Penerapan pembelajaran kooperatif model team games tournament (TGT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biolagi siswa kelas VII SMP NEGERI 8 Malang pada pokok bahasan ciri-ciri makhluk hidup / Naning Nur Fadilah

 

ABSTRAK Fadilah, Naning Nur. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Team Games Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Malang pada Pokok Bahasan Ciri-ciri Makhluk Hidup. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Masjhudi, M.Pd. (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata kunci: Aktivitas dan Hasil Belajar, Ciri-ciri Makhluk Hidup, Team Games Tournament (TGT). Berdasarkan pada hasil observasi dan wawancara guru Biologi di SMP Negeri 8 Malang, kendala utama yang terjadi selama proses pembelajaran Biologi di SMP Negeri 8 Malang adalah kurang aktifnya siswa dan hasil belajar siswa yang rendah karena metode ceramah yang diterapkan guru kurang melibatkan siswa secara langsung. TGT merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang efektif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa karena menekankan pada kerjasama siswa dalam kelompok yang menghilangkan kebosanan siswa selama belajar di kelas melalui game yang dilaksanakan dalam turnamen, serta menumbuh-kan kesadaran bahwa belajar itu penting dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Biologi melalui penerapan pem-belajaran kooperatif model TGT pada pokok bahasan Ciri-ciri Makhluk Hidup Kelas VII di SMP Negeri 8 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober tahun ajaran 2009/2010. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 8 Malang yang berjumlah 39 siswa, terdiri dari 26 perempuan dan 13 laki-laki. Dalam penelitian ini, data-data yang diambil yaitu keterlaksanaan pem-belajaran kooperatif model TGT (dikumpulkan melalui lembar observasi ke-terlaksanaan pembelajaran kooperatif model TGT), aktivitas belajar siswa (dikumpul-kan melalui lembar observasi aktivitas siswa), hasil belajar aspek kognitif siswa (di-kumpulkan dengan tes akhir siklus), tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif model TGT (dikumpulkan melalui pedoman wawancara siswa), pen-dekatan pembelajaran yang dipakai oleh guru mata pelajaran Biologi sebelum TGT dan tanggapannya terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model TGT (di-kumpulkan melalui pedoman wawancara guru), sedangkan kegiatan pembelajaran dalam penerapan pembelajaran kooperatif model TGT dan nilai tes pokok bahasan sebelum Ciri-ciri Makhluk Hidup (dikumpulkan melalui kegiatan dokumentasi). Nama dan jumlah siswa yang tidak hadir, nama siswa yang ramai/pasif, situasi saat kegiatan pembelajaran berlangsung, serta kerjasama siswa dalam pembelajaran (di-kumpulkan melalui catatan lapangan). Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan persentase siswa yang beraktivitas “BAIK” secara klasikal, sedangkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif diukur berdasarkan peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar secara klasikal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas belajar siswa ditunjukkan melalui pe-ningkatan persentase siswa yang beraktivitas “BAIK” secara klasikal, dimana pada siklus I menunjukkan hasil sebesar 87,18% dan pada siklus II meningkat menjadi 94,87%. Persentase siswa yang tuntas secara klasikal pada siklus I adalah 89,74%, sedangkan persentase siswa yang tuntas secara klasikal pada siklus II meningkat menjadi 94,87%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan kepada para pendidik agar dapat menggunakan model pembelajaran ini untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Perencanaan terhadap pelaksanaan model pem-belajaran ini hendaknya dipersiapkan dengan baik agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien.

Pengaruh penggunaan celebrity endorser pada iklan sabun mandi lux terhadap pembentukan brand image (Studi kasus pada mahasiswi S1 manajemen fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang) / Arik Nur Qomariyah

 

ABSTRAK Qomariyah, Arik Nur. 2009. Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser pada Iklan Sabun Mandi Lux terhadap Pembentukan Brand Image (Studi Kasus pada Mahasiswi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang). Skripsi, jurusan Manajemen FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi K, M.Si, (II) Titis Shinta Dhewi, S.P,M.M. Kata Kunci: Penggunaan Celebrity Endorser, Pembentukan Brand Image Dalam kegiatan pemasaran kepada pelanggan, strategi komunikasi pemasaran yang baik adalah bagaimana suatu perusahaan tersebut mampu menginformasikan dengan baik kepada publik khususnya pelanggan sasaran mengenai keberadaan produk mereka. Salah satu bentuk komunikasi pemasaran tersebut adalah periklanan dengan menggunakan celebrity endorser dengan tujuan untuk meraih perhatian konsumen terhadap produk serta untuk mengkomunikasikan merek produk, membentuk identitas, dan menentukan citra produk yang diiklankan serta dapat menyampaikan suatu pesan iklan. Iklan produk sabun mandi Lux adalah salah satu iklan yang fenomenal diantara puluhan iklan yang menggunakan selebriti sebagai endorsernya. Sejak puluhan tahun lalu Lux selalu mengusung citra kemolekan bintang film untuk meyakinkan konsumennya agar tampil bak bintang dengan memakai produk itu. sehingga dapat membentuk brand image yang baik dimata konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi penggunaan celebrity endorser dan pembentukan brand image pada iklan sabun mandi Lux pada mahasiswi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, mengetahui pengaruh faktor daya tarik, kepercayaan, keahlian pada iklan sabun mandi Lux secara parsial terhadap pembentukan brand image, mengetahui pengaruh faktor daya tarik, kepercayaan, keahlian pada iklan sabun mandi Lux secara simultan terhadap pembentukan brand image, mengetahui variabel penggunaan celebrity endorser yang dominan pengaruhnya terhadap pembentukan brand image pada iklan sabun mandi Lux. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya yakni Penggunaan Celebrity Endorser (X) yang terdiri dari variabel Daya Tarik (X1), Kepercayaan (X2), Keahlian (X3). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel Pembentukan Brand Image (Y). Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif korelasional. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah mahasiswi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penentuan sampel dengan menggunakan rumus Slovin dengan persen kelonggaran ketidaktelitian yang digunakan adalah 10% sehingga diperoleh sampel sebanyak 90 orang. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah Probability Sampling dengan metode Simple Random Sampling dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 30 orang responden. Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 14 for Windows. Sedangkan responden sesungguhnya adalah 90 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel Penggunaan Celebrity Endorser yang terdiri dari Daya Tarik (X1) sebesar 2,118, Kepercayaan (X2) sebesar 2,503 secara parsial terhadap Pembentukan Brand Image, sedangkan variabel Keahlian (X3) sebesar 1,229 tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap Pembentukan Brand Image. Terdapat pengaruh antara variabel Penggunaan Celebrity Endorser yang terdiri dari Daya Tarik (X1), Kepercayaan (X2), Keahlian (X3) sebesar 6,302 secara simultan terhadap Pembentukan Brand Image , dan variabel Kepercayaan (X2) merupakan variabel yang dominan mempengaruhi Pembentukan Brand Image. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,180, yang berarti bahwa 18% pembentukan brand image pada iklan sabun mandi Lux dipengaruhi oleh penggunaan celebrity endorser. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa penggunaan celebrity endorser cukup efektif digunakan pada iklan sabun mandi Lux yang dapat mempengaruhi dalam pembentukan brand image. Oleh karena itu selain memperhatikan penggunaan celebrity endorser sebagai pembentuk brand image, juga perlu disarankan adanya peningkatan dan perhatian terhadap performa produk sabun mandi Lux sebab celebrity endorser hanya memiliki pengaruh yang sedikit. Dan untuk faktor kepercayaan harus menjadi perhatian khusus karena kepercayaan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi dalam pembentukan brand iamge, yakni citra sabun mandi Lux sebagai sabun kecantikan.

Penerapan Think Pair Share dalam upaya meningkatkan kompetensi memecahkan masalah sumber daya alam siswa kelas XI IS-1 di SMA Negeri 7 Malang / Amelya Rizqi Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Amelya Rizqi. 2010. Penerapan Think Pair Share dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Memecahkan Masalah Sumber Daya Alam siswa Kelas XI IS-1 di SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Achmad Amirudin, M.Pd, (II) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd. M.Si Kata Kunci: model pembelajaran think pair share, kompetensi memecahkan masalah. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SMA Negeri 7 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran geografi, guru menggunakan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Diskusi yang dilakukan guru melibatkan 1-6 siswa dalam satu kelompok, banyak siswa yang mengandalkan anggota kelompok lainnya sehingga mempengaruhi pada kompetensi siswa dalam memecahkan suatu permasalahan. Pada hasil ulangan tegah semester (UTS), diketahui siswa yang mencapai KKM sebanyak 16 orang (46%), sedangkan 19 orang (54%) belum mencapai KKM. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini menggunakan 2 siklus. Tujuan untuk meningkatkan kompetensi memecahkan masalah geografi siswa kelas XI IS-1 SMA Negeri 7 Malang melalui penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS).Satu siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Masing-masing pertemuan terdiri dari pertemuan pertama 2 jam pelajaran, pertemuan kedua 1 jam pelajaran. Alokasi waktu 1 jam pelajaran terdiri dari 45 menit. Tindakan yang dilakukan yaitu model pembelajaran Think Pair Share dengan langkah-langkah: (1) guru memberikan kesempatan siswa untuk berpikir secara individu (thinking), (2) siswa berpasangan dengan kelompoknya untuk mendiskusikan hasil pemikiran mereka mengenai pertanyaan guru (pairing), (3) pasangan-pasangan tersebut membagikan ide mereka dengan seluruh kelas (sharing). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi siswa dalam memecahkan masalah mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, (1) mengidentifikasi masalah 100%, (2) merumuskan masalah 94%, (3) menganalisis masalah 88%, (4) menarik kesimpulan 51%, (5) mencari solusi pemecahan masalah 60%. Rata-rata persentase kompetensi memecahkan masalah sebesar 79,1%. Pada siklus II, (1) mengidentifikasi masalah 89%, (2) merumuskan masalah 100%, (3) menganalisis masalah 94%, (4) menarik kesimpulan 94%, (5) mencari solusi pemecahan masalah 80%. Rata-rata persentase kompetensi memecahkan masalah sebesar 91%. Adapun saran yang diberikan yaitu: (1) bagi guru geografi disarankan untuk menggunakan model Think Pair Share untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, (2) guru hendaknya melakukan manajemen waktu dan harus mampu mengelola kelas dengan baik, (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran model Think Pair Share dengan subjek penelitian yang berbeda.

Studi perbandingan antara sistem perekonomian Konserrvatif dengan Liberal di Indonesia sampai dengan abad XIX / oleh Hariyono

 

Pengaruh prestasi Praktik Kerja Industri (Prakerin) dan prestasi uji kompetensi keahlian terhadap kesiapan memasuki dunia kerja siswa kelas XII Program Studi Keahlian Ketenagalistrikan di Kertosono / Susi Rohmatin

 

Pengaruh motivasi, persepsi, dan kelas sosial terhadap proses pengambilan keputusan pembelian laptop merek "ACER" (Studi kasus pada mahasiswa jurusan S1 manajemen fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang) / Novika Listiharini

 

ABSTRAK Listiharini, Novika. 2010. Pengaruh Motivasi, Persepsi, dan Kelas Sosial Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Laptop Merek Acer (Studi Kasus pada Mahasiswa Jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang). Skripsi, jurusan Manajemen FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si., M.Bus (II) Titis Shinta Dhewi, S.P., M.M Kata Kunci: Motivasi, Persepsi, Kelas Sosial, Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Salah satu merek yang paling digemari oleh sebagian konsumen adalah laptop merek Acer. Acer merupakan salah satu merek laptop yang banyak digunakan oleh konsumen terutama para pelajar dan mahasiswa. Dengan adanya persaingan antar produsen laptop akan membuat konsumen benar-benar selektif dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yang kemudian mengharuskan produsen mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya faktor motivasi, persepsi, dan kelas sosial konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kondisi motivasi, persepsi, dan kelas sosial pada mahasiswa jurusan S1 manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam proses pengambilan keputusan pembelian laptop merek Acer; (2) untuk mengetahui pengaruh faktor motivasi, persepsi, dan kelas sosial secara simultan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian mahasiswa jurusan S1 manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli laptop merek Acer; (3) untuk mengetahui pengaruh faktor motivasi, persepsi, dan kelas sosial secara parsial terhadap proses pengambilan keputusan pembelian mahasiswa jurusan S1 manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli laptop merek Acer; (4) dan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dominan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian mahasiswa jurusan S1 manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli laptop merek Acer. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya (X) yang terdiri dari variabel motivasi (X1), persepsi (X2) dan kelas sosial (X3). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel proses pengambilan keputusan pembelian (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional, sedangkan populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan S1 manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang sedang dan pernah menggunakan laptop merek Acer dengan sampel berjumlah 130 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan metode accidental sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner sedangkan skala yang digunakan adalah skala likert dengan lima opsi pilihan jawaban. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel motivasi terhadap proses pengambilan keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebesar 1,429; (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel persepsi terhadap proses pengambilan keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebesar 5,217; (3) tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kelas sosial terhadap proses pengambilan keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebesar -0,377; (4) ada pengaruh antara variabel motivasi, persepsi, dan kelas sosial secara simultan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebesar 15,683; (5) variabel persepsi merupakan variabel yang dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,255 yang berarti bahwa 25% keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. dipengaruhi oleh motivasi, perepsi, dan kelas sosial. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor motivasi, persepsi, dan kelas sosial memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian produk laptop merek Acer pada mahasiswa jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Oleh karena itu perlu disarankan adanya pertimbangan dan evaluasi terhadap faktor motivasi, persepsi, dan kelas sosial agar tetap mampu mempertahankan konsumen serta dapat menarik konsumen baru dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Disamping itu, untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor lain diluar faktor motivasi, persepsi, dan kelas sosial yang juga berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan pembelian laptop merek Acer.

Penggunaan media kartu kalimat rumpang untuk meningkatkan keterampilan menceritakan kembali isi bacaan secara tertulis pada siswa kelas II SDN Warungdoyo I Pohjentrek Pasuruan / Supikati

 

ABSTRAK Supikati. 2010. Penggunaan Media Kartu Kalimat Rumpang untuk Meningkatkan Keterampilan Menceritakan Kembali Isi Bacaan secara tertulis pada Siswa Kelas II SSDN Warungdowo I Pohjentrek Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program S-1 PGSD PJJ Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: media kartu kalimat rumpang, peningkatan keterampilan, menceritakan kembali isi bacaan. Pembelajaran menceritakan kembali isi bacaan secara tertulis di Sekolah Dasar (SD) merupakan materi pelajaran yang sulit. Demikian juga di kelas II SDN Warungdowo I, terbukti dari dokumen ulangan harian pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 untuk materi tersebut diperoleh nilai rerata kelas pada kelas II A 60,21 II B 59,80, dan II C 60,34 dengan ketuntasan pada kelas II A 50%, II B 52%, dan II C 57%. Berdasarkan hal tersebut peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan tujuan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menceritakan kembali isi bacaan secara tertulis di kelas II B SDN Warungdowo I semester I tahun pelajaran 2009/2010. Menceritakan kembali isi bacaan merupakan salah satu bagian dari aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai anak SD baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Dilihat dari segi perkembangan kemampuan bercerita Siswa kelas II di Sekolah Dasar (SD) mampu menggunakan penanda awal dan akhir cerita. Media kartu kalimat rumpang yang digunakan agar dapat mempengaruhi efektifitas proses belajar dan mengajar dalam pembelajaran menceritakan kembali isi bacaan secara tertulis di kelas II B SDN Warungdowo I. Dalam penelitian ini guru bertindak sebagai peneliti dengan bantuan teman sejawat sebagai observer serta menggunakan model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dengan setiap siklus tindakannya terdiri atas: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas II B SDN Warungdowo I Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan. Instrumen yang digunakan dalam penilaian adalah pedoman observasi, tes, dan pedoman wawancara. Pelaksanaan tindakan terdiri dari 2 siklus dengan rincian pada setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Hasil yang diperoleh dari penelitian mengalami peningkatan untuk keaktifan kerja kelompok dari siklus 1 ke siklus 2 adalah 6, 96%, untuk penilaian kinerja kelompok dari siklus 1 ke siklus 2 adalah 13, 26%, untuk penilaian tes secara individu siklus I ke siklus 2 adalah 22,01% dengan ketuntasan belajar pada siklus 1 sebesar 88% termasuk kategori baik dan pada siklus 2 sebesar 96% termasuk kategori amat baik. Penggunaan kartu kalimat rumpang dalam pembelajaran menceritakan kembali isi bacaan secara tertulis mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, dengan demikian layak pula guru menggunakan media tersebut sebagai alternatif dalam pembelajaran yang sama untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Pada peneliti lain dapat dijadikan acuan dalam penelitian lanjutan.

Analisis sistem pengendalian intern terhadap pemungutan retribusi pasar pada dinas pasar kota Malang / Andik Zulfica

 

Negara Indonesia merupakan Negara kesatuan yang menganut asas desentralisasi dan dekonsentrasi dalam menyelenggarakan pemerintahannya. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berisikan asas desentralisasi dan dekonsentrasi, berdasarkan asas kemudian lahirlah istilah daerah otonom dan wilayah administratif yang mencerminkan pembagian tugas, wewenang dan fungsi pemerintahan. Penerapan otonomi daerah menuntut adanya kemandirian setiap daerah untuk melaksanakan pembangunan dengan sumber-sumber pendanaan yakni pendapatan pajak serta retribusi dan potensi-potensi lain yang ada di daerah. Dinas Pasar Kota Malang merupakan pelaksana Otonomi Daerah di bidang pengelolaan Pasar Daerah dan penataan PKL di wilayah Kota Malang. Pembahasan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme penarikan dan penyetoran retribusi pasar pada Dinas Pasar Kota Malang dan untuk mengetahui sistem pengendalian intern yang diterapkan oleh Dinas Pasar dalam melaksanakan tugas penarikan dan penyetoran retribusi pasar. Metode pengumpulan data dalam penyusunan tugas akhir ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi, wawancara, metode pustaka dan juga observasi. Mekanisme penarikan dan penyetoran merupakan serangkaian alur kegiatan yang terjadi di dalam Dinas Pasar dalam rangka pemungutan retribusi pasar dan menampilkan pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Hasil pemungutan retribusi pasar disetorkan kepada Dinas pasar setiap hari beserta laporan jumlah karcis yang terjual, setelah setoran sampai di Dinas Pasar maka setoran-setoran dari pasar di akumulasikan dan disetorkan ke Kasda, sedangkan laporannya disampaikan ke bagian Keuangan. Dari penulisan tugas akhir ini dapat diambil kesimpulan bahwa pengendalian intern atas pelaksanaan pemungutan retribusi pasar pada Dinas Pasar Kota Malang secara umum cukup efektif. Saran dari penulis yakni Kepala Dinas pasar memberlakukan sanksi atas pelanggaran-pelanggaran, cuti kepada pegawai yang menangani penerimaan hasil retribusi, penilaian terhadap kinerja setiap pegawai, penambahan sarana dan prasarana, pengadaan buku saldo karcis di setiap pasar.

Gimah: profil relasi gender dalang kentrung perempuan / Yulian Firdaus

 

ABSTRAK Firdaus, Yulian. 2009. Gimah: Profil Relasi Gender Dalang Kentrung Perempuan. Skripsi, Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Waskito, S.Sos, M.Hum, (2) Drs. Slamet Sujud P.J., M. Hum. Kata Kunci : profil, relasi gender, dalang kentrung perempuan. Biografi menggambarkan tentang kehidupan atau perjalanan hidup seseorang atau tokoh dan juga bercerita tentang perasaan yang terlibat dalam mengalami kejadian-kejadian tersebut. Penulisan biografi mempunyai fungsi penting dalam memaparkan secara gamblang dan terperinci mengenai sketsa biografi atau gambaran kehidupan pelaku sejarah. Penelitian ini hendak melukiskan biografi seorang dalang atau pekerja seni yang memiliki perbedaan dengan dalang kebanyakan. Subjek kajian tulisan ini seorang dalang kentrung perempuan, alasan memilih dalang perempuan sebagai subjek biografi pertama, dalam perdalangan sedikit sekali keberadaan dalang perempuan; kedua, perempuan mempunyai beban ganda apabila melakukan peran berkaitan dengan kehidupan domestik dan publik; ketiga, bahwa dalang kentrung perempuan relatif jarang ditemukan. Kentrung adalah seni bercerita, dimana seorang dalang membawakan suatu cerita dengan diiringi oleh musik, dan diselingi dengan pantun yang disebut dengan parikan. Dalang oleh orang Jawa diartikan sebagai pangudal piwulang yang artinya mengupas sesuatu untuk disampaikan kepada khalayak memberikan pengetahuan kepada orang lain melalui sebuah media. Hal yang akan dicari jawabannya dalam penelitian ini adalah kehidupan relasi gender dalang perempuan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari penelitian ini; pertama untuk melestarikan kesenian tradisional, khususnya kesenian kentrung, kedua memunculkan perempuan kelas bawah atau masyarakat kecil dalam tulisan-tulisan biografi, sebab penulisan biografi tidak mencakup kriteria tertentu terhadap suatu atau salah satu golongan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian diperoleh dengan cara observasi, wawancara mendalam, catatan lapangan, kajian pustaka dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara ketekunan pengamatan dan triangulasi. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa Gimah memperoleh ilmu dalang dengan cara nyantrik, Gimah nyantrik dari bapaknya karena Gimah sengaja dilatih oleh bapaknya (Giran) untuk menjadi seorang dalang kentrung, selain itu ketika dewasa Gimah juga pernah nyantrik dengan pamannya yang bernama Parno. Gimah merupakan salah satu perempuan tangguh yang hingga saat ini masih bisa menghidupi dirinya dan anak angkatnya dengan hanya melalui bermain kentrung. Meski sekarang sudah jarang orang menanggap pertunjukkan kentrung, Gimah tetap berusaha mempertahankan kentrung, agar kesenian kentrung tidak punah. Gimah memiliki sanggar seni Sedya Rukun yang dijadikan wadah untuk mengekspresikan karya seni cerita lisan kentrung. i ii Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lainnya yang berkaitan dengan kesenian dan gender, yang diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah dalam rangka peningkatan kesenian dan gender.

Pengruh persepsi guru tentang keterampilan kepala sekolah terhadap kualitas layanan (Studi pada guru SMAN 1 Blitar) / Sulistyowati

 

ABSTRAK Sulistyowati. 2009. Pengaruh Persepsi Guru tentang Keterampilan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kualitas Layanan (Studi pada Guru SMAN 1Blitar). Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Sugeng, M.A., M.M.Ak (II) Dra. Suparti, M.P Kata kunci: Persepsi Guru, Keterampilan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kualitas Layanan Pendidikan yang bermutu merupakan kunci untuk membangun manusia yang kompeten dan beradab. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang bertugas untuk menghasilkan manusia yang memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah nasional dan memenangkan persaingan internasional. Kualitas layanan merupakan jasa yang diberikan kepada stakeholder-nya, oleh karena itu diperlukan keterampilan kepemimpinan kepala sekolah untuk mengkoordinasikan seluruh kemampuan tenaga kependidikan dalam menghasilkan layanan yang berkualitas. Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: (1) untuk mengetahui persepsi guru SMAN 1 Blitar tentang keterampilan kepemimpinan kepala sekolah, (2) untuk mengetahui kualitas layanan di SMAN 1 Blitar, (3) untuk mengetahui apakah persepsi guru tentang keterampilan kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kualitas layanan di SMAN 1 Blitar. Variabel dalam penelitian ini meliputi: persepsi guru tentang keterampilan kepemimpinan kepala sekolah (X) sebagai variabel bebas dan kualitas layanan (Y) sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMAN 1 Blitar, berdasarkan kriteria status guru sebagai pegawai negeri sipil sebanyak 68 guru. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana (Simple Linier Regression Analysis) untuk mengetahui pengaruh dari variabel-variabel dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar guru SMAN 1 Blitar mempunyai persepsi cukup baik tentang keterampilan kepemimpinan kepala sekolah yang ditunjukkan dengan skor rerata (mean) sebesar 116,91. Kualitas layanan di SMAN 1 Blitar mempunyai kualifikasi cukup baik yang ditunjukkan dengan skor rerata (mean) sebesar 99,71. Ada pengaruh positif antara persepsi guru tentang keterampilan kepemimpinan kepala sekolah (X) terhadap kualitas layanan (Y) yang ditunjukkan dari nilai Unstardardized Coefficient Beta sebesar 0,174 dan besarnya pengaruh dapat dilihat dari R2 sebesar 0,209.

Hubungan antara pengalaman mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-GEOGRAFI SMP Negeri di kabupaten Bondowoso / Rezaniah Sholivia Sari

 

ABSTRAK Sari, Rezaniah Sholivia. 2010. Hubungan antara Pengalaman Mengajar dengan Pelaksanaan Pembelajaran Guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso. Skripsi, Jurusan Geogarfi, Program Studi Pendidikan Geografi, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Timotius Suwarna, M.Pd., (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: pengalaman mengajar, pelaksanaan pembelajaran Pengalaman mengajar seorang guru sangat dibutuhkan sumbangannya dalam menambah pengetahuan yang luas agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan aktif sesuai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, seorang guru harus bisa mengikuti perkembangan jaman yang senantiasa berubahubah. Perkembangan jaman saat ini guru dituntut untuk profesional dengan mengujinya dalam program sertifikasi. Namun, yang paling penting dalam program ini guru bisa sadar akan makna, tujuan, dan proses sertifikasi, sehingga kesadaran diri bahwa pengetahuan dan keterampilan itu lebih penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengalaman mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso dan bagaimana hubungan masing-masing sub variabel pengalaman mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPSGeografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini menggunakan rancangan korelasional dengan populasi berjumlah 23 orang. Instrument yang digunakan berupa angket (kuesioner), observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis Korelasi Product Momen Pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi pengalaman mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso adalah sebesar 0, 669 dan nilai Sig. (2-tailed) 0,000. Hasil koefisien korelasi masa kerja dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso adalah sebesar 0, 918 dan nilai Sig. (2-tailed) 0,002. Hasil koefisien korelasi penataran dan seminar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso adalah sebesar 0,609 dan nilai Sig. (2-tailed) 0,000. Hasil koefisien korelasi jam mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso adalah sebesar 0,138 dan nilai Sig. (2-tailed) 0,530, yang ternyata lebih besar dari α = 0,05 (0,530 > 0,05) ini menunjukkan bahwa korelasi antara jam mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran tidak signifikan. Hubungan antara pengalaman mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso berhubungan secara signifikan. Hubungan antara masa kerja dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso berhubungan secara signifikan. Hubungan antara penataran dan seminar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso berhubungan secara signifikan. Hubungan antara jam mengajar dengan pelaksanaan pembelajaran guru IPS-Geografi SMP Negeri di Kabupaten Bondowoso tidak berhubungan secara signifikan.

Studi perbedaan fertilitas pada penduduk wilayah kota dan wilayah desa di kabupaten Sumenep / Desy Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Desy. 2008. Studi Perbedaan Fertilitas pada Penduduk Wilayah Kota dan Wilayah Desa di Kabupaten Sumenep. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si., (II) Drs. Singgih Susilo, M.Si. Kata kunci: kota, desa, fertilitas Perbedaan desa dengan kota di Kabupaten Sumenep salah satunya adalah di desa kepadatan penduduknya rendah sedangkan di kota kepadatan penduduknya tinggi. Perkembangan penduduk baik di kota maupun di desa pada prinsipnya dipengaruhi oleh tiga faktor demografi yaitu fertilitas (kelahiran), mortalitas (kematian), dan migrasi (perpindahan penduduk). Fertilitas memegang peranan penting karena fertilitas yang tinggi akan menjadikan laju pertambahan penduduk cepat. Fertilitas di Kabupaten Sumenep sangat tinggi bahkan ditingkat regional maupun nasional. Penyebab tingginya fertilitas ini antara lain masih banyak masyarakat yang memutuskan menikah di usia muda dan bahkan masih banyak masyarakat yang tidak ber-KB baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan yang ada di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat fertilitas pada penduduk wilayah kota dan wilayah desa, (2) perbedaan fertilitas pada penduduk wilayah kota dan wilayah desa, (3) Variabel yang memberikan pengaruh terbesar terhadap fertilitas pada penduduk wilayah kota dan wilayah desa. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel area menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan sampel daerah yang dilakukan dengan sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu. Pengambilan sampel responden menggunakan teknik random sampling. Populasi dalam penelitian ini wanita subur berusia 20 – 44 tahun di masing-masing wilayah penelitian. Jumlah masing-masing sampel yang diambil 60 responden sehingga keseluruhan sampel adalah 120 responden. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis statistik berupa tabulasi tunggal dan silang, uji t test dengan menggunakan SPSS 16.00 for windows dan uji korelasi . Hasil penelitian diper0leh bahwa; (1) tingkat fertilitas pada penduduk wilayah kota lebih rendah dibandingkan dengan tingkat fertilita pada penduduk wilayah desa di Kabupaten Sumenep, (2) ada perbedaan yang signifikan fertilitas berdasarkan variabel usia menikah pertama, keikutsertaan KB, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, mortalitas, lamanya periode reproduksi dan pandangan orang tua terhadap nilai anak, (3) usia menikah pertama merupakan variabel yang paling banyak memberikan pengaruh terhadap fertilitas pada penduduk wilayah kota dan wilayah desa di Kabupaten Sumenep. Berdasarkan hasil penelitian pemerintah disaran (1)Melalui program KB perlu mensosialisasikan lebih lanjut mengenai batasan kelahiran kepada semua penduduk dengan merata untuk menghindari peledakan penduduk yang dikarenakan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, (2) Perbaikan dan pengadaan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan pengetahuan betapa pentinga batasan kelahiran pada wanita usia subur.

Studi komperatif fertilitas penduduk antara masyarakat industri perak dengan masyarakat petani di kecamatan Tempeh kabupaten Lumajang / Yoni Iswanto

 

ABSTRAK Iswanto, Yoni. 2010. Studi Komparatif Fertilitas Penduduk Antara Masyarakat Industri Perak dengan Masyarakat Petani Di Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Budijanto, M.Si (2) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si. Kata kunci: perbedaan fertilitas, masyarakat industri perak, masyarakat petani. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk di Kecamatan Tempeh adalah fertilitas, mortalitas dan migrasi. Fertilitas merupakan faktor penambah pertumbuhan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan fertilitas antara masyarakat industri perak dengan petani. Penelitian ini merupakan deskriptif komparatif. Populasinya adalah wanita usia produktif status kawin. Teknik pengambilan sampel daerah penelitian digunakan purposive sampling. Sampel responden dilakukan sistematik random sampling. Jumlah responden sebanyak 86 orang baik masyarakat industri perak maupun petani. Instrumen penelitian dengan wawancara struktur. Menggunakan analisis deskriptif dan statistik yaitu tabulasi tunggal, tabulasi silang, uji t dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan (1) tingkat fertilitas masyarakat industri perak lebih besar daripada petani, (2) terdapat perbedaan fertilitas yang signifikan antara masyarakat industri dengan petani berdasarkan usia kawin pertama, lama reproduksi, lama pemakaian alat kontrasepsi, tingkat penidikan dan mortalitas bayi dan (3) ada hubungan yang signifikan antara usia kawin pertama, lama reproduksi, lama pemakaian alat kontrasepsi, tingkat penidikan dan mortalitas bayi dengan fertilitas penduduk masyarakat industri perak dengan masyarakat petani. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan tingkat fertilitas masyarakat industri perak lebih besar daripada petani. Terdapat perbedaan fertilitas yang signifikan antara masyarakat industri dengan petani berdasarkan usia kawin pertama, lama reproduksi, lama pemakaian alat kontrasepsi, tingkat penidikan dan mortalitas bayi. Ada hubungan yang signifikan antara usia kawin pertama, lama reproduksi, lama pemakaian alat kontrasepsi, tingkat penidikan dan mortalitas bayi dengan fertilitas penduduk masyarakat industri perak dengan masyarakat petani.

Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (Studi kasus di SMK Negeri 3 Palu) / Arham

 

ABSTRAK Arham. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Studi Kasus di SMK Negeri 3 Palu). Tesis. Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Dwi Agus Sudjimat, M.Pd, (II) Drs. Andoko, S.T, M.T Kata-kata kunci: implementasi, kurikulum tingkat satuan pendidikan Ada dua komponen penting dan sangat menentukan agar proses pendidikan di sekolah dapat terlaksana dengan baik dan berkualitas, pertama komponen kurikulum, merupakan rumusan ideal, sebagai landasan perencanaan proses pendidikan, dan kedua komponen guru yang merupakan pelaksana atau operasional dari kurikulum tersebut. Kedua komponen ini berkaitan erat dalam satu sistem proses pendidikan di sekolah yang senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Digulirkannya era reformasi dengan otonominya, maka sistem pendidikan nasionalpun berubah ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kehadiran KTSP sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan diharapkan mempu menjawab perubahan dan mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di tanah air. Secara khusus apakah KTSP dapat menjawab dan merubah sekolah beserta guru yang selama ini terbiasa mengunakan kurikulum sentralistik menjadi kurikulum desentralistik, dan bagaimana KTSP mengakomodir kepentingan daerah dan nasional dalam proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan sehingga peneliti memperoleh gambaran jelas tentang implementasi KTSP di SMK Negeri 3. Ada dua fokus penelitian ini yaitu, (1) bagaimana upaya SMK Negeri 3 Palu mengimplementasikan KTSP dalam proses pembelajaran?, dan (2) bagaimana upaya guru mengimplementasikan KTSP dalam proses pembelajaran? Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus, dengan dasar pertimbangan adalah (1) penelitian ini dilakukan pada latar alamiah, (2) penelitian ini menggunakan manusia sebagai instrumen utama, (3) penelitian ini lebih memperhatikan proses daripada hasil. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancaran mendalam, (2) studi dokumentasi, dan (3) observasi partisipatif. Selanjutnya data yang terkumpul dilakukan uji kredibilitas, digunakan tiga teknik pengecekan keabsahan pengumpulan data yaitu, (1) triangulasi baik sumber data maupun alat pengumpulan data, (2) pengecekan anggota/member cek, dan (3) diskusi rekan sejawat. Dari penelitian ini diperoleh temuan-temuan. Pertama, upaya SMKN 3 Palu mengimplementasi KTSP dalam proses pembelajaran mencakup, (1) pengembangan dan pelaksanaan KTSP di sekolah, memberdaya porsonil sekolah dan keterlibatan stakeholders, (2) KTSP dikembangkan dan dilaksanakan sesuai kondisi sekolah dan daerah tetapi KTSP tetap mengacu pada standar pendidikan nasional, (3) implemen-tasi KTSP menuntut ketersediaan sarana dan prasarana yang cukup memadai, (4) implementasi KTSP menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, (5) implemen-tasi KTSP sekolah menyelenggarakan peningkatkan kualitas dan sumber daya guru, (6) implementasi KTSP SMKN 3 Palu menjalin kerja sama dengan DUDI. Kedua, upaya guru mengimplementasikan KTSP dalam proses pembelajaran adalah, (1) guru melakukan persiapan pembelajaran yaitu dalam bentuk RPP, (2) guru melakukan proses pembukaan atau langkah awal dalam proses pembelajaran, (3) guru melakukan proses pembentukan kompetensi siswa atau kegiatan inti dalam proses pembelajaran, dan (4) pada ahir proses pembelajaran guru melakukan kegiatan menutupan pelajaran. Berdasarkan temuan di atas, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut, (1) implementasi KTSP membutuhkan keterlibatan semua pihak oleh karena itu perkembangan paradigma ini harus dipahami oleh segenap stakeholdes, bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah tetapi adalah tanggung jawab bersama, untuk bersama-sama proaktif mengambil posisi masing-masing demi mempersiapkan generasi bangsa yang lebih baik di masa depan, (2) implementasi KTSP membutuhkan sarana dan prasarana yang cukup memadai, oleh karena itu patut menjadi perhatian bersama baik dari pihak sekolah, pemerintah, maupun masyarakat, sehingga proses implementasi KTSP benar-benar terlaksana dan berkualitas, (3) implementasi KTSP bersifat pemberdayaan dan membutuhkan SDM yang baik, sehingga peningkatkan SDM seluruh personil sekolah khususnya guru perlu menjadi perhatian guru itu sendiri, pemerintah dan sekolah, dan (4) implement-tasi KTSP adalah masalah yang cukup luas dan mendalam. Oleh karena itu masalah ini masih perlu diadakan kajian ilmiah dan penelitian lebih lanjut.

Penerapan metode inkuiri terbimbing untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi pada pokok bahasan struktur tumbuhan siswa kelas XI IPA SMA Taman Madya Malang / Yus Hargono Cahyaning Yudi

 

Observation in class XI natural science Senior High School Taman Madya Malang show that learners have low levels of thinking and motivation. They can’tanswer questions level of understand (C2). 7 from 11 learners has result of learning Biology lower than standard minimum of educational goal (65%) so that achievment learn complete yet. The question from learners only 2 questions on 2 hours lesson. According to that problems, researcher applying guided inquiry method to increase learn result and learners motivation. Method of guided inquiry allow learners to find concepts by their self. The purpose of this research are to increase motivation and result of learning Biology. Otherwise, to know perception of learners to guided inquiry method. This researching include to class action research. Its have two cycle which have 5 hours lesson in each cycle. Subject research amount to 11 people (4 male learners and 7 female learners). Cognitive level assessed by completion achievement learn, quality cognitive according each number of final test, quantity of questions, answers and ideas of learners. Psychomotor skill assessed by psychomotor observation sheet. Motivation assessed by anecdotal record and enquette sheet of motivation (ARCS) that have 4 aspects, they are attention, relevance, confidence, and satisfaction. Percentage of index class motivation show level motivation of all learners in class XI Natural Science. The result of research indicated that guided inquiry method can increase learners motivation and result of learning Biology. The recommendations based on the result of research are teacher can use method of guided inquiry to increase motivation and result of learning Biology. Teacher should be increase level of cognitive processes to level analysis (C4). Teacher also can see motivation on aspects confidence more intensifly. Key Word: Guided Inquiry, Motivation, Learn Result.

Aplikasi model pembelajaran quantum learning berbasis esq pada hidrolisis garam untuk meningkatkan hasil siswa kelas XI SMAN 8 Malang / Ferly Rominalisa

 

ABSTRAK Rominalisa, Ferly. 2010. Aplikasi Model Pembelajaran Quantum Learning Berbasis ESQ pada Hidrolisis Garam Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si (II) Drs. Muhadi Kata kunci: quantum learning, ESQ, mind mapping, gaya belajar, hasil belajar Agar mampu meningkatkan meningkatkan kualitas output pendidikan dan menciptakan suasana menyenangkan dalam pembelajaran, dibutuhkan model pembelajaran inovatif, sehingga menjadikan belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan. Suasana menyenangkan dalam belajar dapat dilakukan dengan memaksimalkan semua kecerdasan siswa serta belajar dengan gaya belajar masing-masing siswa. Model pembelajaran Quantum Learning yang diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:E = mc2 dimana E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat), M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik), c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas).Quantum Learning berbasis ESQ diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena dapat memaksimalkan kinerja kedua belahan otak (otak kanan dan kiri) serta disesuaikan dengan teori kecepatan belajar. Penelitian ini merupakan 2 rancangan yaitu deskriptif dan pra eksperimental menggunakan rancangan One Group Pre Test and Post Test Group Design. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang tahun ajaran 2008-2009 yang berjumlah 41 orang. Data yang diambil dalam penelitian ini, meliputi: (1) ) data mengenai gaya belajar siswa, (2) hasil belajar siswa yang diperoleh dari nilai pretest asam basa sebanyak 20 soal pilihan ganda (3) skor post tes hidrolisis garam sebanyak 20 soal pilihan ganda. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan uji t untuk mengetahui perbedaan penerapan model pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penguasaan konsep asam-basa siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang tergolong cukup dengan nilai rata-rata 63,90. Tingkat penguasaan konsep hidrolisis garam tergolong baik dengan nilai rata-rata sebesar 80,60. Nilai t test (9,446) > t tabel (2,021) pada taraf signifikansi 0,05 dinyatakan Ho ditolak. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dari penerapan model Pembelajaran Quantum Learning berbasis ESQ yang ditunjukkan dengan hasil belajar yang lebih tinggi.

Peningkatan hasil belajar matemetika melalui penerapan model tutor senaya pada siswa kelas IIA SDN Bendogerti kota Blitar / Rida Umayah

 

ABSTRAK Umayah, Rida. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Penerapan Model Tutor Sebaya pada Siswa Kelas IIA SDN Bendogerit 1 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah (KSDP), Program S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Lilik Bintartik, M. Pd, (2) Drs. Sunyoto, M. Si. Kata kunci: Hasil Belajar, Matematika, Model Tutor Sebaya Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar matematika di kelas IIA SDN Bendogerit I Kota Blitar. Hal ini ditandai dengan jumlah siswa yang tuntas kurang dari 50% ketika mempelajari penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan dan pengurangan dua angka dengan teknik meminjam. Guru telah berusaha mengatasi hal tersebut dengan memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah, tetapi belum memperoleh hasil yang memuaskan. Setelah dipelajari, ternyata siswa yang belum tuntas ingin cepat pulang dan malu jika harus pulang terlambat karena ikut jam tambahan.Untuk mengatasi hal tersebut kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model tutor sebaya. Tujuan penelitian ini ada dua, yaitu; (1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model tutor sebaya dan, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan model tutor sebaya di kelas IIA SDN Bendogerit Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas empat tahap, yaitu:(1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, (4) dan refleksi. Data diperoleh dengan tiga metode, yaitu;(1) observasi dengan menggunakan instrument lembar observasi kegiatan guru dan siswa, (2) test dengan menggunakan instrument lembar test, dan (3) foto. Adapun Langkah-langkah kegiatan analisis data adalah (1) mereduksi data, (2) memaparkan data, (3) menarik kesimpulan dan verifikasi. Materi yang dipelajari pada siklus I adalah menjumlahkan dua bilangan tiga angka dengan teknik menyimpan dan menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dua bilangan tiga angka dengan teknik menyimpan. Sedangkan materi pada siklus II adalah menyelesaikan pengurangan dua bilangan tiga angka dengan teknik meminjam dan menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan pengurangan dua bilangan tiga angka dengan teknik meminjam. Pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model tutor sebaya di kelas IIA menunjukkan keberhasilan. Hal ini ditunjukkan oleh terpenuhinya semua kriteria dalam prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan model tutor sebaya. Pada akhir siklus II semua sudah terpenuhi dan mencapai skor maksimal yaitu lima, kecuali untuk komunikasi dan sikap menghargai pendapat teman yang masih harus ditingkatkan, karena skor yang diperoleh belum maksimal yaitu empat.

Pengaruh insektisida minyak biji jarak pagar (jatropha curcas L.) terhadap mortalitas larva helicorvepa armigera hubner / Lisdianita

 

ABSTRAK Lisdianita. 2010. Pengaruh Insektisida Minyak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) terhadap Mortalitas Larva Helicoverpa armigera Hubner. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hawa Tuarita M.S. (II) Ir. Tukimin SW. Kata kunci: Minyak biji jarak pagar, Mortalitas, Helicoverpa armigera. Pengendalian hama dengan insektisida sintetis sudah banyak dilakukan namun residunya berdampak negatif terhadap lingkungan dan serangga non target. Oleh karena itu dicari alternatif pengendalian hama yang lain yaitu menggunakan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi minyak biji jarak pagar terhadap mortalitas larva Helicoverpa armigera, pengaruh konsentrasi campuran minyak biji jarak pagar dengan ekstrak biji mimba terhadap mortalitas larva Helicoverpa armigera, konsentrasi efektif yang mempengaruhi mortalitas larva Helicoverpa armigera, waktu efektif yang mempengaruhi mortalitas larva Helicoverpa armigera, pengaruh efek lanjutan insektisida minyak biji jarak pagar dan interaksi antara waktu dan konsentrasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dalam faktorial. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juni 2009 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso Malang. Perlakuan terdiri atas dua aksesi jarak pagar (aksesi SM 111 asal Nusa Tenggara Barat dan SP 104 asal Sulawesi Selatan) dengan berbagai konsentrasi yaitu kontrol air, kontrol detergen, 5 ml MJP/L air, 10 ml MJP/L air, 20 ml MJP/L air, 40 ml MJP/L air, 5 ml MJP+2 ml EBM/L air, 10 ml MJP+2 ml EBM/L air, 20 ml MJP+2 ml EBM/L air. Larva H. armigera instar dua disemprot dengan insektisida nabati sesuai konsentrasi, menggunakan alat spray chamber. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Setiap ulangan terdiri dari 5 petridisk, masing-masing petridisk terdiri dari 4 ekor larva. Pengamatan dilakukan pada 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam dan 120 jam setelah penyemprotan dengan variabel pengamatan mortalitas, berat larva instar terakhir, berat pupa, jumlah telur dan persentase telur tetas. Analisis data menggunakan analisis one way anova dan analisis faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi SM 111 pada konsentrasi 20 ml MJP/L air mampu membunuh 33,33 % sedangkan pada konsentrasi 5 ml MJP+2 ml EBM/L air mampu membunuh 61,67 %. Sedangkan pada aksesi SP 104, konsentrasi yang efektif adalah 10 ml MJP/L air mampu membunuh 50 % sedangkan pada konsentrasi 20 ml MJP+2 ml EBM/L air mampu membunuh 51,67 % pada waktu 120 jam setelah penyemprotan. Waktu maupun konsentrasi berpengaruh terhadap mortalitas ulat H. armigera, akan tetapi interaksi antara waktu dan konsentrasi tidak berpengaruh.

Analisis konsep dan implementasi kebijakan kabupaten gresik dalam pengembangan kawasan agropolitan / Isfiatun nasufah

 

ABSTRAK Nasufah, Isfiatun. 2009. Analisis Konsep dan Implementasi Kebijakan Kabupaten Gresik Dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan. Skripsi, Jurusan S1 Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Mit Witjaksono, MS. Ed. (II) Drs. Mardono, M.Si. Kata Kunci: Agropolitan, pembangunan ekonomi, sektor pertanian, ekonomi perdesaan dan perkotaan, komoditas unggulan Kabupaten Gresik diarahkan menjadi kawasan agropolitan karena wilayah tersebut dinilai sangat potensial di bidang pertanian, khususnya produk tanaman pangan, hortikultura, buah, perikanan dan peternakan serta Kabupaten Gresik memiliki sarana dan prasarana agribisnis yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem agribisnis. Sebagai kota dengan basis perekonomian di sektor pertanian, maka model pembangunan regional yang tepat adalah dengan model Agropolitan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep dan implementasi kebijakan Kabupaten Gresik yang berupa pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan kondisi eksisting yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuan penulis menggunakan pendekatan kualitatif adalah berusaha memberikan gambaran yang sistematis, faktual dan akurat mengenai kebijakan agropolitan yang diterapkan oleh Kabupaten Gresik. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data dakumen yang diperoleh dari BAPPEKAB Gresik dan data primer yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Teknik analisis lakukan dengan teknik analisiss dokumentasi, teknik wawancara dan teknik observasi. Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa implementasi dari konsep pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Gresik ini sudah tidak relevan lagi. Kondisi eksisting Kabupaten Gresik sekarang ini lebih condong dalam pengembangan kawasan industri. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa kajian teori yang dipakai sebagai dasar pemyusunan dan penjabaran konsep agropolitan di Kabupaten Gresik adalah didasarkan pada konsep agropolitan yang menurut Mc. Douglass dan Friedmann dan didukung konsep cluster. Konsep pengembangan kawasan agropolitan ini tidak relevan dengan kondisi eksisting Kabupaten Gresik sekarang ini yang dikembangkan menjadi kawasan industri. Disarankan untuk Pemerintah Kabupaten Gresik hendaknya mengevaluasi kembali konsep kebijakan pengembangan kawasan agropolitan dengan aplikasinya saat ini.

Pengaruh relevansi tempat pendidikan sistem ganda (PSG) dengan progran keahlian dan kebiasaan belajar terhadap motivasi belajar siswa (Studi pada program keahlian akutansi kelas III Turen - Malang) / Marina Candraningsih

 

ABSTRAK Marina, Candraningsih. 2010. “Pengaruh Relevansi Tempat Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dengan Program Keahlian dan Kebiasaan Belajar terhadap Motivasi Belajar Siswa (Studi Pada Program Keahlian Akuntansi Kelas III SMKN 01 Turen-Malang)”. Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Bpk Dr. Tuhardjo, S.E., M.Si., AK. Pembimbing II Ibu Makaryanawati, S.E., M.Si., AK. Kata Kunci: Relevansi tempat pendidikan sistem ganda (PSG) dengan program keahlian, kebiasaan belajar, motivasi belajar siswa. Dalam rangka menyiapkan SDM yang berperan aktif dalam pembangunan, pemerintahan melalui Depdiknas berupaya meningkatkan peranannya melalui berbagai kebijakan pendidikan. Pendidikan kejuruan merupakan salah satu jenis pendidikan yang bertugas mengembangkan SDM dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja guna menyukseskan pembangunan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menjelaskan ada tidaknya pengaruh relevansi tempat PSG dengan program keahlian terhadap motivasi belajar siswa kelas III AK, (2) Menjelaskan ada tidaknya pengaruh kebiasaan belajar terhadap motivasi belajar siswa kelas III AK, (3) Menjelaskan seberapa besar pengaruh relevansi tempat PSG dengan program keahlian dan kebiasaan belajar secara signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas III AK SMKN 01 Turen-Malang. Penelitian ini termasuk eksplanasi yang menggunakan pendekatan survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III AK di SMKN 01 Turen- Malang sebanyak 87 siswa, masing-masing kelas III Ak 1 berjumlah 44 dan III AK 2 berjumlah 43, sampel yang diambil sebanyak 44 siswa dengan teknik pengambilan sampel adalah propotional random sampling. Instrumen penelitian ini adalah angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial dan simultan terdapat pengaruh secara signifikan antara relevansi pendidikan sistem ganda (PSG) dengan program keahlian dan kebiasaan belajar terhadap motivasi belajar siswa kelas III Ak di SMKN 01 Turen-malang. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Sig t

Upaya peningkatan prestasi belajar matematika dengan metode Tutor sebaya pada siswa kelas V SDN Rembang 1 kota Blitar / Endang Nanik Suprihani

 

Pengembangan mutu pendidikan dalam proses belajar mengajar harus mampu memilih dan menerapkan berbagai pendekatan dan metode untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Kualitas prestasi belajar siswa mata pelajaran matematika dengan nilai rata-rata di bawah 60 mencapai 58,9 %. Padahal nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran matematika siswa kelas V SDN Rembang I Kota Blitar adalah 65. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya prestasi belajar, dan keaktifan belajar siswa. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode tutor sebaya. Metode tutor sebaya memberikan kesempatan siswa yang telah tuntas belajar untuk memberikan bantuan kepada teman sebayanya, sehingga tidak akan canggung bertannya bila ada yang kurang jelas. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui upaya peningkatan prestasi belajar matematika dengan metode tutor sebaya, (2) untuk mengetahui apakah penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika, (3) untuk mengetahui apakah penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika kelas V SDN Rembang 1 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan empat tahapan yaitu: (1) tahap perencanaan tindakan; (2) tahap pelaksanaan tindakan; (3) tahap observasi; (4) tahap refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Rembang 1 Kota Blitar. Sedangkan, data yang diperoleh berupa hasil tes uji kompetensi dan lembar observasi kegiatan belajar kelompok Dari hasil analisis data penelitian, pembelajaran matematika dengan penggunaan metode tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Hal ini terbukti dari 17 siswa, 16 siswa (94%) telah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 65, meskipun ada 1 (6%) siswa yang belum mencapai ketuntasan individu. Namun demikian, nampaknya masih sangat diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam memperdayakan keaktifan dan prestasi belajar siswa di sekolah tersebut. Guru diharapkan dalam menyampaikan materi tidak hanya dengan keterangan lisan dan monoton melainkan juga dengan menggunakan metode pembelajaran yang variatif. Selain itu, diharapkan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Matematika karena dengan metode ini siswa menjadi lebih aktif berfikir dan berbuat selama kegiatan belajar mengajar.

Tingkat kesadaran berbangsa dan bernegara pada siswa SMP negeri 4 Kota Malang / Rr. Devvy kristanti W.

 

ABSTRAK Wardani, Rr. Devvy, Kristanti, 2009. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara siswa SMP Negeri 4 Kota Malang, Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, FIS Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Drs. H. Rosyid Al Atok M.Pd, M.H, (II) Sutoyo, SH, M.Hum. Kata kunci : Kesadaran, Berbangsa, Bernegara Negara Indonesia merupakan negara yang majemuk dengan keanekaragaman budaya, suku bangsa , adat-istiadat, bahasa, warna kulit dan agama. Keanekaragamn tersebut merupakan suatu perekat untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Negara Indonesia memiliki simbol-simbol identitas utama yaitu Pancasila sebagai dasar negara, Burung Garuda sebagai lambang negara, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, merah putih sebagai bendera negara Indonesia. Semangat persatuan dan kesatuan yang dijiwai oleh Pancasila adalah nilai normatif yang telah diperjuangkan melalui Nation and Character building oleh pendiri bangsa. Perkembangan kesadaran berbangsa dan bernegara tidak selalu bersifat positif, karena dipengaruhi oleh faktor dalam negeri salah satunya seperti dinamika kehidupan warga negara dan dinamika kehidupan bangsa lain di berbagai belahan dunia. Faktor penyebab lainnya yaitu perkembangan dan temuan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK), seringkali temuan IPTEK yang sudah dipelajari itu disalahartikan oleh generasi penerus bangsa, sehingga terjadi penyimpangan perilaku. Sebagai genersi penerus cita-cita bangsa para pemuda dituntut untuk selalu loyal kepada bangsa, dan selalu mempererat persatuan kesatuan bangsa guna mewujudkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Karena itu upaya yang terbaik untuk mensosialisasikan kesadaran berbangsa dan bernegara yaitu dengan melalui pendidikan, baik formal, maupun informal. Dalam hal ini kesadaran berbangsa dan bernegara dapat dilihat dengan adanya rasa persatuan dan kesatuan di lingkungan sekolah. Dalam upaya meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara SMP Negeri 4 Kota Malang mempunyai predikat sekolah yang sangat baik dalam hal persatuan dan kesatuannya, terbukti dari perhatian siswa terhadap sesama di lingkungan sekolah dan cara belajar siswa yang tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar sehingga penulis tertarik mengadakan penelitian tentang kesadaran berbangsa dan bernegara siswa di SMP Negeri 4 Kota Malang. Adapun permasalahan yang penulis angkat dalam skripsi ini meliputi: (1) bagaimana jiwa nasionalisme, (2) bagaimana wawasan nusantara, (3) bagaimana jiwa patriotisme (4) bagaimana sikap dalam meneruskan cita-cita bangsa dengan penuh rasa tanggung jawab, (5) bagaimana sikap menjunjung tinggi politik dan pemerintahan, (6) bagaimana sikap menjunjung tinggi HAM, (7) bagaimana sikap menjaga ii keseimbangan antara kewajiban dan hak sebagai warga negara, (8) bagaimana sikap dalam mengamalkan sila-sila yang terdapat dalam Pancasila, (9) bagaimana sikap menjaga dan menghormati Identitas bangsa Indonesia. Sedangkan tujuan yang diharapkan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesadaran berbangsa dan bernegara pada siswa SMP Negeri 4 Kota Malang (persentase). Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan metode proporsional random sampling untuk menentukan tempat penelitian. sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan metode kuesioner/angket. Diantara metode tersebut yang dijadikan metode utama adalah metode angket. Sedangkan untuk menganalisa data adalah metode deskriptif kualitatif dengan persentase. Di dalam analisis data menunjukkan adanya tingkat kesadaran yang berbeda antara siswa kelas VII, VIII dan IX. Secara keseluruhan menunujukkan bahwa tingkat kesadaran berbangsa siswa SMP Negeri 4 Kota Malang tergolong sangat rendah dan kesadaran berbegara siswa SMP Negeri 4 Kota Malang tergolong tinggi. Agar kesadaran berbangsa dan bernegara siswa SMP Negeri 4 Kota Malang dapat lebih ditingkatkan maka perlu penulis sarankan kepada: (1) Guru, dalam mensosialisasikan kesadaran berbangsa dan bernegara dengan melelui pelajaran PKn, (2) Guru harus memberikan tauladan kepada siswa untuk mewaujdkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Peningkatan prestasi belajar IPA dengan metode Demonstrasi menggunakan media benda konkrit pada siswa kelas VI SDN Jatisari 03 Kec. Pakisaji Kab. Malang / Kusno

 

Dalam proses pembelajaran yang menyangkut materi, metode, media, alat peraga dan sebagainya harus juga mengalami perubahan kearah pembaharuan ( inovasi ).Dengan adanya inovasi tersebut seorang guru dituntut untuk lebih kreatif ,terutama dalam menentukan media dan alat peraga yang tepat akan sangat menentukan hasil belajar siswa. Penelitian ini berdasarkan permasalahan bagaimanakah penerapan metode Demonstrasi meningkatkan prestasi belajar dalam pembelajaran mata pelajara IPA pada kelas VI SDN Jatisari 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang tahun pelajaran 2009 / 2010. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan Metode yang dapat meningkatkan prestyasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA Kelas VI SDN Jatisari 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang tahun pelajaran 2009 /2010. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran .Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu : (1) perencanaan: (2) pelaksanaan: (3) pengamatan ; (4) refleksi.Sasaran penelitian adalah siswa kelas VI SDN Jatisari 3 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang tahun pelajaran 2009 / 2010. Data yang diperoleh berupa hasil evaluasi,lembar tugas. Dari hasil perbaikan didapatkan bahwa prestasi belajar siswa meningkat .Hal ini berpengaruh terhadap asil belajar siswa.Terbukti adanya peningkatan hasil belajar siswa setiap akhhir pembelajaran, mulai dari pratindakan sampai dengan tindakan II ( pada siklus II ) yaitu 53 % ( pra tindakan),66 % ( tindakan I / siklus I ) 81 % ( tindakan II / siklus II ). Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode demonstrasi dapat memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar siswa dan aktifitas dalam pembelajaran untukmeningkatkan prestasi belajar.

Studi tentang pendapatan petani Tebu di kec. kawedanan Kab. Magetan (ditinjau dari segi geografi ekonomi) / yulian widya Saputra

 

ABSTRAK Saputra, Yulian Widya. 2010. Studi tentang Pendapatan Petani Tebu di Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan (Ditinjau dari segi Geografi Ekonomi). Skripsi. Jurusan Pendidikan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Juarti, M.P. (II) Drs. Djoko Soelistijo, M. Si. Kata–kata kunci: Geografi Ekonomi, Petani, Pendapatan. Potensi lahan yang dapat dikelola untuk tanaman tebu di Jawa Timur terdiri dari lahan tebu aktual, lahan pengembangan tebu, dan lahan potensial. Lahan untuk pengembangan tebu adalah lahan yang tersedia dan berdasarkan keterbatasan biofisik serta aksesibilitas lingkungannya belum digunakan secara optimal untuk tebu. Segi fisik lingkungan areal untuk pengembangan tanaman tebu pada umumnya berada di lahan tegalan. Petani tebu di wilayah Kecamatan Kawedanan menggunakan lahan tegalan sebagai tempat untuk menanam tebu. Lahan tegalan di Kecamatan Kawedanan memiliki faktor fisik yang menjadi pembatas yakni jenis tanah dan ketersediaan air untuk pengairan. Faktor lain adalah mekanisme pemasaran yang dikuasai pengepul tebu, rendahnya keikutsertaan penyuluhan pertanian. Faktor-faktor tersebut akan dikaji terkait pendapatan petani tebu di lahan tegalan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mendeskripsikan faktor yang terkait dengan pendapatan petani tebu menurut tinjauan Geografi Ekonomi. Jenis penelitian termasuk jenis kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian adalah penduduk di Kecamatan Kawedanan yang bertani tebu. Sampel penelitian terdiri dari sampel daerah dan sampel responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling). Sampel daerah yang diambil mewakili lahan tegalan yang berada di Kecamatan Kawedanan. Pengambilan data menggunakan wawancara terstruktur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Hasil penelitian dari 100 responden menunjukkan bahwa kondisi geografi menyebabkan perbedaan pendapatan petani tebu di Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan. Faktor jenis tanah menyebabkan perbedaan penggunaan biaya produksi untuk pengairan. Petani yang menggunakan air hujan dan air irigasi tidak mengeluarkan biaya, sedangkan penggunaan Pengairan Pompa Terpadu (P2T) menyebabkan pendapatan petani berkurang. Keterjangkauan lahan terkait dengan pendapatan petani dimana jarak dan kondisi medan mempengaruhi biaya angkut hasil panen tebu. Mekanisme pemasaran masih dikuasai oleh pengepul gula dan partisipasi petani dalam penyuluhan juga sangat minim. Faktor-faktor diatas akan menyebabkan produksi dan pendapatan petani tidak maksimal. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar pemeratan pendidikan non formal bagi petani tebu, perbaikan mekanisme pemasaran hasil panen tebu, perlunya kembali optimalisasi peran Koperasi Unit Desa setempat, dan perbaikan sarana dan prasarana pertanian khususnya yang mendukung perkembangan budidaya tebu lahan tegalan.

Pengaruh sudut pengapian dan putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar pada toyota kijang 4k / Mohammad Ikhsan

 

ABSTRAK Ikhsan, Mohammad. 2009. Pengaruh Konsumsi Sudut Pengapian dan Putaran Mesin terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Toyota Kijang 4K. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Mesin FT UM. Pembimbing: (I) Drs. Imam Muda Nauri, S.T.,M.T.; (II) Drs. Imam Sudjono. Kata Kunci: Sudut Pengapian, Putaran Mesin, Bahan Bakar. DPR akhirnya menyetujui rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak pada hari Selasa 27 September 2005 sebesar minimal 50 %. Kebijakan kenaikan harga BBM dengan angka yang menakjubkan ini tentu saja menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perekonomian sehingga kebijakan ini menimbulkan banyak protes dari berbagai kalangan. Keputusan pemerintah menaikkan harga bensin, solar, dan minyak tanah sejak 1 Oktober 2005 akibat kenaikan harga minyak mentah dunia hingga lebih dari 60 Dolar AS per barel dan terbatasnya keuangan pemerintah ini direspon oleh pasar dengan naiknya harga barang kebutuhan masyarakat yang lain. Biaya produksi menjadi tinggi, harga barang kebutuhan masyarakat semakin mahal sehingga daya beli masyarakat semakin menurun. (Metrotvnews.com, 28 September 2005). Sudut pengapian dan putaran mesin merupakan factor yang berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar. Untuk mengetahui pengaruh sudut pengapian dan putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar dilakukan dengan jalan menghitung konsumsi bahan bakar pada mesin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sudut pengapian dan putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar dan diharapkan dapat digunakan dalam pembelajaran teknik mesin. Mesin yang digunakan dalam penelitian ini adalah Toyota Kijang 4K yang ada di Lab. Otomotif Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang signifikan sudut pengapian tehadap konsumsi bahan bakar , serta pengaruh yang signifikan putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar, dan intreraksi antara sudut pengapian, putaran dan konsumsi bahan bakar. Penelitian ini tergolong jenis eksperimental dengan menggunakan bentuk rancangan penelitian factorial 4 x 10, obyek penelitian menggunakan motor bensin Toyota 4K dengan sistem penyaluran bahan bakar menggunakan karburator dan sistem pengapian konvensional. Analisis data menggunakan teknik Anova dua jalan dengan taraf signifikansi 0,05 menggunakan fasilitas software SPSS 12 for Windows. Hasil penelitian ini menemukan (1) Ada pengaruh yang signifikan sudut pengapian terhadap konsumsi bahan bakar yang dihasilkan motor bensin Toyota 4K. Konsumsi bahan baker terbesar 28,1% (mean tertinggi 1,693 Kg/jam) dihasilkan pada sudut pengapian 00 sebelum TMA, dan konsumsi bahan baker terendah 21,6% (mean terendah 1,299 Kg/jam) Diperoleh pada sudut pengapian 100 sebelum TMA.(2) Ada pengaruh yang signifikan konsumsi bahan bakar yang dihasilkan motor bensin toyota 4K pada beberapa variasi putaran. Konsumsi bahan baker terendah 4,6% (mean terendah 0,687 Kg/jam) dihasilkan pada putaran terendah yaitu 750 rpm dan konjsumsi bahan baker tertinggi 15,9% (mean tertinggi 2,394 kg/jam) dihasilkan pada putaran tertinggi yaitu 3000 rpm. (3) Ada interaksi yang signifikan antara sudut pengapian dan putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar motor bensin toyota 4K. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengaruh sudut pengapian dengan range sudut yang lebih kecil disekitar saat pengapian yang telah ditetapkan oleh pabrikan mesin tersebut. Sedangkan untuk putaran tidak perlu dilakukan penelitian karena hasilnya akan sama atau dapat ditebak.

Cacah minimum sisi potong ganda pada graph nyaris hampir beraturan-4 terhubung dengan deficiency diketahui / Saifudin

 

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu matematika juga mengalami perkembangan. Graph merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang mengalami perkembangan juga. Dalam graph terdapat teori graph dan terapan graph yang banyak diterapkan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu perlu dikembangkan lagi teori-teori graph yang lain agar bermanfaaat di kemudian hari. Teori-teori graph banyak yang telah dikembangkan dan dikaji dari teori sebelumnya, seperti cacah minimum jembatan pada graph hampir beraturan-3 dikembangkan pada permasalahan graph nyaris hampir beraturan-3. Demikian juga terdapat teorema yang berhubungan dengan deficiency, sisi potong ganda, dan graph hampir beraturan-4. Teorema tersebut menjelaskan tentang cacah minimum sisi potong ganda pada graph hampir beraturan-4 terhubung dengan deficiency diketahui. Graph hampir beraturan-4 adalah graph yang semua titiknya berderajat 4, kecuali satu titik berderajat lebih dari 4. Dari teorema tersebut dikembangkan menjadi teorema baru untuk permasa­lahan pada graph nyaris hampir beraturan-4 terhubung dengan deficiency diketahui, graph nyaris hampir beraturan-4 adalah graph yang mempunyai n titik, 2 titik berderajat lebih dari 4 dan genap sedang n – 2 titik berderajat 4. Pada skripsi ini akan dibahas mengenai cacah minimum sisi potong ganda pada graph nyaris hampir beraturan-4 terhubung dengan deficiency def(G) ³ 2 diketahui. Selanjutnya akan dikontruksi suatu graph G baru terhubung yang mempunyai dua titik berderajat 4 + e1 dan 4 + e2 dan titik-titik yang lain berderajat 4, mempunyai def(G) = d, dan mempunyai m sisi potong ganda tak terhubung, dengan d, e1, e2 dan m suatu bilangan bulat tidak negatif, d ³ 2, e1, e2 ³ 0 dan genap dan

Permasalahan program linier Fuzzy / M.Latif Fachuruddin

 

ABSTRAK Fachruddin, M. Latif. 2010. Permasalahan Program Linier Fuzzy. Skripsi, Jurusan Matematika, Program Studi Non Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr.Toto Nusantara M.Si, (II) Dra. Susy Kuspambudi A. M.Kom. Kata Kunci: Program Linier, Program Linier Fuzzy, Teori Himpunan Fuzzy. Sejak munculnya di tahun 1940-an, asumsi kepastian tentang nilai-nilai parameter pada masalah pengambilan keputusan yang dimodelkan dengan program linier, dalam praktek kenyataan sering sulit dipenuhi. Ketidakpastian tersebut muncul diakibatkan oleh suatu kebijakan yang intuitif dan subjektif. Untuk memecahkan dan mengakomodasi ketidakpastian tersebut, akan didekati dengan teori himpunan fuzzy. Dalam skripsi ini, pemodelan program linier fuzzy akan dibahas dua kasus proses pencarian solusi, dengan parameter pada himpunan konstanta ruas kanan konstantaib~dan koefisien matriks kendalaija~berupa bilangan fuzzy. Permasalahan pada kasus pertama adalah konstanta ruas kanan )(~miNibmempunyai bentuk fuzzy dengan fungsi keanggotaan linier turun, sedangkan permasalahan pada kasus ke-dua parameter fuzzy terjadi pada koefisien kendala ija~dan konstanta ruas kanan ib~. Untuk mendapatkan solusi optimal, maka masalah awal ditransformasikan kemodel program linier klasik. Penyelesaian untuk kasus pertama, terlebih dahulu dicari batas bawah dan batas atas nilai optimal utama yang akan dicari. Hal tersebut dapat diperoleh dengan cara menyelesaikan dua permasalahan program linear yang dibedakan berdasarkan pengambilan konstanta ruas kanannya. Setelah diperoleh nilai batas bawah (Zl ) dan batas atas (Zm), kemudian subtitusikan ke dalam daerah layak fuzzy G(x). Selanjutnya dengan menggunakan bantuan variabel dummy , akan diperoleh permasalahan optimisasi klasik dan dapat diselesaiakan dengan metode standar, baik secara manual (metode simplek) maupun dengan bantuan WINQSB. Setelah itu, dengan menggunakan konsep analisis sensitivitas diketahui bahwa perubahan diskrit parameter konstanta ruas kananib~dan range nilai fungsi tujuan pada permasalahan awal, sudah berada pada range b dan range f dari perhitungan manual analisis sensitivitas, yaitu 11.000  fmaks 18.000, sedangkan 300 ≤ bn1 ≤ 500 dan 500 ≤ bn2 ≤ 800. Sedangkan pada kasus kedua, koefisien kendala ija~dan konstanta ruas kananib~mempunyai bentuk fuzzy khusus yang menganut fungsi keanggotaan segitiga, yaitu ),,(~ijijijijrlsadan),,(~iiiivutb, dengan l adalah jarak dari s – l ke s, sedangkan r adalah jarak dari s ke s + r, begitu juga dengan (t, u, v). Selanjutnya subtitusikan ),,(~ijijijijrlsadan),,(~iiiivutbke dalam kendala dan diperoleh kendala baru sebagai berikutnjmiiiijijijijNivutxrls1,,,,,. Sehingga dengan menggunakan konsep operasi bilangan pada triangular fuzzy, maka ii kendala tersebut dapat diuraikan menjadi permasalahan program linier klasik dan dapat diselesaikan dengan metode standar (simplek) atau dengan bantuan WINQSB. Setelah melalui tahap perhitungan manual, ternyata fungsi tujuan dan perubahan konstanta b1 dan b2 pada permasalahan kasus pertama di atas sudah memenuhi syarat uji analisis sensitivitas.

Perbedaan minat, motivasi dan perstasi belajar antara siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA negeri 3 Lumajang / Yusufi Indra Hermawan

 

ABSTRAK Hermawan, Yusufi Indra. 2009. Perbedaan Minat, Motivasi dan Prestasi Belajar antara Siswa Jurusan IPA dan Jurusan IPS di Kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Eka Ananta Sidharta, S.E., M.M, Ak. (II) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Minat Belajar, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Penjurusan merupakan hal yang mendasar untuk membentuk suatu karakter tersendiri terhadap siswa-siswi agar ke depannya menjadi terfokus atau terspesialisasi pada suatu bidang yang ingin digeluti atau yang dikuasai oleh siswa. Sebagian besar siswa SMA memiliki kecenderungan lebih tertarik terhadap jurusan IPA daripada jurusan IPS. Siswa yang masuk jurusan IPA adalah siswa memiliki nilai ketuntasan belajar yang baik sedangkan siswa yang memiliki nilai yang tidak layak, akan masuk jurusan IPS. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa jurusan IPA merupakan siswa yang tergolong lebih pandai atau memiliki kemampuan akademik yang lebih baik daripada siswa jurusan IPS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan (1) Minat belajar siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang (2) Motivasi belajar siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang (3)Prestasi belajar siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang (4) Perbedaan minat belajar antara siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang.(5)Perbedaan motivasi belajar antara siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang (6)Perbedaan prestasi belajar antara siswa jurusan IPA dan jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner untuk data minat dan motivasi belajar, sedangkan untuk data prestasi menggunakan teknik dokumentasi. Data-data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan uji T. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII jurusan IPA dan IPS di SMA Negeri 3 Lumajang pada tahun ajaran 2009/2010 sebanyak 233 siswa. Untuk pengambilan sampel menggunakan teknik proprorsional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas XII jurusan IPA dan jurusan IPS di SMA Negeri 3 Lumajang tahun ajaran 2009/2010 memiliki minat dan motivasi belajar yang baik, sedangkan prestasi belajar menunjukkan siswa jurusan IPA memiliki prestasi belajar yang cukup baik dan siswa jurusan IPS memiliki prestasi belajar yang kurang baik. Berdasarkan hasil analisis uji T disimpulkan bahwa terdapat perbedaan minat, motivasi dan prestasi belajar yang signifikan antara siswa jurusan IPA dan Jurusan IPS di kelas XII SMA Negeri 3 Lumajang. Dari penelitian ini diharapkan kepada orang tua, guru dan pihak konselor untuk lebih membimbing dan mengarahkan siswa dalam menentukan penjurusan dan masa depan sesuai dengan tingkat kemampuan dan minat siswa. Serta diharapkan mampu menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa karena pentingnya kedua faktor tersebut dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Analisis kesalahan penyajian objek-objek matematika dalam buku teks matematika SMP / Saifudin

 

ABSTRAK Saifudin, 2009. Analisis Kesalahan Penyajian Objek-objek Matematika dalam Buku Teks Matematika SMP. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M. A., (II) Dr. I Nengah Parta, M.Si. Kata kunci: kesalahan, objek-objek matematika, buku teks. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya dalam bidang matematika, pengadaan buku teks matematika sebagai sarana belajar mengajar sangatlah penting. Matematika memiliki objek kajian yang bersifat abstrak yang meliputi fakta, konsep, keterampilan, dan prinsip. Buku teks yang dijadikan acuan dalam belajar siswa di sekolah perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal kebenaran penyajian objek matematikanya, agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami materi matematika. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian terhadap kesalahan penyajian objek-objek matematika khususnya dalam buku teks matematika SMP. Pada penelitian ini, penulis mengkaji mengenai jenis-jenis kesalahan penyajian objek-objek matematika berupa fakta, konsep, keterampilan, dan prinsip yang terdapat dalam buku teks matematika SMP serta bagaimanakah pembenahan-pembenahan kesalahan tersebut. Tujuannya untuk mendeskripsikan kesalahan penyajian objek-objek matematika dalam buku teks matematika SMP serta memberikan pembenahan berkenaan dengan penyajiannya yang salah. Buku teks yang dijadikan sebagai bahan kajian ada 6 buku. Keenam buku tersebut masing-masing diberi kode buku dengan B1, B2, B3, E1, E2, dan E3 untuk mempermudah penyebutannya. Dari hasil pengkajian ditemukan sebanyak 42 kesalahan penyajian objek-objek matematika pada keenam buku teks tersebut. Dengan rincian kesalahan penyajian fakta terdapat 15 kesalahan, kesalahan penyajian konsep, keterampilan dan prinsip masing-masing terdapat 9 kesalahan. Sedangkan ditinjau berdasarkan buku ditemukan 8 kesalahan penyajian objek matematika pada B1, 11 kesalahan pada B2, 3 kesalahan pada B3, 6 kesalahan pada E1, 8 kesalahan pada E2, dan 6 kesalahan pada E3. Berdasarkan hasil temuan dan pengkajian ini, maka disarankan kepada guru yang ingin menggunakan buku teks ini agar memeriksa dan mencermati terlebih dahulu sajian objek-objek matematika dan membenahi kesalahan sajian objek-objek matematikanya sebelum digunakan dalam pembelajaran. Bagi siswa yang ingin mempelajari matematika, hendaknya tidak hanya menggunakan satu buku saja sebagai acuan dalam belajar matematika.

Pengaruh kepemilikan namajerial kepemilikan institusional dan penyebaran kepemilikan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2008 / Raynaldo Satria W

 

ABSTRAK Wiranegara, Raynaldo Satria. 2010. Pengaruh Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional dan Penyebaran Kepemilikan terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dyah Ayu W., S.E, M.Si, Ak., (II) Sawitri Dwi Prastiti, S. E, M.Si, Ak., Kata Kunci : Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Penyebaran Kepemilikan, Kebijakan Hutang, dan Agency Theory Kebijakan hutang merupakan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan perimbangan jumlah hutang dan ekuitas. Menurut beberapa teori, penggunaan hutang mempengaruhi nilai perusahaan. Penggunaan hutang yang tinggi dapat menyebabkan beberapa dampak sehingga penggunaan hutang harus pada tingkat yang optimal. Berdasarkan agency theory, adanya kepemilikan manajerial menyebabkan manajer lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pendanaan. Kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan penyebaran kepemilikan diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kebijakan hutang sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan penyebaran kepemilikan terhadap nilai kebijakan hutang sebagai variabel dependen. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2008. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proportionate cluster random sampling dan diperoleh 43 sampel. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Kepemilikan manajerial dan penyebaran kepemilikan tidak berpengaruh terhadap kebijakan hutang. (2) Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kebijakan hutang. (3) Kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan penyebaran kepemilikan memiliki pengaruh terhadap kebijakan hutang. Berdasarkan hasil tesebut, penelitian ini menyarankan agar bagian saham yang dimiliki oleh pihak institusional lebih ditingkatkan dan untuk penelitian selanjutnya agar mempertimbangkan variabel lain, seperti free cash flow, ukuran perusahaan, profitabilitas, pertumbuhan penjualan dan dividend payout ratio.

Aspek ekologis terhadap jenis ikan gatul ( Poeciliidae )/ Nindya Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Nindya. 2010. Aspek Ekologis Terhadap Keberadaan Jenis Ikan Gatul (Poeciliidae). Skripsi, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc (II) Drs. Agus Darmawan, M.Si. Kata kunci: Aspek Ekologis, Ikan Gatul (Poeciliidae). Anggota Poeciliidae merupakan ikan yang berukuran kecil. Ukuran ikan jantan lebih kecil daripada ikan betina. Poeciliidae tersebar hampir di seluruh belahan dunia. Anggota family ini ditemukan di Afrika, China, India, Turki, Prancis, Inggris, Vietnam, Malaysia, Spanyol, Portugis, Belanda, Polandia, Rusia, dan Jepang. Masyarakat Amerika Selatan memanfaatkan ikan ini sebagai pembasmi nyamuk malaria. Poeciliidae menghendaki suhu perairan 21 - 30° C dengan pH 8. Namun, karena sudah lama dipelihara di daerah dengan pH netral (sekitar 7) maka saat ini tampaknya pembudidayaan di daerah ber-pH netral pun sudah tidak ada masalah. Jenis ikan ini kurang toleransinya terhadap perubahan suhu baik yang dingin maupun panas. Penelitian ini dilakukan di daerah Batu dan Pujon (daerah air panas dan air dingin) pada bulan November-Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek ekologis yang paling berpengaruh terhadap keberadaan jenis ikan Gatul (Poeciliidae). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis statistic regresi ganda bertahap untuk mengentahui faktor abiotik yang paling berpengaruh terhadap jenis ikan di empat lokasi (air panas dan air dingin) dan analisis anava untuk mengetahui pebedaan nyata faktor abiotik terhadap jenis ikan di empat lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspek ekologis yang paling berpengaruh terhadap jenis ikan adalah suhu, pH dan konduktivitas. Dapat dilihat dari tiga lokasi tersebut jenis ikan yang ditemukan ada 8 jenis yaitu jenis A, B, C, D, E, F, G dan H. Jenis ikan A dan B mampu hidup pada lokasi yang berbeda (air panas dan air dingin) dan paling banyak ditemukan. Terdapat perbedaan pola sumbangan dari faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap jenis ikan gatul (Poeciliidae):1). Suhu sebesar 35,79063 %, 2). pH sebesar 30,67072 % dan 3). Konduktivitas 33,43865 %.

Jenis-jenis kelompok sosial santriwati dilihat dari tugas-tugas perkembangan remaja di pesantren putri AL-Mawada 1 / Evie Prihanti Muliasari

 

ABSTRAK Muliasari, Evie Prihanti. 2009. Jenis-Jenis Kelompok Sosial Santriwati dilihat dari Tugas-Tugas Perkembangan Remaja di Pesantren Putri Al-Mawaddah 1. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Adi Atmoko, M.Si., (2) Fattah Hidayat, SE, S.Psi, M.Si. Kata kunci: jenis-jenis kelompok sosial, santriwati, tugas perkembangan remaja Tugas-tugas perkembangan di antaranya mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya baik dengan sesama jenis maupun lawan jenis. Pesantren yang memakai model single-sex boarding school tentu membatasi interaksi dengan lawan jenis. Terbatasnya interaksi dengan lawan jenis akan cenderung menghambat kemampuan menangani hubungan yang bersifat heteroseksual sehingga dapat menimbulkan kecenderungan perubahan orientasi seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kelompok sosial santriwati Pesantren Putri Al-Mawaddah 1 dilihat dari tugas-tugas perkembangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berperspektif fenomenologi dengan model penelitian studi kasus. Berdasarkan teknik snowball sampling, diperoleh empat subyek menjadi subyek penelitian. Data dikumpulkan dengan teknik: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, dan (3) dokumen. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan prosedur pengkodean, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) jenis kelompok sosial santriwati dengan teman sebaya antara lain hubungan dalam kelompok terorganisir yaitu OSWAH, kelompok yang disebut clique yaitu clique Coklat Stroberi, Blue & Violet dan La Viola, dan friendship atau yang lebih dikenal di kalangan pesantren yaitu ukhtun-ukhtunan atau ‘adik-kakak’, (2) bentuk interaksi yang terjadi antara lain interaksi dalam berorganisasi, makan bersama, jalan-jalan, melakukan aktivitas rutin sehari-hari, curhat dan menggosip; aktivitas lebih intim dilakukan oleh santriwati dalam hubungan friendship, hubungan mereka seperti saudara tetapi terkadang lebih intim karena ada perasaan cemburu apabila pasangan dekat dengan santriwati lain. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk santriwati agar dapat membatasi diri dalam berinteraksi dengan sesama jenis agar tidak terlalu intim, pihak pesantren hendaknya mengadakan ceramah tentang tumbuh kembang remaja dan pelatihan tentang peran remaja putri, serta memfungsikan bagian pengasuhan dengan benar, bagi peneliti selanjutnya agar hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam penelitian lanjutan mengenai perkembangan remaja khususnya yang berhubungan tugas-tugas perkembangan remaja.

Pengamatan fenomena gaya hidup dan faktor psikologis pria metroseksual dalam menentukan keputusan pembelian produk-produk kosmetika khusus pria/ Dinda Wahyuning Setya

 

ABSTRAK Setya, Dinda Wahyuning. 2009. Pengamatan Fenomena Gaya Hidup dan Faktor Psikologis Pria Metroseksual dalam Menentukan Keputusan Pembelian Produk-Produk Kosmetika Khusus Pria. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ery Tri Djatmika, R.W.W., M.A, M.Si , (II) Hj. Ita Prihatining Wilujeng, S.E, M.M. Kata Kunci: Gaya Hidup, Faktor Psikologis, Pria Metroseksual, Keputusan Pembelian Fenomena metroseksual merupakan salah satu faktor yang penting untuk dianalisis oleh pemasar. Gaya hidup yang dimiliki oleh pria metroseksual mengadopsi kebiasaan-kebiasaan wanita seperti perawatan tubuh dan wajah. Faktor psikologis dalam diri mereka dianalisis lebih mendalam untuk mengetahui latar belakang perilaku mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan fenomena gaya hidup dan faktor psikologis pria metroseksual dalam menentukan keputusan pembelian produk-produk kosmetika khusus pria. Penelitian dalam skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Model teorisasi menggunakan model deduksi dengan format desain penelitian adalah desain deskriptif kualitatif. Metode pemilihan informan (subyek penelitian) menggunakan cara purposeful sampling. Analisis data menggunakan pendekatan analisis bingkai (framing analysis) dan data diolah dengan proses triangulasi. Informan dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga ketegori yaitu, pria metroseksual mahasiswa, pria metroseksual eksekutif muda, dan pria metroseksual eksekutif yang sudah berkeluarga. Informan dipilih karena memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik pria metroseksual dimana gaya hidup dan faktor psikologis yang ada pada pribadi mereka berimplikasi terhadap keputusan untuk membeli produk-produk kosmetika khusus pria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup seperti perawatan tubuh, perawatan wajah, penampilan luar, dan kegiatan nongkrong (berkumpul dan bersantai), serta faktor psikologis seperti motivasi, persepsi, pembelajaran serta keyakinan dan sikapmemberi pengaruh dalam menentukan keputusan pembelian produk kosmetika khusus pria.

Pengaruh quick ratio, price erning ratyio ( PER ), earning pershare (TPS) debt to equity ratio (DER), dan resiko sistimatis terhadap return saham pada periode bullish dan bearish ( Studi kasus pada industri barang konsumsi yang listing di BEI ) / Roh Bagus Sifil Anam

 

Dalam manajemen keuangan, kita kenal 3 fungsi utama, yaitu fungsi penggunaan dana yang menyangkut investasi, fungsi mendapatkan dana yang menyangkut keputusan pendanaan serta fungsi pengalokasian laba yang menyangkut kebijakan deviden. Investasi yang dilakukan investor pada asset keuangan mengandung banyak ketidakpastian, sehingga investor perlu melakukan penilaian terhadap instrument keuangan yang akan dipilihnya. Saham adalah salah satu instrument keuangan yang diminati oleh investor. Para investor hendaknya menganalisa kinerja perusahaan emiten sehingga investor dapat memperoleh gambaran perusahaan yang dapat meningkatkan keuntungan bagi investor. Kemampuan atau kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan, yang dapat diukur dengan menggunakan rasio. Rasio tersebut antara lain debt to equity ratio (DER) dan long-term debt to equity ratio (LDER) untuk mengukur leverage perusahaan, earnings per share (EPS) untuk mengukur tingkat laba per lembar saham perusahaan, dan return saham untuk mengukur tingkat pengembalian perusahaan atas sahamnya. Leverage dan earnings per share perlu diperhatikan karena hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan maupun keputusan investor dalam berinvestasi, sehingga ketiga rasio tersebut mempunyai peran dalam mempengaruhi perubahan return saham. Oleh karena itu penting untuk mengetahui seberapa besar pengaruh debt to equity ratio (DER) dan long-term debt to equity ratio (LDER) terhadap return saham melalui earnings per share (EPS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat debt to equity ratio (DER), long-term debt to equity ratio (LDER), earnings per share (EPS), return saham, serta untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara debt to equity ratio (DER), long-term debt to equity ratio (LDER) terhadap earnings per share (EPS) dan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara rasio debt to equity ratio (DER), long-term debt to equity ratio (LDER) terhadap return saham baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui earnings per share (EPS). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Populasi yang digunakan adalah keseluruhan perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Pemilihan sampel dengan cara purposive sampling dan diperoleh 17 perusahaan sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), www.idx.co.id, dan www.duniainvestasi.com. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis), dan analisa data menggunakan bantuan SPSS for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa debt to equity ratio (DER) berpengaruh signifikan terhadap earnings per share (EPS), long-term debt to equity ratio (LDER) berpengaruh signifikan terhadap earnings per share (EPS), debt to equity ratio (DER) berpengaruh signifikan terhadap return saham, long-term debt to equity ratio (LDER) berpengaruh signifikan terhadap return saham, earnings per share (EPS) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Dalam hal ini tidak ada pengaruh antara variabel bebas (DER dan LDER) terhadap variabel terikat (return saham) secara tidak langsung melalui variabel intervening (EPS). Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah, bagi investor untuk menentukan investasi selanjutnya investor hendaknya memberi perhatian lebih terhadap kondisi leverage perusahaan dan tetap memperhatikan faktor fundamental perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang lain, seperti likuiditas dan profitabilitas. Selain itu, investor juga harus memperhatikan faktor makro yang terjadi, seperti inflasi, kurs, tingkat suku bunga dan informasi yang beredar. Bagi perusahaan, seharusnya perusahaan tetap menjaga dan meningkatkan kinerja keuangannya, terutama dalam menjaga rasio leverage. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya meningkatkan cara mengukur atau mendeteksi faktor-faktor yang mempengaruhi return saham, lebih baik mengamati untuk periode waktu yang berbeda dengan jangka waktu pengamatan yang lebih lama dari penelitian ini dan memperbanyak jumlah perusahaan yang dijadikan sampel

Studi pemahaman siswa kelas XI IPA SMA negeri 4 Malang tentang konsep hidrolisis garam / Vianika Cahya Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Vianika Cahya. 2010. Studi Pemahaman Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang Tentang Konsep Hidrolisis Garam. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S, (II) Drs. Muhadi. Kata Kunci: Pemahaman siswa, Konsep Hidrolisis Garam Ciri konsep kimia memiliki sifat berurutan/ berjenjang dan berkembang cepat, dimana penguasaan konsep dasar mempengaruhi konsep lanjut yang terkait dengan konsep dasar. Contohnya konsep kekuatan asam-basa dan konsep asambasa bronsted lowry merupakan konsep dasar yang diperlukan dalam mempelajari konsep hidrolisis garam. Kesalahan konsep asam-basa mempengaruhi pemahaman siswa pada konsep hidrolisis garam. Hal ini mendorong penulis untuk mengadakan penelitian pemahaman siswa tentang konsep hidrolisis garam. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap pengertian (definisi) hidrolisis garam, (2) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam menuliskan persamaan reaksi hidrolisis, (3) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam menurunkan rumus [ H+ ] atau [ OH- ] dari persamaan reaksi kesetimbangan hidrolisis, (4) untuk menetahui tingkat pemahaman siswa dalam menentukan sifat larutan garam hasil hidrolisis dan (5) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam menentukan pH larutan hidrolisis garam. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang tahun ajaran 2008/2009 semester genap, yang berjumlah 149 siswa dan terbagi dalam 4 kelas. Sampel penelitian adalah kelas XI IPA I dan kelas XI IPA IV dengan jumlah 73 siswa, pengambilan dilakukan dengan acak kelas. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes subyektif sebanyak 16 butir soal. Dari hasil verifikasi instrumen diperoleh instrumen valid, 8 soal memiliki daya beda baik, 8 soal memiliki daya beda cukup, koefisien reliabilitas instrumen adalah 0,72. Selanjutnya data dianalisis dengan menghitung persentase tingkat pemahaman konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang : (1) terhadap pengertian (definisi) hidrolisis garam tergolong cukup (59%). (2) dalam menentukan garam yang dapat terhidrolisis dalam air serta jenis hidrolisisnya tergolong sangat tinggi (95%). (3) dalam penulisan persamaan reaksi hidrolisis tergolong tinggi (71%). (4) dalam penurunan rumus [ H+ ] atau [ OH- ] dari persamaan reaksi hidrolisis garam tergolong rendah (42%). (5) Dalam penentuan sifat larutan hasil hidrolisis garam tergolong tinggi (66%). (6) dalam penentuan pH larutan hidrolisis garam tergolong cukup (56%). Tingkat pemahamn terendah siswa adalah menurunkan rumus [ H+ ] atau [OH-] dari persamaan reaksi hidrolisis garam yaitu sebesar 42%. Data tingkat pemahaman siswa yang diperoleh pada penelitian ini terlihat tidak sistematis, yang dimungkinkan karena belum dikuasainya konsep dasar sebelunya yaitu konsep asam-basa.

Pelaksanaan perjanjian sewa-menyewa tempat pemondokan antara penyelenggara pemondokan dan pemondok di kelurahan Tlogomas kec. Lowowaru kota Malang / Shanty Ayu Wigkaningtyas K

 

ABSTRAK Kusumawardhany, Shanty, Wigkaningtyas. 2009. Pelaksanaan Perjanjian Sewa- Menyewa Tempat Pemondokan Antara Penyelenggara Pemondokan Dan Pemondok Di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Edi Suhartono, S.H., M.Pd., (II) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H., M.Si. Kata Kunci: perjanjian, sewa-menyewa, tempat pemondokan, penyelenggara pemondokan, pemondok. Mobilitas mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Malang, berdampak pada kehidupan sosial kemasyarakatan di tempat mereka kos atau mondok. Selain harus mematuhi peraturan yang ada di lingkungan sekitar tempat pemondokan, mereka juga harus melaksanakan perjanjian sewa-menyewa tempat pemondokan yang telah disepakati dengan penyelenggara pemondokan. Ketaatan penyelenggara pemondokan dan pemondok dalam melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai pemegang peran terhadap Peraturan Daerah Kota Malang No. 6 Tahun 2006 banyak ditentukan oleh kesadarannya akan tertib aturan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pelaksanaan perjanjian sewa-menyewa tempat pemondokan; (2) faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian sewa-menyewa tempat pemondokan; (3) upaya yang dilakukan oleh penyelenggara pemondokan, pemondok, pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi faktor penghambat pelaksanaan perjanjian sewamenyewa tempat pemondokan antara penyelenggara pemondokan dengan pemondok di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi adalah: (1) observasi; (2) wawancara; (3) dokumentasi; dan (4) kepustakaan. Pendekatan penelitian yang dipakai dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tlogomas Malang, selama bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2009. Subyek penelitian, dalam hal ini adalah: (a) Kepala Satpol PP Kota Malang Bapak Bambang Suharjadi; (b) Perangkat Desa, seperti Lurah, Ketua RW, dan Ketua RT; (c) penyelenggara pemondokan dan pemondok di Kelurahan Tlogomas. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perjanjian sewamenyewa tempat pemondokan antara penyelenggara pemondokan dan pemondok di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Malang belum terlaksana dengan baik, hal ini terlihat dari beberapa pelanggaran hak dan kewajiban yang dilakukan oleh penyelenggara pemondokan dan pemondok. Faktor pendukung pelaksanaan perjanjian adalah adanya perjanjian sewa-menyewa tempat pemondokan yang telah disepakati kedua belah pihak. Faktor penghambatnya adalah kurang adanya kesadaran diri atas hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam melaksanakan perjanjian. Hambatan dari pemerintah yaitu kurangnya sosialisasi Perda Kota Malang No 6 tahun 2006 tentang Usaha Penyelenggaraan Pemondokan. Hambatan dari masyarakat adalah kurangnya pengawasan dari pihak RT/RW dan warga dalam mengawasi pelaksanaan penyelenggaraan usaha pemondokan. ii Untuk mengatasi hambatan tersebut, upaya yang dilakukan penyelenggara pemondokan dalam menangani pemondok yang melanggar perjanjian, yaitu memberi teguran secara langsung. Upaya yang dilakukan pemondok adalah memilih untuk diam, tetapi ada juga yang langsung memberitahu penyelenggara pemondokan apabila menyimpang dari perjanjian. Upaya Pemerintah Kota yaitu mensosialisasikan lagi Perda No. 6 Tahun 2006 tentang Usaha Penyelenggaraan Pemondokan, sosialisasi dilakukan lewat posterposter dan media televisi. Upaya yang dilakukan masyarakat adalah pelaksanaan ronda di wilayah RT/RW setempat setiap malam. Saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Perjanjian sewa-menyewa hendaknya dibuat secara tertulis agar tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan apabila terjadi sengketa di kemudian hari; (2) Aparat pemerintahan yaitu Pemerintah Kota, Kecamatan, Kelurahan dan RT/RW harus lebih aktif dan tegas dalam mengawasi jalannya kegiatan penyelenggaraan pemondokan, khususnya masalah Ijin Penyelenggaraan Usaha Pemondokan, misalnya dengan melakukan razia dan sweeping di tempat-tempat pemondokan.

Penerapan model pembelajaran talking stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X dalam mata pelajaran ekonomi pokok bahasa uang dan peerbankan di SMA negeri 1 Lumajang / Rosanina Nur Azizah

 

Pendekatan pembelajaran yang sering digunakan adalah pendekatan yang berpusat pada guru, sehingga siswa tidak berpatisipasi dalam proses pembelajaran, suasana kelas menjadi monoton dan membosankan. Akibatnya siswa menjadi tidak fokus terhadap pelajaran dan berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Untuk mengatasi hal ini, dapat digunakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Talking Stick. Model pembelajaran ini akan mendorong siswa untuk lebih menguasai materi. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, catatan lapangan, dan tes. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Negeri 1 Lumajang, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X-1 yang berjumlah 36 siswa. Mata pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ekonomi untuk kelas X semester II tahun ajaran 2008/2009, dengan menggunakan pokok bahasan Uang dan Perbankan. Untuk mengetahui ketepatan langkah-langkah guru dalam pembelajaran maka dilakukan observasi (pengamatan) dengan menggunakan instrumen lembar observasi. Untuk mengetahui kegiatan siswa selama proses pembelajaran maka dilakukan observasi (pengamatan) menggunakan instrumen lembar aktivitas. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ditinjau dari aspek kognitif yang dilakukan perhitungan nilai pre test dan post test kedua siklus. Hasil penelitian penerapan model pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Lumajang adalah sebagai berikut: (1) Pada Siklus I diketahui hasil pre test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 58,61 dengan nilai terendah adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 80. Hasil post test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 67,78 dengan nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 90. Hasil observasi ketepatan langkah-langkah guru dalam pembelajaran pada Siklus I ini dengan prosentase 86,36% dengan taraf keberhasilan termasuk kategori “A-“. Hasil observasi aktivitas siswa pada Siklus I dengan prosentase 79,16% dengan taraf keberhasilan termasuk kategori “B+”. (2) Pada Siklus II diketahui hasil pre test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 68,33 dengan nilai terendah adalah 60 dan nilai tertinggi adalah 80. Hasil post test siswa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 78,33 dengan nilai terendah adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100. Hasil observasi ketepatan langkah-langkah guru dalam pembelajaran pada Siklus II ini dengan prosentase 100% dengan taraf keberhasilan termasuk kategori “A”. Hasil observasi aktivitas siswa pada Siklus II dengan prosentase 100% dengan taraf keberhasilan termasuk kategori “A”. Hal ini dapat diartikan bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pengamat pada Siklus II, taraf keberhasilan kegiatan penelitian termasuk dalam kategori “A”. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-1 di SMA Negeri 1 Lumajang pada Mata Pelajaran Ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu : (1) model pembelajaran Talking Stick cocok digunakan dalam materi yang berbentuk uraian teori, hal ini sesuai dengan penelitian ini; (2) model pembelajaran Talking Stick membutuhkan waktu yang lama karena harus menunggu siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru. Hal ini dapat diatas dengan memberikan nilai tambahan apabila siswa dapat menjawab atau tugas tambahan apabila siswa tidak dapat menjawab; (3) apabila menggunakan model pembelajaran Talking Stick, pada waktu pemberian pertanyaan, siswa yang tidak mendapat giliran menjawab diberi tugas untuk menulis jawaban mereka sendiri dari pertanyaan yang diberikan guru kepada siswa lain sehingga kelas tetap tenang.

Penerapan metode discovery dalam pembelajaran sains untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan kooperatif siswa kelas II SDN Karanganyar Pasuruan / Siti Chotijah

 

Keberhasilan guru dalam mengajar dapat dinilai berdasarkan ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar antara lain mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, pembelajaran IPA yang dilakukan di SDN Tundosoro selama ini menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang pasif, tidak mampu mengingat konsep yang telah dipelajari sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai pre test yang dicapai 55,83 dengan 16 siswa (53%) mencapai ketuntasan dan 14 siswa (47%) belum mencapai ketuntasan. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan metode pembelajaran discovery. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Peningkatan pemahaman konsep perubahan benda pada pembelajaran IPA dengan menggunakan metode discovery (2) Tanggapan guru mengenai penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Tundosoro. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing siklus terdiri dari (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Observasi (4) Refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Tundosoro yang berjumlah 30 siswa yang terdiri dari 16 perempuan dan 14 laki-laki. Instrumen penelitian ini adalah RPP, pedoman observasi, LKS, dan lembar tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode discovery dapat meningkatkan pemahaman konsep perubahan benda pada siswa kelas V SDN Tundosoro. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil tes tulis pada setiap siklus. Hasil tes tulis pada siklus I mencapai 62,7 dan meningkat menjadi 77 pada siklus II. Dari hasil observasi terdapat temuan lain yaitu penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA menjadikan siswa aktif bekerja sama dalam kelompok, berani bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru maupun siswa lain, serta menimbulkan rasa ingin tahu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA telah terbukti dapat meningkatkan pemahaman konsep perubahan benda pada siswa kelas V SDN Tundosoro. (1) Saran kepada guru, hendaknya menggunakan metode yang memberikan kebebasan belajar untuk menemukan konsep-konsep IPA, (2) kepada peneliti lain disarankan menggunakan metode pembelajaran discovery pada mata pelajaran lain sehingga diperoleh kualitas pendidikan yang lebih baik.

Upaya pemerintahan kab. Sragen dalam meningkatkan minat masyarakat menonton seni budaya wayang kulit / Tri Ambar Sari

 

ABSTRAK Sari, Tri Ambar. 2009. Upaya Pemerintah Kabupaten Sragen dalam Meningkatkan Minat Masyarakat Menonton Seni Budaya Wayang Kulit. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M. Si (2) Drs.Suwarno Winarno. Kata kunci: upaya pemerintah, minat, wayang kulit Wayang kulit merupakan salah satu kebudayaan warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan agar tidak punah. Dalam perkembangan jaman sekarang ini wayang kulit banyak kehilangan penggemarnya. Agar tidak mengalami kemunduran maka, diperlukan peranan dari pemerintah untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap wayang kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tata urutan pagelaran wayang kulit, persepsi masyarakat terhadap wayang kulit, faktor- faktor yang mempengaruhi menurunnya minat masyarakat terhadap wayang kulit, upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Sragen dalam meningkatkan minat masyarakat dan hambatan yang dialami pemerintah Kabupaten Sragen dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap wayang kulit. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sragen khususnya di Desa Jagan, Karangmalang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi pustaka, wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis domain dan analisis taksonomi. Temuan penelitian adalah (1) tata urutan wayang kulit terbagi dalam dua aturan yaitu menurut pakem dan menurut carangan (2) persepsi masyarakat Desa Jagan mengenai wayang kulit adalah wayang kulit merupakan peninggalan nenek moyang yang perlu dilestarikan karena didalmnya terdapat falsafah hidup yang dapat memberi pedoman dalam kehidupan. Wayang kulit juga merupakan salah satu seni budaya yang dimainkan oleh seorang dalang dan diiringi gamelan yang dimainkan oleh para nayogo dan ada yang nembang yaitu beberapa sinden (3) minat masyarakat terhadap wayang kulit menurun disebabkan adanya perkembangan jaman dimana alat- alat elektronik sudah canggih. Sekarang ini masyarakat lebih suka melihat sinetron- sinetron yang ada di TV. Sekarang ini banyak kesenian yang lebih modern yang berkembang dimasyarakat seperti campursari, klenengan, organ tunggal,dll. Generasi penerus bangsa ini juga tidak berminat untuk menonton wayang kulit dengan alasan tidak mengetahui cerita tokoh bahasa yang digunakan, pertunjukkan semalam suntuk dan yang lainnya. (4) upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan pembentukan organisasi dalang bernama RUMAGANG. Dari dalang sendiri upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengikuti perkembangan jaman tetapi tidak boleh meninggalkan pakem yang ada. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan Bapak Bupati menjadi seorang dalang dalam setiap acara yang dilakukan oleh pemda. (5) hambatan yang dihadapi pemerintah Kabupaten Sragen dalam meningkatkan minat yaitu karena para generasi muda yang menganggap wayang kulit adalah hal yang sudah ketinggalan jaman atau jadul. Dalam kegiatan ekstrakulikuler sendiri pihak sekolah kekurangan dana dan kurangnya partisipasi dari masyarakat mengenai upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkjan minat masyarakat terhadap seni budaya wayang kulit. Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pemerintah lebih memperhatikan kebudayaan dengan cara memberikan kebijakan kepada sekolah- sekolah untuk mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan wayang kulit agar para generasi penerus dapat mengenal wayang kulit lebih dini dan mendalam. Dengan hal itu maka wayang kulit tidak akan punah oleh perkembangan jaman.

Pembelajaran berbasis portofolio (PBP) untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas X pada pelajaran bahasa indonesia di SMAN 1 Nganjuk / Elyka Erma Shanti

 

ABSTRAK Shanti, Elyka Erma. 2010. Pembelajaran Berbasis Portofolio (PBP) Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Deskripsi Siswa Kelas X Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Di SMA Negeri I Nganjuk. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Moh. Efendi, M.Pd, M.Kes, dan (2) Dr. Hj. Mardiah Moenir, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Portofolio, Assessment Portofolio, Menulis Deskripsi. Inovasi pendidikan sangat diperlukan dalam me nunjang pembelajaran. Pembelajaran berbasis portofolio merupakan salah satu inovasi pendidikan yang berusaha memajukan pembelajaran dalam bentuk assessment portofolio. Assessment portofolio ini menekankan pada pada penilaian proses dan hasil. Pembelajaran berbasis portofolio merupakan bundelan hasil karya-karya terbaik yang terkumpul dalam kurun waktu tertentu. Pembelajaran berbasis portofolio ini sangat bermanfaat dalam mengontrol perkembangan siswa. Selain itu, pembelajaran berbasis portofolio ini merupakan cara paling mudah menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri pada siswa. Pembelajaran berbasis portofolio dalam bentuk assessment portofolio ini sangat diperlukan bagi guru. Assessment ini dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Menulis deskripsi termasuk pelajaran Bahasa Indonesia kelas X. Menulis deskripsi merupakan bentuk karangan yang mendeskripsikan sesuatu secara jelas dan lengkap. Karangan deskripsi berusaha untuk menyentuh semua ind era, sehingga melalui tulisan deskripsi pembaca sudah bisa menggambarkan hal yang dimaksud. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan rancangan penelitian Quasi Experiment With Pretest Postest Group Design . Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen digunakan d alam penerapan pembelajaran berbasis portofolio, sedangkan kelas kontrol digunakan sebagai pengontrol dengan menggunakan pembelajaran secara konvensional . Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Nganjuk. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui nilai/hasil belajar menulis deskripsi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Nganjuk dengan menggunakan pembelajaran berbasis portofolio; (2) mengetahui nilai/hasil belajar menulis deskripsi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Nganjuk dengan menggunakan pembelajaran berbasis portofolio; (3) mengetahui perbedaan nilai/hasil belajar menulis deskripsi ii siswa kelas X di SMA Negeri 1 Nganjuk antara pendekatan pembelajaran berbasis portofolio dengan pembelajaran konvensional. Teknik penentuan sampel berdasarkan teknik purposive sampling dan teknik acak sederhana. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan instrumen primer berupa tes menulis, dan instrumen sekunder berupa kuesioner siswa, daftar isian/pernyataan guru, dan pengama tan. Analisis pengujian hipotesis dengan menggunakan Uji T-Test Pair Sample dan Independent Sample. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) hasil analisis pos-tes menulis deskripsi objektif diperoleh indeks t sebesar 5,949 pada taraf signifikansi 0,000. Artinya, p < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima ; (2) hasil analisis pos-tes menulis deskripsi subjektif diperoleh indeks t sebesar 4,057, pada taraf signifikansi 0,000. Artinya, p < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulan dari penelitian ini se cara umum yaitu ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan pembelajaran berbasis portofolio (PBP) dengan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas X pada pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Nganjuk . Perbedaan hasil belajar ini ditunjukkan dengan lebih tingginya nilai rata -rata menulis deskripsi yang diperoleh kelompok eksperimen dibandingkan dengan nilai rata -rata menulis deskripsi yang diperoleh kelompok kontrol. Berdasarkan hasil penelitian tersebu t dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis portofolio dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Nganjuk. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Nganjuk, supaya menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis portofolio (PBP) dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis portofolio mampu menyajikan penilaian pada proses dan hasil dibandingkan pe mbelajaran konvensional yang hanya menyajikan penilaian pada hasil saja. Penilaian pada proses dan hasil mampu meningkatkan hasil belajar siswa, karena melalui proses yang terbimbing dari guru mampu meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri pada siswa sehingga hasil belajar juga meningkat ; (2) Kepala Sekolah khususnya Kepala SMA Negeri 1 Nganjuk, agar mengembangkan pembelajaran berbasis portofolio (PBP) dalam proses belajar mengajar di kelas untuk semua guru mata pelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Nganjuk pada pelajaran Bahasa Indonesia terbukti pembelajaran berbasis portofolio mampu meningkatkan hasil belajar menulis deskripsi ; (3) bagi peneliti berikutnya, disarankan kepada para peminat pembelajaran, pa ra peneliti berikutnya, para ilmuan, dan mungkin untuk peneliti sendiri agar dapat mengembangkan pembelajaran berbasis portofolio dengan variabel penelitian yang lebih kompleks tentang menulis, atau dapat juga mengembangkan penelitian untuk mata pelajaran yang berbeda dengan materi yang berbeda pula.

Penerapan metode pembelajaran PBL ( Problem Based Learning ) dan exsample non exsample untuk meningkatkan tingkat kemampuan berfikir kritis dan pemahaman konsep ekonomi kelas XI IPS 4 SMA negeri 5 Kediri / Ratna Noviana

 

Kualitas pendidikan tidak terlepas dari peran guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, untuk mewujudkan suatu pendidikan yang berkualitas, maka perlu diperhatikan metode dalam mengajar dan strategi pengajaran yang akan diterapkan oleh guru kepada siswa. Metode pembelajaran merupakan unsur terpenting yang mendukung tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar. Melalui metode pembelajaran, seorang guru dapat merancang dan mengarahkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Berdasarkan hasil observasi awal yang penulis lakukan di SMA Negeri 5 Kediri, diketahui metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru ekonomi adalah ceramah dan pemberian tugas. Metode pembelajaran ini menekankan peran guru yang lebih dominan dibandingkan siswa pada saat proses belajar, sehingga siswa cenderung pasif , dan jenuh dalam belajar. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan kurang optimalnya hasil belajar siswa. Melihat kondisi tersebut, hendaknya guru menerapkan metode pembelajaran yang lebih variatif dan menuntut keterlibatan siswa secaraa aktif dalam proses belajar untuk meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode pembelajaran PBL(Problem Based Learning) dan Example Non Example secara terpadu dalam satu kegiatan belajar siswa. Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) lebih berorientasi pada siswa dan mengedepankan pembelajaran kecakapan hidup. Dalam mata pelajaran ekonomi kecakapan hidup diperlukan siswa agar lebih kritis dalam anaisis permasalahan ekonomi. Sedangkan Example Non Example sebagai salah satu metode yang mengembangkan efektifitas dalam kegiatan belajar siswa. Perpaduan kedua model pembelajaran ini akan memberikan bentuk kegiatan yang variatif dan mendukung terwujudnya hasil dari kegiaaan yang lebih maksimal khususnya pada aspek kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep pada pelajaran ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penerapan model pembelajaran PBL(Problem Based Learning) dan Example Non Example untuk meningkatkan tingkat berpikir kritis dan pemahaman konsep ekonomi kelas XI IPS 4 di SMA Negeri 5 Kediri dengan jumlah siswa 39 orang. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 Kediri dengan alamat jalan Lingkar Maskumambang no 3 Kediri pada tanggal 2 November 2009. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif.dengan metode pengumpulan data dan menggunakan sistem observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep ekonomi selama pemberian tindakan pada siklus I dan II, rata-rata skor kelompok untuk adalah 80,3% meningkat 25%. Aspek yang kedua adalah memberikan argumen dengan rata-rata skor kelompok sebesar 69% meningkat 14,5%. Aspek yang ketiga adalah melakukan deduksi dengan rata-rata skor kelompok sebesar 71,3%meningkat sebesar 11,8%. Aspek yang ke empat adalah melakukan induksi dengan rata-rata skor kelompok sebesar 57,5% meningkat sebesar 5,7%. Aspek yang kelima adalah melakukan evaluasi dengan skor kelompok sebesar 67% meningkat sebesar 22,2%. Dan aspek yang terakhir adalah memutuskan dan melaksanakan dengan perolehan skor rata-rata kelompok sebesar 72,8%dan mengalami peningkatan sebesar 17,5%. Sedangkan untuk pemahaman konsep ekonomi didapatkan rata-rata kelas sebesar 84. Peningkatan skor tes akhir disetiap masing-masing siklus yang diukur dengan hasil belajar yaitu 58,8% mencapai taraf keberhasilan yang sangat baik dan 38,2% dalam katergori baik melalui aspek kognitif. Kemudian dengan banyaknya siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu sebesar 75, dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 94,8 yaitu sebanyak 36 siswa dari total siswa 39 orang mendapatkan nilai diatas 75. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut tentang penelitian tindakan kelas dengan model PBL (Problem Based Leaning) dan Example Non Example secara terpadu, bagi guru yang berminat menerapkan pembelajaran denagn metode ini harap memperhatikan pengelolaan kelas dan bagi peneliti selanjutnya sebaiknya mencari subjek penelitian sekolah yang belum pernah dilakukan penelitian tindakan kelas

Penerapan pembelajaran kooperatif model student teams echivement division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar ilmu penetahuan alam ( IPA ) siswa 2 SDN Sentul 1 Blitar / Ermi Farida

 

Hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII-D SMP Negeri I Malang, menunjukkan bahwa pembelajaran fisika masih sering menggunakan metode ceramah dan jarang sekali guru melakukan diskusi kelompok. Disisi lain motivasi dan prestasi belajar siswa rendah, hal ini terlihat pada saat guru menjelaskan materi pelajaran sebagian besar siswa tidak memperhatikan penjelesan guru, siswa terlihat kurang aktif dalam hal bertanya maupun menjawab materi pelajaran,siswa kurang memiliki literatur yang dibawa dia dalam kelas untuk menunjang pemahaman siswa tentang materi fisika yang diajarkan dan nilai rata-rata ulangan harian siswa masih dibawah SKM yang ditentukan oleh SMP Negeri I Malang. Proses pembelajaran dikelas dapat dikatakan tuntas belajar bila 85% siswanya tuntas belajar. Motivasi belajar merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Bertolak dari fenomena yang ditemukan di lapangan, peneliti kemudian merumuskan beberapa permasalahan, yaitu: (1) Apakah pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan motivasi belajar fisika siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang? (2) Apakah pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang? Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data yang dikumpulkan berupa kata-kata atau angka yang dijabarkan dalam kalimat. Penelitian difokuskan pada motivasi dan prestasi belajar yang dilakukan dengan 2 siklus tindakan. Prestasi belajar siswa diukur dengan menggunakan tes yang berbentuk uraian, tes ini dilaksanakan setiap akhir siklus. Sedangkan motivasi belajar, diukur dengan menggunakan instrumen berupa lembar observasi motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran fisika dengan model STAD secara keseluruhan dapat meningkatkan motivasi belajar fisika kelas VIII-D SMP Negeri I Malang. Hal ini didukung oleh hasil analisis lembar observsi motivasi belajar yang mengalami peningkatan dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan. Hal tersebut ditunjukkan dengan siswa sudah mulai teradaptasi dan mengikuti pola pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti di lapangan, keberanian siswa untuk bertanya juga meningkat. Rerata persentase keberhasilan tindakan mengalami peningkatan pada motivasi belajar siswa sebanyak 19,7%. Sedangkan untuk prestasi belajar juga mengalami peningkatan, prestasi belajar siswa dari 70% tuntas belajar kelas pada siklus kedua menjadi 97,5% tuntas belajar kelas dan persentase ini sudah melebihi dari standar tuntas belajar yaitu 85%

Penerapan metodr inquiri untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA pada siswa kelas III SDN ngawonggo 01 Kecamatan tajinan kabupaten malang tahun pelajaran 2009/2010 / Sugeng Mulyanto

 

ABSTRAK Muliyanto, Sugeng. 2010. Penerapan Metode Inquiri Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran IPA Pada Siswa Kelas III SDN Ngawonggo 01 Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang, Tahun Pelajaran 2009/2010. E-TA. Program Studi PJJ S-1 PGSD Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Lia Yuliati, M. Pd Kata Kunci : dalam mata pelajaran IPA, pada siswa kelas III SDN Ngawonggo 01 kecamatan tajinan kabupaten malang, penerapan metode inquiri, untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, tahun pelajaran 2009/2010. Peningkatan kualitas pendidikan menjadi pusat perhatian bagi pemerintah dan pemerhati pendidikan. Seiring dengan itu pemerintah sudah menerbitkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (KTSP). KTSP sebagai perbaikan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 (KBK). Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah-masalah konkrit yang terdapat di kelas diantaranya, rendahnya hasil prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA, siawa kurang mendapat bimbingan dari orang tua, dan siswa terbiasa tidak mengerjakan PR. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Evaluasi dilaksanakan dua kali setelah pertemuan 2 dan 4 selesai. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu tahap rencana tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (actualising), mengamati (observation) dan melakukan refleksi (reflection). Ketuntasan belajar yang dapat dicapai oleh siswa pada pra tindakan adalah 31, 25 % (5 siswa), pada siklus 1 ketuntasan belajar siswa mencapai 56, 25 % (9 siswa) dan pada siklus 2 nilai ketuntasan belajar siswa mencapai 81,25 %. (13 siswa). Nilai rata-rata yang dapat dicapai oleh siswa adalah 70,37 % SKBM untuk mata pelajaran IPA dalah 60 %. Ini berarti sudah mencapai SKBM yang telah ditentukan. Agar pembelajaran tidak terkesan membosankan hendaknya guru tidak menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, tetapi sebaiknya guru menggunakan beberapa metode yang inovatif, serta menggunakan model pembelajaran yang dapat menarik motivasi siswa dalam belajar aktif, kreatif dan inovatif, contohnya dengan menerapkan model pembelajaran PAKEM . Karena dalam pembelajaran PAKEM ini siswa dituntut untuk aktif bertanya, menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dan menyenangkan

Penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN kalipang 01 kecamatan sutojayan kabupaten Blitar / Suhariningsih Eko

 

ABSTRAK Suhariningsih, Eko. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Dengan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III SDN Kalipang 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar . Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Musa Sukardi, M.Pd Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Metode inkuiri, Hasil Belajar. Dalam pandangan kontekstual pengajaran dan pembelajaran IPA di kelas haruslah berwujud proses inkuiri, sebuah proses yang ditempuh oleh para ilmuwan dan terdiri atas unsur-unsur siklus mengamati, mengajukan pertanyaan, mengajukan penjelasan-penjelasan dan hipotesis-hipotesis, merancang dan melakukan eksperimen- eksperimen, menganalisis data eksperimen, menarik kesimpulan eksperimen, dan membangun model atau teori. Tugas guru hanya memfasilitasi agar terjadi proses belajar. Tetapi pada kenyataannya yang terjadi di SDN Kalipang 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, model pembelajaran yang digunakan selama ini adalah model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah yang bersifat klasikal. Hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya hasil belajar siswa yang disebabkan penerapan model pembelajaran yang berpusat pada guru, murid hanya pasif, duduk diam untuk menerima transfer belajar dari guru. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri, dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Instrumen penelitian berupa lembar pengamatan dan soal tes. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK yang terdiri dari dua siklus tindakan. Data yang didiskripsikan meliputi data kegiatan belajar, data hasil observasi unjuk kerja, data hasil tes tulis, data pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri. Hasil penelitian menyatakan bahwa hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Kalipang 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar sangat baik. Pada tahap pra tindakan nilai rata-rata kelas 48,2. Nilai tertinggi 75, nilai terendah 30. Setelah dilakukan tindakan siklus 1 nilai rata-rata kelas menjadi 57, nilai tertinggi 83 nilai terendah 35, ada 7 siswa (21%) yang tuntas belajar dan 27 siswa (79%) tidak tuntas belajar. Pada tindakan siklus 2 nilai rata-rata kelas yang berhasil dicapai adalah 81,3. nilai tertinggi 100 nilai terendah 60. Siswa yang berhasil mencapai daya serap ≥ 70 mencapai 91 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri terbukti dapat meningkan hasil belajar siswa berupa peningkatan hasil belajar pada siklus 1 dan 2 pada SDN Kalipang 01. Oleh karena itu disarankan agar dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa: 1. Guru menguasai dan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif yang efektif dan menyenangkan siswa, salah satu diantaranya, yaitu model pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri. 2. Guru melakukan penelitian pada materi pokok yang lain atau mata pelajaran yang berbeda agar tercapai hasil belajar yang maksimal

Penerapan pendapatan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas VI SDN sukorame 02 kecamatan binangun kabupaten Blitar Tahun pelajaran 2009/2010 / Rohmatul Dwi Asiyah

 

ABSTRAK Rohmatul Dwi Asiyah. 2009. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Model Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas VI SDN Sukorame 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010, PTK, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi PJJ S1-PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Pembimbing: Drs. Tomas Iriyanto, MPd. Kata Kunci: Pembelajaran Koopetatif Model Jigsaw, Prestasi Belajar, IPS Sekolah Dasar Dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, seringkali siswa kurang antusias mengikutinya. Cakupan materi yang cukup luas mengharuskan siswa untuk banyak membaca. Selain itu siswa juga perlu menghapalkan beberapa bagian yang dianggap penting. Belum lagi metode pembelajaran yang diterapkan guru cenderung monoton. Pembelajaran IPS menjadi kurang menyenangkan dan cenderung membosankan. Akibatnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ini cenderung menurun juga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan pembelajaran model Jigsaw yang dapat meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Sukorame 02. Penelitian ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus, dimana masing-masing siklus melalui 4 (empat) tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan analisa, serta refleksi. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas VI SDN Sukorame 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar yang berjumlah 27 anak. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa melalui penerapan pendekatan pembelajaran model Jigsaw ada peningkatan aktivitas belajar siswa. Hal ini juga berpengaruh meningkatkan prestasi belajar siswa. Aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 63%, pada siklus II meningkat sebanyak 12% menjadi 75% melebihi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 70%. Prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 52% pada siklus I menjadi 82% pada siklus II. Prosentase ini jauh melampaui kriteria yang ditetapkan yaitu 75%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran model jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI SDN Sukorame 02 Kecamatan Binangun Kabupater Blitar untuk tahun pelajaran 2009/2010.

Implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) di kelas VII smp negeri 1 wajak kabupaten malang

 

ABSTRAK Suwardani, Ginanjar, Triyo. 2009. Implementasi Hak Asasi Manusia Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas VII SMP Negeri 1 Wajak Kabupaten Malang. Skripsi, Prodi PPKn, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof.Dr. Sukowiyono,SH, M.H, (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si. Kata Kunci: Hak Asasi Manusia, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Hak Asasi Manusia merupakan hak dasar yang dimiliki manusia yang tidak dapt di kurangi dengan suatu apapun. Dalam proses pembelajaran Hak Asasi Manusia merupakan salah satu komponen yang dapat mendukung terwujudnya pembelajaran yang lebih menghargai hak-hak manusia dan mewujudkan pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran efektif (effective learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning). Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di SMP Negeri 1 Wajak diaktualisasikan dalam bentuk proses pemebelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan, hal ini dapat terlihat dalam keterlibatan siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas VII SMP Negeri 1 Wajak Kabupaten Malang, (2) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), (3) upaya-upaya yang dilakukan oleh guru guna mengatasi kendala-kendala implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Berdasarkan tujuan tersebut, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu sumber data manusia dan sumber data non manusia (dokumen). Penentuan informan penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan menggunakan empat teknik, yaitu perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan, triangulasi (sumber, metode, teknik), dan pemeriksaan sejawat. Temuan penelitian menujukkan bahwa (1) implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 1 Wajak meliputi (a) Implementasi HAM dalam perencanaan pembelajaran yang meliputi: Perumusan kompetensi pembelajaran, dimana guru mengembangkan kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi kedalam beberapa indikator pembelajaran, dalam mengembangkan indikator guru tetap memperhatikan potensi dan kemampuan dari peserta didiknya; Perencanaan materi, dalam proses pembelajaran guru selalu menumbuhkan sikap demokratis melalui keterbukaan untuk bertanya atau berpendapat jika dalam pembelajaran ditemukan perbedaan antara materi dengan buku; Perencanaan metode, guru melakukan pemilihan metode yang akan digunakan sehingga pembelajaran lebih efektif, aktif dan sesuai dengan tujuan Perencanaan media, penggunaan media disesuaikan dengan materi yang diajarkan, serta penggunaan media terbatas pada media OHP dan Perencanaan evaluasi pembelajaran, meliputi kegiatan perencanaan waktu, materi yang diujikan serta intrumen dan bentuk tes yang akan digunakan (b) implementasi HAM dalam pelaksanaan pembelajaran, diwujudkan dengan pemberian hak pada siswa dalam bentuk hak untuk bertanya, menyampaikan pendapat, serta mengemukakan gagasan. (c) implementasi HAM dalam evaluasi pembelajaran, dalam merencanakan waktu evaluasi guru berpedoman pada kalender akademik agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah, serta dalam menentukan soal evaluasi guru tetap memperhatikan batasan-batasan kompetensi dasar yang ditentukan. (2) faktor pendorong implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Wajak adalah sebagai berikut: Ingin mengubah paradigma pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran yang modern, pembelajaran aktif, dan pembelajaran yang menyenangkan. Mewujudkan pembelajaran yang mengedepankan persamaan hak dan kebebasan dalam mengembangkan pengetahuan dan kreativitas. Sedangkan faktor penghambat adalah: Masih kurangnya pengetahuan guru dan siswa tentang penggunaan haknya dalam proses pembelajaran; Siswa masih belum bisa sepenuhnya mengharagai hak-hak masing-masing individu; Adanya sebagian siswa yang memaksakan kehendak dalam berpendapat; Kurangnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa. (3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn adalah: Guru selalu mengadakan komunikasi, sharing dan interaksi dengan siswa; Guru selalu memotivasi diri untuk meningkatkan profesionalismenya unutk meningkatkan kualitas dalam mengajar; Guru selalu menghadirkan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Beberapa saran sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran yaitu: (1) Guru perlu lebih meningkatkan kualitas dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional, (2) Bagi pihak sekolah, perlu adanya bimbingan dan pelatuhan tentang hak asasi manusia bagi guru yang betujuan untuk meningkatkan kesadaran guru dalam peningkatan dan penghargaan hak asasi manusia dalam pembelajaran, (3) Bagi Diknas, perlu adanya pertimbangan tentang penerapan hak asasi manusia dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah serta perlu pelatihan atau sosialisasi tentang hak asasi manusia dalam mengembangkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai hak asasi manusia.

Perilaku sosial suproter persatuan sepakbola kabupaten Pasuruan (persekapas) "Sakeramania" di dalam pertandingan sepakbola / Nur Achmad Prihantoro

 

ABSTRAK Prihantoro, Nur Achmad. 2009. Perilaku Sosial Suporter Persatuan Sepakbola Kabupaten Pasuruan (Persekabpas) “Sakeramania” Di Dalam Pertandingan Sepakbola. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Suparlan, M.Si, (2) Drs. Ketut Diara Astawa, SH, M.Si Kata Kunci : Perilaku Sosial, Sakeramania, Suporter. Perilaku sosial merupakan reaksi individu yang terwujud dalam gerak yang digunakan oleh individu yang memiliki makna bagi orang lain dan bagi diri (aktor), guna memuaskan kebutuhan-kebutuhan sosialnya dalam usaha nenyesuaikan diri dengan lingkungannya. Suporter Sakeramania adalah suporter tim sepakbola Persekabpas yang berasal dari daerah Kabupaten Pasuruan, di Jawa Timur. Julukan Laskar Sakera (Lassak) bagi tim sepakbola Persekabpas memang diambil dari salah satu nama pejuang asal Pasuruan yakni Sakera. Semangat dan kegigihannya saat menghadapi penjajahan Belanda waktu itu, menjadi inspirasi kaum muda Pasuruan. Itulah yang lantas dicanangkan sebagai julukan tim sekaligus pendukung Persekabpas dengan nama Sakeramania. Adapun hal-hal yang perlu diteliti lebih dalam mengenai perilaku sosial suporter Persekabpas “Sakeramania” di dalam pertandingan sepakbola adalah (1) Bagaimanakah perilaku sosial suporter Persekabpas “Sakeramania” di dalam pertandingan sepakbola, (2) Bagaimanakah dampak perilaku sosial suporter Persekabpas “Sakeramania” terhadap Sakeramania dan Persekabpas, (3) Bagaimanakah upaya memberdayakan suporter Persekabpas “Sakeramania” menjadi baik dan kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mendeskripsikan perilaku suporter Persekabpas “Sakeramania” di dalam pertandingan sepakbola, (2) untuk mendeskripsikan dampak perilaku sosial suporter Persekabpas “Sakeramania” terhadap Sakeramania dan Persekabpas, (3) untuk mendeskripsikan cara memberdayakan suporter Persekabpas “Sakeramania” menjadi baik dan kreatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini tergolong jenis penelitian studi kasus. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sosial suporter Persatuan Sepakbola Kabupaten Pasuruan (Persekabpas) “Sakeramania” di dalam pertandingan sepakbola adalah a) adanya kontak sosial dan Komunikasi antara orang perorangan maupun dengan kelompok, b)munculnya struktur sosial dalam kelompok Sakeramania, c) adanya kerja sama antar anggota Sakeramania, dan juga kerjasama dengan berbagai pihak lain, d)jalinan kerjasama yang ditampakkan dengan memberikan reward (ganjaran sosial) yang berupa pujian, tepuk tangan dan juga ejekan, d) rasa aktif dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya masing-masing dalam diri anggota, layaknya anggota organisasi sosial, e) anggota ii Sakeramania mengetahui akan hak dan kewajiban sebagai anggota, dengan melaksanakan tugas sesuai dengan posisinya, f) munculnya daya kreatifitas para Sakeramania, g) adanya persaingan dan pertentangan (pertikaian atau konflik) yang dilakukan oleh Sakeramania, h) adanya pelanggaran terhadap peraturanperaturan dan norma-norma yang berlaku yang dilakukan oleh Sakeramania. Dampak Perilaku Sosial Suporter Persekabpas “Sakeramania” Terhadap Sakeramania dan Persekabpas terbagi menjadi 2, yaitu dampak positif dan negatif baik bagi Bakeramania maupun Persekabpas. merubah sistem pengembangan suporter, peningkatan kualitas dan kreatifitas merupakan cara memberdayakan suporter Persekabpas “Sakeramania” menjadi baik dan kreatif.

Pengaruh struktur aktiva, financial laverage dan struktur modal terhadap provitabilitas pada perusahaan otomotiv yang go public di bursa efek indonesia (periode pengamatan tahun 2006-2008) Aditya Hermawan

 

ABSTRAK Hermawan, Aditya. 2009. Pengaruh Strukur Aktiva, Financial Leverage, dan Struktur Modal Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Otomotif yang Go Public di BEI (Periode Pengamatan Tahun 2006-2008). Skripsi, Jurusan Manajemen, Konsentrasi Keuangan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Hadi Sriwiyana, M. M. (II) Drs. Mohammad Hari, M. Si. Kata Kunci: Struktur Aktiva, Financial Leverage, Struktur Modal dan Profitabilitas. Setiap perusahaan pada dasarnya didirikan untuk menghasilkan laba atau profit. Perusahaan dapat terus menjalankan kegiatan operasionalnya dan dapat bertahan dalam ketatnya persaingan, apabila perusahaan tersebut memiliki profitabilitas yang tinggi. Profitabilitas ini dicerminkan dari Return on Investment. Return on Investment menggambarkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan neto. Tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui kondisi profitabilitas yang dicerminkan oleh struktur aktiva, financial leverage, dan struktur modal, untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel struktur aktiva, financial leverage, dan struktur modal terhadap profitabilitas. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan. Populasi penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan pada tahun 2006-2008, sebanyak 19 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 11 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi Struktur Aktiva, Financial Leverage, dan Struktur Modal yang fluktuatif. Secara parsial struktur aktiva berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan financial leverage dan struktur modal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas. Kemudian dari penelitian ini didapatkan hasil secara simultan struktur aktiva, financial leverage, dan struktur modal berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi perusahaan untuk perlu menganalisis dan mempertimbangkan ketiga faktor yaitu struktur aktiva, financial leverage, dan struktur modal. Sedangkan Peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan profitabilitas. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel perusahaan sektor usaha tertentu dan menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih signifikan. Selanjutnya Bagi Investor dapat menjadikan profitabilitas sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi khususnya pada perusahaan Otomotif. Investor juga dapat mempertimbangkan kondisi struktur aktiva perusahaan karena sangat berpotensi dalam memberikan kontribusi terhadap profitabilitas perusahaan.

Meningkatkan prestasi belajar IPA melalui pendekatan keterampilan observasi media benda konkrit pada siswa kelas II SDN Taman Harjo III kec.Singosari kab.Malang / Nurjannah

 

ABSTRAK Nurjannah . 2009. Peningkatkan Prestasi Belajar IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Observasi Media Benda Konkrit pada Siswa Kelas II SDN Tamanharjo III Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan PJJ Prodi S1 PGSD, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Lia Yuliati, M.Pd. Kata kunci: Keterampilan Observasi, Media, Benda Konkrit , motivasi belajar. IPA merupakan serangkaian ilmu pengetahuan yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia dan alam semesta. Pendidikan IPA harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir dan berkomunikasi, penanaman nilai-nilai etika dan estetika, dan pengembangan sikap kemandirian, ketelitian, kritis serta bertanggung jawab. Untuk itu, pembelajaran IPA di sekolah harus memberikan pemahaman yang mendalam terhadap konsep yang baru dipelajari siswa. Pendekatan Keterampilan Observasi Media Benda Konkrit merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran dengan pendekatan Keterampilan Observasi Media Benda Konkrit merupakan pembelajaran yang banyak melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran ini, siswa dapat belajar melalui media benda konkrit sehingga dapat memperkuat daya ingat siswa. Siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri atas rasa keingintahuan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan konsep IPA pada siswa SDN Tamanharjo III Singosari dengan di tetapkanya pembelajaran pengamatan (Observasi). Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Dan menggunakan metode PTK Kemmis dan Taggart.Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Penerapan metode pendekatan keterampilan observasi media benda konkrit tentang hewan dan tumbuhan pada mata pelajaran IPA terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Hal ini terbukti selama kegiatan pembelajaran tindakan 1 dan 2 menunjukkan peningkatan keaktifan siswa terlibat dalam kegiatan. Siswa aktif mengikuti kegiatan, memotivasi minat belajar yang ditunjukkan perolehan nilai pada setiap akhir pembelajaran. Perolehan nilai hasil belajar yang menunjukkan peningkatan dari jumlah 40 siswa yang tuntas belajar hanya 8 siswa atau 20% (pra tindakan) menjadi 21 siswa atau 52,5% (tindakan 1) meningkat sebesar 32,5%. Karena siswa yang tuntas hanya 52,5% belum mencapai standar ketuntasan belajar minimal (70%), maka pada tindakan 2 penerapan metode eksperimen lebih maksimal seiring dengan anggota kelompok tidak lebih dari 4 siswa serta media yang memadai, maka ketuntasan belajar siswa meningkat 32,5% pada tindakan 2 dari 52,5% (tindakan 1) menjadi 85% atau 34 siswa.

Peningkatan hasil belajar matematika volume kubus dan balok melalui PBL strategi pemecahan masalah HEURISTIK siswa kelas V SDN KRAPYAKREJO II PASURUAN / Umi Kulsum

 

Berdasarkan observasi di kelas V SDN Jeladri I kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan, diketahui terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran matematika dikelas tersebut, diantaranya: (1) siswa cenderung kurang tertarik dan kurang semangat dalam pembelajaran, (2) siswa bosan dengan metode ceramah dan terlihat tegang karena pembelajaran yang dilakukan tidak berdasarkan rasa ingin tahu yang dimiliki siswa, (3) siswa tidak bisa aktif, tidak ada kerjasama antara teman karena tidak ada pembentukan kelompok, (4) siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan soal tentang materi skala, (5) hasil tes kurang memuaskan dengan rata-rata 50,4, sehingga dari hasil ini peneliti melaksanakan tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan, (2) peningkatan aktifitas belajar materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan dengan penerapan model pembelajaran ikuiri, (3) peningkatan hasil belajar materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan dengan penerapan model pembelajaran inkuiri. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari 2 siklus. Subyek penelitian ini siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan sejumlah 23 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data digunakan lembar observasi, wawancara, tes dan catatan lapangan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran materi skala dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa, pada pratindakan (50,4), siklus I nilai rata-ratanya menjadi 73,9, dan siklus II nilai rata-ratanya menjadi 84,4. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar materi skala siswa kelas V SDN Jeladri I Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan Dengan hasil penelitian tersebut, disarankan agar guru-guru dapat memanfaatkan model pembelajaran inkuiri pada pembelajaran matematika dan pada mata pelajaran yang lain. Serta disarankan bagi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian yang membahas tentang peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran inkuiri.

Hubungan berpikir positif dan represi masalah pada mahasiswa berkepribadian ekstrovert di Universitas Negeri Malang / Ariesta Dwi Kaufani

 

Kata Kunci: berpikir positif, represi masalah, mahasiswa, ekstrovert, Universitas Negeri Malang. Mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki lingkup interaksi yang berbedabeda dengan persoalan yang berbeda pula. Persoalan datang dari lingkungan ataupun dari diri sendiri, bagaimana dengan mahasiswa berkepribadian ekstrovert menghadapinya. Mahasiswa ekstrovert yang berpikir positif akan menghadapi persoalannya hingga tuntas. Namun dengan mahasiswa ekstrovert yang merepresi masalah akan menahan masalah tersebut dan menunda-nunda menyelesaikannya. Masalah apapun yang datang menghadang seorang individu dalam hidupnya, betapapun sulitnya masalah tersebut, bahkan tampak tidak ada harapan lagi, tidaklah begitu penting dibanding sikap individu tersebut terhadap masalah yang ada. Bagaimana seorang individu berpikir tentang suatu masalah, mungkin mengalahkan individu tersebut sebelum ia melakukan apapun terhadap masalah yang dihadapinya (Peale, 1996). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) gambaran berpikir positif pada mahasiswa ekstrovert di Universitas Negeri Malang (2) gambaran represi masalah pada mahasiswa ekstrovert di Universitas Negeri Malang (3) hubungan berpikir positif dan represi masalah pada mahasiswa berkepribadian ekstrovert di Universitas Negeri Malang, menggunakan metode penelitian kuantitatif yang dikembangkan dengan cara deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini mahasiswa berkepribadian ekstrovert Universitas Negeri Malang, sampel berjumlah 70 mahasiswa dengan menggunakan teknik accidental sampling, dan menggunakan 3 instrumen (1) Skala Eysenck Personality Inventory, reliabilitas berkisar antara 0,89-0,93 (2) Skala berpikir positif, reliabilitas 0,891 (3) Skala represi masalah, reliabilitas 0,726. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Dari 70 subyek penelitian, sebagian besar memiliki tingkat berpikir positif sedang (42 subyek atau 60%), tingkat berpikir positif tinggi dan rendah masing-masing 20% atau sebanyak 14 subyek (2) Subyek sebagian besar memi liki tingkat represi masalah sedang (47 subyek atau 67%), sebanyak 11 subyek dengan prosentase sebesar 16% dalam tingkat yang tinggi dan 17% atau sebanyak 12 subyek dalam tingkat yang rendah (3) Uji korelasi Product Moment diperoleh korelasi negatif berpikir positif dan represi masalah pada mahasiswa berkepribadian eksrtovert di Universitas Negeri Malang dengan rxy=-0,707 (p=0,000<0,01), sehingga semakin tinggi tingkat berpikir positif maka semakin rendah tingkat represi masalah pada mahasiswa berkepribadian ekstrovert. Saran untuk penelitian ini antara lain (1) mahasiswa berkepribadian ekstrovert dapat memahami dan menerima sepenuhnya apa yang ada dalam dirinya secara positif agar dapat melakukan interaksi dengan lingkungannnya sehingga mengalami progresifitas kepribadian dengan membiasakan diri berbaur dengan lingkungan (2) lembaga pendidikan dan orang tua membantu dan memfasilitasi mahasiswa meningkatkan kemampuan mahasiswa berpikir positif secara optimal dengan mengadakan pelatihan berpikir positif sehingga dapat menurunkan tingkat represi masalah pada mahasiswa, (3) penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan metode kualitatif agar dapat lebih menggali aspek-aspek berpikir positif dan represi masalah berkaitan dengan kepribadian ekstrovert. Diharapkan pula memperluas populasi agar hasil penelitian yang diperoleh menjadi lebih komprehensif.

Penerapan pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) untuk meningkatkan penguasaan konsep operasi perkalian pada siswa kelas IV SDN KARANG DUREN 03 PAKISAJI KABUPATEN MALANG./Tutik Khoidaroh

 

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan konsep perkalian sehingga siswa dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan perkalian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus, siklus pertama dan kedua. Instrumen yang digunakan antara lain, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi kegiatan belajar mengajar, dan tes formatif. Hasil belajar siklus I sebagi berikut, aktifitas belajar siswa dalam mengajukan pertanyaan 75%, menjawab pertanyaan 62,5%, memperhatikan pelajaran 92%, dan berdiskusi 70% sedang. Hasil tes formatif rata-rata 79,02, dan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 29 anak (80,5%). Hasil belajar pada siklus II aktifitas belajar siswa mengajukan pertanyaan sebanyak 80%, menjawab pertanyaan 94%, memperhatikan pelajaran 95%, dan berdiskusi 90% sedang hasil tes formatif rata-rata 88,88% serta jumlah siswa yang tuntas sebanyak 33 anak (88,8%). Motivasi keaktifan dan prestasi belajar meningkat. Sebanyak 28 siswa mempunyai kriteria penilaian sangat baik. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa serta prestasi belajarnya meningkat. Disarankan guru menggunakan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) agar keaktifan dan prestasi belajar matematika pada konsep perkalian meningkat.

Peningkatan prestasi belajar matematika melalui pembelajarn kontekstual pada siswa kelas V SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG./Estu Wahyuning Suprapti

 

Pembelajaran matematika Di SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK pada umumnya masih menggunakan metode konvensional. Apabila ada kesulitan siswa terlihat diam saja dan tidak mempunyai keinginan untuk bertanya dengan gurunya maupun ber-tukar pendapat dengan temannya. Selain itu media yang digunakan tidak menarik dan sulit dipahami oleh siswa. Akibatnya hasil belajar matematika pada pra tinda-kan sangat rendah yaitu dari 20 siswa hanya ada 1 siswa yang memperoleh skor 70 atau 5% dari jumlah siswa dan 19 siswa lain memperoleh skor antara 20 - 60. Berbagai kekurangan dan kelemahan tersebut perlu diadakan upaya per-baikan untuk pembelajaran selanjutnya dengan menerapkan model pembelajaran yang bisa meningkatkan hasil belajar siswa yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Model ini dipilih karena sesuai dengan keadaan siswa di SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK yang pada umumnya hete-rogen baik kemampuan individunya maupun jenis kelaminnya, selain itu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memotivasi siswa khususnya dalam hal bertanya dan mengeluarkan pendapat sehingga siswa dapat memahami materi dengan mudah dan hasil belajar dapat meningkat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) bagai-manakah pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas IV SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK pada pra tindakan? (2) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas IV SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada tiap siklus? (3) bagaimanakah peningkataan hasil belajar matematika di kelas IV SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK dari pra tindakan, siklus I dan siklus II dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD?. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas IV SDN BAMBANG 01 KECAMATAN WAJAK pada tahap pra tindakan, (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan siklus II, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dari pra tindakan, siklus I dan silklus II. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualititatif. Rancangan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tiga tahap yaitu pra tindakan, siklus I dan siklus II. Masing-masing tahap terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Data dan sumber yang dibutuhakan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang meliputi produk dan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) teknik observasi, (2) teknik kuis, (3) teknik kuisioner/angket. Instrumen yang digunakan berupa (1) lembar observasi, (2) kuisioner/angket, (3) kuis/tes, (4) catatan lapangan (field note). Teknik analisa data dipilah menjadi 4 kelompok data, (1) data hasil belajar siswa, (2) data pengamatan pembelajaran kooperatif tipe STAD, (3) data kegiatan mengajar guru, dan (4) data yang diperoleh dari angket siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh pada saat pos tes pra tindakan adalah 49 kualifikasi nilai kurang, pada siklus I adalah 71,65 kualifikasi nilai baik, sedang-kan pada siklus II adalah 85,5 kualifikasi nilai sangat baik. Dari hasil belajar ter-sebut dapat diketahui peningkatan dari pra tindakan ke siklus I sebesar 22,65%, sedangkan dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 13,85%. Aktivitas siswa pada pra tindakan memperoleh skor 9,42 atau kualifikasi nilai sangat kurang, aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 76,42 atau kualifikasi nilai baik, dan aktivitas siswa pada siklus II memperoleh skor 95,28 atau kualifikasi nilai sangat baik. Sedangkan aktivitas guru pada pra tindakan memperoleh skor 19,1 atau kualifikasi nilai sangat kurang, aktivitas guru pada siklus I memper-oleh skor 83,50 atau kualfikasi nilai baik, dan aktivitas guru pada siklus II memperoleh skor 94,50 atau kualifikasi nilai sangat baik. Kesimpulan berdasarkan temuan dari peneliatian ini, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran selama pra tindakan, siklus I dan siklus II dengan mene-rapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika, serta dapat meningkatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam mengembangkan keterampilan kooperatif dalam hal (1) menghargai pendapat orang lain, (2) mengambil giliran dan berbagi tugas, (3) mengundang orang lain untuk bicara, (4) bertanya, (5) mendengarkan dengan aktif, (6) tidak berbeda dalam tugas, (7) bersama-sama memeriksa jawaban. Saran yang diberikan berdasarkan kesimpulan diatas adalah (1) bagi siswa, setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengapli-kasikan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kehidupan sehari-hari khususnya dalam hal bekerjasama dan mengeluarkan pendapat, (2) bagi guru, dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran lainnya berdasarkan hasil peningkatan yang telah dicapai pada mata pelajaran matematika, (3) bagi peneliti lain, penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki keku-rangan dan memperoleh hasil yang memuaskan, (4) bagi peneliti, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL)untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran produktif kompetensi kejuruan standar kompetensi menemukan peluang baru dari pelanggan(studi pada siswa kelas XII program keahlian penjualan di SMK Muhamm

 

ABSTRAK Nurani, Elok. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Produktif Kompetensi Kejuruan Dengan Standar Kompetensi Menemukan Peluang Baru Dari Pelanggan (Studi Pada Siswa Kelas XII Program Keahlian Penjualan di SMK Muhammadiyah 2 Malang)”. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto,M,Si (II) Handri Dian Wahyudi,SE.,S.Pd.,M,Sc. Kata kunci: model pembelajaran berbasis masalah, minat, hasil belajar. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi, dkk). Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di kelas XII Program Keahlian Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan oleh guru selama ini masih menggunakan pola-pola pembelajaran konvensional, dimana peran guru masih sangat dominan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pemberian tugas. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini diindikasikan sebagai penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa. Atas dasar inilah, maka penelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas pembelajaran baik oleh guru maupun siswa, minat belajar siswa, hasil belajar siswa dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Program Keahlian Penjualan semester gasal tahun ajaran 2009/2010 SMK Muhammadiyah 2 Malang yang berjumlah 31 siswa dan dilakukan mulai tanggal 6 Oktober sampai dengan 18 Nopember 2009. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi penilaian ranah psikomotorik, lembar observasi penilaian ranah afektif, angket minat belajar siswa dan tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor persentase keberhasilan tindakan aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 16,67%. Peningkatan minat belajar siswa dapat diketahui dari meningkatnya skor angket minat dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 48,38%. Meningkatnya hasil belajar siswa dari ranah kognitif dapat diketahui dari peningkatan nilai Pre test ke Post test, pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 45,16%. Untuk ranah psikomotorik, terjadi peningkatan sebesar 6,45%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan, (1) bagi para guru mata pelajaran produktif SMK Muhammadiyah 2 Malang hendaknya menggunakan model pembelajaran PBL sebagai alternatif ii pembelajaran untuk lebih meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, (2) dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah, siswa harus didorong untuk memperkaya pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dan terarah, (3) di dalam melaksanakan model pembelajaran berbasis masalah hendaknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas dengan pemberian artikel saja, tetapi sebaiknya juga dilakukan diluar kelas/mengajak siswa untuk terjun langsung secara bersama-sama ke lapangan untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan materi, (4) dalam kegiatan kelompok, setiap anggota kelompok hendaknya memperoleh kesempatan untuk menyajikan hasil kajian dan analisis masalah serta alternatif pemecahannya untuk dibahas secara kritis oleh keompok, (5) penerapan model pembelajaran berbasis masalah memerlukan alokasi waktu yang agak lama, guru hendaknya memperhatikan pembagian alokasi waktu jika menggunakan model pembelajaran ini, (6) penerapan model pembelajaran berbasis masalah perlu dukungan dari seluruh komponen yang ada di sekolah, (7) hendaknya diperhatikan kualitas siswa (input), (8) untuk penelitian selanjutnya, hendaknya diterapkan pada bidang studi /program keahlian yang lain.

Pengaruh resepsi dan prestise siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IS di SMA NEGRI 4 KOTA PROBOLINGGO./ Eka Dyah Sari Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Eka, Dyah Sari. 2010. Pengaruh Persepsi dan Prestise Siswa pada Citra Sekolah terhadap Motivasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti Widjaja, S.E., M.P., Ak., (II) Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd. Kata kunci: persepsi, prestise, citra sekolah, motivasi. Persepsi dan prestise siswa pada citra sekolah merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. Prestise merupakan rasa bangga terhadap apa yang dimiliki. Prestise dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu diri sendiri, orang tua, serta lingkungan masyarakat. Motivasi belajar siswa merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Semakin baik persepsi siswa pada citra sekolahnya, maka motivasi belajar yang dimiliki siswa akan semakin meningkat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui (1) pengaruh persepsi siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, (2) pengaruh prestise siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, (3) pengaruh persepsi dan prestise siswa pada citra sekolah secara simultan terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo tahun pelajaran 2009/2010. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IS SMA Negeri 4 Kota Probolinggo yang berjumlah 73 siswa. Pengumpulan data menggunakan angket, dokumentasi, dan wawancara. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh positif signifikan antara persepsi siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, (2) terdapat pengaruh positif signifikan antara prestise siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, (3) terdapat pengaruh positif signifikan antara persepsi dan prestise siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. Motivasi belajar Ekonomi dapat dijelaskan oleh variabel bebas (persepsi dan prestise siswa pada citra sekolah) sebesar 42,5% sedangkan sisanya 57,5% disebabkan oleh variabel lain. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang parsial dan simultan antara persepsi dan prestise siswa pada citra sekolah terhadap motivasi belajar Ekonomi siswa kelas XI IS di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. Saran yang bisa diberikan (1) bagi pihak sekolah, diharapkan dapat memberikan fasilitas belajar yang bermutu, misalnya buku-buku pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku; (2) untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat memasukkan variabel yang lain misalnya misalnya kondisi perekonomian orang tua, kebiasaan belajar, fasilitas belajar, keterampilan mengajar guru dan sebagainya.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan motvasi dan hasil belajar geografi siswa kelas VIII 6 SMP NEGRI 1 SINGOSARI./gadhing maya Estika

 

ABSTRAK Estika, Gadhing Maya. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas VIII G SMP Negeri 1 Singosari. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd, (II) Prof. Dr. Edy purwanto, M.Pd. Kata Kunci: think pair share (TPS), motivasi belajar, hasil belajar. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung diketahui bahwa hasil belajar geografi siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Singosari cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas VIII G untuk mata pelajaran Geografi sebesar 54,53 serta masih banyak hasil belajar siswa yang berada di bawah Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang ditetapkan yakni sebesar 77. Hasil belajar yang rendah ini, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih tradisional yaitu menggunakan metode caramah, tanya jawab. Metode ini membentuk siswa menjadi pasif, merasa bosan dan cenderung meremehkan guru dengan ramai bersama temannya, maka akan menyebabkan motivasi belajar siswa menjadi rendah. Jika motivasi belajar rendah maka akan mempengaruhi hasil belajar menjadi rendah. Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu diterapkan model pembelajaran baru yaitu Think Pair Share (TPS). TPS merupakan suatu model sederhana dengan keuntungan besar. TPS dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, TPS juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. TPS sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan motivasi belajar geografi siswa dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share, (2) meningkatkan hasil belajar geografi dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti terlibat langsung dalam seluruh proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan data. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan tes, observasi, catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan di kelas VIII G SMP Negeri 1 Singosari dengan jumlah siswa 36 orang, pada materi pokok permasalahan lingkungan dan upaya penanggulangannya dalam pembangunan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari persentase seluruh aspek motivasi belajar i siswa yang diamati yaitu 64,97% dengan kategori cukup pada siklus I meningkat menjadi 74,85% dengan kategori tinggi pada siklus II. Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar siswa setelah tindakan, dimana nilai rata-rata tes akhir siklus I sebesar 72,22% meningkat menjadi 94,29% pada siklus II. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) pembelajaran geografi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Singosari, (2) pembelajaran geografi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Singosari. Adapun saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dalam proses belajar mengajar, guru harus mampu mengelola kelas dengan baik agar tidak terjadi kegaduhan saat proses pembelajaran, (2) penelitian ini hanya terbatas pada materi permasalahan lingkungan hidup dan upaya penanggulangannya dalam pembangunan berkelanjutan. Sebaiknya bagi peneliti lain memperluas penelitian pada materi lain.

Pengaruh citra perusahaan, nilai, pesaing dan faktor ekonomi terhadap keputusan pengguna jasa telekomunikasi pada PT.TELKOM (Studi kasus pada konsumen pengguna jasa telkom kandatel di kota malang kecamatan Blimbing) / Robertha pandu wijaya

 

ABSTRAK Pandu, Robertha. 2009. Pengaruh Citra Perusahaan, Nilai, Pesaing, dan Faktor Ekonomi Terhadap Keputusan Penggunaan Jasa Telekomunikasi pada PT. TELKOM (Studi Kasus pada Konsumen Pengguna Jasa Telkom Kandatel di Kota Malang Kecamatan Blimbing). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1): Drs. Agus Hermawan, M. Bus, M.Si, Pembimbing (II): Titis Shinta Dhewi, S. P, M.M. Kata Kunci: Citra Perusahaan, Nilai, Pesaing, Faktor Ekonomi, Keputusan Konsumen. Kota Malang merupakan salah satu bagian dari DIVRE V PT. TELKOM yaitu Divisi Regional yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kota Malang pada umumnya adalah kota penyangga dari Kota Surabaya, sekaligus sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur menjadikan kota pilihan utama dan pertama untuk ekspansi bisnis Telekomunikasi, hal tersebut ditunjang karena Kota Malang memiliki banyak potensi seperti Kota Pelajar, Kota Industri, Kota Perdaganagan, dan Kota Pariwisata dan dari sisi ekonomi memberikan peluang pertumbuhan cukup tinggi bagi berbagai operator Telekomunikasi. TELKOM merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (51,19%) dan oleh publik sebesar (48,81%). Sebagian besar kepemilikan saham publik (45,58%) dimiliki oleh investor asing, dan sisanya (3,32%) dimiliki oleh investor dalam negeri. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa telekomunikasi dan wilayah daerah usahanya tersebar di seluruh Indonesia. TELKOM juga menjadi pemegang saham mayoritas di 9 anak perusahaan, termasuk PT. Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Usaha bisnis yang dilakukan oleh TELKOM diantaranya adalah Fixed Wireline (layanan telepon dengan jaringan kabel/POTS); Fixed Wireless (Flexi); Jasa Sambungan Langsung Internasional (SLI 007); serta Data dan Internet (Speedy). Untuk bisnis Fixed Wireline atau telepon rumah, sampai dengan saat ini TELKOM Malang masih menjadi pemain utama dalam layanan telepon tetap bebasis kabel. Kondisi ini bukan berarti TELKOM tidak punya pesaing, namun dengan semakin kreatifnya operator selular memainkan tarifnya, maka akan semakin dirasakan murah oleh pelanggan dan akibatnya akan semakin mudah pelanggan Fixed Phone pindah ke selular. Hal ini merupakan ancaman yang sangat potensial bagi PT. TELKOM. Sedangkan kebutuhan dan keinginan para konsumen terus berubah. Agar berhasil, para pemasar perlu bersungguh-sungguh berupaya untuk menentukan kebutuhan konsumen mereka sekarang. Perilaku konsumen menjadi dasar yang amat penting dalam pemasaran dan periklanan. Riset konstan terhadap Citra perusahaan, Nilai, Pesaing, dan Faktor Ekonomi akan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian sangatlah penting. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Citra Perusahaan, Nilai, Pesaing, dan Faktor Ekonomi pada PT. TELKOM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Citra Perusahaan (X1), Nilai (X2), Pesaing (X3), dan Faktor Ekonomi (X4) secara parsial maupun simultan terhadap Keputusan Konsumen. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel peneliti menggunakan Rumus Slovin yang memasukkan unsur kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir. Yang dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang konsumen pengguna jasa telekomunikasi pada PT. TELKOM Kandatel Malang. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, wawancara, dan observasi langsung. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS Versi 12.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel Citra Perusahaan (X1), Nilai (X2), Pesaing (X3), dan Faktor Ekonomi(X4) secara parsial mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap Keputusan Konsumen pengguna jasa telekomunikasi pada PT. TELKOM. Adanya pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi dari uji t dari masing-masing variabel < 0,05. Dimana nilai tersebut berturut-turut sebagai berikut: untuk Citra Perusahaan (X1) mempunyai nilai signifikansi 0,016, Nilai (X2) mempunyai nilai signifikansi 0,001, Pesaing (X3) mempunyai nilai signifikansi 0,508, dan Faktor Ekonomi (X4) mempunyai nilai signifikansi 0,009. Selain itu juga ditunjukkan dengan nilai t hitung untuk Citra Perusahaan = 2,457 > nilai t tabel = 1,67, nilai t hitung untuk Nilai = 3,344 > nilai t tabel = 1,67, nilai t hitung untuk Pesaing = 0,664 < nilai t tabel = 1,67 dan nilai t hitung untuk Faktor Ekonomi = 2,662 > nilai t tabel = 1,67. Secara simultan Citra Perusahaan (X1), Nilai (X2), Pesaing (X3), dan Faktor Ekonomi (X4) juga mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap Keputusan Konsumen pengguna jasa telekomunikasi pada PT. TELKOM Kandatel Malang. Pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000 ≤ 0,05 dan ditunjukkan oleh nilai F hitung = 16,255 > f tabel = 2,72. Selain itu diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,381. Dapat diinterpretasikan bahwa variabel Citra Perusahaan, Nilai, Pesaing dan Faktor Ekonomi dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam menggunakan jasa telekomunikasi pada PT. TELKOM Kandatel Malang sebesar 38,1 % dan sisanya sebesar 61,9 % dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada PT. TELKOM Kandatel Malang sebaiknya selalu meningkatkan atau mempertahankan Citra Perusahaan, Nilai, Pesaing, dan Faktor Ekonomi guna menarik konsumen, selain itu hendaknya PT. TELKOM Kandatel Malang juga memperhatikan pula faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini guna menarik konsumen. Selain itu juga disarankan kepada peneliti berikutnya Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar menggunakan variabel tanggapan emosional sebagai variabel bebasnya dan kepuasan atau keputusan konsumen sebagai variabel terikat.

Peningkatan motivasi belajar dan pemahaman konsep IPA DENGAN METODE pembelajaran penemuan (DISCOVERY) siswa kelas III SDN ARDIREJO 02 KEPANJEN MALANG./Susana Eka Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Susana Eka. 2009. Peningkatan Motivasi Belajar dan Pemahaman Konsep IPA dengan Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery) Siswa Kelas III SDN Ardirejo 02 Kepanjen Malang Tahun Pelajaran 2009/2010. Skripsi, jurusan Kependidikan sekolah dasr dan Prasekolah FIP Universitas Negeri malang. Pembimbing: Dr. Lia Yuliati, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Penemuan (Discovery), Peningkatan Motivasi Belajar, Penguasaan Konsep IPA. Paradigma lama dalam mengajar rupanya masih melekat cukup kuat pada diri para guru di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dengan kegagalan guru dalam mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditetapkan. Begitu pula apa yang dialami penulis dimana sebagai guru juga mengalami hambatan dalam pemahaman konsep IPA. Dimana rata-rata nilai IPA hanya mencapai 5,8 yang masih dibawah batas nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan dengan nilai 6,5. Pada kenyataan di lapangan guru merasakan siswa merasa kesulitan menerima pembelajaran dan kurang memahami apa yang diajarkan guru. Akibatnya akan menghilangkan minat belajar siswa sehingga muncul kejenuhan siswa di dalam kelas yang pada akhirnya membawa masalah baru seperti sulitnya pengelolaan kelas karena siswa bermain sendiri, bicara sendiri, atau sering ijin ke kamar kecil hanya untuk menghilangkan kejenuhan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep IPA dan juga mengetahui motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Instrumen penelitian berupa lembar pengamatan (observasi) dan soal-soal tes. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dimana guru sebagai peneliti. Data yang dideskripsikan meliputi data kegiatan pemeblajaran, data hasil observasi keaktifan siswa, data hasil observasi prestasi siswa dan data obsevasi pembelajaran Discovery. Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Ardirejo 02 Kepanjen Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa keaktifan siswa cukup baik. Pada siklus I ada 27 siswa (81,81%)memperoleh nilai ≥65 yang dapat dikatakan tuntas belajar dan 6 siswa (18,18%) memperoleh ≤65 yang dikatakan tidak tuntas belajar. Sedangkan pada siklus II (96,96%) memperoleh nilai ≥65 sebanyak 32 siswa dan dikatakan telah tuntas belajar tetapi ada 1 siswa (3,03%) memperoleh nilai ≤65 dan dikatakan tidak tuntas belajar. Nilai tertinggi 100 sedangkan nilai terendah 60. Dari data nilai tes tersebut diperoleh rata-rata 83,94. Nilai ini lebih tinggi dari nilai rata-rata yang ditetapkan. Selama proses pembelajaran berlangsung telah menggunakan metode Penemuan (Discovery) pada tiap pertemuan. Keaktifan dalam pembelajaran meningkat. Prestasi Belajar siswa mengalami peningkatan setelah menerapkan pembelajaran Penemuan (Discovery).

Peningkatan prestasi dan aktivitas belajar siswa melalui penerapan CTL(Contextual teaching and learning)pada pembelajaran matematika pokok bahasan bangun datar kelas V di SDN PANGGUNGDUWET 01 KADEMANG BLITAR./Kalimah Siti

 

ABSTRAK Kalimah, Siti. 2010. Peningkatan Prestasi Dan Aktivitas Belajar Siswa Melalui Penerapan CTL ( Contextual Teaching And Learning ) Pada Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Bangun Datar Kelas V Di SDN Panggungduwet 01 Kademangan Blitar. PTK, Jurusan KSDP, Program Studi S1 PJJ PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd Kata kunci : CTL, Kontekstual, Prestasi, Aktivitas Belajar. Di SDN Panggungduwet 01 Kademangan Blitar ini merupakan sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Metode pembelajaran yang digunakan di sekolah ini masih metode ceramah yang bersifat klasikal. Guru masih mendominasi dalam pembelajaran, guru masih pemain dan siswa menonton, guru aktif dan siswa pasif, ramai atau bercanda sendiri. Tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar melalui penerapan CTL pada pembelajaran Matematika kelas V di SDN Panggungduwet 01 Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus. Dalam setiap siklus meliputi tahap : perencanaan, pelaksanaan, observasi / pengamatan dan observasi. Subyek penelitian adalah siswa SD kelas V.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi dan dengan menggunakan tes tertulis. Teknik observasi digunakan untuk mengamati aktivitas belajar siswa dan kegiatan guru. Sedangkan teknik tersebut digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa. Prestasi hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 64 % berarti prosentasi ini belum mencapai Standart Ketuntasan Minimal ( SKM ) SDN Panggungduwet 01 yaitu 65 %. Sedangkan pada siklus II sudah mencapai 84 % sehingga pada siklus II ini sudah mencapai Standart Ketuntasan Minimal ( SKM ) dari SDN Panggungduwet 01. Aktivitas belajar selama pelaksanaan pembelajaran, pada siklus I ini mencapai 57,58 % dikategorikan baik. Aktivitas belajar ini masih kurang karena masih banyak siswa yang kurang memenuhi kriteria yang ditetapkan guru. Sedangkan pada siklus II mencapai 84,84 %, berarti aktivitas belajar siswa pada siklus II ini mengalami kenaikan, hal ini disebabkan siswa sudah banyak yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh guru. Berarti dengan penerapan pembelajaran kontekstual pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa SDN Panggungduwet 01. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilan aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 57,58 % dikategorikan dengan nilai baik, sedangkan pada siklus II mencapai 84,84 % dikategorikan dengan nilai sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan untuk memotivasi guru-guru untuk menerapkan pembelajaran konstekstual dengan persiapan yang lebih matang untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa.

Penerapan strategi salingtemas dan jigsaw pada materi zat aditif dalam upaya meningkatkan prestasi dan sikap siswa kelas VIII SMP NEGRI 8 PASURUAN./Dania Tika Prasetia

 

ABSTRAK Tika, Prasetia, D. 2009. Penerapan Strategi SALINGTEMAS dan Jigsaw pada Materi zat Aditif dalam Upaya Meningkatkan Prestasi dan Sikap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd., (II) Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si. Kata kunci: SALINGTEMAS, Jigsaw, Zat Aditif, Prestasi Siswa, Sikap Siswa. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk merespon tuntutan terhadap kehidupan globalisasi, perkembangan IPTEK, serta mempersiapkan siswa dalam menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan professional serta bertanggung jawab sesuai dengan standar mutu nasional. Salah satu strategi yang dapat mewujudkan tujuan diatas adalah Jigsaw dan SALINGTEMAS. Apakah masing-masing strategi akan menunjukkan hasil belajar dan sikap yang sama bagi siswa, adalah permasalahan dalam penelitian. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan strategi SALINGTEMAS dengan Jigsaw, dan sikap siswa kelas VIII terhadap penggunaan strategi SALINGTEMAS dan Jigsaw. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif dan eksperimental. Populasi penelitian adalah siswa SMP Negeri 8 Pasuruan semester 1 tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah penarikan sampel acak berkelompok (cluster random sampling). Sampel penelitian terdiri dari kelas VIII-E sebagai kelompok eksperimen 1 (kelas Jigsaw) dan VIII-C sebagai kelompok eksperimen 2 (kelas SALINGTEMAS). Instrumen yang digunakan meliputi RPP, LKS, soal tes, angket, kuis dan lembar observasi. Dari hasil uji coba soal diambil 10 butir soal (essay/subyektif) valid dengan reliabilitas yang tinggi yaitu 0,8. Analisis data yang digunakan dalam penelitian meliputi analisis deskriptif proses pembelajaran, dan sikap siswa, sedangkan analisis statistik meliputi uji normalitas,homogenitas, kesamaan dua rata-rata, serta uji hipotesis. Hasil uji hipotesis menunjukkan: 1) Tidak ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan strategi SALINGTEMAS dengan Jigsaw, 2) 81% siswa dari kelas SALINGTEMAS dan Jigsaw menyenangi pemberian materi zat aditif, 80% siswa menyenangi pemberian materi zat aditif dengan strategi Jigsaw, dan 68% siswa menyenangi pemberian materi zat aditif dengan strategi SALINGTEMAS.

Pengaruh cara menggunakan modul dan cara belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa akuntansi kelas XI di SMK NEGERI 1 TUREN./Silvi Nofrianti

 

ABSTRAK Nofrianti, Silvi. 2009. “Pengaruh Cara Siswa Menggunakan Modul dan Cara Belajar Siswa terhadap Prestasi Siswa Akuntansi Kelas XI di SMK Negeri 1 Turen”. Skripsi, program studi pendidikan akuntansi jurusan akuntansi fakultas ekonomi universitas negeri malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sumadi, SE. M.M., (II) Ika Putri Larasati, SE. M.com. Kata kunci: Cara Siswa Menggunakan Modul, Cara Belajar dan Prestasi Siswa. Cara siswa menggunakan modul adalah cara siswa mempelajari modul yang disesuaikan dengan petunjuk penggunaan modul yang di dalamnya dicantumkan bagaimana cara mempelajari materi, bagaimana cara mengerjakan soal, cara mendiskusikan permasalahan dengan teman atau fasilitator (guru) serta bagaimana melakukan evaluasi melalui pembahasan soal-soal yang dikerjakan. Cara belajar adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada suatu situasi sebagai bentuk usaha belajar yang dilakukan. Cara belajar siswa meliputi persiapan belajar, cara mengiluti pelajaran, dan cara mengikuti ujian. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) cara siswa menggunakan modul, cara belajar siswa dan prestasi belajar siswa akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, (2) menganalisis pengaruh positif yang signifikan dari variabel X1 terhadap Y, (3) menganalisis pengaruh positif yang signifikan dari variabel X2 terhadap Y, (4) menganalisis pengaruh positif yang signifikan dari variabel X1 dan X2 terhadap Y. Jenis penelitian ini merupakan penelitian asosiatif atau hubungan dengan rancangan ex post facto, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Variabel dalam penelitian ini meliputi dua variabel bebas yaitu cara siswa menggunakan modul modul (X1) dan cara belajar siswa (X2), dan satu variabel terikat yaitu prestasi belajar siswa(Y). Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Turen, dengan populasi seluruh siswa kelas XI Jurusan Akuntansi tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 78 siswa. Pengambilan sampil menggunakan teknik propotional random sampling, yaitu 50% dari jumlah populasi.. Analisis yang digunakan untuk mengolah data adalah analisis regresi ganda, dengan syarat terpenuhinya uji asumsi klasik. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel (X1) terbukti mempengaruhi variabel (Y) secara positif signifikan (menolak Ho, menerima Ha), dan variabel (X2) terbukti mempengaruhi variabel (Y) secara positif signifikan (menolak Ho, menerima Ha). Sehingga variabel (X1) dan variabel (X2) terbukti mempengaruhi secara simultan terhadap variabel (Y). Saran peneliti ini adalah: (1) Untuk sekolah yang menerapkan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar modul, sebaiknya menetapkan standar pembuatan modul untuk setiap mata pelajaran, (2) Untuk peneliti selanjutnya hendaknya mengamati secara langsung proses pembelajaran dengan modul di dalam kelas. Dengan cara tersebut peneliti dapat mengetahui bagaimana guru menerapkan pembelajaran modul, bagaimana siswa menggunakan modul, dan bagaimana cara belajar siswa di dalam kelas.

Pengaruh aspek-aspek pelatihan kerja terhadap prestasi kerja karyawan pada hotel pelangi malang./Anugrah Dwi Cahyadi

 

ABSTRAK Cahyadi, Anugrah Dwi. 2009. Pengaruh Aspek-Aspek Pelatihan Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada Hotel Pelangi Malang. Skripsi, S-1 Manajemen, Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi Malang. Pembimbing : (1) Drs. Muhammad Arief, M.Si, (2) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si. Kata Kunci : Aspek Pelatihan, Pelatihan Kerja Karyawan. Sumber Daya Manusia dalam organisasi atau dalam perusahaan merupakan salah satu aset berharga bagi perkembangan organisasi. Dikatakan sebagai aset berharga karena sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan itulah nantinya akan menentukan apakah perusahaan akan berkembang pesat atau malah mengalami kemunduran. Oleh sebab itu, banyak manajer perusahaan yang memprioritaskan para karyawan dan sebisa mungkin memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Salah satu bentuk perhatian terhadap para karyawan adalah dengan mengikutsertakan mereka dalam pelatihan, melalui pelatihan karyawan akan menjadi lebih terampil dan berkembang lebih cepat serta bekerja lebih efisien. Selain itu dapat meningkatkan prestasi kerja karyawan. Penelitian ini dilakukan di Hotel Pelangi Malang. Aspek-aspek yang akan diteliti adalah kurikulum, metode pelatihan, pemateri/pelatih, media, prestasi pelatihan dan pengaruhnya terhadap prestasi kerja karyawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang (1) Kondisi pelatihan yang dijabarkan dalam lima variabel yaitu kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan, (2) Kondisi prestasi kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang, (3) Menjelaskan pengaruh aspek-aspek pelatihan kerja yang terdiri dari kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan terhadap prestasi kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang,(4) Aspek pelatihan yang dominan dalam meningkatkan prestasi kerja karyawan. Sampel dalam penelitian ini adalah 34 karyawan dengan menggunakan teknik purposif sampling yaitu yang pernah mengikuti program pelatihan dan diambil keseluruhan sehingga diambil istilah subjek penelitian. Metode yang dipakai untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode angket dimana responden diberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, prestasi pelatihan dan prestasi kerja. Analisa data menggunakan program SPSS for windows 15,0. Hasil perhitungan dari penelitian ini diperoleh bahwa secara parsial dan simultan tedapat pengaruh yang signifikan antara aspek pelatihan (X), (kurikulum (X1), metode pelatihan(X2), pelatih/pemateri(X3), media pelatihan(X4), dan prestasi pelatihan(X5)) terhadap prestasi kerja (Y). Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan. Dengan perhitungan tersebut maka hipotesis alternatif (Ha) pertama yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan positif antara kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan terhadap prestasi karyawan di Hotel Pelangi Malang dapat diterima hal ini dapat dilihat dari perhitungan regresi linier berganda dimana (X1)= 0,161, (X2)=0,202, (X3)=0,231, (X4)=0,179, (X5)=0,177. Sementara hipotesis alternatif (Ha) kedua yang menyatakan bahwa aspek pelatih/pemateri berpengaruh dominan dalam meningkatkan prestasi kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang dapat diterima. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien regresi yakni aspek pelatih/pemateri memiliki pengaruh yang paling besar yakni sebesar 0,231. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variable kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan dalam kondisi baik dapat memiliki pengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi kerja karyawan. Saran dalam penelitian ini adalah terus meningkatkan kemampuan pelatih, memperbanyak metode yang digunakan, memperbaiki media yang digunakan dan meneruskan program pelatihan.

Mengukur tingkat keaktifan siswa dalam praktikum kimia berbasis inkuiri untuk pembelajaran laju reaksi. / Lutfiah Fitriya Ningrum

 

ABSTRAK Ningrum, Luthfiah Fitriya. 2010. Mengukur Tingkat Keaktifan Siswa Dalam Praktikum Kimia Berbasis Inkuiri Untuk Pembelajaran Laju Reaksi. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si., (II) Drs. Muhadi. Kata kunci: tingkat keaktifan, praktikum kimia, inkuiri, laju reaksi Pembelajaran dengan penemuan (inkuiri) merupakan suatu proses yang bergerak dari langkah observasi sampai langkah pemahaman. Siswa adalah ilmuan yang mencari kebenaran ilmiah melaui langkah-langkah yang sistematis. Kegiatan praktikum berbasis inkuiri belum banyak dilakukan. Pada umumnya kegiatan laboratorium dipandu dengan menggunakan petunjuk praktikum sangat lengkap sehingga siswa hanya melakukan kegiatan sesuai dengan yang ada pada petunjuk yang diberikan guru. Oleh karena itu, dengan kegiatan praktikum secara inkuiri diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan aktivitas siswa dalam melakukan kegiatan laboratorium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat keaktifan siswa dalam menyusun prosedur praktikum kimia berbasis inkuiri untuk pembelajaran laju reaksi, (2) tingkat keaktifan siswa dalam melaksanakan praktikum, (3) tingkat kemampuan siswa dalam menganalisis hasil praktikum dalam praktikum kimia berbasis inkuiri untuk pembelajaran laju reaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 MAN Malang 1 tahun ajaran 2009-2010 yang berjumlah 39 orang dan siswa kelas XI IPA 5 SMAN 8 Malang tahun ajaran 2009-2010 yang berjumlah 40 orang, diambil secara acak. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar eksperimen, lembar catatan untuk guru, contoh laporan praktikum, instrumen untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam menyusun prosedur praktikum, instrumen untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam melaksanakan praktikum, dan instrumen untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam menganalisis hasil praktikum. Analisis data dilakukan dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat keaktifan siswa MAN Malang 1 dan SMAN 8 Malang dalam praktikum kimia berbasis inkuiri. Rata-rata tingkat keaktifan siswa kelas XI IPA 2 MAN Malang 1 dalam menyusun prosedur praktikum tergolong cukup dengan persentase 51,28%, merumuskan masalah tergolong cukup dengan persentase 71,79%, merumuskan hipotesis tergolong kurang dengan persentase 51,28%, melakukan pengamatan tergolong baik dengan persentase 61,54%, melaksanakan praktikum tergolong baik dengan persentase 74,36%, mencatat data hasil praktikum tergolong baik dengan persentase 74,36%, menganalisis data tergolong baik dengan persentase 71,79%, dan menarik kesimpulan tergolong baik dengan persentase 74,36%. Sedangkan rata-rata tingkat keaktifan siswa kelas XI IPA 5 SMAN 8 Malang dalam menyusun prosedur praktikum tergolong cukup dengan persentase 62,50%, merumuskan masalah tergolong baik dengan persentase 65,00%, merumuskan hipotesis tergolong baik dengan persentase 67,50%, melakukan pengamatan tergolong baik dengan persentase 67,50%, melaksanakan praktikum tergolong cukup dengan persentase 47,50%, mencatat data hasil praktikum tergolong baik dengan persentase 62,50%, menganalisis data tergolong baik dengan persentase 70,00%, dan menarik kesimpulan tergolong sangat baik dengan persentase 95,00%.

Pengaruh struktur modal dan leverage terhadap rentabilitas pada perusahaan food and beverages yang listing di bursa efek indonesia (BEI)./Novianto Wahyu Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Novianto Wahyu. Pengaruh Struktur Modal dan Leverage Terhadap Rentabilitas Perusahaan Food and Beverages Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Sugeng, S.E., M.A., M.M., Ak. (II) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Debt to Equity Ratio (DER), Leverage dan Return on Equity (ROE). Struktur modal dari suatu perusahaan menggambarkan pendanaan operasional perusahaan dengan menggunakan modal sendiri atau hutang jangka panjang. Perusahaan dapat memilih alternatif, apakah perusahaan akan lebih banyak menggunakan modal sendiri atau lebih banyak menggunakan hutang jangka panjang. Kedua alternatif tersebut memiliki pengaruh terhadap rentabilitas yang akan diperoleh perusahaan. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi terhadap pengujian salah satu model teoritik yang menjelaskan tentang struktur modal suatu perusahaan. Bagi perusahaan penelitian ini diharapkan juga bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan pihak manajemen dalam menentukan langkahlangkah yang akan diambil untuk perkembangan usahanya di masa yang akan datang, khususnya yang terkait dengan penentuan struktur modal perusahaan. Rumusan hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) diduga bahwa variabel DER berpengaruh negatif terhadap ROE, (2) diduga variabel leverage berpengaruh negatif terhadap ROE. Penelitian ini digolongkan kedalam penelitian eksplanasi yaitu jenis penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 16 perusahaan Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan, yaitu perusahaan harus melaporkan laporan keuangannya selama periode 2005-2007. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari ICMD (Indonesia Capital Market Directory) periode 2005-2007. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS. Uji yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengujian hipotesis yang dilakukan menujukkan hasil yang positif antara variabel DER terhadap ROE dan variabel leverage terhadap ROE, walaupun hasil penelitian ini menunjukkan arah yang tidak sesuai dengan yang diindikasikan dalam perumusan hipotesis penelitian yaitu terdapat pengaruh negatif antara masing-masing variabel bebas yaitu DER dan leverage terhadap ROE pada perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia.

Peningkatan prestasi belajar IPS kelas IV Menggunakan media ritatoon di SDN Sadaeng II Tosari Kabupaten Pasuruan / Sukartini

 

ABSTRAKSI Sukartini, 2009. Peningkatan Prestasi Belajar IPS kelas IV Menggunakan Media Ritatoon di SDN Sedaeng II Tosari Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Juruasan Keilmuan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I (1) Drs Usep Kustiawan, M.Sn, Pembimbing II (2) Drs Toha Mashudi,S.Pd, M.Pd Kata Kunci : Hasil Belajar IPS, Media Ritatoon Berdasarkan hasil pengamatan di SDN Sedaeng II, Permasalahan yang sering timbul diantaranya, 1) Fokus pembelajaran hanya berpusat pada guru, 2) Rendahnya tingkat aktivitas siswa didalam proses pembelajaran, 3) Guru belum menggunakan alat bantu media yang sesuai dengan materi yang diajarkan khususnya mata pelajaran IPS Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1) Mendeskripsikan penerapan media pembelajaran Ritatoon dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Sedaeng II Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui media pembelajaran Ritatoon pada siswa kelas IV SDN Sedaeng II Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan Dalam penelitian ini penerapan media pembelajaran Ritatoon pada siswa kelas IV SDN Sedaeng II menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Guru menjelaskan suatu materi kepada siswa , 2) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dalam kerja kelompok , 3) Mengevaluasi hasil kerja siswa Data penelitian berupa hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan metode tes, observasi, dan wawancara. Penerapan media pembelajaran Ritatoon memiliki dampak positif dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil sebelum dilaksanakn media Ritatoon diketahui nilai rata-rata kelas 51,1 dengan ketuntasan belajar klasikal 22,2%, meningkat menjadi silai rata-rata 67,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 50%. Pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 82,8 dengan ketuntasan belajar kalsikal 82,5% Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran Ritatoon adalah siswa masih belum terbiasa dengan media pembelajaran Ritatoon sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. Hasil belajar siswa kelas IV SDN Sedaeng II Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan masih perlu ditingkatkan lasi melalui upaya-upaya terencana dan kesinambungan. Hasil penelitian ini akan dijadikan landasan bagi peneliti lain untuk penelitian sejenis yang akan datang. Berdasarkan hasil penelitian kelas ini, maka saran yang kami ajukan adalah : 1) Kepada guru disarankan menerapkan media pembelajaran Ritatoon pada pembelajaran IPS atau mata pelajaran yang lain, 2) Bagi lembaga Pendidikan SD disarankan menerapkan media Ritaoon untuk meningkatakan kualitas atau mutu prestasi siswa dan kinerja guru, 3) Bagi peneliti lain disarankan dapat mengembangkan media Ritatoon pada mata pelajaran yang lain sehingga diperoleh kualitas pendidikan yang baik.

Perbedaan prestasi belajar anatara mahasiswa yang diterima melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I, Mandiri II angkatan 2008 di jurusan teknik mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Akhmad Afandi

 

ABSTRAK Akhmad, Afandi. 2010. Perbedaan Prestasi Belajar Antara Mahasiswa Yang Diterima Melalui Jalur PMDK, SNMPTN MANDIRI I Dan MANDIRI II Angkatan 2008 Di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing I).Drs.H. Sunomo, M.Pd. 2). Drs.H. Suwarno, M.Pd Kata Kunci: Seleksi, Mahasiswa Seleksi merupakan suatu alat untuk menjaring calon siswa mana yang paling cocok untuk jenis pendidikan tertentu. Dari tahun ketahun peminat untuk masuk perguruan tinggi terutama yang berbasis negeri semakin meningkat dengan daya tampung pendidikan yang terbatas , maka perlu diadakan seleksi calon mahasiswa baru yang baik dan benar-benar mampu memisahkan antara calon mahasiswa yang berpotensi dan kurang berpotensi. Alat seleksi tersebut haruslah alat seleksi yang mempunyai daya prediksi yang baik dalam memprediksi keberhasilan study mahasiswa di perguruan tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:1).Prestasi belajar mahasiswa jalur PMDK,2).Prestasi belajar mahasiswa jalur SNMPTN,3). Prestasi belajar mahasiswa jalur Mandiri I, 4). Prestasi belajar mahasiswa jalur Mandiri II, 5). Perbedaan prestasi belajar mahasiswa yang masuk melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I dan Mandiri II. Analisis ANOVA digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa yang masuk melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I dan MandiriI II. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa fakultas teknik jurusan teknik mesin program study pendididikan teknik mesin angkatan 2008 semester I dan semester II sebanyak 146 mahasiswa. Sampel untuk penelitian ini adalah seluruh populasi yang ada. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Berdasarkan analisis data yang telah dilaksanakan, diperoleh kesimpulan:1). Pertasi belajar mahasiswa fakultas teknik jurusan teknik mesin program study pendidikan teknik mesin angkatan 2008 yang masuk melalui jalur PMDK memiliki rata-rata prestasi yang lebih tinggi jika dibanding dengan SNMPTN, Mandiri I dan Mandiri II dengan klasifikasi taraf penguasaan/kemampuan 77 – 83 apabila dalam huruf mendapat nilai B+. 2).Mahasiswa yang masuk melalui jalur SNMPTN dengan taraf penguasaan/kemampuan 71 - 76 jika diklasifikasikan dalam nilai huruf B ,3).Mahasiswa masuk melalui jalur Mandiri I dengan taraf penguasaan/kemampuan 71 - 76 diklasifikasikan dalam nilai huruf B, 4).Mahasiswa yang masuk melalui jalur Mandiri II pada taraf penguasaan/kemampuan 66 – 70 apabila diklasifikasikan dalam huruf B-,5). Ada Perbedaan prestasi belajar mahasiswa yang diterima melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I dan Mandiri II. Dari hasil penelitian ini penulis adapat memberikan saran:1). Universitas Negeri Malang hendaknya memperbesar untuk seleksi masuk melalui jalur PMDK dan memperkecil seleksi masuk Mandiri I terutama Mandiri II, 2). Perlu diadakan penelitian sejenis denagn menggunakan sampel dan semester yang lebih banyak sehingga dapat menghasilkan data yang lebih valid dan representatif.

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan./ Agus Wahyu H.S

 

ABSTRAK Wahyu, Agus. H.S. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Achmad Fatchan, M.Pd, M.P (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif problem posing, hasil belajar, memecahkan masalah. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada 27 dan 29 Juli 2009 di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan, diketahui siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, guru menjadi satu-satunya sumber belajar bagi mereka, dan hanya ada 5 siswa (10,64%) yang bertanya atau menjawab pertanyaan yang diajukan guru, sehingga kemampuan siswa memecahkan masalah kurang, karena siswa tidak terbiasa berfikir analisis. Selain itu hasil belajar yang dicapai siswa juga masih banyak yang belum memenuhi SKM yaitu 65, ketuntasan klasikalnya pun hanya 10,64% dan masih jauh dari KKM yang ditentukan sekolah yaitu 85%. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan, dimana pada pertemuan pertama dilakukan kegiatan pembelajaran dan pada pertemuan kedua dilakukan tes. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XI IPS 2 semester gasal tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 2 Bangkalan yang berjumlah 47 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II, sedangkan kemampuan siswa memecahkan masalah dilihat dari jawaban tes siswa pada siklus I dan siklus II. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya peningkatan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan maslah. Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai tes pada siklus I yaitu 61,70 dan meningkat menjadi 75,10 pada siklus II, ketuntasan belajar siswa pada siklus I meningkat menjadi 44,68% kemudian meningkat lagi menjadi 91,48% pada siklus II. Rata-rata kemampuan siswa memecahkan masalah juga meningkat dari 61,70 pada siklus I menjadi 75,11 pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bagi guru bidang studi IPS Geografi di SMA Negeri 2 Bangkalan untuk menjadikan pembelajaran kooperatif Problem Posing sebagai salah satu pembelajaran alternatif, agar hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah dapat lebih baik, dan bagi peneliti selanjutnya yang berminat menggunakan pembelajaran kooperatif Problem Posing, agar dapat dikembangkan lebih lanjut pada materi lain dan mengukur aspek yang lainnya.

Peningkatan prestasi belajar matematika pengukuran debit dengan penerapan model pakem pada siswa klas VI SDN Karangduren 03 kec. Pakisaji kab. Malang / Syamsul Yani Nurdiyah

 

ABSTRAK Nurdiyah SY , 2008. Peningkatan prestasi belajar matematika pengukuran debit dengan penerapan model pakem pada siswa klas VI SDN Karangduren 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang th 2007- 2008 Kata Kunci: Peningkatan prestasi, Model pembelajaran Pakem Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan pembelajaran model pakem ? (b) Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran pakem terhadap motivasi belajar siswa? Sedangkan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran pakem . (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran pakem . Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Karangduren 03 th 2007-2008 Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II yaitu, Penerapan pembelajaran inovatif model PAKEM memiliki dampak positif dalam usaha meningkatkan prestasi belajar peserta didik yang dapat dilihat dari penilaian proses dan hasil evaluasi siklus I dan siklus II yang mengalami peningkatan yaitu dari 47,32 % meningkat menjadi 80,35 % . Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran pakem dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Klas VI SDN Karangduren 03 Kec Pakisaji Kab Malang Th 2007-2008 , serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan pendekatan pemecahan di kelas 4 SDN Sananwetan 2 kota Blitar / Sugianto

 

ABSTRAK Sugianto, 2009. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Pendekatan Pemecahan Masalah di kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010. Pembimbing : Drs. I Wayan Sutama, M.Pd. Kata Kunci : Hasil Belajar, Pendekatan Pemecahan Masalah Pembelajaran matematika merupakan pembelajaran yang sulit bagi siswa pada umunya. Hal ini ditandai dengan hasil ulangan yang nilai rata-ratanya sangat rendah. Untuk itu perlu kiranya ada penelitian-penelitian agar hal tersebut dapat diatasi. Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan pendekatan pemecahan masalah pada siswa kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar, (2) untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan empat tahapan yaitu : (1) tahap perencanaan tindakan awal, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi, (4) tahap refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar. Sedangkan data yang diperoleh berupa hasil tes evaluasi, lembar observasi dalam kegiatan belajar mengajar dan catatan kegiatan lapangan. Hasil penelitian didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, dilihat dari nilai rata-rata pra tindakan 58,50 pada siklus I 68,4 dan pada siklus II 77,9. Dengan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) Penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar, (2) Penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat memberi motivasi belajar. Berdasarkan hasil analisis penelitian diatas, guru diharapkan dapat menyampaikan materi pelajaran yang bervariatif agar siswa dapat menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan dengan baik. Salah satunya adalah dengan penerapan pendekatan pemecahan masalah. Dan diharapkan penerapan pendekatan pemecahan masalah ini dapat digunakan salah satu alternative dalam pembelajaran matematika, karena dengan penerapan pendekatan pemecahan masalah ini dihubungkan dengan permasalahan yang dialami siswa.

Penerapan pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 kec. Garum kab. Blitar / Idha Yusani

 

ABSTRAK Yusani, Idha, 2009, Penerapan Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas IV SDN Karangrejo 05 Kec. Garum Kab. Blitar. Penelitian Tindakan Kelas, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Musa Sukardi, M.Pd Kata kunci : Pembelajaran Jigsaw, Hasil Belajar PKn. Proses pembelajaran di sekolah dasar saat ini kurang meningkatkan kreativitas siswa, terutama dalam pembelajaran Pkn. Pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran cooperatif learning yang mudah dilaksanakan dan lebih praktis. Di SDN Karangrejo 05 Kec. Garum Kab. Blitar, dalam kegiatan pembelajaran guru masih menggunakan metode lama yang didominasi dengan ceramah. Siswa tidak terlibat aktif belajar, hal itu terlihat dalam pembelajaran siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji analisa penerapan pembelajaran Jigsaw . Data yang dideskripsikan meliputi data kegiatan praktik pembelajaran, data hasil observasi keaktifan siswa, data hasil observasi prestasi siswa dan data pembelajaran Jigsaw yang dicapai pada tiap siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Hasil penelitian diketahui bahwa prestasi belajar siswa cukup baik. Pada siklus 1 ada 23 siswa (65,71%) yang tuntas dalam belajar sedangkan 12 siswa (34,29%) belum tuntas dengan nilai rata-rata 77,18. Nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 50. Pada siklus II 32 siswa (91,43%) tuntas dalam belajar dan 3 siswa (8,57%) belum tuntas dalam belajarnya dengan nilai rata-rata 82,88 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60. Selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I dan siklus II telah menerapkan pembelajaran Jigsaw. Praktik pembelajaran dan aktifitas belajar siswa juga mengalami peningkatan setelah menerapkan pembelajaran Jigsaw.

Isolasi, karakterasi, identifikasi komponen, dan uji aktivitas minyak atsiri bunga cempaka putih ( Michelia alba. ) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus / Dina Krisdiana

 

ABSTRAK Krisdiana, Dina. 2010. Isolasi, Karakterisasi, Identifikasi Komponen, dan Uji Aktivitas Minyak Atsiri Bunga Cempaka Putih (Michelia alba) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Siti Marfu’ah M.S, (II) Evi Susanti S.Si., Msi. Kata-kata kunci: isolasi, minyak atsiri, cempaka putih, dan antibakteri. Minyak atsiri banyak terkandung dalam bunga, biji, buah, dan daun tanaman. Bunga cempaka putih adalah salah satu jenis bunga yang banyak terdapat di Indonesia terutama di pulau Jawa. Meskipun begitu pemanfaatan bunga cempaka putih masih sangat terbatas. Disisi lain kebutuhan masyarakat akan minyak atsiri sebagai bahan parfum dan antiseptik semakin meningkat. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengisolasi, mengkarakterisasi, mengidentifikasi, dan menguji aktivitas minyak atsiri bunga cempaka putih (Michelia alba) sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris, dengan sampel yang digunakan adalah bunga cempaka putih basah dan kering. Adapun tahap penelitian antara lain persiapan sampel, isolasi minyak atsiri dengan metode destilasi uap-air, karakterisasi, identifikasi komponen penyusunnya dengan menggunakan GC-MS, serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Rendemen minyak atsiri bunga cempaka putih basah dengan metode destilasi uap-air sebesar 0,041 %, sedangkan dari bunga cempaka putih kering 0,084 %, (2) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah memiliki ciri berwarna kuning jernih, berat jenis 1,25 g/mL, indeks bias 1,49374, sedangkan dari bunga cempaka putih kering memiliki ciri berwarna coklat jernih, berat jenis 1,44 g/mL, indeks bias 1,51722, (3) Senyawa-senyawa yang terkandung di dalam minyak atsiri bunga cempaka putih basah ada 30 senyawa dengan 10 senyawa terbanyak antara lain 3,7-dimetil-1,6-Oktadien-3-ol; miristcin; 1-etenil-1-metil-2,4-bis(1-metiletenil)-sikloheksana; etil-2-metilbutirat; 1,2-dimetoksi-4-(2-propenil)- Benzena; Bicyclo[7.2.0]undec-4-ene, 4,11,11- trimethyl-8-methylene; 5-(2-ropenil)-1,3-Benzodioksol; 1,2,4a,5,6, 8a-heksahidro-4,7-dimetil-1-(1-metiletil)-Naphthalene; 3,7-dimetil-1,3,7oktatriena dan 3,7-dimetil-1,3,6-Oktatriena, sedangkan dari bunga kering ada 61 senyawa dengan 10 senyawa terbanyak antara lain ; trans-isocroweacin; 5-(2-propenil)- 1,3-Benzodioksol; 1-etenil-1-metil-2,4-bis(1-metiletenil)-sikloheksana; 1-metil-4- (5-metil-1-metilen-4-heksenil sikloheksena; beta-selinene; 1,2,3,5,6,8aheksahidro- 4,7-dimetil-1-(1-metiletil)-naftalena; kariophillen oksida; alfa-kopaene atau 1,3-dimetil-8-(1-metiletil) Trisiklo[4.4.0.0(2,7)]dec-3-ene; Linalol; dan nonadekana, (4) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah dan kering bersifat antibakteri terhadap E.coli pada konsentrasi 120 ppm dengan persen hambat masing-masing 47,606% dan 42,287 %, (5) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah dan kering bersifat antibakteri terhadap S.aureus pada konsentrasi 500 ppm dengan persen hambat masing-masing 10,267 % dan 23,889 %.

Meningkatkan hasil belajar konsep volum siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Blitar dengan pendekatan kontekstual / Endang Supartini

 

ABSTRAK Endang Supartini, 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Volum Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Sukorejo 3 Blitar Dengan Pendekatan Kontekstual. Skripsi, Jurusan PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Heru Agus Triwidjaya, M.Pd. Kata kunci: pendekatan kontekstual, aktivitas, dan hasil. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Blitar. SDN Sukorejo 3 Blitar adalah SD yang terletak di Jalan Mawar nomor 40 Kota Blitar. Berdasarkan observasi dan study documenter serta hasil wawancara dengan guru kelas V yang dilakukan pada tanggal 15 – 16 Oktober 2009 diketahui bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di kelas tersebut. Secara umum dapat diidentifikasi ada masalah yaitu aktivitas belajar dan hasil belajar siswa rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa melalui Penelitihan Tindakan Kelas (PTK). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pendekatan kontekstual mempunyai kelebihan yang dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan di SDN Sukorejo 3 Blitar. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Oktober sampai Desember 2009. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Hoptkins yang berbentuk spiral yang terdiri dari empat langkah, yaitu Perencanaan, Pelaksanaan Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Subyek Penelitian adalah siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Bl;itar yang berjumlah 20 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kontektual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN Sukorejo 3 Blitar.

Pengaruh debt to equity ratio (DER) dan debt to asset ratio (DAR) terhadap harga saham melalui retrunt on equity (ROE) pada perusahaan food and beverage yang listing di bei periode 2006-2008 / Shodiqul Hadi

 

ABSTRAK Hadi, Shodiqul. 2009. Pengaruh Debt to Equity Rasio (DER) dan Debt to Asset Rasio (DAR) terhadap Harga Saham melalui Return on Equity (ROE) pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI tahun 2006-2008. Skripsi, jurusan manajemen, konsentrasi keuangan, fakultas ekonomi, universitas negeri malang, pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (2) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci: Debt to Equity Rasio (DER), Debt to Asset Rasio (DAR), Return on Equity (ROE), dan Harga Saham. Tujuan perusahaan secara umum yaitu mencapai tingkat laba yang optimal. Diukur dengan return on equity (ROE). Banyak variabel yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya ROE, diantaranya yaitu debt to equity rasio (DER) dan debt to asset rasio (DAR). Kedua struktur modal ini dapat mempengaruhi ROE perusahaan. Semakin effisien penggunaan hutang maka ROE perusahaan juga semakin baik. Selain mencapai tingkat laba optimal, tugas lain perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas investasinya. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan di masa mendatang, maka banyak investor yang akan menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut. Sehingga akan menaikan harga saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung dan tidak langsung pengaruh DER dan DAR terhadap harga saham yang diperkuat oleh ROE pada perusahaan Food and Beverages yang listing di BEI tahun 2006-2008. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah DER, DAR, dan ROE. Sementara itu, variabel terikat adalah harga saham. Penelitiaan ini merupakan jenis penelitian explanatory research, sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling dan teknik analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel DER dan DAR, baik secara simultan maupun parsial tidak berpengaruh terhadap ROE. Sedangkan DER, DAR, dan ROE secara simultan maupun parsial berpengaruh terhadap Harga Saham. Secara tidak langsung DER dan DAR tidak berpengaruh terhadap Harga Saham melalui ROE. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi manajemen perusahaan agar lebih memperhatikan kegiatan operasional perusahan sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan. Sedangkan para investor disarankan untuk melihat segala aspek baik internal maupun eksternal sebelum menanamkan dananya untuk membeli saham. serta untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah variabel dan periode pengamatan, sehingga hasil penelitian dapat lebih baik lagi.

Karakterisasi sifat mekanik stainless stel aisi 304 setelah mengalami proses annealing dan laju korosi nya dalam media 10% H2SO4 / Umi Safa'ah

 

ABSTRAK Safaah, Umi. 2009. Karakterisasi Sifat Mekanik Stainless Steel AISI 304L Setelah Mengalami Proses Annealing dan Laju Korosinya dalam Media 10% H2SO4. Skripsi. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sunaryono, S.Pd.,M.Si, (II) Drs. Abdulloh Fuad, M.Si. Kata kunci : Annealing, Kekerasan (hardness), Stainless steel, Korosi, H2SO4. Telah dilakukan penelitian tentang Karakterisasi Sifat Mekanik Stainless Steel AISI 304 Setelah Mengalami Proses Annealing dan Laju Korosinya dalam Media 10% H2SO4. Baja yang digunakan adalah baja Austenitik jenis AISI 304 yang mengandung unsur krom 18%, nikel 8% dan 0,08% karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi sifat mekanik stainless steel AISI 304 setelah mengalami proses annealing dan laju korosinya dalam media 10% H2SO4. Sampel mengalami proses annealing dengan variasi suhu 7500C, 8000C, 8500C, 9000C, 9500C selama ± 15 menit, selanjutnya dilakukan uji kekerasan dengan menggunakan alat uji kekerasan Rockwell B. Dari hasil uji kekerasan diperoleh nilai kekerasan untuk sampel tanpa annealing sebesar 61,6275 HRB dan nilai kekerasan untuk suhu annealing 7500C, 8000C, 8500C, 9000C, 9500C adalah 62,1275 HRB; 61,21 HRB; 63,5825 HRB; 58,5 HRB; 62,1675 HRB. Setelah dilakukan uji kekerasan, sampel direndam dalam larutan 10% H2SO4 selama 18 jam, 36 jam, 54 jam, 72 jam, kemudian dihitung laju korosinya dengan menggunakan rumus selisih berat dan didapatkan laju korosi untuk sampel tanpa annealing adalah 0,068 mm/year; 0,036 mm/year; 0,023 mm/year; 0,020 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 750oC adalah 1,109 (mm/year); 0,559 (mm/year); 0,388 (mm/year); 0,273 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 800oC adalah 1,104 (mm/year); 0,535 (mm/year); 0,363 (mm/year); 0,314 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 850oC adalah 1,111 (mm/year); 0,871 (mm/year); 0,781(mm/year); 0,744 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 900oC adalah 1,158 (mm/year); 0,779 (mm/year); 0,777 (mm/year); 0,632 (mm/year). Dan laju korosi pada suhu 950oC adalah 0,117 (mm/year); 0,005 (mm/year); 0,081 (mm/year); 0,007 (mm/year). Selanjutnya sampel dietsa untuk mengetahui struktur morfologi setelah sampel terkorosi yaitu pada suhu annealing 7500C, 8000C, 8500C, 9000C terjadi korosi bats butir dan pada suhu 950oC selain terjadi korosi batas butir juga terjadi korosi sumuran.

Penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar tahun 2009/2010 / Suyati

 

Suyati. 2009. Penerapan Pendekatan Pembelajaran komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar, PTK, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi S1 PJJ PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd. Kata Kunci : Penerapan, Pendekatan Pembelajaran Komunikatif, keterampilan berbicara. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD sangat vital karena erat kaitannya dengan mata pelajaran lainnya. Dengan demikian peserta didik harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, baik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, maupun mata pelajaran lainnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus diajarkan secara terpadu yang meliputi aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Namun demikian di SDN Kendalrejo 04, aspek berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kurang mendapatkan porsi sebagaimana mestinya, akibatnya kemampuan siswa dalam berbicara atau berkomunikasi lisan menggunakan Bahasa Indonesia sangat rendah. Hal ini berpengaruh pula pada Mata Pelajaran lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif yang dapat meningkatkan ketrampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan soal-soal tes. Data yang dideskripsikan meliputi data kegiatan pembelajaran, data hasil observasi keaktifan siswa, data hasil observasi unjuk kerja siswa, dan data hasil tes belajar siswa. Penelitian ini menggunakan langkah-langkah : perencanaan, pelaksanaan / tindakan, observasi, dan refleksi. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun yang berjumlah 28 siswa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa melalui penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif ada peningkatan keaktifan siswa dan peningkatan ketuntasan belajar siswa berupa ketrampilan berbicara. Keaktifan siswa pada siklus I adalah 76%, pada siklus II meningkat menjadi 81%, prosentase keaktifan ini lebih tinggi dari indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 59%, pada siklus II meningkat menjadi 82%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif dapat meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan ketrampilan berbicara siswa.

Pengembangan vcd pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang / Marsudi

 

ABSTRAK Marsudi. 2010. Pengembangan VCD Pembelajaran Teknik Dasar Menggiring (dribble) Bola Basket Untuk Siswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Saichudin. M.Kes (II) Drs. Sapto Adi. M.Kes Kata kunci: pengembangan, Vcd pembelajaran, Menggiring (dribble) Bola Basket. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, ketrampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematis dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang, sebanyak 60% siswa merasa kesulitan dengan materi yang di berikan dan 66% siswa menyatakan tidak senang dengan materi yang diberikan oleh guru. Dari hasil analisis didapat 100% setuju di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang dikembangkan VCD pembelajaran teknik dasar menggiring bola basket. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengembangan model yang efektif dalam VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Dan diharapkan dengan adanya VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang ini dapat mempermudah pemahaman siswa tentang teknik dasar menggiring (dribble) bola basket. Dalam pengembangan VCD pembelajaran ini peneliti menggunakan model pengembangan intruksional dari Sadiman (2003:38), yaitu yang terdiri dari: (1) Penemuan ide, pengumpulan berbagai informasi sebagai kajian pustaka dan observasi lapangan, (2) Penulisan naskah media (hasil produk) berisi rancangan pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble bolabasket, (3) Evaluasi Produk oleh ahli, (4) Revisi Produk I, dilakukan oleh ahli, (5) Produk prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video), (6) Uji coba prototipe, ujicoba (kelompok kecil), (7) Revisi Produk II, revisi dari ujicoba (kelompok kecil), (8) Uji lapangan (kelompok besar), (9) Reproduksi, penyempurnaan produk. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri dari 3 ahli yaitu 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli bolabasket dan 1 ahli media, (2) uji coba kelompok kecil menggunakan 15 siswa kelas VII, dan (3) uji coba kelompok besar menggunakan 30 siswa kelas VII, yang semuanya diambil secara random sampling. Hasil evaluasi model pembelajaran ini yaitu sebagai berikut: dari ahli pembelajaran yaitu: 97,22% (valid), dari ahli bola basket yaitu: 75% (cukup valid), ahli media yaitu: 85% (valid), dari uji coba kelompok kecil yaitu: 89,6% (valid) dan dari uji coba kelompok besar yaitu: 97,7% (valid). Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan yang berupa VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang sebagai sumber untuk mempermudah pemahaman siswa ii tentang teknik dasar menggiring (dribble) bola basket. Hasil penelitian ini hanya sebuah produk VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket, belum sampai pada tingkat efektifitas produk yang dikembangkan, jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektifitas produk yang dikembangkan.

Pengembangan model pengelolaan hasil need assesment berbasis teknologi informasi di SMA Shalahuddin Malang / Niken Puspitasari

 

Kata Kunci: Pengembangan, Pengelolaan, Hasil Need Assessment, Teknologi Informasi Pelaksanaan assessmen di sekolah di samping memerlukan penguasaan, praktik dan sintesis juga sangat menyita waktu dan tenaga konselor di sekolah. Oleh karena itu, dimungkinkan untuk untuk menggunakan komputer sebagai alat bantu assessment untuk memperlancar kegiatan assessment tersebut. Tujuan dikembangkannya pengembangan model pengelolaan hasil need assessment berbasis TI adalah untuk menghasilkan aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling berbasis TI yang dapat digunakan untuk pengelolaan hasil need assessment siswa. Dengan adanya pengelolaan need assessment berbasis TI dapat membantu konselor dalam pemetaan kebutuhan siswa. Penelitian dilakukan di SMA Shalahiddin Malang. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan menggunakan model pengembangan dari Borg dan Gall (1983). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 85 siswa yang terdiri dari 47 siswa kelas X, serta 38 siswa kelas XI. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap uji lapangan awal dan tahap uji lapangan utama. Uji lapangan awal dilakukan kepada kelompok siswa, ahli bimbingan dan konseling, ahli informasi teknologi, konselor, sedangkan uji lapangan utama dilakukan kepada sekolompok siswa SMA kelas X, XI. Berdasarkan hasil uji lapangan awal didapatkan 38 butir item pernyataan yang valid dan tiga pernyataan tidak valid sehingga pernyataan-peryataan tersebut harus diperbaiki. Karena dari uji lapangan awal sudah dilakukan revisi terhadap produk maupun pernyataan-pernyataan yang tidak valid, maka di dalam penelitian utama semua pernyataan need assessment dinyatakan valid. Dengan adanya pengembangan model pengelolaan hasil need assessment berbasis TI ini, disarankan agar konselor dapat memanfaatkan pengelolaan hasil need assessment berbasis TI untuk pemetaan kebutuhan siswa.

Pengaruh penggunaan internet terhadap prestasi akademik bagi mahasiswa prodi S1 pendidikan ekonomi angkatan 2007 dan 2008 jurusan ekonomi pembangunan fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang / Ariesta Miftriana S

 

ABSTRAK Susanti, Ariesta Miftriana. 2009. Pengaruh Penggunaan Internet terhadap Prestasi Akademik bagi Mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang.. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Hj.Dra Sri Umi Mintarti W, SE, Ak, Mp (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata Kunci: penggunaan internet, prestasi akademik Internet sebagai sebuah jaringan raksasa yang menghubungkan berjuta-juta komputer di dunia tidak saja berfungsi sebagai medium untuk tukar menukar informasi secara cepat dan murah, namun telah menjadi gudang pengetahuan yang tak ternilai harganya. Internet atau komputer seperti juga peralatan yang dibuat oleh manusia lainnya mempunyai kemampuan yang sangat banyak. Akan tetapi manfaat yang dapat kita peroleh dari Internet menjadi beragam tergantung persepsi dan kemampuan atau kebutuhan yang ada.. Beragamnya motif menggunakan internet tentunya memberikan pengaruh yang beragam kepada pengguna. Berkembangnya informasi dan internet itu sendiri tentu akan menyebabkan terjadinya kelimpahan informasi (information overload) atau kebingungan pengguna dalam memilih, menyaring, dan menilai informasi yang ditemukan di internet sehingga akan mempengaruhi kepuasan pengguna. Variabel bebas dalam penelitian ini pemanfaatan internet terdiri dari sub variabel internet sebagai sumber belajar (X1), penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas (X2), dan persepsi mahasiswa tentang pemanfaatan internet (X3), sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi akademik mahasiswa (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 289 mahasiswa dan sampel berjumlah 74 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multy stage sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner. Tahap pertama purposive sampling yaitu menentukan sampling berdasarkan tujuan penelitian. Tahap kedua yaitu Proportional Sampling yaitu untuk menentukan jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian berdasarkan kelas. Skala yang digunakan skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk menguji kelayakan regresi dilakukan uji asumsi klasik dan keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS Versi 13.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel mengenal internet (X1) memiliki nilai B = 0,027; nilai t hitung = 24,564. Nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,9930 sehingga t hitung > t tabel atau dengan signifikansi t = 0,0000 dimana sig t < 0,05. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui variabel internet sebagai sumber belajar berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. Untuk variabel penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas (X2) memiliki nilai B = 0,025; nilai t i ii hitung = 23,861. Nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,9330 sehingga t hitung > t tabel atau signifikansi t = 0,000 dimana sig t < 0,05. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui variabel penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. Sedangakan untuk variabel persepsi mahasiswa tentang penggunaan internet diketahui bahwa mahasiswa prodi pendidikan ekonomi mempunyai persepsi yang cukup tinggi atau baik. Hal ini dikonfirmasikan berdasarkan distribusi frekuensi yang menunjukkan bahwa sebesar 54 responden (72,97%) mempunyai persepsi yang baik tentang penggunaan internet untuk menunjang prestasi akademiknya. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan: (1) sebagian besar responden menyatakan setuju untuk penggunaan internet sebagai sumber belajar, (2) sebagian besar responden menyatakan setuju untuk penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas , (3) sebagian besar responden meenyatakan setuju untuk persepsi mahasiswa tentang penggunaan internet. Secara parsial ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan internet sebagai sumber belajar terhadap prestasi akademik mahasiswa, ada pengaruh positif penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas terhadap prestasi akademik mahasiswa. Sedangkan secara simultan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan internet sebagai sumber belajar, penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas terhadap prestasi belajar mahasiswa. Sedangkan penggunaan internet sebagai sumber belajar merupakan sub variabel yang memberikan pengaruh paling dominan. Berdasarkan kesimpulan di atas disarankan (1) Dalam penelitian ini pemanfaatan internet berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Oleh karena itu pemanfaatan internet dalam proses belajar mengajar hendaknya semakin ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga nantinya terjadi peningkatan prestasi belajar mahasiwa, (2) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang diharapkan untuk memperbaiki fasilitas internet yang sudah ada sekarang ini, (3) Pemanfaatan internet bagaikan minum air laut yang tiada habisnya, maka hendaknya mahasiswa sebagai subjek belajar mampu menjaga diri agar terhindar dari dampak negatif penggunaan internet.

Peningkatan hasil belajar matematika tentang perkalian melalui pendekatan kooperatif learning metode pemecahan masalah siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan / Sri Rahayu Hartatik

 

ABSTRAK Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Perkalian Melalui Pendekatan Cooperative learning Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan. Oleh : Sri Rahayu Hartatik Kata Kunci : Pendekatan Cooperative Learning, Pemecahan Masalah Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimanakanh penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan dalam pembelajaran matematika ? 2) Bagaimanakah penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang perkalian siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan ? 3) Apakah dengan menggunakan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas III SDNTembokrejo I Pasuruan ? Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan sebanyak 25 orang siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka. Dari 25 orang siswa, hasil tes diperoleh nilai rata-rata 52 dengan perincian nilai sebagai berikut : 1 orang siswa memperoleh nilai 100, 5 orang siswa memperoleh nilai 80, 9 orang siswa memperoleh nilai 60, 3 orang siswa memperoleh nilai 40, dan 7 orang memperoleh nilai 20. Pada kompetensi dasar di atas telah ditentukan KKM nya 70, artinya siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila telah memperoleh nilai minimal 70. Dari hasil tes dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas belajar 6 orang siswa (24% ), sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 19 orang siswa (76% ). Sehingga pembelajaran dikatakan belum berhasil. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1 ) Hasil observasi aktivitas siswa siklus I adalah 74,6 % dengan kategori baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II adalah78,7 %. Aktivitas siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 4,1 %, secara keseluruhan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dikategorikan baik. Pada penilaian proses untuk siklus I adalah kualifikasi amat baik ada 3 orang siswa, yang mencapai kualifikasi baik ada 12 orang siswa ,dan kualifikasi cukup ada 10 orang siswa. Pada siklus II diperoleh kualifikasi amat baik ada 6 orang siswa, yang mencapai kualifikasi baik ada 18 orang siswa, dan kualifikasi cukup ada 1 orang siswa. Pada penilaian hasil untuk siklus I adalah nilai rata-rata76,8. Siswa yang tuntas belajar 15 orang siswa, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 10 orang siswa. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 84,8, siswa yang tuntas belajar 25 orang siswa (100 % ). Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa sebelum penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah jauh dari kriteria keberhasilan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi peneliti pada pra tindakan. Pada pra tindakan diperoleh nilai rata-rata 49,6, 19 siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan 6 siswa mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 76,8, 15 siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan 10 siswa mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 84,8, 25 siswa (100%) mencapai ketuntasan belajar. Disimpulkan bahwa hasil belajar sebelum penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah perlu adanya peningkatan. Hasil belajar setelah penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dikatakan meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi siswa selama tindakan pada siklus I dan siklus II.

Pembenahan kesalahn konsep perbandingan bilangan pecahan SDN Sukorejo 3 Kota Blitar malalui media tiga dimensi / Siti Munawaroh

 

ABSTRAK Siti Munawaroh, 2010. Pembenahan Kesalahan Konsep Perbandingan Bilangan Pecahan SDN Sukorejo 3 Kota Blitar melalui Media Tiga Demensi. ETA PJJ SI PGSD Universitas Negeri Malang Angkatan Pertama . Pembimbing Drs. HERU AGUS TRI W IJAYA,M.Pd Kata Kunci: Konsep Perbandingan Bilangan Pecahan Sederhana, Media 3 Dimensi Pembelajran Matematika di Sekolah Dasar menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika bertujuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau alogaritme, secara luwes, akurat, dan tepat dalam pemecahan masalah . Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa guru dalam mengajarkan perbandingan bilangan pecahan cenderung verbal, tanpa menggunakan alat peraga. Berdasarkan kenyataan itu, serta observasi terhadap siswa kelas III SDN Sukorejo 3 Kota Blitar yang masih banyak terdapat kesalahan konsep perbandingan pecahan yang berpenyebut tidak sama. Penelitian bertujuan untuk pembenahan kesalahan konsep perbandingan bilangan pecahan di SDN Sukorejo 3 Jln Mawar 40 Kelurahan sukorejo Kecamatan Sukorejo Kota Blitar yang dilakukan akhir semester I tahun ajaran 2009/2010 , Subyek penelitian adalah siswa kelas III A. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang berbentuk tindakan kelas dan dilakukan 2 siklus masing-masing siklus dua pertemuan. PTK ini dilaksanakan dalam pembelajaran untuk pembenahan kesalahan konsep perbandingan bilangan pecahan yang berpenyebut tidak sama yaitu pertama siswa diarahkan untuk memahami pecahan sederhana, langkah-langkah yang dilakukan adalah siswa harus memahami dulu konsep perbandingan bilangan pecahan berpenyebut tidak sama. Pembelajaran dilakukan dengan metode tanya jawab, demontrasi, dan menggunakan alat bantu media tiga demensi yang ada di sekitar dan mudah dipotong seperti buah apel, roti, tempe, kertas. Pembelajaran pertama adalah memaparkan konsepsi awal tentang perbandingan pecahan. Kedua memaparkan pengurangan kesalahan konsep perbandingan pecahan menggunakan media tiga demensi. Ketiga memaparkan konsepsi akhir siswa setelah diajarkan dengan media tiga demensi.Keempat memaparkan tangapan siswa terhadap pembelajaran setelah menggunakan media tiga demensi. Hasil penelitian ini dilakukan terhadap 25 siswa menunjukkan sebagai berikut hasil tes awal penelitian perbandingan bilangan pecahan berpenyebut tidak sama siswa yang relatif tidak mengalami kesulitan belajar. Setelah dilakukan tindakan sampai dengan siklus II diperoleh hasil sebagai berikut: (1)Tindakan siklus I pertemuan satu siswa masih banyak yang kurang memahami konsep perbandingan pecahan. (2) Tindakan pada siklus kedua membandingkan bilangan pecahan dengan menggunakan gambar. (3) Tindakan siklus II pertemuan pertama membandingkan bilangan pecahan menggunakan media tiga demensi dan meletakkan tanda pembanding. (4) Tindakan siklus II pertemuan 2 membandingkan bilangan pecahan dengan hasil yang diperoleh siswa tidak mengalami kesulitan . Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa kegiatan pembelajaran perbandingan pecahan , guru hendaknya menggunakan media tiga demensi berupa benda-benda yang mudah dipotong seperti roti, apel, tempe untuk membandingkan bilangan pecahan

Penerapan pendekatan pakem untuk meningkatakan kemampuan membaca dan menulis melalui permulaan kelas I SD Negeri kauman 2 kota blitar / indri ariani

 

ABSTRAKSI Ariani, Indri. 2009. Penerapan Pendekatan Pakem untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan di Kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar. Penelitian Tindakan Kelas PJJ S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Heru Agus Triwijaya, M.Pd Kata kunci: pendekatan pakem, kemampuan membaca dan menulis Bahasa Indonesia Penelitian ini berlatar belakang kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar yang masih belum memperlihatkan hasil yang maksimal sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang diharapkan. Pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru. Peserta didik belum diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya sesuai potensi yang dimiliki. Peserta didik seharusnya difasilitasi untuk dapat mengembangikan dirinya melalui pengenalan dan keterlibatan terhadap alam sekitar khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik perlu ditingkatkan terus pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mampu menghadapi perkembangan IPTEK. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar dengan Penerapan Pendekatan Pakem, tidak tergantung pada buku teks, memanfaatkan situasi kehidupan riil lingkungan terdekat, situasi pembelajaran yang kondusif, terjadi peningkatan keaktivan peserta didik, kreativitas peserta didik meningkat, menyenangkan, dan pemahaman terhadap lingkungan juga meningkat. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaborasi. Peneliti melakukan kolaborasi dengan Ibu Purdiati, guru kelas 2 SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar, mulai dari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Pendekatan Pakem dengan tema lingkungan dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar. Peningkatan kualitas pembelajaran ditandai dengan: (1) Penerapan Pendekatan Pakem tema lingkungan oleh guru kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar yang disusun secara kolaboratif berhasil dengan baik; (2) ketergantungan guru pada buku teks sangat berkurang karena guru banyak menggunakan situasi kehidupan riil terdekat dengan sekolah; (3) pembelajaran berpusat pada peserta didik dan bersifat konstruktivistik; (4) penilaian hasil belajar lebih komprehensif yaitu tidak hanya melalui tes tertulis; dan (5) situasi pembelajaran terasa lebih kondusif. Penerapan Pendekatan Pakem di kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, kreativitas peserta didik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, kualitas interaksi dalam proses pembelajaran, dan pemahaman tentang konsep lingkungan. Hasil penelitian membuktikan penerapan pendekatan pakem dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 tahun pelajaran 2009/2010 dibuktikan dengan adanya peningkatan kemampuan membaca dan menulis permulaan mulai pra tindakan, ketuntasan belajar dengan jumlah 33 peserta didik 17 peserta didik tuntas atau mencapai 52%, siklus I 22 peserta didik tuntas atau mencapai 67% dan pada siklus II 28 peserta didik tuntas 85%. Disarankan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas I menggunakan Penerapan Pendekatan pakem. Pendekatan ini juga dapat dipergunakan untuk mata pelajaran lainnya.

Pembalajaran kontekstual dengan model InQuiry untuk meningkatkan hasil dan aktivitas belajar ipa pada siswa kelas V SD negeri karangtengah 2 kota blitar / ganis sri rejeki

 

Hasil belajar IPA pada kelas V SDN Karangtengah 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran [pra tindakan masih belum tuntas. Hal ini disebabkan metode pembelajaran guru mayoritas menggunakan metode ceramah dan kurang melibatkan partisipasi siswa. Guna meningkatkan hasil belajar siswa di SDN Karangtengah 2 tersebut, peneliti mengujicobakan model inkuiri. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri untuk meningkatkan proses pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Karangtenag 2 Kota Blitar, (2) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Karangtengah 2 Kota Blitar, (3) mendeskripsikan penerapan model inkuiri untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar IPA pada siswa kelas V SDN Karangtengah 2 Kota Blitar. Jenis Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan motode pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Peneliti terlibat secara penuh dalam kegiatan penelitian baik perencanaan, pelaksanaan maupun refleksi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus diketahui ketuntasan belajar siswa yang ditunjukkan oleh hasil prestasi siswa. Dengan menerapkan model inkuiri, ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siklus I 78,57%, siklus II 92,87%, sehingga tidak perlu dilakukan kegiatan siklus III. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar guru dapat memilih model-model pembelajaran yang sesuai agar pembelajaran berhasil dengan baik. Dengan menerapkan model inkuiri akan dapat meningkatkan hasil dan akivitas belajar siswa.

Peningkatan pemahaman membaca permulaan melalui penerapan CTL ( Contextual Teaching and Learning ) Dalam pembelajaran bahasa indonesia kelas I SDN tumpakoyot 02 kecamatan bakung kabupaten blitar / Siti Asiyah

 

ABSTRAK Asiyah, Siti. 2010 Peningkatan Pemahaman Membaca Permulaan Melalui Penerapan CTL ( Contextual Teaching And Learning ) dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas I Di SDN Tumpakoyot 02 Kecamaan Bakung Kabupaten Blitar. Jurusan KSDP, Program Studi S1 PJJ PGSD FIP Universitas Negeri Malang Pembimbing : Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd Kata kunci : CTL, Pemahaman, Membaca Permulaan, SD Dalam proses pembelajaran kelas I di SDN Tumpakoyot 02 Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar yang mempunyai jumlah siswa 15 anak, hanya ada 5 siswa yang mempunyai kemampuan mencapai penguasaan materi 33,33 % keatas, sedangkan sisanya 10 siswa atau 66, 77 % belum menguasai materi. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa kurang memperhatikan terhadap penjelasan guru tentang materi yang diberikan. Ketika ditanya apakah materi sudah paham, hampir semua anak serentak menjawab sudah, dan ketika ditanya apakah ada yang belum mengerti semua siswa diam. Kekurangan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar adalah : perhatian siswa terhadap materi pembelajaran sangat kurang, siswa kurang memahami penjelasan guru, hasil belajar siswa rendah. Penulis melakukan penelitian perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran CTL ( Contextual Teaching and Learning ) untuk meningkatkan pemahaman membaca permulaan pada siswa kelas I terhadap materi Bahasa Indonesia tentang deskripsi benda-benda Beradasarkan hasil penelitian aktivitas belajar siswa yang dilihat selama proses pembelajaran pada siklus I mencapai 64,58 % sedangkan pada siklus II mencapai 79,16 %. Berarti aktivitas pada siklus II meningkat dari aktivitas belajar siswa pada siklus I, yaitu mengalami peningkatan 14,58 %. Prestasi belajar siswa pada siklus I mencapai 61,33 % , sedangkan pada siklus II mencapai 70,33 %. Hal ini mengalami peningkatan 9 %. Penerapan Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Membaca Permulaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan ketepatan tindakan guru Sehingga siswa merasa tertantang untuk mengetahui pembelajaran lebih lanjut sehingga penerapan pembelajaran kontekstual dalam membaca permulaan merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I mencapai 67 % yang dikategorikan dengan nilai baik, sedangkan pada siklus II mencapai 80 % yang dikategorikan dengan nilai baik. Hal ini berarti penerapan pembelajaran kontekstual pada pembelajaran membaca permulaan efektif untuk diterapkan , karena dapat menambah semangat siswa untuk giat ,aktif dalam belajar dan menambah penguasaan siswa terhadap pemahaman membaca sehingga siswa mampu memahami suatu kata atau kalimat.Siswa dapat menemukan kebermaknaan dalam belajar apabila materi yang disampaikan guru berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

Dampak kebijakan sekolah gratis terhadap perkembangan sekolah-sekolah menengah pertama di kota malang / Syaiful Rohman

 

ABSTRAK Rohman, Syaiful. 2010. Dampak Kebijakan Sekolah Gratis Terhadap Perkembangan Sekolah-Sekolah Menengah Pertama Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing. Dr. Hari Wahyono, M.Pd (I), Drs. Prih Hardinto, M. Si (II): Kata Kunci: Sekolah gratis, BOS, RAPBS, Pemerataan pendidikan, kualitas. Pendidikan gratis dapat dimaknai sebagai upaya membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik di sekolah sebagai perwujudan dari upaya membuka akses yang luas bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang merupakan hak dari setiap warga negara sebagaimana amanat UUD 1945. Pendidikan gratis yang dikeluarkan oleh pemerintah itu diaplikasikan dalam program BOS. Secara umum, program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu. Kebijakan pendidikan merupakan kebijakan publik. Melalui kebijakan ini bisa dilihat sejauh mana pemerintah melakukan kewajibannya untuk memenuhi hak setiap warganegara untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu, hanya memberitakan ribuan lulusan SD tidak mendapat kursi di SMP Negeri tidak cukup. Kebijakan tersebut sangat sempurna, tetapi ketika berada di lapangan pasti akan mengalami penyesuaian situasi dan kondisi sekolah. Berdasarkan studi fenomena yang terjadi ketika kebijakan sekolah gratis turun pada tahun 2009. Banyak sekali dampak yang telah ditimbulkan oleh kebijakan tersebut baik itu pada pihak sekolah sebagai lembaga yang melaksanakan kebijakan sekolah gratis maupun masyarakat yang menerima kebijakan tersebut. Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan adalah untuk mendeskripsikan tanggapan sekolah-sekolah menengah pertama di Kota Malang mendengar adanya kebijakan sekolah gratis untuk pendidikan dasar, arah pengembangan sekolah menengah negeri dengan adanya kebijakan sekolah gratis, dan arah kebijakan sekolah swasta untuk mempertahankan eksistensinya dan perkembangannya dalam dunia pendidikan dengan adanya kebijakan sekolah gratis. Studi penelitian yang dilakukan pada SMP-SMP di Kota Malang. Subyek penelitian yang di ambil untuk dijadikan informan utama dalam mengkaji dampak kebijakan sekolah gratis tersebut berdasarkan data rekapitulasi NUN SMP tahun ajaran 2008/2009 untuk sekolah negeri dan pendapat masyarakat tentang kualitas sekolah swasta serta sebaran lokasi sekolah. Sekolah tersebut yaitu SMP Negeri 3 Malang, SMP Negeri 16 Malang, SMP Negeri 17 Malang, SMP K. Kolese St. Yusup 2 Malang, SMP NU Hasyim Asy’ari, dan SMP Kr. 1 YPK. Dengan sumber informasi adalah masing-masing kepala sekolah. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul di sekitar lingkungan manusia terorganisasir dalam satuan pendidikan formal. Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang dalam situasi tertentu Pendekatan ini menghendaki adanya sejumlah asumsi yang berlainan dengan cara yang digunakan untuk mendekati perilaku orang dengan maksud menemukan “fakta” atau “penyebab”. Dengan cara pengumpulan data wawancara, observasi dan dokementasi. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu pertama dari segi penganggaran pendidikan sekolah negeri, telah mengalami penyesuian sehubungan dengan bertambahnya dana yang masuk ke dalam kas sekolah dari sumber BOS. BOS tidak digunakan untuk menggratiskan biaya pendidikan tetapi meringankan biaya pendidikan sekolah negeri. Setelah penambahan dana BOS tersebut, sekolah mengalihkan beban tarikannya kepada hal-hal pengembangan siswa. dengan alasan yang cukup masuk akal yaitu demi berjalannya program pengembangan sekolah. Pada sekolah-sekolah swasta dengan adanya kenaikan dana BOS 2009 semakin terbantu aktifitas pendidikannya karena dana yang didapatkan dari pemerintah bertambah. Lalu program kerja untuk pengembangan sekolah dapat berjalan dengan baik. Serta untuk menaikkan kualitas sekolah untuk menjadi sekolah yang go public akan tercapai dengan baik. Kedua, penyesuaian RAPBS setelah turunnya kebijakan sekolah gratis, sekolah mengadakan koordinasi dengan pengurus sekolah, komite sekolah dan yayasan (untuk swasta). Ini menunjukkan bahwa sekolah telah memberi peluang kepada masyarakat luas untuk berperan serta dalam mensukseskan pendidikan. Karena dengan bergabungnya komite sekolah maka sekolah akan lebih banyak mendapatkan saran dan evaluasi. Ketiga, Untuk perkembangan sekolah dalam hal pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas. Peningkatan pemerataan pendidikan, dengan adanya dan BOS 2009 berdampak sangat bagus, Karena dengan adanya BOS masyarakat menjadi termotivasi untuk meneruskan ke jenjang pendidikan selanjutya, karena asumsi mereka pendidikan sudah mulai murah. Program pemerintah untuk mengurangi kebodohan telah tercapai dengan banyaknya siswa yang mau meneruskan, sampai-sampai pada sekolah negeri melebihi kuota. Untuk peningkatan kualitas guru karyawan, siswa, sarana dan prasaran telah terbantu dengan adanya bantuan dana BOS. Dana BOS tersebut terpakai dengan baik untuk peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan seminar. Lalu untuk siswa, dana BOS digunakan untuk peningkatan kualitas pembelajaran siswa baik itu perlengkapan sebagai penunjang maupun untuk remedial dan pengayaan. Dana BOS juga digunakan untuk biaya pengembangan bakat diri siswa seperti pramuka, KIR, PMR. Untuk sarana penunjang kebanyakan dana BOS digunakan untuk perlengkapan penunjang pendidikan.

Pemahaman gambaran mikroskopis dan konsep-konsep dasar kesetimbangan kimia pada siswa kelas IX semester I SMA negeri 8 malang / Faqul Linnas

 

ABSTRAK Linnas, Faqul. 2010. Pemahaman Gambaran Mikroskopis dan Konsep-Konsep Dasar Kesetimbangan Kimia Pada Siswa Kelas XI Semester I SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Moh Sodiq Ibnu, M.Si, (II) Drs. Muhadi. Kata kunci: gambaran mikroskopis, konsep-konsep dasar, kesetimbangan kimia Sebagian besar konsep dalam ilmu kimia merupakan konsep-konsep yang abstrak, untuk memahami konsep abstrak ini diperlukan kemampuan intelektual yang tinggi, yang oleh Piaget disebut sebagai kemampuan berpikir formal. Berdasarkan hasil penelitian tidak semua siswa SMA telah mencapai taraf berpikir formal sehingga untuk mempermudah siswa memahami konsep kimia yang abstrak maka digunakan suatu gambaran mikroskopis. Gambaran mikroskopis merupakan visualisasi dari obyek sebenarnya yang mikroskopis yang disusun sedemikian rupa sehingga ciri-cirinya diusahakan semirip mungkin dengan obyek mikroskopis tersebut (Bent, 1984: 774). Dalam gambaran mikroskopis ini, konsep kimia yang bersifat abstrak diilustrasikan melalui gambar. Pokok bahasan kesetimbangan merupakan salah satu materi yang sebagian besar konsepnya bersifat mikroskopis. Tingginya tingkat keabstrakan konsep-konsep dalam bahasan ini dapat menghasilkan kesalahan konsep, padahal kesalahan konsep adalah sesuatu yang harus dihindarkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) pemahaman siswa tentang gambaran mikroskopis kesetimbangan kimia pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang, 2) mengetahui pemahaman konsep-konsep dasar siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang tentang kesetimbangan kimia, 3) mengetahui hubungan tentang pemahaman gambaran mikroskopis dengan pemahaman konsep-konsep dasar kesetimbangan kimia pada siswa kelas XI SMA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang yang terdiri dari 6 kelas jurusan IPA. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik sampling sederhana dengan dasar pemikiran bahwa setiap subyek dalam populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi anggota sampel, hingga didapatkan siswa kelas XI-IA 1 dan XI-IA 2. Instrumen yang digunakan adalah tes obyektif dengan empat pilihan jawaban yang terdiri dari 22 soal hasil uji validasi terhadap tes pemahaman konseptual menunjukkan validitas butir tes berkisar antara 0,30-0,72, dan dengan menggunakan rumus Kuder-richardson 20 atau KR-20 diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,68. Untuk tes penggambaran mikroskopis kesetimbangan kimia hasil uji validasi menunjukkan validitas isi tes = 97% dan koefisien reliabilitas sebesar 0,59. Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pemberian skor, (2) pengelompokan butir soal kedalam konsep berdasarkan kisi-kisi soal, (3) menghitung persentase jumlah siswa yang menjawab benar untuk penentuan pemahaman konsep, (4) menghitung persentase tiap butir pilihan jawaban benar, (5) penentuan tingkat pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pemahaman gambaran mikroskopis untuk kesetimbangan dinamis, diperoleh persentase jawaban benar ii siswa sebesar 82,2% ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa termasuk dalam kategori sangat tinggi dan untuk pergeseran kesetimbangan memberikan persentase sebesar 76,3% yang menunjukkan pemahaman siswa berada dalam kategori tinggi, 2) Pemahaman konseptual kesetimbangan dinamis, diperoleh persentase jawaban benar siswa sebesar 95,7% ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa termasuk dalam kategori sangat tinggi dan untuk pergeseran kesetimbangan memberikan persentase sebesar 73,8% yang menunjukkan pemahaman siswa berada dalam kategori tinggi, 3) terdapat hubungan antara pemahaman gambaran mikroskopis dengan pemahaman konseptual kesetimbangan kimia siswa dengan koefisien korelasi sebesar 0,38.

Pengaruh stres kerja terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan RSAB Muslimat Jombang / Baihaqi Anhar

 

Perusahaan merupakan lembaga yang memiliki tujuan menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh kinerja keuangan dalam hal ini rasio yang digunakan adalah return on asset (ROA) terhadap nilai perusahaan menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dengan mereplikasi penelitian sebelumnya peneliti menduga ada faktor lain. Oleh karena itu, peneliti memasukkan pengungkapan good corporate governance (GCG) sebagai variabel moderasi yang diduga ikut memperkuat atau memperlemah pengaruh tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan dan pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan yang dimoderasi oleh good corporate governance, populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk dalam CGPI dan listing di BEI periode 2005-2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penemuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representative. Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI, masuk pemeringkatan CGPI, dan menerbitkan laporan keuangan selama periode pengamatan yaitu tahun 2005-2007. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (closing price) dan indeks GCG. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik moderated regression analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan menggunakan signifikansi 5 % menunjukkan (1) variabel ROA berpengaruh terhadap nilai perusahaan, (2) GCG bukanlah variabel pemoderasi. Hal ini disebabkan investor tidak mempercayai kebijakan good corporate governance yang dijalankan di Indonesia karena masih semata-mata menunjukkan ketaatan kepada hukum dan bukan menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel dan memperpanjang waktu pengamatan sehingga penelitian dapat digeneralisasi. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi kinerja yang lain, misalnya ROE, PBV, atau leverage. Proksi GCG dapat menggunakan ukuran dewan komisaris, komisaris independen, komite audit, atau kepemilikan manajerial.

Study terhadap prestasi hasil belajar training untuk peserta lulusan SD, SLTP, SLTA, dan pernah kuliah di PLKI Singosari / Soeprapti Nawawi

 

Pengaruh latihan pliometrik bervariasi terhadap prestasi tendangan jauh permainan sepakbola peserta ekstrakurikuler sepakbola pada SMA Negeri 1 Tegaldlimo Banyuwangi / Rizki Fajar Irawan

 

Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan pengungkapan GOOD CORPORATE GOVERMENT sebagai variabel pemoderasi / Miarti

 

ABSTRAK Miarti. 2010. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Good Corporate Governance Pada Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan S1 Akuntasi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Bambang Sugeng, M.A., M.M. Ak, Pembimbing (2) Dra. Hj. Sutatmi, SE, M.pd., M.Si. Ak Kata kunci : return on asset, good corporate governance, tobins’q, nilai perusahaan Perusahaan merupakan lembaga yang memiliki tujuan menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh kinerja keuangan dalam hal ini rasio yang digunakan adalah return on asset (ROA) terhadap nilai perusahaan menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dengan mereplikasi penelitian sebelumnya peneliti menduga ada faktor lain. Oleh karena itu, peneliti memasukkan pengungkapan good corporate governance (GCG) sebagai variabel moderasi yang diduga ikut memperkuat atau memperlemah pengaruh tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan dan pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan yang dimoderasi oleh good corporate governance, populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk dalam CGPI dan listing di BEI periode 2005-2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penemuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representative. Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI, masuk pemeringkatan CGPI, dan menerbitkan laporan keuangan selama periode pengamatan yaitu tahun 2005-2007. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (closing price) dan indeks GCG. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik moderated regression analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan menggunakan signifikansi 5 % menunjukkan (1) variabel ROA berpengaruh terhadap nilai perusahaan, (2) GCG bukanlah variabel pemoderasi. Hal ini disebabkan investor tidak mempercayai kebijakan good corporate governance yang dijalankan di Indonesia karena masih semata-mata menunjukkan ketaatan kepada hukum dan bukan menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel dan memperpanjang waktu pengamatan sehingga penelitian dapat digeneralisasi. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi kinerja yang lain, misalnya ROE, PBV, atau leverage. Proksi GCG dapat menggunakan ukuran dewan komisaris, komisaris independen, komite audit, atau kepemilikan manajerial.

Penerapan Pembelajaran kooperatif type stad untuk meningkatkan penguasaan konsep waktu pada mata pelajaran matematika kelas 1 SDN Mronjo 02 kecamatan selopuro kabupaten Blitar / Umi niswatin

 

Matematika merupakan salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Rendahnya prestasi belajar matematika salah satu penyebabnya terletak pada daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika masih kurang. Anggapan yang terjadi pada kehidupan masyarakat matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit dan membingungkan, terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan perhitungan waktu jam secara bulat.Peneliti berasumsi bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD anak akan bersemangat dan mengikuti pembelajaran matematika tentang perhitungan waktu jam secara bulat dapat meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan penguasaan konsep perhitungan waktu jam secara bulat siswa kelas 1 SDN Mronjo 2 Kecamatan. Selopuro Kabupaten. Blitar. (2) Peningkatan penguasaan perhitungan waktu jam secara bulat dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas I SDN Mronjo 02 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN.Mronjo 02 sebanyak 20 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi. Tehnik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SDN Mronjo 02. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pre tes dan post tes, pada siklus I dengan hasil 70%. Sedangkan pada siklus II nilai pre tes dan post tes meningkat menjadi 95 %. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembelajaran ini adalah: a). Proses Pembelajaran Matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat siswa menjadi lebih berani tampil ke depan kelas dan lebih berani bertanya juga menjawab pertanyaan yang di berikan oleh guru. b). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada penguasaan konsep perhitungan waktu jam secara bulat.

Penerapan strategi pemecahan masalah heuristik II untuk meningkatkan balajar hitung penjumlahan di kelas I SD / Neni Lita Herminati

 

ABSTRAK Herminati, L. N. Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Heuristik II untuk Meningkatkan Belajar Hitung Penjumlahan di Kelas I SD Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan KSDP Program PJJ S1 PGSD. Pembimbing : Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL), Strategi Pemecahan Heuristik II, Penjumlahan, Matematika, SD. Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menerapkan berbgai pendekatan dan metode untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi awal diketemukan bahwa hasil belajar siswa di SDN Ngemplakrejo dari 30(100%) siswa sebanyak 23 (76.6%) siswa belum mencapai kriteria ketentuan kelas yang diharapkan minimal 80%. Berdasarkan hal itu, pendekatan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan strategi pemecahan masalah heuristik dalam pembelajaran matematika sangat tepat sebagai alternatif dalam proses pembelajaran, karena siswa dilibatkan secara aktif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika melalui penerapan strategi pemecahan masalah heuristik II; (2) Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematikan melalui penerapan strategi pemecahan masalah heuristik II; (3) Meningkatkan kemampuan belajar hitung penjumlahan pada siswa kelas I SDN Ngemplakrejo. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dengan metode Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan teknik tes dan non tes (observasi dan wawancara), sedangkan instrumen pengumpulan data berupa: pedoman observasi untuk menilai aktivitas, kreativitas, efektivitas, dan pembelajaran menyenangkan bagi siswa, soal pre test dan post test untuk menilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pemecahan masalah heuristik II. Dari hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pemecahan masalah heuristik II terjadi beberapa peningkatan yaitu: (1) untuk aktivitas, kreativitas, efektivitas, dan rasa senang siswa terhadap pembelajaran yang diperoleh mulai siklus I sampai siklus II mengalami peningkatkan yang signifikan. Yaitu dari 30 (100%) siswa seluruhnya sudah mencapai kriteria aktif, kreatif, efektif dan rasa senang dalam pembelajaran; (2) hasil belajar pada waktu pre test adalah 46,7 dengan kriteria sangat rendah mengalami peningkat pada siklus I yaitu 74,6 dengan kriteria cukup tinggi dan mengalami peningkatan yang signifikan lagi pada siklus II 87,6 dengan kriteria tinggi. Meskipun ada 3 (10%) yang tidak mencapai kriteria ketuntasan individu namun ketuntasan belajar kelas sudah tercapai yaitu minimal 80%. Namun demikian, nampaknya masi sangat di perlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam usaha memperbaiki dan menngkatkan hasil belajar siswa di sekolah tersebut.

Penerapan metode experimen untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 4 sekolah dasar negri bendogerit 2 kota blitar./Tri harjani

 

ABSTRAK Harjani, Tri. 2010. Penerapan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar. Penelitian Tindakan Kelas. PJJ S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. I Wayan Sutama, M. Pd Kata kunci: Metode eksperimen, hasil belajar matematika Proses pembelajaran melibatkan keseluruhan potensi psikis dan fisik peserta didik. Maka dari itu, pembelajaran harus berpusat pada peserta didik yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. Di samping itu, dalam pembelajaran seorang pendidik harus dapat menggunakan multimetode untuk pengorganisasian kelas yang bervariasi. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode eksperimen. Sebab metode eksperimen ini menuntut siswa untuk lebih aktif sehingga dapat merangsang potensi daya fikir siswa serta kreativitas daya nalar mereka. Dengan demikian siswa menjadi termotivasi dalam belajar, sehingga dapat mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan harapan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar; (2) untuk mendeskripsikan apakah metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan empat tahapan yaitu: (1) tahap perencanaan tindakan; (2) tahap pelaksanaan tindakan; (3) tahap observasi; (4) tahap refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas 4 SD Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar. Sedangkan, data yang diperoleh berupa hasil tes evaluasi dan lembar obeservasi kegiatan belajar mengajar. Hasil dari keseluruhan analisis menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 59,25 pada pra-tindakan naik menjadi 65,50 pada siklus I dan 75,00 pada siklus II. Adapun ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 55%, pada siklus I meningkat menjadi 80%, kemudian pada siklus II meningkat lagi menjadi 95%. Berdasarkan hasil analisis di atas, guru diharapkan bisa menyampaikan materi dengan cara yang variatif, tidak hanya dengan keterangan lisan melainkan juga dengan menggunakan eksperimen dengan benda-benda kongkrit agar siswa bisa memahami materi dengan baik. Selain itu, diharapkan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Matematika karena dengan metode ini siswa menjadi lebih aktif berfikir dan berbuat selama kegiatan belajar mengajar.

Peningkatan hasil belajar matematika tentang pengukuran panjang melalui pendekatan kontekstual metode pemecahan masalah siswa kelas III SDN MANDARANREJO./Sukarsih

 

ABSTRAK Sukarsih, 2010.Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Pengukuran Panjang Melalui Pendekatan Kontekstual Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas III UPT SDN Mandaranrejo II Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program PJJ-SI PGSD. Pembimbing : Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd Kata Kunci:Pembelajaran Kontekastual, Pemecahan Masalah Pengukuran Panjang Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatankontekstual metode pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Apakah pembelajaran kontekstual dengan metode pemecahan masalah dapat meningktkan aktivitas siswa kelas III UPT SDN Mandanrejo II Pasuruan dalam pembelajaran matematika ?,2) Apakah pembelajaran kontekstual dengan metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang pengukuran panjang siswa kelas III UPT SDN Mandanrejo II Pasuruan ?, 3)Bagaimana penerapan pembelajaran Matematika kontekstual dapat meningkatkan kemapuan pemecahan masalah siswa kelas III UPT SDN mandaranrejo II Pasuruan ? Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III UPT SDN Mandaranrejo II Pasuruan sebanyak 32 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan menggunakan alat ukur. Dari 32 siswa 5 orang siswa memperoleh nilai 100, 4 orang siswa memperoleh nilai 80, 8 orang siswa memperoleh nilai 60, 13 orang siswa memperoleh nilai 40, dan 2 orang siswa memperoleh nilai 20. KKM sekolah sebesar 70, artinya siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila telah memperoleh nilai minimal 70. Dari hasil tes awal dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas belajar 9 orang siswa (28% ), sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 23 orang siswa (72%). Sehingga pembelajaran dikatakan tidak berhasil. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1), Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I diperoleh prosentase 79% dengan kiteria tingkat keberhasilan baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II diperoleh prosentase 88, 1 %, dengan criteria keberhasilan amat baik. Hal ini mebuktikan bahwa aktivitas siswa meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 9,1%, (2) Hasil belajar pada akhir I diperoleh nilai rata-rata 72,8 siswa yang tuntas belajar 21 siswa dan siswa tidak tuntas belajar 11 siswa. Hasil belajar pada akhir siklus II diperoleh nilai rata-rata 84.3 siswa yang tuntas belajar 32 siswa (100%). (3) Kemapuan pemecahan masalaha meningkat, dengan kiteria keberhasilan amat baik, karena itu dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran matematika kontekstual kemapuan pemecahan masalah siswa kelas II SDN mandaranrejo II Pasuruan mengalami peningkatan

Persepsi kepala sekolah dan teman sejawat terhadap guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK PROBOLINGGO./Maya Faradilla Puspa

 

ABSTRAK Puspa, Maya Faradilla. 2009. “Persepsi Kepala Sekolah Dan Teman Sejawat Terhadap Guru Ekonomi Yang Tersertifikasi Di Sma Dan Smk Probolinggo”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj Lisa Rokhmani. M.Si (2) Dr. Nasikh, S.E.,M.P., M.Pd Kata kunci: Profesionalisme guru, Kompetensi guru, Kinerja guru Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, sehingga mereka harus mendapatkan perhatian yang utama.Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dalam proses belajar mengajar. Perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan persyaratan memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau Diploma IV yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran, seorang guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu guru sehingga pembelajaran di sekolah juga akan berkualitas. Peningkatan mutu dan peningkatan kesejahteraan guru diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan melalui sebuah kinerja guru yang baik.Tujuan sertifikasi adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; meningkatkan martabat guru; dan meningkatkan profesionalise guru. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan variabel dalam penelitian yaitu profesionalisme guru, kompetensi guru dan kinerja guru. Populasi dalam penelitian ini adalah guru ekonomi tersertifikasi di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Probolinggo. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah dan guru (teman sejawat) dari guru yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 37 orang. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode angket/kuesioner tertutup. Analisis data yang digunakan untuk menguji adalah dengan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian untuk tingkat Profesionalisme guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat sudah sangat tinggi atau baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data menyatakan bahwa masing-masing sub profesionalisme yaitu: 83,8 % guru memiliki tingkat ahli bidang teori dan praktek yang sangat tinggi atau baik, 75,7 % guru memiliki tingkat latar belakang kependidikan yang sangat tinggi atau baik, 78,4% guru melaksanakan kode etik guru yang sangat tinggi atau baik, 91,9% guru memiliki tingkat otonom dan rasa tanggungjawab yang sangat tinggi atau baik, 83,8% guru memiliki kerelaaan memberikan bimbingan yang sangat tinggi atau baik, serta 62,2% guru memiliki rasa bekerja berdasarkan panggilan hati nurani yang sangat tinggi atau baik. Hasil penelitian untuk tingkat Kompetensi guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat adalah sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data menyatakan bahwa masing-masing sub kompetensi yaitu: 83,8 % guru memiliki tingkat kompetensi kepribadian yang tinggi, 83,8 % guru memiliki tingkat kompetensi sosial yang tinggi, 75,7% guru memiliki tingkat kompetensi pedagogik yang tinggi, serta 78,4% guru memiliki tingkat kompetensi profesional yang tinggi. Sedangkan untuk kinerja guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat juga sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data masing-masing sub variabel. Dari sub variabel penyusunan program pembelajaran yaitu: 91,9 % guru menyusun program pembelajaran, 83,8 % guru melaksanakan pelaksanaan evaluasi, 62,2 % guru melakukan analisis evaluasi, 78,4 % guru melakukan pelaksanaan perbaikan dan pengayaan, 56,8 % guru melakukan pelaksanaan pembelajaran dengan sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada para guru ekonomi tersertifikasi di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Probolinggo untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dan kinerjanya dalam dunia kependidikan. Sehingga tujuan Sertifikasi guru untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Berbagai program untuk meningkatkan kompetensi dan kinerjanya, hendaknya tidak berhenti begitu saja setelah sertifikat pendidik didapatkan, melainkan tetap membekali diri dengan berbagai program peningkatan pendidikan seperti pelatihan dan seminar yang bermanfaat untuk menambah wawasan di dunia pendidikan.

Analisis potensi retribusi pasar terhadap pendapatan asli daerah (PAD) kota Malang tahun 2004-2008./ Firghansa Ulil Rizky

 

ABSTRAK Rizky, Firghansa Ulil. 2010. Analisis Potensi Retribusi Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Malang Tahun 2004-2008. Skripsi, Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M.Pd, (II) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si. Kata kunci: otonomi daerah, potensi, retribusi pasar, PAD. Otonomi daerah merupakan aplikasi dari suatu kebijakan yang menetapkan bahwa kabupaten maupun kota sebagai titik beratnya. Inti dari pelaksanaan otonomi daerah adalah upaya untuk memaksimalkan hasil yang akan dicapai sekaligus menghindari kerumitan dan hal-hal yang menghambat pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian, tuntutan masyarakat dapat diwujudkan secara nyata dengan penerapan otonomi daerah luas dan kelangsungan pelayanan umum tidak diabaikan, serta memelihara kesinambungan fiskal secara nasional. Meskipun bukan penerimaan retribusi yang utama, namun retribusi pasar Kota Malang memiliki peranan yang cukup penting, yakni sebagai salah satu penyumbang dalam penerimaan retribusi daerah pada khususnya dan PAD pada umumnya. Untuk mengetahui fokus dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah perkembangan retribusi pasar dan PAD Kota Malang tahun 2004-2008? (2) Bagaimanakah hubungan antara retribusi pasar dengan PAD Kota Malang tahun 2004-2008? (3) Bagaimanakah potensi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang tahun 2004-2008? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan Asli Daerah (Dispenda) dan Dinas Pasar Kota Malang dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Populasi terdiri dari retribusi pasar selama 8 (delapan) tahun, yakni mulai tahun 2001 hingga tahun 2008 sedangkan sampel terdiri dari retribusi pasar Kota Malang selama 5 (lima) tahun, yakni mulai tahun 2004 hingga tahun 2008. Sampel diambil dengan teknik sampling purposive. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Prosentase perkembangan retribusi pasar Kota Malang dari tahun ke-tahun mengalami ketidakstabilan. Rata-rata perkembangan penerimaan retribusi pasar menunjukkan angka 10,18% pertahun, sedangkan rata-rata prosentase realisasi retribusi pasar atas targetnya adalah sebesar 100,87% pertahun, (2) PAD Kota Malang mengalami perkembangan setiap tahunnya, namun tidak selalu mengalami peningkatan. Rata-rata perkembangan PAD Kota Malang cukup, yakni 5,97% per-tahun, sedangkan rata-rata prosentase realisasi retribusi pasar atas targetnya adalah sebesar 101,89% pertahun, (3) Retribusi pasar memiliki hubungan linier positif yang menunjukkan bahwa dengan naiknya pendapatan retribusi pasar, maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan naik pula. Namun demikian, retribusi pasar memiliki tingkat korelasi yang rendah dengan Pendapatan Asli Daerah Kota Malang. Korelasi antara dua variabel tersebut menunjukkan angka 0,345, (4) Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, retribusi pasar cukup memiliki potensi dalam menyumbang penerimaan retribusi daerah dan PAD Kota Malang. Menurut perhitungan melalui analisa kontribusi, potensi retribusi pasar dalam menyumbang PAD Kota Malang adalah sebesar 3,66%. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan retribusi pasar dalam kaitannya dengan PAD Kota Malang adalah: (1) Bagi Pemerintah: (a)Perlu diadakan upaya yang lebih intensif lagi dalam pemungutan retribusi pasar sehingga penerimaan retribusi pasar akan selalu mengalami peningkatan yang lebih besar dan stabil setiap tahunnya, dengan cara pengoptimalan kembali usaha intensifikasi dan ekstensifikasi pasar, (b)Pemerintah sebagai stakeholder perlu untuk lebih memperhatikan lagi dan membantu kemajuan sektor penerimaan retribusi pasar, dengan cara memberikan penyuluhan dan bantuan materiil terhadap pedagang melalui kebijakan yang lebih baik lagi agar krisis ekonomi global tidak mengakibatkan kelesuan perdagangan pasar, (c)Penerimaan atas PAD harus lebih dioptimalkan kembali dengan cara mengembangkan potensi dan keunggulan daerahnya sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap Pemerintah Pusat dan bantuan lainnya; (2) Bagi peneliti lain: mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai teknik pengambilan data yang lebih menitikberatkan pada data sekunder, maka penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik dan mendalam dengan menggali sumber data primer.

Isolasi, karakterasi, dan uji aktivitas antibakteri minyak biji buah kelengkeng lokal dan impor serta identivikasi asam lemak penyusunnya / Mahfudhoh Syarifah

 

ABSTRAK Syarifah, Mahfudhoh. 2010. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Biji Buah Kelengkeng Lokal dan Impor serta Identifikasi Asam Lemak Penyusunnya. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (2) Evi Susanti, S.Si., M.Si., Kata-kata kunci: asam lemak, biji buah kelengkeng, antibakteri Minyak dari biji buah-buahan adalah salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan suatu produk industri. Pohon kelengkeng adalah salah satu jenis tanaman buah berbiji yang banyak terdapat di Indonesia. Meskipun begitu pemanfaatan biji buah kelengkeng masih sangat terbatas. Padahal dimungkinkan didalam minyak ada senyawa yang bersifat antibakteri yang diperoleh dari hasil isolasi minyak dari biji buah kelengkeng. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengisolasi, mengkarakterisasi, dan mengidentifikasi, serta menguji aktivitas minyak biji buah kelengkeng sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli. Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Biji buah kelengkeng yang digunakan berasal dari tanaman kelengkeng jenis lokal (bibit Indonesia) dan jenis impor (bibit luar). Tahap-tahap penelitian ini adalah isolasi minyak biji buah kelengkeng dengan cara ekstraksi soxhlet dengan pelarut n-heksana; karakterisasi sifat fisika (berat jenis dan indeks bias) dan sifat kimia (bilangan asam, bilangan iod, dan bilangan penyabunan); identifikasi asam lemak minyak biji buah kelengkeng menggunakan GC-MS; dan sifat antibakteri ditentukan dengan metode tube dillution test terhadap Escherichia coli. Data-data yang diperoleh dalam penelitian, dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rendemen minyak biji buah kelengkeng lokal agak basah, lokal kering, impor agak basah, dan impor kering yang diekstraksi dengan n-heksana berturut-turut adalah 0,777%; 1,429%; 2,746%; 2,832%, (2) minyak biji buah kelengkeng lokal agak basah memiliki berat jenis 1,423; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,50; bilangan penyabunan 140,25; dan bilangan iod 101,286, minyak biji buah kelengkeng lokal kering memiliki berat jenis 1,270; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,83; bilangan penyabunan 137,500; dan bilangan iod 114,210, minyak biji buah kelengkeng impor agak basah memiliki berat jenis 1,293; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,663; bilangan penyabunan 139,324; dan bilangan iod 105,8097, minyak biji buah kelengkeng impor kering memiliki berat jenis 1,380; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,609; bilangan penyabunan 139,787; dan bilangan iod 104,167. (3) asam lemak penyusun utama minyak biji buah kelengkeng adalah asam palmitat, asam linoleat, asam oleat, asam oktadekanoat, asam siklopropanaoktanoat, dan asam eikosanoat. (4) uji aktivitasnya terhadap bakteri Escherichia coli dengan metode tube dillution test menunjukkan minyak biji buah kelengkeng lokal agak basah memiliki potensi paling besar dibandingkan dengan yang lainnya, sebesar 45,74%, sedangkan dari minyak biji buah kelengkeng lokal kering, impor agak basah, dan impor kering hanya 31,38%; 13,30%; dan 23,67%.

Hubungan antara kualitas layanan petugas koperasi siswa dan kepuasasn siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas ( SMA ) Negeri se-kota Malang / Winda Restuning Suminar

 

ABSTRAK Suminar, Winda. 2009.Hubungan Antara Kualitas Layanan Petugas Koperasi Siswa dan Kepuasan Siswa Kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Se-Kota Malang, Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hendyat Soetopo M. Pd (2) Drs. Agus Timan, MPd. Kata Kunci: Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Sebagai wadah pengembangan usaha ekonomi rakyat, koperasi diharapkan dapat menjadi pilar utama peningkatan kesejahteraan anggota dan sekaligus menumbuhkan semangat kehidupan demokrasi ekonomi dalam masyarakat. Perkembangan koperasi dari tahun ke tahun memang terjadi di semua sektor, salah satunya adalah pelayanan bagi anggota koperasi. Bahwa pelayanan yang diberikan oleh koperasi merupakan program saling memanfaatkan bagi anggota. Dalam pemberian layanan terhadap anggotanya harus memberikan manfaat ekonomis atau keuntungan yang dapat dinikmati oleh anggota. Disamping itu, pelayanan pegawai yang maksimal akan membuat anggota merasakan kepuasan yang pada akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan anggota koperasi tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang; mendeskripsikan tingkat kepuasan siswa terhadap layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang dan mengetahui hubungan antara kualitas layanan petugas koperasi siswa dengan kepuasan siswa kelas XI SMAN se-Kota Malang. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut maka untuk menjawab masalah yang pertama dan kedua menggunakan teknik analisis data deskriptif/persentase dan untuk menjawab pertanyaan ketiga menggunakan teknik analisis data korelasi Product Moment dari Pearson. Populasi dalam penelitian ini adalah 2910 siswa dan sampel yang diambil adalah 351 yang terdiri dari siswa kelas XI di SMAN se-Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan suatu kesimpulan bahwa kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang masuk dalam kategori baik. Tingkat kepuasan siswa atas kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang. masuk dalam kategori baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat kepuasan siswa dengan kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang.. Hasil tersebut dapat dibuktikan bahwa nilai harga r hitung sebesar 5,29 dan nilai r tabel 0,113. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat kepuasan siswa dengan kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang.. Saran yang dapat diajukan yaitu bagi siswa, diharapkan untuk melakukan suatu evaluasi atas kualitas pelayanan yang diberikan oleh pihak koperasi sehingga pihak manajemen koperasi selalu melakukan perbaikan atas kualitas pelayanan yang diberikan. Usaha nyata yaitu dengan selalu memberikan suatu tanggapan yaitu dengan mengisi kotak saran sesuai dengan kondisi yang mereka rasakan. Bagi Peneliti Selanjutnya, bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan variabel lain yang terkait dengan kepuasan para siswa dalam menggunakan jasa koperasi sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kualitas pelayanan dengan kepuasan para siswa dalam menggunakan jasa koperasi.

Penggunaan alat peraga IPA untuk meningkatkan prestasi belajar Fisika siswa kelas VIII E SMPN 2 Malang / Asmoin

 

Kata kunci: penggunaan alat peraga, prestasi belajar. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran fisika kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang menunjukkan bahwa siswa cenderung pasif ketika proses pembelajaran berlangsung. Nilai rata-rata kelas yang dicapai hanya 65 kurang dari kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 70. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru yaitu metode ceramah yang dilengkapi dengan slide melalui LCD. Siswa hanya melihat, mendengar, dan mencatat pelajaran yang disampaikan guru. Metode ini menyebabkan penilaian yang dilakukan guru hanya pada aspek kognitif saja, sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik belum dapat dilaksanakan. Hal ini menandakan bahwa proses pembelajaran tidak dapat menciptakan pemahaman menangkap konsep, fakta, prinsip/hukum serta teori. Untuk mengatasi permasalahan ini diterapkan penggunaan alat peraga IPA untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII E SMPN2 Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar IPA (fisika) siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang yang mencakup aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang yang berjumlah 42 siswa. Peningkatan prestasi belajar pada aspek kognitif diperoleh melalui pemberian soal pre-tes untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan pemberian post-tes setelah proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik diperoleh melalui proses kegiatan praktikum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) penerapan pembelajaran melalui penggunaan alat peraga IPA (fisika) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Malang yang ditunjukkan oleh peningkatan pada aspek kognitif dengan meningkatnya gain score dari 0,44 dan 0,45 pada siklus I menjadi 0,50 pada siklus II. Peningkatan gain score pada aspek kognitif termasuk kategori ( sedang) dengan 0,7(g)0,3. Adapun pada aspek afektif dalam kegiatan praktikum meliputi keberanian bertanya/menjawab, kerja sama dalam kelompok, keaktifan dalam melakukan percobaan, ketepatan mengumpulkan laporan dan kerapian setelah melakukan percobaan ditunjukkan oleh peningkatan persentase rerata dari 53,24% pada siklus I menjadi 59,23% pada siklus II. Sedangkan peningkatan aspek psikomotorik yang meliputi ketepatan menggunakan alat sesuai obyek, kemampuan mengoperasikan alat, ketepatan membaca alat ukur, dan ketepatan memasukkan data ditunjukkan oleh peningkatan persentase rerata dari 72,32% pada siklus I menjadi 73,45 % pada siklus II.

Penerapan model pembelajaran inquiri sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Blitar tahun pelajaran 2009/2010 / Nanik Guntariati

 

ABSTRAK GUNTARIATI, N. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010 Penelitian Tindakan. Pembimbing Dr. Musa Sukardi M.Pd Kata kunci: Inquiry, Prestasi Belajar Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penentu dalam kelangsungan hidup manusia. Untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang, pendidikan nasional dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pakar, birokrat dan politisi saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru dan orang yang berkiprah di bidang pendidikan dan pengajaran. Kunci dari meningkatkannya kualitas manusia Indonesia seutuhnya adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu diperlukan usaha peningkatan kualitas guru dalam melakukan strategi kegiatan belajar. Berdasarkan fenomena tersebut, ada permasalahan yang perlu dijawab berkaitan dengan masalah peningkatan prestasi. Bagaimanakah Penerapan Model Pembelajaran Inquiry terhadap aktivitas siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran Matematika?, dan Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009/2010 dalam Penerapan Model Pembelajaran Inquiry? Metode yang digunakan dalam pendekatan penyelesaian permasalahan ini adalah model pembelajaran Inquiry dengan rancangan penelitian tindakan perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil dari penelitian ini adalah; (1) siswa pada umumnya masih kesulitan dalam beradaptasi dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hal ini dapat dimaklumi sebab siswa belum pernah melakukan praktek pembelajaran matematika secara mandiri. (2) Guru masih belum secara optimal mengkondisikan kelas, sehingga siswa lebih banyak bermain bersama siswa yang lain daripada memperhatikan guru, dan (3) Siswa pada umumnya masih belum aktif untuk bertanya atau mengambil peran dalam menjelaskan menyampaikan pertanyaan materi maupun menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru. Sedangkan hasil nyata dari evaluasi belajar menunjukkan bahwa model inquiri sangat efektif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar dalam belajar mata pelajaran matematika. Hal ini dibuktikan bahwa diawali dari pra tindakan penelitian Dari 15 siswa yang tuntas dalam belajar ada 4 siswa (26,67%). Tindakan berikutnya pada siklus 1 meningkat yang mengalami ketuntasan dalam belajar ada 9 siswa (60%). Selanjutnya tindakan pada siklus 2, didapatkan hasil belajar dari 15 siswa 13 siswa (86,67%) dinyatakan tuntas dalam pembelajaran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |