinya bongkar pasang tenaga kerja tidak tetap, mandor dalam pelaksanaan kurang, tidak dilakukan pembinaan dan pelatihan tenaga kerja. Penempatan tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap keterlambatan, karena telah sesuai dengan keahlian tenaga kerja demikian juga pengupahan tidak berpengaruh, karena telah sesuai dengan standar yang ada.

Peran mahasiswa PPL dalam memotivasi siswa belajar bahasa Jerman di MAN 1 Malang / Dimas Pahlawanita Damayanti

 

Dalam proses belajar mengajar terjadi transfer pengetahuan dari guru ke siswa, siswa ke guru, dan siswa ke siswa. Selama proses belajar-mengajar guru sangat berperan dalam menumbuhkan motivasi belajar pada diri siswa, terutama pada pembelajaran bahasa Jerman. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil belajar yang baik juga. Prestasi yang diraih siswa sangat tergantung pada kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah maupun kelas. Selain mengajar, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jerman yang melaksanakan program PPL di MAN 1 Malang juga mempunyai tugas sebagai motivator. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat berbagai kesulitan yang dialami oleh mahasiswa PPL, guru bahasa Jerman, maupun para siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk meneliti mengenai peran mahasiswa PPL dalam pembelajaran bahasa Jerman di MAN 1 Malang dan strategi yang efektif untuk memotivasi siswa belajar bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang peran mahasiswa PPL dalam pembelajaran bahasa Jerman di MAN 1 Malang dan strategi yang digunakan untuk memotivasi siswa dalam belajar bahasa Jerman. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) penyebaran angket. Dari hasil penelitian, pembaca dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa PPL dalam upaya memberikan motivasi belajar bahasa Jerman kepada siswa, yang meliputi metode mengajar, strategi yang digunakan dalam memberikan motivasi belajar, dan berbagai kendala yang dihadapi selama pelaksanaan PPL. Dari serangkaian kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jerman telah berusaha menjadi teladan bagi para siswa dan memberikan motivasi belajar bahasa Jerman kepada siswa selama melaksanakan program PPL di MAN 1 Malang, tetapi tidak semua mahasiswa PPL melakukan perannya sebagai motivator dengan baik. Ada siswa yang tidak menyukai strategi yang digunakan oleh sebagian mahasiswa PPL, akibatnya siswa menjadi semakin tidak tertarik untuk mempelajari bahasa Jerman. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada para calon mahasiswa PPL yang selanjutnya untuk melakukan persiapan secara matang sebelum terjun ke sekolah dan mengajar di kelas, serta memahami tugas tambahan sebagai seorang guru, sedangkan bagi guru bahasa Jerman dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Jerman yang meliputi metode pengajaran, media pengajaran, bahan ajar yang digunakan secara kreatif sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Analisis faktor-faktor motivasi mahasiswa memilih jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Edwin Arfiani

 

Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, sehingga faktor-faktor mahasiswa dalam memilih jurusan berbeda pula. Seorang calon mahasiswa akan memilih suatu jurusan tertentu dengan harapan, bahwa jurusan yang ditempuhnya nanti akan dapat menunjang proses pendidikannya di kemudian hari dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Mahasiswa harus mengambil keputusan dalam memilih jurusan yang diinginkan dan diharapkan dengan mempertimbangkan hal-hal yang penting untuk masa depannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi motivasi mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang? Faktor apakah yang paling dominan yang mendorong mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang? Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) Mengetahui faktor-faktor yangmenjadi motivasi mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang, dan (2) Menemukan faktor yang paling dominan yang mendorong mahasiswa memilih Jurusan Administrasi Pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian exsploratory karena bermaksud untuk mengeksplorasi kesemestaan fenomena alam ataupun sosial. Populasi yang berjumlah 375 orang. Sampel penelitian berjumlah 160 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik pengambilan sampel secara acak (proportional random sampling). Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti menggunakan angket terbuka dan tertutup. Hasil penelitian menunjukkan ada 8 faktor motivasi mahasiswa memilih Jurusan AP FIP UM meliputi: (1) faktor bakat, (2) faktor biaya, (3) faktor sarana, (4) faktor dorongan orang lain, (5) faktor karier, (6) faktor minat, (7), faktor tenaga pengajar, dan (8) faktor harapan. Saran bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya penelitian ini dapat menambah keilmuan dalam bidang manajemen pendidikan. Bagi mahasiswa hendaknya dengan masuk ke Jurusan AP FIP UM mahasiswa lebih meningkatkan motivasinya agar apa yang diharapkan tercapai di masa depan, bagi peneliti lain penelitian ini perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor motivasi mahasiswa secara rinci.

Perancangan power pack untuk penggerak hidrolik pada alat pelepas dan pemasang bearing transmisi otomotif / Arif Ferdiansyah, Nuryl Alfan Riben

 

Pengaruh kemasan sikat gigi yang menggunakan tutup (helm) terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada anggota KSR PMI Universitas Negeri Malang) / oleh Dian Eka Prasastianta

 

Kemasan yang menarik dapat menjadi pendorong bagi pembeli untuk mencobanya, karena tidak jarang keputusan unhrk membeli suatu produk terjadi hanya karena terpengaruh oleh bungkus yang menarik. Sering pula terjadi suatu produk dipilih karena bungkusnya lebih menarik dari pada produk lain yang sejenis. Kemasan dapat diiadikan sebagai alat promosi yang baik, karena melalui kemasan yang menarik dapat merangsang konzumen unfirk mencoba menggunakan produk tersebut. Oleh sebab itu kemasan yang menarik masih harus tetap diperhatikan karena kemasan tersebut dapat menimbulkan kesan pada barangnya. Penelitian ini berhrjuan rmhrk mengetahui pengaruh secara parsial dan simtrltan faktor kemasan terhadap keputusan pembelian konsunen. Responden penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah anggota KSR PMI Universitas Negeri Malang. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu lzriabel independen (X) yang terdiri dari bahan kemasan (X1), daya tarik visual kemasan (Xz), daya tarik praktis kemasan (Xr) dan etika kemasan (&). Sedangkan variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini menggr.nakan pendekatan deskriptif korelasional, data diperoleh dengan menggunakan teknik angket/kuesioner tertutup. Jurnlah populasi sebanyak 307 orang dengan pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling sebanyak 77 responden. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows release 11.0. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis data regresi berganda maka dapat diketahui hasil penelitian yang menyatakan: (l) nilai0 r:0,270;ntlai t:3,951 dans ignifikanst:i0 ,0.00 SE:29,38%, SR:20,45% membuktikan bahwa pengaruh variabel independen X1 (bahan kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sigrifikan atau dapat dipercaya, (2) nilai Fz: 0,289; nilai t : 3,692 dan signifikansit : 0,000 SE : 20,660/oS. R : 14,38% membuktikan bahwa pengaruh variabel independen X2 {daya tarik visual kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sigrifikan atau dapat dipercaya, (3) nilai Fr : 0,406; nilai t: 5,692 dm sigrifikansi t - 0,000 SE:30,20%, SR : 21,02o/om embuktikan bahwa pengaruh variabel independen X: (daya tarik praktis kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sigaifikan atau dapat dipercaya(, a) nilai Ba- A,279;n ilai t : 4,074 dans ignifikansit : 0,000 SE : 19,76%, SR: 13,75%m embuktikanb ahwa penganrhv ariabel independen) la (etika kemasan) terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian) sipifikan atau dapat dipercaya. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat dttank kestmpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada pengaruh yang signifikan antara bahan kemasan (Xr), daya tarik visual kemasan (Xz), daya tarik praktis ii kemasan (X3) dan etika kemasan (Xa) secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian konsumen telah terbukti. Saran yang bisa dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian ini adalah: (1) Dalam membuat kemasan suatu produk hendaknya produsen memperhatikan bahan dari kemasan. (2) Kemasan suahr produk memainkan peranan yang cukup besar guna menarik lebih banyak konsumen atau calon pembeli. (3) Dalam membeli suatu produk seorang konsumen tentunya menginginkan produk yang dibelinya memberikan kemudahan saat pemakaian dan penyimpanannya, serta dapat melindungr produk dari kontaminasi. (4) Suatu produk yang didukung dengan penampilan yang menarik dapat dijadikan sebagai alat advertensi bagi perusahaan. (5) Kemasan dapat menciptakan kesan pada barang atau produknya, apabila kesan tersebut bagus maka citra perusahaan juga ikut bagus.

Permainan ular tangga meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bilangan bulat siswa kelas IV SDN Kebonagung 06 Pakisaji Malang / Nanik Agustina

 

dasar suatu mata pelajaran. Oleh sebab itu guru yang mengajar mata pelajaran tertentu di Sekolah Dasar harus mampu menyampaikan konsep tersebut dengan benar dan mudah dipahami siswa. Untuk dapat membekali siswa dengan penguasaan konsep yang memadai, maka kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran yang membuat siswa mudah menerimanya sangat diharapkan agar siswa menyenanginya. Hendaknya tidak dilakukan secara abstrak, tetapi sedapat mungkin dilakukan dengan cara pembelajaran yang dimulai konkrit menuju abstrak, dari hal-hal yang mudah ke hal-hal yang sulit atau dari sederhana ke kompleks. Sejalan dengan teori Piaget, siswa Sekolah Dasar berusia 11-12 tahun mengalami tahap operasi konkrit. Dipadukan dengan pendapat Zoltan P. Dienes bahwa dalam mengajarkan konsep matematika melalui enam tahap, salah satunya dengan metode permainan. Oleh sebab itu permainan ular tangga diterapkan dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Diharapkan dengan metode yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika. Adapun langkah pelaksanaan penggunaan permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat adalah sebagai berikut a). Mengajak siswa bermain ular tangga, b). Menerapkan permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi bilangan bulat. Dari uraian tersebut dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut; a). Bagaimana hasil belajar siswa sebelum digunakannya metode permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat?, b). Bagaimana hasil belajar siswa setelah digunakannya metode permainan ular tangga dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat?, c). Apakah penggunaan metode permainan ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas secara kolaboratif antara guru kelas dan peneliti yang dilaksanakan di kelas IV SDN Kebonagung 06 Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang dengan jumlah siswa 46 yang terdiri dari 24 siswa perempuan dan 22 siswa laki-laki dari tanggal 1 sampai dengan 30 April 2008. Penelitian ini menggunakan lembar observasi pelaksanaan kegiatan dan soal tes sebagai instrumen pengumpulan data. Dari hasil observasi ditemukan data nilai rata-rata siswa pelajaran matematika pada ujian tengah semester 2 tahun 2007/2008 hanya mencapai 52,5. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebelum penggunaan permainan ular tangga hasil belajar siswa rata-rata mencapai 67,3 dengan jumlah siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 sebanyak 22 siswa. Hasil penggunaan permainan ular tangga pada pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dapat dikemukakan sebagai berikut; a). Siklus I; rata-rata nilai post tes siswa adalah 72,9 dengan 29 siswa (63%) mendapat nilai 70-100 dan mengalami ketuntasan belajar individu. Sedangkan 17 siswa (37%) mendapat nilai <50-65 belum mengalami ketuntasan individu. b). Siklus II; rata-rata nilai post tes adalah 85,2 dengan 45 siswa (97,8%) mendapat nilai 70-100 dan mengalami ketuntasan belajar individu. Sedangkan 1 siswa (2,2%) belum mengalami ketuntasan individu. Siswa tersebut adalah siswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Siswa tersebut merupakan siswa pindahan dari sekolah lain yang disekolah asal pernah tinggal kelas 1 kali pada kelas III. Dengan melihat ketuntasan belajar kelas pada siklus II menunjukkan bahwa penggunaan permainan ular tangga pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sudah berhasil dengan persentase banyaknya siswa yang tuntas belajar 97,8%, sedangkan siswa yang belum tuntas belajar 2,2%. Dari paparan di atas menunujukkan bahwa penggunaan permainan ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal ini terbukti pada hasil belajar siswa yang telah dicapai oleh siswa. Bertitik tolak dari penemuan di atas, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah salah satunya dengan memperhatikan perkembangan mental anak yaitu tahap operasi konkrit dan dengan metode permainan sesuai dengan tahap-tahap dalam menanamkan konsep matematika. Diharapkan siswa dapat dengan mudah menerima konsep dengan mudah.

Using wh-question technique to improve the second year students' abilities in generating ideas of writing recount in MTs Surya Buana Malang / Wiwid Ananing Reny

 

Analisis kecelakaan lalu lintas di kota Malang (Studi kasus pengguna sepeda motor pada ruas jalan Kolenel Sugiono sampai dengan ruas jalan Tumenggung Suryo) / Ferdian Yulianto

 

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya, mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. Faktor-faktor penyebab kecelakaan yaitu:1) faktor manusia, 2) kendaraan, dan 3) lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mendominasi membentuk pola kecelakaan dan daerah mana saja yang menjadi daerah rawan kecelakaan (black site). Jenis data berupa data sekunder dan data primer, data sekunder berupa jumlah kecelakaan, jenis kendaraan, profil kecelakaan, dan kepemilikan SIM, sedangkan data primer berupa data volume lalu lintas harian rata-rata (LHR). Pengumpulan data-data kecelakaan dilakukan dengan cara mencatat data kecelakaan dari buku register di Satlantas Kota Malang, sedangkan untuk survey lapangan dengan cara: 1) mencatat volume kendaraan (LHR), dan 2) mengukur panjang jalan, sehingga dapat ditentukan daerah rawan kecelakaan (black site). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kendaraan jenis sepeda motor merupakan jenis kendaraan paling besar yang memberikan sumbangan terhadap terjadinya kecelakaan sebesar 60,90%, sedangkan faktor utama penyebab kecelakaan adalah faktor manusia, khususnya para pelajar tingkat SLTA yang mencapai 43,61% dari total 66 kejadian di lokasi studi, sedangkan ruas jalan Kolonel Sugiono sampai dengan ruas jalan Laksamana Martadinata diidentifikasi menjadi daerah rawan kecelakaan karena memiliki tingkat kecelakaan yang paling besar yaitu 31,89%.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran seni budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang / Indra wardani

 

ABSTRAK Wardani, Indra. 2008. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar pada Mata Pelajaran Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Moeljadi Pranata, M. Pd, (II) Drs. Eko Budi Winarno. Kata Kunci : pelaksanaan, pembelajaran, seni budaya. Mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya. Di dalamnya tetap mencakup Seni Rupa, Seni Tari ,Seni Musik, dan Seni Teater (drama), namun dengan pendekatan budaya terutama budaya lokal daerah setempat. Sifat-sifat yang melekat pada pendidikan seni antara lain: imajinatif, sensibilitas, kebebasan, dan memberikan peluang bagi terciptanya proses pengembangan kreativitas dan apresiatif. Penerapan KTSP memberikan peluang bagi setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri. Untuk itu tiap guru yang akan mengajar di kelas dituntut memiliki kemampuan untuk menyusun kurikulum yang tepat bagi peserta didiknya. Berdasarkan permasalahan tersebut dilakukan penelitian untuk menggali bagaimana pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang. Rancangan penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan penelitian ini ialah dua orang guru Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang. Data yang diperoleh ditrianggulasi dengan menggunakan trianggulasi metode dan sumber. Variabel-variabel yang diusut meliputi: (a) persiapan pembelajaran, (b) pelaksanaan pembelajaran, (c) penilaian pembelajaran, dan (d) sumberdaya dukung dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini menemukan hasil bahwa guru Seni dan Budaya telah melakukan persiapan pembelajaran sebelum mereka melakukan pembelajaran. Guru dapat melakukan persiapan dengan baik karena faktor (a) latar belakang pendidikan yang sesuai, (b) pengalaman belajar yang cukup lama, serta (c) terbiasa membuat persiapan yang sama sejak KBK. Guru juga tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam hal ini guru mampu mengembangkan tujuan, materi, media, dan metode dengan relatif baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa guru melakukan penilaian pembelajaran Seni dan Budaya sesuai dengan KTSP. Hal ini karena penilaian masih dipengaruhi oleh kebijakan sekolah, yang berorientasi pada penggunaan materi dan dipengaruhi oleh pelaksanaan kurikulum tradisional. Usaha guru untuk menerapkan pembelajaran secara maksimal juga terkendala atau keterbatasan sumberdaya dukung. Pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya menurut KTSP belum didukung oleh ketersediaan studio seni (peralatannya) serta buku-buku memadai yang seharusnya diketahui penerintahan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan belajar mengajar Seni Budaya di SMPN Kebo Kicak Jombang masih dipengaruhi oleh pola kurikulum berbasis materi. Meskipun demikian, guru Seni dan Budaya terus berusaha agar dapat menjalankan KTSP dengan sungguh-sungguh dan benar. Disarankan agar untuk penelitian lanjutan diadakan penelitian serupa, utamanya untuk sekolah-sekolah di wilayah pinggiran kota.

Hubungan antara prestasi belajar matakuliah prasyarat paket desain interior/eksteior terhadap prestasi belajar matakuliah tinjauan desain interior/eksterior pada mahasiswa angkatan 2004 Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang / Rif Ri

 

ABSTRAK Izza, Rif Rinda Himmatul. 2008. Hubungan Antara Prestasi Belajar Matakuliah Paket Prasyarat Desain Interior/Eksterior Terhadap Prestasi Belajar Matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior Pada Mahasiswa Angkatan 2004 Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Indrawati, (II) Dra. Tjitjik Sri Wardhani. M.Pd. Kata kunci: Prasyarat, Paket Tinjauan Desain Interior/Eksterior Matakuliah Desain Interior/Eksterior dipilih jika sudah menempuh beberapa matakuliah yang disyaratkan dan dinyatakan lulus. Dalam hal ini akan timbul sebuah anggapan bahwa keberhasilan matakuliah berhubungan dengan prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior, matakuliah prasyarat yang telah ditempuh oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah pilihan khususnya Tinjauan Interior/Eksterior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar matakuliah prasyarat paket Desain Interior/Eksterior yang disyaratkan dan dinyatakan lulus. Dalam hal ini akan timbul sebuah keberhasilan matakuliah sehubungan dengan prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior, matakuliah prasyarat yang telah ditempuh oleh mahaiswa yang mengambil matakuliah pilihan khususnya matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prestasi belajar matakuliah prasyarat Nirmana II semester Genap Tahun 2004/2005, Gambar Teknik semester Gasal Tahun 2004/2005, Gambar Bentuk II semester Genap Tahun2004/2005, dan Desain Terapan 2D semester Genap Tahun 2005/2006 terhadap prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior semeter Genap Tahun 2005/2006. dengan prestasi belajar matakuliah prasyarat sebagai variabel bebas (prediktor) dan prestasi belajar matakuliah tinjauan desain interior/eksterior sebgai variabel terikat (kreterium). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase dan analisis korelasi Product Moment Pearson, dengan analisis korelasi product moment ini dapat diketahui sumbangan efektif masing-masing prediktor. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada kepada mahasiswa untuk lebih meningkatkan kegiatan belajarnya sehingga nantinya prestasi belajar mahasiswa dalam matakuliah prasyarat untuk matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior bisa lebih meningkat. Mengingat besarnya pengaruh yang disumbangakan yaitu nilai B dengan kualifikasi banyak terhadap prestasi belajar matakuliah Tinjauan Desain Interior/Eksterior.

A Studi on the implementation of english speaking program at MAN 3 Malang Dormitpry / Devinta Pustpita Ratri

 

Speaking skill is one important skill of English learning which needs practice in order to master English well. Creating an English environment is one way of improving English speaking skill. With this phenomenon, MAN 3 Malang dormitory has developed an environment which requires the members of MAN 3 Malang dormitory to speak English in dormitory zone. This research aims to study the implementation of English speaking program at MAN 3 Malang dormitory, and the description of the program is expected to provide information for English learners on how to improve their English speaking skill by creating real-life communication, and also can be useful as information for English learners and English teachers from other schools that perform or have implemented similar program. The subjects of the study were the students of grade XI and XII of MAN 3 Malang dormitory. This study was carried out at MAN 3 Malang dormitory in July 2008. The descriptive qualitative design was used in order to collect information to answer the research problems. The data were obtained through interview, questionnaire, and field notes. They were then presented descriptively after being classified into related aspects. The finding of the study was that the English speaking program which applies the rules of requiring dormitory students to speak English at the dormitory zone was well implemented since the member of MAN 3 Malang dormitory tried to make a good cooperation in creating an English environment. In implementing English speaking program, punishment was given as a consequence to the students who disobey the rules. There were 10 supporting programs which sustained the English speaking program. Those supporting programs aimed to ease students in implementing the English speaking program. As much as 88% of respondents gave positive response toward the implementation of the English speaking program. They realized the English speaking program was important to improve their skill in speaking English. It is suggested to the other schools which have dormitory to implement a similar program which is the English speaking program at MAN 3 Malang dormitory. By implementing English speaking program, English learners can do more practice in speaking English. They will be able to speak English better because they have conducive English learning environment in the dormitory as the one implemented at MAN 3 Malang dormitory.

Motivasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra mengikuti aktivitas Sanggar tari Karawitan ASRI Kusuma Universitas Negeri Malang / Atmi Hapsari

 

Pengembangan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas untuk kelas IV SD Negeri Besuk Agung Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo / Haris Taufikur

 

Pengembangan bahan ajar ini dilakukan karena masih sangat minim bahan ajar yang digunakan dalam penyampaian materi penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas di SD Negeri Besuk Agung, sedangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SD Negeri Besuk Agung terdapat kompetensi dasar yang terkait dengan kesehatan yaitu penyakit yang ditularkan nyamuk dan unggas yang diberikan pada siswa kelas IV. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas untuk kelas IV SD Negeri Besuk Agung Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo yang dapat digunakan sebagai bahan ajar atau juga sebagai media penyampaian materi penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas pada mata pelajaran pendidikan jasmani. Prosedur pengembangan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan nyamuk dan unggas ini menggunakan model pengembangan Dick and Cerey yang terdiri dari 10 langkah. Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk mengembangkan bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan nyamuk dan unggas ini adalah sebagai berikut: 1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, 2) melaksanakan analisis, 3) mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, 4) menulis tujuan, 5) mengembangkan butir-butir tes yang kriterianya sudah ditentukan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pengajaran, 8) menyusun dan melaksanakan evaluasi formatif, 9) merevisi pengajaran, 10) melaksanakan evaluasi sumatif. Lokasi penelitian adalah di SD Negeri Besuk Agung. Subyek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 3 orang ahli yaitu 1 ahli media pembelajaran, 2 orang ahli Kesehatan dan satu orang ahli pendidikan jasmani, (2) ujicoba kelompok kecil adalah siswa SD Negeri Besuk Agung kelas IV sebanyak 10 orang dengan menggunakan random sampling, dan (3) uji kelompok besar adalah siswa SD Negeri Besuk Agung kelas IV sebanyak 43 orang. Pengambilan sampel ini dilakukan pada seluruh kelas. Setelah dievaluasi oleh para ahli dan siswa terdapat beberapa masukan yang meliputi ukuran buku, format penulisan buku ajar, bahasa yang digunakan, kejelasn gambar,ilustrasi,dan kemenarikan cover. Setelah dilakukan revisi, dihasilkanlah produk berupa bahan ajar tentang penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan unggas untuk kelas IV SD Negeri Besuk Agung Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo.

Pengaruh kualitas model pembelajaran kooperatif think pair share tehadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 7 Malang pada mata pelajaran akuntansi tahun ajaran 2007/2008 / Vita Agustina

 

The implementation of experimential leraning to improve the ability of eigh graders of SMPN 1 Singosari in writing personal recount paragragraphs / Nine Febrie Novitasri

 

Improving the eighth-grade studens' reading skill at MTs Negeri Manado through the jigsaw technique / Lily Korniaty

 

Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan ketrampilan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan teknik jigsaw. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknik jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa di MTs Negeri Manado. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana peneliti dan guru bekerja sama dalam melaksanakan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai guru sedangkan guru bahasa Inggris menjadi kolaborator peneliti untuk mengobservasi pelaksanaan teknik jigsaw. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Prosedur penelitian ini mencakup empat tahap utama yaitu perencanaan tindakan, implementasi tindakan, observasi dan refleksi. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa instrumen seperti format observasi, catatan lapangan, dan nilai membaca siswa. Subyek penelitian ini adalah 32 siswa kelas dua MTs Negeri Manado pada tahun ajaran 2007/2008. Semua siswa merupakan subyek penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur yang tepat untuk menerapkan teknik jigsaw dalam pembelajaran membaca pemahaman dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) membentuk kelompok jigsaw. (2) mengarahkan siswa kepada topik bacaan dengan memberikan beberapa pertanyaan dan/atau menunjukkan gambar. (3) menjelaskan topik dan tujuan pembelajaran. (4) menyuruh siswa menebak kata-kata yang terdapat di dalam teks. (5) membacakan teks dengan jelas, keras dan perlahan dan menyuruh beberapa siswa membaca ulang teks. (6) mendiskusikan isi dari teks dengan menanyakan ide utama dari setiap paragraf. (7) Memberikan model kepada siswa dalam meneukan informasi yang literal dan inferensial dalam teks. (8) membimbing siswa untuk menemukan jawaban atas pertanyaan literal dan inferensial. (9) membagi lembar kerja ahli kepada setiap siswa. (10) membagi siswa kedalam kelompok-kelompok kecil ahli. (11) menyuruh siswa mendiskusikan jawaban dan mencatat hal-hal penting dalam teks. (12) menyuruh siswa mempresentasikan hasil diskusi yang diperoleh dalam kelompok ahli kepada semua anggota kelompok. (13) memeriksa jawaban kelompok dengan menggunakan kompetisi grup. (14) menulis jawaban yang benar di papan tulis. (15) meminta siswa menyimpulkan pelajaran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan teknik jigsaw dalam pembelajaran membaca pemahaman efektif dalam meningkatkan ketrampilan membaca pemahaman siswa. Peningkatan yang dimaksud ditandai dengan peningkatan nilai rata-rata siswa. Nilai rata-rata siswa meningkat dari nilai awal 41.88 menjadi 61.67 pada siklus 1, 67.19 pada siklus 2, dan 76.22 pada siklus 3.

A study on the techniques of teaching english in the first grade of the International primary school laboratory of UM / Suci Maharani

 

Perancangan media komunikasi visual Baitul Maal Wa Tamwil Perdana Surya Utama Malang sebagai media promosi / Erwin Tito Afiyanto

 

Hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran seni budaya / Riska Roniawan

 

ABSTRAK Roniawan, Riska. 2008. Hubungan Motivasi Berprestasi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung Pada Mata Pelajaran Seni Budaya. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd., (II) Drs. Muhadjir. Kata kunci: motivasi berprestasi, hasil belajar, pendidikan seni, korelasi Prestasi belajar seorang siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi faktor fisik (keadaan fisik, kondisi panca indera) dan aspek psikologis (minat, motivasi, bakat, kemampuan kognitif). Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, meliputi aspek lingkungan sosial, lingkungan alam, dan aspek instrumental. Motivasi berprestasi sebagai salah satu faktor dalam diri siswa akan menjadi alat penggerak yang mendorong siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin demi penghargaan pada diri sendiri. Dalam pencapaian prestasi belajar yang diharapkan, siswa melakukan suatu karya prestasi lebih baik dari prestasi karya orang lain yang diwujudkan dalam keberhasilan menyelesaikan tugas-tugasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya. Variabel bebas penelitian ini adalah motivasi berprestasi (x) dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar pada mata pelajaran Seni Budaya (y). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional dengan pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis prosentase dan Korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Subjek penelitian sebanyak 130 siswa yang diambil dari populasi siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya berada pada kategori sedang (43,3%). Prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya berada pada kategori sedang (59,2%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya (rhitung = - 0,137, rtabel dengan N:130, Sig. 5% = 0,172). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tulungagung pada mata pelajaran Seni Budaya. Sehingga disarankan bagi peneliti yang tertarik pada permasalahan yang sama hendaknya menindaklanjuti dengan jangka waktu yang lama, sampel yang lebih besar, dan memperluas cakupan variabelnya misalnya minat, sosial ekonomi atau variabel lainnya. i

Peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas VII SMPN 1 Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menggunakan strategi mind mapping / Dian Kurniasari

 

Studi tentang struktur pembelajaran seni budaya di SMPN 1 Malang / Saiful Mizan

 

ABSTRAK Mizan, Saiful. 2008. Studi Tentang Struktur Pembelajaran Seni Budaya di SMPN I Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Ida Siti Herawati M.Pd, (II) Dra. Tjitjik Sri Wardani M.Pd. Kata Kunci : struktur pembelajaran, seni budaya. Dalam mata pelajaran Seni Budaya sesuai kurikulum 2007 di SMP terdapat dua tipe bahan ajar yaitu apresiasi seni dan ekspresi seni sehingga perlu dikembangkan struktur pembelajaran yang dapat mengembangkan daya apresiasi dan ekspresi anak didik sebagai upaya peningkatan kompetensi siswa dibidang Seni Budaya. Salah satu sekolah yang telah menerapkan kurikulum KTSP adalah SMPN I. Pembelajaran Seni Budaya di SMPN I Malang tergolong maju, terbukti memiliki berbagai fasilitas kesenian, yaitu ruang musik, dan ruang tari, memiliki banyak prestasi disegala bidang, tidak terkecuali bidang seni, khususnya seni rupa serta berstatus PSBI (Perintis Sekolah Bertaraf Internasional). Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur pembelajaran Seni Budaya Seni Rupa dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan dikelas VII di SMPN I Malang. Rancangan penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif, peneliti berperan langsung sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analisis data, dan sekaligus pelapor data. Lokasi penelitian adalah SMPN I Malang yang berada di Jln. Lawu No. 12 Malang. Sumberdata menggunakan data primer yang diperoleh dari guru mata pelajaran Seni Rupa, dan data sekunder diperoleh dari dokumentasi tentang perangkat, media, sumber serta sarana prasarana pembelajaran. Sedangkan proses pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara juga dilakukan kepada 10 siswa secara acak untuk melengkapi dan mengecek keabsahan data. Tahapan-tahapan analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data melalui metode triangulasi dan pengecekan referensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran Seni Budaya Seni Rupa kelas VII di SMPN I Malang untuk tipe bahan ajar apresiasi seni rupa, menggunakan Model akademik dengan pendekatan ekspositori dan inquiry. Proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode ceramah, dan pemberian tugas, media pembelajaran yang digunakan berupa VCD, gambar-gambar, buku sebagai penunjang, dan lukisan yang dipamerkan di Perpustakaan Umum kota Malang sebagai sumber belajar. Evaluasi yang berlangsung yaitu siswa mengidentifikasi seni rupa terapan modern yang mereka saksikan di video dengan arahan dan bimbingan guru dalam mengidentifikasikan, serta evaluasi berbentuk formatif. Sedangkan untuk tipe bahan ajar ekspresi seni juga menggunakan model pembelajaran akademik dengan pendekatan ekspositori dan inquiry serta metode ceramah, diskusi, pemberian tugas, dan demonstrasi. Media yang digunakan adalah VCD, gambar-gambar, lukisan, dan sumber belajar berupa gambar-gambar. Evaluasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung yaitu berupa tanya jawab. Selain itu evaluasi yang diberikan adalah evaluasi formatif. Saran bagi guru kesenian dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran yang bervariatif dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dan tipe bahan ajar. Disarankan pula untuk meneliti lebih lanjut pada pembelajaran Seni Budaya pada semua aspek pembelajaran.

Implementasi pendekatan proses untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SD Inpres 1 Tanah Tinggi Ternate / Kodrat HI. Karim

 

Perbedaan hasil belajar mahasiswa pendidikan Jasmani Universitas Negeri Malang angkatan 2004 input PMDK, SPMB dan seleksi sendiri pada semester I-VII / Windy Lukito

 

Strategi belajar adaptasi lembaga keluarga dan dinamika kehidupan masyarakat Desa Paciran terkait pembangunan wisata bahari Lamongan / Ayu Ratna Puspita Ningrum

 

Intensive course students' independent study learning and visit patterns in the english self-access center at the state University of Malang / Nina Inayati

 

Implementasi pengukuran dalam penilaian berbasis kelas mata pelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang / Qurrotul A'yuni

 

Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penilaian ini dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Oleh karena itu disebut PBK. PBK dilakukan dengan pengumpulan hasil kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengukuran dalam PBK pada pelajaran bahasa Arab yang dilaksanakan di MAN 3 Malang yang meliputi (1) jenis-jenis pengukuran dalam PBK mata pelajaran BA yang digunakan oleh guru bahasa Arab, (2) faktor yang mendukung implementasi pengukuran dalam PBK mata pelajaran bahasa Arab di MAN 3 Malang, dan (3) faktor yang menghambat implementasi pengukuran dalam PBK mata pelajaran bahasa Arab di MAN 3 Malang. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sedangkan instrumen penunjang berupa wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah 2 guru bahasa Arab MAN 3 Malang dan 10 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan empat kegiatan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) jenis-jenis pengukuran dalam PBK mata pelajaran BA yang digunakan di MAN 3 Malang adalah tes tertulis, unjuk kerja, hasil karya dan penilaian sikap. Tes tertulis yang digunakan adalah tes objektif dan tes subjektif. Bentuk tes tertulis obyektif yang digunakan oleh guru BA berupa soal benar-salah (true false), tes isian (competition test), penjodohan (macthing test), dan pilihan ganda (multiple choice test) sedangkan bentuk tes subjektif berupa tes ingatan sederhana, dan tes dengan jawaban pendek (2) faktor pendukung implementasi pengukuran dalam PBK adalah keseriusan siswa dalam mengerjakan tugas, rapor berkala dan penggunaan media yang efektif dan (3) faktor penghambat dari implementasi pengukuran dalam PBK adalah waktu yang terbatas, jumlah siswa, kurangnya perbendaharaan kata (mufrodat), dan kurangnya motivasi siswa belajar BA. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan (1) kepala MAN 3 Malang: tetap membantu dan memberikan motivasi kepada guru dalam memahami PBK dan memantau pelaksanaannya dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Arab karena PBK merupakan bagian yang tak terpisahkan dari KTSP, (2) para guru bahasa Arab, agar berupaya keras untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang PBK dan jenis-jenis PBK, lebih variatif dalam melakukan penilaian misalnya dengan memanfaatkan portofolio sebagai alat pengukuran, membuat bank soal yang terkait dengan PBK, dan lebih memperhatikan faktor penghambat pelaksanaan PBK dalam PBA (3) para peneliti lain, agar memfokuskan penelitiannya pada salah satu jenis PBK misalnya portofolio atau unjuk kerja.

Analisis visualisasi iklan televisi "Rumahku Indonesiaku" / Dyah Adi Pertiwi

 

ABSTRAK Pertiwi, Dyah Adi, 2008. Analisis Visualisasi Iklan Televisi “Rumahku Indonesiaku” Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc (II) Moch. Abdul Rohman, M.Sn. Kata Kunci : Analisis visual, Iklan televisi, Rumahku Indonesiaku Peran visualisasi dalam sebuah iklan televisi terhadap pesan yang ingin disampaikan merupakan hal yang utama dalam sebuah iklan televisi, karena merupakan kunci dari suatu strategi komunikasi kreatif yang memungkinkan adanya komunikasi yang baik antara pengiklan dan sasaran iklan tersebut. Visualisasi mempunyai kedalaman ekspresi, gagasan/ide dan merupakan hasil proses berfikir yang mempunyai hubungan dengan suatu konsep. Oleh sebab itu visualisasi iklan bukan hanya indah tetapi juga harus memiliki nilai atau pesan yang ingin disampaikan dalam iklan. Untuk mengetahui penerapan tema budaya dan alam pada visualisasi iklan televisi “Rumahku Indonesiaku”, maka digunakan metode analisis isi untuk membahas dan menjabarkan tema tersebut dengan lebih luas. Dengan analisis ini dapat diketahui bahwa secara garis besar visualisasi iklan membahas tentang kekayaan budaya dan alam yang tersebar di wilayah indonesia. Kekayaan-kekayaan tersebut merupakan aset yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Namun karena kurangnya kesadaran dan kecintaan terhadap bangsa, potensi-potensi tersebut belum diolah secara optimal bahkan terjadi banyak penyimpangan yang secara tidak langsung berdampak pada kehancuran potensi-potensi tersebut. Analisis visual berdasarkan prinsip desain digunakan untuk dapat menguraikan nilai keindahan dalam sebuah iklan karena suatu karya visual yang baik akan memiliki nilai keindahan walau sekecil apapun. Iklan televisi “Rumahku Indonesiaku” merupakan iklan yang terdiri dari banyak sekwen. Dengan penerapan prinsip desain yang terdiri dari balance, movement, unity, dan emphasis maka suatu iklan yang memiliki beragam sekwen dapat dirasakan keterkaitannya dan tampak sebagai satu kesatuan desain yang utuh. Analisis ini menggunakan motode deskriptif kualitatif. Prosedur pengumpulan data melalui (1) pengamatan (2) dokumentasi (3) wawancara yang semuanya dilakukan dalam rangka mengumpulkan data baik primer maupun sekunder sebagai bahan analisis. Analisis ini dilakukan melalui tahapan identifikasi data yang kemudian dilanjutkan dengan proses analisis. Dengan analisis diatas diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan masukan tentang pentingnya pemahaman teori dalam penciptaan suatu karya desain.

Perancangan visual merchandising "Sanabel Comp." Jakarta / Deina Nurrakhmah

 

ABSTRAK Deina Nurrakhmah. 2008. Perancangan Visual Merchandising Sanabel Comp. Jakarta. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn. (II) M. Abdul Rahman, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci : perancangan, visual merchandising, Sanabel Comp. Merchandising dalam arti harfiah berarti perdagangan. Bila dikaitkan dengan bidang desain komunikasi visual, merchandising merujuk pada visual merchandising dan memiliki definisi singkat sebagai metode display produk. Visual merchandising adalah menciptakan pemajangan visual dan mengatur berbagai macam barang dalam toko atau ruang untuk meningkatkan kesan tataruang dan mempresentasikan barang tersebut sehingga meningkatkan perdagangan dan penjualan. Sanabel Comp. adalah perusahaan yang secara khusus menyediakan kebutuhan komputer dalam bentuk mobile (selanjutnya disebut notebook) dan perlengkapan aksesorisnya. Sanabel Comp. berdiri pada pertengahan tahun 2007 dan terletak di lantai dua e-center Supermall Karawaci, Tangerang. Perusahaan ini khusus menawarkan pelayanan barang dan jasa berupa distribusi notebook, penyediaan aksesoris-aksesoris pendukung performa notebook, upgrade notebook, jasa pengantar notebook ke tempat pelanggan, dan jasa teknisi perbaikan notebook. Sejak pertama kali dibuka hingga kini, Sanabel Comp. belum membuka kiosnya setiap hari dan penjualannya masih terbatas pada penjualan langsung. Sanabel Comp. kini dalam tahap pembaharuan berkaitan dengan tujuan Sanabel Comp. untuk mempergunakan kios sebagai ajang komunikasi langsung dengan calon konsumen yang menjadi target audien selain mewujudkan fungsinya sebagai tempat penjualan produk secara langsung. Visual Merchandising ditawarkan sebagai solusi atas permasalahan Sanabel Comp. sebab dapat membantu kios Sanabel Comp. dengan menciptakan tampilan penawaran produk yang unik sehingga kios Sanabel Comp. tidak tenggelam diantara kios-kios disekitarnya dan tujuan Sanabel Comp. memiliki kios dapat dilaksanakan. Metode perancangan yang digunakan adalah model prosedural deskriptif dengan menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media besertai deskripsi konseptual. Langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi : (1) latar belakang dan rumusan masalah, (2) pengumpulan data, (3) analisis data,(4) menentukan konsep kreatif desain, (5) visualisasi desain, (6) hasil desain. Perancangan ini menghasilkan beberapa media komunikasi visual, yaitu souvenir, point-of-purchase,window display, closed display, penutup dinding, dan papan penanda. Perancangan Visual Merchandising Sanabel Comp. ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah konsumen.

Studi tentang penciptaan, makna, pengelolaan, dan aplikasi logo Persatuan Sepak Bola Arek Malang (PS Arema) / Yoyok Satrio Nugroho

 

ABSTRAK Nugroho, Yoyok Satrio. 2008. Studi Tentang Penciptaan, Makna, Pengelolaan, dan Aplikasi Logo Persatuan Sepak Bola Arek Malang (PS Arema). Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni & Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Indrawati, (II) Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si. Kata kunci: desain, logo, arema. Logo PS Arema telah populer di kalangan masyarakat, khususnya Malang Raya, terlihat dari banyaknya aplikasi logo yang muncul di masyarakat baik untuk tujuan komersial maupun nonkomersial. Namun terdapat perbedaan pemahaman terhadap makna dan sejarah penciptaan logo PS Arema di masyarakat. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap logo PS Arema dengan tujuan untuk mengidentifikasikan sejarah proses penciptaan logo PS Arema, mendeskripsikan makna yang terkandung dalam logo PS Arema, mendeskripsikan tentang bagaimana PS Arema dalam mengelola dan mengaplikasikan logo PS Arema. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif. Data tersebut dipaparkan secara deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa terjadi transformasi logo dari logo PS Arema pertama sampai logo yang dipakai saat ini tahun 2008, logo belum dikelola secara komersial oleh PS Arema, dan tidak ada konsistensi pada pengaplikasian logo. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar PS Arema menetapkan satu bentuk logo, memahami sejarah penciptaan dan makna logo, mengoptimalkan pengelolaan logo untuk kepentingan komersial, menertibkan pelanggaran terhadap hak cipta logo, serta membuat Graphic Standard Manual (GSM).

Penerapan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang / Ribut Widianti

 

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran IPA kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang (2) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas keterampilan proses yang dimiliki siswa kelas V SDN Pandanwangi II SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing kota Malang. Berdasarkan tes formatif yang diberikan guru, hasil belajar mata pelajaran IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 menunjukkan nilai 53. Dari 23 siswa, sejumlah 12 siswa mendapatkan nilai di atas rata-rata kelas. Perbaikan yang ditempuh dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Adapaun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut (1) Bagaimanakah penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran IPA kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang ? (2) Bagaimanakah peningkatan keterampilan proses yang dimiliki siswa kelas V SDN Pandanwangi II SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing Kota Malang? (3) Apakah penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi II Kecamatan Blimbing kota Malang ? Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut :(1) Hasil observasi penerapan Pendekatan Keterampilan Proses siklus I adalah 87,1 % dengan kategori baik, dan hasil observasi penerapan Pendekatan Keterampilan Proses siklus II adalah 94,4 % sehingga terjadi peningkatan penerapan Pendekatan Keterampilan Proses, (2) Hasil observasi aktivitas keterampilan proses siswa siklus I adalah 79 % dengan kategori baik, dan hasil observasi aktifitas keterampilan proses siswa siklus II adalah 84,7 % sehingga terjadi peningkatan aktifitas keterampilan proses siswa, (3) Rata-rata hasil belajar siswa siklus I sebesar 72 dengan kategori baik, dan rata-rata hasil belajar siswa siklus II sebesar 73 dengan kategori baik, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan Pendekatan Keterampilan Proses hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Pandanwangi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang mengalami peningkatan.

Hubungan antara pola pembelajaran dan kualitas berpikir divergen guru dengan kualitas berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika kelas V SDN di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Arsanti Dwi Utami

 

ABSTRAK Utami, Arsanti Dwi. 2008. Hubungan Antara Pola Pembelajaran dan kualitas Berpikir Divergen Guru Dengan Kualitas Berpikir Divergen Guru Dalam Pemecahan Masalah Matematika Kelas V SDN di Kecamatan Lowokwaru. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan PraSekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1). Drs. H.Suhartono, S.Pd (2). Dra. Purwendarti. M.Pd. Kata Kunci: Berpikir divergen, pola pembelajaran, pemecahan masalah matematika Sebagian besar guru dalam penyampaian materi khususnya mata pelajaran matematika kepada siswa atau cara guru mengajar masih menggunakan metode yang konvensional yang kurang memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada siswa untuk memecahkan masalah-masalahnya dengan caranya sendiri, sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa cepat dilupakan. Siswa cenderung dituntut untuk memberikan jawaban yang benar menurut guru dan siswa kurang diberi kesempatan untuk memberikan alternatif-alternatif jawaban tertentu yang harus menumbuhkan kreativitasnya. Hal ini menyebabkan siswa kurang dapat memecahkan masalah dalam matematika baik di sekolah maupun di dalam kehidupan sehari-harinya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Mendiskripsikan pola pembelajaran matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru, (2) Mendiskripsikan kualitas berpikir divergen guru dalam pemecahan masalah matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru, (3) Mendiskripsikan kualitas berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru, dan (4)Mendiskripsikan hubungan antara pola pembelajaran matematika dan kualitas berpikir divergen guru dengan kualitas berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika kelas V di SDN kecamatan Lowokwaru Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu deskriptif korelasional. dalam bentuk penelitian survey waktu lalu (post time survey) yang tujuannya untuk mendeskripsikan keadaan yang ada dan terjadi di lapangan pada waktu tertentu sebelumnya yang dilaksanakan di kelas V SDN Kecamatan Lowokwaru dengan jumlah siswa yang diteliti 213 siswa, 8 guru matematika kelas V. Instrumen penelitian ini menggunakan pedoman wawancara dan soal tes. Dari hasil analisa data pola pembelajaran dari 4 pola pembelajaran yang cenderung digunakan di sdn kecamatan Lowokwaru (8 SDN) adalah brainstorming (4 SDN), sedangkan kualitas berpikir divergen gurunya 5 guru berada pada kriteria sedang dan 3 guru berada pada kriteria tinggi. Kualitas berpikir divergen siswa dari 213 siswa sebagian besar dari 108 siswa kualitas berpikir divergen siswanya pada kriteria sedang, 91 siswa kriteria rendah dan 9 siswa kriteria tinggi. Korelasi antara pola pembelajaran dan kualitas berpikir divergen guru dengan kualitas berpikir siswa adalah dengan nilai = 614,651 Sedangkan nilai tabel untuk db= 35 pada taraf kepercayaan 5 % adalah 22,5. maka hasilnya signifikan

The evaluation of the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang / Achmad Hasan Ashari

 

ABSTRACT THE EVALUATION OF THE READING COMPREHENSION FORMATIVE TEST OF THE ELEVENTH GRADERS IN MAN 3 MALANG Ashari, Achmad Hasan. 2008. The Evaluation of the Reading Comprehension Formative Test of the Eleventh Graders in MAN 3 Malang.. Thesis, English Language and Education Faculty of Letters The State University of Malang. Advisor: Prof. H. Mohammad Adnan Latief, M.A, P.hD. Key Word : the content validity evidence, reliability, level of difficulty. In a teaching process, a test is generally needed by teachers and test administrators as a feedback from the teaching process to decide the aspects which are difficult to the student individually or in groups, by analyzing the students’ mistakes and how much the objectives have been achieved. The purpose of this study is directly investigating the validity and reliability of the scores obtained by the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang. Besides, items analysis is needed in this study to decide the level of difficulty. The result of the study gives a great value for the society especially for the test administrators or English teachers, as the test makers. It means that the result of this study is used as a consideration in designing a good test because it gives an accurate information for the teachers or the test administrators in measuring the students’ ability. The study evaluates the scores obtained by the test instrument to get the information about the validity evidence and reliability estimation, also the difficulty level of the items in the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang by using the descriptive-quantitative method. The researcher interprets the data in two ways. The first, the researcher describes the content validity evidence of the test instrument based on the curriculum. The second, the researcher estimates the reliability by interpreting the scores obtained by the test instrument using a formula developed by Kuder and Richardson-21 (Tinambuan, 1988:22)and level of difficulty (Heaton:1998,178) The result of the study shows that the evaluation of the reading comprehension formative test of the eleventh graders in MAN 3 Malang approximately has the criteria of a good test. The content validity evidence of the test items goes in line with the curriculum for SMA / MA that it can be said the test instrument provides a strong evidence as good content validity. The reliability estimation shows that the interval between the two correlation is too wide, they are 0.56 and 3.1 which means that the researcher does not find enough evidence to say that the scores obtained by the test instrument have high level of reliability. The level of difficulty estimation shows that the items in the test instrument are averagely easy since the index falls between 0.75 to 1.00. Based on the implication of the method used in the study and its result, it is concluded that the instrument need to be improved to get the criteria of a good test. i ii

Using songs to increase the vocabulary retention of the 5th grade students of SDN Taman Satriyan 1, Tirtoyudo, Malang / Ina Hidayati

 

ABSTRACT Hidayati, Ina.2008. Using Songs to Increase the Vocabulary Retention of the 5th Grades students of SDN Taman Satriyan 1, Tirtoyudo, Malang. Thesis, Department of English, Faculty of Letters. State University of Malang. Advisor, (1) Dra. Furaidah, M.A Key words: vocabulary retention, song, positive attitude. This study is intended to increase the vocabulary retention of the 5th grade students of SDN Taman Satriyan 1, Tirtoyudo, Malang. The vocabulary retention was chosen as the focus of the study because vocabulary problem occurred every time English lesson began. English was the most preferred lesson by the students there. However, their great enthusiasm was not followed by good achievements. Especially for the 5th grade students, in the teaching learning process, it is difficult for the students to concentrate. They frequently got bored and they forgot the new words they had learned easily. For those reasons, the researcher was interested in increasing the students’ vocabulary retention by using song. This is because teaching young learners needs different teaching techniques from those used for adult learners. Young learners like to learn by doing. They need teaching techniques which are not boring and monotonous. They need attractive activities that can motivate them to learn the foreign language. The study was an action research with two cycles. Each of which consisted of four stages, namely planning, implementation, observation and reflection. The subjects were the 5th grade students of SDN 1 Taman Satriyan, Tirtoyudo, Malang. The instruments used to collect the data were oral assessment, vocabulary test, and field notes. The data about the students’ progress in vocabulary retention was taken by using oral assessment and vocabulary test The results of this study showed that the use of songs increased the 5th grade students’ vocabulary retention. First, the use of song in English teaching and learning could increase the quality results. The result of oral assessment and scores from the vocabulary test showed that most of the students reached the success criterion of that school. Second, the condition or situation of the class became active or live. This was indicated by their positive attitude during the teaching learning process. There are several suggestions that ought to be considered by the teachers when they conduct the teaching and learning English using songs. In choosing the songs, the teacher needs to be very selective since not all English songs are suitable for teaching. Teachers should consider the language level. For low-grade classes, it is suggested that the teacher use songs which are not too long and which are easy to memorize. In implementing the song activities, the teacher needs to ask the students to do some body movements such as clapping hands and standing up because it will make the situation more alive and fun.

Pengajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh Tambakberas Jombang / Muhimmatul Muyassarah

 

Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh adalah salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah atas yang mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran wajib, jam pelajaran ini diberikan cukup padat, yaitu disamping ada jam pelajaran formal, madrasah ini juga menyajikan bahasa Arab sebagai intensif yang diberikan 10 jam per minggu. Mata pelajaran ini diikuti oleh semua siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. dan madrasah ini merupakan madrasah unggulan dibidang bahasa termasuk bahasa Arab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh Tambakberas-Jombang. Tujuan khususnya adalah untuk mendeskripsikan: (1) latar belakang guru bahasa Arab, (2) kurikulum pengajaran bahasa Arab, (3) materi pengajaran bahasa Arab, (4) metode pengajaran bahasa Arab, (5) media pengajaran bahasa Arab, dan (6) evaluasi pengajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa, guru bahasa Arab, dan kepala sekolah Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen inti, sedangkan instrumen bantu yang digunakan adalah: pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar angket. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data, dilakukan cara: (1) observasi terus menerus, (2) mendiskusikan data dan hasil analisis dengan pihak tertentu yang dipandang ahli, (3) memeriksa kembali catatan lapangan secara cermat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang guru bahasa Arab di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh adalah berlatar belakang pendidikan. Kurikulum yang digunakan adalah perpaduan antara kurikulum Depag dan kurikulum pesantren. Dalam kurikulum tersebut memuat materi yang akan diajarkan dalam KBM. Guru telah membuat silabus sendiri dengan acuan silabus dari Depag. Dalam silabus memuat materi dan skenario pengajaran. Materi yang diajarkan diambil dari buku ta’limul lughagh Al-arabiyyah. Untuk kelas 1 terdiri atas 2 jilid, sedangkan untuk kelas 2 dan 3 hanya 1 jilid. Buku penunjang yang digunakan adalah Al-arabiyyah baina Yadaik, Al-Arabiyyah lin Nasyi’in, dan muhawarotul Hadistah. Guru mengajar dengan menggunakan metode yang variatif dalam pengajaran bahasa Arab. Metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar adalah: metode audiolingual, metode langsung, metode membaca, dan menggunakan permainan. Permainan yang digunakan adalah bisik berantai dan bermain peran. Guru melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar seperti: memecahkan masalah, membuat kalimat, menterjemahkan, dan membaca. Selain metode-metode tersebut, guru juga menggunakan metode lain yaitu: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode sosiodrama, metode penugasan, poster session, role playing, jigsaw, information search, concept map, learning start with question, team quiz, change out group, brain storming, mind mapping, dan snow balling untuk mengajar. Media yang tersedia di Madrasah Aliyah Wahab Hasbulloh adalah kaset, tape recorder, OHP, CD film, CD pembelajaran, TV, VCD, sound system, dan white board. Sedangkan media yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar adalah kartu kata, kartu gambar, dan benda-benda asli. Evaluasi dilakukan dengan 2 macam cara, yaitu: penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung, sedangkan penilaian hasil ada 3 macam cara, yaitu: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester. Jenis tes yang digunakan adalah tes tulis dan tes lisan. Untuk kelas 3, madrasah mewajibkan siswanya membuat karya tulis ilmiah dalam bahasa Arab/Inggris sebagai syarat kelulusan.

Hubungan antara motivasi kerja, disiplin kerja dan kinerja karyawan bagian instalasi PG. Krebet Baru I Bululawang Malang / Rita

 

Alat pendeteksi kelelahan pada pengemudi kendaraan bermotor / Desy Lailatul Fadilah

 

ABSTRAK Fadilah, Desy Lailatul. 2008. Alat Pendeteksi Kelelahan Pada Pengemudi Kendaraan Bermotor. Proyek Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Heru Wahyu Herwanto, S.T.,M.Kom. (2) Mokh. Sholihul Hadi, S.T. Kata kunci: Sensor Suhu LM35, Mikrokontroler ATmega16, LCD. Masalah kecelakaan yang semakin meningkat menimbulkan rasa khawatir para pengguna jalan. Salah satu faktornya adalah karena kelelahan, sedangkan seorang pengemudi membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelelahan adalah besarnya tenaga yang dikeluarkan, Frekuensi dan lama bekerja, cara dan sikap dalam melakukan aktivitas, dimana hampir semua energi dilepaskan oleh metabolisme pada akhirnya diubah menjadi panas tubuh yang mengakibatkan suhu tubuh pun mengalami peningkatan. Untuk mendeteksi kelelahan tersebut maka dibuatlah alat pendeteksi kelelahan yang dapat diukur melalui suhu tubuh dengan tampilan LCD. Perancanagan dan pembuatan alat ini menggunakan sensor suhu yaitu sensor LM35, yang mempunyai keluaran dalam skala oC. Data hasil pengkonversian suhu dari sensor suhu LM35 diolah oleh mikrokontroler ATmega16, kemudian hasil pengolahan ditampilkan pada LCD. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Bahasa C. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa perancangan hardware dan software alat pendeteksi kelelahan pada pengemudi kendaraan bermotor tersebut sesuai dengan yang diharapkan, namun masih terdapat perbedaan hasil antara alat yang dibuat dengan termometer yaitu 0.58 Volt dan 0.60 Volt. Untuk tampilan pada LCD terhadap suhu terukur sesuai dengan yang direncanakan.

Pengaruh pelatihan pengenalan diri terhadap self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang / Titik Endah Cahyowati

 

ABSTRAK Cahyowati, Titik Endah. 2008. Pengaruh Pelatihan Pengenalan Diri terhadap Peningkatan Self-Esteem Remaja Panti Asuhan Aisyiah Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Ika Andrini Farida, M.Psi. Kata Kunci : pelatihan pengenalan diri, self-esteem Pada masa remaja, seseorang mulai tertarik untuk melihat penilaian orang lain mengenai dirinya. Remaja sering kali beranggapan bahwa orang lain melihat dirinya dari status yang mereka miliki. Sehingga apabila status sosialnya dianggap tidak memadai dari sudut pandang sosial, mereka merasa tertolak dan berakibat munculnya self-esteem yang rendah. Self-esteem yang rendah ini dapat ditingkatkan melalui suatu program Pelatihan Pengenalan Diri. Pelatihan Pengenalan Diri adalah pelatihan yang disusun untuk membantu individu dalam mengenali dirinya melalui proses pengungkapan diri dan umpan balik. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Aisyiah Malang. Disain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain eksperimen ulang non random dengan menggunakan kelompok kontrol (non randomized pretest-postest control group design). Desain ini merupakan desain yang dilakukan dengan pre test sebelum perlakuan diberikan dan post test sesudahnya, sekaligus ada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Penelitian menggunakan 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen terdiri dari 5 anak dan kelompok eksperimen terdiri dari 5 anak. Kedua kelompok berasal dari remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang yang memiliki kriteria sebagai berikut : remaja putri berusia 13-19 tahun, tinggal di Panti Asuhan Aisyiah Malang, waktu tinggal di panti asuhan minimal 1 tahun, memiliki tingkat self-esteem sedang dan rendah. Analisis data menggunakan formula Mann-Whitney dengan bantuan program SPSS 12.0 for windows. Instrumen penelitian berupa skala self-esteem dan Buku Pedoman dan Materi Pelatihan Pengenalan Diri untuk meningkatkan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang. Skala self-esteem terdiri dari 4 aspek, yaitu significance, power, virtue, dan competence. Sedangkan untuk Buku Pedoman dan Materi Pelatihan Pengenalan Diri untuk meningkatkan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang ini menggunakan 4 metode, antara lain ceramah, pemberian tugas, diskusi, dan permaianan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan pengenalan diri memiliki pengaruh terhadap peningkatan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis data yang menunjukkan nilai Mann-Whitney sebesar 0,500 (α = 0,011 < 0,05). Dengan demikian maka hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh pelatihan pengenalan diri terhadap peningkatan self-esteem remaja putri Panti Asuhan Aisyiah Malang diterima. Saran bagi remaja putri Panti Asuhan sebaiknya dapat menilai diri secara keseluruhan, baik dari sisi negatif maupun sisi positifnya. Penilaian diri ini dapat dilakukan dengan saling memberikan masukan antar teman yang sudah cukup dekat di panti. Bagi pengasuh Panti Asuhan sebaiknya bekerja sama dengan para ahli psikologi untuk memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan diri bagi remaja Panti Asuhan sehingga diharapkan remaja yang tinggal di panti asuhan ini dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti dengan topik yang sama, diharapkan untuk menambahkan variabel pembeda pada subyek penelitian, seperti tipe kepribadian untuk menentukan tipe pembelajaran yang sesuai dengan subyek. Pengawasan terhadap variabel kontrol juga diharapkan dapat dilaksanakan dengan semaksimal mungkin oleh peneliti, sehingga dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih akurat. Pemberian pos-test juga sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali. Hal ini bertujuan untuk melihat tingkat pengaruh jangka panjang dari pelatihan pengenalan diri bagi subyek pelatihan.

Pengaruh intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang / Marissa Ulfa

 

ABSTRAK Ulfa, Marissa. 2008. Pengaruh Intellectual Intelligence (IQ), Creative Intelligence, Dan Gaya Belajar Terhadap Prestasi Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi Di SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) DR. Nurika Restuningdiah (II) Dra. Hj. Endang Sri Andayani, SE. Ak, M.Si. Ak. Kata Kunci: Intellectual Intelligence (IQ), Creative Intelligence, Gaya Belajar, Prestasi Siswa. Tingkat intelegensi dapat diukur dari berbagai jenis intelegensi. Pada umumnya tingkat intelegensi diukur melalui Intellectual Intelligence (IQ). Aspek penting lain dari tingkat intelegensi yaitu Creative Intelligence (kecerdasan kreatif). Dari tingkat intelegensi dan kreatifitas yang dimiliki siswa, maka dapat menumbuhkan gaya belajar yang berbeda antar siswa. Jika terjadi sinergi yang baik antara intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar maka prestasi yang baik mampu diraih siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar terhadap prestasi siswa serta untuk mengetahui variabel yang paling dominan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang mendapatkan pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang, sedangkan sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI dan XII IPS SMA Negeri 7 Malang. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data melalui angket dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisa data regresi linier berganda dengan dummy variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan intellectual intelligence (IQ) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi, creative intelligence yang ditunjukkan dari skor tes profil potensi kreatif berpengaruh signifikan terhadap prestasi, dan gaya belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi. Intellectual intelligence (IQ), creative intelligence, dan gaya belajar berpengaruh simultan signifikan terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang. Sedangkan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap prestasi siswa adalah variabel creative intelligence. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar sekolah selalu rutin mengadakan tes intellectual intelligence (IQ), tujuannya agar siswa mampu mencapai prestasi yang maksimal sesuai dengan kemampuan intelektualnya. Selanjutnya dengan kemampuan intelektual yang dimiliki, siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui pengarahan guru yang kemudian siswa dapat dengan sendirinya menemukan gaya belajar yang sesuai dengan intelektual dan kreatifitasnya sehingga dapat mempermudah siswa tersebut untuk meraih prestasi yang baik. iii

Hubungan body image dengan self esteem pada remaja putri Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang di Malang / Hunty Ilmawati

 

ABSTRAK Ilmawati, Hunty. 2008. Hubungan Body Image dengan Self Esteem pada Remaja Putri Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang di Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Moh Irtadji, M.si, (II) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata kunci: body image, self esteem, remaja putri. Body image merupakan pandangan subyektif seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Body image rendah menandakan ketidakpuasan remaja terhadap kondisi fisiknya yang dapat menyebabkan rendahnya self esteem. Self esteem yang rendah dapat mempengaruhi proses interaksi sosialnya. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk: (1) mengetahui gambaran body image remaja putri; (2) mengetahui gambaran self esteem remaja putri; dan (3) mengetahui seberapa besar hubungan body image dengan self esteem pada remaja putri di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukandengan desain deskriptif-korelasional. Data body image dikumpulkan dengan skala Body Image (α = 0,895), dan data self esteemi dikumpulkan dengan skala Coopersmith Self Esteem Inventory (α = 0,924). Populasi penelitian ini adalah remaja putri di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2005-2007 yang termasuk dalam kategori remaja akhir (18-21 tahun) berjumlah 551 orang. Ukuran sampel sebesar 110 responden (20 % populasi) diambil dengan teknik random sampling. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan korelasi product moment menggunakan program SPSS versi 12,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar remaja putri memiliki body image tinggi; (2) sebagian besar remaja putri memiliki self esteem tinggi, dan (3) ada hubungan positif dan signifikan body image dengan self esteem pada remaja putri, yang berarti semakin tinggi body image, semakin tinggi self esteem (rxy = 0,407 dan p = 0,000<0,05). Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) remaja yang memiliki body image tinggi sebaiknya dipertahankan dengan tetap merawat dan menjaga kesehatan tubuhnya. Sedangkan remaja yang memiliki body image rendah sebaiknya merubah cara berpikirnya menjadi lebih positif dengan menyibukkan diri pada kegiatan kemahasiswaan atau mengembangkan hobi. Selain itu, olah raga dan menerapkan pola makan sehat dapat membuat tubuh semakin sehat dan berstamina; 2) Orang tua sebaiknya memberikan pengasuhan yang positif agar anak merasa diterima, dan perasaan itu akan mempengaruhi sikap penerimaan terhadap dirinya; 3) ketua Jurusan Manajemen dapat mengadakan seminar tentang perkembangan remaja atau pelatihan mengenai konsep diri; (4) peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang body image sebaiknya meneliti faktor lain, selain self esteem.

Hubungan persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek (cheating) di lingkungan pendidikan / Dessy Ramadhani Al Fitria

 

ABSTRAK Ramadhani A, Dessy. 2008. Hubungan Persepsi Remaja terhadap Peran Ayah dan Perilaku Menyontek (Cheating) di Lingkungan Pendidikan. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed (II) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata kunci: persepsi remaja terhadap peran ayah, perilaku menyontek (cheating) Keterlibatan ayah khususnya dalam kegiatan belajar dan juga sekolah mempengaruhi prestasi akademik remaja dan motivasi ke sekolah. Dengan motivasi yang tumbuh khususnya secara intrinsik, maka remaja akan lebih tulus dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan belajar sehingga berbagai godaan dalam proses pembelajaran seperti menyontek tentu tidak akan dilakukan. Penelitian ini mempunyai tiga tujuan yaitu: (1) untuk mengetahui persepsi remaja terhadap peran ayah terkait dalam kegiata belajar; (2) untuk mengetahui perilaku menyontek remaja; dan (3) untuk mengetahui hubungan persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek di lingkungan pendidikan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif-korelatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 SLTPN 1 Pandaan yang berjumlah 320 orang. Sampel diambil dengan teknik purposive random sampling dengan memilih siswa yang saat ini masih memiliki ayah dan secara langsung berperan dalam kehidupan siswa, dengan proporsi 30 % dari sampel diperoleh subyek penelitian sebanyak 95 orang.Variabel yang diteliti adalah persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek (cheating). Pengukuran variabel tersebut dengan menggunakan skala persepsi remaja terhadap peran ayah dalam kegiatan belajar dan perilaku menyontek (cheating) model Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat persepsi remaja terhadap peran ayah khususnya dalam kegiatan belajar berada pada klasifikasi tinggi, (2) tingkat perilaku menyontek remaja berada pada klasifikasi rendah, dan (3) ada hubungan negatif antara persepsi remaja terhadap peran ayah dan perilaku menyontek (cheating) di lingkungan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) bagi ayah hendaknya tetap berperan menjadi provider, teacher, roblem solver, teladan, sebagai pembentukan karakter remaja karena bagaimanapun peran ayah tidak boleh diabaikan dan juga tidak bisa digantikan oleh seorang ibu sekalipun, 2) bagi guru hendaknya memahami keinginan remaja serta tidak bersifat konvensional sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa, 3) bagi remaja hendaknya lebih giat belajar dan menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuan yang dimiliki daripada harus menyontek, 4) Peneliti selanjutnya selain menggunakan skala, hendaknya menggunakan metode pengumpul data yang lain seperti misalnya wawancara sehingga dapat diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat.

Pembelajaran menurut standar NCTM untuk memahamkan materi segiempat pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Malang / Maya Safrina

 

ABSTRAK Safrina, Maya. 2008. Pembelajaran Segiempat Menurut Standar NCTM pada Siswa Kelas VII di SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Akbar Sutawidjaja, M. Ed. (II) Dr. Hary Susanto, M. Si. Kata kunci: segiempat, NCTM Dari observasi dan wawancara dengan guru dan siswa di SMP Negeri 1 Malang, diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa kelas VIII yang belum memahami materi segiempat terutama trapesium, jajargenjang, belahketupat dan layang-layang. Selama ini guru matematika masih mendominasi kelas dalam melaksanakan pembelajaran. Guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimilikinya ke dalam pikiran siswa. Guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa agar siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau dengan kata lain pembelajaran masih dilaksanakan dengan pendekatan konvensional. Sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dalam mengemukakan ide-ide dalam pikiran mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk pembelajaran segiempat menurut standar NCTM, mengetahui pemahaman dan respon siswa kelas VII-F SMP Negeri 1 Malang setelah mengikuti pembelajaran tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VII-F SMP Negeri 1 Malang yang sebanyak 30 siswa dengan 8 laki-laki dan 22 perempuan. Tahap-tahap dalam penelitian ini adalah pratindakan dan pelaksanaan tindakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, wawancara, observasi, angket dan catatan lapangan. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah tes, format observasi tindakan dan angket tentang respon siswa terhadap pembelajaran segiempat. Pembelajaran segiempat menurut standar NCTM dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir. Pada tahap awal, guru menyampaikan indikator pembelajaran. Sedangkan pada tahap inti, setiap pasang siswa berdiskusi untuk menemukan penyelesaian dari masalah-masalah dalam LKS, kemudian terjadi diskusi kelas untuk menemukan penyelesaian dari masalah-masalah tersebut. Pada tahap akhir, siswa telah mengerjakan tugas-tugas dari buku panduan. Pembelajaran yang dilakukan berjalan dengan lancar dan dapat memahamkan tentang materi segiempat. Siswa merasa senang mengikuti pembelajaran dan dapat belajar dengan mudah.

Pelabean ajaib dan kekuatan ajaib super pada graph K1,n*W2n+1 / Sri Daniati

 

ABSTRAK Daniati, Sri. 2008. Pelabelan Ajaib dan Kekuatan Ajaib Super pada Graph K1,nW2n+1. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Dr. Sisworo, M.Si Kata kunci: graph, pelabelan ajaib, kekuatan ajaib super, K1,nW2n+1. Pelabelan ajaib pada graph G diartikan sebagai pemetaan satu-satu dan pada f dari V(G) E(G) ke himpunan bilangan bulat {1,2,…,|V(G)E(G)|}dengan sifat setiap sisi xy pada graph G yang diberikan berlaku f ( x ) + f ( xy ) + f ( y ) = c ( f ), untuk suatu konstanta c( f ), f ( x ) + f ( xy ) + f ( y ) disebut jumlah sisi dari xy dan konstanta c( f ) disebut konstanta ajaib dari G. Suatu graph dikatakan ajaib jika terdapat pelabelan ajaib pada graph tersebut . Lebih lanjut f adalah pelabelan ajaib super dari G jika f ( V ( G ) )={1,2,…,|V (G)|} dan G disebut graph super ajaib. Kekuatan ajaib super (Super magic strength), dinotasikan dengan sm(G), adalah nilai minimum dari semua c( f ) dimana c( f ) merupakan konstanta ajaib dari graph ajaib super atau sm(G) = min{c( f )| f adalah pelabelan ajaib super di G}. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan ajaib dan kekuatan ajaib super pada graph K1,nW2n+1. Graph K1,nW2n+1 adalah graph yang diperoleh dari graph K1,n dan graph W2n+1 dengan menyatukan titik pusat kedua graph tersebut. Dari pembahasan diperoleh dua hasil yang menyatakan bahwa setiap graph K1,nW2n+1 mempunyai pelabelan ajaib f dengan c( f ) =9n + 6 dan pelabelan ajaib f dengan c( f ) =15n + 9. Selain itu diperoleh corollary dari teori tentang kekuatan ajaib super yang menyatakan bahwa pada graph K1,nW2n+1 terdapat pelabelan ajaib dengan 8n + 7  sm (K1,nW2n+1 )  9n + 6.

Perancangan video dokumenter pantai Bentar Kabupaten Probolinggo / Krisma Yusafet

 

Pantai Bentar merupakan jenis wisata bahari yang dimiliki Kabupaten Probolinggo. Pantai Bentar terletak di tepi jalan Surabaya-Banyuwangi, tepatnya di kecamatan Gending 7 kilometer dari kota Probolinggo, ke arah timur. Letak pantai Bentar sangat potensial mengingat lokasi nya merupakan lintasan wisata overland Jawa-Bali. Pantai Bentar merupakan stop over ke dua setelah Pantai Pasir Putih yang ada di Situbondo. Mengingat Pantai Bentar baru berdiri sejak 2006 yang lalu, maka diperlukan promosi yang kreatif untuk menarik wisatawan berkunjung ke Pantai Bentar. Video dokumenter merupakan salah satu pendukung promosi yang dapat diperhitungkan, karena wujudnya berupa audio dan visual . Media yang berbentuk audio dan visual tentunya dapat memberikan informasi yang lebih maksimal daripada media yang menggunakan audio maupun visual saja. Penelitian ini menggunakan model prosedural yang bersifat deskriptif. Data yang dianalisis berupa data primer dan data sekunder mengenai Pantai Bentar, target audience, dan kompetitornya. Analisis data ini selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk membuat film dan media promosi pendukungnya. Penelitian ini menghasilkan video dokumenter berdurasi 20 menit dan media pendukungnya sebagai media promosi Pantai Bentar. Diharapkan dengan adanya media promosi berupa video dokumenter yang memiliki karakteristik audio dan visual, dapat menunjang dicapainya informasi yang tepat kepada masyarakat. Dengan demikian citra atau image yang diharapkan dapat terbentuk dengan maksimal di masyarakat, khususnya didaerah Jawa-Bali. Pada akhirnya, promosi yang baik dapat menambah jumlah wisatawan yang datang ke Pantai Bentar.

Peningkatan kemampuan menulis artikel siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Lumajang dengan menggunakan strategi 3M (mengumpulkan bahan, menulis, menyunting) / Iwan Hadi Santoso

 

ABSTRAK Kata kunci: menulis, artikel, strategi 3M Menulis artikel merupakan salah satu kompetensi berbahasa dan bersastra kurikulum 2006 kelas X SMA matapelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari pembelajaran tersebut, siswa diharapkan mampu menulis artikel dengan baik. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada studi pendahuluan, siswa mengalami kesulitan pada bagian pengembangan bahasan tulisan saat ditugasi oleh guru untuk menulis artikel. Permasalahan yang dihadapi oleh siswa tersebut disebabkan kurang maksimalnya pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, sehingga hasil yang dicapai siswa kurang maksimal. Strategi 3M merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis artikel. Strategi ini merupakan suatu strategi yang di dalamnnya menggambarkan proses dalam menulis artikel sampai dengan menghasilkan sebuah teks artikel. Kegiatan tersebut mulai dari (1) M, Mengumpulkan Bahan, (2) M, Menulis, (3) M, Menyunting. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini meliputi beberapa tahap, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) persiapan penelitian, (3) pelaksanaan penelitian, (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN I Lumajang. Data penelitian ini berupa data verbal dan nonverbal. Sumber data penelitian ini berasal dari siswa, guru, dan peristiwa pembelajaran keterampilan menulis artikel dengan menggunakan strategi 3M siswa kelas X-2 SMAN I Lumajang yang dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2008 sampai dengan 9 Juni 2008. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti dan guru, sedangkan instrumen penunjangnya berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, dan rubrik penilaian. Strategi 3M meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis artikel baik proses maupun hasilnya. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, strategi 3M dapat meningkatkan kemampuan menulis artikel siswa kelas X-2 SMAN I Lumajang. Oleh karena itu, disarankan kepada (1) guru, guru yang menghadapai kesulitan dalam pengajaran keterampilan menulis artikel dapat menggunakan strategi 3M, (2) sekolah, sekolah diharapkan memberikan kebebasan kepada guru untuk mengembangkan dan menciptakan strategi, (3) siswa, siswa disarankan agar selalu aktif dalam setiap proses pembelajaran, (4) peneliti lain, peneliti diharapkan mampu mengembangkan dan menciptakan strategi pembelajaran yang inovatif.

Perbedaan depresi pada wanita yang bekerja, wanita yang tidak bekerja di Desa Landungsari Kecamatan Dau Kabupaten Malang Jawa Timur / Rr. Nia Paramita Yusuf

 

ABSTRAK Pada dasarnya manusia dalam kehidupannya tidak pernah lepas dari permasalahan, baik yang tergolong sederhana sampai yang kompleks, semuanya itu membutuhkan kesiapan mental untuk menghadapinya kenyataannya, terdapat gangguan mental yang dapat menganggu dalam hidup manusia, yang salah satunya adalah depresi. Penelitian ini mempunyai tiga tujuan yaitu: (1) untuk mengetahui gambaran depresi wanita menikah yang bekerja di Desa Landungsari; (2) untuk mengetahui gambaran depresi wanita menikah yang tidak bekerja di Desa Landungsari; dan (3) untuk mengetahui perbedaan depresi antara wanita yang bekerja dengan wanita yang tidak bekerja di Desa Landungsari Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Desain penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Variabel yang diteliti adalah depresi ditinjau dari wanita yang bekerja dan wanita yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Pengukuran variabel depresi menggunakan skala Beck Depression Inventory (BDI). Populasi dalam penelitian ini adalah wanita yang bekerja dengan wanita yang tidak bekerja yang bertempat tinggal di Desa Landungsari Kecamatan Dau Malang-Jatim yang berjumlah 1142 orang. Sampel yang diambil dengan teknik sampel kuota, dengan proporsi 10 % untuk setiap kelompok wanita, sehingga didapatkan sampel sebanyak 115 orang (50 orang wanita yang bekerja dan 65 orang wanita yang tidak bekerja). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) depresi yang dialami oleh wanita yang bekerja sebagian besar berada dalam klasifikasi ringan, (2) depresi wanita menikah yang tidak bekerja sebagian besar berada dalam klasifikasi normal, dan (3) tidak ada perbedaan yang signifikan depresi antara pada wanita yang bekerja dengan wanita yang tidak bekerja, yang berarti hipotesis alternatif ditolak karena p = 0,920 > 0,05. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) Bagi suami, hendaknya dapat mengerti keinginan istrinya bekerja atau tidak bekerja. 2) Bagi wanita yang bekerja dan tidak bekerja, keputusan untuk bekerja diluar rumah memiliki tanggung jawab dan permasalahan tersendiri. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk bekerja, hendaknya istri memiliki motivasi yang kuat tanpa adanya paksaan dari pihak luar. 3) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya menggunakan metode pengumpul data yang lain seperti wawancara yang lebih mendalam atau dengan menggunakan observasi untuk dapat mengungkap keadaan sesungguhnya dilapangan atau pendekatan fenomologis karena konsep depresi lebih bersifat subjektif, sehingga dapat diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat. Kata kunci: depresi pada wanita, bekerja dengan tidak bekerja

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) sebagai upaya peningkatan aktivitas belajar siswa kelas X 1 pada mata pelajaran sejarah di MAN Mojosari, Mojokerto / Nur Laili Fitriyah

 

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal yang dilakukan peneliti pada guru dan siswa kelas X1 MAN Mojosari, metode yang sering digunakan guru dalam pembelajaran sejarah adalah metode ceramah. Metode ceramah membuat siswa berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran di MAN Mojosari. Metode tersebut tidak cocok diterapkan di kelas X1 MAN Mojosari. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang dapat membangkitkan gairah siswa untuk belajar sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini mempergunakan model pembelajaran Think Pair Share dalam upaya meningkatkan aktivitas belajar siswa karena model Think Pair Share ini terdiri atas tahapan-tahapan yaitu tahap berpikir secara individu, tahap berpasangan, dan tahap berbagi. Setiap tahapan dalam model menuntut siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa tidak cenderung pasif. Penelitian ini mempunyai rumusan masalah sebagai berikut: (1) bagaimana aktivitas belajar siswa kelas X1 tahun ajaran 2007/2008 sebelum penerapan model Think Pair Share, (2) bagaimana proses penerapan pembelajaran model Think Pair Share di kelas X 1 MAN Mojosari tahun ajaran 2007/2008 pada pokok bahasan Peradaban Awal Masyarakat Indonesia, (3) bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa kelas X 1 pada mata pelajaran sejarah di MAN Mojosari tahun ajaran 2007/2008 pada pokok bahasan asal Peradaban Awal Masyarakat Indonesia setelah penerapan pembelajaran model Think Pair Share. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 MAN Mojosari yang berjumlah 44 siswa. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan taknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan prosentase keberhasilan tindakan yang menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Think Pair Share dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan peneliti di mana prosentase skor klasikal aktivitas siswa kelas X1 naik dari 72% dengan kriteria cukup baik pada siklus I menjadi 82% dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan agar dilakukan penelitian lagi mengenai model Think Pair Share pada mata pelajaran sejarah untuk memantapkan hasil yang sudah diperoleh sebelumnya.

Studi tentang fasilitas kesehatan dan keselamatan kerja (K3) workshop kayu pada SMK Negeri Program Keahlian Teknik Perabot Kayu di Malang / Kurnia Brimty Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Kurnia Brimty. 2008. Studi tentang Fasilitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Workshop Kayu pada SMK Negeri Program Keahlian Teknik Perabot Kayu di Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Heru Muryanto, (2) Drs. Hadi Wasito, Dipl Ed. Kata kunci: fasilitas, keselamatan, kesehatan kerja, workshop kayu Pemerintah menilai penurunan jumlah kecelakaan kerja sebesar 4.000 kasus dari tahun 2005 ke tahun 2006 masih belum memadai. Hal ini terjadi karena masih banyaknya jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di dunia kerja. Pendidikan kejuruan merupakan salah satu bentuk pendidikan yang membekali siswa dengan keahlian tertentu dan diharapkan setelah lulus dapat bergelut dalam dunia kerja. Untuk itu kesehatan dan keselamatan kerja perlu diterapkan pada siswa sejak dini agar siswa mengerti akan bahaya kecelakaan pada dunia kerja nantinya. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan hal yang harus diperhatikan oleh suatu lembaga pendidikan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengetahui fasilitas Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Workshop Kayu SMK Negeri Program Keahlian Teknik Perabot Kayu di Malang untuk perlindungan bahaya kebakaran, perlindungan bahaya listrik, kondisi lingkungan kerja, dan kelengkapan alat perlindungan diri. Penelitian ini merupakan penelitian survey deskriptif kualitatif dengan sasaran penelitian adalah fasilitas kesehatan dan keselamatan kerja pada workshop kayu mengenai perlindungan bahaya kebakaran, perlindungan bahaya listrik, kondisi lingkungan kerja, dan alat perlindungan diri. Penelitian tentang fasilitas K3 workshop kayu ini dilakukan pada SMK Negeri 6 Malang dan SMK Negeri 1 Singosari. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, dan wawancara. Analisa data dengan langkah sebagai berikut: (a) pemberian skor pada alternatip jawaban, (b) menjumlah skor hasil observasi dan angket yang diperoleh dari hasil penelitian, dan (c) hasil penjumlahan skor berdasarkan hasil observasi dan angket yang ditunjang dengan hasil wawancara akan digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana kondisi fasilitas K3 workshop kayu yang ada pada masing- masing SMK. Penelitian menunjukkan bahwa fasilitas K3 Workshop Kayu pada SMK Negeri 6 Malang berdasarkan hasil analisis data observasi dan angket yang ditunjang hasil wawancara dapat dikategorikan baik. Sedangkan fasilitas K3 Workshop Kayu pada SMK Negeri 1 Singosari berdasarkan hasil analisis data observasi dan angket yang ditunjang hasil wawancara juga dapat dikategorikan baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perbaikan fasilitas K3 pada SMK dan agar dilakukan penelitian lanjutan yang belum tercantum dalam variabel penelitian skripsi ini.

Perancangan media komunikasi visual band indie Malang "Freshwater" fish sebagai media promosi / Farid Hamzah Fansuri

 

Analisis dan perencanaan instalasi listrik gedung A2 Universitas Negeri Malang / Imam Muwafiqul Abrori

 

Instalasi listrik dipergunakan untuk menyalurkan tenaga listrik menuju alat-alat yang memerlukan tenaga listrik, baik di rumah, kantor ataupun di perindustrian. Listrik biasa digunakan untuk penerangan, komputer, pendingin atau pemanas ruangan, dan lain sebagainya. Instalasi listrik harus sesuai dengan PUIL 2000 dan standart lain yang berlaku. Langkah-langkah perancangan instalasi listrik gedung A2 dimulai dengan menghitung efisiensi penerangan pada masing-masing ruang, kemudian menentukan jumlah titik penerangan pada tiap ruang berdasarkan luas ruangan, warna dinding dan kebutuhan akan pencahayaan, dilanjutkan dengan kebutuhan akan kotak kontak tiap-tiap ruangan. Kebutuhan akan kotak kontak berdasarkan jumlah beban yang akan memakai kotak kontak. Selanjutnya akan menentukan luas penampang penghantar yang akan dipakai pada sistem penerangan maupun kotak kontak, dan menentukan gawai proteksi pada masing-masing sirkit akhir pada panel cabang, dari panel cabang ini kemudian di gabung pada panel utama. Hasil analisis didapatkan, titik penerangan pada gedung A2 kurang memadai, sehingga intensistas penerangan tiap-tiap ruang tidak sesuai dengan PUIL 2000, begitu juga dengan kotak kontak, banyak ditemukan kotak kontak menggunakan T agar bisa digunakan bayak peralatan listrik. Dengan adanya perancangan ini bertujuan untuk mengubah titik penerangan agar sesuai dengan intensitas penerangan yang dibutuhkan dan perubahan pada kotak kontak untuk memenuhi beban yang diperlukan.

Perencanaan dan pembuatan alat rekam medis pada Rumah Sakit menggunakan Smartcard / Dany Eko Febriyanto

 

ABSTRAK Febriyanto, Dany, Eko. 2008. Perencanaan Dan Pembuatan Alat Rekam Medis Pada Rumah Sakit Menggunakan Smartcard. Proyek Akhir, Progam Studi D3 Teknik Elektronika Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Heru wahyu Herwanto, S.T.,M.T., (II) Dyah Lestari, S.T, M.Eng. Kata kunci: Smartcard, Smartcard Reader, RS 232, Delphi. Rumah sakit sebagai pusat layanan kesehatan harus dapat memberikan pelayanan yang baik serta harus meminimalkan setiap kesalahan, baik layanan administrasi maupun layanan medisnya. Rekam medik sangat penting selain untuk diagnosis, pengobatan juga untuk evaluasi pelayanan kesehatan, peningkatan efisiensi kerja melalui penurunan mortilitas serta perawatan penderita yang lebih sempurna. Rekam medik harus berisi informasi lengkap perihal proses pelayanan medis di masa lalu, masa kini dan perkiraan terjadi di masa yang akan datang. Sistem rekam medis yang ada saat ini memerlukan buku dan alat tulis yang dilakukan secara manual sehingga kurang optimal dan membutuhkan waktu yang relatif lama dalam penanganan pasiennya. Jika pasien bepergian ke luar kota dan di kota tersebut pasien ingin memeriksakan penyakitnya otomatis pasien harus diperiksa terlebih dahulu. Jika terjadi kesalahan pemeriksaan dan kesalahan tindakan medis maka dapat dianggap terjadi malpraktek. Berdasarkan alasan tersebut, maka disusun proyek akhir yang berjudul Perencanaan dan Pembuatan alat Rekam Medis pada Rumah Sakit menggunakan Smartcard. Dengan adanya sistem ini maka akan sangat memudahkan pekerjaan dokter saat melakukan rekam medis. Kartu yang digunakan akan memberikan informasi tentang data riwayat kesehatan pasien, waktu pemeriksaan, dan lain-lain secara digital dengan menggunakan teknologi smartcard. Kartu ini dapat dibawa kemana-mana apabila pasien bepergian ke luar kota. Prinsip kerja dari sistem secara keseluruhan yaitu: proses rekam medis ini hanya menghubungkan komunikasi antara dokter dengan pasiennya. Proses rekam medis ini berawal saat smartcard reader terhubung dengan smartcard, ditandai dengan adanya indikator lampu yang menyatakan bahwa terdapat kartu yang masuk. Kemudian mikrokontroler memerintahkan smartcard reader untuk membaca data yang terdapat pada smartcard tersebut. Data berupa kode-kode berobat yang telah dibaca oleh smartcard reader akan dikirimkan menuju database pada PC. Data berupa ID card dan kode-kode berobat tersebut akan dibandingkan terlebih dahulu sesuai dengan ID card dan kode berobat yang terdapat pada database PC. Jika setelah data pada smartcard dan database sinkron, maka program delphi akan menampilkan form data pasien sesuai dengan ID card dan kode-kode berobatnya. Sedangkan proses tulis data dilakukan setelah pemeriksaan selesai. Data hasil pemeriksaan kesehatan pasien akan disimpan pada database rumah sakit. Kemudian PC mengkonversikan data hasil pemeriksaan terakhir sesuai kode urutan pada database, selanjutnya PC memerintahkan mikrokontroler mengirim data berupa kode tersebut menuju smartcard reader untuk dituliskan kembali pada smartcard.

Sifat organoleptik shrimplasagna dengan menggunakan jenis minyak yang berbeda / Retno Kumala Dwi

 

Pengontrol temperatur inkubator bayi / Agus Nuryanto

 

Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan luar individu. Salah satu faktor dari dalam yang mempengaruhi prestasi belajar adalah motivasi dan kebiasaan belajar. Motivasi merupakan salah satu prinsip yang harus ada guna membangkitkan semangat seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Oleh karena itu dalam pemilihan jurusan pun harus ada motivasinya karena motivasi memilih jurusan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menguasai matakuliah yang ditempuhnya. Tanpa adanya motivasi dari dalam diri mahasiswa untuk mempelajari jurusan yang akan ditempuhnya, maka ia akan sulit untuk mempelajari matakuliah yang ditempuhnya di jurusan yang dipilihnya. Setelah seseorang memilih jurusan berdasarkan motivasinya sendiri maka ia akan terdorong melakukan kegiatan belajar yang dilakukan berulang kali untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi. Kegiatan belajar yang dilakukan berulang kali tersebut dinamakan kebiasaan belajar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi (eksplanatory research) dengan menggunakan analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui pengaruh motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y), motivasi memilih jurusan (X1) terhadap kebiasaan belajar (X2), kebiasaan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y) dan untuk mengetahui pengaruh tidak langsung motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y) melalui kebiasaan belajar (X2). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket dan dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa jurusan pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang diwaili sampel sebesar 10%, yaitu 47 mahasiswa. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis jalur ini menunjukkan bahwa motivasi memilih jurusan mempengaruhi prestasi belajar sebesar 22% dengan thitung = 3,563, signifikansi 0,001 dan tingkat probabilitas 95%. Motivasi memilih jurusan mempengaruhi kebiasaan belajar sebesar 28,6%, dengan thitung = 4,242, signifikansi 0,000 dan tingkat probabilitas 95%. Kebiasaan belajar mempengaruhi prestasi belajar 32% dengan thitung = 4,600, signifikansi 0,000 dan tingkat probabilitas 95%. Hal ini menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi memilih jurusan dengan prestasi belajar, terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi memilih jurusan dengan kebiasaan belajar, terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar dan terdapat hubungan yang signifikan secara tidak langsung antara motivasi memilih jurusan terhadap prestasi belajar melalui kebiasaan belajar. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh secara langsung dari motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y), motivasi memilih jurusan (X1) terhadap kebiasaan belajar (X2), kebiasaan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y) maupun pengaruh secara tidak langsung dari motivasi memilih jurusan (X1) terhadap prestasi belajar (Y) melalui kebiasaan belajar (X2). Oleh karena itu disarankan agar mahasiswa lebih meningkatkan motivasinya dalam mempelajari jurusan yang dipilihnya dan meningkatkan kualitas kebiasaan belajar melalui bahan yang dipelajari dan pengelolaan belajarnya.

Kajian pelaksanaan pekerjaan plat lantai pada proyek pembangunan gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tahap 1 Universitas Negeri Malang / Septa Diharja

 

ABSTRAK Diharja, Septa. 2008. Kajian Pelaksanaan Pekerjaan Plat Lantai Pada Proyek Pembangunan Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tahap 1 Universitas Negeri Malang. Proyek Akhir, Program Studi Diploma Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci: plat lantai, pelaksanaan. Untuk menumbuhkan bakat dan kretifitas mahasiswa dalam bidang non akademis pihak Universitas Negeri Malang menyediakan fasilitas bagi mahasiswa berupa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Terdapat berbagai macam fasilitas kegiatan non akademis yang disediakan Universitas Negeri Malang dalam Unit Kegiatan Mahasiswa antara lain DIVCOM, UABV, UASB, HIMAFO, MPA Jonggring, HAMPA, Perisai Diri, PSHT, INKAI, Merpati Putih, Tapak Suci, Nur Harias, PJSI, Tae Kwon Do, LPBD,OPUS, KMHD, PSM, STK, IMAKRIS, IKK, BLERO, dan MPM. Pada akhir tahun 2006 fasilitas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terkena musibah berupa kebakaran yang disebabkan oleh arus pendek yang berasal dari salah satu ruang dari gedung tersebut. Musibah kebakaran ini mengakibatkan fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Dari permasalahan yang timbul pihak Universitas Negeri Malang membuat kebijakan untuk membangun ulang gedung tersebut menjadi bangunan 2 lantai. Suatu bangunan bertingkat tidak lepas dengan adanya plat lantai dalam strukturnya. Dalam penulisan Proyek Akhir tentang Kajian Pelaksanaan Pekerjaan Plat Lantai Pada Proyek Pembangunan Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tahap 1 Universitas Negeri Malang, penulis mengkaji biaya pekerjaan plat lantai menurut analisa upah dan bahan/analisis BOW (Burgerlijke Openbare Werken) dan biaya pekerjaan plat lantai menurut analisis Standar Nasional Indonesia (SNI 03-2835-2002) setelah penulis mengkaji ulang harga penawaran kontraktor dalam pembangunan gedung tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan jenis penelitian deskriptif komparatif tentang pelaksanaan dan analisis biaya pekerjaan plat lantai pada proyek pembangunan gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tahap 1 Universitas Negeri Malang. Terdapat beberapa perbedaan pelaksanaan pekerjaan plat lantai gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tahap 1 dengan kajian teoritis yang penulis dapatkan dan perbedaan analisis biaya plat lantai yang penulis lakukan dengan metode analisis BOW dan Standar Nasional Indonesia (SNI 03-2835-2002). Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan pekerjaan plat lantai dalam suatu bangunan bertingkat dan perencanaan anggaran biaya konstruksi plat lantai sehingga didapatkan suatu bangunan yang kokoh dengan biaya seefisien mungkin.

Studi pelaksanaan pekerjaan "Pile Cap" pada tiang pancang di Proyek Pembangunan Terminal Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Moh. Ali Imron

 

Pile cap merupakan konstruksi penggabung antara tiang-tiang pancang sehingga menjadi tiang kelompok (pile group) dan penghubung antara tiang pancang dengan kolom. Pile cap mempunyai fungsi untuk menyebarkan beban ke pile grup. Studi pelaksanaan ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pekerjaan penggalian tanah, pembongkaran ujung tiang pancang dan pekerjaan lantai kerja, mengetahui dan memahami proses pelaksanaan pekerjaan pile cap, dan memahami proses pembuatan, pemasangan dan pembongkaran bekisting pile cap. Studi ini dilakukan di proyek pembangunan Terminal Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Metode pengumpulan data yang di gunakan adalah melalui teknik observasi, tanya jawab, dan dokumentasi. Data pelaksanaan dilapangan kemudian dibandingkan dengan teori. Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk dapat mengetahui dan menyikapi penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan di lapangan. Hasil studi pelaksanaan pekerjaan di lapangan adalah sebagai berikut. Pelaksanaan pekerjaan pile cap di lapangan dimulai dari penggalian tanah dengan ukuran sesuai dengan ukuran pile cap yaitu panjang 1 m × lebar 1 m tebal 30 cm. Dilanjutkan pelaksanaan pembongkaran ujung tiang pancang dengan menggunakan palu besi, panjang pemotongan tiang pancang disesuaikan dengan gambar kerja dan titik elevasi. Pekerjaan lantai kerja urugan pasir dengan tebal 10 cm dari dasar galian, untuk campuran spesi 1 semen : 3 pasir dengan tebal 5 cm. Di lapangan ada 2 (dua) jenis pile cap didasarkan pada letak kolom di atasnya yaitu P1 dengan jumlah 38 buah dan P2 dengan jumlah 6 buah, sehingga jumlah total adalah 44 buah. Untuk beton yang digunakan untuk pengecoran adalah beton Jayamix dengan mutu beton K-275, menggunakan tulangan Ø12-100 mm dan jarak antara tiang sudah sesuai dengan teori yaitu: S (jarak minimum) = 0.60 m, D = 0.20 m, S/D=0.60/0.20=3, jadi S = 3D. Pada pelaksanaan dilapangan jarak pile cap terluar dari tiang pancang adalah 10 cm sedangkan pada teori jarak terluar yang diasumsikan adalah 15 cm, sehingga pelaksanaan tidak sesuai dengan teori. dan untuk ketebalan pile cap adalah 30 cm, dan sudah sesuai dengan ketebalan minimum pada teori. Pembongkaran bekisting pile cap dilaksanakan pada 3 hari setelah pengecoran atau setelah beton dianggap keras. Untuk pekerjaan perawatan beton pile cap diabaikan karena pada saat pelaksanaan untuk perawatan beton cuaca hujan telah membantu untuk proses perawatan beton pile cap tersebut. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan antara pedoman teori dengan pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Berdasarkan studi ini dapat disarankan supaya pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan metode yang benar sehingga hasil yang diperoleh menjadi maksimal.

Rancangan meteran penggunaan air berbasis mikrokontroler AT89S8252 / Bobby Dwi Kusumanugraha

 

ABSTRAK Kusuma, Bobby.D. 2008. Rancangan Meteran Penggunaan Air Berbasis Mikrokontroler AT89S8252. Proyek Akhir. Jurusan Teknik Elektro. Program Studi Teknik Elektronika, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dyah Lestari, S.T.,M.Eng. (II) Ilham Ari Elbaith Zaeni, S.T. Kata kunci : Meteran Air, Hall Effect Sensor, Mikrokontroler AT89S8252, LCD Display Kemajuan teknologi di Indonesia semakin maju dan berkembang dan salah satunya bahwa alat-alat yang bekerja dengan bentuk analog bergeser menjadi bentuk digital. Dengan bentuk digital peralatan tadi mudah dalam pengoperasian maupun tampilannya. Kemampuan penghitungan didesain minimal sama dengan kemampuan alat bentuk analog. Pada perkembangan selanjutnya alat yang berbentuk digital dapat dirancang dengan beberapa kemampuan tambahan. Misalnya dalam peralatan yang digunakan PDAM yaitu meteran air. Kemampuan tambahan yang dimaksud tidak hanya menampilkan data meteran air, tetapi dapat menampilkan data tarif harga meteran air. Selain itu data tarif harga dapat di-setting sesuai kebutuhan petugas PDAM. Dari pembahasan tadi, dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan teknologi pembuatan dan pencatatan data meteran bentuk digital berjudul “Rancangan Meteran Penggunaan Air Berbasis Mikrokontroler AT89S8252 “. Cara kerja alat hampir sama dengan meteran air sebelumnya yang berbentuk analog. Setiap air yang mengalir melewati meteran akan dihitung jumlah air per m3nya. Air akan menggerakkan kincir meteran sehingga berputar, perputaran kincir meteran ini dideteksi Hall effect sensor untuk menghasilkan pulsa-pulsa elektronik. Pulsa elektronik dapat dihasilkan karena adanya medan magnet pada kincir meteran. Medan magnet dapat dideteksi dan diukur beda tegangannya menggunakan hall effect sensor. Peletakan kincir meteran dan hall effect sensor dibuat saling berhadapan. Penghitungan pulsa-pulsa elektronik yang dihasilkan rangkaian sensor dilakukan oleh mikrokontroler AT89S8252. Perhitungan akan ditampilkan pada LCD, dan data akan tersimpan dalam EEPROM. Kesimpulan dari pengujian dan hasil analisis alat yaitu : rangkaian hall effect sensor dapat mendeteksi adanya medan magnet pada putaran kincir meteran. Beda tegangan yang dihasilkan hall effect sensor menjadi masukan bagi mikrokontroler. (2) Mikrokontroler dapat menghitung pulsa-pulsa elektronik yang dihasilkan oleh sensor dan meteran. Penghitungan pulsa-pulsa oleh mikrokontroler dapat dilakukan karena adanya dukungan software assembly perhitungan debit air. (3) Data perhitungan dan tarif harga meteran dapat ditampilkan dari hasil perhitungan dan program mikrokontroler ke LCD. (4) Error atau kesalahan rata-rata penghitungan debit air adalah 2,855 %. Error terjadi karena dalam penghitungan air 1 kali putaran kincir meteran air dihitung 17 mililiter. Lain hal apabila 1 kali putaran kincir meteran dihitung 1 mililiter atau 10 mililiter. Karena itulah semakin kecil pemakaian volume atau banyaknya air mengakibatkan kesalahan pembacaan semakin besar.

Studi pelaksanaan penggunaan biofil sebagai pengganti septictank pada pembangunan rumah tinggal di Jl. Candi Panggung No. 412 Malang / Among Wiria Putra

 

Biofil adalah Biological Filter Septictank yang terbuat dari fiberglass, dilengkapi media kontak yang dirancang khusus dan sistem disinfektan yang penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga buangannya tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Pemilihan biofil dari pada septictank pada rumah tinggal ini dikarenakan praktis dan membutuhkan lahan yang sedikit. Penelitian ini bersifat untuk mengetahui cara pemasangan biofil, cara perawatan, dan membandingkan antara biofil dan septictank dilihat dari segi biaya dan waktu pengerjaan. alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang didapat perbandingan biaya antara pengerjaan biofil dan septictank lebih mahal biofil. Perbandingan waktu pengerjaan lebih cepat pengerjaan biofil dari pada septictank dengan sistem borongan.

Alat uji kualitas komponen diskrit dengan tampilan LCD / Rizki Mandalasari

 

Komponen elektronika merupakan bagian yang sangat penting dalam melakukan suatu perancangan sistem elektronika. Komponen elektronika terdiri dari komponen terpadu yaitu komponen yang di dalamnya merupakan sebuah sistem dan komponen diskrit yang berupa komponen terpisah. Komponen yang sering digunakan dalam perancangan elektrik adalah komponen diskrit. Dalam perancangan sistem elektronika komponen yang selalu digunakan adalah resistor, transistor dan dioda. Karenanya kondisi dan kualitas komponen diskrit sangat penting dan perlu diperhatikan. Alat yang biasa digunakan dalam melakukan pengukuran dan untuk mengetahui kondisi komponen adalah AVOmeter analog dan AVOmeter digital. Tampilan pada AVOmeter analog ditunjukkan dengan gerakan jarum dan pada AVOmeter digital ditunjukkan dengan angka-angka. Dalam beberapa hal alat ukur ini dirasa kurang efisien penggunaannya karena hanya memberikan nilai dari suatu komponen tanpa memberitahukan bagaimana kodisi komponen yang diujikan dalam kondisi normal atau tidak. Perancangan tugas akhir ini diharapkan dapat mempermudah menentukan kualitas komponen yang akan digunakan. Alat ini terdiri dari rangkaian uji resistor, transistor dan dioda. Kontrol utama dari perancangan tugas akhir ini menggunakan mikrokontroler ATMega16 dan untuk menampilkan kualitas komponen menggunakan LCD. Pengujian yang dilakukan pada masing-masing komponen menunjukkan nilai dan kondisi yang sesuai dengan kondisi aslinya. Pada pengujian resistor nilai resistor dan kondisi resistor ditampilkan dengan dua angka di belakang koma. Pada pengujian transistor ketika nilai Hfe 0 transistor disimpulkan buruk. Jika sesuai dengan datasheet maka kondisi transistor adalah baik. Pada pengujian dioda, kondisi dioda dapat ditampilkan sesuai dengan kondisi sebenarnya yaitu dioda baik, diode open, dan dioda short. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sistem dapat menunjukkan hasil sesuai dengan kondisi komponen sebenarnya. Terdapat error antara 0,94%- 1,27% pada pengujian resistor, hal ini disebabkan karena adanya pembulatan dua angka pada alat yang dirancang. Pada pengujian transistor jika transistor rusak tampilan pada LCD adalah buruk, jika nilai Hfe transistor sesuai dengan datasheet maka tampilan di LCD adalah baik. Pada pengujian dioda tampilan pada LCD sesuai dengan kondisinya, hal ini menunjukkan alat dapat berfungsi dengan baik.

Sifat organoleptik batagor ikan kembung dengan komposisi ikan kembung dan tepung tapioka yang berbeda / Puput Agustiningsih

 

Batagor ikan kembung adalah produk batagor yang dibuat dengan bahan utama ikan kembung dan tepung tapioka sebagai bahan pengikat. Komponen utama batagor ikan kembung yaitu tahu yang diisi adonan baso ikan kembung. Baso adalah produk gel dari protein daging, baik daging sapi, ayam, ikan maupun udang. Pembuatan batagor berbahan dasar ikan kembung bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan kesukaan sifat organoleptik (warna, flavour dan tekstur) batagor ikan kembung, selain itu sebagai upaya diversifikasi produk dan menambah variasi batagor. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu membuat batagor ikan kembung dengan komposisi ikan kembung dan tepung tapioka 95%:5%, 90%:10%, 85%:15% dan 80%:20%. Data diperoleh dari panelis agak terlatih sebanyak 20 orang, yaitu mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006 secara acak. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis sidik ragam, dan apabila terdapat perbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap warna, flavour ikan, dan tekstur batagor ikan kembung pada masing-masing perlakuan (95%:5%, 90%:10%, 85%:15% dan 80%:20%). Warna yang dianggap paling baik terdapat pada batagor ikan kembung dengan komposisi ikan kembung dan tepung tapioka 95%:5% yaitu abu-abu cerah, flavour yang dianggap paling baik terdapat pada batagor ikan kembung dengan komposisi ikan kembung dan tepung tapioka 95%:5% yaitu tajam, sedangkan tekstur yang dianggap paling baik terdapat pada batagor ikan kembung dengan komposisi ikan kembung dan tepung tapioka 80%:20% yaitu kenyal. Pada uji kesukaan panelis lebih menyukai batagor ikan kembung dengan komposisi ikan kembung dan tepung tapioka 95%:5% baik dari segi warna, flavour ikan, dan tekstur. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: Komposisi ikan kembung dan tepung tapioka mempengaruhi warna, flavour ikan dan tekstur batagor ikan kembung. Penurunan komposisi ikan kembung yang disertai dengan peningkatan komposisi tepung tapioka membuat warna batagor ikan kembung menjadi semakin abu-abu kurang cerah, flavour semakin kurang tajam, dan tekstur semakin kenyal. Dari hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan uji lanjutan, tentang: (I) Analisis financial terhadap produk batagor ikan kembung sehingga dapat bersaing di pasaran, (II) Pembuatan batagor ikan kembung sebagai produk froozen food sehingga masa simpan lebih lama dan praktis siap konsumsi.

Sifat organoleptik sus kering tepung pisang (Musa Paradisiaca L) dengan presentasi subtitusi tepung terigu yang berbeda / Sutarjo Suparman

 

ABSTRAK Suparman Nur Cahyono, Sutarjo. 2008 Sifat Organoleptik Sus Kering Tepung Pisang Dengan Persentase Substitusi Tepung Pisang yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi D III Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Issutarti., Pembimbing (II) Dra. Nunung Nurjanah, M. Kes. Kata Kunci : Sus Kering, Tepung Pisang, Tepung Terigu Pisang merupakan salah satu buah yang melimpah di Indonesia. Tepung pisang belum dimanfaatkan. Tepung pisang dapat dibuat sus kering. Sus kering yang dibuat dari tepung pisang menghailkan teksturnya rapuh, warna gelap dan mudah melempem. Untuk memperbaiki sifat organoleptik sus kering tepung pisang, maka disubstitusi mempergunakan tepung terigu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah substitusi tepung terigu minimal yang menghasilkan sus kering tepung pisang yang lebih baik. Jenis penelitian ini adalah penelitian experimen. Perlakuan yang dipergunakan adalah perlakuan substitusi tepung terigu terhadap tepung pisang sebagai substitusi sebanyak 0%, 15%, 30% dan 45%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik (rasa, tekstur dan warna) dan kesukaan panelis. Hasil penelitian menumjukkan bahwa rasa sus berbeda nyata, tekstur sus berbeda sangat nyata, tetapi warna sus tidak berbeda nyata. Sus kering tepung pisang substitusi tepung terigu yang memperoleh skor gurih tertinggi diperoleh dari perlakuan 30%. Sus kering tepung pisang substitusi tepung terigu yang memperoleh skor kerenyahan dan teksrur tertinggi diperoleh dari perlakuan 45%. Penelitian ini dapat dibuat sebagai acuan untuk penelitian telanjutnya. Sus kering ini dapat dipergunakan sebagi penganekaragaman makanan non beras non terigu, rendah lemak, tinggi kalori dibandingkan dengan terigu.

Sifat organoleptik taro noodlesnack dengan penambahan tepung udang rebon / Yulistiana

 

ABSTRAK Yulistiana. 2008. Sifat Organoleptik Taro Noodle Snack dengan Penambahan Tepung Udang Rebon. Tugas Akhir Program Studi DIII Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Teti Setiawati, M.Pd (II) Dra. Nunung Nurjanah M.kes. Kata kunci: Tepung Udang Rebon, Taro Noodle Snack, Penambahan, Organoleptik Salah satu jenis udang yang terdapat di perairan Indonesia adalah udang rebon. Udang rebon dapat dimanfaatkan menjadi suatu produk. Untuk menambah variasi produk dan diversifikasi produk dari udang rebon, maka dibuat tepung udang rebon yang dapat diaplikasikan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan taro noodle snack. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu membuat taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 5%, 10% dan 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik dan kesukaan taro noodle snack yang ditambah dengan tepung udang rebon yang meliputi rasa, warna, aroma dan tekstur melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali pengulangan. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik dan kesukaan oleh panelis. Panelis diambil dari Mahasiswa Tata Boga Angkatan 2005-2006 secara acak. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam dan apabila terjadi perbedaan dari masing-masing perlakuan maka analisis dilanjutkan dengan uji lanjutan berupa analisis Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada rasa, warna, aroma dan tekstur taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 5%, 10% dan 15% dari total bahan. Hasil uji mutu hedonik taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon menunjukkan bahwa taro noodle snack dengan rasa gurih mempunyai skor (3,2) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 15%, warna kuning taro noodle snack mempunyai skor (3,9) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 5%, aroma tajam taro noodle snack mempunyai skor (3,57) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 15%, dan tekstur renyah taro noodle snack mempunyai skor (3,63) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 5%. Dari uji hedonik diperoleh hasil rasa, warna, aroma taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 10% yang disukai panelis, sedangkan untuk tekstur taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 5% yang disukai panelis. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung udang rebon 10% yang disukai oleh panelis. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat dikemukakan kepada peneliti selanjutnya yaitu perlu dilakukan kontrol terhadap taro noodle snack pada saat penggorengan untuk menghasilkan warna yang sama.

Pembutan kostum drama dengan hiasan hand painting / Novia Ira Maulana

 

Secara garis besar pengertian kostum adalah “pakaian khusus (dapat pula merupakan pakaian seragam) bagi perseorangan, regu olah raga, rombongan, kesatuan diupacara, pertunjukan …. “ (Alwi dkk, 2000:597). Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani) yang artinya suatu cerita yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan (http://www.google.co.id/search?hl=id&q=macammacam drama, 5 Juli 2008). Berdasarkan pengertian dari kostum adalah pakaian khusus dan drama adalah suatu cerita yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan, maka dapat disimpulkan bahwa kostum drama adalah pakaian khusus untuk memainkan suatu cerita yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Kostum drama merupakan salah satu bagian dari pakaian panggung, hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa “….pakaian panggung yang lebih dikhususkan ke kostum drama….” (Ahmad, 2000).

Sifat organoleptik noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi yang berbeda / Nurceria Putri Mentari

 

ABSTRAK Mentari, Nurceria Putri. 2008. Sifat Organoleptik Noodle Snack Dengan Jumlah Penambahan Ikan Teri Nasi yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Wiwik Wahyuni, M. Pd., (2) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. Kata Kunci: Noodle, snack, ikan teri nasi, organoleptik. Noodle snack adalah produk makanan ringan yang terbuat dari terigu dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain. Kandungan gizi noodle snack sangat bervariasi tergantung dari jenis, jumlah, dan kualitas bahan penyusunnya, serta cara pembuatan dan penyimpanannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi yang berbeda sebanyak 20 gram, 50 gram dan 80 gr. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan warna, rasa, aroma dan tekstur noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri sebanyak 20 gram, 50 gram dan 80 gram. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis meliputi warna, rasa, aroma dan tesktur. Analisis data yang digunakan adalah analisis Sidik Ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada warna, rasa, aroma dan tesktur noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi sebanyak 20 gram, 50 gram dan 80 gram. Skor tertinggi warna noodle snack terdapat pada jumlah penambahan 20 gram dengan warna krem kurang abu-abu (3,56), skor tertinggi rasa noodle snack terdapat pada jumlah penambahan 80 gram dengan rasa gurih (3,31), skor tertinggi aroma noodle snack terdapat pada jumlah penambahan 80 gram dengan aroma ikan teri nasi tajam (3,38), dan skor tertinggi tekstur noodle snack terdapat pada persentase 5% dengan tekstur renyah (3,6). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa warna noodle snack yang paling disuka panelis adalah noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 20 gram (43,3%), rasa noodle snack yang disuka panelis adalah noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 80 gram (41,67%), aroma noodle snack yang disuka panelis adalah aroma noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 80 gram (53,33%) dan tekstur noodle snack yang disukai panelis adalah tekstur noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 20 gram (61,67%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa warna noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi sebanyak 20 gram menghasilkan warna dan tekstur yang lebih baik yaitu krem cukup abu-abu dan renyah. Sedangkan rasa, aroma yang dianggap baik terdapat pada noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi sebanyak 80 gram yaitu rasa gurih dan aroma ikan teri tajam.

Analisis deskriptif pembuatan fish finger kuniran (Upeneus Shulphureus) dengan teknik Steaming, Pre-Fry, dan baking sebelum proses pembekuan / Dafila Tanico

 

ABSTRAK Tanico, Dafila. 2008. Analisis Deskriptif Pembuatan Fish Finger Kuniran (Upeneus sulphureus) dengan Teknik Steaming, Pre-fry, dan Baking Sebelum Proses Pembekuan. Tugas Akhir Program Studi Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes (II) Laili Hidayati, S.Pd. Kata Kunci: Fish finger, ikan kuniran, steaming, pre-fry, baking, deskriptif Fish finger adalah makanan yang dibuat dari daging ikan segar yang dihaluskan dan dilapisi dengan tepung roti. Ikan kuniran merupakan jenis ikan domersal kecil berasal dari famili mullidae (Goatfish), ordo perciformes, spesies Upeneus sulphureus. Dijual dipasaran dalam bentuk ikan segar, berwarna putih kemerahan, berukuran sedang. Pemanfaatan ikan kuniran sebagai produk makanan beku yaitu diolah menjadi fish finger. Fish finger merupakan jenis produk frozen food, maka dalam proses pengolahannya menjadi produk makanan beku terdapat teknik awal yaitu dimasak setengah matang. teknik awal yang digunakan sebelum proses pembekuan adalah steaming, pre-fry dan baking. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tekstur, rasa, warna, dan aroma serta tingkat kesukaan terhadap fish finger kuniran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2008 di Labortorium Tata Boga Gedung H4 Universitas Negeri Malang. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik dan kesukaan oleh panelis. Panelis yaitu dari Mahasiswa Tata Boga angkatan 2005 yang dipilih secara acak. Analisis data menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk memaparkan hasil penelitian. Uji mutu hedonik menunjukkan bahwa tekstur fish finger kuniran dengan teknik steaming kenyal (dinyatakan 55% panelis), teknik pre-fry tekstur agak kenyal (dinyatakan 52% panelis), sedangkan tekstur fish finger dengan teknik baking cukup kenyal (dinyatakan 58% panelis). Rasa fish finger kuniran dengan teknik steaming agak gurih (dinyatakan 48% panelis), teknik pre-fry rasa gurih (dinyatakan 60% panelis), sedangkan rasa fish finger dengan teknik baking agak gurih (dinyatakan 55% panelis). Warna fish finger kuniran dengan teknik steaming putih agak gelap (dinyatakan 42% panelis), teknik pre-fry warna putih cukup gelap (dinyatakan 57% panelis), sedangkan warna fish finger dengan teknik baking putih cukup gelap (dinyatakan 55% panelis). Aroma fish finger kuniran dengan teknik steaming kurang kuat (dinyatakan 53% panelis), teknik pre-fry aroma agak kuat (dinyatakan 48% panelis), sedangkan aroma fish finger dengan teknik baking cukup kuat (dinyatakan 53% panelis). Uji hedonik menunjukkan bahwa tekstur fish finger kuniran dengan teknik steaming sangat suka (dinyatakan 45% panelis), teknik pre-fry tekstur agak suka (dinyatakan 52% panelis), sedangkan tekstur fish finger dengan teknik baking suka (dinyatakan 32% panelis). Rasa fish finger kuniran dengan teknik steaming agak suka (dinyatakan 50% panelis), teknik pre-fry rasa suka (dinyatakan 52% panelis), sedangkan rasa fish finger dengan teknik baking agak suka (dinyatakan 55% panelis). Warna fish finger kuniran dengan teknik steaming suka (dinyatakan 50% panelis), teknik pre-fry warna putih cukup suka (dinyatakan 53% panelis), sedangkan warna fish finger dengan teknik baking cukup suka (dinyatakan 55% panelis). Aroma fish finger kuniran dengan teknik steaming sangat suka (dinyatakan 38% panelis), teknik pre-fry aroma suka (dinyatakan 50% panelis), sedangkan aroma fish finger dengan teknik baking cukup suka (dinyatakan 45% panelis). Berdasarkan hasil penelitian uji mutu hedonik yang telah dilaksanakan diperoleh hasil teknik awal steaming menghasilkan tekstur kenyal, rasa agak gurih, warna putih agak gelap, dan aroma kurang kuat. Teknik awal pre-fry menghasilkan tekstur agak kenyal, rasa gurih, warna putih cukup gelap dan aroma agak kuat. Teknik awal baking menghasilkan tekstur cukup kenyal, rasa agak gurih, warna putih cukup gelap, dan aroma cukup kuat. Sedangkan hasil penelitian uji hedonik yang telah dilaksanakan diperoleh hasil teknik awal steaming tekstur dan aroma menyatakan sangat suka sedangkan rasa dan warna suka. Teknik awal pre-fry tekstur agak suka sedangkan rasa, aroma, dan warna menyatakan suka. Teknik awal baking tekstur menyatakan suka, rasa agak suka sedangkan warna dan aroma cukup suka. Berdasarkan hasil penelitian, saran dalam penelitian ini adalah fish finger dapat dijadikan salah satu peluang usaha bagi masyarakat, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti daya simpan fish finger kuniran serta penggunan ikan kuniran untuk diaplikasikan pada produk lain

Analisis deskriptif bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih / Riza Fadhila

 

ABSTRAK Fadhila, Riza. 2008. Analisis Desktiprif Bekasam Ikan Kembung dengan Penggunaan Samu dan Samu Ketan Putih. Tugas Akhir, Program Studi Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M. Kes. (II) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M. P. Kata kunci: bekasam, ikan kembung, samu ketan putih, organoleptik. Bekasam merupakan produk olahan ikan dengan cara fermentasi menggunakan bakteri asam laktat dan kadar garam tinggi. Bekasam merupakan makanan khas Kalimantan Tengah yang bahan fermentasi pembuatan bekasam ialah samu. Bahan dasar pembuatan bekasam di daerah tersebut biasanya menggunakan ikan sepat rawa, kemudian pada penelitian ini bekasam yang dibuat dari ikan kembung. Ikan kembung merupakan ikan air laut yang banyak dan mudah ditemui di kota Malang. Pada penelitian ini bahan fermentasi pembuatan bekasam ialah samu ketan putih. Makanan ini dalam proses pembuatannya mudah, bahan bakunya murah dan mudah didapat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan bekasam ikan kembung (rastrelliger kanagurta) dengan penggunaan samu dan samu ketan putih. Tujuan penelitian untuk mengetahui mutu organoleptik dan tingkat kesukaan panelis terhadap bekasam ikan kembung yang meliputi rasa, aroma, dan tekstur. Eksperimen ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2008 di Laboratorium Tata Boga Gedung H4 lantai dua Universitas Negeri Malang. Panelis yang digunakan adalah panelis agak terlatih sebanyak 20 orang, yaitu mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006 secara acak. Analisis data yang digunakan adalah dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian pada uji mutu hedonik; a). Rasa bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (53%) panelis menyatakan rasa asam sangat kuat, (20%) panelis menyatakan rasa asam kuat, (22%) panelis menyatakan rasa asam cukup kuat, dan (5%) panelis menyatakan rasa asam kurang kuat. Bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (7%) panelis menyatakan rasa asam sangat kuat, (28%) panelis menyatakan rasa asam kuat, (53%) panelis menyatakan rasa asam cukup kuat, dan (12%) panelis menyatakan rasa asam kurang kuat. b). Aroma bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (40%) panelis menyatakan aroma asam sangat kuat, (36%) panelis menyatakan aroma asam kuat, (22%) panelis menyatakan aroma asam cukup kuat, dan (2%) panelis menyatakan aroma asam kurang kuat. Bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (7%) panelis menyatakan aroma asam sangat kuat, (32%) panelis menyatakan aroma asam kuat, (48%) panelis menyatakan aroma asam cukup kuat, dan (13%) panelis menyatakan aroma asam kurang kuat. c). Tekstur bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (2%) panelis menyatakan sangat kenyal, (28%) panelis menyatakan kenyal, (57%) panelis menyatakan cukup kenyal, dan (13%) panelis menyatakan kurang kenyal. Bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (17%) panelis menyatakan sangat kenyal, (53%) panelis menyatakan kenyal, (27%) panelis menyatakan cukup kenyal, dan (3%) panelis menyatakan kurang kenyal. Hasil penelitian pada uji hedonik; a). rasa bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (22%) panelis menyatakan sangat suka, (58%) panelis menyatakan suka, (17%) panelis menyatakan cukup suka, dan (3%) panelis menyatakan kurang suka. Bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (12%) panelis menyatakan sangat suka, (25%) panelis menyatakan suka, (48%) panelis menyatakan cukup suka, dan (15%) panelis menyatakan kurang suka. b). Aroma bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (31%) panelis menyatakan sangat suka, (43%) panelis menyatakan suka, (23%) panelis menyatakan cukup suka, dan (3%) panelis menyatakan kurang suka. Bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (7%) panelis menyatakan sangat suka, (31%) panelis menyatakan suka, (42%) panelis menyatakan cukup suka, dan (20%) panelis menyatakan kurang suka. c). Tekstur bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (2%) panelis menyatakan sangat suka, (28%) panelis menyatakan suka, (52%) panelis menyatakan cukup suka, dan (18%) panelis menyatakan kurang suka. Bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (18%) panelis menyatakan sangat suka, (60%) panelis menyatakan suka, (15%) panelis menyatakan cukup suka, dan (7%) panelis menyatakan kurang suka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada uji mutu hedonik rasa bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu menghasilkan rasa asam kuat dengan jumlah panelis sebanyak 53%. Untuk aroma bekasam ikan kembung dengan penggunaan samumenghasilkan aroma asam sangat kuat dengan jumlah panelis sebanyak 40%. Tekstur bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu menghasilkan tekstur kenyal dengan jumlah panelis sebanyak 53%. Tingkat kesukaan panelis terhadap rasa bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (58%) panelis menyatakan suka. Pada tingkat kesukaan panelis terhadap aroma bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu, yaitu (43%) panelis menyatakan suka. Tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur bekasam ikan kembung dengan penggunaan samu ketan putih, yaitu (60%) panelis menyatakan suka. Saran dari penelitian ini sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang daya awet bekasam ikan kembung serta sebaiknya dilakukan penelitian tentang penerimaan bekasam ikan kembung oleh konsumen di daerah yang belum terdapat produk bekasam.

Penerapan honeycomb pleats pada busana pesta / Puguh Dian Palupi

 

Perancangan transformator arus / Miftachul Jannah

 

Transformator dilihat dari jenisnya, terdiri dari transformator tegangan dan transformator arus. Sedangkan transformator arus dapat dilihat dari fungsinya terdiri dari transformator arus sebagai proteksi dan transformator arus sebagai pengukuran (instrumentasi). Trafo arus digunakan untuk mengukur arus yang besarnya lebih dari 5 A dan arus yang mengalir dalam jaringan tegangan tinggi. Disamping untuk pengukuran arus, trafo arus juga dibutuhkan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi. Kumparan primer trafo arus dihubungkan seri dengan jaringan atau peralatan yang akan diukur arusnya, sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau rele proteksi. Pada umumnya peralatan ukur dan rele membutuhkan arus 1 A atau 5 A. Kawasan kerja trafo arus yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,05 sampai 1,2 kali arus yang akan diukur. Trafo arus untuk tujuan proteksi biasanya harus mampu bekerja lebih dari 10 kali arus pengenalnya. Dalam tugas akhir ini, pembuatan transformator arus terfokus pada transformator arus sebagai pengukuran. Kapasitas transformator arus diperoleh dengan cara pembebanan kumparan primer sebesar 5 lilitan dan kumparan sekunder sebesar 100 lilitan. Melalui percobaan pembebanan, diperoleh hasil untuk tahanan burden yang besar maka E2 ≅ V2. Kapasitas transformator arus maksimal untuk masing-masing inti, diperoleh tahanan burden yang berbeda. Berdasarkan kapasitas transformator arus untuk masing-masing inti kemudian ditentukan jumlah lilitan sekunder. Untuk mendapatkan tegangan 1 volt, transformator arus inti toroid-hijau muda 2 memerlukan 7 lilitan, inti toroid-biru 10 lilitan. Inti model E untuk mendapatkan tegangan sekunder 0,0025 volt, memerlukan 16 lilitan. Pengujian pembebanan menunjukkan bahwa tegangan output (sekunder) linear terhadap arus primer. Untuk I2 = 5 A, tegangan yang dihasilkan pada kumparan sekunder sebagai berikut : 1). Inti toroid hijau muda 2 = 1 volt, 2). Inti toroid biru = 1 volt, dan 3). Inti model E = 0,0025 volt.

Sifat organoleptik suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran / Selvia Dian Puspitasari

 

ABSTRAK Puspitasari, Selvia. D. 2008. Sifat Organoleptik Suweg Noodle Snack dengan Penambahan Ikan Kuniran. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Teti Setiawati, M. Pd (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M. Pd. Kata Kunci: suweg, noodle snack, ikan kuniran, organoleptik. Suweg merupakan salah satu jenis umbi yang berpotensi untuk dijadikan sebagai alternatif sumber pangan. Umbi suweg mengandung pati dan karbohidrat yang bermanfaat sebagai penghasil zat tenaga serta sebagai sumber dalam penghasil pati. Sedangkan noodle snack merupakan salah satu jenis mi instan yang dapat langsung dikonsumsi sebagai camilan. Ikan kuniran yang digunakan adalah ikan yang memiliki kulit putih agak kemerahan, memiliki mata cembung dan jernih, memiliki insang berwarna merah segar, sebuah garis horizontal disepanjang tubuhnya, dan memiliki panjang tubuh ± 20-22 cm. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 20%, 40%, dan 60%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik yang meliputi rasa, aroma, dan tekstur melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Panelis yang dijadikan untuk pengambilan data adalah panelis agak terlatih yaitu mahasiswa Tata Boga angkatan 2004-2005. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan Duncam’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 20%, 40%, dan 60% menunjukkan perbedaan yang berbeda sangat nyata terhadap rasa, aroma, dan tekstur. Suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 20% menghasilkan rasa gurih dengan skor 4, aroma agak tajam dengan skor 2, dan tekstur renyah dengan skor 4. Suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 40% menghasilkan rasa cukup gurih dengan skor 3, aroma cukup tajam dengan skor 3, dan tekstur cukup renyah dengan skor 3. Suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 60% menghasilkan rasa agak gurih dengan skor 2, aroma tajam dengan skor 4, dan tekstur agak renyah dengan skor 2. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa rasa dan tekstur yang disukai panelis adalah suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 20%, aroma yang disukai panelis adalah suweg noodle snack dengan penambahan ikan kuniran sebesar 40%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah semakin banyak ikan kuniran yang ditambahkan dalam pembuatan suweg noodle snack, rasa yang dihasilkan semakin agak gurih, aroma tajam. Penambahan ikan kuniran yang digunakan sampai batas 60% memilki tekstur yang agak renyah.

Pengatur tegangan listrik AC 1 Fasa berbasis mikrokontroler atmegas / Aulia Efendi

 

Pengaturan tegangan listrik dalam sistem kelistrikan adalah sebuah masalah yang harus ditemukan solusi atau jalan keluarnya. Untuk itu dibuat alat pengatur tegangan listrik digital atau sering disebut dengan istilah regulator digital. Adapun yang melandasi pembuatan alat yaitu sebagai pengganti regulator AC yang dioperasikan secara manual dan dianggap kurang praktis jika dibandingkan dengan regulator digital dan dari segi keamanan lebih aman regulator digital dalam pengoperasiannya. Disamping itu alat ini berfungsi sebagai penstabil tegangan, dimana pada waktu beban puncak tegagan turun beberapa volt. Pada saat tegangan turun maka alat ini akan menaikan tegangan sesuai yang diinginkan. Dalam pembuatan alat pengatur tegangan ini hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) Cara mendeteksi tegangan dengan alat elektronik (2) Cara mikrokontroler mengatur keseluruhan sistem yang dikontrol secara digital dan otomatis (3) Cara mikrokontroler mengatur sudut picu triac (4) Cara menghasilkan gelombang yang akan dicacah oleh mikrokontroler (5) Cara pengujian alat per blok dan keseluruhan. Adapun batasan masalah adalah sebagai berikut: Transformator sebagai supply daya memiliki kemampuan menghasilkan arus dan tegangan sesui keinginan dengan besar lebih dari 300V dan arus lebih dari 16A. Untuk merealisasikan alat ini metode yang dikembangkan adalah sebagai berikut: (1) Studi literatur (2) Perancangan dan pembuatan alat (3) Pengujian alat perblok dan keseluruhan (4) Penjelasan dan analisis hasil pengujian. Dari hasil pengujian dan analisis dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Transformator daya bisa digunakan sebagai sensor tegangan yang sudah terinisialisasi oleh ADC, mikrokontroler, dan LCD. (2) Lebar pulsa yang dikontrol menentukan pemicuan TRIAC untuk mengatur tegangan output. (4) Zero crossing detector dapat menghasilkan pulsa kotak sebesar 50Hz dan fungsi dari zero crossing detector pada alat ini menyerupai Function Generator (5) OPTOTRIAC bisa digunakan sebagai isolator antara tegangan tinggi dengan sistem kontrol secara sempurna, karena tanpa ada hubungan resistansi atau induksi melainkan dengan sistem forward oleh diode led yang terdapat didalamnya. (6) Dalam membuat alat pemilihan komponen serta piranti lainnya sangat penting, karena hal tersebut menentukan kualitas, kinerja alat yang dibuat. Hal yang menentukan kualitas dan kinerja alat sehingga alat bisa digunakan sesuai yang diinginkan supaya diperhatikan sebagai pertimbangan dalam memilih bahan untuk pembuatan alat. Disamping hal tersebut perhitungan dan pengolahan data pada mikrokontroler supaya disinkronkan dengan alat ukur atau alat instrumentasi pada proses perancangan dan pembuatan alat dari awal hingga akhir.

Perancangan ulang instalasi listrik gedung G5 Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Muhammad Hariyanto

 

Penggunaan energi listrik di gedung tidak lepas dari instalasi listrik yang terpasang. Agar kontinyuitas dan resiko terjadinya hubung singkat, kebakaran akibat listrik dapat diminimalkan perlu adanya evaluasi dan perancangan ulang. Perancangan ulang instalasi bertujuan untuk memberikan gambaran instalasi sesungguhnya yang dibutuhkan. Hal ini dikarenakan tiap ruangan yang digunakan berubah menuntut kebutuhan, dan diperlukanya tindakan pemeriksaan dan pengujian berkala terhadap instalasi secara teratur, agar instalasi dapat dipelihara dalam kondisi baik dan aman Perancangan di mulai dari pengumpulan data yang meliputi pencarian layout gedung atau denah ruang Gedung G5, fungsi masing masing ruang, dan dimensi ruang. Pengumpulan data instalasi yang sudah ada dilakukan sebagai pembanding dari hasil perancangan. Perancangan penerangan meliputi perhitungan intensitas cahaya (E), efisiensi (η), faktor bentuk (K), fluksi (Φ) dan titik penerangan (N). Gawai proteksi meliputi pembagian beban tiga fasa, perhitungan sirkit akhir, sirkit cabang dan sirkit utama untuk penerangan dan tenaga. Berdasarkan hasil perancangan arus total untuk penerangan 35 A, untuk tenaga 160 A. Instalasi penerangan mempunyai sirkit akhir 27 dengan PHB anak cabang 4. Untuk tenaga mempunyai sirkit akhir 24 dengan PHB anak cabang 9, jumlah arus total untuk tenaga dan penerangan 315 A.

Pembuatan gaun pesta remaja dengan hiasan painting / Lia Agustina

 

Pembuatan busana pesta dengan variasi kumai serong pada cape dan rok / Devy Luci Novita

 

Pembuatan busana pria futuristic "The Warrior" / Evin Ilma Amilia

 

Laporan pembuatan busana pria dengan hiasan mur dan ring / Endah Nursilowati

 

Sifat organoleptik teriyaki powder dengan persentase shuyu yang bersedia / Ratna Ningsih Wahyuni

 

ABSTRAK Ningsih, Ratna, 2008. Sifat Organoleptik Teriyaki Powder dengan Persentase Shoyu yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. Pembimbing (11) Dra. Nunung Nurjanah, M. Kes. Kata Kunci: Teriyaki, Powder, Shoyu. Powder adalah sesuatu yang dihaluskan seperti tepung dengan kadar air kurang dari 4%. Teriyaki powder adalah sauce teriyaki berbentuk serbuk yang dibuat dari campuran beberapa bahan dan digunakan untuk memasak aneka hidangan teriyaki. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan teriyaki powder dengan persentase shoyu 10%, 20%, 30%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan tekstur, flavour dan warna serta mengetahui tingkat kesukaan terhadap tekstur, flavour, dan warna teriyaki powder dengan persentase shoyu 10%, 20%,30%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik tingkat kesukaan panelis meliputi tekstur, flavour, dan warna, melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Analisa data yang digunakan adalah analisa sidik ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada tekstur, flavour, dan warna teriyaki powder dengan persentase shoyu 10%, 20%, 30%. Skor tertinggi tekstur teriyaki powder terdapat pada persentase shoyu 10% dengan tekstur serbuk halus (63,33%), skor tertinggi flavour teriyaki powder terdapat pada persentase shoyu 30% dengan flavour tajam (71,66%), skor tertinggi warna teriyaki powder terdapat pada persentase shoyu 30% dengan warna coklat gelap (68,33%). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa tekstur teriyaki powder yang disukai panelis adalah teriyaki powder dengan persentase shoyu 20% (71,66%). Flavour teriyaki powder yang disukai panelis adalah teriyaki powder dengan persentase shoyu 20% (71,7%). Warna teriyaki powder yang disukai panelis adalah teriyaki powder dengan persentase shoyu 20% (60%). Bedasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin banyak persentase shoyu tekstur teriyaki powder semakin kasar, flavour teriyaki powder semakin tajam, warna teriyaki powder semakin gelap.

Alat ukur kapasitas paru-paru / Puji Riswanti

 

ABSTRAK Riswanti, Puji. 2008. Alat Ukur Kapasitas Paru-Paru. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom., (II) Mokh. Sholihul Hadi, S.T. Kata kunci: Ultrasonik, kapasitas, ATMega16. Alat ukur kapasitas paru-paru yang ada masih jarang dipakai secara luas pada instansi medis. Keterbatasan rumah sakit dalam hal biaya untuk membeli alat ukur kapasitas paru-paru menyebabkan rumah sakit atau klinik akan mengalami kesulitan dalam mendiagnosa penyakit pernapasan. Hanya rumah sakit kelas satu yang berada di kota-kota besar saja yang mungkin dapat membeli alat ukur ini. Hasil keluaran spirometer (alat ukur kapasitas paru-paru) yang sudah ada hanya berupa grafik. Sensor yang digunakan pada Tugas Akhir ini adalah sensor ultrasonik jenis ping. Sensor Ping adalah sensor yang berupa modul siap pakai lengkap dengan pengirim dan penerima sinyal. Prinsip kerja dari sensor mengukur jarak objek dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik (40 kHz) selama t (200 s) kemudian menunggu pantulannya. Sensor ping memancarkan gelombang ultrasonik sesuai dengan input kontrol dari pin SIG. Gelombang ultrasonik ini melalui udara dengan kecepatan kurang lebih 344 meter per detik., mengenai objek dan memantul kembali ke modul ping. Kontrol utama yang digunakan pada alat ini adalah mikrokontroler ATMega 16. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Bahasa C. Data yang dihasilkan dari sensor ultrasonik diolah oleh mikrokontroler ATmega16, kemudian hasil pengolahan ditampilkan pada LCD dalam bentuk angka. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa pembacaan dari sensor utrasonik memiliki penyimpangan (error) rata-rata 1,08%. Untuk tampilan pada LCD terukur hasil dari kapasitas paru-paru sesuai dengan yang direncanakan, yaitu sesuai dengan kondisi normal kapasitas paru-paru pada orang dewasa.

Pembuatan gaun dan bolero dengan teknik jahit kerut (Smock) dari bahan dasar kain kaos / Nunik

 

Sifat organoleptik nugget kelinci dengan bahan perekat yang berbeda / Ade Febri Juwitasari

 

Uji organolrptik sosis daging kelinci dengan proses pengolahan yang berbeda / Lailatul Fitria

 

Sistem informasi kehadiran dosen berbasis mikrokontroler / Fatkhur Rochman

 

Permasalahan yang muncul di setiap Jurusan, antara lain informasi kehadiran dosen masih sulit didapatkan dari hasil yang sesuai dengan realita, hal ini mengacu pada Tri Darma perguruan tinggi, meliputi: pengajaran, penelitian, melaksanakan pengabdian pada masyarakat. Serta segala bentuk kegiatan aktualisasi dosen terkait dengan kompetensi yang dimiliki hal ini mengakibatkan dosen tersebut menjadi sulit untuk terikat pada jadwal yang telah ditetapkan pihak jurusan. Jadwal perkuliahan yang telah dibuat menjadi tidak jelas, sering terjadi jam kosong, atau pemberian kuliah yang kurang dari jam yang telah ditentukan. Sistem informasi kehadiran dosen saat ini juga masih dianggap konvensional. Dengan sistem tersebut, mahasiswa harus melakukan tanya jawab kepada unit tata usaha untuk mendapatkan informasi perkuliahan, sehingga dinilai kurang informatif dan merepotkan banyak pihak. Tentunya masalah-masalah tersebut akan berakibat menurunnya kualitas pendidikan. Untuk itu dibutuhkan sistem yang lebih baik, yaitu sistem kehadiran dosen yang memberikan informasi pelaksanaan perkuliahan dari dosen kepada mahasiswa. Tujuan dari tugas akhir ini sebagai berikut: (1) Untuk menghasilkan rangkaian keypad 4x4 sebagai media untuk memasukkan pesan; (2) Untuk menghasilkan rangkaian LCD dan display LED sebagai media penampil informasi kehadiran dosen; (3) Untuk menghasilkan interface (antar muka) rangkaian mikrokontroler yang dapat menampilkan informasi kehadiran dosen; (4) Membuat perangkat keras untuk sistem informasi kehadiran dosen. Rangkaian sistem informasi kehadiran dosen terdiri dari atas: (1) Keypad; (2) Mikrokontroler; (3) EEPROM; (4) LCD; (5) Display LED. Untuk memasukkan data pada LCD digunakan keypad yang berfungsi untuk tombol start, tombol reset, memasukan data baru pada mikrokontroler, memasukkan pesan, dan membaca pesan. Prinsip kerjanya dengan menekan tombol ‘ENT’ pada keypad maka mikrokontroler akan membaca serta mengirimkan data ke LCD dengan memunculkan beberapa menu pilihan yaitu, 1) masukkan pesan; 2) baca pesan; 3) reset; (4) keluar. Ketika tombol ‘1’ pada keypad ditekan maka masuk pada menu masukkan pesan dosen. Pada menu ini terdapat pilihan dalam memberikan pesan, yaitu: kerjakan tugas dan pindah jam. Setelah pesan tersimpan dalam EEPROM maka LED secara otomatis menyala sebagai indikator ketidakhadiran dosen. Untuk menghapus data pesan perharinya maka dilakukan penekanan tombol reset pada keypad.

Pembuatan gaun dengan Lipit dan Ruffles / Putri Wulandari

 

Studi pelaksanaan balok beton pada proyek penbangunan ruko dan rukan Panorama Square Jl. Ahmad Yani Utara No.99 Malang / Deni Firsta Wahyu Verdiansyah

 

STUDI PELAKSANAAN BALOK BETON PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUKO DAN RUKAN PANORAMA SQUARE JL. AHMAD YANI NO. 99 MALANG Oleh: Deni Firsta Wahyu Verdiansyah1 Ir. B. Sri Umniati, M.T.2 Abstrak : Pelaksanaan pekerjaan balok di lapangan sering kali menyimpang dari apa yang telah distandartkan dalam peraturan konstruksi. Penyimpangan ini dapat terjadi pada pelaksanaan pekerjaan bekisting, pekerjaan penulangan, pekerjaan pengecoran, pekerjaan pembongkaran bekisting, pekerjaan perawatan setelah pengecoran. Studi ini bertujuan mencocokkan pelaksanaan pekerjaan balok di lapangan sesuai dengan kajian teori, sebagai pedoman yaitu PBI dan SK-SNI-T15-1991-03 diantaranya pekerjaan bekisting, pekerjaan penulangan, pekerjaan pengecoran, pekerjaan pembongkaran bekisting dan perawatan beton setelah pengecoran. Studi ini dilakukan di proyek Pembangunan Ruko dan Rukan Panorama Square yang terletak di Jalan Ahmad Yani Utara no. 99 Malang yang dimulai dari awal maret sampai dengan akhir Juli 2008. Pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan deskriptif. Hasil studi antara lain: pekerjaan bekisting, pekerjaan pengecoran, dan pekerjaan pembongkaran yang kurang sesuai dengan standart yang ditentukan serta perawatan setelah pengecoran. Pada pekerjaan bekisting pemakaian papan multiplek dengan tebal 8 mm dan balok dukung yang terbuat dari kayu meranti dengan ukuran 5/7 dilakukan penggantian bahan-bahan material yang sudah aus. Proses pembuatan bekisting telah sesuai dengan standart yang ada. Bahan yang digunakan untuk pembuatan bekisting yaitu papan multipleks mempunyai ukuran yang sangat tipis, sehinggga rawan terjadi lendutan atau patahan pada saat terjadi proses pengecoran. Akan tetapi pada saat bekisting menjelang pengecoran, bahan pelumas yang digunakan berupa air, sehingga tidak sesuai dengan standart yang telah ditentukan. Selain itu untuk menghasilkan tebal selimut beton tidak semuanya menggunakan beton tahu, hal ini disebabkan karena beton tahu yang digunakan tidak mencukupi, sehingga diganti dengan bahan batu kerikil yang memiliki ukuran yang hampir sama. Pekerjaan pengecoran ini menggunakan beton ready mix yang dipesan dari PT. Merak Beton, sehingga pelaksanaanya berlangsung dengan cepat, karena menggunakan bantuan berupa concrete pump atau pompa beton. Untuk proses pemadatannya menggunakan vibrator. Pembongkaran bekisting di sini dilakukan setelah umur beton mencapai 1 minggu. Proses pembongkaran pertama kali dilakukan pada perancah bagian tengah, kemudian dilanjutkan dengan ke tepi kiri dan samping kanan secara berturut-berturut hingga menuju ke tumpuan balok. Kata kunci: pelaksanaan pekerjaan, balok beton.

Pembuatan busana pesta "Knitted Butterfly" / Ike Yuniarti

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |