Pengembangan website jurusan Teknik Elektro FT UM yang terintegrasi dengan database / Deny Siswohandoko

 

"Pembuatan busana pesta dengan lekapan bulu unggas" / Nuke Fara Rulyana

 

Sifat organoleptik rambak kulit ikan lele dumbo (Clarias garlepinus) dengan lama perendaman air kapur sirih / Nila Darmayanti

 

Kinerja kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah dasar di Pasuruan (studi kasus di Sekolah Dasar Al-Kautsar Pasuruan) / Wasis

 

Ideologies in queen Elizabeth i's poems / Dini Privea Prabawati

 

ABSTRACT Prabawati, Dini Privea. 2008. Ideologies in Queen Elizabeth I’s Poems. Thesis, Department of English Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Kukuh Prayitno Subagyo, M.A. Keywords: Poems, ideology, political power, subject, Marxist Literary Criticism, supremacy. Valuing and analyzing poem (poetry) is such a pleasure involving challenge to understand and comprehend its construction and expectation effect over the society’s consciousness. This study discusses poems written by Queen Elizabeth I. The problem statement taken in this study is about possible ideologies presented in QE I’s poems. Based on that general picture, QE I has intentionally applied certain ideology (ies) within her poems which underline her belief over the ‘right’ way of observing and maintaining political power over the subject (British People). Regarding this ideology matter and the concept of subject and object, Marxist Literary Criticism is considered as the proper tool to evaluate the ideology presented in QE I’s poems. Finally, through this study, the QE I’s ideologies could be presented to the reader with the expectation that this study could open present readers’ mind and imagination, that during QE I realm, ideologies and other practical actions had been exercised in order to maintain her realm by spreading the false consciousness form in society. In short, false consciousness was there to help QE I to sooth her subjects to keep and perform long-lasting supremacy.

Kepemimpinan wanita dalam organisasi pendidikan (penelitian sejarah hidup, nilai-nilai, dan perilaku direktur akademi refleksi "Insan Malang Berbudi" / Sri Setyowati

 

ABSTRACT Setyowati, Sri, 2008. The Leadership of Woman in Educational Organi-zation.The Research of Life History, Values, and Behaviour The Director of Akademi Refleksi “Insan Malang Berbudi”. Dissertation. Educational Management Study, Postgraduate Program, State University of Malang, Advisors: (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (III) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Keyword : the leadership of woman, educational organization The writer chooses woman as the object of study because in the 20th – 21th century, gender appears as development issue. According to Nurture theory (Umar, 2001) Looking at socio-cultural, The leadership can be managed by man or woman, that needed by organization for the potential they have. This research sets forth the life history and the leadership behavior of woman in Java as the director of an academy running for health field. The theories used in this research are leadership theory by Robert Fritz, leadership power theory by David T. Kyle, Javanese leadership theory by Bratawijaya, Javanese culture theory by Herusatoto, Javanese culture value orientation by Simuh, and Javanese leadership analysis by Anthlov and Cederroth, Educational leadership theory by Fattah, Koentjaraningrat, Khoe Yao, Warner and Palfreyman. The research method uses qualitative approach having charac-teristic, hermeneutic and humanistic which is designed using life history research from Bogdan and Biklen (1998). The research location is in Akademi Refleksi “Insan Malang Berbudi”, on Jl. Sudimoro 36, Mojolangu, Lowokwaru, Malang, The research takes data from key informant (its director) and support informants are her employees and her family. Data collecting technique is conducted using deeply interview and document-tation. The finding in this research is about life history of woman as a director of Akademi Refleksi “Insan Malang Berbudi” that descendent factor can integrate the characteristic of leadership and charisma e.g. the potential to cure sick people and it can influence her to be fighting spirit woman. The fighting potential from she is not only from descendent factor, but also intellectual factor which is showed from her experiments and the spiritual factor is triggered by her wishes to reach her ambition supported by many people. Chronologically, she doesn't have good educational background, but she has talent to lead and all her potentials have the elements of missionaries behavior namely extrovert, helpful, kind; developer charac-teristic namely creative, innovative, dynamic, organized; and benevolent behaviour. iv Java’s culture values which she was using to manage it finds that: (1) In daily life, her personality is modest, friendly, firm and respectful. (2) The leadership for the sub ordinate can be seen from her spirit, doing a job by herself as long as she can do it, her persistence to solve the problem wisely, a good decision maker and keeping the promise. (3) Her achieve-ments prove that she is an intellectual leader. Leadership behaviour of woman as a director of Akademi Refleksi “Insan Malang Berbudi” in managing educational organization from zero to hero finds that (1) She gives information gently, gives explanation clearly, gives an order politely, warns firmly and logically, motivates them by using good language, gives model, decide firmly and keep the promise. (2) Reinforcement The procedure to give reward is fair. She helps sub ordinate who has problem using persuasive approach, prohibits them with logical reason, gives warning or punishment carefully, wisely, and firmly. (3) She gives facilities well, human and efficiently but there are weaknesses in managing building and human resource, because she doesn't have educational background in management. (4) Review finds that her charisma gives bad effect to the psychology of employees and students. They are afraid of a curse and It is caused them not to be creative. (5) The employees and the students hope that they will have the independent expert in educational management field in the future. It proves that their loyality and solidarity are good to her. (6) Graduations are guaranted. Based on the findings of research are suggested: (1) Good character of a leader which is set for an example can be a motivator for the employees in working. The leader's charisma should be used as the power of attraction to make good work's atmosphere. (2) In organizing system should be considered about human resource management. (3) In maintaining facilities, it must be identified according to the need, considered the fund, usefulness, hen determined its supplying plan. (4) It should be strived for improving the employees' welfare.

Alat pengatur temperatur udara ruangan ber-AC dengan sensor penghitung orang / Arif Nurul Hadi

 

ABSTRAK Hadi, Arif Nurul. 2008. Alat Pengatur Temperatur Udara Ruangan ber-AC dengan Sensor Penghitung Orang. Tugas akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dyah Lestari, S.T., M.Eng. dan (II) Mokh. Sholihul Hadi, S.T. Kata kunci: Mikrokontroler AT89S51, Infrared, Fotodioda, Relay, Remote Control. Pendingin udara merupakan suatu usaha untuk mengontrol suhu dalam ruangan tertentu sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi yang menempati, selain itu pendingin udara juga berfungsi untuk menjaga suhu suatu alat, dalam hal ini peralatan yang rawan terhadap panas yang berada di dalam ruangan tersebut. Selama ini pengguna menaikkan atau menurunkan temperatur ruangan dengan menggunakan tenaga manusia. Dari permasalahan tersebut muncul ide yaitu pengatur temperatur udara ruangan ber-AC dengan input sensor penghitung orang. Sistem yang akan dibuat diharapkan nantinya secara otomatis dapat mengurangi kesalahan dalam pengaturan suhu suatu ruangan dan dapat menggantikan tenaga manusia yang ada serta menghemat pemakaian energi listrik. Sensor pada alat ini diletakkan di sebelah kanan dan kiri tepi pintu. Cara kerja alat ini dimulai dengan mendeteksi orang yang keluar masuk dari pintu dengan infrared sebagai pengirim sinyal dan fotodioda sebagai penerima. Hasil dari pembacaan sensor akan diolah oleh mikrokontroler kemudian ditampilkan di LCD, apabila data yang dibaca pada mikrokontroler menunjukkan orang masuk, maka AC akan menurunkan suhu, dan juga sebaliknya apabila ada orang keluar maka AC akan menaikkan suhunya, dengan pertimbangan bahwa semua orang yang keluar masuk dapat dideteksi oleh sensor. Dari pengujian yang telah dilakukan bahwa jarak maksimal antara infrared dan fotodioda adalah 1 meter dengan catatan bahwa infrared dan fotodioda harus lurus. pada saat sensor terhalang oleh benda sensor akan memberikan tegangan 1V (logika 1), sedangkan untuk kondisi tidak terhalang, sensor akan memberikan tegangan 0,2V (logika 0). Menurut datasheet tegangan 1,9V dianggap minimal logika high oleh mikrokontroler akan tetapi pada kenyataannya tegangan 1V masih bisa dibaca oleh mikrokontroler sebagai logika high. Alat ini akan bekerja jika sudah masuk pada tampilan jumlah orang dalam ruangan, jika belum masuk pada tampilan ini maka alat tidak akan berjalan. Untuk menghitung orang yang keluar masuk melalui pintu maka digunakan sensor infrared sebagai pengirim sinyal dan fotodioda sebagai penerima dan untuk menampilkan jumlah orang ke dalam LCD maka seseorang harus melewati dua sensor yaitu sensor arah masuk dan arah keluar, untuk mengendalikan remote control digunakan dua relay, relay pertama dihubungkan pada tombol Up pada remote dan relay kedua dihubungkan pada tombol Down. Alat ini menggunakan sensor infrared dan fotodioda, keypad 3x4 sebagai pengubah tampilan menu. Untuk jenis pengolah sinyal menggunakan mikrokontroler AT89S51, dengan tampilan LCD. Data yang ditampilkan adalah jumlah orang dalam ruangan.

Pengaruh manajemen saluran distribusi terhadap loyalitas ritel PT. Lukindari Permata Malang (studi pada ritel ice cream Wall's wilayah Kota Malang) / Brahmantya Agusta

 

TERHADAP LOYALITAS RITEL PT. LUKINDARI PERMATA MALANG (Studi pada ritel Ice Cream Wall’s wilayah Kota Malang) BRAHMANTYA AGUSTA Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah manajemen saluran distribusi (manajemen kontrak, manajemen transportasi dan inventory, manajemen pengendalian saluran dan manajemen just in time) pada distributor PT Lukindari Permata dan pengaruh manajemen saluran distribusi (manajemen kontrak, manajemen transportasi dan inventory, manajemen pengendalian saluran dan manajemen just in time) pada distributor PT Lukindari permata secara parsial terhadap loyalitas ritel serta pengaruh manajemen saluran distribusi (manajemen kontrak, manajemen transportasi dan inventory, manajemen pengendalian saluran dan manajemen just in time) pada distributor PT Lukindari permata secara simultan terhadap loyalitas ritel. Keywords: Manajemen Saluran Distribusi, Loyalitas ritel di PT Lukindari Permata Malang.

Perancangan dan pembutan alat pendeteksi gas alkohol untuk keamanan untuk keamanan pengguna mobil berbasis mokrokontroler AT89S51 / Albertus Agung M.S, Kiki Lubis

 

Penulis mengangkat Tugas Akhir mengenai perancangan dan pembuatan alat pendeteksi gas alkohol di dalam ruangan mobil/kendaraan dikarenakan pada saat sekarang ini umumnya mobil di Indonesia belum dilengkapi dengan sistem keamanan pengemudi dan penumpang yang mengendarai mobil sambil minum minuman keras (mabuk). Oleh karena itu, dibuatlah alat dengan sistem monitoring keselamatan agar pengguna mobil dapat mengetahui secara dini jika terdeteksi adanya gas alkohol di dalam mobil yaitu alat pendeteksi gas alkohol. Alat ini dibuat untuk mengurangi tingkat kecelakaan lalulintas yang diakibatkan pengendara terpengaruh minuman beralkohol. Alat pendeteksi gas alkohol ini dirancang dan dibuat menggunakan komponen-komponen yaitu sensor gas alkohol tipe 2620, ADC (Analog to Digital Converter), LCD (Liquid Crystal Display), Mikrokontroler AT89S51, Relay dan Buzzer. Cara kerja dari alat ini adalah apabila sensor mendeteksi adanya inputan berupa besaran-besaran fisik (gas alkohol) dan merubahnya menjadi besaran listrik, kemudian ADC akan mengubah hasil pendeteksian sensor yang berupa analog ke digital selanjutnya data masukkan diolah dan diproses oleh mikrokontroler untuk ditampilkan ke LCD dan akan mengaktifkan sistem output ke relay koil untuk memutus arus listrik sehingga mesin mobil tidak bekerja dan menyalakan buzzer sebagai tanda peringatan jika data masukkan melebihi batas yang ditentukan. Dalam uji coba alat ini dengan menggunakan bermacam-macam jenis minuman dan kadar alkohol dapat berfungsi dan bekerja dengan baik. Alat ini cukup efektif untuk digunakan sebagai salah satu alat keselamatan (safety) dalam berkendara mobil dan juga untuk mengurangi angka kecelakaan lalulintas. Dengan adanya alat ini diharapkan dapat mempermudah pemantauan dan pengawasan keamanan pengemudi dan penumpang mobil agar tingkat kecelakaan lalulintas yang diakibatkan pengemudi mabuk terutama di kota-kota besar dapat ditekan seminimal mungkin.

Kontribusi kompetensi emosional dan praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap keberdayaan guru pada sekolah menengah kejuruan di Malang Raya / Syamsul Hadi

 

Pemberdayaan guru diakui sebagai bagian integral dalam reformasi pendidik-an. Di Indonesia, pemberdayaan guru telah diyakini sebagai komponen penting dalamreformasi pendidikan. Lahirnya Undang-Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen antara lain didasarkan pada pentingnya pemberdayaan guru. Sebagai sebuah konstruk, pemberdayaan guru terbangun oleh dimensi-dimensi: pengambilan keputusan, pertumbuhan profesional, status, efikasi diri, otonomi, dan pengaruh. Kepala sekolah dengan prilaku kepemimpinan transformasional diduga mampu memberdayakan pengikutnya. Kepemimpinan transformasional memiliki empatdimensi yang disebut “”: (pengaruh ideal), Four I’sidealized influence(motivasi inspiratif),(stimulasi inspirational motivation intelectual stimulation intelektual), dan (pertimbangan individual).Diperlukan individualized consideration adanya kemampuan yang disebut kompetensi emosional agar seseorang terampil memanfaatkan kecerdasan emosinya dalam prilaku kepemimpinannya. Kompetensiemosional mencakup: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, dan manajemen kerjasama.Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan tiga konstruk tersebut. Masalah pokok yang diajukan adalah: (1) Apakah kompetensi emosionalkepala SMK di Malang Raya berpengaruh tidak langsung terhadap keberdayaan guru yang dipimpinnya melalui praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah yang bersangkutan? dan (2)Apakah dimensi-dimensi kompetensi emosional kepala SMK berpengaruh secara signifikan terhadap keberdayaan guru melalui dimensi-dimensi praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah yang bersangkutan?Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan korela-sional majemuk, dalam mana kompetensi emosional, praktik kepemimpinan trans-formasionaldan keberdayaan guru berturut-turutsebagai variabel bebas, variabel antara, dan variabel terikat. Populasi penelitian adalah guru-guru pada 99 SMK negeri dan swasta di wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu atau wilayah Malang Raya. Sampel penelitian berjumlah 243 guru dan 74 kepala sekolah yang ditentukan dengan . proportional random samplingData dikumpulkan dengan kuesener yang diisi oleh guru berdasarkan apa yang teramati () dan dialami. Kuesener pengukurankompetensi emosional percieveddiadaptasi dari (ECI); instrumen untuk praktik Emotional Competencies Inventorykepemimpinan transformasional diadaptasi dari instrumen Transformational dan instrumen keberdayaan guru diadopsi dari Leadership Scale (TLS School)(SPES). Hasil uji coba instrumen terhadap 34 Participants Empowerment Scaleguru SMK menunjukkan bahwa ketiganya memiliki reliabilitas yang baik dengan koefisien -Cronbach lebih dari 0,900 (aKE = 0,9553; aKT = 0,9783; dan aPG = 0,9450).Penelitian ini menggunakan guru sebagai satuan analisis. Skor masing-masing variabel dan dimensi variabel dihitung berdasarkan nilai rata-rata dari skor yang diberikan oleh responden pada butir-butir pernyataan yang terkait. Pengujian hipotesis penelitian dengan (SEM) Structural Equation Modelingmenemukan bahwa: (1) kompetensi emosional berpengaruh signifikan terhadap praktik kepemimpinan transformasional, (2) praktik kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap keberdayaan guru, dan (3) kompetensi emosional berpengaruh tidak langsung terhadap keberdayaan guru melalui praktik kepemimpinan transformasional. Ditinjau dan hubungan antar dimensi, penelitian ini menemukan bahwa masing-masing dimensi kompetensi emosional berpengaruh pada dimensi-dimensi tertentu dari praktik kepemimpinan transformasional dan masing-masing dimensi praktik kepemimpinan transformasional juga berpengaruh pada dimensi-dimensi tertentu dari keberdayaan guru. Dimensi-dimensi yang saling berhubungan itu adalah: (1) kesadaran diri ber-pengaruh signifikan terhadap motivasi inspirasional dan pertimbangan individual; (2) manajemen diri berpengaruh signifikan terhadap motivasi inspirasional, penga-ruh ideal, stimulasi intelektual dan pertimbangan individual; (3) kesadaran sosialberpengaruh signifikan terhadap pengaruh ideal; (4) manajemen kerja samaberpengaruh signifikan terhadap pengaruh ideal dan stimulasi intelektual; (5) mana-jemen kerja sama berpengaruh tidak langsung terhadap keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan pertumbuhan profesional melalui stimulasi intelektual; (6) kesadaran diri berpengaruh tidak langsung terhadap keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pertumbuhan profesional, efikasi diri, otonomi, status, dan pengaruh melalui dimensi pertimbangan individual dan motivasi inspirasional; (7) manajemen diri berpengaruh tidak langsung terhadap dimensi-dimensi keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pertumbuhan profesional, efikasi diri, otonomi, status, dan pengaruh melalui dimensi motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual; (8) Dimensi kesadaran diri memiliki efek langsung, efek tidak langsung positif terhadap otonomi; (9) motivasi inspirasional memiliki berpengaruh positif terhadap pertumbuhan profesional, efikasi diri, status dan pengaruh; (10) Dimensi stimulasi intelektual memiliki pengaruh positif terhadap keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan terhadap pertumbuhan profesional; (11) Dimensi pertimbangan individual berpengaruh positif terhadap keterlibatan dalam pengambilan keputusan, efikasi diri, otonomi, status, dan pengaruh.Hubungan-hubungan antar dimensi yang ditemukan tersebut mengindikasi-kan bahwa dimensi-dimensi kompetensi emosional maupun praktik kepemimpinan transformasional akan berkontribusi terhadap keberdayaan guru hanya jika dimensi-dimensi itu terintegrasi kedalam masing-masing konstruk yang dibangunnya. Temuan penelitian ini memperkuat temuan penelitian sebelumnya. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya penguasaan kompetensi emosional oleh kepala sekolah sebagai prasyarat bagi peningkatan praktik kepemimpinan transformasional dalam rangka pemberdayaan guru.

STKC (Security Touch Key Code) dengan menekan angka berbeda secara bersamaan / Erliza Achmad

 

Pembelajaran larutan elektrolit dan nonelektrolit melalui daur belajar 5 fase (learning cycle 5E)berbantuan media audio visual untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang tahun ajaran 2007/2008 / Indah Kristina

 

Larutan elektrolit dan nonelektrolit merupakan materi yang memiliki konsep dasar penting di SMA, karena mempengaruhi penguasaan materi yang lebih kompleks seperti: materi elektrolisis dan sel galvani yang dipelajari pada tingkat/semester lebih tinggi. Oleh karena itu, siswa harus menguasai dengan baik materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan menggunakan model dan media pembelajaran yang menarik. Media pembelajaran yang dapat digunakan adalah media audio visual berupa VCD. Media audio visual berupa VCD tersebut selanjutnya diterapkan dalam model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E). Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui perbandingan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) berbantuan media audio visual dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) tanpa media audio visual, 2) Mengetahui kualitas proses pembelajaran antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) berbantuan media audio visual dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) tanpa media audio visual, 3) Mengetahui tanggapan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) berbantuan media audio visual. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu dan deskriptif. Sampel dipilih secara acak dengan undian dan terpilih kelas X-1 sebagai kelompok eksperimen, sedangkan kelas X-7 sebagai kelompok kontrol. Media audio visual yang digunakan sebelumnya divalidasi terlebih dahulu kepada 1 orang dosen kimia dan 2 orang guru kimia. Hasil validasi menunjukkan media audio visual berkualifikasi layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Instrumen tes yang digunakan berupa tes pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban yang telah dilakukan validasi 40 butir soal. Reliabilitas soal dihitung menggunakan KR-21 diperoleh hasil sebesar 0,803. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t pihak kanan. Pengujian hipotesis menunjukkan nilai thitung sebesar 2,83. Nilai tersebut lebih besar dari ttabel, yaitu 1,67. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelompok eksperimen lebih tinggi daripada hasil belajar siswa kelompok kontrol. Selain dapat meningkatkan hasil belajar siswa, penerapan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) berbantuan media audio visual dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan siswa yang sangat baik dalam kegiatan laboratorium, keterlibatan siswa semakin tinggi dalam proses pembelajaran, baik keaktifan mengemukakan pendapat, bertanya, maupun kesiapan belajar siswa. Dari data pengisian angket, tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) berbantuan media audio visual menggambarkan bahwa 15,2% siswa menunjukkan tanggapan sangat positif, 84,8% menunjukkan tanggapan positif, tidak ada siswa yang menunjukkan tanggapan negatif dan sangat negatif. Dapat disarankan bagi guru mata pelajaran kimia untuk mencoba menerapkan model pembelajaran daur belajar 5 fase (Learning Cycle 5E) berbantuan media audio visual supaya dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas proses pembelajaran.

Semantic and stylistic analysis of juz'amma (of the holy Qur'an) English translations by A. Yusuf Ali, T.B. Irving, and N.J. Dawood / Dimjati Ahmadin

 

ABSTRACT Ahmadin, Dimjati. 2008. Semantic and Stylistic Analyses of Juz-‘Amma of the Holy Qur’an English Translation by A. Yusuf Ali, T. B. Irving, and N. J. Dawood. Dissertation. The English Language Education, Graduate Program, State University of Malang. Advisers: (I) Prof. H.M. Adnan Latief, M.A., Ph.D. (II) A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D. (III) Dr. Nurul Murtadho, M.Pd. Key Words: Semantic and Stylistic Analyses, the Methods of Translation used. The Way A. Yusuf Ali, T.B.Irving N.J. Dawood Translate Juz-‘Amma of the Holy Qur’an from Arabic into English. The present study analyzes the translation of Juz-’Amma of the Holy Qur’an from Arabic (source language) to English (target language) by A. Yusuf Ali, T. B. Irving, and N. J. Dawood. Specifically, the study deals with the following questions: how do the translators preserve lexical, sentential, discoursal, and speech act meanings, and how do they preserve language style and aspects of stylistics as well as appropriate translation methods used ? This research uses text analysis as well as qualitative research design in the data analyses. Related to text analysis, equally different type of text have to be understood in the context of their condition of production and reading. Since the producer of Juz-'Amma's text is God(Allah SWT) and Juz-'Amma is part of he Holy Qur'an; in understanding the text of this study the criteria in comprehending the Holy Qur'an (discussed on p.109) is to be involved. To answer the questions, the present researcher objectively and systematically identifies the features of the translation of Juz-‘Amma of the Holy Qur’an from Arabic into English stated above. Related to lexical meanings the translators involve synonymy, antonymy, homonymy, hyponymy, connotative, denotative and figurative meanings, ambiguity, and vagueness. Besides, collocation or placing words having meaning relationship is often made in similar surrounding, i.e., in the same surah. The collocation often includes almost similar words or words that relate to each other. The alternative uses of these words contribute to lexical cohesion and, accordingly, facilitate readers’ comprehension. Concerning with sentential meanings the three translators retain appropriateness of word and sentence choices to gain acceptability, grammaticality, and meaningfulness as well as analytic and synthetic sentence, entailment, presupposition and logical truth . In addition, they also make use of five types of cohesion. At the discoursal level, the translators maintain the cohesion using pronouns (I, me, my, you, your, he, his, him, they, them, their, it, its, etc.), substitution, ellipses, appropriate relating conjunction and particles (and, but, for, so, yet, therefore, that, which, who, whosoever, if, as if, when, whatever, whereas, while, etc.). The translators also create exophoric relationship, where their interpretation lies outside the text in the context of situation, and endophoric relations that do form cohesive ties within the text. Endophoric relations they use are of two kinds: those which look back in the text for their interpretation are called anaphoric relations, and ones which look forward in the text of their interpretation are called cataphoric relations.To achieve poetic beauty, they also tend to select verse paragraphs, use combination of formal, informal, colloquial, and hypotactic style. As well, they use adequate aspects of stylistic devices to create communicative, semantic and poetic translation. It is interesting to note that the three translators hardly relate relevant parts of their English translations of Juz-'Amma of the Holy Qur'an to relevant Hadith of the Prophet Muhammad s.a.w as well as other verses needed tobe related; this situation is different from what had been carried out by As-Shiddieqy when he chaired a team translating the Holy Qur’an in Arabic to Indonesian in which locutionary, illocutionary and perlocutionary acts because of Q or because of M are maintained, in their introduction of their Indonesian translation, they gave clear explanation of situation substance found in certain verses . So, despite the success of the translators in several respects, the translators seem to fail to cope with meanings in relation to speech acts as As-Shiddieqi did. Therefore, it is suggested that the translators of Juz-'Amma of the Holy Qur'an include locutionary, illocutionary and perlocutionary act because of Q as well as locutionary, illocutionary and perloctutionary act because of M if it is necessary in their English translation of Juz-'Amma of the Holy Qur'an in order that their English translation of Juz-'Amma of the Holy Qur'an is more beneficial for those who intend to know the teaching of the Holy Qur'an appropriately and correctly.

Sistem kontrol otomatisasi parkir mobil di dalam gedung perkantoran berbasis AT89S51 / Yayat Hidayat

 

Pada saat ini otomatisasi berkembang dengan pesatnya. Setiap alat maupun suatu sistem yang digunakan di dunia industri dan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari selalu dikembangkan agar menjadi lebih otomatis agar sesuatunya menjadi lebih praktis, efektif dan efisien.Tidak terkecuali dalam memenuhi kebutuhan transportasi.Banyak masyarakat yang memilih mobil sebagai sarana transportasi utama,tapi tidak diikuti dengan sarana tempat parkir yang memadai. Sebagian besar tempat parkir yang ada kondisinya kurang memadai. Hal tersebut dikarenakan kurangnya fasilitas yang dapat membantu pemakai tempat parkir. Pengaturan tempat-tempat parkir saat ini hanya mengandalkan para petugas parkir tanpa dilengkapi dengan peralatan penunjang. Sehinga apabila terjadi kesalahan atau kelalaian petugas parkir,para pemakai tempat parkir akan dirugikan. Para pemakai tempat parkir akan mencari tempat parkir yang masih kosong, dan jika sudah penuh, pemakai tempat parkir akan keluar dari area parkir untuk mencari tempat parkir lain yang masih kosong. Hal ini sering terjadi pada tempat-tempat parkiran di dalam gedung perkantoran. Sistem tempat parkir ini dapat menampung sekitar 10 mobil yang terdiri dalam 2 baris dan masing-masing baris terdiri dari 5 kolom, dan dikontrol oleh Mikrokontroler AT89S51. Sensor (infrared) yang dipasang pada pintu masuk dan pintu keluar untuk mengetahui adanya mobil masuk dan mobil keluar dan untuk membuka dan menutup portal pada gerbang pintu masuk dan pintu keluar serta sensor lokasi (infrared) yang dipasang pada masing-masing petak yang akan mendeteksi apakah tempat tersebut telah terisi. Sensor akan aktiv jika terdapat benda yang menghalanginya. Keluaran dari sensor berlogika “0” jika sensor aktiv dan brlogika “1” jika sensor tidak aktiv (pasif). Keluaran dari sensor dimasukan ke mikrokontroler sebagai kontrol utama yang akan mengoperasikan seluruh sistem. Keluaran dari mikrokontroler dihubungkan dengan CPU sebagai tampilan dari lokasi yang masih kosong. Jika area tempat parkir telah penuh, maka portal pintu masuk tidak akan terbuka lagi. Sebagai contoh apabila terdapat mobil masuk dan mengaktivkan sensor infrared yang diletakan sebelum pintu masuk, mikrokontroler akan bekerja untuk menggerakan motor yang berfungsi untuk membuka portal pada pintu masuk kemudian mobil mengaktivkan sensor yang diletakan setelah pintu masuk, mikrokontroler akan bekerja untuk menggerakan motor yang berfungsi untuk menutup portal pada pintu masuk. Mobil akan menempati lokasi yang masih kosong dan mengaktivkan sensor lokasi (infrared) yang keluarannya dimasukan ke mikrokontroler sebagai kontrol utama. Selain untuk menghidupkan display pada CPU yang dilanjutkan ke layar monitor, keluaran dari mikrokontroler juga dihubungkan dengan driver relay. Rangkaian driver relay bertujuan untuk mengatur gerak motor dengan masukan yang diperoleh dari keluaran mikrokontroler yang akan mengatur motor agar tidak bergerak atau membuka portal pada pintu masuk apabila area parkir telah penuh (dengan kapasitas tempat parikr 10 kendaraan). Semua sistem dioperasikan oleh Mikrokontroler AT89S51 sebagai kontrol utama Dari hasil pengujian rangkaian keseluruhan sistem, sistem kontrol otomatisasi tempat parkir mobil dalam gedung berbasis mikrokontroler dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan yang direncanakan. Sensor akan aktif jika sinar terus terhalang. Mobil masuk harus menghalangi sensor dengan memanfaatkan body mobil untuk memastikan bahwa terdapat mobil ada yang mengisi tempat parkir. Jika dalam keadaan full terdapat mobil yang keluar dan menyentuh sensor keluar, palang pintu akan membuka. Jika ada mobil masuk, maka pada display akan menampilkan lokasi yang masih kosong. Jika lokasi tempat parkir kosong, baris dan kolom yang dekat dengan pintu masuk lebih diprioritaskan untuk tampilan pada display. Dari perancangan dan pengujian sistem monitoring tempat parkir mobildalam gedung berbasis mikrokontroler dapat disimpulkan sebagai berikut:1. Sistem otomatisasi tempat parkir mobil dalam gedung berbasis mikrokontroler dapat menampung sekitar 10 kendaraan yang terbagi dalam 2 baris dan 5 kolom dan dikontrol oleh Mikrokontroler AT89S51. 2. Selang waktu antara 2 mobil yang akan mengaktifkan sensor masuk 1 detik setelah mobil menghalagi sensor masuk, sehingga tidak ada mobil yang mengaktitkan sensor secara bersama. 3. Baris dan kolom yang dekat dengan pintu masuk lebih diprioritaskan. 4. Lokasi yarg masih kosong ditampilkan pada display monitor dengan software program delphi 7. 5.Pada saat power supply dihidupkan, seluruh sistem dalam keadaan on, palang pintu masuk menutup, palang pintu keluar menutup, dan display monitor menampilkan tulisan parkir kosong. Berdasarkan hasil pengujian alat secara keseluruhan masih terdapat kelemahan pada mekanisasi alat sehingga diperlukan perbaikan dan perawatan yang tepat dan benar, agar kelemahan-kelemahan yang terjadi dapat berkurang.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan remidi yang memperhatikan modalitas belajar siswa pada materi reaksi redoks kelas X MAN Malang I tahun pelajaran 2007/2008 / Yunita Anggraeni

 

Perencanaan pengatur kecepatan kipas evaporator secara digital dengan penampilan suhu pada AC mobil / Banu Issetyo Tazali

 

Hubungan pengalaman pembelajaran fungsi utama bisnis dan suksesi bisnis dengan strategi bersaing dan kinerja bisnis pada sentra industri kecil onix dan marmer di Tulungagung / Tuhardjo

 

ABSTRAK Tuhardjo, 2008 Hubungan Pengalaman Pembelajaran Fungsi Utama Bisnis dan Suksesi Bisnis dengan Strategi Bersaing dan Kinerja Bisnis pada Sentra Industri Kecil Onix dan Marmer di Tulungagung. Disertasi Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pacasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Umar Nimran, MA., Ph.D., (2) Prof. Dr. Salladien, dan (3) Dr. Sunaryanto, M.Ed. Kata kunci: Pengalaman pembelajaran, fungsi utama bisnis, suksesi bisnis, successor dan successe, industri kecil, strategi bersaing, dan kinerja bisnis. Di Indonesia, pentingnya industri kecil ditunjukkan oleh perannya di dalam penciptaan kesempatan kerja, sumber pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan devisa melalui eksport. Namun dalam perkembangannya industri kecil sering menghadapi masalah baik internal maupun eksternal. Kendala internal terkait dengan kepemilikan sumberdaya baik aset financial dan aset intelektual; kendala eksternal terkait dengan keterbatasan untuk akses ke lembaga keuangan, yang kesemuanya memiliki dampak pada strategi bersaing dan pencapaian kinerja bisnis yang unggul. Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk mengeksplanasi hubungan pengukuran dan hubungan struktural antara konstruk pengalaman pembelajaran fungsi utama bisnis dan suksesi bisnis dengan strategi bersaing dan kinerja bisnis. Penelitian ini juga bertujuan memberikan rekomendasi berdasarkan temuan-temuan penelitian yang relevan dengan kepentingan pengembangan industri kecil onix dan marmer sesuai sumberdaya yang dimiliki. Penelitian yang dikategorikan penelitian kausalitas ini menggunakan pendekatan survey cross sectional, dengan menekankan pada keterhubungan antar konstruk atau variable laten. Analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model (SEM); mengingat konstruk yang diteliti menunjukkan hubungan kausal yang kompleks dan tersusun atas beberapa dimensi dengan multiindikator. Populasi sebanyak 260 pengusaha dan diambil sebagai sampel 143 pengusaha secara purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan mengadopsi teori-teori yang relevan dengan konstruk penelitian. Hasil penelitian melalui hasil uji hipotesis model pengukuran dan model stuktural menunjukkan menunjukkan: (1) PPF-utama bisnis secara valid dan reliabel diukur melalui dimensi PPF-keuangan, PPF-produksi, dan PPF-pemasaran ditunjukkan dengan C.R>2, p-value <0,05 dan koefisien baku masing-masing dimensi 0,968, 0,982, dan 0,982; (2) suksesi bisnis secara valid dan reliabel diukur melalui dimensi suksesi manajemen dan suksesi aset ditunjukkan dengan C.R>2, p-value <0,05 dan koefisien baku masing-masing dimensi 0,968 dan 0,996; (3) strategi bersaing secara valid dan reliabel diukur melalui dimensi strategi cost leadership, differentiation, dan focus; ditunjukkan dengan C.R>2, p-value <0,05 dan koefisien baku masing-masing dimensi 0,968, 0,996, dan 0,996; (4) kinerja bisnis secara valid dan reliabel diukur melalui dimensi growth ratio dan profitability ratio ditunjukkan dengan C.R>2, p-value <0,05 dan koefisien baku masing-masing dimensi 0,913, dan 0,917; (5) PPF-utama bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi bersaing, ditunjukkan dengan koefisien jalur 0,740, C.R sebesar 6,984>2 dan p-value 0,000<0,05; (6) PPF-utama bisnis tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis ditunjukkan dengan koefisien jalur -0.152, C.R sebesar 0,434<2 dan p-value 0,664>0,05; (7) suksesi bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi bersaing ditunjukkan dengan koefisien jalur 0,253, C.R sebesar 2,432>2 dan p-value 0,015<0,05; (8) suksesi bisnis tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis ditunjukkan dengan koefisien jalur 0,379, C.R sebesar 1,875<2 dan p-value 0,061>0,05; dan (9) strategi bersaing berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja bisnis ditunjukkan dengan koefisien jalur 0,733, C.R sebesar 2,107>2 dan p-value 0,035<0,05. Temuan penelitian penting adalah: (1) bagus tidaknya PPF-Utama Bisnis lebih banyak dicirikan oleh baik buruknya PPF-Produksi dan PPF-Pemasaran daripada PPF-Keuangan, (2) bagus tidaknya implementasi suksesi bisnis lebih banyak dicirikan oleh baik buruknya suksesi aset daripada suksesi manajemen, (3) bagus tidaknya implementasi strategi bersaing lebih banyak dicirikan oleh baik buruknya implementasi differentiation dan focus strategy daripada cost leadership, (4) bagus tidaknya tingkat kinerja bisnis lebih banyak dicirikan oleh baik buruknya tingkat profitability ratios daripada growth ratios, (5) semakin kaya PPF-Utama Bisnis yang dimiliki responden semakin bagus strategi bersaing yang diformulasikan dan diimplementasikan, (6) responden yang kaya akan PPF-Utama Bisnis tidak dengan secepatnya akan bagus kinerja bisnisnya, (7) pengusaha yang menggantikan kepemilikan bisnis dengan lebih direncanakan (more planned succession) akan memiliki strategi bersaing yang lebih baik, (8) pengusaha yang menggantikan kepemilikan bisnis dengan lebih direncanakan (more planned succession) tidak selalu memiliki kinerja bisnis yang lebih baik, dan (9) pengusaha yang memformulasikan dan mengimplementasikan strategi bersaing dengan lebih baik akan memiliki kinerja bisnis yang lebih baik pula. Disarankan institusi pendidikan ekonomi melibatkan diri dalam peningkatan kompetensi berbisnis pengusaha kecil berdasarkan analisis kebutuhan materi dan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pengusaha; industri kecil seyogyanya konsekuen dan konsisten untuk mengembangkan kemauan dan kemampuan belajar karena pembelajaran merupakan bagian yang integral dari dunia kerja. Pembelajarannya bisa dilakukan dengan learning by doing, and learning from others. Ini semua diharapkan dapat mempertinggi kompetensi dalam bisnis bagi pengusaha kecil, sehingga dapat memperbaiki strategi barsaing dan kinerjanya. ABSTRACT Tuhardjo, 2008, Relationship of Learning Experience of Business Primary Functions and Business Succession with Competitive Strategy and Business Performance at Onyx and Marmer Small Industry Centre in Tulungagung. Dissertation, Study Program of Economics Education Postgraduate Program, State University of Malang Advisors: (1) Prof. H. Umar Nimran, M.A., Ph.D, (2) Prof. Dr. Salladien, and (3) Dr. Sunaryanto, M.Ed. Key words: learning experience, business primary function, business succession, successor and successe, small industry, competitive strategy, and business performance. In Indonesian, importance role of small industry showed in create work employment, economic growth resource, and create devisa through export. Nevertheless, in development small industry often meet internal and external problems. The internal constraint relate with ownership in financial asset and intellectual asset resources; external constraint relate with to financial institution asses. All of these, have effect to competitive strategy and achievement for superior business performance. Basically, the research goal to explanation measurement and structural relationship between learning experience of business primary function construct and business succession, with competitive strategy and business performance. So, this research goal given recommendation based on relevant research findings with development onyx and marmer small industry conform to their resources. This research categories is causality with used survey cross sectional approaches., emphasizes on relationship between latent variables. Analysis used in this research is Structural Equation Model; because researched construct showed complex causal relationship and is arrangement on several dimension and multiindicators. Population numbers is 260 entrepreneurs, and sample numbers is 143 entrepreneurs, in which to determine with purposive sampling. Data collecting instrument used questionnaire that had been developed by the researcher with adopt relevant theories by research construct. The research finding that generate through hypothesis examination to measurement and structural model, indicate that: (1) Learning experience of business primary function is valid and reliable was measured through learning experience of financial function, learning experience of production function, and learning experience of marketing function, with C.R. > 2, p-value < 0,05, and standard coefficient each dimension 0,968, 0,982, and 0,982; (2) business succession is valid and reliable measured through management succession and assets succession dimension, with C.R > 2, p-value < 0,05, and standard coefficient each dimension 0,968, and 0,996; (3) competitive strategy is valid and reliable measured through cost leadership, differentiation, and focus strategy dimension, with C.R > 2, p-value < 0,05, and standard coefficient each dimension 0,968, 0,996, and 0,996; (4) business performance is valid and reliable was measured through growth and profitability ratio dimension, with C.R > 2, p-value < 0,05, and standard coefficient each dimension 0,913 and0,917; (5) learning experience of business primary function has positive and significant relationship to competitive strategy, with path coefficient 0,740 C.R. 6,984 > 2, p-value 0,000 < 0,05; (6) learning experience of business primary function has not significant relationship to business performance, with path coefficient -0,152, C.R. 0,434 < 2, and p-value 0,664 > 0,05; (7) business succession has positive and significant relationship to competitive strategy, with path coefficient 0,253, C.R. 2,432 > 2 and p-value 0,015 < 0,05; (8) business succession has not significant relationship to business performance, with path coefficient 0,379, C.R. 1,875 < 2 and p-value 0,061 > 0,05; and (9) competitive strategy has positive and significant relationship to business performance, with path coefficient 0,733, C.R. 2,107 > 2 and p-value 0,035 < 0,05. Important research findings are: (1) good and bad of learning experience of business primary function more characteristic by good and bad in the learning experience of production function and marketing than financial function; (2) good and bad of business succession implementation more characteristic by good and bad in the assets succession than management succession.; (3) good and bad of competitive strategy implementation more characteristic by good and bad in the differentiation and focus strategy than cost leadership strategy implementation; (4) good and bad of business performance level more characteristic by good and bad in the profitability ratio level than growth ratio; (5) more wealthy of learning experience of business primary function, more good the formulated and implemented competitive strategy; (6) more wealthy of learning experience of business primary function not quickly will increasing business performance level; (7) entrepreneurs that replace business ownership that more planned will have more good competitive strategy; (8) entrepreneurs that will replace business ownership that more planned not always have more good business performance; and (9) entrepreneurs that have formulated and implemented more good competitive strategy will have good business performance. It is suggested, for economy educational institution to involve in the incremental business competence for small entrepreneur based on material need analysis and fit learning model; small industry must be consequence and consistent to developed of willingness and learn capabilities because learning is integral part of work place. Learning can do with learning by doing, and learning from others. All of these, expectation, can leverage of competence in business for small entrepreneur.

Pengaruh intensitas bimbingan belajar dan persepsi siswa tentang kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa SMA Negeri I Durenan Trenggalek / Mahbub Afandi

 

ABSTRAK Afandi, Mahbub. 2008. Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua dan Intensitas Bimbingan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri I Durenan. Skripsi. Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj. Sutatmi, M.Pd. M.Si. Ak, Pembimbing (2) Sripujiningsih, S.E. M.Si Kata kunci: Kondisi Sosial Ekonomi, Bimbingan Belajar, Prestasi Belajar Keberhasilan pembelajaran yang ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya kondisi sosial ekonomi orang tua dan intensitas bimbingan belajar. Kondisi sosial ekonomi tinggi mempengaruhi mental dan ketersediaan waktu belajar siswa, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi siswa. Sementara intensitas bimbingan belajar mempengaruhi prestasi belajar melalui peningkatan pemahaman dan pengetahuan siswa terhadap materi pelajarannya. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua dan intensitas bimbingan belajar terhadap prestasi siswa kelas XI IPS SMA Negeri I Durenan, maka penelitian ini dilakukan. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis regresi berganda, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel penelitian baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi terhadap 80 siswa dengan metode pengumpulan data melalui angket dan dokumentasi. Dari hasil analisis data diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi memiliki pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai β sebesar 0.548 dan probabilitas 0.000. Selanjtnya intensitas bimbingan belajar juga memiliki pengaruh positif terhadap prestasi belajar dimana diperoleh nilai β sebesar 0.221 dan probabilitas 0.016. Kemudian secara simultan kondisi sosial ekonomi dan intensitas bimbingan belajar memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar. Hal tersebut terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai R square sebesar 0.399 sehingga dapat disimpulkan bahwa 39 % prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi orang tua dan intensitas bimbingan belajar secara simultan. Dari perhitungan sumbangan efektif secara parsial diketahui kondisi sosial ekonomi orang tua merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, yakni 32,55%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua dan intensitas bimbingan belajar berpengaruh positif terhadap prestasi siswa sebesar 39%. Dengan demikian untuk meningkatkan prestasi belajar siswa disarankan sekolah untuk lebih meningkatkan bimbingan belajar terhadap siswanya. Daftar Nilai Bidang Studi Akuntansi Kelas : XI _ S1 Semester/ Tahun pelajaran : GASAL / 2007-2008 No Absen Nama Siswa Nilai 1 Abdul Malik Indro 66 2 Andika Samna 70 3 Andrian Vikiarya 68 4 Ian Ardi Kusuma 69 5 Imelda Weni 68 6 Moh.Jafar Siddiq 70 7 Nidaum Magfud 66 8 Acmad Munif 68 9 Anna Rosalina 72 10 Bibit Sulatriani 72 11 Ismi Nurlaili 71 12 Suci Retnawati 70 13 Acik Novita Ayu 70 14 Andika Yulistiono 68 15 Eko Wahyudiono 70 16 Muh.Muklisul 69 17 Pepen Riyadi 69 18 Risma Rahmawati 71 19 Edditias Indar 75 20 Feri Eko Saputro 69 21 Galuh Adityawan 75 22 Hadi Prawira 61 23 Lilis Anawati 72 24 Niken Pujianingsih 75 25 Dafid Prasetyo 69 26 Darlinawati 75 27 Hanik Anjarwati 73 28 Dwi Indarwati 72 29 Edi Setyawan 72 30 Neti Chivayaturroh 83 31 Niki Ardiana 76 32 Santi Yulaika 75 33 Sisca Aprilia 56 34 Uswatun Khasanah 80 35 Yunita Dewi 68 36 Andre Handoko 74 37 Kukuh Yulianto 74 38 Peti Meliasari 77 39 Purwaningsih 74 40 Wahyuningsih 70 Rata-rata 71.05 Daftar Nilai Bidang Studi Akuntansi Kelas : XI _ S2 Semester/ Tahun pelajaran : GASAL / 2007-2008 No Absen Nama Siswa Nilai 1 Ahmad Husaini 82 2 Andan Yekti Purwanu 78 3 Heri Nuryunianto 76 4 Laili Niha 77 5 Aditya Edi Handoko 79 6 David Candra 80 7 Debi Setyawan 79 8 Dheni Dwi Kriswanto 85 9 Ervan Ari Saputra 78 10 Ida Ernawati 73 11 Lailatul Faristin 75 12 Yeni Oktavianasari 60 13 Deta Eka Larasati 80 14 Edi Santoso 81 15 Fachru Rozi 78 16 Nanang Purnawan 78 17 Nasrul Fajar 79 18 Wiji Heri Santoso 83 19 Aditya Pradana 79 20 Anik Mariastuti 80 21 Defia Wulansari 77 22 Dwi Lestari 78 23 Atik Sulistiani 80 24 Azis Sutomo 80 25 Risma Mualimatun ni’mah 78 26 Nunin Ni’mah 79 27 Sectio Febilud Fiana 80 28 Ulfi Zuniati Azizah 78 29 Devanda Ilham Kurniawan 79 30 Eni Suryani 80 31 Intan Asrining Endhinia 85 32 Muh.Abdurrohman 80 33 Okti Dwi Wulan 75 34 Wahyu Dwi Sanjaya 76 35 Indah Dwi Kartika 83 36 Wahyu Agustina 82 37 Firgo Firmawan 80 38 Ali Imron Irvan Fauzi 76 39 Budi Santoso 78 40 Herda Prima Noviana 79 Rata-rata 70.65

Pengembangan paket bimbingan manajemen konflik bagi siswa SMP kelas VIII / Ratna Dwi Lestari

 

Lestari, Ratna Dwi. 2013. Pengembangan Paket Bimbingan Manajemen Konflik bagi Siswa SMP Kelas VIII. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Widada, M.Si. (II) Dr. Nur Hidayah, M.Pd. Kata Kunci: paket bimbingan, manajemen konflik, siswa SMP     Siswa SMP adalah individu yang berkembang dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, dan pola perilaku. Pada masa ini, siswa SMP belum bisa mengelola konflik secara efektif, dan memilih bersikap agresif. Padahal konflik adalah hal yang tidak bisa dihindari kehadirannya. Keterampilan manajemen konflik konstruktif harus dilatihkan kepada siswa agar dampak yang diperoleh atas konflik yang dialami bersifat positif bagi semua pihak yang terlibat. Berdasarkan hasil wawancara dengan konselor di SMP Negeri 2 Mojosari, ternyata masih banyak sekali siswa kelas VIII yang mengelola konflik secara destruktif. Selama ini belum ada media berupa paket bimbingan yang dikembangkan untuk membantu meningkatkan keterampilan manajemen konflik siswa. Oleh karena itu, perlu dikembangkan paket bimbingan manajemen konflik bagi siswa kelas VIII SMP.     Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan Paket Bimbingan Manajemen Konflik bagi Siswa SMP Kelas VIII yang berterima secara teoritis dan praktis dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan.     Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan (research and development) dengan mengadaptasi model Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) tahap I perencanaan: menentukan potensi dan masalah penelitan, melakukan kajian pustaka dan need assesment; 2) tahap II pengembangan produk: menyusun tujuan umum dan tujuan khusus, menyusun prototype, dan mendesain produk; 3) tahap III uji coba produk: uji ahli (uji ahli materi bimbingan dan konseling dan uji ahli rancangan produk), revisi produk berdasarkan hasil penilaian uji ahli, uji calon pengguna produk (konselor), revisi berdasarkan hasil penilaian uji pengguna produk, uji coba produk terbatas (uji kelompok kecil); revisi berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil; hasil produk akhir berupa Paket Bimbingan Manajemen Konflik bagi Siswa SMP Kelas VIII.     Produk yang dihasilkan berupa dua buku, yaitu paket bimbingan untuk siswa, dan buku panduan untuk konselor. Di dalam paket bimbingan ini terdapat empat topik, yaitu Mengenal Konflik Lebih Dekat, Srategi Manajemen Konflik, Mari Kita Bernegosiasi, dan Pemecahan Masalah dengan Strategi Kolaborasi. Setiap topik dilaksanakan dengan alokasi waktu 2x40 menit. Prosedur bimbingan disesuaikan dengan tahapan yang ada dalam strategi pembelajaran terstruktur.     Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif dari para ahli, calon pengguna produk, dan kelompok kecil, dapat disimpulkan bahwa Paket Bimbingan Manajemen Konflik bagi siswa SMP berterima secara teoritis dan praktis dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada konselor kelas VIII sebagai calon pengguna produk agar memahami dan mempelajari paket bimbingan manajemen konflik sebelum mengaplikasikannya kepada siswa. Bagi siswa. hendaknya sesantiasa berperan aktif dalam setiap prosedur kegiatan bimbingan yang dilaksanakan. Bagi peneliti selanjutnya, produk hasil penelitian dan pengembangan ini dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan paket bimbingan manajemen konflik dalam membantu meningkatkan keterampilan manajemen konflik siswa.

Karakteristik dan tanggapan wisatawan terhadap daerah tujuan wisata telaga Sarangan Kabupaten Magetan / Toto Wibowo

 

Pariwisata merupakan salah satu sector yang memberikan masukan devisa Negara maupun daerah. Parawisata juga mampu menciptakan dan memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mendorong pelestarian lingkungan, dan memperluas wawasan nusantara, serta memperkokoh Persatuan dan Kesatuan.Telaga Sarangan merupakan suatu daerah tujuan wisata di kabupaten Magetan yang mempunyai panorama pemandangan alam yang cukup indah sehingga keberadaan Telaga Sarangan dijadikan salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Magetan. Penelitian ini dirancang dengan metode survey yang bertujuan untuk mendiskripsikan karakteristik dan tanggapan wisatawan terhadap daya tarik Telaga Sarangan yang berkaitan dengan sapta pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah tamah, dan Kenangan) serta sarana dan prasarana pendukung kepariwasataan yang ada di obyek wisata Telaga Sarangan Kabupaten Magetan. Penelitian ini mengambil populasi wistawan yang sedang berkunjung ke Telaga Sarangan berjumlah 100 wisatawan, sedangkan pengambilan sampelnya dilakukan dengan memberikan angket kepada para wisatawan dan analisis data menggunkan analisis prosentase dan dijabarkan dengan analisid diskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa para wisatawan yang berkunjung sebagian besar berasal dari daerah-daerah di sekitar Kabupaten Magetan dengan jenis kelamin perempuan. Umur wisatawan terbanyak 19-25 tahun dengan latar belakang pendidikan SMA, dengan motivasi berwisata dengan pola berombongan menggunakan kendaraan sewaan dan menghabiskan waktu 1-2 jam untuk berwisata. Untuk kondisi sapta pesona Telaga Sarangan (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah tamah, dan Kenangan) menurut wisatawan cukup baik. Kondisi sarana dan prasarana yang ada di obyek wisata Telaga Sarangan menurut wisatawan juga cukup naik, sehingga dari hasil penelitian maka perlu peningkatan kondisi sapata pesona dan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menjadikan Telaga Sarangan sebagai daerah tujuan wisata yang banyak diminati pengunjung.

Speaking materials for the first year students of MTs Negeri Salawu Tasikmalaya / Uyuh Wahyudin

 

ABSTRAK Wahyudin, Uyuh. 2008. Materi Pembelajaran Keterampilan Berbicara Untuk Siswa Kelas Satu Madrasah Tsanawiyah Negeri Salawu, Tasikmalaya. Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. H. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Dr. Yazid Basthomi, M.A. Kata Kunci: pengembangan, materi pembelajaran, prosedur pengembangan. Pengajaran Bahasa Inggris pada sekolah Madrasah Tsanawiyah termassuk mata pelajaran wajib. Oleh karenanya, masalah-masalah yang bisa mengakibatkan ketidakefektifan proses pembelajaran Basaha Inggris harus mendapatkan perhatian. Sementara itu, masalah dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris pada sekolah MTs Negeri Salawu adalah kurang tersedianya bahan ajar untuk pembelajaran Bahasa Inggris. Disampaing itu, materi pembelajaran yang tersedia tidak dilengkapai dengan materi pendukung seperti buku panduan guru and buku kerja siswa. Berkenaan dengan kondisi tersebut di atas, maka masalah yang harus segera mendapatkan pemecahannya adalah ketersediaan materi pembelajaran. Untuk masalah tersebut, solusi yang dianggap paling tepat adalah pengembangan materi pembelajaran. Mengingat siswa diharapkan mampu menggunakan Bahasa Inggris secara lisan, sementara materi yang diperlukan untuk pembelajaran keterampilan berbicara sangat kurang, oleh karenanya, pengembangan ini ditujukan untuk menghasilkan produk berupa materi pembelajaran keterampilan berbicara yang dilengkapi dengan buku panduan guru dan buku kerja siswa. Materi pembelajaran ini diharapkan bisa memperkaya sumber pembelajaran khususnya pembelajaran keterampilan berbicara dan diharapkan menjadi materi pembelajaran yang mampu memfasilitasi dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan berbicara. Prosedur pengembangan yang digunakan merupakan adaptasi dari prosedur pengembangan yang disarankan oleh Borg dan Gall (1983), Dick dan Carey (2001) serta Tomlinson (1998). Prosedur pengembanganya terdiri dari tahapan-tahapan dimana produk dikembangkan, diujicobakan dan direvisi berdasarkan hasil uji coba. Tahapan-tahapan tersebut meliputi: analisa kebutuhan, pengembangan tujuan, pengembangan materi, validasi ahli, revisi, uji coba, revisi dan penyelesaian produk akhir. Produk akhir dari pengembangan ini adalah buku siswa, buku latihan dan buku panduan guru. Buku siswa adalah buku materi pembelajaran keterampilan berbicara bagi sisa kelas VII semester satu yang disusun dalam tahapan yang sistematis yaitu, A. Dialogs, B. Expression Focus, C. Practice dan D. Let’s Act It Out; Materi pembelajarannya disusun berdasarkan fungsi-fungsi bahasa yang meliputi kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Kompetensi tahun 2006. Buku latihan adalah buku bagi siswa untuk melengkapi latihan-latihan tertulis dan buku panduan guru adalah buku pegangan guru yang memuat petunjuk-petunjuk penggunaan materi pembelajaran keterampilan berbicara. Buku panduan guru dilengkapi dengan dialog-dialog yang menjadi kunci jawaban dari latihan-latihan yang diberikan dalam buku siswa. Setelah melalui tahapan uji coba, produk pengembangan ini terbukti berhasil dan cocok digunakan sebagai materi pembelajaran keterampilan berbicara khususnya bagi siswa/i kelas satu. Lembar kerja siswa terbukti membantu siswa dan membuat proses pembelajaran lebih effectif begitu pula buku panduan guru sangat membantu guru dalam mengimplementasikan proses pembelajaran. Mengingat bahwa produk pengembangan ini sesuai untuk digunakan sebagai materi pembelajaran, maka diharapkan bahwa para guru memanfaatkan produk pengembangan ini sebagai materi pembelajaran keterampilan berbicara. Terutama bagi guru Bahasa Inggris pada MTs Negeri Salawu, disarankan untuk menggunakan materi pembelajaran ini sebagai sumber pembelajaran dalam proses pembelajaran keterampilan berbicara.

The techniques of teaching speaking in the grade eight of the International Class Program at the Laboratory Basic Education State University of Malang / Husnul Khotimah

 

This study was intended to describe the techniques of teaching speaking, materials and media used in the international class at Laboratory Basic Education State University of Malang. This study is descriptive qualitative research. The subject of this study was the teachers of the regular and language support class programs in the eighth grade of the international class program. The instruments used to collect data were field notes, interview guides, and documentations. The findings of this study were as follows. First, the techniques and activities of teaching speaking in the regular class were different from those in the language support class program. In the regular class, the teacher often integrated the activities of speaking with other English skills and components such as listening, reading and grammar and the activities conducted in the class were more formal. On the other hand, the techniques of teaching speaking in the intensive class were more fun. The techniques of teaching speaking applied in the regular class of the international class program were drill, discussion, describing and listening conversation, and mini debate. In the language support class program, the techniques applied were dictation and games, role play, watching film and story telling, brainstorming and question-answer. Second, the materials used in the regular class were based on two curriculums namely the Cambridge curriculum and national curriculum, while in the language support class program, the teachers had freedom to select the materials. The materials of the regular class and language support class programs were imperative, personalities, recount texts (a journal and experience), argumentative topics, shopping, movie and healthy food. Third, the teacher used three kinds of media, they were visual, audio and audiovisual media such as LCD, computers, whiteboard, CD (compact disk), and movies. Based on the result of the study, it is recommended that the English teachers be more careful in selecting the kinds of classroom activities for the class, maximize the use of computers by the students, give more feedback and evaluation for the students at the end of each classroom activity and make the lesson plans. The headmaster and coordinators of the international class need to observe the class once in a while to make sure that the teachers and the students really use English every time, provide authentic source of learning such as a native speaker and English videos, improve the system and requirements of the new students’ acceptance. Finally, to other researchers need to conduct studies on the use of English by the students in the English in the international class.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi melalui pembelajaran kooperatif model STAD yang berbasis wilayah industri pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Gresik / Oscar Susanto

 

ABSTRAK Susanto, Oscar. 2006. Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD Yang Berbasis Wilayah Industri Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 3 Gresik. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Ibrohim, M.Si, (II) Dra. Hawa Tuarita, M.Si Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif model STAD, Aktivitas belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil diskusi dengan guru mata pelajaran Biologi SMPN 3 Gresik diketahui bahwa dalam pembelajaran biologi masih jarang menggunakan sistem pembelajaran kooperatif dalam penyampaian suatu materi pelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang begitu aktif dan tidak banyak terlibat dalam kegiatan, kebanyakan siswa masih diam dan mendengarkan. Dengan diberikannya pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team Achievement Divisions) diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut, karena dengan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team Achievement Divisions) akan mendorong siswa untuk bekerjasama dalam kelompok dalam menyelesaikan tugas secara bersama – sama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi pada siswa kelas VII-A SMPN 3 Gresik, dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team Achievement Divisions). Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli – September 2005 dengan 2 siklus. Siklus I dilakukan dalam 6 kali pertemuan, dan siklus II dilakukan dalam 7 kali pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII-A yang berjumlah 43 siswa. Instrument penelitian yang digunakan adalah lembar observasi untuk mengukur aktivitas siswa dan soal tes ulangan bab yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Dari hasil analisis data diketahui bahwa pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team Achievement Divisions) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan daya serap klasikal pada siklus II dibandingkan dengan siklus I. selain itu pembelajaran kooperatif model STAD juga bisa membuat siswa untuk lebih aktif didalam kelas dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Maka dari itu diharapkan guru mata pelajaran Biologi dan guru mata pelajaran lain bisa menerapkan metode dan model belajar yang bisa membuat siswa untuk lebih tertarik dan bersemangat dalam belajar Biologi.

Penerapan paduan model pembelajaran daur belajar (learning cycle) dan kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar kimia / Herbandri

 

ABSTRAK Herbandri, 2008. Penerapan Paduan Model Pembelajaran Daur Belajar (Learning Cycle) dan Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kimia. Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D: (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kata-kata kunci: Model Pembelajaran, Learning Cycle, Pembelajaran Kooperatif tipe STAD, Hasil Belajar Kimia. Penelitian ini mengkaji penerapan model pembelajaran yang berlandaskan paradigma konstruktivistik yaitu model pembelajaran daur belajar (Learning Cycle/LC) dan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dipadukan dalam satu paket pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) mendeskripsikan keberlangsungan pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran, (2) menganalisis perbedaan hasil belajar antar kelompok siswa, dan (3) mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran LC, pembelajaran kooperatif tipe STAD, paduan model LC-STAD. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experimental) dengan model rancangan Solomon empat kelompok. Terdapat empat kelompok sampel yang terdiri dari tiga kelompok eksperimen yaitu kelompok pertama menggunakan model pembelajaran Learning Cycle (LC), kelompok kedua menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan kelompok ketiga menggunakan paduan model pembelajaran LC-STAD, dan kelompok keempat sebagai kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Penelitian dilakukan pada 157 siswa kelas X semester genap SMA PGRI Lawang Kab. Malang tahun pelajaran 2007/2008 yang tersebar pada empat kelas. Materi yang digunakan sebagai acuan penelitian adalah kimia oksidasi dan reduksi (redoks) yang diajarkan selama 3 (tiga) kali pertemuan atau 3 (2 x 45 menit). Instrumen penelitian terdiri atas tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda, angket persepsi siswa dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Dari hasil uji coba diperoleh reliabilitas tes sebesar 0,81 dan validitas isi sebesar 89%. Data hasil belajar siswa dikumpulkan dan dianalisis dengan teknik statistik analisis varians (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Data hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) pada keempat kelompok sampel keberlangsungan pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran telah berjalan dengan cukup baik, (2) hasil belajar siswa yang diajar dengan paduan model LC-STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC saja, (3) hasil belajar siswa yang diajar dengan paduan model pembelajaran LC-STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD saja, (4) hasil belajar siswa yang diajar dengan paduan model pembelajaran LC-STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (5) hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC lebih rendah atau tidak lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, (6) hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (7) hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, dan (8) siswa menunjukkan persepsi positif atau setuju, terhadap model pembelajaran LC, terhadap model pembelajaran STAD dan terhadap paduan model pembelajaran LC-STAD. Berdasarkan data observasi diketahui bahwa keaktifan siswa dalam menjalankan unsur-unsur yang terdapat pada ketrampilan kooperatif dalam proses pembelajaran dengan paduan model pembelajaran LC-STAD dalam satu paket pembelajaran lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe STAD saja. Mengacu pada hasil penelitian ini, disarankan bahwa penggabungan dua model pembelajaran seperti paduan model pembelajaran LC-STAD ini dalam satu paket pembelajaran dapat terus dilanjutkan untuk materi-materi kimia yang lain. Hal ini juga berlaku untuk model-model pembelajaran lain yang bersesuaian untuk diterapkan bersama-sama, sebab variasi pembelajaran semacam ini dapat melibatkan aktivitas mental siswa sebagai pebelajar.

Identifikasi kesulitan belajar memahami materi larutan penyangga siswa kelas XI IPA semester II SMA Negeri 5 Malang berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) / Astri Dianty

 

ABSTRAK Dianty, Astri. 2008. Identifikasi Kesulitan Belajar Memahami Materi Larutan Penyangga Siswa Kelas XI IPA Semester II SMA Negeri 5 Malang Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Skripsi Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Drs. Dermawan Afandy M.Pd., (2) Drs. Rachmad Nugroho. Kata kunci: Identifikasi Kesulitan Belajar, Materi Larutan Penyangga, Siswa SMA kelas XI IPA Larutan penyangga merupakan materi yang menurut kurikulum di SMA negeri 5 Malang diajarkan di kelas XI IPA semester II. Materi larutan penyangga sarat akan konsep dan untuk memahami konsep ini dibutuhkan pemahaman konsep-konsep yang lebih sederhana sebagai dasarnya. Misalnya persamaan asam-basa, kesetimbangan reaksi, penamaan zat-zat yang terlibat dalam reaksi dan perhitungan pH larutan. Penelitian mengenai materi larutan penyangga pernah dilakukan oleh Azizah(2000: 49) di SMUN Bangil. Berdasarkan hasil penelitian tersebut akan dilakukan penelitian yang serupa dengan objek yang berbeda, dalam penelitian ini diidentifikasi kesulitan siswa dalam memahami materi larutan penyangga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesulitan siswa Kelas XI IPA semester II SMA Negeri 5 Malang dalam memahami konsep larutan penyangga, sifat larutan penyangga, dan perhitungan pH larutan penyangga Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan berupa perangkat soal berbentuk objektif yang terdiri dari 20 soal yang disebar di dua kelas yaitu kelas XI IPA 3 dan XI IPA 5. Kemudian soal tersebut dianalisis dan ditentukan tingkat kesulitan, validitas, daya beda dan reliabilitas butir soal. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan persentase kesulitan siswa dalam memahami: konsep larutan penyangga sebesar 23,26 %; sifat-sifat larutan penyangga sebesar 37,52 %; perhitungan pH larutan penyangga sebesar 8,45 %. Kesulitan yang dialami disebabkan karena: siswa kurang memahami konsep dan sifat larutan penyangga serta kurang teliti dalam melakukan perhitungan kimia. Berdasarkan hasil penelitian tersebut untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh beberapa siswa disarankan: (1) perlu adanya penekanan pengajaran oleh guru terhadap konsep larutan penyangga dan sifat dari larutan penyangga, misalnya pengertian larutan penyangga, peranan larutan penyangga dan penurunan persamaan pH larutan penyangga, (2) dalam menerangkan materi larutan penyangga, hendaknya guru lebih sering memberikan contoh kegunaan larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari agar siswa dapat memahami materi larutan penyangga, (3) bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan pemahaman konsep-konsep yang mendukung pemahaman konsep larutan buffer. (4) kepada calon peneliti diharapkan mengadakan penelitian lanjutan dengan memperluas sampel.

Meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IV SD Islam Sabilillah Malang melalui strategi roulette writing / Erna Febru Aries S.

 

ABSTRAK Aries, Erna Febru S. 2008. Meningkatkan Keterampilan Menulis Deskripsi Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Islam Sabilillah Malang melalui Strategi Roulette Writing. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Utami Widiati, M.A., Ph.D, dan (II) Prof. Mohammad Adnan Latief, M.A., Ph.D. Kata kunci: keterampilan, menulis deskripsi, strategi roulette writing. Peningkatan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi sebagai fokus penelitian ini bermula dari hasil studi pendahuluan bahwa pembelajaran menulis di sekolah dasar masih belum optimal. Pembelajaran menulis di sekolah dasar perlu mendapatkan perhatian khusus karena di Sekolah Dasar merupakan landasan untuk memperoleh bekal keterampilan menulis. Ketika siswa hanya diberi tugas menulis secara individu ternyata belum menghasilkan gagasan yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang berorientasi pada pola belajar berkolaborasi sebagai perwujudan pembelajaran kooperatif. Akhirnya, dipilihlah strategi Roulette Writing sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menuangkan gagasan secara tertulis dalam bentuk karangan deskripsi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SD Islam Sabilillah Malang pada semester genap tahun pelajaran 2007/2008. Data yang dilaporkan berasal dari hasil prates, catatan lapangan, observasi, dan hasil menulis deskripsi selama penerapan strategi Roulette Writing. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IV SD Islam Sabilillah Malang melalui strategi Roulette Writing. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti sebagai guru sekaligus sebagai peneliti. Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil. Data proses meliputi aktivitas siswa selama pembelajaran, yaitu (1) respon siswa, (2) motivasi, (3) keaktifan, (4) kerjasama, dan (5) kepercayaan diri ketika menuangkan ide. Data hasil berupa karangan siswa. Pemberian nilai akhir karangan siswa didasarkan pada rubrik penilaian karangan. Aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian meliputi: (1) penuangan ide, (2) pengorganisasian ide, (3) pemilihan dan penggunaan kosa kata, dan (4) penerapan unsur mekanik. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa proses dan hasil peningkatan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IV SD Islam Sabilillah Malang melalui strategi Roulette Writing dilakukan melalui aktivitas pembelajaran tahap pratulis, menulis, dan pascatulis. Pada tahap pratulis peningkatan diwujudkan melalui aktivitas menentukan objek yang akan ditulis, mengumpulkan informasi tentang objek yang akan ditulis dengan memanfaatkan berbagai bahan dan sumber belajar, serta menyusun kerangka karangan. Pada tahap menulis, peningkatan diwujudkan melalui aktivitas mengembangkan kerangka karangan melalui strategi Roulette Writing. Pada tahap pascatulis peningkatan diwujudkan melalui aktivitas melakukan perbaikan atau penyuntingan karangan melalui strategi Roulette Writing dan mempublikasikan hasil tulisan. Hasil peningkatan terpilah atas peningkatan proses pembelajaran dan peningkatan keterampilan menulis deskripsi dengan strategi Roulette Writing. Peningkatan proses pembelajaran mengalami peningkatan sangat signifikan pada aspek-aspek: (1) respon, (2) motivasi, (3) keaktifan, (4) kerjasama, serta (5) rasa percaya diri. Secara kuantitatif proses pembelajaran terjadi peningkatan nilai dari 63 pada studi pendahuluan menjadi 85 pada Siklus 1 dan meningkat lagi pada Siklus 2 menjadi 92. Peningkatan keterampilan menulis deskripsi dengan strategi Roulette Writing mengalami peningkatan pada aspek-aspek: (1) penuangan ide, (2) pengorganisasian ide, (3) pemilihan dan penggunaan kosakata, serta (4) penerapan unsur mekanik. Secara kuantitatif terjadi peningkatan nilai dari 73 pada studi pendahuluan menjadi 83 pada Siklus 1 dan meningkat lagi pada Siklus 2 menjadi 86. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada guru sekolah dasar agar dapat memanfaatkan temuan teori keterampilan menulis dengan strategi Roulette Writing dengan cara mengimplementasikan dalam pembelajaran menulis. Kepada kepala sekolah disarankan agar memberi motivasi dan membina guru-guru untuk berupaya meningkatkan pemahaman tentang strategi-strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa, terutama untuk meningkatkan keterampilan menulis dapat digunakan strategi Roulette Writing. Kepada Lembaga Pendidikan ke-SD-an disarankan agar secara berkesinambungan menyelenggarakan seminar atau lokakarya untuk membekali dan memberikan pemahaman kepada pengajar sekolah dasar pada strategi alternatif dalam pembelajaran menulis yang dapat dilakukan secara berkolaborasi. Kepada peneliti selanjutnya disarankan dapat memanfaatkan temuan hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk merancang penelitian baru atau mengadakan penelitian sejenis.

Pengembangan modul pembelajaran IPA Kimia untuk siswa SMP/MTs kelas VIII dengan model learning cycle 5 fase pada materi pokokk zat aditif makanan berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan / Ike Pratiwi Mandasari

 

ABSTRAK Pratiwi M, Ike. 2008. Pengembangan Modul Pembelajaran IPA Kimia untuk Siswa SMP/MTs Kelas VIII dengan Model Learning Cycle 5 Fase pada Materi Pokok Zat Aditif Makanan Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: modul pembelajaran, zat aditif makanan, Learning Cycle 5 fase, KTSP. Perkembangan zaman menuntut peningkatan mutu pendidikan. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah agar peserta didik memiliki kompetensi dan kualitas yang tinggi dan mampu bersaing di era globalisasi adalah melakukan penyempurnaan dan perbaikan yaitu kurikulum. Kurikulum yang dipakai sekarang adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini juga menekankan penggunaan pendekatan pembelajaran kontruktivistik. Salah satu model pembelajaran konstruktivistik adalah Learning Cycle 5 fase. Pada penelitian ini dikembangkan modul pembelajaran untuk materi pokok Zat Aditif Makanan untuk siswa SMP/MTs kelas VIII dengan model Learning Cycle 5 fase. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Menghasilkan produk yang berupa modul pembelajaran IPA Kimia untuk Siswa SMP/MTs kelas VIII model Learning Cycle 5 fase pada materi pokok Zat Aditif Makanan berdasarkan KTSP, 2) Mengetahui validitas dari modul pembelajaran yang telah dikembangkan. Pengembangan modul ini mengadaptasi model pengembangan dari Thiagarajan, dkk. yaitu define (mengkaji kurikulum dan menganalisis kebutuhan siswa), design (perumusan indikator, mengkaji dan menyusun modul dengan model pembelajaran yang sesuai serta penelaan oleh pembimbing) dan develop (revisi 1 dari pembimbing, melakukan validasi, menganalisis data, revisi 2, dan memproduksi modul). Subyek validasi (validator) adalah dosen jurusan kimia dan guru IPA kimia SMP/MTs di Malang. Instrumen pengumpulan data berupa angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah nilai rata-rata dan perhitungan persentase. Hasil pengembangan dari penelitian ini adalah: (1) Gambaran modul yang dikembangkan ini terdiri dari beberapa komponen yaitu halaman depan (cover), kata pengantar, petunjuk penggunaan modul, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, kegiatan belajar siswa (kegiatan belajar 1 sampai 3) yang berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, materi pokok, tahapan-tahapan Learning Cycle 5 fase, kunci jawaban, umpan balik, dan daftar pustaka. Selain itu, hasil validasi menunjukkan bahwa bentuk modul yang dikembangkan sudah sesuai dengan model Learning Cycle 5 fase berdasarkan KTSP dengan nilai rata-rata untuk penilaian tiap fase-fasenya sebesar 3,1 dan persentase sebesar 76,7% yang menunjukkan kriteria cukup valid, (2) Hasil validasi secara keseluruhan menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,7 dan persentase sebesar 91,2% dengan kriteria valid, hal tersebut menunjukkan bahwa modul Zat Aditif Makanan yang dikembangkan sudah layak untuk dilanjutkan ke tahap uji coba lapangan yang selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di SMP/MTs.

Hubungan antara persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat dengan kecemasan pasein pra operasi di BRSD Prof. Dr. Soekandar Kabupaten Mojokerto / Mardia Nurfaida

 

ABSTRAK Nurfaida, Mardia. 2008. Hubungan antara Persepsi Pasien terhadap Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kecemasan Pasien Pra Operasi di BRSD Prof. Dr. Soekandar Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si. Kata kunci: kecemasan pra operasi, persepsi, komunikasi terapeutik. Teori yang diungkapkan oleh Hildegard Peplau (dalam Potter&Perry, 2005:274) berfokus pada individu, perawat dan proses interaktif, yang menghasilkan hubungan antara perawat dan pasien. Berdasarkan teori ini pasien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik, di mana perawat memiliki peran yang cukup penting dalam mempengaruhi, menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesehatan pasien melalui proses komunikasi. Pasien yang menderita suatu penyakit dan harus dirawat di rumah sakit, secara umum akan mengalami kecemasan. Begitu juga pasien yang akan menjalani operasi yang sebagian besar mengalami kecemasan ketika mengetahui dirinya harus menjalani operasi. Secara umum kecemasan ini disebabkan oleh anggapan bahwa operasi merupakan hal yang berbahaya. Ada 2 (dua) faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan seseorang yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal yang dapat menentukan tingkat kecemasan pasien adalah persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dengan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat dengan kecemasan pasien pra operasi. Penelitian ini dilakukan di BRSD Prof. Dr. Soekandar Kabupaten Mojokerto. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian korelasional. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat dan variabel kecemasan pra operasi. Pengukuran variabel persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat menggunakan skala persepsi komunikasi terapeutik dan variabel kecemasan pra operasi menggunakan skala kecemasan pra operasi. Kedua skala ini disusun berdasarkan penskalaan Likert. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang akan menjalani operasi di BRSD Prof. Dr. Soekandar Kabupaten Mojokerto selama bulan Juli 2008 yang berjumlah sekitar 148 orang. Sampel yang diperoleh diambil dengan menggunakan teknik sampel insidental, sehingga didapatkan sampel sebanyak 30 orang pasien yang akan menjalani operasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis korelasional. Sebelum melakukan analisis korelasional, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu, yaitu dengan menguji normalitas sebaran dan linieritas hubungan kedua variabel. Berdasarkan analisis korelasi yang telah dilakukan dengan menggunakan statistik korelasi Product Moment dari Pearson, diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar -0,646 dengan probabilitas (p) = 0,000. Hal ini berarti hipotesis alternatif diterima karena p = 0,000 ; (p< 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat sebagian besar positif, (2) tingkat kecemasan pasien pra operasi sebagian besar berada dalam klasifikasi sedang, dan (3) ada hubungan negatif yang signifikan antara persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat dengan kecemasan pada pasien pra operasi. Semakin positif persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat, semakin rendah tingkat kecemasannya menghadapi operasi. Sebaliknya, semakin negatif persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat, semakin tinggi tingkat kecemasan menghadapi operasi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) para pasien yang akan menjalani operasi maupun rawat inap diharapkan dapat berpikir positif terhadap kondisinya, lebih terbuka mengenai perasaannya, dan menambah pengetahuan mengenai penyakit yang diderita dengan banyak berkomunikasi dengan perawat maupun tenaga medis lain serta selalu berupaya untuk meningkatkan nilai spiritualitas pada dirinya agar dapat mengelola emosinya dengan baik, 2) para perawat hendaknya dapat meningkatkan intensitas komunikasi yang dilakukan dengan pasien dengan kualitas yang baik, di mana perawat juga harus mengerti dan memahami kondisi serta keadaan pasien saat melakukan komunikasi sehingga pasien dapat mempersepsi komunikasi tersebut dengan baik dan pasien akan merasakan kehadiran serta kondisinya diperhatikan oleh perawat, dan 3) Bagi peneliti berikutnya dapat meneliti faktor lain (selain persepsi terhadap komunikasi terapeutik perawat).

Perbedaan intensitas ekspresi emosi ditinjau dari jenis kelamin dan tipe kepribadian pada remaja di SMAN 5 Malang / Sofa Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Sofa. 2008. Perbedaan Intensitas Ekspresi Emosi Ditinjau Dari Jenis Kelamin dan Tipe Kepribadian Pada Remaja di SMAN 5 Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Moh. Irtadji, M.Si. (II) Ika Andrini Farida, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: intensitas ekspresi emosi, jenis kelamin, tipe kepribadian Bentuk komunikasi untuk menyatakan maksud dan emosi seseorang yang meliputi emosi bahagia, marah, sedih, dan takut, keadaan ini merupakan wujud dari ekspresi emosi. Keadaan emosi yang penuh gejolak terjadi pada masa remaja, pada masa ini seseorang mengalami strom and stress dimana kematangan emosi masih belum terbentuk, sehingga cara pengekspresian emosi dari remaja pastilah menarik untuk dikaji. Tujuan penelitian ini (1) Untuk mendeskripsikan ekspresi emosi remaja di SMAN 5 Malang, (2) Untuk mendeskripsikan ekspresi emosi ditinjau dari jenis kelamin pada remaja di SMAN 5 Malang, (3) Untuk mendeskripsikan ekspresi emosi ditinjau dari tipe kepribadian pada remaja di SMAN 5 Malang, (4)Untuk mengetahui apakah ada perbedaan ekspresi emosi ditinjau dari jenis kelamin pada remaja di SMAN 5 Malang, (5) Untuk mengetahui apakah ada perbedaan ekpresi emosi ditinjau dari tipe kepribadian pada remaja di SMAN5 Malang, (6) Untuk mengetahui apakah ada perbedaan ekspresi emosi ditinjau dari jenis kelamin dan tipe kepribadian pada remaja di SMAN 5 Malang. Penelitian dilakukan di SMAN 5 Malang tanggal 10-28 Juni 2008 pada siswa-siswi kelas X dan XI tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah subjek penelitian 178 orang. Rancangan penelitian adalah deskriptif komparatif dengan skala intensitas ekspresi emosi yang disusun berdasarkan metode rating yang dijumlahkan dari Likert dan Eysenck Personality Inventory (EPI-A) Adaptasi Indonesia. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif, Uji-t dan Two-Way Anova dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menujukkan (1) Gambaran umum ekspresi emosi 19,7% (sangat ekspresif), 66,9% (cukup ekspresif), dan 13,5% (kurang ekspresif); (2) Ekspresi emosi ditinjau dari jenis kelamin, laki-laki 2,2% (sangat ekspresif), 37,1% (cukup ekspresif), 11,2% (kurang ekspresif); untuk perempuan 17,4% (sangat ekspresif), 29,8% (cukup ekspresif), dan 2,2% (kurang ekspresif); (3) Ekspresi emosi ditinjau dari tipe kepribadian introvert 10,1% (sangat ekspresif), 33,1% (cukup ekspresif), 5,1% (kurang ekspresif); ekstrovert 9,6% (sangat ekspresif), 33,7% (cukup ekspresif), 8,4% (kurang ekspresif); (4) Terdapat perbedaan ekspresi emosi ditinjau dari jenis kelamin, dengan hasil uji-t t = -6,889, p = 0,000 < 0,05; (5) Tidak ada perbedaan ekspresi emosi ditinjau dari tipe kepribadian, dengan hasil uji-t t = 1,019, p = 0,310 > 0,05; (7) Tidak ada perbedaan ekpresi emosi ditinjau dari jenis kelamin dan tipe kepribadian, dengan hasil two ways Anova F = 1,345, p = 0,248 > 0,05. Kesimpulanya perbedaan ekspresi emosi hanya terlihat dari perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Saran bagi pihak sekolah agar lebih memperhatikan siswanya dalam rangka penyaluran emosi secara lebih positif. Bagi orang tua agar lebih memantau tahap perkembangan emosi putra-putrinya. Bagi peneliti selanjutnya agar dalam pembuatan instrumen lebih cermat sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

Pengembangan paket pelatihan asertivitas (PPA) dalam membina hubungan dengan teman sebaya bagi siswa SMP / Christina Tri Ediningrum

 

ABSTRAK Ediningrum, Christina Tri. 2008. Pengembangan Paket Pelatihan Asertivitas dalam Membina Hubungan dengan Teman Sebaya bagi Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Muslichati,S.Ag., M.Pd. Kata kunci: paket pelatihan, asertivitas, teman sebaya. Siswa SMP berada pada masa remaja awal sering mengalami permasalahan penyesuaian diri dan sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan orang lain selain anggota keluarganya khususnya dengan teman sebaya. Remaja yang tidak memiliki keterampilan asertif akan berpengaruh pada optimalisasi perkembangan sebagai pribadi, warga masyarakat dan calon pekerja ketika dia selesai jenjang pendidikannya. Berdasarkan need assessment yang dilakukan pada tanggal 13 Mei 2008 oleh penulis kepada siswa, sekitar 90% siswa membutuhkan informasi dan pelatihan mengenai asertivitas. Pelatihan asertivitas sangat efektif diberikan pada siswa agar siswa memiliki pengetahuan tentang asertivitas dan dapat meningkatkan keterampilan asertif yang dimiliki. Sedangkan hasil wawancara dengan konselor sekolah yaitu adanya program bimbingan dan pelatihan keterampilan asertif untuk siswa, tetapi sekolah belum memiliki paket pelatihan asertivitas yang dapat digunakan sebagai panduan konselor dalam melaksanakan pelatihan asertivitas untuk mengembangkan keterampilan asertif siswa khususnya dalam membina hubungan dengan teman sebaya. Tujuan pengembangan ini yaitu menyusun paket pelatihan yang digunakan konselor sebagai buku panduan dalam membantu mengembangkan kemampuan keterampilan asertif dalam membina hubungan dengan teman sebaya bagi siswa SMP. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa buku panduan pelatihan asertivitas untuk konselor, buku panduan untuk siswa, dan materi pelatihan asertivitas yang sesuai dan berterima dari segi kegunaan, kemudahan, kemenarikan, dan keakuratan. Draf Paket Pelatihan Asertivitas (PPA) ini merupakan adaptasi dari model Galassi & Galassi (1977) berisi enam (6) jenis keterampilan yang dilatihkan yaitu, (1) keterampilan memulai dan melangsungkan percakapan, (2) keterampilan meminta bantuan, (3) keterampilan menolak permintaan, (4)keterampilan mengungkapkan pikiran/pendapat, (5) keterampilan mengungkapkan kekecewaan, (6) keterampilan mengekspresikan dan mengatasi kemarahan. Keunggulan model Galassi & Galassi (1977) yaitu dapat digunakan oleh konselor sebagai pemberian pelatihan secara individual untuk siswa dan dapat diterapkan juga sebagai pemberian pelatihan secara kelompok. Model pengembangan yang digunakan adalah model prosedural yang mengacu pada model teori prosedural Borg & Gall (1983).Tahap pada prosedur pengembangan yaitu (1) perencanaan , (2) pengembangan produk awal , dan (3) uji coba produk. Uji coba yang dilakukan pada penelitian pengembangan ini hanya sampai pada uji ahli dan uji kelompok kecil yaitu calon pengguna paket pelatihan asertivitas (PPA), sedangkan uji lapangan tidak sampai dilakukan. Penilai paket ada empat orang ahli yang terdiri dari seorang dosen Bimbingan, seorang dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, dan dua orang konselor SMP. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan skala penilaian yang terdiri atas draf PPA dan format uji ahli. Hasil analisis persentase dari keempat ahli yang menilai draf PPA yaitu seorang ahli Bimbingan menunjukkan pemilihan pada skala 3 (sesuai) berjumlah 14 item menghasilkan skor 42 dengan memperoleh persentase 100%. Seorang ahli Bahasa menunjukkan pemilihan skala 4 (sangat sesuai) berjumlah 3 item menghasilkan skor 12 dengan memperoleh persentase 43%. Dua orang konselor SMP sebagai calon pengguna produk masing-masing menunjukkan pemilihan pada skala 3 (sesuai) berjumlah 12 item menghasilkan skor 36 dengan memperoleh persentase 85.7%. Hasil rerata persentase dari keseluruhan ahli adalah 78.6% tergolong pada kualifikasi sesuai dinilai dari aspek isi, bahasa dan kelayakan penggunaan paket. Berdasarkan hasil penilaian dari keempat ahli dapat disimpulkan bahwa PPA dapat digunakan oleh konselor SMP sebagai buku panduan praktis dalam memberikan pelatihan asertivitas khususnya dalam membina hubungan dengan teman sebaya karena telah acceptable secara teoritik. Saran-saran yang diberikan oleh penulis untuk pemanfaatan PPA ini antara lain: (1) untuk peneliti selanjutnya, perlu melakukan penelitian lebih lanjut sampai pada uji kelompok kecil untuk siswa dan uji lapangan untuk mengetahui efektifitas dan kelayakan penerapan paket pelatihan asertivitas, (2) dalam pengembangan paket pelatihan asertivitas konselor atau pembaca dapat mengembangkan atau menggabungkan dengan teori lain yang berkaitan dengan perilaku asertif, (3) konselor sekolah yang akan menggunakan paket ini untuk lebih memperhatikan keadaan, waktu, tempat, dan aspek budaya yang mempengaruhi perilaku asertif setiap individu.

Pengaruh sistem pembelajaran dan status sosial ekonomi terhadap tingkat economic literacy siswa SMA di Kota Malang / Agung Haryono

 

Disertasi ini diawali dari kegalauan peneliti tentang economic literacy siswa SMA yang belum memadai, terbukti dengan banyaknya perilaku siswa dalam melakukan tindakan ekonomi tidak didasarkan pertimbangan rasional, seperti pada teori-teori ekonomi, namun lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Economic literacy sangat terkait dengan pembelajaran ekonomi di sekolah, sebab mata pelajaran ekonomi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap rasional, dan kecenderungan perilaku terutama pada pengambilan keputusan ekonomi. Hasil kajian teoritis dan empiris dari beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa economic literacy merupakan hasil belajar yang dipengaruhi banyak faktor baik dalam proses pembelajaran, penilaian maupun faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kualitas proses pembelajaran, penilaian dan status sosial ekonomi orang tua terhadap economic literacy siswa SMA di Kota Malang. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) Kualitas proses pembelajaran yang terefleksikan pada indikator keterlibatan siswa dalam perencanaan, motivasi siswa terhadap proses pembelajaran, dan penggunaan metode dan alat pembelajaran. (2) Kualitas proses penilaian yang terefleksikan pada indikator keterlibatan siswa dalam perencanaan penilaian, proses penilaian dan tindak lanjut penilaian. (3) Status sosial ekonomi orang tua siswa yang terefleksikan pada indikator SPP, Uang Saku, pengeluaran alat tulis sekolah dan pekerjaan orang tua. (4) Economic literacy siswa yang terefleksikan pada indikator pengetahuan ekonomi, rasionalitas dan moralitas ekonomi. (5) Pengaruh langsung kualitas proses pembelajaran terhadap kualitas proses penilaian siswa. (6) Pengaruh langsung kualitas proses pembelajaran terhadap melek ekonomi siswa. (7) Pengaruh langsung kualitas proses penilaian terhadap melek ekonomi siswa. (8) Pengaruh langsung antara status sosial ekonomi terhadap melek ekonomi siswa. Racangan penelitian ini adalah kausal komparatif yang mengkaji pengaruh langsung maupun tak langsung antar variabel kualitas pembelajaran, kualitas penilaian dan status sosial ekonomi terhadap economic literacy. Populasi dan sampel penelitian ini adalah siswa SMA kelas 3 di Kota Malang. Jumlah anggota sampel 140 orang yang tersebar di sekolah negeri dan swasta. Sampel diambil dengan teknik multy stage random sampling. Data dikumpulkan dengan instrument tes dan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan paket statistik AMOS 4.01. Hasil penelitian dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: 1) Kualitas proses pembelajaran ekonomi di SMA dapat terefleksikan dengan baik pada indikator keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, motivasi siswa pada proses pembelajaran, dan penggunaan metode dan alat pembelajaran. 2) Kualitas proses penilaian ekonomi di SMA dapat terefleksikan dengan baik pada indikator keterlibatan siswa dalam perencanaan penilaian, proses penilaian dan tindak lanjut penilaian. 3) Status sosial ekonomi orang tua siswa dapat terefleksikan pada indikator SPP, Uang Saku, pengeluaran alat tulis sekolah dan pekerjaan orang tua. 4) Economic literacy dapat terefleksikan pada indikator pengetahuan ekonomi, rasionalitas dan moralitas ekonomi. 5) Ada pengaruh positif langsung antara kualitas proses pembelajaran terhadap kualitas proses penilaian siswa, berarti semakin baik proses pembelajaran maka proses penilaian juga semakin baik. 6) Ada pengaruh positif langsung antara kualitas proses pembelajaran terhadap economic literacy siswa, berarti semakin baik kualitas proses pembelajaran akan berdampak pada semakin baiknya economic literacy siswa. 7) Ada pengaruh langsung kualitas proses penilaian terhadap economic literacy siswa, berarti semakin baik kualitas proses penilaian maka economic literacy siswa juga akan semakin baik. 8) Ada pengaruh langsung antara status sosial ekonomi orang tua terhadap economic literacy siswa. Merujuk pada hasil penelitian dapat disarankan bahwa peningkatan economic literacy siswa SMA dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas proses pembelajaran dan penilaian ekonomi di sekolah. Sedangkan untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran dan penilaian dapat dilakukan melalui: 1) Peningkatan keterlibatan siswa pada proses perencanaan pembelajaran melalui penginformasian kegiatan awal, tujuan dan tagihan akhir. 2) Penambahan variasi penggunaan model, metode dan media pembelajaran. 3) Peningkatan keterlibatan siswa pada perencanaan penilaian. 4) Peningkatan proses penilaian sebaiknya guru memperkaya variasi jenis tagihan yang diberikan pada siswa, dan jenis tagihan ini dapat didiskusikan dengan siswa pada awal-awal pertemuan. 5) Peningkatan kualitas tindak lanjut hasil penilaian yang berupa pembagian dan pembahasan hasil ujian. Implikasi dari temuan penelitian ini adalah perlu peningkatan pelaksanaan tugas profesional guru, dimana guru tidak hanya mengajar namun membelajarkan siswa. Untuk membelajarkan siswa secara baik maka siswa perlu kejelasan tentang serangkaian kegiatan yang akan dilakukan, sehingga pelibatan siswa dalam perencanaan dan proses pembelajaran maupun penilaian sangat diperlukan.

Penerapan model pembelajaran numbered heads together untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi pada siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Turen / Dwi Yuniarsi Astuti

 

ABSTRAKSI Yuniarsi Astuti, Dwi, 2008. Penerapan Model Pembelajaran Model Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Akuntansi pada Siswa Kelas X Ak 1 SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sunaryanto, M.Ed, (II) Sawitri Dwi Prastiti, SE, M.Si, Ak. Kata Kunci : Pembelajaran model Numbered Heads Together, aktivitas siswa, hasil belajar Fenomena praktik kegiatan pembelajaran akuntansi di SMK Negeri 1 Turen masih didominasi oleh metode konvensional yaitu menggunakan ceramah dan latihan soal, sehingga siswa mengalami kejenuhan dan mengantuk di kelas. Siswa kurang aktif dalam kelas dan kurang memberi kesempatan pada siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, sehingga mengakibatkan aktivitas siswa sangat rendah. Hal ini juga menyebabkan hasil belajar yang diperoleh siswa belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimal (SKM) secara keseluruhan. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa dapat bekerja sama antar anggota kelompok, saling menyumbangkan pikiran, dan adanya sikap tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran model Numbered Heads Together. Model pembelajaran ini melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka tentang isi pelajaran. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Turen pada semester genap tahun pelajaran 2007/2008 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Ak 1 SMK Negeri 1 Turen dan dilaksanakan pada 3 April 2008 sampai dengan 15 April 2008. Analisis data yang digunakan dengan model alir yang meliputi tahap mereduksi data, menyajikan data, verifikasi data atau menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Numbered Heads Together dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar, guru memberikan motivasi selama kegiatan pembelajaran pada siswa dalam hal ini belajar secara secara kooperatif dengan mendorong siswa untuk saling bekerjasama secara efektif selain itu memberikan motivasi untuk meningkatkan hasil belajar baik tidak hanya dari nilai evaluasi tetapi juga sikap siswa selama pembelajaran. Persentase skor rata–rata aktivitas belajar dari empat elemen kooperatif yang diamati pada siklus I sebesar 64,00% meningkat pada siklus II menjadi 88,42%. Untuk hasil belajar siswa persentase rata– rata nilai hasil belajar aspek kognitif siswa meningkat dari 72,41% pada siklus I menjadi 80,64% pada siklus II. Sedangkan persentase rata- rata hasil belajar aspek afektif siswa meningkat dari 65,00% pada siklus I menjadi 79,47% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X Ak 1 SMK Negeri 1 Turen. Penerapan pembelajaran ini disarankan sebaiknya guru lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas selama pembelajaran, menggunakan media yang bervariasi dan meningkatkan pengelolaan kelas. Bagi peneliti berikutnya sebaiknya melaksanakan penelitian lebih dari dua siklus agar dapat mengoptimalkan aktivitas siswa dan hasil belajar dan memadukan model pembelajaran Numbered Heads Together dengan metode lain.

Preposisi 'an dalam Al-Quran variasi makna dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia / Mar'atus Sholikah

 

ABSTRAK Sholikah, Mar’atus. 2008. Preposisi ‘An dalam Al-Qur’an, Variasi Makna dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Nurul Murtadho M.pd (II) Drs.Moh Khusairi, M.pd Kata Kunci: preposisi ‘an, makna, terjemahan Salah satu satuan bahasa yang sering menimbulkan masalah dalam penerjemahan adalah preposisi. Preposisi dalam bahasa Arab merupakan bagian dari bentuk partikel (harf). Preposisi merupakan satuan bahasa yang unik dan tidak bermakna jika tanpa dipadukan dengan kata lain Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi makna preposisi ‘an dalam Al-Qur’an, serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia, Rancangan penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumenter, karena data yang diambil bersumber dari tulisan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menginventarisasi data preposisi ‘an yang terdapat dalam Al-Qur’an, mengklasifikasikan makna ‘an dalam bahasa sumber (bahasa Arab) dan mengklasifikasikan terjemahan ‘an dalam bahasa sasaran (bahasa Indonesia). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa preposisi ‘an yang terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 457 buah yang tersebar pada 78 surat dengan frekuensi kemunculan yang berbeda pada setiap ayat dan memiliki makna yang bervariasi pula, yaitu: (1) al-mujawazah dan al-bu’du sebanyak 332 buah mempunyai 9 terjemahan, (2) isti’laa / ‘alaa sebanyak 98 buah,mempunyai 9 terjemahan, (3) min sebanyak 17 buah mempunyai 5 terjemahan, (4) al-ta’lil sebanyak 4 buah , mempunyai 1 terjemahan, (5) badal sebanyak 4 buah mempunyai 1 terjemahan (6) ba’da sebanyak 2 buah, mempunyai 2 terjemahan. Berdasarkan pada hasil penelitian ini, disarankan adanya penelitian lanjutan tentang makna huruf-huruf yang lain yang belum diteliti, misalnya huruf nashab, jar, jazam, dan lain-lain baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun teks berbahasa Arab yang lain.

Peningkatan kemampuan baca tulis cerpen melalui pendekatan terpadu di kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Pagak / Yuli Ika Lestari

 

Abstract : This is a study about the improvement of student’s ability in literary appreciation—especially short-story—by using Integrative approach at 11th Class of Language Program Student in SMAN 1 Pagak. It’s objective was solving some problems of short story appreciation learning at 11th Class of Language Program Student. Generally, this study used integrative approach to improve student’s ability in reading-writing short-story, according to their competences in curriculum. Design of this research was classroom action research which is divided into two circle process. Each circle process contained three times of learning period. Findings show that integrative approach increased student’s ability in reading and analyzing prose structure, and also their ability in short- story creative writing. Kata kunci: kemampuan baca-tulis cerpen, pendekatan terpadu

Persepsi siswa terhadap lembar kerja siswa (LKS) dalam mata pelajaran seni budaya di SMP Negeri I Papar Kediri / Trisetyo Wahyu Herlambang

 

ABSTRAK Herlambang, Trisetyo Wahyu. 2008. Persepsi Siswa Terhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) Dalam Mata Pelajaran Seni Budaya Di SMP Negeri I Papar Kediri. Skripsi, Program studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo M.Sn, (II) Drs. Muhadjir. Kata kunci: persepsi siswa, LKS Seni Budaya Salah satu metode penugasan mandiri bagi seorang siswa adalah dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa(LKS) sebagai respon terhadap kurikulum sebelum KBK dan sampai sekarang masih banyak digunakan. LKS sebagai alat untuk membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang di berikan dan sebagai alat untuk melihat daya serap siswa terhadap pelajaran. Peggunaan LKS hampir di setiap mata pelajaran dan setiap sekolah. Pengenalan LKS untuk proses pembelajaran sudah dimulai sejak dibangku sekolah dasar sampai dengan sekolah Menengah dan kejuruan nantinya. Dalam pelaksanaanya penggunaan LKS terdapat perbedaan perlakuan oleh guru, perbedaan perlakuan tersebut dirasakan oleh siswa, sehingga siswa mempunyai persepsi terhadap LKS yang berbeda yang dapat bersifat positif dan negatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri I Papar Kediri dengan alasan status sekolah Negeri dan sudah menggunakan LKS serta mempunyai reputasi sangat baik di Masyarakat Kediri. Penelitian ini mengkaji tentang (1) Persepsi siswa tentang fungsi LKS Seni Budaya, (2) Persepsi siswa tentang manfaat LKS Seni Budaya, (3) Persepsi siswa tentang penggunaan LKS Seni Budaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember sampai Januari. Populasi penelitian adalah semua siswa SMP Negeri I Papar Kediri dengan jumlah 554 siswa.Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIIA, VIIIA, IXA karena dalam kelas tersebut sudah terdapat berbagai karakteristik siswa yang dapat mewakili populasi dengan jumlah seluruh responden 104 siswa sebagai sampel. Teknik yang digunakan untuk menentukan sampel penelitian adalah teknik Purposive Sample. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian berupa angket skala Likert. Hasilnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Deskriptif Persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi siswa SMP Negeri I Papar Kediri terhadap LKS dalam mata pelajaran Seni Budaya yang ditinjau dari ketiga rumusan masalah penelitian ini dapat terjawab dari hasil persentase yang diketahui dan dapat di deskripsikan sebagai berikut; (1) persepsi siswa tentang fungsi LKS cenderung setuju dan masih termasuk dalam kualifikasi sebagian kecil(39,3%) jadi fungsi LKS masih kurang efektif, (2) Persepsi siswa tentang manfaat LKS sebagian cenderung setuju(52,3%) jadi manfaat LKS sudah termasuk efektif,(3) Persepsi siswa tentang penggunaan LKS sebagian cenderung setuju(47,4%) jadi penggunaannya sudah termasuk efektif. Dari ketiga jawaban rumusan masalah tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa cenderung setuju terhadap fungsi, manfaat, dan penggunaan terhadap LKS di SMP Negeri I Papar Kediri, tetapi masih ada yang kurang efektif. Berdasarkan hasil penelitian ini, siswa mempunyai persepsi setuju terhadap adanya LKS sehingga dapat disarankan bagi para guru matapelajaran Seni Budaya agar menggunakan LKS dalam proses i pembelajaran agar dalam kegiatan belajar mengajar dapat optimal dan efektif dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa,serta sebagai pertimbangan untuk lebih menekankan pengajaran secara individual, untuk siswa haruslah mempunyai persepsi positif terhadap LKS karena merupakan salah satu sumber belajar. Pada peneliti selanjutnya dapat mengkaji tentang efektivitas penggunaan LKS Seni Budaya dan hubungannya dengan prestasi belajar siswa baik dalam intrakulikuler maupun ekstrakulikuler. ii

Survei tentang pelaksanaan praktikum, jenis penilaian praktikum, dan penilaian kinerja praktikum kimia siswa kelas X SMAN/MAN se-kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Evi Dwijayanti

 

ABSTRAK Dwijayanti, Evi. 2008. Survei Tentang Pelaksanaan Praktikum, Jenis Penilaian Praktikum, dan Penilaian Kinerja Praktikum Kimia Siswa Kelas X SMAN/MAN Se-Kota Malang Tahun Pelajaran 2007/2008. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Parlan, M.Si, (II) Herunata, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: survei, penilaian kinerja, praktikum kimia. Pemerintah memberlakukan KTSP dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat dasar dan menengah mulai tahun 2006 . KTSP dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan. Fungsi SKL adalah sebagai pedoman penilaian, yang berarti KTSP menghendaki sistem penilaian yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Pembelajaran kimia tidak cukup hanya dengan tatap muka saja tanpa didukung oleh kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum tidak hanya digunakan untuk mengecek atau mencocokkan kebenaran suatu teori yang diajarkan di kelas tetapi juga untuk mengembangkan proses berpikir. Praktikum digunakan untuk membelajarkan secara bersama-sama kemampuan psikomotorik (keterampilan), kognitif (pengetahuan), dan afektif (sikap). Pengukuran keberhasilan belajar siswa saat praktikum dipengaruhi oleh jenis penilaian yang dilakukan oleh guru. Pengukuran ranah psikomotor/keterampilan sangat penting dalam praktikum. Penilaian unjuk kerja/kinerja sangat tepat untuk mengukur aspek keterampilan siswa dalam praktikum karena dilakukan dengan cara mengamati secara langsung unjuk kerja siswa saat praktikum. Untuk mengetahui pelaksanaan praktikum, jenis penilaian praktikum, dan penilaian kinerja praktikum kimia kelas X, maka perlu diadakan penelitian. Penelitian ini terkait dengan 3 hal, yaitu: pelaksanaan praktikum, jenis penilaian praktikum, dan pelaksanaan penilaian kinerja praktikum kimia. Subyek penelitian ini adalah guru kimia kelas X SMAN/MAN se-Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 18 orang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket dan wawancara bebas. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perhitungan persentase jawaban responden dan pemberian kategori pada tiap deskriptor, indikator, dan sub variabel. Kemudian hasil analisis data dideskripsikan dan disimpulkan sehingga diperoleh informasi pelaksanaan praktikum, jenis penilaian praktikum, dan penilaian kinerja praktikum kimia siswa kelas X SMAN/MAN se-Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, kualifikasi pelaksanaan praktikum, jenis penilaian praktikum, dan penilaian kinerja praktikum kimia siswa kelas X SMAN/MAN se-Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 adalah baik dengan persentase 73%. Data tersebut meliputi 3 hal yaitu: (1) kualifikasi pelaksanaan kegiatan praktikum kimia adalah baik dengan persentase 76%, (2) kualifikasi jenis penilaian yang digunakan saat praktikum adalah baik dengan persentase 73%, (3) kualifikasi pelaksanaan penilaian kinerja praktikum kimia adalah baik dengan persentase 70%.

Hubungan status sosial ekonomi orang tua, cara belajar, kebiasaan belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Akuntansi Universitas Negeri Malang (studi pada mahasiswa penerima beasiswa) / Tri Wilujengningsih

 

Using a narrative scaffold to improve students' afl writing ability in SMA Negri 1 Gambiran-Banyuwangi / Nada Yangrifqi

 

USING A NARRATIVE SCAFFOLD TO IMPROVE STUDENTS’ EFL WRITING ABILITY IN SMA NEGERI 1 GAMBIRAN-BANYUWANGI Nada Yangrifqi Abstract: The study was intended to improve the ability of students’ writings by using a narrative scaffold. A collaborative action research was employed. The study was conducted in Class XI IPS 1, consisting thirty seven (37) students, in SMAN 1 Gambiran-Banyuwangi. The researcher acted as the English teacher in the class while the collaborating teacher acted as the observer. The findings showed that within a single cycle, the students’ attention to the teacher’s explanation and instruction was always in the high level while the students’ participation during the teaching and learning activity increased. Moreover, the students’ writing ability also improved, which was indicated by the improvement of the students’ writing scores in terms of organization and content. Key Words: narrative, narrative scaffold, genre based approach, action research

Studi karakteristik mantan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar sektor pertanian di Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung / Nanda Setiawan

 

Studi tentang faktor dominan yang mempengarui sikap siswa terhadap ekstrakulikuler seni di MTs Negeri Malang 1 tahun ajaran 2007-2008 / Irawati Putri Cahyani

 

Sikap siswa penting untuk diketahui, sebab dengan mengetahui sikap siswa seorang pengajar dapat menentukan langkah-langkah untuk melakukan tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, baik sikap dalam kegiatan belajar intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Dengan mengetahui sikap siswa terhadap ekstrakurikuler, maka sekolah akan dapat lebih meningkatkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai penampung bakat dan minat siswa secara maksimal. Sehingga dapat mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat direalisasikan dalam pelajaran intrakurikuler. MTs Negeri Malang I merupakan sekolah menengah tingkat pertama bercirikan keislaman di bawah naungan departemen agama yang melaksanakan 4 ekstrakurikuler seni budaya dengan didukung oleh fasilitas yang memadai, yaitu seni drama, seni lukis, seni musik, dan seni tari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi sikap siswa terhadap ekstrakurikuler seni di MTs Negeri Malang I. Sikap siswa dalam penelitian ini menyangkut komponen kognitif, afektif, dan konatif. Rancangan penelitian adalah penelitian deskriptif jenis kuantitatif dengan teknik survei. Penelitian ini mendeskripsikan tentang fenomena sebagaimana adanya. Pengumpulan data penelitian menggunakan angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik persentase. Populasinya adalah siswa MTs Negeri Malang I yang mengikuti ekstrakurikuler seni yang berjumlah 89 siswa. Pengambilan sampel dilakukan secara random pada 4 bidang seni di ekstrakurikuler seni, sehingga didapatkan 40 siswa sebagai sampel yang terdiri dari masing-masing 10 siswa dari setiap bidang seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi sikap siswa terhadap ekstrakurikuler seni di MTs Negeri Malang I tahun ajaran 2007-2008 untuk bidang seni drama, seni lukis, seni musik, dan seni tari adalah perasaan etis yang termasuk dalam komponen afektif. Pengaruh komponen kognitif, afektif, dan konatif pada sikap siswa terhadap ekstrakurikuler seni di MTs Negeri Malang I adalah sebagai berikut: 1) Pada seni drama komponen kognitif berpengaruh kuat pada sikap siswa, komponen afektif berpengaruh kuat pada sikap siswa, dan komponen konatif berpengaruh kuat pada sikap siswa. 2) Pada seni lukis komponen kognitif berpengaruh kuat pada sikap siswa, komponen afektif berpengaruh sangat kuat pada sikap siswa, dan komponen konatif berpengaruh sangat kuat pada sikap siswa. 3) Pada seni musik komponen kognitif berpengaruh kuat pada sikap siswa, komponen afektif berpengaruh kuat padasikap siswa, dan komponen konatif berpengaruh kuat pada sikap siswa. 4) Pada seni tari komponen kognitif berpengaruh kuat pada sikap siswa, komponen afektif berpengaruh kuat pada sikap siswa, dan komponen konatif berpengaruh kuat pada sikap siswa Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sikap siswa terhadap ekstrakurikuler seni pada sekolah yang berbeda.

Peningkatan kemampuan menyimak cerita pendek siswa kelas V SDN Dawuhan 02 Blitar dengan menggunakan metode ekspresif / Yuni Afifaturrahmah

 

ABSTRAK Afifaturrahmah, Yuni. 2008. Peningkatan Kemampuan Menyimak Cerita Pendek Siswa Kelas V SDN Dawuhan 02 Blitar dengan Menggunakan Metode ekspresif. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Imam Machfudz, M.Pd Kata kunci: kemampuan, menyimak cerita pendek, metode ekspresif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan penggunaan metode Ekspresif dalam meningkatkan kemampuan menyimak cerita pendek siswa kelas V SDN Dawuhan 02 Blitar, baik dilihat dari segi kemampuan memberikan tanggapan terhadap isi cerita maupun dari segi pemahaman cerita. Dengan dua tujuan khusus sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar dalam kurikulum BSNP yaitu (1) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyimak cerita pendek siswa saat memberikan tanggapan secara lisan, (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyimak cerita pendek siswa dilihat dari segi pemahaman unsur cerita(tokoh, tema, latar dan amanat) yang terdapat dalam wacana simakan. Kemampuan menyimak cerita pendek merupakan salah satu kemampuan dasar siswa yang dapat ditingkatkan melalui sebuah metode baru dengan nama “metode kespresif”. Metode ekspresif merupakan gabungan assigment methods dan metode simulasi yang diterapkan pada kegiatan menyimak cerita pendek anak yang sedang dibacakan atau diceritakan guru dengan mengekspresikan beberapa kata tertentu dari cerita yang sedang dibacakan menjadi sebuah gerakan ekspresif yang diinstruksikan oleh guru. Melalui penerapan pembelajaran ini diharapkan siswa akan lebih konsentratif terhadap materi simakan dan memperoleh iklim belajar yang sesuai dengan dunia bermain anak. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Data pada penelitian ini adalah data proses dan data hasil. Data proses meliputi tiga hal, yakni (1) aktivitas peneliti, guru dan siswa ketika proses penerapan metode ekspresif dalam pembelajaran menyimak cerita pendek anak, (2) aktivitas peneliti yang bertindak sebagai pengajar dan siswa ketika proses pemahaman terhadap bahan bacaan teks cerita pendek anak yang sedang dibacakan sesuai dengan intruksi awal dari guru, (3) aktivitas peneliti, guru dan siswa ketika proses uji kompetensi keterampilan menyimak baik dengan tes tulis maupun lisan. Data hasil berupa kemampuan menyimak cerita pendek anak siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Dawuhan 02 Blitaryang ditunjukkan dengan kumpulan hasil kerja siswa. Sementara, sumber data penelitian ini adalah aktivitas proses dan hasil kegiatan pembelajaran menyimak cerita pendek anak dengan menerapkan metode ekspresif pada tahun pelajaran 2007/2008 di kelas V SDN Dawuhan 02 Blitar. Data yang ada dalam penelitian ini berupa skor yang akan diubah menjadi nilai siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrument dengan instrumen pembantu berupa panduan wawancara, lembar observasi, dokumentasi dan tes prestasi. Berdasarkan hasil penelitian, ada gradasi peningkatan kemampuan siswa untuk KD 1(memberikan tanggapan terhadap penyampaian cerita pendek anak) yang menggunakan patokan keberhasilan dengan skor 60 ke atas(60=). Jika pada i tahap pra test hanya berhasil 7,6 % atau ada 1 siswa yang berhasil memperoleh skor 60= meningkat pada siklus I dengan prosentase keberhasilan menjadi 38,4% atau dengan ada 5 siswa yang berhasil memperoleh skor 60=. Selanjutnya, prosentase keberhasilan yang semakin meningkat pada siklus II menjadi 92,3 % atau ada 12 siswa yang berhasil memperoleh skor 60 ke atas 60=. Demikian juga pada KD 2 (memahami unsur cerita; tokoh, tema, latar dan amanat) yang menggunakan patokan keberhasilan 70 ke atas(70=). Jika pada tahap pra test hanya berhasil 7,6 % atau 1 siswa yang berhasil memperoleh skor 70= meningkat pada siklus I dengan prosentase keberhasilan menjadi 76,9 % atau ada 10 siswa dari 13 orang siswa yang berhasil memperoleh skor 70=. Selanjutnya, prosentase keberhasilan pada siklus II meningkat pesat menjadi 100 % atau13 siswa secara keseluruhan berhasil memperoleh skor 70=. Saran dari penelitian ini, yaitu bagi siswa diharapkan untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita pendek anak baik seperti baik dalam KD 1 maupun 2 dengan terus memperbanyak frekuensi latihan dalam memberi tanggapan dan mengidentifikasi cerpen anak lain yang disimak.Bagi guru Bahasa Indonesia diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kemampuan menyimak para siswa dengan menggunkan metode ekspresif pada kegiatan pembelajaran menyimak yang lain. Bagi sekolah lainnya dapat menerapkan metode penelitian ini dan memperoleh hasil penelitian yang serupa dengan memperhatikan karakteristik subjek penelitian harus sejenis. Bagi pelaksana penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengadakan penelitian lain mengenai peningkatan kemampuan menyimak cerita pendek anak dengan menggunakan metode yang berbeda. Sedangkan bagi pembaca, khususnya mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia diharapkan penelitian ini dapat memberi informasi tentang peningkatan kemampuan menyimak cerita pendek siswa kelas V SDN Dawuhan 02 Blitar dengan menggunakan metode ekspresif. ii

The teaching of engliah at SMP Negeri 1 Malang as an international standard school: a case study / Arina Nugrahani

 

ABSTRACT Nugrahani, Arina. 2008. “The Teaching of English at SMP Negeri 1 as an International Standard School: a Case Study” Thesis, Program of Study of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dra. Mirjam Anugerahwati, M.A. Key words: teaching English, International Standard School. Various methods and strategies have been applied to develop language competence. One of the government strategies to achieve that goal is by establishing International standard School which implements English as the medium of instruction. Using this strategy, the selected schools have to apply English as the main language in Science, Mathematics, and ICT classes.Therefore, it is interesting to investigate how International Standard school program which uses English in teaching three lessons above develops students’ language competence. This study was intended to describe the teaching and learning process of English in the International Standard classes at SMP Negeri 1 Malang. It was expected that the description of this study would be valuable as a feedback for the teacher and school in evaluating whether the goal of the program has been achieved or not. This study was a descriptive qualitative research. The subjects were the International Standard classes of SMP Negeri 1 Malang.of 2007/2008 academic year. The data were obtained from the teacher and the students of International Standard school program. The main instrument in this study was the researcher, who was supported by some instruments, i.e.: observations, interview, and questionnaires. From the findings, it could be concluded that the teacher of International Standard class implements various techniques, instructional materials, instructional media, and asessment in teaching English. The controlled techniques applied by teacher are content explanation; reading aloud; checking; question-answer, display; review; and testing. Semi controlled techniques employed is story telling, while free techniques implemented are role-play, games, problem solving, and discussion. Next, the textbooks used by the teacher are English Module for Junior High School year 7, Heinemann Games Series – English Puzzles 2, and Smart Steps Grade VII. Meanwhile, the teacher use ICT media such as LCD, computer, and internet to support her teaching. She also uses visual media such as picture, picture series and flashcards. Lastly, the assessments applied by the teacher are on going assessment and peer assessment. She also tries to implement portfolio in her class. Based on the research findings, some suggestions were given for the improvement of the teaching and learning processes in International Standard classes. For the school, especially the Headmaster and the coordinator of International standard school program, they have to give more support to the teachers of English, Mathematics, and Science of International standard school program to use English consistently during the class and to develop good and complete teaching preparation. For the English teacher of International standard school program, she should try harder to increase the quality of the teaching and learning of English by developing a well-arranged module for a semester, enhancing her teaching techniques, keeping her effort in using English consistently during the class, and perfecting the way she administers the assessment, especially the authentic assessment.

Perbedaan perilaku altruistik siswa Madrasah Aliyah yang bertempat tinggal di Pondok Pesantren dan diluar Pondok Pesantren / Nurul Fitriah

 

Perilaku altruistik merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara sukarela dalam menolong orang lain dan memberi manfaat bagi orang yang ditolong tanpa meminta balasan. Perilaku altruistik dalam kehidupan sehari-hari tampak ketika individu berinteraksi dengan individu lain di lingkungan sekitarnya. Pondok pesantren dan keluarga merupakan lingkungan yang dapat memberi pengaruh terha dap perilaku altruistik. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI Madrasah Aliyah di Madrasatul Huda Pamekasan yang tinggal di pondok pesantren dan di luar pondok pesantren tahun ajaran 2007/2008. Di sekolah tersebut terdapat perbedaan tempat tinggal yaitu di pondok pesantren dan di luar pondok pesantren (di rumah). Adapun pengambilan subjek tempat tinggal sebagai objek penelitian dikarenakan setiap lingkungan tempat tinggal itu patut diduga, bahwa anak mendapat perlakuan yang berbeda-beda. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tempat tinggal mereka dapat mempengaruhi diri dalam berperilaku altruistik. Tujuan dari penelitian ini antara lain: (1) untuk mengetahui tingk at perilaku altruistik siswa Madrasah Aliyah yang bertempat tinggal di pondok pesantren, (2) untuk mengetahui tingkat perilaku altruistik siswa Madrasah Aliyah yang bertempat tinggal di luar pondok pesantren, dan (3) untuk mengetahui perbedaan tingkat perilaku altruistik siswa Madrasah Aliyah yang bertempat tinggal di pondok pesantren dan di luar pondok pesantren. Populasi penelitian ini berjumlah 144 siswa dan sampelnya berjumlah 74 siswa, dengan rincian 44 siswa yang tinggal di pondok pesantren dan 28 siswa yang tinggal di luar pondok pesantren. Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proportional random sampling. Proportional sampling digunakan untuk memperoleh sampel penelitian, sedangkan random sampling untuk memperoleh sampel bebas. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan deskriptif komparatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan melancarkan skala perilaku altruistik. Analisis hasil penelitian yang digunakan yaitu analisis persentase dan analisis uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72 orang yang menjadi sampel terdapat banyak (76,4%) siswa Madrasah Aliyah yang memiliki perilaku altruistik tinggi, sedikit (23,6%) siswa Madrasah Aliyah yang memiliki perilaku altruistik cukup, sedikit sekali (0%) atau tidak ada siswa Madrasah Aliyah yang memiliki perilaku altruistik rendah. Faktor kepribadian dan aspek meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi paling dominan mempengaruhi munculnya perilaku altruistik siswa Madrasah Aliyah. Pada siswa Madrasah Aliyah yang bertempat tinggal di pondok pesantren terdapat banyak sekali (95,5%) siswa Madrasah Aliyah yang bertempat tinggal di pondok pesantren yang memiliki

Kesiapan mengajar guru SDN Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya sesuai kurikulum tingkat satuan pendidikan / Huda Faujan

 

Relevansi antara ilustrasi dengan materi pada buku ajar mata pelajaran matematika untuk SD kelas IV / Yogi Rahayu

 

Relevansi adalah hubungan tertentu antara ilustrasi dengan pesan yang disampaikan oleh materi. Dalam penelitian ini hubungan tersebut terdiri atas 3 kategori yaitu hubungan rasional (disebut keterhubungan), hubungan esensial (disebut kepentingan) dan hubungan kemutlakan (disebut kejelasan). Keterhubungan ialah bentuk relevansi antara ilustrasi dengan isi materi dimana keduanya memiliki hubungan yang masuk akal (rasional). Kepentingan ialah bentuk relevansi antara ilustrasi dengan materi, dimana keduanya memiliki hubungan yang esensial (tidak dapat dipisahkan). Sedangkan kejelasan ialah bentuk relevansi antara ilustrasi dengan materi, dimana keberadaan ilustrasi tersebut mutlak ada untuk memperjelas materi. Kerelevanan merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. Berdasarkan latar belakang tersebut secara umum perlu diadakan penelitian untuk mengetahui sejauhmana relevansi antara ilustrasi dengan materi pada buku ajar pelajaran matematika sekolah dasar kelas IV, sedangkan secara operasional penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui (1) bagaimana profil isi lima buku ajar pelajaran matematika untuk SD kelas IV (2) apa ragam tanda pada teks ilustrasi buku ajar matematika SD kelas IV (3) apa ragam makna pada teks ilustrasi buku ajar matematika SD kelas IV (4) sejauhmana hubungan relevansi antara ilustrasi dengan materi pada buku ajar matematika SD kelas IV. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian deskriptif kualitatif, dengan semiotika sebagai kajian analisis dengan menggunakan metode observasi. Objek dari penelitian ini adalah ilustrasi sebagai tanda pada buku ajar matematika bab operasi hitung campuran. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil relevansi antara ilustrasi dengan materi yang telah ditemukan pada ke-5 buku ajar yang diteliti. Buku ajar yang diteliti terdiri dari lima penerbit, yaitu penerbit Erlangga, Yudhistira, Aneka Ilmu, Piranti Darma Kalokatama dan Cempaka Putih. Dari analisis deskriptif diketahui bahwa profil isi buku ajar matematika untuk bab operasi hitung campuran pada SD kelas IV yang diteliti pada lima buku ajar menghasilkan data bahwa, terdapat dua buku ajar yang tidak memiliki sub judul dan pengantar materi selain judul, penjelasan materi, ilustrasi, contoh soal dan soal. Penerbit tersebut yaitu Piranti Darma Kalokatama dan Yudhistira. Terdapat satu penerbit yang tidak mempunyai bagian pengantar materi yaitu penerbit Aneka Ilmu. Yang terakhir, terdapat dua buku ajar yang tidak memiliki sub judul dan pengantar materi selain judul, penjelasan materi, ilustrasi, serta contoh soal dan soal sebagai pelengkap buku ajar. Penerbit tersebut adalah Erlangga dan Cempaka Putih. Untuk penggunaan elemen tanda pada kelima buku ajar didominasi oleh jenis tanda non figuratif gambar penghias geometris, disusul elemen ilustrasi tanda figuratif gambar ekspresi, kemudian elemen ilustrasi tanda non figuratif gambar penghias non geometris, dan yang terakhir elemen ilustrasi tanda figuratif gambar geometris. Sedangkan fungsi elemen ilustrasi sendiri yang banyak digunakan pada kelima buku ajar matematika adalah fungsi elemen ilustrasi sebagai penghias teks utama. Perbandingan ragam makna pada teks ilustrasi buku ajar matematika untuk bab operasi hitung campuran pada SD kelas IV dapat diketahui bahwa, dari kelima buku ajar yang diteliti terdapat satu penerbit yang menggunakan ilustrasi bermakna konotatif yang memaknai sebuah tanda dengan budaya sedangkan keempat penerbit lainnya menggunakan ilustrasi bermakna denotatif yaitu jenis makna yang yang merujuk pada arti kamus atau makna leksikal, obyektif dan apa adanya. Untuk relevansi, terdapat satu penerbit yang memiliki predikat cukup relevan antara ilustrasi dengan materi dalam buku ajar, hal ini sesuai dengan penelitian dimana buku ajar tersebut sebagian besar ilustrasi dengan materi memiliki keterhubungan, kepentingan dan kejelasan sebagai aspeknya. Sedangkan empat penerbit lainnya mendapat predikat kurang relevan, hal ini dikarenakan antara ilustrasi dengan materi aspek keterhubungan, kepentingan dan kejelasan sebagian kecil disajikan dalam buku ajar. Dari hasil penelitian ini, saran yang diberikan untuk penelitian lanjut ialah penelitian tentang keefektifan ilustrasi pada buku sejenis. Penelitian ini dipandang perlu mengingat, seperti temuan dalam penelitian ini, ilustrasi keberadaannya cukup dominan sebagai pesan pembelajaran.

Perancangan media komunikasi visual agropolitan televisi (ATV) sebagai strategi brand image perusahaan / Ratnadi Hendra Wicaksana

 

ATV adalah lembaga penyiaran lokal yang berdomisili di Batu Malang Raya, dengan daerah jangkauan penyiaran yang mencakup wilayah Kota Batu, Malang, dan Kabupaten Malang. Saat ini sedang berkembang wacana di dalam ATV untuk menjadi stasiun televisi swasta dan dapat disiarkan secara nasional lewat satelit. Perusahaan mempersiapkan langkahlangkah strategis dengan meningkatkan daya promosi untuk mengangkat brand image ATV. Permasalahan yang dihadapi ATV adalah kurangnya media komunikasi visual yang mampu mempromosikan dan menginformasikan brand image ATV kepada masyarakat Malang Raya maupun pengiklan. Oleh karena itu perancangan media komunikasi visual ini dibuat untuk menghasilkan media promosi maupun informasi sebagai strategi mengangkat dan mempertahankan brand image ATV secara efektif. Model perancangan media komunikasi visual ATV menggunakan model prosedural, yaitu model perancangan yang bersifat deskriptif. Prosedur penelitian perancangan yang ditempuh dimulai dengan mengidentifikasi perusahaan, kompetitor serta target audience. Dilanjutkan dengan menganalisa data hasil indentifikasi untuk memperoleh datadata yang terolah, yang siap diaplikasikan pada proses perancangan media. Dan diakhiri dengan pembuatan konsep desain, untuk menentukan strategi kreatif yang tepat dan efektif. Media komunikasi visual yang digunakan yaitu bumper station ID, cd interaktif, poster, iklan majalah, iklan koran, iklan billboard, iklan spanduk, neon box,X banner, mobil OB van, stationery set, baju kerja, dan tugu televisi ATV. Gaya desain yang dipilih adalah modern dengan nuansa alam digital imaging, sedangkan pada cd interaktif diberi sentuhan futuristic. Tema kampanye promosi ATV yaitu “WarnaWarni Kota Batu”, maksudnya ATV berkomitmen menyajikan beragam acara berkualitas yang mengangkat potensi ekonomi, wisata, sosial, budaya, industri, pertanian, dan lainlain bagi Kota Batu Malang Raya. Keyword ATV adalah “tampil lebih segar, tampil lebih ceria, tampil lebih dekat”. Maskot yang digunakan adalah sepasang model dengan pakaian Malangan dan seragam ATV. Media komunikasi visual tersebut diharapkan dapat menyukseskan pembangunan brand image ATV kepada khalayak, sehingga dapat mempertahankan posisi ATV sebagai market leader stasiun televisi lokal Malang Raya, dan dalam jangka panjang siap menjadi stasiun televisi swasta nasional. Berdasarkan hasil perancangan ini, disarankan agar ATV terus mengembangkan kegiatan promosi secara berkala dengan tema promosi yang berbeda dan inovatif setiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk membentuk image positif ATV kedalam alam bawah sadar target audience, sehingga pemirsa ATV akan terus tumbuh dan loyal terhadap ATV.

Perbedaan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode inquiry dan metode ceramah pada mata pelajaran IPS bidang sejarah kelas VII semester genap tahun pelajaran 2007/2008 di SMP Negeri 20 Malang / Alifta Sofia Endah Sari

 

Peningkatan mutu pendidikan dalam mewujudkan pendidikan nasional berkaitan erat dengan peningkatan mutu kegiatan pembelajaran. Salah satu kunci keberhasilan kegiatan pembelajaran dikelas ditentukan oleh keterampilan guru dalam menyampaikan bahan pelajaran diantaranya dengan menggunakan metode mengajar yang lebih bervariatif dan penyampaian materi secara menarik agar siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman secara optimal. Sehingga siswa dapat menemukan alasan-alasan rasional untuk bersikap lebih positif terhadap mata pelajaran sejarah. Metode mengajar yang bisa digunakan antara lain metode inquiry dan metode ceramah. Metode inquiry adalah sebuah model proses pengajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses-proses kegiatan pembelajaran, dimana siswa dihadapkan pada situasi dan mereka mulai bertanya-tanya tentang hal tersebut dengan langkah-langkah kegiatan pembelajarannya adalah memperkenalkan masalah, merumuskan hipotesis, pengumpulan data, menguji hipotesis, menganalisis data dan membuat kesimpulan. Sedangkan pembelajaran dengan metode ceramah adalah suatu teknik pengajaran yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik presentasi bicara oleh guru pada suatu pelajaran. Peran siswa dalam metode ceramah yang penting adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok-pokok yang disampaikan oleh guru, aktivitas KBM ditekankan pada guru. Penggunaan kedua metode tersebut saling melengkapi dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak hanya menggunakan metode ceramah saja, namun juga bisa menggunakan metode inquiry, begitu pula dalam penggunaan metode inquiry di dalamnya masih perlu penggunaan ceramah walaupun penggunaannya tidak mendominasi misalkan saja dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa. Penelitian ini bertolak dari adanya permasalahan mengenai prestasi belajar sejarah siswa yang berada di bawah SKM yang ditetapkan oleh sekolah, dimana dalam penyampaian materi sejarah guru bidang studi IPS menggunakan metode ceramah. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti akan menggunakan metode lain selain ceramah yaitu dengan menggunakan metode inquiry. Kemudian akan dibandingkan prestasi belajar sejarah siswa antara kelas yang menggunakan ceramah dan yang menggunakan metode inquiry sehingga diketahui perbedaan prestasi belajar siswa. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1). bagaimanakah prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang yang diajar dengan menggunakan metode inquiry?, (2). bagaimanakah prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang yang diajar dengan menggunakan metode ceramah?, (3). adakah perbedaan secara signifikan prestasi belajar sejarah siswa kelas VII yang diajar dengan metode inquiry dan siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah?. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1). Prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang yang belajar dengan menggunakan metode inquiry. (2). Prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang yang diajar dengan menggunakan metode ceramah, dan (3). Perbedaan prestasi belajar sejarah siswa kelas VII yang diajar dengan menggunakan metode inquiry dan metode ceramah. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 20 Malang, Jalan R.Tumenggung Suryo, No. 38 Malang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Data penelitian berupa angka-angka hasil tes siswa. Analisis hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan uji t test, untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikant antara prestasi belajar sejarah siswa yang diberi pembelajaran dengan metode inquiry dengan siswa yang menggunakan metode ceramah dalam kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan antara kelompok siswa yang menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode inquiry dan siswa yang menerapkan metode ceramah. Kelompok yang menerapkan metode inquiry memiliki rata - rata prestasi belajar yang lebih tinggi yaitu sebesar 71,025 dibandingkan dengan kelompok ceramah sebesar 64,175. Sedangkan berdasarkan analisis dengan menggunakan uji t diperoleh hasil thitung > ttabel ; 2,806 > 2,480, hal tersebut berarti menerima hipotesis yaitu terdapat perbedaan secara signifikan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode inquiry dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah. Ketercapaian penelitian yang menerapkan metode inquiry pada nilai rata-rata siswa sebesar 100% sesuai dengan nilai yang ditetapkan oleh sekolah yaitu sebesar 70, namun banyaknya siswa yang memperoleh nilai diatas SKM yang ditetapkan hanya sebesar 57,5% dari 40 siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode inquiry. Sedangkan pada kelompok yang menerapkan metode ceramah ketercapaian 91,67% pada nilai rata-rata siswa, dimana hal tersebut berarti masih berada dibawah nilai standart yang ditetapkan SMP Negeri 20 Malang, dan banyaknya siswa yang mendapat nilai diatas SKM hanya sebesar 12,5% dari 40 siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa hasil belajar dengan menekankan pada proses menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada kelompok siswa yang menerapkan ceramah, dimana siswa hanya bersifat pasif, mendengarkan guru, dan mencatat. Guru mata pelajaran IPS dapat menggunakan metode inquiry sebagai salah satu alternatif penyampaian materi pelajaran selain metode ceramah. Namun, dalam menerapkan metode ini guru diharapkan dapat menggunakan waktu yang ada, sehingga semua tahap dalam pembelajaran inquiry dapat terlaksana, selain itu guru juga harus mampu mengkondisikan siswa, dengan demikian pelaksanaan inquiry dapat terlaksana dengan baik.

Penerapan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Malang pada materi zat aditif makanan / Nur Kholilah

 

Perubahan mendasar kurikulum 2004 (KBK) menjadi kurikulum 2006 (KTSP) adalah adanya materi kimia di SMP. Kimia di SMP merupakan mata pelajaran yang baru. Penelitian ini mengkaji penerapan model Learning Cycle 5 fase dalam pembelajaran materi zat aditif makanan. Penerapan model Learning Cycle 5 fase diduga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui kualitas proses dan hasil belajar siswa kelas VIII yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase dibandingkan siswa yang diajar dengan menggunakan metode konvensional pada materi zat aditif makanan serta mengetahui persepsi siswa kelas VIII terhadap materi zat aditif makanan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental semu. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 13 Malang dengan populasi siswa kelas VIII pada semester 2 tahun ajaran 2007/2008. Sampel diambil dua kelas secara acak, dari dua kelas tersebut didapat kelas VIII G sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII H sebagai kelompok kontrol. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah: silabus, RPP, tes, lembar observasi, dan angket. Untuk instrumen tes digunakan tes pilihan ganda dengan jumlah soal 30 dan 4 alternatif jawaban. Soal sebelum diuji cobakan telah divalidasi, dengan tingkat kevalidan 0,354-0,752; koefisien reliabilitas 0,875. Untuk mengetahui kualitas proses indikatornya antara lain: keaktifan bertanya siswa, keaktifan merespon pertanyaan, ketepatan dalam mengumpulkan LKS dan ketepatan jawaban LKS. Sedangkan persepsi siswa aspeknya meliputi kesan siswa terhadap mata pelajaran kimia, tindakan dalam PBM, kesan siswa terhadap model pembelajaran Learning Cycle 5 fase. Data yang didapat dianalisis secara deskripif, sedangkan data hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan teknik analisis uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas proses selama pembelajaran dilihat berdasarkan persentase kriteria yang diperoleh untuk kelompok eksperimen nilai baik sekali 68,42%; nilai baik 26,32%; nilai cukup 5,26%; dan nilai kurang 0,00%. Sedangkan kelompok kontrol diperoleh persentase kriteria untuk nilai baik sekali 25,64%; nilai baik 58,97%; nilai cukup 15,39%; dan nilai kurang 0,00% dari data tersebut dapat disimpulkan kualitas proses kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Nilai hasil belajar siswa kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan model Learning Cycle 5 fase lebih baik, dengan nilai rata-rata 75,50 dan standar deviasi 5,15 dari pada kelompok kontrol yang diajar dengan metode konvensional dengan nilai rata-rata 68,31 dan standar deviasi 9,23. Persepsi siswa terhadap mata pelajaran kimia dan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase menunjukkan hasil yang baik, yaitu dengan persentase 5,56% persepsi sangat positif; 77,78% persepsi positif; 16,67% persepsi negatif; dan 0,00% persepsi sangat negatif.

Hubungan BMI dan aktivitas olahraga dengan tingkat kapasitas oksigen maksimal (VO2 maks) pada polisi lalu lintas Polresta Malang / Yunita Fitria Lenvie

 

Aktivitas seorang polisi lalu lintas sangat beresiko terpapar polusi yang dapat menggangu kinerja dari seorang polisi lalu lintas. Selain itu terdapat realita bahwa banyak polisi lalu lintas yang mempunyai masalah tentang obesitas. BMI diatas normal sendiri dapat menggangu kinerja Polantas karena efek dari BMI tidak normal bisa dikatakan obesitas yng juga dapat mengakibatkan orang malas bergerak, cepat lelah, sering mengantuk. Kelebihan BMI yang memiliki indikator obesitas juga dapat menyebabkan terkena penyakit jantung, hipertensi. Tujuan dari penelitian disini yaitu peneliti ingin mengetahui ada hubungan BMI dengan tingkat dan seberapa besarkah hubungan dan efek apa saja yang terjadi pada orang orang Memiliki BMI tidak normal terutama pada kesehatan dan kebugaran pada anggota Polisi Lalu lintas Polresta Malang yang memiliki kegiatan yang padat yang diharapkan memiliki tubuh yang sehat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, bentuk rancangan penelitian korelasional, dengan menggunakan sampel 22 dari 46 anggota Polisi lalu lintas dengan kriteria setatus kesehatan,dan kadar Hb normal. Instrumen yang digunakan yaitu berupa angket responden untuk menentukan sampel dan melihat BMI dan prosedur pengukuran mengunakan tes lari multistage. Kegiatan analisis data dimulai dari mengidentifikasi data dari angket kemudian ditarik kesimpulan sementara untuk menggambarkan keadaan sampel penelitian. Bahwa nilai rata-rata polisi lalu lintas Polresta Malang yang termasuk BMI tidak normal lebih rendah dari pada polisi yang memiliki BMI normal. Selain itu Polisi lalu lintas Polresta malang yang memiliki BMI lebih dari 25 dan tidak melakukan aktivitas olahraga teratur cenderung mempunyai yang lebih rendah. Bagi Angota Polisi lalu lintas Polresta Malang diharapkan lebih memperhatikan tingkat kesehatan dan kebugaran untuk kelancaran dalam melaksanakan tugas.

Kajian tentang pengaruh ekstrak beberapa varietas daun tembelekan (Lantana camara Linn.) terhadap penghambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus sebagai penunjang materi praktikum mikrobiologi / Indriaty

 

Tembelekan (Lantana camara Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman berkhasiat obat yang berpotensi sebagai bahan yang bersifat antibakteri. Tanaman ini diketahui mengandung senyawa triterpenoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Staphylococcus aureus merupakan salah satu spesies bakteri patogen penyebab penyakit saluran pernapasan. Informasi tentang pengaruh varietas dan konsentrasi efektif ekstrak daun L. camara yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro belum diketahui. Proses dan hasil penelitian digunakan untuk membuat penuntun praktikum. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perbedaan pengaruh ekstrak daun L. camara dari beberapa varietas terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro; (2) mengetahui perbedaan pengaruh konsentrasi ekstrak daun L. camara terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro; (3) mengetahui pengaruh interaksi antara varietas dan konsentrasi ekstrak daun L. camara terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Setiap perlakuan diulang 3 kali. Data dianalisis menggunakan Analisis Variansi ganda dan dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar. Varietas yang digunakan meliputi L. camara liar, L. camara var. crocea, dan L. camara var. mista. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Sampel daun dari masingmasing varietas yang digunakan adalah 100 gram. Ekstraksi daun L. camara dilakukan menggunakan pelarut metanol. Pelarut untuk ekstrasi digunakan sebanyak 100 ml. Pengaruh ekstrak daun L. camara terhadap penghambatan pertumbuhan S. aureus diukur berdasarkan ukuran diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus pada medium NA lempeng yang telah diberi ekstrak daun L. camara tersebut dalam beberapa konsentrasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang pada bulan April sampai Juni 2008. Hasil analisis data menunjukkan bahwa varietas, konsentrasi, dan interaksi antara varietas dan konsentrasi ekstrak daun L. camara berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan pengaruh secara nyata ekstrak daun L. camara dari beberapa varietas terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro. Varietas L. camara paling efektif ialah varietas i mista; (2) ada perbedaan pengaruh secara nyata konsentrasi ekstrak daun L. camara terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro. Konsentrasi paling efektif ialah konsentrasi 50%; (3) ada perbedaan pengaruh secara nyata interaksi antara varietas dan konsentrasi ekstrak daun L. camara terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro interaksi paling efektif ialah varietas mista pada konsentrasi 50% dan 60%.

Pengembangan bahan ajar IPA terpadu berbasis salingtemas (sains-lingkungan-teknologi-masyarakat) untuk SMP kelas VII semester I / Imroatul Mufidah

 

Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperbaiki kurikulum dari waktu ke waktu. Kurikulum yang diberlakukan pemerintah sejak 2006 sampai saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Subtansi mata pelajaran IPA pada KTSP merupakan IPA terpadu. Oleh karena itu bahan ajar IPA yang dikehendaki pada saat ini adalah bahan ajar IPA terpadu. Pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar IPA terpadu dan menemukan kelebihan serta kekurangan bahan ajar IPA terpadu berbasis SALINGTEMAS untuk SMP kelas VII semester I. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Metode pengembangan yang digunakan pada penelitian ini mengikuti langkah-langkah metode Suhartono yang terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) tahap Analisis situasi awal, (2) tahap pengembangan rancangan bahan ajar, (3) tahap penulisan, (4) tahap penilaian. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket yang diisi oleh validator. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif hasil validasi dianalisis menggunakan teknik rerata. Data kualitatif berupa saran, tanggapan, dan kritik dari validator digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar IPA terpadu berbasis salingtemas untuk SMP kelas VII semester I yang dikembangkan menggunakan model connected yang memiliki tema energi kalor dalam kehidupan yang merupakan perpaduan dari materi fisika dan kimia. Berdasarkan hasil uji validitas, bahan ajar memperoleh skor 3,39 yang bernilai valid. Kelebihan dalam bahan ajar yang dikembangkan adalah: (1) sesuai dengan KTSP, (2) penyusunannya sesuai dengan paradigma pembelajaran kontekstual, (3) siswa dapat melihat hubungan antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, (4) siswa dapat melihat hubungan yang bermakna antara materi fisika dan kimia, (5) beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu; sedangkan kekurangan pada bahan ajar ini adalah: (1) bahan ajar yang dikembangkan hanya dilakukan validasi isi belum divalidasi empirik sehingga belum diketahui tingkat efisiensi waktu setelah digunakannya bahan ajar IPA terpadu hasil pengembangan, (2) terlalu banyak contoh yang seharusnya dapat digali sendiri oleh siswa sehingga siswa tidak dapat membangun pengetahuan sendiri secara maksimal, (3) tata peletakan gambar kurang diperhatikan sehingga kurang memotivasi siswa.

Penerapan metode jigsaw untuk meningkatkan keterampilan menyimak-wicara siswa kelas VIID SMP Negeri 18 Malang / Husnul Khotmawati

 

ABSTRAK Khotmawati, Husnul. 2008. “Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak-Wicara Siswa Kelas VIID SMP Negeri 18 Malang”. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suyono, M.Pd, (II) Dra. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Kata kunci: peningkatan, menyimak-wicara, metode jigsaw. Pelaksanaan pembelajaran menyimak-wicara di sekolah sering diabaikan oleh guru, karena dalam pembelajaran menyimak, siswa kurang antusias dan dalam pembelajaran berbicara, diperlukan waktu yang cukup lama. Akibatnya, siswa kurang bisa menemukan isi pembicaraan dan menyimpulkannya, sehingga siswa tidak bisa memberikan tanggapan terhadap isi bahan simakan. Dalam berbicara, siswa tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup, jika diminta berbicara di depan teman-temannya, siswa berbicara dengan tidak lancar, penggunaan bahasa Indonesia juga menjadi kacau, dan isi pembicaraan menjadi tidak tepat. Padahal, menyimak dan berbicara adalah keterampilan yang sering digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakmampuan siswa dalam menyimak dan berbicara juga dialami oleh siswa kelas VIID SMP Negeri 18 Malang. Keterampilan menyimak dan berbicara siswa masih tergolong kurang dan masih perlu ditingkatkan. Dalam menyimak, siswa masih kurang bisa berkonsentrasi, dan dalam berbicara, siswa merasa malu dan takut jika harus maju dan berbicara di depan teman-temannya. Guru pernah mencoba menerapkan metode diskusi biasa untuk merangsang siswa menyimak dan berbicara, tetapi kurang efektif. Persoalan tersebut pun dicari solusinya. Salah satu cara yang diupayakan adalah dengan mengubah teknik diskusi yang biasa dengan teknik diskusi model jigsaw. Dengan jigsaw, setiap siswa mempunyai tanggung jawab terhadap sub-sub materi tertentu yang berbeda dengan tema yang sama, sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam proses diskusi dan tidak ada lagi istilah siswa menganggur dalam diskusi karena guru hanya berperan sebagai fasilitator saja. Dengan jigsaw diharapkan tujuan penelitian ini dapat tercapai, yaitu untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VIID SMP Negeri 18 Malang dalam pembelajaran menyimak-wicara. Dalam menyimak, peningkatan ditekankan pada aspek kemampuan menemukan pokok- pokok isi bahan simakan, menemukan amanat/pesan, membuat kesimpulan, dan membuat tanggapan. Dalam berbicara, peningkatan ditekankan pada aspek kemampuan siswa berbicara dengan memerhatikan ketepatan isi, kelancaran, percaya diri, dan penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SMP Negeri 18 Malang dengan subjek penelitian siswa kelas VIID. Jenis data yang dikumpulkan adalah nilai hasil menyimak dan berbicara siswa yang didukung oleh data catatan lapangan serta data hasil refleksi peneliti bersama guru. Berdasarkan tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I dan II, dapat dideskripsikan proses penerapan metode jigsaw dalam pembelajaran menyimak- wicara, yaitu: diawali dengan pembentukan kelompok yang heterogen, i pemberian bacaan, pelaksanaan diskusi sesi I, pelaksanaan diskusi sesi II, pemberian tes individu, dan pelaksanaan refleksi. Pada siklus I, keterampilan menyimak siswa mengalami peningkatan walaupun masih ada siswa yang nilainya di bawah SKM. Untuk kemampuan menemukan pokok-pokok isi berita ada 14% siswa nilainya di bawah SKM dan 86% siswa di atas SKM. Untuk kemampuan membuat kesimpulan, ada 66% siswa yang nilainya di bawah SKM dan ada 43% yang di atas SKM. Untuk kemampuan membuat tanggapan, 100% nilai siswa di atas SKM. Untuk kemampuan menemukan amanat/pesan, ada 94% siswa yang nilainya di bawah SKM dan 3% di atas SKM. Pada siklus II, kemampuan siswa menemukan pokok-pokok isi bacaan meningkat, ada 9% siswa yang nilainya di bawah SKM dan ada 91% siswa yang di atas SKM. Untuk kemampuan membuat kesimpulan dan tanggapan, 100% siswa sudah di atas SKM. Untuk kemampuan membuat amanat/pesan, ada 3% siswa yang nilainya di bawah SKM dan ada 97% yang di atas SKM. Untuk keterampilan berbicara, siswa mengalami peningkatan secara signifikan. Pada siklus I hasil yang diperoleh untuk keterampilan berbicara adalah, 100% siswa memperoleh nilai di atas SKM untuk kemampuan berbicara dengan memperhatikan ketepatan isi, 97% berbicara dengan lancar, 97% siswa berbicara dengan percaya diri, dan 71% berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Pada siklus II, yaitu pada kemampuan siswa berbicara dengan memperhatikan ketepatan isi, kemampuan siswa berbicara dengan lancar, dan kemampuan siswa berbicara dengan percaya diri 100% siswa memperoleh nilai di atas SKM. Pada kemampuan siswa berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baku 91% memperoleh nilai di atas SKM, berarti masih ada 9% siswa yang memperoleh nilai di bawah SKM. Simpualan yang diperoleh dalam penelitian ini di antaranya adalah keterampilan menyimak dan berbicara siswa kelas VIID SMP Negeri 18 Malang bisa ditingkatkan dengan penerapan metode jigsaw, sehingga jumlah siswa yang memperoleh nilai di bawah SKM bisa berkurang. Mengingat manfaat yang dapat diperoleh siswa, maka disarankan bagi guru untuk bisa menerapkan metode jigsaw untuk meningkatkan keterampilan menyimak-wicara bagi siswa dengan permasalahan yang sama, berusaha meningkatkan kompetensi siswa dalam menyimak-wicara, memotivasi siswa dan meningkatkan minat siswa pada menyimak-wicara, mengembangkan media dan metode pembelajaran menyimak- wicara. Bagi peneliti yang akan datang diharapkan untuk meneliti tentang peningkatan menyimak-wicara dengan metode jigsaw dengan subjek dan tempat penelitian lain dan meneliti tentang peningkatan menyimak-wicara dengan metode pembelajaran yang lain. ii

Penggunaan strategi pembelajaran isu-isu kontroversial dalam sejarah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa (Studi deskriiptif analitik pada SMAN 1 Kalianget) / Inayatul Laili

 

The teaching of speaking skills as an extracurricular activity at SMK Negeri 1 Singosari / Nunung Tri Hastuti

 

Bahan ajar untuk pengembangan kompetensi menyimak di SMP/MTs / Nuur Amaliyah Safitri

 

Salah satu aspek penting dalam pemerolehan bahasa adalah menyimak. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan pertama dari sejumlah keterampilan berbahasa sebelum berbicara, membaca, dan menulis. Sebagai bagian dari keterampilan berbahasa dan sebagai dasar untuk menguasai bahasa maka keterampilan menyimak bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis. Dengan menyimak siswa diharapkan dapat mempertajam kepekaan perasaan, meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, serta kemampuan memperluas wawasan siswa. Sebagai pembelajaran, menyimak diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kepribadian, mempertajam kepekaan perasaan, meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, serta kemampuan memperluas wawasan siswa, maka perlu pengadaan bahan pembelajaran yang mendukung terciptanya kegiatan belajar dan mengajar yang sebaik-baiknya dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan pembelajaran menyimak bahasa Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga dapat memberikan pengalaman belajar menyimak pelajaran bahasa Indonesia yang menyenangkan. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan. Sedangkan Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Peneliti mendeskriptifkan pembelajaran menyimak dan mengembangkannya dalam bentuk bahan ajar pada pembelajaran menyimak di SMP/MTs. Metode pengembangan ini terdiri atas model pengembangan, prosedur pengembangan, dan uji coba produk, yang meliputi desain uji coba, subjek coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data. Model pengembangan ini dirumuskan dengan tahapan analisis pendahuluan, analisis kurikulum, dan mengkaji kajian teori dan teknik pembelajaran menyimak yang dilanjutkan dengan penyusunan rancangan pembelajaran kemudian menyusun dan menulis draf bahan pembelajaran. Dari metode penelitian yang dikembangkan dihasilkan bahan ajar menyimak berita yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kemudian dilanjutkan dengan mengujikan produk bahan ajar untuk mengetahui validasi produk. Bahan ajar diujicobakan di SMP Negeri 13 Kota Malang kepada sejumlah subjek coba yaitu 1 guru dan 40 siswa kelas VII. Uji coba produk ini dilakukan untuk mendapatkan masukan berupa penilaian, komentar, kritik, dan saran yang relevan sebagai bahan untuk revisi. Dari proses dan hasil pengembangan dihasilkan wujud pengembangan bahan ajar yaitu produk bahan ajar menyimak berita yang terdiri dari dua model bahan ajar. Tingkat keefektifitasan bahan ajar meliputi keterkaitan bahan ajar dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan, sebagai media untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator; pencapaian tujuan pembelajaran menyimak, langkah-langkah pengembangan bahan ajar; kegunaan sebagai bahan pengajaran, kegunaan sebagai sumber belajar; keluasan materi dibandingkan dengan waktu yang tersedia, dan kegunaan tujuan dan KBM secara eksplisit. Tingkat kemenarikan bahan ajar meliputi ilustrasi, bahasa, isi, serta penyusunan komponen-komponen yang ada dalam model pengembangan bahan ajar. Berdasarkan hasil penelitian bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan sastra Indonesia. Dengan menggunakan bahan ajar yang berfungsi sebagai alternatif bahan pembelajaran menyimak ini, diharapkan pembelajaran menyimak berita lebih bermakna dan menarik bagi siswa. Siswa dituntut untuk dapat melaksanakan setiap kegiatan dalam proses menyimak yang ada dalam bahan ajar. Bahan ajar ini hanya sebagai salah satu alternatif dan bukan satu-satunya bahan pembelajaran yang dapat digunakan sehingga guru bahasa Indonesia disarankan dapat memadukan bahan ajar dengan media belajar yang lain sehingga siswa termotivasi belajar menyimak berita.

Pelaksanaan pembelajaran standar kompetensi apresiasi karya seni rupa kelas VIII di SMP Negeri 2 Karangrejo / Yuga Hermawan

 

ABSTRAK Hermawan, Yuga. 2008. Pelaksanaan Pembelajaran Standar Kompetensi Apresiasi Karya Seni Rupa Kelas VIII Di SMP Negeri 2 Karangrejo. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Lilik Indrawati, (II) Drs. Eko Budi Winarno Kata Kunci: Pendidikan Seni, Apresiasi Seni Pendidikan seni disekolah diarahkan untuk dapat mengembangkan kreativitas, kepekaan indrawi serta kemampuan berkreasi seni dalam lingkungan dan kondisi yang terarah sebagai bekal siswa pada saat berperan langsung sebagai pelaku dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan seni di sekolah juga membekali siswa untuk memiliki kemampuan berapresiasi, karena selain kegiatan apresiasi mengandung fungsi didik, keberadaannya dalam program pendidikan seni bersama dengan kegiatan kreasi dimaksudkan untuk melengkapi. Sehingga diharapkan peserta didik disamping berkembang sisi kemampuan kreatif berserta dampak ikutannya, juga berkembang sisi kemampuan apresiatif berserta dampak ikutannya pula. Berpegang pada prinsip bahwa pembelajaran seni bukan untuk menularkan seni tetapi memfungsi didikkan seni, maka pembelajaran seni dengan menggunakan kegiatan apresiasi sebagai bahan pelajarannya, bukan untuk menularkan kemampuan apresiasi budaya, melainkan untuk memfungsikannya sebagai sarana menumbuh kembangkan individu peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui faktor-faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran standar kompetensi apresiasi karya seni rupa kelas VIII di SMP Negeri 2 Karangrejo, dan (2) mengetahui usaha dan rencana ke depan yang dapat mendukung terlaksananya pembelajaran standar kompetensi apresiasi karya seni rupa kelas VIII di SMP Negeri 2 Karangrejo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Karangrejo. Teknik yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data dilakukan dengan cara wawancara dengan guru mata pelajaran seni rupa kelas VIII di SMP Negeri 2 Karangrejo, dan wawancara kepada kepala sekolah, tata usaha, wakasek kurikulum untuk verifikasi data. Peneliti juga menggunakan tehnik observasi dan juga dokumentasi sebagai pelengkap. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa data trianggulasi. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) faktor-faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran standar apresiasi karya seni rupa antara lain adanya kebijakan yang dikeluarkan sekolah yang hanya menekankan pembelajaran mata pelajaran seni budaya pada standar kompetensi mengekspresikan diri melalui karya seni rupa, sekolah tidak memiliki ruangan khusus dan juga media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran apresiasi karya seni rupa, serta latar belakang pendidikan guru pengajar mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa tidak memiliki latar belakang pendidikan seni melainkan berlatar belakang pendidikan bahasa indonesia, yang juga memiliki latar belakang pendidikan kerajinan. (2) usaha dan rencana ke depan yang dapat mendukung terlaksananya pembelajaran standar kompetensi apresiasi karya seni rupa meliputi; sekolah selalu melakukan evaluasi dan pembenahan pada penerapan kurikulum di sekolah agar sesuai dengan kurikulum yang berlaku yaitu KTSP secara sempurna. Sekolah juga mengusahakan untuk melengkapi segala sarana dan prasarana yang belum dimiliki sekolah melalui kerja sama dengan dinas terkait dan juga wali siswa. Sekolah juga mengusahakan untuk mendapatkan tenaga pengajar mata pelajaran seni budaya yang memiliki latar belakang pendidikan seni yang sesuai dengan bidang seni yang diajarkan di sekolah.

Penerapan metode six sigma pada pengendalian kualitas statistik (Studi kasus sifat utama pengolahan kerosene di Kilang Pusdiklat Migas Cepu) / Eka Ratna Glis Purnamasari

 

Quality is the overall of product characteristic and marketing, engineer purchasing, and conservancy making product fulfill costumer expectation. Statistical quality control represent technique is a problem solving to monitor, controling, analyzing, managing, and repairing process and product by using statistical methods. To control the quality of an product can use an Six Sigma methods. According to Manggala ( 2005), Six Sigma can interpreted by continous effort to reduce waste, reduce varians and prevent defect. Sigma Six represent a business concept to answer customer demand about best quality and business process which without defect. Six Sigma have five process phase, that is Define, Measurement, Analyze, Improve and Control. In this thesis, at phase Measurement , used by cability process sixpack (normal distribution) and I-MR chart obtained spesific gravity, Final Boiling Point, recovery at 200oC and Flash point all process in a state of in control, but some of variation of process still out of spesification, this matter shown with value Cpk index which still under 1, for the Final Boiling Point got value Cpk index equal to 2.15 meaning variation of process state of in control. For the calculation of DPMO obtained spesific gravity with DPMO equal to 4397. For the calculation of DPMO Initial Boiling Point obtained DPMO equal to 2401. For the calculation of DPMO Final of Boiling Point obtained DPMO equal to 0. While for recovery at 200oC obtained DPMO equal to 17003. And for the Flash Point obtained DPMO equal to 640576. So that at the time of Analysis got that Flash Point have especial priority to be repair. Phase Improve in this skripsi only representing writter idea to increase the quality of production so that phase Control cannot be done. In the end of Six Sigma method can help The Oil and Gas Educational and Training Centre Cepu to know defect faster a product so that faster is also done repair.

Alat bantu parkir mobil menggunakan sensor jarak dengan dinyal ultrasonik sebagai pengaman saat mundur / Maksun Rahmad Pujianto, Enfri Setyoadi

 

Hubungan motivasi belajar, pengalaman PRAKERIN dan persepsi siswa tentang kinerja mengajar guru dengan kompetensi siswa SMK di Kabupaten Malang / Linda Kurnia Supraptiningsih

 

ABSTRAK Supraptiningsih, Linda K. 2015. Hubungan Pengalaman Prakerin, Motivasi Belajar dan Persepsi Siswa tentang Kinerja Mengajar Guru dengan Kompetensi Siswa SMK Negeri di Kabupaten Malang, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd., (II) Dr. Hakkun Elmunsyah, S.T, M.T. Kata Kunci: motivasi belajar, pengalaman prakerin, persepsi siswa tentang kinerja mengajar guru, kompetensi. Sebagai salah satu lembaga pendidikan jenjang menengah, SMK memiliki tugas meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dengan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai bidang keahliannya. Terdapat banyak faktor yang diduga berkaitan dengan kompetensi siswa diantaranya adalah: motivasi belajar, pengalaman prakerin dan persepsi siswa tentang kinerja mengajar guru. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar (X1), pengalaman prakerin (X2) dan persepsi siswa tentang kinerja mengajar guru (X3) secara bersama-sama dengan kompetensi siswa (Y), serta untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat yaitu X1, X2 dan X3 dengan Y pada siswa SMK Keahlian Teknik Elektronika Industri di Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan studi korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII SMK Negeri Keahlian Teknik Elektronika Industri di Kabupaten Malang tahun pelajaran 2014/2015. Jumlah populasi 114 siswa, tersebar di dua SMK yaitu: SMKN 1 Kepanjen dan SMKN 2 Singosari. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling dengan jumlah sampel adalah 89 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan infernsial dengan program SPSS for Windows versi 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan (0,789) antara motivasi belajar, pengalaman prakerin dan persepsi siswa tentang kinerja mengajar guru secara bersama-sama dengan kompetensi siswa; (2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan (0,615) antara motivasi belajar dengan kompetensi siswa; (3) terdapat hubungan yang positif dan signifikan (0,440) antara pengalaman prakerin dengan kompetensi siswa; (4) terdapat hubungan yang positif dan signifikan (0,473) antara persepsi siswa tentang kinerja mengajar guru dengan kompetensi siswa.

Sifat organoleptik pempek daging kelinci dengan komposisi daging kelinci dan tepung tapioka yang berbeda / Lia Fita Urani

 

Pempek adalah makanan khas Palembang (Sumatera Selatan) yang berbahan dasar daging ikan, tepung tapioka, garam, dan air. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan pempek daging kelinci dengan komposisi daging kelinci dan tepung tapioka yang berbeda, yaitu 60%:40%, 50%:50%, dan 40%:60%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap pempek daging kelinci yang meliputi warna, flavour, dan tekstur. Eksperimen dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2008 di Laboratorium Pastry dan Bakery Tata Boga Gedung H4 lantai dua Universitas Negeri Malang. Data diperoleh dari panelis agak terlatih sebanyak 20 orang, yaitu mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006 secara acak. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap warna, flavour daging, dan tekstur antara pempek daging kelinci dengan komposisi daging kelinci dan tepung tapioka 60%:40%, 50%:50%, dan 40%:60%. Berdasarkan hasil uji hedonik diketahui bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap warna dan flavour pempek daging kelinci dengan komposisi daging kelinci dan tepung tapioka 60%:40%, panelis menyatakan menyukai. Sedangkan tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur pempek dengan komposisi daging kelinci dan tepung tapioka 40%:60%, panelis menyatakan menyukai. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah komposisi daging kelinci yang digunakan sampai batas 60% menghasilkan warna pempek yang semakin cerah dan flavour daging semakin tajam. Komposisi tepung tapioka yang digunakan sampai batas 60% menghasilkan tekstur yang semakin kenyal.

Rangkaian penggerak reflector pada head lamp / Andhika Wahyu Permana, Arif Sufgita

 

Kecelakaan lalu-lintas adalah kejadian di mana sebuah kendaraan bermotor tabrakan dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan. Kadang kecelakaan ini dapat mengakibatkan luka-luka atau kematian manusia atau binatang. Kecelakaan lalu-lintas menelan korban jiwa sekitar 1,2 juta manusia setiap tahun menurut WHO (http://id.wikipedia.org/wiki/Kecelakaan_lalu-lintas). Jauh sebelum kendaraan bermotor ditemukan, kecelakaan di jalan hanya melibatkan kereta, hewan, dan manusia. Kecelakaan lalu lintas menjadi meningkat secara eksponensial ketika ditemukan berbagai jenis kendaraan bermotor. Kecelakaan sepeda motor yang tercatat pertama kali terjadi di New York pada tanggal 30 Mei 1896. Pada tanggal 17 Agustus tahun yang sama, tercatat terjadi kecelakaan yang menimpa pejalan kaki di London (www.kompas.com). Sejak saat itu, kecelakaan di seluruh dunia terus terjadi hingga jumlah kumulatif orang meninggal akibat kecelakaan tercatat 25 juta orang pada tahun 1997. Pada tahun 2002 saja tercatat 1,2 juta orang. Jumlah kecelakaan tidak merata untuk masing-masing wilayah dan negara (www.kompas.com). Riset tentang kecelakaan lalu lintas dan cara pencegahannya terus berkembang. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengurangi jumlah kecelakaan. Munculnya risiko dijalan raya merupakan dampak dari kebutuhan pengguna jalan dan juga volume kendaraan yang makin bertambah. Hal ini tampak dari arus lalu lintas. Tanpa adanya upaya-upaya pengamanan yang baru, semua pengguna jalan sangat mungkin terkena risiko kecelakaan seiring dengan meningkatnya lalu lintas kendaraan. Upaya-upaya keselamatan baru itu terutama dilakukan karena makin banyaknya jenis kendaraan bermotor, kebutuhan perjalanan dengan kecepatan tinggi, dan perlunya pembagian pemakai jalan baik untuk pejalan kaki, pengendara sepeda motor, dan juga kendaraan lainnya. Sejumlah upaya dilakukan, antara lain, dengan cara membuat scenario meminimkan kemungkinan terkena risiko kecelakaan lalu lintas jalan, perencanaan dan desain jalan untuk keamanan, audit keamanan, melindungi pejalan kaki dan pengguna sepeda, dan desain kendaraan yang makin "pintar" sehingga mengurangi kecelakaan. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, pertama adalah faktor manusia, kedua adalah faktor kendaraan dan yang terakhir adalah faktor jalan. Kombinasi dari ketiga faktor itu bisa saja terjadi, antara manusia dengan kendaraan misalnya berjalan melebihi batas kecepatan yang ditetapkan kemudian ban pecah yang mengakibatkan kendaraan mengalami kecelakaan. Disamping itu masih ada faktor lingkungan, cuaca yang juga bisa berkontribusi terhadap kecelakaan. Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu.

Pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligence) dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Singosari melalui konser lingkungan pada pembelajaran biologi / Susanti Indah Perwitasari

 

ABSTRAK Perwitasari, Susanti Indah. 2009.Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Singosari melalui Konser Lingkungan pada Pembelajaran Biologi. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc, Ph.D, (II) Dr. Fatchur Rohman, M.Si. Kata Kunci: kecerdasan majemuk, hasil belajar, konser lingkungan, pembelajaran biologi Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kualitas generasi bangsa harus dimulai dengan perubahan cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreativitas yang dimiliki. Berdasarkan hasil observasi, Proses Belajar Mengajar di SMPN 1 Singosari diketahui bahwa dalam pembelajaran di kelas guru cenderung hanya mementingkan tingkat kognisi tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan beragam kecerdasan yang dimiliki. Kecerdasan logis- matematis sering dipandang dan dihargai lebih tinggi daripada jenis-jenis kecerdasan lainnya. Inovasi-inovasi yang banyak dilakukan baik dalam bentuk strategi, metode dan media pembelajaran selama ini masih belum mampu mengeksplorasi kecerdasan majemuk siswa. Inovasi yang ditawarkan dalam penelitian ini untuk mengeksplorasi kecerdasan majemuk siswa adalah melalui kegiatan konser yang meliputi pertunjukan musik, pameran, seni, drama, puisi, eksperimen dan lain sebagainya yang disebut sebagai konser lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VII C semester genap tahun ajaran 2008/2009 dengan jumlah 36 orang. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Masing- masing dilaksanakan sebagai proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahap guna memecahkan persoalan penelitian yaitu, (1) tahap perencanaan tindakan, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi dan (4) tahap refleksi. Penelitian ini menggunakan instrumen pedoman observasi, kuesioner dan soal tes. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran biologi melalui konser lingkungan dapat berlangsung dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian yang diperoleh data bahwa pada siklus I, keterlaksanaan (keberhasilan) konser lingkungan oleh siswa mencapai 74,13% dan dikategorikan baik sedangkan pada siklus II, persentase keberhasilannya mencapai 100% dan dikategorikan sangat baik; (2) penerapan konser lingkungan pada pembelajaran biologi dapat meningkatkan hasil belajar. Pada siklus I, hasil belajar siswa yang diukur dengan nilai ulangan harian menunjukkan bahwa sebanyak 22 siswa (61,1%) tuntas dan yang belum tuntas sebanyak 14 siswa (38,9%) dengan rerata 74,5. Pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas sebanyak 29 siswa (80,6%) dan yang belum tuntas sebanyak 7 siswa (19,4%) dengan rerata 80,75; (3) pembelajaran biologi melalui konser lingkungan dapat mengembangkan kecerdasan majemuk. Pada siklus I ada delapan kecerdasan majemuk yang muncul dan hanya 1 kecerdasan yang tidak muncul yaitu kecerdasan intrapersonal. Pada siklus II, terdapat sembilan kecerdasan yang muncul dan i terjadi peningkatan persentase pada setiap kecerdasan tersebut; dan (4) sebagian siswa bersikap menerima terhadap penerapan pembelajaran konser lingkungan. Dengan konser lingkungan pada pembelajaran biologi, sebanyak 80,6% siswa berpendapat bahwa kreativitasnya meningkat, 82,6% siswa merasa lebih mudah menangkap dan memahami materi, sebanyak 83,3% siswa berpendapat bahwa belajar biologi melalui konser lingkungan membuat suasana belajar lebih menarik dan menyenangkan, 71,7% siswa lebih berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri. Sebanyak 83,3% siswa lebih termotivasi dalam belajar. Sebanyak 83,3% siswa berpendapat mampu meningkatkan hubungan kerja sama antar teman setelah melakukan kegiatan konser lingkungan. Menurut pendapat sebanyak 75% siswa dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.

Penerapan pembelajaran konstruktivitas untuk meningkatkan hasil belajar siswa VIII-A pada pokok bahasan lingkaran di SMP Lab.Universitas Negeri Malang / Asti Dian Anggraini

 

Analisis kesulitan dalam mengkonstruksi konsep limit fungsi aljabar berdasarkan struktur berpikir siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang / Siti Nurul Huda

 

Dalam proses pembelajaran, yang menjadi harapan semua pihak adalah setiap siswa dapat mencapai hasil belajar yang baik. Dalam kenyataannya, beberapa siswa menunjukkan nilai-nilai yang rendah, seringkali juga terdapat siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar karena adanya hambatan misalnya materi pra syarat yang belum dikuasai, situasi belajar yang kurang mendukung dan lain-lain. Hal ini menunjukkan gejala kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian yang mengkaji kesulitan belajar siswa yang didasarkan pada struktur berpikirnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa dalam mengkonstruksi konsep Limit Fungsi berdasarkan struktur berpikirnya.Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang. Dari 42 siswa, dipilih 3 subjek penelitian berdasarkan nilai terendah dalam materi sebelumnya. Sebelum mengikuti pembelajaran Limit Fungsi, peneliti mewawancarai 3 subjek ini berdasarkan lembar tugas yang diberikan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan struktur berpikir awal subjek. Setelah mengikuti pembelajaran, peneliti mewawancarai 3 subjek ini untuk mengetahui struktur berpikirnya. Dari struktur berpikir tersebut, peneliti dapat mengetahui kesulitan belajar tiap subjek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) S1 dan S3 memiliki kesulitan belajar dikarenakan pengetahuan dasar tentang materi prasyarat yang dibutuhkan dalam materi Limit Fungsi masih kurang, (2) semua subjek dalam penelitian ini memiliki kesulitan belajar dalam memahami definisi Limit Fungsi, yaitu S1 memiliki kesulitan dalam memahami definisi Limit Fungsi baik di suatu titik maupun di tak hingga, sedangkan S2 dan S3 memiliki kesulitan dalam memahami definisi Limit Fungsi di tak hingga, (2) semua subjek dalam penelitian ini memiliki kesulitan belajar dalam menentukan limit fungsi di tak hingga dengan menggunakan metode pembagian variabel pangkat tertinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1) guru benar-benar memastikan materi prasyarat telah dikuasai oleh siswa, sehingga dapat digunakan modal dasar pada materi selanjutnya, 2) guru diharapkan memberikan perhatian lebih pada siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan cara mengoptimalkan konstruksi pengetahuannya.

Pembelajaran matematika lealistik berbasis discovery untuk meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan luas bangun datar siswa kelas III SDN Kalisat I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan tahun pelajaran 2007/2008 / Diyana Fitriyah

 

Sebagian besar guru masih mendominasi pembelajaran di dalam kelas dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang konvensional, dimana kegiatan masih terpusat pada guru. Hal ini menyebabkan kurang kebermaknaan siswa dalam pembelajarannnya, pembelajaran juga terkesan jauh dari kehidupa yang sering ditemui siswa. Seakan – akan pembelajaran menjadi terpisah dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan siswa tidak dapat mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupam sehari hari. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar matematika disusun untuk mengembangkan kemampuan dan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram dan media lain ( GBPP). Dengan demikian dilakukan upaya agar pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan pada siswa dan bagaimana pembelajaran dapat menjadi dekat dengan kehidupan siswa sehingga tidak terjadi verbalisme, dalam hal ini akan digunakan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik yang berbasis Discovery sebagai upaya menyelesaikan masalah tersebut di atas. Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discoveri adalah sebuah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik yang menggunakan metode penemuan dan sejalan dengan aliran konstruktivis, dimana sebuah pengetahuan dibangun dari situasi yang dikenal siswa dan real di dalam benaknya, kemudian dari masalah tersebut siswa diajak menyelesaikan masalah tersebut dengan model yang tidak formal ( mathematics and reflection) sebagai jembatan untuk menemukan model matematika formal yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang sejenis. Adapun langkah pelaksanaan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery adalah sebagai berikut; a). Pemberian masalah kontekstual dan realistik, b). Merumuskan permasalahan,Pematimatisasian, c). Membuat model penyelesaian sendiri, d). Menemukan model matematika formal, e). Membuat generalisasi, f)Latihan. Dari uraian tersebut dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut; a). Bagaimana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery? b). Bagaimana hasil belajar siswa sebelum menggunakan pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery? c). Bagaimana hasil belajar siswa setelah menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas secara kolaboratif antara guru kelas dan peneliti yang dilaksanakan di Kelas III SDN Kalisat I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan dengan jumlah siswa 23 yang terdiri dari 16 siswa dan 7 siswi dari tanggal 26 april sampai 13 mei 2008 Penelitian ini menggunakan lembar observasi pelaksanaan kegiatan dan soal tes sebagai instrument pengumpulan data Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebelum pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery diperoleh hasil belajar siswa pada pokok bahasan Luas Bangun Datar di kelas III dengan rata-rata 30 dengan jumlah siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 sebanyak 19 siswa ( 100%). Hasil penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery dapat dikemukakan sebagai berikut; a). Siklus I; rata-rata nilai post tes siswa adalah 78,1 dimana 15 siswa ( 83,3% ) mendapat nilai di atas rata-rata dan mengalami ketuntasan belajar individu yaitu 75. Sedangkan siswa di bawah rata-rata sejumlah 3 siswa ( 16,7 % ) dan belum mengalami ketuntasan belajar. b). Siklus II;. Dari 19 siswa yang mendapat nilai antara 75-100 sebanyak 19 siswa (100 % ) dan yang mendapat nilai di bawah 60 tidak ada atau 0 % dengan rata rata kelas sebesar 94.2 % . Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery sudah berhasil dengan persentase banyaknya siswa yang tuntas belajar 89,5 %, sedangkan prosentase banyaknya siswa yang belum tuntas belajar 10,5 %. Dari paparan di atas menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Discovery dapat memudahkan siswa dalam memahami soal matematika yang berbentuk soal cerita. Hal ini terbukti pada hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Bertitik tolak dari penemuan di atas, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah salah satunya dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan dekat dengan kehidupan siswa. Tak hanya itu diharapkan guru dapat memberikan motivasi bahwa matematika sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari, diharapkan motivasi itu juga tumbuh dari diri siswa sehingga siswa juga tidak sering bolos.

Tradisi tama lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat / Dian Sukmawati

 

ABSTRAK Sukmawati, Dian. 2008. Tradisi Tama Lamong dalam Upacara Khitan pada Masyarakat Bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa. Skripsi Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Irawan, M. Hum, dan (II) Drs. Nur Hadi, M. Pd, M. Si. Kata Kunci: Tradisi Tama Lamong, upacara khitan, perubahan. Tradisi Tama Lamong adalah tradisi yang hanya dilakukan oleh seorang wanita yang akan memasuki usia remaja. Tama Lamong dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat karena tradisi ini masih dianggap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tersebut. Perkembangan dalam kehidupan suatu masyarakat pasti akan mengalami perubahan-perubahan termasuk dalam pelaksanaan tradisi Tama Lamong dari bentuk sebelumnya sehingga diperlukan adanya suatu pelestarian dari generasi penerusnya. Agar lebih mengenal tradisi Tama Lamong ini maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan dokumentasi berupa kajian ilmiah mengenai keberadaan tradisi tersebut. Penelitian ini berusaha menjawab beberapa masalah yang meliputi: 1) Bagaimana asal mula tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, 2) Bagaimanakah perubahan-perubahan yang terjadi pada tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, 3) Apakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam tradisi Tama Lamong pada upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, 4) Bagaimanakah kelangsungan tradisi Tama Lamong pada kehidupan masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, 5) Bagimanakah makna pendidikan dari tradisi Tama Lamong pada generasi muda di Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa. Sesuai dengan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis perubahan yang terjadi dalam tradisi Tama Lamong, serta mendeskripsikan dan menganalisis kelangsungan dan makna pendidikan dalam tradisi Tama Lamong di tengah-tengah kehidupan masyarakat Kecamatan Sumbawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif yang telah dilakukan sejak di lapangan. Hasil dari analisis interaktif kemudian direduksi untuk diperoleh gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan. Selain analisis interaktif digunakan juga komparasi data dengan tujuan membandingkan kasus Tama Lamong yang satu dengan kasus Tama Lamong yang lainnya sehingga ditemukan perubahan dalam tradisi tersebut. Terakhir data diinterpretasi dengan teori perubahan kebudayaan. Dari sini dapat disimpulkan tentang perubahan yang terkandung dalam tradisi Tama Lamong sehingga tradisi ini tetap dipertahankan. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data temuan dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi, dan teknik ketekunan pengamatan. Penelitian ini memperoleh hasil yaitu: 1) Asal mula tradisi Tama Lamong adalah bermula dari kebiasaan menggunakan lamong pene bagi seorang wanita Sumbawa khususnya di Kecamatan Sumbawa yang akan memasuki usia remaja. Wanita yang melaksanakan tradisi Tama Lamong haruslah dari golongan bangsawan dan tau sanak (golongan merdeka). Guna menghindari malapetaka yang dapat menimpa individu yang bersangkutan maka dilaksanakanlah tradisi Tama Lamong. Hal ini dapat dilihat dalam prosesi Tama Lamong yang dalam tahapannya seperti barodak dan maning suci berguna untuk menolak bala berupa penyakit seperti kesikal (kesurupan) yang dapat menimpa wanita tersebut. 2) Dalam perkembangannya tradisi ini mulai mengalami perubahan yang disebabkan oleh adanya perubahan ide pada masyarakat bangsawan Samawa yang mulai menitikberatkan pada pola fikir praktis ekonomis. Namun perubahan yang terjadi dalam Tama Lamong hanya terlihat pada permukaannya atau kulitnya saja, sedangkan makna dan tujuan dari upacara ini masih tetap dipertahankan, artinya masih ada masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi ini karena menganggap tradisi ini masih diperlukan dan berguna dalam kelangsungan hidup masyarakat tersebut. 3) Adapun beberapa faktor yang mendorong perubahan dalam pelaksanaan upacara Tama Lamong antara lain, faktor ekonomi yang menyebabkan tradisi ini mulai disederhanakan dengan menggabungkannya dalam upacara-upacara lain terutama dalam upacara khitan. Selain itu kemajuan teknologi juga membawa perubahan dalam peralatan yang digunakan dalam upacara Tama Lamong yang tidak lagi menggunakan peralatan tradisional melainkan telah diganti dengan peralatan modern. Hal ini dikarenakan pola fikir masyarakat Sumbawa yang lebih mementingkan kepraktisan dari peralatan tersebut. faktor pendidikan dan agama dalam hal ini Agama Islam juga membawa dampak perubahan sehingga tradisi ini mulai jarang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. 4) Tradisi Tama Lamong yang mulai jarang dilakukan menyebabkan masyarakat Sumbawa mulai mengenal adanya tradisi rebuya (mencari) agar dilaksanakan upacara Tama Lamong. 5) Wanita yang telah melakukan upacara Tama Lamong maka memiliki kewajiban untuk menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita dengan selalu mengikuti segala adat istiadat dalam masyarakatnya. Adat istiadat ini dapat dipelajari dengan mengikutsertakan wanita tersebut dalam berbagai upacara adat seperti menjadi ina odak (orang yang mengurus segala keperluan upacara) dan ina saneng (pendamping kedua mempelai) dalam upacara perkawinan. Tradisi Tama Lamong mulai mengalami kepunahan, oleh sebab itulah diharapkan kepada pemerintah setempat dan budayawan Sumbawa untuk lebih memperhatikan keberadaan upacara Tama Lamong. Perhatian ini dapat berupa motivasi, atau fasilitas upacara agar masyarakat tetap melaksanakan upacara Tama Lamong seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya, sehingga generasi muda khususnya yang berada di Kecamatan Sumbawa tetap mengenal dan mengetahui keberadaan tradisi Tama Lamong.

Permasalahan bin-packing 3 dimensi dan penyelesaiannya / Flutisa Kusartika

 

ABSTRAK Kusartika, Flutisa. 2008. Permasalahan Bin-Packing 3 Dimensi dan Penyelesaiannya. Skripsi, Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Dra. Susy Kuspambudi A., M.Kom Kata Kunci: bin-packing, balok, aplikasi Permasalahan bin-packing merupakan salah satu jenis permasalahan knapsack yang memiliki banyak kegunaan. Seperti pada permasalahan knapsack, permasalahan yang dihadapi pada permasalahan bin-packing adalah tentang pengalokasian n benda dengan ukuran tertentu ke dalam suatu peti (atau bin) yang memiliki kapasitas maksimum tertentu. Tujuan dari permasalahan knapsack adalah pengoptimalan jumlah benda yang dapat masuk ke dalam peti. Aplikasi permasalahan bin-packing sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi-aplikasi tersebut dibedakan berdasarkan perbedaan jenis dimensi yang diperhatikan. Seperti yang biasa dikenal, jenis dimensi yang digunakan adalah 1 dimensi yaitu panjang, 2 dimensi yaitu panjang dan lebar (atau tinggi), dan 3 dimensi yaitu panjang, tinggi, dan lebar. Pada skripsi ini, permasalahan bin-packing yang dibahas adalah permasalahan bin-packing 3 dimensi. Dimana diberikan n benda berbentuk balok dengan ukuran panjang wj, tinggi hj, dan lebar dj, j = 1, ..., n yang akan dikemas ke dalam peti yang juga berbentuk balok dengan ukuran panjang W, tinggi H, dan lebar D. Ukuran peti yang digunakan lebih dari atau sama dengan ukuran benda yang akan dikemas. Fungdi tujuan dari permasalahan bin-packing adalah pengoptimalan jumlah benda yang dapat masuk ke dalam peti, peminimalan peti yang digunakan dan peminimalan sisa peti yang digunakan. Penyelesaian permasalahan bin-packing 3 dimensi dalam skripsi ini menggunakan algoritma bin-packing 3 dimensi. Dalam pengerjaannya, digunakan bantuan program Matlab. Solusi yang diperoleh akan optimal jika benda yang dikemas ke dalam peti dimulai dari benda dengan ukuran terbesar dilanjutkan dengan benda yang ukurannya lebih kecil.

Penerapan pembelajaran model Van Hiele yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII pada pokok bahasan geometri untuk SMP Negeri 1 Malang / Musthofa

 

Pada dasarnya ide-ide geometri sudah diakrabi siswa sejak siswa belum masuk sekolah. Siswa sudah mengenal segitiga. Namun demikian, kenyataan yang ditemui di lapangan masih banyak siswa yang masih belum memahami konsep-konsep geometri. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman siswa terhadap bangun geometri adalah pembelajaran selama ini tidak memperhatikan tingkat berpikir siswa, pengajar cenderung memberi definisi, sifat-sifat bangun dan siswa siswa mencatat dan menghafalnya. Sehingga diperlukan suatu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu solusinya adalah pembelajaran yang didasarkan pada tingkat berpikir siswa yang disampaikan oleh van Hiele yang sudah terbukti mempunyai hasil yang baik. Penelitian ini berusaha mencari bentuk pembelajaran yang berdasarkan tingkat berpikir van Hiele yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami konsep segitiga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan racangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Malang. Data yang diperoleh terdiri dari hasil tes, hasil observasi dan hasil catatan lapangan. Pembelajaran yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang berdasarkan tingkat berpikir van Hiele yaitu tingkat 0 (visualisasi) sampai tingkat 2 (abstraksi) dengan melalui lima fase pembelajaran yaitu fase informasi, fase orientasi lansung, fase penjelasan, fase orientasi bebas dan fase integrasi pada sub materi segitiga siku, segitiga lancip, segitiga tumpul, segitiga sama kaki, segitiga sama sisi dan segitiga sembarang, segitiga lancip sama kaki, segitiga tumpul sama kaki dan segitiga siku-siku sama kaki, segitiga siku-siku sembarang, segitiga lancip sembarang dan segitiga tumpul sembarang. Adapun pembelajarannya adalah sebagai berikut : (1) pada tingkat 0 (visualisasi) dengan menggunakan gambar-gambar yang ditayangkan dengan power point untuk memperkenalkan kepada siswa, (2) pada tingkat 1 (analisis) dengan menggunakan power point untuk diamati serta menyebutkan ciri-ciri segitiga oleh siswa dan (3) tingkat 3 (abstraksi) dengan menggunakan LKS, siswa diminta untuk mengerjakan LKS yang sudah disiapkan. Dengan hasil ini, peneliti menyarankan pada guru matematika SD, SMP, SMA dalam melakukan pembelajaran geometri khususnya tentang segitiga hendaknya menggunakan tingkat berpikir van Hiele.

Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pemilihan Progran Studi Pendidikan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (studi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi angkatan 2006 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Mala

 

Universitas Negeri Malang (UM ) merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan guna menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam berbagai bidang yang relevan dengan kebutuhn pembangunan dan bermakna bagi kesejahteraan masyarakat. Pemilihan program studi merupakan saat yang paling penting dalam kehidupan seorang mahasiswa karena berkaitan dengan pekerjaan yang dicita-citakan. Faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan program studi dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal yang bersumber dari dalam diri individu (bakat, minat, dan motivasi) dan faktor eksternal yang bersumber dari luar individu (orang tua dan teman sebaya). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pemilihan program studi pendidikan akuntansi di FE UM Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan atau explanatory research. Analisis yang digunakan adalah analisa regresi berganda. Variabel dalam penelitian ini meliputi faktor internal (X1) dan faktor eksternal (X2) sebagai variabel bebas, serta pemilihan program studi (Y) sebagai variabel terikat. Sampel data penelitian ini adalah 45 mahasiswa angakatan 2006 pada tahun ajaran 2007/2008. Pengambilan sampel menggunakan teknik “Random Sampling”. Teknik pengumpulan data adalah angket (kuesioner). Dari hasil analisis data diketahui faktor internal dan eksternal berpengaruh positif terhadap pemilihan program studi pendidikan akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang baik secara parsial dan simultan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diberikan bagi mahasiswa harus mengenali bakat, minat dan kemampuan yang dimiliki, dan tidak memaksakan diri untuk memilih program studi yang dengan kemampuannya. Orang tua harus benar-benar mengetahui bakat, minat dan motivasi anak dan mengarahkan anaknya untuk memilih suatu program studi.Penelitian selanjutnya disarankan mengikutsertakan variabel penelitian seperi kemampuan intelijensi dan prestasi sebagai variabel dari faktor internal dalam pemilihan program studi dan sampel penelitian lebih diperbanyak

Eksentrik diagraph pada graph roda, graph triple star, dan graph jahangir / Miftakhur Roisodah

 

Teori graph, baik dari segi terapan maupun kajian teorinya, merupakan salah satu cabang matematika yang menarik untuk dibahas. Salah satu bahasan dalam teori graph adalah eksentrisitas. Eksentrisitas titik dalam graph adalah jarak terjauh (maksimal lintasan terpendek) dari suatu titik ke setiap titik di graph dan eksentrik digraph adalah graph yang mempunyai himpunan titik yang sama dengan himpunan titik di Graph, dimana arc menghubungkan titik ke titik eksentriknya. Graph roda Wn adalah graph berorder n yang memuat sikel berorder n-1. Graph Wn dapat juga ditulis K1+ Cn-1, dengan K1 adalah graph single dan Cn-1 adalah graph sikel. Graph triple star Sm,n,p adalah graph yang terdiri dari tiga graph star Sm,Sn dan Sp yang ketiga titik centralnya dihubungkan oleh 1 titik central yaitu v0. Graph Jahangir J2,m adalah graph yang berorder 2m+1, untuk , yang terdiri dari graph sikel C2m dan 1 titik tambahan yang adjacent ke m titik di sikel C2m. Eksentrisitas adalah pada graph roda adalah 1 dan 2, eksentrisitas pada graph triple star dan graph Jahangir adalah 2, 3, dan 4, sehingga dapat ditentukan titik eksentrik yang kemudian terbentuk eksentrik digraph. Pada skripsi ini disampaikan juga eksplorasi pada graph roda yaitu W5, W6, W7, graph triple star S2,2,2, S3,2,2, dan graph Jahangir J2,4, J2,5, dan J2,6

Hubungan antara pengelolaan kelas dan motivasi belajar siswa sekolah nasional bertaraf internasional di SMA/SMK se Kota Malang / Endang Setyowati

 

Fungsi pengelolaan kelas sangat mendasar karena kegiatan guru dalam mengelola kelas meliputi kegiatan mengelola tingkah laku siswa di dalam kelas, menciptakan iklim sosio-emosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan, menandakan proses belajar-mengajar berlangsung secara efektif. Di samping itu seorang guru harus dapat mempengaruhi siswa untuk belajar dan menerima stimulus dengan tanggapan yang positif yang pada akhirnya akan mempengaruhi motivasi belajar siswa. Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar-mengajar. Untuk mencapai hal di atas, guru harus dapat mengenal masalah-masalah yang ada di kelas dan upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan masalah. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pengelolaan kelas yang diterapkan guru di SMA/SMKN se Kota Malang ditinjau dari (a) Pendekatan pengubahan tingkah laku (b) Pendekatan iklim sosio-emosional (c) Pendekatan proses kelompok. (2) Apakah ada hubungan pengelolaan kelas dan motivasi belajar siswa Sekolah Nasional Bertaraf Internasional di SMA/SMKN se Kota Malang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Pengelolaan Kelas dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Nasional Bertaraf Internasional di SMA/SMK Negeri se Kota Malang yang berjumlah 1194 orang siswa, yang tersebar di 2 SMAN (Sekolah Menengah Atas Negeri) dan 2 SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri). Sedangkan sampel yang diambil berjumlah 291 siswa, yang ditetapkan dengan teknik purposive random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket, dan data yang terkumpul di dalam uji coba validitas untuk mengetahui gugur-tidaknya tiap butir angket dengan menggunakan teknik product moment dan uji reliabilitas dengan menggunakan teknik alpha cronbach. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan teknik persentase untuk analisis deskriptif dan teknik korelasi product moment dengan menggunakan SPSS 14.00 for windows. Untuk mengetahui hubungan pengelolaan kelas dengan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh; (1) kemampuan guru mengelola kelas dengan menggunakan ketiga pendekatan yang diterapkan di dalam proses belajar mengajar di SMA/SMKN se Kota Malang termasuk dalam kategori baik. (2) Ada hubungan yang signifikan pengelolaan kelas dan motivasi belajar siswa Sekolah Nasional Bertaraf Internasional di SMA/SMKN se Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyajikan beberapa saran antara lain: (1) perlu melakukan pembinaan terhadap guru-guru dalam melaksanakan pengelolaan kelas, dengan jalan melaksanakan supervisi terhadap guru-guru yang menghadapi masalah dalam hal pengelolaan kelas (2) dengan mengetahui hasil penelitian ini, diharapkan guru dapat meningkatkan penerapan pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas sesuai dengan situasi dan kondisi selama proses belajar mengajar berlangsung (3) guru harus memperhatikan faktor-faktor lain yang dinilai mempengaruhi motivasi belajar siswa

Analisis konsep karya Sepeda Bambu milik Chamim Marka dan kontribusinya dalam pendidikan / Alim Budiansyah

 

Bambu sebagai salah satu media alternatif yang dapat digunakan sebagai sarana pencurahan dan perwujudan dalam berkarya seni, baik seni secara ekspresif maupun seni secara fungsional. Dalam perkembangannya, bambu sebagai salah satu media alternatif masih kurang diminati. Chamim Marka, salah seorang seniman dan pengrajin dari desa Kepuh Harjo, kecamatan Karangploso, kabupaten Malang, sejak tahun 2000 bereksperimen membuat sebuah karya seni dari bambu. Hal itu telah dibuktikan dengan terciptanya karya sepeda bambu yang sebagian besar bahan baku utamanya diambil dari hasil pemanfaatan keberadaan bambu. Namun dalam perkembangannya, proses pembuatan sepeda bambu tidak dapat diproduksi secara cepat seperti layaknya sepeda pada umumnya yang ada di pasaran dikarenakan beberapa faktor dalam pengadaan bahan yang memerlukan waktu yang sangat lama. Dalam penelitian ini sendiri bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berkarya dan bentuk desain dari sepeda bambu karya Chamim di “Artcha Galery” desa Kepuharjo kecamatan Karangploso Kabupaten Malang serta kontribusinya dalam dunia kependidikan maupun dalam masyarakat. Penelitian ini termasuk jenis penelitian diskiptif kualitatif. Obyek penelitian ini adalah sepeda bambu karya Chamim Marka di “Artcha Galery” desa Kepuharjo kecamatan Karangploso Kabupaten Malang serta kondisi sosial pelukis yang melatar belakangi kehadiran karya-karya sepeda bambu tersebut. Sedangkan untuk mempermudah pendokumentasian objek penelitian diklasifikasikan menurut judulnya. Instrumen yang digunakan adalah wawancara yang terbagi menjadi wawancara dengan informan utama dan wawancara dengan informan pendukung, observasi, dokumentasi serta studi kepustakaan. Perolehan data dari keseluruhan instrumen tersebut dipaparkan dan dianalisis secara verbal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi Proses penciptaan karya sepeda bambu milik Chamim di “Artcha Galery” adalah: (a) religius, (b) lingkungan, (c) pendidikan, (d) ide, (f) pengalaman estetik, (g) imajinasi, (h) ekspresi. Sedangkan dari bentuk desainnya adalah: (a) memiliki kesamaan bentuk dengan bentuk sepeda berpengayuh pada umumnya, (b) secara konsep termasuk pada seni murni, namun secara teknis termasuk dalam seni kerajinan yang bukan sebagai barang produk. Dalam proses berkarya, sepeda bambu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (1) lingkungan, (2) pendidikan, (3) ide, (4) pengalaman estetik, (5) imajinasi,

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas nasabah (Studi pada nasabah Tabungan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan) / Lidia Wanti

 

ABSTRAK Wanti, L. 2008. Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas Nasabah (Studi Pada Nasabah Tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan). Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Djoko Dwi K, M.Si , (II) Titis Shinta Dhewi, S.P., M.M. Kata kunci: Kualitas Layanan, Loyalitas Nasabah. Tingginya persaingan antar bank saat ini, memacu bank-bank untuk berlomba menarik nasabah dengan memberikan layanan perbankan yang beraneka ragam. Benteng utama agar nasabah tidak lari kepada pesaing adalah bank harus membuat nasabah menjadi loyal. Oleh sebab itu, kegiatan utama perusahaan pada saat ini adalah menciptakan loyalty, tidak cukup hanya satisfaction. Bank berusaha mendesain kualitas layanan yang dimiliki sebaik mungkin untuk menciptakan dan meningkatkan loyalitas nasabah. Menurut teori, kualitas layanan paling tidak mencakup lima hal, yaitu: keandalan (reliability), jaminan (assurance), bukti fisik (tangibles), empati (empathy), dan cepat tanggap (responsiveness). BRI sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia yang didirikan sejak tahun 1895 dan mendedikasikan pelayanan pada masyarakat kecil sebagai hal yang utama dianggap sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki nasabah-nasabah yang loyal. Dalam penelitian ini akan diketahui pengaruh kelima dimensi kualitas layanan terhadap loyalitas nasabah Tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini bersifat deskriptif dan eksplanatori. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan, mencatat, menganalisis, serta menginterprestasikan data dari variabel kualitas layanan dan loyalitas nasabah. Sedangkan analisis eksplanatori digunakan untuk menjelaskan pengaruh kualitas layanan yang terdiri dari keandalan, jaminan, bukti fisik, empati dan cepat tanggap terhadap loyalitas nasabah baik secara parsial maupun simultan. Selanjutnya populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan yang berjumlah 11.218 orang. Selanjutnya berdasarkan rumus Slovin didapatkan jumlah sampel sebanyak 99 orang responden. Tetapi dalam penelitian ini akan diambil sampel sebanyak 110 orang dengan alasan tidak semua instrumen akan dikembalikan kepada peneliti dan dengan kualitas isian yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, sedangkan untuk mendapatkan data dari responden penyebaran kuesionernya menggunakan teknik proporsional sampling. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (I) keandalan yang dimiliki oleh PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan dalam kondisi baik, terbukti 52% responden menyatakan setuju PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan telah memberikan layanan berupa keandalan dengan baik, sig t 0,000 < α 0,05 sehingga pada peluang kesalahan 5% keandalan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, (II) jaminan yang dimiliki oleh PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan dalam i kondisi baik, terbukti 53% responden menyatakan setuju PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan telah memberikan layanan berupa jaminan dengan baik, sig t 0,000 < α 0,05 sehingga pada peluang kesalahan 5% jaminan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, (III) bukti fisik yang dimiliki oleh PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan dalam kondisi baik, terbukti 54% responden menyatakan setuju PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan telah memberikan layanan berupa bukti fisik dengan baik, sig t 0,000 < α 0,05 sehingga pada peluang kesalahan 5% bukti fisik memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, (IV) empati yang dimiliki oleh PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan dalam kondisi baik, terbukti 52% responden menyatakan setuju PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan telah memberikan layanan berupa empati dengan baik, sig t 0,000 < α 0,05 sehingga pada peluang kesalahan 5% empati memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, (V) cepat tanggap yang dimiliki oleh PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan dalam kondisi baik, terbukti 54% responden menyatakan setuju PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan telah memberikan layanan berupa cepat tanggap dengan baik, sig t 0,000 < α 0,05 sehingga pada peluang kesalahan 5% cepat tanggap memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, (VI) secara simultan, dimensi keandalan, jaminan, bukti fisik, empati dan cepat tanggap memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, dilihat dari nilai nilai sig F = 0,000 jauh lebih kecil dari α 0,05. Dari lima dimensi kualitas layanan, baik secara parsial maupun simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah tabungan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Pasuruan, dengan dimensi cepat tanggap sebagai unsur yang paling dominan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah tabungan. Hal tersebut disebabkan oleh persepsi nasabah terhadap keandalan, jaminan, bukti fisik, empati, dan cepat tanggap yang dimiliki oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cab. Pasuruan sudah sesuai dengan harapan nasabah. Dari hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (I) BRI Cab. Pasuruan hendaknya terus mempertahankan kualitas pelayanannya agar loyalitas nasabah semakin tinggi, (II) BRI Cab. Pasuruan hendaknya dapat lebih mempertahankan kemampuannya dalam memproses transaksi, memberi informasi, dan dalam merespon permintaan nasabah, mengingat dimensi cepat tanggap memiliki pengaruh yang dominan di antara dimensi kualitas layanan yang lain, (III) BRI Cab. Pasuruan hendaknya dapat lebih memperhatikan aspek jaminan, mengingat jaminan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nasabah dalam memilih layanan jasa perbankan.

Pengaruh store image (Citra Toko) terhadap keputusan pembelian (Studi pada konsumen apotek Kimia Farma 36 Malang) / M. Ismail Marzuqi

 

Dalam rangka perwujudan penanganan kesejahteraan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan diperlukan sarana penunjang usaha peningkatan pelayanan kesehatan melalui penyediaan obat-obatan, salah satunya adalah apotek. Oleh karena itu apotek dituntut untuk selalu membangun suatu citra yang baik agar mampu bersaing dalam pasar dalam rangka mempertahankan konsumen dan juga mencari konsumen baru. Salah satu bentuk strategi yang bisa diterapkan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap suatu toko adalah melalui strategi Store image. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi Store image (Citra Toko), mengetahui pengaruh variabel Store image (Citra Toko) secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen, megetahui pengaruh store image (Citra Toko) secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen dan mengetahui variabel store image yang mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian konsumen di Apotek Kimia Farma 36 Malang. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya yakni Store image (X) yang terdiri dari variabel Harga (X1), Produk (X2), Lingkungan toko (X3), Personel (X4), dan Layanan (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel Keputusan Pembelian Konsumen (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah konsumen Apotek Kimia Farma 36 Malang yang pernah melakukan pembelian obat dalam bentuk resep. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 80 responden yang dipilih secara accidental sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel store image yang terdiri dari Harga (X1) sebesar 2,091, Produk (X2) sebesar 4,249, Lingkungan toko (X3) sebesar 2,980, Personel (X4) sebesar 2,388, dan Layanan (X5) sebesar 2,518 secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen di Apotek Kiimia Farma 36 Malang, dan juga terdapat pengaruh antara variabel store image yang terdiri dari Harga (X1), Produk (X2), Lingkungan toko (X3), Personel (X4), dan Layanan (X5) sebesar 48,399 secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen di Apotek Kimia Farma 36 Malang, dan variabel produk (X2) merupakan variabel yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen di Apotek Kimia Farma 36 Malang. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,75, yang berarti bahwa 75% keputusan pembelian di apotek Kimia Farma 36 Malang dipengaruhi oleh variabel store image. 1 Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa variabel store image (citra toko) masih efektif digunakan sebagai sumber keberhasilan perusahaan yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen di Apotek Kimia Farma 36 Malang. Oleh karena itu perlu disarankan adanya peningkatan dan perhatian terhadap faktor-faktor dari citra toko tersebut misalanya dengan pemberian harga yang kompetitif, penambahan jenis dan macam obat, penambahan ruang tunggu, penambahan karyawan serta peningkatan kualitas pelayanan. Dan untuk faktor produk harus menjadi perhatian khusus karena produk merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian yakni dengan tetap menjaga kualitas atau dengan peningkatan dari kualitas produk obat yang ditawarkan.

Sintesis 5-fenil-3-heksen-2-on dari 2-fenilpropanal dan propanon melalui kondensasi aldol silang dan uji aktivitasnya sebagai sunscreen / Viviana Yuni Martina

 

ABSTRAK Ningsih,Wiji, Tri Lestari. 2009.“ Pengaruh Motif Berbelanja Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar”.Skripsi.Program Studi Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing(I) Dr. F. Danardana Murwani, M.M. (II) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci : Motif Berbelanja,Keputusan Pembelian Konsumen. Banyaknya pusat-pusat perbelanjaan dewasa ini, semakin memanjakan kebutuhan berbelanja konsumen. Di Indonesia jumlah minimarket, supermarket, sampai pasar dan toko modern raksasa seperti Hypermarket dapat dengan mudah kita temukan. Berdasarkan data PT ACNielsen Indonesia (2007) persentase, pertumbuhan pasar dan toko modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar dan toko tradisional, yaitu toko modern tumbuh 14 persen, sedangkan toko tradisional hanya 3 persen. Penelitian tentang konsumen tumbuh/berkembang secara menarik sejalan dengan pengalaman belanja konsumen yang terkait dengan beberapa kegiatan konsumtif antara untuk kesenangan atau karena kebutuhan. Nilai bersenang-senang dalam berbelanja menggambarkan nilai hiburan dan emosional yang potensial. Tidak semua orang melakukan kegiatan berbelanja karena untuk memenuhi kebutuhan, tetapi ada juga orang beralasan kegiatan berbelanja sebagai bagian untuk bersenang-senang atau sebagai pelarian disaat menghadapi masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Gambaran keputusan berbelanja konsumen di Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (2) Pengaruh utilitarian shopping motives terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan Blitar. (3) Pengaruh hedonic shopping motives terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (4) Pengaruh utilitarian shopping motives dan hedonic shopping motives secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Pada penelitian ini, variabel bebas (X) yaitu Motif Berbelanja yang terdiri dari dua subvariabel yaitu Utilitarian Shopping Motives (X1 ) dan Hedonic Shopping Motives (X2). Sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah keputusan pembelian. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen / pelanggan yang berbelanja di Bentar Dipayana Swalayan Blitar, yang jumlahnya tak terhingga. Untuk menentukan sampel digunakan rumus Daniel dan Terrel, dengan tingkat kesalahan sebesar 0,05 ditemukan sampel sebanyak 113. Untuk pengambilan sampel menggunakan metode Accidental sampling dan metode pengumpulan data adalah dengan menyebarkan angket/kuesioner. Sedangkan analisa data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Rata-rata responden menyatakan setuju dengan faktor-faktor pembentuk motif berbelanja dan faktor-faktor pembentuk keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar (2) Ada pengaruh yang positif signifikan dari utilitarian shopping motives secara parsial terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (3) Ada pengaruh yang positif signifikan dari hedonic shopping motives secara parsial terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (4) Ada pengaruh yang positif signifikan dari utilitarian dan hedonic shopping motives maupun simultan terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah (1) Manajemen Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Perusahaan hendaknya mampu memanfaatkan secara maksimal Utilitarian Shopping Motives dan Hedonic Shopping Motives, sehingga harapan perusahaan untuk dapat melayani semua lapisan masyarakat dapat terwujud.Untuk menarik konsumen yang motif berbelanjanya adalah Utilitarian Shopping Motives perusahaan dapat menyediakan ragam kebutuhan sehari – hari berdasarkan manfaat produk tersebut secara lebih variatif, baik dari segi harga maupun pilihan produknya. Sementara untuk mendapatkan konsumen yang motif berbelanjanya Hedonic Shopping Motives, perusahaan lebih memfokuskan lagi pada produk-produk apa yang biasanya motif pembeliannya berdasarkan motif ini. (2) Pada peneliti berikutnya disarankan agar dapat meneruskan penelitian ini pada obyek dan variabel yang lebih kompleks lagi.

Studi tentang manajemen pengelolaan suporter sepakbola L.A. Mania Lamongan periode 2008-2011 / Wahyu Iskandar

 

Jawa Timur merupakan salah satu kiblat persepakbolaan di Indonesia, banyak club terlahir di sini. Dengan kondisi tersebut secara tidak langsung menarik perhatian masyarakat tempat club-club tersebut berasal/bermarkas untuk selalu hadir di stadion, masyarakat hadir untuk menonton pertandingan atau hanya untuk memberikan dorongan semangat pada club kesayangannya. Melihat dari besarnya animo masyarakat untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion, sehingga terjadi fenomena dari penonton sepakbola, yaitu munculnya kelompok-kelompok suporter. Meskipun keberadaan suporter tidak dapat dipisahkan dari club yang dibela tetapi tidak jarang suporter juga bisa merugikan bagi suatu club karena kebrutalan dan tindakan negatif yang dilakukan. Lamongan merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang merupakan club Persela berasal, dengan adanya club Persela tersebut sehingga muncul pula kelompok suporter dari Lamongan yang bernama LA Mania (Lamongan Asli mania). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif melibatkan instrumen tunggal yang diteliti, yaitu pengurus suporter sepakbola LA Mania Lamongan yang bertujuan untuk menggambarkan tentang bagaimana manajemen pengelolaan suporter LA Mania Lamongan. Data tentang manajemen pengelolaan suporter LA Mania Lamongan meliputi beberapa variabel yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan staf (staffing), pelaksanaan (actuating), motivasi (motivating), pengawasan (controlling), anggaran (budgeting). Data tersebut di sajikan dalam bentuk angket yang disebar ke semua pengurus suporter Sepakbola LA Mania Lamongan. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa diperoleh hasil persentase aspek perencanaan sebesar 88,75% yang berarti baik, aspek pengorganisasian sebesar 78,84% yang berarti baik, aspek penyusunan staf sebesar 73,33% yang berarti cukup baik, aspek pelaksaanaan sebesar 97,75%yang berarti baik, aspek motivasi sebesar 60,63% yang berarti cukup baik, aspek pengawasan sebesar 93,33% yang berarti baik dan aspek anggaran sebesar 86,25% yang berarti baik. Dari keseluruhan aspek tersebut sehingga di dapatkan rata-rata sebesar 82,67 %, dengan demikian secara keseluruhan manajemen pengelolaan suporter sepakbola LA Mania Lamongan adalah baik. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan adalah lebih membenahi pada penyusunan staf, aspek pelaksanaan dan aspek motivasi agar menjadi baik. Seperti, pemberian gaji pengurus dan penghargaan kepada pengurus agar nantinya kinerja manajemen akan berjalan lancar dan lebih baik.

Persepsi dan sikap siswa SMP Negeri se Kecamatan Klojen Kota Malang terhadap pendidikan seks dan implikasinya bagi layanan bimbingan dan konseling / Yuwan Krisnawati

 

Masa remaja merupakan bagian penting dalam perkembangan individu. Pada masa ini terjadi kematangan organ-organ fisik (seksual), sehingga mampu mereproduksi hormon seks yang menyebabkan berkembangnya minat terhadap lawan jenis, dan berkembang ke arah perilaku menyimpang seksual. Perilaku seksual menyimpang di kalangan remaja saat ini mengalami pergeseran ke arah keserbabolehan yang mengakibatkan remaja semakin permisif dalam perilaku seksual, remaja sering melakukan aktivitas seksual secara tidak tepat dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Banyak remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah. Hal ini disebabkan remaja berada pada masa transisi, di mana pada masa ini remaja seringkali dihadapkan pada masalah penyesuaian diri yang berhubungan dengan keadaan jasmani, kebebasan emosional, nilai-nilai, maupun masalah seksualitas dan hubungan dengan lawan jenis, remaja juga sering mengalami kekaburan tentang makna seks yang sesungguhnya, persepsi tidak jelas inilah yang juga dapat mempengaruhi siswa dalam melakukan penyimpangan seksual. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri se-Kecamatan Klojen yang bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi dan sikap siswa terhadap pendidikan seks, serta mengetahui hubungan antara persepsi dengan sikap siswa SMP Negeri se Kecamatan Klojen di kota Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan alat pengumpul data berupa angket. Teknik analisis yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif persentatif untuk mengetahui gambaran persepsi dan gambaran sikap siswa SMP Negeri se-Kecamatan Klojen terhadap pendidikan seks, serta analisis korelasional menggunakan rumus product moment untuk mengetahui ada/tidaknya hubungan antara kedua variabel tersebut. Populasi penelitian ini, adalah siswa kelas VIII SMP Negeri se Kecamatan Klojen (SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 8, SMPN 9, SMPN 19), yang berjumlah 2340 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling, untuk menentukan sampel kelas dari masing-masing sekolah sejumlah 230 orang, sedangkan untuk sampel penelitian diambil sebanyak 180 orang (50%) dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran persepsi siswa SMP Negeri se-Kecamatan Klojen terhadap pendidikan seks yaitu sebagian besar atau cukup banyak siswa mempunyai persepsi dalam kategori cukup baik, sedikit siswa mempunyai persepsi dalam kategori kurang baik, dan sedikit sekali siswa yang mempunyai persepsi dalam kategori baik. Gambaran sikap siswa SMP Negeri se-Kecamatan Klojen tentang pendidikan seks yaitu sebagian besar siswa mempunyai sikap dalam kategori baik, sedikit siswa mempunyai sikap dalam kategori cukup baik, dan sedikit sekali siswa yang mempunyai sikap dalam kategori kurang baik. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa Ho ditolak, dan H1 diterima yang berarti ada hubungan antara persepsi dan sikap siswa SMP Negeri se-Kecamatan Klojen terhadap pendidikan seks. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar konselor dan guru lebih memperhatikan perilaku siswa di dalam maupun luar kelas terutama berkenaan dengan perilaku siswa yang bisa mengarah pada perilaku yang menyimpang. Konselor diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang pendidikan seks, dengan mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan pendidikan seks, konselor juga bisa bekerjasama dengan orang-orang yang ahli mengenai pendidikan seks antara lain dokter, psikolog, guru biologi, ataupun seksolog. Pemberian layanan yang berkenaan dengan persepsi siswa dan sikap siswa terhadap pendidikan seks dapat dilakukan secara terpadu, kegiatannya dapat dilakukan dalam bimbingan kelompok.

Penerapan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar tentang perbandingan bagi siswa kelas VII SMPN 1 Gading Probolinggo / Rully Wulandari

 

Dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti dan wawancara dengan guru matematika kelas VIIB SMPN I Gading diperoleh kesimpulan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan perbandingan sehingga berdampak pada hasil belajar yang masih rendah. Contoh, masih ada beberapa siswa yang beranggapan bahwa senilai dengan . Hasil itu mereka peroleh dengan menambahkan 2 pada masing-masing bilangan. Selain itu, siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang ada di kelas cenderung terlihat pasif karena guru kurang mengaktifkan siswa dalam setiap aktivitas pembelajaran. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa sehingga meningkatkan hasil belajar siswa khususnya tentang perbandingan. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang mengacu pada berbagai metode pengajaran dan didasarkan atas kerja kelompok dimana para siswa saling bekerjasama dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran kooperatif tentang perbandingan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 1 Gading dan untuk mengetahui hambatan dalam pembelajaran kooperatif dan bagaimana cara mengatasinya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai pengumpul, penganalisis data serta sebagai pengajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMPN I Gading Kabupaten Probolinggo tahun ajaran 2007/2008. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan meliputi kegiatan wawancara, tes, observasi dan pencatatan lapangan. Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas siswa dapat diketahui dari peningkatan nilai persentase aktivitas siwa dari setiap siklusnya. Pada siklus I persentase skor rata-rata aktivitas siswa adalah 50,53% atau dikategorikan cukup baik. Pada siklus II persentase skor rata-rata aktivitas siswa adalah 54,29% atau dikategorikan cukup baik. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata skor tes siswa pada siklus II yaitu 72,48 lebih besar dari siklus I yaitu 66,85 dan mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal yaitu skor rata-rata siswa  65 (skala 1-100) dan yang memperoleh skor  65 paling sedikit 85%. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan dalam penelitian ini dapat disampaikan beberapa saran, yaitu (1) Bentuk pembelajaran kooperatif layak dipertimbangkan menjadi bentuk pembelajaran alternatif, khususnya di SMPN I Gading, (2) Dalam menerapkan pembelajaran kooperatif, guru hendaknya mengalokasikan waktu secara baik dalam merancang perangkat pembelajaran. Guru juga perlu memperhatikan strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang sesuai dan pengelolaan kelas yang baik dalam pembelajaran, (3) Bagi peneliti lain yang ingin menerapkan bentuk pembelajaran ini, dapat melakukan penelitian serupa terhadap materi yang lain.

Penerapan pembelajaran problem based learning pada mata diklat melakukan negosiasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI Program Keahlian Penjualan di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung / Yusdiana Fatmawati Fitroh

 

Dewasa ini, salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah masalah rendahnya mutu pendidikan. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang termotivasi untuk berusaha memperluas pengetahuannya, yang dapat melatih siswa untuk berpikir kritis dalam menghadapi suatu permasalahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Salah satu pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk belajar berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan suatu permasalahan yang nyata adalah pembelajaran Problem Based Learning. Pembelajaran Problem Based Learning memiliki lima tahapan yaitu: (1) orientasi siswa kepada masalah; (2) mengorganisasi siswa untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan individual dan kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Penerapan pembelajaran Problem Based Learning merupakan suatu pembelajaran yang berupaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI, mata diklat Melakukan Negosisasi di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes, observasi, catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XI Pj 1 yang berjumlah 42 siswa. Mata diklat yang digunakan pada penelitian ini adalah Melakukan Negosiasi untuk kelas XI semester II tahun pelajaran 2007/2008, dengan menggunakan kompetensi dasar ”Memberikan Tanggapan terhadap Keberatan yang Muncul dari Calon Pelanggan”. Untuk mengetahui ketepatan guru dalam menerapkan pembelajaran Problem Based Learning maka dilakukan observasi (pengamatan) dengan menggunakan instrumen lembar observasi. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ditinjau dari aspek kognitif, yang dilakukan perhitungan nilai pre test dan post test kedua siklus, serta aspek afektif yang dilakukan melalui lembar pengamatan aktivitas siswa. Hasil penelitian penerapan pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas XI Pj 1 di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung adalah sebagai berikut: (1) Pada Siklus I diketahui hasil pre test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 57,14 dengan nilai terendah adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 90. Hasil post test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 67,14 dengan nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 90. Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran Problem Based Learning pada Siklus I ini dengan prosentase 89,58%. Hal ini dapat diartikan bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pengamat pada Siklus I, taraf keberhasilan kegiatan penelitian termasuk dalam kategori “A-”. (2) Pada Siklus II diketahui bahwa hasil pre test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 68,57 dengan nilai terendah adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 100. Hasil post test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 88,33 dengan nilai terendah adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100. Hasil observasi ketepatan guru dalam menerapkan rencana pembelajaran Problem Based Learning pada Siklus II ini dengan prosentase 100%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pengamat taraf keberhasilan kegiatan penelitian termasuk dalam kategori “A”. Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran Problem Based Learning pada Siklus II ini dengan prosentase 100%. Hal ini dapat diartikan bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pengamat pada Siklus II, taraf keberhasilan kegiatan penelitian termasuk dalam kategori “A”. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI Pj 1 di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung pada mata diklat Melakukan Negosiasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu: (1) Bagi guru-guru mata diklat Melakukan Negosiasi hendaknya mulai mencoba menerapkan pembelajaran Problem Based Learning dalam proses pembelajaran Melakukan Negosiasi di kelas, karena pembelajaran Problem Based Learning terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa menjadi lebih baik; (2) Pada saat menerapkan pembelajaran Problem Based Learning, guru hendaknya dapat mengalokasikan waktu secara tepat untuk menjalankan setiap tahap dalam pembelajaran Probelm Based Learning sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia; (3) Sebelum pelaksanaan pembelajaran Problem Based Learning sebaiknya guru mempersiapkan perangkat dan media penunjang pembelajaran terlebih dahulu; (4) Siswa diharapkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, sehingga dapat memudahkan guru untuk memulai pelajaran; (5) Bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian pembelajaran Problem Based Learning pada pengajaran mata diklat yang sama maupun mata diklat yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran Problem Based Laerning.

Dampak penggunaan daur belajar 3 fase dan 5 fase terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 6 Malang dalam materi laju reaksi / Vanny Marintha

 

Pemerintah telah berupaya untuk mengadakan pembaharuan di bidang pendidikan yaitu dengan mengembangkan kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan menggunakan paradigma pembelajaran konstruktivistik yang tidak lagi berpusat pada guru melainkan pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada teori konstruktivistik adalah daur belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penggunaan daur belajar 3 fase dan 5 fase terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 6 Malang dalam Materi Laju Reaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan eksperimen semu (Quasy Experimental). Rancangan deskriptif untuk mendeskripsikan keaktifan siswa selama pelaksanaan model daur belajar 3 fase dan 5 fase. Rancangan eksperimen semu untuk membandingkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 2 sebagai kelas control SMA Negeri 6 Malang. Pengambilan sampel dengan cara “purposive sampling” setelah melihat nilai rata-rata ulangan sebelumnya. Instrumen yang digunakan adalah RPP, lembar observasi penilaian kualitas pembelajaran daur belajar 3 fase dan 5 fase, lembar observasi keaktifan siswa , tes hasil belajar, dan angket. RPP digunakan sebagai acuan untuk melihat langkah-langkah proses pembelajaran di kelas, lembar observasi digunakan untuk menilai kualitas pembelajaran pada tahapan-tahapan daur belajar 3 fase dan 5 fase, lembar observasi keaktifan digunakan untuk melihat keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan daur belajar 3 fase dan 5 fase dan angket digunakan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap model pembelajaran daur belajar 5 fase. Analisis data dilakukan dengan uji t pada signifikansi α = 0,05 dan analisis deskriptif dengan teknik persentase. Hasil penelitian adalah pembelajaran dengan menggunakan model daur belajar 5 fase membuat siswa cenderung lebih aktif daripada dengan menggunakan daur belajar 3 fase. Hal ini ditunjukkan dengan lebih banyaknya siswa yang terlibat aktif dalam setiap pertemuan. Uji t menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol (thitung 2,59> ttabel 1,99) dan kemampuan berpikir tingkat tinggi kelas eksperimen juga lebih baik dibandingkan kelas kontrol (thitung 2,22> ttabel 1,99). Persepsi siswa terhadap model daur belajar 5 fase secara umum adalah positif.

Persepsi warga belajar paket C tentang penyelenggaraan program paket C di PKBM Ki Hadjar Dewantara Kota Malang / Ery Tri Nugroho

 

Analisis rasio keuangan pada PT. Sari Husada, Tbk / Syahrin Sanubari

 

Diversifikasi internasional: integrasi pasar modal Indonesia dengan pasar modal Asia Tenggara (ASEAN) / Hardianto Wibowo

 

Penerapan model pembelajaran think-pair-share untuk meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab dan hasil belajar siswa kelas XI/IPS 4 MAN Kota Blitar tahun ajaran 2007/2008 pada mata pelajaran akuntansi / Fajriya Muthmainah

 

Pembelajaran di kelas merupakan suatu proses yang terdiri dari berbagai kegiatan yang bertujuan untuk membelajarkan siswa. Di dalam proses tersebut diperlukan adanya model pembelajaran yang tepat, sehingga kegiatan yang dilakukan dapat diarahkan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Think-pair-share merupakan model pembelajaran yang dimulai dengan mengajukan suatu pertanyaan, siswa diajak berfikir untuk menjawab pertanyaan tersebut (think), kemudian berdiskusi secara berpasangan untuk saling membantu satu sama lain (pair) dan diakhiri dengan berbagi jawaban dalam satu kelas (share). Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan bertanya, menjawab dan hasil belajar siswa. Penilaian kemampuan bertanya meliputi aspek kualitas pertanyaan, relevansi, bahasa dan frekuensi. Penilaian kemampuan menjawab meliputi aspek kebenaran jawaban, relevansi, bahasa dan frekuensi. Sedangkan hasil belajar siswa diukur dari ranah kognitif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dan dilakukan dalam dua siklus, yaitu selama bulan Maret-Mei 2008. Jenis data yang digunakan adalah data primer yang bersumber langsung dari subjek penelitian, yaitu siswa kelas XI/IPS 4 MAN Kota Blitar. Teknik pengumpulan data adalah observasi, dokumentasi, wawancara, tes tertulis dan catatan lapangan. Sedangkan teknik analisis data terdiri dari tahap reduksi data, penyajian atau paparan data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan kemampuan bertanya siswa dari 65,25% pada siklus I menjadi 74,22% pada siklus II (skala 0%-100%). Kemampuan menjawab siswa juga meningkat dari 78,13% pada siklus I menjadi 84,82% pada siklus II (skala 0%-100%). Hasil belajar pada ranah kognitif yang semula rata-ratanya hanya 59,884 pada saat sebelum tindakan, menjadi 62,738 pada siklus I dan menjadi 75,037 pada siklus II (skala 0 – 100). Dalam penerapan model pembelajaran ini disarankan agar guru meningkatkan kegiatannya untuk mengamati dan membimbing siswa, terutama pada tahap pair yang masih seringkali dimanfaatkan siswa untuk mengobrol. Untuk penelitian selanjutnya, hendaknya hasil belajar siswa tidak hanya di ukur dari ranah kognitif, melainkan juga dari ranah afektif dan psikomotorik.

Studi daya antifungi ekstrak biji jintan hitam (Nigella sativa L.) terhadap pertumbuhan Aspergillus clavatus Desm. / Santi Wulan Damayanti

 

ABSTRAK Damayanti,.S .W. 2008. Studi Daya Antifungi Ekstrak Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L) terhadap Pertumbuhan Aspergillus clavatus Desm. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd; (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si. M.Si. Kata kunci : Ekstrak, biji jintan hitam, pertumbuhan kapang, Aspergillus clavatus Desm Jintan hitam (Nigella sativa L) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Ranunculaceae. Al Jabre., et al (2003) dalam Rojabi (2005) melaporkan bahwa thymoquinone yang merupakan senyawa aktif jintan hitam secara efektif menghambat pertumbuhan Aspergillus niger. Selain itu jintan hitam mempunyai aktivitas antimikroba dengan spektrum yang luas. Ada kemungkinan senyawa tersebut juga bisa menghambat pertumbuhan spesies kapang yang lain. Aspergillus clavatus Desm. adalah salah satu jenis kapang kontaminan pada bahan makanan seperti serelia antara lain jagung, gandum dan beras serta buah-buahan antara lain apel dan anggur, Makfoeld (1993:148). Kapang ini mampu meng-hasilkan mikotoksin yang disebut patulin. Apabila bahan makanan yang ter-kontaminasi mikotoksin ini dikonsumsi oleh manusia, maka akan membahayakan kesehatan karena bersifat hepatotoksik, neurotoksik, mutagenik serta menyebab-kan iritasi pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh ekstrak biji jintan hitam terhadap pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm.; 2) mengetahui perbedaan pengaruh konsentrasi ekstrak biji jintan hitam terhadap daya hambat pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm.; 3) mengetahui konsentrasi ekstrak biji jintan hitam yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang mulai bulan Mei sampai Oktober 2006. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Analisis data menggunakan Analisis Variansi Tunggal yang dilanjutkan dengan Uji BNT taraf signifikansi 1%. Konsentrasi ekstrak biji jintan hitam yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%,10%. Pengaruh ekstrak biji jintan hitam terhadap pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm, dapat diketahui dengan cara mengukur diameter koloni kapang tersebut setelah diberi perlakuan, yaitu ditumbuhkan pada medium Czapek Agar yang dicampur dengan ekstrak biji jintan hitam dalam 10 macam konsentrasi tersebut dan diinkubasikan pada suhu 25° C-27° C selama 7 X 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :1) ekstrak biji jintan hitam berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm; 2) ada pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak biji jintan hitam yang sangat nyata yaitu terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm; 3) konsentrasi ekstrak biji jintan hitam yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Aspergillus clavatus Desm ialah 10%.

Pengaruh pemanfaatan dana bantuan khusus murid (BKM) terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa di SMKN 2 Nganjuk / Yusi Ariyanti

 

Pengaruh earning per share (EPS), price earning ratio (PER), return of equity (ROE) dan financial leverage terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2004-2006 / Diani Dyah Pitaloka

 

Harga saham merupakan ukuran obyektif mengenai nilai investasi pada sebuah perusahaan. Pembentukan harga saham suatu perusahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal merupakan faktor yang mencerminkan keadaan di dalam perusahaan seperti rentabilitas, solvabilitas, likuiditas dan stabilitas. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar perusahaan seperti tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan kondisi ekonomi Negara. Para investor pada umumnya lebih memfokuskan kepada faktor internal perusahaan sebagai pertimbangan untuk melakukan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Equity (ROE) dan Financial leverage terhadap harga saham. Indikator harga saham yang digunakan adalah rata – rata harga penutupan selama satu tahun yang dihitung dari harga penutupan tiap bulan. Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian eksplanasi yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antar satu variabel dengan variabel lainnya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10 perusahaan manufaktur yang listing di BEI yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari ICMD dan internet (www.jsx.co.id) tahun 2004-2006. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 13.0. uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Equity (ROE) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan tanda positif, sedangkan financial leverage secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan tanda negatif. Akan tetapi secara simultan Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Equity (ROE) dan financial leverage mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap harga saham. Pada peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah sampel dari perusahaan yang sama atau meneliti perusahaan dari sektor non manufaktur, menambah variabel, memperpanjang periode atau rentang waktu penelitian sehingga hasilnya dapat lebih menentukan penetapan struktur modal yang optimal dalam rangka upaya meningkatkan Return on Equity (ROE).

Perancangan film dokumenter berjudul "Aku dan Ketigapuluh Lima Muridku" / Abdullah Hudan Dardiri

 

Hubungan antara kecerdasan emosi dengan problem focused coping pada remaja di SMA Negeri 1 Lawang / Nurita Afridiana

 

Menurut Goleman (1996), masalah muncul dikarenakan adanya suatu tekanan pada diri seseorang. Pada remaja, tekanan-tekanan yang tinggi akan berdampak pada emosi dan muncul pada perilaku emosi yang beraneka ragam, salah satunya adalah mencari hiburan-hiburan tak sehat. Oleh karena itu penting sekali menjadi cerdas dalam emosi agar dapat mengelola tekanan-tekanan yang dihadapi. Dengan kecerdasan emosi yang memadai, maka seseorang yang mengalami masalah akan lebih dapat berfokus pada usaha penyelesaian masalah tersebut (problem focused coping). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kecerdasan emosi pada remaja di SMA Negeri 1 Lawang, (2) problem focused coping pada remaja di SMA Negeri 1 Lawang, dan (3) hubungan antara kecerdasan emosi dengan problem focused coping pada remaja di SMA Negeri 1 Lawang. Rancangan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasinya adalah seluruh remaja di SMA Negeri 1 Lawang, sedangkan sampel yang diambil berjumlah 110 orang dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala kecerdasan emosi dan skala problem focused coping. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment dari Pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosi yang dimiliki remaja di SMA Negeri 1 Lawang berada dalam kategori tinggi. Begitu pula dengan tingkat problem focused coping yang juga berada dalam kategori tinggi. Selain itu, ditemukan pula bahwa kecerdasan emosi mempunyai korelasi positif terhadap problem focused coping (r=0,773; p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan emosi, maka akan diikuti dengan tingkat problem focused coping yang tinggi pula. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan sebagai berikut: (1) Kepala Sekolah diharapkan dapat menetapkan kebijakan-kebijakan program Bimbingan Konseling di sekolah yang dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan problem focused coping pada remaja, (2) Konselor hendaknya dapat meningkatkan perhatiannya atau dapat merencanakan secara sistematis pemberian materi bimbingan, khususnya informasi tentang kecerdasan emosi dan problem focused coping, (3) Guru diharapkan agar menyisipkan metode belajar yang memberi kesempatan pada remaja untuk berlatih memecahkan masalah, serta (4) peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk mengembangkan teori faktor-faktor lainnya dari problem focused coping, atau dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda, misalnya wawancara dan observasi.

Hubungan antara persepsi siswa tentang keterampilan mengajar mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang 2008 dengan motivasi belajar siswa di SMK Muhammadiyah 1 Malang / Samsul Arifin

 

ABTRAKS Arifin, Samsul. 2008. Hubungan antara Persepsi Siswa tentang Keterampilan Mengajar Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang 2008 dengan Motivasi Belajar Siswa di SMK Muhammadiyah 1 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Widiyanti, M.Pd, (2) Drs. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata kunci: persepsi siswa, keterampilan mengajar mahasiswa PPL, motivasi belajar Persepsi merupakan stimulus untuk menggambarkan pemahaman tentang peristiwa yang telah terjadi yang dapat dijadikan media informasi. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah persepsi siswa sangat penting sekali untuk mengetahui sejauhmana keterampilan mengajar yang dimiliki oleh seorang guru. Adapun keterampilan mengajar dalam penelitian ini yaitu 1) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (2) keterampilan menjelaskan materi, (3) keterampilan bertanya, (4) keterampilan memberi penguatan, (5) keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar, (6) keterampilan mengelola kelas. Jika keterampilan mengajar yang dimiliki oleh seorang guru baik maka bisa mendorong siswanya untuk lebih termotivasi dalam belajar. Motivasi belajar bisa tumbuh jika ada dorongan baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa yang diistilahkan dengan motivasi intristik dan motivasi ekstristik. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan persepsi siswa tentang keterampilan mengajar mahasiswa PPL Universitas Negeri malang di SMK Muhammadiyah 1 Malang dan mendiskripsikan bagaimana tingkat motivasi belajar siswa yang diajar oleh mahasiswa PPL dan juga untuk mengetahui adakah hubungan antara keterampilan mengajar mahasiswa PPL FT UM 2008 dengan motivasi belajar siswa SMK Muhammadiyah 1 Malang. Dalam penelitian ini digunakan analisis deskriptif dan korelasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi dan untuk menemukan ada tidaknya suatu hubungan tentang variabel-variabel yang sudah ditentukan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar mahasiswa PPL FT UM 2008 di SMK Muhammadiyah 1 Malang termasuk kedalam kategoti baik dan persepsi siswa terhadap motivasi belajar temasuk dalam kategori tinggi. Serta terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan mengajar mahasiswa PPL FT UM 2008 dengan motivasi belajar siswa SMK Muhammadiyah 1 Malang. Dengan hasil demikian disarankan untuk mahasiswa yang akan melaksanakan PPL berikutnya untuk lebih meningkatkan keterampilan mengajar begitupula dengan jurusan Teknik Mesin untuk membekali mahasiswa yang akan melaksanakan praktik mengajar di sekolah karena mahasiswa yang akan melakasanakan PPL tersebut membawa bendera Universitas Negeri Malang.

Penerapan model make a match untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar mata diklat ekonomi di SMK PGRI 06 Malang / Indah Purnama Sari

 

ABSTRAK Purnama Sari, Indah. 2008. Penerapan Model Make a Match untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Mata Diklat Ekonomi di SMK PGRI 06 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Sopiah, M.Pd., MM. (II) Drs. Moh. Arief, M.Si. Kata kunci: model make a match, motivasi, hasil belajar Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah karena metode pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah metode konvesional berupa ceramah sehingga siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu solusi untuk mengatasi dominansi guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran inovatif yang konsep dasar pembelajarannya terpusat pada keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Salah satu model tersebut adalah make a match atau mencari pasangan. Diharapkan dengan menggunakan berbagai variasi mengajar dan salah satunya adalah menggunakan model ini, motivasi belajar dan hasil belajar siswa akan meningkat. Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui penerapan model make a match pada pokok bahasan menerapkan prinsip produksi dalam kegiatan bisnis, 2) untuk mengetahui seberapa besar penerapan model make a match dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, 3) untuk mengetahui seberapa besar penerapan model make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMK PGRI 06 Malang dan 4) untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam penerapan model make a match. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan 4 tahap pada masing-masing siklusnya yakni meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan sekaligus pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II program keahlian penjualan di SMK PGRI 06 Malang yang berjumlah 33 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tulis yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus, selain itu menggunakan lembar observasi, rubrik aspek afektif dan psikomotorik, pedoman wawancara, catatan lapangan dan dokumenter. Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa dari aspek keaktifan pada siklus 1 sebesar 70% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 83.3%, motivasi belajar siswa dari aspek keantusiasan pada siklus 1 sebesar 56.7% dan siklus 2 meningkat menjadi 70%, sedangkan motivasi belajar dari aspek keceriaan pada siklus 1 sebesar 90% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 100%. Dari analisis data hasil belajar siswa dari aspek kognitif pada siklus 1 juga dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 26 siswa (78.8%) dan pada siklus 2 meningkat menjadi 29 siswa (87.88%). Hasil belajar siswa dari aspek afektif juga menunjukkan bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 18 siswa (54.6%) dan pada siklus 2 jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 27 siswa (81.8%). Demikian juga hasil belajar dilihat dari aspek psikomotorik pada siklus 1 bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 siswa (60.6%) dan pada siklus 2 jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 29 siswa (87.9%). Dari hasil analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa di SMK PGRI 06 Malang mengalami peningkatan dengan penerapan model make a match. Saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini untuk kepala sekolah adalah memberikan motivasi kepada semua guru untuk mencoba menerapkan model ini sebagai variasi model mengajar. Untuk guru mata diklat untuk mengimplementasikan model make a match pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga siswa akan termotivasi dalam belajarnya dan dapat meningkatkan prestasinya. Sedangkan untuk guru mata diklat ekonomi adalah mencoba untuk mengimplementasikan model ini pada pokok bahasan yang lain maupun pelajaran yang lain karena siswa memberikan respon yang positif terhadap model tersebut.

Pengembangan website sebagai media pembelajaran interaktif guru dan siswa pada mata pelajaran fisika di SMA / Nur Rofiq

 

Mempelajari fisika berarti menyesuaikan diri dengan perubahan dalam memasuki dunia teknologi untuk memecahkan masalah kehidupan. Disisi lain, siswa berpendapat pelajaran fisika sulit karena melibatkan teknik matematika, eksperimen, dan hal abstrak. Maka, dibutuhkan terobosan baru dalam proses pembelajaran fisika sehingga dapat melakukan proses pembelajaran secara lebih mandiri, fleksibel, berpusat kepada siswa (students centered), kolaboratif, ter- kelola dengan efektif dan efisien, serta mendukung paradigma pembelajaran sepanjang hayat (life-long education). Media pembelajaran fisika yang selaras dengan perkembangan teknologi, terutama ICT (Information and Communication Technology) yang melalui internet adalah e-learning. Bentuk pembalajaran melalui e-learning yang dikembangkan adalah website fisika untuk SMA dengan menggunakan PHP, MySQL, dan Apache sebagai program utamanya. Website ini merupakan tempat guru dan siswa berinteraksi mengenai mata pelajaran fisika di luar kelas. Website yang dikembangkan dapat menjelaskan materi fisika yang abstrak melalui animasi praktikum, dapat digunakan siswa untuk belajar tanpa hadirnya guru atau instruktur, dapat diakses siswa kapan saja dengan biaya relatif terjangkau, dan bahkan dapat mendukung program jaringan berbasis teknologi informasi yang digalakkan pemerintah. Pengembangan website dilakukan melalui pengumpulan data uji coba terbatas dengan kuesioner/ angket yang kemudian dianalisa dengan teknik presentase. Responden adalah ahli media yaitu dosen yang berkompeten dalam media pembelajaran fisika dan ahli materi yaitu para guru yang mengajar fisika di SMA yang sesuai dengan bidangnya. Uji coba terbatas kepada responden menyatakan hasil sebagai berikut. Hasil analisis website menyatakan bahwa tampilan, adanya interaksi guru siswa, kemudahan link, dan kemudahan penggunaan dinyatakan baik. Hasil analisis manajemen materi menyatakan kemudahan navigasi guru dan siswa, model soal, kemudahan menambah atau mengurangi soal maupun materi, rata-rata baik. Hasil analisis pengelolaan nilai menyatakan website ini memudahkan guru dan siswa melihat nilai, sesuai untuk media pembelajaran interaktif, dan secara umum dinyatakan menarik dan layak digunakan. Berdasarkan hasil uji coba terbatas tersebut, diambil kesimpulan bahwa website pembelajaran interaktif pada mata pelajaran fisika ini telah sesuai untuk dijadikan media pembelajaran interaktif bagi siswa SMA kelas X, XI, dan XII dengan revisi. Produk website ini dapat dilanjutkan pada tahap uji coba lebih luas.

Perancangan media komunikasi visual taman hiburan "Wisata Desa" di Kabupaten Mojokerto dalam meningkatkan kunjungan masyarakat / Nuqi Dwi Rifianto

 

ABSTRAK Rifianto, Nuqi D. 2007. Perancangan Media Komunikasi Visual Taman Hiburan “Wisata Desa” di Kabupaten Mojokerto Dalam Meningkatkan Kunjungan Masyarakat. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujiyanto, M.sn, (II) Drs. Ponimin. M.Hum. Kata Kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, Wisata Desa Perancangan ini adalah perancangan media komunikasi visual sebagai komunikasi visual taman hiburan “Wisata Desa” untuk dapat meningkatkan kunjungan masyarakat. Adapun fokus penelitian ini yaitu (1) konsep perancangan media komunikasi visual taman hiburan “Wisata Desa”. (2) proses perancangannya, dan (3) bentuk media perancangan komunikasi visual taman hiburan “Wisata Desa”. Perancangan ini menggunakan model prosedural yang bersifat deskriptif. Metode pengumpulan data (1) wawancara (2) obsevasi (3) kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan hasil penyebaran kuesioner kemudian ditarik kesimpulan. Penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan penelitian. Pada perancangan media komunikasi visual di taman hiburan “Wisata Desa” ini sesuai dengan ciri khas baik warna, ilustrasi, tipografi, maupun lokasi penempatan media komunikasi visual yang berfungsi sebagai fasilitas penyampaian informasi dari fihak taman hiburan “Wisata Desa” kepada target marketnya. Saran yang dapat di ajukan adalah membuat perancangan dan penyempurnaan media komunikasi visual yang tepat dan efektif serta sesuai dengan kebutuhan target Market, serta mengarahkan taman hiburan “Wisata Desa” agar lebih gencar lagi menggunakan media komunikasi visual sebagai fasilitas promosi.

Survey tentang minat siswa kelas X terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun / Erwin Kurniawan Azari

 

Mengingat pentingnya kegiatan ekstrakurikuler olahraga, semestinya sekolah mengantisipasi program ekstrakurikuler dengan sungguh-sungguh. Upaya antisipasi dapat dilakukan secara komprehensif dengan melalui pembinaan ekstrakurikuler dalam berbagai bidang sesuai dengan bakat dan minat siswa; penunjukan guru pembina yang sesuai dengan kemampuan serta kesungguhan dalam membina; penentuan kurikulum yang jelas dari masing-masing bidang ekstrakurikuler; serta evaluasi secara berkelanjutan. Dalam hal ini, diperlukan sosialisasi terhadap ekstrakurikuler olahraga dari pihak sekolah agar siswa menjadi berminat dan lebih antusias terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui minat siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun berjumlah 242 siswa. Sampel yang diambil adalah 25% dari masing-masing kelas dengan 242 siswa yaitu sebanyak 61 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata minat dari 61 siswa-siswi yang dijadikan responden di SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun terhadap ekstrakurikuler olahraga berdasarkan hasil kuisioner adalah baik. Beberapa hal hasil kuisioner menunjukkan kurang baik adalah rutinitas berolahraga, Keaktifan dalam berolahraga di ekstrakurikuler olahraga, keikutsertaan dalam perlombaan dan harapan terhadap hadiah. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa 70,7% siswa SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun memiliki minat yang baik terhadap ekstrakurikuler olahraga. Peneliti menyarankan agar(1) perlu adanya peningkatan motivasi untuk mengikuti ekstrakurikuler pada siswa di SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun secara berkesinambungan (2) peningkatan sarana dan prasarana olahraga dalam rangka meningkatkan daya tarik siswa terhadap ekstrakurikuler olahraga (3) Intensivitas perlombaan baik secara internal maupun eksternal.

Pengaruh economic value added (EVA) dan arus kas operasi terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007 / Sandy Setiawan

 

Investor yang menanamkan dana di pasar modal harus mampu memanfaatkan semua informasi untuk menganalisa pasar dan investasinya dengan harapan memperoleh keuntungan yang maksimal. Analisis EVA dan pendekatan arus kas operasi merupakan suatu cara dalam pengukuran kinerja perusahaan, seberapa besar perusahaan manufaktur yang go public berhasil memenuhi keinginan para investor atau penyandang dana bagi perusahaan. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilihat pengaruh Economic Value Added (EVA),Kas Operasi terhadap Return Saham Secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2004-2007. Penelitian ini dalam menentukan sampel menggunakan purposive sample yaitu harga saham perusahaan manufaktur yang aktif selama periode tahun 2004-2007 dan laporan keuangannya perusahaan manufaktur yang listing di BEI untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004-2007. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu laporan keuangan perusahan sampel, harga saham penutupan bulanan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukan bahwa secara simultan variabel economic value added (EVA) dan kas operasi berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan secara parsial variabel economic value added (EVA) dan kas operasi berpengaruh siginifikan positif terhadap return. Kondisi rata-rata variabel Economic Value Added (EVA) perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007 fluktuatif dengan trend menurun tidak tajam. Kondisi rata-rata variabel Kas Operasi perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007 dengan trend naik cukup tajam. Kondisi rata-rata return saham perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007 fluktuatif dengan trend menurun tajam. Secara simultan variabel Economic Value Added (EVA) dan Kas Operasi berpengaruh signifikan terhadap Return perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007. Variabel Economic Value Added (EVA) berpengruh signifikan terhadap return perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007. Variabel Kas Operasi berpengruh signifikan terhadap return perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2007. Penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dan jangka waktu atau periode penelitian yang lebih panjang, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik (generalisasinya tinggi), serta penelitian berikutnya sebaiknya dilakukan dengan menggunakan metode analisis yang berbeda untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh adalah konsisten dari tahun ke tahun.

Kebiasaan belajar siswa kelas unggulan dan siswa kelas non unggulan dan hubungannya terhadap keterampilan sosial siswa SMP Negeri 1 Blitar / Rian Arista Ely

 

Bimbingan dan konseling di sekolah sangat berperan penting, salah satunya adalah mempertahankan dan meningkatkan mutu belajar siswa. Selain itu juga untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar dan karier agar berkembang secara optimal. Kebiasaan belajar sangat penting untuk mencapai hasil belajar yang baik, karena dengan hasil belajar yang baik maka seseorang akan mendapatkan penghargaan yang tinggi dari orang lain. Pembagian siswa dalam kelas unggulan dan non unggulan di SMPN dilakukan berdasarkan prestasi belajar yang diperoleh sebelumnya. Siswa yang memiliki kebiasaan belajar yang baik kemungkinan dapat meningkatkan pencapaian prestasi belajar yang tinggi pula dan sebaliknya. Keterampilan sosial merupakan salah satu perkembangan yang harus dikuasai oleh remaja untuk dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berkomunikasi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, memberi atau menerima kritik, dan sebagainya. Dengan memiliki keterampilan sosial yang baik maka remaja bisa melakukan penyesuaian sosial dengan baik pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kebiasaan belajar siswa kelas unggulan; (2) kebiasaan belajar siswa kelas non unggulan; (3) keterampilan sosial siswa kelas unggulan; (4) keterampilan sosial siswa kelas non unggulan; (5) hubungan kebiasaan belajar siswa kelas unggulan dan siswa kelas non unggulan terhadap keterampilan sosial siswa. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar dengan jumlah 244 orang siswa, sedangkan sampel yang diambil berasal dari siswa kelas unggulan dan non unggulan dengan jumlah 89 orang siswa. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel ini adalah cluster simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kebiasaan belajar siswa kelas VII unggulan di SMP Negeri 1 Blitar yang tergolong baik sebanyak 31,25%, cukup baik 66,67%, buruk 2,08%; (2) kebiasaan belajar siswa kelas VII non unggulan di SMP Negeri 1 Blitar menunjukkan bahwa siswa memiliki kebiasaan belajar tergolong baik sebanyak 12,20%, cukup baik 80,49%, buruk 7,32%;(3) keterampilan sosial siswa kelas VII unggulan di SMP Negeri 1 Blitar menunjukkan bahwa siswa memiliki keterampilan sosial tergolong tinggi sebanyak 6,25%, sedang 83,33%, rendah 10,42%;(4) keterampilan sosial siswa kelas VII non unggulan di SMP Negeri 1 Blitar menunjukkan bahwa siswa memiliki keterampilan sosial tergolong tinggi sebanyak 0%, sedang 78,05%, rendah 21,95%; (5) ada hubungan kebiasaan belajar siswa kelas unggulan dan siswa kelas non unggulan terhadap keterampilan sosial siswa, dengan Fhitung = 664,012 > Ftabel 2,18. Kesimpulan hasil penelitian (1) kebiasaan belajar siswa kelas VII unggulan di SMP Negeri 1 Blitar memiliki kebiasaan belajar yang tergolong dalam kategori cukup baik; (2) kebiasaan belajar siswa kelas VII non unggulan di SMP Negeri 1 Blitar memiliki kebiasaan belajar yang tergolong dalam kategori cukup baik; (3) keterampilan sosial siswa kelas VII unggulan di SMP Negeri 1 Blitar memiliki keterampilan sosial yang tergolong dalam kategori cukup tinggi; (4) keterampilan sosial siswa kelas VII non unggulan di SMP Negeri 1 Blitar memiliki keterampilan sosial yang tergolong dalam kategori cukup tinggi; (5) ada hubungan antara kebiasaan belajar dengan keterampilan siswa kelas unggulan dan siswa kelas non unggulan di SMP Negeri 1 Blitar. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan sebagai berikut: (1) konselor sekolah, diharapkan lebih meningkatkan peranannya dalam memberikan layanan bimbingan belajarnya, misalnya informasi bagaimana tempat belajar yang baik, waktu belajar yang baik, teknik belajar yang baik, serta memberikan informasi mengenai keterampilan sosial siswa, misalnya bagaimana mengekspresikan emosi sosial, kepekaan emosi dan sosial, mengontrol emosi dan sosial, dan manipulasi sosial (mengubah situasi untuk mendapatkan suatu hasil dari kontak sosial, misalnya rela berkorban demi orang lain). Sehingga dapat memberikan bimbingan konseling secara optimal melalui layanan informasi keterampilan sosial, misalnya memberikan permainan role playing dan modeling, baik itu di kelas unggulan maupun kelas non unggulan; (2) bagi guru, diharapkan dapat dijadikan masukan dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana kebiasaan belajar siswa dan keterampilan sosial siswa, sehingga guru dapat menentukan langkah selanjutnya dalam meningkatkan mutu pengajaran di kelas, misalnya guru lebih memperhatikan kebiasaan belajar siswa (dengan melihat hasil belajar siswa yang telah diperoleh) dan lebih sering berinteraksi dengan siswa; (3) bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk mengadakan penelitian yang sejenis, yaitu perbedaan kebiasaan belajar siswa kelas unggulan dan siswa kelas non unggulan dan hubungannya terhadap keterampilan sosial dengan menambahkan faktor lain yang turut mempengaruhi kebiasaan belajar siswa dan keterampilan sosial siswa, misalnya prestasi belajar, pola asuh orang tua.

Perbedaan hasil belajar listening siswa yang menggunakan laboratorium bahasa dengan yang menggunakan audio cassette tape recorder (ACTR) pada mata pelajaran bahasa Inggris siswa kelas VII MTs. Assa'adah II Bungah Gresik semester II tahun pelajaran 2007/20

 

Adanya kemajuan dalam IPTEK sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran dan membawa para guru untuk dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Salah satu wujud pemanfaatan kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan dalam pengajaran bahasa adalah pemanfaatan media, dalam hal ini pemanfaatan laboratorium bahasa, pemanfaatan laboratorium bahasa dapat melatih siswa untuk mendengarkan dan berbicara dalam bahasa asing. Akan tetapi sejauh ini pemanfaatan laboratorium bahasa Inggris masih kurang optimal, laboratorium bahasa semestinya dipandang sebagai media pembelajaran bahasa asing yang memfasilitasi pengajar/pebelajar untuk dapat bekerja secara lebih efektif. Listening sebagai salah satu kompetensi kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris mencakup kemampuan yang kompleks dalam hal berbahasa yaitu koordinasi komponen-komponen keterampilan, baik keterampilan mempersepsi, menganalisis, maupun menyintesis, oleh karena itu kemajuan dalam menyimak (listening) akan menjadi dasar bagi pengembangan keterampilan berbahasa lainnya. Menyadari perlunya pemanfaatan laboratorium bahasa dalam pembelajaran bahasa Inggris, maka perlu dilakukan penelitian untuk menggali informasi tentang penggunaan laboratorium bahasa sebagai penunjang pembelajaran bahasa Inggris (listening). Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen jenis posttest only control group design, yang bertujuan untuk meneliti adanya pengaruh dari perlakuan (treatment) yang diberikan dengan memberikan tes akhir pada masing-masing kelompok. Sampel yang digunakan sebagai kelompok eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara acak (random), yaitu kelas eksperimen yang belajar listening dengan menggunakan laboratorium bahasa, dan kelas kontrol yang belajar listening dengan menggunakan audio cassette tape recorder (ACTR) di dalam kelas. Adapun instrumen dalam penelitian ini menggunakan tes hasil belajar. Sesuai dengan rancangan penelitian kuantitatif, maka hipotesis dalam penelitian ini akan diuji dengan menggunakan statistik t-test. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari tes hasil belajar yang diberikan, menunjukkan pembelajaran listening dengan menggunakan laboratorium bahasa lebih tinggi perolehan hasil skornya bila dibandingkan dengan pembelajaran listening dengan menggunakan audio cassette tape recorder (ACTR). Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada tiap-tiap tes yang diadakan pada kelompok yang belajar listening dengan menggunakan laboratorium bahasa, bila dibandingkan dengan kelompok yang belajar dengan menggunakan audio cassette tape recorder (ACTR) dalam kelas. Sedangkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis uji-t yang dilakukan, juga menunjukkan hasil yang signifikan yaitu diperoleh hasil perhitungan thitung = 2.249 > ttabel = 2.001. Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, pengujian hipotesis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar listening antara siswa yang menggunakan laboratorium bahasa dengan yang menggunakan audio cassette tape recorder (ACTR), dan mengindikasikan bahwa siswa yang belajar dengan menggunakan laboratorium bahasa mempunyai kemampuan listening yang lebih baik daripada siswa yang belajar dengan menggunakan audio cassette tape recorder (ACTR) dalam kelas. Saran yang penulis berikan adalah agar guru dan siswa lebih memanfaatkan penggunaan laboratorium bahasa sebagai salah satu media pembelajaran yang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, guna memperbaiki mutu pembelajaran bahasa Inggris terutama pada kemampuan listening.

Pengembangan modul jamur berbasis konstruktivisme dengan model siklus belajar untuk pembelajaran biologi kelas X di MAN Malang I / Hendrik Saputra

 

MAN Malang I adalah Sekolah/Madrasah Aliyah Negeri terakreditasi A yang berada di Jl. Baiduri Bulan 40 kota Malang. Visi dari MAN Malang I adalah mewujudkan insan berkualitas tinggi dalam iptek religius dan humanis. Misi dari MAN Malang I adalah mendidik siswa agar memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pembelajaran efektif, mewujudkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, inovatif dan meningkatkan kualitas akademik. Berdasarkan observasi peneliti pada saat pelajaran biologi di kelas, keaktifan siswa dalam hal bertanya, menjawab pertanyaan, mengungkapkan ide gagasan, dan menganalisis suatu masalah dalam proses pembelajaran hanya sekitar 40 % dari jumlah siswa di kelas. Faktor penyebab masalah tersebut adalah (1) siswa yang memiliki buku paket sebagai bahan referensi jumlahnya sedikit, (2) siswa kesulitan mempelajari LKS, karena bahasa pada LKS tidak memperhatikan tingkat kemampuan berpikir siswa. Terlihat dari beberapa siswa yang menanyakan maksud soal latihan dan uraian materi pada LKS, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam membentuk pengetahuannya. Berdasarkan masalah tersebut, dibutuhkan modul pembelajaran yang berisikan panduan kegiatan siswa untuk membangkitkan keaktifan siswa, motivasi belajar dan membangun pengetahuan siswa, serta meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan modul. Modul yang dikembangkan adalah modul Jamur berbasis konstruktivisme dengan model siklus belajar untuk pembelajaran biologi kelas X di MAN Malang I. Prosedur pengembangan modul meliputi pengkajian potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk dan revisi penyempurnaan produk. Subjek validasi modul (validator) adalah dua orang dosen biologi Universitas Negeri Malang dan dua orang guru biologi MAN Malang I. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi (1) data kuantitatif berupa skor angket dan nilai siswa, dan (2) data kualitatif berupa tanggapan atau saran dari validator dan deskripsi keterlaksanaan uji coba modul. Hasil penilaian uji validasi dari para validator sebesar 78,43% yang berarti cukup valid sedangkan penilaian angket dari siswa sebesar 90,83% yang berarti valid. Uji coba modul menunjukkan lebih dari 75% siswa sampel telah menyelesaikan modul dengan baik. Hasil analisis korelasi (r) untuk tahapan siklus belajar dengan uji kompetensi menggunakan SPSS 12 adalah 0,705. Jadi ada korelasi yang kuat antara tahapan siklus belajar dengan hasil uji kompetensi, sedangkan arah hubungannya adalah positif karena nilai r positif. Semakin baik nilai yang diperoleh dengan melakukan siklus belajar secara bertahap maka nilai hasil uji kompetensinya juga akan semakin baik. Beberapa revisi tetap dilakukan penulis berdasarkan saran-saran maupun masukan yang diberikan oleh validator dengan tujuan untuk menyempurnakan modul pembelajaran yang dikembangkan. Berdasarkan hasil penilaian dan uji coba, maka modul yang dikembangkan telah layak untuk digunakan dan dimanfaatkan dalam membantu proses belajar dan pembelajaran biologi kelas X di MAN Malang I. Pada akhir penelitian ini dihasilkan produk berupa modul jamur berbasis konstruktivisme dengan siklus belajar untuk pembelajaran Biologi Kelas X di MAN Malang I. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengembangan modul dengan materi lain yang lebih menarik dengan model pembelajaran konstruktivistik, sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam penerapan pendekatan konstruktivisme dan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bagi siswa yang telah menyelesaikan modul lebih cepat, siswa dapat melanjutkan pada pengayaan dan dapat menjadi tutor bagi teman yang belum dapat menyelesaikan modul.

Iklim organisasi dan stres kerja perawat ditinjau dari shift work di Rumah Sakit Islam Malang / Fajar Wulansari

 

Rumah sakit merupakan salah satu industri jasa yang memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau kepada masyarakat tidak hanya memberikan pelayanan siang hari tapi harus 24 jam karena setiap orang sakit membutuhkan perawatan. Perawat yang memberikan pelayanan keperawatan di rumah sakit dibutuhkan pengaturan shift yang dapat mempengaruhi iklim organisasi dan stres kerja perawat. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan iklim organisasi dan stres kerja perawat berdasarkan shift work di Rumah Sakit Islam Malang. Penelitian dilakukan pada perawat yang bekerja secara shift di Rumah Sakit Islam Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan komparational. Penelitian ini merupakan penelitian populasi dengan subyek penelitian perawat yang bekerja secara shift berjumlah 70 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala dan data dokumentasi. Skala Iklim Organisasi dan Skala Stres Kerja dengan menggunakan model penskalaan Likert. Data dokumentasi untuk mengetahui shift work di Rumah Sakit Islam Malang. Analisis deskriptif menggunakan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi dan teknik analisis General Linier Model (GLM) - Multivariate dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor iklim organisasi pada shift pagi 127.76, shift siang 128.00, shift malam 127.83. Rata-rata skor stres kerja perawat pada shift pagi 59.24, shift siang 56.41, shift malam 59.57. tidak ada pengaruh shift work terhadap iklim organisasi (F = 0.02 ;p = 0.998) dan tidak ada pengaruh shiftwork terhadap stres kerja perawat(F= 0.378; p = 0.686). Iklim organisasi pada shift pagi tidak berbeda dengan iklim organisasi dengan shift malam (B=-0.066; p= 0.986), iklim organisasi pada shift siang tidak berbeda dengan iklim organisasi pada shift malam(B=0.174; p=0.964). stres kerja pada shift pagi tidak berbeda dengan shift malam(B=-0.325; p= 0.933), stres kerja pada shift siang tidak berbeda dengan stres kerja pada shift malam(B=-3.156;p=0.432). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada perawat untuk melihat lingkungan kerja atau iklim organisasi rumah sakit secara obyektif sehingga didapatkan kesesuaian diri dengan lingkungan yang akan membuat pekerjaan terasa nyaman. Bagi rumah sakit, dalam usaha meminimalkan tingkat stres kerja perawat untuk mempertahankan dan meningkatkan keadaan iklim organisasi Rumah Sakit.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |