Penjenisan tempat berjualan akan memperlancar usaha bagi pedagang pengecer pada Pasar Besar Kotamadya Malang
oleh Suharlina

 

Tinjauan marketing pada pabrik penggilingan padi Mahayasa Watukebo Banyuwangi
oleh W. Afandhi

 

Usaha peningkatan produksi perusahaan industri tegel, beton & sanitair Himalaya Lowokwaru Malang / oleh Timbul"

 

Methode mengajar ilmu ekonomi dan koperasi di SMP Negeri II kelas I Blitar / oleh Wiwiek Triasih

 

Hubungan konformitas kelompok dengan motivasi berprestasi pada siswa kelas X di SMAN 9 Malang / Oksa Kartika De Hambri

 

ABSTRAK De Hambri, Oksa Kartika. 2015. Hubungan Konformitas Kelompok dengan Motivasi Berprestasi pada Siswa Kelas X di SMA Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Widada M.Si, (II) Dra. Elia Flurentin M.Pd. Kata Kunci: Konformitas, motivasi berprestasi, siswa SMA Konformitas banyak terjadi pada masa remaja yaitu perilaku untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya agar mereka dapat diterima oleh kelompok. Remaja sering kali termotivasi oleh faktor eksternal yaitu lingkungan, terutama temannya. Lingkungan pertemanan remaja seringkali ingin mengungguli prestasi-prestasi yang dicapai temannya yang lain. Untuk itu remaja harus pandai dalam memilih teman untuk kelompoknya, jika teman yang dipilih dalam kelompoknya adalah teman yang memiliki prestasi maka remaja akan termotivasi untuk mengungguli temannya tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) konformitas pada siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang, (2) motivasi berprestasi pada siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang, dan (3) hubungan antara konformitas dengan motivasi berprestasi pada siswa kelas X di SMA Negeri 9 Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dengan jumlah sampel 141 orang siswa. Instrumen penelitian menggunakan skala konformitas dan motivasi berprestasi. Skala konformitas sebanyak 50 item, sedangkan skala motivasi berprestasi sebanyak 50 item. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebanyak (66,67%) siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang memiliki konformitas pada kategori sedang dan bentuk perubahan tingkah laku yang dominan ialah acceptance (2) sebanyak (60,28%) siswa memiliki motivasi berprestasi pada kategori tinggi dan sikap motivasi berprestasi yang menonjol ialah keuletan dalam belajar (3) korelasi antara konformitas dengan motivasi berprestasi sebesar 0.559 dan p=0.000 < 0.05, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antar konformitas dan motivasi berprestasi. Berdasarkan pada hasil penelitian disarankan agar (1) pihak sekolah diharapkan dapat menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan program di sekolah seperti melarang siswa membuat nama geng, serta memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi, melakukan monitoring prestasi siswa (2) bagi konselor dapat memberikan layanan bimbingan kelompok mengenai pergaulan serta memberikan layanan informasi mengenai motivasi berprestasi (3) bagi siswa hendaknya dapat menentukan kapan harus bersikap conform dan kapan harus memegang teguh pendiriannya dan mempertahankan motivasi berprestasi yang sudah dimilikinya agar terus mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.

Peranan koperasi kredit guru Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi dalam mendidik minat menabung anggotanya
oleh Wagito

 

Tinjauan organisasi pada Pabrik Tenun Dharma Mukti" daerah Batu Malang / oleh Alifah Ratnawati

 

Pengembangan media permainan papan ragam pekerjaan untuk pemahaman karir bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Choirunisa'

 

ABSTRAK Choirunisa’. 2015. Pengembangan Media Permainan Papan Ragam Pekerjaan Untuk Pemahaman Karir Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd., (II) Dr. H. IM. Hambali, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Media Permainan, papan ragam pekerjaan Tugas perkembangan karir remaja atau anak usia SMP berada pada tahap tentatif dimana siswa membutuhkan informasi mengenai jenis-jenis pekerjaan agar siswa mampu mengenal dunia kerja. Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan di SMP Negeri 20 Malang, lebih difokuskan pada bidang belajar, dan selebihnya pada pribadi dan sosial sedangkan bidang karir belum disentuh secara khusus. Pemberian layanan lebih cenderung menggunakan metode ekspositori atau ceramah sehingga siswa kurang tertarik dalam menerima layanan. Dari hasil analisis kebutuhan, siswa kelas VIII membutuhkan informasi tentang jenis-jenis pekerjaan. Oleh karena itu peneliti mengembangkan media permainan papan ragam pekerjaan untuk pemahaman bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media informasi karir berbentuk papan ragam pekerjaan yang berterima secara teoritis dan praktis. Penelitian ini menggunakan prosedur yang diadaptasi dari Borg and Gall. Langkah-langkahnya sebagai berikut; (1) penelitian pendahuluan, melakukan kajian pustaka dan analisis kebutuhan siswa (2) penyususunan produk awal, menentukan tujuan pengembangan dan menyusun media informasi karir papan ragam pekerjaan (3) validasi produk oleh ahli bimbingan konseling,media, dan calon pengguna (4) revisi produk, menyempurnakan produk sesuai dengan saran yang diperoleh dari ahli dan calon pengguna (5) produk akhir. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif untuk menghitung rata-rata skor dan persentase. Analisis kualitatif menggunakan Miles & Huberman untuk mereduksi data yang telah diperoleh dari ahli dan calon pengguna. Hasil penilaian dari ahli materi bimbingan dan konseling menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Hasil penilaian dari ahli media menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Hasil penilaian dari uji calon pengguna yang dilakukan oleh konselor SMP Negeri 20 Malang menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Hasil penilaian dari sasaran pengguna yang dilakukan oleh siswa kelas VIII menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Dari hasil penilaian ahli dan calon pengguna, dapat disimpulkan media ini memenuhi kriteria sebagai produk yang berterima secara teoritis maupun praktis. Berdasarkan hasil penelitian disarankan pada: 1)konselor SMP Negeri 20 Malang untuk menggunakan media informasi papan ragam pekerjaan ini sebagai alat untuk menyampaikan layanan informasi karir tentang ragam pekerjaan, 2) Saran bagi peneliti selanjutnya, media informasi papan ragam pekerjaan ini dapat di uji keefektivitasannya dalam menyampaikan informasi karir sehingga media ini dapat digunakan di seluruh SMP di Kota Malang.

Masalah penyajian pengajaran geografi dengan alat peraga di SMP Negeri Kodya Blitar / oleh Munarsih

 

Keefektifan teknik permainan kelompok untuk mengurangi tingkat terisolasi siswa SMP kelas VII / Arifatul Khadiqoh

 

ABSTRAK Khadiqoh, Arifatul. 2015. Keefektifan Teknik Permainan Kelompok Untuk Mengurangi Tingkat Terisolasi Siswa SMP Kelas VII. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Budi Santoso, M.Pd, (II) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd. Kata kunci: permainan kelompok, siswa terisolasi Remaja lebih banyak menggunakan waktu bersama teman sebaya. Namun kenyataannya tidak semua siswa melewatinya dengan mudah, beberapa siswa memiliki masalah dalam pergaulan dengan teman sebayanya salah satunya adalah terisolasi. Siswa terisolasi adalah siswa yang tidak dipilih oleh seorangpun dalam kelompok sebayanya. Mereka menahan kesepian dan pengasingan tanpa ada kemampuan untuk mengungkapkan emosi kekecewaan yang mereka alami. Siswa terisolasi ingin bersosialisasi dengan lingkungan maupun teman sebayanya tetapi ada hambatan berupa kecemasan dan konflik diri sehingga ia memilih menarik diri dari pergaulan. Salah satu teknik bimbingan yang dapat digunakan untuk mengurangi tingkat terisolasi siswa agar dapat segera berinteraksi dengan teman sebayanya yaitu melalui penggunaan teknik permainan kelompok. Tujuan penelitian untuk menguji keefektifan teknik permainan kelompok untuk mengurangi tingkat terisolasi siswa SMP kelas VII. Rancangan penelitian menggunakan desain one group pre-test and post-test. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII sebanyak 8 siswa berdasarkan survei awal hasil analisis sosiometri yang tidak dipilih oleh seorangpun dalam kelompok sebayanya dan hasil observasi yang memiliki skor tinggi dari skala penilaian. Analisis data menggunakan statistik inferensial non-parametrik, dengan uji beda two related test Wilcoxon, untuk mengetahui perbedaan tingkat terisolasi siswa sebelum dan sesudah diberikan treatment dengan permainan kelompok pada subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat terisolasi siswa sesudah diberikan treatment dengan permainan kelompok menghasilkan nilai sebesar (z = -2.527a) dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.012, sehingga diperoleh nilai probability error (p = 0.012 < 0.05). Kesimpulan penelitian: teknik permainan kelompok efektif untuk mengurangi tingkat terisolasi siswa SMP kelas VII. Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan yaitu: 1) guru atau konselor dapat menggunakan teknik permainan kelompok sebagai salah satu layanan untuk mengurangi tingkat terisolasi siswa; dan 2) peneliti selanjutnya dapat menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding, sehingga hasil yang diperoleh akan bisa memperkuat hasil penelitian.

Peningkatan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada siswa kelas V SDN Sobontoro II Tulungagung / Krisna Puspasari

 

Kata Kunci: menulis, peningkatan, puisi, rekonstruksi parsial cerpen. Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SD kelas V adalah menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat. Dalam kenyataannya, siswa sering mengalami kesulitan untuk menulis puisi. Kondisi tersebut terjadi pada siswa kelas V SDN Sobontoro II, Tulungagung. Siswa di kelas ini kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis puisi sehingga mengalami beberapa kesulitan seperti di atas. Oleh karena itu, diperlukan teknik atau pun metode pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan agar dapat membuat siswa lebih bersemangat dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis puisi. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk merangsang keterampilan siswa dalam menulis puisi adalah teknik rekonstruksi parsial cerpen. Teknik rekonstruksi parsial cerpen merupakan teknik yang digunakan dalam menulis puisi dengan cara merekonstruksi atau menyusun kembali cerpen yang telah dibaca secara parsial menjadi puisi. Tujuan umum penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada siswa kelas V SDN Sobontoro II, Tulungagung. Proses dan hasil peningkatan perlu dideskripsikan untuk menjelaskan kualitas peningkatan. Oleh karena itu, secara khusus, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) proses meningkatkan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup; dan (2) hasil peningkatan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada aspek kemampuan menentukan tema, memilih kata (diksi), menggunakan rima, dan menggunakan majas. Dalam penelitian ini, rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sobontoro II, Tulungagung sebanyak 24 siswa dengan rincian 10 putra dan 14 putri. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas yang bernama Ibu Lis Suwarti. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun data primer yang digunakan adalah proses meningkatkan dan hasil kemampuan menulis puisi siswa, sedangkan data sekunder adalah data catatan lapangan dan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan siswa yang menjadi subjek penelitian. Sumber data penelitian ini adalah aktivitas proses dan hasil kegiatan pembelajaran menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen yang berasal dari guru, siswa, dan proses pembelajaran. Proses meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dilakukan dalam dua tindakan siklus, yaitu tindakan siklus I dan siklus II. Pada setiap tindakan terdapat tiga tahap kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. ii Berdasarkan hasil analisis data, proses meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen dilakukan dalam tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. Kegiatan awal dilakukan dengan membangkitkan skemata siswa tentang menulis puisi, menyanyikan lagu tentang puisi, memberikan contoh puisi yang ditulis berdasarkan teknik rekonstruksi parsial cerpen, dan latihan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen secara klasikal dan individu. Kegiatan inti dilakukan dengan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen. Siswa memilih cerpen yang disiapkan oleh guru, menentukan tema cerpen, menentukan peristiwa-peristiwa utama dalam cerpen, memilih salah satu peristiwa utama, mengumpulkan kata-kata, dan menyusun puisi. Kegiatan penutup dilakukan dengan mengulang hal-hal penting dalam menulis puisi, mengidentifikasi kesulitan siswa, mendiskusikan manfaat yang diperoleh siswa dalam pembelajaran, dan merancang kegiatan tindak lanjut untuk terus berlatih menulis puisi. Semua tahapan dalam setiap kegiatan tersebut dilakukan siswa dengan baik. Berdasarkan analisis data hasil, diketahui kemampuan siswa dalam menulis puisi mengalami peningkatan. Pada aspek kemampuan menentukan tema, 83,3% siswa termasuk dalam kategori tinggi (siklus I) dan meningkat menjadi 100% siswa (siklus II). Pada aspek kemampuan memilih kata (diksi), 25% siswa termasuk kategori tinggi (siklus I) dan meningkat menjadi 75% siswa (siklus II). Pada aspek kemampuan menggunakan rima, 92% siswa termasuk kategori tinggi (siklus I) dan meningkat menjadi 100% (siklus II). Pada aspek kemampuan menggunakan majas, 4,2% siswa yang termasuk dalam kategori tinggi (siklus I) dan 4,2% siswa (siklus II). Secara utuh, kemampuan siswa dalam menulis puisi meningkat dari 50% siswa (siklus I) yang mampu mencapai KKM menjadi 100% siswa (siklus II). Berdasarkan perolehan nilai tersebut, dapat dikatakan bahwa dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen, kemampuan menulis puisi siswa meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk menerapkan teknik rekonstruksi parsial cerpen sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Kepada peneliti lain, dapat mengembangkan teknik pembelajaran ini dengan memperbaiki kekurangan yang ada. Selain itu, peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dengan menggunakan media yang lebih efektif, inovatif, dan menyenangkan.

Pelaksanaan keluarga berencana di Desa Ngile Kecamatan Tulakan / oleh Sri Sulasmi

 

Penerapan model pembelajaran assesment portfolio pada mata diklat menghasilkan dokumen sederhana untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI APK SMK PGRI 2 Malang / Triesninda Pahlevi

 

ABSTRAK Pahlevi, Triesninda. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Assesment Portfolio pada Mata Diklat Menghasilkan Dokumen Sederhana untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI APK SMK PGRI 2 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Gatot Isnani, M.Si, (2) Drs. I. Nyoman Suputra, M.Si. Kata Kunci: Model pembelajaran assesment portfolio, Prestasi belajar Perubahan di era Reformasi yang menuntut manusia untuk lebih maju dalam berbagai bidang terutama ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Dewasa ini pemerintah telah melakukan perbaikan mutu pendidikan di Indonesia melalui pembaharuan sistem pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dapat ditempuh dengan berbagai cara, antara lain: peningkatan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan kualitas penilaian hasil belajar siswa, serta penyediaan sarana belajar dan bahan ajar yang memadai. Salah satu peningkatan kualitas pendidikan adalah peningkatan kualitas penilaian hasil belajar siswa. Peningkatan kualitas penilaian hasil belajar siswa dapat ditempuh melalui Penilaian Berbasis Kelas (PBK). PBK dilakukan dengan cara mengumpulkan bukti kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pencil test). Model pembelajaran assesment portfolio merupakan evaluasi secara menyeluruh dalam proses pembelajaran dengan mendokumentasikan hasil kerja peserta didik pada suatu file yang sudah ditetapkan oleh guru. Di dalam penerapan model pembelajaran assesment portfolio guru bertindak sebagai fasilitator dan siswa diberikan keleluasaan untuk memilih sumber belajarnya sendiri sesuai dengan landasan untuk menyusun (contructifism) yang terjadi di dalam dunia nyata sehingga siswa memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam pekerjaan atau tugas-tugasnya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi (pengamatan), interview (wawancara), catatan lapangan, studi dokumenter, dan tes. Sedangkan analisis datanya menggunakan analisis model alir yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI APK SMK PGRI 2 Malang yang berjumlah 42 siswa. Mata diklat yang digunakan pada penelitian ini adalah Menghasilkan Dokumen Sederhana untuk kelas XI Administrasi Perkantoran semester I tahun pelajaran 2008/2009, yaitu terfokus pada kompetensi dasar ”Menghasilkan Dokumen Sederhana”. Untuk mengetahui aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran assesment portfolio maka dilakukan observasi dengan menggunakan instrumen lembar pengamatan. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ditinjau dari aspek kognitif, yang dilakukan perhitungan nilai pre-test dan post-test kedua Siklus, serta aspek afektif yang dilakukan melalui lembar pengamatan aktivitas siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran assesment portfolio dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari keaktifan belajar siswa dalam penilaian portofolio. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai tes setelah tindakan (post-test) pada Siklus II yang meningkat menjadi 81,27 dengan nilai terendah sebesar 60 dan nilai tertinggi sebesar 100. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran setelah tindakan pada Siklus II sebanyak 38 siswa (92,68%) dan tidak tuntas sebanyak 3 siswa (7,32%). Jika dibandingkan dengan rata-rata nilai tes sebelum tindakan (pre-test) pada Siklus II yang hanya mencapai 68,59 dengan nilai terendah sebesar 45 dan nilai tertinggi sebesar 80. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran sebelum tindakan pada Siklus II hanya sebanyak 17 siswa (43,59%) dan tidak tuntas mencapai 22 siswa (66,41%). Artinya terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum dan sesudah pemberian tindakan pada Siklus II sebesar 49,09%. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Guru harus pandai mengalokasikan waktu yang dipergunakan untuk menghasilkan satu macam dokumen portofolio sehingga alokasi waktu tepat sesuai dengan sasaran. (2) Guru hendaknya memiliki ketekunan, kesabaran dan keterampilan karena guru harus bisa mengarahkan siswa dalam menyusun portofolionya sehingga menghasilkan portofolio yang baik dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. (3) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya dapat menyusun perencanaan dan persiapan yang lebih matang untuk menerapkan model pembelajaran assesment portfolio sehingga tujuan dalam penerapan model pembelajaran assesment portfolio dapat tercapai. (4) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya metode pembelajaran yang dipergunakan tidak hanya metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Metode pembelajaran dapat ditambahkan dengan metode yang lain yang lebih menyenangkan agar siswa tidak bosan selama proses belajar mengajar. Misalnya dengan menambahkan metode inquiri sehingga siswa akan lebih aktif dan berani dalam mengemukakan suatu pendapat.

Tinjauan upah - gaji - incentive pada Pinda Tosana pabrik mesin dan kontruksi Malang / oleh Erna Pudjiastuti Utami

 

Hubungan pendidikan olahraga dengan taraf perkembangan prestasi belajar anak di SMA Negeri I Malang
oleh Hadi Siswanto

 

Effisiensi kerja administrasi kantor pada Pabrik Gula Kebonagung Malang / oleh Liliek Kusharini

 

Susunan dan sistem pemerintahan Desa Senden Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri
oleh Hari Budi Oetomo

 

Implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang / Alfi Muffaidah

 

ABSTRAK Muffaidah, Alfi. 2015. Implementasi Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang: Pembimbing (1) Drs. Prih Hardinto, M.Si. (II) Dr. Nasikh, M.P, M.Pd. Kata Kunci: Implementasi, Kurikulum 2013, Pembelajaran Ekonomi. Pada dasarnya kurikulum menempati posisi sentral dalam keseluruhan proses pendidikan. Kurikulum sebagai posisi sentral dalam pendidikan dapat dilihat dari posisi kurikulum dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai, seharusnya dukungan dari berbagai aspek dan komponen pendidikan lainnya yang terdiri dari: tenaga pendidik, anak didik, alat dan situasi pendidikan. Implementasi Kurikulum 2013 dapat ditinjau dari proses perencanaan, proses kegiatan belajar mengajar dan Proses evaluasi atau penilaian. Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 adanya perubahan mendasar dalam proses pembelajaran yaitu mengubah pandangan bahwa guru bukanlah kunci/ pusat keberhasilan proses belajar. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal yang mencakup implementasi kurikulum 2013 pada pembelajaran ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif berupa paparan kutipan wawancara yang diperoleh dari hasil wawancara dengan semua guru ekonomi di SMA Negeri 6 Malang dan observasi proses pembelajaran. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian fenomenologis. Analisis data melalui proses reduksi data, display data, verivikasi data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan pemahaman guru- guru ekonomi di SMA Negeri 6 Malang sudah baik, namun belum bisa menjelaskan secara rinci apa tujuan dari kurikulum 2013. Implementasi Kurikulum 2013 pada pembelajaran ekonomi juga belum optimal. Dikarenakan para peserta didik belum terbiasa dengan penggunaan metode 5M. Karakteristik peserta didik yang apatis membuat metode diskusi didalam kelas tidak hidup dan belum mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Dengan berbagai kendala, para guru tetap berusaha melaksanakan pembelajaran ekonomi dengan metode 5M dengan baik dan berusaha untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses penilaian, guru- guru ekonomi belum menggunakan teknik dan instrument penilaian Kurikulum 2013, tetapi sudah berusaha sebaik- baiknya dalam proses penilaian dan menghindari subjektifitas.

Pengaruh economic literacy dan fasilitas konsumsi di sekolah terhadap perilaku konsumsi siswa di sekolah kelas X IIS dan LM ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen tahun pelajaran 2014/2015 / Rico Darmanto

 

ABSTRAK Darmanto, Rico. 2015. Pengaruh Economic Literacy dan Fasilitas Konsumsi di Sekolah terhadap Perilaku Konsumsi Siswa di Sekolah Kelas X IIS dan LM Ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen Tahun Pelajaran 2014/2015. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti W., S.E., M.P., Ak. (II) Dr. Dwi Wulandari, S.E., M.M. Kata kunci : Economic Literacy, Fasilitas Konsumsi di Sekolah, Perilaku Konsumsi Siswa di Sekolah Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh economic literacy dan fasilitas konsumsi siswa di sekolah terhadap perilaku konsumsi siswa di sekolah pada kelas X IIS dan LM Ekonomi SMA Negeri 1 Kepanjen. Pemahaman ekonomi yang didapat siswa di sekolah akan mempengaruhi perilaku ekonominya misalnya perilaku konsumsinya. Adanya fasilitas konsumsi siswa juga memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumsi. Fasilitas konsumsi siswa di sekolah pada penelitian ini ada 3 fasilitas yaitu koperasi sekolah, kantin sekolah, dan kantin kejujuran. Ketiga fasilitas tersebut berada pada tempat yang berbeda di sekolah dan mempunyai fungsi yang hampir sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan siswa disekolah dalam hal konsumsi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IIS dan LM Ekonomi SMA Negeri 1 Kepanjen. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah proportional random sampling. Untuk menentukan besarnya sampel dihitung dengan menggunakan rumus slovin. Penelitian ini menggunakan sampel sebesar 141 siswa yang tersebar di 3 kelas X IIS dan 3 kelas LM Ekonomi dari populasi yang berjumlah 217 siswa. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket dengan skala Likert. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa pengaruh eonomic literacy dengan perilaku konsumsi siswa di sekolah adalah sebesar 24,97%, dan pengaruh variabel fasilitas konsumsi siswa di sekolah sebesar 20,98%. Jadi pengaruh kedua variabel ini terhadap perilaku konsumsi siswa di sekolah pada kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen sebesar 45,9 %, dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa economic literacy berpengaruh positif terhadap perilaku konsumsi siswa di sekolah, fasilitas konsumsi siswa di sekolah berpengaruh negatif terhadap perilaku konsumsi siswa di sekolah, serta economic literacy dan fasilitas konsumsi siswa di sekolah berpengaruh terhadap perilaku konsumsi siswa di sekolah pada kelas X IIS dan LM Ekonomi SMA Negeri 1 Kepanjen. Dari hasil penelitian, maka disarankan bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran ekonomi serta mengembangkan hubungan baik dengan lingkungan sekitar siswa untuk membentuk perilaku ekonomi yang positif misalnya perilaku konsumsi. Untuk penelitian selanjutnya dapat mengembangkan variabel-variabel lain yang mempengaruhi perilaku konsumsi.

Pelaksanaan program keluarga berencana Desa Arjasari Kodya Malang / oleh Christiana Setya Pratiwi

 

Pengaruh tingkat inteligensi (IQ), motivasi belajar dan perhatian orang tua terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X IPS di SMA Laboratorium UM Malang semester gasal tahun ajaran 2014/2015 / Hanifah Festiningtyas

 

ABSTRAK Festiningtyas, Hanifah, 2015. Pengaruh Tingkat Inteligensi ( IQ ), Motivasi Belajar dan Perhatian Orang tua Terhadap Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X IPS Di SMA Laboratorium UM Malang Semester Gasal Tahun Ajaran 2014 / 2015. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Nasikh. S.E.,M.P .,M.Pd, (2) Drs.H. Achmad Ali Wafa, M.Pd Kata kunci : Tingkat Inteligensi ( IQ ), Motivasi Belajar, Perhatian orang tua, Hasil Belajar Keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat dilihat dari berbagai fakor, baik secara internal maupun faktor eksternal. Salah satu faktor internal yaitu tingkat Inteligensi ( IQ ), tingkat inteligensi merupakan unsur kognitif yang mempengaruhi hasil belajar. Motivasi belajar sebagai faktor internal untuk dapat memenuhi target sejauh mana keberhasilan belajar itu dapat tercapai. Perhatian orang tua merupakan faktor eksternalsebagai bentuk upaya oarang tua demi mewujudkan keberhasilan belajar siswa.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan gambaran bagaimana pengaruh tingkat inteligensi siswa ( IQ ), motivasi belajar dan perhatian orang tua terhadap hasil belajar baik secara parsial maupun simultan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif eksplanasi. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium UM Malang dengan subyek kelas X IPS tahun ajaran 2014 / 2015 dengan jumlah populasi sebanyak 165 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 117 siswa. Responden dalam penelitian ini adalah siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah angket / kuisioner dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh tingkat inteligensi ( IQ ) terhadap hasil belajar siswa kelas X IPS pada mapel Ekonomi di SMA Laboratorium UM sebesar 2, 03%. kedua, terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X IPS mapel Ekonomi di SMA Laboratorium UM sebesar 46, 77%. ketiga, terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas X IPS di SMA Laboratorium UM sebesar 10,84%. terakhir terdapat pengruh secara simultan antara tingkat inteligensi ( IQ ), motivasi belajar, dan perhatian orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas X IPS mapel Ekonomi di SMA Laboratorium UM sebesar 59,64%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat dijadikan bahan refrensi, selain itu diperlukan juga penelitian selanjutnya meneliti variabel–variabel lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga bagi pihak – pihak yang terlibat dapat terus mempunyai bahan refrensi untuk dapat memantau perkembangan hasil belajar siswa. Serta peran yang maksimal dari berbagai pihak yang ikut serta terlibat dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Proses belajar mengajar matematika tentang persamaan eksponen di kelas II SMU Negeri Kademangan-Blitar / oleh Sonya Bella Yosephina

 

Perkawinan adat di Sumenep Madura
oleh Siti Murtiwati

 

Analisis sentra industri ditinjau dari aspek produksi dan keberhasilan usaha (studi kasus usaha olahan makananAlen-alen Bu Rohmi di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek / Erwin Yudi Kristanto

 

ABSTRAK Kristanto, Erwin Yudi. 2015. Analisis Sentra Industri Kerajinan Ditinjau Dari Aspek Produksi dan Keberhasilan Usaha (Studi Kasus Usaha Olahan Makanan Alen-Alen “BU ROHMI” di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti W., S.E. AK, M. P. (2) Dr. Imam Mukhlis, SE., M.Si. Kata Kunci : Industri Alen-Alen, Produksi, Keberhasilan Usaha Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah pegunungan yang terletak dibagian selatan Provinsi Jawa Timur. Daerah ini memiliki ratusan pelaku UKM yang tersebar di berbagai kecamatan maupun desa dengan aneka macam produk komoditas yang sangat berpotensi sekali. Usaha olahan makanan alen-alen adalah salah satu contoh jenis UMKM, alen-alen merupakan makanan khas daerah Trenggalek. Makanan ini bisanya dijadikan sebagai makanan ringan dan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan fenomena ini, alen-alen memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan dalam skala yang lebih besar dan lebih bervariasi. Dalam penelitian yang diteliti oleh penulis dengan mengambil topik analisis sentra industri kerajinan ditinjau dari aspek produksi dan keberhasilan usaha dengan menggunakan metode studi kasus usaha oalahan makanan alen-alen BU ROHMI di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi di industri alen-alen BU ROHMI di Desa Jatisari Kabupaten Trenggalek pada aspek produsi dan keberhasilan usaha. Hasil penelitian yang diperoleh dalam wawancara dan observasi pada proses produksi yang dilakukan usaha olahan makanan alen-alen BU ROHMI juga menemui kendala yaitu pekerja yang terampil untuk pembuatan alen-alen ini sudah jarang ditemui, terlebih lagi pada saat proses penggorengan yang butuh keterampilan khusus untuk melakukan proses ini karena pada saat proses ini menentukan keras atau tidaknya produk alen-alen yang dihasilkan. Untuk menyiasati pemilik usaha pada saat menerima pekerja baru memberikan pelatihan atau arahan terlebih dahulu agar bisa menguasai saat proses produksi, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada produktivitas suatu usaha. Dalam usaha olahan makanan alen-alen BU ROHMI untuk meraih keberhasilan usaha lebih ditekankan pada cara pemasaran. Pada pemasaran salah satu cara untuk pemasaran ini dengan cara memasarkan produk alen-alen ini dengan mendatangi dan menawarkan dari toko ke toko yang ada di daerah lokal Trenggalek selain itu usaha olahan makanan alen-alen BU ROHMI juga harus telaten menawarkan produknya dari daerah ke daerah yang ada disekitar kabupaten Trenggalek, seperti kota Tulungagung dan kota Kediri untuk meraih suatu keberhasilan usaha. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan bagi usaha oalahan makanan alen-alen BU ROHMI aspek produksi seharusnya lebih ditekankan pada peremajaan alat dan pelatihan tenaga kerja agar produktivitas maksimal bisa dicapai. Selain itu pengusaha seharusnya melakukan pembagian spesifikasi pekerjaan yang jelas dan tetap. Dalam hal pemasaran sebaiknya pengusaha memasarkan produknya dengan cara pemasaran yang lebih luas, yaitu dengan menggunakan media online agar mudah dikenal oleh masyarakat luas.

Fungsi pemerintahan daerah di Indonesia ( Pasal 18 UUD 1945 ) / oleh Sri Handini Moeharto

 

Fungsi dan peranan Pancasila dalam pendidikan Indonesia / oleh N. Widayati

 

Pengaruh teknologi informasi, teman sebaya dan status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif siswa SMA Negeri 6 Malang / Endah Anggraini

 

ABSTRAK Anggraini, Endah. 2015. Pengaruh Teknologi Informasi, Teman Sebaya, dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Perilaku Konsumtif Siswa SMA Negeri 6 Malang. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Achmad Ali Wafa, M.Pd, (II) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata Kunci: Teknologi Informasi, Teman Sebaya, Status Sosial Ekonomi, Perilaku Konsumtif. Dengan adanya perubahan jaman membuat teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat. Banyak informasi yang dapat seseorang bahkan siswa peroleh dari situs-situs yang ada di internet. Kedekatan siswa dengan teman sebaya juga akan memberikan banyak informasi yang diinginkan. Informasi yang diperoleh dari teman sebaya ini akan mempengaruhi perilaku yang dimiliki oleh siswa. Orang tua juga dapat memberikan pengaruh pada anaknya karena pastinya para siswa akan menuruti semua yang diajarkan oleh orang tua yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa. Itu sebabnya perilaku konsumsi yang dimiliki oleh siswa SMA dipengaruhi oleh beberapa hal tersebut. Dengan sikap siswa SMA yang mudah sekali terpengaruh ini maka perilaku konsumsi siswa akan cenderung mengarah ke perilaku konsumtif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh teknologi informasi terhadap perilaku konsumtif siswa SMA Negeri 6 Malang, pengaruh teman sebaya terhadap perilaku konsumtif siswa SMA Negeri 6 Malang, pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif siswa SMA Negeri 6 Malang, dan pengaruh teknologi informasi, teman sebaya dan status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif siswa SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksplanasi kuantitatif. Data penelitian ini diambil dari hasil angket yang telah diisi oleh siswa SMA Negeri 6 Malang kelas X IIS. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah 98 siswa yang terdiri dari empat kelas di X IIS. Kegiatan analisis data dimulai dari analisis deskriptif, uji asumsi klasik, analisis linier berganda, dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan sebagai berikut: (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara teknologi informasi terhadap perilaku konsumtif. (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara teman sebaya terhadap perilaku konsumtif siswa. (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif siswa. (4) terdapat pengaruh yang simultan antara teknologi informasi, teman sebaya dan status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif siswa

Analisis konstribusi industri keripik buah "Levina" terhadap perekonomian lokal Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Wahyu Ika Kusuma Ningrum

 

ABSTRAK Ningrum, Wahyu Ika Kusuma. 2015. Analisis Kontribusi Industri Keripik Buah “Levina” Terhadap Perekonomian Lokal Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Skripsi, Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Imam Mukhlis, S.E, M.Si, (II) Drs. Mardono, M.Si. Kata Kunci: Kontribusi, Industri Keripik Buah “Levina”, Perekonomian Lokal Industri keripik buah “Levina” merupakan penggerak perekonomian masyarakat di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Usaha keripik buah “Levina” ini mengalami perkembangan cukup pesat setiap tahunnya. Dalam pembangunan sebuah perekonomian yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat, ternyata masih terdapat permasalahan yang mempengaruhi tumbuh kembangnya industri keripik buah “Levina” di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Sehingga perlu diteliti mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri keripik buah “Levina” yang selanjutnya dapat diketahui apa saja peran industri keripik buah “Levina” terhadap perekonomian lokal. Penelitian ini dilakukan di Kantor Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, Kantor Disperindag Kabupaten Malang, Kantor UMKM Kabupaten Malang, dan lokasi usaha industri keripik buah “Levina” di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, selama kurang lebih tiga bulan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, yang diperoleh melalui wawancara yang ditujukan kepada Kasi Pemerintahan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, Kepala Bidang Bina UMKM Kabupaten Malang, Seksi Pembinaan dan Pengembangan Industri Hasil Hutan Kabupaten Malang, usaha industri keripik buah “Levina” di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, dan data sekunder BPS Kabupaten Malang secara tertulis. Hasil penelitian ini adalah: Pertama, perkembangan industri keripik buah “Levina” relatif lebih baik setiap tahunnya, dapat dibuktikan dengan pemasaran hasil produksi yang bisa mencapai pasar lokal dengan mudah. Kedua, terdapat beberapa faktor yang memperngaruhi perkembangan industri keripik buah “Levina” antara lain pengelolaan keuangan dan peran pemerintah. Terdapat partisipasi aktif dari pengusaha keripik buah “Levina” terhadap program pemerintah, serta pengurusan sertifikat halal yang masih terhambat dan pencatatan industri di UMKM Kabupaten Malang. Ketiga, peran industri keripik buah “Levina” terhadap perekonomian lokal terletak pada penyerapan tenaga kerja dan berkembangnya usaha-usaha pendukung industri keripik buah “Levina” yang ada disekitar industri.

Tinjauan tentang pelaksanaan tes diagnostik bidang studi tata buku di SMA Negeri I Malang
oleh Riny Yemie Mundariningsih

 

Analisis peran Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam penyerapan tenaga kerja (studi kasus industri pembuatan tape di Kabupaten Bondowoso) / Afrieanto Suprobo

 

ABSTRAK Suprobo, Afri Eanto.2015.Analisis Peran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Dalam Penyerapan Tenaga Kerja (Studi Kasus Industri Pembuatan Tape di Kabupaten Bondowoso).Skripsi,Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Pembimbing :(1) Dr. Hj. Lisa Rokhmani, M.Si (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata Kunci : Penyerapan Tenaga Kerja, Sektor UKM Salah satu faktor untuk melihat keberhasilan dari pembangunan ekonomi di suatu negara tidak lepas dari peran dari pemerintah untuk menyerap tenaga kerja. Usaha penyerapan tenaga kerja tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja seperti perkembangna jumlah penduduk, angkatan kerja, produktifitas tenaga kerja, sumber daya manusia yang memadai, serta kebijakan tentang penyerapan tenaga kerja. Di samping penyerapan tenaga kerja tidak bisa mengabaikan peran dari usaha-usaha yang mampu menyerap tenaga kerja serta mampu memberikan produktifitas yang tinggi melalui kebijakan-kebijakan yang ada. Salah satu cara untuk menyerap tenaga kerja adalah dengan cara pengembangan usaha-usaha kecil dan menengah atau dari peran industri. Pengembangan tersebut dapat terwujud melaui program, kebijakan yang dilakukan oleh swata atau pemerintah. Pengembangan usaha-usaha tersebuat dapat memicu tingkat produksi yang tinggi sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang baru sehingga dapat menyerap tenaga kerja baru. Penelitian ini menggunakan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian kulitatif yang dilkukan oleh peneliti adalah jenis penelitian studi kasus. Dalam penelitian yang diteliti oleh penulis dengan mengambil topik peran UKM dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Bondowoso dengan menggunakan motede studi kasus tape dalam penyerapan tenaga kerja di Kabuapten Bondowoso. Data-data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah data wawancara dan observasi di Kabupaten Bondowoso pada sektor industri kecil dan menengah (UKM). Analisis data didalam penelitian kulitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data yaitu (1).Pengumpulan data. (2).Reduksi data, (3).Penyajian data, (4).Penarikan kesimpulan. Setelah itu peneliti melakukan pengecekan keabsahan data. Hasil penelitian yang diperoleh dalam wawancara dan observasi masih banyak ditemukan masih kurangnya pengetahuan serta informasi yang di dapat oleh pelaku usaha tersebut dalam mengembangkan usahanya, dan masih kurangnya peran pemerintah untuk mengembangkan peran industri kecil dan menengah di dalam penyerapan tenaga kerja. Padahal apabila UKM ini berkembang dengan baik dan mampu menciptakan produk baru yang berkualitas dan dapat bersaing dengan produk unggulan daerah lain tidak mungkin sektor industri ini dapat menyerap banyak tenaga kerja. Jadi strategi dan peran pemerintah dalam hal pengembangan industri ini sangat dibutuhkan, agar industri ini dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja di daerah, sehingga sekaligus pemerintah dapat mensejahterakan masyarakat daerah Kabupaten Bondowoso Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan agar; (1) Bagi industeri pembuatan Tape di Kabuapaten Bondowoso di harapkan untuk lebih baik dalam pengelolaan modal yang dimiliki, karena dengan sistem pengelolaan modal yang baik diharapkan para pelaku ini dapat mengembangkan usahanya, sehingga dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi. (2) Pemerintah Kabuapaten Bondowoso seharusnya lebih rajin dalam mensosialisasikan program-program penyuluhan, pengembangan, dan pelatihan untuk mengembangkan skill dan kemampuan tenaga kerja dan pelaku UKM. (3) Penelitian ini diharapkan mampu menjadi contoh atau bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang akan melalkukan penelitian tentang topik permasalahan yang sama atau tentang UKM dengan fokus penelitian yang berbeda atau lebih dalam tentang peran UKM dalam penyerapan tenaga kerja.

Pembinaan pengajaran Pendidikan Moral Pancasila pada beberapa SD di wilayah Kecamatan Kota, Kabupaten Tulungagung
oleh Sih Wahono

 

Usaha peningkatan hasil produksi pada proyek PMDN PT Wastra Indah" di Batu - Malang
oleh Diah Tuti Herawati"

 

Analisis pengelolaan dan pengembangan usaha kerajinan pada sektor UMKM di Kabupaten Probolinggo (studi kasus pada kerajinan bambu "Paguyuban Bambu Manis" di Dusun Manis, Desa Laweyan, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo) / Yassa Prawira

 

ABSTRAK Prawira, Yassa. 2015. Analisis Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Kerajinan pada Sektor UMKM di Kabupaten Probolinggo (Studi Kasus Pada Kerajinan Bambu “Paguyuban Bambu Manis” di Dusun Manis, Desa Laweyan, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo). Skripsi, Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti W., S. E. AK, M. P. (II) Drs. Ir. Yohanes Hadi Soesilo, S. Th., M.Div, M. E. Kata Kunci : Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Kerajinan, Sektor UMKM Dalam mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, UMKM mampu memberikan kontribusi yang besar dalam hal pengentasan kemiskinan dan pengangguran bagi Kabupaten Probolinggo maupun Indonesia pada umumnya, salah satunya adalah melalui usaha kecil bidang kerajinan. Dalam pelaksanaannya saat ini masih memiliki kendala-kendala, antara lain karena minimnya pengetahuan tentang pengelolaan usaha sehingga berpengaruh terhadap pengelolaan usaha tersebut serta fasilitas yang digunakan untuk pengembangan usaha. Situasi dan kondisi di atas mendorong penulis untuk mengadakan penelitian tenang analisis pengelolaan dan pengembangan usaha kerajinan pada sektor UMKM di Kabupaten Probolinggo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian ini mendeskripsikan secara objektif terhadap kondisi usaha, pengelolaan usaha, dan strategi pengusaha dalam mengembangkan usaha kerajinan. Penelitian ini menggunakan 1 responden yaitu Pak Saiful Haq dan 3 informan yaitu Pak Uus Rismanto, Pak Samsul, dan Pak Hafid. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusaha kecil kerajinan tersebut masih menerapkan pola pengelolaan usaha yang sederhana. Disamping itu pengusaha melakukan upaya-upaya untuk mengembangkan usahanya dengan melakukan pengembangan di bidang permodalan, produksi, pemasaran, dan SDM. Berdasarkan hasil penelitian di atas dalam upaya pengembangan usaha, pengusaha dianjurkan untuk meingkatkan kerjasama dengan pemerintah. Kerjasama tersebut antara lain dalam bentuk bantuan modal, pelatihan karyawan untuk meningkatkan kualitas produksi, dan pelatihan pola pengelolaan. Bentuk kerjasama lainnya dengan pihak swasta maupun pemerintah dalam pengembangan pemasaran dilakukan melalui kerjasama dalam bentuk pameran.

Community resources" sebagai salah satu sumber pengalaman belajar yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kurikulum SD
oleh Surata S.D"

 

Penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan motivasi belajar geografi pada materi pemanfaatan lingkungan hidup siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 Kesambven Blitar / Aprilia Suwandini

 

Pengembangan model latihan menyerang dalam permainan sepakbola di Persatuan Sepakbola Garuda Kraksaan Probolinggo / Agung Hari Utomo

 

Permainan sepakbola merupakan olahraga yang sangat menarik bagi para penggemarnya, puluhan ribu bahkan ratusan ribu pasang penonton terbelalak untuk menyaksikan regu atau tim andalannya bermain dilapangan. Luapan kegembiraan dan bangga bahkan lupa diri karena tim andalannya memperoleh kemenangan dan kecewa karena tim yang dibanggakan mengalami kekalahan. Permainan sepakbola bagi pemainnya merupakan suatu perjuangan yang melibatkan berbagai unsur antara lain kekuatan, keuletan, kecepatan, ketangkasan, dan daya tahan serta keberanian selama jangka waktu dua kali empat puluh lima menit. Pada dasarnya permainan sepakbola adalah permainan sederhana Permainan ini bertujuan untuk memasukan bola kedalam gawang lawan, tanpa menggunakan tangan atau lengan dimana tim yang paling banyak memasukkan bola kedalam gawang lawan dinyatakan sebagai pemenang. Tetapi dalam permainan yang sesungguhnya ada peraturan yang telah dirancang agar permainan berjalan adil dan lancar. Untuk mewujudkan tujuan dari permainan sepakbola tersebut kerja sama tim dan skill individu antar-pemain dalam menyerang sangat diperlukan. Kualitas teknik, serta pemahaman taktik permainan para pemain sangat berperan untuk keberhasilan serangan sehingga koordinasi antar pemain berjalan sesuai fungsinya masing-masing. Serangan tim adalah bagaimana satu tim bermain bersama ketika menguasai bola. Menurut Scheunemann, sebuah serangan yang baik adalah serangan yang memadukan atau mengkombinasikan unsur-unsur wall pass (satudua), umpan terobosan, tendangan jarak jauh dan crossing. Sedangkan konsep-konsep dasar menyerang sepakbola adalah wall pas (satu-dua), umpan terobosan, overlap, saat menggiring bola, memberikan passing, melepaskan tendangan. Dari berbagai konsep tentang prinsip-prinsip latihan sepakbola, prinsip latihan menyerang juga harus dikuasai dan dimiliki oleh para pemain agar kualitas serangan dapat memberikan hasil maksimal yaitu terciptanya gol sehingga memungkinkan sebuah tim memenangkan suatu pertandingan. Menurut Kehl menyatakan bahwa prinsip-prinsip menyerang meliputi (1) gergerakan dan membuang ruang, (2) Pemanfaatan lebar dan panjang lapangan, (3) Improvisasi atau kreativitas, (4) Adanya tekanan, (5) Komunikasi antar pemain, (5) Visi bermain dan, (6) Penyelesaian akhir. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsep dan prinsip menyerang merupakan kombinasi teknik dan pemahaman permainan, yang harus benar-benar diperhatikan karena hal ini sebagai komponen penting dan landasan untuk mencapai keberhasilan menyerang dalam permainan sepakbola, maka harus dikuasai dan dimiliki oleh para pemain dan dilatihkan dengan harapan kualitas serangan tim lebih efektif sehingga peluang dan kesempatan menciptakan gol lebih besar.

Pelaksanaan pengajaran Pendidikan Moral Pancasila di sekolah dasar negeri Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / oleh Simpen

 

Cara pemberian kredit investasi kecil (KIK) dan kredit modal kerja permanen (KMKP) yang dilaksanakan oleh : BRI Cabang Malang
oleh Soesiati

 

Methode mengajar pelajaran ilmu ekonomi koperasi di SMEA Negeri Mojokerto / oleh A. Muhaimin Ch.

 

Pelaksanaan pengajaran pelajaran mengetik sebagai pelajaran kejuruan di SMEA Negeri Pembina Malang
oleh Erty Wurjaningsih

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi bangun ruang kelas VIII D SMP Negeri 5 Malang / Wentri Kusumawati

 

Kata Kunci: model pembelajaran NHT, aktivitas belajar siswa. Berdasarkan observasi awal dan wawancara informal yang dilakukan pada tanggal 12 Maret 2010 dengan guru Matematika SMPN 5 Malang kelas VIII D diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi guru dan siswa masih pasif. Dari 37 siswa hanya 2 siswa saja yang bertanya, sedangkan siswa yang lain hanya mendengarkan saja bahkan ada beberapa siswa yang berbicara dengan teman sebangkunya dan tidak mendengarkan penjelasan guru dan pertanyaan temannya. Saat presentasi kelas, sebanyak 16 siswa tidak mendengarkan teman yang presentasi, kebanyakan berbicara dengan teman sebangkunya dan ada yang melamun sendiri, bahkan ada yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 5 Malang, dengan subjek siswa kelas VIII D yang berjumlah 37 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data aktivitas belajar siswa menggunakan lembar observasi aktivitas belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi bangun ruang kelas VIII D SMPN 5 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yaitu: 1) membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen kemampuan akademik dan jenis kelaminnya kemudian setiap kelompok diberikan nomor dada sesuai jumlah anggota kelompoknya sehingga setiap anggota kelompok mendapat nomor yang berbeda yang dipilih sesuai keinginan siswa dengan ketentuan nomor harus sama untuk pertemuan-pertemuan berikutnya(Numbering); 2) guru memberikan dua LKS pada setiap kelompok untuk mempermudah siswa dalam berdiskusi dan sebagai bahan peneliti untuk mengecek jawaban siswa pada tahap answering jika terdapat jawaban yang sama serta siswa diminta untuk membaca LKS tersebut terlebih dahulu untuk kemudian menanyakan hal-hal yang belum dimengerti sebelum memulai mengerjakan LKS(Questioning); 3) lebih sering mengunjungi kelompok terutama siswa yang sering berbuat gaduh untuk menghindari siswa berbicara sendiri di luar materi pelajaran (Heads Together); 4) memilih siswa secara acak baik nomor maupun kelompoknya untuk memberikan jawaban atas tiap-tiap pertanyaan dalam LKS dan siswa dengan nomor yang sama diwajibkan untuk memberikan tanggapan (Answering). Pada penelitian ini, aktivitas belajar siswa meningkat dari siklus I yang hanya mencapai 43,25% atau 16 siswa yang aktif menjadi 81, 08% atau 30 siswa aktif pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIII D SMPN 5 Malang.

Transformasi pendidikan dan pembelajaran ekonomi di kalangan anggota KSU "Jaya Abadi" di Desa bendosari Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar / Dian Afidatur Rufaidah

 

ABSTRAK Afidatur R, Dian. 2015. Transformasi Pendidikan dan Pembelajaran Ekonomi di Kalangan Anggota KSU “Jaya Abadi” di Desa Bendosari Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Agung Haryono, S.E., M.P. Ak, (2) Dr. Hj. Lisa Rokhmani, M.Si. Kata Kunci: Transformasi pendidikan, Pembelajaran ekonomi, Peternakan, anggota KSU ”Jaya Abadi” Masyarakat di Desa Bendosari memiliki mata pencaharian pokok sebagai petani. Sektor peternakan dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Wilayah lahan yang luas dimanfaatkan menjadi kandang sapi untuk dijadikan peternakan sapi. Pendidikan formal yang pernah ditemput relatif singkat, melalui pendidikan non formal masyarakat memperoleh ketrampilan dan pengetahuan. Meski awal memperkenalkan usaha ternak sapi perah kepada masyarakat mendapat respon negatif, kini usaha ini menjadi primadona bagi pemeliharanya. Perekonomian penduduk desa semakin baik, pelatihan, sosialisasi, bantuan pengadaan sapi, serta kredit lunak bagi peternak sapi perah banyak berdatangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana transformasi pendidikan dan pembelajaran ekonomi di kalangan anggota KSU “Jaya Abadi”. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kulitatif melalui wawancara, dokumentasi dan observasi. Responden dalam penelitian ini adalah perintis KSU “Jaya Abadi”dan peternak sapi perah sebagai anggota KSU “Jaya Abadi”. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan jumlah responden lima orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi transformasi pendidikan dan pembelajaran ekonomi di kalangan anggota KSU “Jaya Abadi” yang dilakukan melalui pendekatan individu dengan Drh. Triwiyono (Perintis KSU”Jaya Abadi”), sosialisasi/ pelatihan dari PT Nestle, pertamina, pemberian kredit lunak dari pertamina, bantuan pengadaan sapi dari dinas peternakan kabupaten Blitar. Penerapan pengetahuan yang diperoleh berasal dari belajar pengalaman orang lain yang dikembangkan secara teknis. Memanfaatkan kelompok tani Desa Bendosari untuk mendukung berlangsungnya proses pembelajaran. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan adalah sebagai berikut (1) dalam pengembangan produk, sebaiknya sejak awal sudah memikirkan prinsip ekonomi sehingga hasil yang diperoleh dari pendidikan dan pembelajaran dapat meningkatkan nilai ekonomi/ optimalisasi pendapatan peternak sapi perah serta dapat dilakukan melalui manajemen usaha pemeliharaan yang ekonomis dan efisien; dan (2) memanfaatkan kelompok-kelompok masyarakat yang ada dengan mengadakan pembinaan serta memberikan perhatian yang lebih serius agar peternakan sapi perah tetap eksis dan semakin mengembangkan potensi usaha peternakan sapi perah.

Hubungan antara keterampilan komunikasi dan penyusaian sosial siswa SMP Ar-Rohmah Kecamatan Dau Kabupaten Malang / Lukman Amin

 

Kata Kunci : Keterampilan Komunikasi, Penyesuaian Sosial. Keterampilan komunikasi adalah salah satu alat atau cara untuk melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan. Seseorang yang mempunyai keterampilan komunikasi yagn baik akan lebih mudah untuk melakuan penyesuaian sosial dengan lingkungan baik di lingkungan keluarga, sekolah, ataupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas, mereka akan lebih mudah untuk bisa menerima dan diterima oleh lingkungan karena bisa membina hubungan dengan lingkunganya. Sebaliknya dengan seseorang yang kurang mempunyai keterampilan komunikasi yang menyebabkan kurang bisa membina hubungan yang baik dengan lingkungannya maka juga akan sulit untuk menerima dan diterima di lingkungannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui keterampilan komunikasi siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang, (2) mengetahui penyesuaian sosial siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang, (3) mengetahui hubungan antara keterampilan komunikasi dan penyesuaian sosial siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitain ini adalah siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 95 siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang yang berjumlah 95 orang. Instrument yang digunakan untuk keterampilan komunikasi dan penyesuaian sosial adalah angket terstruktur yang terdiri dari item favourabel dan unfavourabel. Teknik yang digunakan adalah presentase, uji asumsi (uji normalitas dan uji linieritas), dan korelasi product moment dengan taraf kepercayaan 95% dan tingkat toleransi kesalahan 5%. Hasil penelitian keterampilan komunikasi menunjukkan bahwa Sangat Sedikit (7.36%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori yang sangat baik, Cukup Banyak (37.89%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam kata gori yang Baik, Cukup Banyak (41.05%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori yang cukup baik, Sangat Sedikit (0%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori yang kurang Baik, dan Sangat Sedikit (13.68%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori Sangat Kurang Baik. Sedangkan hasil penelitian penyesuaian sosial menunjukkan bahwa Sedikit (27.36%) siswa yang memiliki penyesuaian sosial dalam kategori Sangat Baik, Cukup Banyak (48.42%) siswa yang memiliki penyesuaian sosial dalam kategri Baik, Sangat sedikit (18.94%.) siswa yang memiliki penyesuaian sosial dalam kategori Cukup Baik, Sangat sedikit (3.15%) siswa yang memiliki penyesuaian sosial dalam kategori kurang baik. Sangat Sedikit (2.10%) siswa yang memiliki penyesuaian sosial dalam kategori Sangat Kurang Baik. Hasil analisis uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterampilan komunkasi dan penyesuaian sosial dengan koefisien korelasi r hitung lebih besar dari pada r tabel yaitu 0.528 > 0.202 dengan taraf signifikan sebesar 0,05%. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) pihak sekolah diharapkan ikut membantu dan bahkan mendukung pelatihan dan pengembangan keterampilan komunikasi dan penyesuaian sosial seperti dengan mengaktifkan kegiatan ekstrakokurikuler, sehingga di dalam kegiatan itu siswa mampu belajar berorganisasi, mampu belajar mengelola emosi secara positif yang mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal, (2) Konselor memberikan bimbingan mengenahi cara bersosialisasi yang efektif, bisa dilakukan dengan metode bimbingan kelompok, bermain peran, atau sosiodrama dengan harapan dapat mengembangkan keterampilan komunikasi yang positif dan efektif pada diri siswa. Apabila tidak terdapat perubahan pada diri siswa dapat ditindak lanjuti dengan konseling baik individu atau kelompok. Dalam hal ini konselor harus benar-benar menguasai teknik konseling yang memadahi agar dapat membantu masalah-masalah siswa dengan baik pula, sehingga siswa terbantu oleh konselor disekolah, (3) peneliti selanjutnya, hendaknya mengadakan penelitian yang pada subyek yang lebih luas dan menggunakan instrument pengumpulan data yang lebih beragam, seperti melakukan observasi, wawancara, sosiomerti, dll. Sehingga data yang diperoleh bisa lebih lengkap dan dapat dikembangkan lebih luas terutama untuk meningkatkan hasil penelitian selanjutnya.

Ketrampilan mengetik sebagai penunjang pelajaran tata buku pada SMEA Pembina Malang / oleh Rr. Siti Subiharti

 

Analisis upaya guru ekonomi dalam mengembangkan minat siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 7 Malang / Nurul Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah, Nurul. 2015. Analisis Upaya Guru Ekonomi Dalam Mengembangkan Minat Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan EkonomiEkonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agung Haryono, S.E., M.P., Ak, (II) Dr. Hadi Sumarsono, S.T., M.Si Kata Kunci: upaya guru, mengembangkan minat, mata pelajaran ekonomi, faktor pendukung, faktor penghambat Faktor internal siswa yang mempengaruhi belajar salah satunya adalah minat. Minat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal siswa. Faktor eksternal yang berada di kelas adalah guru, materi pelajaran, media pembelajaran dan teman kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan minat pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 7 Malang beserta faktor pendukung dan penghambatnya berdasarkan faktor eksternal siswa yaitu guru, materi pelajaran, media pembelajaran dan teman kelas. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitiandeskriptif kualitatif. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Data penelitian berupa pemaparan hasil observasi guru, hasil wawancara dengan siswa berkaitan dengan minatdanupaya guru serta hasil wawancara guru yang mencangkup upaya guru serta data dokumentasi guru berupasurattugas. Keabsahan data menggunakan trianggulasi data. Berdasarkan hasil analisisdata ditemukan 21 upaya guru dan dua faktor pendukung serta dua faktor penghambat upaya guru. Upaya-upaya tersebut adalah memberikancontohkegiatanekonomi yang berhubungandengansiswa, memilih nomor urut presentasi dengan permainan, mengaitkanmateridengankegiatanberkoperasi, menggunakan sistem poin plus, memberikan pertanyaan acak, menggunakan sistem poin minus, tidak membatasi pertanyaan, mengalihkan pertanyaan pada siswa lain, melakukan sistem rolling tempat duduk, mengarahkan keterlibatan siswa dengan berwirausaha, peran komunikator guru dengan bahasa yang mudah dipahami, peran demonstrator dengan melibatkansiswadalampemberiancontoh, peran mediator dengan menyediakan alat media pembelajaran, peran evaluator dengan pembentukan kelompok, menumbuhkan budaya malu, serta melakukan refleksi, keterampilan gaya pembelajaran dengan memberikanpenguatandanmotivasi, keterampilan model pembelajaran dengan diskusi kelas, tanya-jawab, dan ceramah, keterampilan keragaman pembelajaran dengan membedakan kebutuhan belajar siswa, menggunakan LKS dan membebaskan sumber materi pelajaran, memberikesempatan siswa memilih media pembelajaran untuk presentasi, pembentukan kelompok, serta memberikan pertanyaan pada teman kelas yang mengganggu. Sedangkan dua faktor pendukung tersebut adalah faktor guru dan media pembelajaran serta faktor penghambatnya adalah teman kelasdanmateripelajaran.

Pelaksanaan pembangunan masyarakat desa di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari dalam bidang pertanian / oleh Suyanto

 

Pengaruh kompetensi dan komitmen guru mata pelajaran ekonomi terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa Jurusan IPS di SMA dan MA Negeri se-Kota Batu / Weni Sri Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Weni Sri. 2015. PengaruhKompetensiDan KomitmenGuru Mata PelajaranEkonomiTerhadapHasilBelajar Mata PelajaranEkonomiSiswaJurusan IPS Di SMA Dan MA Negeri Se-Kota Batu.Skripsi, JurusanEkonomi Pembangunan, Program StudiPendidikanEkonomi, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri UmiMintartiWidjaja, S.E., M.P. Ak. (II) Drs. Mardono, M.Si., Kata Kunci :Kompetensi Guru, Komitmen Guru, HasilBelajar Indonesia sebagai Negara yang kaya sumberdayaalammemilikipeluangbesaruntukberkembangnamunmutusumberdayamanusia (SDM) masihperluditingkatkanmelaluipendidikanuntukmembentukindividu-individu yang berkualitas.Peranseorang guru sebagaipendidiktidakakanlepasdariduniapendidikan, dimanakompetensidankomitmen guru berpengaruhterhadaphasilbelajarpesertadidik. Semakinbaikkompetensidankomitmen guru makasemakinbaik pula hasilbelajarpesertadidik. Tujuandaripenelitianiniuntukmengetahui: 1) pengaruhkompetensi guru terhadaphasilbelajarpesertadidik, 2) pengaruhkomitmen guru terhadaphasilbelajarpesertadidik, 3) pengaruhkompetensidankomitmen guru terhadaphasilbelajarpesertadidikjurusan IPS padamatapelajaranekonomi di SMA dan MA Negeri Se-Kota Batu. Penelitianinimenggunakanpendekatanpenelitiankuantitatifdengan format deskriptif.Data tentangkompetensi guru dankomitmen guru dalampenelitianinidiperolehdenganmenggunakan instrument angket yang dikontroldenganwawancaradiisioleh 12 guru sebagairesponden.Data kemudiandianalisisdenganmenggunakanmetodeanalisisdeskriptifpersentasedanregresi linier berganda. Hasildaripenelitianinimenunjukkanterdapatpengaruhantarakompetensidankomitmen guru terhadaphasilbelajarpesertadidikbaiksecarasimultanmaupunparsial.Secarasimultankompetensidankomitmen guru memilikipengaruhsebesar 92.240 % terhadaphasilbelajarpesertadidik.Secaraparsialpengaruhkompetensi guru terhadaphasilbelajarpesertadidiksebesar 44.504 %, sedangkankomitmen guru terhadaphasilbelajarpesertadidikmemilikipengaruhsebesar 47.736 %.

Marketing hasil produksi pengrajin batik Kecamatan Trenggalek / oleh Hari Sanyoto

 

Peranan kredit dalam gerak dan operasionil PMD di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
oleh Nyoman Dina Astawa

 

Pengembangan model latihan ball feeling dalam permainan sepakbola untuk siswa usia 10-12 tahun di SSB Assyabaab Kabupaten Sumenep / Arief Wildan Jufri

 

Kata kunci: pengembangan, model latihan, ball feeling dalam permainan sepakbola. Ball feeling merupakan teknik yang paling mendasar dalam permainan sepakbola yang harus dikuasai oleh setiap pemain sepakbola. Tujuan dari latihan ball feeling adalah untuk melatih “rasa” terhadap bola, sehingga memudahkan pemain dalam menguasai bola. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SSB Assyabaab belum adanya latihan ball feeling yang variatif untuk meningkatkan keterampilan bermain sepakbola bagi pemain pemula. Oleh karena itu, berdasarkan hasil analisis kebutuhan, maka akan dilakukan pengembangan model latihan ball feeling dalam permainan sepakbola untuk siswa usia 10-12 tahun di SSB Assyabaab Kabupaten Sumenep. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum adanya latihan ball feeling yang variatif untuk siswa usia 10-12 tahun di SSB Assyabaab Kabupaten Sumenep. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model latihan ball feeling yang variatif di SSB Assyabaab Kabupaten Sumenep yang dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan latihan ball feeling. Adapun tahap-tahap dalam prosedur pengembangan model latihan ball feeling dalam permainan sepakbola adalah sebagai berikut: (1) melakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan data informasi, (2) melakukan perencanaan (pengkajian teori), (3) mengembangkan produk awal berupa model latihan ball feeling, (4) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pelatih fisik sepakbola, 2 ahli kepelatihan sepakbola, (5) uji coba kelompok kecil, (6) revisi produk awal, revisi produk berdasarkan evaluasi para ahli dan kegiatan uji coba kelompok kecil, (7) uji coba lapangan, dengan mengujicobakan hasil revisi produk I, (8) revisi produk akhir, (9) hasil produk akhir dari hasil revisi produk akhir. Penelitian ini dilakukan di stadion A. Yani Kabupaten Sumenep. Subjek uji coba terdiri dari (1) Tinjauan ahli terdiri dari, 1 ahli pelatih fisik sepakbola dan 2 ahli kepelatihan sepakbola, (2) Uji coba kelompok kecil dengan melibatkan 10 siswa SSB Assyabaab Kabupaten Sumenep, (3) Uji coba kelompok besar dengan melibatkan 30 siswa SSB Assyabaab Kabupaten Sumenep. Hasil evaluasi model latihan ini adalah sebagai berikut: ahli kepelatihan sepakbola dan ahli pelatih fisik sepakbola yaitu 82,08 % (valid), uji coba kelompok kecil 91,56 % (valid), uji coba kelompok besar 89,20 % (valid). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan sebaiknya subjek penelitian ini dilakukan pada yang lebih luas maupun kepada beberapa SSB lain.

Studi karakter petani ikan pada usaha budidaya ikan di desa Pandansari Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Ida Sri Purwati

 

Kata-kata kunci: budidaya ikan, petani ikan. Memelihara ikan menjadi pekerjaan sampingan sebagian masyarakat Desa Pandansari untuk mencukupi kebutuhan hidup. Kondisi daerah yang berupa pedesaan dengan lahan yang luas dan air yang dengan mudah diperoleh menjadi modal yang sangat besar demi berkembangnya usaha perikanan di Desa ini. Berbagai masalah yang dialami oleh petani ikan seperti modal dan penyakit merupakan masalah yang sering dialami petani ikan, meskipun mempunyai lahan yang luas tak jarang dari petani ikan ini mengurangi jumlah ikan yang dipelihara atau bahkan berhenti memelihara ikan karena alasan tersebut. Hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan budidaya perikanan di Desa ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kondisi tempat budidaya ikan di Desa Pandansari Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, (2) tingkat pendidikan petani ikan, (3) pelaksanaan budidaya ikan di Desa Pandansari Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, (4) faktor yang menyebabkan menjadi petani ikan. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 25 % dari jumlah populasi yang ada dengan menggunakan teknik proportional sampling. Pengambilan datanya menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang sudah didapat akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) mayoritas bentuk kolam ikan terbuat dari batu bata, berada di pekarangan rumah, sebagian besar memiliki 2 kolam, kedalaman kolam ikan antara 1,5-<1,75 m, dan petani ikan mendapat air untuk kolam ikannya dari air tanah, (2) mayoritas petani ikan berpendidikan setingkat SMP, sebagian petani ikan yang mengikuti kegiatan penyuluhan dan sebagian kecil petani ikan yang mengikuti kegiatan pelatihan dan pemberian informasi perikanan, (3) mayoritas modal berasal dari pribadi dan kredit rata-rata sebesar Rp12.000.000–Rp16.000.000 perkolam ikan, bibit ikan dari petani ikan di daerah lain, semua petani ikan memelihara ikan gurame, mayoritas berupa usaha pembesaran ikan, mayoritas lama pemeliharaan ikan 12 bulan, kendala dalam pemeliharaan ikan seperti penyakit pada ikan dan modal, biaya produksi antara Rp 900.000-Rp 1.200.000 perkolam ikan, tenaga kerja berasal dari lingkungan keluarga sendiri, mayoritas petani ikan memasarkan hasil ke pedagang ikan, pendapatan bersih rata-rata Rp 6.000.000-Rp 8.000.000 perkolam ikan, pendapatan digunakan untuk biaya sekolah, biaya makan, bayar fasilitas, ditabung, dan bayar hutang, (4) mayoritas petani ikan beralasan menjadi petani ikan sebagai penghasilan tambahan. i    

Analisis prestasi hasil belajar siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tua dan tingkat pemanfaatan fasilitas belajar / Mahatma Dionickora

 

ABSTRAK Dionickora, Mahatma. 2015. Analisis Prestasi Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Dan Tingkat Pemanfaatan Fasilitas Belajar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (i) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec (ii) Dr. Hj. Lisa Rokhmani, M.Si Kata Kunci : Hasil Belajar, Status Sosial Ekonomi, Fasilitas Belajar. Di era global semua orang akan berkompetisi untuk meraih segala keinginan, dalam sebuah kompetisi pendidikan mempunyai peranan penting dalam membekali diri. Keberhasilan pendidikan dapat di ukur dengan maksimal dengan hasil belajar. Hasil belajar yang optimal dipengaruhi beberapa faktor yaitu yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dalam penelitian ini penulis melihat evaluasi belajar dari sisi faktor eksternal yaitu dari status ekonomi orang tua dan tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X IIS SMA Negeri 1 Batu berdasarkan status social ekonomi orang tua terhadap hasil belajar siswa dan hubungan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X IIS SMA Negeri 1 Batu berdasarkan tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah. Penelitian ini mengunakan penelitian eksplanatori bertujuan menjelaskan dan menganalisis variabel tertentu secara obyektif kondisi empiris yang akan dijelaskan dan dianalisis adalah pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel independen dan satu variabel dependen. Dari 142 populasi diambil sampel berjumlah 105 siswa, pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Teknik kuesioner dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang status social ekonomi keluarga, dan pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah. Sedangkan teknik dokumentasi dipergunakan untuk mengumpulkan data tenang hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif dan uji Chi Square dengan bantuan komputer program SPSS 17.0 for Windows. Hasil-hasil analisis dan pembahasan memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1) Status sosial ekonomi orang tua siswa berhubungan terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X IIS di SMA Negeri 1 Batu. 2) Pemanfaatan fasilitas belajar siswa di sekolah berhubungan terhadap hasil belajar siswa kelas X IIS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Batu. Kedua variabel dalam penelitian ini mempunyai hubungan dengan hasil belajar. Saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu : 1) Sebagai bahan masukan bagi guru untuk dapat lagi meningkatkan pengelolaan kelas dalam kegiatan pembelajaran, terlebih lagi pada penggunaan fasilitas sekolah, agar guru dapat menyempurnakan kegiatan belajar mengajar sehingga siswa tidak memiliki kejenuhan ketika pembelajaran sedang berlangsung. 2) Sebagai masukan bagi sekolah bahwa penyediaan fasilitas belajar harus diutamakan sebagai penunjang pembelajaran di kelas itu sendiri sehingga efektif dan efisien dengan kualitas yang membanggakan.

Masalah pelaksanaan fungsi staffing pada PT. Bank Pasar Bersaudara Jaya Malang / oleh Sri Harwati

 

Keluarga berentjana sebagai salah satu djalan untuk memperbaiki perekonomian penduduk Kota Madya Malang / oleh Hertiningrum

 

Pentingnya penempatan tenaga (staffing) pada P.N. Asuransi Jiwasraya Perwakilan Malang / oleh Sri Samwidarwati

 

Masalah penilaian dalam pengajaran sub bidang studi tata buku pada Sekolah Menengah Atas Negeri Kepanjen Malang / oleh Mudjiono

 

Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Alam merupakan salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah pertama yang berbasis keislaman dengan mengutamakan kualitas kebahasaan. Model pembelajaran yang diterapkan adalah menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Konsep pembinaan atau pembelajarannya adalah mengembangkan konsep triple “R” yakni Reasoning, Research, dan Religius. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pembelajaran bahasa Arab di Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Malang. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab, (3) faktor pendukung dan penghambat serta alternatif pemecahannya. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Alam Bilingual MTs Surya Buana Malang, dengan menggunakan rancangan deskriptif kualitiatif. Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII, VIII dan IX yang berjumlah 100 anak. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen inti. Dan instrumen bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman angket, pedoman wawancara, panduan analisis dokumen. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah (a) identifikasi data, (b) klasifikasi dan penyaringan data, (c) penyimpulan data. untuk menguji keabsahan data dalam penelitian dengan memeriksa keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu dari luar data sebagai pembanding. Hasil penelitian ini adalah perencanaan pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab di MTs Surya Buana Malang berupa adanya perangkat pembelajaran yang meliputi kurikulum dan silabus, program tahunan, program semester, dan rencana pembelajaran. Materi yang diajarkan diperoleh dari buku teks wajib yang berupa buku teks تَعلِيمُ اللّغَة العَرَبِيَة ‘Pelajaran bahasa Arab” untuk Madrasah Tsanawiyah karangan DR. Hidayat yang diterbitkan oleh Toha Putra tahun terbit 2004 dan buku penunjang yang berupa buku Lembar Kerja siswa (LKS) “ Serasi” karangan Moch. Amin Tohari, S. Ag. yang diterbitkan oleh CV. Citra Mentari Malang tahun 2006. Kemahiran berbahasa yang dicapai adalah kemahiran berbicara (kalam), menulis (kitabah), membaca (qira’ah), dan menyimak (istima’). Metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab adalah metode gabungan (eklektik). Selain itu guru juga menerapkan metode pembelajaran di luar kelas dalam bentuk kelompok belajar. Media yang digunakan adalah media dengar (tape recorder), media pandang (gambar, kartu), media pandang dengar (televisi, VCD), benda asli, benda tiruan, dan media yang alami berupa arena bermain di alam terbuka. Evaluasi diselenggarakan pada setiap akhir unit pelajaran, bulanan, ujian tengah semester (UTS), dan ujian akhir semester (UAS). Jenis tes yang digunakan adalah tes tulis dan tes lisan, dan bentuk tes tulis yang digunakan adalah tes pillihan ganda dan essay. Faktor pendukung pembelajaran adalah buku Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan latihan siswa, penggunaan metode gabungan atau metode eklektik, media pembelajaran di alam terbuka, evaluasi pembelajaran setiap bulan. Faktor penghambat pembelajaran meliputi materi pembelajaran dalam hal mufradat, menerjemahkan, kemampuan siswa yang sangat heterogen, minat siswa yang kurang terhadap bahasa Arab, kondisi siswa yang ramai ketika di kelas, terbatasnya media di sekolah dan belum adanya laboratorium bahasa. Solusi yang digunakan adalah siswa belajar lebih giat, dan rajin, bertanya langsung pada guru atau berdiskusi dengan teman, adanya jam pelajaran tambahan, memberikan motivasi pada siswa, pemanfaatan dan pemaksimalan media di alam terbuka dan kreatifitas guru dalam membuat media yang menarik.

Peranan BRI Cabang Malang dalam pengumpulan Tabanas / oleh A.C. Sudarmi

 

Pelaksanaan pengajaran kewargaan negara di Sekolah Dasar Negeri Wandanpuro II Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang / oleh Munif Effendi

 

Peranan evaluasi pengajaran tata-buku di SMA Blitar
oleh Yoni Ismiyati

 

Penerapan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika tertulis di SMP Negeri 2 Ngunut Tulungagung / Ari Eko Sulistyawan

 

Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, komunikasi, kemampuan komunikasi matematika tertulis Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang semakin pesat menuntut adanya perubahan dan perkembangan di segala bidang termasuk dalam dunia pendidikan. Sehubungan dengan hal itu, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, guru dituntut untuk menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran yang mengaktifkan interaksi antar guru dan siswa, siswa dengan siswa, serta siswa dengan lingkungannya. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah yaitu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini mendeskripsikan tahap-tahap pembelajaran berbasis masalah yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika tertulis siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngunut Tulungagung pada materi segi empat dan segitiga. Proses pelaksanaan pembelajaran diawali dengan orientasi siswa kepada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbing dalam penyelidikan individual maupun kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi serta refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan, wawancara, catatan lapangan dan tes. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus 1 dengan subpokok bahasan keliling dan luas persegi panjang, persegi dan segitiga siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 ada 33 dan persentase ketuntasan belajar siswa 82,5 % dengan nilai rata-rata kemampuan komunikasi matematika tertulis siswa 81,5. Sedangkan pada siklus 2 dengan subpokok bahasan keliling dan luas jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 ada 37 dan persentase ketuntasan belajar siswa 92,5 % dengan nilai rata-rata kemampuan komunikasi matematika tertulis siswa 83,2. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan SMP Negeri 2 Ngunut Tulungagung, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai minimal 75 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dalam penelitian ini berhasil. Sehingga pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika tertulis di SMP Negeri 2 Ngunut Tulungagung.

Pelaksanaan methode pengajaran ekonomi perusahaan di SMEA Dharma Wiyata Malang
oleh Mulyadi

 

Tinjauan terhadap metode pengajaran tata buku yang digunakan di SMEA Negeri Pembina Malang
oleh Surwiyati

 

Peran Sulan Muhammad Salahuddin dalam meningkatkan pendidikan Islam di Bima tahun 1917-1951 / Fitria

 

Kata Kunci: Peran, Sultan, Pendidikan Islam Bima mempunyai sejarah panjang dan menduduki posisi penting dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah nasional. Agama Islam mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sejarah pulau ini baik itu di bidang pendidikan, Agama, sosial, budaya dan lain-lainnya. Kurangnya penulisan terhadap sejarah lokal Islam khususnya pendidikan Islam semacam ini membuat penulis tergugah untuk menyumbangkan sebuah karya ilmiah yang diharapkan dapat memperkenalkan sejarah lokal yang masih belum terungkap dan jarang diketahui orang banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan tentang Keadaan Pendidikan Islam di Bima sebelum Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin, bagaimana riwayat hidup Sultan Muhammad Salahuddin, bagaimana Peran Sultan Muhammad Salahuddin dalam meningkatkan Pendidikan Islam di Bima sebelum masa kemerdekaan tahun 1917-1945 dan setelah masa kemerdekaan tahun 1945-1951. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang digunakan dalam beberapa langkah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Adapun heuristik dilakukan dengan cara pengumpulan sumber baik sumber lisan (wawancara) maupun tulisan sumber-sumber yang berupa benda-benda peninggalan sejarah. Kritik dilakukan dengan cara kritik ekstern dan intern, kemudian interpretasi dilakukan dengan cara menafsirkan atau menganalisis sumber-sumber yang telah dikritik kemudian yang terakhir adalah penyusunan hasil penelitian yang disebut dengan historiografi dalam karya ini akan dituangkan dalam bentuk tulisan diskriptif naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sultan Muhammad Salahuddin merupakan pemimpin yang berpandangan luas serta memiliki visi ke depan, Sultan Muhammad Salahuddin seorang tokoh yang taat menjalankan perintah Agama, jujur serta berpenampilan sederhana. Pendidikan Islam sebelum Sultan Muhammad Salahuddin lebih difokuskan pada penyebaran agama Islam dan Pembelajaran kitab khusus kalangan keluarga istana Kesultanan Bima seperti masa pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin, sebelum Sultan Muhammad Salahuddin juga adanya sistem pendidikan Islam di Kesultanan Bima. Dimana saat itu hanya dikhususkan untuk kalangan keluarga istana saja, akan tetapi saat Sultan Muhammad Salahuddin pendidikan Islam termasuk pembelajaran kitab berlaku untuk seluruh kalangan masyarakat Bima yang sudah memeluk agama Islam. Perjuangan Sultan Muhammad Salahuddin memajukan pendidikan Agama dan umum untuk meningkatkan kualitas iman taqwa dan Ilmu Pengetahuan, Sistem pendidikan yang dijalankan Sultan ada 2 yakni: (1) Pendidikan informal yang bersifat tradisional,(2) Pendidikan formal yang berada di bawah kendali Lembaga Hukum Syara’. Pendidikan Informal; Sultan Muhammad Salahuddin yang melakukan terobosan baru dengan membuka wawasan internasional (bangsa) Bima. Beliau mengirim intelektual muda Bima ke pusat-pusat ilmu di dalam maupun di luar negeri seperti Mekkah. Lompatannya untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Para intelektual Bima yang dikirim, diberi beasiswa untuk belajar di Madrasah Haramayn. Masjid, Langgar dan Surau bukan saja sebagai tempat beribadah, tetapi dimanfaatkan pula sebagai tempat pengajian (belajar Al-Qur’an) bagi anak dan tempat mempelajari ilmu Agama bagi orang dewasa. Pada tahun 1921, didirikan HIS di kota Raba (Holands Indlanse School, sekolah untuk pribumi setingkat SD sekarang). Dalam tahun 1922 didirikan sekolah kejuruan bagi kaum wanita, yaitu Kopschool dipimpin oleh SBS Yulianche. Sedangkan pendidikan formal lainnya berada di bawah naungan Lembaga Hukum Syara’; Pada tahun 1931, Sultan bersama Ruma Bicara berhasil mendirikan sekolah Agama yang pertama di Bima, yaitu: Madrasah Darul Tarbiyah yang terletak di kota Raba. Pada tahun 1934, Sultan mendirikan Madrasah Darul Ulum Bima. Disamping memajukan pendidikan Agama, Sultan mendirikan pula sekolah-sekolah umum dan sekolah keterampilan wanita. Pasang surut perjuangan Sultan Muhammad Salahuddin tahun 1917-1951 sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Bima sampai sekarang, baik pendidikan informal maupun lembaga pendidikan formal lainnya yang dikembangkan yaitu dengan banyaknya sekolah-sekolah yang dinegerikan untuk meningkatkan pendidikan yang tetap berdasarkan syari’at Islam atau untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dikalangan masyarakat Indonesia khususnya di Bima. Pada pemerintah daerah Kabupaten Bima untuk tetap mengingat dan melindungi objek wilayah sejarah lokal di Bima. Sebab dilihat dari sekarang wilayah terkait peninggalan Islam dan Hindu-Budha sangat memprihatinkan sekali. Karena itu penulis melalui skripsi ini bisa menjadi masukan dan bisa menjadi harapan bersama untuk menjunjung nilai sejarah lokal yang ada disekitar kita dan tetap pada koridor masing-masing.

Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan saintifik model penemuan terbimbing pada materi teorema pythagoras untuk siswa SMP kelas VIII / Muthoharo

 

ABSTRAK Muthoharo. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Pendekatan Saintifik Model Penemuan Terbimbingpada Materi Teorema Pythagoras untuk Siswa SMP Kelas VIII. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. M. Shohibul Kahfi, M.Pd. Kata Kunci:perangkat pembelajaran, pendekatan saintifik, model penemuan terbimbing, teorema Pythagoras Guru ideal seharusnya dapat membuat perangkat pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Namun, guru seringkali mengembangkan perangkat pembelajaran sebatas hanya sebagai persyaratan administratif dikarenakan tuntutan dari pemerintahan. Menurut pengamatan peneliti selama observasi di beberapa sekolah, masih terdapat guru yang mengalami kesulitan dalam membuat perangkat pembelajaran seperti membuat RPP yaitu guru sulit menetapkan indikator yang sesuai dengan kompetensi dasar. Disisi lain, masih terdapat beberapa guru yang membuat perangkat pembelajaran tanpa menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa sehingga perangkat pembelajaran tersebut tidak terlaksana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Ditemukan pula, guru mengadopsi perangkat pembelajaran dari internet dengan mengubah beberapa komponen saja. Berdasarkan uraian di atas, tujuan peneliti adalah ingin mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan saintifik model penemuan terbimbing pada materi teorema Pythagoras. Perangkat pembelajaran berbasis pendekatan saintifik model penemuan terbimbing ini memfasilitasi siswa untuk belajar secara langsung dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan pada materi Pythagoras melalui kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan yang memuat karakteristik model penemuan terbimbing. Sehingga dengan demikian, diharapkan siswa bisa membangun pemahamannya tentang konsep Pythagoras secara mandiri dan terbimbing. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini adalah model pengembangan Thiagarajan, S., Semmel, D. S. dan Semmel M. I (1974) yang terkenal dengan istilah 4D. Model pengembangan 4D ini terdiri dari empat tahapan yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap penyebaran (disseminate). Namun pengembang memodifikasi model tersebut menjadi 3D, sehingga tahap penyebaran (disseminate) tidak dilakukan oleh pengembang. Berdasarkan hasil uji kevalidan, uji kepraktisan dan uji keefektifan yang diuraikan pada Bab IV diperoleh hasil, yaitu: (1) skor kevalidan RPP dan LKS sebesar 3,44 dan 3,4435 dengan kriteria kevalidan valid, (2) skor kepraktisan RPP sebesar 3,3 dengan kriteria kepraktisan praktis, sedangkan skor kepraktisan RPP sebesar 3,22 dengan kriteria kepraktisan cukup praktis, (3) skor keefektifan sebesar 76,7% dengan kriteria keefektifan efektif. Jadi, secara keseluruhan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan efektif. Walaupun demikian, untuk kesempurnaan perangkat pembelajaran yang dihasilkan, pengembang tetap melakukan revisi berdasarkan saran dan komentar yang diberikan oleh para validator dan subyek uji coba lapangan.

Hubungan berpikir positif dan represi masalah pada mahasiswa berkepribadian ekstrovert di Universitas Negeri Malang / Ariesta Dwi Kaufani

 

Kata Kunci: berpikir positif, represi masalah, mahasiswa, ekstrovert, Universitas Negeri Malang. Mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki lingkup interaksi yang berbedabeda dengan persoalan yang berbeda pula. Persoalan datang dari lingkungan ataupun dari diri sendiri, bagaimana dengan mahasiswa berkepribadian ekstrovert menghadapinya. Mahasiswa ekstrovert yang berpikir positif akan menghadapi persoalannya hingga tuntas. Namun dengan mahasiswa ekstrovert yang merepresi masalah akan menahan masalah tersebut dan menunda-nunda menyelesaikannya. Masalah apapun yang datang menghadang seorang individu dalam hidupnya, betapapun sulitnya masalah tersebut, bahkan tampak tidak ada harapan lagi, tidaklah begitu penting dibanding sikap individu tersebut terhadap masalah yang ada. Bagaimana seorang individu berpikir tentang suatu masalah, mungkin mengalahkan individu tersebut sebelum ia melakukan apapun terhadap masalah yang dihadapinya (Peale, 1996). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) gambaran berpikir positif pada mahasiswa ekstrovert di Universitas Negeri Malang (2) gambaran represi masalah pada mahasiswa ekstrovert di Universitas Negeri Malang (3) hubungan berpikir positif dan represi masalah pada mahasiswa berkepribadian ekstrovert di Universitas Negeri Malang, menggunakan metode penelitian kuantitatif yang dikembangkan dengan cara deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini mahasiswa berkepribadian ekstrovert Universitas Negeri Malang, sampel berjumlah 70 mahasiswa dengan menggunakan teknik accidental sampling, dan menggunakan 3 instrumen (1) Skala Eysenck Personality Inventory, reliabilitas berkisar antara 0,89-0,93 (2) Skala berpikir positif, reliabilitas 0,891 (3) Skala represi masalah, reliabilitas 0,726. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Dari 70 subyek penelitian, sebagian besar memiliki tingkat berpikir positif sedang (42 subyek atau 60%), tingkat berpikir positif tinggi dan rendah masing-masing 20% atau sebanyak 14 subyek (2) Subyek sebagian besar memi liki tingkat represi masalah sedang (47 subyek atau 67%), sebanyak 11 subyek dengan prosentase sebesar 16% dalam tingkat yang tinggi dan 17% atau sebanyak 12 subyek dalam tingkat yang rendah (3) Uji korelasi Product Moment diperoleh korelasi negatif berpikir positif dan represi masalah pada mahasiswa berkepribadian eksrtovert di Universitas Negeri Malang dengan rxy=-0,707 (p=0,000<0,01), sehingga semakin tinggi tingkat berpikir positif maka semakin rendah tingkat represi masalah pada mahasiswa berkepribadian ekstrovert. Saran untuk penelitian ini antara lain (1) mahasiswa berkepribadian ekstrovert dapat memahami dan menerima sepenuhnya apa yang ada dalam dirinya secara positif agar dapat melakukan interaksi dengan lingkungannnya sehingga mengalami progresifitas kepribadian dengan membiasakan diri berbaur dengan lingkungan (2) lembaga pendidikan dan orang tua membantu dan memfasilitasi mahasiswa meningkatkan kemampuan mahasiswa berpikir positif secara optimal dengan mengadakan pelatihan berpikir positif sehingga dapat menurunkan tingkat represi masalah pada mahasiswa, (3) penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan metode kualitatif agar dapat lebih menggali aspek-aspek berpikir positif dan represi masalah berkaitan dengan kepribadian ekstrovert. Diharapkan pula memperluas populasi agar hasil penelitian yang diperoleh menjadi lebih komprehensif.

Penarapan pembelajaran konstruktivistik dengan model picture and picture untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS ekonomi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Tulungagung / Widya Kurniasari

 

Kata Kunci: Pembelajaran Konstruktivistik, Picture And Picture, Keaktifan, Hasil Belajar Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah mengembangkan kurikulum KTSP. Dari perubahan tersebut guru dituntut untuk lebih kreatif dalam proses pembelajaran, sehingga lebih melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar (student centered). Penerapan model pembelajaran yang selalu sama akan menyebabkan peserta didik mudah bosan yang pada akhirnya akan menyebabkan keaktifan dan hasil belajar menjadi tidak optimal. Pembelajaran konstruktivistik pada dasarnya menekankan bahwa pengetahuan harus dibangun oleh peserta didik berdasarkan apa yang telah dimilikinya sebelumnya. Penggunaan model picture and picture agar peserta didik dirangsang untuk merumuskan masalah, mengambil hipotesis, dan menggeneralisasikannya sehingga pembelajaran lebih berarti. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran konstruktivistik dengan model picture and picture untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS Ekonomi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Tulungagung, (2) Mendeskripsikan penerapan model picture and picture dapat meningkatkan keaktifan belajar IPS Ekonomi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Tulungagung melalui pembelajaran konstruktivistik, (3) Mendeskripsikan penerapan model picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar IPS Ekonomi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Tulungagung melalui pembelajaran konstruktivistik, dan (4) Mendeskripsikan respon peserta didik terhadap penerapan pembelajaran konstruktivistik dengan model picture and picture mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Tulungagung. Jenis penelitian ini adalah PTK dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus tindakan yang terdiri dari 4 tahap yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data peningkatan keaktifan belajar diukur dengan observasi, peningkatan hasil belajar kognitif diukur dengan test hasil belajar, sedangkan hasil belajar afektif peningkatannya diukur dengan observasi dan hasil laporan diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran konstruktivisitik dengan model picture and picture dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik aspek kognitif dan afektif. Keaktifan belajar secara pada siklus I menunjukkan persentase sebesar 68,1% meningkat pada siklus II menjadi sebesar 91,4%. Hasil belajar aspek kognitif pada siklus I menunjukkan persentase nilai rata-rata sebesar 58,9% pada kegiatan pre test dan meningkat menjadi 82,7% pada saat post test. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal pada ii siklus I sebesar 10,3% pada saat pre test dan meningkat menjadi 72,5% pada saat pre test. Pada siklus II menunjukkan persentase sebesar nilai rata-rata sebesar 65,9% pada kegiatan pre test dan meningkat menjadi 84,2% pada saat post test. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I sebesar 29,7% pada saat pre test dan meningkat menjadi 78,9% pada saat pre test. Sehingga pada siklus II kelas VIII-G SMP Negeri 1 Tulungagung dapat dinyatakan telah tuntas belajarnya dan bisa disimpulkan bahwa ketuntasan belajar klasikal mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar aspek afektif dengan observasi menunjukkan persentase ratarata nilai afektif pada siklus I sebesar 75,3% dan mengalami peningkatan menjadi 88,2% pada siklus II. Sedangkan persentase rata-rata nilai afektif pada siklus I sebesar 75,3% dan mengalami peningkatan menjadi 88,14% pada siklus II. Hasil pengukuran sikap dengan angket pada siklus I sebesar 76,3% dan meningkat pada siklus II menjadi 81,6%. Respon peserta didik terhadap pembelajaran konstruktivistik dengan model picture and picture baik. Saran yang dapat diberikan yaitu bagi sekolah yang ingin mengubah pembelajaran dari teacher centered menuju student centered, maka disarankan untuk menggunakan pembelajaran konstruktivistik dengan model picture and picture ini. Bagi guru yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran IPS Ekonomi secara khusus pada materi permintaan dan penawaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar disarankan untuk menerapkan pembelajaran konstruktivistik dengan model picture and picture jika keadaan dan permasalahannya sama atau mirip dengan permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian ini. Bagi peneliti lain yang berminat untuk meneliti tentang model picture and picture diharapkan selain meneliti tentang hasil belajar ranah kognitif dan afektif, juga meneliti tentang aspek psikomotorik.

Pendidikan merupakan institusi sosial
oleh Mohammad Ma'ruf

 

Identifikasi keaslahan siswa SMP dalam proses menyelesaikan soal pisa dan pemberian scaffolding / Syaiful Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah, Syaiful. 2014. IdentifikasiKesalahanSiswa SMP dalam Proses MengerjakanSoal PISA danPemberian Scaffolding.Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Matematika, FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Subanji, M.Si., Kata Kunci: Identifikasi, KesalahanSiswa, soalPISA, Scaffolding Kesulitan yang dialami siswa berdampak pada kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika.Kesulitan yang dihadapisiswaberdampakpadarendahnyaprestasisiswa Indonesia padaProgramme for International Student Assessment (PISA) yaitu berada di peringkat 64 dari 65 negara padatahun 2012. Penelitian ini mengungkap jenis kesalahan siswa SMPN 15 Malang kelas VII dalam proses menyelesaikan soal PISA dan pemberian scaffolding. Jenis kesalahan yang dialami siswa dalam proses menyelesaikan soal PISA meliputi: (1) kesalahan interpretasi bahasa, (2) kesalahan menggunakan data, (3) Kesalahan teknis, (4) kesalahan menarik kesimpulan. Subjek penelitian ini terdiri 6 siswa dari 2 siswadengan kemampuan matematika tinggi, 2 siswa dengan kemampuan matematika sedang, dan 2 siswa dengan kemampuan matematika rendah. Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, maka peneliti memberikan scaffolding kepada subjek penelitian. Scaffolding yang diberikan berupa dukungan untuk belajar dan mengatasi masalah yang diberikan secara bertahap dan seminimal mungkin dengan mengacu pada tahapan explaining, reviewing, and restructuring. Berdasarkan hasil penelitian,baik siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, maupun rendah semua melakukan kesalahan interpretasi bahasa pada pertanyaan 1 dan pertanyaan 2. Pemberian scaffoldingpadakesalahaninimeliputi penjelasan (explaning)dan peninjauan kembali hasil kerja (reviewing). Kesalahan menggunakan data hanya muncul pada proses pengerjaan pertanyaan 1. Kesalahaninidialamiolehsiswa dengan kemampuan matematika sedangdan rendah.Pemberian scaffoldingpadakesalahaninimeliputi penjelasan (explaning)danarahan (reviewing). Kesalahan teknisdialamiolehsiswaberkemampuantinggidanrendah.Pemberian scaffoldingpadakesalahaninimeliputipenjelasan (explaning), arahan (reviewing), dan perbaikan(restructuring). Kesalahan penarikankesimpulanhanyadialamiolehsiswaberkemampuanrendah.Kesalahanini mengidentifikasikansiswacerobohdalammenarikkesimpulandanpemberianscaffoldingdenganmemberiarahan (reviewing).

Produksi dan usaha peningkatannya pada perusahaan industri tegel CV Lantai Indah" Malang / oleh Sri Umi Mintarti Widjaja"

 

Peranan Koperasi Siswa SMEA Pembina Malang sebagai penunjang pengembangan jiwa kewiraswastaan
oleh Herman Sugiyono

 

Beberapa kegiatan marketing pada perusahaan rokok PT Faroka SA Malang / oleh Imam Suroso

 

Peranan pengangkutan laut sebagai salah satu faktor bagi pembangunan ekonomi di daerah Maluku
oleh Benony Alfons

 

Pengawasan produksi pada P.T. Kembang Gula Sindhu Amritha di Pasuruan / oleh Indah Utaminingtyas

 

Masalah penilaian pengajaran tata buku pada Sekolah Menengah Atas Negeri III Malang
oleh Tuhardjo

 

Penerapan kolaborasi pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) dengan problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi pada siswa kelas XI Jurusan Penjualan SMK Wisnuwardhana Malang) / Irma Setyoningsih

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Think Pair Share (TPS), Problem Based Learning (PBL), dan hasil belajar. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan. Pembangunan dalam dunia pendidikan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu dari pendidikan. Mutu pendidikan akan tercapai jika proses belajar efisien dan efektif. Agar proses belajar dilakukan secara efisien dan efektif perlu diperhatikan adanya kemampuan belajar siswa, penentuan metode mengajar yang digunakan guru serta. Peningkatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru salah satunya dengan penerapan model pembelajaran yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antara guru dengan siswanya. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan Penerapan Kolaborasi Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) Dengan Pengajaran Berbasis Masalah (PBL) (Studi Pada Siswa Kelas XI Jurusan Penjualan SMK Wisnuwardhana Malang). (2) Untuk mengetahui hasil belajar mata diklat kewirausahaan siswa kelas XI jurusan penjualan SMK Wisnuwardhana Malang melalui penerapan kolaborasi pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dengan Problem Based Learning (PBL) . Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian maka penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan analisis pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan siklus II,. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Jurusan Penjualan SMK Wisnuwardhana Malang. Penilaian penelitian ini terdiri dari aspek kognitif dan afektif. Berdasarkan hasil analisis ketuntasan belajar siswa ditinjau dari aspek kognitif pada siklus I, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I 17 siswa atau 42,5 % dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 23 siswa atau 57,5%. Sedangkan pada siklus II dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar 19 siswa atau 47,5 % dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 21 siswa atau 52,5%. Dari hasil belajar siswa pada siklus II dapat disimpulkan bahwa kolaborasi pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dengan Problem Based Learning belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu : (1) Bagi Guru disarankan untuk mencoba menerapkan kolaborasi pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dengan Problem Based Learning dikarenakan siswa memberikan respon positif terhadap penerapan kolaborasi pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dengan Problem Based Learning. (2) Bagi Kepala Sekolah hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan siswa akan buku-buku pelajaran (3) Bagi siswa lebih meningkatkan kreatifitas untuk berfikir lebih maju, berani mengungkapkan pendapat dan bisa lebih serius dalam mengikuti pembelajaran. (4) Bagi Peneliti selanjutnya apabila menerapkan pembelajaran kolaborasi TPS dengan PBL lebih menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena model kolaborasi pembelajaran TPS dengan PBL ini membutuhkan waktu yang lama.

Usaha peningkatan produksi es pada PT Es Parwita Kasri - Pandaan / oleh Darmawan Budiarto

 

Usaha peningkatan mutu pengajaran ilmu ekonomi perusahaan di SMEA Negeri Malang / oleh Mugianto

 

Penggunaan permainan tradisional bilu-bilu dan tolode untuk meningkatkan keterampilan sosial dan hasil belajar IPS (studi pada siswa kelas IVb SDN No. 89 Sipatana Kota Gorontalo / Zefrin

 

ABSTRAK Zefrin, 2015.PenggunaanPermainanTradisionalGorontaloBilu-biluludanTolodeuntukMeningkatkanKeterampilanSosialdanHasilBelajar IPS (StudipadasiswaKelasIVb SDN No 89 Sipatana Kota Gorontalo).Tesis. Program StudiPendidikanDasar. Pascasarjana.UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: 1) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, 2) Drs. I WayanDasna,M.Si., M.Ed., Ph.D Kata Kunci: PermainanTradisionalBilu-biluludanTolode, KeterampilanSosial, HasilBelajar IPS. Berdasarkanhasilwawancaradanobservasipendahuluan dikelas IV SDN No. 89 Sipatana Kota Gorontalo, terdapatpermasalahandalampembelajaran IPS, yaitu: 1) keaktifansiswapada proses pembelajaranmasihrendah, 2) partisipasisiswapadapembelajarankelompoksangatkurang, 3) komunikasiantartemantidakberjalanefektif, 4) siswa yang mempunyaikemampuanlebihtinggibertindaksebagaipekerjadanpemikirsertacenderungmendominasi proses pembelajaran, 5) sebagiansiswacenderungtakutdalammenyampaikan ide danhasilkerjanya, 6) hasilbelajarsiswamasihrendahdanbelummemenuhi KKM yang telahditetapkanolehsekolah, 7) kerjasamadalamkelompoktidakberjalanefektifdan, 8) siswamerasajenuhdalammengikutipembelajaran. salahsatuupaya yang dilakukanuntukmengatasipermasalahantersebutadalahdenganmenggunakanpermainantradisionalBilu-biluludanTolodedalampembelajaran. Melaluipermainantradisionalmemberikankesempatankepadasiswauntukmeningkatkanpengetahuandanketerampilansosialmembantukesulitan orang lain, berbagiilmupengetahuandengan orang lain,memberikanrespontentangtindakan orang lain, menyampaikanpertanyaan/ jawaban,mengkomunikasiinformasidenganbaik, salingmembantuuntukmenyelesaikantugas, menunjukkanperhatiankepada orang lain, peduliakanpermasalahanoanglain, menahandiridalammengungkapkanpendapatsecarabergantian, memperhatikan saran danjawabandari orang lain.Penelitianinibertujuanuntuk: 1) mendeskripsikanlangkah-langkahpermainantradisionalBilu-biluludanTolode,2) menganalisispeningkatanketerampilansosialsiswamelaluipermainantradisionalBilu-biluludanTolodedan, 3) mengukurpeningkatanhasilbelajar IPS siswamelaluipermainantradisionalBilu-biluludanTolode. Penelitianinimenggunakanrancanganpenelitiantindakankelas (PTK) dengansubjekpenelitiansiswakelas IV SDN No. 89 Sipatana Kota Gorontalo yang berjumlah 28 siswa.Penelitisebagaiinstumenkunci yang dalamhalinisebagaipemberitindakanatau guru model yang dibantuolehdua orang observer.Instrumenpengumpulan data meliputilembarobservasikegiatan guru dansiswa, lembarobservasiketerampilansosialsiswapadakelompok, soaltes, wawancara, dandokumentasi.Analisis data menggunakananalisiskualitatifdenganlangkah-langkahyaitu: reduksi data, penyajian data, danpenarikankesimpulan. Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa: 1) penggunaanpermainantradisionalBilu-biluludanTolode dikelasIVb SDN No.89 Sipatana Kota Gorontalo, terlaksanadengansangatbaik, 2) penggunaanpermainantradisionalBilu-biluludanTolodedapatmeningkatkanketerampilansosialsiswa yang ditunjukkanolehhasilobservasidanangketpadasiklus I mencapainilai rata-rata 75,7dengankriteriabaikdansiklus II mencapai 92,5 dengankriteriasangatbaikuntukobservasinya. Sedangkanangketketerampilansosialpadasiklus I mencapaipersentase 71,4% dansiklus II mencapai 85,7% dan, 3)penggunaanpermainantradisionalBilu-biluludanTolodedapatmeningkatkanhasilbelajar IPS siswa, halinidibuktikandenganpeningkatannilaihasilbelajardaripratindakan, siklus I dansiklus II. Padapratindakanmencapai 57,1%, siklus I mencapai 75% dansilkus II mencapai 89%. Dari penelitianini, makahal-haldapatdisarankanantara lain: 1) agar penggunananBilu-biluludanTolodedalampembelajaran IPS dapatdigunakansecaramaksimal, makadisarankankepada guru yang lain untuk; a) selalumemotivasisiswauntukterusbekerjasama, berdiskusi, salingmembantuterhadaptemannya, b) menjelaskanaturanpermainandengantepatdanbenar, c) memberikanreward sebagaipenguatanterhadapsiswa agar lebihtermotivasidalampembelajaran, d) mencipatakansuasanabermain yang gembira, senangnamunbisaterkendali, e) menyiapkanperlengkapanpermainansebelummelakukankegiatanpembelajaran, 2) dalammelestarikanbudayalokal, makapemerintahdaerahdapatmengakomodirpermainantradisionalBilu-biluludanTolodedalam proses pembelajaran IPS di SD 3) perludilakukanpenelitianlanjutandenganpengunaanpermainantradisionalpadapokokbahasanataukompetensidasar yang berbedadanjenjangpendidikan yang berbeda pula.

Lapangan perluasan
oleh Titi Teri Purwanti

 

Tinjauan prestasi belajar siswa SMEA Negeri Pembina Malang angkatan tahun 1975
oleh Tri Hartini

 

Peningkatan kemampuan menyimak berita dengan menggunakan rangsang teks rumpang terekam pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang / Rezha Adityaksa

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, pembelajaran menyimak, teks rumpang Pembelajaran keterampilan menyimak mempunyai peranan penting karena menyimak merupakan dasar untuk menguasai keterampilan berbahasa yang lain. Penerapan teknik dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran keterampilan menyimak dapat tercapai. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran menyimak masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di kelas X-4 SMA Negeri 1 Tumpang, keterampilan menyimak siswa masih rendah dan belum mencapai nilai standar yang ditetapkan sekolah tersebut terutama pada kemampuan menangkap inti simakan. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan menyimak berita pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 1 Tumpang menggunakan rangsang teks rumpang terekam. Penggunaan teks rumpang terekam diharapkan dapat menambah minat dan semangat siswa dalam belajar serta dapat membantu merangsang ingatan siswa tentang inti-inti berita yang disimak sehingga pembelajaran menyimak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya dengan satu kali simakan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Manfaat penelitian ini adalah membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pembelajaran khususnya menyimak berita, memotivasi siswa untuk belajar, dan melatih siswa melakukan kegiatan menyimak secara intensif dan efektif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data yang digunakan berupa tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi foto. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian keterampilan menyimak berita siswa pada pratindakan, siklus I, dan siklus II menunjukkan peningkatan pada aspek mengingat inti berita dan menyusun kesimpulan berita. Nilai rata-rata pada pratindakan sebesar 50,16 atau termasuk dalam kategori kurang. Hasil pada tindakan I nilai rata-rata kelas sebesar 67,64 dan termasuk dalam kategori cukup. Terjadi peningkatan nilai rata-rata dari pratindakan ke tindakan I sebesar 17,48 poin atau 34,84 %. Hasil tindakan II nilai rata-rata kelasnya sebesar 85,63 dan termasuk dalam kategori baik. Nilai rata-rata pada tindakan II mengalami peningkatan sebesar 17,99 poin atau 26,59 % dari tindakan I. Hasil kemampuan menyusun kesimpulan berita pada tindakan I nilai rata-rata kelas sebesar 69,45 dan termasuk dalam kategori cukup. Hasil tindakan II nilai rata-rata kelasnya sebesar 79,07 dan termasuk dalam kategori baik. Nilai rata-rata pada tindakan II mengalami peningkatan sebesar 9,62 poin atau 13,85 % dari tindakan I. Peningkatan keterampilan menyimak berita pada tiap siklus diikuti dengan perubahan perilaku positif siswa. Hal tersebut terlihat pada perhatian, keseriusan, keaktifan dan keantusiasan siswa selama mengikuti pembelajaran. Siswa merasa senang dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran menyimak berita menggunakan media audio dengan rangsang teks rumpang. Dari hasil penelitian ini, saran yang disampaikan peneliti adalah penggunaan teks rumpang terekam dapat menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa dalam pembelajaran menyimak berita sehingga perlu dipertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran.

Masalah permodalan pada koperasi simpan pinjam Rakyat" Desa Wlingi Kabupaten Blitar / oleh Sri Wahyuti"

 

Pengembangan buku saku permainan futsal untuk peserta ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 4 Malang / Kharisma Yanuar Tirta

 

ABSTRAK Yanuar, Kharisma T. 2014. Pengembangan Buku Saku Permainan Futsal untuk Peserta Ekstrakurikuler Futsal di SMA Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Supriatna, M.Pd, (II) Dra. Sri Purnami, M,Pd Kata kunci: pengembangan, buku saku, futsal Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru pendidikan jasmani dan peserta ekstrakulikuler pada tanggal 18-20 Juni 2013, bahwa intensitas latihan futsal hanya satu kali dalam seminggu dengan jumlah peserta yang cukup banyak, yaitu 25 siswa, sehingga pelatih merasa kekurangan waktu untuk melatih tim futsal secara maksimal. Selain itu, pelatih juga membutuhkan buku panduan yang dapat digunakan siswa untuk belajar secara mandiri sebelum latihan, namun di SMA Negeri 4 Malang belum ada buku panduan mengenai futsal yang dapat digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan buku saku futsal untuk peserta ekstrakurikuler di SMA Negeri 4 Malang. Diharapkan, pengembangan ini dapat membantu siswa untuk lebih memahami sarana dan prasara yang dibutuhkan, peraturan-peraturan, serta teknik-teknik dalam bermain futsal. Selain itu buku saku yang akan dikembangkan juga dilengkapi dengan sejarah permainan futsal yang dapat menambah wawasan siswa. Diharapkan dengan adanya buku saku futsal ini siswa yang tergabung dalam tim futsal SMA Negeri 4 Malang dapat lebih berprestasi dengan menjuarai event-event yang diadakan di sekolah, di Kota Malang, bahkan menjadi juara tingkat Nasional. Penelitian yang dilaksanakan di SMA 4 Malang ini termasuk penelitian dan pengembangan. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari validasi satu ahli permainan futsal diperoleh hasil 75,0%, cukup valid dan dapat digunakan dengan revisi kecil, dari validasi satu ahli media diperoleh hasil 73,96%, cukup valid dan dapat digunakan dengan revisi kecil. Dari hasil uji coba kelompok kecil diperoleh hasil 86,67%, sangat valid dan dapat diuji cobakan, serta dari hasil uji coba lapangan (kelompok besar) diperoleh hasil 87,83%, sangat valid dan dapat digunakan. Revisi terhadap produk yang dikembangkan berdasarkan dari saran para ahli adalah sebagai berikut: (1) Nama pembimbing (skripsi) tidak dicantumkan pada cover depan, (2) Buku saku ditujukan untuk siswa ekstrakulikuler dicantumkan di cover depan, (3) Materi di ganti menggunakan font times news roman.

Suatu survey tentang Taska dan Tabanas Bank Amerta Cabang Malang / oleh S. Djuwitaningsiah

 

Developing photovoice-based supplementary materials as a way towards greening EFL / I Gusti Agung Paramitha Eka Putri

 

ABSTRAK Putri, I Gusti Agung Paramitha Eka. 2015. Pengembangan Materi Tambahan dengan Metode Photovoice Sebagai Satu Jalan Menuju Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Lingkungan. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. Arwijati Wahyudi, M.Pd., Dip.TEFL. Kata Kunci: photovoice, materi tambahan,pembelajaran bahasa Inggris berbasis lingkungan Pengajaran bahasa Inggris saat ini tidak hanya bertujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi siswa tetapi juga menumbuhkan rasa bertanggungjawab sebagai masyarakat global. Arah pembelajaran seperti ini ditunjukkan dengan adanya tren dimana guru bahasa Inggris di seluruh dunia mulai memperhatikan pentingnya pengenalan isu tentang lingkungan di dalam kelas mereka. Karena kerusakan lingkungan merupakan masalah bagi setiap orang, pendidikan lingkungan di dalam kelas bahasa diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Namun, tujuan ini tidak ditunjang dengan tersedianya buku bahasa Inggris di Bali, Indonesia, yang memuat permasalahan-permasalahan lingkungan dan sesuai dengan konteks lokal. Dalam dua tahun terakhir, para guru di sekolah adiwiyata mandiri di Bali bergantung pada situs acak dalam usaha mencari masalah lingkungan karena mereka diharuskan untuk menyertakan sebuah isu tentang lingkungan tiap kali mengajar di kelas sedangkan buku paket yang digunakan saat ini tidak memuat topik-topik tentang lingkungan dalam jumlah yang cukup. Maka dari itu, penelitian dan pengembangan ini ditujukan untuk mengembangkan materi tambahan berbasis photovoice tentang Subak, satu warisan masyarakat Bali yang sedang menghadapai banyak masalah saat ini, bagi siswa kelas XI di SMAN 3 Denpasar. Photovoice adalah metode pembelajaran yang menugaskan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan melalui foto dan narasi pengantar (Wang dan Burris, 1997). Dalam produk ini, photovoice membantu siswa untuk mempelajari bahasa Inggris dan Subak dengan cara yang bermanfaat, integratif, kontekstual, autentik, dan menyenangkan yakni melalui pengambilan foto. Produk dari penelitian ini diharapkan dapat diintegrasikan dengan buku paket yang sedang digunakan di kelas. Selain itu, produk ini juga diharapkan mampu menunjang pembelajaran mandiri siswa untuk mengembangkan keterampilan membaca mereka. Dalam pengembangan produk ini, lima langkah yang diadaptasi dari Jolly dan Bolitho (2003) digunakan, yakni (1) identifikasi kebutuhan, (2) eksplorasi, (3) pengembangan produk, (4) evaluasi sumatif, dan (5) produk final. Produk ini didesain berdasarkan kebutuhan, kekurangan, dan ketertarikan siswa setelah mewawancarai guru dan menyebarkan kuesioner kepada siswa. Misalnya, teks tidak dibuat terlalu panjang, daftar kosakata baru diberikan pada kolom khusus setelah teks bacaan ditampilkan, aktivitas pembelajaran untuk mengembangkan empat keterampilan bahasa siswa yang dibuat beragam, dan gambar dan foto berwarna ditampilkan di dalam buku ini. Evaluasi sumatif dilakukan dalam dua fase yakni fase penilaian oleh para ahli serta uji coba di lapangan. Tiga ahli terlibat dalam menilai produk ini seperti ahli pengajaran bahasa Inggris, ahli Subak, dan desainer grafis. Beberapa revisi minor dilakukan sebelum melangkah ke tahap uji coba. Hasil dari uji coba menunjukkan bahwa sebagai materi lokal yang relevan, produk ini berhasil memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan topik Subak dan teks dengan kehidupan, pandangan, dan perasaan mereka. Dari hasil observasi sesi uji coba, ditemukan bahwa tugas-tugas yang dimuat dalam buku ini mendorong siswa secara aktif untuk mengekspresikkan perasaan dan pendapat mereka tentang Subak dan ini sejalan dengan apa yang harus dicapai oleh materi tambahan yang efektif menurut Tomlinson (2013). Produk ini berjudul Becoming Subak Pals: Greening EFL Activities for Eleventh Graders (Let nature be your teacher). Produk ini terdiri dari sebuah buku guru, buku siswa, dan CD untuk sesi mendengarkan. Beberapa saran untuk pengembangan produk lebih jauh diberikan. Pertama, buku untuk semester satu sebaiknya dikembangkan mengingat guru diharuskan untuk menyertakan satu masalah lingkungan pada setiap pertemuan selama dua semester. Selain itu, sekolah-sekolah alam di Indonesia juga dianjurkan untuk mengembangkan buku atau suplemen berbasiskan kearifan lokal atau lingkungan lokal. Kedua, proses uji coba dapat dilakukan di beberapa sekolah adiwiyata mandiri untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas lagi akan keefektifan dan kesesuaian dari produk yang telah dikembangkan. Selain itu, akan sangat menguntungkan apabila saat proses uji coba seluruh unit yang terdapat di dalam buku ini diberikan kepada siswa. Ketiga, topik yang bervariasi dapat dipertimbangkan dalam pengembangan buku untuk semester satu. Topik tentang ketahanan pangan yang sangat dekat dengan sistem pertanian tradisional, atau dalam hal ini Lanskap Budaya Subak, dapat diangkat.

Pemilihan kepala desa di desa-desa Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung / oleh Sriningsih

 

Usaha peningkatan effisiensi kerja pegawai kantor pusat Universitas Brawijaya Malang / oleh Lilik Sudarmiati

 

Pengaruh pembelajaran multirepresentasi terhadap penguasaan konsep dan kemampuan representasi siswa pada materi pemantulan cahaya / Susilo

 

ABSTRAK Susilo. 2015. Pengaruh Pembelajaran Multirepresentasi terhadap Penguasaan Konsep dan Kemampuan Representasi Siswa pada Materi Pemantulan Cahaya. Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutopo, M.Si. (II) Nandang Mufti, M.T., Ph.D. Kata kunci: pembelajaran multirepresentasi, penguasaan konsep, kemampuan representasi. Banyak penelitian yang mengungkap kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang disajikan dalam bentuk gambar dan grafik. Di lain pihak, siswa cenderung dapat menyelesaikan soal dengan representasi dalam bentuk verbal dan matematika. Untuk itu perlu pembelajaran yang dapat melatih siswa mampu menggali informasi dari representasi dan membangun representasi lain dengan benar. Salah satu pembelajaran yang cocok dengan tujuan tersebut adalah pembelajaran multirepresentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep dan perubahan representasi siswa. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan desain embedded experiment. Penelitian dilakukan pada kelas XI SMK Negeri 1 Kota Mojokerto tahun pelajaran 2014/2015. Data kuantitatif penguasaan konsep yang berupa skor hasil pretest dan post test dianalisis dengan t-test, normalized gain, dan effect size, sedangkan analisis data kualitatif tentang penguasaan konsep meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Data kuantitatif yang berupa perubahan jenis dan kualitas representasi diperoleh dari analisis representasi yang dibuat siswa dalam menyelesaikan soal dengan menggunakan rubrik pengkodean. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) terdapat peningkatan penguasaan konsep yang signifikan p = 0,000. Rata-rata skor berubah dari 42,7 menjadi 77,3 dengan rata-rata n-gain score sebesar 0,6 dan nilai effect size sebesar 4,1. 2) terdapat perubahan jenis dan kualitas representasi. Persentase siswa yang membuat representasi dengan tiga model berubah dari 3,5% menjadi 47,4%. Kualitas masing-masing jenis representasi yang dibuat siswa pada pada pretest mayoritas dalam kategori inadequate, sedangkan pada post test mayoritas dalam kategori adequate. Banyaknya representasi verbal pada kategori adequate meningkat dari 2,75% menjadi 50%, sedangkan representasi matematika meningkat dari 0% menjadi 45,7%, dan representasi gambar meningkat dari 4% menjadi 34,3%.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media gambar acak pada siswa kelas VIII-E SMP Negeri 3 Bangil / Novia Hidayati

 

Kata Kunci: peningkatan, menulis, cerpen, media, gambar acak Menulis cerpen merupakan keterampilan yang harus dikuasai siswa kelas VIII SMP. Guru bertugas mengajari siswa menulis cerpen. Tidak dapat dihindarkan jika dalam praktik pembelajaran menulis cerpen di kelas, siswa mengalami kendala. Oleh karena itu, antara peneliti dengan guru secara kolaboratif ingin meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar acak. Tujuan umum penelitian adalah meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media gambar acak siswa kelas VIII-E SMP Negeri 3 Bangil. Tujuan penelitian secara khusus adalah (1) proses meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media gambar acak pada tahap awal pembalajaran, inti pembelajaran, dan akhir pembelajaran, dan (2) hasil meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media gambar acak pada aspek tema, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan penulisan uraian cerita, dialog serta monolog. Data dalam penelitian ini antara lain data hasil pelaksanaan tindakan, data hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti selama proses pelaksanaan tindakan, data hasil wawancara, dan data hasil studi dokumentasi. Data-data dikumpulkan peneliti dengan beberapa teknik. Teknik-teknik yang digunakan adalah (1) observasi, (2) pedoman wawancara, (3) pengamatan lapangan, dan (4) dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan bantuan guru dan rekan peneliti. Proses penggunaan media gambar acak dalam kegiatan pembelajaran menulis cerpen, yaitu (1) guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, (2) guru menyajikan gambar acak sebagai model, (3) guru membagikan cerpen yang dijadikan model, (4) guru membimbing siswa mengurutkan gambar serta menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen, (5) guru menyajikan media gambar acak yang kedua, (6) siswa mengurutkan gambar dan membuat kerangka cerpen, (7) guru membimbing siswa mengembangkan kerangka cerpen. Berdasarkan hasil analisis data proses, kemampuan menulis cerpen siswa mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II. Pada kegiatan awal pembelajaran, siswa menyimak penjelasan guru mengenai kompetensi menulis cerpen, siswa mengemukakan pendapatnya tentang hambatan-hambatan yang pernah dialami ketika menulis cerpen, siswa mendengarkan pembacaan kutipan cerpen yang menarik yang dilakukan oleh guru. Siswa tampak antusias ketika mendengarkan kutipan cerpen. Kegiatan inti pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap proses menulis, yaitu tahap pra menulis, menulis, dan pasca menulis. Pada tahap pra menulis, siswa mengamati gambar acak yang dijadikan model, membaca cerpen yang dijadikan model, mencocokkan bagian cerpen yang sesuai dengan nomor gambar acak, menganalisis unsur-unsur intrinsik cerpen yang dijadikan model, mengamati gambar acak yang kedua, menyusunnya menjadi rangkaian cerita yang logis, dan membuat kerangka cerpen. Pada tahap menulis, siswa mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh melingkupi tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, sudut pandang, uraian cerita, dialog dan monolog. Pada tahap pasca menulis, siswa merevisi dan menyunting cerpen melingkupi ejaan, tanda baca dan bahasa. Pada kegiatan akhir pembelajaran, siswa mengemukakan pendapatnya mengenai kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, mendengarkan pembacaan kutipan salah satu cerpen siswa yang dilakukan oleh siswa, dan guru memberitahukan kepada siswa bahwa cerpen terbaik dipajang di mading kelas. Siswa terlihat antusias dan senang ketika mendengar pemberitahuan tersebut. Berdasarkan analisis data hasil, diketahui kemampuan siswa dalam menulis cerpen mengalami peningkatan. Pada aspek kemampuan menentukan tema, tidak ada siswa yang termasuk kategori mampu pada siklus I, tetapi pada siklus II jumlah siswa yang termasuk kategori mampu sebanyak 51,6%. Pada aspek kemampuan mendeskripsikan tokoh dan penokohan, jumlah siswa yang termasuk kategori mampu sebanyak 51,6% (siklus I) meningkat menjadi 87,1% (siklus II¬). Pada aspek kemampuan merumuskan alur, jumlah siswa yang termasuk kategori mampu sebanyak 22,6% (siklus I) meningkat menjadi 51,6% (siklus II). Pada aspek kemampuan mendeskripsikan latar, jumlah siswa yang termasuk kategori mampu sebanyak 41,9% (siklus I) meningkat menjadi 83,9% (siklus II). Pada aspek kemampuan menggunakan sudut pandang, jumlah siswa yang termasuk kategori mampu sebanyak 96,8% (siklus I) meningkat menjadi 100% (siklus II). Pada aspek kemampuan menuliskan uraian cerita, dialog dan monolog, jumlah siswa yang termasuk kategori mampu sebanyak 3,2% (siklus I) meningkat menjadi 19,3% (siklus II). Secara keseluruhan, persentase jumlah siswa yang sudah mencapai standar ketuntasan belajar minimun adalah 22,7%% (siklus I) meningkat menjadi 100% (siklus II). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada guru Bahasa Indonesia agar menggunakan media gambar acak untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa. Pada peneliti lanjut disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut, misalnya peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media yang lainnya.

Usaha peningkatan mutu pengajaran ekonomi koperasi di Sekolah Menengah Atas Negeri Tumpang Malang
oleh Ety Sulistyowati

 

Peranan subsidi pemerintah bagi pembangunan Desa Jatimulyo Kecamatan Blimbing / oleh Hendrikus Tupen Dosi

 

Penyembuhan kasus ailurophobia dengan terapi systematic desensitization / An Nisa Latief Anggraini

 

Kata Kunci : Ailurophobia (Fobia Kucing), Systematic Desensitization. Ailurophobia atau fobia kucing merupakan gangguan kecemasan dimana penderitanya memiliki rasa takut yang irasional terhadap kucing atau sesuatu yang berkonotasi dengan kucing, sehingga apabila terpapar dengan objek fobianya selalu merasa panik, takut, cemas, dan ingin segera menghindar. Terapi systematic desensitization digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan fobia. Efektivitas terapi diketahui dengan mengamati perubahan tingkat kecemasan fobia selama terapi. Penelitian bertujuan untuk: (1) mengetahui efektivitas terapi systematic desensitization untuk menurunkan tingkat kecemasan fobia pada masing-masing subjek, (2) apakah secara statistik terapi tersebut efektif dalam menyembuhkan subjek penelitian yang mengidap ailurophobia. Penelitian dilakukan di ruang praktek individual gedung C1, di rumah Ibu Sis, dan di rumah bapak Totok, tanggal 30 April sampai 10 Juni 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan pendekatan studi kasus, dengan nama desain one-group pretest-posttest design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terapi systematic desensitization yang mencakup unsur modeling dan reinforcement. Variabel terikatnya adalah kasus ailurophobia. Instrumen yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan terapi systematic desensitization. Uji hipotesis data individual memperoleh hasil sign < α (0,001 < 0,05) pada subjek A, sign < α (0,012 < 0,05) pada subjek B, sign < α (0,041 < 0,05) pada subjek C, sign < α (0,016 < 0,05) pada subjek D, sign < α (0,033 < 0,05) pada subjek E, dengan demikian tingkat kecemasan masing-masing subjek menurun secara berangsur-angsur dan signifikan setelah menjalani terapi. Uji hipotesis data keseluruhan subjek memperoleh hasil sign > α (0,655 > 0,05) yang berarti secara statistik terapi systematic desensitization tidak efektif untuk menyembuhkan subjek penelitian yang menderita kasus ailurophobia. Dari lima subjek yang diberikan terapi, tiga subjek dinyatakan sembuh. Keberhasilan terapi systematic desensitization untuk menyembuhkan kasus ailurophobia dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah proses counterconditioning pada saat terapi, motivasi dari masing-masing subjek untuk sembuh, keteraturan mengikuti terapi, dan rentang periode lamanya mengalami gangguan kecemasan. Disarankan kepada individu yang mengidap fobia agar tidak ragu mengikuti terapi karena terapi ini memakai media yang aman tanpa memanipulasi isi pikiran sebagaimana relaksasi sehingga hasilnya lebih objektif. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan memilih respon baru yang lebih efektif untuk menghambat rasa cemas sehingga proses counterconditioning berjalan lebih baik. Terapi systematic desensitization tidak hanya dapat digunakan sebagai terapi fobia kucing sehingga diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan terapi ini sebagai terapi untuk menyembuhkan fobia spesifik yang berbeda.

Analisis pemahaman konsep gaya dan gerak siswa SMA melalui pemecahan masalah dengan scaffolding diagram benda terisolasi / Sri Nuryani

 

ABSTRAK Nuryani, S. 2015. Analisis Pemahaman Konsep Gaya dan Gerak Siswa SMA Melalui Pemecahan Masalah dengan Scaffolding Diagram Benda Terisolasi. Tesis, Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Lia Yuliati, M.Pd, (II) Dr. Sutopo, M.Si. Keywords : pemahaman konsep, gaya dan gerak, scaffolding, diagram benda terisolasi Gaya dan gerak merupakan bagian dari mekanika dan sulit dipelajari siswa SMA. Dalam kurun waktu terakhir para ahli menyadari perlunya mengidentifikasi kelemahan pemahaman siswa terhadap konsep fisika agar dapat dikembangkan pembelajaran untuk mengatasi kelemahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah scaffolding diagram benda terisolasi membantu siswa SMA dalam memecahkan masalah berkait tentang hukum II Newton untuk percepatan nol. Penelitian ini menggunakan rancangan mixed methods dengan embedded eksperimental design. Subyek penelitian adalah 29 siswa SMAN 8 Malang kelas X IPA 1. Data penelitian diambil melalui tes yang disertai alasan, pengamatan selama proses pembelajaran, rekaman diskusi kelompok dan hasil kerja kelompok, serta rekaman wawancara. Analisis dilakukan secara kuantitatif pada pilihan jawaban siswa melalui statistik deskriptif, N-gain dan effect size. Analisis kualitatif dilakukan triangulasi terhadap data alasan jawaban siswa, hasil pengamatan proses pembelajaran, hasil kerja kelompok dan rekaman diskusinya serta hasil wawancara siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scaffolding diagram benda terisolasi (DBT) dapat membantu siswa menyelesaikan permasalahan gaya dan gerak dengan beberapa indikator berikut. (1) Terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa dengan kategori sedang (N-gain 0,32) dan dengan efek kuat (effect size sebesar 1,02). (2) Terjadi perubahan pemahaman konsep ke arah sesuai sains, walaupun beberapa siswa masih memiliki pemahaman belum sesuai prinsip sains. Pemahaman yang dimaksud adalah: Pemahaman yang sudah sesuai sains, yaitu pada benda diam atau bergerak dengan kecepatan konstan resultan gayanya nol. Pemahaman yang belum sesuai prinsip sains, yaitu 1) gaya normal selalu sama dengan gaya berat dan gaya normal dan gaya berat adalah pasangan aksi-reaksi, 2) pada benda yang bergerak selalu ada gaya searah gerak, 3) Pada benda yang bergerak dengan kecepatan konstan bekerja gaya konstan. (3) Siswa yang memiliki pemahaman benar sesuai prinsip sains lebih banyak menyelesaikan permasalahan dengan membuat Diagram Benda Terisolasi (DBT) dan siswa yang memiliki pemahaman tidak sesuai prinsip sains lebih banyak menyelesaikan permasalahan dengan alasan verbal.

Pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa Watugede Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri / oleh Purwadi

 

Pelaksanaan metode pengajaran ketrampilan bidang peternakan di Pusat Latihan Kejuruan Singosari Malang
oleh Mardoyo

 

Peranan BUUD dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat petani di Desa Klampok Kecamatan Singosari / oleh Astoeti M.Ds

 

Peranan Jawatan Pegadaian Kota Lama dalam memberikan bantuan kredit pada rakyat kecil di Kotamadya Malang / oleh Rachmawati Masroen

 

Koperasi pemeliharaan ternak unggas Desa Mulyo Agung Kecamatan Dau Kawedanan Singosari Kabupaten Malang / oleh Ibrahim

 

Perbandingan efektifitas pemasaran produk melalui jalur online dan offline pada CV. Insan Cita Sejati Malang / Erwin Adi Surya Frediansyah

 

Kata Kunci : Efektifitas, Online, Offline, Pemasaran. Kemajuan tekonologi yang semakin cepat saat ini menyebabkan banyak perubahan di segala aspek kehidupan di era globalisasi yang menuntut segala sesuatu serba digital, dalam ilmu pemasaran saat ini misalnya perusahaan telah dituntut untuk bisa kreatif dan inovatif dalam memasarkan produk-produknya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang telah ada seperti media Internet dan lainnya senagai media pemasaran. Media pemasaran merupakan salah satu alat penunjang perusahaan untuk memperkenalkan produknya di masyarakat, sehingga perusahaan perlu kreatif dan inovatif dalam menentukan media yang akan digunakannya untuk memasarkan hasil produksinya agar dikenal dan sampai di tangan konsumen guna mengefektifkan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan. Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai, dimana makin besar presentase target yang dicapai, maka makin tinggi efektifitasnya, artinya pencapaian keberhasilan dalam suatu perusahaan dapat diukur dari efektif tidaknya media pemasaran yang digunakan oleh perusahaan tersebut karena akan mempengaruhi produktifitas dari perusahaan. CV. Insan Cita Sejati Malang yang bergerak di bidang percetakan, konveksi dan marchadise dalam upayanya untuk meningkatkan hasil penjualannya coba memanfaatkan 2(dua) media pemasaran dalam memasarkan produknya, yaitu melalui jalur online (melalui media internet) dan offline (tidak melalui internet) guna meningkatkan produktifitas perusahaannya. Pemasaran Internet (Internet Marketing) diartikan sebagai pemasaran yang menggunakan teknologi internet sebagai saluran penyampaian isi pesan kepada banyak orang secara bersamaan dan seketika dalam suatu kurun waktu tertentu atau yang lebih dikenal dengan pemasaran Online yang berarti memasarkan produk melalui internet 24 jam sehari, dalam 7 hari seminggu. Sedangkan pemasaran Offline dalam internet marketing berarti pemasaran melalui cara tradisional, iklan koran, penyebaran brosur dari rumah ke rumah, dan lain sebagainnya atau melalui saluran komunikasi yang meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, pos, telepon, papan iklan, poster, pamflet, CD, dan audiotape. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas dari pemasaran online dan offline yang diterapkan oleh CV. Insan Cita Sejati perlu adanya sebuah perbandingan yang dilakukan berdasarkan aspek jangkauan pasar dan hasil dari pemasaran secara online dan offline agar dapat diketahui media pemasaran yang efektif.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |