The study of grammatical and lexical errors resulting from L1 interference found in english compositions made by eighth graders of SMP NEGERI 13 Malang / Maulida Yuniswati

 

ABSTRACT Yuniswati, Maulida. 2010. The Study of Grammatical and Lexical Errors Resulting from L1 Interference Found in English Compositions Made by the 8th Graders of SMP Negeri 13 Malang. Thesis, Undergraduate Study Program of English Language Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Nur Hayati, S.Pd, M.Ed. Keywords: L1 interference, compositions Considering the fact that L1 interference influences the language which is produced by students when they use a foreign language, it has become a very important area of study in language teaching. This study is aimed to find out the kinds of lexical and grammatical errors caused by L1 interference or negative transfer of the mother tongue in writing compositions made by eighth grade students of SMP Negeri 13 Malang and the frequency of occurrence of errors. The data and information obtained from this study are expected to be useful for English teachers to help them identify the areas where the students encounter problem in writing.The focus of this study was identifying, describing, and classifying grammatical and lexical errors in students writing. Therefore, descriptive qualitative was considered appropriate for the design of the study. The subjects were 39 eighth grade students in 8A Class in the second semester of 2008-2009 academic years. The instrument used to collect the data was the students’ writing tasks. The errors found were classified based on the error classification scheme developed by Kwary and Sugiri (2004). The result shows that 586 errors resulting from L1 interference were found from 78 compositions. The kinds of grammatical errors that appear in the students’ writings are subject-verb agreement (14.50%), article (12.12%), sentence or clause without verb (12.12%), noun form (11.43%), pronoun (8.02%), preposition (7.51%), word order(6.82%), clause without subject (2.56%), tense(2.39%), gerund (0.85%), and passive form(0.68%); while errors in the lexical area consist of errors on literal translation (7.51%), spelling (7.34%), and word choice (6.14%). Some categories of errors in Kwary and Sugiri (2004) cannot be applied to the data, that is, if clause, embedded question, comparison, conjunction, and word class. No sentences containing those categories of errors found in the data. However, the researcher developed another category of errors that are not mentioned in the classification scheme by Kwary and Sugiri, that is, clause without subject that makes up 2.56% of all errors. Based on the findings, some suggestions are given to the teachers. First, they need to emphasize how certain concepts are handled in English and Indonesian. Second, they need to discuss with the students the errors students make that seem to result from L1 interference, and discuss ways to solve the problems. For further researchers, it is suggested that they conduct similar studies in different context and/or with broader scope, using other instrument, such as, interview guide and questionnaires to find out the more accurate reasons for the students’ errors.

Pengembangan bahan ajar IPA terpadu dengan tema pencemaran air sungai untuk siswa SMP/MTs kelas VII / Nina Khusnah

 

ABSTRAK Khusnah, Nina. 2010. Pengembangan Bahan Ajar IPA Terpadu dengan Tema Pencemaran Air Sungai untuk Siswa SMP/MTs Kelas VII. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sulisetijono, M.Si, (II) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D. Kata kunci: bahan ajar IPA Terpadu, pencemaran air sungai Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sejak Tahun Ajaran 2006/2007, kurikulum yang digunakan di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemberlakuan KTSP di sekolah menengah berdampak pada pembelajaran IPA di SMP/MTs yang menghendaki materi pelajaran IPA yang mencakup bidang kajian fisika, biologi dan kimia diajarkan secara terpadu. Oleh karena itu, bahan ajar IPA yang dikehendaki adalah bahan ajar IPA Terpadu. Sejauh ini bahan ajar IPA Terpadu berbasis riset belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar IPA Terpadu dan mengetahui validitas bahan ajar hasil pengembangan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Rancangan pengem-bangan yang digunakan mengikuti langkah-langkah model pengembangan bahan ajar yang terdiri atas 4 tahap, yaitu: (1) tahap analisis situasi awal, (2) tahap pengembangan rancangan bahan ajar, (3) tahap penulisan bahan ajar, dan (4) tahap penilaian bahan ajar. Draf hasil pengembangan divalidasi oleh 3 validator ahli menggunakan instrumen validasi berupa angket tertutup yang dikembangkan sendiri, serta divalidasi secara langsung oleh 10 orang siswa SMP Negeri 1 Malang. Data kuantitatif hasil validasi dianalisis dengan teknik rerata, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator yang kemudian digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar IPA Terpadu untuk SMP/MTs kelas VII yang dikembangkan memiliki tema pencemaran air sungai yang merupakan perpaduan antara materi biologi dan kimia. Hasil pengembangan terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pendahuluan dan bagian isi. Bagian pendahuluan mencakup halaman muka (cover), kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator kompetensi yang digunakan serta peta konsep. Bagian isi mencakup materi pencemaran air sungai, kegiatan praktikum, kegiatan diskusi, latihan soal, rangkuman materi, glosarium, evaluasi, kunci jawaban, dan daftar pustaka. Berdasarkan hasil uji validitas, bahan ajar yang dikembangkan memperoleh nilai total rerata 3,35 atau sebesar 83,75% yang berarti memenuhi kriteria valid. Produk hasil pengembangan mengalami satu kali revisi yang berkaitan dengan penyusunan peta konsep, perbaikan indikator hasil belajar, dan pembatasan pada materi tertentu yang dianggap terlalu rinci untuk siswa SMP/MTs kelas VII. Hasil dari revisi tersebut merupakan produk akhir dari pengembangan bahan ajar IPA Terpadu.

Kajian antropologi olahraga permainan leppy rasa di desa katua pulau sumbawa kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat / Didi Budiyanto

 

ABSTRAK Budiyanto, Didi. 2009. Kajian Anropologi Olahraga Permainan Leppy Rasa Di Desa Katua Pulau Sumbawa Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan FIK Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr Roesdiyanto M.Kes, dan (II) Drs H. Sugiharto Kata kunci : Kajian antropologi, permainan, leppy rasa Permainan tradisional Leppy rasa dalam komunitas masyarakat Dompu Nusa tenggara Barat merupakan salah satu dari berbagai macam olahraga permainan tradisional yang ada di Propinsi Nusa tenggara Barat. permainan ini bertujuan sebagai Ungkapan atau puji sukur atas hasil Panen yang berlimpah, bahkan permainan tradisional leppy rasa ini oleh masyarakat Desa Katua, kecamatan Dompu Nusa Tenggara Barat merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat. Ada beberapa kriteria yang menjadikan permainan ini tergolong sebagai olahraga, yaitu sebagai berikut: (1) dalam permainan melibatkan permainan fisik, (2) ada aspek kompetitif, yaitu ada pihak yang menang dan kalah, (3) untuk menjadi yang terbaik dibutuhkan kondisi fisik yang baik seperti kekuatan otot, kecepatan gerak, reaksi tubuh, kelincahan daya tahan dan kekebalan tubuh dan sebagainya, (4) memiliki strategi dalam permainan, (5) ada wasit, (6) penonton, dan sebagainya. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara secara mendalam kepada para sesepuh pemain leppy rasa, mantan pemain leppy rasa, dan pemain yang masih aktif yang berada diwilayah Desa Katua kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat sejak tanggal 04 April sampai 05 Mei 2008. Rancangan penelitian adalah dengan mengunakan pendekatan kualitatif, dimana data-data yang dikumpulkan berupa data deskriptif dengan prosedur pengumpulan data, yaitu observasi secara kontinyu dan relevan, wawancara secara mendalam. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan, Bahwa hikmah-hikmah dari permainan leppy rasa adalah sebagai berikut: (1) Ucapan rasa sukur kepada Allah SWT, (2) Sebagai ajang selatuhrahmi, (3) Memperbanyak teman, (4) Meningkatkan kekompakan dan persatuan, (5) Meningkatkan sportivitas, (6) Menyehatkan dan menguatkan badan, (7) Meningkatkan keberanian pada diri sendiri. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, disarankan agar pelaksanaan permainan leppy rasa perlu diadakan seprofesional mungkin dalam hal pengembangan dan pengemasanya, sebab pemerintah Indonesia mulai berorentasi dan berusaha mengembangkan adat-istiadat suatu daerah untuk pengembangan faktor pariwisata. Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian lanjutan.

Membangun koneksi jaringan komputer berbasis windows xp di SDN Percobaan 2 Malang / Nur Sholihah

 

Dunia pesantren sarat dengan aneka pesona, keunikan, kekhasan dan karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh institusi lainnya. Kepemimpinan kyai di sebuah pondok pesantren memegang teguh nilai-nilai luhur yang menjadi acuannya dalam bersikap, bertindak dan mengembangkan pesantren. Pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin memiliki lembaga madrasah diniyah yang mendidik dan mengajarkan bidang keilmuan, khususnya dalam bidang keilmuan nahwu shorof dan bidang keilmuan keagamaan lainnya. Pengelolaan pembelajaran madrasah diniyah dilakukan oleh kepala madrasah dan dibantu oleh beberapa guru dan pengurus pesantren bidang pendidikan. Kepemimpinan kyai dalam mengelola pembelajaran tidak hanya dilandasi kemampuan mengatur pesantren, akan tetapi seorang pengasuh atau kyai lebih kuat dilandasi oleh kekuatan spiritual bathin dan nilai-nilai taat kepada Allah SWT. Dari latar belakang diatas maka fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: (1) Bagaimanakah profil KH. Imam Ghozali Syarif selaku pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kembang Purwoasri Singosari Malang; (2) Bagaimana kepemimpinan Kyai dalam mengelola pembelajaran Madrasah Diniyah Putra di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kembang Purwoasri Singosari Malang; (3) Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dan startegi pemecahan dalam mengelola pembelajaran Madrasah Diniyah Putra di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kembang Purwoasri Singosari Malang; (4) Bagaimana pemberdayaan faktor-faktor pendukung dalam rangka pengembangan pembelajaran Madrasah Diniyah Putra di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kembang Purwoasri Singosari Malang. Penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara mendalam; (2) pengamatan lapangan dengan partisipasi langsung; (3) studi dokumentasi. Temuan penelitian ini adalah bahwa kepemimpinan KH. Imam Ghozali Syarif di pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin hampir sama dengan pesantren salaf lainnya. Pengasuh pesantren lebih mengutamakan musyawarah dengan para orang-orang di pesantren dan pengasuh lebih menekankan pada sistem kekeluargaan, dimana pengasuh pesantren lebih berperan sebagai orang tua bagi para santri dan santri menganggap pengasuh pesantren seperti orang tuanya sendiri. Hal ini seperti pada kepemimpinan yang bertipe paternalistik. Begitu juga KH. Imam Ghozali Syarif menerapkan keteladanan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam memimpin. KH. Imam Ghozali Syarif itu pendiri sekaligus pengasuh tunggal dalam pesantren ini, akan tetapi mulai tahun 2003 dibantu oleh Gus Nur Muhammad dalam memimpin dan mengelola madrasah diniyah. Kepala Madrasah sebagai perencana awal dalam mempersiapkan pembelajaran setiap tahunnya dan dibantu oleh bidang pendidikan pesantren. Faktor pendukung dalam mengelola pembelajaran diniyah adalah: (1) adanya seorang pengasuh kyai yang selalu mendukung demi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar;(2) adanya seorang kepala madrasah yang mengatur dan mengawasi perjalanan pembelajaran di madrasah diniyah; (3) sarana gedung dan ruangan belajar, (4) kekompakan dan kebersamaan para guru; dan (5) adanya sarana belajar, seperti papan tulis, bangku/meja belajar, meja dan kursi guru; dan (6) Kesemangatan para santri dalam memahami dan menghafalkan pelajaran. Pemberdayaan faktor-faktor pendukungnya adalah (1) pengoptimalan pembinaan dan pengasuhan terhadap santri untuk menjadi anak yang shaleh dan sholihah;(2) pertangunggjawaban secara umum terhadap tujuan pembelajaran dan pendidikan yang ada di dalam pesantren dan menjalin dan memperbaiki hubungan baik dan erat dengan para tenaga pengajar;(3) optimalisasi dan pemaksimalan tujuan pendidikan pesantren, seperti halnya pembiasaan akhlak baik dan disiplin kepada para santri;(4) menjaga kebersihan ruangan dan selalu dirawat dan optimalisasi penggunaan gedung untuk bisa dipergunakan kegiatan-kegiatan pesantren lain;(5) Pengoptimalan sarana di kelas demi mencapai tujuan pendidikan madrasah yang diharapkan;dan (6) Penerapan isi dan makna pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan faktor penghambatnya adalah (1) masih adanya guru yang terkadang tidak hadir pada waktu jam mengajar;(2) belum adanya struktur organisasi madrasah diniyah;(3) adanya guru yang pulang ke kampung halaman di tengah perjalanan madrasah diniyah berlansung; (4) belum adanya kurikulum yang tertulis; (5) kurangnya sarana komputer untuk keperluan administrasi madrasah; dan (6) kurangnya pengawasan dan pengontrolan terhadapa anak-anak dan juga kurangnya komunikasi antara sie pendidikan; (7) Banyaknya santri yang tidak hafal suatu materi pelajaran; dan (8) masih adanya santri yang mengantuk dan tidur disaat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada pengasuh dan kepala madrasah agar selalu berusaha meningkatkan sumber daya yang ada di pesantren dan meningkatkan pengelolaan pembeljaran yang lebih efektif dan kreatif demi perkembangan pesantren di masa mendatang. Diharapkan para guru madrasah diniyah selalu menjaga kekompakan dan memperbaiki kualitas mengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Efektivitas penggunaan teknik sosiodarma untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas VII SMP NEGERI 1 Krembung - Sidoarjo / Fifin Fadhilatul Umroh

 

ABSTRAK Umroh, Fifin Fadhilatul. 2009. Efektivitas Penggunaan Teknik Sosiodrama untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Krembung Sidoarjo. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci: Kepercayaan diri, remaja, sosiodrama. Keprcayaan diri diartikan sebagai rasa kekuatan dan keyakinan pada diri sendiri serta kemampuan berpikir positif dan rasional dalam memandang kehidupan sehingga seseorang berusaha untuk mencapai potensinya secara penuh. Kepercayaan diri dapat dibentuk dan dilatih dengan teknik yang bisa dipelajari oleh para remaja, salah satu bentuk teknik tersebut adalah sosoidrama. Treatment ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Krembung Sidoarjo. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas teknik sosiodrama dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa. Rancangan penelitian ini termasuk dalam jenis rancangan penelitian quasi eksperimen. Desain yang digunakan adalah pre test dan post tes control group. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Masing-masing kelompok terdiri dari 35 siswa, sehingga jumlah keseluruhan subyek penelitian adalah 70 siswa SMP. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan t-test dengan bantuan komputer SPSS 13 for windows. Instrumen penelitian berupa inventori kepercayaan diri, RPBK (Rencana Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling) sosiodrama, pedoman observasi, dan format evaluasi. Indikator kepercayaan diri terdiri dari 8 aspek, antara lain: tujuan yang jelas, cinta diri, pemahaman diri, berpikir positif, pengendalian emosi, ketegasan, penampilan diri, dan keterampilan komunikasi. Sedangkan RPBK sosiodrama materinya disesuaikan dengan indikator kepercayaan diri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik sosiodrama efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri subyek penelitian pada kelompok eksperimen. Hal ini dibuktikan dengan t = 2.087 dan p < 0.05 (0.041) dan taraf signifikansi 95 %. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikemukakan saran untuk konselor antara lain adalah 1) konselor dapat menggunakan teknik sosiodrama sebagai salah satu teknik untuk memberikan layanan bimbingan kepada siswa, 2) penyampaian materi yang berkaitan dengan tema dalam permainan, seharusnya diberikan secara menarik dan jelas dengan tujuan agar siswa mampu memahami dan mengaplikasikan teori dalam bentuk tindakan. Sedangkan saran untuk peneliti selanjutnya adalah 1) dapat menambah variabel pembeda pada sample penelitian, seperti jenis teknik permainan yang digunakan, misalnya: teknik simulasi atau teknik role playing, 2) peneliti sebaiknya melaksanakan tindakan pengontrolan pada kelompok kontrol selama pelaksanaan eksperimen berlangsung, 3) ada baiknya jika dilakukan lebih dari satu kali pemberian post test untuk melihat tingkat efektivitas jangka panjang pemberian treatment.

Pendekatan ekspositori dalam peningkatan hasil belajar tentang bentuk benda pada pelajaran IPA kelas II MI Miftahul Anwar Bangil kabupaten Pasuruan / Nurul Afiyah

 

ABSTRAK Nurul Afiyah, 2009. Pendekatan Ekspositori dalam Peningkatan Hasil Belajar IPA Kelas II MI Miftahul Anwar Bangil Kabupaten Pasuruan. Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan KSDP. Program S1 PGSD . Pembimbing: 1) Drs. Achmad Badawi, S.Pd, M.Pd, 2) Drs.Tumardi, S.Pd Kata kunci :Ekspositori, Hasil Belajar, IPA, SD Hasil Belajar IPA bentuk benda siswa kelas II MI Mitahul Anwar cenderung rendah, penguasaan konsep benda padat dengan nilai rata-rata kelas 57.8125 dari 32 siswa,12 siswa mendapat di atas rata-rata kelas dan 20 siswa mendapatkan nilai di bawah rata-rata kelas.sedangkan penguasaan konsep.benda cair dengan nilai rata-rata kelas 46.5625 dari 32 siswa, 7 siswa mendapat di atas rata-rata kelas dan 25 siswa mendapatkan nilai di bawah rata-rata kelas, 12 mendapat di atas rata-rata kelas dan 20 siswa mendapatkan nilai di bawah rata-rata kelas. Hal ini karena guru lebih sering menerapkan metode ceramah dalam pembelajaran yang kurang melibatkan keaktifan siswa dan pengalaman langsung pada diri siswa. Permasalahan tersebut dicoba diatasi dengan pendekatan Ekspositori pada pembelajaran IPA tentang bentuk benda kelas II MI.Miftahul Anwar Kecamatan Bangil Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan pendekatan Ekspositorir untuk meningkatkan pemahaman konsep bentuk benda siswa kelas II MI Miftahul Anwar Kecamatan Bangil, (2) Mendeskripsikan tingkat keberhasilan pendekatan Ekspositori pada konsep bentuk benda siswa kelas II . Penelitian dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas II. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, soal, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut : (1) hasil observasi pendekatan Ekspositori pada penguasaan konsep bentuk benda siswa kelas II nilai rata-rata kelas pra tindakan adalah 57,8125, siklus I adalah 72,8125 dan siklus II adalah 86,25 untuk benda padat dan penguasaan konsep bentuk benda siswa kelas II nilai rata-rata kelas pra tindakan adalah 46,5625, siklus I adalah 68,125 dan siklus II adalah 84,0625 untuk benda cair. Sehingga penguasaan konsep benda padat siswa dari pra tindakan ke siklus II mengalami peningkatan 49,189%% dan penguasaan konsep benda cair siswa dari pra tindakan ke siklus II mengalami peningkatan 80,60% dengan kategori sangat baik, dengan rata-rata kelas pengasaan konsep bentuk benda adalah 85,16. (2) hasil observasi aktivitas siswa dengan pendekatan Ekspositori pada siklus I sebesar 80% dengan katagori baik dan hasil observasi aktivitas siswa dengan penerapan pendekatan Ekspositori pada siklus II sebesar 85% dengan katagori baik. Saran dari penelitian ini dikemukakan sebagai berikut : (1) pendekatan Ekspositori layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran bentuk benda, (2) bagi guru yang mengajar IPA disarankan menerapkan pendekatan Ekspositori dalam kegiatan pembelajaran bentuk benda; (3) guru pengajar disarankan menerapkan pendekatan Ekspositori dalam pembelajaran IPA yang memungkinkan terjadinya proses belajar melalui pengalaman langsung; (4) bagi guru perlu diketahui bahwa siswa MI khususnya kelas II penerapan pendekatan Ekspositori sangat cocok diterapkan.

Penerapan pembelajaran TPS (Think pair share) untuk meningkatkan mootivasi belajar, kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan, dan hasil belejar siswa kelas X-G MAN Malang 1 / Diana Krismawati

 

ABSTRAK nerapan Pembelajaran TPS (Think Pair Share) untuk i Krismawati, Diana. 2010. Pe Meningkatkan Motivasi Belajar, Kemampuan Bertanya, Kemampuan Menjawab Pertanyaan, dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-G MAN MALANG I. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. (2) Dr. Umie Lestari, M.Si. Kata kunci: TPS (Think Pair Share), Motivasi Belajar, Kemampuan Bertanya, Kemampuan Menjawab Pertanyaan, dan Hasil Belajar Siswa. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan siswa dan guru biologi di MAN MALANG I diperoleh informasi bahwa metode belajar yang digunakan di sekolah selama ini adalah diskusi, ceramah, dan poster yang kurang memberdayakan motivasi belajar, kemampuan bertanya, dan kemampuan menjawab pertanyaan sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Siswa MAN MALANG I ternyata menyukai metode diskusi karena menurut mereka metode menyenangkan dan dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat jika dibandingkan menyelesaikan tugas secara individu. Untuk mengatasi masalah tersebut diterapkan model pembelajaran TPS (Think Pair Share). Model pembelajaran TPS (Think Pair Share) merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa untuk berani menanyakan hal-hal yang belum mereka mengerti dan berani untuk mengemukakan pendapat tanpa rasa canggung lagi terhadap guru dan teman-temannya sendiri, sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar, kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan, dan hasil belajar siswa kelas X-G MAN MALANG I pada mata pelajaran biologi dengan materi Archaebacteria dan Eubacteria (Bakteri) dan Protista. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus, setiap siklus terdiri atas empat tahap pembelajaran yaitu, (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) hasil observasi, (4) refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-G semester gasal MAN MALANG I tahun ajaran 2009/2010. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, LKPD, soal ujian, dan catatan lapangan. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TPS (Think Pair Share) hanya dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas X-G MAN MALANG I, sedangkan untuk kemampuan bertanya dan kemampuan menjawab pertanyaan dengan penerapan model pembelajaran TPS (Think Pair Share) tidak terjadi peningkatan (tidak dapat meningkatkan kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan siswa kelas X-G MAN MALANG I). Skor motivasi belajar siswa pada siklus I adalah sebesar 45,83% dengan kualifikasi cukup, pada siklus II adalah sebesar 62,5% dengan kualifikasi baik, sehingga skor motivasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 16,67%. Skor kemampuan bertanya siswa pada siklus I adalah sebesar 6,51% dengan kualifikasi rendah, pada siklus II adalah sebesar 9,98% dengan kualifikasi rendah, sehingga skor kemampuan bertanya siswa dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 3,47%. Peningkatan persentase sebesar 3,47% dikatakan tidak bermakna kualifikasi keberhasilan kemampuan menjawab pertanyaan siswa ketingkat ii karena persentase tersebut belum dapat meningkatkan kualifikasi yang lebih tinggi lagi. Skor kemampuan menjawab pertanyaan siswa pada siklus I adalah sebesar 13,37% dengan kualifikasi rendah, pada siklus II adalah sebesar 19,62% dengan kualifikasi rendah, sehingga skor kemampuan menjawab pertanyaan siswa meningkat sebesar 6,25%. Peningkatan persentase sebesar 6,25% dikatakan tidak bermakna karena persentase tersebut belum dapat meningkatkan kualifikasi keberhasilan kemampuan menjawab pertanyaan siswa ketingkat kualifikasi yang lebih tinggi lagi. Skor hasil belajar siswa pada siklus I adalah sebesar 59,44%, pada siklus II adalah sebesar 66,11%, sehingga skor hasil belajar siswa meningkat sebesar 6,67%. Dari hasil penelitian ini, untuk mengantisipasi banyaknya jawaban siswa yang muncul pada saat diskusi kelas disarankan sebaiknya guru meminta siswa untuk menuliskan pertanyaannya pada selembar kertas bagi siswa yang belum sempat mengutarakan pertanyaan saat diskusi dan pertanyaan tersebut dibahas pada pertemuan selanjutnya. Selain itu, untuk dapat lebih mengamati peningkatan motivasi belajar, kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan, dan hasil belajar siswa kiranya perlu waktu yang lebih banyak, sehingga dapat mengetahui peningkatan yang dicapai siswa pada siklus-siklus berikutnya. Agar penelitian ini menjadi lebih maksimal, maka dibutuhkan aspek lain yang diamati, antara lain untuk melihat hasil belajar siswa tidak hanya ranah kognitif saja yang dinilai atau diukur melainkan untuk ranah afektif dan psikomotorik juga diukur dengan kriteria tertentu. Untuk mengawasi kegiatan diskusi siswa, sebaiknya guru lebih sering berkeliling kelas agar siswa mau mengikuti jalannya diskusi dan tidak bercanda atau bermain-main saat diskusi.

Pengaruh insektisida minyak biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) terhadap mortalitas larva achaea janata L. / Aisyah Syatila

 

ABSTRAK Syatila, Aisyah. 2010. Pengaruh Insektisida Minyak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) terhadap Mortalitas Larva Achaea janata L. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Hawa Tuarita, M.S. (II) Ir. Tukimin SW. Kata kunci: insektisida, minyak biji jarak pagar, mortalitas, larva A. janata L. Minyak biji jarak pagar memiliki kandungan senyawa kimia yaitu Phorbol ester, curcin, dan tryglyserida yang dapat menekan hama utama pada tanaman jarak kepyar (Achaea janata L.). Hama ini merusak tanaman pada stadia larva dengan cara memakan daun. Pengendalian hama dengan menggunakan insektisida nabati lebih baik daripada menggunakan insektisida sintetik yang memiliki efek berbahaya terhadap ekosistem lingkungan maupun manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi minyak biji jarak pagar terhadap mortalitas larva A. janata, untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi campuran minyak biji jarak pagar dengan ekstrak biji mimba terhadap mortalitas larva A. janata, untuk megnetahui waktu dan konsentrasi insektisida yang efektif berpengaruh terhadap mortalitas larva A. janata, serta mengetahui pengaruh efek lanjutan dan mengetahui nilai LC50. Jenis penelitian ini adalah eksperimen faktorial. Penelitian dilakukan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso Malang, pada bulan April-Juli 2009. Perlakuan terdiri atas dua aksesi minyak jarak pagar (aksesi SP 67 asal Sulawesi Selatan dan Jatim 45 asal Jawa Timur) dengan berbagai konsentrasi yaitu: (1) kontrol air, (2) kontrol detergen (3) 5 ml MJP, (4) 10 ml MJP, (5) 20 ml MJP, (6) 40 ml MJP, (7) 5 ml MJP+2 ml EBM, (8) 10 ml MJP+2 ml EBM dan (9) 20 ml MJP+2 ml EBM. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan 3 ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari 5 cawan petri, masing-masing cawan terdiri dari 5 ekor larva. Pengamatan dilakuan pada 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam dan 120 jam setelah perlakuan, dengan variabel pengamatan mortalitas, berat larva instar terakhir, berat pupa, jumlah telur dan persentase telur tetas. Objek dalam penelitian ini berupa larva instar dua. Analisis data menggunakan anova one way, faktorial dan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Konsentrasi larutan insektisida minyak jarak pagar berpengaruh terhadap mortalitas larva A. janata, dan campuran larutan insektisida MJP + EBM juga berpengaruh. Perlakuan minyak biji jarak pagar (MJP) aksesi SP 67 asal Sulawesi Selatan pada konsentrasi 10 ml sudah cukup efektif mempengaruhi mortalitas A. janata, dan pada aksesi Jatim 45 asal Jawa Timur pada konsentrasi 20 ml sudah cukup efektif mempengaruhi mortalitas A. janata. Waktu 48 jam setelah penyemprotan cukup baik untuk menekan mortalitas sebesar 80.00%. Interaksi antara waktu dengan konsentrasi tidak berpengaruh terhadap mortalitas. Bahan kimia minyak jarak pagar dapat mempengaruhi serangga A. janata mulai larva, pupa, imago, jumlah telur dan telur tetas. Nilai LC50 dapat digunakan sebagai rekomendasi penggunaan insektisida minyak biji jarak pagar.

Pengembangan media pembelajaran tutorial corel draw pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi kelas VIII SBI di SMP NEGERI 4 Kepanjen / Mohammad Erfan E. Z.

 

ABSTRAK Erfan, Mohammad. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Tutorial Corel Draw dalam Matapelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VIII SBI di SMP Negeri 4 Kepanjen, Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Uiversitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr.Hj.Mardiah Munir, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Joseph Mbulu, M.Pd Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran Tutorial, Corel Draw Media pembelajaran tutorial merupakan salah satu media pembelajaran yang memiliki peranan penting dalam proses belajar mengajar. Media pembelajaran tutorial diharapkan mampu menyajikan pesan pembelajaran yang inovatif, efektif, dan menarik bagi siswa SMP. Untuk itu pengembang membuat alternatif melalui upaya pengembangan media pembelajaran berbentuk tutorial. Pengembangan media pembelajaran tutorial bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, menarik, dan efektif untuk dipergunakan oleh siswa. Desain pengembangan menggunakan model pengembangan Arif S. Sadiman dengan subyek uji coba adalah siswa kelas VIII SBI di SMP Negeri 4 Kepanjen . Validator terdiri dari dua orang ahli media dan dua orang ahli materi. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket yang diberikan kepada ahli materi, ahli media, dan responden siswa. Sedangkan untuk menganalisa hasil belajar siswa menggunakan perbedaan mean dengan uji t (t-test). Validasi media pembelajaran tutorial Corel Draw menunjukkan hasil uji ahli media memenuhi kriteria valid, hasil uji ahli materi memenuhi kriteria valid, dan hasil uji audien memenuhi kriteria valid. Sedangkan uji t kelas kecil menghasilkan t hitung (4,8) > t tabel (2,78) kelas besar menghasilkan t hitung (11,02) > t tabel (2,07). Hasil ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sesudah menggunakan media pembelajaran tutorial lebih tinggi daripada siswa sebelum menggunakan media pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran tutorial Corel Draw layak untuk dipergunakan dalam proses belajar mengajar. Bertolak dari temuan penelitian, beberapa hal yang disarankan adalah sebelum menggunakan media pembelajaran tutorial Corel Draw hendaknya guru melakukan pengecekan kesiapan fasilitas seperti komputer, LCD Projector, dan semua hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran tutorial Corel Draw, hendaknya guru memberikan penjelasan tambahan tentang materi yang dianggap kurang dimengerti oleh siswa. Dan setelah penggunaan media pembelajaran tutorial guru hendaknya mengajak siswa untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung.

Pengembangan bahan ajar buku teks pelajar ipa-kimia smp/mts / Esti Munafifah

 

ABSTRAK Munafifah, Esti. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Buku Teks Pelajaran IPA- Kimia SMP/MTs. Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Effendy, M.Pd.,PhD., (II) Dr. Subandi, M.Si. Kata-kata kunci: pengembangan, buku teks, IPA-Kimia, SMP/MTs Pembelajaran IPA di SMP/MTs adalah pembelajaran IPA terpadu. Dalam pembelajaran IPA terpadu ini materi dari berbagai cabang IPA yaitu biologi, fisika, dan kimia diharapkan diajarkan sebagai satu kesatuan yang utuh. Ada berbagai model keterpaduan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA terpadu. Tiga model yang potensial untuk diterapkan adalah connected, webbed, dan integrated. Persoalannya adalah sampai saat ini dapat dianggap belum ada buku teks pelajaran IPA SMP/MTs yang mengupas materi biologi, fisika, dan kimia sebagai satu kesatuan yang utuh. Di samping itu, untuk materi kimia dalam buku IPA yang telah ada susunannya dapat dianggap belum tepat karena tidak sesuai dengan sifat ilmu kimia yang hirarkis dan berjenjang. Buku teks pelajaran yang disarankan untuk digunakan di sekolah-sekolah adalah buku-buku teks pelajaran yang telah lolos penilaian yang dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Standar penilaian buku teks pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah telah ditetapkan oleh BSNP. Standar penilaian ini meliputi berbagai aspek, diantaranya adalah keruntutan, kemutakhiran, dan sifat tematik materi pelajaran. Oleh karena suatu buku teks pelajaran yang baik cenderung dapat dikembangkan apabila mengacu pada standar penilaian yang telah ditetapkan oleh BSNP. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi pelajaran kimia dalam pembelajaran IPA terpadu di SMP/MTs berdasarkan standar penilaian buku teks pelajaran dari BSNP. Materi pelajaran tersebut dikemas dalam satu buku dengan judul “IPA-Kimia SMP/MTs”. Prosedur pengembangan meliputi lima tahap pokok, yaitu: (1) menganalisis Kompetensi Dasar (KD) IPA-Kimia SMP/MTs pada KTSP; (2) menganalisis buku teks IPA-Kimia SMP/MTs yang telah beredar; (3) menentukan urutan KD IPA-Kimia SMP/MTs secara hirarkis dan berjenjang; (4) mengembangkan buku teks pelajaran IPA-Kimia SMP/MTs; dan (5) penilaian dan revisi sampai dihasilkan produk berupa buku teks IPA-Kimia SMP/MTs. Subjek uji coba dari buku teks pelajaran yang dikembangkan adalah dosen Kimia UM, siswa-siswi MTsN Blitar, dan guru IPA-Kimia MTsN Blitar. Buku teks pelajaran IPA-Kimia yang telah dikembangkan dievaluasi oleh dosen kimia yang merupakan ahli isi, serta oleh siswa dan guru bidang studi sebagai pengguna. Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran perbaikan dari dosen, siswa dan guru. Data kuantitatif berupa hasil penilaian subjek uji coba terhadap buku yang telah dikembangkan yang diperoleh dari jawaban angket yang berisi standar penilaian buku teks pelajaran dari BSNP, data dari hasil pretes dan postes. Tenik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis statistik deskriptif. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan buku teks hasil pengembangan digunakan statisitik uji t. Buku teks pelajaran IPA-Kimia SMP/MTs yang telah dikembangkan terdiri dari empat bab. Hasil evaluasi dari dosen kimia sebagai ahli isi, untuk kelayakan isi dan kelayakan penyajian buku teks hasil pengembangan berada pada rentangan 86 – 100% (baik sekali). Hasil uji perorangan berkaitan dengan kesalahan ketik atau kesalahan tulis digunakan untuk revisi. Hasil uji kelompok kecil, untuk kelayakan isi dan kelayakan penyajian berada pada rentangan nilai 86 – 100% (baik sekali). Hasil uji guru bidang studi, untuk kelayakan isi bab I berada pada rentangan 86 – 100% (baik sekali) dan kelayakan penyajian berada pada rentangan 71 – 85% (baik). Untuk bab II, III, dan IV baik kelayakan isi maupun kelayakan penyajian berada pada rentangan nilai 71 – 85% (baik). Saran dari ahli isi, guru bidang studi, dan dari siswa digunakan untuk revisi. Peningkatan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan buku teks hasil pengembangan adalah sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji t terhadap skor hasil belajar siswa. Nilai thitung untuk bab I, II, III, dan IV masing-masing -9,1, -8,5, -21,0, dan -16,8. Harga thitung untuk semua bab berada diluar harga ± ttabel yaitu 2,02. Dari hasil analisis data tersebut diperoleh kesimpulan bahwa buku teks pelajaran IPA-Kimia SMP/MTs hasil pengembangan layak untuk digunakan dalam pembelajaran IPA terpadu. Untuk diseminasi lebih luas, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut dengan subjek uji coba yang lebih luas, sehingga buku teks pelajaran IPA-Kimia SMP/MTs hasil pengembangan tersebut betul-betul layak untuk digunakan dalam pengajaran IPA terpadu.

Membangun security access jaringan komputer pada mikrotik router di sma islam pasuruhan / Ayu Cindra Trisnawati

 

Dalam dunia pendidikan sangat diperlukan adanya Kemajuan dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terutama dalam bidang jaringan komputer. Hal itulah yang mendorong Lembaga Pendidikan seperti SMA Islam Kota Pasuruan untuk melengkapi sarana pendidikan dengan membangun laboratorium Teknologi Informatika Komputer (TIK) yang dilengkapi dengan internet agar para guru dan siswa bisa mengakses segala informasi yang akurat dengan cepat. Namun demikian tidak menutup kemungkinan para siswa akan menggunakan kebebasan berinternet untuk browsing situs-situs berbau pornografi yang nantinya bisa merusak mental para siswa. Karena itulah diperlukan suatu sistem security dengan menggunakan Mikrotik untuk mengatur akses pemakaian internet di tiap-tiap user laboratorium dan juga dapat memblokir situs-situs tertentu. Pada SMA Islam Kota Pasuruan digunakan Router untuk mengkonfigurasi sistem security. Router buatan pabrik harganya relatif mahal, karena itu digunakan Personal Computer (PC) Router berbasis Mikrotik sebagai alternatif untuk menekan biaya agar tidak terlalu mahal. Beberapa kelebihan yang dimiliki Mikrotik sebagai sistem operasi yaitu instalasinya tidak rumit dan administrasinya lebih mudah, selain itu tidak membutuhkan spesifikasi hardware dan lisensinya murah. Salah satu menu dari PC Router Mikrotik adalah sistem security. Bagaimana mengkonfigurasi security menggunakan Mikrotik dalam pembangunan jaringan, akan penulis bahas secara bertahap. Tahap pertama yang harus dilakukan, dengan membangun jaringan LAN., instalasi jaringan LAN, pengaturan jaringan LAN, instalasi mikrotik pada PC router dan pengaturan PC router mikrotik. Tahap kedua dengan cara mengkonfigurasi PC Router pada menu firewall dan web proxy agar diperoleh security akses sehingga situs-situs internet berbau porno dapat diblokir dan tidak akan dapat diakses pada setiap komputer di laboratorium TIK SMA Islam Kota Pasuruan. Dari perancangan dan hasil pengujian di laboratorium TIK SMA Islam Kota Pasuruan dapat disimpulkan bahwa sistem security menggunakan firewall dan web proxy berhasil memblokir situs-situs porno yang telah dimasukkan dalam blacklist dan yang menggunakan kata kunci pada komputer client di laboratorium TIK.

Membangun sistem pengolaan bandwidth dengan menggunakan mikrotik di smp negri 1 pasuruan / Abdul Rojik

 

Untuk mempermudah akses komunikasi dalam bidang pendidikan, informasi dan teknologi, setiap instansi pendidikan terutama sekolah, dianjurkan memiliki jaringan Internet, baik itu melalui Speedy atau jaringan Internet lainnya. Karena itu SMP Negeri 1 Sukorejo berupaya untuk bisa mengakses segala informasi dan komunikasi yang bisa berguna untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar dengan memasang Speedy pada bulan Maret 2009. Pemasangan jaringan Speedy yang masih baru mengakibatkan pemakaiannya masih bebas, dalam hal bandwidth, klien sering menggunakan software penyedot bandwidth sehingga dapat menyebabkan klien lain mengalami gangguan dalam menggunakan Internet. Disamping itu juga perlu dilakukan memonitoring upload dan download untuk mengetahui penggunaan bandwidh klien dalam jaringan, serta belum menggunakan pengalamatan IP Address secara otomatis agar dapat memudahkan pemakai. Dalam tugas akhir ini Membuat sebuah PC Router yang menggunakan software Mikrotik. Perangkat keras dengan spesifikasi: (1) Processor Pentium IV 2.4 GHz, (2) Memori 256 MB (3) Harddisk 80 GB, (4) CDROM 52 X, (5) 2 buah Network Interface Card (NIC). Jaringan Komputer dengan menggunakan topologi star. Setelah Perangkat keras telah siap maka dilakukan penginstalan peraangkat lunak dengan menggunakan software Mikrotik. Hasil dari penggabungan perangkat keras dan perangkat lunak menghasilkan PC Router yang berfungsi untuk pengelolaan bandwidth, pemberian IP Address pada komputer client secara otomatis, pembagian bandwidth pada klien dilakukan secara sama rata, melakukan monitoring upload dan download untuk mengetahui penggunaan bandwidh klien dalam jaringan Dalam pelaksanaan tugas akhir disimpulkan bahwa DHCP Server akan memberi IP Address secara otomatis kepada semua client yang terhubung LAN, sistem MRTG akan memonitoring statistik trafik download atapun upload dari semua interface, statistik traffic disuguhkan dalam bentuk grafik, sistem manajemen bandwidth tipe PCQ membagi bandwidth Internet sama rata sesuai dengan jumlah client yang aktif. Bandwidth Speedy sebesar 320 kpbs dibagi 20 client sehingga setiap client mendapatkan bandwidth rata-rata 16 kbps.

Implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2000 pada pendidikan dan pelatiahn di PPPPTK/VEDC Malang (Studi kasus di PPPPTK/VEDC Malang) / Astu Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Astu. 2009. Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 Pada Pendidikan Dan Pelatihan di PPPPTK/VEDC Malang (Studi Kasus di PPPPTK/VEDC Malang). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata kunci: sistem manajemen mutu, ISO 9001:2000, pendidikan dan pelatihan. Sistem Manajemen Mutu merupakan sarana untuk mencapai tujuan mutu dalam penerapan Total Quality Management. Beberapa faktor yang menjadi latarbelakang munculnya implementasi sistem mutu manajemen ISO 9001 adalah: (1) persaingan global yang memberikan pengaruh terhadap sekolah pendidikan kejuruan dalam mempersiapkan persaingan tenaga kerja, (2) Pola penyelenggaraan pendidikan dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan, (3) Kebijakan sekolah nasional dan internasional yang telah dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, termasuk Direktorat Pembinaan SMK. Implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 yang mengacu pada ketentuan standar internasional diperlukan perhatian terhadap 8 prinsip sistem manajemen mutu, kesiapan dan implementasi sistem. Sistem dalam implementasi tersebut antara lain: ketersediaan dokumen yang digunakan oleh organisasi sesuai dengan ketentuan persyaratan SMM ISO 9001 dan penyediaan bukti-bukti implementasinya. Audit dan pengukuran kepuasan pelanggan merupakan suatu keharusan bagi organisasi untuk menemukan peluang-peluang perbaikan sebagai salah satu bukti bahwa evaluasi dilakukan termasuk upaya tindakan perbaikannya. Sehingga organisasi harus mengupayakan menuju pencapaian efektivitas dan efisiensi. Tujuan penelitian ini untuk: (1) mendiskripsikan alasan penerapan SMM ISO 9001:2000 di PPPPTK/VEDC Malang dalam rangka pelayanan jasa pendidikan dan pelatihan, (2) mendiskripsikan komponen-komponen dalam penerapan SMM ISO 9001:2000 di PPPPTK/VEDC Malang, (3) mendiskripsikan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 di PPPPTK/VEDC Malang, (4) mendiskripsikan kepuasan pelanggan terhadap layanan jasa pendidikan dan pelatihan di PPPPTK/VEDC Malang, (5) mendiskripsikan hambatan yang dihadapi dalam upaya peningkatan mutu layanan jasa pendidikan dan pelatihan di PPPPTK/VEDC Malang, (6) mendiskripsikan upaya-upaya yang dilakukan untuk peningkatan mutu layanan jasa diklat di PPPPTK/VEDC Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam, obeservasi/ pengamatan, dan penelusuran dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan alur (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan. Dari hasil analisis data diperoleh gambaran bahwa sistem manajemen mutu merupakan suatu sistem yang harmonis berkesinambungan dan tidak pernah berhenti. Oleh karena itu berbagai hal yang mendukung saling berinteraksi secara harmonis untuk mencapai tujuan organisasi, yang terdeskripsi pada komponen-komponen sebagai berikut: (1) alasan PPPPTK/VEDC Malang sebagai lembaga Diklat yang selalu mengarah pada pencapaian kinerja organisasi yang efektif dan efisien antara lain: sebagai unit pelaksana teknis pengembang pendidik dan tenaga kependidikan, investasi jangka panjang melalui wadah sebagai penggerak perubahan bagi pendidikan dan pelatihan kejuruan, pemenuhan standarisasi sistem manjemen mutu ISO, proses belajar bagi SDM di PPPPPTK/VEDC Malang, peningkatan kepuasan pelanggan dan stake holders, prototipe bagi sekolah yNg dibina; (2) Ketersediaan 4 tingkat dokumen yang ditetapkan oleh PPPPPTK/VEDC Malang, (3) implementasi sistem manajemen mutu dengan pendekatan proses PDCA (plan, do check, action) dan tersertifikasi (Certf.No:QEC21936 ISO 9001:2000); (4) Tingkat kepuasan peserta Diklat tinggi (hasil penilaian Baik), dampak Diklat tingkat kepuasan sangat tinggi (hasil penilaian Sangat Baik); (5) terdapat adanya beberapa hambatan yang diidentifikasi sebagai peluang perbaikan; (6) upaya perbaikan yang dilakukan antara lain: melakukan perawatan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 secara konsekuen dan berkelanjutan, melaksanakan trinial audit sertifikasi atau renual sertification, dan upaya untuk memenuhi standar kinerja PPPPTK. Berdasarkan dari kesimpulan hasil penelitian, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) bagi kepala Pusat PPPPTK/VEDC Malang untuk mengendalikan dan meningkatkan pemantauan terhadap konsistensi penerapan sistem manajemen mutu secara kontinyu melalui agenda pembahasan dalam rapat Manajemen untuk meningkatkan keefektifan sistem, sedangkan bagi karyawan PPPPTK/VEDC Malang untuk lebih meningkatkan komitmen atau konsisten terhadap penerapan sistem manajemen mutu di area kerja (tingkat suborganisasi) masing-masing dengan penuh rasa tanggungjawab dengan memperhatikan instruksi kerja yang telah ditetapkan oleh pimpinan unit kerja masing-masing, serta menyediakan bukti keterlaksanaan penyelesaian (2) bagi para kepala sekolah, guru, termasuk pimpinan lembaga pendidikan yang lain disarankan melaksanakan studi banding dalam implementasi sistem manajemen mutu ISO, (3) bagi masyarakat termasuk dunia usaha dan dunia industri untuk dapat memberikan masukan yang obyektif terhadap output pendidikan dan pelatihan khususnya dalam meningkatkan hubungan kerja dengan lembaga pendidikan kejuruan yang saling memberikan sumbangan baik dalam pemanfaatan produk tamatan, keberadaan sumber daya manusia handal (khususnya instruktur),maupun program, (4) bagi Direktorat Jenderal PMPTK dan Direktorat Jenderal Mandikdasmen sebagai pihak pengambil keputusan yang lebih tinggi untuk dapat memberikan umpan balik bagi keberlangsungan peran dan fungsi PPPPTK/VEDC Malang dalam membuat kebijakan yang lebih tepat berkaitan dengan peningkatan layanan mutu pendidikan, (5) bagi peneliti berikutnya dapat melakukan studi yang lebih mendalam sehubungan dengan implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001 terhadap upaya peningkatan pendidikan khususnya bagi pendidikan kejuruan.

Prakondisi implementasi kebjakan peningkatan kompetensi guru (Studi multi kasus pada SMP Negeri 6, SMP Santa Maria, dan MTs Negeri Mulawarman di kota Banjarmasin) / Acep Supriadi

 

ABSTRAK Supriadi, Acep. 2009. Prakondisi Implementasi Kebijakan Peningkatan Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus pada SMP Negeri 6, SMP Santa Maria, dan MTs Negeri Mulawarman di Kota Banjarmasin). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. H. Ahmad Sonhadji K. H., MA., Ph.D, (III) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd. Kata kunci: prakondisi implementasi kebijakan, kompetensi guru, SMP Negeri 6, SMP Santa Maria, MTs Negeri Mulawarman Banjarmasin Prakondisi implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru di sekolah sangat penting karena guru merupakan ujung tombak terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Orang yang paling bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan meningkatkan kompetensi guru adalah kepala sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap kemampuan guru dan berhak memberikan dukungan dan perlindungan kepada mereka. Kemampuan setiap kepala sekolah dalam melaksanakan kebijakan berbeda. Perbedaan itu terletak pada kemampuan mereka dalam melaksanakan prakondisi terhadap kebijakan. Prakondisi meliputi faktor komunikasi, sumber daya, disposisi sikap pelaksana, dan struktur birokrasi. Dalam praktek, hasil kondisi itu berbeda setiap sekolah bergantung kepada kasus masing-masing. Penelitian ini bermaksud mengungkap lebih mendalam tentang prakondisi pelaksanaan kebijakan peningkatan kompetensi guru oleh kepala sekolah pada tiga sekolah di kota Banjarmasin yang memiliki karakteristik berbeda. Fokus penelitian ini tertuju pada dua fokus yaitu: (1) Prakondisi yang mendukung implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru yang dirinci berikut ini: (a) komunikasi mendukung pelaksanaan kebijakan peningkatan kompetensi guru di sekolah; (b) sumber daya mendukung implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru di sekolah; (c) disposisi sikap pelaksana mendukung implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru di sekolah; (d) struktur birokrasi mendukung implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru di sekolah. (2) Prakondisi kebijakan peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan di sekolah yang dirinci berikut ini: (a) komunikasi implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan di sekolah; (b) sumber daya implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan di sekolah; (c) disposisi sikap pelaksana implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan di sekolah; dan (d) struktur birokrasi implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan di sekolah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (indepth interviewing), observasi berperanserta, dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi, pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penelitian oleh para pembimbing sebagai “independent auditor” untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus (individual cases analysis) maupun analisis lintas kasus (cross-cases analysis) guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, kualitas komunikasi pada tiga sekolah di kota Banjarmasin dilihat dari sumber yang menyampaikan, pesan yang disampaikan, media yang digunakan, dan penerima pesan yang dilaksanakan di sekolah cukup mendukung pelaksanaan kebijakan sekolah. Komunikasi yang disampaikan sudah arif bijaksana, menarik, cermat, tepat sasaran, terbuka, bahkan sudah bernuansa agamis, tetapi disayangkan dalam komunikasi yang dilaksanakan belum sepenuhnya memperhatikan aspek situasi kondisi dengan gaya komunikasi yang berbeda sehingga terkesan arogan. Kedua, kualitas sumber daya yang tersedia cukup mendukung pelaksanaan kebijakan sekolah, terutama bila dilihat dari ketersediaan fisik peralatan baik secara kuantitas maupun kualitas, dan dana pembiayaan secara kuantitas baik namun kualitas masih kurang dan sedikit parah dilihat dari dimensi sumber daya manusia yang tersedia baik secara kuantitas maupun kualitas masih kurang. Ketiga, kualitas disposisi sikap pelaksana cukup mendukung, kepala sekolah mengetahui apa yang harus dilaksanakan dan memiliki motivasi yang tinggi, namun dalam melaksanakan tidak memiliki kemampuan yang sama. Keempat, kualitas struktur birokrasi cukup mendukung, dapat dilihat dari efisiensi birokrasi yang diterapkan sudah sederhana tidak berbelit-belit, penggunaan acuan/SOP belum mengarah pada visi misi sekolah, koordinasi kurang, dan pemanfaatan sumber daya sudah optimal namun dari pelaksanaan belum mengenai sasaran. Kelima, komunikasi yang dilaksanakan dengan berbagai pendekatan formal dan nonformal baik yang dilakukan melalui rapat internal, rapat guru, surat edaran, pemberitahuan dengan pengeras suara antar kelas atau pada saat upacara dan papan pengumuman, sampai diskusi kecil antar guru. Keenam, sumber daya yang dilaksanakan dengan mengadakan pelatihan, lokakarya, seminar, MGMP, penelitian, diskusi, dan penataan ruang guru. Ketujuh, disposisi sikap pelaksana yang dilaksanakan sekalipun belum sepenuhnya terbuka, namun sudah memudahkan, memberikan solusi, dan mampu mendorong keinginan untuk berbuat lebih baik. Kedelapan, struktur birokrasi yang dilaksanakan mengarah pada efisiensi dan sudah sederhana, mempunyai pembagian tugas dan pemisahan tanggung jawab antara kepala sekolah, wakasek, dan guru, namun disayangkan koordinasi diantara mereka kurang baik dan banyak yang melupakan standar acuan visi misi yang semestinya diacu dengan baik. Saran-saran dari penelitian ini antara lain disampaikan kepada: (1) Kantor Dinas Pendidikan Nasional dan Departemen Agama diharapkan menjadwal secara periodik kunjungan ke sekolah-sekolah agar mengetahui persis permasalahan di sekolah secara objektif dan tidak hanya menerima laporan tertulis saja; (2) Sekolah melalui kepala sekolah diharapkan tetap menjalin hubungan baik dengan guru, mengadakan kunjungan kelas secara rutin dan terprogram misal dalam seminggu dua kali untuk memberikan saran-saran perbaikan, selalu memberikan motivasi kepada mereka, serta kepala sekolah dalam hal pengembangan proses pembelajaran harus dapat memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada guru; (3) Peneliti dan peneliti lain diharapkan selalu mengembangkan lebih jauh lagi kajian tentang implementasi kebijakan peningkatan kompetensi guru karena hal ini sangat urgen; dan (4) Program studi manajemen pendidikan diharapkan menjadi bahan replikasi keilmuan dalam bidang kajian yang sejenis ke arah memperkaya khasanah ilmu manajemen pendidikan.

Merancang filterisasi situs internet dengan menggunakan mikrotik di SMP NEGERI 1 Sukorejo kabupaten Pasuruan / Nova Rachmawati

 

Perkembangan teknologi informasi khususnya Internet memberikan dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan sehingga menjadi kebutuhan mendasar dalam perkembangan pendidikan. Untuk meminimalisir penggunaan Internet di SMP Negeri 1 Sukorejo dalam hal yang kurang baik maka diperlukan suatu rancangan filterisasi situs Internet sehingga akses ke web yang kurang baik dapat di perkecil. Filterisasi situs Internet menggunakan Mikrotik karena lisensinya murah, tidak membutuhkan spesifikasi hardware yang besar, instalasi tidak rumit dan administrasinya mudah, bisa diakses melalui console, Webbox (web browser) dan Winbox (windows application). Proxy server digunakan untuk menambah kecepatan web-surfing, dan filterisasi situs. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menginstal PC router Mikrotik, pengaturan router Mikrotik, membagi network menjadi dua subnet yaitu IP Speedy Schoolnet dan IP LAN. Langkah kedua yaitu mengkonfigurasi transparent web proxy, kemudian memasukkan daftar situs pada access list di web proxy Mikrotik. Hasil yang didapat dari filterisasi situs ini adalah memblokir web dengan nmenggunakan kata kunci dan alamat situs, sehingga apabila kata kunci atau alamat situs itu telah terdaftar dalam blacklist di web proxy, maka akses tidak bisa dilanjutkan. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah access list pada web proxy PC router Mikrotik dapat membatasi akses browsing dan searching menggunakan alamat situs dan kata kunci yang terdaftar di blacklist web proxy. Transparent Web Proxy dapat mempercepat akses ke suatu web yang sudah diakses oleh komputer lain, karena sudah disimpan di dalam caching server. Dengan melihat hasil yang dicapai, perlu dilakukan upgrade versi Mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC router dan disarankan untuk memperbarui daftar filterisasi alamat situs dan kata kunci seiring dengan perkembangan dari situs porno tersebut.

Pengaruh penggunaan tiga model pembelajaran terhadap hasil belajar mata diklat pemrograman web PHP pada siswa laki-laki dan perempuan berprestasi tinggi di SMK NEGERI 8 Malang / Rini Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Rini. 2009. Pengaruh Penggunaan Tiga Model Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Mata Diklat Pemrograman Web PHP Pada Siswa Laki-Laki Dan Perempuan Berprestasi Tinggi Di SMK Negeri 8 Malang. Tesis, Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Achmad Tutjik Moechid, M.Sc, Ph.D, (II) Dr. Muladi, S.T, M.T. Kata Kunci: model pembelajaran, pemrograman web PHP. Model pembelajaran yang tepat bagi siswa merupakan salah satu bentuk dukungan dari guru sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti diketahui guru adalah faktor penting dalam lingkungan belajar dan kehidupan siswa. Guru tidak hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan, akan tetapi juga sebagai rekan belajar, model, pembimbing, dan fasilitator. Pada saat ini guru tidak bisa mengajar tanpa menetapkan suatu model pembelajaran dalam kelasnya, oleh karena pemberian model pembelajaran di kelas diyakini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun kompetensi mata diklat produktif yang diangkat dalam penelitian ini merupakan salah satu ma¬teri komputer sains di Jurusan Teknik Komputer Jaringan yang saat ini sangat dibutuhkan oleh dunia usaha/dunia industri (DU/DI) dan masyara¬kat. Mata diklat ini diprediksi akan menjadi kecenderungan ka¬rena tek¬nologi tersebut berbasis teknologi internet, yaitu Pemrograman Web PHP (Personal Home Page). Penelitian ini menerapkan tiga model pembelajaran yaitu Independent Learning, Cooperative Learning type Jigsaw, dan Contextual Teaching and Learning pada siswa berprestasi tinggi yang dikategorikan siswa laki-laki dan siswa perempuan. Pemisahan kategori tersebut diduga menjadi salah satu faktor penentu untuk meningkatkan hasil belajar siswa selain model pembelajarannya. Karena secara psikologis siswa laki-laki dan siswa perempuan memiliki karakteristik dan cara penanganan yang berbeda, sehingga dimungkinkan jika diberikan suatu sistem pembelajaran baru akan dapat memperbaiki dan mengakomodasi pola pikir serta pola belajar mereka, sehingga diperoleh hasil belajar yang optimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian model pembelajaran berpengaruh terhadap hasil pencapaian kompetensi Pemrograman Web PHP. Tercatat nilai rerata tertinggi kompetensi pada masing-masing model pembelajaran, yaitu sebesar 8,98 untuk model pembelajaran Independent Learning, 8,91 untuk model pembelajaran Cooperative Learning dan 9,44 pada model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning. Siswa berprestasi tinggi (laki-laki dan perempuan) sangat berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi Pemrograman Web PHP. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai Fhitung sebesar 22,39 yang lebih besar dari Ftabel dengan tingkat kesalahan 5% yaitu sebesar 3,92 dan pada tingkat kesalahan 1% sebesar 6,85. Dan terdapat interaksi antara penggunaan model pembelajaran dengan Prestasi belajar tinggi (laki-laki dan perempuan) terhadap pencapaian kompetensi Pemrograman Web PHP. Dari uji scheffe ditemukan bahwa taraf signifikansi tertinggi sebesar 29,4 dari limabelas kombinasi yang ada. Dari temuan penelitian ini disarankan agar guru perlu melakukan pemilihan model pembelajaran yang tepat bagi siswa. Perlu kiranya diperhatikan juga bahwa jenis kelamin mem-berikan pengaruh/kontribusi yang sangat tinggi terhadap tingkat keberhasilan belajar siswa. Untuk penelitian lanjutan disarankan agar dilakukan penelitian sejenis dengan populasi yang lebih besar dan menggunakan model pembelajaran lain seperti Quantum Learning, Project Base Learning, Cooperative Learning dengan tipe STAD, dan lain sebagainya. Penambahan variabel lain seperti gaya belajar, intelegensi dan sikap, bakat dan minat, serta cara belajar siswa juga erat hubungannya dengan kemampuan siswa dan diduga ikut mempengaruhi hasil belajarnya. Penelitian lanjutan juga disarankan agar dilakukan pada kompetensi dan mata diklat yang berbeda, baik mata diklat normatif, adaptif maupun produktif yang lain pada semua jurusan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Penerapan Cooperative learning dengan metode numbered heads together untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa SMA LAB UM pada mata pelajaran ekonomi / Krisyanu Dwi. S

 

BSTRAK A Soffiawekel Dwi, Krisyanu, 2009. Penerapan Cooperative Learning dengan Metode Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Motivasi, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa SMA Lab UM pada Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Puji Handayati, S.E, M.M.,Ak, (II) Hj Yuli Widi Astuti, S.E,M.Si.,Ak Kata Kunci: cooperative learning, metode structural numbered heads together, motivasi, aktivitas dan hasil belajar. Proses pembelajaran di kelas memiliki peranan sangat penting dalam upaya penerapan tujuan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar. Guru hendaknya memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa. Pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi atau bahan ajar yang akan diajarkan diharapkan akan memudahkan siswa untuk memahami, materi yang akan diajarkan dan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa yang diajar. Oleh karena itu diterapkan metode numbered head together pada mata pelajaran ekonomi guna meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode numbered heads together pada materi neraca pembayaran internasional yang dapat meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar, 2) mengetahui peningkatan motivasi, aktivitas dan hasil belajar setelah diterapkan metode numbered heads together pada materi neraca pembayaran internasional. Data penelitian ini dikumpulkan melalui: 1) tes, 2) observasi 3) wawancara 4) angket, 5) rubrik, 6) dokumentasi, 7) catatan lapangan. Penelitian tindakan yang dilaksanakan terdiri dari 2 siklus. Model pembelajaran kooperatif tersebut dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu, tahap awal, tahap inti dan tahap akhir. Tahap awal mencakup: (1) kegiatan pendahuluan, yaitu penyampaian kompetensi dasar,pemberian motivasi berupa informasi pentingnya materi. (2) membentuk kelompok disertai dengan pemberian nomor. Kegiatan pada tahap akhir mencakup (1) melakukan refleksi dan evaluasi bersama, (2) menutup seperti meminta siswa mengatur tempat duduk ke tempat semula dan mengucapkan salam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif numbered heads together dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 Akuntansi di SMA Lab UM Malang. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan berbagai hal yang patut menjadi perhatian berbagai pihak yaitu, 1)Pembelajaran numbered heads together merupakan metode pembelajaran yang sangat bagus untuk meningkatkan keaktifan siswa di kelas untuk pokok bahasan lain atau mata pelajaran lain selain ekonomi-akuntansi. 2)Untuk kesempurnaan penerapan metode pembelajaran numbered heads together maka harus disediakan alokasi waktu yang cukup agar tidak mengurangi tahap berpikir dan menjawab siswa. 3)Untuk peneliti selanjutnya hendaknya membuat variasi metode pembelajaran dengan memadukan metode pembelajaran numbered head together dengan metode yang lain. ABSTRACT Soffiawekel Dwi, Krisyanu, 2009. The Implementation of Cooperative Leraning Using Numbered Heads Together Method To Improve Motivation in Activities and Learning Result for Students of Laboratory High School of State University of Malang (SMA Lab UM) in Economic Subject. Thesis (Undergraduate). Accounting Department. Accounting for Education Program. Faculty of Economic. State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Puji Handayati, S.E, M.M.,Ak, (II) Hj Yuli Widi Astuti, S.E,M.Si.,Ak. Keywords: cooperative learning, structural numbered heads together method, motivation, activity and learning result Learning process in class has a very important role in the effort to implement learning objective and learning result improvement. Teacher should choose and define the proper learning method which suits the learning materials delivered to the students. The choosing and using a suitable learning method that matches the presented material or instructional characteristic is expected to enable the students to understand the material easier and make the learning process more meaningful for the participating student. Thus, the numbered heads together method is implemented in economic class which can improve motivation, activity, and learning result of the students. This research aims to: 1) describe the cooperative learning implementation using numbered heads together method in balance of international payment subject which can improve motivation, activity and learning result, 2) know the motivation, activity, and learning result improvement after the numbered heads together method is implemented in the balance of international payment subject. The research data are collected through: 1) test, 2) observation, 3) interview, 4) questionnaire, 5) rubric, 6) documentation, 7) field note. This is an action research consisting of 2 cycles. The cooperative learning model is executed in the stages, initial stage, core stage, and final stage. The initial stage includes: (1) preliminary activity, presenting the basic competence, motivation support in the form of information about the importance of the material, (2) arrange some group and give the number for the each group. The final stage includes (1) conducting a reflection and evaluation together, (2) closing such as asking the students to rearrange the seats as they are before and say a closing regard. The research result shows that cooperative learning using numbered heads together method can improve the learning result of XI graders of social science in accounting program class 1 at the SMA Lab UM (Laboratory High School of State University of Malang). Based on this result, we suggest some proper things to be considered by some relevant parties, which are 1) Numbered heads together learning method is an excellent learning method in improving student’s activity in class for any other subject matters even other than economic accounting, 2) to make the implementation of numbered heads together method perfect, there should be allocated a sufficient time to avoid thinking phase answering phase reduction among the students. 3) for further research, suppose it makes some variation in learning method by integrating the numbered heads together method with the other method.

Pengaruh pembiayaan mudharabah dan musyarakah terhadap profitabilitas bank umum syariah di Indonesia / Devis Elina Sofa

 

ABSTRAK Elina Sofa, Devis. 2009. Pengaruh Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Satia Nur Maharani, SE, M.Si, Ak., (2) Makaryanawati, SE, M.Si, Ak. Kata kunci: profitabilitas, mudharabah, musyarakah. Krisis yang melanda dunia perbankan Indonesia sejak tahun 1997 telah menyadarkan semua pihak bahwa perbankan dengan sistem konvensional bukan merupakan satu-satunya sistem yang dapat diandalkan, tetapi ada sistem perbankan lain yang lebih unggul karena menawarkan prinsip keadilan dan keterbukaaan, yaitu perbankan syariah. Perkembangan perbankan syariah yang sangat cepat dalam lima tahun belakangan ini ditandai pula dengan peningkatan penyaluran pembiayaan. Pembiayaan menjadi sangat penting karena faktor pembiayaan inilah yang menjadi kunci perkembangan bank syariah di masa yang akan datang. Idealnya pembiayaan bank syariah didominasi oleh akad musyarakah dan mudharabah dimana keduanya dijalankan dengan sistem bagi hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pembiayaan mudharabah dan musyarakah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Pendapatan bagi hasil mudharabah dan musyarakah sebagai variabel bebas dan profitabilitas sebagai variabel terikat. Penelitian ini menggunakan analisis statistik regresi linier berganda yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kausal antara variabel bebas (mudharabah dan musyarakah) dengan variabel terikat (profitabilitas). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan dari pendapatan bagi hasil mudharabah terhadap tingkat profitabilitas di Perbankan Umum Syariah, dan terdapat pengaruh positif signifikan dari pendapatan bagi hasil musyarakah terhadap tingkat profitabilitas di Perbankan Umum Syariah. Secara simultan juga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari pendapatan bagi hasil mudharabah dan pendapatan bagi hasil musyarakah terhadap tingkat profitabilitas di Perbankan Umum Syariah. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Sesuai dengan temuan yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan dari pendapatan bagi hasil mudharabah atau pendapatan bagi hasil musyarakah terhadap tingkat profitabilitas di Perbankan Umum Syariah, maka pihak bank perlu untuk melakukan penilitian dan berhati-hati dalam memberikan pembiayaan mudharabah atau musyarakah karena tingkat pengembalian beserta bagi hasil dari pembiayaan tersebut sangat berpengaruh bagi pencapaian tingkat profitabilitas dan kelangsungan hidup bank itu sendiri. (2) Untuk penelitian lebih lanjut, penulis menyarankan untuk menambah variabel independen dan menambah populasi serta sampel yang digunakan misalnya dengan menambahkan Unit Usaha Syariah sebagai subyek penelitian dan menambah variabel lain sebagai variabel bebas karena dari temuan hasil penelitian diketahui bahwa masih ada variabel lain yang dapat mempengaruhi tingkat profitabilitas di bank syariah.

Pengaruh musik dan gaya belajar terhadap hasil belajar puisi mata pelejaran bahasa indonesia siswa kelas X SMA BAKTI Ponorogo

 

ABSTRAK Pramono, Agung. 2009. Pengaruh Musik dan Gaya Belajar terhadap Hasil Belajar Puisi Matapelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas X Sma Bakti Ponorogo. Disertasi Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing 1. Prof. Dr. H. M. Dimyati, 2. Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A. 3. Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M.Pd. Kata kunci: musik, gaya belajar, hasil belajar, puisi Pembelajaran merupakan proses pengembangan sikap dan kepribadian siswa melalui berbagai tahap dan pengalaman. Dalam pencapaian sasaran memerlukan metode dan media sebagai alat untuk menjelaskan pokok bahasan dalam pengembangan sikap dan kepribadian siswa tersebut. Metode yang digunakan haruslah sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Guru bisa melakukan kombinasi metode dan melengkapi dengan media tertentu termasuk di dalamnya musik. Musik merupakan bahasa yang universal. Musik merupakan bahasa yang melintasi batas-batas usia, jenis kelamin, ras,agama, dan kebangsaan. Musik muncul di semua tingkat pendapatan, kelas sosial, prestasi pendidkan. Dengan multi modal stimulus yang dimiliki musik, maka musik mudah diterima oleh indera pendengaran setiap orang. Dengan demikian musik mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam proses pembelajaran. Setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda. Terdapat tiga modalitas gaya belajar, yaitu: auditori, kinestetik, dan visual. Berdasarkan jenis gaya belajar yang dimiliki oleh siswa peneliti akan membandingkan pengaruh dari kedua jenis musik pada ketiga gaya belajar dalam pencapaian hasil belajar puisi siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana musik dan gaya belajar mampu mempengaruhi hasil pembelajaran puisi. Penelitian ini melibatkan kelompok siswa kelas X SMA Bakti Ponorogo yang terpilih secara random dari enam kelas yang seimbang. Dari enam kelas terpilih secara random dua kelas perlakuan yaitu kelas X1 sabagai kelas perlakuan musik lagu dan kelas X4 sebagai kelas perlakuan musik instrumental Sebelum pelaksanaan eksperimen, terlebih dulu dilakukan tes untuk menentukan gaya belajar setiap siswa baik di kelas X1 maupun kelas X4. Model tes gaya belajar yang dipakai mengacu pada instrumen yang dibuat oleh Bobbi de Porter. Sejalan dengan hipotesis, penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi dengan rancangan pretes-postes, nonequivalent control group desain. Selain menguji perbedaan dalam penelitian, penelitian ini juga berusaha mengungkapkan adanya hubungan sebab akibat dari satu perlakuan terhadap hasil belajar. Analisis varian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan dengan desain faktorial 2x3. Desain faktorial ini diartikan sebagai struktur penelitian yang di dalamnya terdapat dua variabel bebas atau lebih yang diperhadapkan untuk menguji akibat-akibat yang mandiri yang interaktif terhadap variabel bebas. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan media musik instrumental dan lagu. Pada analisis uji beda gaya belajar terhadap hasil belajar ternyata terdapat perbedaan yang signifikan. Hipotesis mengenai adanya perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan lagu dan yang diajar dengan musik instrumental menunjukkan nilai Fhitung =82,641 > F tabel =4,01 dengan taraf signifikan kurang dari 0,05. Mengenai perbedaan hasil belajar puisi siswa dengan gaya belajar yang berbeda Uji hiipotesis menunjukkan nilai Fhitung =13,974 > Ftabel=4,01 dengan taraf signifikan kurang dari 0,05 (p<0,00) sehingga dapat dikatakan ada perbedaan hasil belajar puisi siswa dengan gaya belajar yang berbeda. Adanya perbedaan hasil belajar puisi siswa dengan gaya belajar dan perlakuan yang berbeda ditunjukkan dengan nilai Fhitung =8,524>Ftabel=4,01 dengan taraf signifikan kurang dari 0,05 (p<0,00). Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan terdapat Interaksi antara pemberian musik instrumental dan lagu dengan ketiga gaya belajar yang dimiliki siswa. Siswa dengan gaya belajar auditorial yang diajar dengan musik instrumental mampu memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

Ikan gatul (Poecilia sp.) sebagai kandidat hewan model : tingkah laku kawin ikan gatul (Poecilia sp.) / Elfasurya Anggakusuma Setyawan

 

ABSTRAK Setyawan, Elfasurya Anggakusuma. 2010. Ikan Gatul (Poecilia sp.) sebagai Kandidat Hewan Model: Tingkah Laku Kawin Ikan Gatul (Poecilia sp.). Skripsi, Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc, (II) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si. Kata-kata kunci : tingkah laku kawin, ikan gatul (Poecilia sp.) Ikan gatul (Poecilia sp.) merupakan ikan yang banyak ditemui di berbagai lokasi seperti sungai, danau, parit, dan rawa. Ikan ini memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa karena dapat bertahan di lingkungan yang terpolusi. Ikan gatul merupakan “livebearer” yaitu embrio berkembang di dalam ovarium, dan melakukan fertilisasi secara internal. Betina gravit dapat melahirkan berkali-kali dalam satu bulan, dan menghasilkan 15-20 ekor setiap kelahiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku kawin ikan gatul (Poecilia sp.) dengan harapan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu kajian literatur tentang tingkah laku kawin ikan gatul (Poecilia sp.). Jenis Penelitian ini adalah deskriptif eksploratif . Ikan gatul jantan dan betina dipisah dalam aquarium bersekat kaca. Setelah ditemukan ikan yang menunjukkan indikasi kawin sekat dibuka, diperoleh tingkah laku kawin dan direkam dengan video kamera dan kamera digital. Data dianalisis dengan mengikuti setiap gerak ikan jantan dan betina yang menunjukan tingkah laku kawin, kemudian diidentifikasi tahap-tahap yang dilalui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkah laku kawin ikan gatul melalui empat tahap yaitu tahap pendekatan, tahap tarian, tahap perangsangan, dan tahap kopulasi. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui berapa lama waktu keseluruhan yang dilakukan oleh ikan gatul (Poecilia sp.) dari tahap pendekatan sampai tahap kopulasi. i

Sejarah tenggarong 1982-1815 kajian sosia budaya oleh Niken Konta Doral

 

Sejarah Tenggarong tahun 1782 merupakan awal atau tonggak bagi masyarakat Tenggarong untuk merancang dan membangun tatanan kehidupan masyarakayt ang berlandaskanp ada syariat Islam di bawah pemerintahanK erajaan Kutai Kertanegaru yang pada akhimya akan bermuara pada terwujudnya persiapan Tenggarong menjadi kota pariwisata dan kota pendidikan yang berkembang di Kalimantan Timur. Rumusanm asalahd alam penelitrani ni adalah( l) bagaimanala tar belakang terbentuknya Tenggarong 1782? (2) bagaimana Upaya Sultan Muslihuddin dalam mengembangkan Tenggarong sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara? (3) bagaimana kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat Tenggarong 1782-1815? Tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui latar belaka terbentuknya Tenggarong 1782, ttntuk mengetahui sejauh mana pequangan yangd ilakukano leh SultanM uslihuddind alamm engembangkaTne nggarongse bagai pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara, serta untuk mengetahui kondisi kehidupans osialb udayam asyarakaTt enggarong1 78 2-18 15 . Penelitian Sejarah Tenggarong ini adalah penelitian deskriptif dengan bentuk studi kepustakaan(l ibrary research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejarah berdirinya Tenggarong dilatar belakangi oleh keinginan Kerajaan Kutai Karlanegara untuk mencapai kesejahteraand an keamananb agi rakyat dan kerajaan,k arenad i daerahs ebelumnya yaitu Pemarangan sering nendapat serangan dari bajak laut Solok, sehingga dicari daerah baru yang dapat dijadikan sebagai pusat pemerintahan yang baru, yang akhirnya tiba di Tepian Pandan hingga diberi nama Tenggarong. Berdirinya pusat pemerintahadni Tenggarongta nggal2 8 Septembe1r 782o leh Aji Imbut GelarS ultan Aji MuhammadM uslihuddind ilaksanakand enganj alan damai dan dapatd iterima oleh penduduk setempat yaitu, Suku Kedang dan Suku Lempong. Dilaksanakan pembangunanis tana beserCab angunanl ainnya serta pemerintahand ijalankan oleh Sultanb erlandaskanp ada Undang-UndangK erajaan Kutai Kartanegaray aitu "Panji Selaten"d an "Berqa Niti". Guna meningkatkanT enggarongm enjadi daerahy ang maju, Aji Imbut menjalin hubungan dengan daerah lain dalam berbagai hal diantaranydaa lam bidangk eagamaanK. ondisi kehidupans osial-budayma asyarakat Tenggarontga hun 1782-1815d ipengaruhoi leh birokrasiK esultananK erajaanK utai Kartanegara. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa adanya peninggalanb erupa Museum Mulawarman dan makam raja-raja Kutai Karianegara sebagabi ukti bahwa di daerah ini pernah berdiri dan berkembangK erajaan Kutai I Kartanegaray ang patut untuk dibanggakand an dilestarikan. dilakukan penelitian lebih lanjut, misalnya sumber-sumber KerajaanK utai Kartanegardai Tenggarong. ii Dan disarankan agar mengenai keberadaan

Perancangan animasi 3 dimensi tentang harimau Sumatera / Ari Widyanto

 

Implementasi metode ceramah dan model pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning) pada mata pelajaran bekerjasama dengan pelanggan dan kolega untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas X APK SMK sore Probolinggo / Dina Duwi Prahesti

 

ABSTRAK Prahesti, Dina Duwi. 2010. Implementasi Metode Ceramah dan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pada Mata Pelajaran Bekerjasama dengan Pelanggan dan Kolega Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas X APK SMK Sore Probolinggo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si, (II) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata kunci: implementasi, metode ceramah dan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), Minat, Hasil belajar. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di kelas X APK SMK Sore Probolinggo diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan oleh guru selama ini masih belum menerapkan PBL secara keseluruhan, peran guru masih sangat dominan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pemberian tugas. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini diindikasikasikan sebagai penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa. Atas dasar inilah, maka penelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas pembelajaran baik oleh guru maupun siswa, minat belajar siswa, hasil belajar siswa dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK Sore Probolinggo yang berjumlah 40 siswa yang dilakukan mulai tanggal 14 Juli sampai dengan 18 Agustus 2009. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi penilaian ranah afektif, lembar observasi penilaian ranah psikomotorik, lembar wawancara guru, angket minat belajar siswa dan tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor persentase keberhasilan tindakan guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 23,08%, sedangkan hasil observasi aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II tampak adanya peningkatan, dimana pada tahap I tetap, tahap 2 mengalami peningkatan sebesar 16,67%, tahap III terjadi peningkatan sebesar 15%, tahap IV terjadi peningkatan sebesar 33,3% dan tahap V terjadi peningkatan sebesar 20%. Peningkatan minat belajar siswa dapat diketahui dari meningkatnya skor angket minat dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 9%. Meningkatnya hasil belajar siswa dari ranah kognitif dapat diketahui dari peningkatan nilai Pre test ke Post Test, pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 5,65% sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 4,15%. Untuk ranah afektif , terjadi peningkatan sebesar 9,68%. Dan ranah psikomotorik terjadi peningkatan sebesar 15%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan, (1) Model pembelajaran berbasis masalah (PBL) bisa digunakan oleh guru sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat diaplikasikan pda proses pembelajaran guna lebih meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, (2) Dalam penerapan model pembelajaran model PBL, siswa harus didorong untuk memperkaya pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dan terarah, (3) Dalam kegiatan kelompok, setiap anggota kelompok hendaknya memperoleh kesempatan untuk menyajikan hasil kajian dan analisis masalah serta alternatif pemecahannya untuk dibahas secara kritis oleh kelompok, (4) Dalam menerapkan model pembelajaran PBL hendaknya diperhatikan tingkat kualitas siswa (input), (5) Dalam menerapkan model PBL membutuhkan alokasi waktu yang relatif agak lama. Hendaknya guru memperhitungkan pembagian alokasi waktu.

Peningkatkan prestasi belajar matematika FPB dan KPK dengan model pembelajaran jigsaw pada siswa kelas IV SDN Kayubebek III Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan / Budiono

 

ABSTRAK Budiono, 2010. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika FPB dan KPK Dengan Model Pembelajaran Jigsaw Pada Siswa Kelas IV SDN Kayukebek III Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan KSDP. Program S1 PGSD. Pembimbing Drs. Goenawan Roebyanto, M.Pd. Kata Kunci : Model Pembelajaran Jigsaw, Pemecahan Masalah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatka kemampuan pemecahan masalah siswa dengan mengunakan pendekatan pembelajran jigsaw. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : (1) Bagaimanakah penerapan pembelajaran model jigsaw dalam upaya meningkatkan prestasi belajar tentang KPK dan FPB Pada siswa kelas IV SDN Kayukebek III Kab. Pasuruan?. (2) Apakah model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah KPK dan FPB Pada siswa kelas IV SDN Kayukebek III Kab. Pasuruan?. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas IV SDN kayukebek III Kabupaten Pasuruan sebanyak 32 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan KPB dan FPB. Hasil yang diperoleh melalui pemberian tes awal kepada siswa telah menunjukkan bahwa 50% siswa termasuk klasifikasi baik 40% siswa termasuk klasifikasi cukup baik, Sedangkan yang termasuk klasifikasi kurang baik 10% siswa. Rendahnya nilai tersebut kemungkinan diakibatkan dalam kegiatan pembelajaran banyak ceramah. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refeksi. Adapun instrumen yang digunakan ini dalam penelitian adalah observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan peneliti yang telah dilakukan didapatkan (1) hasil aktivitas guru siklus I dengan presentase 92,3% yang mempunyai kategori sangat baik dan siklus II dengan presentase 95,4% yang mempunyai kategori sangat baik sehingga terjadi peningkatan aktifitas guru 3,1%, (2) Hasil observasi aktivitas siswa siklus I dengan presentase 81,3% yang mempunyai kategori baik, dan siklus II dengan presetanse 85% yang mempunyai kategori sangat baik, sehingga menjadi peningkatan aktivitas siswa sebesr sebesar 3,7% (3) Disini dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran model jigsaw kemampuan pemecahan masalah siswa kelas IV SDN kayukebek III Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan.

Implementasi program jaring pengaman ekonomi dan sosial (JPES) dalam pengentasan kimiskinan di kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen kota Malang / Ernawati

 

ABSTRAK Ernawati. 2010. Implementasi Program Jaring Pengaman Ekonomi Dan Sosial (JPES) Dalam Pengentasan Kemiskinan Di Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. (2) Farida Rahmawati, S.E., M.E. Kata Kunci: Program JPES dan Kemiskinan Tingginya tingkat kemiskinan di Jawa Timur menuntut pemerintah untuk menerapkan beberapa program pengentasan kemiskinan. Salah satunya Program JPES yang merupakan kelanjutan dari Program Aksi Menanggulangi Dampak Kenaikan Harga BBM (PAM-DKB) yang mulai dilaksanakan pada tahun 2006. Adapun Program JPES dilaksanakan pada tahun 2007 yang kegiatannya berupa pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat. Program JPES dalam pelaksanaannya mencoba untuk memberdayakan keluarga miskin (gakin) dengan mengikutsertakan mereka dalam kegiatan pembangunan di wilayahnya. Peran serta ini diharapkan agar gakin bisa lebih berdaya dan tidak bergantung pada bantuan pihak lain. Selama pelaksanaan program, para gakin selain dilibatkan sebagai tim pelaksana di wilayahnya juga dilibatkan sebagai pekerja. Hal ini dilakukan untuk memberikan lapangan kerja bagi gakin yang menganggur dan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi gakin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) mekanisme penjaringan sasaran Program Jaring Pengaman Ekonomi Dan Sosial (JPES) di Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang, (2) dampak dari pelaksanaan Program Jaring Pengaman Ekonomi dan Sosial (JPES) terhadap pengentasan kemiskinan di Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang, (3) strategi yang seharusnya diambil pemerintah untuk memperlancar pelaksanaan Program JPES dengan menggunakan analisis SWOT. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dari permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pemeriksaan data, pengelompokkan data, penyajian data, analisis data, analisis SWOT dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Dalam menetapkan sasaran Program JPES mengacu pada indikator yang ditetapkan oleh BPS dan berdasar pada hasil musyawarah warga, (2) Adanya Program JPES belum bisa memberikan pengaruh yang besar dalam upaya pengentasan kemiskinan karena pekerjaan yang diberikan kepada gakin hanya bersifat sementara sehingga tambahan pendapatan dari gakin juga bersifat sementara. Namun Program JPES mampu menumbuhkembangkan semangat kegotongroyongan masyarakat setempat dan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan dapat mengatasi masalah banjir di wilayah langganan banjir, (3) Dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threat) maka strategi yang seharusnya diambil pemerintah untuk memperlancar pelaksanaan program JPES adalah dengan mengadakan koordinasi, sosialisasi, monitoring dan evaluasi, data dan informasi, dan pemberdayaan. Saran dari peneliti untuk pelaksanaan Program JPES pada tahun selanjutnya adalah (1) Program-program penanggulangan kemiskinan yang diterapkan dilakukan secara berkelanjutan, (2) Dana yang dialokasikan untuk program JPES jumlahnya diperbesar karena sebagian dana yang ada harus dialokasikan untuk pembangunan fisik dan upah pekerja, (3) Analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, threat) hendaknya digunakan dalam pelaksanaan Program JPES karena analisis ini dapat digunakan untuk membuat strategi-strategi yang diperlukan dalam upaya memeperlancar pelaksanaan Program JPES. Strategi-strategi yang dibuat didasarkan dari unsur kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari Program JPES. Namun analisis yang dibuat harus bersifat fleksibel karena situasi dan kondisi selama pelaksanaan Program JPES terus mengalami perubahan, (4) Bagi kalangan akademisi dapat mengembangkan penelitian dengan memperluas cakupan kajian yang akan diteliti yaitu dengan meneliti tingkat efektifitas Program JPES dan seberapa besar kontribusi program ini dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat miskin.

Analisis tingkat kebangkrutan sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan go public yang listing di BEI tahun 2006-2007 (Dianalisis dengan menggunakan metode Altman (Z-Score) dan metode Zmijewski (X-Score) / Widianah

 

Widianah. Analisis Tingkat Kebangkrutan Sebelum dan Sesudah Stock Split Pada Perusahaan Go Public yang Listing di BEI Tahun 2006-2007 (Dianalisis Dengan Menggunakan Metode Altman (z-score) dan Zmijewski (x-score)) . Skripsi program Studi Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M (2) Lulu Nurul Istanti, S.E., M.M Kata Kunci: Kebangkrutan, Z-Score, X-Score dan Stock Split Setiap perusahaan didirikan dengan harapan akan menghasilkan laba sehingga mampu untuk bertahan dalam jangka panjang yang tidak terbatas. Hal ini berarti dapat diasumsikan bahwa perusahaan akan terus hidup dan diharapkan tidak akan mengalami likuiditas. Dalam praktik, asumsi di atas tidak selalu menjadi kenyataan. Seringkali perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu tertentu terpaksa membubarkan diri karena mengalami kegagalan usaha (kebangkrutan). Stock split merupakan tindakan memecah saham menjadi n lembar saham dengan harga per lembar saham baru sebesar 1/n harga saham sebelumnya, yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk menata kembali harga pasar saham dengan meningkatkan jumlah saham yang beredar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat kebangkrutan perusahaan sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan go public yang listing di BEI tahun 2006- 2007 yang dianalisis dengan menggunakan metode altman (z-score) dan Zmijewski (x-score). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode event study. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 12 perusahaan go public yang melakukan pemecahan saham yang listing di BEI periode 2006-2007 yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan internet. Analisis data menggunakan teknik paired sample t-test dengan bantuan komputer program SPSS 12.0. Hasil penelitian hipotesis pertama menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kebangkrutan sebelum dan sesudah stock split yang dianalisis menggunakan metode altman (z-score). Untuk hipotesis kedua terdapat perbedaan yang signifikan antara kebangkrutan sebelum dan sesudah stock split yang dianalisis zmijewski (x-score). Bagi peneliti selanjutnya bisa dikembangkan dengan menggunakan periode pengamatan dan sample yang berbeda, serta dengan menambahkan semua rasio keuangan lain yang terbukti mampu menambah preferensi investor dalam berinvestasi. Bagi perusahaan yang bersangkutan diharapkan dengan adanya penelitian tentang kebangkrutan perusahaan dapat mengantisipasi langkahlangkah yang harus ditempuh untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan.

Analisis penentuan portopolio optimal model indeks tunggal pada perusahaan kategori saham Jakarta Islamic Index (JII) periode 2-30 November 2009 / Adita Nafisa

 

ABSTRAK Nafisa, Adita. 2010. Analisis Penentuan Portofolio Optimal Model Indeks Tunggal pada Perusahaan Kategori Saham Jakarta Islamic Index (JII) periode 2 – 30 November 2009. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Hari, M.Si., (II) Dr. H. Heri Pratikto, M.Si. Kata kunci: Return, Expected Return, Penentuan Portofolio Optimal Model Indeks Tunggal Penentuan portofolio optimal merupakan suatu alat untuk mengurangi risiko investasi sesuai preferensi investor dengan cara melakukan diversifikasi, yaitu mengkombinasikan berbagai sekuritas dalam pembentuk suatu investasi pada periode tertentu. Penentuan portofolio optimal dalam penelitian ini menggunakan Model Indeks Tunggal yang didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui kondisi return saham individu dan return pasar, (2) mengetahui kondisi return ekspektasi saham individu dan return ekspektasi pasar, dan (3) menentukan portofolio optimal dengan menggunakan Metode Indeks Tunggal pada perusahaan yang termasuk kategori saham Jakarta Islamic Index (JII). Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan periode pengamatan selama 20 hari bursa yaitu mulai tanggal 2 sampai dengan 30 November 2009. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi harga saham, Indeks Syariah (JII), dan tingkat suku bunga. Sampel penelitian ini merupakan seluruh perusahaan populasi yaitu seluruh perusahaan yang masuk dalam kategori saham Jakarta Islamic Index (JII) selama bulan November sebanyak 30 perusahaan. Pengolahan data dalam penelitian ini dimulai dengan perhitungan return saham individu, return pasar, return ekspektasi saham individu, return ekspektasi pasar, risiko sistematis, risiko tidak sistematis, dilanjutkan dengan perhitungan Excess Return to Beta (ERB), cut off point yang berasal dari cut off rate tertinggi kemudian mencari proporsi portofolio optimal, return ekspektasi portofolio optimal serta varian portofolio optimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi return saham individu dan return pasar cenderung mengalami penurunan pada periode pengamatan, begitu pula pada kondisi return ekspektasi saham individu dan return ekspektasi pasar yang cenderung mengalami penurunan. Terdapat 2 saham yang ditentukan sebagai sebagai portofolio optimal yaitu PT. Sampoerna Argo Tbk (SGRO) dan PT. Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan proporsi masing-masing 54,6% dan 45,4%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat return ekspektasi portofolio yang diperoleh adalah sebesar 0,27% dengan tingkat risiko hanya 0,004%. Bagi calon investor yang ingin berinvestasi terdapat salah satu alternatif yaitu dengan membentuk portofolio optimal menggunakan Model Indeks Tunggal dengan harapan memperoleh hasil yang optimal dengan risiko tertentu atau hasil tertentu dengan risiko yang minimal.

Membangun WEB interaktif SMK YP 17-1 Malang sebagai layanan informasi sekolah / Darto, Moch. Zainuri

 

Melalui website, suatu instansi pendidikan dapat mempublikasikan profil lembaga, hasil belajar siswa – siswi, pengumuman – pengumuman atau informasi yang berkaitan dengan perkembangan belajar siswa-siswi pada instansi tersebut. Selain itu, melalui website siswa, guru dan karyawan juga dapat mempublikasikan artikel, pengalaman, dan tulisan lainnya. Dalam pembuatan Website, Content Mangement System merupakan metode yang paling mudah dan praktis. Content Management System merupakan sebuah metode atau sistem yang dapat meningkatkan tingkat produktivitas dan efisiensi dalam pengembangan website. Wordpress offline merupakan salah satu dari Content Management System (CMS) yang bersifat Open Source yang sangat layak untuk digunakan sebagai sebuah website perusahaan atau instansi pendidikan sekalipun. Dalam pelaksanaan tugas akhir ini berhasil merancang dan membuat website interaktif SMK YP 17-1 Malang, dengan website ini informasi yang dipublikasikan bisa lebih merata dan menarik, sehingga semua anggota sekolah dapat mengetahui perkembangan belajar siswa-siswi di SMK YP 17-1 Malang..

"Penerapan metode pembelajaran komunikatif dalam kursus bahasa Inggris" (Studi kasus pada lembaga kursus BHS Inggris di New Surabaya College (NSC) Pandaan Kab. Pasuruan) / Ahmad Taufic

 

ABSTRAK Taufiq, Ahmad. 2009. Penerapan Metode Pembelajaran Komunikatif Dalam Kursus Bahasa Inggris. (Studi Kasus Pada Lembaga Kursus Bhs Inggris di New Surabaya College (NSC) Cabang Pandaan Kab. Pasuruan). Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H.M Saleh Marzuki, M.Ed., dan (II) Dr. Djauzi Moedzakir, MA. Kata Kunci: metode pembelajaran komunikatif, lembaga kursus, pendidikan luar sekolah. Penelitian ini didasarkan atas fenomena penggunaan metode pembelajaran komunikatif, yang kerap kali dipakai oleh para instruktur dalam kursus bahasa Inggris. Pada umumnya metode ini dianggap dapat memenuhi kebutuhan warga belajar, karena sangat membantu warga belajar dalam mempelajari dan menguasai bahasa Inggris. Ketertarikan warga belajar mengikuti kursus salah satunya yaitu karena dengan metode tersebut keinginan mereka untuk mahir berbahasa Inggris dapat terwujud. Sesuai dengan fenomena tersebut, penelitian ini difokuskan pada pertanyaan dasar, apa betul keberlangsungan kursus NSC Pandaan karena penerapan metode komunikatif. Untuk itu penelitian ini bertujuan mendiskripsikan tentang: 1) Alasan atau latar belakang warga belajar memilih kursus NSC sebagai agensi pendidikan luar sekolah, 2) Alasan NSC menerapkan metode komunikatif dalam pembelajaran bahasa Inggris, 3) Gambaran penerapan metode komunikatif dalam pembelajaran bahasa Inggris di NSC, dan 4) Persepsi warga belajar kursus terhadap penerapan metode komunikatif dalam kursus bahasa Inggris di NSC Berdasarkan fokus penelitian maka secara keseluruhan masalah penelitian ini diselesaikan dengan pendekatan kualitatif berupa studi kasus untuk mengungkapkan fenomena-fenomena yang terjadi secara menyeluruh dan mendalam pada lembaga kursus Bahasa Inggris NSC Pandaan. Hal ini dilakukan untuk menemukan perspektif baru tentang hal-hal yang sudah banyak diketahui atau fenomena yang sampai sekarang belum banyak diketahui dari segi program, peristiwa, dan proses (kegiatan). Sumber data dalam penelitian dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu person, place dan activity. Semua sumber data tersebut digali melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Dari analisis data, diperoleh temuan-temuan sebagai berikut: Pertama, penerapan metode komunikatif pembelajaran bahasa dilakukan secara interaktif, yaitu dengan tanya jawab, diskusi, presentasi, percakapan, dialog, dan simulasi yaitu bermain peran, dan juga dilakukan secara monolog yaitu bercerita (story telling). Kedua, alasan menerapkan metode komunikatif yaitu: a) membiasakan diri untuk selalu berbahasa Inggris, b) mendukung tercapainya empat kemampuan berbahasa, c) sesuai bagi pebelajar orang dewasa. Ketiga, persepsi warga belajar kursus NSC terhadap penerapan metode komunikatif yaitu: a) merasa tertekan dengan kondisi di awal pembelajaran, b) suasana kelas yang aktif, humanis dan saling mendukung dalam pembelajaran, c) merasa senang, antusias karena tujuan belajar bahasa dapat dicapai dengan cepat. Keempat, alasan warga belajar memilih kursus di NSC yaitu: a) NSC dianggap kursus yang sudah lama berdiri dan berpengalaman, b) NSC fleksibel terhadap calon warga belajar, c) instruktur yang kompeten, bersahabat, baik dan terbuka, serta d) NSC mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kelima, terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan dari metode komunikatif, kelebihanya adalah suasana kelas menjadi semakin aktif, kompetitif, tidak membosankan, dan bisa memotivasi diri warga belajar untuk selalu menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan kelemahanya yaitu tidak bisa diterapkan pada tingkat awal, tertekan, kemampuan gramatikal rendah, sulit dalam mengevaluasi, dan meteri yang sudah direncanakan tidak sepenuhnya tuntas. Bertitik tolak dari hasil temuan-temuan penelitian ini, disarankan agar 1) Penerapn metode komunikatif bisa maksimal, maka perlu bagi instruktur untuk mempelajari teknik-teknik dari beberapa kegiatan interaktif, serta pemilihan tema/topik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan manfaat warga belajar kursus. 2) Pola pembelajaran metode ini lebih mengarahkan pebelajar pada konteks atau situasi. Maka perlu kiranaya bagi instruktur dalam satu kesempatan mengajak warga belajarnya untuk belajar di luar kelas dengan melihat/praktik secara langsung dan berdarmawisata (excursion) atau studi tour agar mereka bisa memperaktikkan bahasa secara langsung dengan penutur asli bahasa (native speaker). 3) Bagi para instruktur kursus bahasa Inggris perlu mengetahui karakteristik dan prinsip-prinsip pembelajaran Andragogi, 4) Perlu adanya pengakajian dan perbaikan/revisi terhadap bahan ajar yang digunakan pada lembaga kursus bahasa asing, yang mana bahan ajar tersebut kurang kontekstual. Sehingga dikhawatirkan bahan ajar tersebut tidak memberikan manfaat bagi warga belajar, 5) Bagi pemerhati masalah pengembangan lembaga pembelajaran hendaknya terus mengkaji konsep-konsep pengelolaan lembaga dan pembelajaran kursus yang kontekstual sehingga lembaga tersebut nantinya mampu menjawab tantangan pendidikan di masa yang akan datang, 6) Peran pro-aktif dari pemerintah sangat diupayakan demi peningkatan mutu dan kualitas lulusan kursus, yaitu dengan melakukan standarisasi secara merata bagi semua pengelola kursus dan pelatihan sehingga keberlangsungan lembaga kursus di daerah bisa tetap bertahan.

Perancangan file server dan sistem pembelajaran berbasis moodle pada jaringan internet di SMP negeri 1 Bojonegoro / Fatkur Fauzi

 

Dalam proses pembelajaran praktik yang berlangsung di laboratorium KKPI, sistem operasi yang digunakan oleh siswa telah terkonfigurasi untuk login secara otomatis saat komputer dinyalakan. Setiap siswa juga menyimpan hasil pekerjaannya di harddisk setiap komputer. Hal ini mengakibatkan data seorang siswa bisa dilihat oleh siswa lainnya yang suatu saat juga akan memakai komputer yang sama. Sehingga dimungkinkan ketika guru memberikan tugas siswa hanya mengubah isi file yang sudah ada yang dimiliki siswa lainnya. Untuk itu perlu adanya suatu sistem yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, salah satu metode yang penulis tawarkan adalah dengan merancang File Server sehingga diharapkan kejadian pencurian data bisa diminimalisir atau bisa menyulitkan pelaku yang ingin melakukan tindakan curang. Sistem file server merupakan sistem yang memanfaatkan jaringan komputer berbasis klien server untuk menyediakan data dan account pengguna secara terpusat. Dalam sistem file server, jaringan komputer yang dirancang dengan baik akan menentukan pula kinerja sebuah file server yang baik. Untuk itu diperlukan sebuah pengetahuan yang cukup mengenai konsep TCP/IP agar konektivitas klien dan server semakin baik. File Server yang dirancang ini menggunakan Sistem Operasi Windows Server 2003, yang merupakan suatu sistem jaringan. Dalam Sistem Operasi Windows Server 2003 ini banyak kelebihan layanan, seperti File Server, Print Server, Active Directory (AD), dan lain sebagainya. Pada tugas akhir ini penulis memanfaatkan layanan file server untuk merancang sistem yang digunakan dalam proses belajar mengajar di Laboratorium KKPI. Dengan layanan file server ini siswa dapat menyimpan data baik materi maupun tugas ke dalam file server ini. Siswa juga dapat mengakses data materi yang telah dibagi oleh guru dalam file sharing. Dengan sistem file ini diharapkan data siswa dapat lebih aman, baik dari kerusakan komputer, virus, atau kecurangan yang dilakukan siswa lain yang seharusnya tidak berhak atas penggunaan data yang bukan miliknya karena masing-masing memiliki user account dan password dalam menyimpan data di komputer server. Sisterm file server ini juga bermanfaat bagi guru dalam melakukan penilaian tugas siswa dengan hanya membuka file tugas yang ada pada server. Ini lebih efisien tanpa harus berkeliling mengontrol satu per satu pada komputer siswa. Perancangan file server ini akan memudahkan dan meningkatkan proses belajar mengajar di lingkungan SMP Negeri 1 Bojonegoro khususnya di Laboratorium KKPI.

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di rintisan sekolah bertaraf internasional ( Studi kasus di SMP negeri 1 Bojonegoro ) / Dewi Wahyuningtyas

 

i ABSTRAK Wahyuningtias, Dewi. 2009. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Bondowoso). Skripsi, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suparlan, M.Si, (II) Dra. Sri Untari, M.Si. Kata kunci: pembelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Salah satu upaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 50 ayat (3), yakni “Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional”.Meskipun secara formal belum dinamakan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional, saat ini sejumlah sekolah di Indonesia telah melakukan rintisan ke arah Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat (1) yang menyebutkan “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat, salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan, maka dalam kerangka penyelenggaraan pendidikan nasional, Pendidikan Kewarganegaraan menempati kedudukan yang sentral. Oleh karena itu, untuk memenuhi standar penyelenggaraan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional maka pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional seharusnya mulai bahkan telah memenuhi Standar Proses yang diisyaratkan oleh Standar Pendidikan Nasional dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar danMenengah. Penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimana perencanaan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso? (2) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso? (3) Bagaimanakah penilaian hasil pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso? (4) Bagaimanakah pengawasan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso? Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bondowoso pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus. Subjek penelitian adalah kelas VII A yang merupakan kelas rintisan sekolah bertaraf internasional SMP Negeri 1 Bondowoso. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso, baik komponen, pengembangan, dan penyusunannya telah memenuhi kriteria silabus dan (RPP) sebagai perencanaan proses pembelajaran yang diamanatkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. (2) Pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso tidak dapat dilaksanakan sama persis seperti kegiatan pembelajaran yang direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Namun, proses pembelajarannya sebagian besar telah memenuhi pelaksanaan pembelajaran dalam Lampiran Peraturan Menteri Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. (3) Penilaian hasil pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso tidak selalu melalui tes tulis melainkan dilakukan dengan beragam teknik penilaian. (4) Pengawasan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso terdiri dari pemantauan (monitoring), supervisi, dan evaluasi oleh kepala sekolah serta evaluasi juga dilakukan oleh siswa untuk menuju tingkat kepuasaan siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan (1) kepala sekolah harus lebih aktif dan sedapat mungkin melakukan pengawasan terhadap kinerja guru dalam proses pembelajaran agar mutu pendidikan yang diterapkan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso semakin meningkat sehingga masyarakat akan terus percaya terhadap kualitas pendidikan di dalamnya; (2) guru Pendidikan Kewarganegaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso diharapkan mampu melakukan pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara mandiri; (3) guru Pendidikan Kewarganegaraan yang merupakan kunci utama dalam proses belajar mengajar Pendidikan Kewarganegaraan hendaknya bisa menciptakan kreativitas dan inovasi baru dalam pembelajaran, menggunakan metode yang bervariasi serta berupaya menciptakan suasan belajar yang kondusif sehingga siswa tidak jenuh dan mudah dalam menerima materi yang diajarkan; (4) siswa-siswi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso hendaknya terus berupaya untuk mempertahankan prestasi yang selama ini diraih oleh sekolah dan berupaya lagi untuk meningkatkan prestasi baik di bidang akademik maupun dalam bidang non akademik. Sehingga kepercayaan pemerintah dan masyarakat kepada pihak sekolah bisa terus meningkat sehingga mudah dalam melakukan kerjasama.

Kesadaran hukum mahasiswa jurusan PPKn fakultas ilmu pendidikan universitas negeri malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya / Mirna Retna Sari

 

ABSTRAK Retna Sari, Mirna.2009. Kesadaran Hukum Mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Malang dalam Berlalu Lintas Menggunakan Kendaraan Bermotor Roda Dua di Jalan Raya. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs.H.Suparman A.W,S.H, M.Hum, (2) Drs.Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si Kata Kunci :Kesadaran hukum, lalu lintas, kendaraan bermotor roda dua Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai peran penting dalam mewujudkan ketertiban lalu lintas yaitu dengan mematuhi segala peraturan lalu lintas yang bisa terwujud apabila mahasiswa tersebut mempunyai kesadaran hukum. Namun kesadaran hukum yang diterima adalah kesadaran tanpa paksaan. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (2) Mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (3) Mengetahui sikap mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (4) Mengetahui pola perilaku mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (5) Mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam meningkatkan pengetahuan hukum tentang lalu lintas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel ini adalah dengan menggunakan teknik random sederhana (simple random sampling). Pelaksanaan teknik random sederhana pada jumlah mahasiswa yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua, cukup menggunakan teknik undian.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket atau kuesioner dan wawancara. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif yang dilakukan dengan mengklasifikasikan data tersebut menjadi dua kelompok data, yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau simbol. Data kualitatif yang berbentuk kata-kata tersebut disisihkan untuk sementara, karena akan sangat berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh dari analisis data kuantitatif. Data yang diperoleh dari angket atau kuesioner yang berbentuk check list dikelompokkan dalam bentuk persentase sesuai dengan pilihan jawaban yang tertera di angket yang telah dipilih oleh responden. Kesimpulan diperoleh setelah analisis dari data-data tersebut selesai dilakukan dan data dari hasil wawancara disertakan untuk melengkapi data kuesioner. Hasil penelitian adalah sebagai berikut : (1) Pengetahuan hukum mahasiswa jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap peraturan lalu lintas adalah separuh lebih mahasiswa jurusan PPKn (53,33%) mengetahui tentang peraturan lalu lintas.(2) Pemahaman hukum mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap Peraturan Lalu Lintas adalah hanya 20% mahasiswa jurusan PPKn yang dapat memahami peraturan lalu lintas yaitu mengenai isi dan tujuan dari peraturan tersebut.(3) Sikap hukum mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap peraturan lalu lintas adalah semua mahasiswa jurusan PPKn pernah melakukan pelanggaran lalu lintas. (4) Perilaku hukum mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap peraturan lalu lintas adalah sebagian besar pola perilaku mahasiswa dalam berlalu lintas sudah sesuai peraturan terbukti dari data berikut ini : 80% mahasiswa jurusan PPKn membawa SIM saat mengemudikan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, 90% mahasiswa jurusan PPKn membawa STNK saat mengemudikan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, 90% mahasiswa jurusan PPKn mengutamakan penyeberang jalan daripada kendaraan yang dikemudikan, 86,67% mahasiswa jurusan PPKn memarkir kendaraan bermotor di tempat yang benar sehingga tidak mengganggu pemakai jalan yang lain dan tidak menutup jalan, 100% mahasiswa jurusan PPKn menggunakan lampu sein pada kendaraan bermotor saat akan belok, 60% mahasiswa jurusan PPKn memeriksa perlengkapan kendaraan bermotor saat akan berkendara, 96,67% mahasiswa jurusan PPKn menggunakan helm saat berkendara.(5) jumlah mahasiswa jurusan PPKn yang berupaya meningkatkan pengetahuan hukum tentang peraturan lalu lintas adalah 20 orang atau 66,67%, upaya tersebut adalah: (a) membaca referensi yang berkaitan dengan lalu lintas, (b) mencari tahu lewat media elektronik (televisi, radio, internet), (c) mencari tahu pada pihak yang berwajib. Sedangkan jumlah mahasiswa jurusan PPKn yang berupaya mengurangi pelanggaran lalu lintas adalah 29 orang atau 96,67%, upaya tersebut adalah (a) memperhatikan setiap rambu-rambu lalu lintas, traffic light dan marka jalan yang ada di jalan raya, (b) mengurangi kecepatan maksimum dalam berkendara agar bisa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, traffic light dan marka jalan, (c) membiasakan untuk taat terhadap peraturan lalu lintas meskipun tidak ada polisi. Berdasarkan temuan penelitian di atas, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Guna meningkatkan Kesadaran Hukum Mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Malang dalam Berlalu Lintas Menggunakan Kendaraan Bermotor Roda Dua di Jalan Raya, maka diharapkan kepada mahasiswa agar lebih banyak menggali informasi tentang peraturan lalu lintas demi keselamatan dan ketertiban saat berkendara. (2) Perlunya peningkatan ketaatan oleh mahasiswa terhadap peraturan lalu lintas dalam kondisi apapun dan tidak hanya karena adanya pihak kepolisian lalu lintas. (3) Perlunya peran aktif dari mahasiswa untuk mengurangi tingkat pelanggaran lalu lintas dengan melengkapi komponen kelengkapan kendaraan bermotor yang sesuai dengan ketentuan, lebih teliti dalam memperhatikan ramburambu lalu lintas dan marka jalan serta memperhatikan kecepatan maksimum yang digunakan saat berkendara.

Study komparatif peranan serikat pekerja dalam memperjuangkan hak-hak pekerja " Studi kasus di Bank BRI cabang Martadinata kota Malang dan PT.Sampoerna Tbk cabang Malang " / Hidayatullah Cahyadi Fahmi

 

ABSTRAK Cahyadi, Hadiyatullah, 2009. Study Komparatif Peranan Serikat Pekerja Dalam Memperjuangkan Hak-hak Pekerja (Studi Kasus Pada BRI Kantor Cabang Martadinata Kota Malang dan PT. Sampoerna Tbk Cabang Malang). Skripsi Jurusan Manajemen, Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) DR. Sopiah, M.Pd, M.M; (2) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M. Si Kata Kunci: Serikat Pekerja Perubahan besar dibidang ketenagakerjaan akan dapat dilaksanakan jika manajemen sumber daya manusia berada pada peran yang menentukan. Perubahan tersebut harus diawali dengan perubahan paradigma bahwa manusia harus dianggap sebagai sumber daya yang paling penting bagi perusahaan atau instansi terkait. Hubungan industri yang harmonis dapat tercipta jika pola pendekatan dirubah dari pendekatan pengendalian ke pendekatan komitmen”. Hal ini disebabkan karena para pekerja juga membutuhkan otonomi, keterlibatan yang lebih tinggi, tantangan, pengembangan dan aktulisasi diri. setiap pekerja atau buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja atau seriat buruh. Pembangunan serikat pekerja disebuah lembaga atau perusahaan sangat berperan sekali untuk kelancaran komunikasi antara pekerja dengan pihak manajemen. Sehingga ketika ada permasalahan mengenai kesejahteraan pekerja yang belum terpenuhi, serikat pekerjalah yang memediatori untuk berkomunikasi meminta kepada manajemen untuk memenuhi. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana perbandingan peranan serikat pekerja Bank BRI kantor Cabang Martadinata dan PT. Sampoerna Cabang Malang dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan jenis Ex Post Vacto. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota serikat pekerja BRI Kantor Cabang Martadinata dan PT. Sampoerna Cabang Malang yang berjumlah 90 orang. Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa serikat pekerja Pada BRI Kantor Cabang Martadinata mempunyai peran dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa tenteram adalah tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa saling percaya adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif adalah tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan semangat kebersamaan adalah rendah, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi vertikal adalah tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi horizontal adalah kurang tinggi dan peran serikat pekerja BRI dalam mewujudkan hubungan industrial yang harmonis adalah kurang tinggi. Sedangkan peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa tenteram adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa saling percaya adalah rendah, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan semangat kebersamaan adalah tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi vertikal adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi horizontal adalah tinggi, dan peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam mewujudkan hubungan industrial yang harmonis adalah kurang tinggi. Selain itu juga terdapat perbedaan yang signifikan antara peranan serikat pekerja Pada BRI Kantor Cabang Martadinata dengan serikat pekerja pada PT. Sampoerna Cabang Malang. Selanjutnya, dari proses wawancara memperoleh hasil bahwa terdapat ketidaksamaan informasi antara manajemen, serikat pekerja dan pekerja yang disebabkan oleh kurangnya komunikasi dan kurangnya perhatian dari serikat pekerja dan manajemen terhadap pekerja. Ini sangat terlihat pada PT. Sampoerna Cabang Malang. Saran yang bisa diberikan adalah (1) Serikat pekerja hendaknya dapat melakukan komunikasi secara intensif dengan para pegawai atau anggota serikat pekerja terutama pada serikat pekerja BRI Kantor Cabang Martadinata baik dengan media e-mail, kotak saran pada setiap unit atau kantor cabang dan wilayah agar permasalahan yang dirasakan oleh anggota serikat pekerja dapat diselesaikan dengan baik.; (2) Serikat pekerja pada BRI maupun PT. Sampoerna Cabang Malang hendaknya dapat menciptakan hubungan industrial yang harmonis dengan cara melakukan komunikasi maupun negosiasi baik dengan para pegawai, manajemen, masyarakat dan juga pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Tenaga Kerja agar dapat melaksanakan perannya sebagai oraganisasi penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak-hak pekerja maupun manajemen; (3) Pegawai harusnya dapat memanfaatkan organisasi serikat pekerja tersebut sebagai wadah dalam berinteraksi dan berkreasi sebagi upaya pengembangan diri;(4) PT. Sampoerna sebaiknya meningkat kualitas komunikasi antara pekerja dengan pihak manajemen meskipun menggunakan manajemen terpusat dengan cara selalu membuka diri untuk menerima keluhan dari pekerja;(5) Peneliti selanjutnya hendaknya meneliti indikator alternatif lainnya pada variabel peran yang lebih memberikan kontribusi kepada pihak yang bersangkutan. Misalnya adalah peran serikat pekerja pada anggota yang berada pada Unit-Unit dari Bank yang dipimpin, peran serikat pekerja yang lebih spesifik pada peran dalam menyelesaikan permasalahan PHK maupun hubungan industrial, atau variabel lain mengenai pengaruh masuk atau tidaknya pegawai dalam organisasi serikat pekerja.

Survai tentang keterampilan sosial siswa sekolah menengah atas (SMA) negeri se-kabupaten Trenggalek / Diah Ayu Muliawan

 

ABSTRAK Muliawan, Diah Ayu. 2009. Survei tentang Keterampilan Sosial Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Se-Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing, (1) Dra. Elia Flurentin, M.Pd (2) Drs. M. Bisri, M.Psi Kata Kunci: Keterampilan sosial, siswa sekolah menengah atas Keterampilan sosial bermanfaat untuk memudahkan seseorang dalam penyesuaian sosial. Keterampilan sosial memuat aspek-aspek keterampilan, seperti keterampilan untuk hidup dan bekerjasama, keterampilan untuk mengontrol diri dan orang lain, keterampilan untuk saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, saling bertukar pikiran dan pengalaman sehingga tercipta suasana yang menyenangkan bagi setiap anggota dari kelompok tersebut. Individu-individu yang memiliki keterampilan sosial yang baik cenderung diterima oleh lingkungan. Rendahnya keterampilan sosial mengakibatkan masalah-masalah sosial seperti rendah diri, merasa dikucilkan, antisosial (normatif), kenakalan remaja bahkan kriminal. Kurangnya keterampilan komunikasi menyebabkan rendahnya keterampilan sosial remaja. Dalam proses komunikasi terdapat penyampaian informasi. Komunikasi juga merupakan proses bertukar pendapat, yang dapat menyebabkan perubahan sikap dan perilaku. Berbagai permasalahan sosial pada siswa SMA se-Kabupaten Trenggalek yang muncul mungkin disebabkan kurangnya keterampilan komunikasi sehingga siswa mendapatkan informasi yang salah. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi konselor dalam memberikan bantuan layanan bimbingan baik bimbangan pribadi maupun bimbingan sosial yang sesuai dengan keadaan siswa. Bantuan yang diberikan bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang dimiliki siswa. Bantuan yang diberikan sesuai dengan fungsi bimbingan dan konseling antara lain fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pemeliharaan, dan fungsi perbaikan. Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek, (2) mendeskripsikan indikator-indikator keterampilan sosial siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek, (3) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek berdasarkan jenis kelamin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek. Metode Pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random sampling. Berdasarkan teknik sampling ini, subyek penelitian sebanyak 282 orang siswa laki-laki dan 472 orang siswa perempuan yang berasal dari 4 SMA Negeri di Kabupaten Trenggalek. Instrumen yang digunakan adalah angket keterampilan sosial. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan cara mengklasifikasi skor keterampilan subyek dalam tingkatan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Kemudian dilakukan analisis persentase pada masing-masing frekuensi klasifikasi. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) Keterampilan sosial siswa SMA se-Kabupaten Trenggalek adalah pada klasifikasi cukup, (2). Dari hasil klasifikasi didapatkan bahwa indikator dengan klasifikasi tinggi yang paling banyak dimiliki siswa adalah indikator “perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri”, Urutan ke dua adalah indikator “perilaku interpersonal”. Urutan ketiga adalah indikator “perlilaku komunikasi”. Urutan keempat adalah indikator “perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademik”. Urutan dan yang terakhir adalah indikator “peer acceptance”. (3) Siswa laki-laki memiliki nilai keterampilan sosial yang lebih tinggi dari pada siswa perempuan. Berdasarkan kesimpulan penelitian, disarankan kepada (1). Konselor-konselor SMA Se-Kabupaten Trenggalek dapat membantu siswa berdasarkan fungsi bimbingan dan konseling, sehingga setiap siswa mendapatkan bantuan sesuai dengan dirinya. (a). Fungsi pemahaman, konselor membantu siswa agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya. Adapun kegiatan layanan yang dapat digunakan adalah layanan orientasi, serta layanan informasi. Layanan informasi mengenai keterampilan sosial seperti cara bergaul, cara berkomunikasi, asertif, kepercayaan diri, cara menyelesaikan konflik, dan lain-lain. Layanan orientasi dan informasi diberikan kepada semua siswa yang memiliki keterampilan sosial sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, ataupun sangat rendah. (b). Fungsi pencegahan (preventif), konselor membantu siswa untuk bisa mencegah perilaku penyimpangan sosial yang dikarenakan kurangnya keterampilan sosial. Adapun layanan yang digunakan antara lain layanan orientasi, layanan informasi serta bimbingan kelompok. Konselor membantu siswa yang memiliki keterampilan sosial pada klasifikasi sedang, rendah, sangat rendah. (c). Fungsi pengembangan, konselor membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Siswa yang memiliki keterampilan sosial sedang, rendah, sangat rendah dapat dibantu melalui layanan informasi, bimbingan kelompok, home room, serta brain storming. (d). Fungsi perbaikan, konselor membantu siswa yang memiliki masalah sosial akibat dari keterampilan sosial yang dimiliki siswa pada klasifikasi rendah dan sangat rendah.. Teknik yang digunakan untuk membatu siswa adalah konseling individu dan konseling kelompok.Konselor juga mengoptimalkannya melalui kerjasama dengan kepala sekolah, guru dan orang tua siswa; (2). Disarankan kepada pihak kepala sekolah agar memberikan dukungan kepada konselor terkait dengan perencanaan dan pelaksanaan program peningkatan keterampilan sosial siswa yang diselenggarakan oleh konselor. (3). Disarankan kepada siswa SMA, agar meningkatkan keterampilan sosialnya dengan cara aktif mengikuti program pelatihan keterampilan sosial yang selenggarakan oleh pihak sekolah ataupun luar sekolah. (4). Kepada peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih mendalam dengan menggunakan pendekatan korelasional dan menambahkan variabel yang lain.

Pegaruh kebiasaan belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian administrasi perkantoran SMK PGRI Lumajang / Lilik Rokhmania

 

Student’s successfulness in mastering the learning subject at school is tied to some influencing factors. Those factors can be both derived internally from themselves and externally. The internal factors are learning habit and learning motivation. As in the learning habit, by practicing a good learning way, they are expected to be able to reach the demanded learning achievement. A good learning practice is a competence possessed by each student to do some exercises in his learning effort which then it is tightly attached to himself in his act and docontinuously or repeatedly through a fixed teaching and learning process. By having a good learning habit, each effort in learning will deliver a satisfying result. Learning motivation affects dominantly in achieving the learning objective. Without motivation coming from the students themselves to learn seriously, they will not be able to reach the learning objective. The learning objective is making maximum achievement. Based on the existing problem formulation, the research’s aim is describing the learning habit, learning motivation, and learning motivation of SMK PGRI Lumajang’s Students in Office Administration Program. Besides, it analyzes both partially and simultaneously the effect of learning habit and learning motivation toward learning achievement of SMK PGRI (Private Vocational School of the Teacher Assoction of the Indonesia Republic) Lumajang’s students in Office Administration Program. In the data collection phase, this research employs questionnaire and documentation methods. The questionnaire is held to gain the independent variables’ data which are the data of learning habit (X1) and learning motivation (X2), while the documentation is hired to gain the dependent variable’s data which are the data of learning achievement (Y) in the form of average score result in semester I. The population is the whole students of SMK PGRI Lumajang in Office Administration Program. The gathered data are processed by using descriptive statistic technique and linear multiple regression. The descriptive statistical analysis is used for describing the learning habit, learning motivation, and learning achievement. While the linear multiple regression analysis is used for knowing the effect of learning habit (X1) and learning motivation (X2) toward learning achievement, both partially and simultaneously. From the descriptive statistic result, it shows things as follow: the percentage analysis from 30 students shows that 56.7% respondents (17 students) have good learning habit, 66.7% respondents (20 students) have good learning

Pengaruh culture shock terhadap hasil belajar mahasiswa PPkn angkatan 2007 fakultas ilmu pendidikan Universitas Negeri Malang / Ana Kholifah

 

ABSTRAK Kholivah, Ana.2009. Pengaruh Culture Shock Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa PPKN Angkatan 2007 FIP UM. Skripsi, jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suwarno Winarno, (2) Drs.H.Edi Suhartono SH., M.Pd Kata kunci: adaptasi, culture shock, hasil belajar Culture shock merupakan respon yang mendalam dan negatif dari depresi, frustasi dan disorientasi yang dialami oleh orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya yang baru. Setiap mahasiswa diduga mengalami culture shock sebagai akibat perpindahannya dari lingkungan sekolah menengah (lama) ke lingkungan universitas (baru). Kebiasaan-kebiasaan di lingkungan baru,dapat menyebabkan tekanan dan berakibat pada kompetensi akademik mahasiswa dalam hal ini mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM.. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru, mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru, mendeskripsikan bentuk culture shock yang dialami oleh mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM, pengaruh culture shock terhadap prestasi belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM dan mendeskripsikan upaya mengatasi pengaruh culture shock terhadap hasil belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah 67 mahasiswa angkatan 2007 PPKn FIP UM. Sampel sebanyak 63 mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumen. Instrumen yang digunakan yaitu skala adaptasi, skala culture shock dengan menggunakan skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisis deskriptif dan analisis korelasional. Hasil penelitian ini menunjukkakn bahwa (1) mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan baru yaitu dengan selalu menjadi diri sendiri selama berinteraksi dengan orangorang di lingkungan baru, (2) faktor yang mempengaruhi cepatnya mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru yaitu aktif berinteraksi dengan orang-orang lokal/ orang Malang. Sedangkan faktor yang mempengaruhi lambatnya mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru yaitu keinginan untuk selalu mencari orang yang berasal dari daerah yang sama dengannya, (3) bentuk culture shock yang dialami oleh mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM adalah merasa tegang saat memasuki wilayah yang berbeda dengan budaya asal, (4) pengaruh culture shock terhadap perolehan hasil belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM dari semester I sampai semester II adalah tidak ada pengaruh, hal ini dapat dilihat dari kestabilan perbandingan antara yang mengalami kenaikan dan penurunan IP yaitu antara 31: 36 orang, (5) upaya mengatasi pengaruh culture shock terhadap hasil belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM yaitu dengan aktif menjalin komunikasi dan berelasi dengan teman-teman baik dari dalam maupun luar kampus. Dari hasil penelitian diperoleh temuan bahwa perolehan hasil uji hipotesisnya menunjukkan nilai probabilitas > 0,05 yakni 0,058 dan rhitung (0,233) < rtabel (0,240) sehingga Ho diterima dan Hi ditolak. Hal ini mengandung pengertian bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh culture shock dengan hasil belajar (IP) pada mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) jurusan PPKn hendaknya memberikan program bimbingan konseling dalam membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru agar mahasiswa dengan mudah memfokuskan diri pada upaya peningkatan prestasi akademiknya sehingga diperoleh hasil belajar yang maksimal, (2) mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM hendaknya selalu berpikir positif mengenai dirinya dan lingkungannya dan terus mengasah kemampuan diri yang dimiliki (proaktif) agar menjadi mahasiswa yang mandiri dan berprestasi, (3) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang lebih mendalam yaitu dengan menggunakan metode wawancara dan observasi agar diperoleh hasil penelitian yang maksimal.

Penerapan model pembelajaran kooperatif teams games tournament (TGT) dan jigsaw pada materi pokok sistem periodik dalam upaya meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa kelas X SMA NEGERI 2 Pasuruan / Bety Eka Hartatik

 

ABSTRAK Hartatik, Bety Eka. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) dan Jigsaw pada Materi Pokok Sistem Periodik dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar dan aktivitas Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd., (II) Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si. Kata kunci: TGT, Jigsaw, Sistem Periodik. Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Pembelajaran kooperatif dianggap cocok diterapkan dalam pembelajaran pendidikan di Indonesia, terutama pada pelajaran kimia karena dalam pembelajaran kooperatif siswa sangat dituntut untuk aktif berpartisipasi dan kegiatan belajar berpusat pada siswa. Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) dan model Jigsaw cocok untuk materi yang berisi teori-teori untuk difahami dan membuat siswa aktif dalam pembelajaran. Apakah model pembelajaran kooperatif TGT dan Jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa, serta bagaimana persepsi siswa terhadap model pembelajaran tersebut adalah permasalahan dalam penelitian. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif TGT dan Jigsaw, serta untuk mengetahui persepsi siswa terhadap model pembelajaran tersebut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dan deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa SMA Negeri 2 Pasuruan semester 1 tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah penarikan sampel acak berkelompok (cluster random sampling). Sampel penelitian terdiri dari kelas X.3 sebagai kelompok eksperimen 1 dan X.5 sebagai kelompok eksperimen 2. Kelompok eksperimen 1 dilakukan pembelajaran TGT, sedangkan kelompok eksperimen 2 dilakukan strategi pembelajaran Jigsaw. Instrumen yang digunakan meliputi RPP, LKS, soal tes, angket, kuis dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian meliputi analisis deskriptif proses pembelajaran dan persepsi siswa, sedangkan analisis statistik meliputi uji normalitas,homogenitas, kesamaan dua rata-rata, serta uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Prestasi belajar siswa antara kelas yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw meningkat. Meningkatnya prestasi belajar ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diperoleh, yaitu siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki nilai tes kemampuan awal denagn rerata 54,42. Kelas Jigsaw, skor rerata 54,24. Kemudian setiap akhir pembelajaran diberi kuis. Nilai rerata kuis 1 pada kelas TGT yaitu 67,67, dan kelas Jigsaw skor rerata 61,08. Nilai rereata kuis 2 pada kelas TGT adalah 72,56, kelas Jigsaw nilai rerata 63,78. Nilai rerata tes akhir kelas TGT 73,33, dan kelas Jigsaw nilai rerata 65,32. 2) Aktivitas belajar siswa meningkat. Hal ini dapat didukung oleh meningkatnya kualitas proses pembelajaran siswa yang dapat dilihat dari keaktifan dan kegiatan diskusi kelompok siswa selama proses pembelajaran kooperatif menunjukkan peningkatan dari awal hingga akhir. 3) Persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT menunjukkan 90.56% siswa yang merespon positif terhadap aspek kebermanfaatan materi yang disampaikan, 86.64% siswa yang merespon positif terhadap aspek keaktifan siswa, dan 91.67% siswa yang merespon positif terhadap aspek ketertarikan siswa terhadap model TGT. Hasil pengolahan angket persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menunjukkan bahwa dari 37 orang siswa kelas X.5 sebanyak 89.37% siswa merespons positif terhadap aspek kebermanfaatan materi yang disampaikan, 88.67% siswa yang merespon positif terhadap aspek keaktifan siswa, dan 79.39% siswa yang merespon positif terhadap aspek ketertarikan siswa terhadap model Jigsaw.

Analisis perbandingan optimasi jumlah produksi menggunakan logika fuzzy (Studi kasus industri tegel di jalan kunta bhaswara I/11 Malang) / Erta Faradina

 

ABSTRAK Faradina, Erta. 2009. Analisis Perbandingan Optimasi Jumlah Produksi Menggunakan Logika Fuzzy. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Susy Kuspambudi Andaini, M.Kom., (II) Lucky Tri Oktoviana, S.Si., M.Kom. Kata kunci: optimasi, permintaan, persediaan, produksi, logika fuzzy, Tsukamoto, Mamdani Jumlah permintaan terhadap suatu barang dalam suatu perusahaan selalu mengalami perubahan pada periode selanjutnya. Penurunan jumlah permintaan yang cukup besar menyebabkan terjadinya penumpukan stok barang. Dalam masalah optimasi produksi, logika fuzzy diharapkan dapat dipergunakan untuk menentukan berapa banyak suatu barang sebaiknya diproduksi oleh suatu perusahaan. CV Wijaya Kusuma adalah industri yang bergerak dalam bidang industri pembuatan paving stone dan memproduksi 5 jenis paving stone setiap harinya. Pada penelitian ini digunakan logika fuzzy metode Tsukamoto dan metode Mamdani untuk menentukan jumlah produksi dari 5 jenis barang, yaitu Tiga Berlian, Diamond, Ring, Segi Empat, dam Segi Enam yang optimal. Perancangan sistem logika fuzzy metode Tsukamoto untuk menentukan jumlah barang yang optimal dilakukan tahap-tahap (a) fuzzifikasi, (b) penentuan basis aturan, (c) aplikasi fungsi implikasi, (d) Penentuan nilai -predikat, (e) inferensi Fuzzy, (f) defuzzifikasi. Sedangkan perancangan sistem logika fuzzy metode Mamdani untuk menentukan jumlah barang yang optimal dilakukan tahap-tahap (a) fuzzifikasi, (b) membentuk aturan-aturan, (c) aplikasi fungsi implikasi, (d) penegasan (defuzzifikasi). Dengan menginputkan data permintaan, persediaan, dan produksi, kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan uji statistik untuk membandingkan hasil penentuan jumlah produksi menggunakan logika fuzzy metode Tsukamoto dan metode Mamdani adalah metode Mamdani lebih optimal dibandingkan dengan metode Tsukamoto. Artinya, penentuan jumlah produksi menggunakan metode Mamdani lebih mendekati jumlah permintaan sebenarnya yang ada di perusahaan.

Pengaruh corporate social respnsibility disclosure terhadap earning response coefficient pada perusahaan manufaktur yang listing di bursa efek Indonesia / Muhmmad Fakhrul Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Muhammad Fakhrul. Pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure terhadap Earning Response Coefficient pada Perusahaan Manufaktur yang Listing pada Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sri Pujiningsih, S.E M.Si., Ak., Pembimbing: (II) Dra. Hj. Sutatmi, S.E., M.Pd., M.Si., Ak. Kata kunci: pengungkapan sosial perusahaan (CSR), earning response coefficient (ERC) Investor membutuhkan informasi-informasi perusahaan untuk melakukan pertimbangan investasi. Informasi-informasi tersebut baik berupa keuangan atau informasi non keuangan perusahaan seperti informasi sosial yang telah dilakukan perusahaan. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan mampu merespon informasi tersebut sebagai bahan pertimbangan investasi sehingga dapat memberikan return saham yang diharapkan investor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure (CSR) terhadap Earning Response Coefficient (ERC). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis regresi berganda dengan variabel moderating dengan uji interaksi. Sampel yang digunakan sebanyak 42 perusahaan selama tahun 2005-2007 yang listing di BEI. Berdasarkan hasil penelitian dengan analisi regresi berganda dengan menggunakan metode moderating dengan uji interaksi dengan melihat koefisien 3  yang merupakan koefisien moderating tidak ditemukan bahwa CSR disclosure berpengaruh negatif terhadap ERC. Dengan hasil tersebut, pengungkapan CSR tidak dapat melemahkan koefisien regresi antara earnings dan return (ERC) karena investor belum memperhatikan inforrmasi-informasi sosial yang diungkapkan perusahaan dalam laporan tahunan sebagai informasi yang dapat mempengaruhi dalam melakukan keputusan investasi. Informasi sosial yang diungkapkan perusahaan tidak mampu memberikan informasi dan belum dianggap lebih bermanfaat daripada informasi laba untuk menilai perusahaan sehingga tidak dapat dianggap mampu memberikan informasi untuk mendapatkan return saham yang diharapkan oleh investor. Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) para investor yang akan melakukan investasi, hendaknya mempertimbangkan informasi-inforamsi sosial yang diungkapkan pihak manjemen, (2) perusahaan manufaktur sebaiknya tetap secara konsisten melakukan aktivitas sosial dan lingkungan serta melakukan pengungkapan sebagai nilai tambah perusahaan, (3) untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti penelitian sejenis diharapkan menggunakan jenis perusahaan yang lain selain manufaktur dan memperbanyak jumlah sampel serta mengembangkan permasalahan.

Penerapan hasil pelatihan tenaga pengelola PKBM (Studi kasus pengelola PKBM abdi pratama di kecamatan pujon kabupaten Malang) / Soemarjono

 

ABSTRAK Soemarjono. 2010. Penerapan Hasil Pelatihan Tenaga Pengelola PKBM (Studi Kasus Pengelola PKBM Abdi Pratama di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang). Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyono, M.Pd., (II) Prof. Dr. H.S. Mundzir, M.Pd. Kata-Kata Kunci: pelatihan, pengelola, pendidikan non formal, pendidikan luar sekolah Penyelenggara pelatihan seperti Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur dan SKB Kabupaten Malang telah menyelenggarakan pelatihan untuk pengelola PKBM yang secara umu bertujuan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan konsep tentang pengelolaan PKBM. Aspek yang belum diketahui dari pelatihan yang dilaksanakan adalah bagaimana penerapan dari hasil pelatihan tersebut, karena dari penerapan itulah diketahui bagaimana perubahan terhadap kemampuan pengelola PKBM. Selain itu dengan penerapan hasil pelatihan dapat diketahui juga pelatihan mana yang efektif dan tidak, sehingga dapat dijadikan acuan pada penyelenggaraan pelatihan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) aktualisasi atau penerapan hasil belajar dari program pelatihan yang pernah diikuti para pengelola PKBM khususnya PKBM Abdi Pratama, (2) alasan sehingga implementasi hasil belajar dari pelatihan diterapkan demikian adanya, (3) pelatihan mana yang dirasa memberikan manfaat paling banyak dan mana yang tidak bermanfaat pada peningkatan kemampuan manajerial pengelola PKBM, dan (5) model pelatihan yang paling sesuai dalam mengembangkan kemampuan pengelola PKBM. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data dilaksanakan dengan tiga teknik, yakni dengan: (1) wawancara mendalam, (2) observasi peran serta, dan (3) studi dokumentasi. Sumber data utama dari penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subyek penelitian atau informan yakni dari Ketua, Sekretaris, Koordinator Program, tutor PKBM, serta Penilik Dikmas dan warga belajar. Sedangkan sebagai sumber pendukung adalah dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam tiga cara agar data menjadi penuh makna yakni reduksi data, display data, kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ditemukan: (1) tidak semua hasil pelatihan dapat diterapkan oleh pengelola PKBM utamanya yang berkaitan dengan pengadaan sarana dan prasarana serta sebagian pengadministrasian, namun yang berkaitan dengan perbaikan pengelolaan organisasi secara keseluruhan diterapkan, (2) alasan hasil pelatihan tidak dapat diterapkan secara keseluruhan disamping karena terbatasnya dana yang dimiliki, kurangnya sumber daya manusia dari segi kualitas maupun kuantitas, dan lamanya waktu untuk mengaktualisasikan, (3) dari pelatihan yang telah diikuti yang paling bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan manajerial pengelola PKBM adalah pelatihan orientasi teknis, sedangkan pelatihan yang tidak memberikan manfaat adalah pelatihan berupa workshop, dan (4) model pelatihan yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan pengelola PKBM adalah perpaduan antara role model, person development model, dan organizational development model. Berdasarkan temuan diatas, maka disarankan yaitu: (1) agar pengelola PKBM bersungguh-sungguh menerapkan atau mengaktualisasikan hasil pelatihan semaksimal mungkin, dengan jalan mengimbaskan kepada pengelola yang lain dalam satu PKBM sehingga dapat saling bantu membantu untuk melakukan pembenahan dan perbaikan organisasi, (2) instansi penyelenggara pelatihan dalam hal ini Dinas Pendidikan dan SKB agar benar-benar menyelenggarakan secara profesional, artinya dalam merancang suatu pelatihan dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kemampuan pengelola PKBM dan bukan hanya untuk memenuhi “kewajiban proyek” semata sehingga dilakukan dengan seadanya, namun pelatihan benar-benar dirancang dengan tujuan yang tepat, alokasi waktu yang efektif, narasumber yang berkualitas, materi yang padat berimbang dan berkualitas, (3) agar instansi penyelenggara dalam menggunakan model pelatihan benar-benar memilih model yang tepat disesuaikan dengan tujuan apa yang hendak dicapai serta karakteristik peserta pelatihan.

Kontribusi retribusi pasar dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah kabupaten Ponorogo / Chilvy Widiana

 

ABSTRAKS Widiana, Chilvy.2009. Kontribusi Retribusi Pasar dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, S1 Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec., (II) Agus Sumanto, S.E., M.S.A Kata Kunci: Kontribusi Retribusi Pasar, Pendapatan Asli Daerah Tujuan Penelitihan adalah untuk menggambarkan besarnya pendapatan retribusi pasar di Daerah Kabupaten Ponorogo. Mengetahui besarnya kontribusi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah, dan langkah-langkah pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo dalam usaha peningkatan Pendapatan asli Daerah dari retribusi pasar. Penelitian ini menganalisis dan mendeskripsikan data hasil kontribusi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah dari tahun 1999 hingga tahun 2008. Menggunakan (a) teknik analisis persentase untuk mengetahui perkembangan penerimaan retribusi pasar dan perkembangan pendapatan asli daerah dan seberapa besar kenaikan dan penurunan tiap-tiap tahun dan (b) teknik analisis kontribusi untuk mengetahui besarnya kontribusi penerimaan retribusi pasar tiap-tiap tahunnya terhadap pendapatan asli daerah. Dari hasil penelitihan dan pengamatan selama sepuluh tahun diketahui: 1) gambaran besarnya pendapatan retribusi pasar mulai tahun 1999 – 2008 rata-rata pertahunnya sebesar 15.75%, 2) kontribusi retribusi pasar terhadap PAD dari tahun 1999 – 2008 rata-ratanya sebesar 6.66% pertahun, persentase kontribusi pendapatan Retribusi Pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah kecil bahkan menurun di tiap tahunnya, 3) upaya pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah dari Retribusi Pasar yaitu dengan usaha ekstensifikasi dan intensifikasi pasar, dengan adanya penyuluhan akan wajib retribusi, ketepatan waktu pembayaran dan pengawasan yang bagus kegiatan operasional retribusi pasar serta adanya petugas yang bertindak tegas dalam pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam retribusi, sehingga operasional retribusi pasar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Namun Retribusi Pasar Kabupaten Ponorogo disimpulkan tidak cukup besar kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Ponorogo. Dengan kontribusi sebesar 6,66% jika dibanding dengan Pendapatan Asli daerah, maka retribusi pasar mempunyai persentase yang kecil terhadap kenaikan Pendapatan Asli Daerah dan kontribusinya selama sepuluh tahun semakin menurun. Beberapa saran yang masih perlu dilakukan terhadap perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana dengan menambah jumlah aparat pemungut, dan disertai program penyuluhan kepada wajib retribusi agar mereka lebih tertib dan disiplin di dalam memenuhi kewajibannya.

Penerapan pendekatan PMRI dalam meningkatkan prestasi belajar pengukuran luas bangun datar pada siswa kelas VI SDN PUSPO III kec. Puspo kab. Pasuruan / Anggun Sumargo

 

Anggun Sumargo, 2009. '' Penerapan Pendekatan PMRI Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pengukuran Luas Bangun Datar Pada Siswa Kelas VI SDN Puspo III Kec. Puspo” Kata Kunci : Mata Pelajaran Matematika, Pendekatan PMRI. Mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang banyak ditakuti menurut sebagian besar siswa di beberapa sekolah. Hal ini menimbulkan dampak yang kurang baik bagi prestasi siswa. Di SDN Puspo juga mengalami hal yang sama. Prestasi belajar mata pelajaran Matematika siswa kelas V SDN Puspo III sangat rendah yang dapat dilihat dari hasil tes tertulis formatif. Hal ini disebabkan penggunaan metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru sehingga siswa cenderung pasif dan kurang timbulnya kreatifitas. Oleh karena mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran wajib mulai dari SD-SMU, maka prestasi belajar siswa harus diperhatikan dengan seksama. Sejak awal siswa sekolah dasar harus ditanamkan rasa suka terhadap mata pelajaran ini. Apabila rasa suka terhadap mata pelajaran matematika sudah terbentuk, tidak mustahil apabila kempuan berpikir kritis, kreatif dan siap menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari akan tercapai. Selama ini, cara pengajaran mata pelajaran matematika masih menggunakan cara-cara lama yang hasilnya kurang memuaskan. Mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu penulis menerapkan pendekatan PMRI dengan harapan merangsang siswa untuk berpikir bebas dan mengembangkan kreatifitasnya. Dengan pendekatan PMRI diharapkan akan berdampak pada meningkatnya prestasi siswa terutama pada mata pelajaran matematika.

Membangun jariangan internet dengan menggunakan mikrotik OS sebagai gateway di laboratorium komputer, SMP NEGERI 2 Tugu - Trenggalek / Dewi Endahwati

 

Perkembangan pengetahuan di bidang IT dewasa ini semakin pesat Perkembangan teknologi informasi yang mengarah pada pengaksesan sumber-sumber informasi dan data secara terintegrasi, efektif dan efisien, dengan memanfaatkan media komunikasi dan suatu protokol komunikasi sehingga antar komputer dapat saling berbagi dan bertukar informasi. SMP Negeri 2 Tugu Trenggalek memerlukan sebuah sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet untuk menunjang kinerja di sekolah. Hal ini terutama dibutuhkan oleh Bagian Tata Usaha, Kegiatan Belajar Mengajar dalam rangka pengaksesan data secara terintegrasi, cepat dan up to date. Mikrotik routerOS adalah Router Software yang dapat menggunakan peralatan embeded (minimum sistem) maupun menggunakan PC (personal komputer) serta kompatible dengan IBM PC X86. Mikrotik routeOS dibangun dengan menggunakan kernel Linux, berbagai macam software pengelolahan jaringan dan dikemas menjadi satu dengan proprietari software dan diproduksi oleh Mikrotik di Latvia. Dalam membangun jaringan komputer, pembahasan dilihat dari dua aspek: perangkat keras dan perangkat lunak. Dalam perangkat keras pengenalan meliputi jenis transmisi, dan bentuk-bentuk jaringan komputer atau topologi. Sedangkan dalam pembahasan perangkat lunaknya akan meliputi susunan protokol dan perjalanan data dari satu komputer ke komputer lain dalam suatu jaringan. Topologi yang digunakan adalah Topologi Star dimana semua kabel terpusat pada satu hub yang dihubungkan dengan mengunakan jenis kabel lurus (straight cable) dengan kabel jenis UTP merek Belden dengan kedua ujungnya menggunakan konektor RJ 45. Yang salah satunya akan dipasang di Card LAN pada PC dan ujung satunya di HUB/ Switch. HUB yang digunakan adalah merk D-Link 24 port. Untuk mewujudkan jaringan komputer yang terhubung ke internet dengan menggunakan mikrotik OS sebagai PC Router maka dilakukan konfigurasi dan instalasi Local Area Network, sharing printer, konfigurasi antarmuka dan IP address, Network Address Translation (NAT), Gateway dan DNS. Jaringan komputer menjadi penting bagi SMP Negeri 2 Tugu karena memiliki banyak keuntungan. Dengan terkoneksinya jaringan komputer di laboratorium SMP Negeri 2 Tugu dapat melakukan sharing printer yang pada akhirnya mendukung efisiensi kerja. Mikrotik PC Router yang diinstal dan dikonfigurasi terbukti mampu meningkatkan kecepatan akses pada jaringan internet.

Pengembangan paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa negeri 8 Malang / Siti Maimunah

 

ABSTRAK Maimunah, Siti. 2009. Pengembangan Paket Bimbingan Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal bagi Siswa SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Henny Indreswari, M.Pd., (2) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan paket bimbingan, manajemen konflik interpersonal, experiential learning. Konflik adalah sesuatu yang alamiah, ia dialami orang-orang dengan latar belakang, budaya, kelas, kebangsaan, usia, jender apapun di tengah kehidupan sehari-hari. Cara-cara menyikapi konflik secara tidak tepat, seringkali berkaitan dengan cara pandang seseorang dalam melihat konflik. Menurut Weitzman & Patricia (2000) isu terpenting menyikapi konflik di masyarakat adalah bukan mencegah timbulnya konflik melainkan bagaimana mengelola konflik. Terdapat dua aspek penting yang perlu dikembangkan dalam upaya pencegahan dan penanganan konflik. Pertama, aspek kapasitas menangani konflik yang meliputi keterampilan dan pengetahuan adekuat untuk penyelesaian sekaligus pencegahan konflik. Kedua, kesadaran kritis masyarakat maupun pemerintah dalam menyelesaikan maupun pencegahan konflik. Berdasarkan realita bebagai konflik dan kedudukan pendidikan yang strategis, maka keterampilan manajemen konflik perlu dikembangkanpada siswa melalui berbagai jalur dan program. Cara-cara mencegah dan menyelesaikan konflik sehingga tidak berakhir destruktif dapat dilakukan dengan membekali siswa dengan keterampilan mengelola konflik. Untuk membantu siswa yang mengalami masalah penyesuaian sosial, perlu disusun paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal. Untuk mengaplikasikan paket bimbigan tersebut konselor membutuhkan panduan. Panduan yang berisi tentang aspek-aspek keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa. Dengan demikian maka perlu dikembangkan paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal agar dapat membantu konselor dalam memberikan layanan bimbingan di sekolah. Rumusan masalah penelitian ini adalah belum adanya paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal di SMA Negeri 8 Malang yang tepat, layak, bermanfaat dan menarik bagi siwa SMA. Hasil akhir yang diharapkan dari penelitian ini berupa seperangkat paket Bimbingan Keterampilan Manajemen Konflik Interpersoanal siswa SMA beserta panduan pelaksanaan bimbingannya yang dapat diterima secara teoritis maupun praktis. Produk pengembangan yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, yaitu (1) panduan paket keterampilan manajemen konflik interpersonal untuk konselor (2) panduan dan paket materi bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal untuk siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yaitu menyusun dan menguji akseptabilitas paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa SMA Negeri 8 Malang. Produk penelitian pengembangan ini adalah: pedoman bagi konselor, panduan dan paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa. Pengembangan paket ini terdiri atas tiga penggalan topik materi yaitu: (1) konsep dasar konflik; (2) membangun kolaboratif negosiasi; (3) pengambilan keputusan dalam konflik. Ketiga topik tersebut didesain aplikasinya dalam akivitas pembelajaran model experiential learning (EL) oleh David Kolbs. Aplikasi model belajar EL terwujud dalam empat rangkaian aktivitas utama meliputi: aktivitas pemberian pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan pengalaman nyata. Acuan pola penelitian pengembangan mengadaptasi model Borg and Gall (1983). Prosedur pengembangan mencakup tiga kelompok tahapan yaitu tahap pra survei, tahap penyusunan prototipe produk, tahap validasi. Ketiga tahap pengembangan itu mengikuti rangkaian langkah-langkah berikut ini: (1) melakukan need assesment; (2) menetapkan jenis keterampilan yang akan dilatihkan; (3) merumuskan tujuan; (4) menyusun prototipe paket; (5) penilaian produk/uji ahli; (6) revisi produk; (7) produk akhir. Analisis hasil penilaian uji ahli dan pengguna produk (konselor) menunjukkan paket memenuhi kriteria akseptabilitas, sehingga dapat digunakan sebagai paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa SMA Negeri 8 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar penggunaan Paket Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal terlaksana sesuai dengan rancangan, konselor sebagai fasilitator perlu memiliki kompetensi teknik manajemen konflik, memiliki pemahaman konflik secara menyeluruh, dan memiliki keterampilan interpersonal yang baik. Untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan pada diri siswa, maka konselor perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk terus berlatih menggunakan teknik-teknik manajemen konflik interpersonal yang telah siswa pelajari di sekolah dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah agar keterampilan manajemen konflik interpersonal siswa dapat terus meningkat sehingga menjadi kebiasaan positif siswa ketika menghadapi suatu konflik dalam proses interaksinya dengan lingkungan. Perlu diadakan uji lapangan (siswa), sehingga Paket Bimbingan Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal ini benar-benar dirasakan manfaat dan kesesuaiannya pada siswa, khususnya siswa SMA. Perlu dibuat buku paket keterampilan manajemen konflik interpersonal yang dapat digunakan secara mandiri oleh siswa. Apabila Paket Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal ini akan digunakan oleh selain siswa SMA di kota Malang, maka perlu diadakan penyesuaian.

Perbedaan tingkat kepercayaan diri siswa akselarasi dan non-akselarasi di SMA NEGERI 1 Malang / Gonang Nurliyawan

 

ABSTRAK Nurliyawan, Gonang. Perbedaan Tingkat Kepercayaan Diri Siswa Akselerasi dan Non-akselerasi di SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling Dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Triyono, M.Pd (II) Drs. Djoko Budi Santoso Kata Kunci : Kecemasan terhadap tes, motivasi berprestasi Secara konseptual program akselerasi baik, namun dalam implementasinya masih mengandung pro dan kontra. Beberapa kelemahan mengiringi penyelenggaraan akselerasi tersebut, salah satunya stigmatisasi pada diri siswa yang ada di kelas reguler. Mamang dalam hal akademik siswa akselerasi bisa dikatakan lebih diunggulkan tetapi dalam hal kepercayaan diri belum tentu anak akselerasi lebih tinggi karena masalah kepercayaan diri juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti fenomena ini. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1) mendeskripsikan kepercayaan diri siswa non-akselerasi; 2) mendeskripsikan kepercayaan diri siswa akselerasi dan; 3) mengetahui ada tidaknya perbedaan kepercayaan diri siswa akselerasi dan siswa non-akselerasi SMAN 1 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas akselerasi SMAN 1 Malang sejumlah 41 siswa dan siswa non-akselearasi sejumlah 825 siswa. Semua siswa akselerasi digunakan sebagai subyek penelitian sedangkan siswa non-akseleasi hanya 45 orang siswa yang digunakan sebagai subyek penelitian. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling populasi untuk siswa akseleasi, sedangkan untuk siswa non-akselerasi digunakan teknik sampling proporsional. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan skala, yaitu skala kepercayaan diri. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kepercayaan diri yang signifikan antara siswa akselerasi dan siswa non-akselerasi SMA Negeri 1 Malang. Dari hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa : 1) Sebagian besar siswa non-akselerasi SMA Negeri 1 Malang memiliki kepercayaan diri dengan klasifikasi sedang. 2) Seluruh siswa akselerasi SMA Negeri 1 Malang memiliki kepercayaan diri dengan klasifikasi tinggi. Sedangkan dari uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kepercayaan diri pada siswa akselerasi dan non-akselerasi di SMA Negeri 1 Malang dengan nilai thitung= -19,383 (sig = 0,000). Dari hasil penelitian ini, maka disarankan kepada para siswa akselerasi dan non-akselerasi agar lebih obyektif dalam memandang dirinya. Pandangan obektif terhadap kemampuan diri akan menyebabkan kepercayaan diri tepat pada porsinya. Hal ini akan mengakibatkan siswa akselerasi maupun non-akselerasi lebih siap dalam menghadapi kegagalan sehingga kegagalan tidak akan menyebabkan keputus-asaan yang fatal. Disarankan kepada para konsleor agar hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan dalam melakukan bimbingan konseling kepada siswa akselerasi dan non-akselerasi, khususnya dalam hal bimbingan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi berbagai permasalahan di sekolah. Bagi para peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji permasalahan ini disarankan untuk menggunakan metode penelitian yang lain, misalnya dengan metode kuantitatif eksperimental ataupun metode kualitatif. Selain itu, dirasa perlu untuk melengkapinya dengan variabel-variabel lain, seperti latar belakang ekonomi keluarga, pola asuh orangtua dan lain sebagainya sehingga menjadi lebih sempurna.

Implementasi kebijakan pemerintah kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai kota pendidikan / Andy Wahyu Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Andy, Wahyu. 2009. Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Malang Dalam Mewujudkan Malang Sebagai Kota Pendidikan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.H., (II) Drs. Kt. Diara Astawa, S.H., M.Si. Kata kunci: Implementasi, Kebijakan, Pendidikan. Pemerintah Kota Malang telah melaksanakan kebijakan desentralisasi pemerintahan untuk mewujudkan otonomi daerah. Dengan otonomi daerah ini diharapkan masyarakat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih bertanggungjawab dalam urusan pemerintahan. Salah satu bidang pemerintahan yang didesentralisasikan adalah bidang pendidikan. Pelaksanaan otonomi daerah bidang pendidikan di Kota Malang masih menghadapi sejumlah masalah baik bersifat konseptual maupun faktual. Jika permasalahan tersebut tidak segera ditangani maka dikhawatirkan bahwa desentralisasi pengelolaan pendidikan akan membawa dampak negatif, khususnya dalam rangka mewujudkan Malang sebagai Kota Pendidikan. Itulah sebabnya pemerintah Kota Malang dan DPRD Kota Malang membentuk Peraturan Daerah No. 13 tahun 2001 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan di Kota Malang yang memberikan dukungan yang tegas dan jelas dalam penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pendidikan dengan tetap berpegang pada satu sistem pendidikan nasional dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota pendidikan. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kebijakan yang telah dicanangkan oleh pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota pendidikan; (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota pendidikan; (3) Dampak implementasi kebijakan yang telah dicanangkan oleh pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota Pendidikan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Untuk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model interaktif (Miles dan Huberman, 1992:21-25). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mewujudkan Malang sebagai Kota Pendidikan, pemerintah Kota Malang mencanangkan beberapa kebijakan yang tertuang di dalam rencana strategi (Renstra) Kota Malang tahun 2009-2013. Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut, pemerintah Kota Malang membagi menjadi 3 (tiga) tahap pengimplementasian, yaitu: (1) jangka pendek; (2) jangka menengah; dan (3) jangka panjang. Sementara ini, kebijakankebijakan yang diprioritas pengimplementasiannya dan sudah terimplementasikan atau terlaksana sesuai dengan prosedur yang ada, yaitu yang jangka pendek. Hal ini, dikarenakan terkait dengan anggaran yang ada dan adanya tuntutan ii masyarakat untuk memperoleh fasilitas pendidikan yang baik dan berkualitas. Kebijakan yang dimaksud, yaitu: (1) Kebijakan politik pemerintah daerah yang konsisten berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Pembinaan kelembagaan dan manajemen sekolah dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada pendidikan dasar dan menengah; (b) Peningkatan manajemen pelayanan pendidikan; (c) Monitoring dan evaluasi program pendidikan; (d) Penerapan sistem dan informasi manajemen pendidikan; (e) Pembinaan komite sekolah. (2) Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Rehap sedang atau berat bangunan sekolah; (b) Penambahan ruang kelas sekolah; (c) Pengadaan buku perpustakaan; (d) Pengadaan komputer; (e) Pengadaan alat praktek dan peraga. (3) Terpenuhinya kuantitas dan kualitas tenaga pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Pelatihan Teknologi Informatika; (b) Penyetaraan guru; (c) Penyediaan dana kelebihan jam mengajar bagi PNS; (d) Tambahan dana kesejahteraan Guru Tidak Tetap (GTT). (4) Membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat untuk masuk di semua jenjang pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Pemberian bantuan operasional pendidikan non formal; (b) Pembinaan lembaga kursus; (c) Pengadaan pakaian seragam; (d) Bantuan atau subsidi biaya ujian sekolah; (e) Peningkatan mutu pendidikan bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sementara itu, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan tersebut, terdiri dari: (1) Faktor pendukung, meliputi: (a) Politik; (b) Organisasi dan manajemen yang baik; (c) Sarana dan prasarana; (d) Partisipasi masyarakat; (e) Anggaran pendidikan; serta (f) Sosial budaya. (2) Faktor penghambat, yaitu: faktor teknis dan non teknis. Sedangkan dampak dari implementasi kebijakan tersebut, yaitu: (1) Meningkatnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan; (2) Meningkatnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan; (3) Meningkatnya mutu tenaga pendidik dan tenaga kependidikan; (4) Terwujudnya pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat dengan baik dan memadai. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan sebagai berikut: (1) Pemerintah Kota Malang dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Malang harus berupaya terus untuk meningkatkan beasiswa pendidikan bagi anak kurang mampu, terutama bagi anak-anak jalanan yang ingin melanjutkan sekolah; (2) Perlunya memperbesar alokasi dana APBD untuk dunia pendidikan, khususnya bagi warga Kota Malang yang kurang mampu secara ekonomi.

Meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalrejo II kec. Sukerejo / Siti Zulaikhah

 

ABSTRAK Zulaikhah, S. 2009 Meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalirejo II Kecamatan Sukorejo. Kata Kunci : Kemampuan memahami isi bacaan, dan strategi belajar PQ4R Kemampuan memahami isi bacaan pada siswa kelas VI SDN Kalirejo sangat kurang, berdasarkan pengalaman sehari-hari peneliti yang pernah mengajar di kelas VI SDN Kalirejo II. Hal tersebut juga tampak pada mata pelajaran lainnya, baik IPS, PKn, IPA bahkan matematika yang menggunakan kalimat (soal cerita). Permasalahan tersebut dicoba diatasi dengan menggunakan strategi belajar PQ4R yang diharapkan dapat meninggalkan kemampuan memahami isi bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Meningkatkan kemampuan isi bacaan dengan menggunakan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalirejo II Kecamatan Sukorejo, (2) Mningkatkan hasil belajar dengan menggunakan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalirejo Kec. Sukorejo. Hasil Penelitian dikemukakan sebagai berikut : nilai rata-rata kemampuan memahami isi bacaan pada siklus I sebesar 3,92 dan nilai rata-rata kemampuan memahami isi bacaan pada siklus II sebesar 6,25 yang berarti mengalami peningkatan poin sebesar 2,33 poin. Demikian juga dengan hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan poin sebesar 1,3, pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 5,64 dan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 6,94. Dapat disimpulkan jika siswa memahami isi bacaan maka hasil belajar siswa juga akan meningkat.

Perbedaan hasil belajar matematika pokok bahasan fungsi yang pembelajarannya dengan pendekatan problem posing dan pembelajaran ekspositori pada siswa kelas VIII SMP Roudlotul Aqo'idi Bangil / Erta Faradina

 

ABSTRAK Faradina, Erta. 2009. Perbedaan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Fungsi Yang Pembelajarannya dengan Pendekatan Problem Posing dan Pembelajaran Ekspositori Pada Siswa Kelas VIII SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Dwiyana, M.Pd, (II) Dra. Ety Tejo Dwi Cahyowati, M.Pd. Kata kunci: problem posing, hasil belajar. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti di SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil, pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan metode tanya jawab dan pemberian tugas, ternyata hal tersebut belum bisa memperoleh hasil yang optimal dan masih ada siswa yang mengalami kesulitan. Kesulitan siswa dalam belajar matematika akan mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran matematika sangatlah penting untuk memilih metode yang tepat, salah satu metode tersebut adalah menggunakan pembelajaran dengan pendekatan problem posing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem posing dan siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori Dengan adanya pembelajaran problem posing, siswa dapat berpikir lebih kritis, dapat mengembangkan keterampilan dan kreatifitas, serta lebih berani dalam mengemukakan pendapat. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif jenis penelitian eksperimen semu. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pokok bahasan fungsi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil. Data hasil belajar diperoleh dari tes hasil belajar (evaluasi). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih tinggi dibanding siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori. Peneliti menyarankan sebaiknya pembelajaran dengan pendekatan problem posing dijadikan sebagai alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran khususnya untuk SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil. Bagi peneliti lain yang ingin menerapkan bentuk pembelajaran ini, dapat melakukan penelitian serupa terhadap materi yang lain atau penelitian tindakan kelas.

Hubungan antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat instalasi rawat inap di RSD Mardi Waluyo Blitar / David Sugeng Widodo

 

ABSTRAK Widodo, David Sugeng. 2009. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Kejenuhan Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si. (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si. Kata kunci: dukungan sosial, kejenuhan kerja, perawat Kualitas karyawan merupakan satu hal penting karena kemajuan di bidang industri ditentukan oleh kualitas karyawannya. Satu persoalan yang muncul berkaitan dengan individu dalam menghadapi tuntutan peningkatan profesionalisme adalah stres. Permasalahan akan timbul apabila stres terjadi dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi akan mengakibatkan individu mengalami kejenuhan kerja atau biasa disebut dengan burnout. Kejenuhan kerja banyak dijumpai pada jenis pekerjaan layanan sosial karena keterlibatan emosional yang cukup besar, situasi yang dapat meningkatkan tensi emosi, dan kewaspadaan yang tinggi sebagai bentuk tanggungjawabnya. Munculnya kejenuhan kerja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat kejenuhan kerja adalah dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan dukungan sosial pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. 2) mendeskripsikan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. 3) mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. Hipotesis penelitian ini adalah “ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar.” Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan sosial, sedangkan variabel terikatnya adalah kejenuhan kerja. Penelitian dilakukan dengan rancangan deskripsi korelasional dengan subyek penelitian sebanyak 60 orang perawat Instalasi Rawat Inap Dr. Mardi Waluyo Blitar. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala dukungan sosial dan skala kejenuhan kerja. Skala dukungan sosial memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,262-0,623 dengan reliabilitas 0,859. Skala kejenuhan kerja memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,273-0,738 dengan reliabilitas 0,933. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik korelasi product moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan: 1) 23,33% perawat mendapatkan dukungan sosial tinggi, 61,67% perawat mendapatkan dukungan sosial sedang, dan 15% perawat mendapatkan dukungan sosial rendah. 2) 18,33% perawat mengalami kejenuhan kerja tinggi, 61,67% perawat mengalami kejenuhan kerja sedang, dan 20% perawat mengalami kejenuhan kerja rendah. 3) ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja (r = -0,452; nilai p = 0,000; taraf signifikansi < 0,05). Dari hasil penelitian disarankan agar peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti topik yang sama hendaknya mempertimbangkan faktor-faktor lain yang belum sempat terungkap dalam penelitian ini, khususnya faktor internal.

Perbedaan tingkat resiliensi remaja yang tidak aktif mengikuti organisasi di SMP NEGERI 20 Malang / Siti Saringatun

 

ABSTRAK Saringatun, Siti. 2009. Perbedaan Tingkat Resiliensi Remaja yang Aktif Mengikuti Organisasi dan Remaja yang Tidak Aktif Mengikuti Organisasi di SMP Negeri 20 Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Ella Faridati Zen.M.Pd (II) Drs. Harmiyanto. Kata Kunci : resiliensi, berorganisasi, bimbingan dan konseling Pada dasarnya setiap individu memiliki kapasitas atau kemampuan yang berbeda. Kapasitas atau kemampuan tersebut bisa juga disebut dengan resiliensi. Resiliensi setiap individu juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkat resiliensi adalah tingkat kemampuan atau kapasitas yang dimiliki oleh seseorang, atau individu yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan, dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan untuk diubah menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 20 Malang tahun ajaran 2008/2009. Sampel diambil dengan teknik total sampling. Jumlah responden sebanyak 416 siswa. Instrumen yang digunakan berupa angket, dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali (81,82 %) siswa yang aktif mengikuti organisasi memiliki tingkat resiliensi yang tinggi dan sedikit sekali (18,18 %) yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang. Adapun siswa yang tidak aktif mengikuti organisasi terdapat banyak sekali (83,54 %) siswa memiliki tingkat resiliensi yang sedang dan sedikit (14,02%) yang memiliki tingkat resiliensi yang tinggi dan sedikit sekali (2,44 %) siswa yang tidak mengikuti organisasi memiliki tingkat resiliensi yang rendah. Dari hasil pengujian hipotesis (uji-t) didapat nilai p (0,000)<0,05 maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat resiliensi remaja yang aktif mengikuti organisasi dan remaja yang tidak aktif mengikuti organisasi di SMP Negeri 20 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi lembaga pendidikan/sekolah;diharapkan sekolah dapat lebih memotivasi para siswanya untuk ikut organisasi kesiswaan sekaligus menyediakan wadah yang sesuai dengan kegiatan dari organisasi kesiswaan tersebut berikut sarana penunjangnya. (2) Bagi konselor sekolah yang bertugas di SMPN 20 Malang ini diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan informasi tentang perbedaan tingkat resiliensi remaja yang aktif mengikuti kegiatan organisasi dan yang tidak aktif mengikuti kegiatan organisasi. Dari informasi tentang perbedaan tingkat resiliensi ini, diharapkan konselor dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan dalam memahami karakteristik siswa. (3) Bagi Peneliti selanjutnya sebagai acuan bahan pustaka untuk mengadakan pengembangan keilmuan dan penelitian lebih lanjut khususnya tentang hal lain yang mempengaruhi tingkat resiliensi misalnya jenis kelamin, usia, pengembangan paket peningkatan resiliensi atau juga pengembangan teknik model bantuan masalah resiliensi.

Meningkatkan prestasi belajar perkalian melalui pendekatan PMRI siswa kelas II SDN Martopuro 1 kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruaan / Endah Puspandari

 

ABSTRAK Puspandari Endah. 2010. Meningkatkan prestasi belajar siswa konsep perkalian Kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan melalui Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Program S1 PGSD PJJ. Pembimbing Drs. Goenawan Roebyanto, M. pd Kata Kunci : Pembelajaran Matematika Realistik, Pemahaman Konsep Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik. Dalam penelitian ini dapat di rumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah penerapan Pembelajaran Matematika Realistik dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan ? (2) Apakah dengan menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan ? Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan sebanyak 20 siswa. Penelitian ini di awali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam Memahami konsep perkalian yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan. Hasil yang di peroleh melalui pemberian tes awal kepada siswa telah menunjukkan bahwa 30 % siswa termasuk klasifikasi baik 60% siswa termasuk klasifikasi cukup baik, sedangkan yang termasuk klasifikasi kurang baik ada 15 % siswa. Rendahnya nilai tersebut kemungkinan diakibatkan kurangnya penguasaan konsep matematika yang diantaranya ada pemahaman konsep operasi hitung bilangan. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1) hasil observasi aktivitas guru siklus I dengan persentase 87,6 % yang mempunyai kategori sangat baik, dan siklus II dengan persentase 93,8 yang mempunyai kategori sangat baik sehingga terjadi peningkatan aktivitas guru sebesar 3,8 % (2) hasil observasi aktivitas siswa siklus I dengan persentase 77,3 % yang mempunyai kategori baik, dan siklus II dengan persentase 88 % yang mempunyai kategori sangat baik sehingga terjadi peningkatan aktivitas siswa sebesar 7,7 % (3) kemampuan pemahaman konsep perkalian siswa meningkat sebanyak 20 siswa mempunyari kriteria baik sekali, karena itu dapat disimpulkan bahwa dengan Pembelajaran Matematika Realistik kemampuan pemahaman konsep perkalian siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V MI Miftahul Huda IV Tanggul Kecamatan Beji kabupaten Pasuruan / Umi Sholicha

 

ABSTRAK Umi Sholicha. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD Untuk Meningkatkan hasil belajar IPS Siswa Kelas V MI Miftahul Huda IV Tanggul Kec. Beji Kab. Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Moh. Shochib, M. Pd. (II). Dra. Purwendarti, M.Pd. Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, Model STAD, Hasil Belajar IPS Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu ilmu yang mengkaji seperangkat peristiwa, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Namun pada kenyataannya pembelajaran IPS di MI Miftahul Huda IV masih menerapkan pembelajaran pada teoritis saja bukan mempelajari, menelaah, mengakaji gejala dan memecahkan masalah sosial. Berdasarkan pengamatan yang ditemukan diperoleh permasalahan sebagai berikut: (1) kondisi pembelajaran IPS tampak kurang kondusif, 2) hasil belajar diperoleh siswa juga rendah. Dalam pembelajaran guru bertindak lebih aktif, sedangkan siswa pasif dan hanya mendengar, mencatat, dan menghafal materi pelajaran yang disampaikan guru. Kondisi pembelajaran di kelas terasa membosankan, siswa diam, bercanda dan berbicara sendiri atau dengan siswa lain sehingga kelas menjadi ramai dan tidak mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran. Karena pembelajaran yang dilakukan di kelas kurang menarik minat siswa untuk belajar. Hasil belajar siswa rendah, siswa yang memiliki nilai tertinggi antara 80-100 sebanyak 2 orang, siswa yang memiliki nilai sedang antara 60-70 sebanyak 3 orang, sedangkan siswa yang memiliki nilai yang terendah antara 20-50 sebanyak 11 orang. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran model STAD yang diterapkan dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi pembelajaran IPS dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas V MI Miftahul Huda IV Tanggul dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang dilakukan selama dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksana tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas V dengan jumlah 16 orang yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan, semester I tahun 2009-2010. Instrumen yang digunakan APKG I, APKG II, pedoman observasi kondisi pembelajaran dan soal tes. Hasil penelitian yang diperoleh dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih kondusif dan mengarah pada tujuan pembelajaran. Kondisi pembelajaran mencapai 65% pada siklus I dan 79% pada siklus II. Dan hasil belajar siswa pada Pra Tindakan sebesar 39,6, pada Siklus I sebesar 62,5, dan Siklus II sebesar 71,25. Rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan terjadi peningkatan. Adapun peningkatan pada pretes ke siklus I sebesar 22,9 dan sklus I ke siklus II sebesar 8,75. Dari hasil pembahasan penelitian maka disimpulkan bahwa 1) kondisi pembelajaran terasa lebih kondusif dengan pembelajaran kooperatif model STAD. Semua siswa berpartisipasi aktif melakukan kegiatan pembelajaran. Siswa yang kurang berminat dalam belajar menjadi lebih bergairah. 2) pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V MI Miftahul Huda IV dengan rata-rata sebesar 62.5 pada siklus I menjadi 71,25 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini menyarankan bahwa: 1) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS sebaiknya guru dalam pembelajaran IPS melakukan inovasi-inovasi dalam pengembangan model pembelajaran yang tepat. Sehingga proses pembelajaran dapat tercapai secara maksimal sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2) hasil belajar yang dicapai siswa, guru harus merespon dengan memberikan penghargaan terhadap apa yang telah dicapai sehingga siswa akan lebih semangat lagi untuk meningkatkan prestasi belajarnya. 3) siswa diberikan kesempatan belajar mengungkapkan pendapat, bertanya, dan menjawab pertanyaan agar terbiasa melakukan kegiatan diskusi. 4) kepada peneliti lain berkenan menindak lanjuti penelitian tindakan kelas dengan menggunakan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD pada kompetensi dan mata pelajaran yang lain.

Hubungan antara insentif dan motivasi kerja denfan produktifitas kerja pada pegawai dinas pendidikan kota Probolinggo / Endra Adhi Sasmito

 

ABSTRAK Sasmito, Endra Adhi. 2009. Hubungan antara Insentif dan Motivasi Kerja dengan Produktivitas Kerja pada Pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd, (II) Dr. H. Ali Imron, M.Pd, M Si Kata kunci: insentif, motivasi kerja, produktivitas kerja Dewasa ini pelaksanaan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang–Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 banyak mendapat sorotan masyarakat. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang ke depannya ditujukan untuk meningkatkan potensi semua komponen pendidikan yang di dalamnya termasuk juga anggota pegawai kantor Pendidikan Nasional. Melalui insentif pegawai harusnya menyesuaikan dengan pekerjaan apa yang telah dikerjakannya. Untuk itu tugas beban kerja yang sedemikian itu selayak-nyalah para pegawai tersebut mendapatkan porsi perhatian untuk dicermati produktivitas kerjanya dengan kesejahteraan atau gaji yang diterima. Keadilan dalam masalah gaji perlu sekali dijaga untuk menghindari munculnya perasaan ketidakpuasan pegawai terhadap gaji yang mereka terima. Pemberian bonus atau insentif yang didasarkan pada kinerja pegawai akan menjadi salah satu cara untuk menciptakan keadilan pada suatu instansi pemerintahan. Tugas manajemen sumber daya manusia untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya. Setiap lembaga pendidikan dituntut menangani serius pengelolaan sumber daya manusia dengan berusaha meningkatkan performa kinerja pegawai. maka dari itu peneliti mengambil judul “Hubungan antara Insentif dan Motivasi Kerja dengan Produktivitas Kerja pada Pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo”. Tujuan penelitian ini adalah selain untuk mendeskripsikan tingkat insentif, motivasi kerja dan produktivitas kerja, juga mengetahui adanya hubungan secara langsung yang signifikan antara insentif dengan motivasi kerja, hubungan secara langsung yang signifikan antara insentif dengan produktivitas kerja, hubungan secara langsung yang signifikan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja, dan untuk mengetahui hubungan secara tidak langsung yang signifikan antara insentif dengan produktivitas kerja melalui motivasi kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) berdasarkan hasil analisis deskriptif, responden dengan skor rata-rata menyatakan sangat puas dengan insentif yang diterima. Hal ini dapat menandakan pemberian insentif yang diterima pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo sudah cukup sesuai (2) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui tingkat motivasi kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dalam keadaan baik, karena responden dengan skor rata-rata menyatakan baik dengan keadaan motivasi kerjanya. (3) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui tingkat produktivitas kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dalam keadaan baik, karena responden dengan skor rata-rata menyatakan merasa baik dengan keadaan produktivitas kerjanya. (4) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan antara insentif dengan motivasi kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota probolinggo. Hal ini berarti semakin meningkat insentif yang diterima, semakin meningkat pula motivasi kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. (5) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan insentif dengan produktivitas kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berarti semakin meningkat insentif yang diterima, semakin meningkat pula produktivitas kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. (6) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan motivasi kerja dengan produktivitas kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Hal ini berarti semakin meningkat motivasi kerja, semakin meningkat pula produktivitas kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. (7) terdapat hubungan secara tidak langsung yang signifikan insentif dengan produktivitas kerja melalui motivasi kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berati semakin tinggi insentif yang diterima semakin tinggi pula motivasi kerja dan motivasi kerja yang tinggi akan tinggi pula produktivitas kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Dari penelitian ini penulis memberi saran, bagi Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, kepala Dinas Pendidikan selaku atasan para pegawai di kantor menjaga agar pemberian insentif baik berupa finansial dan non finansial terus dipertahankan. Bagi peneliti lain, hal ini bisa digunakan peneliti lain sebagai bahan kajian untuk penelitian selanjutnya dalam meneliti masalah yang sepadan. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, hal ini juga berguna sebagai referensi untuk mengukur tingkat motivasi kerja dengan sebagai objek penelitian dosen dan staf di jurusan Administrasi Pendidikan. Secara khusus, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi jurusan tentang insentif, motivasi kerja dan produktivitas kerja yang dapat dijadikan referensi untuk penelitian terhadap masalah yang sepadan.

Identifikasi dan inventarisasi potensi lahan tambak di wilayah pesisir kabupaten Lumajang / Agus Purnomo

 

ABSTRAK Purnomo,Agus. 2010. Identifikasi Dan Inventarisasi Potensi Lahan Tambak Di Wilayah Pesisir Kabupaten Lumajang. Skripsi, Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Rudi Hartono, M.Si, (2) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si. Kata kunci: pesisir, potensi lahan tambak, persebaran potensi Daerah pesisir merupakan salah satu dari lingkungan perairan yang memiliki potensi yang sangat besar dan juga merupakan daerah yang mudah terpengaruh dengan adanya gangguan. Wilayah ini bukan hanya merupakan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan perikanan dan pertanian, tetapi merupakan pula lokasi bermacam sumberdaya alam, seperti mineral, gas dan minyak bumi serta pemandangan alam yang indah, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, perairan pesisir juga penting artinya sebagai alur pelayaran. Kabupaten Lumajang juga memiliki wilayah pesisir dengan potensi yang besar, pantai di wilayah Kabupaten Lumajang adalah pantai yang berhadapan langsung dengan samudra dan pesisirnya merupakan bagian perairan Samudra Indonesia yang memiliki sumberdaya perikanan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah karakteristik lahan pesisir yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang dan bagaimanakah persebaran lahan yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Desember 2009 dengan menggunakan metode survey. Parameter yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak adalah tipe pantai, kemiringan lereng, kualitas fisik tanah/ tekstur tanah, jenis tanah, kualitas air, kondisi hidrologi, jalur hijau/ wilayah konservasi, dan jumlah curah hujan rata-rata tahunan. Adapun teknik pengambilan sampel, yaitu purposive sampling yang diterapkan pada subjek penelitian yaitu 5 kecamatan dan 12 desa objek penelitian. Untuk pengambilan sampelnya menggunakan unit analisis peta satuan medan yang merupakan hasil ”overlay” dari peta jenis tanah dengan peta kemiringan lereng. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan komparatif. Berdasarkan dari analisis komparatif data primer dan sekunder dengan parameter yang ada menunjukkan bahwa Kabupaten Lumajang memiliki potensi lahan tambak yang hampir tersebar pada seluruh pesisir pantai yang ada yang meliputi kecamatan Yosowilangun, Kecamatan Kunir, Kecamatan Tempeh, Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Tempursari. Potensi lahan tambak yang tersebar di Kabupaten Lumajang memiliki daya dukung lingkugan sedang dengan luas 745,12 ha dan daya dukung baik dengan luas 476,4 ha.

Pengaruh profitabilitas dan arus kas terhadap return saham pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2008 / Defina Yopi Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, Defina Yopi. 2010. Pengaruh Profitabilitas dan Arus Kas Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Food and Beverages yang Listing di BEI Periode 2006-2008. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Mugianto, S.E, M.Si, dan (2) Ely Siswanto, S.Sos, M.M Kata kunci : Profitabilitas, Arus Kas, dan Return Saham Pada dasarnya setiap investor selalu berharap untuk mendapatkan hasil atau nilai tambah pada saat mereka melakukan investasi. Berinvestasi sering dilakukan oleh kalangan masyarakat yang memiliki kelebihan dana, dan dengan hadirnya lembaga pasar modal di Indonesia menambah banyak alternatif untuk menanamkan dananya. Sebelum melakukan investasi, investor harus berfikir secara rasional dan mempertimbangkan beberapa hal, misalnya dengan melihat laporan keuangan perusahaan yang berisi informasi-informasi, salah satunya adalah laporan arus kas, serta terdapat juga rasio profitabilitas. Dengan adanya informasi yang terdapat pada laporan keuangan dan profitabilitas, maka hal ini dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi, dimana tujuan utama para investor adalah memperoleh return (tingkat pengembalian). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari profitabilitas dan arus kas yang terdiri dari arus kas operasi, arus kas investasi, dan ars kas pendanaan terhadap return saham pada perusahaan Food and Beverages yang masuk dalam BEI periode 2006-2008. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu laporan keuangan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages yang listing di BEI periode 2006-2008, sedangkan pengambilan sampel berdasarkan atas kriteria-kriteria tertentu atau dengan metode purposive sampling, dan dihasilkan sebanyak 10 perusahaan yang memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 16.0 for windows. Uji t dan uji F digunakan untuk menguji pengaruh profitabilitas dan arus kas baik secara parsial, maupun simultan terhadap return saham. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada taraf signifikansi 5% secara parsial profitabilitas, arus kas operasi, dan arus kas investasi berpengaruh secara signifikan terhadap return saham, sedangkan arus kas pendanaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Secara simultan profitabilitas, arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan berpengaruh terhadap return saham, dengan besaran probabilitas 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memperpanjang periode penelitian sehingga dengan periode penelitian yang lebih lama, mungkin akan meningkatkan hasil penelitian yang lebih baik, dan sebaiknya peneliti juga memperhatikan dalam pemilihan sampel karena sangat berpengaruh terhadap hasil dari penelitian atau menggunakan variabel lain, misalnya rasio-rasio keuangan lain, baik sebagai variabel terikat maupun variabel bebas.

Proses regenerasi sirip kaudal ikan guppy ( Poecilia reticulata ) / Mazidatul Faizah

 

ABSTRAK Faizah, Mazidatul. 2010. Proses Regenerasi Sirip Kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata). Skripsi, program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si., (II) Dra. Dwi Listyorini, M.Si., D.Sc. Kata kunci: Regenerasi, Poecilia reticulata, Sirip kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata) termasuk di dalam famili Poecilidae. Ikan Guppy (Poecilia reticula) adalah salah satu spesies ikan hias air tawar yang mempunyai sirip ekor panjang yang beraneka ragam dan tidak membahayakan sehingga menyebabkan ikan ini populer di dunia. Ikan ini termasuk ikan liar yang biasanya hidup di parit-parit atau selokan, karena ikan ini mudah menyesuaikan diri dan berkembang biak memungkinkan ikan ini dapat dipelihara secara ex-situ di laboratorium dan dapat digunakan sebagai hewan model dalam ilmu Biologi. Sirip kaudal ikan Guppy mudah tumbuh setelah mengalami luka atau terpotong, Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tentang keberhasilan proses regenerasi ikan Guppy ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Obyek penelitian ini adalah ikan Guppy (Poecilia reticulata) jantan dewasa umur 2-3 bulan dengan ciri-ciri panjang standart 2,5- 4 cm. Organ yang digunakan dalam penelitian ini adalah sirip kaudal ikan Guppy yang dipotong secara simetris ke arah vertikal pada setengah panjang sirip kaudal Guppy, diamati proses regenerasinya dan setiap tahap-tahap perubahan yang terjadi, pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya dan difoto dengan kamera digital. Data dari hasil penelitian disusun secara berurutan mulai dari awal pemotongan sampai terlihatnya proses regenerasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses regenerasi sirip kaudal ikan Guppy terjadi beberapa tahap yaitu : penutupan luka (wound healing), pembentukan blastema (blastema formation), deferensiasi dan proliferasi, serta pertumbuhan regeneratif (regenerative outgrowth) Dari data tersebut menunjukkan bahwa ikan Guppy (Poecilia reticulata) mengalami regenerasi secara ephimorphosis.

Penerapan metode praktikum untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA NEGERI 6 Malang / Nani Oky Wahyuningsih

 

Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dapat bersaing secara global. Untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan yang terjadi di berbagai bidang pendidikan, salah satunya adalah dalam bidang sains atau IPA. Akan tetapi pada kenyataannya, dari hasil observasi diketahui dalam pembelajaran di sekolah masih banyak siswa yang lebih banyak mengkaji/mendapatkan pengetahuan dari buku dan internet sehingga mereka cenderung menjadi bosan dan kurang termotivasi untuk belajar Biologi. Mereka juga jarang melakukan praktikum pengamatan sehingga beberapa diantara mereka ada yang belum mengetahui hal yang mereka pelajari dalam dunia nyata dan siswa tersebut juga menjadi kurang berpengalaman menggunakan peralatan laboratorium. Dari salah satu hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang diketahui bahwa ketuntasan belajarnya hanya 54,05% dan rata-rata nilai kelasnya adalah 62. Oleh karena itu, perlu diterapkan suatu metode pembelajaran yang tepat untuk memberikan pengalaman, keterampilan dan meningkatkan motivasi belajar siswa agar terjadi peningkatan hasil belajarnya, untuk mengatasi masalah tersebut perlu diterapkan metode praktikum untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Siklus I terdiri dari 4 pertemuan dan siklus II terdiri dari 5 pertemuan. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas XI IPA 2 semester I tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 26 siswa, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini berupa aktivitas, motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan psikomotorik. Selain itu, data pendukung diperoleh catatan lapangan dan angket siswa. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan motivasi belajar klasikal siswa. Hasil belajar aspek kognitif diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus untuk mengetahui ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil belajar aspek psikomotorik diukur berdasarkan peningkatan kemampuan psikomotorik klasikal siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes, lembar observasi motivasi siswa, lembar observasi aspek psikomotorik siswa, lembar observasi keterlaksanaan tindakan guru, angket dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode praktikum dapat meningkatkan motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Rata-rata motivasi belajar klasikal siswa siklus I adalah 48% dengan kualitas motivasi belajar tergolong cukup dan rata-rata motivasi belajar klasikal siswa siklus II adalah 63% dengan kualitas motivasi belajar baik. Peningkatan rata-rata motivasi belajar klasikal siswa sebesar 15%. Penerapan metode praktikum dapat meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Rata-rata hasil belajar aspek kognitif siswa pada siklus I adalah 70,27 dengan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 57,69% dan rata-rata hasil belajar aspek kognitif siswa siklus II adalah 73,58 dengan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 88,46%. Ketuntasan belajar klasikal antara sebelum tindakan dan siklus I mengalami peningkatan sebesar 3,64%, sedangkan antara siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 30,77%. Rata-rata hasil belajar aspek psikomotorik klasikal siswa pada siklus I adalah 53% dan ratarata hasil belajar aspek psikomotorik klasikal siswa pada siklus II adalah 72,36%. Hasil belajar psikomotorik klasikal mengalami peningkatan antara siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 19,36%.

Peningkatan hasil belajar konsep rantai makanan dengan metode inkuri pada siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosaria kabupaten Pasuruan / Amrin

 

ABSTRAK PENINGKATAN HASIL BELAJAR KONSEP RANTAI MAKANAN DENGAN METODE INKUIRI PADA SISWA KLS IV SDN KANDANGAN II KECAMATAN TOSARI KABUPATEN PASURUAN Amirin SDN Kandangan II kecamatan adalah salah satu SD negeri yang terdapat di wilayah kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan yang bercirikan daerah pegunungan dengan latar belakang mata pencaharian penduduknya adalah sebagian besar sebagai petani sayur.Berdasarkan observasi dan wawancara dikelas IV SDN Kandangan II untuk mata pelajaran IPA diketahui bahwa sebagian besar siswa kurang berminat dan hasil belajar yang dicapai dikategorikan masih dibawah standar atau dapat dikatakan bahwa hasil belajar IPA di kelas IV masih rendah. Masalah inilah yang perlu mendapat perhatian serius, dikarenakan proses pembelajaran IPA belum berdasarkan filosofi konstruktivisme. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dicoba untuk menangani masalah rendahnya hasil belajar IPA serta kebosanan siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPA dengan pembelajaran kontekstual melalui metode inkuiri yang dikemas dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inkuiri mempunyai berbagai kelebihan yang pada dasarnya dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan pada siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan. Sehingga diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan melalui penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu, mulai tanggal 23 Nopember 2009 sampai dengan tanggal 2 Desember 2009. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 4 fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan yang terdiri dari 12 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat memotivasi siswa untuk belajar IPA pada siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan. Namun demikian, nampaknya masih sangat diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam memberdayakan kemampuan berpikir siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa. di sekolah tersebut. kata-kata kunci : hasil belajar, konsep rantai makanan, inkuiri.

Pengamatan prestasi belajar pokok bahasan konsep sistem pemerintahan demokrasi kelas V SDN sananwetan 03 kota Blitar / Dadang Kurniawan

 

Selama proses pembelajaran di kelas, guru harus mempergunakan kemampuan yang dimiliki, salah satunya adalah metode pembelajaran. Disisi lain, dalam melaksanakan kewajibannya guru mempunyai beberapa hambatan, yaitu kurikulum sarat isi, juga sistem evaluasi akan mempengaruhi cara guru menyampaikan bahan ajar. Di dalam simulasi yang dipersoalkan adalah fakta-fakta, sedangkan di dalam simulasi yang dipersoalkan adalah perasaan-perasaan, asumsi-asumsi. Studi kasus sangat menekankan analisis tingkat tinggi, sintesis, dan khususnya evaluasi tingkat tinggi, sedangkan simulasi sangat menekan pengetahuan tingkat rendah dan menengah, pengertian atau pemahaman dan penerapan. Baik studi kasus maupun simulasi sama-sama efektif dalam meningkatkan perubahan sikap. Studi kasus dapat mendorong pelajar untuk mengurangi kebiasaan penarikan kesimpulan secara tradisional dan mengarah kepada penarikan kesimpulan berdasarkan analisis fakta. Studi kasus dapat meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Tujuan pengamatan ini adalah untuk meningkatkan prestasi hasil belajar siswa kelas 5 SD Negeri Sananwetan 03 Kabupaten Blitar pada semester 1 tahun ajaran 2007. Pengamatan ini dilakukan terhadap kelas 5 SD Negeri Sananwetan 03 Kabupaten Blitar pada mata pelajaran PKN konsep sistem pemerintahan demokrasi. Pengamatan dilaksanakan pada semester 1 ajaran 2007, subyek pengamatan berjumlah 43 siswa. Tindakan yang diberikan berupa penerapan metode studi kasus dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pokok bahasan sistem pemerintahan demokrasi. Pertanyaan disusun secara sistematis dan terencana pada setiap siklus. Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan selama dua siklus, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pengamatan dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan pokok bahasan siswa pemerintahan demokrasi siswa kelas 5 SD Negeri Sananwetan 03 Kabupaten Blitar pada semester 1 tahun ajaran 2007. Hal ini dapat dilihat berdasarkan peningkatan rata-rata nilai test yaitu: sebelum diterapkannya metode kasus, rata-rata nilai test sebesar 63,97, setelah diterapkan metode kasus pada sikus 1 sebesar 77,27 dan pada siklus 2 sebesar 90 dengan adanya peningkatan rata-rata nilai test pada setiap siklus, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan metode studi kasus ini memenuhi indikator keberhasilan penelitian.

Pengaruh gaya kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan terhadap produktifitas karyawan ( Studi kasus pada karyawan PR.Jati Kawi kab. Malang ) / Arif Herdiansyah

 

Perekonomian global berkaitan secara langsung dengan perekonomian Indonesia, oleh karena perekonomian Indonesia adalah perekonomian terbuka dimana transaksi ekspor - impor memainkan peran penting dalam memacu perekonomian Indonesia. Secara makro, terpinggirnya sektor ketenagaerjaan tampak dari minimnya alokasi anggaran yang disediakan oleh pemerintah. Dalam kaitannya dengan peningkatan produkivitas tenaga kerja, kepemimpinan, kebijakan ketenagakerjaan sangat menentukan kualitas kerja seseorang serta produktivitas dalam suatu perusahaan. Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh kepemimpinan dan kebijakan pemerintah dalam bidang tenagakerjaan yang diberlakukan di masing-masing unit perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi deskriptif gaya kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan di PR. JATI KAWI Kab. Malang. (2)Tingkat produktivitas karyawan di PR. JATI KAWI Kab. Malang. (3) Pengaruh yang signifikan kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan secara parsial terhadap produktivitas karyawan di PR. JATI KAWI. (4) Pengaruh yang signifika kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan secara simultan terhadap produktivitas kerja di PR. JATI KAWI. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua karyawan pada PR. JATI KAWI yang berjumlah 395 orang. Penelitian ini melibatkan tiga variabel, yaitu dua variabel bebas (X1) dan (X2) variabel terikat (Y). Variabel bebas yang meliputi: (X1) Gaya Kepemimpinan dan (X2) Kebijakan Ketenagakerjaan sedangkan (Y) Produktivitas Karyawan. Data diperoleh melalui. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan menggunakan bantuan komputer program SPSS 12.0 for Windows. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Gaya Kepemimpinan (X1) dan Kebijakan Ketenagakerjaan (X2) secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap Produktivitas kerja karyawan di Perusahaan Rokok “JATI KAWI” Malang (Y). (2) bahwa Gaya Kepemimpinan (X1) berpengaruh signifikan terhadap Produktivitas karyawan di Perusahaan Rokok “JATI KAWI” Malang (Y). (3) Kebijakan Ketenagakerjaan (X2) berpengaruh terhadap Produktivitas karyawan di Perusahaan Rokok “JATI KAWI” Malang (Y). Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1)Pimpinan dapat menciptakan dan meningkatkan suasana yang dapat membantu menimbulkan motivasi yang kuat dalam diri karyawan. Dengan adanya peningkatan perhatian pimpinan terhadap penyelesaian tugas bawahan diharapkan mampu memberikan motivasi bagi peningkatan prestasi kerja karyawan. (2) Perusahaan tetap mempertahankan kebijakan ketenagakerjaan yang telah disepakati bersama antara pihak perusahaan dengan pemerintah mengenai aturan-aturan pemberian UMR, tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya dan kesejahteraan sosial. (3) Untuk menjaga sikap dan gaya kepemimpinan yang menunjang pencapaian tujuan perusahaan, maka diperlukan adanya pengawasan yang tepat dari pimpinan terhadap bawahan, karena pimpinan merupakan figur dan teladan bagi bawhaannya. (4) Untuk lebih menguatkan semua hipotesis dan model konsep yang terbukti secara empiris diterima, maka perlu dilakukan penelitian-penelitian ulang dalam organisasi yang berbeda, baik yang menggunakan model konsep yang sama atau dengan menambah beberapa peubah lain yang sekiranya mampu menjelaskaan aspek-aspek gaya kepemimpinan dan meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Upaya meningkatkan keterampilan berbahasa jaea kromo inggil dengan model picture and picture pada siswa kelas IV SDN Lesanpuro 3 kecamatan Kedungkandang kota Malang / M.M. Sri waluyowati

 

Kemampuan berbahasa jawa semakin hari semakin merosot. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya nilai-nilai kwalitatif dan kwantitatif siswa siswi SDN Lesanpuro 3 khususnya kelas empat. Secara kwalitatif dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan semester dua pada saat kelas tiga yaitu 48. Secara kwalitatif unggah-ungguh dalam berbahasa atau berbicara dengan orang lain yang lebih tua sangat berkurang. Karena bahasa pegantar yang digunakan bukan bahasa jawa, apa lagi kromo inggil. Sehingga bahasa jawa tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas model siklus, dengan menggunakan, model picture and picture dengan metode ceramah, demonstrasi, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas. Subjeknya adalah siswa kelas IVB SDN Lesanpuro 3, tahun pelajaran 2009-2010 dan tehnik pengambilan sampel dikenakan pada seluruh siswa dalam satu kelas sejumlah 40 orang. Berdasarkan hasil penelitian , pembelajaran bahasa jawa kromo inggil lebih efektif menggunakan model picture and picture khusunya dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. Siswa sekolah dasar pada umumnya masih berusia 11 sampai 12 tahun, maka dalam membelajarkan perlu memepertimbangkan alat bantu yang menarik dan menyenangkan. Alat bantu yang menyenangkan dapat diperoleh siswa dengan mudah misalnya dengan gambar-gambar kegiatan sehari-hari. Bagi para pengembang pendidikan penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dalam mengalokasikan waktu dalam penyusunan program pengajaran

Analisis eagles untuk mengukur perbedaan kinerja keuangan Bank Devisa dan non devisa (Tahun 2004-2007) / Dian Ayuningtyas

 

ABSTRAK Ayuningtyas, Dian. 2010. Analisis EAGLES Untuk Mengukur Perbedaan Kinerja Keuangan Bank Devisa dan Bank Non Devisa (2004-2007). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Lulu Nurul Istanti, S.E.,M.M (II) Ely Siswanto,S.Sos.,M.M. Kata kunci: Kinerja Keuangan Bank, EAGLES,Bank Devisa,Bank Non Devisa Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode waktu tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas bank. Dalam penelitian ini menggunakan analisis EAGLES, karena analisis ini dapat mengukur dan membandingkan kinerja bankbank secara lebih tepat, obyektif dan konsisten. Rasio-rasio EAGLES yang digunakan adalah ROA, ROE, Asset Quality, DGR, LGR, Liquidity, CAR, CCR SRQ by out interest dan SRQ by personalia. Subyek dalam penelitian ini adalah bank devisa dan bank non devisa. Bank devisa merupakan bank yang melakukan transaksi dalam dan luaer negeri, sedangkan bank non devisa merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melakukan transaksi ke luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1)kinerja keuangan bank devisa dan non devisa ditinjau dari aspek Earning Ability, Asset Quality, Growth, Liquidity, Equity, Strategic Management (2) perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa melalui rasio EAGLES. Data yang digunakan bersumber dari laporan keuangan bank tahun 2004 - 2007. Populasi yang digunakan adalah semua bank devisa dan bank non devisa di Indonesia baik yang terdaftar dalam PT Bursa Efek Indonesia maupun tidak selama tahun 2004-2007 sehingga terdapat 72 bank, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 56 bank.Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik parametrik dengan metode uji-t pada program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari rasio ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity), DGR (Deposite Growth Rate), Liqudity, LGR (Loan Deposit Ratio), CCR (Core Capital Ratio), SRQ by personalia, (2) terdapat perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari aspek Asset Quality,CAR (Capital Adequacy Ratio), SRQ by out interest, (3) tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari aspek EAGLES. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah sampel penelitian yang dibutuhkan pada peneliti selanjutnya agar mendapat sampel yang dapat mewakili kondisi perbankan yang diteliti. Bagi pihak perbankan, nasabah serta masyarakat penelitian ini dapat dijadikan informasi hasil kinerja bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari rasio EAGLES sehingga perbankan, nasabah serta masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat.

Pengaruh profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2008 / Indun Lusiana

 

ABSTRAK Lusiana, Indun. 2009. Pengaruh Profitabilitas, Struktur Aktiva, dan Ukuran Perusahaan terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Food and Beverages yang Listing di BEI Periode 2006-2008. Skripsi, Jurusan Manajemen, Konsentrasi Keuangan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (II) Drs. Mohammad Hari, M.Si. Kata Kunci: Profitabilitas, Struktur Aktiva, Ukuran Perusahaan, Struktur Modal. Kebijakan manajemen dalam mencari sumber dana dan mengatur pembelanjaan perusahaan merupakan salah satu fungsi manajer keuangan. Dalam menjalankan fungsi tersebut, manajer keuangan selalu dihadapkan pada dua masalah utama. Pertama, bagaimana keputusan pembelanjaan yang harus diambil dan bagaimana alternatif yang ada sehingga diperoleh dana dengan cara paling efisien untuk membiayai investasi perusahaan. Kedua, penentuan metode yang digunakan dalam penentuan investasi agar dana tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemilihan alternatif pendanaan untuk membiayai kegiatan perusahaan yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana perusahaan menciptakan kombinasi yang menguntungkan antara penggunaan dari hutang dan modal sendiri. Hal ini menyangkut masalah keberadaan struktur modal perusahaan yang menggambarkan pengaturan komposisi modal yang tepat antara hutang jangka panjang dan modal sendiri. Perusahaan perlu mencapai struktur modal yang optimal, sehingga biaya modal rata-rata perusahaan dapat diminimalkan atau perusahaan dapat memaksimalkan nilainya. Agar kondisi tersebut dapat dicapai, maka perlu mempertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal seperti profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan. Struktur modal yang optimal diharapkan dapat meningkatkan keuntungan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan pemilik modal melalui peningkatan nilai perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi tingkat profitabilitas yang diwakili oleh Return On Equity, komposisi struktur aktiva, ukuran perusahaan, dan struktur modal pada perusahaan Food and Beverages; untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan . Populasi penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di BEI tahun 2006-2008, sebanyak 21 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 10 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal baik secara parsial maupun simultan. i ii H asil penelitian ini menunjukkan kondisi profitabilitas yang meningkat karena laba yang dihasilkan naik karena biaya yang ditanggung perusahaan rendah, kondisi komposisi struktur aktiva yang meningkat, kondisi ukuran perusahaan (total aktiva) yang meningkat, kondisi komposisi struktur modal (LDER) yang meningkat karena adanya penambahan jumlah hutang tetapi kenaikannnya relatif kecil akibat perubahan modal sendiri yang jumlahnya lebih besar dari penambahan hutang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial dan simultan profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi manajemen perusahaan agar lebih memperhatikan kegiatan operasi perusahaan sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan, untuk penelitian yang sama di masa yang akan datang, diharapkan dapat memasukkan variabel-variabel lain yang lebih beragam untuk menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal sehingga hasil penelitian dapat lebih baik dan lebih lengkap. Sedangkan bagi kreditur , sebaiknya kreditur lebih jeli dalam memilih perusahaan untuk meminjamkan dananya atau dalam pemberian kredit, yaitu dengan melihat kemampuan perusahaan dalam hal pembayaran kewajiban jangka panjangnya.

Membangun jaringan WAN SMA dan SMPU dilingkungan pesantren Al-Yasini / Solikhin, Sri Supadmi

 

Teknologi Informasi atau Information Technology saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap organisasi terbukti saat ini nyaris tidak ada organisasi bisnis atau perusahaan bahkan instansi pendidikan yang tidak menggunakan teknologi informasi khususnya komputer. Dengan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat ini, SMA dan SMPU bisa dibilang tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, karena SMA dan SMPU Al-yasini telah memiliki 20 unit di masing – masing Laboratorium komputer yang terbagi menjadi 2 lembaga. Tetapi hanya 1 Laboratorium Komputer yang terkoneksi Jaringan, sedangkan satunya menggunakan jaringan wireless acces point untuk dapat menghubungkan dengan jaringan Intranet maupun Internet. Jaringan tanpa kabel merupakan suatu solusi terhadap komunikasi yang tidak bisa dilakukan dengan jaringan menggunakan kabel, Misalnya orang yang ingin mendapat informasi atau melakukan komunikasi walaupun sedang berada di atas saluran yang dapat mengirim data pada kedua arahnya juga bisa menimbulkan masalah. Sehingga dengan demikian perlu dijadikan bahan pertimbangan bagi software data link layer. Masalah yang dapat timbul di sini adalah bahwa frame-frame acknoeledgement yang mengalir dari A ke B bersaing saling mendahului dengan aliran dari B ke A. Membanggun jaringan lokal SMPU dan SMA yang terkoneksi dengan proxy server menggunakan firewall pada AP Blue – Link. Untuk menghubungkan antar Lan SMPU dan Lan SMA, sedangkan di SMA sebagai pemancar dengan menggunakan AP Blue-Link BL-R30G, dari modem ADSL dihubungkan ke Port WAN Blue-link, port pertama di hubungkan ke server, sedangkan server mempunyai dua Lan Crad, Lan pertama dihubungkan ke AP Blue-Link, Lan Crad ke dua dihubungkan ke clien, demikian di SMPU menggunakan Wireless Acces Point sehingga dapat mempermudah mengakses internet. Melihat kenyataan ini penulis ingin membangun jaringan Intranet mengunakan modem ADSL speedy dan PC router AP blue – ling untuk pemancar ke SMPU, sehinga dapat mempermudah akses internet dari SMA pada laboratorium yang belum terkoneksi jaringan, guna mengoptimalkan fungsi yang belum termanfaatkan secara baik.

Strategi lay out, teknik visual, dan display pada kopmart (Koperasi Mart) KPRI rumah sakit Saiful Anwar Malang / Maruti Yuana Lestari

 

Perkembangan usaha saat ini sangat meningkat karena dipengaruhi oleh peningkatan jumlah konsumen tinggi, sebagian besar konsumen saat ini menuntut segala sesuatu yang serba praktis dan cepat dalam hal berbelanja. Hal tersebut dapat diperoleh dengan berbelanja di supermarket atau swalayan. Dengan pesatnya perkembangan supermarket menyebabkan usaha ini bersaing ketat sehingga memacu usaha sejenis bermunculan seperti Alfamart dan Indomart. Salah satu faktor yang mengakibatkan usaha-usaha swalayan atau supermarket meningkat adalah peningkatan jumlah penduduk yang berarti kebutuhan juga akan semakin meningkat karenanya. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui strategi Lay Out, Teknik Visual dan Display yang diterapkan oleh KPRI RSSA Malang. Serta untuk mengetahui peranan pengaturannya dalam meningkatkan kenyamanan pelanggan. Sebagai salah satu usaha yang bergerak dibidang penjualan maka keberhasilan juga ditentukan oleh cara penyusunan Lay out, teknik visual, display produk. Ketiga hal tersebut mempunyai peran penting dalam penjualan karena akan berpengaruh pada kenyamanan konsumen dalam berbelanja. Lay Out adalah tata letak produk, kasir dan arus lalu lalang konsumen di dalam toko. Teknik Visual adalah teknik dalam mempertimbangkan adanya penerangan, warna, ketinggian langit-langit, temperature toko, dan suara. Sedangkan Display adalah pemajangan barang dagangan yang ditujukan untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong konsumen dalam melakukan pembelian. Penerangan yang terdapat di Kopmart KPRI sudah cukup memadai, disamping itu karena Kopmart KPRI hanya buka pada siang hari yaitu dari pukul 08.00-16.00 sehingga penerangan yang berasal dari lampu tidak begitu maksimal. Namun lebih kepada terdapatnya ventilasi yang cukup agar cahaya dari luar bisa masuk. Penerangan yang cukup akan mempermudah pengunjung dan memberikan kesan luas sehingga kenyamanan para pengunjung untuk mencari dan memilih barang dagangan yang di butuhkan menjadi tidak terganggu . Dinding Kopmart KPRI berwarna kuning hal ini dapat menimbulkan gairah dan peminat konsumen untuk datang, serta memberikan kesan bersih dan menarik. Pada sebuah toko atau swalayan warna mempunyai pengaruh yang besar untuk menarik pengunjung. Warna yang cerah dapat menggugah minat orang untuk menarik perhatian sehingga datang dan berbelanja. Namun cat dinding tersebut terlihat sudah mulai pudar sehingga terlihat kurang bersih. Untuk itu diperlukan pengecatan ulang pada dinding Kopmart KPRI, karena kesan toko dapat diciptakan melalui warna dan berpengaruh besar pada swalayan tersebut. Ketinggian langit-langit pada Kopmart KPRI sudah cukup memberikan kesan luas karena jarak lantai dengan langit-langit sudah cukup tinggi sehingga dirasa cukup untuk memberikan kesan luas dan hawa yang sejuk pada ruangan sehingga pengunjung tidak merasa gerah ataupun kurang nyaman. Agar konsumen merasa nyaman dan betah berlama-lama berada di dalam ruangan dari Kopmart KPRI, maka diperlukan temperatur ruangan yang sesuai. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa ketinggian langit-langit dapat menciptakan hawa dan suasana yang sejuk sehingga memberikan kesan yang nyaman bagi pengunjung. Kopmart KPRI terdapat 4 buah alat penyejuk yang berupa kipas angin dengan harapan konsumen tidak akan merasa panas dan betah untuk berlama - lama berada di ruangan. Hal ini berpengaruh pada kenyamanan konsumen dalam berbelanja. Kipas angin ini dimaksimalkan fungsinya dari pagi hingga sore hari sehingga temperatur dalam ruangan memberikan hawa sejuk dengan tujuan terciptanya kenyamanan pengunjung. Selain beberapa hal diatas adanya suara yang menyenangkan atau pemutaran musik juga akan mempengaruhi kenyamanan pengunjung untuk tinggal berlama-lama di dalam Swalayan. Dalam penggunaanya Kopmart lebih sering menggunakan Radio sehingga menyebabkan jenis musik yang diputar berganti-ganti tidak beraturan sehingga tidak dapat disesuaikan dengan keadaan yang ingin di timbulkan. Pemajangan dan penataan barang dagangan di Kopmart dibagi menjadi dua yaitu Open interior dimana pengunjung dapat melihat dan menyentuh secara langsung barang-barang yang dipajang dan langsung dapat membawa barang tersebut ke kasir. Close interior display dimana barang yang di pajang dengan sistem ini adalah barang yang berukuran kecil, harganya mahal dan juga mudah rusak. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya pencurian. Saran untuk penerapan permasalahan KPRI RSSA antara lain penataan ruang sebaiknya diberi dekorasi agar ruangan tampak menarik dan menjaga kebersihan ruangan. Selain itu memberikan kesan welcome pada pengunjung harus diperhatikan. Untuk barang-barang yang tidak digunakan seperti rak dan etalase sebaiknya ditempatkan di gudang agar penataan di dalam ruangan terlihat rapi. Untuk meningkatkan pengawasan sebaiknya diadakan penambahan cermin dan mengefektifkan fungsinya. Perlu diadakan penambahan barang dagangan yang bervariasi jenis barang dan merknya. Sebaiknya Kopmart melakukan pemajangan secara eksterior display agar terlihat menarik dari luar.

Peran elit lokal dalam pemberdayaan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan pasca dibukanya jembatan Suramadu bagi masyarakat desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan / Fauzi Rusman

 

ABSTRAK Fauzi, Rusman, 2009, Peran Elit Lokal Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Mengentaskan Kemiskinan Pasca Dibangunnya Jembatan Suramadu Bagi Masyarakat Desa Sukolilo Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan, Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang, Pembimbing I, Drs. Suparlan Al hakim, M.Si, Pembimbing II, Drs. I Ketut Diara Astawa, SH, M.Si Kata Kunci : Peran Elit Lokal dan Pengentasan Kemiskinan, Pemberdayaan Meningkatnya jumlah penduduk miskin di Madura itu, dapat dikatakan masyarakat Madura masih belum siap menerima kedatangan suramadu. Pasalnya, perkembangan suramadu sangat berkaitan erat dengan perkembangan perekonomian masyarakat. Tekanan kehidupan sosial ekonomi yang berat memaksa orang Madura pergi merantau ke daerah lain dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik, sesungguhnya, Madura bukan daerah yang tidak berpotensi sama sekali, akan tetapi masih digali oleh masyarakat Madura, dengan adanya pasca Jembatan Suramadu membuka peluang untuk mengentaskan kemiskinan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Apa yang menjadi latar belakang dibangunnya jembatan Suramadu, 2) Bagaimana potensi sosial-ekonomi masyarakat Bangkalan sekitar jembatan Suramadu dan 3) Bagaimana upaya/ peran elit lokal Kabupaten Bangkalan dalam menyikapi masalah pengentasan kemiskinan pasca dibangunnya jembatan Suramadu. sedangkan tujuan penelitian adalah 1) Mendeskripsikan latar belakang dibangunnya jembatan Suramadu, 2) Mendeskripsikan potensi sosial-ekonomi masyarakat sekitar jembatan Suramadu dan 3) Mendeskripsikan upaya/peran elit lokal Kabupaten Bangkalan dalam menyikapi pengentasan kemiskinan pasca dibangunnya jembatan Suramadu. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian menggunakan penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif Dalam hal ini, yang menjadi obyek penelitian adalah Peran Elit Lokal dalam Pemberdayaan Masyarakat untuk Mengentaskan Kemiskinan Pasca Dibukanya Jembatan Suramadu di Kabupaten Bangkalan, data yang digunakan berupa data primer dan sekunder yang kemudian dianalisis menjadi data yang dapat diterjemahkan dan dapat dimengerti. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang dibangunnya Jembatan Suramadu karena sering terjadi kemacetan, serta potensi sosial ekonomi masyarakat sekitar Jembatan Suramadu semakin membaik yang dapat mengentaskan kemiskinan dan peran elit lokal dalam pengentasan kemiskinan sangat berperan aktif dalam membantu masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan.

Hubungan kepuasan kerja dan budaya organisasi dengan kinerja tenaga pendidik di Sekolah Dasar Negeri se-kecamatan Dau Kabupaten Malang / Novie Wahyu Hidajati

 

Hidajati, Novie. Wahyu. 2014. Hubungan Kepuasan Kerja dan Budaya Organisasi dengan Kinerja Tenaga Pendidik di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Budi Wiyono, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ali Imron, M.Pd, M.Si. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi, Kinerja Tenaga Pendidik Pengelolaan sumber daya manusia yang handal dan berkualiatas sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Setiap individu dalam bekerja memiliki kinerja yang berbeda satu sama lain, dalam hal ini terdapat sikap dan nilai yang merupakan suatu kemungkinan dalam memberikan kekuatan untuk mendorong individu bertingkah laku dalam mencapai tujuan. Dengan adanya latar belakang yang berbeda-beda, maka sangat penting untuk mengetahui apa kebutuhan dan harapan dari tenaga pendidik, sehingga akan semakin mudah dalam bekerja dengan baik. Kepuasan kerja yang bersifat individual dan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai yang berlaku pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi budaya organisasi tenaga pendidik; mengetahui seberapa tinggi kepuasan kerja tenaga pendidik; mengetahui seberapa tinggi kinerja tenaga pendidik; melihat hubungan budaya organisasi dengan kinerja tenaga pendidik; melihat hubungan budaya organisasi dengan kinerja tenaga pendidik; dan melihat hubungan budaya organisasi dan kepuasan kerja dengan kinerja tenaga pendidik di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Subjek penelitian ini adalah seluruh tenaga pendidik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis serta menginterpretasikan data sehingga penelitian ini berawal dari suatu masalah yang dipertanyakan. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga pendidik Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Dau Kabupaten Malang yang berjumlah 243 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 70 orang, akan tetapi data yang kembali ketika menyebarkan angket penelitian hanya 61 orang, dan karena keterbatas waktu maka peneliti hanya menggunakan data tersebut. Teknik pengambilan data adalah dengan stratified random sampling dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa, berdasarkan uji F dengan menggunakan analisis anova memperlihatkan jika nilai F hitung adalah 773.195 dengan signifikansi 0.000. Sedangkan F tabel adalah 3.15. F hitung > F tabel dan tingkat signifikansi 0.000 < 0.05 maka hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel budaya organisasi dan kepuasan kerja secara serempak mempengaruhi variabel kinerja tenaga pendidik .

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan strategi pemodelan pada siswa kelas IV SD Negeri Sumbersari III Malang / Anthonius Besan

 

ABSTRAK Besan, Anthonius. 2010. Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Strategi Pemodelan pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sumbersari III Malang. Tesis (tidak dipublikasikan), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Dr. Suyono, M.Pd. Kata kunci: membaca pemahaman, strategi pemodelan. Pembelajaran membaca pemahaman di kelas IV sekolah dasar bertujuan agar siswa mampu membaca teks bacaan dan memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, membaca pantun, dapat menemukan kalimat utama pada tiap paragraf, menemukan makna dan informasi secara tepat dalam bacaan melalui membaca memindai. Berdasarkan hasil pengamatan dan studi pendahuluan yang dilaksanakan di SD Negeri Sumbersari III Malang ditemukan kemampuan siswa kelas IV dalam pembelajaran membaca pemahaman masih rendah. Rendahnya kemampuan tersebut ditandai oleh adanya ketidakmampuan siswa dalam hal (1) menjawab pertanyaan bacaan, (2) menentukan ide pokok setiap paragraf bacaan, (3) meringkas isi bacaan, dan (4) membuat kesimpulan bacaan. Ketidakmampuan siswa itu disebabkan oleh (1) pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih terkesan monoton, (2) tidak ada inovasi dalam pembelajaran, (3) penggunaan strategi belajar mengajar yang kurang tepat, dan (4) pembelajaran bahasa Indonesia belum optimal. Untuk meningkatkan kemampuan siswa perlu digunakan strategi belajar yang tepat dan efektif. Salah satu strategi yang diduga dapat mengefektifkan pembelajaran membaca pemahaman adalah strategi pemodelan. Pemodelan adalah strategi pembelajaran kontekstual yang memiliki empat fase yaitu (1) fase perhatian, (2) fase retensi, (3) fase reproduksi, dan (4) fase motivasi. Pelaksanaan pembelajaran membaca dengan strategi ini ditempuh melalui tiga tahap (1) tahap prabaca, (2) tahap saatbaca, dan (3) tahap pascabaca. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sumber data penelitian ini adalah siswa dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dengan strategi pemodelan. Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil tindakan yang diperoleh dari hasil pengamatan, hasil wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes akhir. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengumpul data dengan menggunakan instrumen penunjang berupa pedoman pengamatan, format pengamatan, pedoman wawancara, dan lembaran tes. Analisis data dilaksanakan berdasarkan analisis data model mengalir yang meliputi (1) mereduksi data melalui kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan data yang diperoleh sesuai kebutuhan, mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan penelitian, (2) menyajikan data melalui penyampaian data hasil reduksi disajikan dengan cara mengorganisasikan data yang dievaluasi, dan (3) menyimpulkan data sebagai temuan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa meningkat setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan strategi pemodelan dari siklus I sampai siklus III. Peningkatan tersebut meliputi peningkatan dalam proses pembelajaran membaca maupun hasil memahami bacaan dengan indikator peningkatan, yaitu siswa dapat (1) menjawab pertanyaan bacaan, (2) menentukan ide pokok paragraf, (3) meringkas isi bacaan, dan (4) membuat kesimpulan bacaan. Peningkatan dalam proses membaca terlihat pada setiap siklus, dan terutama yang menonjol pada siklus II dan III. Pada siklus I siswa mencapai kualifikasi baik, siklus II siswa mencapai kualifikasi baik, dan sisklus III siswa mencapai kualifikasi sangat baik. Secara kuantitatif, peningkatan kemampuan membaca siswa dapat terlihat dari skor pada setiap tes formatif diakhir pembelajaran. Sesuai hasil tes formatif diperoleh hasil rata-rata kemampuan siswa sebagai berikut: pada siklus I skor yang diperoleh rata-rata 71,8% (kualifikasi baik), siklus II skor yang diperoleh rata-rata 83,6% (kualifikasi baik), dan siklus III skor yang diperoleh rata-rata 89,7% (kualifikasi sangat baik). Berdasarkan hasil penelitian baik dari segi proses maupun hasil, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca pemahaman dengan strategi pemodelan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami isi bacaan. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran kepada guru dan kepala sekolah. Pertama, kepada guru-guru bahasa Indonesia di sekolah dasar agar dapat melakukan inovasi dalam proses belajar mengajar di kelas dengan strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan siswa di antaranya strategi pemodelan. Kedua, kepada kepala sekolah agar mendorong para guru untuk menggunakan strategi pemodelan sebagai salah satu strategi yang dapat mengembangkan potensi siswa dalam pembelajaran membaca pemahaman.

Pengembangan modul analisis volumetri dengan model learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan program keahlian analisis kimia

 

ABSTRAK Tasrifah. 2010. Pengembangan Modul Analisis Volumetri dengan Model Learning Cycle 5 Fase untuk Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Analisis Kimia. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: Modul, RPP, Analisis Volumetri, Learning Cycle 5 Fase, SMK. Tinggi rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dipengaruhi oleh sistem pendidikannya. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia adalah dengan meningkatkan jumlah SMK yang diharapkan menghasilkan lulusan yang berkompeten. Adanya keterbatasan dalam bahan ajar menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Oleh karenya, diperlukan suatu program pengembangan bahan ajar untuk SMK. Pengembangan yang dilakukan dapat berupa modul. Agar pembelajaran dengan modul berjalan efektif maka hasil pengembangan dilengkapi dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bagi guru. Modul dan RPP yang dikembangkan mengacu pada model Learning Cycle 5 fase. Tujuan penelitian pengembangan antara lain: (1) mengetahui bentuk dan isi modul analisis volumetri, (2) mengetahui bentuk dan isi RPP analisis volumetri, dan (3) mengetahui kelayakan modul analisis volumetri dan RPP analisis volumetri dengan validasi isi. Model pengembangan yang digunakan peneliti dalam mengembangkan modul adalah model Borg dan Gall yang memiliki sepuluh tahapan pengembangan. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu dan biaya untuk penelitian, maka pengembangan dibatasi sampai langkah ketiga. Ketiga tahapan tersebut adalah penelitian dan pengumpulan data, perencanaan pengembangan produk, dan pengembangan produk awal. Uji validasi yang dilakukan untuk mengukur kelayakan produk pengembangan hanya sebatas uji validasi isi oleh validator dan belum dilakukan uji validasi empirik. Validasi isi dilakukan oleh 1 orang dosen kimia Universitas Negeri Malang dan 2 orang guru SMK Negeri 7 Malang. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian pengembangan adalah (1) modul analisis volumetri yang terdiri dari beberapa bagian yaitu, pra pendahuluan, pendahuluan, kegiatan belajar, umpan balik, kunci jawaban, dan suplemen materi, (2) RPP analisis volumetri dikembangkan menjadi lima RPP antara lain, RPP I membahas tentang dasar-dasar analisis volumetri, RPP II membahas tentang analisis berdasarkan reaksi penetralan yang dikhususkan pada titrasi asidi-alkalimetri, RPP III membahas tentang analisis berdasarkan reaksi pengendapan yang dikhususkan pada titrasi argentometri, RPP IV membahas tentang analisis berdasarkan reaksi oksidasi-reduksi yang dikhususkan pada titrasi iodo-iodimetri, dan RPP V membahas tentang analisis berdasarkan reaksi pembentukan kompleks yaitu titrasi kompleksometri, (3) hasil validasi terhadap modul analisis volumetri dan RPP menunjukkan persentase rata-rata sebesar 77,49% yang berarti valid dan 75,67% yang berarti cukup valid, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul dan RPP Analisis Volumetri dengan pembelajaran Learning Cycle 5 fase layak untuk dilakukan uji lapangan atau validasi empirik oleh guru dalam pembelajaran analisis volumetri di kelas XI SMK program keahlian analisis kimia.

Implementasi kebijakan pemerintah Kabupaten Tulungagung atas relokasi pedagang kaki lima dan dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat / Mariyah Ulfa Nur Inayah

 

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu sasaran bagi PK5 untuk menjajakan barang dagangan. Para PK5 tidak mempunyai tempat berdagang permanen dan strategis. Mereka memanfaatkan fasilitas umum dan pusat keramaian sebagai tempat berdagang, salah satunya yaitu kawasan alun-alun Tulungagung. Keberadaan PK5 di kawasan alun-alun Tulungagung seringkali melakukan pelanggaran serta menimbulkan kemacetan lalu lintas dan membuat kotor alun-alun Tulungagung. Permasalahan ini menyebabkan Pemerintah Kabupaten Tulungagung membuat kebijakan untuk merelokasi PK5 yang awalnya berada di alun-alun direlokasi di Ngemplak Tradisional Pujasera. Sebagai bentuk dari kebijakan Pemerintahan Daerah Tulungagung mengeluarkan Peraturan Daerah No. 29C Tahun 2002 tentang ketentraman dan ketertiban serta Peraturan Bupati Tulungagung No. 2 Tahun 2005 tentang relokasi pedagang kaki lima (PK5) di alun-alun dan sekitarnya serta penataan pedagang sub terminal Ngemplak di lokasi perbelanjaan Ngemplak Tulungagung. Permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimana implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tentang relokasi PK5 di Tulungagung?; (2) bagaimana dampak yang diharapkan maupun tidak diharapkan dari implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tentang relokasi PK5 terhadap peningkatan ekonomi masyarakat?; (3) apakah faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tentang relokasi PK5 di Tulungagung? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena penelitian ini bertujuan mencari dan mengungkapkan gejala yang terjadi terhadap peristiwa tertentu melalui pengumpulan data dari latar alamiah. Subjek penelitiannya adalah para PK5 yang dipindahkan dari alun-alun Tulungagung dan berjualan di Ngemplak Tradisional Pujasera. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif melalui tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian diketahui bahwa: (1) PK5 yang berjualan di alun-alun Tulungagung sebanyak 264 pedagang, terdiri dari 160 pedagang makanan dan 104 pedagang non makanan, mereka berdagang mulai jam 16.00-24.00; (2) implementasi kebijakan relokasi PK5 dari alun-alun Tulungagung ke pusat Ngemplak Tradisional Pujasera berdasarkan Peraturan Bupati Tulungagung No. 2 Tahun 2005 tentang relokasi pedagang kaki lima (PK5) di alun-alun dan sekitarnya serta penataan pedagang sub terminal Ngemplak di lokasi perbelanjaan Ngemplak Tulungagung, kebijakan tersebut telah berhasil menjadikan kawasan alun-alun Tulungagung bebas dari PK5. Aktor yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan relokasi PK5 adalah: (a) Pemerintah Kabupaten Tulungagung sebagai pelaksana, (b) UPDT pasar bertugas menata PK5, (c) SATPOL PP sebagai petugas di lapangan, (d) Polsek Kota Tulungagung sebagai pengatur ketertiban lalu lintas, (e) Dinas Perhubungan terkait dengan lokasi, (f) ketua paguyuban, (g) perwakilan PK5. Proses pelaksanaan kebijakan berjalan tertib meskipun banyak yang menolak untuk dipindah. Tidak sampai terjadi bentrok hanya saja PK5 melakukan demo di depan kantor DPRD Tulungagung. (3) dampak yang diharapkan sebelum relokasi diantaranya bertambah jumlah pelanggan, bertambah jumlah pendapatan, tidak terikat dengan peraturanperaturan yang di buat para pejabat, bebas melakukan usaha berdagang dengan jenis apapun, tidak dikenakan retribusi yang tinggi. Dampak yang tidak diharapkan setelah masa relokasi, diantaranya semakin berkurangnya pendapatan yang dihasilkan oleh para pedagang, perekonomian masyarakat PK5 rata-rata kurang memenuhi kebutuhan keluarga, kenyamanan dalam berjualan tidak diperoleh dari PK5, terjadi konflik antara para pedagang dengan pihak Pemerintah Kabupaten. Sedangkan dampak yang diharapkan setelah relokasi meliputi, PK5 secara tidak langsung sudah mengembalikan kondisi lingkungan sekitar alun-alun Tulungagung menjadi bersih, rapi, jauh dari kemacetan lalu lintas, PK5 sudah tidak lagi dianggap mematikan usaha para pedagang toko yang menempati rukoruko dengan membayar pajak tinggi. (4) faktor yang berpengaruh terhadap proses implementasi kebijakan adalah sulitnya mencari tempat baru bagi PK5, masalah dana untuk memperlancar proses pembangunan dan munculnya sikap kontra antara PK5 tehadap pelaksanaan kebijakan. Dari penelitian diatas maka disarankan, (1) Pemerintah Kabupaten Tulungagung merevisi kembali terhadap Peraturan Bupati yang telah ada karena dianggap kurang dapat diterima oleh PK5 sehingga dalam pelaksanaannya kurang efektif, (2) Pemerintah Kabupaten melakukan penataan ulang kembali tempattempat yang dinilai kurang layak, sedangkan untuk PK5 perlu suatu pembinaan dan bimbingan agar dapat menjamin kebutuhan keluarga serta mampu meningkatkan taraf hidup yang lebih baik lagi, (3) Pemerintah Kabupaten harus bisa menjalin hubungan baik dengan PK5 dengan jalan melakukan pertemuanpertemuan dan kunjungan lapangan. Kunjungan dapat berbentuk kunjungan langsung kepada para PK5 pada saat melakukan aktivitas usaha serta pembinaan atau dialog kepada kelompok-kelompok PK5. Dengan begitu Pemerintah Kabupaten akan mengetahui kemauan dan harapan dari PK5.

Pengaruh kinerja keuangan berdasarkan model Altman dan Zmijewski terhadap harga saham pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2003-2007 / Emasari

 

ABSTRAK Emasari. 2009. Pengaruh Kinerja Keuangan Berdasarkan Model Altman (Z-score) dan Zmijewski (X-score) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Food And Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2007. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) DR.H. Agung Winarno, M.M dan (II) Fadia Zen, S.E, M.M Kata kunci: Kinerja keuangan model Altman (Z-score), kinerja keuangan model Zmijewski (X-score), harga saham Manajemen perusahaan harus mampu mengelola kegiatan operasionalnya terutama yang berhubungan dengan keuangan perusahaan. Salah satu cara yaitu menggunakan analisis kebangkrutan perusahaan. Kemudian analisis kebangkrutan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap harga saham perusahaan. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mendeskripsikan kinerja keuangan perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI yang dinilai menggunakan model Altman (z-score). (2) Untuk mendeskripsikan kinerja keuangan perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI yang dinilai menggunakan model Zmijewski (x-score). (3) Untuk mengetahui tingkat harga saham perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI. (4) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan perusahaan yang dinilai menggunakan model Altman (z-score) terhadap harga saham. (5) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan perusahaan yang dinilai menggunakan model Zmijewski (x-score) terhadap harga saham. Populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan Food And Beverages yang terdaftar di BEI periode 2003-2007. Sampel yang diambil menggunakan tekinik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih perusahaan Food And Beverages yang tidak memiliki laba bersih negatif atau tidak mengalami kerugian dalam periode penelitian. Pengumpulan data menggunakan data dokumentasi, yaitu laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Pusat Data Bisnis Universitas Negeri Malang dan Website BEI. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja keuangan perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI selama tahun 2003-2007 berdasarkan model Altman (Z-score) terdapat 1 perusahaan yang berpotensi bangkrut, 1 perusahaan yang dalam kondisi sehat selama lima tahun berturut-turut, walaupun masih ada beberapa perusahaan yang rawan bangkrut. Sedangkan berdasarkan model Zmijewski (X-score) semua perusahaan dalam kondisi sehat. Penelitian ini juga membuktikan bahwa kinerja keuangan berdasarkan model Altman (Z-score) dan model Zmijewski (X-score) secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Dari hasil penelitian disarankan bagi perusahaan sebaiknya setiap akhir periode melakukan evaluasi terhadap kinerja keuangannya. Serta dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan menganalisis terlebih dahulu kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan.

Analisis peranan pemberian bantuan modal P2KP terhadap pendapatan masyarakat miskin kelurahan Subersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Irma Novita Sari

 

ABSTRAK Sari, Irma Novita. 2010. Analisis Peranan Pemberian Bantuan Modal P2KP terhadap PendapatanMasyarakat Miskin Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang . Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos., M.Si., (II) Dr.Nasikh, S.E.,M.P,M.Pd. Kata Kunci: bantuan modal P2KP, pendapatan, masyarakat miskin Perlu adanya penanganan masalah kemiskinan di perkotaan seperti yang terjadi di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Salah satu kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan di perkotaan yaitu melalui Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Dalam pelaksanaan P2KP masyarakat (khususnya masyarakat miskin) dihimpun ke dalam kelompok–kelompok yang disebut dengan kelompok swadaya masyarakat (KSM). Anggota KSM inilah yang berhak menerima dana bantuan modal dengan sistem pinjaman bergulir. Selain itu ada institusi lokal yang dibetuk sebagai suatu wadah masyarakat yang disebut Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Dengan adanya bantuan modal diharapkan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan kata lain bahwa P2KP yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dan institusi lokal dapat membentuk masyarakat yang mampu mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapinya secara mandiri dan berkelanjutan. Berdasar dari hal tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah proses penyaluran bantuan modal P2KP di Kelurahan Sumbersari, peranan bantuan modal dilihat dari aspek pendapatan, kegiatan produksi dan status sosial. Subyek penelitian ini adalah anggota KSM di Kelurahan Sumbersari sebagai sasaran Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang telah menyelesaikan angsuran pinjaman periode I, artinya KSM tidak termasuk dalam kategori kredit macet P2KP dengan jumlah 94 orang. Metode penelitian yang digunakan ialah desktptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus sehingga dapat diperoleh dengan jelas gambaran dari permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, angket dan analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis persentase untuk data hasil kuesioner, analisis data wawancara dan dokumen dilakukan dengan pemeriksaan data, pengelompokkan data, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan sasaran penerima bantuan modal P2KP ialah KSM, KSM penerima bantuan beranggotakan minimal tiga orang yang berasal dari keluarga yang berbeda, berpenghasilan rendah dan mempunyai usaha atau akan memulai usaha. Sasaran bantuan tidak harus masyarakat miskin, masyarakat yang tidak miskin boleh mangajukan bantuan, asalkan benar-benar membutuhkan bantuan modal usaha. Prosedur pengajuan pinjaman tidak menyulitkan, persyaratan yang sedikit sulit dipenuhi ialah pembuatan proposal usaha. Hasil penelitian menunjukkan 87 responden atau 92,55% dari total responden menyatakan adanya peningkatan pendapatan setelah memperoleh bantuan modal P2KP. Dilihat dari indikator keberhasilan sasaran penerima bantuan dikatakan berhasil tetapi dari indikator tingkat pengembalian pelaksanaan P2KP di Kelurahan Sumbersari dikatakan belum berhasil karena tingkat pengembalian masih belum memenuhi kriteria. Dilihat dari indikator dampak bantuan modal dikatakan berperan dalam peningkatan pendapatan. Peningkatan pendapatan sebagian besar digunakan untuk konsumsi, hal ini terlihat pada persentase peningkatan pendapatan yang tidak diimbangi dengan persentase kenaikan tabungan Bantuan modal P2KP juga telah mampu meningkatkan kegiatan produksi usaha hal ini tampak dari meningkatnya omzet usaha masyarakat. Status sosial keluarga yang dilihat melalui status keluarga sejahtera juga mengalami peningkatan, walaupun memang tidak banyak keluarga yang mengalami peningkatan status sosial keluarga. Adapun saran yang dapat diberikan kepada BKM adalah: (1) Kerjasama yang baik diantara perangkat pemerintah (RT, RW, Kelurahan), BKM dan masyarakat mutlak diperlukan demi terciptanya institusi lokal yang mandiri dan berdaya. Perlu adanya sanksi yang tegas terhadap nasabah yang masuk dalam daftar kredit macet. Penambahan tim monitoring dan pemberian insentif yang layak kepada tim monitoring dan pengurus P2KP (2) bagi keluarga miskin hendaknya berpartisipasi dalam kegiatan P2KP sehingga program pemberdayaan terlaksana dengan baik. (3) Bagi kalangan akademisi dapat memperluas cakupan kajian penelitian, peranan bantuan modal P2KP tidak hanya dilihat pada komponen program pinjaman bergulir tetapi dapat pula dilihat pada komponen program sosial dan lingkungan.

Analisis perbedaan kinerja keuangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional / Ita Nur Anisa

 

Kinerja keuangan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu usaha perbankan baik bank syariah maupun konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja keuangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional pada periode 2004—2008 dengan menggunakan rasio keuangan. Analisis rasio yang digunakan adalah rasio CAR, NPL, NPM, ROA, ROE, LR dan LDR. Adapun sampel penelitian yaitu masing-masing 3 bank yang go public dengan alat analisis independent sample t-test. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) nilai rata-rata CAR bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah,(2) nilai rata-rata NPL bank konvensional lebih besar daripada bank syariah, (3) nilai rata-rata NPM bank konvensional labih kecil dibandingkan bank syariah, (4) nilai rata-rata ROA bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah, (5) nilai rata-rata ROE bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah, (6) nilai rata-rata LR bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah, (7) nilai rata-rata LDR bank konvensional lebih kecil dibandingkan bank syariah. Penelitian menunjukkan rasio CAR (capital adequacy ratio) terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua bank, demikian pula pada rasio NPL nya. Sedangkan dari hasil penelitian pada rasio NPM (net profit margin), ROA (return on asset), ROE (return on equity), LR (liquidity ratio), LDR (loan to deposit ratio) tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan bank syariah dengan bank konvensional. Saran yang dapat disampaikan kepada kedua perbankan yaitu: bank syariah sebagai bank baru tetap mengembangkan pemasaran terutama kepada nasabah baru. Demikian pula bank konvensional bisa mempertimbangkan untuk membuka atau menambah unit usaha syariah atau mengkonversi menjadi bank umum syariah.

Pengaruh kinerja keuangan model Eagles terhadap return saham melalui trading volume activity (studi kasus pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008) / Dwi Ajeng Pramita

 

ABSTRAK Pramita, Dwi Ajeng. 2010. Pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap return saham melalui trading volume activity (Studi Kasus pada Perusahaan Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008). Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) DR. H. Agung Winarno, M.M dan (II) Fadia Zen, S.E, M.M. Kata kunci: kinerja keuangan model EAGLES, return saham, trading volume activity (TVA). Dalam dunia usaha, salah satu cara untuk mendapatkan dana adalah dengan cara menerbitkan saham. Dengan bertambahnya jumlah dana perusahaan, maka akan menunjang kegiatan perusahaan, sehingga keuntungan yang diperoleh akan semakin besar. Dalam hal tersebut tidak terlepas dari para investor yang telah menginvestasikan dananya terhadap perusahaan dengan memperoleh suatu pengharapan pengembalian yang lebih besar dari dana yang diinvestasikan, oleh karena itu perusahaan berkewajiban untuk mengelola dana dengan efektif dan efisien, sehingga mampu menghasilkan laba dengan baik agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya terhadap perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mendiskripsikan kinerja keuangan yang diukur dengan model EAGLES pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (2) Untuk mendiskripsikan return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (3) Untuk mendiskripsikan trading volume activity pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (4) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap return saham melalui trading volume activity. (a) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (b) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap trading volume activity pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (c) Untuk menguji pengaruh trading volume activity terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Penelitian ini menggunakan analisis rasio model EAGLES, return saham dan trading volume activity. Dimana rasio keuangan terdiri dari: earning ability (return on equity), asset quality (asset quality), growth (deposite growth rate dan loan growth rate), liquidity (likuiditas), equity (capital adequacy ratio), strategy (strategic respons quotient out interest dan strategic respons quotient interest). Sedangkan populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih perusahaan perbankan yang listing terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang aktif dalam memperdagangkan sahamnya serta membagikan dividend selama periode 2006-2008. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa, laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Website Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penelitian terbukti bahwa kinerja keuangan model EAGLES tidak berpengaruh terhadap return saham melalui trading volume activity. Adapun terdapat pengaruh kinerja kuangan model EAGLES terhadap return saham yang diukur oleh earning ability (return on equity), equity (capital adequacy ratio), strategy (SRQ Interest), dan tidak terdapat pengaruh kinerja kuangan model EAGLES terhadap trading volume activity, sedangkan trading volume activity berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini disebabkan karena kadang kala investor dalam berinvestasi pada saham-saham perbankan menggunakan analisis teknikal, yaitu bahwa harga pasar saham sebagai komoditas perdagangan yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran pasar, dan pada gilirannya permintaan dan penawaran merupakan manivestasi dari kondisi psikologis pemodal. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi perusahaan agar dapat meningkatkan kinerjanya terutama dalam pengelolaan dana secara efektif dan efisien sehingga menarik investor untuk menanamkan modalnya. Serta dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan faktor-faktor internal perusahaan seperti kinerja manajemen perusahaan dan faktor-faktor eksternal (kondisi ekonomi makro) yang akan berpengaruh terhadap pembentukan harga saham dengan reaksi pada trading volume activity dan pada akhirnya pencapaian return saham oleh investor.

Hubungan profesionalitas konselor dengan ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMA Negeri 4 Malang / Aprima Abu Nini Sari

 

ABSTRAK Sari, Aprima Abu Nini. 2009. Hubungan Profesionalitas Konselor dengan Ekspektasi Siswa terhadap Pemanfaatan Layanan Konseling di SMA Negeri 4 Malang. Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. (II) Dr. M. Ramli, M.A. Kata Kunci: Profesionalitas konselor, Ekspektasi siswa, Layanan konseling. Kompetensi profesional konselor merupakan kemampuan dalam memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani, menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling, menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan, mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan. Selain didapatkan dari pendidikan dan pelatihan, konselor dapat mengembangkan kompetensinya melalui pengalaman kerja dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan profesinya. Apabila kompetensi profesional konselor tinggi maka ekspektasi siswa dalam pemanfaatan layanan konseling akan tinggi dan sebaliknya apabila kompetensi profesional konselor rendah maka ekspektasi siswa dalam pemanfaatan layanan konseling rendah pula. Dengan adanya konselor yang profesional, siswa akan dapat berkembang secara optimal dan tidak akan mudah putus asa dalam menemui hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat profesionalitas konselor di SMAN 4 Malang, (2) Ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMAN 4 Malang, (3) hubungan profesionalitas konselor dengan ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMAN 4 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 4 Malang sejumlah 76 orang siswa, diambil dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner hasil pengembangan penulis sebagai instrumen dalam pengumpul data. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) cukup banyak (50%) konselor SMAN 4 Malang yang memiliki kompetensi profesional dengan klasifikasi sangat tinggi, cukup banyak (50%) konselor SMAN 4 Malang yang memiliki kompetensi profesional dengan klasifikasi tinggi, dan tidak ada satupun konselor SMAN 4 Malang yang memiliki kompetensi profesional dengan klasifikasi cukup tinggi, rendah dan sangat rendah, (2) cukup banyak siswa (59,2%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi tinggi, sedikit siswa (31,5%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi sangat tinggi, sangat sedikit siswa (7,89%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi cukup tinggi, sangat sedikit siswa (1,31%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi rendah, dan tidak ada satupun siswa SMAN 4 Malang yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi sangat rendah, (3) ada hubungan yang signifikan antara profesionalitas konselor dengan ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMAN 4 Malang, r hitung (0,545) dengan taraf signifikansi sebesar (α = 0,000). Berdasarkan hasil penelitan, beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut: Konselor, hendaknya dapat mempertahankan kompetensi profesionalnya, sehingga siswa dapat memanfaatkan layanan konseling secara optimal. Peneliti lanjutan yang mempunyai keinginan untuk mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk memperbanyak jumlah sampel untuk konselor, karena jumlah sampel konselor dalam penelitian ini tidak sebanding dengan jumlah sampel siswa. Hal ini untuk mempermudah peneliti dalam menganalisis data penelitian dan dapat dijadikan sebagai acuan agar penelitian lebih sempurna.

Birokrasi perguruan tinggi berwawasan wirausaha (Studi multikasus di kampus putih, kampus biru, dan kampus hijau di kota Malang) / Munirul Abidin

 

ABSTRAK Abidin, Munirul. 2009. Birokrasi Perguruan Tinggi Berwawasan Wirausaha (Studi Multi Kasus pada Kampus Putih, Kampus Biru dan Kampus Hijau di Kota Malang). Disertasi. Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. (II) Prof. Ahmad Sonhadji, K.H., M.A., Ph.D (III) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata kunci: wirausaha, birokrasi, perguruan tinggi. Peningkatan mutu perguruan tinggi di Indoensia merupakan salah satu upaya yang tidak pernah berhenti, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun perguruan tinggi sendiri. Salah satu upaya tersebut adalah menciptakan birokrasi perguruan tinggi yang berwawasan wirausaha, yaitu sebuah upaya yang dilakukan PT dalam rangka menciptakan birokrasi PT yang efektif, transparan, DAN akuntabel. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) nilai-nilai kewirausahaan dalam pengembangan sistem perguruan tinggi, (2) tatakelola birokrasi PT berwawasan wirausaha, (3) pengembangan akademik yang berwawasan wirausaha, (4) pengembangan SDM yang berwawasan wirausaha, (5) pengembangan wirausaha (bisnis) di perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan rancangan studi multi kasus. Situs yang dugunakan dalam penelitian ini adalah Kampus Putih, Kampus Biru dan Kampus Hijau di kota Malang. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan proses observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dari proses pengumpulan data tersebut kemudian diperiksa kebenaran, kecocokan dan kehandalannya melalui proses triangulasi, yang dalam penelitian ini digunakan trianggulasi metode dan sumber. Data hasil wawancara ditriangulasi dengan data dari dokumen, observasi dan angket. Selain itu, data hasil wawancara dari suatu responden juga dilakukan pengecekan terhadap responden yang lain. Data yang terkumpul kemudian ditabulasi, diberi kode, dimaknai dan kemudian disimpulkan pada setiap situs penelitian, yang selanjutnya dibandingkan dengan data pada situs penelitian yang lain dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) tiga PT terteliti menerapkan nilai-nilai kewirausahaan dalam pengembangan sistem perguruan tinggi. Nilai-nilai tersebut sangat bervariatif, sebagian dari nilai-nilai tersebut sama dan sebagian lain berbeda. 2) Struktur birokrasi berwawasan wirausaha adalah birokrasi yang memiliki struktur organisasi yang flat dan sederhana tetapi kaya fungsi. Tatakelola birokrasi PT yang berwirausaha adalah tatakelola birokrasi yang dapat memberikan tupoksiwab yang jelas kepada para pegawai dan karyawan, memberikan pelayanan yang cepat, jelas dan terukur, meningkatkan daya saing baik antar pegawai intern kampus maupun dengan pihak luar dalam menangani pekerjaan kampus, sentralisasi administrasi dan desentralisasi akademik, melakukan pemberdayaan kepada civitas akademika untuk berkarya dan berinovasi, serta menjamin bahwa seluruh proses layanan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. 3) Manajemen pengembangan akademik berwawasan wirausaha adalah manajemen akademik yang mampu menghasilkan program-program dan kegiatan-kegiatan yang inovatif, produktif, khas dan unggul. 4) Manajemen pengembangan SDM PT berwawasan wirausaha adalah manajemen yang mampu meningkatkan kinerja para dosen dan pegawainya dengan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien. 5) Perguruan tinggi terteliti mengembangkan bisnis dengan cara yang bervariatif. Sebagian ada yang mengembangkan model bisnis integratif antara akademik dan non akademik, sedangkan sebagian lain mengembangkan model bisnis non-integratif, yaitu bisnis murni yang terpisah dari dunia akademik.

Proses pigmentasi sirip kaudal ikan guppy (Poecilia reticulata) selama regenerasi / Nur Azizah Dimyati

 

ABSTRAK Azizah. 2010. Proses Pigmentasi Sirip kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata) Selama Regenerasi. Skripsi, program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc, (II) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si. Kata kunci: Pigmentasi, Poecilia reticulata, Sirip kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata), juga dikenal sebagai “millionfish” merupakan bagian kecil dari famili Poeciliidae. Ikan Guppy merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang paling populer di dunia. Panjang ikan betina 4-6 cm dan ikan jantan 2½–4 cm. Ikan Guppy adalah ikan yang mudah dan cepat sekali berkembang biak. Ikan Guppy juga pernah digunakan sebagai alat untuk membasmi jentik nyamuk malaria sehingga terbukti efektif untuk meredam perkembangan malaria. Keindahan ikan Guppy memberikan warna yang khas sebagai ikan hias. Ekornya lebar dan corak tubuhnya yang variatif. Warna ikan Guppy dapat dibedakan dari warna mata, warna tubuh bagian depan, warna tubuh bagian belakang, warna sirip ekor (caudal), sirip punggung (dorsal) dan warna kombinasinya. Pola warna tubuh ikan jantan lebih bervariasi daripada ikan betina. Ikan Guppy satu spesies dengan ikan Gatul (Poecilia sp.), ikan Moli (Poecilia latipinna), ikan Moli hitam (Poecilia sphenops), ikan ekor-pedang (Xiphoporus helleri), serta ikan Platis (Xiphopous maculatus) yang juga merupakan kelompok Livebearers. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Sampel penelitian ini adalah 10 ikan Guppy (Poecilia reticulata) jantan dewasa. Data perkembangan proses pigmentasi direkam dengan kamera digital di bawah mikroskop cahaya. Hasil pengamatan dicatat. Data foto disusun berurutan berdasarkan hari, mulai dari hari pemotongan sampai dengan hari ke 115. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa proses pigmentasi ikan Guppy memiliki beberapa tahap, yaitu: penyembuhan luka setelah pemotongan, reduksi kromatofor, migrasi awal kromatofor oleh melanofor, proliferasi dan pembesaran ukuran kromatofor, dan pembentukan kromatofor hingga membentuk pola warna pada sirip kaudal ikan Guppy. Dari data tersebut menunjukkan adanya salah satu kromatofor yang sama dengan manusia serta beberapa kromatofor yang dimiliki ikan Guppy (Poecilia reticulata).

Peningkatan kemampuan membaca cerita fiksi realistik siswa kelas 5 SDN Arjowinangun Malang melalui booktalk / Dewi Pusposari

 

ABSTRAK Pusposari, Dewi. 2010. Peningkatan Kemampuan Membaca Cerita Fiksi Realistik melalui Booktalk Siswa Kelas 5 SDN Arjowinangun Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd dan (II) Utami Widiati, M.A., Ph.D Kata kunci: peningkatan, kemampuan, pembelajaran, membaca cerita fiksi realistik, booktalk Peningkatan kemampuan membaca cerita fiksi realistik (CFR) melalui booktalk (BT) sebagai fokus penelitian bertolak dari kenyataan di lapangan bahwa pembelajaran membaca sastra belum tergarap dengan sempurna, terutama di SDN Arjowinangun Malang. Penelitian ini berfokus pada pemaparan proses dan hasil peningkatan pemahaman membaca CFR melalui BT. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman membaca CFR melalui BT untuk pemahaman struktur cerita yang meliputi (1) pelaku, (2) latar, (3) rangkaian, dan (4) tema cerita. BT dipilih karena terbukti dapat mempermudah siswa dalam memahami cerita. BT merupakan lembar kerja yang berisi beberapa pertanyaan tentang bacaan yang dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhdap bacaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dengan satuan siklus yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus secara berdaur ulang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan perefleksian. Kegiatan refleksi dilakukan pada akhir siklus sebagai dasar penyusunan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan tindakan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan praktisi (guru) sehingga guru dapat merasakan manfaat dan implikasi penelitian secara langsung. Data penelitian meliputi data proses dan hasil tindakan berupa perilaku yang bersumber dari interaksi (guru-siswa dan siswa-siswa) dan hasil pekerjaan siswa. Data diperoleh dari subjek terteliti kelas 5 SDN Arjowinangun Malang. Data diperoleh peneliti sebagai instrumen utama dengan memanfaatkan instrumen catatan lapangan, wawancara, kajian dokumen, dan rekaman foto kegiatan. Analisis data menggunakan model mengalir yang di dalamnya melibatkan reduksi data, sajian data, verifikasi, serta penarikan simpulan (Miles dan Huberman, 1984). Proses pembelajaran membaca CFR melalui BT dari siklus 1 hingga siklus 3 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara runtut prosedur tindakan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yakni (1) menje-laskan tujuan pembelajaran; (2) membangkitkan skemata siswa; (3) memahamkan unsur-unsur pembangun cerita melalui BT yaitu dengan cara: membaca cerita, menjelaskan pelaku, latar, rangkaian, dan tema cerita, memperagakan BT yang belum maupun yang telah ditanggapi, menjelaskan dan memodelkan penggarapan BT; (4) membagi kelompok; (5) berbagi hasil; (6) merevisi pekerjaan yang belum sempurna; dan (7) penguatan oleh guru. Hasil peningkatan kemampuan membaca CFR melalui BT tampak bahwa siswa dapat: (a) memahami pelaku cerita dengan dapat: (1) menyebutkan nama-nama pelaku dengan jumlah nilai: siklus 1:76 (kualifikasi baik), siklus 2:90 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:100 (kualifikasi sangat baik), (2) menentukan pelaku yang disukai dan alasannya dengan jumlah nilai: siklus 1:69,5 (kualifikasi cukup), siklus 2:85 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:90 (kualifikasi sangat baik), (3) menentukan pelaku yang tidak disukai dan alasannya dengan jumlah nilai siklus 1:69,5 (kualifikasi cukup), siklus 2:85 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:88 (kualifikasi sangat baik); (b) memahami latar cerita dengan dapat: (1) menentukan latar tempat dengan jumlah nilai siklus 1:74 (kualifikasi baik), siklus 2:92 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:90 (kualifikasi sangat baik), dan (2) menentukan latar waktu dengan jumlah nilai siklus 1:53 (kualifikasi kurang), siklus 2:89 ((kualifikasi sangat baik), siklus 3:89 (kualifikasi sangat baik); (c) memahami rangkaian cerita dengan jumlah nilai siklus 1:10,5 (kualifikasi sangat kurang), siklus 2:79 (kualifikasi baik), siklus 3:95,6 (kualifikasi sangat baik); serta (d) memahami tema cerita dengan dapat merumuskan gagasan utama yang melandasi terbentuknya cerita dengan jumlah nilai siklus 1:11 (kualifikasi sangat kurang), siklus 2:77 (kualifikasi baik) , siklus 3:89 (kualifikasi sangat baik). Peningkatan per aspek adalah: (a) pelaku cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 15%, dari siklus 2 ke siklus 3 mengalami peningkatan 6%; (b) latar cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 36%, sedangkan siklus 2 ke siklus 3 tidak mengalami peningkatan; (c) rangkaian cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 69%, dari siklus 2 ke siklus 3 mengalami peningkatan 16, 6%; sedangkan (d) tema cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 66%, dari siklus 2 ke siklus 3 mengalami peningkatan 12%. Masing-masing aspek mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga dapat dikatakan pemanfaatan BT sebagai alat bantu untuk meningkatkan pemahaman membaca CFR dikatakan berhasil. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah (a) agar guru bahasa Indonesia menggunakan BT sebagai media pembelajaran membaca secara umum, bukan hanya membaca CFR, (b) agar guru bahasa Indonesia memodelkan dan menyosialisasikan strategi pemanfaatan BT sebagai alat bantu pemahaman membaca CFR kepada guru lain, (c) agar guru BI dapat mengaplikasikan pembelajaran membaca CFR melalui BT yang diintegrasikan dengan aspek keterampilan berbahasa lainnya, dan (d) agar guru BI memanfaatkan buku cerita sebagai bahan pembelajaran membaca, tidak hanya mengambil bahan pembelajaran dari buku paket saja.

Meningkatkan pemahaman sifat-sifat bangun ruang melalui penerapan teori Van Hiele pada siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan / Rumini

 

RUMINI.2010. Meningkatkan Pemahaman Sifat-Sifat Bangun Ruang melalui Penerapan teori van Hiele Pada Siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV Kecamatan Purwodai Jkabupaten Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan.Jurusan KSDP.Program S I PGSD.Pembimbing I Drs. Goenawan Roebyanto, S.Pd,M.Pd. Kata Kunci : Teori Belajar Van Hiele, dan Pemahaman Sifat-sifat Bangu Ruang. Pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SD Dawuhansengon IV masih rendah. Dari 18 siswa, 9 siswa mendapatkan nilai dibawah rata-rata dan 9 siswa diatas rata-rata. Hal ini karena guru lebih sering menggunakan metode ceramah, pembelajaran yang kurang melibatkan aktivitassiswa dan pengalaman langsung pada diri siswa. Permasalahan tersebut dicoba dengan penerapan teori belajar van Hiele pada pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV. Penelitian bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan teori Van Hiele untuk meningkatkan pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV, (2) mendekripsikan tingkat keberhasilan penerapan teori belajar Van Hiele pada pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah pedoman observasi, soal, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut : (1) Hasil observasi penerapan teori Van Hiele pada pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV nilai rata-rata pra tindakan adalah 58,8, siklus I adalah 64,28 dn siklus II adalah 86,11. Sehingga pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa dari pra tindakan ke siklus II mengalami peningkatan 97 % dengan kategori sangat baik, (2) hasil observasi aktivitas siswa dengan penerapan teori Van Hiele 85 % dengan kategori baik. Saran dari penelitian ini dikemukakan sebagai berikut : (1) Teori belajar Van Hiele layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran geometri tentang sifat-sifat bangun ruang; (2) Bagi guru yang mengajar matematika disarankan menerapkan teori belajar Van Hiele dalam kegiatan pembelajaran geometri, (3) Guru pengajar disarankan menerapkan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang memungkinkan terjadinya proses belajar melalui pengalaman langsung;(4) Bagi guru perlu diketahui bahwa siswa sekolah dasar penerapan teori Van Hiele cocok diterapkan pada pembelajaran geometri.

Pendapat guru tentang proses evaluasi pembelajaran praktek penjas di SMUN se Kota Jember oleh Agus Setyawan

 

Proses evaluasi merupakan salah satu bagian dalam proses belajar'mengajirr yang mempunyai fungsi utama untuk mengetahui berhasil tidaknya proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan untuk rnengetahu.i sejauh rnana ketlampuan siswa tertradap bahan ajar yang telah guru berikan. Evaluasi merupakan bagian inteEal lalam proses pembelajann yang fflellpunyai kedudukan yang salna dcngan proses belajar-mengajar itu sendiri. untuk menunjang terlaksananya ploses pernbelajarany ang baik rnaka dalam prosesp embelajaranp erlu untuk nremperhatikan pelaksanakapnr osese valuasi. Untuk mendapatkan nilai yang benar-benar objektif terhadap kemampuan sisrva,m aka prosese valuasih endaknyad ilakukan denganb aik dan lengkap.H al ini berarti proses evaluasi harus dilakukan dengan seksama melalui prosedur yang telah ada. Penelitian inj secara umum bertrrjuan untuk mengetahui bagaimana proses evaluasi yang dilakukan oleh guru-guru penjaskes yang belada di kota Jember. Secara khusus penelitian ini ingin mengung,kapkank enyataan di lapangan apakah guru peryas di SMU Negeri se I(o1a .lember telah menialankan proses evaluasi secara prosedural dengan benar yaitu: berdasarkan pada tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap p a sca eval uasi Objek dalam penelitian ini adalah guru penjas yang mengajar pada sekolah SIVIU Negeri se kota Jeurber yaitu terdin dari 16 guru penjas dengan 8 serrolah negeri yang terdiri dari SMU Negeri 1 Jernber, SMU Negeri 2 Jember, SMIJ Negeri 3 Jember, SMU Negeri 4 .Iember, SMU Negeri 1 Ariasa, SMU Negeri 1 .lenggawah, SMU Negeri I Ambulu dan SMU Negeri I Rambipuji. Rancangan peneiitian yang digunakan adalah penelrtian non eksperitneu denganr nenggunakapne ndekatanjenisp enelitiand eskriptif.P enelitih anyam emotret kenyataan yang ada di laparrgan, peneliti tidak memberikan perlakuan pada responden. Dalam pengurnpuland ata, peneliti menggunakani nstrumen berupa angket tertutup yaitu angl

Perbedaan pengetahuan, persepsi, dan sikap siswa SMK Nasional Malang dan SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah / Abd. Rosyid

 

ABSTRAK Rosyid Abd, 2009. Perbedaan Pengetahuan, Persepsi, dan Sikap Siswa SMK Nasional Malang dan SMA Negeri 5 Malang terhadap Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Harmiyanto, (II) Drs. Hariyadi Kusuma. Kata kunci: pengetahuan, persepsi, sikap, pelaksanaan bimbingan konseling Peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah merupakan pendukung dalam meningkatkan efisiensi dan suasana kondusif dalam pengajaran di sekolah. Untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling secara berkualitas, maka seorang konselor harus mengetahui pengetahuan, persepsi, dan sikap siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling. Dalam penelitian ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana pengetahuan yang dimiliki siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, bagaimana persepsi yang dimiliki siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, dan bagaimana sikap yang dimiliki siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, apakah ada perbedaan pengetahuan, persepsi dan sikap antara siswa SMK Nasional Malang dengan siswa SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini dilakukan terhadap 70 siswa yang terbagi menjadi 35 siswa SMK Nasional Malang dan 35 siswa SMA Negeri 5 Malang. Rancangan penelitian ini jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan angket sebagai alat pengumpul data. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMK Nasional Malang memiliki pengetahuan yang baik, persepsi yang baik dan sikap yang cukup baik terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling. Sedangkan siswa SMA Negeri 5 Malang memiliki pengetahuan yang baik, persepsi yang cukup baik serta sikap yang baik terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling. Maka tidak terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan antara siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, serta terdapat perbedaan sikap yang signifikan antara siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Untuk meningkatkan mutu layanan program bimbingan dan konseling, penting bagi konselor untuk dapat memberikan/mensosialisasikan pemahaman yang benar tentang layanan bimbingan dan konseling serta disesuaikan dengan kebutuhan/karakteristik siswa di sekolah. Dalam penelitian ini terbuka kemungkinan untuk mengadakan penelitian lanjutan agar lebih banyak hal-hal yang dapat diungkapkan dan dikembangkan. Hal ini akan berguna sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam mengembangkan program layanan bimbingan konseling di sekolah dalam rangka membantu siswa mengembangkan aspek-aspek intelektual, moral, sosial, kognitif dan emosional, serta mengembangkan potensi individu secara optimal, harmonis, dan bermakna sehingga siswa mandiri, kreatif, produktif, dan religius.

Perancangan sistem deteksi kebocoran tabung LPG (Liquefied Petroleum Gasses) portable / Vita Rediyanti Hidayat

 

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan keterampilan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar yang dimediasi oleh motivasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Boyolangu / Meity Selfia

 

ABSTRAK Selfia, Meily. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kompetensi Profesional Guru dan Keterampilan Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar yang Dimediasi oleh Motivasi Belajar Siswa Program Keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Boyolangu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) DR. H. Tuhardjo, S.E., M.Si, Ak., Pembimbing (2) Dra. Tri Laksiani, S.E., MM. Kata Kunci: Persepsi, Kompetensi Profesional Guru, Keterampilan Pengelolaan Kelas, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Prestasi belajar sampai saat ini menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah motivasi belajar. Guru memiliki peranan penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, karena guru yang menjadi panutan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Kompetensi profesional dan keterampilan guru dalam mengelola kelas merupakan hal yang harus dimiliki oleh seorang guru. Jika persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan keterampilan pengelolaan kelas positif, maka akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan secara tidak langsung akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan keterampilan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa program keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Boyolangu. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi menggunakan analisis regresi dan analisis jalur (path analysis). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII program keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Boyolangu dengan jumlah total 165, sedangkan sampel yang digunakan adalah 82 siswa. Data diperoleh dengan menyebarkan angket dan dokumentasi berupa nilai raport siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) terdapat pengaruh langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru terhadap motivasi belajar, 2) terdapat pengaruh langsung keterampilan pengelolaan kelas terhadap motivasi belajar, 3) terdapat pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar, 4) terdapat pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar, dan 5) terdapat pengaruh tidak langsung keterampilan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar (a) guru terus berusaha meningkatkan kompetensi profesional dan keterampilannya dalam mengelola kelas karena hal tersebut dapat memotivasi belajar siswa, (b) siswa terus berusaha meningkatkan motivasi belajarnya, karena dilihat dari persepsi siswanya, guru-guru SMK Negeri 1 Boyolangu memiliki kompetensi profesional dan keterampilan pengelolaan kelas yang baik.

Pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikurupsi di sekolah dasar negeri bertaraf internasional (SDN BI) Tlogowaru kecamatan Kedungkandang kota Malang / Hadiyah Riwayati

 

ABSTRAK Riwayati, Hadiyah. 2009. Pengembangan Kantin Kejujuran Dalam Rangka Pendidikan Antikorupsi di Sekolah Dasar Negeri Bertaraf Internasional (SDN BI) Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi PPkn, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. A Rosyid Al-Atok, M.Pd., MH. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si. Kata Kunci: kantin kejujuran, pendidikan antikorupsi Salah satu strategi pencegahan yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia yaitu melalui pendidikan antikorupsi. Ide terus digali untuk mencari strategi terbaik dalam memberantas korupsi melalui pendidikan antikorupsi tersebut, termasuk cara mengasah kejujuran dan menumbuhkan mental antikorupsi di kalangan pelajar. Salah satu diantaranya yaitu melalui kantin kejujuran yang berada di lingkungan sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai Perguruan Tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pola pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di SDN BI Tlogowaru Kota Malang, (2) mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di SDN BI Tlogowaru Kota Malang dan (3) mendeskripsikan manfaat pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di SDN BI Tlogowaru Kota Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data penelitian dibagi menjadi tiga yaitu informan, catatan lapangan dan dokumen. Penentuan informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber yakni dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek data yang diperoleh melalui wawancara, observasi didukung dengan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Kantin kejujuran merupakan salah satu strategi yang tepat agar siswa belajar dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, ketertiban serta kemandirian. Kantin kejujuran dapat digunakan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi. Pola pengembangan kantin kejujuran di SDN BI Tlogowaru oleh pihak sekolah dilakukan secara efektif dan efisien mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga evaluasi diarahkan pada kemajuan dan hasil yang optimal; (2) Faktor pendukung pengembangan kantin kejujuran terdiri dari adanya bantuan modal; Perilaku warga sekolah untuk berperilaku jujur; Pemberian materi pendidikan antikorupsi pada mata pelajaran PKn; Siswa menyukai makanan dan dapat menjangkau harga yang ditawarkan; Kesadaran siswa untuk mematuhi norma yang berlaku; Pemahaman siswa terhadap mekanisme pembelian dan pembayaran; Siswa mengetahui tentang korupsi. Sedangkan faktor penghambat pengembangan kantin kejujuran yaitu semua siswa belum tentu bisa untuk berbuat jujur, disiplin, mandiri, tertib dan bertanggung jawab; Guru mengalami kesulitan melepas anak kelas satu karena sebagian dari mereka masih belum mengerti nominal uang; (3) Manfaat yang diperoleh diketahui sebagai berikut; Bagi sekolah terbentuknya perilaku dan lingkungan yang jujur serta sebagai sarana mengaplikasikan nilai-nilai kejujuran yang telah diajarkan di dalam kelas; Bagi siswa dapat melatih sikap jujur, bertanggung jawab, mandiri, taat terhadap norma, tata tertib dan ketentuan yang berlaku; Bagi orang tua dapat memberikan motivasi dan pembinaan terhadap anak agar selalu berperilaku jujur; Dan bagi masyarakat dapat mendidik generasi muda berperilaku jujur dan berakhlak mulia. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan: (1) Hendaknya sekolah yang bersangkutan juga menerapkan kurikulum antikorupsi dalam pembelajaran dan dalam pengawasan kantin kejujuran dapat melibatkan siswa di dalamnya melalui piket kantin kejujuran; (2) Guru hendaknya pada saat siswa bermain Ular Tangga Antikorupsi (UTAK) dapat memberikan penjelasan mengenai nilai-nilai kejujuran yang terangkum di permainan UTAK tersebut; (3) Dinas Pendidikan Kota Malang hendaknya memberikan dukungan dan ikut menfasilitasi sekolah yang berkeinginan untuk mendirikan dan melaksanakan praktik kantin kejujuran; (4) Peneliti atau mahasiswa yang akan datang hendaknya dapat meneliti metode pembelajaran antikorupsi yang diterapkan di dalam kelas.

Studi kekerabatan jenis-jenis ficus yang terdapat di Kabupaten Bangkalan-Madura berdasarkan ciri morfologi / Fachmiar Ishadi

 

ABSTRAK i, Fachmiar. 2010. Studi Kekerabatan Jenis-Jenis Ficus yang Terdapat di Kabupaten Bangkalan-Madura Berdasarkan Ciri Morfologi. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S., (II) Dra. Murni Saptasari, M.Si. Kata kunci: Ficus, morfologi vegetatif, kekerabatan Ficus Ficus adalah kelompok tumbuhan yang banyak ditemukan di Indonesia. Ficus memiliki masalah pada taksonominya. Berdasarkan hasil PKL di Kebun Raya Purwodadi, diperoleh data Ficus kurang lebih sebanyak 65 jenis dan beberapa diantaranya masih belum diketahui nama jenisnya. Menurut Ronsted (2006), secara morfologi Ficus terpisah dari suku Moraceae dan ditempatkan pada suku Ficeae. Marga Ficus memiliki kelompok dalam jumlah yang besar dan beberapa diantaranya masih belum diketahui kedudukannya dalam takson sehingga menarik untuk dikaji kekerabatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Ficus yang ditemukan di Kabupaten Bangkalan-Madura dan hubungan kekerabatannya berdasarkan ciri morfologi vegetatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan Maret - April 2009. Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah tumbuhan Ficus yang terdapat di tiga Kecamatan yang meliputi: Kecamatan Bangkalan, Kecamatan Burneh, dan Kecamatan Kamal. Pengambilan sampel dilakukan secara jelajah bebas. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis cluster (pengelompokan) untuk menentukan hubungan kekerabatannya dan selanjutnya membuat kunci identifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 91 karakter morfologi vegetatif dari 7 jenis tumbuhan Ficus yaitu F. ampelas Burm. f., F. benjamina L., F. kurzii King, F. septica Burm. f., F. hispida L. f., F. montana Burm. f., dan F. albipila (Miq.) King. Ciri-ciri morfologi yang dapat dijadikan karakter pada tumbuhan Ficus di Kabupaten Bangkalan-Madura, yaitu: diameter batang, tinggi tumbuhan, bentuk daun, tebal daun, panjang dan lebar daun, ujung daun, warna daun, bentuk angkup, serta warna getah. Tumbuhan Ficus yang ditemukan terkelompok menjadi 3 kelompok. Kelompok 1, terdiri dari F. benjamina L. yang berkerabat relatif dekat dengan F. kurzii King (koefisien asosiasi 0,522); kelompok 2 memiliki 2 sub kelompok, sub kelompok 1 yaitu F. ampelas Burm. f. dan F. montana Burm. f. yang berkerabat relatif dekat (koefisien asosiasi 0,522), sub kelompok 2 yaitu F. septica Burm. f. dan F. albipila (Miq.) King yang dianggap berkerabat kurang dekat (koefisien asosiasi 0,400); kelompok 3, hanya terdiri dari F. hispida L. f. Jika ketiga kelompok diperbandingkan, maka diperoleh tingkat kekerabatan sebesar 0,174. Tingkat kekerabatan ini menunjukkan kategori marga yaitu Ficus, dengan masing-masing sebagai sub-marga. Bukti morfologi vegetatif untuk membuktikan masing-masing kelompok Ficus merupakan submarga belum cukup, maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan kekerabatannya dari berbagai ciri termasuk bunga.

Peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar melalui penerapan metode cooperative learning model student teams achievement division (STAD) pada mata oelajaran pemasaran (Studi pada siswa kelas X PMS SMK PGRI 2 Malang) / Sulistyoningsih

 

i ABSTRAK Sulistyaningsih. 2010. Peningkatan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Melalui Penerapan Metode Cooperative Learning Model Student Teams Achievement Division (STAD) Pada Mata Pelajaran Pemasaran (Studi Pada Siswa Kelas X PMS SMK PGRI 2 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, FE, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Heri Pratikto, M.Si, (II) Imam Bukhori, S.Pd, M.M. Kata kunci: aktivitas belajar, hasil belajar, metode cooperative learning model student teams achievement division (stad) Pembelajaran kooperatif model STAD dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, menjadikan siswa lebih aktif dalam berkomunikasi dan pembelajaran kooperatif model STAD merupakan variasi dalam pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton dengan hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa tidak merasa bosan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran pemasaran pada pokok bahasan marketing mix. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD; (2) untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diadakan pembelajaran kooperatif model STAD pada mata pelajaran, (3) untuk mengetahui aktivitas belajar siswa setelah diadakan pembelajaran kooperatif model STAD pada mata pelajaran. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah kelas X PMS SMK PGRI 2 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes, panduan observasi, format penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada siklus I, nilai rata-rata aktivitas siswa sebesar 74,98 yang berarti menunjukkan kualitas belajar baik. Pada siklus II, nilai rata-rata aktivitas siswa mencapai 94,33 dengan kualitas belajar baik. (2) Pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar siswa pada aspek kognitif sebesar 61,63 dengan kategori baik. Pada siklus II, nilai rata-rata hasil belajar siswa pada aspek kognitif meningkat menjadi 77,58 dengan kategori baik. (3) Pada siklus I nilai rata-rata aspek afektif siswa sebesar 80. Pada siklus II nilai rata-rata aspek afektif siswa mengalami peningkatan sebesar 11% menjadi 91. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD di kelas memberikan variasi belajar siswa sehingga suasana kelas tidak monoton dan membosankan, selain itu siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga timbul interaksi antar sesama siswa yang saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal (2) Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatakan aktivitas belajar siswa kelas X PMS pada mata pelajaran marketing mix. Hal ini bisa dilihat dari skor peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II (3) Hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan aspek afektif setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model STAD mengalami peningkatan dimana diketahui ii pada tindakan siklus 1 nilai post test siswa meningkat dibanding nilai pre test mereka, namun kelas belum memenuhi syarat ketuntasan belajar karena yang tuntas belajar masih dibawah batas minimum presentase ketuntasan belajar kelas. Pada tindakan siklus II nilai post test siswa meningkat dibandingkan nilai pre test mereka. Diketahui bahwa dalam tindakan siklus II ini kelas telah memenuhi taraf ketuntasan belajar dimana presentase siswa yang tuntas belajar diatas batas minimum presentase ketuntasan belajar kelas. Saran yang dapat dikemukakan diantaranya: (1) guru hendaknya lebih meningkatkan motivasi siswa untuk pembelajaran model STAD sehingga siswa bisa berpikir lebih aktif dalam memecahkan suatu masalah, saling bekerjasama antar siswa dan memberikan bimbingan pada siswa untuk memecahkan suatu masalah (2) siswa hendaknya lebih meningkatkan kreatifitas mereka untuk berfikir lebih maju dan berani mengungkapkan pendapat. Selain itu siswa diharapkan dapat saling bekerjasama dalam suatu kelompok dan berusaha menghargai orang lain (3) peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian pada kompetensi dasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.

Kajian analisis varian peubah ganda pada percobaan faktorial dua faktor dengan rancangan acak lengkat / Abdul Malik

 

ABSTRAK Malik, Abdul .2009. Kajian Analisis Varian Peubah Ganda pada Percobaan Faktorial Dua Faktor dengan Rancangan Acak Lengkap. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Swosono Rahardjo, S.Pd, M.Si (II) Ir.Hendro Permadi, M.Si Kata Kunci: manova faktorial, tinggi tanaman kedelai, luas kanopi Manova merupakan salah satu metode statistik multivariat yang digunakan untuk menganalisis data lebih dari satu variabel dependen dengan skala interval atau rasio, sedangkan variabel independennya terdiri dari dua kelompok atau lebih, dimana semua variabel tersebut dianalisis secara simultan atau bersama-sama. Skripsi ini membahas tanaman kedelai, untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan pupuk kandang terhadap tinggi tanaman dan luas kanopi pada tanaman kedelai dengan menggunakan manova percobaan faktorial pada rancangan acak lengkap. Setelah dilakukan uji manova faktorial rancangan acak lengkap pada tanaman kedelai, didapatkan perbedaan yang nyata pada tinggi tanaman dan luas kanopi tanaman kedelai yang dipengaruhi oleh jarak tanam 20cm x 20cm dan 30cm x, sedangkan untuk faktor pupuk kandang tidak ada perbedaan nyata pada tinggi tanaman dan luas kanopi tanaman kedelai, begitu juga pada faktor kombinasi pupuk kandang dan jarak tanam tidak ada perbedaan nyata pada tinggi tanaman dan luas kanopi tanaman kedelai. Dari uji rata-rata dan rata-rata data tanaman kedelai, didapat bahwa pada faktor jarak tanam 30cm x 30cm merupakan yang plaing bagus digunakan untuk menanam tanaman kedelai.

Kajian tentang kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa kelas II SMU Negeri 8 Malang dalam memahami bahan kajian termokimia / oleh Lilik Isnawiyati

 

Analisis faktor-faktor organisasional yang mempengaruhi kinerja dosen ekonomi PTN di Sulawesi Utara / Rita Norce Taroreh

 

ABSTRAK Taroreh, Rita Norce. 2009. Analisis Faktor-Faktor Organisasional yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Ekonomi PTN Di Sulawesi Utara. Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Salladien, (II) Prof. Dr. Umar Nimran, M.A., dan (III) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. Kata Kunci: faktor-faktor organisasional, kinerja dosen Untuk meningkatkan daya saing global produk Indonesia maka peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan tuntutan yang tidak dapat ditunda. Untuk tujuan ini pendidikan memiliki peran yang sangat strategis tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan penyediaan SDM berkualitas saat ini, tetapi untuk masa yang akan datang. Sebagai media pembelajaran, perguruan tinggi semestinya mewujudkan dirinya sebagai ruang belajar (space of learn) bagi seluruh sivitas akademikanya. Untuk melakonkan perannya dengan baik maka pengelolaan perguruan tinggi membutuhkan organisasi yang memungkinkannya melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri dan beradaptasi secara kreatif terhadap perubahan lingkungan strategisnya. Organisasi harus mengizinkan dan mendorong individu dan kelompok anggotanya untuk menjadi lebih efektif, terutama dalam memanfaatkan SDM yang dimilikinya. Perguruan tinggi merupakan organisasi yang sangat bergantung pada kinerja SDM yang menjadi anggotanya, termasuk SDM dosen. Dosen menjadi parameter penting dalam proses pengendalian kelembagaan peguruan tinggi karena kedudukannya yang sangat sentral. Melalui misi pokok perguruan tinggi yaitu mengembangkan, mengalihkan, dan menerapkan pengetahuan melalui pengamalan tridharma perguruan tinggi, menempatkan dosen sebagai SDM utama pemegang kunci operasional tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi. Dengan kemampuan profesional dan hubungan yang dekat dengan mahasiswa dan sejawat, dosen sangat menentukan perkembangan institusi, mempengaruhi lingkungan intelektual dan sosial kehidupan kampus. Oleh sebab itu maka segala upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja dosen sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi secara komprehensif perlu dilakukan agar fungsi dan perannya dapat terlaksana secara maksimal guna tercapainya tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara: budaya organisasi dan komunikasi organisasi terhadap iklim organisasi, kepuasan kerja, konflik organisasi, dan kinerja dosen ekonomi PTN di Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif bersifat survey korelasional terhadap populasi yang meliputi seluruh dosen ekonomi berjumlah 455 orang yang tersebar di 3 (tiga) PTN di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Manado, dan Politeknik Negeri Manado. Ukuran sampel diperoleh menggunakan tabel Krejcie pada tingkat kesalahan 5% sebanyak 210 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan jumlah sebaran menurut masing-masing perguruan tinggi ditentukan berdasarkan prosentase jumlah dosen yang dimiliki oleh masing-masing PTN. Instrumen penelitian berupa angket untuk mengukur variabel penelitian: budaya organisasi, komunikasi organisasi, iklim organisasi, konflik organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja dosen, dikembangkan mengacu pada teori dibawah bimbingan dan persetujuan para dosen pembimbing. Angket yang digunakan telah diujicobakan sebelumnya kepada 30 orang responden dan telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas instrumen. Data penelitian setelah memenuhi asumsi data, selanjutnya dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan statistical software SPSS for Windows Release 15.0. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) budaya organisasi berpengaruh secara langsung terhadap iklim organisasi, (2) budaya organisasi tidak berpengaruh secara langsung, namun berpengaruh secara tidak langsung terhadap kepuasan kerja, (3) budaya organisasi berpengaruh secara langsung terhadap konflik organisasi, (4) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung terhadap iklim organisasi, (5) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kepuasan kerja, (6) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung terhadap konflik organisasi, (7) iklim organisasi berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan kerja, (8) konflik organisasi berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan kerja, (9) iklim organisasi tidak berpengaruh secara langsung, namun berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja dosen, (10) budaya organisasi berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja dosen, (11) kepuasan kerja berpengaruh secara langsung terhadap kinerja dosen, (12) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja, dan (13) konflik organisasi tidak berpengaruh secara langsung, namun berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja dosen ekonomi PTN di Sulawesi Utara. Menindaklanjuti temuan penelitian ini, disarankan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk terlebih dahulu meningkatkan kepuasan kerja sebelum melakukan peningkatan/perbaikan terhadap budaya organisasi, komunikasi organisasi, iklim organisasi, dan penggunaan metode penyelesaian konflik apabila hendak meningkatkan kinerja dosen, khususnya dosen ekonomi. Bagi dosen, temuan penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi diri sekaligus umpan balik untuk terus melakukan peningkatan/perbaikan kinerjanya. Bagi penelitian selanjutnya temuan penelitian ini dapat dikembangkan untuk wilayah yang lebih luas mengingat keberagaman yang ada pada setiap individu dosen, lingkungan dimana perguruan tinggi tempatnya bekerja, serta mengembangkan sejumlah faktor organisasional lainnya secara lebih komprehensif yang mempengaruhi kinerja dosen.

Pengembangan media pembelajaran berbasis CAI (Computer Asissted Instruction) untuk materi pemanasan global bidang studi geografi kelas X SMA NEGERI 1 Ngawi / Niswatun Afifah

 

ABSTRAK Afifah, Niswatun. 2010. ”Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis CAI (Computer Assisted Instruction) untuk Materi Pemanasan Global Kelas X Semester 2 SMA Negeri 1 Ngawi”. Skripsi, Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Soelistidjo, M.Si (II) Drs. Yusuf Suharto. Kata Kunci: media pembelajaran, cai (computer assisted instruction), pemanasan global Kemajuan teknologi modern adalah salah satu faktor yang turut menunjang keberhasilan pendidikan. Peranan teknologi sangat berpengaruh pada proses penyampaian pesan terutama dalam proses pendidikan. Media merupakan alat perantara untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Media dapat berfungsi untuk memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan minat belajar siswa. Terdapat dua macam pembelajaran berbasis komputer yaitu Computer Assisted Instruction (CAI) dan Computer Managed Instruction (CMI). Dalam CAI, siswa berinteraksi langsung (online) dengan komputer sedangkan CMI membantu guru dalam mengadministrasi proses pembalajaran dan siswa tidak online dengan komputer. CAI (Computer Assisted Instruction) adalah suatu sistem penyampaian materi pelajaran yang berbasis mikroposesor yang pelajarannya dirancang dan diprogram ke dalam sistem tersebut. CAI dapat berbentuk tutorial, drills and practice, simulasi, dan permainan. Media pembelajaran berbasis CAI ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik, dan animasi grafik (graphic animation). Media pembelajaran berbasis CAI ini juga mampu memberikan balikan (feedback) sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi. Bentuk pembelajaran CAI yang diberikan adalah bentuk tutorial bercabang. Desain uji coba penelitian meliputi validasi isi dan uji coba di lapangan. Validasi isi diperoleh dari penilaian dan tanggapan dari validator ahli materi dan ahli media yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kelayakan dan bagian media CAI yang perlu direvisi. Uji coba di lapangan dilakukan dengan mencobakan media CAI kepada siswa. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu media pembelajaran berbasis CAI yang diproduksi memiliki tingkat kelayakan tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil validasi kelompok ahli terhadap media yang dikembangkan adalah 89,32% (valid). Sedangkan hasil validasi pada audiens adalah 98,75% (valid). Saran pengembangan produk lebih lanjut yang dapat dikemukakan setelah dilaksanakan penelitian pengembangan ini adalah 1) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka mengeliminasi kekurangannya; 2) media pembelajaran berbasis CAI untuk materi lain perlu dikembangkan; 3) perlu dikembangkan media pembelajaran berbasis CAI yang online, dapat diakses melalui internet.

Perbedaan peningkatan sikap dan hasil belajar akuntansi peserta didik SMA NEGERI 8 Malang melalui kombinasi metode pembelajaran think pair share (TPS) dengan permainan teka-teki / Anggi Wahyu Maulandani

 

ABSTRAK Maulandani, Anggi Wahyu. 2009. Perbedaan Peningkatan Sikap dan Hasil Belajar Peserta Didik SMA Negeri 8 Malang melalui Kombinasi Metode Pembelajaran Think Pair Share dengan Permainan teka-teki. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi. FE. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, M.Si. Ak. (II) Sawitri Dwi Prastiti. S.E. M.Si. Ak. Kata kunci: metode pembelajaran Think Pair Share, permainan teka-teki, sikap, hasil belajar Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah. Berangkat dari fakta yang diperoleh peneliti khususnya mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI IPS masih disampaikan dengan metode konvensional. Dari sini peneliti mencoba menggunakan kombinasi metode pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki untuk mengetahui apakah metode ini dapat meningkatkan sikap dan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional di SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Penelitian membagi sasaran penelitian menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah kelompok yang dalam proses pembelajarannya menggunakan metode konvensional atau ceramah. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang dalam proses pembelajarannya menggunakan kombinasi metode pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki dalam mata pelajaran akuntansi. Pada akhir eksperimen maka akan diuji kelompok mana yang lebih baik apakah kelompok kontrol ataukah kelompok eksperimen. Analisis yang digunakan untuk menguji kemampuan awal dan kemampuan akhir siswa adalah analisis uji t. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar akuntansi siswa melalui kombinasi pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki lebih bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Selanjutnya dilihat dari respon sikap siswa dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa siswa memiliki kecenderungan respon positif. Berdasarkan dari analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar akuntansi dan sikap siswa kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan dengan kombinasi metode pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki lebih baik bila dibandingkan dengan hasil belajar akuntansi dan sikap siswa kelompok kontrol yang diberi perlakuan secara konvensional. Penulis menyarankan untuk: (1) menerapkan pembelajaran TPS sebagai variasi guru dalam mengajar, juga karena dapat meningkatkan sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar, (2) untuk meningkatkan hasil belajar siswa hendaknya guru memilih strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dikelas, (3) Bagi lembaga pendidikan atau instansi terkait disarankan untuk dapat mensosialisasikan pembelajaran kooperatif khususnya metode Think Pair, (4) Kapasitas kelas yang digunakan sebagai eksperimen sebaiknya tidak melebihi terlalu banyak, (5) Peneliti mengharapkan ada penelitian sejenis dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung yang lain yang turut berpengaruh terhadap hasil penelitian namun tidak teridentifikasi dalam jabaran variabel penelitian.

Perbedaan kemampuan siswa kelas IX IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US (United Stated) dan sistem IUPAC (International Union Of Pure and Applied Chemistry) / Siti Maslifatul Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Siti Maslifatul. 2010. Perbedaan Kemampuan Siswa Kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam Menentukan Periode dan Golongan Unsur pada Sistem Periodik Unsur Berdasarkan Sistem US (United Stated) dan Sistem IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D., (2) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd. kata kunci: kemampuan, sistem periodik unsur, sistem US, sistem IUPAC Salah satu materi ilmu kimia adalah struktur atom dan sistem periodik unsur. Materi struktur atom dan sistem periodik unsur diajarkan di kelas X dan XI SMA dan MA. Pada materi tersebut dibahas penentuan letak unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan konfigurasi elektronnya. Di kelas X, penentuan periode dan golongan unsur didasarkan pada konfigurasi elektron berdasarkan kulit. Di kelas XI, penentuan periode dan golongan unsur didasarkan pada konfigurasi elektron berdasarkan harga bilangan kuantum. Sistem periodik unsur telah mengalami beberapa kali perubahan dalam penomoran golongan, yaitu mulai dari sistem IUPAC lama, sistem US sampai sistem IUPAC baru (selanjutnya disebut sistem IUPAC). Sistem IUPAC telah direkomendasikan oleh IUPAC pada tahun 1983. Penentuan golongan unsur berdasarkan sistem US dapat membingungkan siswa, karena pada golongan VIIIB terdapat tiga kolom dengan nomor golongan yang sama, sedangkan pada sistem IUPAC setiap kolom memiliki nomor golongan tersendiri. Berdasarkan hal ini, dapat diprediksikan bahwa siswa akan lebih mudah mempelajari penentuan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem IUPAC dari pada berdasarkan sistem US. Akan tetapi, sistem periodik unsur yang masih banyak dipakai di Indonesia adalah sistem US. Seperti yang digunakan di sekolah-sekolah dan buku-buku kimia yang beredar di Indonesia. Penelitian tentang penentuan letak unsur dalam sistem periodik berdasarkan sistem IUPAC belum pernah dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kemampuan siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US, (2) mengetahui kemampuan siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem IUPAC, dan (3) mengetahui perbedaan kemampuan siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US dan sistem IUPAC. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang, dengan sampel penelitian siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 SMAN 2 Malang. Kedua sampel dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol diajar materi penentuan periode dan golongan unsur berdasarkan sistem US, sedangkan kelompok eksperimen diajar materi penentuan periode dan golongan berdasarkan sistem IUPAC. Pada tahap 1, kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Pada tahap 2, kelas XI IPA 1 sebagai kelas kontrol dan XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa instrumen perlakuan (RPP) dan instrumen tes. Instrumen tes mempunyai validitas butir soal 0,35-0,68 untuk soal tahap 1 dan 0,36-0,81 untuk soal tahap 2. Reliabilitas instrumen tes yang diukur dengan rumus Kuder Richardson (KR 20) adalah sebesar 0,80 untuk tahap 1 dan 0,84 untuk tahap 2. Perbedaan kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US dan sistem IUPAC diuji dengan menggunakan uji statistik, yaitu uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem US tergolong baik, yaitu sebesar 78,1% pada tahap 1 dan sebesar 80,0% pada tahap 2. Kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem IUPAC tergolong cukup yaitu sebesar 67,4% pada tahap 1 dan 74,3% pada tahap 2. Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem US dan sistem IUPAC. Rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol sebesar 79,6 pada tahap 1 dan 82,8 pada tahap 2. Untuk kelas eksperimen sebesar 72,4 pada tahap 1 dan sebesar 76,0 pada tahap 2. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem US lebih baik dari pada sistem IUPAC. Hasil ini berkebalikan dengan alasan yang dikemukakan IUPAC, hal ini mungkin disebabkan siswa sudah terbiasa dan familiar dengan menggunakan sistem US. Di kelas X sistem periodik yang dikenal siswa juga sistem US. Buku-buku pelajaran juga menjelaskan sistem US. Demikian pula pelajaran di luar sekolah, misalnya di bimbingan belajar.

Pengaruh pengungkapan sosial perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan terhadap reaksi investor pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ periode 2006-2007 / Farida Amalia Suyitno

 

ABSTRAK Suyitno, Farida Amalia. 2009. Pengaruh Pengungkapan Sosial Perusahaan dan Kinerja Keuangan Perusahaan Terhadap Reaksi Investor Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEJ Periode 2006-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Hj. Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si, Ak. Pembimbing II : Dr. Nurika R, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci: Pengungkapan Sosial, Kinerja Keuangan, Reaksi Investor. Era globalisasi dan persaingan bebas membawa kehancuran yang semakin parah bagi dunia. Maka, belakangan ini banyak organisasi bisnis yang mulai memperhatikan peran sosialnya terhadap kondisi lingkungannya. Peran dan tanggungjawab sosial perusahaan dewasa ini merupakan bagian penting yang tidak dapat diabaikan.Selain itu, tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Peningkatan nilai perusahaan ini salah satunya dapat diperlihatkan melalui kinerja perusahaan yang baik pula. Seorang investor cenderung melakukan investasi pada perusahaan yang mempunyai kinerja yang baik, dengan harapan memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi dari modal yang diinvestasikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh dari pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan terhadap reaksi investor, untuk mengetahui adanya pengaruh dari kinerja keuangan perusahaan terhadap reaksi investor, untuk mengetahui adanya pengaruh simultan pengungkapan sosial perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan terhadap reaksi investor. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif (korelasional). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih, atau hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2006-2007. Pemilihan sampel penelitian didasarkan pada purposive sampling, sehingga ditemukan 52 perusahaan sebagai sampel. Analisis yang digunakan yaitu regresi linier berganda dimana terdapat dua variabel bebas yaitu pengungkapan sosial yang diukur dengan indeks, dan kinerja keuangan yang diukur dengan MVA. Variabel terikat adalah reaksi investor yang diukur dengan VAt. Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan adanya pengaruh baik parsial maupun simultan dari pengungkapan sosial dan kinerja keuangan terhadap reaksi investor. Artinya jika, pengungkapan sosial semakin besar dan kinerja keuangan perusahaan semakin baik, investor akan semakin baik meresponnya.Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan, antara lain Zuhroh dan Sukmawati (2003) dan Ilmiyati (2007). Sebaiknya, untuk mengukur kinerja keuangan, tidak hanya menggunakan MVA tapi juga pengukuran lainnya misalnya EPS atau DER. Dan untuk mengukur reaksi investor, bisa juga menggunakan CAR sebagai pengukuran sehingga hasil penelitian selanjutnya bisa lebih akurat.

Pengaruh aktivitas berorganisasi terhadap prestasi belajar siswa SMA NEGERI 2 Pamekasan / Farida Amalia Suyitno

 

ABSTRAK Suyitno, Farida Amalia. 2009. Pengaruh Aktivitas Berorganisasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 2 Pamekasan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Dr. Drs. Bambang Sugeng, S.E., M.A., M.M., Ak., Pembimbing II : Dra. Suparti, M.P. Kata Kunci: Aktivitas Berorganisasi, Prestasi Belajar. Aktivitas berorganisasi merupakan kegiatan yang dilakukan siswa diluar jam belajar dalam rangka mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki siswa.Organisasi di sekolah sendiri terdiri dari organisasi intra dan organisasi ekstra. Aktivitas organisasi sering dijadikan sebagai salah satu faktor penyebab menurunnya prestasi belajar siswa. Padahal menurut teori motivasi Maslow dan Berne, organisasi bisa dijadikan sebagai pendongkrak motivasi untuk meningkatkan prestasi karena dengan berorganisasi siswa bisa memenuhi salah satu dari tujuh hierarki kebutuhannya dan organisasi bisa dijadikan sebagai tempat menerima rangsangan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara aktivitas berorganisasi dari siswa yang mengikuti organisasi intra dan siswa yang mengikuti organisasi ekstra terhadap prestasi belajar, serta apakah terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti organisasi intra dan yang mengikuti organisasi ekstra. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 2 Pamekasan yang mengikuti aktivitas organisasi dan sampelnya adalah siswa yang aktif mengikuti organisasi baik intra maupun ekstra dan hanya aktif dalam satu organisasi saja. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dilakukan dengan teknik dokumentasi nilai raport siswa sebelum aktif mengikuti organisasi dan sesudah aktif mengikuti aktivitas berorganisasi. Pengujian hipotesis menggunakan analisis T-test. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan dari aktivitas berorganisasi baik siswa yang mengikuti aktivitas organisasi intra maupun siswa yang mengikuti aktivitas organisasi ekstra terhadap prestasi belajar siswa SMA Negeri 2 Pamekasan. Dan tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti aktivitas organisasi intra dan yang mengikuti aktivitas organisasi ekstra. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) Ada baiknya pengukuran prestasi belajar juga ditambah dengan nilai test atau ulangan harian sesungguhnya supaya bisa lebih diketahui nilai siswa yang sebenarnya.(2)Ada baiknya dicari juga perbedaan prestasi siswa dari berbagai macam jenis organisasi yang ada dalam kelompok organisasi ekstrakulikuler.

Pengaruh pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah dan pembiayaan murabahah terhadap laba pada bank syariah periode 2000-2008 / Sapta Lirantia Purnamasari

 

ABSTRAK Purnamasari, Sapta L. 2009. Pengaruh Pembiayaan Mudharabah, Pembiayaan Musyarakah dan Pembiayaan Murabahah Terhadap Laba Pada Bank Syariah Periode 2000-2008. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Agung Winarno, M.M, (2) Yuli Soesetio, S.E., M.M. Kata kunci: pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah, laba Masalah yang sering dihadapi oleh setiap perusahaan yaitu tidak terlepas dari kebutuhan akan dana untuk membiayai usahanya. Untuk memenuhi kebutuhannya, hampir semua perusahaan memanfaatkan perbankan. Salah satunya adalah bank syariah yang menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan, diantaranya adalah pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, dan pembiayaan murabahah. Pembiayaan yang telah disalurkan oleh bank syariah mengandung risiko kemacetan pelunasannya, sehingga dapat berpengaruh terhadap laba. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perkembangan pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, dan laba pada bank syariah, (2) menguji pengaruh besarnya pembiayaan mudharabah, musyarakah, dan murabahah baik secara parsial maupun simultan terhadap laba pada bank syariah. Populasi dalam penelitian ini adalah semua bank umum syariah di Indonesia. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan mengambil sampel 2 bank syariah yaitu Bank Syariah Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perkembangan pembiayaan mudharabah, musyarakah, dan murabahah pada bank syariah selama periode 2000-2008 selalu mengalami peningkatan. Sedangkan perkembangan laba pada bank syariah selama periode 2000-2008 mengalami kenaikan dan penurunan, (2) pembiayaan mudharabah berpengaruh positif terhadap laba pada bank syariah. Sedangkan pembiayaan musyarakah dan murabahah tidak berpengaruh terhadap laba pada bank syariah, (3) pembiayaan mudharabah, musyarakah, dan murabahah secara simultan berpengaruh terhadap laba pada bank syariah. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat diberikan saran yaitu: (1) bank syariah sebaiknya terus menggalakkan pembiayaan mudharabah sebagai salah satu produk unggulan, karena merupakan satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap laba, (2) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk: (a) menambah populasi dan sampel yang digunakan misalnya dengan menambahkan Unit Usaha Syariah sebagai obyek penelitian, (b) menambah periode pengamatan dan variabel lain sebagai variabel bebas yang potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan laba misalnya Istishna dan Ijarah, (c) tidak menggunakan laba dengan indikator EAT sebagai variabel terikat tetapi menggunakan pendapatan margin dan bagi hasil operasional. Sehingga hasil penelitiannya lebih teliti dan akurat.

Identifikasi bentuk, tipe, kerapatan, dan rendemen butir amilum pada rimpang empat species zingiberaceae / Rr. Dinda Novrischa Setyaningrum

 

ABSTRAK Setyaningrum, D. N. 2010. Identifikasi Bentuk, Tipe, Kerapatan, dan Rendemen Butir Amilum pada Rimpang Empat Spesies Zingiberaceae. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sulisetijono, M.Si., (II) Dr. Endang Kartini A. M., M.S.Apt. Kata kunci: Butir amilum, rimpang Zingiberaceae Rimpang Zingiberaceae mengandung substansi ergastik padat berupa amilum dan substansi ergastik cair berupa minyak atsiri. Rimpang Zingiberaceae biasa digunakan sebagai jamu dalam pengobatan tradisional yang memanfaatkan senyawa aktif dari hasil metabolit sekunder. Keberadaan amilum dalam jamu kurang berperan dalam bidang pengobatan tetapi berpeluang untuk diolah menjadi tepung sehingga dilakukan pemisahan dengan cara pengenapan. Kelayakan pengolahan amilum menjadi tepung dari rimpang Zingiberaceae dapat diketahui melalui kerapatan serta rendemen butir amilum pada rimpang empat species Zingiberaceae, sedangkan bentuk dan tipe butir amilum dapat digunakan sebagai pencirian. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, tipe, dan ukuran butir amilum pada rimpang empat species Zingiberaceae, membedakan kerapatan butir amilum pada rimpang empat species Zingiberaceae, menghitung rendemen tepung yang dihasilkan dari rimpang empat species Zingiberaceae. Empat rimpang species Zingiberaceae yang digunakan diperoleh dari tiga pasar tradisional yang ada di kota dan Kabupaten Malang, yaitu rimpang: temu mangga, temu lawak, kunyit, dan kencur dengan kondisi yang masih segar. Jenis penelitian adalah deskriptif. Penelitian dilakukan di ruang preparasi Kultur Jaringan Tumbuhan Ruang Bio 309 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan April-Desember 2009. Pengamatan amilum dilakukan dengan mikroskop monokuler Ernst Leitz dengan perbesaran 10x45 melalui beberapa bidang pandang secara acak. Preparat amatan amilum diambil dari rimpang empat species Zingiberaceae dengan preparat irisan dan hasil tusukan rimpang pada bagian ujung, tengah, dan pangkal. Data berupa bentuk, tipe, dan rendemen amilum yang diperoleh, dianalisis secara deskriptif. Data kerapatan butir amilum dalam sel antar rimpang dianalisis dengan Anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa butir amilum yang ditemukan pada keempat rimpang Zingiberaceae yang diteliti memiliki bentuk lonjong dan bulat bertipe monoadelph dan diadelph. Rerata kerapatan sel yang mengandung butir amilum tertinggi terdapat pada rimpang temu mangga, sebesar 260,39 per mm2 dengan jumlah rendemen tertinggi, sebesar 5,94%. Rerata kerapatan sel yang mengandung butir amilum terendah terdapat pada rimpang kencur, sebesar 194,06 per mm2 dan jumlah rendemen terendah terdapat pada rimpang kunyit, sebesar 1,97%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tingkat keamanan konsumsi tepung rimpang Zingiberaceae dalam pemanfaatannya di masyarakat. Selain itu, penelitian tentang bentuk, tipe, kerapatan, dan rendemen butir amilum pada rimpang species Zingiberaceae lain juga perlu dilakukan guna mengidentifikasi butir amilum yang berpeluang untuk diolah menjadi tepung.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat pelayanan prima (Studi kasus siswa kelas X jurusan penjualan SMK PGRI 2 Malang) / Luluk Suryani Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Luluk, Suryani. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat Pelayanan Prima Siswa Kelas X Jurusan Penjualan SMK PGRI 2 Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Niaga. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Supriyanto, M.M. (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M.Si. Kata kunci: model Group Investigation, hasil belajar. Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum menjadi lebih baik. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Agar dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih bervariasi dan dapat meningkatkan peran siswa dalam pembelajaran maka perlu diterapkan model pembelajaran, misalnya model pembelajaran kooperatif. Karena model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai salah satu alternative dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan siswa, ketrampilan berfikir, sikap positif terhadap materi pelajaran, hasil belajar dan motivasi belajar. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran Group Investigation pada mata diklat Pelayanan Prima di SMK PGRI 2 Malang, 2) mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar setelah dilasanakan metode pembelajaran Grop Investigation pada mata diklat Pelayanan Prima di SMK PGRI 2 Malang, 3) mengetahui apakah faktor-faktor penghambat dalam penerapan metode pembelajaran Group Investigation pada mata diklat Pelayanan Prima di SMK PGRI 2 Malang. Berdasarkan skor dari hasil pre test pada siklus I, hasil belajar siswa pada mata diklat pelayanan prima menunjukkan tingkat yang sangat rendah yaitu nilai rata-rata siswa sebesar 38.09 dengan nilai tertinggi 60 dan nilai terendah 30. Setelah diberi tindakan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 34,77 hal ini dapat dilihat dari hasil test yang menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 72,86 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60. Hasil observasi pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I, hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata pre test siswa sebesar 47,74 dengan nilai tertinggi 60 dan nilai terendah 40, dari sini diketahui bahwa peningkatan haisl pre test siklus I dan sklus II sebesar 9,65. Sedangkan hasil post test juga menunjukkan peningkatan sebesar 7,62 menjadi 80,48 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60, dengan demikian dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Berdasarkan hasil penelitin dapat disimpulkan, bahwa: 1) pelaksanaan pembelajaran model Group Investigation terdiri dari enam tahap, yaitu: (a) menentukan sub topik, (b) rencana penyelidikan, (c) melakukan rencana penyelidikan (d) merencananakan presentasi, (e) melakukan presentasi, dan (f) evaluasi. 2) hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation.3) hambatan yang dialami peneliti dalam menerapkan metode kooperatif model Group Investigation adalah kurangnya sarana dan semangat belajar siswa. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut:1) guru hendaknya lebih meningkatkan motivasi siswa untuk berpikir lebih aktif dalam memecahkan suatu masalah, saling bekerjasama antar siswa dan memberikan bimbingan pada siswa untuk memecahkan suatu masalah, 2) meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan agar memberikan kenyamanan dalam proses pembelajaran, 3) pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model Group Investigation dapat digunakan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipakai Guru mata pelajaran Pelayanan Prima dalam melaksanakan pembelajaran terhadap siswa. Karena dengan metode tersebut dapat meningkatkan aktivitas siswa, menimbulkan kerjasama anggota, dan mendorong siswa untuk bisa menghargai pendapat antar sesama sehingga dapat mendorong semangat dalam belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh faktor fundamental perusahaan terhadap kualitas penerapan good corporate governance (Studi pada perusahaan publik dan non publik) / Arifian Eka Wardhana

 

ABSTRAK Wardhana, Arifian Eka. 2009. Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan Terhadap Kualitas Penerapan Good Corporate Governance (Studi pada Perusahaan Publik dan Non Publik), Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sutatmi, S.E., M.Pd., M.Si., Ak., (II) Hj. Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: GCG, CGPI, kesempatan investasi, konsentrasi kepemilikan, leverage, kualitas auditor eksternal, ukuran perusahaan, perusahaan publik. Good Corporate Governance sudah terdengar di lingkungan bisnis Indonesia sejak tahun 1997, namun hingga sekarang pelaksanaan corporate governance oleh perusahaan-perusahaan Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, baik eksternal maupun internal. Salah satu kendala yang menyebabkan perbedaan kualitas Good Corporate Governance dari internal perusahaan adalah faktor fundamental dari masing-masing perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah komponen fundamental perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas penerapan Good Corporate Governance serta untuk meneliti apakah ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan publik dan non publik dalam menerapkan Good Corporate Governance. Penelitian ini menggunakan 42 sampel perusahaan yang diambil dari peserta CGPI tahun 2006 dan tahun 2007. Corporate Governance Perception Index adalah sebuah penghargaan yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute Corporate Governance (IICG) yaitu lembaga yang berusaha mengevaluasi, mengawasi dan memperbaiki pelaksanaan Good Corporate Governance di Indonesia. Variabel-variabel yang digunakan dalam komponen fundamental perusahaan adalah kesempatan investasi, konsentrasi kepemilikan, leverage, kualitas auditor eksternal, dan ukuran perusahaan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan regresi berganda dan uji beda, secara secara parsial variabel kualitas auditor eksternal dan variabel ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kualitas penerapan Good Corporate Governance. Hasil analisis juga menunjukkan, bahwa jenis perusahaan publik dan non publik juga mempunyai perbedaan yang signifikan dalam penerapan Good Corporate Governance. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya, mencari alternatif pemeringkatan lainnya sebagai pembanding, karena jika hanya berpedoman pada satu indeks hasilnya tidak bisa digeneralisasi. Selain itu, penambahan variabel faktor fundamental perusahaan yang lain, misalnya profitabilitas dan likuiditas dimaksudkan untuk memperoleh konsistensi atas hasil-hasil yang ditemukan.

Pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di sekolah menengah atas negeri 2 Malan g / Veby Eka Lestari

 

ABSTRAK Lestari Eka, Veby. 2009. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Kertersediaan Sumber Belajar di Rumah terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akunntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sumadi, Drs., SE., M.M (2) Suparti Dra., M.P Kata kunci: Lingkungan Keluarga, Ketersediaan Sumber Belajar, dan Prestasi Belajar Siswa. Presatasi belajar merupakan hasil belajar siswa yang diperoleh siswa dalam menyerap atau menerima ilmu pengetahuan dan materi pelajaran yang diberikan oleh guru selama proses belajar mengajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk tes atau angka nilai. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain yaitu lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah. Semakin tinggi ketersediaan sumber belajar akan berkontribusi terhadap meningkatnya prestasi belajar siswa atau sebaliknya. Dan semakin baik lingkungan keluarga akan berkontribusi terhadap meningkatnya prestasi belajar siswa atau sebaliknya. Dengan demikian, penelitian ini mengkaji tentang pengaruh lingkungan keluarga dan ketersedian sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa Mata Pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 2 Malang. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa secara parsial maupun simultan di SMA Negeri 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan kuesioner (angket). Sampel dalam penelitian berjumlah 60 siswa. Metode analisa data yang digunakan adalah analisa regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 2 Malang, dan 2) Ada pengaruh ketersediaan sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditarik kesimpulan Bahwa lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dan ketersediaan sumber bealajar sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga dengan kondisi seperti ini diharapkan siswa dan orang tua mengerti akan pentingnya dorongan dan motivasi untuk belajar.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 |