Rancang bangun mesin perajang bawang merah / Hendra Kristanto, Muhammad al Azis

 

Perbedaan prestasi belajar dikaitkan dengan pola asuh orangtua di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar / Ratih Rahmawati

 

Pendidikan sangat penting bagi terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Keberhasilan pendidikan salah satunya dapat dilihat melalui prestasi belajar sebagai hasil belajarnya. Keberhasilan atau prestasi belajar ditentukan oleh interaksi berbagai faktor. Peranan faktor penentu itu tidak selalu sama dan tetap. Dalam hal ini Hasbullah (dalam Ridwan, 2008) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.”. Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar. Tujuan penelitian adalah: (1) untuk mengetahui gambaran prestasi belajar siswa di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar (2) untuk mengetahui gambaran pola asuh orangtua siswa di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar dan (3)untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar dikaitkan dengan pola asuh orangtua di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Populasi semua siswa SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah kurang lebih 1200 siswa. Teknik pengambilan sampel random sampling dengan cara undian. Jumlah responden sebanyak 154 siswa. Instrumen yang digunakan angket, dianalisis dengan teknik persentase dan analisis varian satu jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar prestasi belajarnya dengan rentangan skor antara 69.7 sampai dengan 74.3. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian bahwa ada cukup banyak (46.10%) dan paling sedikit ada pada rentangan prestasi 79.1- 83.7 (12.99%). Selain itu sebagian besar pola asuh orangtua siswa adalah pola asuh demokrasi yaitu sebanyak 74.03%, lalu pola asuh otoriter sebanyak 22.08% dan paling sedikit adalah pola asuh permisif sebanyak 3.89%. Dari analisis deskriptif diatas maka pola asuh demokrasi terlihat bahwa rentangan prestasi belajarnya antara 65.00 sampai dengan 83.40, pola asuh otoriter rentangan prestasi belajarnya 65.60 sampai dengan 81.50, dan pola asuh permisif rentangan prestasi belajarnya 68.80 sampai dengan 76.20. Pengujian hipotesis menggunakan analisis varian satu jalur dengan menggunakan bantuan program SPSS windows versi 13.00. Dari hasil analisis data diperoleh nilai p sebesar 0,794. Karena p (0,794) ≥ 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar siswa dikaitkan dengan pola asuh orangtua di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) bagi lembaga pendidikan/sekolah diharapkan dengan hasil penelitian ini pihak sekolah memiliki gambaran demi meningkatkan prestasi belajar siswa dengan bekerja sama dengan orangtua siswa, (2) bagi orangtua siswa diharapkan lebih memperhatikan belajar siswa setiap saat agar siswa merasa diperhatikan oleh orangtuanya juga akan lebih memotivasi belajar siswa sehingga prestasi belajarnya semakin baik, dan (3) bagi peneliti selanjutnya sebagai acuan bahan pustaka atau perbandingan untuk mengadakan pengembangan keilmuan dan penelitian lebih lanjut khususnya tentang perbedaan prestasi belajar bila dikaitkan dengan pola asuh orangtua.

Strategi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran apresiasi seni rupa di SMP se-kecamatan Kepanjen / Eka Sriwahyuningtyas

 

ABSTRAK Sriwahyuningtyas, Eka. 2008. Strategi Guru dalam Melaksanakan Kegiatan Pembelajaran Apresiasi Seni Rupa di SMP Negeri se-Kecamatan Kepanjen. Skripsi, Jurusan Seni Dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Drs. Imam Muhadjir. Kata Kunci : Kondisi Guru, Strategi Guru, Konsep Guru. Kegiatan pembelajaran seni terbagi menjadi dua yaitu kegiatan kreasi dan kegiatan apresiasi. Kreasi merupakan proses penciptaan karya sedangkan apresiasi adalah pengamatan terhadap karya. Apresiasi seni merupakan tindakan untuk memahami serta menghayati tata nilai dari suatu objek sehubungan dengan kualitas estetis yang menimbulkan dorongan untuk mengamati, memahami, menghayati dan menghargai. Kegiatan apresiasi di sekolah memiliki peranan penting dalam mengasah kepekaan siswa terhadap karya seni. Sehingga perlu adanya strategi khusus dalam mengajar apresiasi agar tujuan pembelajaran apresiasi seni pada diri siswa tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kondisi guru, (2) strategi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran apresiasi seni rupa, (3) konsep guru tentang apresiasi dan strategi di SMP Negeri se-Kecamatan Kepanjen. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya dengan angket yang disajikan untuk guru seni budaya di SMP Negeri se-Kecamatan Kepanjen yang berjumlah 10 orang. Teknik analisis dengan teknik prosentase, selanjutnya hasil prosentase dideskripsikan sesuai dengan klasifikasi semua, banyak, cukup dan kurang. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan (1) bahwa semua guru berpendidikan S1 dan cukup banyak yang berlatar belakang pendidikan seni rupa. Banyak juga guru yang pernah mengikuti kegiatan pelatihan dan seminar, selain itu semua guru menjabat tugas lain selain mengajar, (2) semua guru membuat perencanaan (RPP) terlebih dahulu dan cukup berimbang antara guru yang menerapkan RPP dengan guru yang tidak menerapkan perencanaan tersebut. Semua guru dalam pembelajaran apresiasi menggunakan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Sedangkan guru yang menggunakan metode karya wisata dan demonstrasi cukup banyak. Dalam menerapkan metode mengajar untuk kegiatan apresiasi, banyak guru mengalami kesulitan. Oleh karena itu semua guru perlu menggunakan metode khusus dalam pembelajaran apresiasi seni rupa. Selain itu semua guru juga menggunakan prosedur pembelajaran, (3) pemahaman guru mengenai apresiasi semuanya memaknai apresiasi seni dengan kegiatan berpameran. Dalam pembelajaran apresiasi cukup banyak guru memiliki tujuan untuk mengasah kepekaan siswa terhadap objek seni. Kemudian yang terakhir cukup banyak guru yang memahami strategi pembelajaran sebagai penerapan metode tertentu. Setelah melihat hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan metode kualitatif dan memperhatikan faktor yang mempengaruhi strategi guru dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi seni rupa.

Studi tentang perbedaan keterampilan hubungan interpersonal antara siswa program akselerasi dan siswa reguler di SMA Negeri 3 Malang / Nur Fadilah

 

Siswa SMA merupakan individu yang berada pada masa remaja atau masa perkembangan, dimana pada masa remaja banyak hal yang menjadi tugas perkembangaanya termasuk kebutuhan menjalin hubungan dengan orang lain, dalam hal ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh para siswa dalam menjalin hubungan interpersonal. Pentingnya pemberian informasi tentang keterampilan hubungan interpersonal bagi siswa merupakan langkah preventif yang dilakukan oleh konselor selaku guru pembimbing di sekolah dalam mempersiapkan siswa yang tidak hanya berprestasi dalam hal akademik tapi mampu dan siap untuk menjalani kehidupan dan menjalin hubungan dengan orang lain secara baik di masyarakat nantinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) untuk mengetahui keterampilan hubungan interpersonal siswa akselerasi di SMA Negeri 3 Malang (2) untuk mengetahui keterampilan hubungan interpersonal siswa regular di SMA Negeri 3 Malang (3) untuk mengetahui perbedaan keterampilan hubungan interpersonal antara siswa akselerasi dengan siswa reguler di SMA negeri 3 malang. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 3 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu cluster random sampling untuk kelas reguler dan total samping untuk kelas akselerasi. Proses pengumpulan data dilakukan dengan melancarkan inventori keterampilan hubungan interpersonalyang dianalisis menggunakan teknik persentase dan uji-t Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedikit (7,1%) dari siswa akselerasi yang memiliki keterampilan interpersonal dalam kategori sangat baik dan banyak (61,9%) siswa akselerasi yang memiliki keterampilan interpersonal dalam kategori baik dan cukup banyak (30,9%) pada kategori cukup baik. Adapun untuk siswa regular banyak (69,0%) memiliki keterampilan interpersonal pada kategori baik dan cukup banyak (30,9%) berada pada kategori baik, maka dapat dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan keterampilan hubungan interpersonal antara siswa akselerasi dengan siswa reguler. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikemukaan saran-saran sebagai berikut: (1) kepala sekolah alangkah lebih bijak bila bisa tetap mempertahankan pemahaman siswa tentang ketera,pilan interpersonal, (2) konselor bisa menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan dalam memberikan informasi tentang keterampilan interpersonal, (3) bagi peneliti selanjutnya bisa penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan pustaka dalam mengembangkan penelitian selanjutnya dengan populasi dan sample yang lain.

Masalah-masalah yang dihadapi dan harapan bantuan pemecahannya pada siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang / Intan Anggoro Putri

 

ABSTRAK Putri, Intan Anggoro. 2008. Masalah-Masalah Yang Dihadapi dan Harapan Bantuan Pemecahannya Pada Siswa Kelas Akselerasi dan Siswa Kelas Reguler SMP Negeri di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. M. Ramli, M.A. (2) Drs. Djoko Budi Santoso. Kata Kunci: masalah, harapan bantuan pemecahan, kelas akselerasi, kelas reguler Masalah adalah suatu keadaan yang tidak dikehendaki atau disukai sehingga menghambat perkembangan seseorang dan menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain yang perlu diselesaikan. Adapun masalah-masalah siswa meliputi masalah kesehatan, keluarga, ekonomi, agama dan moral, masalah pribadi, hubungan sosial dan berorganisasi, kebiasaan belajar, muda mudi dan asmara, penyesuaian terhadap sekolah/kurikulum, penggunaan waktu luang, masa depan yang berhubungan dengan jabatan. Harapan bantuan pemecahan masalah adalah jenis bantuan yang diharapkan atau diinginkan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dari konselor. Adapun bantuan pemecahan masalah meliputi konseling individu, konseling kelompok, dan layanan referal. Tujuan penelitian adalah untuk (1) mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi siswa kelas akselerasi SMP Negeri di Kota Malang, (2) mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang, (3) mengetahui bantuan pemecahan masalah yang diharapkan siswa kelas akselerasi SMP Negeri di Kota Malang, (4) mengetahui bantuan pemecahan masalah yang diharapkan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang, (5) menemukan perbedaan masalah yang dihadapi siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang, (6) menemukan perbedaan harapan pemecahan masalah siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang. Jenis penelitian adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang. Pengambilan sampel sekolah dilakukan secara purposif sampling, sampel sekolah terdiri dari SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 3 Malang. Teknik pengambilan sampel kelas yang digunakan adalah total sampling untuk kelas akselerasi dan cluster random sampling untuk kelas reguler. Jumlah responden 119 siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah inventori DCM dan angket bantuan pemecahan masalah. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah persentase dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah-masalah yang dihadapi siswa kelas akselerasi SMP Negeri di Kota Malang adalah (1) kesehatan, (2) keluarga, (3) keadaan kehidupan ekonomi , (4) agama dan moral, (5) pribadi, (6) hubungan sosial dan berorganisasi, (7) kebiasaan belajar, (8) muda mudi dan asmara, (9) penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum, (10) rekreasi dan penggunaan waktu luang, (11) masa depan yang berhubungan dengan jabatan. Masalah-masalah yang dihadapi siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang adalah (1) kesehatan, (2) keluarga, (3) keadaan kehidupan ekonomi , (4) agama dan moral, (5) pribadi, (6) hubungan sosial dan berorganisasi, (7) kebiasaan belajar, (8) muda mudi dan asmara, (9) penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum, (10) rekreasi dan penggunaan waktu luang, (11) masa depan yang berhubungan dengan jabatan. Bantuan pemecahan masalah yang cukup banyak diharapkan siswa kelas akselerasi SMP Negeri di Kota Malang adalah konseling individu (54,54 %), bantuan pemecahan masalah yang sedikit sekali diharapkan siswa kelas akselerasi adalah konseling kelompok (19,03 %) dan layanan referal (17,09 %). Bantuan pemecahan masalah yang banyak diharapkan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang adalah konseling individu (62,07 %), bantuan pemecahan masalah yang sedikit sekali diharapkan siswa kelas reguler adalah konseling kelompok (16,9 %) dan layanan referal (14,41 %). Perbedaan masalah yang dihadapi siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang terletak pada masalah penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum dengan t hitung 2,069 > t tabel 1,980. Perbedaan bantuan pemecahan masalah yang diharapkan siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler SMP Negeri di Kota Malang terletak pada (1) masalah agama dan moral yaitu konseling individu dengan t hitung 2,471 > t tabel 1,980; (2) masalah penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum yaitu konseling individu dengan t hitung 1,981 > t tabel 1,980. Berdasarkan hasil penelitian, maka (1) konselor, hendaknya meningkatkan pemberian layanan peningkatan kemampuan penyesuaian diri terhadap situasi sekolah dan pelaksanaan kurikulum bagi siswa kelas reguler maupun kelas akselerasi dengan penekanan yang lebih besar pada siswa kelas reguler, (2) wali kelas atau guru bidang studi, hendaknya bekerja sama dengan konselor tentang pemberian layanan peningkatan kemampuan penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum kepada siswa kelas akselerasi maupun kelas reguler sehingga dapat mencegah timbulnya masalah penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum yang lebih serius atau setidaknya dapat ditekan sekecil mungkin, (3) siswa, siswa yang berasal dari kelas akselerasi hendaknya memelihara dan meningkatkan kemampuan dalam hal penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum, sedangkan pada siswa yang berasal dari kelas reguler hendaknya lebih intensif mengembangkan kemampuan dalam hal penyesuaian terhadap sekolah dan kurikulum, (4) peneliti selanjutnya, penelitian ini hanya menyangkut masalah yang dihadapi siswa dan harapan bantuan pemecahannya. Oleh karena itu kepada peneliti yang tertarik pada permasalahan ini hendaknya perlu juga untuk mengetahui bagaimana tenggapan siswa terhadap layanan BK khusunya bantuan pemecahan masalah yang sudah diberikan oleh konselor di sekolah.

Pengaruh tingkat pemanfaatan teknologi informasi (TI) dan perilaku sosial terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas X SMAN 5 Malang / Ditha Marina Mirastuty

 

Pendidikan merupakan salah satu hal penting yang turut me-nentukan nasib sebuah bangsa. Dengan kualitas pendidikan yang baik maka akan terbentuk generasi bangsa yang cerdas dan berkompeten di bidangnya. Bidang pendidikan selalu berusaha untuk melakukan perbaikan dan pengembangan sarana maupun prasarana sekolah, demi terselenggaranya proses pembelajaran yang nyaman, efektif serta efisien. Teknologi Informasi (TI) berperan penting sebagai sarana yang dapat dipakai untuk menyampaikan proses pembelajaran.Teknologi Informasi (TI) juga dapat menimbulkan masalah lain yakni perilaku sosial siswa,. Pemanfataan fasilitas Teknologi Informasi (TI) yang maksimal dan terbentuknya perilaku sosial siswa yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, maka diharapkan siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh tingkat pemanfaatan teknologi informasi (TI) terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas X SMAN 5 Malang. (2) Mengetahui pengaruh perilaku sosial siswa terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas X SMAN 5 Malang. (3) Mengetahui pengaruh simultan antara tingkat pemanfaatan teknologi informasi (TI) dan perilaku sosial terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 5 Malang. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 5 Malang. Dan Pengambilan sampelnya menggunakan teknik propotional random sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket dan studi dokumenter. Data dianalisis dengan teknik prosentase, korelasi dan regresi dengan bantuan komputer program SPSS 13.0 for windows. Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa terdapat hubungan tingkat pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dan prestasi belajar Ekonomi siswa kelas X SMAN 5 Malang dengan koefisien korelasi sebesar 0.576 atau 57.6%. Terdapat hubungan antara perilaku sosial dan prestasi belajar Ekonomi siswa kelas X SMAN 5 Malang, dengan koefisien korelasi sebesar 0.567 atau 56.7%. Terdapat hubungan simultan antara pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dan perilaku sosial dengan prestasi belajar Ekonomi siswa kelas X SMAN 5 Malang dengan koefisien determinasi sebesar 0.529 atau 52.9%. Dengan tingkat prestasi belajar yang sangat tinggi maka diharapkan pihak sekolah untuk terus mengembangkan fasilitas Teknologi Informasi (TI) serta aktif memberikan bimbingan/pelatihan penggunaan Teknologi Informasi (TI) pada siswanya, agar pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) berjalan dengan maksimal. Disamping itu pihak sekolah juga harus terus mengarahkan serta membentuk perilaku sosial siswa agar kelak siswanya dapat hidup berdampingan dengan masyarakat yang heterogen yang banyak mengusung norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Sehingga selain mempunyai bekal pengetahuan dalam teori, siswa juga mempunyai kecakapan untuk hidup dalam kelompok masyarakat serta mampu melakukan kegiatan organisasi.

Pengaruh strategi diferensiasi terhadap loyalitas konsumen (studi pada pengguna kartu prabayar CDMA Flexi Trendy di Desa Krebet Senggrong Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang) / Wiega Lya Septania

 

Saat ini, para pelaku usaha baik yang bergerak pada bidang produksi maupun jasa terdorong untuk menggeser orientasi usahanya dari profit oriented menjadi loyalty oriented, yaitu orientasi kepada loyalitas pelanggan. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan suatu strategi keunggulan bersaing yang salah satunya adalah strategi diferensiasi. Peran strategi diferensiasi sangat diperlukan karena dengan adanya strategi tersebut perusahaan akan mempunyai keunggulan yang lebih dari pesaing. Seperti pada dunia telekomunikasi selular saat ini yang semakin berkembang kita mengenal teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) dan perusahaan pertama yang memperkenalkan teknologi ini adalah PT. Telkom Indonesia Tbk dengan produknya Flexi Trendy pada tahun 2003. TELKOMFlexi disebut telah berhasil dalam penerapan strategi diferensiasinya, hal dapat dibuktikan dengan jumlah penggunanya yang sampai tahun 2008 telah mencapai tujuh juta orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pengaruh strategi diferensiasi loyalitas konsumen baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi diferensiasi yang mempunyai sub variabel diferensiasi produk (X1), diferensiasi pelayanan (X2) dan diferensiasi citra (X3) sedangkan variabel terikatnya adalah loyalitas konsumen. Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk Desa Krebet Senggrong Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang yang membeli ataupun memakai kartu selular CDMA Flexi Trendy. Dalam penelitian ini menggunakan 120 sampel yang penentuan jumlah sampelnya menggunakan rumus Daniel and Terrel. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda (multiple regression) dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS for Windows seri 13.0. Hasil penelitian ini secara parsial adalah: 1) Untuk diferensiasi produk (X1) nilai t hitung 4,932 > t tabel 1,980 yang berarti terdapat pengaruh positif yang signifikan antara diferensiasi produk terhadap loyalitas konsumen pengguna kartu selular prabayar CDMA Flexi Trendy, 2) Untuk diferensiasi pelayanan (X2) nilai thitung 2,387 > t tabel 1,980 yang berarti terdapat pengaruh positif yang signifikan antara diferensiasi pelayanan terhadap loyalitas konsumen pengguna kartu selular prabayar CDMA Flexi Trendy, 3) Untuk diferensiasi citra (X3) nilai t hitung 4,980 > t tabel 1,980 yang berarti terdapat pengaruh positif yang signifikan antara diferensiasi citra terhadap loyalitas konsumen pengguna kartu selular prabayar CDMA Flexi Trendy. Sedangkan secara simultan didapatkan nilai Fhitung (32,386) >Ftabel (2,680) yang berarti terdapat pengaruh positif yang signifikan secara simultan antara diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan dan diferensiasi citra terhadap loyalitas konsumen pengguna kartu selular prabayar CDMA Flexi Trendy. Sumbangan Efektif (SE) yang terbesar adalah variabel diferensiasi citra (X3) yaitu sebesar 37,6%. Selain itu diketahui nilai adjusted R Square = 0,442 yang artinya variabel strategi diferensiasi dalam mempengaruhi loyalitas konsumen pengguna kartu selular prabayar CDMA Flexi Trendy di Desa Krebet Senggrong Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang adalah sebesar 44,2% dan sisanya sebesar 55,8% dipengaruhi hal-hal lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah ditujukan kepada TELKOMFlexi, Pertama hendaknya lebih meningkatkan kualitas dalam hal diferensiasi pelayanannya khususnya dalam hal pemasangan (installation). Kedua, hendaknya menambah lokasi pembangunan Flexi Center terutama di Kota Malang, karena sampai saat ini Flexi Center hanya terdapat di wilayah Jabotabek. Ketiga, TELKOMFlexi hendaknya selalu memperbarui fitur-fitur yang disertakan pada produknya, agar konsumen tidak merasa bosan.. Selain itu penulis merekomendasikan pada peneliti selanjutnya untuk mencoba obyek penelitian yang lain, misalnya di perusahaan jasa agar nanti hasilnya dapat dijadikan perbandingan tentang strategi diferensiasi yang diterapkan pada masing-masing perusahaan serta meneliti sejauh mana pengaruh strategi diferensiasi yang lain yaitu diferensiasi personalia dan diferensiasi saluran distribusi/pemasaran dalam mempengaruhi kepuasan ataupun loyalitas konsumen.

Pengaruh perubahan arus kas terhadap tingkat likuiditas dan rentabilitas pada perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Jakarta / Ananda Pratama Setyawan

 

Selain laporan keuangan, komponen yang menjadi sorotan penting bagi investor adalah laporan arus kas.Manajer umumnya tertarik untuk mengidentifikasi darimana perusahaan memperoleh kas dan digunakan untuk apa kas tersebut, karena kas merupakan aktiva yang paling likuid dan merupakan bagian penting dalam bisnis. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan agar tetap eksis dalam melakukan aktivitasnya adalah dengan melakukan pengelolaan yang baik terhadap kas yang dimiliki oleh perusahaan. Pengelolaan kas harus dapat dilakukan secara sistematis dan terencana karena kas yang ada sangat berperan dalam menentukan kontinuitas perusahaan dan kas merupakan faktor mutlak yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas perusahaan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang signifikan perubahan arus kas terhadap tingkat likuiditas,pengaruh yang signifikan perubahan arus kas terhadap tingkat rentabilitas, dan penfaruh yang signifikan tingkat likuiditas terhadap tingkat rentabilitas pada perusahaan Food and Beverages yang Listing di Bursa Efek Jakarta. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif (descriptive research) yaitu penelitian yang menggambarkan likuiditas dan rentabilitas, sedangkan penelitian korelasi (correlation research) digunakan untuk menjelaskan hubungan variabel bebas yaitu perubahan arus kas terhadap variabel terikat yaitu tingkat likuiditas dan rentabilitas. Penelitian ini menggunakan teknik sampling, sehingga tipologi penelitian ini adalah penelitian survey.Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages yang mencantumkan summary laporan keuangan yang tercatat di Indonesian Capital Market Directory, untuk periode 2003-2006. Penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi serta menggunakan metode analisis regresi sederhana, koefisien korelasi, koefisien determinasi dan uji t sebagai metode analisis data.Hasil analasis data menunjukkan (1) Perubahan arus kas berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas pada perusahaan Food and Beverages yang Listing di Bursa Efek Jakarta, hal ini dibuktikan dengan t hitung = 4,826 > t tabel =2,032 dengan tingkat signifikan 0,000 < 0,05. (2) Perubahan arus kas berpengaruh signifikan terhadap tingkat rentabilitas pada perusahaan Food and Beverages yang Listing di Bursa Efek Jakarta, hal ini dibuktikan dengan t hitung = 3,531 > t tabel = 2,032 dengan tingkat signifikan 0,001 < 0,05. (3) Tingkat likuiditas berpengaruh signifikan terhadap tingkat rentabilitas pada perusahaan Food and Beverages yang Listing di Bursa Efek Jakarta, hal ini dibuktikan dengan t hitung = 2,452 > t tabel = 2,032 dengan tingkat signifikan 0,020< 0,05. Dari hasil penelitian ini diharapkan penelitian selanjutnya dapat menambahkan variabel lain dengan jumlah sampel yang lebih besar dan periode yang lebih lama agar penelitian dapat lebih sempurna dan lebih luas, sehingga dapat dijadikan pertimbangan bagi peusahaan dalam menjalankan fungsi-fungsinya terutama dalam meningkatkan likuiditas dan rentabilitas, serta mampu memberikan informasi yang berharga sebelum melakukan keputusan investasi pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta, khususnya mengenai pentingnya informasi arus kas yang erat kaitannya dengan likuiditas dan rentabilitas.

Penggunaan media inovatif melalui pembelajaran kooperatif stad untuk meningkatkan proses belajar dan pemahaman konsep pewarisan sifat makhluk hidup siswa kelas IX MTsN Kota Bima / Suminto

 

Pembelajaran merupakan proses komunikasi, agar pelaksanaannya berjalan efektif diperlukan alat bantu serta penggunaan metode tertentu yang lebih variatif. Idealnya pembelajaran biologi yang dilakukan guru menggunakan media dan metode tertentu agar proses belajar dan pemahaman siswa lebih optimal. Namun kenyataan di lapangan, guru biologi belum mampu mendayagunakan potensi lingkungan sekitarnya untuk membuat inovasi media dan menerapkan variasi metode pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terhadap guru biologi di MTsN Kota Bima, diperoleh fakta bahwa sebagian besar guru belum menggunakan media yang memadahi dan menerapkan metode-metode yang memotivasi siswa untuk belajar. Proses pembelajaran yang dilakukan guru selama ini hanya mentransfer pengetahuan melalui buku-buku dengan cara mencatat dan menerangkan. Pembelajaran yang dilakukan guru belum diupayakan yang berpusat pada siswa. Mencermati berbagai permasalahan tersebut, penelitian tentang penggunaan media inovatif melalui pembelajaran kooperatif STAD penting untuk dilakukan. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Januari sampai Maret 2008. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dengan desain mengacu pada model Kemmis dan Taggart yang meliputi: tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Penelitian dilakukan dengan tindakan pada proses pembelajaran materi pewarisan sifat makhluk hidup menggunakan media inovatif (Permainan Kartu Konsep dan Cakram Persilangan) melalui kooperatif STAD di kelas IX6. Upaya ini merupakan suatu solusi yang dapat digunakan untuk menciptakan kondisi pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Penggabungan antara penggunaan media dengan metode kooperatif STAD sesuai dengan karakteristik materi pewarisan sifat pada makhluk hidup, sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif dan persepsi siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan pemahaman konsep siswa tentang materi pewarisan sifat makhluk hidup melalui pembelajaran menggunakan media inovatif melalui kooperatif STAD. Untuk mengetahui proses tersebut dilakukan pengamatan terhadap sintaks pembelajaran oleh guru dan siswa, sedangkan pemahaman konsep diketahui melalui kemampuan kognitif siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, untuk mengetahui persepsi siswa terhadap proses pembelajaran menggunakan media inovatif melalui kooperatif STAD digunakan angket persepsi. Hasil penelitian tentang penggunaan media inovatif melalui kooperatif STAD dapat meningkatkan proses pembelajaran dari siklus I sebesar 55% menjadi 84% pada siklus II. Hal ini terjadi karena guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran mengacu pada sintaks yang telah ditetapkan dalam program, demikian pula siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran mengikuti pola yang telah ditetapkan oleh guru. Peningkatan juga terjadi pada kemampuan kognitif subjek penelitian, pada siklus I nilai rata-rata 67,17 meningkat menjadi 75,59 pada siklus II. Hasil angket persepsi siswa terhadap penggunaan media inovatif melalui pembelajaran kooperatif STAD secara klasikal juga meningkat, dari siklus I sebesar 80,54% menjadi 82,75% pada siklus II. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggabungkan antara penggunaan media inovatif dengan metode kooperatif STAD dapat menciptakan kondisi pembelajaran kondusif. Ketertarikan siswa dalam pembelajaran tersebut dapat dilihat dari hasil angket persepsi, yang menunjukkan bahwa sejak awal siklus siswa memiliki persepsi positif terhadap penggunaan media inovatif melalui model kooperatif STAD tersebut. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tindakan ini adalah: 1) penggunaan media inovatif melalui pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan proses pembelajaran, 2) penggunaan media inovatif melalui kooperatif STAD dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang materi pewarisan sifat makhluk hidup, 3) penggunaan media inovatif melalui pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan persepsi positif bagi siswa. Dengan demikian disarankan agar pembelajaran materi pewarisan sifat makhluk hidup yang dilakukan oleh guru hendaknya menggabungkan antara penggunaan media inovatif dengan metode kooperatif STAD, agar pembelajaran berjalan dengan kondusif.

The effect of the content-based summarizing technique on reading comprehension of narrative texts of the twelfth graders of SMA Negeri 1 Probolinggo / Nurul Hasanah

 

Many students find some problems in reading. A major problem faced by the students in reading texts is that they often do not comprehend the overall ideas of the text even though they feel that the vocabulary and sentence structure have not been major obstacles to understanding. Content-Based Summarizing Technique has been proven to be effective in improving college students’ ability in summarizing reading passage. Based on the previous study of this technique, this technique, that is claimed to be applicable for students of lower level of linguistic knowledge than college students, can be a useful technique to be applied to help students comprehending text. This study was directed to examine the effect of The Content-Based Summarizing Technique on reading comprehension of narrative texts of the twelfth graders of SMA Negeri 1 Probolinggo in terms of the significant difference in understanding the main ideas between students who are taught using Content-Based Summarizing Technique and those who are taught without using Content-Based Summarizing Technique. A quasi experimental study with nonrandomized control group, pretest-posttest design was conducted to answer whether there is a significant difference on the students’ ability in comprehending texts between the students who were taught by using Content-Based Summarizing Technique than those who were taught without using Content-Based Summarizing Technique. The population and samples of this study were twelfth graders of XII-IA2 and XII-IA3 in SMA Negeri 1 Probolinggo. This study was conducted in three stages: pre-experimental stage, experimental stage and post-experimental stage where the researcher did some preparation in pre-experimental stage; conducted three activities in the experimental stage: pre-testing both the experimental and the control groups, applying the Content-Based Summarizing Technique for the experimental group and post-testing both the experimental and the control groups; and also recorded and analyzed the scores obtained from post test activity in the post-experimental stage. The data obtained from the test administered were in the form of scores derived from the number of proposition of given passages. The statistical analysis used in this study was the Analysis of Covariance for the students’ scores. The result showed that there was significant difference in reading comprehension of narrative texts in terms of understanding the main ideas between the twelfth graders of SMA Negeri 1 Probolinggo who were taught using Content-Based Summarizing Technique and those who were taught without using Content-Based Summarizing Technique. The students who were taught by using Content-Based Summarizing Technique achieved better scores than those who were taught without using Content-Based Summarizing Technique. It means that Content-Based Summarizing Technique is effective to comprehend narrative texts in terms of understanding the main ideas. Based on the findings, it is suggested that Senior High School teachers use Content-Based Summarizing Technique in teaching reading to help students comprehend reading texts and also to help students increase their vocabulary. Besides, the practical suggestions for further study are suggested. First, it is suggested that for further studies, it can be conducted by using other types of text, like descriptive and argumentative. Second, the implementation of Content-Based Summarizing Technique can be combined with peer correction in order to stimulate students’ participation in the process of teaching and learning.

Hubungan antara konsep diri dengan pilihan karier siswa kelas XI SMAN di Kota Malang / Heny Setiyarini

 

ABSTRAK Setiyarini, Heny. 2008. Hubungan antara Konsep Diri dan Pilihan Karier Siswa Kelas XI SMA Negeri di kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A, (2) Drs. Harmiyanto. Kata kunci: Konsep Diri, Pilihan Karier, SMA Negeri Konsep diri merupakan pemahaman individu terhadap diri sendiri meliputi diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan diri moral etika. Pilihan karier merupakan pilihan seseorang dalam menentukan tingkat dan bidang pekerjaan yang ingin ditekuni sepanjang kehidupannya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran konsep diri siswa kelas XI, mengetahui gambaran pilihan karier siswa kelas XI dan mengetahui hubungan antara konsep diri dengan pilihan karier siswa kelas XI. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA N di Kota Malang. Pengambilan sampel sekolah diambil dengan teknik areal quota proposional random sampling. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data berbentuk inventori konsep diri dan angket pilihan karier. Analisis yang digunakan adalah persentase korelasi Product Moment dan analisis. Temuan penelitian menunjukkan (1) gambaran konsep diri siswa kelas XI SMA N di Kota Malang memiliki tingkat konsep diri positif (83,52%) dan untuk siswa yang memiliki tingkat konsep diri negatif (16,48%), (2) gambaran konsep diri siswa kelas XI SMA N di Kota Malang memiliki tingkat konsep diri negative yang mengacu pada aspek diri sosial (61,93%) (3) gambaran tingkat pilihan karier siswa kelas XI SMA N di Kota Malang siswa memilih tingkat jabatan atau karier pada tingkat Profesional dan Manajerial I dan II (58%), (4) gambaran bidang pilihan karier siswa kelas XI SMA N di Kota Malang siswa memilih bidang jabatan atau karier pada bidang organisasi (18,8%), (5) ada hubungan positif yang signifikan antara konsep diri dan pilihan karier siswa kelas XI SMA N di Kota Malang. Hasil analisis diperoleh r hitung sebesar 0,212 sedangkan r tabel sebesar 0,113, dengan kata lain r hitung > dari pada r tabel. Hal ini berarti bahwa semakin meningkat konsep diri siswa, maka semakin baik atau realistis pilihan karier siswa. Adapun saran yang diajukan, yaitu; (1) konselor sekolah diharapkan membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa yang memiliki konsep diri negatif dan bagi siswa yang memiliki konsep diri yang positif dapat dipertahan dan ditingkatkan, (2) kepala sekolah diharapkan mendukung setiap kegiatan esktrakurikuler yang berkaitan dengan pengembangan konsep diri maupun pilihan karier, (3) Peneliti lanjut, diharapkan dapat mengadakan penelitian dengan menggunakan populasi yang lebih bervariasi misalnya SMKN se Kota Malang atau MAN se Kota Malang atau meneliti variable-variabel lain yang mempengaruhi konsep diri.

Perancangan media komunikasi visual Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (Gedung Lawang Sewu) Semarang / Niky Roihanul Fathi

 

Implementasi metode pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi kasus pada siswa kelas 2 Program Keahlian Penjualan SMK Ardjuna 1 Malang) / Derry Rindra P

 

ABSTRAK Puspita, Derry Rindra. 2008. Impelementasi Metode Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Diklat Kewirausahaan (Studi Kasus Pada Siswa Kelas 2 Program Keahlian Penjualan SMK Ardjuna 1 Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mohammad Hari. M.Si., (II) Drs. Mohammad Arief,. M.Si. Kata kunci: Model pembelajaran Group Investigation, motivasi belajar, hasil belajar Proses pembelajaran di kelas saat ini masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dengan metode pembelajaran ceramah dan pemberian data sebagai pilihan utama dalam proses pembelajarannya, sehingga seringkali proses belajar dan prestasi belajar yang diraih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih memberdayakan potensi yang dimiliki siswa atau metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif, sehingga dapat mengubah proses pembelajaran yang bersifat berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered) yang memberikan dampak positif pada potensi dan kompetensi siswa. Dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan penggunaan metode pembelajaran yang optimal. Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif adalah metode pembelajaran kooperatif. Berdasarkan observasi awal di SMK Ardjuna 01 Malang, pendekatan metode pembelajaran yang digunakan masih cenderung pada metode ceramah dan pemberian tugas. Metode pembelajaran tersebut kurang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik terutama pada mata diklat Kewirausahaan. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini peneliti menerapkan model pembelajaran group investigation untuk meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. Karena dalam model pembelajaran ini lebih menekankan kemampuan peserta didik dalam menghadapi masalah dan menentukan penyelesaian masalah. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) penerapan model pembelajaran group investigation di SMK Ardjuna 1 Malang; (2) motivasi belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model group investigation pada mata diklat kewirausahaan di SMK Ardjuna 1 Malang; (3) hasil belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model group investigation pada mata diklat kewirausahaan di SMK Ardjuna 1 Malang; (4) Faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat pada penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation pada siswa SMK Ardjuna 1 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian dilakukan dalam konteks kelas yang bertujuan untuk melaksanakan perbaikan-perbaikan dalam hal penyempurnaan kegiatan belajar-mengajar guru di kelas. Sehingga dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar peserta didik, Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif yang dirancang dalam dua siklus kegiatan. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/ observasi dan refleksi. Kegiatan pada siklus I berupa pemberian tes awal kepada siswa (pre-test), yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, adanya pengelompokan kelas menjadi 4 kelompok, analisis dan sintesis, presentasi dan tanya jawab, serta memberikan tes evaluasi di akhir siklus (pos-test). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes, hasil observasi, catatan lapangan, dan hasil wawancara. Subyek atau sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 program keahlian penjualan SMK Ardjuna 1 Malang yang berjumlah 30 orang dengan mata diklat Kewirausahaan, sedangkan hasil data dari penelitian ini yaitu, (1) Hasil belajar pada ranah kognitif diukur dari selisih post test dan pre test dari siklus 1 ke siklus 2, sedangkan hasil belajar siswa pada ranah afektif diukur melalui rubrik penilaian yang datanya direkam dengan menggunakan format penilaian aspek afektif; (2) Motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Kewirausahaan ini diukur melalui 3 aspek yaitu, aspek keaktifan, keantusiasan, dan keceriaan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, yaitu (1) dilihat dari aspek keaktifan, persentase keberhasilan motivasi siswa mencapai 70%, sedangkan pada siklus 2, persentase keberhasilannya mencapai 86%. Sehingga diketahui bahwa motivasi belajar siswa untuk aspek keaktifan dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 16%; (2) dilihat dari aspek keantusiasan, persentase keberhasilan motivasi siswa mencapai 56%, sedangkan pada siklus 2, persentase keberhasilannya adalah 80%. Sehingga dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa untuk aspek keantusiasan dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 24%; (3) dilihat dari aspek keceriaan, persentase keberhasilan motivasi siswa mencapai 80%, sedangkan pada siklus 2, persentase keberhasilannya mencapai 100%. Sehingga dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa untuk aspek keceriaan dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 20%. Sedangkan hasil analisis data tehadap hasil belajar peserta didik ditinjau dari segi aspek kognitif dan aspek afektif pada pembelajaran kooperatif model group investigation mengalami peningkatan, yaitu (1) peningkatan hasil belajar aspek kognitif peserta didik kelas 2 Penjualan dibuktikan melalui peningkatan rata-rata post test siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata post test siklus I yang diperoleh peserta didik adalah 62,5. Sedangkan siklus II nilai rata-rata post test peserta didik adalah 78,23; (2) peningkatan hasil belajar peserta didik dari aspek afektif dapat dianalisa dari jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 15 siswa (54%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar 13 siswa (46%). Sedangkan Pada siklus 2 jumlah siswa yang dikategorikan tuntas belajar sebanyak 25 siswa (89,3%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar 3 siswa (10,7%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar ditinjau dari aspek afektif pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan 19,20%. Saran dalam kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagi guru mata diklat kewirausahaan lainnya hendaknya mulai mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model group investigation dalam proses pembelajaran kewirausahaan di kelas karena pembelajaran kooperatif model group investigation terbukti dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa; (2) Bagi peserta didik agar membiasakan diri untuk percaya diri dan berani mengeluarkan pendapat, sehingga pada waktu proses pembelajaran dan kegiatan presentasi kelompok, peserta didik dapat aktif dalam mengungkapkan pendapat; (3) Bagi guru dan peneliti selanjutnya hendaknya sebelum memulai pembelajaran, terlebih dahulu menyiapkan Rencana Pembelajaran, sehingga alokasi waktu dapat terorganisir dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai; (4) peserta didik diharapkan untuk lebih meningkatkan kerjasama dalam diskusi kelompok; (5) Bagi lembaga sekolah hendaknya menambah buku literatur yang ada di perpustakaan untuk memudahkan siswa dalam memperoleh informasi.

Perbedaan Prestasi belajar Fisika Antara Siswa yang Diajar dengan Metode pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Siswa yang Diajar dengan Metode Pembelajaran kooperatif Model Jigsaw Kelas II di SLTP Negeri I Wagis / oleh Suharlinah

 

ABSTRAK suhulinah2. 003.P erbedaanP restasiB elajar FisikaA ntara sisway ang Diajar dengan Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Sisia yang Diajar dengan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Ketas II di sLTP Negeri I lilagir. skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Mitematika dan Ilmu PengetahuaAnla m, UniversitasN egeriM alang.p embimbing(: l) Drs. Dwi HaryotoM, . Pd.,( 2) Drs. H. Winarto. Katak unci: prestasip, embelajarakno operatif,S TAD, JigsawF, isika. - Kualitasp embelajarany ang direncanakano leh guru oleh guru merupakan kompo.neunt amay ang sangatm empengaruhki eberhasilans ekolahs ebagaiie mbaga pendidikans. alah satui ndikator yang menunjukkank eberhasilans ekolaha dalah prestrabsei lajars iswa.o leh karenai tu guru sebagapi engelolak elas dituntut untuk lebihk reatif dalamm enciptakans uasanak ondusif dalam belajar.M etode pembelajarakno operatif( coo perativel earning) merupakanm etodep embelajaran yangd alat menciptakans u$ana yang kondusif dalam belajar. cooperative Learning memilikib anyakm odel diantaranyaa dalahs rAD dan Jigsaw.u niuk mengetahui metodep embelajaranko operatif model STAD atauJ igsawy ang dapatm enghasilkan prestasbi elajary ang lebih tinggi maka peneliti merumuskanm asalahs ebagii berikut: metodep embelajaranko operatif model srAD ataukatrm odel Jigsawy ang dapat menghasilkapnr estasbi elajar yang lebih tinggi pada siswak elasI I sLTpN I wagir? Untuk menjawabp ertanyaante rsebu! penelitiani ni dirancangd engan menggunakarann cangane ksperimens emuy aitup os ttest-onlyn, onequivalent yultryle.groupd esign dand ilaksanakand i sLTpN I wagir KabupatenM alang. Populaspi enelitiana dalahs eluruhs iswak elas tr sLTpN 1 wagir semeste2r tahun pelajara2n0 02/2003D. ari 6 kelasd iambil 2 kelass ebagasi ampedl engante knik purposifs amplingP. enelitiani ni menggunakan2 macami nstrumeny aitu instrumen perlakuadna ni nstrumenp restasbi elajarf isika. - Dan hasilp enelitiand iperolehk esimpulanb ahwam etodep embelajaran ' kooperatimf odel srAD dapatm enghasilkanp restasib elajar yang lebih tinggi dib_andingkdaenn ganm etodep embelajarakno operatifm odelJ igiaw padas iswak elas U SLTPN I Wagir. Berdasarkahna sil penelitianin i, sarany angd apatd iajukana dalah( l) metode pembelajarakno operatifm odelS TAD dapatd isajikans ebagaai ltematifp ilihanb agi q.o-.Uia*g studi fisika dalam pembelajaranfi sika, (2) penelitian ini dapat {ikertangkan untuk materi selain Alat optik dan Listrik statik, (3) penilitian ini dapadt ikembangkanu ntuk sekolah-sekolahy ang siswanyam emiliki-karakteristik yangh eterogend, an (4) ddlam penelitian ini masih terdapatk ekurangand alam pelalsanaanp raktikum karenak eterbatasanp eralatanm aka diharapkanp eneliti berikutnyad apatm emaksimalkand an menyempurnakanp elaksanaanp rattit um ai kelas.

Kajian kesalahan dan ketidakkonsistenan pengungkapan objek matematika dalam buku ajar yang digunakan siswa SMP kelas VII pada pokok bahasan aljabar / Siti Uchrowiyah

 

Pesatnya perkembangan jaringan komputer dan internet memberikan banyak sekali kemudahan bagi manusia. Dengan teknologi ini manusia bisa saling berkomunikasi dan bertukar informasi dari berbagai tempat yang berbeda di seluruh penjuru dunia. Pada sisi yang lain, pesatnya perkembangan teknologi ini juga diikuti pula berkembangnya kejahatan sistem informasi. Dengan berbagai teknik banyak yang mencoba mengakses data-data penting secara ilegal. Berbagai macam teknik digunakan untuk melindungi informasi yang dirahasiakan dari orang yang tidak berhak, salah satunya adalah teknik steganografi. Steganografi adalah ilmu dan seni menyembunyikan pesan rahasia di dalam pesan lain sehingga keberadaan pesan rahasia tersebut tidak dapat diketahui (Munir, 2006:301). Salah satu implementasi dari steganografi modern adalah penyisipan informasi ke dalam suatu file digital. Banyak sekali file digital yang dapat digunakan sebagai wadah penyimpanan informasi rahasia, namun dalam skripsi ini penulis hanya membatasi pada gambar diam yang berekstensi bitmap. Sedangkan pesan rahasia yang disembunyikan dibatasi hanya pada pesan berbentuk teks. Pada skripsi ini, penulis menggunakan operator XOR untuk menyatukan biner dari gambar dengan biner dari pesan. Proses penyatuan ini selanjutnya dinamakan encoding. Dari proses encoding ini akan diperoleh gambar yang sudah berisi pesan yang disembunyikan (stegotext). Untuk mengungkap pesan dari stegotext dapat dilakukan dengan meng-XOR-kan kembali stegotext dengan gambar bitmap. Pengungkapan kembali pesan dari stegotext ini dinamakan decoding. Selanjutnya dengan mengacu pada metode di atas akan dibuat suatu program komputer untuk encoding dan decoding. Program ini selanjutnya penulis beri nama “Stegbitmap”. Pada pembuatan program “stegbitmap” ini, penulis akan menggunakan software Borland Delphi 7.

Hubungan budaya organisasi, ketrampilan manajerial Kepala Sekolah dan Pelaksanaan Fungsi Pengawasan dengan Kinerja Guru dalam Mengajar pada SMU Negeri dan Swasta di Sulawesi Tenggara / oleh Mathias Gemnafle

 

Hubungan Intensitas Supervisi Pengawas Sekolah, Supervisi Kepala Sekolah, dan Kegiatan Wadah Pembinaan Profesuinal Guru Sekolah Dasar dengan Kemapuan Profesional Guru-guru SDN di Kota Banjarmasin / oleh Saleh, M.

 

Pengaruh Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan (studi Pada PT PLN (persero) Distribusi Jatim Area Pelayanan dan Jaringan (AP & J) Pasuruan) / oleh Yenesta Meyrenna Utomo

 

Studi tentang Motif Batik Gajah Oling Hasil Produksi Industri Kerajinan Batik 'Virdes' di desa Tampo Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi / Noor Diana Farah Aini

 

Motif merupakansa lahs atuu nsurp entingd ari batik.D ari segim otif pulalah kerajinabna tik mengalampi erkembangayna ngs angapt esat.s alahs atui ndustri kerajinabna tik 'virdes' yangt erdapadt i desaT ampok ecamatancl uring Kabupaten Banyuwangmi erupakanin dustrik erajinanb atiky angm asihm empertahankamno tifmotifb atikt radisionasl ebagaai cuanu ntukm embuadt esain-desamin otif batiknya. Hali ni membuapt enelitit ertariku ntukm engetahulei bihj auh tentangb agaimana variasi.davriis ualisasmi otifG ajaho ling produks'iv irdes' padap eriode2 0ol-20o2 sertab agaimanpar oduksid anp emasarannya. Tujuanp enelitianin i, pertamaa dalahu ntukm engetahuvia riasid ari visualisasmi otif batik Gajaho ling produksi' Virdes' periode2 001-2002,dayna ng keduaa dalahu ntukm engetahubi agaimanap roduksid anp emasarabna tik Gajah Olingp roduksi'Virdes'. Peneilt ian ini menggunakapne ndekataknu aliatif dan metoded eskiptif Pengambiladna tad ilakukand engano bservaski e lapangand an melakukan wawancardae nganp arai nforman,s eperti:p erajin,p engusahas,t afDinas Perindustriand an Perdagangans,e rtak onsumen.P engambiland ata ini didukungp ula dengans tudi kepustakaanA. nalisis data dilakukan secarain tensif dari deskripsik asar menjadpi rodukp enelitian. Hasilp enelitiante rhadapm otif batik GajahO ling produksi. Virdes,p ada pcnodc2 0a12002t erdapaet namm otifdenganv ariasiv isualy angb erupav ariasid ari . ornamepno kokG ajahO ling dano mamen-ornamepne ndukungy,a itu:K embang Melati,D aunD ilem,D aunK atu,D aunL ombok,M anggar,KembanMga war,K upukupu, Barong, Burung Merak dan lkan. Serta variasi warna, adalah:krem-merah, krem-birug elap,k rem-coklath, ijau-birug elap,p utih-birug elap,p utih-merahp, utihjingga, p utih-hitamh, ijau-hitamh, ijau-birug elap,h iram-merah-putih,it am-hijau muda-putihh,i tam-merahm uda-putihk, rem-jinggak, rem-hijau,k rem-birug elap, krem-merahk,r em-campuranD.a lamh al produksdi anp emasarannybaa tik Gajah Olingd iproduksdi engante knik batik tulis danb atik cap.B ahany angd igunakan adalahp rimiVprima,r ayon,s uteraJ. enisb enday angd iproduksai dalahk ain,k ain berpolad ans ewekd enganP eminatd i daerahJ awaT imur, Bali , NusaT enggara Timur,S umateraB, anyuwangid, an Sulawesi.U ntuk hargad isesuaikadne ngan, bahant,e knik,m otifyang digunakana, dapunh argat ersebuat dalahs ebagai l l l berikut Bahan prima/primis Rp. 150.000,- persewek, bahan rayon berkisar antara Rp.2 00.000,s-a mpaiR p. 250.000,p- enewek,b ahans uteraR p. 750.000,p- ersewek. Untuk kain dan kain berpola yang berbahan prima/primis berkisar antara Rp. 40.000,- sampaRi p.6 0.000,-p ermeterb, erbahanra yon berkisara ntaraR p. 60.000,-s ampai Rp.6 5.000,p- ermeterb, erbahans uteraR p. 175.000,- sampaRi p. 250.000,- permeter. l

Pengaruh media terhadap pertumbuhan eksplan kotiledon jarak pagar (Jatropha curcas L.) klon NTB 554 pada kultur in vitro / Sri Handayani

 

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMUN 2 Batu / Ria Martini

 

Guru sebagai salah satu unsur dalam proses belajar mengajar memiliki multiperan, tidak terbatas hanya sebagai pengajar yang melakukan Transfer of Knowledge tapi sebagai pembimbing yang mendorong potensi dan mengembangkan alternatif dalam pembelajaran dan guru harus mampu menciptakan situasi yang menunjang perkembangan belajar siswa, termasuk dalam menimbulkan motivasi belajar siswa dan semua ini tidak terlepas dari bagaimana guru menampilkan kemampuan kepribadiannya dalam proses belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Pengaruh secara parsial antara persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi ; (2) Pengaruh secara simultan antara persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (3) Faktor yang lebih berpengaruh antara persepsi siswa tentang kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, kompetensi pedagodik, kompetensi sosial. Penelitian ini dilakukan di SMU Negeri 2 Batu mulai tanggal 7 Juni 2008. Penelitian ini termasuk jenis penelitian penelitian explanasi (expalanatori research). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1 dan kelas 2 yang berjumlah 352 siswa serta sampel yang diambil sebanyak 69 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kompetensi profesional guru lebih banyak didominasi oleh jawaban cukup sering dengan frekuensi 23 siswa atau 34%, mempunyai taraf signifikansi sebesar 0,022 sehingga kompetensi profesional guru mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel motivasi belajar siswa dan memberikan sumbangan efektif sebesar 10,3%; (2) kompetensi kepribadian guru lebih banyak didominasi oleh jawaban cukup sering dengan frekuensi 22 siswa atau 33,3%, mempunyai taraf signifikansi sebesar 0,000 sehingga kompetensi kepribadian guru mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel motivasi belajar siswa dan memberikan sumbangan efektif sebesar 27% ; (3) kompetensi pedagodik guru lebih banyak didominasi oleh jawaban cukup sering dengan frekuensi 22 siswa atau 33,3%, mempunyai taraf signifikansi sebesar 0,020 sehingga kompetensi profesional guru mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel motivasi belajar siswa dan memberikan sumbangan efektif sebesar 9,4%; (4) kompetensi sosial guru lebih banyak didominasi oleh jawaban sering dengan frekuensi 21 siswa atau 31,8% mempunyai taraf signifikansi sebesar 0,662 sehingga kompetensi profesional guru mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap variabel motivasi belajar siswa dan memberikan sumbangan efektif sebesar 6,3%; (5) Dari semua variabel tersebut mengahsilkan nilan F hitung sebesar 13,025 dengan taraf signifikan sebesar 0,000 sehingga dapat disimpulkan variabel kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, kompetensi pedagodik, kompetensi sosial mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa, dan variabel yang paling mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah variabel kepribadian guru dengan nilai sebesar 27%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara profesionalisme guru terhadap motivasi belajar siswa. Disarankan bagi guru (1) hendaknya semua guru ekonomi berusaha untuk terus meningkatkan kompetensi profesional dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengikuti seminar maupun segala macam pelatihan yang dapat mengembangkan kompetensinya dan memperluas ilmu yang dapat mengembangkan kompetensinya dan memperluas ilmu dibidang yang digelutinya; (2) Guru selaku pendidik diharapkan untuk selalu memberi semangat dalam rangka mendukung motivasi belajar siswa dengan menciptakan kondisi belajar mengajar yang menyenangkan

Pengembangan prototipe software ensiklopedia fisika sekolah menengah pertama pokok bahasan mekanika dengan menggunakan microsoft visual basic 6.0 / Abdul Malik S.R.

 

Fisika sering menjadi pelajaran yang menakutkan bagi para siswa. Istilah-istilah baru bagi siswa, definisi yang membingungkan siswa, serta penjelasan konsep abstrak yang terkadang sulit dipahami oleh siswa menjadikan beberapa kendala dalam belajar fisika sehingga semangat siswa dalam belajar fisika menjadi turun. Software ensiklopedia fisika dapat dijadikan salah satu media belajar dan referensi dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan software ensiklopedia fisika yang dapat digunakan dalam referensi dan media pembelajaran fisika di SMP. Software ini dapat digunakan oleh para guru dalam menyampaikan materi serta dapat juga digunakan langsung oleh siswa sebagai media belajar dan referensi fisika. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Model pengembangan software ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) tahap identifikasi kebutuhan materi dan media; (2) tahap perancangan prototipe yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan editing; (3) tahap produksi prototipe software; (4) tahap validasi kelompok kecil yang terdiri dari tiga subjek validasi yaitu ahli media, ahli materi, dan pengguna; (5) tahap revisi; dan (6) tahap pengemasan akhir. Uji validasi yang digunakan adalah uji kelompok kecil dengan tiga subjek validasi yang terdiri dari tiga orang ahli materi, empat orang ahli media, dan 30 pengguna. Instrumen validasi yang digunakan berupa angket tertutup berbentuk chek list. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan teknik deskriptif persentase dengan cara mengubah data kuantitatif menjadi bentuk persentase kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk data kualitatif. Hasil pengembangan software ensiklopedia fisika SMP ini, pengguna menyatakan valid pada media ini. Ahli media menyatakan valid dengan kisaran nilai persentase antara 81%-100% pada kelima kriteria penilaian. Kelima kriteria tersebut adalah (1) Kesesuaian pengembangan software dengan definisi ensiklopedia; (2) Kesesuaian gambar yang ditampilkan dengan naskah atau pesan teks; (3) Ketepatan Jenis dan ukuran huruf; (4) Kemenarikan pemilihan layout; (5) Kesesuaian pemilihan warna. Ahli materi menyatakan valid dengan kisaran nilai persentase antara 83%-100% pada kelima item penilaian. Kelima item penilaian tersebut diantaranya (1) ketepatan konsep; (2) Kesesuaian kedalaman materi dengan tingkat berfikir siswa SMP; (3) Kesesuaian penggunaan bahasa dengan tingkat berfikir siswa SMP; (4) Kesesuaian materi dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan; (5) Kesesuaian pengembangan materi dengan definisi ensiklopedia.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi mengajar guru dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat akuntansi kelas XI di SMK Kepanjen Malang / Rindan Irani

 

Penerapan pembelajaran inquiry training model untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kinerja ilmiah sains fisika pada siswa kelas VIII SMPN 4 Malang / Sri Purwati Ari Respati

 

Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap baru pada saat individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan (Depdiknas, 2005). Pembelajaran terjadi di sepanjang waktu. Belajar bisa sambil tamasya, nonton TV, berbicara dengan orang lain, atau sekedar mengamati apa yang terjadi di lingkungan. Guru harus menitikberatkan kepedulian terhadap pembelajaran yang terjadi sebagai hasil upaya pengajaran, oleh karena itu perancangan dan penyusunan pengajaran perlu banyak pertimbangan, tidak hanya apa yang akan dipelajari siswa, tetapi juga model pembelajaran yang akan diterapkan pada siswa. Model pembelajaran merupakan sebuah rencana atau pola yang mengorganisasi pembelajaran dalam kelas dan menunjukkan cara penggunaan materi pembelajaran, misalnya melalui buku, video, computer, dan bahan-bahan praktikum (Koes, 2003). Model pembelajaran sesungguhnya adalah model-model belajar, yaitu untuk membantu siswa menggali informasi, ide-ide, keterampilan, milai-nilai, cara berpikir, dan cara-cara mengekspresikan diri mereka sendiri. Model pembelajaran dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Siswa akan berubah begitu perannya dalam strategi belajar meningkat, dan akan dapat menyelesaikan lebih banyak jenis belajar secara lebih efektif. Sebuah model pembelajaran adalah sebuah pola yang dapat digunakan untuk merancang pembelajaran tatap muka di dalam kelas atau latar tutorial dan untuk merangkai materi pembelajaran, termasuk buku-buku, film-film, pita rekaman, program-program computer, dan kurikulum. Ada banyak model pembelajaran, fisika diantaranya model pelatihan Inkuiri. Inquiry training model merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk belajar berangkat dari fakta menuju ke teori. Model pembelajaran ini memiliki langkah-langkah sebagai berikut: (1) tahap 1, konfrontasi dengan masalah yang dalam hal ini menjelaskan prosedur inkuiri, menyajikan kejadian ganjil; (2) tahap 2, pengumpulan data-verifikasi, yaitu menguji hakekat objek dan kondisi, memverifikasi kejadian dari situasi masalah; (3) tahap tiga, pengumpulan data eksperimentasi, yaitu dengan mengisolasi variabel-variabel yang relevan, berhipotesis (dan mengujinya) hubungan kausalitas; (4) tahap empat, mengorganisasi dan merumuskan pekerjaan, yaitu merumuskan aturan dan penjelasan, dan (5) tahap kelima, menganalisis proses inkuiri, yaitu dengan menganalisis strategi inkuiri dan mengembangkan yang lebih efektif (Tobing, 1981). Berdasar pengalaman, pemahaman terhadap konsep-konsep mata pelajaran Fisika untuk SMP masih kurang, terbukti dengan tes-tes yang berhubungan kemampuan koqnitif diperoleh hasil yang kurang memuaskan, yaitu nilai tes masih kurang dari standar kompetensi minimal yang harus dicapai. Tes yang berupa ulangan harian yang merupakan tes yang diadakan setiap bahasan materi selesai diajarkan,hasilnya mengecewakan ini terlihat dari 43% siswa yang mencapai nilai di atas standar kompetensi minimal.Kurangnya pemahaman konsep ini juga terlihat dari tugas- tugas yang untuk mengerjakannya boleh melihat buku maupun catatan .Meskipun hasil nilainya lebih tinggi dari ulangan harian tetapi kurang stabil, hal ini terlihat dari prosentase siswa yang nilainya mencapai SKM atau diatas SKM yaitu, 85% dan 65%. Disamping pemahaman konsep yang masih kurang, guru dalam pengajarannya masih banyak yang menggunakan metode ceramah. Padahal pembelajaran yang diharapkan untuk tingkat SMP adalah sebuah pembelajaran yang pengetahuannya dapat dibangun jika siswa mengenal dan dapat berinteraksi langsung dengan bendanya. Oleh karena itu kinerja ilmiah siswa dalam pembelajaran harus diperhatikan, karena dalam kinerja ilmiah mencakup: penyelidikan/penelitian, berkomunikasi ilmiah, pengembangan kreativitas dan pemecahan masalah serta sikap dan nilai ilmiah ( Diknas Kur 2004). Sehingga dalam penelitian ini diajukan judul “Penerapan Pembelajaran Inquiry Training Model untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kinerja Ilmiah Sains (Fisika) pada Kelas VIII SMPN 4 Malang Tahun Pelajaran 2007/2008.”

Media pembelajaran lingkaran berbantuan komputer untuk kelas VIII sekolah menengah pertama / M. Nasir Rosulli

 

Penerapan problem based learning untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMP Sriwedari Malang pada pokok bahasan pencemaran lingkungan / Noviana Fatmawati Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Noviana Fatmawati. 2008. Penerapan Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII SMP Sriwedari Malang Pada Pokok Bahasan Pencemaran Lingkungan”. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Susetjoadi Setjo, M.Pd, (II) Drs. H. Fathurrachman, M.Si Kata kunci: Problem Based Learning, motivasi belajar, hasil belajar. Pembelajaran Biologi bukan sekedar usaha untuk mencari dan mengumpulkan pengetahuan tentang makhluk hidup, melainkan juga usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap, keterampilan berfikir serta meningkatkan keterampilan untuk menjalankan metode penyelidikan ilmiah dalam bidang Biologi. Upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi perlu diciptakan suatu kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisipasi secara aktif sehingga dapat memahami materi secara bermakna. Pendekatan belajar berbasis masalah adalah salah satu cara pendekatan dalam belajar yang dapat digunakan dalam belajar Biologi. Cara penerapan pendekatan belajar berbasis masalah, siswa diharapkan dapat mempunyai sikap dan keterampilan untuk memecahkan masalah, selain juga akan terwujud keterampilan intelektual, sosial maupun fisik yang akan berguna nanti dalam kehidupan nyata. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas tersebut bertujuan untuk (1) meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII B SMP Sriwedari Malang pada mata pelajaran Biologi melalui penerapan Problem Based Learning, dan (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII B SMP Sriwedari Malang pada mata pelajaran Biologi melalui penerapan Problem Based Learning. Penelitian tindakan kelas tersebut terdiri atas dua siklus. Tahapan setiap siklus dalam penelitian ini terdiri atas perencanaan, perlakuan dan pengamatan, dan refleksi pembelajaran yang berlangsung. Penelitian tersebut dilaksanakan di SMP Sriwedari Malang pada bulan April 2008 hingga Juni 2008, dengan subyek penelitian adalah siswa kelas VII B. Data motivasi belajar siswa dikumpulkan dengan lembar observasi, hasil belajar siswa aspek kognitif diperoleh dari tes akhir, hasil belajar aspek afektif diperoleh dari lembar observasi aspek afektif dan hasil belajar keterampilan proses ilmiah siswa diperoleh dari lembar observasi keterampilan proses. Motivasi belajar siswa kelas VII B SMP secara umum pada saat sebelum diberi tindakan mencapai kurang dari 50%. Motivasi belajar siswa kelas VII B SMP secara klasikal pada siklus 1 mencapai 49,67% dengan kategori cukup (C), pada siklus 2 mencapai 67,76% dengan kategori baik (B). Motivasi belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 18,09%. Hasil belajar siswa dari aspek kognitif mencapai persentase jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebesar 78,95% dengan kategori baik dan pada siklus 2 sebesar 94,74% dengan kategori sangat baik, mengalami kenaikan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 15,79%. Hasil belajar siswa aspek kognitif sudah memenuhi standar ketuntasan belajar secara keseluruhan (=85%). Hasil belajar aspek afektif mencapai persentase ketuntasan belajar pada siklus 1 sebesar 64,10% dengan i kategori baik dan pada siklus 2 sebesar 68,20% dengan kategori baik, pada siklus 2 belum terjadi peningkatan menjadi sangat baik, kenaikan persentase dari sikus 1 ke siklus 2 hanya sebesar 4,1%, dan pada siklus 1 dan siklus 2 hasil belajar siswa dari aspek afektif belum memenuhi standar ketuntasan belajar secara keseluruhan (=85%). Hasil belajar keterampilan proses ilmiah siswa secara keseluruhan mencapai taraf keberhasilan sangat baik, dimana pada siklus 1 mencapai taraf keberhasilan 80,12% dan pada siklus 2 mencapai 90,35%, mengalami peningkatan sebesar 10,23%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan keterampilan proses ilmiah. Saran yang dapat diberikan peneliti adalah guru Biologi di SMP Sriwedari Malang disarankan untuk mencoba menerapkan Problem Based Learning dan dalam menerapkannya guru perlu mengatur waktu, dan mempersiapkan rencana kegiatan dengan tepat sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efisien sehingga tuntutan kurikulum dapat tercapai.

Studi pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) di SD Negeri Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep / Khairul Anam M.Z.

 

ABSTRAK Anam, Khairul, MZ. 2008. Studi Pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) SD Negeri Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Supriyadi, M.Kes (II) Drs. Agus Gatot S, M.Kes. Kata kunci: pelaksanaan, UKS Kesehatan merupakan merupakan salah satu hal penting yang paling mendasar dalam kebutuhan setiap manusia, karena sehat merupakan modal yang paling utama untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif, dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Salah satu upaya pemerintah adalah memasukkan pendidikan kesehatan di sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat lanjutan dengan membentuk kebiasaan hidup sehat para siswa melalui unit usaha kesehatan sekolah (UKS). UKS merupakan salah satu wahana yang dapat digunakan siswa/warga sekolah untuk mengembangkan dan menggali pengetahuan tentang pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Atas dasar pemikiran tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan usaha kesehatan sekolah di tiap-tiap SD Negeri serta pelaksanaan usaha kesehatan SD Negeri secara keseluruhan di Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif karena penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan pelaksanaan usaha kesehatan sekolah di SD Negeri Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah Pembina usaha kesehatan sekolah (UKS) di seluruh SD Negeri Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep yang berjumlah 7 orang. Dalam penelitian ini data dikumpulkan menggunakan metode angket. Teknik angket dipilih karena dipandang efisien dan praktis. Untuk menganalisa data hasil angket digunakan teknik persentase. Dari hasil penelitian pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) di SD Negeri Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) SD Negeri seluruh Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep dalam sub variabel pendidikan kesehatan terlaksana 92,9% yang berarti baik, dalam sub variabel pelayanan kesehatan terlaksana 58,7% yang berarti cukup baik, dalam sub variabel pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat terlaksana 76,2% yang berarti baik, dan pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) SD Negeri seluruh Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep ditinjau dari variabel keseluruhan terlaksana 73,5% yang berarti baik. Dengan diketahuinya hasil penelitian ini maka peneliti menyarankan kepada SD Negeri di Kabupaten Sumenep khususnya di Kecamatan Batuan yang dijadikan sampel penelitian diharapkan meningkatkan pelayanan kesehatan dalam rangka UKS terhadap siswa seperti pengadaan kantin sekolah, tempat penampungan air, alat untuk memeriksa dan mengambil sampel air, pengadaan ruang kelas, mencantumkan lampiran surat keterangan sehat dari dokter untuk penerimaan siswa baru, dan melakukan koordinasi kerja bakti sosial dengan masyarakat sekitar agar kebersiahan di sekitar sekolah tetap terjaga. Sedangkan untuk pihak terkait lainnya seperti puskesmas setempat, diharapkan meningkatkan kerja sama dan kinerjanya dengan sekolah-sekolah terutama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap sekolah-sekolah yang ada di kawasan kerjanya terutama yang menyangkut dengan UKS. Sebab fungsi puskesmas betul-betul diharapkan oleh semua pihak agar dapat memberikan dan meningkatkan pelayanannya dalam hal kesehatan. Sedangkan untuk dinas kesehatan, dinas pendidikan dan kebudayaan, diharapkan dapat membantu pelaksanaan program UKS yang dilaksanakan di sekolah-sekolah khususnya yang ada di Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep baik secara materil maupun ide-ide untuk meningkatkan pelaksanaan UKS di tiap-tiap sekolah.

Identifikasi status sosial ekonomi dan motivasi belajar siswa kelas II SMK Negeri I Blitar dan SMK PGRI I Blitar dan hubungannya dengan prestasi belajar bidang produktif / Syaiful Arief

 

ABSTRAK Arief, Syaiful. 2008. Identifikasi Status Sosial Ekonomi dan Motivasi Belajar Kelas II Siswa SMK Negeri I Blitar dan SMK PGRI I Blitar dan Hubungannya dengan Prestasi Belajar Bidang Produktif. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, ST. M.Pd (II) Dra. Widiyanti, M.Pd Kata Kunci: status sosial ekonomi, motivasi belajar, prestasi belajar, siswa SMK Dalam hal belajar, banyak sekali faktor yang menjadi motivasi bagi anak agar mereka memperoleh prestasi yang bagus. Salah satunya adalah status sosial ekonomi orang tua. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan (1) status sosial ekonomi siswa SMK Negeri I Blitar dan siswa SMK PGRI I Blitar, (2) motivasi belajar siswa SMK Negeri I Blitar dan siswa SMK PGRI I Blitar, (3) prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar dan siswa SMK PGRI I Blitar, (4) mengetahui ada tidaknya hubungan antara status sosial ekonomi dengan prestasi belajar bidang produktif siswa, (5) mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa, (6) mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara status sosial ekonomi dan motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa. Hasil analisis regresi ganda: Dalam kaidah pengambilan keputusan dinyatakan jika probabilitasnya (P) lebih kecil atau sama dengan 0,05 (α ≤ 0,05) maka hipotesis nihil (H0) ditolak dan jika probabilitasnya (P) lebih besar 0,05 (α > 0,05) maka H0 gagal ditolak. Diperoleh rhitung sebesar 0,750 dengan koefisien probabilitasnya (P) 0,000. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,750, sedangkan rtabel sebesar 0,355 dengan demikian maka ada hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar. Diperoleh rhitung sebesar 0,484 dengan koefisien probabilitasnya 0,003. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,484, sedangkan rtabel sebesar 0,355 dengan demikian maka ada hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK PGRI I Blitar. Diperoleh rhitung sebesar 0,328 dengan koefisien probabilitasnya 0,005. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,328, sedangkan rtabel sebesar 0,250 dengan demikian maka ada hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar dan siswa SMK PGRI I Blitar secara bersama-sama. Diperoleh rhitung sebesar 0,449 dengan koefisien probabilitasnya 0,006. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,449 sedangkan rtabel sebesar 0,355 dengan demikian maka ada hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar. Diperoleh rhitung sebesar 0,650 dengan koefisien probabilitasnya 0,000. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,650, sedangkan rtabel sebesar 0,355 dengan demikian maka ada hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK PGRI I Blitar. Diperoleh rhitung sebesar 0,844 dengan koefisien probabilitasnya 0,000. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,844, sedangkan rtabel sebesar 0,250 dengan demikian maka ada hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar dan siswa SMK PGRI I Blitar secara bersama-sama. Diperoleh rhitung sebesar 0,751 dengan koefisien probabilitasnya 0,000. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,751, sedangkan rtabel sebesar 0,355 dengan demikian maka ada hubungan antara status sosial ekonomi dan motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar. Diperoleh rhitung sebesar 0,670 dengan koefisien probabilitasnya 0,000. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,670, sedangkan rtabel sebesar 0,355 dengan demikian maka ada hubungan antara status sosial ekonomi dan motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK PGRI I Blitar. Diperoleh rhitung sebesar 0,883 dengan koefisien probabilitasnya 0,000. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 0,883, sedangkan rtabel sebesar 0,250 dengan demikian maka ada hubungan antara status sosial ekonomi dan motivasi belajar dengan prestasi belajar bidang produktif siswa SMK Negeri I Blitar dan siswa SMK PGRI I Blitar secara bersama-sama.

Analisis perbedaan prestasi dan motivasi belajar antara pembelajaran quantum teaching dengan pembelajaran konvensional pada mata diklat siklus akuntansi siswa Jurusan Akuntansi di SMK Islam Batu / Santi Apriliani Alifa Tanggamasari

 

Usaha pembaharuan sistem pembelajaran ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap unsur dalam pembelajaran harus dilaksanakan secara beriringan. Untuk itu dalam proses pembelajaran perlu adanya interaksi antara guru dengan siswa yang lebih bersifat mempengaruhi agar siswa tersebut mau belajar. Untuk dapat mempengaruhi motivasi siswa, salah satunya adalah dengan menggunakan metode yang menarik bagi siswa sehingga siswa menjadi termotivasi dan akhirnya akan meningkatkan prestasi belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara obyektif tentang apakah terdapat perbedaan prestasi dan motivasi yang signifikan antara pembelajaran quantum teaching dengan pembelajaran konvensional di SMK Islam Batu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Sampel penelitian adalah siswa kelas 1 AK1 dan 1 AK2 SMK Islam Batu tahun ajaran 2007/2008 yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah soal tes yang berupa pilihan ganda dan angket/ kuesioner tertutup, yang diuji dengan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah T-Test Independent Samples dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata prestasi belajar kelas eksperimen sebesar 73,55 lebih tinggi daripada rata rata prestasi belajar kelas kontrol sebesar 51,59. Selain itu hasil uji t independent samples menunjukkan harga t sebesar 7,279 dengan tingkat signifikansi 0,000. Dimana nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan prestasi yang signifikan antara pembelajaran quantum teaching dengan pembelajaran konvensional. Selain itu, berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan uji t diketahui bahwa rata-rata motivasi belajar kelas eksperimen sebesar 46 lebih tinggi daripada rata rata motivasi belajar kelas kontrol sebesar 40. Selain itu hasil uji t independent samples menunjukkan harga t sebesar 6,469 dengan tingkat signifikansi 0,000. Dimana nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan motivasi yang signifikan antara pembelajaran quantum teaching dengan pembelajaran konvensional.. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi dan motivasi yang signifikan antara pembelajaran quantum teaching dengan pembelajaran konvensional.

Profil perkembangan motorik halus anak usia dini (Studi beberapa PAUD di Kecamatan Karangploso Malang) / Dian Hawit Hawindati

 

Anak adalah calon generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya yang utama bagi kelangsungan pembangunan nasional. Usia dini merupakan usia dimana perkembangan fisik, motorik, intelektual, emosional, bahasa dan sosial berlangsung dengan sangat cepat. Keterampilan motorik halus merupakan salah satu kemampuan yang penting bagi anak karena diperlukan anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah dan berperan serta dalam kegiatan bermain dengan teman sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan motorik halus anak usia dini di Kecamatan Karangploso yang meliputi kemampuan motorik halus dalam permainan membentuk, koordinasi mata dan tangan, kegiatan pra menulis serta kegiatan mengurus diri sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasinya adalah seluruh anak usia 4-6 tahun yang mengikuti pendidikan di lembaga PAUD di Kecamatan Karangploso berjumlah 239 anak. Sedangkan sampel yang digunakan adalah anak usia 4-6 tahun dari tiga PAUD di Kecamatan Karangploso yang dipilih secara purposive random yaitu PAUD Amanah, PAUD Bina Umat dan PAUD Al-Ma’uunah sebanyak 60 anak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak usia dini secara umum di Kecamatan Karangploso sudah sangat baik. Kemampuan motorik halus dengan persentase tertinggi adalah permainan membentuk dalam kategori sangat baik, kemampuan motorik halus pra menulis dalam kategori sangat baik, kemampuan motorik halus koordinasi mata dan tangan dalam kategori sangat baik dan kemampuan motorik halus mengurus diri sendiri dalam kategori baik. Dalam kemampuan motorik mengurus diri sendiri anak-anak perlu mendapatkan latihan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik. Anak-anak banyak yang masih kesulitan karena mereka pada umumnya masih bergantung pada orang tua dan orang-orang di sekelilingnya sehingga anak-anak belum bisa menjadi anak yang mandiri. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar: (1) peneliti lanjutan melengkapi kekurangan yang ada untuk mengembangkan ilmu tentang Pendidikan Anak Usia Dini khususnya tentang perkembangan motorik halus; (2) orang tua dan pendidik meningkatkan perannya dalam mendidik anak usia dini; (3) lembaga Pendidikan Anak Usia Dini meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga menghasilkan anak-anak yang kreatif, aktif, inovatif dan imajinatif di masa yang akan datang; (4) Diknas Karangploso lebih memperhatikan Pendidikan Anak Usia Dini secara menyeluruh dan memberikan fasilitas yang memadai untuk lembaga Pendidikan Anak Usia Dini; (5) jurusan PLS menambah referensi kepustakaan mengenai Pendidikan Anak Usia Dini khususnya tentang perkembangan motorik halus Anak Usia Dini.

Pengembangan bahan ajar persamaan garis lurus dengan pendekatan realistik untuk siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Ismariyana

 

ABSTRAK Ismariyana. 2008. Pengembangan Bahan Ajar Persamaan Garis Lurus dengan Pendekatan Realistik untuk Siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP). Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rini Nurhakiki, M.Pd., (II) Indriati Nurul Hidayah, S.Pd, M.Si. Kata kunci: Bahan ajar, persamaan garis lurus, pendekatan realistik. Bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Bahan ajar ini hendaknya tidak hanya memberikan materi seacara instan, tetapi mampu menggiring siswa kepada kemampuan untuk mengerti konsep yang dipelajari sehingga belajar siswa lebih bermakna. Suryanto (2000:110) menyatakan bahwa agar pembelajaran bermakna bagi siswa, maka pembelajaran seyogyanya dimulai dari masalah-masalah yang realistik, kemudian siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah itu dengan caranya sendiri dengan skema yang dimiliki dalam pikirannya. Kenyataan di atas mendorong penulis untuk melakukan penelitian pengembangan bahan ajar berupa buku siswa dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada materi pokok persamaan garis lurus untuk siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan pendekatan realistik. Karakteristik bahan ajar hasil pengembangan antara lain: didominasi oleh masalah-masalah kontekstual, menekankan pada pematematikaan horisontal dan vertikal, menekankan pada penalaran dan pemahaman dalam pemecahan masalah, memuat intertwining, memuat pertanyaan-pertanyaan konstruksi, dan memuat permasalahan-permasalahan yang open-ended dan problem solving. Adapun langkah-langkah yang dilalui dalam pengembangan bahan ajar ini adalah tahap analisis situasi awal, tahap pengembangan rancangan bahan ajar, tahap penulisan bahan ajar, tahap penilaian bahan ajar, dan tahap revisi. Dari data angket yang diberikan kepada subjek ahli yakni 2 dosen pendidikan matematika UM dan 3 guru bidang studi matematika SMP Negeri 1 Pohjentrek, dapat diketahui bahwa bahan ajar yang dihasilkan tergolong valid dengan prosentase 77,86% untuk buku siswa dan 82,5% untuk rencana pelaksanaan pembelajaran. Meskipun secara keseluruhan bahan ajar dikatakan valid, namun untuk perbaikan bahan ajar produk pengembangan, pengembang tetap melakukan revisi. Revisi ini terdiri dari dua jenis yaitu revisi bahan ajar berdasarkan saran dan komentar dari subjek uji ahli dan revisi bahan ajar yang didasarkan pada saran dan komentar dari penguji utama. Dengan tahap akhir revisi ini maka penelitian telah mengembangkan bahan ajar Persamaan Garis Lurus dengan pendekatan realistik untuk siswa kelas VIII SMP.

Sintesis, penentuan struktur, dan kajian spektroskopi senyawa kompleks dari garam mangan(II) dan ligan 8-hidroksikuinolina / Zainal Arifin

 

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses dan kemampuan kognitif siswa kelas XI-IPA1 SMA Negeri 12 Malang / Nurus Sofa

 

ABSTRAK Sofa, Nurus. 2008. Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Inkuiri untuk Meningkatkan keterampilan Proses dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas XI-IPA1 SMA Negeri 12 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Pudyo Susanto, M.Pd (II) Dra. Hj. Nursasi Handayani, M.Si Kata Kunci: Inkuiri, Keterampilan Proses, Kemampuan Kognitif Hasil observasi awal tanggal 25 Februari 2008 dan 1 Maret 2008 di SMAN 12 Malang diperoleh informasi bahwa metode pengajaran yang diberikan kepada siswa berupa diskusi presentasi dan ceramah. Hal itu tidak sesuai dengan pembelajaran IPA yang seharusnya siswa mampu membentuk pengetahuan atau konsep sendiri berdasarkan prinsip dan kerja ilmiah. Salah satu cara yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memberikan pendekatan inkuiri kepada siswa. Dimana siswa akan membentuk sendiri pengetahuannya melalui kegiatan praktikum atau percobaan. Penerapan inkuiri ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan proses dan kemampuan kognitif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 4 kegiatan belajar. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas X1-IPA1 semester genap tahun ajaran 2008/2009 SMA Negeri 12 Malang yang siswanya berjumlah 37. Data keterampilan proses diperoleh dari lembar observasi pada siklus 1 dan 2 yang dianalisis untuk mengetahui persentase peningkatannya. Data kemampuan kognitif siswa diperoleh dari hasil post test siklus 1 dan siklus 2 yang dianalisis untuk mengetahui peningkatan nilai rata-rata kelas. Data aktivitas guru diperoleh dari hasil observasi kegiatan guru dan catatan lapangan yang dianalisis untuk mengetahui persentase ketercapaian pendekatan inkuiri pada pada siklus 1dan 2 serta kefektifan percobaan-percobaan dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menjelaskan materi sistem indera yaitu pengamatan model mata dan telinga, percobaan terbentuknya bayangan, percobaan daya akomodasi lensa, percobaan terbentuknya bayangan dengan 2 lensa, percobaan “Mendengar Bunyi”, percobaan “Kelereng dalam Toples”, percobaan “Air dalam Toples” kurang efektif , karena terdapat beberapa kendala yaitu kurangnya penguasaan konsep fisika, kurangnya pengetahuan guru tentang aplikasi dari beberapa konsep biologi sendiri, adanya percobaan yang belum bisa menjelaskan suatu mekanisme secara utuh, adanya kemungkinan percobaan lain yang belum diketahui oleh guru. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pelaksanaan inkuiri berjalan dengan baik sesuai dengan tahap-tahap yang diungkapkan oleh Sumarmi (2000:28-29), persentase ketercapaian siklus 1 86% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 91%, namun tahap data prosessing dalam inkuiri tidak bisa berjalan dengan baik maka berakibat pada buruknya kemampuan kognitif siswa dan i kemampuan aplikasi siswa (salah satu tahap dalam keterampilan proses). Kekurangan pada tahap data prosessing diakibatkan karena adanya kendala dalam melaksanakan percobaan-percobaan. Secara umum keterampilan proses siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2, Pada siklus 1 persentase ketercapaian masing- masing komponen tersebut adalah observasi 92%, menafsrikan pengamatan 84%, membuat hipotesis 56%, merencanakan percobaan 75%, berkomunikasi 82%, mengajukan pertanyaan 64%, dan aplikasi 51%. Sedangkan pada siklus 2 persentase komponen-komponen tersebut mengalami peningkatan yaitu observasi 97%, menafsrikan pengamatan 90%, membuat hipotesis 77%, merencanakan percobaan 88%, berkomunikasi 87%, mengajukan pertanyaan 78%, dan aplikasi 63%. Hal yang sama juga terjadi pada hasil kemampuan kognitif siswa, mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. Kemampuan kognitif yang diukur melalui post test mengalami peningkatan, dimana pada siklus 1 rata-rata nilai siswa adalah 57 dan meningkat pada siklus 2 sebesar 69. Keterlaksanaan percobaan-percobaan yang kurang maksimal dan kurangnya kemampuan guru dalam membantu siswa menafsirkan data pada tahap data prosessing menyebabkan pengetahuan siswa mengenai suatu konsep menjadi tidak jelas sehingga berakibat pada kemampuan siswa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, hal itu tampak dari data keterampilan proses yang menunjukkan kemampuan aplikasi siswa paling rendah dibanding komponen- komponen yang lain yaitu 50% pada siklus 1 dan 63% pada siklus 2. Kurangnya pemahaman siswa mengenai suatu konsep dan rendahnya kemampuan aplikasi siswa menyebabkan rendah pula kemampuan kognitif siswa tentang materi tersebut, hal itu tampak dari hasil post test yang digunakan untuk mengukur tingkat kognitif siswa, dimana pada siklus 1 rata-rata kelas mencapai 57 dan siklus 2 mencapai 69. Rata-rata tersebut menunjukkan kemampuan siswa masih dalam tingkat kognitif ingatan dan pemahaman. ii

Nilai jual (Selling Point) Lembaga PAUD sebagai daya tarik bagi orangtua dalam menyekolahkan anak (Studi kasus pada PAUD Zamzam Malang) / Luluk Khoirul Ummati

 

ABSTRAK Ummati, Luluk Khoirul. 2008. Nilai Jual (Selling Point) Lembaga PAUD sebagai Daya Tarik bagi Orangtua dalam Menyekolahkan Anak (Studi Kasus pada PAUD Zamzam Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Supriyono, M. Pd, (II) Dra. Dwi Maziyah P, M.Pd. Kata kunci: nilai jual (selling point), pendidikan anak usia dini Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 1 menjelaskan bahwa standar pendidikan meliputi standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. PAUD Zamzam merupakan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang beralamat di Jln. Cakalang 209a Polowijen Kelurahan Blimbing Kota Malang dan berdiri pada tahun pelajaran 2006/2007. PAUD Zamzam pada tahun pertama memiliki jumlah anak didik 58 dan pada tahun 2007/2008 jumlah anak didiknya 104. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen yang memiliki nilai jual (selling point) sebagai daya tarik orangtua anak didik dalam memilih PAUD Zamzam Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel proporsi dan sampel acak (proportional random sampling) sebesar 50%, sehingga jumlah sampelnya adalah 50 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komponen yang memiliki nilai jual (selling point) adalah komponen biaya dengan prosentase 84%, komponen pendidik/guru dengan prosentase 79,3%, komponen masyarakat sekitar dengan prosentase 77,8%, komponen anak didik dengan prosentase 77%, komponen sarana prasarana dengan prosentase 74,2%, dan komponen kurikulum dengan prosentase 73,4%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada praktisi Pendidikan Luar untuk mempertimbangkan hasil temuan ini bahwa komponen biaya yang dapat dijangkau semua kalangan masyarakat sangat penting dalam suatu lembaga untuk memberikan kesempatan belajar bagi kelas ekonomi bawah. Selain itu, yang harus diperhatikan adalah komponen-komponen lain seperti komponen kurikulum dalam mendukung proses pembelajaran, komponen kompetensi anak didik, kompoen sarana prasarana dan komponen masyarakat sekitar. Dan kepada pengelola PAUD, dalam aspek pembiayaan pendidikan lebih diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi bawah dan apabila ada keringan, pengelola memberi penjelasan. Sehingga masyarakat ekonomi bawah mampu menjangkau biaya pendidikan dengan didukung pendidik/guru yang berkompetensi, masyarakat sekitar lebih mendukung keberadaan PAUD, lulusan yang berkompeten, kurikulum dan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran.

Pengaruh lama pendinginan dan pemberian ekstrak biji mentimun (Cucumis sativus) terhadap pertumbuhan tunas lateral tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium) / Karinda Ernaning Tyas

 

Pengaruh minat memilih program keahlian dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar (studi pada siswa kelas II Program Keahlian Penjualan di SMK Ardjuna 1 Malang) / Thathit Galih Bahana

 

Minat merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan prestasi belajar, dimana minat merupakan salah satu hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih Program Keahlian di SMK. Besarnya minat seseorang terhadap suatu hal dapat digunakan sebagai pemacu keberhasilan belajar, demikian juga dengan minat untuk menentukan Program Keahlian yang akan dipilih akan mendorong siswa untuk meraih prestasi belajar yang tinggi di program keahlian tersebut. Dalam dunia pendidikan motivasi sangat diperlukan agar siswa dapat belajar secara optimal, motivasi merupakan faktor psikologis yang berfungsi menimbulkan, mendasari, dan mengarahkan perbuatan belajar. motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku, tetapi juga mengarahkan dan memperkuat tingkah laku. Siswa yang termotivasi dalam belajar, akan menunjukkan minat, kegairahan dan ketekunan yang tinggi dalam belajar tanpa banyak bergantung pada guru. Minat bisa timbul karena adanya motivasi, demikian juga dengan motivasi bisa timbul karena adanya minat untuk mendalami suatu Program Keahlian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Tingkat minat siswa memilih program keahlian; (2) Tingkat motivasi belajar; (3) Tingkat prestasi belajar; serta (4) Mengetahui pengaruh minat memilih program keahlian dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa Program Keahlian Penjualan di SMK Ardjuna 1 Malang baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini penelitian adalah deskriptif korelasional. Penelitian ini juga disebut penelitian populasi karena sampel diambil dari keseluruhan populasi siswa kelas II Program Keahlian Penjualan yang berjumlah 30 siswa di SMK Ardjuna 1 Malang Tahun Pelajaran 2007/2008. Hasil analisis menunjukkan: (1) Tingkat minat memilih program keahlian tergolong tinggi (63,33%) artinya siswa Program Keahlian Penjualan di SMK Ardjuna 1 Malang mempunyai minat yang tinggi terhadap program keahlian yang dipilihnya; (2) Tingkat motivasi belajar siswa tergolong tinggi (70%) artinyasiswa Program Keahlian Penjualan di SMK Ardjuna 1 Malang mempunyai motivasi belajar yang baik; (3) Tingkat prestasi belajar siswa tergolong tinggi (86,67%) artinya rata-rata siswa Program Keahlian Penjualan di SMK Ardjuna 1 Malang mempunyai prestasi belajar yang baik; (4) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 1 diketahui nilai signifikansi t sebesar 0,000 dan nilai ß= 0,344 sedangkan thitung(7,607)>ttabel(1,700) pada taraf kepercayaan 95% (alpha 0,050), berarti terdapat pengaruh positif yang signifikan minat memilih program keahlian terhadap prestasi belajar. Pengujian hipotesis 2 diketahui nilai signifikansi t sebesar 0,000 dan nilai ß = 0,787 sedangkan thitung(17,429)>ttabel(1,700) pada taraf kepercayaan 95% (alpha 0,050), berarti terdapat pengaruh yang positif signifikan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Sedangkan pada pengujian hipotesis 3 dari hasil uji regresi linear berganda diketahui Adjusted R Square sebesar 0,950 sehingga diperoleh Fhitung(278,086)>Ftabel(3,320) dengan taraf signifikansi 0,000 yang berada di bawah 0,050, berarti terdapat pengaruh yang positif signifikan antara minat memilih program keahlian dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian adalah: (1) Mengadakan kegiatan akademis yang dapat menimbulkan minat siswa pada bidang kepenjualan, khususnya kewirausahaan seperti bazar kewirausahaan yang diadakan tiap semester, studi banding dan seminar atau talk show. (2) Optimalisasi pembelajaran yang berpusat pada siswa, berorientasi pada praktek, dan mendatangkan nara sumber dengan mengadakan acara seminar juga dengan pendekatan learning by doing agar siswa tidak hanya menerima teori, melainkan dapat melakukan aktivitas pekerjaan dalam situasi yang sebenarnya. (3) Adanya peran aktif dari lembaga terkait, terutama pihak sekolah, pengawas, pemerintah dalam mendorong dan memotivasi dan menfasilitasi guru dalam mendidik dan melatih siswa untuk berwiraswasta melalui pembekalan kompetensi yang sesuai dengan kriteria unjuk kerja. (4) Meningkatkan fungsi dan jumlah fasilitas sarana dan prasarana laboratorium serta melengkapinya, dan mengadakan perbaikan atau penggantian terhadap alat-alat praktek yang rusak dan sudah tidak layak pakai, sehingga siswa benar-benar bisa mengoperasikan mesin-mesin penunjang mata diklat yang diajarkan di sekolah (5) Setiap siswa hendaknya mampu untuk membangkitkan motivasi dalam dirinya sendiri, melalui peran seorang guru didalam proses belajar mengajar.

Pengembangan instrumen evaluasi bentuk tes untuk mengukur keterampilan proses sains malalui praktikum elektronika dasar I di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Hamimmatu Nadhipah

 

ABSTRAK Praktikum Elektronika Dasar I merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Jurusan Fisika. Tujuan matakuliah ini adalah agar mahasiswa memiliki keterampilan laboratorium di bidang elektronika dasar. Keterampilan laboratorium tersebut tercermin dalam keterampilan proses sains. Keterampilan tersebut belum bisa terukur karena tidak ada instrumen evaluasi untuk mengukur keterampilan proses sains. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan instrumen evaluasi bentuk tes untuk mengukur keterampilan proses sains melalui Praktikum Elektronika Dasar I di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini juga bertujuan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan instrumen evaluasi keterampilan proses sains Praktikum Elektronika Dasar I. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan (Research And Development, R & D). Penelitian ini meliputi dua tahap, yaitu: (1) Studi pendahuluan, meliputi studi kepustakaan dan analisis kondisi lapangan, dan (2) Pengembangan, meliputi kegiatan menyusun draf instrumen evaluasi keterampilan proses sains, expert judgement, ujicoba terbatas dan produk terevisi. Hasil penelitian ini berupa instrumen evaluasi bentuk tes essay untuk mengukur keterampilan proses sains melalui Praktikum Elektronika Dasar I di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Instrumen evaluasi ini terdiri dari 17 soal. Aspek-aspek keterampilan proses sains yang dikembangkan adalah keterampilan mengkomunikasikan, menginterpretasi, memprediksi, merencanakan percobaan, menerapkan prinsip / konsep, dan mengklasifikasikan. Berdasarkan analisis data, diketahui bahwa 7 soal memiliki rerata 3,32-3,55 yang memenuhi kriteria baik sehingga tidak perlu direvisi, sedangkan 10 soal memiliki rerata 2,73-3,13 yang memenuhi kriteria cukup baik sehingga perlu revisi. Hasil dari uji coba pertama menunjukkan bahwa ada 6 soal yang memiliki skor rerata di bawah 80% dan pada ujicoba kedua ada 2 soal yang memiliki skor rerata di bawah 80% sehingga harus dilakukan kegiatan revisi lagi. Kelebihan instrumen ini adalah merupakan produk terevisi yang sudah teruji validitas isinya dan waktu pelaksanaan evaluasi tidak harus pada saat kegiatan praktikum berlangsung. Kelemahan instrumen ini adalah tidak bisa digunakan untuk mengukur aspek keterampilan proses sains yang menggunakan panca indera. Kata kunci : instrumen evaluasi, keterampilan proses sains, praktikum elektronika dasar I

Studi tentang substansi rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas VII di SMP Negeri se-Kota Malang / Fandi Achmad Saputra

 

ABSTRAK Saputra, Fandi Achmad. 2008. Studi Tentang Substansi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas VII di SMP Negeri se-Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mu’arifin, M. Pd, (II) Dr. Slamet Raharjo, M. Or. Kata kunci: substansi, rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari proses pendidikan secara keseluruhan yang menggunakan aktivitas jasmani/fisik untuk mengembangkan aspek psikomotor, kognitif, dan afektif, sebagai media atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang direncanakan secara sistematis. Agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal dalam pendidikan jasmani banyak aspek-aspek yang yang mendukung dan terlibat melalui pendidikan jasmani, salah satu aspek yang paling penting adalah proses pembelajaran pendidikan jasmani. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani sangat perlu diperhatikan substansi rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan agar proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana substansi rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SMP Negeri se-Kota Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan instrumen dokumentasi. Adapun subyek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas VII di SMP Negeri se-Kota Malang yang berjumlah 24 guru. Analisis hasil penelitian yang digunakan untuk menyimpulkan data adalah menggunakan statistika deskriptif kuantitatif dengan persentase. Berdasarkan penelitian tentang substansi rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SMP Negeri se-Kota Malang yang meliputi beberapa komponen, yaitu identifikasi mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian dapat disimpulkan bahwa substansi rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani secara keseluruhan dikategorikan baik yaitu sebesar 76,77% dari 24 guru pendidikan jasmani.

Upaya peningkatan hands-on activity siswa melalui pembelajaran inquiry training model pada mata pelajaran fisika di kelas VIII SMPN 4 Malang tahun ajaran 2007/2008 / Rohim Aminullah Firdaus

 

ABSTRAK Firdaus, Rohim Aminullah. 2008. Upaya Peningkatan Hands-on activity Siswa Melalui Pembelajaran Inquiry Trainning Model pada Mata Pelajaran Fisika di Kelas VIII D SMPN 4 Malang Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Fisika. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Agus Suyudi, M.Pd., (2) Dr. Lia Yuliati, M.Pd Kata kunci: inquiry trainning model, hands-on activity Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di Kelas VIII D SMPN 4 Malang Tahun Ajaran 2007/2008 menunjukan bahwa kondisi di kelas tersebut belum menunjukkan adanya proses peningkatan keterampilan bertindak (hands-on activity) siswa. Keterampilan bertindak siswa masih kurang dalam hal melakukan percobaan dan menyimpulkan sebuah gejala yang siswa eksperimenkan di kelas, rata–rata nilai kinerja siswa adalah 64,5 yang masih di bawah standrat SKM yaitu sebesar 72. Kegiatan pembelajaran masih sering menggunakan metode ceramah, diskusi dan hanya beberapa bagian materi tertentu dalam kegiatan di salah satu pembelajaran yang melakukan eksperimen. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan keterampilan bertindak siswa kelas VIII D SMPN 4 Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menerapkan pembelajaran fisika melalui latihan inkuiri. Aspek keterampilan bertindak yaitu kemampuan bertanya, menyusun hipotesis, aktivitas eksperimen dan penyajian data hasil eksperimen. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang merupakan kajian sistematis dalam upaya peningkatan pembelajaran oleh guru di kelas. Pembelajaran yang digunakan adalah Inquiry Trainning Model .Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan jumlah 46 siswa. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah suhu dan pemuaian. Instrumen penelitian berupa rubrik penilaian keterampilan bertindak, rekaman data, dan catatan lapangan yang dirancang oleh peneliti dengan mengacu pada kualitas/kriteria tindakan yang dilakukan siswa. Instrumen pembelajaran yang digunakan meliputi LKS dan RPP berdasarkan kurikulum 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan Inquiry Trainning Model dapat meningkatkan hands-on activity siswa. Dalam hal ini dapat dilihat pada peningkatan aktivitas bertanya baik secara lisan maupun tertulis dari 4,65% dan 0,00% pada siklus I meningkat menjadi 6,67% dan 8,89% pada siklus II dalam hal tingkat sifat logis dalam bertanya. Aktivitas lain hands-on yang dapat dilihat yaitu kemampuan siswa dalam merumuskan hipotesis secara jelas, keterampilan kegiatan eksperimen secara benar dan tepat, dan ketepatan dalam menyajikan data. Peningkatan persentase aktivitas lain tersebut dalam hal hipotesis dari 2,33% menjadi 60,00%, kegiatan eksperimen dari 11,63% menjadi 20,00%, dan keterampilan dalam menyajikan data meningkat dari 11,11% menjadi 15,56% yang masing-masing pada siklus I dan II. Mengenai keterlaksanaan pelaksanaan pembelajaran Inquiry Trainning Model, dapat dikatakan bahwa dalam setiap siklusnya terjadi peningkatan yaitu dari skor 60,57 % meningkat menjadi 71,15%.

Interaksi proses berpikir siswa dalam mengkonstruksi konsep himpunan / Fitria Habsah

 

ABSTRAK Diharja, Septa. 2008. Kajian Pelaksanaan Pekerjaan Plat Lantai Pada Proyek Pembangunan Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tahap 1 Universitas Negeri Malang. Proyek Akhir, Program Studi Diploma Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci: plat lantai, pelaksanaan. Untuk menumbuhkan bakat dan kretifitas mahasiswa dalam bidang non akademis pihak Universitas Negeri Malang menyediakan fasilitas bagi mahasiswa berupa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Terdapat berbagai macam fasilitas kegiatan non akademis yang disediakan Universitas Negeri Malang dalam Unit Kegiatan Mahasiswa antara lain DIVCOM, UABV, UASB, HIMAFO, MPA Jonggring, HAMPA, Perisai Diri, PSHT, INKAI, Merpati Putih, Tapak Suci, Nur Harias, PJSI, Tae Kwon Do, LPBD,OPUS, KMHD, PSM, STK, IMAKRIS, IKK, BLERO, dan MPM. Pada akhir tahun 2006 fasilitas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terkena musibah berupa kebakaran yang disebabkan oleh arus pendek yang berasal dari salah satu ruang dari gedung tersebut. Musibah kebakaran ini mengakibatkan fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Dari permasalahan yang timbul pihak Universitas Negeri Malang membuat kebijakan untuk membangun ulang gedung tersebut menjadi bangunan 2 lantai. Suatu bangunan bertingkat tidak lepas dengan adanya plat lantai dalam strukturnya. Dalam penulisan Proyek Akhir tentang Kajian Pelaksanaan Pekerjaan Plat Lantai Pada Proyek Pembangunan Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tahap 1 Universitas Negeri Malang, penulis mengkaji biaya pekerjaan plat lantai menurut analisa upah dan bahan/analisis BOW (Burgerlijke Openbare Werken) dan biaya pekerjaan plat lantai menurut analisis Standar Nasional Indonesia (SNI 03-2835-2002) setelah penulis mengkaji ulang harga penawaran kontraktor dalam pembangunan gedung tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan jenis penelitian deskriptif komparatif tentang pelaksanaan dan analisis biaya pekerjaan plat lantai pada proyek pembangunan gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tahap 1 Universitas Negeri Malang. Terdapat beberapa perbedaan pelaksanaan pekerjaan plat lantai gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tahap 1 dengan kajian teoritis yang penulis dapatkan dan perbedaan analisis biaya plat lantai yang penulis lakukan dengan metode analisis BOW dan Standar Nasional Indonesia (SNI 03-2835-2002). Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan pekerjaan plat lantai dalam suatu bangunan bertingkat dan perencanaan anggaran biaya konstruksi plat lantai sehingga didapatkan suatu bangunan yang kokoh dengan biaya seefisien mungkin.

Hubungan pelaksanaan supervisi, iklim organisasi, dan insentif pegawai dengan motivasi kerja staf akademik Politeknik Kesehatan Malang / Ngesti W. Utami

 

Abstrak Motivasi merupakan proses keterkaitan antara usaha dan pemuasan kebutuhan tertentu, yang juga merupakan kesediaan untuk mengerahkan usaha tingkat tinggi untuk mencapai tujuan organisasi. Motivasi bersumber dari dalam diri seseorang yang disebut sebagai motivasi intrinsic dan bersumber dari lingkungan yang disebut motivasi ekstrinsik. Jika seseorang termotivasi maka akan dapat menjalankan tugas yang dibebankan dengan baik, bahkan tanpa harus diawasi dan atau diperintah oleh atasannya. Sedangkan motivasi bekerja merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses bekerja yang akan mempengaruhi tinggi rendahnya hasil pekerjaan staf akademik. Yang dimaksud staf akademik dalam penelitian ini adalah dosen di Politeknik Kesehatan Malang. Motivasi kerja dapat dipengaruhi oleh tiga variabel yaitu, pelaksanaan supervisi, iklim organisasi, dan insentif pegawai. Ketiga hal tersebut telah dilaksanakan di lembaga Politeknik Kesehatan Malang, namun belum diyakini dapat mempengaruhi motivasi kerja staf akademik di lingkungan Politeknik Kesehatan Malang. Untuk dapat mengungkapkan keadaan tersebut, dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan: 1) Bagaimanakah deskriptif pelaksa-naan supervisi, iklim organisasi, insentif pegawai dan motivasi kerja staf akademik di Politeknik Kesehatan Malang? 2) Apakah terdapat hubungan antara, pelaksanaan supervisi, iklim organisasi dan insentif pegawai dengan motivasi kerja staf akademik di Politeknik Kesehatan Malang?. Selanjutnya ditentukan tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan tentang hubungan pelaksanaan supervisi, iklim organisasi, dan insentif pegawai dengan motivasi kerja staf akademik Politeknik Kesehatan Malang.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kwantitatif dengan rancangan penelitian survey jenis deskriptif korelasional untuk menggambarkan fenomena yang ada dan mengetahui hubungan variabel pelaksanaan supervisi (X1), iklim organisasi (X2), dan insentif pegawai (X3) dengan variabel motivasi kerja (Y) staf akademik di Politeknik Kesehatan Malang. Ditentukan sejumlah 84 dosen tetap yang dijadikan sampel penelitian. Jumlah tersebut merupakan 50% dari populasi dosen tetap sejumlah 168, yang tersebar di jurusan Keperawatan, jurusan Kebidanan dan jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Malang. Pengolahan data dengan menggunakan teknik korelasi untuk mengetahui koefisien korelasi dan signifikansi secara statistik. Hasil penelitian analisis deskripsi menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi, dalam kategori efektif sebanyak 42.9% dan kategori sangat efektif sebesar 15.5%, untuk iklim organisasi pada kategori kondusif sebesar 56,0%, dan sangat kondusif 10.7%, pada variabel insentif pegawai dalam kategori tinggi sebesar 56,0%, dan sangat tinggi 17.9% sedangkan untuk variabel motivasi kerja staf akademik Politeknik Kesehatan Malang pada kategori tinggi yaitu sebesar 52,4%, dan sangat tinggi 19.0%. Selanjutnya dari hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa: variabel pelaksanaan supervisi (X1) berhubungan secara signifikan dengan variabel motivasi kerja (Y) dengan p=0.000, variabel iklim organisasi (X2) berhubungan secara signifikan dengan variabel motivasi kerja (Y) dengan p=0.000, variabel insentif pegawai (X3) berhubungan secara signifikan dengan variabel motivasi kerja (Y) dengan p=0.000,. Artinya peningkatan variabel-variabel supervisi, iklim organisasi, dan insentif pegawai yang lebih baik, maka akan meningkatkan motivasi kerja pegawai staf akademik Politeknik Kesehatan Malang, karena koefisien korelasi bernilai positif. Bertitik tolak dari kenyataan hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa, pelaksanaan supervisi, iklim organisasi, dan insentif pegawai mempengaruhi motivasi kerja pegawai staf akademik Politeknik Kesehatan Malang. Namun begitu, beberapa hal masih dirasakan oleh responden terjadi di Poltekkes Depkes Malang yaitu, adanya pelaksanaan supervisi yang belum bisa dilakukan secara merata terhadap seluruh dosen, hubungan sosial dan kondisi fasilitas fisik yang belum bisa sepenuhnya memadai, serta penerimaan insentif pegawai yang dirasakan belum bisa proporsional dan tepat waktu. Dengan demikian perlu kiranya mengatasi hal tersebut dan juga untuk lebih meningkatkan presentase serta kualitas pelaksanaannya, maka dapat disarankan: 1) meningkatkan kegiatan pelaksanaan supervisi dan melaksanakan seluruh tehnik supervisi secara lebih merata terhadap seluruh dosen, 2) meningkatkan dimensi hubungan sosial dalam iklim organisasi dan menambah fasilitas fisik sebagai sarana membina hubungan social, 3) memberikan insentif secara proporsional dan tepat waktu, karena ketiga langkah tersebut akan semakin meningkatkan motivasi kerja seluruh staf akademik di Politeknik Kesehatan Malang.

Sintesis dan karakterisasi sabun aluminium dari minyak jatropha curcas linn (Jarak pagar) melalui reaksi trans-saponifikasi dengan aluminium klorida / Nurul Fatmawati

 

ABSTRAK Fatmawati, Nurul. 2008. Sintesis dan Karakterisasi Sabun Aluminium dari Minyak Jatropha curcas Linn (Jarak Pagar) Melalui Reaksi Trans-saponifikasi dengan Aluminium Klorida. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno, M. Si, (II) Drs. H. Parlan, M. Si. Kata kunci: sabun aluminium, minyak jarak pagar, aluminium klorida. Masyarakat mengenal sabun sebagai agen pembersih, baik yang berfungsi sebagai sabun cuci maupun sabun mandi. Sabun cuci merupakan garam natrium dan sabun mandi merupakan garam kalium dari asam karboksilat suku tinggi. Berdasarkan pengertian sabun sebagai suatu garam maka natrium dan atau kalium dapat diganti dengan logam lain, salah satunya adalah aluminium. Pada skala industri sabun dibuat dari minyak sawit yang jumlahnya cukup melimpah. Selain minyak sawit, minyak lain yang juga dapat digunakan sebagai sumber asam lemak adalah minyak jarak pagar. Minyak jarak pagar diperoleh dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang pembudidayaannya cukup mudah. Minyak jarak pagar tidak termasuk minyak pangan sehingga pemanfaatannya tidak akan mengganggu stok minyak pangan nasional. Namun, selama ini pemanfaatan minyak jarak pagar masih sangat terbatas. Oleh karena itu, diperlukan penelitian diversifikasi pemanfaatan minyak jarak pagar yang dapat meningkatkan nilai gunanya. Keberhasilan sintesis sabun aluminium dari minyak sawit olahan dan uji potensinya sebagai aditif pelumas mendorong peneliti untuk mensintesis sabun aluminium dari minyak jarak pagar dan aluminium klorida. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Tahap-tahap sintesis sabun aluminium adalah sebagai berikut: (1) sintesis sabun natrium melalui reaksi saponifikasi minyak jarak pagar dengan natrium hidroksida, (2) sintesis sabun aluminium melalui reaksi trans-saponifikasi sabun natrium dengan aluminium klorida, (3) pemurnian senyawa hasil sintesis dengan cara pencucian menggunakan aquades, (4) karakterisasi senyawa hasil sintesis yang meliputi: uji kelarutan, penentuan titik lebur, analisis kualitatif ion aluminium dan klorida secara kimiawi, penentuan bilangan iod, dan analisis kuantitatif logam aluminium dan natrium dengan Spektrofotometer Serapan Atom (Atomic Absorption Spectrophotometer), (5) identifikasi gugus fungsi senyawa hasil sintesis dengan Spektrofotometer Inframerah (Infrared Spectrophotometer). Data yang digunakan untuk mengetahui karakter senyawa hasil sintesis didasarkan pada data-data yang diperoleh dari tahap-tahap penelitian tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sabun aluminium dapat disintesis melalui reaksi saponifikasi minyak jarak pagar dengan natrium hidroksida yang dilanjutkan dengan reaksi trans-saponifikasi sabun natrium yang diperoleh dengan aluminium klorida. Sabun aluminium yang dihasilkan berupa serbuk putih dengan rentang titik lebur 205-221oC, larut dalam kloroform, tidak larut dalam air dingin maupun panas, etanol, aseton, larut sebagian dalam dietileter dan n-heksana. Saran untuk penelitian lebih lanjut adalah meneliti potensi sabun aluminium hasil sintesis sebagai aditif minyak pelumas maupun sebagai aditif dalam minyak jarak pagar dalam upaya pengembangan pelumas berbasis minyak nabati.

Upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa SMA Negeri 12 Malang kelas XI IA2 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) dalam pokok bahasan sistem indera pada manusia / Aria Styaningsih

 

Berdasarkan observasi dan hasil wawancara dengan guru bidang studi Biologi di SMA Negeri 12 Malang, diperoleh informasi bahwa motivasi dan hasil belajar sebagian besar siswa dalam mata pelajaran Biologi tergolong masih rendah. Proses pembelajaran Biologi di SMA Negeri 12 Malang sebenarnya sudah cukup baik, hanya saja aplikasi pembelajaran yang mengarahkan pada kemandirian siswa masih belum dapat dikembangkan sebagaimana yang diharapkan oleh KTSP. Ketergantungan siswa terhadap guru dalam proses pembelajaran masih sangat tinggi. Hal itu karena kelas masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab, atau membahas Lembar Kerja Siswa (LKS) sehingga siswa tidak terlalu aktif dalam pembelajaran dan kurang menimbulkan motivasi dalam diri siswa untuk belajar Biologi. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IA2 SMA Negeri 12 Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dalam penelitian ini dilakukan dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2008 sampai dengan tanggal 17 Mei 2008. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa diperoleh melalui observasi selama penelitian, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 64,81% yang termasuk dalam kategori cukup, sedangkan pada siklus II motivasi belajar siswa meningkat menjadi 80,32% yang termasuk dalam kategori baik. Motivasi belajar siswa mengalami persentase peningkatan sebesar 23,93%. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pada siklus I skor rata-rata kelas sebesar 77,81 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 68,42%, sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat menjadi 82,57 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 86,48%. Skor rata-rata kelas mengalami persentase peningkatan sebesar 6,11%, sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal mengalami persentase peningkatan sebesar 26,39%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IA2 SMA Negeri 12 Malang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa guru dapat menggunakan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together pada pokok bahasan yang lain (selain sistem indera) serta pada jenjang pendidikan yang lain untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa. Guru dapat menciptakan suatu variasi pembelajaran seperti menggabungkan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together atau pembelajaran kooperatif yang lain dengan kegiatan praktikum untuk menghindari perasaan bosan pada siswa. Guru diharapkan lebih giat memantau jalannya diskusi kelompok agar siswa tidak berbicara di luar materi pelajaran dan bercanda dengan temannya sehingga fokus perhatian siswa tertuju pada kegiatan pembelajaran.

Model pembelajaran tematik berbasis multiple intelligence di kelas 1 SD Muhammadiyah 9 "Panglima Sudirman" Kecamatan Klojen Kota Malang / Sumiatun

 

ABSTRAK Sumiatun , 2006 . Model Pembelajaran Tematik berbasis multiple Intelligence di kelas I SD Muhammadiyah 9 Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan FIP .Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Purwendarti , M.Pd,(II) Drs. Tumardi , S.Pd. Kata Kunci; Pembelajaran Tematik , Multiple Intelligence, kelas I SD Tugas Guru meliputi perencana, pelaksana dan pengevaluasi dalam proses pembelajaran. Kinerja guru mempengeruhi hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa dipengaruhi juga oleh kompetensi dari masing-masing siswa. Teori Multiple Intelligence menawarkan berbagai cara belajar yang berorientasi pada kompetensi dominan yang dimiliki siswa. Sebagai perencana guru dituntut untuk memaksimalkan kemampuan membuat perencanaan sehingga hasil belajar dapat maksimal. Berdasarkan observasi awal, peneliti menghadapi kenyataan bahwa masih ada guru yang belum mampu membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan program sekolah dan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Hal tersebut juga terjadi pada guru di SD Muhammadiyah 9 “Panglima Sudirman” Malang. Khususnya guru kelas rendah ( I ) dengan sistem pembelajaran Tematik. Oleh karena itu penerapan model pembelajaran tematik berbasis multiple intelligence diharapkan dapat memberikan wacana bagi guru untuk membuat model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara maksimal . Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh guru dalam rancangan program pembelajaran, mendiskripsikan penampakan kreatifitas kecerdasan ganda yang dimiliki siswa, dampak pengiring dari proses pembelajaran dan hambatan-hambatan yang dihadapi pada penerapan model pembelajaran Tematik berbasis Multiple Intelligence di kelas I SD Muhammadiyah 9 “Panglima Sudirman” Kecamatan Klojen, Kota Malang, yang dilaksanakan tanggal 3 Maret 2006 sampai 12 Mei 2006. Rancangan Penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindak kelas, yang terdiri dari 2 siklus. Pada tiap siklus terdapat 4 tahapan yaitu :1) Perancangan (planning), 2) Pelaksanaan (acting), 3) Pengamatan (Observing), dan 4) Refleksi (Reflecting). Analisa data dilakukan melalui esensi tindak guru dan ketuntasan belajar siswa. Langkah-langkah esensi tindakan guru dalam model pembelajaran Tematik adalah; 1) Merencanakan pembelajaran sesuai cara Multiple Intelligence, 2) Merencanakan dampak pengiring (kerjasama, kemandirian, tanggung jawab atau ketekunan ), 3) Melakukan proses pembelajaran sesuai cara Multiple Intelligence, 4) Memberi tugas sesuai kompetensi, 5) Melakukan layanan individu, 6)Memanfaatkan lingkungan sebagai media belajar, 7) Memberi ulasan pada hasil siswa,8) Melakukan penilaian dengan berbagai cara. Hasil penelitian melalui observasi dan tes menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran tematik berbasis multiple intelligence lebih memudahkan guru dalam memilih cara mengajar yang sesuai dengan karakter atau kompetensi yang dimiliki siswa dan adanya penampakan kecerdasan lain siswa yang semula tidak nampak menjadi tampak. Hal tersebut terbukti dari forto folio yang dihasilkan siswa , dan hasil tes yang di ujikan dalam pencapaian indikator hasil belajar siswa menunjukkan bahwa terdapat penampakan kecerdasan spasial (gambar yang dihasilkan pada forto folio), antar personal, linguistik maupun musikal.

Pembelajaran kimia dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi pada materi laju reaksi untuk siswa-siswa kelas XI IPA / Putri Eka Yulianthima

 

ABSTRAK Yulianthima, Putri E. 2008. Pembelajaran Kimia dengan Strategi Diagram Vee-Peta Konsep Berbantuan Media Animasi pada Materi Laju Reaksi untuk Siswa-siswa Kelas XI IPA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D., (2) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: diagram vee, peta konsep, media animasi, laju reaksi, proses pembelajaran, hasil belajar, retensi. Sejak diterapkannya rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), ada banyak sekali strategi pembelajaran yang diciptakan. Agar dapat dilakukan pembelajaran yang bermakna untuk siswa, maka harus dipilih strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Strategi yang pernah diteliti untuk materi laju reaksi yang isinya terdiri atas kajian teori dan praktikum adalah strategi diagram vee-peta konsep. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa penggunaan strategi diagram vee-peta konsep pada pembelajaran materi laju reaksi memberikan dampak positif pada proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Dalam pembelajaran dengan diagram vee-peta konsep siswa harus berinteraksi dengan konsep-konsep yang bersifat abstrak dan teoritis. Menghadapi objek abstrak tersebut maka strategi diagram vee-peta konsep bisa dibantu dengan penggunaan media animasi. Strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi termasuk strategi pembelajaran yang bersifat konstruktivistik. Ciri-ciri pembelajaran konstruktivistik antara lain dapat membantu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara seimbang. Selain itu ciri pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajarannya berpusat pada siswa (student-centered learning) yang membuat pembelajaran menjadi bermakna untuk siswa. Keuntungan belajar bermakna antara lain adalah informasi yang dipelajari lebih lama diingat (retensi lebih kuat). Berdasarkan alasan tersebut dilaksanakanlah penelitian dengan tujuan untuk mengetahui: (1) proses pembelajaran dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi pada materi laju Reaksi, (2) hasil belajar siswa pada pembelajaran materi laju reaksi dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi ditinjau dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor, (3) retensi siswa setelah pembelajaran materi laju reaksi dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa-siswa kelas XI IPA SMAN 10 Malang yang terdiri atas tiga kelas. Sampel penelitian ini berupa cluster sample yang diambil secara tidak acak, dan yang terpilih adalah kelas XI IPA 2. Proses pembelajaran laju reaksi dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi dibahas sesuai dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan peneliti di kelas XI IPA 2 SMAN 10 Malang, sedangkan hasil belajar (aspek kognitif, afektif, dan psikomotor) dan retensi siswa dibahas sesuai data yang diambil dengan instrumen tes, lembar observasi dan tugas-tugas. Pada proses pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas XI IPA 2 SMAN 10 Malang, bisa disimpulkan bahwa pembelajaran laju reaksi bisa berjalan baik dengan menggunakan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi. Hasil analisis terhadap data-data yang telah dikumpulkan selama pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran materi laju reaksi dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi memberikan dampak positif pada proses dan hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase jumlah siswa yang mendapatkan kriteria sangat baik untuk nilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotor disetiap pertemuan. Hal ini juga didukung oleh persentase ketercapaian setiap unsur penilaian pada lembar observasi aspek afektif dan psikomotor yang sebagian besar berkisar antara 63%-100%, artinya ketercapian setiap unsur penilaian pada semua lembar observasi termasuk dalam kriteria baik dan sangat baik. Data untuk retensi siswa sebelum dibahas secara deskriptif, terlebih dahulu diuji dengan uji statistik. Ujinya dimulai dengan uji normalitas yang menunjukkan bahwa data untuk retensi tidak terdistribusi normal, karena itu analisis dilanjutkan dengan uji hipotesis yang dilakukan dengan Wilcoxon Match Pairs Test. Wilcoxon Match Pairs Test menunjukkan bahwa nilai tes akhir lebih kecil dari nilai tes akhir kedua yang artinya bahwa retensi siswa setelah pembelajaran materi laju reaksi dengan strategi diagram vee-peta konsep berbantuan media animasi tercapai dengan baik.

Perbedaan kebiasaan belajar siswa Program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMA Negeri 8 Malang / Rina Mariana

 

ABSTRAK Mariana, Rina. 2008. Perbedaan Kebiasaan Belajar Siswa Program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H.Sutoyo Imam Utoyo, M.Pd(II) Drs. Djoko Budi Santoso. Kata kunci: kebiasaan belajar, siswa program IPA, siswa program IPS. Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam proses pendidikan di sekolah. Persoalan belajar merupakan persoalan setiap siswa. Tiap-tiap siswa memiliki kebiasaan belajar yang berbeda-beda, disesuaikan dengan selera dan kondisi masing-masing individu. Kebiasaan belajar adalah cara-cara melakukan kegiatan belajar yang telah biasa dilakukan. Kebiasaan belajar bukanlah bakat alamiah atau bawaan sejak lahir, tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri karena berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam praktek pengajaran sistem klasikal yang ada di sekolah, siswa kadang dihadapkan dengan situasi yang sedikit kurang menguntungkan bagi mereka. Pada saat pelajaran berlangsung, semua siswa mendapat perlakuan yang sama dari guru. Para siswa menerima bobot materi yang sama dan metode pengajaran yang tertentu pula, yang tidak semua siswa di kelas dapat memahaminya dan cocok baginya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran perlu sekali para guru memperhatikan kebiasaan para siswa dalam belajar. Terlebih lagi bila siswa tersebut sudah memasuki program IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), program IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan program Bahasa. Kebiasaan belajar yang baik tentunya akan menunjang keberhasilan prestasi belajar yang baik pula, sehingga kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam belajar perlu mendapatkan perhatian karena merupakan suatu pembentukan sikap dalam bertindak. Cara belajar yang tepat akan memberikan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana kebiasaan belajar siswa program IPA di SMAN 8 Malang, (2) bagaimana kebiasaan belajar siswa program IPS di SMAN 8 Malang, dan (3) apakah ada perbedaan yang signifikan kebiasaan belajar antara siswa program IPA dan program IPS di SMAN 8 Malang. Rancangan penelitian adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian siswa kelas XI program IPA dan siswa program IPS di SMAN 8 Malang yang berjumlah 290 siswa, sedangkan sampel yang diambil sejumlah 141 siswa, terdiri dari 75 siswa program IPA dan 65 siswa program IPS. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel ini adalah Cluster Random Sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, persentase dan uji-t dengan menggunakan bantuan SPSS 12 for windows. Hasil penelitian (1) kebiasaan belajar siswa program IPA di SMAN 8 Malang menunjukkan bahwa kebiasaan belajar yang tergolong baik sekali sebanyak 9,2%, baik sebanyak 26,3%, cukup baik sebanyak 55,3% dan kurang sebanyak 9,2%, (2) kebiasaan belajar siswa program IPS di SMAN 8 Malang menunjukkan bahwa kebiasaan belajar yang tergolong baik sekali tidak ada (0,00%), baik sebanyak 24,6%, cukup baik sebanyak 50,8%, dan kurang sebanyak 24,6%, dengan nilai = 2,886 > = 1,980, taraf signifikansi 0,05; (3) dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kebiasaan belajar yang signifikan antara siswa program IPA dan siswa program IPS di SMAN 8 Malang. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diberikan sebagai berikut: (1) bagi kepala sekolah, diharapkan memperhatikan dan mendorong kebiasaan belajar siswa yang baik, menciptakan suasana belajar yang kondusif untuk kelancaran kegiatan belajar mengajar, (2) bagi konselor, konselor perlu memberikan layanan bimbingan belajar pada siswa untuk membentuk kebiasaan belajar yang positif. Selain itu konselor hendaknya perlu memberikan perhatian lebih kepada siswa program IPS, mengingat siswa pada program tersebut kebiasaan belajarnya belum optimal, dengan memberikan layanan informasi dan layanan konseling individu maupun layanan konseling kelompok (3) bagi guru, diharapkan dapat dijadikan masukan bagi guru dalam meningkatkan mutu pengajaran di kelas dan dapat menentukan langkah selanjutnya pada saat melaksanakan pembelajaran kepada siswa terutama siswa program IPS dan dapat mendorong siswa untuk terus belajar lebih baik lagi, (4) bagi orangtua, orangtua perlu memberikan bimbingan dan menerapkan kebiasaan belajar yang baik kepada putra-putrinya, misalnya orangtua menemani siswa bnelajar, membuatkan jadwal belajar dirumah, (5) bagi peneliti selanjutnya (verifikasi penelitian), bisa menggunakan metode penelitian kualitatif mencari perbedaan antara siswa yang memiliki kebiasaan belajar yang baik dan tidak baik, juga meneliti variable lain diluar variable kebiasaan belajar siswa program IPA dan program IPS dengan menambahkan instrumen yang digunakan, seperti pedoman wawancara atau observasi, dokumentasi dan mengembangkan peopulasi atau daerah penelitian. Diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih akurat, beragam dan bervariasi sebagai pembanding dan tambahan informasi dalam penelitian ilmiah selanjutnya.

Penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menyimak dan berbicara kelas VIII SMP Negeri 1 Malang / Andi Widad Zein

 

Pelaksanaan pendidikan nasional bangsa Indonesia selama enam puluh tahun ini masih mengalami berbagai masalah. Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan nasional. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional melalui Depdiknas. Salah satu usaha yang dilakukan oleh pemerintah adalah penyempurnaan kurikulum. Penyempurnaan kurikulum yang tidak disertai dengan praktik pembelajaran yang sesuai, mengakibatkan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal. Pemerintah telah mengambil kebijaksanaan untuk memperbaiki mutu pembelajaran dengan sosialisasi pendekatan kontekstual dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah. Dengan penerapan pendekatan kontekstual dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah, diharapkan membuat pembelajaran lebih berarti dan bermakna bagi siswa. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek pembelajaran yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara merupakan aspek yang paling banyak digunakan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menyimak dan berbicara perlu dilakukan agar siswa/peserta didik mampu membuat hubungan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata sehari-hari siswa/peserta didik. Rumusan masalah dalam penelitian ini memfokuskan tentang bagaimana penerapan pendekatan kontekstual dalam perencanaan pembelajaran (pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan kesesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan pembelajaran. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menyimak dan berbicara di SMP Negeri 1 Malang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Selain untuk mengetahui penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menyimak dan berbicara, penelitian ini juga megkaji kesesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan pembelajaran menyimak dan berbicara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Tujuan penelitian deskriptif ini adalah melukiskan variabel/kondisi “apa yang ada” dalam suatu situasi. Penelitian ini merupakan studi kasus karena dilakukan secara intensif dan terinci terhadap suatu organisasi atau lembaga Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran menerapkan aspek constructivism dan inquiry (menyimak dan mengamati berita), learning community (diskusi kelompok), modeling (meghadirkan model dalam pembelajaran), authentic assessment (penilaian proses pembelajaran). Aspek questioning dan reflection tidak dilaksanakan secara optimal oleh guru. Evaluasi pembelajaran menerapkan pendekatan kontekstual dengan melakukan authentic assessment dalam setiap pembelajaran. Dalam penerapan pembelajaran sudah terdapat kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kesesuaian ini ditandai dengan pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada rencana yang telah dibuat dan dikembangkan oleh guru. Dari penelitian ini saran yang disampaikan peneliti adalah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menyimak dan berbicara terus dikembangkan lebih baik dan variatif agar pembelajaran terasa menyenangkan dan lebih bermakna bagi siswa.

Keterlaksanaan pembelajaran IPA-kimia oleh guru-guru IPA SMP Negeri kelas VII se-kabupaten Sidoarjo berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) / Isrin Khoiriyah

 

Kurikulum yang diterapkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam KTSP, terdapat materi kimia yang tergabung dalam bidang studi IPA. Dimasukkannya materi kimia dalam kurikulum SMP membuat banyak sekolah merasa tidak siap karena belum mempunyai guru kimia. Keadaan itu memaksa guru fisika dan biologi mengajarkan materi kimia kepada para siswa. yang membuat guru fisika dan guru biologi tersebut mengalami kesulitan, karena sebelumnya tidak mempelajari dan mendalami materi tersebut. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa guru yang mengajarkan materi kimia di beberapa SMP Negeri di Kabupaten Sidoarjo adalah guru fisika, biologi, bahkan matematika. Selain itu terdapat beberapa guru yang mengalami kesulitan dari segi pengembangan silabus dan penyusunan RPP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran IPA-Kimia SMP Negeri kelas VII se-Kabupaten Sidoarjo Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ditinjau dari (1) perencanaan pelaksanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi. Penelitian ini dirancang dengan rancangan deskripif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh guru IPA yang mengajarkan materi kimia yang tersebar pada 44 SMP Negeri yang terdapat di Sidoarjo. Sampel pada penelitian ini adalah guru IPA yang mengajarkan materi kimia pada 10 SMP Negeri di Kabupaten Sidoarjo. Kesepuluh SMP Negeri tersebut adalah hasil dari teknik sampling random sederhana yang didasarkan atas status sekolah yaitu Sekolah Standar Nasional yang kemudian diambil 20%, sehingga didapatkan kesepuluh SMP Negeri tersebut. Masing-masing SMP Negeri mempunyai guru yang mengajarkan materi kimia sebanyak 1 atau 2. Data yang diperoleh dari angket selanjutnya diberi bobot pada tiap-tiap item jawaban dengan mengacu pada kriteria penyekoran angket. Pemberian skor berkisar antara 1 sampai dengan 4. Selanjutnya dilakukan klasifikasi dengan menggunakan rumus. Skor tiap item yang diperoleh diakumulasikan menjadi skor tiap deskriptor, indikator, dan tiap sub variabel, dan hasilnya disesuaikan dengan hasil klasifikasi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa (1) perencanaan pembelajaran IPA-Kimia yang dilakukan oleh guru-guru IPA SMP Negeri kelas VII se-Kabupaten Sidoarjo berdasarkan KTSP adalah baik dengan persentase 76%, (2) pelaksanaan pembelajaran IPA-Kimia yang dilakukan oleh guru-guru IPA SMP Negeri kelas VII se-Kabupaten Sidoarjo berdasarkan KTSP adalah cukup baik dengan persentase 62%, (3) evaluasi pembelajaran IPA-Kimia yang dilakukan oleh guru-guru IPA SMP Negeri kelas VII se-Kabupaten Sidoarjo adalah baik dengan persentase 75%.

Penerapan metode pembelajaran role playing untuk meningkatkan keaktifan, keantusiasan, dan prestasi belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas III SD Banjarsari Pacitan / Wahyu Indriana Purwitasari

 

Upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat berhasil dengan maksimal tanpa didukung oleh adanya peningkatan kualitas pembelajaran. Peluang yang dibawa KTSP memberikan keleluasaan kepada guru sebagai pengembang kurikulum dalam tatanan kelas juga belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karena keterbatasan kemampuan guru. Keterbatasan kemampuan guru itu berdampak pada munculnya sikap intuitif dan spekulatif dalam menggunakan strategi pembelajaran. Kondisi ini berakibat pada rendahnya mutu hasil belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu tidak berkelanjutan dan berkembang lebih jauh adalah dengan memberikan persepsi mengenai metode pembelajaran yang dipandang kondusif dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dipandang kondusif dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran adalah metode pembelajaran Role Playing. Melalui kegiatan role playing, pebelajar mencoba mengekspresikan hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya, bekerja sama dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama pebelajar dapat mengeksplorasi perasaan, sikap , nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah yang dikemukakan adalah apakah penerapan metode role playing dapat meningkatkan keaktifan, keantusiasan dan prestasi belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas III SD Banjarsari Pacitan? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keaktifan, keantusiasan dan prestasi belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas III SD Banjarsari Pacitan dengan menggunakan metode pembelajaran role playing. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Action Research), karena didasari oleh permasalahan yang ada di lapangan yang sangat membutuhkan tindakan sehingga permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Tahap-tahap penelitian dilakukan sesuai dengan siklus penelitian tindakan kelas, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah guru kelas III dan pebelajar kelas III di SD Banjarsari Pacitan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik (1) observasi, (2) tes, dan (3) format catatan lapangan. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan dasar analisis data model alir yang dikemukakan oleh Miles & Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian ini, maka diperlukan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan penerapan metode pembelajaran role playing dapat dengan cara: (1) pada awal pelajaran guru mengenalkan kompetensi dasar dan indikator pencapaian prestasi beajar; (2) mengenalkan masalah, mengembangkan pemikiran, memberikan ilustrasi awal kegiatan role playing pada pebelajar; (3) memberikan pre tes dan pos tes diawal dan diakhir pelajaran; (4) memberikan kepercayaan sepenuhnya pada pebelajar untuk memilih peran, mengatur setting, dan pemilihan pengamat; (5) selalu memberikan motivasi dan bantuan pada pebelajar; (6) menggunakan berbagai sumber belajar seperti alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan role playing, dapat meningkatkan aktivitas, antusiasme, dan prestasi belajar pebelajar kelas III SD Banjarsari Pacitan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, diharapkan: (1) bagi guru, metode pembelajaran role playing dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas untuk meningkatkan aktivitas dan antusiasme pebelajar (2) sekolah perlu menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung keefektifan penerapan metode pembelajaran role playing. Adanya sarana dan prasarana yang dimaksud berupa pengadaan alat-alat perlengkapan, sumber belajar dan alat peraga lain yang menunjang kebutuhan pebelajar untuk melakukan kegiatan pembelajaran (3) peneliti berikutnya dapat melakukan kegiatan penelitian lebih lanjut tentang penerapan metode pembelajaran role playing dengan menggunakan kompetensi yang lain dan subyek penelitian yang berbeda, sehingga ditemukan hasil penelitian yang berbeda.

Asetilasi friedel craft asam sinamat dengan asetil klorida dan uji aktivitas senyawa hasil sebagai tabir surya / Maries Utami

 

ABSTRAK Utami, Maries. 2008. Asetilasi Friedel Craft Asam Sinamat dengan Asetil Klorida dan Uji Aktivitas Senyawa Hasil Sebagai Tabir Surya. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Sutrisno, M.Si, (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si, Kata kunci: Asam o-, m-, dan p-asetil sinamat, tabir surya, reaksi asilasi Friedel Craft Sinar matahari adalah sumber energi yang penting bagi seluruh makhluk hidup di bumi. Penyinaran dalam jumlah yang sedang dapat memberikan rasa nyaman dan sehat bagi tubuh manusia namun jika penyinaran sinar matahari tersebut terlalu berlebihan dapat menimbulkan efek yang membahayakan bagi kulit. Perawatan kulit sangat diperlukan agar kulit tampak lebih sehat dan terawat. Meskipun kulit kita memiliki perlindungan alami terhadap radiasi sinar matahari tetapi perlindungan tersebut masih belum cukup mengatasi masalah yang ditimbulkan akibat radiasi sinar matahari yang berlebihan. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk melindungi kulit dari radiasi sinar matahari adalah dengan menggunakan pelindung tambahan yang mengandung bahan tabir surya. Zat-zat kimia yang terkandung dalam tabir surya antara lain merupakan turunan asam sinamat seperti oktil metoksisinamat. Turunan asam sinamat dapat diperoleh melalui berbagai macam reaksi misalnya melalui reaksi esterifikasi, nitrasi, reduksi atau juga menggunakan reaksi asetilasi Friedel Craft. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa apa saja yang dihasilkan dari reaksi asetilasi asam sinamat dengan asetil klorida serta uji aktivitasnya sebagai tabir surya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap reaksi asetilasi Friedel Craft terhadap asam sinamat dengan asetil klorida dan identifikasi awal senyawa hasil dengan kromatografi lapis tipis, kemudian dilanjutkan dengan pemisahan senyawa hasil sintesis dengan kromatografi kolom. Tahap kedua adalah karakterisasi meliputi penentuan titik lebur dan uji kelarutan dan identifikasi senyawa hasil sintesis dengan menggunakan spektrofotometer 1H-NMR dan spektrofotometer infrared (IR). Tahap ketiga adalah uji aktivitas senyawa hasil sintesis sebagai tabir surya dengan spektrofotometer UV. Reaksi asetilasi Friedel Craft asam sinamat dengan asetil klorida menghasilkan zat padat berwarna kuning dengan titik lebur 139-143oC, larut dalam kloroform, dietil eter dan n-heksana tetapi tidak larut dalam asam asetat, aquades dan aseton. Hasil identifikasi dengan spektofotometer IR, spektrofotometer UV dan didukung spektrofotometer 1H-NMR secara keseluruhan diduga dihasilkan asam meta asetil sinamat. Hasil uji aktivitas sebagai tabir surya terhadap senyawa hasil asetilasi tidak menunjukkan aktivitasnya baik sebagai suntan maupun sunblock.

Penerapan experiential learning pada mata diklat kewirausahaan untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas XB Penjualan SMK Islam Donomulyo Kab. Malang) / Harini Yuni Astutik

 

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah pada proses pembelajaran yang lebih menekankan pada kemampuan penalaran siswa. Experiential Learning adalah suatu model pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar untuk membangun pengetahuan dan ketrampilan melalui pengalamannya secara langsung, dalam model ini menggunakan pengalaman katalisator untuk menolong siswa mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran Experiential Learning dan mengetahui faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat penerapan Experiential Learning, selain itu penelitian ini juga untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa serta hasil belajar siswa kelas X B pada Mata diklat Kewirausahaan di SMK Islam Donomulyo. Experiential Learning adalah suatu model belajar dari pengalaman yang menekankan pada hubungan yang harmonis antara belajar, bekerja, dan aktivitas belajar lainnya dalam menciptakan atau menemukan pengetahuan yang dicari. Pembelajaran Experiential Learning bertujuan untuk mengajarkan konsep, ketrampilan maupun nilai-nilai yang ditawarkan pada pembelajaran dan semua siswa untuk menginternalisasi, mengimplementasikan ide, contoh yang ideal dengan pengalaman yang telah dialaminya. Hasil Belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar siswa bisa diperoleh dari berbagai macam tingkah laku yang berlainan seperti pengetahuan, sikap, ketrampilan, kemampuan informasi, dan nilai. Peneltian ini dilakukan di SMK Islam Donomulyo, Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Siklus I dan Siklus II di tempuh selama dua kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan siklus II berupa penerapan pembelajaran Experiential Learning. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Resiko Usaha pada Siklus I dan mengambil Keputusan pada Siklus II. Hasil penelitian penerapan Experiential Learning adalah sebagai berikut: (1) penerapan pembelajaran Experiential Learning dilihat dari aktivitas guru mengalami peningkatan sebesar 15.39 % yang semula pada siklus I 84.6 % menjadi 100% pada siklus II; (2)faktor pendukung (a)penyajian masalah yang lebih jelas dan rinci oleh guru sesuai dengan tujuan pembelajaran, (b) partisipasi siswa yang lebih aktif dalam pembelajaran,dan (c) suasana pembelajaran yang menyenangkan, santai, dan bertanggung jawab dalam bentuk diskusi. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran Experiential Learning adalah (a) waktu yang kurang efektif dan efesien, (b) kesulitan siswa dalam melakukan adaptasi terhadap metode Experiential Learning, (c) Kurangnya kemampuan siswa dalam memahami tugas yang harus dilakukan, dan (d) Rendahnya rasa percaya diri siswa. (3) Aktivitas belajar siswa secara keseluruhan mengalami Peningkatan sebesar 16.5 %; (4) hasil belajar aspek kognitif mengalami peningkatan sebesar 12.56 %, sedangkan pada hasil belajar siswa aspek afektif sebesar 12.64%, dan hasil psikomotorik mengalami peningkatan sebesar 5.92% Berdasarkan Hasil penelitian maka peneliti mengajukan saran: (1) Bagi Guru: Hendaknya metode Experiential Learning diterapkan oleh guru agar menciptakan suasana belajar yang nyaman,dan disesuaikan dengan perencanaan yang telah disusun dan waktu yang telah disediakan, (2) Bagi Sekolah hendaknya mewajibkan guru-guru untuk dapat menggunakan metode-metode pembelajaran yang efektif bagi siswa, (3) Peserta didik hendaknya lebih berani dalam mengemukakan pendapat maupun argumen ketika metode pembelajaran berlangsung, (4) Bagi peneliti selanjutnya adanya pengukuran tentang tujuan pembelajaran untuk mengukur keefektifan.

Perbedaan kecerdasan emosional antara siswa laki-laki dan perempuan kelas XI MAN 3 Malang / Fathimah Az-Zahroh

 

ABSTRAK Azzahroh, Fathimah. 2008. Perbedaan Kecerdasan Emosional antara Siswa Laki-Laki dan Perempuan kelas XI MAN 3 Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. F.I. Soekarman, M.Pd (2) Drs. Blasius Bolilasan, M.Pd Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Laki-laki, Perempuan Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan emosi antara laki-laki dan perempuan. Emosi anak perempuan lebih mudah mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaan-perasaannya baik verbal maupun nonverbal dan lebih mudah berempati dan anak laki-laki lebih mampu dalam meredam emosinya. Selain itu anak laki-laki bangga karena kemandirian dan kemerdekaannya yang berpikirannya ulet dan mandiri, sementara anak perempuan melihat dirinya lebih terancam oleh terputusnya hubungan sosial yang mereka bina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kecerdasan emosional antara siswa laki-laki dan perempuan di MAN 3 Malang serta untuk mengetahui apakah ada perbedaan kecerdasan emosional antara siswa laki-laki dan perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MAN 3 Malang tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 200 orang siswa,100 orang siswa laki-laki dan 100 orang siswa perempuan. Subjek dalam penelitian ini diambil semua sehingga penelitian ini disebut studi populasi atau studi sensus. Untuk pengumpulan data menggunakan inventori kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Mulawarman. Analisis data menggunakan persentase. Beberapa kesimpulan yang diperoleh adalah: (1) Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional siswa laki-laki di MAN 3 Malang yang berada pada kategori tinggi sebesar 35%, kategori sedang sebesar 48%, dan kategori rendah sebesar 17%. Sedangkan dalam beberapa aspek diperoleh nilai diantaranya aspek mengenali emosi diri rata-rata sebesar 32,93, aspek mengelola emosi rata-rata sebesar 28,01, aspek memotivasi diri sendiri rata-rata sebesar 44,35, aspek mengenali orang lain/empati sebesar 34,84, dan aspek membina hubungan dengan orang lain 15,84. (2) Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional siswa perempuan di MAN 3 Malang yang berada pada kategori tinggi sebesar 21%, kategori sedang 58%, dan kategori rendah 21%. Sedangkan dalam beberapa aspek diperoleh nilai diantaranya aspek mengenali emosi diri rata-rata sebesar 31,93, aspek mengelola emosi rata-rata sebesar 27,21, aspek memotivasi diri sendiri rata-rata sebesar 43,94, aspek mengenali orang lain/empati sebesar 35,81, dan aspek membina hubungan dengan orang lain 16,28. (3) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa laki-laki yang mempunyai persentase paling banyak adalah siswa yang berada pada kategori kecerdasan emosional sedang yakni sebesar 48%, artinya siswa laki-laki yang memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang lebih banyak dibandingkan dengan kategori kecerdasan emosional yang lain. Begitupula dengan siswa perempuan yang mempunyai persentase paling banyak adalah siswa yang berada pada kategori kecerdasan emosional sedang yakni sebesar 58%, artinya siswa perempuan yang memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang lebih banyak dibanding dengan kategori kecerdasan emosional yang lain. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyarankan kepada beberapa pihak yaitu: (1) Konselor, memberikan layanan bimbingan pengembangan emosional serta pembinaan yang intensif agar siswa memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi, misalnya memberikan pelatihan kecerdasan emosional dengan diadakan bimbingan kelompok dan bermain peran (role playing) dan sebagainya. (2) Orangtua, hendaknya lebih memperhatikan perkembangan emosi anaknya terutama mengajarkan bagaimana mengekspresikan suatu emosi pada anak-anak mereka tanpa membedakan jenis kelamin. (3) Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan inventori kecerdasan emosional berkaitan dengan Bimbingan dan Konseling terutama bimbingan pribadi.

Pengaruh kecerdasan emosional (EQ) dan kebiasaan belajar terhadap indeks prestasi komulatif (IPK) Mahasiswa program studi pendidikan akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2006/2007 / Eva Agustina

 

Kesuksesan seseorang dalam mencapai prestasi belajar yang baik bukan hanya dipengaruhi oleh tingkat IQ saja. Akan tetapi masih banyak faktor lain seperti EQ, kebiasaan belajar, potensi diri dan faktor- faktor lainnya. EQ dan kebiasaan belajar merupakan hal yang saling berkaitan. EQ mampu mengendalikan perasaan seseorang. Persaaan yang tidak terkendali akan cenderung mengakibatkan tingkah laku serta sikap seseorang yang kurang terkendali, akibatnya muncullah kebiasaan belajar yang kurang baik. Dengan beragamnya tingkat EQ dan kebiasaan belajar, beragam pula tingkat pencapaian prestasi belajar peserta didik, sehingga pemahaman tentang EQ dan kebiasaan belajar serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar dianggap sangat penting, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh EQ dan kebiasaan belajar terhadap IPK mahasiswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah explanasi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah EQ (X1) dan kebiasaan belajar (X2). Sedangkan variabel terikat (Y) adalah IPK. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Angkatan 2006/2007. pengambilan sampel menggunakan teknik cluster propotional random sampling diperoleh sampel sebesar 45 mahasiswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian secara parsial EQ mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap IPK mahasiswa, terbukti dari sig. t (0,001) < α (0,05), kebiasaan belajar juga mempengaruhi IPK mahasiswa secara signifikan, terbukti dari sig.t (0,012) < α (0,05). Sedangkan secara simultan, EQ dan kebiasaan belajar berpengruh terhadap IPK mahasiswa yang ditunjukkan dengan sig.F (0,000) < α (0,05). Nilai R2 sebesar 36,3% sedangkan 63,7% dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel EQ dan kebiasaan belajar. EQ mempunyai pengaruh yang lebih dominan dari pada kebiasaan belajar yaitu 22,3% sedangkan kebiasaan belajar adalah 14%. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) diharapkan Bagi Universitas Negeri Malang, penelitian ini mampu memberikan sumbangan dalam penyediaan informasi empiris tentang kecerdasan emosional, yang bisa digunakan sebagai pertimbangan kebijaksanaan dalam hubungan dengan pemenuhan kebutuhan mahasiswa akan kecerdasan emosional (2) diharapkan bagi mahasiswa agar lebih memperhatikan kebiasaan belajar yang kurang sesuai dan lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar.

Identifikasi spesies-spesies kapang kontaminan dalam beberapa jamu kemasan yang dijual di Kota Malang / Tyas Laras Fatmawati

 

Eksplorasi pemahaman mahasiswa mengenai konsep keterbagian bilangan bulat / Maryono

 

ABSTRAK Maryono. 2008. Eksplorasi Pemahaman Mahasiswa Mengenai Konsep Keterbagian Bilangan Bulat. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana (PPs), Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H Akbar Sutawidjaja,M.Ed, Ph.D, (II) Drs. Purwanto, Ph.D. Kata Kunci: Eksplorasi, Pemahaman, Konsep Keterbagian Bilangan Bulat, Teori APOS, Teori Triad Perkembangan Skema. Teori APOS dapat digunakan sebagai suatu alat analisis untuk mendeskripsikan perkembangan skema seseorang pada suatu topik matematika yang merupakan totalitas dari pengetahuan yang terkait terhadap topik tersebut. Teori APOS yang dikaitkan dengan Teori Triad dari Piaget dan Garcia telah digunakan dalam beberapa penelitian mengenai pemahaman mahasiswa dan siswa tentang berbagai topik matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa tentang konsep keterbagian bilangan bulat dan strategi kognitif yang digunakan mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang keterbagian bilangan bulat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) melihat latar subjek, (2) menyiapkan soal-soal tes tertulis dan wawancara, (3) mengadakan tes tertulis, (4) mengoreksi hasil tes tertulis, (5)mengadakan wawancara, (6) menganalisis dan mendeskripsikan tingkat pemahaman subjek dalam kerangka Teori APOS yang dikaitkan dengan Teori Triad perkembangan skema, (7) melakukan pembahasan terhadap paparan data dan temuan penelitian, dan (8) menyimpulkan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahamanmahasiswa mengenai keterbagian bilangan bulat berada pada empat tahap tertentu dari kerangka Teori APOS, yaitu aksi (rata-rata 18, 09 %), proses (rata-rata 8, 21 %), objek (rata-rata 34, 04 %), dan skema (rata-rata 17, 93 %). Jadi secara umum tingkat pemahaman mahasiswa berada pada tahap objek. Adapun karakteristik masing-masing tahapadalah sebagai berikut: (1) aksi: mahasiswa hanya mampu menentukan suatu bilangan membagi bilangan lain atau menentukan ada atau tidak ada antara bilangan x dan bilangan y yang habis dibagi z dengan cara menghitung langsung; (2) proses: mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana menentukan suatu bilangan membagi bilangan lain atau menentukan ada atau tidak ada antara bilangan x dan bilangan y yang habis dibagi z tanpa harus menghitung langsung, tetapi hanya dalam imajinasi atau akan melakukan hitungan langsung tetapi tidak benar-benar dilaksanakan; (3) objek: mahasiswa mampu menggunakan definisi, dalil-dalil atau sifat-sifat yang ada pada keterbagian bilangan bulat untuk menyelesaikan soal; dan (4) skema: mahasiswa mampu menggunakan definisi, dalil-dalil atau sifat-sifat yang ada pada keterbagian bilangan bulat serta objek matematika yang lain untuk menyelesaikan soal. ABSTRACT Maryono. 2008. Exploration of Student’s Understanding about Divisibility of Integer’s Number Concept. Thesis, Mathematics Education Study Program, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. H Akbar Sutawidjaja,M.Ed, Ph.D, (II) Drs. Purwanto, Ph.D. Key Words: Exploration, Understanding, Divisibility of Integer’s Number Concept, APOS Theory, Triad Scheme Development Theory. APOS Theory can be used as an analysis instrument to describe someone’s development scheme on mathematics topic which is a totality of related knowledge to the topic. APOS theory which is related to triad Theory from Piaget and Garcia has been used in some research about student’s understanding about many mathematics topics. Ths research is aimed to know the level of student’s understanding about divisibility of integer’s number concept and cognitive strategy used by student in solving problems about divisibility of integer’s number. The approach used in this research is qualitative approach by descriptive research type. The steps done in this research are: (1) looking the background of subject, (2) preparing written test question and interview, (3) conducting written test, (4) evaluating the result of written test, (5) conducting interview, (6) analyzing and describing the level of subject understanding in APOS Theory framework related to Triad Scheme Development Theory, (7) discussing the data explanation and research finding, and (8) conclussing the result of research . The result of research shows that the level of student’s understanding about divisibility of integer’s number is on four certain step of APOS theory framework, namely action (rate 18, 09 %), process (rate 8,21 %), object (rate 34, 04 %), and scheme (rate 17, 93 %). So in general the level of students understanding is on the object level. The characteristics of each steps is as follows: (1) action: student just can decide a number divide other number or decide of there is between x and y number divided z whith counting directly; (2) process: the student can explain how to decide a number divide other number or decide of there is between x and y number divided z without direct counting but only in imagination or will count directly but is not really done; (3) object: the student can use thedefinition, theorem or properties of divisibility of integer’s numberto solve the problem; and (4) scheme: the student is able to use the definition, theorem or properties of divisibility of integer’s number and other mathematics object to solve the problem

Pandangan Konselor tantang Kompetensi Profesional Ala Cogan / Tamsil Muis

 

Penerapan pembelajaran model student teams achievement divisions (STAD) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang / Erna Mufidatul Hijriyah

 

ABSTRAK Hijriyah, Erna Mufidatul. 2008. Penerapan Pembelajaran Model Student Teams Achievement Divisions (STAD) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S., (II) Dra. Sri Rahayu Lestari, M.Si. Kata kunci: STAD, motivasi, hasil belajar Kendala utama yang terjadi selama proses pembelajaran Biologi di SMA Negeri 6 Malang adalah sulitnya membuat siswa aktif, lebih dari 50% siswa dalam kelas belum tuntas belajarnya pada hasil Ujian Akhir Semester I Tahun Ajaran 2007/2008, dan motivasi siswa yang rendah diketahui dari ketidak antusiasan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Biologi dan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Maka, pembelajaran model STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar karena menekankan pada kerjasama siswa dalam kelompok kecil yang mendorong dan membantu siswa dalam menguasai materi yang akan disajikan, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna, dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang melalui pembelajaran model Student Teams Achievement Divisions (STAD). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, siklus I terdiri atas enam kali pertemuan dan siklus II terdiri atas tujuh pertemuan, penelitian ini dilaksanakan dari bulan April sampai dengan Mei pada semester 2 tahun ajaran 2007-2008. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 37 siswa, terdiri dari 27 siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa motivasi dan hasil belajar siswa dengan instrumen penelitian berupa lembar observasi, asesmen kinerja, respons siswa, dan catatan lapangan. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan nilai rata-rata persentase tes motivasi belajar siswa, sedangkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif diukur berdasarkan ketuntasan belajar siswa secara klasikal, ranah psikomotorik diukur berdasarkan peningkatan nilai rata-rata persentase yang terdapat pada asesmen kinerja. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi, asesmen kinerja, tes motivasi, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran model STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata persentase motivasi belajar siswa dan taraf keberhasilan tindakan dari 61,5% (sedang) pada siklus I menjadi 83,9% (sangat baik) pada siklus II. Peningkatan hasil belajar dapat diketahui dari ranah kognitif dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 62,16% menjadi 94,59%, ranah psikomotorik siswa juga mangalami peningkatan dari 54,28% (kurang) menjadi 60,9% (cukup).

Pengaruh persepsi dan kesiapan guru akuntansi terhadap implementasi sertifikasi di SMA dan SMK se-Kota Probolinggo (Studi pada guru yang telah mengikuti sertifikasi) / Yatnawati Ayu Kertini

 

Pengaruh selisih tingkat inflasi dan selisih tingkat suku bunga terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (pengujian model PPP dan model IFE) / Asmaul Khusna

 

Persepsi guru sekolah dasar mengenai masalah-masalah siswa sekolah dasar se Kecamatan Klojen Kota Malang / Shinta Amelia

 

Siswa SD adalah anak-anak yang berusia 6-12 tahun, mereka memiliki tugas untuk mampu menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka memenuhi tugas tersebut, anak-anak memerlukan sekolah untuk mendapatkan ilmu dari para guru. Selain itu anak-anak memiliki tugas perkembangan yang harus dilaksanakan supaya tidak menjadi hambatan. Hambatan yang terjadi dapat membentuk masalah. Masalah-masalah yang terjadi pada usia SD adalah (1) masalah yang berhubungan dengan tugas akademik; (2) masalah yang berhubungan dengan tingkah laku verbal; (3) masalah yang berhubungan dengan sikap agresif; (4) masalah yang berhubungan dengan ketidakjujuran; (5) masalah yang berhubungan dengan interaksi sosial; (6) masalah yang berhubungan dengan kematangan (7) masalah yang berhubungan dengan penguasaan diri; (8) masalah yang berhubungan dengan tubuh dan perawatan diri. Permasalahan ini akan menjadi semakin kompleks ketika tidak sesuainya antara persepsi guru dengan masalah yang dialami siswa. Banyak guru yang menganggap siswa membolos, tidak mengerjakan PR, dan berbohong adalah sikap yang wajar. Padahal ternyata siswa yang berperilaku tersebut sebenarnya sedang mengalami masalah. Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang. Hal ini dikarenakan sekolah dasar wilayah Klojen memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan wilayah yang lain. Selain terletak di pusat kota, fasilitas sekolah juga memadai sehingga wajar kalau masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di SD-SD Kecamatan Klojen. Adapun sekolah dasar yang menjadi tempat penelitian adalah SDN Gading Kasri, SDN Kauman I, SDN Bareng I, dan SDN Sukoharjo II. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan persepsi guru sekolah dasar mengenai masalah-masalah siswa sekolah dasar yang ada di Kecamatan Klojen Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh guru SD di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang. Sampel dalam penelitian adalah seluruh guru SDN Gading Kasri, SDN Kauman I, SDN Bareng I, dan SDN Sukoharjo II. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, ditetapkan sebesar 25 % dari 21 sekolah, didapatkan empat sekolah dan 60 guru. Instrumen yang digunakan sebagai alat pengumpul data adalah angket berstruktur dengan 4 (empat) skala jawaban. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis persentase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa guru SDN se Kecamatan Klojen Kota Malang memiliki persepsi yang tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan tugas akademik, tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan tingkah laku verbal, kurang tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan perilaku agresif. Guru SDN se Kecamatan Klojen Kota Malang memiliki persepsi yang tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan ketidakjujuran, tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan interaksi sosial, kurang tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan ketidakmatangan, demikian pula terhadap masalah yang berhubungan dengan penguasaan diri. Dan guru SDN se Kecamatan Klojen Kota Malang memiliki persepsi yang kurang tepat terhadap masalah yang berhubungan dengan tubuh dan perawatan diri. Sehingga secara keseluruhan guru SDN se Kecamatan Klojen Kota Malang memiliki persepsi yang sangat tepat sebanyak 0%, tepat sebanyak 0%, kurang tepat 78,33% dan 21,67% yang memiliki persepsi tidak tepat terhadap masalah-masalah siswa SD. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis mengemukakan beberapa saran kepada (1) Kepala Sekolah, Mengingat pentingnya peranan Bimbingan dan Konseling di sekolah maka diharapkan Kepala Sekolah memberikan kebijakan yang optimal bagi pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Kebijakan tersebut dapat berupa penyediaan sarana dan fasilitas¬fasilitas yang diperlukan untuk memperbaiki dan meningkatkan persepsi mengenai masalah¬masalah siswa SD. Fasilitas-fasilitas tersebut misalnya pelatihan mengenai peranan Bimbingan dan Konseling, penyediaan papan bimbingan dll, (2) guru hendaknya membuka wawasan seluas¬luasnya dan lebih peka mengenai berbagai permasalahan yang dapat muncul dalam diri siswa, hendaknya juga bekerja sama dengan konselor dalam proses pemberian bantuan pada siswa yang bermasalah dan bimbingan bagi siswa lain sehingga siswa bisa berkembang secara optimal. Selain itu guru juga sebaiknya membekali diri dengan konsep dasar bimbingan dan konseling sehingga memiliki persepsi yang tepat terhadap permasalahan siswa, (3) peneliti selanjutnya, penelitian mengenai persepsi guru SD mengenai masalah-masalah siswa SD masih jarang dilakukan sehingga bagi para peneliti yang tertarik untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai masalah-masalah siswa SD, hendaknya memperluas ruang lingkup penelitian, mencari hubungan antara masalah-masalah siswa SD dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta meneliti sekolah yang mempunyai latar belakang berbeda seperti MI, SD Islam, dan SDK.

Pengaruh persepsi siswa tentang kualitas sekolah dan kompetensi profesional guru terhadap motivasi belajar pada siswa kelas X SMK N 1 Ngawi / Anggris Nuarasyita

 

Pengaruh variasi pembebanan terhadap tegangan incoming dan outgoing trafo distribusi 20 kV / Dewanto Bagus Anggara Sasmito

 

Kata kunci : tegangan, drop tegangan, beban, impedansi, EDSA Technical 2005, simulasi Salah satu persyaratan keandalan sistem penyaluran tenaga listrik yang harus dipenuhi untuk pelayanan kepada konsumen adalah kualitas tegangan yang stabil. Tetapi pada kenyataannya tegangan tidak selalu stabil, dimana suatu saat tegangan naik dan suatu saat tegangan turun. Toleransi tegangan yang diijinkan berdasarkan PUIL 2000 adalah tidak boleh melebihi 5%. Ketidakstabilan tegangan disebabkan ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dikarenakan dipengaruhi oleh macam-macam konsumen yang memerlukan tegangan tertentu. Faktor yang mendasari mempengaruhi tegangan pada sistem distribusi adalah beban dan impedansi saluran. Tujuan utama tugas akhir ini adalah (1) mendiskripsikan ketidakseimbangan pembebanan pada trafo distribusi 20 kV dan stabilitas tegangannya; (2) mendiskripsikan nilai tegangan jatuh yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan beban dan impedansi saluran. (3) mendapatkan analisa pengaruh variasi pembebanan terhadap tegangan incoming dan saluran outgoing trafo distribusi 20 kV. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) mendiskripsikan dan pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi menggunakan program EDSA Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan tersebut diperoleh dari data hasil pengukuran beban malam pada PLN UP&J Bululawang dan single line PLN APJ Malang. Hasil simulasi menunjukkan bahwa faktor beban dan impedansi antar saluran kenyataannya dapat menyebabkan besar tegangan incoming tidak sama dengan tegangan outgoing trafo distribusi 20 kV. Penurunan tegangan masih dalam batas toleransi yang diijinkan, yaitu kurang dari 5%. Dengan melakukan beberapa asumsi, maka dapat diketahui bahwa pembebanan berpengaruh terhadap nilai tegangan yang di terima, apabila terjadi pengurangan beban, maka jatuh tegangan juga akan berkurang dan tegangan yang di terima lebih besar, sebaliknya jika beban meningkat maka drop tegangan akan lebih besar dan tegangan yang di terima lebih kecil. Letak beban yang mengalami perubahan juga berpengaruh terhadap besarnya drop tegangan pada tiap-tiap bus.

Pelaksanaan strategi pembelajaran klarifikasi nilai pada mata pelajaran PKn di SMP Negeri 2 Kota Malang / Mimin Yuliati

 

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah terhadap prestasi belajar siswa SMK Negeri 1 Malang / Teresia Juwita Indria Sari

 

Perkembangan pendidikan dewasa ini banyak mengalami perubahan baik dalam ilmu pengetahuan maupun teknologi. Perubahan ini ditujukan pada proses peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas demi memenuhi tuntutan zaman yang semakin berkembang. Pendidikan dalam lingkup nasional diatur dalam UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, serta dalam TAP MPR No. IV/MPR/ 1999 tentang GBHN yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, berketerampilan serta menguasai IPTEK dalam rangka pengembangan kualitas manusia Indonesia. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berupaya keras dalam peningkatan mutu pendidikan dengan menyelenggarakan berbagai fasilitas yang mampu memotifasi siswa untuk lebih meningkatkan kreatifitas berfikir. Salah satu fasilitas yang disediakan oleh sekolah adalah perpustakaan. Jika perpustakaan sekolah memiliki fasilitas yang lengkap dan memadai sesuai dengan perkembangan pendidikan maka dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif memanfaatkan perpustakaan. Dengan demikian siswa akan memperoleh pengetahuan yang lebih luas sehingga dapat menghasilkan prestasi belajar yang maksimal. Berdasarkan hal tersebut maka diadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana pengaruh pemanfaatan perpustakaan terhadap prestasi belajar siswa di SMK. Negeri 1 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK. Negeri 1 Malang kelas XI tahun ajaran 2006 – 2007, sedangkan sampel yang di diteliti adalah siswa SMK. Negeri 01 Malang kelas XI program keahlian akuntansi tahun ajaran 2006 – 2007 yang berjumlah 80 orang siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik angket dan dokumentasi. Angket disebarkan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan perpustakaan oleh siswa dan dokumentasi untuk mengetahui prestasi belajar siswa yang diperoleh dari nilai rapor atau leger. Data akan diolah dengan menggunakan SPSS 12.00 for windows. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa X dan Y mempunyai hubungan linier dengan persamaan Y = 6.080 + 0.040 X + 0.656. Pengaruh pemanfaatan perpustakaan (X) terhadap prestasi belajar (Y) menunjukkan angka signifikan (0,00) < (0,05) sehingga dalam hal ini, koefisien regresi signifikan. Artinya variabel X mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Besar R square adalah 0,344 hal ini berarti 34,4% perubahan variabel Y disebabkan oleh perubahan variabel X, sedangkan sisanya 65,6% disebabkan oleh faktor diluar perubahan variabel X. Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa siswa SMK. Negeri 1 Malang mayoritas telah aktif memanfaatkan perpustakaan sekolah. Prestasi belajar siswa berada pada tingkat baik. Dari uraian di atas maka dapat diketahui bahwa keberadaan perpustakaan memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan prestasi belajar. Dari hasil penelitian ini diharapkan pihak sekolah lebih memperbaiki fasilitas dan pelayanan perpustakaan dengan cara mengusahakan penyelenggaraan buku melalui kerjasama dengan instansi yang terkait sehingga akan memacu keinginan siswa dalam memanfaatkan perpustakaan sekolah.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer yang konstruktivis untuk materi sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan pada aljabar di sekolah menengah pertama / Valentine Luky Anggraini

 

ABSTRAK Anggraini, Valentine Luky. 2008. Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer yang Konstruktivis untuk Materi Sifat Distributif Perkalian Terhadap Penjumlahan pada Aljabar di Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Akbar S, M.Ed, (II) Drs. Rustanto R, M.Si. Kata Kunci : Media, Komputer, Konstruktivis. Kondisi ideal dari pembelajaran matematika adalah tersedianya media pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga siswa dapat membangun konsep dari pengalaman belajarnya dan mengembangkannya. Di sisi lain, guru masih menggunakan laboratorium matematika/laboratorium komputer hanya untuk mengajar pengetahuan dasar komputer, bukan untuk mengajar matematika menggunakan komputer. Oleh karena itu, penulis mengembangkan program komputer untuk siswa tentang sifat distributif perkalian tehadap penjumlahan di SMP. Materi ini adalah salah satu materi yang dirasa sulit oleh siswa. Program komputer ini menggunakan animasi untuk memberikan kemampuan kepada siswa dalam mengkonstruksi konsep sifat distributif perkalian tehadap penjumlahan dari pengalaman mereka. Program komputer ini telah di validasi oleh tujuh guru dan dua teman sejawat. Program juga telah direvisi berdasarkan saran dan masukan dari validator. Selain itu, program ini telah diuji-cobakan kepada siswa-siswi SMP pada tanggal 6 Juli 2008 di SMPK Santa Maria II Malang dan mendapatkan respon yang baik, karena lebih dari 50% siswa yang merasa senang dan memahami materi yang diberikan, serta 94,3% siswa mendapat nilai di atas 75. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada peneliti lainnya untuk melaksanakan penelitian sejenis dengan materi dan permasalahan yang berbeda.

Kritik holistik karya lukis Zaenal pada periode 2007 dan 2010 / Agryan Nadhafusy Syams

 

Syams, Agryan Nadhafusy. 2014. Kritik Holistik Karya Lukis Zaenal Pada Periode 2007 dan 2010. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M. Sn, (II) Fenny Rochbeind, S. Pd, M. Sn Kata Kunci: Kritik Holistik, karya lukis, Periode 2007 dan 2010     Kreativitas merupakan suatu hal yang penting dimiliki oleh pribadi seorang seniman. Seorang seniman yang kreatif akan mampu untuk selalu mengolah ide, gagasan, dan tekniknya dalam menciptakan suatu karya seni. Lewat sebuah karya seni, seniman dapat mengkomunikasikan segala kegelisahannya dengan orang lain. Zaenal termasuk orang biasa dan sederhana. Meski demikian Zaenal ternyata hidup berdampingan dengan lingkungan yang kental akan tradisi Jawa, terlihat dari gaya berprilaku dan karya yang telah dihasilkannya. Karya lukis Zaenal lebih mengarah pada konsep-konsep ideologi yang beliau rasakan, seperti dalam tiga lukisan yang dikaji dalam penelitian ini yang berjudul “Molotop” (2007), “Kekerasan Bertasbih” (2010), “Aura Murka” (2010). Ketiga karya yang diteliti tersebut diciptakan untuk menggambarkan berbagai permasalahan sosial yang sering terjadi di Negara Indonesia, khususnya di kota Batu. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah latar belakang kehidupan Zaenal. Karya lukis Zaenal yang berjudul Molotop, Kekerasan Bertasbih, dan Aura Murka. Disamping itu juga interpretasi terhadap karya lukis Zaenal “Molotop” (2007), “Kekerasan Bertasbih” (2010), “Aura Murka” (2010). Serta hubungan latar belakang kehidupan zaenal, karya lukis dan interpretasi terhadap karya lukis Zaenal. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik Holistik. Sedangkan metode yang digunakan adalah (a) pendekatan dan jenis penelitian, (b) kehadiran peneliti, (c) lokasi penelitian, (d) sumber data, (e) prosedur pengumpulan data, (f) analisis data, (g) pengecekan keabsahan temuan, (h) tahap-tahap penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah seniman bernama Zaenal, informan pendukung, katalog pameran lukis, dan dokumentasi foto-foto untuk memperoleh informasi genetik subjektif dan genetik objektif. Karya seni lukis untuk memperoleh informasi objektif. Peneliti untuk memperoleh informasi afektif prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sintesa yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu nilai perjuangan terhadap ketidak adilan saat ini, nilai adat-istiadat adat istiadat Jawa ini mulai luntur, dan nilai keTuhanan yang saat ini kurang untuk dipegang teguh pada diri manusia dalam menjalankan segala aktivitas.     Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai nilai yang terdapat dalam lukisan karya-karya Zaenal yang lain, karena karya seni merupakan media komunikasi pada masyarakat.

Western greed to rule over Islam : dismantling the politics of representation in Kingdom of Heaven / Agustianingsih

 

Abstrak Kingdom of Heaven focuses on the balanced portrayal between Muslims and Christians,possibly to try in vein finding an understanding between Christians and Muslims, in vein struggle to reduce the impact of “war on terror”. In the struggle, the film tries to introduce a “better alternative” to replace the fanaticism on certain religious faiths, which is living based on Western humanism. The film suggests that all human beings will be better off without the existence of religious faiths. In this study, I will dismantle the politics of representation used in Kingdom of Heaven. Semiotics analysis and Post-colonial studies will be used to reveal the answers for these questions: How Islamic principles see Western humanism values in Kingdom of Heaven? What politics of representation it implies? What strategy it uses to make it reasonable? What is the implication of this strategy? The politics of representation in Kingdom of Heaven implies that Western humanism values are the best. However, both values are different and there is no way of seeing Islamic values of humanity as inferior than those of Western. The politics of representation includes techniques which emphasize the best ideal characteristics of human being embodied in Balian of Ibelin and the characterization of humanized Muslims (Western-like Muslims) and Muslims as the insignificant other. Muslims in this film are always positioned as the ones dominated by Western. The politics of representation in the movie imply the Western greed to rule over Muslims by constructing a discourse which naturalizes the Western domination over Muslims in the movie.

Pengaruh menstruasi terhadap tingkat kesegaran jasmani / oleh Anang Hermawan

 

Pelabelan konsekutif pada graph star, graph double star, graph lintasan, graph katerpilar, graph lintasan kanan double star dan graph lintasan tengah double star / Frisa Heryanto

 

Pemanfaatan suberdaya lahan pekarangan sebagi tambahan pendapatan kelauarga petani di Kecamatan Ranuyoso Kabupaten Lumajang / Fistika Dian Farida

 

Pengaruh kualitas jasa terhadap loyalitas pelanggan (studi pada bengkel sepeda motor "Gaeng Motor" Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek) / Thathit Galih Bahana

 

Pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap keputusan konsumen dalam memilih travel (Studi pada Kirana Tour & Travel Malang) / Eko Zudhi Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Eko Zudhi. 2008 Pengaruh Dimensi Kualitas Jasa Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Memilih Travel (Studi pada Kirana Tour & Travel Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. (2) Ita Prihatining Wilujeng, S.E, M.M.. Kata kunci: dimensi kualitas jasa, keputusan konsumen. Peningkatan kualitas layanan jasa tentunya berorientasi pada kepuasan konsumen sebagai pengguna sekaligus penikmat layanan jasa tersebut. Dalam menilai atau mempertimbangkan suatu pelayanan jasa, yang didasarkan pada beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut lebih dikenal dengan dimensi kualitas jasa. Dimensi kualitas jasa yang meliputi bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati mempunyai peranan yang penting dan merupakan salah satu aset perusahaan dalam mengembangkan perusahaan. Diperlukan kualitas layanan yang baik untuk menumbuhkan keputusan konsumen yang merupakan kunci sukses dari perusahaan pemberi jasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh dimensi kualitas jasa baik secara parsial maupun simultan terhadap keputusan konsumen, serta variabel yang dominan dalam mempengaruhi keputusan konsumen. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah explanatory research yang mengkaji pengaruh variabel penelitian yaitu variabel bebas yang meliputi bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4) dan empati (X5) terhadap variabel terikat yaitu keputusan konsumen (Y) Kirana Tour & Travel Malang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini 100 orang konsumen yang secara langsung memesan di kantor pemasaran Kirana Tour & Travel Malang. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Ada pengaruh yang signifikan antara bukti fisik (tangibles) terhadap variabel terikat keputusan konsumen; (2) Ada pengaruh yang signifikan antara keandalan (reliability) terhadap variabel terikat keputusan konsumen; (3) Ada pengaruh yang signifikan antara daya tanggap (responsiveness) terhadap variabel terikat keputusan konsumen; (4) Ada pengaruh yang signifikan antara jaminan (assurance) terhadap variabel terikat keputusan konsumen; (5) Ada pengaruh yang signifikan antara empati (empathy) terhadap variabel terikat keputusan konsumen; dan (6) Ada pengaruh yang signifikan antara bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara simultan terhadap keputusan konsumen. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima karena terdapat pengaruh yang signifikan antara dimensi kualitas layanan (bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati) terhadap keputusan konsumen Kirana Tour & Travel Malang. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian ini adalah: (1) Usaha untuk mempertahankan serta meningkatkan aspek-aspek dari dimensi kualitas jasa (bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati) harus dilakukan oleh pihak Kirana Tour & Travel. Penyediaan kotak saran atau hot line service yang menangani informasi serta keluhan konsumen merupakan salah satu cara agar perusahaan dapat mengkaji ulang dan memperbaiki pelayanan jasa yang dirasa kurang baik. (2) Beberapa aspek dari dimensi kualitas jasa (keandalan dan empati) yang telah diberikan oleh pihak perusahaan sejauh ini dirasa sangat baik oleh konsumen. Untuk itu usaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari aspek-aspek lain dari dimensi kualitas jasa yang belum mendapat respon baik dari konsumen harus menjadi prioritas utama dalam usaha meningkatkan jumlah konsumen/pelanggan.(3) Faktor keandalan (reliability) memilki determinasi tinggi dalam mempengaruhi keputusan konsumen. Hal ini dikarenakan konsumen mempunyai anggapan bahwa ukuran reliabilitas berhubungan dengan tersedianya berbagai fasilitas pelayanan yang mereka butuhkan. Konsumen juga mengasumsikan bahwa layanan yang baik adalah yang menyediakan apa yang mereka butuhkan sehingga tidak perlu mencari perusahaan lain yang sejenis.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-D SMP Negeri 1 Malang / Febri Syaipun Nawas

 

ABSTRAK Nawas, Febri Syaipun. 2008. Penerapan Pembelajaran Cooperative Model Group Investigation (Gi) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII-D SMP Negeri I Malang. Skripsi, Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Purwaningsih, M.Si, (2) Drs. Asim, M. Pd. Kata kunci : group investigation, aktivitas, prestasi belajar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri Malang, diketahui guru sudah menggunakan pembelajaran yang mengarah pada keaktifan siswa, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi. Tetapi dalam menggunakan metode demonstrasi guru tidak melibatkan siswa sehingga aktivitas siswa tidak muncul selama KBM berlangsung. Selain itu, keaktifan siswa secara keseluruhan masih belum terlihat dan masih didominasi beberapa siswa saja. Rata-rata prestasi belajar siswa juga masih rendah sehingga perlu untuk ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang. Ketercapaian tujuan tersebut dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model GI. Model pembelajaran ini melibatkan aktivitas siswa secara penuh sesuai tahap-tahap GI sehingga aktivitas siswa akan terlihat dan siswa bekerja secara kelompok mencari bahan ajar secara mandiri sehingga siswa mampu membangun konsep secara mandiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Siklus penelitian dilakukan selama dua kali dengan disertai perbaikan setiap siklusnya. Tahapan yang digunakan dalam penelitian adalah perencanaan, pemberian tindakan kelas, observasi, serta refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang dengan jumlah 39 siswa, yang terdiri dari 21 siswa putri dan 18 siswa putra. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah Alat Optik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar dari sebelum penelitian ke siklus I sebesar 3,1% dan dari siklus I ke siklus 2 sebesar 3,7%. Selain itu, juga terjadi peningkatan aktivitas siswa sesuai tahap-tahap GI dari siklus I ke siklus 2 sebesar 5,73%. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa aktivitas dan prestasi belajar siswa mengalami peningkatan melalui penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI).

Kemampuan Manajerial Kepala SMP Islam Ma'arif 02 Malang dalam Pengembangan Sekolah (Studi Kasus) / oleh Darto

 

Perencanaan lokasi department store dengan menggunakan analisis model gravitasi breaking point di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Dian Kartini

 

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia dengan model Sfal untuk SMA kelas X pada materi pokok struktur atom, tabel periodik unsur, dan ikatan kimia / Tutik Sulistyowati

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas agar mempunyai kompetensi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, pemerintah telah melakukan penyempurnaan kurikulum sebagai upaya meningkatkan SDM dalam bidang pendidikan. Melalui Kurikulum 2006 (KTSP) dilakukan penyempurnaan pada tingkat satuan pendidikan, termasuk penambahan pelajaran kimia di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedangkan mata pelajaran kimia di SMA/MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan perluasan pada konsep abstrak. Konsep kimia yang sebagian bersifat abstrak akan menyebabkan siswa cenderung mengalami kesulitan untuk mengkonstruksi pemahaman secara tepat. Oleh karena itu diperlukan metode pembelajaran yang mampu mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa agar belajar lebih bermakna dan agar siswa mampu membuat pemahaman dengan cara menemukan konsep sendiri. Salah satu cara pembelajaran untuk mengimplementasikan hal di atas adalah pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Melalui pembelajaran berbasis konstruktivistik, siswa dapat membangun pengetahuan sendiri berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari dan melalui pembelajaran berbasis kontekstual, siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu model yang dapat digunakan untuk menerapkan pembelajaran kontekstual tersebut adalah model SFAL. Pembelajaran kontekstual dengan model SFAL merupakan suatu pembelajaran yang lebih menekankan pada penampakan strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran berbasis “Student-Focused Active Learning” yang dituangkan dalam komponen/unsur dalam bahan ajar/buku siswa. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual serta mengetahui kesesuaian atau kelayakan perangkat pembelajaran tersebut untuk digunakan dalam pembelajaran kimia SMA/MA. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini diawali degan survai kondisi lapangan, kemudian dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran. Langkah selanjutnya dilakukan validasi sedangkan pengembangan produknya berdasarkan model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Langkah-langkah model pengembangan Dick dan Carey yaitu mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melakukan analisis materi pelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan pengalaman belajar, mengembangkan item tes berbasis kriteria, pemilihan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, melaksanakan evaluasi formatif (validasi), melakukan revisi, dan memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran terdiri atas dua bagian, bagian pertama merupakan panduan guru (teacher’s guide) yang berisi silabus dan sistem penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), instrumen penilaian, dan buku guru. Sedangkan bagian kedua adalah buku siswa yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Berdasarkan hasil validasi dari empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 85,46% dengan kriteria valid/baik/layak. Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah untuk mengetahui keefektifannya dalam pembelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw pada pokok bahasan sifat khusus fungsi dan sifat fungsi komposisi bagi siswa SMAN 7 Malang / Ikatwaty Nur Hartiningrum

 

ABSTRAK Hartiningrum, Ikatwaty Nur, 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Pada Pokok Bahasan Sifat Khusus Fungsi dan Sifat Fungsi Komposisi Bagi Siswa SMAN 7 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Etty Tedjo Dwi C, M. Pd (II) Drs. Eddy Budiono, M. Pd Kata-kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Salah satu usaha mencapai pengembangan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan media matematika adalah dengan pembelajaran yang menuntut siswa aktif, kerja keras, dan kemandirian. Dalam hal ini pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran kooperatif. Alasan mengapa pembelajaran kooperatif model Jigsaw dipilih dan diterapkan di SMAN 7 Malang adalah (1) berdasarkan informasi dan hasil observasi, pembelajaran jigsaw belum pernah diterapkan khususnya dalam matematika dan (2) terdapat perbedaan tingkat prestasi matematika siswa dan perbedaaan kemampuan siswa dalam menerima materi . Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan dan respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif model jigsaw mata pelajaran matematika pada pokok bahasan sifat khusus fungsi dan sifat fungsi komposisi di SMAN 7 Malang dengan subyek penelitian kelas XI IPA 2 yang terdiri atas 42 siswa. Tahapan tahapan pembelajaran kooperatif model jigsaw telah diterapkan di kelas tersebut di atas dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari aktifnya semua siswa dalam melaksanakan diskusi baik diskusi kelompok asal maupun kelompok ahli. Siswa tidak malu bertanya pada anggota kelompoknya dan juga tidak segan-segan memberikan penjelasan pada anggota kelompoknya yang belum mengerti. Hal ini dikarenakan kelompok yang terbentuk adalah kelompok yang heterogen dalam hal kemampuan akademik. Pemberian masalah yang berbeda yang disajikan dalam bentuk LKS dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan motivasi siswa untuk menguasai masalah lain yang dimiliki anggota kelompok asalnya setelah berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing sehingga diskusi tampak sangat menarik. Hal ini juga dikarenakan pemberian penghargaan pada kelompok terbaik dan pengadaan kuis di akhir diskusi. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw dalam pembelajaran materi sifat khusus fungsi dan sifat fungsi komposisi, menunjukkan bahwa siswa dapat menguasai materi tersebut dengan baik. Hal ini terlihat dari hasil kuis yang diberikan diakhir diskusi, menunjukkan bahwa persentase penguasaan siswa lebih dari 85% atau termasuk kriteria penguasaan sangat baik. Selain itu, respon siswa menunjukkan bahwa dengan menyelesaikan masalah dalam berkelompok mendorong siswa ikut mengungkapkan ide-ide mereka dan mereka tidak tegang mengikuti pembelajaran model jigsaw. Hal ini menunjukkan bahwa siswa merasa senang dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif model jigsaw pada pokok bahasan sifat khusus fungsi dan sifat fungsi komposisi

Pengaruh customer delight trhadap customer loyality pada siswa lembaga bahasa dan pendidikan profesianal LIA Malang / Putri Anindita A.

 

Implementasi media pendidikan pembebasan versi Paulo Freire (studi kasus pada SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah Desa Kalibening Kotamadya Salatiga Jawa Tengah) / Jemi Haris Wijaya

 

Menggali nilai-nilai moral (Pancasila) yang terkandung dalam kesenian tayub (studi praktik kesenian tayub di Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban) / Yuniarto Wahyu Prasetyo

 

Menentukan pohon rentang minimum (minimum spanning tree) dengan algoritma Sollin / Yuanita Furtadesi

 

Pengaruh penggunaan model pembelajaran siklus belajar tipe empirical-abductive terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X SMK Negeri 11 Malang dalam mempelajari materi pokok larutan elektrolit dan non-elektrolit / Nur Candr

 

ABSTRAK Setiawan, N. C. E. 2008. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Siklus Belajar Tipe Empirical-Abductive Terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas X SMK Negeri 11 Malang dalam Mempelajari Materi Pokok Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit. Skripsi, Proposal Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D, (II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Kata kunci: empirical-abductive leraning cycle, hasil belajar, berpikir tingkat tinggi. Guru-guru di SMK Negeri 11 Malang telah mencoba menerapkan model-model pembelajaran inovatif, namun masih mengalami kesulitan dalam implementasinya. Oleh sebab itu, model pembelajaran siklus belajar tipe empirical-abductive (empirical-abductive learning cycle) adalah salah satu alternatif pemecahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dampak penggunaan model pembelajaran siklus belajar tipe empirical-abductive dengan metode pembelajaran langsung pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X SMK Negeri 11 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu (quasi experimental designs) dengan menggunakan teknik sampling acak sederhana (simple random sampling) dengan salah satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas yang lain sebagai kelas eksperimen. Penelitian dilakukan pada 40 siswa kelas X.MM1 sebagai kelas eksperimen dan 40 siswa kelas X.MM2 sebagai kelas kontrol. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 11 Malang pada bulan Mei 2008 dengan objek penelitian adalah materi pokok larutan elektrolit dan non-elektrolit. Instrumen penelitian hasil belajar meliputi tes hasil belajar, soal postes, lembar observasi keaktifan siswa dan kelompok serta worksheet. Tes yang dilakukan telah di validasi dan diketahui reliabilitasnya sebesar 0,81. Analisis data dilakukan dengan Uji-t pada signifikasi α = 0,05 dan analisis deskriptif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa model pembelajaran siklus belajar tipe empirical-abductive dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Partisipasi aktif siswa pada tiap pertemuan juga meningkat. Uji-t menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol (thitung 3,04 > ttabel 1,99). Kemampuan berpikir tingkat tinggi kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Persentase siswa kelas eksperimen yang mampu mengerjakan soal tingkat C4-C6 juga lebih tinggi (68,33%, 85% dan 72,5%).

Penerapan model daur belajar dalam upaya peningkatan kualitas belajar mengajar pemisahan campuran siswa kelas VII MTs Almaarif 01 Singosari Malang / Theresya Purwaning Agustin

 

Menurut kurikulum 2004 dan 2006, IPA di SMP mencakup 3 mata pelajaran yaitu fisika, biologi dan kimia. Pembelajaran IPA di SMP memerlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk menghasilkan lulusan pendidikan seperti yang diharapkan. Penerapan pembelajaran IPA di SMP dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai yaitu model daur belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran kimia, hasil belajar dan persepsi siswa terhadap pembelajaran kimia dan penggunaan model daur belajar dalam pembelajaran materi pemisahan campuran. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian eksperimental semu. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VII MTs AlMaarif 01 Singosari Malang yang terdiri dari 6 kelas paralel dengan jumlah siswa 240. Sampel diambil secara acak dan didapatkan kelas VII F sebagai kelas kontrol dan kelas VII D sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa sama yaitu 40 orang siswa. Instrumen penelitian terdiri atas, instrumen pretes, instrumen pembelajaran model daur belajar dan konvensional, lembar observasi kualitas proses pembelajaran, angket persepsi sisw, instrumen tes (yang berupa tes tulis) dan lembar perekam psikomotorik. Teknik analisis data yang digunakan meliputi teknik analisis deskriptif dan uji-t dua pihak. Dari hasil penelitian terbukti bahwa kualitas proses pembelajaran kimia menggunakan model daur belajar lebih baik dibandingkan konvensional. Hal ini ditunjukkan dengan kriteria baik sekali sebesar 47,5 %, baik sebesar 45,0 %, cukup sebesar 12,5 % dan kurang sebesar 0 % untuk kelas kontrol sedangkan untuk kelas eksperimen kriteria baik sekali sebesar 55,0 %, baik sebesar 45,0 %, kriteria cukup dan kurang sebesar 0 %. Berdasarkan hasil belajar, ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model daur belajar dengan konvensional. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model daur belajar lebih tinggi daripada konvensional. Nilai rata-rata siswa yang diajar menggunakan model daur belajar adalah 79,00 dengan standar deviasi sebesar 6,48470 dan nilai rata-rata siswa yang diajar menggunakan model konvensional adalah 65,80 dengan standar deviasi sebesar 4,54719. Pada aspek psikomotor juga menunjukkan bahwa siswa yang diajar menggunakan model daur belajar lebih baik daripada konvensional. Hal ini ditunjukkan pada nilai psikomotorik kelas kontrol dengan kriteria baik sekali sebesar 50 %, baik sebesar 40 %, cukup sebesar 10 % dan kurang sebesar 0 % sedangkan untuk kelas eksperimen kriteria baik sekali sebesar 55 %, baik sebesar 42,5 %, cukup sebesar 2,5 % dan kurang sebesar 0 %. Persepsi siswa terhadap pembelajaran kimia dan penggunaan model daur belajar memberikan hasil yang positif sebesar 92,5 %.

Sistem pengendalian material pada proyek pembangunan tribun stadion Universitas Negeri Malang / Yeni Puspitaningpuri

 

ABSTRAK Husna, Siti Asmaul. 2008. Prosedur Pelaksanaan dan Pengakuan Pendapatan Sewa Guna Usaha (Leasing) Kendaraan pada Koperasi Pegawai PT. Indosat, Tbk (KOPINDOSAT) Surabaya. Tugas Akhir, Program Studi Diploma-III Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Makaryanawati, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: prosedur pelaksanaan, pengakuan pendapatan leasing. Suatu perusahaan akan berjalan dengan baik apabila sistem yang digunakan juga baik. Dalam rangkaian sistem manajemen, subsistem harus saling melengkapi untuk tercapainya suatu tujuan sistem yang merupakan tujuan perusahaan. Salah satu sistem yang penting dalam suatu perusahaan adalah sistem pendapatan. Pekerjaan ini menyangkut antar unit kerja yang saling berhubungan satu sama lain. Seiring dengan tingginya mobilitas perusahaan, suatu pekerjaan akan lebih kompleks dan dapat menimbulkan sewa guna usaha (leasing) kendaraan. Hal ini juga terjadi pada Koperasi Pegawai PT, Indosat, Tbk (KOPINDOSAT) Surabaya yang merupakan yang bekerja sama dengan PT. Indosat, Tbk dalam hal pengadaan barang dan jasa yang diperlukan guna menunjang seluruh kegiatan operasional PT. Indosat, Tbk. Sehingga, berkaitan dengan sewa guna usaha (leasing) kendaraan tersebut mengharuskan KOPINDOSAT Surabaya bekerjasama dengan supplier atau vendor. Untuk itu, guna mempermudah prosedur pelaksanaan sewa guna usaha (leasing) maka perusahaan diharapkan membuat metode pelaksanaan yang efektif. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui prosedur pelaksanaan dan pengakuan pendapatan sewa guna usaha (leasing) dari jasa penyediaan kendaraan pada Koperasi Pegawai PT. Indosat, Tbk (KOPINDOSAT) Surabaya. Tahapan dan metode analisis pemecahan masalah yang digunakan dalam penulisan ini adalah: (1) Mengumpulkan data pendukung, (2) Data yang telah terkumpul kemudian dicatat sesuai dengan metode akuntansi. Metode pencatatan yang digunakan oleh KOPINDOSAT Surabaya adalah accrual basis, (3) Melakukan pencatatan setiap periode (jatuh tempo pembayaran sewa) dan melakukan perhitungan sekaligus pencatatan amortisasi kendaraan setiap akhir tahun dan (4) Pengakuan pendapatan sewa guna usaha (capital lease dan operating lease) kendaraan pada Koperasi Pegawai PT. INDOSAT, Tbk (KOPINDOSAT) Surabaya. Selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada Koperasi Pegawai PT. Indosat, Tbk (KOPINDOSAT) Surabaya dapat disimpulkan bahwa tatacara pelaksanaan dan proses pengakuan pendapatan sewa guna usaha (leasing) pada perusahaan sudah baik. Akan tetapi, pada proses pengakuan pendapatan yang terjadi pada KOPINDOSAT Surabaya lebih sederhana jika dibandingkan dengan teori.

Penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri untuk meningkatkan kemampuan bertanya bidang sains bagi siswa kelas VIII-E SMPN 1 Probolinggo tahun ajaran 2007/2008 / Nur Choiriyah

 

ABSTRAK Choiriyah, Nur. 2008. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Model Inkuiri Untuk Meningkatkan Kemampuan Bertanya Bidang Sains Siswa Kelas VIII-E SMPN 1 Probolinggo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Fisika. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sutarman, (2) Drs. Sirwadji Kata kunci : model inkuiri, kemampuan bertanya Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan melalui kegiatan wawancara dan observasi, diperoleh informasi tentang rendahnya kemampuan bertanya siswa. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya aktivitas bertanya siswa yang disebabkan oleh keengganan siswa mengajukan pertanyaan kepada guru. Kegiatan pembelajaran yang sering digunakan guru yaitu metode ceramah yang berpusat pada kegiatan guru secara aktif dan kurang melibatkan siswa. Metode praktikum jarang digunakan dalam pembelajaran karena waktu pelaksanaannya kurang efisien. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri dalam upaya meningkatkan kemampuan bertanya siswa kelas VIII-E SMPN 1 Probolinggo dan mengetahui peningkatan kemampuan bertanya siswa. Penelitian ini bermanfaat bagi guru sebagai referensi model pembelajaran yang dapat digunakan agar pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan bertanya siswa Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang merupakan kajian sistematis dalam upaya peningkatan pembelajaran oleh guru di kelas. Pembelajaran yang digunakan adalah model inkuiri. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-E SMPN 1 Probolinggo dengan jumlah siswa 36 orang. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah cahaya dengan sub pokok bahasan perambatan cahaya, pemantulan cahaya serta sifat-sifat cermin cekung dan cembung. Instrumen penelitian berupa lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan rubrik penilaian kemampuan bertanya. Kemampuan bertanya siswa meliputi indikator tingkat pertanyaan, relevansi dan bahasa dari kalimat pertanyaan dan keberanian bertanya. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran kontekstual model inkuiri mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dan siklus III. Pelaksanaan pembelajaran model inkuiri meningkatkan aktivitas belajar siswa diantaranya antusias siswa mengajukan pertanyaan untuk memperoleh pengetahuan. Pembelajaran kontekstual model inkuiri dapat meningkatkan kemampuan bertanya siswa. Dalam hal ini ditunjukkan dengan peningkatan keberanian bertanya siswa dan peningkatan masing-masing indikator kemampuan bertanya siswa. Kemampuan bertanya siswa meningkat dari 21,70% pada siklus I menjadi 41,49% pada siklus II dan lebih meningkat menjadi 72,57% pada siklus III. Peningkatan kemampuan bertanya siswa juga ditunjukkan dengan membandingkan pertumbuhan kemampuan bertanya siswa yang diperoleh dari selisih kemampuan bertanya siswa siklus II dengan siklus I serta selisih kemampuan bertanya siswa siklus III dengan siklus II. Berdasarkan perbandingan ini diperoleh peningkatan pertumbuhan kemampuan bertanya siswa dari 19,79% menjadi 31,08% yang berarti terjadi peningkatan sebesar 11,29%.

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari ion logam seng(II) dan kobal(II) dengan ligan isokuinolin dan tiosianat / Gusti Made Chandra Puspita Rini

 

Penelitian dalam bidang senyawa koordinasi berkembang sangat pesat untuk memperoleh senyawa-senyawa baru yang mempunyai sifat khusus. Sintesis senyawa kompleks untuk memperoleh material yang bersifat magnetik merupakan salah satu yang berkembang, baik senyawa kompleks berion pusat tunggal maupun berion pusat dua. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa kompleks menggunakan garam seng(II) dan kobalt(II) dengan ligan isokuinolin dan tiosianat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang. Sintesis senyawa kompleks pada penelitian ini dilakukan dengan metode reaksi langsung. Sintesis dilakukan dalam dua tahap yaitu reaksi antara Zn(II) dengan isokuinolin (1 : 2) kemudian senyawa kompleks yang dihasilkan direaksikan dengan senyawa kompleks [Co(SCN)6]4- yang diperoleh dari reaksi Co(II) dan KSCN dengan perbandingan (1 : 6). Proses kristalisasi dilakukan pada suhu ruang dengan cara penguapan perlahan. Tahap karakterisasi senyawa kompleks meliputi penentuan titik lebur, penentuan panjang gelombang maksimum dengan spektroskopi UV-VIS, penentuan bilangan koordinasi menggunakan metode Job’s , penentuan gugus fungsi dengan spektroskopi IR, uji kualitatif, uji SSA( Spektroskopi Serapan Atom ), dan uji konduktifitas. Tahap terakhir adalah penentuan moment magnet dengan menggunakan Magnetic Susceptibility Balance (MSB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode sintesis senyawa kompleks untuk garam seng(II) dan kobalt(II) dengan ligan isokuinolin dan kalium tiosianat adalah reaksi langsung. Kristal senyawa kompleks yang diperoleh dari reaksi antara seng(II)nitrat dan ligan isokuinolin dengan kobalt sulfat dan garam kalium tiosianat berwarna biru tua (senyawa kompleks I), sedangkan seng(II)nitrat dan ligan isokuinolin dengan kobalt(II)nitrat dan garam kalium tiosianat berwarna biru tua (senyawa kompleks II). Senyawa kompleks I mempunyai titik lebur 177-179oC dan rendemen 6,91%, sedangkan senyawa kompleks II mempunyai titik lebur 180-181oC dengan rendemen 7,35%. Dari hasil penentuan λmax diperoleh serapan maksimum pada 318 nm untuk senyawa kompleks I dan 321 nm untuk senyawa kompleks II. Harga momen magnet senyawa kompleks sebesar 1,16 BM yang berarti bersifat paramagnetik. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks I relatif sama dengan senyawa kompleks II, yang diprediksi mempunyai rumus molekul K2[Zn(isokuinolin)2(H2O)3][Co(SCN)4]. Rumus struktur senyawa tersebut belum ditentukan dengan Difraksi sinar-X karena keterbatasan alat.

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks ion logam nikel(II) dan ion logam seng(II) dengan ligan kurkumin / Theresya Purwaning Agustin

 

Pengaruh minat menjadi guru terhadap prestasi belajar mahasiswa Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Chrisna Ari Sugandha

 

Hubungan antara cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara dengan moralitas anak (studi kasus warga KODIM 0814 Jombang) / Ratna Fitri Astuti

 

ABSTRAK Astuti, Ratna Fitri. 2008. Hubungan Antara Cara Didik Orang Tua yang Berprofesi Sebagai Tentara Dengan Moralitas Anak. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Suwarno Winarno (II) Siti Awaliyah S. Pd, M. Hum. Kata Kunci: Cara Didik Orang Tua, Moralitas Anak Cara didik orang tua merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku moral anak. Dalam penelitian ini pengukuran dari cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara dapat dilihat dari empat aspek yaitu komunikasi dengan anak, cara mendidik anak, pemberian hukuman pada anak, dan keinginan terhadap anak. Moral merupakan sesuatu yang dapat mempengaruhi perilaku dalam mengambil tindakan yang baik atau buruk di dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun bermasyarakat. Dalam penelitian ini pengukuran tingkat moral menggunakan empat aspek yang dapat dinilai yaitu disiplin, patuh/taat pada orang tua, sopan santun, dan kejujuran. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui tingkat cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara, 2) mengetahui tingkat moralitas anak dari orang tua yang berprofesi sebagai tentara, 3) mengetahui hubungan antara cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara dengan moralitas anak. Rancangan penelitian ini menggunakan metode assosiatif dengan jenis penelitian korelasi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 82 yang terdiri dari anggota KODIM 0814 Jombang yang diambil dengan menggunakan teknik Stratified Random Sampling, dan anaknya dengan ketentuan berada pada usia sekolah SMP dan SMA (usia sekitar 13 sampai 17 tahun). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket untuk mengetahui cara didik dari orang tua yang berprofesi sebagai tentara dan gambaran moralitas anak dari orang tua yang berprofesi sebagai tentara. Analisis data menggunakan teknik Korelasi Product Moment Pearson yang pelaksanaannya dibantu program SPSS 13.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan tingginya tingkat cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara, dan tingkat moralitas anak dari orang tua yang berprofesi sebagai tentara berada pada kategori tinggi pula, serta adanya hubungan positif antara cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara dengan moralitas anak dari orang tua yang berprofesi sebagai tentara (r= 0,789). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa tingkat cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara termasuk kategori tinggi, tingkat moralitas anak dari orang tua yang berprofesi sebagai tentara tergolong tinggi, dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara dan moralitas anaknya, yang artinya semakin tinggi tingkat cara didik orang tua yang berprofesi sebagai tentara maka semakin tinggi pula tingkat moralitas anaknya.

Penerapan pembelajaran model inkuiri induktif untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang / Ervan Hendriyanto

 

Bolavoli merupakan salah satu cabang olahraga yang diajarkan di sekolah-sekolah, khususnya keterampilan dasar bolavoli. Keterampilan dasar bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan teknik dasar, teknik lanjutan dan strategi bermain bolavoli. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan mengkaji keterampilan teknik dasar passing bawah dan service bawah bolavoli bagi siswa SMK kelas I semester I, dan diharapkan guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani dapat mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran dan pemberian penilaian yang tepat kepada siswa dengan penguasaan teknik dasar yang beragam. Penelitian ini dilakukan di SMK Kosgoro 3 Tumpang Kabupaten Malang bagi siswa kelas I semester I dengan materi passing bawah dan service bawah cabang olahraga bolavoli, tanggal 19, 21 dan 22 Desember 2007 pukul 07.30-10.30 WIB. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif survei yang dilakukan melalui tes ulang (test retest) sebanyak tiga kali kesempatan. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah uji statistik deskriptif (rata¬rata persentase). Penelitian ini dilakukan karena teknik dasar passing bawah dan service bawah bolavoli merupakan teknik yang harus dikuasai oleh siswasebelum teknik-teknik dasar yang lain. Dan juga frekuensi untuk melakukan passing bawah dan service bawah dalam permainan bolavoli sangat banyak. Serta materi teknik dasar ini juga terdapat di dalam kurikulum yang digunakan di SMK Kosgoro 3 Tumpang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada teknik dasar passing bawah, siswa yang memiliki kualifikasi baik bejumlah 15 orang (33,33%), kualifikasi cukup berjumlah 19 orang (42,22%), kualifikasi kurang baik berjumlah 11 orang (24,45%). Sedangkan pada teknik dasar service bawah, siswa yang memiliki kualifikasi baik berjumlah 19 orang (42,22%), kualifikasi cukup berjumlah 14 orang (31,11%), kualifikasi kurang baik berjumlah 10 orang (22,22%) dan kualifikasi tidak baik berjumlah 2 orang (4,45%). Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar dalam pemberian teknik dasar kepada siswa oleh guru, diberikan secara bertahap agar siswa dapat menguasai secara mendalam tentang teknik dasar tersebut. Hal ini memberikan dampak pada penilaian guru terhadap siswa, sehingga penilaian dapat tepat sasaran pada siswa yang bersangkutan.

Studi tentang keterampilan teknik dasar passing bawah dan service bawah bola voli siswa kelas I semester I SMK Kosgoro 3 Tumpang Kabupaten Malang / Ahmad Guridno

 

Analisis pengaruh variasi jenis asam pada proses aktivasi terhadap rasio Si/Al zeolit sebagai adsorben ion (Cu(II) / Rizqi Fitria Ariyanti

 

Zeolit merupakan kristal aluminosilikat terhidrasi yang mempunyai kemampuan adsorpsi tinggi. Untuk mendapat hasil adsorpsi yang optimal dari zeolit alam maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jenis asam yang tepat dalam proses aktivasi zeolit. Jenis asam sangat berpengaruh terhadap harga rasio Si/Al dan kemampuan adsorpasi dari zeolit. Zeolit dengan harga rasio Si/Al yang tinggi, memiliki kemampuan adsorptivitas yang tinggi. Penggunaan variasi jenis asam pada saat aktivasi zeolit memberikan pengaruh berbeda terhadap harga rasio Si/Al. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh variasi jenis asam terhadap harga rasio Si/Al dari zeolit dan mengetahui pengaruh rasio Si/Al terhadap kemampuan zeolit mengadsorpi ion Cu(II). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis asam yang digunakan pada saat aktivasi zeolit, sedangkan variabel terikatnya adalah rasio Si/Al sampel zeolit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental yang di lakukan Laboratorium Kimia FMIPA UM. Penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahapan, meliputi : 1) Tahap aktivasi zeolit, 2) Tahap karakterisasi zeolit yang meliputi: penentuan % kadar air hidrat, penentuan keasaman padatan, penentuaan rasio Si/Al zeolit, penentuan % kemampuan zeolit mengadsorpsi ion Cu(II). Zeolit yang digunakan berasal dari desa Kedung Banteng kecamatan Sumbermanjing Wetan kabupaten Malang dengan ukuran > 80 mesh. Aktivasi dilakukan secara fisika maupun kimia. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan merendam zeolit dengan HF 1%, dilanjutkan dengan merefluks zeolit masing-masing dengan H2SO4 dan HNO3 konsentrasi 6 N, 8 N, dan 10 N pada suhu 750 C selama 4 jam. Selanjutnya, zeolit direndam dengan larutan NH4NO3 1 N sambil dishaker dengan kecepatan 130 rpm selama 4 jam. Aktivasi secara fisika dilakukan dengan pemanasan atau kalsinasi pada suhu 8500 C di dalam furnace selama 4 jam. Zeolit alam dan zeolit hasil aktivasi ditentukan kadar air, keasaman padatan, dan penentuan rasio Si/Al. Selanjutnya sampel zeolit alam dan zeolit hasil aktivasi dengan H2SO4 dan HNO3 mempunyai rasio Si/Al yang tertinggi digunakan sebagai adsorben ion Cu(II). Hasil penelitian menunjukkan % kadar air dari zeolit alam dan zeolit hasil aktivasi ZA, ZS-6, ZS-8, ZS-10, ZN-6, ZN-8, dan ZN-10 berturut-turut adalah 9,2; 0,67; 1,28; 0,97; 1,37; 0,78; dan 1,28. Keasaman dari zeolit alam dan zeolit hasil aktivasi berturut-turut adalah 0,353; 1,647; 0,588; 0,823; 0,470; 1,058; dan 0,705 mmol/g, dan hasil penentuan rasio Si/Al berturut-turut adalah 4,323; 4,869; 4,738; 4,830; 4,490; 4,857; dan 4,779. Adapun persentase kemampuan adsorpsi terhadap ion Cu2+ untuk sampel Z-A, ZN-8, dan ZS-6 berturut-turut adalah 21,383; 47,926; dan 87,151.

Rancang bangun prototipe mesin penggiling dan penyiang kedelai / Nurhayadi

 

Tanaman kacang-kacangan sudah ditanam di Indonesia sejak beratus tahun yan lalu. Tanaman ini terdiri atas berbagai jenis, misalanya kacang kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan berbagai jenis kacang sayur misalanya kecipir, kapri, kacang panjang dan buncis. ( Fachruddin 2000 : 9 ). Kacang kedelai (Glycine max ( L. ) Merill.), banyak dimanfaaatkan dalam pembuatan tempe, kecap, tahu dan susu. Tanaman kedelai dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Polypetales Famili : Papilionaceae Kedelai memiliki beberapa varietas baik lokal maupun import, untuk impor didapat dari negara Amerika Serikat ( USA ), Thailand, dan Jepang. Untuk varietas lokal, sebagai contoh varietas Lokon dan Guntur, cocok bagi lahan yang beririasi. Varietas Raung dan Pangrango, tahan terhadap naungan, sehingga cocok ditanam secara tumpang sari. Varietas Lompo Batang, cocok ditanam di daerah kering.

Sintesis dan karakterisasi senyawa hidroksi ester asetat dari minyak jarak pagar (Jatropha curcas L.) dengan pereaksi asam asetat dan uji potensinya sebagai pelumas / Ricky Galih Romadhon

 

Romadhon, Ricky Galih. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Hidroksi Ester Asetat dari Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dengan Pereaksi Asam Asetat dan Uji Potensinya sebagai Pelumas. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Parlan, M.Si, (2) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata-kata kunci: minyak jarak pagar, epoksida, pembukaan cincin epoksida, senyawa hidroksi ester asetat, pelumas.     Pelumas yang beredar saat ini sebagian besar merupakan minyak pelumas mineral yang berbahan dasar minyak bumi. Minyak bumi merupakan salah satu dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui maka sumber daya alam ini akan habis jika digunakan terus-menerus. Untuk mengatasi masalah tersebut beberapa tahun terakhir telah dilakukan penelitian untuk mencari sumber alternatif baru pengganti minyak bumi sebagai bahan baku pelumas mineral, salah satunya berasal dari minyak jarak pagar (Jatropha curcas L.). Minyak jarak pagar tersusun dari beberapa asam lemak dengan asam oleat dan asam linoleat merupakan komposisi terbesar. Asam oleat dan linoleat dalam minyak jarak pagar memiliki ikatan rangkap yang mengakibatkan tingkat kestabilan terhadap oksidasinya rendah. Hal ini mengakibatkan minyak jarak pagar mudah teroksidasi oleh reaksi kimia dan temperatur yang tinggi. Oleh karena itu komposisi terbesar di dalam minyak jarak pagar perlu diubah menjadi senyawa lain berupa senyawa hidroksi ester asetat. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa hidroksi ester asetat dari minyak jarak pagar, mengetahui karakteristik senyawa hasil sintesis serta mengetahui potensinya sebagai pelumas.     Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Tahapan-tahapan dalam penelitian ini meliputi (1) reaksi epoksidasi minyak jarak pagar, (2) reaksi pembukaan cincin epoksida membentuk senyawa hidroksi ester asetat, dan (3) karakterisasi senyawa hasil sintesis meliputi massa jenis, viskositas, dan titik nyala. Analisis senyawa hidroksi ester asetat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dan identifikasi gugus fungsinya dilakukan dengan spektrofotometri inframerah.     Hasil penelitian menunjukkan ikatan rangkap dalam minyak jarak pagar dapat diubah menjadi gugus hidroksi ester asetat. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa hidroksi ester asetat minyak jarak pagar dapat disintesis dengan dua tahap yaitu epoksidasi dan pembukaan cincin epoksida. Hasil karakterisasi diperoleh massa jenis hidroksi ester asetat minyak jarak pagar sebesar 0,994 g/mL. Viskositasnya pada temperatur 25ºC (93,067 cSt), 40ºC (63,493 cSt), dan 100ºC (11,822 cSt). Berdasarkan data viskositas tersebut maka senyawa ini masuk dalam standar pelumas roda gigi AGMA no.2, pelumas mesin SAE 20 dan pelumas ISO VG 68. Titik nyala senyawa ini sebesar 102,9ºC. Berdasarkan data titik nyalanya senyawa ini belum bisa digunakan sebagai pelumas mesin karena mesin biasanya bekerja pada temperatur yang lebih tinggi.

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams game tournaments) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa SMP Darul Ulum Agung Malang / Dwi Afrina Santi

 

Rancangan pembelajaran kooperatif model numbered heads together dengan pendekatan pemecahan masalah pada pokok bahasan trigonometri bagi siswa SMA kelas X semester 2 / Indah Kurnia

 

Tujuan penulisan ini adalah menyusun rancangan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together dengan pendekatan pemecahan masalah pada materi trigonometri bagi siswa kelas X. Rancangan pembelajaran merupakan komponen penting yang pengembangannya harus dilakukan secara operasional dan rinci, serta siap dijadikan pedoman atau skenario dalam pembelajaran. Dalam pengembangan rancangan pembelajaran, guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan daerah, serta dengan karakteristik peserta didik. Numbered Heads Together merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer Kagan. Model pembelajaran ini lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya untuk dipresentasikan di depan kelas. Model pembelajaran ini selalu diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok sengaja diberi nomor untuk memudahkan kinerja kelompok, mengubah posisi kelompok, menyusun materi, mempresentasikan, dan mendapat tanggapan dari kelompok lain. Rancangan pembelajaran yang dibuat menggunakan pendekatan pemecahan masalah dengan model Polya yaitu: memahami masalah, menentukan rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali. Dengan pendekatan pemecahan masalah, siswa tidak hanya dituntut untuk mengerjakan soal yang memerlukan ingatan yang baik saja, tetapi kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, dan rasional sangat dibutuhkan. Karenanya, seorang guru bisa saja memulai pembelajarannya dengan memberikan soal yang menantang dan menarik bagi siswa sebelum membahas teori-teori, definisi, maupun rumus-rumus matematika.

Nilai-nilai moral yang terkandung dalam kesenian reog Ponorogo / Erwin Yunarni

 

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru akuntansi terhadap prestasi belajar pada Program Keahlian Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang / Okti Dwi Arindani

 

i ABSTRAK Arindani, Okti Dwi. 2008. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Profesional Guru Akuntansi Terhadap Prestasi Belajar Pada Program Keahlian Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Triadi Agung Sudarto, SE., M.Si., Ak. Kata Kunci: Persepsi, Kompetensi Profesional, Prestasi Belajar. Pendidikan nasional memegang peranan penting dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan bangsa Indonesia. Salah satu komponen pendidikan yang memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan adalah guru. Guru yang kompeten dalam bidangnya adalah salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, oleh karena itu penelitian ini membahas tentang bagaimana persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru akuntansi terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi yang mempunyai tujuan sebagai berikut: 1) untuk mengetahui persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang, 2) untuk mengetahui prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang, 3) untuk mengetahui apakah persepsi tentang kompetensi profesional guru akuntansi berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi (explanatory research). Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana (Simple Linier Regression Analysis). Variabel dalam penelitian ini meliputi : persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar siswa (Y) sebagai variabel terikatnya. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa program keahlian akuntansi yang berjumlah 245 siswa. Sampel yang digunakan sebesar 70% yang berjumlah 65 siswa. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa persepsi siswa akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang mempunyai kualifikasi baik dengan skor rata-rata (mean) sebesar 81,739. Prestasi belajar siswa akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang mempunyai kualifikasi cukup dengan skor rata-rata (mean) sebesar 7,59. Ada pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru akuntansi terhadap prestasi belajar pada program keahlian akuntansi di SMK Ardjuna 02 Malang yang ditunjukkan dari nilai Sig F sebesar 0,000 dan besarnya pengaruh dapat dilihat dari nilai R2 sebesar 35,5%. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan mengacu pada hasil temuan yang menyatakan persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru akuntansi berpengaruh terhadap prestasi belajar pada program keahlian akuntansi adalah bagi guru akuntansi hendaknya kompetensi profesional guru lebih ditingkatkan lagi sehingga dapat berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Sedangkan bagi pembaca yang berminat meneliti kasus sejenis, sebaiknya mengembangkan variabel lain dan lingkup yang lebih luas.

Kajian semiotika terhadap novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan / Diah Nur Robbaniah

 

Karya sastra merupakan media untuk menuangkan ide, gagasan, dan pendapat pengarang dalam bentuk lain baik secara tersurat atau terbuka dan tersirat atau tersembunyi. Cara sastrawan tersebut dapat menggunakan bahasa yang menyiratkan makna lain atau dengan bahasa kias/bahasa simbolik. Novel sebagai karya sastra kadang juga menggunakan bahasa yang lugas tetapi ada kalanya juga menggunakan bahasa simbolik karena novel juga merupakan alat bagi pengarang untuk menyampaikan ide-ide. Untuk mengetahui makna tersirat yang berupa bahsa simbolis itulah diperlukan sebuah kajian atau pendekatan tertentu. Kajian untuk mengetahui makna tersirat dalam novel sastra dapat dilakukan dengan kajian semiotika. Dalam novel Cantik Itu Luka, terkandung tanda yang dapat dianalisis melalui tipologi tanda yang berupa ikon, indeks, dan simbol yang merupakan bagian dari semiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan sistem tanda sebagai unsur-unsur kajian semiotika yang terkandung dalam novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan. Kandungan tanda-tanda dalam Cantik Itu Luka yang dikaji meliputi ikon, indeks, dan simbol serta makna di balik tanda-tanda semiotika yang merepresentasikan maksud isi novel tersebut. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti sendiri sebagai instrumen utama melakukan penafsiran makna dari data yang diperoleh dengan menggambarkan dan menganalisis aspek-aspek semiotika (bentuk-bentuk ikon, indeks,dan simbol) yang terdapat dala novel Cantik Itu Luka yang terdiri dari 18 bagian dan 539 halaman. Peneliti juga menggunakan format panduan kodifikasi data untuk menentukan data dan kode data (klasifikasi temuan data) sehingga dapat mempermudah peneliti dalam melakukananalisis dan kaj ian. Dari hasil analisis didapatkan bahwa terdapat temuan bentuk-bentuk ikon, indeks, dan simbol sebagai tanda-tanda semiotik. (1) Ikon didapati berbentuk ikon kostum (kostum sebagai identitas pekerjaan, kostum sebagai ikon aliran/faham, kostum sebagai ikon status sosial), perhiasan sebagai ikon penanda sosial, parfum sebagai ikon penanda sosial, perumahan mewah sebagai ikon penanda sosial, alat hiburan sebagai ikon penanda sosial dan ikon penyakit. (2) Indeksikal yang berupa indeksikal perilaku (perilaku penggoda sebagai indeks pekerjaan, perilaku seks bebas sebagai indeks penurunan sikap orang tua), gaya hidup sebagai indeks penanda sosial, penampilan fisik sebagai indeks penanda sosial, dan indeksikal pekerjaan sebagai penanda sosial. (3) Simbol yang berupa nama-nama tokoh sebagai simbol keindahan dan kecantikan, nama-nama tokoh sebagai simbol pekerjaan, nama tempat sebagai simbol dunia remang-remang, bahasa sebagai simbol penanda sosial, kematian sebagai simbol perilaku seseorang semasa hidup, dan gundik sebagai simbol pemuas nafsu penguasa. (4) Makna yang diperoleh dari keseluruhan tanda ikon, simbol, dan indeks novel Cantik Itu Luka Karya Eke Kurniawan adalah makna kekayaan, kecantikan, dan nama. Kekayaan materi yang dimiliki seseoran g hanya akan membawa musibah bila tidak diimbangi dengan kekayaan hati. Makna kecantikan terdiri dari dua yaitu kecantikan fisik dan kecantikan hati (inner beauty).Kecantikan fisik justru membuat derita dan malapetaka sedangkan kecantikan yang sejati adalah kecantikan yang tercermin dari hati seorang wanita. Makna ketiga adalah nama. Nama merupakan sebuah doa dan merupakan cermin identitas kepribadian si pemiliknama. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat terutama bagi peneliti maupun orang lain dalam mengapresiasi karya sastra agar dapat memahami maksud dan maknaya sesuai maksud pengarang. Untuk mengetahui maksud dan makna tersirat, seorang peneliti harus menggunakan kajian semiotika, khususnya menggunakan tipologi tanda yang meliputi indeks, ikon, dan simbol. Hal itu dimaksudkan agar pembaca benar-benar memahami secara khusus apa saja yang diungkakpkan oleh pengarang dalam novel tersebut. Bagi penulis yang lain, menggunakan nama-nama tokoh dengan menggunakan simbol-simbol tertentu dapat membantu pembaca dalam memahami pesan yang ingin disampaikan pengarang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |