Penggunaan dekak-dekak untuk meningkatkan penguasaan penjumlahan bilangan cacah pada siswa kelas II SDN Rampal Celaket I Kecamatan Klojen Kota Malang tahun pelajaran 2007/2008 / Lailul Indrawati

 

Pelaksanaan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar sampai saat ini masih berlangsung secara konvensional di mana kegiatan masih terpusat pada guru, monoton dan menjenuhkan, akibatnya perolehan belajar siswa pada mata pelajaran matematika tersebut masih sangat rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Guru masih menggunakan metode lama yaitu metode ceramah metode ini mengakibatkan anak kurang kreatif dan kurang berkreasi dalam pembelajaran. Siswa tidak bisa mengembangkan dasar matematika yang ia miliki, siswa hanya meniru yang dikerjakan dan diperintahkan oleh guru. Akibatnya siswa tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang dia dapat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu adanya terobosan baru dalam mendorong arah kualitas pembelajaran matematika di sekolah khususnya Sekolah Dasar. Salah satu faktornya adalah penggunaan media pembelajaran, dekak-dekak merupakan alat bantu dalam pembelajaran penjumlahan bilangan cacah. Dengan adanya dekak-dekak ini diharapkan siswa dapat berkreasi, ulet, kreatif dan kualitas pembelajaran juga berlangsung secara atraktif, bermutu serta menyenangkan bagi anak didik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran penjumlahan dengan menggunakan dekak-dekak (2) mendiskripsikan penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah sebelum menggunakan media dekak-dekak (3) mendiskripsikan penguasaan siswa terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah sesudah menggunakan media dekak-dekak (4) mendiskripsikan peningkatan penguasaan siswa kelas II SDN Rampal Celaket I kecamatan Klojen, kota Malang tentang penjumlahan yang diajarkan dengan menggunakan alat bantu dekak-dekak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang fenomena yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung yaitu situasi kelas dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah PTK mengikuti alur Kurt Lewin dan Stephen Kemmis, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan ,(3) Observasi,(4) Refleksi. Subyek penelitian terdiri dari siswa kelas II-A SDN Rampal Celaket I Malang, yang berjumlah 36 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui tes formatif pada akhir tindakan, observasi, wawancara. Analisis data terdiri dari 3 komponen kegiatan yang dilakukan secara berurutan yaitu kegiatan reduksi, sajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil-hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dekak-dekak dapat meningkatkan penguasaan penjumlahan bilangan cacah pada siswa kelas II-A. Hal ini ditunjukkan pada pelaksanaan pratindakan penguasaan siswa terhadap konsep penjumlahan masih sangat kurang dari 36 siswa 25% yang mampu menguasai penjumlahan bilangan cacahdengan rata-rata 49,72. Pada siklus I penguasaan siswa sudah meningkat dari 25% menjadi 75% sudah mencapai kriteria ketuntasan dan rata-rata 80,28. Siklus II dari 36 siswa semua (100%) sudah mencapai kriteria ketuntasan dengan rata-rata 87,5. Dengan hasil-hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada guru untuk meningkatkan penggunaan media pembelajaran yaitu dekak-dekak untuk membantu meningkatkan penguasaan konsep penjumlahan bilangan cacah pada kelas II. Guru juga bisa memanfaatkan dekak-dekak untuk mendorong keaktifan dan keuletan siswa didiknya. Untuk Kepala Sekolah lebih memperhatikan sarana dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru-gurunya untuk menunjang kelancaran pembelajaran dikelas. Sedangkan untuk peneliti lain hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini pada bilangan-bilangan yang lebih tinggi (penjumlahan ribuan dan puluhan ribu), sehingga anak didik kita benar-benar mencapai hasil belajar yang optimal.

Pengaruh persepsi siswa tentang strategi pembelajaran Team Teaching terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo / M. Dendy Zaimulya

 

Team teaching merupakan sebuah pengaturan khusus yang melibatkan sedikitnya dua guru dalam perencanaan, penyampaian, dan penilaian kemampuan siswa. Mereka bekerja sama sebagai suatu team, bukan sebagai individu. Keberadaan strategi pembelajaran team teaching di sekolah akan menimbulkan persepsi siswa untuk lebih termotivasi dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Dengan meningkatnya motivasi belajar siswa akan berpengaruh terhadap hasil belajar atau prestasi belajar siswa secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh langsung persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching terhadap motivasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo, (2) pengaruh langsung persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching terhadap hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo, (3) pengaruh langsung motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo, (4) pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang dilakukan pada 74 siswa kelas XI IPS1 dan XI IPS2 SMA Negeri 2 Situbondo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanasi asosiatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,365, (2) persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,667, (3) motivasi belajar siswa dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan nilai koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,395, (4) persepsi siswa tentang strategi pembelajaran team teaching berpengaruh pada hasil belajar siswa melalui motivasi belajar siswa sebesar 0,144. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah: (1) guru team teaching hendaknya meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih kreatif lagi agar siswa memiliki persepsi yang positif sehingga siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar dan tidak cepat merasa jenuh dengan mata pelajaran yang dihadapinya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu, guru team teaching diharapkan dapat memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar sehingga hasil belajar dapat tercapai secara optimal, (2) siswa diharapkan sebisa mungkin selalu meningkatkan motivasi belajarnya karena motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan hasil belajar. Selain itu, siswa hendaknya selalu memiliki persepsi yang positif terhadap guru team teaching agar dapat selalu merasa nyaman ketika belajar bersama guru team teaching sehingga hasil belajar dapat tercapai secara optimal, dan (3) bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas, misalnya: latar belakang sosial ekonomi, lingkungan sosial siswa, atau minat siswa sehingga dapat mengungkapkan lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil dari temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek / Widhy Maita Kusuma Wardhani

 

ABSTRAK Wardhani, Widhy Maita Kusuma. 2008. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek . Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M. Sc, (2) Dra. Susy Kuspambudi A. , M. Kom Kata kunci:. Pembelajaran Kontekstual, hasil belajar. Pemilihan metode pembelajaran matematika yang tepat dapat berdampak positif terhadap hasil belajar matematika siswa. Banyak kegiatan yang diadakan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan metode pembelajaran matematika, misalnya dengan kegiatan akademik seperti pelatihan, seminar, dan penyuluhan. Kegiatan akademik tersebut diharapkan dapat banyak mengubah kebiasaan guru dalam megajar. Metode pembelajaran yang diduga selama ini banyak digunakan khususnya di SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek adalah metode pembelajaran biasa, dimana kegiatan di kelas didominasi oleh guru, sehingga perlu diciptakan proses belajar matematika yang baik dan banyak menuntut keaktifan dan keterlibatan siswa, supaya pengetahuan yang ditemukan siswa sendiri menjadi lebih bermakna. Salah satu pembelajaran yang menuntut keterlibatan siswa di kelas adalah pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Memahami betapa pentingnya memilih metode yang tepat dalam meningkatkan hasil belajar, maka peneliti mengadakan penelitian tentang Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif jenis penelitian eksperimental semu. Penelitian eksperimental semu ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran kontekstual mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek. Hipotesis dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran biasa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tugu, Trenggalek pada semester I Tahun Ajaran 2008 / 2009 dan sebagai sampel adalah 84 orang siswa yaitu kelas IX-F dengan jumlah siswa 43 sebagai kelas eksperimen dan kelas IX-E dengan jumlah siswa 41 sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak. Kelas eksperimen diajar dengan pembelajaran kontekstual sedangkan kelas kontrol diajar dengan pembelajaran biasa. Dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS diperoleh P-Value < alpha 0,05 yaitu 0,002 < 0,05 yang berarti H0 ditolak atau H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran biasa.

Motif-motif sanggul masa majapahit: suatu penelitian melalui ungkapan bentuk sanggul terakota figurin manusia koleksi pusat informasi Majapahit / Erry Setia Nurma Wahyuni

 

ABSTRAK Erry, Setia Nurma Wahyuni. 2008. Motif Sanggul Masa Majapahit: Suatu Penelitian Melalui Ungkapan Bentuk Sanggul Pada Terakota Figurin Manusia di Pusat Informasi Majapahit. Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Blasius Soeprapto, M.Hum, (II) Drs. Sisbar Noersya, M.Pd. Kata kunci: motif, sanggul, terakota figurin manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan bahwa benda-benda arkeologi merupakan peninggalan dari budaya masyarakat pendukungnya. Ini terlihat dari bentuk-bentuk temuan terakota masa Majapahit di situs Trowulan yang kini menjadi koleksi PIM. Namun, dilihat dari bentuk temuan terakota, tidak semua terakota digunakan sebagai sarana upacara/religi, alat memasak, alat bermain, alat produksi, dan lain-lain. Salah satu di antaranya adalah terakota figurin manusia yang digambarkan sangat ekpresif , bentuk dan cara pakaian serta tata rambut yang bervariatif. Hal ini menandakan bahwa pengrajin masa Majapahit menggambarkan benda seni dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosial maupun budaya masyarakat . Masalah yang diteliti bertalian dengan, (A) bentuk temuan terakota koleksi PIM, (B) bentuk terakota figurin manusia koleksi PIM, (C) bentuk sanggul terakota figurin manusia, (D) motif sanggul masa Majapahit berdasarkan ungkapan bentuk sanggul terakota figurin manusia koleksi PIM. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji sanggul terakota figurin manusia koleksi PIM adalah pendekatan arkeologi yang berusaha untuk mendiskripsikan dan menganalisis data berupa kebudayaan material (artefak) yang berupa terakota. Pada akhirnya hasil telaah arkeologis ini dijadikan bahan untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan dari masyarakat terteliti. Hasil penelitian ini meliputi beberapa hal sebagai berikut. Pertama, temuan terakota koleksi PIM menunjukkan beberapa bentuk antara lain: relief, kala, jaladwara, arca Ghana, bata berelief, genteng, saluran air, bata segi enam (ubin), bata lengkung (sumur), selubung tiang, kemuncak, jambangan, tempayan, kendi, botol, buyung, periuk, tutup, piring, mangkuk, lampu, celupak, pot bunga, vas, kelereng, terakota figurin manusia dan binatang, kowi, cetakan, kumparan, pedupaan, kendi, peripih, celengan, bandul jala. Kedua, bentuk terakota figurin manusia di antaranya menggambarkan sikap arca, bentuk dan ekspresi wajah, bentuk dan cara berpakaian, pemakaian hiasan, tata rambut, dan figur orang asing. Ketiga, bentuk-bentuk sanggul terakota figurin manusia mempuyai kesamaan dengan sanggul tradisional. Keempat, dari bentuk sanggul yang terdapat pada terakota figurin manusia diketahui ada beberapa motif sanggul masa Majapahit, antara lain: sanggul samping kiri; sanggul supit urang; sanggul konde; sanggul jata, sanggul keling.

Isolasi, karakterisasai dan identifikasi kompenen minyak atsiri dari daun liligundi (Vitex Trifolia, L.) / Dyna Puspitasari

 

ABSTRAK Puspitasari, Dyna. 2008. Isolasi, Karakterisasi dan Identifikasi Komponen Minyak Atsiri dari Daun Liligundi (Vitex Trifolia, L.). Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata kunci: Isolasi, Minyak atsiri, Daun Liligundi Minyak atsiri banyak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan itu sebagian besar minyak atsiri diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri. Salah satu kelompok tanaman yang menghasilkan minyak atsiri adalah tanaman anti nyamuk. Liligundi (Vitex Trifolia, L.) merupakan salah satu jenis tanaman anti nyamuk. Hal ini memberi indikasi bahwa di dalam tanaman liligundi mengandung minyak atsiri. Tanaman ini belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia dan sebagian besar hanya terdapat di Bali, oleh karena itu penelitian tentang kandungan kimia pada liligundi belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi minyak atsiri daun liligundi, mengetahui karakter dan komponen minyak atsiri daun liligundi. Penelitian ini bersifat eksperimen laboratoris, meliputi persiapan sampel yang merupakan daun liigundi basah dan daun liligundi yang dikeringkan selama 3 hari. Setelah itu sampel diisolasi minyak atsirinya dengan menggunakan metode destilasi uap air. Minyak atsiri yang diperoleh dihitung rendemennya, dikarakterisasi yang meliputi titik didih, indeks bias dan berat jenis serta diidentifikasi 10 komponen utamanya. Daun liligundi basah menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen sebesar 0,027%, berat jenis sebesar 0,87 g/mL dan indeks bias pada suhu pengukuran 20oC sebesar 1,476. Sedangkan hasil isolasi daun liligundi kering menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen sebesar 0,074%, berat jenis sebesar 0,90 g/mL dan indeks bias pada suhu pengukuran 20oC sebesar 1,481. Hasil pengukuran titik didih minyak atsiri daun liligundi basah dan kering berada pada rentang 90oC-115oC. Sepuluh komponen utama minyak atsiri daun liligundi basah adalah α –pinena 6,04 %; sabinen 14,99 %; β-pinena 1,91%; 1,8-sineol 9,19%; 3-sikloheksena-1-metanol,α,α,4-trimetil-asetat 8,52%; trans-caryophyllene 29,81%; Caryophyllene oxside 2,37%; 19-di-torulosol 6,53%. Sedangkan sepuluh komponen utama minyak atsiri daun liligundi kering adalah α –pinena 8,51%; sabinen 17,71%; β-pinena 2,21%; 1,8-sineol 13,91%, 3-sikloheksena-1-metanol,α,α,4-trimetil-asetat 8,86%; trans-caryophyllene 32,60%; α –humulen 1,22%; 19-di-torulosol 3,43%.

Perancangan media komunikasi visual SD Lab Internasional UM sebagai media promosi / Sony Arief Fauzi

 

ABSTRAK Arief Fauzi, Sony. 2007.Perancangan Media Komunikasi Visual SD Lab Internasional UM Sebagai Media Promosi. Skripsi Program studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing (1) Dra. Lilik Indrawati, (2) Drs. Didiek Rahmanadji. Kata kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, SD Lab Internasional UM, Promosi. SD Lab Internasional UM merupakan lembaga pendidikan Nasional yang bertaraf Internasionl. Lembaga pendidikan ini memberikan berbagai macam fasilitas dan berbagai macam program pendidikan yang dapat membantu anakanak untuk mengembangkan kreatifitas yang ada pada dirinya sesuai dengan tujuan serta visi dan misi SD Lab Internasional UM. Dengan adanya tingkat persaingan antar lembaga pendidikan, maka lembaga pendidikan ini perlu menciptakan media komunikasi visual yang dapat memberikan informasi sekaligus membangun citra positif kepada masyarakat akan keunggulan yang dimiliki oleh SD Lab Internasional UM yang berbeda bahkan tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan yang. Rancangan media komunikasi visual dengan melibatkan media sebagai sarana komunikasi (penyampaian pesan dan informasi) yang ditampilkan secara visual merupakan sarana yang efektif dalam proses publikasi dan promosi. Untuk merancang bentuk komunikasi visual yang efektif, diperlukan serangkaian kegiatan observasi, baik terhadap lembaga maupun terhadap kondisi lingkungan termasuk di dalamnya kompetitor dan kemungkinan pengembangan yang ada. Perancangan ini menggunakan model prosedural yang bersifat deskriptif. Data yang dianalisis yaitu mencangkup data klien, target audience,target market dan kompetitor dari SD Lab Internasional UM. Perancanganini digunakan sebagai pijak menentukan perancangan media komunikasi visual yang efektif, efisien dan tepat sasaran. Hasil dari Perancanganini menghasilkan media komunikasi visual yang digunakan sebagai sarana promosi dalam even penerimaan siswa- siswi baru tahun ajaran 2007-2008 SD Lab Internasional UM. Media-media tersebut adalah berupa brosur, spanduk, umbul- umbul, billboard, poster, iklan surat kabar, map formulir pendaftaran, amplop, kertas surat, x baneer, flag chain , papan penunjuk jalan, kaos, stiker, pin. Dengan visualisasi yang menampilkan gambar-gambar kebahagiaan siswa SD Lab Internasional UM kegiatan yang dilakukan siswasiswi SD Lab Internasional UM dan berbagai macam fasilitas- fasilitas yang dimiliki oleh SD Lab Internasional UM diharapkan dapat meningkatkan citra lembaga dan meningkatkan jumlah siswa pada tahun ajaran baru 2007-2008.

Pembuatan busana pesta "romantic pink" / Laksmi Puspitasari

 

Peningkatan kualitas dan hasil belajar melalui pembelajaran tematik siswa kelas I SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Arum Victoria

 

Kata Kunci: kualitas belajar, hasil belajar, tematik Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penerapan pembelajaran tematik di kelas I SDN Jatimulyo 5 yang relatif rendah. Penyerapan materipun masih belum optimal dan nilai rata-rata kelas masih rendah karena banyak siswa yang mendapat nilai di bawah standar nilai ketuntasan yang ditetapkan oleh pihak sekolah, yaitu siswa mendapat skor minimal 70. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan peningkatan kualitas penerapan pembelajaran tematik pada siswa kelas I SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan kualitas belajar setelah penerapan pembelajaran tematik di Kelas I SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar setelah penerapan pembelajaran tematik di Kelas I SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaboratif. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus pertama dan siklus kedua masing-masing dilaksanakan selama dua hari. Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dengan jumlah 15 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian pembelajaran tematik tema lingkungan ini dapat meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa kelas I SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Untuk kualitas belajar yang berupa aktivitas siswa, meningkat sebesar 27,47% dari siklus I ke siklus II. Sedangkan hasil belajar dapat meningkat dari 76,2 pada siklus I menjadi 91,73 pada siklus II. Pada siklus II ketuntasan belajar klasikal sudah mencapai standar ketuntasan belajar minimal yaitu 70, sehingga penelitian dihentikan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada guru untuk menerapkan model pembelajaran tematik di sekolah. Bagi siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran serta dapat menerapkan pada kehidupan sehari-hari. Bagi peneliti selanjutnya dapat memberikan informasi dan bahan masukan untuk kepentingan penelitian selanjutnya.

Pembuatan busana pesta remaja dengan aplikasi ruffles / Hawa Aliyah Permatasari

 

Analisis prosedur atas siklus penggajian dan pengupahan pada PT Telkom Cabang Blitar / Dewi Fitriana

 

ABSTRAK Fitriana, Dewi. 2008, Analisis Prosedur Atas Siklus Penggajian dan Pengupahan Pada PT Telkom Cabang Blitar,Tugas Ahkir, Jurusan Akuntansi, Program Diploma, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Yuli Widi Astuti.Msi, Ak Kata Kunci: Prosedur, Siklus Penggajian dan Upah Keberhasilan suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja perusahaan itu sendiri, baik kinerja keuangan maupun operasional. Oleh karena itu manajemen perlu memotivasi karyawan untuk memacu semangat kerja adalah sebagai alat pengendali perusahaan. Tujuan dari prosedur penggajian dan pengupahan yang baik adalah untuk meminimalisasi kesalahan yang ada, menghindari kecurangan sehingga dari prosedur yang baik ini perusahaan dapat meningkatkan kinerja dan kesejahteraan karyawan dan karyawan akan sangat bersemangat dalam bekerja. Data yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir adalah data-data yang berhubungan dengan prosedur gaji perusahaan yang diperoleh selama Praktik Kerja Lapangan di PT.Telkom Cabang Blitar. Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu: 1) Studi Kepustakaan dan 2) Riset Lapangan yang terdiri dari: observasi, interview, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil riset lapangan pada PT.Telkom Cabang Blitar yang dilakukan selama Praktik Kerja Lapangan, menunjukkan bahwa penerapan prosedur penggajian sudah sesuai dengan teori dimana pembayaran gaji dilakukan dengan berbasis komputer dengan pendekatan gaji ditransfer langsung ke rekening masing-masing karyawan yang semua pengawasannya dilakukan kantor pusat karena hampir semua prosedur ditangani langsung oleh kantor pusat. Penerapan prosedur dalam pelaksanaannya masih memiliki kelemahan yaitu pihak kantor cabang terutama fungsi-fungsi yang menangani gaji tidak tahu pasti darimana asal jumlah gaji karyawan karena semua prosedur di tangani lansung dari kantor pusat. Berdasarkan, hasil penelitian tersebut maka dapat diberikan saran antara lain: (1) Sebaiknya dibuat bagan alir agar lebih memaksimalkan prosedur yang ada dan (2) Sebaiknya PT Telkom menyediakan alat pengecek kehadiran yang lebih akurat seperti finger scan untuk menghindari penitipan absensi.

Penerapan strategi saluran distribusi pada CV. KM / Kus Irawan Prabowo

 

ABSTRAK Prabowo, Kus . I. 2009. Penerapan Srategi Saluran Distribusi Pada CV. KM Malang. Tugas Akhir, Program Studi D-III Manajemen Pemasaran. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sopiah M.Pd., M.M. Kata Kunci: Penerapan Strategi Saluran Distribusi Setiap perusahaan barang dan jasa tidak akan terlepas dari masalah penyaluran barang yang dihasilkan yang dan akan dijual kepada mayarakat. Para Produsen berhak menentukan kebijaksanaan distribusi mana yang akan dipilih dan disesuaikan dengan jenis barang serta luasnya armada penjualan yang akan digunakan. Suatu perusahaan dikatakan berhasil di dalam marketing apabila perusahaan tersebut dapat memasarkan barang-barangnya secara luas dan merata dengan mendapatkan keuntungan maksimal. Dalam upaya memperkenalkan produk dari produsen tersebut diperlukan beberapa strategi yang meliputi: Price (harga), Promotion (promosi), Place (tempat), dan Produk (produk). Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui penerapan strategi saluran distribusi pada CV. KM, mengetahui peranan lembaga perantara dalam penerapan saluran distribusi, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi saluran distribusi, dan mengetahui faktor-faktor yang menentukan optimalisasi saluran distribusi pada CV. KM. Strategi saluran distribusi yang dilakukan CV. KM adalah mengacu pada saluran distribusi langsung dimana perusahaan tidak menggunakan perantara. CV. KM menggunakan strategi struktur saluran distribusi, strategi cakupan distribusi, strategi saluran distribusi berganda, strategi modifikasi distribusi, strategi pengendalian saluran distribusi dan strategi manajemen konflik. Peranan lembaga perantara dalam CV. KM adalah sebagai pengepul barang-barang bekas, pemberi nasehat teknis, dan pemberi informasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi saluran distribusi adalah keuntungan, laba, pelanggan. Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi saluran distribusi adalah akses jalan raya, lokasi perusahaan dan alat transportasi. Kesimpulan yang dapat diambil penulis adalah penerapan strategi saluran distribusi dalam bentuk saluran distribusi langsung yang dilakukan CV. KM sudah berjalan dengan sangat baik, hal tersebut terbukti dengan semakin berkembangnya usaha CV. KM baik di Kota Malang maupun di kota sekitarnya. Pada saluran distribusi CV. KM perantara atau agen digunakan tidak hanya digunakan untuk pengumpul barang bekas tetapi juga dan untuk pemberi nasehat teknis tetapi juga pemberi informasi tentang pesaing. Saran yang dikemukakan penulis antara lain: 1) CV. KM harus selalu melakukan promosi, 2) Mengoptimalkan kinerja perantara, dan 3) Mencari konsumen industri yang lain sehingga harapannya barang-barang yang ada di gudang dapat segera dijual kepada konsumen industri yang membutuhkan.

Pelaksanaan strategi diversifikasi produk jasa beasiswa pada PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang / Alfonsina Y.

 

Perusahaan tidak akan mampu bertahan dengan produk lama untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin selektif, sehingga perusahaan harus mampu bersaing dengan perusahaan sejenis. Salah satu strategi yang dilakukan adalah diversifikasi produk. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan strategi diversifikasi produk PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang, faktor apa saja yang mendorong pelaksanaan strategi diversifikasi produk pada PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang, faktor penghambat diversifikasi produk pada PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang. Strategi diversifikasi produk yang diterapkan PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang adalah strategi diversifikasi konsentris, yaitu produk-produk baru yang diperkenalkan memiliki kaitan atau hubungan dalam hal pemasaran atau teknologi dengan produk yang sudah ada. Tetapi produk baru yang diperkenalkan oleh PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang ini dijual untuk berbagai segmen yang ada atau keseluruh pelanggan. Adapun tujuan dari diversifikasi produk ini adalah untuk menarik nasabah baru dan mempertahankan nasabah lama serta meningkatkan income perusahaan. Selain itu, ada beberapa faktor penghambat pelaksanaan diversifikasi ini antara lain: kurangnya promosi yang dilaksanakan oleh PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang, suku bunga yang rendah sehingga investasi tidak maksimal, akibatnya keuntungan yang dicapai kurang maksimal. Saran yang dapat diberikan penulis kepada PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang adalah agar PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Distrik Malang dapat meningkatkan diversifikasi produk untuk menghindari kejenuhan pasar dan meningkatkan omzet penjualan dan pendapatan perusahaan, meningkatkan promosi sehingga menarik lebih banyak kosumen.

Bauran pemasaran pada divisi Fresh Department Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang / Ulil Afidah

 

Menghadapi persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat perusahaan harus meningkatkan Strategi pemasaran untuk meningkatkan memperlancar kegiatan usahanya. Oleh karena itu syarat yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan agar sukses dalam persaingannya adalah mampu menciptakan produkproduk yang kualitasnya lebih baik.harga yang sesuai dengan kondisi konsumen,sistem penyaluran distribusi secara jelas,dan memaksimalkan kegiatan promosi. Tujuan dan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui Strategi Produk,Strategi Harga,Strategi Distribusi,dan mengetahui Promosi dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dari strategi pemasaran yang ditetapkan departemen Bakery Di Giant Hypermarket Gajayana Malang. Penerapan Strategi Pemasaran pada Departemen Bakery di Giant Hypermarket Gajayana Malang untuk meningkatkan Strategi salesnya antara lain(1) Strategi Produk. Beberapa hal yang penting pada strategi produk adalah jenis produk,cara pengadaan produk,display produk,dan proses produksi.(2) Strategi Harga. Penentuan harga dapat dilihat dari faktor-faktor yang harus dipertimbangkan oleh Giant Hypermarket Gajayana Malang khususnya Departemen Bakery dan yang kedua adalah jenis harga yang digunakan pada Departemen Bakery. (3) Strategi Distribusi. Sistem Distribusi yang digunakan di Giant Hypermarket Gajayana Malang khususnya Departemen Bakery adalah sistem Distribusi langsung dan Distribusi tidak langsung .(4) Strategi Promosi. Kegiatan yang dilakukan dalam mempromosikan suatu produk dengan periklanan(advertising) dan Personal Selling. Kesimpulan yang dapat diambil dari pengamatan praktikum pemasaran ini adalah dengan menerapkan strategi pemasaran secara maksimal maka tujuan akan tercapai. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar Giant Malang khususnya departemen Bakery memperbaiki Kualitas roti ataupun kue yang dijual agar dapat bersaing dengan pesaingnya, Harga yang bersaing, mengefektifkan karyawan sehingga kegiatan pemasaran akan menjadi lebih efektif yang akan mencapai omzet penjualan.

Implementasi strategi layout, teknik visual dan display pada unit usaha swalayan PKPRI Malang / Novandra Savitri Putri

 

ABSTRAK Putri, Novandra Savitri. Implementasi Strategi Tata Layout, Tehnik Visual dan Display pada Unit Usaha Swalayan PKPRI Malang. Tugas Akhir Program Studi Diploma III Manajemen Pemasaran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. Kata-kata kunci: Tata Layout, Display, PKPRI Konsumen merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam perkembangan dunia bisnis saat ini, oleh karena itu para pelaku bisnis dituntut untuk lebih bisa bersaing agar tidak kehilangan konsumen. Dalam situasi tersebut para pelaku bisnis berlomba-lomba untuk memuaskan konsumen yang salah satunya dengan cara memperhatikan tata ruang toko dan tata letak penataan barang. Hal ini penting untuk membuat konsumen lebih merasa nyaman dan leluasa memilih barang yang diinginkannya. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui penerapan tata letak (layout) pada unit usaha swalayan PKPRI Malang, mengetahui penerapan tehnik visual dan display pada unit usaha swalayan PKPRI Malang dan mengetahui solusi untuk menerapkan layout, tehnik visual dan display yang tepat pada unit usaha swalayan PKPRI Malang. Hasil pengamatan selama melakukan pratek kerja lapangan di swalayan PKPRI Malang menunjukkkan bahwa (1) Swalayan PKPRI Malang terletak di Jalan R. Tumenggung Suryo N0 20 Malang. (2) Jenis tata letak yang digunakan pada swalayan PKPRI Malang ini adalah bentuk GRID atau Jejaring dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan aliran pembeli dalam toko sehingga mereka bisa bebas memilih atau melihat produk pada setiap bagian toko. (3) Di swalayan PKPRI Malang menggunakan penerangan yang cukup baik karena selain menggunakan beberapa cahaya lampu yang cukup kuat, juga ditunjang dengan kaca Windows Display di bagian depan toko yang memantulkan sinar matahari dari luar ruangan sehingga menghasilkan cahaya yang semakin terang untuk swalayan. Langit-langit ruangan dibuat tinggi dengan tujuan agar sirkulasi udara dalam ruangan berjalan dengan baik, sehingga suhu temperatur ruangan tidak panas dan akan memberikan hawa yang sejuk kepada konsumen. Pemasangan Fan pada dua sisi sudut ruangan PKPRI belum cukup memberikan hawa sejuk di dalam ruangan, hal ini dikarenakan pengaktifan fan tersebut jarang dilakukan. Tembok Swalayan PKPRI berwarna putih. Hal ini memberikan kesan bersih dan luas pada Swalayan. Pemutaran musik pada swalayan PKPRI kurang dapat menimbulkan perasaan santai bagi konsumen, karena pemutaran musik yang berganti-ganti hal ini dikarenakan pemutaran musik mengunakan radio yang musiknya dapat berubah sewaktu-waktu. (4) Pada Swalayan PKPRI Malang terdapat empat alokasi ruang yang dapat menunjang pelayanan konsumen yaitu Selling space, Marchandise space, Customer space, dan Personal space. Beberapa saran yang bermanfaat bagi swalayan PKPRI Malang adalah sebagai berikut: (1) Pengelola swalayan harus lebih giat lagi dalam melakukan penataan barang dan pemaksimalan ruangan toko sehingga swalayan lebih dapat menarik minat konsumen. (2) Memanfaatkan beberapa ruangan yang tidak fungsional sehingga penataaan barang lebih maksimal lagi. (3) Menambah jumlah rak barang agar barang-barang yang ditata secara berdesakan dapat ditata lebih rapi lagi. (4) Pembaruan papan nama PKPRI. (5) Menambah variasi produk yang dijual agar lebih banyak lagi konsumen yang berbelanja disana. (6) Menyediakan Fitting Room agar konsumen yang ingin membeli baju pada swalayan itu dapat lansung mencobanya. (7) Memberikan seragam khusus dengan warna yang ceria pada semua karyawan yang bertugas di dalam swalayan agar menimbulkan kesan yang menarik kepada konsumen.

Analisis kualitas pelayanan dalam kepuasan konsumen Perum Pegadaian Cabang Kadangan / Ruly Aprilla Putri Laksari

 

Sekarang ini persaingan dalam dunia bisnis sangat ketat sekali, maka setiap perusahaan di tuntut untuk dapat memberikan pelayanan yang terkait bagi konsumen yang optimal. Memberikan kepuasan pelanggan dengan pelayanan yang terbaik pelanggan sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif. Setiap strategi yang digunakan oleh perusahaan pada dasarnya bertujuan untuk menarik perhatian dan mempengaruhi konsumen agar mau menggunakan jasa yang ditawarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pihak perusahaan dalam pelayanannya konsumen mendapatkan kepuasan. Kunci keberhasilan suatu perusahaan yakni mampu memahami kebutuhan konsumen atau nasabah, keinginan dan harapan pelanggan. Sebab dapat dikatakan bahwa jika pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan pelanggan, maka pelayanan dapat dipersepsikan baik, begitu juga sebaliknya jika pelayanan yang diterima atau dirasakan lebih rendah atau kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan yang apa diharapkan maka dapat dipersepsikan kualitas pelayanannya buruk. Tujuan penulisan Laporan Tugas Akhir ini, untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan yang diberikan Perum Pegadaian Cabang Kandangan dalam memberikan Kepuasan Konsumen. Pelanggan yang ada dan sudah mampukah mereka mempengaruhi suksesnya kegiatan pemasaran dan kualitas pelayanannya yang sesuai dengan harapan calon pelanggan ataupun pelanggan yang ada. Hasil yang di dapat dari pengamatan yang dilakukan selama dilaksanakannya PKL di Perum Pegadaian Cabang Kandangan menunjukkan bahwa strategi kepuasan pelanggan yang diterapkan oleh perusahaan sudah cukup baik seperti kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan dalam pelayanan. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut disarankan agar perusahaan harus dapat meningkatkan kualitas pelayanan melalui pendekatan diantaranya ekspresi dengan senyuman, komunikasi, penampilan dan kebiasaan pelayanan yang lebih efektif demi tercapainya kepuasan nasabah dan para calon nasabah. Sehingga mampu menciptakan sebuah loyalitas di hati pelanggan dan menciptakan bisnis ulangan oleh pelanggan (repeat business).

Pengaruh kondisi sosial ekonomi terhadap kemiskinan di desa Manduro Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang / Lilik Rosita

 

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang sejak dahulu membelenggu sebagian masyarakat Indonesia. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui banyak kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan, namun hingga saat ini sebagian besar rakyat Indonesia masih belum bisa keluar dari kondisi tersebut. Adanya krisis ekonomi, jumlah penduduk miskin makin bertambah terutama di pedesaan yang umumnya bersumber dari sektor pertanian yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan, serta tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah beban tanggungan keluarga, jenis pekerjaan, luas lahan garapan dan tingkat pendidikan kepala keluarga terhadap kemiskinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei, yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang telah diperoleh. Populasi penelitian adalah kepala keluarga yang menerima program BLT di Desa Manduro Kecamatan Kabuh. Penentuan sampel area menggunakan teknik Purposive Sampling karena dari 16 desa yang ada di Kecamatan Kabuh, terdapat 1 desa yang penduduknya terbanyak menerima BLT. Sedangkan sampel responden menggunakan teknik Systematic Random Sampling supaya data yang diambil dapat mengahsilkan kesalahan yang lebih kecil dan didapatkan jumlah responden sebanyak 100 KK. Pengambilan responden ditentukan dengan banyaknya penduduk yang menerima BLT. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Setelah data terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan tabulasi tunggal dan silang Hasil analisis tabulasi menunjukkan bahwa jumlah beban tanggungan keluarga, jenis pekerjaan, luas lahan garapan dan tingkat pendidikan kepala keluarga berpengaruh terhadap kemiskinan dan kemiskinan dalam penelitian termasuk bentuk kemiskinan relatif, dengan kondisi penduduk yang rentan sekali untuk menjadi sangat miskin apabila terjadi perubahan ekonomi atau permasalahan sosial lainnya. Sedangkan hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa jumlah beban tanggungan keluarga, jenis pekerjaan, luas lahan garapan dan tingkat pendidikan kepala keluarga berpengaruh negatif terhadap kemiskinan. Saran yang dapat diberikan adalah: 1) Adanya peningkatan pendidikan bagi masyarakat Desa Manduro Kecamatan Kabuh guna meningkatkan sumberdaya manusia; 2) Mengoptimalkan fungsi kelembagaan masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang ada di Desa Manduro; 3) Bagi instansi baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten hendaknya dapat memberikan penyuluhan rutin kepada kepala keluarga mengenai pentingnya pendidikan, serta menyediakan alternatif kesempatan kerja dengan membuka lapangan pekerjaan selain disektor pertanian.

Pengaruh status sosial ekonomi dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (studi kasus di SMAN 03 Lumajang) / Yayang Wahyu Pradana P.

 

ABSTRAK Prihandoko, Yayang Wahyu Pradana. 2009. Pengaruh Status Sosial Ekonomi dan Perhatian Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Pranowo, (II) Drs. H. Ali Wafa Kata kunci: status sosial ekonomi, perhatian orang tua, prestasi belajar. Faktor status sosial ekonomi orang tua yang mewujudkan pada kemampuan finansialnya. Kemampuan finansial yang berbeda-beda sedikit banyak akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dengan kemampuan finansial orang tua, tentunya akan mempengaruhi fasilitas belajar yang disediakan oleh orang tua terhadap sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh seorang siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Selain itu, Siswa yang mendapat pembinaan dan perhatian baik dari orang tuanya mendapat prestasi belajar lebih baik dibanding siswa yang kurang mendapat perhatian dari orang tua. Itu karena perhatian orang tua mempunyai pengaruh besar terhadap peningkatan prestasi belajar anak di sekolah. Maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: (1) Bagaimana status sosial ekonomi orang tua, (2) Bagaimana perhatian orang tua, (3) Bagaimana prestasi belajar siswa di SMAN 03 Lumajang, (4) Bagaimana pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SMAN 03 Lumajang, (5) Bagaimana pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SMAN 03 Lumajang, (6) Apakah ada pengaruh perhatian orang tua dan status sosial ekonomi orang tua siswa terhadap prestasi belajar siswa di SMAN 03 Lumajang. Penelitian ini dilakukan di SMAN 03 Lumajang. Dalam penelitian ini berdasarkan pendapat Arikunto maka sampel dari penelitian ini adalah sebagai berikut : jumlah keseluruhan siswa kelas X1 s.d. X7 dan XI IPS1 s.d. IPS3 SMAN 03 Lumajang adalah 280 siswa. Dari setiap kelas diambil proporsi 50% siswa dari masing-masing kelas yang diteliti secara random. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2008. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan koefisien korelasi berganda, statistik deskriptif, regresi linear berganda. Hasil penelitian ini yang diolah menunjukkan konstant sebesar 41,650, pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,322 dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa adalah sebesar 0,337. Besarnya sumbangan variabel status sosial ekonomi orang tua (X1) dan perhatian orang tua (X2) terhadap prestasi belajar (Y) ditunjukkan dengan koefisien determinasi yang telah disesuaikan (adjusted R squared) yaitu sebesar 0,129. Angka ini menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh variabel status sosisal ekonomi orang tua (X1) dan perhatian orang tua (X2) terhadap prestasi belajar (Y) adalah sebesar 12,9% sedangkan sisanya sebesar 87,1% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini, perhatian yang baik dan peran keluarga terutama orang tua sangatlah penting dalam prestasi belajar anaknya. Selain itu status sosial ekonomi juga berpengaruh dalam penyediaan fasilitas belajar supaya anak lebih termotivasi dan juga lebih bersemangat untuk belajar, akhirnya anak akan memperoleh prestasi belajar yang lebih baik. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: (1) Sebagian besar status sosial ekonomi orang tua siswa kelas X dan XI jurusan IPS di SMA Negeri 3 Lumajang tergolong pada kondisi ekonomi sangat mampu untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana demi meningkatnya prestasi belajar anaknya, (2) Dari hasil penelitian dapat diketehaui bahwa mayoritas orang tua memberikan perhatian yang baik sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar anaknya, (3) Dari hasil penelitian prestasi belajar yang diukur dari nilai ulangan harian siswa tergolong sangat baik, (4) Dari hasil penelitian dapat diketahui ada pengaruh yang signifikan antara status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Lumajang, (5) Ada pengaruh yang signifikan antara perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Lumajang, (6) Hasil pengujian menunjukkan ada pengaruh yang signifikan dan hubungan yang erat antara kedua variabel bebas yaitu status sosial ekonomi dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Lumajang.

Pengembangan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema deterjen bagi siswa SMP Negeri 18 Malang / Nur Jannah

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 secara tegas menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/MTs merupakan IPA Terpadu. Namun pembelajaran IPA di SMP Negeri 18 Malang belum dilaksanakan secara terpadu. IPA masih dibelajarkan secara terpisah-pisah antara mata pelajaran fisika dan biologi. Oleh sebab itu diperlukan bahan ajar/paket IPA Terpadu untuk membantu pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu. Pengembangan ini bertujuan (1) mengembangkan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme bagi SMP Negeri 18 Malang, (2) mengembangkan panduan guru IPA terpadu berbasis konstruktivisme bagi SMP Negeri 18 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Metode pengembangan yang digunakan pada penelitian ini mengikuti langkah-langkah model Borg dan Gall terdiri dari 10 tahap, yaitu: (1) tahap pengumpulan informasi dan penelitian, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal, (4) uji lapangan awal, (5) revisi produk utama, (6) uji lapangan utama, (7) revisi produk operasional, (8) uji lapangan operasional, (9) revisi akhir, (10) desiminasi. Pada pengembangaN ini hanya menggunakan lima langkah, karena hanya untuk menghasilkan produk utama saja. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket yang diisi oleh validator. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari analisis nilai rata-rata angket skala Likert, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator dan koreksi kata dan kalimat sulit oleh siswa. Paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme untuk SMP Negeri 18 Malang yang dikembangkan memiliki tema deterjen yang merupakan perpaduan dari materi kimia, fisika dan biologi. Berdasarkan hasil uji validitas, paket bahan ajar memperoleh skor 3,76 yang bernilai valid. Hasil uji validasi panduan guru IPA Terpadu berbasis konstruktivisme untuk SMP Negeri 18 Malang memperoleh skor 3,78 yang bernilai valid. Kelebihan dalam paket bahan ajar dan panduannya yang dikembangkan adalah: (1) disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (2) penyusunannya disesuaikan dengan paradigma pembelajaran kontekstual, (3) siswa dapat melihat hubungan antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, (4) siswa dapat melihat hubungan yang bermakna antara materi kimia, fisika dan biologi, (5) beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu, (7) memudahkan guru dalam menyampaikan materi IPA terpadu dengan tema deterjen, kekurangan pada bahan ajar ini adalah: (1) bahan ajar yang dikembangkan hanya dilakukan validasi isi belum divalidasi empirik, (2) memerlukan biaya yang tinggi untuk dapat menghasilkan (memiliki) bahan ajar, (3) guru harus berwawasan luas dan memiliki kreativitas tinggi, (4) memerlukan fasilitas yang memadai seperti alat-alat untuk melakukan praktikum.

Reasesmen program kemah kesatuan pemuda sebagai pola pendidikan pembauran antar etnis / oleh Sahidun P. Umar

 

Pengaruh persepsi bauran pemesaran terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli rokok (Studi pada konsumen rokok Boy di desa Ngadirenggo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek) / Rendra Setiyawan

 

Sebagai salah satu dampak adanya globalisasi adalah persaingan antar perusahaan yang semakin kuat, baik itu perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Hal ini menyebabkan suatu perusahaan harus siap terhadap tuntutan konsumen yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Untuk itu perusahaan perlu mempelajari perubahan perilaku konsumen Sehingga dengan begitu perusahaan akan tanggap dan siap bila suatu waktu konsumen berubah sikapnya dalam membeli suatu barang atau jasa tersebut. Perubahan perilaku konsumen ini juga terjadi dalam bisnis rokok. Konsumen saat ini memerlukan banyak pertimbangan yang matang dalam membeli rokok agar tidak kecewa karena untuk memperoleh kenikmatan rasa yang diinginkan sehingga memerlukan pertimbangan yang sangat serius dalam memutuskannya. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan konsumen seperti: produk, harga, lokasi distribusi dan promosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam membeli rokok Boy di desa Ngadirenggo, pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam membeli rokok Boy di desa Ngadirenggo baik secara parsial maupun simultan dan bauran pemasaran yang mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan konsumen dalam membeli rokok Boy di desa Ngadirenggo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yaitu pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam membeli rokok Boy di desa Ngadirenggo. Populasi yang diambil adalah konsumen rokok Boy di desa Ngadirenggo yang jumlahnya tidak terbatas (infinite population). Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage sampling, purposive sampling, dengan sampel sebanyak 168 responden. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitias dengan sampel uji coba sebanyak 30 responden. Data diperoleh melalui responden menggunakan kuesioner/angket tertutup dan diukur menggunakan skala Likert dengan skor 1 - 5. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, lokasi dan promosi menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli rokok Boy di desa Ngadirenggo. (2) Terdapat pengaruh signifikan bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, lokasi dan promosi secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian rokok Boy di desa Ngadirenggo. (3) Berdasarkan koefisien beta masing-masing variabel bebas maka dapat disimpulkan bahwa harga merupakan variabel yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian rokok Boy di desa Ngadirenggo. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Diharapkan PR Alfi Putra untuk memperhatikan faktor produk, harga, lokasi distribusi dan promosi pada konsumen untuk melakukan pembelian rokok Boy. Hal tersebut dikarenakan faktor produk, harga, lokasi dan promosi berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam membeli rokok Boy di desa Ngadirenggo. (2) Diharapkan PR Alfi Putra untuk memperhatikan faktor harga karena harga merupakan faktor utama yang dijadikan pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian rokok Boy, untuk itu unsur dalam harga yang meliputi penetapan harga dan harga pesaing harus diperhatikan oleh perusahaan apabila ingin mempertahankan dan meningkatkan permintaan konsumen. (3) Diharapkan PR. Alfi Putra lebih memperbanyak promosi dengan pemilihan media yang efektif seperti tester produk, karena dari hasil penelitian promosi mempunyai nilai yang rendah dalam mempengaruhi keputusan pembelian.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII SMPN 1 Kras Kediri / Umi Zuraida Irmawati

 

ABSTRAK Hartatik, Sri. 2008. Implementasi Fungsi Manajemen di Sekolah (Suatu Studi Multi Kasus di SMK Negeri Pasirian dan SMA Negeri Lumajang). Tesis Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof.Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. (2) Prof. Dr. Salladien. Kata Kunci : implementasi, fungsi manajemen Tujuan negara dalam rangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang dasar Negera 1945 perlu adanya partisipasi masyarakat dalam pendidikan terbukti dengan adanya keikutsertaan masyarakat dalam pembiayaan pendidikan, hal ini dapat dilihat banyak berdiri sekolah-sekolah swasta mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. SMK Negeri Pasirian merupakan sekolah yang baru berdiri, di usia empat tahun SMK negeri Pasirian sudah menunjukkan perkembangan yang sangat bagus baik dilihat dari jumlah siswa maupun perkembangan sarana dan prasarana yang dimiliki sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar sedangakan sekolah lain yang sebaya mengalami kesulitan dalam hal mendapatkan siswa. SMA Negeri 2 Lumajang yang merupakan sekolah unggul terpadu memiliki kualitas lulusan yang cukup baik dan para lulusannya banyak yang diterima di perguruan tinggi negeri. Untuk itu perlu diteliti bagaimana kepala sekolah mengimplementasikan fungsi manajemen, dan mengapa sekolah itu bisa berkembang. Fokus penelitian ini adalah implementasi fungsi-fungsi manajemen di SMK Negeri Pasirian dan SMA Negeri 2 Lumajang, dengan rincian fokus (1)Perencanaan kepala SMK Negeri Pasirian dan Kepala SMA Negeri 2 Lumajang, (2) Pengorganisasian dst Lokasi penelitian ini di SMK Negeri Pasirian merupakan sekolah yang baru berdiri dan SMA Negeri 2 Lumajang yang merupakan sekolah unggul terpadu di kabupaten Lumajang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi multi kasus. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yaitu : (1) observasi peran serta, (2) wawancara mendalam, dan (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara diskriptif dengan alur : (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan tiga kriteria : (1) kredibilitas, (2) dependabilitas, dan (3) konfirmabilitas. Dari hasil analisis data dapat diperoleh temuan-temuan hipotesis sebagai berikut : (a) Perencanaan untuk pengembangan sekolah perlu dilakukan beberapa tahap, (b) untuk menstruktur proses kerjasama di sekolah perlu adanya pengorganisasian, (c) untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah diperlukan penggerakan kerjasama staf dan guru, (d)agar perencanaan yang dibuat dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya perlu adanya pengawasan secara menyeluruh, dan (e) pengembangan sekolah dapat dilaksanakan melalui pengembangan fisik dan pengembangan non fisik. Berdasarkan temuan penelitian ini agar sekolah dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, maka disarankan kepada kepala sekolah (1) dalam pembuatan perencanaan hendaknya tidak hanya melibatkan staf tetapi melibatkan seluruh warga sekolah agar semua warga sekolah dapat belajar dan tahu bagaimana membuat perencanaan untuk mengembangkan sekolah, sehingga ada regenerasi staf di sekolah, bila sewaktu-waktu staf diangkat sebagai kepala sekolah ada yang menggantikannya, (2) dalam pengorganisasian yang menyangkut penyusunan struktur organisasi perlu adanya perputaran jabatan dari staf atau petugas lain agar semua staf atau guru dapat memahami keseluruhan tugas pendidikan di sekolah, (3) dalam menggerakkan staf atau guru dalam hal memberikan pengarahan atau bimbingan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan akademiknya, (4) pengendalian atau pengawasan hendaknya dilakukan secara terus menerus, (5) pengembangan non fisik yang berupa peningkatan sumber daya guru perlu diikuti adanya peningkatan kesejahteraan.

Penentuan struktur senyawa kompleks dari tembaga(I) tiosianat dan sianida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan metode difraksi sinar-X kristal tunggal / Arifatul Mahsunah

 

Ada banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuannya, salah satu cara yang biasa dilakukan oleh perusahaan adalah dengan mengelola aset-aset yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga mendapatkan keuntungan yang optimal. Dengan kepemilikan aset tersebut diharapkan telah sesuai dengan kebutuhan Karena apabila terlalu banyak akan menyebabkan adanya dana yang menganggur dan apabila terlalu sedikit akan menghambat proses produksi perusahaan. Piutang perusahaan merupakan elemen yang penting bagi perusahaan karena dalam kondisi persaingan yang semakin tajam memaksa perusahaan berlomba untuk memberikan kemudahan dalam persyaratan penjualan. Semakin lama syarat pembayarannya makin lama pula modal terikat dalam piutang, sehingga makin rendah tingkat efisiensi modal yang ditanamkan dalam piutang. Sedangkan persediaan yang tampak dengan adanya perputaran persediaan yang relatif cepat akan mengindikasikan bahwa stok persediaan lebih produktif dan investasi dengan tingkat pengembalian tinggi. Investasi aktiva tetap merupakan penambahan aktiva tetap baru untuk memperlancar proses produksi perusahaan dengan harapan agar memperoleh tambahan tingkat pengembalian atau untuk mengganti aktiva tetap yang lama yang telah habis masa produksinya. Penambahan aktiva tetap harus sesuai dengan kebutuhan karena apabila terlalu banyak akan menyebabkan adanya dana yang menganggur dan apabila terlalu sedikit akan menghambat proses produksi. Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian asosiatif yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data laporan keungan bulanan mulai bulan juni sampai desember tahun 2003-2007 sebanyak 35 data. teknik sampling yang digunakan yaitu Purposive Sampling. Jenis data yang digunakan adalah data kuantutatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari PG Tjoekir dengan cara meminta izin kepada manajer personalia dan dengan magang selama 8 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel perputaran piutang secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap Return On Assets (ROA), sedangkan perputaran persediaan dan investasi aktiva tetap secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return On Assets (ROA). Akan tetapi secara simultan perputaran piutang, perputaran persediaan dan investasi aktiva tetap berpengaruh terhadap Return On Assets (ROA) Pada peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah variabel, menambah jumlah sampel perusahaan serta peneliti juga bisa menggunakan sampel perusahaan sektor usaha tertentu dengan memperluas periode pengamatan sehingga hasilnya dapat lebih menentukan untuk dapat meningkatkan Return On Assets perusahaan (ROA).

Pengaruh kepimpinan transformational terhadap turnover melalui kepuasan kerja (Studi pada karyawan Hotel Tugu Malang) / Novi Christanti

 

ABSTRAK Christanti, Novi. 2009. Pengaruh Kepemimpinan Transformasional terhadap Turnover melalui Kepuasan Kerja (Studi pada Karyawan Hotel Tugu Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Budi Eko S., M.Ed., M.Si (II) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si. Kata kunci: Kepemimpinan Transformasional, Kepuasan Kerja, Turnover Perusahaan harus memiliki SDM yang berkulitas yang mampu menghasilkan suatu produk yang bermutu prima hingga produk tersebut selain dikenal oleh masyarakat juga sebagai produk pilihan prioritas konsumen. Untuk memberdayakan SDM-SDM yang berkualitas perusahaan sangat berperan penting dalam mengelola karyawan-karyawan mereka mulai dari merancang dan menganalisa pekerjaan, memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawan, hingga mengatasi segala masalah dan kesulitan-kesulitan karyawan dalam melakukan pekerjaanya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah kepuasan kerja karyawannya. Untuk mewujudkan kepuasan kerja peran pemimpin sangatlah menentukan. Banyak model kepemimpinan yang diterapkan seorang pemimpin kepada bawahannya, salah satu model kepemimpinan itu adalah transformational leadership. Transformational Leadership terutama yang terjadi pada karyawan yang memiliki sudut pandang terhadap gaya pemimpin, merupakan suatu kajian utama bagi proses belajar dalam rangka mengembangkan diri, mengembangkan kelompok dan perbaikan mutu kerja sehingga karyawan dapat memperoleh kepuasan kerja yang maksimal dan pada akhirnya beriplikasi pada terhindarnya Turnover. Penelitian ini dilakukan di Hotel Tugu Malang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pengukuran transformational leadership, kepuasan kerja dan turnover dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada karyawan. Populasi dalam penelitian ini adalah 217 orang dan sampel yang diambil adalah 68 orang dengan menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak untuk unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proposional (Propotionate Stratified Random Sampling). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif untuk mendeskripsikan kondisi transformational leadership, kepuasan kerja dan turnover karyawan di Hotel Tugu Malang, serta menggunakan analisis jalur (path analysis) untuk menentukan besar pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel transformational leadership, kepuasan kerja dan turnover berdasarkan koefisien regresi beta (koefisien path) dengan menggunakan program SPSS for windows. Berdasarkan hasil analisis deskriptif data tentang transformational leadership di Hotel Tugu Malang adalah cukup baik. Hal ini terbukti dengan adanya 42,64% atau 29 orang menjawab cukup baik. Kondisi tingkat kepuasan kerja di Hotel Tugu Malang sangat puas. Kondisi ini terbukti dengan adanya sejumlah 48,53% atau 33 orang menjawab sangat puas. Sedangkan kondisi turnover di Hotel Tugu Malang adalah sangat rendah. Kondisi ini terbukti dengan adanya sejumlah 69,12% atau 47 orang menjawab sangat rendah. Dari hasil analisis jalur dapat diketahui bahwa secara parsial dan simultan ada pengaruh yang signifikan antara variabel transformational leadership serta kepuasan kerja terhadap turnover. Variabel transformational leadership dan kepuasan kerja memiliki pengaruh sebesar 22,7% terhadap variabel turnover. Sedangkan dari hasil analisis regresi sederhana untuk melihat pengaruh variabel transformational leadership terhadap variabel kepuasan kerja diperoleh hasil bahwa variabel transformational leadership memiliki pengaruh sebesar 15,6% terhadap variabel kepuasan kerja karyawan. Hasil analisis data pada karyawan Hotel Tugu Malang menunjukkan bahwa transformational leadership secara langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, kepuasan kerja secara langsung berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover dan transformational leadership secara langsung berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada Hotel Tugu Malang untuk tetap mempertahankan penerapan transformational leadership dalam mempengaruhi karyawan, seperti mengarahkan karyawan untuk saling bekerjasama, melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan saran-saran karyawan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional akan mempengaruhi komitmen organisasi karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui kepuasan kerja. Selain itu perusahaan sebaiknya tetap mempertahankan tingkat kepuasan kerja karyawan yang sudah baik karena dengan kepuasan kerja yang baik tersebut karyawan akan memiliki tingkat turnover yang rendah. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan gaji yang sesuai dengan bidang kerjanya, pengawasan yang bersifat kekeluargaan, menciptakan situasi dan kondisi kerja yang baik misalnya dengan penataan ruang yang nyaman dan menyenangkan serta menciptakan rasa persaudaraan diantara rekan sekerja.

Interpretasi metode geomagnetik dalam pembuatan peta anomali medan magnet di Desa Songgokerto, Batu / Uswatun Chasanah

 

Telah dilakukan penelitian tentang pemetaan anomali medan magnetik bawah permukaan bumi dengan metode geomagnetik di Desa Songgokerto Kota Batu. Tujuan dari penelitian adalah membuat pemetaan anomali magnetik dari daerah penelitian yang nantinya akan dapat diketahui keberadaan batuan mineral bawah permukaan bumi. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat geomagnetik yang terdiri dari Proton Precession Magnetometer dan Fluxgate Magnetometer dengan menggunakan analisis software Surfer 8. Hasil dari penelitian ini berupa harga anomali medan magnet dan kemudian diolah dengan Software Surfer 8 untuk mendapatkan pemetaan magnetiknya. Dari hasil pemetaan ini diketahui terdapat dipole-dipole positif dan negatif yang menandakan terdapatnya anomali magnetik dari bawah permukaan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kandungan batuan mineral magnetik yang berada tepat di sebelah timur laut dan barat daya Candi Supo.

Validasi soal ulangan akhir semester (UAS) mata pelajaran geografi semester 2 kelas X di SMA Negeri Kepanjen Kabupaten Malang tahun ajaran 2007/2008 / Dini Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Dini. 2008. Validasi Soal Ulangan Akhir Semester (UAS) Mata Pelajaran Geografi Semester 2 Kelas X di SMA Negeri Kepanjen Kabupaten Malang Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd (II) Drs. Yusuf Suharto. Kata kunci: validasi soal, reliabilitas, analisis opsi. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan sekolah pada akhir semester atau yang sering disebut ujian akhir semester (UAS) mengambil soal yang dibuat oleh guru sendiri. Salah satu syarat soal dikatakan baik adalah soal tersebut telah diujicoba dan dianalisis, tetapi berdasar wawancara pada guru geografi kelas X SMA Negeri Kepanjen Kabupaten Malang Tahun Ajaran 2007/2008 ini belum pernah diujicoba dan dianalisis sehingga belum diketahui validitasnya. Dari wawancara pula guru mengungkapkan ada beberapa item soal yang mengambil dari LKS dan buku paket yang digunakan guru dalam membelajarkan siswanya tanpa diketahui soal tersebut terlalu mudah atau sukar, memiliki validitas item yang baik atau tidak, daya beda yang baik atau tidak, dan apakah distraktor-distraktornya mampu mengecoh siswa atau tidak. Guru juga mengungkapkan bahwa dengan KKM (ketuntasan individu) yang ditetapkan sekolah di Kelas X yaitu 75 dan persentase ketuntasan (ketuntasan kelas) sebanyak 85%. Tetapi dengan soal UAS Geografi ini dapat terpenuhi oleh ± 25%nya saja. Padahal pada ulangan harian yang biasanya diadakan guru sendiri KKM dapat terpenuhi dan persentase ketuntasannya dapat mencapai 97%. Hal ini berarti jauh di bawah persentase ketuntasan yang ditetapkan guru yang menunjukkan bahwa soal UAS Geografi belum bisa menjalankan fungsinya sebagai alat ukur sehingga perlu diadakan analisis soal (validasi soal) UAS Geografi. Berdasar pada penelitian sebelumnya juga, yaitu Effendi dan Susilowati yang menyatakan bahwa soal buatan guru sebagian besar memiliki validitas item yang jelek, proporsi tingkat kesukaran yang tidak seimbang, dan daya beda item yang rata-rata jelek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas soal termasuk di dalamnya validitas kurikuler dan validitas item. Tujuan selanjutnya adalah untuk mengetahui tingkat kesukaran (TK), daya beda (DB), reliabilitas soal, dan untuk mengetahui kekuatan masing-masing opsi dalam soal (analisis opsi) khusus untuk mata pelajaran geografi. Penelitian ini menggunakan dua analisis yaitu deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Sumber datanya diambil dari SMA Negeri Kepanjen Kabupaten Malang. Data yang digunakan adalah soal dan skor jawaban siswa UAS geografi semester 2 kelas X SMA Negeri Kepanjen tahun ajaran 2007/2008. Sedangkan sampel skor jawaban diambil secara simple random sampling, karena sekolah tidak menerapkan kelas unggulan. Dari 9 kelas diambil random diperoleh 2 kelas yaitu skor jawaban siswa kelas X.2 dan X.4 semester 2 SMA Negeri Kepanjen tahun ajaran 2007/2008. Hasil penelitian menunjukkan soal UAS geografi ini memiliki validitas kurikuler yang baik dan validitas item yang jelek. ii Proporsi distribusi tingkat kesukaran soal geografi adalah jelek sedangkan daya beda soal adalah cukup baik. Soal UAS Geografi ini memiliki hasil reliabilitas yang tinggi yaitu dengan hasil perhitungan 0,7423 baik untuk taraf kepercayaan 0,05 maupun 0,01. Pada analisis opsi diperoleh hasil yaitu sebagian besar soal memiliki distraktor yang jelek, artinya dari 4 distraktor yang disiapkan ada rata-rata 3 distraktor yang tidak berfungsi sama sekali dalam mengecoh siswa. Dari hasil penelitian ini disarankan agar guru melakukan telaah soal terlebih dahulu sebelum soal diujikan agar dipenuhinya standar soal yang valid atau bisa juga dalam pembuatan soal mengambil soal yang sudah tervalidasi. Bagi kepala sekolah, disarankan untuk lebih memperhatikan guru dalam melakukan validasi soal ujian baik harian dan semester. Bagi peneliti lebih lanjut, hendaknya hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan, rujukan, dan perbandingan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan masalah yang serupa.

Penerapan pembelajaran IPA terpadu model integrasi (integrated model) berbasis konstruktivisme untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-C SMPN 4 Malang tahun ajaran 2008/2009 / A. Joni Fairuzza Baady

 

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah pembaharuan kurikulum. Berkaitan dengan pembaharuan kurikulum, sekarang ini pemerintah sedang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berdasarkan amanat KTSP, model pembelajaran IPA terpadu merupakan salah satu model pembelajaran yang dianjurkan kurikulum untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) sampai dengan sekolah menengah atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang pada kelas VII-C, pembelajaran IPA masih dilakukan secara terpisah. Model pembelajaran yang sering digunakan masih menggunakan metode ceramah, demonstrasi, sehingga pembelajaran IPA cenderung membosankan. Hal ini disebabkan karena guru belum mempraktekkan model pembelajaran IPA terpadu sehingga hasil belajar siswa masih rendah.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Ketercapaian tujuan tersebut dilakukan dengan menerapkan pembelajaran IPA terpadu model integrasi (integrated model) berbasis konstruktivisme. Model pembelajaran ini memadukan beberapa pokok bahasan dalam satu bidang studi yaitu IPA, sehingga siswa dapat mempelajari fenomena dari berbagai sisi. Model ini dilakukan dengan metode demonstrasi, eksperimen dan diskusi kelompok, sehingga lebih bermakna bagi siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Siklus Penelitian menggunakan dua siklus disertai perbaikan setiap siklusnya. Tahapan yang digunakan dalam penelitian adalah perencanaan, pemberian tindakan kelas, observasi, serta refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII-C SMP Negeri 4 Malang dengan jumlah 43 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa format penilaian hasil belajar siswa, rekaman data, dan catatan lapangan. Instrumen tindakan yang digunakan meliputi LKS dan RPP. Penerapan pembelajaran IPA terpadu model integrasi (integrated model) berbasis kostruktivisme dalam penelitian ini menunjukkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan ini dapat dilihat pada perbandingan siklus I dengan siklus II meliputi ketiga aspek yaitu pada aspek kognitif terjadi peningkatan sebesar 4,66%, pada aspek afektif terjadi peningkatan sebesar 11,63%, pada aspek psikomotor juga mengalami peningkatan sebesar 9,30%.

Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Sumberanyar III Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Setianingsih

 

ABSTRAK Setianingsih, 2008. Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Di Kelas IV SDN Sumberanyar III Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing :(!). Drs. Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd. (II). Drs. A. Badawi, M.Pd. Kata Kunci: Pemanfaatan Lingkungan , Sumber Belajar, IPS Sekolah Dasar. Pendidikan di katakan berhasil apabila mampu menciptakan siswa yang kreaktif,serius, secara optimal. Untuk menumbuhkembangkan potensi yang di miliki siswa. Dalam pembelajaran IPS, diharapkan dapat membawa siswa pada situasi hidup yang sebenarnya di masyarakat. Lingkungan pendidikan merupakan sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Dengan meningkatkan lingkungan, akan menghasilkan pada beberapa masalah yaitu: Bagaimana pelaksanaan pembelajaran IPS di Kelas IV SDN Sumberanyar III. Tujuan dalam pembelajaran ini dapat mendeskripsikan hambatan yang di hadapi guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber daya alam dan persebarannya dalam pembelajaran IPS di kelas IV. Manfaat ini sebagai bahan masukkan untuk menetapkan kebijakkan dalam upaya perbaikan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat di gunakan sebagai tempat di mana bahan pembelajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Melalui sumber belajar perlu di perhatikan untuk menumbuhkan kesadaran pada diri guru akan pentingnya mengupaya siswa agar dapat belajar bukan hanya efektif akan tetapi menyenangkan. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek 21 orang siswa yang terdiri dari 16 laki-laki dan 5 siswa perempuan di SDN Sumberanyar III Kecamatan Nguling Kabupaten pasuruan, teknik yang di gunakkan dalam suatu pengamatan untuk memperoleh gambaran secara jelas dan akan menghasilkan data secara deskriptif Dari hasil penelitian tentang pembelajaran IPS Di kelas 1V SDN Sumberanyar III, Pelaksanaan pembelajarannya menunjukkan bahwa langkah-langkah yang di lakukan guru terdiri dari membuka pelajaran, Kegiatan Inti, dan Kegiatan Penutup. Pesentase rata-rata keberhasilan yang dicapai siswa dalam pratindakan, 48,57% siklus 1,63,81% siklus II, 70,48%. Hasil pemahaman konsep siswa meningkat baik dari rata-rata nilai kelas maupun dari presentasenya. Sehingga dapat di katakan pembelajaran lingkungan baik di terapkan dalam pembelajaran IPS di SD khususnya materi sumber daya alam dan persebarannya. Dari hasil penelitian dapat di sarankan hal-hal I). Dalam peningkatkan lingkungan hendaknya guru lebih memperbanyak informasi yang dapat menambah pengetahuan dan pengetahuan siswa 2). Kepada kepala sekolah, memberikan arahan dengan dukungan terhadap program kerja guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

Studi tentang hambatan-hambatan belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SMA Negeri 8 Malang / Bagus Bahtiar Rifai

 

ABSTRAK Rifai, Bagus Bahtiar. 2009. Studi tentang Hambatan-hambatan Belajar Siswa dalam Mengikuti Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mulyani Surendra, M.S, (II) Drs. Sapto Adi, M. Kes. Kata kunci: hambatan-hambatan belajar, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan mutu hasil belajar siswa adalah mutu proses belajar mengajar. Peningkatan mutu hasil belajar tidak akan tercapai apabila dalam proses belajar mengajar terjadi hambatan-hambatan belajar. Maka tujuan pembelajaran, kurikuler, institusional, dan pendidikan nasional juga tidak bisa tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 8 Malang yang mengalami hambatan dalam belajar pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan sebanyak 286 siswa dan semua anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Siswa tersebut tersebar dalam 26 kelas yang berbeda, yaitu kelas X, XI dan XII, dengan demikian penelitian ini adalah penelitian populasi. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa hambatan belajar dari faktor intern yang meliputi aspek kesehatan, intelegensi, bakat serta minat yang dialami oleh siswa saat mengikuti mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di SMA Negeri 8 Malang masih dalam kategori rendah. Sedangkan hambatan belajar dari faktor ekstern yang meliputi aspek keadaan sosial ekonomi orangtua, aspek sarana, aspek prasarana, aspek interaksi guru dan aspek penyajian materi yang dialami oleh siswa saat mengikuti mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di SMA Negeri 8 Malang dalam kategori sedang. Dari kedua faktor penghambat dalam belajar siswa tersebut, terdapat faktor yang paling banyak dialami oleh siswa dalam belajarnya yaitu faktor ekstern pada aspek keadaan sosial ekonomi orangtua sebesar 44,69%. Persentase tersebut termasuk pada level tengah yaitu kategori sedang. Sedangkan faktor yang paling banyak dialami oleh siswa dalam belajarnya pada faktor intern pada aspek minat yaitu 33,78% siswa mengalami hambatan pada aspek tersebut, persentase tersebut termasuk pada kategori rendah.

Pekerja pabrik rokok usia sekolah Dikdas 12 tahun dalam kajian fakta sosial (Studi kasus di PR Jaya di Desa Makmur Kecamatan Dau Kabupaten Malang) / Maria Ulfa

 

lagi dimata masyarakat luas. Seiring dengan itu, muncul berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pekerja tersebut mulai dari hilangnya kesempatan untuk duduk dibangku pendidikan samapi pada hilangnya kesempatan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Munculnya pekerja usia sekolah ini dilatar belakangi berbagai macam faktor, baik faktor budaya maupun faktor ekonomi. Faktor budaya munculnya pekerja usia sekolah sudah merupakan hal yang biasa dimata masyarakat, dengan kata lain sudah merupakan budaya turun menurun. Sementara pada faktor ekonomi berupa keadaan ekonomi keluarga yang hidupnya pas-pasan sehingga tidak mampu untuk membiayai sekolah, dan mereka dituntut untuk ikut bekerja untuk meringnkan beban orang tua. Faktor-faktor lain berupa kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perusahaan dalam merekrut tenaga kerja, pabrik rokok misalnya, tidak membatasi usia, standart pendidikan, atau ketrampilan khusus. Fenomena ini yang membuat peneliti ingin meneliti seperti apa pekerja pabrik rokok usia sekolah Dikdas 12 tahun dalam kajian fakta social (studi kasus di PR Jaya di Desa Makmur Kecamatan Dau Kabupaten Malang). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1). Kondisi konteks pabrik rokok Jaya Malang dan 2). Fakta pekerja pabrik rokok usia sekolah Dikdas 12 tahun dalam kajian fakta sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Lokasi penelitian ini terletak di Pabrik Rokok Jaya di Desa Makmur Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Penelitin ini dilaksanakan pada bulan oktober 2008. Yang menjadi subyek dan informan dalam penelitian ini adalah pekerja usia sekolah di PR Jaya dengan jumlah 16 informan. Data dijaring dengan menggunakan teknik bola salju (snowball). Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah pengamatan berperan serta, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif dengan proses reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data digunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan dan trianggulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan usia sekolah, dengan tingkat pendidikan SD dan SMP. Dalam bekerja informan mendapat upah sebesar 24.000 sampai 32.000 perhari. Alasan informan memilih bekerja dan tidak melanjutkan sekolah yaitu kondisi ekonomi keluarga pas-pasan, ingin meringankan beban hidup orang tua, biaya pendidikan mahal dan ingin memiliki penghasilan sendiri. Berdasarkan hasil penelitian disarankan pemerintah dan perusahaan tegas dalam menangani masalah ketenagakerjaan dengan menegakkan UU ketenagakerjaan khususnya tentang pekerja usia sekolah.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah lingkungan hidup pada mata pelajaran geografi di SMP Negeri 13 Malang / Dina Andriani

 

ABSTRAK Dina, Andriani. 2009. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa dalam Memahami Lingkungan Hidup pada Mata Pelajaran Geografi di SMP Negeri 13 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi M. Pd, (2) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M. Pd. M. Si. Kata Kunci: pembelajaran Berbasis Masalah, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 20 Oktober di kelas VIII-B SMP Negeri 13 Malang diketahui bahwa 75% siswa mengatakan bahwa mata pelajaran geografi membosankan karena terlalu banyak konsep yang harus dihafalkan (banyak hafalan), mereka kurang memahami manfaat pelajaran geografi bagi kehidupan nyata, serta jarang melakukan observasi keluar kelas. Indikasi kuat yang melatarbelakangi kesulitan siswa untuk memahami materi yang disampaikan antara lain karena kurangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah Geografi. Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas serta hasil belajar siswa yang menunjukkan hanya ada 2 atau 5% siswa yang terlihat aktif, sedangkan yang lain kurang aktif, serta kemampuan siswa dalam memecahkan masalah hanya ada 5 siswa yang dapat memecahkan masalah dengan baik. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih kurang hal ini dapat dilihat dari hasil observasi yang menyebutkan hanya terdapat 4 dari 40 siswa atau 10% yang bisa menyelesaikan masalah sedangkan yang 90% masih perlu bimbingan dan latihan dalam memecahkan masalah. Untuk mengatasi permasalahan kualitas pembelajaran, maka disusunlah pembelajaran geografi dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memahami permasalahan lingkungan hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan apakah dengan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah lingkungan hidup di SMP Negeri 13 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas belajar siswa, nilai hasil diskusi, dan nilai hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa dan taraf keberhasilan tindakan, kemudian nilai hasil diskusi siswa berdasarkan skor perolehan nilai hasil diskusi, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan nilai hasil tes yang dilaksanakan pada akhir siklus. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas belajar siswa dan catatan lapangan serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memahami permasalahan lingkungan hidup SMP Negeri 13 Malang ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas belajar siswa dari 65,07% (cukup) pada siklus I meningkat menjadi 76,67% (baik) pada siklus II. Peningkatan hasil diskusi siswa dapat diketahui rata-rata skor hasil diskusi siswa sebesar 57,18% (cukup) pada siklus I meningkat menjadi 76,5% (baik) pada siklus II. Peningkatan hasil belajar iv siswa dapat diketahui dari rata-rata nilai tes pada tiap akhir siklus sebesar 67,92% (cukup) pada siklus I meningkat menjadi 71,1% (baik) pada siklus II. Berdasarkan penelitian di atas guru mata pelajaran geografi dalam pembelajaran geografi perlu dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah karena ini sangat mendukung untuk kemampuan berfikir kritis serta menimgkatkan kecerdasan dan hasil belajar.

Kajian pengembangan obyek wisata di Kabupaten Malang dan sumbangannya terhadap pendapatan asli daerah (PAD) (Study kasus di Wendit Water Park Kecamatan Pakis Kabupaten Malang) / Ratna Nur Laila

 

Pengembangan potensi wisata di Kabupaten Malang khususnya kawasan wisata Wendit Water Park diharapkan juga dapat memberi manfaat bagi masyarakat Kabupaten Malang khususnya di Kecamatan Pakis pada bidang ekonomi, terutama dalam hal peningkatan jumlah pendapatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi konteks objek Wisata Wendit Water Park, bagaimana Upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam mengembangkan objek Wisata Wendit. Faktor-faktor apasaja yang menjadi pendukung dan penghambat pengembangan Wisata Wendit Water Park. Bagaimanakah kontribusi pendapatan Wisata Wendit Water Park kepada Pendapatan Asli Daerah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah study kasus. Lokasi penelitian ini terletak di objek Wisata Wendit Water Park yang ada di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Nopember 2008- Januari 2009. Subjek dan informan dalam penelitian ini adalah Kasubag umum Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, Kabid Pengembangan Objek Wisata, Kasi Produksi dan Pemasaran Pariwisata seni dan budaya, Kepala UPTD Wisata Wendit, Bagian Logistik Wisata Wendit, Pengurus Wisata Wendit, dan pegawai DISPENDA Kabupaten Malang. Data ini dijaring dengan menggunakan teknik bola salju.Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah pengamatan berperan serta, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif dengan proses reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data digunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan dan rianggulasi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada UPTD Wisata Wendit untuk meningkatkan profesionalismenya dalam mengelola Wisata Wendit Water Park. Lebih memaksimalkan strategi promosi, selalu menawarkan inovasi-inovasi baru, selalu memelihara kemitraaan dan hubungan baik dengan masyarakat. Bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Malang lebih meningkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, lebih memperhatikan potensi-potensi wisata yang ada di Kabupaten Malang, dapat lebih memaksimalkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Malang dari sektor pariwisata. Masyarakat di sekitar objek wisata mendukung pengembangan kawasan wisata terpadu.

Peningkatan kemampuan menulis paragraf deskripsi siswa kelas III SD Negeri Sumbersari II Malang dengan menggunakan media gambar tunggal / Rizki Ningtyas

 

ABSTRAK Ningtyas, Rizki. 2008. Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Deskripsi Siswa Kelas III SD Negeri Sumbersari II Malang dengan Menggunakan Media Gambar Tunggal. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sumadi, M.Pd. Kata kunci: kemampuan menulis, deskripsi, gambar tunggal. Pembelajaran bahasa dan sastra indonesia terdiri dari empat aspek, yaitu menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Sesuai dengan Standar Isi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006 untuk Sekolah Dasar, kompetensi dasar untuk keterampilan menulis yang diajarkan salah satunya adalah menulis paragraf deskripsi. Pembelajaran menulis paragraf deskripsi telah dilaksanakan di SDN Sumbersari II Malang, tapi hasil menulis yang diperoleh belum mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditetapkan, yaitu 65. Dari kegiatan observasi, diketahui bahwa terdapat permasalahan yang dialami siswa kelas III SDN Sumbesari II Malang dalam menulis paragraf deskripsi. Permasalahan yang dialami yaitu permasalahan pada hasil pembelajaran. Dari permasalahan yang ditemukan, peneliti dan guru kelas III SDN Sumbersari II Malang berkolaborasi untuk memecahkan masalah yang dialami oleh siswa dengan merencanakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian yang dilakukan di kelas III SDN Sumbersari II Malang yaitu memberikan tindakan berupa pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan media gambar tunggal. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf deskripsi siswa kelas III SDN Sumbersari II Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai dengan November 2008 di SDN Sumbesari II Malang. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa dan guru kelas SDN Sumbersari II Malang. Data penelitian ini adalah data produk yang berupa paragraf deskripsi hasil tulisan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembelajaran menulis paragraf deskripsi terjadi peningkatan pada aspek isi dan aspek kebahasaan dari siklus I ke siklus II. Aspek isi pada siklus I ke siklus II meningkat sebesar 31,28%. Aspek kebahasaan pada siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 34,28%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media gambar tunggal dapat meningkatkan kemampuan menulis paragraf deskripsi siswa kelas III SDN Sumbersari II Malang. Berdasarkan penelitian peningkatan kemampuan menulis paragraf deskripsi siswa kelas III SDN Sumbersari II Malang dengan menggunakan media gambar tunggal, disarankan pada guru Bahasa Indonesia untuk (1) menggunakan media gambar tunggal dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi, (2) melakukan pembelajaran yang menjadikan siswa aktif dan mampu memberikan rasa senang dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia, salah satunya dengan menggunakan media gambar tunggal.

Pengaruh getah pepaya, sari nanas dan lama inkubasi pada pembuatan VCO dari kelapa hijau (Cocos nucifera L) secara enzimatis / Titik Puji Lestari

 

ABSTRAK Puji, Titik Lestari. 2008. Pengaruh Getah Pepaya, Sari Nanas dan Lama Inkubasi pada Pembuatan VCO dari Kelapa Hijau (Cocos Nucifera L) secara Enzimatis. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si., (2) Drs. Aman Santoso, M.Si. Kata Kunci: variasi getah pepaya, sari nanas, lama inkubasi, enzimatis, VCO. VCO (Virgin Coconut Oil) merupakan minyak kelapa murni yang terbuat dari daging kelapa segar yang diolah dalam suhu rendah atau tanpa melalui pemanasan sehingga kandungan yang penting dalam minyak tetap dapat dipertahankan dan dapat berfungsi sebagai obat. Pengolahan kelapa menjadi VCO dapat dilakukan secara enzimatis misalnya dengan menggunakan enzim papain dalam getah pepaya, enzim bromelin yang terkandung dalam buah nanas, yang berfungsi mempercepat reaksi pemecahan lapisan protein atau molekul lemak yang terdapat dalam santan kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama inkubasi, pengaruh penambahan getah pepaya, sari nanas dan karakterisasi VCO. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen di laboratorium secara enzimatis dengan menggunakan katalis getah pepaya yang mengandung enzim papain dan sari nanas yang mengandung enzim bromelin untuk menghasilkan VCO. Sampel kelapa hijau diambil krim santannya lalu ditambah katalis getah pepaya dengan variasi volume 1, 2, 3, 4, 5, 10 mL dan sari nanas dengan variasi volume 5, 10, 15, 20, 25, 50, 100, 150 mL dan variasi lama inkubasi 5-50 jam. VCO yang dihasilkan dikarakterisasi lebih lanjut yang meliputi warna, bau, indeks bias, berat jenis, bilangan asam, bilangan iod dan bilangan penyabunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inkubasi optimum pembuatan VCO dengan getah pepaya adalah 30 jam dengan persentase 37,3% dan yang menggunakan sari nanas adalah 30 jam dengan persentase 9,7%. Penambahan volume getah pepaya optimum yaitu pada perbandingan 10:100 dengan persentase 37,3% dan penambahan volume sari nanas optimum yaitu pada perbandingan 150:100 dengan persentase 13,5%. Sifat-sifat fisik dan kimia dari VCO yang dihasilkan dengan getah pepaya adalah tidak berwarna, jernih, indeks biasnya 1,454, berat jenisnya 0,975, bilangan penyabunannya 365,759, bilangan iodnya 4,327, bilangan asamnya 4,862. Sifat-sifat fisik dan kimia dari VCO yang dihasilkan dengan sari nanas adalah berwarna kuning jernih, indeks biasnya 1,454, berat jenisnya 0,957, bilangan penyabunannya 307,230, bilangan iodnya 7,695, bilangan asamnya 8,976.

Kontribusi tes unjuk kerja buatan industri dan guru terhadap hasil uji kopetensi nasional siswa program keahlian TMO tahun 2007/2008 pada SMK se-kota Mojokerto / Djarwo Baskoro

 

Salah satu karakteristik tamatan SMK adalah harus memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tertentu, dapat mengembangkan dirinya di dunia kerja, dan memiliki kecakapan untuk menjalani kehidupannya secara baik. Untuk itu, salah satu substansinya, yakni isi kurikulum SMK, dipilih dan dikemas dengan pendekatan berbasis kompetensi (competence-based curriculum). Berdasarkan karakteristik SMK tersebut, dibutuhkan tes yang juga dapat mengukur sampai sejauh mana kompetensi yang diajarkan di sekolah, sudah sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan di industri. Tujuan penelitian untuk mengungkap dan mengetahui: (1) hasil tes unjuk kerja buatan industri, (2) hasil tes unjuk kerja buatan guru, (3) hasil uji kompetensi nasional siswa, (4) kontribusi tes unjuk kerja buatan industri terhadap hasil uji kompetensi nasional siswa, (5) kontribusi tes unjuk kerja buatan guru terhadap hasil uji kompetensi nasional siswa, dan (6) kontribusi tes unjuk kerja buatan industri dan guru terhadap hasil uji kompetensi nasional siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional dengan populasi 404 siswa kelas 3 SMK Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif di Kota Mojokerto tahun pelajaran 2007/2008. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 196 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan dokumentasi, serta dianalisis dengan teknik analisis deskriptif, korelasi parsial, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian mengungkap: (1) hasil tes unjuk kerja buatan industri tergolong cukup (28,57%), (2) hasil tes unjuk kerja buatan guru tergolong cukup (33,67%), (3) hasil uji kompetensi nasional siswa tergolong cukup (32,65%), (4) ada kontribusi tes unjuk kerja buatan industri terhadap hasil uji kompetensi nasional (r(x1.y)2 = 0,261), (5) ada kontribusi tes unjuk kerja buatan guru terhadap hasil uji kompetensi nasional (r(x2.y)2 = 0,164), dan (6) ada kontribusi tes unjuk kerja buat-an industri dan buatan guru secara bersama-sama terhadap hasil uji kompetensi nasional (r(x1.x2.y)2 = 0,533). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan: (1) agar pihak sekolah menjalin kerjasama lebih erat dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI) sehingga hasil tes unjuk kerja buatan industri dapat ditiingkatkan, (2) agar guru terus meningkatkan kualitas pembelajaran supaya hasil tes unjuk kerja buatan guru dapat meningkat, (3) agar siswa meningkatkan kuantitas dan kualitas belajar agar hasil uji kompetensi nasional bisa ditingkatkan, dan (4) agar pihak Dinas Pendidikan mengambil kebijakan yang mendukung dan terkait dengan kerja sama antara SMK dan DU/DI.

Pengembangan multimedia pembelajaran IPA "Energi dalam Sistem Kehidupan" kelas VII B semester 2 kurikulum 2013 di SMPN 23 Malang / Raditya Susetyo Wiyono

 

Wiyono, Raditya Susetyo. 2014. Pengembangan Multimedia Pembelajaran IPA“Energi Dalam Sistem Kehidupan” Kelas VII B Semester II Kurikulum 2013 di SMP Negeri 23 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Sulthoni, M.Pd., (II) Yerry Soepriyanto, S.T., M.T. Kata kunci : multimedia pembelajaran IPA, kelas VII B semester II, SMP Negeri 23 Malang Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menekankan pada pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) merupakan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dalam pendekatan yang memenuhi kriteria ilmiah, yang meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Dalam analisis kebutuhan yang dilakukan pada mata pelajaran IPA kelas VII di SMP Negeri 23 Malang,(a) pembelajaran di kelas masih didominasi oleh guru sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran,(b) kurang lengkapnya materi “Energi dalam Sistem Kehidupan” yang tersaji dalam buku pegangan siswa,(c) terdapatnya laboratorium komputer yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA. Berkaitan dengan itu, diperlukan pengembangan multimedia pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam memahami materi energi dalam sistem kehidupan di SMP Negeri 23 Malang. Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan produk multimedia pembelajaran dan mengetahui tingkat validitas produk pengembangan multimedia pembelajaran IPA energi dalam sistemkehidupan kelas VII B semester 2 kurikulum 2013 di SMP Negeri 23 Malang. Peneliti menggunakan metode yang diadaptasi dari model pengembangan media yang dikembangkan oleh Stephen M.Alessi & Stanley R. Trollip yang terdiri dari (1) Preparation (Mempersiapkan Bahan) (2) Design (Mendesain Pembelajaran) (3) Flowcharting ( Membuat Flowchart Pembelajaran) (4) Storyboarding (Membuat StoryboardPembelajaran) (5) Programing and Support Materials (Memprogram dan Bahan Pendukung) (6) Evaluation (Evaluasi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Multimedia pembelajaran IPA ini dinyatakan valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran IPA untuk SMP kelas VII semester 2 dengan materi energi dalam sistem kehidupan. Hal itu ditunjukkan dengan hasil perhitungan ahli media 73,7 %, ahli materi 85 % dan siswa individual/perorangan 90 % serta siswa kelompok kecil 92,5 % dan uji lapangan 93,6 %.Hasil uji coba dan uji lapangan menyatakan bahwa media telah layak digunakan dalam pembelajaran di kelas. Multimedia pembelajaran dengan materi energi dalam sistem kehidupan ini valid dan layak digunakan dalam pembelajaran, sehingga multimedia ini dapat digunakan siswa sebagai alternatif belajar yang menarik agar siswa tidak jenuh dalam menerima materi pelajaran IPA, bagi guru dapat dijadikan bahan pertimbangan sebagai alternatif mediauntuk meningkatkan prestasi belajar siswa, dan bagi pengembang lain disarankan agar mengembangkan dengan materi pokok lain sesuai dengan karakteristik bidang studinya.

Studi perbandingan struktur anatomi organ vegetatif lima varietas kenaf (Hibiscus cannabinus L.) / Nasrulloh Hafidz

 

ABSTRAK Hafidz, Nasrulloh. 2009. Studi Perbandingan Struktur Anatomi Organ Vegetatif Lima Varietas Hibiscus cannabinus L. Skripsi. Progam Studi Biologi. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Kartini A.M., M.S. Apt (II) Ir. Sri Hadiyani M.S. Kata kunci: H. cannabinus, struktur anatomi organ vegetatif Kenaf (H. cannabinus) mempunyai peranan yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia baik sebagai bahan pengemas hasil pertanian terutama gula dan beras, maupun untuk meningkatkan pendapatan petani. Bahan baku serat karung goni di Indonesia berasal dari H. cannabinus. H. cannabinus memiliki lebih dari 40 varietas di Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat (Balittas). Masing-masing varietas memiliki perbedaan susunan genetik, baik secara fenotipe maupun fisiologi. Perbedaan masing-masing varietas dapat diketahui melalui struktur anatominya di samping struktur morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan struktur anatomi organ vegetatif: akar, batang, dan daun dari lima varietas H. cannabinus: KR 11, HC 48, HC G4, DS/002H, dan 85-9-SSH. Penelitian dilakukan di laboratorium Jurusan Biologi UM. Pengambilan sampel lima varietas H. cannabinus dari Kebun Percobaan (Balittas) Balai Penelitian Tanaman Serat dan Tembakau Karang Ploso-Malang, pada bulan Maret 2008-Desember 2008. Jenis penelitian eksploratif ex post facto tentang perbandingan penyusun organ dari akar, batang, dan daun kelima varietas H. cannabinus. Data yang berupa foto anatomi: akar, batang, dan daun H. cannabinus di analisis secara deskriptif. Hasil pengukuran jaringan berupa ketebalan periderm, epidermis, kolenkima, parenkima, sklerenkima, berkas pembuluh, indeks stomata, dan jumlah kristal kalsium oksalat serta tebal daun dianalisis menggunakan Analisis Varian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan struktur anatomi akar, batang, dan daun dari lima varietas H. cannabinus. Perbedaan terjadi pada ketebalan jaringan penyusunnya. Varietas HC G4 menunjukkan ketebalan jaringan kolenkima abaksial, kambium, epidermis adaksial yang paling tebal diantara varietas HC 48, KR11, DS/002H, dan 85-9-SSH pada tulang daun. Varietas DS/002H memiliki diameter akar terlebar dan memiliki empulur, serta kristal kalsium bentuk drus yang lebih banyak. Varietas HC 48 merupakan varietas yang memiliki ketebalan sklerenkima batang dan tangkai daun yang lebih tipis. Varietas KR 11 memiliki lamina daun yang lebih tebal. Varietas 85-9-SSH memiliki sklerenkima, floem, dan kambium batang yang lebih tebal. Struktur sklerenkima dapat dibedakan menjadi tiga, berdasarkan penyerapan warna biru metilen: (1) penyerapan sempurna yaitu penyerapan warna biru metilen secara penuh oleh protoplasma, dinding primer, dinding sekunder, dan lamela tengah, (2) penyerapan kurang sempurna yaitu penyerapan warna biru metilen oleh protoplasma, dinding primer, lamela tengah, dan sebagian dinding sekunder, dan (3) penyerapan tidak sempurna yaitu penyerapan warna biru metilen hanya oleh protoplasma. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui ketebalan kulit batang; struktur anatomi umur tanaman yang akan dipanen; fungsi kristal kalsium oksalat dan trikomata dalam perkembangan tanaman H. cannabinus.

Studi komperatif kinerja reksadana pendapatan tetap konvensional dan reksadana pendapatan tetap syari'ah dengan metode sharpe dan treynor di pasar modal Indonesia tahun 2007-2008 / Nila Furaida

 

Reksadana pendapatan tetap merupakan jenis reksadana yang melakukan portofolio efek ke dalam instrumen berpendapatan tetap seperti deposito, obligasi, surat hutang dan lain-lain. Perkembangan kinerjanyapun berfluktuasi seiring dengan perkembangan keadaan ekonomi secara makro maupun mikro. Jenis reksadana pendapatan tetap ada dua yaitu reksadana pendapatan tetap konvensional dan syari’ah. Sebagai investor yang rasional, perlu dilakukan pengukuran kinerja terlebih dahulu bila akan melakukan investasi di reksadana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kinerja reksadana pendapatan tetap konvensional dan syari’ah. Variabel yang digunakan untuk mengamati perbedaan kinerja itu adalah metode sharpe dan treynor. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua reksadana pendapatan tetap baik konvensional maupun syari’ah yang aktif diperdagangkan pada tahun 2007-2008, yaitu sebanyak 89 reksadana pendapatan tetap. Sedangkan sampel penelitian ini sebanyak 4 reksadana pendapatan tetap konvensional dan 4 reksadana pendapatan tetap syari’ah yang diambil secara purposive sampling. Periode pengamatan adalah selama satu tahun yaitu mulai Agustus 2007 sampai Juli 2008. Analisis data dilakukan dengan menghitung kinerja reksadana pendapatan tetap baik konvensioal maupun syari’ah dengan metode sharpe dan treynor. Kemudian dilakukan mengujian hipotesis. Sebelum data variabel-variabel dianalisis untuk uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan “Kolmogorof Smirnof” (K-S). Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan statistik non parametrik “Two Independent Sample Test” . Hasil penelitian menunjukkan (1) Reksadana pendapatan tetap konvensional dan reksadana pendapatan tetap syari’ah memiliki kinerja yang lebih rendah dari pada kinerja tolak ukurnya yaitu rata-rata suku bunga deposito bank swasta nasional dan pemerintah. Reksadana pendapatan tetap konvensional dan syari’ah memiliki tren yang turun secara elastis. (2) Reksadana pendapatan tetap konvensional memiliki kinerja yang lebih baik dari pada reksadana pendapatan tetap syari’ah bila diukur dengan metode treynor. (3) Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana pendapatan tetap konvensional dan reksadna pendapatan tetap syari’ah yang dianalisis dengan metode Sharpe. (4) Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana pendapatan tetap onvensional dan reksadana pendapatan tetap syari’ah yang dianalisis dengan metode Treynor. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya melakukan perbandingan kinerja dengan tolak ukur deposito mudharabah untuk reksadana pendapatan tetap syari’ah dan melakukan pengukuran kinerja dengan memperpanjang jangka waktu pengukuran agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Selain itu, Investor dapat melakukannya dengan cara memilih reksadana yang berpotensi memberikan return yang tinggi tetapi dapat meminimumkan resiko tersebut, yaitu dengan melakukan beberapa pertimbangan seperti :Akses atas informasi reksadana, memilih penerbit reksadana, menentukan tujuan investasi reksadana

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa kelas X-6 di SMA Negeri 6 Malang / Wiwin Sulfiarini

 

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMA Negeri 6 Malang, problem yang ditemukan oleh peneliti dalam proses pembelajaran yaitu rendahnya motivasi dan prestasi belajar biologi, sehingga pada Ulangan Harian I lebih dari 45,94% siswa dalam kelas belum tuntas belajar. Metode pembelajaran yang digunakan pada umumnya adalah ceramah, sehingga pembelajaran masih berpusat pada guru. Proses pembelajaran yang monoton menyebabkan siswa menjadi jenuh, sehingga motivasi belajar siswa rendah yang berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik diperlukan usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa kelas X-6 di SMA Negeri 6 Malang melalui pembelajaran model TGT (Teams Games Tournament). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I terdiri atas dua kali pertemuan dan siklus II terdiri atas dua kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2008. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-6 SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 37 siswa, terdiri dari 19 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki. Pada penelitian ini data yang diperoleh berupa motivasi belajar biologi siswa dengan instrumen penelitian yang berupa lembar observasi motivasi dan catatan lapangan, sedangkan prestasi belajar biologi siswa dengan instrumen penelitian yang berupa soal ujian tiap akhir siklus. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan nilai rata-rata persentase lembar observasi belajar biologi siswa, sedangkan data prestasi belajar biologi siswa pada ranah kognitif diukur berdasarkan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran model TGT (Teams games Tournament) dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa. Peningkatan motivasi belajar biologi siswa ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata persentase motivasi belajar biologi siswa yang pada observasi awal dari 50,56 (sangat kurang) menjadi 74,88 (cukup) pada siklus I, dan pada siklus II menjadi 84,57 (baik). Peningkatan prestasi belajar dapat diketahui dari ranah kognitif dengan ketuntasan belajar siswa pada Ulangan Harian dari 45,94% menjadi 62,16% pada siklus I dan menjadi 81,08% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disarankan: kepada guru pengajar bidang studi biologi agar dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams games Tournament) pada kompetensi dasar yang lain, dan kepada peneliti lain agar membuat kisi-kisi soal terlebih dahulu untuk membuat soal ulangan yang digunakan untuk membentuk kelompok heterogen.

Penerapan model STAD untuk meningkatkan kerjasama dan hasil belajar pecahan pada siswa kelas V SDN Sumberagung I Ngantang - Malang / Dyah Rahayu Wismaningtyas

 

ABSTRAK Wismaningtyas, Dyah Rahayu. 2009. Penerapan Model STAD untuk Meningkatkan Kerjasama dan Hasil Belajar Pecahan pada Siswa Kelas V SDN Sumberagung I Ngantang – Malang. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suhartono, S.Pd (II) Dra. Harti Kartini, M.Pd. Kata Kunci: Model STAD, Kerjasama, Hasil Belajar. Tujuan matematika di SD adalah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kenyataannya dalam pembelajaran matematika keaktifan, kreativitas belajar dan kerjasama siswa masih kurang, sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Hal itu terjadi di SDN Sumberagung I kecamatan Ngantang kabupaten Malang. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas V SDN Sumberagung I, diketahui bahwa hasil belajar matematika masih belum tuntas, rata-rata nilai matematika siswa adalah 56,6 dan masih ada 10 siswa belum mencapai standar ketuntasan minimal (SKM) yaitu skor nilai tes siswa < 60. Keadaan demikian kemungkinan disebabkan karena kegiatan pembelajaran masih bersifat individu, kurangnya pemberian latihan kepada siswa serta kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru yang menggunakan metode ceramah, sedang siswa terlihat kurang aktif Tujuan dari penelitian adalah (1) mendeskripsikan penerapan model STAD untuk meningkatkan kerjasama siswa kelas V SDN Sumberagung I pada pelajaran matematika pokok bahasan pecahan, (2) mendeskripsikan penerapan model STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumberagung I pada pelajaran matematika pokok bahasan pecahan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas V SDN Sumberagung I sebanyak 27 siswa, yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Dalam penelitian diperoleh data tentang keterampilan kerjasama dan hasil belajar siswa. Kerjasama siswa diukur berdasarkan aktivitas belajar siswa yang sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan, sedangkan hasil belajar siswa diukur dengan membandingkan nilai pre-tes dan pos-tes serta ketuntasan belajar pada masing-masing siklus. Instrumen yang digunakan adalah tes (pre-tes dan pos-tes) untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa, lembar observasi kerjasama siswa dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan kerjasama dan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumberagung I yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase kerjasama siswa dan keberhasilan tindakan dari 39,28 % (kurang) pada siklus I meningkat menjadi 72,25 % (baik) pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata skor pos-tes sebesar 72,69 pada siklus I meningkat menjadi 81,1 pada siklus II, sedangkan ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I sebesar 74 % kemudian meningkat menjadi 88,8 % pada siklus II. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan model STAD dapat meningkatkan kerjasama dan hasil belajar perkalian dan pembagian pecahan, serta disarankan model pembelajaran ini digunakan sebagai salah satu model alternatif dalam pembelajaran matematika dan bagi peneliti lain diharapkan untuk meneliti model pembelajaran lain dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika.

Pengaruh struktur modal terhadap return on equity (ROE) (study kasus pada Perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007) / Dewi Namirah Sutjipto

 

Struktur modal yang terdiri dari hutang jangka panjang dan ekuitas merupakan salah satu hal penting bagi manajer keuangan dalam meningkatkan profitabilitas. Dalam memilih alternatif pendanaan untuk membiayai aktivitas perusahaan, yang akan menjadi pertimbangan adalah bagaimana perusahaan dapat menciptakan kombinasi yang menguntungkan antara penggunaan sumber dana dari ekuitas dengan dana yang berasal dari hutang jangka panjang. Karena komposisi hutang jangka panjang dan ekuitas yang tepat akan dapat meningkatkan ROE, dan juga sebaliknya jika kurang tepat akan dapat menurunkan ROE. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur modal terhadap ROE. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 dan data-datanya dapat diketahui pada ICMD tahun 2007 di Pusat Data Bisnis Universitas Negeri Malang. Populasinya adalah sebanyak 142 Perusahaan Manufaktur. Pengambilan sampel menggunakan teknik probability random sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara acak dan dengan menggunakan rumus Slovin, sehingga sampel penelitian ini terdapat 59 perusahaan. Analisis data yang digunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: Struktur modal berpengaruh signifikan terhadap ROE perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa efek Indonesia. Kelemahan dalam penelitian ini diantaranya: (1) Penelitian ini menggunakan periode penelitian tiga tahun yang dianggap terlalu pendek. Penggunaan periode yang terlalu pendek ini diduga menyebabkan kecilnya nilai koefisien determinasi yang dihasilkan, (2) Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel yang digunakan sebagai prediktor besarnya ROE perusahaan. Untuk penelitian selanjutnya bisa dilakukan dengan menggunakan periode penelitian yang lebih panjang. Dengan penggunaan periode yang lebih panjang, diharapkan pengukuran kinerja yang dilakukan bisa lebih akurat. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menambahkan variabel lain yang dianggap bisa mempengaruhi ROE. Dengan dilakukannya penambahan variabel lain tersebut, diharapkan model regresi yang terbentuk lebih efektif dalam mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya nilai ROE.

Bentuk penyiasatan terhadap keinginan atasan ( Kasus Partisipasi Wara Belajar dam KKG pada Gugus Sekolah / Oleh Sholikhul Waji D.P.

 

Penggunaan media pembelajaran mata pelajaran Art di kelas ICP (International class programma) SD Laboraturium Universitas Negeri Malang / Mohamad Taufik

 

ABSTRAK Taufik, Mohamad. 2008. Penggunaan Media Pembelajaran Mata Pelajaran Art di Kelas ICP (International Class Programme) SD Laboratorium UM. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd. Kata kunci : penggunaan, media pembelajaran, art. Penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran Mata Pelajaran Art di SD Laboratorium UM. Empat fokus masalah yang diteliti yaitu (1) media pembelajaran yang digunakan dalam Mata Pelajaran Art, (2) penggunaan media pembelajaran Mata Pelajaran Art, (3) peranan media pembelajaran dalam menunjang proses belajar mengajar Mata Pelajaran Art, dan (4) upaya yang dilakukan guru Mata Pelajaran Art dalam membuat dan pengadaan media pembelajaran Art. Subjek yang diteliti meliputi Guru Mata Pelajaran Art, Wali kelas ICP dan Koordinator Kelas ICP. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sedangkan untuk pengumpulan datanya dengan angket, wawancara, dan observasi. Proses analisis data penelitian ini adalah (1) data dikelompokkan menurut kategorinya, (2) data dianalisis langsung dan dikaitkan dengan data sejenis pada kelompok kategori yang sama, (3) hasil analisis data dideskripsikan, serta (4) data diinterpretasi dan disimpulkan. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut (1) media pembelajaran yang digunakan terdiri atas media pajang, media visual non projeksi, media visual proyeksi, media audio, media cetak, media komputer, dan multimedia. Karakteristik media yang digunakan yaitu media non interaktif, (2) media-media tersebut digunakan oleh guru untuk menjelaskan isi materi pelajaran kepada siswa; media digunakan oleh siswa untuk belajar secara mandiri; mediamedia tersebut belum digunakan oleh siswa untuk belajar secara berkelompok. Bersamaan dengan pemakaian media tersebut, guru menggunakan beberapa metode yang cocok antara lain metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan dan eksperimen, (3) Media pembelajaran berperan menciptakan gairah guru dalam mengajar, mempermudah dalam penyampaian materi pelajaran Art kepada siswa, menyatukan persepsi siswa terhadap penjelasan guru, mempermudah guru dalam mencapai standar kompetensi, meningkatkan minat siswa, mempermudah siswa memahami materi Art, mengurangi verbalisme dan mengembangkan pengalaman belajar menggambar dan mewarnai, (4) guru berupaya memanfaatkan media yang sudah ada dengan bantuan dari pihak sekolah, membuat media rancangan, selain itu guru tidak pernah membeli media jadi atau memberi tugas kepada siswa untuk membawa media. Penelitian selanjutnya disarankan diadakan penelitian yang sejenis pada subjek yang sama dengan kontek yang berbeda untuk melihat keajekan hasil penelitian ini.

Pengaruh lama waktu pengeringan dan penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi dan uji organoleptik dendeng ikan sebagi sarana penunjang materi pengawetan dan pengolahan makanan dalam matakuliah mikrobiologi pangan / Permata Ika Hidayati

 

Abstract: For the people in the northern part of east java, jerked fish is the most popular fish diversification product because it is produced in a large numbers trough home industry. One of the most popular kind of fish used to make jerked fish is Restrallinger Canagurta. According to the result of observation, jerked fish can be spoiled quicker than other diversification fish product. The spoil is caused by the growing of contaminant mold in the jerked fish. As a contaminant, mold can also cause the low quality and nutrient value of the jerked fish. Based on this condition, the marketing area of this product is limited. As the result, the marketing area of jerked fish is not too wide. It can not reach area which is far away from the production area. The purposes of the research are (1) To know the effect of drying and storing length to the quality of jerked fish microbiology, (2) to know the effect of different length in drying and storing to the resistance of jerked fish. This is an experimental research which is purposed to know the effect of drying and storing length to the quality of jerked fish microbiology and the resistance of the jerked fish, as a supporting material for food preservation and manufacture in food Microbiology Subject. The design of research is group random sampling. Every treatment was repeated three times. The, the data was analyzed using double variance and 5 % Tukey advanced test. The result of the research shows that: (1) There is an effect on the of drying and storing length to the microbiology quality of jerked fish microbiology, (2) There is an effect on the different length in drying and storing to the resistance of jerked fish, (3) the most dominant contaminant mold species in the jerked fish is penicilium paraherquei Abe ex Smith. The results of the research are intended to give contribution to the microbiology subject and the jerked fish producer. It is suggested to have four days drying and three days storing in the process of jerked fish manufacturing based on the law from general manager of POM 1985. Kata kunci: dendeng ikan, kualitas mikrobiologi, waktu pengeringan, waktu penyimpanan.

Persepsi siswa kelas X program keahlian restoran SMK Negeri 7 Malang tantang kewirausahaan / Kurnia Hindriyarin

 

ABSTRAK Hindriyarin, Kurnia. 2009. Persepsi Siswa Kelas X Program Keahlian Restoran SMK Negeri 7 Malang Tentang Kewirausahaan. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra.Nunung Nurjanah,M.Kes., (II) Dra.Titi Mutiara Kiranawati,M.P. Kata kunci : Persepsi, kewirausahaan, siswa SMK Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat langsung bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu. Ditinjau dari aspek ekonomi, salah satu tujuan pendidikan nasional adalah ikut mempersiapkan dibukanya lahan-lahan kerja baru. Salah satu kemampuan yang berperan dalam pencapaian tujuan tersebut adalah kemampuan berwirausaha. Upaya mempertajam orientasi pendidikan kejuruan ke arah kewirausahaan dilakukan melalui mata diklat kewirausahaan. Siswa memperoleh berbagai informasi tentang kewirausahaan sehingga akan membentuk persepsi tentang kewirausahaan. Persepsi positif dari seseorang akan dapat melahirkan kecenderungan yang positif dari tindakannya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul Persepsi Siswa Kelas X, Program Keahlian Restoran, SMK Negeri 7 Malang tentang Kewirausahaan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi siswa kelas X, program keahlian restoran, SMK Negeri 7 Malang tentang (1) Manfaat dan keuntungan berwirausaha, (2) Resiko dan tantangan berwirausaha, (3) Karakteristik wirausahawan, dan (4) Peranan kewirausahaan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi siswa kelas X, program keahlian restoran, SMK Negeri 7 Malang tentang (1) Manfaat dan keuntungan berwirausaha, (2) Resiko dan tantangan berwirausaha, (3) Karakteristik wirausahawan, dan (4) Peranan kewirausahaan. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas X, program keahlian restoran, SMK Negeri 7 Malang yang terdiri dari 57 siswa.Teknik pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian tentang persepsi siswa kelas X, program keahlian restoran, SMKN 7 Malang adalah sebagai berikut: (1) Persepsi siswa tentang manfaat dan keuntungan berwirausaha yaitu sebesar 87,71% siswa berpersepsi sangat baik; 12,28% siswa berpersepsi baik dan tidak ada siswa yang berpersepsi kurang baik dan tidak baik, (2) Persepsi siswa tentang resiko dan tantangan berwirausaha yaitu 63,16% siswa berpersepsi sangat baik; 28,07% siswa berpersepsi baik; 8,77% siswa yang berpersepsi kurang baik, dan tidak ada siswa yang berpersepsi tidak baik. (3) Persepsi siswa tentang karakteristik wirausahawan yaitu 80,70% siswa berpersepsi yang sangat baik; 17,55% atau sangat sedikit siswa mempunyai persepsi baik; 1,75% siswa yang berpersepsi kurang baik dan tidak ada siswa yang berpersepsi tidak baik. (4) Persepsi siswa tentang peranan kewirausahaan yaitu 85,96% siswa berpersepsi sangat baik; 14,04% siswa berpersepsi baik dan tidak ada siswa yang berpersepsi kurang baik dan tidak baik. Secara keseluruhan terdapat 85,96% siswa berpersepsi sangat baik; 14,04% sedikit siswa berpersepsi baik dan tidak ada siswa yang berpersepsi kurang baik dan tidak baik tentang kewirausahaan. Disimpulkan bahwa semua siswa berpersepsi positif tentang kewirausahaan. Ada beberapa saran yang diberikan kepada pihak-pihak berikut: (1) Kepada guru kewirausahaan hendaknya terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dibidang kewirausahaan; (2) Kepada sekolah hendaknya dapat mendatangkan wirausahawan-wirausahawan yang sukses sebagai teladan guna membangkitkan minat berwirausaha siswa; (3) Kepada peneliti lanjutan diharapkan mampu menemukan variabel-variabel yang lebih luas dan variatif.

Persepsi siswa terhadap praktisi dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran produktif di SMK Cor Jesu Malang / Dini Prastanti

 

SMK Cor Jesu Guru yang mengajar Mata Pelajaran Produktif yaitu Tata Hidang, Pengolahan Makanan dan Pengolahan Kue dan Roti adalah praktisi yang bekerja di dunia industri atau hotel, tetapi mengajar di sekolah kejuruan. Dimana guru yang seharusnya memiliki latar belakang pendidikan berijasah S1 akta mengajar. Maka dari itu penelitian ini ingin melihat bagaimana persepsi siswa terhadap gurunya (seorang praktisi) dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa selama proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktisi meliputi: membuka pelajaran, pembelajaran, penilaian, menutup pelajaran dan faktor penujang antara lain: faktor sosial dan faktor kepribadian. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang didukung dengan data kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran angket kepada 60 siswa yang diambil secara acak (random) dengan mengambil 10 siswa per kelas. Setelah data diambil dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan hasil 0.954 dengan kriteria reliabilitas soal sangat tinggi, lalu selanjutnya dilakukan menganalisa dengan teknik persentase dan kemudian mentabulasinya. Hasil penelitian ini adalah praktisi atau pengajar pada mata pelajaran produktif masih belum memenuhi kualitas yang memenuhi standar atau dapat dikatakan bahwa persepsi siswa terhadap praktisi dalam tahap membuka pelajaran, tahap pembelajaran, penilaian, menutup pelajaran kurang. Dikarenakan oleh latar belakang praktisi disana yang tidak berlatar belakang dari pendidikan sehingga praktisi kurang mampu melaksanakan proses belajar mengajar dan menyusun perangkat pembelajaran. Berdasarkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktisi dengan latar belakang bukan dari pendidikan perlu diberi pelatihan-pelatihan tentang metode kompetensi pedagogik dan professional. Bagi sekolah harus memiliki guru mata pelajaran produktif yang berlatar belakang dari pendidikan dan sebaiknya praktisi hanya membimbing siswa saat praktik atau sebagai guru tamu. Bagi guru juga harus dibekali kemampuan untuk dapat menyusun perangkat pembelajaran

Pengembangan profi guru pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I / Muhammad Arifin

 

ABSTRAK Muhammad Arifin. 2009. Pengembangan Profesi Guru pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Kusmintardjo, M.Pd.; (II) Prof. Dr. Salladien. Kata kunci: pengembangan, profesi guru, madrasah tsanawiyah negeri malang I Depag sebagai lembaga yang menaungi madrasah menyadari adanya beberapa kelemahan yang melekat pada madrasah. Ada tiga aspek kelemahan madrasah. Pertama unsur kurikulum yang dinilai : (a) terlalu sarat sehingga memicu stres murid; (b) kurang fungsional bagi kepentingan murid sendiri maupun untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya; dan (c) kurang proporsional dilihat dari segi tingkat usia murid. Kedua, Sumber daya pendidikan yang meliputi : (a) sumber daya manusia yang masih kurang memadai, terutama pada aspek kepemimpinan dan guru di madrasah; (b) sarana dan prasarana yang masih terbatas; (c) dan pembiayaan yang masih serba kekurangan. Ketiga, segi kualitas pembelajaran yang masih membutuhkan peningkatan penguasaan teknologi pembelajaran modern dan inovasi pembelajaran lainnya. Dalam menyikapi kondisi ini, kehadiran MTsN Malang I merupakan salah satu upaya pembinaan yang dikembangkan Ditjen Binbaga Islam Depag RI dalam lingkungan madrasah, yang diorientasikan pada peningkatan mutu penyelenggaraan madrasah, sangatlah tepat. MTsN Malang I dituntut bisa menjalankan misi dan visi yang telah ditetapkan dan mampu memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditentukan oleh Depag. Untuk mengungkapkan kesiapan MTsN Malang I, terutama kesiapan guru dan tenaga kependidikan serta upaya-upaya pengembangan yang dilakukannya, maka pada penelitian ini difokuskan pada: (1) pengembangan profesi guru pada MTsN Malang I; (2) faktor-faktor yang mendukung upaya memberdayakan profesional guru; (3) faktor-faktor yang merupakan kendala pada upaya pengem-bangan profesi guru; dan (4) cara mengatasi kendala dalam upaya pengembangan profesi guru. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri yang dibantu oleh orang-orang kunci, yaitu kepala MTsN Malang I, Kepala tata usaha, guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: (1) wawancara mendalam; (2) Observasi peran serta; dan (3) dokumentasi. Kegiatan analisis data menggunakan teknik deskriptif yang penerapannya dilakukan dalam tiga alur kegiatan, yaitu: (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) program pengembangan profesi guru pada MTsN Malang I, antara lain; (a) seleksi peserta program pengembangan dilakukan oleh MTsN Malang I dan Depag Pusat sebagai penentunya; (b) program pengembangan dilaksanakan di dalam dan di luar negeri yang berupa: program magister (S-2), program sarjana, kegiatan diklat, studi banding, serta program pengembangan melalui MGMP; (c) pemantauan dan evaluasi hasil program pengembangan dilakukan oleh kepala madrasah melalui foto kopi KHS maupun transkrip nilai lainnya, peserta program pengembangan merupakan penggerak usaha peningkatan mutu penyelenggaraan madrasah; (2) faktor yang mendukung upaya pengembangan, yaitu: (a) adanya kemauan dan semangat untuk berkembang; (b) adanya kesempatan yang diberikan oleh pemerintah; (c) adanya dorongan dan dukungan dari pimpinan serta teman sejawat; (d) adanya MGMP; (e) adanya supervisi yang efektif dari kepala madrasah; (f) kelengkapan sarana prasarana; (g) adanya perpustakaan yang representatif; dan (h) lokasi madrasah yang strategis.; (3) faktor yang merupakan kendala pada upaya pengembangan, yaitu: (a) keterbatasan dana pengembangan; (b) tidak diberikannya otonomi dalam pengadaan tenaga baru; (c) tempat pengembangan yang agak jauh; (d) adanya skala prioritas pada program tertentu; (e) pergantian guru tengah tahun mengganggu ketenangan belajar siswa; (f) jadwal pelajaran yang kurang ideal bagi siswa; (g) guru kehabisan waktu untuk berkembang; dan (h) adanya kecemburuan pada GTT; (4) dalam upaya mengatasi kendala yang ada, kepala madrasah melakukan beberapa upaya berikut: (a) mengajukan rencana anggaran pengembangan pada pemerintah; (b) mengatur jadwal pelajaran se-ideal mungkin; (c) memberikan rekomendasi kepada tenaga-tenaga kependidikan yang ingin malanjutkan ke S-2 dengan beaya sendiri; (d) menyebarkan informasi yang lengkap tentang program pengembangan; (e) mengikutsertakan guru-guru dalam pelatihan; (f) mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga siswa tidak dirugikan; (g) mencari tambahan tenaga baru dengan seleksi yang ketat; (h) mendorong GTT untuk berkembang bersama-sama. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini, beberapa saran di sampaikan: (1) bagi pemerintah dalam hal ini Departemen Agama, hasil ini hendaknya dapat digunakan sebagai umpan balik sekaligus bahan kajian dalam pengembangan kemampuan tenaga kependidikan pada Madrasah Terpadu; (2) bagi kepala madrasah atau penilik sekolah, hasil ini hendaknya dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi dan masukan dalam melaksanakan supervisi guna meningkatkan kemampuan profesi tenaga kependidikan; (3) bagi guru dan tenaga kependidikan, hasil ini hendaknya dapat di jadikan sebagai salah satu acuan dalam pengembangan kemampuan profesinya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada; (4) bagi pengembangan ilmu, hasil ini hendaknya dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi awal dan referensi; (5) bagi peneliti yang ingin meneliti kasus-kasus sejenis, hendaknya melakukan penelitian lanjutan dan mengkaji secara mendalam variabel-variabel yang belum sempat dikaji pada penelitian ini.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap peningkatan keterampilan memecahkan masalah siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang / Tantra Nugraha Purnama

 

Pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar. Pembelajaran berbasis masalah memiliki tujuan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah dan ketrampilan intelektual, sehingga siswa tidak hanya menerima materi pelajaran di dalam kelas namun juga dapat menerapkannya di dunia nyata. Dengan memiliki kemampuan dan ketrampilan tersebut diharapkan dapat mendorong anak didik untuk tegas dalam menghadapi masalah belajar. Oleh karena itu peneliti menerapkan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan ketrampilan memecahkan masalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Malang. subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Malang semester gasal 2008/2009 pada sub pokok bahasan kelangkaan sumber daya ekonomi. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 31 Juli – 7 Agustus 2008 dengan menggunakan instrumen penelitian berupa lembar obsevasi kegiatan guru, lembar tes dan angket tanggapan siswa setelah dilaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Analisis hasil penelitian dideskripsikan dengan menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase ketercapaian guru dalam menerapkan tahapan-tahapan pembelajaran berbasis masalah dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 20%. Ketrampilan memecahkan masalah siswa berdasarkan lembar tes yang diberikan, rata-rata ketrampilan memecahkan masalah siswa mengalami peningkatan yaitu sebesar 7,82%. Berdasarkan hasil analisis data angket dapat diketahui bahwa persentase sebesar 50% siswa mengatakan setuju terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada pokok bahasan kelangkaan sumber daya ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian keseluruhan, maka dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan ketrampilan memecahkan masalah siswa, dikarenakan siswa sudah mampu merumuskan masalah dan mampu mencari solusi pemecahan masalah. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti berikutnya untuk diterapkan pada sekolah lain dan dengan materi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah. (2) Pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah hendaknya mempertimbangkan kesesuaian antara materi yang dibahas dengan siswa dan kondisi lingkungannya. (3) Pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah hendaknya dibuat lebih variatif lagi, misalnya dengan mengajak siswa terjun langsung ke lapangan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi.

Pengaruh gender dan prestasi belajar melalui motivasi memilih jurusan siswa kelas X jurusan akuntansi SMKN 1 Turen Malang semester gasal tahun ajaran 2008/2009 / Indah Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Indah. 2009. Pengaruh Gender dan Prestasi Belajar Melalui Motivasi Memilih Jurusan Siswa Kelas X SMK Negeri I Turen Malang Semester Gasal Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi. Program Studi Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dyah Aju Wardhani M.Si., Ak., (II) Sawitri Dwi Prastiti, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci : Gender, Motivasi Memilih Jurusan, Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan hasil belajar siswa yang diperoleh siswa dalam menyerap atau menerima ilmu pengetahuan dan meteri pelajaran yang diberikan oleh guru selama proses belajar mengajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk tes atau angka nilai. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain yaitu motivasi siswa dalam memilih jurusan di sekolahnya. Motivasi memilih jurusan merupakan motivasi atau keinginan untuk memilih dan berusaha mencapai tujuan dan cita-cita berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Dalam memilih jurusan, Gender juga mempengaruhinya. Gender merupakan suatu konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi social yang dapat diubah sesuai dengan perubahan jaman. Di SMK untuk Bisnis dan Manajemen khususnya jurusan Akuntansi dianggap sebagai jurusan untuk perempuan saja. Padahal pada dasarnya, siswa laki-laki dan perempuan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk dapat bersekolah sesuai dengan harapan dan cita-citanya serta dapat berprestasi di bidangnya. Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X Jurusan Akuntansi Semester I di SMKN I Turen Malang Tahun Ajaran 2008/2009 . Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling. Untuk teknik analisis data menggunakan analisis regresi sederhana dan uji beda rata-rata atau t-test. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa terdapat pengaruh motivasi memilih jurusan terhadap prestasi belajar siswa kelas X Jurusan Akuntansi SMKN I Turen. Kemudian dari hipotesis kedua diperoleh bahwa terdapat perbedaan gender dalam motivasi memilih Jurusan siswa kelas X Jurusan Akuntansi SMKN I Turen. Hipotesis ketiga dari hasil analisis data menyatakan bahwa terdapat perbedaan gender atas prestasi belajar siswa kelas X jurusan Akuntansi SMKN I Turen. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) Siswa dapat mengembangkan potensi dan minat yang ada pada diri masing-masing, (2) Bagi Sekolah, yaitu menciptakan kondisi dan strategi belajar di dalam kelas yang efektif agar membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan adanya promosi dari pihak sekolah untuk memperkenalkan SMK kepada masyarakat. (3) Peneliti menyarankan bagi para pembaca yang berminat untuk meneliti kasus sejenis, sebaiknya menggunakan sampel yang lebih luas dan menambah variabel lain diluar variabel gender dan motivasi memilih jurusan.

Peranan dinas kebersihan Pemerintah Kota Malang dalam penglolaan sampah, untuk mewujudkan kebersihan (Studi di Dinas Kebersihan Kota Malang) / Dian Khrismayasari

 

ABSTRAK Khrismayasari, Dian. 2008. Peranan Dinas Kebersihan Pemerintah Kota Malang Dalam Pengelolaan Sampah, Untuk Mewujudkan Kebersihan (Studi di Dinas Kebersihan Kota Malang). Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP UM. Pembimbing: (I) Drs. H. Moh. Yuhdi Batubara, SH, MH, (II) Rusdianto Umar, SH, MH. Kata Kunci: Dinas Kebersihan, Pengelolaan Sampah. Dinas Kebersihan merupakan salah satu unsur pelaksana pengelolaan kebersihan di Kota Malang. Dalam melaksanakan tugasnya, Dinas Kebersihan tidak terlepas dari arah dan kebijakan pembangunan yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Kota Malang yang mengarah pada terwujudnya visi Kota Malang yaitu ”Terwujudnya Kota Malang yang mandiri, berbudaya, sejahtera, dan berwawasan lingkungan”. Peranan tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam visi Dinas Kebersihan yang digunakan untuk menentukan kebijakan dalam pengelolaan kebersihan di Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengolahan sampah, untuk mengetahui upaya yang dilakukan Dinas Kebersihan bersama dengan masyarakat dan instansi lain, untuk mengetahui hambatan yang dialami, dan untuk mengetahui solusi yang dilakukan Dinas Kebersihan Kota Malang untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam mewujudkan kebersihan di Kota Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan atau kancah (Field Research). Teknik pengumpulan data digunakan teknik wawancara (interview), pengamatan (observasi), dan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis model interaktif, yang prosesnya dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa pola pengolahan sampah yang dilaksanakan di TPA Supit Urang dan beberapa TPS hanya dilakukan dengan cara yang sederhana karena keterbatasan dana. Banyak TPS yang belum diaktifkan sebagai pengolahan kompos dan pengomposan yang ada saat ini masih menggunakan peralatan yang seadanya. Untuk itu perlu dilakukan perubahan kebijakan dalam mewujudkan kebersihan secara optimal. Sedangkan upaya Dinas Kebersihan dalam mewujudkan kebersihan yang tertuang dalam kebijakan Dinas Kebersihan terlihat mempunyai program yang bagus, namun kebijakan ini sebagian terhambat karena masyarakat yang sulit untuk bekerjasama dalam mewujudkan kebersihan. Hambatan-hambatan lain yang dirasakan Dinas Kebersihan juga dapat mempersulit Dinas Kebersihan untuk mewujudkan kebijakan-kebijakannya. Namun semua hambatan tersebut telah diatasi dengan berbagai solusi yang dilakukan Dinas Kebersihan demi mewujudkan kebersihan di Kota Malang. Sehingga, semua hambatan itu tidak dirasakan lagi dan walaupun dalam pengelolaan sampah dilakukan dengan sarana dan prasarana yang seadanya ii namun seluruh sampah yang ada bisa diolah dengan baik. Hal ini tidak terlepas dari peran serta para pemulung yang mempunyai sacara tidak langsung mempunyai peran dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan temuan penelitian disarankan: (1) Bagi Dinas Kebersihan Kota Malang hendaknya mengoptimalkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang lebih efektif agar timbulan sampah yang muncul tiap harinya bisa dikelola dengan baik, sehingga tidak menumpuk dan kebersihan lingkungan di Kota Malang dapat terwujud. (2) Bagi masyarakat, diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut sehubungan dengan peranan Dinas Kebersihan Pemerintah Kota Malang dalam pengelolaan sampah, untuk mewujudkan kebersihan.

Evaluasi genetik dengan breeding value dan analisis DNA serta implementasinya oleh para pelaku pembibitan sapi potong hasil persilangan di Perusda UPA Pasuruan dan sampang Madura (Sebuah model pengembangan pembelajaran materi evaluasi genetik dengan kajian meta analisis

 

ABSTRAK Mudawamah. 2009. Evaluasi Genetik dengan Breeding Value dan Analisis DNA serta Implementasinya oleh Para Pelaku Pembibitan Sapi Potong Hasil Persilangan di Perusda UPA Pasuruan dan Sampang Madura (Sebuah Model Pengembangan Pembelajaran Materi Evaluasi Genetik dengan Kajian Meta Analisis untuk Sapi Potong Hasil Persilangan). Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd., (II) Dr. Ir. V.M. Ani Nurgiartiningsih, MSc., dan (III) Dr.agr. Mohamad Amin, M.Si. Kata Kunci: evaluasi genetik, breeding value, DNA. Pelaksanaan program pemuliaan sapi potong melalui crossbreeding harus diikuti dengan evaluasi genetik yang akurat menggunakan breeding value dan analisis DNA sebagai dasar pertimbangan penentuan kebijakan program pemuliaan sapi potong di masa datang. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui potensi genetik secara kuantitatif melalui efek heterosis, breeding value (BV) dengan cara klasik dan animal model, serta biomolekuler melalui analisis DNA pada F1 hasil persilangan. Tujuan lain dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan respon dari para pelaku pembibitan sapi persilangan sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pembelajaran. Penelitian ini terdiri dari tiga bagian yaitu: 1) evaluasi genetik secara kuantitatif; 2) evaluasi genetik berbasis molekuler dengan analisis DNA menggunakan enzim Msp I, Ava II dan Xho I; 3) implementasi evaluasi genetik oleh para pelaku pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September 2007 sampai dengan Oktober 2008. Materi penelitian ini adalah data performans produksi F1 sebanyak 99 ekor, 66 ekor dan 83 ekor, masing-masing untuk BRAPO-SING (persilangan Brahman Singosari dengan PO), BRAPO-AME (persilangan Brahman Amerika dengan PO) dan LIMMADU (persilangan Limousin dengan Madura). Data dianalisis untuk mendapatkan breeding value dengan program PEST versi 4.2. Sampel darah yang berasal dari +7 % populasi sapi, analisis DNAnya dengan menggunakan metode RFLP. Indeks persamaan (similarity index) dianalisis dengan software MVSP. Khalayak sasaran kegiatan pembelajaran pada para pelaku pembibitan (petugas recording di UPA Pasuruan dan Dinas Peternakan Sampang Madura ditambah petugas BBIB Singosari dan Dinas Peternakan kota Malang dan Pasuruan). Evaluasi pembelajaran masyarakat menggunakan Lembar Kerja Pebelajar, Reflective Learning Journal (RLJ), pre dan postes, pre dan posangket. Hasil penelitian menunjukkan berat lahir (BL), berat sapih (BS) dan kode pejantan F1 hasil persilangan berjenis kelamin jantan tidak berbeda dengan betina. Rataan BL & BS jantan dan betina F1 hasil persilangan adalah 29,43 kg & 111 kg dan 27,44 kg & 109,02 kg. Rataan BL dari kode pejantan A (Brahman Singosari), kode pejantan B, C, dan D (Brahman Amerika) adalah 28,21 kg; 29,17 kg; 29,75 kg dan 30,32 kg. Rataan BS dari kode pejantan A (Brahman Singosari), kode pejantan B, dan D (Brahman Amerika) adalah 107,16 kg; 116,45 kg; dan 87,08 kg. Ada pengaruh yang sangat nyata (P < 0,01) model persilangan terhadap BL dan BS. Rataan BL & BS dari berbagai model persilangan adalah 27,70 kg & 107,16 kg (Brahman Singosari x PO); 29,92 kg & 110,58 kg (Brahman Amerika x PO), 22,50 kg & 113,47 kg (Limousin x Madura). Nilai korelasi ukuran vital tubuh (tinggi badan, panjang badan, tinggi pundak, lingkar dada) dengan berat umur sapih & berat umur satu tahun adalah 0,37 & 0,79; 0,33 & 0,41; 0,25 & 0,81; 0,29 & 0,81. Nilai ripitabilitas pertambahan berat badan (PBB) dari F1 BRAPO-SING, BRAPO-AME dan LIMMADU adalah 0,10; 0,30; 0,01. Nilai ripitabilitas pertambahan ukuran vital tubuh dari F1 BRAPO-SING, BRAPO-AME dan LIMMADU berkisar antara 0,15-0,59; 0,06-0,69; dan -0,44 sampai 0,72. Heritabilitas BL dengan cara klasik & REML adalah 0,63 & 0,53. Efek heterosis dan keunggulan F1 dari induknya pada BS F1 LIMMADU, BRAPO-AME serta BRAPO-SING sebesar -15,64 % dan 106,31 %; -32,76 % dan 31,06, serta -34,39 % dan 27,00 %. Potensi genetik pejantan berdasarkan breeding value BL dan BS yang diestimasi dengan cara klasik menghasilkan rangking ternak yang sama dengan animal model, dengan nilai korelasi rangking adalah 1. Rataan indeks persamaan fragmen DNA hasil RFLP dengan berbagai enzim restriksi dari F1 BRAPO-SING, BRAPO-AME dan LIMMADU terhadap induk & pejantan sebesar 85,75 % & 76,60 %; 72,63 % dan 69,47 %; 75,93 %. Kemampuan kognitif sebelum dan sesudah pembelajaran dari hasil tes & angket adalah 59 & 38,75 dan 76,69 & 97,50. Kemampuan tahap refleksi dan level refleksi pebelajar pada RLJ-1, RLJ-2 & RLJ-3 adalah 2,25 ; 2,50 & 2,88 dan 1,50; 2,00 & 2,38. Hasil belajar para pelaku pembibitan sapi persilangan dengan nilai rata-rata 70 dan kategori baik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. BL F1 BRAPO-AME nyata lebih tinggi dibandingkan dengan F1 BRAPO-SING dan F1 LIMMADU. PBB dan PTB (pertambahan tinggi badan) serta PTP (pertambahan tinggi pundak) F1 BRAPO-AME dan F1 LIMMADU nyata lebih besar dibandingkan dengan F1 BRAPO-SING. Ada hubungan linier positip antara ukuran vital tubuh dengan berat umur sapih dan linier negatip dengan berat umur satu tahun dari F1 sapi hasil persilangan. Nilai heritabilitas BL dan ripitabilitas PTP dan PLD dari F1 BRAPO termasuk kategori tinggi. Nilai efek heterosis dan keunggulan F1 dari induknya pada BS F1 LIMMADU cenderung tertinggi, diikuti dengan dengan BRAPO-AME dan BRAPO-SING. BV BL & BS pejantan dengan cara klasik dan animal model menghasilkan rangking yang sama. Fragmen DNA sapi potong F1 BRAPO-SING dan LIMMADU lebih bervariasi dibandingkan dengan sapi pejantan, tidak ada variasi band DNA dengan induknya. Pembelajaran masyarakat meningkatkan kemampuan kognitif dan level refleksi para pelaku pembibitan tetapi belum mampu meningkatkan tahap refleksinya. Hasil belajar dari para pelaku pembibitan kategori baik. Ada respon yang positip ke arah yang lebih baik dari para pelaku pembibitan sapi persilangan sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dapat digunakan sebagai media meningkatkan motivasi dan gairah belajar serta kemampuan refleksi diri para pelaku pembibitan. Penggunaan cara klasik untuk evaluasi genetik pejantan pada struktur data progeny lebih sederhana dan menghasilkan rangking sama dengan animal model. Untuk menerapkan pembelajaran bagi para pelaku pembibitan, instruktur harus memahami benar skenario pembelajaran dan peta kemampuan akademik. Perlu penelitian lanjutan pembelajaran pada para pelaku pembibitan dengan menerapkan partisipatip dalam cooperative learning tipe lain.

Perbedaan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri I Trenggalek antara siswa yang diterima melalui sistem penerimaan siswa baru (PSB) jalur tes tulis dengan jalur nilai ujian nasional (NUN) / Devi Dwi Cahyanti

 

ABSTRAK Cahyanti, Devi Dwi. 2008. Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri I Trenggalek antara Siswa yang Diterima Melalui Sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB) Jalur Tes Tulis dengan Jalur Nilai Ujian Nasional (NUN). Skripsi. Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Suparti, M.P (2) Drs. Cipto Wardoyo, S.E, M.Pd, M.Si. Ak Kata kunci: prestasi belajar, PSB jalur tes tulis, PSB jalur NUN Prestasi belajar siswa merupakan cerminan dari keberhasilan dari kegiatan belajarnya. Prestasi belajar siswa meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek psikomotor, dan aspek afektif. Tinggi rendahnya prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak hal, baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa. Faktor dari luar siswa diantaranya adalah jalur penerimaan siswa baru yang dilaluinya. Sistem Penerimaan siswa Baru (PSB) di SMA Negeri I Trenggalek tidak hanya didasarkan pada Nilai ujian Nasional (NUN) seperti sekolah-sekolah pada umumnya, tetapi sekolah mempunyai kebijakan baru dengan menambahkan jalur penerimaan siswa baru yaitu dengan Tes Tulis sejak tahun 2003-2004. Karena hal tersebut dilaksanakan penelitian dengan judul “Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri I Trenggalek antara Siswa yang Diterima Melalui Sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB) Jalur Tes Tulis dengan Jalur Nilai Ujian Nasional (NUN)”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Adakah perbedaan antara prestasi belajar (1) aspek kognitif, (2) aspek psikomotor, (3) rata-rata aspek kognitif dan psikomotor siswa yang diterima melalui PSB jalur tes tulis dengan NUN? Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa pada aspek kognitif, psikomotor, maupun rata-rata kognitif dan psikomotor antara siswa yang diterima melalui PSB jalur tes tulis dengan PSB jalur NUN. Hipotesis penelitian: Ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa kelas X tahun ajaran 2006-2007 SMA Negri I Trenggalek antara siswa yang diterima melalui PSB jalur Tes Tulis dengan PSB jalur NUN. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X tahun ajaran 2006-2007 SMA Negeri I Trenggalek yang diterima melalui PSB jalur tes tulis dengan NUN yang berjumlah 235 siswa. Sampel diambil 78 siswa untuk siswa kelas Tes Tulis dan 78 siswa untuk siswa kelas NUN. Data penelitian diperoleh dengan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan t-Test. Dari analisis t-Test diperoleh (1) Prestasi belajar aspek kognitif siswa antara kedua jalur PSB terdapat perbedaan yang signifikan, terbukti hasil t-hitung lebih besar dari t-tabel, (2) Prestasi belajar aspek psikomotor t-hitung juga lebih besar dari t-tabel, dan (3) Prestasi belajar aspek (rata-rata aspek kognitif dan psikomotor) hasil t-hitung lebih besar dari tabel. Hal ini menyatakan bahwa hipotesis penelitian yang diajukan diterima.

Pengaruh latihan pukulan backhand lob evorhead dan kekuatan lengan terhadap jauhnya pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi pemain putra usia 12-15 tahun di Persatuan Bulutangkis Empat Putra Ketapang Kabupaten Sampang / Chotibul Umam

 

ABSTRAK Umam, Chotibul. 2008. Pengaruh Latihan Pukulan Backhand Lob Overhead dan Kekuatan Lengan terhadap Jauhnya Pukulan Backhand Lob Overhead Bulutangkis bagi Pemain Putra Usia 12-15 Tahun di Persatuan Bulutangkis Empat Putra Ketapang Kabupaten Sampang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan Program Studi Pendidikan Jasmani FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Setyo Budiwanto, M.Kes., (II) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes. Kata kunci: latihan backhand lob overhead, pukulan bulutangkis, Sampang Untuk terampil dalam permainan bulutangkis seorang atlet harus menguasai teknik-teknik dasar dalam bulutangkis. Teknik pukulan backhand lob overhead adalah yang paling sulit dilakukan, karena jenis pukulan ini dilakukan dari garis belakang ke garis belakang dengan cara melambungkan shuttlecock setinggi-tingginya dan diarahkan sejauh mungkin ke bagian belakang lapangan lawan. Untuk dapat menguasai teknik dasar atau keterampilan dasar bulutangkis yang baik tidak hanya mengandalkan bakat saja tapi juga bahkan latihan yang teratur dan program latihan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui pengaruh latihan pukulan backhand lob overhead dan kekuatan lengan terhadap jauhnya pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi pemain putra usia 12-15 tahun di Persatuan Bulutangkis Empat Putra Ketapang Kabupaten Sampang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang bersifat pra-eksperimental karena tidak menggunakan kelompok kontrol. Dengan rancangan menggunakan pola “Rancangan Pra Tes dan Pasca Tes”. Kelompok sebelum diberikan perlakuan berupa pukulan backhand lob overhead dan kekuatan lengan (X) diberi pra tes (O1), kemudian setelah diberi perlakuan berupa pukulan backhand lob overhead dan kekuatan lengan dilakukan pengukuran lagi untuk mengetahui akibat dari perlakuan pukulan backhand lob overhead dan kekuatan lengan pasca tes (O2). Subyek penelitian ini adalah pemain putra dengan kriteria subyek adalah usia 12-15 tahun di Persatuan Bulutangkis Empat Putra Ketapang Kabupaten Sampang yang berjumlah 15 pemain. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diketahui hasil tes awal (pra tes) pukulan backhand lob overhead dan kekuatan lengan terhadap jauhnya pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi pemain putra usia 12-15 tahun di Persatuan Bulutangkis Empat Putra Ketapang Kabupaten Sampang rerata adalah 9,1603, simpangan baku 0,12652, dan rentangan skor 0,04. Hasil tes akhir (pasca tes) ketrampilan pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi pemain putra usia 12-15 tahun di Persatuan Bulutangkis Putra Ketapang Kabupaten Sampang reratanya sebesar 9,2760. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan keterampilan pukulan back-hand lob overhead dan kekuatan lengan berpengaruh nyata terhadap peningkatan jauhnya pukulan backhand lob overhead pemain putra usia 12-15 tahun di Persatuan Bulutangkis Empat Putra Ketapang Kabupaten Sampang. Latihan keterampilan pukulan backhand lob overhead dan kekuatan lengan perlu ditingkatkan dalam latihan karena dapat meningkatkan jauhnya pukulan backhand lob overhead pemain putra usia 12-15 tahun.

Implementasi pembelajaran dengan pendekatan problem posing untuk mengetahui motivasi belajar matemtika siswa SMA Negeri Ngoro Jombang / Imam Nurul Yakin

 

ABSTRAK Yakin, Imam Nurul. 2008. Implementasi Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing untuk Mengetahui Motivasi Belajar Matematika Siswa SMA Negeri Ngoro Jombang. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs H.M Shohibul Kahfi, M.Pd, (II) Drs. Eddy Budiono, M.Pd. Kata kunci: Implementasi Pembelajaran, Problem Posing, Motivasi belajar matematika Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti di SMA Negeri Ngoro Jombang, pembelajaran matematika yang dilakukan guru masih bersifat konvensional, guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Hal tersebut membuat siswa menjadi bosan dan kurang tertarik dalam belajar matematika sehingga siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Untuk mengatasi hal ini, terdapat salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi belajar matematika siswa. Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing membimbing siswa untuk mengembangkan daya nalarnya, berpikir kreatif dan inovatif. Alasan inilah yang melatarbelakangi penelitian implementasi pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing untuk mengetahui motivasi belajar matematika siswa. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA1 SMA N Ngoro Jombang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing, dan (2) mendeskripsikan motivasi belajar matematika siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing pada pokok bahasan rumus-srmus trigonometri. Data yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari lembar observasi aktivitas guru dan siswa, angket motivasi, dan wawancara. Implementasi pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing menunjukkan bahwa motivasi siswa, baik itu siswa dengan kemampuan tinggi, siswa dengan kemampuan sedang ataupun siswa dengan kemampuan rendah mempunyai motivasi yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. Soal yang telah berhasil dibuat oleh siswa selama pembelajaran sebanyak 73 soal yang semuanya (100%) merupakan pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan. Selain itu siswa juga dapat menguasai dengan baik materi rumus-rumus trigonometri. Hal ini terlihat dari hasil test yang diberikan di akhir keseluruhan pembelajaran, menunjukkan bahwa penguasaan siswa lebih dari 81,3% atau termasuk kriteria penguasaan sangat baik. Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing hendaknya dapat digunakan sebagai pertimbangan guru bidang studi matematika dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa. Selain itu perlu adanya variasi dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing seperti diberikan permainan saat menukarkan soal, agar siswa tidak merasa bosan dan lebih termotivasi untuk membuat soal.

Implementasi model pembelajaran kooperatif think pair share (TPS) dalam upaya meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X-6 SMA Negeri 10 Malang / Dwi Yulianto

 

ABSTRAK Yulianto, Dwi. 2008. Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS) Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Afektif Dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-6 SMA Negeri 10 Malang Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Margono, M. A , (II) Dra. Titi Judani, M. Kes. Kata Kunci: metode Think Pair Share, kemampuan afektif, hasil belajar. Penelitian ini bardasarkan fakta yang terjadi dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan peneliti selama menjadi guru PPL di SMA Negeri 10 Malang. Peneliti memukan adanya permasalahan mengenai rendahnya kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar dalam mata pelajaran biologi di SMA Negari 10 Malang khususnya kelas X-6. Pembelajaran dikelas pada umunya masih berpusat pada guru dan menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Tujuan penelitian untuk meningkatkan kemampuan afektif dan hasil belajar siswa kelas X-6 dengan menerapkan pembelajaran metode Think Pair Share dalam mata pelajaran biologi di SMA Negeri 10 Malang.Metode Think Pair Share ini mempunyai 3 tahapan yaitu: Think (Berfikir Mandiri), Pair (Berpasangan), dan Share (Berbagi). Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatf. Sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan 3 siklus. Subyek penelitian ini adalah kelas X-6 SMAN 10 Malang dengan jumlah 39 siswa. Setiap siklus PTK terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, tes dan angket tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode Think Pair Share. Teknis analisis data yang digunakan adalah prosentase kemampuan afektif pada setiap tahap metode dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan afektif sebelum diberi tindakan pada tahap Think 40,34%, tahap Pair 45,59% dan pada tahap Share 50,96%. Setelah diberi tindakan pada tahap Think pada siklus I 59,51%, siklus II 64,61% dan siklus III 65,80%, tahap Pair pada siklus I 55,45%, siklus II 59,65% dan siklus III 62,85%, tahap Share pada siklus I 64,04%,siklus II 67,77%, siklus III 73,65%. Terlihat adanya prosentase peningkatan pada kemampuan afektif yang dilakukan oleh siswa kelas X-6 pada setiap tahap TPS. Sedangkan hasil belajar sebelum diberi tindakan 57,00% dan daya serap klasikal sebesar 30,76%. Setelah diberi tindakan ada peningkatan dari siklus I sampai siklus III. Daya serap klasikal untuk siklus I sebesar 46,14%, siklus II sebesar 66,66% dan siklus III sebesar 97,43%. Terdapat kolerasi positif antara kemampuan afektif dan hasil belajar biologi siswa kelas X-6 SMAN 10 Malang.

Pengaruh earning per share (EPS) dan income smoothing terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 / Yulinda Aditya Nilasari

 

Dari berbagai jenis investasi yang ditawarkan, sebagian besar kalangan investor lebih tertarik dengan investasi yang berbentuk saham. Hal ini dikarenakan saham dapat memberi berbagai penawaran dengan tingkat keuntungan yang menarik. Sebelum menentukan saham mana yang akan dipilih sevbagai wahana investasi, para investor tentunya telah mempertimbangkan berbagai aspek yang ada pada saat itu. Salah satunya adalah dengan mempertimbangkan nilai laba yang terkandung ke dalam lembar saham atau lebih dikenal dengan Earning Per Share (EPS). Selain hal tersebut, ada tidaknya income smoothing dalam penyajian laba akuntansi perusahaan juga dapat menjadi alternatif pertimbangan dalam berinvestasi. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara Earning Per Share (EPS) dan Income Smoothing terhadap Harga Saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data saham, penjualan, laba bersih dan EPS. Populasi dalam penulisan ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 sebanyak 142 perusahaan. Sampel yang digunakan adalah sebagian dari jumlah populasi berjumlah 71 perusahaan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Sederhana dan ANNAVAR (Analisis Varian). Uji regresi linier sederhana digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel Earning Per Share (EPS) terhadap variabel harga saham secara parsial sama halnya dengan Regresi Linier Sederhana, ANNAVAR juga menguji pengaruh parsial variabel Income Smoothing dengan harga saham. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel Earning Per Share (EPS) dan Income Smoothing mempunyai pengaruh terhadap Harga Saham pada periode penulisan. Sedangkan secara parsial hanya variabel Earning Per Share (EPS) yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penulisan, dapat disarankan untuk penulisan selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel harga saham, seperti misalnya tingkat inflasi, suku bunga Bank Indonesia, kebijakan pemerintah, serta kondisi pasar. Disarankan juga untuk menambah periode observasi, dan jumlah sampel penulisan, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya. Serta penulis selanjutnya dapat menjadikan variabel income smoothing sebagai variabel moderating dengan EPS ataupun laba akuntansi sebagai variabel bebasnya.

Pengembangan buku siswa dengan pendekatan Pendidikan Matematika realistik (PMR) topik garis dan sudut di SMP / Indah Setyo Wardhani

 

ABSTRAK Wardhani, Indah Setyo. 2008. Pengembangan Buku Siswa dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) pada Topik Garis dan Sudut Di SMP, Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D (II) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A Kata Kunci: Pengembangan, Buku Siswa, Pendekatan PMR, Garis Banyak orang mengatakan “Mutu pendidikan Indonesia”, terutama dalam mata pelajaran matematika, masih rendah. Matematika selalu diidentikkan sebagai momok yang sangat menakutkan dan memusingkan kepala. Menanggapi fenomena tentang kesulitan matematika tersebut, maka perlu diadakannya beberapa perubahan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran matematika selama ini. Salah satunya yaitu dengan menerapkan KTSP (Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan) sebagai penyempurna kurikulum sebelumnya. Seiring dengan diberlakukannya KTSP yang merupakan bentuk terbaru dari pengembangan dan penyempurnaan kurikulum di Indonesia, pengamat pendidikan semakin gencar berupaya menggairahkan kembali dunia pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran matematika. Dalam rangka ikut menerapkan KTSP, pengembang ingin mengembangkan suatu produk pembelajaran yang berupa buku siswa dengan pendekatan PMR. Produk pembelajaran yang tersusun, diharapkan dapat digunakan sebagai sarana dalam pembelajaran yang dapat mendorong dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri tanpa tergantung pada guru. Tujuan yang hendak dicapai melalui pengembangan ini adalah tersusunnya buku siswa yang menggunakan pendekatan PMR pada topik garis dan sudut di SMP. Manfaat yang diharapkan dari buku siswa secara khusus adalah sebagai berikut: 1). Menjadi masukan bagi guru atau calon guru dalam menyusun suatu buku siswa dengan pendekatan PMR. 2). Memberikan kemudahan bagi para guru dalam menyampaikan materi di dalam kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya materi topik garis dan sudut. 3) Memberikan kemudahan bagi siswa dalam belajar secara aktif dan mandiri. 4)Memberikan sumbangan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Pengembangan buku siswa yang menggunakan pendekatan PMR pada topik garis dan sudut di SMP ini menggunakan langkah-langkah yang dikembangkan Suhartono. Langkah-langkah pokok pengembangan menurut Suhartono ada 4 yaitu sebagai berikut. 1) Tahap analisis situasi. 2) Tahap pengembangan rancangan buku siswa. 3) Tahap pengembangan buku siswa. 4) Tahap penilaian buku siswa. Hasil pengembangan buku siswa berupa draf buku siswa yang dapat digunakan untuk siswa dalam proses pembelajaran khususnya dalam topik garis dan sudut. Dalam uji ahli, buku siswa yang dikembangkan oleh penulis tidak perlu adanya revisi. Tingkat keberhasilan dalam uji coba lapangan pada evaluasi pertama mencapai 78,63%. Artinya siswa yang mencapai ketuntasan belajar sekitar 88,57%. Pada evaluasi kedua tingkat keberhasilan uji coba lapangan mencapai 79,96%. Artinya siswa yang mencapai ketuntasan belajar sekitar 95%. Buku siswa dengan pendekatan PMR ini mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: 1) menurut subjek ahli, buku siswa pembelajaran ini telah mengacu pada KTSP; 2) menurut subjek ahli, buku siswa pembelajaran ini memiliki tampilan gambar yang menarik; 3) dengan buku siswa pembelajaran ini siswa diprediksi menjadi aktif dalam mengkontruksi pengetahuannya tentang topik garis. Buku siswa pembelajaran ini telah dinilai oleh subjek. Tanggapan, saran, dan kritik dari mereka digunakan untuk merevisi dan menyempurnakan buku siswa pembelajaran ini sehingga produk pembelajaran ini menjadi lebih baik.

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan model RKPL siswa kelas V SDN Bareng IV Malang / Indah Permatahati

 

ABSTRAK Permatahati, Indah. 2008. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Menggunakan Model RKPL pada Siswa Kelas V SDN Bareng IV Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Anang Santoso, M.Pd Kata kunci: peningkatan, kemampuan menulis puisi, model RKPL. Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek kemampuan, yakni membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah pun mengajarkan keempat aspek ini. Lebih khusus pada aspek menulis. Pada aspek ini kemampuan siswa ditentukan berdasarkan kegiatan pembelajaran serta model pengajaran yang diberikan oleh guru di dalam kelas. Hal tersebut dikarenakan, kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang tiba-tiba dimiliki oleh siswa, melainkan kemampuan yang tercermin dari pola pengajaran dan latihan yang dilakukan oleh siswa. Tak ayal, peran pendidik sangat menentukan dalam hal ini. Pada jenjang sekolah dasar, siswa sudah diberi materi tentang menulis. Lebih khusus pada kelas V Sekolah Dasar dalam standar nasional pendidikan, disebutkan bahwa menulis puisi merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Peneliti menemukan fakta bahwa, pembelajaran menulis puisi mengalami kendala. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap guru kelas, tak jarang ketika siswa mendapatkan tugas menulis puisi, siswa justru menyalin puisi yang telah ada. Hal itu dapat dikatakan bahwa, pembelajaran menulis puisi belum dapat memberikan hasil yang signifikan. Peneliti menggunakan sebuah model pembelajaran RKPL yang merupakan akronim dari: rencanakan, kerjakan, pelajari, lakukan. Model pembelajaran tersebut yang kemudian digunakan dalam pembelajaran menulis puisi agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN Bareng IV Malang. Sumber data penelitian ini berasal dari siswa selama pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan model RKPL. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Bareng IV Malang yang berjumlah 17 orang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian kualitatif jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas dua kali pertemuan dengan durasi waktu 2x35 menit. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas V SDN Bareng IV Malang dengan menggunakan model RKPL. Berdasarkan aspek-aspek penilaian yang meliputi diksi, tema, dan amanat, hasil karya puisi siswa mengalami peningkatan. Pada siklus I tema puisi siswa kurang berkembang, sebagian besar siswa memilih tema yang sama dalam penulisan puisi mereka. Sedangkan pada siklus II, tema puisi siswa sangat berkembang dan lebih kaya jika dibandingkan dengan tema pada siklus I. Demikian pula dengan aspek i diksi dan amanat, pada siklus I pilihan kata yang tercermin dari hasil karya puisi siswa cenderung sangat terbatas, hal ini disebabkan karena pengetahuan siswa tentang objek penulisan puisi masih kurang. Berbeda halnya dengan siklus II, pada siklus II pilihan kata pada hasil penulisan puisi siswa sangat luas dan berkembang. Aspek amanat pada puisi siswa siklus II juga menunjukkan peningkatan jika dibandingkan amanat pada puisi siswa siklus I. Pada puisi siswa siklus I, aspek amanat belum begitu tercermin dalam puisi siswa, sedangkan pada siklus II, aspek amanat telah terkandung dalam puisi siswa. Hasil pembelajaran menulis puisi pada siklus I menunjukkan bahwa sebanyak 35% siswa memperoleh nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sedangkan sisanya, yakni 65% dari jumlah keseluruhan siswa memperoleh nilai di bawah KKM. Selanjutnya, pada siklus II terjadi peningkatan, yakni sebanyak 83% dari jumlah keseluruhan siswa memperoleh nilai di atas KKM, sedangkan sisanya yakni 17% dari jumlah keseluruhan siswa memperoleh nilai di bawah KKM. Penggunaan model RKPL dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Dalam proses pembelajaran, disarankan kepada guru bahasa dan sastra Indonesia agar menggunakan model pembelajaran ini dalam aktivitas pembelajaran menulis puisi. Hal ini disebabkan karena berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Untuk peneliti lain disarankan agar melalui temuan ini dapat dikembangkan penelitian sejenis dengan pokok materi pembelajaran tentang keterampilan berbahasa lainnya.

Penerapan teknik skimming scanning untuk meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate / Samsu Somadayo

 

ABSTRAK Samsu Somadayo, 2008. Penerapan Teknik Skimming dan Scanning untuk Meningkatkan Pembelajaran Membaca Pemahaman Siswa Kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate. Tesis, Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Imam Safi’ie, dan (2) Dr. Monica Djoehana D. Oka, M.A. Kata Kunci: Membaca pemahaman, teknik skimming dan scanning, sekolah dasar. Bertolak dari kenyataan di lapangan menunjukan bahwa upaya peningkatkan kemampuan siswa dalam membaca pemahaman dengan penerapan teknik skimming dan scanning yang dilaksanakan di kelas V Sekolah Dasar terteliti belum optimal. Hal itu disebabkan (1) pelaksanaan pembelajaran masih berorentasi pada produk, bukan pada proses, dan (2) teknik yang digunakan dalam pembelajaran kurang tepat sehingga pembelajaran membaca pemahaman di kelas V perlu ditingkatkan. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik skimming dan scanning untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V Sekolah Dasar yang meliputi tahap prabaca, saatbaca, dan pascabaca. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat partisipatori-kolaboratif. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus dengan desain mengacu pada model Kemmis dan Taggart (dalam Depdiknas, 1999) yang meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, evaluasi, dan refleksi. Data penelitian ini meliputi data proses dan data hasil. Data proses berupa aktivitas guru dan siswa selama tindakan pembelajaran berlangsung. Data hasil adalah hasil kegiatan membaca siswa dalam membaca pemahaman dengan menggunakan teknik skimming dan scanning yang diperoleh pada setiap akhir pembelajaran yang meliputi (1) kemampuan menemukan topik bacaan, (2) kemampuan memahami pendapat orang, (3) kemampuan menemukan ide pokok paragraf, (4) kemampuan menemukan informasi tertentu, (5) kemampuan menemukan fakta khusus, dan (6) kemampuan menyimpulkan. Sumber data adalah penerapan teknik skimming dan scanning untuk meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate yang berjumlah 7 orang. Data proses diperoleh melalui kegiatan pengamatan, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Untuk memperoleh data, peneliti berperan sebagai instrumen utama dan didukung instrumen penunjang. Instrumen penunjang berupa pedoman pengamatan, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan prosedur yang dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, verifikasi serta penyimpulan data. Penerapan teknik skimming dan scanning dalam pembelajaran membaca pemahaman dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap prabaca, saatbaca, dan pascabaca. Pada tahap prabaca, kegiatannya adalah (1) menentukan bahan pembelajaran yang akan disampaikan, (2) menyesuaikan skemata siswa dengan materi yang ditampilkan, (3) melaksanakan langkah-langkah pembelajaran membaca pemahaman dengan teknik skimming dan scanning, (4) menyampaikan tugas atau kegiatan siswa yang harus dilakukan, dan (5) mengadakan tanya jawab seputar bahan yang sajikan. Adapun langkah-langkah pembelajaran membaca pemahaman mencakup (a) tahap prabaca secara khusus dengan menggunakan teknik skimming adalah (1) terlebih dahulu guru membuat pertanyaan, apakah yang dicari atau yang diperlukan dalam bahan bacaan tersebut, (2) guru memberikan petunjuk tentang cara mencari informasi yang dibutuhkan dalam bahan tersebut, (3) menelusuri bahan bacaan dengan kecepatan yang tinggi setiap paragraf atau subbab yang dihadapi, (4) berhenti ketika merasa menemukan apa yang dicari, (5) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami dengan baik tentang informasi apa yang dicari, sedangkan (b) dengan teknik scanning melalui kegiatan kegiatan bab yang penting (1) melihat daftar isi dan kata pengantar secara sekilas, (2) telah secara singkat latar belakang penulis, (3) baca bagian pendauluan secara singkat, (4) mencari bab yang penting dalam daftar isi, (5) mencari bab yang penting dalam halaman-halaman buku tersebut, kemudian membaca beberapa kalimat yang penting, (6) membaca bagian kesimpulan, (7) melihat secara sekilas daftar pustaka, daftar indeks, atau apendiks. Pada tahap saatbaca, kegiatannya adalah (1) membaca dan memahami topik bacaan, (2) memahami pendapat orang atau opini, (3) memahami urutan ide pokok, (4) memahami informasi tertentu, (5) memahami fakta khusus, dan (6) menyimpulkan. Kegiatan tahap pascabaca mencakup (1) meminta siswa untuk menghitung (a) tingkat kemampuan membaca, (b) melaporkan hasil kerja, (c) menanggapi hasil kerja siswa lain, (d) menghitung tingkat kecepatan membaca, (e) menilai hasil kerja siswa, dan (f) menyimpulkan hasil kerja siswa. Hasil analisis menunjukan bahwa penerapan teknik skimming dan scanning pada penelitian ini secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca pemahaman. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada siklus I dengan rata-rata nilai adalah 74,4% (baik), siklus II mencapai 79,5% (baik), dan siklus III adalah 85,5% (sangat baik ). Untuk penerapan teknik scanning pada siklus I nilai rata-ratanya adalah 75,25% (baik), siklus II 79,55% (baik), dan siklus III mencapai 88,25% (sangat baik).Tingkat kecepatan membaca siswa kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate termasuk kategori memadai. Hal ini dapat ditunjukkan dari 35 sampel pada siklus I, delapan belas siswa (52,75%) termasuk kategori baik, empat siswa (4,25%) termasuk kategori sangat baik; siklus II: dua siswa (2,22%) termasuk kategori baik dan dua puluh lima siswa(76,25%) termasuk kategori sangat baik; sedangkan untuk siklus III: satu siswa (1,25%) termasuk kategori kurang, tiga siswa (4,75%) termasuk kategori cukup, tiga siswa (3,55%) termasuk kategori baik dan dua puluh delapan siswa (88,25%) termasuk kategori sangat baik. Dari temuan tersebut maka saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: (1) kepala sekolah diharapkan senantiasa mendorong dan membina guru untuk meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan teknik skimming dan scanning, (2) guru Bahasa Indonesia disarankan agar (a) memberikan latihan pada siswa untuk menggunakan berbagai teknik dalam pembelajaran membaca pemahaman agar mengurangi kejenuhan siswa dalam belajar, (b) pembelajaran membaca memperhatikan tahapan-tahapan dalam membaca, yakni tahap prabaca, tahap saatbaca, dan pascabaca, dan (c) evaluasi yang digunakan hendaknya menggunakan evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Pengaruh reputasi auditor, reputasi underwriter, dan persentase kepemilikan saham yang ditawarkan terhadap tingkat underpricing saham perdana (Di Bursa Efek Indonesia Periode 2002-2006) / Dianis Niswatul Laila

 

ABSTRAK Laila, Dianis Niswatul. 2008. Pengaruh Reputsi Auditor, Reputasi Underwriter, dan Persentase Kepemilikan Saham yang Ditawarkan terhadap Tingkat Underpricing Saham Perdana di BEI periode 2002-2006. Pembimbing : (I) Eka Ananta Sidharta, S.E., M.M., Ak. (II) Dra. Endang Sri Andayani, S.E., M.Si, Ak. Kata Kunci : Repotasi Auditor, Reputasi Underwriter, Persentase Kepemilikan Saham, Underpricing Saham. Perusahaan dalam memperbesar modal akan menambah kepemilikan saham dengan menawarkan saham. Beredarnya saham perusahaan ke tangan public mengindikasikan bahwa perusahaan telah berubah dari perusahaan pribadi menjadi perusahaan public atau yang sering dikenal dengan go public. Persiapan untuk go public perusahaan akan melibatkan pihak-pihak antara lain adalah penjamin emisi, akuntan public (auditor independen), notaris, konsultan hukum, dan wali amanat. Apabila penentuan harga saham pada pasar perdana secara material lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama yang terjadi di pada pasar sekunder dengan saham yang sama, maka terjadi apa yang disebut underpricing. Perusahaan yang akan go public harus menerbitkan prospectus yang menyajikan laporan keuangan dan harus diaudit oleh auditor. Factor lain yang mempengaruhi tingkat underpricing adalah persentase kepemilikan saham yang ditawarkan oleh pemegang saham lama. Penelitian ini bermaksud untuk meneliti adanya Pengaruh Reputasi Auditor, Reputasi Underwriter, dan Persentase Kepemilikan Saham yang Ditawarkan terhadap Tingkat Underpricing Saham Perdana di BEI periode 2002-2006. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan go public yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dari 1 Januari 2002 sampai 31 Desember 2006. Perusahaan yang menjadi sample penelitian memenuhi criteria berikut, 1. Perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2002-2006, 2. Mengalami underpricing, 3. Memiliki data lengkap sebagai variable penelitian. Perusahaan yang menjadi sample penelitian ini kebanyakan tidak menggunakan auditor dan underwriter yang bereputasi karena kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap auditor dan underwriter. Sedangkan persentase kepemilikan saham yang ditawarkan tidak digunakan investor sebagai informasi tentang prospek perusahaan. Hasil dari penelitian menunjukkan : Secara parsial dan simultan tidak ada pengaruh yang signifikan antara reputasi auditor, reputasi underwroter, dan persentase kepemilikan saham yang ditawarkan terhadap tingkat underpricing saham perdana. Hal ini berarti reputasi auditor, reputasi underwroter, dan persentase kepemilikan saham yang ditawarkan tidak dapat memprediksikan prospek perusahaan termasuk ketidakpastian seperti underpricing.

Analisis kemampuan dlam memahami simbol kimia, jenis-jenis reaksi kimia, dan persmaan ion bersih pada materi reaksi kimia siswa kelas XI IPA-1 MAN Malang I / Arifatul Mahsunah

 

Ilmu kimia dapat dipresentasikan dalam tiga aspek pemahaman yang saling berkaitan, yaitu aspek pemahaman makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Reaksi kimia merupakan pusat dari ilmu kimia, dalam pembelajaran reaksi kimia harus mencakup aspek pemahaman makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Selama ini pembelajaran reaksi kimia di SMU cenderung menekankan pada aspek makroskopik dan simbolik saja. Akibatnya keterkaitan antara ketiga aspek pemahaman ini terputus dan siswa cenderung tidak mendapatkan pemahaman secara utuh pada aspek makroskopik, mikroskopik, dan simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kemampuan siswa dalam memahami simbol-simbol kimia dalam persamaan reaksi yang berkaitan dengan gejala makroskopik, (2) mengetahui kemampuan siswa mengidentifikasi jenisjenis reaksi kimia dalam larutan nonelektrolit, (3) mengetahui kemampuan siswa mengidentifikasi jenis-jenis reaksi kimia dalam larutan elektrolit, dan (4) mengetahui kemampuan siswa mengidentifikasi persamaan reaksi ion bersih. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA-1 MAN Malang I semester genap 2007/2008 sebanyak 37 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes obyektif sebanyak 24 butir. Validitas isi tes sebesar 93% dan koefisien reliabilitas diukur dengan rumus KR-20 sebesar 0,88. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan siswa dalam memahami simbol yang berkaitan dengan gejala makroskopik dalam suatu reaksi kimia tergolong sedang. Kemampuan siswa paling baik adalah pada reaksi yang ditandai dengan terbentuknya endapan dan paling jelek adalah pada reaksi yang ditandai dengan terjadinya perubahan suhu, (2) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi jenis-jenis reaksi kimia dalam larutan nonelektrolit tergolong sangat tinggi. Kemampuan siswa paling baik adalah pada reaksi pembakaran dan paling jelek adalah pada reaksi kombinasi, (3) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi jenis-jenis reaksi kimia dalam larutan elektrolit tergolong tinggi. Kemampuan siswa paling baik adalah pada reaksi pendesakan dan penetralan dan paling jelek adalah pada reaksi uraian berganda, dan (4) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi persamaan ion bersih tergolong sedang. Kemampuan siswa paling baik adalah pada reaksi uraian berganda yang menghasilkan endapan dan paling jelek adalah pada reaksi penetralan.

Sejarah masyarakat Sampit (Sebuah kajian eksploratif sejarah lokasi dan makna pendidikannya) / Endar Priyo Sulistiyo

 

ABSTRAK Sulistiyo, Endar Priyo. 2008. Sejarah Masyarakat Sampit (Sebuah Kajian Eksploratif Sejarah Lokal dan Makna Pendidikannya). Skripsi, Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Drs. Nur Hadi, M.Pd ,M.Si (II) Waskito S.Sos.M.Hum. Kata Kunci: masyarakat Sampit, sejarah lokal, makna pendidikan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peristiwa konflik antar etnik yang terjadi di Sampit pada tahun 2001. Alasan pemilihan topik ini dikarenakan banyaknya penelitian yang membahas mengenai konflik Sampit hanya terpaku pada pokok bahasan sosiologi maupun antropologi saja tanpa mengindahkan kasjian tentang sejarah dari masyarakat itu sendiri. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana sejarah masyarakat Sampit sampai menjelang timbulnya konflik tahun 2001, (2) Bagaimana konflik masyarakat Sampit tahun 2001?, (3) Bagaimana dampak konflik Sampit tahun 2001 terhadap kehidupan masyarakat Sampit, dan (4) Menjelaskan makna pendidikan dari peristiwa konflik etnik tahun 2001.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menjelaskan bagaimana situasi dan kondisi masyarakat Sampit sebelum timbulnya konflik tahun 2001, (2) Menjelaskan bagaimana konflik masyarakat Sampit tahun 2001, (3) Menjelaskan dampak konflik Sampit tahun 2001 dan (4) Menjelaskan makna atau arti pendidikan dari peristiwa konflik etnis di Sampit tahun 2001 Untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah diatas, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian sejarah tahapan-tahapan penelitiannya adalah: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), interpretasi dan analisis, dan historiografi. Sumber didapatkan melalui data-data yang ada di kantor pemerintahan Kotawaringin Timur, Museum Propinsi Kalimantan Tengah, Perpustakaan Propinsi dan Kota Sampit, Wawancara dengan para pelaku sejarah, dan juga kliping Koran dan majalah. Sumber-sumber tersebut kemudian diuji melalui kritik internal dan eksternal kemudian diinterpretasikan dan dianalisis. Hasil dari interpretasi dan analisis tersebut selanjutnya dituangkan dalam historiografi berbentuk skripsi. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa (1) Dalam sejarah masyarakat Sampit terdapat sebuah gambaran mengenai daerah yang multi etnik dengan berbagai permasalahannya. (2) konflik masyarakat Sampit sebenarnya merupakan refleksi kekesalan dan kemarahan terhadap pelanggaran tatanan hidup bermasyarakat. (3) Konflik yang terjadi di Sampit memberikan dampak perubahan tatanan masyarakat Sampit yang menempatkan suku Dayak sebagai suku yang tertinggi dalam tatanan struktur masyarakat Sampit menunjukkan pamor suku Dayak Sebagai suku pemenang dari peperangan terhadap orang-orang Madura. (4) Unsur positif yang diambil adalah memaknai konflik Sampit sebagai pelajaran dan sebagai peristiwa yang jangan sampai terulang di masa yang akan datang. Sedangkan hal negatif yang dapat diambil sebagai makna pendidikan dari konflik Sampit, terutama pada bagaimana perlunya resolusi konflik. Berdasarkan hasil penelitian ini,beberapa saran diajukan oleh peneliti dalam menyikapi konflik yang terjadi di kota Sampit.(1) Pemerintah dan aparat harus tanggap terhadap segala isu yang ada terutama yang akan menghasilkan perpecahan di dalam masyarakat. (2) masyarakat Sampit harus lebih toleransi terhadap keberagaman antar etnik. (3) Dunia pendidikan di Sampit harus mampu memberikan kontribusi dari pengajaran mengenai sejarah lokal Sampit agar setiap peserta didik mampu lebih menghargai perbedaan yang ada di Sampit sebagai sebuah bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Sampit. (4) Penelitian selanjutnya bisa lebih difokuskan pada sejarah Sampit sendiri kalaupun karena sangat minim buku tentang sejarah Sampit, sehingga untuk mencari sejarah Sampit harus memilah dari buku sejarah Kalimantan Tengah

Model regresi poisson untuk menentukan hubungan junlah kamatian ibu bersalin terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya (Studi kasus di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang) / Putri Nur Fidianingsih

 

Kematian maternal adalah kematian seorang wanita ketika melahirkan atau dalam waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan. Kehamilan dan persalinan merupakan proses alami, tetapi bukannya tanpa resiko dan merupakan beban bagi seorang wanita. Untuk melakukan pencegahan dan penurunan kematian atau kesakitan ibu dan bayi harus dilakukan pemeliharaan kesehatan ibu hamil dimulai sejak hamil muda. Kematian ibu bersalin banyak disebabkan oleh pendarahan, infeksi, dan eklamsi. Hal ini terjadi pada saat persalinan. Sedangkan untuk kehamilan beresiko tinggi seperti anemia, kelainan letak janin dan kehmilan ganda yang dapat dideteksi sejak masa kehamilan jarang terjadi. Jumlah kematian ibu bersalin pada tiap kecamatan Jombang 2007 (Y) mengikuti distribusi poisson. Oleh karena itu, digunakan metode regresi poisson untuk memodelkan variabel respon tersebut dengan variabel prediktor yaitu cakupan kunjungan ibu hamil trisemester pertama (K-1) (X ), cakupan kunjungan ibu hamil trisemester keempat (K-4) (X ), persentase ibu hamil beresiko tinggi (X , persentase pertolongan bersalin oleh tenaga kesehatan (X , proporsi jumlah tenaga medis (X ,proporsi jumlah tenaga paramedis (X , proporsi jumlah dukun terlatih (X . Model regresi poisson dengan kombinasi variabel prediktor yang ada pada tingkat signifikansi , dihasilkan model yang signifikan yaitu yang berarti bahwa faktor yang mempengaruhi jumlah kematian ibu bersalin adalah cakupan kunjungan ibu hamil trisemester pertama dan persentase ibu hamil berisiko tinggi.

Perancangan dan pembuatan prototipe aplikasi sistem pakar untuk analisa kelayakan kredit pada Bank / Amalia Maharanti

 

ABSTRAK Maharanti,Amalia,2008. Perancangan dan Pembuatan Prototipe Aplikasi Sistem Pakar Untuk Analisa Kelayakan Kredit Pada Bank. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Lucky Tri Oktoviana.,S.Si, M.Kom, (II) Dra. Susy Kuspambudi A., M.Kom. Kata Kunci : Sistem Pakar, Analisa Kelayakan Kredit, Rule Based, Forward Chaining Dalam melakukan analisa kredit, kesalahan merupakan salah satu resiko yang kadang-kadang harus dihadapi dalam melakukan analisa dan pengambilan keputusan untuk menentukan layak atau tidaknya nasabah menerima kredit. Jika salah dalam menganalisa, kredit yang disalurkan akan sulit ditagih alias macet. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dibuat suatu aplikasi komputer yang dapat menyusun program analisa kelayakan kredit bagi calon debitur dengan cepat, tepat dan mengurangi resiko kesalahan yang dapat berakibat fatal. Pembuatan aplikasi memakai pengetahuan komputer di bidang kecerdasan buatan khususnya cabang sistem pakar. Adapun komponen-komponen system pakar tersebut meliputi Knowledge Base, Inference Engine, Working Memory dan User Interface. Perencanaan sistem dalam membuat knowledge base memakai dependency diagram, decision table, dan metode rule sebagai representasi pengetahuan. Pembuatan inference engine memakai metode forward chaining yang telah dimodifikasi hingga sesuai dengan permasalahan. Dan user interface dibuat sesederhana mungkin dan tidak terlalu rumit sehingga akan mudah dimengerti dan dioperasikan dengan mudah oleh pemakai. Tujuan pembuatan aplikasi sistem pakar ini adalah untuk membantu tugas Credit Officer dalam menilai tingkat kesehatan suatu perusahaan atau layak tidaknya calon debitur menerima kredit, dan untuk mengetahui besar pinjaman yang diterima beserta angsurannya. Dalam aplikasi ini informasi yang dihasilkan digunakan sebagai pendukung keputusan. Sehingga dalam waktu yang singkat proses pemutusan kredit dapat diambil dengan tepat dan dapat mengurangi resiko kesalahan yang berakibat fatal.

Bentuk-bentuk pelaksanakan usaha tani dalam tradisi petani lahan rawa lebak di kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan / Farina Amelia

 

Pertanian lahan rawa lebak di Kalimantan Selatan sudah berjalan sangat lama dan telah mampu memberikan penghidupan bagi petani. Dalam waktu yang demikan lama, petani telah mampu memahami dengan baik dan mendalam terhadap kondisi dan karakter lahannya. Pertanian di lahan rawa lebak sebagian besar masih bersifat tradisional, mulai dari persemaian benih, penanaman, pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, pengelolaan air, panen, hingga pasca panen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi geografis, bentuk usaha tani, penggunaan alat pertanian, dan tradisi yang dilaksanakan petani lahan rawa lebak di Desa Banua Kupang dalam upaya pemeliharaan lahan pertaniannya. Populasi penelitian ini adalah petani lahan rawa lebak di Desa Banua Kupang, Kecamatan Labuan Amas Utara yang berjumlah 108 orang. Sampel yang diambil sebanyak 77 orang yang dihitung menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael. Data primer terdiri dari profil petani, bentuk kegiatan usaha tani, penggunaan peralatan pertanian, dan tradisi yang dikembangkan petani lahan rawa lebak di Desa Banua Kupang dalam pemeliharaan lahan pertaniannya yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dan observasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan tabel persentase. Data sekunder terdiri dari kondisi geografis dan kondisi demografis Desa Banua Kupang, serta peta wilayah Desa Banua Kupang yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kondisi lahan di Desa Banua Kupang didominasi oleh lahan rawa lebak yang potensial digunakan sebagai areal pertanian, baik untuk tanaman padi, palawija, maupun holtikultura. Petani masih menerapkan pengetahuan turun-temurun yang mereka miliki walaupun sudah mengalami penurunan akibat penyuluhan pertanian ataupun cara bertani yang dikembangkan sendiri oleh petani yang dirasa lebih efisien untuk menghemat waktu, modal, dan tenaga. Penggunaan alat-alat pertanian tradisional masih dipertahankan dikarenakan fungsinya masih sulit digantikan. Penggunaan alat pertanian non tradisional hanya digunakan sebagai pelengkap atau pengganti yang diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan dalam kegiatan usaha tani, serta efisiensi waktu dan tenaga. Bamula, selamatan pasca panen, dan gotong-royong merupakan tradisi yang masih banyak dilaksanakan oleh para petani sebagai upaya memelihara kelestarian lingkungan lahan rawa lebak mereka.

Pelaksanakan strategi produk pada divisi fresh Departemen RTE (Ready to Eat) di Giant Gajayana Malang / Wahyu Widayat

 

Unsur produk dan strategi produk merupakan prioritas utama yang mutlak dikuasai oleh seorang pemasar, dengan dasar tersebut diharapkan seorang pemasar mampu mengetahui keinginan pasar atau konsumen dengan mengetahui apa yang konsumen akan beli dan mengapa konsumen tersebut membeli suatu produk. Sehingga dapat memuaskan para konsumen sekaligus dapat meningkatkan penjualan yang akan menghasilkan laba perusahaan dalam jangka panjang. Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi produk yang digunakan di Giant Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen RTE, terdapat tiga masalah yang dikaji yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan strategi produk (klasifikasi produk, mutu produk, merek, kemasan, pelabelan dan jaminan) pada Divisi Fresh Departemen RTE (2) permasalahan apa yang menghambat strategi produk pada Divisi Fresh Departemen RTE (3) bagaimana alternatif pemecahan masalah yang ada pada Divisi Fresh Departemen RTE. Strategi produk yang dilaksanakan Giant Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen RTE, meliputi: pengklasifikasian produk, mutu produk, merek, kemasan pelabelan dan jaminan. Permasalahan yang menghambat strategi produk pada Divisi Fresh Departemen RTE: sering terjadi keterlambatan pengiriman produk ikan dan sayuran, disebabkan antara lain: cuaca, stok yang terbatas dari supplier, banyak produk yang mudah busuk dan rusak, antara lain: sayuran dan ikan, kurang luasnya ruang cold storage sehingga terjadinya penumpukan barang, adanya anggapan produk yang dijual terlalu mahal dan banyaknya pesaing antara lain: Malang Town Square, MOG. Alternatif pemecahan masalah yang menghambat strategi produk pada Divisi Fresh Departemen RTE yaitu: pengiriman dari supplier yang tepat waktu, menciptakan wiraniaga yang cepat dan sigap dalam menangani kerusakan pada ikan dan sayuran, menambah luas cold storage, mengadakan promosi yang bertuliskan Murah Abiss dan menggunakan metode-metode tertentu yang tidak dimiliki oleh pesaing. Kesimpulan yang dapat diambil penulis adalah pelaksanaan strategi produk yang dilaksanakan Giant Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen RTE saat ini sudah berjalan dengan baik, hal tersebut terbukti dengan adanya pengklasifikasian produk, merek, kemasan, pelabelan. Strategi yang telah digunakan Giant Gajayana Malang pada Divisi Fresh Departemen RTE dalam peningkatan penjualan juga sudah berjalan lancar dengan adanya pelaksanaan analisis lokasi, kebutuhan konsumen, harga, kualitas produk dan promosi. Saran yang dikemukakan penulis antara lain: melakukan riset pemasaran secara bertahap dalam mengevaluasi setiap divisi hal ini dilakukan karena selama ini riset yang dilakukan Giant Gajayana Malang kurang mengamati perilaku konsumen terhadap suatu produk contohnya: pada produk Hoddog, produk ini pertama kali dijual mengalami peningkatan penjualan yang sangat signifikan tetapi dari waktu ke waktu produk ini mengalami penurunan penjualan, disebabkan konsumen mengalami kejenuhan terhadap produk Hoddog, dengan diadakan riset pemasaran diharapkan dapat memberikan kepuasan pada konsumen yang ditargetkan, pemesanan order hendaknya dipertimbangkan secara seksama, agar tidak terjadi penumpukan ikan dan sayuran, penyimpanan pada cold storage hendaknya diperhatikan masalah tumpukannya dan karyawan hendaknya lebih teliti terhadap masa kadaluarsa produk dan produk yang rusak.

Persepsi guru terhadap pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan di SMP Negeri 4 Kepanjen / Isa Ahmad Isa

 

Kurikulum merupakan pedoman mendasar dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan, KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Salah satu hal yang harus dipahami oleh guru untuk mengimplementasikan KTSP di sekolah adalah bahwa semua peserta didik dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah terpuaskan dan mereka mempunyai potensi unuk memenuhi rasa ingin tahunya itu. Oleh karenanya guru tugas guru adalah mengkondisikan belajar yang efektif dan menyenangkan agar dapat memotivasi dan menumbuhkan minat belajar siswa. Untuk mengetahui pelaksanaan KTSP, maka perlu kiranya diadakan penelitian mengenai persepsi guru terhadap pelaksanaan KTSP. Tujuan penelitian: (1) Mendeskripsikan persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap pelaksanaan program KTSP, (2) Mendeskripsikan persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap pelaksanaan pembelajaran KTSP, (3) Mendiskripsikan persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap evaluasi hasil belajar dalam KTSP. Untuk mencapai tujuan tersebut, dikumpulkan data dengan menggunakan instrumen angket. Populasinya adalah seluruh subjek penelitian yaitu semua guru yang mengajar di SMP Negeri 4 Kepanjen sehingga dapat disebut sebagai sampel total. Teknik analisis datanya adalah deskriptif dengan prosentase. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yakni: (1) persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap pelaksanaan program KTSP, setengah lebih responden (89%). ini berarti persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap pelaksanaan program KTSP adalah baik, (2) persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap pelaksanaan pembelajaran KTSP, setengah lebih responden (75%) ini berarti persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap pelaksanaan pembelajaran KTSP adalah cukup baik, dan (3) persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap evaluasi hasil belajar dalam KTSP, setengah lebih responden (81%) ini berarti persepsi guru di SMP Negeri 4 Kepanjen terhadap evaluasi hasil belajar dalam KTSP adalah baik. Untuk menunjang keberhasilan penerapan KTSP, guru disarankan untuk lebih mendalami KTSP apakah dan bagaimanakah pelaksanaan KTSP guna penguasaan terhadap pelaksanaan KTSP, guru disarankan menggunakan metode yang tepat dalam pelaksanaan KTSP. Dalam pelaksanaan evaluasi guru diharapkan mengumpulkan dan menggunakan informasi dengan sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar/kompetensi siswa.

Penggunaan pembelajaran model silih tanya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Malang / Mochamad Muklisin

 

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada guru mata pelajaran ekonomi kelas XI di SMA Negeri 2 Malang, diketahui bahwa pembelajaran Ekonomi masih berpusat pada guru (teacher oriented), yaitu sebagian besar aktivitas pembelajaran dilakukan oleh guru, sehingga peran siswa dalam proses pembelajaran masih kurang dan kemampuan berpikir kritis siwa tidak meningkat. Hal ini menyebabkan guru mata pelajaran ekonomi kelas XI SMA Negeri 2 Malang masih belum maksimal dalam menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan KTSP. Berdasarkan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 41 tahun 2007. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk memenuhi tuntutan dan target dari kurikulum yang diterapkan, maka diperlukan strategi atau model pembelajaran yang sesuai dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta potensi siswa agar berhasil dalam proses belajar mengajar. Karena dengan adanya penggunaan metode yang tepat proses belajar mengajar dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran.Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan pembelajaran model silih tanya pada siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang mata pelajaran ekonomi pokok bahasan pajak. (2) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang setelah penggunaan pembelajaran model silih Tanya pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan pajak. (3) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis hasil belajar siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang setelah penggunaan pembelajaran model silih tanya pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan pajak. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan pendekatan kualitatif. Alat pengumpulan data menggunakan, tes, lembar observasi, lembar catatan lapangan, angket, dan pedoman wawancara. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang tahun ajaran 2008/2009. Berdasarkan data perhitungan kemampuan berpikir kritis siswa siklus I diperoleh rata-rata sebesar 60,39% dan pada siklus II sebesar 66,36%, sehingga ada peningkatan sebesar 5,97%. Selain itu apabila dilihat dari kriteria penguasaan kemampuan berpikir kritis tiap siswa maka diperoleh data bahwa pada siklus I siswa yang penguasaan kemampuan berpikir kritisnya baik berjumlah 8 siswa atau 22%. Pada siklus II jumlah siswa yang kriteria penguasan berpikir kritisnya baik sebanyak 20 siswa atau 57%, sehingga ada peningkatan sebesar 35%. Hasil belajar kemampuan kognitif siswa siklus II kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang mengalami peningkatan, terlihat dari ketuntasan belajar siswa yang naik 21,62%. Berdasarkan hasil belajar aspek afektif siswa terjadi peningkatan dari siklus I sebesar 67,05% menjadi 73.73% pada siklus II. Dengan demikian nilai rata-rata aspek afektif siswa untuk semua indikator meningkat sebesar 6,68%. Peningkatan ini karena pada siklus II siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran model silih tanya dan pada awal pertemuan siklus II guru lebih memberi motivasi dan penjelasan pada siswa, sehingga siswa lebih mengerti tentang materi pelajaran dan pada siklus II siswa lebih aktif dalam diskusi serta serius dalam mengikuti pembelajaran sehingga hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis yang diperoleh pada siklus II meningkat. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penggunaan pembelajaran model silih tanya yaitu: (1) Penerapan pembelajaran model silih tanya pada siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar ekonomi siswa. (2) Kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang setelah penggunaan pembelajaran model silih tanya meningkat. (3) Hasil belajar ekonomi siswa kelas XI-3 SMA Negeri 2 Malang setelah penggunaan pembelajaran model silih Tanya meningkat. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu: (1) Pembelajaran model silih tanya dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran ekonomi yang mengandung unsur menghitung seperti Pajak. (2) Sebaiknya pembelajaran ekonomi dengan model silih tanya dilaksanakan sebagai pendalaman materi dari beberapa pertemuan sebelumnya. (3) Dalam menerapkan pembelajaran model silih tanya, guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana kegiatan, dan media yang tepat, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efesien.

Pengembangan bahan ajar pendidikan lingkungan hidup dengan menggunakan pendekatan multimaedia untuk sekolah menengah umum: Topik Daerah Pengaliran: Pengelolaan dan Permasalahannya / oleh Nurmida Catherina Sitompul

 

Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketaatan pada peraturan K3 las siswa SMK se Malang Raya / Eko Djulianto

 

ABSTRAK Djulianto, Eko, Drs.,2008. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Ketaatan Pada Peraturan K3 Las Siswa SMK Se Malang Raya. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. H Djoko Kustono, M.Pd., (II) Drs. Isnandar, M.T. Kata Kunci: faktor-faktor, keselamatan dan kesehatan kerja, K3 las, SMK se Malang Raya Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap seberapa besar faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap siswa di SMK se Malang Raya dalam mentaati peraturan K3 las. Ada 4 faktor yang dapat diungkap, yaitu: (1) pengetahuan K3 siswa, (2) kondisi manajerial K3 sekolah, (3) keteladanan K3 guru Diklat las, dan (4) sarana prasarana K3 las. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan teknik analisis regresi linier ganda. Populasi yang menjadi objek penelitian adalah 1.018 siswa kelas II semester 4 SMK se Malang Raya jurusan mesin perkakas, tahun ajaran 2007/2008 pada pembelajaran kerja las, dengan sasaran 13 SMK. Dengan pedoman Monogram Harry King, selanjutnya 255 siswa dijadikan sebagai responden dari sampel yang diambil secara random. Pengumpulan data penelitian sepenuhnya dengan angket. Sebelum angket disebar, peneliti melakukan uji instrumen kepada responden dengan mengambil sampel sebanyak 30 siswa (pembulatan dari 10 % jumlah sampel) yang diperoleh dari 2 SMK Swasta dan 1 SMK Negeri, masing-masing 10 siswa. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa tiap-tiap item instrumen yang digunakan telah memenuhi syarat validitas dan realibilitas sebagai alat ukur data penelitian. Uji validitas instrumen menggunakan analisa r Product Moment dari Pearson Correlations dan Uji realibilitas menggunakan analisa r Product Moment dari Spearman-Brown Correlations. Agar analisa regresi linier ganda memenuhi syarat pengujian maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas, linieritas, multikolinier dan heteroskedastisitas. Uji normalitas menggunakan analisis statistik satu sampel Kolmogrov-Smirnov (Uji K-S) dan grafik Normal P-P Plot dengan diagram pencar (Scatter plot), uji linieritas menggunakan analisis Anova, uji multikolinier dan uji heteroskedastisitas didasarkan pada nilai koefisien korelasi dan diagram Scatter plot yang semuanya dilakukan dengan bantuan komputer yang menggunakan software SPSS (Statistic Package for Social Science) versi 10.01. Penelitian ini berhasil mengungkap (1) pengetahuan K3 siswa 84,30 % berhubungan dengan sikap siswa di SMK se Malang Raya dalam mentaati peraturan K3 las, 54,30 % memberi sumbangan relatif (SR) dan 43,16 % memberi sumbangan efektif (SE), (2) kondisi manajerial K3 las 59,10 % berhubungan dengan sikap siswa di SMK se Malang Raya dalam mentaati peraturan K3 las, 10,80 % memberi sumbangan relatif (SR) dan 8,59 % memberi sumbangan efektif (SE), (3) keteladanan K3 guru Diklat las 79,10 % berhubungan dengan sikap siswa di SMK se Malang Raya dalam mentaati peraturan K3 las, 28.21 % memberi sumbangan relatif (SR) dan 22,43 % memberi sumbangan efektif (SE), (4) sarana prasarana K3 las 62,10 % berhubungan dengan sikap siswa di SMK se Malang Raya dalam mentaati peraturan K3 las, 7,09 %memberi sumbangan relatif (SR) dan 5,63 % memberi sumbangan efektif (SE). Nilai koefisien determinasi (R2) juga membuktikan bahwa kontribusi variabel pengetahuan K3 Siswa, keteladanan K3 guru diklat las, kondisi manajerial K3 sekolah, dan sarana prasarana K3 las secara signifikan berpengaruh terhadap sikap siswa dalam mentaati peraturan K3 las sebesar 79,50 % sementara 20,50 % masih dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain di luar penelitian ini. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, disimpulkan bahwa (1) faktor-faktor seperti pengetahuan K3 las, kondisi menejerial K3 las, keteladanan guru K3 diklat las dan sarana-prasarana K3 las sangat berhubungan dengan sikap siswa dalam mentaati peraturan K3 las. Dimana tingkat signifikansi tertinggi hingga terendah dari faktor yang berhubungan dengan sikap siswa dalam mentaati peraturan K3 las SMK se Malang Raya adalah : pengetahuan K3 las (84,30 %), keteladanan K3 guru diklat las (79,10 %), sarana-prasarana K3 (62,10%), kondisi menejerial K3 las (59,10 %) dan, (2) penulis beranggapan bahwa selama ini materi K3 yang sudah cukup terintegrasi dengan mata-mata diklat produktif namun kurang efektif karena hanya dominan pada tingkat pemahaman pengetahuan siswa saja. Dalam rangka mendukung penyelenggaraan K3 di SMK peneliti juga memberikan beberapa saran: (1) mengingat faktor pengetahuan siswa dan keteladanan guru tentang K3 las merupakan unsur utama kompetensi bagi seorang guru matadiklat las maka perlu adanya perhatian serta pemahaman yang serius dari pimpinan lembaga sekolah untuk mengelola SDM agar menjadi SDM yang potensial seiring kinerja guru las di sekolah yang maksimal, betul-betul kompeten dan mampu bertanggung jawab pada pelaksanaan K3, (2) sarana prasarana yang memadai yang disertai pemenuhan Alat Pelindung Diri ( Personal Protective Equipment) yang tidak hanya sekedar prasyarat minimal kerja las di bengkel, (3) penanganan menejerial K3 yang sejalan dengan penerapan di industri dan (4) diperlukan format inovatif program kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait seperti Dinas Pemadam Kebakaran, SAR dll.

Studi tentang sarana dan prasarana Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan kelas VII pada semester genap di SMP se-Kecamatan Pandaan / Dedi Firmansyah

 

ABSTRAK Firmasyah, Dedi. 2008. Studi Tentang Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani Kelas VII Pada Semester Genap Di SMP Se-Kecamatan Pandaan. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. H. Agus Gatot Subijantoro, M. Kes., (2) Drs. I Nengah Sudjana, M. Pd. Kata Kunci: Sarana Prasarana, Pendidikan Jasmani. Keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang tersedia. Keberadaan sarana dan prasarana tidak kalah pentingnya dengan aspek-aspek pengajaran lainnya. Dalam praktek pengajaran sering dijumpai bagaimanapun pandainya guru dalam menyampaikan materi kepada siswanya, tetapi tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, maka mustahil hal tersebut dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Agar mencapai tujuan pembelajaran yang optimal dalam pendidikan jasmani khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka ada beberapa hal yang mendukung semua itu, salah satunya adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan jasmani sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dari hasil observasi peneliti, dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan jasmani di beberapa SMP di Kecamatan Pandaan kurang begitu mendukung terhadap proses pembelajaran pendidikan jasmani, sehingga penerapan kurikulum pendidikan jasmani tidak dapat dilakukan secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan kurang tersedianya sarana dan prasarana pendidikan jasmani. Selain itu juga karena perbandingan antara jumlah sarana dan prasarana dengan jumlah peserta didik tidak memungkinkan untuk membuat proses belajar mengajar berjalan dengan efektif. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sarana dan prasarana pendidikan jasmani apa saja yang dimiliki oleh SMP se-Kecamatan Pandaan dan termasuk dalam kategori apakah sarana dan prasarana SMP se-Kecamatan Pandaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki oleh SMP se-Kecamatan Pandaan dan untuk mengetahui termasuk dalam kategori apakah sarana dan prasarana SMP se-Kecamatan Pandaan. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kuantitatif, dengan subyek penelitian adalah sarana dan prasarana Pendidikan Jasmani di SMP se-Kecamatan Pandaan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari lapangan kemudian dianalisis dengan teknik persentase. Berdasarkan hasil penelitian, (1) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Negeri 2 Pandaan didapat (67,184%), (2) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di MTs Negeri Pandaan didapat (56,965%), (3) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Yayasan Pandaan didapat (62,99%), (4) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Ma’arif NU Pandaan didapat (54,425%), (5) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Muhammadiyah 3 Pandaan didapat (76,125%), dan (6) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP PGRI Pandaan didapat (69,535%), (7) secara keseluruhan sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP se-kecamatan Pandaan adalah (64,537%) Kesimpulan penelitian ini adalah (1) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Negeri 2 Pandaan dalam kategori cukup, (2) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di MTs Negeri Pandaan dalam kategori cukup, (3) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Yayasan Pandaan dalam kategori cukup, (4) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Ma’arif NU Pandaan dalam kategori kurang baik, (5) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Muhammadiyah 3 Pandaan dalam kategori baik, dan (6) sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP PGRI Pandaan dalam kategori cukup, (7) secara keseluruhan sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP se-Kecamatan Pandaan termasuk dalam kategori cukup.

Studi kasus anak putus sekolah di Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi / Reni Purwati

 

ABSTRAK Purwati, Reni. 2009. Studi Kasus Anak Putus Sekolah di Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd. dan (II) Drs. Hendri Purwito, M. Si. Kata Kunci: Studi Kasus, Anak Putus Sekolah. Nilai APK Kecamatan Kalipuro SD/MI tahun 2007/2008 sebesar 94,61% dan APM SD/MI tahun 2007/2008 sebesar 82,98%, serta APK SMP/MTs tahun 2007/2008 sebesar 71,10%, APM SMP/MTs tahun 2007/2008 sebesar 49,60%. Ternyata nilai APK dan APM Kecamatan Kalipuro tersebut menujukkan bahwa masih banyak anak yang tidak bersekolah, dalam artian putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kecamatan Kalipuro memiliki 31 Sekolah Dasar (SD) dan 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang letaknya memusat di kecamatan. Kecamatan Kalipuro tidak memiliki Sekolah Menengah Atas (SMA), maka anak-anak untuk melanjutkan Sekolah harus ke Kota Banyuwangi. Oleh karena itu, kasus anak putus sekolah tersebut perlu diteliti untuk diidentifikasi faktor penyebabnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kasus anak putus sekolah di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif yang menggunakan pendekatan ekploratif. Data penelitian kuantitatif dalam penelitian ini adalah faktor penyebab kasus anak putus sekolah di Kecamatan Kalipuro yang dihitung dari persentase jumlah anak putus sekolah. Data penelitian dikumpulkan dengan instrumen yang berupa pedoman wawancara. Data penelitian yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan teknik persentase. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian. Jadi, sumber data primer dalam penelitian ini adalah anak putus sekolah di SD, SMP, SMA dan anak yang tidak melanjutkan di SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Subjek penelitian dipilih 12 anak dengan rincian: 2 anak putus sekolah di SD, 2 anak putus sekolah di SMP, 2 anak putus sekolah di SMA, 2 anak tidak melanjutkan sekolah di SMP, 2 anak tidak melanjutkan sekolah di SMA, dan 2 anak tidak melanjutkan di Perguruan Tinggi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab anak putus sekolah di Kecamatan Kalipuro adalah kasus sosial-ekonomi orang tua yang masih rendah, jauhnya jarak sekolah dengan tempat tinggal yang disebabkan oleh fasilitas belajar yang minim dan faktor lainnya, yakni: ketiadaan sekolah, budaya dan fisik atau kesehatan yang kurang mendukung.

Analisa faktor-faktor aglomerasi industri di kawasan pier Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Ika Hardiana

 

jaringan jalan, jarak ke tempat perolehan bahan baku, jarak ke tempatpemasaran Konsentrasi aktivitas ekonomi secara spasial dalam satu negara menunjukkan bahwa kegiatan perekonomian yang mengumpul merupakan suatu proses selektif yang dipandang dari dimensi geografis. Dalam proses aglomerasi akan membawa suatu daerah menjadi pusat pertumbuhan aktivitas ekonomi dan pusat kekuasaan serta dapat menyerap sumber daya di sekitarnya. Keadaan ini akan mengarah pada ketimpangan spasial. Ekspansi ekonomi dan industri di suatu daerah akan mempunyai pengaruh yang merugikan bagi daerah-daerah lain karena tenaga kerja yang ada, modal dan perdagangan akan berpindah ke daerah yang melakukan ekspansi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor aglomerasi industri di kawasan PIER antara lain: penyerapan tenaga kerja, pengembangan jaringan jalan, jarak ke tempat perolehan bahan baku, dan jarak ke tempat pemasaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dan menggunakan pendekatan deskriptif. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Sampel responden ada 2, yaitu responden perusahaan yang berjumlah 4 perusahaan dan responden tenaga kerja yang berjumlah 100 orang. Analisis data yang digunakan adalah tabulasi tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di kawasan industri PIER banyak yang diserap dari luar Kecamatan Rembang tetapi masih dalam Kabupaten Pasuruan. Pengembangan jalan yang ada di kawasan industri PIER sudah cukup baik dan memadai yaitu semua ruas jalan tersebut termasuk jenis jalan kolektor dan jenis jalan Kabupaten. Jarak ke lokasi perolehan bahan baku dan ke tempat pemasaran adalah cukup jauh, terbukti dengan lokasinya yang berada di luar negeri (Jepang). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan (1) pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi masalah tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Rembang sehingga dapat terserap secara maksimal sebagai tenaga kerja di kawasan PIER. (2) pengelola kawasan industri ikut berupaya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia penduduk Kecamatan Rembang, salah satu diantaranya dengan mendirikan balai latihan kerja industri. (3) pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi masalah ketersediaan fasilitas pembangunan sekaligus sarana pendukung bagi kelancaran kegiatan ekonomi dan perdagangan. (4) bagi perusahaan di kawasan idustri dapat memulai eksploitasi yang dapat menghasilkan bahan baku bagi industri lain sehingga dapat menghemat ongkos transportasi.

Pelatihan ketrampilan bagi masyarakat pedesaan (studi kasus : Keengganan pengrajin dalam mengikuti latihan anyaman rotan di Desa Jabiren, Kalimantan Tengah) / oleh Ikel

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model showball throwing untuk meningktkan hasil belajar bidang studi geografi materi sumber daya alam pada siswa kelas XI IPS Semester I SMAN Patianrowo Kabupaten Nganjuk / Puji Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Puji. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Snowball Throwing Materi Sumber Daya Alam untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS Semester I SMA Negeri 1 Patianrowo Kabupaten Nganjuk . Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd (II) Drs. Yusuf Suharto Kata Kunci: Model Snowball Throwing, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 15 dan 22 Agustus serta 14 Oktober 2008 di kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 Patianrowo diketahui bahwa kelas ini mendapatkan nilai rendah dan siswa cenderung pasif dibanding dengan kelas IPS lainnya. Ditunjukkan adanya siswa yang kurang antusias dalam pembelajaran Geografi. Adanya kondisi yang terkesan membosankan bagi siswa berdampak pula pada nilai pelajaran Geografi yang rendah, dari data diperoleh siswa yang mendapat nilai 75 ke atas sebanyak 12 siswa saja dan 28 siswa mendapat nilai di bawah 75 dengan rata-rata nilai kelas sebesar 64.98. Dampak lebih jauh dari kondisi pembelajaran semacam itu adalah kegagalan siswa dalam mengembangkan pengetahuan, antusias siswa dalam berpendapat serta sikap positif terhadap mata pelajaran Geografi. Akibatnya mata pelajaran Geografi kurang diminati para siswa di SMA Negeri 1 Patianrowo. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Snowball Throwing diharapkan dapat menjadikan alternatif mengatasi permasalahan tersebut sehingga siswa akan tertarik dan aktif dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar Geografi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar bidang studi Geografi materi Sumber Daya Alam pada siswa kelas XI IPS-2 semester I SMAN 1 Patianrowo melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Snowball Throwing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah berupa proses pembelajaran siswa dan nilai hasil belajar siswa. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi proses pembelajaran dan catatan lapangan serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 Patianrowo ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar diketahui dari nilai rata-rata Pra-tindakan sebesar 64.98 meningkat pada Siklus I menjadi 71.93, dan pada Siklus II meningkat menjadi 81.80. Berdasarkan hasil pembahasan penelitian tersebut, diberikan saran hendaknya guru mata pelajaran Geografi dalam pembelajaran geografi perlu dilakukan dengan model Snowball Throwing karena sangat mendukung untuk meningkatkan kecerdasan, keaktifan dan hasil belajar siswa.

Pengembangan simulasi interaktif berbatuan komputer pada materi bangun ruang kubus dan balok untuk kelas IV SD / Supaat

 

ABSTRAK Supaat. 2008. Pengembangan Simulasi Interaktif Berbantuan Komputer Pada Materi Bangun Ruang Kubus dan Balok Untuk Kelas IV SD. Skripsi, Jurusan Matematika Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. rer.nat. I Made Sulandra, M.Si., (II) Mahmuddin Yunus, S.Kom. Kata kunci: Simulasi Interaktif, Komputer, Bangun Ruang, Kelas IV SD Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), beberapa materi tertentu dalam mata pelajaran matematika memerlukan usaha lebih bagi siswa, maupun guru atau tenaga pendidik lainnya untuk melaksanakan pembelajaran. Salah satu materi tersebut adalah materi bangun ruang kubus dan balok, dimana salah satu sub bahasannya (pembahasan jaring-jaring kubus dan balok) menuntut siswa untuk secara intuitif membayangkan bagaimana suatu jaring-jaring kubus dan jaring-jaring balok bisa diperoleh. Selain itu, materi ini juga menuntut guru untuk menggunakan media alat peraga yang penggunaannya dirasa kurang praktis dan efisien. Salah satu solusi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan media pembelajaran simulasi berbantuan komputer. Komputer yang dewasa ini keberadaannya semakin canggih dan semakin terjangkau membuatnya semakin mudah untuk diaplikasikan dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, skripsi ini bertujuan untuk mengembangkan suatu paket program simulasi interaktif berbantuan komputer pada materi Bangun Ruang Kubus dan Balok untuk kelas IV SD. Program simulasi interaktif ini berisi materi tentang bangun ruang kubus dan balok, simulasi interaktif menemukan suatu jaring-jaring kubus dan jaring-jaring balok, dan latihan soal. Program ini memiliki kemampuan yang secara simulatif mengajak user menemukan suatu jaring-jaring kubus dan jaring-jaring balok. Program simulasi interaktif ini dikembangkan menggunakan software Macromedia® FlashTM MX 2004 (versi 7) dan third-party software Electric Rain® Swift3DTM. Program yang dihasilkan selanjutnya diintegrasikan dalam bentuk CD sehingga dapat digunakan secara umum di sekolah atau secara mandiri oleh siswa di rumah. Program ini dapat dijalankan pada komputer dengan Operating System Microsoft® WindowsTM 98 atau versi yang lebih baru dengan spesifikasi perangkat keras minimal komputer dengan processor 450 MHz, RAM 128 MB, monitor VGA, dan sisa space harddisk 15 MB. Bagi siswa program ini dapat digunakan sebagai sumber atau media belajar matematika. Sedangkan bagi guru dan tenaga pendidik lainnya, program ini dapat dijadikan sebagai referensi media pembelajaran yang bisa dipakai dalam kegiatan pembelajaran. Dan bagi peneliti dan praktisi lain, program ini dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk melakukan pengkajian dan pengembangan yang lebih lanjut pada materi matematika-materi matematika yang lain, sehingga nantinya dihasilkan program-program sejenis yang lebih baik.

Pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dengan pola kolaborasi dalam mata kuliah masalah sosial / Mustaji

 

Berdasarkan hasil observasi proses dan hasil pembelajaran mata kuliah Masalah Sosial belum dilakukan secara optimal. Sebab belum optimalnya proses pembelajaran itu karena (1) pembelajar kurang mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan perkembangan di bidang teknologi pembelajaran, (2) pembelajar keliru dalam memandang proses pembelajaran, (3) proses pembelajaran bersifat informatif, belum diarahkan ke proses aktif pebelajar untuk membangun sendiri pengetahuannya, dan (4) proses pembelajaran berpusat pada pembelajar, belum diarahkan ke pembelajaran yang berpusat pada pebelajar. Sedangkan indikasi belum optimalnya hasil belajar itu, tampak pada hal-hal berikut (1) pebelajar kurang mampu memecahkan masalah berdasarkan konsep ilmiah, (2) pebelajar kurang memiliki keterampilan berkolaborasi (teamwork) dan mengolah informasi secara aktif untuk pemecahan masalah, (3) pebelajar kurang mempelajari bagaimana belajar yang efektif untuk memecahkan masalah, (4) pebelajar kurang memiliki kinerja terus-menerus dengan tidak dibatasi pada target tertentu, (5) pebelajar kurang memiliki pengetahuan terintegrasi antar disiplin ilmu untuk pemecahan masalah, (6) pebelajar kurang menggunakan teknologi sebagai bagian integral dan proses kerja untuk pemecahan masalah, dan (7) pebelajar kurang memiliki sikap positif pembelajaran Untuk mengoptimalkan proses dan hasil pembelajaran, perlu dilakukan pengembangan model pembelajaran. Proses pengembangan itu terdiri dari 5 tahap. Pertama, tahap identifikasi yang terdiri dari (1) pengkajian teoritis melalui studi pustaka, (2) pengkajian empiris melalui observasi di kelas, dan (3) penulisan kondisi nyata. Kedua, tahap desain yang terdiri dari (1) pengidentifikasian kemampuan awal pebelajar, (2) perumusan tujuan pembelajaran, dan (3) pelaksanaan studi kelayakan. Ketiga, tahap pengembangan produk berupa (1) model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pola Kolaborasi (Model PBMPK), dan (2) perangkat PBMPK yang terdiri dari silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan pembelajaran, lembar tugas, dan lembar penilaian pembelajaran. Keempat, tahap uji coba yang terdiri dari uji ahli, kelompok, dan lapangan. Kelima, tahap diseminasi yang mencakup (1) penulisan laporan dan penyajian di seminar, dan (2) penulisan artikel di jurnal. Pengembangan ini berhenti pada tahap lima poin satu, yakni penulisan laporan. Berdasarkan hasil ujicoba atas Model dan Perangkat PBMPK kepada ahli bidang studi, ahli pembelajaran, pembelajar, dan pebelajar menunjukkan hasil yang layak. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata pemenuhan 75% dari indikator-indikator kelayakan penggunnaan Model dan Perangkat PBMPK. Hasil ujicoba lapangan atas Model dan Perangkat PBMPK menunjukkan hasil nilai yang positif. Hal ini bisa dilihat dari hasil tes subyektif yang termasuk kategori baik mencapai 82.3%, hasil kinerja yang termasuk kategori sangat baik mencapai 57.65%, hasil portofolio yang termasuk kategori baik mencapai 95,29%, hasil kerja proyek yang termasuk kategori baik mencapai 58.82%, hasil sikap atas pembelajaran yang termasuk kategori positif mencapai 77,65%, dan hasil kerja kolaborasi yang termasuk kategori baik mencapai 84,71%. Sementara itu, hasil belajar dengan kategori cukup, kurang baik, sangat positif, ragu-ragu, negatif, dan sangat negatif maksimal mencapai hanya mencapai 22,65%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Model dan Perangkat PBMPK lebih dari 55% termasuk ke dalam kategori baik, sangat baik, dan positif. Ini berarti Model dan Perangkat PBMPK yang dikembangkan layak digunakan. Hasil-hasil ujicoba seperti disebutkan di atas berdampak positif pada penciptaan lingkungan pembelajaran. Penggunaan Model dan Perangkat PBMPK terbukti dapat menciptakan (1) proses pembelajaran bersifat interaktif dan berorientasi pada pebelajar, (2) pebelajar bekerja/belajar secara kolaboratif dan mengolah informasi secara aktif, (3) pebelajar mempelajari bagaimana belajar yang efektif, (4) pebelajar memiliki kinerja terus-menerus dan setiap target yang tercapai terus-menerus ditingkatkan, (5) pebelajar memiliki pengetahuan terintegrasi antar disiplin ilmu untuk pemecahan masalah yang kompleks, (6) pebelajar menggunakan teknologi sebagai bagian integral dari proses kerja/belajar, dan (7) pebelajar melakukan kegiatan curah pendapat, berdebat dan memberikan penjelasan kepada teman ------------------------------------------------------------------------------- Referring to the results of the observations the processes and the learning results of Social Problems subject are not yet conducted optimally. The cause of the un-optimal learning processes is because (1) the teachers is less capable in conducting the learning process that are appropriate with the rising demands in instructional technology area, (2) the teachers are mistaken in regarding the learning processes, (3) the learning processes itself are informative, not yet directed to the student active processes in order to develop his/her own knowledge, and (4) the learning processes are centered to the teachers, doesn’t directed yet to the learning that centered to the student. Thus, the indications of un-optimal of learning results, can be seen in the following (1) the student have less ability to solve problems based on the scientific concepts, (2) the student lack of collaborating skill (teamwork) and managing the information actively to solve the problems, (3) the student doesn’t persistence how can the effective learning are can be use to solve the problems, (4) the student is lack of continuum performance with no restrictions on specific target, (5) the student lack of integrated knowledge inter-disciplinary to solving the problems, (6) the student are using the technology minimum as an integral part and work processes to solve problems, and (7) the student lack of positive learning attitude. In order to make the processes and learning results optimally, are needed the development of instructional models. The development processes is consist of 5 stages. First, the identifications stage that consisted of (1) theoretical studying in form of literature study, (20 empirical studying through observations in classrooms, and (3) taking notes of the real conditions. Second, the design stage that characterizes of (1) identifications of early student ability, (2) formulating the learning purposes, and (3) implementing appropriateness study. Third, the product development stage in form of (1) Problems-Based Learning model with collaboration patterns (PBMPK Model), and (2) PBMPK tools that consisted of syllabus and learning implementation plan, learning materials, assignments sheets, and learning scoring sheets. Fourth, is the testing stage that characterize of experts test, groups, and fields. Fifth, the disseminations stage that including (1) making reports and presentations on seminars, and (2) articles writing in a journal. This development is stopped at this fifth point one stage, which is writing reports. Based on the test results on the PBMPK Tools and Models to the experts of learning, experts of study subject, student and teachers shows appropriate results. This mater can be understand from the completion averages of 75% from usage fairness indicators of PBMPK Tools and Models. The results of field testing on the PBMPK Tools and Models shows positive values. This can be understood from subjective test results that in the range of good category up to 82.3%, performances results are in the very good category of 57.65%, portfolio results include in good category of 95.29%, project work results are in the good category of 58.82%, attitude results to the learning are in positive category of 77.65%, and the collaboration work result are of good category reaching 84,71%. However, the learning results with enough categories, less good, very positive, doubt, negative and very negative are maximally reach only 22.65%. These numbers shows that PBMPK Tools and Models are over 55% include in good categories, very good, and positive. This means that PBMPK Tools and Models are worthy to be develop more. The tests results as mentioned above have positive effects to the creation of learning environment. The usage of PBMPK Tools and Models is proven can create (1) learning processes that are interactive and have orientations to the students, (2) students is working/learning collaboratively and managing the information actively, (3) the students is learning how to learn more effectively, (4) students possess continuum performances and every targets that fulfill are keep increased, (5) students have integrated knowledge inter-disciplines in order to solve the complex problems, (6) students using the technology as an integral part of working/learning processes, and (7) students are conducting argumentation activities, debating and give explanations to friends.

Implementasi penilaian dalam pembelajaran Bahasa Arab di MAN Tambakberas Jombang / Mustaqimah

 

ABSTRAK Mustaqimah. 2009. Implementasi Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa Arab di MAN Tambakberas Jombang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurul Murtadho, M.Pd, (II) Drs. M. Syathibi Nawawi, M.Pd. Kata Kunci: penilaian, pembelajaran bahasa Arab. Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Adanya sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran dan bagi siswa sendiri akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Berdasarkan hasil pengamatan sepintas, selama ini penerapan penilaian PBA yang diterapkan guru di sekolah-sekolah pada umumnya kadang belum sesuai dengan ketentuan ataupun prosedur penilaian yang sudah ada. Soal-soal ulangan yang dibuat juga terkadang kurang sesuai dan kurang menggambarkan apa yang seharusnya di ujikan. Sehingga hasil akhir yang dicapai dari adanya evaluasi tersebut tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan dan tindak lanjut apa yang harus dilakukan guru kepada siswa setelah mengadakan penilaian tersebut. Alasan penetapan MAN Tambakberas sebagai latar penelitian didasarkan pada, bahwa sekolah ini adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang bercirikan islami dan berbasis Pondok pesantren. Disamping itu, sekolah ini juga menjadikan bahasa Arab sebagai mata pelajaran wajib dan mata pelajaran yang dipilih sebagai bahasa Asing dalam program bahasa. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian di lokasi ini dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan penilaian dalam pembelajaran bahasa Arab, (2) mendeskripsikan hambatan-hambatan yang muncul dalam penerapan penilaian, dan (3) mendeskripsikan kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam penerapan penilaian pembelajaran bahasa Arab di MAN Tambakberas Jombang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Informan penelitian ini adalah siswa kelas XI Bahasa 3 MAN Tambakberas Jombang Tahun Ajaran 2008 / 2009 yang berjumlah 36 orang siswa dan guru bidang studi bahasa Asing (bahasa Arab) kelas XI Bahasa 3. Data dalam penelitian ini berupa data kualitatif, yakni fenomena penerapan penilaian dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas, sumber data berupa dokumen tentang penerapan penilaian yang diperoleh dari informan (guru & siswa). Peneliti bertindak sebagai instrumen inti dan dibantu tiga instrumen pendukung, yaitu: pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman analisis dokumen. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi non-partisipan, teknik wawancara terpimpin dan teknik analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan penilaian di sekolah ini menggunakan teknik tes dan non-tes. Jenis alat penilaian yang digunakan adalah penilaian proses dan penilaian hasil belajar. Penilaian proses dilakukan melalui ii penilaian sikap, yaitu keseharian siswa selama mengikuti pelajaran di kelas, baik berupa keaktifan, presensi maupun tugas-tugas. Sedangkan penilaian hasil belajar berupa tes tulis, tes lisan, tes subjektif (esay) dan tes objektif (pilihan ganda). Tes-tes ini diterapkan dalam 4 kemahiran, yaitu Istima’, Kalam, Qira’ah dan Kitabah. Hambatan dalam penerapan penilaian, diantaranya (a) rendahnya motivasi siswa dalam belajar bahasa Arab, (b) jumlah siswa yang terlalu besar, dan (c) kurangnya perbendaharaan Mufrodat yang dikuasai oleh siswa. Guru juga melakukan beberapa kegiatan untuk mengatasi hambatan tersebut, diantaranya dalam hal (a) meningkatkan variasi pembelajaran, seperti merubah metode dan gaya mengajar serta belajar di luar kelas, (b) mengefektifkankan hafalan mufrodat, (c)mengintensifkan tadribat, dan (d) mengadakan responsi. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada kepala sekolah bahwa, pada tahun ajaran berikutnya perlu mengurangi jumlah siswa pada masing-masing kelas, agar tercipta pembelajaran yang lebih kondusif, dan lebih meningkatkan pengadaan media pembelajaran bahasa Arab, sehingga penyampaian materi menjadi lebih mudah dan hasil penilaian belajar siswa menjadi leih baik lagi. Guru hendaknya lebih mengembangkan lagi jenis-jenis penilaian yang digunakan, sehingga tidak hanya pada penilaian tulis yang berbentuk pilihan ganda. Sedangkan untuk penilaian Istima’, Guru hendaknya bisa lebih memanfaatkan laboratorium bahasa yang ada sekaligus memperbanyak kaset atau CD-CD berbahasa Arab.

Pengaruh persepsi guru atas program sertifikasi pengembangan kemampuan profesional guru ekonomi SMAN se-Kota Malang / Nieken Ailia Regina

 

ABSTRAK Regina, Nieken Ailia. 2008. Pengaruh Persepsi Guru atas Program Sertifikasi Terhadap Pengembangan Kemampuan Profesional Guru Ekopnomi SMAN se-kota Malang. Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Puji Handayati, SE. MM., Ak.(II). Dra. Suparti, MP. Kata Kunci : Persepsi Guru, Program Sertifikasi, Pengembangan Kemampuan Profesional Guru Pendidikan berfungsi sebagai pendorong dalam peningkatan kecakapan dan kemampuan manusia Indonesia agar menjadi masyarakat yang berkualitas. Salah satu masalah pendidikan yang kita hadapi saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Salah satu upaya pemerintah yaitu dengan penetapan program sertifikasi bagi guru. Keberhasilan program ini sangat ditentukan olah persepsi guru atas program sertifikasi, bagi guru yang merasa program ini menguntungkan akan berusaha memenuhi kualifikasi uji sertifikasi tetapi bagi guru yang merasa kurang diuntungkan dengan program ini akan menyambut kurang baik adanya program sertifikasi. Uji sertifikasi dilaksanakan melalui penilaian portofolio dan tes kinerja. Guna memenuhi standar tes kinerja guru harus meningkatkan kemampuan profesionalnya. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru akuntansi atas program sertifikasi dan untuk mengetahui pengaruh persepsi guru atas program sertifikasi terhadap pengembangan kemampuan profesionalnya Penelitian ini termasuk jenis penelitian ekplanasi (explanatory research). Sedangkan analisis statistik inferensial menggunakan analisi regresi linier sederhana. Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh antara persepsi guru atas program sertifikasi terhadap pengembangan kemampuan profesional guru ekonomi SMAN se-kota Malang. Dari pengolahan data dapat diketahui bahwa guru memiliki persepsi yang baik terhadap program sertifikasi. Berdasarkan perhitungan deskriptif frekwensi persepsi guru atas program sertifikasi berada pada kualifikasi tinggi yaitu sebesar 44,44%. Sedangkan untuk mengembangan kemampuan profesional guru, berdasarkan perhitungan deskriptif frekwensi berada pada kualifikasi tinggi yaitu sebesar 38, 89%. Persepsi guru atas program sertifikasi berpengaruh positif terhadap pengembangan kemampuan profesional guru. Hal ini berdasarkan persamaan regresi sebagai berikut: Y=109.499 + 0.551X. Dari persamaan regresi tersebut, diketahui bahwa bila tingkat persepsi guru atas program sertifikasi (X) naik satu satuan, maka pengembangan kemampuan profesional guru juga naik sebesar 0,551. Selain itu nilai R2 sebesar 0.261, menunjukan bahwa variabel pengembangan kemampuan profesinal guru di pengaruhi variabel persepsi guru atas program sertifikasi sebesar 26% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang mempengaruhi pengembangan kemampuan profesional guru tersebut dapat berasal dari lingkungan sekolah, sesama guru, kepala sekolah, siswa bahkan peraturan pemerintah yang lain.

Studi perbandingan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler (Penelitian pada SMA Negeri di Kota Malang) / Dwi Peni Novimawanti

 

ABSTRAK Novimawanti, Dwi, Peni. 2008. Studi Perbandingan Ketertarikan terhadap Ekonomi Global antara Siswa Kelas SBI dan Siswa Kelas Reguler (Penelitian pada SMA Negeri di Kota Malang). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M.Pd., (II) Drs. Moch. Ichsan, S.E., M.Pd., M.Si. Kata kunci: ketertarikan terhadap ekonomi global, SBI Pencapaian keberhasilan pembelajaran ekonomi dapat dilihat dari salah satu aspek, yaitu ketertarikan terhadap ekonomi global. Keadaaan awal yang berbeda pada siswa kelas SBI dan reguler baik status kelas maupun status sosial ekonomi terdapat perbedaan maka dipandang perlu untuk meneliti perbedaan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler. Tujuan penelitian ini, yaitu ingin mendeskripsikan perbedaan yang signifikan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler, serta perbedaan yang signifikan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler ditinjau dari status sosial ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan pada tanggal 4 September sampai 10 November 2008. Populasi penelitian, yaitu SMA Negeri dengan status SBI dan SMA Negeri dengan status reguler di Kota Malang dengan sampel SMAN 1, 2, 3, 4, 5, dan 8 Malang. Analisis dengan Analyze Compare Means pada Independent Samples T Test dan Uji Friedman Two-Way ANOVA. Hasil uji t diperoleh t hitung (3,089) > t tabel (1,96) maka Ha diterima sehingga terdapat perbedaan yang signifikan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler. SSE dengan Sig. 0,08 (< 0,05) maka Ha diterima. Sehingga terdapat perbedaan yang signifikan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler ditinjau dari status sosial ekonomi. Kesimpulan yang dapat diambil, yaitu terdapat perbedaan ketertarikan terhadap ekonomi global yang signifikan antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler dan terdapat perbedaan yang signifikan ketertarikan terhadap ekonomi global antara siswa kelas SBI dan siswa kelas reguler ditinjau dari status sosial ekonomi. Sehingga disarankan hasil penelitian ini dijadikan evaluasi pembelajaran ekonomi bagi guru ekonomi, Dirjen Pendidikan Menengah untuk menyusun pedoman baku mengenai pelaksanaan pembelajaran ekonomi. Kerjasama dengan pihak Depdiknas untuk melaksanakan pendidikan profesi bagi lulusan pendidikan ekonomi. Peneliti lain dapat menambahkan variabel penelitian.

Pengaruh keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 20 Malang / Nur Isnaini

 

Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kemampuan, keterampilan dan kepribadian di dalam maupun luar sekolah. Dalam suatu masyarakat kecil atau besar pasti di dalamnya berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itu pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Wujud dari pendidikan yaitu pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal biasa disebut dengan sekolah. Sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang di dapat oleh seorang individu dari lingkungan sekitarnya dalam suatu yang tidak formal.Berbagai kegiatan dilakukan dalam pendidikan formal yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional diantaranya, kegiatan intrakurikuler yaitu proses belajar mengajar dan segala kegiatan yang berhubungan dengan akademik. Kegiatan lain yang juga penting dilaksanakan adalah kegiatan ekstrakurikuler. Untuk dapat mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang dimiliki serta untuk dapat menyalurkan bakat dan minat siswa serta dapat memperluas pengetahuan siswa, siswa tersebut dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sebab kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan diharapkan dapat menjadi dapat menjadi sarana penunjang perkembangan siswa. Dalam kegiatan proses belajar mengajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan dapat memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tercapai tujuan yang dikehendaki Dengan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan motivasi belajar dapat dilihat perubahan prestasi yang akan diraih oleh siswa-siswi di sekolah. Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh seorang siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka dapat diketahui tujuan penelitian yaitu (1)Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler SMP Negeri 20 Malang tahun ajaran 2008/2009 (2)Untuk mengetahui motivasi belajar siswa SMP Negeri 20 Malang tahun ajaran 2008/2009 (3)Untuk mengetahui prestasi belajar siswa SMP Negeri 20 Malang tahun ajaran 2008/2009 (4)Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 20 tahun ajaran 2008/2009. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi obyektif keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler, motivasi belajar siswa dan prestasi belajar siswa. Sedangkan analisis statistik inferensial yaitu regresi linier berganda untuk mengetahui besarnya pengaruh antara keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 20 Malang. Variabel bebas penelitian ini terdiri dari keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler (X1), dan motivasi belajar (X2). Sedangkan variabel terikatnya prestasi belajar siswa (Y) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII dan VIII yang aktif mengikui kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 20 Malang yang berjumlah 438 siswa dan sampelnya sebesar 72 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakanProportional Random Sampling. Dari pengolahan data melalui uji hipotesis dapat diketahui bahwa pada variabel keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler (X1) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar terbukti t hitung (6,683) > (1,995). Jika dilihat dari tingkat signifikansinya 0,000 dibawah 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada variabel motivasi belajar secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar terbukti t hitung (10,606) > (1,995). Jika dilihat dari tingkat signifikansinya 0,000 dibawah 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sedangkan secara simultan berdasarkan dari hasil uji Fdiketahui besaran probabilitas (Sig.) 0,000 < 0,05 dan Fhitung (79,557) > Ftabel (3,130) menunjukkan bahwa kaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan motivasi belajar terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswaSMP Negeri 20 Malang.

Penerapan pembelajaran kooperatif model role playing untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada standar kompetensi bekerjasama dengan kolega dan pelanggan kelas X APK SMK Widya Dharma Turen / Dian Rino Prihatini

 

Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di negara kita. Oleh karena itu pendidikan harus selalu diperbaharui agar terciptanya masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan jaman. Adanya keinginan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia telah mendorong pemerintah untuk melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan harapan dapat mencerdaskan kehidupan seluruh lapisan masyarakat. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memperbaharui metode pembelajaran. Alasan lain mengapa harus diadakan pembaharuan dalam metode pengajaran adalah banyaknya masalah yang muncul di dunia pendidikan saat ini. Saat ini banyak siswa yang memiliki prestasi akademik dibawah rata- rata, banyak juga siswa yang lamban dalam menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh pengajar. Kondisi seperti itu disebabkan oleh banyak hal, bisa dari dalam diri siswa atau dari luar diri siswa, misalnya dari kondisi lingkungan belajar siswa yang kurang mendukung, ataupun metode pembelajaran yang monoton dan kurang menarik minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Untuk mengantisipasi masalah yang berasal dari luar diri siswa, maka pemerintah mengadakan pembaharuan di bidang metode pembelajaran. Diharapkan dengan adanya pembaharuan metode pembelajaran ini, maka siswa akan dapat meningkatkan prestasi akademiknya di sekolah. Akan tetapi upaya pemerintah untuk meningkatkan prestasi akademik siswa ini harus diimbangi pula oleh peran aktif dari seluruh pihak yang bersangkutan misalnya Sekolah, Kepala Sekolah, dan Guru Mata Pelajaran. Yang dapat dilakukan oleh guru adalah memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan konsep kehidupan nyata, salah satunya adalah Pembelajaran Kooperatif Model Role Playing. Metode role playing adalah metode pembelajaran yang dapat membantu siswa mengeksplorasi hubungan- hubungan manusia dengan memerankan peran setiap orang dan mendiskusikannya secara bersama- sama sesuai dengan skenario yang telah dibuat oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran role playing, respon siswa, dan hasil belajar siswa. Penerapan pembelajaran ini digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada kompetensi bekerjasama dengan kolega dan pelanggan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Siklus pertama terdiri dari tiga pertemuan dan siklus kedua terdiri dari tiga pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi serta analisis dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan II sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode role playing. Materi yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah Menyediakan Bantuan Kepada Pelanggan Di Dalam dan Di Luar Perusahaan yang meliputi: konsep- konsep pelayanan prima dan konsep- konsep harapan pelanggan (basic human needs principles). Penelitian dilaksanakan di SMK Widya Dharma Turen pada semester gasal 2008/2009. Subjek penelitian adalah kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 (dua) terdiri dari 42 (empat puluh delapan) siswa dan 1 (satu) guru kompetensi Bekerjasama Dengan Kolega dan Pelanggan. Data yang diperoleh meliputi: (1) pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode role playing, (2) respon siswa, dan (3) hasil belajar siswa. Prosedur pengumpulan data melalui wawancara, tes, pengamatan partisipan, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian penerapan pembelajaran dengan metode role playing pada siswa kelas X Administrasi Perkantoran 2 di SMK Widya Dharma Turen adalah sebagai berikut: (1) Pada siklus I diketahui bahwa hasil pre test ini menunjukkan nilai rata-rata sebesar 40.71. Diperoleh nilai terendah adalah 30 dan nilai tertinggi adalah 75. Sedangkan dari perolehan nilai post test siswa dihasilkan nilai rata-rata hasil tes adalah 80.28. Nilai terendah yang diperoleh adalah 60 dan nilai tertinggi adalah 95. (2) Dalam siklus II nilai rata-rata pre test siswa sebesar 39,76. Diperoleh nilai terendah adalah 35 dan nilai tertinggi adalah 75. Sedangkan dalam post test siklus II dihasilkan nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 84.47. Diperoleh nilai terendah adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 98. Jika dilihat dari hasil postes dua siklus tersebut maka penerapan pembelajaran kooperatif role playing dikatakan berhasil, prestasi belajar siswa meningkat dari nilai rata- rata kelas 80.28 menjadi 84.47 . Persepsi siswa pada pembelajaran kooperatif role playing bisa dikatakan sangat positif, terbukti dengan hasil angket yang di bagikan pada siswa diakhir proses pembelajaran mendapat nilai positif. Selain dari hasil angket persepsi siswa juga dapat dibuktikan dengan meningkatnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran pada saat metode role playing diterapkan, siswa semakin aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, aktif dalam diskusi baik kelompok maupun individu. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran dengan metode role playing sangat bermanfaat bagi siswa karena metode tersebut telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi bekerjasama dengan kolega dan pelanggan sehingga pembelajaran dengan metode role playing dapat diterapkan oleh guru lain pada mata pelajaran yang berbeda; (2) Guru dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman, santai, dan tidak tegang. (3)Guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan dan dapat menimbulkan minat siswa untuk belajar dengan giat, dapat membuat siswa aktif dalam diskusi kelompok, dan aktif bertanya dan menjawab pertanyaan; (4)Guru memberikan motivasi kepada siswa dalam bermain peran dan mampu menghidupkan suasana kelas dengan selingan humor agar siswa tidak merasa bosan dengan proses belajar- mengajar.

Pengaruh financial leverage dan profitabilitas terhadap earning per share (EPS) sebelum dan sesudah right issue pada Perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2001-2004 / Fariz Rahmandra Hakiki

 

Tujuan perusahaan yaitu memakmurkan pemegang saham dan maksimalisasi nilai perusahaan yang tercermin dalam maksimilisasi harga saham dan pencapaian profitabilitas jangka panjang. Untuk mewujudkan tujuan tersebut penggunaan sumber dana harus dikelola secara baik dan profesional. Ada beberapa peristiwa yang menjadi dasar bagi pelaku-pelaku pasar untuk mengambil investasinya. Peristiwa tersebut terkandung informasi yang dibutuhkan oleh investor akibat dari aktivitas perusahaan misalnya corporate action yaitu right issue. Dalam memilih alternatif pendanaan untuk membiayai aktivitas perusahaan, yang akan menjadi pertimbangan adalah bagaimana perusahaan dapat menciptakan kombinasi yang menguntungkan antara penggunaan sumber dana dari ekuitas dengan dana yang berasal dari hutang jangka panjang. Struktur modal dari suatu perusahaan menggambarkan pendanaan operasional perusahaan dengan menggunakan modal sendiri atau hutang jangka panjang atau juga menggambarkan jumlah utang yang dimiliki oleh perusahaan. Financial leverage mengukur kualitas penggunaan hutang untuk membiayai aktiva. Jika aktiva dapat dikelola dengan baik dan profesional maka semakin efektif penggunaan dana untuk aktiva sehingga membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan profitabilitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh financial leverage (DAR dan DER) dan profitabilitas (ROA dan ROE) terhadap earning per share (EPS) sebelum dan sesudah right issue pada perusahaan manufakture yang listing di BEI periode 2001-2004. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bersifat kausal kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan manufaktur yang melakukan right issue yang listing di BEI periode 2001-2004. Dimana sampelnya adalah 11 perusahaan dari 13 populasi yang ada. Teknik pengambilan sampel yaitu dilakukan dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan data sekunder eksternal dalam bentuk data tahunan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) kondisi sebelum right issue variabel profitabilitas dan earning per share (EPS) mengalami kenaikan sedangkan financial leverage mengalami penurunan. (2) kondisi sesudah right issue variabel financial leverage dan earning per share (EPS) mengalami penurunan sedangkan profitabilitas mengalami kenaikan. (3) periode sebelum right issue financial leverage tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap EPS sedangkan profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap EPS. (4) periode sesudah right issue financial leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap EPS sedangkan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap EPS. Financial leverage dan profitabilitas berpengaruh simultan terhadap EPS baik sebelum dan sesudah right issue . Berdasarkan hasil tersebut, saran untuk emiten lebih memperhatikan, menganalisis dan mempertimbangkan penggunaan hutang, untuk investor sebelum investor mengambil keputusan apakah akan menanamkan modalnya, jangan melihat aktivitas right issue saja tetapi lebih memperhatikan keadaan struktur modal perusahaan, sedangkan untuk peneliti selanjutnya pengambilan sampel dapat ditambah variabel bebasnya atau menambah periode pengamatan.

Developing english instructional materials for the first year beauty skill program students of SMK Negeri 3 Malang / Ratna Suita

 

The primary goal of teaching English at vocational schools is to provide students with the ability to master basic English knowledge and skills that will support the attainment of skill program competencies and to apply the mastery of English ability and skills in oral and written communication in the intermediate level (PerMenDiknas no 22, 2006). The learning and teaching of English at SMK Negeri 3 Malang especially at Beauty Skill Program is considered unsatisfactory. The main problem is that there is not any appropriate supporting English instructional material for students, especially for the students who take Beauty skill program. The existing materials do not match with the characteristics and the needs of the students. Concerning the problem above, a set of suitable supporting instructional materials for the students of Beauty Skill Program of SMK Negeri 3 Malang needs to be developed. The procedures employed in this study are doing needs analysis, developing the materials, conducting expert validation, revising the materials, trying out the materials, and revising the materials. In doing needs analysis, questionnaires are distributed to the students and the English teacher, while expert validation is done by giving questionnaire to the expert. Questionnaires are also given to the students and the teacher after the materials are tried out. The data from the result of the needs analysis shows that most of the students need English instructional materials that are relevant to their major content subject, Beauty Skill Program. Meanwhile, the data gathered from expert validation indicates that there are some good and weak points of the developed materials which need to be revised. From the try-out of the developed materials in the first year students of Beauty Skill Program of SMK Negeri 3 Malang, the data that shows the effectiveness of the developed materials in helping the students to achieve the mastery of the language skills can be collected. This is reflected from the data taken from the observation showing that students are actively involved in the learning and teaching process for some reasons. The first is that the topics being discussed are interesting and related to their major content subject. Besides, the tasks the students have to do can activate their knowledge of the topics as well as their language skills. Finally, the language they have to use in discussing the topics is at the right level of the students. Based on the result of the try-out, some revisions are made in order that the materials become better and they can finally match the needs of the students. To sum up, the success in using the developed materials as shown in the try-out should be continued by other English teachers, the school/institution, material developers, and other researchers. The English teachers can make use the develop materials as an alternative source of materials. The developed materials should be socialized to other English teachers of SMK Negeri 3 Malang and to English teachers group (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/MGMP) of Vocational Schools in Malang. In addition, the school, in this case school principal, can facilitate the teacher to publish the developed materials to the internal use. For materials developers, the result of this study can be used as a model to develop the other materials by considering the students’ context. Meanwhile, for researchers who are interested in English instruction and want to do the same study can use the result of this study as reference for further study. Since this study only focused on one school, the future researcher is suggested to do the study in a wider range. For example, he or she can do the study in some other Vocational High Schools majoring tourism in Malang. As a result, it is expected that the result of the study can be used not only at SMK Negeri 3 Malang but also at the other Vocational High Schools, either state or private schools. Besides, she can do study for the second and the third year students and adjust the level of difficulty and complexity of the language as well as the activities covered in materials. Finally, it is suggested to do a site observation in students’ workplace to give accurate and valid data about the needs in the target situation.

Kebijaksanaan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan untuk meningkatkan keadaan sosial ekonomi masyarakat nelayan Kecamatan Lekok / Adi Wijaya

 

Terjadinya krisis ekonomi telah menyebabkan melemahnya kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas secara otonom, tidak terdesentralisasinya kegiatan pelayanan kepada masyarakat, tidak merata pertumbuhan ekonomi daerah, dan tidak berdayanya masyarakat dalam proses perubahan sosial bagi peningkatan kesejahteraan di daerah. Di samping itu, pembangunan sektoral yang terpusat cenderung kurang memperhatikan keragaman kondisi sosial ekonomi daerah, lemahnya pertanggungjawaban kinerja pemerintah daerah kepada masyarakat, dan kurang efektifnya pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat dalam meningkatkan kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Di pihak lain, kondisi lingkungan hidup sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan dengan kecenderungan yang terus menurun. Dari kenyataan tersebut, maka perlu untuk memanfaatkan kekayaan laut seoptimal mungkin. Konsep pembangunan saat ini mengutamakan pada upaya pemanfaatan hasil laut dan peningkatan taraf hidup nelayan dalam melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dilakukan dengan cara yang amat sederhana, demikian juga halnya dengan cara penangkapan ikan yang dilakukan para nelayan masih dengan cara dan teknologi yang masih sangat sederhana. Dengan adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maka cara menangkap ikan atau peralatannya juga mengalami perubahan mulai dari yang tradisional hingga sampai yang modern. Dengan demikian dapat dipahami bahwa mata pencaharian nelayan lebih banyak tergantung pada perkembangan teknologi, seperti penggunaan perahu motor dan fasilitas penunjang nelayan dalam menangkap ikan di laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan sosial masyarakat nelayan, tingkat kesejahteraan keluarga nelayan serta mengetahui kebijakan apa saja yang diambil oleh Pemerintah Daerah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat nelayan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data terdiri dari orang, peristiwa dan dokumen. Data orang atau informan diperoleh melalui wawancara. Informan penelitian adalah orang yang bekerja di Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Desa Jatirejo, Kepala Desa Tambaklekok dan para nelayan di Kecamatan Lekok. Data peristiwa diperoleh melalui observasi tentang kejadian dan fenomena yang ada sangkut-pautnya dengan Kebijakan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan keadaan sosial ekonomi masyarakat nelayan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data penelitian yang dipakai adalah alur kegiatan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Sedangkan untuk mendapatkan kebenaran pemaparan dilakukan dengan cara perpanjangan ke ikut sertaan, ketekunan pengamatan, pemeriksaan sejawat, analisis kasus negatif, kecukupan referensial dan pengecekan anggota. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Keadaan sosial masyarakat nelayan di Kecamatan Lekok adalah tingkat pendidikan masyarakat nelayan adalah tamatan SD itu pun masih ada sebagian nelayan yang masih belum pernah mengenyam dunia pendidikan sama sekali dan anak-anak mereka masih ada sebagian yang sekolah sampai SMP, (2) Dalam menangkap ikan ada istilah kerja sama atau gotong-royong dan dalam satu kapal jumlah pekerja yang menangkap ikan di laut berjumlah enam orang, (3) Jaring yang digunakan nelayan untuk melaut terdiri dari tiga jaring, adalah sebagai berikut: jaring lepas, jaring lingkar dan jaring gondrong, (4) Tingkat kesejahteraan keluarga nelayan di Kecamatan Lekok, menunjukkan bahwa masyarakat nelayan di Kecamatan Lekok masih belum sejahtera, itu terbukti dengan nelayan yang masih terikat dengan juragan karena nelayan tersebut memiliki utang modal yang digunakan nelayan dalam melaut, (5) Penghasilan nelayan per harinya mencapai Rp 25.000 bila dihitung dalam sebulan penghasilan nelayan sebesar Rp 750.000, (6) Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat nelayan di Kecamatan Lekok adalah dengan adanya koperasi LEPP-M3 (Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro, Mitra, Mina) dan adanya pembinaan masyarakat pesisir. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan yaitu: (1) Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan yaitu semangat dan kerja keras perlu ditingkatkan untuk mengubah keadaan daerahnya sendiri, dan Pemerintah Daerah di sini harus mencari upaya-upaya yang tepat guna mengubah keadaan yang tidak baik menjadi baik, (2) Bagi peneliti lanjutan yaitu hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan, titik tolak dan tindak lanjut bagi peneliti yang relevan dengan masalah yang sedang dibahas dalam penelitian yang akan datang, (3) Bagi masyarakat nelayan yaitu masyarakat nelayan diharuskan untuk mengubah nasibnya sendiri dan tidak usah menunggu dari perubahan orang lain, dan kita harus yakin dan berusaha bahwa di dunia ini banyak cara untuk meraih apa yang kita inginkan sebagai manusia.

Hubungan self esteem dengan aktualisasi diri siswa SMA Negeri I Babadan Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo / Mayang Arum Permata Putri

 

Masa remaja merupakan peralihan antara kanak-kanak dan masa dewasa. Mereka banyak mengalami perubahan fisik dan psikologis. Perubahan psikologis yaitu perubahan yang berkaitan dengan psikis remaja diantaranya remaja memiliki harga diri atau self esteem. Self Esteem merupakan pengalaman subyektif bagi setiap individu dan akan diwujudkan melalui sikap dan perilaku yang tampak. Orang lain akan dapat menilai apakah seseorang memiliki self esteem yang tinggi ataukah self esteem yang rendah dilihat dari perilakunya. Perilaku seseorang akan mencerminkan self esteem seseorang. Aktualisasi Diri adalah merupakan kebutuhan individu untuk dapat menggunakan seluruh kemampuannya untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya dalam kehidupan. Jadi setiap individu mempunyai kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki dirinya sehingga individu tersebut bisa hidup lebih baik. Siswa yang mempunyai self esteem yang positif dapat mempengaruhi aktualisasi dirinya. Semakin self esteem (penghargaan diri) pada diri siswa tinggi maka semakin tinggi pula aktualisasi pada diri siswa tersebut. Karena dengan menumbuhkan, mengembangkan dan menggunakan kemampuan secara optimal sama saja dengan kita menghargai diri kita sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Tingkat self esteem siswa kelas X SMA Negeri I Babadan (2) Tingkat aktualisasi diri siswa kelas X SMA Negeri I Babadan (3) Ada hubungan antara self esteem dengan aktualisasi diri siswa kelas X SMA Negeri I Babadan Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional. Populasi penelitian terdiri dari siswa kelas X SMA Negeri I Babadan Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo yang memiliki karakteristik yaitu berusia antara 16-18 tahun. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode proposional random sampling. Sampel seluruhnya berjumlah 50 siswa. Instrumen yang digunakan adalah skala self esteem yang bertujuan untuk mengetahui tingkat self esteem siswa dan skala aktualisasi diri yang bertujuan untuk mengetahui tingkat aktualisasi diri siswa. Teknik analisa yang digunakan adalah analisa korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat self esteem siswa kelas X SMA Negeri I Babadan tergolong dalam kategori tinggi sekali sebanyak 28%, tinggi sebanyak 66%, dan sedang sebanyak 6% (2) Tingkat aktualisasi diri siswa kelas X SMA Negeri I Babadan tergolong dalam kategori tinggi sekali 16%, tinggi sebanyak 76%, dan sedang sebanyak 6%, sedangkan rendah sebanyak 2% (3) Ada hubungan yang signifikan dengan arah hubungan positif dengan nilai korelasi rxy = 0,520 dengan besaran korelasi mendekati 1 dan p = 0,05 atau p = 0,000. Nilai korelasi yang positif tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self esteem siswa kelas X SMA Negeri I Babadan maka akan semakin tinggi pula tingkat aktualisasi dirinya. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi konselor untuk memberikan motivasi dalam upaya mempertahankan dan memelihara self esteem dan aktualisasi diri siswa yang dapat diimplementasikan dalam layanan bimbingan pribadi dan sosial. Selain itu disarankan pula bagi siswa untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu meningkatkan self esteem dan aktualisasi diri siswa dengan berpartisipasi di bidang akademik atau mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian agar siswa dapat melihat dan mengembangkan aspek-aspek positif yang ada dalam dirinya.

Mengintegrasikan pendidikan seni budaya dan keterampilan dengan pelajaran lain pada pembelajaran tematik dalam meningkatkan minat dan keaktifan belajar siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Gadang 2 Kecamatan Sukun Kota Malang / Lucia Tjahja Darmawati

 

A B S T R A K Darmawati, L. Tjahja. 2009. Mengintegrasikan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan Pelajaran Lain Pada Pembelajaran Tematik Dalam Meningkatkan Minat dan Keaktifan Belajar Siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri Gadang 2 Kecamatan Sukun Kota Malang Tahun Pelajaran 2007-2008. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn, (II) Drs. Abdul Huda. Kata Kunci : Mengintegrasikan, Seni Budaya dan Keterampilan, Pembelajaran Tematik, Meningkatkan, Minat, Keaktifan Latar Belakang penelitian ini adalah rendahnya minat dan keaktifan belajar siswa kelas II SDN Gadang 2 terhadap pelajaran. Rendahnya pemahaman siswa terhadap minat dan keaktifan belajar dimungkinkan oleh faktor penyajian dalam pembelajaran, metode mengajar dan penggunaan media yang kuran tepat. Tujuan penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran tematik dengan mengintegrasikan pendidikan Seni Budaya dan Ketrampilan, (2) mengetahui penggunaan pengintegrasian SBK pada pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui tiga siklus. Data penelitian diperoleh dari observasi, wawancara dan dari hasil tes siklus I-III. Sumber data adalah siswa kelas II SDN Gadang 2. Subyek penelitian berjumlah 28 siswa. Jika ada siswa yang belum mencapai ketuntasan pada siklus awal maka diberi remidi bahkan layanan khusus sampai berhasil mencapai ketuntasan individu dengan nilai 71 dan ketuntasan klasikal mencapai 93% dari jumlah siswa. Dalam pembelajaran tematik, peneliti menggunakan model pembelajaran PAKEM, mengintegrasikan Seni Budaya dan Ketrampilan, metode bervariasi, benda konkrit yang dekat dengan lingkungan siswa. Hasil dari penelitian ini (1) pembelajaran yang mengintegrasikan Seni Budaya dan Ketrampilan dengan pelajaran lain pada pembelajaran tematik siswa sangat antusias dan aktif bernyanyi, bersyair, mengerjakan menggunting, melipat dan menempel (M3). Berani mengerjakan soal di papan tulis, senang berdiskusi, komunikasi siswa berjalan dan baik, (2) pengintegrasian Seni Budaya dan Ketrampilan dengan pelajaran lain dapat meningkatkan minat dan keaktifan belajar siswa. Peningkatannya nampak dari hasil pre tes rata-rata 56,50, siklus I 68,42, siklus II 74,75 dan siklus III meningkat menjadi 80,70. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian guru dalam pembelajaran, hendaknya (1) mengintegrasikan SBK yang dekat dengan lingkungan siswa (2) trampil dan kreatif mendesain dan membuat media yang berupa tiruan benda konkrit maupun gambar, (3) dalam pembelajaran hendaknya semua siswa dilibatkan agar minat dan keaktifannya meningkat.

Implementasi regresi binary logistik terhadap fakto-faktor yang mempengaruhi keikutsertaan pasangan usia subur dalam program keluarga berencana (Studi kasus di Rumah Sakit Umum Waluyo Jati Kraksan Probolinggo) / Eva Amatul Firdhausya

 

Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Dalam masalah laju pertambahan penduduk yang semakin meningkat dari tahun ke tahun ini maka pemerintah melakukan kebijaksanaan kependudukan yang menyeluruh dituangkan dalam program-program terpadu, salah satunya yaitu program Keluarga Berencana (KB). Peran serta masyarakat dalam mengikuti program KB didasarkan pada pemikiran-pemikiran masyarakat yang berbeda beda, karena sebagian pasangan suami istri menginginkan banyak anak, tetapi sebagian pasangan suami istri lain menganggap bahwa banyaknya anak justru makin membutuhkan banyak biaya yang mengakibatkan kehidupan yang kurang layak, sehingga mereka tidak mampu membiayai kehidupan putra putri mereka. Tetapi tidak semua masyarakat ikut serta dalam program KB. Selain faktor tingkat pendapatan keluarga, terdapat faktor lain yang mempengaruhi keikutsertaan PUS dalam Program KB. faktor tersebut meliputi tingkat pendidikan suami dan istri, usia suami dan istri, status pekerjaan istri, dan jumlah anak yang terlahir hidup. Faktor-faktor tersebut akan dijabarkan menjadi 7 variabel. Tujuan penelitian ini adalah mengimplementasikan model regresi binary logistik terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keikutsertan PUS dalam Program KB. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi binary logistik dengan 7 variabel bebas yaitu: tingkat pendapatan keluarga , tingkat pendidikan suami , tingkat pendidikan istri , usia suami , usia istri , status pekerjaan istri , jumlah anak yang terlahir hidup . Sedangkan variabel responnya (terikat) adalah keikutsertaan PUS dalam Program KB dalam bentuk variabel biner (kode 1 untuk PUS yang ikut serta dalam Program KB dan kode 0 untuk PUS yang tidak ikut serta dalam Program KB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor keikutsertaan PUS dalam Program KB atau variabel bebas yang berpengaruh terhadap keikutsertaan PUS dalam Program KB adalah tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan suami, usia suami, status pekerjaan istri, dan jumlah anak yang terlahir hidup. Diperoleh model keikutsertaan PUS dalam Program KB sebagai berikut:

Pengembangan metode jarimatika berbasis komputer interaktif materi penembahan dan pengurangan mata pelajaran matematika kelas II SDI Surya Buana Malang / Miftah Firdaus Bastomy

 

Media CD interaktif pembelajaran adalah media pembelajaran yang dalam penyampaiannya memadukan unsur audio dan visual dalam waktu yang bersamaan sehingga dapat menarik minat pengguna. Metode jarimatika berbasis komputer interaktif merupakan suatu media pembelajaran dengan menggunakan komputer yang disajikan dalam bentuk CD-Rom yang berisikan metode berhitung dasar yang membantu anak-anak berhitung dasar, tambah, kurang, kali, dan bagi dengan menggunakan jari tangan dimana jari tangan kanan untuk bilangan satuan, tangan kiri bilangan puluhan. Kelemahan dari Media CD interaktif ini yang paling mendasar adalah harus ada komputer dengan CD-Romnya. Adapun fokus permasalahannya adalah bagaimana metode jarimatika berbasis komputer interaktif dapat meningkatkan prestasi, motivasi belajar siswa juga kesesuaian penggunaan sebagai media pembelajaran. Tujuan pengembangan media CD interaktif pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah pembelajaran dan memberi alternatif media belajar Matematika kelas II SD semester I dengan materi “Penambahan dan Pengurangan”, dan juga untuk memberikan motivasi siswa dalam belajar berhitung. Disamping itu, juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, gunamencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Karakteristik dari media CD interaktif Pembelajaran adalah menampilkan media pembelajaran berupa audio visual secara bersamaan. CD interaktif pembelajaran divalidasikan kepada ahli media dan ahli materi untuk mengetahui kelayakan CD interaktif pembelajaran ini diujicobakan. Subyek ujicoba dalam pengembangan media CD interaktif pembelajaran ini adalah siswa kelas II SDI Surya Buana. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, serta menggunakan instrumen berbentuk angket ahli media, ahli materi, audiens. Untuk hasil belajar siswa digunakan dua kali evaluasi belajar dalam bentuk pre test dan post test. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi, dan audiens adalah prosentase, sedangkan untuk mengolah hasil belajar siswa digunakan uji tes t. Hasil pengembangan media CD interaktif pembelajaran ini memenuhi kriteria valid atau dapat dikatakan media CD interaktif pembelajaran ini sudah layak untuk diterapkan, dengan hasil yakni ahli media 92,5 %, ahli materi 91,25 %, audiens kelompok kecil 85,83 %, dan audiens klasikal 93,6 %, sedangkan untuk hasil belajar baik kelompok kecil maupun klasikal menunjukkan t hitung > t tabel sehingga ada perbedaan antara sebelum dan sesudah menggunakan media CD interaktif pembelajaran ini, dari hasil tes siswa itu dapat membuktikan bahwa media CD interaktif pembelajaran ini terbukti efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk CD interaktif pembelajaran ini di tindak lanjuti sehingga dapat memberikan kontribusi yang berarti terhadap pembelajaran di Indonesia. Untuk pengembang CD interaktif pembelajaran berikutnya supaya membuat CD interaktif pembelajaran metode berhitung jarimatika dengan materi perkalian dan pembagian.

Studi tentang sistem dan prosedur pengelolaan arsip pada kantor cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kabupaten Kediri / One Bagus Jatmiko

 

ABSTRAK Bagus J, One. 2008. Studi Deskriptif Tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Arsip Pada Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri. Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sarbini. (II) Imam Bukhori. S.Pd, MM. Kata Kunci: Sistem, Prosedur, Pengelolaan arsip. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat akhir-akhir ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan pelaksanaan pekerjaan baik di sektor pemerintah maupun swasta. Setiap organisasi baik besar maupun kecil, baik organisasi pemerintah maupun swasta membutuhkan penyelenggaraan administrasi yang baik. Administrasi yaitu segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerjasama mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.. Mengingat pentingnya peranan kearsipan maka untuk melaksanakan tugas pemerintahan dan tugas pembangunan dengan baik dan benar perlu diusahakan peningkatan dan penyempurnaan kearsipan secara optimal agar dapat berfungsi dengan baik, dan membantu kantor tersebut dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penelitian yang berjudul “Studi Deskriptif Tentang Sistem Dan Prosedur Pengelolaan Arsip Pada Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri” bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem kearsipan dan sejauh mana tingkat pengelolaan kearsipan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri. Adapun pengelolaan arsip yang diteliti meliputi: (1) pengelolaan surat masuk dan surat keluar, (2) sistem penyimpanan arsip yang diterapkan, (3) azas penyimpanan arsip yang diterapkan, (4) prosedur penyimpanan arsip, (5) peminjaman arsip, (6) prosedur pemeliharaan arsip, (7) penyusutan atau pemusnahan arsip, (8) sarana dan prasarana yang digunakan, (9) kondisi SDM pegawai kearsipan. Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri yang beralamat di Jalan PLK No. 3 Bogokidul pada bulan november 2008. responden dalam penelitian ini adalah petugas dari Bagian Umum dan Perlengkapan yang menangani masalah arsip. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yang meneliti satu variabel yaitu pengelolaan arsip. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan surat masuk dan keluar adalah surat-surat yang sifatnya resmi maupun pribadi tetapi masih ada hubunganya dengan kegiatan kantor. Sistem penyimpanan yang diterapkan yaitu ada yang menggunakan sistem nomor. Azas penyimpanan yang diterapkan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri adalah azas sentralisasi. Prosedur penyimpanan arsip di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri yaitu sementara dan tetap. Prosedur peminjaman arsip yaitu mengisi buku peminjam arsip, mencari arsip, memberikan jaminan bagi orang yang meminjam yaitu kartu identitas diri atau KTP/SIM. Prosedur pemeliharaan arsip meliputi membersihkan ruangan, membersihkan arsip dari debu-debu yang menempel, membersihkan dari anai-anai yang ada, membersihkan rak arsip, arsip-arsip yang tidak dipakai perlu dimusnahkan. Sarana dan prasarana yang digunakan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri adalah antara lain stopmap, snelhecter, lembar disposisi/nota dinas, rak arsip, dan lemari arsip. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada petugas arsip Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri agar: (1) Setiap surat yang masuk atau keluar setelah diagenda dan selesai diproses kemudian digandakan.. Sehingga apabila surat itu hilang maka informasi yang tersimpan masih bisa diselamatkan karena membuat copy dari surat itu. (2) Sistem penyimpanan yang digunakan hendaknya lebih diperhatikan, dimaksimalkan dan ada petugas khusus serta arsip yang disimpan di agenda terlebih dahulu. Sistem penyimpanan yang baik bisa membantu kelancaran jalannya informasi dan mempercepat penemuan kembali arsip apabila dibutuhkan. (3) Dalam menerapkan azas sentralisasi sebaiknya petugas membutuhkan konsentrasi yang baik karena semua arsip baik yang masuk dan keluar adalah tanggung jawab petugas tersebut. (4) Prosedur penyimpanan arsip yang digunakan sudah cukup baik. Arsip-arsip yang masih dalam proses atau masih dalam periode satu tahun disimpan di penyimpanan arsip sementara sedangkan penyimpanan tetap dilaksanakan jika arsip telah selesai diproses atau sudah habis periodenya. Arsip yang tidak berguna dibuang dan dimusnahkan. (5) Dalam peminjaman arsip hendaknya dibuatkan kartu peminjam arsip bagi pegawai sehingga memudahkan mengontrol keberadaan arsip yang dipinjam. (6) Pemeliharaan arsip hendaknya dilakukan secara teratur dan berkesinambungan ini juga tergantung pada berapa banyak arsip yang disimpan. (7) Penyusutan atau pemusnahan hendaknya dilakukan secara teratur dan tidak dilakukan sendiri-sendiri. Ditentukan jadwal penyusutan atau pemusnahan arsip, sehingga lebih efektif dan efisien. (8) Sarana dan prasarana yang digunakan tentunya disesuaikan dengan besar kecilnya organisasi dan ruang lingkup kegiatan organisasi. Jadi dalam pengadaan peralatan bagi kegiatan kearsipan harus disesuaikan dengan kebutuhan. (9) Hendaknya masalah kearsipan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Plemahan Kediri ditangani oleh petugas khusus yang ahli dibidang kearsipan, tentunya hal ini membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Meningkatkan kesadaran pada orang-orang yang menangani masalah kearsipan tentang pentingnya arsip. Hendaknya diciptakan iklim kerja yang baik, saling koordinasi yang baik antara atasan dan bawahan. Sehingga tidak terjadi miss komunikasi antara atasan dan bawahan. Apabila masalah kearsipan bisa ditangani dengan baik tentunya akan sangat membantu bagi pekerjaan dan sudah merupakan harga yang pas sehingga tidak terjadi kesalahan, kerusakan atau bahkan kehilangan arsip.

Penerapan promisi penjualan perseorangan (Personial selling) dan hubungan masyarakat (Publikasi) pada KUD Karangploso Malang / Yosdian Farida Munif

 

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 206.264.595 jiwa (BPS, 2000) merupakan pasar yang potensial untuk berbagai produk makanan dan minuman, termasuk untuk koperasi yang melayani industri pengolahan susu sapi perah. Koperasi Unit Desa (KUD) Karangploso merupakan koperasi penghasil susu terbesar kedua di Kabupaten Malang setelah Koperasi SAE Pujon. Hasil usaha susu segar ini KUD Karangploso membeli dari peternak sekitar dengan harga yang berbeda sesuai dengan kualitas susu tersebut. Susu-susu dari peternak ini dijual kembali oleh KUD Karangploso ke Perusahaan Nestle dengan harga yang berbeda pula. Disamping dijual ke Perusahaan Nestle KUD Karangploso juga menjual kembali ke masyarakat guna untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Prospek yang cukup menjanjikan di dalam usaha ini menjadikan para investor baik dari dalam maupun luar negeri tertarik menanamkan modalnya pada bidang tersebut. Upaya memenangkan dan menguasai serta mempertahankan pasar sasarannya KUD Karangploso Malang juga harus melakukan kegiatan-kegiatan promosi yang dilaksanakan secara obyektif guna menjaring konsumen serta memperluas daerah pemasaran seperti yang diharapkan. Dimana KUD Karangploso yang beralamatkan di Jl. Raya Ngijo No. 23 Karangploso Malang dan mulai berdiri sejak tahun 1973 hingga sekarang. Dalam pelaksanaan promosi KUD Karangploso terdapat jenis promosi yang digunakan antara lain adalah melalui 1) Penjualan perseorangan, 2) Hubungan masyarakat. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa pelaksanaan strategi bauran promosi pada KUD Karangploso dalam menjaring konsumen sudah cukup untuk mencapai tujuan akhir dari masing-masing strategi promosi meskipun kadang masih ada kekurangan didalam pelaksanaannya. Berdasarkan hasil praktikum ini saran yang dapat penulis berikan kepada KUD Karanngploso yaitu: 1) Pihak manajemen perlu menambah jumlah tenaga SDM yang diposisikan sebagai pemasar, 2) Upaya-upaya lainnya dalam rangka peningkatan kualitas susu segar, 3) Perlu diadakan seminar tentang manfaat mengkonsumsi susu segar, 4) Dalam bidang marketing perlu mendapatkan perhatian khusus dan promosi darus digencarkan dalam menarik pelangan.

Pengaruh rasio likuiditas, leverage, dan provitabilitas terhadap harga saham melalui dividend payout ratio (Study kasus pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEJ tahun 2005-2007) / Dwi Sebti Laily Agustini

 

ABSTRAK Sebti, D. L. A. 2009. Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, dan Profitabilitas terhadap Harga Saham Melalui Dividend Payou Ratiot pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Jakarta Tahun 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. DR. H. Bambang Banu S., M.M., (II) Ely Siswanto, S. Sos, MM. Kata Kunci: Rasio Likuiditas, Rasio Leverage,Rasio Profitabilitas, DPR, Harga Saham. Go-public merupakan salah satu langkah perusahaan untuk mencari investor untuk menginvestasikan dananya di perusahaan tersebut. Pembelian saham suatu perusahaan melalui pasar modal merupakan salah satu alternatif bentuk investasi yang paling banyak dilakukan dewasa ini. Pada umumnya tujuan investor melakukan investasi saham adalah pertama, keuntungan yang diperoleh dari selisih pergerakan harga saham (capital gain). Kedua adalah keuntungan yang didapat oleh investor diperoleh dari pembagian deviden. Oleh karena itu perusahaan harus dapat mengalokasikan laba bersihnya dengan bijaksana untuk memenuhi kepentingan perusahaan dan investor. Ini merupakan inti dari kebijakan Dividend Payout Ratio (DPR). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Kondisi Rasio likuiditas, Rasio Leverage, Rasio Profitabilitas, DPR dan Harga Saham perusahaan Manufaktur yang listing di BEJ. (2) Ada tidaknya pengaruh langsung dan tidak langsung Rasio Likuiditas terhadap Harga Saham melalui DPR. (2) Ada tidaknya pengaruh langsung dan tidak langsung Rasio Leverage terhadap Harga Saham melalui DPR. (3) Ada tidaknya pengaruh langsung dan tidak langsung Rasio Profitabilitas terhadap Harga Saham melalui DPR. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan dalam kelompok industri perusahaan manufaktur sesuai klasifikasi dalam Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang terdaftar di BEJ periode 2005-2007 sejumlah 149 perusahaan. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 10 perusahaan sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pats (analisis jalur). Analisa data dilakukan dengan bantuan SPSS for windows release 15.0 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa: (1) sebagian besar perusahaan memiliki CR, DER, ROA, dan Harga Saham dibawah rata-rata sedangkan DPR sebagian besar berada diantara rata-rata. (2) terdapat pengaruh langsung dan tidak langsung yang signifikan Rasio Likuiditas terhadap Harga Sahan melalui DPR. (3) terdapat pengaruh langsung dan tidak langsung yang signifikan Rasio ii Leverage terhadap Harga Saham melalui DPR. (4) terdapat pengaruh langsung dan tidak langsung yang signifikan Rasio Profitabilitas terhadap Harga Sahan melalui DPR pada perusahaan Manufaktur yang listing di BEJ. Penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak, variabel-variabel lain yang mempengaruhi, dan jangka waktu atau periode penelitian yang lebih panjang, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik (generalisasinya tinggi), serta penelitian berikutnya sebaiknya dilakukan dengan menggunakan metode analisis yang berbeda untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh adalah konsisten dari tahun ke tahun.

Penerapan pembelajaran kooperatif think pair share (TPS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas X-8 SMA Negeri 7 Malang / Poppy Rahmatika Primandiri

 

i ABSTRAK Primandiri, Poppy Rahmatika. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-8 SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si., (II) Drs. Triastono Imam P., M.Pd. Kata kunci: Think Pair Share, Kemampuan Berpikir, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Biologi, hasil observasi dan analisis angket yang disebarkan pada kelas X-8 SMA Negeri 7 Malang, diperoleh informasi bahwa siswa kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, hanya 30% siswa antusias mendengarkan penjelasan guru sedangkan 70% siswa yang lain terutama yang duduk di bangku urutan belakang kurang antusias mengikuti pelajaran (berbicara dengan teman sebangku, melamun, dan menggambar). Hasil belajar siswa banyak di bawah standar kelulusan sehingga setiap kali tes selalu ada siswa yang remidi. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share sehingga kegiatan diskusi dapat menyenangkan dan siswa dapat saling membantu satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair Share terhadap kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa kelas X-8 SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus pada pokok bahasan Monera. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-8 SMA Negeri 7 Malang yang berjumlah 42 siswa. Fokus penelitian adalah kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa. Kemampuan berpikir siswa diamati dengan menggunakan lembar observasi pertanyaan dan jawaban siswa secara lisan selama pembelajaran dan catatan lapangan, sedangkan hasil belajar siswa diukur menggunakan tes di setiap akhir siklus. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada penelitian ini tidak terjadi peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Taksonomi Bloom C4- C6), kemampuan bertanya dan menjawab tingkat tinggi pada siklus 1 sama seperti di siklus 2 yaitu 4,76% dari seluruh siswa kelas X-8. Tetapi kemampuan berpikir tingkat rendah mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. Pada siklus 1, kemampuan bertanya tingkat rendah (Taksonomi Bloom C1- C3) yaitu 11,9% dan pada siklus 2 kemampuan bertanya tingkat rendah (Taksonomi Bloom C1- C3) yaitu 26,19%. Kemampuan menjawab tingkat rendah (Taksonomi Bloom C1- C3) pada siklus 1 yaitu 19,05% dan pada siklus 2 yaitu 28,57%. Pada penelitian ini terjadi peningkatan hasil belajar dari sebelum tindakan, siklus 1, dan siklus 2. Hasil belajar siswa meningkat dari 71,8% (sebelum tindakan) menjadi 73,62% pada siklus 1. Hasil belajar siswa meningkat dari 73,62% (siklus 1) menjadi 78,60% pada siklus 2. Dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa kelas X-8 SMA Negeri 7 Malang. Berdasarkan paparan dan analisis data serta temuan dalam penelitian ini, maka peneliti menyampaikan saran yaitu 1) sebagai i ii upaya peningkatan kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa, disarankan kepada guru bidang studi Biologi untuk menerapkan pembelajaran pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) pada materi yang lainnya, 2) dalam menerapkan pembelajaran pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) hendaknya guru lebih memberikan perhatian pada siswa pada setiap tahapan pembelajaran sehingga semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, 3) implementasi pembelajaran pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) memerlukan waktu yang banyak dan memerlukan perencanaan yang baik untuk dapat mencover konsep, sehingga guru bidang studi yang berencana melaksanakan pembelajaran tersebut hendaknya memperhatikan hal di atas, 4) guru perlu memperhatikan mengenai kualitas pertanyaan karena kesuksesan kegiatan pembalajaran dengan Think Pair Share sangat tergantung pada kualitas pertanyaan yang diajukan guru pada tahap pertama, 5) guru perlu membiasakan siswa bertanya dan menjawab pada metode pembelajaran yang lain untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi agar siswa tidak takut untuk mengungkapkan ide atau pendapat mereka, 6) untuk penelitian selanjutnya, perlu membuat data pada saat tahap pair karena pada tahap ini akan terjadi interaksi siswa. Data ini juga dapat menjadi data tambahan, 7) dalam membuat LKS, hendaknya guru membuat pertanyaan pada tingkat tinggi (Taksonomi Bloom C4- C6), agar siswa terbiasa untuk berlatih berpikir menyelesaikan suatu permasalahan, dan 8) dalam merencanakan pembelajaran, hendaknya guru membuat sesuatu yang menarik dan menantang sehingga siswa tertarik untuk bertanya, menjawab, atau berpendapat.

Pemetaan penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kecamatan Klojen Kota Malang / Renny Wulandary

 

ABSTRAK Wulandary, Renny. 2009. Pemetaan Penyalahgunaan Pemanfaatan Trotoar di Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Rudi Hartono, M. Si, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M. Si Kata kunci: Pemetaan, penyalahgunaan trotoar Trotoar merupakan fasilitas pejalan kaki yang sangat penting untuk diperhatikan dalam perkembangan kota. Pada beberapa tahun terakhir, kondisi trotoar yang ada di beberapa ruas jalan khususnya di Kecamatan Klojen Kota Malang telah mengalami penyalahgunaan pemanfaatannya, yaitu yang semula trotoar berfungsi sebagai sarana bagi pejalan kaki namun sekarang trotoar sudah digunakan untuk aktivitas perekonomian, seperti perdagangan, jasa, dan parkir. Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kecamatan Klojen Kota Malang, dan 2) Untuk mengetahui persentase penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kecamatan Klojen Kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini mengambil sampel lima titik trotoar yang ada di Kecamatan Klojen Kota Malang, yaitu trotoar di Jalan Arif Margono, Jalan Kauman, Jalan Semeru, Jalan Pattimura, dan Jalan Laksamana Martadinata. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling yang berdasar atas penyalahgunaan pemanfaatan yang terjadi pada trotoar-trotoar di ruas jalan tersebut. Data yang diperoleh diklasifikasikan sesuai dengan tujuan penelitian kemudian dianalisis, dideskripsikan, dan dipetakan. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa: 1) Bentuk penyalahgunaan pemanfaatan trotoar yang terjadi pada beberapa titik trotoar di ruas jalan yang ada di Kecamatan Klojen Kota Malang, yaitu Jalan Arif Margono, Jalan Kauman, Jalan Semeru, Jalan Pattimura, dan Jalan Laksamana Martadinata pada pagi, siang, dan malam hari dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk penyalahgunaan, yaitu perdagangan, jasa, dan perparkiran, 2) Persentase aktivitas perdagangan tertinggi berada pada trotoar di Jalan Kauman sebesar 36,73% dan terendah berada di trotoar Jalan Semeru sebesar 5,33%. Persentase aktivitas jasa tertinggi berada pada trotoar di Jalan Pattimura sebesar 7,82% dan terendah berada di trotoar Jalan Semeru sebesar 0%. Persentase aktivitas perparkiran tertinggi terletak di trotoar Jalan Kauman sebesar 25,51% dan terendah berada di trotoar Jalan Semeru sebesar 1,71%. Dari hasil penelitian ini disarankan agar kelompok penyalahguna trotoar lebih memperhatikan hak-hak para pejalan kaki dengan tidak menggunakan ruas trotoar secara penuh sehingga masih ada sedikit ruas trotoar yang dapat digunakan oleh para pejalan kaki. Selain itu Pemerintah Kota Malang harus lebih tegas dalam menindak kelompok penyalahguna trotoar agar ketertiban dalam memanfaatkan fasilitas umum dapat terwujud.

Pengaruh strategi pembelajaran praktikum (Diskoveri terbimbing dan konvesional) terhadap hasil belajar kimia pebelajar kelas X SMA dengan tingkat perkembangan intelektual berbeda / Dwi Yulianti

 

ABSTRAK Yulianti, Dwi. 2008. Pengaruh Strategi Pembelajaran Praktikum (Diskoveri Terbimbing dan Konvensional) terhadap Hasil Belajar Kimia Pebelajar Kelas X SMA dengan Tingkat Perkembangan Intelektual Bebeda. Disertasi (tidak dipublikasikan), Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Prof. Dr. Wayan Ardhana, MA., (III) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed. Kata kunci: strategi praktikum, tingkat perkembangan intelektual, hasil belajar kimia. Strategi praktikum yang biasa pembelajar terapkan di sekolah menengah atas adalah strategi praktikum yang berfungsi sebagai kegiatan verifikasi terhadap teori yang telah dijelaskan pembelajar. Penerapan strategi praktikum ini, menyebabkan hasil belajar yang diperoleh pebelajar rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan kimia bersama se-kabupaten Malang (dokumen hasil ulangan kimia bersama, 2007). Berdasarkan hasil ulangan kimia bersama diketahui skor rerata yang diperoleh adalah sebesar 31,4 dan skor tertinggi sebesar 63,5. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan strategi praktikum diskoveri terbimbing. Strategi praktikum diskoveri terbimbing memfasilitasi pebelajar untuk belajar melalui kegiatan ilmiah, dan untuk membangun pengetahuan dengan bimbingan dari pembelajar. Kegiatan ilmiah melibatkan pebelajar dengan kegiatan fisik dan mental. Strategi pembelajaran yang demikian, berpeluang membantu pebelajar membangun pengetahuan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk, (1) menganalisis perbedaan hasil belajar kimia antara kelompok pebelajar yang diberi perlakuan menggunakan strategi praktikum diskoveri terbimbing dan konvensional, (2) mendeskripsikan perbedaan hasil belajar kimia antara pebelajar yang memiliki tingkat perkembangan intelektual transisi dari konkret ke formal dan operasi konkret, (3) menjelaskan pengaruh interaksi antara strategi praktikum (diskoveri terbimbing dan konvensional) dan tingkat perkembangan intelektual (transisi dari konkret ke formal dan operasi konkret) terhadap hasil belajar kimia. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, dilakukan penelitian kuasi eksperimen pada pebelajar kelas X sekolah menengah atas di Kabupaten Malang, tahun pembelajaran 2007/2008. Eksperimen menggunakan rancangan dua faktor dengan versi disain faktorial non-ekuivalen kontrol group. Dengan teknik random, terpilih SMAN 1 Lawang kelas X.1 dan X.2, sebagai kelompok kontrol yang difasilitasi dengan strategi praktikum konvensional, sementara itu SMAN 1 Kepanjen kelas X.3 dan X.4, sebagai kelompok eksperimen yang difasilitasi dengan strategi praktikum diskoveri terbimbing. Data hasil belajar kimia, dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar kimia 1 dan 2 dalam bentuk uraian. Tes hasil belajar kimia 1 terdiri dari 14 butir dengan indeks reliabilitas alpha Cronbach = 0,899. Tes hasil belajar kimia 2 terdiri dari 11 butir dengan indeks reliabilitas alpha Cronbach = 0,869. Data tingkat perkembangan intelektual diperoleh menggunakan tes Burney Standar yang telah diterjemahkan dan diadaptasi oleh Ardhana (1983). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis varians faktorial 2 x 2 dengan bantuan program spss 13,0 for windows. Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan analisis data, ditemukan hasil-hasil penelitian sebagai berikut: Pertama, ada perbedaan signifikan hasil belajar kimia antara kelompok strategi praktikum diskoveri terbimbing dan konvensional (F = 4,436; p = 0,037). Kedua, tidak ada perbedaan signifikan hasil belajar kimia antara kelompok tingkat perkembangan intelektual operasi konkret dan transisi (F = 3,344; p = 0,070). Ketiga, ada interaksi antara strategi praktikum dan tingkat perkembangan intelektual terhadap hasil belajar kimia (F = 4,285; p = 0,040). Berdasarkan temuan-temuan penelitian, diajukan saran-saran sebagai berikut, (1) penggunaan strategi praktikum diskoveri terbimbing untuk membelajarkan pebelajar, perlu dilengkapi dengan perangkat pembelajaran yang dapat memfaktualkan pengetahuan kimia yang abstrak, (2) bagi pembelajar sekolah menengah atas yang akan mengimplementasikan strategi praktikum diskoveri terbimbing, sebaiknya telah memahami tahap-tahap pembelajaran ini, dan (3) kaitannya dengan penerapan strategi praktikum diskoveri terbimbing di SMA, sebaiknya pembelajar menyediakan masalah-masalah yang bersumber dari lingkungan pebelajar. Dengan demikian akan lebih memotivasi pebelajar untuk melakukan kegiatan ilmiah yang lain.

Efektifitas metode pembelajaran kooperatif model team games tournament (TGT)-problem posing terhadap peningkatan prestasi belajar akuntansi di SMK PGRI 02 Kediri / Siti Badriyah

 

ABSTRAK Badriyah, Siti. 2008. Efektifitas Metode Pembelajaran Kooperatif Model TGT-Problem Posing Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi di SMK PGRI 02 Kediri. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Sugeng, SE., M.A, M.M, Ak, (II) Drs. Cipto Wardoyo, SE, M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci: Metode Pembelajaran, Pembelajaran Kooperatif Model TGT, Pembelajaran Problem Posing, Prestasi Belajar Penggabungan metode pembelajaran antara metode pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) dengan metode pembelajaran Problem Posing yang dilakukan oleh Dewi Sri Sundari dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model TGT- Problem Posing Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Kelas XII SMA Negeri 2 Bangkalan menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing lebih efektif dari pada metode konvensional dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun sinergi kedua metode pembelajaran tersebut tidak terlihat sehingga diduga hanya dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT sudah mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan demikian, kombinasi kedua metode tersebut dibandingkan dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT tanpa Problem Posing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT dan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing. Data yang digunakan adalah data primer yaitu gainscore nilai siswa kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 1 Ak SMK PGRI 02 Kediri sebanyak 122 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan insidental sampling dan ada 78 siswa yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisa data yang digunakan adalah t-test independent sample. Uji t independent sample digunakan untuk menguji perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing dan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT tanpa Problem Posing. Berdasarkan nilai signifikansi dari uji t independent sample sebesar 0,904 untuk aspek kognitif dan 0,578 untuk aspek psikomotor menunjukkan bahwa hasil penelitian ini adalah tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing dan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT tanpa Problem Posing. Karena kemampuan guru yang kurang memahami metode pembelajaran Problem Posing sehingga instrumen penelitian yang dibuat kurang baik dan tidak baik merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sehingga siswa hanya mengajukan pertanyaan mengenai pengenalan, pengetahuan atau sebatas aspek kognitif. Selain itu, kondisi siswa yang sulit diberikan pengarahan secara teknis metode pembelajaran kooperatif model TGT-Problem Posing. Sehingga kelas menjadi gaduh, kurangnya ketekunan dan kesungguhan siswa mengerjakan LKS sehingga pada saat turnamen siswa bingung dalam memberikan pertanyaan terhadap siswa lain, dan kurangnya pengawasan dari guru dikarenakan guru sibuk mengelola kelas agar kondusif sehingga ada beberapa siswa mengajukan pertanyaan dari buku/LKS. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk penelitian sama di masa yang akan datang diharapkan melihat prestasi belajar siswa secara keseluruhan yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Karena pada penelitian ini hanya dari 2 aspek dikarenakan peneliti kurang pahamnya peneliti mengenai alat ukur yang digunakan untuk mengukur aspek afektif sehingga instrumen yang dibuat salah. Selain itu, dilakukan penelitian tindakan kelas untuk mengetahui secara detail prestasi belajar siswa.

Survei tentang kinerja wasit sepakbola dalam memimpin pertandingan pada kompetisi pengcab di kota Mojokerto / M. Rendra Andy Riswanto

 

ABSTRAK Riswanto, M. Rendra Andy. 2008. Survei Tentang Kinerja Wasit sepakbola Dalam Memimpin Pertandingan Pada Kompetisi PENGCAB di Kota Mojokerto. Skripsi, Program Studi Pendidikan Jasmani, Jurusan Ilmu Keolahragaan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mahmud Yunus, M.Kes., Pembimbing (II) Dr.Slamet Raharjo, M.Or. Kata kunci : kinerja wasit, kompetisi PENGCAB Sepakbola merupakan olahraga yang dimainkan oleh dua kelompok berlawanan yang masing-masing bertujuan untuk memasukkan bola ke gawang kelompok lawan. Didalam pertandingan sepakbola, terdapat pengadil di dalam lapangan yang dinamakan wasit. Wasit sepakbola merupakan pengadil ditengah lapangan untuk mengatur dan menjalankan permainan sepakbola. Berdasarkan tingkat dan kewenangannya, PENGCAB PSSI harus mengadakan kompetisi antar klub anggota perserikatan. Kompetisi sepakbola bola sering terjadi kerusuhan. Tidak adanya evaluasi kinerja wasit setiap tahunnya. Untuk itu meninjau dari kualitas kinerja wasit dalam memimpin pertandingan dalam menerapkan tujuh belas peraturan permainan pada kompetisi PENGCAB. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui kinerja wasit sepakbola dalam memimpin pertandingan pada kompetisi PENGCAB di kota Mojokerto. Populasi yang diambil yaitu penonton, pengawas pertandingan, dan pengurus PENGCAB PSSI kota mojokerto. Sampel berjumlah 44 orang. Sampel terbagi menjadi tiga yaitu 30 orang penonton, 5 orang dari pengawas pertandingan dan 9 orang dari pengurus PENGCAB PSSI kota Mojokerto. Sedangkan pengumpulan data menggunakan angket yang bertujuan untuk menggambarkan kinerja wasit sepakbola dalam memimpin pertandingan pada kompetisi PENGCAB di kota Mojokerto. Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup.Untuk analisisnya dengan rumus persentase dan tabel klasifikasi persentase (Arikunto, 1998:246). Berdasarkan hasil penelitian dan persentase yang diperoleh tentang kinerja wasit sepakbola dalam memimpin pertandingan pada kompetisi PENGCAB di kota Mojokerto, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum cukup, yaitu dengan persentase 68,07%. Menurut Arikunto (1998:26) bahwa persentase 56%-75% adalah masuk kategori cukup. Tetapi kinerja wasit dalam memimpin pertandingan pada kompetisi PENGCAB di kota Mojokerto untuk memeriksa bola, memeriksa jumlah pemain, memutuskan lamanya pertandingan, memutuskan bola didalam dan diluar pertandingan, memutuskan cara mencetak gol, dan memutuskan tendangan pinalti masih kurang baik. Untuk memperbaiki kinerja wasit sepakbola dalam memimpin pertandingan, kinerja yang kurang lebih diperbaiki dengan menerapkan ke dalam pertandingan. Komwas juga sebaiknya melakukan pengawasan terhadap kinerja wasit dalam memmimpin pertandingan, agar dalam perkembanganya wasit bisa dievaluasi dan diperbaiki.

Makna program pendidikan keaksaraan bagi warga belajar di Desa Ngrendeng Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar / Budi Setyono

 

Layanan Pendidikan Luar Sekolah yang hingga saat ini masih terus dikembangkan pemerintah dalam rangka memerangi ketidakberdayaan masyarakat sebagai akibat dari kebodohan dan kemiskinanan adalah memberikan pelayanan pendidikan dasar bagi orang dewasa (adult basic education). Program Pendidikan Keaksaraan melalui kegiatan pemberantasan buta aksara menjadi salah satu prioritas sasaran Pendidikan Untuk Semua (PUS) yang menargetkan penurunan jumlah buta aksara seminimal mungkin. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang difokuskan untuk mengetahui bagaimana pola penyelenggaraan Program keaksaraan fungsional di desa Ngrendeng kecamatan Selorejo kabupaten Blitar; bagaimana Pembinaan program pendidikan keaksaraan fungsional di desa Ngrendeng kecamatan Selorejo kabupaten Blitar serta makna program keaksaraan fungsional bagi warga belajar keaksaraan fungsional di desa Ngrendeng kecamatan Selorejo kabupaten Blitar. Metode pengumpulan data dalam penilitian adalah pengamatan, wawancara mendalam, dan study dokumentasi Analisa data dalam penelitian dilakukan dalam rangkaian kegiatan yang meliputi mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, koding dan mengkatagorikan. Sedangkan Untuk mengecek keabsahan data pada penelitian ini dilakukan bertumpu pada empat hal, yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferrability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, model penyelenggaraan program Keaksaraan Fungsional yang diselenggarakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Terang Desa Ngrendeng Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar menggunakan pendekatan partisipatif mulai perencanaan, menetapkan konten berangkat dari kebutuhan belajar serta konteks lingkungan dimana warga belajar berada dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip serta karakteristik pendidikan Orang Dewasa. Kedua, Pembinaan program pendidikan keaksaraan di desa Ngrendeng yang dilakukan oleh perangkat desa dan Dinas Pendidikan Kecamatan Selorejo, sebagai implementasi dari kebijakan pemerintah yang memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk memperoleh layanan pendidikan diberbagai jalur dan jenjang pendidikan, Dinas Pendidikan melaksanaan pembinaan yang kontinyu tidak saja kepada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sebagai pengelola dalam menyelenggarakan program Keaksaraan Fungsional, namun kepada tutor yang bersentuhan langsung dengan warga belajar, serta pemberian motivasi kepada warga belajar untuk tetap mengikuti kegiatan pembelajaran yang telah dijadwalkan. Bentuk pembinaan yang diberikan kepada pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah meliputi kegiatan administrasi program, bagaimana mengelola kegiatan, memotivasi warga belajar. Sedang kepada tutor pembinaan yang dilakukan lebih mengarah kepada metode pembelajaran . Ketiga, Warga belajar program pendidikan keaksaaraan fungsional mayoritas adalah orang dewasa. Orang dewasa bersedia mengikuti pembelajaran apabila apa yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhannya. Demikian juga karakteristik orang dewasa bahwa orang dewasa telah memiliki konsep diri yang kuat, belajar pada orang dewasa berdasar pada kebutuhan, tentunya akan berpengaruh pada pemaknaan warga belajar dalam mengikuti program Keaksaraan Fungsional. Makna Program Pendidikan Keaksaraan Bagi Masyarakat Khususnya Warga Belajar Program Pendidikan Keaksaraan dapat kontruksikan sebagai berikut : Warga belajar memiliki banyak waktu luang setelah bekerja dan tidak memiliki kegiatan lain sehingga mengikuti kegiatan keaksaraan yang dipadukan dengan keterampilan akan membuat warga belajar tertarik untuk mengikuti program

Pengaruh iklim dan motivasi kerja terhadap disiplin pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo / Erwin Dwi Candra Crisdianto

 

ABSTRAK Crisdianto, E. D. C. 2009. Pengaruh Iklim dan Motivasi Kerja terhadap Disiplin Pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Budi Wiyono, M. Pd dan Pembimbing (II) Dra. Mustiningsih, M. Pd. Kata kunci: iklim kerja, motivasi kerja, dan disiplin pegawai Iklim kerja merupakan suatu kondisi atau keadaan suasana kerja yang berada di instansi dirasa nyaman, tenang, dan bebas dalam melakukan pekerjaan tanpa adanya rasa takut. Iklim kerja yang menyenangkan akan tercipta, apabila hubungan antar manusia berkembang dengan harmonis. Keadaan iklim yang harmonis ini sangat mendukung terhadap prestasi kerja pegawai. Dengan adanya suasana kerja yang nyaman dan tenang tersebut memungkinkan pegawai untuk bekerja lebih baik. Dalam suatu organisasi diperlukan juga adanya suatu motivasi kerja. Motivasi kerja ini bertujuan untuk mendorong atau memberikan semangat kepada pegawai yang kurang maksimal dalam bekerja. Hal ini dimaksudkan kepada para pegawai untuk selalu meningkatkan prestasi kerjanya, agar dapat melaksanakan pekerjaannya dan mencapai hasil pekerjaan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk mengatur sikap/perilaku pegawai yang baik, maka diperlukan suatu sikap kedisiplinan. Sikap kedisiplinan ini bersifat memaksa dan wajib dipatuhi oleh semua pegawai sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dilihat dari sifatnya yang memaksa, maka dalam kedisiplinan ini terdapat sanksi-sanksi yang dikenakan sesuai dengan pelanggaran yang pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan iklim kerja, seberapa tinggi motivasi kerja, seberapa tinggi disiplin pegawai, pengaruh iklim kerja terhadap disiplin pegawai, pengaruh motivasi kerja terhadap disiplin pegawai, dan pengaruh antara iklim kerja dan motivasi kerja terhadap disiplin pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Penelitian ini dilakukan di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo pada bulan Januari sampai Februari 2009. Populasi penelitian ini adalah staf Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo yang berjumlah 65 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel total yaitu 65 pegawai. Rancangan penelitian yang dipakai adalah rancangan deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen angket. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif korelasional dengan teknik regresi. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklim kerja di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo berada dalam keadaan kondusif [55,38%], motivasi kerja di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo berada pada kategori tinggi [75,38%], dan disiplin pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo berada pada kategori sangat tinggi [55,38%]. Dari ketiga variabel tersebut, terdapat pengaruh yang signifikan antara iklim dan motivasi kerja terhadap disiplin pegawai di kantor Dinas Pendidikan kota Proboliggo, karena dari hasil pengujian hipotesis menggunakan uji F diperoleh data Fhitung = 35,168, Ftabel (2 ; 62 ; 0,05)= 3,145 dengan Probabilitas (Sig.) = 0,000. Hal ini dapat dilihat bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,000 < 0,05. dan Fhitung (35,168) > Ftabel (2 ; 62 ; 0,05) (3,145). Sehingga Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya, jika terdapat perubahan variabel x1, x2 secara serentak (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan y. Dari hasil penelitian tersebut, membuktikan bahwa Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo berjalan sesuai dengan kriteria-kriteria organisasi yang maju. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi kepala dinas hendaknya mempertahankan iklim kerja, motivasi kerja, serta disiplin pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo agar tetap baik dan se-bisa mungkin untuk kedepannya lebih baik lagi dari sekarang. Untuk Jurusan Administrasi Pendidikan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai iklim kerja, motivasi kerja, serta disiplin pegawai. Untuk peneliti lain hendaknya melakukan penelitian dengan kajian sejenis dengan mengkaji variabel lain.

Pelasanakan strategi periklanan dan hubungan masyarakat pada kantor pelajaran pajak pratama Malang Selatan / Rantansari Mayangsoka

 

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan merupakan Kantor Pelayanan Pajak yang masuk dalam lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur III dan berkedudukan di bawah Departemen Keuangan secara tidak langsung. KPP Pratama Malang Selatan merupakan KPP Modern yang telah menggabungkan Pajak Penghasilan Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Bumi Bangunan. Untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar pajak maka dilakukanlah kegiatan promosi. Kegiatan promosi merupakan suatu hal yang tidak boleh diabaikan oleh suatu perusahaan tau organisasi. Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Mengetahui bagaimana pelakasanaan periklanan di KPP Pratama Malang Selatan, 2). Mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat pelaksanaan periklanan di KPP Pratama Malang Selatan, 3). Mengetahui apa manfaat pelakasanaan periklanan di KPP Pratama Malang Selatan. Pemilihan iklan sebagai salah satu media promosi yang digunakan dikarenakan iklan dapat menyebarluaskan informasi kepada masyarakat dengan bentuk yang menarik dikarenakan menggunakan berbagai macam media periklanan dan diharapkan dapat mempengaruhi dan menggugah kesadaran masyarakat agar sadar akan pentingnya membayar pajak. Media periklanan yang digunakan seperti media cetak, media elektronik, media luar ruangan, dan media lini bawah. Sedangkan penggunaan humas sebagai media promosi dikarenkan humas membutuhkan biaya relatif sedikit, bila dibandingkan dengan menggunakan iklan dalam promosi selain itu humas dapat langsung berhubungan dengan masyarakat sehingga dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya membayar pajak. Kegiatan humas yang dilakukan seperti mengadakan seminar-seminar untuk mensosialisasikan program perpajakan. Berdasarkan hasil penulisan ini dapat disarankan pada KPP Pratama Malang Selatan agar meningkatkan kegiatan periklanan dan hubungan masyarkat dalam rangka mensosialisasikan program perpajakan pada masyarakat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |