Pembelajaran matematika pada pokok bahasan trapesium dan layang-layang menggunakan pendekatan open-ended pada siswa sekolah dasar / Samuel Iggo Leton

 

ABSTRAK Iggo, Samuel Leton. 2008. Pembelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Trapesium Dengan Menggunakan Pendekatan Open-Ended. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika Sekolah Dasar, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ipung Yuwono, M.S., M.Sc., (II) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd., M.A.. Kata kunci: Langkah-langkah pendekatan Open-ended, trapesium dan layang-layang, siswa sekolah dasar. Pemerintah telah banyak melakukan upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Namun keluhan tentang kesulitan belajar masih banyak dijumpai. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang kebanyakan orang atau siswa menyebutnya sebagai momok. Kesulitan belajar yang timbul tersebut tidak semata-mata karena tingkat kesulitan materi bagi siswa tetapi juga karena cara penyampaian materi oleh guru. Ada berbagai model pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Guru diharapkan dapat memilih salah satu model pembelajaran yang juga merupakan fokus kajian penelitian ini adalah open-ended. Pendekatan Open-ended merupakan suatu metode yang dapat memberi keleluasan kepada siswa untuk berpikir secara aktif dan kreatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan cara berpikir siswa . Dalam pendekatan ini siswa dihadapkan pada permasalahan yang selesaiannya tidak perlu hanya satu, sehingga diharapkan kreativitas siswa dapat berkembang. Pendekatan Open-ended juga dapat membangkitkan nalar siswa sehingga siswa kreatif dan akhirnya diharapkan siswa dapat berpikir logis dan kritis. Penelitian ini mengkaji sebagai berikut. (1) bagaimana menerapkan langkah-langkah penerapan pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami materi trapesium dan layang-layang? (2) Apakah pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika efektif digunakan untuk mengajarkan materi trapesium dan layang-layang? Untuk menjawab masalah ini, penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas serta dilaksanakan di siswa kelas V SDK Don Bosco IV Kota Madya Kupang. Penelitian ini menggunakan lembaran observasi, angket, hasil tes belajar siswa dan catatan harian sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) penerapan langkah-langkah pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika dapat membantu siswa memahami materi trapesium dan layang-layang. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Pada siklus I, rata-rata hasil yang dicapai yaitu 6, 43. Pada siklus II, rata-rata hasil belajar yang dicapai yaitu 7,12 dimana mengalami peningkatan sebesar 0,69. Rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal pada siklus I yaitu 62,5% dan pada siklus II yaitu 87,5% dimana mengalami peningkatan sebesar 25%. Rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada siklus I sebesar 2,65 dan pada siklus II sebesar 3,35 juga mengalami peningkatan sebesar 0,7. Rata-rata aktivitas siswa pada siklus sebesar 2,3 dan pada siklus II sebesar 3,41 dimana juga mengalami peningkatan. Dari siklus I ke siklus II sebesar 1,21. (2) Karena kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas siswa dalam proses pembelajaran termasuk dalam kategori efektif, respon siswa terhadap pembelajaran adalah positip dan ketuntasan secara klasikal tercapai maka pendekatan open-ended efektif digunakan untuk mengajarkan materi trapesium dan layang. Berdasarkan temuan penelitian ini, diberikan beberapa saran sebagai berikut; (1) siswa hendaknya mempelajari luas bangun datar khususnya trapesium dan layang-layang menggunakan temuan siswa sendiri dengan berbagai cara atau metode dalam memanipulasi alat peraga. (2) Kegiatan pembelajaran hendaknya mendukung siswa untuk aktif membangun pengetahuannya. (3) Guru hendaknya menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan, dialogis dan demokratis. Pembelajaran matematika dengan menerapkan langkah-langkah pendekatan open-ended dapat menjadi alternatif untuk menciptakan pembelajaran matematika yang menyenangkan, dialogis dan demokratis. (4) Guru perlu menjaga alokasi waktu dalam melaksanakan tahap-tahap pembelajaran dengan menerapkan langkah-langkah pendekatan open-ended, agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Analisis penggunaan hedging dengan teknik forward versus tanpa hedging terhadap hutang valas pada saat dan sesudah krisis moneter (studi pada perusahaan yang listing di BEI) / Frida Putri Suryawati

 

Sejak krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998 nilai Rupiah mengalami depresiasi yang sangat tajam terhadap Dollar bahkan sampai mencapai level Rp 15.000/USD, setelah peristiwa tersebut Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang terkendali dari sistem nilai tukar terpatok. Sejak nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi terhadap Dollar, perusahaan-perusahaan yang melakukan transaksi impor mulai dihadapkan dengan risiko fluktuasi nilai tukar. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan dapat melaksanakan kegiatan hedging. Fenomena seperti ini perlu dilakukan langkah antisipatif sehingga perusahaan dapat menghindari terjadinya risiko yang tidak menguntungkan atau sebaliknya bisa memanfaatkan peluang yang ada. Hedging atau lindung nilai dengan sistem kontrak forward memungkinkan dilakukannya pembelian atau penjualan valuta di masa depan. Sebagai obyek penelitian adalah 30 perusahaan yang listing di BEI yang melakukan transaksi impor. Terjadinya depresiasi nilai Rupiah terhadap sejumlah mata uang asing, dalam hal ini mata uang yang digunakan dalam transaksi adalah US Dolar, mengakibatkan nilai hutang dari transaksi impor tersebut meningkat tajam. Sedangkan apresiasi nilai Rupiah, akan menyebabkan semakin rendahnya nilai hutang valas. Indonesia mengalami dampak memburuknya kondisi ekonomi yang disebabkan oleh penurunan nilai tukar mata uang Rupiah (2000-2002), yang mengakibatkan tingginya tingkat suku bunga serta kenaikan harga. Hal tersebut menyebabkan Rupiah mengalami depresiasi yang sangat tajam, sehingga hutang valas perusahaan pada saat itu menjadi bertambah banyak. Sedangkan pada periode setelah krisis (2004-2006), volatilitas kurs Rupiah cenderung stabil sehingga hutang valas perusahaan tidak mengalami fluktuasi yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa perusahaan sebelum menerapkan kebijakan hedging sebaiknya melakukan estimasi terhadap situasi ekonomi di masa yang akan datang dan penerapan hedging harus dilakukan dengan sangat hati-hati dengan mempertimbangkan risiko terburuk sehingga bila terjadi kerugian tidak akan mengganggu kestabilan keuangan perusahaan. Penggunaan hedging akan membatasi penerimaan laba yang

Pengaruh kualitas penerapan giid corporate governance dan perubahan deviden terhadap return saham pada perusahaan go publik yang terdaftar dalam corporate governance perception index (CGPI) / Dinil Islami Nurillah Rizam

 

Salah satu pertimbangan utama seorang investor sebelum berinvestasi dalam bentuk saham yaitu mengenai return yang akan diperolehnya. Untuk itu, investor membutuhkan banyak informasi mengenai kondisi dan prospek perusahaan yang akan dipilih. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi return saham, baik itu faktor akuntansi maupun non akuntansi. Salah satu faktor keuangan yang perlu diperhatikan yaitu perubahan deviden. Deviden merupakan komponen dalam return saham. Sedangkan faktor non keuangan yang perlu diperhatikan yaitu penerapan goodcorporate governance. Perusahaan yang menerapkan corporate governancenya dengan baik, maka kinerja perusahaan juga akan baik dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan return saham. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh penerapan good corporate governance dan perubahan deviden terhadap return saham, baik secara individual maupun simultan. Penerapan good corporate governance diukur menggunakan skor hasil survei yang dicapai perusahaan dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI). Sedangkan perubahan deviden didefinisikan sebagai perubahan pembayaran deviden selama 2 tahun berturut-turut. Dan untuk return saham diukur menggunakan return total. Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan go publik yang bersedia mengikuti survey CGPI yang dilakukan oleh IICG periode 2001-2005. dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel penelitian. Dalam penelitian ini terdapat 31 perusahaan sampel yang listing di BEI selama periode 2001-2005. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa signifikansi kualitas penerapan good corporate governance lebih besar dari 0.05, sehingga H0 ditolak dan menerima hipotesis yang diajukan. Demikian juga untuk variabel Perubahan deviden. Sedangkan hasil uji F menunjukkan bahwa tingkat signifikansinya lebih besar dari 0.05, sehingga H0 ditolak dan menerima hipotesis yang diajukan. Dari hasil pengujian hipotesis tersebut menunjukkan bahwa penerapan good corporate governance dan perubahan deviden berpengaruh positif signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti bahwa investor dapat menggunakan informasi mengenai penerapan good corporate governance dan perubahan deviden sebagai pertimbangan dalam membuat keputusan investasi.

Perkembangan organisasi lembaga dakwah Islam Indonesia Kabupaten Jombang dan persepsi masyarakat terhadap organisasi LDII / Dina Susenowati

 

Di Indonesia, dalam masyarakat penganut Agama Islam muncul organisasi-organisasi keagamaan yang berdasarkan aliran keagamaan. Misalnya : Muhammadiyah, NU, LDII dan lain-lain. Organisasi keagamaan itu lebih khusus disebut organisasi massa Islam.Salah satu fungsi organisasi itu adalah sebagai wadah kolektifitas identitas dari kelompoknya. Yaitu sebagai wadah aktifitas dalam rangka dakwah Islamiyah. Dewasa ini di Indonesia banyak muncul aliran-aliran keagamaan terutama dalam Agama Islam. Hal itu merupakan salah satu fenomena sosial di Indonesia, yang kerap kali membingungkan masyarakat awam. Bahkan muncul labeling sesat bagi aliran-aliran keagamaan tertentu oleh pihak tertentu. LDII adalah salah satu Organisasi masa Islam yang dahulu dianggap meresahkan masyarakat, sehingga muncul labeling sesat oleh pihak-pihak tertentu. Di beberapa daerah hal ini sering menimbulkan konflik karena adanya ketidakharmonisan dalam masyarakat tersebut yang disebabkan ajaran LDII yang dianggap menyimpang oleh masyarakat. Meskipun dahulu Organisasi LDII dianggap sering menimbulkan konflik, organisasi ini masih bertahan hingga sekarang. Salah satu kota yang dianggap sebagai daerah munculnya Organisasi LDII ini adalah kota Jombang. Di Jombang sendiri tidak pernah terjadi konflik antara Organisasi LDII dengan masyarakat seperti yang terjadi di daerah-daerah lain, walaupun masyarakat luas menganggap Organisasi LDII memiliki ajaran yang menyimpang. Padahal Jombang sendiri memiliki banyak pondok pesantren, dan ada sebuah pameo yang mengatakan pondok pesantren adalah benteng Kota Jombang dan Kota Jombang juga mendapat sebutan sebagai ”Kota Santri”. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana sejarah perkembangan organisasi LDII di Kabupaten Jombang?, (2) bagaimana karakteristik organisasi LDII di Kabupaten Jombang?, (3) bagaimana interaksi sosial organisasi LDII di Kabupaten Jombang?, (4) dan bagaimana persepsi masyarakat Jombang terhadap organisasi LDII?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan sejarah perkembangan Organisasi LDII di Kabupaten Jombang, (2) mendeskripsikankarakteristik Organisasi LDII di Kabupaten Jombang, (3) mendeskripsikan interaksi sosial Organisasi LDII di Kabupaten Jombang, dan (4) terahir mendeskripsikan persepsi masyarakat sekitar terhadap Organisasi LDII di Kabupaten Jombang. Pada penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif yang bertitik tolak dari fakta-fakta sosial yang ditarik realitas objektif, disamping asumsi teoritis lainnya. Untuk memperoleh data, peneliti memakai metode kepustakaan dan studi lapangan melalui observasi berpartisipasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer dari para informan dan foto hasil penelitian, sedangkan sumber data sekunder dari data tertulis atau dokumen- dokumen. Hasil temuan dari pemelitian ini adalah pada awalnya sejarah perkembangan Organisasi LDII di Kabupaten Jombang bermula dari pengjian Darul Hadist yang dipimpin oleh Bapak H. Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis di Kediri yang kemudian masuk ke Daerah Jombang, tepatnya di Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak. Kemudian didirikanlah Pondok Pesantren sebagai sarana dalam pengajian tersebut yang diberi nama Pondok Pesantren Gadingmangu (Ponpes Gama). Pengajian ini kemudian berkembang dan memiliki banyak pendukung yang kemudian dibentuk sebuah perkumpulan atau lembaga yang berfungsi untuk mewadahi kegiatannya. Dan pada tanggal 3 Januari 1972 dibentuklah Lemkari. Pada Mubes IV tanggal 19-20 Nopember 1990 ditetapakan perubahan nama dari lemkari menjadi LDII. Dan di Jombang pun secara otomatis nama Lemkari berubah menjadi LDII. Organisasi LDII Jombang memiliki karakteristik sendiri bila dilihat dari pengorganisasiannya yaitu dalam rekrutmen fungsionaris organisasi, memiliki cara calon direkrut dari jenjang yang terbawah dan kemudian diseleksi. Struktur organisasinya mulai dari tingkat bawah yaitu Pimpinan Anak Cabang yang ada di desa-desa sampai dengan tingkat pusat yaitu Dewan Pimpinan Pusat. Kepengurusannya terbagi menjadi dua yaitu dewan penasehat dan dewan pimpinan daerah. Organisasi LDII juga memiliki program kerja yang disesuaikan dengan realitas kehidupan aktual, kontekstual, dan fungsional. Bidang- bidang yang ditangani adalah bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Dalam mengembangkan organisasinya, Organisasi LDII juga melakukan interaksi sosial internal dan eksternal. Interaksi internal dilakukan dengan cara kerja sama yang kompak dari para fungsionarinya dan dukungan kerja sama dari warga komunitas LDII. Sedangkan untuk interaksi ekstenalnya dilakukan dengan cara berhubungan dan bekerja sama dengan pemerintah, organisasi lain, dan masyarakat sekitar. Persepsi masyarakat mengenai kelembagaan, teologi, program- program, interaksi sosial Organisasi LDII, ada yang menganggap biasa- biasa saja tapi ada pula yang agak tidak setuju terutama mengenai teologinya. Dalam teologi mereka, dapat dikatakan bahwa persepsi masyarakat ada yang bernada simpati (positif) dan ada juga yang bernada kurang simpati (negatif). Namun sikap masyarakat tatap baik dan dapat hidup berdampingan dengan rukun dan saling toleransi.

Esterifikasi asam sinamat dengan fenol dan uji aktivitas senyawa hasil sebagai tabir surya / Fery Mulyaningsih

 

matahari merupakan sumber energi yang penting bagi seluruh kehidupan di bumi. Radiasi yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Kulit telah memiliki perlindungan alami, namun kulit juga memerlukan perlindungan tambahan baik secara fisik maupun kimiawi bila radiasinya terlalu berlebih. Dalam bidang kosmetik, senyawa tabir surya digunakan sebagai pelindung tambahan. Senyawa tabir surya dapat melindungi kulit dari bahaya radiasi sinar ultraviolet sebelum menembus kulit. Senyawa tabir surya mempunyai sifat tersebut karena komposisi zat kimia yang dimilikinya. Zat-zat kimia yang banyak digunakan sebagai senyawa tabir surya diantaranya adalah turunan asam sinamat seperti oktil p-metoksisinamat. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah membuat turunan asam sinamat melalui reaksi esterifikasi antara asam sinamat dengan fenol berkatalis asam sulfat pekat. Senyawa hasil sintesis diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan tabir surya. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental laboratorik dengan mereaksikan asam sinamat, fenol dan katalis asam sulfat pekat. Analisis terhadap senyawa hasil sintesis dilakukan dengan kromatografi lapis tipis. Pemisahan senyawa-senyawa hasil esterifikasi dilakukan dengan kromatografi kolom. Identifikasi struktur senyawa hasil esterifikasi dilakukan dengan spektrofotometer UV, spektrofotometer IR dan GC-MS. Uji aktivitas senyawa hasil esterifikasi sebagai bahan tabir surya dilakukan dengan spektrofotometer UV. Reaksi esterifikasi menghasilkan kristal tak berwarna, berbau harum, mempunyai titik lebur 95-98oC, larut dalam kloroform, aseton dan isopropanol, tidak larut dalam air dan n-heksana. Dari hasil identifikasi dengan spektrofotometer UV, IR dan GC-MS secara keseluruhan diperoleh senyawa fenil sinamat dengan tingkat kemurnian 57,48%. Hasil perhitungan persentase eritema dan pigmentasi berdasarkan data absorbansi yang diperoleh dari spektrofotometer UV tidak menunjukkan adanya aktivitas senyawa ini sebagai tabir surya baik sebagai suntan ataupun sunblock.

Dampak pengembangan kawasan wisata water park Sumber Udel di Kota Blitar terhadap tingkat pendapatan masyarakat di daerah sekitarnya / Wahyu Cahyaningtyas

 

Pengelolaan sanggar kebugaran jasmani di Universitas Negeri Malang (studi pada sanggar kebugaran jasmani Universitas Negeri Malang) / Mohammad Baidlowi

 

ABSTRAK Baidlowi, Mohammad. 2008. Studi Tentang Pengelolaan Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sulistyorini, M.Pd, (2) Drs. Muarifin M.Pd. Kata kunci: Pengelolaan, Perencanaan (planning), Pengorganisasian (organizing), Pengarahan (directing) dan Pengawasan/pengendalian (controlling). Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang adalah organisasi profesi yang bergerak di bidang latihan olahraga yang dirintis sejak tahun 1992 yang dilaksanakan di gedung H 12 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, organisasi ini pada awalnya dipelopori oleh para Dosen Ilmu Kolahragaan dan Sekolah Guru Olahraga yang mempunyai perhatian yang penuh terhadap olahraga di Indonesia, khususnya di Universitas Negeri Malang. Pelaksanaan latihan olahraga di Sanggar Kebugaran Jasmani di Universitas Negeri Malang ini telah memberi kesempatan yang sangat besar dalam usaha meningkatkan prestasi di bidang olahraga. Sejalan dengan hal tersebut dibutuhkan pengelolaan Sanggar Kebugaran Jasmani yang baik, supaya pelaksanaan latihan dapat berjalan sesuai dengan program kerja yang telah disusun. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan dilakukan di Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang. Pada awalnya Sanggar Kebugaran Jasmani Universias Negeri Malang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan dari perkuliahan mahasiswa Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman. Makin banyak pusat-pusat latihan sejenis Sanggar Kebugaran Jasmani di Kota Malang yang menyediakan fasilitas maupun peralatan yang canggih, sehingga Sanggar Kebugaran Jasmani Universitas Negeri Malang harus dapat bersaing dalam pelayanan para pengguna alat-alat kebugaran. Sehingga para pengguna dapat betah, nyaman, aman dan sehat setelah melakukan latihan di Sanggar Kebugaran Jasmani. Hasil penelitian dirumuskan dalam uraian sebagai berikut: (1) Perencanaan: Sanggar Kebugaran Jasmani melaksanakan program kegiatan berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan. Dalam perencanaan tersebut memuat antara lain program kerja dan rapat koordinasi. Proses penyusunan perencanaan mengikutsertakan unsur-unsur yang ada dalam struktur organisasi yang ada. Sedangkan ide awal dari para pengurus, kemudian dimusyawarahkan akan tetapi perencanaan yang ada masih bersifat global dan belum dirinci secara operasional, kemudian disosialisasikan rencana tersebut, baru pelaksanaan rencana kerja dilaksanakan, (2) Pengorganisasian: Sanggar Kebugaran Jasmani menghasilkan struktur organisasi formal yang menunjukkan mekanisme kerja mulai dari bagian terbawah hingga bagian teratas. Penempatan para pengurus dalam struktur organisasi tersebut berdasarkan persyaratan, yakni mengusai ilmu tertentu. Misalnya kinesiology, fisiology dan kecakapan dalam berkomunikasi dll. Penyusunan kepengurusan ini juga melalui musyawarah, dari segi pengoranisasian i yang perlu ditingkatkan adalah penempatan personil yang memiliki sumber daya manusia serta memilki persyaratan yang ditentukan oleh Sanggar. (3) Pengarahan: untuk meningkatkan kinerja pengurus Sanggar Kebugaran Jasmani, Pembina beserta Kepala laboratorium memberikan motivasi, pemberian motivasi tersebut diberikan secara lisan. Pemberian motivasi ini selama ini tidak hanya dilakukan oleh Pembina dan kepala Laboratorium, melainkan oleh ketua jurusan. Walaupun demikian, masing-masing pengurus masih ada bagian yang kadang-kadang tidak melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. (4) Pengawasan: pengawasan terhadap pelaksanaan program kegiatan di Sanggar Kebugaran jasmani dilaksanakan oleh Pembina Sanggar dan kepala laboratorium Ilmu Keolahragaan. Pelaksanaan pengawasan tersebut dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengawasan pertama dilakukan secara langsung dimana Pembina mengawasi atau mengecek secara langsung di lapangan. Namun cara demikian jarang dilakukan karena kesibukan Pembina. Sedangkan cara pengawasan kedua dilakukan dengan cara bertanya baik secara individu mapun pada saat rapat rutin kepada pengurus mengenai pelaksanaan program, baik kemajuan yang dicapai maupun kendala yang dihadapi. Meskipun pelaksanaan pengawasan ini terprogram, namun belum sempurna dan baku. Saran-saran (1) dari segi perencanaan Sanggar Kebugaran Jasmani perlu dilakukan perbaikan, khususnya dari segi penjabaran program untuk lebih rinci, terutama mengenai jadwal kegiatan. Ini penting, karena rencana akan menjadi pedoman kerja bagi semua pengurus. (2) dari segi pengorganisasian yang perlu ditinjau kembali adalah penempatan personil yang betul-betul mampu dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Mekanisme kerja hendaknya diatur sefleksibel mungkin dengan persetujuan bersama terutama apabila ada sebagian pengurus yang berhalangan hadir dan harus ditangani oleh bagian lain, sehingga tidak terjadi tumpang tindih tugas. Untuk merekrut pengurus Sanggar hendaknya merekrut tenaga-tenaga yang sesuai dengan persyaratan yang ada. (3) tentang pengarahan sebenarnya sudah menunjukkan keefektifan di mana Pembina memberikan motivasi secara lisan maupun aktivitas, namun untuk motivasi berupa aktivitas tersebut hendaknya dituangkan dalam tata aturan rencana kerja atau langsung dimasukkan ke dalam program kerja. (4) Pengawasan: Pelaksanaan pengawaan di Sanggar Kebugaran Jasmani selama ini dilakukan oleh Pembina secara insidental, dan tidak langsung. Artinya pengawasan itu melalui ketua pengurus, cara demikian cukup baik asalkan pengurus memberitahukan bagaimana pelaksanaan kegiatan yang nyata. Sanggar Kebugaran Jasmani sebaiknya mempunyai pedoman pengawasan sebagai tolak ukur dalam pelaksanaan pengawasan

Pengaruh kompetensi guru dan iklim kerja di sekolah terhadap kepuasan kerja guru dan kinerja guru IPS di SMA/MA se-kota Batu / Cicilia Astuti Suma Anggraeny

 

A study on the teacher's questions given to the students in English classroom / Rhoy David Kurniawan

 

ABSTRACT Kurniawan, Rhoy David. 2008. A Study on Teacher’s Questions Given to the Students in English Classroom. Thesis, English Department Faculty of Letters State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Hj. Arwijati Wahyudi Dip.TESL. M.Pd., (II) Dra. S. Nurul Muthmainnah M.A. Key words: teacher s questions, question, English classroom. Teachers play an important role in the process of learning and teaching. Questioning is a tool that can be used by the teacher to promote students interaction and assist teacher to reach the goal. This study was aimed to describe types of questions and questioning techniques used by the teacher in English classroom in the senior high school level. This study was also aimed to know the teacher s purpose of questions. The design of the study was descriptive qualitative. It was also a case study since it was aimed at describing special and unique features of a teaching situation or the method used by a particular teacher in a specific setting. The setting of the study was SMA Negeri 4 Malang. The subject of the study was an English teacher teaching eleven and twelve grades. Two classes, XI Social 1 (XI S1) and XI science 3 (XI A3), were used for observation. The data were collected through two meetings in each observed classroom. Observation sheet, audio- visual recording, and interview guide were utilized as additional instruments, while the researcher was the main instrument. The collected data were then sorted out and organized. After all relevant data were displayed, the conclusion was drawn. The findings showed that the teacher delivered 93 questions in the first observation and 92 questions in second observation in XI Social 1 class, 80 questions in the first observation and 36 questions in the second observation in the XI science III. There were 301 questions analyzed based on the research problems. The study found that the teacher utilized both divergent and convergent questions. There were only 9 convergent questions, while 292 questions were divergent. The teacher used all types of questions in Bloom s taxonomy. The teacher used analysis question most frequently (39.9%), followed by knowledge level (29.6%), comprehension level (11.6), synthesis level (9.63%), evaluation level (8.31%), and application level (1%). The study found that most frequent technique applied by the teacher was probing, 106 times, while the least frequent technique applied was prompting, 22 times. The teacher also applied the redirecting and the rephrasing techniques. The amount of wait-time spent by the teacher was mostly below three seconds. It was found that the subject did not know about the purpose of questioning clearly since she never got such subject in the university and she never joined any seminar or workshop that specially designed to train teacher s questioning ability. The teacher rarely prepared the questions before teaching. It was found that the teacher focused the questions to involve the students in discussion so that the students got chances to develop their communication skill. Based on the findings of the study, it is suggested that researcher can conduct further research on teacher s questions such as to know what type of question gives the biggest influence in students English proficiency and what type of questions promote interaction in English classroom, especially in senior high school level.

Pengaruh diferensiasi produk terhadap loyalitas konsumen (studi pada pengguna produk obat batuk Komix di Desa Kaligambir Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar) / Dwi Wahyuni

 

Perkembangan dunia bisnis ini menuntut kinerja industri yang tinggi dan efektif. Para produsen terus – menerus bersaing dengan melakukan berbagai trategi. Mereka berupaya untuk menawarkan berbagai keunggulan dalam persaingan tersebut dengan menonjolkan keunikan antar perbedaan atau yang lebih dikenal dengan diferensiasi. Strategi ini digunakan agar perusahaan tetap mempertahankan posisi produk agar tidak decline dalam daur hidup produk (Product Life Cycle) dengan harapan konsumen tidak akan lari ke produk pesaing karena sudah merasa puas terhadap kesesuaian pada spesifikasi kegunaan dari produk tersebut dan pada akhirnya akan membuat konsumen tetap setia terhadap produk tersebut. Sebuah merek baru masuk ke dalam kategori produk tertentu, adalah lebih baik bagi merek baru tersebut untuk membuat dirinya dipersepsi berbeda daripada membuat produk yang lebih baik tetapi menggunakan positioning yang sama dengan satu atau lebih merek yang sudah ada. Contohnya adalah Komix. Merek ini masuk ke pasar obat batuk dengan menawarkan sesuatu yang berbeda terhadap konsumen obat batuk. Obat batuk dalam kemasan sachet.

Studi evaluasi dan kelayakan investasi jasa konstruksi untuk pengembangan PT Nusa Indah Surya Teknik, Tegal Jawa Tengah / Dikrilia A. Rizki EA.

 

ABSTRAK Adi, Dikrilia, A. Rizki, Ertika. Studi Evaluasi dan Kelayakan Investasi Jasa Konstruksi Pada PT. Nusa Indah Surya Teknik, Tegal. Skripisi, Program Studi Ekonomi Manajemen, Program S1, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) DR.Hadi Sriwiyana, M.M.,(II) DR.F.Danardhana Muwarni, M.M. Kata Kunci: pengembangan perusahaan, investasi jasa konstruksi Dalam penelitian ini pengembangkan perusahaan dengan cara memperbesar cash of capital setiap tahunnya. Karena setiap tahunnya perusahaan tersebut memiliki cash of capital yang cukup besar maka PT Nusa Indah Surya Teknik siap untuk menerima proyek/tender yang sifatnya cash programe baik dari pemerintah maupun non pemerintah yang memerlukan dana investasi yang besar. Adapun untuk penambahan alat-alat berat disesuaikan dengan proyek yang sedang dikerjakan, apabila proyek yang dikerjakan tidak memerlukan penambahan alat- alat berat maka pengerjaannya cukup dengan menggunakan alat-alat yang dimiliki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui layak atau tidaknya investasi jasa konstruksi untuk pengembangan PT. Nusa Indah Surya Teknik, Tegal-Jawa Tengah. Dalam melakukan analisis kelayakan investasi tersebut, menggunakan empat aspek antara lain yaitu: aspek pemasaran, aspek teknis, aspek finansial, dan aspek manajemen.Dan dalam aspek finansial menggunakan kriteria penilaian investasi dengan metode: Average Rate of Return (ARR), Payback Period (PP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI). Adapun hasil dari analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan perhitungan kriteria penilaian investasi berupa Average Rate of Return (ARR), diperoleh hasil bahwa tingkat keuntungan rata-rata yang diperoleh dari investasi sebesar 28,25% lebih besar dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang disyaratkan yaitu 5%. Payback Period (PP) diperoleh hasil bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi ini adalah 9 tahun 10 bulan, waktu tersebut lebih pendek daripada waktu yang disyaratkan yaitu 12 tahun. Dengan perhitungan Net Present Value (NPV) diperoleh hasil bahwa nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang yaitu Rp 8.260.156.758,93 lebih besar dibandingkan dengan nilai sekarang investasi yaitu Rp 7.037.325.000,00 sehingga nilai NPVnya Rp 1.222.831.758,93 (positif). Dengan perhitungan Internal Rate of Return (IRR) diperoleh hasil bahwa tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang lebih besar daripada tingkat bunga relevan (tingkat keuntungan yang disyaratkan). Dari perhitungan IRR tersebut diperoleh hasil sebesar 7,07% (IRR>5%). Dan dengan perhitungan Profitability Index (PI) diperoleh hasil bahwa nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa akan datang dengan nilai sekarang investasi. Dari perhitungan PI tersebut diperoleh hasil sebesar 1,17 kali (PI>1). Dari analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan empat aspek, dapat disimpulkan bahwa investasi jasa konstruksi untuk pengembangan PT. Nusa Indah Surya Teknik, Tegal menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan. i

Pembuatan virgin coconut oil (VCO) secara enzimatis menggunakan papain dengan memanfaatkan zeolit aktif sebagai adsorben VCO / Allen Diyasari

 

ABSTRAK Diyasari, Allen. 2008. Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Secara Enzimatis Menggunakan Papain Dengan Memanfaatkan Zeolit Aktif Sebagai Adsorben VCO. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Aman Santoso, M.Si, (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd. Kata kunci: Virgin Coconut Oil (VCO), Papain, Zeolit aktif Minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak yang mengandung asam laurat tinggi, yang pada umumnya dibuat dengan cara pengasaman, enzimatis, sentrifugasi, dan pancingan pada suhu rendah. Pada penelitian ini digunakan proses enzimatis menggunakan enzim papain karena dengan proses tersebut didapatkan rendemen yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi enzim papain optimum pada pembuatan VCO secara enzimatis dari kelapa pantai dan non pantai dengan memanfaatkan zeolit aktif sebagai adsorbennya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Tahap awal yang dilakukan adalah persiapan sampel buah kelapa dari pantai dan non pantai. Tahap selanjutnya yaitu penyimpanan kelapa dengan variasi lama penyimpanan, aktivasi zeolit, isolasi papain, pembuatan krim santan, ekstraksi VCO menggunakan papain dengan variasi konsentrasi. Selanjutnya yaitu penyaringan VCO dengan dan tanpa zeolit aktif. Karakterisasi VCO meliputi kadar air, indeks bias, berat jenis, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan peroksida, bilangan iodium dan ditentukan rendemennya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum papain pada pembuatan VCO dari kelapa pantai dan non pantai sebesar 0,2 gram dalam 100 mL krim. Rendemen kelapa pantai sebesar 29,2% sedangkan kelapa non pantai 26,0%. Kualitas VCO kelapa pantai lebih baik dibandingkan kelapa non pantai. Pengaruh lama penyimpanan dari kelapa pantai dan non pantai yaitu rendemen VCO mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya waktu penyimpanan kelapa. Sedangkan kualitas VCO menjadi kurang baik seiring dengan bertambahnya lama penyimpanan kelapa. Pengaruh adsorpsi zeolit aktif dari kelapa pantai dan non pantai yaitu meningkatkan kualitas VCO menjadi lebih baik ditinjau dari kadar air, indeks bias, berat jenis, bilangan asam, bilangan peroksida, bilangan penyabunan dan bilangan iod. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ini, disarankan dilakukan penelitian lebih lanjut agar dihasilkan VCO dengan kualitas yang lebih baik dan digunakan metode pembuatan yang lain serta dianalisis secara kuantitatif.

Penerapan pembelajaran biologi berbasis inkuiri dengan model learning cycle (siklus belajar) untuk meningkatkan kemampuan bekerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas X-2 MA al-Ittihad Poncokusumo Malang / Kurrotun Nushatul Azizah

 

Perbedaan return, abnormal return (AR), cummulative abnormal return (CAR), trading volume activity (TVA), dan risiko saham sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2003-2006 / Dedy Iswahyudi

 

ABSTRAK Iswahyudi , Dedy. 2008. Skripsi. Perbedaan Return, Abnormal Return, Cumulative Abnormal Return, Trading Volume Activity dan Risiko Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI Periode 2003-2006)” . Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (II) Ely Siswanto, S.E., M.M. Kata kunci: “ Peristiwa stock split pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2003-2006”.Return, Abnormal Return, Cumulative Abnormal Return, Trading Volume Activity dan Risiko Saham. Pasar modal dapat dijumpai di banyak negara karena pasar modal menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan. Dalam menjalankan fungsi ekonominya, pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak yang mempunyai kelebihan dana ke pihak yang memerlukan dana. Sedangkan dalam menjalankan fungsi keuangan dilakukan dengan menyediakan dana yang diperlukan oleh pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai kelebihan dana. Dengan demikian pasar modal merupakan suatu wadah yang memiliki fungsi dan tujuan yang jelas. Investor dapat menggunakan fungsi tersebut untuk mendapatkan keuntungan dalam aktivitas perdagangannya. Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan di pasar modal, di antaranya adalah informasi yang masuk ke dalam pasar modal tersebut. Salah satu informasi dalam pasar modal tersebut adalah pemecahan saham (stock split). Karena adanya fenomena stock split yang masih membingungkan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketidakcocokan antara teori dan praktik. Secara teoritis, stock split hanya meningkatkan jumlah saham yang beredar, tidak menambah kesejahteraan para investor, dan tidak memberikan tambahan nilai ekonomi bagi perusahaan. Tetapi, beberapa bukti empiris menunjukkan bahwa pasar memberikan reaksi terhadap pengumuman stock split. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi rata-rata risiko, return, abnormal return, cumulative abnormal return, trading volume activity dan risiko saham sebelum dan sesudah stock split (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2003-2006)”, dan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaaan yang signifikan antara rata-rata risiko, return, abnormal return, cumulative abnormal return, trading volume activity dan risiko saham sebelum dan sesudah stock split (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2003-2006)”. Hipotesis penelitian ini yaitu diduga terdapat perbedaan rata-rata risiko, return, abnormal return, cumulative abnormal return, trading volume activity dan risiko saham sebelum dan sesudah stock split (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2003-2006)”. Populasi dan sampel yang digunakan yakni pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di BEI periode periode 2003-2006, yaitu 14 perusahaan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode purposive sampling adalah pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh menggunakan pertimbangan tertentu, yang pada umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian. Periode waktu penelitian 110 hari bursa, 100 hari periode estimasi (estimation period)dan 10 hari periode jendela (windows period). Periode jendela dibedakan menjadi 5 hari sebelum peristiwa (pre event), dan 5 hari setelah peristiwa (post event). Data yang digunakan adalah data sekunder mengenai IHSG, harga saham, jumlah saham yang beredar, volume saham yang ditransaksikan perusahaan sampel, mulai 2003- 2006. Uji hipotesis dengan menggunakan uji peringkat tanda (Wilcoxon’s Signed Rank Test) karena data tidak berdistribusi normal. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata cumulative abnormal return dengan nilai Z- hitung sebesar -5.843 dengan signifikansi (2-tailed) sebesar 0.000 (< 0,05). Hal ini mengambarkan bahwa jumlah para pelaku pasar modal periode sebelumpeistiwa relatif tidak sama dengan jumlah pelaku pelaku pasar pada saat sesudah peristiwa. Sedangkan untuk risiko, return, trading volume activity dan abnormal return tidak terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah sebelum dan sesudah peristiwa stock split pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2003-2006. hal ini mengambarkan para investor tidak melakukan reaksi yang berlebihan baik pada saat peristiwa maupun setelah peristiwa stock split berlangsung. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Bagi Perusahaan, hendaknya menjalankan keterbukaan informasi (full disclosure) dengan penuh agar pelaku pasar dapat menerima informasi secara periodic dan akurat sehingga mereka dapat merespon informasi tersebut dengan proposional.(2) Bagi Investor, Bagi para investor hendaknya dapat membaca peluang untuk melakukan aksi profit taking atas suatu peristiwa yang akan terjadi terutama saat mendekati periode peristiwa.. (3) Bagi Peneliti Selanjutnya Pertimbangkan untuk memilih sampel penelitian dari semua perusahaan yang listing di BEJ yang melaksanakan kebijakan stock split, sehingga hasil penelitian bisa lebih komprehensif dan representatif. Selain itu, penelitian ini tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi reaksi pasar modal di seputar stock split seperti kondisi perekonomian dan kondisi masing-masing industri perusahaan. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi reaksi pasar modal di seputar stock split.

Penerapan problem based learning (PBL) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi kelas X-5 di SMA Negeri 10 Malang / Sri Handayani

 

Penelitian ini bertolak dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan peneliti sehingga ditemukan adanya permasalahan mengenai rendahnya motivasi belajar dan hasil belajar dalam mata pelajaran biologi di SMA Negeri 10 Malang khususnya kelas X-5. Orientasi pembelajaran dikelas X-5 pada umumnya masih berpusat pada guru dan menggunakan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-5 dengan menerapkan Problem Based Learning (PBL) dalam mata pelajaran biologi di SMA Negeri 10 Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sedangkan jenis penelitian tindakan kelas dengan 4 siklus. Subyek dari penelitian ini adalah kelas X-5 di SMAN 10 Malang dengan jumlah 40 siswa. Setiap siklus PTK terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, angket motivasi belajar dan tes belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase ketercapaian motivasi belajar (motivasi individu, motivasi kelompok dan motivasi kelas) dan hasil belajar siswa (ranah kognitif). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase pada motivasi belajar siswa dari sebelum diberi tindakan hingga setelah tindakan PBL dilakukan dari siklus I sampai siklus IV. Persentase motivasi kelas sebelum tindakan dikategorikan sangat rendah, setelah diberi tindakan pada siklus I sebesar 38,5%; siklus II 42,78%; siklus III 55,92% dan siklus IV 63,42%. Hasil belajar siswa untuk ranah kognitif juga mengalami peningkatan dari sebelum tindakan hingga setelah tindakan dengan pembelajaran PBL dari siklus I sampai siklus IV. Pada prasiklus diperoleh rerata 48,1 dan daya serap klasikalnya 15% sedangkan rerata siklus I 59,12 dan daya serap klasikal sebesar 27,5%; siklus II rerata 73,82 dan daya serap klasikal sebesar 70%; siklus III rerata 77,2 dan daya serap klasikal sebesar 82,5% dan siklus IV reratanya 88,42 dan daya serap klasikal sebesar 95%. Adanya peningkatan antara motivasi dan hasil belajar siswa tersebut juga dipengaruhi peran guru atau peneliti di dalam kelas saat menerapkan strategi Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas X-5 di SMAN 10 Malang. Penerapan Problem Based Learning (PBL) yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi mata pelajaran biologi sangat dianjurkan sebagai alternatif dan solusi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Pelaksanaan pelayanan pada PT. PLN (Persero) distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Blimbing Malang / Ayu Rizki Primanda

 

PT. PLN (Persero) merupakan salah satu perusahaan negara yang bergerak pada bidang jasa kelistrikan di Indonesia yang menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. Saat ini tenaga listrik mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya, serta mendorong peningkatan kegiatan ekonomi pada khususnya. Tenaga listrik merupakan salah satu energi sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan dan didistribusikan untuk segala macam keperluan. PT. PLN juga merupakan BUMN dalam bidang jasa kelistrikan yang melayani pelanggan, calon pelanggan dan masyarakat dalam tata kehidupan sehari-hari. PT. PLN mempunyai bentuk pelayanan sendiri dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya sesuai dengan kebutuhan perusahaan untuk memuaskan pelanggan dan memperoleh citra yang baik di masyarakat. Dengan memberikan bentuk pelayanan yangjelas, maka akan memberikan kemudahan bagi pelanggan. Tujuan dari penulisan adalah untuk mengetahui pelayanan jasa pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Blimbing Malang. Dalam hal ini PT. PLN memberikan pelayanan jasa bertujuan untuk melayani pelanggan, calon pelanggan secara sistematis untuk menghindari kekeliruan dan mempermudah dalam pelayanan pelanggan sehingga menjadikan lebih efektif dan efisien. PT. PLN memberikan berbagai pelayanan yaitu, karakteristik pelayanan, bentuk pelayanan, dan strategi pelayanan. Kesimpulan yang diperoleh dari penulisan ini adalah dengan memberikan bentuk pelayanan jasa yang jelas maka PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Blimbing Malang memberikan kemudahan kepada pelanggan dan calon pelanggan dalam menggunakan pelayanan yang diinginkan dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan hasil penulisan ini dapat disarankan agar PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Blimbing Malang mampu meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan serta mempertahankan kualitas pelayanan yang sudah diterapkan sebelumnya.

Penerapan pembelajaran kontekstual dengan pendekatan questioning untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang / Widara Krisna Santi

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual dengan metode Questioning.Kemampuan berfikir Kritis, Hasil Belajar Model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu program pembelajaran. Berdasarkan pengamatan pada saat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 9 Malang, pembelajaran yang dilakukan masih menggunakan metode konvensional, hal ini disebabkan oleh siswa yang tidak bisa mandiri. Metode pembelajaran yang kurang bervariasi menyebabkan siswa merasa bosan belajar. Selain itu tingkat pengetahuan yang dimiliki perserta didik masih diperlukan pengawasan yang cukup dari guru. Dengan metode ceramah kebanyakan siswa tidak dapat berkembang dan kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran serta pengetahuan yang diterima siswa kurang meluas.Kendala yang ada apabila menggunakan metode kontekstual maka keadaan kelas ramai dan hanya siswa tertentu yang dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian tentang pembelajaran kontekstual model Questioning agar siswa lebih aktif untuk berpatisipasi dalam mata pelajaran ekonomi. Dari latarbelakang diatas maka muncullah masalah-masalah yang dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana penerapan pembelajaran mata pelajaran ekonomi dengan menggunakan pendekatan kontekstual model Questioning di SMAN 9 Malang. (2) Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual dengan pendekatan Questioning di SMAN 9 Malang. (3) Apakah penerapan pembelajaran konstekstual dengan pendekatan questioning dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang. (4) Apakah penerapan pembelajaran kontekstual dengan pendekatan questioning dapat meningkatkan hasil belajar siswapada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah, (1) Mengetahui penerapan pembelajaran mata pelajaran ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan pendekatan Questiuoning di SMAN 9 Malang. (2) Mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran kontekstual dengan pendekatan Questioning di SMAN 9 Malang. (3) Mengetahui apakah penerapan pembelajaran konstekstual dengan pendekatan Questioning dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang. (4) Mengetahui apakah penerapan pembelajaran kontekstual dengan pendekatan questioning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa rata-rata kemampuan berfikir kritis siswa pada siklus I mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan siklus II yaitu dari 53,08% pada siklus I menjadi 76,67% pada siklus II. Begitu juga pada rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus II yaitu jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebesar 73% meningkat menjadi 92% pada siklus II Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran kontekstual dengan metode Questioning sesuai untuk diterapkan pada mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 9 Malang pokok bahasan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. Penerapan pembelajaran kontekstual dengan metode Questioning dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa kelas X.2 SMA Negeri 9 Malang. Indikator peningkatan ini ditunjukkan oleh persentase seluruh aspek kemampuan berfikir kritis yang diamati dari siklus I dan siklus II. Penerapan pembelajaran kontekstual dengan metode Questioning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.2 SMA Negeri 9 Malang. Berdasakan hasil penelitian tersebut maka, saran yang dapat diberikan adalah Guru mata pelajaran ekonomi SMAN 9 Malang, disarankan untuk mencoba menerapkan metode pembelajaran kontekstual dengan model Questioning, dikarenakan siswa memberikan respon positif terhadap penerapan metode pembelajaran kontekstual dengan dengan model Questioning.Guru mata pelajaran ekonomi SMAN 9 Malang, disarankan untuk sering memberikan tugas, sehingga dapat meningkatkan kerajinan dan kedisiplinan siswa dalam menyelesaikan tugas.Guru mata pelajaran ekonomi SMAN 9 Malang, diharapkan waktu siswa kerja kelompok berkeliling ke setiap kelompok untuk memberikan pengarahan dan motivasi agar siswa lebih focus dalam diskusi kelompok dan tidak bergurau sendiri. Dalam menerapkan metode pembelajaran metode pembelajaran kontekstual dengan model Questioning, guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang tepat, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efisien. Bagi peneliti selanjutnya, untuk mengetahui jauh tentang penerapan metode questiong dalam pembelajaran ekonomi, mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yakni mengenai jumlah siklus, pokok bahasan dan bentuk penilaian maka perlu diadakan lebih dari 2 siklus dan penelitian pada pokok bahasan ekonomi yang lain dan menggunakan bentuk penilaian yang lain.

Penyelesaian rangkaian listrik dalam pokok bahasan arus listrik searah / Nyai Asah Rumakway

 

Kata kunci; Arus listrik, Tegangan, Arus Searah, Rangkaian tertutup danJembatan Wheatstone. Untuk mempelajari rangkaian elektronik-elektronik diperlukan kemampuan awal tentang pemahaman beberapa macam bentuk rangkaian dan hukum-hukum yang mendasari karena hal ini sangat membantu dalam mempelajari ataupun memahami kinerja dari suatu rangkaianelektronik tersebut. Bentuk rangkaian yang paling dasar adalah rangkaian seri, rangkaian paralel dan rangkaianΔ /Y Untuk menganalisa bermacam-macam bentuk rangkaian diperlukan hukum-hukum dasar antara lain,hukum Ohm, hukum Kirchoff I dan hukum Kirchoff II.Tugas akhir ini bertujuan untuk: 1) Menghitung kuat arus listrik yang mengalir pada rangkaian dengan satu loop atau lebih, 2) Menghitung hambatan total pengganti susunan parallel suatu rangkaian, 3) Tegangan pada suatu rangkaian yang di susun seri maupun parallel, 4) prinsip jembatan Wheatstone ada suatu rangkaian yang tidak bisa di selesaikan dengan menggunakan prisip seri maupun parallel. Hasil dari tugas akhir ini dapat di jelaskan bahwa rangkaian tak bercabang yang di susun seri, kuat arus listrik dimana-mana sama. Sedangkan rangkaian yang bercabang berlaku hukum I Kirshoff dan II Kirchoff. Bunyi hukum I kirchoff’’ kuat arus yang masuk dalam satu titik cabang sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik cabang itu. ‘’ΣI masuk = ΣI keluar.Bunyi hukum II Kirchoff’’jumlah aljabr tegangan mengelilingi suatu rangkaian tetutup (loop) sama dengan nol. “ΣV = 0 atau Σε+ ΣIR=0.

Upaya meningkatkan aktivitas belajar dan pemahaman konsep fisika dengan model pembelajaran inkuiri bagi siswa kelas VII C semester I SMP Negeri 6 Pamekasan / Nurhozah

 

Pembelajaran fisika di SMP Negeri 6 Pamekasan selama ini hanya menekankan pada kajian teori dan latihan soal. Hal ini berakibat pada kebiasaan siswa yang tidak pernah bertanya kepada guru dalam proses pembelajaran. Interaksi guru dengan siswa sangat rendah, begitu juga interaksi siswa dengan siswa. Siswa cenderung pasif dalam menerima pelajaran. Kegiatan siswa hanya mencatat apa yang didiktekan guru, dan mendengarkan apa yang dijelaskan guru. Kebiasaan tersebut menandakan rendahnya aktivitas belajar siswa. Disamping itu, pemahaman konsep fisika siswa juga rendah. Hal ini ditunjukkan ketika guru mengajukan pertanyaan, siswa tidak bisa menjawab. Sebagian siswa hanya menjawab jika ditunjuk oleh guru. Jawaban yang diberikan siswapun tidak semuanya benar. Berdasarkan kenyataan itu, perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar dan pemahaman konsep fisika siswa. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran inkuiri. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan pembelajaran model inkuiri untuk meningkatkan aktivitas belajar dan pemahaman konsep fisika siswa kelas VII C SMP Negeri 6 Pamekasan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Siklus I dengan pokok bahasan besaran pokok dan konversi satuannya. Siklus II dengan pokok bahasan besaran turunan dan konversi satuannya. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun ajaran 2008/2009 di kelas VII C SMP Negeri 6 Pamekasan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 35 siswa dengan18 Siswa putra dan 17 siswa putri. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi, diketahui bahwa setelah tindakan diterapkan terjadi peningkatan persentase aspek aktivitas belajar siswa dari siklus I dan siklus II. Aspek kemampuan mengamati meningkat dari 90,48% menjadi 95,24%, aspek kemampuan bertanya meningkat dari 56,19% menjadi 73,33%, aspek kemampuan mengajukan hipotesis meningkat dari 39,04% menjadi 48,57%, aspek kemampuan dalam mengumpulkan data meningkat dari 75,24% menjadi 90,48%, aspek kemampuan menganalisis data meningkat dari 51,43% menjadi 62,86%, aspek kemampuan menyimpulkan meningkat dari 39,04% menjadi 56,19%, aspek mengkomunikasikan meningkat dari 51,43% menjadi 61,90%. Peningkatan ini juga terjadi pada pemahaman konsep fisika siswa yang ditunjukkan dari nilai gain score dari siklus I dan siklus II. Nilai gain score meningkat dari 0,46 menjadi 0,62. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model inkuiri mampu meningkatkan aktivitas belajar dan pemahaman konsep fisika siswa kelas VII C semester I SMP Negeri 6 Pamekasan.

Pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa (studi pada kelas XI SMK Kepanjen Malang) / Anawiyah

 

ABSTRAK Anawiyah. 2008. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Keterampilan Guru Mengelola Kelas Dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa (Studi Pada Kelas XI SMK Kepanjen Malang). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Yuli Widiastuti, MSi, Ak. Pembimbing (II) Eka Ananta Sidharta, SE, MM. Ak Kata kunci : Persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas, Motivasi belajar, Hasil belajar Peran guru dalam meningkatkan mutu pendidikan sangat penting sehingga guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan dapat tercipta jika guru melakukan pengelolaan kelas yang baik. Keterampilan guru dalam mengelola kelas diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki oleh guru dalam menciptakan iklim pembelajaran yang optimal (kondusif) agar peserta didik merasa nyaman dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dan mengembangkannya ke kondisi yang optimal (kondusif) jika terjadi ganguan dalam proses belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : (1) Mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat akuntansi di SMK Kepanjen Malang, (2)Mengetahui pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat akuntansi di SMK Kepanjen Malang, dan (3) Mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas dan motivasi belajar secara simultan terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat akuntasi di SMK Kepanjen Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanasi dengan menggunakan teknik analisis regresi ganda. Variabel penelitian antara lain : variabel bebas (X1) persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas, (X2 ) motivasi belajar dan variabel terikat (Y) adalah hasil belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa jurusan akuntansi di SMK Kepanjen Malang yang berjumlah 240 orang siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang siswa kelas XI Ak4, Ak5, dan Ak6 di SMK Kepanjen Malang Tahun ajaran 2007/2008 . Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis, persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar karena sig t sebesar 0,001 sehingga < 0,05 , motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar karena sig t sebesar 0,003 sehingga < 0,05. Pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa menunjukkan hasil analisis sig F (0,000) < (0,05) sehingga Ho yang menyatakan tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang keterampilan guru mengelola kelas dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat akuntansi di SMK Kepanjen Malang ditolak. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada beberapa pihak Yaitu : (1) Bagi guru mata diklat Akuntansi disarankan agar dalam proses pembelajaran lebih meningkatkan aspek afektif siswa, misalnya dengan membiasakan siswa untuk melakukan diskusi kelas dan memberikan tugas-tugas kepada siswa seperti tugas pekerjaan rumah yang soal tugas tersebut praktek. (2) Bagi siswa, siswa kelas XI Ak4, Ak5, dan Ak6 SMK Kepanjen Malang, hendaknya dapat meningkatkan sekaligus mempertahankan motivasi belajar yang telah dimiliki agar dapat memiliki kesempatan yang besar untuk meraih hasil belajar yang maksimal.(3) Bagi peneliti, peneliti menyadari dalam penelitian ini masih ada banyak kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Untuk itu diharapkan ada peneliti lain yang dapat mengembangkan penelitian ini dengan melihat variabel yang berbeda..

Kajian pembelajaran investigasi kelompok pola tutor sebaya, kooperatif dan kolaborasi dengan mengimplementasikan modul physics by inquiry berkaitan dengan peningkatan pemahaman konsep fisika dasar I mahasiswa Jurusan Fisika / Tyas Ajeng Puspitasari

 

ABSTRAK Puspitasari, Tyas Ajeng. 2008. Kajian Pembelajaran Investigasi Kelompok Pola Tutor Sebaya, Kooperatif dan Kolaborasi dengan Mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Berkaitan dengan Peningkatan Pemahaman Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Jurusan Fisika. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Eddy Supramono, (II) Drs. Sumarjono Kata Kunci : Pola tutor sebaya, Pola kooperatif, Pola kolaborasi, Modul Physics by Inquiry, Peningkatan pemahaman konsep Fisika Dasar I Fisika Dasar I merupakan salah satu matakuliah wajib bagi mahasiswa Jurusan Fisika. Data DNA dari tahun 2003 sampai dengan 2005, menyebutkan lebih dari 25% mahasiswa tidak lulus dan setiap tahunnya cenderung meningkat. Untuk mengatasi masalah tersebut, diterapkan pembelajaran Investigasi Kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Dalam pembelajaran Investigasi Kelompok, mahasiswa dikelompokkan dengan pola tutor sebaya, pola kooperatif dan pola kolaborasi. Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan peningkatan pemahaman konsep Fisika Dasar I diantara ketiga pola kelompok tersebut sehingga diperoleh pola yang lebih sesuai untuk dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika Dasar I Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2007 di Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian semi eksperimen dengan mengambil desain control-group pre test-post test. Variabel bebas yaitu pola pembentukan kelompok yang terdiri dari tiga kate-gori yakni pola tutor sebaya, kooperatif dan kolaborasi, sedangkan variabel terikat adalah peningkatan pemahaman konsep Fisika Dasar I. Sampel penelitian diambil secara purposif sehingga sampel yang terpilih adalah tiga kelas matakuliah Fisika Dasar I jurusan Fisika Universitas Negeri Malang. Data peningkatan pemahaman konsep Fisika Dasar I dianalisis menggunakan analisis varians (anava) sedangkan data pengamatan interaksi kelompok dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis didapatkan nilai F sebesar 0.346. Jika dibandingkan dengan nilai F tabel dengan signifikansi 0.05 yakni sebesar 3.114, maka nilai F < F(tabel) sehingga, hipotesis yang menyatakan terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep Fisika Dasar I ditolak. Kesimpulan yang diperoleh, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari peningkatan pemahaman konsep Fisika Dasar I diantara mahasiswa yang dikelompokkan dengan pola tutor sebaya, pola kooperatif dan pola kolaborasi. Interaksi anggota pada ketiga pola pengelompokan tersebut mampu menciptakan kebersamaan dan saling kebergantungan antar anggota sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika Dasar I yang sama. Bagi pengajar yang ingin menggunakan pembelajaran investigasi kelompok dapat memilih salah satu dari ketiga pola pengelompokan tersebut karena ketiga pola memberikan peningkatan pemahaman konsep yang tidak berbeda secara signifikan.

Persepsi konsumen mengenai kualitas layanan toko buku Gramedia Basuki Rahmat Malang / Triawan

 

ABSTRAK Triawan. 2008. Persepsi Konsumen Mengenai Kualitas Layanan Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. Tugas akhir. Program Studi Manajemen Pemasaran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ery Tri Djatmika. R.W.W, M.A, M.si. Kata kunci: Startegi, Kualitas layanan, Kepuasan Konsumen. Pelayanan dan kepuasan konsumen merupakan aspek vital di dalam bisnis dalam memenangkan persaingan, maka perusahaan harus mampu meminimalkan ketidakpuasan konsumen dengan memberikan pelayanan yang semakin hari baik kepada konsumen. Kesuksesan di dalam mendapatkan pelanggan dan membuat pelanggan menyadari dan menyadari nilai jasa merupakan tantangan bagi pemasar profesional. Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang merupakan usaha ritel yang besar, merupakan cabang ke-47 dari seluruh cabang yang ada di seluruh Indonesia. Toko Buku Gramedia merupakan bisnis media yang mempunyai sasaran utama melayani seluruh lapisan masyarakat dalam hal kebutuhan akan penyedia media penyalur ilmu pengetahuan dengan persaingan bisnis yang sehat dan tidak melanggar hukum. Serta mengedepankan kepuasan untuk para konsumen yang melakukan transaksi di Toko Buku Gramedia. Dengan tercapainya kepuasan konsumen, konsumen akan mengkonsumsi produk secara terus menerus Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Pelaksanaan dan persepsi konsumen mengenai strategi bukti fisik pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. (2) Pelaksanaan dan persepsi konsumen mengenai strategi keandalan karyawan pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. (3) Pelaksanaan dan persepsi konsumen mengenai strategi daya tanggap pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. (4) Pelaksanaan dan persepsi konsumen mengenai strategi jaminan pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. (5) Pelaksanaan dan persepsi konsumen mengenai strategi empati pada toko buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. (6) Faktor pendukung dan penghambat dalam penerepan kualitas layanan pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. Dalam observasi ini untuk mempermudah pengecekan dan pemisahan antara daerah responden diberi kode tersendiri, sedangkan pemberian skor terhadap item sudah dijelaskan dalam jabaran variabel. Perlu dijelaskan bahwa penelitian ini kualitatif deskriptif sehingga data bersifat kualitatif dapat dijumlahkan, dibandingkan, dan diprosentasekan. Dalam analisis data ini penulis menggunakan komputer dengan program yang bersangkutan dengan analisis data yaitu SPSS 10.0 For Windows. Dengan menggunakan program ini penulis dapat langsung mengetahui pengaruh variabel yang ingin di observasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “Persepsi Konsumen Mengenai Kualitas Layanan Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang” dapat dikatakan baik. Hal ini sesuai dengan persentase yang diperoleh dari 15 kuesioner yang disebarkan kepada para konsumen dan diperoleh persentase 60%-80% setiap item pertanyaan. Strategi yang digunakan dalam peningkatan kualitas layanan Pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang meliputi: strategi bukti fisik, keandalan karyawan, daya tanggap, jaminan, empati, dimanana strategi tersebut dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan kerja sama para karyawan dan manajemen demi meningkatkan kualitas layanan.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan anak putus sekolah di Desa Bujur Tengah Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan (suatu kajian terhadap faktor-faktor geografis dan sosial ekonomi) / Agoes Soebijanto

 

ABSTRAK Soebijanto, Agoes. 2008. Faktor-faktor yang berhubungan dengan anak putus sekolah di desa Bujur Tengah kecamatan Batumarmar kabupaten Pamekasan (Suatu kajian terhadap faktor geografis dan sosial ekonomi). Skripsi, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Budijanto, M.S, (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si. Kata kunci: anak putus sekolah, geografis, sosial ekonomi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Terdapat beberapa kendala di dalam pendidikan, salah satunya adalah putus sekolah. Pada desa Bujur Tengah kecamatan Batumarmar kabupaten Pamekasan memiliki angka anak putus sekolah yang lebih tinggi dalam satu kecamatan dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan anak putus sekolah, di desa Bujur Tengah kecamatan Batumarmar kabupaten Pamekasan (Suatu kajian terhadap faktor geografis dan sosial ekonomi). Penelitian ini berbentuk deskriptif dengan menggunakan metode survey dan angket. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu sample diambil dengan sengaja berdasarkan latar belakangnya, dalam penelitian ini Populasi berjumlah 298 orang, jumlah sampel yang di rencanakan berjumlah 74 responden. Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kepala keluaraga (KK). Analisis data yang digunakan yaitu tabulasi tunggal dan silang serta Chi kuadrat(X2) untuk menguji hipotesis dan koefisien kontingensi untuk mengetahui keeratan hubungan. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara anak putus sekolah dengan jarak (faktor geografis), hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan chi kuadrat dimana X2 hitung 29,954>28,869 X2 tabel pada dk 18 dan harga koefisien kontingensi sebesar 0,721, terdapat hubungan yang signifikan antara anak putus sekolah dengan pendidikan orang tua hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan chi kuadrat dimana X2 hitung 26,630>9,488 X2 tabel pada dk 4 dan harga koefisien kontingensi sebesar 0,698, terdapat hubungan yang signifikan antara anak putus sekolah dengan pekerjaan orang tua hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan chi kuadrat dimana X2 hitung 26,846>12,592 X2 tabel pada dk 18 dan harga koefisien kontingensi sebesar 0,700, terdapat hubungan yang signifikan antara anak putus sekolah dengan pendapatan orang tua hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan chi kuadrat dimana X2 hitung 27,442>15,507 X2 tabel pada dk 18 dan harga koefisien kontingensi sebesar 0,704 dan terdapat hubungan yang signifikan antara anak putus sekolah dengan jumlah beban tanggungan keluarga hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan chi kuadrat dimana X2 hitung 26,057>18,307 X2 tabel pada dk 18 dan harga koefisien kontingensi sebesar 0,694 (faktor sosial ekonomi). Berdasarkan hasil penelitian disarankan pembangunan pendidikan secara fisik harus digencarkan, khususnya pada pembangunan sekolah yang berdekatan dengan permukiman, sehingga masyarakat lebih mudah menjangkaunya, Meningkatkan kualitas masyarakat dengan pembentukan kelompok belajar, Pemerintah daerah diharapkan bisa memantau dan menertibkan cukai tembakau baik dalam tata niaganya maupun harga, hal ini untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat daerah penelitian yang mayoritas petani tembakau, meningkatkan sarana dan prasarana penunjang berlangsungnya pendidikan dan Pemerintah daerah melalui dinas kesehatan diharapkan menggencarkan penyuksesan program keluarga berencana (KB) guna menekan angka pertumbuhan penduduk.

Pengembangan instrumen evaluasi keterampilan proses sains bentuk tes pada praktikum fisika dasar I di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Asih Switanti

 

Praktikum Fisika Dasar I merupakan salah satu matakuliah yang wajib di tempuh oleh mahasiswa Jurusan Fisika. Selama ini belum tersedia instrumen evaluasi yang mampu mengukur keterampilan proses sains (KPS) mahasiswa dalam melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I.Untuk itu perlu dikembangkan instrumen evaluasi yang dapat mengukur keterampilan proses sains Praktikum Fisika Dasar I. . Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan (Resaearch & Development, R & D). Prosedur kerja penelitian ini mengacu dan dimodifikasi dari langkah-langkah penelitian Borg dan Gall yaitu studi pendahuluan, yang meliputi studi studi kepustakaan dan survey pendahuluan (analisis kondisi lapangan) dan pengembangan yang meliputi kegiatan penyusunan instrumen evaluasi keterampilan proses sains, expert judgement, uji coba terbatas, serta hasil revisi instrumen evaluasi. Hasil penelitian ini berupa instrumen evaluasi KPS yang berisi soal essay sejumlah 18 butir. Adapun aspek KPS yang ada didalam soal meliputi 6 soal PS merencanakan percobaan (menentukan alat), 2 soal KPS merencanakan percobaan (menyebutkan langkah percobaan), 2 soal KPS komunikasi, 2 soal KPS mengidentifikasi variabel, 3 soal KPS prediksi, 2 soal KPS interpretasi, 1 soal KPS penerapan konsep. Evaluasi evaluator instrumen KPS ini merupakan validasi isi soal KPS yang dikembangkan, diperoleh hasil persentase 55.77%-86.54%. Dari hasil uji coba terbatas ke-1 dan ke-2 didapatkan persentase sebesar 68.75%-81.25% dan 65.91%-88.64%. Instrumen Evaluasi KPS pada Praktikum Fisika Dasar 1 berupa tes essay. Kelebihan instrumen evaluasi ini diantaranya dalam pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan setelah kegiatan praktikum, bisa diujikan kepada mahasiswa semua angkatan yang sudah pernah menempuh mata kuliah Praktikum Fisika Dasar, dapat digunakan sebagai pelengkap instrumen evaluasi Praktikum Fisika Dasar 1, dan dapat dilakukan oleh satu orang evaluator. Kekurangan instrumen KPS ini tidak semua aspek KPS dapat dibuat tes dengan instrumen evaluasi KPS ini yaitu aspek KPS yang berkaitan dengan panca indera yaitu mengamati dan mengobservasi.

Pemanfaatan internet dalam pembelajaran di Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Ngawi / Visca Nantida Dya

 

Pengembangan komik fisika pokok bahasan bunyi sebagai media pembelajaran yang menarik dan efektif untuk siswa SMP kelas VIII / Istianah Qudsi FT.

 

ABSTRAK Taqqiya, Istianah Qudsi Falkhi. 2008. Pengembangan Komik Fisika Pokok Bahasan Bunyi sebagai Media Pembelajaran yang Menarik dan Efektif Untuk Siswa SMP Kelas VIII. Skripsi, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Winarto., (II) Drs. Mudjihartono. Kata kunci: komik fisika, media pembelajaran, menarik, efektif. Menurut sebagian orang tua, guru dan tokoh pendidikan komik bernilai negatif, bahkan mayoritas sekolah melarang siswa untuk membawa dan membaca komik. Komik dianggap media penyebab kemalasan belajar siswa. Padahal komik adalah salah satu media komunikasi yang efektif bagi anak. Dengan komik anak menjadi lebih mudah termotivasi belajar, konsep-konsep yang abstrak dapat disederhanakan, dan prinsip-prinsip dapat secara langsung diterapkan. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih menggairahkan, belajar lebih mudah dan tujuan dapat tercapai lebih optimal. Berdasarkan fakta tersebut perlu diadakan penelitian tentang pengemba- ngan komik fisika pokok bahasan bunyi sebagai media pembelajaran yang mena- rik dan efektif untuk siswa SMP kelas VIII. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk komik yang valid, menarik, dan efektif sebagai media pembelajaran fisika pokok bahasan bunyi untuk siswa SMP kelas VIII. Metode pengembangan yang digunakan adalah memodifikasi model pengembangan media pendidikan Sadiman dengan langkah-langkah yaitu identifi- kasi kebutuhan, analisis tujuan, pengembangan materi, penyusunan petunjuk pemanfaatan, produksi, validasi, revisi dan media siap digunakan dalam pembelajaran. Dari hasil evaluasi mahasiswa didapatkan persentase hasil keseluruhan untuk kualitas komik sebesar 70,62% dinyatakan cukup valid dan 73,75% untuk daya tarik komik dinyatakan cukup tinggi. Evaluasi ahli mendapatkan persentase hasil keseluruhan untuk kualitas komik adalah 78,33% untuk ahli materi dinyata- kan cukup valid, dan 84,44% untuk ahli media dinyatakan valid. Sedangkan dari hasil uji coba pada audiens/siswa menghasilkan persentase kualitas komik keselu- ruhan 80,81% dan dinyatakan valid, persentase daya tarik komik keseluruhan 83,00% dinyatakan memiliki daya tarik tinggi, dan hasil tes nilai rata-rata kelas mencapai 77,50 lebih tinggi dari SKM yaitu 72. Berdasarkan hasil tersebut di- nyatakan komik yang dihasilkan valid, menarik, dan efektif sebagai media pembe- lajaran fisika pokok bahasan bunyi untuk siswa SMP kelas VIII. Namun untuk kesempurnaan dilakukan revisi mengacu pada saran dan analisis data butir soal yang belum mencapai 80%. Saran untuk pengembangan lebih lanjut adalah melakukan uji coba kembali terhadap komik hasil pengembangan yang telah melalui tahap revisi kedua. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan komik yang benar-benar berkualitas sebagai media pembelajaran fisika.

Penerapan good corporate governance terhadap pengelolaan pegawai pada PT. PLN (Persero) area pelayanan jaringan Malang / Prima Anggraeni Hartutik

 

Terjadinya krisis multidimensi khususnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, menimbulkan konsep Good Corporate Governance. Sebagai dampak dari krisis tersebut ialah mengakibatkan banyaknya perusahaan yang berjatuhan karena tidak mampu untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Di era globalisasi ini, suatu perusahaan harus mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan usahanya secara bersih, sehat serta sesuai dengan etika. Untuk itu, dalam mewujudkan konsep Good Corporate Governance di suatu perusahaan, diperlukan adanya penerapan system pengendalian intern yang efektiv serta dilandasi etika bisnis. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Good Corporate Governance telah di terapkan dengan baik pada PT.PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Pelayanan dan Jaringan Malang. Masalah yang dihadapi oleh perusahaan adalah: “ Bagaimana penerapan Good Corporate Governance terhadap pengelolaan pegawai”. Langkah pemecahan masalah yang dilakukan perusahaan adalah dengan menerapkan Good Corporate Governance efektif yang meliputi prinsip pokok Good Corporate Governance antara lain: transparansi, tanggung jawab, independensi, kesetaraan dan akuntabilitas. Disamping itu, perusahaan juga menerapkan etika bisnis dalam lingkungan perusahaan. Berdasarkan pembahasan terhadap masalah tersebut, maka saran yang dapat diajukan antara lain sebaiknya PT.PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Pelayanan dan Jaringan Malang mengambil langkah konkrit dalam penerapan sistem Good Corporate Governance terhadap pengelolaan pegawai, serta senantiasa mensosialisasikan makna Good Corporate Governance dalam setiap kesempatan yang ada.

Efektifitas penggunaan modul fisika model siklus belajar (learning cycle) materi besaran dan pengukuran untuk siswa kelas VII SMP Negeri 03 Singosari-Malang / Nurhayati

 

Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya mata pelajaran fisika, perlu adanya suatu strategi yang mampu membantu siswa menemukan suatu konsep fisika melalui kegiatan ilmiah/percobaan secara sederhana. Strategi tersebut antara lain dengan modul yang dikemas dan dilengkapi latihan-latiahan, tugas, dan unjukkerja siswa, sehingga diharapkan guru dapat melakukan penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektifitas penggunaan modul fisika model siklus belajar (learning cycle) materi besaran dan pengukuran untuk siswa kelas VII SMP Negeri 03 Singosari-Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 03 Singosari yang terdiri dari 7 kelas . Sampel penelitian terdiri dari 36 siswa kelas VII C sebagai kelas eksperimen, dan 36 siswa kelas VII G sebagai kelas kontrol. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan cara purposive yaitu, berdasarkan informasi guru fisika yang mengajar bahwa kelas tersebut yang merupakan kelas dengan kemampuan siswanya rata-rata bukan merupakan kelas unggulan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah (1) Instrumen perlakuan yang digunakan adalah modul pembelajaran fisika model siklus belajar untuk kelas eksperimen. (2) Instrumen prestasi belajar berupa tes yang terdiri dari 20 soal pilihan ganda dengan r=0,817 (nilai reabilitas sangat tinggi).Untuk mengetahui adanya perbedaan tes akhir terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol digunakan statistik t-test analisis Independent Samples Test. Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar fisika yang signifikan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan modul. Modul dikatakan efektif bila prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan modul lebih tinggi dari pada prestasi belajar siswa tanpa menggunakan modul. Berdasarkan lembar observasi pembelajaran dengan modul fisika model siklus belajar diketahui bahwa pembelajaran menggunakan modul lebih efektif dari pada pembelajaran tanpa menggunakan modul di SMP Negeri 03 Singosari-Malang .

Perkembangan kecerdasan anak usia dini dalam pembelajaran di sentra balok dan sentra alam (studi kasus pada pembelajaran di PAUD Firdaus Malang) / Nela Nindia Yuanika

 

Pendidikan anak usia dini merupakan kunci utama terbentuknya jiwa anak menjadi anak yang berhasil di masa yang akan datang. Dimana kualitas manusia akan ditentukan oleh rangsangan yang diberikan oleh otak anak, karena saat itu kemampuan otak manusia mengalami perkembangan pesat. Untuk itu pendidikan anak usia dini harus menjadi pembelajaran yang berorientasi pada anak dengan segala potensi dan kemampuan anak termasuk kemampuan kognitif . Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses Kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang mencirikan seseorang dengan berbagai minat terutama ditujukan kepada ide-ide dan belajar Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan kognitif Anak Usia Dini yang sedang mengikuti pembelajaran di sentra balok dan sentra alam di PAUD Firdaus. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi lapangan langsung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni 2008. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang perkembangan kecerdasan atau perkembangan kognitif anak pada pembelajaran di sentra balok dan sentra alam. Banyak jenis permainan yang ada di sentra balok dan sentra alam yang dapat membantu perkembangan kecerdasan anak. Dengan permainan tersebut anak dapat bermain secar individu maupun berkelompok dan juga mengikutsertakan anggota tubuh anak untuk bergerak secara aktif, sehingga anak dapat menungkatkan keterampilan dan perkembangan kognitif anak. Dalam permainan balok dan pasir air tersebut juga dapat dilihat dampak perkembangan kognitif anak antara lain: (a) Perkembangan bahasa, (b) Perkembangan sosial, (c) Perkembangan matematika, (d) perkembangan fisik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada lembaga PAUD untuk dapat lebih selektif dalam memilih mainan yang berhubungan dengan perkembangan kognitif anak dalam pembelajaran di sentra balok maupun di sentra alam. Lembaga juga diharapkan memberi kan pengarahan kepada guru kelas untuk dapat lebih meningkatkan kreatifitasnya dalam menciptakan mainan baru untuk merangsang perkembangan kognitif anak. Dan untuk Jurusan Pendidikan Luar Sekolah di harapkan hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi dan keilmuan di bidang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Dan untuk jurusan pendidikan luar sekolah sendiri hendaknya dapat lebih menambah referensi kepustakaan tentang buku-buku yang berkaitan tentang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Gender, Alat Permainan Edukatif yang dapat merangsang perkembangan kecerdasan anak usia dini.

Implementasi sistem manajemen berbasis sekolah (MBS) dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMA Negeri 2 Kota Pasuruan / Nanang Setiawan

 

Penerapan pembelajaran kontekstual metode inquiry pada mata diklat menjaga dan melindungi budaya kerja untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK "Ardjuna" 01 Malang / Nelly Rizqi Rahmania

 

Pengaruh paparan berulang ikan berformalin terhadap kerusakan hati dan ginjal mencit (Mus musculus) sebagai media pembelajaran keamanan pangan / Hartati Kartikaningsih

 

ABSTRAK Kartikaningsih, Hartati. 2008. Pengaruh Paparan Berulang Ikan Berformalin Terhadap Kerusakan Hati dan Ginjal Mencit (Mus musculus) Sebagai Media Pembelajaran Keamanan Pangan. Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: I) Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd, II) Prof. Sutiman Bambang Sumitro, S.U , D.Sc, III) Dr. agr. Mohamad Amin, M.Si. Kata kunci: paparan berulang ikan berformalin, kerusakan hati dan ginjal mencit Formalin merupakan zat pereduksi kuat, dapat meracuni tubuh melalui pernafasan, kulit dan pencernaan. Formalin yang digunakan untuk mengawetkan ikan adalah suatu penyimpangan. Hasil studi pendahuluan bulan Januari sampai Maret 2006 memperlihatkan ikan segar, ikan pindang, dan ikan asin yang diproduksi di sentra pendaratan ikan di Sendang Biru, Mayangan, Brondong, dan Prigi yang diambil secara acak mengandung formalin dengan kadar antara puluhan ppm sampai ratusan ppm. Paparan berulang formaldehid dalam jangka lama secara oral bisa dideteksi dengan kerusakan organ hati dan ginjal. Perubahan histologi kedua organ ini terjadi bila zat toksik telah mencapai konsentrasi tinggi. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui kepedulian konsumen ikan di Malang terhadap adanya ikan berformalin, 2) menguji apakah semakin panjang rantai perdagangan ikan di Malang akan meningkatkan kadar formalin pada ikan, 3) menguji apakah kadar formalin pada ikan berformalin bisa menurun dengan pemasakan, dan 4) menguji kerusakan hati dan ginjal mencit akibat paparan berulang ikan berformalin/oral/3 bulan pada induk dan pada turunan pertama mencit. Penelitian ini ada 7 tahap, yakni sikap konsumen ikan di Kota Malang terhadap keberadaan ikan berformalin, pengukuran kadar formalin ikan di pasar Kota Malang, pengujian penurunan kadar formalin akibat pemasakan, pengujian LD50 ikan berformalin dengan hewan uji mencit, pengujian paparan sub kronis ikan berformalin dengan hewan uji mencit pada induk, dan pada anak mencit turunan pertama serta pemahaman keamanan pangan ikan berformalin pada konsumen ikan melalui kegiatan KKN. Hasil penelitian memperlihatkan: 1) konsumen ikan di Kota Malang memperoleh pengetahuan adanya ikan berformalin dan akibatnya pada kesehatan dari media massa, 2) terdeteksinya kadar formalin pada box ikan dan air perebusan ikan pindang di pasar Kota Malang merupakan tanda bukti pedagang ikan di pasar Kota Malang menggunakan formalin, 3) terjadi penurunan kadar formalin pada ikan layang segar, asin dan pindang berformalin setelah dilakukan pengukusan dan penggorengan meskipun tidak bisa menghilangkan sama sekali kandungan formalin pada daging ikan, 4) LD50 ikan nila berformalin 5% dapat dikatagorikan sebagai bahan toksik ringan, ikan nila berformalin 10% dan 15% sebagai bahan toksik sedang, 5) paparan berulang ikan berformalin 0,2 ppm dan 0,5 ppm/oral/3 bulan pada mencit menyebabkan terjadinya penurunan berat badan serta nekrosis hati dan tubulus ginjal mencit secara fokal pada paparan bulan ke 3, namun pengukuran secara fisiologis (kebutuhan pakan, jumlah feses dan jumlah urin). berat organ (hati, ginjal, usus, lambung) serta hasil pemeriksaan serum (SGPT,SGOT, albumin, globulin, kreatinin) masih normal, 6) pengamatan makroskopis mencit yang mati selama perlakuan memperlihatkan hati menghitam, adanya mencit yang bertumor, terjadinya kelainan dan kematian anak mencit yang mengindikasikan paparan berulang ikan berformalin membahayakan kesehatan, 7) kontrol negatif (paparan ikan) terbukti mengandung logam berat Pb, 8) paparan berulang ikan berformalin 0,2 ppm dan 0,5 ppm/oral/1 bulan pada anak mencit dari induk yang telah terpapar ikan berformalin/oral/3 bulan terjadi penurunan berat badan serta nekrosis hati dan tubulus ginjal mencit secara fokal pada lama paparan induk 2 dan 3 bulan, namun pengukuran secara fisiologis (kebutuhan pakan, jumlah feses dan jumlah urin). berat organ (hati, ginjal, usus, lambung) serta hasil pemeriksaan serum (SGPT,SGOT, globulin) masih normal, kecuali kadar albumin diatas normal, 9) kerusakan hati secara makroskopis dari anak mencit yang mati mencapai 80%, 10) kematian dan kelainan anak mencit jantan dan betina dari kontrol negatif disebabkan paparan Pb, 11) belum dapat dibuktikan perbedaan jenis kelamin mencit dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal dilihat dari pengamatan fisiologi, makroskopis, pemeriksaan darah dan histologi, 12) apoptosis dan nekrosis hati induk dan anak mencit yang terpapar ikan berformalin/oral disebabkan efek toksik formaldehid dan Pb, 13) metode pengukuran pengetahuan dan sikap responden dengan pre test dan post test pada penyuluhan kurang tepat. Penyuluhan cocok untuk menyampaikan infomasi. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: 1) peredaran formalin untuk memperpanjang daya awet ikan selayaknya mulai dihentikan dengan cara formalin yang dibuat oleh industri dalam negeri ditambahkan senyawa yang berasa pahit namun tidak merubah fungsi formalin untuk industri, 2) sosialisasi hilangnya rasa khas ikan pada ikan berformalin untuk konsumen ikan kelas menegah ke atas, 3) sosialisasi cara memilih ikan yang tidak berformalin pada konumen ikan kelas menegah ke bawah 4) pengetahuan ikan berformalin dan mengandung Pb perlu dijadikan tema yang diajarkan kepada konsumen ikan oleh mahasiswa yang melakukan KKN, 5) pengukuran pengetahuan dan sikap konsumen ikan sebaiknya dengan metode tin slicing, 6) diperlukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan logam berat pada ikan yang dipelihara secara mina padi atau kolam sawah dengan sumber air irigasi, 7) diperlukan penelitian lanjutan untuk pengukuran kerusakan organ hati dan ginjal mengingat nekrosis hati dan ginjal terkait dengan enzim yang berhubungan dengan proses fosforilasi oksidatif, 8) diperlukan penelitian lebih lanjut tentang toksisitas sinergisme Pb dan formalin pada ikan, 9) tidak menggunakan pengukuran serum darah untuk toksisitas hati akibat paparan ikan berformalin. ABSTRACT Formalin is a strong reduction substance. It got through inhalation, ingestion and sub cutan as a human poisonous. Using formalin as a fish preservative is a big fault. Preliminary study in January-March 2006 shows that sampling sample of fresh fish, boiled fish, and salt-dry fish at fishing port of Sendang Biru, Mayangan, Brondong, and Prigi have variation formalin content, tens until hundreds ppm. The formaldehyde exposure/oral/chronic can be detected in liver and kidney damaged. Histology changes occur if concentration that toxic substance in this organ is high. The aims of the research is: 1) to know the attitude of Malang fish consumer toward the existence of fish formaliny, 2) to proof long chain trading of fish in Malang will be increase formalin content in fish, 3) to examine formalin content in fish formaliny can be decreased with frying and steaming fish, 4) to observe liver and kidney damaged caused by fish formaliny exposure repeatedly/orally/3 month in mice maternal and in offspring. This research has 7 phase, that is the attitude of Malang fish consumer toward the existence of fish formaliny, testing formalin content in fish which trading in Malang traditional marked, testing decreasing formalin content caused by fish frying and steaming, examining the value of fish formaliny LD50 in mice, examining exposure repeatedly fish formaliny/orally/3 month in mice, testing exposure repeatedly fish formaliny/orally in offspring mice and comprehension food safety of fish formaliny in fish consumer by community services activity of graduate student. The research shows that: 1) Malang fish consumer know the existence of fish formaliny and this consequences in healthy by mass media, 2) detection of formalin content at water of dipping fish and boiled fish water at Malang traditional market indicated fish supplier using formalin as fish preservative, 3) it is occur decreasing formalin content at Decapterus fresh, boiled, and dry-salted fish formaliny after steaming and frying of that fish although formalin content in flesh fish can not be destroyed, 4) the value of LD50 nila fish formaliny 5% is categorized as light toxic substance, while concentration of nila fish formaliny 10% and 15% is categorized as moderate toxic substance, 5) fish formaliny exposure repeatedly 0,2 ppm and 0,5 ppm/orally/3 month caused decreasing body weight and liver as well as kidney tubulus focal necrosis in mice at exposure in 3 month, but physiological measurement (feed consume, sum of feces and urine), organ weight (liver, kidney, intestine, stomach) as well as serum examination (SGPT, SGOT, albumin, globulin, creatinine) shows in normal categories, 6) macroscopic examination in death mice shows blacking liver, tumour, offspring mortality, and aberration of offspring. It indicated that fish formaliny exposure repeatedly is a healthy risk, 7) negative control (fish exposure) was detected has content heavy metal (Pb). Happening mortality, tumour and liver as well as kidney necrosis in fish formaliny exposure repeatedly 0,2 ppm and 0,5 ppm indicated that it caused by exposure combination of Pb and formaldehyde, 8) offspring exposure repeatedly fish formaliny/orally/1 month from maternal exposure repeatedly fish formaliny/orally/3 month shows body weight decrease, liver and kidney tubulus focal necrosis at maternal exposure in 2 and 3 month, but physiological measurement (feed consume, sum of feces and urine), organ weight (liver, kidney, intestine, stomach) as well as serum examination (SGPT, SGOT, globulin) shows in normal categories, 9) death offspring macroscopic examination shows 80% liver damaged, 10) death and aberration of male and female offspring negative control is caused by heavy metal exposure, 11) it not yet been proved that mice sex differentiation caused liver and kidney damaged be based on physiology, macroscopic, histology and serum examination, 12) apoptosis and necrosis of mice liver maternal and offspring is caused by exposure repeatedly/orally of Pb and formaldehyde, 13) knowledge and attitude measurement of fish consumer using pre test and post test in elucidation is not suitable. Elucidation is suitable for delivery information It is suggested that: 1) it has to be stopped using formalin as fish preservative. It is preferable to give bitter substance in formalin national production but not changes formalin function in industries, 2) fish consumers at middle and high class economics should know the lose of fish taste in fish formaliny, 3) fish consumers at middle class economic and poor society should know choosing fish free of formalin, 4) topic of fish formaliny and have content of Pb has to be trained for fish consumer by community services of graduate student, 5) examination of knowledge and attitude fish consumer preferable using tin slicing method, 6) it need advance research about heavy metal content in fish from fish-rice culture and in pond culture which water sources for culture is gained from irrigation, 7) it need advance research to examination liver and kidney damaged because necrocis process related to oxidative phosphorilation. 8) it need advance research about synergist toxicity formaldehyde and Pb in fish, 9) it is not suitable to measure formaldehyde toxicity using blood serum.

Pemanfaatan labortatorium sebagai layanan akademik menurut mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Siti Nur Fadhillah

 

Kata Kunci: pemanfaatan laboratorium, layanan akademik. Peningkatan kualitas pendidikan dilakukan sejalan dengan perkembangan dan tuntutan terhadap lulusan yang berkompeten dalam bidang yang ditekuni. Laboratorium merupakan sarana penunjang pendidikan yang harus dimiliki oleh lembaga pendidikan. Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan yang mencetak agent of change bagi pembangunan pendidikan harus senantiasa memperbaiki sistem pendidikan untuk menciptakan mutu pendidikan yang diharapkan. Salah satu sarana akademik yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi diperlukan adanya sarana berupa laboratorium. Laboratorium merupakan unsur penting sebagai sarana penunjang kegiatan ilmiah. Pemanfaatan laboratorium harus dimanfaatkan secara optimal sebagai penunjang kualitas lulusan dengan memadukan konsep dengan empirik (realita), aspek teoritis dengan praktis, dan aspek pengetahuan dengan keterampilan. Adanya pemanfaatan yang sesuai dengan kebutuhan dan digunakan sebagaimana semestinya akan sangat mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Rumusan masalah umum pada penelitian ini adalah: bagaimana pemanfaatan laboratorium sebagai layanan akademik mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang? Adapun rumusan masalah khusus dalam penelitian ini adalah: (a) bagaimana gambaran pemanfaatan Laboratorium Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang oleh mahasiswa sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar?; (b) bagaimana pemanfaatan Laboratorium Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang oleh mahasiswa sebagai tempat pengembangan keterampilan?; (c) bagaimana pemanfaatan Laboratorium Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang oleh mahasiswa sebagai tempat membina sikap?; (d) bagaimana pemanfaatan Laboratorium Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang oleh mahasiswa dalam memantapkan dan memperdalam pengetahuan? Kegiatan pemanfaatan laboratorium tidak lepas dari manajemen laboratorium yang harus memperhatikan kelembagaan dan benar-benar profesional sehingga mampu mempertahankan mutu dengan pelayanan kepada pelanggan. Pemanfaatan laboratorium harus mengarah kepada manajemen layanan pendidikan. Hal tersebut dimaksudkan agar kegiatan laboratorium mampu memenuhi kebutuhan pengguna secara efektif dan efisien, serta merata untuk semua pengguna salah satunya yaitu mahasiswa. Dalam pemanfaatan laboratorium harus menganut asas pendayagunaan agar tidak menyimpang dari ketentuan semula. Sehingga, pelaksanaan pemanfaatan laboratorium sebagai layanan akademik di Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang diharapkan sesuai dengan profesi manajemen pendidikan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rancangan analisis deskriptif. Variabel penelitian ini mencakup satu variabel yaitu pemanfaatan laboratorium sebagai layanan akademik mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Objek penelitian ini adalah Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dan populasi penelitian adalah semua mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan angkatan 2006, 2007, dan 2008. Pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan teknik proporsional random sampling. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data secara umum diperoleh 49,40% atau 83 mahasiswa yang menyatakan cukup optimal dalam memanfaatkan laboratorium sebagai layanan akademik. Adapun hasil data secara rinci yaitu: untuk data kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di laboratorium diperoleh 45,24% atau 76 mahasiswa yang menyatakan cukup optimal; kegiatan mengembangkan keterampilan di laboratorium diperoleh 48,81% atau 82 mahasiswa yang menyatakan optimal; membina dan mengembangkan sikap di laboratorium diperoleh 50,00% atau 84 mahasiswa yang menyatakan optimal; memantapkan dan memperdalam pengetahuan diperoleh 52,98% atau 89 mahasiswa menyatakan optimal. Dari hasil analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan laboratorium sebagai layanan akademik mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang adalah cukup optimal. Saran peneliti adalah: (1) Jurusan Administrasi Pendidikan, lebih memperhatikan pengelolaan laboratorium agar dapat dimanfaatkan dengan sangat optimal oleh mahasiswa sebagai tempat belajar mengajar; (2) Laboratorium Administrasi Pendidikan, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk meningkatkan kemajuan laboratorium selanjutnya; (3) mahasiswa, diharapkan adanya partisipasi aktif dari mahasiswa dalam menyikapi pemanfaatan laboratorium; (4) peneliti lain, untuk menelaah dan meneliti lebih jauh lagi tentang pemanfaatan laboratorium dalam hal kesesuaian penggunaan dengan fungsi laboratorium meliputi semua sivitas akademik tidak hanya mahasiswa tetapi juga para dosen dan staf, sehingga mampu mengungkap pemanfaatan laboratorium dari berbagai pengguna.

Penerapan model pembelajaran group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran membuka usaha eceran (studi pada siswa kelas XII Program Keahlian Pemasaran di SMK PGRI 6 Malang) / Ayu Ramadhani

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Group Investigation (GI), Hasil Belajar Siswa Upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna memajukan kualitas pendidikan adalah dengan menyempurnakan kurikulum yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini menuntut guru agar tidak selalu menggunakan metode konvensional, seperti ceramah atau tanya jawab, tetapi juga menggunakan metode pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk selalu aktif. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan untuk lebih memberdayakan siswa agar tidak hanya menghafalkan fakta, tetapi juga mengkonstruksikan pengalaman dan pengetahuan siswa adalah model pembelajaran Group Investigation (GI). Model pembelajaran Group Investigation (GI) merupakan model pembelajaran kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokrasi. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah yang sering terjadi dalam bisnis ritel. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan pembelajaran yang menerapkan investigasi kelompok. Investigasi kelompok yang diterapkan terdiri atas 6 tahap, yaitu seleksi topik permasalahan, perencanaan kerjasama, implementasi, analisis, penyajian hasil akhir, dan evaluasi. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan investigasi kelompok pada mata pelajaran Membuka Usaha Ritel berjalan dengan lancar, walaupun pada saat pelaksanaan masih terdapat beberapa kekurangan. Selain itu, hasil belajar siswa juga terjadi peningkatan cara belajar. Peningkatan cara belajar siswa tersebut dapat dilihat dari antusiasme dan kerjasama siswa dalam belajar kelompok. Di samping itu, siswa tampak aktif, kreatif, dan produktif dalam belajar. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah pada mata pelajaran Membuka Usaha Eceran juga mengalami peningkatan. Dari 27 orang siswa yang menjadi subyek penelitian, sebanyak 96,3% (26 orang) sudah tuntas belajar. Sebelumnya, siswa yang tuntas di siklus I hanya 4 siswa (14,81%). Nilai rata-rata kelas pada aspek kognitif mengalami kenaikan, yaitu dari 59,46 di siklus I menjadi 79,79 di siklus II. Hal ini berarti terjadi kenaikan sekitar 20,33 yang berarti peningkatan ini cukup signifikan. Sedangkan nilai rata-rata kelas pada aspek afektif juga mengalami kenaikan. Terjadi kenaikan persentase hasil belajar aspek afektif dari siklus I ke siklus II. Di siklus I rata-rata kelas sebesar 72,1 sedangkan di siklus II sebesar 89,89. Berarti terjadi kenaikan sebesar 17,79. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah agar pihak SMK PGRI 6 Malang tidak hanya memakai metode konvensional dalam pembelajaran sehari-hari, tetapi juga memakai metode kooperatif agar siswa lebih aktif. Berdasarkan kecenderungan peningkatan yang terjadi pada setiap siklus, apabila siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya secara rutin, maka dapat diyakini kemampuannya akan bisa lebih ditingkatkan. Karena itu, untuk meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan produktivitas berpikir siswa, pemecahan masalah dalam mata pelajaran Membuka Usaha Eceran perlu diberikan secara rutin dalam pembelajaran.

Peneraoan metode kooperatif: think pair share untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karang Besuki I Malang untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) / Andina Witaning Sari

 

ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas IV SDN Karang Besuki I Malang diketahui bahwa (1) aktifitas siswa dalam mengajukan pertanyaan dan jawaban masih rendah, (2) pertanyaan yang diajukan siswa tidak terstrukur, (3) penguasaan hasil belajar sebesar 70% atau dibawah ketuntasan (75%). Selain itu kegiatan pembelajaran masih cenderung monoton dan tidak variatif sehingga membuat siswa cenderung bosan dan kurang bersemangat untuk belajar. Hal ini akan membuat kualitas pembelajaran menjadi rendah dan memungkinkan hasil belajar siswa akan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran metode kooperatif Think Pair Share oleh guru dan siswa, kemampuan berfikir kritis siswa, dan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Karang Besuki I Malang dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan metode kooperatif Think Pair Share. Metode kooperatif Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan metode kooperatif Think Pair Share terbukti dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) sehingga metode kooperatif Think Pair Share dapat dijadikan salah satu metode untuk membuat pembelajaran lebih bervariatif dan tidak monoton pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dan mata pelajaran yang lain, bagi guru hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan untuk perbaikan mutu pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA, diharapkan ada penelitian selanjutkan untuk menerapkan metode kooperatif Think Pair Share untuk pokok bahasan yang lain dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dan mata pelajaran yang lain.

Pengaruh token economy dan loyalitas konsumen terhadap proses pengambilan keputusan dalam membeli produk pada Matahari Department Store Kota Madiun / Anggris Nuarasyita

 

Strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah menengah atas negeri (studi kasus di SMAN 1 Kepanjen Malang) / Wiwik Ida Kurotul Aini

 

Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar mengajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru sebagai tenaga profesional, dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Oleh karena itu deskripsi tentang strategi pengelolaan kelas yang dilakukan guru yang dikaitkan secara langsung dengan perolehan prestasi belajar siswa di sekolah, khususnya prestasi belajar siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kepanjen, merupakan permasalahan yang sangat penting dan menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Kepanjen. Ada enam fokus yang dicermati dalam penelitian ini, yaitu: (1) Strategi guru dalam merencanakan pembelajaran; (2) membangun kerjasama dengan siswa dalam pembelajaran; (3) pemberian motivasi belajar; (4) menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif; (5) meningkatkan disiplin belajar siswa; dan (6) evaluasi proses belajar mengajar. Berdasarkan karakteristik subyek dan fokus penelitian, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif rancangan studi kasus. Tehnik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi . Analisis data dilakukan dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Sedang untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria kredibilitas, transferability, dependabilitas dan konfirmabilitas. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut: Pertama, strategi guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yaitu: (a) sebelum tahun ajaran baru menyusun silabus, analisa materi pelajaran, program tahunan, program semester dan rencana program pembelajaran, (b) program mengajar di konsultasikan dengan kepala sekolah dan ditanda tangani, (c) setiap mengajar program ini dipakai sebagai pedoman dalam melaksanakan tugasnya. (d) program mengajar dibuat secara bersama-sama para guru MGMP sekolah yang selanjutnya dimantabkan pada MGMP tingkat Kabupaten, dan (e) penataan ruang kelas, penempatan siswa dalam kelas perlu diatur dengan baik pula. Kedua, membangun kerja sama dengan siswa dalam pembelajaran yaitu dengan cara: (a) setiap masuk kelas/mengajar guru melakukan presensi, (b) dalam mengajar menggunakan bahasa yang sederhana, suara yang jelas, materi selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, (c) menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, dan (d) adanya kerjasama antara guru mata pelajaran, wali kelas dan guru pembimbing dalam membina prestasi belajar siswa. Ketiga, permotivasian siswa dengan cara: (a) siswa selalu diberi latihan-latihan soal, (b) pembelajaran di luar kelas, (c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d) selalu mengkomunikasikan hasil belajar, baik ke siswa maupun orang tua, (e) sekolah menyediakan fasilitas belajar yang memadai, dan (f) pemberian pembinaan baik terhadap siswa yang berprestasi maupun siswa yang prestasinya menurun. Keempat, membangun iklim pembelajaran yang baik yaitu dengan cara: (a) petugas tatib selalu mengantisipasi dengan keliling dilingkungan sekolah pada saat proses belajar mengajar berlangsung, (b) mengadakan razia yang dilaksanakan oleh petugas tatib, wakil kepala sekolah dan guru bimbingan dan konseling selama upacara berlangsung, (c) guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (d) guru berusaha menyederhanakan materi pelajaran eksakta, (e) menciptakan suasana pembelajaran yang serius, santai dan diselingi rasa humor. Kelima, peningkatan disiplin belajar siswa dengan cara: (a) mewajibkan siswa baru mengisi surat pernyataan tentang kesediaan mematuhi aturan dan tatib sekolah, mengikuti orientasi siswa baru, mengikuti latihan baris berbaris, dan ekstra Pramuka, (b) menerapkan sistem pengendalian ketertiban dengan baik dan konsekuen, (c) semua pelaku pendidikan dilingkungan sekolah memberi teladan disiplin, (d) guru mata pelajaran dengan siswa membuat kesepakatan tentang aturan di kelas, (e) saat kegiatan pembelajaran berlangsung guru memperkecil kesempatan siswa untuk ijin meninggalkan kelas, dan (f) melestarikan budaya disiplin dengan menginformasikan frekwensi pelanggaran kelas yang terendah pada saat upacara hari senin. Keenam, evaluasi proses belajar mengajar dilaksanakan: (a) pada awal pembelajaran guru melaksanakan pre tes begitu juga setelah pembahasan materi diadakan post tes, (b) melaksanakan ulangan harian dan pemberian tugas, (c) mengadakan ulangan semester bersama, (d) ujian akhir nasional dilaksanakan oleh pusat, dan (e) secara umum hasil evaluasi pembelajaran siswa SMA Negeri 1 Kepanjen bagus, karena didukung oleh input siswa dengan NUN tinggi, 90% siswa berasal dari SMP Negeri 4 Kepanjen yang memiliki budaya disiplin relatif baik , SMA Negeri 1 Kepanjen memiliki iklim sekolah yang kondusif, budaya disiplin yang tinggi dan komitmen para guru SMA Negeri 1 Kepanjen adalah meningkatkan prestasi belajar siswa yang optimal. Kepada beberapa pihak berikut disarankan agar: (1) strategi pengelolaan kelas yang sudah berjalan dengan baik di SMA Negeri Kepanjen hendaknya ditindak lanjuti dengan supervisi kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah maupun instruktur mata pelajaran yang serumpun., (2) sistem pengendalian ketertiban siswa di SMA Negeri Kepanjen patut dicontoh/dipelajari oleh sekolah lain oleh karena itu hendaknya pelaksanaan tata tertib dan peraturan sekolah dikelola dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen, (3) penyelenggara pendidikan agar mempertimbangkan SMA ini sebagai alternatif pilot project sekolah unggulan mengingat prestasi yang dicapai oleh sekolah (prestasi akademis maupun non akademis), (4) Depdiknas serta otoritas sekolah lokal agar mempertimbangkan manajemen kelas dimasukan sebagai materi dalam upaya peningkatan kompetensi guru dan (5) para peneliti agar melakukan penelitian-penelitian serupa untuk verivikasi temuan penelitian ini dalam rangka membangun dasar pengetahuan mengenai kompetensi guru/pendidik di tanah air .

Penggunaan analisis varians untuk pengendalian biaya produksi paper machine 1 pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo / Yunus Aditya Pranata

 

PT. Ketas Leces adalah perusahaan negara yang berbentuk persero atau perseroan terbatas yaitu perusahaan negara ( BUMN ) yang modalnya berupa saham-saham yang sebagian besar atau seluruhnya dimiliki pemerintah. PT Kertas Leces (Persero) dalam pengelolaan operasionalnya Pemegang Saham (Pemerintah) menunjuk Dewan Direksi untuk menjalankan manajemen di bawah pengawasan dan kendali Dewan Komisaris. Tujuan utama dari perusahaan Persero seperti PT. Kertas Leces mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan serta untuk menyediakan barang-barang dan atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. Dengan semakin terbatasnya sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh perusahaan dan komplek masalah-masalah yang timbul. Maka manajemen perusahaan untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi tersebut secara bijaksana, terarah dan terkendali. Pengendalian ini dapat dilakukan melalui analisis varians yaitu membandingkan antara anggaran biaya produksinya dengan realisasinya. Selama ini PT. Kertas Leces (Persero) telah melakukan analisis varians biaya produksi hanya dengan menbandingkan antara total anggaran biaya produksi dan realisasinya. Analisis seperti ini kurang memberikan informasi mengenai penyebab varians dan bagian yang bertanggung jawab atas varians tersebut. Akibatnya perusahaan mengalami kesulitan untuk memperbaiki pelaksanaan pengendalian biaya produksi. Untuk itu dibutuhkan penelitian untuk menganalisis lebih lanjut tentang varians yang terjadi di PT. Kertas Leces (Persero). Hal ini penting karena sebagai sarana pengendalian biaya produksi. Adapun prosedur analisis yang diajukan adalah dengan memisahkan varians bahan baku, varians tenaga kerja langsung, varians bahan penolong menjadi varians harga dan varians kuantitas. Selain itu juga memisahkan varians biaya overhead pabrik menjadi varians pengeluaran dan varians volume. Berdasarkan hasil perhitungan setelah dilakukan analisis varians biaya produksi lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa terjadi varians biaya produksi yang bersifat tidak menguntungkan yang terjadi pada tahun 2006 sebesar Rp. 104.113.920, yang terdiri dari bahan baku sebesar Rp. 364.521.450, bersifat tidak menguntungkan, biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 136.864.000, bersifat menguntungkan, biaya bahan penolong sebesar Rp. 334.358.826, bersifat menguntungkan dan Biaya Overhead Pabrik sebesar Rp. 2.587.456, bersifat tidak menguntungkan. Dengan analisis varians tersebut pengendalian biaya produksi dapat terlaksana dengan baik sehingga efisiensi biaya dapat tercipta dan tujuan perusahaan akan tercapai.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TAI (team assisted individualization) untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 4 SMA N 4 Malang / Nikmatul Izah

 

Berdasarkan studi pendahuluan, pembelajaran di kelas XI IPA 4 SMA N 4 Malang masih menggunakan pendekatan konvensional yang banyak menekankan pada metode ceramah. Keaktifan dan prestasi belajar siswa masih tergolong rendah, tampak rerata prestasi siswa dibawah Standart Ketuntasan Minimal (SKM). Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus yang masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pemberian tindakan kelas, observasi, serta refleksi. Siklus I sub materi keseimbangan partikel dan resultan gaya pada benda tegar, siklus II sub materi kesetimbangan benda tegar, siklus III sub materi titik berat dan jenis-jenis kesetimbangan. Subyek penelitian siswa kelas XI IPA 4 SMA N 4 Malang dengan jumlah 40 siswa, yang terdiri dari 23 orang putri dan 17 orang putra. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ada tiga yaitu lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model TAI, lembar observasi keaktifan belajar siswa dalam kelompok dan instrumen prestasi belajar berupa soal pretes dan postes. Data dalam penelitian berupa keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model TAI, keaktifan belajar siswa dalam kelompok dan prestasi belajar siswa. Data keterlaksanaan pembelajaran diperoleh melalui kegiatan observasi sepanjang proses pembelajaran, keaktifan belajar siswa dalam kelompok diperoleh melalui kegiatan observasi selama tahap diskusi kelompok berlangsung. Sedangkan prestasi belajar diperoleh melalui nilai pretes dan postes siswa yang memenuhi SKM. Hasil yang diperoleh dari penelitian yang menerapkan pembelajaran kooperatif model TAI adalah pada siklus III keterlasanaan penerapan pembelajaran kooperatif model TAI oleh guru dan oleh siswa mencapai 100%, sedangkan pada siklus I dan II keterlaksanaaan oleh siswa hanya 80 %. Keaktifan belajar siswa dalam kelompok dan prestasi belajar pada siklus III yang menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan siklus I dan II.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual SMA/MA kelas XII pada materi pokok senyawa karbon turunan alkana dan benzena dan turunannya / Nuril Maghfiroh

 

Salah satu faktor yang sangat strategis dan substansial dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa adalah pendidikan. Sebagai perwujudannya, saat ini mulai diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), melalui Kurikulum 2006 (KTSP) dilakukan penyempurnaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan, termasuk ilmu kimia sebagai cabang dari sains. Sebagian ilmu kimia bersifat abstrak, sehingga siswa cenderung mengalami kesulitan dalam memahami dan mengkonstruk struktur pengetahuan dengan tepat. Oleh karena itu diperlukan suatu konsep pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan bagi siswa dalam membangun pengetahuan mereka sendiri baik yang berasal dari pengalaman (experience) ataupun dari transfer pengetahuan (transferring of knowledge). Salah satu solusinya melalui pembelajaran berbasis konstruktivistik yang bertujuan agar siswa dapat membangun konsep sendiri dan pembelajaran kontekstual yang bertujuan agar siswa dapat menghubungkan pengetahuannya tersebut dengan kehidupan nyata yang mereka alami. Oleh karena itu diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual serta mengetahui kesesuaian atau kelayakan perangkat pembelajaran tersebut untuk digunakan dalam pembelajaran kimia khususnya SMA/MA Kelas XII Semester 2. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini diawali dengan survei kondisi lapangan, kemudian dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran berdasarkan model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Langkah selanjutnya dilakukan validasi. Langkah-langkah model pengembangan Dick dan Carey yaitu mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melakukan analisis materi pelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan pengalaman belajar, mengembangkan item tes berbasis kriteria, pemilihan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, melaksanakan evaluasi formatif (validasi), melakukan revisi, dan memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran terdiri atas dua bagian, bagian pertama merupakan panduan guru (Teacher’s Guide) yang berisi silabus dan sistem penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), instrumen penilaian, dan buku guru. Sedangkan bagian kedua adalah buku siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Berdasarkan hasil validasi dari empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 85,34% dengan kriteria valid/baik/layak. Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah untuk mengetahui keefektifannya dalam pembelajaran.

Hubungan iklim organisasi dengan kepuasan kerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung / Muhammad Khoirul Anwar

 

Penentuan pH optimum pada elektroplating krom terhadap tembaga ditinjau dari hasil deposit dan kualitas pelapisan / Mohammad Syariful Muniry

 

Kondisi elektroplating yang sesuai akan menghasilkan pelapisan yang sempurna. Hal ini dikarenakan pada proses pelapisan logam yang diharapkan adalah hasil pelapisan yang merata, kuat tidak mudah retak, butirannya halus dan warnanya cerah. Pengontrolan tingkat keasaman dari larutan elektrolit juga berpengaruh terhadap proses pelapisan. Pelapisan akan mencapai maksimal pada pH tertentu yaitu pada pH optimum. Oleh karena itu, digunakan larutan buffer sebagai pengatur tingkat keasaman dari larutan elektrolit. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pH pada proses elektroplating krom terhadap tembaga ditinjau dari hasil deposit dan kualitas pelapisan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang dan hasil elektroplating dilakukan uji tarik geser di Depertemen Multi Skill Service VEDC Malang. Logam tembaga yang digunakan dalam penelitian ini berupa lempengan tipis berukuran 5 cm x 1,5 cm x 0,5 cm, sedangkan anoda yang digunakan adalah anoda inert yaitu karbon. Variasi pH pada pH 1, 2, 3, 4, dan 5. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan kalium dikromat 1 M, dan buffer asetat yang dicampur menjadi satu dengan perbandingan 5:2 dan diukur keasamannya dengan menggunakan pH meter. Elektroplating dilakukan dengan jarak antar elektroda 1 cm, dan temperatur 45°C dengan kuat arus sebesar 500 mA selama 90 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pH optimum pada proses elektroplating krom terhadap tembaga ditinjau dari hasil deposit terjadi pada pH 2. (2) pH optimum pada proses elektroplating krom terhadap tembaga ditinjau dari kualitas pelapisan terjadi pada pH 3. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variasi yang lain seperti konsentrasi larutan elektrolit, dan penerapan elektroplating krom pada logam yang lain maupun pada nonlogam misalnya plastik.

Penerapan pembelajaran kooperatif STAD melalui pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBM) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Pakong Pamekasan Madura / Santi Oktavia

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 18 dan 19 Januari 2008 di SMA Negeri I Pakong diketahui bahwa sekolah tersebut sudah melaksanakan KTSP. Sebagian besar siswa yang diwawancarai tentang pelajaran biologi menyatakan bahwa merasa kesulitan untuk memahami materi pelajaran jika siswa belajar secara individu, sehingga hasil belajar rendah dan siswa kurang aktif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, yaitu dengan penerapan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams Achievement Divisions) dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBM). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-3 di SMA Negeri I Pakong Pamekasan setelah diterapkan metode tersebut. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, setiap siklus terdiri atas 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas X-3 Pakong yang berjumlah 38 siswa, terdiri 27 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru dan catatan lapangan. Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa setiap siklus dan taraf keberhasilan tindakan, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih skor antara pre-test dan post-test serta ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-3 SMA Negeri I Pakong Pemekasan. Peningkatan aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan rerata persentase aktivitas belajar siswa dan taraf keberhasilan tindakan dari 39,52% (kurang) pada siklus I menjadi 63,97% (cukup) pada siklus II, dan meningkat menjadi 79,96% (baik) pada siklus III. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rerata selisih skor antara pre-test dan post-test sebesar 25,58 pada siklus I, dan pada siklus II selisih antara pre-test dan pos-test sebesar 18,67 dan 34,65 pada siklus III; ketuntasan belajar siswa sebesar 52,94% pada siklus I meningkat menjadi 73,53% pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 88,24% pada siklus III. Saran dari penelitian ini adalah perlunya jumlah observer yang berperan sebagai pengawas pada waktu kegiatan pre-test dan post-test untuk mengurangi siswa yang bekerjasama sehingga hasilnya lebih baik dan perlu adanya pengelolaan kelas yang lebih baik sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Survei keterlaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dalam kegiatan pembelajaran kimia oleh guru-guru kimia kelas X SMA Negeri se-kota Malang / Aning Dwi Anita Sari

 

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan melakukan penyempurnaan kurikulum dari KBK menjadi KTSP. KTSP dilaksanakan secara serentak pada tahun ajaran 2006/2007. Keberhasilan KTSP ditentukan oleh bagaimana guru melaksanakannya dalam pembelajaran. Untuk mengetahui apakah guru-guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kota Malang telah melaksanakan KTSP, maka perlu diadakan penelitian. Penelitian ini terkait dengan tiga hal, yaitu: perencanaan kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran yang sesuai dengan KTSP. Subyek dalam penelitian ini adalah guru-guru bidang studi kimia SMA Negeri se-Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara bebas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perhitungan persentase jawaban responden dan pemberian rangking pada tiap sub variabel setelah data ditriangulasikan. Hasil analisis data dideskripsikan dan disimpulkan sehingga diperoleh informasi tentang tingkat keterlaksanaan KTSP dalam pembelajaran kimia kelas X oleh guru kimia SMA Negeri se-Kota Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan kegiatan pembelajaran kimia oleh guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kota Malang terkait bekal KTSP yang diperoleh dan kemampuan menyusun perangkat pembelajaran adalah terencana dengan persentase 73%. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran kimia oleh guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kota Malang terkait strategi pembelajaran yang digunakan, proses pembelajaran, dan sarana belajar yang digunakan adalah baik dengan persentase 75%. Penilaian hasil pembelajaran kimia yang dilakukan oleh guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kota Malang terkait pelaksanaan penilaian, jenis tagihan dan bentuk instrumen yang digunakan, penentuan ketuntasan belajar, pelaksanaan program remidi dan pengayaan, serta kegiatan evaluasi program adalah baik dengan persentase 75%. Dari beberapa hal tersebut dapat dikatakan bahwa keterlaksanaan KTSP oleh guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kota Malang ditinjau dari perencanaan kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran sudah baik.

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari ion logam Cu2+ dengan ligan isokuinolin dan ion kompleks [Co(SCN)6]4- / Nur Candra Eka Setiawan

 

Perilaku sosial-keagamaan pada masyarakat multi agama (studi kerukunan beragama pada masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar) / Ani Juwita

 

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer pada materi pokok struktur atom dan sistem periodik unsur untuk SMA kelas XI / Mohammad Syariful Muniry

 

Media pembelajaran yang relevan untuk pelajaran harus dapat membantu siswa untuk menjelaskan keabstrakan suatu konsep dan dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media berbantuan komputer dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa dalam pembelajaran terutama pembelajaran kimia. Salah satu materi kimia yang memiliki mengandung konsep-konsep yang bersifat abstrak dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi adalah struktur atom dan sistem periodik unsur. Oleh sebab itu, penelitian pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer yang interaktif, menarik dan mudah dipahami untuk materi struktur atom dan sistem periodik unsur. Media yang dikembangkan untuk membantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Pengembangan media pembelajaran struktur atom dan sistem periodik ini dilakukan mengikuti model rancangan Dick and Carrey dengan beberapa penyesuaian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, (6)mengembangkan media pembelajaran, (7)mendesain dan melaksanakan uji kelayakan, (8) merevisi hasil pengembangan (media pembelajaran), dan (9) produksi hasil pengembangan. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah angket/kuesioner. Validator penelitian ini terdiri dari seorang dosen kimia sebagai validator isi, dan lima orang guru SMA sebagai validator uji kelayakan. Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup. Pengumpulan data dilakukan setelah paket program komputer yang dibuat selesai disusun. Karena kelayakan hasil ditentukan dari hasil uji kelayakan. Hasil penelitian pengembangan ini adalah media pembelajaran struktur atom dan sistem periodik unsur dalam bentuk CD pembelajaran yang terdiri dari 3 tampilan, yakni: cover, petunjuk penggunaan, dan tampilan utama. Pada tampilan utama terdapat 4 tombol utama, yakni: tombol pendahuluan, tombol materi, tombol soal tes, dan tombol puzzle. Pada tombol materi terdapat materi yang dibahas, yakni teori atom, bilangan kuantum, bentuk orbital, dan konfigurasi elektron. Pada setiap materi tersebut terdapat soal latihan. Dari hasil uji kelayakan terhadap beberapa guru SMAN 1 dan SMAN 3 Pamekasan, media ini memiliki persentase kelayakan rata-rata sebesar 87,72% atau dengan kriteria layak sebagai sebuah media pembelajaran. Walaupun demikian, hasil validasi tersebut perlu dilanjutkan dengan uji coba media di kelas untuk mengetahui efektifitas media dalam meningkatkan pemahaman siswa.

Pengaruh DER, CR, ROA, ATO terhadap return saham di sekitar tanggal pengumuman laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang lisitng di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 / Bambang Sugih Artanto

 

Kinerja keuangan merupakan prestasi yang dicapai perusahaan dalam periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatannya. Salah satu cara mengukur kinerja keuangan perusahaan adalah dengan menggunakan analisis rasio. Alasan keterbatasan data maka mengakibatkan penelitian ini mengukur kinerja keuangan berdasarkan lima variabel yaitu DER, CR, ROA, ROE, ATO. Return Saham adalah hasil yang diperoleh dari investasi sekuritas saham yang terdiri dari dividend dan capital gain yang terjadi dari adanya perubahan harga saham. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kondisi kinerja keuangan, (2) kondisi return saham, (3) pengaruh DER terhadap return, (4) pengaruh CR terhadap return, (5) pengaruh ROA terhadap return, (6) pengaruh ROE terhadap return, (7) pengaruh ATO terhadap return, (8) pengaruh kinerja keuangan yang terdiri dari CAR DER, CR, ROA, ROE dan ATO secara simultan terhadap return saham perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2007. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Sumber data penelitian ini berupa dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan, (1) Kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia yang diukur dengan DER, CR, ROA, ROE dan ATO pada umumnya cenderung fluktuatif; (2) Return saham cenderung menurun; (3) DER tidak berpengaruh terhadap return; (4) CR tidak berpengaruh terhadap return; (5) ROA tidak berpengaruh terhadap return; (6) ROE berpengaruh terhadap return (7) ATO berpengaruh terhadap return; (8) Secara simultan DER, CR, ROA, ROE dan ATO berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada investor bahwa kinerja keuangan yang dianalisis dengan menggunakan DER, CR, ROA, ROE, ATO dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Perusahaan harus menjaga kinerja keuangan perusahaan agar return saham meningkat sehingga dapat meningkatkan nilai kekayaan perusahaan. Penelitian ini bisa dikembangkan untuk mengetahui pengaruh-pengaruh lain yang mempengaruhi return saham. Peneliti lanjut bisa menambahkan variabel-variabel di luar variabel penelitian ini.

Pembelajaran metakognitif dalam strategi kooperatif think-pair-share dan jigsaw serta pengaruhnya terhadap hasil belajar biologi siswa di SMA Negeri Kalimantan Tengah / Yula Miranda

 

Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, tahap I penelitian survei dan tahap II penelitian eksperimen. Penelitian survei untuk mengetahui gambaran persepsi guru tentang pembelajaran biologi, respons guru tentang penghambat keberhasil-an belajar biologi dan unjuk kerja siswa, konsep diri dan minat siswa tentang pelajaran biologi serta pemahaman siswa tentang materi biologi pada Kurikulum 2004. Penelitian eksperimen untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran (Jigsaw+M, TPS+M, Jigsaw, TPS, dan Konvensional) terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan kognitif, pengaruh kemampuan akademik siswa atas dan bawah terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan kognitif, dan pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran (Jigsaw+M, TPS+M, Jigsaw, TPS, dan konvensio-nal) dengan kemampuan akademik siswa atas dan bawah terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan kognitif. Metode penelitian tahap I ini untuk memperoleh data pemahaman siswa tentang biologi dengan instrumen berupa soal tes, dan untuk memperoleh data lainnya dengan angket dan dilengkapi pedoman wawancara. Populasi berjumlah 71 SMAN yang tersebar pada 14 Kabupaten dan 1 Kota Palangkaraya. Besar sam-pel yang diambil berjumlah 27 SMAN (38% dari 71 SMAN). Metode penelitian tahap II, dengan menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimen mengguna-kan Nonequivalent Control Group Design versi faktorial 5 X 2 dengan tiap-tiap faktor terdiri atas 2 taraf, yakni untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (stra-tegi pembelajaran) dan variabel bebas sekunder (kemampuan akademik) terhadap variabel terikat (kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kreatif, dan ke-mampuan kognitif). Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMA Negeri yang belajar biologi di Propinsi Kalimantan Tengah. Setiap kelas rata-rata memi-liki 30 siswa. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik Cluster Random Sam-pling. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMAN 1 Pahandut, SMAN 2 Pa-handut, SMAN 1 Jekan Raya, SMAN 2 Jekan Raya, dan SMAN 1 Bukit Batu Kota Palangkaraya Propinsi Kalimantan Tengah. Data penelitian tahap II dikumpulkan dengan inventori strategi metakog-nitif, tes kemampuan berpikir kreatif, dan tes kemampuan kognitif. Inventori stra-tegi metakognitif terdiri dari 60 butir pernyataan yang meliputi perencanaan diri, pemantauan diri, dan evaluasi diri siswa dalam belajar biologi yang dilengkapi dengan jurnal belajar, LKS, lembar kesadaran metakognitif, dan aktivitas meta-kognitif. Tes kemampuan berpikir kreatif terdiri dari 5 butir soal yang meliputi kelancaran, keluwesan atau kelenturan, keaslian, dan kerincian dalam materi bio-logi. Tes kemampuan kognitif terdiri dari 30 soal tes objektif dan 10 soal tes urai-an yang meliputi kemampuan mengingat, memahami, mengaplikasi, menguraikan, menyusun, dan mengevaluasi pada materi biologi. Perangkat pembelajaran yang disediakan dan dikembangkan dalam penelitian ini berupa silabus, RPP, LKS, materi pelajaran biologi, dan jurnal belajar. Hasil penelitian tahap I menunjukkan pemahaman siswa tentang biologi tertinggi berada di Kabupaten Lamandau. Persepsi dan respons guru bahwa perangkat pembelajaran sangat penting dipersiapkan untuk pelaksanaan pembela-jaran, penting memperhatikan teknik pelaksanaan pembelajaran di kelas, ranah kognitif, afektif, dan psikomotor serta tugas rumah penting diberikan kepada sis-wa, sedangkan sumber utama penghambat keberhasilan siswa belajar biologi ada-lah materi tertentu yang sulit bagi siswa dalam kurikulum, lemahnya monitoring kinerja guru dan umpan balik atas kinerja guru, dan komitmen guru tentang pem-baharuan pembelajaran di kelas, motivasi belajar siswa, antusias bertanya, dan mengemukakan pendapat masih rendah. Konsep diri dan unjuk kerja siswa ber-kemampuan akademik tinggi adalah baik sedangkan yang rendah kurang baik. Minat siswa tentang pelajaran biologi cukup baik. Kesimpulan, guru telah mem-persiapkan semua komponen pembelajaran, namun belum efektif dalam pem-belajaran sehingga pemahaman siswa tentang biologi tampak belum baik. Selain itu, kemampuan akademik siswa berperan penting pada hasil belajar siswa. Hasil penelitian Tahap II menunjukkan bahwa strategi pembelajaran TPS+M lebih berpotensi meningkatkan kemampuan metakognitif bila dibanding-kan strategi pembelajaran lainnya. Strategi pembelajaran Jigsaw lebih berpotensi meningkatkan kemampuan berpikir kreatif bila dibandingkan strategi pembela-jaran lainnya. Selanjutnya, diikuti Jigsaw+M, dan TPS+M bila dibandingkan stra-tegi pembelajaran TPS dan strategi pembelajaran Konvensional. Strategi pembela-jaran TPS+M lebih berpotensi meningkatkan kemampuan kognitif bila dibanding-kan strategi pembelajaran lainnya. Strategi pembelajaran TPS+M pada kemam-puan akademik bawah lebih berpotensi meningkatkan kemampuan metakognitif bila dibandingkan strategi pembelajaran lainnya. Strategi pembelajaran Jigsaw pada kemampuan akademik atas lebih berpotensi meningkatkan kemampuan ber-pikir kreatif bila dibandingkan strategi pembelajaran lainnya. Strategi pembela-jaran TPS+M pada kemampuan akademik atas lebih berpotensi meningkatkan kemampuan kognitif bila dibandingkan strategi pembelajaran lainnya. Perbedaan kemampuan akademik atas dengan kemampuan akademik bawah tidak memberi-kan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan metakognitif, tetapi perbeda-an kemampuan akademik atas dengan kemampuan akademik bawah berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan kognitif. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran (Jigsaw+M, TPS+M, Jigsaw, TPS, dan Konvensional) dan tingkat kemampuan akademik atas dengan kemampuan akademik bawah terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan kognitif. Kesimpulan strategi TPS+M efektif digunakan membelajarkan siswa di Kalimantan Tengah dalam meningkatkan kemampuan metakognitif dan kemampuan kognitif, bahkan kemampuan berpikir kreatif dibanding strategi lainnya.

Penerapan pembelajaran model siklus belajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas XI-IPA 2 SMA Negeri 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto / Widya Ristianti

 

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 5 Februari 2008, ditemukan adanya permasalahan di SMA Negeri 1 Kutorejo khususnya kelas XI-IPA 2 yaitu masih rendahnya kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi. Proses pembelajaran dikelas masih berpusat pada guru dan menggunakan metode ceramah. Upaya untuk mengatasi permasalaan tersebut, diterapkan pembelajaran berbasis konstruktivisme dengan model siklus belajar. Pembelajaran model siklus belajar ini melalui empat fase yaitu: eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, dan evaluasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa dengan menerapkan pembelajaran model siklus belajar di SMA Negeri 1 Kutorejo, Kab. Mojokerto. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus, 1 siklus terdiri dari 4 pertemuan. Setiap siklus PTK terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase ketercapaian kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I kemampuan berpikir pada tingkat C1-C3 persentasenya lebih besar yaitu 93,33 % dibandingkan persentase pada tingkat C4-C6 yaitu sebesar 6,67 %, sedangkan pada siklus II kemampuan berpikir pada tingkat C1-C3 menjadi 51,37 % dan mengalami peningkatan pada tingkat C4-C6 menjadi 48,6 %. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu rata-rata hasil ulangan harian sebelum tindakan sebesar 45,21, mengalami peningkatan pada siklus I rata-rata pretes 9, rata-rata postes 58,71, siswa yang tuntas belajar 21,42 % dengan daya serap klasikal 21,43 %, pada siklus II rata-rata pretes 52,09, rata-rata postes 79,02, ketuntasan belajar 97,60 % dengan daya serap klasikal sebesar 97,62 %. Kesimpulan pada penelitian ini adalah penerapan pembelajaran model siklus belajar dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas XI-IPA 2 SMA Negeri 1 Kutorejo, Kab. Mojokerto. Bagi peneliti selanjutnya bisa menggunakan model siklus belajar dengan memadukan model lain untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa.

Survei pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) sebagai pembinaan lingkungan sekolah sehat di SMP Negeri 4 Lumajang dan SMP Negeri 1 Sukodono Lumajang / Chairil Anwar

 

Upaya pembinaan anak usia sekolah yang berada di sekolah melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) telah dinyatakan dalam UU RI nomor 23 tahun 1992 yang menyatakan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan optimal menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas (Machfoedz, 2007:7). Akan tetapi kenyataannya banyak sekolah yang belum menerapkan program UKS. Meskipun ada, pelaksanaan programnya masih belum menyeluruh. Hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu proses belajar mengajar sehingga anak dalam belajar tidak merasa nyaman dan menarik. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Sebagai Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat di SMP Negeri 4 Lumajang dan SMP Negeri 1 Sukodono - Lumajang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah Kepala SMP Negeri 4 Lumajang dan Kepala SMP Negeri 1 Sukodono - Lumajang. Instrumen penelitian ini berupa pedoman wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pedoman wawancara dijabarkan menjadi 29 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa survei pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) sebagai pembinaan lingkungan sekolah sehat di SMP Negeri 4 Lumajang menurut Kepala Sekolah yang berkaitan dengan aspek lingkungan fisik dan non fisik mempunyai persentase sebesar 45%, Sedangkan survei pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) sebagai pembinaan lingkungan sekolah sehat di SMP Negeri 1 Sukodono - Lumajang menurut Kepala Sekolah yang berkaitan dengan aspek lingkungan fisik dan non fisik mempunyai persentase sebesar 95%. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa survei pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) sebagai pembinaan lingkungan sekolah sehat di SMP Negeri 4 Lumajang dari aspek lingkungan fisik maupun non fisik menurut Kepala Sekolah masuk kategori sangat kurang. Sedangkan survei pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) sebagai pembinaan lingkungan sekolah sehat di SMP Negeri 1 Sukodono – Lumajang dari aspek lingkungan fisik maupun non fisik menurut Kepala Sekolah masuk kategori sangat baik.

Pengaruh lingkungan kerja terhadap motivasi kerja pegawai pada PT. Taspen (Persero) Cabang Malang / Moch. Yusuf Prasetyo

 

Penerapan pengelolaan dana pendidikan dengan model manajemen berbasis sekolah (MBS) pada penyelenggaraan pendidikan (studi kasus di SMA Negeri 7 Malang) / Marlina Magdalena

 

Karakterisasi sifat kimia dan fisik empat klon ubi kayu (MLG 10260, MLG 10288, MLG 10298, MLG 10310) pada umur panen enam dan sepuluh bulan / Soning Dwi Listiowati

 

Di Indonesia, ubi kayu menempati urutan ketiga setelah padi dan jagung. Indonesia. Ubi kayu mempunyai manfaat yang sangat besar. Sebagai tanaman perdagangan, ubi kayu merupakan penghasil pati, gaplek, tepung ubi kayu, etanol, gula cair, sorbitol, monosodium glutamat, dan pellet. Sedangkan sebagai tanaman pangan ubi kayu merupakan sumber karbohidrat bagi sekitar 500 juta manusia di dunia. Di Indonesia, tanaman ini menempati urutan ketiga setelah padi dan jagung. Pati merupakan komponen utama ubi kayu yang komponen utamanya adalah amilosa dan amilopektin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat kimia dan fisik empat klon ubi kayu ( MLG-10.260, MLG-10.288, MLG-10.298, MLG-10.310 ) koleksi plasama nutfah BALITKABI Malang umur panen enam dan sepuluh bulan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Analisis Kimia Pangan BALITKABI (Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian) Kendalpayak Malang, yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 sampai dengan April 2008. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dilakukan pada dua umur panen (6 dan 10 bulan) dimana waktu sebagai seri. Perbedaan klon ubi kayu merupakan perlakuan yang terdiri atas empat klon yang diulang tiga kali. Karakterisasi meliputi sifat kimia (kadar air, kadar bahan kering, kadar HCN, Total Gula, kadar amilosa, kadar pati, kadar serat, kadar abu) dan sifat fisik (NPA, NKA, Swelling power, konsistensi gel, dan uji sensoris) Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan umur panen 6 dan 10 bulan berpengaruh nyata terhadap sifat kimia (kadar air, kadar abu, kadar gula total, kadar pati, kadar amilosa, kadar HCN, kadar serat) dan sifat fisik (Swelling Power, Nilai Penyerapan Air, Nilai Kelarutan Air) ubi kayu MLG 10260, 10288, 10298, 10310, sementara kriteria kadar umbi kering dan konsistensi gel tidak berpengaruh. Kadar pati tinggi umur 6 dan 10 bulan dimiliki oleh klon MLG 10298 (49,75;64,75% bk) dan gula total tertinggi umur 6 bulan dimiliki klon MLG 10288 (27,97% bk), 10 bulan oleh klon MLG 10298 (37,97% bk). Berdasarkan sifat sensoris umbi kukusnya (warna, tingkat kemekaran, tekstur dan rasa), diperoleh tiga klon yang cukup disukai yakni klon MLG-10288, 10298, dan 10310..Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang karakterisasi sifat kimia dan fisika ubi kayu untuk klon–klon ubi kayu koleksi plasma nutfah lainnya. Demikian pula karakterisasi sifat kimia dan fisika lainnya seperti ukuran granula pati, pola gelatinisasi, tingkat keputihan dan lain–lain.

Pengaruh faktor psikologis terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk rokok Dji Sam Soe (studi pada karyawan Tata Usaha Universitas Negeri Malang) / Cucuk Dian Afianto

 

Perkembangan pemasaran yang semakin mutakhir pada saat ini, menuntut setiap perusahaan untuk mendapatkan pelanggan yang sebanyak-banyaknya dan mempertahankan agar tidak beralih ke perusahaan lain. Dengan memberikan produk yang berkualitas bagus, kemasan menarik dan rasa yang khas akan membuat konsumen lebih memilih produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Serta dengan memberikan kepuasan dan pelayanan yang baik pada konsumen dapat menciptakan hubungan yang erat antara perusahaan dengan konsumen. Hubungan yang erat antara perusahaan dengan konsumen haruslah terjalin terus menerus agar sifat loyalitas konsumen dapat tercipta. Dalam memahami perilaku konsumen agar mau memutuskan pembeliannya pada suatu produk atau jasa, seorang pemasar harus terlebih dahulu mengerti atatu paham benar terhadap karakteristik konsumen mulai dari adanya rangsangan dari luar hingga munculnya keputusan pembelian oleh konsumen. Salah satu faktor yang menentukan agar konsumen mau memutuskan pembeliannya pada suatu produk atau jasa adalah faktor psikologis. Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama, yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif korelasional penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengaruh faktor psikologis terhadap keputusan pembelian oleh konsumen dalam membeli rokok Dji Sam Soe. Populasi dari penelitian ini adalah para Karyawan Tata Usaha Universitas Negeri Malang yang membeli rokok Dji Sam Soe baik secara eceran maupun perbungkus. Sampel menggunakan teknik perhitungan rumus Daniel and Terrel yang menggunakan infinite population, dan diperoleh sampel penelitian sebanyak 140 orang. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Untuk mewujudkan tujuan dari penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui faktor psikologis yang terdiri dari; motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), serta keyakinan dan sikap (X4). Sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah keputusan pembelian konsumen. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut (1) variabel motivasi yang diterapkan direspon sangat baik oleh konsumen, terbukti 52,8% responden menjawab setuju, Signifikansi t sebesar 0,009 < 0,05 sehingga variabel motivasi memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. (2) variabel persepsi yang diterapkan direspon sangat baik oleh konsumen, terbukti 85% responden menjawab sangat setuju, Signifikansi t sebesar 0,033 < 0,05 sehingga variabel persepsi memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. (3) variabel pembelajaran menjawab setuju, Signifikasi t sebesar 0,004 < 0,05 sehingga variabel pembelajaran memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. (4) variabel keyakinan dan sikap yang diterapkan direspon sangat baik oleh konsumen, terbukti 59,3% responden menjawab setuju, Signifikasi t sebesar 0,000 < 0,05 sehingga variabel keyakinan dan sikap memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Secara simultan faktor psikologis dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen diperoleh nilai hitung Fhitung sebesar 57,522 signifikansi F sebesar 0,000 dengan nilai Ftabel sebesar 3,47 sehingga dapat disimpulkan Fhitung > Ftabel. Maka dari itu Ha yang berbunyi “ada pengaruh yang signifikan antara variabel motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk rokok Dji Sam Soe” diterima. Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah sebagai berikut (1) bahwa variabel keyakinan dan sikap dari faktor psikologis terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk rokok Dji Sam Soe terletak pada sisi citarasa, aroma, dan bahan baku. Karena pada dasarnya yang membedakan atau kekhasannya produk rokok Dji Sam Soe terleta pada sisi citarasa, aroma, dan bahan baku. (2) PT. H.M. Sampoerna Tbk di dalam pentas bisnis rokok di Indonesia tergolong perusahaan yang sudah tua dan merupakan produsen rokok ternama tentunya sudah menguasai pangsa pasar rokok serta mempunyai konsumen yang telah loyal. Agar loyalitas konsumen tetap terwujud, maka PT. H.M. Sampoerna Tbk harus bisa mempertahankan tingkat kepercayaan konsumen terhadap produknya dan tetap mewujudkan kepuasan konsumen mereka dengan cara menyajikan suatu produk yang benar-benar sempurna atau tidak cacat produk. Karena biasanya di dalam satu bungkus rokok Dji Sam Soe terdapat sebatang rokok dengan rajangan tembakau yang masih kasar. Hal itu jika dibiarkan terus menerus akan berdampak terhadap citarasa rokok dan penurunan citra positif produk yang telah terbentuk

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas melalui kepuasan peserta kursus dalam menggunakan jasa pendidikan (studi pada CSN Brawijaya Malang) / Sutik Isnaini

 

Pengembangan modul pembelajaran kimia SMA/MA kelas XI semester 2 pada pokok bahasan larutan penyangga (buffer) dan hidrolisis garam model learning cycle 5-E sebagai penunjang KTSP / Muhtarotur Rofidah

 

Kajian tentang implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dalam kegiatan pembelajaran oleh guru kimia kelas X SMA Negeri se-kabupaten Malang / Siska Putri Rahayuningtyas

 

ABSTRAK Rahayuningtyas, Siska. 2008. Kajian Tentang Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam Kegiatan Pembelajaran oleh Guru Kimia Kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Suhadi Ibnu, M.Pd.,P.hD., (2) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: implementasi kurikulum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Pembelajaran kimia. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah merubah kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2004 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Untuk mengetahui apakah guru-guru kimia di SMA Negeri se-Kabupaten Malang telah mengimplementasikan KTSP, maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini terkait dengan tiga hal, yaitu: perencanaan kegiatan pembelajaran, pembelajaran, serta evaluasi yang sesuai dengan KTSP Subyek penelitian ini adalah guru bidang studi kimia kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara bebas. Analisa data dilakukan dengan menggunakan perhitungan persentase jawaban responden dan pemberian rangking pada tiap variabelnya. Analisis data dilakukan dengan mendiskripsikan dan disimpulkan sehingga di peroleh informasi tentang implementasi KTSP pada pembelajaran kimia oleh guru kimia di SMA Negeri Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat perencanaan kegiatan pembelajaran berdasarkan KTSP yang dilakukan guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Malang adalah 83% dengan kualifikasi sangat baik., tingkat pelaksanaan kegiatan pembelajaran berdasarkan KTSP yang dilakukan guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Malang adalah 74% dengan kualifikasi baik, tingkat evaluasi kegiatan pembelajaran berdasarkan KTSP yang dilakukan guru kimia kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Malang adalah 76% dengan kualifikasi baik.Hal ini dapat dikatakan bahwa implementasi KTSP oleh guru kimia kelas X di SMA Negeri se-Kabupaten Malang ditinjau dari perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasinya sudah baik.

Penentuan pH optimum impregnasi zeolit dengan ion nikel dan karakterisasi zeolit-Ni sebagai filter bakteri Escherichia coli / Choirul Anwar

 

Zeolit adalah mineral alam yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi dan memiliki struktur polikristalin yang membentuk pori dan kanal dengan ukuran yang berbeda-beda. Karakter ini dapat dimanfaatkan untuk menjebak zat-zat organik dan mikroorganisme seperti Escherichia coli. Kemampuan adsorpsi zeolit terhadap bakteri Escherichia coli juga akibat terjadinya interaksi elektrostatik antara zeolit dengan dinding sel Escherichia coli. Kemampuan adsorpsi zeolit dapat ditingkatkan dengan melakukan proses aktivasi dan impregnasi zeolit dengan ion logam. Proses aktivasi dan impregnasi didasarkan pada kation alkali atau alkali tanah yang terikat secara elektrostatik pada kerangka zeolit bersifat mobile dan dapat dipertukarkan dengan kation lain seperti ion nikel. Diduga perbedaan pH larutan dapat mempengaruhi proses impregnasi ion logam dalam kerangka zeolit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pH optimum proses impregnasi zeolit dengan ion nikel dan memperoleh zeolit-Ni yang memiliki kemampuan adsorpsi terhadap Eschericia coli lebih baik dari zeolit aktif. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Univeritas Negeri Malang. Sampel yang digunakan berasal dari desa Sumbermanjing Wetan, kabupaten Malang yang diambil secara acak. Sampel dalam bentuk bongkahan dihaluskan untuk mendapatkan butiran zeolit dengan ukuran 60–80 mesh. Zeolit selanjutnya direaksikan dengan larutan HF 1% dan HCl 6 M untuk meningkatkan kestabilan kerangka dan ukuran pori. Proses aktivasi dilakukan dengan mereaksikan zeolit dengan NH4NO3 1 M untuk mengubahnya menjadi zeolit-H, kemudian dilakukan impregnasi melalui perendaman dengan larutan NiCl2 pada pH 3, 5, 7, dan 9. Zeolit aktif dan zeolit hasil impregnasi dipanaskan pada suhu 750°C agar terbentuk situs asam Lewis. Kadar ion nikel dalam larutan sebelum dan setelah impregnasi ditentukan dengan AAS, sedangkan karakterisasi yang dilakukan meliputi keasaman padatan dan penentuan kemampuan adsorpsi zeolit terhadap Escherichia coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum yang diperlukan pada impregnasi zeolit dengan ion logam nikel(II) adalah pada pH 7 dengan ion nikel(II) yang terikat sebesar 67,95% sedangkan tingkat keasaman dan kemampuan mengadsorpsi Eschericia coli masing-masing zeolit-Ni yang dihasilkan adalah 2,583 mmol/g dan 21,65% untuk Z-Ni3; 2,105 mmol/g dan 6,53% untuk Z-Ni5; 3,757 mmol/g dan 67,95% untuk Z-Ni7; serta 3,508 mmol/g dan 58,30% untuk Z -Ni9.

Efektivitas penerapan model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMA Negeri 01 Batu / Nita Rimayanti

 

Perkembangan bentuk Dhadhak Merak dalam pertunjukan Reog tahun 1995-2005 di Kabupaten Ponorogo / Resti Buana Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Resti Buana. 2015. Perkembangan Bentuk Dhahak Merak Dalam Pertunjukan Reog Tahun 1995-2005 Di Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Dan Musik Jurusan Seni Dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Ninik Harini, M.Sn. (2) Hartono, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci: Perkembangan, Bentuk, Dhadhak Merak, Reog, Ponorogo Reog sebuah kesenian yang melegenda dengan cerita rakyatnya, karena di dalamnya terdapat simbol mististisme yang komplit. Perkembangan kesenian yang berkarakteristik ini tertuju pada iconnya yakni dhadhak merak. Dhadhak memiliki karekater yang kuat dalam pertunjukan reog Ponorogo, sehingga perkembangannya pun dapat disoroti. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dari permasalahan yaitu(1) Bagaimana perkembangan bentuk dhadhak merak dalam pertunjukan reog tahun 1995-2005 di kabupaten Ponorogo Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan di Kabupaten Ponorogo sebagai lokasi penelitiannya dengan tujuan utama adalah para pengrajin dhadhak merak yang ada di kecamatan Sukorejo, Balong dan Sawoo. Dengan narasumber utama adalah Nugroho selaku putra dari Warni pengrajin dhadhak merak tertua, untuk narasumber pendukung ada Misemun. Prosedur pengumpulan data pada skripsi ini dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis data menggunakan model Spradley dengan cara mencari domain dalam penelitian tersebut lalu diuraikan hingga mendapatkan informasi secara spesifik. Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber, teknik, waktu dan keaktifan peneliti dalam reog sejak usia dini. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui secara pasti perkembangan dhadhak merak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan dhadhak ini terjadi selama tiga fase. Pada tahun 1995-1998 ukuran dhadhak merak adalah tingga dan lebar rengkek adalah 1,85m menggunakan bulu merak asli India jumlahnya 900 helai, cohong yang digunakan burung merak asli yang diawetkan, untuk sirah reog sendiri atau barongan tingginya 50cm menggunakan kulit harimau asli dengan berat total dari dhadhak merak adalah 40kg. Untuk tahun 1999-2002 rengkek yang digunakan tinggi dan lebarnya 1,85m dengan bulu merak asli India, namun ada juga yang menggunakan bulu merak lokal jumlahnya 1100 helai, cohong asli, dan sirah reog atau barongan memiliki ukuran 60cm dengan kulit harimau asli berat total 50-60kg, pada tahun 2003-2005 rengkek memiliki ukuran 1,25-1,5m dengan bulu merak campuran India dan lokal dengan jumlah 1300-1500 helai, cohong asli dan buatan, untuk sirah reog memiliki tinggi 60-120cm berat total 70-75kg. Ini merupakan fase perkembangan dhadhak merak. Kesimpulan dari penelitian ini perkembangan dhadhak merak terfokuskan pada ukurannya yang mengalami perkembangan selama tahun 1995-2005.Saran dari peneliti agar kesenian reog semakin dikenal maka bagi peneliti yang lain dapat melakukan penelitian atau mengkaji dari beberapa aspek yang ada di kesenian reog.

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams-Achievement Division) untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN I Malang pada pokok bahasan pencemaran lingkungan / Aris Prilatama

 

Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan siswa dan guru bidang studi biologi kelas X-A MAN I MALANG, pada bulan Maret sampai April, diketahui bahwa keadaan pembelajaran yang dilakukan cenderung menoton, guru sering menggunakan metode ceramah atau merangkum. Selain itu, siswa cenderung pasif dalam belajar. Kemampuan akademik siswa tergolong rendah, dari 33 siswa yang ada hanya 51,52% yang tuntas belajar. Hal ini menunjukkan masih banyak siswa yang masih belum mencapai SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) yang ditentukan oleh sekolah. Selain itu, guru jarang menerapkan pembelajaran kooperatif dalam pengajaran di kelas, masih cenderung menggunakan metode ceramah. Penelitian ini menerapkan pembelajaran STAD yang tahapan pembelajarannya: 1) Penyajian kelas, 2) Belajar kelompok, 3) Tes atau kuis, 4) Skor peningkatan individu, dan 5) Penghargaan kelompok. Pada pembelajaran ini siswa diorganisasikan dalam bentuk kelompok kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas lima tahap, yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi tindakan. Penelitian ini dilakukan pada kelas X-A MAN I MALANG yang dilaksanakan pada tanggal 19 April sampai 9 Juni 2008. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah: lembar observasi aktivitas guru, lembar aktivitas siswa, angket respon siswa, soal tes, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I aktivitas belajar siswa 79,37% (B), sedangkan pada siklus II 89,52% (A). Penerapan pembelajaran STAD juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Skor awal rata-rata siswa sebesar 70,61, skor rata-rata siklus I sebesar 71,55, dan skor rata-rata siklus II 84. peningkatan prestasi ini juga dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa yang mencapai SKBM. Pada data awal siswa yang mencapai SKBM sebesar 51,52%, pada siklus I sebesar 76%, dan siklus II sebesar 90,91%.

Aplikasi metode problem solving untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa geografi di SMI Negeri I Paiton / Hendra Pratama

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 7 dan 14 Januari 2008 di kelas XI-IA3 SMA Negeri I Paiton diketahui bahwa di dalam kegiatan pembelajaran guru telah mengaplikasikan beberapa metode pembelajaran, misalnya teknik diskusi, tanya jawab, demonstrasi dan pemberian tugas di luar kelas, tetapi siswa masih terlihat kurang termotifasi, sehingga siswa menjadi kurang aktif di dalam kegiatan pembelajaran. Dari 48 orang siswa, yang dianggap aktif dalam kegiatan pembelajaran hanya ada 3 orang siswa, dan yang kurang aktif hanya 45 orang siswa. Bila ada pertanyaan dari guru hanya 3 orang siswa tersebut yang menjawab, sedangkan 45 orang siswa lainnya hanya diam, dan ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya kepada siswa jarang sekali ada pertanyaan dari siswa. Situasi ini terjadi karena siswa yang menjawab pertanyaan dianggap oleh siswa lainnya mencari perhatian. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Clasrom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan selama 2 jam pelajaran. Subyek penelitian yang digunakan adalah dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI-IA2 semester genap tahun ajaran 2006-2007 SMU Negeri I Paiton yang berjumlah 48 siswa, terdiri 23 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa diukur menggunakan deskriptor dimana semua kegiatan siswa dicatat, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih tes pada siklus I dengan tes pada siklus II. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa XI IA-2 SMU Negeri Paiton ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata presentase kerjasama siswa dan keberhasilan tindakan dari 53,84 (kurang) pada siklus I meningkat menjadi 79,95 (baik) pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata selisih skor pre-tes dan pos tes sebesar 18,14 pada siklus I meningkat menjadi 21,12 pada siklus II, sedangkan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 64,11% kemudian meningkat lagi menjadi 92,31% pada siklus II.

Efektivitas teknik successive approximation sebagai terapi fobia buah salak / Maulidina

 

Successive Approximation merupakan salah satu bentuk tekni terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi tingkat kecemasan pada individu yang fobia buah salak. Untuk mengetahui efektivitas dari successive approximation sebagai terapi fobia buah salak dilakukan dengan cara melihat dan mengamati tingkat kecemasan subjek terhadap buah salak. Penelitian bertujuan mengetahui seberapa efektif successive approximation sebagai terapi fobia buah salak, dan diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan bidang keilmuwan selanjutnya. Penelitian ini dilakukan di rumah kediaman Bapak Edy di Kelurahan Kemayoran Kecamatan Kota Bangkalan, tanggal 27 April sampai 18 Mei 2008. Rancangan penelitian eksperimental dengan pendekatan studi kasus, dengan nama desain pretest-posttest design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah successive approximation dan variabel terikat adalah fobia buah salak. Instrumen yang digunakan adalah wawancara, observasi dan terapi dengan menggunakan teknik berangsur (successive approximation). Analisis hasil penelitian adalah uji hipotesis data individual dan analisis data seluruh subjek. Uji hipotesis seluruh subjek menggunakan uji statistik non parametrik two related samples. Uji hipotesis efektivitas menunjukkan hasil nilai Z = -2,000, nilai p = 0,046 (p<0,05) yang mempunyai arti bahwa teknik successive approximation efektif sebagai terapi fobia buah salak. Pada analisis data individual menggunakan analisis uji t one sample test juga menunjukkan bahwa successive approximation efektif sebagai terapi fobia buah salak. Keberhasilan dari teknik successive approximation sebagai terapi fobia buah salak dipengaruhi oleh adanya kerjasama antara terapis dan subjek serta adanya semangat yang besar dari subjek untuk sembuh dari gangguan kecemasannya dan disiplinnya subjek dalam mengikuti jalannya proses terapi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pada peneliti selanjutnya untuk membuat tahapan-tahapan terapi yang sesuai dengan tingkat kecemasan subjek yang akan diterapi dan disarankan untuk tidak memaksa subjek dalam melaksanakan tahapan-tahapan terapi, berikan reward pada subjek ketika subjek berhasil untuk mendekati objek meskipun intensitasnya sedikit. Disamping itu, penelitian selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian lanjutan yang serupa dengan menggunakan metode eksperimental yang menggunakan pendekatan yang berbeda, sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani jeruk pamelo (citrus grandis) di Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan / Latifatul Fauzi

 

Jeruk pamelo sudah dibudidayakan ribuan petani di Kabupaten Magetan sejak tahun1975. Tanaman varietas lokal itu merupakan komoditas pertanian utama setelah tanaman padi. Tetapi usaha tani jeruk pamelo bukan berarti tidak terhalang kendala. Masalah yang dihadapi petani sampai sekarang terkait dengan serangan hama dan penyakit, kesadaran petani dalam bidang pengendalian hama yang belum merata, masih adanya petani yang menjual jeruk belum pada waktunya, jalur pemasaran yang masih dikuasai pengepul, sampai terbatasnya modal petani untuk optimalisasi usaha budidaya jeruk pamelo. Masalah-masalah tersebut secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi pendapatan petani jeruk pamelo di Kecamatan Bendo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan antara faktor luas lahan dengan pendapatan petani, (2) hubungan antara faktor kepadatan pohon dengan pendapatan petani, (3) hubungan antara faktor produktivitas tiap pohon dengan pendapatan petani, (4) hubungan antara faktor tingkat kerusakan tanaman dengan pendapatan petani, (5) hubungan antara faktor pemasaran dengan pendapatan petani, (6) hubungan antara faktor biaya produksi dengan pendapatan petani, (7) faktor dominan yang mempengaruhi pendapatan petani jeruk pamelo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, yang bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani. Populasi penelitian adalah petani yang mempunyai lahan pertanian yang digunakan untuk uasaha tani jeruk pamelo. Penentuan sampel dalam penelitian ini meliputi sampel daerah dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan sampel responden dengan menggunakan teknik Proporsional Sampling. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder dikumpulkan dengan teknik dokumentasi, sedangkan data primer dikumpulkan dengan teknik wawancara dan observasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Untuk mengetahui pengaruh bersama-sama keenam variabel bebas terhadap variabel terikat menggunakan uji F, sedang hubungan secara sendiri-sendiri menggunakan analisis korelasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) ada hubungan antara luas lahan dengan pendapatan petani. Semakin luas lahan pendapatan yang diterima semakin tinggi, (2) Ada hubungan antara kepadatan pohon dengan pendapatan petani. Semakin tinggi kepadatan pohon pendapatan yang diterima semakin rendah, (3)ada hubungan antara produktivitas tiap pohon dengan pendapatan petani. Semakin tinggi tingkat produktivitas buah tiap pohon pendapatan yang diterima semakin tinggi, (4) ada hubungan antara tingkat kerusakan tanaman dengan pendapatan petani. Semakin tinggi tingkat kerusakan tanaman pendapatan yang diterima semakin rendah, (5) ada hubungan antara harga pemasaran dengan pendapatan petani. Petani yang selain memasarkan melalui pengepul juga menjual langsung pada konsumen memperoleh pendapatan yang relatif tinggi, (6) ada hubungan antara biaya produksi dengan pendapatan petani. Semakin tinggi biaya produksi yang dikeluarkan mengindikasikan bahwa lahan yang dikelola luas sehingga pendapatan yang diterima semakin tinggi, (7) faktor yang memberikan pengaruh dominan adalah faktor luas lahan. Besarnya pengaruh yaitu sebesar 59,3%.

Kinerja pelatih pada kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMA se-kecamatan Ponorogo / Mohammad Feri Hardyanto

 

Sekolah merupakan salah satu lembaga yang dapat menciptakan seorang pemain bolabasket yang profesional. Oleh sebab itu usaha sekolah dalam pembinaan bakat siswa-siswi pada cabang olahraga bolabasket sangat diperlukan. Salah satu usaha yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan pembinaan olahraga bolabasket adalah diadakannya kegiatan ekstrakurikuler bolabasket. Dari pengamatan awal di SMA Negeri dan Swasta Se-Kecamatan Ponorogo, peneliti melihat banyak siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dalam melakukan gerakan teknik dasar bolabasket masih kurang baik, sehingga tidak bisa mencapai prestasi yang maksimal. Hal itu ditunjukkan dalam latihan banyak siswa-siswi melakukan passing banyak yang tidak tepat sasaran, tidak bisa melakukan lay up dengan benar, dan drible masih kaku, hal itu kemungkinan disebabkan oleh kurang maksimalnya kinerja pelatih dalam kegiatan ekstrakurikuler bolabasket. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pelatih pada kegiatan ekstrakurikuler bolabasket di SMA Se-Kecamatan Ponorogo, yang berkaitan dengann aspek sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan,(3) evaluasi, (4) kinerja pelatih secara keseluruhan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2008. Subyek penelitian ini adalah seluruh pelatih ekstrakurikuler bolabasket SMA Negeri dan Swasta Se-Kecamatan Ponorogo, yaitu: pelatih SMA Negeri 2 Ponorogo, Pelatih SMA Negeri 3 Ponorogo, Pelatih SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Pelatih SMA Bakti Ponorogo, Pelatih SMA Merdeka Ponorogo. Data diperoleh dari lembar observasi dan angket, lembar observasi yang diisi oleh observer dan angket yang diisi oleh siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bolabasket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja pelatih pada kegiatan ekstrakurikuler bolabasket di SMA Se-Kecamatan Ponorogo termasuk dalam klasifikasi kurang baik, yang dijelaskan sebagai berikut: merencanakan latihan rata-rata 27,50% yang berarti tidak baik, pelaksanaan latihan menurut observer rata-rata 56,67% termasuk dalam klasifikasi cukup baik dan menurut siswa 58,90% juga termasuk klasifikasi cukup baik, mengevaluasi latihan menurut observer rata-rata 54,16% termasuk dalam kategori kurang baik dan menurut siswa 55,74% termasuk juga dalam klasifikasi kurang baik, dengan rata-rata persentase (tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi) menurut observer sebesar 46,11% termasuk kurang baik dan menurut siswa 57,32% termasuk cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disarankan untuk memperoleh hasil yang lebih baik, diharapkan para pelatih lebih banyak membaca dan mengikuti penataran pelatih untuk meningkatkan kinerjanya dalam melatih kegiatan ekstrakurikuler bolabasket.

The teaching of English acceleration class at SMUN 3 Malang / Fransikus Jonet Prihandoko

 

ABSTRACT Jonet, Fransiskus. P, A.Md. 2008. “The Teaching of English in Acceleration Class at SMUN 3Malang” Thesis, Study Program of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: Dr. Arwiyati Wahyudi, Dip. TESL, M.Pd. Key words: teaching English, acceleration class. Developing language competence needs a long process. Therefore, it is interesting to investigate how English teachers can develop the students’ language competence in acceleration class, where students’ study time is shortened to 2 years. This study was intended to describe the teaching process of English in acceleration class at SMUN 3 Malang in terms of teaching materials and media and also teaching techniques. It was expected that the description of this study could be beneficial as a feedback for the teacher and school in developing the acceleration program. This study is a descriptive qualitative research. The subject was the English teachers of acceleration class of SMUN 3 Malang of 2007/2008 academic year. The main instrument in the study was the researcher, who was supported by some instruments, i.e.: observations and interviews. From the findings, it could be explained that the teacher used 3 different English books and others source materials such as English newspaper, pictures, posters, and some materials from the internet as the teaching materials. The teacher used some kinds of media in his teaching, such as: audio media, visual media, and audio-visual media. He used language lab for teaching listening program. For the teaching techniques, the teacher used some kinds of teaching techniques; they are lecturing, games, simulation, and discussion technique. Although he used some teaching techniques in teaching English process, the most teaching technique used by the teacher was discussion technique. It could be concluded that the selected materials and media and teaching techniques used by the teacher in acceleration class have some strengths and weaknesses. The strengths were on the use of selected materials and the complete facilities of media. The weaknesses were on the teaching preparation, the materials selected by the teacher. The materials cannot cover the development of all four language skills. The emphasis is only on the reading and writing skills. For teaching technique, in the acceleration class the teacher uses not only discussion technique, but also fixed group technique. The strength of those techniques is that the teacher used them to foster interaction between students whose skills, attitudes and interest differ, and allow them to use democratic leadership skills to lead the direction of their discussion and participation. The weakness is related to noise. Obviously, students speak all at once trying to accomplish their task, and this causes noise that may bother other colleagues. Based on the research findings, some suggestions were given for the school or principal and acceleration program development team; they have to make a specific qualification for the teachers who will teach the acceleration class or program. The qualifications of English teachers in acceleration class should be i different with the qualification of English teacher in regular class. They also have to conduct a better entrance selection system for acceleration class students. The criteria that must be passed are not only IQ test score, interview, and academic score, but also creativity test score. In addition to that, the school should be able to identify kinds of intelligence that the students they have to make a specific qualification for the teachers who will teach the acceleration class or program. The qualifications of English teachers in acceleration class should be different with the qualification of English teacher in regular class. For the betterment of teaching and learning process of English in acceleration class especially for the English teacher of acceleration class; he should work harder to increase the quality of the teaching learning process of English by planning the teaching activities well in advance, designing other source of teaching materials which can cover the development of four language skills, being creative in providing the teaching and learning activities which are suitable with the students’ characteristics, talents, interest, and preferences and he should be the facilitators and guides not to be the police officers whose stand behind the students’ back in order to correct everything they say or do. Further researchers are suggested conducting research about teaching and learning English in acceleration class with more specific focus, such as students’ evaluation or assessment, so that the students’ evaluation of English in acceleration can be described and analyzed more deeply.

Rancang bangun sistem akuisisi data suhu dan kelembaban berbasis mikrokontreoler atmega8 / Sirajuddin Abbas

 

ABSTRAK Abbas, Sirajuddin. 2015. Rancang Bangun Sistem Akuisisi Data Suhu dan Kelembaban Berbasis Mikrokontroler ATmega8. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Samsul Hidayat, S.Si., M.T., (II) Nugroho Adi P. S.Si., M.Sc. Kata Kunci: Atmega8, DHT11, LCD, suhu, kelembaban, akuisisi, assembly. Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk menunjang kinerja manusia di berbagai bidang. Salah satunya dalam bidang meteorologi, informasi tentang parameter cuaca seperti suhu dan kelembaban relatif pada daerah tertentu perlu diketahui secara cepat dan tepat. Misalnya pencatatan suhu dan kelembaban dari sebuah kota, gunung, atau pada daerah-daerah bencana, pasti akan lebih mudah jika dapat dicatat secara otomatis dan terus menerus dalam waktu tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan suatu alat yang dapat mengetahui parameter cuaca seperti suhu dan kelembaban relatif secara terus menerus dan otomatis. Dalam hal ini dapat menggunakan sistem akuisisi data dan data logger atau perekam data. Alat data logger ini dirancang menggunakan sensor DHT11 yang diolah mengunakan mikrokontroler ATmega8. Alat ini dirancang agar dapat digunakan untuk memantau perkembangan perubahan suhu cuaca. Alat ini menggunakan display LCD karakter 16x2 untuk menampilkan suhu dan kelembaban udara secara langsung. Pengujian pada “Rancang Bangun Sistem Akuisisi data suhu dan kelembaban berbasis mikrokontroler ATmega8” ini telah berhasil dibuat sesuai dengan spesifikasi produk yang diharapkan. Rentang suhu yang dapat diukur mulai 0oC hingga 50oC dengan ketelitian 1oC. Sedangkan kelembaban udara relatif yang dapat diukur mulai 20% RH hingga 90% RH. Alat ini dapat menampilkan nilai suhu dan kelembaban pada display LCD karakter 16x2 secara terus menerus setiap 3 detik sekali.

Penerapan metode simulasi pada konsep-konsep abstrak untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi di kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang / Venty Yuniar Nilasari

 

ABSTRAK Nilasari, Venty Yuniar. 2008. “Penerapan Metode Simulasi pada Konsep-konsep Abstrak untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi di Kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang”. Skripsi, Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (I) Drs. Sarwono, M.Pd., (II) Balqis, S.Pd., M.Si. Kata kunci: Simulasi, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Permasalahan yang ditemukan pada SMAN 10 Malang adalah kesulitan memahami konsep-konsep abstrak yang tidak dapat teramati secara langsung, misalnya metabolisme intrasel, genetika dan sistem-sistem dalam tubuh. Pokok bahasan tersebut tidak dapat dipraktikumkan, tetapi masih bisa divisualisasikan dengan melihat tayangan video dan torso. Metode yang paling sering digunakan adalah diskusi presentasi. Metode ini membawa suasana kelas menjadi jenuh dan menjemukan. Aktivitas belajar siswa menjadi pasif. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagian besar tidak terkait dengan pengalaman belajar langsung melalui kejadian sehari-hari (tidak kontekstual). Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam biologi adalah simulasi. Simulasi adalah permainan atau adegan yang disajikan kepada siswa untuk menunjukkan atau menggambarkan suatu kejadian atau proses alam, khususnya yang terjadi ditubuh makhluk hidup atau yang melibatkan makhluk hidup. Metode simulasi dengan kegiatan bermain peran ini bertujuan untuk memberikan pemahaman konsep yang lebih mudah kepada siswa untuk belajar proses yang abstrak. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan 3 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 semester I dan II Tahun Ajaran 2007/2008. Sumber data penelitian adalah lembar observasi aktivitas belajar siswa untuk menilai ranah psikomotor, observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru, catatan lapangan, hasil pretes-postes untuk menilai ranah kognitif, dan hasil wawancara serta angket untuk menilai ranah afektif. Analisis data penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan mengkaji semua data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) metode simulasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Peningkatan persentase aktivitas belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 dan dari siklus 2 ke siklus 3 meliputi aspek kerja ilmiah (30.82% menjadi 45.42% dan menjadi 64.43%) , pemahaman konsep (43.12% menjadi 63.75% dan menjadi 81.66%), motivasi belajar (54.48% menjadi 77.5% dan menjadi 87.41%) dan kerjasama siswa (51.67% menjadi 78.32% dan menjadi 82.22%); 2) metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata skor tes siswa pada siklus 1 dari 48.83 menjadi 82.64 dan pada siklus 2 dari 67.28 menjadi 68.55 serta pada siklus 3 dari 71.94 menjadi 76.65. Selain itu juga terjadi peningkatan pada daya serap klasikal, sebesar 2.27% dari siklus 1 sampai dengan silkus 3. Penelitian ini perlu diterapkan pada pokok bahasan lainnya agar dapat diketahui efektivitas dan efisiensinya dalam pembelajaran. Diharapkan penelitian selanjutnya juga dapat diterapkan pada sekolah lain sehingga aktivitas dan hasil belajar di sekolah tersebut juga dapat meningkat. Perlu pengelolaan waktu yang ilebih baik agar rencana yang telah dirancang dapat dijalankan secara ideal sehingga hasil penelitian yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal.

Penerapan model pembelajaran learning cycle dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen / Sitti Sulfa'diah

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model cooperative script untuk meningkatkan interaksi dan motivasi belajar akuntansi pada siswa kelas XI IS-1 SMA Negeri 1 Gondangwetan Pasuruan / Retno Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, Retno. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Cooperative Script untuk Meningkatkan Interaksi dan Motivasi Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas XI IS -1 SMA Negeri 1 Gondangwetan Pasuruan. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing (1) Dr. Bambang Sugeng, M. A., M. M., Ak (II) Yuli Widi Astuti, SE,. M. Si., Ak Kata Kunci : Kooperatif, Cooperative Script, Interaksi, Motivasi Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi dan motivasi belajar siswa kelas XI-IS 1 SMA Negeri 1 Gondangwetan Pasuruan melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Cooperative Script. Berdasarkan observasi awal pada kelas yang diteliti, dapat diketahui bahwa pembelajaran akuntansi di SMA Negeri 1 Gondangwetan Pasuruan secara umum masih mengacu pada model pembelajaran dimana guru menerangkan sementara siswa mendengarkan kemudian mengerjakan latihan soal dan mengumpulkannya. Dalam hal ini, interaksi dan motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran kurang maksimal karena kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru yang menjadi sumber informasi utama. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IS-1 SMA Negeri 1 Gondangwetan Pasuruan semester genap tahun ajaran 2007/2008 pada materi jurnal khusus dan jurnal umum perusahaan dagang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 15 April sampai 14 Mei 2008 dengan menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi kegiatan guru, lembar observasi interaksi siswa, angket motivasi siswa, serta wawancara dan catatan lapangan sebagai data pendukung penelitian. Analisis hasil penelitian dideskripsikan dengan menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Cooperative Script pada siswa kelas XI IS-1 SMA Negeri 1 Gondangwetan Pasuruan terbukti telah mampu menyelesaikan masalah lemahnya interaksi dan kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran akuntansi. Peningkatan Interaksi terjadi antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru. Siswa lebih mampu berperan aktif dan bekerja sama dalam kegiatan belajar kelompok, lebih mampu mentransfer pengetahuan kepada pasangannya, dan lebih berani mengemukakan pendapat maupun mengajukan pertanyaan pada saat diskusi yang melibatkan seluruh kelas. Peningkatan interaksi belajar siswa juga terlihat dari meningkatnya rata-rata persentase skor interaksi siswa pada siklus I dan siklus II. Penerapan pembelajaran Cooperative Script juga meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran akuntansi. Siswa terdorong dan berusaha untuk lebih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran akuntansi. Selain itu, Peningkatan motivasi belajar siswa juga terlihat dengan meningkatnya persentase skor angket motivasi belajar siswa secara umum dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru harus lebih memperhatikan aspek pengelolaan waktu dan memantau kegiatan siswa terutama pada saat siswa berpasangan karena beberapa siswa suka memanfaatkan kegiatan ini untuk mengobrol sendiri di luar topik yang dipelajari. i  

Penerapan pembelajaran melalui media VCD (interaktif) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di SMPN 4 Malang kelas VII. F semester genap / Nur Ratna Wulan

 

ABSTRAK Wulan, Nur Ratna. 2008. Penerapan Media VCD (interaktif) untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Sejarah di SMPN 4 Malang Kelas VII F Semester Genap. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Ed (II) Dr. Hj Mardiah Moenir, M.Pd Kata kunci : penerapan media VCD (interaktif), motivasi belajar, prestasi belajar Pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa apabila guru mengahadirkan situasi yang baru ke dalam kelas dan mengajak siswa menyaksikan VCD (interaktif) untuk mendukung siswa di dalam belajarnya. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada prestasi belajar. Prestasi belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa untuk berpikir kritis, melaksanakan observasi dan menarik kesimpulan. Agar siswa dapat belajar lebih efektif maka hendaknya diterapkan pembelajaran dengan media VCD (interaktif). Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran sejarah dengan menerapkan media VCD (interaktif). (2) Untuk mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran sejarah dengan menerapkan media VCD (interaktif). Untuk mencapai maksud tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII F SMPN 4 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah tes prestasi belajar siswa, angket dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriprif kualitatif dengan teknik persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penerapan VCD (interaktif) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari perolehan jumlah siswa yang menjawab sangat setuju dan setuju penerapan VCD (interaktif) mampu meningkatkan motivasi belajar jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan yang menjawab ragu-ragu, kurang setuju dan sangat tidak setuju, (2) penerapan VCD (interaktif) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII F dalam mata pelajaran Sejarah. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan rata-rata skor siswa dari hasil tes pada masing-masing tahap, yaitu pada rata-rata skor tes awal 62,70 meningkat menjadi 75,41 pada siklus I, sedangkan pada siklus II rata-rata skor sudah dapat mengalami peningkatan sebesar 13,78 yaitu dari rata-rata skor 75,41 menjadi 89,19. Jadi peningkatan rata-rata skor hasil belajar dari tes awal sampai siklus II adalah sebesar 26,49 dan (3) penerapan VCD (interaktif) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mata pelajaran Sejarah. Hal ini terbukti dari kemampuan guru memvariasikan metode dalam pembelajaran dan meningkatnya kemampuan guru dalam memilih bahan dan media pembelajaran. Dari berbagai temuan dalam penelitian ini, disampaikan beberapa saran: (1) Agar motivasi belajar siswa dapat meningkat terus hendaknya penerapan VCD (interaktif) tidak hanya diterapkan pada mata pelajaran Sejarah tapi juga dapat diterapkan pada mata pelajaran yang lain, (2) Agar hasil belajar siswa dapat meningkat terus hendaknya penerapan VCD (interaktif) tidak hanya diterapkan pada mata pelajaran Sejarah tetapi juga dapat diterapkan pada mata pelajaran yang lain. (3) Agar kemampuan guru dapat meningkat terus hendaknya guru yang belum menerapkan VCD (interaktif) dapat berdiskusi dengan guru yang telah menerapkan VCD (interaktif) agar semua guru mampu menerapkan VCD (interaktif) dalam pembelajarannya.

Penerapan pendekatan pembelajaran tematik model webbed (jaring laba-laba) dalam meningkatkan pemahasam konsep dan motivasi belajar siswa kelas I SDN Karangbesuki I Malang / Feni Erla Juana

 

Peningkatan kemampuan siswa memecahkan masalah melalui penerapan model pembelajaran problem based learning pada mata pelajaran IPS di kelas IVA SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen Kota Malang / Yusnia Kartika Asri

 

Perbedaan suhu dan kelembaban relatif yang dihasilkan pada evaporator antara yang menggunakan zat pendingin CFC R-12 dan non CFC MC-12 / Diah Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Diah. 2008. Perbedaan Suhu dan Kelembaban Relatif Yang Dihasilkan Pada Evaporator Antara Yang Menggunakan Zat Pendingin CFC R-12 dan Non CFC MC-12 . Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Mesin keahlian Produksi FakultasTeknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing. (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd (II) Retno Wulandari, S.T., M.T. Kata kunci: zat pendingin, suhu, kelembaban relatif Semakin menipisnya lapisan ozon adalah salah satu dampak negatif dari penggunaan zat pendingin (refrigerant) yang tidak ramah lingkungan. Selain itu juga akan mengakibatkan pemanasan global atau GWP (Global Warming Potential). Zat pendingin hidrokarbon telah dipersiapkan sebagai zat pendingin alternatif untuk menggantikan zat pendingin yang tidak ramah lingkungan. Untuk mengetahui perbedaan jumlah suhu dan kelembaban relatif yang dihasilkan pada evaporator dari penggunaan zat pendingin yang tidak ramah lingkungan dengan zat pendingin hidrokarbon dilakukan penelitian eksperimental dari kedua zat pendingin tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan suhu dan kelembaban relatif yang dihasilkan pada evaporator yang dihasilkan oleh penggunaan zat pendingin CFC R-12 dan Non CFC MC-12 pada tekanan 15 bar dan putaran 1200 rpm. Dengan demikian konsumen mengetahui perbandingan dari pemakaian zat pendingin tersebut dan diharapkan penggunaan zat pendingin yang tidak ramah terhadap lingkungan berkurang bahkan tidak ada. Zat pendingin yang digunakan dalam penelitian ini adalah CFC R-12 dan Non CFC MC-12. Penelitian ini dilakukan di laboratorium jurusan Teknik Mesin (Otomotif) Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan metode parametrik dan analisis yang dipakai adalah Uji-t untuk membandingkan penggunaan zat pendingin CFC R-12 dan Non CFC MC-12 terhadap suhu dan kelembaban relatif yang dihasilkan pada evaporator dalam sistem refrigerasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan yang sama yaitu tekanan 15 bar dan putaran motor 1200 rpm terdapat perbedaan suhu yang dihasilkan pada evaporator dari penggunaan zat pendingin CFC R-12 dan Non CFC MC-12. Suhu yang dihasilkan dari penggunaan zat pendingin CFC R-12 lebih rendah dari suhu yang dihasilkan oleh penggunaan zat pendingin Non CFC MC-12. Sedangkan kelembaban relatif yang dihasilkan dari penggunaan zat pendingin CFC R-12 dan Non CFC MC-12 adalah sama, berarti bahwa tidak ada perbedaan kelembaban relatif yang dihasilkan evaporator dari penggunaan zat pendingin CFC R-12 dan Non CFC MC-12. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar konsumen beralih ke zat pendingin yang ramah terhadap lingkungan yaitu zat pendingin hidrokarbon. Selain itu diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada topik yang berhubungan dengan penelitian ini.

Penerapan model STAD berbasis kontekstual untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas VII-E SMP Negeri 4 Malang / Novi Yunita

 

ABSTRAK Yunita, Novi. 2008. Penerapan Model STAD Berbasis Kontekstual untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VII-E SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Dwi Haryoto, M. Pd (2) Drs. Sutrisno, M.T. Kata kunci: model STAD, kontekstual, motivasi belajar, hasil belajar. Hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VII-E SMP Negeri 4 Malang, menunjukkan bahwa pembelajaran fisika masih sering menggunakan metode ceramah dan jarang sekali guru melakukan praktikum maupun diskusi kelompok. Di sisi lain motivasi dan hasil belajar siswa rendah, hal ini terlihat pada saat guru menjelaskan materi pelajaran sebagian besar siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, siswa terlihat kurang aktif dalam hal bertanya maupun menjawab materi pelajaran, dan nilai rata-rata ulangan harian siswa masih di bawah SKM yang ditentukan oleh SMP Negeri 4 Malang. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila sebagian besar siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, dan kelas dikatakan tuntas belajar bila 85% siswanya tuntas belajar. Motivasi belajar merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII-E SMP Negeri 4 Malang dengan penerapan model STAD berbasis kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Setiap siklus dilaksanakan dengan tindakan berupa penerapan model STAD berbasis kontekstual. Tahapan pelaksanaan penelitian ini dimulai dari observasi awal. Setelah dilakukan refleksi, maka disusunlah rencana tindakan yang disusul dengan pelaksanaan rencana tindakan, observasi dan refleksi. Demikian gambaran tahapan pelaksanaan penelitian yang dilakukan sampai dengan siklus ketiga. Hasil belajar siswa untuk aspek kognitif diukur dengan menggunakan tes yang berbentuk uraian, tes ini dilaksanakan setiap akhir siklus. Sedangkan motivasi belajar, kemampuan aspek afektif dan kemampuan aspek psikomotorik siswa diukur dengan menggunakan instrumen berupa lembar observasi. Peneliti juga melihat perubahan motivasi belajar siswa dari angket yang diberikan pada awal dan akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran fisika dengan model STAD berbasis kontekstual secara keseluruhan dapat meningkatkan motivasi belajar fisika siswa kelas VII-E SMP Negeri 4 Malang. Hal ini didukung pula oleh hasil analisis angket motivasi belajar yang mengalami peningkatan dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan. Hasil analisis terhadap hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan setelah tiga siklus pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dengan semakin meningkatnya nilai aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik yang diamati dalam proses pembelajaran pada setiap siklusnya yang berdampak positif terhadap ketuntasan hasil belajar fisika siswa.

Penerapan model role playing dalam meningkatkan proses dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X5 SMA Negeri 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008 / Idha Agustina

 

Proses pembelajaran di sekolah seringkali membuat kita kecewa, apalagi bila dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi ajar. Kenyataannya memang banyak siswa yang hafal terhadap materi yang diterimanya tetapi banyak juga siswa yang tidak mengerti secara mendalam pengetahuan yang bersifat hafalan tersebut. Seharusnya secara kualitatif fakta-fakta itu saling berkaitan dan siswa dapat menggunakan kemampuan tersebut dalam situasi sehari-hari. Namun banyak juga siswa yang tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan digunakan. Salah satu alternatif metode mengajar yang memungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran adalah metode role playing. Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Metode ini juga efektif untuk mengarahkan peserta didik pada pemecahan masalah-masalah yang menyangkut hubungan antar manusia. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh sejumlah peran tertentu yang ada di masyarakat sebagai bahan untuk mengidentifikasi kompetensi yang perlu dikembangkan dan dimiliki oleh peserta didik. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah penerapan metode role playing dapat meningkatkan proses belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008. (2) Apakah penerapan metode role playing dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008. (3) Bagaimanakah respon siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008 pada mata pelajaran ekonomi setelah diterapkan metode role playing. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan metode role playing dalam upaya meningkatkan proses belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008. (2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan metode role playing dalam upaya meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMAN 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008. (3) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan respon siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008 pada mata pelajaran ekonomi setelah diterapkan metode role playing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode role playing dapat meningkatkan proses dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang semester genap tahun ajaran 2007-2008. Disamping itu siswa kelas X telah menunjukkan respon positif terhadap penerapan metode role playing pada mata pelajaran ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan pada masing-masing aspek yaitu untuk proses belajar telah mengalami peningkatan sebesar 8, 67 % (80, 66 % - 71, 99 %) untuk kegiatan guru dan 11, 33 % (75.66 % - 64, 33 %) untuk kegiatan siswa. Sedangkan untuk hasil belajar ekonomi siswa yang meliputi hasil belajar kognitif telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 7,72 %, sedangkan pada hasil belajar afektif siswa sebesar 6,86 % dan pada hasil belajar aspek psikomotorik siswa sebesar 10,71 %. Respon siswa terhadap penerapan metode role playing juga sangat baik, yang diperoleh berdasarkan analisis hasil angket olahan peneliti. Sebagian besar siswa setuju dengan pembelajaran ini. Oleh karena itu berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode role playing dapat meningkatkan proses dan hasil belajar ekonomi siswa serta respon siswa dalam mengikuti pembelajaran ekonomi di kelas X SMA Negeri 9 Malang. Sebagai tindak lanjut disarankan bagi guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 9 Malang bahwa metode role playing dapat dijadikan sebagai alternatif atau pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas lain dan bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian tentang metode role playing pada mata pelajaran yang sesuai di tempat yang berbeda. Peneliti juga dapat mengembangkan lebih lanjut rancangan penelitian (peneliti dapat melakukan tindakan lebih dari dua siklus) agar memperoleh hasil yang lebih akurat dalam mengambil keputusan

Persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Lumajang tahun ajaran 2007/2008 / Yulia Dwi Rahmawati

 

Profil buku teks pelajaran sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira / Jayanti Herawati

 

Akhir tahun 2007, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah selesai menilai dan menentukan buku teks sejarah untuk SMA/MA yang telah memenuhi kelayakan materi, penyajian, kebahasaan dan kegrafikan untuk selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 48 Tahun 2007, sedangkan berdasarkan aturan tentang buku teks yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 11 Tahun 2005, guru diwajibkan menggunakan buku teks yang telah ditetapkan oleh BSNP. Padahal untuk menentukan dan memilih buku teks sejarah yang akan digunakan tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada beberapa persyaratan maupun pertimbangan. Terlebih jika masa pakai minimal buku teks adalah lima tahun. Demikianlah diperlukan kajian analisis isi tentang perbandingan buku teks sejarah dalam hal ini buku teks sejarah SMA kelas X. Pemilihan buku teks pada jenjang SMA karena pada jenjang ini, kurikulum sejarah sudah berdiri sendiri, bukan bagian terintegral dengan bidang studi IPS, adapun pemilihan kelas X karena hanya pada kelas inilah, belum terjadi penjurusan siswa ke dalam jurusan IPA, IPS atau Bahasa. Pemilihan buku teks yang akan dikaji adalah buku teks sejarah terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira. Alasan pemilihan terhadap kedua buku tersebut karena kedua buku tersebut sama-sama dilarang beredar pada Maret 2007 dan sama-sama telah dinyatakan lolos kelayakan oleh BSNP pada Desember 2007. Kedua buku ini juga banyak digunakan di sekolah-sekolah mengingat keduanya merupakan buku terbitan dari penerbit yang notabenenya memiliki pasaran yang luas dan distribusi yang baik. Terdapat empat rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen materi? 2) Bagaimana profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen penyajian? 3) Bagaimana profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen kebahasaan? dan 4) Bagaimana profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen kegrafikan? Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) Mengetahui profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen materi, 2) Mengetahui profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen penyajian, 3) Mengetahui profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen kebahasaan dan 4) Mengetahui profil buku teks pelajaran sejarah SMA Kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Yudhistira dari segi komponen kegrafikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analisis isi. Peneliti merupakan instrumen dalam penelitian yaitu sebagai pengamat penuh. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi. Metode dokumentasi dilaksanakan dengan dengan membuat pedoman penilaian dan chek list yang dibuat sesuai dengan standar BSNP tahun 2006. Sumber data penelitian ini adalah sumber data tertulis berupa kedua buku teks pelajaran sejarah yang dikaji. Pengolahan datanya menggunakan analisis persentase dengan menggunakan prosedur statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga telah memenuhi kriteria baik untuk digunakan, sedangkan buku teks pelajaran sejarah terbitan Yudhistira telah memenuhi kriteria cukup baik untuk digunakan. Secara umum, buku teks sejarah terbitan Erlangga lebih baik daripada terbitan Yudhistira dengan rincian: 1) Persentase komponen materi buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga sebesar 87,50%% dengan kategori baik, sedangkan persentase komponen materi buku teks pelajaran sejarah terbitan Yudhistira sebesar 88,88%, juga dengan kategori baik. Jadi kedua buku termasuk dalam kategori baik terkait komponen materi, namun buku teks pelajaran sejarah terbitan Yudhistira lebih baik daripada terbitan Erlangga. 2) Persentase komponen penyajian buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga sebesar 77,38% dengan kategori cukup, sedangkan persentase komponen penyajian buku teks pelajaran sejarah terbitan Yudhistira sebesar 73,80%, juga dengan kategori cukup. Jadi kedua buku termasuk dalam kategori cukup dalam hal penyajian, namun buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga lebih baik daripada terbitan Yudhistira. 3) Persentase komponen kebahasaan buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga sebesar 88,33% dengan kategori baik, sedangkan persentase komponen kebahasaan buku teks pelajaran sejarah terbitan Yudhistira sebesar 81,66%, dengan kategori cukup. Jadi dalam hal kebahasaan, buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga lebih baik daripada terbitan Yudhistira. 4) Persentase komponen kegrafikan buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga sebesar 87,87% dengan kategori baik, sedangkan persentase komponen kegrafikan buku teks pelajaran sejarah terbitan Yudhistira sebesar 80%, dengan kategori cukup. Jadi dalam hal komponen kegrafikan, buku teks pelajaran sejarah terbitan Erlangga lebih baik daripada terbitan Yudhistira. Akan lebih baik jika siswa terlebih guru, menggunakan buku teks sejarah lebih dari satu penerbit. Variasi penggunaan buku teks sejarah tentu akan saling melengkapi satu sama lain, namun bila kondisi tidak memungkinkan untuk itu, maka disarankan untuk menggunakan buku teks sejarah yang telah mencapai nilai persentase lebih unggul berdasarkan temuan hasil penelitian yang telah diperoleh. Penelitian lain yang masih terbuka untuk diteliti adalah penelitian tentang buku teks sejarah pada jenjang pendidikan lainnya atau pada jenjang pendidikan yang sama namun mengkaji lebih luas lagi yaitu mengkaji hingga aspek ekstrinsik buku.

Pemanfaatan laboratorium komputer sebagai sumber belajar dalam pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas 1 di SMA Negeri 1 Lawang (semester 2 tahun 2007/2008) / Fatimah

 

Pengembangan peta tematik data penduduk dengan menggunakan media komputer di wilayah Kota Batu tahun 2005 / Rizalul Fikri

 

ABSTRAK Fikri, Rizalul. Pengembangan Peta Tematik Data Penduduk Dengan Menggunakan Media Komputer di Wilayah Kota Batu Tahun 2005. Skripsi. Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Agus Suryantoro, M Si, (II) Drs. Rudi Hartono, M. Si. Kata Kunci : Pengembangan, Peta Tematik, Penduduk, Komputer. Selama ini keberadaan data penduduk yang meliputi jumlah penduduk, mata pencaharian, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan umur di Kota Batu pada umumnya masih berupa data tertulis (arsip) berupa lembaran-lembaran terpisah yang kurang informative, sehingga sampai masih menyulitkan untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai data penduduk khususnya di Kota Batu. Tujuan pengembangan dalam penelitian ini adalah, membuat spesifikasi produk peta tematik data penduduk dengan menggunakan media komputer yang berisi data-data penduduk yang efektif dan informatif dalam suatu kemasan yang menarik, dengan menyisipkan beberapa tampilan animasi penjelas obyek yang membuat peta tersebut menjadi sangat mudah dibaca di wilayah Kota Batu tahun 2005”.Selain itu aspek penting lain dalam pengembangan adalah seperti kwalitas, daya tahan, dan gambar yang menarik. Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan peta tematik data penduduk dengan menggunakan media komputer. Pengembangan peta tematik data penduduk meliputi beberapa tahap, yaitu (1) tahap identifikasi kebutuhan; (2) tahap penggabungan. (3) tahap spesifikasi produk (4) tahap pengembangan (5) tahap prototipe (6) tahap validasi kelompok kecil (7) tahap revisi (8) tahap produk. Uji coba dilakukan dengan subyek ahli media, ahli materi dan audiens. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa peta tematik data penduduk menurut ahli media dinyatakan ± 75%, ahli materi ± 80% dan audien ± 87% data hasil validasi menunjukkan produk pengembangan dinyatakan cukup valid. Berdasarkan hasil pengembangan tersebut, disarankan (1) validasi sebaik-nya dilakukan lebih dari satu kali (2) produk peta tematik penduduk ini masih banyak kekurangan, maka disarankan ada penelitian yang mengembangkan produk akhir dari penelitian ini.

Penerapan pembelajaran metode diskusi untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-F SMP Negeri 1 Malang / Bingar Istu W.R.

 

Sintesis bahan ferroelektrik BaTiO3 dengan variasi suhu sintering dan karakterisasi sifat histerisisnya / M. Said Ibrahim

 

ABSTRAK Ibrahim, Said, M. 2008.”Sintesis Bahan Keramik Ferroelektrik BaTiO3 dengan Variasi Suhu Sintering dan Karakterisasi Sifat Histerisisnya” Skripsi Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Drs. Abdullah Fuad, M.Si, (II) Dr. Markus Diantoro, M.Si. Kata Kunci: Sintesis, Karakterisasi Keramik merupakan salah satu bahan yang terbentuk dari pencampuran senyawa logam dan nonlogam. Penggabungan tersebut mengakibatkan terjadinya ikatan ionik dan ikatan kovalen. Ikatan ionik itu menyebabkan bahan keramik mempunyai stabilitas yang relatif tinggi. Salah satu bahan keramik ferroelektrik adalah BaTiO3 dengan struktur kristal perovskit, suhu Curie 120 oC mempunyai konstanta dieletrik yang cukup tinggi. Bahan ini mempunyai sifat histerisis dan berada dalam golongan Positive Temperature Coeficient of Resistivity ( PTCR ) yang dapat dimanfaatkan sebagai control pemanas suhu dan generator arus transient. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat histerisis yang dimiliki bahan keramik ferroelektrik BaTiO3 serta menentukan harga polarisasi remenen (Pr) dan medan listrik koersif (Ec) berdasarkan variasi suhu sintering. Sintesis pertama kali dilakukan dengan menimbang bahan BaCO3 dan TiO2 sebagai senyawa pembentuk BaTiO3 kemudian dilakukan pencampuran masing-masing senyawa selanjutnya digerus selama 6 jam. Setelah itu dilakukan kalsinasi pada suhu 5000C dalam waktu 4 jam. Kemudian dilakukan pengepresan dengan membagi bahan menjadi tiga sampel. Selanjutnya dari bahan tersebut disintering dengan suhu 8000C, 9000C dan 10000C. Setelah itu masing-masing dikarakteristik sifat histerisis E - P dengan rangkaian Sawyer Tower yang hasilnya akan direkam dari osiloskop. Hasil penelitian karakteristik kurva histerisis E – P tersebut diperoleh dua data harga polarisasi remanen (Pr) dan medan listrik koersif (EC) dari ketiga sampel BaTiO3. Sampel yang disintering pada suhu 8000C dan 9000C menunjukkan harga polarisasi remanen dan medan listrik koersif (EC) sama sebesar 1,5 µc/cm2 dan 2 kv/cm. Sedangkan sampel yang disintering pada suhu 10000C diperoleh harga polarisasi remanen (Pr) sebesar 0,8 µc/cm2 dan medan listrik koersif (EC) 2 kv/cm. Hasil dari penelitian ini perlu dilakukan karakterisasi yang lebih teliti dengan mengusahakan beberapa tingkat yang lebih baik agar diperoleh data yang lebih akurat.

Pengaruh lingkungan toko terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada pembeli produk daur ulang di toko Daoer Oelang-Malang Town Square) / Nahria Rossita

 

ABSTRAK Rossita, Nahria. 2008. Pengaruh Lingkungan Toko terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Pada Pembeli Produk Daur Ulang di Toko Daoer Oelang-Malang Town Square). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Gatot Isnani, M.Si, (II) Titis Shinta Dewi SP.MM. Kata kunci: Lingkungan Toko, Keputusan Pembelian Konsumen. Seiring dengan terus berkembangnya kegiatan pemasaran dunia modern serta dalam rangka memasuki era perdagangan bebas, telah terjadi perkembangan yang cukup besar dalam dunia usaha di Indonesia. Perkembangan dalam dunia usaha ini dapat dilihat dari semakin banyaknya perusahaan yang berdiri dan bergerak di berbagai bidang usaha. Keadaan tersebut tentunya menuntut para pemasar untuk mampu mengenali kebutuhan dan keinginan konsumen, menciptakan produk-produk yang memiliki daya saing, menentukan pasar sasaran mana yang dapat dilayani dengan sebaik-baiknya oleh perusahaan, merancang produk, jasa dan program yang tepat untuk melayani pasar tersebut. Karena semakin kompleknya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, maka memaksa pemasar untuk meningkatkan mutu dari manajemen penjualan produknya. Sehingga diharapkan perusahaan akan mampu bertahan bahkan memenangkan persaingan dalam dunia usaha. Saluran distribusi merupakan bagian dari manajemen pemasaran. Salah satu bagian dalam distribusi yang perlu diperhatikan oleh pemasar adalah lingkungan toko yang meliputi lokasi toko, tata letak toko dan atmosfer toko. Toko Daoer Oelang-Malang Town Square, berusaha dapat memenuhi ketiga variabel tersebut dengan harapan dapat meningkatkan keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan toko terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Daoer Oelang-Malang Town Square. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lokasi (X1), tata letak (X2), dan atmosfer toko (X3). Variabel terikatnya adalah keputusan pembelian konsumen (Y). Populasi penelitian ini adalah seluruh pembeli Toko Daoer Oelang-Malang Town Square. Kemudian dengan menggunakan rumus Infinite Population dari buku Business Statistics for Management and Economics, diperoleh jumlah sampel sebanyak 73 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental Sampling dan Purposive Sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan 5 (lima) pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk menguji kelayakan regresi, dilakukan uji asumsi klasik, dan keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS 13 for Windows. Hasil penelitian ini adalah: (1) 45 responden (61,64%) menyatakan kondisi lingkungan toko Daoer Oelang-Malang Town Square berdasarkan lokasi adalah setuju; (2) 34 responden (46,57%) menyatakan kondisi lingkungan toko Daoer Oelang-Malang Town Square berdasarkan tata letak adalah setuju; (3) 41 responden (56,16%) menyatakan kondisi lingkungan toko Daoer Oelang-Malang Town Square berdasarkan atmosfer adalah setuju. Berdasarkan hasil analisis regresi secara parsial didapatkan nilai thitung 1,450 < ttabel 1,980 atau Signifikansi t 0,151 > 0,05. Dengan demikian variabel lokasi tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Variabel tata letak (X2) didapatkan nilat thitung 1,234 < ttabel 1,980 atau Signifikansi t 0,221 > 0,05. Dengan demikian variabel tata letak tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Variabel atmosfer (X3) didapatkan nilai thitung 1,133 < ttabel 1,980 atau Signifikansi t 0,261 > 0,05. Dengan demikian variabel atmosfer tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Sedangkan secara simultan didapatkan nilai Fhitung 1,665 < Ftabel 2,68 atau Signifikansi F sebesar 0,182. Dengan demikian variabel lokasi, tata letak, dan atmosfer toko tidak berpengaruh positif yang signifikan secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen. Sumbangan Efektif (SE) yang terbesar adalah variabel lokasi yaitu sebesar 2,96%. Selain itu diketahui R Square = 0,068 yang artinya korelasi atau hubungan antara variabel bebas adalah tidak kuat. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) kondisi lingkungan toko berdasarkan variabel lokasi, responden menyatakan setuju; (2) kondisi lingkungan toko berdasarkan variabel tata letak, responden menyatakan setuju; (3) kondisi lingkungan toko berdasarkan variabel atmosfer, responden menyatakan setuju. Secara parsial dapat disimpulkan bahwa: (1) tidak ada pengaruh positif yang signifikan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Daoer Oelang-Malang Town Square; (2) tidak ada pengaruh positif yang signifikan tata letak terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Daoer Oelang-Malang Town Square; (3) tidak ada pengaruh positif yang signifikan atmosfer terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Daoer Oelang-Malang Town Square. Sedangkan secara simultan dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh positif yang signifikan lokasi, tata letak, dan atmosfer toko secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Daoer Oelang-Malang Town Square. Sedangkan SE terbesar yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen adalah lokasi. Berdasarkan hasil tersebut, saran untuk Toko Daoer Oelang-Malang Town Square yaitu selalu berusaha untuk menciptakan dan mengembangkan untuk mengatur lokasi, tata letak, dan atmosfer toko, agar konsumen merasa nyaman dalam berbelanja.

Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan keaktivan dan ketuntasan belajar fisika siswa kelas VII-D pokok bahasan pengukuran di SMP Negeri 10 Malang / Nurul Hidayati

 

ABSTRAK Hidayati, Nurul. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Keaktivan dan Ketuntasan Belajar Fisika Siswa Kelas VII-D Pokok Bahasan Pengukuran di SMP Negeri 10 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika Program Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mudjihartono, (II) Drs .Asim M.Pd. Kata Kunci: Kooperatif Model Jigsaw, Keaktivan, Ketuntasan Belajar Siswa. Untuk meningkatkan keaktivan dan ketuntasan belajar fisika, diterapkan pembelajaran model Jigsaw. Dimana siswa diminta belajar secara berkelompok atau tim yang beranggotakan lima sampai enam siswa dan heterogen kemampuan- nya serta beragam (jenis kelamin, ras, budaya, agama,). Penelitian ini bertujuan untuk melihat keaktivan dan ketuntasan belajar siswa untuk mata pelajaran fisika di kelas VII-D. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 Malang mulai bulan Fe- bruari sampai April 2008. Rancangan penelitian yang digunakan adalah peneliti- an tindakan kelas (Action Research) dan teknik analisis menggunakan uji validitas tes dan Reliabilitas. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VII-D SMP Negeri 10 Malang tahun ajaran 2007-2008 yang berjumlah 38 siswa. Hasil analisis penelitian pada siklus I persentase terbesar dari aktivitas belajar siswa adalah aktivitas rajin melakukan eksperimen (58%) terdapat di ko- lom kriteria cukup (C), dan persentase terendah pada aktivitas rajin berdiskusi (12%) di kolom kriteria baik (B). Pada siklus II persentase terbesar dari aktivitas belajar siswa adalah rajin melakukan eksperimen (62%) terdapat di kolom kriteria baik (B), dan persentase terendah pada aktivitas rajin bertanya (2.4%). Pada hasil Pre-Test ketuntasan belajar siswa (47.37%) dengan nilai rata-rata 61. Sedangkan hasil Post-Test ketuntasan belajar siswa (89.47%) dengan nilai rata-rata 84. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan, bahwa pene- rapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan keaktivan dan ketuntasan belajar siswa fisika kelas VII–D pokok bahasan Pengukuran di SMP Negeri 10 Malang. Adapun saran yang dilakukan agar penelitian lebih lanjut, yai- tu membuat rancangan yang mengacu pada pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang akan diterapkan di kelas.

Pengguna model pembelajaran berbasis siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMU Negeri Ambulu tahun ajaran 2003/2004 pada pokok bahasan aldehida dan keton oleh Suhari

 

Pembaruaknu rikurumd ariK urikurums upremen1 999y angb erbasiiss i menjadKi unkulumB erbasisK ompetensbi €rtujuanu nn* meningfa*anm utu pendidikanN. amunk, eberhasilapne ndidikanti dakt erlepasd "ri ;;s*" dans iswa sglaeapi ihakyangt ertibatd atamp rosesb elajarm engajir.e erd;arka; hatt ersebut dalamp rosesk egiatanb elajarm en-gajaarp eriutcans haJ€gpre mbelajarayna ngt epat. seiringd engante rjadinyap erubahadna tamo uniap enaailan,v utto?auivu perFes:rapna ndangadnu l.tggl belajarb ehaviorisiikk e teori'belaja[ro oltruttiui*tin makak egiaanp eneririadni gifng pendidikanya ngb erorientaspia dat eorib erajar konstruktivistmiku radi itingkatkanp.e mberajarafonn strukrivisti*re, *r"r,."n pembelajanyaann gd ikembangkaunn tukr criingt a*an krrr;tr;p.il;al[*. ruroc.r pembelajarabne rbasissi sway angb erorientaspi aut*aton*tn r.tiuirre meruparan modepl ernbelajarayna ngm engaratkre padap "'nburui"r"ny ";t-b"rpil-puau rir*. Karenam odelp embetajarain.li mengarahp adap embentukasne ndirjp engetahuan danp emahamasnis wad arih asilp engaramabne iajar v*e di*iiikinyJ-"" pem_b eTlaujjauraannp enerftianin i adarahu ntukm engujin i"r"itia" p*6g"naan moder berbasissi swat erhadaph asitb elijar siswad ibandinffi rnooer HTHPI"*' lerbasigsu rup adas iswak erarsr -srvrnr a*u"r* t"[* o"r* 2003/200p4a dap okokb ahasaanr dehidad ank eron.p eneritian, "nggilakan rancangapne nelitiantr uee xperimentadl enganmenggunaksatnu ufr-amuutu sebagaoi byekp opulasiR. uangr ingkupp "niriti"r, iri-"oarur, p"mG,"i"r.n berbasis siswad enganm enggunakamn9 t9Oien quiri,m etodep roblemp ".i"g, j* i*"A" tugass edangkanmodpeer mberajarabne rbasigs urum enggunakamn etode ceramah. meng. hDa.sa.rihil kaasnilp. heanseilr iriadni simpurkabna hd modefrr iro"tuiarunb erbasissi swa berajarre bihb aikd ibandingkadne ngan*d gg*ku; moder ry*b"Pllr.l,berbasisg urup adas iswak erasll iemester4 SMUNA mburura hun ?:n:\r:,:::1 ,pudu pokokb ahasaanl dehidad ank eron,s erram eningkarkan KeaKrlrasnr s*ad aramp rosesb erajaro. reh karenait u, disarankaang ari uru dapat menggunakmano depl emirerajarianni d atamk egiatanb eraja'n"ng-u;ur? menggunakan.pembetajara'yang kehsd an bersifatte rprrirtp adas iiwaa arimf rosesk egiatan belajamr engaja.r

Penerapan model pembelajaran konstruktivistik dan mind mapping secara terpadu dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan materi pada mata pelajaran ekonomi (studi PTK, siswa kelas XI SMA Negeri 4 Malang) / Adnan Ya'kub

 

ABSTRAK Ya’kub, Adnan. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivistik dan Mind Mapping secara Terpadu dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis dan Penguasaan Materi pada Mata Pelajaran Ekonomi (Studi PTK kelas XI-IPS 2 SMA Negeri 4 Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universtias Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E, (II) Imam Muhklis, S.E., M.Si. Kata Kunci: Pembelajaran Konstruktivistik, Mind Mapping, Kemampuan Berfikir Kritis, Penguasaan Materi. Kualitas pendidikan tidak terlepas dari peran guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. untuk mewujudkan suatu pendidikan yang berkualitas, maka perlu diperhatikan metode dalam mengajar dan strategi pengajaran yang akan diterapkan oleh guru kepada siswa Metode pembelajaran merupakan unsur terpenting yang mendukung tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar. Melalui metode pembelajaran, seorang guru dapat merancang dan mengarahkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Oleh karena itu guru harus peka dan mampu memilih serta menentukan metode pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar agar tercapai hasil belajar yang optimal. Berdasarkan hasil obervasi awal yang penulis lakukan di SMA Negeri 4 Malang, diketahui bahwa metode pembelajaran yang sering digunakan guru ekonomi adalah ceramah dan pemberian tugas. Metode pembelajaran ini menekankan peran guru yang lebih dominan dibandingkan siswa selama proses belajar, sehingga siswa cenderung pasif, dan jenuh dalam belajar. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan kurang optimalnya hasil belajar siswa. Melihat kondisi tersebut, hendaknya guru menerapkan metode pembelajaran yang lebih variatif dan menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar untuk meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan menggunakan model pembelajaran Konstruktivistik dan Mind Mapping secara Terpadu dalam satu kegiatan belajar siswa. Pembelajaran konstruktivis lebih berorientasi pada siswa dan mengedepankan pembelajaran kecakapan hidup. Dalam mata pelajaran ekonomi kecakapan hidup diperlukan siswa agar lebih kritis dalam analisis permasalahan ekonomi. Sedangkan mind mapping sebagai salah satu metode yang mengembangkan efektivitas dan kreativitas dalam kegiatan belajar siswa. Perpaduan kedua model pembelajaran ini akan memberikan bentuk kegiatan yang variatif dan mendukung terwujudnya hasil dari kegiatan pembelajaran yang lebih maksimal khususnya pada aspek kemampuan berfikir kritis dan penguasaan materi pada pelajaran ekonomi Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penerapan model pembelajaran model pembelajaran Konstruktivistik dan Mind Mapping secara Terpadu sebagai upaya meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan penguasaan materi pada siswa. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI-IPS 2 SMA Negeri 4 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 34 siswa diantaranya 13 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Malang, dengan alamat jalan Tugu Utara Nomor 1 Malang pada tanggal 22 Mei 2008. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan deskriptif–kualitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan sistem observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan materi selama pemberian tindakan. pada siklus I dan II rata-rata kemampuan berpikir kristis siswa adalah diantaranya: untuk aspek merumuskan masalah rata-rata skor kelompok untuk aspek ini adalah 80,3 % meningkat 25 %. Aspek yang kedua yaitu memberikan argumen dengan rata-rata skor kelompok sebesar 69 % meningkat sebesar 14,5 %. Aspek yang ketiga adalah melakukan deduksi dengan rata-rata skor kelompok sebesar 71,3 % meningkat sebesar 11,8 %. Aspek yang keempat adalah melakukan induksi dengan rata-rata skoor kelompok sebesar 57,5 % meningakat sebesar 9,7 %. Aspek yang kelima adalah melakukan evaluasi dengan skor kelompok sebesar 67 % meningkat sebesar 22,2 %. Dan aspek yang terakhir adalah memutuskan dan melaksanakan dengan perolehan skor rata-rata kelompok sebesar 72,8 % dan mengalami peningkatan sebesar 17,5 %. Sedangkan untuk Penguasaan materi didapatkan rata-rata kelas sebesar 84. Dalam hal penguasaan materi yang diukur dari hasil belajar melalui aspek kognitif diperoleh 58,82 % siswa yang termasuk dalam kategori sangat baik dan 38,2 % siswa yang termasuk dalam kategori baik. Sedangkan sisanya 2,94 % siswa yang termasuk dalam kategori cukup baik.Siswa yang mendapatkan nilai  75 sebanyak 31 siswa, dan sebanyak 3 siswa yang ketuntasan belajarnya < 75. sehingga hasil belajar siswa pada ketuntasan belajar klasikal yaitu 91,17 %,. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berfikir kritis dan penguasaan materi pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penelitian tindakan kelas dengan model Konstruktivistik dan Mind Mapping secara terpadu, bagi guru yang berminat menerapkan pembelajaran dengan metode ini harap memperhatikan pengelolaan kelas, dan bagi peneliti selanjutnya sebaiknya mencari subyek penelitian/sekolah yang belum pernah dilakukan penelitian tindakan kelas, juga bagi peneliti selanjutnya diharapkan lebih banyak menggunakan waktu yang tersedia dan tidak hanya terpaku pada dua siklus.

Survei kapasitas oksigen maksimal (VO2 Maks) wasit sepakbola C-II PSSI pengurus provinsi (Pengprov) Jawa Timur / Yoyok Saiful Efendi

 

Pengaruh tingkat kesehatan perbankan periode berjalan terhadap kinerja bank pada periode berikutnya (studi pada bank devisa di Indonesia) / Yuliana Endra Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Yuliana Endra. Pengaruh Tingkat Kesehatan Perbankan Periode Berjalan Terhadap Kinerja Bank Pada Periode Berikutnya (Study Pada Bank Devisa di Indonesia). Program Studi SI Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Bambang Sugeng, dan Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak Kata Kunci : Kesehatan Perbankan, Kinerja Bank Perkembangan ekonomi yang pesat saat ini menuntut diperlukannya peranan sektor perbankan. Dunia perbankan sendiri saat ini mengalami perkembangan yang pesat. Pesatnya perkembangan industri perbankan ini ditunjukkan oleh semakin meningkatnya tingkat kesehatan perbankan. Rata-rata tingkat kesehatan bank pada tahun 2004 – 2007 adalah 90,81 dengan predikat sehat. Peranan sektor perbankan harus didukung dengan tingkat kesehatan bank yang baik. Tingkat kesehatan bank yang baik ditunjukkan dengan dicapainya predikat sehat.Baik buruknya tingkat kesehatan bank dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu faktor permodalan (capital), kualitas aktiva produktif (asset quality), manajemen (Management), rentabilitas (earning), likuiditas (liquidity) dan sensitivitas (sensitivity). Keenam faktor tersebut biasa disebut dengan CAMELS. Dari analisa CAMELS tersebut dapat diukur tingkat kesehatan suatu bank.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara positif signifikan dari tingkat kesehatan perbankan pada periode berjalan (yang diukur dengan analisa CAMELS) terhadap kinerja bank pada periode berikutnya (Yang diukur dengan ROA). Penelitian ini digunakan untuk menguji apakah tingkat kinerja perusahaan pada tahun berjalan dapat digunakan untuk memprediksi kinerja perusahaan pada periode berikutnya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian ekplanasi. Metode pengumpulan data pada penelitian adalah metode dokumentasi, yaitu dengan menggunakan data keuangan dari 34 perusahaan perbankan, khususnya bank devisa selama empat periode, yaitu dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 yang diperoleh dari direktori Bank Indonesia. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara positif signifikan dari tingkat kesehatan bank pada tahun berjalan terhadap kinerja bank pada periode berikutnya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kinerja bank pada periode berjalan dapat digunakan untuk memprediksi kinerja bank pada periode berikutnya. Penelitian ini masih menyisakan kelemahan- kelemahan. Pada penelitian ini hanya memasukkan faktor-faktor keuangan saja karena data diperoleh dari direktory bank Indonesia sehingga tidak terdapat faktor manajemen dan sensitivitas terhadap resiko pasar. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya juga memasukkan faktor manajemen dan sensitivitas terhadap resiko pasar.

Upaya pemerintah desa dsalam pemberdayaan masyarakat melalui industri rumah tangga batu bata (studi kasus di Desa Kaloran Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk / M. Agus Ainur Rofiq

 

Penerapan model mind mapping untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (studi pada siswa kelas XI SMA Darul 'Ulum Agung Malang) / Suim Dwi Fitri Ariadina

 

ABSTRAK Ariadina, Suim Dwi Fitri. 2008. Penerapan Model Mind Mapping untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi (Studi Pada Siswa Kelas XI SMA Darul ’Ulum Agung Malang). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing: (I) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec., (II) Drs. H. Achmad Ali Wafa. Kata Kunci: Mind Mapping, kemampuan berpikir kreatif, hasil belajar. Metode ceramah yang dilengkapi dengan kegiatan tanya jawab merupakan metode pembelajaran yang masih digunakan oleh guru di SMA Darul ‘Ulum Agung Malang. Siswa masih sering melakukan aktivitas mendengarkan dan mencatat selama proses pembelajaran berlangsung. Guru kurang memberdayakan metode diskusi atau metode sejenis lainnya yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Sehingga siswa cenderung terbiasa mengandalkan pengetahuan sepenuhnya dari guru dan buku teks saja, bukan mengkonstruk sendiri pengetahuannya dari pemahaman atau pemikiran orisinilnya. Diketahui pula bahwa hasil belajar siswa kelas XI berdasarkan hasil UTS semester genap tahun ajaran 2007/2008, secara klasikal jumlah siswa yang tuntas belajarnya hanya 72,41%. Hal ini berarti secara klasikal siswa belum memenuhi standar ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh sekolah, yaitu sebesar 75%. Metode pembelajaran model Mind Mapping merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, karena model ini pada dasarnya melatih pola pikir divergen pada siswa. Model Mind Mapping menekankan pada kerjasama siswa dalam kelompok dengan mengembangkan gaya belajar visual. Dalam pembelajarannya, model Mind Mapping terdiri dari tahap penyajian materi, tahap belajar kelompok, tahap diskusi kelas, serta tahap evaluasi dan refleksi. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan model Mind Mapping, kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi.Untuk mengetahui ketepatan guru dalam menerapkan metode pembelajaran model Mind Mapping dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa, maka dilakukan observasi (pengamatan) dengan menggunakan instrumen lembar observasi. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ditinjau dari aspek kognitif, maka dilakukan perhitungan selisih persentase ketuntasan belajar secara keseluruhan berdasarkan nilai pre-test dan post-test kedua siklus. Sedangkan untuk aspek afektif dihitung dari selisih persentase ketuntasan belajar secara keseluruhan berdasarkan format penilaian hasil belajar aspek afektif siswa. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI yang berjumlah 29 siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Sedangkan lokasi penelitian ini adalah SMA Darul ‘Ulum Agung, tepatnya di Jl. Mayjen Sungkono No. 9 Malang. Materi yang diajarkan merupakan materi yang tercakup pada kompetensi dasar ”Kemampuan Memahami Peranan Bank dan Lembaga Keuangan lainnya”. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Mei dengan metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Instrumen penelitian yang digunakan meliputi dokumen, soal tes, lembar observasi, format penilaian, pedoman wawancara, lembar catatan lapangan, serta angket respon siswa pada mata pelajaran ekonomi setelah diterapkan model Mind Mapping. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran model Mind Mapping dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Darul ‘Ulum Agung Malang pada mata pelajaran ekonomi. Peningkatan persentase keberhasilan tindakan pada kemampuan berpikir pada siklus 1 ke siklus 2 ditinjau dari aspek fluency sebesar 22,07%, aspek flexibility sebesar 20,11%, aspek originality sebesar 27,59%, aspek elaboration sebesar 20,3% dan aspek evaluation sebesar 17,82%. Sedangkan peningkatan ketuntasan belajar secara keseluruhan (klasikal) pada siklus 1 ke siklus 2 sebesar 10,62% untuk aspek kognitif dan pada aspek afektif sebesar 13,8%. Berdasarkan temuan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru mata pelajaran ekonomi untuk mencoba menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran model Mind Mapping sebagai salah satu model alternatif disamping model-model pembelajaran lainnya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar yang di dalamnya juga mengembangkan nilai-nilai aspek afektif pada siswa. Selain itu, diperlukan kegiatan pembelajaran dan penelitian tindakan kelas lainnya terhadap pokok-pokok bahasan lain yang dianggap lebih sesuai apabila model ini dipergunakan.

Faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) oleh guru SMP Negeri 2 Porong Sidoarjo / Nohla Fitriyani

 

ABSTRAK Fitriyani, Nihla. 2008. Pendapat Guru SMP Negeri 2 Porong Sidoarjo Tentang Faktor Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suprihadi Saputro, S.Pd., M.Pd., dan (II) Drs. A.J.E Toenlioe, M.Pd. Kata kunci: pendukung, penghambat, kurikulum tingkat satuan pendidikan, guru. Masalah yang banyak dijumpai pada pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah minimnya pemahaman tentang KTSP. Para pelaku pendidikan diantaranya dewan pendidikan, kepala sekolah, tenaga kependidikan, serta siswa masih tertuju pada kurikulum terdahulu, meskipun tampak sekali perbedaan dimana dalam KTSP murid sebagai subyek kegiatan pembelajaran, sedangkan guru hanyalah sebagai fasilitator dan motivator. Peran guru sangat berpengaruh dalam pembentukan kompetensi. Bahkan guru dapat dijadikan sebagai penentu berhasil atau tidaknya peserta didik dalam pembelajaran. Demikian halnya dengan pengembangan KTSP yang menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam membentuk kompetensi peserta didik. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan oleh guru SMP Negeri 2 Porong Sidoarjo. Aspek-aspek yang diteliti dalam hal ini meliputi kondisi guru, pengembangan program, pengembangan silabus, pengembangan RPP, dan pelaksanaan pembelajaran. Dari aspek tersebut kemudian dijabarkan menjadi beberapa indikator yang selanjutnya dikembangkan menjadi instrumen penelitian. Untuk mencapai maksud tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data-data secara terperinci kemudian memaparkan hasilnya dalam bentuk uraian. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMP Negeri 2 Porong Sidoarjo yang berjumlah 41 guru. Penelitian ini menggunakan instrumen angket dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis persentase. Hasil dari penelitian faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan KTSP oleh guru yakni ditinjau dari pengalaman professional guru, pada umumnya Guru memiliki pengalaman belajar lebih dari 2 tahun, dengan kesesuaian mata pelajaran yang diajarkan dengan latar belakang pendidikan guru, begitu pula halnya dengan beban mengajar para guru SMP Negeri 2 Porong Sidoarjo, sebagian besar beban mengajar para guru tidak lebih dari 24 jam pelajaran perminggu. Hal ini menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran. Ditinjau dari pengembangan program, para guru juga tidak menemui banyak kesulitan dalam mengembangkannya, hal ini juga menjadi faktor pendukung pelaksanaan pembelajaran. Begitu pula halnya dalam dari pengembangan silabus, para guru tidak menemui kesulitan dalam mengembangkan silabus sesuai denga prinsip pengembangan silabus. Guru juga tidak menemui hambatan dalam mengembangkan RPP sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan RPP. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru menemui hambatan dalam pemilihan metode, model, maupun media pembelajaran yang sesuai, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor pendukung diantaranya pengalaman profesional guru, kemampuan guru dalam mengembangkan program tahunan dan semester, mengembangkan silabus dan RPP serta menciptakan lingkungan yang kondusif dalam pelaksanaan pembelajaran. Dan terdapat faktor penghambat diantaranya minimnya pengalaman guru dalam mengikuti kegiatan pelatihan tentang pendidikan, MGMP dan KKG, kemampuan guru dalam memilih metode, media dan model pembelajaran yang sesuai, serta kurangnya pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru terus mengembangkan potensi mengajar dengan aktif mengikuti pelatihan, penataran, seminar, lokakarya, MGMP, KKG dan kegiatan sejenis sehingga dapat menunjang profesi sebagai motivator dan fasilitator dalam pembelajaran. Disamping itu guru disarankan untuk memperluas pengetahuan mengenai model, media, dan sumber belajar, serta tidak melewatkan informasi yang aktual mengenai pendidikan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray untuk meningkatkan lima unsur pembelajaran kooperatif dan prestasi belajar siswa kelas X-B semester II MAN 3 Malang / Mirza Faishal

 

Berdasarkan observasi awal di MAN 3 Malang, diketahui bahwa prestasi belajar siswa kelas X-B masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) klasikal pada data awal kelas X-B untuk mata pelajaran Biologi sebesar 12,9%. Prestasi belajar yang masih rendah ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah (metode konvensional). Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif dan kurang kreatif sehingga perlu adanya model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran Two Stay Two Stray. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas X-B MAN 3 Malang dan pokok bahasan plantae. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui bagaimana aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) dalam meningkatkan 5 unsur kooperatif dan prestasi belajar, 2) mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dalam meningkatkan 5 unsur kooperatif, 3) mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dalam meningkatkan prestasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan : 1) aktivitas guru dari siklus I ke siklus II dimana pada siklus I guru masih sulit mengendalikan kelas karena siswa belum pernah menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray namun pada siklus II guru sudah dapat mengendalikan kelas karena siswa sudah terbiasa dengan model Two Stay Two Stray, 2) 5 unsur kooperatif siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu pada siklus II tingkat K sebesar 1,248%, tingkat C sebesar 11,248%, dan tingkat B sebesar 87,5%, dan 3) Prestasi belajar siswa yang diukur dengan skor rata-rata dan persentase ketuntasan belajar secara klasikal dari data awal, siklus I, dan siklus II. Skor rata-rata diperoleh hasil (54.7, 67.5, dan 81.4) dan ketuntasan belajara klasikal diperoleh hasil (12,9%, 53,12%, dan 93,75%). Pada akhir siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas dalam belajar (< 70) sehingga perlu diberikan pembelajaran remidi, guru juga harus lebih merata dalam mengelola kelas supaya seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama dan ahirnya dapat meningkatkan 5 unsur kooperatif dan prestasi belajar siswa.

Pengaruh jenis varietas terhadap kadar gula dan kadar alkohol hasil fermentasi sawo (Achras zapota L.) / Rahajeng Nika Pratiwi

 

Perbedaan prestasi belajar akuntansi antara metode jigsaw dengan metode kooperatif model struktural numbered heads together di SMK PGRI Turen Malang / Sulistyo Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Sulistyo. 2008. Perbedaan Prestasi Belajar Akuntansi Antara Metode Jigsaw Dengan metode Kooperatif Model Struktural Numbered Heads Together Di SMK PGRI Turen Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Endang Sri Andayani, S.E., M.Si., Ak. Pembimbing (2) Dr. Nurika Restuningdyah, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Prestasi Belajar Akuntansi, Metode Jigsaw, Metode Struktural Numbered Heads Together Pendidikan merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam mengajar guru hendaknya lebih kreatif dalam memilih metode-metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswa adalah metode pembelajaran kooperatif, dua diantaranya adalah metode jigsaw dan metode struktural model NHT (Numbered Heads Together). tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar akuntansi antara siswa yang diajar menggunakan metode jigsaw dengan siswa yang diajar menggunakan metode struktural model NHT (Numbered Heads Together) serta untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam menerapkan kedua metode tersebut. Penelitian ini merupakan Penelitian Eksperimen Semu (Quasi Eksperiment). Rancangan penelitian ini menggunakan pre test dan post test group design. Penelitian ini menggunakan tes awal untuk mengetahui bahwa kedua kelompok sebelum diberi perlakuan mempunyai kemampuan awal sama atau tidak jauh berbeda. Kemudian diberikan perlakuan yaitu metode jigsaw untuk kelas eksperimen dan metode Numbered Heads Together untuk kelas kontrol. Selanjutnya dilakukan tes prestasi untuk mengetahui prestasi belajar setelah perlakuan. Dari hasil analisis data terbukti bahwa ada perbedaan prestasi belajar akuntansi yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan metode jigsaw dengan siswa yang diajar menggunakan metode struktural model NHT (Numbered Heads Together). Siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran jigsaw menunjukkan prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran struktural NHT (Numbered Heads Together). Hal tersebut dibuktikan dari rata-rata peningkatan prestasi belajar untuk kelas jigsaw sebesar 14,64 sedangkan untuk kelas NHT lebih rendah yaitu sebesar 13,69. Saran yang diajukan adalah (1) Bagi guru akuntansi dianjurkan menggunakan metode pembelajaran Jigsaw untuk meningkatkan prestasibelajar siswa. (2) Siswa diharapkan mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya sebelum pelaksanaan kegiatan belajar di kelas. (3) Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian semacam ini dengan menambah aspek afektif dan psikomotorik untuk mengukur prestasi belajar siswa setelah perlakuan. i

Perbedaan prestasi belajar fisika yangdiajar dengan pembelajaran kontekstual strategi PBL dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas X SMA Lab. UM / Wahyu Nursani

 

Pembelajaran kontekstual-strategi PBL merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan permasalahan dalam dunia nyata sebagai konteks belajar untuk berfikir kritis, problem solving (pemecahan masalah), memperoleh esensial dari suatu pelajaran (Nurhadi, dkk. 2003:56). Pembelajaran kontekstual dengan strategi PBL merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan permasalahan dalam dunia nyata sebagai konteks belajar untuk berfikir kritis, problem solving (pemecahan masalah), memperoleh esensial dari suatu pelajaran (Nurhadi, dkk. 2003:56). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan prestasi belajar fisika siswa kelas X yang menggunakan pembelajaran kontekstual-strategi PBL dan yang diajar secara konvensional di SMA LAB UM. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Lab UM yang terdiri dari 6 kelas (184 siswa). Sampel penelitian terdiri dari 32 siswa kelas X-1 sebagai kelas eksperimen, dan 32 siswa kelas X-3 sebagai kelas kontrol. Pemilihan sampel di lakukan secara acak dengan teknik undian kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Instrumen perlakuan dan Instrumen pengukuran prestasi belajar terdiri dari 20 soal pilihan ganda. dengan r=0,819 (nilai reabilitas sangat tinggi). Hasil uji-t pretest bahwa pretest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama dengan taraf signifikansi (0,05). Berdasarkan hasil uji F-tes yaitu uji perbedaan mean dengan taraf signifikansi (0,05) menunjukkan adanya perbedaan mean antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yang sangat signifikan serta adanya pengaruh yang signifikan antara pembelajaran kontekstual-strategi PBL pada kelas eksperimen dan pembelajaran secara konvensional pada kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji hipotesis ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar fisika siswa kelas X yang menggunakan pembelajaran kontekstual-strategi PBL dan yang diajar secara konvensional di SMA LAB UM. Pembelajaran kontekstual-strategi PBL dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pemilihan strategi pembelajaran.

Pengaruh perangkat pembelajaran genetika melalui pendekatan konstruktivistik model learning cycle terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa SMA Negeri 1 Jember / Husnul Hotimah

 

Jurusan Pendidikan Biologi, program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si., (II) Dr. Umie lestari, M.Si Kata Kunci: Perangkat, Konstruktivistik, Learning Cycle, Berpikir Kritis, Pemahaman Konsep Perkembangan ilmu pengetahuan menuntut transformasi kurikulum yang fleksibel dalam implementasinya. Untuk meningkatkan standar kualitas lulusan serta mencegah timbulnya kesenjangan, menghadapi era globalisasi perlu dibuat kriteria kualitas global yang lebih jelas, yang akan menjadi benchmark bagi institusi pendidikan dalam mengukur kualitas lulusannya. SMA Negeri I Jember merupakan Rintisan Sekolah Bertaraf International sejak tahun ajaran 2007-2008. untuk itu mengambil beberapa kebijakan telah dan sedang dilakukan. Kebijakan tersebut menuntut adanya perubahan pada kurikulum yang ada dan akan diikuti adanya perubahan pada perangkat pembelajaran (silabus, RPP, bahan ajar dan worksheet). Perangkat pembelajaran yang dikembangkan mengenai pokok bahasan Genetika. Genetika merupakan materi wajib yang harus diajarkan pada mata pelajarana Biologi. Genetika merupakan pengantar biologi modern khususnya genetika molekuler yang menghasilkan kemajuan pesat pada penelaahan organisme dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia di segala bidang. Perangkat pembelajaran tersebut di aplikasikan melalui pendekatan konstruktivistik model Learning cycle (PPG+LC 5E) yang memfasilitasi peserta didik agar lebih mudah memahami materi pelajaran dan akhirnya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep (hasil belajar kognitif dan afektif). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1)pengaruh perangkat pembelajaran genetika berbasis molekular melalui pendekatan konstruktivistik terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep genetika siswa SMA Negeri 1 Jember,(2) apakah ada perbedaan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep pada kemampuan akademik siswa SMA Negeri 1 Jember, (3) interaksi antara perangkat pembelajaran genetik melalui pendekatan konstruktivistik dan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa SMA Negeri 1 Jember. Rancangan penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran secara nyata mengenai perbedaan kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif dan afektif dengan menggunakan perangkat pembelajaran genetika melalui pendekatan konstruktivistik model Learning Cycle pada kemampuan akademik yang berbeda. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-Postest Nonequivalent Control Group Design dengan faktorial 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh PPG+LC 5E terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep (kemampuan kognitif dan afektif), 2) ada perbedaan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa berkemampuan akademik berbeda, 3) tidak ada pengaruh interaksi PPG+LC 5E dan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep (kemampuan kognitif dan afektif) Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diajukan antara lain: 1) Bagi sekolah, khususnya sekolah rintisan bertaraf internasional hendaknya perlu merancang perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum bertaraf internasional sebagai suatu bentuk pelayanan kepada siswa; 2) bagi guru, yang berminat menerapkan PPG+LC 5E hendaknya memperhatikan temuan penelitian ini bahwa pengembangan perangkat pembelajaran dan strategi ini mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis dan juga mampu meningkatkan hasil belajar kognitif peserta didik; 3) Bagi peneliti lain yang berminat menggunakan PPG+LC 5E yang juga merupakan pengembangkan perangkat pembelajaran melalui strategi pembelajaran konstruktivistik belum banyak diteliti dan diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas khususnya di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), perlu ditindak lanjuti pada materi yang lain ataupun mata pelajaran lain.

Kajian dekonstruksi tokoh Aswatama dalam novel "Manyura" karya Yanusa Nugroho / Angga Krisna Waloyo

 

Kata Kunci: Dekonstruksi, Tokoh, Novel Kesusastraan modern salah satunya ditandai dengan masuknya unsur budaya di dalam karya sastra. Novel “Manyura” karya Yanusa Nugroho merupakan salah satu bentuk karya sastra modern, karena masuknya unsur budaya—budaya wayang. Dalam novel ini, Yanusa mengusung cerita epos Mahabarata setelah perang Baratayuda. Kemodernisasian itu terlihat pada sosok tokoh Aswatama sebagai tokoh utama yang paling dia garap dan menjadi sosok sangat ‘manusia’. Cerita wayang dalam novel ini seakan memiliki klaim validitas dalam dirinya sendiri—pembongkaran konsep fundamental antara Pandawa dan Kurawa, bahwa keduanya yang selalu beroposisi baik/jahat, dicoba untuk dikoyak. Masalah yang dianalisis dalam penelitian ini adalah perspektif pendekatan dekonstruksi dalam: (1) kategori tokoh Aswatama, (2) peran tokoh Aswatama, (3) teknik penokohan Aswatama, dan (4) gaya penceritaan tokoh Aswatama. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi, dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pendekatan dekonstruksi menitikberatkan wilayah operasinya pada sebuah teks, menapak tilas jejak-jejak tanda dalam teks itu, dan menghadirkan oposisi biner untuk kemudian diruntuhkan—differance. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel “Manyura” karya Yanusa Nugroho. Data penelitian adalah teks data yang berupa dialog, monolog, dan narasi tokoh. Data dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah sistematis pendekatan dekonstruksi oleh Rudolf Gache, yakni: (1) mengidentifikasi oposisi biner di dalam teks, (2) oposisi-oposisi tersebut previlisenya dibalik, (3) memperkenalkan gagasan baru, dan tidak bisa berterima lagi dalam oposisi lama. Analisis data dengan langkah-langkah sistematis dalam dekonstruksi dibantu dengan instrumen pemandu yang berupa Panduan kodifikasi data, Panduan analisis data, dan Panduan inferensi hasil analisis. Langkah-langkah dalam teknik analisis data adalah dengan pembacaan retroaktif, pereduksian data, penyajian data berdasarkan kategori, penafsiran dekonstruksi terhadap data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (I) a. Tokoh Aswatama secara Konseptual adalah tokoh protagonis, b. Aswatama secara Tekstual adalah tokoh antagonis sekaligus tokoh protagonis, c. Aswatama beroposisi dengan Yudistira= protagonis/anagonis; (II) a. Aswatama sebagai representasi atas tema cerita, b. Aswatama dalam hubungan antar tokoh adalah dinamis, konflik Aswatama pada dasarnya adalah konflik dengan batinnya, c. Aswatama sebagai pusat cerita yang menghadirkan alur: eksposisi, komplikasi, hingga klimaks dan resolusi, d. Aswatama sesuai dengan dunia, di mana dirinya dituliskan kembali dalam cerita, dan dalam setting latar kehadiran Aswatama adalah logis; (III) a. Penokohan Aswatama sebagai Aswatama menggunakan metode dramatik, b. Penokohan Aswatama sebagai Lintang Kumbarapati menggunakan metode langsung, c. Penokohan Aswatama sebagai psike gelapnya menggunakan gabungan metode langsung dan metode dramatik; (IV) a. Gaya penceritaan Aswatama dalam adegan ditemukan adanya jejak tanda penyebab kematian Aswatama, b. Aswatama dalam gambaran fisik dalam cerita ada dua jenis, pertama mengikuti pakem pewayangan, yakni sosok tokoh Aswatama berambut serta bertelapak kaki kuda, dan kedua memiliki cirri fisik selayaknya manusia pada umumnya. Sebuah kajian dengan menggunakan disiplin ilmu yang ketat tentunya mengaharapkan suatu ‘pencapaian’ yang lebih baik, dan hal ini tidak diartikan bahwa pengkajian karya sastra melalaikan proses. Namun demikian, dengan bekal cakrawala terhadap ilmu yang mumpuni, lebih berani untuk mendobrak karya sastra modern mungkin adalah bentuk lain dari proses interpretasi yang salah satunya paling tepat untuk masa sekarang.

Penerapan pola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dalam pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan keaktifan dalam berpikir kritis dan motivasi belajar siswa SMK Pemuda I Kesamben Blitar / Beni Hendrawati

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 |