Analisis bangunan tahan gempa dengan respon riwayat waktu dan grafik respon spektra (studi kasus: bangunan Fakultas Ilmu Sosial UM) / Didit Angga Prasetiyo

 

ABSTRAK Prasetiyo, Didit. 2016. Analisis Bangunan Tahan Gempa dengan Respon Riwayat Waktu dan Grafik Respon Spektra (Studi Kasus: Gedung Fakultas Ilmu Sosial UM).Skripsi. JurusanTeknikSipil, FakultasTeknikUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. B. Sri Umniati, M.T., (II) Ir. Edi Santoso, M.T. Kata kunci:Bangunan Tahan Gempa, Respon Riwayat Waktu, Grafik Respon Spektra. Indonesia merupakandaerah yang rawanakanbencanagempabumi. Hal inidikarenakanposisigeografis Indonesia yang beradapadapertemuanlempeng-lempeng yang aktifyaitulempeng Australia, Eurasia danPasifik. Salah satupenyebabadanyakegagalanstrukturbangunangedungadalahbebanhorizontal (lateral) padastruktur atau beban gempa.maka diperlukan adanya perencanaan struktur bangunan tahan gempa. Tujuanpenulisanpenelitianiniadalahmelakukananalisisstrukturgedungbetonbertulangdengandinding gesermenggunakansistem strukturSRPMMdanmembandingkanhasilanalisismenggunakan metodeanalisisdinamikriwayatwaktudangrafikresponspektra. Analisis respon riwayat waktumenggunakan rekamangempaHelena Montana, Imperial Valley, Kern County dan El Alamo. Strukturgedung yang akandianalisisadalahBangunan Fakultas Ilmu Sosial Univesitas Negeri Malang dengankondisitanahsedang. Hasilpenelitian ini adalah persentase perbedaan respon struktur dengan respon riwayat waktu dan grafik respon spektra pada gedung yang diperoleh hasil persentase perbedaan displacement terbesarpada arah X maksimum 10,68% pada gempa rencana Helena Montana, story drift terbesar pada arah Y yaitu 32,91 % pada gempa rencana El Alamo, dan perbedaan base shear terbesar pada arah X yaitu 16,86 % pada gempa rencana Helena Montana. Gedung memenuhi syarat pada kontrol kinerja gedung ultimit dengan SNI 1726:2012. Menurut ATC-40 gedung masuk dalam kategori Immediate Occupancy. Nilai kekuatan struktur bangunan pada gempa skala masukan mampu menahan gempa kurang dari 7,93 SR.

Survei minat siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SNK Negeri 3 Malang / Adri Jukhairsyah

 

ABSTRAK Jukhairsyah, Adri. 2016. Survei Minat Siswa Terhadap Kegiatan Ekstrakurikuler Olahraga di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd., M.Pd, (2) Fahrial Amiq, S.Or., M.Pd. Kata Kunci: Minat, Kegiatan Ekstrakurikuler Olahraga, SMK Negeri 3 Malang. Upaya sekolah dalam membentuk karakter peserta didik dapat dilakukan di dalam dan di luar lingkungan sekolah. Salah satu yang dapat dilakukan sekolah dengan cara memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Berdasarkan hasil wawancara pada wakil bidang kesiswaaan yang dilakukan pada tanggal 13 Januari 2016, ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh peserta didik salah satunya kegiatan ekstrakurikuler olahraga. Adapun kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolah bertujuan untuk mewadahi minat dalam bidang olahraga dan untuk memperoleh prestasi maksimal. Selain itu juga berdasarkan hasil wawancara tersebut prestasi bidang olahraga di SMK Negeri 3 Malang masih tergolong rendah. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana minat siswa SMK Negeri 3 Malang terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pada penelitian ini sampel yang diambil 13% dari jumlah populasi sebanyak 421 orang, sedangkan penentuan sampel dengan menggunakan teknik cluster sample (sampel kelompok), dengan tujuan agar subjek penelitian tidak terpusat pada kelompok tertentu. Berdasarkan ketentuan yang telah dipaparkan, jumlah sampel penelitian ini sebanyak 52 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMK Negeri 3 Malang mempunyai minat terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga, ini dapat dilihat dari hasil persentase sebesar 73%. Sedangkan dari beberapa indikator minat antara lain, sub variabel perasaan siswa SMK Negeri 3 Malang terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga diperoleh data sebesar 64%, sub variabel perhatian siswa SMK Negeri 3 Malang terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga dengan data sebesar 66%, dan sub variabel kebutuhan siswa SMK Negeri 3 Malang terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga dengan data sebesar 89%. Simpulan penelitian ini adalah minat siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMK Negeri 3 Malang termasuk dalam kategori baik. Dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan, peneliti memberikan saran kepada pihak sekolah, terutama guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan agar lebih memperhatikan dan mengidentifikasi kebutuhan peserta didik sehingga dapat menempatkan peserta didik pada kegiatan ekstrakurikuler olahraga sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Perbedaan return, risiko, trading volume activity, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 / Muhammad Maliki A.

 

Kata kunci: stock split, return, risiko, trading volume activity, bid-ask spread. Harga saham yang terlalu rendah sering diartikan kinerja perusahaan kurang baik. Akan tetapi, jika harga saham terlalu tinggi, maka akan mengurangi kemampuan investor dalam membeli saham tersebut, sehingga saham yang bersangkutan menjadi tidak liquid dan memiliki risiko yang besar. Stock split akan menggeser harga saham ke dalam rentang harga saham tertentu yang dianggap optimal, sehingga diharapkan investor dapat lebih aktif bertransaksi dan akhirnya meningkatkan likuiditas saham. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi dan perbedaan actual return, abnormal return, beta, standar deviasi, trading volume activity, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split. Oleh karena itu, metode penelitian ini menggunakan event study berupa stock split. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia yang melakukan stock split pada periode 2006-2008 sebanyak 21 perusahaan. Sampel penelitian yang diperoleh sebanyak 16 perusahaan menggunakan metode purposive sampling atau sampel bertujuan dengan kriteria hanya melakukan stock split sekali, tidak melakukan corporate action lain, dan bukan merupakan perusahaan berjenis Persero. Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang berupa uji normalitas distribusi masing-masing variabel dengan menggunakan kolmogorof-smirnov test. Jika data terdistribusi dengan normal, maka alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah paired sample test. Jika data tidak terdistribusi normal, maka alat yang digunakan adalah wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa actual return sebelum stock split mengalami penurunan, namun sesudah stock split mengalami kenaikan. Pergerakan abnormal return sebelum stock split mengalami penurunan, namun sesudah stock split mengalami kenaikan. Terjadi penurunan beta dari sebelum hingga sesudah stock split. Terjadi penurunan standar deviasi dari sebelum hingga sesudah stock split. Pergerakan trading volume activity sebelum stock split mengalami penurunan, namun sesudah stock split mengalami kenaikan. Pergerakan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split sama-sama mengalami kenaikan. Terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return dan TVA sebelum dan sesudah stock split. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada actual return, beta, standar deviasi, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split. Penemuan variabel lain yang terpengaruh oleh stock split dapat ditambahkan dalam penelitian selanjutnya, sehingga dapat memperkaya dan memperdalam wawasan mengenai peristiwa pemecahan saham (stock split).

Pengaruh pemakaian jenis spark plug dan variasi putaran mesin terhadap daya dan konsumsi bahan bakar pada motor bensin Honda Beat PGM-FI / Bagus Wiardi Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Bagus Wiardi. 2016. Pengaruh Pemakaian Jenis Spark Plug Dan Variasi Putaran Mesin Terhadap Daya Dan Konsumsi Bahan Bakar Pada Motor Bensin Honda Beat PGM-FI. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Paryono, S.T., M.T. (2) Drs. Partono, M.Pd. Kata Kunci: Variasi Spark Plug, Daya Mesin, Konsumsi Bahan Bakar. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor nasional tumbuh 1,2% dari 7.771.014 unit pada 2013 menjadi 7.867.195 unit pada 2014.Hal ini membutuhkan upaya yang serius untuk menekan tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor serta membutuhkan upaya penghematan bahan bakar.Selain dituntut untuk menekan tingkat konsumsi bahan bakar sebuah kendaraan bermotor juga harus memiliki daya yang tinggi. Ada beberapa hal yang mempengaruhi daya sebuah kendaraan bermotor antara lain : (1) Bahan Bakar, (2) Tekanan Kompresi, (3) Pengapian. Pada sistem pengapian komponen yang paling berperan penting adalah spark plug. Penelitian ini merupakan peneltian eksperimental. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasy Eksperiment Design. Penelitian ini menggunakan variasi spark plugyang terdiri dari : Spark Plug Standart, Spark Plug Platinum, dan Spark Plug Iridium. Pengujian dilakukan pada putaran 2000 rpm sampai 5000 rpm dengan rentan 500 rpm untuk melihat pengaruh pemakaian variasi spark plug terhadap daya dan konsumsi bahan bakar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan penggunaan variasi spark plug terhadap daya.Kenaikan daya berbanding lurus dengan kenaikan rpm mesin. Pada rpm 5000 daya maksimal yang dihasilkan oleh spark plug standart sebesar 7,2382 HP. Sementara itu pada rpm 5000 daya maksimal yang dihasilkan oleh spark plugplatinum sebesar 7,467 HP. Sedangkan daya maksimal yang dihasilkan oleh spark plug iridium pada rpm 5000 sebesar 7,902HP.Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan penggunaan variasi spark plug dengan konsumsi.Kenaikan konsumsi bahan bakar berbanding lurus dengan kenaikan rpm mesin. Pada 5000 rpm konsumsi bahan bakar spark plug standart meningkat sebesar 0,3336 kg/jam. Sementara itupada 5000 rpm konsumsi bahan bakar spark plugplatinumsebesar 0,328 kg/jam. Sedangkankonsumsi bahan bakar spark plugiridium pada rpm 5000sebesar 0,343 kg/jam. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensibagi pengguna kendaraan bermotor , bengkel dan industri otomotif.Bagi pengguna kendaraan bermotor disarankan untuk menggunakan spark plug platinum karena spark plug platinum pada kendaraan bermotor dapat meningkatkan daya sebesar 5,63% dan menghemat bahan bakar sebesar 2,3%dari penggunaan spark plug standart. Penelitian ini juga dapat dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnyayang akan melakukan penelitian sejenis. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan meneliti pengaruh penggunaaanspark plug terhadap emisi gas buang khususnya pada sepeda motor injeksi.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode tahun 2007-2009 / Bagoes Galih Satria

 

Kata kunci: Kinerja keuangan, return saham Pada dasarnya investasi adalah membeli suatu aset yang diharapkan di masa datang dapat dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Melihat risiko yang ada maka untuk pengambilan keputusan ekonomi, para investor membutuhkan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi untuk memprediksi kemungkinan pendapatan atau return yang akan diterima di masa yang akan datang. Analisis kinerja perusahaan dapat diamati melalui analisis terhadap rasio keuangan. Rasio yang akan digunakan dalam penelitian ini kinerja keuangan perbankan LDR (Loan to Deposit Ratio), ROA (Return on Asset), ROE (Return on Equity), NPM (Net Profit Margin), dan CAR (Capital Adequacy Ratio), sedangkan tingkat return saham diindikasikan dengan capital gain. Dalam hal ini peneliti ingin memperoleh gambaran tentang pengaruh kinerja keuangan perbankan (LDR, ROA, ROE, NPM dan CAR) terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode tahun 2007-2009. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan dari perusahaan perbankan yang listing di BEI. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah regresi berganda, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis dengan dukungan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan perbankan secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Kinerja keuangan perbankan yang meliputi LDR, ROA, ROE, NPM dan CAR secara simultan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan signifikansi 0,767 lebih besar dari 0,05. Sedangkan variabel LDR mempunyai pengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan perbankan. Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan maka saran yang dapat diajukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Bagi investor dalam melakukan investasi agar mendapat return saham yang lebih optimal sebaiknya memperhatikan faktor kinerja keuangan perusahaan, (2) Bagi emiten berusaha meningkatkan kinerja keuangan perusahaan seoptimal mungkin agar kinerja keuangan bisa dijadikan acuan untuk penilaian investasi, (3) Bagi kalangan akademis hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi tentang analisis return saham melalui pendekatan rasio keuangan, (4) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya mengembangkan variabel kinerja keuangan terhadap return saham dengan menambah rasio lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini serta mengembangkan pada perusahaan lain dan pada periode yang lebih panjang sehingga mendapat hasil yang lebih akurat.

Pengaruh model pembelajaran peta pikiran vs studi lapangan, dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar kognitif dan keterampilan menulis karya ilmiah geomorfologi mahasiswa pendidikan geografi / Ignasius Suban Angin

 

ABSTRAK Angin, Ignasius Suban, 2016, Pengaruh Model Pembelajaran Peta Pikiran Vs Studi Lapangan dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Menulis Karya Ilmiah Geomorfologi Mahasiswa Pendidikan Geografi, Disertasi. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (III) Dr. Wasis Djoko Dwiyogo, M.Pd. Kata kunci: model pembelajaran peta pikiran, studi lapangan, motivasi berprestasi, hasil belajar kognitif, kemampuan menulis karya ilmiah makalah, geomorfologi. Model pembelajaran peta pikiran merupakan salah satu model alternatif yang efektif dan efisien bagi mahasiswa Pendidikan Geografi dalam memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dalam pembelajaran geomorfologi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menguji perbedaan hasil belajar kognitif mahasiswa yang difasilitasi model pembelajaran berbasis peta pikiran dengan model pembelajaran berbasis studi lapangan, (2) menguji perbedaan hasil belajar kognitif antara mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, (3) menguji ada tidaknya interaksi antara model pembelajarandengan motivasi berprestasi pada hasil belajar kognitif, (4) menguji perbedaan hasil belajar keterampilan menulis karta ilmiah makalah antara mahasiswa yang difasilitasi dengan model pembelajaran berbasis peta pikiran dan pembelajaran berbasis studi lapangan, (5) menguji perbedaan hasil belajar keterampilan menulis karya ilmiah makalah antara mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, (6) menguji ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi pada hasil belajar keterampilan menulis karya ilmiah makalah. Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen dengan model rancangan nonequivalent control group design yang menggunakan rancangan faktorial 2 2. Subyek penelitian adalah 65 mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi. Data hasil penelitian dilakukan dengan uji MANOVA (Multivariate Analysis of Variance) dan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) hasil belajar kognitif mahasiswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis peta pikiran lebih unggul (rerata 79) dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis studi lapangan (rerata 72), (2) ada perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi (rerata 77) dengan mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah (rerata 74), (3) tidak ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi pada hasil belajar kognitif, (4) penggunaan model pembelajaran berbasis peta pikiran lebih unggul (rerata 76) dibandingkan dengan model pembelajaran berbasis studi lapangan (rerata 75) pada hasil belajar keterampilan menulis karya ilmiah makalah, (5) ada perbedaan hasil belajar keterampilan menulis karya ilmiah makalah yang signifikan antara mahasiswa dengan motivasi berprestasi tinggi (rerata 77) dan mahasiswa dengan motivasi berprestasi rendah (rerata73). dan (6) tidak ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi pada hasil belajar keterampilan menulis karya ilmiah makalah.

Analisis termogravimetrik kinetika reaksi pembakaran sampah campuran organik-anorganik combustible pada variasi heating rate / Lina Bachrotul Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah, Lina Bachrotul. 2016. Analisis Termogravimetrik Kinetika Reaksi Pembakaran Sampah Campuran Organik Anorganik Combustible Pada Variasi Heating Rate. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S.T., M.T., (II) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata Kunci : Analisis termogravimetrik, kinetika reaksi pembakaran, sampah, organik, anorganik, variasi heating rate. Sampah merupakan masalah yang dihadapi oleh Indonesia termasuk kota Malang. Volume sampah semakin bertambah tiap tahunnya, sedangkan pengelolaan sampah yang ada sekarang yaitu di timbun di TPA, dikubur, dikompos, didaur ulang, dibakar dan sisanya tidak terkelola. Disisi lain, ketersediaan bahan bakar fosil di dunia, termasuk Indonesia terus mengalami penurunan dan konsumsinya semakin meningkat. Oleh karenanya, untuk mengatasi permasalahan sampah sekaligus mendapatkan sumber energi, maka sampah di konversi termal pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dekomposisi pembakaran dan energi aktivasi dari sampah campuran organik-anorganik. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sampel sampah dipersiapkan dan kemudian dilakukan pengujian termogravimetrik yang bertujuan untuk mengetahui perubahan berat susut (weight loss) dan laju penurunan berat (rate of mass loss). Penelitian dilakukan terhadap sampah campuran organik-anorganik dengan massa 10 mg dengan udara atmosfer 100 ml/menit serta rentang temperatur 25 - 1000°C pada heating rate 10, 20, 30 dan 40°C/menit. Dari penelitian ini, diketahui dekomposisi pembakaran pada heating rate 10, 20, 30 dan 40°C/menit. Proses pembakaran sampah campuran organik-anorganik terjadi dalam 4 tahap. Proses pembakaran pada heating rate 10°C/menit, tahap pertama terjadi pelepasan kandungan air dan volatil ringan. Tahap kedua terjadi pelepasan volatil serta pembakaran. Tahap ketiga terjadi pembakaran arang. Tahap keempat terjadi pembakaran lambat sisa arang hingga menjadi abu. Proses pembakaran pada heating rate 20, 30 dan 40°C/menit, tahap pertama terjadi pelepasan kandungan air dan sedikit volatil. Tahap kedua terjadi pelepasan volatil serta sedikit pembakaran. Tahap ketiga terjadi pembakaran volatil serta pembakaran arang. Tahap keempat terjadi pembakaran lambat sisa arang hingga menjadi abu. Nilai energi aktivasi telah dianalisis menggunakan dua metode yaitu Flynn Wall Ozawa (FWO) dan Vyazovkin. Nilai energi aktivasi dengan menggunakan metode Flynn Wall Ozawa (FWO) pada tahap 2 sebesar 139.35 kJ/mol dan tahap 3 sebesar 126.39 kJ/mol. Nilai energi aktivasi dengan menggunakan metode Vyazovkin pada tahap 2 sebesar 144.43 kJ/mol dan tahap 3 sebesar 129.79 kJ/mol.

Proses berpikir kreatif siswa kelas VII SMP dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan kemampuan number sense siswa / Endang Ekawati

 

ABSTRAK Ekawati, Endang.2015.Proses Berpikir Kreatif Siswa Kelas VII SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan Kemampuan Number Sense Siswa.Tesis,Prodi Pendidikan Matematika,Pascasarjana,UniversitasNegeriMalang.Pembimbing:(I) Dr.Abdur Rahman As’ari,M.Pd,M.A,(II)Dr.Sisworo, S.Pd., M.Si. KataKunci: kreativitas, proses berpikir kreatif, number sense, pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa berdasarkan kemampuan number sense siswa.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan subjek penelitian adalah tiga siswa (satu siswa dari tiap kelompok kemampuan number sense). Penelitian diawali dengan pemberian tes kemampuan number sense untuk menentukan subjek penelitian. Kemudian dilakukan pemberian masalah matematika dan dilakukan wawancara kepada ketiga subjek untuk menelusuri proses berpikir kreatifnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berkemampuan number sense tinggi mencermati, mengidentifikasi, menilai ketercukupan informasi, dan merumuskan masalah pada langkah memahami masalah. Kemudian pada tahap menghasilkan ide saat memikirkan rencana, subjek menelaah informasi, mengaitkan informasi dengan masalah, membuat dugaan strategi pemecahan dan memikirkan ide/strategi alternatif. Pada tahap mengklarifikasi ide, subjek mencari informasi tambahan dan membandingkan ide-ide. Setelah itu, subjek mencoba menerapkan ide-ide, menggunakan fakta-fakta dan menarik kesimpulan kelayakan ide pada tahap menilai kelayakan ide. Tahap terakhir pada langkah memikirkan rencana adalah membuat keputusan. Tahap ini dilakukan subjek dengan membandingkan ide-ide yang layak, mengidentifikasi kelebihan&kekurangan masing-masing ide dan memilih ide yang paling layak. Kemudian, subjek melaksanakan rencana yang dibuat dengan mengimplementasikan ide yang dipilih, menata konsep/fakta untuk ide lanjutan, menemukan gagasan kunci, menguji gagasan kunci dan mengimplementasikan gagasan kunci. Langkah terakhir adalah melihat kembali yang dilakukan subjek dengan memeriksa langkah pengerjaan dan menguji solusi masalah. Subjek berkemampuan number sense sedang tidak menilai ketercukupan informasi, mencari informasi tambahan mengenai ide, menata fakta untuk ide lanjutan, menemukan gagasan kunci, menguji gagasan kunci, mengimplementasikan gagasan kunci, dan memeriksa langkah pengerjaan. Sedangkan subjek berkemampuan number sense rendah tidak menilai ketercukupan informasi, memikirkan ide alternatif, mencari informasi tambahan mengenai ide, membandingkan ide, mengidentifikasi kelebihan & kelemahan ide, menata fakta untuk ide lanjutan, menemukan gagasan kunci, menguji gagasan kunci dan mengimplementasikan gagasan kunci. Saran yang dapat diajukan berdasarkan penelitian ini adalah guru dapat meningkatkan kemampuan number sensesiswa untuk meningkatkan proses berpikir kreatifnya.

Perancangan iklan layanan masyarakat tentang perlindungan anak dari tindak kekerasan dalam rumah tangga di kota Malang / Angga Naha Dharma Surya

 

Kata Kunci: Perancangan, Iklan Layanan Masyarakat, Perlindungan Anak. Keluarga yang ideal adalah keluarga yang mampu menjalankan fungsi psikologis yaitu memberikan rasa aman, menerima semua anggotanya secara wajar apa adanya, dan memberikan dukungan psikologis sehingga dapat menjadi tempat untuk pembentukan identitas diri. Namun tidak semua keluarga bisa menjalankan fungsi-fungsinya dan membentuk keluarga yang ideal. Kekerasan pada anak (child abuse) adalah tindakan salah atau sewenang-wenang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak, baik secara fisik, emosi maupun seksual. Iklan layanan masyarakat ini bertujuan menciptakan sebuah bentuk desain iklan layanan masyarakat yang mengajak dan mempengaruhi masyarakat dengan mengangkat tema sosial perlindungan anak dari tindak kekerasan untuk menimbulkan kesadaran kepada masyarakat dengan pesan moral akan pentingnya perlindungan hak- hak anak serta menghimbau dan dan merubah perilaku masyarakat untuk peduli terhadap perlindungan anak. Dengan demikian untuk tahap selanjutnya akan menciptakan sebuah lingkungan hidup yang aman dan nyaman sehingga dapat menjadi tempat bertumbuhkembang anak dengan baik karena anak adalah penerus bangsa yang nantinya akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negaranya Salah satu cara dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan ank yaitu melalui suatu perancangan media Iklan Layanan Masyarakat, dimana Iklan Layanan Masyarakat merupakan aktivitas periklanan yang berlandaskan gerakan moral dan mengemban tugas mulia dalam membangun masyarakat melalui pesan-pesan sosial yang dikemas secara kreatif. Sebuah kampanye iklan layanan masyarakat yaitu sekumpulan dari beberapa media yang mengusung pesan yang sama dalam satu konsep.

Tanggapan siswa kelas X tentang media android pada mata pelajaran dasar pola Prograqm Keahlian Butik di SMKN 1 Turen / Ayu Vanydia Meyrisa

 

ABSTRAK Meyrisa, Ayu Vanydia. 2016. Tanggapan Siswa Kelas X Tentang Media Android Pada Mata Pelajaran Dasar Pola Program Keahlian Busana Butik di SMKN 1 Turen . Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Idah Hadijah, M.Pd, (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T. Kata kunci: Tanggapan, Media Android, Mata Pelajaran Dasar Pola. Pembelajaran dasar pola di SMKN 1 Turen dilakukan secara konvensional dengan menggunakan papan tulis, sehingga membuat pembelajaran kurang efektif karena masih banyak siswa yang sering tertinggal saat guru sedang menjelaskan langkah-langkah pembuatan pola dan membuat guru mengulang kembali materi materi tentang dasar pola, oleh karena itu dibutuhkan suatu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah dan efektif. Salah satu media yang dapat digunakan adalah Media android. Media android adalah sebuah aplikasi pembelajaran yang terdapat pada Smartphone,Ipad atau Tablet dengan menggunakan sistem operasi android. Media android telah banyak dikembangkan, salah satunya adalah aplikasi pembelajaran tata busana yang dikembangkan oleh Uswatun Hasanah, S.Kom. Media tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari kendala ruang dan waktu serta membuat pembelajaran lebih flexibel. Menindak lanjuti hasil pengembangan media tersebut peneliti ingin mengetahui tanggapan siswa tentang penggunaan media android pada mata pelajaran dasar pola. Tujuan pada penelitian ini adalah mendeskripsikan tanggapan siswa kelas X tentang media android pada mata pelajaran dasar pola program keahlian busana butik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif . Populasi penelitian ini adalah siswa program keahlian busana butik angkatan 2016/2017 yang sedang menempuh mata pelajaran dasar pola di SMKN 1 Turen. Uji coba angket menggunakan siswa kelas XI program keahlian busana butik yang sudah menempuh mata pelajaran dasar pola berjumlah 15 siswa. Hasil penelitian tanggapan siswa tentang media android pada mata pelajaran dasar pola program keahlian busana butik menunjukkan bahwa responden menilai media android yaitu aplikasi pembelajaran tata busana adalah media yang baik untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal tersebut karena responden menilai media android mempunyai kinerja yang baik sebagai media pembelajaran selain itu mempunyai kelengkapan yang baik dengan adanya fitur kalkulator dan fitur materi, dan media android mempunyai tampilan yang menarik, sesuai dengan tujuan dan materi yang di ajarkan serta mempunyai kualitas sebagai media pembelajaran yang baik. Saran yang diberikan pada penelitian ini yaitu pada fitur kalkulator diperlukan penjelasan langkah-langkah yang jelas tentang pembuatan pola dasar busana, karena kurangnya penjelasan tentang pembuatan pola tersebut membuat beberapa siswa kesulitan dalam memahami dan menggunakan aplikasi pembelajaran tata busana dan menambahkan sistem Soen pada fitur kalkulator. Karena sama dengan yang diajarkan di dalam kelas Pada fitur materi terdapat macam-macam lengan, macam-macam lingkar leher, cara memindahkan lipit dan cara mengukur tubuh, sehingga perlu ditambahakan materi-materi tentang pembuatan pola misalnya materi macam-macam rok dan grading busana. Aplikasi pembelajaran tata busana belum di implementasikan untuk mengetahui hasil pembuatan pola menggunakan aplikasi tersebut, oleh karenanya disarankan melakukan pengujian untuk mengetahui hasil implementasi aplikasi pembelajaran tata busana dalam membuat pola dasar busana

Penerapan pembelajaran matematika melalui model reciprocal teaching untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Pakisaji Malang / Ria Dian Paranti

 

Kata kunci: model pembelajaran Reciprocal Teaching, hasil belajar Paradigma pendidikan saat ini mengalami perubahan.Salah satu akibatnya, proses pembelajaran juga berubah. Proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa di mana siswa terlibat langsung untuk menggali pengetahuan baru. Untuk itudiperlukan suatu variasi model pembelajaran yang sesuai agar siswa merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada saat wawancara dengan guru matematika di SMP Negeri 1 Pakisaji Malang, pembelajaran untuk pokok bahasan bangun ruang sisi datar menggunakan metode ceramah.Siswa tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi dan ketika dilakukan evaluasi, banyak siswa yang tidak berhasil mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan persentase siswa yang mendapatkan nilai ulangan matematika nilai diatas 70 hanya 46,7%. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas SMP Negeri 1 Pakisaji Malang pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar melalui penerapan model pembelajaran Reciprocal Teaching. Dalam model pembelajaran Reciprocal Teaching, diterapkan empat strategi pemahamanya itu memprediksi, mengklarifikasi, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, dan merangkum bahan ajar. Pada kegiatan akhir, guru mengevaluasi pembelajaran untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari melalui tes tertulis. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat melalui model pembelajaran Reciprocal Teaching. Hal ini didukung dengan hasil tes yang dilaksanakan pada akhir siklus. Persentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai minimal 70 adalah 90%. Padahal pada saat ulangan dengan metode ceramah siswa yang mendapat nilai minimal 70 hanya 46,7%. Hal ini berarti hasil belajar siswa meningkat sebesar43,3%.

Communication strategies employed by ELT students across genders at Universitas Negeri Malang / Yusparizal

 

ABSTRAK Yusparizal. 2016. Strategi Komunikasi Yang Digunakan Oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Laki-laki dan Perempuan di Universitas Negeri Malang. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd., (2) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan oleh mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris laki-laki dan perempuan di Universitas Negeri Malang dan persepsi mereka terhadap penggunaan strategi komunikasi tersebut dalam komunikasi lisan. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan menjadi pembahasan dalam penelitian ini sebagai sebuah usaha untuk mengembangkan pengetahuan tentang penggunaan strategi komunikasi dan bagaimana penemuan penelitian ini nantinya mampu membantu mereka untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini berjumlah 24 mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 12 mahasiswi dan 12 mahasiswa. Data utama dari penelitian ini adalahu ucapan para mahasiswi dan mahasiswa yang didapatkan dengan cara mengadakan diskusi kelompok di dalam kelas dengan memberikan berbagai topik kepada mereka. Ada duabelas strategi komunikasi yang diamati dalam penelitian ini. Strategi komunikasi tersebut diusulkan oleh Dornyei (1995). Strategi komunikasi tersebut adalah (1) message abandonment, (2) topic avoidance, (3) circumlocution, (4) approximation, (5) use of all-purpose words, (6) word coinage, (7) use of non-linguistic signal, (8) literal translation, (9) foreignizing, (10) code switching, (11) appeal for help, dan (12) time gaining strategy. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa baik mahasiswi maupun mahasiswa sama-sama hanya menggunakan 10 dari 12 strategi komunikasi yang diajukan oleh Dornyei (1995). Para mahasiswi menggunakan approximation 37 kali (35.2%), time gaining 26 kali (24.8%), message abandonment 9 kali (8.6%), use of all-purpose words 8 kali (7.6%), literal translation 7 kali (6.7%), circumlocution 4 kali (3.8%), use of non-linguistic signal 4 kali (3.8%), code switching 4 kali (3.8%), topic avoidance 3 kali (2.9%), dan appeal for help 3 kali (2.9%). Di sisi lain, para mahasiswa menggunakan approximation 47 kali (32.4%), time gaining 44 kali (30.3%), use of all-purpose words 19 kali (13.1%), code switching 10 kali (6.9%), message abandonment 9 kali (6.2%), appeal for help 5 kali (3.4%), topic avoidance 4 kali (2.8%), literal translation 3 kali (2.1%), circumlocution 2 kali (1.4%), dan use of non-linguistic signal 2 kali (1.4%). Para mahasiswi dan mahasiswa sama-sama setuju bahwa strategi komunikasi sangat bermanfaat dalam membantu mereka untuk mengatasi kesulitan saat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, membantu untuk berunding dengan lawan bicara, untuk meningkatkan efektivitas komunikasi, dan untuk menyelesaikan masalah guna mencapai tujuan dalam berkomunikasi. Untuk para peneliti yang ingin melaksanakan penelitian di bidang yang sama, sangat dianjurkan untuk meneliti strategi komunikasi yang digunakan oleh penutur asli Bahasa Indonesia terhadap penutur asli Bahasa Inggris atau melakukan penelitian eksperimen untuk melihat dampak pelatihan strategi komunikasi terhadap peningkatan kemampuan berbicara mahasiswa. Kata kunci: strategi komunikasi, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, laki-laki dan perempuan, Universitas Negeri Malang

Depresi pasca persalinan pada ibu di Kecamatan Kota Bojonegoro / Rakhma Inandya Herlinawati

 

ABSTRAK Herlinawati, Rakhma, Inandya.2008. Depresi Pasca Persalinan Pada Ibu Di Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Psi, (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si Kata Kunci: depresi, pasca persalinan, ibu Depresi pasca persalinan adalah gangguan emosional yang ditandai oleh emosi yang labil, cemas, trauma dan stres, penurunan kesenangan minat dan kesenangan, penurunan atau penambahan berat badan, insomnia atau hiperinsomnia, agitasi yang berlebihan, mudah lelah, merasa tidak berharga, mudah bersalah, kurang konsentrasi, dan adanya pikiran untuk bunuh diri atau membunuh bayinya yang ditemukan pada wanita pasca persalinan, biasanya mulai terjadi pada empat minggu pertama pasca persalinan, jika tidak diatasi maka dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan sampai menahun. Depresi pasca persalinan ini disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial, keadaan atau kualitas bayi yang tidak diharapkan, ketidaksiapan menjadi ibu, stresor psikososial, riwayat depresi dan faktor budaya. Fokus dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya depresi pasca persalinan yang ditampakkan melalui gejalagejala depresi pasca persalinan serta mengetahui faktor-faktor penyebab depresi pasca persalinan pada empat ibu di Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Penelitian depresi pasca persalinan ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Waktu penelitian diadakan pada bulan Agustus sampai awal Nopember 2008. Penentuan subyek dilakukan dengan teknik snowball sampling. Kriteria subyek penelitian yaitu ibu pasca persalinan, melahirkan anak pertama, memiliki rentangan usia 20-30 tahun, usia perkawinan tidak lebih dari 2 tahun, usia persalinan tidak lebih dari 3 bulan, bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Kota Kabupaten Bojonegoro. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi tersamar, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan analisis data kualitatif dengan mengolah data, reduksi data, kodifikasi, pemeriksaan keabsahan data melalui triangulasi sumber yaitu mengkonfirmasikan data yang didapat dari subyek primer dengan subyek sekunder, menyesuaikan hasil wawancara dan observasi berdasarkan teori depresi pasca persalinan, menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala-gejala depresi pasca persalinan berupa perasaan depresi, penurunan minat dan kesenangan, penambahan berat badan, insomnia, agitasi berlebihan, mudah lelah, merasa tidak berharga, mudah merasa bersalah, dan kurang konsentrasi ditunjukkan pada subyek Ny.Nindya, Ny.Yuyun, Ny.Pujiati, dan Ny.Lestari kecuali pada Ny.Yuyun menunjukkan gejala depresi pasca persalinan berupa penurunan berat badan dan pada Ny. Pujiati tidak menunjukkan adanya gejala depresi pasca persalinan berupa agitasi yang berlebihan, mudah merasa bersalah, serta kurang konsentrasi. Faktor penyebab depresi pasca persalinan yang berupa kurangnya dukungan sosial hanya dialami oleh Ny. Nindya sedangkan faktor penyebab depresi pasca persalinan berupa keadaan atau kualitas bayi, ketidaksiapan menjadi ibu, stresor psikososial, adanya riwayat depresi sebelumnya, faktor budaya dialami oleh Ny.Nindya, Ny.Yuyun, Ny.Pujiati, dan Ny.Lestari, kecuali faktor penyebab depresi pasca persalinan yang berupa stresor psikososial tidak dialami oleh Ny.Yuyun.

Pengembangan media pembelajaran interaktif penerapan ragam hias pada bahan tekstil berbasis Adobe Flash untuk SMP Negeri 02 Malang kelas VII / Briliana Kurnia Rizki

 

ABSTRAK Rizki, Briliana Kurnia. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Penerapan Ragam Hias Pada Bahan Tekstil Berbasis Adobe Flash Untuk SMP Negeri 02 Malang Kelas VII.Skripsi, JurusanSenidanDesain,FakultasSastra,UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dra Hj. Purwatiningsih,M.Pd., (II) Drs. AAG Rai Arimbawa, M.Sn. Kata Kunci: Pengembangan,Media Interaktif, Ragam Hias, Adobe Flash Suatu pembelajaran akan berjalan dengan efektif bila guru memiliki kualitas mengajar yang baik serta memilki kemampuan yang sesuai di bidangnya. Namun bukan berarti seorang guru yang tidak memiliki kemampuan yang sesuai tidak diperbolehkan untuk mengajar. Hanya saja, pembelajaran tersebut akan mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Untuk mengimbangi hal tersebut maka perlu adanya variasi dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal tersebutlah yang ditemukan pada SMP Negeri 02 Malang. Guru Seni Budaya kelas VII SMP Negeri 02 malang merupakan lulusan Seni Tari. Selain itu ditemukan siswa yang kurang paham dengan materi Ragam hias yang berada di kelas VII. Hal tersebut yang diangkat dalam penelitian dan pengembangan ini sehingga peneliti tergerak untuk membuat sebuah pengembangan berupa media interaktif untuk membantu jalannya proses pembelajaran.Penelitiandan pengembangan inidilaksanakandengantujuanuntukmembantu siswa belajar secara mandiri dan menumbuhkan minat siswa terhadap pelajaran Seni Rupa. Penelitiandan pengembangan inimengadopsimodel pengembangan milik Sugiyono.Tahap yang dilakukan dikelompokkan menjadi lima bagian yaitu tahap persiapan, tahap pengembangan, tahap validasi, tahap penyempurnaan produk, dan tahap uji coba produk. Metode yang digunakanuntukmenjaring data adalahmetodeobservasidankuisioner.Subjek uji coba dalam penelitian dan pengembangan ini adalah dua orang ahli media yaitu bapak Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T. dan bapak Andreas Syah Pahlevi, S.Sn, M.Sn., dua orang ahli materi yaitu ibu Dra. Hj. Ida Siti Herawati M.Pd. dan ibu Ike Ratnawati, S.Pd, M.Pd, dan dua puluhsiswa kelas VII SMP Negeri 02 Malang. Produk yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa media interaktif yang dikemas dalam bentuk CD. Produk yang dihasilkan berisi tentang materi ragam hias, teknik penerapan ragam hias pada tekstil, video dan games yang telah disesuaikan dengan isi materi dalam media. Data yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa data kuantitatif deskriptif. Persentase kevalidan yang diperoleh dari ahli media sebesar 86,25%, dari ahli materi sebesar 88,3%, dan dari kelompok kecil sebesar 95,9%. Dengan persentase yang telah diperoleh tersebut, produk penelitian dan pengembangan berupa media interaktif ini termasuk dalam kategori sangat layak digunakan. Pengembangan media interaktif yang dihasilkan ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan dan sumber inspirasi dalam mengembangkan media yang lebih baik. Disarankan produk ini dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh semua pihak yang membutuhkan media penerapan ragam hias pada bahan tekstil.

Pengaruh model pembelajaran Training Within Industry (TWI) dan pengalaman praktik kerja industri terhadap motivasi serta kesiapan kerja bidang teknik bubut siswa SMK Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan se-kabupaten Gresik / Tulus Budi Hartoyo

 

ABSTRAK Hartoyo, Tulus Budi. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Training Within Industry (TWI) danPengalamanPraktikKerjaIndustriterhadapMotivasisertaKesiapanKerjaBidangTeknikBubutSiswa SMK KompetensiKeahlianTeknikPemesinanSe-Kabupaten Gresik. Tesis, Program StudiPendidikanKejuruan, Pascasarjana, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing I: Prof. Dr. Mardji, M. Kes,Pembimbing II: Dr. Ahmad Dardiri, M. Pd. Kata Kunci: model TWI, prakerin, motivasimasukduniakerja, kesiapankerja Tujuanpendidikankejuruanadalahmempersiapkanlulusannyauntuksiapbekerjasesuaidengankompetensikeahliantertentu. Kesiapankerjaadalahkondisi yang menggambarkansiswadapatlangsungbekerjasetelahlulustanpamemerlukanmasapenyesuaiandiripadaduniakerja. Lulusandikatakansiapkerjajikamemilikikemampuanhard skilldansoft skill yang seimbang.Untukmengetahuikesiapantersebutdalampenelitianiniakandikaji: (1) pengaruhsecarasimultandanparsialmodel Training Within Industry (TWI) danpengalamanpraktikkerjaindustriterhadapmotivasimasukduniakerja, (2) pengaruhsecarasimultandanparsialmodel TWI, pengalamanpraktikkerjaindustridanmotivasimasukduniakerjaterhadapkesiapankerjabidangteknikbubutsiswa SMK. Penelitianinidikategorikansebagaiexplanatory research yang bersifat non experimental denganrancanganCross sectional ex-post facto.Populasidalampenelitiansebanyak 462 siswa. Sampeldalampenelitianiniberjumlah 214 siswa yang ditetapkansecaraproporsional random sampling. Pengumpulan data menggunakanteknikkuesionerdandokumentasi. Teknikanalisis datadigunakananalisisjalur(path analysis)dengansignifikasi 0,05. Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa: (1) terdapatpengaruhsignifikansecarasimultanantara model pembelajaranTWI danpengalamanpraktikindustrikerjaterhadapmotivasimasukduniakerja, (2) terdapatpengaruhsignifikanantara model pembelajaranTWI terhadapmotivasimasukduniakerja, (3)terdapatpengaruhsignifikanantarapengalamanpraktikkerjaindustriterhadapmotivasimasukduniakerja, (4) terdapatpengaruhsignifikansecarasimultanantara model pembelajaran TWI, pengalamanpraktikkerjaindustri, danmotivasimasukduniakerjaterhadapkesiapankerja, (5) tidakterdapatpengaruhsignifikanantara model pembelajaranTWI terhadapkesiapankerja, (6) terdapatpengaruhsecarasignifikanantarapengalamanpraktikkerjaindustriterhadapkesiapankerja, (7) terdapatpengaruhsecarasignifikanantaramotivasimasukduniakerjaterhadapkesiapankerjabidangteknikbubutsiswa SMK.

Efektivitas teknik modeling simbolis (Symbolic model) sebagai upaya peningkatan penerimaan diri siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pakong Kabupaten Pamekasan / Iswatun Hasanah

 

Kata kunci: modeling simbolis, teknik pemodelan, penerimaan diri. Dalam rangka mencapai salah satu tujuan bimbingan yakni penerimaan diri dibutuhkan pendekatan pribadi dengan menggunakan berbagai teknik dan media bimbingan. Salah satu teknik bimbingan yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan penerimaan diri pada remaja yaitu melalui penggunaan “Teknik Modeling Simbolis (Symbolic Model)”. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMAN 1 Pakong, diketahui bahwa siswa-siswa memiliki penerimaan diri rendah, indikatornya adalah mengeluhkan kondisi fisik dan lingkungannya, sehingga siswa- siswa kesulitan dalam bergaul dan kurang memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas teknik modeling simbolis terhadap peningkatan penerimaan diri siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksprimen semu, dengan desain non randomized pretest and posttest control group. Adapun prosedur penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan meliputi observasi, pengurusan ijin penelitian, penyusunan instrumen, dan uji coba instrumen skala penerimaan diri dengan hasil 36 item valid serta reliabel. Tahap kedua yaitu seleksi subjek dan diperoleh subjek penelitian 23 siswa yang memiliki penerimaan diri rendah dengan pembagian 12 siswa dikelompokkan dalam kelas eksperimen dan 11 siswa dalam kelas kontrol dengan teknik purposive sampling. Tahap ketiga yaitu pelaksanaan pemberian treatment berupa tayangan film Ice Age II, Coraline, The Nutty Professor, Ekskul, dan video olimpiade cacat pada kelas eksperimen tanpa pengendalian kelas kontrol, tujuannya untuk melihat pengaruh teknik modeling simbolis berupa tayangan film dan video terhadap peningkatan penerimaan diri siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kovarians (ANCOVA) antar hasil uji akhir dengan menggunakan hasil uji awal sebagai kovariabel. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan uji ANCOVA dapat disimpulkan bahwa teknik modeling simbolis efektif untuk meningkatkan penerimaan diri pada siswa kelas XI SMAN 1 Pakong dengan nilai capaian sebesar 2.875. Dari nilai capaian dapat diketahui bahwa kelas kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan berupa penayangan film, skor penerimaan dirinya lebih rendah 2.875. Kesimpulan penelitian ini adalah teknik modeling simbolis efektif untuk meningkatkan penerimaan diri siswa kelas XI SMAN 1 Pakong Kabupaten Pamekasan. Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi konselor dan peneliti selanjutnya yaitu hendaknya melakukan assesment mengenai film yang diminati oleh siswa dengan tetap memperhatikan perilaku yang ingin diubah sebelum melakukan kegiatan treatment.

Pengembangan bahan ajar struktur atom dan sistem periodik unsur untuk SMA kelas X semester I / Funce Foa Mangar

 

Mangar, Funce Foa. 2013. Pengembangan bahan ajar struktur atom dan sistem periodik unsur untuk siswa SMA kelas X semester I. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M. S, (II) Nani Farida, S.Si, M.Si Kata Kunci: bahan ajar, Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kualitas pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan pembelajaran yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas hasil belajar di SMA adalah minimnya bahan ajar yang digunakan, terutama dalam pembelajaran kimia. Oleh karena itu, penulis mengembangkan bahan ajar kimia pada materi Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada 10 langkah Borg dan Gell. Namun karena keterbatasan waktu dalam penelitian ini, langkah yang di lakukan hanya sampai pada langkah ketiga, yaitu: (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan pengembangan bahan ajar, dan (3) pengembangan produk awal. Validasi isi dilakukan oleh satu orang dosen kimia UM, dan satu orang mahasiswa S2. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis nilai rata-rata. Hasil penelitian pengembangan adalah (1) bahan ajar hasil pengembangan dengan judul struktur atom dan sistem periodik unsur untuk SMA tersusun dari sampul, kata pengantar, kompetensi, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, gambar, t, suplemen materi, soal evaluasi, kunci jawaban, dan daftar pustaka. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari empat Kegiatan Belajar dengan rincian Kegiatan Belajar I (Perkembangan Tabel Periodik Unsur), II (Struktur Atom), III (sifat fisik dan sifat kimia unsur dan sifat keperiodikan unsur), IV (Perkembangan Teori Model Atom). (2) Bahan hasil validasi diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,7 berarti bahan ajar tergolong sangat layak untuk digunakan.

Kerajinan gerabah Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, NTB / Muh. Helmi

 

ABSTRAK Helmi, Muh. 2016. Kerajinan Gerabah Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Skripsi, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd. Kata Kunci: Kerajinan, Gerabah, Banyumulek Kerajinan keramik gerabah merupakan kerajinan yang telah lama dikenal Masyarakat Indonesia. Salah satu sentra kerajinan keramik gerabah di Pulau Lombok, NTB, terletak di Desa Banyumulek. Produk keramik gerabah Banyumulek dikenal memiliki berbagai macam fungsi dan bentuk. Belum banyak penelitian tentang proses dan bentuk desain keramik gerabah Banyumulek, maka dari itu peneliti tertarik untuk mengkaji dalam sebuah penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal tentang kerajinan keramik gerabah di Desa Banyumulek, yaitu mencakup (1) Proses pembuatan keramik gerabah di Desa Banyumulek. (2) Desain struktural ragam hias keramik gerabah di Desa Banyumulek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data berupa kata-kata, hasil karya dan tindakan dalam proses berkarya keramik gerabah. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Tahapan alisis data dimulai dari tahap reduksi, paparan dan penarikan kesimpulan. Kemudian dilakukan trianggulasi sumber data untuk menjaga keabsahan data. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, kategorisasi, sintesisasi dan menyusun hipotesis kerja. Hasil analisis data menggambarkan bahwa, (1) Proses pembuatan keramik gerabah di Desa Banyumulek adalah pembentukan, pembakaran dan dekorasi. Contoh produk keramik gerabah yang dihasilkan adalah asbak, kendi, tempayan atau gentong, kap lampu, hiasan dinding dan peralatan rumah tangga. (2), Desain struktural ragam hias dan dekorasi keramik gerabah di Desa Banyumulek. Bentuk keramik gerabah di Banyumulek kebanyakan berbentuk geometrik yaitu lingkaran pada dasar bentuk keramik gerabah. Para pengrajin masih menggunakan meja putar manual.Ukuran yang dihasilkan bervareatif bentuknya, dari yang ukuran kecil 6 cm sampai dengan ukuran besar 1 meter. Desain dekorasi pada keramik gerabah di Banyumulek menggunakan teknik pillin tempel, pincing, slab dan teknik gores. Dekorasi dilakukan setelah pembakaran menggunakan cat. Cat tembok, cat minyak dan mowilex. Teknik yang diterapkan adalah teknik tempel, teknik gores, teknik anyaman, dan lukis (engobe). Dekorasi yang menjadi ciri khas keramik gerabah di Desa Banyumulek adalah menggunakan tekni lukis gerabah dengan mengunakan cat tembok (engobe) dan menggunakan teknik anyam dengan bahan rotan. Motif yang digunakan untuk dekorasi adalah bentuk geometris dan non geometris.

Analisis regresi komponen utama terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi anatara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (Studi kasus di RSU Dr. Saiful Anwar Malang) / Asfiati

 

Kata kunci : regresi linear berganda, multikolinearitas, regresi komponen utama, variabel dummy. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis hubungan linear antara dua atau lebih variabel bebas secara bersama-bersama dengan satu variabel terikat. Adanya korelasi antar variabel yang cukup tinggi menimbulkan multikolinearitas yang menyebabkan model persamaan regresi yang diperoleh kurang layak. Pada penelitian ini analisis regresi linear berganda digunakan untuk mencari bagaimana pengaruh variabel-variabel bebas (usia, kandungan kolesterol, kandungan asam urat, dan gula darah) terhadap variabel terikat (tekanan darah). Data yang digunakan dalam pembahasan ini ada dua macam data. Data pertama yaitu data untuk jenis kelamin laki-laki, dan data kedua yaitu data untuk jenis kelamin perempuan. Dari variabel-variabel bebas tersebut diidentifikasi terdapat multikolinearitas. Untuk mengatasi multikolinearitas tersebut maka digunakan analisis regresi komponen utama. Regresi komponen utama menghasilkan variabel-variabel bebas baru yang tidak saling berkorelasi sehingga masalah multikolinearitas dapat diatasi. Dengan regresi komponen utama menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut : untuk data pertama ��1��35.52324��0.683457 ��1����0.296524 ��1���� 5.066496 ��30..115462159119 ����21��3.�� U0.n0t9u5k2 6d2a t��a 2k4 e. d ua Y 2��66.51672�� 0.652659 ��21��0.189447 ��12��2���� Selanjutnya, antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilakukan perbandingan dengan menggunakan variabel dummy, dan diperoleh bahwa variabel dummy tidak signifikan, artinya secara statistik tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan.

Variasi nilai banding bentang geser terhadap tinggi efektif untuk menentukan pola retak dan tipe keruntuhan pada balok / Bestari Triwindaningrum

 

ABSTRAK Triwindaningrum, Bestari. 2016. Variasi Nilai Banding Bentang Geser Terhadap Tinggi Efektif untuk Menentukan Tipe Keruntuhan pada Balok, Skripsi, Program S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nindyawati, S.T., M.T., Pembimbing (II) Drs. Boedya Djatmika, S.T., M.T. Kata Kunci : Balok, Bentang geser (a), Tinggi efektif (d), Rasio a/d, Pola retak, Tipe Keruntuhan Pada penelitian disebutkan bahwa dari berbagai hasil eksperimen menunjukkan bahwa nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) ternyata merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perencanaan kekuatan geser balok (Wang dan Salmon, 1986:127-129). Penelitian ini dilakukan secara experimental. Benda uji yang digunakan dalam penelitian berupa balok dengan dimensi 6 x 8 x 80 cm sebanyak 8 buah, dengan tinggi efektif (d) yaitu 59 mm. Variasi bentang geser (a) yang digunakan yaitu 5 cm, 10 cm, 25 cm, 35 cm. Variasi nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) yang digunakan yaitu rasio a/d 0.847 untuk balok A1 dan A2. Rasio a/d 1.695 untuk balok B1 dan B2. Rasio a/d 4.237 untuk balok C1 dan C2. Rasio a/d 5.932 untuk balok D1 dan D2. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Uji Bahan dan Struktur Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui Didapatkan nilai rerata beban maksimum eksperimental yang tertinggi yaitu 20.40 kN, dengan rasio a/d balok 0.847. Hal ini menunjukkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) semakin kecil maka perolehan nilai beban maksimum atau Pmaks yang dicapai semakin besar. Nilai rerata beban retak awal (first-crack) tertinggi yaitu 8.7 kN dengan rerata lendutan awal (∆y) yaitu 1.78 mm pada balok dengan rasio a/d 0.847. Hal ini menunjukkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) dan tinggi efektif (d) semakin kecil maka perolehan beban retak awal (P) semakin besar. Nilai rerata lendutan teoritis maksimum tertinggi (∆tmaks) diperoleh yaitu 9.59 mm pada rasio a/d balok 5.932, nilai rerata lendutan ultimate (∆u) tertinggi yang diperoleh yaitu 9.72 mm pada rasio a/d 5.932. Hal ini menunjukkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) dan tinggi efektif (d) semakin besar maka perolehan nilai lendutan ultimate (∆u) yang dicapai semakin besar. Hasil pengamatan tipe keruntuhan untuk balok A1 dan A2 dengan rasio a/d 0.847 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan geser. Untuk balok B1 dan B2 dengan rasio a/d 1.695 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan geser. untuk balok C1 dan C2 dengan rasio a/d 4.237 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan lentur. Untuk balok D1 dan D2 dengan rasio a/d 5.932 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan lentur. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) semakin besar maka keruntuhan balok dominan kearah keruntuhan lentur dibandingkan keruntuhan geser.

Analisis implementasi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel teknik mesin SMK Negeri 1 Jenangan Ponorogo / Valentine Malvistulloh

 

ABSTRAK Malvistulloh, Valentine. 2016. Analisis Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di Bengkel Teknik Mesin SMK Negeri 1 Jenangan Ponorogo. Skripsi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hj. Widiyanti, M.Pd, (2) Drs. Solichin, S.T, M.Kes. Kata kunci :Keselamatan dan kesehatan kerja, Sistem Manajemen K3 Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui implementasi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dari perencanaan, organisasi, penerapan, pengawasan, evaluasi yang ada di bengkel teknik mesin SMK Negeri 1 Jenangan Ponorogo. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif, menggunakan pendekatan kuantitiatif. Populasi penelitian berjumlah 162 responden, terdiri dari 14 guru, 3 laboran/karyawan, 145 siswa. Sampel penelitian berjumlah 116 responden menggunakan rumus slovin. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling.Pengambilan data penelitian menggunakan angket/kuisioner. Tingkat validitas diketahui dengan pendapat para ahli (expert judgement), sedangkan tingkat reliabilitas menggunakan rumus alfa cronbach. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 1 Jenangan Ponorogo. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata variabel perencanaan sangat baik dengan skor 26.9 dari responden siswa, 29 dari karyawan/laboran, 26.8 dari guru. Variabel organisasi nilai rata-rata sangat baik dengan skor 26.19 dari siswa, 29 dari karyawan/laboran, 26.8 dari guru. Variabel penerapan nilai rata-rata baik dengan skor 25.3 dari siswa, 29.5 dari karyawan/laboran, 26.7 dari guru. Variabel pengawasan sangat baik dengan skor 26.32 dari responden siswa, 27.5 dari karyawan/laboran, 28.2 dari guru. Variabel evaluasi kategori baik dengan nilai rata-rata dari responden siswa 26.6, 27.5 karyawan/laboran, 27.2 guru. Penelitian ini diharapkan menjadi pengetahuan para pelajar karena dalam keselamatan dan kesehatan kerja perlu adanya manajemen yang mengaturnya. Bagi pihak sekolah harus mengusahakan peningkatan manajemen K3 yang telah berjalan, dengan cara memperbaiki sistem yang ada dari perencanaan, organisasi, penerapan, pengawasan dan evaluasi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan motivasi, disiplin diri, pengetahuan K3, kesadaran akan K3 dan potensi bahaya. Sehingga diharapkan dengan perbaikan dan peningkatan sistem manajemen maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan mampu bersaing.

Validating the construct of the reading test of the English National Examination 2014 for the Junior High Schools / Dina Eka Pertiwi

 

ABSTRAK Pertiwi, Dina Eka. 2015. Pengujian Validitas Konstruk pada Ujian Membaca dalam Ujian Nasional Bahasa Inggris Tahun 2014 untuk Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Gunadi Harry Sulistyo, M.A., (II) Dr. Sintha Tresnadewi, M.Pd. Kata Kunci: validitas konstruk, ujian nasional bahasa inggris, kisi-kisi soal ujian, tes membaca Validitas merupakan salah satu karakteristik yang harus dimiliki oleh setiap tes yang baik. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Diantara beberapa tipe validitas, validitas konstruk menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Secara spesifik, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji validitas konstruk pada ujian membaca dalam Ujian Nasional Bahasa Inggris tahun 2014 untuk sekolah menengah pertama dengan upaya menganalisa proses pengembangan SKL menjadi kisi-kisi dan butir soal ujian serta meneliti validitas konstruk yang berlandaskan pada hasil empiris serta menganalisa reliabilitas theta dari tes tersebut. Sebanyak 223 siswa kelas tiga SMP Negeri 1 Sumberpucung direkrut sebagai populasi yang dapat diakses dalam pengujian ulang Ujian Nasional Bahasa Inggris 2014 untuk sekolah menengah pertama. Data yang digunakan untuk mengevaluasi proses pengembangan SKL menjadi kisi-kisi soal ujian dan butir soal didapatkan dari BSNP sebagai badan yang melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan di Indonesia serta Balitbang-KEMDIKBUD sebagai lembaga yang melaksanakan penelitian dan pengembangan pendidikan di Indonesia. Sementara itu, data yang digunakan untuk menganalisis validitas konstruk dan reliabilitas theta diperoleh dari hasil pengujian ulang tes kepada populasi yang dapat diakses. Dalam menganalisis validitas konstruk, analisis faktor konfirmatori diimplementasikan untuk menentukan butir soal mana yang secara konsisten mengukur faktor butir soal tersebut dengan membandingkan butir soal yang mengukur faktor berdasarkan teori yang ada pada kisi-kisi dengan butir soal yang mengukur faktor setelah melalui proses ekstraksi dan rotasi. Reliabilitas theta yang mengindikasikan konsisten atau tidaknya tes dihitung secara manual dengan menggunakan rumus dari Carmines dan Zeller. Proses pengembangan dari SKL menjadi kisi-kisi dan butir soal membaca menunjukkan bahwa ada 9 faktor yang terbentuk dengan menguji kesesuaian antara indikator pada kisi-kisi dengan butir soal membaca. Faktor-faktor yang terbentuk adalah informasi tersirat, tujuan komunikatif, informasi tertentu, informasi rinci, rujukan kata, makna kata, gambaran umum, pikiran utama, dan pesan moral untuk teks naratif. Sebanyak 39 butir soal tes membaca didistribusikan pada 9 faktor berdasarkan kecocokan diantara faktor dan butir soal tersebut. Namun demikian, proses pengembangan juga mengungkapkan bahwasanya SKL tidak sepenuhnya sesuai dengan kisi-kisi karena materi tentang ‘short functional text’ tidak terdapat pada kisi-kisi. Terdapat juga ketidaksesuaian antara kisi-kisi dengan butir soal tes membaca dikarenakakn materi ‘recount text’pada kisi-kisi tidak berubah menjadi satupun soal tes membaca. Secara empiris, bertolak dari hasil analisis faktor, ada 14 butir soal dari total 39 soal membaca yang secara konsisten mengukur faktor dari butir-butir soal yang mana mengindikasikan bahwa terjadi reduksi butir soal sebanyak 64%. Penghitungan reliabilitas theta menunjukkan koefisien yang lebih besar dibandingkan reliabilitas alfa (.723>.631) yang berarti bahwa pengujian ulang dari tes ini akan menghasilkan 72.3% hasil yang sama. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa tes membaca pada Ujian Nasional Bahasa Inggris 2014 untuk sekolah menengah pertama memiliki kekurangan dalam validitas konstruk dengan bukti bahwa ada ketidaksesuaian antara SKL, kisi-kisi, dan butir soal tes membaca. Hasil penelitian secara empiris menunjukkan bahwa lebih dari separuh butir soal tes tidak mampu mengukur kemampuan membaca siswa seperti yang tercantum pada indikator di kisi-kisi yang berarti bahwa tes ini kurang dalam validitas konstruk. Nilai reliabilitas theta dari tes (.723) yang cukup jauh dari standard untuk tes tingkat tinggi (paling rendah .90) mengindikasikan bahwa tes membaca ini hanya akan menghasilkan 72.3% hasil yang sama pada pengujian ulang. Sebagai tes yang beresiko tinggi, tes ini harus memiliki kualitas yang bagus karena hasilnya akan berpengaruh pada banyak aspek dan pihak-pihak pendidikan yang terkait. Oleh sebab itu, tes membaca pada Ujian Nasional Bahasa Inggris 2014 untuk sekolah menengah pertama harus ditinjau lebih dalam untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas dari tes tersebut melalui beberapa alternatif yang salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas butir soal dengan memastikan bahwa soal-soal ujian terkait dengan indikator kemampuan membaca yang ingin diukur oleh tes tersebut.

Analisis pengaruh variasi preheating cetakan cor terhadap cacat coran dan kekuatan tarik pada paduan aluminium-tembaga (Al-Cu) / Syahrul Saputra

 

ABSTRAK Saputra, Syahrul. 2016. AnalisisPengaruhVariasiPreheating CetakanCorTerhadapCacatCorandanKekuatanTarik padaPaduanAluminium-Tembaga (Al-Cu). Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Putut Murdanto, S.T., M.T. (II) Drs. Imam Sudjono, M.T. Kata Kunci : Al-Cu, Preheating CetakanCor, Cacat Makro, Struktur Mikro, AlumuniumTembaga(Al-Cu) merupakanpaduan aluminum yang digunakanuntukmeningkatkankekuatandankekerasan. Al-Cumemilikisifatpengisian yang lambatsaat proses feeding, sehinggamenyebabkanterjadinyacacatpenyusutan, sertamenurunkanfluiditascoran. PaduanAl-Cu mudahmenyerap gas hydrogen dariudaradisekitarnyayang dapatmenyebabkancacatporositas gas sehinngamenurunkankekuatanmekanisnya.Beberapafaktortersebutdapatdiantisipasidenganmempengaruhilajupendinginanataupembekuanmenggunakanpemanasancetakan. Sehinggadalampenelitianiniakandilakukanpreheatingcetakandengantemperatur135OC, 155OC dan 175OC.Pengujianyang dilakukanmeliputipemeriksaancacatpermukaan, pengamatanstrukturmikrodankekuatantarikdaricoran Al-Cu. Pengujiandilakukangunamengetahuipengaruhlajupendinginandanpembekuanakibat proses preheating terhadapkualitascoran Al-Cu. PenelitiandilakukandenganmeleburAlumuniumdantembagapadadapurcrusibelsecarabersamaan.Kemudiandilakukanpemanasanpadacetakanpasir diatastungkupemanassebagaitindakanpreheatingcetakanpasir. Selanjutnyalogamcairdituangpadamasing-masingcetakan yang dipanaskan. Variabelbebasdaripenelitianiniadalahvariasipreheatingyakni temperature 135OC, 155OC dan 175OCsertatemperaturkamarsebagaipembandingdalamkeadaan normal tanpaperlakuan. Sedangkanuntukvariabelkontrolmeliputikomposisipasircetak (pasirsilika80%, air 10% danbentonit 5%),temperaturpenuangan 700OC,sertapaduanlogamterdiridaricampuranAl 95%danCu 5%. Variabelterikatpenelitianiniadalahkualitaslogamcoranakibatpreheatingcetakan, yaitua) cacatcoran (cacatpermukaan), b) strukturmikro, danc) kekuatantarik.Instrumenpengujian yang digunakanadalahmikroskopoptikdanUniversal Test Machine(UTM). Hasilpenelitianmenunjukanbahwacacatpermukaan yang seringmunculadalahlubangjarumdanrontokpasir. Cacattersebutmunculdisetiapvariasi preheating cetakan. Temperaturcetakan155OCmemilikijumlahcacat paling sedikit.Kekuatantarikpadahasilcoranmengalamikenaikanpadatemperaturkamar(34.64 Kg/mm2) hinggatemperatur 155OC (38.95Kg/mm2). Selanjutnyamenurunpadatempeartur175OC (35.18 Kg/mm2). Sehinggadapatdikatakankekuatantarikmengalamifluktuasiseiringmeningkatnyatemperaturcetakan.Puncakkekuatantarikterjadipadacetakantemperatur 155OC. Kemudianuntukbutirmikroterlihatukuranfinnerpadacetakantemperaturkamardan 155OC kemudianberukurancoarsepadacetakantemperatur 135OC dan 175OC.  

Rebranding kampung wisata keramik Dinoyo Malang untuk meningkatkan daya kunjung wisatawan / Mochammad Fauzi Rachmat Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Mochammad Fauzi Rachmat. 2015. Rebranding Kampung Wisata Keramik Dinoyo Malang Untuk Meningkatkan Daya Kunjung Wisatawan. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc., (II) Mohammad Sigit, S.Sn Kata kunci : Rebranding, Kampung Wisata, Keramik Dinoyo. Kampung wisata keramik Dinoyo merupakan sentra kerajinan keramik satu-satunya di kota Malang dan sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata belanja cindera mata di kota Malang. Namun, 3 tahun belakangan ini, keramik Dinoyo mulai merosot keberadaannya dimata masyarakat, dikarenakan jenis produk yang dihasilkan cenderung statis. Dikarenakan ragam jenis produk dan media promosinya kurang berjalan maksimal.Sehingga, diperlukan adanya suatu rebranding yang bertujuan untuk meningkatkan daya kunjung wisatawan. Metodologi yang dipergunakan dalam penyelesaian proses rebranding yaitu model prosedural yang bersifat deskriptif dengan menerangkan langkah-langkah yang urut dan rinci.Proses prosedural rebranding tersebut dilakukan dengan cara promosi Kampung wisata keramik Dinoyo dan pembuatan produk baru. Beberapa media promosi dibuat untuk memenuhi tujuan tersebut, demikian juga pembuatan produk baru keramik. Perancangan menghasilkan produk keramik ragam baru yang berlatar belakang konten budaya kota Malang yaitu Ratu kendedes yang dipadukan dengan corak lama khas keramik Dinoyo yang berwarna biru putih, dengan gaya desain simple natural.Demikian jugarebranding media promosi berupa katalog produk, brosur, Xbanner, dan desain monumen kampung wisata keramik Dinoyo. Manfaat desain ragam produk baru dan media promosi tersebut sebagai media rebranding, untuk meningkatkan daya kunjung wisatawan sekaligus sebagai referensi untuk perancangan produk sejenis.

Evaluasi pembinaan olahraga prestasi persatuan tenis meja seluruh Indonesia pengurus kota Malang (PTMSI Pengkot Malang) periode 2007-2010 khususnya menghadapi Porprov Jatim II tahun 2009 / Rendy Erwantoko

 

Kata kunci: evaluasi, pembinaan olahraga prestasi, PTMSI Pengkot Malang PTMSI Pengkot Malang merupakan salah satu induk organisasi cabang olahraga prestasi di bawah naungan KONI Kota Malang yang meraih dua medali perunggu di ajang PORPROV Jatim II tahun 2009. Perolehan medali tersebut tidak berhasil memenuhi target dua medali emas yang diberikan oleh KONI Kota Malang di cabang olahraga tenis meja. Ketidakberhasilan tersebut berkaitan dengan pembinaan olahraga prestasi yang dilaksanakan oleh PTMSI Pengkot Malang dalam menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembinaan olahraga prestasi PTMSI Pengkot Malang periode 2007-2010 khususnya menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009. Evaluasi tersebut dilakukan pada aspek pengolahraga (atlet), tenaga keolahragaan (pelatih dan wasit), pengorganisasian, pendanaan, metode (kegiatan operasional), prasarana dan sarana, serta penghargaan keolahragaan. Model penelitian yang digunakan adalah model evaluasi CIPP (contect, input, process, product). Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni tahun 2010 , bertempat di sekretariat KONI Kota Malang dan di tempat latihan PTMSI Pengkot Malang. Subyek penelitian ini adalah 5 pengurus PTMSI Pengkot Malang dan 10 atlet tenis meja yang bertanding dalam PORPROV Jatim II tahun 2009. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan olahraga prestasi yang dilakukan oleh PTMSI Pengkot Malang khususnya menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009 pada variabel input sudah efektif dengan persentase 100 % (efektif dengan tingkat keefektifan 81%-100%), hal tersebut didasarkan atas keberadaan dan terpenuhinya komponen-komponen dalam pembinaan olahraga prestasi, yaitu pengolahraga (atlet), tenaga keolahragaan (pelatih dan wasit), pengorganisasian, pendanaan, metode, prasarana dan sarana, serta penghargaan keolahragaan. Pada variabel proses sudah efektif dengan persentase 67,23 % (efektif dengan tingkat keefektifan 61%-80%), diperoleh dari: (1) Pengolahraga (atlet) 33,33 %, (2) Tenaga keolahragaan 92,86 %, (3) Pengorganisasian 58,15 %, (4) Pendanaan 48,61%, (5) Metode (kegiatan operasional) 62,67%, (6) Prasarana dan sarana 100 %, dan (7) Penghargaan keolahragaan 75 %. Pada variabel produk dalam pembinaan olahraga prestasi yang dilakukan oleh PTMSI Pengkot Malang khususnya menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009 adalah cukup efektif dengan persentase sebesar 52 % (cukup efektif dengan tingkat tingkat keefektifan 61%-80%) yang berasal dari aspek output (4 %), dan dari aspek outcome (100 %). Secara keseluruhan, pembinaan olahraga prestasi yang dilaksanakan oleh PTMSI Pengkot Malang khususnya untuk menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009 adalah efektif dengan persentase 73,08 % (efektif dengan tingkat keefektifan 61%-80%). Hasil persentase tersebut diperoleh dari persentase variabel input (100 %), variabel proses (67,23 %), dan variabel produk (52 %). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar PTMSI Pengkot Malang: (1) Dari sisi pengolahraga (atlet) persentase yang diperoleh adalah 33,33 %, agar lebih efektif sebaiknya dalam proses perekrutan atlet juga melibatkan pengukuran pada karakteristik antropometri dan pengukuran kesegaran jasmani. Selain itu, Penjaringan atlet dapat juga dilakukan dengan mengadakan pertandingan tenis meja antar sekolah. (2) Dari sisi tenaga Keolahragaan persentase yang diperoleh adalah 92,86 %, untuk lebih efektif sebaiknya sebaiknya pelatih yang ada di PTMSI Pengkot Malang diikutsertakan pelatih dalam berbagai macam pelatihan berkaitan dengan kepelatihan, (3) Dari sisi pengorganisasian persentase yang diperoleh adalah 58,15 %, agar lebih efektif sebaiknya PTMSI Pengkot Malang perlu memantabkan organisasi dengan pemberdayaan sumber daya manusia atau pengurus yang ada di PTMSI Pengkot Malang. Untuk memperlancar kerja dari PTMSI Pengkot Malang, setiap pengurus sebaiknya melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan job description (pembagian tugas) yang ada. (4) Dari sisi pendanaan persentase yang diperoleh adalah 48,61%, agar lebih efektif sebaiknya PTMSI Pengkot Malang menjalin kerjasama dengan pihak sponsor, karena jika hanya menggantungkan bantuan dana dari KONI Kota Malang maka pendanaan yang ada kurang memadai atau representatif untuk pelaksanaan pembinaan olahraga prestasi, (5) Dari sisi metode (kegiatan operasional) persentase yang diperoleh adalah 62,67%, agar lebih efektif PTMSI Pengkot Malang sebaiknya melakukan pembinaan olahraga secara bertahap, teratur, dan berkesinambungan. Pembinaan yang dilakukan sebaiknya disusun berdasarkan periodesasi latihan agar perkembangan keterampilan, kemampuan biomotorik dan aspek-aspek mental dapat berkembang secara sistematis, metodis dan terencana. PTMSI Pengkot Malang sebaiknya memberikan makanan bergizi disertai dengan suplemen makanan kepada atlet selama pemusatan latihan agar kecukupan energi atlet terjaga dengan baik. Jika KONI Kota Malang dan PTMSI Pengkot Malang mempunyai kendala terbatasnya anggaran dana untuk mencukupi kebutuhan gizi atlet, maka sebaiknya PTMSI Pengkot Malang menghimbau atlet dan orang tua atlet untuk memenuhi kebutuhan gizi atlet sendiri. (6) Dari sisi prasarana dan sarana persentase yang diperoleh adalah 100 %, sudah efektif baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Prasarana dan sarana tersebut sebaiknya dipertahankan agar tetap dapat digunakan untuk mendukung proses pembinaan olahraga prestasi selanjutnya dan perlu ditingkatkan jika proses perekrutan atlet dilakukan secara professional. (7) Dari sisi tenaga keolahragaan persentase yang diperoleh adalah 75 %, agar lebih efektif sebaiknya PTMSI Penkot Malang mengoptimalkan dan meningkatkan prestasi atlet agar penghargaan keolahragaan yang diberikan kepada atlet yang berprestasi dan pelatih juga meningkat.

Perbandingan pengaruh latihan ladder dan ball feeling terhadap peningkatan keterampilan dribbling sepakbola di Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang / Yudo Marzuki Aziz

 

ABSTRAK Marzuki A., Yudo. 2016. Perbandingan Pengaruh Latihan Ladder dan Ball Feeling Terhadap Peningkatan Keterampilan Dribbling Sepakbola di Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Purnami, M.Pd, (II) Fahrial Amiq, S.Or., M.Pd Kata Kunci: latihan, latihan ladder, latihan ball feeling, dribbling sepakbola. Sepakbola merupakan permainan beregu yang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sebelas pemain. Ada beberapa teknik yang harus dikuasai dalam permainan sepakbola, terutama teknik menggiring bola (dribbling). Keterampilan dribbling harus dikembangkan pada setiap pemain sepakbola agar dapat menunjang kemampuan pada saat bermain sepakbola. Berdasarkan tes awal keterampilan dribbling yang dilakukan terhadap 22 pemain Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang diperoleh hasil tes yaitu dari 22 pemain 45% telah melakukan dribbling dengan baik dari jumlah rata-rata 21,251 detik. Data tes menggiring bola yang dilakukan menunjukkan rentangan skor 21,15 sampai 33,43 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pengaruh latihan ladder dan ball feeling terhadap peningkatan keterampilan dribbling sepakbola pemain Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen matching pretest-posttest comparison group design. Variabel bebas yang dimanipulasikan dalam penelitian ini adalah pemberian latihan ladder dan ball feeling. Sampel penelitian ini adalah 22 pemain Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang, kemudian sampel penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen latihan ladder berjumlah 11 pemain dan kelompok latihan ball feeling berjumlah 11 pemain. Analisis data dari penelitian ini yaitu berupa teknik analisis varians satu jalur. Hasil analisis varian satu jalur diperoleh tiga hasil data. Pertama, skor prestasi tes awal dan tes akhir latihan ladder diperoleh F hitung = 7,79 > F tabel 4,35. Kedua, skor prestasi tes awal dan tes akhir latihan ball feeling diperoleh F hitung = 4,82 > F tabel 4,35. Ketiga, selisih skor prestasi tes awal dan tes akhir masing-masing kelompok diperoleh F hitung = 8,88 > F tabel 4,35. Hasil penelitian diperoleh tiga simpulan. Pertama, latihan ladder memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi dribbling pemain Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang. Kedua, latihan ball feeling memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi dribbling pemain Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang. Ketiga, ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan ladder dengan latihan ball feeling terhadap prestasi dribbling pemain Persatuan Sepakbola Red Devil Kabupaten Malang.

Keefektifan symbolic modeling untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP / Rinda Eka Mumpuni

 

ABSTRAK Mumpuni, Rinda Eka. 2015. Keefektifan Symbolic Modeling Untuk Meningkatkan Efikasi Diri Akademik Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany M. Handarini, M. A. (II) Dr. Muslihati, S. Ag, M. Pd. Kata Kunci: efikasi diri akademik, symbolic modeling Efikasi diri akademik merupakan salah satu prediktor keberhasilan akademik siswa. Permasalahan yang terjadi adalah rendahnya efikasi diri akademik siswa pada salah satu SMP Negeri di Kota Malang. Hasil studi pendahuluan menunjukkan sebanyak 53% siswa menunda menyelesaikan PR mata pelajaran yang dirasa sulit, 62,3% siswa tidak tertarik pada mata pelajaran yang dirasa sulit dan 40,9% siswa tidak memiliki rencana belajar supaya bisa memahami dan menguasai mata pelajaran yang dirasa sulit. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan upaya untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP. Salah satu cara yang bisa diupayakan adalah melakukan bimbingan kelompok menggunakan teknik symbolic modeling. Tujuan penelitian ini adalah menguji keefektifan symbolic modelinguntuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen equivalent time series terhadap sembilan siswa SMP kelas VIII yang memiliki efikasi diri akademik rendah. Data penelitian dikumpulkan dari sekali pre test, lima kali test dan satu kali post testmenggunakan instrumen skala efikasi diri akademik. Data kualitatif efikasi diri akademik sebagai pendukung dikumpulkan dari transkip proses dialog refleksi pada setiap sesi intervensi. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji wilcoxon sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini membuktikan teknik symbolic modeling efektif meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP. Hal itu dapat dilihat dari angka Zhitung (1,992)> Ztabel (0,4801) yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan kata lain teknik symbolic modeling memberikan pengaruh untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP. Berdasarkan analisis data individual menggunakan statistik uji wilcoxon, hasil penelitian ini membuktikan teknik symbolic modeling efektif untuk meningkatkan efikasi diri akademik pada intervensi pertama, ketiga, kelima dan keenam. Hal ini dibuktikan dengan angka Zhitung pada pada test pertama (2,312) > Ztabel (0,4801), test ketiga (1,423) > Ztabel (0,4801), test kelima (1,599) > Ztabel (0,4801) dan test keenam (1,482) > Ztabel (0,4801) artinya H0 ditolak dan H1 diterima. Tetapi teknik symbolic modeling tidak efektif untuk meningkatkan efikasi diri akademik pada intervensi kedua dan keempat. Menjadi tidak efektif karena ada dua subjek yang alpha sehingga skor mereka nol. Hal tersebut berpengaruh terhadap hasil analisis. Saran penelitian ini adalah bagi peneliti selanjutnya disarankan: (1) hendaknya melakukan penelitian yang serupa untuk kelas 7 dan 9 untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa yang rendah (2) hendaknya melakukan penelitian yang serupa pada bidang bimbingan pribadi-sosial dan karier (3) meneliti keefektifan symbolic modeling pada siswa SMA yang memiliki efikasi diri akademik rendah.

Pengembangan media pembeljaran interaktif belajar menggambar dan mewarna pada mata pelajaran ART untuk siswa kelas rendah di SDI Bantul Makmur Malang / Dhuana Putri PS

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran Interaktif, Menggambar dan Mewarna Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran dan pelatihan, menempati posisi yang penting dan akan turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Dengan media pembelajaran maka pembelajaran dan pelatihan akan berjalan lebih efektif dan efisien. Pengembangan ini bertujuan merancang dan membuat produk sajian dalam bentuk CD pembelajaran interaktif, sedangkan materi yang tertuang dalam CD pembelajaran interaktif yang dikembangkan ini adalah materi dasar tentang menggambar dan mewarna pada mata pelajaran Art hususnya seni rupa untuk siswa kelas rendah sekolah dasar di SDI Baitul Makmur Malang. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, serta pre-test dan post-test untuk subyek penelitian. Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis dan tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi. Pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini dinyatakan digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini didasarkan pada hasil uji coba 4    perorangan perhitungan statistik uji t diperoleh dengan harga t hitung = 6.68 dan d.b = 2, selanjutnya dilakukan pengetesan pada t tabel 5% = 2,78 .Bila dibandingkan dengan harga t hitung = 6.68, maka 2,94 > 2,78. Dengan pengujian hipotesis rumus statistik H0 ditolak dan H1 diterima, karena ada perbedaan antara siswa yang belajar sebelum dan sesudah menggunakan media CD pembelajaran interaktif. Nilai rata-rata siswa yang diperoleh sebelum menggunakan media CD interaktif adalah 68.27, dan setelah menggunakan media CD interaktif adalah 92.2. Sedangkan pada uji coba lapangan didapat harga t hitung = 9.56 dan d.b = 14, selanjutnya dilakukan pengetesan pada t tabel.Pada d.b = 14 pengetesan pada t tabel 5%= 2,04. Bila dibandingkan dengan harga t hitung = 9.56 , maka 9.56 > 2,04. Dengan demikian apabila d.b = 14, maka pengujian hipotesis rumus statistik H1 diterima dan Ho ditolak, karena semakin besar d.b pengetesan pada t tabel akan semakin kecil, sehingga pada d.b = 14 dipastikan t hitung > t tabel dan dari uji tes diatas terdapat perbedaan antara siswa yang belajar sebelum dan sesudah menggunakan media CD pembelajaran interaktif . Nilai rata-rata siswa sebelum menggunakan media CD interaktif adalah 68.2 dan setelah menggunakan media CD interaktif adalah 84.59. Berdasarkan hasil evaluasi yang di dapat dari ahli media, ahli materi dan dari hasil lapangan maupun perorangan dapat disimpulkan bahwa media CD pembelajaran interaktif efektif dan efisien untuk digunakan dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya produk CD pembelajaran interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media alternatif kebutuhan sumber belajar siswa kelas rendah sekolah dasar di SDI Baitul Makmur dijadikan media pembelajaran individu maupun sebagai media penunjang bagi guru pengajar mata pelajaran Art, sebagai media presentasi dalam proses pembelajaran di ruang kelas. Bagi pengembang berikutnya diharapkan dapat terus mengupdate materi yang ada dalam CD interaktif pembelajaran tersebut dan dapat memberikan tampilan yang menarik dan lebih memotifasi pengguna media.

Peran Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dalam membentuk ahklak pasa santrinya dan relevansinya pada pendidikan IPS / Khoirul Arifin

 

ABSTRAK Arifin, Khoirul. 2016.“Peran Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dalam Membentuk Akhlak Para Santrinya dan Relevansinya pada Pendidikan IPS”. Skripsi. Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Siti Malikhah Towaf, M.A., Ph.D(II) Drs. Soetjipto, S.H., M.Pd. Kata Kunci:Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, Akhlak, Pendidikan IPS Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.Pondok Pesantren di Kota Malang salah satunya PP Miftahul Huda merupakan Pondok Pesantren yang bertipe salafiah.Keterkaitanpendidikan akhlak dalam pendidikan IPS sudah dijelaskan dalam tujuan utamanya yaitu “membantu mengembangkan siswa untuk menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang memadai”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1)Bagaimana sejarah berdirinya lembaga pendidikan PP Miftahul Huda Malang? (2) Bagaimana peran lembaga pendidikan PP Miftahul Huda Malang dalam membentuk akhlak para santrinya? (3) Apa saja hambatan yang dihadapi PP Miftahul Huda Malang dalam membentuk akhlak para santrinya? (4) Bagimana relevansi peran lembaga pendidikan PP Miftahul Huda Malang dalam membentuk akhlak para santrinya pada Pendidikan IPS?. Penelitianinimenggunakanpendekatan dan jenispenelitiankualitatifdeskriptif. Kehadiran dan peran peneliti dalam penelitian adalah sebagai observer atau pengamat serta pengumpul data. Lokasi penelitianyang digunakan sebagai tempat penelitian adalah PP Miftahul Huda yang terletak di Jalan Gading Pesantren No.38 Gading Kasri, Klojen, Kota Malang. Prosedur pengumpulan data denganobservasi, wawancara, dandokumentasi. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis Miles dan Huberman.Pengecekankeabsahan data menggunakantriangulasi sumber dan triangulasi metode. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu (1) Sejarah berdirinya lembaga pendidikan PP Miftahul Huda adalah menyesuaikan atau mengadaptasi dari sejarah KelurahanGadingKasri(2) Peran lembaga pendidikan PP Miftahul Huda dalam membentuk akhlak para santrinya melalui keteladanan, mendidik melalui pengajaran, disiplin dan motivasi, serta ajaran tasawuf (3) Hambatan yang dihadapi PP Miftahul Huda dalam membentuk akhlak para santrinya dibagi menjadi dua yaitu hambatan internal dan eksternal (4) Relevansi peran lembaga pendidikan PP Miftahul Huda dalam membentuk akhlak para santrinya pada Pendidikan IPS melalui penerapan teori pengendalian sosial dan mengimplementasikan pada kurikulum 2013 mata pelajaran IPS di SMP/MTs. Saran untuk peneliti selanjutnya dapat menggali tentang pembentukan akhlak di PP Miftahul Huda dengan menggunakan perspektif penelitian yang berbeda. Peneliti selanjutnya juga dapat menfokuskan penelitiannya pada kehidupan sosial ekonomi para santri, interaksi santri dengan lingkungannya di PP Miftahul Huda Malang.

Pengaruh inflansi, suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah terhadap suku bunga deposito berjangka I nulan pada Bank Umum Pemerintah periode 2007-2009 / Indah Wahyuni

 

Kata kunci: inflasi, suku bunga SBI, nilai tukar rupiah, suku bunga deposito berjangka 1 bulan. Stabilitas perekonomian adalah prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas. Stabilitas perekonomian sangat penting untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pelaku ekonomi. Stabilitas ekonomi makro dicapai ketika hubungan variabel ekonomi makro yang utama berada dalam keseimbangan. Perekonomian yang tidak stabil menimbulkan biaya yang tinggi bagi perekonomian dan masyarakat. Ketidakstabilan akan menyulitkan masyarakat, baik swasta maupun rumah tangga, untuk menyusun rencana ke depan, khususnya dalam jangka lebih panjang yang dibutuhkan bagi investasi. Inflasi yang tinggi dan fluktuasi yang tinggi menimbulkan biaya yang sangat besar kepada masyarakat dan menyebabkan penurunan daya beli. Inflasi yang berfluktuasi tinggi menyulitkan pembedaan pergerakan harga dan juga mempengaruhi perbankan dalam menentukan suku bunga yang ditetapkan karena inflasi menyebabkan pendapatan riil masyarakat menurun sehingga menyebabkan menurunnya tabungan masyarakat. Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi makro bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan di dalam perekonomian. Perekonomian suatu negara dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi. Kondisi makro ekonomi yang stabil akan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Majunya pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari stabilitas keuangan yang tercermin dari kondisi perbankan. Perbankan sebagai lembaga intermediasi harus mampu menjalankan fungsinya untuk memperlancar arus keuangan di suatu negara. Salah satu kegiatan usaha perbankan adalah menghimpun dana, bank yang memiliki volume penghimpunan dana atau deposito secara luas adalah bank umum. Sedangkan bank umum yang dimiliki oleh negara adalah bank umum pemerintah. Penghimpunan dana akan tergantung pada tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank itu sendiri, penetapan suku bunga akan dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi. Dengan menempatkan inflasi, suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah sebagai variabel independen dan suku bunga deposito berjangka 1 bulan sebagai variabel dependen, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ii pengaruh inflasi, suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan pada bank umum pemerintah. Penelitian ini menggunakan populasi bank-bank umum yang dimiliki pemerintah yaitu Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan Bank BTN. Karena populasi yang relatif kecil maka sampel dalam penelitian ini mengambil seluruh populasi. Data yang digunakan adalah data sekunder dalam perhitungan bulan dengan periode tahun 2007—2009. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan uji regresi linier berganda dengan nilai α sebesar 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi inflasi, suku bunga SBI, nilai tukar rupiah dan suku bunga deposito berjangka 1 bulan mengalami peningkatan pada akhir tahun 2008. Hal ini disebabkan oleh capital outflow yang terjadi sebagai dampak dari kondisi ekonomi global. Namun di awal tahun 2009 keadaan sudah kembali stabil. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial suku bunga SBI dan nilai tukar rupiah berpengaruh positif signifikan terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan, sedangkan inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa inflasi, suku bunga SBI dan nilai tukar rupiah berpengaruh signifikan terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya dengan menggunakan variabel bebas selain inflasi, suku bunga SBI dan nilai tukar rupiah seperti suku bunga the fed dan jumlah uang beredar. Tehnik analisis juga bisa diganti dengan tehnik analisis yang lain dan juga jumlah sampel perlu ditambah.

Developing Cindelaras Animation Video for seventh graders' speaking material of SMP Taman Siswa Malang / Rahmi Utami Imas Dwi Puspita

 

ABSTRAK Puspita, Rahmi Utami Imas Dwi. 2016. PengembanganVideo Animasi Cindelaras Untuk Pelajaran Berbicara Siswa Kelas Tujuh di SMP Taman Siswa Malang. Skripsi,Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Emalia Iragiliati, M.Pd. (II) Nunung Suryati, M.Ed, Ph.D. Kata kunci: Video animasi, Cindelaras, kemampuan berbicara, bercerita, ekstrakurikuler, kelas VII Penelitian ini mengembangkan video animasi untuk membantu siswa memahami materi lebih baik dan mengembangkan kepercayaan diri siswa untuk berbicara dengan bercerita. Cindelaras dipilih karena hasil survei lapangan menunjukkan kebanyakan siswa di English Conversation Club di SMP Taman Siswa tidak pernah mendengar cerita tersebut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan dari Borg & Gall (1983). Langkah – langkahnya adalah (1) analisis kebutuhan, (2) penyusunan ide media, (3) membuat media, (4) melakukan validasi kepada ahli, (5) perbaikan produk, (6) uji coba produk, dan (7) revisi produk akhir. Instrumen data yang digunakan adalah lembar observasi kelas, panduan wawancara guru, angket validasi ahli, kuisioner untuk analisa kebutuhan dan kuisioneruntuk hasil setelah produk di uji coba. Kuisioner dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan prosentase.Lembar observasi kelas dan wawancara guru dideskripsikan dengan cara kualitatif. Penelitian dilakukan di salah satu ekstrakurikuler di SMP Taman Siswa Malang bernamaEnglish Conversation Club. English Conversation Clubmemiliki satu kelas untuk siswa kelas tujuh yang berisikan 21 murid. Peneliti menggunakan lembar observasi kelas, panduan wawancara guru dan kuisioner untuk mengetahui masalah didalam kelas. Setelah tahap analisa kebutuhan, peneliti memilih keterampilan, strategi dan cerita yang akan digunakan pada tahap penyusunan. Pada tahap pengembangan produk, peneliti memilih jenis produk yang akan dikembangkan, membuat naskah cerita, menggambar jalan cerita dan membuat video animasi. Setelah produk selesai dibuat, produk divalidasi dan direvisi berdasarkan saran dari ahli media. Berdasarkan hasil validasi ahli, tingkat validitas produk adalah 94% yang berarti produk bisa digunakan tanpa perlu direvisi. Pada tahap uji coba, peneliti memutar video animasi, kemudian siswa bercerita di depan kelas dan peneliti memberi kuisioner kepada siswa. Tahap terakhir adalah merevisi produk sesuai dengan hasil kuisioner siswa. Guru diharapkanmenggunakan video animasiCindelaras untukmengajarkan materi berbicara di English Conversation Club SMP TamanSiswaMalang. Sekolah juga diharapkandapatmenyediakan video animasiCindelarassebagaibahan ajar yang siapdigunakanoleh guru dansiswaapabiladiperlukan.Parapenelitiselanjutnya juga diharapkanuntuk mengembangkan lebih banyak produk untuk kemampuan Bahasa Inggris yang lain sepertilistening, writing danreading.

Peningkatan kemampuan menulis paragraf naratif melalui strategi peta pikiran (mind mapping) siswa kelas X SMA Kertanegara Malang / Dwi Fajarwati Febriani

 

Kata kunci: Kemampuan menulis, Paragraf naratif, Strategi Peta pikiran Kemampuan menulis pada siswa SMA seharusnya sudah mencapai taraf sangat baik mengingat pembelajaran menulis dimulai sejak siswa duduk di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, ekspresif dan produktif sehingga dalam pembelajaran kemampuan menulis siswa diharapkan mampu menghasilkan sebuah gagasan atau ide, faktafakta, dan ajakan dalam bentuk tulisan. Berdasarkan observasi awal melalui guru dan siswa SMA Kertanegara menunjukkan bahwa selama ini masih ada masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis narasi. Dari permasalahan yang muncul tersebut ditemukan sebuah strategi untuk menyelesaikan masalah, yaitu strategi peta pikiran (Mind Mapping). Guru yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X belum pernah menggunakan strategi peta pikiran (Mind Mapping) dalam mengajar di SMA Kertanegara Malang. Permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh guru adalah hasil belajar yang kurang memuaskan. SMA Kertanegara Malang merupakan sekolah yang mempunyai siswa cenderung ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar. SKM individual yang ditetapkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 70, dari 14 siswa pada kelas X terdapat 6 siswa yang hasil belajarnya belum memenuhi SKM individual sebesar 70. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah strategi peta pikiran (Mind Mapping). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2009 sampai 25 Februari 2010. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X di SMA Kertanegara Malang yang terdiri dari 14 siswa. Adapun alasan pemilihan strategi ini ialah terdapat pemetaan ide secara sistematis yang dapat mempermudah siswa dalam membuat sebuah karangan narasi yang runtut dan sesuai dengan ejaan serta tanda baca. Selain itu, strategi peta pikiran dapat membantu siswa mengurutkan serentetan peristiwa, waktu, dan tempat dalam sebuah karangan. Dengan penerapan strategi peta pikiran (Mind Mapping) pada siswa kelas X diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ada dan meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini, dipaparkan sebagai berikut. (1) Apakah strategi peta pikiran (mind mapping) dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis paragraf naratif yang meliputi aspek kesungguhan, kemampuan bekerja sama, dan keaktifan pada siswa kelas X SMA Kertanegara viii Malang, dan (2) Apakah strategi peta pikiran (mind mapping) dapat meningkatkan hasil pembelajaran menulis paragraf naratif yang meliputi menemukan ide, membuat kerangka karangan, mengembangkan kerangka menjadi paragraf naratif, dan mengembangkan paragraf menjadi karangan naratif yang utuh pada siswa kelas X SMA Kertanegara Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yaitu merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi soal tes, lembar observasi, lembar wawancara, dan angket. Untuk menjawab rumusan masalah, peneliti melaksanakan tindakan penelitian. Dalam penelitian ini guru Bahasa Indonesia bertindak sebagai guru pengajar, sedangkan peneliti bertindak sebagai observer. Dalam penelitian ini, dilakukan observasi terhadap keaktifan keaktifan guru dan siswa, tes pada tiap akhir siklus, melaksanakan wawancara serta merefleksi hasil penelitian. Peneliti menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari observasi awal, wawancara, dan angket. Selain itu peneliti juga menggunakan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes siswa pada akhir tiap siklus. Peneliti melaksanakan penelitian pada siswa kelas X SMA Kertanegara Malang terfokus pada kompetensi dasar “Menulis gagasan dengan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif” pada siklus I dan pada siklus II. Adapun teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada penelitian ini, yakni dengan cara membandingkan persentase ketuntasan belajar secara keseluruhan sebelum diberikan tindakan yang diperoleh dari nilai siswa sebelum diberi tindakan, dengan ketuntasan belajar secara keseluruhan setelah diberikan tindakan pada siklus I maupun siklus II. Terdapat beberapa temuan penelitian diantaranya hasil belajar dapat meningkat, siswa tidak lagi ramai saat proses belajar mengajar berlangsung, dan siswa lebih semangat dalam membuat sebuah karagan narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan strategi peta pikiran (Mind Mapping) yang dilakukan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kompetensi dasar menulis gagasan dengan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif siswa kelas X di SMA Kertanegara Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar sebesar 6,32 % dari sebelum dilakukan tindakan dengan setelah dilaksanakan tes akhir siklus I. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus I telah meningkat sebesar 11,13 % ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disarankan bahwa dalam menerapkan strategi peta pikiran (Mind Mapping) hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar tidak hanya menilai hasil belajar tapi juga menilai segala aktivitas atau keaktifan setiap siswa dalam melaksanakan langkah-langkah strategi ini.

Analisis motif tenun tembe nggoli pada pakaian adat rimpu daerah Bima Nusa Tenggara Barat / Nila Kurniati

 

ABSTRAK Kurniati, Nila. 2015. Analisis Motif TenunTembeNggolipadaPakaianAdatRimpuDaerah Bima Nusa Tenggara Barat. Skripsi, JurusanSenidanDesainFakultasSastraUniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dra. Hj. Ida SitiHerawatiM.Pd (II) Drs. A.A.G.RaiArimbawa M. Sn Kata Kunci: Motif TenunTembeNggoli, Makna, WarnadanPakaianAdatRimpu. Kaintenunadalahsalahsatujenissongkettradisional di Indonesia dengankeunikantersendiri.Jenis-jenis yang terdapatpadakaintenunkhasdaerahBima-NTB bermacam-macamsalahsatunyatembe.Tembemerupakansalahsatuhasilkerajinanolehkaumpenenun yang terbuatdaribenangkapas(kafa).Tujuanutamatembesebagaipakaian yang menutupaurat, baikbagikaumlelakidankaumperempuan.TenunrakyatBimadibuatdaribenang yang dipintalsendiri.Benang yang dibuatpendudukdisebutbenangnggolidankain yang ditenundaribenangtersebutdinamakantembenggoli. Penelitianinibertujuanuntukmenganalisis, bentuk motif, warna, danmakna yang terdapatpadatembenggolipadapakaianadatrimpudi daerahBima-NTB.Rancanganpenelitian yang digunakanpadapenelitianiniadalahpenelitiankualitatif, dengantujuanpenelitian yang menghasilkan data deskriptif.Data yang di perolehpenelitidarihasilobservasidanwawancaradengannarasumber. Hasildaripaparan data, adabeberapa motif yang terdapatpadatembenggoliuntukdigunakanpakaianadat“rimpu”adalahsebagaiberikut; 1) motifbungasamobo, 2) motifbungasatako, 3) motifkakando, 4)motifgeometris (gari, nggusutolu, nggusuupa, padowaji, dannggusuwaru).Ada beberapawarna yang digunakanpadatembenggoli yang diteliti, warnamerah, hitam, putih, hijau, biru, kuningdanmerahjambu.Sedangkanmakna yang terdapatpada motif-motif tembenggoli,secaraumummasyarakatBimamenunjukansikapsosial,jujur, tugas, sopan/santun, bertakwadantaatterhadapTuhansertapemimpinnya, selainitujugadikaitkandenganwatak/karaktermasyarakat di daerahBimasejakzamandahulusampaisekarangini. Keunikan yang terdapatpadajenistembenggolidapat di gunakandalampakaianadat“rimpu”, sedangkankeunikanpadamotifnyaitusendiripadatenundaerahBima-NTB umumnyamenggunakan motif flora dangeometris. Penelitimengharapkanuntukkedepannyaakanadapenelitianberkelanjutanlebihmenyempurnakan, untukpengrajintenunlebihkreatifdalammenciptakansebuatdesainataupunkarya, jugamempertahankandesain yang adasebelumnya,sedangkanbagimasyarakatdanpemerintahdaerahsenidanbudayaharusmempertahankanbudaya yang adakarenaituadalahsalahsatukekayaan yang ada di Indonesia khususnyadaerahBima Nusa Tenggara Barat.  

Pengaruh faktor ekstrinsik dan intrinsik terhadap pemilihan program studi menurut persepsi mahasiswa Jurusan Teknik Sipil angkatan 2016 Universitas Negeri Malang / Myan Nawatur Rizka

 

ABSTRAK Rizka, Myan Nawatur. 2016. Pengaruh Faktor Ekstrinsik dan Intrinsik terhadap Pemilihan Program Studi Menurut Persepsi Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Angkatan 2016 Universitas Negeri Malang.Skripsi, JurusanTeknikSipil, FakutasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Made Wena,M.Pd, M.T., (II) Drs. Priyono, M.Pd. Kata Kunci: faktor ekstrinsik, faktor intrinsik, pemilihan program studi Beragam jurusan yang terdapat di perguruan tinggi memberikan pilihan pada calon mahasiswa untuk memilih program studi yang diinginkan. Setiap mahasiswa mempunyai pertimbangan yang berbeda dalam memilih program studi karena mereka mempunyai visi dan misi yang berbeda. Pertimbangan tersebut meliputi faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Banyaknya pertimbangan mahasiswa dalam memilih program studi merumuskan faktor yang mempengaruhi pemilihan perlu dilakukan. Berkaitan dengan hal itu, maka diperlukan pembahasan mengenai faktor yang mempengaruhi pemilihan program studi. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tingkat pengaruh faktor ekstrinsik terhadap pemilihan program studi menurut persepsi mahasiswa Jurusan Teknik Sipil; (2) mendeskripsikan tingkat pengaruh faktor intrinsik terhadap pemilihan program studi menurut persepsi mahasiswa Jurusan Teknik Sipil. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa angket/kuesioner. Data angket/kuesioner dalam penelitian ini untuk variabel faktor ekstrinsik dan variabel faktor intrinsik. Kegiatan analisis data dimulai dari tabulasi (skoring) data, dan analisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pertama, faktor ekstrinsik yang berpengaruh terbesar pada mahasiswa Program Studi S1 PTB adalah lingkungan keluarga sebesar 63,07%, sedangkan yang terkecil adalah teman sebaya sebesar 47,34%. Faktor ekstrinsik yang berpengaruh terbesar pada mahasiswa Program Studi D3 TSB adalah lingkungan masyarakat sebesar 67,78%, sedangkan yang terkecil adalah lingkungan keluarga sebesar 63,94%. Faktor ekstrinsik yang berpengaruh terbesar pada mahasiswa Program Studi S1 TS adalah lingkungan keluarga sebesar 65,18%, sedangkan yang terkecil adalah teman sebaya sebesar 51,50%. Kedua, faktor intrinsik yang berpengaruh terbesar pada mahasiswa Program Studi S1 PTB adalah cita-cita sebesar 79,38%, sedangkan yang terkecil adalah bakat sebesar 61,76%. Faktor intrinsik yang berpengaruh terbesar pada mahasiswa Program Studi D3 TSB adalah bakat sebesar 66,81%, sedangkan yang terkecil adalah cita-cita sebesar 53,19%. Faktor intrinsik yang berpengaruh terbesar pada mahasiswa Program Studi S1 TS adalah cita-cita sebesar 74,51%, sedangkan yang terkecil adalah bakat sebesar 60,30%. Disimpulkan bahwa faktor ekstrinsik yang paling dominan mempengaruhi mahasiswa S1 PTB dan S1 TS dalam pemilihan program studi adalah lingkungan keluarga dan untuk mahasiswa D3 TSB adalah lingkungan masyarakat. Sedangkan faktor intrinsik yang paling dominan mempengaruhi mahasiswa S1 PTB dan S1 TS dalam pemilihan program studi adalah cita-cita dan untuk mahasiswa D3 TSB adalah bakat.

Pembelajaran karawitan di Sanggar Sangkara Gembiring Desa Lamong Kecamatan Badas Kabupaten Kediri / Rizky Suharmoko Ady

 

ABSTRAK Ady, Rizky, Suharmoko. 2016, Pembelajaran Karawitan Di Sanggar Sangkara Gemrining Desa Lamong Kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Skripsi, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn, (II) Hartono, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci: Pembelajaran, Karawitan, Teknik Menabuh Gamelan. Karawitan merupakan seni suara Jawa, baik vokal, instrumental maupun vokal instrumental dengan menggunakan tangga nada pentatonis jawa yaitu pelog dan slendro dengan menggunakan alat musik yaitu gamelan. Pembelajaran yang dilakukan di sanggar termasuk sanggar Sangkara Gemrining tersebut bersistem aprentisip berkonsep penularan seni. Penelitian mengenai pembelajaran karawitan tersebut bertempat di Sanggar Sangkara Gemrining Desa Lamong Kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Sanggar tersebut dipimpin oleh seniman ternama yaitu Suroso. Penelitian yang berjudul Pembelajaran Karawitan di Sanggar Sangkara Gemrining Desa Lamong Kecamatan Badas Kabupaten Kediri ini mempunyai tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan proses pembelajaran beserta metode yang digunakan pelatih sanggar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dalam arti peneliti mendeskripsikan fenomena yang terjadi di masyarakat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber, dan triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan Pembelajaran Karawitan Di Desa Lamong Kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Pembelajaran karawitan melalui tahapan-tahapan yaitu (1) Prainstruksional, (2) Instruksional (3) Evaluasi. Metode yang digunakan dalam pembelajaran karawitan tersebut yaitu metode demonstrasi dan metode drill. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis menyarankan kepada seluruh masyarakat khusunya generasi muda di Desa Lamong Kecamatan Badas Kabupaten Kediri untuk terus dapat mempelajari karawitan teknik menabuh gamelan yang baik dan benar, sehingga dapat memberi manfaat bagi dunia pendidikan.

Perancangan buku infografis "Gorontalo Culinary Breakdown" sebagai media pengenalan kuliner khas Gorontalo / Luthfi Abdurrahman Hinelo

 

ABSTRAK Hinelo, Luthfi Abdurrahman. 2015. Perancangan Buku Infogfaris “Gorontalo Culinary Breakdown” Sebagai Media Pengenalan Kuliner Khas Gorontalo. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Sarjono, M.Sn, (II) Andreas Syah Pahlevi, S.Sn, M.Sn Kata Kunci : Perancangan, Buku Infografis, Media Pengenalan, Kuliner, Gorontalo Perancangan buku infografis “Gorontalo Culinary Breakdown” ini merupakan sebuah perancangan untuk mengenalkan keragaman kuliner khas Gorontalo ke masyarakat luas agar dapat menambah koleksi keragaman kuliner khas Indonesia serta dapat menjadi pemicu peningkatan dalam bidang industri kuliner di Gorontalo. Maka dari itu pentingnya buku infografis “Gorontalo Culinary Breakdown” sebagai media pengenalan kuliner Gorontalo adalah media tersebut berbentuk buku infografis karena dapat mengenalkan serta membedah kuliner Gorontalo secara detail, edukatif, dan tidak membosankan. Dua elemen (teks dan ilustrasi) yang saling mendukung memperkuat penyampaian informasi pada buku infografis kuliner Gorontalo tersebut. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural, yaitu model perancangan yang bersifat deskriptif dimana menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti dalam menghasilkan sebuah produk. Langkah untuk merancang buku infografis dan media komunikasi visual alternatif lainnya sebagai media pendukung menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil perancangan buku infografis yang telah mengikuti prosedur perancangan mulai dari latar belakang masalah hingga final desain ini adalah sebuah buku panduan dengan judul “Gorontalo Culinary Breakdown” sebagai media utama, berdimensi 21 x 22 cm terdiri dari 72 halaman, yang berisi enam belas penjelasa kuliner beserta perinciannya secara infografis serta resep, cara masak, dan informasi tentang dimana ia bisa didapatkan. Sebagai media pendukung promosi buku infografis ini terdapat x-banner, brosur, poster, akun instagram, dan website interface.

Pengaruh discovery learning berbantuan paket program simulasi PhET terhadap prestasi belajar fisika materi listrik arus searah ditinjau dari kemampuan awal siswa / Abd. Mannan

 

ABSTRAK Abd. Mannan. 2015. Pengaruh Discovery Learning Berbantuan Paket Program Simulasi PhET terhadap Prestasi Belajar Fisika Materi Listrik Arus Searah ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa. Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro, M.Si. (2) Dr. Lia Yuliati, M.Pd Kata kunci: discovery learning, paket program simulasi PhET, prestasi belajar fisika, kemampuan awal. Aktivitas pembelajaran yang ideal tidak hanya difokuskan pada penguasaan konsep saja, melainkan keaktifan dan kemandirian siswa menemukan sendiri informasi mengenai konsep yang dipelajari. Discovery learning dirancang dengan tujuan agar siswa dapat menemukan sendiri konsep yang dipelajari dan bekerja secara efektif dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh discovery learning berbantuan paket program simulasi PhET terhadap prestasi belajar dibandingkan dengan discovery learning, mengetahui pengaruh discovery learning dengan berbantuan paket program simulasi PhET terhadap prestasi belajar fisika pada siswa berkemampuan awal tinggi dan rendah dibandingkan dengan discovery learning. Penelitian menggunakan desain faktorial 2 x 2. Populasi penelitan adalah kelas X yang tersebar di tiga sekolah, SMA Negeri 1 Torjun, SMA Negeri 1 Kedundung, dan SMA Negeri 4 Sampang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster sampling. Masing-masing sekolah diambil satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Instrumen penelitian terdiri atas RPP, LKS, soal kemampuan awal dan prestasi belajar fisika yang berupa soal pilihan ganda. Teknik pengumpulan data kemampuan awal dengan melakukan tes kemampuan awal pada awal penelitian dan pada akhir penelitian diberikan tes prestasi belajar fisika. Teknik analisis data menggunakan uji anava dua jalur. Hasil penelitan menujukkan bahwa: (1) Prestasi belajar fisika kelompok siswa yang belajar melalui discovery learning berbantuan paket program simulasi PhET lebih tinggi daripada kelompok siswa yang belajar melalui discovery learning, (2) Prestasi belajar fisika kelompok siswa berkemampuan awal tinggi yang belajar melalui discovery learning berbantuan paket program simulasi PhET lebih tinggi daripada kelompok siswa berkemampuan awal tinggi yang belajar melalui discovery learning, (3) Prestasi belajar fisika kelompok siswa berkemampuan awal rendah yang belajar melalui discovery learning berbantuan paket program simulasi PhET lebih tinggi daripada kelompok siswa berkemampuan awal rendah yang belajar melalui discovery learning. Keberhasilan discovery learning dengan berbantuan paket program simulasi PhET mempengaruhi prestasi belajar dikarenakan program simulasi PhET mampu melibatkan siswa dalam eksplorasi seperti ilmuwan dan hasil pemahaman siswa terhadap materi lebih besar dan mendalam.

Implementasi standar proses kurikulum 2013 di Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMK / M. Andri Mas'ad Fuadi

 

ABSTRAK Fuadi, M Andri Mas’ad. 2016. Implementasi Standar Proses Kurikulum 2013 di Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMK. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)Dr. H. Amat Nyoto,M.Pd(II)Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd. Kata kunci: Standar Proses, Kurikulum 2013, Jurusan Teknik Kendaraan Ringan, SMKN 1 Sidoarjo dan SMKN 1 Jabon. Pendidikanmerupakanhal paling esensialdalammenciptakansumberdayamanusia yang berkualitas. Kualitassumberdayamanusiabergantungpadamutupendidikan.PendidikankarakterdanpengembanganKurikulum 2013 diharapkandapatmenyiapkan SDM yang berkualitassehinggamasyarakatindonesiadapatmenghadapidanmenjawabberbagaimasalahdantantangan yang semakinrumitdankompleks.Kurikulum 2013 memiliki Standar Nasional Pendidikan (SNP) meliputi delapan standar, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.Diantara delapan standar tersebut terdapat Standar Proses. Standar proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuiimplementasistandar proses kurikulum 2013 di JurusanTeknikKendaraanRingan SMKN 1 Sidoarjodan SMKN 1 Jabon yang meliputiperencanaanpembelajarandanpelaksanaan proses pembelajaran. Penelitianiniadalahpenelitiandeskriptif. Subyekpenelitianadalah guru produktifJurusanTeknikKendaraanRingan SMKN 1 Sidoarjo yang berjumlah6 (enam) orangdanguru produktifJurusanTeknikKendaraanRingan SMKN 1 Jabon yang berjumlah4 (empat) orang. Pengumpulan data menggunakanmetodeangket, wawancara, observasidandokumentasi. Ujivaliditasinstrumendilakukanmelaluipenilaian para ahli (Expert Judgement) dananalisisbutirinstrumenmenggunakankorelasiProduct Momentdari Karl Pearson. Analisis data dilakukandenganmenggunakanteknikdeskriptifkuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) perencanaan pembelajaran yang dilakukan guru termasuk dalam kategori sesuai (rerata pencapaian skor: 56,4). Hasil tersebut menunjukkan perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sesuai dengan kurikulum 2013.(2) Pelaksanaan proses pembelajaran menurut guru termasuk kedalam kategori sesuai(rerata pencapaian skor: 157,9). sementara menurut hasil observasi termasuk kedalam kategori sesuai (rerata pencapaian skor: 139,7). Hasil penelitian tersebut menunjukkan pelaksanaan proses pembelajaran telah sesuai dengan kurikulum 2013.

Survei penyajian wayang kulit lakong Carangan Wahyu Sekar Jaya Mulya di Desa Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek / Rahma Hera

 

ABSTRAK Hera. Rahma. 2015. SurveiPenyajian Wayang Kulit Lakon Carangan Wahyu Sekar Jaya Mulya di Desa Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn (II) Hartono, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci: Penyajian, wayang kulit, Lakon carangan, Trenggalek. Sanggit merupakan unsur terpenting pada pertunjukan wayang kulit, dengan sanggit dalang dapat menggarap unsur pakeliran dan dapat memunculkan kecenderungan pribadi dalam pertunjukan wayang terlebih pada lakon carangan yang merupakan hasil karya dalang dalam menciptakan lakon-lakon baru yang alur ceritanya tidak ada hubungannya dengan lakon baku, sehingga sanggit dari dalang memilikki arti penting pada pertunjukan wayang kulit untuk menggarap hasil karyanya agar bisa hidup dan menarik penonton. Kenyataan kini dalang dalam menggarap pakeliran sengajamenampilkan adegan limbukan dan gara-gara yang menjadi favorit penonton dengan durasi yang lama, menyebabkan pertunjukan wayang kulit cenderung lebih banyak pada kedua adegan tersebut dibanding dengan lakonnya sehingga penyajiannya tidak proporsional. Adegan limbukan dan gara-gara yang mendominasi waktu pertunjukan wayang kulit, menyebabkan makna yang disampaikan dalang lewat lakon yang ditampilkan kurang tersampaikan pada penonton. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penyajian wayang kulit lakon carangan Wahyu Sekar Jaya Mulya di Desa Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. Narasumber Hadi Sutikno selaku dalang pertama, Sukardi selaku dalang kedua dan Wasito selaku pengrawit. Metode pengambilan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyajian wayang kulit lakon carangan Wahyu Sekar Jaya Mulya terdiri dari: 1) pathet nem: a) tablo; b)jejer; c) babak unjal; d) bedholan; e) gapuran; f) limbukan; g) paseban jaba; h) budhalan; i) perang ampyak. 2) pathet sanga: a) gara-gara; b) kesatriyan; c) perang kembang. 3) pathet manyura: a) manyura kapisan; b) manyura kapindho; c) manyura katelu: d) perang brubuh; e) tayungan; f) tanceb kayon. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis memberikan saran diadakan penelitian lebih lanjut dan lebih menyempurnakan hasil penelitian tentang wayang kulit. Saran kepada masyarakat terutama generasi mudaagar melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang kulit, sehingga memunculkan rasa cinta terhadap kesenian. Pertunjukan wayang kulit memberikan tontonan yang berisi tuntunan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkaya pengalaman jiwa penghayat.Wayang kulit sebagai seni tradisi yang wajib untuk dipertahankan.

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran pembuatan kemeja pada mata pelajaran pembuatan busana industri di kelas XI Busana Butik SMKN 5 Malang / Nenok Mitasari

 

ABSTRAK Mitasari, Nenok. 2016. Studi Tentang Pelaksanaan Pembelajaran Pembuatan Kemeja Pada Mata Pelajaran Pembuatan Busana Industri di Kelas XI Busana Butik SMKN 5 Malang. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang.(1) Dra.Nur Endah Purwaningsih,M.Pd (2) Dra.Idah Hadijah,M.Pd. Kata Kunci : pelaksanaan pembelajaran, pembuatan kemeja, program busana butik. Program busana butik ditujukan untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional dan kompeten dalam bidang tata busana seperti, menjahit, mendesain busana dan bidang lain yang berkaitan dengan busana. Kegiatan belajar pembuatan kemeja dimulai dari membuat pola, memotong bahan, menjahit bahan, dan finishing. Kegiatan menjahit kemeja merupakan kategori sulit, namun walaupun dalam kategori sulit nilai siswa berada di atas KKM, oleh sebab itu mata pelajaran pembuatan kemeja perlu diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran pembuatan kemeja pada mata pelajaran pembuatan busan industri. Ditinjau dari rumusan masalah, maka penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa busana butik kelas XI yang berjumlah 63 siswa. Instrumen menggunakan angket. Skala pengukuran menggunakan skala Guttman. Uji validitas instrumen ini menggunakan rumus Product Moment. Reliabilitas instrumen menggunakan rumus KR (Kuder Richardson )20, dan dianalisis menggunakan persentase. Kesimpulan penelitian ini adalah kegiatan pendahuluan yang dialaksanakan guru yaitu mempersiapkan siswa untuk belajar sehingga kondisi siswa sudah siap untuk mengikuti pelajaran dengan seksama. Kegiatan inti yang dilaksanakan yaitu guru mampu menguasai materi, media pembelajaran, metode pembelajaran, memberikan tugas, mengelola kelas, memberi motivasi, dan berperan sebagai narasumber, sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar. Kegiatan penutup yaitu guru mampu merangkum materi bersama siswa, mampu memberikan umpan balik sehingga siswa dapat mengetahui dimana letak kekurangan selama membuat kemeja, dan guru mampu menyampaikan rencana pembelajaran untuk materi selanjutnya, sehingga siswa dapat mempersiapkan untuk kegiatan belajar selanjutnya. Saran bagi guru diharapkan dapat mempertahankan dan menambah/melengkapi materi dan media pembelajaran pembuatan kemeja sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan dan dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Bagi sekolah diharapkan dapat menfasilitasi sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan praktek siswa busana butik agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan lancar. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan meneliti media pembelajaran agar lebih meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran.

Pengembangan pembelajaran bolavoli dengan multimedia interaktif untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Sylfia Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Sylfia. 2016. Pengembangan Latihan Permainan Bolavoli Dengan Multimedia Interaktif Berupa Autolay Untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. D Wasis Dwiyoga, M.Pd, (II) Dra. Sulistyorini, M.Pd. Kata Kunci:Pengembangan latihan Bolavoli, autoplay Berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan peneliti ditemukan dalam satu set permainan dari 12 peserta ekstrakulikuler bolavoli kurang baik dalam menguasai passing bawah bahkan sering dari mereka melakukan kesalahan pada saat melakukan passing bawah. Peneliti juga melakukan wawancara pada pelatih ekstrakulikuler bolavoli di SMPN 1 Lengkong yang menerangkan bahwa program latihan yang selama ini dilaksanakan belum menggunakan variasi latihan passing bawah sehingga kurang menarik minat peserta untuk mengikuti latihan, membuat peserta menjadi bosan dan jenuh selama proses latihan berlangsung, Tidak adanya media pendukung seperti penggunaan multimedia sebagai panduan juga merupakan suatu alasan kenapa kurangnya pemberian variasi latihan passing bawah bolavoli kepada peserta ekstrakulikuler. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan mengembangkan latihan bolavoli, dan menguji kelayakan produk yang dikemas dalam bentuk autoplay media studio. Sehingga dapat membantu pemahaman latihan passing bawah permainan bolavoli untuk meningkatkan keterampilan passing bawah pada peserta ekstrakurikuler bolavoli di SMPN 1 Lengkong Kabupaten Nganjuk. Penelitian dan pengembangan (research and development) yang mengacu pada model penelitian dan pengembangan Lee and Owen. Tahap-tahap penelitian ini antara lain analisis kebutuhan, desain produk, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Hasil pengembangan produk berupa variasi passing bawah bolavoli dengan multimedia interaktif berupa autoplay. Berdasarkan uji coba kelompok kecil pada 8 peserta latihan diperoleh persentase 82,22% yang berarti produk sangat valid sehingga produk dapat digunakan tanpa revisi. Sedangkan pada uji coba kelompok besar pada 30 peserta diperoleh persentase 83,98% yang berarti produk sangat valid sehingga produk dapat digunakan tanpa revisi pada latihan di Ekstrakurikuler bolavoli di SMP. Pengembangan latihan bolavoli dengan multimedia interaktif berupa autolpay untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dipergunakan bagi peserta latihan ekstrakurikuler bolavoli karena mudah dilakukan, produk yang dihasilkan menarik minat peserta untuk mempelajari teknik dasar bolavoli.

Bunglon sebagai inspirasi penciptaan karya seni lukis / Muhammad Ivan Kurniawan

 

ABSTRAK Ivan Kurniawan, Muhammad. 2015. BunglonSebagaiInspirasiPenciptaanKaryaSeniLukis. Skripsi, JurusanSenidanDesain, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Triyono Widodo, M.Sn.,(II) Fenny Rochbeind, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci:Bunglon, Keistimewaan, Penciptaan, Seni Lukis Bunglonadalahsejenisreptil yang memilikibeberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hewan lain, salah satunyadapatmerubahwarnakulitmenyesuaikankondisilingkungansekitarnya. Perubahanwarnakulitbunglondipengaruhiolehsuhulingkungan, saatmendeteksiadanyaancaman, danuntukmenariklawanjenis.Perubahantersebutmerupakancarabunglonberadaptasidenganlingkungan untuk bertahan hidup. Sehinggatema yang diangkatolehpenciptayaitutentangkeistimewaanbunglonyang akandiwujudkankedalamkaryasenilukis. Proses dalampenciptaankaryasenilukisinibermuladariperancangankonsep yang didalamnyaterdapat ide, tema, danobjek yang akandiciptakanyaituobjekbunglon. Setelahitumenentukankarakteristikkarya, teknik, alat, danbahan yang akandigunakan. Langkahselanjutnyaadalah proses visualisasiyaitumembuatsketsa di ataskertaslalumemindahkannyakekanvas. Kemudian proses pewarnaanmenggunakantekniksapuankuasbasahdanblok, diakhiridengan proses finishingkarya. Penciptamenampilkan 6 karyasenilukisdengan media estetikberupagaris, bentuk, danwarnasebagaisimbolisasidarikonsep.Karakteristikdarikeenamlukisaniniadalahbunglonsebagaiobjek, warnahitampadalatarbelakang, pendistorsianbentukbunglontetapimasihdapatdikenalibentukaslinya, dangoresanhaluspadaobjek. Berdasarkanhasilpenciptaaninipenciptamendapatpengalamanbarumelalui proseskreatifdalammewujudkankaryalukis yang terinspirasidaribunglon. Mulaidari proses perancangankonsep, hingga proses visualisasikarya, dandiskripsikaryaterwujudmelaluipengamatanpribadipenulis. Melaluikaryapenciptaaninidiharapkanmendapatapresiasipositiftentangkaryalukissertaikutmengangkatsensibilitasdanpersepsimasyarakatakanlebihbaik. Sedangkanbagipendidikankaryalukisinidapatmenyampaikanpesan yang memilikinilaiedukatifyaitutentangkeistimewaan yang dimiliki bunglon, sertamenambahwawasanestetikabagipesertadidik, memunculkan rasa simpatikdanempatikterhadaphasilkaryasenilukis.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui pendapatan model pembeljaran kooparatif tipe TGT pada siswa kelas IV SDN Sidodadi 03 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Puji Pangestuti

 

Kata kunci: peningkatan, hasil belajar, ips, model pembelajaran kooperatif tipe tgt Hasil observasi di lapangan, pembelajaran IPS dengan materi membaca dan menggambar peta lingkungan setempat pada kelas IV di SDN Sidodadi 03 masih bersifat konvensional. Guru mendominasi kegiatan pembelajaran dengan metode ceramah dan tidak memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi pelajaran. Sehingga siswa cenderung pasif saat pembelajaran. Aspek afektif maupun psikomotor kurang dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Sidodadi 03 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis PTK, yang setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instumen penelitian yaitu lembar observasi dan tes. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus dengan setiap siklus 2 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkaan adanya peningkatan dilihat pada siklus 1 ke siklus 2, aktivitas siswa meningkat sebesar 88,64% dengan kualifikasi sangat baik. Hasil belajar siswa,siklus 1 ke siklus 2 meningkat sebesar 87%(21 siswa tuntas belajar) dan 3 siswa tidak tuntas belajar karena kemampuan kurang. Kesimpulan penelitian bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS. Dari 24 siswa, 21 siswa yang tuntas belajar dan 3 siswa tidak tuntas karena kemampuan kurang.

Manajemen kas pada perusahaan Rokok Cap Djagung Padi Malang
oleh Ahmad Dahlan

 

Karakterisasi contoh spontan berdasarkan interaksi berpikir guru-siswa dalam pembelajaran matematika / Baharullah

 

ABSTRAK Baharullah, 2016. Karakterisasi Contoh Spontan Berdasarkan Interaksi Berpikir Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Dr. Subanji, M.Si., (III) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd. Kata kunci: Karakteristik Contoh Spontan, Interaksi Berpikir, Pembelajaran Matematika Pemilihan contoh dalam proses pembelajaran matematika, merupakan tugas guru yang menantang, membutuhkan banyak pertimbangan, terutama dalam memunculkan contoh yang tidak direncanakan atau contoh spontan. Contoh spontan penting dalam pembelajaran matematika karena bisa mengembangkan pola pikir guru dan siswa. Contoh spontan dapat meningkatkan kreativitas guru dalam pembelajaran matematika. Semakin sering guru memunculkan contoh spontan dalam pembelajaran matematika, semakin kreatif guru tersebut. Pemberian contoh spontan dalam pembelajaran matematika sering dibutuhkan terutama ketika terjadi trouble dalam proses pembelajaran. Misalnya ketika siswa mengalami trouble jenis tak sambung, atau ketika siswa mengalami trouble jenis senjang, atau mungkin ketika siswa mengalami trouble jenis sendat dalam proses pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan contoh spontan dari proses interaksi berpikir Guru-Siswa dalam pembelajaran matematika. Subjek dalam penelitian ini adalah guru matematika yang berkualifikasi S1 Pendidikan Matematika pada tingkat SMP sebanyak 15 guru, dengan rincian 8 (delapan) guru pemula dan 7 (tujuh) guru berpengalaman. Subjek yang dipaparkan dalam penelitian ini, masing-masing diambil 2 (dua) dari delapan guru pemula dan 2 (dua) dari tujuh guru berpengalaman. Pengambilan subjek tersebut berdasarkan frekuensi paling banyak kemunculan contoh spontan untuk masing-masing klasifikasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan dalam observasi jangka panjang dan dilanjutkan dengan wawancara. Proses pengumpulan data dilakukan pada 4 (empat) sekolah yang berbeda pada tingkat SMP di kota Makassar. Materi matematika yang diajarkan, yaitu pada bidang kajian bilangan, aljabar, geometri, dan aritmetika. Bidang kajian tersebut dibahas di kelas VII, VIII, dan IX. Materi kajian tersebut didasarkan pada perencanaan guru dalam pembelajaran. Dari praktik pembelajaran tersebut, ditelusuri adanya contoh spontan. Dalam hal ini, contoh spontan terjadi pada pembelajaran materi bilangan, aljabar, dan aritmetika. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kamera audio visual (handycam) dan perekam wawancara (recorder). Selama proses pembelajaran berlangsung, aktivitas guru direkam menggunakan handycam. Setelah data terkumpul dilakukan transkripsi hasil rekaman, selanjutnya data direduksi dengan cara memilih interaksi berpikir guru dengan siswa yang menghasilkan contoh spontan. Wawancara dilakukan terhadap subjek dengan berbasis rekaman video pembelajaran. Kepada subjek diputarkan hasil rekaman tentang pembahasan materi, disertai contoh spontan yang dihasilkan, lalu rekaman tersebut dihentikan dan dilanjutkan dengan wawancara untuk menelusuri alasan atau pertimbangan subjek memunculkan contoh spontan. Kegiatan analisis data dilakukan secara eksploratif dan berlangsung secara terus menerus sampai datanya jenuh. Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi informasi baru terkait dengan karakteristik contoh spontan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh spontan dapat dikarakterisasi dalam 3 kategori, yaitu pembentukan contoh spontan ilustratif, pembentukan contoh spontan klarifikatif dan pembentukan contoh spontan konfirmatif. Pembentukan contoh spontan ilustratif terjadi ketika “guru pemula” membahas materi mengubah persen bentuk pecahan campuran ke bentuk pecahan biasa. Siswa tidak dapat mengubah pecahan campuran ke pecahan biasa, mengakibatkan siswa tidak dapat mengubah persen bentuk pecahan campuran ke bentuk pecahan biasa, siswa mengalami trouble jenis tak sambung, yaitu pemahaman konsep matematika yang terputus pada faktual dan konseptual. Akibat trouble tersebut, guru membentuk contoh spontan berikutnya dan contoh tersebut dijelaskan melalui proses ilustrasi. Demikian pula ketika “guru berpengalaman” membahas materi sifat pangkat pecahan disertai dengan penjelasan contoh spontan. Siswa salah menempatkan konsep siswa mengalami trouble jenis senjang, yaitu perbedaan pemahaman konsep antara guru dan siswa. Akibat trouble yang dialami siswa, guru menjelaskan contoh spontan tersebut melalui proses ilustrasi dengan mengilustrasikan beberapa contoh yang berbeda. Contoh spontan klarifikatif terjadi ketika “guru pemula” membahas materi perpangkatan bilangan bulat -42 dan (-4)2, siswa mengalami trouble jenis senjang, yaitu perbedaan konsep (miskonsepsi) pada faktual dan konseptual. Misalnya, siswa memahami bahwa konsep operasi -42 dan (-4)2 adalah sama. Akibat trouble yang dialami siswa, guru menjelaskan melalui proses klarifikasi. Guru mengklarifikasi bahwa konsep operasi -42 dan (-4)2 berbeda. Demikian pula, contoh spontan klarifikatif terjadi ketika “guru berpengalaman” menjelaskan tentang pangkat bilangan pecahan, pengetahuan siswa terhadap sifat pangkat bilangan pecahan hanya melalui hapalan, tidak dimaknai. Sehingga ketika siswa menyelesaikan masalah tentang pangkat bilangan pecahan, mengalami trouble jenis sendat, yaitu pemahaman siswa tersendat atau tidak lancar terhadap konseptual atau prosedural. Akibat trouble yang dialami siswa, guru menjelaskan melalui proses klarifikasi. Contoh spontan konfirmatif terjadi ketika “guru berpengalaman” membahas materi barisan aritmetika yang memiliki beda (b) negatif, siswa tidak dapat menyebutkan tiga suku berikutnya, siswa mengalami trouble jenis sendat, yaitu tidak lancar atau tersendat terhadap pengetahuan konseptual atau pengetahuan prosedural. Demikian pula, dalam pikiran siswa bahwa barisan aritmetika selalu linear dari bilangan terkecil ke bilangan terbesar pada urutan suku-suku barisan aritmetika, siswa mengalami trouble jenis senjang, yaitu pemahaman konsep yang keliru (miskonsepsi). Akibat trouble yang dialami siswa, guru membentuk dan menjelaskan contoh spontan barisan aritmetika dari bilangan terbesar ke bilangan terkecil pada urutan suku-suku barisan aritmetika melalui proses klarifikasi.

Mengajarkan larutan buffer dengan metoda percobaan individual di SMA / oleh Sis Suhartini

 

Fungsi terowongan air di Tulungagung / oleh Soewardji

 

Penerapan problem posing berbantuan multimedia untuk meningkatkan hasil belajar mengubah bentuk pecahan (studi siswa kelas 5 SDN Pandanwangi 5 Blimbing Kota Malang) / Agus Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan,Agus. 2015.Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Model Problem Posing Berbantuan Multimedia untuk meningkatkan hasil belajar mengubah bentuk pecahan siswa kelas 5 SD Negeri Pandanwangi 5 Malang.Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.Pembimbing (I) Prof.Dr.I Nyoman Sudana Degeng,M.Pd,(II) Dr.Edy Bambang Irawan,M.Pd Kata Kunci : Pembelajaran, Problem Posing,Multimedia, mengubah bentuk pecahan Pembelajaran yang diterapkan di sekolah cenderung bersifat konvensional pembelajaran yang demikian itu menyebabkan siswa menjadi passif.Untuk itu perlu dirancang suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah menerapkan pembelajaran Problem Posing berbantuan Multimedia untuk meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran Problem Posing berbantuan multimedia memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan kehidupan siswa, sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Pembelajaran yang dilakukan adalah memahami masalah, mengajukan masalah dan menyelesaikan masalah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) kolaboratif untuk mendeskripsikan bagaimanakah pembelajaran mengubah bentuk pecahan melalui model problem posing berbantuan multimedia untukmeningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Pandanwangi 5 Kota Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II.Teknik penelitian yaitu observasi langsung berupa lembar observasi guru dan siswa, teknik pengukuran berupa instrumen tes. Teknik penyajian data berupa tabel dan analisis. Evaluasi skor aktifitas guru melaksanakan pembelajaran pada siklus I (rata-rata 78%; cukup baik), siklus II (rata-rata 78,9%; baik), ada peningkatan 0,9%. Pada indikator aktivitas siswa, dari siklus I( 86,8%; sangat baik), siklus II (86,8%; sangat baik) peningkatan 0%. Pada tes akhir pembelajaran nilai rata-rata siklus I( 72,36 tuntas) / 45% siswa di atas KKM, siklus II( 81,18 tuntas) / 89% siswa di atas KKM. Jadi ada peningkatan sebesar 16,64 /44%

Tingkat kepuasan siswa tata busana kelas XII pada pelayanan pendidikan di SMK Negeri 3 Malang / Yananda Afrita

 

ABSTRAK Afrita, Yananda. 2015. Tingkat Kepuasan Siswa Tata Busana Kelas XII Pada Pelayanan Pendidikan di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn, (2) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata Kunci: Kepuasan Siswa, Pelayanan Pendidikan Proses pendidikan di sekolah dapat dikatakan berkualitas apabila dapat memberikan kepuasan pada siswanya. Segala aktivitas di dalam sekolah merupakan proses pelayanan jasa, dan kewajiban utama sekolah adalah melayani sebaik-baiknya untuk menjamin kepuasan siswa. Salah satu tujuan SMK Negeri 3 Malang yaitu mewujudkan pengelolaan dan pelayanan yang bermutu untuk menjamin kepuasan stakeholders sesuai SMM ISO 9001:2000. Untuk mencapai tingkat kepuasan yang tinggi, diperlukan adanya pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh siswa, dengan mengembangkan komitmen setiap orang yang ada dalam lembaga untuk memenuhi kebutuhan siswa sebagai pengguna jasa pendidikan. Berdasarkan hal tersebut mengukur kepuasan siswa merupakan hal yang perlu dilakukan dalam perbaikan mutu kualitas sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat kepuasan siswa tata busana kelas XII pada pelayanan pendidikan di SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripstif dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian adalah siswa Tata Busana SMK Negeri 3 Malang kelas XII dengan jumlah 79 responden. Teknik pegambilan sampel yang digunakan Simple Random Sampling. Sedangkan cara penentuan ini mengacu pada tabel yang dikembangkan oleh Issac dan Michael. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket tertutup. Pada uji validitas menggunakan validitas isi dan uji reliabilitas menggunakan bantuan SPSS for windows versi 17.0 dengan analisis Cronbach’s Alpha. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan siswa pada pelayanan pendidikan di SMK Negeri 3 Malang yakni: (1) Keandalan guru dalam pelaksanaan pembelajaran pada pelayanan pendidikan berada pada kategori puas, (2) daya tanggap guru dalam pelaksanaan pembelajaran berada pada kategori puas, (3) kepastian guru dalam pelaksanaan pembelajaran berada pada kategori puas, (4) empati guru dalam pelaksnaan pembelajaran berada pada kategori puas, dan (5) tingkat kepuasan siswa pada pelayanan pendidikan di SMK Negeri 3 Malang berada pada kategori puas. Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka saran yang diberikan adalah bagi siswa dapat memanfaatkan layanan pendidikan yang tersedia di SMK Negeri 3 Malang, bagi guru datang tepat waktu dan senantiasa mampu membimbing siswa agar berkembang menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang serta bagi pihak sekolah menyediakan laboran untuk laboratorium praktik guna menunjang proses pembelajaran di SMK Negeri 3 Malang.

Pupuk sebagai salah satu bahan pengajaran ilmu kimia di SMA / oleh Goenawan Loewito

 

Pengaruh asimetri informasi dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba (studi pada perusahaan perbankan yang listing di BEI tahun 2011-2013) / Yudi Arianto

 

ABSTRAK Arianto, Yudi. 2016. Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba (Studi pada Perusahaan Perbankan yang Listing di BEI Tahun 2011-2013). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Nujmatul Laily, S.Pd, M.SA. (II) Diana Tien Irafahmi S.Pd., M.Ed. Kata Kunci: Manajemen laba, asimetri informasi, ukuran perusahaan Manajemen Laba merupakan isu yang menarik. Asimetri informasi dan ukuran perusahaan diyakini dapat mempengaruhimanajemen laba. Beberapa penelitian mengenai pengaruh asimetri informasi danukuran perusahaan pada manajemen laba telah dilakukan. Namun, hasil yangdiperoleh masih menunjukkan ketidakkonsistenan terutama ukuran perusahaan.Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh asimetri informasi dan ukuranperusahaan pada manajemen laba. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan persero dan perusahaan perbankan umum swasta nasional yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2013. Penelitian ini menggunakan The Modified Jones Model untuk menghitungdiscretionary accrual yang menjadi proksi dari manajemen laba. Ukuranperusahaan diproksikan dengan total aktiva dan asimetri informasi diproksikan denganbid-ask spreed. Pengujian hipotesis dilakukan denganmenggunakan analisis regresi berganda.Hasil pengujian asumsi klasik menunjukkan model regresi mengalami masalah asumsi klasik pada uji normalitas sehingga nilai ekstrim harus dikeluarkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwatidak terdapat perngaruh asimetri informasi pada manajemenlaba dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa asimetri informasi dan ukuran perusahaan bukan proksi yang tepat untuk manajemen laba. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya mengunakan variabel yang asimetri informasi dan ukuran perusahaan atau proksi lain karena di masa sekarang sudah tidak relevan lagi digunakan.  

Pemanfaatan besi-besi diameter kecil bekas pembongkaran bangunan sebagai penahan geser pada struktur konsol pendek beton ringan bertulang / Pinanggih Estu Wibawa

 

ABSTRAK Wibawa, Pinanggih Estu. 2016.PemanfaatanBesi-besi Diameter Kecil BekasPembongkaranBangunansebagaiPenahanGeserpadaStrukturKonsolPendekBetonRinganBertulang.Skripsi, Program Studi S1 TeknikSipilFakultasTeknikUniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Adjib Karjanto, S.T., M.T. (II) Drs. BoedyaDjatmika, S.T., M.T. Kata kunci: Tulangan bekas bongkaran, konsol pendek, beton ringan batu apung,gayageser. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat geser konsol pendek beton ringan bertulang menggunakan begel dari besi tulangan bekas bongkaran. Konsol pendek yang umumnya mempunyai rasio bentang terhadap tinggi penampang ≤ 1 menyebabkan gaya dalam geser (shear) jauh lebih dominan dibandingkan momen, sehingga diperlukan penulangan geser untuk menahan gaya geser yang dimungkinkan akan terjadi pada struktur tersebut. Pemilihan beton ringan dikarenakan berat jenis beton ringan yang lebih kecil daripada beton normal sehingga memberikan keuntungan dari sisi berat sendiri dari struktur yang direncanakan.Batu apung dipilih selain karena berat jenisnya yang ringan, juga diharapkan dapat menghasilkan beton ringan struktural ringan. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan 2 variasi diameter tulangan begel yaitu 6 mm dan 8 mm dengan masing-masing variasi digunakan 3 benda uji. Benda uji yang digunakan adalah konsol pendek yang telah didesain lebih sederhana untuk kemudahan pengerjaan dengan ukuran kolom 600 mm x 200 mm x 200 mm dan balok ukuran 200 mm x 150 mm x 250 mm. Pengujian kuat geser dilakukan menggunakan alat Loading Framesedangkan untuk pembebanan dilakukan menggunakan alat pompa hidrolik dan load cell dengan kapasitas 10 ton. Interval pembebanan dilakukan setiap 0,5 kN sampai benda uji mengalami keruntuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai tegangan leleh (fy) pada besi ϕ6 sebesar 510,83MPa dengan modulus elastisitas (Es) sebesar 130738,3MPa. Untuk besi ϕ8 rerata tegangan leleh (fy) sebesar414,63 MPa dan modulus elastisitas (Es) sebesar 121731,3MPa. Kuat tekan beton ringan batu apung didapatkan rerata sebesar 7,85 MPa denganrerataberatisimaksimumsebesar 1350,68 kg/m3.Kapasitasgesermaksimum yang mampuditerimakonsolpendektipe K6 terdapatpadabendauji K6-2 denganbebansebesar 24 kN, nilailendutansebesar 1,87 mmdanregangansebesar 0,00294. Kapasitasgesermaksimumpadakonsolpendektipe K8 terdapatpadabendauji K8-3 denganbebansebesar 33 kN, nilailendutansebesar 1,5 mmdanregangan yang dicapaisebesar 0,009319. Pada keseluruhan benda uji, pola retak yang terjadi adalah akibat geser yang ditandai dengan bentuk retak miring dari titik beban menuju arah kolom yang dipengaruhi oleh ukuran tinggi konsol pendek

Studi tentang penggunaan canting listrik pada proses pembuatan batik blimbing di Kecamatan Blimbing Kota Malang / Latifa Noviarum Kusuma W.

 

ABSTRAK Wardani, Latifa. 2016. Studi Tentang Penggunaan Canting Listrik pada Proses Pembuatan Batik Blimbing di Kecamatan Blimbing Kota Malang. Skripsi, JurusanTeknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Nurul Aini, M.Pd., (II) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Kata Kunci: Batik Blimbing, Canting Listrik Batik Blimbing merupakan home industri yang memproduksi batik tulis di Jl. Candi Jago No. 6 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Batik ini berbeda dengan batik yang ada di Malang, perbedaan terletak pada motif, sistem kerja, dan teknik produksi. Motif yang diangkat adalah Topeng Malangan dan potongan buah Blimbing, perbedaan juga terletak pada sistem kerja dan teknik produksi batik Blimbing yang lebih cepat dan efisien karena penggunaan canting listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang batik Blimbing di Kecamatan Blimbing Kota Malang yang menggunakan canting listrik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalam pemilik dan pengrajin home industri batik Blimbing, Kasi Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang, serta foto-foto yang menunjang penelitian. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, dimana instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Validasi atau keabsahan data dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi data yang kemudian diolah dengan cara mereduksi dan menyajikan data, serta membuat kesimpulan dari data-data yang diperoleh. Berdasarkan hasil penelitian dengan beberapa narasumber dapat disimpulkan bahwa, (1) Teknik pembuatan batik Blimbing berbeda dengan teknik pembuatan batik tulis pada umumnya, yaitu tidak menggunakan proses ngloyor, ngemplong, mola, ngerok, mbironi, dan nyoga, (2) Teknik pembuatan batik Blimbing menggunakan canting listrik, dimana canting listrik lebih cepat dalam proses pengerjaanya, karena tidak menggunakan proses mola, dan goresan canting yang dihasilkan lebih rapi, karena canting listrik memiliki penutup otomatis yang bersifat seperti rafido/tip-x, (3) Ukuran tabung penampung malam pada canting listrik kurang besar, sehingga pengrajin harus sering mengisi malam dan membutuhkan waktu untuk menunggu malam benar-benar panas. Saran dalam penelitian ini diajukan kepadahome industri batik Blimbing untuk sebaiknya menambah jumlah canting listrik pada tiap pengrajin, sehingga pada saat malam sudah habis pengrajin tidak perlu mengisi malam karena sudah terdapat canting cadangan yang sudah diisi dengan malam, Bagi pembaca diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya tentang proses pembuatan batik tulis, terutama proses yang menggunakan canting listrik.

Pengembangan multimedia interaktif dalam pembelajaran tematik subtema Keanekaragaman Hewan dan Tumbuhan kelas IV SD / Maharani Putri Kumalasani

 

ABSTRAK Kumalasani, Maharani Putri, 2015. Pengembangan Multimedia Interaktif Dalam Pembelajaran Tematik Subtema Keanekaragaman Hewan Dan Tumbuhan Kelas IV SD. Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Ed., M.Pd; (2) Dr. Alif Mudiono, M.Pd. Kata Kunci : Multimedia Interaktif, Pembelajaran Tematik Multimedia Interaktif merupakan perpaduan dari beberapa media seperti teks, audio, animasi, dan video yang disajikan secara interaktif untuk menyampaikan suatu pesan kepada pengguna dalam membantu memahami pesan yang disampaikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV dan hasil observasi di SDN Merjosari 2 Malang telah ditemukan fakta bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik kurang terlaksana dengan semestinya, siswa lambat dalam mengerjakan kegiatan yang ada di buku siswa, siswa membutuhkan media yang dapat membuat siswa senang belajar. Siswa membutuhkan media yang dapat menggantikan materi yang ditampilkan secara konkret. Disamping itu siswa senang dengan sesuatu yang berhubungan dengan komputer. Salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan mengembangkan multimedia interaktif yang dapat mengemas materi dan kegiatan menjadi menarik agar dapat membuat siswa senang belajar, aktif, cepat memahami materi dan menjadikan suasana pembelajaran lebih kondusif dan menyenangkan. Multimedia interaktif yang dikembangkan yaitu multimedia interaktif untuk siswa kelas IV SD yang dikemas dalam bentuk CD (Compact Disk) yang didalamnya terdapat materi tematik dan dilengkapi dengan petunjuk penggunaan untuk guru dan siswa yang mempunyai tingkat kevalidan secara teoritik, kepraktisan dalam pelaksanaannya dalam pembelajaran, keefektifan untuk mencapai tujuan, dan kemenarikan dalam membuat siswa senang belajar. Model penelitian yang digunakan untuk mengembnagkan multimedia interaktif ini menggunakan model dari Lee and Owens yang memiliki lima tahap yaitu (1) analisis kebutuhan, (2) desain produk, (3) pengembangan, (4) implementasi, dan (5) evaluasi. Hasil kelayakan produk dari tingkat kevalidan diperoleh hasil sangat valid secara teoritik, sangat praktis dilaksanakan oleh guru dan siswa, sangat menarik digunakan dalam pembelajaran, dan sangat efektif untuk mencapai tujuan pemebelajaran. Saran bagi pengembang untuk penelitian pengembang selanjutnya dapat dibuat dalam bentuk 3D, diujicobakan ke beberapa sekolah, dan dibuat untuk materi tematik atau mata pelajaran lainnya yang sesuai untuk dikemas dalam multimedia interaktif.

Penerapan model problem based learning melalui lesson study untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar geografi siswa kelas XI IIS 1 serta kompetensi pedagogik guru geografi SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo / Eka Andriani

 

ABSTRAK Andriani, Eka. 2016. Penerapan Model Problem Based Learning melaui Lesson Study untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IIS 1 serta Memperbaiki Kompetensi Pedagogik Guru Geografi SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo. Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Drs. I Komang Astina, MS., Ph.D Kata Kunci: problem based learning, lesson study, aktivitas belajar, hasil belajar Permasalahan yang sering dihadapi oleh siswa pada mata pelajaran geografi selama ini adalah pada aktivitas belajar. Siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran terutama saat diskusi kelompok, presentasi dan tanya jawab. Aktivitas belajar siswa yang kurang ternyata berdampak pada prestasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari nilai ulangan harian dan mid semester yang menunjukkan sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah KKM. Kurang optimalnya aktivitas dan hasil belajar ini dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan model pembelajaran yang inovatif di kelas. Hal ini disebabkan karena kurangnya pembinaan kompetensi guru geografi terutama dalam hal kompetensi pedagogik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) melaui lesson study dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta memperbaiki kompetensi pedagogik guru geografi di SMA. Model PBL melalui lesson study bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Kegiatan lesson study digunakan untuk mendesain pembelajaran dan memperbaiki kompetensi pedagogik guru. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan ini juga diintegrasikan dengan kegiatan lesson study. Kegiatan lesson study dilakukan untuk mendesain tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI.IIS 1 yang berjumlah 35 siswa dan guru geografi di kelas tersebut. Teknik pengumpulan menggunakan observasi dan tes hasil belajar. Aktivitas dan hasil belajar dikatakan meningkat jika aktivitas belajar dan ketuntasan belajar klasikal melebihi 75%. Kompetensi pedagogik guru dikatakan mengalami perbaikan apabila kemampuan menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran meningkat dari siklus I ke siklus II Hasil dari penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 19,92%. Hasil belajar juga meningkat secara cukup signifikan. Persentase ketuntasan belajar klasikal pada siklus I mencapai 53,12% meningkat menjadi 83,3% pada siklus II. Pembelajaran yang dirancang menggunakan lesson study mampu memperbaiki kompetensi pedagogik guru. Nilai kemampuan guru menyusun RPP dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dari 88,75 menjadi 92,92. Kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran mengalami perbaikan nilai dari 86,58 pada siklus I menjadi 87,19 pada siklus II. Guru disarankan mengembangkan kegiatan pembelajaran berbasis LS baik di tingkat sekolah maupun MGMP untuk terus mengasah dan memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas.

Karakteristik Pedagogical Content Practice (PCP) guru matematikia SMA pada materi SPLDV / Maryono

 

ABSTRAK Maryono. 2016. Karakteristik Pedagogical Content Practice (PCP) Guru Matematika SMA Pada Materi SPLDV. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D, (II) Dr. H. Subanji, M.Si.; (III) Dr. Santi Irawati, M.Si. Kata Kunci: Pedagogical Content Knowledge (PCK) guru, Pedagogical Content Practice (PCP) guru, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). PCK digambarkan sebagai hasil perpaduan antara pengetahuan materi ajar (content knowledge) dan pengetahuan cara mengajar (pedagogical knowledge) yang perlu dimiliki guru untuk mengorganisasikan materi, masalah, atau topik tertentu dan mengadaptasinya terhadap perbedaan minat dan kemampuan siswa, serta menyajikannya dalam pembelajaran. Secara sederhana PCK didefinisikan sebagai cara menyampaikan materi (konten) tertentu supaya mudah dipahami siswa. Pedagogical Content Practice (PCP) bisa dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan guru dalam kelas sebagai implementasi dari PCK yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan Pedagogical Content Knowledge (PCK) guru Matematika pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV); (2) mendeskripsikan Pedagogical Content Practice (PCP) guru Matematika pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV); (3) mengetahui karakteristik Pedagogical Content Practice (PCP) guru matematika pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) melakukan studi pendahuluan, (2) menyusun instrumen berupa: lembar vignette, lembar CoRe (Content Representation)dan PaP-eRs(Pedagogical and Professional experience Repertoires), (3) memberikan instrumen kepada subjek, (4) menganalisis PCK subjek, (5) merekam praktik pembelajaran subjek, (6) menganalisis PCP subjek, (7) melakukan wawancara dengan subjek, dan (8) menyusun laporan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kelompok pertama (guru pemula) yang terdiri dari S1 dan S2 mempunyai karakteristik Up-Grading PCP (S1) dan Constant PCP (S2); (2) kelompok kedua(guru menengah) yang terdiri dari S3 dan S4 mempunyai karakteristik Down-Grading PCP (S3) dan Up-Grading PCP (S4); (3) kelompok ketiga (guru berpengalaman) yang terdiri dari S5 dan S6 mempunyai karakteristik Down-Grading PCP (S5) dan Constant PCP (S6).  

Pengembangan pembelajaran ekonomi berwawasan keindonesiaan di MAN 3 Kota Malang / Isnan Nisa Nasution

 

ABSTRAK Nasution, Isnan Nisa. 2015. Pengembangan Pembelajaran Ekonomi Berwawasan Keindonesiaan di MAN 3 Kota Malang. Tesis.Prodi S2PendidikanEkonomi, Jenjang Magister, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mit Witjaksono M.S., E.D (II) Dr. Hari Wahyono, M. Pd. Kata Kunci: pembelajaran ekonomi berwawasan keindonesiaan, pembelajarankooperatif Tujuan dari penelitian pengembanganiniyaituuntukmengembangkanpembelajaranekonomiberwawasankeindonesiaan yang di kemaskedalambukupanduan guru danbukupanduansiswa, pengembanganbukupanduanini diperuntukkanbagisiswakelas X semester 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan Design Based Research(DBR).Teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatifdenganteknik statistikadeskriptifdankualitatif. Berdasarkan hasil penelitianpengembanganmenunjukkan hasiltanggapanpesertadidikpadasaatujicoba di MAN 3 kota Malang sebesar 89,2%. Hal ini berarti bahwaPengembangan Pembelajaran Ekonomi BerwawasanKeindonesiaan dapat memahamkan peserta didik tentang konsep ekonomi yang sesuai dengan idiologi bangsa Indonesia terutama dapat menanamkan nilai-nilai Pancasiladan UUD 1945 Pasal 33 yaitunilaikebersamaandankekeluargaan yang didalamnyaterintegrasi pulanilaitoleransi, jujur, tanggungjawab, gotongroyongdandemokrasi.Selainitupenerapanpembelajaran kooperatifyang menerapkan pembelajaran kelompoksangatdibutuhkan agar siswa berinteraksi dengan teman yang lainsehingga dapat menstimulus siswa untuk menerapkannilaikebersamaandankekeluargaandalampembelajaran. Olehkarenaitubuku panduan pembelajaran ini dikembangkanuntukmemudahkan pendidik dalam mengajarkan nilai-nilai keindonesiaandalam materi "Permasalahan Ekonomi dan Cara Mengatasinya."

Defragmentasi struktur berpikir mahasiswa untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar mahasiswa dalam memahami konsep limit fungsi / Herna

 

ABSTRAK Herna. 2016. Defragmentasi Struktur Berpikir Mahasiswa untuk Memperbaiki Konstruksi Pseudo Benar Mahasiswa dalam Memahami Konsep Limit Fungsi. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si., (2) Dr. Subanji, M.Si., (3) Dr. Sri Mulyati, M.Pd. Kata Kunci: proses berpikir, konstruksi pseudo benar, defragmentasi struktur berpikir Konstruksi pseudo benar dimaksudkan sebagai proses konstruksi dimana pembentukan konsep matematika “seakan-akan” sesuai dengan konsep ilmiah tetapi setelah ditelusuri lebih dalam ternyata tidak sesuai dengan konsep ilmiah. Fakta di lapangan terjadi konstruksi pseudo benar mahasiswa dalam memahami konsep limit fungsi, dimana hal ini perlu segera diatasi agar tidak berdampak pada pemahaman konsep matematika yang lain. Penanganan kondisi tersebut dilakukan peneliti dengan defragmentasi struktur berpikir mahasiswa. Defragmentasi struktur berpikir mahasiswa dimaksudkan sebagai proses penataan ulang struktur berpikir mahasiswa. Hal tersebut dapat dilakukan melalui disequilibrasi (refleksi) dan scaffolding. Penelitian kualitatif ini mengkaji tentang proses terjadinya konstruksi pseudo benar mahasiswa dalam memahami konsep limit fungsi. Selain itu, dikaji juga tentang defragmentasi struktur berpikir mahasiswa selama proses perbaikan konstruksi pseudo benar mahasiswa dalam memahami konsep limit fungsi. Proses pemilihan subjek dilakukan selama studi pendahuluan pada beberapa perguruan tinggi untuk menemukan karakteristik kesalahan subjek dalam memahami konsep limit fungsi berdasarkan empat komponen penyusunnya. Selain itu, proses pemilihannya juga mempertimbangkan kemampuan komunikasi mahasiswa untuk mempermudah pengumpulan data. Subjek yang digunakan adalah 17 mahasiswa semester VII yang mengalami konstruksi pseudo benar di Universitas Negeri Malang. Pada penelitian ini, mahasiswa diminta untuk menyelesaikan lembar tugas dan mengungkapkan dengan suara keras apa yang sedang dipikirkannya (Think Out Loud). Selain itu, mahasiswa juga diwawancarai jika dianggap perlu untuk mendalami data yang sudah terkumpul. Data penelitian yang digunakan merupakan hasil think out loud (berupa data tertulis, verbal, dan ekspresi) dan hasil wawancara. Semua data yang terkumpul selanjutnya dianalisis. Penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa mengalami konstruksi pseudo benar dalam memahami konsep limit fungsi, dimana dalam prosesnya terjadi sebagian atau semua dari lima komponen berikut. Komponen tersebut adalah representasi tidak holistik (non-holistic representation), lubang konstruksi (construction hole), ketiadaan pengaitan (disconnection), berpikir parsial (parsial thinking) dan kesalahan berpikir logis (mis-logical thinking). Non-holistic representation terjadi karena mahasiswa tidak bisa mewujudkan suatu pernyataan verbal (pengertian dasar) ke dalam bentuk matematik atau tidak bisa memaknai pernyataan bentuk matematik. Lubang konstruksi (construction hole) terjadi ketika ada lubang dalam pemahaman mahasiswa terhadap konsep limit fungsi karena kesalahan pemahaman atau ketidakmunculan konsep pendukungnya. Ketiadaan pengaitan (disconnection) terjadi ketika pemahaman konsep limit fungsi mahasiswa salah karena tidak melakukan pengaitan antara komponen-komponen penyusun konsep limit fungsi. Berpikir parsial (parsial thinking) terjadi ketika mahasiswa melakukan kesalahan dalam memahami konsep matematika karena tidak memikirkan secara utuh tentang konsep tersebut. Kesalahan berpikir logis (mis-logical thinking) terjadi karena mahasiswa melakukan penyimpangan dalam menggunakan kaidah logika pada proses pembentukan konsep matematik. Lebih lanjut ditemukan bahwa, untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar tersebut, peneliti mengkategori tipe defragmentasi berdasarkan kelima kompenen yang terjadi selama mahasiswa mengalami konstruksi pseudo benar. Tipe defragmentasi yang dimaksudkan adalah defragmentasi melalui pembentukan representasi holistik untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar ketika terjadi representasi tidak holistik (non-holistic representation), defragmentasi melalui pemunculan konsep (concept appearances) untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar ketika terjadi lubang konstruksi, defragmentasi melalui pemunculan pengaitan (connecting appearances) untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar ketika terjadi ketiadaan pengaitan (disconnection), defragmentasi melalui berpikir holistik (holistic thinking) untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar ketika terjadi berpikir pasial (parsial thinking), defragmentasi melalui perbaikan struktur berpikir logis untuk memperbaiki pseudo benar ketika terjadi mis-logical thinking. Peneliti berharap akan ada penelitian lanjutan tentang defragmentasi struktur berpikir mahasiswa untuk memperbaiki konstruksi pseudo benar mahasiswa dalam memahami konsep matematika. Peneliti menyadari bahwa karakteristik subjek yang muncul dalam penelitian ini yang dikaji berdasarkan komponen penyusun konsep limit fungsi masih kurang variatif. Untuk itu diharapkan ada peneliti lain yang akan mengkaji karakteristik subjek selain yang ada dalam penelitian ini.

Metakognisi siswa bergaya kognitif field-independent dan field-dependent dalam pemecahan masalah trigonometri / Dimas Femy Sasongko

 

ABSTRAK Sasongko, D.F. 2016. Metakognisi Siswa Bergaya Kognitif Field-Independent dan Field-Dependent dalam Pemecahan Masalah Trigonometri. Tesis. Prodi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Subanji, M.Si (II) Dr.rer.nat. I Made Sulandra, M.Si. Kata Kunci: metakognisi, gaya kognitif, field-independent, field-dependent, pemecahan masalah trigonometri Sukses atau gagalnya pemecahan masalah seseorang dapat dilihat melalui kognisi atau metakognisi yang dilakukan sebelum, selama, dan setelah pemecahan masalah. Pemecahan masalah seseorang juga dipengaruhi gaya kognitif yang dimilikinya. Seringkali tes pemecahan masalah hanya menilai proses akhir saja tetapi mengesampingkan proses mental yang juga dilakukan, khususnya metakognisi. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan metakognisi siswa bergaya kognitif field-independent dan field-dependent dalam memecahkan masalah trigonometri. Dengan menggunakan instrumen GEFT, subjek dalam penelitian ini adalah 2 siswa bergaya kognitif field-independent yang memiliki skor GEFT mendekati 18 dan 2 siswa bergaya kognitif field-dependent yang memiliki skor GEFT mendekati 0 dari siswa kelas XI SMAN 1 Sampang. Subjek diminta untuk menyelesaikan Tugas Pemecahan Masalah Trigonometri (TPMT) secara tertulis dan menyuarakan pikirannya (think aloud). Data think aloud setiap subjek ditriangulasi dengan data wawancara terhadap subjek tersebut. Data yang telah valid difokuskan pada aspek: (1) kesadaran metakognitif, (2) pengaturan metakognitif, dan (3) evaluasi metakognitif. Seluruh subjek, yakni 2 subjek bergaya kognitif field-independent dan 2 subjek bergaya kognitif field-independent menggunakan ketiga aspek metakognitif. Kesadaran metakognitif ditandai dengan aktivitas menyebutkan informasi dalam masalah, mengidentifikasi tujuan dari masalah, dan memodelkan masalah.Semakin sulit masalah yang dihadapi, subjek field-dependent cenderung kesulitan dalam memodelkan masalah. Pengaturan metakognitif ditandai dengan menyusun rencana umum, rencana khusus, dan tindakan untuk memecahkan masalah. Semakin sulit masalah yang dihadapi, rencana umum, rencana khusus, dan tindakan yang disusun subjek field-dependent cenderung tidak mengarah pada selesaian. Evaluasi metakognitif dari subjek field-dependent cenderung lebih banyak, namun mereka cenderung memperoleh selesaian yang salah. Di lain pihak, meskipun menggunakan aspek evaluasi metakognitif lebih sedikit, subjek field-independent mencapai selesaian dengan benar.

Keefektifan Problem Solving Strategy (PSS) untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa SMP / Miftahus Surur

 

ABSTRAK Surur, Miftahus. 2016. Keefektifan Problem Solving Strategy (PSS) untuk Meningkatkan Keterampilan Memecahkan Masalah Pada Siswa SMP. Tesis. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Triyono, M.Pd., (II) Dr. Dany M. Handarini, MA. Keywords: problem solving strategy, memecahkan masalah Keterampilan memecahkan masalah merupakan kemampuan yang dibutuhkan siswa sepanjang masa sebagai bekal belajar dan menjalani kehidupan sehari-hari. Hasil survey PISA (the Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa kompetensi mensintesa, mengasosiasi dan memecahkan masalah siswa di Indonesia terbukti masih rendah. Rendahnya kemampuan memahami, menalar dan menganalisa suatu masalah yang dialami siswa dapat mempengaruhi hasil belajar dan prestasinya di sekolah, sehingga berdampak pada lemahnya kemampuan memecahkan masalah. Keterampilan dalam menyelesaikan masalah yang harus dimiliki oleh siswa SMP tidak secara langsung terbentuk dengan sendirinya. Kemampuan ini harus dilatih sejak dini baik di lingkungan keluarga maupun sekolah agar individu mampu memilih, menganalisis dan menemukan alternatif solusi yang tepat untuk setiap permasalahan yang dialaminya. Problem Solving Strategy (PSS) merupakan strategi bimbingan untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah siswa di sekolah menengah pertama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan Problem Solving Strategy (PSS untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa SMP. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan whitin group or individual design dan bentuk rancangan penelitian yang digunakan adalah equivalent time series design. Subjek penelitian sejumlah 6 orang siswa kelas VIII SMPN 26 Malang yang dipilih berdasarkan penjaringan skala keterampilan memecahkan masalah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua instrumen yang berupa skala dan rubrik tes. Instrumen skala digunakan pada saat pretest dan posttes, sedangkan pada tes 1, tes 2 dan tes ke 3 diberikan rubrik tes yang harus dipecahkan oleh subjek. Hasil analisis dari uji statistik non parametik dengan menggunakan uji wilcoxon sign rank test pada saat pretest dan posttest diperoleh skor z hitung sebesar 2.201 dan taraf signifikansi (p) = 0,028 < 0,05 menunjukkan ada perbedaan sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Kemudian, hasil uji hipotesis menggunakan rubrik pada tes 1 dengan tes 2 diperoleh skor z hitung sebesar 2.207 dan taraf signifikansi (p) = 0,027 < 0,05 yang berarti H0 ditolak, dilanjutkan pada hasil tes 2 dengan tes 3 diperoleh skor z hitung sebesar 2.220 dan taraf signifikansi (p) = 0,026 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan uji hipotesis terakhir dengan menggunakan rubrik pada tes 3 dengan tes 1 diperoleh skor z hitung sebesar 2.227 dan taraf signifikansi (p) = 0,027 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan problem solving strategy (PSS) efektif untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa SMP. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan bagi sekolah dapat memprogramkan pelatihan problem solving strategy (PSS) untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa. Bagi konselor dapat menerapkan prosedur problem solving strategy (PSS) sebagai alternatif dalam mendampingi siswa melalui program layanan bimbingan kelompok. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya lebih mengeksplorasi tingkat masalah yang dicakup pada subyek dengan tingkatan dan jenjang usia yang lebih tinggi.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa kelas XI-IA-6 SMAN 1 Pandaan / Puji Savvy Dian Faizati

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team-Assisted Individualization), Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa SMAN 1 Pandaan sering mengalami kesulitan dalam mengajukan pertanyaan. Hal ini dikarenakan siswa malu untuk bertanya, malas, merasa canggung, takut pertanyaan yang diajukan ditertawakan teman-temannya, takut kepada guru, tidak terbiasa bertanya, dan tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru dan apa yang diajarkan bersifat prosedural tanpa upaya membangkitkan kemauan siswa untuk bertanya selama pembelajaran.  Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan TAI untuk melihat aktivitas dan kemampuan bertanya siswa kelas XI-IA-6 SMAN 1 Pandaan pada materi Turunan Fungsi. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan pendahuluan, pembentukan kelompok berdasarkan hasil tes awal,selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar individu dan membimbing dalam belajar kooperatif kemudian diakhiri dengan mengkomunikasikan hasil dan tes keterampilan serta penutup. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus I persentase banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan adalah 46.15% sedangkan pada siklus II persentase banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan adalah 76.92%. Berdasarkan persentase pertanyaan tertutup yang muncul selama pembelajaran pada siklus I adalah 52.64% dan pada siklus II adalah 85%, sedangkan untuk pertanyaan terbuka, pada siklus I adalah 47.36% dan pada siklus II adalah 15%, dapat diketahui bahwa ada peningkatan banyaknya pertanyaan tertutup yang muncul, hal ini berarti siswa sudah terbiasa berpikir konvergen atau menarik kesimpulan yang logis dari informasi yang diberikan. Siswa sudah mengalami proses “penemuan kembali” konsep-konsep materi yang dipelajari melalui pembelajaran kooperati tipe TAI. Siswa tidak lagi mendapat transfer ilmu, namun menemukan sendiri pengetahuannya. Aktivitas siswa selama pembelajaran kooperatif tipe TAI pada siklus I skor rata-rata 67.17 dan skor rata- rata pada siklus II adalah 69.75. Dalam analisis skor rata-rata tersebut bahwa aktivitas siswa termasuk kategori sangat baik. Aktivitas guru selama pembelajaran kooperatif tipe TAI pada siklus I skor rata-rata 67.5 dan skor rata-rata pada siklus II adalah 68.5. Dalam analisis skor rata-rata tersebut bahwa aktivitas guru termasuk kategori sangat baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TAI dalam penelitian ini berhasil.

Alasan pemilihan kompetensi keahlian pemasaran pada siswa SMK Negeri Kabupaten Blitar / Yeni Susilowati

 

ABSTRAK Susilowati, Yeni. 2016. Alasan Pemilihan Kompetensi Keahlian Pemasaran pada Siswa SMK Negeri Kabupaten Blitar. Tesis, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agung Haryono, S.E, M.P, Ak. (II) Dr. Dwi Wulandari, S.E, M.M. Kata Kunci:Persepsi Siswa, Pemilihan Kompetensi, Latar Belakang Pemilihan Kompetensi dan Kompetensi Keahlian Pemasaran. Kompetensi keahlian pemasaran masih relevan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang ada di dunia usaha. Banyak perusahaan yang masih membutuhkan karyawan lulusan SMK khususnya kompetensi keahlian pemasaran.Banyaknya peluang kerja di bidang pemasaran belum dapat meningkatkan peminat kompetensi keahlian pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa tentang kompetensi keahlian pemasaran, faktor yang melatarbelakangi pemilihan kompetensi keahlian pemasaran dan alasan pemilihan kompetensi keahlian pemasaran. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis fenomenologi dengan paradigma interpretatif. Proses pemilihan sumber data dilakukan secara bergulir sesuai kebutuhan hingga mencapai kejenuhan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observation, in-dept interview dan method of documents.Validitas data melalui perpanjangan waktu, triagulasi teknik, member check dan expert opinion.Teknik analisis data yang digunakan analisis data kualitatif yang mengikuti konsep Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian persepsi siswa tentang kompetensi keahlian pemasaran di SMK Negeri Kabupaten Blitar adalah memasarkan produk, ada pembelajaran akuntansinya, mempromosikan produk, berjualan, melayani konsumen, dapat membuka usaha sendiri, cara berbicara yang baik dengan pelanggan, peluang kerjanya banyak, mudah dipahami, pelajarannya sedikit, tidak cuma berjualan dan ada administrasi perkantoran serta menanggapi keluhan pelanggan.Faktor yang melatarbelakangi pemilihan kompetensi keahlian pemasaran di SMK Negeri Kabupaten Blitar adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang melatarbelakangi siswa SMK Negeri kabupaten Blitar dalam memilih kompetensi keahlian pemasaran adalah cita-cita, minat, motivasi dan nilai. Sedangkan faktor eksternal yang melatarbelakangi siswa dalam memilih kompetensi keahlian pemasaran adalah orang tua, saudara, teman, tetangga, guru dan jarak dekat dari rumah. Alasan pemilihan kompetensi keahlian pemasaran di SMK Negeri kabupaten Blitar karena banyak peluang kerjanya, nurut orang tua dan saudara, ingin menjadi wirausaha, banyak tetangga dan teman yang masuk pemasaran, tidak diterima di sekolah yang lain, tertarik pada tetangga dulu jurusan pemasaran sekarang kerjanya enak, sudah menjadi minat, prinsip dan keinginan.Alasan informan mengatakan peminat kompetensi keahlian pemasaran sedikit adalah karena gengsi, malu diejek, mereka beranggapan pemasaran hanya berjualan saja, pandangan masyarakat buruk, siswanya banyak yang perempuan, mereka lebih suka ke TKJ dan TKJ bisa mengolah aplikasi HP.

Disiplin belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Studi kasus di SMPN 21 Malang) / Wiji Pramono

 

Kata kunci : Disiplin Belajar Siswa, Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan mempunyai peran penting dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Berbagai bentuk pembaharuan telah dilakukan untuk meningkatkan disiplin belajar siswa, diantaranya adalah memberikan hadiah, acungan jempol seperti “bagus“, pemberian nasehat yang membangun buat diri pribadi siswa, pemberian ancaman berupa tidak naik kelas dengan nilai C, serta pemberian hukuman yaitu berdiri didepan kelas, menjelaskan materi yang sudah disampaikan, membuat kliping dan lain-lain. Disiplin belajar di dalam kelas pada saat KBM berlangsung memungkinkan terjadinya suasana belajar yang nyaman dan kondusif, serta guru akan jauh lebih mudah menemukan kreasi dan inovasi pengelolaan kelas untuk menunjang proses belajar mengajar yang lebih efektif. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana disiplin belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PKn di SMPN 21 Malang. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan disiplin belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PKn di SMPN 21 Malang; (2) untuk mendeskripsikan bentuk disiplin belajar apakah yang diterapkan dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang; (3) untuk mendeskripsikan penyebab kedisiplinan siswa dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang; (4) untuk mendeskripsikan uapaya guru PKn dalam meningkatkan disiplin belajar siswa di SMPN 21 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (studi kasus di SMPN 21 Malang). Subyek penelitian ini adalah wakil kepala sekolah, guru Pendidikan Kewarganegaraan dan para siswa kelas 7 dan kelas 8 di SMPN 21 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada pendapat Miles dan Huberman dengan prosedur reduksi data, penyajian data dan verivikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) disiplin belajar siswa pada saat KBM berlangsung sudah baik, walaupun masih ada beberapa siswa dari berbagai kelas yang mengobrol sendiri, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, mengerjakan tugas PKn di dalam kelas pada saat KBM berlangsung, tidak memakai kaos kaki SMPN 21 Malang, waktunya pelajaran PKn mengerjakan tugas mata pelajaran yang lain, bercanda gurau dengan teman sebangku, ada yang tertidur pada saat KBM berlangsung, asyik mainan HP, mainan kertas dan lain-lain; (2) disiplin belajar yang diterapkan dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang adalah siswa diwajibkan membawa buku catatan, LKS, buku pedoman, datang di dalam kelas tepat waktu, tidak boleh ramai dan mengumpulkan tugas tepat pada waktunya, rajin menjawab pertanyaan, rajin memberikan tanggapan, rajin bertanya kepada guru; (3) penyebab kedisiplinan siswa dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang meliputi penyebab siswa tidak disiplin belajar yaitu guru dalam mengajar tidak menarik, tidak sesuai dengan bakat dan minat siswa, tugas yang diberikan terlalu banyak dan sulit, serta penyebab siswa disiplin belajar yaitu kesadaran diri siswa akan aturan yang mengikat pada saat pelajaran PKn, bahwa pelajaran PKn sekarang berhubungan langsung dengan nilai kepribadian dan tingkah laku siswa, nilai kepribadian siswa diserahkan langsung kepada guru PKn bukan lagi guru BK; (4) upaya guru PKn dalam meningkatkan disiplin belajar siswa di SMPN 21 Malang adalah dengan memberikan hadiah, acungan jempol seperti “bagus“, pemberian nasehat yang membangun buat diri pribadi siswa, pemberian ancaman berupa tidak naik kelas dengan nilai C, serta pemberian hukuman yaitu berdiri di depan kelas, menjelaskan materi yang sudah disampaikan, membuat kliping dan lain-lain. Berdasarkan temuan penelitian disarankan perlunya meningkatkan hubungan antara guru dengan siswa karena masih banyak siswa atau guru yang kurang tahu diantara keduanya. Perlunya ditingkatkannya disiplin belajar siswa, karena dengan disiplin belajar yang tepat hasil yang akan diperoleh hasil maksimal. Orang tua perlu mengadakan pengawasan terhadap belajarnya siswa, karena dengan pengawasan tersebut siswa akan merasa diperhatikan oleh orang tuanya. Bagi guru SMPN 21 Malang hendaknya dalam memberikan pelajaran selalu memperhatikan sikap disiplin siswa karena hal ini akan berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Dan biasakan dalam memberikan sanksi disertai dengan bimbingan secara kontinu. Kepada Dinas Pendidikan terkait hendaknya selalu memberikan pengawasan dalam pelaksanaan pendidikan agar berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Efektivitas pelaksanaan pemungutan retribusi pasar pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan / Weni Marshalia Juanda

 

ABSTRAK Juanda, Weni Marshalia. 2015. Efektivitas Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Pasar Pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing: Dr. Hj. Puji Handayati, SE, MM, Ak, CA, CMA, CIBA Kata Kunci :Efektivitas, pemungutan retribusi pasar Pelaksanaan otonomi daerah dituntut kemandiriannya untuk menangani segala urusan pendanaan, yaitu untuk pembangunan di daerah-daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah untuk mencari alternatif sumber pendapatan daerah dengan menggali potensi yang dimiliki daerah dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Diantara Pendapatan Asli Daerah, retribusi daerah adalah salah satu sumber alternatif yang dapat diandalkan. Karena hasil penerimaan retribusi pasar memberikan andil yang cukup besar terhadap penerimaan retribusi daerah, hal inilah yang melatar belakangi perlunya penanganan oleh pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam upaya mengoptimalisasi potensi salah satu retribusi yang ada di daerah guna peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Oleh karena itu, diperlukan pencapaian dalam peningkatan retribusi pasar secara optimal yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap meningkatnya jumlah kontribusi yang diberikan secara efektif pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Penelitian ini yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui bagaimanakah efektivitas pelaksanaan pemungutan retribusi pasar pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan melalui retribusi pasar mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2014. Untuk mendapatkan jawaban, maka diperlukan data pendapatan retribusi pasar yang telah dicapai melalui target dan realisasi serta kontribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah tahun 2012 sampai dengan tahun 2014. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan adalah metode kuantitatif. Untuk pelaksanaan pemungutan retribusi pasar Pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan didasarkan pada obyek retribusi yang keseluruhan penggunaan tempat berjualan dalam lokasi pasar yang digunakan oleh para pedagang. Pelaksanaan pemungutan retribusi pasar dilaksanakan dengan cara petugas setiap hari melakukan pemungutan kepada pedagang atau yang menggunakan fasilitas pasar yaitu dengan menyerahkan selembar karcis sesuai dengan retribusi yang wajib dibayar. Hasil penghitungan yang telah dilakukan, efektivitas pelaksanaan pemungutan retribusi pasar pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan diukur dengan menggunakan perbandingan antara target dan realisasi retribusi pasar selama 3 tahun, yaitu mulai tahun 2012 sampai dengan 2014. Mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 realisasi penerimaan telah melampaui target, yaitu pada tahun 2012 sebesar 100,26 % dan tahun 2013 sebesar 108,01 %. Sedangakan pada tahun 2014 realisasi penerimaan kurang dari target yang telah ditentukan atau menurun menjadi 14,17 %. Hal ini disebabkan adanya pembangunan pasar – pasar yang membutuhkan pembangunan di Kabupaten Pasuruan, yang semula berlantai satu menjadi berlantai dua. Dalam proses pembangunan tersebut, para pedagang ditempatkan pada bangunan sementara sehingga banyak pedagang yang kurang bisa berjualan dengan maksimal, maka dari itu penerimaan realisasi pada tahun berikutnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan semakin ditingkatkan supaya realisasi penerimaan retribusi pasar terealisasi.

Pengaruh strategi pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran langsung dan keaktifan belajar terhadap kecakapan akademik pebelajar kelas V SDK STA. Maria Assumpta Kupang / Angelikus Nama Koten

 

ABSTRAK Koten, Angelikus Nama, 2016, Pengaruh Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Langsung dan Keaktifan Belajar terhadap Kecakapan Akademik Pebelajar Kelas V SDK Sta. Maria Assumpta Kupang. Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Ed; Pembimbing II: Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd; Pembimbing III: Dr. Sihkabuden, M.Pd Kata kunci: Pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran langsung, keaktifan belajar, kecakapan akademik Paradigma pembelajaran yang dianut oleh guru sebagai pembelajar tampak pada strategi pembelajaran yang diterapkan dalam mengelola pembelajaran. Penerapan strategi pembelajaran yang kurang tepat, jarang melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses pembelajaran, dan pembelajaran yang cenderung monoton akan berpengaruh terhadap hasil belajar pebelajar pada mata pelajaran yang dipelajari. Pada jenjang pendidikan dasar umumnya, para pembelajar cenderung menerapkan strategi pembelajaran langsung, di mana aktivitas pembelajaran berpusat pada pembelajar sehingga mengakibatkan rendahnya hasil belajar pebelajar. Agar pebelajar dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, maka pembelajar hendaknya mampu memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang dapat memotivasi pebelajar lebih aktif belajar untuk meningkatkan kecakapan akademiknya. Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu strategi pembelajaran yang berpusat pada pebelajar, karena dapat mengaktifkan pebelajar, memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk mengkonstruksi pengetahuan sendiri, dan memberi peluang bagi pebelajar untuk bekerja sama dalam mencari dan menemukan pengetahuan serta memecahkan suatu masalah. Di samping penerapan strategi pembelajaran, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran. Salah satu faktor di antaranya adalah keaktifan belajar. Keaktifan belajar merupakan motor penggerak utama dalam kegiatan belajar maupun pembelajaran. Para pebelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan belajar terwujud pada perilaku-perilaku seperti: mencari sumber pengetahuan atau informasi yang dibutuhkan, mengadakan tanya jawab dan diskusi, melakukan percobaan, membuat laporan atau karya tulis, dan sebagainya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh utama dan pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan keaktifan belajar terhadap kecakapan akademik pebelajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan terhadap kecakapan akademik pebelajar Kelas V SD. Penelitian yang dilaksanakan ini merupakan penelitian kuasi eksperimen, dengan rancangan penelitian versi nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah pebelajar kelas V SDK Sta. Maria Assumpta Kupang berjumlah 102 orang (3 kelas). Sampel penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik sampel kelompok acak, di mana yang diacak adalah kelas-kelas. Data yang dikumpulkan diolah dengan statistik inferensial menggunakan teknik analisis varian (Anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan kecakapan akademik antara kelompok pebelajar yang dibelajarkan menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah dengan kelompok pebelajar yang dibelajarkan menggunakan strategi pembelajaran langsung, (2) ada perbedaan kecakapan akademik antara kelompok pebelajar yang memiliki keaktifan belajar tinggi dengan kelompok pebelajar yang memiliki keaktifan belajar rendah, dan (3) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran (pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran langsung) dan keaktifan belajar (keaktifan belajar tinggi dan keaktifan belajar rendah) terhadap kecakapan akademik pebelajar. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan kepada para guru sebagai pembelajar agar mencoba menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah pada materi pokok dalam mata pelajaran tertentu sesuai dengan karakteristik materi yang dipelajari. Selain itu, para pembelajar hendaknya memperhatikan karakteristik pebelajar dengan mengkondisikan keaktifan dan kemandirian pebelajar terlebih dahulu, sehingga penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah dapat berlangsung dengan lancar dan mencapai hasil belajar secara maksimal.

Perancangan instalasi listrik masjid jami Al-Hurriyyah Tumpang, Kab. Malang / Yhendris Arief Aibe

 

Kata Kunci: masjid jami Al-Hurriyyah, instalasi listrik, standar, PUIL 2000. Instalasi listrik merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah bangunan. Instalasi listrik dapat dibagi menjadi dua yaitu instalasi penerangan dan instalasi tenaga. Titik-titik beban dalam sebuah bangunan seperti lampu, piranti dan perlengkapan memerlukan aliran listrik yang terdistribusi. Distribusi aliran listrik yang baik berguna untuk mendukung kelancaran aktifitas pengguna di dalamnya. Masjid Jami Al-Hurriyyah sebagai salah satu tempat ibadah harus memiliki instalasi penerangan dan instalasi tenaga yang handal. Beban penerangan semakin meningkat karena kesadaran akan tingkat iluminasi yang memadai bagi kenyamanan melihat dan membaca. Peranti listrik yang digunakan pun semakin beragam sehingga persyaratan instalasi harus mencukupi untuk menghindari gangguan pemutusan sirkit karena beban lebih. Penggunaan komponen listrik yang tidak memenuhi standar dapat mengurangi kualitas penerangan maupun penyaluran tenaga. Faktor keamanan juga tidak boleh diabaikan karena hal tersebut menjadi alasan utama mengapa dilakukan perancangan sesuai dengan standar PUIL 2000. Standar lain yang tidak bertantangan dengan PUIL 2000 memungkinkan untuk digunakan dalam perancangan ini sebagai pendukung. Langkah perancangan di mulai dari pengumpulan data yang meliputi pencarian layout atau denah Masjid Jami Al-Hurriyyah, fungsi masing-masing ruang, dan dimensi ruang. Pengumpulan data instalasi yang sudah ada juga perlu dilakukan sebagai hasil evaluasi dan pembanding dari hasil perancangan. Untuk perancangan penerangan yang dilakukan meliputi perhitungan intensitas cahaya (E), efisiensi (η), faktor bentuk (K), fluksi (Φ) dan titik penerangan (N). Gawai proteksi meliputi pembagian beban, perhitungan sirkit akhir, sirkit cabang dan sirkit utama untuk penerangan dan tenaga. Pembagian beban harus seimbang agar saat penggunaan tidak mengalami permasalahan. Instalasi penerangan harus dipisahkan dengan instalasi tenaga, dikarenakan apabila terjadi gangguan pada penggunaan daya beban maka penerangan tidak mengalami pemadaman. Perancangan sirkit akhir instalasi tenaga meliputi pemilihan penampang penghantar dan arus pengenal gawai proteksi. Pemilihan penampang penghantar dilakukan dengan dua metode yaitu metode rapat arus dan metode rugi tegangan. Pemilihan gawai proteksi disesuaikan dengan penampang penghantar yang digunakan. Perancangan sistem pentanahan dilakukan dengan memperhatikan resistans jenis tanah di sekitar bangunan. Jumlah elektrode pentanahan yang dibutuhkan ditentukan dengan menyesuaikan resistans jenis tanah dengan resistans pembumian yang diinginkan. Dari perancangan ulang ini dihasilkan instalasi listrik Masjid Jami Al-Hurriyyah sesuai dengan denah masjid terbaru yang sesuai dengan PUIL 2000 dan persyaratan yang tidak bertantangan dengan PUIL 2000 dalam hal penentuan titik beban, tata letak lampu, penempatan kotak kontak masing-masing ruangan, gawai proteksi, PHB utama, PHB cabang, jenis dan penampang penghantar. Perancangan ini juga dapat digunakan sebagai referensi perancangan ulang instalasi listrik Masjid Jami Al-Hurriyyah Tumpang, Kab. Malang.

Latar belakang peminjaman kata-kata Bahasa Arab dalam pertumbuhan dan perkembangan Bahasa Indonesia / oleh Amiruddin Pribadi

 

Pengaruh model pembelajaran Advance Organizer berbantuan Concept Maps terhadap penguasaan konsep suhu dan kalor ditinjau dari pengetahuan awal siswa / Hamidah Dian Oktaviani

 

ABSTRAK Oktaviani, Hamidah Dian. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Advance Organizer Berbantuan Concept Maps Terhadap Penguasaan Konsep Suhu dan Kalor Ditinjau dari Pengetahuan Awal Siswa. Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Supriyono Koes H, M.Pd, MA. (2) Dr. Siti Zulaikah, S.Pd,. MSi. Kata Kunci: Advance organizer, Concept Maps, Penguasaan Konsep, Pengetahuan Awal. Penguasaan konsep adalah aspek kunci dari pembelajaran fisika. Usaha perbaikan yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam mengembangkan penguasaan konsep siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Advance Organizer berbantuan concept maps (peta konsep). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran Advance Organizer berbantuan concept maps (peta konsep) dan pengetahuan awal terhadap penguasaan konsep pada mata pelajaran fisika SMK. model pembelajaran Advance Organizer berbantuan concept maps (peta konsep) yang diterapkan dalam penelitian ini mengunakan sintaks yang terdiri atas tiga tahap, dengan urutan: 1) Presentasi Advance organizer, 2) Presentasi tugas pembelajaran, dan 3) Penguatan susunan kognitif.. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi, dengan rancangan faktorial. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 2 Batu Tahun Pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari tujuh kelas. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak enam kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengetahuan awal dan tes penguasaan konsep yang berbentuk pilihan ganda. Reliabilitas tes pengetahuan awal sebesar 0,826 dan tes penguasaan konsep sebesar 0,713. Data yang dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik Anava dua jalur 2x2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penguasaan konsep kelompok siswa yang belajar melalui model pembelajaran advance organizer berbantuan concept maps lebih tinggi daripada kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran inductive thinking model; (2) Penguasaan konsep kelompok siswa yang memiliki pengetahuan awal tinggi lebih tinggi daripada kelompok siswa yang memiliki pengetahuan awal rendah.; (3) Tidak terdapat interaksi model pembelajaran dan pengetahuan awal siswa terhadap penguasaan konsep. Beberapa saran dikemukakan berkenaan dengan hasil penelitian ini. Pertama, para guru Fisika disarankan untuk menggunakan model pembelajaran advance organizer berbantuan concept maps karena terbukti model ini mampu mengembangkan penguasaan konsep siswa. Kedua, sekolah hendaknya mengukur pengetahuan awal siswa terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai di awal semester untuk menentukan perlakuan pada saat pembelajaran.

Analisis faktor citra merek (Studi pada pelanggan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Malang) / Tri Ajeng Prihatiningrum

 

Kata kunci: Faktor Citra Merek (Harga, Produk, Promosi dan Pelayanan) Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan kedalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu manusia dapat terus melangsungkan hidupnya. Kota Malang merupakan salah satu tujuan kota wisata dan pendidikan yang tidak luput dari perhatian produsen restoran untuk memasarkan produknya. Di Malang terdapat beberapa rumah makan yang menyajikan produk khas daerah, salah satunya yaitu rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Wong solo memiliki konsep memberikan kualitas layanan terbaik demi kepuasan konsumen dalam usahanya. Pada saat ini merek memiliki peranan yang sangat penting dalam pemasaran, merek bukan hanya dianggap sebagai sebuah nama, logo ataupun symbol. Lebih dari itu merek merupakan nilai yang ditawarkan sebuah produk bagi konsumen yang memakainya. Citra merek memiliki nilai posisi strategis dalam persaingannya yang tidak dapat diabaikan oleh perusahaan dalam rangka menarik minat konsumen untuk menggunakan produk yang ditawarkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan faktor citra merek yang variabelnya terdiri dari harga (X1), produk (X2), promosi (X3), pelayanan (X4) dan untuk mengetahui faktor dominan dari citra merek (harga, produk, promosi dan pelayanan). Penelitian ini dilakukan di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Malang. Menggunakan rumus dari Slovin, diperoleh sampel sebanyak 90 responden. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah accidental sampling. Penelitian ini menggunakan analisis statistic deskriptif dan analisis faktor. Hasil analisis deskriptif data menunjukkan bahwa faktor citra merek yang terdiri dari harga, produk, promosi dan pelayanan, rata-rata dinyatakan baik oleh pelanggan. Hasil penelitian analisis faktor 1 meliputi kecepatan pelayanan dalam melayani pelanggan dan dalam menyajikan menu hidangan, keramahan karyawan dalam melayani pelanggan dan dalam menyapa pelanggan, kesiapan karyawan dalam melayani pesanan dan dalam menyiapkan menu makanan, faktor 2 meliputi harga yang sesuai dengan penghasilan dan produk yang ditawarkan, lebih murah dari rumah makan lainnya, citra rasa yang tetap dipertahankan dari awal pendirian dan di setiap cabangnya, faktor 3 meliputi pemilihan bahan baku, variasi produk, menu paketan, banyaknya variasi produk yang ditawarkan, faktor 4 meliputi pemilihan pemilihan bahan utama, pemilihan bahan baku yang selalu fresh, produk halal, sertifikat halal, citra rasa yang sesuai dengan lidah orang Indonesia, faktor 5 meliputi iklan yang disiarkan melalui radio lokal, ketertarikan dari radio lokal, iklan dari Koran lokal, faktor 6 meliputi ketertarikan dari Koran lokal, brosur untuk menarik pelanggan, dan dari 6 faktor di atas faktor 1 merupakan faktor yang dominan. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Penulis memberikan saran agar sebaiknya perusahaan dalam hal ini Rumah makan Ayam Bakar Wong Solo selalu melakukan inovasi dan kreasi dalam menambah produk makanan dan minuman agar pelanggan dapat memilih menu makanan yang telah ditawarkan. Selain itu harga, promosi sebaiknya perlu ditingkatkan agar dapat bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan rumah makan lain yang i ii    sejenis. Dari sisi pelayanan juga perlu ditingkatkan agat tetap dapat menyeimbangkan dari kualitas produk yang diberikan oleh Rumah Makan Ayam Bakar wong Solo di Malang. Diharapkan dengan terpenuhinya semua faktor citra merek (harga, produk, promosi dan pelayanan) menjadikan citra merek pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Malang dapat bersaing dengan perusahaan lainnya

Perancangan video sebagai media promosi batik Druju / Rifky Bima Ramadhani

 

Analisis kesulitan siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika pisa dan pelaksanaan scaffolding / Sunarti

 

ABSTRAK Sunarti. 2015. Analisis Kesulitan Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Matematika PISA dan Pelaksanaan Scaffolding. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D, (II) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D Kata Kunci: analisis kesulitan, masalah PISA, scaffolding Programme for International Student Assessment (PISA) adalah suatu program penilaian siswa tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Fokus dari PISA adalah literasi yang menekankan pada keterampilan dan kompetensi siswa yang diperoleh dari sekolah dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai situasi. Indonesia berpartisipasi sebagai peserta sejak tahun 2000, namun hasil yang diperoleh cenderung tidak memuaskan. Bahkan pada PISA 2012, posisi Indonesia nyaris sebagai juru kunci yaitu berada di peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes. Ini berarti, pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain di dunia dan mengindikasikan bahwa literasi matematika siswa Indonesia sangat lemah sehingga masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah PISA. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tipe kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika PISA dan pelaksanaan scaffoldingnya. Kesulitan siswa dianalisis dengan mengacu pada proses literasi matematika PISA yaitu formulate, employ, dan interpret sedangkan scaffolding yang dilakukan mengacu pada tahapan scaffolding Anghileri level 2 dan 3 yaitu explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking. Jenis penelitian adalah deskriptif eksploratif menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 6 siswa SMP yang terbagi dalam 3 kelompok, masing-masing dengan kemampuan matematika baik, sedang, dan kurang. Masalah yang diberikan terdiri dari 3 tema dengan 4 pertanyaan yang diadaptasi dari soal matematika PISA. Hasil penelitian menunjukkan kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan masalah PISA adalah: (1) menuliskan atau merumuskan situasi/konteks masalah secara matematika; (2) menggunakan konsep atau prosedur matematika yang sesuai untuk menemukan solusi dikarenakan kurangnya pemahaman awal; dan (3) menginterpretasi/ menafsirkan hasil matematika yang diperoleh kembali ke dalam konteks masalah yang diberikan. Adapun scaffolding yang dilakukan sebagai upaya mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut antara lain: (1) memberikan instruksi agar siswa membaca dan mencermati masalah yang diberikan; (2) mengajukan pertanyaan arahan yang dapat mempermudah siswa dalam memilih dan menggunakan konsep atau prosedur matematika yang sesuai untuk menemukan solusi; (3) memberikan instruksi untuk meninjau kembali solusi/hasil yang diperoleh; dan (4) mengajukan pertanyaan arahan yang dapat mempermudah siswa dalam menafsirkan hasil yang diperoleh kembali ke konteks masalah yang diberikan. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran antara lain: (1) sebaiknya siswa dibiasakan berlatih dengan soal-soal yang sesuai karakter soal PISA; (2) hendaknya siswa dibiasakan untuk menuliskan langkah atau proses penyelesaian dengan rinci; (3) proses pemberian bantuan (scaffolding) hendaknya tetap memperhatikan prinsip teori konstruktivisme, dan (4) kajian tentang masalah PISA dalam penelitian ini masih pada konten, proses dan konteks terbatas, sehingga perlu adanya penelitian lain yang lebih mendalam.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis konstruktivis untuk kelas X SMK pada materi geometri / Andika Putra R.

 

ABSTRAK Putra. R, Andika. Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Berbantuan Komputer Berbasis Konstruktivis Untuk Kelas X SMK pada Materi Geometri. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Toto Nusantara, M. Si., (2) Dr. Abdul Qohar, S. Kom, M. T. Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Geometri, Borg dan Gall Minat belajar siswa dalam belajar matematika pada materi geometri dengan sub pokok bahasan jarak pada bangun ruang terlihat masih rendah. Materi ini termasuk salah satu topik dalam mata pelajaran matematika yang agak sulit dipahami siswa. Salah satu penyebab rendahnya minat belajar siswa adalah dalam mengajarkan materi ini guru masih menggunakan media buku dan penghapus papan yang dimisalkan sebagai bangun ruang sehingga menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif dan pada saat menggambar guru memerlukan waktu yang lama. Berdasarkan masalah tersebut peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis konstruktivis pada materi geometri dengan sub pokok bahasan jarak pada bangun ruang dan dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dengan menggunakan media pembelajaran ini diharapkan siswa dapat memahami materi jarak pada bangun ruang dengan baik. Media pembelajaran ini terdiri dari CD pembelajaran dan LKS. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses dan hasil pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis konstruktivis untuk SMK kelas X pada materi geometri dengan sub pokok bahasan jarak pada bangun ruang yang valid, praktis dan efektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan, dengan menggunakan prosedur penelitian Borg dan Gall yang telah dimodifikasi terdiri dari beberapa langkah utama yaitu analisis produk yang dikembangkan, mengembangkan produk awal, dan uji coba produk. Media ini diujicobakan ke SMK N 1 Singosari dengan mengambil satu kelas yaitu kelas X. Hasil penelitian ini menunjukan media yang dikembangkan valid dengan skor rata-rata kevalidan 3,36, praktis dengan skor rata-rata kepraktisan 3,58 dan efektif dengan ketuntasan penguasaan materi sebanyak 88,89% serta penilaian siswa 0,67 dengan kriteria positif. Berdasarkan pengembangan media ini, disarankan agar dilakukan pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer untuk materi jarak atau materi-materi lain yang lebih interaktif dan inovatif. Media ini juga dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk melakukan pengkajian dan pengembangan yang lebih lanjut sehingga diperoleh media sejenis yang lebih baik. Adapun pembuatannya sebaiknya juga memperhatikan kelemahan-kelemahan media pembelajaran berbantuan komputer yang sudah ada.

Perbedaan partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI dan non-RSBI kota Malang / Lika Mardliyah

 

Kata kunci: partisipasi, program sekolah, RSBI dan Non-RSBI. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang. Berbagai upaya terus dilakukan dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, karena pendidikan merupakan penentu bagi daya saing bangsa. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal harus senantiasa mampu meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu upaya sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan saat ini adalah peningkatan status sekolah secara bertahap ke arah Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Penyelenggaraan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), tidak hanya sekolah yang berperan dalam kesuksesan penyelenggaraan program ini, namun partisipasi dari pemerintah dan masyarakat khususnya orangtua siswa juga sangat dibutuhkan. Kerjasama yang baik antara sekolah dan masyarakat, baik dari segi pemikiran, tenaga, biaya sangat berguna bagi peningkatan mutu sekolah dan kesuksesan program RSBI menuju SBI ini. Partisipasi dari orangtua siswa sangat dibutuhkan dalam mencapai perkembangan-perkembangan di sekolah termasuk dalam peningkatan mutu sekolah. Namun demikian tingkat partisipasi orangtua dalam pelaksanaan program sekolah baik di sekolah RSBI maupun non-RSBI bervariasi sehingga membuat mutu tiap sekolah berbeda-beda. Tujuan penelitian ini, yakni: (1) Mengetahui tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI Kota Malang, (2) Mengetahui tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN Non-RSBI Kota Malang, (3) Mengetahui perbedaan partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI dan Non- RSBI Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif dan dilaksanakan di SMAN RSBI dan Non-RSBI Kota Malang. Ada 5 sekolah dengan 511 orangtua siswa yang bersekolah di SMAN RSBI dan Non-RSBI Kota Malang sebagai sampel penelitian dengan rincian 269 orangtua siswa SMAN RSBI dan 242 orangtu siswa SMAN Non-RSBI. Sampel ini diambil dengan teknik purposive proporsional incidental sampling dari populasi yang terdiri dari 10 sekolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI Kota Malang termasuk dalam kategori tinggi, (2) Tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN Non-RSBI Kota Malang berada dalam kategori rendah, (3) Ada perbedaan yang signifikan antara tingkat partisipasi orangtua ii siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI dan Non-RSBI Kota Malang. Tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI Kota Malang lebih tinggi daripada tingkat partisipasi orangtua siswa di SMAN Non-RSBI Kota Malang dengan selisih rata-rata sebesar 16,46. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagi guru dan Kepala SMAN RSBI Kota Malang hendaknya terus memberikan pengarahan kepada orangtua siswa agar tetap memberikan partisipasi aktif dalam pelaksanaan program sekolah, serta selalu memberikan kesempatan yang semakin luas kepada orangtua siswa untuk memberikan partisipasinya dalam pendidikan di sekolah. Bagi guru dan Kepala SMAN Non-RSBI Kota Malang, hendaknya selalu memberikan motivasi dan pengarahan kepada orangtua siswa agar mereka mengerti betapa pentingnya partisipasi mereka bagi peningkatan mutu sekolah, sehingga orangtua siswa mau memberikan partisipasi aktif dalam pelaksanaan program-program di sekolah. Serta selalu berusaha untuk dapat bekerjasama dan menjalin hubungan yang lebih harmonis lagi dengan orangtua siswa, (2) Bagi orangtua siswa SMAN RSBI, hendaknya mempertahankan partisipasi aktif yang telah diberikan dalam pelaksanaan program sekolah. Bagi orangtua siswa SMAN Non-RSBI, hendaknya lebih meningkatkan lagi partisipasi yang telah diberikan dalam pelaksanaan program di sekolah agar mutu pendidikan di sekolah lebih meningkat. Selain itu, hendaknya orangtua siswa SMAN Non-RSBI lebih aktif lagi dalam memberikan ide-ide atau masukan dalam perencanaan program sekolah serta lebih aktif lagi untuk hadir dalam setiap undangan dan kegiatan yang diadakan di sekolah yang melibatkan orangtua siswa, (3) Disarankan agar membantu memberikan pengertian kepada orangtua mengenai pentingnya partisipasi orangtua dalam pendidikan melalui pengadaan seminar atau workshop bagi orangtua, (4) Disarankan agar melakukan penelitian yang lebih mendalam dan lebih rinci tentang partisipasi orangtua siswa dalam pendidikan serta bagaimana pengaruhnya terhadap mutu pendidikan di sekolah.

Pengaruh literasi ekonomi siswa, status sosial ekonomi orang tua, dan konformitas teman sebaya terhadap pola konsumsi siswa kelas XI IIS SMA Brawijaya Smart School / Widia Dwiningsari

 

Dwiningsari, Widia. 2016. “Pengaruh Literasi Ekonomi Siswa, Status Sosial Ekonomi Orang Tua dan Konformitas Teman Sebaya Terhadap Pola Konsumsi Siswa Kelas XI IIS SMA Brawijaya Smart School”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Drs. Ir. Yohanes Hadi Soesilo, M.Div., M.E (II) Drs. H. Achmad Ali Wafa, M.Pd. Kata Kunci: Literasi Ekonomi Siswa, Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Teman Sebaya, Pola Konsumsi. Perkembangan IPTEK saat ini mebuat kebutuhan masyarakat semakin beragam. Masyarakat yang mengikuti perkembangan tersebut akan terpengaruh dalam perilaku konsumsinya. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat membuat siswa cenderung bersikap kurang rasional dalam berkonsumsi. Dalam hal konsumsi manusia dihadapkan pada suatu pilihan. Pilihan untuk membeli barang sesuai kebutuhan ataukah hanya memenuhi keinginan saja. Pola konsumsi dipengaruhi banyak hal. Dalam penelitian ini, variabel yang dikaji yaitu literasi ekonomi siswa, status sosial ekonomi orang tua dan teman sebaya sebagai variabel yang mempengaruhi pola konsumsi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah literasi ekonomi siswa, status sosial ekonomi orang tua dan konformitas teman sebaya. Sedangkan pola konsumsi sebagai variabel dependen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh antara literasi ekonomi siswa, status sosial ekonomi orang tua dan konformitas teman sebaya terhadap pola konsumsi baik secara parsial maupun simultan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan anlisis data deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Penelitian ini menggunakan penelitian populasi dengan subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas XI IIS SMA Brawijaya Smart School yang berjumlah 40. Teknik pengumpulan data adalah melalui angket dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi ekonomi siswa dan status sosial ekonomi orang tua mempunyai pengaruh positif secara signifikan, sedangkan konformitas teman sebaya berpengaruh negatif terhadap pola konsumsi siswa kelas XI IIS SMA Brawijaya Smart School. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sumbangan efektif literasi ekonomi siswa terhadap pola konsumsi sebesar 13,2%, status sosial ekonomi orang tua sebesar 18,6%, konformitas teman sebaya sebesar 1,9%, sedangkan sumbangan efektif total/R Square sebesar 33,7% dan sisanya sebesar 66,3% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar variabel literasi ekonomi siswa, status sosial ekonomi orang tua dan konformitas teman sebaya.

Pengaruh persepsi siswa tentang efikasi diri terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa jurusan akuntansi di SMK negeri 1 Turen / Dwi Susiani

 

ABSTRAK Susiani, Dwi. 2009. Persepsi Siswa tentang Efikasi Diri terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Jurusan Akuntansi di SMK Negeri I Turen. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Yuli Widi Astuti, SE, M.Si, Ak (2) Sawitri Dwi Prastiti, SE, M.Si, Ak . Kata kunci: Efikasi Diri, Motivasi Belajar, dan Prestasi Belajar Siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain: perhatian, minat, kematangan/pertumbuhan, latihan/ujian, motivasi belajar, sifat kepribadian seseorang, keadaan keluarga, teknik belajar, lingkungan dan kesempatan. Dan satu lagi faktor yang penting dalam meningkatkan motivasi berprestasi seorang siswa adalah efikasi diri. Efikasi diri mengacu pada keyakinan akan kemampuan individu untuk menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif, serta tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasi. Keyakinan individu mengenai kemampuan berperan sebagai perangkat faktor penentu individu dalam berperilaku, cara berpikir, reaksi emosional dalam mengatasi suatu masalah tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh secara langsung persepsi siswa tentang efikasi diri terhadap motivasi belajar siswa, dan untuk mengetahui besarnya pengaruh secara tidak langsung persepsi siswa tentang efikasi diri terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar di SMK Negeri I Turen. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian Eksplanasi (Explanatory Research). Populasi dalam rencana penelitian ini adalah meliputi seluruh siswa jurusan akuntansi di SMK Negeri 1 Turen. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purpossive sampling, sampel seluruhnya berjumlah dua kelas yaitu 80 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat pengaruh langsung antara persepsi siswa tentang efikasi diri terhadap prestasi belajar siswa Jurusan Akuntansi di SMK Negeri I Turen. (2) Terdapat pengaruh tidak langsung antara persepsi siswa tentang efikasi diri terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa Jurusan Akuntansi di SMK Negeri I Turen. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan 1) bagi orang tua meningkatkan perhatiannya terhadap perkembangan anak yang terpenting adalah memberikan dorongan spiritual sebagai motivasi yang kuat; 2) peran pihak sekolah yaitu untuk memberikan perhatian terhadap tingkah laku siswa di sekolah agar ada keinginan siswa untuk lebih meningkatkan belajar yang; 3) siswa sebaiknya lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar yang memacu siswa untuk belajar.

Penerapan strategi relating, experiencing, applying, cooperating, and transfering model search, solve, create, and share untuk meningkatkan penalaran matematika siswa / Maria Rosari Anggun Mursitorini

 

ABSTRAK Mursitorini, Maria Rosari Anggun. 2015. Penerapan Strategi Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, and Transferring Model Search, Solve, Create, and Share untuk Meningkatkan Penalaran Matematis Siswa. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. I Nengah Parta, S.Pd, M.Si dan (2) Dra. Santi Irawati, Ph.D. Kata kunci: pembelajaran, strategi REACT, model SSCS, penalaran matematis Salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah penalaran. Pentingnya penalaran dalam pembelajaran matematika adalah sebagai komponen utama dalam penyelesaian masalah. Namun, berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa dalam penyelesaian soal, siswa cenderung menghafal rumus dan cara penyelesaian seperti yang dicontohkan oleh guru. Hal ini mengindikasikan bahwa penalaran matematis siswa masih rendah. Faktor yang menyebabkan rendahnya penalaran siswa adalah pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk mengonstruksi pemahamannya sendiri. Salah satu cara untuk meningkatkan penalaran matematis di kelas tersebut adalah melalui perbaikan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan Strategi REACT Model SSCS yang dapat meningkatkan penalaran matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas X MIA 5 SMA Negeri 1 Ambarawa tahun pelajaran 2014-2015. Langkah-langkah pembelajaran Strategi REACT Model SSCS yang dilakukan adalah: (1) pengaitan (relating), dengan mencari (search) kaitan antara materi persamaan dan fungsi kuadrat yang akan dipelajari dengan pengetahuan atau materi sebelumnya, (2) pengalaman (experiencing) dan penerapan (applying), menyelesaikan (solve) beberapa permasalahan nyata tentang persamaan dan fungsi kuadrat dengan menerapkan pengetahuan yang dimiliki, (3) kerja sama (cooperating), dengan mendiskusikan penyelesaian masalah yang diberikan dalam kelompok, kemudian menyampaikan (share) hasilnya melalui presentasi, dan (4) pentransferan (transferring), dengan menyelesaikan soal tugas atau kuis secara individu. Peningkatan kemampuan penalaran matematis dalam penelitian ini diukur melalui penguasaan siswa terhadap materi ajar meliputi LKS, tugas, kuis, serta tes akhir siklus yang meliputi aspek-aspek berikut: (1) merumuskan permasalahan, (2) memperkirakan strategi penyelesaian masalah, (3) menguji strategi penyelesaian masalah yang disusun, dan (4) memberikan penjelasan terhadap jawaban yang diberikan. Pada pembelajaran siklus II, persentase ketuntasan siswa dalam menyelesaikan masalah di LKS pada setiap pertemuan lebih dari 65%. Rata-rata nilai tugas dan kuis adalah 82,19 dan 85,15. Selanjutnya, sebanyak 77,8% siswa mencapai KKM 75 dalam menyelesaikan soal tes akhir siklus. Hasil tersebut telah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian. Oleh karena itu, pembelajaran Strategi REACT Model SSCS dikatakan dapat meningkatkan penalaran matematis siswa.

Analisis filogeni kura-kura lokal Indonesia (Cuora amboinensis) berbasis sekuensing gen cytochrome B dan pengembangannya sebagai buku ajar teknik analisis biologi molekuler Universitas Negeri Malang / Dwi Martha Nur Aditya

 

ABSTRAK Aditya, Dwi Martha Nur. 2015. Analisis Filogeni Kura-kura Lokal Indonesia (Cuora amboinensis) Berbasis Sekuensing Gen Cytochrome B Sebagai Buku Ajar Teknik Analisis Biologi Molekuler Universitas Negeri Malang. Tesis. Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Prof. Dr. Agr. Moh. Amin, M. Si., (2) Dr. Abdul Gofur, M. Si. Kata Kunci: biogeografi, gen cytochrome b, analisis filogenetik, teknik analisis biologi molekuler, buku ajar Populasi dan biogeografi Cuora amboinensis cukup sempit, sehingga peluang inbreeding sangat besar. Keadaan ini dapat menyebabkan kepunahan populasi C. amboinensis. Salah satu upaya konservasi terhadap populasi C. amboinensis dapat dilakukan dengan melakukan analisis filogeni berbasis sekuensing gen cytochrome b mitokondria, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang analisis filogeni C. amboinensis berbasis sekuensing gen cytochrome b. Prosedur analisis filogeni dipelajari dalam mata kuliah Teknik Analisis Biologi Molekuler (TABM). Berdasarkan hasil analisis kebutuhan terhadap pengembangan produk pada matakuliah tersebut, buku ajar yang digunakan selama ini belum memuat penelitian sendiri dalam bidang biologi molekuler, sehingga perlu dikembangkan buku ajar TABM yang memuat hasil penelitian sendiri dalam bidang biologi molekuler. Tujuan penelitian deskriptif ekploratif laboratori yaitu mengungkapkan keragaman genetik dan filogeni C. amboinensis. Tujuan penelitian pengembangan yaitu menghasilkan dan menguji kelayakan buku ajar TABM berdasarkan hasil analisis filogeni C. amboinensis. Metode penelitian tentang analisis filogeni merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratif laboratori. Sampel C. amboinensis berasal dari daerah Toli-toli, Ambon, dan Kendari. Metode penelitian tentang pengembangan buku ajar merupakan jenis penelitian pengembangan berdasarkan model pengembangan Borg and Gall. Pengembangan materi isi produk berasal dari data prosedur dan hasil penelitian analisis filogeni. Hasil analisis data filogeni menunjukkan bahwa C. amboinensis yang digunakan dalam penelitian memiliki kekerabatan yang dekat. Nilai jarak genetik C. amboinensis berkisar ≤0.30, dengan nilai similaritas dan varian rata-rata sebesar 88%. Hasil uji validasi produk dari ahli media, ahli materi, dan dosen pengajar mata kuliah TABM secara berurutan 80.71%, 83.44%, dan 96.10%. Hasil uji keterbacaan kelompok kecil rata-rata sebesar 82.63%. Kesimpulan dari penelitian ini, antara lain hasil analisis filogeni C. amboinensis memiliki kekerabatan yang dekat, karena variasi genetik kecil dan produk buku ajar yang telah dihasilkan tergolong dalam kategori valid dan layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dan kooperatif stad untuk meningkatkan hasil belajar, kualitas proses pembelajaran dan motivasi belajar siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi hidrolis garam / Dian Rodiatul Husna

 

Kata Kunci: inkuiri terbimbing, kooperatif STAD, hasil belajar, kualitas proses, motivasi belajar. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah disarankan menggunakan pembelajaran yang konstruktivistik. Pembelajaran konstruktivistik menuntut siswa untuk mengkonstruk atau menyusun pengetahuannnya sendiri, sehingga memerlukan berbagai model pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah inkuiri terbimbing dan kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh penerapan inkuiri terbimbing- kooperatif STAD terhadap hasil belajar siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi Hidrolisis Garam, (2) mengetahui pengaruh penerapan inkuiri terbimbing- kooperatif STAD terhadap motivasi belajar siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi Hidrolisis Garam, (3) mengetahui kualitas proses pembelajaran inkuiri terbimbing – kooperatif STAD pada siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi Hidrolisis Garam. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen semu. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui hasil belajar afektif, psikomotorik, kualitas proses pembelajaran dan motivasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan dua kelas yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen yaitu kelas yang diajar menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing - kooperatif STAD. Kelas kontrol diajar dengan ceramah-praktikum. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI MAN Malang I tahun ajaran 2009/2010. Data kemampuan awal siswa diperoleh dari ulangan harian Larutan Penyangga. Instrumen penelitian terdiri dari tes hidrolisis garam, lembar observasi, dan angket. Hasil uji coba tes diperoleh reliabilitas sebesar 0,63. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing- kooperatif STAD (1) tidak mempengaruhi hasil belajar kognitif siswa kelas XI MAN Malang I pada pokok bahasan hidrolisis garam, (2) dapat meningkatkan hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa kelas XI MAN Malang I pada pokok bahasan hidrolisis garam, (3) dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, (4) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI MAN Malang I pada pokok bahasan hidrolisis garam.

Pengembangan modul pembelajaran biodiversitas sebagai media belajar siswa SMP kelas VII dengan model siklus belajar berbasis kontekstual / Abdur Rozzaq Fahmi

 

Kata kunci: pengembangan, modul, kontekstual, siklus belajar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyarankan kegiatan pembelajaran di dalam kelas memiliki suatu konsep yang mampu mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lama dan lebih bermakna. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat memadai harapan KTSP tersebut adalah pendekatan berbasis kontekstual. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SMP mengharapkan siswa mempunyai kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sedangkan salah satu prinsip pelaksanaan kurikulum dari satuan pendidikan adalah alam takambang jadi guru dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. Dalam setiap kelas berkumpul siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda, maka perlu diadakan pengorganisasian materi dan memperhatikan cara-cara mengajar. Bentuk pelaksanaan cara mengajar yang sesuai dengan masalah tersebut adalah dengan membagi-bagi bahan pembelajaran menjadi unit-unit pembelajaran yang meliputi satu atau beberapa pokok bahasan. Bagian-bagian materi pembelajaran itu disebut modul. Modul adalah media yang mampu memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun konsep sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Dengan demikian pengembangan dan penggunaan modul adalah sesuai prinsip pelaksanaan kurikulum dari satuan pendidikan dan SKL SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan modul pada topik Biodiversitas (keanekaragaman hayati) untuk siswa SMP kelas VII dengan model siklus belajar berbasis kontekstual. Prosedur pengembangan modul meliputi pengkajian potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi modul, revisi modul, uji coba modul, dan revisi penyempurnaan modul. Subjek validasi modul (validator) adalah tiga orang dosen Biologi Universitas Negeri Malang dan dua orang guru Biologi SMP Negeri 2 Purwosari. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi (1) data kuantitatif berupa skor angket dan nilai pengerjaan modul oleh siswa, serta (2) data kualitatif berupa tanggapan atau saran dari validator dan deskripsi keterlaksanaan uji coba modul. Hasil pengembangan ini berupa modul yang memiliki dua Kegiatan Belajar yaitu Konsep Biodiversitas dan Usaha Konservasi Biodiversitas. Masing-masing kegiatan belajar terdapat model siklus belajar empat tahap (eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, dan evaluasi) yang berbasis kontekstual. Hasil validasi dari para validator memiliki nilai rerata sebesar 88% yang berarti valid, dari para observer memiliki nilai rerata 90% yang berarti valid, dan dari siswa memiliki nilai rerata 91% yang berarti valid. Hasil uji coba modul menunjukkan bahwa ii lebih dari 75% siswa sampel telah menyelesaikan modul dengan baik (kategori A/B). Berdasarkan hasil validasi dan uji coba, maka modul Biodiversitas yang dikembangkan telah layak digunakan dalam pembelajaran sains terutama Biologi di SMP kelas VII. Modul ini perlu diujicobakan lagi pada cakupan sekolah dan jumlah siswa sampel yang lebih besar agar tingkat kevalidannya representatif. Bagi guru yang menggunakan modul Biodiversitas ini, dapat menggunakan langsung cara penilaian yang terdapat di dalam modul atau mengembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan guru dan kompetensi siswa yang diajar. Bertolak dari hasil pengembangan ini, perlu adanya pengembangan modul pada materi lain dengan pendekatan berbasis kontekstual sesuai cakupan bahasan penelitian untuk memenuhi harapan KTSP.

Pengembangan Lembar Kerja Siswa materi Permutasi dan Kombinasi dengan pensekatan inkuiri / Nurlaila Tri Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Nurlaila 2016. Pengembangan Lembar Kerja Siswa materi Permutasi dan Kombinasi dengan Pendekatan Inkuiri. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Erry Hidayanto, M.Si Kata kunci: lembar kerja siswa, permutasi dan kombinasi, pendekatan inkuiri Matematika merupakan mata pelajaran yang perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi untuk membekali mereka kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Berdasarkan penelitian sebelumnya, pada materi permutasi dan kombinasi peserta didik kesulitan dalam membedakannya. Peserta didik bingung dalam menerapkan dalam soal. Hal itu dikarenakan peserta didik hanya menggunakan metode menghafal tanpa memahami perbedaan dari permutasi dan kombinasi itu sendiri. Bahan ajar yang dikembangkan berupa Lembar Kerja Siswa untuk materi permutasi dan kombinasi dengan pendekatan inkuiri. Lembar Kerja Siswa dengan pendekatan inkuiri adalah Lembar Kerja Siswa yang berisi kegiatan penemuan konsep maupun latihan permasalahan permutasi dan kombinasi yang membantu siswa untuk aktif berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan arahan yang sifatnya membimbing. Lembar Kerja Siswa ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari pokok bahasan permutasi dan kombinasi secara mandiri dalam pengawasan dan bimbingan guru. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan Thiagarajan. Model Thiagarajan dalam Hobri (2010:12-16) ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan menjadi model 4-D, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Thiagarajan 4-D yang telah di adaptasi menjadi tiga tahap, yaitu Define, Design, dan Develop dengan pertimbangan terbatasnya waktu, biaya serta produk yang dikembangkan hanya dapat digunakan untuk beberapa kalangan yang sesuai dengan kriteria pengembangan. Dalam penleitian ini dilakukan tiga uji coba terhadap kualitas produk pengembangan yang terdiri dari uji kevalidan, uji kepraktisan, dan uji keefektifan. Uji kevalidan dilakukan oleh dua orang validator yang terdiri dari satu orang dosen matematika dan satu orang praktisi. Uji kepraktisan dilakukan dengan mengambil skor dari hasil pengerjaan Lembar Kerja Siswa yang telah dikerjakan oleh peserta didik. Uji keefektifan dilakukan dengan mengambil skor dari tes hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis diperoleh 3 kesimpulan. Pertama, untuk uji kevalidan terdapat tiga instrumen yang divalidasi oleh validator. Instrumen yang pertama adalah Lembar Kerja Siswa yang memperoleh skor rata-rata hasil validasi sebesar 3,32 sehingga Lembar Kerja Siswa termasuk pada kriteria valid namun dengan revisi. Instrumen yang kedua adalah RPP yang memperoleh skor rata-rata hasil validasi sebesar 3,67 sehingga RPP termasuk pada kriteria valid namun tetap dengan revisi. Instrumen yang terakhir adalah tes hasil belajar yang memperoleh skor rata-rata hasil validasai sebesar 3,36 sehingga tes hasil belajar termasuk pada kriteria valid. Kedua, Lembar Kerja Siswa ini dapat dikatakan praktis karena sebanyak 100% peserta didik memperoleh nilai di atas kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Ketiga, Lembar Kerja Siswa ini dapat dikatakan efektif karena sebanyak 100% peserta didik telah tuntas dalam menyelesaikan tes hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa Lembar Kerja Siswa yang dikembangan merupakan media yang valid, efektif, dan praktis sehingga dapat digunakan sebagai penunjang pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi.

Analisis filogeni kerbau Jawa dan Sumatra dengan gemn cyt B dan pengembangannya sebagai bahan ajar blended learning mata kuliah evolusi / Chitra Dewi Yulia Christie

 

ABSTRAK Christie, Chitra Dewi Yulia. 2015. Analisis Filogeni Kerbau Jawa dan Sumatra dengan Gen CYT B dan Pengembangannya sebagai Bahan Ajar Blended Learning Mata Kuliah Evolusi. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Abdul Gofur, M.Si Kata kunci : analisis filogeni, gen cyt b, bahan ajar blended learning, evolusi Di Indonesia, kerbau memiliki potensi yang meliputi sumber protein hewani, tenaga kerja, berperan dalam adat-istiadat dan kepercayaan berbagai suku bangsa di Indonesia. Terdapat dua tipe kerbau yang paling banyak ditemukan di Indonesia yaitu kerbau sungai dan kerbau lumpur atau rawa. Populasi kerbau di Indonesia berdasarkan Direktorat Jenderal Peternakan cenderung mengalami penurunan dari tahun 2009-2013. Menurunnya populasi kerbau disebabkan oleh keterbatasan bibit unggul, mutu pakan ternak yang rendah akibat pengurangan tanah pertanian pangan terus menerus, perkawinan antar individu yang mempunyai keluarga dekat (inbreeding) serta kurangnya pengetahuan peternak dalam menangani produksi dan reproduksi ternak. Evolusi berkontribusi dalam berbagai hal dalam biologi yaitu mengembangkan biologi kekinian yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta berperan dalam pelestarian alam maupun kemanusiaan. Terdapat beberapa permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran evolusi yaitu kurang bervariasinya sumber belajar, kurang up to date ilmu-ilmu evolusi terkini akibat kurangnya pemanfaatan teknologi informasi, serta masih tergantungnya peserta didik terhadap pengajar. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian analisis filogeni kerbau Jawa dan Sumatra dengan gen cyt b dan pengembangannya sebagai bahan ajar blended learning mata kuliah Evolusi yang diharapkan dapat menunjang pembelajaran abad 21 dan permasalahan mengenai konservasi kerbau tersebut. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk (1) menganalisis variasi sekuen gen cyt b kerbau Jawa dan Sumatra yang meliputi analisis filogeni, jarak genetik, similaritas dan varian, serta haplotype network untuk menentukan hubungan kekerabatan antar kerbau lokal di Indonesia di Pulau Jawa dan Sumatra di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan (2) menghasilkan bahan ajar blended learning berdasarkan hasil penelitian analisis filogeni kerbau Jawa dan Sumatra dengan sekuen gen cyt b pada mata kuliah Evolusi, dan (3) mengetahui kelayakan bahan ajar blended learning berdasarkan penelitian analisis filogeni kerbau Jawa dan Sumatra dengan gen cyt b pada mata kuliah Evolusi. Metode dalam penelitian dan pengembangan ini dibagi menjadi dua, yaitu (1) penelitian deskriptif eksploratif meliputi isolasi, purifikasi, separasi hasil isolasi dan purifikasi, PCR, elektroforesis, dan analisis sekuen DNA delapan sampel kerbau Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan menggunakan aplikasi komputer ClustalX, BioEdit, MEGA6, dan Haplotype Network, serta (2) pengembangan bahan ajar blended learning mata kuliah Evolusi berdasarkan penelitian. Pengembangan bahan ajar blended learning ini berdasarkan model pengembangan Borg dan Gall (1983) sampai tahap ke-5 yaitu (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) uji lapangan awal, dan (5) revisi produk utama. Hasil penelitian dan pengembangan ini menunjukkan bahwa (1) terdapat variasi sekuen gen cyt b kerbau (Bubalus bubalis) Jawa dan Sumatra yang meliputi analisis filogeni, jarak genetik, similaritas dan varian, serta haplotype network. (a) analisis filogeni individu kerbau dari daerah yang sama dan yang berdekatan memiliki hubungan kekerabatan yang relatif tinggi. (b) nilai jarak genetik Bubalus bubalis Jawa dan Sumatra pada penelitian ini berkisar antara 0,000 sampai 0,031. (c) nilai similaritas Bubalus bubalis Jawa dan Sumatra yang diperoleh berkisar antara 96,86% sampai 100%. (d) analisis haplotype network yang diperoleh bahwa haplotype kerbau Jawa dan Sumatra dengan Bison bison terbagi ke dalam enam haplotype yang membentuk dua haplogroup, sehingga letak geografis berpengaruh terhadap tingkat kekerabatan kerbau Jawa dan Sumatra. (2) Dihasilkan bahan ajar blended learning mata kuliah Evolusi berdasarkan penelitian analisis filogeni kerbau Jawa dan Sumatra dengan gen cyt b. (3) Pengembangan bahan ajar blended learning mata kuliah Evolusi dinyatakan sangat layak digunakan sebagai sumber belajar mata kuliah Evolusi dengan skor persentase dari validator eksternal ahli media sebesar 86%, validator eksternal ahli materi sebesar 90%, validator internal ahli materi sebesar 96,25%, dan uji coba keterbacaan mahasiswa sebesar 90,83%.

Perbedaan kreativitas antara siswa SD sekolah alam dan siswa SD sekolah konvensional / Chandra Dewi Yunita

 

Kata Kunci : kreativitas, sekolah alam, sekolah konvensional Kreativitas adalah kemampuan individu dalam menghasilkan gagasan baru yang orisinil maupun adaptasi dari yang sudah ada dalam usahanya memecahkan suatu masalah, menggunakan pola berpikir divergen dan pemikiran kreatif yang mencerminkan kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bakat kreatif adalah lingkungan yang memberi keamanan dan kebebasan psikologis pada anak untuk berkembang, baik kemampuan kognisi, kemampuan afeksi, maupun kemampuan psikomotoriknya secara bersama-sama. Penelitian yang dilakukan bertujuan 1) mengungkap kreativitas siswa SD pada sekolah alam, 2) mengungkap kreativitas siswa SD pada sekolah konvensional, 3) mengungkap perbedaan kreativitas antara siswa SD sekolah alam dan siswa SD sekolah konvensional. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa sekolah alam kelas IV, V, dan VI dan siswa sekolah konvensioanl kelas IV, V, dan VI di kota Blitar yang berumur 9-12 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 pada siswa sekolah alam dan 30 pada siswa sekolah konvensional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Tes Kreativitas Figural (TKF) yang merupakan alat tes yang sudah baku dan terstandarisasi oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Bagian Psikologi Pendidikan. Teknik analisis data menggunakan analisa deskriptif dan uji-t dengan independent sample test. Hasil penelitian ialah: (1) sebagian besar kreativitas siswa sekolah alam berada pada kategori rata-rata atas (2) sebagian besar kreativitas siswa sekolah konvensional berada pada kategori rata-rata (3) mean kreativitas siswa sekolah alam sebesar 113,37 dan mean siswa sekolah konvensional sebesar 106,80 dengan nilai t-hitung = 2,612; p = 0,021 < 0,05, berarti ada perbedaan kreativitas yang signifikan antara siswa sekolah alam dan siswa sekolah konvensional. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian tentang kreativitas hendaknya memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kreativitas siswa misalnya, kondisi lingkungan siswa, intensitas siswa berada di sekolah, keadaan ekonomi siswa, dan upaya guru dalam meningkatkan kreativitas siswa.

Pengaruh model problem based learning dengan teknik one day one problem terhadap hasil belajar geografi siswa SMA / Rima Meilita Sari

 

ABSTRAK Sari, Rima Meilita. 2015. Pengaruh Model Problem Based Learning dengan Teknik One Day One Problem terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa SMA. Tesis. Program Studi Pendidikan Geografi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ach. Fatchan, M.Pd., M.P. (II) Drs. I Komang Astina, M.S., Ph. D. Kata Kunci: Model Problem Based Learning, One Day One Problem, Hasil Belajar Model Problem Based Learning dengan teknik One Day One Problem merupakan pembelajaran yang berorientasi pada masalah nyata. Permasalahan nyata tersebut dipecahkan dalam waktu satu hari. Permasalahan nyata yang ada di sekitar siswa dapat meningkatkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu mempengaruhi keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh konsep yang esensial dari materi pembelajaran. Model Problem Based Learning dengan Teknik One Day One Problem dapat meningkatkan pemahaman siswa, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning dengan teknik One Day One Problem terhadap hasil belajar geografi siswa SMA. Rancangan penelitian berupa eksperimen semu dengan design non equivalent control group design. Penentuan subjek dalam penelitian ini berdasarkan rata-rata nilai UAS Geografi yang hampir sama. Hasil rata-rata UAS geografi kelompok kontrol kelas XI IIS 2 sebesar 56 dan kelompok eksperimen kelas XI IIS 3 sebesar 50. Instrumen tes hasil belajar berupa soal esai berjumlah 5 butir soal. Data yang dipakai yaitu gainscore kelompok eksperimen dan kontrol yang dianalisis dengan menggunakan uji independent sample t-test dengan bantuan spss 16.0 for windows. Hasil penelitian ini ada pengaruh signifikan model Problem Based Learning dengan Teknik One Day One Problem terhadap hasil belajar geografi. Gainscore pembelajaran yang menggunakan model Problem Based Learning lebih tinggi daripada konvensional. Nilai rata-rata gainscore kelas eksperimen sebesar 39,00 dan kontrol sebesar 22,50. Hasil analisis uji independent sample t-test, perbedaan tersebut menunjukkan p-level 0,000. Nilai p-level tersebut lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Jadi kesimpulannya ”Model Problem Based Learning dengan teknik One Day One Problem berpengaruh terhadap hasil belajar geografi siswa SMA”. Berdasarkan hasil penelitian model Problem Based Learning dengan teknik One Day One Problem terbukti berpengaruh terhadap hasil belajar. Pengaruh positif dikarenakan pembelajaran berorientasi pada masalah nyata, penyelidikan kelompok, permasalahan yang wajib dipecahkan 1 hari, dan peran guru pada pengawasan proses investigasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan kepada guru geografi untuk menerapkan model tersebut pada pembelajaran sesuai kondisi kelas. Saran penelitian selanjutnya yaitu untuk menguji pengaruh model Problem Based Learning dengan variabel lain serta mengintegrasikan dan membandingkan dengan model dan teknik pembelajaran yang lain.

Pengembangan asesmen autentik pembelajaran tematik kelas 1 sekolah dasar / Ima Wahyu Putri Utami

 

ABSTRAK Utami, Ima Wahyu Putri. 2015. Pengembangan Asesmen Autentik Pembelajaran Tematik Kelas I Sekolah Dasar. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhardjito, M. S., (2) Dr. Dedi Kuswandi, M. Pd. Kata Kunci: Asesmen Autentik, Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik yang memasukkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam proses pembelajaran telah diterapkan di sekolah dasar. Pembelajaran merupakan inti dari suatu implementasi kurikulum, sehingga asesmen harus dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran. Namun antara harapan dan yang terjadi di lapangan masih terdapat kesenjangan, yaitu: (1) guru kurang paham dan kurang dapat mengaplikasikan asesmen autentik, (2) guru sudah menerapkan portofolio, namun tidak ada tindak lanjut mengenai penilaian terhadap portofolio tersebut, (3) guru kesulitan mendeskripsikan kemampuan siswa, (4) guru tidak menilai performa siswa, (5) asesmen yang biasa dilakukan guru pada aspek kognitif, (6) belum ada buku panduan asesmen autentik yang khusus kelas I SD, (7) dalam kegiatan asesmen, guru tidak menyiapkan instrumen terlebih dahulu, (8) panduan pada buku guru belum cukup jelas dan kurang lengkap. Tujuan penelitian & pengembangan ini untuk mengatasi masalah yang telah dipaparkan di atas, yaitu: menghasilkan buku asesmen autentik pada pembelajaran tematik untuk guru kelas I SD yang mempunyai tingkat kevalidan, keterterapan, dan keterbacaan yang tinggi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian & pengembangan model O’Malley & Pierce. Adapun tahapan model O’Malley & Pierce yaitu: (1) membangun tim,(2) menentukan tujuan, (3) menetapkan sasaran hasil (4) melakukan pengembangan staf, (5) mengumpulkan contoh asesmen, (6) mengembangkan asesmen, (7) uji coba asesmen, (8) meninjau ulang asesmen. Hasil uji validasi produk buku asesmen autentik yang dikembangkan yaitu 86% dengan kriteria sangat valid. Hasil uji coba lapangan keterterapan produk buku asesmen autentik mencapai 95% dengan kriteria sangant valid, dan keterbacaan produk mencapai 86% dengan kriteria sangat valid. Kesimpulan penelitian & pengembangan ini buku asesmen autentik memiliki kelebihan antara lain: (1) diawali paparan teori asesmen, (2) setiap aspek pada buku asesmen autentik dilengkapi dengan teori pendukung, petunjuk yang jelas, rubrik, cara pengolahan nilai, dan penyimpulan nilai, (3) dilengkapi cara pengolahan nilai yang sesuai dengan permendikbud No. 104 Tahun 2014, (4) dilengkapi dengan lembar penilaian dan penyimpulan nilai, (5) dilengkapi format identitas portofolio. Saran pengembangan produk lebih lanjut diantaranya: (1) dapat dikembangkan pada tema lain ataupun jenjang kelas yang lain, (2) analisis nilai siswa dapat dikembangkan menggunakan software, (3) dapat dikembangkan bentuk asesmen lain yang sesuai dengan karakteristik siswa. Produk buku asesmen autentik ini disarankan untuk digunakan pada sekolah tempat uji coba. Jika digunakan pada sekolah lain harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan perlu dilakukan uji coba lagi pada skala luas.

Pengaruh model pembelajaran group investigation terhadap motivasi belajar geografi siswa SMA / Fahmi Arif Kurnianto

 

ABSTRAK Kurnianto, Fahmi Arif. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation terhadap Motivasi Belajar Geografi Siswa SMA. Tesis, Program Studi Pendidikan Geografi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Ach. Fatchan M.P., M.Pd. (II) Drs. I Komang Astina, M.S. Ph.D. Kata Kunci: model Group Investigation, motivasi belajar geografi Pembelajaran geografi di Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Ulujami Kabupaten Pemalang masih didominasi oleh metode pembelajaran konvensional yang membuat sebagian siswa pasif dan tidak termotivasi dalam belajar. Oleh karena itu perlu diterapkan model pembelajaran yang mampu menumbuhkan keaktifan dan motivasi belajar siswa. Model Group Investigation (GI) memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan-keunggulan model pembelajaran GI antara lain: (1) meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, (2) menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (3) meningkatkan pengembangan soft skills, (4) dapat meningkatkan solidaritas sosial, dan (5) meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model group investigation terhadap motivasi belajar geografi siswa SMA. Jenis penelitian ini yakni eksperimen semu dengan desain non equivalentcontrol group posttest only. Subjek penelitian terdiri atas kelas XI IPS yang dipilih berdasarkan nilai Ujian Tengah Semester (UTS) semester genap tahun ajaran 2014-2015 yang memiliki rata-rata yang hampir sama (homogen). Kelas kontrol menggunakan model ceramah dan diskusi, sedangkan kelas eksperimen menggunakan model GI. Instrumen yang digunakan untuk mengukur motivasi belajar berupa A Manual for the Use of the Motivated Strategies for Learning Questionnaire(MSLQ) yang dikembangkan oleh Pintrich dkk. Selanjutnyadata yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji Independent Sample T-Test dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh signifikan model GI terhadap motivasi belajar geografi siswa. Hal itu berdasarkan hasil analisis Uji Independent Sample T-Test yang menunjukkan nilai p-level 0.000. Nilai p-level tersebut lebih kecil dari 0.05 (p<0.05). Rata-rata skor motivasi belajar geografi siswa kelas eksperimen lebih tinggi dengan skor 208, sedangkan kelas kontrol dengan skor 177. Hal tersebut dikarenakan investigasi dilakukan di hutan mangrove, guru hanya menyampaikan masalah di awal pembelajaran, sering terjadi interaksi antar siswa pada saat pembelajaran, dan siswa menginvestigasi sub tema yang berbeda.

Penerapan pembelajaran kontekstual problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja (Studi pada siswa kelas X APK Negeri 2 Blitar) / Didit Satria

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Problem Based Learning, Prestasi Belajar. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya proses pembelajaran. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru (teacher centered) dan siswa hanya diam, duduk dan menerima informasi dari guru. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran tidak kreatif dan kurang menarik perhatian siswa untuk berperan aktif di dalam pembelajaran. Pembelajaran yang demikian membuat siswa tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran serta kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru karena mereka merasa jenuh dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang monoton. Masalah ini pada akhirnya berdampak negatif pada motivasi belajar dan prestasi belajar siswa di sekolah. Salah satu strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, salah satunya adalah dengan menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) yang dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan keterampilan intelektual. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah agar motivasi belajar siswa meningkat, sehingga dapat pula meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi (pengamatan), interview (wawancara), catatan lapangan, studi dokumenter, dan tes. Adapun subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Apk SMK Negeri 2 Blitar yang berjumlah 40 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa dengan menggunakan pembelajaran model PBL dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMK Negeri 2 Blitar. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pre tes siklus I mencapai 58,57 dan meningkat menjadi 66,87 pada pos tes. Hasil penelitian pada siklus II rata-rata pre tes mencapai 61,7 dan meningkat menjadi 70,27 pada pos tes. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran model PBL dapat meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran Mengikuti Prosedur Keamanan,Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah: 1) Bagi guru SMK Negeri 2 Blitar, khususnya guru mata pelajaran Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja diharapkan dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan masing-masing karakteristik mata pelajaran seperti model Problem Based Learning (PBL) sebagai alternatif untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa, 2) Siswa hendaknya dapat belajar dengan giat, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, meningkatkan motivasi belajar, dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan 3) Bagi peneliti berikutnya, agar dapat melakukan kegiatan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan menerapkan 2model Pembelajaran Berbasis Masalah, bukan hanya pada mata pelajaran Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang relevan.

Kolaborasi pembelajaran kooperatif tipe quiz-quiz trade dan fan pick untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS (studi di kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-Bati Kabupaten Tanh laut) / Muhammad Wahyu

 

ABSRTRAK Wahyu, Muhammad. 2015. Kolaborasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPS (Studi di Kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut). Tesis Program studi Pendidikan Dasar (Kons.IPS), Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Budi Eko Soetjipto, M.Ed, M.Si dan (II) Dr.Achmad Amirudin, M.Pd Kata kunci : Quiz-Quiz Trade,Fan N Pick, hasil belajar, motivasi belajar Hasil Pengamatan pada waktu pembelajaran IPS kelas VIII di SMP Negeri 3 Bati-Bati diketahui bahwa guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah, motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS sangat rendah dan hasil belajar IPS rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan kolaborasi model pembelajaran kooperatif tipe quiz-quiz trade dan fan n pick untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-bati. Kedua model ini saling mendukung satu sama lain, namun tetap terpisah dan tidak menjadi suatu model yang baru. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-bati tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 24 siswa dan dilaksanakan dengan 2 siklus. Data yang dikumpulkan meliputi: (1) hasil observasi kegiatan guru, (2) hasil observasi kegiatan siswa, (3) Tes hasil belajar dan (4) angket motivasi belajar siswa. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran kooperatif kolaborasi tipe Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick dapat meningkatkan hasil belajar dari siklus I ke siklus II, (2) motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus II, (3) Adapun masalah-masalah yang dihadapi dalam penelitian ini adalah (a) banyak siswa yang tidak memperhatikan pelajaran pada siklus I, (b) waktu yang digunakan tidak sesuai dengan yang direncanakan pada siklus I, (c) kelas menjadi ramai dan gaduh. Permasalahan-permasalahan tersebut sudah bisa diatasi pada siklus II sehinggga pembelajaran bisa berjalan lancar dan sesuai dengan yang direncanakan. Saran yang diberikan adalah (1) penerapan kolaborasi model Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick membutuhkan pengelolaan waktu yang baik sehingga dalam pembelajaran lebih efektif karena model pembelajaran ini melibatkan siswa secara aktif. (2) Harus menguasai pengelolaan kelas menggunakan model pembelajaran kooperatif Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick dengan baik sehingga siswa aktif dan lancar dalam pembelajaran dengan menggunakan model ini (3) lebih memperhatikan kepada kemampuan siswa dalam pengelolaan tanggung jawab pribadi sehingga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberhasilan yang dicapai bersama.

Pengembangan media permainan kakerlakenscule untuk keterampilan berbicara bahasa Jerman kelas X MIPA 3 SMAN 7 Malang / Monica Waravindra Purnama

 

ABSTRAK Purnama, Monica Waravindra. 2016. Pengembangan Media Permainan Kakerlakenschule untuk Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman Kelas X MIPA 3 SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: M. Kharis, S.Pd., M.Hum. Kata Kunci: Kakerlakenschule, Media, Keterampilan Berbicara Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan media permainan Kakerlakenschule untuk keterampilan berbicara bahasa Jerman kelas X MIPA 3 SMAN 7 Malang. Model penelitian dan pengembangan menggunakan modifikasi model penelitian Borg & Gall (1983) dan Sugiyono (2012), yaitu pengumpulan data, desain produk, uji validasi, revisi desain, uji coba lapangan, revisi produk, dan produk akhir. Penelitian dan pengembangan media menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Instrumen pengumpulan data berupa lembar angket. Produk pengembangan divalidasi oleh ahli media dan ahli materi. Produk pengembangan diujicobakan pada siswa kelas X MIPA 3 SMAN 7 Malang. Setelah dilakukan prosedur penelitian, dihasilkan sebuah produk yang dinamai Kakerlakenschule, produk berupa 6 set kartu dengan ukuran 6cm x 9cm. Setiap set kartu terdiri dari 66 kartu, yang bergambar: tas, gunting, bolpoin, jam, pensil, dan penghapus yang masing-masing sebanyak 10 kartu dan 6 kartu bergambar Kakerlaken sebagai joker. Selain itu dihasilkan juga petunjuk penggunaan terdiri dari 4 halaman. Berdasarkan hasil angket media, media ini valid dengan persentase 80%. Hasil angket ahli materi 1 dan 2 media ini valid dengan perolehan masing-masing persentase 85% dan 83%. Dari ketiga hasil angket diperoleh rata-rata persentase sebesar 82,7%. Hasil angket uji coba siswa kelas X MIPA 3 ini valid dengan persentase sebesar 85%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa media permainan Kakerlakenschule dapat dinyatakan valid dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran di kelas khususnya keterampilan berbicara tema Schule.

Pengaruh Collaborative Strategic Reading (CSR) dan gaya kognitif terhadap pemahaman bacaan siswa SMA di Kota Malang / Abdul Hamid B.

 

ABSTRAK Hamid, Abdul. 2015. PengaruhCollaborative Strategic Reading (CSR) dan Gaya KognitifterhadapPemahamanBacaanSiswa SMA di Kota Malang.Disertasi. Program StudiTeknologiPembelajaran, Pascasarjana, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. I NyomanSudanaDegeng, M.Pd., (II) Prof. Dr. H. PunajiSetyosari, M.Ed., M.Pd., (III) Dr. WarasKamdi, M.Pd. Kata Kunci : CSR, gayakognitif, pemahamanbacaan Collaborative Strategic Reading(CSR) adalahstrategimembaca yang dirancanguntukmemperbaikikemampuansiswadalammemahamibacaandenganbekerjasecarakolaboratifdalammenemukan ide-ide dariteks.Untukdapatmemahamiataumemperolehinformasidariteks, tidakhanyamemerlukanstrategimembaca yang sesuai, akantetapijugatergantungdarigayakognitifdarimasing-masingpembaca. Dengan kata lain, strategimembacadangayakognitifmerupakanduavariabel yang salingmemberikontribusiterhadapkemampuanmemahamibacaan. Jenisgayakognitif yang dimaksudadalahgayakognitifField Dependence (FD) dangayakognitifField Independence (FI). tujuanpenelitianiniadalahuntuk: (1) mengujiperbedaanpemahamanisibacaanantarasiswa yang diberiperlakuandenganstrategimembaca CSR dengansiswa yang diberiperlakuandenganstrategimembaca SQ3R; (2) mengujiperbedaanpemahamanisibacaanantarasiswa yang mempunyaigayakognitiffield dependence (FD) dengansiswa yang mempunyaigayakognitiffield independence (FI); (3) mengujipengaruhinteraksiantarastrategimembacadengangayakognitifsiswaterhadap pemahamanbacaan. Jenispenelitianiniadalahpenelitiankuasieksperimendenganmenggunakandesainnonequivalent control group design 2x2. Subyekpenelitianiniadalahsiswakelas X SMAN 10 Malang dan SMA Wisnuwardhana Malang.Jumlahsubyekuntuk SMAN 10 sebanyak 90 siswa yang terdiriatas 45 sebagaikelompokeksperimendan 45 sebagaikelompokkontrol. Sedangkansubjekdari SMA Wisnuwardhana Malang sebanyak 40 siswa yang terdiriatas 20 siswasebagaikelompokeksperimendan 20 siswasebagaikelompokkontrol. Penentuansubyekpenelitianmenggunakanteknikcluster random sampling. Instrumen yang digunakandalampenelitianiniadalahtesgayakognitifyaituGroup Embedded Figure Test (GEFT) untukmengetahuijenisgayakognitifsiswadanteskemampuanmemahamibacaan. Data yang terkumpuldianalisisdenganteknikanalisis data ANOVA denganbantuan program SPSS 20.0 for Windows padatarafkesalahan 5% atautarafkeyakinan 95%.Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa: (1) terdapatperbedaan yang signifikankemampuanmemahamiisibacaanantarakelompoksiswayang diajardenganstrategiCSR dengansiswa yang diajardenganstrategi SQ3R.Strategi CSR mempunyaipengaruhlebihbaikdibandingkandenganstrategi SQ3R dalampemahamanbacaan.Hal inidibuktikandenganhasilhipotesis yang menunjukkanbahwanilaiFhitung yang diperoleholehstrategimembacauntukvariabelkemampuanmemahamiisibacaansebesar 230.797 dengannilaiprobabilitasatausignifikansi 0.00 < 0.05; (2) terdapatperbedaan yang signifikankemampuanmemahamiisibacaanantarasiswa yang memilikigayakognitifField Dependence(FD) dengansiswa yang memilikigayakognitifField Independence(FI).Siswa yang memilikigayakognitif FI mempunyaipengaruhlebihbaikdibandingkandengansiswa yang mempunyaigayakognitif FD dalampemahamanbacaan. Hal inidapatdibuktikandenganhasilpengujianhipotesis yang menunjukkanbahwanilaiFhitunggayakognitifsiswasebesar 6.798 dengannilaiprobabilitasatausignifikansisebesarρ< 0.05; (3) terdapatinteraksiantarastrategimembacadengangayakognitifterhadapkemampuanmemahamiisibacaan. Hal inidibuktikandenganhasilujihipotesis yang menunjukkanbahwanilaiFhitungsebesar 20.252 dengannilaiprobabilitasatausignifikansisebesarρ< 0.05. Berdasarkantemuanpenelitianini, makadisarankansebagaiberikut: (1) Guru dapatmenjadikanstrategimembaca CSR sebagaisalahsatualternatifstrategimembaca yang dapatdigunakandalampembelajaranpemahamanbacaan (reading comprehension) sehinggadapatmembantumengatasikesulitan-kesulitansiswadalammemahamiteksBahasaInggris; (2) Guru dalammemilihstrategimembacahendaknyadisesuaikandengangayakognitifdarimasing-masingsiswasupayadapatmengatasikesulitan-kesulitandalammemahamibacaansertamampumeningkatkanketerampilanmemahamibacaanmereka; (3) Di dalampembelajaranmemahamibacaan, disarankansiswa yang memilikigayakognitif FI sebaiknyadiajardenganstrategi CSR dansiswa yang memilikigayakognitif FD diajardenganstrategiSQ3R; (4) Bagipeneliti lain yang inginmelakukanpenelitianlebihlanjuttentangstrategi CSR, sebaiknyatidakhanyauntukkemampuanmembacateksBahasaInggristapibisadilakukanpenelitianterhadapkemampuanmemahamibacaanbahasa Indonesia ataubahasaasinglainnya, (5) Penelitianinimenggunakanvariabelstrategi SQ3R sebagaipembandingdaristrategi CSR.Olehkarenaitu, bagipeneliti lain seyogyanyamenggunakanstrategimembacalainya yang dapatdijadikansebagaipembandingdenganstrategimembaca CSR; dan (6) Penelitianinimenggunakangayakognitifsebagaivariabel moderator. Akan tetapiselainvariabel moderator gayakognitifdidugaadavariabel moderator yang lain misalnyagayabelajar (learning style), motivasiberprestasijugaberpengaruhterhadappemahamanbacaan. Untukitudisarankandiadakanpenelitianlebihlanjutdengan moderator lain yang dikombinasikandenganstrategimembaca CSR

Perancangan buku cerita bergambar melalui penokohan karakter kesenian Besutan sebagai sarana pelestarian budaya lokal / Deninta Dwi Marsetyani

 

ABSTRAK Marsetyani, Deninta Dwi 2016. Perancangan Buku Cerita Bergambar Melalui Penokohan Karakter Kesenian Besutan Sebagai Sarana Pelestarian Budaya Lokal. Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni Dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)Drs. Didiek Rahmanadji , M.Pd. (II) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci : Perancangan,Cerita Bergambar, Besutan, Budaya Lokal. Budaya Lokal mencerminkan tindak perilaku dan kepercayaan masyarakat. Di Jombang terdapat Kesenian Besut yang merupakan pengembangan Kesenian Lerok dan cikal bakal Ludruk. Ludruk Besutan menampilkan empat tokoh panggung, yakni Besut, Paman Jamino (Paman Ganda)/Manganda, Asmunah/Rusmini, dan Sumogamabar.Banyaknya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita Kesenian Besutan ini harus dilestarikan dan perlu diperkenalkan serta diketahui. Banyaknya generasi muda yang belum mengenal Kesenian Besutan Oleh sebab itu perlu dirancangnya media yang memperkenalkan Kesenian Besutan. Adapun tujuan untuk melestarikan Kesenian Besutan sebagai warisan buaya lokal dapat dikenal dan dilestarikan. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan dari Bruce Archer. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melaukaan wawancara, kajian pustaka, dokumentasi menghasilkan data yang dibutuhkan untuk perancangan buku cerita bergambar. Media pendukung lain yang diperlukan untuk memaksimalkan daya tarik budaya lokal adalah poster, brosur, flyer, dan mini x-banner.

Pengaruh strategi pembelajaran mandiri self regulated learning dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar praktik produktif peserta didik di SMK / Sutikno

 

ABSTRAK Sutikno, 2015. Pengaruh Strategi Pembelajaran Mandiri, Self Regulated Learning dan Motivasi Berprestasi terhadap Hasil Belajar Praktik Produktif Peserta Didik di SMK, Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pasca-sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed, (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata Kunci: Strategi pembelajaran mandiri, self regulated learning, motivasi berprestasi, hasil belajar praktik produktif. Perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher centered instruction) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (learner centered instruction) merupakan salah satu upaya penting dalam mengoptimalkan proses pembelajaran yang dapat membangkitkan peserta didik lebih aktif belajar. Belajar secara utuh dan bermakna dalam kehidupannya (learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together). Desain pembelajaran yang sesuai dengan paradigma diharapkan dapat menjadi solusi dan menjawab tantangan ke masa depan, yakni perubahan era industrialisasi yang membawa konskuensi terhadap perubahan kurikulum di sekolah menengah kejuruan. Strategi pembelajaran mandiri dapat diterapkan sesuai konsep school preneurship, yang bertujuan membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri peserta didik. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengkaji teori yang diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas pembelajaran praktik produktif di sekolah menengah kejuruan. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen nonequivalent control group design secara faktorial. Rancangan faktorial 2 x 2 x 2 dengan variabel bebas strategi pembelajaran, variabel moderator self regulated learning dan motivasi berprestasi, dan variabel tergantung hasil belajar. Subyek penelitian peserta didik kelas XI kompetensi keahlian pemesinan di SMK Negeri 1 Trenggalek dan SMK Negeri 3 Tulungagung dengan N = 128. Pelaksanaan pada semester gasal tahun pelajaran 2014/2015. Teknik pengumpulan data melalui tes, angket dan observasi. Teknik analisis data pengujian hipotesis menggunakan teknik statistik Ancova tiga jalur dengan faktorial 2 x 2 x 2 satu kovariat. Hasil analisis pengujian hipotesis diperoleh adanya pengaruh utama dan pengaruh interaksi yang signifikan. Dibuktikan secara umum hipotesis statistik (H0) ditolak dan hipotesis penelitian (H1) diterima. Melalui pembahasan dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran mandiri dalam praktik produktif di SMK mempunyai keandalan dan peranan yang signifikan dalam mengantarkan belajar peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Strategi pembelajaran mandiri meningkatkan kompetensi hard skills dan soft skills peserta didik. Hal ini sesuai konsep school preneurship untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi kajian selanjutnya, dan dapat memfasilitasi untuk memperoleh desain pembelajaran yang bermakna .

Pergeseran keyakinan epistemologis tentang matematika pada mahasiswa politeknik / Arif Rahman Hakim

 

ABSTRAK Hakim, Arif Rahman. 2016. Pergeseran Keyakinan Epistemologis tentang Matematika pada Mahasiswa Politeknik. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ipung Yuwono, M.Sc., (II) Dr. Subanji, M.Si., (III) Dr. Swasono Rahardjo, M.Si. Kata kunci: keyakinan, epistemologis, pergeseran keyakinan, keyakinan mahasiswa Keyakinan (belief) adalahpenilaian atau pandangan pribadiyang merupa-kanpengetahuansubjektifseseorangyangtidak membutuhkanpembenaranformal. Keyakinan epistemologis adalah keyakinan yang mengacu pada pengetahuan individu tentang bagaimana suatu pengetahuan terjadi, apa yang dianggap sebagaipengetahuan,di manapengetahuan berada, danbagaimana pengetahuandibangundandievaluasi. Keyakinan epistemologis tentang matematika meliputi keyakinan tentang:waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah matematika, pentingnya memahami matematika, adanya masalah matematika yang bisa diselesaikan tanpa prosedur langkah-demi-langkah dan kegunaan matematika.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pergeseran/perubahan keyakinan epistemologis tentang matematika dari sebelum kuliah hinggaakhir kuliah di Politeknikdan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut, serta korelasinya terhadap kinerja matematika. Dengan mengetahui perubahan keyakinan epistemologistentang matematika, maka diharapkan dapat digunakan untuk mempertimbangkan penyusunan kurikulum dan pembelajaran matematika di Politeknik. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix method) dengan metode Explanatory Sequential Design, yaitu penelitian awal dilakukan secara kuantitatif dan dilanjutkan dengan penelitian kualitatif. Data kuantitaif keyakinan mahasiswa tentang matematika diambil menggunakan kombinasi kuesioner IMBS (Indiana Mathematics Belief Scales) dan kuesioner MBS dengan terlebih dahulu melakukan modifikasi menyesuaikan dengan rumusan masalah, kemudian dilanjutkan dengan mengajukan kuesioner otobiografi matematika, tes matematika dan wawancara untuk mendapatkan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan epistemologis mahasiswa Politeknik tentang matematika masuk kategori positif rendah. Sub skala Waktu, Pemahaman dan Kegunaan dengan kategori positif, sedangkan pada sub skala Langkah dengan kategori negatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Politeknik mempunyai keyakinan availingyaitu: menyelesaikan masalah matematika mungkin memerlukan waktu lama, pemahaman penting dalam matematika, dan matematika berguna dalam kehidupan sehari-hari. Namun sebagian besar mahasiswa masih memegang keyakinan nonavailing yaitu menyelesaikan matematika harus menggunakan rumus/prosedur langkah-demi-langkah yang sudah disediakan, bukan menggunakan logika atau nalar. Pergeseran keyakinan mahasiswa Politeknik tentang matematika naik rendah atau mengalami pergeseran positif. Namun demikian, pergeseran positif tersebut terjadi tidak pada setiap sub skala. Pergeseran positif terjadi pada sub skala Waktu, Pemahaman dan Kegunaan. Sebaliknya, pergeseran negatif terjadi pada sub skala Langkah.Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran keyakinan epistemologis mahasiswa tentang matematika dapat dikelompokkan menjadi: (1) matematikasebagai suatu disiplin, (2) sifatmengetahuimatematika, (3) sistem penilaian, (4) diri (self), (5) orientasi tujuan, (6) kegunaan matematika, (7) waktu penyelesaian, (8) pemakaian pada mata kuliah lain, dan (9) pengalaman kerja. Hasil analisa kuantitatif menunjukkan bahwa keyakinan epistemologis mahasiswa tentang matematika berkorelasi positif terhadap kinerja matematika pada tingkat signifikansi 1%, dengan koefisien korelasi Pearson 0,424. Setiap sub skala keyakinan epistemologis masing-masing mempunyai korelasi positif dengan kinerja matematika pada tingkat signifikansi 1%: sub skala Waktu dengan koefisien korelasi Person 0,214; sub skala Pemahaman dengan koefisien korelasi 0,313; sub skala Kegunaan dengan koefisien korelasi 0,215; serta perubahan keyakinan epistemologis dengan koefisien korelasi 0,204. Sedangkan sub skala Langkah berkorelasi positif pada tingkat signifikansi 5 % dengan koefisien korelasi 0,159.

Penerapan model problem based learning (PBL) dipadu strategi kooperatif student teams achievement division (STAD) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa SMA Negeri 2 Bojonergoro / Rusdianto

 

ABSTRAK Rusdianto. 2010. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dipadu Stategi Kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA Negeri 2 Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D, (II) Balqis, S.Pd, M.Si Kata kunci: PBL, STAD, Motivasi Belajar, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran biologi bahwa siswa kelas X6 SMA Negeri 2 Bojonegoro belum bisa memahami kebermaknaan materi pelajaran bagi kehidupannya. Siswa tidak memperhatikan saat guru memberikan penjelasan, siswa juga tidak mengerjakan LKS maupun melakukan diskusi. Hasil belajar siswa kurang memuaskan yaitu lebih dari 70% nilai siswa berada di bawah SKM dan dinyatakan belum tuntas belajar. Oleh karena itu kualitas pembelajaran harus diperbaiki, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang menghadirkan materi pelajaran autentik dan bermakna bagi siswa. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Bojonegoro dengan subyek penelitian seluruh siswa kelas X6. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009/2010 selama dua siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur motivasi belajar dan hasil belajar kognitif siswa serta persepsi siswa tentang penerapan model PBL dipadu STAD. Motivasi belajar siswa diukur dengan indikator-indikator dalam lembar observasi; hasil belajar kognitif siswa diukur dengan soal-soal tes tulis dan persepsi siswa diukur dengan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL dipadu STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu dari 60,37% pada siklus I menjadi 72,29% pada siklus II. Hasil belajar kognitif siswa meningkat dari 29,03% siswa tuntas belajar pada saat sebelum diberi tindakan, menjadi 54,84% pada akhir siklus I dan dan 80,65% pada akhir siklus II. Nilai rata-rata kelas naik dari 66,45 sebelum diberi tindakan menjadi 70,94 pada akhir siklus I dan 73,26 pada akhir siklus II. Perpaduan model PBL dan STAD membuat siswa senang (93,55%), mudah menyerap materi pelajaran (63,52%), menumbuhkan semangat belajar (67,74%) dan tidak membosankan (61,29%). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar penelitian dengan mene-rapkan model PBL dipadu STAD sebaiknya dilaksanakan secara berkelanjutan; guru harus mendampingi siswa secara intensif pada saat melakukan aktivitas bela-jar maupun menyelesaikan tugas-tugas belajar; hasil karya siswa sebaiknya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk laporan tertulis; soal-soal ujian akhir siklus harus disesuaikan dengan tingkatan kognitif siswa dan diujicobakan; tempat duduk ke-lompok diatur sedemikian rupa agar semua siswa dalam satu kelompok dapat sa- ling berhadapan; Penerapan model PBL dipadu STAD sebaiknya dilaksanakan dengan prinsip pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).

The integration of Islamic values in the English Language Teaching (ELT) in Islamic Higher Education Institution: a case study in STAIN Pamekasan / Shohibul Muttaqien Al-Manduriy

 

ABSTRAK Muttaqien A, Shohibul. 2016. Pengintegrasian Nilai-nilai Islam Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Islam: Sebuah Studi Kasus di STAIN Pamekasan. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. BambangYudiCahyono, M.Pd., M.A., Ph.D., (II) NunungSuryati, M.Ed., Ph.D Kata Kunci :Pengintegrasian, Nilai-nilai Islam,Pembelajaran Bahasa Inggris, Sekolah Tinggi Islam. Mengintegrasikannilai-nilai Islam belumlazim di dalamkelas Bahasa. Bahasa Inggrisadalah Bahasa yang berasaldariduniabarat. Peradabanduniabarattelahmenghasilkansumberpengetahuan yang tidaksesuaidenganamanat Islam terhadapmanusia, kesakralandunia, keadilansosial, kepentinganumum, danmencarikeridhaan Allah. Nilai-nilai Islam padadasarnyaialahkumpulanprinsip-prinsipkehidupan, mengajarkanbagaimanamanusiaituharusmenjalanikehidupan. Dalamupayauntukmemenuhitanggungjawab para dosensebagaiseorangmuslim di Sekolah Tinggi Islam, merekadihadapkandengan dilemma bagaimanauntukmengintegrasikannilai-nilai Islam kedalampembelajaran Bahasa Inggrismerekadanhalitumenimbulkanpersoalanbesardiantara para dosen Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Islam. Penelitianiniadalahpenelitiankualitatifstudikasus, karenapenelitianinibertujuanuntukmengidentifikasidanmendeskripsikanfenomenakeseluruhandaripengintegrasiannilai-nilai Islam dalampembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Islam. Tempatpenelitianiniadalah STAIN Pamekasan. Sumber penelitianiniadalahduadosen Bahasa inggrisdari STAIN Pamekasan yang mengajarmatakuliah Bahasa Inggris di JurusanPendidikan Agama Islam (PAI) di STAIN Pamekasan. pengumpulan data dilakukandenganwawancara, observasi, perekaman, dandokumentasi. The result revealed that there were three kinds of Islamic values integrated by the English lecturer in STAIN Pamekasan in their English Language teaching. They were spiritual, moral, and cultural values of Islam that being integrated and taught to the students during the teaching of English Language. There were three ways to integrate the Islamic values by English lecturers in STAIN Pamekasan into their English language teaching HasilPenelitianinimenunjukkanbahwa terdapat tiga jenis nilai-nilai Islam yang di integrasikan oleh para Dosen Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan pada pembelajaran Bahasa Inggris mereka. Diantaranya ialah nilai spiritual, moral, dan budaya di dalam Islam yang diintegrasikan dan di ajarkan kepada siswa ketika pembelajaran Bahasa Inggris. Terdapat tiga cara menintegrasikan nilai-nilai Islam yang dilakukan oleh Dosen Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan pada pembelajaran Bahasa Inggris mereka: (1) ketikamenyiapkanmateri Bahasa Inggris yang terintegrasidengannilai-nilai Islam denganmempertimbangkanpengetahuan Islam mahasiswadanmencarimateri yang sesuaidengansiswatersebut; (2) ketikadalampembelajaran Bahasa Inggris di kelas yang terintegrasidengannilai-nilai Islam denganmenyapamahasiswadengansapaanIslamidanmenanamkanbudaya Islam di antaramahasiswadenganmemisahmahasiswadanmahasiswi; (3) ketikamenilaimahasiswadenganmenggunakanaspek Islam sepertiAkhlakulKarimah.

Keefektifan pelatihan metakognisi melalui model experiental learning untuk meningkatkan kinerja konselor dalam layanan konseling / Muya Barida

 

ABSTRAK Barida, Muya. 2015. Keefektifan Pelatihan Metakognisi melalui Model Experiential Learning untuk Meningkatkan Kinerja Konselor dalam Layanan Konseling. Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. IM Hambali, M.Pd., (II) Dr. Adi Atmoko, M.Si. Kata Kunci: pelatihan metakognisi, model experiential learning, kinerja konselor dalam layanan konseling. Metakognisi adalah keterampilan dalam mencari tahu apa yang terjadi, menciptakan aturan main, persepsi, wicara diri, gambar visual, penjelasan, dan pengharapan yang dapat mempengaruhi kinerja individu. Konselor perlu meninjau keterampilan metakognisinya, untuk meningkatkan kinerja dalam layanan konseling. Kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa masih banyak siswa tidak nyaman dengan keberadaan konselor karena suka memarahi, konselor hanya melayani siswa bermasalah, kurang aktif melakukan pendekatan kepada siswa, kurang menguasai konsep layanan, teknik yang digunakan masih konvensional, dan tidak melakukan evaluasi layanan. Kondisi-kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yang berkelanjutan apabila tidak ada langkah dari konselor untuk memperbaiki kualitas kinerja sebagai konselor profesional. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan pelatihan metakognisi melalui model experiential learning. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan pelatihan metakognisi melalui model experiential learning untuk meningkatkan kinerja konselor dalam layanan konseling. Penelitian menggunakan experimental design dengan model single subject A-B-A1. Subjek penelitian ini adalah lima konselor SMP Negeri 5 Sukoharjo, yang dipilih dengan menggunakan teknik purpossive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen bahan perlakuan dan instrumen pengumpul data. Hasil penelitian melalui analisis visual grafik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai pelaksanaan layanan konseling bagi masing-masing konselor. Peningkatan terjadi dari fase baseline, fase treatment, hingga fase setelah treatment ditarik. Berdasarkan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan metakognisi melalui model experiential learning efektif untuk meningkatkan kinerja konselor dalam layanan konseling. Saran yang dapat peneliti kemukakan (1) bagi konselor: (a) konselor hendaknya terus melatih diri untuk menggunakan keterampilan metakognisi secara tepat dalam melaksanakan layanan konseling sehingga mampu mencapai kinerja yang optimal, dan (b) konselor hendaknya mengisi instrumen kuesioner sesuai dengan kondisi saat ini agar menghasilkan kondisi yang representatif; dan (2) bagi peneliti selanjutnya: (a) apabila desain penelitian ini diterapkan di sekolah atau terhadap konselor lain, maka hendaknya disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu, dan (b) hendaknya fase ketiga dari desain single subject A-B-A1 ini dilakukan lebih dari satu kali pertemuan sehingga diperoleh hasil yang lebih reliabel mengenai dampak dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Penggunaan serbuk limbah ban sepeda motor sebagai pengganti agregat halus dan HDPE sebagai bahan tambah pada Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) terhadap parameter Marshall / Syaifullah Aditya Permana

 

ABSTRAK Permana, Syaifullah Aditya. 2016. Penggunaan Serbuk Limbah Ban Sepeda Motor sebagai Pengganti Agregat Halus dan HDPE sebagai Bahan Tambah pada Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) Terhadap Parameter Marshall. Skripsi, Program Studi S1 Teknik Sipil,Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. HenriSiswanto, M.T. (II) Drs. H. Bambang Supriyanto, S.T., M.T. Kata kunci: serbuk ban sepeda motor, agregat halus,HDPE, AC-WC, parameter Marshall Kerusakan jalan raya sering terjadi pada lapis aus (AC-WC) karena lapis aus merupakan lapisan permukaan yang bersentuhan langsung dengan roda kendaraan dan berhubungan langsung dengan cuaca. Kerusakan yang sering dijumpai adalah retak, deformasi dan bleeding. Oleh karena itu perlu adanya upaya perbaikan kualitas campuran perkerasan jalan raya baik dari segi kualitas agregat maupun kualitas aspalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui pengaruh penggunaan serbuk limbah ban sepeda motor sebagai pengganti agregat halus dan penambahan HDPE pada AC-WC terhadap parameter Marshall danIKS; 2) mengetahui persentase kadar penambahan serbuk limbah ban sepeda motor dan HDPE optimum pada campuran AC-WC terhadap parameter Marshall dan IKS. Metode pada penelitian ini dilakukan dengan pembuatan benda uji untuk menentukan nilai kadar aspal optimum (KAO) dengan variasi kadar aspal 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, 7% dan 7,5% dan diperoleh nilai KAO sebesar 6,15%. Kemudian dilakukan penelitian selanjutnya dengan pembuatan benda uji untuk menentukan nilai kadar HDPE optimum (KHO) dengan variasi kadar HDPE 0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% dan diperoleh hasilkadar HDPE optimum sebesar 1%. Setelah diperoleh nilai KHO yaitu sebesar 1%, maka dilanjutkan penelitian berikutnya yaitu pembuatan benda uji untuk menentukan nilai kadar serbuk ban optimum dengan variasi kadar serbuk ban 0%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% dan diperoleh hasil kadar serbuk ban optimum sebesar 2%. Hasil dari penelitian diperoleh bahwa nilai optimum ada pada persentase kadarpenggunaan serbuk ban 2% dan penambahan HDPE 1%.Pada kadartersebut mampu memperbaiki nilai dari parameter Marshall khususnya stabilitas, VIM, VMA dan MQ. Semakin banyak kadar serbuk ban yang digunakan bisa menurunkan nilai stabilitas pada campuran aspal beton.Nilai IKS cenderung meningkat seiring bertambahnya kadar serbuk ban.Sehingga kadar optimum atau terbaik pada pengguanaan serbuk ban dan penambahan HDPE pada lapisan AC-WC adalah pada kadar serbuk ban 2% dan HDPE 1%.

Pengaruh entrepreuneur oerientation terhadap product innovation melalui learning orientation (pada home industry ledre Kabupaten Bojonegoro) / Mifta Hulaikah

 

ABSTRAK Hulaikah, Mifta. 2015. Pengaruh Entrepreneur Orientation Terhadap Product Innovation Melalui Learning Orientation (Pada Home Industry Ledre Kabupaten Bojonegoro). Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Bisnis dan Manajemen, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. F Danardana M, M.M, (II) Dr. Aniek Indrawati, S.Si, M.M Kata Kunci: Entrepreneur Orientation, Learning Orientation, Product Innovation, Home Industry Ledre Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu wilayah yang mempunyai potensi industri makanan, khususnya makanan Ledre yang mempunyai peran sebagai penyumbang PDRB terbesar bagi Kabupaten Bojonegoro dan sebagai salah satu bentuk usaha yeng memanfaatkan potensi daerah atau kearifan lokal. Karena itu, usaha ini perlu meningkatkan kemampuannya dalam menginovasi produk (Product Innovation), agar mempunyai keunggulan dibanding usaha lain serta dapat bertahan dalam lingkungan yang kompetitif. Abad 21 merupakan abad dimana pengetahuan menjadi faktor penentu keberhasilan usaha, sehingga untuk meningkatkan inovasi produk tersebut dapat menggunakan orientasi pembelajaran (Learning Orientation). Learning by doing, para pelaku usaha kecil dapat belajar ketika mereka telah menjalankan bisnisnya dengan orientasi kewirausahaan (Entrepreneur Orientation). Orientasi kewirausahaan merupakan sikap secara entrepreneur yang dapat merangsang munculnya pengetahuan akan hal-hal baru sehingga dapat pula menumbuhkan inovasi produk. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap orientasi pembelajaran, pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap inovasi produk, dan pengaruh orientasi pembelajaran terhadap inovasi produk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif, penelitian yang menggunakan data dimana peneliti menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yang digunakan adalah pengusaha home industry Ledre Kabupaten Bojonegoro sebanyak 236 orang. Menggunakan teknik purposive sampling, maka sampel yang dihasilkan adalah sejumlah 115 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah path analyze. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan Entrepreneur Orientation, Learning Orientation dan Product Innovation pelaku home industry Ledre Kabupaten Bojonegoro cenderung tinggi. Entrepreneur Orientation berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Learning Orientation. Entrepreneur Orientation berpengaruh positif dan signifikan terhadap Product Innovation dan Learning Orientation berpengaruh positif dan signifikan terhadap Product Innovation Home Industry Ledre Kabupaten Bojonegoro Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menambah indikator dari variabel penelitian, menambah cakupan inovasi, serta mencoba mengaplikasikan pada lembaga non bisnis. Untuk pelaku Home Industry Ledre sendiri, sebaiknya terus meingkatkan kemampuan belajar, kemampuan untuk bersikap secara wirausaha sehingga dapat terus meningkatkan inovasi produk demi bisa bertahan dalam lingkungan kompetitif dan tetap menjadi asset berharga bagi Kabupaten Bojonegoro.

Hubungan antara minat baca dan prestasi belajar matakuliah prasyarat dengan prestasi belajar matakuliah yang diprasyarati pada mahasiswa jenjang S-1 dan D-3 Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Malang / oleh Ninik Kristiani

 

Identifikasi tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan tes PISA untuk siswa kelas IX SMPN Kota Malang / Denada Efrilia

 

ABSTRAK Efrilia, Denada. 2015. Identifikasi Tingkat KesulitanSiswadalamMenyelesaikanTes PISA untukSiswaKelas IX SMPN Kota Malang. Skripsi, Prodi Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Kata Kunci: PISA, kesulitansiswa Peringkat Indonesia dalampelaksanaanTes PISA daritahun 2000 hingga 2012 selalumendapatkanhasil yang kurang.PadapelaksanaanTes PISA tahun 2012, Indonesia menempatiperingkat ke-64 dari 65 negara yang berpartisipasi.Observasi yang dilakukanpeneliti di salahsatu SMP Negeri di Kota MalangdenganmenggunakanbeberapasoalTes PISAdiketahuibahwaskor yang didapatkanoleh 33 siswajugatergolongrendah.Olehkarenaitu, penelitiinginmengetahuicapaiansiswakelas IX SMPN Kota Malang denganmenggunakanTes PISA.Penelitianinibertujuan:(1) mengetahuiprofilcapaiansiswadalamTes PISA IPA, (2) mengetahuitingkatkesulitanbutirsoalTes PISA IPA, (3) mengetahuitingkatkesulitanbutirsoaltes PISA IPA berdasarkankompetensisains(menjelaskanfenomenasecarailmiah, mengidentifikasiisu/masalahsains, danmenggunakanbukti-buktiilmiah)(4) mengungkapkanpersepsisiswaterkaitkesulitandalammenyelesaikanTes PISA IPA. Penelitianinidilakukandenganmenggunakanmetodedeskriptif.Penelitian iniditujukankepadasiswa SMP Negeri Kelas IX di Kota Malangatausiswadengankisaranusia 15-16 tahun. Langkah-langkah penelitian ini adalah (1) mengkaji aspek IPA yang terdapat dalam tes PISA, (2) menyusun instrumen penelitian, (3) memvalidasiketerbacaaninstrumen (4) mengumpulkan data penelitian dengan tes tertulis, mengisi angket, dan melakukan wawancara. Sebelum digunakan untuk tes, instrumen penilaian yang telah disusun divalidasi terlebih dahulu oleh validator. Berdasarkanhasilpenelitiandiketahuibahwa (1)hasilcapaiansiswatergolongcukupdenganrata-rata proporsijawabanbenaruntuksemuasoaladalah 65%dan rata-rata skor yang diperolehsiswasebesar 68 tergolongkategoricukup;(2) berdasarkan 24soaltes PISA IPA yang diujikanterdapat 2soaltermasukdalamkategorisulit, 14soaltermasukdalamkategorisedang, dan 8 soaltermasukdalamkategorimudah. Selanjutnyauntuk 2 soalkategorisulitditelaahberdasarkanaspek-aspekkesalahansiswayaitu (i) padamateripokokfermentasisiswamenganggapbahwafermentasimenyebabkanadonanmengembangkarenaalkohol yang mudahmenguap, jamurberseltunggal yang bereproduksimakinbanyak, danair yang dihasilkandalambentuk gas, (ii) padamaterigerak baling-baling siswatidakdapatmenggunakanbukti-buktiilmiahpadapembangkitlistriktenagaanginuntukmengkomunikasikanbukti-buktitersebutkedalambentukgrafik; (3) berdasarkantingkatkesulitandari 24soaltes PISA berdasarkankompetensimakaterdapat 10soaltermasukdalamkategorimenggunakanbukti-buktiilmiah, 8soaltermasukdalamkategorimenjelaskanfenomenasecarailmiah, dan6soaltermasukdalamkategorimengidentifikasiisu/masalahsains; (4)persepsisiswaterkaitkesulitandalammenyelesaikanTes PISAIPA adalah (i) siswabelumpernahmengerjakansoal-soalsepertisoal yang diujikandalamtes PISA IPA; (ii) soal-soalpadates PISA IPA sangatberbedadengansoal-soal yang selamainidiberikanoleh guru di sekolahyaitumemilikiteksbacaan yang panjang, terdapatgambar, grafik, dantabel; (iii) adanyaistilah-istilah yang tidakdipahamisiswakarenasiswabelumpernahmendapatkanmateritersebutsebelumnya di sekolah.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |