Subgraph matched maksimal graph lintasan R-partisi komplit untuk pencarian pola musikal / Martha Yulian Sitawati

 

ABSTRAK Sitawati, Martha Yulian. 2009. Subgraph Matched Maksimal Graph Lintasan R- Partisi Komplit Untuk Pencarian Pola Musikal. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si. (II) Mahmuddin Yunus, S.Kom. Kata kunci: graph lintasan r-partisi komplit, pola musikal, matched. Teori Graph merupakan salah satu cabang matematika yang banyak bermanfaat karena dengan menggunakan rumusan atau metode dari Teori Graph yang tepat maka kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan lebih mudah. Salah satu aplikasinya adalah di bidang musik. Teori Graph membantu dalam memodulasi, mengaransemen, dan menemukan keharmonisan pada suatu lagu. Musik dapat dimodelkan dalam bentuk graph lintasan r-part isi komplit, dengan titik menggambarkan notasi musik, sisi menggambarkan relasi antar sepasang notasi musik, sedangkan partisi menggambarkan arus yang ada dalam alunan musik. Keharmonisan dalam sebuah lagu merupakan pola musikal lagu tersebut. Bila ditemukan subgraph matched maksimal dari kelas pitch yang ditentukan, maka subgraph tersebut merupakan pola musikal dari lagu tersebut. Pada skripsi ini, pencarian pola musikal tersebut akan dipergunakan untuk menganalisa kesamaan antara dua buah lagu secara melodik. Dengan melihat pola musikal yang ada dalam masing-masing lagu tersebut maka akan terlihat bila ada kesamaan. Selain itu terdapat alat bantu untuk menganalisa kesamaan antara dua lagu, yaitu dengan menggunakan software FruityLoops Studio 8. Software tersebut dapat dipergunakan dengan melihat gambar frekuensi dari dua lagu yang dibandingkan dan memainkannya secara bersamaan

Pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (analisis terhadap Kota Batu periode Januari 2008 - Juni 2010) / Fakhrul Ikhsan Nugroho

 

Kata kunci: Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Pendapatan Asli Daerah. Pendapatan asli daerah merupakan sektor penerimaan yang sangat penting bagi keberlangsungan pembangunan daerah. Semakin tinggi penerimaan terhadap pendapatan asli daerah maka semakin besar pula kemampuan bagi daerah tersebut untuk melaksanakan dan mensukseskan pembangunan daerah. Dalam hal ini pajak daerah dan retribusi daerah memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai sektor penyumbang pendapatan asli daerah. Kota Batu dituntut untuk melakukan pembenahan struktural yang meliputi identifikasi potensi PAD, peningkatan kapasitas dan kapabilitas aparat dan peningkatan identifikasi potensi dari sektor pajak dan retribusi daerah, agar sumber-sumber potensi yang ada dapat digali secara maksimal. Sehingga tidak terus terjadi ketergantungan terhadap pendapatan antara pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian terhadap sumber-sumber pendapatan yang mendukung PAD, yakni pajak daerah dan retribusi daerah. Peneliti berkeinginan untuk meneliti dan menganalisis kontribusi dari pajak daerah dan retribusi tersebut terhadap PAD kota Batu, serta perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan PAD kota Batu tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini terdiri dari variabel pajak daerah (X1) dan variabel retribusi daerah (X2). Sedangkan untuk variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah pendapatan asli daerah. Populasi dalam penelitian ini adalah pendapatan asli daerah kota Batu periode Januari 2008 hingga Juni 2010 (30 bulan). Sedangkan sampel dalam penelitian kali ini adalah pajak daerah dan retribusi daerah kota Batu dalam periode yang sama yaitu Januari 2008 hingga Juni 2010 (30 bulan). Fokus dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan asli daerah kota batu, (2) untuk menganalisis pengaruh dari pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah secara parsial dan simultan serta untuk menganalisis variabel apa yang paling berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah, dan yang terakhir (3) untuk menganalisis upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah kota batu dalam meningkatkanpendapatan asli daerah kota batu. Untuk menganalisis beberapa fokus penelitian diatas, maka peneliti menggunakan beberapa alat analisis diantaranya analisis deskriptif yang berupa analisis persentase dan analisis kontribusi dan alat analisis statistik yang berupa analisis regresi. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa (1) Persentase atas perkembangan pajak daerah kota Batu yang terbesar selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 terjadi pada bulan Maret 2010, yaitu sebesar 132,98%. Persentase atas perkembangan pajak daerah kota Batu yang terkecil terjadi pada bulan Februari 2010, yaitu sebesar -58.53%. Rata-rata persentase perkembangan penerimaan pajak daerah selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 adalah 20,48%. (2) Persentase atas perkembangan retribusi daerah kota Batu yang terbesar selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 terjadi pada bulan Desember 2009, yaitu sebesar 940,12%. Persentase atas perkembangan retribusi daerah kota Batu yang terkecil terjadi pada bulan November 2009, yaitu sebesar -89,70%. Rata-rata persentase perkembangan penerimaan Retribusi Daerah sejak Januari 2008 hingga Juni 2010 adalah 48,02%. (3) Persentase atas perkembangan pendapatan asli daerah kota Batu yang terbesar selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 terjadi pada bulan November 2008, yaitu sebesar 204,58%. Persentase atas perkembangan pendapatan asli daerah kota Batu yang terkecil terjadi pada bulan Januari 2009, yaitu sebesar -75,35%. Rata-rata persentase perkembangan penerimaan pendapatan asli daerah sejak januari 2008 hingga juni 2010 adalah 16,38%. Selanjutnya dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan asli daerah mengalami pertumbuhan yang fluktuatif setiap bulanya. (2) Secara parsial pajak daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah, sedangkan retribusi daerah berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Secara simultan pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Variabel yang paling berpengaruh dominan terhadap pendapatan asli daerah selama 30 bulan terhitung sejak Januari 2008 hingga Juni 2010 adalah pajak daerah. (3) Variabel bebas yang mempunyai pengaruh kuat terhadap variabel terikat pendapatan asli daerah adalah variabel pajak daerah (X1). (4) Pemerintah daerah kota Batu menerapkan kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak serta kebijakan ekstensifikasi retribusi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah kota Batu. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah kota batu adalah dengan usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang dilakukan dengan cara aktif dimana petugas pemungut harus lebih giat dalam usaha melakukan penagihan baik pembayaran atau tunggakan. Meningkatkan kualitas aparat pemungut antara lain dengan diadakannya pembenahan dalam hal yang berkenaan dengan manajemen perpajakan seperti : pelatihan, dan studi banding maupun diskusi-diskusi sehingga petugas dapat mengetahui dan lancar dalam menjalankan tugasnya. Peningkatan disipilin dan loyalitas para petugas pemungut lapangan dalam memungut pajak serta perlu dipertimbangkan insentif kerja. Mengadakan penyuluhan dan meningkatkan motivasi masyarakat guna menumbuhkan kesadaran dalam diri masyarakat atas kewajibannya membayar pajak yang merupakan langkah penting dalam usaha meningkatkan laju pemasukan pendapatan asli daerah. Perlunya sanksi tegas terhadap penyimpangan dan penyelewengan bagi wajib pajak ataupun pemungut pajak dan sanksi dengan pelaksanaan hukum bagi pelanggar pengumpul atau pemungut retribusi. Penyempurnaan sistem kerja sehingga tidak terjadi kebocoran-kebocoran dari penerimaan yang tidak diinginkan.

Pengaruh rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva terhadap return on investment pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2009 / Irvan Fachrudin

 

Kata kunci: rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva dan Return on Investment Return on Investment seringkali digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai perkembangan suatu perusahaan. Return on Investment merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi Return on Investment perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva terhadap Return on Investment pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2009. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausalitas yaitu untuk mengetahui hubungan antara rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva terhadap Return on Investment. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2009, dengan total populasi sebanyak 20 perusahaan. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sejumlah 12 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2006-2009. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio lancar berpengaruh negatif terhadap Return on Investment. Rasio perputaran modal kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Investment. Rasio perputaran total aktiva berpengaruh positif terhadap Return on Investment. Rasio lancar berpengaruh dominan terhadap Return on Investment. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah (1) bagi perusahaan food and beverages sebaiknya memperhatikan sumber dana yang digunakan dalam operasional untuk meningkatkan Return on Investment, (2) Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya digunakan sampel dengan karakteristik yang lebih beragam, sampel yang lebih besar dan periode penelitian yang lebih panjang, (3) Dalam penelitian selanjutnya, diharapkan agar memasukkan ukuran perusahaan (size effect), karena mungkin ada perbedaan hasil sehingga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang lebih cermat.

Vehicle routing problem with simultaneous deliveries and pick-ups (VRPSDP) dengan metode insertion heuristic dan penerapannya / Diaz Vinancya Ayuandari

 

ABSTRAK Ayuandari, Diaz Vinancya. 2009.Vehicle Routing Problem with Simultaneous Deliveries and Pick-ups (VRPSDP) dengan Metode Insertion Heuristic dan Penerapannya. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si., (II) Dra. Susy Kuspambudi A., M.Kom. Kata Kunci: Vehicle Routing Problem, VRP with Simultaneous Deliveries and Pick-ups, Metode Insertion Heuristic Masalah distribusi adalah bagian dari permasalahan penyediaan barang atau jasa dari depot (pusat distribusi) ke customer yang tersebar di berbagai lokasi. Kondisi lokasi customer yang tersebar, seringkali menyebabkan kendaraan harus menempuh perjalanan yang jauh dan tidak efisien. Salah satu konsep pada teori graph yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah Vehicle Routing Problem (VRP). Salah satu pengembangan dari permasalahan VRP yaituVehicle Routing Problem with Simutaneous Deliveries and Pick-ups (VRPSDP) yang merupakan pengembangan dari VRP dengan penambahan kendala, dimana pada saat pengiriman barang, dilakukan pula pengambilan kemasan isi ulang/produk cacat secara simultan pada setiap titik pada lintasan. Permasalahan VRPSDP yang dibahas diselesaikan dengan menggunakan metodeInsertion Heuristicdan digambarkan dengan suatu graph. Gambar graph tersebut dianggap sebagai peta yang menjelaskan kemungkinan jalur yang dapat dilewati dengan setiap titik mewakili depot dan customer, setiap sisi menunjukkan jalan yang menghubungkan antar titik dan setiap bobot pada sisi mewakili jarak. p, dan Jumlah permintaan barang dinotasikan dengani d, pengembalian barangi kapasitas kendaraanQ. Pencarian solusi dimulai dengan membentuk beberapa rute awal sesuai dengan jumlah kendaraan, kemudian penyisipan titiki dengan å d³ dilanjutkan penyisipan titikidengani d< yang memenuhiQ di£ ip ip i å hingga semua titik termuat dalam rute. danQ pi£ Pembahasan mengenai permasalahan VRPSDP ini memberikan beberapa analisa. Algoritmainsertion yang digunakan dalam penyelesaian permasalahan VRP dengan permasalahan VRPSDP mempunyai persamaan dalam hal penyisipannya, yaitu sama-sama melakukan proses perluasan rute dengan penyisipan titik customer. Namun bedanya yaitu pada permasalahan VRP, penyisipan titik customer didasarkan pada bobot sisi atau jarak antar customernya. Sedangkan pada permasalahan VRPSDP, penyisipan titik customer didasarkan pada jumlah permintaan maupun pengembalian barang tiap customernya. Dari penerapan 4 contoh permasalahan VRPSDP dapat diberikan analisa pada penentuan posisi penyisipan untuk titik-titik customer dengan jumlah permintaan yang lebih kecil dari pengembalian barangnya, urutan customer harus diperhatikan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap kendala kapasitas.

Analisa model matematika untuk penyebaran penyakit tuberculosis dengan exogenous reinfection / Indah Triwahyuni

 

ABSTRAK Triwahyuni, Indah. 2009. Analisa Model Matematika Untuk Penyebaran Penyakit Tuberculosis Dengan Exogenous Reinfection. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. (II) Drs. Rustanto Rahardi, M.Si. Kata kunci: model penyebaran penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection, sistem dinamik, persamaan diferensial, angka dasar reproduksi. Penyebaran penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection pada suatu populasi dengan total populasi (N) dapat dimodelkan secara matematis. Populasi tersebut dibagi menjadi empat kelas epidemik yaitu susceptible (S), exposed (E), infectious (I), dan effectively treated (T). Persamaan modelnya adalah sebagai berikut: adalah model dari exogenous reinfection dengan p merupakan level dari reinfection. Titik kesetimbangan bebas penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection adalah yang merupakan titik kesetimbangan yang stabil asimtotik dan terjadi saat , dengan . Jika nilai diperkecil maka waktu yang diperlukan untuk mencapai keadaan bebas penyakit tuberculosis dengan exogenous reinfection semakin cepat. Hal ini berarti jika intensitas terjadinya kontak antara individu susceptible dengan individu terinfeksi kecil maka terjadinya exogenous reinfection dapat diminimalkan, sehingga keadaan bebas penyakit tuberculosis dengan exogenous reinfection pada suatu populasi dapat dicapai. Disamping titik kesetimbangan bebas penyakit, pada saat juga muncul beberapa titik kesetimbangan endemik penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection.

Kekuatan total titik tak beraturan pada graf bintang dan graf gabungan dua graf bintang / Dwi Walidatul Attiqoh

 

ABSTRAK Attiqoh, Dwi Walidatul. 2009. Kekuatan Total Titik Tak Beraturan Pada Graf Bintang Dan Graf Gabungan Dua Graf Bintang. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. Rustanto Rahardi.M.Si. Kata kunci: graf, pelabelan total titik tak beraturan, kekuatan total titik tak beraturan, graf bintang, graf gabungan dua graf bintang. Misalkan suatu graf dengan himpunan titik dan himpunan sisi . Untuk suatu bilangan bulat . Pelabelan- total didefinisikan sebagai suatu pemetaan . Pelabelan dikatakan pelabelan- total titik tak beraturan jika untuk setiap titik yang berbeda berlaku , dimana . Kekuatan total titik tak beraturan (total vertex irregularity) atau , pertama kali diperkenalkan oleh Baca, yaitu bilangan bulat terkecil sehingga ada bobot total dari dengan bilangan bulat yang tidak beraturan. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan total titik tak beraturan dan kekuatan total titik tak beraturan pada graf bintang dan graf gabungan dua graf bintang . Graf gabungan dua graf bintang merupakan graf yang dibentuk dari dua graf bintang dengan menggabungkan dua graf bintang dengan titik-titik yang berderajat satu secara berpasang-pasangan dihimpitkan. Dari pembahasan diperoleh dua hasil yang menyatakan bahwa graf bintang dan graf gabungan dua graf bintang mempunyai pelabelan total titik tak beraturan. Selain itu diperoleh bahwa graf bintang mempunyai kekuatan total titik tak beraturan atau dan kekuatan total titik tak beraturan graf gabungan dua graf bintang berorder , , dengan atau .

Penerapan pendekatan problem posing untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN 3 Malang pada pokok bahasan gelombang elektromagnetik dan penerapan listrik AC dan DC / Ika Rahmania

 

ABSTRAK Rahmania, Ika, 2009. Penerapan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X-A MAN 3 Malang Pokok Bahasan Gelombang Elektromagnetik dan Penerapan Listrik AC dan DC. Skripsi Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Purbo Swasono, M.Si (2) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd Kata kunci : problem posing, kemampuan komunikasi, prestasi belajar Hasil wawancara menunjukkan bahwa pada umumnya proses pembelajaran fisika di kelas X-A MAN 3 Malang menggunakan metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan LKS. Kemampuan komunikasi dari siswa masih rendah, hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa masih banyak siswa yang kurang memperhatikan saat temannya sedang presentasi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, 12 % siswa belum memperoleh nilai sesuai SKM yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu sebesar 7,5. Untuk memecahkan permasalahan tersebut diterapkan suatu pembelajaran berbasis konstruktivisme. Pembelajaran yang dipilih adalah pendekatan problem posing. Selain dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa model ini juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Tahapan dalam problem posing, melatih siswa untuk lebih berani menyampaikan pikiran dan perasaan, melatih untuk bisa memahami dan memberi dukungan kepada orang lain dan melatih siswa untuk mampu mengungkapkan diri. Oleh karena itu diharapkan pendekatan problem posing dapat terlaksana denga baik dan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN 3 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini berlangsung dalam dua siklus. Tindakan yang diberikan pada penelitian ini adalah penerapan pendekatan problem posing. Untuk mengukur keterlaksanaan proses pembelajaran problem posing ini dilakukan dengan menggunakan rubrik penilaian keterlaksanaan proses. Untuk mengukur peningkatan kemampuan komuniksi siswa dilakukan dengan menggunakan rubrik penilaian komunikasi pada saat kegiatan diskusi. Untuk mengukur peningkatan prestasi belajar dilakukan melalui tes formatif pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan proses keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I sebesar 80% menjadi 90% pada siklus II. Untuk kemampuan komunikasi siswa juga mengalami peningkatan, yang pada siklus I sebesar 67,6% dengan kriteria cukup meningkat pada siklus II menjadi 75% dengan kriteria baik. Sementara untuk prestasi belajarpun mengalami peningkatan, pada siklus I rata-ratanya sebesar 69,7 dan pada siklus II naik rata-ratanya menjadi 85,7. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pendekatan problem posing dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN 3 Malang.

Identifikasi konsep sukar dan miskonsepsi hukum gas pada siswa SMA Negeri 1 Malang / Aminatul Robi'ah

 

i ABSTRAK Robi’ah, Aminatul. 2009. Identifikasi Konsep Sukar dan Miskonsepsi Hukum Gas Pada Siswa SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc., (2) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: konsep sukar, miskonsepsi, hukum gas Dalam ilmu kimia banyak dipelajari konsep yang abstrak, berjenjang dan saling berkaitan satu sama lain. Karakteristik yang dimiliki oleh konsep kimia tersebut dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan dan kegagalan dalam mempelajari kimia. Kesulitan dalam memahami konsep kimia akan melahirkan konsep sukar. Suatu konsep disebut sebagai konsep sukar apabila sebagian besar siswa mengalami kesukaran pada konsep tersebut. Hal ini ditandai dengan jumlah siswa yang menjawab salah pada soal yang berkaitan dengan konsep itu antara 61%-100% atau ≥ 61%. Konsep sukar menyebabkan siswa tidak dapat memahami konsep kimia dengan tepat. Kesalahan pemahaman ini dapat dimiliki secara konsisten, sehingga siswa tersebut mengalami miskonsepsi. Konsep sukar ataupun miskonsepsi akibat pemahaman siswa yang tidak benar dapat terbawa sampai jenjang pendidikan selanjutnya (perguruan tinggi). Konsep dalam pokok bahasan hukum gas meliputi konsep hukum Boyle, hukum Charles, hukum Gay- Lussac, hukum Avogadro, hukum kombinasi gas, dan hukum gas ideal. Konsep ini merupakan salah satu konsep abstrak. Di samping itu, konsep tersebut juga berjenjang dan saling berkaitan satu sama lain. Jika siswa tidak faham terhadap salah satu hukum, maka dapat mengakibatkan kesulitan dalam memahami hukum yang lain. Di samping itu, hal ini juga dapat menimbulkan konsep sukar dan miskonsepsi. Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 1 Malang dengan pokok bahasan hukum gas memiliki tujuan yaitu mengetahui: (1) konsep manakah yang termasuk konsep sukar; (2) pada konsep apa sajakah siswa mengalami miskonsepsi. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2008/2009 dan masing-masing diambil dua kelas sebagai sampel. Instrumen yang dipakai dalam penelitian adalah tes objektif yang berupa 21 soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban, disertai alasan pemilihan jawaban. Tiap alternatif jawaban mewakili satu konsep yang diukur. Hasil analisis data digunakan untuk menentukan konsep sukar dan miskonsepsi siswa dalam mempelajari konsep hukum gas. Berdasarkan analisis data hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa konsep sukar yang dimiliki siswa adalah pada konsep: (a) hukum Boyle dalam soal analisis pada siswa kelas X dengan persentase kesalahan (%S) sebesar 91%; (b) hukum Charles dalam soal algoritma pada siswa kelas X dengan %S sebesar 78%, dan dalam soal analisis pada siswa kelas X dan XII dengan persentase kesalahan (%S) masing-masing sebanyak 84%; (c) hukum Gay-Lussac dalam soal algoritma pada siswa kelas X persentase kesalahan (%S) sebesar 75%; (d) penerapan hukum kombinasi gas dalam soal analisis pada siswa kelas X dengan persentase kesalahan (%S) sebanyak 84% dan kelas XII dengan persentase kesalahan (%S) sebesar 63%; (e) penerapan hukum gas ideal pada kondisi standar ii dalam soal algoritama pada siswa kelas X dengan persentase kesalahan (%S) sebayak 66 %; dan (f) massa molekul relatif gas pada siswa kelas X, XI, dan XII dengan persentase kesalahan (%S) berturut-turut sebesar 96%, 78% dan 65%. Untuk miskonsepsi siswa yang dapat diidentifikasi adalah siswa menganggap bahwa: (a) massa molar tidak memiliki satuan seperti Mr; (b) Mr mempunyai satuan g/mol seperti massa molar; (c) Mr dan massa molar memiliki satuan g; (d) Mr memiliki satuan g/mol sedangkan massa molar tidak memiliki satuan; (e) Mr molekul diatom sama dengan Ar monoatom; (f) satuan kPa = atm; (g) pada volume konstan tekanan gas berbanding terbalik dengan temperatur mutlaknya; (h) kenaikan temperatur menyebabkan penurunan jumlah mol gas.

Pengaruh kualitas layanan kepada anggota terhadap loyalitas siswa di koperasi sekolah MAN 3 (Madrasah Aliyah Negeri) Malang / Dian Nia Rakhmawati

 

ABSTRAK Nia Rakhmawati, Dian. 2009. Pengaruh Kualitas Layanan Kepada Anggota Terhadap Loyalitas Siswa di Koperasi Sekolah MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. J. G. Nirbito, M.Pd., (2) Farida Rahmawati, S.E., M.E. Kata kunci:Kualitas layanan Kepada Anggota, Loyalitas Siswa Koperasi sekolah merupakan salah satu bentuk pelayan khusus yang diadakan di sekolah yang menunjang kegiatan pembelajaran disekolah yang didasari oleh azas kekeluargaan. Keberadaan koperasi sekolah banyak disukai oleh para siswa, apabila keberadaan koperasi tersebut memberikan manfaat bagi para siswa. MAN 3 Madrasah Aliyah Negeri merupakan salah satu sekolah MAN Madrasah Aliyah Negeri sekolah menengah setara SMU mempunyai keunggulan lainnya diantaranya kelengkapan sarana dan prasarana sekolah yang menunjang pembelajaran siswa. salah satunya adalah koperasi sekolah dilihat dari bentuk fisik koperasi yaitu ruangan koperasi ukurannya lebih besar dari pada koperasi pada umumnya. Koperasi ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai koperasi dengan sistematika pembukuan terbaik antar SMU Se-Malang Raya pada tahun 2005, selain itu koperasi tersebut masuk dalam 3 besar Jambore Koperasi Dalam koperasi terdapat istilah pelayanan pada anggota dimana layanan tersebut merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan jasa maupun barang. Koperasi merupakan bentuk layanan khusus yang ada di sekolah yang diperuntuhkan bagi para siswa, dimana layanan khusus ini berfungsi untuk mendukung proses belajar dan mendidik para siswa terutama dalam hal pengelolaan koperasi. Dalam pengelolaan koperasi sekolah harus mempunyai kualitas layanan yang sangat baik terutama bagi anggota koperasi di sekolah. Untuk itu pengelolaan koperasi sekolah khususnya dalam kualitas layanan yang dijalankan oleh anggota perlu mengetahui pengelolaan koperasi khususnya kualitas layanan yang dijalankan oleh koperasi itu sudah baik atau belum. Penelitian ini bertujuan 1). Mengetahui kondisi kualitas layanan anggota yang meliputi dimensi fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati terhadap loyalitas siswa di Koperasi MAN 3 Malang., (2) Mengetahui kondisi loyalitas siswa yang meliputi frekuensi pembelian, promosi, advokasi/memihak suatu produk dan intensitas pembelian di Koperasi sekolah MAN 3 Malang., (3) Mengetahui ada pengaruh kualitas layanan kepada anggota (yang terdiri dari dimensi fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati) terhadap loyalitas siswa di Koperasi sekolah MAN 3 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasional.Penelitian ini menggunakan instrument berupa kuesioner kemudian hasilnya dianalisis dengan menggunakan regresi linier sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas X dan IX dimana jumlahnya sebesar 450 dan sampelnya 50 siswa. ii Hasil penelitian regresi linier sederhana dapat diketahui Ha diterima yang berarti ada pengaruh signifikan antara kualitas layanan kepada anggota terhadap loyalitas siswa di koperasi sekolah MAN 3 Malang. Hal ini membuktikan bahwa nilai t hitung 7,823> dari pada t tabel 2,009 atau dengan memperhatikan nilai signifikannya 0,00<0,05. Hal ini ditunjukkan oleh kualitas Layanan Kepada Anggota (yang meliputi Bukti fisik, Keandalan, Daya Tanggap, Jaminan, dan Emphati) berpengaruh signifikan terhadap loyalitas siswa di koperasi MAN 3 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1) Kualitas layanan kepada anggota (yang meliputi; keandalan, daya tanggap, jaminan dan emphati) kepada para siswa terus dijaga , ditingkatkan, dan dipertahankan kepada siswa. Hal ini dilakukan pelaksana agar siswa lebih loyal dalam membeli barang kebutuhan sekolah di koperasi sekolah MAN 3 Malang., 2) Penyediaan kotak saran sangat membantu dan mendukung pihak pelaksana dalam hal ini manajemen koperasi sekolah dalam mempertahankan kualitas layanan kepada anggota serta meningkatkannya sesuai saran - saran yang diberikan oleh anggot., 3) Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengadakan penelitian pada koperasi MAN 3 Malang untuk mengadakan penelitian lebih lanjut pada variabel lain di luar kualitas layanan anggota yang berpengaruh terhadap loyalitas siswa. Karena dari penelitian ini pengaruh variabel kualitas layanan anggota hanya sebesar 56%, sehingga masih ada 44% variabel lain di luar kualitas layanan anggota yang berpengaruh terhadap loyalitas siswa di koperasi MAN 3 Malang.

Pengembangan paket IPA terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang / Dedy Yulianto

 

ABSTRAK Yulianto, Dedy. 2009. Pengembangan Paket IPA Terpadu dengan Tema Energi di SMP Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang : (1) Drs. Eddy Supramono, (II) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd. Kata Kunci : Paket, IPA Terpadu, energi Penelitian evaluatif terhadap pendidikan IPA di SMP yang dilaksanakan di lima propinsi di Indonesia pada tahun 1996 menunjukkan bahwa pendidikan IPA di SMP masih mengalami berbagai masalah karena kecenderungan pembelajaran IPA di SMP pada masa kini tidak menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensinya dalam menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan oleh proyek MBE menunjukkan bahwa sebagian besar guru (92 dari 118 orang atau 79%) mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan standar isi untuk kurikulum IPA, seperti pada SMP Negeri 5 Malang. Selain itu hasil pengamatan di beberapa toko buku di Kota Malang menunjukkan bahwa belum ditemukan buku IPA SMP yang dirancang secara terpadu. Penelitian ini betujuan mengetahui kelayakan pengembangan paket IPA Terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang dan kelayakan panduan guru paket IPA Terpadu di SMP Negeri 5 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Sasarannya adalah (1) tersusunnya paket IPA Terpadu dengan tema energi yang layak ,dan (2) tersusunnya panduan guru paket IPA Terpadu. Metode pengembangan yang digunakan pada penelitian ini ada 4 tahap yaitu : (1) tahap analisis situasi awal, (2) tahap pengembangan rancangan paket IPA Terpadu, (3) tahap penulisan paket IPA Terpadu, (4) tahap penilaian. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket yang diisi oleh validator. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari analisis nilai rata-rata angket skala Likert, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket IPA terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang sudah memenuhi kriteria valid dengan skor rata-rata 3,72 sehingga paket IPA Terpadu dengan tema energi ini sudah dapat dikatakan layak digunakan oleh siswa SMP Negeri 5 Malang. Sedangkan panduan guru paket IPA Terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang juga sudah memenuhi kriteria valid dengan skor rata-rata 3,55 sehingga panduan guru paket IPA terpadu dengan tema energi sudah dapat dikatakan layak digunakan oleh guru SMP Negeri 5 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa paket IPA terpadu dan panduan guru paket IPA Terpadu dengan tema energi sudah layak digunakan di SMP Negeri 5 Malang. Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap paket IPA Terpadu dengan melakukan kajian eksperimen yang lebih luas dan uji coba yang lebih luas.

Proses terjadinya kesalahan siswa dalam memecahkan masalah berkaitan dengan garis singgung lingkaran / Devy Eka Trisulawati

 

ABSTRAK Trisulawati, Devy Eka. 2009. Proses Terjadinya Kesalahan Siswa Dalam Memecahkan Masalah Berkaitan Dengan Garis Singgung Lingkaran. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, S.Pd., M.Si., dan (II) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. Kata Kunci: Proses Kesalahan Siswa, Garis Singgung Lingkaran Dalam proses pembelajaran siswa diharapkan bisa mengkonstruksi pengetahuan matematika yang telah diperoleh secara baik. Namun kenyataannya siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika masih sering terjadi kesalahan. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tentang kesalahan siswa mengkonstruksi materi garis singgung lingkaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya kesalahan siswa dalam memecahkan masalah berkaitan dengan garis singgung lingkaran. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII A SMP Negeri 13 Malang. Dari 42 siswa dipilih 24 subjek penelitian berdasarkan lembar jawaban yang salah. Siswa yang mempunyai jawaban salah diwawancarai untuk menelusuri kesalahan siswa berdasarkan proses berpikirnya. Karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa letak kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah garis singgung lingkaran adalah di dalam (1) memahami konsep garis singgung lingkaran, (2) memahami Teorema Pythagoras, (3) memahami konsep luas layang-layang terutama pengertian diagonal, (4) memahami langkah-langkah melukis garis singgung persekutuan dua lingkaran, (5) memahami konsep rumus garis singgung persekutuan dua lingkaran, (6) memahami materi prasyarat yaitu mengoperasikan bilangan bulat, dan (7) memahami konsep menghitung panjang tali yang melilit dua atau lebih lingkaran. Selanjutnya secara mendetail kesalahan siswa terjadi pada proses adalah ruas garis perpanjangan jari-jari tidak terbagi menjadi dua bagian yang sama panjang, garis singgung melalui satu titik pada lingkaran yang dipahami adalah menyinggung dua titik pada lingkaran, garis singgung lingkaran tidak tegak lurus dengan jari-jari/diameter, mengingat tentang rumus Pythagoras, memasukkan data ke rumus Pythagoras, panjang salah satu sisi siku-sikunya pada segitiga siku-siku dijawab sama dengan luas lingkaran dikurangi luas segitiga, panjang garis singgung persekutuan luar dua lingkaran dijawab sama dengan kuadrat selisih jari-jari lingkaran 1 dan jari-jari lingkaran 2, panjang salah satu diagonal pada layang-layang garis singgung dijawab sama dengan jari-jari lingkaran, panjang tali yang melilit satu per enam busur lingkaran dijawab sama dengan panjang tali yang melilit satu lingkaran, dan panjang tali menghubungkan kedua lingkaran dijawab sama dengan jarak kedua titik pusat lingkaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disarankan: (1) sebaiknya guru benar-benar memastikan bahwa materi prasyarat ini sudah dikuasai oleh siswa, dan (2) guru diharapkan memberikan perhatian lebih pada letak, level, dan faktor penyebab kesalahan siswa.

Prosedur pengelolaan dan efisiensi penemuan kembali arsip di kantor perpustakaan, arsip dan dokumentasi Kabupaten Tulungagung / Linda Prihyanti

 

ABSTRAK Prihyanti, Linda. 2009. “Prosedur Pengelolaan dan Efisiensi Penemuan Kembali Arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agung Winarno, M.M., (II) Drs. Sarbini. Kata kunci: prosedur dan efisiensi arsip. Setiap kantor, baik kantor pemerintah maupun swasta bahkan rumah tangga dan perorangan, niscaya akan terlibat dengan arsip. Arsip merupakan suatu kumpulan catatan secara tertulis (warkat) yang disimpan secara sistematis sehingga memudahkan dalam penemuan kembali. Kearsipan merupakan bagian pekerjaan kantor yang sangat penting. Informasi tertulis yang tepat harus tersedia apabila diperlukan agar kantor dapat memberikan pelayanan yang efektif. Kearsipan sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan administrasi karena arsip merupakan pusat ingatan bagi setiap kegiatan dalam suatu kantor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem kearsipan dan sejauh mana tingkat pengelolaan kearsipan di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung. Adapun pengelolaan arsip yang diteliti meliputi: (1) sistem penyimpanan arsip, (2) azas penyimpanan arsip, (3) peralatan dan perlengkapan yang digunakan, (4) prosedur pengelolaan arsip, (5) prosedur penyimpanan arsip, (6) prosedur penemuan kembali arsip, (7) kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung yang beralamat di Oerip Sumohardjo 4A Tulungagung mulai bulan Januari 2009 sampai April 2009. Responden dalam penelitian ini adalah arsiparis kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung, jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode wawancara, metode dokumentasi dan metode tes kecepatan. Analisis data yang digunakan adalah jangka waktu penemuan kembali arsip, angka kecermatan dan angka efisiensi. Hasil penelitian ini adalah: (1) sistem Penyimpanan Arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah menggunakan sistem kombinasi antara sistem nomor dan sistem subjek. (2) azas penyimpanan arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah azas kombinasi antara azas sentralisasi dan azas desentralisasi, (3) peralatan dan perlengkapan yang digunakan di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah filling cabinet, almari, snelhechter, map, guide, dan lain-lain (4) prosedur pengelolaan arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah semua arsip yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pemilahan, untuk memisahkan arsip asli, duplikat dan non arsip, setelah itu, dilakukan pendataan arsip yang dibuat dalam Daftar Pertelaan Arsip, selanjutnya dilakukan pembungkusan arsip yang kemudian dimasukkan ke dalam kotak arsip dan terakhir dilakukanlah penyimpanan yaitu dengan meletakkan kotak arsip tersebut pada rak arsip yang terdapat pada ruang penyimpanan arsip., (5) prosedur penyimpanan arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah dengan cara menyusun arsip dalam folder menurut kode klasifikasi kemudian folder tersebut dimasukkan dalam kotak arsip in aktif dan di susun secara vertikal pada rak arsip dalam ruangan dengan pengaturan suhu yang telah ditentukan, (6) prosedur penemuan kembali arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung yaitu dengan mengetahui subjek atau pokok masalah dan tahunnya, mencari nomor urut agenda surat dalam buku agenda, mencari arsip dalam snelhechter sesuai dengan pokok masalah dan tahunnya, setelah snelhechter ketemu langkah selanjutnya mencari arsip yang diperlukan dalam snelhechter sesuai dengan nomor urut buku agenda (7) kendala-kendala yang dihadapi di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung antara lain tenaga-tenaga SDM, sarana dan prasarana, kurangnya perhatian arsiparis terhadap penataan arsip. Saran penelitian ini adalah: (1) Untuk lebih meningkatkan sistem penyimpanan arsip sebaiknya sistem penyimpanan menggunakan komputerisasi untuk memudahkan dalam pencarian data arsip. (2) Untuk peneliti lain yang tertarik dengan penelitian yang serupa dengan penelitian ini akan lebih baik jika bisa magang pada tempat penelitian sehingga hasilnya akan lebih maksimal. (3) Hendaknya diadakan pelatihan-pelatihan khusus agar dari masing-masing petugas bisa lebih mendalami seluk beluk bidang kearsipan. (4) Hendaknya semua petugas lebih fokus melaksanakan tugasnya masing-masing, khususnya dalam bidang kearsipan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kesalahan.

Tatacara penghitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan (PPh) pasal 21, PPh pasal 22, pasal 23, pasal 4 ayat (2), dan pasal 25 oleh perusahaan rokok AA / Anhar Khoir

 

ABSTRAK Anhar Khoir, 2009 : TATACARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ( PPh ) Pasal 21, PPh Ps.22, Pasal 23, Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 25. Tugas Akhir Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Sutatmi S.E., M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci : Tatacara Penghitungan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Sejak berlaku Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan dan Tatacara Perpajakan (KUP), sistem Official Assessment telah ditinggalkan. Sebelumnya, untuk menentukan jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak terlebih dulu ditetapkan oleh pihak fiscus yakni Kantor Inspeksi Pajak. Kini wajib pajak diberikan hak oleh Kantor Pelayanan Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang (sistem Self Assessment). Kantor Pelayanan Pajak hanya memberikan bimbingan dan pelayanan kepada wajib pajak tatacara pelaporannya melalui Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21 dan Pasal 26, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23 dan Pasal 26, PPh Pasal 4 ayat (2), Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang (PPN dan PPn-BM), serta SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan PPh Pasal 21. Oleh karena itu Perusahaan Rokok AA berupaya untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan kewajibkannya sebagai pemotong PPh Pasal 21, PPh Ps.22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (2), dan mengangsur PPh Pasal 25 pada tahun berjalan secara benar. Di samping itu juga menghitung kembali pajak yang terutang melalui SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan pada akhir tahun pajak sesuai ketentuan yang berlaku. Agar dapat dicapai tujuan penelitian secara maksimal maka dilakukan pengkajian atas ketentuan perpajakan berikut aturan pelaksanaannya yang berkaitan dengan masing-masing jenis pajak. Penulis berupaya memahami ketentuan perpajakan sebelumnya sampai dengan perubahannya yang terbaru. Dari tahapan ini kemudian dikembangkan kepada analisis diskriptif-kuantitatif, yakni penelaahan terhadap perhitungan finansial-fiskal dari hasil penerapan ketentuan perpajakan. Berdasarkan analisis langsung di perusahaan di temukan kendala yang dialami Perusahaan Rokok AA adalah kualitas personil yang tersedia belum memiliki pengetahuan perpajakan yang memadai. Di samping itu juga ketentuan perpajakan yang seringkali mengalami perubahan dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat luas. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam penghitungan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21, PPh Ps.22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (2), dan mengangsur PPh Pasal 25 pada tahun berjalan. Pentingnya pemahaman perpajakan bagi pelaku usaha sangat berpengaruh terhadap kelangsungan serta kredibilitas usaha yang di gelutinya.

Model deterministik dinamika penyebaran penyakit campak dengan rantai Markov / Devie Ayu Rusmawanty

 

ABSTRAK Rusmawanty, Devie Ayu. 2009. Model Deterministik Dinamika Penyebaran Penyakit Campak dengan Rantai Markov. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. (2) Drs. Rustanto Rahardi, M.Si. Kata kunci : model penyebaran campak, teori markov, angka reproduksi campak Penyebaran penyakit campak dalam keadaan nyata dapat dimodelkan secara matematis. Model penyebaran campak ini merupakan sistem nonlinier yang dikategorikan dalam empat kompartemen, yaitu Susceptible, Exsposed, Infection, dan Recovery yang biasanya disebut dengan model deterministik. Model matematikanya sebagai berikut: St+1 = St – iSt Et+1 = Et + iSt – fEt It+1 = It + fEt – rIt Rt+1= Rt + rIt dengan N = S + E + I + R. Pola penyebaran penyakit campak yang dimodelkan dalam persamaan diferensi di atas dapat dibentuk menjadi suatu matriks dengan A menunjukkan matriks Markov. Selanjutnya akan dianalisa dinamika penyebaran penyakit campak dengan bergantung pada angka reproduksi campak (K). Jika diberikan angka reproduksi campak K=5, K=10, K=15 untuk mengamati berbagai keadaan populasi dalam mencapai keadaan yang mantab (steady). Hasil kajian ini menyatakan bahwa semakin besar angka reproduksi campak yang diberikan maka akan semakin cepat populasi untuk mencapai keadaan yang mantab (steady) dengan kata lain populasi tersebut dapat dikatakan bebas dari penyakit campak sehingga penyebaran penyakit campak dapat dikendalikan. Dan untuk nilai K=5 adalah lebih cocok untuk model penyebaran penyakit campak di Kabupaten Mojokerto.

Pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang / Didit Pamungkas

 

ABSTRAK Pamungkas, Didit. 2009. Pengembangan VCD Pembelajaran Teknik Dasar Shooting Bolabasket pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Heru Widijoto, M. S (2) Drs. Mulyani Surendra, M. S. Kata kunci: pengembangan, VCD, shooting, bolabasket. Permainan bola basket adalah permainan yang dimainkan oleh 2 regu yang masing-masing terdiri dari 5 pemain, yang dalam lingkup pendidikan menjadi salah satu materi dalam mata pelajaran PENJASKES di suatu lembaga sekolah. Salah satu tujuan mata pelajaran PENJASKES adalah menguasai keterampilan dari materi yang diajarkan. Dalam hal ini siswa dituntut untuk dapat melakukan keterampilan bolabasket, salah satunya adalah shooting. Namun dalam pembelajaran shooting di sekolah terkadang terhambat akibat keadaan yang tidak memungkinkan serta keterbatasan dalam proses pembelajaran, oleh sebab itu diperlukan alternatif pendekatan pembelajaran yang tepat. Salah satu alternatifnya adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran. Media yang cocok dengan karakteristik pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket adalah media video pembelajaran teknik dasar shooting yang dikemas dalam bentuk compact disc (CD). Seperti yang terjadi di SMA Negeri 1 Malang bedasarkan observasi dan penelitian awal yang telah dilakukan, oleh karena itu di SMA Negeri 1 Malang perlu dikembangkan VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket. Tujuan pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket adalah untuk mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar shooting yang nantinya dapat membantu siswa untuk mempercepat proses pemahaman dalam mempelajari teknik dasar shooting di luar jam pelajaran sekolah yang dikemas dalam bentuk CD dan berisi tentang prinsip-prinsip teknik dasar shooting, jenis dan aspek teknik dasar shooting serta beberapa contoh variasi latihan shooting dan dilengkapi dengan buku panduan Standard Operational Procedure (SOP) yang dapat membantu memperjelas apa yang tersaji dalam VCD. Dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan keseluruhan model pengembangan dari sepuluh langkah penelitian pengembangan dari Borg and Gall, tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi teknik dasar shooting bolabasket adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assessment) dengan angket yang ditujukan kepada siswa dan guru pendidikan jasmani, serta observasi sekolah, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli media, 2 ahli bolabasket yang hasilnya berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket di Kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Hasil pengembangan ini berupa VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang yang dilengkapi dengan buku panduan Standard Operational Procedure (SOP). Diharapkan hasil ini dapat diuji cobakan kepada lingkup yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah menengah atas dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena penelitian ini hanya terbatas pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitad dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang / Aninda Ari Susanti

 

ABSTRAK Susanti, Aninda Ari. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd, (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata kunci: Group Investigation, aktivitas belajar afektif, hasil belajar kognitif. Kurikulum KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi wilayah dan karakteristik peserta didik. Di dalam KTSP diuraikan secara jelas mengenai tujuan pembelajaran IPA yaitu menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah dan diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian pada kenyataannya guru masih mengalami kesulitan dalam mewujudkan tujuan KTSP yang sebenarnya. Berdasarkan observasi, guru cenderung menggunakan metode ceramah dan text book oriented dalam membelajarkan siswa. Guru kurang memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mempelajari IPA. Hasil observasi yang dilakukan di kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang diketahui bahwa pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, aktivitas siswa tidak terakomodasi dengan baik. Banyak siswa yang bergurau dan bermain ponsel selama proses pembelajaran. Selain itu soal tes yang diberikan kepada siswa masih bersifat hafalan dan hanya mengukur tingkatan berpikir pengetahuan, pemahaman dan penerapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan mengenai kurangnya aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI). Melalui penerapan pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X-1 semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 33 siswa, terdiri dari 20 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru dan catatan lapangan. Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa pada ranah afektif menurut taksonomi Bloom sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada tiap akhir siklus serta ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, dan catatan lapangan, jurnal belajar, dan lembar penilaian antar teman. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang. Peningkatan aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa secara klasikal dari 76,13% pada siklus I menjadi 82,50% pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui melalui peningkatan persentase hasil belajar pada masing-masing tingkat kognitif pada siklus I dan siklus II. Pada tingkat kognitif C2 mengalami peningkatan sebesar 15,6%, pada tingkat kognitif C3 meningkat sebesar 2,3%, pada tingkat kognitif C4 meningkat sebesar 2,6%, dan tingkat kognitif C5 meningkat sebesar 2,8%, sedangkan pada tingkat kognitif C1 dan C6 tidak mengalami peningkatan hasil belajar. Peningkatan hasil belajar juga ditunjukkan dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa yaitu pada siklus I sebesar 72,4% kemudian meningkat menjadi 86,2% pada siklus II.

Penerapan metode permainan simulasi untuk meningkatkan motivasi siswa kelas 1 Multimedia 3 dalam mengikuti bimbingan kelompok tentang hubungan sosial remaja di SMK Negeri 5 Malang / Prabandari Nuansmahira

 

ABSTRAK Nuansmahira, Prabandari. 2009. Penerapan Metode Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Motivasi Siswa Kelas 1 Multimedia 3 dalam Mengikuti Bimbingan Kelompok tentang Hubungan Sosial Remaja di SMKN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Ramli, M.A., (II) Drs. Hariadi Kusumo. Kata kunci: bimbingan kelompok, motivasi, permainan simulasi, siswa SMK Siswa kelas 1 Multimedia 3 memiliki motivasi rendah dalam mengikuti bimbingan dan konseling di kelas, khususnya layanan bimbingan kelompok. Hal ini ditunjukkan dengan reaksi yang mereka berikan saat mengikuti layanan bimbingan kelompok. Reaksi tersebut adalah: siswa ramai, berjalan kesana-kemari, saling melempar kertas, mengerjakan PR pelajaran lain, kurang aktif dalam kegiatan bimbingan kelompok. Hanya ada beberapa siswa yang mau memperhatikan dan terlibat aktif dalam layanan bimbingan kelompok yang diadakan. Siswa yang mau memperhatikan dan aktif dalam diskusi adalah siswa yang duduk di bangku depan. Hal ini terjadi karena metode yang digunakan konselor dalam memberikan layanan bimbingan kelompok kurang menarik. Konselor menerapkan metode diskusi dalam pemberian layanan bimbingan kelompok di kelas. Berdasarkan masalah tersebut maka pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan metode permainan simulasi. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi siswa kelas 1 Multimedia 3 SMKN 5 Malang dalam mengikuti bimbingan kelompok dengan menerapkan metode permainan simulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan yang terdiri atas dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah perangkat permainan simulasi, pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif, yang terdiri atas reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian adalah siswa kelas 1 Multimedia 3 SMKN 5 Malang, yang berjumlah 34 orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode permainan simulasi dapat meningkatkan motivasi siswa dalam bimbingan kelompok. Skor rata-rata angket pada pascatindakan lebih tinggi dibanding pada pratindakan (per item). Skor rata-rata tertinggi pada pascatindakan adalah 3.21, sedangkan skor rata-rata tertinggi pada pratindakan adalah 3.15. Pada pratindakan siswa yang motivasinya masuk dalam kategori ‘baik’ sebanyak 33 orang dan 1 orang masuk dalam kategori ‘sangat baik’. Pada pascatindakan siswa yang motivasinya masuk dalam kategori ‘baik’ sebanyak 23 orang dan 13 orang masuk dalam kategori ‘sangat baik’. Pada siklus II, siswa lebih aktif dibanding pada siklus I. Pada siklus II, semua siswa aktif dalam permainan simulasi dan diskusi. Siswa mau mengungkapkan pikiran dan pengalaman pada saat diskusi. Skor rata-rata aktivitas siswa selama pelaksanaan bimbingan kelompok pada siklus I adalah 24.5, skor ini masuk dalam kategori ‘sedang’. Adapun skor rata-rata aktivitas siswa selama pelaksanaan bimbingan kelompok pada siklus II adalah 33.5, skor tersebut masuk dalam kategori ‘baik’. Permainan simulasi akan efektif digunakan dalam penyampaian layanan bimbingan kelompok, jika semua siswa dapat terlibat dalam kegiatan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak jumlah beberan yang digunakan dalam pelaksanaan permainan simulasi. Dengan mengacu pada hasil penelitian di atas, maka disarankan: (1) sekolah membantu dalam pengadaan media permainan simulasi, permainan simulasi akan efektif jika media yang digunakan minimal dua unit dalam sekali penyampain layanan; (2) konselor dapat menerapkan metode permainan simulasi dalam memberikan layanan bimbingan kelompok di kelas dengan mempertimbangkan hal-hal seperti: kemenarikan materi yang akan disampaikan dalam permainan simulasi, waktu dan biaya yang tersedia untuk pengadaan media permainan simulasi dan sebaiknya tidak hanya satu beberan yang digunakan saat menerapkan permainan simulasi di kelas. Saat konselor menggunakan dua beberan dibutuhkan koordinasi dengan konselor lain dalam penyampainan bimbingan kelompok dengan permainan simulasi.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada distro Bandung Sport Blitar / Dian Firma Wijayanti

 

ABSTRAK Wijayanti, Dian Firma. 2009. Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen Pada Distro Bandung Sport Blitar. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs Sutrisno, M.M, (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M.Si. Kata Kunci: Bauran Pemasaran, Proses Keputusan Pembelian Dengan banyaknya perusahaan yang bergerak dibidang retail di Kota Blitar yang terus meningkat menyebabkan tingkat persaingan dibidang bisnis retail yang ada semakin ketat sehingga menuntut pihak pengusaha untuk menyusun kebijakan dalam rangka menghadapi persaingan yang ada. Salah satu usaha untuk menghadapi persaingan tersebut adalah perusahaan tersebut harus lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang tepat. Dalam hal ini perusahaan harus benar-benar efektif dan tepat dalam menerapkanstrategi bauran pemasaran. Semua aspek bauran pemasaran merupakan suatu mata rantai yang tidak dapat terpisahkan dan saling mempengaruhi. Empat aspek bauran pemasaran berupa harga, produk, tempat, dan promosi amat menentukan berhasil tidaknya perusahaan mencapai tujuan. Sebagai satu-satunya aspek pemasaran yang dikendalikan oleh perusahaan,aspek bauran pemasaran tersebut harus diformulasikan dan dikombinasikan seefektif mungkin, dimana kemudian strategi bauran pemasaran yang diterapkan oleh perusahaan direspon oleh konsumen. Untuk memahami kebutuhan konsumen bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana, tetapi bukan suatu yang mustahil untuk dilakukan. Menganalisis perilaku konsumen akan lebih mendalam dan berhasil apabila perusahaan memahami aspek-aspek psikologis manusia secara keseluruhan, kekuatan faktor sosial dan budaya serta prinsip-prinsip ekonomis dan strategi pemasaran. Kemampuan dalam menganalisis perilaku konsumen berarti keberhasilan dalam menyelami jiwa konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian berarti pula keberhasilan pengusaha, ahli pemasaran, pimpinan toko, dan pramuniaga dalam memasarkan suatu produk yang membawa kepuasan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kondisi bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) dan proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar, (2) pengaruh bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) secara parsial terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar, (3) pengaruh bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) secara simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, tempat dan promosi. Sedangkan variabel terikatnya adalah proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar. Penelitian ini dilakukan di Distro Bandung Sport Blitar pada periode April - Juni 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian dijaring dengan memberikan kuesioner kepada 73 konsumen Distro Bandung Sport Blitar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses keputusan konsumen dalam membeli di Distro Bandung Sport Blitar dipengaruhi oleh bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, tempat dan promosi baik secara parsial maupun secara secara simultan. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dijadikan pertimbangan manajemen Distro Bandung Sport Blitar dalam meningkatkan penjualannya adalah hendaknya pihak Distro Bandung Sport Blitar menambah jumlah produk yang ada, menambah keanekaragaman produk yang dijual, lebih memperhatikan dalam penentuan harga barang yang dijualnya karena konsumen sangat sensitif dengan masalah harga, memperbaiki tata letak barang yang dijual yang ada di dalamnya, melakukan renovasi pada tempat yang lebih menarik, menambah promosi dengan lebih sering beriklan baik di koran atau radio dan memasang poster atau baliho agar konsumen mengetahui keberadaan Distro Bandung Sport dan tertarik untuk melakukan pembelian di Distro Bandung Sport Blitar.

Keberadaan populasi tungau kuning Polyphagotarsonemus latus (Banks) pada beberapa galur harapan wijen di kebun percobaan Sumberrejo Bojonegoro / Panca Okta Wirani

 

ABSTRAK Oktawirani, Panca. 2008. Keberadaan Populasi Tungau Kuning Polyphagotarsonemus latus (Banks) pada Beberapa Galur Harapan Wijen di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro. Skripsi, Program Studi Biologi,FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien H. Irawati, M. S, (II) Ir. Tukimin. S.W. Kata kunci: keberadaan populasi, tungau kuning, Polyphagotarsonemus latus (Banks), wijen. Wijen (Sesamum indicum L.) adalah tanaman semak semusim termasuk famili Pedaliaceae (Soenardi, 1996). Biji wijen mengandung 35-57% minyak, 19- 25% air, 20-30% protein, 11% karbohidrat, 14 % lemak jenuh, dan 85, 8 % lemak tak jenuh. Usaha-usaha peningkatan produktivitas wijen masih terus diupayakan, namun upaya tersebut masih mengalami beberapa hambatan, antara lain dipengaruhi oleh penggunaan benih yang memiliki kualitas kurang baik, terbatasnya lahan, budidaya wijen yang belum intensif, penggunaan varietas lokal dengan tingkat produktivitas yang rendah, serangan penyakit dan gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT)( Suprijono,1996). Salah satu hama wijen adalah tungau kuning Polyphagotarsonemus latus. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui keberadaan populasi tungau kuning P. latus pada 21 galur harapan dan 4 varietas di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro, 2) mengetahui intensitas kerusakan daun oleh tungau kuning P. latus di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif komparatif. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juli 2008. Tempat penelitian berada di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro dan di Laboratorium Hama Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS). Data yang diamati yaitu keberadaan populasi P. latus yang meliputi dari fase telur, larva, nimfa, dan imago pada 20 daun per galur dan varietas sebanyak tiga kali ulangan. Untuk mencari intensitas kerusakan, daun diskor dan kemudian digunakan rumus: I = Σ n x v x 100%. N x V Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keberadaan populasi tungau P. latus tertinggi pada 55-65 HST (Hari Setelah Tanam). Terjadi penurunan populasi pada 75 HST. Intensitas kerusakan daun wijen mulai ditemukan pada 25 HST. Intensitas meningkat pada 35, 45, 55, 65 hingga 75 HST. Intensitas kerusakan dipengaruhi oleh keberadaan populasi tungau kuning Polyphagotarsonemus latus (Banks) fase larva, nimfa dan imago. Populasi telur tungau tidak mempengaruhi tingkat kerusakan daun dikarenakan telur tidak menggigit dan menghisap cairan daun. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut yang mengkaji karakteristik dan pengaruh galur terhadap keberadaan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tungau P. latus sebagai acuan untuk menentukan ketahanan galur juga disarankan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui life table (neraca kehidupan) dari P. latus.

The effectiveness of the dialog journals technique in improving the skill in writing narrative texts of the year-12 students of MAN 3 Malang / Ali Mukti

 

ABSTRACT Mukti, Ali. 2009. The Effectiveness of the Dialogue Journals Technique in Improving the Skill in Writing Narrative Texts of the Year-12 Students of MAN 3 Malang. Unpublished Thesis. English Education Department, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D. (2) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Key words: effectiveness, dialogue journals, writing skill, narrative text Dialogue journal is a new technique. Its effectiveness has thus not been proved yet on MAN 3 Malang students. This study was conducted to investigate the effectiveness of dialogue journals technique in improving students’ skill in writing narrative texts. The general question to answer was, “Do the students taught using dialogue journals technique perform significantly better in writing narrative texts than those taught without dialogue journals technique?” The tentative answer for the question was then formulated in the working hypothesis which read: “The mean score of the group taught using dialogue journals technique is significantly higher than that of the group taught without dialog journals technique.” The design of the study was quasi-experimental with a non-randomized pretest-posttest control group. The samples of the study were taken from the population of the year-12 students of IPA at MAN 3 Malang in the 2008/2009 academic year; they were year-12 IPA 3 as the control group and year-12 IPA 2 as the experimental group. Both of the two classes were occupied by 36 female students. In collecting the data, two kinds of writing tests were used as the primary instrument; one of them was used in the pretest, and the other in the posttest. The tests required the students to write narrative texts. Then, their writings were scored using an analytical scoring rubric. Besides, a questionnaire was utilized as a secondary instrument. It was given only to the experimental group in order to evaluate the application of dialogue journals. Based on the descriptive characteristics, the result of the study showed that the means of the five writing aspects of the experimental group were better than those of the control group. Hence, the dialogue journals technique employed in the experimental group helped improve students’ skill in writing narrative texts. Furthermore, using analysis of covariance (ANCOVA) with significance level of .05, the results of the study showed that vocabulary and language use aspects were significantly different. It was because the obtained F-ratios for vocabulary and language use aspects were 4.595 and 27.548 respectively while the F table was 3.988. The other three aspects, namely content, organization, and mechanics, showed insignificant differences. It was indicated by their obtained F-ratios which were lower than the F table. Respectively, their obtained F-ratios were 0.071, 0.669, and 3.755 for the three aspects. Generally speaking, however, it revealed that the F-ratio of the holistic writing aspects (8.580) was higher than the F table (3.988). Thus, there was enough evidence to reject the null hypothesis. In other words, the hypothesis was accepted. Based on the results of the research findings, it can be concluded that the dialogue journals technique given to experimental group is proved to be effective in improving students’ skill in writing narrative texts. Thus, it is suggested that teachers of English utilize this technique in their teaching writing. Besides, teachers should also give more attention, in addition to content, organization, and vocabulary, to language use and mechanics aspects of writing in teaching writing. It is simply because these two aspects were still in the fair to poor criteria. Suggestions are also addressed to future researchers that they can conduct an experiment more than 10 meetings and the subjects are either year-10 or -11 students. Furthermore, the research can be conducted to classes or programs with low cognitive development and/or affective problems. The researchers, in order to be neutral, do not have to be involved in teaching but they can assign one teacher or two different teachers to teach in the two groups.

Developing textbook for the students of Diploma III Program in hotel management / Kun Aniroh

 

ABSTRACT Kun Aniroh, 2009: Developing an English Textbook for the Students of the Diploma III Program in Hotel Management. Dissertation. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors : (I) Prof. E. Sadtono, Ph.D., (II) Prof. Hj. Kasihani K.E. Suyanto.,M.A., Ph.D., (III) Dr. M.D.D. Oka., M.A. Key words: textbook, development, English, hotel supervisors, ESP The current study aims at developing a textbook to fill the gap existing in the scarcity of the English textbook for students of the Diploma III Program in Hotel Management. The present study employs a research and development design adopting Borg and Gall’s R@D framework with three main stages: a preliminary study phase realized through needs assessment, the textbook development phase, and the validation phase. The subjects involved two five-star hotel managers and ten hotel supervisors of several domestic five-star hotels as well as five-star hotels abroad, five subject matter specialists who taught hotel management courses, ten alumni, and ten students of the Diploma III Program, in Hotel Management, Merdeka University Malang who had completed their on-the-job training in a variety of domestic five star-hotels and those hotels abroad. Data were collected during field visits to several domestic five-star hotels as well as five-star hotels abroad and Focused Group Discussion (FGD). The data of the needs assessment phase were the basis for developing both the contents and the language aspects of the textbook on the principles of ESP in which both contents on hotel managerial matters and English for hotel management become the main core of the textbook, also with the principles of the contextual teaching and learning (CTL) approach and task-based, content-based, and problem-based learning for the purpose of task development as well as principles of textbook development for the purpose of organizing language aspects and task distribution in each unit. The draft of the textbook was evaluated by experts in the expert judgment phase utilizing a set of questionnaire. In the validation phase, the textbook was tried out during the teaching learning process in which nine English lecturers of five tourism colleges respectively in Denpasar, Malang, Samarinda, Jakarta, and Bogor were involved. Sixty four students in their classes were also involved as sources of data. A set of questionnaires was used to collect the data on the strengths and weaknesses of the textbook. In addition, FGD was performed as a triangulating measure with hotel supervisors. The data were utilized as a basis of quantiative and qualitative feedback for making a final revision of the textbook. The textbook as the final product of the present study is intended for those with a minimum of the English mastery from the intermediate to the advanced level.Further steps still need to be taken for the improvement of the textbook if the textbook is intended to be commercially available for use in the market.

Ekspresi tutur gerakan demo mahasiswa di Kota Malang / Mochtar Data

 

ABSTRAK Data, Mochtar. 2009. Ekspresi Tutur Gerakan Demo Mahasiswa di Kota Malang. Disertasi tidak dipublikasikan. Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Prof. Dr. H. Suparno, (III) Dr. H. Sumadi, M.Pd. Kata-kata kunci: ekspresi tutur, gerakan demo mahasiswa, wujud tuturan, fungsi tuturan, strategi bertutur, pemegang otoritas. Penelitian ini mengkaji ekspresi tutur yang meliputi wujud tuturan, fungsi tuturan, dan strategi bertutur. Pengkajian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan mengeksplanasikan secara kritis objektif terhadap tuturan dalam gerakan demo mahasiswa di kota Malang. Data yang dijaring dalam penelitian ini berupa rekaman tuturan beserta catatan lapangan, rekaman konteks, dan data pendukung; sedangkan sumber datanya adalah aktivis mahasiswa berbagai perguruan tinggi di kota Malang, baik intrakampus maupun ekstrakampus. Setelah melalui proses penjaringan data sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, dipilih dua puluh topik yang cukup beragam. Topik-topik itu berkisar pada masalah politik, hukum, pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan keagamaan. Ancangan teoretis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindak tutur dengan perspektif pragmatik dan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, dengan bantuan beberapa asisten yang berasal dari aktivis mahasiswa. Keberadaan asisten ini diperlukan untuk memperoleh data penelitian secara aktual dan faktual yang dijaring melalui perekaman audiovisual. Keseluruhan tuturan mahasiswa yang telah dijaring dari aksi demo disimpan dan diamankan dalam compact disk (CD) dan flashdisk. Berdasarkan dokumen-dokumen yang tersimpan ditunjang dengan catatan lapangan, peneliti menganalisis data sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Untuk menjamin kelengkapan dan keabsahan data penelitian dilakukan triangulasi dan diskusi dengan teman sejawat, serta ketekunan pengamatan dan kajian berulang. Setelah dilakukan analisis data ditemukan ekspresi tutur gerakan demo mahasiswa di kota Malang. Ekspresi tutur itu meliputi wujud, fungsi, dan strategi bertutur dalam menyalurkan aspirasi terkait dengan fenomena dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pengambil otoritas (Pemerintah dan pimpinan perguruan tinggi). Temuan penelitian yang berkaitan dengan wujud tuturan secara spesifik terlihat pada penggunaan ilustrasi yang cukup, wawasan yang memadai, penggunaan diksi yang mudah dipahami, dan penggunaan simbol-simbol atau perumpamaan-perumpamaan yang padat makna. Temuan penelitian yang berkaitan dengan fungsi tuturan secara spesifik bertujuan membela dan memperjuangkan nasib rakyat tertindas, mempertanyakan dan mengklarifikasi kebijakan-kebijakan pemegang otoritas, mengajak komponen masyarakat untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, melawan segala bentuk penindasan, memberikan solusi kepada pemegang otoritas, menyoroti dan mengultimatum kekuasaan yang otoriter, dan berempati terhadap nasib rakyat kecil terkait dengan kebijakan pemegang otoritas yang tidak prorakyat. Sementara itu, temuan penelitian yang berkaitan dengan strategi bertutur secara spesifik terlihat pada banyaknya penggunaan strategi langsung literal dan strategi tidak langsung literal dengan ragam gaya bertutur bombastik, demagogik, persuasif, dan provokatif. Temuan-temuan penelitian ini diyakini peneliti berimplikasi positif bagi bidang pendidikan dan pembelajaran; khususnya bagi pendidikan demokrasi, pendidikan sikap, pembelajaran bahasa Indonesia, dan pengembangan disiplin ilmu sejenis. Bagi pendidikan demokrasi, berimplikasi positif terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak bisa tinggal diam dalam menghadapi persoalan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hubungan ini, pendidikan demokratis justru menghargai perbedaan dan memberikan tempat bagi minoritas yang tertindas. Bagi pendidikan sikap, aksi mahasiswa dalam gerakan demonya juga merupakan gambaran kebebasan bersikap yang perlu diberikan tempat bagi mahasiswa untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam hubungan ini, kebebasan sebagai kesempurnaan eksistensi merupakan cita-cita yang pantas dikejar oleh setiap insan. Kebebasan itu adalah kemandirian sebagai manusia. Bagi pembelajaran bahasa Indonesia, temuan-temuan penelitian ini juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain wujud-wujud tuturan beserta makna yang digunakan oleh mahasiswa dalam berorasi, fungsi tuturan beserta ragam tujuannya dapat pula dimanfaatkan sebagai ilustrasi fungsi tuturan, dan strategi bertutur dengan bermacam gayanya dapat dilatihkan di dalam kelas perkuliahan retorika atau keterampilan berbicara. Bagi disiplin ilmu sejenis, temuan penelitian ini juga berimplikasi positif terhadap pengembangan kegiatan perkuliahan pragmatik, etnografi komunikasi, retorika, analisis wacana, sosiolinguistik, dan analisis kesalahan berbahasa Untuk memberikan manfaat lebih sebagai wujud pertanggungjawaban ilmiah, dipaparkan beberapa proposisi ilmiah, yakni (1) bahasa gerakan demo mahasiswa bersifat spesifik, (2) bahasa gerakan demo mahasiswa bertujuan politis, dan (3) bahasa gerakan demo mahasiswa merupakan alat legitimasi kekuasaan. Keseluruhan temuan penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengelola program studi bahasa di perguruan tinggi, unit aktivitas kemahasiswaan, peneliti dan pemerhati bidang pragmatik dan sosiolinguistik, pengelola jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di FKIP Universitas Islam Malang, serta pejabat Pemerintah Kota Malang.

Kontribusi supervisi pengajaran, pengembangan profesional guru, dan kinerja guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri se-malang Raya / Istiqomah

 

ABSTRAK Istiqomah. 2009. Kontribusi Supervisi Pengajaran, Pengembangan Profesional Guru,dan Kinerja Guru terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri Se-Malang Raya. Tesis. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata kunci: supervisi pengajaran, pengembangan profesional guru, kinerja guru, hasil belajar. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai variabel baik yang langsung berkaitan dengan kegiatan pengajaran maupun di luar kegiatan pengajaran.. Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah kinerja guru yang langsung berinteraksi dengan para siswa. Kinerja guru pun dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain supervisi pengajaran yang dilakukan pengawas serta pengembangan profesional guru yang diikuti oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (a) hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (b) supervisi pengajaran yang dilakukan pengawas terhadap guru Bahasa Indonesia, (c) pengembangan profesional guru Bahasa Indonesia, (d) kinerja guru Bahasa Indonesia, (e) kotribusi langsung dan signifikan supervisi pengajaran terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (f) kontribusi langsung dan signifikan pengembangan profesional guru terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (g) kontribusi langsung dan signifikan supervise pengajaran dan pengembangan profesional guru secara langsung dan simultan terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (h) kontribusi langsung kinerja guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (i) kontribusi tidak langsung supervisi pengajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui kinerja guru, (j) kontribusi tidak langsung pengembangan profesional guru terhadap terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui kinerja guru, (k) besarnya kontribusi supervisi pengajaran terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (l) besarnya kontribusi pengembangan profesional guru terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (m) besarnya kontribusi kontribusi supervisi pengajaran dan pengembangan profesional guru secara bersama atau simultan terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (n) besarnya kontribusi kinerja guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (o) besarnya kontribusi supervisi pengajaran pada hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui kinerja guru, (p) besarnya kontribusi pengembangan profesional guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri se-Malang Raya melalui kinerja guru.

Model dan paket pelatihan peningkatan mutu guru dalam perspektif manajemen strategik di Sekolah Dasar Matahari Terbit Surabaya / Erny Roesminingsih

 

ABSTRAK Roesminingsih, E. 2009. Model dan Paket Pelatihan Penigkatan Mutu Guru dalam Perspektif Manajemen Strategik di SD Matahari Terbit Surabaya. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. H.A Sonhadji K.H., MA., Ph.D, dan (III) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. Kata kunci: Model Pelatihan, Paket Pelatihan, Manajemen Strategik, Sekolah Dasar Guru mempunyai peran yang sangat signifikan bagi keberhasilan pembelajaran siswanya. Dalam memerankan fungsi dan perannya, indikator yang paling kuat bersingguangan adalah mutu guru. yang menunjukkan kemampuan guru untuk bertanggung jawab terhadap berbagai macam tugas serta pengetahuan yang dimiliki, dapat digunakan sebagai seni dan cara untuk bekerja. Dikatakan guru yang bermutu jika guru menguasai ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi pengembangannnya. Kebutuhan terhadap paradigma baru pendidikan didasarkan atas perubahan sehubungan dengan kondisi dan kebutuhan-kebutuhan pendidikan dalam masyarakat. Salah satu perbaikan yang paling strategik adalah memperbaiki manajemen pendidikannya melalui pelatihan peningkatan mutu guru dalam perspektif manajemen stategik. Dengan berbekal otonomi sekolah yang dimiliki SD Matahari Terbit Surabaya, sekolah mempunyai kesempatan untuk bereksplorasi dalam upaya meningkatkan efektivitas sekolah termasuk dalam pengembangan sumber daya manusianya. Diharapkan dengan guru yang berkompeten, guru akan menjadi change agent bagi kegiatan improvement sekolahnya sebagai perwujudan upaya akuntabilitas pada lingkungan. Yang menjadi permasalahan adalah SD Matahari Terbit belum mempunyai model dan paket pelatihan yang bersifat strategik dalam mengahadapi persaingan dan mengupayakan komitmen mutu dalam upaya menciptakan guru yang bermutu. Sementara pelatihan yang selama ini dilakukan dan diikuti belum memenuhi kebutuhan sekolah sebagai unit satuan terkecil penyelenggara pendidikan dalam perspektif perubahan Dalam penelitian pengembangan ini dihasilkan model, paket, dan evaluasi pelatihan peningkatan mutu guru dalam perspektif manajemen strategik yang mempunyai spesifikasi: (a) identifikasi kebutuhan organisasi, yang terdiri dari analisis SWOT, pemilihan alternative strategi dan perumusan strategi; (b) analisis kebutuhan; (c) perencanaan pelatihan (d) pelaksanaan pelatihan; dan (e) evaluasi. Model yang bersifat sistemik ini dapat membantu efisiensi dan efektivitas sekolah melalui fungsi masing-masing komponenya. Selain sistemik, model pelatihan ini juga mencakup beberapa dimensi: (a) dimensi waktu dan orientasi masa depan; (b) dimensi internal dan eksternal; (c) dimensi pendayagunaan sumber-sumber; (d) keikutsertaan manajemen puncak. Dengan mengacu cara kerja model yang sistemik dan mencakup beberapa dimesi di atas, maka model pelatihan ini mempunyai beberapa keunggulan; profitabilitas, produktivitas tinggi, posisi kompetitif, keunggulan teknologi, keunggulan sumber daya manusia, dan iklim kerja yang lebih baik. Paket pelatihan yang dihasilkan terdiri atas: (a) perencanaan pelatihan, meliputi tujuan pelatihan, strategi pelatihan, metode pelatihan, silabus, materi pelatihan dan session plan; (d) pelaksanaan pelatihan, yang dalam hal ini berupa pedoman pelatihan; dan (e) evaluasi. Paket pelatihan ini dapat membantu organisasi dan terutama guru dalam berapa hal: (a) perencanaan pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan secara berkelanjutan dapat disesuaikan dengan kondisi realitik organisasi; (b) paket pelatihan ini dapat berfungsi sebagai pengendali mutu guru secara berkelanjutan; (c) membangun paradigma guru; (d) dapat membangun profesional guru; (e) paket pelatihan sebagai salah satu sarana untuk mengkomunikasikan ide; (f)mendorong guru untuk berperilaku aktif dan proaktif. Evaluasi pelatihan terdiri dari; (a) evaluasi unjuk kerja berupa penguasaan isi materi, (b) evaluasi efektivitas dan efisiensi pelatihan, (c) evaluasi pelaksanaan pelatihan, (d) evaluasi kompetensi guru, dan (e) evaluasi komitmen guru pada sekolah. Evaluasi pelatihan yang dilakukan dapat memberikan beberapa manfaat dan sekaligus merupakan karakteristik dari evaluasi.: (a) mempunyai relevansi yang tinggi; (b) sebagai sistem kontrol dan pengendalian; (c) mampu memberikan rekomendasi; (d) berorientasi masa depan; (e) bersifat khusus; (f) kecocokan; (g) menarik/atraktif; (h) pertumbuhan Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif berupa komentar dan saran dideskripsikan, sedangkan data tentang aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, ujuk kerja mengenai pengasaan materi, efisiensi, efektifitas, proses pelatihan, kompetensi guru dan komitmen guru terhadap sekolah digunakan analisis statistik deskriptif. Dari hasil uji coba dapat diketahui bahwa: 44% guru memahami kebutuhan organisasi yang sehat. Sedangkan kompetensi yang diukur meliputi empat kompetensi, yaitu kometensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan professional. Penilaian unjuk kerja yang dilakukan oleh teman sejawat menunjukkan kenaikan sebesar 44%.; kompetensi yang dinilai dari atasan mengalami kenaikan sebesar 6,75%; kenaikan tingkat komitmen guru sebesar 25%. Dari hasil uji kelompok terbatas diketahui bahwa efektifitas/kegunaan pelatihan bagi guru dan sekolah mencapai 3,50 atau 87%,. Aspek keefisienan mencapai skor 3,30 atau 82%, penguasaan materi baik dari segi kognitif, afektif dan spikomotorik dapat diterima dengan sangat baik yaitu sebesar 86%. Perspektif manajemen strategik pada pelatihan peningkatan mutu guru di SD Matahari Terbit Surabaya merupakan keunggulan dan keunikan sebagai individu guru dan sekolah. Semua bermuara pada upaya improvement mutu guru yang menciptakan daya kompetirif guru dan sekolah dalam menghadapi perubahan yang terjadi baik di lingkungan intern maupun ekstern.

Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik (kajian etnografi komunikasi di kampus Universitas Negeri Makassar) / Muhammad Saleh

 

ABSTRAK Saleh, Muhammad. 2009. Representasi Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Wacana Akademik: Kajian Etnografi Komunikasi di Kampus Universitas Negeri Makassar. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suparno, (II) Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim. Kata kunci: Representasi, kesantunan, wujud, fungsi, strategi. Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik merupakan realitas komunikasi bahasa yang terikat konteks sosiokultural. Pentingnya penelitian ini dilandasi oleh tiga landasan filosofis, yakni ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Penelitian ini berangkat dari masalah penelitian tentang kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik melalui tiga fokus utama, yakni: (1) wujud kesantunan berbahasa, (2) fungsi kesantunan berbahasa, dan (3) strategi kesantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan mengeksplanasi kesantunan berbahasa mahasiswa melalui: (1) wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik; (2) fungsi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik; dan (3) strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan ancangan teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, dan teori kesantunan berbahasa. Data penelitian terdiri atas data tuturan dan catatan lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik perekaman, observasi, wawancara, dan transkripsi. Analisis data dilakukan melalui empat prosedur utama, yakni: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan/verifikasi. Berdasarkan analisis data, ditemukan keragaman wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa sebagai berikut. Wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik secara deskriptif direpresentasikan melalui dua wujud penggunaan bahasa. Pertama, penggunaan diksi, meliputi: (1) penamaan diri, (2) penggunaan kata ganti, (3) penggunaan gelar, (4) penggunaan respon mengiyakan, dan (5) penggunaan diksi informal. Kedua, penggunaan tuturan, meliputi: (a) tuturan dengan modus deklaratif; (b) tuturan dengan modus imperatif; dan (c) tuturan dengan modus interogatif. Fungsi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara deskriptif melalui empat tindak penggunaan bahasa. Pertama, fungsi kesantunan dalam tindak asertif, meliputi: (1) fungsi mengemukakan pendapat; (2) fungsi mempertahankan pendapat; (3) fungsi mengemukakan alasan; (4) fungsi menyatakan penolakan; (5) fungsi menjawab pertanyaan, (6) fungsi memberi penjelasan, (7) fungsi menunjukkan, (8) fungsi memberikan klarifikasi, dan (9) fungsi me-nyampaikan laporan. Kedua, fungsi kesantunan dalam tindak direktif, meliputi: (1) fungsi permintaan, (2) fungsi permohonan, dan (3) fungsi pertanyaan. Ketiga, fungsi kesantunan dalam tindak komisif, meliputi: (1) fungsi menyatakan kesiapan, (2) fungsi menyatakan kesediaan, (3) fungsi menyatakan persetujuan, (4) fungsi menyatakan janji. Keempat, fungsi kesantunan dalam tindak ekspresif, meliputi: (1) fungsi permohonan maaf, (2) fungsi mengungkapkan terima kasih, (3) fungsi mengungkapkan kepuasan, (4) fungsi mengakui kesalahan, (5) fungsi mengungkapkan perhatian. Strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara deskriptif melalui tiga kategori strategi. Pertama, strategi kesantunan positif, direpresentasikan melalui: (1) strategi peng-hormatan; (2) strategi memberi penghargaan; (3) strategi memenuhi ke-inginan mitra tutur; (4) strategi meminta pertimbangan; (5) strategi ber-tanya; (6) strategi melipatgandakan simpati; (7) strategi memberi perhati-an; (8) strategi mencari persetujuan; dan (9) strategi merendahkan diri. Kedua, strategi kesantunan negatif, direpresentasikan melalui: (1) strategi menghindari perselisihan; (2) strategi bertanya balik; (3) strategi membiar-kan mitra tutur; (4) strategi bersikap pesimis; (5) strategi impersonalitas atau jarak; (6) strategi bersikap patuh; (7) strategi menghindari berasumsi; dan (8) strategi meminta maaf. Ketiga, strategi off-record, direpresentasikan melalui: (1) strategi bertutur samar-samar; (2) strategi memberi isyarat; (3) strategi bertanya retoris; dan (4) strategi menghindari pemaksaan. Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik secara aksiologis memiliki dua implikasi utama. Pertama, implikasi teoretis, meliputi: (1) implikasi terhadap teori etnografi komunikasi; (2) implikasi terhadap teori kesantunan berbahasa; (3) implikasi terhadap teori pragmatik; (4) implikasi terhadap teori tindak tutur; (5) implikasi terhadap teori sosiolinguistik; dan (6) implikasi terhadap teori wacana. Kedua, implikasi praktis, meliputi: (1) implikasi terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (2) implikasi terhadap pengembangan model pembelajaran; (3) implikasi terhadap pendidikan damai. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan melalui beragam wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa. Kedua, wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui penggunaan diksi dan penggunaan tuturan. Ketiga, fungsi kesantunan berbahasa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui tindak tutur asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Keempat, strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui strategi kesantunan positif, kesantunan negatif, dan kesantunan off-record. Keenam, representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik dieksplanasi secara eklektik melalui teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, teori kesantunan berbahasa, teori pragmatik, teori sosio-linguistik, dan teori kajian wacana. Ketujuh, hasil penelitian tentang kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik dengan beragam wujud, fungsi, serta strateginya membawa implikasi baik secara teoretis maupun secara praktis. Berdasarkan temuan penelitian, pembahasan, serta simpulan hasil penelitian, dikemukakan beberapa saran kepada pihak-pihak yang terkait. Saran-saran penelitian ini antara lain ditujukan secara akademik kepada: (1) peneliti lanjut sebagai pemerhati, dalam rangka pendalaman, perluasan, dan pengembangan penelitian kesantunan berbahasa; (2) dosen sebagai pembina kesantunan berbahasa mahasiswa; (3) mahasiswa sebagai subjek penelitian; (4) para pimpinan universitas sebagai penentu kebijakan (rektor, dekan, dan ketua jurusan/program studi; dan (5) orang tua/ lingkungan keluarga sebagai peletak dasar karakter anak didik.

Pengolahan limbah cair tahu dengan menggunakan effective microorganism (EM4 dan EM5) dan potensinya sebagai penghasil pupuk dan biogas / Ikenretna Dewi Sukowati

 

ABSTRAK Sukowati, Ikenretna Dewi. 2009. Pengolahan Limbah Cair Tahu dengan Menggunakan Effective Microorganism (EM4 dan EM5) dan Potensinya sebagai Penghasil Pupuk dan Biogas. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subandi, M.Si., (II) Ir. H. Santosa Soengkono Kata kunci: limbah cair tahu, Effective Microorganism, pupuk, biogas. Salah satu industri pangan adalah proses produksi tahu. Limbah cair tahu akan menganggu kelestarian lingkungan jika langsung dibuang. Pengolahan limbah cair tahu antara lain dengan penambahan EM dan fermentasi anaerob. Kedua cara pengolahan tersebut diharapkan dapat menghasilkan produk akhir yang lebih bermanfaat, seperti pupuk/kompos dan biogas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik limbah cair tahu sebelum dan sesudah ditambah EM4, serta untuk mengetahui pengaruh penambahan EM5 terhadap waktu fermentasi limbah cair tahu untuk menghasilkan biogas. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental serta dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang dan Laboratorium Jasa Tirta; sedangkan sampel limbah cair tahu diperoleh dari salah seorang pengrajin tahu di Mergan, kota Malang. Tahapan penelitian terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah analisis COD, TSS, nitrogen total, nitrat, dan karbon organik total limbah cair tahu sebelum dan sesudah fermentasi selama 3 hari menggunakan EM4, kemudian ditentukan rasio C/N limbah hasil fermentasi; bagian kedua adalah penentuan waktu fermentasi limbah cair tanpa dan dengan menggunakan EM5 sampai menghasilkan biogas serta serta pengamatan terhadap parameter kemampuan nyala, bau gas dan warna cairan outlet hasil fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EM4 (0,33%) pada limbah cair tahu (pH 6,8) dengan waktu fermentasi 3 hari dapat menaikkan kadar nitrogen total 25,39 % dari 14,4 mg/L menjadi 19,3 mg/L; serta penurunan kadar COD 42,6 % dari 7992,84 mg/L menjadi 4582,08 mg/L; penurunan kadar TSS 59,21 % dari 710 mg/L menjadi 260 mg/L; penurunan kadar C-organik total 26,82 % dari 1167 mg/L menjadi 854 mg/L; penurunan kadar nitrat adalah 24,94 % dari 0,9725 mg/L menjadi 0,73 mg/L. Hasil fermentasi limbah cair tahu selama 3 hari menghasilkan rasio C/N 81,04 untuk yang tanpa EM4 dan 44,25 untuk yang menggunakan EM4 (rasio C/N ideal untuk pupuk 25-35). Baik dengan dan tanpa Effective Microorganism (EM5), limbah cair tahu dapat menghasilkan biogas. Dengan digester berkapasitas 60 L dan volume limbah cair tahu 40 L, penambahan EM5 (0,04%) memperpendek waktu terbentuknya biogas dari 42 hari menjadi 35 hari serta dapat menghilangkan bau yang tidak sedap.

Pengembangan bahan ajar biologi materi tumbuhan untuk SMA kelas X dengan model siklus belajar yang berorientasi konstruktivistik / Muhammad Syatibi

 

ABSTRAK Syatibi, Muhammad. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Biologi Materi Tumbuhan untuk SMA Kelas X dengan Model Siklus Belajar yang Berorientasi Konstruktivistik. Skripsi. Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Istamar Syamsuri, M.Pd, (II) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S Kata kunci: Bahan Ajar, Siklus Belajar, Konstruktivistik. Salah satu prinsip pelaksanaan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Pengembangan media berupa bahan ajar adalah salah satu pengembangan media dan sumber belajar yang sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Bahan ajar adalah bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan bahan ajar biologi materi tumbuhan dengan model siklus belajar yang berorientasi konstruktivistik untuk digunakan dalam pembelajaran biologi di SMA kelas X. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan bahan ajar. Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar biologi materi tumbuhan dengan model siklus belajar yang berorientasi konstruktivistik. Prosedur penelitian meliputi pengkajian potensi dan masalah, pengumpulan data, disain bahan ajar, uji validasi bahan ajar, revisi bahan ajar I, uji coba bahan ajar, revisi bahan ajar II, penyempurnaan bahan ajar. Subjek validasi (validator) bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari tiga orang dosen biologi dan dua orang guru biologi di SMA data yang diperoleh dalam penelitian meliputi (1) data kuantitatif berupa skor angket penilaian dan nilai siswa, dan (2) data kualitatif berupa tanggapan atau saran dari validator, deskripsi keterlaksanaan uji coba bahan ajar dan motivasi belajar siswa. Hasil pengembangan berupa bahan ajar yang mempunyai dua kegiatan belajar materi pokok Tumbuhan Lumut dan materi pokok Tumbuhan Paku. Masing-masing kegiatan berlajar terdapat model siklus belajar empat tahap (eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, evaluasi) yang berbasis konstruktivistik. Hasil penilaian validator tentang kelayakan isi sebesar 93,75% yang berarti valid, dan keterbacaan 88,24% yang berarti valid. Uji coba bahan ajar secara umum sudah terlaksana dan siswa termotivasi belajar dengan bahan ajar. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba bahan ajar, maka bahan ajar yang dikembangkan telah dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar biologi di SMA kelas X.

Lexical analysis on the heroic and villainous characters' depiction of Rushdie's Haroun and The Sea of Stories / Citra Dwi Marlia Rhochayati

 

ABSTRACT Rhochayati, Citra D. Marlia. 2009. Linguistic Analysis on the Heroic and Villainous Character’s Depiction of Salman Rushdie’s Haroun and the Sea of Stories. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. M. Misbahul Amri, M.A. Key words: linguistic, heroic, villainous, characters’ depiction, Haroun and the Sea of Stories The study of language is important, for it can reveal or conceal people’s personal identity, character and background whether consciously or unconsciously (Chaika, 1982:2). Based on the notion above, the writer is interested in conducting a study towards one of attention grabbing novels—Rushdie’s Haroun and the Sea of Stories—to investigate whether or not the use of lexical items contribute to the depiction of the heroic and villainous characters. On this basis, the writer will further analyze the author’s style in depicting the characters. Another reason for strengthening the conduction of this study is the little attention paid towards the linguistic aspect of the novel. This is descriptive study and employs textual analysis using library research as data collection technique. From the checklist of linguistic and stylistic categories provided by Leech and Short (1984:75), the writer limits this study on the investigation on the use of lexical categories, particularly, the use of reporting verbs, verbs of perception, adverbs of manner and adjectives which are attributed to Haroun as the hero and Khattam Shud as the villain. The results of this study show that different lexical items have different degrees of significance in depicting characters. The choice of particular verbs (reporting verbs and verbs of perception) does not contribute strongly to the depiction of characters since there is only small evidence which prove that. For the adverbs of manner, its use does contribute more to the character’s depiction than for the verbs. However, all of those require context consideration. Whereas, the choice of adjectives attributed to the characters contributes strongly to the depiction of Haroun and Khattam Shud. Moreover, by identifying those lexical items’ use, the writer draws some points related to author’s style in depicting the characters. First, context plays important role in depicting characters by diction. Secondly, Haroun’s childish nature is emphasized by the use of various positive and negative lexical items which implies character inconsistency. Thirdly, there is an exaggeration of how dreadful and terrifying Khattam Shud is, by the frequent and repetitious use of adjectives. The last one, by the use of limited number of adjectives, the hero is depicted to be as ordinary as possible, avoiding heroism exaggeration.

Meningkatkan prestasi belajar matematika melalui pembelajaran matematika realistik pada siswa MTs Surya Buana Malang / Akhmad Riyadi

 

ABSTRAK Riyadi, Akhmad. 2009. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Matematika Realistik pada Siswa MTs Surya Buana Malang. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc., (II) Dra. Ety Tedjo D. C., M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Matematika Realistik, prestasi belajar, segi empat Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) adalah salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang diperkenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1973. Freudenthal mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi sehari-hari. Selain itu siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika. Karakteristik dari PMR adalah menggunakan masalah kontekstual, menggunakan model, menggunakan kontribusi murid, interaktivitas, dan intertwining. Sedangkan prinsip utama dari PMR antara lain (1) Guided Reinvention and Progressive Mathemathizing; (2) Didactatical Phenomenology; (3) Self- Developed Models. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menerapkan PMR pada topik segi empat yang diajarkan di kelas VII MTs Surya Buana Malang. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) menghasilkan rancangan langkah-langkah pembelajaran matematika realistik pada materi segi empat, 2) meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran matematika realistik, dan 3) meningkatkan aktivitas siswa melalui pembelajaran matematika realistik. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Surya Buana Malang pada tanggal 21 Mei 2007 sampai dengan 30 Mei 2007. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pratindakan dan tahap tindakan. Tahap tindakan pada penelitian ini terdiri dari lima tahapan, yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, 4) analisis data, dan 5) refleksi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif meliputi 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar matematika setelah mendapatkan pembelajaran segi empat dengan menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik. Peningkatan ini dapat dilihat dari aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan skor tes siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, Pembelajaran Matematika Realistik layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran pada topik segi empat.

Hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Jember ditinjau dari urutan kelahiran siswa dalam keluarga / Desy Christiani

 

ABSTRAK Christiani, Desy. 2009. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Jember ditinjau dari Urutan Kelahiran Siswa dalam Keluarga. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si, (II) Ika Andrini Farida, M.Psi. Kata Kunci : Pola Asuh Orang Tua, Prestasi Belajar Siswa, Urutan Kelahiran dalam Keluarga. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA tahun 2008 secara nasional diyakini mengalami penurunan. Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (external), selain itu penelitian ilmiah tentang urutan kelahiran telah mengungkapkan bahwa pengaruh lingkungan mempunyai peran yang lebih penting daripada keturunan dalam menentukan perbedaan yang ditentukan pada anak dengan urutan kelahiran yang berbeda dalam keluarga. Tujuan utama penelitian yang dilakukan pada siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Jember ini adalah untuk mengetahui: (1) pola asuh orang tua, (2) prestasi belajar siswa, (3) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak sulung, (4) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak tengah, (5) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak bungsu, dan (6) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak tunggal.Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan sampel sebanyak 152 yang diambil dengan teknik propotional random sampling. Data variabel pola asuh orang tua diukur dengan skala pola asuh, prestasi belajar siswa adalah nilai rata-rata raport semester I tahun ajaran 2008/2009 yang didapat dari dokumentasi, dan urutan kelahiran siswa diperoleh dari identitas siswa saat mengisi skala pola asuh. Data dianalisa dengan teknik korelasi Spearman Brown (rho) dan Uji Mann_Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pola asuh orang tua paling banyak menerapkan pola asuh otoritatif (86,2%, n = 131), (2) prestasi belajar siswa paling banyak termasuk kelompok sedang (85,5%, n = 130), (3) ada hubungan positif antara pola asuh orang tua dan prestasi belajar siswa baik pada anak sulung, tengah, bungsu maupun tunggal. Berdasarkan hasil analisis uji beda, pola asuh otoritatif menghasilkan mean prestasi belajar yang lebih tinggi daripada mean prestasi belajar dengan pola asuh otoriter pada semua urutan kelahiran. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi pihak sekolah, antara konselor dan guru hendaknya menjalin kerja sama untuk mengadakan seminar atau pelatihan guna meningkatkan prestasi belajar siswa dengan peranan pola asuh otoritatif terhadap anak. Bagi orang tua hendaknya mewujudkan pola asuh otoritatif dengan cara bersedia mendampingi dan membantu anak bila diperlukan, menghargai hasil prestasi maupun kerja anak, tetap menjaga komunikasi yang baik dengan anak, melibatkan anak dalam mengambil keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri dan melibatkan mereka dalam kegiatan keluarga.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online terhadap kepuasan mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Dian Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, Dian. 2009. Pengaruh Persepsi Mahasiswa Tentang Sistem Registrasi Akademik Online Terhadap Kepuasan Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Program studi pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Puji Handayati (II) Helianti Utami (III) Bambang Sugeng Kata Kunci: persepsi mahasiswa, registrasi akademik online, dan kepuasan mahasiswa Layanan registrasi akademik adalah pelayanan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan pada semester tertentu, dengan syarat mahasiswa tersebut telah melakukan registrasi administrasi. Kegiatan registrasi akademik meliputi konsultasi rencana studi, pendaftaran matakuliah, pengisian dan pengesahan KRS, pengumuman hasil pemrosesan KRS (Universitas Negeri Malang, 2005). Peningkatan mutu pendidikan tinggi (mutu layanan akademik dan mutu pengajaran) merupakan upaya UM dalam memberikan layanan yang berkualitas dan memberikan kepuasan bagi mahasiswanya. Layanan registrasi akademik secara online merupakan wujud perubahan sistem sebagai upaya peningkatan pelayanan akademik yang tanggap akan kebutuhan sistem informasi. Bentuk penilaian terhadap kualitas layanan tersebut dapat diketahui apabila layanan tersebut dirasa baik dan memberikan kepuasan bagi mahasiswa sebagai pelanggan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik onlinedan untuk mengetahui pengaruh antara persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online dan kepuasan mahasiswa di FE UM. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UM, lokasi penelitian di UM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksplanasi dengan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa FE UM tahun yang masih aktif di semester pendek tahun 2009, yang berjumlah 417 orang. Sample penelitian berjumlah 83 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling. Uji kualitas instrumen yang dipakai adalah uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier sederhana yang diolah dengan bantuan program SPSS for Windows ver 13.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online berpengaruh terhadap variabel kepuasan mahasiswa, yang dibuktikan dari hasil analisis nilai uji t sebesar 5,975, R square 0,306 dan taraf signifikan 0,000 yang lebih kecil dari alpha (0,5). Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online berada dalam kriteria sedang. Hasil analisis angka signifikan 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak, koefisien regresi signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online berpengaruh terhadap kepuasan mahasiswa. Saran agar tetap dapat memberikan layanan terbaik, hendaknya UM secara umum dan FE secara khusus dalam memberikan layanan registrasi akademik secara online dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu serta kualitas secara terus-menerus dari masa ke masa, hal ini karena dapat memberikan citra tersendiri bagi pelanggan eksternal maupun internal. Hendaknya mahasiswa dapat memberikan aspirasinya secara objektif terhadap penelitian tentang layanan-layanan lain di UM agar hasilnya memang benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi beru serta motivasi bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian terhadap layanan-layanan lain di UM.

Analisis sistem pengendalian internal terhadap pemungutan dan penyetoran retribusi terminal sebagai sumber pendapatan asli daerah pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto / Iga Cipta Mawarni

 

Kata Kunci: Pemungutan, Penyetoran, Retribusi Terminal, Pendapatan Asli Daerah, Sistem Pengendalian Internal Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu instansi yang membantu Kepala Daerah Kabupaten Mojokerto dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah. Urusan Dinas tersebut dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah dengan melaksanakan pemungutan pada Retribusi Daerah. Salah satu jenis Retribusi Daerah yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto adalah retribusi terminal. Retribusi terminal merupakan fokus dalam penelitian, terutama berkaitan dengan sistem pelaksanaan pemungutan dan penyetoran retribusi terminal serta sistem pengendalian internal atas pemungutan dan penyetoran retribusi terminal tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan data primer dari observasi dan wawancara, dan data sekunder dari kepustakaan dan dokumenter. Metode pemecahan masalah dalam penelitian dilakukan dengan mengamati dan mengumpulkan data, menganalisis dan membandingkan data dengan kajian pustaka, kemudian menarik kesimpulan penelitian. Hasil analisis data menunjukkan bahwa mekanisme yang digunakan dalam pemungutan dan penyetoran retribusi terminal telah sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha, namun realisasi penerimaan retribusi terminal masih rendah jika dibandingkan jenis pungutan lain. Di samping itu, realisasi penerimaan retribusi terminal tidak mencapai target pada tahun 2011. Hal ini dikarenakan sistem pengendalian internal pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto belum maksimal, meskipun telah terdapat sistem otorisasi, sistem pengawasan, sistem absensi dengan menggunakan mesin pemindai sidik jari, serta sistem pencatatan dan penyimpanan dokumen, namun masih terdapat beberapa kelemahan diantaranya pegawai melalaikan tugas, mengkorupsi jam kerja pegawai, komitmen pegawai rendah, sistem pengawasan yang kurang maksimal, dan sering terjadi penundaan pencatatan. Beberapa kelemahan tersebut memberikan dampak negatif pada sistem pengendalian internal. Maka, beberapa upaya harus dilakukan untuk meningkatkan sistem pengendalian internal pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto. Upaya tersebut diantaranya adalah peningkatan sistem pengawasan dan evaluasi kinerja pegawai, pemberian arahan agar pegawai berkompeten dalam melaksanakan tugas, serta penerapan sistem pemisahan fungsi.

Hubungan antara career self-efficacy dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XII SMA Negeri I Batu / Christina Yosafat

 

ABSTRAK Yosafat, Christina. 2009. Hubungan Antara Career Self Efficacy dengan Pengambilan Keputusan Karier. Skripsi. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Prastuti M.Si, (2) Hetti Rahmawati S.Psi, M.Si, Kata kunci : career self efficacy, pengambilan keputusan karier. Masa remaja merupakan masa di mana pengambilan keputusan meningkat. Remaja mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, seperti memilih bidang karier. Remaja sering memandang eksplorasi karier dan pengambilan keputusan dengan kebimbangan, ketidakpastian, dan stres. Hal ini didukung dengan fakta di lapangan yang menujukkan bahwa kebanyakan remaja mengalami kebingungan ketika ditanya tentang rencana karier yang akan dipilih. Fakta ini juga yang kemudian membuat peneliti menjadi tertarik untuk mengetahui hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tingkat career self efficacy siswa kelas XII SMA Negeri I Batu; (2) Bagaimana pengambilan keputusan karier siswa XII SMA Negeri I Batu; (3) Apakah ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XII SMA Negeri I Batu. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui tingkat career self efficacy siswa kelas XII SMA Negeri I Batu; (2) Untuk mengetahui pengambilan keputusan karier siswa kelas XII SMA Negeri I Batu; (3) Untuk mengetahui hubungan antara career self-efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XII SMA Negeri I Batu. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri I Batu yang berjumlah 225 siswa. Sedangkan sampel penelitian adalah siswa kelas XII IPA, IPS, dan Bahasa SMA Negeri I Batu sebanyak 90 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala career self efficacy dan skala pengambilan keputusan karier yang disusun menggunakan teknik penskalaan Likert. Analisis deskriptif dilakukan berdasarkan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Sementara, analisis korelasional menggunakan analisis statistik product moment Pearson dengan bantuan SPSS 12.00 for windows. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 56 siswa (62,22%) memiliki tingkat career self efficacy rendah. Sementara untuk variabel pengambilan keputusan karier sebanyak 64 siswa (71,11%) memiliki tingkat pengambilan keputusan karier yang rendah. Ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier (rxy= 0,812 (p = 0,000; p < 0,05) sehingga penambahan tingkat career self efficacy diikuti dengan penambahan tingkat pengambilan keputusan karier atau penurunan tingkat career self efficacy akan diikuti dengan penurunan tingkat pengambilan keputusan karier. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier diterima. Berdasarkan hasil penelitian bahwa career self efficacy dapat memberikan kontribusi positif dalam pengambilan keputusan karier, maka diharapkan para siswa dapat meningkatkan career self efficacy-nya. Peningkatan career self efficacy dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan karier secara intensif kepada para siswa. Bimbingan karier ini dapat dilakukan oleh guru konseling dan sedapat mungkin dilakukan sejak kelas X atau sebelum siswa dijuruskan. Diharapkan melalui bimbingan karier ini siswa kelas XII lebih mampu memutuskan pilihan kariernya.

Penggunaan peta konsep untuk meningkatkan prestasi belajar biologi siswa di kelas X SMA Islam Malang / Ruri Eka Yuliana

 

Metode pembelajaran Biologi yang diterapkan di SMA Islam Malang sebagian menggunakan ceramah dan diskusi. Hasil observasi di kelas X, ditemukan bahwa guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa cenderung pasif dan kurang motivasi dalam kegiatan pembelajaran, yang akibatnya prestasi belajar siswa kurang memuaskan. Salah satu pembelajaran yang bisa digunakan guru dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa adalah menggunakan peta konsep dalam pembelajaran Biologi dengan melakukan beberapa penilaian alternatif diantaranya adalah penilaian peta konsep, penilaian teman dalam satu kelompok, penilaian presentasi dan diskusi. Tujuan dari penelitian ini adalah menggunakan peta konsep untuk meningkatkan prestasi belajar Biologi siswa di kelas X SMA Islam Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang pelaksanaannya dilakukan meliputi dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa di kelas X-D SMA Islam Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi berupa catatan lapangan dan data prestasi dari asesmen alternative (terdiri dari penilaian peta konsep, penilaian teman (dalam satu kelompok), penilaian presentasi dan diskusi), angket, dan tes yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Hasil analisis data, ditemukan bahwa hasil belajar dengan tes pada siklus I, aspek kognitif yaitu 22,9% siswa sudah tuntas belajar. Sedangkan hasil belajar dengan tes pada siklus II dari aspek kognitif yaitu 100% siswa tuntas belajar. Prestasi belajar siswa untuk aspek afektif juga menunjukkan peningkatan, siswa lebih aktif bertanya dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Pada siklus I skor rata-rata yang diperoleh siswa pada penilaian teman (dalam satu kelompok) adalah 89,3, pada siklus II meningkat menjadi sebesar 91,7. Skor rata-rata penilaian presentasi keseluruhan kelompok pada siklus I adalah 70, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi sebesar 85,7. Penilaian diskusi juga meningkat pada siklus II, jumlah siswa yang berdiskusi pada siklus I sebanyak 14 siswa, rerata nilai diskusi sebesar 76,6, sedangkan pada siklus II jumlah siswa yang berdiskusi sebanyak 23 dan rerata nilai diskusi sebesar 78. Sedangkan untuk aspek psikomotorik yang ditunjukkan dari keterampilan siswa dalam membuat peta konsep juga bagus, meningkat pada siklus II, skor rata-rata dari keseluruhan kelompok pada siklus I adalah 62,7, pada siklus II meningkat menjadi sebesar 84,3. Saran yang diajukan adalah (1) bagi guru bidang studi dianjurkan menggunakan peta konsep dalam pembelajaran dan menilai setiap aktivitas yang dilakukan siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (2) dalam pengelolaan pembelajaran di kelas guru harus memberi motivasi kepada seluruh siswa, terutama siswa yang memiliki kemampuan lebih rendah, agar mereka lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya, (3) siswa diharapkan mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya sebelum pelaksanaan kegiatan belajar di kelas, dan (4) bagi peneliti berikutnya, disarankan melakukan penelitian tentang penggunaan peta konsep dalam pembelajaran Biologi dengan materi yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran dengan peta konsep.

Model pembelajaran dua bahasa (bilingual) yang dilakukan di kelompok bermain Pelita Kasih Makassar / Dian Puspita Sari

 

ABSTRAK Sari, Dian Puspita. 2009. Model Pembelajaran Dua Bahasa (Bilingual) yang Dilakukan di Kelompok Bermain Pelita Kasih. Skripsi, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah. FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Ihsom Ihsan Kata kunci : Model, Pembelajaran Dua Bahasa, Kelompok Bermain Beberapa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak di Makassar menerapkan pembelajaran dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Para ahli masih belum sependapat tentang pengaruh pembelajaran itu terhadap perkembangan kognitif anak. Penelitian ini ingin mengetahui model pembelajaran serta faktor pendukung dan penghambat pemebelajaran dua bahasa di Kelompok Bermain. Penelitian ini dilakukan di Kelompok Bermain Pelita Kasih pada tanggal 23 Februari sampai 07 Maret 2006. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan Deskriptif. Teknik penggalian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, angket dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan adalah dengan menggunakan rumus presentase Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pelaksanaan model pembelajaran dua bahasa yang dilakukan di Kelompok Bermain Pelita Kasih lebih difokuskan agar anak memiliki kemampuan berkomunikasi lisan dan berbicara dalam dua bahasa dengan berdasarkan kurikulum pembelajaran kelompok bermain. Tujuan dari pembelajaran dengan dua bahasa yang diterapkan di Kelompok Bermain Pelita Kasih yaitu mengenalkan dan membiasakan anak menggunakan bahasa asing terutama bahasa Inggris dan meningkatkan kecerdasan Linguistic anak sejak dini sehingga menambah kepercayaan diri anak untuk berkomunikasi dengan orang lain baik itu dari lingkungannya maupun dari luar lingkungannya tidak hanya itu, kemampuan cara berfikir anak akan bertambah serta mengembangkan kemampuan toleransi anak. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan (1) Bagi Lembaga Kelompok Bermain Pelita Kasih, Para guru disarankan menambah wawasan tentang pembelajaran secara dua bahasa. (2) Bagi jurusan Pendidikan Luar Sekolah, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan informasi untuk pengembangan bidang garapan Pendidikan Luar Sekolah. (3) Bagi peneliti lain, dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemampuan bahasa inggris guru dalam rangka mempersiapkan diri untuk melakukan pembelajaran bilingual di Kelompok Bermain.

Perbedaan kepuasan perkawinan pada masa 5 tahun pertama pada suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak / Dian Putri Dirgahayu

 

ABSTRAK Dirgahayu, Dian Putri , 2009. Perbedaan Kepuasan Perkawinan pada Masa 5 Tahun Pertama Pada Suami yang Sudah memiliki Anak dan Belum Memiliki Anak. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)Dr Fattah Hanurawan M.Si., M.Ed.,(II)Ika A. Farida, M.Psi. Kata kunci: kepuasan perkawinan, 5 tahun pertama, kepemilikan anak Dalam setiap perkawinan kehadiran anak seringkali dianggap sebagai syarat mutlak untuk menentukan kebahagiaan dan kelangsungan perkawinan itu sendiri. Walaupun tidak jarang ada pasangan tetap dapat menjalani perkawinan meskipun tanpa anak. (dalam Yulia, 2006). Secara psikologis, kehadiran anak di dalam keluarga dapat menyemarakkan suasana. Maka dari itu berkembanglah persepsi yang mengatakan bahwa tanpa anak, sebuah perkawinan akan terasa hampa (dalam Pernamasari, 2008). Sebuah riset di Amerika menyatakan bahwa 1 dari 2 pernikahan mengalami penurunan kualitas pernikahan sejak anak pertama lahir hal itu disebabkan banyak suami merasa disisihkan istrinya (dalam Lianawati, 2007). Banyak penelitian menunjukkan bahwa kehadiran anak meningkatkan stabilitas perkawinan dan secara bersamaan mengurangi kepuasan perkawinan (dalam Haseley, 2006). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang sudah memiliki anak, (2) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang belum memiliki anak, (3) perbedaan kepuasan perkawinan pada suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Kepuasan perkawinan diukur dengan skala kepuasan perkawinan. Subyek penelitian adalah 62 suami di Kotamadya Malang yang terdiri dari suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak. Data yang terkumpul dianalisa dengan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang sudah memiliki anak berada pada kategori tinggi, (2) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang belum memiliki anak berada pada kategori tinggi, (3)Ada perbedaan kepuasan perkawinan yang signifikan antara suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak, dan kepuasan perkawinan suami yang belum memiliki anak lebih tinggi dibanding kepuasan perkawinan suami yang sudah memiliki anak. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi suami yang sudah memiliki anak untuk merawat kemesraan,mengatur waktu pembagian kerja dan pengasuhan anak, dan refreshing. Bagi suami yang belum memiliki anak disarankan tetap merawat kemesraan diantara suami istri agar hubungan antara suami istri tetap harmonis dan kepuasan perkawinan yang dirasakan tetap tinggi. Diperlukan juga penerimaan perubahan pola pikir dan gaya hidup dalam masyarakat agar tidak berkembang paradigma yang menyudutkan keadaan atau situasi yang sedang dialami oleh pasangan suami-istri berkaitan dengan status kepemilikan anak

Pengembangan variasi latihan shooting dari daerah medium range pada tim ekstrakurikuler bolabasket putra SMA Negeri 9 Malang / Fajar Hidayatullah

 

ABSTRAK Hidayatullah, Fajar. 2009. Pengembangan Variasi Latihan Shooting Dari Daerah Medium Range Pada Tim Ekstrakurilkuler Bolabasket SMA Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes., Pembimbing (II). Dr. Saichudin, M.Kes. Kata kunci: Pengembangan, bolabasket, variasi latihan, shooting, medium range, ekstrakurikuler,siswa sekolah menengah atas. Bolabasket adalah olahraga yang dimainkan oleh dua regu yang saling memasukkan bola ke keranjang lawan dengan tangan. Jadi inti dari permainan bobabasket adalah berusaha sebanyak mungkin untuk memasukkan bola pada keranjang lawan. Menurut Oliver (2004:13) ”Meskipun banyak pemain bolabasket terus mencoba melakukan tembakan 3 angka, statistik mengungkapkan bahwa para penembak 3 angka terbaik pun hanya berhasil 40 hingga 45 persen dari semua usaha lemparan tiga angka mereka sedangkan persentase tembakan tertinggi adalah tembakan dalam”. Dalam penelitian ini subyek adalah tim ekstrakurikuler bolabasket putra SMAN 9 Malang. Pelatih ekstrakurikuler bolabsket SMA Negeri 9 Malang sudah seringkali memberikan latihan shooting dari daerah medium range, namun variasi latihan yang diberikan terkesan monoton dan diulang-ulang yang menyebabkan para siswa malas-malasan dalam menjalankannya. Menurut Bompa (1987:19) “latihan harus bervariasi dengan tujuan untuk mengatasi sesuatu yang monoton dan kebosanan dalam latihan, pelatih perlu pengetahuan dan sumber latihan yang banyak yang memungkinkan dapat berubah secara periodik”. Berdasarkan masalah yang ditemukan, maka peneliti mengembangkan variasi latihan shooting dari daerah medium range pada tim ekstrakurikuler bolabasket putra SMAN 9 Malang. Menembak (shooting) adalah suatu cara untuk mencetak poin dengan memasukkannya ke dalam ring. Shooting dari daerah medium range adalah shooting yang dilakukan pada area antara garis key hole dan garis 3 point. Dalam melatih teknik shooting diperlukan latihan yang berulang-ulang, selain itu membutuhkan teknik dasar yang benar juga diperlukan variasi-variasi model latihan untuk mencegah kebosanan berlatih. Model pengembangan ini adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Pada pengembangan variasi latihan shooting dari daerah medium range ini dilakukan melalui beberapa tahap yang meliputi analisis kebutuhan, pembuatan produk awal, uji coba produk, revisi produk pertama, uji lapangan, dan revisi produk akhir. Subyek penelitian adalah peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMA Negeri 9 Malang. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan variasi latihan shooting dari daerah medium range pada tim ekstrakurilkuler bolabasket SMA Negeri 9 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah yang mempunyai kegiatan ekstrakurikuler bolabasket, yang ada disekitar tempat pengembangan produk, peneliti sendiri dan peneliti lain untuk dikembangkan ke arah lebih lanjut.

Fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau (Empoasca sp.) pada tanaman teh (Xamellia sinensis L.O.K.) klon assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 di kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang pada musim penghujan / Enik Amalia

 

i Abstrak Amalia, Enik. 2008. Fluktuasi Kepadatan Populasi Wereng Hijau (Empoasca sp.) Pada Tanaman Teh (Camellia sinensis L. O. K) Klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 Di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang Pada Musim Penghujan. Skripsi: Progam Studi Biologi. Pembimbing: (I) Drs. Fatchur Rohman, M. Si, (II) Drs. Faturrachman, M. Si. Kata kunci: Fluktuasi, kepadatan populasi, Empoasca sp, klon tanaman teh. Indonesia merupakan negara produsen teh kelima terbesar di dunia setelah India, Cina, Sri Langka dan Kenya. Sejak tahun 1998 di perkebunan teh Jawa Barat telah muncul hama baru yaitu wereng hijau Empoasca sp. Akibat serangan hama wereng tersebut produksi teh mengalami penurunan sekitar 50% dalam 45 hari (Dharmadi, 1999). Telah dilakukan beberapa cara untuk mengendalikan hama tersebut antara lain sanitasi peralatan panen, pemangkasan tanaman teh, dan pengendalian hama dengan menggunakan musuh alami (predator). Populasi serangga hama di alam tergantung pada faktor iklim, yaitu curah hujan, suhu, kelembaban udara, dan faktor biotik seperti jumlah dan kualitas makanan, musuh alami, dan kompetisi antar atau inter spesies (Widayat, 1987:16). Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui fluktuasi kepadatan populasi Emposca sp. pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar, 2) mengetahui faktor abiotik yang paling menentukan kepadatan populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar di kebun teh Wonosari Singosari Malang pada mesim penghujan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Desember 2006-Mei 2007. Tempat penelitian berada di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang dan di Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi UM. Data yang diamati yaitu fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. yang meliputi dari fase telur, nimfa dan imago pada daun bagian peko, daun muda dan daun tua di klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Faktor abiotik lingkungan yang diukur meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan air tanah, suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin, dan curah hujan. Untuk mencari jumlah rerata kepadatan populasi relatif Empoasca sp. digunakan rumus: Dr = ni/N x 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar memiliki kepadatan relatif tertinggi bila dibandingkan dengan klon Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Kepadatan populasi tertinggi berada pada klon Assamica datar fase imago yang berada pada daun tua yaitu sebesar 2 individu/daun dengan kepadatan relatif 60%, sedangkan fase nimfa kepadatan populasi tertinggi berada pada daun muda yaitu 1 individu/daun dengan kepadatan relatif 47,06%. Selama pemetikan Empoasca sp. fase telur tidak ditemukan. Secara umum kepadatan populasi Empoasca sp terbanyak berada pada klon Assamica datar pada daun muda fase imago. Faktor ii abiotik yang paling menentukan fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. adalah suhu udara, suhu tanah dan curah hujan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut mengenai fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau (Empoasca sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang pada musim kemarau dan diadakan penelitian lebih lanjut tentang daya serang wereng hijau (Empoasca sp.) terhadap tanaman teh.

Kualitas pelaksanaan pembelajaran praktek kerja industri (prakerin) Jurusan Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang tahun pelajaran 2008-2009 / Yoyok Suwiknyo

 

KUALITAS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) JURUSAN TEKNIK BANGUNAN SMK NEGERI 1 SINGOSARI MALANG TAHUN PELAJARAN 2008-2009 Yoyok Suwiknyo Herman Ginting Pribadi Praktek Kerja Industri (Prakerin) merupakan salah satu jenis pendidikan dan pelatihan untuk siswa SMK. Pelaksanaan Prakerin merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan sumberdaya manusia untuk menghasilkan produk yang terbaik di era globalisasi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perencanaan, Pelaksanaan, dan evaluasi Prakerin di Jurusan Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang. Manfaat dari penelitian ini adalah pijakan dasar dalam pengembangan konsep Prakerin di SMK. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Singosari Malang Jurusan Teknik Bangunan pada tanggal 8 April sampai 30 April 2009. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan adalah guru pembimbing Prakerin dan siswa kelas XII Program Keahlian Survey dan Pemetaan, Konstruksi Batu Beton, dan Gambar Bangunan. Pengambilan data menggunakan angket dengan skala likert. Analisis hasil penelitian adalah dengan mengkonversi hasil skor angket ke skala likert. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Prakerin di Teknik Bangunan sudah baik, dapat dilihat dalam perencanaan Prakerin Program Keahlian Survey dan Pemetaan dengan rata-rata skor 3.9989 termasuk kualifikasi baik. Konstruksi Batu Beton dengan rata-rata skor 3.3711 termasuk kualifikasi baik. Dan Gambar Bangunan dengan rata-rata skor 3.6333 yang termasuk kualifikasi baik. Dalam pelaksanaan Prakerin Program Keahlian Survey dan Pemetaan dengan rata-rata skor 3.7692 termasuk kualifikasi baik. Konstruksi Batu Beton dengan rata-rata skor 3.6200 termasuk kualifikasi baik. Dan Gambar Bangunan dengan rata-rata skor 3.6246 termasuk kualifikasi baik. Dalam evaluasi Prakerin Program Keahlian Survey dan Pemetaan dengan rata-rata skor 3.6367 termasuk kualifikasi baik. Konstruksi Batu Beton dengan rata-rata skor 3.9950 termasuk kualifikasi baik. Dan Gambar Bangunan dengan rata-rata skor 3.7217 termasuk kualifikasi baik. Ketiga Program Keahlian tidak ada perbedaan yang signifikan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi Prakerin. Kata kunci: kualitas, Prakerin, PSG

Pengelolaan pembelajaran pada program kesetaraan paket C (studi kasus di SMA Alternatif Laboratorium Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang) / Dodot Ariyanto

 

i ABSTRAK Ariyanto, Dodot. 2009. Pengelolaan Pembelajaran pada Program Kesetaraan Paket C (Studi Kasus di SMA Alternatif Laboratorium Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H.S. Mundzir, M.Pd (2) Dra. Dwi Maziyah P., M.Pd. Kata Kunci :Paket C, Pengelolaan, Pembelajaran Program Pendidikan Kesetaraan Paket C Setara SMA merupakan program pendidikan tingkat SMA bagi warga masyarakat yang putus sekolah SMA atau lulusan SMP yang tidak dapat melanjutkan ke SMA/SMK. SMA Alternatif Lab. PLS UM merupakan salah satu penyelenggara program pendidikan kesetaraan Paket C sebagai bentuk kegiatan pendidikan luar sekolah. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan berbagai permasalahan dalam kegiatan pembelajaran diantaranya jadwal yang tertata, namun kahadiran tutor tidak sesuai dengan jadwal, bahan belajar atau modul berasal dari tutor, serta penyediaan media pembelajaran yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan pembelajaran program pendidikan Kesetaraan Paket C SMA Altenatif LAB. PLS. UM, dan faktor pendukung dan penghambat pengelolaan pembelajaran. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan berdasarkan analisis teori – teori pembelajaran, pendapat para pakar dan temuan data Hasil yang diperoleh dalam penelitian dalam pengelolaan pembelajaran meliputi perencanaan pembelajaran (1) Tujuan pembelajaran tutor didasarkan pada materi ajar, melalui pengembangan pokok bahasan atau sub pokok bahasan. (2) Penyiapan materi pembelajaran menggunakan modul pendidikan kesetaraan beracuan pada kurikulum pendidikan kesetaraan dengan menambah rujukan dari buku acuan lain. (3) Strategi pembelajaran menggunakan pembelajaran kelompok dan mandiri. (4) Metode Pembelajaran yang diterapkan (a) ceramah sehingga pembelajaran terkesan monoton membuat warga belajar merasa jenuh sehingga sering meninggalkan kelas. (b) Melakukan review (ulangan) bahan pelajaran namun kurang berjalan secara efektif karena tidak melibatkan semua warga belajar. (c) Memberikan latihan sebagai feedback. Namun tidak berjalan secara maksimal dengan tidak terdorongnya inisiatif dari warga belajar untuk bertanya. (5) Media pembelajaran terbatas papan tulis. Serta media praktek yang merupakan kretifitas dari tutor. Pelaksanaan pembelajaran (1) Tutor tidak melakukan prosedur pengelolaan kelas secara preventif hanya mendinamiskan suasana kelas yang ramai. (2) Motivasi dilakukan oleh tutor secara internal dan motivasi eksternal dilakukan oleh pengelola. Evaluasi pembelajaran dilakukan ii pada akhir penyampaian materi, pelaksanaan ujian tengah semester, ujian akhir semester dan ujian nasional. Faktor pendukung kesesuaian waktu belajar dengan kebutuhan warga belajar dan tempat pembelajaran yang mamadai terletak dalam lingkungan kampus UM. Faktor penghambatnya minimnya bahan ajar (buku paket) serta kurangnya pengetahuan tutor tentang prinsip – prinsip pembelajaran orang dewasa Saran dari penelitian ini adalah: (1) Hendaknya pengelola melakukan penataan administrasi yang lebih termanajemen dengan baik. (2) Tutor melakukan pengembangan bahan dan media pembelajaran serta strategi pembelajaran yang digunakan. (3) Pengelola dan para tutor perlu mengikuti pelatihan-pelatihan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan pengelolaan kejar Paket C serta prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogi) serta peningkatan variasi pembelajaran. (4) Agar program dapat menarik dan memotivasi warga belajar maka perlu memaksimalkan sarana belajar keterampilan yang bermanfaat dan fungsional. (5) Hendaknya pendampingan dalam pengelolaan dan pembelajaran pada program Paket C sebagai bentuk pendidikan luar sekolah yang dilakukan oleh Laboratorium Jurusan Pendidikan Luar Sekolah dapat terus berkesinambungan bagi Kelompok Belajar Paket C SMA Alternatif Lab. PLS. UM. (6) Bagi peneliti lain hendaknya melakukan pengembangan terhadap hasil penelitian ini dengan melakukan penelitian ini melalui metode serta fokus yang berbeda. Sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan program Paket C secara umum dan bagi Kelompok Belajar Paket C SMA Alternatif Lab. PLS. UM.

Pengaruh stres kerja terhadap kinerja melalui komitmen organsiasi (studi kasus pada karyawan PDAM Kota Batu) / Sukma Intan

 

ABSTRAK Intan, Sukma. 2009. Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Melalui Komitmen Organisasi (Studi Kasus Pada Karyawan PDAM Kota Batu). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si, (II) Madziatul Churiyah, S.Pd. M.M Kata kunci: stres kerja, kinerja, dan komitmen organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Batu, sebagai lembaga atau organisasi milik negara yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai lembaga penyedia air bersih bagi masyarakat Kota Batu, masih mengalami banyak permasalahan karena kebutuhan masyarakat akan air bersih semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya segala aktivitas masyarakat. Di satu pihak peralatan kerja yang semakin modern dan efisien, sementara di lain pihak beban kerja juga semakin bertambah akan menuntut energi pegawai yang lebih besar dari yang sudah-sudah. Sebagai akibatnya, dapat berpotensi menimbulkan stres bagi karyawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara: (1) pengaruh secara langsung antara stres kerja terhadap komitmen organisasi, (2) pengaruh secara langsung antara komitmen organisasi terhadap kinerja, (3) pengaruh secara lansung antara stres kerja terhadap kinerja, (4) pengaruh secara tidak langsung antara stres kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research yaitu menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis yang terdiri dari tiga variabel yaitu variabel bebas adalah stres kerja (X), variabel intervening adalah komitmen organisasi (Z), dan variabel terikat adalah kinerja (Y). Populasi yang dipilih adalah karyawan PDAM Kota Batu yang berjumlah 88 orang. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel secara acak dari populasi yang sudah dibagi dalam lapisan-lapisan (Proportionate Stratified Random Sampling). Dalam menentukan ukuran sampel peneliti menggunakan rumus Slovin sehingga diperoleh sebanyak 73 responden. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil analisis yang didapat melalui penyebaran kuesioner menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara stres kerja terhadap komitmen organisasi sebesar -0,504; (2) terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara komitmen organisasi terhadap kinerja sebesar 0,304; (3) terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara stres kerja terhadap kinerja sebesar -0,361; (4) terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara stres kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi sebesar -0,153 Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapat adalah: (1) bagi PDAM Kota Batu: hendaknya mengadakan pengelolaan stres agar stressor dapat menimbulkan efek yang positif dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang kondusif sehingga tercipta kepuasan kerja pada setiap karyawan dan secara tidak langsung akan semakin meningkatkan komitmen i karyawan terhadap organisasi. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara mempertimbangkan peningkatan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan, menggunakan komunikasi yang efektif antar sesama karyawan, mengadakan lokakarya untuk membantu karyawan mengelola stres agar dapat menimbulkan efek yang positif bagi kinerjanya terutama demi perusahaan, dan mengadakan outbond sebagai sarana refreshing untuk menghilangkan kepenatan selama bekerja (2) bagi karyawan PDAM Kota Batu: dengan adanya tingkat stres kerja yang rendah, komitmen organisasi yang tinggi dan kinerja yang tinggi maka dapat memberikan layanan kepada masyarakat yang lebih maksimal lagi. Dalam hal mencukupi kebutuhan air minum bagi segenap masyarakat Kota Batu dan meningkatkan kesejahteraan dalam bidang penyediaan air bersih. Dengan cara, antara lain menyelenggarakan penggantian dan perbaikan kebocoran pipa distribusi, melaksanakan perencanaan pengembangan pemasangan baru, sumber air, sistem transmisi dan distribusi, rehabilitasi pipa dan pekerjaan sipil lainnya, melaksanakan kerja sama dengan bagian lain untuk merekomendasikan secara teknis solusi permasalahan pada sistem distribusi dan sambungan rumah dan lain-lain yang sesuai deskripsi tugas dari masing-masing karyawan PDAM Kota Batu (3) bagi peneliti selanjutnya: untuk dapat lebih mengembangkan penelitian sejenis dengan melibatkan variabel yang lain dan lebih variatif, misalnya kepuasan kerja dan kompensasi.

Pengaruh pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) terhadap kandungan emisi gas buang mesin diesel / Achmad Aminudin

 

ABSTRAK Aminudin, Achmad. 2009. Pengaruh Pemanasan Bahan Bakar Biodiesel (Minyak Jarak-Solar) Terhadap Kandungan Gas Buang Mesin Diesel. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sukarni, S.T, M.T., (II) Retno Wulandari, S.T., M.T. Kata Kunci: pemanasan bahan bakar, biodiesel, mesin diesel, kandungan gas buang. Pemanasan terhadap bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) sebelum diinjeksikan ke dalam ruang bakar dengan tujuan untuk menurunkan viskositasnya agar nantinya setelah diinjeksikan ke dalam ruang bakar dapat membentuk butiran-butiran yang lebih halus dan menghasilkan campuran bahan bakar dan udara yang lebih homogen. Selain itu untuk melihat bagaimana perubahan yang terjadi pada kandungan gas buang mesin diesel jika dilakukan pemanasan terhadap bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar), pengaruh yang signifikan variasi putaran mesin, dan pengaruh interaksi yang signifikan antara pemanasan bahan bakar dengan variasi putaran mesin terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Minyak jarak yang digunakan sebagai bahan bakar biodiesel (20% minyak jarak-80% solar) dalam penelitian ini diperoleh dari Lembaga Penilitian Universitas Negeri Malang, yaitu minyak jarak yang telah melalui proses transesterifikasi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang, tanggal 6 Pebruari 2009 dengan menggunakan alat Orsad Apparatus. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 5 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perlakuan putaran mesin yang digunakan adalah rentangan 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) pengaruh terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Pada saat mesin diberi pemanas, kadar emisi CO dan O2 lebih rendah jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pemanas. Sedangkan kadar CO2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pemanas. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemanasan bahan bakar, variasi putaran mesin dan interaksi antara pemanasan dan putaran mesin mempengaruhi kadar emisi CO, O2, dan CO2. Dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengaruh kenaikan suhu bahan bakar terhadap kandungan emisi gas buang.

Pembuatan busana pesta dengan hiasan patchwork / Wastiani Maula

 

Gaun Pesta Asimetris adalah busana yang terdiri dari busana yang menutup bagian atas dan menutup bagian bawah terdiri dari satu bagian (one piece), yang dirancang secara pas (fitted) dengan potongan melekuk ke samping atau dengan kata lain keseluruhan sisi kanan dan sisi kirinya berlawanan/tidak simetris. Gaun model ini tampak luwes sebab akan menampilkan lekuk tubuh pemakainya. Gaun asimetris ini diaplikasikan dengan teknik patchwork mengunakan satu jenis bahan yang sama, namun dengan tiga warna yang berbeda yaitu warna merah, jingga dan hijau kebiruan, penggabungan ketiga warna ini memberikan kesan enerjig dan dinamis pada pemakainya. Penggunaan bahan yang dimaksud adalah bahan kain katun, hal ini didasarkan karena kain katun memiliki tingkat kenyamanan yang lebih pada saat dipakai. Patchwork adalah menggabungkan beberapa motif atau warna kain yang berbeda dengan bantuan tangan atau mesin yang akan menjadikan sehelai kain mempunyai motif unik dan langka. Pada pembuatan gaun pesta asimetris dengan teknik patchwork ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain, pada pembuatan gaun ataupun busana dengan penggunaan motif patchwork diusahakan ukuran model tidak berubahubah agar motif tetap menyambung sesuai pola, pemberian interlining sangat berpengaruh pada hasil patchwork agar bagian-bagian patchwork tidak terlihat kusut. Potongan patchwork pada gaun ini menggunakan potongan menyerong, hal ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih sebab kain dengan potongan menyerong mempunyai sifat mudah mulur, sehingga pada pemberian tanda dilakukan dengan cara menjelujurnya.

Studi tentang desain tato di Kota Malang / Iwan Syahroni

 

ABSTRAK Syahroni, Iwan. 2008. Studi Tentang Desain Tato di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs.Pujiyanto. M.Sn. (II) Moch.Abdul Rahman, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci: seni tato, tatois, recipient, desain Seni tato di Malang untuk sebagian kalangan masyarakat masih dikesankan sebagai aksesoris tubuh yang berkonotasi negatif. Tapi, kesan ini agak semakin terkikis. Buktinya, belakangan ini semakin banyak saja pengusaha muda, mahasiswa, remaja, bahkan ibu-ibu rumah tangga yang ingin tubuhnya di tato agar kelihatan lebih percaya diri. Saat ini pandangan masyarakat mulai dapat menerima tato sebagi suatu karya seni dan merupakan bagian dari ekspresi seseorang. Seni tato adalah suatu produk dari kegiatan menggambar pada kulit tubuh dengan menggunakan alat sejenis jarum atau benda tajam yang terbuat dari duri. Tatois adalah orang yang mempunyai kemampuan menato. Recipient adalah orang yang di tato (Client). Sedangkan yang dimaksud gaya visual disini adalah Berbagai ragam jenis tato atau desain yang ditato pada tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi, mendeskripsikan dan mengklasifikasi (1) pandangan masyarakat terhadap fenomena seni tato, (2) variasi,motivasi client tato, (3) gaya visual seni tato. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menelaah fenomena-fenomena sosial. Penelitian ini dilakukan pada orang yang bertato maupun yang tidak mempunyai tato, tatois, recipient di kota malang. Sedangkan teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil wawancara dan observasi dari tiga subyek penelitian bahwa tato merupakan suatu karya seni sebab dalam kenyataan sehari-hari semakin banyak saja orang dan anak muda yang memberi arti lebih atau pemakmaan tertentu atas tubuh mereka dengan tato, disisi lain berkembang juga cerita-cerita buruk dan mitos-mitos keliru mengenai orang yang bertato, tato selalu diasosiasikan dengan kriminalitas. Desain tato dibagi menjadi sepuluh yaitu Fantasi, Bionic, Celtik, Newskool, Oldskool, Oriental, Portrait, Surialistic, Tribal, dan Vow. Desain tato yang paling diminati oleh client di kota Malang adalah Bionic.

Reality construction in political news of the Jakarta Post: a semiotic analysis / Junda Yanti

 

ABSTRACT Yanti, Junda. 2009. Reality Construction in Political News of The Jakarta Post— A Semiotic Analysis. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. M. Misbahul Amri, M.A. Keywords: Reality Construction, Semiotics, The Jakarta Post Newspaper has a significant role in delivering information among society. At the same time, newspaper is a medium which intensively constructs reality in building public opinion. The press freedom makes newspaper capable of constructing a certain reality in society. However, the press policy and journalistic ethics directly or indirectly force the newspaper to apply an implicit or implied way in presenting the news. As the consequence, several news—crime, education, entertainment, life style, and politics—presented in newspapers frequently tend to construct the reality implicitly. Accordingly, this study aims to know how political news in The Jakarta Post constructs a particular reality toward the readers. The data of this study were taken from seven articles of The Jakarta Post political news, especially the Indonesia Election 2009 news from March 31st to April 5th 2009. These seven articles were considered to be important because these articles were published in the election pages (additional pages during the campaign period) of The Jakarta Post, published in the last seven days of campaign period that was considered as the peak season of campaign period, occupied the large spaces of the pages, and considered to be the headline of the pages. Then, the data were analyzed by using Triangle Meaning of Pierce and Two-Order of Significations of Barthes. The result of this study showed that The Jakarta Post constructed the reality of political situation in Indonesia General Election 2009 by using attractive headline, dictions, sentences arrangement, spaces distribution, comparison of several parties, and presenting several different point of views or opinions. Using those several ways, The Jakarta Post tended to confirm the positive image of SBY and Democratic Party toward the readers. However, the further studies in relation to reality construction, semiotic analysis or other studies in terms of language use are needed to be done to give a deeper comprehension, leading to a better application that will enrich the language studies.

Analisis rasio keuangan untuk membandingkan nilai kinerja keuangan PDAM Kota Blitar dengan PDAM Kabupaten Blitar / Meinyar Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Meinyar. Analisis Rasio Keuangan Untuk membandingkan Nilai Kinerja Keuangan PDAM Kota Blitar Dengan PDAM Kabupaten Blitar. Tugas Akhir, Jurusan Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr Dyah Aju Wardhani, M.Si Ak. Kata Kunci : Analisis Rasio Keuangan, Nilai Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah perusahaan yang bertugas sebagai penyedia sarana air bersih guna memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat dengan kuantitas dan kualitas serta pelayanan yang memadai. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Blitar dibandingkan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Blitar dengan cara menggunakan analisis rasio keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas. Bedasarkan analisis data disimpulkan bahwa rasio likuiditas tahun 2005-2007 untuk current rasio Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar sebanding dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, cash ratio Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Rasio Profitabilitas tahun 2005-2007 untuk return on equity Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih kecil nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, profit margin Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Rasio Aktivitas tahun 2005-2007 untuk perputaran aktiva Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, rata-rata umur piutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibandingkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar,perputaran piutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih kecil nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, perputaan total aktiva Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih kecil dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Rasio Solvabilitas tahun 2005-2007 untuk rasio hutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil evaluasi dapat disarankan meningkatkan pendapatan untuk mengurangi biaya administrasi dan umum, meningkatkan penagihan piutang, meningkatkan penjualan secara tunai dan lebih memanfaatkan aktiva yang dimiliki secara optimal.

Perancangan media "topografi" Taman Nasional Gunung Semeru Jawa Timur sebagai sarana promosi / Mayrosis

 

ABSTRAK Mayrosis.2009. Perancangan Media “ Topografi” Taman Nasional Gunung Semeru Jawa Timur Sebagai Sarana Informasi . Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Sarjono, M.Sn, (2) Andy Pramono, S.Kom, M.T Kata kunci : Perancangan, Topografi, Taman Nasional Gunung Semeru, Sarana Informasi Peta topografi 3 dimensi merupakan salah satu hasil dari pengembangan pengetahuan dari teknologi komputer dan informasi. Penggunaan teknologi pengindraan jauh yang memanfaatkan satelit untuk mengambil citra muka bumi menjadikan pembuatan peta topografi menjadi lebih cepat dan akurat. Adanya perkembangan teknologi informasi dan komputer, diharapkan kendala mengenai pembuatan sebuah model peta topografi sebagai media informasi dapat teratasi. Penyediaan media informasi mengenai Taman Nasional Gunung Semeru merupakan salah satu upaya dari pengelola Taman Nasional yaitu Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan wilayah Taman Nasional yang berada di bawah naunganya, ketersediaan sarana media informasi memegang peranan penting bagi pengelola Taman Nasional Gunung Semeru, karena ketersediaan informasi merupakan salah satu syarat yang selalu dibutuhkan oleh para pengunjung Taman Nasional Gunung Semeru mengingat besarnya resiko akan keselamatan jiwa di lapangan. Perancangan Peta Topografi 3 Dimensi Taman Nasional Gunung Semeru Jawa Timur sebagai sarana informasi berupa multimedia interaktif. Sistematika perancangan ini menggunakan prosedur yang menyesuaikan permasalahan pada objek di lapangan dengan kebutuhan desain. Produk tersebut ditujukan kepada pengguna maupun pengunjung Taman Nasional Gunung Semeru. Mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, multimedia interaktif sebagai media informasi merupakan penyesuaian dan sikap yang ditempuh agar media yang dirancang bisa memberikan informasi kepada pengguna secara efektif dan komprehensif. Teknologi informasi dan komputer mampu menjadi solusi mengenai efektifitas penyampaian informasi, efisiensi biaya produksi serta jangkauan penyampaian yang lebih luas pada pengguna secara cepat dan tepat.

Perancangan paket media komunikasi visual sebagai promosi launching Transkids Shop / Ken Yuditya Tungga Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Ken Yuditya Tungga. 2009. Perancangan Paket Media Komunikasi Visual sebagai Promosi Launching Trandskids Shop. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn, (II) Moh. Sigit, S.Sn Kata kunci: perancangan, paket media komunikasi visual, promosi, launching, Transkids Shop. Transkids Shop merupakan salah satu outlet khusus anak, yang masih baru di kota Malang. Transkids Shop berada di daerah kompleks perumahan Sawojajar kota Malang. Letak yang strategis dekat dengan beberpa SD, TK, dan bimbingan belajar membuat Transkids Shop menjadi outlet khusus anak yang potensial di kota Malang. Selain itu Transkids Shop sendiri juga memiliki keunggulan yang berbeda dan belum ada, yaitu menyediakan produk anak-anak yang sekaligus memberikan unsur edukasi terutama dalam mempelajari bahasa Inggris untuk anak usia 4-11 tahun. Perancangan ini bertujuan untuk memperkenalkan, mempromosikan dan membentuk citra dari Transkids Shop secara efektif dan efisien, melalui konsep desain yang sesuai dengan program promosi launching Transkids Shop serta wujud karya desain yang sesuai dengan target market yaitu orang tua dari anakanak usia taman kanak-kanak sampai sekolah dasar. Perancangan yang terbentuk berupa paket media promosi launching Transkids Shop. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan data yang terkumpul dapat diketahui bahwa Transkids Shop membutuhkan media yang mampu memperkenalkan dan mengkomunikasikan citra Transkids Shop melalui sebuah launching event lomba mewarna dan menggambar “Colorfull of Transkids” yaitu sebuah kegiatan kreasi anak-anak tetapi tetap mengusung edukasi bahasa Inggris. Dipilihnya event lomba mewarna dan menggambar ini sebagai salah satu media komunikasi visual adalah karena Transkids Shop mencoba menampilkan produk dan keunggulan Transkids yang memiliki unsur pendidikan dalam pengenalan bahasa Inggris. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah perlunya paket media promosi yang tepat dan efektif dalam launching produk yang baru sehingga tujuan untuk menjadi outlet dan brand yang berkualitas dapat terwujud.

Ta'lim al-qowaid al-nahwiyyah wa al-iktisab al-tilmidzat li anashiriha al-nahwiyyah fi tarkibi al-jumlah fi al-madrosah al-diniyah bi al-ma'had al-ashry al-Rifa'ie / Arif Widodo

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VII A SMPN 1 Pucuk Lamongan / Enik Amalia

 

Abstrak Amalia, Enik. 2008. Fluktuasi Kepadatan Populasi Wereng Hijau (Empoasca sp.) Pada Tanaman Teh (Camellia sinensis L. O. K) Klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 Di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang Pada Musim Penghujan. Skripsi: Progam Studi Biologi. Pembimbing: (I) Drs. Fatchur Rohman, M. Si, (II) Drs. Faturrachman, M. Si. Kata kunci: Fluktuasi, kepadatan populasi, Empoasca sp, klon tanaman teh. Indonesia merupakan negara produsen teh kelima terbesar di dunia setelah India, Cina, Sri Langka dan Kenya. Sejak tahun 1998 di perkebunan teh Jawa Barat telah muncul hama baru yaitu wereng hijau Empoasca sp. Akibat serangan hama wereng tersebut produksi teh mengalami penurunan sekitar 50% dalam 45 hari (Dharmadi, 1999). Telah dilakukan beberapa cara untuk mengendalikan hama tersebut antara lain sanitasi peralatan panen, pemangkasan tanaman teh, dan pengendalian hama dengan menggunakan musuh alami (predator). Populasi serangga hama di alam tergantung pada faktor iklim, yaitu curah hujan, suhu, kelembaban udara, dan faktor biotik seperti jumlah dan kualitas makanan, musuh alami, dan kompetisi antar atau inter spesies (Widayat, 1987:16). Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui fluktuasi kepadatan populasi Emposca sp. pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar, 2) mengetahui faktor abiotik yang paling menentukan kepadatan populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar di kebun teh Wonosari Singosari Malang pada mesim penghujan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Desember 2006-Mei 2007. Tempat penelitian berada di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang dan di Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi UM. Data yang diamati yaitu fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. yang meliputi dari fase telur, nimfa dan imago pada daun bagian peko, daun muda dan daun tua di klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Faktor abiotik lingkungan yang diukur meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan air tanah, suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin, dan curah hujan. Untuk mencari jumlah rerata kepadatan populasi relatif Empoasca sp. digunakan rumus: Dr = ni/N x 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar memiliki kepadatan relatif tertinggi bila dibandingkan dengan klon Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Kepadatan populasi tertinggi berada pada klon Assamica datar fase imago yang berada pada daun tua yaitu sebesar 2 individu/daun dengan kepadatan relatif 60%, sedangkan fase nimfa kepadatan populasi tertinggi berada pada daun muda yaitu 1 individu/daun dengan kepadatan relatif 47,06%. Selama pemetikan Empoasca sp. fase telur tidak ditemukan. Secara umum kepadatan populasi Empoasca sp terbanyak berada pada klon Assamica datar pada daun muda fase imago. Faktor i ii abiotik yang paling menentukan fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. adalah suhu udara, suhu tanah dan curah hujan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut mengenai fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau (Empoasca sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang pada musim kemarau dan diadakan penelitian lebih lanjut tentang daya serang wereng hijau (Empoasca sp.) terhadap tanaman teh.

Implementasi pembelajaran model problem posing-STAD untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar pokok bahasan pengenalan ilmu statika dan tegangan siswa kelas X Teknik Permesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Teguh Pratomo

 

ABSTRAK Pratomo, Teguh. 2009. Implementasi Pembelajaran Model Problem Posing-STAD Untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Pokok Bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan Siswa Kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. (II) Drs. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, problem posing-STAD, motivasi belajar, prestasi belajar. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang berasosiasikan pada pendekatan konstruktivisme. Pada dasarnya belajar kooperatif lebih menekankan belajar bersama atau berinteraksi dengan teman. Metode ini mampu menyediakan kondisi yang menyebabkan siswa satu dengan yang lainya saling aktif berinteraksi dan berlomba untuk meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran model problem posing-STAD merupakan pembelajaran yang menggabungkan aspek konstruktivisme dan kooperatif yang bertujuan supaya siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keaktifan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pelaksanaanya problem posing-STAD diterapkan pada saat diskusi kelompok. Pada tahap diskusi kelompok selain siswa mendapat lembar kerja informasi dari guru, siswa juga melakukan kegiatan menyusun soal serta menyelesaikannya. Penelitian ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, tanggal 21 Oktober sampai 6 November 2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen tahun pelajaran 2008/2009. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil penelitian diperoleh adalah pembelajaran model problem posing-STAD pada matadiklat PDTM pokok bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Pada aspek motivasi belajar, siklus I memiliki persentase sebesar 50,12% dan siklus II memiliki persentase sebesar 73,11%. Peningkatan persentase sebesar 22,99%. Pada aspek prestasi belajar, siklus I memiliki persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 78,60% dan siklus II memiliki persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 83,30%. Peningkatan persentase sebesar 4,70%. Nilai rata-rata siklus I sebesar 80,30, sedangkan siklus II sebesar 86,25. Peningkatan persentase sebesar 5,95%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan melakukan penelitian tentang pembelajaran dengan menggunakan model problem posing-STAD pada permasalahan pembelajaran yang memiliki karakteristik yang sama, dan memberikan variasi dalam pembelajaran PDTM dengan pendekatan problem posing-STAD, seperti diberikan permainan saat menukarkan soal, agar siswa tidak merasa bosan dan lebih termotivasi untuk membuat soal.

Pengaruh komitmen organisasi dan kepuasan kerja terhadap intensi turnover pada karyawan PT. Bank Bukopin Tbk. Cabang Malang / Nurhadi Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Nurhadi. 2009. Pengaruh Komitmen Organisasi dan Kepuasan Kerja terhadap Intensi Turnover pada Karyawan PT. Bank Bukopin Tbk Cabang Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Diyah Sulistyarini, M.Psi. Kata Kunci : Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, Intensi Turnover. PT. Bank Bukopin Tbk termasuk kelompok bank menengah di Indonesia dari sisi asset. Menjadi bank yang terpercaya dalam pelayanan jasa keuangan adalah visi dari Bank Bukopin. Jika kita bicara tentang pelayanan tentu saja berkaitan dengan karyawan. Perusahaan tentu akan berusaha meningkatkan pelayanan tersebut dengan berbagai cara, diantaranya memperhatikan komitmen organisasi dan kepuasan kerja karyawan. Karena kinerja perusahaan yang sudah sangat baik sekalipun dapat dirusak oleh perilaku karyawan secara langsung maupun tidak. Salah satunya adalah keinginan berpindah (turnover intentions) yang berujung pada keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya (turnover). Komitmen organisasi dan kepuasan kerja adalah determinan peting bagi adanya turnover yang di dahului oleh intensi turnover. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan eksplanasi. Subjek penelitian adalah karyawan Bank Bukopin yang berjumlah 40 orang, dengan teknik pengambilan sampel random sampling. Instrumen pengambilan berupa skala komitmen organisasi, kepuasan kerja, dan intensi turnover. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis regresi linier sederhana dan teknik analisis regresi linier ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap intensi turnover. Variabel komitmen organisasi memberikan kontribusi sebesar 21,9% terhadap intensi turnover; 2) Kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap intensi turnover. Variabel kepuasan kerja memberikan kontribusi sebesar 47,0% terhadap intensi turnover; 3) Komitmen organisasi dan kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap intensi turnover. Variabel komitmen organisasi dan kepuasan kerja secara simultan mampu menjelaskan variabel intensi turnover sebesar 47,6%, selebihnya sebesar 52,4% di jelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Namun ternyata ketika bersamaan itu, variabel kepuasan kerja yang lebih berpengaruh terhadap intensi turnover dari pada komitmen organisasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1) Kepada perusahaaan untuk lebih memperhatikan kepuasan kerja dari pada komitmen organisasi. Dengan itu perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawannya yang saat ini berada di tingkat sedang. Karena jika tidak diperhatikan dengan baik maka bisa menjadi turun dan pada akhirnya membuat intensi turnover naik menjadi tinggi; 2) Sedangkan bagi peneliti selanjutnya yang berminat membahas intensi turnover disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif dengan cara menambah variabel-variabel yang mempengaruhi intensi turnover.

Penciptaan suasana belajar pada pelaksanaan program pelatihan otomotif sepeda motor di UPT Pelatihan Kerja Singosari-Malang Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur / Siska Mida Risifa Lutviana

 

ABSTRAK Lutviana, Siska, Mida, Risifa. 2009. Penciptaan Suasana Belajar dalam Pelaksanaan Program pelatihan Sepeda Motor di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja (UPTPK) Singosari. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1: Prof, Drs. M Saleh Marzuki, Pembimbing 2: Drs. M. A. Prawoto M.Pd. Kata kunci: penciptaan suasana belajar, pelatihan, sepeda motor . Fokus penelitian; (1) bagaimana persepsi instruktur terhadap penciptaan suasana belajar, (2) bagaimana cara instruktur menciptakan suasana belajar yang kondusif, (3) bagaimana gambaran suasana belajar yang terjadi secara umum pada peristiwa-peristiwa dan kegiatan belajar yang dilaksanakan, (4) Apa yang menjadi pendukung dan penghambat penciptaan suasana belajar yang kondusif. Dalam menjawab rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik; wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisa data menggunakan pendekatan teori/pendapat dari para ahli tentang pelatihan dan penciptaaan suasana belajar. Sebelumnya melalui tahap reduksi data, display data dan verifikasi/ mengambil kesimpulan. Pengecekan data menggunakan ketekunan pengamatan, triangulasi, kecukupan referensial. Hasil analisis data dalam penelitian ini; Instruktur pelatihan Sepeda Motor belum memahami pentingnya suasana belajar bagi peserta pelatihan hal ini di upayakan untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta pelatihan. Dipastikan bahwa instruktur belum dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dalam pelaksanaan pelatihan sepeda motor di UPTPK Singosari. Suasana belajar dalam pelatihan otomotif sepeda motor hendaknya tidak hanya mengacu pada lingkungan fisik saja tetapi lingkungan sosial dalam pelatihan harus disesuaikan. Menata lingkungan belajar pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Suasana belajar yang baik disini dapat disimpulkan bahwa dimana suasana belajar tersebut dapat membangkitkan gairah belajar peserta pelatihan, artinya suasana belajar harus mampu memotivasi peserta pelatihan dalam belajar. Suasana belajar Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang di miliki sekolah seperti lampu, fentilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk siswa, dan lain sebagainya. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan para siswa untuk berinteraksi secara baik, siswa dengan siswa, guru dengan siswa, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan, dan siswa dengan karyawan, serta secara umum interaksi antar personil. Faktor pendukung dan penghambat penciptaan suasana belajar pada proses belajar mengajar, faktor pendukungnya yaitu inti dari pada proses pelatihan secara keseluruhan dengan instruktur (pendidik) sebagai pemegang peranan utama. Faktor penghambatnya yaitu dalam posisi sebagai pembelajar yang seringkali mendengarkan, mengamati, dan menilai cara pengajar dalam menyampaikan materi, bahkan yang paling ekstrim, apabila peserta pelatihan tidak menyukai cara pengajar mengajar baik karena sulit dimengerti ataupun karena faktor bosan seringkali mengabaikannya, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Faktor pengajar dalam proses kegiatan belajar-mengajar memang sangat berpengaruh sekali terhadap motivasi pembelajaran, meski memang ada juga siswa yang mandiri, yang tidak terpengaruh terhadap faktor pengajar karena dia mau belajar sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran (1) kepada pihak instruktur diharapkan agar dapat memaksimalkan lagi penciptaan suasana belajar dalam pelaksanaan pelatihan sepeda motor di UPTPK Singosari dalam upaya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta pelatihan, baik dalam penciptaan suasana belajar fisik maupun non fisik, (2) instruktur diharapkan mampu memberikan penyegaran di sela-sela proses pembelajaran seperti mengadakan permainan (ice breaking) hal ini sangat berguna untuk mengatasi kejenuhan dalam proses belajar mengajar, (3) juga diharapkan suasana kekeluargaan antara pimpinan, staf, trainer dan peserta pelatihan perlu dijalin dan lebih ditingkatkan agar para peserta pelatihan bisa lebih berkonsentrasi pada pembelajaran sehingga akan tercipta suasana pembelajaran yang kondusif.

Uji organoleptik sarabba instan dengan perbandingan persentase yang berbeda antara susu dan santan / Yuventia Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Yuventia. 2009. Uji Organoleptik Sarabba Instan Dengan Perbandingan Persentase Susu dan Santan Yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi DIII Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Umi Rohajatien, M. P. (II) Dra Titi Mutiara Kiranawati, M.P. Kata Kunci : Sarabba, susu, santan, rempah, organolepik. Sarabba merupakan minuman penghangat badan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Terbuat dari bahan rempah-rempah. yang terdiri dari santan, jahe, gula, kayu manis, sereh, merica, garam. Tetapi untuk mempermudah pemasarannya, maka Sarabba dibuat dalam bentuk yang lain yaitu dalam bentuk instan. Pada dasarnya proses pembuatan Sarabba tidak menggunakan susu, namun pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan yang berbeda. Perbandingan susu dan santan dalam Sarabba instan tidak mengurangi rasa khas dari Sarabba. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan Sarabba instan dengan perbandingan persentase santan dan susu dalam jumlah yang berbeda yaitu 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis yang meliputi warna, tekstur, rasa, dan aroma. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam. Karena ada perbedaan maka, dilanjutkan dengan Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata rasa, warna, tekstur , dan aroma terhadap Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Skor tertinggi rasa dari Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 75%:25% adalah rasa manis pedas gurih (3,57), skor tertinggi tekstur pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25% adalah kering berbutir halus (3,52), dan skor tertinggi warna pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25 adalah coklat pudar (3,38). skor tertinggi aroma pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25 adalah aroma susu kuat (3,57). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terhadap perbedaan sangat nyata rasa, warna, tekstur , dan aroma pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Skor tertinggi rasa dari Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 25%:75% adalah suka (58,33%), skor tertinggi tekstur pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 25%:75% adalah suka (65%), dan skor tertinggi warna pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 25%:75% adalah suka (66,67%). skor tertinggi aroma pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 75%:25 adalah suka(58,33%). Untuk memperoleh Sarabba instan yang disukai disarankan menggunakan perlakuan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%.

Pengaruh ekuitas merek terhadap loyalitas konsumen (studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia) / Dini Oktapiany

 

ABSTRAK Kata Kunci: ekuitas merek, loyalitas konsumen. Perkembangan teknologi pada saat ini berkembang cukup pesat, salah satunya adalah perkembangan komunikasi. Perkembangan komunikasi berkembang dari alat komunikasi yang menggunakan telepon kabel beralih menjadi telepon selular (handphone) yang memiliki keunggulan dan kualitas yang hampir sama dengan telepon kabel bahkan malah melebihi telepon kabel tersebut. Handphone merupakan produk yang memiliki high technology dengan harga yang relative mahal, sehingga didalam melakukan keputusan pembelian maka seorang konsumen akan memiliki keterlibatan yang tinggi. Perkembangan pasar Hanphone di Indonesia pada saat ini berkembang dengan cukup pesat, hal ini ditandai dengan semakin banyaknya produsen handphone yang bermunculan yang memasarkan produknya salah satunya adalah Nokia. Nokia merupakan perusahaan Handphone yang berasal dari negara Finlandia. Salah satu cara didalam memenangkan persaingan pasar adalah dengan menggunakan ekuitas merek. Ekuitas merek dari sebuah produk memiliki peranan yang penting didalam mempengaruhi loyalitas konsumen, demikian juga dengan ekuitas merek yang dimiliki oleh Handphone Nokia. Ekuitas merek merupakan seperangkat aset yang dimiliki oleh suatu merek atau perusahaan yang akan menjadi identitas dari sebuah produk atau perusahaan, dan hal tersebut akan membedakannya dengan produk pesaing yang ada dipasar. Brand equity akan akan memberikan nilai tambah atau lebih terhadap sebuah merek produk apabila unsur-unsur yang ada didalam ekuitas merek produk tersebut dapat mewakili karakteristik produk dan karakteristik segmen pasar. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Ekuitas Merek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ekuitas Merek (X) yang terdiri dari kesadaran merek (X1), asosiasi merek (X2), persepsi kualitas (X3), dan loyalitas merek (X4 ) secara parsial maupun simultan terhadap Loyalitas Konsumen. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random Sampling yaitu menentukan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata tertentu yang terdapat pada responden, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 99 orang konsumen (mahasiswa) yang menggunakan handphone Nokia di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS Versi 13.00. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kesadaran merek (X1 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara asosiasi merek (X2 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi kualitas (X3 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Terdapat pengaruh yang signifikan antara loyalitas merek (X4 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Terdapat pengaruh yang signifikan antara kesadaran merek (X1 ), asosiasi merek (X2 ), persepsi kualitas (X3 ), dan loyalitas merek (X4 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia Dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran untuk perusahaan yaitu, agar perusahaan dapat mempertahankan dan dapat mengelola dengan baik ekuitas merek handphone Nokia, karena brand equity suatu produk dapat berubah dan dapat mempengaruhi loyalitas konsumen. Dalam mengelola brand equity dapat dilakukan dengan melalui media promosi, terus melakukan inovasi terhadap produk, dan peningkatan kualitas layanan pada Nokia Customer Service. Selain itu peneliti juga memberikan saran kepada peneliti selanjutnya agar menggunakan variabel bebas yang lain dan yang lebih banyak untuk mengetahui pengaruhpengaruh variabel ekuitas merek terhadap suatu produk.

Implementasi hasil pelatihan otomotif dalam memberi peluang kerja bagi anak jalanan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang (studi kasus pada anak jalanan warga belajar pelatihan otomotif di SKB Kota Malang) / Nugroho Dwi Prayogi

 

ABSTRAK Prayogi, Nugroho, Dwi. 2009. Implementasi Hasil Pelatihan Otomotif Dalam Memberi Peluang Kerja Bagi Anak Jalanan Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang (Studi Kasus Pada Anak Jalanan Warga Belajar Pelatihan Otomotif Di SKB Kota Malang). Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Abdillah Hanafi, M.Pd. (II) Drs. Ahmad Mutadzakir, M.Pd. Kata Kunci: Implementasi, anak jalanan, sanggar kegiatan belajar SKB Kota Malang telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan otomotif kepada anak jalanan. Salah satunya adalah pelatihan otomotif sepeda motor. Tujuan penelitian untuk menelaah dan mengkaji secara lebih dalam guna mengetahui, implementasi hasil pelatihan otomotif dalam memberi peluang kerja bagi anak jalanan di sanggar kegiatan belajar (SKB) kota malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Kemampuan yang dikuasai anak jalanan dalam bidang otomotif sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan otomotif di SKB Kota Malang, (2) Implementasi hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang, (3) Implementasi kemampuan yang sudah dikuasai (hasil belajar) hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang pada saat bekerja di bengkel milik orang lain, (4) Faktor pendukung dan penghambat yang ditemui anak jalanan dalam menerapkan hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang pada saat bekerja di bengkel milik orang lain, (5) Dampak hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang bagi anak jalanan dalam kehidupan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, karena dalam penelitian ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian secara holistik (utuh) dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata – kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Tipe studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe studi kasus deskriptif. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah dua orang anak jalanan yang pernah mengikuti pelatihan otomotif di SKB Kota Malang dan saat ini telah bekerja di bengkel milik orang lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitan ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Prosedur analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, display data, dan pengambilan keputusan atau verifikasi. Sedangkan untuk pemeriksaan keabsahan data peneliti menggunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Peserta tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan sama sekali sebelum mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh SKB Kota Malang. Setelah mengikuti pelatihan otomotif sepeda motor di SKB Kota Malang anak jalanan tersebut mengalami peningkatan kemampuan baik pengetahuan dan keterampilan dalam bidang otomotif sepeda motor. (2) Anak jalanan menerapkan atau menggunakan materi yang diterima pada saat pelatihan otomotif sepeda motor di SKB dengan bekerja di bengkel sepeda motor milik orang lain. (3) Anak jalanan tersebut telah mampu menggunakan atau menerapkan materi yang diperoleh dari pelatihan otomotif di SKB ke dalam situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pada kemampuan untuk memperbaiki sistem transmisi anak jalanan tersebut merasa kurang i dapat mengerti tentang apa yang disampaikan sehingga anak jalanan tersebut tidak dapat menerapkan ke dalam situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. (4) Faktor motivasi, disiplin, materi, praktek dan kegiatan magang merupakan faktor pendukung bagi anak jalanan dalam menerapkan hasil pelatihan otomotif ke dalam situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. Untuk faktor penghambat anak jalanan tersebut merasa kurang dapat mengerti materi tentang sistem transmisi, materi pelatihan yang terkadang menggunakan bahasa Inggris sehingga hal tersebut menghambat anak jalanan dalam menerapkan ke situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. Rasa solidaritas, dimana anak jalanan yang pernah mengikuti pelatihan otomotif tetapi memilih kembali ke jalan karena adanya rasa solidaritas antar teman. Faktor pada saat magang juga mempengaruhi mereka dalam menerapkan hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang, pada saat mereka melakukan praktek atau magang di bengkel – bengkel sepeda motor mereka merasa kurang mendapat kepercayaan untuk melakukan pekerjaan yang semestinya. (5) Dampak pelatihan otomotif bagi anak jalanan dalam kehidupan adalah anak jalanan tersebut mengalami perubahan berupa peningkatan kemampuan baik pengetahuan dan keterampilan dalam bidang otomotif sepeda motor, anak jalanan tersebut juga telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yaitu bekerja di bengkel, anak jalanan juga mendapatkan penghasilan yang secara langsung meningkatkan taraf hidup mereka dari keadaan sebelumnya dan mereka tidak lagi turun ke jalan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa sebaiknya pihak SKB selaku penyelenggara pelatihan dan kepada pihak – pihak lain yang memberikan bantuan pelatihan atau berhubungan dengan pemberdayaan anak jalanan sebaiknya senantiasa melakukan pemantauan, pendampingan dan pemberian motivasi bagi anak jalanan yang telah mengikuti pelatihan agar anak jalanan tersebut tidak kembali turun ke jalan. Istilah dari materi yang diberikan sebaiknya tidak menggunakan dalam bahasa Inggris karena anak jalanan merasa kurang dapat mengerti materi pelatihan apabila materi itu menggunakan bahasa Inggris. Tutor pelatihan sebaiknya memberikan materi tentang transmisi yang lebih mudah dimengerti oleh peserta pelatihan. Pihak SKB sebaiknya melakukan perjanjian dengan pihak tempat magang, dimana anak jalanan tersebut bisa melakukan pekerjaan yang semestinya. Bagi Pemerintah khususnya Pemerintah Kota Malang diharapkan semakin menggalakkan program – program pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan – pelatihan kepada anak – anak jalanan. Disarankan pula perlunya dilakukan penelitian lanjut dengan menggunakan metode kuantitatif untuk dapat mengeneralisasikan hasil penelitian.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep perubahan fisika dan kimia pada siswa SMPN 8 Malang / Supatmiati

 

Pada tahun 2006, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diperbaharui menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP, sains merupakan salah satu mata pelajaran di SMP yang merupakan kajian secara simultan dari aspek biologis, fisis dan kimia. Untuk aspek kimia, sains mengkaji berbagai fenomena atau gejala kimia baik pada makhluk hidup maupun pada benda mati yang ada di alam semesta (Depdiknas, 2006). Menurut Depdikbud (1980: 12-13) ilmu kimia mempelajari zat dari segi struktur, susunan atau komposisi, perubahan susunan, mekanisme dan perubahan energi yang menyertainya. Sementara Slabaugh dan Parsons (dalam Effendy, 2002: 2) mendefinisikan ilmu kimia yaitu ilmu tentang sifat zat, perubahan zat, serta konsep dan teori yang menafsirkan atau menjelaskan perubahan zat. Ilmu kimia memiliki ciri-ciri yang khas, seperti diungkapkan Kean dan Middlecamp (1985: 5-9) bahwa sebagian besar konsep kimia bersifat abstrak, ilmu kimia yang dipelajari merupakan penyederhanaan dari yang sebenarnya, materi berurutan dan berkembang dengan cepat, tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal, bahan yang dipelajari sangat banyak. Lebih lanjut, Sastrawijaya (1988: 115) menyebutkan bahwa suatu konsep yang kompleks dalam sains hanya dapat dipahami jika konsep-konsep yang lebih fundamental yang membentuk konsep baru telah benar-benar dipahami. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Sastrawijaya (1988: 115) bahwa mempelajari kumpulan pengetahuan yang berurutan tergantung pada penguasaan kumpulan pengetahuan sebelumnya.

Profil tutor program pendidikan kesetaraan paket A, B, C se-kota Malang / Lala Pipit Al Quddus

 

ABSTRAK Al Quddus, Lala Pipit. 2008. Profil Tutor Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C se-Kota Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Imam Hambali, M.Pd, (II) Dr. Supriyono, M.Pd. Kata kunci : Tutor Program Pendidikan Kesetaraan Tutor merupakan salah satu faktor yang paling menentukan berhasilnya proses belajar mengajar dalam pendidikan kesetaraan. Karena seorang tutor menjadi cerminan bagi warga belajar program pendidikan kesetaraan paket A setara SD (Sekolah Dasar), paket B setara (SMP) dan paket C setara SMA (Sekolah Menengah Atas). Mengingat begitu penting peranan tutor dalam meningkatkan sumber daya manusia maka perlu adanya suatu kajian tentang tutor program pendidikan kesetaraan. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dideskripsikan mengenai profil tutor program pendidikan kesetaraan paket A B C se kota Malang berkaitan dengan kualifikasi pendidikan formal, kualifikasi pendidikan nonformal, pengalaman tutorial dan pengalaman lain dibidang nonformal selain tutor. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan angket sebagai teknik untuk menjaring data. Subyek penelitian adalah tutor program pendidikan kesetaraan paket A B C se kota Malang. Analisis data menggunakan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar S1 (72,77%) tutor program pendidikan kesetaraan paket A B C se kota Malang mempunyai tingkat pendidikan formal yang memenuhi syarat dan hanya sebagian kecil yang berpendidikan SMA (12,87%). Sebagian besar tutor kesetaraan telah mengikuti pendidikan nonformal dengan rincian mengikuti pelatihan (86,63%), seminar (89,11%) dan hanya sebagian kecil yang pernah mengikuti lokakarya (0,99%). Lama menjadi tutor sebagian besar > 3 tahun (50,99%), beban mengajar tutor dengan satu mata pelajaran sebesar 51,49%, sebagian besar perbandingan tutor dengan warga belajar dalam satu kelompok belajar adalah 1:10 (55, 45%). Selain mengajar di program pendidikan kesetaraan, tutor memiliki pengalaman lain di selain tutor yaitu sekitar 46,04% swasta dan sebagian kecil 26,73% pegawai negeri sipil. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi tutor program pendidikan kesetaraan paket A B C untuk lebih sering mengikuti seminar, pelatihan/diklat serta lokakarya untuk meningkatkan pengalaman pendidikan non formalnya. Bagi Penyelenggara Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B dan C se Kota Malang hendaknya dalam merekrut calon tutor harus mempertimbangkan kualifikasi pendidikan formal calon tutor, kualifikasi pendidikan non formal calon tutor, pengalaman menjadi tutor, dan pengalaman lain di pendidikan non formal selain tutor dab mendorong serta memberikan fasilitasi bagi tutor yang belum memenuhi syareat kualifikasi pendidikan untuk meningkatkan kualifikasinya. Bagi pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Kota Malang, juga harus memberikan fasilitasi bagi tutor kesetaraan untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya dengan memberikan bantuan beasiswa dan menyelenggarakan diklat dan forum-forum ilmiah bagi pendidik kesertaraan. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian sejenis hendaknya dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas , bagi Pendidikan Luar Sekolah hasil dari penelitian ini dapat dijadikan kontibusi dalam bidang pengembangan program pendidikan kesetaraan paket A, B dan C.

Studi penulangan struktur pelat dan balok pada Hotel dan Resto Jatim Park 2 Malang / Edho Makstyo Pratama Tantoyo

 

Kata Kunci : Penulangan, Pelat, Balok, Gedung 6 Lantai Balok adalah suatu bagian yang menerima beban siku pada garis sumbunya dan mengalami lendutan oleh momen lentur. Balok juga berfungsi menompang struktur di atasnya dan meneruskan bebannya ke kolom. Pelat adalah beton bertulang dipakai sebagai lantai, atap, dinding dari gedung-gedung, serta sebagai lantai (deck) jembatan. System lantai suatu kontruksi dapat bebentuk bermacam-macam seperti padat di cor di tempat, pelat-pelat bertulang. Pelat menerus pada dasarnya harus direncanakan untuk menahan susunan beban yang merugikan, dengan cara yang sama seperti balok Perhitungan Statika menggunakan STAAD PRO yang bertujuan untuk menghitung tulangan balok. Adapun hasil dalam perancangan Lapangan X di dapat ø12-200 dan tulangan Pembagi ø6-200, Tulangan Tumpuan X di dapat ø12-200, Tulangan bagi ø10-200 dan tulangan susut ø8-225, Tulangan Lapangan Y di dapat ø12-200 dan tulangan Pembagi ø6-200 dan Tulangan Tumpuan Y didapat ø12-200, Tulangan baggi ø10-200 dan tulangan susut ø8-225. Balok ukuran 40/75 dengan Tumpuan A dan B maka tulangan yang dipakai 8D22, untuk tulangan lapangan ditemukan tulangan yang dipakai 3D22 dan tulangan begel = ø10-300. Balok anak dengan ukuran 20/40 Fy=240Mpa dan fc’=30Mpa Dengan jumlah tulangan lapangan 6 ø10, pada tulangan tummpuan 6 ø10 dan untuk begel ø6-300. BQ tulangan terlebih dahulu harus dicari diameter tulangan yang dibutuhkan setelah itu lalu mencari kebutuhan tulangannya, untuk 2 Pelat dengan ukuran setiap Pelat ukuran 7.2x6 kebutuhan tulangan 90 Lonjor ø12, Balok 40/75 kebutuhan tulangan setiap Balok D22 11 lonjor dan ø6 5 lonjor. Balok 20/40 Kebutuhan tulangan setiap balok ø10 6 lonjor dan ø6 2 lonjor. Tujuan dari proyek akhir ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembe-banan struktur Pelat dan Balok, juga bagaimana perencanaan tulangan Pelat dan Balok. Perhitungan yang dilakukan menggunakan bantuan software untuk memu-dahkan perhitungan. Software yang digunakan adalah STAAD Pro 2004.

Pengaruh pelayanan prima terhadap kepuasan pelanggan (studi pada konsumen restoran Paparons Pizza Malang) / Noni Desitiyas Ayuda

 

Terdapat variabel Pelayanan Prima yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, seperti yang di kemukakan oleh Barata (2004:31) pelayanan prima terdiri dari 6 unsur pokok, antara lain: (1) Kemampuan (ability), (2) Sikap (Atitude), (3) Penampilan (Appearance), (4) Perhatian (Attention), (5) Tindakan (Action), (6) Tanggung jawab (Accountability). Dalam penelitian ini populasinya adalah pelanggan Paparons Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 73 responden. Tujuan penelitian yaitu: pertama, mengetahui pengaruh pelayanan prima yang terdiri dari kemampuan, sikap, penampilan, perhatian, tindakan dan tanggung jawab terhadap kepuasan pelanggan pada restoran paparons pizza malang secara parsial dan simultan. Kedua, variabel-variabel pelayanan prima yang terdiri dari kemampuan, sikap, penampilan, perhatian, tindakan dan tanggung jawab yang dominan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada Restoran Paparons Pizza Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara kemampuan, penampilan, dan tanggung jawab terhadap kepuasan pelanggan Paparons. Kedua, tidak ada pengaruh signifikan antara sikap, perhatian dan tindakan terhadap kepuasan pelanggan. Ketiga, terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara pelayanan prima terhadap kepuasan pelanggan. Berdasarkan hasil koefisien regresi masing-masing variabel bebas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan itu merupakan unsur variabel pelayanan prima yang memiliki pengaruh dominan terhadap kepuasan pelanggan paparons, karena mempunyai koefisien terbesar dibanding variabel lainnya yaitu: sikap, penampilan, perhatian, tindakan dan tanggung jawab. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasaan pelanggan di Restaurant Paparons Pizza. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan yang terwakili oleh indikator (1) penguasaan informasi makanan, (2) ketelitian dalam transaksi, dan (3) membina hubungan baik dengan pelanggan menjadi dasar pertimbangan dan penilaian kepuasaan pelanggan di Restaurant Paparons Pizza. Kemampuan dalam bidang kerja yang ditekuni dan menjalankan komunikasi yang baik mempunyai peran penting dalam menumbuhkan hubungan pribadi yang baik ntara karyawan dengan pelanggan, sehingga pada akhirnya dapat menumbuhkan kepuasaan pelanggan terhadap perusahaan pemberian pelayanan kepada pelanggan akan lebih mudah dilakukan bila karyawan mampu membina hubungan pribadi yang baik dengan pelanggan. Saran yang dapat diajukan yaitu diharapkan karyawan Paparons dalam memberikan pelayanan hendaknya lebih memfokuskan kemampuan yang diberikan kepada pelanggan karena kemampuan memiliki pengaruh yang besar terhadap kepuasan pelanggan, namun tanpa mengabaikan hal lainnya seperti penampilan dan tanggung jawab yang ada pengaruh signifikansi terhadap kepuasan pelanggan di Restaurant Paparons Pizza. Adapun yang meliputi kemampuan penguasaan informasi makanan, ketelitian dalam transaksi, dan membina hubungan baik dengan pelanggan. Karyawan Paparons harus meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan dalam hal perhatian, karena dari hasil analisa dan pembahasan variabel perhatian memiliki pengaruh paling kecil dibandingkan dengan variabel lainnya seperti sikap dan tindakan yang tidak berpengaruh signifikansi terhadap kepuasan pelanggan di Restaurant Paparons Pizza.

Analisis kesesuaian buku teks pelajaran biologi SMA/MA kelas X terbitan Esis dengan standar isi ditinjau dari komponen kesesuaian isi, komponen kebahasaan dan komponen penyajian / Hanum Wiharaningtyas

 

ABSTRAK Wiharaningtyas, Hanum. 2009. Analisis Kesesuaian Buku Teks Biologi SMA/MA Kelas X Terbitan Esis dengan Standar Isi Ditinjau dari Komponen Kesesuaian Isi, Komponen Kebahasaan dan Komponen Penyajian. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Margono, M.A., (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata Kunci : buku teks, standar isi, komponen kesesuaian isi, komponen kebahasaan komponen penyajian Buku teks pelajaran adalah buku bidang studi tertentu yang digunakan di sekolah, yang disusun oleh para pakar, memuat materi pembelajaran dalam rangka meningkatkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis, peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan, yang dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh siswa, yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan. Buku teks pelajaran yang baik harus memiliki kebenaran isi, penyajian yang sistematis dan penggunaan bahasa dan keterbacaan yang baik. Kelayakan ini ditentukan oleh penilaian yang dilakukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas). Berdasarkan hasil observasi di 13 SMA/MA se-kota Malang pada bulan Nopember-Desember 2008, siswa di 9 sekolah tersebut (69,23%) menggunakan buku teks pelajaran terbitan Esis yang disusun oleh Dyah Aryulina, Choirul Muslim, Syalfinah Manaf dan Endang Widi Winarni. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kesesuaian antara buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis dengan Standar Isi ditinjau dari komponen kesesuaian isi, (2) mengetahui kesesuaian antara buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis dengan Standar Isi ditinjau dari komponen kebahasaan, dan (3) mengetahui kesesuaian antara buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis dengan Standar Isi ditinjau dari komponen penyajian. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif dengan menggunakan instrumen penilaian buku teks pelajaran Biologi dari BSNP. Subjek penelitian ini adalah buku teks pelajaran Biologi terbitan Esis yang disusun oleh Dyah Aryulina, Choirul Muslim, Syalfinah Manaf dan Endang Widi Winarni edisi Tahun 2007. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh guru dan siswa dalam memilih buku teks pelajaran Biologi untuk siswa kelas X dan memberi masukan terhadap upaya penerbit dalam membuat dan merevisi buku teks pelajaran yang akan digunakan oleh siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan tiga hal. Pertama, buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis memiliki kesesuaian isi yang tergolong cukup dengan skor 2,07. Kedua, buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis memiliki skor kebahasaan 3,71. Artinya, buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis memiliki kriteria kebahasaan yang tergolong tinggi. Ketiga, buku teks pelajaran Biologi SMA/MA Kelas X terbitan Esis memiliki skor penyajian yang tergolong cukup dengan skor 2,08. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pemakai buku dapat memanfaatkan buku Esis ini secara bijak dengan mengambil kebaikan-kebaikannya. Selain itu, pemakai buku hendaknya menyadari bahwa buku teks pelajaran yang sempurna tidaklah ada. Setiap buku teks pelajaran ada kekurangannya sehingga pemakai seharusnya tidak hanya memakai satu buku saja agar kekurangan dari masing-masing buku teks pelajaran dapat dipenuhi

Pengaruh penggunaan model think pair share terhadap hasil belajar geografi siswa kelas VII SMP negeri 3 Sidayu Gresik / Shofwatin Ni'mah

 

ABSTRAK Ni’mah, Shofwatin. 2009. Pengaruh Penggunaan Model Think Pair Share Terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Sidayu Gresik. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd. (II) Drs. Timotius Suwarna, M.Pd. Kata kunci: model Think Pair Share, hasil belajar Selama ini hasil pembelajaran geografi hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal fakta-fakta, siswa menganggap pelajaran geografi hanya sekadar hafalan, mereka sering tidak memahami materi secara mendalam sehingga hasil belajar geografi siswa cenderung rendah. Hal ini dikarenakan pembelajaran geografi selama ini lebih banyak membuat siswa menghafal sebagian besar konsep, tanpa adanya upaya untuk memahami konsep melalui pengalaman belajar lain, misalnya: kerjasama untuk meningkatkan interaksi antara guru dan siswa. Akan tetapi, dalam pembelajaran kerjasama yang dilakukan selama ini sebagian besar siswa masih cenderung pasif tidak berani mengutarakan pendapat dalam kelompok besar atau dalam pembelajaran di kelas dan menggantungkan diri pada siswa yang aktif. Oleh karena itu, perlu diterapkan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa melalui pemberdayaan kemampuan berpikir baik secara individu maupun secara kelompok. Model Think Pair Share dapat menjadi alternatif pemilihan pembelajaran tersebut, karena melalui model Think Pair Share siswa difokuskan pada materi yang disajikan guru, kemudian siswa diharuskan untuk berpikir menggunakan kemampuannya dan bekerja dengan pasangan kelompoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Think Pair Share terhadap hasil belajar Geografi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sidayu Gresik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasy experimental). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sidayu Gresik dengan kriteria memiliki kemampuan yang sama diperoleh kelas VII C sebagai kelas eksperimen dan kelas VII A sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes objektif. Teknik analisis data adalah uji t dengan menggunakan komputer program SPSS 13.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model Think Pair Share terhadap hasil belajar geografi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sidayu Gresik. Dari analisis diketahui bahwa rata-rata gain score siswa kelas kontrol sebesar 10,78 dan rata-rata gain score siswa kelas eksperimen sebesar 23,28. Berdasarkan uji hipotesis, diperoleh nilai p adalah 0,000. dengan demikian p<0,05, sehingga terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model Think Pair Share terhadap hasil belajar geografi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sidayu Gresik. Disarankan kepada guru geografi untuk dapat menggunakan model Think Pair Share sebagai salah satu alternatif dalam melaksanakan proses pembelajaran geografi khususnya pada materi yang membutuhkan penalaran atau analisis.

Structural and contextual features of Walt Whitman's poem A Child Said, What Is The Grass?: a stylistic analysis / Febrina Natalia

 

ABSTRACT Natalia, Febrina. 2009. Structural and Contextual Features of Walt Whitman’s Poem A child said, What is the grass?: A Stylistic Analysis. Thesis, Department of English Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D. Keywords: poem, stylistics, structural features, contextual features. Since a poem veils things more than what it divulges, the emphasis on the aesthetics of language and the use of different techniques in poetry such as repetition, meter and rhyme are what commonly used to distinguish poetry from other literary works. That uniqueness of poem also often attracts researchers to investigate it more than any other literary works. Yet, some people still get lost in interpreting the messages of poems. Therefore, the mystery of a poem should not be left behind; instead, it needs to be dug out more deeply and clearly through its structural and contextual features. Then, the researcher in this study selected Walt Whitman’s poem A child said, What is the grass? as the subject of her study and chose stylistic approach in examining this poem. Stylistics is a study of both structural and contextual features of a literary work. Particularly, this research raises three main questions. The first one is how the structural features of Whitman’s poem A child said, What is the grass? are incorporated. The second one is how the contextual features of this poem are constructed. The last one is how the combined features between structural and contextual features help reveal the messages of the poem. This research was conducted by a qualitative approach in which this study describes human work that is poem and the researcher becomes the key instrument while three other supporting instruments are interview guides, observation sheets, and forms for notes in which the data were taken from internet. This research presents three findings which are simply the answers to the research questions. The first conclusion is about the structural features in this poem which include three linguistic features; phonology, syntax, and semantics. Phonologically, the form in this poem gets foregrounded by means of alliteration and assonance and the rhyme employed were mostly internal rhyme, while syntactically, the structure of sentences in this poem is purposively constructed to be short to help create the aesthetics of sounds. Most sentences in this poem semantically deviate from literal meaning through the creation of “fresh metaphors”. The second conclusion is about the contextual features in this poem which embrace society, culture, and poet’s background. The conditions, events, and circumstances occurred at the time the poet was still alive turn out to give many influences toward his poem. As the conclusion of this point, slavery, American Civil War, and immigration in the United States are the socio-cultural backgrounds which affect the poet in creating this poem. The last conclusion is one about the combination between both structural and contextual features in revealing the messages of the poem. Then, by conducting this study, the researcher expects this study could bring some contributions to students and lecturers of linguistics and literature, people in general, and future researchers

Pengaruh lama sintering dan besar medan magnet terhadap nilai konstanta dielektrik pada bahan spintronik Zn0.92Co0.08O1± / Nunik Purwanti

 

ABSTRAK Purwanti, Nunik 2009. “Pengaruh Lama Sintering dan Besar Medan Magnet terhadap Nilai konstanta dielektik pada bahan spintronik Zn0.92Co0.08O1±d ” Skripsi, Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro, M. Si, (2) Drs. Abdulloh Fuad, M. Si Kata Kunci: Lama Sintering, Konstanta Dielektrik, Medan Magnet, Spintronik Zn0.92Co0.08O1±d Senyawa Spintronik merupakan gabungan sifat elektronik dengan sifat magnetik. Spintronik merupakan bahan yang sangat menarik karena mempunyai fungsi ganda yaitu menyimpan dan memproses data. Salah satu sifat spintronik adalah sifat dielektrisitasnya bergantung pada medan magnet. Seperti diketahui bahwa salah satu parameter yang sangat berpengaruh dalam pembentukan senyawa adalah lama sintering. Oleh karena itu perlu diteliti bagaimana pengaruh lama sintering terhadap konstanta dielektrik Zn0.92Co0.08O1±d. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika Material Universitas Negeri Malang. Dalam penelitian ini digunakan bahan dasar ZnO dan CoO yang memiliki tingkat kemurnian 99 % untuk membentuk senyawa dengan komposisi Zn0.92Co0.08. O1±d. Metode penelitian bersifat eksperimen murni. Sampel disintering pada suhu 1100 oC dengan lama sintering 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam, 12 jam. Konstanta dielektrik didapat dari hasil karakterisasi menggunakan kapasitansi yang dilakukan dengan berbagai medan magnet. Hasil penelitian menunjukan semakin lama sintering pada bahan Zn0.92Co0.08O1±d maka konstanta dielektrik semakin meningkat. Kenaikan konstanta dielektrik sebagai pengaruh lama sintering tanpa medan magnet mengikuti pola eksponensial positif. Nilai konstanta dielektrik naik secara pelan dari 122 pada lama sintering 2 jam sampai lama sintering 12 jam 194. Pola hubungan antara lama sintering dengan berbagai medan magnet sangat berbeda bahwa pada lama sintering 2 jam dengan medan magnet 1,02 mT konstanta dielektriknya paling kecil 122 dan cenderung naik pada lama sintering 6 jam, nilai konstanta dielektrik juga naik kemudian turun pada lama sintering 8 jam dan 10 jam dan naik lagi pada lama sintering 12 jam dengan konstanta dielektriknya 194 pada medan magnet 0 mT. Kenaikan ini membentuk pola eksponensial tak monoton yang menunjukkan bahwa semakin lama sintering semakin naik konstanta dielektriknya. Pemberian besar medan magnet pada umumnya meningkatkan konstanta dielektrik. Namun peningkatan besar medan magnet meningkatkan konstanta dielektrik eksponensial positif, kecuali pada daerah medan rendah terjadi efek optimum atau pembalikan nilai konstanta dielektrik. i

Pengembangan media pembelajaran permainan ular tangga dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa kelas IV SD di SDN Bancer I Ngraho Kabupaten Bojonegoro / Agus Qomaruddin Ghufron

 

Kata Kunci: Pengembangan Media Permainan Ular Tangga, Bahasa inggris Bahasa inggris merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat membutuhkan kemampuan guru dalam mengelola kelas, terutama kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang bisa menciptakan suasana aman dan menyenangkan sehingga dapat menarik minat dan mengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran baik secara mandiri ataupun kelompok. Cara untuk menciptakan suasana aman dan menyenangkan dalam pembelajaran adalah dengan bermain. Oleh karena itu dibutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat menarik minat dan mengaktifkan semua siswa. Media pembelajaran yang dimaksud adalah media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa inggris untuk siswa kelas IV SD. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media permainan ular tangga di kelas IV SD yang sesuai dengan karakteristik siswa berdasarkan tahap-tahap perkembangan anak. Pada akhirnya media permainan ular tangga ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat menunjang pembelajaran Bahasa inggris. Untuk mengembangkan suatu media pembelajaran diperlukan persiapan dan perencanaan yang teliti. Pengembangan media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa inggris untuk siswa kelas IV SD dapat diuraikan sesuai dengan tahapan sebagai berikut: berupa seperangkat permainan ular tangga yang terdiri dari, (1) papan permaianan, (2) petunjuk pemanfaatan, (3) peraturan permainan (4) dadu, (5) pion, (6) kartu bergambar, dan (7) contoh soal evaluasi siswa. Hasil akhir dari kegiatan pengembangan ini adalah pengembangan media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa inggris untuk siswa kelas IV SD, yaitu berupa seperangkat permainan ular tangga yang terdiri dari, (1) papan permainan, (2) petunjuk pemanfaatan, (3) peraturan permainan (2) dadu, (4) pion, (4) kartu bergambar, dan (2) contoh soal evaluasi siswa. Secara teknis pengembangan media permainan ular tangga ini tidak sama dalam hal penerapannya dalam penyampaian materi pengajaran yang akan diberikan kepada siswa. Pengembangan permainan ular tangga ini menyangkut perangkat, aturan-aturan dan variasi gambar yang dirancang sedemikian rupa dan menggambarkan secara ringkas materi yang akan dipelajari dalam kelas IV SD. Hasil uji coba pengembangan Media permainan ular tangga pada ahli media sebesar 83% keterangan valid. Data Hasil uji coba pengembangan media permainan ular tangga pada ahli materi sebesar 88% keterangan valid. Sedangkan, data hasil uji coba pengembangan media permainan ular tangga pada audiens atau responden sebesar 86%, data hasil uji coba audiens kelompok kecil sebesar 78,34% dan data hasil uji coba audiens kelompok besar sebesar 76,75 %. Secara keseluruhan berdasarkan kriteria kelayakan produk dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran tersebut masuk dalam katerangan valid, sehingga layak digunakan dalam pembelajaran bahasa inggris untuk siswa kelas IV SD. Namun media ini masih mempunyai beberapa kekurangan sehingga dapat dilakukan revisi berdasarkan masukan-masukan dari audiens dengan tujuan agar diperoleh hasil yang lebih baik. Berdasarkan kelemahan dan kelebihan yang dimiliki produk pengembangan media permainan ular tangga dalam pembelajaran bahasa inggris untuk siswa kelas IV SD ini disarankan perlu dilakukan uji coba yang lebih besar dan waktu pembelajaran selama satu semester untuk mendapatkan tingkat keefektifan dan efisiensi yang lebih baik,memperbesar gambar-gambar yang ada di kotak-kotak media ular tangga agar siswa lebih tertarik untuk memainkan. Dan untuk memperjelas dan mempermudah penggunaannya selanjutnya, sebaiknya diperjelas lagi dalam bentuk pengembangan dengan ketrampilan bahasa yang lain untuk siswa SD.

Penerapan pembelajaran matematika dengan pendekatan open ended pada siswa kelas VII SMP Negeri 9 Malang / Isbadar Nursit

 

ABSTRAK Nursit, Isbadar. 2009. Penerapan Pendekatan Open Ended dalam Pembelajaran Matematika pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Matematika, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwiyana, M.Pd., (II) Dra. Tri Hapsari Utami, M.Pd. Kata kunci: Penerapan, Open Ended, Segiempat. Pada saat sekarang ini metode konvensional dalam pemelajaran masih digunakan oleh guru matematika pada umumnya, terutama di SMP Negeri 9 Malang. Hal ini terlihat ketika suatu penelitian mengamati pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada materi-materi matematika, termasuk materi segiempat. Dari keadaan ini, pembelajaran terpusat pada guru, karena guru memberikan informasi, contoh, dan yang lainnya tanpa melibatkan siswa. Akibatnya, siswa sering melakukan kesalahan dalam menentukan keliling dan luas bangun segiempat. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang lain. Dengan pendekatan Open Ended siswa memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan/ pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik dan jawaban benar. Alasan inilah yang melatarbelakangi penelitian pendekatan Open Ended dalam pembelajaran keliling dan luas bangun segiempat. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMP Negeri 9 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Open Ended yaitu melihat aktivitas pembelajaran dan hasil pembelajaran, (2) mendeskripsikan respon siswa kelas VII D SMP Negeri 9 Malang terhadap pembelajaran dengan pendekatan Open Ended dalam materi segiempat. Cakupan materi bangun segiempat yang dibahas pada penelitian ini adalah jajargenjang, persegi panjang, belah ketupat dan layang-layang. Pembelajaran keliling dan luas segiempat dengan pendekatan Open Ended dilaksanakan melalui tahapan-tahapan antara lain, (1) proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan pendahuluan yaitu orientasi siswa kepada masalah, (2) guru memberikan masalah dan membimbingnya dalam penyelidikan individual maupun kelompok, (3) siswa mengeksplorasi masalah tersebut, (4) guru merekam semua respon siswa, (5) guru membahas respon siswa bersama-sama dengan siswa, (6) guru meringkas apa yang telah dipelajari, dan (7) diakhir pembelajaran guru memberikan refleksi atau evaluasi. Penerapan pendekatan Open Ended dalam pembelajaran menunjukkan bahwa siswa dapat menguasai dengan baik materi segiempat. Hal ini terlihat dari hasil test akhir yang diberikan diakhir keseluruhan pembelajaran, menunjukkan bahwa persentase ketuntasan siswa lebih dari 85% siswa telah tuntas. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Open Ended berhasil. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil observasi aktivitas siswa yang masuk dalam kategori “baik” serta hasil wawancara dan angket siswa yang menunjukkan bahwa secara umum siswa senang dan memberikan respons yang positif terhadap pembelajaran dengan pendekatan Open Ended.

Hubungan pola asuh orang tua yang otoriter dan kematangan emosi dengan perilaku agresi pada siswa laki-laki kelas X SMA Islam Malang / Aditya Pranata Kusuma

 

ABSTRAK Kusuma, Aditya Pranata. 2009. Hubungan Pola Asuh Orang Tua yang Otoriter dan Kematangan Emosi dengan Perilaku Agresi pada Siswa Laki- laki Kelas X SMA Islam Malang. Skripsi. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Endang Prastuti M.Si, (2) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata kunci : pola asuh orang tua otoriter, kematangan emosi, perilaku agresi. Perilaku agresi sangat marak di lingkungan pendidikan, hal ini dapat kita ketahui dari fenomena tawuran antar pelajar yang menjadi masalah yang sangat merugikan bagi pihak sekolah maupun masyarakat di sekitarnya. Fenomena ini juga terjadi di SMA Islam Malang yang mayoritas siswanya masih berada dalam fase remaja awal. Remaja yang melakukan perilaku agresi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor pola asuh orang tua dan kematangan emosi. Sebagai faktor eksternal, penerapan pola asuh orang tua yang terdiri dari otoriter, demokratis, dan permisif , akan berpengaruh dalam membentuk perilaku agresi. Selain itu sebagai faktor internal, remaja yang belum stabil dan kurang matang emosinya dapat lebih mudah muncul perilaku agresinya daripada yang telah matang emosinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua otoriter dan kematangan emosi dengan perilaku agresi pada siswa kelas X SMA Islam Malang. Penelitian ini dilakukan pada siswa laki-laki kelas X di SMA Islam Malang. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Subjek yang dijadikan sampel penelitian adalah siswa laki-laki kelas X di SMA Islam Malang 93 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala pola asuh orang tua otoriter, skala Kematangan Emosi dan skala Perilaku agresi dengan menggunakan skala Likert. Analisis deskriptif berdasarkan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Analisis korelasional menggunakan analisis statistik product moment dengan taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian menunjukkan Pola Asuh Orang Tua yang Otoriter yaitu: 43 siswa atau 46,24% masuk dalam kategori sedang. Kematangan Emosi siswa dalam kategori rendah yaitu sebesar 32 siswa atau 34,41%. Perilaku Agresi siswa termasuk dalam kategori sedang sebesar 36 remaja atau 38,71%. Ada hubungan positif antara Pola Asuh Otoriter dengan Perilaku agresi (rxy = 0,256;p = 0,013 < 0,05 ada hubungan negatif antara Kematangan emosi dengan Perilaku agresi (rxy = -0,535; p = 0,000 < 0,05). Serta ada hubungan antara pola asuh orang tua yang otoriter dan kematangan emosi dengan perilaku agresi (rxy= 0,479, p = 0,000 < 0,05, R2 = 0,229). Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan remaja dapat mengontrol emosi terhadap segala perilakunya dengan lebih aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler; untuk pihak orang tua disarankan meminimalkan pola asuh otoriter karena dapat mencegah perilaku agresi; bagi pihak sekolah melalui guru bimbingan konseling atau konselor memberikan bimbingan tentang hal-hal yang berkaitan dengan emosi dan cara yang tepat untuk pengendalian dan mengontrol emosi melalui bimbingan secara khusus maupun dengan mengadakan seminar atau kegiatan yang berkaitan dengan permasalahan emosi khususnya kematangan emosi kepada remaja atau siswa; bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menambah jumlah sampel penelitian dan diusahakan untuk mewakili seluruh tingkatan kelas dalam suatu wilayah (sampel yang beragam), dan disarankan pula untuk melakukan penelitian lanjutan serupa dengan menggunakan metode kualitatif sehingga nantinya bisa dijadikan pelengkap maupun bisa dibandingkan hasilnya, serta menambah variabel yang berhubungan dengan perilaku agresi dan menggunakan desain penelitian yang lain agar penelitian ini lebih bervariasi.

Pengaruh suasana lingkungan toko terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada supermarket Hero Sarinah Malang) / Yovita Intania

 

ABSTRACT Intania, Yovita 2009. The influence of environmental atmosphere shop Against Consumer Purchase Decisions (Studies in Consumer Hero Supermarket Sarina Malang). Thesis, Department of Management, Faculty of Economics, Universitas Negeri Malang. Mentors (I): Dr. F. Danardana Murwani, M.M, Supervising (II): Drs. Agus Hermawan, M.Sc., M. Bus. Key word : Environmental atmosphere Stores, Consumer Purchase Decisions. World trade today is more advanced, as evidenced by the large number of supermarkets, hypermarkets and retail businesses that operate in similar urban centers that from the day the consumer interest. With intense competition, the big retailers almost done all the way to attract customers as much as possible. In order to attract consumers to make purchases, one of which can be done with the atmosphere of a fun store environment and attractive in the store. Atmosphere in a pleasant store will affect consumer behavior in visiting a store, this will affect consumers in deciding whether he wanted to buy the product or not. Based on the above description the researcher interested in doing research on environmental atmosphere shop. This study aims to determine the influence of environmental atmosphere shop (X), comprising the Social factor (X1), Design factor (X2) and Ambien factor (X3) is partially or simultaneously on Consumer Purchase Decisions. In this study the sampling technique used is Accidental Sampling to determine the sample based on the accident, where the number of samples taken as many as 100 people Hero Sarinah Malang Supermarket consumers by using the formula of Daniel & Terrell. Scale used is Likert scale with 5 (five) answer choice option. To test the feasibility of the instrument used validity and reliability tests. Data collection techniques in this study using observations, questionnaires, interviews. This research using descriptive analysis techniques and multiple linear regression analysis using SPSS Version 14.00. Based on the results of research known that variable Atmosphere Shop (X), comprising the Social factor (X1), Design factor (X2) and Ambien factor (X3) is partially a significant positive influence on consumer purchase decisions in Malang Sarina Hero Supermarket. The existence of these effects is indicated by the value of t test of significance of each variable < 0.05. Where these values respectively as follows: for the Social factor (X1) has a significance value of 0.000, Factor Design (X2) has a significance value of 0.000 and Factor Ambien 0.000 significance value. Social factors simultaneously (X1), Design factor (X2) and Ambien factor (X3) also has a significant positive influence on consumer purchase decisions in Hero Sarinah Malang Supermarket. The influence is shown with a significance value of 0.000 F <0.05. Also note also that the value of Adjusted R Square of 0.441. Can be interpreted that the Environment variables store atmosphere that includes Social factors, Design factors and the factors influencing Ambien in consumer buying decisions in shopping at Hero Sarinah Malang Supermarket for the remaining 44.1% and 55.9% for affected by other variables outside the research.

Pengembangan model latihan strategi penyerangan dan pertahanan pola permainan 2-1-1 permainan futsal di ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 2 Lumajang / Afief Habriyan

 

ABSTRAK Habriyan, Afief. 2009. Pengembangan Model Latihan Strategi Penyerangan Dan Pertahanan Pola Permainan 2-1-1 Permainan Futsal Di SMA Negeri 2 Lumajang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Heru Widijoto, M.S, (II) Drs. Mu’arifin, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, latihan, strategi penyerangan dan pertahanan futsal, SMA Negeri 2 Lumajang Permainan futsal merupakan olahraga permainan yang sangat cepat dan dinamis, yang dimainkan di lapangan yang relatif kecil, yang didalamnya dimainkan bagaimana cara memenangkan pertandingan dengan cara yang sportif, yaitu bagaimana cara melakukan serangan dengan tujuan memasukkan bola ke gawang dan bagaimana melakukan pertahanan yang baik untuk menghindari gol. Permainan futsal kini merupakan salah satu pilihan sekolah untuk dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Banyak komponen yang mendukung bagaimana melakukan koordinasi permainan futsal yang baik yang meliputi penyerangan dan pertahanan permainan futsal yaitu teknik dasar yang meliputi passing, dribbling, controlling dan shooting harus dikuasai pemain, agar nantinya dalam melakukan koordinasi strategi penyerangan dan pertahanan permainan futsal dapat dilakukan dengan baik. Berdasarkan analisis kebutuhan pada peserta dan pelatih estrakurikuler futsal di SMA Negeri 2 Lumajang secara umum peserta ekstrakurikuler futsal belum memahami bagaimana menerapkan koordinasi permainan futsal yang baik. Pelatih selama ini hanya memakai satu pola permainan yaitu pola permainan 3-1, dari beberapa pola yang ada dalam permainan futsal pelatih lebih tertarik pada pola permainan 2-1-1 permainan futsal untuk dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model latihan strategi penyerangan dan pertahanan pola permainan 2-1-1 permainan futsal yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menerapkan pola permainan yang baik dan dapat dijadikan solusi dalam bagaimana memenangkan suatu pertandingan dengan cara yang sportif. Prosedur pengembangan model latihan strategi penyerangan dan pertahanan pola permainan 2-1-1 permainan futsal melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) pengumpulan data informasi, kajian pustaka dan analisis kebutuhan, (2) mengembangkan bentuk produk awal, (3) evaluasi ahli yang terdiridari 3 orang ahli futsal, (4) revisi produk awal, (5)uji kelompok kecil dengan menggunakan 10 subyek, (5) revisi produk utama, (6) uji lapangan dengan menggunakan 24 subyek, (7) revisi produk akhir berdasarkan hasil uji lapangan. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan model latihan strategi penyerangan dan pertahanan pola permainan 2-1-1 permainan futsal di ektrakurikuler futsal SMA Negeri 2 Lumajang. i

Persepsi siswa tentang guru PPL dan motivasi belajar siswa serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Malang / Duwi Mariyah

 

ABSTRAK Mariyah, Duwi. 2009. Persepsi Siswa tentang Guru PPL dan Motivasi Belajar Siswa serta Pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Keahlian S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Helianti Utami, S.E., M.Si., Ak, (II) Drs. Sumadi, S.E., M.M. Kata kunci: persepsi siswa, motivasi belajar siswa, prestasi belajar siswa Pendidikan dapat diarahkan sebagai tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam kegiatan belajar banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya persepsi siswa tentang guru PPL dan motivasi belajar siswa yang berdampak pada hasil prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh persepsi siswa tentang guru PPL terhadap motivasi belajar siswa, (2) pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, dan (3) pengaruh persepsi siswa tentang guru PPL terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi, dengan data yang diperoleh dari menyebarkan angket tertutup yang menggunakan skala likert. Populasi penelitian adalah siswa program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Malang. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling dan sampel porposional dengan jumlah sampel sebanyak 66 orang. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) dengan bantuan SPSS 15.00 For Windows. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) terdapat pengaruh persepsi siswa tentang guru PPL terhadap motivasi belajar siswa, (2) terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, (3) terdapat pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang guru PPL terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Malang. Semakin baik persepsi siswa tentang guru PPL dan semakin tinggi motivasi belajar siswa, maka semakin besar pula pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Adapun saran yang dapat diberikan diantaranya: (1) mahasiswa PPL hendaknya selalu meningkatkan kemampuan mengajar, memperhatikan sikap dan penampilan agar siswa memiliki persepsi yang positif sehingga motivasi belajar meningkat, (2) siswa diharapkan untuk selalu meningkatkan motivasi belajar karena motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (3) bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel yang akan diteliti karena masih banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti kebiasaan belajar, fasilitas belajar, dan sebagainya serta memperluas jumlah sampel yang akan diteliti.

Perancangan company profile Charis National Academy Malang / Jefry Makmara

 

ABSTRAK Makmara, Jefry. 2009. Perancangan Company Profile Charis National Academy. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbimg: (1) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (2) Drs. Eko Budi Winarno. Kata kunci: perancangan, company profile, Charis National Academy, Malang. Harus dicari pemecah masalah untuk Charis National Academy, yang sedang bermasalah dengan isu-isu yang beredar. Cara yang inovatif, termasuk di bidang Desain Komunikasi Visual, untuk menjawab kebutuhan dari Charis saat ini. Beredarnya isu-isu tersebut disebabkan karena tidak adanya suatu media komunikasi dari Charis sendiri. Suatu inovasi yang kreatif dan dapat mengangkat image Charis, diperlukan untuk meluruskan isu-isu yang telah beredar. Bentuk perancangan yang inovatif berupa perancangan company profile Charis National Academy, dengan mengangkat bentuk desain yang inovasi yaitu bentuk desain minimalis bergaya white space. Perancangan ini dikembangkan berdasarkan model prosedural, melalui data lapangan dan data pustaka. Data lapangan terdiri atas data visual dan data atmosfer Charis, data target market, kompetitor, serta data pemasaran lainnya. Data pustaka utamanya terkait dengan data perancangan print media. Proses perancangan tersebut dimulai dari rumusan masalah yang akan di tarik menjadi sebuah gagasan perancangan. Gagasan perancangan tersebut dituangkan dengan menggunakan sofware Adobe Photoshop CS3, Adobe Flash CS3 Professional, Adobe Dreamweaver CS3, Adobe After Effects CS3, Ulead VideoStudio 9, Microsoft Office, dan Notepad. Perancangan Company Profile ini terdiri dari website, mini map company profile, dan X-banner. Produk utama di sini berupa website dengan media pendukung mini map company profile yang berisikan: brosur ekslusif CNA, video profile CNA, dan stiker website CNA. Dan sebuah media cetak X-banner. Berdasarkan teoritis hasil perancangan ini telah melewati prosedur metodologi yang ketat. Walaupun perancangan ini masih membutuhkan riset lebih dalam lagi. Diharapkan perancangan media ini diharapkan bisa memberikan suatu bentuk informasi yang menarik dan berkelas sesuai dengan sekmen pasar Charis National Academy dan dapat dikembangkan lagi untuk keperluan yang diinginkan.

Studi pendapatan tenaga kerja pasca penutupan industri kerajinan emas dan perak di Desa Pulo Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang / Siti Masruro

 

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan kinerja perekonomian Indonesia menurun tajam dan berubah menjadi krisis yang berkepanjangan diberbagai bidang. Krisis ekonomi berimbas pula pada industri kerajinan emas dan perak yang berada di Desa Pulo Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang. Meningkatnya kebutuhan ekonomi, baik kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan lainnya menuntut para penduduk yang tidak lagi bekerja di sektor kerajinan emas dan perak, tetapi bekerja disektor lain untuk meningkatkan pendapatan demi memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktiviatas tenaga kerja, pendapatan, umbangan pendapatan terhadap keluarga dan perbedaan pendapatan tenaga kerja sebelum dan esudah penutupan industri kerajinan emas dan perak di desa Pulo Kecamatan Tempeh abupaten Lumajang pasca penutupan industri kerajinan emas dan perak. Penelitian ini bersifat deskriptif dimana pemecahan masalah yang diteliti dengan cara memberi gambaran bjek penelitian berdasarkan fakta yang tampak. Peneliti berusaha mendeskripsikan tentang enaga kerja yang dulunya bekerja di industri kerajinan emas dan perak. Penelitian ini ergolong penelitian sensus/populasi karena populasi yang diambil adalah seluruh mantan naga kerja industrikerajianan emas dan perak di desa Pulo Kecamatan Tempeh Kabupaten umajang, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Variabel penelitian terdiri dari ktivitas tenaga kerja, Pendapatan tenaga kerja dan Sumbangan pendapatan terhadap keluarga an perbedaan pendapatan sebelum dan sesudah penutupan industri kerajinan emas dan perak. Populasi dalam pelitian ini yaitu penduduk Desa Pulo yang dulunya bekerja di Industri kerjinan emas dan perak yang berjumlah 54. Data primer dikumpulkan dengan observasi dan uisioner, dan data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah. Data yang telah terkumpul ianalisis dengan menggunakan tabulasi tunggal dengan analisis deskriptif berbentuk.persentase, kemudian untuk menguji perbedaan pendapatan tenaga kerja sebelum dan sesudah penutupan industri kerajinan emas dan perak digunakan analisis uji beda (t-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutupan industri kerajinan emas dan perak berdampak pada perubahan pendapatan dan jenis pekerjaan mantan tenaga industri kerajinan emas dan perak. Pekerjaan yang saat ini banyak ditekuni oleh mantan tenaga kerja industri kerajinan emas dan perak adalah pekerjaan di sektor informal seperti pedagang, petani dan buruh. Jam kerja tenaga kerja berkurang ini di karenakan pekerjaan yang mereka tekuni saat ini lebih santai dan juga tidak memakan banyak waktu. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji beda (t-test) diperoleh bahwa rata-rata pendapatan sebelum penutupan dan rata-rata pendapatan setelah penutupan adalah tidak berbeda secara signifikan. Ini dikarenakan pada saat bekerja di industri kerajinan emas dan perak rata-rata pendapatan mereka sama sedangkan pada saat penutupan industri kerajinan emas dan perak pendapatan yang diperoleh tenaga kerja ada yang mengalami peningkatan dan ada juga yang mengalami penurunan. Berdasarkan hasil penelitian banyak mantan tenaga kerja industri kerajinan emas dan erak tidak ingin bekerja kembali di industri kerajinan emas dan perak, ini dikarenakan factor usia dan juga sepinya permintaan akan kerajinan emas dan perak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi luas pengungkapan sosial pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2007 / Swesti Indri Agustyn

 

ABSTRAK Agustyn, Swesti Indri. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Luas Pengungkapan Sosial Pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunaryanto, M.Ed. (II) Makaryanawati, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: luas pengungkapan sosial, high profile, low profile, umur perusahaan, ukuran dewan komisaris, kepemilikan saham publik . Keberadaan perusahaan dalam masyarakat dapat memberikan aspek yang positif dan negatif. Di satu sisi perusahaan menyediakan barang dan jasa yang diperlukan masyarakat, namun di sisi lain tidak jarang masyarakat mendapatkan dampak buruk dari aktivitas bisnis perusahaan. Polusi lingkungan, produk yang membahayakan kesehatan, eksploitasi tenaga kerja, dan penggunaan energi yang tidak bertanggung jawab merupakan contoh bentuk negatif yang ditimbulkan oleh perusahaan. Penelitian mengenai keluasan pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan dan faktor-faktor untuk dilakukan. Penelitian semacam ini akan memberikan gambaran perbedaan keluasan pengungkapan yang dilakukan oleh tiap-tiap perusahaan dan faktor- faktor apa saja yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari faktor-faktor yang terdiri dari profil perusahaan, umur perusahaan, ukuran dewan komisaris, dan kepemilikan saham publik terhadap luas pengungkapan sosial perusahaan. Pengujian dilakukan secara purposive terhadap perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2007. Hasil pengujian dengan menggunakan uji regresi linier berganda menunjukan bahwa profil perusahaan, ukuran dewan komisaris dan kepemilikan saham publik secara stasistik berpengaruh atas luas pengungkapan sosial perusahaan. Pengujian terhadap satu variabel independen yang lain yaitu umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan sosial perusahaan. Hasil pengujian yang signifikan atas profil perusahaan menunjukkan bahwa dengan tingkat yang lebih tinggi pada industri kategori high profile, perusahaan merasa perlu menerapkan luas pengungkapan yang lebih baik dengan tujuan untuk menciptakan penilaian yang positif terhadap kinerja perusahaan. Hasil pengujian yang signifikan atas ukuran dewan komisaris menunjukkan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan komisaris maka kegiatan monitoring menjadi semakin efisien. Sedangkan hasil pengujian yang signifikan atas kepemilikan saham publik membuktikan bahwa pengungkapan yang dilakukan perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dengan ikut berinvestasi.Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) para investor diharapkan sudah mulai merespon dengan baik informasi sosial yang disajikan perusahaan, (2) untuk peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan obyek penelitian dan periode yang lebih luas serta menambahkan variabel-variabel lainnya.

Implementasi model siklus belajar dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan prestasi belajar fisika dan kinerja ilmiah siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Nunik Purwanti

 

ABSTRAK Purwanti, Nunik. 2009. “Implementasi Model Siklus Belajar dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Fisika dan Kinerja Ilmiah Siswa Kelas VIII SMP NEGERI 7 MALANG Tahun Pelajaran 2008/2009”. Skripsi, Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Agus Suyudi, M.Pd, (2) Drs. Asim, M.Pd. Kata kunci: model siklus belajar, prestasi belajar fisika, kinerja ilmiah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 7 Malang diketahui siswa kurang antusias saat guru menjelaskan materi pelajaran. Nilai ulangan harian yang diperoleh siswa masih rendah di bawah SKM yaitu 42, dan siswa kurang aktif bertanya saat proses pembelajaran. Guru lebih sering menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional yang menekankan penggunaan buku paket. Sekali-sekali ada selingan kegiatan diskusi kelas dan tanya jawab kegiatan praktikum juga jarang dilakukan dan siswa cenderung pasif. Disepakati oleh guru dan peneliti untuk menggunakan pembelajaran model siklus belajar untuk dapat meningkatkan prestasi dan kinerja ilmiah siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan berjenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan memberikan tindakan berupa model siklus belajar. Tindakan yang diberikan pada penelitian ini berupa penerapan model siklus belajar yang terdiri 4 fase yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, dan evaluasi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP NEGERI 7 MALANG 2008/2009. Jumlah siswa yang terdiri dari 44 siswa, dengan 24 siswa putra dan 21 siswa putri. Pokok bahasan yang dibahas adalah cahaya dengan sub pokok bahasan cahaya merambat lurus, pemantulan cahaya, pembentukan bayangan, dan jumlah bayangan. Instrumen penelitian yang digunakan berupa skenario pembelajaran, lembar observasi wawancara, instrumen prestasi belajar, lembar observasi kinerja ilmiah, lembar keterlaksanaan model siklus belajar, dan catatan lapangan. Instrumen tindakan yang digunakan meliputi LKS, RPP, dan soal evaluasi. Analisi data pada penelitian ini menggunakan reduksi data, paparan data, penarikan simpulan, triangulasi, refleksi, dan deskripsi hasil temuan. Penerapan model siklus belajar dalam pembelajaran fisika dengan persentase keterlaksanaan semakin meningkat selama siklus I dan siklus II. Prestasi belajar dan kinerja ilmiah selama penerapan model siklus belajar meningkat pada siklus I dan siklus II. i

Pengaruh insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, collateralizable assets dan institutional ownership terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2007 / Tri Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Tri. Pengaruh Insider Ownership, Dispersion of Ownership, Free Cash Flow, Collateralizable Assets, dan Institutional Ownership terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunaryanto, M.Ed., (II) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, collateralizable assets, institutional ownership dan dividend payout ratio Pembayaran dividen sebagai return atas investasi dipengaruhi oleh berbagai hal. Terkait biaya keagenan (agency costs) yang muncul akibat hubungan keagenan (agency relationship) antara manajer sebagai pengelola perusahaan dengan pemegang saham sebagai pemilik modal, terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap dividend payout ratio yaitu insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, collateralizable assets dan institutional ownership. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya pengaruh variabel bebas insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, collateralizable assets dan institutional ownership terhadap variabel terikat dividend payout ratio. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2005 - 2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 20 perusahaan sebagai sampel penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Hasil uji F membuktikan bahwa insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, collateralizable assets dan institutional ownership secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat dividend payout ratio. Hasil uji t membuktikan bahwa secara parsial insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, collateralizable assets dan institutional ownership berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat dividend payout ratio. Namun, variabel insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow dan institutional ownership memiliki arah regresi yang berbeda dengan hipotesis penelitian. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,394 atau 39,4% menunjukkan variasi nilai dividend payout ratio yang dapat dijelaskan oleh model regresi adalah 39,4%, sedangkan sisanya sebesar 60,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain. Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam pengambilan keputusan pembayaran dividen sebaiknya perusahaan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio untuk membantu menentukan tingkat pembayaran dividen yang optimal., (2) dalam pengambilan keputusan investasi sebaiknya investor memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio untuk membantu memperoleh return yang diharapkan., (3) untuk peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan sampel penelitian dengan wilayah populasi yang lebih besar, menggunakan rumus yang lebih sesuai serta mengembangkan permasalahan yang dibahas.

Penerapan pola PBMP (pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan) dalam metode TSTS (two stay two stray) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-2 SMAN 3 Malang / Afni Susanti

 

ABSTRAK Susanti, Afni. 2009. Penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam Metode TSTS (Two Stay Two Stray) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-2 SMAN 3 Malang. Skripsi. Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd, (II) Drs. Sulisetijono, M.Si Kata kunci : pola PBMP, metode Two Stay Two Stray, aktivitas belajar, hasil belajar Kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa mata pelajaran Biologi bertujuan untuk memupuk sikap ilmiah siswa yang jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain. Dalam KTSP juga dijelaskan bahwa mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif. Pada kenyataannya, pembelajaran Biologi saat ini kurang mampu mengakomodasi peningkatan aktivitas dan kemampuan berpikir siswa. Dari hasil observasi pada kelas X-2 SMAN 3 Malang menunjukkan bahwa siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dari guru maupun memberikan pendapatnya secara lisan. Selain itu, guru belum menyiapkan kelengkapan administratif seperti lembar observasi untuk keaktifan siswa. Aktivitas belajar siswa yang kurang difasilitasi selama pembelajaran di kelas akan menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Hasil belajar yang rendah juga disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode konvensional sehingga perlu adanya metode pembelajaran lain yang dapat meningkatkan aktivitas siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diterapkan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu Penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam Metode TSTS (Two Stay Two Stray). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam metode TSTS (Two Stay Two Stray) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, 2) mengetahui penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam metode TSTS (Two Stay Two Stray) untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan 3) mengetahui persepsi siswa kelas X-2 SMAN 3 Malang mengenai penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam metode TSTS (Two Stay Two Stray). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X-2 semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 32 siswa, terdiri dari 11 siswa dan 21 siswi. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa serta hasil belajar siswa. Selain itu, data pendukung diperoleh dari catatan lapangan dan angket respons siswa. Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan persentase aktivitas belajar siswa secara klasikal maupun perkelompok serta ditinjau pula dari segi ranah afektif. Aktivitas bertanya siswa dianalisis lebih mendalam dari segi kognitif taksonomi Bloom untuk mengetahui kualitas pertanyaan siswa. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada tiap akhir siklus untuk mengetahui persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, angket respons siswa dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam Metode TSTS (Two Stay Two Stray) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II baik ditinjau dari peningkatan setiap kelompok maupun secara klasikal serta dari segi ranah afektif maupun dari segi kognitif kualitas pertanyaan siswa, 2) Penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam Metode TSTS (Two Stay Two Stray) dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diukur dengan persentase ketuntasan belajar minimal baik secara individu maupun secara klasikal dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar minimal secara individu adalah 75% jumlah ini meningkat pada siklus II menjadi 96,875%. Pada siklus I, kelas X-2 SMAN 3 Malang belum bisa dikatakan tuntas belajar namun pada siklus II persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar minimal sudah lebih dari 85% sehingga dapat dikatakan mereka sudah tuntas belajar. Siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar minimal pada siklus II sebaiknya diberikan pembelajaran remidi yang dilaksanakan dengan metode tutor sebaya dengan tujuan untuk memperbaiki tingkat pemahaman materi dan skor siswa sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

Media pembelajaran berbantuan komputer pada materi garis dan sudut untuk siswa kelas VII semester II / Nur Hikmah

 

ABSTRAK Hikmah, Nur. 2009. Media Pembelajaran Berbantuan Komputer pada Materi Garis dan Sudut untuk Siswa Kelas VII Semester II. Skripsi. Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. H. Soebari, M.Pd (2) Mahmudin Yunus, M.Kom Kata kunci: Media Pembelajaran, komputer, garis dan sudut. Pengadaan media pembelajaran terutama media pembelajaran berbantuan komputer, merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan perhatian, konsentrasi dan membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk materi geometri dalam hal ini garis dan sudut yang memerlukan banyak visualisasi, media pembelajaran berbantuan komputer dapat membantu proses pembelajaran. Pembuatan media pembelajaran ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbantuan komputer pada materi garis dan sudut yang mudah digunakan oleh siswa, serta dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa. Media pembelajaran garis dan sudut berbantuan komputer ini dikembangkan melalui 10 tahapan, yaitu (1) menentukan kebutuhan dan tujuan, (2) mengumpulkan bahan acuan, (3) mempelajari isi, (4) mengembangkan ide, (5) mendesain pembelajaran, (6) membuat flowchart program, (7) Membuat story board atau lembar presentasi pada kertas, (8) memprogram materi, (9) membuat materi pendukung, (10) evaluasi dan revisi. Hasil pembuatan media pembelajaran ini adalah media pembelajaran berbantuan komputer materi garis dan sudut yang bersifat tutorial dengan karakteristik (1) pembukaan, (2) pengendalian pelajaran, (3) motivasi, (4) penyajian materi, (5) pertanyaan dan respon, (6) penilaian, (7) umpan balik, (8) perbaikan, (9) rangkaian pembelajaran, dan (10) penutup. Berdasarkan pengembangan ini dapat disarankan agar dilakukan pembuatan dan pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer lebih lanjut, baik untuk materi-materi yang lain maupun untuk perbaikan media-media yang sudah ada. Adapun pembuatannya sebaiknya juga memperhatikan kelemahan-kelemahan dari media pembelajaran berbantuan komputer yang telah ada.

Pengembangan paket pembelajaran matakuliah metodologi penelitian I dengan model Dick, Carey & Carey di Prodi PAI STIT Raden Rahmat Kepanjen Malang / Saifuddin

 

Key Words: Development, Research Methodology, Dick Model, Carey & Carey Research methodology I is as one of the courses belongs to a course group of science and skill in Islamic Education Program, College of Educational Science (STIT) Raden Rahmat of Malang. This code MKK. 216-course is usually taken at semester IV with two semester credit unit and two meetings in a week. Based on the preliminary study, it was concluded that the average of the students’ competence and mastery of research methodology was quite low. It was indicated by the results of undergraduate thesis exam – as the final requirement – which was carried out in July up to August 2008. The studies conducted by the students in their undergraduate theses was as an educative means, so it was concerned more with internal validity (Sugiyono, 2008:8), meaning that they applied correct methodology, systematically correct, cohesive and consistent inter chapter. However, 443 students followed the exam, more or less 12.5% (± 55 of the students) did it correctly. This was due to the students’ lack of research methodology mastery which was caused by some factors: (1) the college did not have learning sources designed systematically for research methodology I course, (2) the students had low motivation and interest in learning research methodology, (3) the students had lack of understanding towards the benefits of research methodology course in developing scientific perspectives, (4) the learning materials did not go with the students’ needs and characteristics, (5) the college lacked of supporting learning facilities. The problems concerning with the instructions of research methodology I course emerged to solve, before hampering the teaching and learning process. Otherwise, it will influence to the low quality of the graduate because of having no competence in Islamic education and in conducting a good research. The crucial problem to solve is supplying the learning materials which go with the students’ needs and characteristics. Therefore, the researcher wanted to design and develop instructional package research methodology I for STIT Raden Rahmat students using Dick model, Carey & Carey, as a solution to solve the problems. Instructional package developed covers learning materials, lecture’s and students’ guide book, and visual media in form of CD (Compact Disk). The CD contains of learning materials, lecture and students guide and a summary of learning materials in form of Power Point designed in an offline hyperlink system. The CD is used to facilitate in the teaching and learning process. Based on the findings showed that there was a significant difference from the pre-test and the post-test (P 0.000; df=29; t= -17.462), the difference is -25.8333. The negative difference showed that the result of pre-test was lower than the post-test. Meaning that the use of instructional package in the teaching and learning process could improve the students’ learning achievement as 25.83. Based on the analysis of the results, it could be concluded that the Instructional Package proved could improve the students’ learning achievement. Some suggestions were provided to improve the percentage and the quality of how to use the instructional package, namely (1) The use of the instructional package will be effective if it is applied with the learning strategy proposed in the lecture’s and students’ guide books. (2) The use of instructional media as CD designed in a hyperlink system is an integral part of instructional package.

Pengaruh manajemen laba dan pengungkapan informasi keuangan terhadap cost of equity capital / Septina Indhira Ratih Irmawati

 

ABSTRAK Indhira, Septina. 2009. Pengaruh Manajemen Laba dan Pengungkapan Informasi Keuangan Terhadap Cost of Equity Capital. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sutatmi, SE., M.Pd., M.Si., Ak(II) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: Manajemen Laba, Pengungkapan Informasi Keuangan, Cost of Equity Capital Perusahaan membutuhkan investor dan kreditor untuk kebutuhan pendanaan atas aktivitas perusahaan. Investor memerlukan informasi untuk pengambilan keputusan investasi. Agency theory mengimplikasikan adanya informasi asimetri antara manajer dengan investor. Manajer dapat melakukan praktik manajemen laba dan pengungkapan informasi keuangan yang kurang. Investor yang mengetahui adanya penyimpangan tersebut akan melakukan bentuk antisipasi resiko yaitu meningkatkan Cost of Equity Capital. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya pengaruh variabel independen, manajemen laba (X1) dan pengungkapan informasi keuangan (X2) terhadap variabel dependen cost of equity capital (Y). Pengungkapan informasi keuangan dalam penelitian ini menggunakan analisa leverage dan ROE (Return on Equity). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ 45 yang listing di BEI tahun 2003-2007. Hasil analisis menunjukkan bahwaManajemen laba dan Pengungkapan Informasi keuangan berpengaruh terhadap Cost of Equity Capital (Y).Nilai Adjusted R Squaresebesar 0,13 menunjukkan bahwa pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 13%. Sedangkan sisanya 97% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model persamaan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut:(1) Bagi para investor dalam membuat keputusan investasi untuk menanamkan modalnya perlu dipertimbangkan relevansi suatu informasi akuntansi yaitu pengungkapan informasi keuangan dan dapat mengantisipasi informasi akrual yang tersaji dalam laporan keuangan emiten sehingga bisa dideteksi adanya praktik manajemen laba, dan(2) Nilai adjusted R² yang kecil, maka untuk penelitian selanjutnya perlu meneliti variabel lain, misalnya pengungkapan pertanggungjawaban sosial. Selain itu penelitian selanjutnya dapat menggunakan cara yang berbeda dalam menghitung nilai yang akan digunakan sebagai proksi untuk Cost of Equity Capital yaitu Gordon Model.

Pengaruh perubahan arus kas dan perubahan laba akuntansi terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2008 / Pandu Arifianto

 

ABSTRAK Arifianto, Pandu. 2009. Pengaruh Perubahan Arus Kas dan Perubahan Laba Akuntansi terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang Listed di Bursa Efek Indonesia Periode 2005 – 2008. Jurusan Manajemen. Program studi S1 Manajemen Keuangan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. Pembimbing (II) Ely Siswanto, S.Sos., M.M. Kata kunci : perubahan arus kas, perubahan laba akuntansi, return saham. Laporan arus kas dan laba akuntansi sebagai bagian dari laporan keuangan yang bertujuan untuk menggambarkan kinerja perusahaan sebagai informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi yang berguna bagi berbagai pihak. Pada perusahaan yang bertujuan memperoleh laba, maka penilaian keberhasilan perusahaan ditinjau pada jumlah laba yang diperoleh. Sedangkan informasi arus kas merupakan laporan pelengkap dari suatu laporan keuangan yang bermanfaat dalam memperkirakan jumlah arus kas di masa mendatang dan menilai peningkatan kinerja perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) tingkat perubahan arus kas, (2) tingkat perubahan laba akuntansi, (3) tingkat perubahan return saham, (4) pengaruh perubahan arus kas terhadap return saham, (5) pengaruh perubahan laba akuntansi terhadap return saham, (6) pengaruh secara simultan perubahan arus kas dan perubahan laba akuntansi terhadap return saham. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan subyek penelitian pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini tergolong korelasi kausalitas yang menggambarkan hubungan sebab akibat, antara variabel perubahan arus kas dan perubahan laba akuntansi terhadap return saham dengan metode analisis regresi berganda. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory, JSX Statistics, dan Annual Report perusahaan manufaktur periode tahun 2005-2008. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) return saham fluktuatif dengan trend meningkat sangat landai, (2) perubahan arus kas fluktuatif dengan trend meningkat sedikit tajam, (3) Perubahan laba akuntansi fluktuatif dengan trend meningkat sedikit tajam, (4) tidak terdapat pengaruh signifikan perubahan arus kas terhadap return saham, (5) terdapat pengaruh signifikan perubahan laba akuntansi terhadap return saham, (6) perubahan arus kas dan perubahan laba akuntansi berpengaruh secara simultan signifikan terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disarankan (1) bagi investor diharapkan tidak hanya memperhatikan informasi laba akuntansi, tetapi juga arus kas sebagai informasi tambahan, (2) bagi penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan penggunaan variabel lain, selain arus kas dan laba akuntansi, serta memperpanjang periode pengamatan sehingga diperoleh hasil yang lebih baik, (3) bagi perusahaan perlu menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, sehingga dapat menarik minat dan kepercayaan investor untuk berinvestasi pada saham.

Using pocket book of required functional skills to improve the English speaking ability of the students at MTsN Munjungan Trenggalek / Wiratno

 

ABSTRAK Wiratno, 2009. Menggunakan Buku Saku Kecakapan Keterampilan Fungsional untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa di MTsN Munjungan Trenggalek. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program PaskaSarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D. (II) Dr. Yazid Basthomi, M.A. Kata kunci: buku saku, keterampilan fungsional, kemampuan berbicara Pembelajaran bahasa Inggris di MTsN Munjungan belum mencapai tujuan kompetensi komunikatif karena para siswanya kurang mendapat kesempatan menggunakan bahasa itu. Faktanya kemampuan berbicara bahasa Inggris para siswa sangat rendah. Mereka sangat cemas dan tidak percaya diri ketika berbicara bahasa Inggris. Hampir semua siswa bahkan hampir tidak pernah berbahasa Inggris walaupun saat pelajaran di kelasnya adalah bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana buku saku kecakapan keterampilan fungsional dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa MTsN Munjungan Trenggalek. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif karena peneliti dibantu oleh teman sejawatnya yang juga guru bahasa Inggris. Penelitian ini diaplikasikan pada satu kelas yang terdiri dari tiga puluh lima anak yang seluruhnya menjadi subjek penelitian. Model penerapan buku saku kecakapan keterampilan fungsional yang tepat terdiri dari dua sesi utama. Pertama, pembelajaran di kelas yang mencakup tiga fase: (1) Fase pemanasan, guru mengaktifkan pikiran/ingatan siswa agar terpusat pada topik yang akan dipelajari; (2) Kegiatan inti mencakup dua tahap: (a) tahap pemahaman, and (b) percakapan terbimbing; (3) Fase penutup, guru memberikan penguatan terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Kedua, kegiatan percakapan independen yang mencakup tahapan-tahapan berikut. (1) Siswa mencari pasangan dan mempersiapkan percakapannya sendiri. (2) Mereka menemui guru untuk mendemonstrasikan percakapannya. (3) Mereka meminta guru menandatangani buku sakunya. (4) Mereka meminta orang tua/wali muridnya untuk menandatangani buku sakunya. Temuan-temuan penelitian ini mengungkap bahwa penerapan buku saku kecakapan keterampilan fungsional dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris. Peningkatan kemampuan siswa dapat dilihat pada peningkatan prosentase respon positif siswa selama dua putaran proses penelitian.Rata-rata, prosentase respon positif hasil observasi meningkat dari 65.7% di putaran pertama menjadi 80.7% di putaran kedua; hasil kuesioner close-ended meningkat dari 70.0% menjadi 84.3%; hasil kuesioner open-ended meningkat dari 71.7% menjadi 84.3%; dan hasil wawancara meningkat dari 73.3% menjadi 90.0%. Prosentase respon positif hasil observasi tersebut lebih besar dari kriteria keberhasilan 65%, sedangkan prosentase respon positif hasil kuesioner dan wawancara lebih besar dari kriteria keberhasilan 75%. Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan buku saku kecakapan keterampilan fungsional dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Oleh karena itu, para guru bahasa Inggris di sekolah tersebut disarankan menerapakan strategi tersebut dalam pembelajarannya karena ini sangat praktis dan bermanfaat. Yang terakhir, para peneliti disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap strategi ini dengan konteks dan tingkat kelas yang berbeda.

Neologism in information rechnology articles / Riefa Sandrina

 

ABSTRACT Sandrina, Riefa. 2009. Neologism in Information Technology Articles. S-1 Thesis, English Department, State University of Malang. Advisor: Dr. Johannes Ananto Prayogo M.Pd, M.Ed. Key words: neologism, word-formation processes, Information Technology This study aims at investigating the existence of new words, i.e. neologism in Information Technology (IT) articles. There are three problems that are presented in this study: the classification of the new words found in the IT articles based on their part of speech, the word-formation processes of such new words, and also the most frequent word-formation process that is employed by such new words. The additional analysis is also presented in the last problem. The research design of this study is quantitative-descriptive and the sources of the data are new words, which are defined as neologism, in thirty IT articles. The articles are taken from an IT magazine, PC World magazine, and also an IT website, www.pcmag.com. In collecting the data, the researcher selected and sorted some articles in IT website and magazine that contains the new words. Such new words are then analyzed and sorted afterwards to find out which ones can be defined as neologism. The neologisms found are then analyzed using the theories of word- formation processes purposed by Plag (2003) and Yule (1985). The finding of the study is that the neologisms found in the data are mostly classified as nouns. This finding also shows that it is somewhat easier to produce a new word in the form of noun since the new word is named after a certain product. The reason why each new word is representing its own meaning and it is not created based on any IT product is also found by the researcher. The finding also reveals the word-formation processes that are frequently employed by the neologism; most new words are created by combining some morphemes that have already existed before, wholly (compounds) or partially (blending). This study might be helpful for the next researchers, particularly Linguistics students, in analyzing the phenomenon of neologism in any field other than IT, since it provides an adequate way in investigating the word-formation process of neologism. The awareness of IT and media practitioners to the phenomenon of neologism is also needed, since they are the ones who created and named brand new IT products. When very new words born, there will be much more new vocabularies the society has.

Pengembangan pembelajaran teknis dasar passing bawah permainan bolavoli melalui multimedia interaktif untuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Singosari / Windaring Raka Siwi

 

ABSTRAK Siwi, Windaring R. 2015. Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Passing Bawah PermainanBolavoli Melalui Multimedia Interaktif untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Singosari. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. M. E. Winarno, M. Pd, (2) Febrita Paulina Heynoek, S. Pd., M. Pd. Kata Kunci: Pembelajaran, passing bawah bolavoli, multimedia Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat serta sikap sportif. Berdasarkan hasil observasi awal yang berupa wawancara langsung terhadap guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dan penyebaran angket kepada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Singosari diperoleh hasil bahwa penyampaian materi praktik teknik dasar passing bawah bolavoli dari guru pendidikan jasmani dan kesehatan membuat siswa menjadi bosan mengikuti pembelajaran dikarenakan kurang adanya variasi media pembelajaran dan 32 siswa dalam satu kelas banyak mengalami kesulitan saat mempraktikkan teknik dasar passing bawah bolavoli. Oleh karena itu dibutuhkan media pembelajaran yang menarik untuk menambah minat belajar siswa dan dibutuhkan variasi pembelajaran agar siswa mudah memahami dan mudah untuk mempraktikkan teknik dasar passing bawah bolavoli. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran baru berupa multimedia interaktif pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli yang diharapkan mampu membuat siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran dan menjadikan siswa mampu menguasai materi. Metode penelitian dan pengembangan ini menggunakan model penelitian prosedural Borg&Gall. Pada penelitian pengembangan pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli ada beberapa tahap, diantaranya: 1) analisis kebutuhan, 2) membuat produk awal, 3) evaluasi ahli, 4) uji coba kelompok kecil, 5) revisi produk, 6) uji coba kelompok besar, 7) revisi produk akhir. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif dan deskriptif dengan persentase. Berdasarkan pengumpulan data diperoleh hasil sebagai berikut: 1) validasi ahli pembelajaran pendidikan jasmani diperoleh hasil 95,19% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan, 2) validasi ahli permainan bolavoli diperoleh hasil 77,94% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan, 3) validasi ahli media diperoleh hasil 75% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan, 4) uji coba kelompok kecil diperoleh hasil 86,82% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan tanpa revisi, 5) uji coba kelompok besar diperoleh hasil 87,14% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif.

Refusal strategies in bargaining used by Indonesian Chinese buyers in Pasar Besar Market, Malang / Galih Kusumawardhana

 

ABSTRACT Kusumawardhana, Galih. 2009. Refusal Strategies in Bargaining Used by Indonesian Chinese Buyers in Pasar Besar Market, Malang. S-1 Thesis, English Department, State University of Malang. Advisor: Dr. Nur Mukminatien, M.Pd Keywords: Indonesian Chinese, refusal strategies, market, This study investigates refusal strategies in bargaining used by Indonesian Chinese buyers in Pasar Besar Market, Malang. It is focused on the classification of refusal strategies, the pattern of refusal strategies and the reason for applying such a kind of refusal strategies in the market environment. This study is descriptive qualitative and the data were collected from the conversations containing speech acts of refusal employed by Indonesian Chinese buyers as they were bargaining in Pasar Besar Market, Malang. In analyzing the data, direct and indirect categories of refusal based on Kartomihardjo (1993) and Beebe and Takahashi (1990) are combined into new categories namely using the word “No”, using positive expression, using regret expression, giving a reason/comment, using conditions/suggestion and using the word “thank you”. The findings show that both male and female respondents mostly used giving a reason/comment strategy in refusing price offered by the seller. This strategy occurred 51 times (37,22%). On the second place, the frequently used strategy was using condition/suggestion strategy. In order to lower the price, this strategy occurred 39 times (28,46%). The third place showed that there were two strategies with the same frequency namely using the word “No” and using the word “thank you”. These strategies occured 19 times (13,86%). The rest of the strategies were using regret expression and using positive expression. The former occurred 8 times (5,83%) and the latter occurred only once (0,72%). Based on the results, it is obvious that the respondents tended to be indirect in expressing refusals. Indirect refusal formulas such as giving reason, statement of regret, and statement of positive opinion, condition/suggestion, and thanking were more preferable than direct refusal formulas such as saying “No”. It is used since the respondents wanted to be polite by saving the sellers’ face. The respondents said something that lessened the possible threat to another’s face, and it is called a face-saving act. Furthermore, it was impossible for the sellers to lower the price if the buyers said something impolite in the bargaining, in this case refusing the price offered by the sellers.

Pengaruh doping Mn terhadap dielektrisitas senyawa infinite layer Sr14-xMnxCu24O41± / Lany Novia

 

ABSTRAK Novia, Lany. 2009. Pengaruh Doping Mn terhadap Dielektrisitas senyawa Infinite Layer Sr14- xMnxCu24O41±δ pada berbagai suhu pengukuran.. Skripsi, Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro, M.Si (2) Ahmad Taufik, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: konstanta dielektrik, doping, infinite layer, temperatur pengukuran, SrCaCuO. Struktur Infinite layer adalah sistem kuasi 1 dimensi yang terdiri dari lapisan chain (rantai) dan ladder (tangga) yang tak berhingga bertumpuk dalam satu bidang. Infinite layer sangat menarik karena kompleksitas sifatnya. Bahan ini akan didoping dengan MnO2 yang mana akan sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dari bahan tersebut diantaranya adalah dielektrisitanya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang Pengaruh doping Mn terhadap dielektrisitas senyawa Infinite layer pada berbagai suhu pengukuran. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisika Material Universitas Negeri Malang. Dalam penelitian ini menggunakan bahan dasar SrCO3, CuO, dan MnO2. Yang disintering selama 10 jam. Variasi konsentrasi molar (x) 0; 2; 4; 6; 8 dan 10 dengan pengukuran yang dilakukan pada suhu berbeda yakni suhu ruang dan suhu N2 cair. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen murni. Langkah pertama yang dilakukan adalah penyiapan dan penimbangan bahan. Kemudian proses sintering, setelah proses tersebut kemudian sampel dikarakterisasi (diukur besar konstanta dielektriknya) pada suhu pengukuran yang berbeda yakni pada suhu ruang, dan suhu N2 cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penambahan konsentrasi molar berpengaruh terhadap nilai konstanta dielektrik. Pada x = 0 sampai x = 6 mengalami kenaikan nilai konstanta dielektrik. Kenaikan nilai konstanta dielektrik ini disebabkan mengikuti mekanisme polarisasi elektroniknya semakin banyak doping Mn maka semakin banyak ion Sr yang tergantikan oleh ion Mn menyebabkan volume kristal menjadi lebih kecil sehingga jarak inti terhadap elektron semakin dekat mengakibatkan elektron terikat semakin kuat dan tidak mudah lepas sehingga nilai konstanta dielektriknya naik. Pada x =6 sampai x = 10 nilai konstanta dielektriknya turun karena terbentuk fase lain sehingga fase infinite layernya menjadi berkurang.Semakin tinggi suhu pengukuran maka nilai konstanta dielektriknya semakin naik. Dalam hal ini dengan semakin tingginya suhu pengukuran mengakibatkan jarak antar molekul semakin jauh, ini mengakibatkan sifat kemagnetannya semakin berkurang dan sifat dielektriknya bertambah. seharusnya menurut teori polarisasi elektroniknya sifat dielektrisitasnya menurun kecuali jika penurunan nilai konstanta dielektrik ini terjadi pada suhu di atas 1000K yang disebabkan adanya transisi fase dari CDW ke mott insulator sedangkan pada suhu di bawah 1000K seharusnya mengikuti mekanisme polarisasi elektronik. Ketidaksesuaian dengan teori polarisasi elektronik ini masih memerlukan kajian lebih jauh pada senyawa ini untuk pengukuran pengaruh temperatur pengukuran terhadap nilai konstanta dielektriknya.

Figures of speech in cosmetics advertisements in the Vogue Magazine / Pradnya Paramitha Tinto

 

ABSTRACT Paramitha Tinto, Pradnya. 2009. Figures of Speech in Cosmetics Advertisements in the Vogue Magazine. S-1 Thesis, English Department, State University of Malang. Advisor: Dr. Johannes A.Prayogo, M.Pd, M.Ed. Keywords: advertisement, stylistics, figure of speech Advertisements have become important media for people’s lives today, which are used to disseminate information about the newest products. Language used in the advertisements must be stylish and persuasive, because it is aimed to persuade the consumers to buy the products. Therefore, the advertisers use figures of speech in their advertisement’s language in order to be persuasive. The writer sees almost all cosmetics advertisements use figures of speech in order to attract people’s attention and arouse the reader’s curiosity to buy the product. Hence, it encourages the writer in conducting a study about figure of speech in cosmetics advertisements in VOGUE magazine. This study focuses on the concepts of figures of speech. The objectives of this study is to find the types of figures of speech used in the cosmetics advertisements in the VOGUE magazine, the types of figures of speech that are mostly used in cosmetics advertisements in the VOGUE magazine and the meaning of each of figures of speech used in cosmetics advertisement in the VOGUE magazine. The research design of this study is descriptive-qualitative quantitative since the study attempts to describe the linguistics phenomenon on cosmetics advertisements. In addition, this research used qualitative approach because the data were in the forms of words, phrases, and sentences not in the form of numeric data. The data source of this study was twelve cosmetics advertisements, from one edition of VOGUE magazine March 2009. It also used a quantitative approach to compute the number of figures of speech to find the frequencies of uses of each type of figures of speech and the mostly used in cosmetics advertisements in VOGUE magazine. The writer found that the types of figure of speech existed in the language of cosmetics advertisements were personification, hyperbole, metonymy, metaphor. The writer also found the types of figure of speech that did not exist in those advertisements, such as simile, symbol apostrophe, synecdoche, paradox, allegory, understatement, and verbal irony. The frequencies of uses of each type of figures of speech were various. Hyperbole dominated all of the advertisements. The number was 21 out of 44 advertisements (47,7%). The second rank was personification. It appeared 18 times out of 44 advertisements (40,9%). The third rank was metaphor which appeared 4 out of 44 advertisements (9,1%). From the result, it can be inferred that hyperbole is mostly used in cosmetics advertisements because hyperbole obtains reader’s attention by saying something in an extraordinary way. Therefore, hyperbole has been used by the advertisers to attract readers’ curiosity, persuade, and influence them to believe and be interested in what is being advertised, then to buy the products. It is finally suggested that stylistic teachers should use advertisements from certain media as material for teaching. It is also suggested that other researchers can conduct researches on the same problem with larger population, different print media or even different kind of media, on the structure of the advertisement.

Pengembangan paket IPA terpadu dengan tema air untuk siswa SMP kelas VII semester II di SMP Negeri 4 Kepanjen / Dwi Retno Indar Widayanti

 

ABSTRAK Widayanti, Dwi R.I. 2009. Pengembangan Paket IPA Terpadu dengan Tema Air untuk Siswa SMP Kelas VII Semester II di SMP Negeri 4 Kepanjen. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Eddy Supramono, (2) Drs. Triastono Imam P, M.Pd Kata kunci : pembelajaran IPA Terpadu, tema air Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional secara tegas dinyatakan bahwa subtansi mata pelajaran IPA pada SMP/MTs merupakan IPA Terpadu. Di lain pihak, hasil survey terbatas pada guru-guru IPA SMP/MTs di Jawa Timur dalam beberapa pelatihan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kretaif, Efektif, dan Menyenangkan) yang diselenggarakan oleh Proyek MBE menunjukkan bahwa sebagian besar guru (92 dari 118 orang atau 70% ) mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan standar isi untuk kurikulum IPA. Hasil pangamatan di beberapa toko buku di kota dan Kabupaten Malang menunjukkan bahwa belum ditemukan buku IPA SMP yang dirancang secara terpadu. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: 1)Bagaimanakah kelayakan pengembangan paket IPA terpadu dengan tema air di SMP Negeri 4 Kepanjen?, dan (2) Bagaimanakah kelayakan panduan pelaksanaan pengembangan IPA terpadu dengan tema air di SMP Negeri 4 Kepanjen?. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan metode Borg dan Gall. Dengan demikian, sasarannya adalah tersusunnya (1) Paket IPA Terpadu dengan tema air untuk siswa SMP kelas VII semester II di SMP N 4 Kepanjen yang layak, dan (2) Panduan pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu dengan tema air untuk siswa SMP kelas VII semester II di SMP N 4 Kepanjen yang layak. langkah penelitian pengembangan yang diterapkan pada penelitian ini adalah (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal produk, (4) uji lapangan awal, dan (5) revisi produk utama. Kelayakan Paket IPA Terpadu dengan Tema Air dan Panduan Pelaksanaan Pembelajran IPA Terpadu dengan tema air diukur dari hasil validasi yang dilakukan oleh 2 dosen IPA dan 2 guru IPA SMP. Hasil validasi menunjukkan bahwa Paket IPA Terpadu dengan Tema Air memperoleh nilai rata-rata 3,65 dengan kriteria layak. Sedangkan Panduan Pelaksanaan Pembelajaran IPA Terpadu memperoleh nilai rata-rata 3,60 dengan kriteria layak. Paket IPA Terpadu dan Panduan Pelaksanaan IPA Terpadu dengan Tema Air layak untuk digunakan sebagai panduan dan sumber belajar bagi Siswa SMP Kelas VII Semester II khususnya di SMP Negeri 4 Kepanjen. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan melakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut terhadap Paket IPA Terpadu dengan Tema Air. Penelitian lebih lanjut adalah dengan melakukan kajian eksperimen dan uji coba yang lebih luas, sehingga diperoleh paket dan panduan pelaksanaan yang teruji validitas secara empiris. Selain itu, penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengetahui apakah pembelajaran menggunakan Paket IPA Terpadu dengan Tema Air efisiensi waktu atau tidak.

Menentukan resistivitas endapan pasir dari beberapa sungai di Malang dengan menggunakan metode geolistrik / Handryas Pigit

 

Seiring dengan bertambahnya penduduk maka kebutuhan akan pemukiman sebagai tempat tinggal juga akan semakin meningkat. Akibatnya terjadi peningkatan kebutuhan bahan bangunan/pasir yang digunakan untuk pembangunan pemukiman. Karena pasir merupakan sumber daya alam yang mempunyai daya dukung terbatas, maka dalam pemanfaatan dan pengolahannya perlu penanganan khusus. Oleh karena itu perlu ditingkatkan penelitian tentang keberadaan pasir. Salah satu metode geofisika yang dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan pasir adalah metode geolistrik tahanan jenis. Metode ini merupakan salah satu metode geofisika yang dapat memberikan gambaran mengenai susunan dan kedalaman lapisan batuan, yaitu dengan mengukur sifat kelistrikan batuan. Melalui simulasi akan dilakukan penelitian untuk menentukan nilai resistivitas endapan pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode geolistrik konfigurasi Wenner dengan teknik mapping-sounding. Untuk medium sebelum dimasukkan pasir, proses pengambilan datanya adalah menentukan titik-titik elektroda arus dan potensial. Kemudian, mengalirkan tegangan dan menginjeksikan arus beberapa kali dengan jarak dan lintasan tertentu. Setelah itu, memasukkan pasir sungai ke dalam medium tanah dan mengambil data seperti pada proses sebelumnya. Kemudian dilakukan variasi lagi dengan mengganti jenis pasir yang lain. Hal ini dilakukan karena jenis pasir yang dijadikan sampel berasal dari lima sungai yang berbeda di Malang, yaitu: sungai Brantas, sungai Metro, sungai Kasin, sungai Sari dan sungai Konto. Pendeteksian lapisan pasir sebenarnya direpresentasikan oleh perbedaan nilai resistivitas antar lapisan batuan melalui software Res2dinv. Melalui software ini nilai resistivitas pasir sungai dapat ditentukan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai resistivitas dari kelima sampel yaitu: sungai Brantas 525 Ω-m, sungai Konto 293 Ω-m, sungai Sari 455 Ω-m, sungai Metro 425 Ω-m, dan sungai Kasin 330 Ω-m. Perbedaan nilai ini karena resistivitas merupakan salah satu ciri suatu bahan yang menyebabkan nilai antar suatu bahan tidak sama. Sehingga melalui penelitian ini diharapkan nilai resistivitas dari pasir sungai tersebut dapat dijadikan acuan untuk mencari pasir dengan ciri-ciri fisik yang sama di daerah lain yang diduga menjadi tempat sumber pasir.

Penerapan maksim tutur dalam wacana B-Cak di JTV / Yuda Pratamawan Wijaya

 

ABSTRAK Pratamawan, W. Yuda. 2009. Penerapan Maksim Tutur dalam Wacana B-CAK di JTV. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. SASTRA. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Martutik, M.Pd. Kata kunci: Prinsip Kerja Sama, Wacana B-CAK, Penerapan Maksim Tutur. Dalam kenyataan sehari-hari, manusia yang normal tidak pernah terlepas dari kegiatan berkomunikasi, baik komunikasi secara internal maupun secara eksternal. Dalam proses berinteraksi tersebut ada beberapa prinsip yang harus dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Prinsip-prinsip tersebut adalah Prinsip Kerja Sama (PKS) Grice (1975). Grice (1975:45-46) mengatakan prinsip tersebut terdiri dari (1) prinsip kuantitas (quantity principle), (2) prinsip kualitas (quality principle), (3) prinsip hubungan (relation principle), dan (4) prinsip cara (manner principle). Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan (a) penerapan maksim kualitas, (b) penerapan maksim kuantitas, (c) penerapan maksim hubungan, dan (d) penerapan maksim cara yang ada dalam acara B-CAK di JTV. Hal itu karena dalam acara B-CAK di JTV masalah penerapan maksim tutur sangat menonjol. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah para peserta tutur dalam acara B-CAK di JTV. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data verbal yang mengandung PKS (kualitas, kuantitas, hubungan, dan cara) yang berupa percakapan lisan pembawa acara dengan mitra tuturnya yang ditranskrip sehingga membentuk teks tulis. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Analisis data dilakukan dalam tiga langkah, (1) reduksi data, (2) sajian data, dan (3) verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data, peserta tutur dalam acara B-CAK di JTV menerapkan dan menyimpangkan keempat maksim dari PKS. Penerapan PKS tanpa penyimpangan digunakan karena dalam acara B-CAK tersebut dibutuhkan informasi yang benar, informatif, jelas, dan tidak ambigu. Pertama, penerapan maksim kualitas ditandai oleh informasi yang benar dan memiliki bukti-bukti. Kedua, penerapan maksim kuantitas ditunjukkan dengan adanya informasi yang cukup dan tidak melebihi apa yang dibutuhkan oleh peserta tutur. Ketiga, penerapan maksim hubungan ditunjukkan dengan adanya kesesuaian topik yang dibicarakan antara penutur dan mitra tuturnya. Keempat, penerapan maksim cara ditunjukkan oleh peserta tutur dari kejelasan informasi yang diberikan, tidak kabur, runtut, dan singkat dalam bertutur. Penerapan PKS dengan penyimpangan yang terungkap dari hasil analisis data dalam acara B-CAK di JTV terdapat empat maksim yang menyimpang. Pertama, penyimpangan maksim kualitas yang ditandai dengan adanya informasi yang salah, bohong, dan tidak meyakinkan. Kedua, penyimpangan maksim kuantitas yang ditunjukkan dengan diberikannya informasi yang berlebihan oleh peserta tutur dan informasi yang bertele-tele. Ketiga, penyimpangan maksim hubungan yang ditunjukkan dengan tidak sesuainya informasi yang diberikan i antara topik dan isi tuturan. Keempat, penyimpangan maksim cara yang ditunjukkan dengan adanya informasi yang tidak jelas, kabur, ambigu, panjang lebar, dan tidak teratur. Berdasarkan penelitian ini, saran yang diajukan peneliti adalah (1) untuk peserta tutur dalam acara B-CAK di JTV diharapkan mampu memberikan informasi yang diharapkan oleh penontonnya dengan memperhatikan konteks percakapannya terutama dalam menerapkan keempat maksim dalam prinsip kerja sama, (2) untuk pembaca, khususnya mahasiswa. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan tentang prinsip kerja sama, dan (3) untuk peneliti lainnya, penelitian ini bisa digunakan untuk bandingan dalam penelitian sejenis.

The hidden roles of Eve and Mary Magdalene of the Bible / Christine Lianita Tumangkeng

 

ABSTRACT Tumangkeng, Christine Lianita. 2009. The Hidden Roles of Eve And Mary Magdalene of the Bible. S-1 Thesis, English Language and Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Kukuh Prayitno Subagyo, M.A. Key words: woman, roles, Bible This study aims at revealing the roles of women in the Bible, Eve and Mary Magdalene which have been hidden by the church. This study has two objectives; they are to reveal the repressed roles of Eve and to reveal the repressed roles of Mary Magdalene. The theory that is used in this study is feminism which focuses on Christian feminism. The findings of this study are: (1) as a helper, Eve has been provided with qualities and abilities that make her more perfect creature than Adam. This finding brings a new perspective to the role of Eve as a helper. A helper is not a servant; a helper should have the wide coverage of abilities in order to do her duty: helping man. This wide coverage of ability includes the ability a man possesses and not possesses. (2) as a financial supporter of Jesus’ ministry, Mary Magdalene is wrongly known as a prostitute. More than that, she is the leader among the women who followed Jesus. She is the witness of the process of Jesus’ agonies to the crucifixion, she was there when Jesus carried his cross to the mount of Golgotha, she was there when Jesus was buried in Joseph of Arimathea’s tomb, and most importantly, she was there when Jesus arose from his death. In all of these moments, she had shown bravery and toughness that no disciple of Jesus could do. Based on the findings of the study, two suggestions are presented. The first is that more study should be conducted on the same object since this study has not explored all the historical data and the studies on the roles of women in the Bible. The second is to all women who read this study; they are expected to realize that in order to be a helper, women has to enhance their intellectual and emotional quality and increase all their abilities.

Perancangan film animasi berjudul "Generasi Merah Putih" untuk menanamkan nilai nasion alisme pada siswa SD / Risky Bayu Septiawan

 

Kata kunci: Film Animasi, Nasionalisme, Siswa SD Pengaruh globalisasi dapat mempengaruhi nilai budaya Indonesia. Diperlukan filter dalam menyaring informasi pada era globalisasi untuk menangkal informasi negatif. Penanaman nilai-nilai nasionalisme terhadap generasi muda Indonesia merupakan salah satu tindakan untuk mencegah dampak negatif globalisasi. Nilai-nilai nasionalisme yang ditanamkan pada generasi muda antara lain nilai-nilai akhlak, moral, dan budi pekerti. Ketertarikan anak pada film animasi dapat menjadi celah dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Anak usia Sekolah Dasar tingkat atas dirasa cukup baik untuk menerima pelajaran nasionalisme. Manfaat yang diterima dari hasil penelitian perancangan ini yaitu memberi pengetahuan tentang nilai-nilai nasionalisme agar menjadi anak Indonesia yang terpuji. Model perancangan film animasi ini menggunakan model dari Issac Kerlow dengan alur praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Data diperoleh menggunakan metode kajian pustaka dan wawancara. Data tersebut dianalisis menggunakan analisis SWOT yang kemudian menjadi acuan dalam proses perancangan film animasi dan media promosi yang disebut dengan konsep perancangan. Hasil perancangan berupa film animasi 3D yang mengajarkan nilai-nilai nasionalisme pada anak SD. Tokoh dari film animasi ini memiliki latar belakang dari berbagai macam suku bangsa yang divisualisasikan dengan unik dan menarik. Alur cerita film animasi dikemas sederhana agar target audience dapat memahami pesan nilai nasionalisme yang disampaikan dalam cerita. Media pendukung untuk mengenalkan film animasi ini adalah poster, xbanner, dan merchandise.

Penerapan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Randuagung 03 Singosari pada materi bangun ruang / Eva Widiyana

 

ABSTRACT Widiyana, Eva. 2009. Improving 5th – Grade Students’ Geometrical Space Shape Understanding in Mathematics at SDN Randuagung 03 Singosari Through Learning Cycle Method. Thesis, The Mathematics Education Program Study of Mathematics and Science Faculty of Malang State University. Advisors: (I) Dra. Ety Tejo Dwi Cahyowati, M.Pd, (II)Aning Wida Yanti, S.Si, M.Pd. Key words : Learning Cycle, learning result As an educator, teacher has big enough responsibility toward teaching and learning process, and also the students’ understanding. Therefore, the teacher has to motivate their students to study actively. Related to these reasons the teacher has to choose the best teaching and learning method in order to reach the aim at the teaching and learning process. One of the best teaching and learning methods is Learning Cycle method. This study is aimed to describe the use of Learning Cycle model to increase mathematics learning result about geometric space shape. It can improve the students’ mathematics score, especially in geometrical space shape. The discussed geometric space shape in this study are the surface area, volume of cube and cuboid. The Learning Cycle method is implemented in the five phase, they are engagement, exploration, explanation, elaboration or extention, and evaluation. The research design was used in Classroom Action Research with qualitative approach. It was divided into cycles I and cycles II. The result level can be seen by observing the increase of score from cycle I to cycle II. The instrument which used to measure result study on the last cycle. The research result shows that Learning Cycle model can increase learning result. This fact is supported by the result of test given as the end of every classroom action. From the students’ average score of test from the cycle I to cycle II increase until 6,09 point. In the first cycle the students’ average score of test about 71,72, and the students’ average score of test in the second cycle was about 77,81. With this learning the student will be more challenging to understand about that lesson which is given and do the exercise. The students were also confident when they delivered their answer and opinion in discussion. It was caused the students felt happy and enjoy during the teaching and learning process. Moreover, there were also visual aids and group discussions made the activities inside were more attractive and fun than before.

Proses manajemen dan operasionalisasi program ekstrakurikuler otomotif di Madrasah Aliyah Negeri Tambakberas Jombang pada tahun 2008 / Akhmad Fauzi Fadllillah

 

ABSTRAK Fadllillah, A Fauzi. 2008. Proses Manajemen dan Operasionalisasi Ekstrakurikuler Otomotif di MAN Tambakberas Jombang. Skripsi Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing (I) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd, Dosen Pembimbing (II) Dr. Ali Imron M.Pd, M.Si. Kata kunci: Manajemen dan Operasionalisasi, Ekstrakurikuler Otomotif Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tambakberas Jombang sebagai sekolah yang memberikan pengetahuan umum dan wawasan beragama. Sekolah ini telah melaksanakan perannya dalam membekali peserta didik dengan berbagai keterampilan yang nantinya akan berguna dalam menunjang kehidupan peserta didik setelah lulus sekolah, yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler keterampilan otomotif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses manajemen; operasionalisasi (pelaksanaan kegiatan inti), faktor-faktor penghambat dan cara mengatasinya, faktor-faktor pendukung dan cara memanfaatkannya dalam kegiatan ekstrakurikuler otomotif di MAN Tambakberas Jombang. Penelitian ini dilakukan di MAN Tambakberas Jombang yang sebagai Madrasah Aliyah yang pertama kali memiliki ekstrakurikuler otomotif dan juga merupakan satu-satunya madrasah aliyah keterampilan yang terdapat di Kabupaten Jombang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis studi kasus eksploratori. Penelitian ini dilaksanakan secara langsung dilapangan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yakni observasi, wawancara serta teknik pengumpulan data dokumentasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertama, proses manajemen ekstrakurikuler otomotif tidak memiliki perencanaan secara khusus, pengelolaan kegiatan dibebankan kepada Wakil Kepala Madrasah Bidang Keterampilan Proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan ekstrakurikuler otomotif adalah dengan mempertimbangkan saran dari para pembina yang dikaji ulang bersama dan diputuskan Wakil Kepala Madrasah Bidang Keterampilan kemudian melaporkan kebijakan yang telah diambil kepada Kepala Madrasah Kegiatan pengawasan baru dilaksanakan untuk mengawasi pengguanaan dana operasional. Kedua, kelas ekstrakurikuler otomotif dibentuk melalui pengelompokan berdasar minat dan diadakan seleksi yang disebut sebagai penjaringan karena terbatasnya daya tampung kelas. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan Competency Base Training (CBT) dan dengan metode pembelajaran ceramah dan demonstrasi. Kegiatan magang dilaksanakan oleh siswa kelas dua dan waktu pelaksanaannya bertepatan dengan libur kenaikan kelas. Ketiga, faktor penghambat yang terdapat dalam pelaksanaan ekstrakurikuler otomotif adalah (1) dana yang tersedia untuk pelaksanaan ekstrakurikuler otomotif minim, (2) kurangnya jumlah personalia yang menangani ekstrakurikuler otomotif, (3) kegiatan ekstrakurikuler otomotif dilaksanakan pada sore hari, (4) perlu adanya pelatihan bagi pembina ekstrakurikuler. Keempat, faktor pendukung kegiatan ekstrakurikuler otomotif adalah, (1) sarana prasarana yang lengkap, (2) peminat terhadap ekstrakurikuler otomotif besar, (3) kekompakan antar personalia dalam ekstrakurikuler otomotif. Berdasarkan penelitian ini dapat hasilkan beberapa saran kepada kepala sekolah yakni, pengadaan pelatihan bagi personalia ekstrakurikuler otomotif perlu dilaksanakan baik, pengaktifan kembali unit usaha dapat meringankan beban pendanaan kegiatan, perlu diadakan evaluasi hasil, menambahkan jumlah personalia agar beban kerja berkurang. Hal ini dapat dilakukan dengan merekrut lulusan ekstrakurikuler otomotif yang belum mendapatkan pekerjaan, kegiatan pengawasan dalam proses belajar mengajar juga harus dilaksanakan selain untuk menjaga agar tujuan belajar tercapai juga untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam proses belajar mengajar selama ini sehingga dapat menentukan pendekatan, strategi dan metode yang lebih tepat.

Penerapan pakem untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 5B materi cahaya di SDN Bareng I Kota Malang / Sunarmi

 

Sunarmi. 2009. Penerapan Pakem untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5B Materi Cahaya di SDN Bareng I Kota Malang. Laporan Pemantapan Kemampuan Mengajar, Jurusan KSDP Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Toha Mashudi, M.Pd. Kata kunci: Penerapan Pakem, hasil belajar.     Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup pengetahuan sendiri. Sementara itu yang terjadi di kelas 5B SDN Bareng I kegiatan pembelajaran cenderung teacher centered. Kegiatan pembelajaran hanya dikuasai guru. Siswa hanya sebagai objek dan penerima informasi yang cenderung pasif, karena guru dalam menyampaikan materi cenderung berceramah. Jumlah siswa yang tuntas KKM juga rendah yaitu sebesar 42% atau 14 siswa dari 33 siswa.     Untuk mengatasi masalah tersebut penelitian dirancang menggunakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan. Penelitian dilaksanakan selama peneliti melaksanakan PKM di SDN Bareng I Kota Malang. Penelitian dibantu oleh guru mitra dan teman mahasiswa PKM mulai dari identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian juga dibimbing oleh dosen pembimbing PKM.     Penelitian ini bertujuan untuk melaksanakan penerapan Pakem, meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar IPA, dan meningkatkan hasil belajar siswa. Subyek pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas 5B SDN Bareng 1 Kota Malang pada Semester 2 Tahun Pelajaran 2008/2009, dengan jumlah subjek sebanyak 33 siswa yang terdiri dari 15 siswa wanita dan 18 siswa pria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pakem dapat dilaksanakan, mampu mengurangi ketergantungan siswa pada buku teks, kegiatan pembelajaran kontekstual. Pakem mampu meningkatkan keaktifan siswa belajar IPA. Rerata skor hasil observasi keaktifan siswa pada siklus I sebesar 3,7 sedangkan pada siklus II sebesar 4,4 yang berarti ada kenaikan 0,7. Pakem dapat meningkatkan hasil belajar. Nilai hasil belajar siklus I sebesar 82 sedangkan pada siklus II sebesar 86 berarti ada kenaikan sebesar 4.     Kesimpulan penelitian ini bahwa penerapan Pakem dapat dilaksanakan, penerapan Pakem dapat meningkatkan keaktifan siswa belajar IPA, dan dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 5B materi cahaya SDN Bareng I Kota Malang. Berdasarkan penelitian ini, disarankan ada diskusi dan kolaborasi/kerjasama yang baik antar guru IPA dalam satu sekolah dalam menyusun pembelajaran dengan menerapkan Pakem dengan metode percobaan. Bagi sekolah-sekolah yang ingin mengatasi masalah ketergantungan guru pada buku teks, mengubah pembelajaran dari teacher centred ke student centered

Pengembangan modul pembelajaran kimia pokok bahasan larutan asam basa berorientasi konstruktivistik berdasarkan draft kurikulum berbasis kompetensi 2002 oleh Siti Muthomimah

 

Perubahank urikulum merupakans alahs atuc ara untuk meningkatkanm utu pendidikanP. erubahantg rsebutd iperlukanu ntuk menyesuaikank urikulum dengan perkembangailnm u pengetahpn_du"te knologi,p erkembangante ori belajarm e-ngajar danp aradigmap engajaranD. i Indonesiap ada-tahun2 004 aiandilaksanalan !11!ut9m baru,y aitu kurikulumb erbasiJk ompetens(iK BK) satatrs atut aratteristik KBK adalahp embelajarand ilakukan dengan- "nggu.rukun modul. seiautrl ni perangkaKt BK sepertim odul untuk pengajaranp okok bahasana sam-Lasab elum tersediao. leh sebabi tu pirdap enelitiani ni dikembangkanm odul kimia pokok bahasalna rutana sam-basab erorientaski onstruktivisti-ky ang dapat diimplementasikadni SMU kelasI I. Modul ini dikembangkamn elaluil angkah-langkashe bagabi erikut: (1)M engkajki urikulumb erbasisk ompetensi(,2 ) Mengkajip enldekatan konstruktivitik(,3 ) Memilihanm ateri/pokokb ahasan1, +)M engkajik ompetensdi ari pokokbahasan(5, ) Membuatr encanap embelajaran(,6 ) Mengembangkanm odul pembelajaran(7, ) Melakukanv alidasi modul pembelajarank epadag ;ru mata fl?jfl* kimia yaitu padag uru sMU pelaksanaK BKdan dosenk iiria pembinam ata kuliahp embelajaranki mia, (8) Merevisi modul pembelajaranu ntuk mengetahui hasilm odulp engembangadni lakukanv alidasi kepada4 guru kimia sMU yang yenq\uliriloting prtiect dans MU yang melaksanakanK BK atau semiK BK, yaitu sMqN J Malang SMUN 2 Malang SMLIN 3 Malang dan sMU Laboratorium uM, serta2 dosenk imia yangk ompeten. lvlodul hasil pengembangatne rdiri dari enamk egiatanb elajard an rangkuman dari setiapk egiatanb elajar.T iap kegiatanb elajart erdapatk egratan-kegiatasne suai denganta hapd alaml earning cycte5 E danpendekatanp embelajarank -onstruktivistik. Hasil penilaian para validator dapat disimpulkan bahwa modul pengembangan muniliki.kiteria baik,j elas,layak,v alid, denganr ata-ratapresentapiee nilaian mencapaui, 43%. uji cobad anp enelitianle bih lanjutp eriud ilakukant erhadap modulhasilp engembangainn i, sepertit entangt eerenifan penggunaanm odul dalam pembelajaran.

Analisis prospek usaha waralaba bubur kayungsun Malang oleh Ika Maya Susanti

 

Hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri pada masa pensiun di Perumahan Papan Bestari Pasuruan / Yuslinar Septanti

 

Septanti, Yuslinar. 2009. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Pada Masa Pensiun di Perumahan Papan Bestari Pasuruan. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Endang Prastuti, M.Si (2) Ika Andrini Farida S.Psi, M.Psi. Kata kunci : dukungan sosial, penyesuaian diri pada masa pensiun

Pengembangan motorik halus anak hiperaktif melalui bermain konstruktif (studi kasus di PAUD Lestari Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang) / Silvia Dian Ani Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Silvia Dian Ani. 2009. Pengembangan Motorik Halus Anak Hiperaktif melalui Bermain Konstruktif (Studi Kasus di PAUD Lestari Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah. FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. S. Mundzir, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd Kata kunci : Pengembangkan Motorik Halus, Anak Hiperaktif, Bermain Konstruktif Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku anak hiperaktif dalam bermain konstruktif, pengembangan motorik halus pada anak hiperaktif dan bermain konstruktif untuk mengembangkan motorik halus pada anak hiperaktif. Lokasi penelitian yang dipilih adalah PAUD Lestari Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan Kualitatif dengan rancangan penelitian Deskriptif. Metode yang dipakai peneliti adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2009. Hasil penelitian menunjukkan perilaku anak hiperaktif dalam bermain konstruktif, diketahui bahwa terdapat 1 (satu) anak hiperaktif di PAUD Lestari, yaitu bernama Iqbal. Jenis permainan konstruktif yang digunakan, yaitu 1) bermain play dough, membuat Iqbal terlatih konsentrasinya, namun masih belum sabar menunggu giliran dan bersikap destruktif. Dia bisa duduk tenang serta mampu membuat bentuk yang variatif; 2) ketika meronce, Iqbal masih belum sabar menunggu giliran dan terkadang mengganggu temannya tanpa alasan yang jelas. Konsentrasinya mudah terganggu serta terkadang menunjukkan sikap menentang, akan tetapi dia tidak menunjukkan sikap destruktif; 3) tingkat perhatian Iqbal saat bermain puzzle tidak lama, dia belum sabar menunggu giliran dan seringkali bersikap destruktif dan menunjukkan sikap menentang. Perilaku Iqbal dipengaruhi karena kurangnya pengawasan dari orang tua dalam setiap kegiatan bermainnya. Iqbal dapat dengan mudah menerima informasi apabila dilakukan menggunakan sarana-sarana edukatif. Pengembangan motorik halus pada anak hiperaktif, sebelum anak-anak menggunakan pensil, guru di PAUD Lestari memberikan rangsangan belajar melalui aktivitas bermain, yakni: 1) ketika bermain bermain play dough jari-jemarinya mulai terampil untuk membuat aneka bentuk yang lebih bervariatif dan unik, Iqbal juga tidak membutuhkan motivasi dari guru; 2) motivasi Iqbal untuk meronce sangat bervariatif tergantung pada perasaannya pada saat itu. Pada saat Iqbal mencoba memasukkan potongan sedotan ke dalam tali, koordinasi tangan dan matanya akan terlatih. Perkembangan hasil karya Iqbal ketika meronce pola untaian sudah mulai beraturan; 3) bermain puzzle dapat melatih koordinasi tangan dan mata serta pikirannya dalam menyusun kepingan puzzle dengan cara mencocokkan potongan gambar membentuk gambar yang utuh. Dia sudah mampu menyusunnya sendiri bagian tepi potongan puzzle tersebut, dan mulai mau bekerja sama dengan temannya. Namun, dia masih membutuhkan motivasi untuk menyusun puzzle menjadi sebuah gambar; 4) perkembangan Iqbal dalam kegiatan mewarnai sudah lebih cemat dan detail terhadap setiap pola gambar yang berbeda, serta dia mulai pelan-pelan saat mewarnai sehingga tidak keluar garis. Sedangkan, motivasi Iqbal saat mewarnai terkadang masih membutuhkan penanganan khusus; 5) perkembangan hasil tulisan Iqbal sudah mulai jelas bentuk huruf dan angkanya serta caranya memegang pensil juga tidak dengan menggenggam. Namun, Iqbal masih membutuhkan motivasi, perhatian dan pengarahan dari guru. Bermain konstruktif untuk mengembangkan motorik halus pada anak hiperaktif: 1) play dough, merupakan kegiatan bermain yang dapat melatih Iqbal dalam membedakan permukaan serta membantu mengembangkan otot-otot kecil pada tangan dan pergelangan; 2) meronce dapat membantu kestabilan motorik halus Iqbal ketika akan memasukkan potong-potongan sedotan ke dalam tali. Kestabilan dalam memegang tali dan sedotan dapat digunakan untuk melatih keterampilan motorik halus; 3) bermain puzzle memerlukan penggunaan keterampilan motorik halus, yaitu ketika Iqbal memegang dan mencocokkan kepingan puzzle ke tempatnya untuk menjadi sebuah gambar dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Mengembangkan motorik halus memerlukan latihan, bermain konstruktif dapat yang digunakan sebagai stimulus untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: 1) bisa memberikan tambahan informasi dan keilmuan dibidang PAUD serta dapat dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perkembangan anak, khususnya anak usia dini; 2) guru perlu memahami karakteristik dan mengadakan pemeriksaan lebih lanjut apabila ada anak didik yang memiliki perilaku berbeda jika dibandingkan dengan anak didik lainnya; 3) sebelum guru memberikan aktivitas menulis, sebaiknya anak didik mendapatkan latihan-latihan untuk mengembangkan jari-jemarinya dan menggunakan bahan main yang berbeda-beda; 4) bermain adalah metode yang paling tepat untuk anak prasekolah dalam mengembangkan semua aspek kecerdasannya sedini mungkin.

Improving the writing ability of the 11th grade students of MA Hasyim Asy'ari Kembangbahu Lamongan through the implementation of the scaffolding strategy / Uzlifatul Masruroh Isnawati

 

ABSTRAK Uzlifatul Masruroh Isnawati, 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Siswa Kelas 11 MA Hasyim Asy’ari Kembangbahu Lamongan melalui Penerapan Strategi Scaffolding. Tesis. Program Pascasarjana pada Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Yazid Basthomi, M.A, (2). Facrurrazy, M.A. Ph. D Kata kunci: strategi scaffolding, kemampuan menulis Menyadari rendahnya kemampuan siswa kelas sebelas MA Hasyim Asy’ari dalam menulis karangan Bahasa Inggris, maka studi tentang peningkatan kemampuan sisws dalam menulis perlu dilaksanakan. Penyebab rendahnya kemampuan menulis ini adalah pelaksanaan pengajaran menulis itu sendiri menggunakan pendekatan yang berpusat pada hasil. Guru kelas hanya menunggu hasil kerja siswa tanpa membimbing mereka dalam proses menyelesaikan tugas menulis tersebut. Berdasarkan alasan ini, kemudian strategi scaffolding diterapkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Sehingga, rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa kelas 11 MA Hasyim AS’ari Kembangbahu Lamongan dalam menulis dapat ditingkatkan dengan menggunakan strategi scaffolding?” Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan strategi scaffolding dalam proses menulis sehingga kemampuan siswa dalam menulis bisa meningkat. Menurut Vernon (2000), penggunaan strategi scaffolding dalam menulis dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karena strategi ini memberi kebebasan kepeda guru untuk mengatur kegiatan menulis secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan dari semua siswa. Penelitian ini adalah penelitian dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Pendekatan kolaborasi tindakan kelas dilaksanakan dimana peneliti secara bersama-sama dengan guru kelas melaksanakan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, mengamati tindakan, dan melakukan refleksi tindakan. Penelitian ini telah berhasil mengimplementasikan strategi scaffolding. Strategi scaffolding diberikan diberikan dalam seluruh proses menulis yaitu pada tahap pra menulis, tahap pembuatan draft, tahap perbaikan, tahap pengeditan, dan tahap pemublikasian. Strategi scaffolding yang dilakukan dalam tahap pra menulis berupa tanya jawab, word webbing, gambar, pemberian daftar kosa kata dan permodelan, Strategi scaffolding dalam tahap pembuatan draft adalah permodelan dan pembahasan model text. Strategi scaffolding dalam tahap perbaikan adalah diskusi dengan siswa tentang draft mereka. Strategi scaffolding dalam tahap pengeditan adalah pengeditan teman sekelas. Strategi scaffolding dalam tahap pemublikasian adalah membacakan draft akhir di depan kelas dan memajangnya di majalah dinding kelas yang selanjutnya hasil karangan mereka akan dikomentari oleh teman satu kelas. Langkah-langkah dari strategi scaffolding dalam proses menulis ini adalah sebagai berikut: a) guru dan siswa melakukan kegiatan tanya jawab tentang topik, b) guru mengatur semua ide siswa dalam word webbing, c) guru memberi contoh atau model tentang pembuatan outline, d) siswa menulis outline mereka, d) guru menunjukkan model draft awal sebagai pengembangan dari outline, f) guru dan siswa mendiskusikan model dari teks tersebut, g) siswa menulis draft awal, h) guru berdiskusi dengan siswa tentang isi draft mereka i) siswa merevisi draft mereka, j) siswa menukar revisi draft mereka dengan draft temannya, k) guru menjelaskan cara mengoreksi atau mengedit draft, l) siswa menulis draft akhir mereka, dan m) siswa mempublikasikan hasil kerja mereka dengan membacanya di depan kelas di depan teman-teman mereka dan memajangnya di majalah dinding kelas dan n) siswa memberi komentar/apresiasi atas hasil tulisan teman mereka. . Terdapat tiga keunggulan dengan menggunakan strategi scaffolding dalam proses menulis. Pertama, siswa aktif dan termotivasi ketika strategi scaffolding ini diterapkan. Kedua, siswa mampu menyelesaikan dengan baik tugas-tugas menulis tertentu sebagaimana tujuan pengajaran di tiap tahap dari proses menulis. Ketiga, hasil dari tugas akhir siswa meningkat dimana 87 % siswa mencapai kriteria skor minimal adalah tujuh (7). Akhirnya, beberapa rekomendasi ditawarkan baik untuk guru bahasa Inggris maupun peneliti yang akan datang. Untuk Guru Bahasa Inggris diharapkan menerapkan strategi scaffolding dalam mengajar menulis. Dan bagi peneliti yang akan datang agar mengadakan penelitian pada keahlian Bahasa Inggris yang lain, yaitu pada keahlian membaca, menyimak, dan berbicara dengan menggunakan strategi scaffolding.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |