Bioekologi populasi tungau kuning polyphagotarsonemus latus (Banks), predator, dan parasit pada beberapa galur harapan wijen di kebun percobaan Sumberrejo Bojonegoro / Dwi Endah Lestari

 

Problematika guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang tahun ajaran 2009/2010 / Rika Dwi Wulandari

 

Media pembelajaran merupakan bagian integral dari proses pembelajaran dan memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses pembelajaran di kelas. Kegiatan belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah diyakini akan memotivasi dan membantu peserta didik untuk menguasai materi sejarah. Dalam pemanfaatan media pembelajaran di kelas, guru sering menghadapi problematika atau kendala baik internal maupun ekternal. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah penggunaan atau pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang ? (2) Bagaimanakah problematika yang dialami guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang ? (3) Bagaimanakah cara mengatasi problematika yang dialami oleh guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang ? Penelitian ini bertujuan : (1) Mendeskripsikan penggunaan atau pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang, (2) Mendiskripsikan problematika yang dialami guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang, (3) Mendiskripsikan cara mengatasi problematika yang dialami oleh guru sejarah dalam pemanfaatan media pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data yang diperoleh berupa kata-kata dari guru sejarah, wakil kepala sekolah, wakasek sarana dan prasarana dan siswa pada kelas RSBI serta dari tindakan guru sejarah dan data arsip sekolah. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif dengan langkah : (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian dan analisis data penelitian ini menunjukkan : (1) pemanfaatan media pembelajaran dalam proses pembelajaran sejarah pada kelas RSBI di SMP Negeri 3 Malang sudah dimanfaatkan dengan baik namun belum optimal, (2) Hambatan-hambatan yang timbul dalam pemanfaatan media pembelajaran meliputi dari guru sejarah yaitu adanya keterbatasan pengetahuan, masih terpakunya guru sejarah pada metode ceramah serta adanya keterbatasan waktu, dari sekolah yaitu adanya keterbatasan daya listrik dan dari siswa yaitu adanya penyalahgunaan laptop oleh para siswa di kelas RSBI, (3) upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika yang dialami dalam pemanfaatan media pembelajaran yaitu berkoordinasi dengan teman-teman guru yang lain, berusaha sendiri untuk mempelajari media-media yang sekarang belum dikuasai dan memberikan pembatasan serta meningkatkan pengawasan terhadap ii pemanfaatan laptop yang dibawa oleh siswa pada kelas RSBI. Pihak sekolah yaitu SMP Negeri 3 Malang juga berupaya untuk mengatasi problematika yang dialami oleh guru sejarah diantaranya mengadakan workshop dan MGMP tentang media (IT) untuk guru, melengkapi fasilitas yang ada seperti LCD, komputer dan Hot Spot dan memberikan pinjaman lunak bagi guru yang ingin membeli laptop sendiri khususnya pada kelas RSBI. Dari hasil penelitian di atas, maka dikemukakan saran sebagai berikut : (1) Bagi guru sejarah pada kelas RSBI hendaknya berusaha meningkatkan penguasaan terhadap pemanfaatan media pembelajaran dengan mengikuti Workshop dan MGMP tentang media dan lebih kreatif dalam memilih, memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran. (2) Bagi SMP Negeri 3 Malang secara berkala mengadakan Workshop dan MGMP dan juga membuat tata tertib yang jelas tentang pemanfaatan laptop yang dibawa oleh siswa pada kelas RSBI (3) Bagi peneliti lain yang akan membahas permasalahan yang sama, masih ada beberapa hal yang dapat diungkapkan tentang problematika guru sejarah dalam pemanfaatan media pembelajaran pada kelas RSBI (4) Bagi Universitas Negeri Malang sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang mencetak calon-calon guru profesional hendaknya dapat membekali mahasiswa dengan pengetahuan tambahan tentang media pembelajaran yang berbasis IT sehingga setelah terjun ke sekolah tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam memanfaatkan media pembelajaran.

Studi tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Negeri Kabupaten Bojonegoro tahun 2007 / Isbandriyawati

 

Salah satu unsur penting dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan jasmani adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) sarana dan prasarana pendidikan jasmani untuk materi praktek wajib di SMP Negeri Kecamatan Bojonegero Kabupaten Bojonegoro, dan 2) sarana dan prasarana pendidikan jasmani untuk materi praktek pilihan di SMP Negeri Kecamatan Bojonegero Kabupaten Bojonegoro observasi didasarkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Pendidikan Jasmani tahun 2007. analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif (rata-rata persentase) yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang memadai untuk SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro. Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian observasional (survey). Subyek penelitian pada penelitian ini adalah SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 6 sekolah. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah teknik observasi. Dari hasilpenelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) sarana pendidikan jasmani untuk materi praktek wajib pendidikan jasmani yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 95,25% dan dapat dikatakan dalam katogori baik, sedangkan prasana pendidikan jasmani untuk materi praktek wajib yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 46,11% dan dapat dikatakan dalam kategori kurang baik, dan 2) sarana pendidikan jasmani untuk materi praktek pilihan pendidikan jasmani yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 60,28% dan dapat dikatakan dalam katogori cukup, sedangakan prasana pendidikan jasmani untuk materi praktek pilihan yang dimiliki oleh SMP Negeri Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro sebanyak 50% dan dapat dikatakan dalam kategori kurang baik

Pengaruh struktur kepemilikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan konsep economic value added (EVA) (Studi pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2004-2006) / Ayub WijayatiSapta Pradana

 

ABSTRAK Pradana, Ayub Wijayati Sapta. 2009. Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Keuangan yang Diukur dengan Konsep Economic Value Added (EVA) (Studi pada Perusahaan yang Listing di BEI tahun 2004-2006). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr., Drs. Bambang Sugeng , S.E. Ak, M.A, M.M. (II) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata Kunci : Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Economic Value Added (EVA), Agency Conflict. Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Namun pihak manajemen perusahaan sering mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut. Sehingga timbul konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham (Wahidahwati, 2001). Struktur kepemilikan saham dapat mempengaruhi besar kecilnya peluang timbulnya agency conflict (Rahayu, 2005). Kepemilikan manajerial yang memposisikan manajemen sebagai pemilik sekaligus pengelola, serta kepemilikan institusional sebagai monitoring agent dapat membuat manajer lebih giat dalam meningkatkan kinerja perusahaan dan tidak menyimpang dari kepentingan pemegang saham, sehingga kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional merupakan salah satu cara untuk mengurangi agency conflict maupun agency cost (Jensen & Meckling, 1976). Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan konsep Economic Value Added (EVA) pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2004-2006. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan go public yang listing di BEI selama tahun 2004-2006 dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 64 perusahaan. Data penelitian menggunakan data cross-section. Teknik analisis data menggunakan teknik regresi linier berganda dengan melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap EVA perusahaan, baik secara simultan maupun parsial. Hasil penelitian ini dapat memperkuat keberlakuan agency theory dan sejalan dengan beberapa temuan empiris sebelumnya yang mendukung agency theory . Ada beberapa kelemahan dari penelitian ini, salah satunya adalah tidak memperhitungkan variabel lain yang bisa mempengaruhi kinerja keuangan, seperti biaya R&D, kondisi ekonomi, dsb. Dianjurkan bagi peneliti selanjutnya, menggunakan faktor lain yang bisa mempengaruhi kinerja keuangan, menggunakan data EVA hasil perhitungan lembaga resmi, serta memperpanjang tahun penelitian.

Pengaruh pembelajaran kooperatif model team games tournament terhadap prestasi dan sikap belajar mata pelajaran CNC TU 3A pada siswa kelas 2 SMK Turen, Malang / Agus Susanto

 

Pengaruh motif pembelian dan faktor lingkungan terhadap keputusan perpindahan merek (Brand Switching) shampo sunsilk (Studi pada siswi kelas XI SMK Negeri 3 Malang) / Evi Susanti

 

Seseorang yang dikatakan sebagai remaja adalah mereka yang memiliki rentang usia antara 15 tahun hingga 20 tahun. Pada fase ini setiap remaja akan mulai memperhatikan penampilannya. Setiap orang khususnya seorang remaja pada awalnya akan mencoba beberapa merek produk sebelum akhirnya mmenemukan salah satu merek yang benar-benar sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Meskipun seorang konsumen sudah merasa puas dan cocok dengan salah satu merek suatu produk, namun bukan berarti mereka tidak akan mencoba merek lain. Ini terjadi karena beberapa hal, baik karena keinginan mereka sendiri maupun karena pengaruh dari lingkungan sekitar mereka. Seorang remaja akan memiliki ketertarikan dan keingintahuan yang cukup besar terhadap sesuatu hal yang baru dan belum pernah dicobanya. Termasuk dalam hal ini adalah produk perawatan rambut yaitu shampo yang digunakan. Hal ini khususnya terjadi pada remaja putri, dimana mereka benarbenar memperhatikan berbagai pilihan merek produk yang dapat menunjang penampilan mereka agar terkesan lebih menarik. Sebaliknya remaja putra cenderung lebih menyukai hal yang simple. Kecenderungan remaja putri ini dapat dimanfaatkan oleh pemasar untuk membidik remaja sebagai pasar sasarannya dengan menciptakan produk-produk yang dekat hubungannya dengan mereka. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Malang merupakan salah satu SMK negeri yang ada di Kota Malang yang memiliki spesifikasi kejuruan dibidang pariwisata dengan sebagian besar muridnya adalah perempuan. Siswi SMK memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga menarik untuk diteliti lebih dalam. Sedangkan di era globalisasi yang terjadi saat ini, dimana banyak produkproduk yang dapat memasuki pasar dalam negeri dengan sangat mudah membuat konsumen mempunyai banyak pilihan merek produk untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan mereka. Di sisi lain perkembangan dunia usaha yang terjadi saat ini begitu pesat sehingga membawa dampak semakin ketatnya tingkat persaingan. Keadaan ini ditandai dengan banyaknya perusahaan yang bermunculan terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha yang sejenis. Begitu juga yang terjadi dengan industri shampo, dimana pasar shampo di Indonesia diramaikan oleh banyaknya produsen baik pendatang baru maupun pemain lama. Keadaan seperti ini membuat para produsen shampo di Indonesia berlomba-lomba untuk dapat menarik minat beli konsumen. Bila menilik peringkat lima besar di kategori industri shampo, yang muncul memang dua nama besar di bisnis toiletries yakni Unilever dan Procter&Gamble (P&G). Unilever mempunyai merek-merek seperti Sunsilk, Clear dan Lifebuoy. Adapun P&G mengandalkan Pantene, Rejoice dan satu produk lagi yang sebenarnya lumayan berbunyi, yaitu Head&Shouders. Diperkirakan lebih dari 90% pasar shampo di tanah air dikuasai dua dedengkot toiletries ini Sukses Sunsilk menjadi pemimpin pasar merupakan buah perjalanan panjang Unilever merintis pasar shampo sejak tahun 1952. Kunci keberhasilan Sunsilk adalah kedekatannya dengan konsumen Indonesia, khususnya dari sisi personalitas wanita Indonesia. Positioning seperti ini memang cukup terlihat dari serial iklannya yang merefleksikan kedekatan sunsilk dengan konsumennya.

Penerapan pembelajaran konstruktivitisme model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil mbelajar siswa pada mata diklat ekonomi (Studi pada siswa kelas X SMK Arjuna 01 Malang) / Senjaning Festiyanti

 

ABSTRAK Kata kunci: Problem Based Learning, Hasil Belajar Siswa Dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan, maka pelaksanaan proses belajar mengajar dituntut untuk menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran yang mengaktifkan interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, serta siswa dengan lingkungannya. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran serta dapat membentuk sendiri pengetahuannya yang disajikan melalui kasus-kasus dalam kehidupan nyata. Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan peneliti sebelumnya di SMK Ardjuna 01 Malang, diketahui bahwa hasil belajar siswa pada mata diklat Ekonomi relatif rendah, yang diindikasikan sebagai penyebabnya adalah kurang tepatnya penggunaan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru, sehingga masih ditemukan kesulitan belajar pada siswa. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini disusun untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan pembelajaran Konstruktivisme Model PBL untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat Ekonomi studi pada Siswa Kelas X SMK Ardjuna 01 Malang.

Pengaruh modernitas individu dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap melek ekonomi (Economic Literacy) siswa di SMA Negeri 9 Malang / Siti Rahmawati

 

Pemahaman ekonomi (lebih dikenal dengan nama melek ekonomi /economic literacy)sangat penting dimiliki oleh setiap orang, sama pentingnya dengan mempunyai kemampuan serta pemahaman baca dan tulis. Melek ekonomi harus diterapkan sejak bangku sekolah. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami konsep-konsep ekonomi dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat melek ekonomi ekonomi siswa dapat dipengaruhi dari faktor intern dan faktor ekstern. Yang merupakan faktor intern, salah satunya adalah modernitas individu siswa, sedang faktor ekstern, yang merupakan faktor dari luar siswa adalah kondisi sosial ekonomi orang tua siswa. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan pengaruh modernitas individu siswa terhadap melek ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI SMAN 9 Malang, (2) mendeskripsikan pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap melek ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI SMAN 9 Malang, (3) mendeskripsikan pengaruh modernitas individu dan kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap melek ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI SMAN 9 Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Sumber data dalam penelitian ini berupa jawaban dari responden yang telah mengisi angket/ kuesioner serta tes. Data yang diperoleh berupa data skor dari angket/kuesioner dan data skor dari tes yang diubah menjadi nilai siswa. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dalam 2 tahap yaitu, (1) analisis deskriptif dan (2) analisis regresi berganda (dengan uji t dan uji f). Berdasarkan analisis data, dapat diketahui bahwa siswa-siswi di SMA Negeri 9 Malang mempunyai tingkat modernitas individu yang sangat baik sebesar 13.11%, tinggi sebesar 73.77 % dan sedang sebesar 13.11%. Tidak ada siswa yang berada pada tingkatan modernitas individu yang rendah dan sangat rendah sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata (33.8) tingkat modernitas individu para siswa di SMA Negeri 9 Malang baik. Untuk kondisi sosial ekonomi sangat kurang terdapat 1 siswa, kondisi kurang ada 2 siswa, kondisi cukup baik ada 25 siswa, kondisi baik ada 21, dan kondisi sangat baik ada 4 siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua siswa di SMA Negeri 9 Malang termasuk golongan menengah ke atas karena angka yang paling banyak muncul pada kondisi sosial ekonomi orang tua cukup baik, kemudian disusul dengan baik. Sedang untuk tingkat melek ekonomi (economic literacy), untuk tingkat sangat kurang hanya ada 1 siswa, kurang ada 2 siswa, dan angka yang paling banyak muncul adalah pada tingkat baik dengan 25 siswa. Dengan rata-rata 71,77, dapat disimpulkan bahwa tingkat melek ekonomi (economic literacy) siswa di SMA Negeri 9 Malang termasuk sangat baik Kesimpulan umum variabel independen (modernitas individu dan kondisi ekonomi orang tua siswa) baik secara serentak (simultan / bersama-sama) maupun sendiri-sendiri (parsial) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen yaitu, melek ekonomi (economic literacy) siswa. Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diajukan peneliti adalah (1) untuk guru hendaknya terus memberikan pelajaran serta menerapkan pemahaman ekonomi dalam diri siswa, bukan hanya secara teori tetapi juga dalam praktek kehidupan sehari-hari para siswa karena pemahaman ekonomi (economic literacy) sama pentingnya dengan pemahaman akan baca dan tulis (2) untuk orang tua hendaknya terus mendukung anaknya untuk maju dan selalu belajar, terutama belajar dan memahami ekonomi karena kehidupan sehari-hari siswa tidak luput dari kehidupan berekonomi sehingga melek ekonomi (economic literacy) sangat dibutuhkan siswa tersebut. Bagi orang tua dengan pendidikan serta ekonomi yang kurang berkecukupan disarankan jangan mengahalangi anaknya untuk belajar. Meski dalam keadaan serba kekurangan, hendaknya orang tua tetap mendukung anaknya untuk belajar, misalnya dengan mewajibkan waktu belajar sebelum membantu bekerja. (3) peneliti yang melakukan penelitian sejenis disarankan untuk meniliti lebih lanjut tentang melek ekonomi (economic literacy) karena faktor yang mempengaruhi tingkat melek ekonomi siswa tidak hanya berasal dari modernitas idividu dan kondisi sosial ekonomi orang tua, masih banyak faktor lain yang bisa diteliti.

Penerapan pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif terhadap kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-A Mts Surya Buana Malang / Umar Kushindradno

 

ABSTRAK Kushindradno, Umar. 2008. Pembelajaran Fisika Berbasis Inkuiri dengan Metode Demonstrasi Induktif untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang. Skripsi, Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Lia Yuliati, M.Pd, (II) Drs. Winarto. Kata Kunci : berbasis inkuiri, kerja ilmiah, metode demonstrasi induktif, pembelajaran fisika, prestasi belajar Pada jenjang SMP atau MTs, siswa diarahkan pada keterampilan berpikir dan proses penalaran. Pengarahan tersebut berupa konsep-konsep yang dipelajari dan penerapannya dalam masalah sehari-hari, tetapi metode yang diberikan guru selama ini tentang cara siswa lebih mudah memahami materi dan memecahkan soal. Di sisi lain siswa kurang paham dengan konsep-konsep yang dipelajari dan penerapannya dalam pemecahan masalah sehari-hari. Pembelajaran yang membuat siswa dapat pemahaman konsep dan penerapannya yaitu dengan pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demontrasi induktif. Pembelajaran tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang yang memperoleh pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif. Rancangan penelitian ini menggunakan perencanaan penelitian tindakan kelas (classroom action research) untuk meningkatkan praktik pembelajaran. Langkah penelitian, meliputi: pengembangan perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe), dan perenungan (reflect). Analisis data menggunakan metode analisis kualitatif dengan teknik diskriptif. Teknik diskriptif yang digunakan adalah verifikasi, pengelolaan dan pongalahan, paparan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Data penelitian ini berupa data hasil kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa. Pada pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif, terjadi peningkatan yang ditunjukan dalam persentase keberhasilan kerja ilmiah siswa sebesar 62,5% dan prestasi belajar siswa sebesar 20%. Dari hasil yang diperoleh tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran fisika berbasis inkuiri dengan metode demonstrasi induktif berdampak positif terhadap kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa dan dapat terlaksana dengan baik. Saran yang diajukan bagi penelitian yang menggunakan pembalajaran yang sama berdasarkan temuan saat penelitian ini berlangsung adalah sebahai berikut. Peneliti menggunakan dua siklus dan data yang diperoleh kurang falid, maka sedikitnya tiga siklus untuk memperoleh data yang lebih falid. Siswa SMP masih belum banyak yang mengetahui bahasa asing, maka bahasa yang digunakan harus sudah dimengerti oleh siswa. LKS yang dibuat harus sesuai dengan kerteria dan dikonsultasikan dengan guru kelas, karena dengan kreteria yang tepat dan konsultasi akan tersusun LKS yang mudah difahami dan dikerjakan siswa.

Optimasi tahap fermentasi pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar menggunakan aspergillus niger dan saccharomyces cerevisiae / Nur Maulidiah Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Nur Maulidiah. 2009. Optimasi Tahap Fermentasi pada Pembuatan Bioetanol dari Ubi Jalar Menggunakan Aspergillus niger dan Saccharomyces cerevisiae. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Evi Susanti, S.Si.,M.Si., (II) Drs. Aman Santoso, M.Si. Kata kunci: fermentasi, bioetanol, ubi jalar. Ubi jalar merupakan salah satu sumber daya alam yang berpotensi sebagai bahan baku bioetanol. Sebagai upaya untuk mendapatkan kondisi yang optimal dalam fermentasi dari bahan baku ubi jalar menjadi etanol dengan bantuan khamir Saccharomyces cerevisiae, maka telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui lama waktu fermentasi dan jumlah Saccharomyces cerevisiae yang digunakan untuk menghasilkan rendemen bioetanol optimum, serta penentuan rendemen bioetanol yang dihasilkan dari variasi jenis ubi jalar putih dan ungu. Penelitian ini bersifat eksperimental dan dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia FMIPA UM. Ubi jalar yang digunakan diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi).Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi: (1) pembuatan kurva pertumbuhan mikroba yang digunakan, (2) preparasi ubi jalar, (3) optimasi kondisi fermentasi, (4) produksi bioetanol dari ubi jalar putih dan ungu, (5) identifikasi bioetanol yang dihasilkan, (6) penentuan rendemen bioetanol yang dihasilkan dari ubi jalar putih dan ungu. Penentuan waktu optimum fermentasi dilakukan dengan variasi waktu fermentasi 2,3,4,5 hari. Penentuan jumlah optimum Saccharomyces cerevisiae (akhir fase log) dilakukan dengan variasi jumlah biakan pada akhir fase log sebesar 50, 100, 150, dan 200 ml Kemudian dari variasi tersebut dikonversi menjadi jumlah sel yaitu 2,1.109; 4,2.109; 6,3.109; 8,4.109 sel. Kadar etanol ditentukan dengan alkoholmeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) waktu fermentasi optimum pada pembuatan bioetanol dari ubi jalar putih adalah 3 hari. (2) jumlah biakan Saccharomyces cerevisiae (akhir fase log) pada pembuatan bioetanol dari 200 gram tepung ubi jalar putih yang optimum adalah 3.109 sel. (3) rendemen bioetanol hasil fermentasi dari ubi jalar putih adalah 123,2 ml alkohol/kg ubi jalar, sedangkan dari ubi jalar ungu adalah 60,35 ml alkohol/kg ubi jalar.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas XII semester 1 pada materi pokok sifat koligatif larutan / Devy Setyarisa

 

ABSTRAK Setyarisa, Devy.2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbasis Konstruktivistik dan Kontekstual untuk SMA/MA Kelas XII Semester I pada Materi Pokok Sifat Koligatif Larutan. Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., (2) Drs. Prayitno, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, konstruktivistik, kontekstual, koligatif, larutan. Sumber daya manusia merupakan salah satu komponen yang berperan penting dalam perkembangan suatu negara. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas SDM. Salah satu aspek terpenting dalam meningkatkan kualitas SDM adalah pendidikan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya melalui perbaikan kurikulum. Pada tahun 2006 telah diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP, pembelajaran bersifat student centered, artinya siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran dan mampu mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Selain itu, KTSP juga menyarankan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Diharapkan proses pembelajaran ini dapat dilaksanakan guru dalam menyampaikan pelajaran, termasuk dalam pelajaran kimia. Kimia merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran di kelas yang kurang menarik. Oleh karena itu, diperlukan suatu proses pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan dapat mendorong siswa untuk mengaitkan materi dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menerapkan pembelajaran kontekstual tersebut adalah strategi REACT yaitu Relating, Experiencing, Applying, Cooperating dan Transfering yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam model pembelajaran terpadu LCC-5E. Agar guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, maka diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Pengembangan perangkat pembelajaran ini dilakukan mengikuti model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Adapun langkah-langkahnya sebagai beriku: (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, (2) melakukan analisis materi pembelajaran, (3) mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, (4) menuliskan pengalaman belajar, (5) mengembangkan item tes berbasis kriteria, (6) pemilihan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, (8) melaksanakan evaluasi formatif (validasi), (9) melakukan revisi, dan (10) memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan panduan guru (Teacher’s Guide) yang berisi silabus dan sistem penilaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), intrumen penilaian, dan buku guru. Bagian kedua adalah buku siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Berdasarkan hasil validasi dari ke empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 84,65% dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah. Namun, untuk mengetahui efektifitas perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji lapangan.

Perbedaan prestasi belajar matematika anatar siswa yang pembelajarannya dengan metode silih tanya berbantuan kartu model dan yang pembelajarannya secara konvensional di SMAN 8 Malang pada materi logaritma / Ervan Hadi

 

Kemajuan Teknologi yang sangat pesat menjadi suatu tantangan berat bagi generasi muda mendatang. Kompetisi akan semakin kuat untuk bisa “eksis” menghadapi tantangan dunia global. Hanya orang-orang yang kreatif yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap kemajuan teknologi tersebut. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk membentuk generasi muda yang kreatif, kompetitif, dan kooperatif. Sehubungan dengan membentuk generasi muda yang kreatif, kompetitif, dan kooperatif maka paradigma pendidikan harus berubah yang semula guru yang aktif berubah menjadi siswa yang aktif. Selama ini pembelajaran yang terjadi di Sekolah-sekolah masih banyak didominasi oleh guru. Pembelajaran ini kurang bisa membuat anak menjadi kreatif. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mencoba menerapkan pembelajaran matematika dengan metode silih tanya berbantuan kartu model. Diharapkan pembelajaran ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa yang pembelajarannya dengan metode silih tanya berbantuan kartu model dan siswa yang pembelajarannya secara konvensional. Populasi penelitian adalah kelas X SMAN 8 Malang yang terdiri dari 8 kelas. Kelas eksperimen adalah kelas X.8 yang mendapat pembelajaran dengan silih tanya sedangkan kelas kontrol adalah kelas X.7 yang mendapat pembelajaran secara konvensional. Analisis uji prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan dua rata-rata. Sedangkan uji hipotesis yang digunakan adalah uji t dua ekor. Berdasarkan hasil analisis uji hipotesis diperoleh P-Value < α= 0,05. Jadi H0 ditolak dengan kata lain H1 diterima. Berarti ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa kelompok eksperimen dengan prestasi belajar siswa kelompok kontrol. Pada penelitian ini juga diperoleh hasil aktivitas silih tanya yaitu terdapat 407 soal yang telah diajukan oleh siswa. Dari 407 tersebut, 404 soal dapat diselesaikan dan 3 soal tidak dapat diselesaikan. Dari 404 soal yang dapat diselesaikan, terdapat 400 soal yang kunci jawabannya benar dan 4 soal yang kunci jawabannya salah. Dari 404 soal yang dapat diselesaikan terdapat 404 soal yang penulisannya benar dan 8 soal yang penulisannya salah.

Pengaruh trust in brand terhadap brand loyality kartu pra bayar simpati pada karyawan Dinas Pendidikan Jombang / Retnaning Tyas

 

Iklim dunia persaingan senantiasa berkembang searah dengan perkembangan teknologi, hal ini dapat dilihat pada bisnis operator sluler. Pada tiap promosinya selalu berusaha menunjukkan keunggulan dan mencoba menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Hal ini juga dilakukan oleh operator seluler Simpati yang selama ini menjadi pemimipin pasar. Begitu ketatnya persaingan dalam bisnis ini, mengharuskan kartu pra bayar Simpati untuk melaksanakan strategi yang selain untuk mencari konsumen baru tetapi juga mempertahakan konsumen lama atau membentuk loyalitas konsumen pada merek Simpati. Dan salah satu strategi yang dilakukan kartu pra bayar Simpati adalah Trust In Brand yang di dalamnya terdiri atas beberapa variabel yaitu Brand Characteristic, Company Characteristic dan Consumer Bran- Characteristic. Dalam Penelitian ini populasinya adalah karyawan Dinas Pendidikan Jombang yang menggunakan kartu pra bayar Simpati dengan jumlah populasi 150 dan sampel yang diambil sebanyak 60 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Simple Random Sampling. Permasahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh Trust In Brand terhadap Brand Loyalty Kartu pra bayar Simpati pada karyawan Dinas Pendidikan Jombang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Trust In Brand yang terdiri atas Brand Characteristic, Company Charateristic, Consumer-Brand Characteristic, variabel terikatnya adalah Brand Loyalty (loyalitas pada merek). teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier berganda yang meliputi Uji t, Uji F dan koefisien determinasi dengan program komputer SPSS 15.0 for Windows dan menggunakan  = 5 %. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa secara parsial Brand Characteristic berpengaruh namun tidak signifikan. Sedangkan untuk variabel Company Charateristic dan Consumer-Brand Characteristic memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Brand Loyalty kartu prta bayar Simpati pada karyawan Dinas Pendidikan Jombang. Peneliti memberikan saran pada perusahaan pemilik operator seluler kartu pra bayar Simpati untuk memperluas sasaran seperti pada remaja. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk mencari objek penelitian yang memiliki merek yang benar-benar menguasai pasar baik dalam jumlah ataupun citra dari merek tersebut jika ingin menggunakan variabel ini untuk penelitian.

Pengaruh motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar / Kholidul Azhar

 

Dalam proses belajar mengajar keberhasilan seorang siswa dalam menguasai mata pelajaran di sekolah tidak lepas dari faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Salah satu faktor dari dalam diri siswa adalah motivasi. Motivasi sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Selain faktor motivasi, faktor yang turut mendukung dalam keberhasilan siswa dalam menguasai mata pelajaran adalah kebiasaan belajar siswa. Siswa yang memiliki suatu kebiasaan belajar yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan dapat membantu penguasaan siswa terhadap mata pelajaran sehingga pada waktu ujian dilaksanakan siswa sudah benar-benar siap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar, untuk mengetahui pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar, dan untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar. Penelitian ini dilaksanakan di MAN Tlogo Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian ex post facto dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan regresi linear ganda. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI MAN Tlogo Blitar sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 37 responden. Data diperoleh dengan menyebarkan angket dan dokumentasi dari guru mata pelajaran ekonomi. Dari hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. (a) Faktor motivasi berprestasi siswa tinggi, terbukti dari 6 siswa (16,2%) memiliki motivasi rendah, 8 siswa (21,6%) memiliki motivasi tinggi, dan 23 siswa (62,1%) memiliki motivasi sangat tinggi. (b) Faktor kebiasaan belajar baik, terbukti dari 8 siswa (18,9%) memiliki kebiasaan belajar sangat baik, 24 siswa (64,8%) memiliki kebiasaan belajar baik, dan 5 siswa (13,2) memiliki kebiasaan belajar kurang baik. (c) Prestasi belajar siswa sangat baik, terbukti dari 23 siswa (62,16) memiliki prestasi sangat baik dan 14 siswa (37,83) memiliki prestasi baik. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. (a) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar terbukti dari hasil uji analisis secara parsial dengan α 5%(0,05) menunjukkan nilai t hitung > t tabel (3,438 > 1,68). (b). Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar terbukti dari hasil uji analisis secara parsial dengan α 5%(0,05) menunjukkan nilai t hitung > t tabel (6,720 > 1,68). (c) secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN Tlogo Blitar terbukti dari hasil uji analisis secara Simultan dengan α 5%(0,05) menunjukkan nilai F hitung > F tabel (38,971 >4,10). Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. (1) Motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, (2) Kebiasaan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, (3) Kebiasaan belajar merupakan faktor yang dominan mempengaruhi pretasi belajar. (4) Motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan (1) Untuk lebih meningkatkan motivasi dan kebiasaan belajar siswa sebaiknya guru selalu memantau hasil pekerjaan siswa agar siswa lebih termotivasi belajarnya dan selalu mengingatkan dan mengarahkan siswa agar belajarnya lebih teratur, (2) Bagi siswa yang prestasi belajarnya masih kurang, diharapkan selalu berusaha meningkatkan prestasi belajarnya dengan membiasakan belajar lebih teratur, sedangkan siswa yang sudah tinggi prestasi belajarnya diharapkan mampu mempertahankan prestasiya dengan meningkatkan belajarnya.

Penerapan metode role playing untuk meningkatkan minat dan motivasi peserta didik kelas XI program keahlian administrasi perkantoran pada mata diklat surat menyurat Indonesia di SMK "Ardjuna" 02 Malang / Dian Kusumawati

 

Minat dan motivasi memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, karena pada hakekatnya proses pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan untuk dapat membelajarkan peserta didik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil pengamatan di SMK “Ardjuna” 02 Malang proses pembelajaran yang digunakan pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia masih didominasi dengan pembelajaran secara konvensional atau ceramah, sehingga hasil dari pembelajarannya belum maksimal, peserta didik pada saat pembelajaran terkesan bosan, ngantuk dan cenderung diam. Peran peserta didik pada pembelajaran ini hanya sebagai penerima informasi (pasif) dan guru sebagai pemberi informasi. Usaha mengatasi permasalahan tersebut, proses pembelajaran pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia perlu diciptakan suatu kondisi yang melibatkan peran aktif dari peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menerapkan metode bermain peran (role playing) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Melalui kegiatan bermain peran, peserta didik mencoba mengekspresikan hubungan-hubungan antara manusia dengan cara memperagakannya, bekerjasama dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemahaman masalah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada Siklus I dan II sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode role playing. Dalam penerapan metode role playing terdapat tujuh tahap, yaitu menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, memilih peran dalam pembelajaran, menyusun tahap-tahap peran, menyiapkan pengamat, tahap pemeranan, diskusi dan evaluasi pembelajaran serta membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan. Mata diklat yang digunakan pada penelitian ini adalah Surat Menyurat Indonesia kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran tahun pelajaran 2007/2008, yaitu terfokus pada kompetensi dasar ”Menangani Surat Masuk dan Keluar”. Untuk mengetahui ketepatan guru dalam menerapkan pembelajaran metode role playing maka dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan minat dan motivasi belajar peserta didik digunakan angket. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik ditinjau dari aspek kognitif, melalui perhitungan nilai pre-test dan post-test Siklus I dan Siklus II, serta aspek afektif dan aspek psikomotorik yang dilakukan melalui lembar pengamatan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran menggunakan metode role playing. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK “Ardjuna” 02 Malang yang berlokasi di jalan Teluk Pelabuhan Ratu No. 41 Malang, pada tanggal 9 April 2008 sampai 20 Mei 2008. Peserta didik yang menjadi subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI Administrasi Perkantoran pada SMK “Ardjuna” 02 Malang tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 28 peserta didik. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, angket, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penerapan metode role playing dapat dilaksanakan dengan baik; 2) kerjasama peserta didik dalam pembelajaran ini juga berlangsung dengan baik, dimana peserta didik tidak membandingkan kemampuan akademik, latar belakang sosial, maupun jenis kelamin, tetapi lebih didorong oleh rasa tanggung jawab mereka dalam menyelesaikan tugas; 3) minat peserta didik pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia mengalami peningkatan, persentase nilai tertinggi pada Siklus I diperoleh 88,3%, sedangkan pada Siklus II sebesar 95%. Persentase nilai terendah pada Siklus I sebesar 81,67%, pada Siklus II persentase nilai terendah sebesar 88,3%; 4) motivasi belajar peserta didik pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia mengalami peningkatan, dari 28 peserta didik yang mengisi angket hanya tiga peserta didik yang mengalami penurunan. Persentase nilai tertinggi pada Siklus I diperoleh 89%, sedangkan pada Siklus II sebesar 96%. Persentase nilai terendah pada Siklus I sebesar 80%, pada Siklus II persentase nilai terendah sebesar 81% dan 5) hasil belajar aspek kognitif pada Siklus I mengalami peningkatan sebesar 17,89%, sedangkan pada Siklus II mengalami peningkatan sebesar 18,93%, aspek afektif mengalami peningkatan nilai rata-rata sebesar 3,41% serta aspek psikomotorik mengalami peningkatan nilai rata-rata sebesar 3,33%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan metode role playing dapat digunakan sebagai salah satu metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Metode role playing sangat bermanfaat bagi peserta didik karena metode tersebut telah terbukti dapat meningkatkan minat, motivasi belajar serta hasil belajar peserta didik, sehingga bagi guru mata diklat Surat Menyurat Indonesia dan guru mata diklat lainnya dapat menggunakan metode ini pada pokok bahasan yang memiliki kaitan secara langsung dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari; (2) Guru hendaknya lebih membangkitkan minat dan motivasi peserta didik untuk meningkatkan aktivitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran karena minat dan motivasi belajar peserta didik yang tinggi dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik; (3) Bagi peneliti berikutnya, penelitian ini dapat dikembangkan untuk materi selain yang ada pada mata diklat Surat Menyurat Indonesia dan dapat dikembangkan untuk sekolah-sekolah lain.

Peningkatan lualitas proses dan hasil belajar luas bangun datar trapesium melalui pembelajaran kooperatif konstruktivistik pada siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Arie Ikayanti

 

Proses pembelajaran matematika di SDN Kamulan 01masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik, yakni seorang guru secara aktif mengajarkan matematika, kemudian memberikan contoh dan latihan, disisi lain siswa mendengar, mencatat, dan mengerjakan latihan yang diberikan guru. Kesempatan diskusi di kelas jarang dilakukan serta interaksi dan komunikasi kurang digalakkan. Akibatnya pemahaman siswa akan materi luas bangun datar ini belum seperti yang diharapkan. Hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan guru kurang memuaskan. Ketuntasan belajar secara klasikal yang telah ditetapkan yaitu 70%, pada pembelajaran ini hanya tercapi 50%. Dari seluruh jumlah siswa kelas V yaitu 20 siswa, 10 siswa dinyatakan tuntas belajar dan 10 siswa belum tuntas belajar. Aktivitas siswa dalam pembelajaran adalah 30%. Salah satu penyebab terjadinya hal ini adalah karena siswa hanya menghafalkan rumus dari bangun datar tanpa tahu dari mana proses menemukan rumus itu sendiri. Kegiatan pembelajaran matematika di sekolah dasar (SD) seharusnya dalam tahapan pembelajarannya memuat secara tegas bagaimana siswa belajar matematika. Belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman baik alami mapun manusiawi. Proses konstruksi itu dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses yang aktif. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dipunyai, kemampuan kognitif dan lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar. Kegiatan pembelajaran yang dalam tahapan pembelajarannya memuat secara tegas bagaimana siswa belajar matematika yaitu pembelajaran konstruktivisme. Dan untuk melatih siswa agar mampu menguasai matematika dengan baik dan mampu menggunakannya secara sosial maka dalam pembelajaran konstruktivistik ini dimasukkan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik Konstruktivistik dalam pembelajaran konsep luas bangun datar pada siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar; (2) mendeskripsikan peningkatan peningkatan kualitas proses belajar dengan dengan menerapkan paembelajaran kooperatif Konstruktivistik pada materi luas bangun datar trapesium siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar; (3) mendeskripsikan peningkatanhasil belajar siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar dalam menyelesaikan soal-soal terkait dengan konsep luas bangun datar setelah diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif konstruktivistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kamulan 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara: (1) pemberian angket/kuisioner; (2) observasi; (3) Dokumentasi; (4) Wawancara; (5) Tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu yaitu meliputi proses, makna tindakan, dan pemaknaan. Kegiatan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang diperoleh, dan pembahasan dari hasil refleksi serta temuan-temuan yang ada diperoleh suatu kesimpulan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan tindakan selanjutnya. Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik pada materi luas bangun datar trapesium dilaksanakan secara bertahap dimulai dengan menyajikan materi melalui benda-benda nyata selanjutnya dimulai dengan abstraksi. Dalam pelaksanaan pembelajaran diimplementasikan lima karakteristik pembelajaran kooperatif dan lima hal yang berkaitan dengan pembelajaran konstruktivistik. Lima karakteristik pembelajaran kooperatif meliputi ketergantungan positif, akuntabilitas individu, ketrampilan antar personal, peningkatan interaksi tatap muka, dan pemrosesan. Lima hal yang berkaitan dengan pembelajaran konstruktivistik yaitu pembelajar telah memiliki pengetahuan awal., belajar merupakan proses pengkonstruksian suatu pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki , belajar adalah perubahan konsepsi pembelajar, proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu, pembelajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Dalam mengimplementasikan pembelajaran kooperatif konstruktivistik, kedua ciri pembelajaran tersebut digabung dan dilaksanakan secara bersamaan. Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik membawa pengaruh positif terhadap kualitas proses dan hasil belajar siswa. Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dan peningkatan hasil belajar siswa. Aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II juga meningkat dari 55 % menjadi 70 % berarti terjadi peningkatan aktifitas siswa sebesar 15%. Pada siklus I ketuntasan belajar mencapai 70 % dan siklus II meningkat menjadi 90% hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar sebesar 20%. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah agar pembelajaran matematika yang kooperatif konstruktivistik dapat diimplementasikan dengan baik, hendaknya kegiatan awal pembelajaran dimulai guru dengan mengkondisikan siswa untuk berlatih memprediksi, memanipulasi obyek, mengajukan pertanyaan, berimajinasi dan berinvestigasi dalam upaya mengembangkan konstruksi-konstruksi baru dalam diri anak. Dalam penilaian hasil kerja siswa, hendaknya guru tidak hanya berpedoman pada tes tulis saja tetapi juga menerapkan penilain proses dan penilaian kelompok.

Penerapan portofolio pada pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X.3 SMA Negeri 1 Pakong Pamekasan / Dian Purwanti

 

ABSTRAK Purwanti, Dian. 2009. Penerapan Portofolio pada Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan. Skripsi. Jurusan Biologi. Program Studi Pendidikan Biologi. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sunarmi, M.Pd. (2) Dra. Hj. Susilowati, M.S. Kata Kunci: Portofolio, Pembelajaran model Group Investigation (GI), Aktivitas belajar, Hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan diketahui bahwa aktivitas belajar dan hasil belajar sangat kurang, untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan portofolio pada pembelajaran kooperatif model GI. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) aktivitas belajar biologi siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan, (2) hasil belajar biologi siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri 4 tahap yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subyek yang digunakan adalah siswa kelas X.3 SMA Negeri Pakong Pamekasan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa, lembar penilaian portofolio, catatan lapangan, dan soal tes. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan portofolio dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa meliputi 2 aspek yaitu aspek afektif dan aspek psikomotor. Aspek afektif yang terdiri dari keaktifan, keantusiasan, dan keseriusan terjadi peningkatan dari 42% pada siklus I menjadi 64% pada siklus II. Aspek Psikomotorik siswa yang terdiri dari aktivitas dan proses juga mengalami peningkatan dari 55% pada siklus I menjadi 65% pada siklus II. Hasil belajar siswa pada aspek kognitif terjadi peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa dari 66% pada siklus I menjadi 94% pada siklus II.

Studi tentang motivasi siswa putri kelas XI dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani di SMA Negeri 7 Malang / Ardita Bagus Yuwana

 

Motivasi adalah daya penggerak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan dengan cara tertentu. Motivasi siswa putri dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani selama ini cenderung rendah. Kecenderungan motivasi siswa putri yang cenderung rendah ini datang dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Siswa memiliki berbagai alasan untuk tidak mengikuti pembelajaran di sekolah. Dengan motivasi belajar yang cenderung rendah akan mengakibatkan prestasi siswa menjadi menurun. Hal inilah yang menjadi hambatan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran motivasi siswa putri kelas XI dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani di SMA Negeri 7 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang. Teknik sampel yang digunakan proporsional random sampling, diperoleh sampel penelitian dengan jumlah 69 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian yaitu banyak (66.67%) siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang yang memiliki motivasi intrinsik dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Sedikit (33.33%) siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang yang memiliki motivasi ekstrinsik dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran bahwa: (1) Bagi guru, (a) Guru memiliki peranan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswanya melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengalaman dan kemampuan guru kepada siswa secara individual. Selain guru, orang tua juga sangat berperan aktif dalam menumbuhkan belajar siswa di rumahnya, (b) Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memeliharan motivasi belajar siswa, (c) Bila motivasi ekstrisik yang diberikan itu dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi dapat diperankan dengan baik oleh guru. Peranan yang dimainkan oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik. (2) Bagi peneliti, sebagai bahan pustaka untuk mengadakan pengembangan keilmuan dan penelitian lebih lanjut khususnya tentang hal lain yang berkaitan dengan motivasi belajar atau faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa.

Pengaruh frekuensi tes dan bentuk soal tes terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran akuntansi di SMK PGRI Turen Kabupaten Malang / Purba Andy Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Purba Andy. 2008. Pengaruh Frekuensi Tes dan Bentuk Soal Tes Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI pada Mata Pelajaran Akuntansi di SMK PGRI Turen kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Sriyani Mentari, S.Pd., MM Kata Kunci: Tes Hasil Belajar, Frekuensi Tes, Bentuk Soal Tes dan Hasil Belajar Siswa Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan frekuensi tes antara frekuensi tes sebanyak tiga kali dan frekuensi tes yang hanya satu kali terhadap hasil belajar, serta perbedaan hasil belajar pada mata pelajaran Mengelola Penerimaan Barang Supplies bila dikaitkan dengan bentuk atau tipe soal tes uraian dan pilihan ganda. Rancangan penelitian ini menggunakan desain eksperimen dengan kelas kontrol melaksanakan frekuensi tes hanya satu kali dan kelas eksperimen yang melaksanakan tes sebanyak tiga kali. Dengan teknik random sampling diperoleh sampel penelitian berjumlah 72 siswa. Teknik analisis data menggunakan Anova dua jalur (Two Way Anova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang melaksanakan tes sebanyak tiga kali dan siswa yang melaksanakan tes hanya satu kali. Hal ini terbukti dari hasil analisis data diperoleh nilai Fhitung = 4,532 > Ftabel = 3,98 dan nilai sig (0,037) < α (0,05). Perbedaan hasil belajar juga terdapat pada siswa yang melaksanakan tes dengan menggunakan bentuk soal uraian dan pilihan ganda. Hal ini juga dapat dibuktikan dari hasil analisis data yang dilakukan diperoleh nilai Fhitung = 4,844 > Ftabel = 3,98 dan nilai sig (0,031) < α (0,05) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi siswa agar selalu mempersiapkan diri dengan belajar sehingga saat ujian dapat menyelesaikan soal-soal dan dapat meningkatkan hasil belajarnya, demikian juga bagi guru diharapkan dalam memberikan tes hendaknya dapat memilih frekuensi tes sering dan bentuk soal uraian yang akan digunakan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyaliats nasabah tabungan (Studi pada bank X Kantor cabang pembantu Batu) / Bayu Anugerah Perdana Wijaya Putra

 

Saat era perdagangan semakin berkembang seperti sekarang ini perusahaan haruslah mampu untuk berpikir dan bertindak secara kreatif untuk mampu menarik pelanggan bagi perusahaannya. Kualitas produk bukanlah menjadi yang satu-satunya bagi perusahaan itu untuk mampu bersaing, terlebih bagi perusahaan yang menjual produk yang sama dan berada pada harga yang sama. Diperlukan upaya khusus dalam mencapai tujuan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang memuaskan konsumen tidak terkecuali Bank X Batu yang menyediakan fasilitas jasa perbankan kepada nasabahnya. Kepuasan nasabah merupakan hal penting bagi perusahaan sektor jasa terutama perbankan karena jika nasabah puas akan pelayanan perusahaan tersebut, maka kesetiaan dari nasabah pun akan mudah didapat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi unsur kualitas pelayanan (tangibles, empathy, reliability, responsiveness, dan assurance) yang dirasakan oleh nasabah produk tabungan, bagaimana kondisi loyalitas nasabah produk tabungan, dan bagaimana pengaruh kualitas pelayanan secara parsial dan simultan terhadap loyalitas nasabah produk tabungan. Populasi dalam penelitian ini adalah nasabah produk tabungan yang menggunakan jasa dari Bank X Batu. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Berdasarkan metode tersebut maka digunakan instrumen berupa kuesioner yang diedarkan kepada 110 orang nasabah produk tabungan sebagai responden. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis regresi linier berganda dengan signifikansi 0,05. Teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas nasabah baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelititan yang dilakukan terhadap kondisi kualitas layanan menunjukkan bahwa rata-rata nasabah Bank X Batu menyatakan baik terhadap pelayanan yang mereka terima. Sebagian besar nasabah juga menyatakan bahwa mereka loyal terhadap Bank X Batu. Berikutnya hasil penelitian dari kualitas layanan secara parsial terhadap loyalitas ditunjukkan dengan tidak terdapatnya pengaruh secara positif signifikan oleh variabel kualitas layanan yang berupa bukti nyata (tangible) dan daya tanggap (responsiveness). Hal yang berbeda ditunjukkan oleh empati (empathy), keandalan (reliability) dan jaminan (assurance) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan secara parsial terhadap loyalitas nasabah. Selanjutnya hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan yang ditunjukkan oleh kualitas pelayanan secara simultan terhadap loyalitas nasabah. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, disarankan untuk penelitian lebih lanjut agar penelitian-penelitian berikutnya dapat menggali variabel-variabel baru selain kualitas pelayanan yang dapat mempengaruhi loyalitas nasabah.

Latar keagamaan candi Gentong di Trowulan / Yuni Nurhidayati

 

Penelitian ini dilatari oleh permasalahan bahwa bentuk Candi Gentong tergolong unik, yaitu tata ruang candi yang bentuknya memusat. Ruangan-ruangan candinya dibentuk oleh tiga buah struktur bujur sangkar yang secara memusat diawali dari bagian yang paling tengah berukuran paling kecil, kemudian dikelilingi oleh struktur yang lebih besar dan yang terluar adalah struktur yang paling besar. Diantara struktur-struktur tersebut terdapat lorong, dan di dalamnya ditemukan stupika-stupika, yang masih belum tahu apa fungsi dari stupika tersebut. Masalah yang diteliti bertalian dengan, (1) tata ruang bangunan Candi Gentong berdasarkan temuan struktur-struktur bangunan dan perbandingan dengan candi-candi Buddhis lain di Jawa dari masa yang sejaman serta bangunan Buddhis di India, (2) latar keagamaan Candi Gentong. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menjelaskan bentuk tata ruang bangunan Candi Gentong berdasarkan temuan struktur-struktur bangunan hasil ekskavasi dan komparasinya dengan candi-candi Buddhis lain di Jawa dari masa yang sejaman dan bangunan Buddhis di India. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji latar keagamaan Candi Gentong adalah pendekatan kualitatif yang berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh yang menghasilkan data deskripstif. Penelitian ini bersifat analitis, yang terlebih dulu memerlukan observasi untuk pengumpulan dan komparasi data untuk analisis. Objek terteliti berupa keseluruhan kompleks candi beserta temuan di dalamnya. Metode Arkeologi tepat digunakan untuk meneliti masalah yang dibahas, yakni mengungkapkan latar keagamaan candi berdasarkan bentuk candi dan temuan yang didapatkannya.. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bangunan Candi Gentong berbentuk bujur sangkar dengan denah pola tata ruang candi berbentuk memusat. Ruangan-ruangan candinya dibentuk oleh tiga buah struktur yang juga berbentuk bujur sangkar, yang secara memusat diawali dari bagian yang paling tengah dengan ukuran paling kecil (disebut Struktur I). Bagian ini dikelilingi oleh struktur yang lebih besar (Struktur II). Bagian yang paling luar adalah struktur yang paling besar (Struktur III). Diantara Struktur I dan II, Struktur II dan III terdapat semacam lorong, yang tampaknya bukan jalan masuk menuju ke tengah dari bangunan candi, melainkan ruang yang semula berfungsi sebagai garbhagraha. Fungsi dari bagian yang paling tengah yang dikelilingi oleh Struktur I adalah sebagai sumuran (perigi) candi. Hal ini didasarkan atas temuan stupika, arang , emas dan permata yang ditemukan di bagian tersebut yang mungkin sengaja ditimbun di dalam perigi sebagai “pendaman”. Jika dilihat dari denah candi, maka dapat diprediksikan tentang bentuk bangunan Candi Gentong. Hal ini didasarkan pada bentuk-bentuk candi yang sejaman dengannya (jaman Majapahit), yaitu Candi Boyolangu dan Candi Sumberawan. Selain itu candi yang ada di India Utara (Candi Ladkhan) ada pula yang bentuknya mirip dengan struktur Candi Gentong. Dari ketiga alternatif perbandingan bentuk candi belum dapat dipastikan bentuk mana yang tepat dengan bentuk Candi Gentong. Namun demikian alternatif yang lebih memperlihatkan banyak kesesuaian adalah perbandingan dengan bentuk Candi Boyolangu, walau dengan catatan bahwa struktur sisa-sisa bata berserakan di sebelah barat struktur III adalah tangga candi, bukan bangunan tambahan seperti pada Candi Ladkhan di India. Kedua, latar keagamaan candi Gentong adalah Buddha, tepatnya Buddha Mahayana. Hal ini didasarkan atas adanya temuan stupika dan arca (dua buah) yang diidentifikasi sebagai arca Dhyani Buddha Amithaba dan Dhyani Boddhisattwa Awalokiteswara yang berada dalam satu kehidupan pantheon Buddhisme pada sisi barat, yang sebuah lagi adalah Dhyani Buddha dan sebuah lagi adalah Dhyani Boddhisattwa. Boleh jadi, pertimbangan untuk memuja Dhyani Buddha dan Dhyani Boddhisattwa yang merupakan pantheon kehidupan barat ini terkait dengan orientasi Candi Gentong yang ke arah barat.

Istidain al-bathogot litarqiyah ar-rughbah wal-kafach fi'talim al-qiroah bil-madrasah tsanawiyah "al-ittihad" Poncokusuma (Dirasah tajtibiyah) / Khoiriyah Ratnasari

 

Studi tentang kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler menggambar di SDN Bareng 3 Malang / Juwita Isromi

 

Kata Kunci: Pembelajaran, ekstrakurikuler, menggambar. Ekstrakurikuler menggambar di SDN Bareng 3 Malang memiliki keunggulan karena beberapa siswanya memperoleh prestasi dalam berbagai perlombaan, sesuai fungsi pembelajaran ekstrakurikuler bertujuan sebagai wadah untuk menampung bakat, minat serta potensi siswa dalam dunia seni yaitu menggambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan evaluasi pembelajaran dan prestasi menggambar anak yang berkaitan pada kegiatan ekstrakurikuler menggambar di SDN Bareng 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam hal ini, peneliti adalah sebagai instrumen utama, untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan trianggulasi sumber. Sumber data berasal dari data primer dari hasil wawancara guru ekstrakurikuler, koordinator ekstrakurikuler dan kepala sekolah dan data sekunder dari perangkat mengajar guru ekstrakurikuler . Kegiatan analisa data dimulai menggunakan model analisis interaktif melalui tahap reduksi data, sajian data dan tahap simpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) tahap perencanaan pembelajaran ekstrakurikuler , meliputi guru sudah mempersiapkan bahan ajar materi secara tertulis dan mempersiapkan media menggambar, selain itu guru menyiapkan media pembelajaran elektronik berupa laptop, (2) tahap pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler meliputi penyajian materi sama mulai siswa kelas I sampai dengan kelas V, menggunakan metode pembelajaran cukup variatif yaitu menggabungkan beberapa metode pembelajaran yang ada seperti metode ekspresi terikat, metode mencontoh, metode drill, dan metode eksperimen; teknik menggambar mencangkup teknik sketsa, teknik blok, teknik garis dan teknik gradasi; serta menggunakan fasilitas penunjang pembelajaran berupa LCD(Liquid Crystal Display),(3) tahap evaluasi menggunakan penilaian hasil karya saja, sedangkan penilaian dari aspek proses berkarya kurang diperhatikan,(4) prestasi gambar anak yang terkait dengan prestasi kejuaraan dalam bidang lomba menggambar di SDN Bareng 3 mengalami peningkatan mulai tahun 1993 sampai dengan tahun 2013 yakni sudah menjuarai 31 lomba menggambar. Sebaiknya pada tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran guru ekstrakurikuler menggambar, membedakan materi pembelajaran antara siswa kelas I dengan siswa kelas V, dan pada tahap evaluasi pembelajaran penilaian seharusnya dilakukan secara menyeluruh, yaitu penilaian proses dan hasil karya siswa.

Fa'aliyyah istikhdam al-kitab d-mudarrisy Al-Arabiyyah baina yaduka juz awwal umadah durus Arabiyyah mukatstsafah al-ula fiqism al-abal al-arabiy bikulliyah al-adal bi jami'ah Malang al-hukumiyyah / Zuhratul Mufidah

 

Pengaruh debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR) dan current ratio terhadap perubahan sisa hasil usaha KPRI Kota Malang tahun 2010 / Ira Dewi Nurmayasari

 

Kata Kunci: Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio, Current Ratio dan Perubahan Sisa Hasil Usaha Perubahan Sisa Hasil Usaha adalah besarnya persentase kenaikan atau penurunan sisa hasil usaha yang dimiliki koperasi dari satu periode ke periode berikutnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI 06/Per/M.KUKM/V/2006 Tentang Pedoman Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam Koperasi, maka untuk menilai tingkat produktivitas koperasi dalam menghasilkan perubahan sisa hasil usaha, dapat dihitung dengan menggunakan rasio-rasio keuangan diantaranya yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio dan Current Ratio. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio, Current Ratio dan Perubahan Sisa Hasil Usaha pada KPRI di Kota Malang Tahun 2010. Serta untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio dan Current Ratio terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha pada KPRI di Kota Malang Tahun 2010. Penelitian ini menggunakan KPRI di Kota Malang Tahun 2010 sebagai populasi. Dari 72 KPRI diambil 33 KPRI sebagai sampel penelitian berdasarkan teknik purposive sampling. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada Tahun 2010 kondisi dari masing-masing variabel adalah (1) Debt to Equity Ratio tergolong dalam kategori tinggi, (2) Debt to Asset Ratio dalam kategori tinggi, (3) Current Ratio dalam kategori tinggi, (4) Perubahan Sisa Hasil Usaha dalam kategori tinggi. Hasil pengujian dengan menggunakan analisis Regresi Linear Berganda diperoleh hasil bahwa variabel Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio dan Current Ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) Bagi KPRI di Kota Malang agar mengelola Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio dan Current Ratio agar memperoleh perubahan sisa hasil usaha dari tahun ke tahun yang jumlahnya terus meningkat, (2) Bagi Anggota KPRI di Kota Malang untuk terus meningkatkan peran serta dan partisipasi aktifnya dalam KPRI agar perubahan sisa hasil usaha dari tahun ke tahunnya selalu mengalami peningkatan (3) Bagi Peneliti Selanjutnya agar menggunakan variabel-variabel lain yang belum digunakan dalam penelitian sehingga bisa diperoleh hasil penelitian yang optimal

Peningkatan ketrampilan teknik dasar passing sepakbola menggunakan kaki bagian dalam dengan menggunakan variasi pembelajaran pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo Kabupaten Malang / Agung Ronggo Prasdian

 

ABSTRAK Prasdian, Agung Ronggo. 2009. Peningkatan Keterampilan Teknik Dasar Passing Sepakbola Menggunakan Kaki Bagian Dalam dengan Menggunakan Variasi Pembelajaran pada Siswa Kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sulistyorini, M.Pd, (II) Drs. Mulyani Surendra, M.S. Kata kunci: variasi pembelajaran, passing menggunakan kaki bagian dalam Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada pendidikan formal dari SD/MI hingga SMA/MA. Dalam ruang lingkup pendidikan jasmani untuk jenjang SMP/MTs, aktivitas permainan dan olahraga merupakan salah satu aktivitas yang tercantum pada KTSP. Salah satu aktivitas permainan yang diajarkan adalah sepakbola. Sepakbola tidak hanya diberikan pada kegiatan intrakurikuler tapi juga diberikan pada kegiatan ekstrakurikuler. Berdasarkan hasil observasi awal pembelajaran materi pokok sepakbola dengan materi pembelajaran passing menggunakan kaki bagian dalam pada kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo diketahui bahwa 19 siswa (54,39%) belum tuntas belajar dan 16 siswa (45,71%) yang sudah tuntas belajar. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah perbaikan variasi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan teknik dasar passing sepakbola menggunakan kaki bagian dalam pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo Kabupaten Malang. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan perbaikan variasi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan teknik dasar passing sepakbola menggunakan kaki bagian dalam pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang melalui beberapa siklus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian adalah peneliti sendiri selaku guru pendidikan jasmani dan siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo yang berjumlah 35 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, catatan lapangan dan tes penilaian. Sedangkan analisis data meliputi mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan siswa yang sudah tuntas belajar dari siklus I sampai siklus III. (1) Pada siklus I, siswa yang sudah tuntas belajar meningkat menjadi 22 siswa (62,86%) dan siswa yang belum tuntas belajar menurun menjadi 13 siswa (37,14%). (2) pada siklus II, siswa yang tuntas mengalami peningkatan menjadi 28 siswa (80%) dan siswa yang belum tuntas belajar menurun menjadi 7 siswa (20%). (3) pada siklus III, siswa yang telah tuntas belajar meningkat menjadi 33 siswa (94,29%) dan siswa yang belum tuntas belajar menurun menjadi 2 siswa (5,71%). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah perbaikan variasi pembelajaran yang dirancang dan dilakukan secara terprogram oleh guru dapat meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar keterampilan teknik dasar passing sepakbola menggunakan kaki bagian dalam pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Tirtoyudo Kabupaten Malang.

Pemetaan variasi genetik kerbau lokal Tana Toraja berbasis restriction fragment lenght polymorphism- DNA (RFLP-DNA) sebagai sumber belajar di Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi / Sitti Saenab

 

sumber belajar Penelitian mengenai Pemetaan Variasi Genetik Kerbau Lokal Tana Toraja Berbasis Restriction Fragment Lenght Polymorphisms-DNA (RFLP-DNA) sebagai Sumber Belajar Di Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi ini bertujuan untuk mengetahui (1) keragaman/variasi fenotip kerbau lokal Tana Toraja (2) keragaman/variasi genotip kerbau lokal Tana Toraja berbasis RFLP (3) pemetaan variasi genetik kerbau lokal pada berbagai wilayah di Tana Toraja dan (4) implikasi hasil penelitian sebagai usulan sumber belajar biologi pada Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Penelitian ini adalah penelitian eksploratif untuk mengungkap keragaman fenotip kerbau lokal Tana Toraja dengan mengkaji variasi genetiknya melalui analisis DNA dengan teknik RFLP dan mengkaji hubungan Variasi fenotip dan variasi genotipnya pada berbagai wilayah di Tana Toraja. Teknik RFLP yang dilakukan melalui tahapan isolasi DNA, pengukuran konsentrasi dan kemurnian dengan menggunakan spectrophotometer, pemotongan DNA dengan menggunakan enzim HaeIII dan PstI serta elektroforesis gel agarosa untuk analisis DNA secara kualitatif. Hasil RFLP tersebut dianalisis dengan menggunakan software Multivariate Statistical Package (MVSP) dan untuk jarak genetik kedelapan sampel dari berbagai wilayah ditampilkan dalam bentuk dendogram dengan menggunakan metode Unweighted Pair Group method with arichmatic Avarage (UPGMA). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 1) keanekaragaman/variasi fenotip kerbau lokal Tana Toraja relatif tinggi yang ditunjukkan dengan adanya beberapa variasi kerbau yaitu Belang, kerbau Pudu dan kerbau Sambao 2) keanekaragaman/variasi genotip kerbau lokal Tana Toraja relatif tinggi yang ditunjukkan dengan jumlah fragmen yang polimorfik berkisar 5 s/d 21 fragmen, frekuensi alel berkisar antara 22% s/d 83% dan rata-rata polimorfisme berkisar 2,5 s/d 10,5 3) Pemetaan variasi genetik kerbau lokal pada berbagai wilayah di Tana Toraja tergambar dengan keragaman genetik dan jarak genetik. Keragaman genetik kerbau lokal Tana Toraja relatif tinggi yang ditunjukkan dengan keragaman pita fragmen DNA sampel dalam satu wilayah. Jarak genetik (genetic distance) menunjukkan bahwa secara umum kedelapan sampel terbagi menjadi 2 cluster baik dengan menggunakan HaeIII maupun dengan menggunakan PstI. Hasil analisis dendogram dengan menggunakan enzim HaeIII dibagi dalam dua cluster. Cluster I terdiri dari sampel 2 yang memiliki nilai similarity dengan vi cluster II sebesar 1, 9%. Cluster II yang terdiri dari sampel 1, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8 Begitupun dengan menggunakan enzim PstI dibagi ke dalam 2 cluster besar, cluster I terdiri dari sampel 4 dan 6. Cluster II yang terdiri dari sampel 1, 2, 3, 5, 7 dan 8. Dengan menggunakan enzim HaeIII terlihat nilai similarity tiap sampel berkisar antara 1, 9% s/d 46, 2%. Sedangkan dengan menggunakan enzim PstI nilai similarity berkisar antara 8, 3% s/d 46, 2%. Dengan menggabungkan dua enzim HaeIII dan PstI dendogram dibagi menjadi dua cluster yaitu; Cluster I terdiri dari sampel 2 dengan nilai similarity dengan cluster II sebesar 9, 1%. Sedangkan cluster II terdiri yang dari sampel 1, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8. Dari hasil analisis dendogram ini didapatkan bahwa pada dasarnya kedelapan sampel dari berbagai wilayah tersebut masih mempunyai jarak genetik yang relatif dekat. Selanjutnya, dari jarak genetik tersebut diketahui bahwa kerbau Sambao dengan kerbau Pudu memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat yang ditunjukan dengan nilai similarity sebesar 37% dengan demikian, subspesies Sambao dan Pudu dipertimbangkan untuk tidak disilangkan (Breeding) karena meningkatkan gen yang homozigot. Sebaliknya dianjurkan persilangan antara subspesies Belang dengan Pudu atau persilangan antara Belang dengan Sambao karena kemungkinan munculnya gen homozigot lebih kecil sehingga gen heterozigot semakin sering muncul yang nantinya akan berakibat tingginya keanekaragaman genetik dalam populasi. Implikasi dari penelitian ini adalah menghasilkan 2 jenis produk yang yaitu modul pembelajaran biologi dengan judul ”Keanekaragan Hayati Kabupaten Tana Toraja” untuk tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan produk yang kedua adalah penuntun pelaksanaan praktikum biologi molekuler pada Perguruan Tinggi (PT). Diharapkan modul pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat diuji coba di SMA dan PT.

Studi kasus pelaksanaan pembelajaran praktik sepeda motor di Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang dan Departemen Otomotif PPPPTK Malang / Arief Rahma Shofa

 

ABSTRAK Shofa, Arief Rahma. 2008. Studi Kasus Pelaksanaan Pembelajaran Praktik Sepeda Motor di Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang dan Departemen Otomotif PPPPTK Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Mardi Wiyono, M.Pd, (2) Dra. Widiyanti, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran praktik, sepeda motor Meningkatnya industri otomotif tidak didukung dengan tenaga siap kerja khususnya dari SMK sehingga munculnya lembaga yang membuka diklat-diklat otomotif. Lulusan SMK yang rendah karena rata-rata guru pengajar dari lulusan LPTK mempunyai penguasaan subject matter yang rendah. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran praktik sepeda motor dipengaruhi berbagai faktor. Untuk mengetahui pembelajaran yang sesuai dengan stake holder diperlukan studi banding antara lembaga diklat dengan LPTK. Penelitian ini bertujuan mengetahui persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan hasil belajar praktik sepeda motor di kedua lembaga pendidikan. Diharapkan dapat bermanfaat bagi kedua lembaga pendidikan untuk meningkatkan pelaksanaan pembalajaran praktik sepeda motor. Objek yang dijadikan penelitian yaitu mahasiswa di Prodi Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang (PTO UM) angkatan tahun 2006 dan peserta diklat Departemen Otomotif PPPPTK Malang angkatan tahun 2008. PPPPTK malang merupakan lembaga tinggi yang membuka diklat otomotif, jaringan stake holder lebih luas, memiliki fasilitas dan tenaga pengajar lebih berkompeten dibidangnya masing-masing. Penelitian dilakukan di PPPPTK dari bulan November sampai Desember sedangkan di UM dari September sampai Oktober. Sampel yang diteliti di PPPPTK 14 peserta diklat dan 1 pengajar, di PTO UM 15 mahasiswa dan 1 pengajar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif expost facto. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hasil belajar praktik sepeda motor di Prodi Pendidikan Teknik Otomotif Univesitas Negeri Malang dengan di Departemen Otomotif PPPPTK Malang mempunyai perbedaan hasil belajar. Menunjukkan hasil belajar yang lebih baik di PPPPTK dengan rata-rata nilai tes praktik (mean) 89,8 dari pada di PTO UM (mean) sebesar 53,2. Nilai hasil belajar praktik sepeda motor di PTO UM lebih rendah karena persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang digunakan berbeda dengan yang digunakan di Departemen Otomotif PPPPTK. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik maka harus melaksanakan persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang baik. Persiapan pembelajaran yang baik setidaknya meliputi pembuatan rancangan program pembelajaran, persiapan media pembelajaran dan persiapan peralatan. Metode evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran praktik sepeda motor setidaknya adalah menggunakan tes teori dan praktik disetiap akhir bab pembahasan.

Variasi genetik ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dari Kabupaten Blitar dengan metode DNA Restriction Fragments Length Polymorphism (DNA Relp) / Hasbiyan Rosyadi

 

ABSTRAK Rosyadi, Hasbiyan. 2008. Variasi Genetik Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dari Kabupaten Blitar dengan Metode DNA Restriction Fragments Length Polymorphism (DNA RFLP). Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc, (II) Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M. Si. Kata-kata kunci: Ikan Gurami, variasi genetik, DNA RFLP Ikan gurami (Osphronemus gourami Lac.) merupakan salah satu ikan asli Indonesia yang memiliki potensi ekonomi yang besar. Galur gurami yang dikenal masyarakat cukup banyak dan bervariasi. Namun demikian belum ada penetapan standar galur gurami dari instansi yang berwenang semisal Dinas Kelautan dan Perikanan. Pertumbuhan ikan gurami Blitar relatif lebih cepat dibanding dengan ikan gurami dari daerah lain. Namun jumlah telur ikan gurami Blitar lebih sedikit dibanding dengan ikan gurami galur lainnya. Adanya kelebihan dan kekurangan dari ikan gurami galur Blitar inilah yang membuat para petani ikan di Blitar melakukan persilangan ikan gurami Blitar dengan gurami yang berasal dari daerah lain. Jika hal ini dilakukan terus menerus maka akan mengakibatkan hilangnya plasma nutfah ikan gurami lokal Blitar. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penyelamatan plasma nutfah tersebut, khususnya pada ikan gurami galur Blitar. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi keragaman genetik ikan gurami yang ada di Kabupaten Blitar. Hal ini secara spesifik dimaksudkan untuk melakukan pemetaan terhadap perbedaan genetik ikan gurami galur Blitar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif menggunakan metode DNA Restriction Fragments Length Polymorphism (DNA RFLP) menggunakan lima enzim secara terpisah, yaitu EcoRI, BamHI, SfiI, MlsI dan PvuII. Untuk mengetahui variasi genetik ikan gurami Blitar dilakukan analisis hasil DNA Restriction Fragments Length Polymorphism (DNA RFLP). Ikan gurami yang diuji berasal dari kecamatan Selopuro, Talun, dan Gandusari Kabupaten Blitar. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2008 sampai dengan bulan Januari 2009 di Laboratorium Kultur Jaringan Hewan Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang dan Laboratorium Biologi Molekuler Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Penggunaan teknik DNA Restriction Fragments Length Polymorphism (DNA RFLP) dengan menggunakan enzim restriksi EcoRI, BamHI, SfiI, MlsI dan PvuII dengan jumlah DNA total sebanyak 50-60 µg/ml tidak dapat menunjukkan adanya variasi genetik ikan gurami dari kecamatan Gandusari, Talun, dan Selopuro di Kabupaten Blitar.

Penerapan pendidikan matematika realistik guna meningkatkan prestasi belajar penjumlahan bilangan cacah bagi siswa kelas II SDN Senggreng 05 Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang / Nofita Putranti Kristiyaningsih

 

untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep-konsep matematikaberdasarkan masalah yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Situasirealistik dalam belajar memungkinkan siswa menggunakan pengetahuan informal mereka untuk memecahkan masalah. Tujuan penelitian adalah untuk: 1) mendeskripsikan penerapan pendidikan matematika realistik pada pokok bahasan penjumlahan bilangan pada kelas II SDN Senggreng 05 Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang; 2) mendeskripsikan peningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan penjumlahan bilangan pada siswa kelas II SDN Senggreng 05 Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang melalui penerapan pendidikan matematika realistik. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Hasil penelitian pada pra tindakan 10 siswa (62,50%) belum mencapai ketuntasan, sedangkan 6 siswa (37,50%) sudah mencapai ketuntasan. Nilai rata-rata kelas menunjukkan 62,50, nilai tertinggi 90, nilai terendah 40. Pada siklus I Rata-rata hasil belajar siswa adalah 69,69, terdapat 7 siswa (43,75%) belum tuntas dan 9 siswa (56,25%) sudah tuntas sesuai dengan KKM yang ditetapkan (65%). Siklus II untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I dan sebagai penguatan terhadap hasil yang dicapai pada siklus I. Rata-rata hasil belajar siswa 84,69, masih ada 1 siswa (6,25%) yang belum mencapai ketuntasan, dan 16 siswa (84,69%) telah mencapai ketuntasan, nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1) Nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum menerapkan pembelajaran kontekstual adalah 62,50. Nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 40. Hal ini berarti bahwa rata-rata hasil belajar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) karena masih ada 10 siswa (62,50%) yang belum tuntas dan hanya 6 siswa (37,50%) yang sudah tuntas. 2) Nilai rata-rata hasil belajar siswa setelah menerapkan pendidikan matematika realistik dengan memberikan tindakan pada siklus I dan siklus II hasil belajar siswa menjadi 84,69. Sebanyak 16 siswa (84,69%) sudah mencapai KKM, dan 1 siswa (6,25%) yang belum mencapai KKM. 3) Penerapan pendidikan matematika realistik dapat meningkatkan hasil belajar penjumlahan bilangan mata pelajaran matematika pada siswa kelas II SDN Senggreng 05. Hal ini dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yang semakin meningkat pada pra tindakan dan Siklus I hasil belajar siswa mengalami kenaikan 7,19 (10,30%) Kemudian pada Siklus I dan Siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebanyak 15 (17,17%). Terbukti bahwa penerapan pendidikan matematika realistik dapat meningkatkan hasil belajar penjumlahan bilangan siswa kelas II SDN Senggreng 05.

Proses pembelajaran IPA tentang pembuatan makanan pada tumbuhan hijau di kelas V SDN Rejosalam II Kecamatan Paserpan Kabupaten Pasuruan / Fatima Sikdewa

 

ABSTRAK Sikdewa, Fatima. 2009. Proses Pembelajaran IPA Tentang Pembuatan Makanan Pada Tumbuhan Hijau Di SDN Rejosalam II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Estu Winahyu, M. Pd. (II) Drs. Heru Agus Tri Widjaja, M. Pd. Kata Kunci: Makanan Tumbuhan Hijau, IPA, Sekolah Dasar. Pendidikan sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang paling penting keberadaanya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan pada sekolah dasar atau yang sederajat, secara formal seseorang tidak mungkin dapat mengikuti pendidikan selanjutnya. Tingkat kreaktivitas akan selalu meningkat sesuai dengan tingkat pendidikan siswa, hal ini seiring dengan tingkat kematang, kecerdasan, dan pengalaman siswa. Lingkungan tempat belajar dalam mengembangkan kreaktivitas siswa di sekolah dasar salah satunya adalah “Proses pembelajaran IPA tentang pembuatan makanan pada tumbuhan hijau”. Tumbuhan hijau sebagai satu contoh sumber belajar jenis specemen benda yang masih hidup. Dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar siswa terutama mata pelajaran IPA. Masalahnya siswa kelas V SDN Rejosalam II masih kesulitan dalam memahami proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau. Sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD dalam memahami proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau. Metode penelitian ini dirancang dengan rancangan class room action research (penelitian tindakan kelas) melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 24 orang siswa di SDN Rejosalam II kecamatan Pasrepan kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, dan wawancara selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, model pembelajaran CTL diterapkan dalam matapelajaran IPA di kelas V SDN Pasrepan II. Hasil penelitian proses pembelajaran IPA tentang pembuatan makanan pada tumbuhan hijau yang dilakukan di kelas V SDN Rejosalam. Dinilai dari hasil tes evaluasi pembelajaran pada pra tindakan, tindakan siklus I dan tindakan siklus II dengan peningkatan nilai rata-rata kelas dalam persentasenya sebagai berikut. Pra tindakan 61%, dengan kualifikasi”cukup”, tindakan siklus I 67, 92% meningkat lagi pada tindakan siklus II yaitu 70, 63% dengan kualifikasi “baik” dengan nilai standar pemahaman konsep minimal 70. Secara keseluruhan hasil kemampuan siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran dengan model CTL dan kontekstual dalam pembelajaran IPA. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan model CTL dan kontekstual dalam mengajarkan mata pelajaran IPA khususnya proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Sintetis dan karakterisasi eugenil asetat dan perbandingan aktivitasnya dengan eugenol terhadap Escherichia coli / Dhani Kusuma Wardhana

 

ABSTRAK Wardhana, Dhani K. 2009. Sintesis dan Karakterisasi Eugenil Asetat dan Perbandingan Aktivitasnya dengan Eugenol terhadap Escherichia coli. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Siti Marfuah, M.S., (II) Evi Susanti, S.Si., M.Si. Kata-kata kunci: sintesis, karakterisasi, eugenil asetat, eugenol, Escherichia col Eugenol merupakan komponen utama minyak cengkeh. Senyawa tersebut memiliki gugus hidroksil fenolik, sehingga diduga eugenol memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Hasil penelitian Darkuni (1996) menunjukkan bahwa emulsi minyak cengkeh dan emulsi eugenol sebesar 2% bersifat bakterisida. Eugenil asetat juga merupakan komponen minyak cengkeh yang merupakan turunan eugenol, sehingga diduga eugenil asetat juga memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen dan karakter eugenil asetat hasil sintesis, serta aktivitas eugenil asetat dan eugenol terhadap Escherichia coli masing-masing pada konsentrasi 10, 20, 30, 40 dan 50 ppm. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah sintesis eugenil asetat dengan mereaksikan eugenol dan anhidrida asetat berkatalis asam sulfat pekat dalam pelarut heksana; identifikasi awal senyawa hasil sintesis dengan kromatografi lapis tipis; dan karakterisasi senyawa hasil sintesis meliputi indeks bias, berat jenis, titik didih dan uji kelarutan. Tahap kedua adalah identifikasi senyawa hasil sintesis dengan menggunakan spektrofotometri infra merah (IR). Tahap ketiga adalah uji aktivita eugenol dan eugenil asetat terhadap Escherichia coli. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa rendemen eugenil asetat hasil sintesis sebesar 19,27%, dengan indeks bias 1,5202 (26,5 °C); berat jenis 1,08 g/mL (26,5 °C); titik didih 282,5 °C (739 mm Hg); larut dalam toluena, kloroform, etanol 96 % dan n-heksana; tidak larut dalam akuades. Eugenil asetat hasil sintesis pada konsentasi 10, 20, 30 dan 40 ppm memiliki persentase penghambatan sel sebesar sebesar 11,609%; 14,138%; 15,517% dan 16,092%. Sedangkan eugenol sebesar 12,069%; 33,908%; 38,506% dan 49,425%. Namun pada konsentrasi 50 ppm, persentase sel yang dihambat eugenol lebih tinggi yaitu 55,747% dibandingkan dengan eugenil asetat yang hanya 17,586%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri eugenil asetat lebih rendah daripad eugenol.

Faktor-faktor yang menentukan perilaku pembelian mi instan merek Sedaap di desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang / Diarci Hagayuna

 

ABSTRAK Hagayuna, Diarci. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Mi Instan Merek Sedaap (Studi Kasus Pada Konsumen desa Sekarpuro, kecamatan Pakis, kabupaten Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Sudarmiatin, M.Si (2) Madzitul Churiyah, S.Pd., MM Kata Kunci : Analisis Faktor, Keputusan Pembelian Salah satu unsure terpenting bagi produsen untuk bertahan di tengah kondisi persaingan ini, adalah dengan mempertahankan loyalitas pelanggan dan meraih pelanggan baru yang potensial. Terlebih lagi saat ini banyak sekali produk-produk dengan spesifikasi sejenis beredar di pasaran, sehingga membuat konsumen dengan mudah berpindah merek. Hal ini tentu membuat produsen harus berpikir ulang mengenai realitas produk mereka, baik di mata pasar maupun konsumen. Tentunya untuk meraih loyalitas dan pelanggan baru yang potensial diperlukan pemahaman mendalam mengenai karakteristik konsumen di dalam membeli sebuah produk atau jasa, seperti kapan sebuah produk dibeli, frekuensi pembelian, jumlah pembelian, dsb. Pemahaman mengenai karakteristik konsumen tersebut dapat dilakukan oleh produsen dengan meneliti factor-faktor yang bias mempengaruhi konsumen di dalam membeli sebuah produk berupa barang atau jasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memaparkan pengaruh faktor budaya, kelas sosial, kelompok acuan, motivasi, persepsi, dan pengetahuan konsumen secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian, serta untuk mengetahui faktor yang paling dominan dlaam mempengaruhi keputusan pembelian mi instant merek Sedaap di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupatan Malang. Populasi di dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang pernah atau sedang menggunakan mi instant merek Sedaap di wilayah Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupatan Malang dengan jumlah sampel sebanyak 120 responden. Penentuan jumlah sampel di dalam penelitian ini menggunakan rumus infinite population dari Daniel dan Terrel dikarenakan peneliti belum mengetahui jumlah pasti pengguna mi instant merek Sedaap pada wilayah yang ditelitinya. Sedangkan teknik yang digunakan untuk pengambilan data primer dilakukan dengan cara Accidental Sampling, yaitu memberikan angket atau kuesioner kepada sampel yang menggunakan mi instant merek Sedaap yang kebetulan dijumpai, dimana kuesioner sebelumnya telah diuji melalui uji validitas dan uji reliabilitas. Untuk menguji faktor-faktor yang diteliti menggunakan software SPSS 13 for windows. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa diantara faktor budaya, kelas sosial, kelompok acuan, motivasi, persepsi, dan pengetahuan konsumen, yang paling dominant di dalam mempengaruhi keputusan pembelian mi instant merek Sedaap adalah faktor budaya, karena memiliki nilai Eigen Value tertinggi sebesar 5.337 dibanding faktor lainnya. Mengingat potensi pertumbuhan mi instant di Indonesia yang berkembang pesat, maka saran penulis adalah : (1) perusahaan di dalam meluncurkan produk mi instannya harus melakukan penelitian secara mendalam mengenai budaya karena dengan memperhatikan faktor budaya produsen dapat memperoleh konsumen dengan efektif. (2) meningkatkan peran iklan secara efektif, karena akan meningkatkan brand image produk di mata konsumen.

Pengaruh stress kerja terhadap motivasi kerja dan dampaknya pada kinerja karyawan (studi pada karyawan Bumiputera 1912 Kantor Cabang Tulungagung) / Derrytyas Ferryna F.

 

Karyawan sebagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang merupakan faktor penting dalam menentukan berhasil tidaknya suatu perusahaan,sehingga pelaksanaan kerja karyawan sangat mempengaruhi tujuan organisasisecara keseluruhan. Betapapun baiknya sumber daya lain yang dimiliki oleh perusahaan jika tidak didukung oleh karyawan yang bekerja secara efektif dan efisien maka tetap saja tidak dapat mencapai tujuan organisasi yang memuaskan bahkan bisa saja menemui kegagalan. Motivasi merupakan suatu dorongan agar para karyawan dapat bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan perusahaan.pemberian motivasi kepada karyawan dapat mempengaruhi aktivitas bagi perusahaan dalam meningkatkan produktivitas kerja. Tumbuhnya motivasi yang terjadi pada diri karyawan menjadi suatu proses kearah pencapaian tujuan pengelolaan sumber daya manusia. Untuk keberhasilan pengelolaan, perlu pemahaman terhadap keinginan karyawan sebagai manusia yang memiliki harapan dan perlu pemahaman terhadap kebutuhan dari setiap individu yang terlibat didalamnya yang dapat mendorong atau memotivasi kegiatan kerja mereka. Dengan adanya pemahaman terhadap harapan dan kebutuhan dari setiapindividu yang terlibat didalamnya, akan dimungkinkan terciptanya motivasi yang tinggi pada diri individu yang bersangkutan untuk melakukan suatu kegiatan sesuai dengan kewajibannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stress kerja yang ada di BUMIPUTERA 1912 Kantor Cabang Tulungagung terhadap kinerja dengan di mediasi oleh motivasi kerja. Penelitian ini dilaksanakan di BUMIPUTERA 1912 Kantor Cabang Tulungagung pada awal bulan Mei sampai dengan akhir bulan Mei 2009. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan BUMIPUTERA 1912 Kantor Cabang Tulungagung yang berjumlah 101 orang. Sedangkan sampelnya diambil sebanyak 80 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data yang dipakai analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis).Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung. Dalam tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh langsung stress kerja terhadap motivasi kerja, stress kerja terhadap kinerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan.sedangkan untuk pengaruh tidak langsung stress kerja terhadap kinerja karyawan yang dimediasi oleh motivasi kerja. iv Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu Stress Kerja (X), variabel antara yaitu Motivasi Kerja (Z) dan variabel terikat yaitu Kinerja (Y). Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan SPSS for windows 10.0.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat hipotesis alternatif yang diajukan adalah diterima. Hasil pengaruh langsung diperoleh beta (β) sebesar - 0,444 dengan Signifikansi (Sign) 0,000 untuk stress kerja terhadap motivasi kerja, beta (β) sebesar -0,238 dengan Sign 0,031 untuk stress kerja terhadap kinerja, beta 􁈺β􁈻 sebesar 0,376 dengan Sign 0,001 untuk motivasi kerja terhadap kinerja. Sedangkan untuk pengaruh tidak langsung dihasilkan sebesar -0,167 yaitu hasil dari pengaruh tidak langsung stress kerja terhadap kinerja melalui mediasi motivasi kerja. Sedangkan koefisien detreminasi total yang diperoleh sebesar 0,419. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar BUMIPUTERA 1912 Kantor Cabang Tulungagung lebih memperhatikan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi motivasi, seperti penghargaan atas kerja, ketentuan gaji yang layak, dan lain-lain, yang membuat karyawan lebih bersemangat dalam bekerja.stress kerja yang dirasakan oleh karyawan rendah, berarti karyawan tidak menganggap pekerjaannya adalah suatu keterpaksaan. Hal ini harus tetap dijaga oleh Kepala Cabang BUMIPUTERA 1912 cabang Tulungagung dengan tetap memperhatikan faktor-faktor yang dapat megakibatkan stress menjadi tinggi. Dalam penelitian selanjutnya agar objek penelitian yang diambil mempunyai kuantitas responden yang lebih besar dan berada di kota-kota besar. Dengan mengambil sampel pada organisasi yang berskala lebih besar maka akan memiliki keragaman yang lebih tinggi karakter baik demografi pada karyawannya. Peneliti juga menyarankan untuk penelitian selanjutnya agar menambah hipotesis penelitian dengan variabel-variabel kepuasan kerja,komitmen, niatan untuk keluar, dan lain-lain. Sehingga nantinya dapat diperoleh perkembangan dari penelitian-penelitian yang sudah ada. Dalam kegiatan penelitian, penulis menemui berbagai kendala salah satunya mengenai jauhnya jarak lokasi penelitian yang mengakibatkan kurangnya intensitas observasi sehingga kurang begitu mendalam dalam menjabarkan fenomena yang terjadi di perusahaan. Untuk penelitian selanjutnya agar objek penelitian dekat dengan lokasi tempat tinggal penulis dan dilakukan komunikasi tidak hanya melihat langsung objek penelitian tetapi juga dengan media komunikasi berupa telepon.

Pengaruh relationship marketing terhadap loyalitas pengguna ATM BNI (Studi pada pengguna ATM BNI di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang) / Tatang Ermawan

 

Dunia perbankan sekarang ini semakin maju, terbukti dengan banyaknya produk yang di keluarkan bank-bank untuk menarik nasabah. Pada jenis usaha perbankan ini mulai terjadi persaingan antara bank-bank yang satu dengan yang lain. Melihat persaingan yang berkembang sekarang ini manajer pemasaran harus dapat berfikir dengan cepat dan memperbaharui strategi yang harus diterapkan. Para manajer harus bisa menganalisa apa yang dibutuhkan oleh seorang konsumen dan kemudian menyediakan apa yang dibutuhkan tersebut. Salah satu bank yang ada di Indonesia ini yaitu PT. Bank Negara Indonesia berusaha mewujudkan hal tersebut dengan melakukan perbaikan dalam berbagai hal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan relationship marketing yang berbeda dengan bank lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nasabah yang sedang dan akan melakukan transaksi di ATM BNI Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang pada periode 1-8 Desember 2008. Dalam pengambilan sampel penelitian ini, peneliti menggunakan teknik accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan artinya siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Dan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 110 orang. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah Pengaruh Relationship Marketing Terhadap Loyalitas Pengguna ATM BNI (Studi pada pengguna ATM BNI Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah relationship marketing yang terdiri dari communication, commitment, dan service. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah loyalitas pengguna. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier berganda yang meliputi Uji t, Uji f, dan koefisien determinasi dengan progam komputer SPSS 13.0 for windows dan menggunakan  = 5 %. Hasil analisis regresi berganda menunjukan bahwa secara parsial commitment, dan service berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pengguna ATM BNI. Secara simultan communication, commitment, dan service berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pengguna ATM BNI. Peneliti memberikan saran kepada BNI untuk mengkaji ulang cara komunikasi yang telah ditetapkan secara lebih fleksibel dan dua arah. Untuk Peneliti lain yang ingin meneliti hal yang sama, diharapkan menambah jumlah variabel bebas yang diteliti dan mengambil tempat penelitian yang sejenis yang lokasinya jauh dari tempat pendidikan.

Perancangan media promosi untuk mempromosikan secara komunikasi visual seni topeng Malang / Anita Kusumaningati

 

ABSTRAK Kusumaningati, Anita. 2009. Perancangan Media Promosi Untuk Mempromosikan Secara Komunikasi Visual Seni Topeng Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Robby Hidayat, M.Sn (II) Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si. Kata Kunci: Perancangan, Media Promosi, Seni Topeng Malang Sejak jaman prasejarah seni telah dikenal dalam bentuk tari-tarian, bentuk beberapa macam upacara dan tari-tarian perang. Berkaitan dengan adanya seni yang telah dikenal sejak jaman prasejarah bila dihubungkan dengan bukti-bukti peninggalan sejarah saling berkaitan. Salah satu jenis kesenian adalah seni topeng, keberadaan topeng sudah amat tua, hal itu dapat ditemui di berbagai peninggalan bangunan-bangunan kuno dan bukti-bukti tertulis. Topeng sejak dulu dipergunakan untuk keperluan hidup yang bersifat magis religius sampai keperluan yang bersifat seni atau hiburan. Malang memiliki kesenian tradisional yaitu Topeng Malang. Topeng Malang yang di daerah asalnya lebih dikenal sebagai “wayang topeng” merupakan pertunjukan tari topeng yang menampilkan cerita atau sebuah drama tari dengan pelaku-pelaku yang bertopeng. Dulu pertunjukan Topeng Malang tersebar luas di berbagai wilayah kabupaten Malang seperti Dampit, Precet, Wajak, Ngajum, Jatiguwi, Senggreng, Pucangsanga, Jabung dan Kedungmangga. Sejalan dengan perkembangan jaman dan teknologi, Tari Topeng yang merupakan identitas dari Malang mulai ditinggalkan dan kehidupan Topeng Malang di daerah-daerah menurun karena beberapa sebab. Tujuan dari perancangan ini untuk menghasilkan rancangan komunikasi visual yang mampu mempromosikan seni Topeng Malang dengan menampilkan karekteristik dan ciri khas seni Topeng Malang. Perancangan ini menggunakan model prosedural yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam perancangan ini adalah observasi, interview atau wawancara dan dokumentasi. Metode pengmpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis perancangan media promosi seni Topeng Malang ini, meliputi strategi promosi dan publikasi dengan menggunakan analisis SWOT untuk mengetahui segala kekuatan dan segala kemungkinan sebagai dasar dalam pengembangan konsep media kreatif dalam perancangan ini. Saran untuk lebih meningkatkan promosi Topeng Malang yaitu (1) Perlunya perbaikan sarana dan prasarana serta media komunikasi visual untuk menarik target audience lebih banyak, (2) Perancangan media promosi sangat perlu diciptakan, selain membantu memperkenalkan potensi seni Topeng Malang dan juga diharapkan mampu mengangkat citra Topeng Malang sebagai salah satu seni tradisional, (3) Diperlukan kerjasama antara pemerintah daerah dengan instansi-instansi yang terkait dengan bersama sanggar tari-sanggar tari dan masyarakat untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap seni tari tradisional.

Perancangan dan pembuatan program latihan olimpiade matematika berbasis WEB / Ifan Alfiani A.

 

ABSTRAK Asmara, Ifan Alfani. 2008. Perancangan dan Pembuatan Program Latihan Olimpiade Matematika Berbasis Web. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Susy Kuspambudi A, M.Kom, (II) Darmawan Satyananda, S.T, M.T. Kata kunci: olimpiade matematika, latihan soal, website Kemajuan di bidang teknologi informasi, khususnya teknologi internet sudah demikian pesat. Semua informasi dari segala penjuru dunia dapat diakses melalui media internet melalui sebuah website. Pemanfaatan web pada saat ini sudah dapat dirasakan dalam segala bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan. Olimpiade matematika adalah salah satu kompetisi di bidang pendidikan. Soal-soal yang disajikan dalam olimpiade matematika lebih banyak bertipe pemecahan masalah. Diperlukan cara-cara yang kreatif dan luar biasa dalam menyelesaikannya. Cara-cara tersebut dapat dikuasai para siswa dengan latihan menyelesaikan soal-soal olimpiade secara intensif dan terarah. Banyak para siswa yang ingin mengikuti olimpiade matematika tidak mengetahui tingkat kesulitan soal-soal olimpiade matematika. Oleh karena itu penulis termotivasi untuk membuat suatu program latihan olimpiade matematika berbasis web. Nantinya website tersebut dapat diakses oleh siswa-siswa yang ingin melakukan uji kemampuan dalam mengerjakan soal-soal olimpiade matematika. Diharapkan dengan adanya latihan olimpiade matematika berbasis web ini, siswa-siswa yang ingin mengikuti olimpiade matematika mendapatkan gambaran tentang soal-soal olimpiade matematika yang up to date serta melakukan latihan soal olimpiade matematika. Secara umum user dalam latihan olimpiade matematika berbasis web ini dibagi menjadi dua, yaitu user yang telah mendaftar sebagai anggota dan administrator. Agar dapat menggunakan fasilitas yang ada dalam latihan olimpiade matematika berbasis web ini, user harus mendaftar dulu sebagai anggota pada form anggota yang disediakan dalam web tersebut. Masing masing user memiliki hak akses dan kelengkapan fitur yang berbeda-beda. Anggota dapat mendownload materi, memberi saran dan melakukan latihan soal olimpiade matematika. Soal latihan olimpiade matematika ini disajikan secara acak, soal diambil dari bank soal yang diinputkan oleh admin. Nilai hasil pengerjaan dapat langsung diketahui beserta pembahasannya untuk jawaban soal yang salah dan tidak dijawab, sehingga anggota termotivasi untuk terus mencoba latihan lagi. Administrator dapat membaca, mengubah, menambah dan menghapus data yang ada di dalam program (daftar nilai, anggota, komentar dan soal). ii ABSTRACT Asmara, Ifan Alfani. 2008. Planning and Manufacturing Program The Exercise of Mathematics Olympiad web basis. Thesis, Mathematics Department, Mathematics and Natural Science Faculty, The State Malang University. Counsellor (I) Dra. Susy Kuspambudi A, M.Kom, (II) Darmawan Satyananda, S.T, M.T. Keywords: mathematics Olympiad, exercises, website. The progress of information technology, especially internet technology has been greatly fast. All information all over the world could be accessed by internet media though a website. The utilization of web nowadays, could be perceived in all aspects, one of them is education aspect. Mathematics Olympiads is one of educational competitions. The questions presented in mathematics Olympiad are more have problem solving type. To accomplish them needs creative and brilliant ways which could be mastered by student in doing exercises of Olympiad questions intensively and comphrehensively. Most students who want to take a part in mathematics Olympiad do not know the difficulty level of mathematical questions tested during Olympiad. So, the writer was inspired to create a program about “The Exercise of Mathematics Olympiad web basis”. Hopefully, this website could be accessed by the student who want to measure their skill in doing the questions of mathematics Olympiad. Then they could get figure about up to date questions of mathematics Olympiad as well as being able to accomplish this kind of questions. In general, user of the website could be divided into two groups, firstly user registered as a member and secondary as administrator. In order to get use of the facilities, user had to register themselves as member on “member form” provided in this web. Each user has different accessible right and feature. A member could download this material, give suggestion and do questions of mathematics Olympiad. The question take from other sources by administrator were presented randomizedly. Score resulted from doing the question was directly known followed by explanation for each question which was wrong or was not answered. By this, the member was motivated to always keep trying. The administrator could read, change, add and delete data which existed in the program (score and member list, comment and questions).

Analisis keragaman genetik kerbau rawa Kalimantan berbasis RFLP-DNA (Restriction Fragment Lenght Polymorphisms-DNA) sebagai sumber belajar di Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi di Kalimantan Selatan / Khairunnisa

 

ABSTRAK Khairunnisa. 2009. Analisis Keragaman Genetik Kerbau Rawa Kalimantan Berbasis Restriction Fragment Length Polymorphisms-DNA (RFLP-DNA) sebagai Sumber Belajar di Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi di Kalimantan Selatan. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agr. Mohammad Amin, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Abdul Gofur, M.Si Kata kunci: Keragaman genetik, Kerbau Rawa Kalimantan, RFLP-DNA Kerbau rawa Kalimantan merupakan fauna endemik, sebagai plasma nutfah di Kalimantan Selatan (Kalsel). Kerbau ini tersebar di beberapa daerah rawa. Sebagai plasma nutfah populasi kerbau ini perlu dijaga dan dilestarikan. Sayangnya selama ini hanya dilakukan pendataan keragaman fenotip saja, belum ada genetik untuk mengetahui tingkat keragaman genetik yang bisa memperbaiki mutu genetiknya. Salah satu teknik molekuler untuk analisis keragaman genetik ini adalah RFLP-DNA. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui keragaman fenotip kerbau rawa Kalimantan di beberapa daerah rawa di Kalimantan selatan; (2) mengetahui keragaman genetik berbasis RFLP-DNA kerbau rawa Kalimantan di beberapa daerah rawa di Kalimantan selatan; (3) mengetahui implikasi hasil penelitian ini sebagai sumber belajar di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di Kalimantan selatan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksploratif untuk mengungkap keragaman fenotip dan keragaman genetik kerbau rawa Kalimantan melalui analisis DNA dengan teknik RFLP-DNA. Data keragaman fenotip yang dikaji berupa data pengamatan dan pengukuran fenotip, sedangkan keragaman genetik dilihat dari variasi jumlah dan ukuran fragmen, proporsi lokus polimorfik, frekuensi alel, serta kekerabatan (jarak genetik) diantara individu-individu dari beberapa populasi yang diambil menggunakan software Multi Variate Statistical Package (MVSP) yang ditampilkan dalam bentuk dendogram menggunakan metode Unweighted Pair Group Methode with Arithmatic Average (UPGMA). Penelitian dilakukan di Laboratorium Universitas Negeri Malang, laboratorium biotek Universitas Muhammadiyah Malang, dan laboratorium biologi molekuler Universitas Brawijaya Malang pada bulan Juni sampai Desember 2008. Hasil analisis data keragaman fenotip berdasarkan pengukuran dengan parameter lingkar badan, ukuran kepala, panjang leher, panjang ekor, panjang tanduk, panjang kaki, dan panjang tubuh total menunjukkan dari 7 sampel yang dianalisis terdapat variasi ukuran, namun tidak berbeda jauh. Begitupula data pengamatan fenotip berdasarkan parameter yang diamati seperti bentuk tubuh, warna tubuh, warna mata, bentuk ekor, dan bentuk tanduk menunjukkan adanya variasi yang cukup terlihat pada warna tubuh dan bentuk tanduk, sedangkan parameter lainnya tidak jauh berbeda. Selanjutnya untuk data genetik terdapat keragaman genetik kerbau rawa Kalimantan pada tiga populasi yang diambil yaitu Awayan, Telaga Selaba dan Sungai Buluh. Keragaman ini ditunjukkan oleh (1) adanya variasi ukuran fragmen DNA dengan menggunakan enzim HaeIII total variasi fragmen adalah 31 sedangkan PstI iv 38, (2) nilai lokus polimorfik tertinggi pada restriksi menggunakan HaeIII adalah 0,60 pada populasi Awayan, dan terendah adalah 0,33 pada populasi Telaga Selaba. Sedangkan pada restriksi menggunakan enzim PstI proporsi lokus polimorfik tertinggi senilai 0,85 pada populasi Telaga Selaba dan terendah pada populasi Sungai Buluh yaitu 0,33. (3) Nilai frekuensi alel juga menunjukkan adanya polimorfisme relatif tinggi pada tiga populasi karena prosentase frekuensi alel baik menggunakan HaeIII maupun PstI nilainya ada berkisar 50%, (4) data kekerabatan pada masing- masing individu baik menggunakan gabungan enzim HaeIII dan PstI menunjukkan adanya hubungan kekerabatan pada tiga populasi. Jarak genetik tertinggi dengan nilai similaritas 0,457 anatar sampel K4 dari populasi Telaga Selaba dan K5 dari Sungai Buluh. Jarak genetik terendah dari kekerabatan seluruh populasi dengan nilai 0,196. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan (1) Perlunya manajemen pemeliharaan kerbau rawa Kalimantan termasuk sistem perkawinannya agar diperoleh mutu genetik yang berkualitas dan tidak meningkatnya individu-individu homozigot yang bisa menurunkan perfomansi kerbau dan rentan penyakit. Hal ini karena walaupun data keragaman genetik yang diperoleh masih tinggi namun mekanisme inbreeding di lapanagan masih tinggi, (2) Untuk menganalisis keragaman genetik kerbau rawa Kalimantan sebaiknya digunaan enzim HaeIII sebab rentangan variasi lebih tinggi jika dibandingkan enzim PstI, (3) Untuk memperoleh akurasi yang lebih tinggi dari data keragaman genetik kerbau rawa Kalimantan sebaiknya diambil jumlah sampel yang lebih besar pada masing-masing populasi bahkan kalau perlu jumlah populasinya ditambah, (4) Sebaiknya dilakukan teknik analisis keragaman yang lebih tinggi sampai tataran gen tertentu misalnya teknik PCR-RFLP menggunakan gen pertumbuhan (growth hormone) agar diperoleh akurasi data genetik yang tinggi dan bisa dikaitkan lebih jauh dengan keragaman fenotipnya, (5) Implementasi hasil penelitian berupa modul pembelajaran untuk SMA dan modul praktikum untuk perguruan tinggi sebagiknya diuji cobakan ke SMA dan PT agar bisa diketahui efektifitas dan responnya terhadap modul tersebut

Pengaruh cara, kebiasaan dan gaya belajar terhadap prestasi belajar akuntansi pada siswa SMA Negeri I Blitar / Muji Astutik

 

ABSTRAK Muji Astutik, 2008 Pengaruh Cara, Kebiasaan dan Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Pada Siswa SMA Negeri I Blitar. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (i) Sri Puji Ningsih, SE. M.Si (ii) Eka Ananta Sidharta, SE. M.M, Ak. Kata kunci : Cara belajar, kebiasaan belajar, gaya belajar dan prestasi belajar. Pada umumnya cara, kebiasaan dan gaya belajar siswa, baik dilakuka di rumah maupun di sekolah yaitu ketika akan menghadapi ulangan atau ujian saja. Cara belajar seperti ini yang tidak diharapkan oleh orang tua maupun guru. Efektifitas belajar tergantung pada cara, kebiasaan dan gaya belajar siswa yang baik. Cara, kebiasaan dan gaya belajar yang kurang tepat mengakibatkan prestasi belajar siswa menjadi rendah. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk menjelaskan besarnya pengaruh cara belajar terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar. (2) Untuk menjelaskan besarnya pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar. (3) Untuk menjelaskan besarnya pengaruh cara dan kebiasaan belajar secara simultan terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar. (4) Untuk menjelaskan faktor yang paling dominant mempengaruhi prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMA Negeri I Blitar, rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, variabel dalam penelitian ini meliputi variabel cara belajar, kebiasaan belajar, gaya belajar dan prestasi belajar. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas XI jurusan akuntansi tahun ajaran 2008/2009 pada SMA Negeri I Blitar sebanyak 96 siswa. Semua populasi dijadikan sample populasi sebab kurang dari 100. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, dimana syarat untuk file:///D|/BIMB.%20MAJEMUK/bimbingan/utik%20revisi/skripsi.htm (9 of 122) [4/8/2009 1:26:48 PM] PENGARUH CARA, KEBIASAAN DAN GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA SMA NEGERI I BLITAR melakukan analisis adalah terpenuhinya uji asumsi klasik. Hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: (1) Terdapat pengaruh cara belajar terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar karena diperoleh nilai signifikan dari uji t sebesar 0.000 sedangkan besarnya pengaruh tersebut sebesar 70.2%. (2) Terdapat pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar karena diperoleh nilai signifikan dari uji t sebesar 0.001 sedangkan besarnya pengaruh tersebut sebesar 34.3%. (3) Terdapat pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar karena diperoleh nilai signifikan dari uji t sebesar 0.000 sedangkan besarnya pengaruh tersebut sebesar 64.7%. (4) Terdapat pengaruh cara, kebiasaan dan gaya belajar secara simultan terhadap prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar karena diperoleh nilai signifikan dari uji f sebesar 0.000 sedangkan besarnya pengaruh tersebut sebesar 66.7%. (5) Faktor yang paling dominan mempengaruhi prestasi belajar Akuntansi pada siswa di SMA Negeri I Blitar adalah cara belajar sebab memiliki nilai pengaruh secara parsial terbesar.

Perubahan makna dalam wacana humor ketawa-ketiwi betawi: humor dari Batavia sampai Jabotabek karya Abdul Chaer (Sebuah kajian semantik) / Ika Nu'aini

 

i ABSTRAK Nur’aini, Ika. 2009. Perubahan Makna Dalam Wacana Humor Ketawa Ketiwi Betawi: Humor dari Batavia sampai Jabodetabek Karya Abdul Chaer (Sebuah Kajian Semantik). Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Mujianto, M.Pd. dan Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata Kunci: perubahan makna, wacana, humor Humor merupakan salah satu bentuk penggunaan bahasa, baik secara lisan maupun tulisan dan dapat ditemukan dalam berbagai lapisan masyarakat tanpa menghiraukan strata sosial. Penciptaan humor membutuhkan pengetahuan dan pengalaman, begitu juga dengan proses pemahaman terhadap maksud dan makna yang terkandung di dalamnya. Humor yang beredar di masyarakat salah satunya adalah humor etnis yang lebih memfokuskan aspek kelucuan pada segala hal yang berhubungan dengan tingkah laku, adat bahkan cara berfikir masyarakatnya. Humor dapat memiliki kelucuannya setelah bisa dipahami maknanya serta perubahan-perubahan makna yang terjadi dengan berbagai pemahaman masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang perubahan makna yang terdapat dalam kumpulan wacana humor Ketawa Ketiwi Betawi dalam bentuk (1) perluasan makna, (2) penyempitan makna, (3) perubahan makna total, (4) penghalusan makna, dan (5) pengasaran makna. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frase, dan kalimat yang bersumber dari kumpulan wacana humor Ketawa Ketiwi Betawi karya Abdul Chaer terbitan tahun 2007. Data diambil dan dianalisis dengan menggunakan instrumen pemandu berupa panduan kodifikasi data, panduan analisis data, dan panduan inferensi. Analisis data dilakukan berdasarkan model alir Miles dan Huberman berupa tahap pengumpulan data, reduksi, penyajian (analisis) data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan tiga hal, yaitu ketekunan pengamatan, pemeriksaan teman sejawat, dan kepada ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima perubahan makna, bahwa (1) perluasan makna terdiri atas (a) perluasan makna pada tingkat leksikal berupa polisemi akibat asosiasi, polisemi akibat perkembangan sosial budaya, polisemi akibat pertukaran tanggapan indera, dan polisemi akibat perbedaan tanggapan, dan (b) perluasan makna pada tingkat gramatikal berupa frase akibat asosiasi dan frase akibat penggabungan leksem/kata; (2) penyempitan makna terdiri atas (a) penyepitan mana pada tingkat leksikal berupa polisemi akibat asosiasi, polisemi akibat perubahan lingkungan, dan polisemi akibat perbedaan tanggapan, dan (b) penyempitan makna pada tingkat gramatikal berupa frase akibat asosiasi, dan frase akibat penggabungan leksem/kata; (3) perubahan makna total terdiri atas (a) perubahan makna total pada tingkat leksikal berupa polisemi akibat asosiasi dan polisemi akibat perubahan lingkungan, dan (b) perubahan makna total pada tingkat gramatikal berupa frase akibat penggabungan leksem/kata;. (4) penghalusan makna terdiri atas (a) penghalusan makna pada tingkat leksikal berupa polisemi akibat penyingkatan kata, polisemi akibat ii perbedaan tanggapan, dan polisemi akibat sosiasi, dan (b) penghalusan makna pada tingkat gramatikal berupa frase akibat asosiasi, frase akibat perubahan lingkungan dan frase akibat perubahan bentuk dan afiksasi; (5) pengasaran makna terdiri atas (a) pengasaran makna pada tingkat leksikal berupa polisemi akibat asosiasi, polisemi akibat faktor psikologis, dan polisemi akibat perbedaan tanggapan, dan (b) pengasaran makna pada tingkat gramatikal berupa frase akibat asosiasi dan frase akibat penggabungan leksem/kata. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi peneliti bahasa Indonesia agar melakukan penelitian serupa yang lebih luas dan mendalam, bagi pemerhati bahasa atau ahli bahasa untuk menambah khasanah kajian bahasa dan ilmunya, serta bagi guru bahasa Indonesia agar dapat menggunakan penelitan ini sebagai bahan ajar untuk memperkaya pengetahuan siswa.

The Implementation of cooperative learning in developing students' speaking ability at SMA Negeri 1 Malang / Junette Cinthya Tamaela

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Cooperative Learning untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris interaksi antara siswa yang terjadi saat penerapan Cooperative Learning memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendapat pemerolehan Bahasa Inggris. Mempertimbangkan hal ini maka penelitian ini berusaha untuk memperlihatkan bahwa Cooperative Learning dapat membantu mengembangkan kemampuan berbicara siswa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah 35 orang siswa Kelas X-4 SMAN 1 Malang. Data diperoleh dari proses belajar dan mengajar melalui hasil observasi, catatan lapangan, dan wawancara yang dilakukan dilokasi penelitian. Dari data yang diperoleh, pendeskripsian penerapan Cooperative Learning untuk meningkatkan kemapuan berbicara siswa dapat diperoleh. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, Cooperative Learning memungkinkan siswa untuk berpartisipasi dalam bekerja sebagai suatu tim dimana mereka saling mengisi antar satu dengan yang lain dalam kelompok-kelompok kecil, hal ini terlihat saat siswa yang mengetahui jawaban memberitahukan kepada teman yang lainnya dalam kelompok itu dan menanyakan pendapat mereka tentang jawaban yang ia berikan. Sehingga adanya saling mendorong dan saling mengembangkan kelemahan satu dengan yang lain. Kedua, dengan bekerja melalui Cooperative Learning, siswa termotivasi untuk berbicara. Mereka berkomunikasi satu dengan yang lain dengan memberikan opini, bertanya, menjawab pertanyaan, meminta klarifikasi, dan meresponi dukungan yang diberikan oleh teman. Mereka mengembangkan kemampuan berbicara mereka dengan mempraktekkan berbicara sebanyak mungkin melalui interaksi dengan teman sekelompok. Siswa memperoleh banyak kesempatan untuk berbicara karena Cooperative Learning menuntut dan memperdalam kemampuan berbicara siswa. Keberhasilan kelompok bergantung pada interaksi dari masing-masing anggota. Dengan belajar dalam kelompok koperatif ada kesempatan bagi siswa untuk menerima bantuan secara individu dari teman sekelompoknya. Bantuan dari teman meningkatkan kemampuan baik bagi siswa yang dibantu maupun bagi yang membantu. Ada beberapa saran bagi guru Bahasa Inggris yang ingin menerapkan Cooperative Learning untuk meningkatkan berbicara siswa. Guru harus merencanakan dengan baik sebelum mengajar siswa menggunakan Cooperative Learning dimana guru harus mempersiapkan materi yang sesuai dengan tingkatan kelas dan kemampuan siswa dan menerapkan beberapa prinsip dasar (manajemen kooperatif, struktur tugas, tanggungjawab individu dan kelompok, peranan guru dan siswa, dan proses pengelompokkan). Dalam menggunakan kelompok kecil, empat siswa dalam satu kelompok merupakan jumlah yang maksimum untuk mengatur pembelajaran. Studi menunjukan bahwa empat siswa dapat bekerja secara berpasangan, karena masing-masing siswa mempunyai tiga kesempatan dalam berpasangan untuk bertukar pikiran. Hal ini memberikan kesempatan untuk mengalami pengalaman pembelajaran yang baik dan memberi ruang untuk memberi kontribusi secara individu. Formasi kelompok disusun sehingga siswa duduk berdekatan dan saling berhadapan dalam satu dengan mencampurkan siswa berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan agar tercipta perbedaan pandangan. Guru harus memonitor siswa saat mereka kerja kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

Pengaruh faktor-faktor eksternal terhadap keputusan konsumen dalam pemilihan Bank Perkreditan Rakyat (Studi pada nasabah simpan pinjam Bank Perkriditan Rakyat Danaputra Sakti Pandaan) / Dina Merinda Effendi

 

ABSTRAK Effendi, Dina, Merinda. 2008. “Pengaruh Faktor-Faktor Eksternal Terhadap Keputusan Konsumen dalam Pemilihan Bank Perkreditan Rakyat (Studi pada Nasabah Simpan Pinjam Bank Perkreditan Rakyat Danaputra Sakti Pandaan)”. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Gatot Isnani, M.Si, (II) Drs. M. Arief, M.Si. Kata kunci: faktor-faktor eksternal, keputusan pemilihan BPR. Perkembangan sektor perbankan di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan saat Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997. Salah satu sektor perbankan yang cukup banyak diminati konsumen adalah bank perkreditan rakyat. Dalam menarik perhatian konsumen, BPR perlu memperhatikan perilaku konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan pemilihan konsumen. Perilaku konsumen terdiri dari dua faktor, yaitu faktor internal yang mempengaruhi konsumen dari dalam diri sendiri dan faktor eksternal yang mempengaruhi konsumen dari luar lingkungan. Banyak konsumen yang menjadi nasabah BPR dikarenakan pengaruh dari luar, oleh karena itu penelitian ini meneliti mengenai pengaruh faktor-faktor eksternal terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan. Faktor-faktor eksternal perilaku konsumen dalam penelitian ini terdiri dari lima variabel yaitu kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi, keluarga, dan keadaan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: pengaruh faktor-faktor eksternal baik secara parsial maupun simultan terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu faktor-faktor eksternal (X) yang terdiri atas: kebudayaan (X1), kelas sosial (X2), kelompok referensi (X3), keluarga (X4), dan keadaan ekonomi (X5), serta variabel terikatnya adalah keputusan pemilihan BPR (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh nasabah simpan pinjam BPR Danaputra Sakti Pandaan, per 30 April 2007 yang berjumlah 508 nasabah. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, diperoleh sampel sebanyak 84 responden. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan Multy Stage Sampling. Tahapan pertama adalah purposive sampling dan tahap selanjutnya adalah accidental sampling untuk menyebarkan kuisioner pada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini adalah: (1) Terdapat pengaruh positif yang signifikan kebudayaan (X1) terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan dengan nilai B = 0,362, nilai thitung = 3,021, dan signifikansi t = 0,003; (2) Terdapat pengaruh positif yang signifikan kelas sosial (X2) terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan dengan nilai B = 0,212, nilai thitung = 2,540, dan signifikansi t = 0,013; (3) Terdapat pengaruh positif yang signifikan kelompok referensi (X3) terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan dengan nilai B = 0,298, nilai thitung = 2,905, dan signifikansi t = 0,005; (4) Terdapat pengaruh positif yang signifikan keluarga (X4) terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan dengan nilai B = 0,301, nilai thitung = 2,692, dan signifikansi t = 0,009; (5) Terdapat pengaruh positif yang signifikan keadaan ekonomi (X5) terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan dengan nilai B = 0,299, nilai thitung = 2,452, dan signifikansi t = 0,016; (6) Terdapat pengaruh positif yang signifikan kebudayaan (X1), kelas sosial (X2), kelompok referensi (X3), keluarga (X4), dan keadaan ekonomi (X5) secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan berdasarkan nilai Fhitung sebesar 9,606 dengan tingkat signifikansi 0,000; (7) Sub variabel dari faktor-faktor eksternal yang berpengaruh dominan terhadap keputusan konsumen dalam memilih BPR Danaputra Sakti Pandaan adalah kebudayaan dengan nilai sumbangan efektif sebesar 10,68%. Selain itu diketahui Adjusted R-Square = 0,341 yang memiliki arti bahwa faktor-faktor eksternal (yang terdiri atas: kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi, keluarga, dan keadaan ekonomi) secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pemilihan BPR sebesar 34,1%, sedangkan sisanya 65,9% dipengaruhi oleh variabel lain yaitu faktor-faktor internal perilaku konsumen (yang terdiri atas: kebutuhan dan motivasi, kepribadian, pengolahan informasi dan persepsi, proses belajar, pengetahuan, dan sikap). Saran penelitian ini adalah: (1) Memperhatikan nilai-nilai budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya keramahtamahan karyawan lebih ditingkatkan dan selalu menjaga kepercayaan nasabah pada BPR Danaputra Sakti Pandaan; (2) Menurunkan denda harian, menetapkan biaya administrasi yang tidak terlalu besar, pengeluaran dana pinjaman dipercepat, dan pembayaran jatuh tempo pinjaman untuk nasabah diberi tenggang waktu; (3) Memberikan potongan pinjaman atau hadiah langsung untuk nasabah simpan pinjam yang membawa nasabah baru; (4) Menawarkan kepada nasabah undian tahunan dengan hadiah yang sangat menarik dan memberikan hadiah langsung bagi nasabah yang membayar pinjaman tepat waktu; serta (5) menetapkan nilai jaminan pinjaman yang sesuai dengan harga pasar.

Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw pada mata pelajaran pelayanan prima untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas X Program Keahlian Penjualan di SMK PGRI 6 Malang / Verby Pradikta Wardana

 

Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa pembelajaran yang diterapkan di SMK PGRI 6 Malang menunjukkan metode pembelajaran mata pelajaran Pelayanan Prima masih cenderung guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) bukan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Pembelajaran yang dilakukan masih bersifat tutorial dan ceramah. Sehingga guru mengacu pada teori dan kurang mengaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar siswa. Sedangkan dari sudut pandang siswanya, siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan menetapkan kurikulum baru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP. KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih familiar dengan guru, karena guru banyak dilibatkan sehingga diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang disempurnakan adalah pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL). Salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran model Jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas X Program Keahlian Penjualan SMK PGRI 6 Malang pada mata pelajaran Pelayanan Prima. Jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Pj SMK PGRI 6 Malang yang berjumlah 36 siswa, terdiri dari 35 siswa perempuan dan 1 siswa laki-laki. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan data dianalisis secara deskriptif. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data melalui observasi pada saat pembelajaran berlangsung, memberikan angket motivasi belajar siswa, dan Post Test. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran model Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata motivasi belajar siswa dari 69,66% pada siklus I menjadi 73,31% pada siklus II. Peningkatan prestasi belajar dapat diketahui dari ranah kognitif dengan rata-rata nilai Post test siswa sebesar 83,71 pada siklus I menjadi 84,52 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) pembelajaran kooperatif model Jigsaw telah terbukti dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa sehingga bagi guru mata pelajaran Pelayanan Prima dan guru mata pelajaran lainnya dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model Jigsaw, (2) guru hendaknya lebih memotivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar, (3) kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pada kompetensi dasar yang lain guna mengetahui keberhasilan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar.

Pengaruh informasi laporan arus kas dan laba akuntansi terhadap harga saham (Studi empiris pada saham Perusahaan Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia) / Tatik Nur Hidayah

 

Laporan keuangan mengandung informasi tentang kondisi keuangan perusahaan, juga dapat digunakan oleh investor sebagai pertimbangan dalam berinvestasi pada saham suatu perusahaan. Arus kas yang dilaporkan dalam laporan arus kas dan laba akuntansi yang dilaporkan dalam laporan laba rugi dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi. Hal ini dikarenakan laporan arus kas dan laba akuntansi mengandung informasi yang bermanfaat untuk meramalkan apakah keuntungan yang akan didapat sebanding dengan risiko yang akan ditanggung oleh investor dalam menginvestasikan dananya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh informasi arus kas dan laba akuntansi sehingga informasi tersebut dapat mempengaruhi besarnya harga saham baik secara simultan maupun secara parsial. Populasi yang digunakan adalah seluruh perusahaan indeks LQ 45 di BEI periode 2004 sampai dengan 2006, dimana dari populasi tersebut terpilih 33 perusahaan yang aktif terdaftar dalam indeks LQ 45 selama tiga tahun. Sampel dipilih berdasarkan purposive sampling. Penelitian ini digolongkan kedalam penelitian asosiatif. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan, ICMD periode 2004 sampai dengan 2006, dan sebagainya. Analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS. Uji yang digunakan adalah uji F dan uji t. Hasil analisis uji F menunjukkan bahwa tingkat signifikan dari periode 2004, 2005 dan 2006 sebesar 0,019, 0,010 dan 0,000 lebih kecil dari 5%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil uji t menunjukkan bahwa tingkat signifikan arus kas tahun 2004, 2005 dan 2006 sebesar 0,380, 0,131 dan 0,713. Laba akuntansi tahun 2004, 2005 dan 2006 mempunyai tingkat signifikan sebesar 0,026, 0,047 dan 0,000. Arus kas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham karena tingkat signifikan yang diperoleh lebih besar dari 5%. Sedangkan laba akuntansi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham dengan signifikan lebih kecil dari 5%. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah bagi peneliti selanjutnya hendaknya menambah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga saham yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Bagi investor hendaknya menggunakan informasi arus kas dan laba akuntansi sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan berinvestasi saham.

Pengembangan bahan ajar geografi bermuatan Al-qur'an dan Hadits materi Dinamika Planet Bumi / Vidia Izza Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, VidiaIzza. 2015. PengembanganBahan Ajar GeografiBumiBermuatan Al-Qur’an danHaditsMateriDinamika Planet. Skripsi.JurusanGeografi. FakultasIlmuSosial.Pembimbig: (I) Dr. AchmadAmirudin, MPd, (II) Drs. Budi Handoyo, MSi Kata Kunci: Bahan Ajar Geografi, Al-Qur’an danHadits, Dinamika Planet Bumi PembelajaranGeografidalamkurikulum 2013 tentuperlupengaitandengan Al-Qur’an danhaditsuntukmeningkatkankeimanansiswa.Namun, selamainibelumadabahan ajar Geografidenganpengaitan Al-Qur’an danhadits.Menurutanalisiskebutuhandankarakteristiksiswajugadibutuhkanbahan ajar Geografi yang memberikansentuhannilai agama.Olehkarenaitu, pengembangmempunyai ide untukmembuatprodukberupaBahan Ajar Geografibermuatan Al-Qur’an danHadits. Tujuandaripengembangandanpenelitianiniadalahuntukmenghasilkanprodukbahan ajar Geografibermuatan Al-Qur’an danhaditsbesertamengujikelayakanproduktersebut.Pengembanganinimenggunakanmodel menurutSadimandengantahap-tahapsebagaiberikut.(1) menganalisiskebutuhandankarakteristiksiswa, (2) merumuskantujuaninstruksionaldenganoperasionaldankhas, (3) merumuskanbutir-butirmaterisecaraterperinci yang mendukungtercapainyatujuan, (4) mengembangkanalatpengukurkeberhasilan, (5) menulisnaskah media, (6) mengadakantesdanrevisi. Data penelitianberupa data kuantitatifdan data kualitatif.Data kuantitatifdiperolehdariskorvalidasiahlimateri, ahlibahasa, ahlidesainpembelajaran, praktisilapangan, validasiolehsiswa, nilaipre-testdanpost-testsiswa.Data kualitatifberupa saran dankomentardaripara validator di atas.Data-data iniberfungsiuntukmerevisihasilprodukbahan ajar Geografi.Nilaipre-testdanpost-testberfungsiuntukmengetahuipengaruhbahan ajar Geografibermuatan Al-Qur’an danHaditsterhadappeningkatanhasilbelajarsiswa. Berdasarkanhasilanalisis data, diperolehkesimpulanbahwapresentasehasilvalidasiahlimateri, ahlibahasa, ahlidesainpembelajaran, praktisilapangan, penggunasecaraberurutanadalah 86,7 %, 85%, 90%, 86,7%, 85%. Semuapresentaseiniberkriteriasangat valid.Namunhasilkriteriadarikomentardan saran berupa valid.Hasilanalisisuji t darihasilpre-testdanpost-testmenunjukkanbahwabahan ajar Geografidapatmeningkatkanhasilbelajarsiswa.Saran pengembangannyaadalahditerbitkandandilakukanpengesahanhakciptasehinggabisadigunakanolehmasyarakatluas.

Penentuan struktur senyawa kompleks perak(I) perklorat dengan ligan 2.2'-bipiridina/1,4-bis(Difenilfosfino) butana dengan metode difraksi sinar x kristal tunggal / Bekti Marttuti Dwi Nurratri

 

Senyawa kompleks yang dibentuk dari garam perak(I) perklorat dengan campuran dua ligan yaitu yaitu ligan nitrogen dan ligan fosfina yang pernah dilaporkan adalah senyawa kompleks dengan stoikiometri 1:1:1 yang berbentuk dimer yaitu [Ag2X2Ag(py)2(PPH3)2] (X = Cl, Br, I) dengan geometri di sekitar atom perak adalah tetrahedral terdistorsi, dengan perbandingan 1:1:2 yang pernah dilaporkan adalah [AgX(py)(PPh3)2] (X = Cl,Br) yang merupakan kompleks monomer dengan geometri di sekitar atom perak adalah tetrahedral terdistorsi. Senyawa kompleks perak(I) perklorat dengan ligan campuran 2,2’-bipiridina dan 1,4-bis(difenilfosfino)butana dan dengan ligan campuran 2,2’-bikuinolina dan 1,4-bis(difenilfosfino)butana sudah disintesis tetapi belum ditentukan strukturnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur senyawa kompleks tersebut. Penentuan struktur senyawa kompleks menggunakan metode difraksi sinar-X kristal tunggal. Program yang digunakan adalah XTAL 3.7. Struktur kristal dipecahkan dengan metode langsung (direct method). Refinement dilakukan dengan least square refinement terhadap posisi, parameter termal isotropik dan anisotropik atom-atomnya, sehingga diperoleh perbedaan yang seminimal mungkin antara amplitudo faktor struktur teoritik dengan amplitudo faktor struktur hasil eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Senyawa kompleks dari perak(I) perklorat dengan ligan campuran antara 2,2-bipiridina dengan 1,4-bis (difenilfosfino) butana dengan stoikiometri 2:1:2 yang dikristalisasi dalam pelarut asetonitril adalah [Ag2(dppb)(bipy)2][ClO4]2.2MeCN, yang merupakan kompleks binuklir ionik dengan geometri di sekitar atom perak adalah trigonal piramida terdistorsi. Senyawa kompleks ini mengkristal pada kisi monoklinik dengan kelompok ruang P21/c. Parameter sel satuan adalah a = 20,819(2) Å, b = 17,471(1) Å, c = 14,853 (1) Å, β = 106,156(2)º, V = 5189,1(6) Å3 dan R = 0,04108 untuk 12407 refleksi independen.(2) Senyawa kompleks dari perak(I) perklorat dengan ligan campuran 1,4-bis (difenilfosfino)butana (dppb) dan 2,2’-bikuinolina dengan stoikiometri 2:1:2 yang dikristalisasi dalam pelarut asetonitril adalah [Ag2(dppb)(biq)2][ClO4]2.2MeCN.H2O, yang merupakan senyawa kompleks binuklir. Senyawa ini mengkristal pada kisi triklinik dengan kelompok ruang Pī . parameter sel satuan adalah a = 11,3309(8) Å, b = 12,0313(9) Å, c = 13,854(1) Å, α = 96,510(2)º, β = 99,706(2)º, γ = 117,470(2)º, V = 1611.791(6) Å3 dan R = 0,04453 untuk 11900 refleksi independen.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan konstektual untuk SMA/MA kelas XII semester I pada materi pokok unsur-unsur golongan utama / Dewi A'zar

 

Sumber daya manusia (SDM) adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial. Kualitas SDM tentunya sangat terkait dengan mutu pendidikan. Oleh karena itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu bentuk usaha tersebut adalah dengan cara memperbarui kurikulum Saat ini di Indonesia diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melalui KTSP ini, dilakukan penyempurnaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan, termasuk dalam pembelajaran sains khususnya kimia. Permasalahan dalam pembelajaran kimia yang sampai saat ini belum mendapat pemecahan secara tuntas adalah adanya anggapan pada diri siswa bahwa pelajaran ini sulit dipahami dan dimengerti. Untuk meningkatkan minat siswa terhadap kimia, diperlukan suatu konsep pembelajaran yang mampu mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa agar lebih bermakna seperti yang diharapkan dalam KTSP. Siswa diharapkan untuk dapat mengkontruksi pemahamannya sendiri, serta terdorong untuk dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Pendekatan pembelajaran yang dapat mewadahi hal ini adalah pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Salah satu pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menerapkan pembelajaran kontekstual tersebut adalah strategi REACT yaitu Relating, Experiencing, Applying, Cooperating dan Transfering yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam model pembelajaran terpadu LCC-5E. Agar guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, maka diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang lebih operasional. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa perangkat pembelajaran kimia yang berbasis konstruktivistik dan kontekstual. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terbatas pada materi pokok Unsur-Unsur Golongan Utama, karena topik ini belum pernah dikembangkan sebelumnya. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan panduan guru (Teacher’s Guide) yang berisi silabus dan sistem penilaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), intrumen penilaian, dan buku guru. Bagian kedua adalah buku siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi dan atau kegiatan laboratorium. Pengembangan perangkat pembelajaran ini dilakukan mengikuti model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, (2) melakukan analisis materi pembelajaran, (3) mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, (4) menuliskan pengalaman belajar, (5) mengembangkan item tes berbasis kriteria, (6) pemilihan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, (8) melaksanakan evaluasi formatif (validasi), (9) melakukan revisi, dan (10) memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Berdasarkan hasil validasi dari ke empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 93,26% dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik di sekolah. Untuk mengetahui efektifitas perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji lapangan.

Hubungan locus of control dan konsep diri dengan stres kerja pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu / Muhammad Nur S. Intam

 

ABSTRAK Intam, Muhammad Nur S, 2009. Hubungan Locus Of Control Dan Konsep Diri Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)Dr. Marthen Pali M.Psi, (II)Diyah Sulistiyorini, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: locus of control, konsep diri, stres kerja Dunia keperawatan merupakan salah satu profesi yang memiliki resiko tinggi dalam memunculkan stres kerja bagi para pekerjanya. Sebagai sosial helper perawat dituntut untuk selalu memberikan palayanan yang memuaskan dalam kondisi sekritis apapun. Sebagian besar karakteristik kepribadian berhubungan dengan stres kerja yaitu: locus of control internal, kepribadian tipe A, rendahnya kontrol diri, kepribadian neurotis, kecemasan dan rendahnya konsep diri. Orang yang berorientasi pada locus of control internal mengalami ancaman lebih sedikit dari pada orang yang berorientasi eksternal. Selain itu jika konsep diri yang dimiliki perawat rendah maka individu akan mudah mengalami keputus asaan saat menemui hambatan di tempat kerja dan akan memicu munculnya stres kerja. Penelitian ini dilakukan di RSUD Undata Palu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan korelasional. Subjek yang dijadikan sampel sebanyak 40 orang. Instrumen yang digunakan adalah skala LOC dan skala konsep diri serta skala stres kerja. Teknik analsis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif berdasarkan nilai mean dan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 21 orang atau sebesar 52,5% memiliki locus of control eksternal yang tinggi dan 19 orang atau sebesar 47,5% memiliki locus eksternal rendah. Konsep diri positif sebanyak 57,5% sedangkan konsep diri negatif sebanyak 42,5% sedangkan untuk stres kerja sebanyak 42,5% termasuk kategori tinggi dan 57,5% kategori rendah. Hasil analisi korelasi menunjukkan ada hubungan positif antara locus of control eksternal dan stres kerja dengan koefisin korelasi 0,372 dimana semakin tinggi locus eksternal perawat maka semakin tinggi stres kerjanya, dan ada hubungan negatif antara konsep diri dengan stres kerja dimana koefisien korelasinya sebesar -0,488 dimana semakin tinggi konsep dirinya maka semakin rendah stres kerjanya. Serta nilai dari R Square dari analisis regresi antara locus of control dan konsep diri dengan stres kerja sebesar 0,267. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka hendaknya: (1)Perawat selalu berupaya untuk meningkatkan kompetensi dirinya sehingga dapat membantu mengurangi stres yang dialami; (2)Pihak rumah sakit diharapkan dapat melakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan locus of control dan konsep diri para perawatnya; (3)Bagi peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan dengan penggunaan teknik penelitian yang lebih bervariasi, wilayah penelitian yang lebih luas dan meneliti variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap stres kerja.

Upaya meningkatkan pemahaman siswa kelas III SMK Negeri 1 Pasuruan pada pokok bahasan integral melalui model pembelajaran matematika beracun konstruktivis / Dias Ika Maslakha

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran integral menggunakan model PMBK yang dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas III SMK Negeri 1 Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Pada penelitian ini, siklus dianggap berhasil jika lebih dari 70% siswa memperoleh skor tes akhir siklus lebih dari atau sama dengan (skala 100). Penentuan skor akhir tes ini didasarkan pada ketuntasan belajar yang ditetapkan oleh SMK Negeri 1 Pasuruan, yaitu 60. Langkah-langkah pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada langkah-langkah pembelajaran model PMBK yang dikembangkan oleh Sa’dijah (2005) yang terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap inti, dan penutup. Pada kegiatan inti terdiri dari 4 fase, yaitu fase kesadaran, fase operasional, fase reflektif, dan fase penyusunan persetujuan. Pada fase kesadaran, siswa menghadapi sumber yang membangkitkan pengetahuan. Pada fase operasional, siswa belajar matematika secara individu. Pada fase reflektif anak belajar matematika secara kelompok kooperatif. Pada fase penyusunan persetujuan, siswa melakukan diskusi kelas. Selain itu, terdapat enam karakteristik model pembelajaran kontruktivis, sebagai berikut. (1) Mengaitkan materi integral dengan pengetahuan materi turunan, limit, sigma maupun volume benda. (2) Mengintegrasikan pembelajaran sesuai dengan situasi yang realistik dan relevan, dimana guru menunjukkan kegunaan dari integral yaitu untuk mencari volume kerucut dan menentukan luas daerah. (3) Menyediakan alternatif pengalaman belajar, antara lain: a) memberi kesempatan kepada siswa untuk berbeda pendapat atau mengemukakan gagasan baru, b) memberikan pertanyaan terbuka melalui metode tanya jawab ketika pelaksanaan diskusi kelas, c) menyediakan masalah pada tes akhir siklus II nomor 3 dan 4 (Lampiran 3) yang dapat diselesaikan dengan berbagai cara atau yang tidak mempunyai satu jawaban benar. (4) Mendorong terjadinya interaksi dan kerjasama dengan orang lain atau lingkungannya, hal ini dilakukan melalui belajar kooperatif maupun diskusi kelas. (5) Mendorong penggunaan berbagai representasi atau media berupa LKS (Lampiran 2-3), software integralwin, software ZGrapher ataupun internet yang dapat membantu siswa untuk memahami materi integral. (6) Mendorong peningkatan kesadaran siswa dalam proses pembentukan pengetahuan melalui refleksi diri, hal ini dilakukan dengan memberikan soal tes pada setiap kali pertemuan setelah selesai kegiatan pembelajaran dan memberikan lembar penilaian diri sendiri kepada siswa. Pembelajaran melalui model PMBK dapat meningkatkan pemahaman siswa. Hal ini dapat dilihat hasil tes akhir yang mengalami peningkatan sebesar 9,86% dan banyak siswa yang memahami materi juga mengalami peningkatan sebesar 18,23%. Senada hasil tes, hasil belajar matematika siswa pada setiap kali pertemuan mengalami peningkatan sebesar 3,38%. Sedangkan aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 15,43%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan sebaiknya pembelajaran melalui model PMBK dijadikan alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran. Hal ini karena pembelajaran melalui model PMBK dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika.

Kemampuan menulis "Di" dan "Ke" sebagai kata depan dan awalan pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Bandungrejosari 01 Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2004/2005 / Neny Dwi Widyatni

 

Promosi pada hakikatnya merupakan salah satu penentu keberhasilan program pemasaran, strategi yang digunakan diharapkan mampu mempengaruhi konsumen dalam membeli suatu produk. Promosi disini dibagi menjadi beberapa hal yaitu tentang periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat. Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor psikologis konsumen. Faktor psikologis konsumen dalam penelitian ini yaitu motivasi, persepsi, dan sikap konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen melalui faktor psikologis konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model jalur. Populasi penelitian ini adalah pengguna sepeda motor Yamaha Mio di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dengan teknik purpossive sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) ada pengaruh langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap faktor psikologis konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio dengan β sebesar 0,47 dan taraf signifikan 0,000, (2) ada pengaruh langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio dengan β 0,247 dan taraf signifikan sebesar 0,024, (3) ada pengaruh langsung yang signifikan antara faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio dengan β 0,531 dan taraf signifikan sebesar 0,000 ,(4) ada pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio dengan β sebesar 0,274 dan taraf signifikan 0,024, (5) ada pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor Yamaha Mio ditengahi oleh faktor psikologis dengan β sebesar 0,249. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah Promosi merupakan salah satu penentu keberhasilan program pemasaran, jadi diharapkan promosi yang dilakukan dengan jujur atau sesuai keadaan produk yang dipromosikan. Maka dari itu, Yamaha dapat melakukan promosi dengan jujur atau sesuai dengan keadaan produk yang dipromosikan agar konsumen tidak merasa ditipu dengan promosi yang sudah dilakukan. Bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat mempunyai pengaruh dalam keputusan pembelian, oleh karena itu Yamaha harus lebih meningkatkan lagi periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat agar konsumen tidak meninggalkan produknya. Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian, bahwa selain bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat ada faktor lain yang menjadi pengaruh keputusan pembelian konsumen yaitu faktor psikologis konsumen. Jadi sebaiknya pihak Yamaha juga mempertimbangkan faktor psikologis konsumen akan produknya agar lebih diterima oleh konsumen.

Penerapan model pembelajaran think pair and share pada mata pelajaran IPS sejarah dalam peningkatan motivasi belajar siswa kelas 7c di SMP Negeri 3 Ponggok Blitar tahun ajaran 2008-2009 / Dadang Cristian Putra

 

ABSTRAK Cristian, Dadang, P. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair and Share Pada Mata Pelajaran IPS (Sejarah) Dalam Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Kelas 7c di SLTP Negeri 3 Ponggok Blitar Tahun Ajaran 2008-2009. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs, Mashuri, M.Hum, Pembimbing (II) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum. Kata Kunci: Pembelajaran Think Pair and Share, Motivasi Belajar, Pelajaran Sejarah. Berdasarkan peran, fungsi dan kegunannya, pelajaran sejarah seharusnya merupakan pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari. Tetapi keadaan di lapangan tidaklah demikian. Pada kenyataannya pelajaran Sejarah di lapangan, menjadi pelajaran yang terpinggirkan dan juga tidak menyenangkan, karena pengajaran di kelas dilakukan dengan hanya menghafal cerita-cerita sejarah serta hafalan angka-angka tahun yang makin membuat siswa malas belajar. Keadaan seperti ini, lama kelamaan membuat semangat siswa untuk belajar menjadi rendah dan berpengaruh terhadap motivasi belajar sejarah siswa. Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru pembina mata pelajaran sejarah kelas 7 di SLTPN 3 Ponggok, ditemukan permasalahan utama dalam proses belajar mengajar yaitu rendahnya motivasi belajar sejarah siswa. Berdasarkan wawancara dan observasi awal, peneliti mengusulkan diterapkannya suatu metode pembelajaran yang secara teori mampu meningkatkan motivasi belajar sejarah siswa. Model pembelajaran yang diusulkan oleh peneliti adalah Model pembelajaran Think pair and Share. Ide dari Think pair and Share adalah waktu untuk berpikir dan menunggu, hal ini merupakan faktor yang kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan. Faktor proses pembelajarannya yang menyenangkan juga membuat model pembelajaran Think Pair and Share ini mampu membantu siswa belajar secara menyenangkan, karena dalam proses pembelajarannya interaksi antar siswa lebih banyak daripada antara siswa dengan guru, hal tersebut diasumsikan juga merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1)Bagaimana motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah di kelas 7c SLTPN3 Ponggok Blitar sebelum diterapkannya metode pembelajaran cooperative learning model Think Pair and Share? (2) Bagaimana pelaksanaan metode pembelajaran cooperative learning model Think Pair and Share di kelas 7c SLTP Negeri 3 Ponggok Blitar? (3)Bagaimana motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah di kelas 7c SLTPN 3 Ponggok Blitar setelah diterapkan metode pembelajaran cooperative learning model Think Pair and Share? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar sejarah siswa kelas 7c setelah diterapkannya model pembelajaran Think pair and Share mengalami peningkatan, peningkatan motivasi ini diukur berdasarkan lima indikator motivasi yaitu perhatian, waktu belajar, usaha, irama perasaan, dan penampilan. Peningkatan motivasi belajar sejarah siswa dibuktikan dengan adanya peningkatan masing-masing indikator motivasi di atas pada siswa di kelas.

Pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan siswa lembaga bimbingan belajar (Studi pada siswa LBB Primagama cabang Wlingi,Blitar) / Tiersoma Waluyo Widanto

 

Dewasa ini, kemajuan zaman dan pertumbuhan perekonomian yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan taraf hidup rakyat dan juga persaingan dalam bisnis termasuk bisnis jasa. Kualitas layanan pada bidang jasa sangat diperhitungkan dalam dunia bisnis, karena kualitas layanan berdampak pada kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan. Kepuasan pelanggan ditentukan oleh kualitas layanan yang dikehendaki pelanggan, sehingga jaminan kualitas menjadi prioritas utama sebagai tolak ukur keunggulan daya saing perusahaan. Untuk mencapai kepuasan itu maka diperlukan variabel-variabel yang dijadikan sebagai sarana dalam pencapaiannya. Variabel-variabel tersebut meliputi bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi, berusaha dapat memenuhi kelima variabel tersebut dengan harapan dapat memberikan kepuasan yang maksimal kepada pelanggannya serta para pelanggannya tersebut akan menjadi pelanggan loyal bagi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah kepuasan konsumen (Y). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi yang berjumlah 300 siswa dengan pengambilan sampel dilakukan secara random sampling sebanyak 50 responden. Data diperoleh dari responden dengan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan 5 (lima) pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk menguji kelayakan regresi, dilakukan uji asumsi klasik, dan keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS 15 for Windows. Hasil penelitian ini adalah: (1) 31 responden (62%) menyatakan kondisi kualitas layanan Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi berdasarkan bukti langsung adalah sangat baik; (2) 23 responden (46%) menyatakan kondisi kualitas layanan Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi berdasarkan keandalan adalah cukup baik; (3) 30 responden (60%) menyatakan kondisi kualitas layanan Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi berdasarkan daya tanggap adalah cukup baik; (4) 29 responden (58%) menyatakan kondisi kualitas layanan Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi berdasarkan jaminan adalah cukup baik; (5) 24 responden (48%) menyatakan kondisi kualitas layanan Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Wlingi berdasarkan empati adalah sangat baik. Berdasarkan hasil analisis regresi secara parsial didapatkan nilai thitung 0,542 < ttabel 1,701 atau Signifikansi t 0,591 > 0,05. Dengan demikian variabel bukti langsung tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan siswa. Variabel keandalan (X2) didapatkan nilat thitung 2,588 < ttabel 1,706 atau Signifikansi t 0,013 < 0,05. Dengan demikian variabel keandalan berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan siswa. Variabel daya tanggap (X3) didapatkan nilai thitung 3,255 < ttabel 1,706 atau Signifikansi t 0,002 < 0,05. Dengan demikian variabel daya tanggap berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Variabel jaminan (X4) didapatkan nilai thitung 2,821 < ttabel 1,706 atau Signifikansi t 0,007 < 0,05. Dengan demikian variabel jaminan berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Variabel empati (X5) didapatkan nilai thitung 0,086 > ttabel 1,706 atau Signifikansi t 0,932 > 0,05. Dengan demikian variabel empati tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Sedangkan secara simultan didapatkan nilai Fhitung 12,853 > Ftabel 2,38 atau Signifikansi t 0,000 < 0,05. Dengan demikian variabel bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati berpengaruh positif yang signifikan secara simultan terhadap kepuasan pelanggan. Sumbangan Efektif (SE) yang terbesar adalah variabel daya tanggap yaitu sebesar 19,45%. Selain itu diketahui R Square = 0,594 yang artinya korelasi atau hubungan antara variabel bebas adalah kuat. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) kondisi kualitas layanan berdasarkan variabel bukti langsung, responden menyatakan sangat baik; (2) kondisi kualitas layanan berdasarkan variabel keandalan, responden menyatakan cukup baik; (3) kondisi kualitas layanan berdasarkan variabel daya tanggap, responden menyatakan cukup baik; (4) kondisi kualitas layanan berdasarkan variabel jaminan, responden menyatakan cukup baik; (5) kondisi kualitas layanan berdasarkan variabel empati, responden menyatakan sangat baik. Secara parsial dapat disimpulkan bahwa: (1) tidak ada pengaruh positif yang signifikan bukti langsung terhadap kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar Cabang Wlingi; (2) ada pengaruh positif yang signifikan keandalan terhadap kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar Cabang Wlingi; (3) ada pengaruh positif yang signifikan daya tanggap terhadap kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar Cabang Wlingi; (4) ada pengaruh positif yang signifikan jaminan terhadap siswa Lembaga Bimbingan Belajar Cabang Wlingi; (5) tidak ada pengaruh positif yang signifikan empati terhadap kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar cabang Wlingi. Sedangkan secara simultan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, empati secara simultan terhadap kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar cabang Wlingi. Sedangkan SE terbesar yang mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah daya tanggap. Berdasarkan hasil tersebut, saran untuk Lembaga Bimbingan Belajar Cabang Wlingi yaitu senantiasa meningkatkan kualitas layanannya agar para siswa akan merasakan kepuasan yang maksimal sesuai dengan yang diharapkannya.

Pembuatan busana pesta remaja / Chamida Nor Elliya

 

Seiring dengan perkembangan fashion saat ini yang semakin maju pesat, sehingga sebagian besar manusia menginginkan perkembangan mode dengan berpenampilan menarik, terutama remaja karena keinginan tersebut maka dibutuhkan rancangan busana yang membawa kesan bernilai tinggi, baik bagi pemakainya maupun orang yang melihatnya, untuk menciptakan rancangan-rancangan baru yang bernilai tinggi diperlukan kreativitas dan kepekaan terhadap perkembangan mode busana. Pekembangan fashion dalam dunia remaja sangat cepat dan terus berganti, menurut (berienoviantini.multiply.com diakses 1 Juni 2009) Tampilan busana remaja sangat bergantung dari mode yang sedang trend remaja punya banyak cara untuk mencari perhatian. Beberapa di antaranya adalah tampil dengan nyeleneh, tampil beda dari yang lain… Sehingga pada masa inilah seorang remaja dalam proses pencarian identitas diri dalam pemilihan berbusana yang sesuai dengan karakter dan sifat dalam diri remaja itu sendiri yang cenderung dengan keceriaan, aktif juga memiliki rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang besar. Alasan penulis mengangkat Busana Pesta Remaja karena sering terjadi, para remaja mengenakan gaun pesta dengan model serta warna yang kurang tepat. Hasilnya, mereka akan tampak lebih tua dibanding usia sebenarnya. Oleh karena itu penulis membuat busana pesta remaja sesuai dengan karakter seorang remaja dengan desain yang terinpirasi dari sebuah film Hollywood pada tahun 1980-an yang diprediksikan sebagai trend terbaru di tahun 2008. Busana yang di buat oleh penulis terinpirasi dari sebuah film Hollywood di era 1980-an yang menjadi trend mode berbusana, karena busana yang dikenakan dalam film tersebut sangat unik dan bervariasi. Rok span yang memiliki floi pada bagian pinggang ditambah ban pinggang yang lebar sampai dibawah payudara. Busana yang dikenakan pada bagian dalam menggunakan camisole, dan pada bagian luar dipadukan dengan bolero yang memiliki bentuk krah kemeja.

Peningkatan kualitas pembelajarn statistika dengan pendekatan realistik pada siswa kelas XI SMA Negeri 4 kota Bima / Daria Affani Hadi

 

Abstrak: Dalam proses pembelajaran statistika dengan menggunakan pendekatan realistik, siswa diarahkan dan diikutsertakan dalam kegiatan mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data dalam bentuk diagram garis, diagram batang dan diagram lingkaran, bukan sekedar pemerolehan informasi seperti yang terjadi selama ini yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher oriented) dan bukan berpusat pada siswa (student oriented). Dalam penelitian ini dirumuskan: (1) bagaimanakah deskripsi pendekatan realistik yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran materi statistika siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kota Bima?, dan (2) apakah pendekatan realistik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran materi statistika siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kota Bima?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas kolaboratif. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 4 Kota Bima. Sumber data dipilih kelas XI Program IPA 1 dengan subjek penelitian terdiri dari 6 orang siswa. Kata kunci: peningkatan, pembelajaran, statistika, pendekatan realistik Abstract: Within the process of statistics learning using realistic approach, students are led and involved in the activities of collecting, processing, and presenting data in the forms of graphs, bar charts, and pie charts, not only obtaining information as have been found nowadays that is teacher-oriented learning rather than student-oriented learning. The research problems formulated in this study are: (1) what are the descriptions of realistic approach that can improve the quality of learning statistics materials of second-grade students in SMA Negeri 4 of Kota Bima?, and (2) can realistic approach improve the quality of learning statistics materials of second-grade students in SMA Negeri 4 of Kota Bima? This study employs qualitative approach and a collaborative class-action research design. The study is conducted in SMA Negeri 4 of Kota Bima. The source of data is IPA 1 program of second-grade class. The subjects of this study consist of 6 students. Keywords: improvement, learning, statistics, realistic approach

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi melalui media gambar kartun berseri bagi siswa kelas III SDN Pasirharjo 02 Kecamatan tahun Kabupaten Blitar / Sofia Nurkartika

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia yang dilakukan di Sekolah Dasar (SD) tentang materi menulis karangan narasi mengalami kesulitan membuat kalimat.. Untuk meningkatkan kemampuan siswa maka dalam mengajar dipergunakan media gambar kartun berseri,metode,dan motifasi sehingga siswa lebih semangat dalam menulis karangan. Memahami pentingnya meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi bagi siswa, maka hendaknya menulis mendapatkan perhatian serius dari seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah. Namun kenyataannya, pengajaran menulis karangan narasi di SDN Pasirharjo 02 Kabupaten Blitar kurang membantu siswa untuk menangkap materi menulis karangan narasi. Hal ini menyebabkan siswa menjadi bosan, putus asa dalam belajar, dan bersikap masa bodoh terhadap hasil belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah: (1)Mendeskripsikan penerapan media gambar kartun berseri dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengarang narasi, (2) mendeskripsikan adannya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi pada prapenulisan, (3) Mendeskripsikan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi pada saat penulisan, (4) Mendiskripsikan adanya peningkatan kemampuan menulis karangan narasi saat pascapenulisan. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Tagart. PTK termasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang dilkumpulkan bisa bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentukkata-kata. Bentuk penelitian tindakan kelas inibersifat kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pengamat terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hasil penelitiasn yang dilakukan selama tiga siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan menulis karangan secara bertahap pada pra tindakan (0%), siklus I (48,15%), siklus II( 77,78%), dan Siklus III (100%). Hasil tersebut menunjukkan adanya ketuntasan belajar pada pelaksanaan siklus III. Berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan dengan tiga kali siklus kepada siswa kelas III yang berjumlah 27 siswa, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan media gambar kartun berseri untuk menulis karangan narasi melalui fase-fase menulis karangan yaitu fase prapenulisan, fase penulisan, dan fase pasca penulisan dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa lebih terstruktur bagi siswa kelas III SDN Pasirharjo 02 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2008/2009.

English performance of junior high school students with different educational backgrounds / by Hasto Budi Santoso

 

Pengaruh bauran promosi (Periklanan, penjualan personal, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat) terhadap keputusan pembelian sepeda motor yamaha Nio melalui faktor psikologis (Motivasi, persepsi, dan sikap konsumen) (Studi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Neg

 

ABSTRAK Wulandari, Tri. 2008. Pengaruh Bauran Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Yamaha Mio Melalui Faktor Psikologis (Studi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) . Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si. Pembimbing (II) Drs.Djoko Dwi Kusumajanto M. Si. Kata kunci: bauran promosi, keputusan pembelian, dan faktor psikologis, Promosi pada hakikatnya merupakan salah satu penentu keberhasilan program pemasaran, strategi yang digunakan diharapkan mampu mempengaruhi konsumen dalam membeli suatu produk. Promosi disini dibagi menjadi beberapa hal yaitu tentang periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat. Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor psikologis konsumen. Faktor psikologis konsumen dalam penelitian ini yaitu motivasi, persepsi, dan sikap konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen melalui faktor psikologis konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model jalur. Populasi penelitian ini adalah pengguna sepeda motor Yamaha Mio di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dengan teknik purpossive sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) ada pengaruh langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap faktor psikologis konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio dengan β sebesar 0,47 dan taraf signifikan 0,000, (2) ada pengaruh langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio dengan β 0,247 dan taraf signifikan sebesar 0,024, (3) ada pengaruh langsung yang signifikan antara faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio dengan β 0,531 dan taraf signifikan sebesar 0,000 ,(4) ada pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio dengan β sebesar 0,274 dan taraf signifikan 0,024, (5) ada pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor Yamaha Mio ditengahi oleh faktor psikologis dengan β sebesar 0,249. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah Promosi merupakan salah satu penentu keberhasilan program pemasaran, jadi diharapkan promosi yang dilakukan dengan jujur atau sesuai keadaan produk yang dipromosikan. Maka dari itu, Yamaha dapat melakukan promosi dengan jujur atau sesuai dengan keadaan produk yang dipromosikan agar konsumen tidak merasa ditipu dengan promosi yang sudah dilakukan. Bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat mempunyai pengaruh dalam keputusan pembelian, oleh karena itu Yamaha harus lebih meningkatkan lagi periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat agar konsumen tidak meninggalkan produknya. Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian, bahwa selain bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat ada faktor lain yang menjadi pengaruh keputusan pembelian konsumen yaitu faktor psikologis konsumen. Jadi sebaiknya pihak Yamaha juga mempertimbangkan faktor psikologis konsumen akan produknya agar lebih diterima oleh konsumen.

Program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar pasing bawah bolavoli siswa kelas VII SMP Erlangga Malang / Deta Mei Saksono

 

Program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar pasing bawah bolavoli yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani kurang bisa menciptakan pembelajaran aktif, kreatif efektif, dan menyenangkan . Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan di SMP Erlangga Malang banyak siswa yang kurang semangat, berusaha menarik perhatian, tiba-tiba berhenti melakukan kegiatan dan apatis. Hal ini disebabkan karena minimnya sarana berupa bola yang hanya tersedi 2 buah dengan begitu secara tidak langsung menyebabkan masalah dalam mengelola kelas. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli menggunakan bola modifikasi untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII SMP Erlangga Malang.Tujuan penelitian ini adalah melakukan perbaikan program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli menggunakan bola modifikasi untukmeningkatkan siswa kelas VII SMP Erlangga Malang Peneliitian tindakan kelas ini untuk memperbaiki program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli menggunakan bola modifikasi untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII SMP Erlangga Malang yang dilakuakn dengan beberapa tahapan, yaitu: menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli. Memberikan tindakan berupa Program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli menggunakan bola modifikasi sebagai alat pembelajaran. Melakukan pengamatan terhadap program pengelolaan kelas pembelajaran teknik dasar passing bawah bolavoli yang dilakukan dengan pengamat. Merefleksikan kegiatan pembelajaran guna menemukan solusi yang tepat untuk pembelajaran berikutnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan daya serap siswa terhadap materi dan juga berkurangnya perilaku menyimpang pada siswa bahkan nyaris dapat dihilangkan. Saran-saran a) Guru pendidikan jasmani diharapkan dapat mengembangkan kreativitas dan inovatif pada proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan pembelajaran b) Pengembangan model aktivitas pada pembelajaran pendidikan jasmani perlu ditingkatkan agar siswa memperoleh kemudahan dalam menyerap materi pembelajaran. c) Dalam tujuan mencapai tujuan pembelajaran pendidikan jasmani diperlukan alat atau media yang dimodifikasi untuk meningkatkan motivasi siswa.

Hubungan antara motivasi berprestasi dan persepsi terhadap Pondok Pesantren dengan prestasi belajar santri mahasiswa di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang / Veri Edi Santoso

 

Semakin ketatnya persaingan dalam dunia pendidikan, lembaga pendidikan dituntut untuk meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya dengan meningkatkatkan prestasi belajar. Motivasi berprestasi dan persepsi terhadap lingkungan pondok pesantren merupakan dua faktor yang dapat menentukan tingkat prestasi belajar di pesantren. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui motivasi berprestasi, persepsi terhadap pesantren dan prestasi belajar, (2) untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar, (3) untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap pondok pesantren dengan prestasi belajar, (4) untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan persepsi terhadap pondok pesantren dengan prestasi belajar. Variabel independen adalah motivasi berprestasi dan persepsi terhadap pondok pesantren, sedangkan variabel dependen adalah prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang, dimulai pada bulan September sampai Oktober 2008. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Motivasi Berprestasi, Skala Persepsi terhadap Pondok Pesantren dan Studi dokumentasi terhadap Indeks Prestasi akademik di pondok pesantren. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan korelasional. Subyek penelitian ini adalah santri mahasiswa pesantren mahasiswa Al Hikam Malang sejumlah 61 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) motivasi berprestasi santri mahasiswa motivasi berprestasi sangat tinggi sebanyak 6,56%, klasifikasi tinggi sebanyak 19,67%, klasifikasi sedang sebanyak 47,54%, klasifikasi rendah sebanyak 16,39% dan klasifikasi sangat rendah sebanyak 9,84%, (2) persepsi terhadap pondok pesantren Hikam yang terdapat dalam klasifikasi sangat bagus sebanyak 6,56%, klasifikasi bagus sebanyak 21,31%, klasifikasi sedang sebanyak 39,34 % klasifikasi buruk sebanyak 29,51% dan klasifikasi sangat buruk sebanyak 3,28%, (3) prestasi belajar klasifikasi sangat baik sebanyak 16,39%, klasifikasi baik sebanyak 34,43%, klasifikasi jelek sebanyak 31,15% dan klasifikasi sangat jelek sebanyak 18,03%, (4) ada hubungan positif yang siginifikan antara motivasi berprestasi dan prestasi belajar dengan r = 0,409 (p = 0,001 < 0,05), (5) ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap pondok pesantren dan prestasi belajar dengan r = 0,351 (p = 0,005 < 0,05) (6) ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi berprestasi, persepsi terhadap pondok pesantren dan prestasi belajar dengan r = 0,447 (p = 0,002 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk menambahkan sampel penelitian dan variabel lain yang berhubungan dengan prestasi belajar. Bagi pihak pesantren agar lebih meningkatkan fasilitas belajar dan komunikasi dengan santri sehingga setiap masalah belajar yang dihadapi oleh santri bisa diselesaikan dengan baik. Bagi santri agar lebih meningkatkan motivasi berprestasi yaitu dengan mengikuti dengan sungguh-sungguh pelatihan motivasi berprestasi (Achievement Motivation Training) yang diselenggarakan oleh pesantren dan meningkatkan persepsi yang positif terhadap lingkungan dan kegiatan yang dilakukan oleh pesantren sehingga prestasi belajar santri akan meningkat.

Penerapan pembelajaran bermain peran (Role Playing) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMA Islam Malang / Sunarwati

 

Peningkatan kualitas pendidikan yang optimal di sekolah dapat ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya adalah variasi metode pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan hal yang sangat penting di dalam proses belajar mengajar. Selama ini metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah adalah metode pembelajaran konvensional. Metode pembelajaran ini lebih menonjolkan peran guru dibanding peran siswa. Selain itu metode pembelajaran konvensional cenderung berorientasi pada target penguasaan materi. Sehingga metode pembelajaran ini hanya berhasil dalam pengembangan “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Pembelajaran akan lebih menyenangkan bila didukung oleh seorang guru yang aktif. Strategi pembelajaran yang digunakan guru yang aktif itu sangat bervariasi, dinamis, tidak monoton, senantiasa disesuaikan dengan materi pelajaran,situasi, kondisi, serta proses pembelajarannya. Pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan dengan berbagai model. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah model Role Playing (bermain peran). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (Quasy Eksperimental Design). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, dokumentasi, dan observasi. Data yang terkumpul dalam penelitian ini terdiri dari dua macam data, yaitu data pre-test dan data post-test. Data pre-test digunakan untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sedangkan post-test digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar dari pemberian perlakuan yang berbeda. Data yang diuji dalam penelitian adalah gain value. Gain value merupakan selisih antara nilai pre-test dengan nilai post-test. Gain value dianggap merupakan ukuran perubahan hasil belajar siswa setelah mendapat perlakuan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Sebelum diadakan penerapan metode pembelajaran nilai rata-rata pre-test siswa untuk kelompok eksperimen sebesar 63.23 dan untuk kelompok kontrol sebesar 62.94, sehingga nilai kemampuan awal kedua kelompok dapat diklasifikasikan termasuk dalam kategori cukup. Berdasarkan hasil uji-t terhadap pre-test diperoleh nilai signifikansi 0,909 > 0,05, yang artinya bahwa nilai rata-rata pre-test kedua kelompok tidak ada perbedaan, (2) Setelah adanya perlakuan pada masing-masing kelas eksperimen dan kelas control maka didapat nilai rata-rata post-test untuk kelompok eksperimen sebesar 81.91yang dapat diklasifikasikan termasuk dalam kategori baik sekali. Sedangkan untuk kelompok kontrol nilai rata-rata post-test sebesar 75.73, yang berarti termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan hasil uji-t terhadap post-test diperoleh nilai signifikansi 0,014 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata post-test kedua kelompok berbeda secara signifikan. Nilai rata-rata post-test kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok control, (3) sedangkan nilai rata-rata gain value untuk kelompok eksperimen diperoleh sebesar 18.67 dan untuk kelompok kontrol sebesar 13.79. Berdasarkan hasil uji-t diperoleh nilai signifikansi 0,050 < 0,05, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata gain value kedua kelompok berbeda secara signifikan. Berdasarkan urain diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan penerapan metode pembelajaran Bermain Peran Role Playing dapat diterapkan pada pelajaran ekonomi kelas X di SMA ISLAM Malang. Beberapa saran yang dapat diberikan peneliti sehubungan dengan penelitian yang dilaksanakan antara lain: (1) bagi SMA ISLAM Malang, hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung penerapan metode pembelajaran Role Playing, (2) bagi Guru diharapkan dapat menerapkan metode pembelajaran Role Playing sebagai alternatif atau pilihan dalam pembelajaran ekonomi maupun mata pelajaran yang lainnya, (3) bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan keaktifan dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat membantu mengatasi kesulitan belajar, (4) bagi peneliti, berikutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan metode pembelajaran Role Playing pada mata pelajaran lain di tempat yang sama atau berbeda untuk mengembangkan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam penelitian ini.

Pengaruh periklanan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap (Studi kasus pada masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru kota Malang) / Sasmito Basuki Wismanto

 

Dalam mengembangkan bisnis, produsen berusaha untuk menguasai pasar dan memenangkan persaingan. Hal ini terjadi pada berbagai sektor bisnis, termasuk bisnis makanan khususnya mie instant. Dimana saat ini banyak bermunculan mie instant dengan berbagai merek. Tiap produsen berusaha menonjolkan keunggulan masing-masing dan menciptakan strategi pemasaran yang sesuai. Salah satu strategi pemasaran yang bisa dikembangkan adalah komunikasi pemasaran yaitu upaya untuk mengkomunikasikan produk/pesan kepada publik terutama konsumen sasaran mengenai produk yang ada dipasar. Hal ini bisa dilakukan dengan periklanan. Periklanan adalah seluruh proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap iklan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh periklanan sebagai bentuk komunikasi pemasaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap pada masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, baik secara parsial maupun simultan dan variabel mana yang mempunyai pengaruh dominan. Penelitian ini bersifat deskriptif korelasional yaitu pengaruh periklanan terhadap perilaku konsumen. Populasi yang diambil adalah masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang terdiri dari 3123 KK. Teknik pengambilan sampel menggunakan area proportional purposive sampling, dengan sampel sebanyak 100 responden. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitias dengan sampel uji coba sebanyak 30 responden. Data diperoleh melalui responden menggunakan kuesioner/angket tertutup dan diukur menggunakan skala Likert dengan skala lima. Sedangkan analisis data menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh periklanan yang meliputi isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan terhadap perilaku konsumen baik secara parsial maupun simultan dan untuk mengetahui variabel mana yang mempunyai pengaruh dominan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Isi pesan mempunyai nilai sig t = 0,002 lebih kecil dari nilai signifikansi ( , nilai koefisien regresi isi pesan -0,946; sehingga pada peluang kesalahan 5% isi pesan mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap, SE 10,11%; (2) Struktur pesan mempunyai nilai sig t = 0,000 lebih kecil dari nilai signifikansi ( ,sehingga pada peluang kesalahan 5% struktur pesan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap, SE 20%; (3) Format pesan mempunyai nilai sig t = 0,468 lebih besar dari nilai signifikansi ( ,sehingga pada peluang kesalahan 5% format pesan tidak mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap, SE 0,56%; (4) Sumber pesan mempunyai nilai sig t = 0,009 lebih kecil dari nilai signifikansi ( ,sehingga pada peluang kesalahan 5% sumber pesan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap, SE 7,08%. Dari empat kegiatan periklanan di atas, secara parsial terdapat satu variabel yang tidak berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap yaitu format pesan. Tidak berpengaruhnya format pesan disebabkan sebagian konsumen mempunyai kesibukan/aktivitas sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan iklan dengan seksama. Isi pesan mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap, sedangkan struktur pesan, dan sumber pesan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap. Struktur pesan merupakan unsur yang dominan berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap. Secara simultan, keempat kegiatan periklanan ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli Mie Sedaap. Selanjutnya saran-saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Bagi Grup Wings (GW) yang merupakan produsen Mie Sedaap dalam beriklan hendaknya lebih memperhatikan struktur pesan. Struktur pesan harus dibuat semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian konsumen. Misalnya dengan adanya penonjolan keunggulan dari berbagai segi, seperti adanya varian rasa Mie Sedaap dan adanya rasa yang khas dibandingkan mie yang lain. (2) Untuk penelitian yang selanjutnya, khususnya tentang pengaruh iklan terhadap perilaku konsumen hendaknya menambahkan variabel lain yang akan diteliti untuk pengembangkan penelitian atau menganalisis permasalahan ini dengan menggunakan metode penelitian lainnya.

Kolerasi gaya kepimpinan kepala sekolah, peran serta orang tua dan etos kerja guru dengan peningkatan prestasi siswa pada SD Negeri di Kecamatan Lowokwaru kota Malang / Indriyati Marsaoly

 

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dewasa ini menjadi kajian yang menarik dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Yang menjadi masalah saat ini rendahnya mutu pendidikan di setiap jenis dan jenjang pendidikan. Sekolah dasar sebagai pondasi bagi perkembangan pendidikan anak berikut harusnya menjadi perhatian pemerintah. Hal yang di bahas kemudian adalah bagaimana kemudian pondasi ini di kuatkan dengan prestasi siswa yang baik. Gaya kepemimpinan kepala sekolah yang sesuai dan peran serta orang tua yang aktif dan etos kerja guru yang tinggi menjadi variabel yang harus di perhatikan dalam rangka peningkatan prestasi siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah, peran serta orang tua, etos kerja guru dan prestasi siswa, (2) apakah ada korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan peran serta orang tua, (3) apakah ada korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan etos kerja guru, (4) apakah ada korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi siswa melalui peran serta orang tua, (4) apakah ada korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi siswa melalui etos kerja guru, (6) apakah ada korelasi peran serta orang tua dengan prestasi siswa, (7) apakah ada korelasi etos kerja guru dengan prestasi siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang dengan populasi guru berjumlah 533 orang. Dengan menggunakan metode penentuan sampel yaitu area sampling (Cluster Sampling) maka di ambil delapan sekolah dengan populasi guru berjumlah 130 orang. Untuk menentukan sampel guru ditentukan dengan tabel Krejcie. Dari 130 guru di ketahui jumlah sampel adalah 97 guru. Penelitian ini menggunakan kuisioner atau angket dan data. Untuk menganalisa data di pergunakan teknik analisis deskriptif dan analisa jalur dengan menggunakan program komputer (SPSS Versi 13). Hasil pengujian hipotesis dengan analisis deskriptif dan analisis jalur menunjukkan bahwa: (1) Secara umum gaya kepemimpinan kepala sekolah termasuk dalam kategori baik, secara umum peran serta orang tua termasuk dalam kategori baik, secara umum etos kerja guru termasuk dalam kategori baik, dan secara umum prestasi siswa termasuk dalam kategori rendah, (2) Ada korelasi yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan peran serta orang tua pada SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang. (3) Ada korelasi yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan etos kerja guru pada SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang. (4) Ada korelasi yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan peningkatan prestasi siswa melalui peran serta orang tua pada SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang. (5) Ada korelasi yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan peningkatan prestasi siswa melalui etos kerja guru pada SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang. (6) Ada korelasi yang positif dan signifikan antara peran serta orang tua dengan peningkatan prestasi siswa pada SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang (7) Ada korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja guru dengan peningkatan prestasi siswa pada SD Negeri di kecamatan Lowokwaru Malang Bertolak dari hasil penelitian ini maka sejumlah saran diberikan bagi upaya peningkatan prestasi siswa, yaitu: (1) Kepada pihak UPTD Dinas pendidikan kecamatan Lowokwaru dan Dinas Pendidikan Kota Malang, hendaknya memberi perhatian, dalam hal membantu para kepala sekolah dan guru dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi terciptanya hubungan yang baik dengan orang tua agar tercapai tujuan yang diinginkan yaitu peningkatan prestasi siswa. (2) Kepada para kepala sekolah dan guru. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan koreksi atau penilaian dalam kerangka menyesuaikan dan memperbaiki gaya kepemimpinan dan meningkatkan etos kerja. (3) Berdasarkan hasil penelitian telah ditemukan bahwa gaya kepemimpinan pada umumnya berada pada kategori baik. Sehubungan dengan hal itu disarankan kepada para kepala sekolah untuk tetap bisa mempertahankan gaya kepemimpinan yang sesuai dan bisa menerapkan kepemimpinan yang desentralisasi yang mana pemberian tanggung jawab tugas untuk bisa di laksanakan oleh guru atau pegawai yang berkompeten melaksanakannya dan lebih membuka diri untuk bisa menjalin hubungan dengan pihak luar terutama orang tua untuk pencapaian tujuan sekolah yaitu peningkatan prestasi siswa. Kepala sekolah hendaknya berperan sebagai katalisator dalam arti mampu menimbulkan dan menggerakkan semangat guru, staf, masyarakat dalam hal ini orang tua dan siswa dalam mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Gaya kepemimpinan kepala sekolah diupayakan mengacu pada gaya kepemimpinan transformasional. (4) Berdasarkan hasil penelitian telah ditemukan bahwa peran orang tua pada umumnya berada pada kategori baik. Hal ini harus tetap menjadi perhatian pihak sekolah untuk tetap menjalin hubungan dengan orang tua, dengan demikian orang tua tetap mengamati perkembangan pendidikan anak baik di sekolah maupun di rumah. (5) Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa etos kerja guru berada dalam kategori baik. Maka disarankan untuk para guru untuk bisa lebih baik lagi dalam bekerja dan bertanggung jawab dalam tugas serta meningkatkan kualitas diri sehingga ada peningkatan dalam etos kerjanya dan tujuan yang ingin dicapai yaitu peningkatan prestasi siswa bisa menjadi sesuatu yang nyata. (6) Bagi para peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengungkapkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi siwa selain faktor gaya kepemimpinan, peran serta orang tua dan etos kerja guru. Dengan demikian khasanah pendidikan semakin diperkaya dengan fakta-fakta yang bersifat empirik.

Penerapan pembelajaran model Student Teams Achievement Divisions (STAD) dengan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas VII-G SMP Negeri 7 Malang / Erni Dwi Kusbawati

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dalam bulan Februari sampai April 2010 di kelas VII-G SMP Negeri 7 Malang diketahui bahwa motivasi belajar fisika siswa sangat rendah yang ditandai dengan banyak siswa yang mengobrol saat KBM berlangsung, ada juga yang sedang menggambar, serta hasil belajar fisika siswa rendah yaitu hanya sebesar 41,86% siswa yang mencapai standar ketuntasan minimal yaitu 70. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Salah satu tindakan perbaikan adalah dengan penerapan pembelajaran model Student Teams Achievement Division (STAD) dengan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas VII-G SMP Negeri 7 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran model STAD dengan pendekatan inkuiri di kelas VII-G SMP Negeri 7 Malang, mengetahui berapa peningkatkan motivasi belajar siswa dan berapa peningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-G SMP Negeri 7 Malang setelah menggunakan pembelajaran model STAD dengan pendekatan inkuiri. Penelitian ini mengacu pada model penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri dari 5 pertemuan dan siklus II terdiri dari 4 pertemuan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas VII-G semester genap tahun ajaran 2009-2010 SMP Negeri 7 Malang yang berjumlah 43 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa motivasi dan hasil belajar kognitif, psikomotorik dan afektif siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase motivasi belajar siswa dan taraf keberhasilan tindakan, sedangkan hasil belajar kognitif siswa diukur berdasarkan tes ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur berdasarkan nilai rata-rata tiap siklus dan taraf keberhasilan tindakan. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes, lembar observasi motivasi siswa, afektif, psikomotorik, keterlaksanaan pembelajaran dengan aktivitas guru dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian motivasi belajar siswa meningkat dari 63,83% menjadi 80,60%, daya serap klasikal aspek kognitif meningkat dari 69,76% menjadi 81,39%, nilai rata-rata aspek afektif juga meningkat dari 71,12% menjadi 76,74%. %, nilai rata-rata aspek psikomotorik juga meningkat dari 67,44% menjadi 77,40% sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model STAD dengan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan motivasi belajar fisika dan hasil belajar fisika siswa kelas VII-G SMP Negeri 7 Malang.

Kemampuan memberdayakan media pembelajaran mahasiswa pendidikan fisika FMIPA UM pesrta PPL dengan penerapan lesson study di SMA Widya Gama Malang / Noormayasanti

 

Waktu yang sangat sedikit memberikan peluang yang kecil bagi mahasiswa Pendidikan Fisika (MPF) FMIPA UM peserta PPL untuk memperoleh pengalaman yang cukup untuk mengaktualisasikan pengetahuan yang telah diperoleh selama masa kuliah 7 semester. Refleksi awal oleh guru pamong, dosen pembimbing dan MPF peserta PPL sepakat untuk menyelenggarakan lesson study agar waktu yang terbatas tersebut menjadi lebih efisien sehingga pelaksanaan PPL lebih intensif, efektif dan bermanfaat. Lesson study memberikan banyak pengalaman berharga karena MPF peserta PPL berkolaborasi untuk mencermati pembelajaran. Pelajaran berharga yang diperoleh selama kegiatan lesson study diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme keguruan dari MPF peserta PPL. Salah satu keprofesionalan seorang guru adalah kemampuan memberdayakan media pembelajaran. MPF peserta PPL diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam memberdayakan media pembelajaran secara berkelanjutan melalui kegiatan lesson study. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) keterlaksanaan penerapan lesson study dari perspektif pemberdayaan media pembelajaran, 2) kemampuan memberdayakan media pembelajaran, dan 3) pertumbuhan kemampuan memberdayakan media pembelajaran dari MPF peserta PPL. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2008. Jenis penelitian ini adalah ex post facto dengan pendekatan ethnografi. Peneliti ikut bergabung dengan kelompok MPF peserta PPL dan mengamati pelaksanaan lesson study yang meliputi plan, do, dan see serta mengamati aspek kemampuan MPF peserta PPL dalam memberdayakan media. Ada 2 tahap lesson study yang dilaksanakan oleh MPF peserta PPL yaitu tahap 1 (6 putaran pertama) dan tahap 2 (8 putaran terakhir). Hasil penelitian menyebutkan bahwa: 1) keterlaksanaan lesson study dari perspektif pemberdayaan media pembelajaran oleh MPF FMIPA UM peserta PPL sudah cukup terlaksana (67,46%) dan mengalami peningkatan dari tahap 1 ke tahap 2 lesson study baik pada plan, do, maupun see, 2) rata-rata kemampuan MPF peserta PPL dalam memberdayakan media pembelajaran selama 14 kali lesson study adalah 31,71 (cukup mampu), 3) rata-rata kemampuan MPF peserta PPL dalam memberdayakan media pembelajaran adalah 20,33 (kurang mampu) pada tahap 1 (6 putaran pertama) lesson study dan meningkat pada tahap 2 (8 putaran terakhir menjadi 40,25 (mampu).

Pengaruh faktor fundamental dan rasio price to book value (PBV) terhadap stock return pada Perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 2005-2007 / Siti Nur Aisyah Jamil

 

ABSTRAK Jamil, Siti Nur Aisyah. 2009. Pengaruh Faktor Fundamental dan Rasio Price To Book Value (PBV) Terhadap Stock Return Pada Perusahaan manufaktur yang Listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) Tahun 2005-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Sunaryanto, M. Ed. (II) Eka Ananta Sidharta, S.E, AK, MM. Kata Kunci : Net Profit Margin, Earning Per Share, Price Earning Ratio, Return On Equity, Debt Equity Ratio, Dividend Per Share, Price To Book Value, Stock Return (Return Saham). Dalam membuat keputusan menanam uangnya dan membeli saham investor perlu memperhatikan faktor-faktor fundamental yang terdiri dari Net Profit Margin, Earning Per Share, Price Earning Ratio, Return On Equity, Debt Equity Ratio, dan Dividend Per Share. Selain faktor fundamental rasio keuangan yang banyak digunakan dalam pengambilan investasi adalah rasio Price To Book Value atau rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan (PBV) yang menunjukkan seberapa jauh kemampuan perusahaan meningkatkan harga saham dalam modal yang diinvestasikan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh faktor fundamental dan rasio Price To Book Value (PBV) pada perusahaan manufaktur yang listing di BEJ tahun 2005-2007. Tujuan penelitian ini adalah Untuk menjelaskan pengaruh faktor fundamental (net profit margin, earning per share, price earning ratio, return on equity, debt equity ratio, dividend per share) dan rasio price to book value (PBV) terhadap stock return. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di BEJ selama tahun 2005-2007. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dimana metode ini digunakan agar dapat memperoleh sampel sesuai dengan yang dibuthkan, yaitu perusahaan manufaktur yang listing di BEJ selama tahun 2005-2007 dan mempublikasikan laporan keuangannya. Teknik analisis data menggunakan teknik regresi linier berganda dengan melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara simultan tidak ada pengaruh yang signifikan antara faktor fundamental (net profit margin, earning per share, price earning ratio, return on equity, debt equity ratio, dividend per share) dan rasio Price To Book Value (PBV) terhadap stock return. Secara parsial hanya variabel Return On Equity (ROE) dan rasio Price To Book Value (PBV) yang berpengaruh terhadap stock return sedangkan variabel Net Profit Margin, Earning Per Share, Price Earning Ratio, Debt Equity Ratio, dan Dividend Per Share tidak berpengaruh signifikan terhadap stock return. Bagi penelitian dimasa mendatang diharapkan dapat melengkapi kekurangan penelitian ini dengan melakukan penelitian dengan periode tahun yang lebih panjang sehingga dapat mewakili keseluruhan populasi, menggunakan data terbaru dan subyek perusahaan yang lainnya.

Penerapan pembalaran model siklus belajar 5E pada mata pelajaran fisika pokok bahasan kalor untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Malang / Tutut Ruwaidah

 

Hasil observasi awal menunjukkan bahwa pembelajaran fisika di kelas VII-C SMP Negeri I Malang selalu menggunakan metode ceramah, tidak biasa siswa melakukan kegiatan praktikum, kegiatan diskusi kelompok hampir tidak pernah dilakukan, guru sangat mendominasi proses pembelajaran. Guru jarang melakukan demonstrasi, siswa hanya mencatat penjelasan guru dan menghafal konsep. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya menumbuhkan motivasi dan prestasi belajar siswa masih rendah. Salah satu upaya untuk menumbuhkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa di kelas VII-C SMP Negeri I Malang melalui penerapan pembelajaran silklus belajar 5E. Model pembelajaran model silkus belajar 5E memiliki 5 tahapan, yaitu engagement, eksplorasi, eksplanasi, elaborasi dan evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran model siklus belajar 5E dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII-C SMP Negeri I Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-C SMP Negeri I Malang dengan jumlah 46 siswa, yang terdiri dari 26 orang putri dan 20 orang putra. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah kalor. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi keterlaksanaan penerapan pembelajaran model siklus belajar 5E, lembar observasi peningkatan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa dan dan instrumen pembelajaran yang digunakan meliputi LKS dan RPP. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa, penerapan pembelajaran model siklus belajar 5E terlaksana dengan baik selama siklus I dan siklus II. Motivasi dan prestasi belajar siswa selama penerapan pembelajaran dengan model siklus belajar 5E pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan pada semua aspek motivasi dan prestasi belajar siswa, baik pada level individu maupun level kelas.

The teaching of english at MTsN model Martapura South Kalimantan / by Syaifullah

 

Pengaruh profitabilitas dan kebijakan dividen terhadap harga saham Perusahaan Manufatur yang listing di Bursa Efek Jakarta tahun 2004-2007 / Tantris Citra Nuraini Pamelas

 

saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas. Dan saham merupakan surat berharga yang paling populer diperdagangkan dan dikenal luas di masyarakat. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka manfaat yang diperoleh diantaranya adalah dividen, capital gain dan manfaat non finansial (kebanggaan dan kekuasaan memperoleh hak suara dalam perusahaan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh profitabilitas (Net Profit Margin, Return On Asset, Return On Equity) dan kebijakan dividen (Dividend Payout Ratio) terhadap harga saham secara parsial. Berdasarkan tujuan penelitian, maka rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian kausal dengan populasi dan sampel adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEJ selama tahun 2004-2007. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling sehingga menghasilkan 30 sampel perusahaan. Pengumpulan data adalah teknik dokumentasi yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Analisis data yang digunakan untuk memperoleh kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis regresi berganda dan uji t. Hasil peneitian yang diperoleh yaitu (1) Net Profit Margin (NPM) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham, (2) Return On Asset (ROA) berpengaruh negatif dan tidak dan tidak signifikan terhadap harga saham, (3) Return On Equity (ROE) berpengaruh positif tidak signifikan terhadap harga saham dan (4) Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan: (1) bagi investor untuk mempertimbangkan beberapa rasio lainnya yang dapat digunakan untukmengukur profitabilitas dan kebijakan dividen, serta menganalisis rasio keuanganlainnya yang kemungkinan ada pengaruhnya terhadap harga saham, agar dapat memberikan informasi tentang kondisi perusahaan yang lebih akurat dan memberikan hasil yang lebih baik. Selanjutnya lebih memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham seperti kondisi fundamental emiten, hukum permintaan dan penawaran, tingkat suku bunga, valuta asing, dana asing di bursa dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), (2) Bagi peneliti yang akan datang, sebaiknya melakukan pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini dengan menambahkan sampel dengan jenis industri selain manufaktur. Dan juga menggunakan periode pengamatan yang lebih lama sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia.

Pengaruh variabel fundamental terhadap harga saham pada Perusahaan Rokok yang Go Public di Bursa Efek Jakarta / Miftahul Munir

 

ABSTRAK Munir, Miftahul. 2008. “Pengaruh Variabel Fundamental Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Rokok Yang Go Public Di BEJ”. Skripsi, Program Studi Manajemen S1 konsentrasi keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mulyoso, SE.Msi. Pembimbing (II) Drs. Subagyo. Kata Kunci : Net Asset Per Share (NAPS), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Trade Turn Over (TTO), Return On Equity (ROE) Banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan harga saham, baik itu faktor Fundamental, teknikal dan sosial politik, maka untuk investasi saham investor memerlukan pertimbangan, pengamatan dan analisis lebih lanjut. Dalam mengambil keputusan untuk investasi jangka panjang, analisis dengan menggunakan Fundamental perlu diperhatikan secara mendetail oleh para investor maupun calon investor. Dengan menggunakan analisis fundamental, diharapkan terlihat keadaan yang sebenarnya, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan investasi di bursa efek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Net Asset Per Share (NAPS), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Trade Turn Over (TTO), Return On Equity (ROE) secara simultan terhadap harga saham perusahaan rokok yang tercatat di BEJ periode 2000-2005 dan untuk mengetahui diantara variabel Net Asset Per Share (NAPS), Earning Per Share (EPS), Price Earning ratio (PER), Trade Turn Over (TTO), Return On Equity (ROE) mana yang berpengaruh dominan terhadap harga saham perusahaan rokok yang tercatat di BEJ periode 2000-2005. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dan analisis berganda. Analisis regresi berganda pada penelitian ini menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS. Dalam teknik analisis ini, beberapa pengujian dilakukan dengan menggunkan asumsi dasar klasik, dengan menggunakan uji Heteroskedastisitas, uji Multikolinieritas, uji Normalitas Data. Dari hasil penelitian dengan menggunakan anlisis regresi linier berganda di dapatkan hasil pengaruh faktor fundamental yang meliputi Net Asset Per Share (NAPS), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Trade Turn Over (TTO), Return On Equity (ROE) secara simultan terbukti berpengaruh signifikan terhadap harga saham, di tunjukkan dengan hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung = 51,143 > Ftabel =3,31 sehingga Ha diterima, jadi terbukti bahwa Net Asset Per Share (NAPS), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Trade Turn Over (TTO), Return On Equity (ROE) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham. Variabel bebas yang mempunyai pengaruh dominan di bandingkan dengan variabel bebas lainya adalah variabel EPS (Earning Per Share). Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien terbesar sebesar 6,171 dan nilai t hitnung tertinggi sebesar 14,684 dibandingkan dengan variabel bebas yang lain sehingga terbukti bahwa EPS mempunyai pengaruh dominan terhadap variabel harga saham.

Pengetahuan dan bentuk partisipasi masyarakat Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Barat dalam pelestarian hutan / Inggit Wulyaningrum

 

ABSTRAK Wulyaningrum, Inggit. 2009. Pengetahuan dan Bentuk Partisipasi Masyarakat Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Barat dalam Pelestarian Hutan. Skripsi, Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si, (II) Satti Wagistina, S.P, M.Si. Kata kunci: pengetahuan, bentuk partisipasi, pelestarian hutan. Tingginya laju kerusakan hutan disikapi oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan dengan menggalakkan berbagai program pelestarian hutan di beberapa kecamatan antara lain Kecamatan Lingsar, Narmada, Sekotong, dan Bayan. Sebagai lokasi pelaksanaan program pelestarian hutan, beberapa program pengelolaan dan pelestarian hutan telah dilakukan di kecamatan ini dan masih berlangsung hingga saat ini. Pembangunan dan pengelolaan hutan harus melibatkan masyarakat setempat karena masyarakat setempat adalah pihak yang paling tinggi intensitas interaksinya dengan hutan. Dilibatkannya masyarakat dalam proses pembangunan dan pengelolaan hutan akan mampu memberikan hasil dan manfaat yang sesuai dengan keinginan dan karakteristik budayanya. Pengelolaan dan pelestarian hutan yang melibatkan masyarakat ini tentu membutuhkan pengetahuan dan partisipasi yang tinggi, oleh karena itu penelitian dengan judul pengetahuan dan bentuk partisipasi perlu dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode analisis deskriptif dengan frekuensi dan persentase, yang bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan dan bentuk partisipasi masyarakat Kecamatan Bayan dalam pelestarian hutan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan jawaban responden pada angket atau editing, pemberian skor pada masing-masing pilihan jawaban responden atau scoring, tabulasi atau tabulating, dan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan frekuensi dan persentase. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Kecamatan Bayan tentang pelestarian hutan adalah tinggi, dengan kata lain bahwa masyarakat Kecamatan Bayan sebagian besar mengetahui atau tahu tentang pelestarian hutan. Bentuk partisipasi masyarakat Kecamatan Bayan dalam pelestarian hutan adalah bentuk partisipasi interaktif, dimana masyarakat sudah mulai bekerjasama dengan pihak luar dalam hal ini Dinas Kehutanan dan lembaga sosial lainnya dalam pelestarian hutan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran yang ditujukan kepada beberapa pihak antara lain, perlunya meningkatkan peranan masyarakat sehingga bentuk partisipasi yang ada semakin baik, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat lebih ditingkatkan lagi sehingga jenis program yang dilaksanakan tepat sasaran, dan penelitian ini dapat dilanjutkan dengan mengambil tema yang sama yaitu pelestarian hutan dan memperhatikan serta mengkaitkan dengan kearifan lokal pada lokasi penelitian.

Penerapan model pembelajaran koopeartif numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI-A1 SMA Negeri 6 Malang / Purbo Rahayu

 

Berdasarkan hasil observasi peneliti pada tanggal 09 Agustus 2008 sampai Oktober 2008 di kelas XI-A1 SMA Negeri 6 Malang, diperoleh data bahwa pola pembelajaran masih terpusat pada guru (teacher centered). Metode ceramah yang digunakan di kelas kurang menarik m inat belajar siswa, ada beberapa siswa yang terlihat pasif dan sebagian besar siswa tidak memperhatikan materi yang disampaikan. Karena siswa kurang terlibat secara maksimal, sehingga rasa tanggung jawab dan komunikasi antar siswa belum nampak. Hal tersebut menyebabkan rendahnya motivasi belajar biologi siswa yang berdampak pada rendahnya hasil belajar biologi siswa. Dalam rangka meningkatkan motivasi belajar Biologi, maka dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI-A1 SMA Negeri 6 Malang. Model NHT memiliki prosedur yang ditetapkan untuk memberi banyak waktu siswa untuk berpikir, menjawab dan saling berkomunikasi antar anggota kelompok. Penerapan model NHT ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI -A1 SMA Negeri 6 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitia n Tindakan Kelas (PTK)dilaksanakan dalam II siklus dengan materi "Sistem Gerak Manusia". Data dalam penelitian adalah motivasi belajar siswa yang diperoleh dari lembar observasi motivasi dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes yang dilaksanakan pada tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model NHT: 1) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, terlihat dari persentase rata -rata motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 62,42 dengan kategori taraf keberhasilan cukup sedangkan pada siklus II sebesar 92,22 dengan kategori taraf keberhasilan sangat baik, 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 10,03% dari siklus I ke siklus II, dan peningkatan pesentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 34,48% dari siklus I sebesar 55,17 ke siklus II sebesar 89,65. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis berharap model pembelajaran kooperatif NHT dapat dilaksanakan di kelas dengan menggunakan variasi model pada pokok bahasan yang sesuai .

Pengembangan perangkat pembelajaran perawatan dan perbaikan mesin bensin 4 silinder 4 tak tune up dengan sistem multimedia pada program keahlian mekanik otomotif kelas X SMKN 6 Malang / Gunawan Dwiyono

 

Pembelajaran di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) untuk Program Keahlian Mekanik Otomotif diperlukan pengetahuan teoritis yang cukup, lalu disertai dengan pengetahuan praktis yang mudah dipahami. Tidak kalah pentingnya mereka harus memiliki skill yang khusus karena karakteristik lulusan SMK adalah memiliki kompetensi di bidangnya. Untuk itu mata diklat produktif merupakan mata diklat yang sangat memungkinkan bisa membekali kompetensi yang diperlukan sesuai bidang keahliannya. Salah satu yang menyulitkan dalam pembelajaran produktif yaitu Tune Up mesin adalah banyak sekali prosedur yang harus dilakukan rawan menimbulkan kesalahan fatal. Untuk membawa siswa menjadi taat dan tidak salah maka akan menjadi efektif bila dihadirkan seorang instruktur yang senantiasa benar dan tidak melupakan informasi-informasi yang dibutuhkan. Guru sebagai instruktur memiliki sifat pelupa secara manusiawi. Ketika dalam proses pembelajaran instuktur memberi contoh ada beberapa hal yang terlupa. Kejadian semacam ini menjadikan proses belajar harus senantiasa memberikan instuksi lagi, memberi informasi lagi karena saat memberi contoh tadi lupa belum tersampaikan dan baru disadari saat siswa melakukan kesalahan. Untuk mengatasi masalah tersebut siswa dapat diberi sajian dalam bentuk gambar bergerak, teks yang jelas suara maupun urutan langkah pengerjaan yang sempurna dari rekaman yang diedit berulang-ulang agar didapatkan tujuan pembelajaran yang baik dan sempurna. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan perangkat pembelajaran dengan bantuan multimedia. Pengembangan media pembelajaran multimedia akan menjadi lebih baik bila dirancang dengan model pengembangan prosedural yang meliputi empat tahap yaitu: (1) Tahap pendefinisian yaitu konsultasi dengan para ahli, guru-guru dan siswa mekanik otomotif dan pihak lain yang dianggap perlu dalam proses pengembangan, (2) Tahap desain yang meliputi persiapan media trainer, pemilihan strategi dan tujuan instruksional (3) Tahap pelaksanaan pengambi-lan gambar audiovisual, pengisian suara, editing, dan selanjutnya (4) Tahap uji coba produk. Pada tahap uji coba media dianalisis dengan rancangan diskriptif untuk memperoleh tanggapan dan penilaian dari para ahli, guru dan siswa. Yang dilibatkan dalam ujicoba ini adalah 3 orang ahli isi, 2 orang ahli media, 5 orang guru dan 30 orang siswa. Uji coba dilakukan dalam dua tahap. Pada ujicoba tahap pertama diperlukan untuk memperoleh masukan dan kemudian produk direvisi. Pada tahap kedua ujicoba produk hasil revisi untuk memperoleh masukan lagi dari para ahli, guru dan siswa. Dari hasil pengembangan ini: secara umum ahli isi memberikan penilaian (86,58%), ahli media memberikan penilaian (84,37%), guru memberikan penilaian (87,22%), dan siswa memberikan penilaian (84,29%). Hal ini berarti bahwa media ini telah memenuhi syarat dalam memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa berpendapat bahwa pembelajaran dengan menggunakan media semacam ini dapat terlaksana secara efektif, efisien, dan memberi motivasi kepada siswa dalam belajar. Efektifitas pembelajaran terjadi karena siswa dapat melihat berbagai bentuk data baik gambar, teks, suara, gerak dan peragaan mengenai prosedur pelaksaan tune up, sehingga memungkinkan siswa lebih menguasai materi pelajaran.

Efektifitas penggunaan pondasi strous dibandingkan pondasi tiang pancang pada proyek pembangunan Pondok Pesantren Jl. Bonowati No. 25 Surabaya / Fahrizal Ari Kurniawan

 

Pondasi adalah struktur perantara yang memiliki fungsi meneruskan beban bangunan di atasnya (termasuk berat sendiri), menuju tanah tempat pondasi berpijak, tanpa mengakibatkan kerusakan tanah atau tanpa mengakibatkan terjadinya penurunan di luar batas toleransinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan pondasi strouss dibandingkan pondasi tiang pancang. Penelitian ini dilaksanakan pada proyek pembangunan pondok pesantren Jl. Bonowati No. 25 Surabaya. Model penelitian yang daimbil adalah model konseptual yaitu model yang bersifat analitis yang menjelaskan komponen-komponen yang akan diteliti serta keterkaitan antar komponen. Metode yang dugunkan untuk mengumpulkan data adalah dengan interviuw (wawancara), observasi dan dokumentasi). Dari data-data tersebut dilakukan analisa melalui perbandingan antara teori dan pelaksanaan dari masing-masing komponen kemudian menyimpulkan hasil penelitian Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pondasi strouss lebih efektif digunakan pada proyek pembangunan pondok pesantren Jl. Bonowati No. 25 Surabaya, karena kedudukan tanah keras yang tidak terlalu dalam , hal ini karena pondasi strouss bekerja dengan lebih mengutamakan daya dukung dasar tiang, karena menggunakan beton pracetak dan tinggal melakukan pemancangan pondasi tiang pancang akan membutuhkan waktu yang lebih cepat sementara untuk pondasai strouss harus melakukak pengeboran dan pengecoran ditempat, namun demikian untuk pondasi tiang pancang akan terkendala lokasi proyek yang berada pada daerah padat penduduk sehingga pondasi tiang pancang sulit dilakukan, untuk pondasi strouss membutuk pekerja yang lebih banyak dibandingkan pondasi tiang pancang yang membutuhkan 2 sampai 3 orang pekerja sebagai operator dan pengawas, namun untuk pondasi tiang pancang membutuhkan tenaga ahli untuk pemasangannya, berbada pondasi strouss yang tidak begitu membutuhkan tenaga ahli, tidak menimbulkna masalah dilingkungan sekitas, berbeda debgan pondasi tiang pancang yang dalam pelakasanaan menimbulkan getaran dalam pemancangan yang dapat mengabitakan kerusakan bangunan disekitar proyek Dari hasil penelitian ini menunmjukakn bahwa pondasi strouss lebih cocok digunakan dan disarankan untuk menggunakan pondasi strouss dengan diameter 50 cm sedlam -6.00 meter dari permukaan tanah dengan jumlah 2 pada masing-masing titik.

Pengaruh model pembelajaran pencapaian konsep ala bruner dan seting pembelajaran terhadap perolehan belajar geografi siswa kelas II SMP Negeri Malang / Sambanuang Makapedua

 

ABSTRAK Makapedua, Sambanaung. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran Pencapaian Konsep Ala Bruner dan Seting Pembelajaran terhadap Perolehan Belajar Geografi Siswa Kelas II SMP Negeri Malang. Disertasi, Program Studi Teknologi Pem-belajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA, (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. H. Mochammad Dimyati Kata Kunci: pencapaian konsep, ekpositori, kooperatif, individual, perolehan belajar geografi Pengemasan pembelajaran dewasa ini sering didasarkan pada asumsi-asumsi yang tidak sejalan dengan hakekat belajar dan pembelajaran. Dunia belajar didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakikat belajar dan pembelajaran secara komprehensif. Kemasan pembel-ajaran yang sering ditemukan menitikberatkan pada tuntutan kemampuan hafalan, memecahkan masalah lama, penanaman pola perilaku yang kon-frontatif dan seragam dengan pola pengajaran bernuansa kompetitif dan per-saingan. Pembelajaran geografi di sekolah-sekolah sampai sekaramg masih mempraktekan paradigma penerusan informamsi yang hanya melibatkan kemampuan berpikir tingkat rendah (low cognitive skill) yaitu menghafal, bahkan tidak jarang lebih merosot lagi menjadi tidak lebih dari pemberitaan isi buku teks. Kerangka pikir ini masih bertahan sampai sekarang karena terus dipelihara melalui ujian-ujian yang cenderung hanya menagih hafalan. Model alternatif pembelajaran geografi yang diajukan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran pencapaian konsep dengan seting pembel-ajaran kooperatif dan individual. Model tersebut merupakan fasilitas untuk pemerolehan konsep. Ada sembilan tahapan pembelajaran pencapaian kon-sep dengan seting kooperatif dalam pembelajaran geografi pada penelitian ini, yakni: (1) mengorganisasikan siswa dalam seting kooperatif (kelompok) 4 – 5 orang perkelompok, (2) membagikan bahan bacaan kepada siswa, (3) me-nyajikan contoh dan bukan contoh sesuai indikator pembelajaran, (4) secara kelompok siswa diminta untuk membandingkan ciri-ciri dari contoh-contoh dan bukan contoh dari setiap indikator, (5) secara kelompok siswa diminta membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri utama dari contoh-contoh di atas, (6) secara kelompok siswa mengidentifikasi contoh-contoh tambahan tidak berlabel dengan menyatakan ya atau bukan, (7) guru menegaskan kembali nama konsep, dan menyatakan kembali definisi konsep sesuai dengan ciri-cirinya, (8) secara kelompok siswa mengungkapkan pemikirannya dalam memperoleh konsep, sehingga diperoleh strategi mana yang efektif, (9) guru memberikan penghargaan: (a) menentukan poin kelompok, (b) menetapkan tim baik, hebat, dan tim super. Penetapan ini diumumkan pada pertemuan berikutnya sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembel-ajaran (pencapaian konsep versus ekspositori) dan seting pembelajaran kooperatif dan individual terhadap perolehan belajar geografi. Tujuan umum tersebut, yang merupakan upaya memvalidasi penggunaan prinsip-prinsip pembelajaran, sejalan dengan maksud ruang lingkup penelitian ini yang berada pada kawasan model pembelajaran. Secara lebih operasional penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan model pembelajaran: pencapaian konsep seting kooperatif dan individual dan ekspositori seting kooperatif dan individual dalam meningkatkan peluang siswa untuk mencapai perolehan belajar geografi yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, dilakukan penelitian kuasi eksperimen pada siswa kelas II semester ganjil SMP Negeri Kota Malang pada tahun pelajaran 2006/2007. Eksperimen menggunakan pengukuran dua faktor de-ngan versi faktorial nonequivalent control group design. Berdasarkan teknik cluster random sampling, maka telah terpilih dua sekolah sampel yang terlibat dalam penelitian ini, yakni SMP Negeri 8 dan 21 Malang. Pada masing-masing sekolah sampel dipilih secara random dua kelas sampel sehingga terdapat empat kelas sampel yang terlibat dalam penelitian ini. Salah satu kelas dari SMP Negeri 8 ditetapkan secara random sebagai kelompok belajar menggunakan model pembelajaran pencapaian konsep dengan seting koope-ratif dan kelas yang lain dengan seting individual. Demikian halnya di SMP Negeri 21 Malang, salah satu kelas ditetapkan secara random sebagai kelom-pok belajar dengan model pembelajaran ekspositori dengan seting kooperatif dan kelas yang lain sebagai kelompok belajar dengan seting individual. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah skor pra tes dan pasca tes per-olehan belajar. Data dikumpulkan menggunakan tes perolehan belajar. Tes perolehan belajar berbentuk pilihan ganda terdiri dari 40 item soal dengan indek validitas butir r = 0,30 dan indeks reliabilitas alpha Cronbach = 0,763. Data dianalisis secara deskriptif dan ANOVA faktorial 2 x 2. Analisis dilakukan dengan bantuan program SPSS 13 for Windows. Semua pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan hasil-hasil penelitian seba-gai berikut: Pertama, terdapat perbedaan signifikan perolehan belajar antara kelompok model pembelajaran pencapaian konsep (MPPK) dengan model pembelajaran ekspositori (MPE) (F = 10,324; p<0,05). Nilai rata-rata perolehan belajar kelompok MPPK lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok MPE. Kedua, terdapat perbedaan signifikan perolehan belajar antara kelompok seting pembelajaran kooperatif (SPK) dengan seting pembelajaran individual (SPI) (F = 61,007; p<0,05). Nilai rata-rata perolehan belajar kelompok SPK lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok SPI. Ada interaksi antara model pembelajaran (MPPK dan MPE) dengan seting pembelajaran terhadap perolehan belajar siswa (F = 5,405; p<0,05).

Pengaruh model pembelajaran koopeartif tipe stad, cara belajar dan motivasi belajar terhadap sikap kewirausahaan pada siswa SMKN I Jombang / Munawaroh

 

ABSTRAK Munawaroh, 2009 : Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Cara Belajar, Motivasi Belajar Terhadap Sikap Kewirausahaan Pada Siswa SMK N 1 Jombang. Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Cara belajar, Motivasi belajar , Sikap kewirausahaan. Pada Pendidikan formal, utamanya di tingkat menengah kejuruan, Pendidikan kewirausahaan lebih menekankan pada pengembangan aspek kognitif dan kurang memperhatikan pengembangan aspek ketrampilan dan sikap, akibatnya konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran kewirausahaan hanya dipahami sebagai pengetahuan yang harus diperhatikan dan untuk dipraktekkan maupun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya pendidikan kewirausahaan mampu menjadikan siswa terampil menerapkan nilai-nilai kewirausahaan dan mengembangkan sikap berwirausaha yang produktif dan efisien. Kontribusi pendidikan kewirausahaan dalam pembentukan sumber daya manusia yang demikian diperlukan bagi pembangunan ekonomi dan pembangunan di bidang lain secara lebih luas. Agar pendidikan kewirausahaan disekolah Menengah Kejuruan mampu menjadikan siswa memiliki sikap kewirausahaan yang produktif dan efisien diperlukan proses pembelajaran dengan strategi yang tepat, untuk memberikan kesempatan yang luas kepada siswa dalam mengkonstruk pemaknaan atas konsep-konsep kewirausahaan yang mereka pelajari dikaitkan dengan pengalaman belajar yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Strategi pembelajaran yang demikian membutuhkan pendekatan konstektual. Dalam penerapannya, dirasakan efisien bila fenomena nyata yang ada dalam hidup keseharian siswa, dapat dihadirkan di kelas melalui model pembelajaran kooperatif Tipe STAD. Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1) menjelaskan pengaruh Model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap sikap kewirausahaan; (2) menjelaskan pengaruh cara belajar terhadap sikap kewirausahaan; (3) menjelaskan pengaruh motivasi belajar terhadap sikap kewirausahaan ; (4) menjelaskan pengaruh model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan cara belajar; (5) menjelaskan pengaruh cara belajar dengan motivasi belajar; (6) menjelaskan pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan motivasi belajar; (7) menjelaskan ada tidaknya pengaruh antara model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, cara belajar dan motivasi belajar terhadap sikap kewirausahaan pada siswa SMK Negeri 1 Jombang. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Eksperimen, yang dilakukan terhadap siswa kelas III SMK negeri 1 Jombang yang berjumlah 362 siswa. Jumlah sampel penelitian sebanyak kelas III AP 1 berjumlah 38 siswa, Kelas III AK 3 berjumlah 39 siswa dan kelas III PJ 1 berjumlah 35 siswa dan dipilih secara acak. Data yang berhasil dikumpulkan di analisis dengan Anova, Regresi, dan Regresi Linier berganda sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan program aplikasi statistik SPSS for windows versi 13. Hasil penelitian membuktikan (1) Ada pengaruh model pembelajaran Kooperatif tipe STAD terhadap sikap kewirausahaan (2) Ada pengaruh cara belajar terhadap sikap kewirausahaan (3) Tidak ada pengaruh motivasi belajar terhadap sikap kewirausahaan (4) Tidak ada pengaruh model pembelajaran Kooperatif tipe STAD terhadap cara belajar. (5) Ada pengaruh cara belajar terhadap motivasi belajar. (6) Tidak ada pengaruh model pembelajaran “Cooperative Learning” tipe STAD terhadap motivasi belajar. (7) Secara simultan ada pengaruh model pembelajaran Kooperatif tipe STAD cara belajar, motivasi belajar terhadap sikap kewirausahaan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap peningkatan sikap kewirausahaan khususnya di SMK Negeri 1 Jombang. Demikian pula dengan cara belajar yang efisien juga berpengaruh posistif secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan dan sebaliknya (tidak ada pengaruh motivasi belajar baik itu tinggi sedang, rendah, terhadap sikap kewirausahaan. Dan penggunaan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dalam proses pembelajaran tidak terpancang pada cara belajar siswa, khususnya bagi siswa SMK Negeri 1 Jombang serta dalam meningkatkan efisien belajar siswa perlu memperhatikan tingkat motivasi belajar siswa. Meskipun demikian dalam proses pembelajaran seorang guru dapat menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD tanpa perlu memperhatikan tingkat motivasi belajar siswa khususnya bagi siswa SMK Negeri 1 Jombang. Di samping itu dalam proses pembelajaran, seorang guru dapat menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD perlu juga memperhatikan efisiensi belajar siswa maupun tingkat motivasi belajar. Berdasarkan temuan penelitian ini dapat di sarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) Sekolah dalam hal ini, sekolah Menengah Kejuruan sebaiknya dapat meningkatkan proses belajar mengajar dengan menggunakan berbagai model pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat tercapai secara maksimal dan siswa bisa aktif, kreatif dan inovatif. (2) Diperlukan pemetaan atas tingkat motivasi dan efisiensi, cara belajar siswa sebagai landasan dalam pengembangan strategi pembelajaran kewirausahaan di sekolah Menengah kejuruan. ABSTRACT Munawaroh, 2009 : The Influence of Cooperative Learning of STAD Type, the Way of Learning, and Learning Motivation towards the Entrepreneurship behavior of the Students of SMKN 1 Jombang Key Word : cooperative learning of STAD type, way of learning, learning motivation, entrepreneurship behavior In formal education, especially in vocational schools, entrepreneurship education emphasizes on cognitive aspects rather than affective and psychomotoric aspects. Consequently, entrepreneurship concepts are understood as knowledge which should be mastered and implemented in daily life. While in practice, entrepreneurship should bring the students to have skills in applying entrepreneurship spirit to produce effective and efficient entrepreneurship behavior. The contribution of entrepreneurship education in building good human resources is needed for the development of the economic area and of other areas as well. To make sure that entrepreneurship education can produce effective and efficient entrepreneurship behavior and skills, a strategic teaching learning process is needed to give students an opportunity to construct an understanding or interpretation of studying entrepreneurship concept that is related to the daily life experience. To achieve this goal, a strategic learning approach which appropriate is contextual approach. That is why the implementation will be more efficient if the teacher can provide real life issues of what the students have in daily life to the class. This approach is known as cooperative learning of STAD type. This research is intended to: 1) clarify the influence of cooperative learning of STAD type towards the students’ entrepreneurship behavior; 2) clarify the influence of learning ways towards the students’ entrepreneurship behavior; 3) clarify the influence of learning motivation towards the students’ entrepreneurship behavior; 4) clarify the influence of cooperative learning of STAD type towards learning ways; 5) clarify the influence of learning ways towards learning motivation; 6) clarify the influence of cooperative learning of STAD type towards learning motivation; 7) clarify the influence of cooperative learning of STAD type, learning ways, and learning motivation towards the entrepreneurship behavior of the students of SMK Negeri 1 Jombang. The research is designed to be a quasi experiment where 362 students of SMK Negeri 1 Jombang as the population. Among these, 38 students of III AP1, 39 students of III AK 3, and 35 students of III PJ 1 are taken as the samples that are randomly assigned. Then the data gathered are analyzed using ANOVA, Regression and multiple Linear Regression. To calculate the data, the researcher used statistical application of SPSS For windows 13 version. The result of computation proves that: 1) there is a significant influence of cooperative learning of STAD type towards the students’ entrepreneurship behavior; 2) there is also a significant influence of learning ways towards entrepreneurship behavior; 3) there is no influence of learning motivation towards entrepreneurship behavior; 4) there is no influence of cooperative learning of STAD type towards learning ways; 5) there is a significant influence of learning ways towards learning motivation; 6) there is no influence of cooperative learning of STAD type towards learning motivation; 7) there is simultaneously significant influence of cooperative learning of STAD type, learning ways, and learning motivation towards entrepreneurship behavior. Based on the above data, it can be concluded that the use of “cooperative learning of STAD type has positive influence towards the increase of the entrepreneurship behavior of the students of SMK Negeri 1 Jombang. In other aspect, efficient learning ways also influence the increases of entrepreneurship positively. On the other hand, there is no influence of learning motivation, either high, moderate, or low, towards entrepreneurship behavior. The use of cooperative learning of STAD type is not dependent on the learning ways of the students of SMK Negeri 1 Jombang. While to increase the efficiency of learning ways, it needs intention of the students’ learning motivation level. Even though, in learning process, a teacher can use cooperative learning of STAD type without paying attention to the students’ learning motivation level, especially in SMK Negeri 1 Jombang. Beside that, in the process of learning, a teacher who uses cooperative learning of STAD type should pay attention to the efficiency of the students’ learning and learning motivation level as well. Based on this research, it is advised that 1) the school, especially vocational schools, should be able to vary the use of learning models so that the students will be active, creative and innovative and the teaching learning objective can be achieved maximally; 2) the school should do mapping the students’ level of learning motivation and efficiency as the basis of developing entrepreneurship education in vocational schools.

Manajemen mutu sekolah dasar berbasis religi (Studi multi kasus pada SD Mintu, SD Iwaha, SD Kasayuga dan SD Kripe) / Ali Imron

 

Sekolah Dasar (SD) berbasis religi adalah salah satu jenjang pendidikan formal bernaung di bawah institusi religi, yang mengajarkaan mata pelajaran umum, dan agama, mempraktikkan aktivitas keagamaan dan budaya bernafaskan agama. Di antara SD berbasis religi, ada yang digandrungi oleh kandidat dan tetap survive meskipun banyak SD lain dilikuidai karena tidak mendapatkan siswa baru. Pertanyaannya, mengapa ada SD berbasis religi yang digandrungi dan tetap survie, sementara ada yang dilikuidasi karena tidak mendapatkan kandidat siswa baru? Tujuan utama penelitian ini untuk mendeskripsikan secara mendalam manajemen mutu akademik SD berbasis religi, yang meliputi manajemen mutu kurikulum, pembelajaran dan kelas. Kedua, untuk memerikan secara mendalam manajemen mutu pendukung akademik SD berbasis religi, yang meliputi manajemen mutu kesiswaan, tenaga kependidikan, sarana prasarana, keuangan dan partisipasi masyarakat. Ketiga, untuk memerikan secara mendalam dan memberi makna atas akar manajemen mutu SD berbasis religi, yang meliputi akar religi, sosial dan kultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan studi multi kasus, dan orientasi pendekatan fenomenologis. Lokasi penelitian adalah SD Mintu, SD Iwaha, SD Kasayuga dan SD Kripe. Teknik pengumpulan data dengan observasi peran serta, wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data pada kasus individual dengan model alir Miles dan Hubermen (1992), ialah data reduction, data display dan conclusion drawing/vervying, sedangkan analisis data lintas kasus dengan melakukan analisis perbandingan antar kasus sebagimana yang direkomendasikan oleh Yin (2002). Keabsahan data dengan teknik credibility, transferability, dependability dan conformability. Berdasarkan proses pengumpulan dan analisis data didapatkan hasil berikut. Pertama, SD berbasis religi mempunyai komitmen mutu kuat, ditindaklanjuti dengan melakukan manajamen mutu, baik akademik maupun pendukung akademik. Manajemen mutu akademik terdiri atas manajemen mutu kurikulum, pembelajaran dan kelas. Manajemen mutu kurikulum adalah aktivitas penyiapan perangkat kurikulum secara bermutu, terutama program tahunan, program semester, dan silabus, sehinga siap dipedomani oleh tenaga kependidikan dalam melaksanakan pembelajaran bermutu. Manajamen mutu pembelajaran adalah aktivitas yang memberikan jaminan agar terjadi proses pembelajaran bermutu dan berujung pada pencapaian hasil belajar optimal. Manajemen mutu kelas adalah aktivitas mengorkestrasi fisik dan sosial kelas sehingga senantiasa on dan kondusif untuk aktivitas pembelajaran bermutu. Kedua, manajemen mutu pendukung akademik terdiri atas manajamen mutu kesiswaan, tenaga kependidikan, sarana prasarana, keuangan dan partisipasi masyarakat. Manajemen mutu kesiswaan adalah memproses input siswa menjadi output bermutu sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Manajemen mutu tenaga kependidikan adalah aktivitas merekrut, menugasi, meningkatkan kemampuan, memberikan penghargaan kepada tenaga kependidikan agar memberikan kontribusi bermutu terhadap proses pendidikan. Manajemen mutu sarana prasarana adalah pengaturan sarana prasarana secara bermutu agar siap dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan bidang akademik dan non akademik. Manajemen mutu keuangan adalah upaya penggalian sumber dan pembelanjaannya secara bermutu dan selektif, guna mendukung aktivitas dan mutu pendidikan. Manajemen mutu partisipasi masyarakat adalah aktivitas penggalangan, penerlibatan dan penggerakan secara bermutu potensi masyarakat, terutama orang tua dalam mendukung proses pendidikan. Ketiga, terdapat tiga akar manajemen mutu SD berbasis religi, ialah akar religi, sosial dan kultural. SD berbasis religi memaknai religi sebagai inspirator utama dalam manajemen mutu sekolah. Ajaran religi dimaknai optimistik, ialah bahwa apa yang dicapai seseorang berkat apa yang dikerjakan. Menjadi tenaga kependidikan dimaknai sebagai orang terpilih. Bekerja di lembaga pendidikan dimaknai sebagai jalan yang dipilihkan oleh Tuhan, sehingga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pelayanan kepada siswa dimaknai sebagai pelayanan terhadap religi, dan bahkan merupakan bagian dari pelayanan terhadap Tuhan. Pengelola dan tenaga kependidikan yang berlatar perkotaan asli yang mementingkan kekeluargaan dan kerja sama dibandingkan kompetisi; sedangkan yang berlatar sosial perkotaan urban cenderung berkompetisi meskipun tetap dalam bingkai solidaritas (solidarity frame). Orang tua siswa berlatar sosial ekonomi menengah ke atas sangat peduli dengan pendidikan anak, dan memberikan kontribusi besar terhadap sekolah; sedangkan yang berlatar sosial ekonomi menengah ke bawah kepeduliannya terhadap pendidikan anak dan kontribusinya terhadap sekolah terkategori rendah. SD berbasis religi mempunyai kultur mutu yang digali, dikembangkan dan disempurnakan oleh pendiri dan diwarisi oleh penerusnya. Kultur mutu disimbolkan dalam motto yang menginspirasi warga sekolah berlomba mencapai mutu. Berdasarkan uraian disarankan sebagai berikut. SD berbasis religi perlu merekonstruksi makna mutu holistik agar selalu gayut dengan aspirasi dinamis stake holders, kemudian menindaklanjuti dengan manajemen mutu akademik dan pendukung akademik. Jurusan AP pada LPTK, patut merekekonstruksi kurikulum, dengan memperkuat perspektif sosilogis dan kultural, serta mengakomodasi multiple intelegence. Pemahaman keagamaan optimistik, akar sosial perkotaan urban yang mengedepankan semangat kompetisi berbasis solidaritas, kultur mutu yang disimbolkan dalam berbagai moto, patut dikelola oleh pengelola SD berbasis religi dengan optimal. Dinas Pendidikan dan Kantor Depag Kota Maja patut menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu input kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Para peneliti patut menverivikasi hasil riset ini dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif pada multi kasus dan pada jenjang pendidikan lain.

Pengembangan program pembelajaran berdasarkan model accelerated learning (MAL) sains kelas V Sekolah Dasar / Atrup

 

ABSTRAK Atrup 2008. Pengembangan Program Pembelajaran Berdasarkan Model Accelerated Learning (MAL) Sains Kelas V Sekolah Dasar. Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, MPd., (III) Prof. Dr. HM. Dimyati. Kata kunci: Pengembangan, Program Pembelajaran, model Accelerated Learning, dan Pembelajaran Sains. Usaha perbaikan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah, bertujuan untuk mencapai prestasi belajar tinggi sebagai instructional effects dan berbagai bentuk kebiasaan, keterandalan, sikap dan nilai di antaranya motivasi serta kemandirian sebagai nurturant effects. Selama tiga tahun belakangan ini, usaha perbaikan dalam bidang pembelajaran yang paling menyolok adalah diadakan pergantian kurikulum sekolah dan peningkatan profesionalitas jabatan guru. Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), menghendaki perubahan pola pikir guru yang tidak lagi, menerima ’barang jadi’ yang diteruskan begitu saja ke dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi, guru diharapkan memiliki kemampuan dan kreativitas dalam mengembangkan pembelajaran agar dapat tercapainya dampak akumulatif pembelajaran di atas. Pendekatan pembelajaran yang hanya semata-mata menekankan pada penanaman konsep tanpa memberikan makna yang berarti bagi perkembangan belajar siswa sudah seharusnya ditinggalkan. Penerapan model Accelerated Learning (MAL) tidak hanya mampu menyesuaikan dengan perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat. Akan tetapi juga dapat mencapai dampak akumulatif, yaitu pencapaian prestasi belajar tinggi yang dicapai dalam waktu yang cepat, peningkatan motivasi belajar dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa. Pengembangan ini bertujuan untuk mengimplementasikan Model Accelerated Learning (MAL) dalam pembelajaran sains kelas 5 sekolah dasar yang dapat mencapai prestasi belajar tinggi dengan waktu pencapaian yang cepat sebagai instructional effects, peningkatan keingintahuan (motivasi) belajar siswa dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa sebagai nurturant effects. Prosedur pembelajarannya mengikuti pendapat Rose dan Nicholl (1997) yang dimodifikasi dikenal dengan akronim MASTER (M= Motivating your mind, A= Aquiring the facts/information, S= Searching out the meaning, T= Triggering the memory, E= Exhibiting what you know dan R= Reflecting on how you’ve learned). Pendekatan pengembangan semacam ini dikategorikan Research and Development (R&D) ala Borg dan Gall (1983) yang disesuaikan, yaitu: (1) menetapkan jenis model pembelajaran yang diimplementasikan ke dalam pembelajaran sains kelas 5 sekolah (dalam hal ini MAL), (2) mengimplementasikan program pembelajaran sains yang dikembangkan berdasarkan MAL dan (3) menghasilkan program pembelajaran yang telah diimplementasikan melalui proses uji coba lapangan. i Dua jenis data yang dianalisis dalam pengembangan ini yaitu data utama dan data pendukung. Data utama diperoleh dari perbandingan antara jumlah jam pelajaran riil yang digunakan untuk mencapai materi pokok (MP) dengan waktu normal yang tersedia dan dampaknya terhadap motivasi belajar siswa dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa. Sedangkan data pendukung dimaksudkan untuk memperoleh gambaran pentingnya penerapan pembelajaran MAL di sekolah dasar. Data pengembangan dianalisis untuk membuktikan tingkat efektivitas dan efisiensi program pembelajaran yang dikembangkan. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan uji binomial jasa SPSS versi 13,0 dengan menghitung prosentasenya. Berdasarkan seluruh proses pengembangan dapat disimpulkan bahwa MAL cukup efektif dan efisien untuk mengembangkan program pembelajaran sains kelas 5 sekolah dasar. Hal ini terbukti dapat menghemat jumlah jam pelajaran sebesar 49,45% dari total jumlah jam pelajaran normal yang disediakan untuk mempelajari bidang studi sains kelas 5 sekolah dasar. Demikian halnya prestasi belajar yang dicapai siswa rata-rata adalah 7, 516. Implementasi MAL juga dapat meningkatkan motivasi belajar dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa. Hal ini terbukti tingkat pencapaian motivasi belajar siswa adalah 88,01% dan tingkat kemandirian (self-regulation) belajar siswa mencapai 86,6%. Catatan dan komentar pembimbing disertasi, ahli desain pembelajaran, ahli isi bidang studi sains, praktisi pembelajaran sains digunakan sebagai dasar dalam melakukan revisi produk dan mengkaji ulang tampilan model yang ditawarkan. Catatan dan komentar terutama tentang dipilihnya buku sumber begitu saja (Widodo, dkk. 2004 yang digunakan sebagai lampiran bahan pembelajaran) menuai kritik yang tajam karena yang seharusnya dilakukan pengembang adalah benar-benar memadukan MAL dengan isi bahan pembelajaran. Namun kekurangan tersebut telah diselesaikan dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencerminkan implementasi pembelajaran sains kelas 5 sekolah dasar. Temuan di atas, juga dikuatkan adanya data pendukung yang terdiri dari tanggapan subyek tentang prinsip-prinsip MAL mencapai 89, 93%, dan tanggapan subyek pengembangan tentang teknik-teknik belajar dan pembelajaran yang mencapai 87,91%. Proses pelaksanaan pembelajaran melalui uji coba lapangan sudah berjalan baik. Hal ini dibuktikan dari data tentang pelaksanaan simulasi (sebagai persiapan uji coba lapangan) dan pelaksanaan pembelajaran (real teaching) oleh subyek pengembangan. Skor angket tanggapan subyek tentang pelaksanaan simulasi mengajar mencapai 82,89% dan skor angket tanggapan subyek pengembangan tentang pelaksanaan pembelajaran mencapai 84,69%. Keunggulan produk pengembangan ini adalah: (1) meletakkan konsepsi dan implementasi model pembelajaran MAL sesuai konsepsi dasar yang dikembangkan sejumlah ahli selama ini yang kenyataannya berbeda dengan konsep kelas akselerasi yang hanya diperuntukkan pada siswa yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang lain dan (2) implementasi MAL yang dilaksanakan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip dan teknik-teknik belajar dan pembelajaran merupakan bentuk inovasi pembelajaran di sekolah. ii ABSTRACT Atrup 2008. The Development of Instructional Program Based on Accelerated Learning Model (ALM) for Sains Instruction at the Fifth Grade of Elementary School. A Disertation Unpublished, Instructional Technology of Departement, Postgraduate Program, State University of Malang. An Advisor: (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, MPd., (III) Prof. Dr. HM. Dimyati. Keywords: Development, Instructional Program, Accelerated Learning Model and Sains Instruction. Efforts to increase instructional quality have been done by teachers in school aim to achieve high prestige as instructional effect and many kinds of behavior, validity, attitude, and value includes motivation and self-regulation as nurturant effect. In last three years, the most significant achievement effort is shifting school curriculum and increasing of teacher’s professionalism. The application of Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) aim to change teacher’s mindset not to accept “ripe thing” that directly continued into instructional activity. But teachers are expected to have ability and creativity in developing instruction to gained the instructional accumulative effects. Instructional approaches which only underline of giving concept without giving meaningful understanding to student’s achievement should have been left. Application of Accelerated Learning Models (ALM) is not only able to adapt the wind of change and fast developing of science and technology but also be able to achieve accumulative effect such as achievement of high prestige gained in short time, motivation achievement, and self-regulation learning. This development aim to implement ALM in sains instruction program at the fifth grade of elementary school achieve high prestige in short time as instructional effect, increasing of learning motivation and self regulation as nurturant effect. The instructional prosedur is based on a modification by Rose and Nicholl (1997) well known as acronym MASTER (M= Motivating your mind, A= Acquiring the facts/ information, S= Searching out the meaning, T= Triggering the memory, E= Exhibiting what you know, and R= Reflecting on how you’ve learned). This development approach is categorized as research and development (R and D) of Borg and Gall (1983) that has been adapted, they are: (1) decide what kind of instructional model implemented as sains instruction at the fifth grade of elementary school, (2) implement sains instruction program based on ALM, and (3) produce instructional program that implemented through try out. Two kinds of data analyzed in this development are main data and supporting data. The main data collected from the comparison between the numbers of real class meeting to achieve instructional material with normal time available on instructional science for the fifth grade of elementary school and its effect to student’s motivation and self-regulation. The supporting data aim to know the important of applying ALM at elementary school. The development data analyzed to prove effectiveness and i efficiency of instructional program as development product. Technique of analysis uses Binomial test from SPSS version 13.0 for calculates the percentage. Based on all of development process found that ALM is effective and efficient enough to develop sains instruction program for the fifth grade of elementary school. It can reduce the numbers of class meeting until 49,45% from the normal time available to learn sains at the fifth grade of elementary school. The prestige of learning achieved by students is average 7, 516. The implementation of ALM also has an influence on learning motivation and self-regulation. It can prove that the achievement level of student’s learning motivation is 88,01% and the achievement level of student’s learning self-regulation is 86,6%. Notes and comments from the dissertation advisor, instructional design expert, instructional expert, and sains instruction professional are used as the base for product revision and restudy the display model offered. Notes and comments especially about directly choosing of reference book (Widodo, dkk. 2004 used as instructional material suplement) get a hard critic because developer should really integrate ALM with instructional material. But the weakness has solved by create Plan and Implementing Instruction (RPP) which the application of ALM is appear, in sains instruction at the fifth grade of elementary school. The result, also strengthen with supporting data, like subject’s response about principles of ALM get 89,93% and subject’s response about the development of learning and instruction techniques get 87,91%. The instructional process through try out well done. It is proved by data describing simulation process (as a try out preparation) and instructional process (real teaching) by the subjects. The score of questionnaire about subject’s response to simulation process get 82,89% and the score of questionnaire about subject’s response to instructional process get 84,69%. The advantages of development product are: (1) trying to put concept and implementation of ALM is instructional model based on basic concept have been developed some experts so far that different from acceleration class concept made for higher learning competence of students, (2) the difference with teacher’s instructional plan so far is integrating principles and learning and instruction techniques to instructional process, so it can be easy implicated as kind of school instructional innovation. Related to this development product, it can be suggested as follow: (1) ALM should apply in elementary school’s instruction, (2) teachers should increase student’s learning motivation to reach high prestige in learning, and (3) teacher should create student’s self-regulation in learning.

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyaliats pelanggan (Studi pada member the coffee bean & tea leaf Tunjungan Plaza Surabaya) / Agung Budi Prasetyo

 

ABSTRAK Prasetyo, Agung. 2009. Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas Pelanggan (Studi pada member The Coffee Bean & Tea Leaf Tunjungan Plaza Surabaya) Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Wayan Jaman Adi Putra, M.Si., (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si. Kata Kunci : Kualitas Layanan, Loyalitas Pelanggan Pengaruh aspek budaya dan sosial yang datang dari luar negeri membuat pola perilaku mayarakat berubah. Dengan adanya perubahan dan pengaruh itu, maka menyebabkan pergeseran dan atau perubahan fungsi sebuah kafe atau coffee shop, yang melahirkan fenomena sosial dan budaya baru. Di samping sebagai tempat untuk minum teh atau kopi dan menyantap makanan ringan, coffee shop juga sebagai tempat untuk berkumpul, bersosialisasi, berkencan, bertukar pikiran, memperluas jaringan, dan bahkan menjadi salah satu tempat untuk melakukan prospecting business antar eksekutif, sehingga kebutuhan terhadap coffee shop terus berkembang. Berkunjung ke sebuah coffee shop bukan hanya semata untuk mendapatkan produk, tapi konsumen juga menghendaki pelayanan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana kondisi kualitas layanan serta bagaimana pengaruh variabel service quality terhadap Loyalitas pelanggan. Populasi dalam penelitian ini adalah orang-orang yang telah menjadi member The Coffee Bean & Tea Leaf Tunjungan Plaza Surabaya selama minimal 1 tahun. Dalam penelitian ini menggunakan 84 sampel yang penentuan jumlah minimalnya ditentukan berdasarkan kriteria Slovin. Sampel tersebut diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian ini terdiri atas dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kualitas layanan yang mempunyai sub variabel 1) tangibles, 2) reliability 3) responsiveness, 4) assurance dan 5) empathy sedangkan variabel terikatnya adalah Loyalitas pelanggan. Analisis data menggunakan regresi berganda (multiple regression) dengan program SPSS for Windows seri 13.0. Berdasarkan pengolahan data dan regresi linier berganda dapat diketahui bahwa: 1) tangibles memiliki pengaruh yang postitif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Diperoleh nilai rata-rata 33,5 nilai B = 0,209, thitung = 3,097 dan nilai signifikansi = 0,003. 2) reliability memiliki pengaruh yang postitif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Diperoleh nilai B = 0,243, nilai thitung = 2,849 dan nilai signifikansi = 0,006. 3) reponsiveness memiliki pengaruh yang postitif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Diperoleh nilai rata-rata 24,9 dan B = 0,245 nilai thitung = 2,698 dan nilai signifikansi = 0,009. 4) assurance memiliki pengaruh yang postitif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan, diperoleh nilai rata-rata 24,9 dan diperoleh nilai B = 0,233, nilai thitung = 2,892 dan nilai signifikansi = 0,005. 5) empathy memiliki pengaruh yang postitif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan, diperoleh nilai B = 0,278, nilai thitung = 3,201 dan nilai signifikansi = 0,002. Dari hasil data statistik desrkiptif terhadap data Loyalitas pelanggan diperoleh nilai rata-rata 37,8 memberikan hasil bahwa rata-rata responden menyatakan setuju, diperoleh nilai Fhitung sebesar 28,904, dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000, maka diketahui bahwa tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas member The Coffee Bean & Tea Leaf Tunjungan Plaza Surabaya. Dari nilai adjusted R2 sebesar 0,627, diketahui bahwa 62,7% loyalitas member The Coffee Bean & Tea Leaf Tunjungan Plaza Surabaya dipengaruhi oleh variabel tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Sedangkan sebesar 37,3% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: 1) Penilaian keadaan kualitas layanan oleh pelanggan adalah baik terbukti dari persentase jawaban responden yang menyatakan setuju mengenai kualitas layanan yang mereka terima. 2) Kualitas layanan (service quality) meliputi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan, 3) Empathy memiliki pengaruh yang paling dominan, dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan dibanding variabel tangibles, reliability, responsiveness, dan assurance.

Perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) pada siswa kelas X SMAN 1 Bululawang untuk materi hidroka

 

Perbedaan return, abnormal return, dan trading volume activity (TVA) berdasarkan hari perdagangan saham (saham yang masuk indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2007) / Ahmad Rifa'i

 

Efektivitas pembelajaran menulis ekspositori berbasis media audio, gambar, dan lingkungan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makkasar / Akmal Hamsa

 

ABSTRAK Hamsa, H. Akmal. 2008. Efektivitas Pembelajaran Menulis Ekspositori Berbasis Media Audio, Gambar, dan Lingkungan pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M. Pd., (II) Prof. Dr. H. Dawud, M. Pd., dan (III) Prof. Dr. H. Suparno. Kata-kata kunci: efektivitas, pembelajaran menulis ekspositori, berbasis media audio, gambar, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pembelajaran menulis ekspositori yang berbasis media audio, media gambar, dan media lingkungan dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Tujuan ini dijabarkan lebih rinci sebagai berikut. Pertama, mengkaji perbedaan efektivitas pembelajaran menulis ekspositori antara yang berbasis media audio dengan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Kedua, mengkaji perbedaan efektivitas pembelajaran menulis ekspositori antara yang berbasis media audio dengan media lingkungan siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Ketiga, mengkaji perbedaan efektivitas pembelajaran menulis ekspositori antara yang berbasis media gambar dengan media lingkungan siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Keempat, mengkaji pembelajaran menulis ekspositori yang paling efektif antara yang berbasis media audio, berbasis media gambar, dan berbasis media lingkungan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Jumlah populasi sebanyak 356 orang yang terdiri atas sembilan kelas, yaitu kelas VIII A sampai dengan kelas VIII I. Berdasarkan jumlah populasi ditarik sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik ini dianggap cocok dengan karakteristik yang dimiliki oleh populasi penelitian ini, yang terdiri atas sembilan kelas paralel. Hasil penarikan sampel dengan teknik cluster random sampling terpilih tiga kelas sampel sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sampel sebagai kelompok kontrol, sehingga jumlah kelas yang terpilih sebagai kelompok penelitian terdiri atas empat kelas. Keempat kelas tersebut ditentukan dengan melakukan acak undian. Hal itu dilakukan agar semua kelas populasi mempunyai peluang untuk terpilih menjadi sampel penelitian. Data yang diperoleh dari sampel tersebut dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui program SPSS 15.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara efektivitas pembelajaran menulis ekspositori berbasis media audio, gambar, dan lingkungan pada Siswa SMP Negeri 21 Makassar. Secara rinci dapat dipaparkan sebagai berikut. Pertama, ada perbedaan secara signifikan antara efektivitas PME BMA dengan PME BMG pada ketiga kelas eksperimen, yakni: (1) koefisien beda antara nilai PME BMA dan nilai PME BMG pada siswa kelas VIII A diperoleh t sebesar -4,262 pada taraf signifikan p = 0.000, berarti p < 0,05; (2) koefisien beda antara nilai PME BMA dan nilai PME BMG pada siswa kelas VIII C diperoleh t sebesar -6,622 pada taraf signifikan p = 0,000 berarti p < 0,05; dan (3) koefisien beda antara nilai PME BMA dan nilai PME BMG pada siswa kelas VIII G diperoleh t sebesar 2,880 pada taraf signifikan p = 0,000 berarti p < 0,05. Kedua, ada perbedaan secara signifikan antara efektivitas pembelajaran menulis ekspositori berbasis media audio dengan pembelajaran menulis ekspositori berbasis media lingkungan pada ketiga kelas eksperimen, yakni: (1) koefisien beda antara nilai PME BMA dan nilai PME BML pada siswa kelas VIII A diperoleh t sebesar 2,640 pada taraf signifikan p = 0.026; (2) koefisien beda antara nilai PME BMA dan nilai PME BML pada siswa kelas VIII C diperoleh t sebesar 2,880 pada taraf signifikan p = 0,000; dan (3) koefisien beda antara nilai PME BMA dan nilai PME BML pada siswa kelas VIII G diperoleh t sebesar 2,591 pada taraf signifikan p = 0,000. Ketiga, ada perbedaan secara signifikan antara efektivitas pembelajaran menulis ekspositori berbasis media gambar dengan pembelajaran menulis ekspositori berbasis media lingkungan pada ketiga kelas eksperimen, yakni: (1) koefisien beda antara nilai PME BMG dan nilai PME BML pada siswa kelas VIII A diperoleh t sebesar 4,953 pada taraf signifikan p = 0.000; (2) koefisien beda antara nilai PME BMG dan nilai PME BML pada siswa kelas VIII C diperoleh t sebesar 8,438 pada taraf signifikan p = 0,000; dan (3) koefisien beda antara nilai PME BMG dan nilai PME BML pada siswa kelas VIII G diperoleh t sebesar 2,591 pada taraf signifikan p = 0,000. Keempat, pembelajaran menulis ekspositori berbasis media gambar lebih efektif daripada pembelajaran menulis ekspositori berbasis media audio dan media lingkungan serta pembelajaran menulis ekspositori berbasis media audio lebih efektif daripada pembelajaran menulis ekspositori berbasis lingkungan dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disarankan kepada beberapa pihak. Pertama, disarankan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia agar: (1) memanfaatkan media pembelajaran dalam pembelajaran bahasa Indonesia; (2) lebih mengutamakan pemanfaatan media gambar dalam pembelajaran menulis ekspositori daripada media audio dan media lingkungan; dan (3) senantiasa berusaha meningkatkan kompetensi menyeleksi dan menggunakan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan, materi, kondisi siswa, dan sarana dalam pembelajaran menulis ekspositori. Kedua, disarankan kepada kepala SMP Negeri agar: (1) menyediakan fasilitas pembelajaran dalam rangka perbaikan pembelajar-an menulis ekspositori; (2) senantiasa mendorong para guru, terutama guru bahasa Indonesia untuk membiasakan diri memanfaatkan media setiap proses pembelajaran; dan (3) mendorong, memotivasi, dan memfasilitasi para guru bahasa Indonesia meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengelola pembelajaran berbasis media melalui pelatihan, penataran, dan pendidikan dengan mengadakan kerja sama perguruan tinggi kependidikan. Ketiga, disarankan kepada para peminat pembelajaran, para peneliti, dan para ilmuwan agar: (1) melakukan penelitian lanjutan dengan keterampilan berbahasa Indonesia lainnya; (2) melakukan penelitian tentang efektivitas pembelajaran berbasis media dengan materi atau mata pelajaran lain; dan (3) melakukan penelitian yang lebih luas dan lebih lengkap dalam pembelajaran menulis bahasa Indonesia yang berbasis media pembelajaran yang lain secara komprehensif.

Penerapan pembelajaran konstruktivistik melalui teknik picture and picture untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kediri / Eunike Rose Mita Lukiani

 

Dalam era globalisasi atau pasar bebas manusia dihadapkan pada perubahan yang sangat cepat. Pemberlakuan AFTA (Asean Free Trade Association) dan AFLA (Asean Free Labour Association) menuntut sumber daya manusia yang mampu bersaing, unggul, berkualitas, berkompeten dibidangnya. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menyongsong hal tersebut, adalah penataan sistem pendidikan sebagai dasar kualitas sumber daya suatu bangsa. Pendidikan berperan penting karena pendidikan dianggap sebagai suatu wadah untuk mendidik, memajukan, mencerdaskan rakyat seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Trianto (2008:3) menarik kesimpulan sebagai berikut. Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah tersebut, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisispasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang.

The learning experience in efl writing of an Indonesian writer: a case study on Budi Darma / V. Luluk Prijambodo

 

Abstrak Learning to write well is a difficult and lengthy process, demanding the learners to fulfill some writing properties in order that what they write are judged as a good writing for having satisfied the writing convention. Despite its complexity, writing is very important to learn and master because it becomes the important part of human's academic, personal, community, and professional life. One of the sources of learning how to write is a skilled writer's learning experience in developing his EFL writing skill. Budi Darma, one of Indonesia's great authors, has passed over the laborious process of learning to write in EFL and become a prolifically skilled writer. That is why Budi Darma's learning experience in mastering EFL writing skill is worth investigating. As reflected in its title, this in-depth study focuses on investigating Budi Darma's learning experience in developing his EFL writing skill. Relevantly, three research questions are formulated, namely 1) How did Budi Darma learn to master EFL writing skill successfully?; 2) What does he as a skilled writer do to produce quality English writings?; and 3) How does he view his successful learning experience in developing his EFL writing skill? To conduct this study, qualitative approach was used. Accordingly, in this qualitative case study the researcher played a role as the human or key instrument. Then, to trace back the learning experience, life history was chosen as the working frame. The primary data-the words (the opinions, statements, and/or the information concerning Budi Darma's learning experience in EFL writing), were collected through the interview series. The secondary data to complete and confirm the primary data were gathered from the available documents (Budi Darma's written works, the other writers' written works about Budi Darma, video tapes about Budi Darma, and other information from the other sources). The interview series consists of three stages of interview. Interview one was intended to gather the information to answer the first research question, interview two to answer the second research question, and interview three to answer the third research question. To help the researcher focus on the interviews, the interview guides were prepared and tried out before use. An additional interview was conducted to obtain the additional data. Since the interviews were carried out in English, no translation was needed in the data conversion. Translation into English was just carried out to convert the other found relevant data produced in Indonesian. The interviews were recorded and then transcribed verbatim. The transcribed interviews were then analyzed inductively based on the three concurrent flows of activity: data reduction, data display and conclusion drawing/verification. To establish the credibility of the research findings, the data ferreted from the interviews and the documents were related to each other. Besides, the related theories were reviewed to support the data analysis. The research findings indicate that Budi Darma's learning to successfully develop his EFL writing skill was not an instant process. He was interested in writing since his junior high school education. His hobby of reading, his critical thinking power, his inside motivation to write, his positive attitude towards English, his personality (tough, flexible, and independent), his decision to select the language department at the senior high school, his journalistic experience from working for a newspaper after school and joining the campus journalism, his study at the Department of Western Literature and Culture of the Faculty of Letters of Gadjah Mada University, Yogyakarta, and his overseas life experience (his stay in Hawaii for a year to set up a Basic Humanities curriculum and in Bloomington, Indiana to study at Indiana University for his Master and doctoral degree in Creative Writing), were the blending factors that influenced his success in developing his EFL writing skill. He is now able to skilfully write various genres of writing. His quality writings deserved him to receive some prestigious awards from the governmental and private, domestic and overseas, institutions. He is widely known not only as an academician, a campus bureaucrat, and an author but also as a scientist, a literary critic, and a culturalist. Budi Darma's composing process is unique. He never puts off writing whenever he gets an inspiration to write and has the opportunity to write. He can write productively when his mood is good, the situation is conducive, and no interruption breaks his composing process. He starts writing by thinking about the theme. When writing non-fictions, sometimes he drafts his ideas first. When writing fictions, however, he never drafts what he has to write. Reading a lot, observing the surroundings, taking a walk, and mingling with the people surrounding are his strategy to gather the ideas and inspiration to write in order to keep on writing prolifically and avoid the writer's block. Straightforward, lively, flowing, short-but-effective sentences, and broad-mindedness characterize his language or writing style. Reflecting his success in developing his EFL writing skill, Budi Darma thinks that a writer has to read a lot to maintain the constant obsession to write and write freely based on his own concern. When writing, s/he should not concentrate too much on the writing mechanism since it will only make the composing process get stuck. Writing should be done for the sake of writing itself (writing as an art), not for the sake of the writing benefits; the benefits of writing are the automatic effect of quality writing. "Olenka", which was written in an ideal situation of composing process (good mood, peaceful surroundings, enjoyable momentum, and no interruption) and has become his masterpiece, received some prestigious writing awards. Based on the research findings, it is suggested that the teaching and learning of EFL writing pay a greater attention to the individuals' potentials contributing to their learning success; accordingly, a class of writing course should contain no more than 20 learners. It is also recommended that the teaching of writing give the learners enough freedom to write what they want to write, motivate them to independently learn in order to keep developing their writing skill when they finish their study, and encourage them to read and write more. Thus, ideally the teaching of writing and reading skill is handled by the same teacher/lecturer. Then, to enable the comparison of the findings of the related studies, a further study investigating the Indonesian who is skillful in EFL writing and is majoring in English but has no overseas learning experience, or the Indonesian who is skillful in EFL writing and has overseas learning experience but s/he is not majoring in English, is worth researching.

Hubungan antara persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan dan pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa pada perpustakaan Universitas Negeri Malang / Desi Natalia Mandasari

 

ABSTRAK Mandasari, Desi Natalia. 2008. Hubungan Antara Persepsi Mahasiswa tentang Pelayanan Perpustakaan dan Pemanfaatan Perpustakaan oleh Mahasiswa pada Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. H. Mursyid Widjanarko. Pembimbing (II) Drs. Burhanuddin, M.Ed. Kata kunci: hubungan, persepsi, pelayanan perpustakaan, pemanfaatan perpustakaan. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang dapat menunjang proses belajar-mengajar di suatu lembaga pendidikan. Keberadaan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar fungsinya tidak lagi terpisah dari proses pendidikan itu sendiri, melainkan terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar-mengajar. Namun kehadiran suatu perpustakaan akan tiada berarti apabila tidak dimanfaatkan secara efektif. Efektivitas dari pemanfaatan perpustakaan, yaitu dengan memfungsikan bahan pustaka yang ada dengan sebaik-baiknya guna mencapai tujuan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan di Universitas Negeri Malang; (2) tingkat pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang; dan (3) hubungan antara persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan dan pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dimana penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan dan pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa. Sedangkan penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang mengunjungi Perpustakaan dengan jumlah tak terhingga. Untuk mendapatkan jumlah populasi penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan observasi ke perpustakaan dengan mengambil data statistik pengunjung selama 1 minggu. Kegiatan observasi ini dilakukan karena penyebaran angket nantinya akan dilakukan pada waktu pengambilan populasi tiap harinya, sehingga pada hari Senin-Sabtu masing-masing akan langsung diambil sampel penelitian dengan mengacu pada jumlah sampel pada waktu observasi, tetapi jumlah angket yang disediakan setiap harinya dilebihkan 20 angket dari jumlah sampel pada waktu observasi. Hal ini untuk mengantisipasi apabila jumlah sampel pada saat penelitian melebihi jumlah sampel pada waktu observasi. Jumlah populasi penelitian berdasarkan statistik pengunjung perpustakaan UM selama 1 minggu sebanyak 4751 mahasiswa. Besarnya sample yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 369 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara proportional sampling. Sedangkan untuk menetapkan individu sampel digunakan incidental sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket yang memberikan empat jawaban alternatif. Hasil penelitian secara deskriptif untuk variabel persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan, terdapat 12 mahasiswa (3,3%) menyatakan bahwa pelayanan perpustakaan termasuk dalam kategori sangat baik, 200 mahasiswa (54,2%) menyatakan bahwa pelayanan perpustakaan termasuk dalam kategori baik, 151 mahasiswa (40,9%) menyatakan bahwa pelayanan perpustakaan termasuk dalam kategori tidak baik, dan 6 mahasiswa (1,6%) yang menyatakan bahwa pelayanan perpustakaan termasuk dalam kategori sangat tidak baik sehingga dapat diartikan bahwa mahasiswa mempunyai persepsi yang baik tentang pelayanan perpustakaan di UM. Sedangkan untuk variabel pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa terdapat 9 mahasiswa (2,4%) menyatakan pemanfaatan perpustakaan termasuk dalam kategori sangat tinggi, 186 mahasiswa (50,4%) menyatakan pemanfaatan perpustakaan termasuk dalam kategori tinggi, 170 mahasiswa (46,1%) menyatakan pemanfaatan perpustakaan termasuk dalam kategori rendah, dan 4 mahasiswa (1,1%) menyatakan pemanfaatan Perpustakaan termasuk dalam kategori sangat rendah sehingga dapat diinterpretasikan bahwa pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa UM tergolong tinggi. Berdasarkan jawaban pada angket, pelayanan perpustakaan yang dianggap baik oleh mahasiswa adalah pelayanan teknis yaitu perlengkapan buku, sedangkan pelayanan yang tidak baik menurut mahasiswa adalah pelayanan pembaca yaitu pelayanan sirkulasi. Hasil korelasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa angka korelasi antara variabel persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan (X) dan variabel pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa (Y) sebesar 0,522 dan angka signifikansi sebesar 0,000. Data hasil penelitian menunjukkan nilai rhitung = 0,522 dan nilai rtabel = 0,102, dari data tersebut dapat diketahui bahwa rhitung > rtabel. Interpretasi dari data tersebut H0 ditolak dan H1 diterima. Sesuai data yang diperoleh, angka signifikan 0,000 < 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan dan pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa UM. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyajikan beberapa saran antara lain: (1) petugas perpustakaan UM hendaknya dalam melakukan pelayanan perpustakaan diusahakan lebih ditingkatkan lagi khususnya pelayanan sirkulasi, seorang pengelola perpustakaan tidak cukup hanya dibekali keahlian teknis dan pengetahuan tentang ilmu perpustakaan saja, melainkan juga harus memiliki sikap profesional dan kesiapan mental tertentu (ramah, sabar, dan murah senyum); (2) Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya menambah wacana keilmuan mengenai manajemen perpustakaan khususnya tentang pelayanan Perpustakaan agar bisa dijadikan bahan referensi bagi mahasiswa Administrasi Pendidikan; (3) mahasiswa UM hendaknya mampu dan mau menciptakan cara belajar aktif sehingga perpustakaan dapat berfungsi dengan baik dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam pembelajaran secara efektif dan efisien, karena hal tersebut dapat meningkatkan hasil dan kualitas belajar mahasiswa; dan (4) peneliti lain diharapkan apabila akan melakukan penelitian yang serupa perlu memperhatikan masalah populasi, yaitu mengenai teori tentang pengambilan populasi tak terhingga, sehingga nantinya dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Nilai budaya Banjar dalam cerita si Palui / H. Zulkifli

 

Abstrak Setiap masyarakat memiliki budaya tertentu. Budaya tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat pendukungnya. Setiap masyarakat yang mendiami suatu daerah memiliki budaya tertentu, termasuk adanya karya sastra yang hidup dan berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Salah satu khazanah budaya daerah yang ada di Indonesia, dalam hal ini di Kalimantan Selatan adalah karya sastra dalam bentuk cerita si Palui yang sampai saat ini masih hidup dan berkembang. Cerita si Palui yang dahulunya berstatus anonim, kini sejak tiga puluh tahun lebih telah ditulis dan dipublikasikan pada harian Banjarmasin Post. Cerita si Palui disajikan dengan bahasa Banjar. Sebagai karya sastra, cerita si Palui mengandung nilai budaya. Nilai budaya merupakan acuan atau sesuatu yang dianggap bernilai di dalam kehidupan masyarakat. Fokus penelitian ini meliputi nilai budaya Banjar yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, nilai budaya Banjar yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama manusia, nilai budaya Banjar yang berkaitan hubungan manusia dengan diri sendiri atau berkaitan dengan kegiatan manusia sebagai bentuk pengembangan dirinya, dan nilai budaya Banjar yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menjelaskan nilai budaya Banjar yang terdapat di dalam cerita si Palui yang dipublikasikan melalui harian Banjarmasin Post. Dari segi teoretis, hasil penelitian ini berguna untuk dijadikan bahan kajian budaya, terutama untuk studi sastra dan dapat dijadikan sebagai masukan untuk menemukan dan mengkaji nilai budaya dalam karya sastra serta untuk mengembangkan sastra daerah Banjar. Dari segi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk pembelajaran muatan lokal pada lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah di Kalimantan Selatan, dan untuk memahami sebagian perilaku masyarakat Banjar. (sebagai pendekatan segenap pihak dalam rangka pembangunan masyarakat). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan dengan alasan bahwa yang menjadi fokus penelitian adalah berupa nilai budaya. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Jenis penelitian ini disebut jenis penelitian hermeneutika. Data dalam penelitian ini adalah nilai budaya Banjar yang terdapat pada cerita si Palui. Sumber data penelitian adalah cerita si Palui yang dipublikasikan pada harian Banjarmasin Post dari 1 Februari 2006 sampai 31 Januari 2007. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa nilai budaya Banjar yang terdapat dalam cerita si Palui yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan meliputi: nilai tobat, syukur, ikhlas, qonaah, sabar, ingat pada Tuhan, dan tawakkal. Ketujuh nilai tersebut secara langsung terkait dengan penerapan ajaran Islam. Hal ini juga berhubungan dengan salah satu identitas orang Banjar sebagai pemeluk Islam. Nilai budaya Banjar yang terdapat dalam cerita si Palui yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama manusia meliputi nilai: musyawarah, persaudaraan, gotong-royong, tolong-menolong, penyesuaian diri, dan menghargai adat. Nilai budaya Banjar yang terdapat dalam cerita si Palui yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan diri sendiri meliputi nilai: kerja keras, teliti, waspada, disiplin, koreksi diri, hemat, jaga diri, mengikuti perkembangan zaman, percaya pada diri sendiri, tanggungjawab, dan menerima kenyataan. Nilai budaya Banjar yang terdapat dalam cerita si Palui yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam meliputi nilai: pelestarian alam, penghematan air, pelestarian hutan, dan pemeliharaan lingkungan. Kesimpulan hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa cerita si Palui yang dipublikasikan pada harian Banjarmasin Post mengandung nilai budaya Banjar yang cukup beragam, tokoh Palui mencerminkan bagaimana dinamika dan perkembangan kehidupan orang Banjar. Kehidupan keseharian orang Banjar sangat terikat dengan nilai-nilai Islam. Sistem kekerabatan yang dikenal dengan istilah bubuhan dalam masyarakat Banjar juga memberikan corak tersendiri dalam pergaulannya sehari-hari. Orang Banjar dalam cerita si Palui juga menunjukkan adanya perasaan persaudaraan yang sifatnya lebih luas dan berusaha memelihara keberadaan dan kemandiriannya. Nilai budaya Banjar yang ditemukan dalam cerita si Palui juga memberikan perhatian yang besar terhadap hubungan manusia dengan alam. Karena itu, salah satu yang terungkap melalui cerita si Palui adalah adanya keprihatinan terhadap keadaan lingkungan di Kalimantan Selatan. Sehubungan dengan hasil penelitian nilai budaya Banjar yang terdapat dalam cerita si Palui ini, peneliti menyampaikan beberapa saran yang ditujukan kepada para peneliti selanjutnya, para dosen sastra dan guru muatan lokal Bahasa dan Sastra Banjar, para pemegang kebijakan di lingkup provinsi Kalimantan Selatan, dan Balai Bahasa Banjarmasin. Para peneliti selanjutnya diharapkan memanfaatkan hasil penelitian ini untuk melakukan penelitian tentang nilai budaya Banjar dalam sastra daerah Banjar, selain cerita si Palui. Para dosen sastra dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan dalam pembelajaran sastra (khususnya sastra daerah) di perguruan tinggi. Para guru juga dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk bahan muatan lokal pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah Banjar. Para guru bekerja sama dengan para penulis cerita si Palui perlu menyusun kumpulan cerita si Palui yang dianggap layak untuk dijadikan bahan pembelajaran muatan lokal. Para pemegang kebijakan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam rangka membina, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan daerah Banjar. Kebijakan yang dimaksud bisa berupa penyusunan buku cerita si Palui untuk dijadikan salah satu bahan injformasi kebudayaan Banjar untuk kalangan masyarakat Banjar sendiri dan masyarakat lain, termasuk para wisatawan. Buku cerita tersebut sebaiknya disajikan dalam bahasa daerah Banjar, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Balai Bahasa Banjarmasin bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan dinas yang menangani pariwisata dan kebudayaan perlu melaksanakan lomba penulisan cerita si Palui, sekaligus lomba bercerita si Palui. Kegiatan ini bisa diikuti oleh kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Dengan kegiatan ini diharapkan sekaligus sebagai bagian upaya pemertahanan bahasa daerah Banjar.

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas nasabah tabungan simpedes (Studi pada PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. Unit baru Pare Kediri) / Prihata Restu W.

 

Dunia perbankan Indonesia saat ini diwarnai persaingan yang semakin ketat. Perjuangan untuk menciptakan bisnis bersaing yang berulang dengan nasabah yang sudah ada di tangan menempati titik sentral dalam upaya bank untuk tetap unggul dalam persaingan jangka panjang. Yang pada umumnya seorang nasabah mengharapkan jasa yang diterimanya dapat dinikmati dengan pelayanan yang baik dan memuaskan, oleh karena itu sebuah bank harus memperhatikan kualitas layanan jasa perbankan yang diberikan. Sebuah bank yang berorientasi pada keinginan, permintaan, dan kebutuhan nasabah, memiliki potensi besar untuk berhasil karena pada prinsipnya nasabah yang loyal mereka akan terus-menerus melakukan transaksi dan tidak beralih ke bank lain. Dan kualitas layanan itu sendiri terdiri dari bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati itu semua menjadikan nasabah tetap loyal pada bank. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana keadaan kualitas layanan dan loyalitas nasabah tabungan Simpedes PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri, pengaruh kualitas layanan loyalitas nasabah tabungan Simpedes PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri baik secara simultan maupun parsial, penelitian ini menggunakan pendekatan korelasional yaitu pengaruh kualitas layanan loyalitas nasabah tabungan Simpedes PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri. Populasi yang diambil adalah nasabah tabungan Simpedes. Teknik pengambilan sampel menggunakan Proporsionate random sampling, dengan sampel sebanyak 120 responden. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitias dengan sampel uji coba sebanyak 30 responden. Data diperoleh melalui responden menggunakan kuesioner/angket tertutup dan diukur menggunakan skala Likert dengan skor 1 - 5. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) kualitas layanan yang meliputi bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati menjadi kan nasabah tabungan Simpedes tetap loyal pada PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri. (2) Terdapat pengaruh signifikan positif kualitas layanan yang meliputi bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara simultan terhadap loyalitas nasabah tabungan Simpedes PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri yang ditunjukkan oleh koefisien determinasi (R2) yaitu sebesar 73,6% dan ini menunjukkan loyalitas nasabah yang tinggi. (3) Sedangkan secara parsial masing-masing komponen variabel kualitas layanan berpengaruh signifikan positif terhadap loyalitas nasabah sebesar 28,7% untuk bukti langsung, 44,4% kehandalan, 29% daya tanggap, 92% jaminan, 37,6% empati. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Diharapkan PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri untuk memperhatikan faktor bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati para nasabah untuk tetap loyal pada PT BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri. Hal tersebut dikarenakan faktor bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati berpengaruh terhadap loyalitas nasabah tabungan Simpedes PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri. Langkah nyata yang dapat dilakukan yaitu dengan menambah fasilitas ATM di PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri sehingga memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan. (2) Jaminan merupakan faktor yang paling dominan terhadap loyalitas nasabah tabungan Simpedes, untuk itu unsur dalam jaminan yang meliputi reputasi bank, perasaan nasabah tabungan Simpedes waktu menabung di bank dan sikap pegawai bank dalam memberikan rasa aman pada nasabah tabungan Simpedes diperhatikan oleh bank apabila ingin meningkatkan dan mempertahankan loyalitas nasabah Simpedes. (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menggunakan variabel bebas diluar variabel bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati, seperti keragaman produk, daya tahan atau ketahanan, dan lainnya yang berhubungan dengan loyalitas nasabah tabungan Simpedes PT. BRI Tbk Unit Pasar Baru Pare Kediri.

Studi komperatif prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa pada pembelajaran kooperatif model stad dengan pembelajaran konvensional pokok bahasan uang dan perbankan di kelas X SMA Negeri satu atap Maron Kabupaten Probolinggo / Fadlullah

 

Improving reading comprehension of the students of Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya through reading comprehension strategy of preques / Hermanto

 

In the context of English language teaching and learning, reading is a compulsory skill taught in school from primary to tertiary level. However, the result of the students’ reading performance is not as good as it is expected. Based on some studies, this condition happens because of some factors, among others, many students consider reading an uninteresting activity and they lack effective strategies in how to comprehend the text. In the case of ITS students, based the survey, the failure to get good score in reading comprehension is caused by some factors such as limited background knowledge and students’ lack of reading strategies. Consequently, their reading comprehension achievement was not satisfying. The preliminary study on reading comprehension achievement test done in class XI of TPB ITS second semester of the academic year 2007/2008 showed the average score is 68.8 with range of 56 in which the lowest score is 40 and the highest score is 96. To improve the situation, reading comprehension strategy of PreQueS, a strategy which is a combination of previewing, questioning, and summarizing was implemented so as to improve the reading comprehension ability of the students of ITS Surabaya. The study was conducted through collaborative Classroom Action Research (CAR) which consisted of four steps; namely, planning an action (preparing lesson plans, preparing the criteria of success and preparing the research instruments), implementing the plan, observing the action, and reflecting on the results. Reflection was done by comparing the results of the study with the determined criteria of success as follows: 1). the students were able to implement the reading comprehension strategy of PreQueS in their reading activity, 2).the students’ average reading comprehension grade improve from the base line of 68.8 (equal to B or category ‘Good’ based on the ITS Academic Regulation) to 71 (equal to AB or category ‘Very Good’ based on the ITS Academic Regulation), 3).The minimum grade the students got was 56 (equal to C or category ‘Fair’ based on the ITS Academic Regulation). After one cycle completed, the results of study showed two important aspects related to the implementation of the PreQueS strategy. First, it deals with the implementation of the PreQueS strategy by the teacher. From the four meetings that the teacher had executed throughout the research, she was able to introduce the strategy to the students. She was able to execute the steps required to implement the PreQueS strategy as they were planned on the teaching plans so that by the end of the research the students who did not know about the PreQueS strategy in the beginning of the research became knowledgeable with the strategy. Second, in terms of the students’ responses to the implementation of the strategy and their reading achievement, the findings showed that most of the students (73.5%) implemented the PreQueS strategy and 76.5% explicitly showed the way how to implement the strategy. The students’ achievement on reading comprehension tests conducted during the research also showed improvement from base line 68.8 to 81.3 at the end of the research. The minimum score was also increased from 40 (baseline) to 66 in the end of the cycle. The conclusion that could be drawn from the study was that the implementation of the reading comprehension strategy of PreQueS was able to solve the problems faced by the teacher in which the study was conducted in terms of two aspects. First aspect was developing an effective strategy in reading comprehension. Reading comprehension strategy of PreQueS which basically consisted of Previewing, Questioning, and Summarizing had been able to help students comprehend the text they read. Previewing helped them to be able to grasp the general content of the text by the text, so that they could anticipate what would be discussed on the text. Questioning help the students determine what they want to learn while reading. When they have set their purpose of reading, they would be more curious and enjoyed to read. Summarizing help the students construct their understanding of the text they read. The implementation of PreQueS strategy consisted of four stages: brain storming, modeling, group work, and individual work. Brain storming was useful to give students strong concept of reading comprehension strategy of PreQueS. Modeling was the step conducted by the teacher in order to give the students example of how to implement the PreQueS strategy. Group work was useful to enhance the students’ skill to apply the strategy. During this group work the students were guided by the teacher to practice implement the PreQueS strategy. The individual work was an independent practice of the PreQueS strategy. Second aspect was improving the students’ reading comprehension achievement. In terms of reading achievement, the improvement was shown by the increase on the grades that the students could achieve both the average score and the minimum score of the students. Knowing the good results of the study it is suggested that the students implement reading comprehension strategy of PreQueS in their reading. Teachers who teach students reading is also suggested to teach students reading comprehension strategy of PreQueS. Moreover, other researchers are suggested to make further research about PreQueS strategy in order to validate and develop the strategy. For that purpose, the support from the institution will be much needed.

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran think pair share (TPS) terhadap keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pujon dengan kemampuan akademik yang berbeda / Rudi Yulianto

 

ABSTRAK Yulianto, Rudi. 2009. Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Terhadap Keterampilan Metakognitif, Kemampuan Berpikir, dan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pujon dengan Kemampuan Akademik yang Berbeda. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. A.D Corebima, M.Pd, (II) Prof Dra. Herawati Susilo M.Sc., Ph.D. Kata kunci: TPS, keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir, pemahaman konsep, kemampuan akademik Kegiatan belajar yang dilaksanakan di sekolah dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses mencapai tujuan pembelajaran tersebut banyak hal yang patut diperhatikan oleh guru. Kebanyakan guru hanya mementingkan aspek kognitif yaitu pemahaman konsep saja dan melupakan aspek lain yang harus dikembangkan dalam diri siswa. Aspek yang harus dikembangkan dalam diri siswa yakni kemampuan berpikir dan keterampilan metakognitif siswa. Bila siswa memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik tentunya materi akan dapat dicerna dengan baik dan siswa dapat dengan lebih mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Siswa dengan keterampilan metakognitif yang baik akan mampu menjadi pebelajar yang mandiri. Siswa mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya sendiri. Selain kedua hal di atas, dalam kelas yang baik terdapat siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah. Diupayakan guru dapat dengan baik memberdayakan siswa berkemampuan akademik rendah sehingga memiliki hasil belajar yang sejajar dengan siswa berkemampuan akademik tinggi. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Pujon selama semester gasal 2007/2008. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 1 Pujon Kelas VII tahun ajaran 2007/2008. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A sebagai kelas kontrol dan siswa kelas VII E sebagai kelas eksperimen. Siswa kelas VIIA terdiri atas 32 orang sedangkan siswa kelas VII E terdiri dari 35 orang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian control group pre test post test. Data keterampilan metakognitif yang diperoleh dari hasil pre tes dan post tes dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik Anava, sedangkan data keterampilan metakognitif yang diperoleh dengan instrumen inventori, data kemampuan berpikir, dan data pemahaman konsep dianalisis dengan menggunakan teknik Analisis Anakova. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran TPS memiliki keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir yang lebih baik daripada siswa yang diajar dengan strategi konvensional. Rerata keterampilan metakognitif akhir kelas eksperimen sebesar 66,7 sedangkan kelas kontrol sebesar 53,67. Rerata kemampuan berpikir akhir kelas eksperimen sebesar 42,09 sedangkan kelas kontrol 36,45. Antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah tidak ada perbedaan keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikirnya. Hal ini menunjukkan kalau strategi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. pembelajaran yang dipakai mampu memberdayakan siswa berkemampuan akademik rendah sehingga setara dengan siswa berkemampuan akademik tinggi. Pemahaman konsep siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran TPS lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan strategi konvensional. Siswa berkemampuan akademik tinggi yang diajar dengan strategi pembelajaran TPS mengalami kenaikan pemahaman konsep sebesar 200,49% sedangkan yang berkemampuan akademik rendah sebesar 216,67%. Pada kelas kontrol, siswa berkemampuan akademik tinggi mengalami kenaikan pemahaman konsep sebesar 104,18% sedangkan siswa berkemampuan akademik rendah sebesar 115,38%. Siswa dengan kemampuan akademik tinggi memiliki pemahaman konsep yang lebih tinggi dari pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, terlihat bahwa strategi pembelajaran TPS dapat diandalkan dalam rangka meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep. Melihat fakta yang telah ditunjukkan, maka diharapkan guru dapat menerapkan penggunaan strategi pembelajaran TPS dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Selain itu pada penelitian ini strategi pembelajaran yang dipakai adalah strategi pembelajaran TPS, maka dapat dicobakan strategi pembelajaran lain untuk mengetahui pengaruhnya terhadap keterampilan metakogitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa pada siswa dengan kemampuan akademik yang berbeda.

Pengembangan media pembelajaran matakuliah Sistem Chasis berbasis e-learning menggunakan edmodo untuk Prodi Pendidikan Teknik Otomotif di Universitas Negeri Malang / Khusnaini

 

ABSTRAK Khusnaini. 2015. PengembanganMediaPembelajaranMatakuliahSistemChasis BerbasisE-learning MenggunakanEdmodountukProdiPendidikanTeknikOtomotif Di UniversitasNegeri Malang. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Drs. Marji, M.Kes., (2) Drs. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata Kunci:media pembelajaran, sistem chasis, e-learning, edmodo Pembelajaranadalahkegiatan guru secaraterprogramdalamdesaininstruksional, untukmembuatsiswabelajaraktif, yang menekankanpadapenyediaansumberbelajar. Disisi lain salahsatumatakuliah yang harusdikuasaimahasiswaProdi Pend. Teknik otomotifadalahsistemChasis (sistem kemudi dan sistem rem) yang wajibditempuhpada semester 5.Namun, pembelajaran dikelas bersifat konvensional dengan waktu waktu terbatas, sehingga membuat mahasiswa kurang aktif dan termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi dengan kemampuan mahasiswa untuk mengakses internet merupakan dukungan untuk memanfaatkan media pembelajaran berbasis e-learning menggunakan edmodo.Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah : (1) Untukmenghasilkanmodel pembelajarane-learningmenggunakanedmodountukmatakuliahsistemchasis. (2) Untukmengetahuiefektifitas model pembelajarane-learningmenggunakanedmododalampembelajaransistemchasis di Program StudiPendidikanTeknikOtomotifUniversitasNegeri Malang. Metode penelitian pengembangan yang digunakan mengadopsi dari tahapan ADDIE yaitu: analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini berupa kuisioner yang telah telah divalidasi oleh ahli instrumen. Instrumen kemudian diberikan kepada ahli media, ahli materi, uji kelompok kecil dan uji lapangan berupa pre test dan post test terhadap 15 mahasiswa. Jenis data yang diperoleh berupa data kualitatif hasil wawancara pada tahap analysisdan data kuantitatif untuk menilai kevalidan produk media yang dihasilkan. Hasil validasi angket instrumen menunjukkan skor 100 %, validasi ahli media menunjukkan skor 91 %, validasi ahli materi menunjukkan skor 94,5 %, uji coba kelompok kecil menunjukkan skor 70,4 %, dan hasil pre test dan post test pada uji lapangan mampu meningkatkan prestasi belajar mahasiswasebesar 15,34 %. Kesimpulan dari penilaian keseluruhan media pembelajaran yang dikembangkan adalah valid dan layak digunakan. Hasil revisi media ini meliputi: penulisan dalamsoalevaluasi serta tatapenulisanmodul.

Penerapan pembelajaran ekonomi dengan pendekatan konstruktivitik melalui metode penemuan atau inkuiri untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di MAN Malang I / Zulfaa Arnasari

 

Konsep belajar mengajar adalah siswa sebagai subyek belajar bukan obyek belajar. Hal terpenting dalam interaksi belajar mengajar adalah guru tidak mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreatifitasnya melalui kegiatan belajar. Oleh karena itu, guru sebagai seorang pengajar harus dapat menyediakan kondisi yang merangsang dan mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi. Kegi-atan belajar mengajar dikatakan telah terlaksana dengan baik apabila guru dalam proses belajar mengajar bukan hanya memberi pengetahuan saja melainkan juga menyiapkan situasi yang menggiring siswa terlibat didalamnya baik dengan ber-tanya, mengamati, mengadakan eksperimen serta menentukan fakta dan konsep sendiri. Adanya pembaharuan dalam pendidikan saat ini terutama bidang kuri-kulum, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang lebih menitik-beratkan pada peran aktif siswa dalam proses pembelajaran serta pembelajaran kontekstual, dapat menjadi jalan untuk melaksanakan interaksi edukatif yang lebih menyenangkan bagi siswa dengan menekankan peran aktif siswa dalam pro-ses pembelajaran dengan mengajak siswa mengkonstruksi pengetahuannya se-hingga siswa dapat termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan akhirnya akan mendapatkan prestasi belajar yang optimal. Dari keadaan diatas maka siswa membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya, yaitu metode pembelajaran yang lebih menarik, lebih menyenangkan, dan lebih menekankan keaktifan siswa sehingga dapat memberikan pengalaman nyata dan menghasilkan individu atau anak yang memiliki konsep-konsep sehingga dapat menyelesaikan setiap persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari berbagai sudut pandang. Salah satu metode pembelajaran tersebut adalah pembelajaran konstruktivistik melalui metode penemuan (inkuiri). Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan analisis kuali-tatif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Peristiwa yang dimaksud adalah proses pelaksanaan langkah pembelajaran yang diterapkan di kelas, kegiatan belajar siswa dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran ekonomi. Penelitian ini dilakukan di MAN Malang I Penelitian ini dilaksanakan di MAN Malang I, yaitu di jalan Baiduri Bulan no 40 Malang. Penelitian ini dilaksa-nakan di kelas X semester I pada tahun ajaran 2008/2009. Analisis data untuk mengetahui prestasi belajar siswa adalah dari hasil ketuntasan belajar dari konsep permintaan dan penawaran, elastisitas dan harga keseimbangan yang terdiri dari tes pemahaman konsep dan studi kasus artikel dari masing-masing konsep. Selan-jutnya untuk mengetahui motivasi belajar siswa, dengan menggunakan angket/ kuesioner dan untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan prestasi belajar dengan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan prestasi belajar siswa selama pemberian tindakan, yaitu dari siklus I ke siklus II sebesar 21.60%. Prestasi belajar siswa dapat dilihat dari nilai ketuntasan belajar terhadap pokok bahasan permintaan dan penawaran pada siklus I adalah 70.83%. Siswa yang mencapai ketuntasan belajar berjumlah 23 siswa atau 63.89% dari jumlah siswa secara keseluruhan. Sehingga ada 13 atau 36, 11% siswa yang ketuntasan bela-jarnya dibawah rata-rata (≤ 71) dari jumlah siswa keseluruhan. Selanjutnya, per-sentase ketuntasan belajar siswa terhadap pokok bahasan elastisitas pada siklus I ini adalah 74. 44%. Siswa yang mendapat nilai diatas nilai rata-rata adalah 26 siswa atau 72.22% dari jumlah siswa secara keseluruhan. Sehingga ada 10 siswa atau 27.78% siswa yang ketuntasan belajarnya dibawah <71 dari jumlah keselu-ruhan. Ketuntasan belajar siswa terhadap pokok bahasan harga keseimbangan sebesar 84.24%. Siswa yang nilainya diatas rata-rata (≤ 71) adalah 34 siswa atau 94.44% % dari jumlah keseluruhan, sedangkan yang nilainya dibawah rata-rata ada 2 siswa dengan persentase 5.56%. Dari data tesebut dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar siswa terhadap konsep harga keseimbangan pada siklus II ini meningkat dari sebelumnya pada ketuntasan belajar siswa terhadap konsep permintaan dan penawaran dan elastisitas pada siklus I. Dari hasil pengamatan motivasi belajar pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus II dari-pada siklus I. Pada siklus II jumlah siswa yang tergolong motivasi belajarnya sangat tinggi meningkat dari 2 siswa pada siklus I menjadi 10 siswa pada siklus II dan bagi siswa yang tergolong motivasi belajarnya tinggi mengalami kenaikan da-ri 14 siswa pada siklus I menjadi 18 siswa pada siklus II. Selanjutnya pada siklus II jumlah siswa yang tergolong motivasi belajarnya cukup mengalami penurunan yaitu 17 pada siklus I menjadi 8 pada siklus II. Sedangkan pada siklus II untuk kategori motivasi rendah dan sangat rendah adalah 0 siswa. Selanjutnya tentang hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar yang hitung dengan koefisien korelasi adalah 0. 817 dan 0. 393. Arah hubungan yang positif menun-jukkan hubungan yang sangat erat, artinya semakin besar motivasi belajar siswa akan membuat prestasi belajar siswa cenderung meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik melalui metode penemuan (inkuiri) mampu meningkatkan prestasi belajar siswa di MAN Malang I. Disarankan kepada guru/praktisi pendidikan untuk dapat menerapkan pembelajaran dengan pendeka-tan konstruktivistik melalui metode penemuan (inkuiri) sebagai salah satu alter-natif metode pembelajaran ekonomi di SMA. Bagi peneliti lain apabila mengi-nginkan untuk meneliti lebih lanjut diharapkan untuk dikembangkan dan diterap-kan pada pokok bahasan yang lain yang memungkinkan diterapkannya metode penemuan menggunakan pendekatan konstruktivistik. Selanjutnya bagi siswa, dengan metode pembelajaran ini dapat mempelajari pelajaran ekonomi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dengan melakukan kegi-atan observasi dan analisis sehingga pelajaran ekonomi dapat lebih menarik untuk dipelajari dan siswa dapat lebih memahami pelajaran ekonomi secara konkrit.

Pengaruh jenis mikroba pada beberapa klon tebu terhadap efesiensi fermentasi bipetanol dari nira dan tetes tebu / Evi Dwi Arianti

 

Bioetanol adalah etanol hasil proses fermentasi karbohidrat dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Fermentasi etanol dipengaruhi oleh jenis medium dan mikroorganisme yang digunakan. Untuk meningkatkan produksi etanol dan efisiensi fermentasi perlu didapatkan medium yang tepat serta isolat-isolat mikroorganisme yang tepat. Oleh sebab itu dilakukan fermentasi menggunakan berbagai macam medium yaitu nira tebu klon A, B, C, D dan tetes tebu dari pabrik gula Kebon Agung dengan menggunakan mikroba yang berbeda yaitu Saccharomyces cerevisiae strain murni Scr dan K1 serta ragi roti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar etanol dan efisiensi fermentasi berbagai jenis nira tebu klon A, B, C, D dan tetes tebu jika difermentasi menggunakan berbagai macam mikroba yaitu Saccharomyces cerevisiae strain murni Scr dan K1 serta ragi roti. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang terdiri dari tiga tahap yaitu tahap persiapan sampel, tahap pembiakan mikroba, dan tahap fermentasi. Tahap persiapan sampel meliputi penggilingan tebu sehingga menghasilkan nira perahan pertama (NPP) dilanjutkan dengan pretreatment dan sterilisasi, nira hasil sterilisasi dianalisis % Briks, % TSAI, pH, fosfat, NFS, dan kadar abu. Fermentasi dilakukan selama 72 jam dengan pengambilan sampel setiap 4 jam. Tiap sampel dianalisis %Briks, %TSAI, pH, OD, dan pada akhir fermentasi dianalisis kadar etanol yang dihasilkan setelah melalui destilasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kadar etanol hasil fermentasi nira A, B, C, D dan tetes tebu menggunakan Saccharomyces cerevisiae strain Scr sebesar 7,78%; 7,63%; 9,32%; 7,87% dan 7,20% dengan efisiensi fermentasi berturut-turut sebesar 61,33%; 67,38%; 66,06%, 61,98% dan 78,09%. Kadar etanol hasil fermentasi nira A, B, C, D, dan tetes tebu menggunakan Saccharomyces cerevisiae strain K1 berturut-turut sebesar 7,60%; 7,60%, 8,62%; 7,86%; dan 8,20% dengan efisiensi fermentasi berturut-turut sebesar 58,01%; 66,14%; 62,74%; 62,53% dan 90,58%. Kadar etanol hasil fermentasi nira A, B, C, D, dan tetes tebu menggunakan ragi roti sebesar 12,54%; 8,70%;10,87%; 9,38% dan 10,40% dengan efisiensi fermentasi berturut-turut sebesar 68,71%; 74,55%; 69,28%; 56,35% dan 97,08%. Kadar etanol tertinggi diperoleh pada fermentasi nira A menggunakan ragi roti, sedangkan efisiensi fermentasi tertinggi diperoleh jika tetes tebu difermentasi menggunakan ragi roti.

Studi kemampuan guru administrasi perkantoran dalam menyusun perangkat pembelajaran mata pelajaran manajemen perkantoran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMK Bisnis dan Manajemen se-kota Malang / M. Afifudin Al-Musyadat

 

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah merubah kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2004 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Perubahan kurikulum menimbulkan banyak permasalahan, antara lain belum siapnya guru dalam melaksanakan aturan-aturan dalam kurikulum baru. Untuk mengetahui apakah guru-guru mata pelajaran manajemen perkantoran di SMK Bisnis dan Manajemen se-Kota Malang telah mengimplementasikan KTSP, maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini terkait dengan tugas guru yang terdiri dari tiga hal, yaitu: perencanaan kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan evaluasi yang sesuai dengan KTSP Subyek penelitian ini adalah guru mata pelajaran manajemen perkantoran di SMK Bisnis dan Manajemen se-Kota Malang yang berjumlah 14 guru. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, dokumentasi dan wawancara bebas. Analisa data dilakukan dengan menggunakan perhitungan persentase jawaban responden dan pemberian rangking pada tiap variabelnya. Analisis data dilakukan dengan mendiskripsikan dan disimpulkan sehingga di peroleh informasi tentang kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran mata pelajaran manajemen perkantoran oleh guru administrasi perkantoran di SMK Bisnis dan Manajemen se-Kota Malang yang sesuai denagan KTSP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat perencanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukanoleh guru mata pelajaran manajemen perkantoran di SMK Bisnis dan Manajemen se-Kota Malang adalah 81,10% dengan kualifikasi sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari pembuatan perangkat pembelajaran yang sudah sesuai dengan KTSP. Namun demikian, masih ada beberapa guru yang mengalami kesulitan dalam membuat komponennya khususnya alokasi waktu, pengalaman belajar dan strategi pembelajaran. Tingkat pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran manajemen perkantoran di SMK Bisnis dan Manajemen se-Kota Malang adalah 74,44% dengan kualifikasi baik. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, media dan sarana belajar yang bervariasi serta proses pembelajaran yang sesuai dengan KTSP. Walaupun demikian masih ada guru yang mengalami kesulitan dalam penerapan pendekatan belajar dan metode belajar yang sesuai KTSP karena minimnya sarana pendukung dan keterbatasan waktu. Tingkat Evaluasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran manajemen perkantoran di SMK Bisnis dan Manajemen se-Kota Malang adalah 75% dengan kualifikasi baik. Hal ini dapat dilihat dari jenis penilaian yang digunakan, penyusunan instrumen penilaian sudah mencakup tiga aspek penilaian sesuai dengan KTSP yaitu aspek pengetahuan, sikap dan praktek. Namun demikian, ada beberapa guru yang masih mengalami kesulitan dalam menyusun instrumen penilaian khususnya membuat kisi-kisi soal, pedoman penskorannya serta penentuan indikator yang dinilai. Dari penelitian ini, penulis memberikan beberapa catatan sebagai saran yang bisa digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penelitian ini, adalah sebagai berikut : (1) Untuk guru-guru manajemen perkantoran agar lebih aktif dalam mencari informasi tentang KTSP, baik melalui aktif dalam kegiatan MGMP, pelatihan maupun mencari informasi melalui buku serta internet supaya mendapatkan tambahan bekal KTSP yang lebih banyak lagi, sesering mungkin berlatih menciptakan kreatifitas dalam upaya untuk menggali pengalaman belajar siswa menggunakan pendekatan belajar serta metode pembelajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, dapat menciptakan media pembelajaran dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan melakukan evaluasi program pada akhir tahun sehingga dapat meningkatkan sistem pembelajaran yang diterapkan selama proses berlangsung; (2) Untuk pihak sekolah mengusahakan tersedianya sarana dan prasarana sekolah baik dari Depdiknas maupun pihak lain guna melengkapi kebutuhan siswa, mengadakan sosialisasi tentang KTSP; (3) Untuk Depdiknas sesering mungkin memantau langsung dan melakukan evaluasi terhadap implementasi KTSP dan memberikan bantuan kepada sekolah dengan mengadakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sekolah terutama kepada sekolah yang baru berdiri.

Perancangan media komunikasi visual panduan perawatan gigi dan gusi anak / Marita Siswaraningsih

 

Berdasarkan temuan dari beberapa penelitian dan situasi konkrit masyarakat Indonesia, kesadaran untuk merawat dan memelihara kesehatan gigi dan gusi dari berbagai tingkatan usia masih perlu dikembangkan. Perawatan gigi sejak dini sangat penting untuk menghindari proses kerusakan gigi.Pengenalan cara perawatan gigi pada anak-anak ini sangat baik jika dilakukan pada usia mulai balita dan lebih baik lagi jika diterapkan dan diperkenalkan pada usia SD. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) sebagai salah satu lembaga perkumpulan bagi dokter gigi yang fokus dalam masalah ini, diperoleh data bahwa sekitar 60% kaum ibu baru mengetahui adanya masalah dengan gigi anak-anak mereka bila anak-anak memberitahukan keluhan yang terjadi pada giginya. Hal ini membuktikan bahwa fakta yang ada dimasyarakat, masih kurangnya perhatian orang tua terhadap kesehatan gigi dan gusi anak. Dari permasalahan diatas dapat kita lihat bahwa dibutuhkan media yang dapat membantu anak-anak untuk belajar bagaimana merawat giginya dengan baik dan benar. Media yang tepat digunakan adalah media komunikasi visual panduan perawatan gigi dan gusi anak. Untuk menghasilkan media tersebut digunakan pendekatan ilmiah yaitu mendapatkan data-data literature yang relevan bagi perancangan, dan media yang dibuat haruslah sesuai dengan karakteristik anak-anak SD usia 7 tahun keatas. Perancangan yang dibuat menggunakan model perancangan prosedural. Prosedur perancangan yang dilakukan adalah pertama yaitu melakukan observasi dengan melakukan pencarian data melalui internet hingga buku sumber yang ada dan selanjutnya adalah melakukan wawancara terhadap dokter gigi yang tergabung dalam PDGI. Hasil perancangan ini terdiri atas media utama dan media pendukung. Media utama berupa buku panduan bergambar perawatan gigi dan gusi anak-anak beserta kemasan bukunya. Dipilihnya media buku panduan bergambar dikarenakan buku panduan bergambar ini tidak saja dapat menyampaikan informasi dan materi namun juga menyajikan visualisasi yang menarik sehingga diharapkan dapat disukai anak-anak. Media lainnya yang digunakan adalah media pendukung yang juga berfungsi mempromosikan media utamanya yaitu berupa billboard, iklan majalah, iklan koran, brosur, poster, leaflet, x banner, horizontal banner, kaos mechandise, tempat sikat dan pasta gigi, pin, stiker, notebook kecil, kalender, sikat gigi, tas merchandise, kaos event dan backdrop. Jika dilihat dari informasi yang disampaikan oleh media utama, perancangan ini dinilai efektif dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya anak anak serta orangtua yang peduli terhadap kesehatan gigi anaknya. Meskipun demikian, disarankan agar media ini nantinya perlu dilakukan perbaikan lagi dalam segi kualitas dikarenakan masih adanya beberapa kekurangan dalam media ini.

Pemanfaatan menulis jurnal untuk meningkatkan kemampuan menulis kreatif cerpen berdasarkan pengalaman pribadi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kediri / Suska Kusuma N.P.

 

ABSTRAK Kusuma N.P., Suska. 2008. Pemanfaatan Menulis Jurnal untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Kreatif Cerpen berdasarkan Pengalaman Pribadi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kediri. Skripsi, Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Nurhadi, M.Pd. Kata kunci: menulis jurnal, menulis kreatif, cerpen, pengalaman pribadi Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA dan MA disebutkan bahwa keterampilan menulis kreatif cerpen berdasarkan pengalaman pribadi wajib dikuasai oleh siswa kelas X SMA dan MA. Tujuannya agar siswa dapat mengenal, memahami, dan mampu menulis kreatif cerpen. Berdasarkan hasil studi pendahuluan mengenai keterampilan menulis kreatif cerpen yang dilakukan pada siswa kelas X-Smart 1 SMA Negeri 1 Kediri, siswa mempunyai beberapa kesulitan yaitu: menemukan ide yang kreatif dan segar, mengaplikasikan unsur-unsur pembangun cerpen, menggunakan pilihan kata, ejaan, tanda baca yang tepat dan benar, dan mengaplikasikan pengalaman pribadi siswa ke dalam cerpen. Dalam proses pembelajaran, guru tidak memberikan materi yang cukup tentang menulis cerpen dan belum membimbing siswa selama proses menulis. Oleh karena itu, siswa terlihat kurang termotivasi dan kurang aktif selama proses pembelajaran. Kondisi tersebut, dapat diatasi jika guru mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah merencanakan strategi belajar yang menarik, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dengan memanfaatkan strategi menulis jurnal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis kreatif cerpen dengan memanfaatkan menulis jurnal pada tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dalam dua pertemuan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan berurutan. Penelitian ini meliputi beberapa tahap, yaitu: studi pendahuluan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi, dan refleksi. Penelitian pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2008 dan 1 November 2008, sedangkan siklus II dilaksanakan tanggal pada 12 November 2008 dan 13 November 2008. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-Smart 1 SMA Negeri 1 Kediri yang berjumlah 22 anak. Sumber data penelitian adalah kata-kata dan tindakan yang dilakukan siswa dan guru selama proses pembelajaran menulis kreatif cerpen berdasarkan pengalaman pribadi siswa dengan memanfaatkan menulis jurnal. Data penelitian meliputi data verbal berwujud tuturan lisan selama proses dan hasil tertulis peningkatan keterampilan menulis kreatif cerpen. Data nonverbal berupa rekaman tindakan siswa dalam foto dan tindakan yang ditranskripsikan pada pedoman obvervasi dan catatan lapangan. Data diperoleh melalui instrumen utama, yaitu peneliti dibantu guru dan teman sejawat, sedangkan instrumen penunjang berupa pedoman wawancara guru, angket siswa, lembar kerja siswa, pedoman observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan untuk mengetahui proses dan hasil keterampilan menulis kreatif cerpen siswa. ii Berdasarkan hasil analisis data proses peningkatan keterampilan menulis kreatif cerpen siswa dengan memanfaatkan menulis jurnal dapat ditarik kesimpulan berikut. Proses peningkatan keterampilan menulis kreatif cerpen dengan memanfaatkan menulis jurnal pada tahap pra menulis dilakukan dengan (1) mengidentifikasi pengalaman pribadi yang pernah dialami siswa; (2) memilih pengalaman pribadi yang menarik untuk dijadikan cerpen; dan (3) membuat kerangka cerpen berdasarkan pengalaman pribadi yang telah dipilih siswa. Pada tahap menulis, peningkatan keterampilan menulis kreatif cerpen dengan memanfaatkan menulis jurnal dilakukan dengan cara mengembangkan kerangka cerpen yang telah dibuat pada kegiatan pra menulis, yaitu mengembangkan tema, penokohan, latar, dan alur. Pada tahap pasca menulis, menulis jurnal untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen dilakukan dengan kegiatan penyuntingan dan pemublikasian cerpen siswa. Berdasarkan analisis hasil pemanfaatan menulis jurnal pengalaman pribadi, keterampilan yang berkembang pada tahap pra menulis yaitu keterampilan menyusun kerangka cerpen dengan menentukan tema cerpen, menentukan judul cerpen yang menggambarkan tema atau peristiwa penting dalam cerpen, menentukan penokohan dalam cerpen, menentukan latar cerpen, dan menentukan alur cerpen. Pada tahap menulis, pemanfaatan menulis jurnal pengalaman pribadi dapat (1) meningkatkan keterampilan siswa dalam mengembangkan kerangka cerpen yang lengkap, rinci, dan sesuai dengan kerangka cerpen yang telah dibuat; (2) meningkatkan keterampilan siswa dalam mengembangkan peristiwa dengan narasi yang runtut, utuh dan padu yang dibangun dengan konflik paling menarik sehingga menimbulkan suspense; mendeskripsikan latar yang memberikan kesan realistis dan menciptakan suasana yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi; menggambarkan dialog dan monolog yang mendukung dan memperkuat pengembangan alur cerpen, memperkuat penggambaran karakter tokoh cerpen, dan latar cerpen; (3) meningkatkan keterampilan penggunaan ejaan dan tanda baca dengan baik yang ditandai dengan rendahnya kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca yang dilakukan oleh siswa (tidak lebih dari 15 kesalahan). Pada tahap pasca menulis, pemanfaatan menulis jurnal pengalaman pribadi dapat meningkatkan keterampilan menyunting yang memungkinkan siswa untuk mengoreksi hasil karangan temannya sehingga siswa juga mengetahui kesalahan dan kekurangan pada hasil cerpen mereka, serta memublikasikan cerpen karya mereka dengan cara membacakannya di depan kelas. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru Bahasa Indonesia untuk memanfaatkan menulis jurnal dalam meningkatkan kemampuan menulis kreatif cerpen berdasarkan pengalaman pribadi siswa. Kepada penulis buku ajar disarankan untuk menjadikan temuan ini sebagai alternatif strategi pembelajaran menulis kreatif cerpen. Kepada peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan dan gambaran mengenai masalah yang sejenis, dan disarankan agar mengembangkan strategi menulis jurnal ini pada kompetensi pembelajaran sastra yang lain.

Penerapan pendekatan problem terbuka (Pen-ended) pada pembelajaran fisika untuk meningkatkan hard skills dan soft skills siswa kelas X-C MAN 3 Malang / Dian Pradugawati

 

ABSTRAK Pradugawati, Dian. 2009. Penerapan Pendekatan Problem Terbuka (Open-ended) pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hard Skills dan Soft Skills Siswa Kelas X-C MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarjono, (II) Drs. Purbo Suwasono, M.Si. Kata kunci: hard skills, pendekatan problem terbuka (open-ended), soft skills. Hasil observasi pembelajaran Fisika di kelas X-C, MAN 3 Malang, menunjukkan bahwa kemampuan berpikir dan kemampuan komunikasi siswa kurang. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan pendekatan open-ended dalam pembelajaran. Pendekatan tersebut mampu melatih kemampuan berpikir dan kemampuan komunikasi siswa. Penelitian ini memiliki tiga tujuan. Pertama, penelitian ini dilaksanakan untuk mengukur keterlaksanaan pendekatan openended dalam pembelajaran Fisika. Kedua, penelitian ini dilaksanakan untuk mengukur peningkatan hard skills siswa setelah pelaksanaan pendekatan openended dalam pembelajaran Fisika. Ketiga, penelitian ini dilaksanakan untuk mengukur peningkatan soft skills siswa setelah pelaksanaan pendekatan openended dalam pembelajaran Fisika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Data keterlaksanaan pembelajaran Fisika dengan pendekatan open-ended dikumpulkan melalui teknik observasi. Data hard skills siswa diperoleh melalui pelaksanaan pascates. Data soft skills siswa diperoleh melalui teknik observasi pada saat pelaksanaan diskusi grup. Rerata keterlaksanaan pendekatan open-ended pada siklus pertama mencapai 78%. Rerata keterlaksanaan pendekatan open-ended pada siklus kedua mencapai 95%. Peningkatan rerata keterlaksanaan pendekatan open-ended terjadi setelah diberikan tindakan dalam langkah-langkah pendekatan open-ended. Rerata hard skills siswa sebelum pelaksanaan siklus pertama mencapai 77. Rerata hard skills siswa setelah pelaksanaan siklus pertama mencapai 88. Rerata hard skills siswa setelah pelaksanaan siklus kedua mencapai 97. Peningkatan rerata hard skills siswa terjadi setelah diberikan tindakan pelaksanaan pendekatan open-ended dan pembentukan kelompok diskusi secara merata. Rerata soft skills siswa pada pelaksanaan siklus pertama adalah 61%. Rerata soft skills siswa pada pelaksanaan siklus kedua adalah 80%. Peningkatan rerata soft skills siswa terjadi setelah diberikan tindakan pelaksanaan pendekatan open-ended dan memberikan motivasi bagi siswa untuk dapat lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Keterlaksanaan pendekatan open-ended di kelas X-C MAN 3 Malang mengalami peningkatan dari siklus pertama ke siklus kedua sebesar 17%. Pendekatan open-ended dapat meningkatkan rerata hard skills siswa kelas X-C MAN 3 Malang dari sebelum pelaksanaan siklus pertama ke setelah pelaksanaan siklus pertama sebesar 11 poin. Pendekatan open-ended dapat meningkatkan rerata hard skills siswa kelas X-C MAN 3 Malang dari setelah pelaksanaan siklus pertama ke setelah pelaksanaan siklus kedua sebesar 9 poin. Pendekatan openended dapat meningkatkan rerata soft skills siswa kelas X-C MAN 3 Malang dari siklus pertama ke siklus kedua sebesar 19%.

Penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas V SDN Pancur 01 Pasuruan / Umiarsih

 

Pemerintah bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Cara yang ditempuh oleh pemerintah adalah memberikan bantuan operasional sekolah. Harapan pemerintah, agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan masalah biaya pendidikan dan kemampuan siswa dapat berkembang di sekolah. Hal ini tidak sesuai dengan harapan pemerintah, bahwa hasil nilai Ujian Akhir Semester I tahun ajaran 2008/2009 di SDN Pancur 01 nilai rata-rata IPS kelas V mencapai 50. Ini berarti tidak sesuai dengan ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh SDN Pancur 01 untuk mata pelajaran IPS adalah 60. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru mengajar tidak membuat RPP namun hanya mengisi jurnal dan tidak menggunakan media dalam mengajar. Siswa dalam kegiatan belajar di kelas bersikap pasif. Untuk itu dalam penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang diadakan guru dengan menggunakan media gambar seri dan menemukan dapat atau tidaknya penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan hasil belajar pokok bahasan peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia mata pelajaran IPS siswa kelas V SDN Pancur 01. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif, yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Penelitian ini diadakan di SDN Pancur 01 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan. Siswa kelas V SDN Pancur 01 berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Pengumpulan data dalam tindakan ini adalah tes tulis, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis dekriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses guru mengajar menggunakan media gambar seri pada siklus I yaitu dengan memanjang gambar di papan tulis, mengadakan tanya jawab dengan siswa, dan guru menjelaskan gambar seri. Pada siklus II media gambar seri dipajang di papan tulis dan meminta siswa untuk bercerita tentang gambar seri. Hasil tes tulis pada kegiatan pra tindakan mencapai nilai rata-rata 4,35 menjadi 63 pada siklus I dan menjadi 75 pada siklus II . Aktivitas siswa pada siklus I mencapai 58,93% menjadi 80,35% pada siklus II. Ada 2 kelompok yang belum tuntas belajar dan ada 6 siswa juga yang belum tuntas belajar. Hal ini terjadi pada siklus I, namun pada siklus II semua kelompok dan semua siswa belajar dengan tuntas.Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan hasil belajar pokok bahasan peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia mata pelajaran IPS siswa kelas V SDN Pancur 01. Disarankan bagi guru SD yang mengajar IPS dengan materi sejarah sebaiknya menggunakan media gambar seri. Dengan adanya media materi dapat tersampaikan dengan jelas dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kepada peneliti lain, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan petimbangan untuk penelitian lebih lanjut.

Pelaksanaan bauran promosi pada PT. Arta Boga Cemerlang Depo Blitar sebagai distributor produk-produk orang tua grup / Hersandi Dwi Muliana

 

Promosi merupakan salah satu bagian penting dari bauran pemasaran, dengan adanya promosi maka pelanggan atau calon pembeli dapat mengetahui informasi mengenai produk suatu perusahaan. Alat untuk melakukan kegiatan promosi disebut bauran promosi Periklanan merupakan salah satu bauran promosi yang dilakukan suatu perusahaan untuk mengenalkan produk atau jasanya secara massal melalui media. Promosi penjualan merupakan salah satu alat dari bauran promosi yang melakukan promosi secara massal selain iklan. Publisitas merupakan bauran promosi yang mengarah kepada menjalin hubungan terhadap masyarakat untuk mendapatkan citra perusahaan. Penjualan perseorangan merupakan bauran promosi yang melakukan promosi secara personal langsung bertatap muka dengan pelanggan. Pelaksanaan bauran promosi yang dilakukan PT. Arta Boga Cemerlang Depo Blitar meliputi: (1) Promosi penjualan, dengan memberikan tawaran pengembalian atau rabat dan memberikan barang promosi. (2) Penjualan perseorangan, yaitu melalui duta arta sebagai sales dari PT. Arta Boga Depo Blitar. (3) Publisitas, dengan adanya duta arta masyarakat di sekitar akan mengenal PT. Arta Boga Cemerlang Depo Blitar. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi bauran promosi yang dilakukan oleh PT. Arta Boga Cemerlang Depo Blitar, diantaranya: (1) Penyampaian pesan yang efektif kepada pelanggan atau calon pelanggan. (2) Metode anggaran promosi yang dipakai yaitu metode anggaran tujuan dan tugas. (3) Strategi dorong yang digunakan PT. Arta Boga Cemerlang Depo Blitar. (4) Penggunaan teknologi informasi oleh PT. Arta Boga Cemerlang Depo Blitar. Saran untuk perusahaan yang diberikan penulis antara lain: (1) Perusahaan melakukan analisa pasar, (2) Melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap kegiatan-kegiatan promosi, (3) Perusahaan menambah kegiatan promosinya, dan (4) perusahaan hendaknya memberikan informasi yang lebih kepada mahasiswa peserta PKL.

Kajian grafik pengendali dan analisis kemampuan proses berbasis distribusi weibull (Studi kasus pada data livabilitas semua sapi BBIB Singosari) / Yaya Qalbiyah Harisanti

 

Kualitas didefinisikan sebagai konsistensi peningkatan atau perbaikan dan penurunan variasi karakteristik suatu produk (barang dan jasa) yang dihasilkan, agar memenuhi kebutuhan yang telah dispesifikasikan guna meningkatkan kepuasan konsumen. Untuk mengetahui apakah suatu produk sudah sesuai atau belum maka perlu dilakukan pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas adalah suatu metodologi pengumpulan dan analisis data kualitas, serta penentuan dan interpretasi pengukuran-pengukuran yang menjelaskan tentang proses dalam suatu industri, untuk meningkatkan kualitas guna memenuhi kebutuhan konsumen. Pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan analisis grafik pengendali dan analisis kemampuan proses statistik. Sebelum melakukan pengendalian kualitas harus diketahui distribusi data. Apabila asumsi normal tidak terpenuhi salah satu pendekatan distribusi yang dapat dilakukan dengan pendekatan distribusi Weibull. Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data livabilitas semen sapi. Pendekatan dengan distribusi Weibull menghasilkan parameter skala , dan parameter bentuk . Hasil batas-batas grafikpengendali distribusi Weibull yaitu UCL= 86,8781; LCL=50,1971; Center Line= 74,34 dengan membangun grafik pengendali berbasis distribusi Weibull diperoleh data livabilitas terkendali secara statistik. Hasil analisis kemampuan proses berbasis distribusi Weibull diperoleh nilai Pp=1,67204 menunjukkan bahwa proses berjalan dengan sangat baik; dan nilai Ppk=1,61594 menunjukkan bahwa tingkat presisi dan akurasi proses sangat baik serta variasi proses semuanya berada dalam batas-batas yang telah ditentukan perusahaan. Hasil Expected Overall Performance, PPM USL= 0, hal ini berarti bahwa apabila produksi 1.000.000 produk maka 0 produk berada di luar batas spesifikasi atas perusahaan. PPM Total= 53,9759 (dari 53,9759 dibulatkan menjadi 54), hal ini berarti bahwa jumlah produk yang berada di luar batas spesifikasi atas dan bawah perusahaan adalah 54 produk dari 1.000.000 produk yang dihasilkan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |