Peningkatan pemahaman konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran kooperatif di kelas V SDN Tembarak I Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk / Dwi Rianti

 

ABSTRAK Rianti, Dwi, 2008, Peningkatan Pemahaman Konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran kooperatif di kelas V SDN Tembarak I Kecamatan Kertosono Kab. Nganjuk, Skripsi, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Dr. H.M. Zainuddin M.Pd, (II) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si. Kata kunci : Konsep faktorisasi prima, pembelajaran kooperatif Pembelajaran matematika di SD masih banyak diberikan pada siswa dengan mengerjakan soal-soal KPK dan FPB dengan menggunakan pohon faktor belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Selain itu masih banyak siswa dalam mengalikan bilangan pangkat terdapat kesalahan. Kondisi siswa yang demikian ini, perlu di ubah dengan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika khususnya kompetensi dasar pemahaman konsep faktorisasi prima untuk menyelesaikan soal KPK dan FPB. Selain dengan diberikan pembelajaran yang tepat. Salah satu pembelajaran tersebut adalah pembelajaran kooperatif. Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mendeskripsikan pemahaman konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran kooperatif. 2) Untuk mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran kooperatif. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan rancangan 3 siklus. Pada siklus pertama menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Think-pair-share. Siklus kedua menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Think-pair-square. Siklus ketiga menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Expert Group. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN Tembarak I Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Semester I tahun pelajaran 2008/2009. Instrumen pengumpulan data Lembar observasi, Wawancara, Catatan lapangan, Lembar tugas atau soal dan Dokumentasi dan penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif,yang meliputi: aktivitas siswa, Hasil Belajar Siswa, Nilai prestasi belajar, Tanggapan Kolaborator terhadap Guru. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa semula siswa belum begitu paham mengenai konsep faktorisasi prima mealui pembelajaran kooperatif tipe Think-pair-share. Siswa mulai paham dan dapat mengerjakan soal KPK dan FPB dengan benar, tetapi masih terdapat kesalahan sehingga perlu diadakan tindak lanjut siklus berikutnya. Siklus II peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Think-pair-square. Dan pada pembelajaran siklus II ini siswa sudah banyak yang dapat memahami konsep faktorisasi prima dan dapat menjawab pertayaan dengan benar, tetapi belum 100% benar, sehingga perlu adanya tindak lanjut siklus berikutnya. Siklus III peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Expert Group. Hasil dari penelitian siklus III siswa sudah paham semua mengenai konsep faktorisasi prima sehingga diperoleh hasil belajar yang memuaskan sehingga pembelajaran berhenti pada siklus III. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran kooperatif dapat diterapkan dengan baik. Disarankan kepada guru agar menggunakan pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran mengatasi permasalahan yang terjadi di SD.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI tahun 2003-2007 / Ati Retna Sari

 

ABSTRAK Sari, Ati Retna, Ekonomi Akuntansi, Keuangan Perbankan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Judul Skripsi Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham (Studi Kasus pada Perusahaan Perbankan yang Listing di BEI tahun 2003-2006), Dosen Pembimbing : Eka Ananta Sidharta, SE, M.M, Ak. Kata kunci: kinerja keuangan,harga saham Sebelum berinvestasi, Investor perlu menganalisis laporan keuangan perusahaan yang akan dipilih untuk mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan. Analisis laporan keuangan yang dilakukan Investor yaitu dengan cara menghitung rasio-rasio keuangan suatu perusahaan. Rasio-rasio keuangan yang umumnya digunakan terdiri atas rasio neraca dan rasio laba rugi/neraca. Rasio neraca yang sering digunakan adalah rasio utang terhadap ekuitas ( Debt To Equity Ratio ). Sedangkan salah satu rasio laba rugi/neraca yang digunakan adalah Return On Equity. Investor cenderung menyukai Return On Equity yang tinggi, dan juga Debt To Equity Ratio yang rendah. Perusahaan yang memiliki Return On Equity yang tinggi, dan juga Debt To Equity Ratio yang rendah, maka kinerja keuangan perusahaan tersebut baik, dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan harga saham. Penelitian ini, menggunakan perusahaan perbankan sebagai obyek penelitian. Salah satu dasar pertimbangan investor dalam membeli saham perbankan adalah dengan menilai kinerja keuangan dari suatu bank (perusahaan) yang bersangkutan. Kinerja keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa rasio-rasio keuangan yang terdiri dari ROE, DER. Sedangkan permasalahan yang dirumuskan adalah apakah kinerja keuangan perusahaan perbankan yang terdiri dari DER, ROE memiliki pengaruh secara simultan terhadap harga saham perbankan yang listing di BEI dan rasio manakah yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap harga saham perbankan tersebut. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh kinerja keuangan perusahaan perbankan yang terdiri dari DER, ROE secara simultan terhadap harga saham perbankan yang listing di BEI. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh saham perusahaan bank yang go public di BEI sampai tahun 2007. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Dalam penelitian ini pertimbangan yang dipakai dalam pengambilan sampel adalah bahwa hanya saham-saham dari perusahaan bank yang telah listing dari tahun 2003-2007. Setelah diteliti ternyata hanya 19 perusahaan bank yang masih tetap listing dari tahun 2003-2007. Teknik yang dipergunakan dalam mengumpulkan data penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik penggabungan data (polling the data) antara cross section dengan time series. Hasil analisis dari model regresi linier berganda ini menunjukkan bahwa variabel bebas yang terdiri dari DER, ROE secara simultan memiliki pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat, yang ditunjukkan dengan nilai F sebesar 3,425 dengan tingkat signifikan 0,037 yang lebih kecil dari 0,05.

Improving reading comprehension of eleven graders of MAN 3 Malang through SQ3R strategy / Yuni Rahmah Indahyati

 

ABSTRACT Indahyanti, Yuni Rahmah. 2008. Improving Reading Comprehension of Eleven Graders of MAN 3 Malang through SQ3R Strategy. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dra. Sri Andreani, M.Ed. Keywords: reading comprehension, SQ3R strategy, improvement. This study was conducted on the basis of the preliminary study in MAN 3 Malang in which the researcher found that 54.3% of the eleven graders of IPA II had lack ability in understanding the text. Their reading comprehension scores and the class mean in the pre-test were below the passing grade of 7 which was 6.03. As an attempt to overcome the students’ difficulty in reading comprehension, the researcher implemented SQ3R strategy (survey, question, read, review, and recite). This study took the design of class action research because it aimed at improving the existing condition. In carrying out this study, the researcher acted as the teacher and the English teacher of MAN 3 Malang acted as the observer. The study was carried out in two cycles containing of four steps i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects of the study were 35 eleven graders of IPA II of MAN 3 Malang in the academic year 2007/2008. The data were collected through two research instruments: observation sheet and reading comprehension tests. All the data were analyzed, and the result of the analysis was compared to the criteria of success defined in this study to see whether or not they were achieved. The findings showed that the SQ3R strategy could improve the students’ achievement in reading comprehension. First, the numbers of the students who obtained the score of higher than or equal to 7 has increased from 32 students (91.4 %) in cycle 1 to 34 students (97%) in cycle 2. Second, the mean of the students’ scores in reading comprehension also improved from 6.03 in the pretest to 7.9 in cycle 1 and 8.3 in cycle 2. Third, the number of the students who made improvement of at least 0.5 point in their reading comprehension increased from 24 students (68.6%) in cycle 1 to 26 students (74.3%) in cycle 2. It was also found that having an observer during the teaching and learning process of reading comprehension using SQ3R strategy was very beneficial and helpful since the researcher has to focus on implementing the strategy. Another is that the implementation of SQ3R strategy in teaching and learning of reading comprehension needed more time and energy since it has many steps to do. Based on the findings above, some suggestions can be proposed for English teachers and other researchers. For the English teachers, it is suggested that they implement SQ3R strategy to improve the students’ reading comprehension achievement. They should make a good preparation before implementing SQ3R strategy. They are also suggested to keep giving help and guidance during the implementation of SQ3R strategy, and give a clear instruction to the students in every step of SQ3R to avoid misunderstanding on the instruction given. For the next researchers, it is suggested that they conduct the similar study in different levels with different types of text in a similar problem to see whether SQ3R strategy also applicable and effective to improve the students’ reading comprehension achievement.

Perancangan media komunikasi visual sebagai upaya penganalan Sanggar Alang-alang di Surabaya / Mochammad Wahyu Syamsudin

 

ABSTRAK Syamsudin, Wahyu, Moch. 2008. Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Upaya Pengenalan Sanggar Alang-Alang di Surabaya. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Mallang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M. Sn (II) Pranti Sayekti, S.Sn., M.Si. Kata kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, Pengenalan. Sanggar Alang-Alang didirikan oleh tokoh seniman Surabaya bernama Didit H.P. Lembaga ini merupakan wadah sosial yang memberikan pendidikan nonformall untuk anak jalanan berusia sekolah di Surabaya. Melalui metode belajar, berkarya, dan berdo a yang dikemas menarik, lembaga ini mampu mendidik anak jalanan menjadi anak yang beretika/sopan, mengenal norma agama dan berprestasi dalam bidang seni musik dan ketrampilan hingga tingkat Nasional. Seiring dengan perkembangan tersebut, saat ini Sanggar Alang-Alang menjadi tumpuan belajar bagi 168 anak jalanan untuk menggali ilmu gratis, dan untuk memperoleh beasiswa sekolah secara formall. Namun demikian, Sanggar Alang- Alang membutuhkan peran aktif masyarakat untuk turut peduli terhadap fenomena anak jalanan dan ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada mulanya Sanggar Alang-Alang berusaha merubah paradigma masyarakat akan identitas anak jalanan menjadi anak negeri. Hal ini bertujuan untuk menghapus citra negatif dan kesenjangan status sosial yang melekat pada identitas anak jalanan. Kemudian mengajak masyarakat Surabaya untuk berkontribusi membantu proses pendidikan anak negeri di Sanggar Alang-Alang. Kewajiban sosial ini tidak hanya terbeban pada pemerintah atau LSM saja, tetapi butuh kerjasama dan kepedulian sosial bersama. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah perancangan yang mampu membangun minat sosial dan kepedulian bersama terhadap fenomena anak negeri di kota Surabaya. Tujuan dari perancangan ini adalah menciptakan media komunikasi visual yang mampu mengajak untuk turut serta dalam penanganan pendidikan anak negeri dan memberikan informasi tentang keberadaan Sanggar Alang-Alang sebagai media kontribusi yang fokus akan pendidikan anak negeri. Model perancangan ini menggunakan model perancangan deskriptif, diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data dari klien, kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi. Perancangan dilakukan dengan meredesign logo, print adv Ambient media yang memanfaatkan etalase mall, taman kota, dan lahan parkir mall serta beberapa alternatif media komunikasi visual, antara lain: redesain website, stasionerry set, kartu nama, poster,dan stiker. Berdasarkan hasil penulisan ini, disarankan agar dalam perancangan media alternatif selanjutnya tetap mengacu pada konsep corporate identity yang telah ada, hal ini dimaksudkan untuk menjaga proses branding lembaga tetap berlangsung kontinyu dan konsisten.

The use of instructional media in the teaching of English in three different programs at SMP Negeri 1 Malang / Uswatun Hasanah

 

ABSTRACT Hasanah, Uswatun. 2008. “The Use of Instructional Media in the Teaching of English in Three Different Programs at SMP Negeri 1 Malang” Thesis, Study program of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dra. Sri Widayati, M. Ed. Key words: instructional media, teaching English, regular, acceleration, and SBI programs This study is aimed at describing the use of instructional media in the teaching of English in three different programs (regular, acceleration, and SBI).in SMPN 1 Malang. This study investigates whether the use of instructional media in those three different programs are different or similar. It was expected that the description of this study was beneficial as feedback for the school, the English teachers, and other researchers. This study was descriptive qualitative research. The subjects of this study are the students and the teachers of regular, acceleration, and SBI programs of SMPN 1 Malang 2008/2009 academic year. The data were obtained from the teacher and the students. The instruments used were observations, interview, and questionnaires. Based on the findings, the use of instructional media in the teaching of English in the three different programs can be presented as follows. First, the kinds of instructional media used to teach English in regular and acceleration program varied, from printed materials to electronic media, while those used in SBI program were mostly electronic. Second, the media were used in many kinds of classroom activities. Third, the media used were able to make the students active in the teaching learning process. Fourth, the problem of the teachers of the three programs in using instructional media was similar, which was in the preparation. Finally, all students of the three programs had positive responses toward the use of instructional media. Based on the research findings, some suggestions were proposed. First, for the school management, it is expected that they trained the teacher to use the media available in school as soon as possible, especially new electronic media, so that they can use the media effectively and efficiently in the teaching learning process. For the English teacher of the three programs, they should have good preparation in the use of instructional media so that the instruction can be accomplished well. For the English teacher who teaches in acceleration and SBI programs, it is suggested that the teacher use different approaches to teach the students of acceleration and SBI program since the two programs are different in terms of time of the study, curriculum, and the students’ intelligences (IQ). For other researchers, it is recommended that they conduct other studies to investigate other aspects of instructional media in the teaching of English.

Perancangan company profile Yayasan Kaliandra Sejati sebagai media promosi / Dimas Rifqi Novica

 

ABSTRAK Novica, Dimas, Rifqi. 2008. Perancangan Company Profile Yayasan kaliandra Sejati Sebagai Media Promosi. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn. (II) Andy Pramono, S.Kom, M.T. Kata Kunci: Perancangan, Company Profile, Media Promosi. Seiring dengan meledaknya jumlah penduduk muncul tiga masalah pokok bumi, yaitu perusakan hutan, bertambahnya gas berbahaya di atmosfer dan pencemaran lingkungan. Berkaitan dengan masalah tersebut perlu dilakukan sebuah tindakan pelestarian alam, agar alam tidak semakin rusak dan mengancam ekosistem yang berada didalamnya. Yayasan kaliandra Sejati adalah salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Kaliandra memiliki dua program, yaitu: program profit dan program non profit. Untuk menjalankan program non profit dibutuhkan dana yang didapat dari program profit. Maka dari itu pendapatan profit Kaliandra harus ditambah, dengan cara menambah pengunjung. Untuk menambah pengunjung dibutuhkan sebuah media promosi. Dalam hal ini Kaliandra menginginkan company profile. Tujuan dari perancangan ini adalah menciptakan company profile yang menarik serta efektif sebagai alat untuk mempromosikan Yayasan Kaliandra Sejati. Diharapkan dengan adanya media promosi tersebut pengunjung Kaliandra dapat bertambah. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, perumusan masalah dan pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari data perusahaan dan data pemasaran, dengan cara observasi, dokumentasi, wawancara, dan penyebaran kuisioner. Data yang didapat kemudian di analisis dan akhirnya menjadi konsep dari perancangan. Perancangan Media terdiri dari media utama yaitu CD interaktif & buku company profile dan media komunikasi visual alternatif lainnya yang digunakan sebagai media pendukung. Media pendukungnya terdiri dari: iklan surat kabar, poster, sign board, kaos, pin, sticker, POP, stand banner, amplop, kertas surat dan brosur. Beberapa saran yang dapat diberikan pada Yayasan Kaliandra Sejati adalah diahrapkan dapat meneruskan kegiatan promosinya agar dapat mencapai visi dan misi yang dimiliki.

Penaksiran nilai aset MTs Maarif NU Gandusari Blitar / Isna Nuzila Hidayati

 

Sekolah sebagai lembaga formal didirikan oleh pihak pemerintah maupun swasta/yayasan. Sekolah swasta menggantungkan sebagian besar harapan untuk kelangsungan penyelenggaraan pendidikannya pada masyarakat yang bertindak sebagai stakeholders. Untuk menarik minat masyarakat terhadap sekolah, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah mutu/kualitas sekolah. Untuk itu, yayasan/sekolah swasta harus mampu menyediakan dana guna meningkatkan mutu tersebut dengan cara bekerjasama dengan pihak investor, salah satu diantaranya adalah lembaga keuangan/bank. Tentunya pihak bank tidak akan berinvestasi begitu saja kepada pihak yayasan/sekolah, pihak sekolah harus mampu memberikan jaminan/agunan yang dapat berupa aset yang dimiliki sekolah. Selain mutu sekolah, perhitungan kekayaan sekolah swasta juga diperlukan para investor untuk menentukan seberapa besar investasi yang akan ditanamkan kepada sekolah. Selanjutnya, sesuai dengan UU Yayasan Nomor 28 Tahun 2004, kekayaan yayasan/sekolah swasta harus diketahui sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas yayasan terhadap mpihak yang berkepentingan dengan yayasan/sekolah swasta. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mengidentifikasi dan mengkategorisasi jenis-jenis asset yang dimiliki oleh MTs Maarif NU Gandusari Blitar sampai dengan Tahun Buku 2007; (2) mengetahui nilai asset yang dimiliki oleh MTs Maarif NU Gandusari Blitar sampai dengan Tahun Buku 2007. untuk mencapai maksud tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode dokumentasi berupa laporan data barang inventaris dan laporan keuangan, metode observasi, dan metode wawancara. Objek penelitian adalah MTs maarif NU Gandusari Blitar. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mendata semua aktiva yang dimiliki sekolah, menghitung nilai perolehan kemudian dikurangi nilai penyusutan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kategorisasi aset yang dimiliki MTs Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Gandusari Blitar sampai dengan Tahun Buku 2007 berupa Aktiva Lancar, Aktiva Tetap, dan Aktiva Tak Berwujud. Dari hasil penelitian ini diketahui, bahwa taksiran nilai aset MTs Maarif NU Gandusari Blitar sampai dengan Tahun Buku 2007 untuk Aktiva Lancar adalah sejumlah Rp 5.962.574,00, taksiran nilai aktiva tetap adalah sebesar Rp 775.240.540,00, dan taksiran nilai untuk aktiva tak berwujud yang dimiliki oleh sekolah senilai Rp 120.106.800,00. Dengan demikian, taksiran nilai kekayaan/aset yang dimiliki oleh MTs Maarif NU Gandusari Blitar sampai dengan Tahun Buku 2007 adalah senilai Rp 901.309.914,00. Implikasi hasil penelitian ini untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas manajemen sarana dan prasarana (aset) sekolah, sebaiknya sekolah melakukan penyeimbangan nilai asset sekolah dalam bentuk penghapusan karena jumlah asset yang dimiliki akan mengalami penyusutan secara terus-menerus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diharapkan peneliti lain lebih mengembangkan lagi teori yang telah diadopsi oleh peneliti. Apabila dalam penelitian ini, peneliti menghitung nilai Sumber Daya Manusia (SDM) dari asumsi yang dikembangkan oleh peneliti karena pada saat ini para akuntan belum menemukan rumus yang tepat untuk menghitung SDM sebagai aset, maka peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengadopsi teori tentang akuntansi SDM yang sekarang sedang dikembangkan oleh para akuntan dunia.

Meningkatkan prestasi belajar perkalian bilangan bulat dua angka dengan pendekatan pembelajaran kooperatif model Sad pada siswa kelas III SD Negeri Dayu 02 Kabupaten Blitar / Sukiran

 

Pengaruh Bid-Ask spread dan trading volume activity (TVA) terhadap abnormal return pada perusahaan industri property and real estate yang go public di bursa efek Indonesia periode Januari - Desember 2007 / Isti Ainur

 

ABSTRAK Ainur Riza, Isti. 2008. Pengaruh Bid-Ask Spread dan Trading Volume Activity (TVA) Terhadap Abnormal Return Pada Perusahaan Industri Property and Real Estate yang Go Public di Bursa Efek Indonesia Periode Januari- Desember 2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. H. Agung Winarno M.M, (II) Fadia Zen SE, M.M. Kata kunci: Bid-Ask Spread, Trading Volume Activity, Abnormal Return Dalam transaksi pasar modal terjadi tawar menawar antara pihak yang melakukan pembelian dan penjualan saham yang dikenal dengan istilah bid-ask spread. Harga bid adalah harga dimana dealer bersedia untuk membeli suatu sekuritas. Harga ask adalah harga dimana dealer bersedia untuk menjual suatu sekuritas. Selisih antara bid dan ask disebut spread. Indikator penting dalam mempelajari tingkah laku pasar bagi investor adalah dengan melihat perkembangan harga saham dan volume perdagangan di pasar modal. Aktivitas volume perdagangan (Trading Volume Activity) merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga sekuritas. Pada pasar yang efisien harga sekuritas akan mencerminkan semua informasi yang ada sehingga para investor tidak dapat memperoleh abnormal return. Abnormal return adalah selisih antara actual return dengan expected return. Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui pengaruh bid-ask spread terhadap abnormal return pada perusahaan Property and Real Estate yang go public di Bursa Efek Indonesia. 2) untuk mengetahui pengaruh Trading Volume Activity (TVA) terhadap abnormal return pada perusahaan Property and Real Estate yang go public di Bursa Efek Indonesia dan 3) untuk mengetahui pengaruh secara simultan bid-ask spread dan Trading Volume Activity (TVA) terhadap Abnormal Return pada perusahaan Property and Real Estate yang go public di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian causal relationship yaitu berusaha menguji hubungan kausal antara variabel-variabel independen dengan variabel dependennya. Pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian adalah perusahaan industri Property and Real Estate yang Go Public di Bursa Efek Indonesia periode Januari-Desember 2007. Jumlah sampel yang digunakan untuk mewakili populasi sebanyak 10 perusahaan yang memiliki ranking tertinggi dalam menghasilkan laba bersih. Data yang digunakan adalah data bid price, ask price, trading volume, saham yang beredar (listed share), dan harga saham. Analisis data menggunakan metode analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Selain itu, proses pengolahan data menggunakan SPSS for windows 14,0. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa: (1) Pengaruh bid-ask spread terhadap abnormal return dengan t hitung = -1.030 dan nilai sig t 0.305 > 0.05; (2) Pengaruh Trading volume Activity terhadap abnormal return dengan t hitung = -1.934 dan nilai sig t 0.056 > 0.05; dan (3) Pengaruh secara simultan (bid-ask spread dan Trading Volume Activity) terhadap abnormal return dengan nilai ii signifikansi sebesar 0.143 > 0.05. Kesimpulan hasil penelitian ini secara parsial maupun simultan Tidak terdapat pengaruh antara variabel-variabel penelitian (bidask spread dan Trading volume Activity) terhadap abnormal return. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan untuk penelitian selanjutnya dengan menambah variabel-variabel yang terkait dengan corporate action (right issue, stock split, kebijakan deviden), memperpanjang masa periode penelitian yang dapat mempengaruhi reaksi pasar. Selain itu menambah jumlah sampel dan lebih teliti lagi dalam merespon informasi yang beredar di pasar atau publik.

Penerapan pendekatan problem posing untuk meningkatkan kecakapan berpikir (Thinking skill) dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDN Belotan I / Tri Susilowati

 

ABSTRAK Susilowati, T. 2008. Penerapan Pendekatan Problem Posing Untuk Meningkatkan Kecakapan Berpikir (Thinking Skill) dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN Belotan I. Skripsi, Program Studi S-1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suharjo, M.S, M.A, (II) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd Kata-kata kunci: pendekatan problem posing, kecakapan berpikir (thinking skill), prestasi belajar matematika, SDN Belotan I Belajar matematika merupakan perbuatan yang kompleks karena melibatkan banyak komponen dan faktor yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya adalah penggunaan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat. Berdasarkan hasil pengamatan pada siswa kelas V SDN Belotan I diketemukan bahwa kecakapan berpikir dan prestasi belajar matematika siswa masih rendah. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme, yaitu dengan pendekatan problem posing. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana pelaksanaan penerapan pendekatan problem posing, dan (2) apakah penerapan pendekatan problem posing dapat meningkatkan kecakapan berpikir (thinking skill) dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDN Belotan I. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V SDN Belotan I. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan pendekatan problem posing dan (2) untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan problem posing dapat meningkatkan kecakapan berpikir (thinking skill) dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDN Belotan I. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah luas bangun datar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri atas dua siklus. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa persentase rata-rata kecakapan berpikir (thinking skill) siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 46% menjadi 64%. Rata-rata prestasi belajar matematika siswa juga mengalami peningkatan. Rata-rata prestasi belajar matematika siswa sebelum tindakan adalah 53,13. Setelah pelaksanaan tindakan rata-rata prestasi belajar matematika siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 63,91 menjadi 71,41. Persentase ketuntasan klasikal sebelum tindakan adalah 12,5%. Setelah pelaksanaan tindakan meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 31,25% menjadi 68,75%. Kendati dibutuhkan waktu tambahan untuk melakukan pembelajaran dengan pendekatan problem posing tetapi berdasarkan hasil penelitian dapat dibuktikan bahwa penerapan pendekatan problem posing dapat meningkatkan kecakapan berpikir (thinking skill) dan prestasi belajar matematika. Oleh sebab itu, dapat disarankan agar para guru khususnya guru matematika di SDN Belotan I dan pada umumnya untuk dapat menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut.

Manajemen pemasaran lembaga Pendidikan Formal Studi Multi Situs di MIN Malang I dan MIN Malang II / Eka Setia Wahyuni

 

Lembaga pendidikan termasuk organisasi pendidikan yang memasarkan jasanya kepada masyarakat luas. Lembaga pendidikan merupakan bagian dari jasa. Jasa merupakan suatu produk yang tidak kentara, artinya barang yang dipertukarkan dengan uang adalah suatu yang tidak berwujud. Lembaga pendidikan berlomba mencari calon peserta didik yang sesuai dengan daya tampung sekolah tersebut, oleh sebab itu banyak kegiatan promosi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan. Cara mendapatkan peserta didik yang dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan antara lain dengan mengenalkan lembaga pendidikan kepada masyarakat melalui segala sarana dan prasarana yang dimiliki, kegiatan-kegiatan yang dilakukan serta prestasi-prestasi yang telah dicapai kepada masyarakat dengan jalan melakukan kegiatan promosi sekolah (http://www.geocities.com). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses manajemen pemasaran, teknik pemasaran, faktor pendukung, dan penghambat manajemen pemasaran. Penelitian ini dilakukan di MIN I Malang, karena latar belakang keagamaan yang kuat dan memiliki banyak teknik pemasaran sehingga orang tua banyak yang tertarik terutama karena prestasi-prestasinya. Ini dibuktikan selalu meningkatnya prestasi siswa-siswi MIN Malang I dari tahun ke tahun. Sedangkan yang mendorong peneliti memilih MIN Malang II, yaitu karena latar belakang keagamaan yang kuat dan terletak di tengah pemukiman masyarakat, MIN Malang II yang masih belum banyak dikenal orang sehingga MIN Malang II mempunyai beberapa teknik pemasaran agar madrasah dapat diketahui oleh masyarakat luas. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sasaran yang dideskripsikan pada penelitian ini adalah segala peristiwa yang ada kaitannya dengan manajemen pemasaran lembaga pendidikan formal di MIN Malang I dan MIN Malang II dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan studi multi situs, karena pada penelitian ini dilakukan di dua lokasi (madrasah) karena memiliki karakteristik yang sama dan memiliki keunikan proses manajemen pemasaran tetapi memiliki tujuan yang sama. Lokasi diadakannya penelitian ini adalah MIN Malang I dan MIN Malang II. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) proses manajemen pemasaran yang dilakukan di MIN Malang I dan MIN Malang II melalui proses yang sama yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan/penggerakan (actuating), dan pengawasan (controlling); (2) teknik pemasaran yang digunakan di MIN Malang I dan MIN Malang II ada yang sama yaitu melalui orang, brosur, media baik cetak maupun elektronik, dan teknik komunkasi lainnya. Sedangkan untuk teknik berbeda yang digunakan di MIN Malang I dan MIN Malang II yaitu prospektus, video promosi, media handphone, dan spanduk. Pada pertemuan terbuka dan kegiatan lainnya, di MIN Malang I setiap tahunnya memperingati wisuda gelar prestasi dan HUT madrasah. Salah satu kegiatan yang dilakukan ialah family gathering para orang tua siswa. Tujuannya, untuk menjalin silaturahmi para orang tua siswa dengan civitas akademika MIN Malang I. Sedangkan di MIN Malang II setiap tahunnya selalu menyelenggarakan event untuk memperkenalkan madrasah kepada masyarakat luas. Selain itu madrasah juga ikut serta dalam kegiatan karnaval baik di tingkat kampung maupun kota untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI.; (3) faktor penghambat di MIN Malang I yaitu (a) sulitnya meluangkan waktu karena kesibukan dari semua bagian atau semua koordinator bidang; (b) masyarakat yang beranggapan bahwa MIN Malang I adalah madrasah negeri yang seluruh biaya pembelajarannya ditanggung oleh pemerintah; (c) masih ada tenaga karyawan yang gagap teknologi; (d) sarana dan prasarana yang masih perlu ditingkatkan lagi; (e) secara teknis, misalnya gangguan dari provider atau jaringan telepon seluler (handphone). Sedangkan di MIN Malang II yaitu (a) kemampuan yang masih terbatas menjadi salah satu faktor penghambat proses pemasaran di madrasah; (b) dari segi dana, karena memang pemasaran membutuhkan dana yang besar; (c) kurangnya fasilitas yang disediakan oleh madrasah, misalnya seperti inventaris komputer yang masih sangat minim; (4) faktor pendukung di MIN Malang I yaitu (a) Kepala Madrasah yang selalu ingin belajar dan membenahi diri agar lebih baik lagi; (b) sumber daya manusia di madrasah, seperti guru-guru yang selalu kompak, dan mampu bekerjasama secara maksimal; (c) sarana dan prasarana yang memadai; (d) komite madrasah yang mempunyai perhatian dengan citra madrasah di luar. Sedangkan di MIN Malang II yaitu (a) Kepala Madrasah yang selalu ingin membenahi diri ke arah yang lebih baik; (b) masyarakat sekitar yang selalu memberikan dukungan sehingga proses pemasaran dapat berjalan dengan baik; (c) tim yang solid yang dimiliki madrasah sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan; (d) dari pihak induk, yaitu Departemen Agama Kota Malang yang mempunyai perhatian terhadap apa yang dikeluhkan oleh madrasah. Disarankan kepada kepala madrasah beserta pegawai yang mendukung dalam pemasaran madrasah agar lebih meningkatkan kemampuan dalam mengadakan perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan pemasaran lembaga pendidikan formal baik di MIN Malang I maupun di MIN Malang II. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan jurusan lebih banyak lagi mengkaji pemasaran lembaga pendidikan formal secara luas sebagai pendalaman dalam ilmu manajemen pendidikan, khususnya manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat Bagi Departemen Agama Kota Malang hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan masukan untuk perumusan kebijakan bagi madrasah lain yang berada di bawah naungan Depag. Bagi sekolah atau madrasah lainnya yang setingkat diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk merumuskan dan mengembangkan kebijakan manajemen pemasarannnya. Bagi peneliti lain hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode yang lain, sehingga dapat menambah dan mengembangkan kajian ilmiah yang ada.

Using storytelling technique to increase the listening skills of fifth grade students of SDN Bunulrejo III Malang / Ayu Chandra Astari

 

Many educators have seen listening as a receptive communication skill which develops naturally. They think that by mastering speaking, one can automatically master listening. Therefore, not many teachers teach their students listening including the Primary Teachers. To introduce the elementary school students to the listening activities, storytelling may be the best technique to be implemented. Storytelling refers to a technique of teaching English by presenting the materials or stories using gestures, intonations, demonstrations, actions, facial expression and perhaps visual media to help students understand the lesson. This research use Kemmis and McTaggart’s model of Classroom Action Research. The subject of the research was 27 students of fifth graders class B at SDN Bunulrejo III. The result of the listening test in the Preliminary Study showed that only 41 % of the students got score above 60 and the mean score was only 48. The researcher then formulated the research problem which was “How can storytelling technique increase the listening skill of the fifth grade students?” The research was done from October up to November 2008 and consisted of two Cycles. Cycle I was done in three meetings and Cycle II was done in two meetings. In each meeting, the researcher had prepared the Observation Sheet, Teacher’s Journal and Listening Comprehension Tests. There were two criteria of success that had to be achieved based on the result of the students’ test in the preliminary test; they were (1) the students’ mean score has to be over 60 in each meeting and (2) at least 50% of the students got score above 60 in each test. The results in Cycle I was the mean scores were 61.5, 33.3 and 70. One mean was less then 60, so criteria 1 was not achieved. The percentages of the students who got scores above 60 were 67%, 26% and 82%. One was less than 50%, so criteria 2 was not achieved either and Cycle II needed to be conducted. The researcher improved the technique by discussing the difficult words in the story before the storytelling time. The result in Cycle II was the mean scores reached 66.4 and 68.8 meaning the criteria 1 was achieved. The students who got score above 60 were 85% and 74% which meant criteria 2 could be achieved. The researcher then stopped the research since the criteria of success were achieved. The research problem could be answered that storytelling could increase the listening skills of the fifth grade students of SDN Bunulrejo III Malang. The researcher concluded that the key points of success of the storytelling implementation in this research were (1) the implementation of the three stage procedures in teaching listening (pre, main and while storytelling), (2) the used of the multiple choice test form which did not make the students confused on how to answer it and (3) the used of media while telling the story.

Perancangan komunikasi visual "Launching Warna-Wani" pesona wisata Trenggalek / Toto Yuni Purwanto

 

ABSTRAK Purwanto, Toto Yuni. 2009. Perancangan Komunikasi Visual “Launching Warna-warni” Pesona Wisata Trenggalek. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujiyanto, M.Sn, (II) Drs. Muhadjir. Kata kunci: perancangan, komunikasi visual, launching warna-warni, pesona wisata. Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah di Jawa Timur dengan potensi wisata alam yang luar biasa. Namun demikian dalam beberapa tahun terakhir jumlah kunjungan wisata cenderung mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu: pemasaran pariwisata yang kurang optimal serta kurang beraninya Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Trenggalek untuk membuat program-program pariwisata baru yang dapat mengangkat pariwisata di daerah ini. Berdasarkan permasalahan tersebut maka sangat diperlukan suatu perancangan program baru berupa paket wisata, dimana untuk menarik target audience akan diadakan “launching warna-warni” pesona wisata Trenggalek, sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisata dan pada akhirnya dapat memberikan citra positif pada pariwisata Kabupaten Trenggalek. Perancangan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan “launching warnawarni” pesona wisata Trenggalek secara efektif dan efisien melalui konsep desain yang sesuai dengan program “launching warna-warni” pesona wisata Trenggalek serta wujud karya desain yang sesuai bagi masyarakat Kabupaten Trenggalek dan sekitarnya. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk yang diawali dengan perumusan latar belakang masalah, pengumpulan data, analisis data sehingga akan dihasilkan konsep dan karya desain. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, wawancara, dan angket. Berdasarkan data yang terkumpul dapat diketahui bahwa Kabupaten Trenggalek memiliki potensi wisata alam, budaya, kuliner, dan industri yang luar biasa, sehingga event “launching warna-warni” pesona wisata Trenggalek akan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang disesuaikan dengan potensi wisata Trenggalek. Untuk mengkomunikasikan event ini, maka diperlukan media komunikasi visual meliputi Media Lini Atas dan Media Lini Bawah. Konsep desain untuk menunjang media tersebut adalah konsep bahari, disesuaikan dengan potensi wisata yang ada di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah perlunya programprogam pariwisata baru yang lebih menarik, serta media komunikasi visual yang lebih efektif dan efisien agar dapat menarik target audience lebih banyak

Penerapan metode role-playing untuk meningkatkan pemahaman kedisiplinan tema kehidupan sehari-hari kelas 2 SDN Purwantoro 8 Kecamatan Blimbing Kota Malang / Fardhika Saraswati Metrikarini

 

ABSTRAK Saraswati, Fardhika. 2008. Penerapan metode Role Playing untuk meningkatkan pemahaman kedisiplinan tema kegiatan sehari-hari siswa kelas 2 SDN Purwantoro 8 Kec. Blimbing Kota Malang. Skripsi. Jurusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing ( 1 ). Drs. Ahmad Samawi M.Hum. ( 2 ). Drs. Sutarno MPd. Kata Kunci : Pembelajaran Tematik, Kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : mendeskripsikan penerapan metode Role Playing dalam pembelajaran di SD, mendeskripsikan pemahaman siswa tentang pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, mendeskripsikan dampak penggunaan metode role playing terhadap pembelajaran kreativitas dan daya pikirnya, mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan matode Role Playing, dan mendeskripsikan usaha dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode Role Playing siswa kelas II SDN Purwantoro 8. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tinadakan kelas ( PTK ) rancangan 2 siklus. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dalam 2 hari. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan sebesar 70 % dari jumlah keseluruhan subyek penelitian dengan rata-rata skor minimal 75. Subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN Purwantoro 8 Kecamatan Blimbing kota Malang yang berjumlah 23 anak. Pada penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa : lembar Observasi ( pengamatan ) untuk mengamati kegiatan siswa, catatan lapangan, LKS, studi dokumentasi dengan hasil tes dan foto-foto pada saat pembelajaran, serta lembar evaluasi untuk menilai pemahaman siswa terhadap konsep keluarga. Hasil penelitian menunjukkan : ( a ) Pelaksanaan pembelajaran role playing pada siklus I masih banyak kekurangan. Kekurangannya yaitu masih ada beberapa siswa yang merasa malu untuk bermainperan didepan kelas sehingga kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan baik. Pada siklus II diberi perbaikan sehingga pemahaman siswa dan keberanian siswa dalam bermain peran didepan kelas menjadi meningkat. ( b ) Model pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep kedisiplinan dari skor rata-rata pretest 51,7 menjadi 61,3 pada siklus I dan pada siklus II menjadi 80,4; ( c ) Model pembelajaran role playing dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, keberanian dan rasa senang siswa dalam belajar. Jumlah siswa yang aktif dalam belajar meningkat dari 55% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Kerjasama siswa dari 51% pada siklus I meningkat menjadi 70% pada siklus II. Keberanian siswa juga mengalami peningkatan dari 49% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Serta rasa senang dalam belajar siswa juga meningkat dari 54% pada siklus I menjadi 70% pada siklus II. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pertama pembelajaran tematik dengan metode role playing dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengajarkan tentang kedisiplinan. Yang kedua penggunaaan metode role playing dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari siswa kelas II di SDN Purwantoro 8, Yang ketiga adalah dampak penggunaan metode role playing dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, keberanian dan rasa senang siswa dalam belajar. Yang keempat adalah usaha untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode role playing ada pembelajar kedisiplinan yaitu memotivasi, memberi kesempatan dan selalu memberi bimbingan supaya siswa terampil dan berani dalam bermain peran. Berdasarkan kesimpulan diatas dapat diberikan saran kepada ( a ) guru agar menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran role playing dalam kegiatan belajar mengajar dengan tema-tema yang lain ataupun bagi peneliti lain, ( b ) bagi kepala sekolah agar selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada guru-guru untuk menerapkan pembelajaran role playing dalam pembelajaran

Peningkatan prestasi belajar IPS siswa kelas III SDN Sambi II Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri melalui pembelajaran kooperatif numbered head together / Wahyu Kinasih Herlambang

 

ABSTRAK Herlambang, Wahyu Kinasih. 2009. Peningkatan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas III SDN Sambi II Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri Melalui Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sutarno, M.Pd, (II) Suminah, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: peningkatan, prestasi, kooperatif numbered head together Berdasarkan hasil wawancara tidak terstruktur, observasi, tes, maupun dokumentasi didapatkan bahwa banyak siswa yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar tersebut bermacam-macam, diantaranya adalah pembelajaran yang terlalu banyak menggunakan metode ceramah terlebih pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang memiliki materi lebih banyak dibanding dengan mata pelajaran lain, atau kurangnya variasi model pembelajaran yang menyebabkan siswa mudah bosan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah prestasi belajar IPS siswa kelas III SDN Sambi II Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri masih di bawah kriteria ketuntasan. Penyebab utama dari permasalahan tersebut adalah kurangnya variasi model pembelajaran sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang ada. Dengan adanya permasalahan tersebut maka pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk mentransformasi materi terhadap siswa tidak akan berjalan secara maksimal. Untuk itu perlu adanya penyelesaian dalam permasalahan tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah yaitu dengan menggunakan variasi model pembelajaran yang salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif numbered head together. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan prestasi pembelajaran IPS pada siswa kelas III, selain itu penulis juga ingin menerapkan model pembelajaran numbered head together agar siswa tidak merasa bosan. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas III SDN Sambi II Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari: Pra tindakan menggunakan metode caramah, tanya jawab, diskusi, penugasan tanpa menggunakan kooperatif numbered head together. Siklus I menggunakan model kooperatif numbered head together. Siklus II menggunakan model numbered head together dengan lingkungan sebagai media dalam pembelajara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif numbered head together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III SDN Sambi II. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan rata-rata siswa dari pra tindakan yang rata-rata perolehan nilai adalah 60,5 atau ketuntasan belajar 25%. Dengan demikian pada pra tindakan dinyatakan tidak tuntas. Kemudian pada siklus I dinyatakan tidak tuntas dengan perolehan nilai rata-rata kelas 76 dan ketuntasan 78%. Pada siklus I ini dinyatakan tidak tuntas dikarenakan kriteria ketuntasan adalah banyak siswa yang mendapatkan nilai minimal 70 sebanyak ±100%. Untuk siklus II perolehan nilai rata-rata kelas mencapai 90 dan ketuntasan mencapai 90%. Siklus II ini dinyatakan tuntas karena jumlah siswa yang mendapat nilai minimal 70 sebanyak 90%. Dalam siklus II ini terdapat 3 siswa yang tidak dapat mencapai ketuntasan belajar hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan siswa berdasarakan catatan dari guru yang dibuktikan dengan pelaksanaan pra tindakan, siklus I dan siklus II prestasi belajar ketiga anak tidak mengalami peningkatan. Untuk itu memerlukan bimbingan khusus bagi ketiga siswa tersebut. Berasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif numbered head together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III. Tentunnya model pembelajaran ini bisa di terapkan pada kelas yang berbeda, tingkatan yang berbeda, ataupun mata pelajaran yang berbeda. Saran dari penelitian ini adalah guru sebaiknya menggunakan model kooperatif numbered head together untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sebagai variasi model pembelajaran.

Perancangan media komunikasi visual SMA Negeri 6 Malang / Fariza Wahyu Arizal

 

ABSTRAK Arizal, Fariza Wahyu. 2009. Perancangan Media Komunikasi Visual SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbimg: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc., (II) Andy Pramono, S.Kom, M.T. Kata kunci: perancangan, media komunikasi visual, SMA, Negeri 6 Malang. SMA Negeri 6 Malang merupakan salah satu dari SMA Negeri yang ada di kota Malang. SMA Negeri 6 Malang berada di daerah timur kota Malang yaitu daerah Buring. Suasana yang masih alami, tenang, serta fasilitas yang cukup memadai, membuat SMA Negeri 6 Malang merupakan SMA yang potensial untuk menjadi SMA unggulan di kota Malang. Namun yang menjadi kendala adalah lokasi serta akses menuju ke sana yang agak sulit dijangkau. Serta input masukan dari SMP yang kurang berkualitas sehingga SMA Negeri 6 Malang sulit untuk bersaing dengan SMA Negeri lainnya. Namun dengan adanya pemekaran kota Malang di wilayah timur, berpotensi mengurangi kendala itu semua. Dengan dibangunnya terminal angkutan umum diharapkan dapat menutupi kelemahan dari segi akses, serta dibangunnya instansi pemerintahan untuk mendukung pemekaran kota Malang. Perancangan ini bertujuan untuk memperkenalkan, mempromosikan dan mengkomunikasikan citra dari SMA Negeri 6 Malang secara efektif dan efisien melalui konsep desain yang sesuai dengan program promosi SMA Negeri 6 Malang serta wujud karya desain yang sesuai dengan target market yaitu siswa kelas IX SMP yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Perancangan yang terbentuk berupa media komunikasi visual SMA Negeri 6 Malang. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan data yang terkumpul dapat diketahui bahwa SMA Negeri 6 Malang membutuhkan media yang mampu memperkenalkan dan mengkomunikasikan melalui sebuah launching event turnamen olah raga “Gelora SMA Negeri 6 Malang” yaitu gelar olah raga SMA Negeri 6 Malang. Dipilihnya event olah raga sebagai salah satu media komunikasi visual adalah karena SMA Negeri 6 Malang mempunyai fasilitas dan sarana yang cukup lengkap di bidang olah raga serta dekatnya dengan sarana olah raga milik pemerintah yaitu Gor Ken Arok. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah perlunya media promosi yang tepat dan efektif sehingga tujuan untuk menjadi SMA Negeri yang berstandar Nasional dapat terwujud.

Studi tentang model pembelajaran fotografi di SMK Negri III Batu / Nur Laily

 

ABSTRAK Fauziah, Nur Laily. 2008. Studi Tentang Model Pembelajaran Fotografi di SMK Negeri III Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Ida Siti Herawati A. M.Pd (II) Drs. Didiek Rahmanadji. Kata kunci: model pembelajaran, mata pelajaran Fotografi, SMK Negeri III Batu. Fotografi adalah seni dan proses penghasilan gambar dengan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan atau dapat diartikan teknik melukis dengan menggunakan cahaya. Untuk dapat menciptakan karya fotografi diperlukan suatu ketrampilan teknis. Dengan memiliki ketrampilan ini seseorang dapat mengaplikasikannya pada berbagai bidang. Sehingga ketrampilan ini merupakan sebuah life skill (kecakapan hidup) untuk bekal dimasa yang akan datang bagi siswa SMK. SMK Negeri III Batu menyelenggarakan program mata pelajaran Fotografi pada kelas X semester I dan II untuk jurusan Broadcasting dan Multimedia. Adapun dasar dari penyelenggaraan program tersebut adalah sebagai dasar untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu membuat produk-produk pertelevisian dan multimedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran fotografi pada tipe bahan ajar Pengetahuan Fotografi dan tipe bahan ajar Berkarya Fotografi yang dilakukan di SMK Negeri III Batu. Sebagai nara sumber guru, dan siswa. Rancangan penelitian menggunakan rancangan penelitian kualitatif . Analisis penelitian yang dipakai menggunakan analisa mengalir atau analisa terjalin. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan tekhnik trianggulasi metode dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran fotografi di SMK Negeri III Batu pada tipe bahan ajar Pengetahuan Fotografi menggunakan model pembelajaran akademik dan model Pembelajaran Orang Dewasa (POD), dengan pendekatan pembelajaran ekspositori. Dalam proses pembelajaran menggunakan metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan pemberian tugas/resitasi, dengan media pembelajaran berbantuan komputer dan alat peraga. Evaluasi pembelajaran yang digunakan adalah evaluasi formatif yang dilaksanakan setiap satu pokok bahasan selesai disampaikan. Pada tipe bahan ajar Berkarya Fotografi menggunakan model pembelajaran akademik dan model pembelajaran orang dewasa (POD), dengan pendekatan pembelajaran ekspositori dan pendekatan CBSA berkadar tinggi. Metode pembelajaran yang digunakan yaitu: metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, pemberian tugas/resitasi, kerja kelompok, drill, dan kerja cipta terarah, dengan media pembelajaran berbantuan komputer dan alat peraga. Evaluasi pembelajaran menggunakan evaluasi formatif, dilaksanakan setiap satu pokok bahasan selesai disampaikan. Dalam proses pembelajaran fotografi di SMK Negeri III Batu menggunakan model pembelajaran akademik, karena dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan berupa teori dan praktik yang didahului dengan proses mengkaji teori terlebih dahulu yang berupa prinsip dan prosedur ii kemudian menerapkan apa yang telah dipelajari melalui bimbingan guru. Sedangkan model POD digunakan berdasarkan aspek psikologi dan sosial, dimana pada awal pembelajaran siswa sudah dapat menentukan pilihannya sendiri (self directing) untuk menempuh pendidikan kejuruan, dengan metode pembelajaran yang dikondisikan untuk penerapan pada situasi kehidupan sebenarnya (praktik kerja lapangan). Pendekatan ekspositori digunakan karena dalam proses pembelajaran guru lebih berperan dalam menyampaikan dan mengolah pesan kepada siswa. Pendekatan CBSA berkadar tinggi dapat diketahui dari keaktifan siswa yang tinggi, baik keaktifan secara fisik dan mental dalam proses pembelajaran fotografi. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar guru mata pelajaran Fotografi hendaknya memperhatikan aspek penyusunan rencana pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Dan dilaksanakan penelitian lebih lanjut di bidang fotografi.

Studi tentang kegiatan pembelajaran fotografi di SMK Negeri 3 Batu / Danang Prayudi

 

ABSTRAK Prayudi, Danang. 2008. Studi Tentang Kegiatan Pembelajaran Fotografi di SMK Negeri 3 Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Triyono Widodo, M.Sn, (II) Drs. Imam Muhadjir. Kata kunci: kegiatan pembelajaran, fotografi, SMK Negeri 3 Batu. Fotografi berasal dari bahasa yunani "photos" dan "graphein" yang arti sebenarnya adalah "melukis dengan cahaya". Dengan kata lain fotografi secara harfiah berasal dari kata photo berarti cahaya dan graphic berarti menggambar jadi kunci utama dalam membuat foto adalah "cahaya". Di era modern ini fotografi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari hal ini dapat terlihat dari banyaknya media publikasi baik iklan, koran, televisi, papan nama, maupun dalam dunia pendidikan yang digunakan dalam penyampaian sebagai media pembelajarannya. Untuk mengetahui suatu bentuk kegiatan pembelajaran fotografi di tingkat SMK maka perlu diadakannya suatu penelitian. Penelitian ini bertujuan mengetahui kegiatan pembelajaran fotografi di tingkat SMK Negeri memiliki fokus pada kegiatan perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran yang akan dilaksanakan. SMK Negeri 3 Batu adalah salah satu Lembaga Pendidikan Menengah Kejuruan yang mengutamakan pembelajaran Multimedia & Broadcasting yang bertujuan sebagai salah satu alternatif layanan pendidikan kejuruan dalam rangka perluasan dan pemerataan pendidikan menengah kejuruan Multimedia & Broadcasting yang berlokasi di kota Batu. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Batu, pada tanggal 17 September sampai 30 Oktober 2008. Penelitian ini merupakan penelitian yang menitik beratkan pada analisis pembelajaran dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan diskriptif kualitatif, dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi, maka kehadiran peneliti di sini yaitu sebagai instrumen utama, dan kehadiran peneliti diketahui oleh informan sebagai peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran fotografi yang dipusatkan pada kegiatan perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran. Proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran secara keseluruhan sudah terlaksana sesuai rencana proses pembelajaran, sedangkan untuk kegiatan penyusunan perencanaan pembelajaran masih terdapat kekurangan. Hal tersebut diketahui dari kesalahan penulisan dalam sub kompetensi dasar dan kriteria unjuk kerja yang belum terisi secara lengkap dalam Rencana Proses Pembelajaran (RPP). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru mata pelajaran Fotografi lebih memperhatikan penyusunan rencana proses pembelajaran (RPP), sehingga materi pembelajaran dapat disampaikan dengan baik pada siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran.

Penerapan portofolio untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Nguling III Kabupaten Pasuruan / Riefka Iesna Habiba

 

Adanya film “Laskar Pelangi” yang fenomenal tanpa sengaja membuat penulis sebagai peneliti termotivasi untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui subjek pendidikan (siswa). Selama ini yang diketahui, banyak siswa yang belajar hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban serta tuntutan dari orangtua. Oleh karena itu penulis ingin memanfaatkan media yang sudah tersedia di lingkungan dengan mencontoh metode kontekstual yang ada di film “Laskar Pelangi”. Film tersebut menampakkan model pembelajaran kontekstual yang menyenangkan dapat dengan mudah diterapkan, sehingga anak didik memperoleh konsep yang diajarkan oleh guru dengan suasana hati yang senang. Selain itu pemanfaatan media yang telah disediakan oleh alam juga sangat membantu guru untuk meminimalisir kemungkinan anak tidak mengerti dengan konsep atau materi yang akan diajarkan. Dengan adanya film yang fomenal tersebut juga secara tidak langsung telah menyentuh hati semua guru yang sudah menonton di seluruh Indonesia agar dengan tulus ikhlas mengabdikan diri dalam mendidik anak bangsa. Jadi, sebagai calon guru, penulis juga terpanggil untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia demi terwujudnya kehidupan yang makmur dan sentausa. Model pembelajaran dalam dunia pendidikan sangat banyak macamnya. Tinggal bagaimana guru sebagai tenaga pendidik memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang tempat serta tuntutan yang mengharuskan guru untuk selalu aktif dan kreatif. Penulis memilih model pembelajaran berbasis portofolio pada pembelajaran IPS, karena IPS sangat dekat dengan kehidupan siswa Sehingga untuk mempermudah menerapkannya, penulis lebih memilih pembelajaran berbasis portofolio. Terdapat tiga unsur pokok yang saling berkaitan dalam sistem pembelajaran menurut Harsiati (dalam Irwana, 2006), yaitu (1) tujuan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, dan (3) penilaian pengajaran. Tujuan pembelajaran menekankan pada pencapaian kemampuan berbahasa Indonesia secara benar bukan pencapaian pengetahuan tentang sistem bahasa. Pelaksanaan pembelajaran menuntut peran guru sebagai fasilitator agar siswa mudah dalam mempelajari materi-materi pelajaran, sehingga pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Realisasinya adalah guru memberikan bimbingan agar siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain sebagai fasilitator, guru harus mampu menjadi dinamisator dan organisator agar proses belajar mengajar dinamis dan tidak membosankan dan pembelajaran memiliki arah yang jelas. Sedangkan dalam penilaian, ketercapaian standar kompetensi yang telah ditetapkan menjadi hal esensial yang harus terlaksana. Standar kompetensi yang harus tercapai merupakan wujud penggunaan bahasa secara tepat sesuai dengan kebutuhan. Media pembelajaran sebagai sarana nonpersonal memegang peranan dalam proses 2 belajar mengajar untuk mencapai tujuan (Hamidah, dalam Irwana, 2006). Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena pada dasarnya pengajaran IPS menuntut kecakapan siswa dalam berbahasa. Dengan kata lain, pembelajaran IPS tidak bisa lepas dari hakikat bahasa sebagai sarana komunikasi. Seperti halnya Pendekatan S-T-S (Sains–Technology-Society), dasar dari pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio adalah teori belajar konstruktivisme, yang pada prinsipnya menggambarkan bahwa siswa membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungannya (Kamii, dalam Fajar, 2004). Prinsip yang paling umum dan paling esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme, bahwa dalam merancang suatu pembelajaran adalah anak-anak (siswa) memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (kelas). Pemberian pengalaman belajar yang beragam memberikan kesempatan siswa untuk mengelaborasikannya. Dengan demikian pendidikan dalam hal ini pembelajaran hendaknya memperhatikan hal diatas dan menunjang proses alamiah ini. Menurut Yager, (dalam Fajar, 2004) penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran. Sebagai contoh isu atau masalah yang muncul digunakan sebagai dasar pembahasan diskusi, dan investigasi kegiatan di dalam atau di luar kelas. Pembelajaran berbasis portofolio sangat memperhatikan dan bahkan melakukan hal tersebut dalam proses kegiatan belajar siswa. Penentuan siswa SD Kelas V dalam penelitian ini didasarkan pada penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Drs. Arief A. Mangkoesapoetra, M.Pd tentang “Model pembelajaran portofolio dalam PKn di 3 SD, SLTP, dan SLTA tahun 2007” objek penelitiannya adalah PBM (Proses Belajar Mengajar). Adapun hal-hal yang diteliti adalah (1) CTL, ‘Contextual Teaching Learning’; (2) ‘Model Kegiatan Sosial dan PKn’. Penelitian ini selain waktu dan tempat yang berbeda, permasalahannya pun ada pengembangan yaitu lebih ditekankan pada cara penerapan portofolio untuk meningkatkan hasil belajar IPS. Dari uraian di atas, penerapan portofolio sebagai model baru pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar IPS khususnya merupakan persoalan menarik yang dapat dijadikan penelitian. Hal itulah yang mendorong untuk dilakukan penelitian “Penerapan Portofolio untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SDN Nguling III Kabupaten Pasuruan”.

Penerapan model pembalajaran tematik tema lingkungan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I di SDN Puger Kulon 01 Kecamatan Puger, Kabupaten Jember / Florentina Mandasari Putri

 

ABSTRAK Putri, Florentina, Mandasari. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Tematik Tema Lingkungan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas I di SDN Puger Kulon 01 Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendididkan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd., (II) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: aktivitas, standar nilai ketuntasan, penerapan pembelajaran tematik. Proses pembelajaran siswa SD kelas rendah tidak boleh disamakan dengan proses pembelajaran pada siswa SD kelas tinggi. Karena siswa SD kelas rendah sebaiknya tidak menilai berbagai bidang studi yang ada secara terpisah-pisah akan tetapi setiap bidang studi tersebut harus saling terkait antara satu dengan yang lainnya, agar mereka lebih mudah memahami pembelajaran di sekolah. Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan yaitu sebagai berikut: (1) Mendiskripsikan dampak peningkatan aktivitas siswa kelas I di SDN Puger Kulon 01; (2) Mendiskripsikan dampak peningkatan tercapainya standar nilai ketuntasan belajar siswa kelas I di SDN Puger Kulon 01; (3) Mendiskripsikan cara menerapkan model pembelajaran tematik tema lingkungan pada siswa kelas I di SDN Puger Kulon 01. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus dalam setiap siklusnya dilaksanakan dalam 2 hari. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SDN Puger Kulon 01 Kecamatan Puger, Kabupaten Jember dengan jumlah 26 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara. Evaluasi yang dilakukan menggunakan tes hasil dan proses. Hasil penelitian model pembelajaran tematik tema lingkungan ini dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas 1 SDN Puger Kulon 01 Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil formatif yang meningkat yaitu dari skor hasil rata-rata 44% pada siklus I ke 78% pada siklus II. Serta pada siklus II ini sudah mencapai nilai ketuntasan belajar diatas 75%, sehingga kegiatan siklus II di hentikan. Dampak dari penerapan metode pembelajaran tematik ini dapat meningkatkan tingkat aktivitas belajar siswa, standart nilai ketuntasan belajar siswa, dan cara menerapkan pembelajaran tematik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran tematik di kelas I.

Grammatical errors in the first year students' writing task of SMP Negeri 6 Malang / Hidayatul Maulidiyah

 

ABSTRACT Key words: Maulidiyah, Hidayatul. 2008. Thesis, Undergraduate Study Program of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Prof. Dra. Hj Kasihani K. E. Suyanto MA, Ph. D. grammatical errors, writing. This study is intended to find out students’ grammatical problems in writing. It was conducted at . In line with the purpose of the study, the design of this study was a case study. The subjects were the 38 first year students in the 7.8 class of . The instruments used to collect the data are the students’ writing tasks on the themes of Hobbies and Shopping. The errors found in the students’ tasks are then classified based on the surface strategy taxonomy on errors of omission, additions, misformation and misordering. The study reveals the following findings: the students’ grammatical problems on writing paragraphs are numerous. The highest structure problems in omission are on the omission of followed by the omission of the form. The highest structure problems in addition are the addition of followed by the addition of apostrophe s. The highest structure problems of misformation are the misformation of verbs followed by the misformation of pronoun. The highest structure errors in misordering are the misordering of the adverb followed by the misordering of noun phrase. Grammatical Errors in the First Year Students’ Writing Tasks of SMP Negeri 6 Malang. SMP Negeri 6 Malang SMP Negeri 6 Malang to be –ing to be very

Perancangan desain website studio 8 dan media promosi pendungnya dalam upaya penanaman citra / Andhika Putra Herwanto

 

Perkembangan dunia fotografi di Indonesia sekarang telah maju dengan pesat. Terbukti dengan berkembangnya studio-studio foto dan fotografer yang terus giat memproduksi karya-karyanya, baik itu untuk keperluan dokumentasi, sekedar hobi, film maupun periklanan. Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi fotografi terutama fotografi digital, yang sangat berkembang sangat cepat dan melahap semua segmen teknologi yang ada dalam kehidupan manusia modern ini, maka diperlukan media komunikasi visual yang tepat untuk mempromosikan suatu usaha bidang fotografi. Saat ini Internet bukanlah hal yg baru di dunia bisnis, dan bukan hal baru pula kalau internet di gunakan sebagai media promosi. 40% perusahaan di Indonesia saat ini sudah memanfaatkan jasa Internet untuk memasarkan produk-produk mereka ke berbagai kota dan luar negeri. Studio 8 didalam menjual gaya atau style foto dan variasi pelayanan yaitu kurangnya promosi. Karena selama ini studio 8 dalam mempromosikan kepada kalayak umum hanya menggunakan iklan cetak, dengan jangkauan promosi yang kurang luas. Selain itu omset yang didapat Studio 8 setiap bulan kurang memenuhi target. Maka perlunya dirancang sebuah Oleh karena itu diperlukan sebuah website dan media promosi pendukungnya yang mampu menanamkan image Studio 8. Tujuan dari perancangan ini adalah merancang konsep website dan media promosi dalam upaya penanaman image Studio 8, serta membuat desain website dan media promosi yang menghasilkan promosi dalam upaya penanaman image Studio 8. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari klien, target market, target audience dan kompetitor, kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi. Perancangan dilakukan pada website Studio 8 yang diupoad pada domain com serta media promosi pendukungnya dalam bentuk visual, antara lain: Iklan Surat Kabar, X- Banner, Horizontal Banner, Brosur, Kartu Nama, Stiker, Poster. Beberapa saran yang dapat diberikan kepada Studio 8 yaitu mewujudkan studio fotografi komersil yang berkualitas, inovatif dan mampu memberikan karya fotografi yang terbaik sesuai dengan anggaran para klien dan pengguna jasa studio serta memegang teguh dan melaksanakan komitmen untuk senantiasa memberikan kepuasan kepada seluruh kru studio (pelanggan internal), klien dan pengguna jasa (pelanggan eksternal) melalui layanan berkualitas, metode pengerjaan yang efektif/efisien bertumpu pada staf berdedikasi dan memiliki kinerja tinggi.

Survei tentang pelaksanaan quantum teaching pada pembelajaran meronce kelas V di SD Muhammadiyah 04 Batu / Zakki Fitroni

 

ABSTRAK Fitroni, Zakki. 2008. Survei Tentang Pelaksanaan Quantum Teaching Pada Pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan Kelas V di SD Muhammadiyah 4 Batu. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Purwatiningsih. M.Pd (II) Drs. Eko Budi Winarno. Kata kunci: pembelajaran, seni budaya dan keterampilan, quantum teaching. Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan dari belajar yaitu berupa perubahan pengetahuan, tingkah laku, dan sikap siswa baik sebagian maupun seluruhnya melalui serangkaian pengalaman belajar. Proses pembelajaran meliputi tiga tahapan, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan quantum teaching pada materi meronce kelas V, untuk standart kompetensi mengapresiasi karya kerajinan dan mengekspresikan diri melalui karya kerajinan. Model quantum teaching yang diteliti tentang aktivitas guru dalam mengajar meliputi: pencapaian kompetensi, penerapan metode, penggunaan media, dan pengelolaan kelas, sedangkan untuk aktifitas siswa dalam belajar, sebagai hasil pengajaran guru meliputi: perhatian dan kinerja siswa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan analisa induktif. Dilakukan di kelas V b SD Muhammadiyah 4 Batu, pada bulan Nopember 2008. Teknik yang dilakukan peneliti dalam mengumpulkan data dilakukan dengan wawancara dengan guru meronce dan observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa materi meronce yang disampaikan guru sesuai dengan standart kompetensi ekspresi dan apresiasi karya kerajinan kelas V dalam kurikulum KTSP. Guru dalam menerapkan quantum teaching telah menciptakan suasana yang menggairahkan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis untuk menata pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan guru dapat memperjelas penyajian pesan, dan mengirim pesan dari guru ke siswa. Penyajian atau presentasi materi dilakukan guru dengan prima dan efektif sesuai model pembelajaran. Sedangkan pengaruh quantum teaching terhadap aktivitas siswa dalam belajar materi meronce sesuai dengan apa yang diharapkan guru karena siswa memperhatikan, antusias, dan aktif dalam menerima materi meronce yang disampaikan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar sekolah selalu mencari dan mendukung metode-metode pembelajaran yang baru, guru diharapkan dapat membuat inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran seni budaya dan keterampilan dengan menggunakan metode quantum teaching, dan diharapkan pada seluruh pembaca untuk dapat ikut serta dalam mengembangkan pola pembelajaran. i

Strategi pengajaran kegiatan ekstrakurikuler tari di Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang / Yuriet Natalia Citra Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Citra, Natalia, Yuriet. 2008. Strategi Pengajaran Tari di Taman Kanak-kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Seni dan Desain Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Soerjo Wido M, M.Pd, Pembimbing (II) Drs. Iriaji, M.Pd. Kata Kunci : Strategi, Pengajaran, Tari TK Laboratorium Universitas Negeri Malang merupakan salah satu TK yang menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler tari. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah : bagaimana perencanaan pengajaran ekstrakurikuler tari, bagaimana penyampaian pengajaran ekstrakurikuler tari, bagaimana pengelolaan kelas ekstrakurikuler tari di TK Laboratorium UM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : perencanaan pengajaran ekstrakurikuler tari , penyampaian pengajaran ekstrakurikuler tari, pengelolaan kelas ekstrakurikuler tari di TK Laboratorium UM. Penelitian ini dilakukan di TK Laboratorium UM, bulan Oktober sampai dengan November 2008. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif. Subyek penelitiannya adalah guru ekstrakurikuler tari dan Kepala Sekolah. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data serta pengambilan keputusan dan verifikasi. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi yang terdiri dari trianggulasi sumber, trianggulasi waktu dan trianggulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Perencanaan pengajaran dalam kegiatan ekstrakurikuler di TK Laboratorium UM tidak dibuat secara tertulis kecuali nama-nama gerak tari yang akan diberikan. Namun secara tidak tertulis, guru mengungkapkan bahwa ada perencanaan pengajaran yang meliputi : a) Tujuan yaitu memberikan ketrampilan pada siswa dan memberikan pengetahuan tentang tari. b) materi yang diberikan berasal dari pengalaman guru sendiri dan dari pelatihan-pelatihan yang diikuti serta kreasi dari guru. c) metode yang digunakan adalah metode demonstrasi dan metode ceramah, metode dikte serta metode bermain. d) media yang digunakan adalah tape recorder, TV, VCD, ruang tari dan kaset. e) penilaian dirancang untuk menilai siswa secara individu, meskipun para siswa praktek secara berkelompok. Skor nilai menggunakan skala huruf yaitu A, B dan C. (2) Penyampaian Pengajaran Ekstrakurikuler Tari di TK Laboratorium UM dapat dilihat dari beberapa komponen yaitu : a) penggunaan media, meliputi tape recorder, kaset dan sampur. b) proses belajar mengajar meliputi membuka pelajaran, inti pelajaran dan menutup pelajaran. c) bentuk belajar mengajar tediri dari kelompok sedang atau kecil.(3) Pengelolaan Kelas Ekstrakurikuler Tari di TK Laboratorium UM meliputi : a) kondisi kelas, untuk kegiatan ekstrakurikuler tari ruang yang digunakan dengan luas 3x4 sehingga kurang luas untuk gerak tari. b) menangani siswa yang bermasalah, guru menggunakan pendekatan individual dan pendekatan kelompok. Sesuai dengan hasil penelitian hendaknya guru membuat perencanaan pengajaran sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesaui dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Pengaruh motivasi kerja dan komunikasi organisasi terhadap produtivitas kerja melalui kepuasan kerja (Studi pada karyawan bagian pabrikasi PT. PG Kebon Agung Malang) / Kristin Juwita

 

ABSTRAK Juwita, Kristin. 2008. Pengaruh Motivasi Kerja dan Komunikasi Organisasi terhadap Produktivitas Kerja melalui Kepuasan Kerja (Studi pada Karyawan Bagian Pabrikasi PT. PG Kebon Agung Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Sarbini, (II) Elfia Nora SE., M.Si Kata Kunci : Motivasi kerja, Komunikasi Organisasi, Kepuasan Kerja, dan Produktivitas Kerja. Peran sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten saat ini sangat dibutuhkan karena kesuksesan sebuah perusahaan tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan menghasilkan karyawan yang produktif, tetapi juga bagaimana perusahaan dapat memberi motivasi yang berpengaruh pada produktivitas kerja. Selain itu, adanya implementasi komunikasi efektif melalui pemberian petunjuk, pengarahan, koordinasi kerja, dan pemberian perintah juga berpengaruh besar pada produktivitas kerja karyawan. Adanya komunikasi timbal balik antar karyawan dapat menjadi motivasi bagi karyawan untuk bekerja produktif. Jika komunikasi terjalin secara efektif dan motivasi kerja karyawan meningkat diharapkan menghasilkan karyawan yang berkompeten dan dapat membantu karyawan dalam upaya memperoleh kepuasan kerja. Sehingga karyawan yang telah merasakan adanya kepuasan kerja akan mudah diarahkan untuk memberikan kontribusi baik berupa tenaga dan pikiran dalam meningkatkan produktivitas kerja dan membantu mencapai tujuan karyawan dan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Deskripsi kondisi motivasi kerja, komunikasi organisasi, kepuasan kerja dan produktivitas kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (2) Pengaruh langsung motivasi kerja terhadap kepuasan kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (3) Pengaruh langsung komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (4) Pengaruh langsung kepuasan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (5) Pengaruh langsung motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (6) Pengaruh langsung komunikasi organisasi terhadap produktivitas kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (7) Pengaruh tidak langsung motivasi kerja terhadap produktivitas kerja melalui kepuasan kerja karyawan PG Kebon Agung Malang; (8) Pengaruh tidak langsung komunikasi organisasi terhadap produktivitas kerja melalui kepuasan kerja karyawan PG Kebon Agung Malang. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2007:11). Penelitian ini terdiri dari empat variabel motivasi kerja dan komunikasi organisasi sebagai variabel independen, kepuasan kerja sebagai variabel intervening, dan produktivitas kerja sebagai variabel dependen. Dalam penelitian ini terdapat populasi sebanyak 274 karyawan bagian pabrikasi dan jumlah sampel yang diambil untuk mewakili populasi berdasarkan metode purposive random sampling sebanyak 40 karyawan. Pengumpulan data penelitian melalui kuisioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diolah dengan analisis statistik diskriptif yang berguna untuk mengetahui gambaran tentang implementasi motivasi kerja, komunikasi organisasi, kepuasan kerja, dan produktivitas kerja pada karyawan PG Kebon Agung Malang. Selain itu, proses pengolahan data menggunakan analisis jalur (path analysis) melalui SPSS 14 for windows. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa: (1) Pengaruh langsung motivasi kerja terhadap kepuasan kerja 1 = 0,492 dengan t hitung = 4,034 dan nilai sig t 0,000 < 0,05; (2) Pengaruh langsung komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja 2 = 0,472 dengan t hitung = 3,869 dan nilai sig t 0,000 < 0,05; (3) Pengaruh kepuasan kerja terhadap produktivitas kerja 5 = 0,857 dengan t hitung = 15,476 dan nilai sig t 0,000 < 0,05; (4) Pengaruh motivasi kerja terhadap produktivitas kerja 3 = 0,122 dengan t hitung = 2,481 dan nilai sig t 0,018 < 0,05; (5) Pengaruh komunikasi organisasi terhadap produktivitas kerja 4 = 0,102 dengan t hitung = 2,102 dan nilai sig t 0,043< 0,05; (6) Pengaruh tidak langsung motivasi kerja terhadap produktivitas kerja melalui kepuasan kerja  = 0,422 dan merupakan jalur yang paling dominan dalam meningkatkan produktivitas kerja; (7) Pengaruh tidak langsung komunikasi organisasi terhadap produktivitas kerja melalui kepuasan kerja  = 0,405. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa: (1) Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan motivasi kerja terhadap kepuasan kerja; (2) Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikasi komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja; (3) Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan kepuasan kerja terhadap produktivitas kerja; (4) Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja; (5) Terdapat pengaruh langsung positif dan signifikan komunikasi organisasi terhadap produktivitas kerja; (6) Terdapat pengaruh tidak langsung positif dan signifikan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja melalui kepuasan kerja, (7) Terdapat pengaruh tidak langsung positif dan signifikan komunikasi organisasi terhadap produktivitas kerja melalui kepuasan kerja. Saran yang bisa diberikan atas hasil penelitian tersebut adalah: (a) Untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan diperlukan peran efektif dari banyak pihak khususnya atasan sebagai pendorong kerja karyawan dan dengan memperhatikan faktor- faktor kepuasan kerja karyawan sehingga karyawan akan mudah diarahkan untuk bekerja produktif ; (b) Komunikasi organisasi dan produktivitas kerja karyawan PG Kebon Agung sudah baik dan komunikasi harus terus diterapkan karena komunikasi berperan penting terhadap ketepatan waktu penyelesaian tugas dan kualitas hasil yang dicapai.

Peningkatan ketrampilan berbicara dengan pendekatan komuniukatif pada pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Jimbe 03 Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar / Arifin Efri Novalinda

 

ABSTRAK Novalinda, Afifin, Efri. 2008. Peningkatan Keterampilan Berbicara Dengan Pendekatan Komunikatif Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas III SDN Jimbe 03 Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutansi, M. Pd., (II) Dra. Sri Nuryati, M. Pd. Kata kunci: berbicara, komunikatif, kelancaran, keruntutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif dalam upaya peningkatan kemampuan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Jimbe 03, mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif yang dapat meningkatkan kelancaran berbicara siswa kelas III SDN Jimbe 03, dan mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif yang dapat meningkatkan keruntutan berbicara siswa kelas III SDN Jimbe 03 Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Model penelitian ini adalah kolaboratif antara peneliti dan guru kelas III SDN Jimbe 03. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus di SDN Jimbe 03 yang terletak di Desa Jimbe Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Jimbe 03 yang bejumlah 21 anak. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase. Data yang dianalisis adalah nilai rata-rata siswa dalam aspek berbicara yang dikategorikan dalam kualifikasi tuntas dan tidak tuntas, baik secara individu maupun kelas. Aspek yang dinilai adalah kelancaran dan keruntutan berbicara siswa kelas III SDN Jimbe 03. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembelajaran Bahasa Indonesiadi kelas II SDN Jimbe 03, penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Pada masing-masing siklus terjadi peningkatan aktifitas dan hasil belajar siswa melalui kegiatan tanya jawab, bercerita, dan menanggapi cerita teman sehingga terjadi peristiwa komunikasi tentang materi pembelajaran.Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dan II. Pada siklus I, persentase ketuntasan belajar siswa dalam aspek kelancaran berbicara adalah 76,19% dan pada siklus II, persentase ketuntasan belajarnya adalah 100%. Ini berarti telah terjadi peningkatan hasil kelancaran berbicara siswa sebesar 23,81%. Penerapan pendekatan komunikatif juga dapat meningkatkan keruntutan berbicara siswa kelas III SDN Jimbe 03 pada pelajaran Bahasa Indonesia aspek berbicara. Pada siklus I, persentase ketuntasan belajar siswa dalam aspek kelancaran berbicara adalah 80,95% dan pada siklus II, persentase ketuntasan belajarnya adalah 100%. Ini berarti telah terjadi peningkatan hasil kelancaran berbicara siswa sebesar 19,05%. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas III SDN Jimbe 03 pada pelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan melalui kegiatan tanya jawab, bercerita, dan menanggapi cerita baik dalam bentuk pertanyaan maupun pendapat sehingga terjadi peristiwa komunikasi.Penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan kelancaran dan keruntutan berbicara siswa kelas III SDN Jimbe 03. Hal ini dapat dibuktikan dari peningkatan hasil ketuntasan belajar baik dalam hal kelancaran maupun keruntutan berbicara. Saran yang diberikan kepada guru, hendaknya guru mampu menerapkan pendekatan komunikatif dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai sehingga siswa aktif dan terampil dalam aspek berbicara untuk bercerita, menanggapi cerita teman, mengkomunikasikan gagasan dan pendapatnya secara lisan dan tulisan.Dengan demikian hasil belajar siswa dapat meningkat.

Penggunaan TTS untuk meningkatkan pemerolehan kosakata Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Mojokerto / Nurul Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Nurul. 2009. Penggunaan TTS untuk Meningkatkan Pemerolehan Kosakata Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Mojokerto. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs.Muhaiban. Kata kunci: TTS, pemerolehan kosakata, MI MHM. Mengajarkan bahasa Arab untuk anak tidak mudah, diperlukan usaha yang sangat besar dari guru. Selain itu juga dibutuhkan fasilitas yang memadai, serta pemilihan metode yang tepat bagi mereka. Untuk menggairahkan minat belajar siswa, utamanya untuk anak-anak, guru dapat menggunakan teknik bermain. Salah satu bentuk permainan yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik pembelajaran bahasa Arab oleh guru adalah TTS. Pemerolehan kosakata bahasa Arab siswa kelas IV MI MHM masih rendah. Hal ini dikarenakan guru belum menggunakan metode dan media yang sesuai bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab siswa kelas IV MI-MHM dengan menggunakan TTS (2) proses peningkatan pemerolehan kosakata dengan menggunakan TTS pada siswa kelas IV MI-MHM, serta (3) pemerolehan kosakata siswa kelas IV MIMHM dalam pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan TTS. Penelitian ini dilakukan di MI MHM pada bulan Agustus sampai September tahun pelajaran 2008/2009 pada saat pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas IV MI MHM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) tes, (2) wawancara, dan (3) observasi. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil tes, wawancara, dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab berbasis kosakata dilakukan dengan menyiapkan RPP, media kartu gambar serta papan dan soal latihan TTS. Kemudian pelaksanaannya disesuaikan dengan RPP yang telah disusun. Pemerolehan kosakata siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan TTS mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan permainan TTS dalam pengajaran bahasa Arab berbasis kosakata dapat meningkatkan pemerolehan kosakata siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi kepala sekolah agar lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menambah fasilitas pembelajaran berupa media-media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam KBM, seperti kartu kata dan papan TTS. Bagi pengajar bahasa Arab di MI MHM agar membuat perencanaan sebelum mengajar, serta memilih metode dan media yang sesuai dengan karakter siswa untuk diterapkan dalam KBM yang akan dilaksanakan. Sedangkan untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis diharapkan agar lebih memperluas cakupannya dengan menambah jumlah kosakata yang diajarkan dan dengan waktu yang lebih lama, sehingga hasil penelitian jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guruguru bahasa Arab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Pengaruh doping Pb dan lama sintering terhadap pembentukan fase 2223 dan suhu kritis pada superkonduktor BSCCO / Ana Mar'atul Mahmudati

 

Pengembangan self regulated learning melalui mata pelajaran matematika siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Sumbersari I Kota Malang / Witaningsih

 

Ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor tersebut adalah faktor internal meliputi keadaan jasmani (kesehatan, cacat tubuh, kelelahan) , keadaan psikologis (inteligensi, perhatian, bakat, minat, kesiapan), dan faktor eksternal seperti keadaan keluarga (cara orang tua mendidik, suasana rumah, keadaan ekonomi), lingkungan sekolah (metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dan siswa, hubungan siswa dengan siswa), keadaan masyarakat (teman bergaul, kehidupan bermasyarakat, mass media). Secara sistematik faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan pada gilirannya berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Berkenaan dengan itu, sejak tahap pendidikan dasar siswa perlu menerapkan self regulated learning (SRL). SRL adalah kemampuan siswa mengatur diri dalam belajar. Kemampuan mengatur diri sendiri (SRL) pada mata pelajaran matematika merupakan upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas diri dalam belajar. Secara prinsipil, SRL menempatkan pentingnya kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengendalikan diri sendiri, terutama bila menghadapi tugas belajarnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : (1) Bagaimana penerapan task analysis(TA) melalui matapelajaran matematika yang dapat mengembangkan SRL siswa ?; (2) Adakah perubahan SRL pada masing-masing individu setelah dilakukan tindak pembelajaran matematika ? (3) Apakah terjadi peningkatan prestasi belajar akibat dari perubahan SRL siswa setelah dilakukan tindak pembelajaran matematika? Adapun penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menemukan tindak pembelajaran yang dapat mengembangkan SRL pada siswa SD melalui mata pelajaran matematika; (2) Mendeskripsikan perubahan SRL siswa pada mata pelajaran matematika, setelah dilakukan task analysis dan experiential learning; (3) Mengetahui peningkatan prestasi belajar akibat dari perubahan SRL siswa setelah dilakukan tindak pembelajaran matematika. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model siklus, dengan subjek siswa kelas V SDN yang berjumlah 20 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan ialah observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian tindakan kelas ini ialah : (1) ditemukannya seperangkat langkah tindak pembelajaran yang mampu meningkatkan SRL siswa, yaitu : (a) guru membuat task analyisis/ langkah-langkah pengerjaan soal untuk setiap tugas yang dilakukan siswa; (b) guru mengajarkan task analysis/ langkah-langkah sesuai dengan skenario pembelajaran; (c) guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas di kelas sesuai dengan task analysis; (d) guru menyuruh siswa mengerjakan sendiri tugas sesuai dengan task analysis; (e) guru menyuruh siswa mengoreksi kembali apakah langkah-langkah yang dilakukan sudah benar/sesuai dengan langkah yang diajarkan; (f) guru memberikan pekerjaan rumah (PR) sesuai tugas individu; (g) guru mengadakan wawancara kepada siswa yang mengalami kesulitan, (2) pada akhir tindakan siklus I sudah menunjukan peningkatan SRL, khususnya dalam evaluasi diri dan mengulang pelajaran, tetapi masih ada beberapa siswa yang belum menunjukkan indikasi SRL-nya, sehingga perlu ditindak lanjuti dengan perbaikan skenario pembelajaran pada siklus II. Dari hasil tindak pembelajaran pada siklus II, ternyata pada akhir siklus II semua siswa sudah menunjukkan peningkatan SRL, khususnya dalam evaluasi diri dan mengulang pelajaran, dan (3) berdasarkan data hasil belajar siswa dengan telah diberikannya tindakan pembelajaran yang dirancang dengan strategi yang mendorong berkembangnya SRL siswa, ternyata telah terjadi peningkatan prestasi siswa secara signifikan. Beberapa saran dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah dasar, hendaknya dapat dirancang task analysis (TA) dan experinetial learning (EL) yang mampu meningkatkan SRL siswa, baik dari aspek evaluasi diri maupun mengulang pelajaran, (2) Pihak sekolah dapat melakukan pengadaan panduan praktis program pengembangan SRL (khususnya pengembangan aspek evaluasi diri siswa) ke dalam rancangan pembelajaran yang bisa dimanfaatkan oleh guru mata pelajaran di Sekolah Dasar. Karena berkembangnya SRL siswa, sejak di sekolah dasar, khususnya dalam evaluasi diri akan bermanfaat bagi mereka untuk menghadapi tugas-tugas belajarnya, tanpa banyak bergantung pada bantuan orang lain, (3) Diharapkan dalam jangka pendek pengembangan SRL ke dalam rancangan tindak pembelajaran dapat diterapkan pada beberapa mata pelajaran lainnya.

Meningkatkan prestasi belajar IPS melalui pendekatan pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN Katerban II Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk / Yunita Kristanti

 

Di sekolah dasar saat ini, pendidikan Pengetahuan Sosial menunjukkan indikasi bahwa pola pembelajarannya masih bersifat teacher centered. Kecenderungan pembelajaran demikian, mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri siswa dalam pembelajaran sehingga prestasi belajar yang dicapai tidak optimal. Salah satu indikikator rendahnya prestasi belajar. Kesan menonjolnya verbalisme dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih terlalu kuat. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan agar prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut lebih baik dan meningkat salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat sebagai alternatif adalah Pendekatan kontekstual. Dari paparan latar belakang maka tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk Mendiskripsikan pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan Mendiskripsikan peningkatan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di SDN Katerban II Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk dengan pembelajaran kontekstual. Penelitian ini menggunakan rancangan Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas), yang dilakukan secara kolaboratifdengan guru kelas Sebagai sumber data utamanya dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Katerban II Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk, Semester I tahun pelajaran 2008/2009, Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain adalah: Teknik pengamatan dan catatan lapangan Teknik wawancara Studi dokumentasi dan Tes Hasil Belajar Pelaksanaan pembelajaran pada setiap tindakan dalam penelitian ini akan berakhir jika tingkat keberhasilan belajar masing-masing subjek penelitian mencapai optimal/baik sekali dan Peningkatan kemampuan penguasaan konsep nilai dan tempat dinyatakan dengan ketentuan :Rata-rata ketuntasan klasikal diatas 70 % yang mendapatkan skor diatas atau sama dengan 70.dalam hasil ulangan formatif tiap-tiap siklus. Hasil penelitian dapat disimpulkan Bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual siswa lebih menguasai dan memahami Kopetensi Dasar yang diajarkan dan siswa lebih bergairah dan termotivasi dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial dapat dilihat dari perolehan hasil evaluasi belajar tiap-tiap akhir siklus, untuk siklus I ketuntasan belajar klasikal 36% , siklus II 62 % dan siklus III 70%. Untuk rata –rata perolahan nilai siswa siklus I 60,40, siklus II 64,80 dan siklus III 70,90 dilihat dari sini ternyata tiap-tiap siklus meningkat baik ketuntasan klasikal maupun rata-rata nilai siswa.

Perancangan public service advertising "Malang Berbudaya" / Catur Eva Suryani

 

Abstrak Malang, merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia dan dikenal dengan julukan kota pelajar. Selain itu Malang merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya manusia, sumber daya alam maupun sumber daya budaya yang sangat beragam baik dari segi industri, pendidikan dan terlebih lagi pada sektor wisata serta seni budaya. Potensi Seni Budaya tidak akan berkembang jika kurang didukung oleh peran serta pemerintah dan masyarakat. Kesenian Budaya Malang yang etnis tersebut harus ditumbuh kembangkan lagi agar tidak punah dalam pengetahuan generasi saat ini dan yang akan mendatang untuk itu perlu dirancang sebuah Public Service Advertising untuk mengingatkan bahwa kebudayaan itu masih ada dan harus dilestarikan masyarakat bersama. Adapun tujuan dari perancangan ini adalah merancang Public Service Advertising Malang Berbudaya Khususnya mengenai kesenian di Malang secara efisien dan dapat disampaikan secara visual. Visualisasi yang disesuaikan dengan target audience primer, yaitu para pelajar dan Mahasiswa. Model Perancangan dengan metode perancangan prosedural yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan suatu bentuk produk iklan PSA yang efektif, inovatif dan komunikatif sesuai audience yang dituju dalam perancanganan ini, pengambilan keputusan akhir didasarkan pada kesepakatan antara perancangan dengan dinas Kebudayaan dan Pariwisata Malang selaku pendukung dan pemberi kesempatan pada perancang. (Sanyoto, 2006:37). Langkah – langkah perancangan harus membentuk aliran, mulai dari Latar Belakang sampai Desain Final tanpa terputus. Desain Final Yang baik harus dapat menjawab Latar Belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan perancangan, sehingga aliran itu seolah-olah kembali ke latar belakang masalah perancangan. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan Public Service Advertising dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna etnik, ilustrasi tari Malangan dan budaya yang ada seperti candi-candi yang ada di Malang, tipografi yang menyesuaikan desain retro serta media pendukung seperti: Poster, x-Banner, Billboard, dan Leaflet yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu untuk dapat Mencintai, melestarikan dan mengembangkan seni budaya Malang serta meningkatkan kepedulian menghargai dan mengapresiasikan kesenian budaya Malang sehingga membentuk citra (Image) tentang indahnya kesenian budaya Malang, maka penggunaan Perancangan Public Service Advertising ini merupakan suatu solusi yang tepat.

Kemampuan memerankan tokoh dalam film pendek siswa kelas XI SMAN 9 Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Oky Wahyu Sejati

 

Hubungan antara inteligensi, career self-efficacy, status sosial ekonomi orangtua dan pengambilan keputusan karier siswa SMA Negeri di Kabupaten Pamekasan / Jawahirul Kawakib

 

ABSTRAK Kawakib, Jawahirul. 2008. Hubungan Antara Inteligensi, Career self-efficacy, Status Sosial Ekonomi Orangtua dan Pengambilan Keputusan Karier Siswa SMA Negeri di Kabupaten Pamekasan. Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Marthen Pali, M.Psi., (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata-kata kunci : Inteligensi, Career Self-efficacy, Status Sosial Ekonomi, Pengambilan Keputusan Karier. Siswa SMA sebagai remaja perlu diberikan bimbingan karier agar dapat menguasai keterampilan pengambilan keputusan karier secara tepat. Remaja harus belajar dan berlatih membuat rencana, memilih alternatif keputusan, bertindak sesuai dengan hasil keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Siswa yang memiliki keterampilan pengambilan keputusan, pasti tidak akan bingung menghadapi karier masa depannya. Masalah utama dalam penelitian ini adalah (1) apakah terdapat profil tentang varian inteligensi, career self-efficacy, status sosial ekonomi orang tua dan pengambilan keputusan karier siswa? (2) apakah varian pengambilan keputusan karier siswa mampu dijelaskan oleh varian inteligensi, career self-efficacy, dan status sosial ekonomi orangtua? (3) apakah varian inteligensi, career self-efficacy, dan status sosial ekonomi orangtua mampu memberi sumbangan efektif terhadap pengambilan keputusan karier siswa baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama?. Penelitian ini bertujuan : untuk mendeskripsikan profil inteligensi, career self-efficacy, status sosial ekonomi orangtua, dan pengambilan keputusan karier siswa. (2) untuk menguji apakah varian pengambilan keputusan karier siswa mampu dijelaskan oleh varian inteligensi, career self-efficacy, dan status sosial ekonomi orangtua? (3) untuk menguji sumbangan efektif varian inteligensi, career self-efficacy, dan status sosial ekonomi orangtua terhadap pengambilan keputusan karier siswa SMA Negeri di Kabupaten Pamekasan, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Penelitian ini : penelitian deskriptif korelasional. Populasi penelitian : seluruh siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pamekasan yang terdiri atas 9 SMA Negeri. Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Tahap pertama dari 9 SMA Negeri yang ada di Kabupaten Pamekasan tersebar dalam 5 kecamatan ditentukan 5 sekolah dan diambil dengan cara random dengan teknik undian. Tahap berikutnya dari setiap sekolah yang terpilih sebagai kelompok sampel, selanjutnya ditentukan jumlah subyek yang dijadikan anggota sampel. Dari N = 2030 melalui perhitungan dengan menggunakan rumus dari Sloven dengan e (nilai kritis) 0,05 diperoleh hasil n = 334. Pengumpulan data menggunakan Instrumen tes inteligensi, inventori career self-efficacy, angket status sosial ekonomi orangtua, dan inventori pengambilan keputusan karier. Data yang diperoleh, dianalisis dengan multiple regression. Hasil penelitian membuktikan secara keseluruhan terdapat hubungan yang signifikan antara inteligensi, career self-efficacy, status sosial ekonomi orang tua, dan pengambilan keputusan karier siswa dengan nilai sebesar R 0,634, R2 0,402 dan Adjusted R2 0,396, F hitung = 73,813 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Secara keseluruhan sumbangan efektif inteligensi, career self-efficacy dan status sosial ekonomi orangtua terhadap pengambilan keputusan karier siswa sebesar 40,2%. Ketiga variabel independen tersebut, diketahui sumbangan efektif yang paling signifikan terhadap pengambilan keputusan karier siswa adalah career self-efficacy yaitu 32% dan secara berurutan diikuti oleh inteligensi dengan nilai sebesar 6,7% dan status sosial ekonomi orang tua dengan nilai sebesar 1,5%. Jika dilihat secara ganda diketahui bahwa sumbangan efektif paling signifikan adalah inteligensi dan career self-efficacy terhadap pengambilan keputusan karier sebesar 38,7%, bila dibandingkan dengan sumbangan efektif career self-efficacy dan status sosial ekonomi orangtua terhadap pengambilan keputusan karier sebesar 33.5%, dan sumbangan efektif inteligensi dan status sosial ekonomi orangtua terhadap pengambilan keputusan karier sebesar 8,2%. Berdasarkan temuan diatas, (1) para konselor sekolah perlu menyusun materi bimbingan karier secara profesional bagi siswa, dan melakukan penajaman program dibidang karier. Agar siswa semakin memahami diri terutama yang berhubungan dengan masalah-masalah karier mereka dimasa depan. (2) konselor sekolah dapat memberikan bimbingan karier kepada siswa yang mendapat hasil tes inteligensi di bawah rata-rata, rata-rata, di atas rata-rata, maupun superior. Agar mereka lebih mengenal dan memahami diri sendiri dan bisa meningkatkan kemampuan yang ada pada diri mereka sendiri secara optimal. (3) konselor sekolah dapat memberikan materi bimbingan karier secara lebih profesional kepada siswa, baik yang status sosial ekonomi orangtuanya rendah, sedang, maupun tinggi. Agar siswa dapat lebih memahami diri dan menerima keadaan yang terjadi pada mereka secara normal. (4) para konselor sekolah dalam menyusun materi bimbingan karier diharapkan melakukan analisis kebutuhan (need assesmen) agar konselor lebih memahami siswa yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan karier. (5) oleh karena temuan menunjukkan bahwa secara keseluruhan sumbangan efektif inteligensi, career self-efficacy, dan status sosial ekonomi orangtua terhadap pengambilan keputusan karier sebesar 40,2%, dan sebesar 59,8% tidak dijelaskan dalam penelitian ini, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pengambilan keputusan karier dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengambilan keputusan karier seperti kejadian-kejadian dan kondisi lingkungan (kekuatan sosial, kultural, dan kekuatan politik).

Perbedaan penerimaan teman sebaya antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert pada siswa SMK Negeri 2 Malang / Noviyanti Kartika Dewi

 

Salah satu perkembangan remaja yang menonjol adalah perkembangan sosialnya, khususnya yang berhubungan dengan teman sebaya. Remaja membutuhkan penerimaan dari teman sebayanya. Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan remaja akan penerimaan teman sebaya mempengaruhi perkembangan sosiopsikologis remaja pada masa selanjutnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan sebaya adalah faktor kepribadian. Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, kepribadian tersebut dibagi menjadi dua yaitu kepribadian ekstrovert dan kepribadian introvert. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) gambaran penerimaan teman sebaya pada siswa yang berkepribadian ekstrovert di SMK Negeri 2 Malang, (2) gambaran penerimaan teman sebaya pada siswa yang berkepribadian introvert di SMK Negeri 2 Malang, (3) perbedaan penerimaan teman sebaya antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan yang berkepribadian introvert di SMK Negeri 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang, sebesar 735 siswa. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cluster smaplin. Pengambilan sampel dalam penelitian ini sebesar 33%, sehingga sampel dalam penelitian ini sebesar 242 siswa. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat siswa yang berkepribadian ekstrovert (54,1%) lebih banyak daripada siswa yang berkepribadian introvert (45,9%). Penerimaan teman sebaya pada siswa yang berkepribadian ekstrovert berada pada kategori kurang (49,6%) sedangkan peneimaan teman sebaya pada siswa yang berkepribadian introvert berada pada kategori kurang (44,2%). Berdasarkan nilai persentase tersebut terdapat perbedaan penerimaan teman sebaya antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan diperoleh hasil nilai p (0,000) < α (0,05) maka dapat dinyatakan terdapat perbedaan penerimaan teman sebaya antara siswa yang berkeribadian ekstrovert dan siswa yang berkepribadian introvert. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran bahwa konselor hendaknya menyikapi hasil penelitian yang diperoleh mengenai perbedaan penerimaan teman sebaya antara siswa yang berkepribadian ekstrovert dan siswa yang berkepribadian introvert untuk meningkatkan kemampuan sosial dan belajar siswa di sekolah tersebut.

Rancang bangun mesin pembersih limbah biji-bijian pada peternakan unggas / Sigit Ali Mashud, Nanang Khosim

 

Mesin pembersih biji-bijian ini dirancang untuk membersihkan biji-bijian dari limbah (kulit biji-bijian yang terkelupas, debu, kotoran dan lain-lain). Mesin ini sangat efisien karena daya yang dibutuhkan tidak terlalu besar, mudah dipindahkan dan biji-bijian yang sudah dibersihkan dapat langsung diberikan pada burung atau bahkan dapat dijual dengan harga lebih mahal. Sistem kerja mesin ini menggunakan ulir pembawa (screw) untuk membawa biji menuju ke saluran pengipasan yang sudah diatur putarannya, sehingga biji-bijian terpisah dari limbah. Manfaat dari pembersihan biji-bijian adalah untuk memisahkan limbah, dan membantu peternak dalam menyediakan pakan burung dengan kapasitas 150 kg/jam, sehingga dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi kerja dan tingkat pendapatan pengusaha peternakan burung.

Analisis sebaran kontaminasi leachate bawah permukaan dengan metode resistivitas (Studi kasus di TPA Supit Urang Kec.Sukun Kab. Malang) / Ahmad Qomaruddin

 

Telah dilakukan pengukuran geolistrik dengan metode resistivitas konfigurasi Wenner Sounding yang dimaksudkan untuk mengetahui pola sebaran kontaminasi leachate bawah permukaan dengan metode resistivitas di Tempat Pembuangan Akhir Supit Urang Kec. Sukun Kab. Malang. Menurut peta geologi daerah Supit Urang dibentuk oleh tufa pasiran, tufa batu apung, breksi tuf dan tufa halus. Metode geolistrik dilakukan untuk menggambarkan penyebaran tahanan jenis bawah permukaan dengan mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi dengan cara mendeteksinya di permukaan. Prinsip kerja metode ini adalah dengan menginjeksikan arus ke dalam tanah melalui dua elektroda, sehingga diperoleh beda potensial dari elektroda yang lain. Pengolahan dan interpretasi data konfigurasi Wenner Sounding dilakukan menggunakan software IPI2win dan PROGRESS 3.0 untuk memperoleh nilai kedalaman dan nilai resistivitas lapisan batuan. Hasil interpretasi yang dihasilkan menunjukkan pola sebaran tahanan jenis bawah permukaan. Hasil interpretasi di dapatkan akibat adanya infiltrasi leachate yang terakumulasi ke dalam lapisan batuan. Berdasarkan hasil pengolahan serta interpretasi data dengan tiga lintasan, berhasil terdeteksi lapisan tanah terkontaminasi leachate di mana didapatkan nilai kedalaman dan nilai resistivitas yang berbeda-beda. Lintasan vertikal hasil interpretasi untuk kedalaman 0-0,2419 meter diperoleh nilai resistivitas 6,02-6,418 ohm meter. Lintasan horisontal 1 hasil interpretasi untuk kedalaman 0-0,2618 meter diperoleh nilai resistivitas 8,86-9,584 ohm meter. Dan lintasan horisontal 2 hasil interpretasi untuk kedalaman 0-0,2365 meter diperoleh nilai resistivitas dengan 7,20-8,131 ohm meter.

Peningkatan hasil belajar PKn pokok bahasan Pemerintahan Kabupaten/Kota dan Provinsi dengan model pembelaran bermain peran pada siswa kelas IV SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan / Wajahudin Arey

 

Masalah-masalah yang ditemukan di SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan di atas cukup kompleks, yaitu 1) kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah, sangat jarang dilakukan dengan praktekum atau demonstrasi karena keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah tersebut, dan 2) kemampuan siswa masih rendah. Salah satu indikator yang menunjukan kemampuan berpikir masih rendah tersebut adalah siswa jarang menyampaikan pendapat atau mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan guru dan merasa takut pada saat mau memberikan tanggapan atau pendapat atas masalah yang diajukan oleh guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan pada pokok bahasan pembelajaran sistem pemerintahan kabupaten/kota, dan provinsi dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran (role-playing), dan mengetahui hasil belajar PKn pokok bahasan sistem pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi setelah menerapkan model pembelajaran bermain peran. Adapun Manfaat dari penelitian ini adalah Siswa lebih aktif, kreatif, dan termotivasi untuk meningkatkan hasil belajarnya, serta akan memperdayakan kemampuan berpikirnya, dan Guru lebih profesional dalam menjalankan tugas mengajar untuk merangsang minat siswa dan melibatkannya secara utuh dalam pembelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Selotambak kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 7,80 atau 24,38% setelah digunakan model pembelajaran bermain peran. Hasil belajar siswa kelas IV SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan masih perlu ditingkatkan lagi melalui upaya-upaya yang terencana dan berkesinambungan. Hasil penelitian ini akan dijadikan landasan bagi peneliti lain untuk peneliti sejenis yang akan datang.

Perancangan buku panduan "Visit to Malang" sebagai media komunikasi para turis domestik dan mancanegara (Backpacker) / Surya Afandy

 

Kota Malang merupakan Kota dengan potensi wisata yang luar biasa. Suasana sejuk dengan dihiasi bangunan – bangunan kuno peninggalan era kolonial, serta lokasi obyek-obyek wisata, baik itu wisata kuliner, budaya, buatan, dan belanja yang tersebar di Kota Malang. Pemerintah Kota Malang telah membuat berbagai macam media promosi untuk wisata Kota malang, diantaranya penulisan buku tentang sejarah Kota Malang, mengadakan event – event pameran wisata Kota Malang di luar daerah, pembuatan brosur, booklet, dan lain sebagainya. Sayangnya, para wisatawan backpacker atau wisatawan dengan biaya terbatas masih belum memiliki buku panduan mengenai tempat – tempat wisata, kuliner, serta penginapan yang memiliki harga murah namun tetap nyaman di Kota Malang, yang selama ini ada adalah buku panduan untuk kalangan wisatawan umum. yang pada akhirnya dapat memberikan citra positif pada pariwisata Kota Malang. Perancangan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan citra pariwisata Kota Malang secara efektif dan efisien melalui konsep desain yang sesuai dengan program promosi wisata Kota Malang serta wujud karya desain yaitu buku panduan berwisata yang sesuai bagi para wisatawan khususnya wisatawan Backpacker. Perancangan yang terbentuk berupa media komunikasi visual lini bawah berupa buku panduan berwisata sebagai promosi Kota Malang untuk wisatawan backpacker. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, dan wawancara secara langsung kepada pihak Dinas Pariwisata Dan Komunikasi Kota Malang, serta beberapa kalangan Backpacker lokal. Berdasarkan data yang terkumpul dapat diketahui tempat – tempat wisata, serta penginapan dengan harga terjangkau yang terdapat di Kota Malang. Sehingga program launching buku panduan berwisata di Kota Malang untuk wisatawan backpacker perlu diadakan dengan media-media pendukung berbasis print media, yang sebelumnya telah dilakukan proses uji kelayakan. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah perlunya penambahan lahan hijau dan perbaikan sarana dan prasarana penunjang pariwisata serta mempertahankan bentuk bangunan era kolonial. Selain itu, memperbaiki manajemen komunikasi visualnya dengan melibatkan tenaga yang profesional sesuai bidangnya, demi kemajuan pariwisata di Kota Malang.i

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan / Sri Wulaningsih

 

ABSTRAK Sumber daya manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan suatu visi dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Kehadiran manusia sebagai pegawai dalam kegiatan organisasi sangat esensial sekali untuk mewujudkan suatu tujuan yang ingin dicapai organisasi. Organisasi belum dapat melaksanakan tugas organisasi secara sempurna tanpa memerlukan pegawai sebagai sumber daya manusia meskipun didukung oleh alat-alat yang canggih. Organisasi baik pemerintahan maupun swasta mendambakan produktivitas dan efisiensi yang tinggi. Mereka selalu berupaya agar para pegawai yang terlibat dalam kegiatan organisasi dapat memberikan prestasi dalam bentuk produktivitas kerja setinggi mungkin. Produktivitas kerja pegawai di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan bisa dilihat dari penilaian kinerja pegawai yang berupa daftar penilaian pekerjaan (DP-3) yang dilakukan oleh tiap-tiap kepala sub-bagian di kantor tersebut. Unsur-unsur yang di nilai khusus untuk pegawai antara lain: kesetiaan, prestasi kerja, tanggungjawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama, dan prakarsa. Penilai haruslah benar-benar mengetahui secara pribadi pegawai yang dinilai, sehingga dengan demikian diharapkan penilaian dapat dilakukan lebih objektif. Berdasarkan pedoman yang ada di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, penilaian untuk kesetiaan minimal harus mencapai angka 91, sedangkan untuk prestasi kerja, tanggungjawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama, dan prakarsa minimal harus mencapai angka 76 kurang dari itu maka seorang pegawai tidak dapat dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas pegawai antara lain pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), kemampuan (abilities), dan suatu kebiasaan yang terpolakan (attitude) (Sulistiyani dan Rosidah, 2003: 200). Produktivitas akan menurun apabila pegawai kurang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam menguasai tugas-tugas profesinya. Seperti yang diungkapkan oleh Mangkurawira dan Hubeis (2007: 104) bahwa ”faktor-faktor yang dapat menyebabkan turunnya produktivitas pegawai yaitu peralatan yang kuno, beban kerja yang tidak dapat diprediksi, arus kerja yang tidak efisien, rancangan pekerjaan tidak tepat, serta jarangnya kegiatan pelatihan dan pengembangan”. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja pegawai di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan?; (2) apa faktor yang dominan berpengaruh terhadap produktivitas kerja pegawai di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan?

Hubungan penggunaan sarana pembelajaran dengan minat dan motivasi siswa Sekolah Menengah Atas Negeri se-kota Malang / Riesvilia Purwindari

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para pendidik dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang disediakan, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan teknologi. Pendidik sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat murah dan efisien yang meskipun sederhana tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran. Keberadaan sarana pembelajaran diperlukan untuk membantu tugas-tugas guru. SMA sebagai salah satu jenjang pendidikan di Indonesia yang dapat dikategorikan telah memiliki kemampuan intelektual yang cukup baik berdasarkan jenjang pendidikannya, maka siswa SMA biasanya dapat memperoleh sumber belajar dan informasi dalam rangka menunjang keberhasilan belajarnya. Sarana pembelajaran yang dipakai oleh guru SMA se-kota Malang dalam proses belajar-mengajar beraneka ragam. Penggunaan sarana pembelajaran ini diharapkan dapat mempengaruhi minat dan motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Masalah diteliti meliputi: (1) seberapa tinggi minat belajar siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang dilihat dari penggunaan sarana pembelajaran (2) seberapa tinggi motivasi belajar siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang dilihat dari penggunaan sarana pembelajaran (3) seberapa tinggi penggunaan sarana pembelajaran dalam proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang (4) apakah ada hubungan penggunaan sarana pembelajaran dengan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) mengetahui minat belajar siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang dilihat dari penggunaan sarana pembelajaran (2) mengetahui motivasi belajar siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang dilihat dari penggunaan sarana pembelajaran (3) mengetahui penggunaan sarana pembelajaran dalam proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang (4) mengetahui hubungan penggunaan sarana pembelajaran dengan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di SMA Negeri Se-Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional. Dikatakan deskriptif karena untuk memperoleh gambaran tentang hubungan penggunaan sarana pembelajaran dengan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Menggunakan pendekatan korelasional karena correlational study yaitu usaha penelitian yang mengumpulkan data variabel tertentu yang kemudian dianalisis untuk menjelaskan hubungan di antara variabel-variabel itu dan memprediksi kecenderungan-kecenderungannya. Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah regresi berganda, menggunakan program komputer SPSS 13.0 for windows. Hasil penelitian diperoleh penggunaan sarana pembelajaran di SMA Negeri Se-Kota Malang dikategorikan tinggi yaitu sebesar 51,3%. Dari hasil penelitian ini juga di peroleh Minat belajar siswa SMA Negeri Se-Kota Malang dapat dikategorikan tinggi yaitu sebesar 49%, sedangkan Motivasi belajar siswa SMA Negeri Se-Kota Malang juga dikategorikan tinggi dengan hasil sebesar 51,6%. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa r hitung > taraf signifikansi, yaitu 0,550> 0,05. Hal ini berarti ada hubungan yang kuat antara minat dan motivasi siswa dengan penggunaan sarana pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, peneliti menemukan hal yang harus diperhatikan oleh beberapa pihak anatara lain kepada: (1) guru: hendaknya semua guru dapat menggunakan sarana pembelajaran yang bervariatif, sehingga minat dan motivasi siswa tidak menurun untuk mengikuti proses belajar-mengajar; (2) Jurusan Administrasi Pendidikan: hendaknya jurusan lebih memperhatikan sarana pembelajaran yang digunakan dalam perkuliahan, sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti perkuliahan; (3) peneliti lain: hendaknya hasil penelitian ini menjadi salah satu referensi dalam penelitian yang sejenis.

The Teaching of speaking for the eleventh graders of hotel accommodation program at SMK Negeri 3 Probolinggo / Tri Widyastuti

 

Berdasarkan hasil wawancara tidak terstruktur, observasi, tes, maupun dokumentasi didapatkan bahwa banyak siswa yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar tersebut bermacam-macam, diantaranya adalah pembelajaran yang terlalu banyak menggunakan metode ceramah terlebih pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang memiliki materi lebih banyak dibanding dengan mata pelajaran lain, atau kurangnya variasi model pembelajaran yang menyebabkan siswa mudah bosan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah prestasi belajar IPS siswa kelas III SDN Sambi II Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri masih di bawah kriteria ketuntasan. Penyebab utama dari permasalahan tersebut adalah kurangnya variasi model pembelajaran sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang ada. Dengan adanya permasalahan tersebut maka pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk mentransformasi materi terhadap siswa tidak akan berjalan secara maksimal. Untuk itu perlu adanya penyelesaian dalam permasalahan tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah yaitu dengan menggunakan variasi model pembelajaran yang salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif numbered head together. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan prestasi pembelajaran IPS pada siswa kelas III, selain itu penulis juga ingin menerapkan model pembelajaran numbered head together agar siswa tidak merasa bosan. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas III SDN Sambi II Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari: Pra tindakan menggunakan metode caramah, tanya jawab, diskusi, penugasan tanpa menggunakan kooperatif numbered head together. Siklus I menggunakan model kooperatif numbered head together. Siklus II menggunakan model numbered head together dengan lingkungan sebagai media dalam pembelajara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif numbered head together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III SDN Sambi II. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan rata-rata siswa dari pra tindakan yang rata-rata perolehan nilai adalah 60,5 atau ketuntasan belajar 25%. Dengan demikian pada pra tindakan dinyatakan tidak tuntas. Kemudian pada siklus I dinyatakan tidak tuntas dengan perolehan nilai rata-rata kelas 76 dan ketuntasan 78%. Pada siklus I ini dinyatakan tidak tuntas dikarenakan kriteria ketuntasan adalah banyak siswa yang mendapatkan nilai minimal 70 sebanyak ±100%. Untuk siklus II perolehan nilai rata-rata kelas mencapai 90 dan ketuntasan mencapai 90%. Siklus II ini dinyatakan tuntas karena jumlah siswa yang mendapat nilai minimal 70 sebanyak 90%. Dalam siklus II ini terdapat 3 siswa yang tidak dapat mencapai ketuntasan belajar hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan siswa berdasarakan catatan dari guru yang dibuktikan dengan pelaksanaan pra tindakan, siklus I dan siklus II prestasi belajar ketiga anak tidak mengalami peningkatan. Untuk itu memerlukan bimbingan khusus bagi ketiga siswa tersebut. Berasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif numbered head together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III. Tentunnya model pembelajaran ini bisa di terapkan pada kelas yang berbeda, tingkatan yang berbeda, ataupun mata pelajaran yang berbeda. Saran dari penelitian ini adalah guru sebaiknya menggunakan model kooperatif numbered head together untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sebagai variasi model pembelajaran.

Persepsi siswa terhadap penyalahgunaan narkoba dan harapan bimbingannya / Ita Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Ita. 2009. Persepsi Siswa terhadap Narkoba dan Harapan Bimbingannya. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Drs. Harmiyanto. Kata Kunci: penyalahgunaan narkoba, persepsi, harapan bimbingan konseling. Akhir-akhir ini masalah penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya semakin ramai dibicarakan dan mengkhawatirkan banyak kalangan. Saat ini peredaran narkoba semakin meluas ke berbagai tempat bahkan sekolah- sekolah. Siswa-siswa sekolah yang berada pada usia remaja telah menjadi mangsa besar bagi para pengedar narkoba. Sifat para remaja yang suka mencoba hal-hal yang menantang menjadikan remaja sebagai golongan yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa SMA Negeri 9 Malang terhadap penyalahgunaan narkoba dan untuk mengetahui harapan siswa SMA Negeri 9 Malang terhadap bimbingan dan konseling terkait dengan penyalahgunaan narkoba. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang. Sampel ditetapkan dengan menggunakan metode cluster random sampling. Sample diambil secara acak mewakili tiap bidang/program pelajaran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini angket terstruktur dengan empat rentangan skala jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Hasil analisis data variabel persepsi terhadap narkoba menunjukkan bahwa (1) cukup banyak siswa (89,3%) memiliki persepsi yang tepat sekali dan tepat terhadap penyalahgunaan narkoba; (2) sangat sedikit siswa (10,6%) yang memiliki persepsi yang kurang tepat dan tidak tepat terhadap penyalahgunaan narkoba. Hasil analisis data variabel harapan terhadap bimbingan menunjukkan bahwa (1) sangat banyak siswa (84%) yang memiliki harapan yang tinggi; (2) sangat sedikit siswa (16%) yang memiliki harapan yang rendah terhadap bimbingan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti mengemukakan beberapa saran kepada: (1) kepala sekolah, menyediakan fasilitas untuk pelaksanaan kegiatan bimbingan yang berkaitan dengan narkoba, mempermudah proses surat menyurat saat akan dilaksanakan kegiatan yang bertema narkoba, melakukan kontrol terhadap lingkungan sekitar sekolah agar benar-benar terhindar dari jangkauan penyalahgunaan narkoba,(2) guru, harus tetap ikut memantau pergaulan siswa di sekolah dan bersama personel sekolah yang lain melakukan pengawasan terhadap lingkungan sekitar sekolah agar aman dari jangkauan penyalahgunaan narkoba. (3) Memberikan layanan informasi dengan mengadakan kegiatan nonton bareng atau problem solving dengan topik-topik berkaitan dengan narkoba dan memberikan layanan konseling pada siswa yang diduga terlibat dalam kasus narkoba; (4) Orang tua, i memberikan pendidikan tentang narkoba sejak dini pada anak-anaknya. dengan cara mengajak anak menonton film yang berhubungan dengan permasalahn narkoba. Dari hasil nonton, anak sekaligus dapat diajak melakukan problem solving terhadap permasalahan narkoba tersebut.

Peningkatan hasil belajar IPS dengan model pembelajaran berbasis portofolio kelas III SDN Pelem II Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk / Mei Wulandari Septiningtyas

 

Pembelajaran berbasis portofolio merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk mendorong kompetensi, tanggung jawab dan partisipasi peserta didik. Pembelajaran berbasis portofolio memposisikan siswa sebagai titik sentralnya. Dalam pembelajaran siswa dimotivasi untuk mau dan mampu melakukan sesuatu dengan lebih mngintensifkan interaksi dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran berbasis portofolio dalam mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Pelem II kecamatan Kertosono kabupaten Nganjuk. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian: pengamatan (observasi), catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis portofolio dalam mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Pelem II kecamatan Kertosono kabupaten Nganjuk. Dengan pembelajaran berbasis portofolio, siswa menjadi aktif, kreatif dan berani mengeluarkan atau menyampaikan pendapat. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan adalah pembelajaran berbasis portofolio dalam mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Pelem II kecamatan Kertosono kabupaten Nganjuk. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan strategi pembelajaran berbasis portofolio dapat diterapkan dalam penyampaian materi maupun pemberiam tugas dan penilaian peserta didik.

Peningkatan hasil belajar keterampilan berbicara siswa dengan pendekatan pragmatik di kelas V SDN Karanganyar I Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan / Sisilia Heatubun

 

ABSTRAK Heatubun, Sisilia. 2009. Peningkatan Hasil Belajar Keterampilan Berbicara dengan Pendekatan Pragmatik di Kelas V SDN Karanganyar I Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd., (2) Dra. Winihasih, M.Pd Kata kunci: Pendekatan pragmatik, keterampilan berbicara, Sekolah Dasar. Bahasa Indonesia berperan sebagai alat untuk mempersatukan keberagaman bahasa, adat istiadat, suku, dan budaya. Bertolak dari hal tersebut, siswa diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Permasalahan yang terjadi di kelas adalah siswa belum mampu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta tidak sesuai dengan situasi dan konteks, sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Karanganyar I yang mencakup, kelancaran berbicara, intonasi, strukutur kalimat, ketepatan pilihan kata, kontak mata yang sesuai dengan situasi dan konteks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik membelajarkan siswa agar dapat berbicara sesuai situasi dan konteks antara lain; siapa, di mana, kapan, tujuan dan peristiwa apa? Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) melalui tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 49 orang siswa di SDN Karanganyar I kecamatan Kraton kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes, observasi dan wawancara selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, pendekatan pragmatik diterapkan dalam matapelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Karanganyar I. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep tentang situasi dan konteks saat berbicara secara klasikal mengalami peningkatan dari 57,1% pada pra tindakan menjadi 65,9% pada siklus I. Selanjutnya menjadi 82,0% pada suklus II. Hasil belajar yang berupa tes secara lisan pada siklus I diperoleh skor 51,5% dan menjadi 74,3% pada siklus II. Hasil belajar yang berupa proses kegiatan belajar siswa pada siklus I diperoleh skor 51,1% dan mengalami peningkatan menjadi 74,4%. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Hal ini disimpulkan bahwa pendekatan pragmatik telah berhasil meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan pendekatan pragmatik dalam mengajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran seni budaya di SMP Negeri 2 Wlingi / Nanang Nurvianto

 

ABSTRAK Nurvianto, Nanang. 2008. Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Di SMP Negeri 2 Wlingi. Skripsi. Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Tjitjik Sriwardhani M.Pd, (2) Drs. Sumarwahyudi M.Sn Kata kunci : Penerapan KTSP, Mata Pelajaran Seni Budaya KTSP merupakan kurikulum baru penyempurnaan kurikulum 2004 (KBK) yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Tujuan KTSP ini diharapkan bisa memberikan hasil pembelajaran yang lebih baik daripada kurikulum sebelumnya, tapi pada kenyataannya belum memberikan perubahan yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan KTSP dalam pembelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 2 Wlingi yaitu mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya dan faktor-faktor pendukung dan penghambat penerapan KTSP dalam pembelajaran Seni Budaya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif. Subjek berjumlah 36 siswa dalam satu kelas dengan alasan di sekolah tersebut dalam SDM tidak ada perbedaan, dengan kata lain tidak ada kelas unggulan maupun kelas terendah, guru seni budaya dan kepala sekolah SMP Negeri 2 Wlingi. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti dan instrumen penunjang berupa pedoman observasi, wawancara, dokumen dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Seni Budaya secara konseptual mampu menerapkan KTSP dalam pembuatan perencanaan pembelajaran namun secara aplikasi masih mengalami kesulitan. Sedangkan penerapan KTSP dalam pembelajaran Seni Budaya terdiri dari penerapan dalam materi, metode, media, dan sistem penilaian atau evaluasi. Materi yang diajarkan diambil dari buku panduan yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran. Mengenai metode yang digunakan adalah berupa ceramah, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas. Media yang digunakan berupa media cetak yaitu buku penunjang, gambar-gambar seni, kliping dan media audiovisual yaitu TV, VCD, alat musik. Adapun sistem penilaian yang diterapkan guru meliputi penilaian proses dan penilaian hasil. Kedua penilaian tersebut mencakup aspek afektif dan psikomotorik. Penilaian proses dilaksanakan selama tugas sedangkan penilaian hasil dilaksanakan setiap selesai tugas. Faktor pendukung penerapan KTSP dalam pembelajaran Seni Budaya meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu SDM yang bermutu, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor eksternal adalah adanya MGMP dan lingkungan sekolah yang kondusif. Adapun faktor penghambat diantaranya media pembelajaran yang kurang memadai, latar belakang pendidikan guru dan alokasi waktu yang sedikit. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar guru Seni Budaya meningkatkan strategi pembelajaran dalam mengajar serta mengikuti perkembangan pengetahuan seni budaya melalui berbagai media dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran Seni Budaya.

Pembelajaran cooperative learning tipe team game tournament untuk meningkatkan prestasi belajar IPA di SDN Nglegok 02 Kabupaten Blitar / Mardiana Dwi Lulitasari

 

Observasi pendahuluan dilakukan oleh peneliti pada mata pelajaran IPA di kelas VB SDN Nglegok 02 menunjukkan bahwa: (1) prestasi siswa dalam pembelajaran IPA kurang berhasil (2) keberanian dalam mengingkapkan pendapat siswa masih sangat rendah (3) motivasi siswa rendah. Keadaan yang terlihat pada gambaran di atas di karenakan karena pembelajaran masih disajikan secara tradisional sehingga dapat menimbulkan rasa bosan saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan pengamatan tersebut peneliti memberikan solusi pemecahan masalah dengan cara menggunakan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk belajar aktif. Salah satu metode pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif belajar adalah metode pembelajaran cooperative. Metode pembelajaran cooperative adalah metode pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga siswa dapat saling bekerja sama untuk menyelesaikan tugas belajar. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa untuk aktif, saling membantu dan bertanggung jawab dalam memahami materi yang dipelajari. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tidakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VB SDN Nglegok 02. Pembelajaran Team Game Tournament (TGT) ini merupakan pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa karena bentuknya berupa tournament yang sangat menarik bagi siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari tahap pra tindakan nilai rata-rata pra tindakan siswa yaitu 59, 74 pada siklus I dan 80 siklus II. Penerapan pembelajaran TGT sangat mudah sehingga dapat membuat pelajaran yang disajikan menjadi menyenangkan bagi siswa. Bagi para guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran cooperative pada pelajaran IPA di sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi belajar IPA di SD.

Pengembangan inventori konsep diri siswa Sekolah Menengah Atas / Ika Anggi Ratnawati

 

ABSTRAK Ratnawati, Ika Anggi. 2009. Pengembangan Inventori Konsep Diri Siswa Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M. A, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M. Pd. Kata kunci: Inventori, Konsep Diri, Siswa SMA Inventori konsep diri merupakan salah satu instrumen yang sangat penting dalam layanan bimbingan dan konseling, khususnya layanan pribadi-sosial. Selama ini program bimbingan konseling di Sekolah Menengah lebih terfokus pada layanan di bidang karir dan belajar. Layanan pribadi-sosial dalam frekuensi yang jauh lebih kecil. Hal ini akan mempengaruhi kualitas kehidupan individu di kemudian hari yang pada akhirnya juga mempengaruhi terpenuhinya tugas-tugas perkembangan siswa secara optimal, khususnya dalam membentuk konsep diri. Oleh karena itu diperlukan alat atau instrumen yaitu inventori konsep diri siswa untuk mengetahui atau mengidentifikasi konsep diri siswa yang dapat membantu konselor dalam membimbing siswa untuk memahami diri siswa dengan tepat. Tujuan dikembangkannya Inventori konsep diri adalah menghasilkan inventori konsep diri yang memenuhi standar alat ukur inventori meliputi tingkat validitas, reliabilitas, dan penormaan inventori konsep diri siswa SMA yang dikembangkan. Inventori konsep diri yang dikembangkan menggunakan rancangan penelitian pengembangan (Research and Development). Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah area random sampling. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri se-Kota Malang dengan sampel yang diambil adalah perwakilan populasi di kelas XI. Teknik pengujian keberterimaan inventori dilakukan dengan menggunakan uji ahli, uji perseorangan, uji coba terbatas, dan uji lapangan. Analisis hasil penelitian yang digunakan untuk mengetahui validitas dengan korelasi Product Moment Pearson, mengetahui reliabilitas dengan Cronbarch Alpha, dan analisis persentasi Berdasarkan uji ahli diperoleh masukan berupa kesesuaian antara indikator dengan deskriptor, pernyataan dengan deskriptor dan beberapa indikator yang perlu direvisi secara redaksional sehingga Inventori konsep diri lebih jelas dan komprehensif. Hasil uji perseorangan menunjukkan pemahaman dan keterbacaan siswa terhadap Inventori konsep diri. Hasil uji coba terbatas menunjukkan bahwa dari 80 butir pernyataan Inventori konsep diri, 68 butir pernyataan Inventori konsep diri dinyatakan valid pada p < 0, 05 dan 12 butir pernyataan dinyatakan tidak valid pada p > 0, 05. Hasil perhitungan reliabilitas menunjukkan bahwa dari 68 butir pernyataan diperoleh koefisien Alpha 0,945. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat dinyatakan Inventori konsep diri yang dikembangkan memiliki reliabilitas yang tinggi. Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa dari 68 butir pernyataan Inventori konsep diri, 65 butir pernyataan dinyatakan valid pada p < 0, 05 dan 3 butir pernyataan dinyatakan tidak valid pada p > 0, 05. Hasil perhitungan reliabilitas menunjukkan bahwa dari 65 butir pernyataan diperoleh koefisien Alpha 0,918. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat dinyatakan Inventori konsep diri yang dikembangkan memiliki reliabilitas yang tinggi. Untuk butir pernyataan yang tidak valid tersebut, baik dalam uji coba terbatas dan uji lapangan tidak dipakai dalam pernyataan Inventori konsep diri. Hasil pengembangan diperoleh penormaan Inventori konsep diri siswa SMA Negeri se-Kota Malang dengan kategori konsep diri yang tergolong rendah, konsep diri sedang, dan konsep diri tinggi. Saran bagi penelitian selanjutnya, khususnya mengenai Inventori konsep diri hendaknya terus ditindaklanjuti dengan diadakannya pengembangan baik dalam konstruk teori, jenjang subjek yang dipergunakan, memperluas populasi, dan wilayah yang digunakan sehingga dapat menggambarkan suatu alat psikologis yang dapat diandalkan, khususnya untuk mengetahui atau mengidentifikasi konsep diri siswa.

Pengaruh metode pembelajaran bermultimedia dan metode pembelajaran tradisional terhadap kemampuan retensi siswa pada topik bahasan proses mencetak keramik di SMA Negeri Trenggalek / Saritama Setyarahayu

 

Setyarahayu, Saritama. 2008. Pengaruh Pembelajaran Bermultimedia dan Metode Pembelajaran Tradisional terhadap Kemampuan Retensi Siswa pada Pokok Bahasan Proses Mencetak Keramik di SMA Negeri Trenggalek. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Drs. Ponimin, M.Hum. Kata kunci: pembelajaran bermultimedia, metode pembelajaran tradisional, retensi. Metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap retensi siswa. Penelitian ini bertujuan secara umum untuk mengetahui dan menguji adanya pengaruh antara pembelajaran bermultimedia dan metode pembelajaran tradisional terhadap retensi siswa pada topik bahasan proses mencetak keramik matapelajaran Seni Budaya di SMA Negeri Trenggalek. Sedangkan secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji adanya perbedaan yang signifikan antara pembelajaran bermultimedia dan metode pembelajaran tradisional terhadap skor tes kemampuan retensi siswa pada topik bahasan proses mencetak keramik di SMA Negeri Trenggalek. Berdasarkan pada kajian kepustakaan, hipotesis penelitian ini dirumuskan: “ada perbedaan yang signifikan skor tes kemapuan retensisiswa yang diajar dengan metode pembelajaran bermultimedia dan metode pembelajaran tradisional pada topik bahasan proses mencetak keramik di SMA Negeri Trenggalek” Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental. Adapun analisis penelitian yang dipakai adalah analisis statistik inferensial dengan uji beda untuk menguji hipotesis. Untuk memudahkan dalam menganalisis maka peneliti menggunakan software SPSS 12.00 for windows dengan analisis independent sample t-test. Berdasarkan hasil perhitungan uji kesamaan dua mean kemampuan awal antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sama secara signifikan ditunjukkan oleh thitung < ttabel . Hal ini menunjukkan bahwa pengujian terhadap hasil retensi siswa pada kelas eksperimen dan hasil retensi siswa pada kelas kontrol dapat dilakukan tanpa adanya faktor penghalang yang berhubungan dengan perbedaan kemampuan awal kedua sampel atau hasil penelitian tidak lagi disebabkan oleh perbedaan subyek sejak awal tetapi merupakan akibat dari pemberian perlakuan. Simpulannya, pembelajaran bermultimedia mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap retensi siswa. Berdasarkan perhitungan hipotesis dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2.730 pada signifikansi thitung sebesar 0.008 dan ttabel (0.05,78) dengan tingkat signifikansi 0.05 sebesar 1.990. Jadi H1 diterima dengan thitung > ttabel yang berarti hipotesis yang berbunyi ada perbedaan yang signifikan skor tes kemampuan retensi siswa yang diajar dengan multimedia pembelajaran dan metode pembelajaran tradisional pada topik bahasan proses mencetak keramik di SMA Negeri Trenggalek diterima. Dari uji beda diketahui dengan jelas bahwa pembelajaran bermultimedia dapat meningkatkan skor tes kemampuan retensi pada post tes sebesar 9.375, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran berpengaruh terhadap retensi siswa pada pokok bahasan Proses Mencetak Keramik di SMA Negeri Trenggalek. Ini berarti pembelajaran tidak cukup diwakili dalam bentuk uraian kalimat yang disajikan dalam buku teks atau yang diceramahkan, bahkan materi yang diajarkan akan cepat hilang dari ingatan. Sebalikya semakin menuju konkrit media pelajaran mempermudah penerimaan siswa serta mempunyai retensi lebih lama. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh multimedia pembelajaran dengan cakupan yang lebih luas dan memadukan beberapa metode pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar analisis terhadap retensi siswa lebih mendalam dan mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya berdasarkan informasi yang diberikan

Penggunaan metode stad untuk meningkatkan kemampuan menulis terbimbing Bahasa Arab di MTs Nu'alimin NU Malang / Nurul Makrifah

 

Pembelajaran bahasa Arab yang digunakan di kelas VIII MTs Mu’alimin NU Malang masih bersifat monoton karena hanya melalui metode ceramah dan tanya jawab. Media yang digunakan masih sebatas pada papan dan kapur tulis saja, sehingga siswa kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan mudah bosan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, diperlukan suatu metode alternatif, di antaranya pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode STAD (Student Team Achievement Divisions) untuk meningkatkan kemampuan menulis terbimbing bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan secara objektif, (1) perencanaan pembelajaran menulis terbimbing bahasa Arab, (2) kemampuan menulis terbimbing bahasa Arab sebelum menggunakan metode STAD, (3) kemampuan menulis terbimbing bahasa Arab setelah menggunakan metode STAD, dan (4) hubungan antara metode STAD dan prestasi belajar siswa dalam menulis terbimbing bahasa Arab. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan didukung oleh penelitian kualitatif. Data peningkatan kemampuan menulis terbimbing siswa setelah menggunakan metode STAD dalam penelitian ini diperoleh melalui proses belajar mengajar di kelas. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah 27 siswa kelas VIII MTs Mu’alimin NU Malang. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perencanaan pembelajaran menulis terbimbing bahasa Arab, berdasarkan KTSP, (2) kemampuan menulis terbimbing bahasa Arab sebelum STAD, awalnya siswa belum bisa membedakan antara huruf yang disambung dan dipisah, (3) kemampuan menulis terbimbing bahasa Arab setelah STAD, siswa sudah bisa merangkai huruf hijaiyah serta lebih antusias belajar bahasa Arab, (4) terdapat hubungan yang signifikan antara prestasi belajar siswa dan metode STAD, yang ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar siswa pada tiap-tiap siklus. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, disarankan kepada guru bahasa Arab yang mencoba menerapkan metode STAD ini, agar mempertimbangkan temuan penelitian ini, khususnya berkaitan dengan langkah-langkah pembelajaran yang tepat dalam metode STAD. Hasil penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi guru bahasa Arab, kepala sekolah, jurusan sastra Arab. Bagi peniliti lain dapat dijadikan rujukan dengan pokok bahasan yang berbeda.

Peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan manusia dan lingkungannya melalui metode pemberian tugas bagi mahasiswa Program D-II PGSD di Blitar / Suwarti

 

ABSTRAK Suwarti, 2008. Peningkatan Hasil Belajar pada Pokok Bahasan Manusia dan Lingkungannya Melalui Metode Pemberian Tugas Bagi Mahasiswa Program D-II PGSD di Blitar. Tesis Program Magister Pendidikan Geografi, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. A. Fatchan, M. Pd, M. P. (2) Dr. Sumarmi, M. Pd. Kata-kata Kunci: hasil belajar, metode pemberian tugas, manusia dan lingkungannya. Pemilihan pembelajaran untuk peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan Manusia dan Lingkungannya melalui metode pemberian tugas bagi mahasiswa program D-II PGSD di Blitar, dilatarbelakangi masalah hasil belajar mahasiswa yang masih rendah yaitu nilai rata-rata 60. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa aspek. Salah satu di antaranya dalam pembelajaran yang dilaksanakan masih didominasi metode ceramah dan belum pernah diterapkan metode pemberian tugas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, mengungkap, mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar mahasiswa PGSD pada pokok bahasan Manusia dan Lingkungannya dengan menggunakan metode pemberian tugas. Penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam tiga siklus. Setiap siklus secara berdaur meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Kegiatan refleksi dilakukan setiap akhir siklus dan dijadikan sebagai penentuan tindakan pada siklus berikutnya. Tahap pelaksanaan penelitian dilakukan secara kolaboratif oleh dosen sebagai peneliti dengan teman sejawat sebagai observer. Hasilnya dapat direkonstruksikan secara aplikatif. Peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan Manusia & Lingkungannya melalui metode pemberian tugas dilaksanakan berdasarkan lima tahap pembelajaran, yakni (1) pemberian tugas, (2) mengerjakan tugas kelompok di LKM, (3) presentasi, (4) tugas individu, dan (5) hasil belajar. Hasil belajar yang diperoleh dari penelitian ini adalah pada siklus I, tugas kelompok mendapatkan skor rerata 66,25%, siklus II 75%, siklus III 84,40%. Hasil belajar tugas individu pada siklus I mendapatkan skor rerata 51,95%, siklus II 66,90%, siklus III 81,05%. Hasil tugas individu pada siklus III, jika dirinci dari mahasiswa yang berjumlah 40 orang, maka yang mendapat C dan D masing-masing satu orang, yang mendapat B ada 28 orang atau 70%, dan yang mendapat A ada 10 orang atau 25%. Sedangkan aktivitas belajar yang muncul karena dampak dari penggunaan metode pemberian tugas pada siklus I mendapatkan skor rerata 56%, siklus II 69%, siklus III 83,50%. Setiap tahapan mengalami peningkatan hasil belajar. Untuk tugas kelompok dari siklus I ke siklus II meningkat 13,20%, dari siklus II ke siklus III meningkat 12,50%. Untuk tugas individu dari siklus I ke siklus II meningkat 28,70%, dari siklus II ke siklus III meningkat 21,20%. Sedangkan untuk aktivitas belajar dari siklus I ke siklus II meningkat 23,21%, dari siklus II ke siklus III meningkat 21,01%. Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada pokok bahasan Manusia dan Lingkungannya dengan metode pemberian tugas, mengerjakan tugas kelompok dan tugas individu dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Bersamaan dengan peningkatan hasil belajar meningkat pula aktivitas belajar sebagai dampak yang muncul akibat penerapan metode pemberian tugas. Hambatan pelaksanaan metode pemberian tugas adalah kekurangan waktu. Alangkah baiknya jika memberi tugas, pengajar memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, disesuaikan dengan tugas yang dikerjakan.

Applying show not tell technique to improve the ability of the 8th grade students of SMP Negeri 1 Lumajang in writing descriptive paragraphs / Wahyu Kurnia Utami

 

ABSTRACT Utami, Wahyu Kurnia. 2008. Applying Show Not Tell Technique to Improve the Ability of 8th Grade Students of SMP Negeri 1 Lumajang in Writing Descriptive Paragraphs. Thesis, Malang: English Language Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Key words: Descriptive Paragraph, Show Not Tell, Process of Writing, Classroom Action Research The study revealed that the 8th grade students of SMP Negeri 1 Lumajang had difficulty in developing the given topic sentence clearly and vividly. Therefore, the research problem which is addressed in this study is “How can Show Not Tell technique be applied to improve the ability of the 8th grade students of SMP Negeri 1 Lumajang in writing descriptive paragraphs?”. The research methodology used in this study was classroom action research conducted in two cycles. In the first cycle, the activity was done in collaborative group works. Since the result of the implementation of the action in Cycle 1 had not met the criteria of success yet, the researcher continued to Cycle 2 by revising the activity in previous lesson plan. Unlike the activity in Cycle 1, the activity was done individually from the beginning of the writing activity. After the implementation of the action, the students’ writing ability improved in terms of content and organization. It could be seen from the increase of the students’ writing scores in terms of content and organization in preliminary study, Cycle 1, and Cycle 2. From the students’ writing products, it could be concluded that they could developed the telling sentence given clearly and vividly. The result of the implementation of the action revealed that the technique of Show Not Tell can be an alternative solution in helping the students to compose a clear and vivid descriptive paragraph. Since the technique of Show Not Tell involves the students to write through the process of writing and also gives the students chance to choose their own telling sentences to be described. It is recommended for high school English teachers to develop the technique to be more enjoyable and easier for the students. Further researchers are recommended to conduct a further research concerning the application of the technique of Show Not Tell. They are also recommended to conduct other researches on the use of the technique of Show Not Tell in teaching different kind of texts, such as comparison and contrast, poem, etc.

Kajian proedur dan analisis biaya pembuatan kolom laminasi (Glue Lamination Timber Column) dari bahan kayu sengon dan bambu petung studi kasus : pembuatan kolom laminasi di laboratorium Teknik Sipil Universitas Negri Malang / Budi Wibisono

 

Jumlah penduduk di Indonesia semakin meningkat mengakibatkan kebutuhan perumahan naik, dan berakibat meningkatnya kebutuhan kayu. Kebutuhan kayu yang berlebihan dan ketergantungan terhadap kayu berkualitas baik (kayu kuat) dapat mengakibatkan penebangan kayu secara besar-besaran dan kelestarian hutan akan terancam. Supaya kelestarian hutan tetap terjaga, maka perlu dicari bahan bangunan lain pengganti kayu berkualitas baik (kayu kuat) dengan memanfaatkan kayu berkualitas rendah menjadi kayu yang lebih kuat, lebih murah dan lebih ringan. Sehingga untuk masyarakat sendiri dapat memanfaatkan kayu berkualitas rendah sebagai peluang untuk membuka usaha. Proyek akhir ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pembuatan kolom laminasi dari kayu sengon dan bambu petung dan juga analisis biaya pembuatan kolom laminasi. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan jenis deskriptif. Sebagai usaha untuk penggalian data di dalam proyek akhir ini dilakukan dengan berbagai cara yaitu: Wawancara dengan pihak–pihak yang terkait pembuatan kolom laminasi sehingga diperoleh data tentang prosedur pembuatan kolom laminasi dan biaya pembuatan kolom laminasi Dari hasil penelitian diketahui bahwa bahan baku untuk membuat kolom laminasi adalah kayu sengon dan bambu petung. Sedangkan bahan tambahan yang tidak kalah penting adalah perekat Urea Formaldehida dan klem. Pembuatan kolom laminasi dilakukan dengan cara lapisan kayu yang berkekuatan lemah yaitu kayu sengon diletakkan pada bagian dalam sedangkan lapisan yang berkekuatan tinggi bilah-bilahan bambu petung diletakkan pada bagian luar kemudian menempatkan papan dan bilah-bilah bambu yang diberi perekat terus di klem . Dari hasil analisis biaya dengan memanfaatkan kayu lemah kemudian direkayasa dapat menghasilkan kolom laminasi yang cukup kuat dan ekonomis dengan biaya yang relatif murah. Berdasarkan hasl penelitian ini disarankan supaya lebih memperhatikan teknologi perekatan yang meliputi: jumlah lem terlabur, cara mengelem, komposisi campuran lem yang digunakan sesuai prosedur, rata/tidak lem yang dilaburkan, kekentalan adonan lem dan mengingat sangat sulit untuk memperoleh papan-papan kayu sengon dalam ukuran panjang, lebih baik membuat kolom laminasi dari bahan penyusun yang disambung dan juga masyarakat dapat membuat kolom laminasi sendiri sebagai peluang usaha.

Visualisasi kisah penciptaan alam semesta sesuai kita kejadian sebagai pembelajaran agama untuk anak-anak / Yohanes Victor Pascanata

 

ABSTRAK Victor, Yohanes Pascananta. 2008. Visualisasi Kisah Penciptaan Alam Semesta Sesuai Kitab Kejadian Sebagai Media Pembelajaran Untuk Anak-Anak. Tugas Akhir, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd. Pembimbing II : Drs. Andi Harisman Kata kunci: visualisasi, kisah penciptaan, media pembelajaran. Tidak adanya tanggung jawab etis berakibat buruk bagi alam tempat tinggal manusia, dunia ciptaan manusia dan bahkan bagi manusia itu sendiri. Alam lingkungan hidup manusia dirusak yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global, kekacauan iklim, curah hujan yang lebat dan penggundulan hutan bahkan tanah longsor, banjir bandang yang menghancurkan perekonomian rakyat, ditambah kemarau panjang yang mengakibatkan gagal panen dengan dampak kelaparan, busung lapar yang menghantui umat manusia, demikian juga pencemaran tanah, air dan udara yang menghancurkan kesejahteraan umat manusia. Maka sejalan dengan permasalahan tersebut di atas perlu adanya upaya mencari cara untuk mencegah semua bencana itu terjadi, anak-anak sebagai penerus bangsa diharapkan mampu membawa bumi kita kearah yang lebih baik Melalui pendidikan yang diajarkan pada anak, diharapkan anak-anak dapat memahami arti penciptaan, melalui pendidikan ini pula anak-anak bisa mencintai dan melestarikan lingkungan ciptaan Tuhan. Karena itu khusus di dalam pendidikan agama, perlu dikembangkan metode pembelajaran yang menjelaskan tentang kisah penciptaan oleh Allah. Sejalan dengan permasalahan di atas, maka perlu dibuat media pembelajaran yang bermaterikan tentang kisah penciptaan dan pencegahan global warming. Untuk menghasilkan media pembelajaran yang memadukan aspek edukatif dan kreatif di atas, maka perancangan media pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan ilmiah, yaitu dengan mencari data-data literatur yang relevan dengan perancangan. Selanjutnya, dari data-data yang terkumpul, dilakukan pendekatan kreatif dengan merancang media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan anak-anak. Hasil perancangan ini berwujud media pembelajaran yang terdiri atas media utama dan media pendukung. Media utama berupa buku ajar, karena media ini mampu memuat banyak informasi secara tertulis maupun visual. Buku ajar digunakan oleh anak-anak untuk mempelajari materi kisah penciptaan dan pencegahan global warming. Dengan demikian, selain anak-anak dapat mempelajari dan mengetahui awal penciptaan alam semesta menurut kitab suci, anak-anak juga dapat belajar bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan yang telah Allah ciptakan. Media lain yang dihasilkan adalah puzzle permainan yang menceriterakan setiap kejadian dengan runtut. Sehingga selain anak-anak bermain mereka juga dapat belajar. Selain itu terdapat media pendukung lain untuk melengkapi media utama yaitu tabung tempat pensil, kalender, poster, pembatas buku, stiker seri penciptaan dan jam dinding. Media-media tersebut tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi berfungsi juga untuk mendukung proses pembelajaran. Selain itu untuk mengingat daya ingat tiap-tiap anak berbeda, maka media pendukung ini juga dapat berfungsi sebagai media alternatif media pembelajaran yang dapat dipilih untuk membantu anak-anak dalam memahami materi yang diberikan. Secara teoritik perancangan ini dipandang cukup efektif untuk membelajarkan. Meskipun demikian, disarankan untuk dilakukan uji coba secara sesama agar keefektifan secara empirik dapat dipastikan.

Minat dan motivasi mahasiswa program studi seni rupa angkatan 2005-2007 jurusan seni dan desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang untuk memilih mata kuliah paket desain grafik dan animasi / Hafiz Nindra Adrianto

 

Abstrak Faktor minat dan motivasi patut menjadi perhatian tersendiri, karena minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat mahasiswa, maka ia tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya. Mahasiswa menjadi enggan untuk belajar, karena ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Sedangkan bahan pelajaran yang menarik minat siswa akan lebih mudah dipelajari dan dipahami, karena minat dapat menambah kegiatan belajar. Sedangkan motivasi atau motif juga sangat erat hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Motivasi diperlukan sebagai daya penggerak atau pendorong seseorang, untuk berbuat sesuatu dalam mencapai suatu tujuan. Jadi sudah jelas, bahwa motivasi yang kuat sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan proses belajar. Program studi Pendidikan Seni Rupa adalah suatu program studi di jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, yang memiliki mata kuliah paket dan memberi kesempatan belajar dengan waktu cukup lama, yaitu 4 Semester. Jangka waktu tersebut dirasa cukup untuk memperdalam mata kuliah spesialisasi pilihan ini. Salah satunya adalah mata kuliah Paket Desain Grafik dan Animasi, yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh karena seiring majunya sistem Information Technology (IT) dan semakin banyak suatu lembaga atau perusahaan yang membutuhkan keahlian di bidang tersebut . Namun melihat fenomena yang ada, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, tampaknya masih beranggapan bahwa pendidikan seni rupa hanya mempunyai ruang lingkup melukis, mematung, dan bidang seni lainnya selain Desain Grafik dan Animasi. Tidak terlepas dari pendapat-pendapat tersebut diatas, bentuk penelitian yang disusun ini adalah penelitian diskripsi kuantitatif. Penelitian ini menjelaskan tentang dua variabel, hal ini karena penelitian ini dipusatkan pada masalah yang ada sekarang yaitu memperoleh gambaran tentang minat dan motivasi Untuk Memilih Mata kuliah paket Desain Grafik dan Animasi, pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan 2005-2007 jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universias Negeri Malang. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data, penafsiran terhadap data, serta penampilan hasil dengan menggunakan angka. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman belajar dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah, serta untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh selama masa perkuliahan. Bagi mahasiswa Prodi Seni Rupa, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai matakuliah paket Desain Grafik dan Animasi, agar dapat menjadi agen perubahan dengan melakukan penelitian lanjutan dengan tema serupa. Bagi peneliti lanjutan, hasil penelitian ini bisa dijadikan pegangan dan wawasan awal, agar dapat mengungkap lebih jauh berbagai permasalahan mengenai minat dan motivasi mahasiswa untuk memilih mata kuliah tertentu. Berdasarkan rumus dan proses penghitungan data yang berhasil dihimpun, hanya sebagian kecil mahasiswa Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2005-2007 yang berminat dan termotivasi untuk memilih mata kuliah paket Desain Grafik dan Animasi. Namun jika dilihat perbagian dari Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni rupa angkatan 2005 sampai angkatan 2007, tidak semua mahasiswa yang tidak atau kurang berminat dan termotivasi untuk memilih mata kuliah Desain Grafik dan Animasi, seperti pada salah satu angkatan mahasiswa Program Studi Seni Rupa yaitu Angkatan 2006 yang menunjukkan berminat untuk memilih mata kuliah Desain Grafik dan Animasi. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman belajar dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah, serta untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh selama masa perkuliahan. Bagi Fakultas sastra dan Jurusan Seni dan Desain, hasil penelitian ini dapat dijadikan wacana agar lebih memberikan gambaran tentang manfaat atau tujuan mata kuliah paket Program Studi Seni Rupa, yang akan memudahkan mahasiswa memilih mata kuliah paket apa yang akan diambil. Bagi mahasiswa Program Studi Seni Rupa, diharapkan tidak mengambil mata kuliah paket hanya karena pengaruh lingkungan seperti teman atau keluarga, tetapi lebih menekankan pada fungsi atau manfaat mata kuliah tersebut.

Pembelajaran dengan metode stad pada mata kuliah persamaan diferensial biasa materi "Transformasi Laplace" di S1 matematika FMIPA UM Malang / Akhmad Agung Wicaksono

 

ABSTRAK Wicaksono, Akhmad Agung. 2008. Pembelajaran dengan Metode STAD pada Mata Kuliah Persamaan Diferensial Biasa Materi “Transformasi Laplace” di S1Matematika FMIPA UM Malang. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Akbar Sutawidjaja, (II) Dr. Tjang Daniel Chandra. Kata kunci : perkuliahan, pembelajaran, metode belajar STAD, Tes Akhir Penelitian ini termasuk dalam Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini sebenarnya bertujuan untuk mendiskripsikan metode belajar STAD yang dapat membantu pemahaman mahasiswa S1 Matematika FMIPA UM Malang peserta Mata Kuliah Persamaan Diferensial Biasa pada Semester Genap 2006/2007 yang diajar oleh Bapak Sudirman atas materi ”Transformasi Laplace” pada perkuliahan Persamaan Diferensial Biasa. Pendiskripsian metode belajar STAD untuk pembelajaran materi “Transformasi Laplace” terdiri dari: persiapan sebelum pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran di kelas yang diupayakan mengikuti metode belajar STAD dimana mahasiswa belajar kelompok di kelompoknya masing-masing untuk mengerjakan tugas-tugas pada Lembar Kerja Mahasiswa, penyusunan soal-soal tes / kuis setelah pembelajaran dengan metode belajar STAD, refleksi terhadap pembelajaran dengan metode STAD. Pemahaman mahasiswa atas materi “Transformasi Laplace” Mata Kuliah Persamaan Diferensial Biasa dapat diketahui dari jawaban-jawaban mahasiswa atas soal-soal Tes Akhir di dalam suatu siklus penelitian. Penyusunan soal-soal Tes Akhir tersebut seharusnya mengikuti saran-saran atau langkah-langkah tentang penyusunan soal-soal kuis-kuis atau tes-tes pada metode belajar STAD. Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa S1 Matematika FMIPA UM Malang non-kependidikan reguler dari Offering G-G dan H-H yang mengikuti Mata Kuliah Persamaan Diferensial Biasa yang diajar oleh Bapak Sudirman pada Semester Genap 2006/2007. Penulis hanya memperhatikan mahasiswa yang pernah berpartisipasi dalam perkuliahan di kelas yang diisi pembelajaran dengan metode belajar STAD. Pada penelitian ini, pengamatan dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran yang meliputi: kegiatan pengajar, kegiatan mahasiswa, kegiatan kelompok dan jawaban-jawaban mahasiswa atas Tes Akhir. Penelitian ini menggunakan dua indikator untuk mengukur keberhasilan siklus penelitian yaitu: kesuksesan proses pembelajaran dan hasil belajar mahasiswa melalui Tes Akhir. Kesuksesan proses pembelajaran diukur dengan menggunakan kriteria keberhasilan tindakan yang berdasarkan atas perhitungan NR (Nilai Rata-Rata) dimana keberhasilan tindakan masuk kriteria berhasil bila NR (Nilai Rata-Rata) untuk masing-masing macam kegiatan pembelajaran lebih tinggi dari 50% untuk tiap hari perkuliahan / pembelajaran yang diamati. Target tentang hasil belajar mahasiswa melalui Tes Akhir dianggap tercapai jika lebih dari 85% mahasiswa dalam satu kelas sukses dalam Tes Akhir. Mahasiswa dikatakan sukses dalam Tes Akhir jika memiliki skor Tes Akhir minimal 6,5. Setelah dilakukan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan selama perkuliahan yang diisi dengan pembelajaran dengan metode belajar STAD, dan pengamatan terhadap jawaban-jawaban mahasiswa atas soal-soal Tes Akhir, diperoleh hasil-hasil penelitian. Untuk tiap hari perkuliahan yang diisi pembelajaran dengan metode belajar STAD diperoleh hasil bahwa NR (Nilai Rata-Rata) untuk masing-masing macam kegiatan pembelajaran yang diamati yaitu: kegiatan pengajar, kegiatan mahasiswa, kegiatan kelompok selalu lebih tinggi dari 50%. Sehingga, keberhasilan tindakan masuk ke dalam kriteria berhasil. Maka, kesuksesan proses pembelajaran dapat terpenuhi. Sebagian besar mahasiswa belum sukses dalam menguasai materi “Transformasi Laplace” sesuai dengan harapan peneliti. Hal ini karena sebagian besar mahasiswa tidak berhasil dalam menyelesaikan persamaan diferensial biasa dengan bantuan Transformasi Laplace maupun semua mahasiswa memiliki skor Tes Akhir yang bersifat close book di bawah 6,5. Ini ditunjukkan oleh jawaban-jawaban mahasiswa atas Tes Akhir yang bersifat close book dimana hanya 5 mahasiswa yang sukses dalam menjawab setidaknya satu soal mengenai penyelesaian persamaan diferensial dengan bantuan Transformasi Laplace pada Tes Akhir, dari 26 mahasiswa yang pernah berpartisipasi pada perkuliahan yang diisi pembelajaran dengan metode belajar STAD Terdapat kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi penyebab hasil Tes Akhir close book mengecewakan sehingga pembelajaran dengan metode STAD yang peneliti terapkan belum berhasil pada siklus penelitian/pembelajaran yang pertama. Diantaranya adalah: masalah dalam penyusunan soal-soal Tes Akhir dan penyusunan lembar kerja-lembar kerja, belum ada antisipasi yang cukup dan jelas terhadap absensi mahasiswa, waktu pembelajaran masih kurang (mungkin perlu hingga lima pertemuan untuk pembelajaran dengan metode STAD di kelas daripada hanya tiga pertemuan), selama pembelajaran kurang latihan soal, kegiatan-kegiatan pengajar seperti: pengantar untuk perkuliahan hari itu, pengawasan dan bantuan pengajar masih kurang. Berdasarkan data pada jawaban-jawaban mahasiswa atas soal-soal Tes Akhir yang bersifat close book, disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode belajar STAD yang peneliti terapkan belum berhasil pada siklus penelitian yang pertama. Seharusnya dilanjutkan ke siklus penelitian berikutnya hingga penelitian atau pembelajaran dapat dikatakan berhasil yaitu bila keberhasilan siklus penelitian dapat tercapai. Kelemahan penelitian ini yaitu hanya melibatkan satu siklus penelitan.

Pengembangan paket bimbingan untuk membantu anak penakut yang terisolasi dengan teknik permainan kelompok di TK kelompok B / Indria Widyawati

 

ABSTRAK Widyawati, Indria. 2009. Pengembangan Paket Bimbingan untuk Membantu Anak Penakut yang Terisolasi dengan Teknik Permainan Kelompok di TK Kelompok B, Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Elia Flurentin, M.Pd, (II) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd Kata Kunci: Paket bimbingan, anak penakut, isolasi, permainan kelompok, TK Kelompok B. Bimbingan di TK bertujuan untuk membantu individu agar dapat mencapai perkembangan yang optimal dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, yang meliputi penyesuaian diri terhadap aturan-aturan sekolah dan juga dengan teman sebayanya. Anak-anak yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan teman sebayanya cenderung akan ditolak oleh kelompok. Anak-anak penakut yang terisolasi perlu sekali mendapatkan bimbingan agar dapat menikmati hubungan sosialnya terutama dengan teman sebayanya, karena jika dibiarkan anak penakut yang terisolasi akan bisa mengembangkan kepribadian yang kurang baik dan hal ini akan mempengaruhi perkembangan berikutnya. Pada kenyataannya di lapangan masih ada anak penakut yang terisolasi. Ada beberapa teknik yang digunakan untuk membantu anak penakut yang terisolasi, salah satunya yaitu dengan menggunakan teknik permainan kelompok. Penelitian ini mencoba mengembangkan paket bimbingan untuk membantu anak penakut yang terisolasi dengan teknik permainan kelompok di TK kelompok B. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk berupa buku paket bimbingan untuk membantu anak penakut yang terisolasi dengan teknik permainan kelompok di TK kelompok B. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pengembangan, prosedur pengembangan yang digunakan yaitu rancangan Dick and Carey yang meliputi tiga langkah, yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pengembangan, (3) Evaluasi dan revisi. Uji coba produk meliputi (1) Desain uji coba, (2) Subyek ahli, (3) Pelaksanaan uji coba, (4) Jenis data penilaian produk. Instrumen penilaian berupa skala penilaian. Hasil uji coba menunjukkan masih perlu penyempurnaan pada bagian pendahuluan khususnya pada bagian tujuan khusus paket bimbingan dan petunjuk umum penggunaan paket bimbingan. Pada bagian materi bimbingan yang perlu disempurnakan adalah rumusan tujuan khusus materi bimbingan, penjelasan tahap bermain, deskripsi jenis permainan, tingkatan permainan dan format evaluasi. Hasil uji coba itu kemudian dijadikan bahan pertimbangan dalam revisi dan perbaikan produk. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang diberikan oleh peneliti untuk pemanfaatan buku paket, antara lain: (1) Untuk guru TK, karena kegiatan bermain tidak terjadi dengan sendirinya oleh karena itu untuk memberikan permainan kepada anak, guru TK juga disarankan untuk memiliki kemampuan dalam memahami teknik-teknik bermain; (2) Mengingat penelitian pengembangan ini hanya sampai pada uji ahli maka disarankan pada penelitian ii selanjutnya untuk melakukan uji kelompok kecil dan uji lapangan untuk melihat keefektifan dan validitas Pengembangan Paket Bimbingan untuk Membantu Anak Penakut yang Terisolasi dengan Teknik Permainan Kelompok di TK Kelompok B.

Perancangan company profile lembaga Pendidikan Islam Ar Rohmah Hidayatullah Malang sebagai media komunikasi visual / Ahmad Zakiy Ramadhan

 

ABSTRAK Zakiy, Ahmad. 2009. Perancangan Company Profile Lembaga Pendidikan Islam Ar Rohmah Hidayatullah Malang Sebagai Media Komunikasi Visual. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo M.Sn (II) Drs. Abdul Rachman M.Sn Kata Kunci: Perancangan, Company Profile, Promosi. Pendidikan adalah hal terpenting yang sangat diperhatikan saat ini. Hal ini bertujuan untuk mengentaskan kebodohan dan kemiskinan di Indonesia. Diharapkan dengan pendidikan akan dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengentaskan bangsa ini dari keterpurukan. Melihat situasi yang demikian, tak dapat dipungkiri lagi, model pendidikan yang paling tepat saat ini adalah model boarding (asrama). SLTP dan SMU Ar Rohmah terus mengalami perkembangan di berbagai aspek. Siswa yang masuk pun juga bertambah dari tahun ke tahun, namun target siswa yang masuk belum sesuai dengan yang diharapkan yakni masing-masing sejumlah tiga kelas. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka perlunya dirancang sebuah media publikasi baru yang lebih inovatif, efektif, komunikatif, dan efisien bagi Lembaga Pendidikan Islam Ar-Rohmah Hidayatullah Malang. Media publikasi berupa interaktif media (Company Profile). Tujuan dari perancangan ini adalah merancang media komunikasi visual berupa Company Profile untuk Lembaga Pendidikan Islam Ar Rohmah Hidayatullah Malang yang mampu merepresentasikan Lembaga tersebut dengan SMP-SMA Ar Rohmah sebagai poin utama kepada masyarakat.Dengan mempertimbangkan hal-hal antara lain menampilkan identitas dan citra Lembaga Pendidikan Islam Ar-Rohmah Hidayatullah Malang dalam media Company Profile dan media komunikasi visual. Model perancangan ini diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari klien, target audience, target market dan kompetitor. Perancangan dilakukan pada Company Profile yang sebarkan ke sekolah-sekolah yang menjadi target market. serta media komunikasi visual dalam bentuk visual, antara lain: Iklan Surat Kabar, X- Banner, Horizontal Banner, Brosur, Stiker, Poster, manual book, Stationery Set dan Souvenir. Beberapa saran yang dapat diberikan kepada Lembaga Pendidikan Islam Ar Rohmah Hidayatullah Malang yaitu mewujudkan lembaga pendidikan Islam yang unggul dan kompetitif, sehingga dapat melahirkan generasi yang memiliki kemampuan memikul amanah Allah sebagai hamba dan khalifah. Serta menyelenggarakan lembaga pendidikan Islam dengan sistem integral dalam aspek intelektual, mental spiritual dan life skill sehingga dapat melahirkan siswa muslim yang bertaqwa, cerdas dan mandiri.

Penerapan peta konsep untuk meningkatkan prestasi belajar IPA pada pokok bahasan benda dan sifatnya siswa kelas IV di SDN Maguan 1 Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang / Fakih Dian Tri Kuncahyo

 

ABSTRAK Kuncahyo, Fakih Dian Tri. 2008. Penerapan Peta Konsep Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Pokok Bahasan Benda Kelas IV di SDN Maguan 01 Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang . Skripsi, Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Moch. Sochib,M.Pd (II) Dra. Sukamti, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran IPA, peta konsep, prestasi belajar, sekolah dasar. Pembelajaran IPA sangat penting bagi anak, berhubungan langsung dengan alam sekitar. Secara khusus pembelajaran IPA bertujuan untuk (1) menanamkan pengetahuan dan konsep-konsep IPA yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, (2) menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains dan tehnologi, (3) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, (4) ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam, (5) mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara sains, lingkungan , teknologi dan masyarakat, (6) menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Oleh karena itu mata pelajaran IPA sudah diperkenalkan kepada anak sejak di bangku taman kanak-kanak. Hasil orientasi di lapangan dan informasi dari wali kelas IV SDN Maguan 1 yang sekaligus sebagai guru bidang studi, siswa kelas IV SDN Maguan 1 umumnya mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep dalam belajar IPA sehingga prestasi belajar siswa kurang. Untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas IV di SDN Maguan 1 diperlukan strategi pembelajaran yang menarik dan yang melibatkan keaktifan siswa. Yaitu dengan peta konsep. Tujuan dari penelitian ini adalah, (1) Untuk mengetahui apakah peta konsep dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan benda kelas IV di SDN Maguan, kecamatan Ngajum, kabupaten Malang, (2) untuk mengetahui hambatan dalam penggunaan peta konsep pada pokok bahasan benda. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Maguan 1 yang berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes, observasi, dan wawancara. selama pembelajaran. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada setiap siklusnya. Teknik analisis data yang digunakan analisis kuantitatif untuk hasil tes pada setiap akhir siklus sedangkan analisis deskriptif kualitatif dilakukan terhadap hasil prestasi belajar secara keseluruhan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan dua pertemuan pada setiap siklusnya yang melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pedoman yang digunakan adalah soal tes dan pedoman observasi. Hasil penelitian yang telah diperoleh adalah sebagai berikut: (1) hasil prestasi belajar siswa meningkat dari 67% pada siklus pertama naik menjadi 91% pada siklus kedua. Dan rata-rata nilai siswa meningkat 64 pada siklus pertama menjadi 81 pada siklus kedua, (2) Aktifitas siswa meningkat, dari 7 siswa yang memiliki kualitas kurang pada siklus pertama menjadi 3 siswa pada siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan peta konsep dalam belajar IPA pada pokok bahasan benda dan sifatnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa SDN Maguan 1 kecamatan Ngajum kabupaten Malang. Hasil penelitian ini memiliki harapan agar guru dalam hal ini peneliti sendiri maupun guru yang lainnya dapat menerapkan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengembangan diri siswa dengan memberikan ruang gerak yang cukup bagi siswa untuk mengaktualisasikan diri dan lebih terpusat pada siswa. Saran kepada guru, dalam mengajar hendaknya tidak sekedar mengajarkan buku dan menggunakan teknik pembelajaran yang monoton. Sebagai guru SD hendaknya lebih cermat dalam memilih, menata, dan merepresentasikan materi pembelajaran, sehingga siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran dan dapat mengembangkan kreativitasnya.

Faktor-faktor motivasi orangtua/wali murid menyekolahkan anaknya di sekolah dasar negeri Tompokersan III sebagai proyek rintisan Sekolah Unggulan Kabupaten Lumajang / Ima Tri Hestingtyas

 

Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) didirikan di Kabupaten Lumajang dengan tujuan dapat menarik minat masyarakat, khususnya bagi para orangtua yang memiliki putra-putri yang masih sekolah. Setiap orangtua pasti menginginkan pendidikan yang berkualitas untuk anaknya, sehingga dengan adanya SUT, akan banyak orangtua yang berlomba menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut, terutama di SDN Tompokersan III Lumajang yang termasuk salah satu bagian dari SUT. Hal ini disebabkan untuk memasuki SDN tersebut memerlukan persaingan yang cukup ketat, karena Pemerintah Kabupaten Lumajang berencana semua lulusan dari SDN tersebut secara otomatis dapat langsung melanjutkan sekolah di SMPN1 Lumajang, kemudian tinggal memilih untuk melanjutkan ke SMAN 2 Lumajang atau SMKN 1 Lumajang, yang semuanya merupakan bagian dari SUT Kabupaten Lumajang. Dari keinginan orangtua yang besar ini, tentu mereka memiliki motivasi sebagai alasan mereka menyekolahkan anaknya di SDN Tompokersan III yang termasuk sekolah unggulan di Kabupaten Lumajang. Masalah yang akan diteliti meliputi: (1) Apa saja yang menjadi faktor motivasional orangtua/wali murid untuk menyekolahkan anaknya di SDN Tompokersan III Kabupaten Lumajang dan (2) Apa yang menjadi faktor dominan yang memotivasi orangtua/wali murid menyekolahkan anaknya di SDN Tompokersan III Kabupaten Lumajang. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Mengetahui faktor-faktor apa saja yang memotivasi orangtua/wali murid menyekolahkan anaknya di SDN Tompokersan III Kabupaten Lumajang dan (2) Menemukan faktor dominan yang memotivasi orangtua/wali murid menyekolahkan anaknya di SDN Tompokersan III Kabupaten Lumajang. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah orangtua/wali murid kelas 1, 2, dan 3 SDN Tompokersan III Lumajang yang berjumlah 215 orang. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan formula Slovin, sehingga diperoleh sampel yang sesungguhnya yaitu sejumlah 154 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket. Analisis yang digunakan yaitu yang pertama analisis faktor eksploratori dan yang kedua yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian yang merupakan temuan eksploratif atas motivasi orangtua/wali murid menyekolahkan anaknya di SDN Tompokersan III Lumajang menghasilkan tujuh faktor baru, yaitu: (1) faktor kebutuhan belajar, yaitu segala sesuatu yang sangat perlu untuk digunakan dalam proses belajar; (2) faktor prestasi, yaitu hasil belajar anak di SDN Tompokersan III Lumajang ini tergolong memuaskan, ini dapat dilihat dari rapor siswa kelas 3 selama berada di kelas 1 dan 2; (3) faktor sosialisasi, yaitu proses belajar anak untuk mengenal dan menghayati kebudayaan orang yang ada di lingkungannya, baik itu teman sebaya maupun masyarakat sekitar; (4) faktor biaya, yaitu pertimbangan biaya yang dikeluarkan orangtua/wali murid, apakah sudah sepadan dengan yang diberikan oleh sekolah; (5) faktor pelayanan efektif, yaitu pelayanan sekolah terhadap orangtua/wali murid dan anak dilakukan secara efektif atau berhasil guna dan memuaskan; (6) faktor komunikasi, yaitu orangtua/wali murid merasa mudah berkomunikasi dengan semua orang; dan (7) faktor harapan, yaitu orangtua/wali murid berharap keinginan yang sudah ada dapat terwujud dalam kenyataan. Faktor dominan dalam penelitian ini yaitu faktor 1 (faktor kebutuhan belajar). Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan kepada: (1) SUT Kabupaten Lumajang khususnya SDN Tompokersan III Lumajang, mengingat semakin ketatnya persaingan antar sekolah, maka SDN Tompokersan III Lumajang hendaknya lebih meningkatkan kualitas sekolah dan tidak hanya meyakinkan masyarakat bahwa sekolah ini unggul, tapi juga bisa membuktikan bahwa sekolah ini benar-benar menjadi bagian dari proyek rintisan berkualitas. Apalagi dengan status sekolah unggulan di Kabupaten Lumajang, hendaknya bisa menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain untuk meningkat menjadi lebih baik; (2) Orang tua/wali murid yang menyekolahkan anak di SDN Tompokersan III Lumajang, hendaknya selalu memberi dukungan kepada anak untuk tetap mempunyai motivasi dan semangat belajar yang tinggi, karena persaingan sekolah semakin ketat. Pilihan untuk menyekolahkan anak ke SDN Tompokersan III Lumajang sudah merupakan pilihan yang tepat, untuk itu dalam memilih sekolah selanjutnya hendaknya mempertimbangkan kualitas sekolah dengan memperhatikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki sekolah, semuanya demi masa depan anak; (3) Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya melakukan kajian ulang terhadap penelitian ini, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang administrasi pendidikan; dan (4) Peneliti Lain, hendaknya mengkaji ulang hasil penelitian ini dengan cara menguji kebenaran hasil penelitian. Lebih lanjut mengadakan penelitian lain dengan menggunakan variabel, responden, teknik penelitian yang berbeda, dan ruang lingkup yang berbeda pula. Sehingga diharapkan dapat memperkaya referensi di Bidang Administrasi atau Manajemen Pendidikan.

Pengaruh penggunaan model pendidikan moral yang berbeda dan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral siswa dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMP Kota Malang / Aloysius Hardoko

 

Abstrak: Dalam ruang lingkup materi kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan (KBK,2004;KTSP,2007)menekankan pada muatan moral yang berorientasi pada pembentukan warga negara yang baik, sehingga strategi pembelajaran yang digunakan juga bertumpu pada prinsip penggunaan model pendidikan moral. Pendidikan moral pada hakekatnya memiliki strategi, metode dan model pendidikan moral yang secara umum dapat dilihat pada kajian teori. Salah satu unsur penting dan memegang peranan dalam pendidikan moral adalah penggunaan model pendidikan moral yang tepat dan bervariasi, sehingga mampu meningkatkan kematangan moral siswa. Dalam praktek pembelajaran pendidikan moral di sekolah melalui Pendidikan Kewarganegaraan, pada umumnya belum dilaksanakan. Banyak guru yang masih belum mengenal model pendidikan moral tersebut dan terjebak dalam metode konvensional berupa penyampaian informasi melalui ceramah dan tanya-jawab. Hal ini bersumber pada ketidaktahuan guru dalam menerapkan model pendidikan moral yang lain, seperti penggunaan model pendidikan moral moral reasoning dan consideration model. Secara teoritis, model pendidikan moral, baik yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kognitif maupun yang dikembangkan berdasarkan pendekatan afektif memiliki potensi untuk meningkatkan kematangan moral siswa dengan pola pembelajaran non-indoktrinatif dan non-relativistik. Model moral reasoning berorientasi kepada pengembangan kemampuan berpikir moral mengenai pemecahan masalah moral dengan membuat alasan moral. Sedangkan, consideration model berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir moral mengenai kesejahteraan orang lain atau kepedulian kepada orang lain. Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh penggunaan model pendidikan moral dengan harapan mendapatkan model yang lebih sesuai dengan karakteristik dan tujuan pendidikan moral di Indonesia melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Variabel bebas yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah model pendidikan moral, diklasifikasikan dalam dua bagian, yaitu model moral reasoning dan consideration model. Variabel moderator dalam penelitian ini adalah perbedaan jenis kelamin siswa. Temuan penelitian menunjukkan kemampuan menalar dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Diklasifikasikan ke dalam kelompok laki-laki dan perempuan. Sedangkan variabel tergantung ditetapkan kematangan moral siswa yaitu kematangam moral keadilan (moral judgement) dan kematangan moral kepedulian (care). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah 1) terdapat perbedaan kematangan moral keadilan, antara siswa yang belajar menggunakan model moral reasoning dan yang belajar menggunakan consideration model dalam PKn, 2) terdapat perbedaan kematangan moral keadilan antara siswa laki-laki dan perempuan, baik yang belajar dengan moral reasoning maupun consideration model. 3) terdapat interaksi antara penggunaan model pendidikan moral (MR dan CM) dengan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral keadilan siswa. 4) terdapat perbedaan kematangan moral kepedulian, antara siswa yang belajar menggunakan model moral reasoning dan yang belajar menggunakan consideration model dalam PKn, 5) terdapat perbedaan kematangan moral kepedulian antara siswa laki-laki dan perempuan, baik yang belajar dengan moral reasoning maupun consideration model. 6) terdapat interaksi antara penggunaan model pendidikan moral (MR dan CM) dengan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral kepedulian siswa. Penelitian ini adalah penelitian quasi- eksperimen menggunakan rancangan factorial 2 x 2. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Mardiwiyata, SMP Islam Cokro, SMP Cor Yesu, dan SMP Salahuddin yang peringkatnya setara dan distribusi jenis kelamin yang seimbang, dan berada di kota Malang. Pemilihan subyek dan pemberian perlakuan dilakukan secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu 8 x pertemuan, mulai sejak tanggal 2 Pebruari 2007 sampai dengan tanggal 15 Mei 2007. Alat ukur kematangan moral siswa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan instrumen adaptasi Kohlberg dan Mc.Phail dalam bentuk ceritera dillema situasi sosial-moral. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis menggunakan analisis statistik parametrik ANOVA dua jalur.

Penerapan metode discovery terbimbing untuk meningkatkan pemahaman konsep luas daerah segitiga dan jajargenjang siswa kelas IV SDN Brangkal I Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro / Dwi Esti Mitasari

 

Berdasarkan hasil observasi di SDN Brangkal I Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro diperoleh data rata-rata nilai kelas dari 15 siswa adalah 61,6 dan masih ada 9 siswa yang belum mencapai SKM (standar ketuntasan minimal) yaitu skor nilai tes siswa < 65. Keadaan demikian disebabkan karena guru langsung memberitahukan rumus luas bangun segitiga dan jajargenjang dan menyuruh siswa untuk menghafalnya. Sehingga menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menentukan luas karena siswa cenderung kesulitan untuk menghafal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep luas daerah segitiga dan jajargenjang pada siswa dengan menggunakan metode discovery terbimbing. Metode discovery terbimbing adalah suatu metode yang digunakan dalam proses kegiatan pembelajaran dimana guru membimbing siswa-siswanya dengan menggunakan langkah-langkah yang sistematis sehingga memungkinkan siswa menemukan atau merasa menemukan sendiri pola-pola atau struktur-struktur matematika melalui serentetan Pengalaman-pengalaman belajar yang lampau. Jenis penelitian ini adalah termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dengan dua siklus. Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas IV SDN Brangkal I Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro sebanyak 15 siswa. Instrumen dalam penelitian ini berupa tes evaluasi untuk mengetahui pemahaman konsep luas daerah segitiga dan jajargenjang siswa, lembar observasi aktifitas guru dan siswa, dan pedoman wawancara. Hasil dari penelitian yaitu pada siklus I aktivitas guru dengan persentase 84,6%. Pada siklus II aktivitas guru mengalami peningkatan dengan presentase 89,2%. Pada siklus I aktivitas siswa dengan presentase 82,3%. Pada siklus II mengalami peningkatan dengan presentase 86,1%. Hasil tes pada pra tindakan diperoleh nilai rata-rata 61,6. Pada siklus I nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan yaitu menjadi 73,3. Pada siklus II nilai rata-rata siswa juga mengalami peningkatan yaitu menjadi 82 dan semua siswa telah mencapai SKM. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode discovery terbimbing telah berhasil diterapkan di kelas IV SDN Brangkal I Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro karena telah memenuhi kriteria keberhasilan tindakan. Penerapan metode discovery terbimbing dapat meningkatkan pemahaman konsep luas daerah segitiga dan jajargenjang siswa kelas IV SDN Brangkal I Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro yang dapat ditunjukkan dari adanya peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 8,7 dan semua siswa telah mencapai SKM. Sehingga dapat di ajukan saran dalam proses pembelajaran guru hendaknya melibatkan siswa secara langsung untuk melakukan kegiatan karena dapat meningkatkan pemahaman konsep pada siswa.

Manajemen pesantren studi kasus di pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo / Fentri Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Fentri. 2008. Manajemen Pesantren Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd, (II) Dr. H. A. Supriyanto, M.Pd, M.Si. Kata kunci: manajemen, pondok pesantren Pondok Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam berasrama (Islamic boarding school) yang biasanya juga disebut pondok saja. Para pelajar pesantren yang juga disebut sebagai santri belajar pada sekolah ini, sekaligus tinggal di asrama yang disediakan oleh pesantren. Pondok Pesantren (Ponpes) adalah sekolah pendidikan keagamaan yang persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam daripada ilmu umum. Dalam mengelola pesantren perlu manajemen yang baik yang diawali dari proses penyusunan program, struktur organisasi, pengarahan/penggerakan, dan pengawasan. Penelitian ini berawal dari pertanyaaan bagaimana manajemen di pesantren Nurul Jadid Paiton. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan empat sub fokus penelitian yaitu: (1) penyusunan program pesantren; (2) struktur organisasi pesantren; (3) peran pengasuh dalam pengarahan di pesantren; dan (4) pengawasan di pesantren. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton yang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang terus berkembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara terbuka; (2) teknik observasi; dan (3) teknik dokumentasi. Data yang diperoleh dari teknik-teknik tersebut dianalisis guna menyusun temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan; (2) ketekunan pengamatan; dan (3) trianggulasi. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) penyusunan program pesantren di Ponpes Nurul Jadid Paiton dilakukan dalam rapat koordinasi antara pengasuh dengan pengurus pesantren yang kemudian dituangkan ke dalam Renstra (rencana strategi), yang didalamnya terdapat perumusan tujuan, penentuan kebijakan, programming, penjadwalan dan anggaran; (2) pengorganisasian di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton dilaksanakan dengan membuat struktur organisasi yang didalamnya mengatur mengenai pembagian tugas biro; wewenang biro; garis tanggung jawab biro dan kerja sama dari masing-masing biro. Biro-biro di bawah pengasuh bersifat otonom, mereka memiliki struktur organisasi masing-masing dan tidak sama antar biro-biro lainnya. Struktur disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing biro; (3) peran pengasuh di Pondok Pesantren adalah sebagai evaluator dan pengambil keputusan dari setiap kegiatan di pesantren. Pengarahan dilakukan oleh pengasuh tidak hanya kepada pengurus pesantren saja, akan tetapi juga kepada para santrinya. Pengarahan tidak hanya diberikan oleh pengasuh, tetapi juga diberikan oleh kepala-kepala biro kepada bawahannya untuk meningkatkan kinerja dan profesionalitas mereka; dan (4) pengawasan di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton tidak sepenuhnya dilakukan oleh pengasuh, tetapi juga dilakukan oleh kepala-kepala biro terhadap bawahannya. Pengawasan ini meliputi: a) supervisi; b) monitoring; dan e) evaluasi. Dari hasil temuan penelitian ini disarankan sebagai berikut: Pihak pesantren diharapkan membuat standard kegiatan sebagai patokan untuk mengetahui berhasil atau tidaknya kegiatan yang telah dilaksanakan. Terutama mengenai pengadaan P3K (pertolongan pertama pada kesehatan) dan out put santri demi perkembangan pesantren ke arah yang lebih baik. Departemen Agama (Depag) Diharapkan untuk lebih memberikan dukungan pada pesantren-pesantren lainnya dalam pengembangan pesantren. Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) diharapkan dapat menjadi masukan untuk pesantren-pesantren lain dalam mengelola pesantren agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, karena pondok pesantren merupakan bagian dari sistem pendidikan di Indonesia, maka diharapkan lebih memperdalam kajian tentang manajemen pesantren. Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian dengan subjek yang sama dapat menggunakan pendekatan yang berbeda dan lebih mendalam untuk memperoleh data.

Studi tentang kecerdasan emosional siswa kelas akselerasi tingkat SMA di Kota Malang / Rika Kusumawati Nikmah

 

ABSTRAK Nikmah, Rika Kusumawati. 2008. Studi Tentang Kecerdasan Emosional Siswa Kelas Akselerasi Tingkat SMA di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dany M. Handarini, M.A (II) Drs. Moh. Bisri, M.Si. Kata kunci : kecerdasan emosional, akselerasi, SMA Siswa yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi tidak menjamin kesuksesannya seseorang di masa depan. Mc Clelland ( dalam Goleman, 2003b:25) berpendapat bahwa kemampuan akademik bawaan, nilai rapor dan predikat kelulusan tinggi tidak memprediksi seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang dicapainya dalam hidup. Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif mampu membedakan orang sukses dari yang tak sukses. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui gambaran keterampilan siswa kelas akselerasi dalam mengenali emosi diri, 2) mengetahui gambaran keterampilan siswa kelas akselerasi dalam mengelola emosi diri, 3) mengetahui gambaran keterampilan siswa kelas akselerasi dalam memotivasi diri, 4) mengetahui gambaran keterampilan siswa kelas akselerasi dalam berempati (mengenali emosi orang lain), 5) mengetahui gambaran keterampilan siswa kelas akselerasi dalam membina hubungan dengan orang lain. Pentingnya konselor mengetahui kecerdasan emosional sebagai bahan pertimbangan dalam membantu menangani masalah dan memahami karakteristik siswanya. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif yakni penelitian untuk mengumpulkan informasi mengenai gejala yang ada pada saat penelitian. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas akselerasi tingkat SMA di kota Malang yakni SMA Negeri 1 Malang, SMA Negeri 3 Malang, MAN 1 Malang dan MAN 3 Malang dengan jumlah seluruh responden 119 siswa. Pengumpulan data menggunakan inventori kecerdasan emosional, dan penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2008. Analisis deskriptif dengan persentase. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu : 1) sebagian besar (67,2%) siswa kelas akselerasi tingkat SMA di kota Malang mempunyai keterampilan mengenali emosi diri yang relatif baik dan stabil dan perlu dikembangkan, 2) cukup banyak (47,9%) siswa kelas akselerasi tingkat SMA di kota Malang mempunyai keterampilan mengelola emosi diri yang relatif baik dan stabil dan perlu dikembangkan, 3) cukup banyak (53,8%) siswa kelas akselerasi tingkat SMA di kota Malang mempunyai keterampilan memotivasi diri yang relatif baik dan stabil dan perlu dikembangkan, 4) cukup banyak (52,1%) siswa kelas akselerasi tingkat SMA di kota Malang mempunyai keterampilan mengenali emosi orang lain yang relatif baik dan stabil dan perlu dikembangkan, 5) cukup banyak (58,8%) siswa kelas akselerasi tingkat SMA di kota Malang mempunyai keterampilan mengenali emosi orang lain rata-rata atau cukup dan perlu dilatih serta dikembangkan. Sehubungan dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan, peneliti memberikan beberapa saran:1) Kepada konselor, konselor hendaknya meningkatkan mutu dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling yakni dengan pemberian layanan bimbingan pribadi dan bimbingan sosial. Pemberian layanan bimbingan pribadi dengan cara mengenalkan tugas-tugas perkembangan khususnya perkembangan emosi yang akan dialami siswa terutama siswa akselerasi. Pemberian layanan bimbingan sosial dengan pemberian materi mengenai mengembangkan keterampilan mengenali emosi diri, keterampilan mengelola emosi diri, keterampilan memotivasi diri, keterampilan mengenali emosi orang lain dan keterampilan membina hubungan dengan orang lain, 2) Peneliti selanjutnya (a) untuk lebih memperkuat skripsi ini, maka untuk peneliti selanjutnya mengadakan pengembangan lebih lanjut inventori kecerdasan emosional, (b) peneliti selanjutnya peneliti menyarankan untuk mengadakan penelitian mengenai bagaimana peran BK terhadap siswa berbakat.

Perancangan komik iklan layanan masyarakat tentang bahaya pergaulan bebas di kalangan remaja / Khoirul Arif

 

ABSTRAK Arif, Khoirul. 2008. Perancangan Iklan Layanan Masyarakat tentang Bahaya Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja dalam bentuk Komik. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbimg: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd., (II) Drs. Didiek Rahmanadji. Kata kunci: perancangan, iklan layanan masyarakat, pergaulan bebas, komik. Pergaulan bebas adalah salah satu dari sekian faktor yang menghancurkan masa depan generasi muda bangsa. Oleh karenanya, untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya pergaulan bebas, maka dibutuhkan iklan layanan masyarakat tentang bahaya pergaulan bebas di kalangan remaja. Yang mana, salah satunya adalah dengan menggunakan komik sebagai media. Pemilihan komik sebagai media dikarenakan media komik merupakan media yang disukai oleh remaja yang merupakan segment dari pesan yang diangkat dalam iklan. Dengan demikian, diharapkan pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh segment iklan. Maksud dan tujuan dari disusunnya perancangan komik iklan layanan masyarakat tentang berbahayanya pergaulan bebas ini adalah untuk menginspirasi kaum remaja, dan memberikan alternatif solusi tentang berbagai permasalahan remaja, dengan spesifikasi pengarahan dan pemahaman tentang berbahayanya pergaulan bebas di kalangan remaja. Model perancangan yang dibuat adalah menggunakan model perancangan yang bersifat prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari kepustakaan, pengalaman pribadi, dan dari perkuliahan yang diikuti oleh penulis. Hasil perancangan ini adalah empat buah produk visual komik sebagai media penyampaian iklan layanan masyarakat tentang bahaya pergaulan bebas di kalangan remaja. Keempat buah komik itu diantaranya adalah komik tentang cerita bahaya rokok, komik tentang bahaya minuman keras, komik tentang bahaya narkoba, dan komik tentang bahaya free sex. Keempat cerita tersebut merupakan tema pokok dari pergaulan bebas, yang meliputi rokok, minuman keras, narkoba dan free sex. Berdasarkan perancangan ini, dapat disarankan agar dikembangkan peran komik dengan lebih dalam, tidak hanya sebagai media hiburan saja.

Meningkatkan hasil belajar IPS melalui pembelajaran kooperatif model TGT di kelas V SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Pikson Lesnussa

 

ABSTRAK Lesnussa, Pikson. 2008. Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui Pembelajaran Kooperatif Model TGT di Kelas V SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1). Drs. Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd., (2). Drs. M. Imron Rosyadi H. Sy, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, TGT, hasil belajar IPS sekolah dasar. Ilmu Pengetahuan Sosial bertujuan untuk membentuk siswa agar memiliki kemampuan dasar untuk berpikir kritis, rasa ingin tahu, menemukan, memecahkan permasalahan dan memiliki keterampilan bekerjasama dalam kehidupan sosial. Selain itu siswa juga dituntut mampu berkomunikasi, bekerjasama, dan bersaing dengan sehat dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, maupun global. Permasalahan yang terjadi di kelas V SDN Gununggangsir Beji adalah rendahnya hasil belajar siswa dan kerjasama siswa dalam belajar. Sehingga perlu adanya tindakan yang inovatif dalam pembelajaran. Penelitian tindakan kelas ini diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Gununggangsir III yang mencakup pemahaman konsep dan kemampuan kerjasama antar siswa. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran kooperatif model TGT. TGT terdiri atas lima komponen antara lain penyajian materi, kerja kelompok, turnamen, rekornisi tim, dan kuis/pos tes. Pembelajaran dilakasanam pada mata pelajaran IPS khususnya materi pokok kenampakan alam dan buatan di Indonesia. Rencana penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Gununggangsir III kecamatan Beji kabupaten Pasuruan yang berjumlah 31 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa yang merupakan pemahaman konsep IPS materi pokok kenampakan alam dan buatan di Indonesia secara klasikal mengalami peningkatan dari 63,39 % pada pra tindakan menjadi 73,04 % kemudian menjadi 82,13 % pada siklus II. Hasil belajar berupa keterampilan proses bekerjasama meningkat dari 58.62 % pada siklus I kemudian mengalami peningkatan menjadi 93.33 % pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran kooperatif model TGT diterapkan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran kooperatif dalam mengajarkan mata pelajaran IPS. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Penerapan pembelajaran tematik-tema lingkungan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Penanggunan Malang / Nurainy Soraya

 

ABSTRAK Pendidikan di Indonesia terutama di tingkat sekolah dasar adalah masih berlakunya pengkotak-kotakan dengan sistem evaluasi dan tes hanyalah reproduksi informasi yang diberkan oleh guru. Sedangkan cara belajar anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan tingkat efisiensi dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran masih rendah, hal ini disebabkan proses pembelajaran di SD kurang sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak. Pembelajaran SD kelas rendah sebaiknya dilakukan secara terintegerasi yaitu tidak memandang bidang studi secara terpisah-pisah, tetapi saling terkait satu sama lain. Hal ini yang menjadi pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memasukkan pembelajaran terpadu untuk siswa sekolah dasar kelas rendah yaitu dengan menggunakan pembelajaran tematik. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Apakah penerapan model pembelajaran tematik dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang?. (2) Apakah penerapan model pembelajaran tematik dapat meningkatkan rasa senang siswa kelas dua dalam belajar di SDN Penanggungan Malang? (3)Apakah penerapan model pembelajaran tematik dengan tema lingkungan dapat meningkatkan kreativitas siswa kelas dua dalam belajar di SDN Penanggungan Malang? (4) Apakah penerapan model pembelajaran tematik dengan tema lingkungan dapat meningkatkan interaksi siswa kelas dua dalam belajar di SDN Penanggungan Malang? (5) Apakah penerapan model pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep lingkungan siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran tematik-tema lingkungan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang. (2) Mendeskripsikan dampak peningkatan prestasi belajar siswa pada model pembelajaran tematik-tema lingkungan siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang. (3) Mendeskripsikan dampak peningkatan aktivitas belajar siswa pada model pembelajaran tematik-tema lingkungan siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang. (4) Mendeskripsikan dampak peningkatan rasa senang belajar siswa pada model pembelajaran tematik-tema lingkungan siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang. (5) Mendeskripsikan dampak peningkatan kreativitas siswa pada model pembelajaran tematik-tema lingkungan siswa kelas dua SDN Penanggungan Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus pada siklus I dilaksanakan selama dua hari sedangkan pada siklus II dilaksanakan selama lima hari. Subjek penelitian Subyek penelitian dibatasi pada siswa kelas II SDN Penanggungan Malang yang berjulah 40 orang. Instrumen yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Sedangkan evaluasi yang dilakukan terfokus pada proses dan hasil dengan menggunakan teknik tes dan non tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran tematik-tema lingkungan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas 2 SDN Penanggungan Malang. Hal ini dapat dilihat pada peroleha skor uji komptensi yang meningkat tajam, dari rata-rata sebelumnya 80,37 pada siklus I dan meningkat 87,63 pada siklus II. Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai diatas 75 % jadi siklus dihentikan. Dampak penerapan pembelajaran tematik-tema lingkungan dapat meningkatkan aktivitas, rasa senang, dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.

Hubungan antara beban mengajar dan pelaksanaan tugas guru Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Malang / Siti Nur Isrotin Chasanah

 

Guru merupakan orang yang terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar. Sebagai tenaga kependidikan, guru mempunyai posisi sentral dan strategis dalam peningkatan mutu pendidikan, terutama dalam menyiapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan abad ke 21. Memahami betapa besar tugas, peranan dan kompetensi guru dalam menentukan keberhasilan pendidikan, maka profesi atau jabatan guru layak mendapat perhatian untuk diteliti dan diungkapkan keberadaannya. Salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah beban mengajar guru-guru di sekolah. Karena besar-kecilnya beban mengajar dimungkinkan dapat berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas guru dan keberhasilan tugas-tugas pendidikan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) seberapa tingkat beban mengajar guru SMAN di Kota Malang?; (2) seberapa tingkat pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang?; dan (3) apakah ada hubungan antara beban mengajar dan pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang?. Penelitian ini mempunyai tujuan: (1) mengetahui tingkat beban mengajar guru SMAN di Kota Malang; (2) mengetahui tingkat pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang; dan (3) mengetahui hubungan antara beban mengajar dan pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara beban mengajar dan pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang. Populasi penelitian ini adalah Guru SMAN di Kota Malang yang berjumlah 690 (enam ratus sembilan puluh) orang guru. Jumlah sampelnya adalah 253 (dua ratus lima puluh tiga) orang guru. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling (sampel random proporsional). Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 4 (empat) pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis yang dipilih adalah deskriptif persentase dan korelasi product moment. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer yaitu program SPSS (Statistical Product and Special Services) 13.0 for windows. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa r hitung yang diperoleh adalah 0,487(nol koma empat ratus delapan tujuh puluh) dengan taraf signifikansi 5% yang berarti r hitung lebih besar dari r tabel 0,138 (nol koma seratus tiga puluh delapan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara beban mengajar dan pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang. Kesimpulan yang ditarik dari hasil penelitian adalah: (1) tingkat beban mengajar guru SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi tinggi; (2) tingkat tanggungjawab guru di dalam kelas SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi tinggi; (3) tingkat tanggungjawab guru di luar kelas SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi tinggi; (4) pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi sangat tinggi; (5) pelaksanaan tugas profesional guru SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi sangat tinggi; (6) pelaksanaan tugas sosial guru SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi tinggi; (7) pelaksanaan tugas kepribadian guru SMAN di Kota Malang berada pada kualifikasi tinggi; (8) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara beban mengajar dan pelaksanaan tugas guru SMAN di Kota Malang. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan: (1) kepala sekolah dapat memperhatikan pembagian jam mengajar/beban mengajar yang sesuai dengan kapasitas guru, karena hal tersebut mempunyai hubungan yang signifikan dengan peningkatan pelaksanaan tugas guru; (2) para guru disarankan dapat lebih meningkatkan kemampuan profesional, sosial, dan kepribadian; dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah; (3) peneliti lain apabila ingin melakukan penelitian yang sejenis, sebaiknya penelitian ini lebih dikembangkan dengan variabel, populasi yang berbeda serta instrumen yang tidak hanya mengambil dari persepsi guru, namun juga mencakup sudut pandang pimpinan, teman sejawat dan murid.

Perancangan video company profile "Dondong Photography & Videography Malang" / Arif Rachman Hakim

 

Manajemen pembelajaran project work di Sekolah Menengah Kejuruan berbasis manajemen mutu berstandar internasional ISO 9001-2000: studi kasus di SMK Ngeri 4 Malang / Dwi Rahayu

 

Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat, bangsa, dan negara untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan, terutama melalui pendidikan formal, yakni sekolah. Banyaknya remaja yang tidak dapat meneruskan pendidikan yang lebih tinggi dan daya serap ilmu pengetahuan yang rendah pada masyarakat, serta masih banyaknya masyarakat yang berpendidikan rendah merupakan masalah nasional yang harus segera diatasi secara terpadu antara pemerintah, masyarakat, dan pihak sekolah dalam usaha mewujudkan tujuan nasional secara berkesinambungan. Atas dasar itulah, Sekolah Menengah Kejuruan yang berorientasi pada link and match harus dapat mengembangkan isi pembelajaran yang ada. Oleh karena itu pembelajaran dengan menggunakan pendekatan project work merupakan salah satu alat kendali mutu dalam uji kompetensi kejuruan untuk menghasilkan siswa berkompeten dan memiliki life skills sehingga memiliki kebermaknaan dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Malang dengan fokus penelitian proses/manajemen pembelajaran project work khususnya jurusan Grafika di sekolah yang telah memiliki sistem manajemen mutu berstandar internasional dengan pembahasan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pendekatan pembelajaran project work, faktor pendukung, faktor penghambat, cara memberdayakan faktor pendukung, hingga cara mengatasi hambatan yang ada dalam pembelajaran ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus di mana prosedur pengumpulan datanya dilakukan melalui wawancara mendalam kepada informan, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum proses pembelajaran project work sesuai dengan acuan dan prosedur operasional standar dari Depdiknas. Sedangkan segala pengadministrasiannya berdasar sistem manajemen mutu (SMM) yang diterapkan di sekolah ini. Perencanaan yang dibuat sekolah melalui pembuatan rencana program kegiatan mulai dari sosialisasi pembelajaran project work yang digunakan sebagai uji kompetensi kejuruan kepada siswa dan orang tua sampai pada pelaksanaan verifikasi dari internal maupun eksternal. Proses pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakan pada siswa kelas XII semester VI setelah mereka selesai melakukan kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin). Sedangkan pelaksanaan pembelajaran project work di SMKN 4 Malang dimulai dengan menentukan judul dan nama produk, membuat proposal, menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, melaksanakan proses produksi, dan kegiatan kulminasi. Penilaian dilakukan dengan pendekatan external assement yang dapat dilaksanakan secara langsung selama proses pelaksanaan project work maupun melalui proses verifikasi terhadap rekaman/bukti belajar (evidence of learning) sesuai dengan kriteria kinerja yang diorganisasikan dalam bentuk portofolio. Selain itu juga dilakukan uji teori kejuruan yang dilaksanakan sebelum verifikasi pihak eksternal. Secara umum SMKN 4 Malang melaksanakan pendekatan pembelajaran project work dengan karakteristik sebagai berikut: (1) pembelajaran sistem proyek produksi; (2) pengendalian mutu pembelajaran menggunakan evidence of learning; (3) hasil pembelajaran berwujud unjuk kerja dan produk; (4) penilaian dilakukan secara internal assesment dan eksternal assesment, dan (5) adanya sertifikat kompetensi untuk siswa. Dari kegiatan tersebut terdapat pembimbing (guru) yang mendampingi siswa selama proses pelaksanaan produksi. Dari proses tersebut dapat diketahui faktor penunjang pembelajaran ini berasal dari internal sekolah maupun pihak eksternal yang terkait. Sekolah menyediakan sarana prasarana yang cukup menujang, anggaran dana khusus untuk membantu siswa meringankan biaya project work, dan tenaga SDM guru yang cukup berkompeten. Selain itu dari pihak eksternal, SMKN 4 Malang telah bekerjasama dengan Asosiasi Grafika sebagai lembaga yang memberikan sertifikat kompetensi dari hasil project work dan juga berperan sebagai penguji eksternal yang turut menentukan nilai uji kompetensi siswa. Sedangkan hambatan yang dialami adalah masih kurangnya tenaga guru produktif di jurusan Grafika dan jadwal yang dibuat pusat terlalu dekat dengan pelaksanaan UAN (Ujian Akhir Nasional). Hal terpenting lagi pembelajaran ini akan berjalan secara optimal jika proses pelaksanaan yang dilakukan siswa juga didampingi dengan pihak eksternal (industri). Hal tersebut membuat sekolah berusaha untuk selalu meningkatkan jumlah tenaga guru yang ada dan membuat kebijakan pengaturan jadwal seefektif dan seefisien mungkin agar kedua uji kemampuan siswa baik dari segi adaptif maupun produktif dapat terlaksana sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar SMKN 4 Malang meningkatkan kualitas pembelajaran yang berfokus pada kompetensi life skill sehingga mutu sekolah terus diraih seiring dengan penerapan SMM yang ada. Selain itu diharapkan sekolah berfungsi sebagai mediator dari produk yang dihasilkan siswa (dipasarkan maupun dipromosikan di masyarakat) agar dikenal oleh khalayak umum dan memiliki nilai kebermaknaan. Hal tersebut juga akan tercapai bilamana terdapat kerjasama yang baik dengan guru yang mempunyai peranan penting dalam pembelajaran ini. Selain itu untuk Dinas Pendidikan Nasional disarankan penilaian proses kerja siswa juga melibatkan pihak eksternal. Dari adanya pelibatan pihak eksternal dalam proses yang dibuat siswa, kedua penguji (guru dan industri) secara bersama-sama mengetahui hasil kerja siswa mulai dari awal sampai pada produk. Selain itu, Dinas Pendidikan Nasional diharapkan juga mengambil kebijakan dengan mengatur jadwal pelaksanaan seefisien mungkin.

Pengaruh tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan, dan masa kerja terhadap produktivitas kerja staff tata usaha di lingkungan Universitas Negeri Malang / Sri Asih

 

Sumber daya manusia dalam organisasi merupakan aset penting untuk perkembangan organisasi. Dikatakan berharga karena maju mundurnya suatu organisasi tergantung pada sumber daya manusia yang dimiliki. Latar belakang pendidikan merupakan salah satu faktor yang fundamental bagi seorang staf tata usaha karena dengan pendidikan mampu meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Dengan demikian pimpinan harus memprioritaskan para sumber daya manusia dan memperlakukannya dengan baik diantaranya dengan mengikutsertakan dalam pelatihan. Melalui pelatihan karyawan akan menjadi lebih terampil dan berkembang lebih cepat serta bekerja lebih efisien. Pendidikan yang tinggi didukung dengan pelatihan-pelatihan yang diikuti tentunya pekerja tersebut mempunyai masa kerja yang tidak sedikit. Karena masa kerja yang lama, maka pengalaman pelatihan yang dimiliki juga semakin banyak. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimanakah keadaan tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja staf tata usaha di UM?; 2) seberapa tinggi tingkat produktivitas kerja Staf Tata Usaha di UM?; 3) adakah pengaruh tingkat pendidikan terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di UM?; 4) adakah pengaruh pengalaman pelatihan terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di UM?; 5) adakah pengaruh antara masa kerja terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di UM?; 6) adakah pengaruh tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di UM? Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan keadaan staf tata usaha tentang tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja; 2) mengetahui tingkat produktivitas kerja staf tata usaha di UM; 3) mengetahui apakah ada pengaruh antara tingkat pendidikan dan produktivitas kerja staf tata usaha di UM; 4) mengetahui apakah ada pengaruh antara pengalaman pelatihan dan produktivitas kerja staf tata usaha di UM; 5)mengetahui adanya pengaruh antara masa kerja dan produktivitas kerja staf tata usaha di UM; 6)mengetahui adanya pengaruh antara tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja terhadap produkivitas kerja staf tata usaha di UM. Rancangan pada penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional, dengan populasi sebesar 332 dan sampel penelitian sejumlah 181 dengan sasaran staf tata usaha golongan IIIa, IIIb, IIIc dan IIId, karena golongan ini merupakan golongan yang mendasar ketika menjalankan tugas dari atasannya dan belum mendapatkan jabatan tambahan. Instrumen pengumpulan data dengan menggunakan angket dan dokumen. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) kondisi tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja dapat dijabarkan sebagai berikut: (a)Tingkat pendidikan staf tata usaha di lingkungan Universitas Negeri Malang tergolong tinggi. Dimana sebagian besar tingkat pendidikanya adalah S1; (b) Pengalaman pelatihan staf tata usaha tergolong sangat banyak, karena sebagian besar mengikuti pelatihan ≥ 8 kali; (c) Masa kerja staf tata usaha tergolong lama, mayoritas mereka bekerja antara 17-22 tahun; 2) Produktivitas kerja staf tata usaha tergolong tinggi dengan rentang nilai 55-62; 3) Pengaruh tingkat pendidikan terhadap produktivitas kerja staf tata usaha, Nilai Thitung untuk pengaruh variabel tingkat pendidikan lebih besar dari pada ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan dan produktivitas kerja staf tata usaha di UM; 4) Pengaruh pengalaman pelatihan terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di lingkungan Universitas Negeri Malang. Nilai Thitung untuk variabel pengalaman pelatihan lebih besar dari pada Ttabel,, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pengalaman pelatihan dengan produktivitas kerja; 5)Pengaruh masa kerja terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di lingkungan Universitas Negeri Malang. Nilai Thitung untuk variabel masa kerja lebih besar dari pada Ttabel,, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara masa kerja dan produktivitas kerja staf tata usaha di UM; 6) Pengaruh tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja terhadap produkivitas kerja, nilai Fhitung dari ketiga variabel bebas tersebut lebih besar dari pada Ftabel; maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh secara simultan antara tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja terhadap produktivitas kerja staf tata usaha di UM. Mencermati hasil penelitian ini, maka ada beberapa hal yang disarankan yaitu: bagi staf tata usaha, staf tata usaha yang berpendidikan rendah hendaknya meningkatkan pendidikannya, kondisi pengalaman pelatihan yang tergolong sangat banyak hendaknya ditingkatkan mengingat pelatihan merupakan salah satu wadah untuk menggali potensi diri, meningkatkan kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan staf tata usaha dalam menjalankan tugas sehari-hari. Kondisi produktivitas kerja yang tergolong tinggi hendaknya dipertahankan karena produktivitas kerja yang baik merupakan wujud keberhasilan suatu pembinaan staf tata usaha. Bagi Universitas Negeri Malang: kemampuan staf tata usaha untuk mencapai target pekerjaanya dapat diketahui dari ketiga aspek yaitu: tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan dan masa kerja karena itu ketika melakukan rekruitmen staf tata usaha baru hendaknya sesuai dengan bidang keahliannya. Lebih diutamakan lagi calon staf tata usaha mempunyai keahlian atau ketrampilan selain dari jenjang pendidikan formal. Bagi peneliti lain: hasil penelitian ini untuk memperkaya wawasan keilmuan dan sebagai informasi sekaligus sebagai salah satu rujukan, terutama bagi mereka yang akan meneliti masalah tingkat pendidikan, pengalaman pelatihan, masa kerja dan produktivitas kerja.

Penerapan model pembelajaran pakem dalam meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Tembalang Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar / Rifka Zuyun Umadah

 

ABSTRAK Zuyun Umadah, Rifka.2008. Penerapan Model Pembelajaran Pakem dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SDN Tembalang Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. H. Ahmad Samawi, M.Hum (II) Drs. H. Hadi Mustofa, M.Pd Kata Kunci : pembelajaran, pakem, hasil belajar Ilmu pengetahuan sosial (IPS) adalah sebuah ilmu yang memegang peranan penting dalam kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi , namun demukian kemajuan ilmu dan teknologi itu sendiri hanya dapat dilakukan oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki budi pekerti yang luhur. Apabila dikaitkan dengan konteks pendidikan dasar sembilan tahun, maka funbgsi dan tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar harus mendukung pula pemilikan kompetensi tamatan sekolah dasar, yaitu pengetahuan, nilai, sikap dan kemampuan melaksanakan tugas atau mempunyai kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, lingkungan social, lingkungan budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan IPS di Negara kita dewasa ini lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitikberatkan pada model belajar konvensional seperti ceramah, sehingga kurang mampu menrangsang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Suasana belajar yang seperti ini semakin menjauhkan peran pendidikan IPS dalam upaya mempersiapkan warga Negara yang baik dan memasayarakat. Berdasarkan hasil observasi sementara, pembelajaran IPS di SDN Tembalang menunjukkan indikasi bahwa pola pembelajarannya masih bersifat Teacher centered. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan pembelajaran yang lebih berpusat pada guru untuk memberikan penjelasan, siswa dalam KBM mendengarkan dan mencatat penjelasan guru. Kesan verbalisme dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) masih terlalu kuat. Dengan kecenderungan pembelajaran yang demikian, akan mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri siswa dalam pembelajaran sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Untuk mengatasi permasalahan di atas, banyak pendekatan dan strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Akan tetapi guru harus dapat memilih secara tepat metode mana yang paling efektif dalam menyampaikan materi. Salah satu alternatif pendekatan yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah Pendekatan Pakem. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Pembelajaran Pakem dalam pelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Tembalang Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, mendeskripsikan pembelajaran Pakem dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Tembalang Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar dalam menyelesaikan soal-soal IPS setelah diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Pakem Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN tembalang Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara: (1) pemberian angket/kuisioner; (2) observasi; (3) Dokumentasi; (4) Wawancara; (5) Tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu yaitu meliputi proses, makna tindakan, dan pemaknaan. Kegiatan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan / verifikasi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang diperoleh, dan pembahasan dari hasil refleksi serta temuan-temuan yang ada diperoleh suatu kesimpulan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan tindakan selanjutnya. Penerapan model pembelajaran pakem membawa pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil belajar siswa mengalamai peningkatan pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II yaitu 36%, 71%, dan 93%. Peningkatan hasil belajar dari pra tindakan ke siklus I adalah 35%, sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 22%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pakem dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi sumber daya alam. Hasil penelitian ini memiliki harapan agar guru Dalam menyampaikan materi IPS hendaknya guru menggunakan berbagai macam sumber belajar dan stretegi pembelajaran yang efektif dan inovatif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Bagi peneliti lain diharapkan untuk meneliti metode pembelajaran lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.

Perancangan warning system kebakaran denagn memanfaatkan fasilitas SMS (Short Message Service) / Yunior Lanang Sartrio

 

Berdasarkan data dari Unit Pemadam Kebakaran Kota Jakarta tingginya angka kejadian kebakaran di tahun 2007 berjumlah 1700 kasus, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian material. Bencana ini banyak terjadi di daerah–daerah yang padat penduduk. Di balik perkembangan fisik kota yang pesat, kota-kota juga masih memiliki jalan-jalan sempit, rumah padat penduduk yang belum tertata secara baik dan tidak tersedianya hydrant kebakaran yang memadai, tentu saja menghambat Unit Pemadam Kebakaran melaksanakan tugasnya, apabila terjadi peristiwa kebakaran. Selain itu yang memprihatinkan adalah sebagian gedung-gedung bertingkat juga belum memiliki sarana pencegahan intern yang memadai.Lemahnya peraturan, rendahnya kesadaran pengelola gedung, minimnya kualitas perawatan dan dukungan biaya operasional serta kurangnya pengawasan merupakan hal yang sering dirasakan sebagai faktor penghambat. Sistem pengaman yang sudah ada di pasaran dirasa kurang efektif danefisien oleh pihak masyarakat dikarenakan pemasangan instalasinya yang rumit dan harga per alat yang mahal. Jika ingin pemadaman yang maksimal maka diperlukan sistem pengaman tersebut dengan jumlah yang banyak. Dari permasalahan di atas timbulah suatu ide untuk membuat alat Perancangan Warning System Kebakaran Dengan Memanfaatkan Fasilitas SMS yang sudah teruji efektifitas dan efisiensinya. Cara kerja alat ini adalah memantau kadar asap di lokasi penempatan alat kemudian mengirimkan hasil pantauan melalui SMS jika terjadi perubahan kondisi kepada pemilik rumah atau gedung yang memerlukan. Alat ini memanfaatkan layanan SMS sebagai media pengiriman informasi karena mempunyai nilai ekonomi yang termasuk murah, selain itu SMS juga merupakan media pengiriman informasi yang familiar di masyarakat. Sehingga pemerintah dan masyarakat memperoleh informasi langsung mengenai kadar asap di sekitar lokasi penempatan alat dengan layanan SMS. Alat ini juga menggunakan alarm sebagai warning system.

Pengendalian otomatis pintu air dan penyimpanan data biaya pemakaian berbasis Delphi 7.0 dan microsoft access 2003 / Kusnaidi

 

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki daratan luas yang banyak dimanfaatkan oleh penduduk Negara tersebut sebagai lahan pertanian. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pertanian adalah pengairan yang cukup terhadap lahan pertanian. Sistem pengairan di wilayah pedesaan di Indonesia, masih banyak menggunakan cara manual. Salah satunya di desa Lancar Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan. Pada sistem pengairan yang ada di desa tersebut menggunakan tenaga manusia sebagai penggerak awal mesin diesel (pompa air) dan pengatur buka tutup pintu air. Hal tersebut cukup menguras tenaga dan membutuhkan waktu yang relatif lama. Selain itu, proses pencatatan dan penyusunan data pemakai air masih menggunakan media kertas dan pensil yang mana hal tersebut Hal tersebut relatif kurang aman dan kurang efektif. Berdasarkan alasan diatas, penyusun membuat miniatur alat pengendali pintu air otomatis dan penyimpanan data biaya Pemakai air dengan menggunakan personal computer (PC) yang berdasarkan pada sistem pengairan yang digunakan di Desa Lancar Kecamatan Larangan Kabupaten Pemekasan. Pada perancangan miniatur alat ini menggunakan motor dc gear box sebagai pengatur gerak buka-tutup pintu air. Instruksi buka-tutup pintu air berdasarkan data yang terlebih dahulu disimpan di database Microsoft access 2003 yang kemudian dieksekusi oleh komputer dengan menggunakan bahasa pemrograman Delphi. Jika keterangan waktu awal pemakaian air pada form Delphi sama dengan jam yang aktif (counter) di komputer, maka port paralel akan memberikan tegangan 5 Volt yang digunakan untuk megaktifkan driver relay on yang membuat motor dc berputar searah jarum jam sehingga pintu air terbuka. Begitupun sebaliknya, jika keterangan waktu akhir pemakain air pada form Delphi sama dengan jam yang aktif (counter)di komputer, maka port paralel akan memberikan tegangan 5 Volt yang digunakan untuk mengaktifkan driver relay off yang membuat motor dc berputar berlawanan jarum jam sehingga pintu air tertutup.

Pengaruh earning per share (EPS), basic earning power (BEP) dan economic value added (EVA) terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage yang listing di BEI (Bursa Efek Indonesia) periode 2004-2006 / Ahmad Arfan

 

Investasi saham di pasar modal membutuhkan beberapa informasi untuk membantu para investor dalam melakukan pengambilan keputusan. Informasi yang relevan dapat digunakan sebagai alat untuk menilai harga saham. Informasi tersebut antara lain adalah Earning Per Share (EPS),Basic Earning Power (BEP), dan Economic Value Added (EVA) yang perubahannya berpengaruh secara langsung terhadap harga saham.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Earning Per Share, Basic Earning Power, dan Economic Value Added secara parsial dan simultan terhadap Harga Saham. Penelitian ini digolongkan dalam penelitian kausalitas karena bermaksud untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10 perusahaan Food and Beverage yang memenuhi kriteria variabel penelitian.Teknik penelitian yang digunakan adalah purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari internet (www.idx.co.id). Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 14.0. Uji Asumsi klasik digunakan untuk mengetahui koefisien regresi pada persamaan tersebut terjadi penyimpangan-penyimpangan yang berarti. Uji Asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas, multikolinieritas, heterikedastisitas dan autokorelasi Hasil penelitian menunjukkan 1) Earning Per Share berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham 2) Basic Earning Power tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. 3) Economic Value Added tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham . 4) Earning Per Share, Basic Earning Power, Economic Value Added secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Penelitian selanjutnya disarankan menambah variabel lain yang berpotensi mempengaruhi harga saham, menambah sampel, memperpanjang periode penelitian, atau meneliti perusahaan dari sektor non Food and Beverage sehingga hasilnya dapat menentukan keuntungan yang optimal dalam meningkatkan harga saham perusahaan.

Konstribusi intelegensi, motivasi berprestasi, sikap dan pemanfaatan sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA di SLTP 3 Jember / Oleh Wiwik Eny Sawitri Hami Seno

 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe stad (Student Teams Achievement divisions) untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII B SMP Sriwedari Malang / Sri Rahayu

 

Kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi, dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Disamping itu, dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta adanya rasa percaya diri, sedangkan dari segi hasil guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku sebagian besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik (Hamalik,2008:12). Selama ini fenomena yang sering dijumpai di sekolah adalah kurangnya efektivitas dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang diterapkan umumnya masih terpusat pada guru. Pembelajaran ekonomi yang terpusat pada guru tersebut akan menyebabkan kecenderungan siswa bersifat pasif dan menimbulkan kebosanan dan akibatnya nilai prestasi belajar siswa banyak yang masih di bawah SKM (Standar Ketuntasan Minimal). Oleh karena itulah guru dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas dalam pembelajaran. Tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian materi informasi kepada para siswa. Sesuai dengan kemajuan dan tuntunan jaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami siswa dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kesulitan belajar dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh siswa. Dalam pada itu guru dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing dan mengembangkan kemampuannya secara optimal. Tanpa adanya kecakapan maksimal yang dimiliki guru, maka kiranya sulit bagi guru untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Peningkatan kemampuan itu juga meliputi kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas di dalam sekolah dan kemampuan yang diperlukan untuk merealisasikan tanggung jawabnya di luar sekolah. Kemampuan-kemampuan itu harus dipupuk dalam diri pribadi guru sejak ia mengikuti pendidikan guru sampai ia bekerja. Seiring dengan kemajuan dan teknologi yang sangat pesat, media belajar yang bisa digunakan memiliki macam dan jenis yang beragam. Dalam keragaman jenis media yang tersedia guru bisa membuka dan mengambil informasi dari manapun dan kapanpun guru suka, bisa berdiskusi dengan teman sejawat ataupun belajar sendiri. Adalah penting sekali bagi guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar murid, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi murid-murid (Hamalik, 2008:27). Sesuai dengan kenyataan dilapangan di SMP Sriwedari Malang, pembelajaran yang dilakukan oleh guru berdasarkan wawancara tidak terstruktur, pembelajaran yang dilakukan sudah cukup baik tetapi perlu untuk ditingkatkan lagi. Para guru kebanyakan lebih sering menggunakan metode ceramah dan penugasan. Sebenarnya metode ceramah memang tidak bisa ditinggalkan dari pembelajaran, karena metode ceramah dapat memberikan tambahan informasi yang tidak ada dalam buku. Tetapi kalau hanya metode ceramah saja yang dilakukan dalam proses pembelajaran maka siswa menjadi pasif. Padahal dalam metode ceramah, guru yang lebih dominan, sehingga kesempatan siswa untuk aktif dan mengembangkan kompetensi masih kurang. Pola pembelajaran yang bersifat teacher centered memberikan beberapa dampak negatif bagi siswa diantaranya siswa menjadi kurang kreatif. Bahkan dalam aktivitas, siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat apa yang dijelaskan guru, siswa masih menunggu guru datang ke kelas daripada berinisiatif untuk belajar sendiri, selama guru belum hadir jarang siswa yang berdiskusi dengan teman tentang materi yang akan diajarkan atau materi yang telah lalu. Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran yang diharapkan upaya atau usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan cara memperhatikan siswa, menguasai materi pelajaran dan memilih metode pembelajaran yang tepat. Salah satu untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa adalah dengan memilih suatu metode pembelajaran yang tidak membosankan (monoton). Pemilihan metode yang tepat untuk meningkatkan keefektifan proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan STAD (Student Teams Achievement Divisions). Dengan metode STAD siswa mempunyai tanggung jawab supaya setiap anggota kelompok dapat memahami pelajaran dengan saling mempelajari dan belajar dari temannya. Hasil diskusi kelompok akan berdampak pada pemberian poin pada kelompok lewat tes individu. Adanya tahap penghargaan yang berorientasi pada kelompok dengan terpilihnya kelompok terbaik maupun penghargaan individu yang dilihat dari skor tertinggi perkembangan individu dengan penerapan tipe STAD akan mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi kelompok kecil yang mengarah pada tercapainya tujuan belajar. Metode STAD adalah salah satu model dari pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar bersama dalam kelompok kecil untuk mencapai keberhasilan belajar, selain itu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Keunggulan dari STAD adalah adanya kerjasama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok tergantung keberhasilan individu, sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Pendekatan kooperatif learning tipe STAD merupakan pendekatan yang menekankan pada aktivitas dan interaksi antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Dari uraian di atas maka peneliti menerapkan STAD dalam pembelajaran yang dilakukan di SMP kelas VIII B Sriwedari Malang untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar ekonomi. Sehingga peneliti menggunakan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas VIII B SMP Sriwedari Malang”.

The Students' learning styles in learning english at SMPN 1 Wonosari / Yayang Rinastalia Madika

 

ABSTRACT Madika, Yayang Rinastalia. 2008. The Students’ Learning Styles in Learning English at SMPN 1 Wonosari. Study Program of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dr. Suharmanto, M.Pd. Keywords: Learning styles, Learning English, SMPN 1 Wonosari The success of teaching-learning process is not only determined by how the teachers teach but also, most importantly and principally is determined by how the students learn. Language learning styles is one of the main factors that help determine how the students learn a second or foreign language. However, the students have different personalities so they learn in many ways or styles. Moreover, the match between the students’ learning styles and the teachers’ teaching styles can enhance an effective teaching-learning process. Thus, it is important for teachers to be aware of their students learning styles. It is clear then that one factor which can lead to the success of a language teaching-learning process is the match between students` learning styles and the teaching methods used by the teachers. Due to the importance of knowing the students` learning style and limited number of studies done on identifying the students` learning style difference, this study is conducted. This study investigates the learning styles preferences of the SMPN 1 Wonosari students according to two variables: gender and levels of the study whether the differences are significant. The students’ learning styles preferences to be measured are visual, auditory, kinesthetic, tactile, group and individual. The design of this study is principally descriptive quantitative. A descriptive study is aimed at describing the current phenomena that is the real situation at the time of conducting the research. This study is a Replication of the previous studies by Reid (1987). However, this study only uses two variables: gender and levels of the study. The other variables such as cultural background, English ability are omitted because of the homogeneity of the subjects. There are 351 students at SMPN 1 Wonosari which consist of 180 males and 171 females. For a practical reason, this study takes only one class of each grade as a sample. As a result, VII-A, VIII-A, and IX-C classes were chosen as the samples of this study. VII-A class consists of 38 students, while VIII-A class is comprised 44 students, and IX-C class has 37 students. Therefore, there are 119 students as the subjects of this study. The instrument used to collect the data is the perceptual learning styles questionnaire, designed by Joy M Reid, consisting of 30 items that the students rate on a five-point scale from 4 to 0. These items are randomly arranged sets of 5 statements on each of the six learning styles preferences to be measured. To facilitate the learners’ response and to avoid misinterpretation, the questionnaire is translated into Indonesian by Sari (2001). For the data analysis, first, the writer collects data from the questionnaires from the students. Then, the data from the questionnaire is then classified according to each of the students’ variables. The students’ scores on each learning 6 style for each variable are then classified into three categories set up by Reid: major, minor, and negative learning styles preferences. Then, to find the significant differences among the variables, Analysis of Variance (ANOVA) was applied. The study indicates that the students of SMPN 1 Wonosari preferred to have group and auditory as their major learning styles, visual, kinesthetic, tactile and individual as their minor learning styles and they do not have any negative learning styles. The result of the study also shows that according to gender, females prefer group and auditory as major learning and visual, kinesthetic, tactile, and individual as their minor learning styles. Auditory and group are male’s major learning styles and their minor learning styles are visual, kinesthetic, and tactile, while individual is their negative learning styles. Analysis of variance (ANOVA), using SPSS for windows, of each style shows that there is significant differences at the .05 level at the auditory learning styles; it shows that female students are more auditory than male students. The students’ learning styles preferences means of three levels of study shows that the first graders prefer group, visual, and auditory as their major learning styles Whereas, kinesthetic, tactile, and individual are their minor learning. Group and auditory are the second graders’ major learning styles and visual, kinesthetic, tactile, and individual as their minor learning styles. Auditory and group are the third graders’ major learning styles and their minor learning styles are visual, kinesthetic, and tactile. ANOVA finds significant difference at the .05 level at the auditory learning style. It is found that the first graders are the less auditory than the other levels, while the most auditory is the second graders. ANOVA also shows that there is a significant difference at the visual learning style; it is found that the first graders are the most visual than the other levels. The results also showed that the first graders are likely to be successful learners since they have multiple learning styles and they do not have any negative learning styles so they seem not to have any difficulties in learning since they can process information in whatever way it is presented. Based on the finding the writer suggests that English teachers help their students identify their learning style preferences. Then, Identification of the students learning styles should also be followed by applying various ways of teaching. The writer also suggests that the students be aware or their learning styles so they will be aware of their strength and weakness. After that, they can find the most suitable strategies for their learning. This school is also expected to do any efforts to support the students by providing such learning facilities, such as tape recorder and cassettes or other medias that can help the students learn English well.

Partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan layanan pengumpulan data diri siswa sebagai bagian dari program bimbingan di SMA Negeri se-kota Bangkalan Madura / Indriyana Yulianti

 

ABSTRAK Yulianti, Indriyana. 2008. Partisipasi Wali Kelas Dan Guru mata Pelajaran Dalam Pelaksanaan Layanan Pengumpulan Data Diri Siswa Sebagai Bagian Dari Program Bimbingan Di SMA Negeri Sekota Bangkalan . Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Imam Hambali, M.Pd, (II) Muslhati S.Ag. M Pd. Kata kunci: Partisipasi, Layanan Pengumpulan Data, Program Bimbingan Partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan layanan pengumpulan data turut menentukan keberhasilan pelaksanaan program bimbingan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan layanan pengumpulan data di SMA Negeri se kota Bangkalan. Populasi penelitian ini adalah seluruh wali kelas dan guru mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas Negeri Se-kota Bangkalan. Sampel sekolah diambil secara purposive. Jumlah responden yang menjadi sampel penelitian 36 guru mata dan 36 wali kelas. Penelitian terdapat satu variabel yaitu partisipasi wali kelas dan guru mata pelajaran. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif survai. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket dengan teknik analisisnya persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat partisipasi wali kelas menunjukkan sangat aktif dalam pelaksanaan layanan pengumpulan siswa dalam kegiatan bimbingan adalah partisipasi dalam merekap nilai dan mengklarifikasikan siswa yang mendapat nilai rendah mengumpulkan keterangan tentang tingkah laku siswa, membuat catatan tingkah laku siswa. (2) tingkat partisipasi guru mata pelajaran menunjukkan sangat aktif adalah partisipasi dalam merekap nilai siswa yang mendapat nilai rendah, mengumpulkan keterangan tentang tingkah laku siswa, menanyakan kesulitan kepada konselor yang dihadapi, mencatat kejadian tingkah laku siswa. Saran dari penelitian ini hendaknya wali kelas dan guru mata pelajaran dapat memanfaatkan data dari konselor dalam membimbing siswa, dan menyempatkan diri berkomunikasi dengan personil sekolah dan siswa dalam proses pembimbingan. iv

Pengaruh pengumuman dividen kas dan kualitas auditor kantor akuntan publik (KAP) terhadap harga saham pada Perusahaan Manufaktur yang listing di bursa efek Indonesia / Imam Wahyudi

 

ABSTRAK Wahyudi, Iwan. 2008. Pengaruh Pengumuman Dividen Kas dan Kualitas Auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak., Pembimbing (II): Drs. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak. Kata Kunci: Pengumuman dividen kas, kualitas auditor Kantor Akuntan Publik (KAP), dan harga saham Investor berinvestasi dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan berupa dividen atau capital gain. Investor dalam berinvestasi memerlukan informasi mengenai kondisi perusahaan untuk pengambilan keputusan. Salah satu informasi tersebut adalah pengumuman dividen kas. Pengumuman dividen kas dapat digunakan para investor untuk mengambil keputusan dan memprediksi prospek perusahaan dimasa mendatang. Oleh karena itu, pasar akan bereaksi dengan naik dan turunnya harga saham. Selain itu informasi lain yang dapat digunakan oleh investor adalah laporan keuangan. Auditor sebagai pihak independen yang mengaudit laporan keuangan. Dalam hal ini, perusahaan akan memilih auditor yang berkualitas tinggi dengan tujuan untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengumuman dividen kas dan kualitas auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap harga saham pada perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi peristiwa (event study) yaitu suatu studi yang mempelajari bagaimana suatu pasar bereaksi terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai pengumuman. Sampel yang digunakan adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang mengumumkan dividen kas tahun 2006-2007 di BEI. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling, sehingga diperoleh 41 perusahaan. Data penelitian berupa data sekunder yang terdiri dari: 1). Daftar nama perusahaan yang mengumumkan dividen kas, 2). Tanggal pengumuman dividen kas, 3). Daftar nama auditor KAP, dan 4). Harga saham harian (penutupan) 15 hari sebelum dan 15 hari sesudah pengumuman dividen kas. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik non parametrik yaitu uji wilcoxon signed rank test dan uji mann-whitney u test, dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Berdasarkan uji wilcoxon signed rank test disimpulkan bahwa pengumuman dividen kas tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata harga saham, 2). Berdasarkan uji mann-whitney u test dapat disimpulkan bahwa kualitas auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) terdapat pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata harga saham. Saran yang bisa dikemukakan antara lain: 1). Pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan 2). Penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang lebih variatif untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Pendekatan pengajaran model training within industri untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X Teknik Bangunan pada mata diklat kerja Batu di SMK Negeri 1 Balikpapan / Sumaryoto

 

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan kemampuan siswa kelas X, kualitas pada mata diklat praktik kerja batu masih rendah, sehingga diperlukan suatu metode yang tepat, untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X, Program Studi Teknik Konstruksi Batu. Sehubungan hal tersebut perlu dilakukan perbaikan-perbaikan, terutama pada konsep-konsep teknik, dengan penerapan model pembelajaran yang lebih bervariasi dan inovatif. Dalam penelitian tindakan kelas ini diuji cobakan penerapan pembelajaran dengan Model Training Within Industri. Tujuan penelitian ini, adalah untuk mengetahui pendekatan pengajaran model training within industri terhadap prestasi belajar siswa, dan diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran yang inovatif untuk peningkatan prestasi belajar siswa. Model training within industri adalah suatu cara pembelajaran yang menekankan pada kegiatan mulai dasar, sehingga diharapkan siswa dapat memiliki keterampilan yang lebih tinggi dan terlatih dari yang sudah dimilikinya. Dalam penerapan pembelajaran dengan model training within industri terdapat empat tahap yaitu: (1) persiapan, (2) peragaan, (3) praktik dan (4) evaluasi. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri I Balikpapan, mulai tanggal 12 Nopember sampai 26 Nopember 2008. Obyek penelitian adalah siswa kelas X Program Studi Teknik Bangunan Gedung, pada mata diklat Konstruksi Batu, sebanyak 27 siswa yang dibagi menjadi delapan kelompok. Dilaksanakan dua siklus. Setiap siklusnya meliputi tahapan perencanaan, tindakan, obsevasi dan refleksi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dapat meningkat, pada siklus I hasil yang dicapai adalah, dari 27 siswa perolehan rata-rata nilai tes tulis siswa 6.99 dan nilai praktik siswa 6.88. Nilai prestasi belajar/kompetensi siswa pada siklus I, adalah 6.92 dan 52% jumlah siswa belum tuntas dalam pembelajaran. Pada siklus II hasil yang dicapai adalah dari 27 siswa perolehan rata-rata nilai tes tulis siswa 7.19 dan nilai praktik siswa 7.53. Nilai prestasi belajar/kompetensi siswa pada siklus II adalah 7.39 dan 85% jumlah siswa tuntas dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model training within industri dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran pada mata diklat kerja batu, karena terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengaruh variasi konsentrasi ion Cu2+ dan suhu reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-Cu sebagai katalis dalam konversi metanol menjadi gasoline / Kartika Sri Wahyuningsih

 

ABSTRAK Wahyuningsih, Kartika Sri. 2009. Pengaruh Variasi Konsentrasi Ion Cu2+ Dan Suhu Reaktor Terhadap Uji Aktivitasnya Sebagai Katalis Dalam Konversi Methanol Menjadi Gasolin. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (1) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si., (2) Adilah Aliyatulmuna, ST., M.ST. Kata kunci: Zeolit, katalis, tembaga, metanol, gasoline. Memasuki akhir abad ke dua puluh ini, para ahli minyak bumi sedang disibukkan dengan penelitian mencari bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan minyak bumi sebagai bahan bakar yang sudah lebih dari ratusan tahun telah dijadikan sumber energi. Sehubungan dengan hal tersebut, kekhawatiran tentang kurang optimalnya pengganti minyak bumi, sedikit terungkap setelah beberapa peneliti dan ahli geologi melakukan penelitian merubah peran metanol menjadi bahan bakar dengan cara mengkonversinya menjadi gasoline (MTG adalah metanol to gasoline) dengan menggunakan katalis zeolit, hal ini telah membawa perubahan yang cukup besar pada penelitian tentang zeolit. Zeolit alam tersebut diaktivasi dan diimpregnasi dengan larutan CuSO4.5H2O dan disebut zeolit-Cu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ion Cu2+ dan suhu reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-Cu sebagai katalis dalam konversi metanol menjadi gasoline. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan berasal dari desa Sumbermanjing Wetan kabupaten Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi konsentrasi ion Cu2+ yang diimpregnasi ke dalam zeolit dan suhu reaktor, sedangkan variabel terikatnya meliputi karakterisasi keasaman dan kemampuan zeolit-Cu sebagai katalis pada konversi metanol menjadi gasoline. Penelitian ini meliputi persiapan sampel, modifikasi zeolit, pengukuran keasaman, dan uji katalitik. Ukuran zeolit yang digunakan adalah 8-10 mesh. Modifikasi dilakukan dengan mengaktivasi zeolit dengan larutan HF 1%, HCl 6M, NH4NO3 1M, kemudian dikalsinasi pada suhu 750oC sehingga diperoleh zeolit aktif dan mengimpregnasi dalam larutan ion tembaga 5%, 10%, dan 15% kemudian dikalsinasi pada suhu 750oC sehingga diperoleh zeolit-Cu. Kemudian dilakukan pengujian terhadap banyaknya ion tembaga yang teradsorp pada permukaan zeolit diukur dengan AAS. Sedangkan pengukuran keasaman padatan diukur dengan cara gravimetri, dan uji katalitik dengan menggunakan reaktor dan penentuan gasoline dengan menggunakan GC, dan karakterisasi gasoline dengan uji kalor pembakaran zat, titik didih, dan uji nyala. Hasil penelitian ini menunjukkan keasaman dari Z-Cu 5%, Z-Cu 10%, Z-Cu 15%, sebesar 2,882 mmol/g; 4,838 mmol/g; dan 5,013 mmol/g. Kemampuan teradsorpsi ion tembaga pada Z-Cu 5%, Z-Cu 10%, Z-Cu 15%, sebesar adalah 76,8%; 82,77%; dan 85,25%. Suatu hidrokarbon memiliki rantai karbon panjang jika titik didihnya dan kalor pembakaran zat semakin tinggi. Titik didih dan kalor pembakaran zeolit-Cu masuk dalam rentang titik didih gasoline. Hal ini menunjukkan bahwa rantai karbon pada Z-Cu panjang yaitu rantai karbon C5-C6.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bululawang / Yeri Devianto Aditya

 

ABSTRAK Devianto Aditya. Yeri. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk Meningkatkan Kemampuan Bertanya dan Ketuntasan Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI IPS SMA negeri 1 Bululawang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Moch. Ichsan, S.E., M.Pd.,M.Si, (II) Dwi Wulandari S.E.,M.M. Kata-kata kunci: Two Stay Two Stray, Kemamapuan Bertanya, Ketuntasan Belajar. Berdasarkan obsevasi awal yang penulis lakukan di SMA Negeri 1 Bululawang, diketahui bahwa metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah dan latihan soal. Metode pembelajaran semacam ini membuat siswa kurang semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran siswa tampak bosan, mengantuk, sering tidak memperhatikan penjelasan guru dan siswa cenderung pasif dalam bertanya. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) atau Dua Tinggal Dua Tamu. Model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk saling bekerjasama dan saling bertanya jawab dalam menyelesaikan suatu persoalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemamapuan bertanya dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bululawang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA 1 Bululawang yang berjumlah 31 siswa, yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan pada pokok bahasan perdagangan internasional. Alat pengumpulan data menggunakan, lembar observasi, lembar catatan lapangan, Soal tes, Angket, dan Dokumentasi. Hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan persentase peningkatan skor tiap siklus. Persentase nilai rata-rata ketepatan guru menerapkan pembelajaran meningkat dari 70% menjadi 85%. Persentase nilai rata-rata untuk kemampuan bertanya meningkat 5,16% dari 67,14% menjadi 72,3% sedangkan Ketuntasan belajar ekonomi siswa juga mengalami peningkatan dimana siklus pertama rata-rata sebesar 67,7% dan pada siklus kedua menjadi sebesar 87,1%. Dengan demikian dapat disimpulkan dari penerapan pembelajaran koopeartif model Two Stay Two Stray (TSTS) yaitu: (1). Dapat meningkatkan kemampuan bertanya dan ketuntasan belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Bululawang. (2). Kemapuan bertanya siswa kelas XI IPS SMAN 1 Bululawang setelah diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) meningkat. (3). Ketuntasan belajar ekonomi kelas XI IPS SMAN 1 Bululawang setelah diterapkan Model Pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) meningkat. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan adalah Guru SMA Negeri 1 Bululawang Malang, disarankan untuk mencoba menerapkan metode pembelejaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) karena mendapat respon positif dari siswa, Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam upaya memperbaiki penerapan strategi pembelajaran di SMA Negeri 1 Bululawang. Bagi peneliti selanjutnya yang hendak meneliti pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray sebaiknya disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Bagi siswa hendaknya lebih sering bertanya terutama terhadap pelajaran yang masih belum dimengerti.

Perancangan media komunikasi visual perusahaan auto 2000 di Malang sebagai media promosi / Muhammad Ady Nugraha

 

Munculnya persaingan bisnis usaha pada Perusahaan AUTO 2000 sebagai akibat dari perkembangan dalam bidang otomotif, membuat para pengelola perusahaan untuk menyusun strategi pemasaran yang tepat dan efektif, guna menumbuhkembangkan citra yang baik di mata masyarakat dengan melalui perancangan media komuikasi visual. Media komunikasi visual merupakan suatu bentuk langkah rancangan periklanan, dimana hal tersebut dapat digunakan untuk menciptakan maupun unuk meningkatkan citra positif dari perusahaan, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan penjualan produk maupun jasa pada perusahaan. Perancangan di sini merupakan perancangan media komunikasi visual perusahaan AUTO 2000 sebagai media promosi. Perancangan ini diharapkan untuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari perusahaan AUTO 2000. Perancangan menggunakan metode prosedural yang bersifat diskriptif terhadap perusahaan AUTO 2000. metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi (3) web/ internet (4) koesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Streght/ kekuatan, Weakness/ kelemahan, Opportunity/ kesempatan, dan Threats/ ancaman) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, internet dan penyebaran koesioner yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan komuikasi visual (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan (3) dan tahap penyusunan laporan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media komuikasi visual perusahaan AUTO 2000 sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna, ilustrasi, fotografi, tipografi serta media yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu unuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari perusahaanAUTO 2000, maka penggunaan perancangan media komunikasi visual merupakan suatu solusi yang tepat.

Perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin dan status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang / M. Arif Rahman Hakim

 

ABSTRAK Hakim, M Arif Rahman. 2009. Perbedaan Tingkat Kenakalan Remaja Ditinjau dari segi Jenis Kelamin dan Status Keluarga Siswa SMA Negeri di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A. (II) Drs. Djoko Budi Santoso. Kata Kunci: kenakalan remaja, jenis kelamin, status keluarga Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Kenakalan remaja semakin populer dan menjadi masalah yang kompleks di era modern ini. Dalam penelitian ini siswa SMA Negeri di Kota Malang menjadi subyek. Saat ini kenakalan remaja tidak hanya dilakukan oleh remaja laki-laki, tetapi juga perempuan. Selain itu juga tidak hanya remaja yang berasal dari keluarga tidak utuh yang melakukan kenakalan remaja, remaja dari keluarga utuh juga tidak menutup kemungkinan melakukan kenakalan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat kenakalan remaja siswa SMA Negeri di Kota Malang, (2) perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin siswa SMA Negeri di Kota Malang, (3) perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri se-Kota Malang. Teknik sampel yang digunakan area probability sample, diperoleh sampel penelitian dengan jumlah 357 orang. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik persentase dan Uji-t. Data penelitian menunjukkan bahwa sedikit sekali (0,3%) siswa SMA Negeri di kota Malang yang tingkat kenakalan remajanya dalam kategori tinggi, banyak (70,6%) siswa SMA Negeri di kota Malang yang memiliki tingkat kenakalan remaja dalam kategori sedang, dan sedikit (29,1%) siswa SMA Negeri di kota Malang yang tingkat kenakalan remajanya dalam kategori rendah. Dari hasil pengujian hipotesis tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin siswa SMA Negeri di Kota Malang dengan teknik Uji-t didapat p (0,000) < α (0,05) maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi jenis kelamin siswa SMA Negeri di Kota Malang. Adapun hasil pengujian hipotesis tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang didapat p (0,349) > α (0,05) maka dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kenakalan remaja ditinjau dari segi status keluarga siswa SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Konselor hendaknya dalam memberikan layanan BK tentang pencegahan kenakalan remaja dengan memperhatikan aspek jenis kelamin siswa dan tidak perlu memperhatikan status keluarga mereka, (2) peneliti selanjutnya hendaknya menindaklanjuti penelitian ini dengan: (a) Melibatkan faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi kenakalan remaja, dan (b) Memperluas wilayah dan subyek penelitian sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan dengan populasi yang lebih luas.

Meningkatkan hasil belajar PKn dengan strategi TTW (Think - Talk - Write) siswa kelas III SDN Gampeng II / Dianika Ratnasari

 

ABSTRAK Ratnasari, Dianika. 2008. Meningkatkan Hasil Belajar PKnDengan Strategi TTW ( THINK-TALK-WRITE ) Siswa Kelas III SDN Gampeng II. Kata kunci : Strategi, TTW, Hasil Belajar Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas III melalui model pembelajaran TTW Think-Talk-Write. Dalam pembelajaran TTWada tiga tahap atau proses yang harus dilalui siswa. Tahap ke-1 Think, siswa membaca teks dan membuat catatan. Pada tahap ini siswa berdialog dalam dirinya sendiri untuk mendapatkan pemahaman isi teks. Tahap ke-2 Talk, pada tahapm ini siswa sharing dan bercerita tentang catatan yang sudah dibuat berdasarkan isi bacaan dengan teman yang dipilih untuk mendapat informasi. Tahap k2-3 write, pada tahap ini siswa menyelesaikan masalah dan menuliskannya dalam LKS. Dal;am Bahasan Sumpah Pemuda diharapkan siswa mampu memahami dan menceritakan kembali isi dari sejarah tersebut. Untuk itu peneliti menggunakan strategi TTW ini agar siswa terlatih bercerita tentang sejarah sumpah pemuda baik lisan maupun tulisan. Ketika peneliti menganalisis hasil ulangan harian siswa tidak mencapai keberhasilan yang disyaratkan atau 85 % dari jumlah siswa tidak tuntas belajar. Dari 19 siswa yang ada, minimal 16 siswa harus tuntas belajar. Penelitian tindakan ini mengunakan metode penelitan kualitataf dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana dampak Strategi Pembelajaran TTW (Think-Talk-Write) yang diterapkan dalam belajar mata pelajaran Pkn terhadap Hasil belajar siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Gampeng II Kecamatan Ngluyu Nganjuk Tahun Pelajaran 2008/2009. Rancangan penilitian adalah Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari kegiatan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru serta hasil belajar siswa. Tahap perencanaan meliputi: pembuatan rencana pembelajaran, pemilihan metode, media, Tahap pelaksanaan atau tindakan dalam pembelajan, dan terakhir adalah refleksi akhir untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Strategi Pembelajaran TTW (Think-Talk-Write) dapat meningkatkan Hasil belajar Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri Negeri Gampeng II Kecamatan Ngluyu Nganjuk. Sebagai buktinya bahwa, dari 19 siswa yang melakukan kegiatan belajar didapatkan nilai 50 dan 60 oleh sejumlah 0 siswa dengan prosentase 0%, sedangkan kategori hasil belajar cukup adalah nilai 70 dengan frekuensi 3 dan prosentase 15,79%, nilai cukup baik adalah 80 dengan frekuensi 9 dan prosentase 47,38%. nilai baik adalah 90 dengan frekuensi 4 dengan prosentase 21,05%, sedangkan siswa yang memperoleh nilai 100 (sangat baik) sebanyak 3 siswa dengan prosentase 15,79%. Ketuntasan siswa mencapai 85 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa stratefi TTW dapat meningkatkan hasil belajar PKn, Pokok Bahasan Sumpah Pemuda. Adapun siswa yang tidak tuntas belajar karena siswa tersebut malas belajar dan tidak ada motivasi belajar dari orang tua.

Hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Nurul Dini Safitri

 

Kecerdasan emosional berpengaruh cukup besar dalam kehidupan seseorang. Tanpa kecerdasan emosional seseorang tidak mampu mengenali emosi yang ada dalam dirinya, mengelola emosi dirinya, memberikan motivasi kepada dirinya sendiri, mengenali emosi yang dialami orang lain, dan tidak akan mampu membina hubungan dengan orang lain. Pada aspek emosional, seseorang belajar menghadapi konflik yang ditemui dalam kehidupannya, hal tersebut bertujuan untuk membangun kecerdasan emosinya agar dapat mengendalikan perasaan dan menyalurkannya dengan cara-cara positif dan produktif. Hal ini juga terkait dengan prestasi belajar seseorang dibidang akademik, seseorang tersebut akan merasa kesulitan meraih prestasi yang lebih baik jika kecerdasan emosional yang dimilikinya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Siswa SMA sebagai remaja yang tidak hanya memiliki kematangan fisik saja, tetapi juga dari segi psikologisnya. Remaja tidak lagi mengungkapkan emosinya dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau bicara, atau dengan suara lantang mengkritik orang-orang yang menyebabkan dirinya marah, karena remaja yakin bahwa dengan perilaku seperti itu emosi mereka dapat terungkapkan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kecerdasan emosional siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, (2) prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, dan (3) hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Populasi yang dipilih adalah seluruh siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, mulai kelas X, XI, dan XII. Sampel penelitian dipilih secara acak (cluster random sampling), yaitu kelas X-5, XI-IPS 1, dan XII-IPA 2 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Instrumen yang digunakan yaitu teknik dokumentasi melalui angket kecerdasan emosional, dan raport sisipan tengah semester gasal tahun ajaran 2008/2009. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian kecerdasan emosional diperoleh data bahwa banyak siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang juga tergolong tuntas dengan perolehan rata-rata 88,07. Hasil pengujian hipotesis antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar diperoleh p (0,076 > 0,05), artinya bahwa pernyataan ada hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang ditolak. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan bahwa guru hendaknya menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan emosional siswa, agar siswa merasa nyaman dan senang terlebih pada saat peroses belajar mengajar berlangsung, yang nantinya berdampak pada hasil prestasi belajar siswa yang memuaskan. Konselor hendaknya memiliki alat ukur kecerdasan emsoional yang dapat digunakan sewaktu-waktu sesuai dengan program yang ada. Selain itu, peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian serupa dengan memperluas sampel dan populasi penelitiannya, sehingga hasilnya akan memperjelas hasil penelitian ini.

Kontribusi gaya kepemimpinan kasubag dan motivasi kerja pegawai terhadap semangat kerja pegawai di Universitas Negeri Malang oleh Suyono

 

Analisis kontribusi kantin sekolah terhadap tingkat pendapatan lembaga pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri se-Kota Malang (Manajemen Layanan Khusus) / Sinta Kurniawati

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar biaya kontribusi yang seharusnya diberikan oleh pihak penyewa kantin terhadap tingkat pendapatan lembaga pendidikan di SMAN Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Laba/Rugi perkiraan Desember 2008. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya sewa yang ditetapkan oleh pihak sekolah terhadap pihak penyewa kantin lebih sedikit daripada pendapatan yang diterima oleh pihak penyewa kantin. Dari hasil penelitian penulis memberikan saran (1) Bagi kepala sekolah, diharapkan sekolah dapat menetapkan biaya sewa kantin yang sesuai dengan omzet bisnis kantin. Serta pihak sekolah memperbaiki perjanjian sewa atau kontrak yang di dalamnya memuat mengenai penyediaan fasilitas air dan listrik menjadi salah satu tanggungan dari pihak penyewa kantin, (2) Penyewa kantin, diharapkan dapat membukukan biaya operasional dan pendapatan yang diperoleh setiap hari sehingga dapat mengetahui pasti perkembangan kantin dari waktu ke waktu, (3) Jurusan Administrasi Pendidikan, dapat dijadikan pengetahuan tambahan bagi materi matakuliah manajemen layanan khusus bahwa adanya manajemen layanan khusus memberikan aplikasi yang cukup besar bagi sekolah tidak hanya secara implisit namun juga secara finansial, (4) Dinas Pendidikan Kota Malang, hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan untuk mulai mengawasi dalam pengelolaan kantin sekolah dalam konteks layanan khusus kepada peserta didik guna mendukung proses belajar mengajar.

Hubungan antara motivasi memilih sekolah dan prestasi belajar siswa kelas XII di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Malang / Siti Rofi'atul Islamiyah

 

Motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak atau daya pendorong yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu hal dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi dibagi menjadi dua golongan yaitu yang pertama adalah motivasi intrinsik yang merupakan motivasi yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Motivasi yang kedua yaitu motivasi ekstrinsik yang merupakan motivasi yang berasal dari luar diri individu. Motivasi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru yang diberikan kepada peserta didiknya. Motivasi merupakan salah satu kegiatan penunjang proses belajar mengajar dan motivasi juga digunakan sebagai alat untuk pencapaian suatu tujuan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan manajemen peserta didik yaitu mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut dapat menunjang proses belajar mengajar sehingga dapat berjalan dengan lancar dan teratur, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Prestasi berkaitan dengan hasil belajar atau hasil evaluasi guru terhadap peserta didiknya dalam kurun waktu tertentu yang digunakan untuk mengetahui perkembangan yang terjadi pada peserta didiknya. Dalam belajar motivasi memegang peranan yang sangat penting terutama intensitas belajar siswa, karena motivasi adalah sebagai pendorong siswa dalam belajar. Sehingga motivasi tidak bisa dipisahkan dari aktivitas belajar siswa. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat motivasi yang dimiliki oleh siswa dan tingkat prestasi belajar siswa tersebut, serta untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi yang dimiliki siswa dan prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Tujuan tersebut berdasarkan rumusan masalah yang akan dibahas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasional. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (X) yaitu motivasi dan variabel terikat (Y) yaitu prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan di SMKN 4 Malang dengan populasinya adalah siswa kelas XII yang berjumlah 641 siswa dengan sampel yang diambil sebanyak 128 siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Teknik tersebut digunakan karena di sekolah tersebut terdapat beberapa program keahlian sehingga pada setiap program keahlian diambil sebagian secara acak untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket, sedangkan perhitungan validitas dan reliabilitasnya dengan sistem komputerisasi melalui program SPSS 12.00 for Windows. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh hasil dari 23 item terdapat 3 item yang tidak valid sehingga jumlah item yang digunakan dalam penelitian sebanyak 20 item. Hasil dari penelitian ini adalah motivasi yang dimiliki oleh siswa rata-rata memiliki motivasi yang sedang, sedangkan motivasi yang paling dominan adalah motivasi intrinsik yang terdiri dari beberapa indikator yaitu mengembangkan bakat, keaktifan dalam proses belajar mengajar, ketertarikan terhadap mata pelajaran, dan harapan. Prestasi yang diraih oleh siswa rata-rata yang tinggi. Dari hasil tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan juga bahwa motivasi yang dimiliki siswa memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi yang diraih siswa. Dari hasil penelitian yang ada penulis memberikan masukan bagi para guru di SMKN 4 Malang agar lebih peduli dan peka terhadap motivasi yang dimiliki oleh siswa, karena dengan kepedulian tersebut maka guru bisa dengan mudah membuat siswa lebih tertarik untuk ikut dan aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Hubungan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada Pendidikan Menengah di Kota Gorontalo / Abd. Kadim Masaong

 

ABSTRAK Masaong, Abd. Kadim. 2008. Hubungan Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Iklim Sekolah dengan Kinerja Sekolah pada Pendidikan Menengah Di Kota Gorontalo. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Achmad Sonhadji KH, M.A., Ph.D, (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd. Kata kunci: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan, iklim sekolah, kinerja sekolah. Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia dan sempurna. Kemuliaan dan kesempurnaan itu ditandai dengan dikaruniainya otak dan akal untuk menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Otak manusia terbagi atas tiga aspek, yaitu cortex cerebri, system limbic dan lobus temporal. Cortex cerebri berfungsi mengatur kecerdasan intelektual, system limbic berfungsi mengatur kecerdasan emosional dan lobus temporal berfungsi mengatur kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan ini dapat berfungsi secara bersinerji dan dapat pula berfungsi secara terpisah sehingga berdampak pada bervariasinya gaya kepemimpinan kepala sekolah. Bervariasinya gaya kepemimpinan kepala sekolah, berpengaruh pula terhadap iklim dan kinerja sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo. Selain itu, untuk mengetahui ada tidaknya hubungan masing-masing variabel, baik hubungan secara langsung maupun hubungan tidak langsung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian survey yang menggunakan pendekatan “cross sectional survey”. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan subyek yang berkaitan dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo. Anggota populasinya adalah guru-guru pada pendidikan menengah yang berjumlah 885 orang. Sampel diambil dari anggota populasi sebesar 16% atau 145 orang yang dapat mewakili populasi dengan teknik random dan strata. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuessioner untuk menjaring data keenam variabel yaitu: (1) data kecerdasan intelektual, (2) data kecerdasan emosional, (3) data kecerdasan spiritual, (4) data gaya kepemimpinan kepala sekolah, (5) data iklim sekolah, dan (6) data kinerja sekolah. Hasil penelitian menunjukkan: (1) kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual berada dalam kategori tinggi, (2) gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah berada dalam kategori baik; (3) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (4) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (5) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (6) terdapat hubungan tidak langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan iklim sekolah melalui gaya kepemimpinan kepala sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (7) terdapat hubungan tidak langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kepala sekolah dengan kinerja sekolah melalui gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (8) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (9) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (10) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, (11) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja sekolah melalui iklim sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo, dan (12) terdapat hubungan secara bersama-sama yang signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah pada pendidikan menengah di Kota Gorontalo. Berdasarkan temuan penelitian ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: (1) diharapkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Nasional dan Kanwil Departemen Agama agar dalam pelaksanaan rekrutmen, seleksi dan pengangkatan kepala sekolah tidak hanya melihat dari aspek kecerdasan, (2) disarankan kepada Dinas Pendidikan Nasional dan Departemen Agama dalam pengembangan kapasitas guru dan staf lebih diutamakan yang bersentuhan langsung dengan pengembangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, (3) diharapkan pada kepala sekolah dalam mengembangkan dan menyusun program sekolah senantiasa berorientasi pada pendidikan berbasis multiple intelligence (kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual peserta didik) secara seimbang, (4) kepala sekolah dan guru-guru diharapkan selalu meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya karena kecerdasan ini dapat dikembangkan tanpa mengenal batas umur, (5) diharapkan pada kepala sekolah agar dalam upaya peningkatan kinerja sekolah senantiasa berorientasi pada pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual warga sekolah, dan (6) bagi para peneliti yang berminat meneliti tentang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja sekolah, disarankan agar memperluas variabel penelitian, karena masih terdapat beberapa variabel yang dapat berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah, iklim sekolah dan kinerja sekolah.

Analisis faktor-faktor motivasi siswa Sekolah Menengah Atas Negeri se-Kabupaten Tulungagung untuk memilih program studi di Perguruan Tinggi Negeri / Dewi Rianti

 

Motivasi untuk mendapatkan suatu pekerjaan akan membuat individu berusaha dengan kemampuan yang dimiliki untuk mendapatkan jabatan dalam pekerjaan tersebut. Dengan demikian individu termotivasi melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka memenuhi keinginannya, sehingga keinginan terhadap suatu jenis pekerjaan merupakan salah satu prasarat yang penting dalam belajar. Dengan berkembangnya IPTEK yang semakin pesat dewasa ini menuntut dunia pendidikan harus terampil dan kreatif dalam meningkatkan kemampuannya untuk menghasilkan mutu pendidikan yang berkualitas. Untuk mencapai kualitas pendidikan tersebut seyogyanya perlu langkah-langkah konkrit yang dapat mempermudah seseorang belajar diberbagai tempat tingkat atau jenjang pendidikan. Faktor utama yang perlu menjadi pertimbangan adalah menyesuaikan minat dan bakat dari siswa sendiri. Tidak ada seseorang yang berhasil apabila bertentangan dengan minat dan bakatnya. Orang lain dapat mempengaruhi antara lain orang tua, tapi dari siswa sendiri yang menentukan pilihan program studi yang akan diambil. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah siswa mencari informasi sebanyak-banyaknya sebagai bahan pertimbangan memilih program studi. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah; (1) faktor-faktor motivasi apa saja yang menjadi pertimbangan siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri, (2) faktor apa yang paling dominan dipertimbangkan oleh siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) mengetahui faktor-faktor motivasi yang menjadi pertimbangan siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri, (2) mengetahui faktor motivasi yang paling dominan dipertimbangkan oleh siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Penelitian ini dirancang menggunakan metode analisis faktor eksploratorik. Metode ini bertujuan menemukan faktor-faktor baru hasil rotasi faktor-faktor yang telah ada. Populasi penelitian adalah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri Se-Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 2527 siswa. Sampel dari penelitian berjumlah 97 siswa yang berpedoman pada keterwakilan anggota populasi, sehingga diupayakan dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Untuk itu teknik pengambilan sampelnya menggunakan systematic and proportional random sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang disusun dalam butir-butir pernyataan berjumlah 68 butir. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis deskriptif menggunakan program komputer SPSS (Statistical Package for The Social Sciences) for Windows Version 15.0. Hasil penelitian ini menunjukkan pembentukan faktor-faktor baru hasil dari analisis faktor. Faktor-faktor tersebut adalah; (1) kelompok faktor pengembangan potensi merupakan faktor paling dominan untuk menggambarkan tentang motivasi siswa SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri, di antaranya adalah kesempatan mengembangkan kecerdasan, bakat, minat, dan cita-cita mereka pada jurusan yang mereka pilih, (2) kelompok faktor kesiapan belajar merupakan tinjauan tentang faktor kesiapan belajar siswa berupa adanya dukungan dari pengalaman belajar siswa di SMA sebagai bekal belajar pada tingkat yang lebih tinggi, (3) kelompok faktor stimulan belajar merupakan tinjauan tentang faktor yang dapat menstimulus semangat siswa dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi negeri pada program studi yang mereka pilih, (4) kelompok faktor biaya pendidikan merupakan tinjauan tentang faktor biaya yang dikeluarkan oleh orang tua selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini saran yang dikemukakan oleh penulis bahwa hendaknya para kepala sekolah dan staf pengajar (guru-guru) SMA negeri di Tulungagung memberikan pandangan dan pengalamannya yang bertujuan untuk memudahkan para siswa tersebut dalam memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Lain dari pada itu, para siswa SMA negeri se-Tulungagung disarankan agar tidak sekedar ikut-ikutan teman, tetapi harus dipertimbangkan dengan baik sesuai keinginan dan kebutuhannya berdasarkan kemampuan diri (minat, bakat, cita-cita) dan keluarganya (dukungan dan ketersediaan biaya). Bagi pihak program studi di Perguruan Tinggi Negeri hendaknya memiliki dan memfasilitasi apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh siswa SMA pada program studi yang ditawarkan kepada mereka. Sedangkan bagi peneliti lain hendaknya melakukan kajian terhadap penelitian dengan cara menguji kebenaran hasil penelitian. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa apabila ternyata faktor-faktor tersebut benar-benar merupakan keinginan dan kebutuhan siswa SMA negeri se-Tulungagung, maka sepatutnya menempatkan hasil penelitian ini sebagai salah satu referensi yang memperkaya wawasan teori motivasi belajar di perguruan tinggi. Sebaliknya apabila ternyata faktor-faktor tersebut tidak benar, maka sebaiknya disanggah dengan mengemukakan teori baru atau teori lainnya sebagai suatu faktor yang memotivasi siswa SMA untuk memilih program studi di Perguruan Tinggi.

Mendokumentasikan upacara Odalan masyarakat Hindu Dharma dusun Djunggo Kota Batu / Adi Kusumajaya

 

Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki banyak ragam kebudayaan, suku, ras dan agama yang memberikan daya tarik tersendiri untuk diketahui. Salah satu diantaranya ialah upacara adat istiadat masyarakat Hindu Dharma dusun Djunggo kota Batu Jawa Timur. Masyarakat di dusun Djunggo yang berjumlah sekitar kurang lebih 80 kepala keluarga ini yang beragama Hindu merupakan masyarakat yang memegang teguh adat istiadatnya yang didalamnya termasuk juga kehidupan sosial baik antar sesama umat Hindu ataupun dengan umat dari agama lain, ajaran-ajaran agamanya, dan juga tentang tata cara keagamaan Hindu itu sendiri baik tata cara upacaranya ataupun hari-hari besarya. Dengan adanya perancangan film dokumenter ini diharapkan menciptakan suatu rancangan film dokumenter dan rancangan desain tentang upacara Odalan masyarakat Hindu Dharma dusun Djunggo kota Batu lewat pendekatan audio visual yang menarik dan komunikatif. Perancangan ini dilakukan dengan pengambilan gambar di susun Djunggo kota Batu , tanggal 18 Juni 2008 pada saat upacara Odalan berlangsung. Pada perancangan film dokumenter ini digunakan model prosedural, yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan satu bentuk film dokumenter yang lebih natural dan lebih obyektif Hasil perancangan ini menghasilkan sebuah produk film dokumenter tentang upacara Odalan dari dusun Djunggo kota Batu. Film ini dibuat dengan durasi 20 menit yang disajikan dalam dua format yaitu DVD (Digital Video Disc) dan VCD (Video Compact Disc) dan menghasilkan media pendukung film dokumenter ini yang berguna untuk sarana komunikasi dan memperkenalkan upacara Odalan sebagai wacana menambah pengetahuan kebudayaan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil perancangan film dokumenter upacara Odalan ini dapat dijadikan bahan kajian perancangan film dokumenter berikutnya dan sebagai penyempurnaan pada perancangan di masa datang. Demikian kajian dan saran terhadap produk maupun pengembangan lebih lanjut dari film dokumenter tentang upacara adat Odalan yang diproduksi tahun 2008 ini.

Prosedur penghitungan dan pelaporan pajak penghasilan (PPh) pasal 21 atas gaji pegawai tetap pada kantor Bappeda Kabupaten Tulungagung / Luthfia Meyda Kusuma

 

Pembangunan Nasional adalah kegiatan yang berlangsung terus-menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik materiil maupun spiritual. Untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut perlu banyak memperhatikan masalah pembiayaan pembangunan. Salah satu usaha untuk mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau Negara dalam pembiayaan pembangunan yaitu menggali sumber dana yang berasal dari dalam Negeri berupa pajak. Pajak digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna bagi kepentingan bersama. Metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Sedangkan metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dari data penghitungan PPh Pasal 21 pada Kantor Bappeda Kabupaten Tulungagung. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa penghitungan PPh Pasal 21 pada Kantor Bappeda Kabupaten Tulungagung menggunakan Pembulatan, dan dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak (PKP) tidak mengurangkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sesuai dengan peraturan terbaru. Pelaporan PPh Pasal 21 pada Kantor Bappeda Kabupaten Tulungagung tidak menggunakan SPT Masa dan SPT Tahunan. Pembahasan yang dapat penulis berikan adalah dengan menghitung PPh Pasal 21 tidak menggunakan pembulatan dan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) menggunakan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK.03/2005 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak. Saran yang dapat diberikan untuk Bappeda Kabupaten Tulungagung: (1) Seharusnya dalam penghitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 tidak menggunakan pembulatan dan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) menggunakan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK.03/2005 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak. (2) Tata cara pelaporan PPh Pasal 21 atas gaji pegawai tetap pada Kantor Bappeda Kabupaten Tulungagung hendaknya menggunakan: SPT Masa dan SPT Tahunan, sesuai dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000.

Perancangan buku kamus bergambar Inggris-Indonesia untuk anak-anak dengan latar cerita"Timun Mas" / Wedhanta Pralampita

 

Sebuah kamus bergambar Inggris – Indonesia dengan cerita Timun Mas yang ditujukan untuk anak-anak sekolah dasar. Topik ini diangkat dengan pertimbangan bahwa masa dimana batas-batas Negara tidak lagi berlaku semakin mendekat seiring terjajahnya mental anak-anak Indonesia oleh budaya luar negeri sehingga budaya bangsa semakin tenggelam di Negara Indonesia. Dari uraian latar belakang muncul permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: Diperlukan sebuah kamus bergambar dengan cerita Timun Mas yang mengusung warna dan gambar yang menarik sehingga anak-anak senang belajar bahasa Inggris tanpa melupakan budaya Indonesia. Selaras dengan rumusan masalah tersebut, tujuan perancangan ini adalah untuk membuat kamus bergambar Inggris – Indonesia dengan cerita Timun Mas sehingga anak-anak Indonesia senang belajar bahasa Inggris tanpa melupakan budaya Indonesia. Perancangan kamus bergambar dengan cerita ini menggunakan model perancangan yang bersifat linear dan terdeskripsi langkah-langkah kerjanya,sehingga jelas arah berpikir dalam menyusunnya yang disebut sebagai model rasional. Dalam model perancangan rasional, langkah-langkah perancangan dilakukan secara sistematik dan terstruktur, berurutan dari awal sampai dengan akhir. Produk yang dihasilkan berupa sebuah kamus bergambar Inggris – Indonesia dengan Cerita Timun Mas. Produk ini berupa buku berwarna dengan ukuran A4 (21 cm x 29,7 cm) dengan 34 halaman berwarna yang dicetak diatas kertas kertas Art Paper 180 gram dan dibuat dengan software pendukung yaitu Adobe Photoshop dan Corel Draw. Untuk mendukung kamus bergambar ini maka dibuat juga media promosi komunikasi visual berupa poster, stiker, iklan majalah dan souvenir berupa stiker. Kelemahan dari kamus bergambar ini adalah kurangnya jumlah halaman sehingga kamus ini menjadi terlalu tipis karena semakin banyak halaman berwarna maka akan semakin mahal harga buku, sehingga perancangan buku ini disikapi sedemikian rupa agar nantinya tidak terlalu mahal. Anak-anak merupakan target audience kamus bergambar dengan cerita ini, tetapi bagi para penggemar buku bergambar yang berusia lebih dewasa tidak menutup kemungkinan juga untuk menggunakan produk ini sebagai bahan referensi yang dapat dipelajari kelebihan dan kekurangannya.

Pengaruh informasi arus kas dan laba bersih perusahaan terhadap expected return saham pada perusahaan LQ-45 yang listing di bursa efek Indonesia (BEI) periode Februari 2004-Januari 2008 / Fena Ulfa Aulia

 

ABSTRAK Aulia, Fena Ulfa. 2008. Pengaruh Informasi Arus Kas dan Laba Bersih Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan LQ-45 yang Listing di BEI Periode Febuari 2004-Januari 2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Triadi Agung S, SE, M.Si, Ak. (II) DR.Puji Handayati, S.E, MM, Ak Kata kunci: informasi arus kas, laba bersih, expected return, lq-45 Salah satu pertimbangan utama seorang investor sebelum berinvestasi dalam bentuk saham yaitu mengenai return yang akan diperolehnya. Untuk itu, investor membutuhkan banyak informasi mengenai kondisi dan prospek perusahaan yang akan dipilih. Syarat utama yang diinginkan oleh para investor untuk bersedia menginvestasikan dananya kepada suatu perusahaan melalui pasar modal adalah perasaan aman akan investasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi tersebut. Perasaan aman tersebut diperoleh dari informasi yang diterima investor berupa informasi yang jelas, wajar, dan tepat waktu sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasinya. Berkaitan dengan hal ini, maka informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan investasi adalah informasi yang bersumber dari laporan keuangan. Parameter kinerja perusahaan yang mendapat perhatian utama dari investor dari laporan keuangan ini adalah laba dan arus kas. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh informasi arus kas dan laba bersih terhadap expected return saham perusahaan LQ-45, baik secara individual maupun simultan. Informasi arus kas ini diproksikan dengan rasio arus kas operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan. Selanjutnya, laba bersih diukur dengan earnings after tax index. Dan untuk expected return saham diukur menggunakan E (Ri) = Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang dirancang dengan menggunakan design korelasi/ asosiatif. Populasi pada penelitian ini adalah semua perusahaan yang listing di BEI selama tahun 2007. Dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel penelitian. Dalam penelitian ini terdapat 25 perusahaan LQ-45 sebagai perusahaan sampel yang listing di BEI selama periode Febuari 2004- Januari 2008. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan arus kas, laporan laba-rugi dan expected return saham triwulanan. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa signifikansi kualitas informasi arus kas berbeda pada setiap komponennya. Berdasarkan hasil uji t terbukti bahwa informasi arus kas operasi tidak berpengaruh terhadap expected return saham karena nilai t hitung (0.658) lebih kecil dari t tabel (1.967). Berbeda dengan arus kas operasi, informasi arus kas investasi, pendanaan dan laba bersih secara parsial berpengaruh signifikan terhadap expected return saham. Hal ini dapat ditunjukkan dari nilai t hitung (2.222) untuk arus kas investasi, (2.942) untuk arus kas pendanaan dan (9.335) untuk laba bersih yang lebih besar dari t tabel (1.967). Dari hasil pengujian hipotesis tersebut menunjukkan bahwa informasi arus kas dan laba bersih secara simultan berpengaruh signifikan terhadap expected return saham. Hal ini berarti investor sebaiknya menggunakan informasi laporan keuangan arus kas dan laba bersih sebagai pertimbangan dalam membuat keputusan investasi terkait dengan tinkat expected return saham.

Penerapan strategi bermain kartu domino perkalian untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN Sepanjang II Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang / Inin Ma'rifa

 

Anak usia dini seperti siswa kelas 1 sampai 3 SD sangat dominant kegiatan bermainnya. Bermain merupakan kebutuhan yang utama bagi siswa dalam usia sedini itu. Untuk itu, kita perlu menfasilitasi pembelajaran matematika yang sesuai dengan karakteristik anak SD. Salah satu strategi yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah belajar melalui bermain. Dengan strategi bermain dalam pembelajaran matematika diharapkan siswaw dapat memiliki konsep-konsep (daya serap) mengenai bahan atau materi pakok bahasan sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam kurikulum 2006. penelitian bertujuan untuk mengetahui : (1)Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan strategi bermain kartu domino perkalian pokok bahasan perkalian dikelas III, (2)Hasil belajar siswa kelas III SDN Sepanjang II dengan penerapan strategi bermain kartu domino perkalian pada pokok bahasan perkalian. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan PTK dengan model penelitiannya adalah siswa kalas III SDN Sepanjang II yang berjumlah 30 anak. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, LKS, lembar tes. Untuk tes yang diberikan kepada siswa, sebelumnya dilakukan validasi dengan hasil 0,756 dan rehabilitas 0,86. penelitian ini menggunakan standar ketuntasan belajar berdasarkan KTSP yaitu 75% untuk ketuntasan individu dan 80% untuk ketuntasan kelas. Hasil belajar siswa pada pokok bahasan perkalian dengan penerapan strategi bermain menunjukkan ada peningkatan.Hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata sebelum menerapkan strategi bermain bermain hanya mencapai 65,3dengan 28 siswa (93,33%)yang belum tuntas dengan hanya 2siswa (6,67%)kemudian setelah menerapkan strategi bermain rata-rata siswa pada siklus I mencapai 73,2 dan di peroleh hasil dari 18 siswa (60%) telah mencapai ketuntasan indvidu dan 12 siswa (40%)belum mencapai ketuntasan individu.Dari siklus II mengalami peningkatan lagi yaitu hasil belajar dari 30 siswa telah di peroleh hasil 30 siswa telah mencapai ketuntasan individu (100%),untuk ketuntasan kelas juga sudah memenuhi criteria 80% dengan nilai rata-rata yang di peroleh 80. Penerapan strategi bermain kartu domino perkalian dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III di SDN Sepanjang II Kecamatan Gondanglegi.Hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata siswa pada siklus I yang mencapai 73,2,kemudian meningkatkan lagi pada siklus II sebanyak 9,2%dengan nilai rata-rata 80. Saran dari adanya penelitian ini adalah guru dapat menerapkan strategi bermain pada pembelajaran dengan cara memberikan bimbingan pada siswa dengan cara belajar melalui bermain yang menyenangkan sehingga konsep akan tertanam dengan sendirinya pada diri siswa.

Strategi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial kajian sejarah dengan pendekatan dialog (Studi kasus di Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 1 Malang dan Sekolah dasar Negeri Kotalama 1 Malang) / Susanto

 

Tujuan mempelajari IPS kajian sejarah, ialah (1) untuk membangkitkan dan memelihara semangat kebangsaan, (2) membangkitkan hasrat mewujudkan cita-cita kebangsaan, (3) membangkitkan hasrat mempelajari sejarah kebangsaan yang merupakan bagian sejarah dunia, (4) menyadarkan anak tentang cita-cita nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pendekatan pembelajaran yang dialogis. Pendekatan pembelajaran yang dialogis membawa kesadaran untuk saling adanya keterbukaan yang satu dengan yang lain, menemukan kebaikan, komunikasi yang rasional dan kritis, serta memahami bahwa orang lain berbeda dengan dirinya. Pendekatan ini bermaksud memperbaiki kualitas pembelajaran. Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, diawali dengan penetapan variabel metode. Variabel metode diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) strategi pengorganisasian (organizational strategy), (2) strategi penyampaian (delivery strategy), dan (3) strategi pengelolaan (management strategy). Strategi pengorganisasian pembelajaran mengacu kepada suatu tindakan seperti pemilihan urutan isi, pembuatan sintesis, dan pembuatan rangkuman. Strategi penyampaian pembelajaran mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa, dan strategi pengelolaan pembelajaran mengacu kepada upaya menata penjadualan penggunaan strategi, catatan kemajuan belajar siswa, motivasional, dan kontrol belajar. Masalah umum penelitian ini adalah bagaimana strategi pembelajaran IPS kajian sejarah dengan pendekatan dialog di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang. Secara khusus, masalah penelitian ini difokuskan pada empat hal, yakni, (1) Bagaimana strategi pengorganisasian materi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (2) Bagaimana strategi penyampaian materi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (3) Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (4) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang, dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus ganda. Studi kasus ganda merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “mengapa” atau “bagaimana”, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada konteks kehidupan nyata. Data penelitian ini terdiri atas data verbal dan non verbal yang diperoleh dari latar alamiah pada saat guru mengajar IPS kajian sejarah dengan pendekatan dialog. Untuk menjaring data penelitian ini digunakan teknik observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh gambaran sesungguhnya tentang perilaku guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh pemaknaan penelitian, sedangkan dokumentasi untuk mendukung data yang diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif yang komponennya melibatkan kegiatan pengumpulan data, sajian data, reduksi data, dan verfikasi/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian tentang strategi pengoganisasian pembelajaran pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang menunjukkan bahwa materi menjelang proklamasi kemerdekaan disusun dalam bentuk diktat dan materi yang lain menggunakan buku ajar. Pendekatan dialog yang melibatkan pemanfaatan media, interaksi siswa dengan media, dan bentuk pembelajaran merupakan determinan utama strategi penyampaian pembelajaran. Hasil penelitian pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang menunjukkan bahwa pendekatan dialog dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah yang divariasikan dengan dialog, melalui tanya jawab, pemberian tugas, bermain peran. Pelaksanaan metode bermain peran dapat membantu siswa untuk memperoleh makna dari peristiwa sejarah secara optimal. Penjadualan pembelajaran oleh guru lebih dipandang sebagai upaya memberi kesempatan kepada siswa untuk berdialog agar memperoleh penghayatan terhadap tokoh pejuang kemerdekaan berupa nilai juang 1945, yaitu musyawarah, patriotik, dan rela berkorban. Pengelolaan motivasional direpresentasi guru dalam bentuk ungkapan verbal dan nonverbal serta kontrol belajar yang direpresentasi memberi kesempatan pilihan belajar yang menyenangkan, tampak terbukti pada ke dua sekolah terteliti. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang, yakni kegemaran dan kecintaan mengajar kajian sejarah menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan, menarik siswa, kreatif, dan inovatif. Pandangan dan sikap orang tua/wali murid, guru bidang studi non IPS dan pimpinan sekolah ikut mempengaruhi strategi pembelajaran. Pendekatan dialog merupakan temuan penelitian yang sangat berharga dalam pembelajaran kajian sejarah. Oleh karena itu pendekatan dialog menjadi rekomendasi peneliti sebagai model pembelajaran kajian sejarah yang utama.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk / Malisa Dewi Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, M. Dewi. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TGT Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Pra Sekolah Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Ahmad Samawi, M. Hum., (II) Drs. Sunyoto, S. Pd., M. Si. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Model TGT , Hasil Belajar Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk, (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk setelah penerapan model TGT (Teams Game Tournaments), (3) mengetahui dampak TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dilakukan atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Rancangan yang digunakan adalah PTK dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas (a) Perencanaan, (b) Pelaksanaan, (c) Observasi, dan (d) Refleksi. Instrument yang digunakan adalah (a) Pedoman Observasi, (b) Tes, (c) Angket, (d) Pedoman Wawancara. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan model TGT (Teams Game Tournaments) adalah belajar disertai diskusi kelompok, permainan dan turnamen, (2) pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk, yaitu dari rerata skor 67,92 dan daya serap klasikal 16% pada pra tindakan dan setelah tindakan menjadi rerata skor 70 dan daya serap klasikal 54% pada siklus I, dan rerata skor 87,2 dan daya serap klasikal 88% pada siklus II, (3) dampak pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa adalah semangat kerjasama siswa yang meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok dan langkah-langkahnya terdiri dari penyajian kelas, kerja kelompok, turnamen dan penghargaan kelompok, (2) Pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu berdasar pada paparan data pratindakan jumlah rerata skor 67,92 dan daya serap klasikal 16%, dan setelah diadakan tindakan pada siklus I rerata skor meningkat 70 dan daya serap klasikal meningkat menjadi 54%. Jumlah rerata skor dan daya serap mengalami peningkatan lagi pada siklus II yaitu 87,2 dan 88%, (3) Dampak TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk adalah suasana kelas makin menyenangkan dengan adanya belajar sambil bermain terutama saat turnamen, dampak lain adalah tampak adanya peningkatan interaksi antar individu dalam kelas khususnya pada kelompok. Disarankan (1) Kepada guru agar menggunakan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) ini dalam pembelajaran lain, (2) penggunaan model TGT (Teams Game Tournaments) ini dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Ngrami I Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk karena pembelajaran yang diterapkan sangat sesuai dengan karakteristik anak SD yaitu belajar sambil bermain sehingga menumbuhkan semangat siswa dalam belajar maupun kerjasama dalam kelompok.

Peningkatan pembelajaran menulis melalui penerapan pendekatan konstruktivisme di kelas IV SDN Trenceng I Kabupaten Tulungagung / Eny Afifah

 

Berdasarkan hasil observasi di kelas IV SDN Trenceng I Kabupaten Tulungagung dalam materi mengarang guru belum menggunakan pendekatan Konstruktivise dan siswa beranggapan bahwa sekali menulis langsung jadi karangan tanpa menerapkan fase- fase dalam menulis karangan. Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan masalah, yaitu (1) Apakah pendekatan Konstruktivisme meningkatkan pada prapenuisan?,( 2) Apakah pendekatan Konstruktivisme meningkatkan pada saat penulisan?, (3) Apakah pendekatan Konstruktivisme meningkatkan pada pascapenulisan? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme pada prapenulisan (2) Mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme pada saat penulisan (3) Mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme pada prapenulisan. Pelitian yang dilaksanakan dengan diawali pra tindakan siswa belum melaksanakan fase- fase menulis karangan sehingga hasilnya o %, pada siklus I siswa menulis karangan berdasarkan pengalamannya dengan menerapkan fase- fase menulis karangan, nilainya meningkat menjadi 47, 36 %. Pada siklus II siswa mengarang berdasarkan gambar dengan menerapkan fase- fase menulis karangan, hasilnya meningkat menjadi 78,94 %. Pada siklus III siswa mengarang dengan mengamati lingkungan sekolah serta menerapkan fase- fase menulis karangan, hasilnya meningkat menjadi 100 %. Pada siklus III telah mencapai ketuntasan sehingga tidak perlu ada perbaikan lagi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan tiga kali siklus kepada siswa kelas IV yang berjumlah 20 siswa, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran Konstruktivisme melalui fase- fase menulis yaitu fase prapenulisan, fase saat penulisan, dan fase pascapenulisan dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas IV SDN Trenceng I Tahun Ajaran 2008/2009. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan perlu diberikan kepada siswa agar siswa tidak mengalami kebosanan belajar. Guru hendaknya menerapkan pendekatan- pendekatan pembelajaran yang bervariasi serta menentukan tujuan pembelajaran yang jelas sehingga tercapai kompetensi dasar yang ditargetkan serta dapat mengembangkan potensi- potensi yang dimiliki siswa.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 |