Implementasi metode ceramah dan model pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning) pada mata pelajaran bekerjasama dengan pelanggan dan kolega untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas X APK SMK sore Probolinggo / Dina Duwi Prahesti

 

ABSTRAK Prahesti, Dina Duwi. 2010. Implementasi Metode Ceramah dan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pada Mata Pelajaran Bekerjasama dengan Pelanggan dan Kolega Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas X APK SMK Sore Probolinggo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si, (II) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata kunci: implementasi, metode ceramah dan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), Minat, Hasil belajar. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di kelas X APK SMK Sore Probolinggo diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan oleh guru selama ini masih belum menerapkan PBL secara keseluruhan, peran guru masih sangat dominan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pemberian tugas. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini diindikasikasikan sebagai penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa. Atas dasar inilah, maka penelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas pembelajaran baik oleh guru maupun siswa, minat belajar siswa, hasil belajar siswa dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK Sore Probolinggo yang berjumlah 40 siswa yang dilakukan mulai tanggal 14 Juli sampai dengan 18 Agustus 2009. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi penilaian ranah afektif, lembar observasi penilaian ranah psikomotorik, lembar wawancara guru, angket minat belajar siswa dan tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor persentase keberhasilan tindakan guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 23,08%, sedangkan hasil observasi aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II tampak adanya peningkatan, dimana pada tahap I tetap, tahap 2 mengalami peningkatan sebesar 16,67%, tahap III terjadi peningkatan sebesar 15%, tahap IV terjadi peningkatan sebesar 33,3% dan tahap V terjadi peningkatan sebesar 20%. Peningkatan minat belajar siswa dapat diketahui dari meningkatnya skor angket minat dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 9%. Meningkatnya hasil belajar siswa dari ranah kognitif dapat diketahui dari peningkatan nilai Pre test ke Post Test, pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 5,65% sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 4,15%. Untuk ranah afektif , terjadi peningkatan sebesar 9,68%. Dan ranah psikomotorik terjadi peningkatan sebesar 15%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan, (1) Model pembelajaran berbasis masalah (PBL) bisa digunakan oleh guru sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat diaplikasikan pda proses pembelajaran guna lebih meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, (2) Dalam penerapan model pembelajaran model PBL, siswa harus didorong untuk memperkaya pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dan terarah, (3) Dalam kegiatan kelompok, setiap anggota kelompok hendaknya memperoleh kesempatan untuk menyajikan hasil kajian dan analisis masalah serta alternatif pemecahannya untuk dibahas secara kritis oleh kelompok, (4) Dalam menerapkan model pembelajaran PBL hendaknya diperhatikan tingkat kualitas siswa (input), (5) Dalam menerapkan model PBL membutuhkan alokasi waktu yang relatif agak lama. Hendaknya guru memperhitungkan pembagian alokasi waktu.

Peningkatkan prestasi belajar matematika FPB dan KPK dengan model pembelajaran jigsaw pada siswa kelas IV SDN Kayubebek III Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan / Budiono

 

ABSTRAK Budiono, 2010. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika FPB dan KPK Dengan Model Pembelajaran Jigsaw Pada Siswa Kelas IV SDN Kayukebek III Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan KSDP. Program S1 PGSD. Pembimbing Drs. Goenawan Roebyanto, M.Pd. Kata Kunci : Model Pembelajaran Jigsaw, Pemecahan Masalah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatka kemampuan pemecahan masalah siswa dengan mengunakan pendekatan pembelajran jigsaw. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : (1) Bagaimanakah penerapan pembelajaran model jigsaw dalam upaya meningkatkan prestasi belajar tentang KPK dan FPB Pada siswa kelas IV SDN Kayukebek III Kab. Pasuruan?. (2) Apakah model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah KPK dan FPB Pada siswa kelas IV SDN Kayukebek III Kab. Pasuruan?. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas IV SDN kayukebek III Kabupaten Pasuruan sebanyak 32 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan KPB dan FPB. Hasil yang diperoleh melalui pemberian tes awal kepada siswa telah menunjukkan bahwa 50% siswa termasuk klasifikasi baik 40% siswa termasuk klasifikasi cukup baik, Sedangkan yang termasuk klasifikasi kurang baik 10% siswa. Rendahnya nilai tersebut kemungkinan diakibatkan dalam kegiatan pembelajaran banyak ceramah. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refeksi. Adapun instrumen yang digunakan ini dalam penelitian adalah observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan peneliti yang telah dilakukan didapatkan (1) hasil aktivitas guru siklus I dengan presentase 92,3% yang mempunyai kategori sangat baik dan siklus II dengan presentase 95,4% yang mempunyai kategori sangat baik sehingga terjadi peningkatan aktifitas guru 3,1%, (2) Hasil observasi aktivitas siswa siklus I dengan presentase 81,3% yang mempunyai kategori baik, dan siklus II dengan presetanse 85% yang mempunyai kategori sangat baik, sehingga menjadi peningkatan aktivitas siswa sebesr sebesar 3,7% (3) Disini dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran model jigsaw kemampuan pemecahan masalah siswa kelas IV SDN kayukebek III Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan.

Implementasi program jaring pengaman ekonomi dan sosial (JPES) dalam pengentasan kimiskinan di kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen kota Malang / Ernawati

 

ABSTRAK Ernawati. 2010. Implementasi Program Jaring Pengaman Ekonomi Dan Sosial (JPES) Dalam Pengentasan Kemiskinan Di Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. (2) Farida Rahmawati, S.E., M.E. Kata Kunci: Program JPES dan Kemiskinan Tingginya tingkat kemiskinan di Jawa Timur menuntut pemerintah untuk menerapkan beberapa program pengentasan kemiskinan. Salah satunya Program JPES yang merupakan kelanjutan dari Program Aksi Menanggulangi Dampak Kenaikan Harga BBM (PAM-DKB) yang mulai dilaksanakan pada tahun 2006. Adapun Program JPES dilaksanakan pada tahun 2007 yang kegiatannya berupa pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat. Program JPES dalam pelaksanaannya mencoba untuk memberdayakan keluarga miskin (gakin) dengan mengikutsertakan mereka dalam kegiatan pembangunan di wilayahnya. Peran serta ini diharapkan agar gakin bisa lebih berdaya dan tidak bergantung pada bantuan pihak lain. Selama pelaksanaan program, para gakin selain dilibatkan sebagai tim pelaksana di wilayahnya juga dilibatkan sebagai pekerja. Hal ini dilakukan untuk memberikan lapangan kerja bagi gakin yang menganggur dan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi gakin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) mekanisme penjaringan sasaran Program Jaring Pengaman Ekonomi Dan Sosial (JPES) di Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang, (2) dampak dari pelaksanaan Program Jaring Pengaman Ekonomi dan Sosial (JPES) terhadap pengentasan kemiskinan di Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang, (3) strategi yang seharusnya diambil pemerintah untuk memperlancar pelaksanaan Program JPES dengan menggunakan analisis SWOT. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dari permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pemeriksaan data, pengelompokkan data, penyajian data, analisis data, analisis SWOT dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Dalam menetapkan sasaran Program JPES mengacu pada indikator yang ditetapkan oleh BPS dan berdasar pada hasil musyawarah warga, (2) Adanya Program JPES belum bisa memberikan pengaruh yang besar dalam upaya pengentasan kemiskinan karena pekerjaan yang diberikan kepada gakin hanya bersifat sementara sehingga tambahan pendapatan dari gakin juga bersifat sementara. Namun Program JPES mampu menumbuhkembangkan semangat kegotongroyongan masyarakat setempat dan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan dapat mengatasi masalah banjir di wilayah langganan banjir, (3) Dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threat) maka strategi yang seharusnya diambil pemerintah untuk memperlancar pelaksanaan program JPES adalah dengan mengadakan koordinasi, sosialisasi, monitoring dan evaluasi, data dan informasi, dan pemberdayaan. Saran dari peneliti untuk pelaksanaan Program JPES pada tahun selanjutnya adalah (1) Program-program penanggulangan kemiskinan yang diterapkan dilakukan secara berkelanjutan, (2) Dana yang dialokasikan untuk program JPES jumlahnya diperbesar karena sebagian dana yang ada harus dialokasikan untuk pembangunan fisik dan upah pekerja, (3) Analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, threat) hendaknya digunakan dalam pelaksanaan Program JPES karena analisis ini dapat digunakan untuk membuat strategi-strategi yang diperlukan dalam upaya memeperlancar pelaksanaan Program JPES. Strategi-strategi yang dibuat didasarkan dari unsur kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari Program JPES. Namun analisis yang dibuat harus bersifat fleksibel karena situasi dan kondisi selama pelaksanaan Program JPES terus mengalami perubahan, (4) Bagi kalangan akademisi dapat mengembangkan penelitian dengan memperluas cakupan kajian yang akan diteliti yaitu dengan meneliti tingkat efektifitas Program JPES dan seberapa besar kontribusi program ini dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat miskin.

Analisis tingkat kebangkrutan sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan go public yang listing di BEI tahun 2006-2007 (Dianalisis dengan menggunakan metode Altman (Z-Score) dan metode Zmijewski (X-Score) / Widianah

 

Widianah. Analisis Tingkat Kebangkrutan Sebelum dan Sesudah Stock Split Pada Perusahaan Go Public yang Listing di BEI Tahun 2006-2007 (Dianalisis Dengan Menggunakan Metode Altman (z-score) dan Zmijewski (x-score)) . Skripsi program Studi Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M (2) Lulu Nurul Istanti, S.E., M.M Kata Kunci: Kebangkrutan, Z-Score, X-Score dan Stock Split Setiap perusahaan didirikan dengan harapan akan menghasilkan laba sehingga mampu untuk bertahan dalam jangka panjang yang tidak terbatas. Hal ini berarti dapat diasumsikan bahwa perusahaan akan terus hidup dan diharapkan tidak akan mengalami likuiditas. Dalam praktik, asumsi di atas tidak selalu menjadi kenyataan. Seringkali perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu tertentu terpaksa membubarkan diri karena mengalami kegagalan usaha (kebangkrutan). Stock split merupakan tindakan memecah saham menjadi n lembar saham dengan harga per lembar saham baru sebesar 1/n harga saham sebelumnya, yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk menata kembali harga pasar saham dengan meningkatkan jumlah saham yang beredar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat kebangkrutan perusahaan sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan go public yang listing di BEI tahun 2006- 2007 yang dianalisis dengan menggunakan metode altman (z-score) dan Zmijewski (x-score). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode event study. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 12 perusahaan go public yang melakukan pemecahan saham yang listing di BEI periode 2006-2007 yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan internet. Analisis data menggunakan teknik paired sample t-test dengan bantuan komputer program SPSS 12.0. Hasil penelitian hipotesis pertama menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kebangkrutan sebelum dan sesudah stock split yang dianalisis menggunakan metode altman (z-score). Untuk hipotesis kedua terdapat perbedaan yang signifikan antara kebangkrutan sebelum dan sesudah stock split yang dianalisis zmijewski (x-score). Bagi peneliti selanjutnya bisa dikembangkan dengan menggunakan periode pengamatan dan sample yang berbeda, serta dengan menambahkan semua rasio keuangan lain yang terbukti mampu menambah preferensi investor dalam berinvestasi. Bagi perusahaan yang bersangkutan diharapkan dengan adanya penelitian tentang kebangkrutan perusahaan dapat mengantisipasi langkahlangkah yang harus ditempuh untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan.

Analisis penentuan portopolio optimal model indeks tunggal pada perusahaan kategori saham Jakarta Islamic Index (JII) periode 2-30 November 2009 / Adita Nafisa

 

ABSTRAK Nafisa, Adita. 2010. Analisis Penentuan Portofolio Optimal Model Indeks Tunggal pada Perusahaan Kategori Saham Jakarta Islamic Index (JII) periode 2 – 30 November 2009. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Hari, M.Si., (II) Dr. H. Heri Pratikto, M.Si. Kata kunci: Return, Expected Return, Penentuan Portofolio Optimal Model Indeks Tunggal Penentuan portofolio optimal merupakan suatu alat untuk mengurangi risiko investasi sesuai preferensi investor dengan cara melakukan diversifikasi, yaitu mengkombinasikan berbagai sekuritas dalam pembentuk suatu investasi pada periode tertentu. Penentuan portofolio optimal dalam penelitian ini menggunakan Model Indeks Tunggal yang didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui kondisi return saham individu dan return pasar, (2) mengetahui kondisi return ekspektasi saham individu dan return ekspektasi pasar, dan (3) menentukan portofolio optimal dengan menggunakan Metode Indeks Tunggal pada perusahaan yang termasuk kategori saham Jakarta Islamic Index (JII). Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan periode pengamatan selama 20 hari bursa yaitu mulai tanggal 2 sampai dengan 30 November 2009. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi harga saham, Indeks Syariah (JII), dan tingkat suku bunga. Sampel penelitian ini merupakan seluruh perusahaan populasi yaitu seluruh perusahaan yang masuk dalam kategori saham Jakarta Islamic Index (JII) selama bulan November sebanyak 30 perusahaan. Pengolahan data dalam penelitian ini dimulai dengan perhitungan return saham individu, return pasar, return ekspektasi saham individu, return ekspektasi pasar, risiko sistematis, risiko tidak sistematis, dilanjutkan dengan perhitungan Excess Return to Beta (ERB), cut off point yang berasal dari cut off rate tertinggi kemudian mencari proporsi portofolio optimal, return ekspektasi portofolio optimal serta varian portofolio optimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi return saham individu dan return pasar cenderung mengalami penurunan pada periode pengamatan, begitu pula pada kondisi return ekspektasi saham individu dan return ekspektasi pasar yang cenderung mengalami penurunan. Terdapat 2 saham yang ditentukan sebagai sebagai portofolio optimal yaitu PT. Sampoerna Argo Tbk (SGRO) dan PT. Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan proporsi masing-masing 54,6% dan 45,4%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat return ekspektasi portofolio yang diperoleh adalah sebesar 0,27% dengan tingkat risiko hanya 0,004%. Bagi calon investor yang ingin berinvestasi terdapat salah satu alternatif yaitu dengan membentuk portofolio optimal menggunakan Model Indeks Tunggal dengan harapan memperoleh hasil yang optimal dengan risiko tertentu atau hasil tertentu dengan risiko yang minimal.

Membangun WEB interaktif SMK YP 17-1 Malang sebagai layanan informasi sekolah / Darto, Moch. Zainuri

 

Melalui website, suatu instansi pendidikan dapat mempublikasikan profil lembaga, hasil belajar siswa – siswi, pengumuman – pengumuman atau informasi yang berkaitan dengan perkembangan belajar siswa-siswi pada instansi tersebut. Selain itu, melalui website siswa, guru dan karyawan juga dapat mempublikasikan artikel, pengalaman, dan tulisan lainnya. Dalam pembuatan Website, Content Mangement System merupakan metode yang paling mudah dan praktis. Content Management System merupakan sebuah metode atau sistem yang dapat meningkatkan tingkat produktivitas dan efisiensi dalam pengembangan website. Wordpress offline merupakan salah satu dari Content Management System (CMS) yang bersifat Open Source yang sangat layak untuk digunakan sebagai sebuah website perusahaan atau instansi pendidikan sekalipun. Dalam pelaksanaan tugas akhir ini berhasil merancang dan membuat website interaktif SMK YP 17-1 Malang, dengan website ini informasi yang dipublikasikan bisa lebih merata dan menarik, sehingga semua anggota sekolah dapat mengetahui perkembangan belajar siswa-siswi di SMK YP 17-1 Malang..

"Penerapan metode pembelajaran komunikatif dalam kursus bahasa Inggris" (Studi kasus pada lembaga kursus BHS Inggris di New Surabaya College (NSC) Pandaan Kab. Pasuruan) / Ahmad Taufic

 

ABSTRAK Taufiq, Ahmad. 2009. Penerapan Metode Pembelajaran Komunikatif Dalam Kursus Bahasa Inggris. (Studi Kasus Pada Lembaga Kursus Bhs Inggris di New Surabaya College (NSC) Cabang Pandaan Kab. Pasuruan). Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H.M Saleh Marzuki, M.Ed., dan (II) Dr. Djauzi Moedzakir, MA. Kata Kunci: metode pembelajaran komunikatif, lembaga kursus, pendidikan luar sekolah. Penelitian ini didasarkan atas fenomena penggunaan metode pembelajaran komunikatif, yang kerap kali dipakai oleh para instruktur dalam kursus bahasa Inggris. Pada umumnya metode ini dianggap dapat memenuhi kebutuhan warga belajar, karena sangat membantu warga belajar dalam mempelajari dan menguasai bahasa Inggris. Ketertarikan warga belajar mengikuti kursus salah satunya yaitu karena dengan metode tersebut keinginan mereka untuk mahir berbahasa Inggris dapat terwujud. Sesuai dengan fenomena tersebut, penelitian ini difokuskan pada pertanyaan dasar, apa betul keberlangsungan kursus NSC Pandaan karena penerapan metode komunikatif. Untuk itu penelitian ini bertujuan mendiskripsikan tentang: 1) Alasan atau latar belakang warga belajar memilih kursus NSC sebagai agensi pendidikan luar sekolah, 2) Alasan NSC menerapkan metode komunikatif dalam pembelajaran bahasa Inggris, 3) Gambaran penerapan metode komunikatif dalam pembelajaran bahasa Inggris di NSC, dan 4) Persepsi warga belajar kursus terhadap penerapan metode komunikatif dalam kursus bahasa Inggris di NSC Berdasarkan fokus penelitian maka secara keseluruhan masalah penelitian ini diselesaikan dengan pendekatan kualitatif berupa studi kasus untuk mengungkapkan fenomena-fenomena yang terjadi secara menyeluruh dan mendalam pada lembaga kursus Bahasa Inggris NSC Pandaan. Hal ini dilakukan untuk menemukan perspektif baru tentang hal-hal yang sudah banyak diketahui atau fenomena yang sampai sekarang belum banyak diketahui dari segi program, peristiwa, dan proses (kegiatan). Sumber data dalam penelitian dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu person, place dan activity. Semua sumber data tersebut digali melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Dari analisis data, diperoleh temuan-temuan sebagai berikut: Pertama, penerapan metode komunikatif pembelajaran bahasa dilakukan secara interaktif, yaitu dengan tanya jawab, diskusi, presentasi, percakapan, dialog, dan simulasi yaitu bermain peran, dan juga dilakukan secara monolog yaitu bercerita (story telling). Kedua, alasan menerapkan metode komunikatif yaitu: a) membiasakan diri untuk selalu berbahasa Inggris, b) mendukung tercapainya empat kemampuan berbahasa, c) sesuai bagi pebelajar orang dewasa. Ketiga, persepsi warga belajar kursus NSC terhadap penerapan metode komunikatif yaitu: a) merasa tertekan dengan kondisi di awal pembelajaran, b) suasana kelas yang aktif, humanis dan saling mendukung dalam pembelajaran, c) merasa senang, antusias karena tujuan belajar bahasa dapat dicapai dengan cepat. Keempat, alasan warga belajar memilih kursus di NSC yaitu: a) NSC dianggap kursus yang sudah lama berdiri dan berpengalaman, b) NSC fleksibel terhadap calon warga belajar, c) instruktur yang kompeten, bersahabat, baik dan terbuka, serta d) NSC mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kelima, terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan dari metode komunikatif, kelebihanya adalah suasana kelas menjadi semakin aktif, kompetitif, tidak membosankan, dan bisa memotivasi diri warga belajar untuk selalu menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan kelemahanya yaitu tidak bisa diterapkan pada tingkat awal, tertekan, kemampuan gramatikal rendah, sulit dalam mengevaluasi, dan meteri yang sudah direncanakan tidak sepenuhnya tuntas. Bertitik tolak dari hasil temuan-temuan penelitian ini, disarankan agar 1) Penerapn metode komunikatif bisa maksimal, maka perlu bagi instruktur untuk mempelajari teknik-teknik dari beberapa kegiatan interaktif, serta pemilihan tema/topik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan manfaat warga belajar kursus. 2) Pola pembelajaran metode ini lebih mengarahkan pebelajar pada konteks atau situasi. Maka perlu kiranaya bagi instruktur dalam satu kesempatan mengajak warga belajarnya untuk belajar di luar kelas dengan melihat/praktik secara langsung dan berdarmawisata (excursion) atau studi tour agar mereka bisa memperaktikkan bahasa secara langsung dengan penutur asli bahasa (native speaker). 3) Bagi para instruktur kursus bahasa Inggris perlu mengetahui karakteristik dan prinsip-prinsip pembelajaran Andragogi, 4) Perlu adanya pengakajian dan perbaikan/revisi terhadap bahan ajar yang digunakan pada lembaga kursus bahasa asing, yang mana bahan ajar tersebut kurang kontekstual. Sehingga dikhawatirkan bahan ajar tersebut tidak memberikan manfaat bagi warga belajar, 5) Bagi pemerhati masalah pengembangan lembaga pembelajaran hendaknya terus mengkaji konsep-konsep pengelolaan lembaga dan pembelajaran kursus yang kontekstual sehingga lembaga tersebut nantinya mampu menjawab tantangan pendidikan di masa yang akan datang, 6) Peran pro-aktif dari pemerintah sangat diupayakan demi peningkatan mutu dan kualitas lulusan kursus, yaitu dengan melakukan standarisasi secara merata bagi semua pengelola kursus dan pelatihan sehingga keberlangsungan lembaga kursus di daerah bisa tetap bertahan.

Perancangan file server dan sistem pembelajaran berbasis moodle pada jaringan internet di SMP negeri 1 Bojonegoro / Fatkur Fauzi

 

Dalam proses pembelajaran praktik yang berlangsung di laboratorium KKPI, sistem operasi yang digunakan oleh siswa telah terkonfigurasi untuk login secara otomatis saat komputer dinyalakan. Setiap siswa juga menyimpan hasil pekerjaannya di harddisk setiap komputer. Hal ini mengakibatkan data seorang siswa bisa dilihat oleh siswa lainnya yang suatu saat juga akan memakai komputer yang sama. Sehingga dimungkinkan ketika guru memberikan tugas siswa hanya mengubah isi file yang sudah ada yang dimiliki siswa lainnya. Untuk itu perlu adanya suatu sistem yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, salah satu metode yang penulis tawarkan adalah dengan merancang File Server sehingga diharapkan kejadian pencurian data bisa diminimalisir atau bisa menyulitkan pelaku yang ingin melakukan tindakan curang. Sistem file server merupakan sistem yang memanfaatkan jaringan komputer berbasis klien server untuk menyediakan data dan account pengguna secara terpusat. Dalam sistem file server, jaringan komputer yang dirancang dengan baik akan menentukan pula kinerja sebuah file server yang baik. Untuk itu diperlukan sebuah pengetahuan yang cukup mengenai konsep TCP/IP agar konektivitas klien dan server semakin baik. File Server yang dirancang ini menggunakan Sistem Operasi Windows Server 2003, yang merupakan suatu sistem jaringan. Dalam Sistem Operasi Windows Server 2003 ini banyak kelebihan layanan, seperti File Server, Print Server, Active Directory (AD), dan lain sebagainya. Pada tugas akhir ini penulis memanfaatkan layanan file server untuk merancang sistem yang digunakan dalam proses belajar mengajar di Laboratorium KKPI. Dengan layanan file server ini siswa dapat menyimpan data baik materi maupun tugas ke dalam file server ini. Siswa juga dapat mengakses data materi yang telah dibagi oleh guru dalam file sharing. Dengan sistem file ini diharapkan data siswa dapat lebih aman, baik dari kerusakan komputer, virus, atau kecurangan yang dilakukan siswa lain yang seharusnya tidak berhak atas penggunaan data yang bukan miliknya karena masing-masing memiliki user account dan password dalam menyimpan data di komputer server. Sisterm file server ini juga bermanfaat bagi guru dalam melakukan penilaian tugas siswa dengan hanya membuka file tugas yang ada pada server. Ini lebih efisien tanpa harus berkeliling mengontrol satu per satu pada komputer siswa. Perancangan file server ini akan memudahkan dan meningkatkan proses belajar mengajar di lingkungan SMP Negeri 1 Bojonegoro khususnya di Laboratorium KKPI.

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di rintisan sekolah bertaraf internasional ( Studi kasus di SMP negeri 1 Bojonegoro ) / Dewi Wahyuningtyas

 

i ABSTRAK Wahyuningtias, Dewi. 2009. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Bondowoso). Skripsi, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suparlan, M.Si, (II) Dra. Sri Untari, M.Si. Kata kunci: pembelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Salah satu upaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 50 ayat (3), yakni “Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional”.Meskipun secara formal belum dinamakan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional, saat ini sejumlah sekolah di Indonesia telah melakukan rintisan ke arah Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat (1) yang menyebutkan “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat, salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan, maka dalam kerangka penyelenggaraan pendidikan nasional, Pendidikan Kewarganegaraan menempati kedudukan yang sentral. Oleh karena itu, untuk memenuhi standar penyelenggaraan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional maka pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional seharusnya mulai bahkan telah memenuhi Standar Proses yang diisyaratkan oleh Standar Pendidikan Nasional dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar danMenengah. Penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimana perencanaan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso? (2) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso? (3) Bagaimanakah penilaian hasil pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso? (4) Bagaimanakah pengawasan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso? Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bondowoso pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus. Subjek penelitian adalah kelas VII A yang merupakan kelas rintisan sekolah bertaraf internasional SMP Negeri 1 Bondowoso. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso, baik komponen, pengembangan, dan penyusunannya telah memenuhi kriteria silabus dan (RPP) sebagai perencanaan proses pembelajaran yang diamanatkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. (2) Pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso tidak dapat dilaksanakan sama persis seperti kegiatan pembelajaran yang direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Namun, proses pembelajarannya sebagian besar telah memenuhi pelaksanaan pembelajaran dalam Lampiran Peraturan Menteri Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. (3) Penilaian hasil pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso tidak selalu melalui tes tulis melainkan dilakukan dengan beragam teknik penilaian. (4) Pengawasan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Bondowoso terdiri dari pemantauan (monitoring), supervisi, dan evaluasi oleh kepala sekolah serta evaluasi juga dilakukan oleh siswa untuk menuju tingkat kepuasaan siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan (1) kepala sekolah harus lebih aktif dan sedapat mungkin melakukan pengawasan terhadap kinerja guru dalam proses pembelajaran agar mutu pendidikan yang diterapkan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso semakin meningkat sehingga masyarakat akan terus percaya terhadap kualitas pendidikan di dalamnya; (2) guru Pendidikan Kewarganegaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso diharapkan mampu melakukan pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara mandiri; (3) guru Pendidikan Kewarganegaraan yang merupakan kunci utama dalam proses belajar mengajar Pendidikan Kewarganegaraan hendaknya bisa menciptakan kreativitas dan inovasi baru dalam pembelajaran, menggunakan metode yang bervariasi serta berupaya menciptakan suasan belajar yang kondusif sehingga siswa tidak jenuh dan mudah dalam menerima materi yang diajarkan; (4) siswa-siswi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Bondowoso hendaknya terus berupaya untuk mempertahankan prestasi yang selama ini diraih oleh sekolah dan berupaya lagi untuk meningkatkan prestasi baik di bidang akademik maupun dalam bidang non akademik. Sehingga kepercayaan pemerintah dan masyarakat kepada pihak sekolah bisa terus meningkat sehingga mudah dalam melakukan kerjasama.

Kesadaran hukum mahasiswa jurusan PPKn fakultas ilmu pendidikan universitas negeri malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya / Mirna Retna Sari

 

ABSTRAK Retna Sari, Mirna.2009. Kesadaran Hukum Mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Malang dalam Berlalu Lintas Menggunakan Kendaraan Bermotor Roda Dua di Jalan Raya. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs.H.Suparman A.W,S.H, M.Hum, (2) Drs.Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si Kata Kunci :Kesadaran hukum, lalu lintas, kendaraan bermotor roda dua Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai peran penting dalam mewujudkan ketertiban lalu lintas yaitu dengan mematuhi segala peraturan lalu lintas yang bisa terwujud apabila mahasiswa tersebut mempunyai kesadaran hukum. Namun kesadaran hukum yang diterima adalah kesadaran tanpa paksaan. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (2) Mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (3) Mengetahui sikap mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (4) Mengetahui pola perilaku mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam berlalu lintas menggunakan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, (5) Mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam meningkatkan pengetahuan hukum tentang lalu lintas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel ini adalah dengan menggunakan teknik random sederhana (simple random sampling). Pelaksanaan teknik random sederhana pada jumlah mahasiswa yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua, cukup menggunakan teknik undian.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket atau kuesioner dan wawancara. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif yang dilakukan dengan mengklasifikasikan data tersebut menjadi dua kelompok data, yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau simbol. Data kualitatif yang berbentuk kata-kata tersebut disisihkan untuk sementara, karena akan sangat berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh dari analisis data kuantitatif. Data yang diperoleh dari angket atau kuesioner yang berbentuk check list dikelompokkan dalam bentuk persentase sesuai dengan pilihan jawaban yang tertera di angket yang telah dipilih oleh responden. Kesimpulan diperoleh setelah analisis dari data-data tersebut selesai dilakukan dan data dari hasil wawancara disertakan untuk melengkapi data kuesioner. Hasil penelitian adalah sebagai berikut : (1) Pengetahuan hukum mahasiswa jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap peraturan lalu lintas adalah separuh lebih mahasiswa jurusan PPKn (53,33%) mengetahui tentang peraturan lalu lintas.(2) Pemahaman hukum mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap Peraturan Lalu Lintas adalah hanya 20% mahasiswa jurusan PPKn yang dapat memahami peraturan lalu lintas yaitu mengenai isi dan tujuan dari peraturan tersebut.(3) Sikap hukum mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap peraturan lalu lintas adalah semua mahasiswa jurusan PPKn pernah melakukan pelanggaran lalu lintas. (4) Perilaku hukum mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang terhadap peraturan lalu lintas adalah sebagian besar pola perilaku mahasiswa dalam berlalu lintas sudah sesuai peraturan terbukti dari data berikut ini : 80% mahasiswa jurusan PPKn membawa SIM saat mengemudikan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, 90% mahasiswa jurusan PPKn membawa STNK saat mengemudikan kendaraan bermotor roda dua di jalan raya, 90% mahasiswa jurusan PPKn mengutamakan penyeberang jalan daripada kendaraan yang dikemudikan, 86,67% mahasiswa jurusan PPKn memarkir kendaraan bermotor di tempat yang benar sehingga tidak mengganggu pemakai jalan yang lain dan tidak menutup jalan, 100% mahasiswa jurusan PPKn menggunakan lampu sein pada kendaraan bermotor saat akan belok, 60% mahasiswa jurusan PPKn memeriksa perlengkapan kendaraan bermotor saat akan berkendara, 96,67% mahasiswa jurusan PPKn menggunakan helm saat berkendara.(5) jumlah mahasiswa jurusan PPKn yang berupaya meningkatkan pengetahuan hukum tentang peraturan lalu lintas adalah 20 orang atau 66,67%, upaya tersebut adalah: (a) membaca referensi yang berkaitan dengan lalu lintas, (b) mencari tahu lewat media elektronik (televisi, radio, internet), (c) mencari tahu pada pihak yang berwajib. Sedangkan jumlah mahasiswa jurusan PPKn yang berupaya mengurangi pelanggaran lalu lintas adalah 29 orang atau 96,67%, upaya tersebut adalah (a) memperhatikan setiap rambu-rambu lalu lintas, traffic light dan marka jalan yang ada di jalan raya, (b) mengurangi kecepatan maksimum dalam berkendara agar bisa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, traffic light dan marka jalan, (c) membiasakan untuk taat terhadap peraturan lalu lintas meskipun tidak ada polisi. Berdasarkan temuan penelitian di atas, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Guna meningkatkan Kesadaran Hukum Mahasiswa Jurusan PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Malang dalam Berlalu Lintas Menggunakan Kendaraan Bermotor Roda Dua di Jalan Raya, maka diharapkan kepada mahasiswa agar lebih banyak menggali informasi tentang peraturan lalu lintas demi keselamatan dan ketertiban saat berkendara. (2) Perlunya peningkatan ketaatan oleh mahasiswa terhadap peraturan lalu lintas dalam kondisi apapun dan tidak hanya karena adanya pihak kepolisian lalu lintas. (3) Perlunya peran aktif dari mahasiswa untuk mengurangi tingkat pelanggaran lalu lintas dengan melengkapi komponen kelengkapan kendaraan bermotor yang sesuai dengan ketentuan, lebih teliti dalam memperhatikan ramburambu lalu lintas dan marka jalan serta memperhatikan kecepatan maksimum yang digunakan saat berkendara.

Study komparatif peranan serikat pekerja dalam memperjuangkan hak-hak pekerja " Studi kasus di Bank BRI cabang Martadinata kota Malang dan PT.Sampoerna Tbk cabang Malang " / Hidayatullah Cahyadi Fahmi

 

ABSTRAK Cahyadi, Hadiyatullah, 2009. Study Komparatif Peranan Serikat Pekerja Dalam Memperjuangkan Hak-hak Pekerja (Studi Kasus Pada BRI Kantor Cabang Martadinata Kota Malang dan PT. Sampoerna Tbk Cabang Malang). Skripsi Jurusan Manajemen, Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) DR. Sopiah, M.Pd, M.M; (2) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M. Si Kata Kunci: Serikat Pekerja Perubahan besar dibidang ketenagakerjaan akan dapat dilaksanakan jika manajemen sumber daya manusia berada pada peran yang menentukan. Perubahan tersebut harus diawali dengan perubahan paradigma bahwa manusia harus dianggap sebagai sumber daya yang paling penting bagi perusahaan atau instansi terkait. Hubungan industri yang harmonis dapat tercipta jika pola pendekatan dirubah dari pendekatan pengendalian ke pendekatan komitmen”. Hal ini disebabkan karena para pekerja juga membutuhkan otonomi, keterlibatan yang lebih tinggi, tantangan, pengembangan dan aktulisasi diri. setiap pekerja atau buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja atau seriat buruh. Pembangunan serikat pekerja disebuah lembaga atau perusahaan sangat berperan sekali untuk kelancaran komunikasi antara pekerja dengan pihak manajemen. Sehingga ketika ada permasalahan mengenai kesejahteraan pekerja yang belum terpenuhi, serikat pekerjalah yang memediatori untuk berkomunikasi meminta kepada manajemen untuk memenuhi. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana perbandingan peranan serikat pekerja Bank BRI kantor Cabang Martadinata dan PT. Sampoerna Cabang Malang dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan jenis Ex Post Vacto. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota serikat pekerja BRI Kantor Cabang Martadinata dan PT. Sampoerna Cabang Malang yang berjumlah 90 orang. Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa serikat pekerja Pada BRI Kantor Cabang Martadinata mempunyai peran dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa tenteram adalah tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa saling percaya adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif adalah tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan semangat kebersamaan adalah rendah, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi vertikal adalah tinggi, peran serikat pekerja BRI dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi horizontal adalah kurang tinggi dan peran serikat pekerja BRI dalam mewujudkan hubungan industrial yang harmonis adalah kurang tinggi. Sedangkan peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa tenteram adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan rasa saling percaya adalah rendah, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan semangat kebersamaan adalah tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi vertikal adalah kurang tinggi, peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam menciptakan iklim kerja dengan komunikasi horizontal adalah tinggi, dan peran serikat pekerja PT. Sampoerna Cabang Malang dalam mewujudkan hubungan industrial yang harmonis adalah kurang tinggi. Selain itu juga terdapat perbedaan yang signifikan antara peranan serikat pekerja Pada BRI Kantor Cabang Martadinata dengan serikat pekerja pada PT. Sampoerna Cabang Malang. Selanjutnya, dari proses wawancara memperoleh hasil bahwa terdapat ketidaksamaan informasi antara manajemen, serikat pekerja dan pekerja yang disebabkan oleh kurangnya komunikasi dan kurangnya perhatian dari serikat pekerja dan manajemen terhadap pekerja. Ini sangat terlihat pada PT. Sampoerna Cabang Malang. Saran yang bisa diberikan adalah (1) Serikat pekerja hendaknya dapat melakukan komunikasi secara intensif dengan para pegawai atau anggota serikat pekerja terutama pada serikat pekerja BRI Kantor Cabang Martadinata baik dengan media e-mail, kotak saran pada setiap unit atau kantor cabang dan wilayah agar permasalahan yang dirasakan oleh anggota serikat pekerja dapat diselesaikan dengan baik.; (2) Serikat pekerja pada BRI maupun PT. Sampoerna Cabang Malang hendaknya dapat menciptakan hubungan industrial yang harmonis dengan cara melakukan komunikasi maupun negosiasi baik dengan para pegawai, manajemen, masyarakat dan juga pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Tenaga Kerja agar dapat melaksanakan perannya sebagai oraganisasi penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak-hak pekerja maupun manajemen; (3) Pegawai harusnya dapat memanfaatkan organisasi serikat pekerja tersebut sebagai wadah dalam berinteraksi dan berkreasi sebagi upaya pengembangan diri;(4) PT. Sampoerna sebaiknya meningkat kualitas komunikasi antara pekerja dengan pihak manajemen meskipun menggunakan manajemen terpusat dengan cara selalu membuka diri untuk menerima keluhan dari pekerja;(5) Peneliti selanjutnya hendaknya meneliti indikator alternatif lainnya pada variabel peran yang lebih memberikan kontribusi kepada pihak yang bersangkutan. Misalnya adalah peran serikat pekerja pada anggota yang berada pada Unit-Unit dari Bank yang dipimpin, peran serikat pekerja yang lebih spesifik pada peran dalam menyelesaikan permasalahan PHK maupun hubungan industrial, atau variabel lain mengenai pengaruh masuk atau tidaknya pegawai dalam organisasi serikat pekerja.

Survai tentang keterampilan sosial siswa sekolah menengah atas (SMA) negeri se-kabupaten Trenggalek / Diah Ayu Muliawan

 

ABSTRAK Muliawan, Diah Ayu. 2009. Survei tentang Keterampilan Sosial Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Se-Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing, (1) Dra. Elia Flurentin, M.Pd (2) Drs. M. Bisri, M.Psi Kata Kunci: Keterampilan sosial, siswa sekolah menengah atas Keterampilan sosial bermanfaat untuk memudahkan seseorang dalam penyesuaian sosial. Keterampilan sosial memuat aspek-aspek keterampilan, seperti keterampilan untuk hidup dan bekerjasama, keterampilan untuk mengontrol diri dan orang lain, keterampilan untuk saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, saling bertukar pikiran dan pengalaman sehingga tercipta suasana yang menyenangkan bagi setiap anggota dari kelompok tersebut. Individu-individu yang memiliki keterampilan sosial yang baik cenderung diterima oleh lingkungan. Rendahnya keterampilan sosial mengakibatkan masalah-masalah sosial seperti rendah diri, merasa dikucilkan, antisosial (normatif), kenakalan remaja bahkan kriminal. Kurangnya keterampilan komunikasi menyebabkan rendahnya keterampilan sosial remaja. Dalam proses komunikasi terdapat penyampaian informasi. Komunikasi juga merupakan proses bertukar pendapat, yang dapat menyebabkan perubahan sikap dan perilaku. Berbagai permasalahan sosial pada siswa SMA se-Kabupaten Trenggalek yang muncul mungkin disebabkan kurangnya keterampilan komunikasi sehingga siswa mendapatkan informasi yang salah. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi konselor dalam memberikan bantuan layanan bimbingan baik bimbangan pribadi maupun bimbingan sosial yang sesuai dengan keadaan siswa. Bantuan yang diberikan bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang dimiliki siswa. Bantuan yang diberikan sesuai dengan fungsi bimbingan dan konseling antara lain fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pemeliharaan, dan fungsi perbaikan. Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek, (2) mendeskripsikan indikator-indikator keterampilan sosial siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek, (3) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek berdasarkan jenis kelamin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi siswa SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek. Metode Pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random sampling. Berdasarkan teknik sampling ini, subyek penelitian sebanyak 282 orang siswa laki-laki dan 472 orang siswa perempuan yang berasal dari 4 SMA Negeri di Kabupaten Trenggalek. Instrumen yang digunakan adalah angket keterampilan sosial. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan cara mengklasifikasi skor keterampilan subyek dalam tingkatan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Kemudian dilakukan analisis persentase pada masing-masing frekuensi klasifikasi. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) Keterampilan sosial siswa SMA se-Kabupaten Trenggalek adalah pada klasifikasi cukup, (2). Dari hasil klasifikasi didapatkan bahwa indikator dengan klasifikasi tinggi yang paling banyak dimiliki siswa adalah indikator “perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri”, Urutan ke dua adalah indikator “perilaku interpersonal”. Urutan ketiga adalah indikator “perlilaku komunikasi”. Urutan keempat adalah indikator “perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademik”. Urutan dan yang terakhir adalah indikator “peer acceptance”. (3) Siswa laki-laki memiliki nilai keterampilan sosial yang lebih tinggi dari pada siswa perempuan. Berdasarkan kesimpulan penelitian, disarankan kepada (1). Konselor-konselor SMA Se-Kabupaten Trenggalek dapat membantu siswa berdasarkan fungsi bimbingan dan konseling, sehingga setiap siswa mendapatkan bantuan sesuai dengan dirinya. (a). Fungsi pemahaman, konselor membantu siswa agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya. Adapun kegiatan layanan yang dapat digunakan adalah layanan orientasi, serta layanan informasi. Layanan informasi mengenai keterampilan sosial seperti cara bergaul, cara berkomunikasi, asertif, kepercayaan diri, cara menyelesaikan konflik, dan lain-lain. Layanan orientasi dan informasi diberikan kepada semua siswa yang memiliki keterampilan sosial sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, ataupun sangat rendah. (b). Fungsi pencegahan (preventif), konselor membantu siswa untuk bisa mencegah perilaku penyimpangan sosial yang dikarenakan kurangnya keterampilan sosial. Adapun layanan yang digunakan antara lain layanan orientasi, layanan informasi serta bimbingan kelompok. Konselor membantu siswa yang memiliki keterampilan sosial pada klasifikasi sedang, rendah, sangat rendah. (c). Fungsi pengembangan, konselor membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Siswa yang memiliki keterampilan sosial sedang, rendah, sangat rendah dapat dibantu melalui layanan informasi, bimbingan kelompok, home room, serta brain storming. (d). Fungsi perbaikan, konselor membantu siswa yang memiliki masalah sosial akibat dari keterampilan sosial yang dimiliki siswa pada klasifikasi rendah dan sangat rendah.. Teknik yang digunakan untuk membatu siswa adalah konseling individu dan konseling kelompok.Konselor juga mengoptimalkannya melalui kerjasama dengan kepala sekolah, guru dan orang tua siswa; (2). Disarankan kepada pihak kepala sekolah agar memberikan dukungan kepada konselor terkait dengan perencanaan dan pelaksanaan program peningkatan keterampilan sosial siswa yang diselenggarakan oleh konselor. (3). Disarankan kepada siswa SMA, agar meningkatkan keterampilan sosialnya dengan cara aktif mengikuti program pelatihan keterampilan sosial yang selenggarakan oleh pihak sekolah ataupun luar sekolah. (4). Kepada peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih mendalam dengan menggunakan pendekatan korelasional dan menambahkan variabel yang lain.

Pegaruh kebiasaan belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian administrasi perkantoran SMK PGRI Lumajang / Lilik Rokhmania

 

Student’s successfulness in mastering the learning subject at school is tied to some influencing factors. Those factors can be both derived internally from themselves and externally. The internal factors are learning habit and learning motivation. As in the learning habit, by practicing a good learning way, they are expected to be able to reach the demanded learning achievement. A good learning practice is a competence possessed by each student to do some exercises in his learning effort which then it is tightly attached to himself in his act and docontinuously or repeatedly through a fixed teaching and learning process. By having a good learning habit, each effort in learning will deliver a satisfying result. Learning motivation affects dominantly in achieving the learning objective. Without motivation coming from the students themselves to learn seriously, they will not be able to reach the learning objective. The learning objective is making maximum achievement. Based on the existing problem formulation, the research’s aim is describing the learning habit, learning motivation, and learning motivation of SMK PGRI Lumajang’s Students in Office Administration Program. Besides, it analyzes both partially and simultaneously the effect of learning habit and learning motivation toward learning achievement of SMK PGRI (Private Vocational School of the Teacher Assoction of the Indonesia Republic) Lumajang’s students in Office Administration Program. In the data collection phase, this research employs questionnaire and documentation methods. The questionnaire is held to gain the independent variables’ data which are the data of learning habit (X1) and learning motivation (X2), while the documentation is hired to gain the dependent variable’s data which are the data of learning achievement (Y) in the form of average score result in semester I. The population is the whole students of SMK PGRI Lumajang in Office Administration Program. The gathered data are processed by using descriptive statistic technique and linear multiple regression. The descriptive statistical analysis is used for describing the learning habit, learning motivation, and learning achievement. While the linear multiple regression analysis is used for knowing the effect of learning habit (X1) and learning motivation (X2) toward learning achievement, both partially and simultaneously. From the descriptive statistic result, it shows things as follow: the percentage analysis from 30 students shows that 56.7% respondents (17 students) have good learning habit, 66.7% respondents (20 students) have good learning

Pengaruh culture shock terhadap hasil belajar mahasiswa PPkn angkatan 2007 fakultas ilmu pendidikan Universitas Negeri Malang / Ana Kholifah

 

ABSTRAK Kholivah, Ana.2009. Pengaruh Culture Shock Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa PPKN Angkatan 2007 FIP UM. Skripsi, jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suwarno Winarno, (2) Drs.H.Edi Suhartono SH., M.Pd Kata kunci: adaptasi, culture shock, hasil belajar Culture shock merupakan respon yang mendalam dan negatif dari depresi, frustasi dan disorientasi yang dialami oleh orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya yang baru. Setiap mahasiswa diduga mengalami culture shock sebagai akibat perpindahannya dari lingkungan sekolah menengah (lama) ke lingkungan universitas (baru). Kebiasaan-kebiasaan di lingkungan baru,dapat menyebabkan tekanan dan berakibat pada kompetensi akademik mahasiswa dalam hal ini mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM.. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru, mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru, mendeskripsikan bentuk culture shock yang dialami oleh mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM, pengaruh culture shock terhadap prestasi belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM dan mendeskripsikan upaya mengatasi pengaruh culture shock terhadap hasil belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah 67 mahasiswa angkatan 2007 PPKn FIP UM. Sampel sebanyak 63 mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumen. Instrumen yang digunakan yaitu skala adaptasi, skala culture shock dengan menggunakan skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisis deskriptif dan analisis korelasional. Hasil penelitian ini menunjukkakn bahwa (1) mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan baru yaitu dengan selalu menjadi diri sendiri selama berinteraksi dengan orangorang di lingkungan baru, (2) faktor yang mempengaruhi cepatnya mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru yaitu aktif berinteraksi dengan orang-orang lokal/ orang Malang. Sedangkan faktor yang mempengaruhi lambatnya mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM beradaptasi dengan lingkungan baru yaitu keinginan untuk selalu mencari orang yang berasal dari daerah yang sama dengannya, (3) bentuk culture shock yang dialami oleh mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM adalah merasa tegang saat memasuki wilayah yang berbeda dengan budaya asal, (4) pengaruh culture shock terhadap perolehan hasil belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM dari semester I sampai semester II adalah tidak ada pengaruh, hal ini dapat dilihat dari kestabilan perbandingan antara yang mengalami kenaikan dan penurunan IP yaitu antara 31: 36 orang, (5) upaya mengatasi pengaruh culture shock terhadap hasil belajar mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM yaitu dengan aktif menjalin komunikasi dan berelasi dengan teman-teman baik dari dalam maupun luar kampus. Dari hasil penelitian diperoleh temuan bahwa perolehan hasil uji hipotesisnya menunjukkan nilai probabilitas > 0,05 yakni 0,058 dan rhitung (0,233) < rtabel (0,240) sehingga Ho diterima dan Hi ditolak. Hal ini mengandung pengertian bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh culture shock dengan hasil belajar (IP) pada mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) jurusan PPKn hendaknya memberikan program bimbingan konseling dalam membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru agar mahasiswa dengan mudah memfokuskan diri pada upaya peningkatan prestasi akademiknya sehingga diperoleh hasil belajar yang maksimal, (2) mahasiswa PPKn angkatan 2007 FIP UM hendaknya selalu berpikir positif mengenai dirinya dan lingkungannya dan terus mengasah kemampuan diri yang dimiliki (proaktif) agar menjadi mahasiswa yang mandiri dan berprestasi, (3) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang lebih mendalam yaitu dengan menggunakan metode wawancara dan observasi agar diperoleh hasil penelitian yang maksimal.

Penerapan model pembelajaran kooperatif teams games tournament (TGT) dan jigsaw pada materi pokok sistem periodik dalam upaya meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa kelas X SMA NEGERI 2 Pasuruan / Bety Eka Hartatik

 

ABSTRAK Hartatik, Bety Eka. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) dan Jigsaw pada Materi Pokok Sistem Periodik dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar dan aktivitas Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd., (II) Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si. Kata kunci: TGT, Jigsaw, Sistem Periodik. Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Pembelajaran kooperatif dianggap cocok diterapkan dalam pembelajaran pendidikan di Indonesia, terutama pada pelajaran kimia karena dalam pembelajaran kooperatif siswa sangat dituntut untuk aktif berpartisipasi dan kegiatan belajar berpusat pada siswa. Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) dan model Jigsaw cocok untuk materi yang berisi teori-teori untuk difahami dan membuat siswa aktif dalam pembelajaran. Apakah model pembelajaran kooperatif TGT dan Jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa, serta bagaimana persepsi siswa terhadap model pembelajaran tersebut adalah permasalahan dalam penelitian. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif TGT dan Jigsaw, serta untuk mengetahui persepsi siswa terhadap model pembelajaran tersebut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dan deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa SMA Negeri 2 Pasuruan semester 1 tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah penarikan sampel acak berkelompok (cluster random sampling). Sampel penelitian terdiri dari kelas X.3 sebagai kelompok eksperimen 1 dan X.5 sebagai kelompok eksperimen 2. Kelompok eksperimen 1 dilakukan pembelajaran TGT, sedangkan kelompok eksperimen 2 dilakukan strategi pembelajaran Jigsaw. Instrumen yang digunakan meliputi RPP, LKS, soal tes, angket, kuis dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian meliputi analisis deskriptif proses pembelajaran dan persepsi siswa, sedangkan analisis statistik meliputi uji normalitas,homogenitas, kesamaan dua rata-rata, serta uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Prestasi belajar siswa antara kelas yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw meningkat. Meningkatnya prestasi belajar ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diperoleh, yaitu siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki nilai tes kemampuan awal denagn rerata 54,42. Kelas Jigsaw, skor rerata 54,24. Kemudian setiap akhir pembelajaran diberi kuis. Nilai rerata kuis 1 pada kelas TGT yaitu 67,67, dan kelas Jigsaw skor rerata 61,08. Nilai rereata kuis 2 pada kelas TGT adalah 72,56, kelas Jigsaw nilai rerata 63,78. Nilai rerata tes akhir kelas TGT 73,33, dan kelas Jigsaw nilai rerata 65,32. 2) Aktivitas belajar siswa meningkat. Hal ini dapat didukung oleh meningkatnya kualitas proses pembelajaran siswa yang dapat dilihat dari keaktifan dan kegiatan diskusi kelompok siswa selama proses pembelajaran kooperatif menunjukkan peningkatan dari awal hingga akhir. 3) Persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT menunjukkan 90.56% siswa yang merespon positif terhadap aspek kebermanfaatan materi yang disampaikan, 86.64% siswa yang merespon positif terhadap aspek keaktifan siswa, dan 91.67% siswa yang merespon positif terhadap aspek ketertarikan siswa terhadap model TGT. Hasil pengolahan angket persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menunjukkan bahwa dari 37 orang siswa kelas X.5 sebanyak 89.37% siswa merespons positif terhadap aspek kebermanfaatan materi yang disampaikan, 88.67% siswa yang merespon positif terhadap aspek keaktifan siswa, dan 79.39% siswa yang merespon positif terhadap aspek ketertarikan siswa terhadap model Jigsaw.

Analisis perbandingan optimasi jumlah produksi menggunakan logika fuzzy (Studi kasus industri tegel di jalan kunta bhaswara I/11 Malang) / Erta Faradina

 

ABSTRAK Faradina, Erta. 2009. Analisis Perbandingan Optimasi Jumlah Produksi Menggunakan Logika Fuzzy. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Susy Kuspambudi Andaini, M.Kom., (II) Lucky Tri Oktoviana, S.Si., M.Kom. Kata kunci: optimasi, permintaan, persediaan, produksi, logika fuzzy, Tsukamoto, Mamdani Jumlah permintaan terhadap suatu barang dalam suatu perusahaan selalu mengalami perubahan pada periode selanjutnya. Penurunan jumlah permintaan yang cukup besar menyebabkan terjadinya penumpukan stok barang. Dalam masalah optimasi produksi, logika fuzzy diharapkan dapat dipergunakan untuk menentukan berapa banyak suatu barang sebaiknya diproduksi oleh suatu perusahaan. CV Wijaya Kusuma adalah industri yang bergerak dalam bidang industri pembuatan paving stone dan memproduksi 5 jenis paving stone setiap harinya. Pada penelitian ini digunakan logika fuzzy metode Tsukamoto dan metode Mamdani untuk menentukan jumlah produksi dari 5 jenis barang, yaitu Tiga Berlian, Diamond, Ring, Segi Empat, dam Segi Enam yang optimal. Perancangan sistem logika fuzzy metode Tsukamoto untuk menentukan jumlah barang yang optimal dilakukan tahap-tahap (a) fuzzifikasi, (b) penentuan basis aturan, (c) aplikasi fungsi implikasi, (d) Penentuan nilai -predikat, (e) inferensi Fuzzy, (f) defuzzifikasi. Sedangkan perancangan sistem logika fuzzy metode Mamdani untuk menentukan jumlah barang yang optimal dilakukan tahap-tahap (a) fuzzifikasi, (b) membentuk aturan-aturan, (c) aplikasi fungsi implikasi, (d) penegasan (defuzzifikasi). Dengan menginputkan data permintaan, persediaan, dan produksi, kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan uji statistik untuk membandingkan hasil penentuan jumlah produksi menggunakan logika fuzzy metode Tsukamoto dan metode Mamdani adalah metode Mamdani lebih optimal dibandingkan dengan metode Tsukamoto. Artinya, penentuan jumlah produksi menggunakan metode Mamdani lebih mendekati jumlah permintaan sebenarnya yang ada di perusahaan.

Pengaruh corporate social respnsibility disclosure terhadap earning response coefficient pada perusahaan manufaktur yang listing di bursa efek Indonesia / Muhmmad Fakhrul Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Muhammad Fakhrul. Pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure terhadap Earning Response Coefficient pada Perusahaan Manufaktur yang Listing pada Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sri Pujiningsih, S.E M.Si., Ak., Pembimbing: (II) Dra. Hj. Sutatmi, S.E., M.Pd., M.Si., Ak. Kata kunci: pengungkapan sosial perusahaan (CSR), earning response coefficient (ERC) Investor membutuhkan informasi-informasi perusahaan untuk melakukan pertimbangan investasi. Informasi-informasi tersebut baik berupa keuangan atau informasi non keuangan perusahaan seperti informasi sosial yang telah dilakukan perusahaan. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan mampu merespon informasi tersebut sebagai bahan pertimbangan investasi sehingga dapat memberikan return saham yang diharapkan investor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure (CSR) terhadap Earning Response Coefficient (ERC). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis regresi berganda dengan variabel moderating dengan uji interaksi. Sampel yang digunakan sebanyak 42 perusahaan selama tahun 2005-2007 yang listing di BEI. Berdasarkan hasil penelitian dengan analisi regresi berganda dengan menggunakan metode moderating dengan uji interaksi dengan melihat koefisien 3  yang merupakan koefisien moderating tidak ditemukan bahwa CSR disclosure berpengaruh negatif terhadap ERC. Dengan hasil tersebut, pengungkapan CSR tidak dapat melemahkan koefisien regresi antara earnings dan return (ERC) karena investor belum memperhatikan inforrmasi-informasi sosial yang diungkapkan perusahaan dalam laporan tahunan sebagai informasi yang dapat mempengaruhi dalam melakukan keputusan investasi. Informasi sosial yang diungkapkan perusahaan tidak mampu memberikan informasi dan belum dianggap lebih bermanfaat daripada informasi laba untuk menilai perusahaan sehingga tidak dapat dianggap mampu memberikan informasi untuk mendapatkan return saham yang diharapkan oleh investor. Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) para investor yang akan melakukan investasi, hendaknya mempertimbangkan informasi-inforamsi sosial yang diungkapkan pihak manjemen, (2) perusahaan manufaktur sebaiknya tetap secara konsisten melakukan aktivitas sosial dan lingkungan serta melakukan pengungkapan sebagai nilai tambah perusahaan, (3) untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti penelitian sejenis diharapkan menggunakan jenis perusahaan yang lain selain manufaktur dan memperbanyak jumlah sampel serta mengembangkan permasalahan.

Penerapan hasil pelatihan tenaga pengelola PKBM (Studi kasus pengelola PKBM abdi pratama di kecamatan pujon kabupaten Malang) / Soemarjono

 

ABSTRAK Soemarjono. 2010. Penerapan Hasil Pelatihan Tenaga Pengelola PKBM (Studi Kasus Pengelola PKBM Abdi Pratama di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang). Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyono, M.Pd., (II) Prof. Dr. H.S. Mundzir, M.Pd. Kata-Kata Kunci: pelatihan, pengelola, pendidikan non formal, pendidikan luar sekolah Penyelenggara pelatihan seperti Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur dan SKB Kabupaten Malang telah menyelenggarakan pelatihan untuk pengelola PKBM yang secara umu bertujuan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan konsep tentang pengelolaan PKBM. Aspek yang belum diketahui dari pelatihan yang dilaksanakan adalah bagaimana penerapan dari hasil pelatihan tersebut, karena dari penerapan itulah diketahui bagaimana perubahan terhadap kemampuan pengelola PKBM. Selain itu dengan penerapan hasil pelatihan dapat diketahui juga pelatihan mana yang efektif dan tidak, sehingga dapat dijadikan acuan pada penyelenggaraan pelatihan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) aktualisasi atau penerapan hasil belajar dari program pelatihan yang pernah diikuti para pengelola PKBM khususnya PKBM Abdi Pratama, (2) alasan sehingga implementasi hasil belajar dari pelatihan diterapkan demikian adanya, (3) pelatihan mana yang dirasa memberikan manfaat paling banyak dan mana yang tidak bermanfaat pada peningkatan kemampuan manajerial pengelola PKBM, dan (5) model pelatihan yang paling sesuai dalam mengembangkan kemampuan pengelola PKBM. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data dilaksanakan dengan tiga teknik, yakni dengan: (1) wawancara mendalam, (2) observasi peran serta, dan (3) studi dokumentasi. Sumber data utama dari penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subyek penelitian atau informan yakni dari Ketua, Sekretaris, Koordinator Program, tutor PKBM, serta Penilik Dikmas dan warga belajar. Sedangkan sebagai sumber pendukung adalah dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam tiga cara agar data menjadi penuh makna yakni reduksi data, display data, kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ditemukan: (1) tidak semua hasil pelatihan dapat diterapkan oleh pengelola PKBM utamanya yang berkaitan dengan pengadaan sarana dan prasarana serta sebagian pengadministrasian, namun yang berkaitan dengan perbaikan pengelolaan organisasi secara keseluruhan diterapkan, (2) alasan hasil pelatihan tidak dapat diterapkan secara keseluruhan disamping karena terbatasnya dana yang dimiliki, kurangnya sumber daya manusia dari segi kualitas maupun kuantitas, dan lamanya waktu untuk mengaktualisasikan, (3) dari pelatihan yang telah diikuti yang paling bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan manajerial pengelola PKBM adalah pelatihan orientasi teknis, sedangkan pelatihan yang tidak memberikan manfaat adalah pelatihan berupa workshop, dan (4) model pelatihan yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan pengelola PKBM adalah perpaduan antara role model, person development model, dan organizational development model. Berdasarkan temuan diatas, maka disarankan yaitu: (1) agar pengelola PKBM bersungguh-sungguh menerapkan atau mengaktualisasikan hasil pelatihan semaksimal mungkin, dengan jalan mengimbaskan kepada pengelola yang lain dalam satu PKBM sehingga dapat saling bantu membantu untuk melakukan pembenahan dan perbaikan organisasi, (2) instansi penyelenggara pelatihan dalam hal ini Dinas Pendidikan dan SKB agar benar-benar menyelenggarakan secara profesional, artinya dalam merancang suatu pelatihan dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kemampuan pengelola PKBM dan bukan hanya untuk memenuhi “kewajiban proyek” semata sehingga dilakukan dengan seadanya, namun pelatihan benar-benar dirancang dengan tujuan yang tepat, alokasi waktu yang efektif, narasumber yang berkualitas, materi yang padat berimbang dan berkualitas, (3) agar instansi penyelenggara dalam menggunakan model pelatihan benar-benar memilih model yang tepat disesuaikan dengan tujuan apa yang hendak dicapai serta karakteristik peserta pelatihan.

Kontribusi retribusi pasar dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah kabupaten Ponorogo / Chilvy Widiana

 

ABSTRAKS Widiana, Chilvy.2009. Kontribusi Retribusi Pasar dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, S1 Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec., (II) Agus Sumanto, S.E., M.S.A Kata Kunci: Kontribusi Retribusi Pasar, Pendapatan Asli Daerah Tujuan Penelitihan adalah untuk menggambarkan besarnya pendapatan retribusi pasar di Daerah Kabupaten Ponorogo. Mengetahui besarnya kontribusi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah, dan langkah-langkah pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo dalam usaha peningkatan Pendapatan asli Daerah dari retribusi pasar. Penelitian ini menganalisis dan mendeskripsikan data hasil kontribusi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah dari tahun 1999 hingga tahun 2008. Menggunakan (a) teknik analisis persentase untuk mengetahui perkembangan penerimaan retribusi pasar dan perkembangan pendapatan asli daerah dan seberapa besar kenaikan dan penurunan tiap-tiap tahun dan (b) teknik analisis kontribusi untuk mengetahui besarnya kontribusi penerimaan retribusi pasar tiap-tiap tahunnya terhadap pendapatan asli daerah. Dari hasil penelitihan dan pengamatan selama sepuluh tahun diketahui: 1) gambaran besarnya pendapatan retribusi pasar mulai tahun 1999 – 2008 rata-rata pertahunnya sebesar 15.75%, 2) kontribusi retribusi pasar terhadap PAD dari tahun 1999 – 2008 rata-ratanya sebesar 6.66% pertahun, persentase kontribusi pendapatan Retribusi Pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah kecil bahkan menurun di tiap tahunnya, 3) upaya pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah dari Retribusi Pasar yaitu dengan usaha ekstensifikasi dan intensifikasi pasar, dengan adanya penyuluhan akan wajib retribusi, ketepatan waktu pembayaran dan pengawasan yang bagus kegiatan operasional retribusi pasar serta adanya petugas yang bertindak tegas dalam pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam retribusi, sehingga operasional retribusi pasar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Namun Retribusi Pasar Kabupaten Ponorogo disimpulkan tidak cukup besar kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Ponorogo. Dengan kontribusi sebesar 6,66% jika dibanding dengan Pendapatan Asli daerah, maka retribusi pasar mempunyai persentase yang kecil terhadap kenaikan Pendapatan Asli Daerah dan kontribusinya selama sepuluh tahun semakin menurun. Beberapa saran yang masih perlu dilakukan terhadap perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana dengan menambah jumlah aparat pemungut, dan disertai program penyuluhan kepada wajib retribusi agar mereka lebih tertib dan disiplin di dalam memenuhi kewajibannya.

Penerapan pendekatan PMRI dalam meningkatkan prestasi belajar pengukuran luas bangun datar pada siswa kelas VI SDN PUSPO III kec. Puspo kab. Pasuruan / Anggun Sumargo

 

Anggun Sumargo, 2009. '' Penerapan Pendekatan PMRI Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pengukuran Luas Bangun Datar Pada Siswa Kelas VI SDN Puspo III Kec. Puspo” Kata Kunci : Mata Pelajaran Matematika, Pendekatan PMRI. Mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang banyak ditakuti menurut sebagian besar siswa di beberapa sekolah. Hal ini menimbulkan dampak yang kurang baik bagi prestasi siswa. Di SDN Puspo juga mengalami hal yang sama. Prestasi belajar mata pelajaran Matematika siswa kelas V SDN Puspo III sangat rendah yang dapat dilihat dari hasil tes tertulis formatif. Hal ini disebabkan penggunaan metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru sehingga siswa cenderung pasif dan kurang timbulnya kreatifitas. Oleh karena mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran wajib mulai dari SD-SMU, maka prestasi belajar siswa harus diperhatikan dengan seksama. Sejak awal siswa sekolah dasar harus ditanamkan rasa suka terhadap mata pelajaran ini. Apabila rasa suka terhadap mata pelajaran matematika sudah terbentuk, tidak mustahil apabila kempuan berpikir kritis, kreatif dan siap menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari akan tercapai. Selama ini, cara pengajaran mata pelajaran matematika masih menggunakan cara-cara lama yang hasilnya kurang memuaskan. Mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu penulis menerapkan pendekatan PMRI dengan harapan merangsang siswa untuk berpikir bebas dan mengembangkan kreatifitasnya. Dengan pendekatan PMRI diharapkan akan berdampak pada meningkatnya prestasi siswa terutama pada mata pelajaran matematika.

Membangun jariangan internet dengan menggunakan mikrotik OS sebagai gateway di laboratorium komputer, SMP NEGERI 2 Tugu - Trenggalek / Dewi Endahwati

 

Perkembangan pengetahuan di bidang IT dewasa ini semakin pesat Perkembangan teknologi informasi yang mengarah pada pengaksesan sumber-sumber informasi dan data secara terintegrasi, efektif dan efisien, dengan memanfaatkan media komunikasi dan suatu protokol komunikasi sehingga antar komputer dapat saling berbagi dan bertukar informasi. SMP Negeri 2 Tugu Trenggalek memerlukan sebuah sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet untuk menunjang kinerja di sekolah. Hal ini terutama dibutuhkan oleh Bagian Tata Usaha, Kegiatan Belajar Mengajar dalam rangka pengaksesan data secara terintegrasi, cepat dan up to date. Mikrotik routerOS adalah Router Software yang dapat menggunakan peralatan embeded (minimum sistem) maupun menggunakan PC (personal komputer) serta kompatible dengan IBM PC X86. Mikrotik routeOS dibangun dengan menggunakan kernel Linux, berbagai macam software pengelolahan jaringan dan dikemas menjadi satu dengan proprietari software dan diproduksi oleh Mikrotik di Latvia. Dalam membangun jaringan komputer, pembahasan dilihat dari dua aspek: perangkat keras dan perangkat lunak. Dalam perangkat keras pengenalan meliputi jenis transmisi, dan bentuk-bentuk jaringan komputer atau topologi. Sedangkan dalam pembahasan perangkat lunaknya akan meliputi susunan protokol dan perjalanan data dari satu komputer ke komputer lain dalam suatu jaringan. Topologi yang digunakan adalah Topologi Star dimana semua kabel terpusat pada satu hub yang dihubungkan dengan mengunakan jenis kabel lurus (straight cable) dengan kabel jenis UTP merek Belden dengan kedua ujungnya menggunakan konektor RJ 45. Yang salah satunya akan dipasang di Card LAN pada PC dan ujung satunya di HUB/ Switch. HUB yang digunakan adalah merk D-Link 24 port. Untuk mewujudkan jaringan komputer yang terhubung ke internet dengan menggunakan mikrotik OS sebagai PC Router maka dilakukan konfigurasi dan instalasi Local Area Network, sharing printer, konfigurasi antarmuka dan IP address, Network Address Translation (NAT), Gateway dan DNS. Jaringan komputer menjadi penting bagi SMP Negeri 2 Tugu karena memiliki banyak keuntungan. Dengan terkoneksinya jaringan komputer di laboratorium SMP Negeri 2 Tugu dapat melakukan sharing printer yang pada akhirnya mendukung efisiensi kerja. Mikrotik PC Router yang diinstal dan dikonfigurasi terbukti mampu meningkatkan kecepatan akses pada jaringan internet.

Pengembangan paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa negeri 8 Malang / Siti Maimunah

 

ABSTRAK Maimunah, Siti. 2009. Pengembangan Paket Bimbingan Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal bagi Siswa SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Henny Indreswari, M.Pd., (2) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan paket bimbingan, manajemen konflik interpersonal, experiential learning. Konflik adalah sesuatu yang alamiah, ia dialami orang-orang dengan latar belakang, budaya, kelas, kebangsaan, usia, jender apapun di tengah kehidupan sehari-hari. Cara-cara menyikapi konflik secara tidak tepat, seringkali berkaitan dengan cara pandang seseorang dalam melihat konflik. Menurut Weitzman & Patricia (2000) isu terpenting menyikapi konflik di masyarakat adalah bukan mencegah timbulnya konflik melainkan bagaimana mengelola konflik. Terdapat dua aspek penting yang perlu dikembangkan dalam upaya pencegahan dan penanganan konflik. Pertama, aspek kapasitas menangani konflik yang meliputi keterampilan dan pengetahuan adekuat untuk penyelesaian sekaligus pencegahan konflik. Kedua, kesadaran kritis masyarakat maupun pemerintah dalam menyelesaikan maupun pencegahan konflik. Berdasarkan realita bebagai konflik dan kedudukan pendidikan yang strategis, maka keterampilan manajemen konflik perlu dikembangkanpada siswa melalui berbagai jalur dan program. Cara-cara mencegah dan menyelesaikan konflik sehingga tidak berakhir destruktif dapat dilakukan dengan membekali siswa dengan keterampilan mengelola konflik. Untuk membantu siswa yang mengalami masalah penyesuaian sosial, perlu disusun paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal. Untuk mengaplikasikan paket bimbigan tersebut konselor membutuhkan panduan. Panduan yang berisi tentang aspek-aspek keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa. Dengan demikian maka perlu dikembangkan paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal agar dapat membantu konselor dalam memberikan layanan bimbingan di sekolah. Rumusan masalah penelitian ini adalah belum adanya paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal di SMA Negeri 8 Malang yang tepat, layak, bermanfaat dan menarik bagi siwa SMA. Hasil akhir yang diharapkan dari penelitian ini berupa seperangkat paket Bimbingan Keterampilan Manajemen Konflik Interpersoanal siswa SMA beserta panduan pelaksanaan bimbingannya yang dapat diterima secara teoritis maupun praktis. Produk pengembangan yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, yaitu (1) panduan paket keterampilan manajemen konflik interpersonal untuk konselor (2) panduan dan paket materi bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal untuk siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yaitu menyusun dan menguji akseptabilitas paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa SMA Negeri 8 Malang. Produk penelitian pengembangan ini adalah: pedoman bagi konselor, panduan dan paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa. Pengembangan paket ini terdiri atas tiga penggalan topik materi yaitu: (1) konsep dasar konflik; (2) membangun kolaboratif negosiasi; (3) pengambilan keputusan dalam konflik. Ketiga topik tersebut didesain aplikasinya dalam akivitas pembelajaran model experiential learning (EL) oleh David Kolbs. Aplikasi model belajar EL terwujud dalam empat rangkaian aktivitas utama meliputi: aktivitas pemberian pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan pengalaman nyata. Acuan pola penelitian pengembangan mengadaptasi model Borg and Gall (1983). Prosedur pengembangan mencakup tiga kelompok tahapan yaitu tahap pra survei, tahap penyusunan prototipe produk, tahap validasi. Ketiga tahap pengembangan itu mengikuti rangkaian langkah-langkah berikut ini: (1) melakukan need assesment; (2) menetapkan jenis keterampilan yang akan dilatihkan; (3) merumuskan tujuan; (4) menyusun prototipe paket; (5) penilaian produk/uji ahli; (6) revisi produk; (7) produk akhir. Analisis hasil penilaian uji ahli dan pengguna produk (konselor) menunjukkan paket memenuhi kriteria akseptabilitas, sehingga dapat digunakan sebagai paket bimbingan keterampilan manajemen konflik interpersonal bagi siswa SMA Negeri 8 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar penggunaan Paket Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal terlaksana sesuai dengan rancangan, konselor sebagai fasilitator perlu memiliki kompetensi teknik manajemen konflik, memiliki pemahaman konflik secara menyeluruh, dan memiliki keterampilan interpersonal yang baik. Untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan pada diri siswa, maka konselor perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk terus berlatih menggunakan teknik-teknik manajemen konflik interpersonal yang telah siswa pelajari di sekolah dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah agar keterampilan manajemen konflik interpersonal siswa dapat terus meningkat sehingga menjadi kebiasaan positif siswa ketika menghadapi suatu konflik dalam proses interaksinya dengan lingkungan. Perlu diadakan uji lapangan (siswa), sehingga Paket Bimbingan Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal ini benar-benar dirasakan manfaat dan kesesuaiannya pada siswa, khususnya siswa SMA. Perlu dibuat buku paket keterampilan manajemen konflik interpersonal yang dapat digunakan secara mandiri oleh siswa. Apabila Paket Keterampilan Manajemen Konflik Interpersonal ini akan digunakan oleh selain siswa SMA di kota Malang, maka perlu diadakan penyesuaian.

Perbedaan tingkat kepercayaan diri siswa akselarasi dan non-akselarasi di SMA NEGERI 1 Malang / Gonang Nurliyawan

 

ABSTRAK Nurliyawan, Gonang. Perbedaan Tingkat Kepercayaan Diri Siswa Akselerasi dan Non-akselerasi di SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling Dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Triyono, M.Pd (II) Drs. Djoko Budi Santoso Kata Kunci : Kecemasan terhadap tes, motivasi berprestasi Secara konseptual program akselerasi baik, namun dalam implementasinya masih mengandung pro dan kontra. Beberapa kelemahan mengiringi penyelenggaraan akselerasi tersebut, salah satunya stigmatisasi pada diri siswa yang ada di kelas reguler. Mamang dalam hal akademik siswa akselerasi bisa dikatakan lebih diunggulkan tetapi dalam hal kepercayaan diri belum tentu anak akselerasi lebih tinggi karena masalah kepercayaan diri juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti fenomena ini. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1) mendeskripsikan kepercayaan diri siswa non-akselerasi; 2) mendeskripsikan kepercayaan diri siswa akselerasi dan; 3) mengetahui ada tidaknya perbedaan kepercayaan diri siswa akselerasi dan siswa non-akselerasi SMAN 1 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas akselerasi SMAN 1 Malang sejumlah 41 siswa dan siswa non-akselearasi sejumlah 825 siswa. Semua siswa akselerasi digunakan sebagai subyek penelitian sedangkan siswa non-akseleasi hanya 45 orang siswa yang digunakan sebagai subyek penelitian. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling populasi untuk siswa akseleasi, sedangkan untuk siswa non-akselerasi digunakan teknik sampling proporsional. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan skala, yaitu skala kepercayaan diri. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kepercayaan diri yang signifikan antara siswa akselerasi dan siswa non-akselerasi SMA Negeri 1 Malang. Dari hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa : 1) Sebagian besar siswa non-akselerasi SMA Negeri 1 Malang memiliki kepercayaan diri dengan klasifikasi sedang. 2) Seluruh siswa akselerasi SMA Negeri 1 Malang memiliki kepercayaan diri dengan klasifikasi tinggi. Sedangkan dari uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kepercayaan diri pada siswa akselerasi dan non-akselerasi di SMA Negeri 1 Malang dengan nilai thitung= -19,383 (sig = 0,000). Dari hasil penelitian ini, maka disarankan kepada para siswa akselerasi dan non-akselerasi agar lebih obyektif dalam memandang dirinya. Pandangan obektif terhadap kemampuan diri akan menyebabkan kepercayaan diri tepat pada porsinya. Hal ini akan mengakibatkan siswa akselerasi maupun non-akselerasi lebih siap dalam menghadapi kegagalan sehingga kegagalan tidak akan menyebabkan keputus-asaan yang fatal. Disarankan kepada para konsleor agar hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan dalam melakukan bimbingan konseling kepada siswa akselerasi dan non-akselerasi, khususnya dalam hal bimbingan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi berbagai permasalahan di sekolah. Bagi para peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji permasalahan ini disarankan untuk menggunakan metode penelitian yang lain, misalnya dengan metode kuantitatif eksperimental ataupun metode kualitatif. Selain itu, dirasa perlu untuk melengkapinya dengan variabel-variabel lain, seperti latar belakang ekonomi keluarga, pola asuh orangtua dan lain sebagainya sehingga menjadi lebih sempurna.

Implementasi kebijakan pemerintah kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai kota pendidikan / Andy Wahyu Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Andy, Wahyu. 2009. Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Malang Dalam Mewujudkan Malang Sebagai Kota Pendidikan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.H., (II) Drs. Kt. Diara Astawa, S.H., M.Si. Kata kunci: Implementasi, Kebijakan, Pendidikan. Pemerintah Kota Malang telah melaksanakan kebijakan desentralisasi pemerintahan untuk mewujudkan otonomi daerah. Dengan otonomi daerah ini diharapkan masyarakat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih bertanggungjawab dalam urusan pemerintahan. Salah satu bidang pemerintahan yang didesentralisasikan adalah bidang pendidikan. Pelaksanaan otonomi daerah bidang pendidikan di Kota Malang masih menghadapi sejumlah masalah baik bersifat konseptual maupun faktual. Jika permasalahan tersebut tidak segera ditangani maka dikhawatirkan bahwa desentralisasi pengelolaan pendidikan akan membawa dampak negatif, khususnya dalam rangka mewujudkan Malang sebagai Kota Pendidikan. Itulah sebabnya pemerintah Kota Malang dan DPRD Kota Malang membentuk Peraturan Daerah No. 13 tahun 2001 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan di Kota Malang yang memberikan dukungan yang tegas dan jelas dalam penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pendidikan dengan tetap berpegang pada satu sistem pendidikan nasional dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota pendidikan. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kebijakan yang telah dicanangkan oleh pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota pendidikan; (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota pendidikan; (3) Dampak implementasi kebijakan yang telah dicanangkan oleh pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan Malang sebagai Kota Pendidikan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Untuk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model interaktif (Miles dan Huberman, 1992:21-25). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mewujudkan Malang sebagai Kota Pendidikan, pemerintah Kota Malang mencanangkan beberapa kebijakan yang tertuang di dalam rencana strategi (Renstra) Kota Malang tahun 2009-2013. Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut, pemerintah Kota Malang membagi menjadi 3 (tiga) tahap pengimplementasian, yaitu: (1) jangka pendek; (2) jangka menengah; dan (3) jangka panjang. Sementara ini, kebijakankebijakan yang diprioritas pengimplementasiannya dan sudah terimplementasikan atau terlaksana sesuai dengan prosedur yang ada, yaitu yang jangka pendek. Hal ini, dikarenakan terkait dengan anggaran yang ada dan adanya tuntutan ii masyarakat untuk memperoleh fasilitas pendidikan yang baik dan berkualitas. Kebijakan yang dimaksud, yaitu: (1) Kebijakan politik pemerintah daerah yang konsisten berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Pembinaan kelembagaan dan manajemen sekolah dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada pendidikan dasar dan menengah; (b) Peningkatan manajemen pelayanan pendidikan; (c) Monitoring dan evaluasi program pendidikan; (d) Penerapan sistem dan informasi manajemen pendidikan; (e) Pembinaan komite sekolah. (2) Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Rehap sedang atau berat bangunan sekolah; (b) Penambahan ruang kelas sekolah; (c) Pengadaan buku perpustakaan; (d) Pengadaan komputer; (e) Pengadaan alat praktek dan peraga. (3) Terpenuhinya kuantitas dan kualitas tenaga pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Pelatihan Teknologi Informatika; (b) Penyetaraan guru; (c) Penyediaan dana kelebihan jam mengajar bagi PNS; (d) Tambahan dana kesejahteraan Guru Tidak Tetap (GTT). (4) Membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat untuk masuk di semua jenjang pendidikan; bentuk kegiatannya, yaitu: (a) Pemberian bantuan operasional pendidikan non formal; (b) Pembinaan lembaga kursus; (c) Pengadaan pakaian seragam; (d) Bantuan atau subsidi biaya ujian sekolah; (e) Peningkatan mutu pendidikan bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sementara itu, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan tersebut, terdiri dari: (1) Faktor pendukung, meliputi: (a) Politik; (b) Organisasi dan manajemen yang baik; (c) Sarana dan prasarana; (d) Partisipasi masyarakat; (e) Anggaran pendidikan; serta (f) Sosial budaya. (2) Faktor penghambat, yaitu: faktor teknis dan non teknis. Sedangkan dampak dari implementasi kebijakan tersebut, yaitu: (1) Meningkatnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan; (2) Meningkatnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan; (3) Meningkatnya mutu tenaga pendidik dan tenaga kependidikan; (4) Terwujudnya pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat dengan baik dan memadai. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan sebagai berikut: (1) Pemerintah Kota Malang dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Malang harus berupaya terus untuk meningkatkan beasiswa pendidikan bagi anak kurang mampu, terutama bagi anak-anak jalanan yang ingin melanjutkan sekolah; (2) Perlunya memperbesar alokasi dana APBD untuk dunia pendidikan, khususnya bagi warga Kota Malang yang kurang mampu secara ekonomi.

Meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalrejo II kec. Sukerejo / Siti Zulaikhah

 

ABSTRAK Zulaikhah, S. 2009 Meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalirejo II Kecamatan Sukorejo. Kata Kunci : Kemampuan memahami isi bacaan, dan strategi belajar PQ4R Kemampuan memahami isi bacaan pada siswa kelas VI SDN Kalirejo sangat kurang, berdasarkan pengalaman sehari-hari peneliti yang pernah mengajar di kelas VI SDN Kalirejo II. Hal tersebut juga tampak pada mata pelajaran lainnya, baik IPS, PKn, IPA bahkan matematika yang menggunakan kalimat (soal cerita). Permasalahan tersebut dicoba diatasi dengan menggunakan strategi belajar PQ4R yang diharapkan dapat meninggalkan kemampuan memahami isi bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Meningkatkan kemampuan isi bacaan dengan menggunakan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalirejo II Kecamatan Sukorejo, (2) Mningkatkan hasil belajar dengan menggunakan strategi belajar PQ4R pada siswa kelas VI SDN Kalirejo Kec. Sukorejo. Hasil Penelitian dikemukakan sebagai berikut : nilai rata-rata kemampuan memahami isi bacaan pada siklus I sebesar 3,92 dan nilai rata-rata kemampuan memahami isi bacaan pada siklus II sebesar 6,25 yang berarti mengalami peningkatan poin sebesar 2,33 poin. Demikian juga dengan hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan poin sebesar 1,3, pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 5,64 dan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 6,94. Dapat disimpulkan jika siswa memahami isi bacaan maka hasil belajar siswa juga akan meningkat.

Perbedaan hasil belajar matematika pokok bahasan fungsi yang pembelajarannya dengan pendekatan problem posing dan pembelajaran ekspositori pada siswa kelas VIII SMP Roudlotul Aqo'idi Bangil / Erta Faradina

 

ABSTRAK Faradina, Erta. 2009. Perbedaan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Fungsi Yang Pembelajarannya dengan Pendekatan Problem Posing dan Pembelajaran Ekspositori Pada Siswa Kelas VIII SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Dwiyana, M.Pd, (II) Dra. Ety Tejo Dwi Cahyowati, M.Pd. Kata kunci: problem posing, hasil belajar. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti di SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil, pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan metode tanya jawab dan pemberian tugas, ternyata hal tersebut belum bisa memperoleh hasil yang optimal dan masih ada siswa yang mengalami kesulitan. Kesulitan siswa dalam belajar matematika akan mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran matematika sangatlah penting untuk memilih metode yang tepat, salah satu metode tersebut adalah menggunakan pembelajaran dengan pendekatan problem posing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem posing dan siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori Dengan adanya pembelajaran problem posing, siswa dapat berpikir lebih kritis, dapat mengembangkan keterampilan dan kreatifitas, serta lebih berani dalam mengemukakan pendapat. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif jenis penelitian eksperimen semu. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pokok bahasan fungsi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil. Data hasil belajar diperoleh dari tes hasil belajar (evaluasi). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih tinggi dibanding siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori. Peneliti menyarankan sebaiknya pembelajaran dengan pendekatan problem posing dijadikan sebagai alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran khususnya untuk SMP Roudlotul Aqo’idi Bangil. Bagi peneliti lain yang ingin menerapkan bentuk pembelajaran ini, dapat melakukan penelitian serupa terhadap materi yang lain atau penelitian tindakan kelas.

Hubungan antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat instalasi rawat inap di RSD Mardi Waluyo Blitar / David Sugeng Widodo

 

ABSTRAK Widodo, David Sugeng. 2009. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Kejenuhan Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si. (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si. Kata kunci: dukungan sosial, kejenuhan kerja, perawat Kualitas karyawan merupakan satu hal penting karena kemajuan di bidang industri ditentukan oleh kualitas karyawannya. Satu persoalan yang muncul berkaitan dengan individu dalam menghadapi tuntutan peningkatan profesionalisme adalah stres. Permasalahan akan timbul apabila stres terjadi dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi akan mengakibatkan individu mengalami kejenuhan kerja atau biasa disebut dengan burnout. Kejenuhan kerja banyak dijumpai pada jenis pekerjaan layanan sosial karena keterlibatan emosional yang cukup besar, situasi yang dapat meningkatkan tensi emosi, dan kewaspadaan yang tinggi sebagai bentuk tanggungjawabnya. Munculnya kejenuhan kerja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat kejenuhan kerja adalah dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan dukungan sosial pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. 2) mendeskripsikan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. 3) mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. Hipotesis penelitian ini adalah “ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar.” Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan sosial, sedangkan variabel terikatnya adalah kejenuhan kerja. Penelitian dilakukan dengan rancangan deskripsi korelasional dengan subyek penelitian sebanyak 60 orang perawat Instalasi Rawat Inap Dr. Mardi Waluyo Blitar. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala dukungan sosial dan skala kejenuhan kerja. Skala dukungan sosial memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,262-0,623 dengan reliabilitas 0,859. Skala kejenuhan kerja memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,273-0,738 dengan reliabilitas 0,933. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik korelasi product moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan: 1) 23,33% perawat mendapatkan dukungan sosial tinggi, 61,67% perawat mendapatkan dukungan sosial sedang, dan 15% perawat mendapatkan dukungan sosial rendah. 2) 18,33% perawat mengalami kejenuhan kerja tinggi, 61,67% perawat mengalami kejenuhan kerja sedang, dan 20% perawat mengalami kejenuhan kerja rendah. 3) ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja (r = -0,452; nilai p = 0,000; taraf signifikansi < 0,05). Dari hasil penelitian disarankan agar peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti topik yang sama hendaknya mempertimbangkan faktor-faktor lain yang belum sempat terungkap dalam penelitian ini, khususnya faktor internal.

Perbedaan tingkat resiliensi remaja yang tidak aktif mengikuti organisasi di SMP NEGERI 20 Malang / Siti Saringatun

 

ABSTRAK Saringatun, Siti. 2009. Perbedaan Tingkat Resiliensi Remaja yang Aktif Mengikuti Organisasi dan Remaja yang Tidak Aktif Mengikuti Organisasi di SMP Negeri 20 Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Ella Faridati Zen.M.Pd (II) Drs. Harmiyanto. Kata Kunci : resiliensi, berorganisasi, bimbingan dan konseling Pada dasarnya setiap individu memiliki kapasitas atau kemampuan yang berbeda. Kapasitas atau kemampuan tersebut bisa juga disebut dengan resiliensi. Resiliensi setiap individu juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkat resiliensi adalah tingkat kemampuan atau kapasitas yang dimiliki oleh seseorang, atau individu yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan, dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan untuk diubah menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 20 Malang tahun ajaran 2008/2009. Sampel diambil dengan teknik total sampling. Jumlah responden sebanyak 416 siswa. Instrumen yang digunakan berupa angket, dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali (81,82 %) siswa yang aktif mengikuti organisasi memiliki tingkat resiliensi yang tinggi dan sedikit sekali (18,18 %) yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang. Adapun siswa yang tidak aktif mengikuti organisasi terdapat banyak sekali (83,54 %) siswa memiliki tingkat resiliensi yang sedang dan sedikit (14,02%) yang memiliki tingkat resiliensi yang tinggi dan sedikit sekali (2,44 %) siswa yang tidak mengikuti organisasi memiliki tingkat resiliensi yang rendah. Dari hasil pengujian hipotesis (uji-t) didapat nilai p (0,000)<0,05 maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat resiliensi remaja yang aktif mengikuti organisasi dan remaja yang tidak aktif mengikuti organisasi di SMP Negeri 20 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi lembaga pendidikan/sekolah;diharapkan sekolah dapat lebih memotivasi para siswanya untuk ikut organisasi kesiswaan sekaligus menyediakan wadah yang sesuai dengan kegiatan dari organisasi kesiswaan tersebut berikut sarana penunjangnya. (2) Bagi konselor sekolah yang bertugas di SMPN 20 Malang ini diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan informasi tentang perbedaan tingkat resiliensi remaja yang aktif mengikuti kegiatan organisasi dan yang tidak aktif mengikuti kegiatan organisasi. Dari informasi tentang perbedaan tingkat resiliensi ini, diharapkan konselor dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan dalam memahami karakteristik siswa. (3) Bagi Peneliti selanjutnya sebagai acuan bahan pustaka untuk mengadakan pengembangan keilmuan dan penelitian lebih lanjut khususnya tentang hal lain yang mempengaruhi tingkat resiliensi misalnya jenis kelamin, usia, pengembangan paket peningkatan resiliensi atau juga pengembangan teknik model bantuan masalah resiliensi.

Meningkatkan prestasi belajar perkalian melalui pendekatan PMRI siswa kelas II SDN Martopuro 1 kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruaan / Endah Puspandari

 

ABSTRAK Puspandari Endah. 2010. Meningkatkan prestasi belajar siswa konsep perkalian Kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan melalui Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Program S1 PGSD PJJ. Pembimbing Drs. Goenawan Roebyanto, M. pd Kata Kunci : Pembelajaran Matematika Realistik, Pemahaman Konsep Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik. Dalam penelitian ini dapat di rumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah penerapan Pembelajaran Matematika Realistik dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan ? (2) Apakah dengan menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan ? Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan sebanyak 20 siswa. Penelitian ini di awali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam Memahami konsep perkalian yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan. Hasil yang di peroleh melalui pemberian tes awal kepada siswa telah menunjukkan bahwa 30 % siswa termasuk klasifikasi baik 60% siswa termasuk klasifikasi cukup baik, sedangkan yang termasuk klasifikasi kurang baik ada 15 % siswa. Rendahnya nilai tersebut kemungkinan diakibatkan kurangnya penguasaan konsep matematika yang diantaranya ada pemahaman konsep operasi hitung bilangan. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1) hasil observasi aktivitas guru siklus I dengan persentase 87,6 % yang mempunyai kategori sangat baik, dan siklus II dengan persentase 93,8 yang mempunyai kategori sangat baik sehingga terjadi peningkatan aktivitas guru sebesar 3,8 % (2) hasil observasi aktivitas siswa siklus I dengan persentase 77,3 % yang mempunyai kategori baik, dan siklus II dengan persentase 88 % yang mempunyai kategori sangat baik sehingga terjadi peningkatan aktivitas siswa sebesar 7,7 % (3) kemampuan pemahaman konsep perkalian siswa meningkat sebanyak 20 siswa mempunyari kriteria baik sekali, karena itu dapat disimpulkan bahwa dengan Pembelajaran Matematika Realistik kemampuan pemahaman konsep perkalian siswa kelas II SDN Martopuro I Kec. Purwosari Kab. Pasuruan

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V MI Miftahul Huda IV Tanggul Kecamatan Beji kabupaten Pasuruan / Umi Sholicha

 

ABSTRAK Umi Sholicha. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD Untuk Meningkatkan hasil belajar IPS Siswa Kelas V MI Miftahul Huda IV Tanggul Kec. Beji Kab. Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Moh. Shochib, M. Pd. (II). Dra. Purwendarti, M.Pd. Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, Model STAD, Hasil Belajar IPS Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu ilmu yang mengkaji seperangkat peristiwa, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Namun pada kenyataannya pembelajaran IPS di MI Miftahul Huda IV masih menerapkan pembelajaran pada teoritis saja bukan mempelajari, menelaah, mengakaji gejala dan memecahkan masalah sosial. Berdasarkan pengamatan yang ditemukan diperoleh permasalahan sebagai berikut: (1) kondisi pembelajaran IPS tampak kurang kondusif, 2) hasil belajar diperoleh siswa juga rendah. Dalam pembelajaran guru bertindak lebih aktif, sedangkan siswa pasif dan hanya mendengar, mencatat, dan menghafal materi pelajaran yang disampaikan guru. Kondisi pembelajaran di kelas terasa membosankan, siswa diam, bercanda dan berbicara sendiri atau dengan siswa lain sehingga kelas menjadi ramai dan tidak mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran. Karena pembelajaran yang dilakukan di kelas kurang menarik minat siswa untuk belajar. Hasil belajar siswa rendah, siswa yang memiliki nilai tertinggi antara 80-100 sebanyak 2 orang, siswa yang memiliki nilai sedang antara 60-70 sebanyak 3 orang, sedangkan siswa yang memiliki nilai yang terendah antara 20-50 sebanyak 11 orang. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran model STAD yang diterapkan dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi pembelajaran IPS dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas V MI Miftahul Huda IV Tanggul dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang dilakukan selama dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksana tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas V dengan jumlah 16 orang yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan, semester I tahun 2009-2010. Instrumen yang digunakan APKG I, APKG II, pedoman observasi kondisi pembelajaran dan soal tes. Hasil penelitian yang diperoleh dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih kondusif dan mengarah pada tujuan pembelajaran. Kondisi pembelajaran mencapai 65% pada siklus I dan 79% pada siklus II. Dan hasil belajar siswa pada Pra Tindakan sebesar 39,6, pada Siklus I sebesar 62,5, dan Siklus II sebesar 71,25. Rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan terjadi peningkatan. Adapun peningkatan pada pretes ke siklus I sebesar 22,9 dan sklus I ke siklus II sebesar 8,75. Dari hasil pembahasan penelitian maka disimpulkan bahwa 1) kondisi pembelajaran terasa lebih kondusif dengan pembelajaran kooperatif model STAD. Semua siswa berpartisipasi aktif melakukan kegiatan pembelajaran. Siswa yang kurang berminat dalam belajar menjadi lebih bergairah. 2) pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V MI Miftahul Huda IV dengan rata-rata sebesar 62.5 pada siklus I menjadi 71,25 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini menyarankan bahwa: 1) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS sebaiknya guru dalam pembelajaran IPS melakukan inovasi-inovasi dalam pengembangan model pembelajaran yang tepat. Sehingga proses pembelajaran dapat tercapai secara maksimal sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2) hasil belajar yang dicapai siswa, guru harus merespon dengan memberikan penghargaan terhadap apa yang telah dicapai sehingga siswa akan lebih semangat lagi untuk meningkatkan prestasi belajarnya. 3) siswa diberikan kesempatan belajar mengungkapkan pendapat, bertanya, dan menjawab pertanyaan agar terbiasa melakukan kegiatan diskusi. 4) kepada peneliti lain berkenan menindak lanjuti penelitian tindakan kelas dengan menggunakan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD pada kompetensi dan mata pelajaran yang lain.

Hubungan antara insentif dan motivasi kerja denfan produktifitas kerja pada pegawai dinas pendidikan kota Probolinggo / Endra Adhi Sasmito

 

ABSTRAK Sasmito, Endra Adhi. 2009. Hubungan antara Insentif dan Motivasi Kerja dengan Produktivitas Kerja pada Pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd, (II) Dr. H. Ali Imron, M.Pd, M Si Kata kunci: insentif, motivasi kerja, produktivitas kerja Dewasa ini pelaksanaan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang–Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 banyak mendapat sorotan masyarakat. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang ke depannya ditujukan untuk meningkatkan potensi semua komponen pendidikan yang di dalamnya termasuk juga anggota pegawai kantor Pendidikan Nasional. Melalui insentif pegawai harusnya menyesuaikan dengan pekerjaan apa yang telah dikerjakannya. Untuk itu tugas beban kerja yang sedemikian itu selayak-nyalah para pegawai tersebut mendapatkan porsi perhatian untuk dicermati produktivitas kerjanya dengan kesejahteraan atau gaji yang diterima. Keadilan dalam masalah gaji perlu sekali dijaga untuk menghindari munculnya perasaan ketidakpuasan pegawai terhadap gaji yang mereka terima. Pemberian bonus atau insentif yang didasarkan pada kinerja pegawai akan menjadi salah satu cara untuk menciptakan keadilan pada suatu instansi pemerintahan. Tugas manajemen sumber daya manusia untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya. Setiap lembaga pendidikan dituntut menangani serius pengelolaan sumber daya manusia dengan berusaha meningkatkan performa kinerja pegawai. maka dari itu peneliti mengambil judul “Hubungan antara Insentif dan Motivasi Kerja dengan Produktivitas Kerja pada Pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo”. Tujuan penelitian ini adalah selain untuk mendeskripsikan tingkat insentif, motivasi kerja dan produktivitas kerja, juga mengetahui adanya hubungan secara langsung yang signifikan antara insentif dengan motivasi kerja, hubungan secara langsung yang signifikan antara insentif dengan produktivitas kerja, hubungan secara langsung yang signifikan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja, dan untuk mengetahui hubungan secara tidak langsung yang signifikan antara insentif dengan produktivitas kerja melalui motivasi kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) berdasarkan hasil analisis deskriptif, responden dengan skor rata-rata menyatakan sangat puas dengan insentif yang diterima. Hal ini dapat menandakan pemberian insentif yang diterima pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo sudah cukup sesuai (2) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui tingkat motivasi kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dalam keadaan baik, karena responden dengan skor rata-rata menyatakan baik dengan keadaan motivasi kerjanya. (3) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui tingkat produktivitas kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dalam keadaan baik, karena responden dengan skor rata-rata menyatakan merasa baik dengan keadaan produktivitas kerjanya. (4) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan antara insentif dengan motivasi kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota probolinggo. Hal ini berarti semakin meningkat insentif yang diterima, semakin meningkat pula motivasi kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. (5) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan insentif dengan produktivitas kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berarti semakin meningkat insentif yang diterima, semakin meningkat pula produktivitas kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. (6) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan motivasi kerja dengan produktivitas kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Hal ini berarti semakin meningkat motivasi kerja, semakin meningkat pula produktivitas kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. (7) terdapat hubungan secara tidak langsung yang signifikan insentif dengan produktivitas kerja melalui motivasi kerja pada pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berati semakin tinggi insentif yang diterima semakin tinggi pula motivasi kerja dan motivasi kerja yang tinggi akan tinggi pula produktivitas kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Dari penelitian ini penulis memberi saran, bagi Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, kepala Dinas Pendidikan selaku atasan para pegawai di kantor menjaga agar pemberian insentif baik berupa finansial dan non finansial terus dipertahankan. Bagi peneliti lain, hal ini bisa digunakan peneliti lain sebagai bahan kajian untuk penelitian selanjutnya dalam meneliti masalah yang sepadan. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, hal ini juga berguna sebagai referensi untuk mengukur tingkat motivasi kerja dengan sebagai objek penelitian dosen dan staf di jurusan Administrasi Pendidikan. Secara khusus, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi jurusan tentang insentif, motivasi kerja dan produktivitas kerja yang dapat dijadikan referensi untuk penelitian terhadap masalah yang sepadan.

Identifikasi dan inventarisasi potensi lahan tambak di wilayah pesisir kabupaten Lumajang / Agus Purnomo

 

ABSTRAK Purnomo,Agus. 2010. Identifikasi Dan Inventarisasi Potensi Lahan Tambak Di Wilayah Pesisir Kabupaten Lumajang. Skripsi, Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Rudi Hartono, M.Si, (2) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si. Kata kunci: pesisir, potensi lahan tambak, persebaran potensi Daerah pesisir merupakan salah satu dari lingkungan perairan yang memiliki potensi yang sangat besar dan juga merupakan daerah yang mudah terpengaruh dengan adanya gangguan. Wilayah ini bukan hanya merupakan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan perikanan dan pertanian, tetapi merupakan pula lokasi bermacam sumberdaya alam, seperti mineral, gas dan minyak bumi serta pemandangan alam yang indah, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, perairan pesisir juga penting artinya sebagai alur pelayaran. Kabupaten Lumajang juga memiliki wilayah pesisir dengan potensi yang besar, pantai di wilayah Kabupaten Lumajang adalah pantai yang berhadapan langsung dengan samudra dan pesisirnya merupakan bagian perairan Samudra Indonesia yang memiliki sumberdaya perikanan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah karakteristik lahan pesisir yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang dan bagaimanakah persebaran lahan yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Desember 2009 dengan menggunakan metode survey. Parameter yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak adalah tipe pantai, kemiringan lereng, kualitas fisik tanah/ tekstur tanah, jenis tanah, kualitas air, kondisi hidrologi, jalur hijau/ wilayah konservasi, dan jumlah curah hujan rata-rata tahunan. Adapun teknik pengambilan sampel, yaitu purposive sampling yang diterapkan pada subjek penelitian yaitu 5 kecamatan dan 12 desa objek penelitian. Untuk pengambilan sampelnya menggunakan unit analisis peta satuan medan yang merupakan hasil ”overlay” dari peta jenis tanah dengan peta kemiringan lereng. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan komparatif. Berdasarkan dari analisis komparatif data primer dan sekunder dengan parameter yang ada menunjukkan bahwa Kabupaten Lumajang memiliki potensi lahan tambak yang hampir tersebar pada seluruh pesisir pantai yang ada yang meliputi kecamatan Yosowilangun, Kecamatan Kunir, Kecamatan Tempeh, Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Tempursari. Potensi lahan tambak yang tersebar di Kabupaten Lumajang memiliki daya dukung lingkugan sedang dengan luas 745,12 ha dan daya dukung baik dengan luas 476,4 ha.

Pengaruh profitabilitas dan arus kas terhadap return saham pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2008 / Defina Yopi Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, Defina Yopi. 2010. Pengaruh Profitabilitas dan Arus Kas Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Food and Beverages yang Listing di BEI Periode 2006-2008. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Mugianto, S.E, M.Si, dan (2) Ely Siswanto, S.Sos, M.M Kata kunci : Profitabilitas, Arus Kas, dan Return Saham Pada dasarnya setiap investor selalu berharap untuk mendapatkan hasil atau nilai tambah pada saat mereka melakukan investasi. Berinvestasi sering dilakukan oleh kalangan masyarakat yang memiliki kelebihan dana, dan dengan hadirnya lembaga pasar modal di Indonesia menambah banyak alternatif untuk menanamkan dananya. Sebelum melakukan investasi, investor harus berfikir secara rasional dan mempertimbangkan beberapa hal, misalnya dengan melihat laporan keuangan perusahaan yang berisi informasi-informasi, salah satunya adalah laporan arus kas, serta terdapat juga rasio profitabilitas. Dengan adanya informasi yang terdapat pada laporan keuangan dan profitabilitas, maka hal ini dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi, dimana tujuan utama para investor adalah memperoleh return (tingkat pengembalian). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari profitabilitas dan arus kas yang terdiri dari arus kas operasi, arus kas investasi, dan ars kas pendanaan terhadap return saham pada perusahaan Food and Beverages yang masuk dalam BEI periode 2006-2008. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu laporan keuangan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages yang listing di BEI periode 2006-2008, sedangkan pengambilan sampel berdasarkan atas kriteria-kriteria tertentu atau dengan metode purposive sampling, dan dihasilkan sebanyak 10 perusahaan yang memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 16.0 for windows. Uji t dan uji F digunakan untuk menguji pengaruh profitabilitas dan arus kas baik secara parsial, maupun simultan terhadap return saham. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada taraf signifikansi 5% secara parsial profitabilitas, arus kas operasi, dan arus kas investasi berpengaruh secara signifikan terhadap return saham, sedangkan arus kas pendanaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Secara simultan profitabilitas, arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan berpengaruh terhadap return saham, dengan besaran probabilitas 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memperpanjang periode penelitian sehingga dengan periode penelitian yang lebih lama, mungkin akan meningkatkan hasil penelitian yang lebih baik, dan sebaiknya peneliti juga memperhatikan dalam pemilihan sampel karena sangat berpengaruh terhadap hasil dari penelitian atau menggunakan variabel lain, misalnya rasio-rasio keuangan lain, baik sebagai variabel terikat maupun variabel bebas.

Proses regenerasi sirip kaudal ikan guppy ( Poecilia reticulata ) / Mazidatul Faizah

 

ABSTRAK Faizah, Mazidatul. 2010. Proses Regenerasi Sirip Kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata). Skripsi, program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si., (II) Dra. Dwi Listyorini, M.Si., D.Sc. Kata kunci: Regenerasi, Poecilia reticulata, Sirip kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata) termasuk di dalam famili Poecilidae. Ikan Guppy (Poecilia reticula) adalah salah satu spesies ikan hias air tawar yang mempunyai sirip ekor panjang yang beraneka ragam dan tidak membahayakan sehingga menyebabkan ikan ini populer di dunia. Ikan ini termasuk ikan liar yang biasanya hidup di parit-parit atau selokan, karena ikan ini mudah menyesuaikan diri dan berkembang biak memungkinkan ikan ini dapat dipelihara secara ex-situ di laboratorium dan dapat digunakan sebagai hewan model dalam ilmu Biologi. Sirip kaudal ikan Guppy mudah tumbuh setelah mengalami luka atau terpotong, Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tentang keberhasilan proses regenerasi ikan Guppy ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Obyek penelitian ini adalah ikan Guppy (Poecilia reticulata) jantan dewasa umur 2-3 bulan dengan ciri-ciri panjang standart 2,5- 4 cm. Organ yang digunakan dalam penelitian ini adalah sirip kaudal ikan Guppy yang dipotong secara simetris ke arah vertikal pada setengah panjang sirip kaudal Guppy, diamati proses regenerasinya dan setiap tahap-tahap perubahan yang terjadi, pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya dan difoto dengan kamera digital. Data dari hasil penelitian disusun secara berurutan mulai dari awal pemotongan sampai terlihatnya proses regenerasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses regenerasi sirip kaudal ikan Guppy terjadi beberapa tahap yaitu : penutupan luka (wound healing), pembentukan blastema (blastema formation), deferensiasi dan proliferasi, serta pertumbuhan regeneratif (regenerative outgrowth) Dari data tersebut menunjukkan bahwa ikan Guppy (Poecilia reticulata) mengalami regenerasi secara ephimorphosis.

Penerapan metode praktikum untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA NEGERI 6 Malang / Nani Oky Wahyuningsih

 

Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dapat bersaing secara global. Untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan yang terjadi di berbagai bidang pendidikan, salah satunya adalah dalam bidang sains atau IPA. Akan tetapi pada kenyataannya, dari hasil observasi diketahui dalam pembelajaran di sekolah masih banyak siswa yang lebih banyak mengkaji/mendapatkan pengetahuan dari buku dan internet sehingga mereka cenderung menjadi bosan dan kurang termotivasi untuk belajar Biologi. Mereka juga jarang melakukan praktikum pengamatan sehingga beberapa diantara mereka ada yang belum mengetahui hal yang mereka pelajari dalam dunia nyata dan siswa tersebut juga menjadi kurang berpengalaman menggunakan peralatan laboratorium. Dari salah satu hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang diketahui bahwa ketuntasan belajarnya hanya 54,05% dan rata-rata nilai kelasnya adalah 62. Oleh karena itu, perlu diterapkan suatu metode pembelajaran yang tepat untuk memberikan pengalaman, keterampilan dan meningkatkan motivasi belajar siswa agar terjadi peningkatan hasil belajarnya, untuk mengatasi masalah tersebut perlu diterapkan metode praktikum untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Siklus I terdiri dari 4 pertemuan dan siklus II terdiri dari 5 pertemuan. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas XI IPA 2 semester I tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 26 siswa, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini berupa aktivitas, motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan psikomotorik. Selain itu, data pendukung diperoleh catatan lapangan dan angket siswa. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan motivasi belajar klasikal siswa. Hasil belajar aspek kognitif diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus untuk mengetahui ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil belajar aspek psikomotorik diukur berdasarkan peningkatan kemampuan psikomotorik klasikal siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes, lembar observasi motivasi siswa, lembar observasi aspek psikomotorik siswa, lembar observasi keterlaksanaan tindakan guru, angket dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode praktikum dapat meningkatkan motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Rata-rata motivasi belajar klasikal siswa siklus I adalah 48% dengan kualitas motivasi belajar tergolong cukup dan rata-rata motivasi belajar klasikal siswa siklus II adalah 63% dengan kualitas motivasi belajar baik. Peningkatan rata-rata motivasi belajar klasikal siswa sebesar 15%. Penerapan metode praktikum dapat meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 6 Malang. Rata-rata hasil belajar aspek kognitif siswa pada siklus I adalah 70,27 dengan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 57,69% dan rata-rata hasil belajar aspek kognitif siswa siklus II adalah 73,58 dengan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 88,46%. Ketuntasan belajar klasikal antara sebelum tindakan dan siklus I mengalami peningkatan sebesar 3,64%, sedangkan antara siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 30,77%. Rata-rata hasil belajar aspek psikomotorik klasikal siswa pada siklus I adalah 53% dan ratarata hasil belajar aspek psikomotorik klasikal siswa pada siklus II adalah 72,36%. Hasil belajar psikomotorik klasikal mengalami peningkatan antara siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 19,36%.

Peningkatan hasil belajar konsep rantai makanan dengan metode inkuri pada siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosaria kabupaten Pasuruan / Amrin

 

ABSTRAK PENINGKATAN HASIL BELAJAR KONSEP RANTAI MAKANAN DENGAN METODE INKUIRI PADA SISWA KLS IV SDN KANDANGAN II KECAMATAN TOSARI KABUPATEN PASURUAN Amirin SDN Kandangan II kecamatan adalah salah satu SD negeri yang terdapat di wilayah kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan yang bercirikan daerah pegunungan dengan latar belakang mata pencaharian penduduknya adalah sebagian besar sebagai petani sayur.Berdasarkan observasi dan wawancara dikelas IV SDN Kandangan II untuk mata pelajaran IPA diketahui bahwa sebagian besar siswa kurang berminat dan hasil belajar yang dicapai dikategorikan masih dibawah standar atau dapat dikatakan bahwa hasil belajar IPA di kelas IV masih rendah. Masalah inilah yang perlu mendapat perhatian serius, dikarenakan proses pembelajaran IPA belum berdasarkan filosofi konstruktivisme. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dicoba untuk menangani masalah rendahnya hasil belajar IPA serta kebosanan siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPA dengan pembelajaran kontekstual melalui metode inkuiri yang dikemas dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inkuiri mempunyai berbagai kelebihan yang pada dasarnya dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan pada siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan. Sehingga diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan melalui penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu, mulai tanggal 23 Nopember 2009 sampai dengan tanggal 2 Desember 2009. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 4 fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan yang terdiri dari 12 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat memotivasi siswa untuk belajar IPA pada siswa kelas IV SDN Kandangan II kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan. Namun demikian, nampaknya masih sangat diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam memberdayakan kemampuan berpikir siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa. di sekolah tersebut. kata-kata kunci : hasil belajar, konsep rantai makanan, inkuiri.

Pengamatan prestasi belajar pokok bahasan konsep sistem pemerintahan demokrasi kelas V SDN sananwetan 03 kota Blitar / Dadang Kurniawan

 

Selama proses pembelajaran di kelas, guru harus mempergunakan kemampuan yang dimiliki, salah satunya adalah metode pembelajaran. Disisi lain, dalam melaksanakan kewajibannya guru mempunyai beberapa hambatan, yaitu kurikulum sarat isi, juga sistem evaluasi akan mempengaruhi cara guru menyampaikan bahan ajar. Di dalam simulasi yang dipersoalkan adalah fakta-fakta, sedangkan di dalam simulasi yang dipersoalkan adalah perasaan-perasaan, asumsi-asumsi. Studi kasus sangat menekankan analisis tingkat tinggi, sintesis, dan khususnya evaluasi tingkat tinggi, sedangkan simulasi sangat menekan pengetahuan tingkat rendah dan menengah, pengertian atau pemahaman dan penerapan. Baik studi kasus maupun simulasi sama-sama efektif dalam meningkatkan perubahan sikap. Studi kasus dapat mendorong pelajar untuk mengurangi kebiasaan penarikan kesimpulan secara tradisional dan mengarah kepada penarikan kesimpulan berdasarkan analisis fakta. Studi kasus dapat meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Tujuan pengamatan ini adalah untuk meningkatkan prestasi hasil belajar siswa kelas 5 SD Negeri Sananwetan 03 Kabupaten Blitar pada semester 1 tahun ajaran 2007. Pengamatan ini dilakukan terhadap kelas 5 SD Negeri Sananwetan 03 Kabupaten Blitar pada mata pelajaran PKN konsep sistem pemerintahan demokrasi. Pengamatan dilaksanakan pada semester 1 ajaran 2007, subyek pengamatan berjumlah 43 siswa. Tindakan yang diberikan berupa penerapan metode studi kasus dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pokok bahasan sistem pemerintahan demokrasi. Pertanyaan disusun secara sistematis dan terencana pada setiap siklus. Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan selama dua siklus, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pengamatan dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan pokok bahasan siswa pemerintahan demokrasi siswa kelas 5 SD Negeri Sananwetan 03 Kabupaten Blitar pada semester 1 tahun ajaran 2007. Hal ini dapat dilihat berdasarkan peningkatan rata-rata nilai test yaitu: sebelum diterapkannya metode kasus, rata-rata nilai test sebesar 63,97, setelah diterapkan metode kasus pada sikus 1 sebesar 77,27 dan pada siklus 2 sebesar 90 dengan adanya peningkatan rata-rata nilai test pada setiap siklus, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan metode studi kasus ini memenuhi indikator keberhasilan penelitian.

Pengaruh gaya kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan terhadap produktifitas karyawan ( Studi kasus pada karyawan PR.Jati Kawi kab. Malang ) / Arif Herdiansyah

 

Perekonomian global berkaitan secara langsung dengan perekonomian Indonesia, oleh karena perekonomian Indonesia adalah perekonomian terbuka dimana transaksi ekspor - impor memainkan peran penting dalam memacu perekonomian Indonesia. Secara makro, terpinggirnya sektor ketenagaerjaan tampak dari minimnya alokasi anggaran yang disediakan oleh pemerintah. Dalam kaitannya dengan peningkatan produkivitas tenaga kerja, kepemimpinan, kebijakan ketenagakerjaan sangat menentukan kualitas kerja seseorang serta produktivitas dalam suatu perusahaan. Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh kepemimpinan dan kebijakan pemerintah dalam bidang tenagakerjaan yang diberlakukan di masing-masing unit perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi deskriptif gaya kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan di PR. JATI KAWI Kab. Malang. (2)Tingkat produktivitas karyawan di PR. JATI KAWI Kab. Malang. (3) Pengaruh yang signifikan kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan secara parsial terhadap produktivitas karyawan di PR. JATI KAWI. (4) Pengaruh yang signifika kepemimpinan dan kebijakan ketenagakerjaan secara simultan terhadap produktivitas kerja di PR. JATI KAWI. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua karyawan pada PR. JATI KAWI yang berjumlah 395 orang. Penelitian ini melibatkan tiga variabel, yaitu dua variabel bebas (X1) dan (X2) variabel terikat (Y). Variabel bebas yang meliputi: (X1) Gaya Kepemimpinan dan (X2) Kebijakan Ketenagakerjaan sedangkan (Y) Produktivitas Karyawan. Data diperoleh melalui. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan menggunakan bantuan komputer program SPSS 12.0 for Windows. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Gaya Kepemimpinan (X1) dan Kebijakan Ketenagakerjaan (X2) secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap Produktivitas kerja karyawan di Perusahaan Rokok “JATI KAWI” Malang (Y). (2) bahwa Gaya Kepemimpinan (X1) berpengaruh signifikan terhadap Produktivitas karyawan di Perusahaan Rokok “JATI KAWI” Malang (Y). (3) Kebijakan Ketenagakerjaan (X2) berpengaruh terhadap Produktivitas karyawan di Perusahaan Rokok “JATI KAWI” Malang (Y). Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1)Pimpinan dapat menciptakan dan meningkatkan suasana yang dapat membantu menimbulkan motivasi yang kuat dalam diri karyawan. Dengan adanya peningkatan perhatian pimpinan terhadap penyelesaian tugas bawahan diharapkan mampu memberikan motivasi bagi peningkatan prestasi kerja karyawan. (2) Perusahaan tetap mempertahankan kebijakan ketenagakerjaan yang telah disepakati bersama antara pihak perusahaan dengan pemerintah mengenai aturan-aturan pemberian UMR, tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya dan kesejahteraan sosial. (3) Untuk menjaga sikap dan gaya kepemimpinan yang menunjang pencapaian tujuan perusahaan, maka diperlukan adanya pengawasan yang tepat dari pimpinan terhadap bawahan, karena pimpinan merupakan figur dan teladan bagi bawhaannya. (4) Untuk lebih menguatkan semua hipotesis dan model konsep yang terbukti secara empiris diterima, maka perlu dilakukan penelitian-penelitian ulang dalam organisasi yang berbeda, baik yang menggunakan model konsep yang sama atau dengan menambah beberapa peubah lain yang sekiranya mampu menjelaskaan aspek-aspek gaya kepemimpinan dan meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Upaya meningkatkan keterampilan berbahasa jaea kromo inggil dengan model picture and picture pada siswa kelas IV SDN Lesanpuro 3 kecamatan Kedungkandang kota Malang / M.M. Sri waluyowati

 

Kemampuan berbahasa jawa semakin hari semakin merosot. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya nilai-nilai kwalitatif dan kwantitatif siswa siswi SDN Lesanpuro 3 khususnya kelas empat. Secara kwalitatif dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan semester dua pada saat kelas tiga yaitu 48. Secara kwalitatif unggah-ungguh dalam berbahasa atau berbicara dengan orang lain yang lebih tua sangat berkurang. Karena bahasa pegantar yang digunakan bukan bahasa jawa, apa lagi kromo inggil. Sehingga bahasa jawa tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas model siklus, dengan menggunakan, model picture and picture dengan metode ceramah, demonstrasi, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas. Subjeknya adalah siswa kelas IVB SDN Lesanpuro 3, tahun pelajaran 2009-2010 dan tehnik pengambilan sampel dikenakan pada seluruh siswa dalam satu kelas sejumlah 40 orang. Berdasarkan hasil penelitian , pembelajaran bahasa jawa kromo inggil lebih efektif menggunakan model picture and picture khusunya dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. Siswa sekolah dasar pada umumnya masih berusia 11 sampai 12 tahun, maka dalam membelajarkan perlu memepertimbangkan alat bantu yang menarik dan menyenangkan. Alat bantu yang menyenangkan dapat diperoleh siswa dengan mudah misalnya dengan gambar-gambar kegiatan sehari-hari. Bagi para pengembang pendidikan penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dalam mengalokasikan waktu dalam penyusunan program pengajaran

Analisis eagles untuk mengukur perbedaan kinerja keuangan Bank Devisa dan non devisa (Tahun 2004-2007) / Dian Ayuningtyas

 

ABSTRAK Ayuningtyas, Dian. 2010. Analisis EAGLES Untuk Mengukur Perbedaan Kinerja Keuangan Bank Devisa dan Bank Non Devisa (2004-2007). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Lulu Nurul Istanti, S.E.,M.M (II) Ely Siswanto,S.Sos.,M.M. Kata kunci: Kinerja Keuangan Bank, EAGLES,Bank Devisa,Bank Non Devisa Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode waktu tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas bank. Dalam penelitian ini menggunakan analisis EAGLES, karena analisis ini dapat mengukur dan membandingkan kinerja bankbank secara lebih tepat, obyektif dan konsisten. Rasio-rasio EAGLES yang digunakan adalah ROA, ROE, Asset Quality, DGR, LGR, Liquidity, CAR, CCR SRQ by out interest dan SRQ by personalia. Subyek dalam penelitian ini adalah bank devisa dan bank non devisa. Bank devisa merupakan bank yang melakukan transaksi dalam dan luaer negeri, sedangkan bank non devisa merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melakukan transaksi ke luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1)kinerja keuangan bank devisa dan non devisa ditinjau dari aspek Earning Ability, Asset Quality, Growth, Liquidity, Equity, Strategic Management (2) perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa melalui rasio EAGLES. Data yang digunakan bersumber dari laporan keuangan bank tahun 2004 - 2007. Populasi yang digunakan adalah semua bank devisa dan bank non devisa di Indonesia baik yang terdaftar dalam PT Bursa Efek Indonesia maupun tidak selama tahun 2004-2007 sehingga terdapat 72 bank, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 56 bank.Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik parametrik dengan metode uji-t pada program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari rasio ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity), DGR (Deposite Growth Rate), Liqudity, LGR (Loan Deposit Ratio), CCR (Core Capital Ratio), SRQ by personalia, (2) terdapat perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari aspek Asset Quality,CAR (Capital Adequacy Ratio), SRQ by out interest, (3) tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari aspek EAGLES. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah sampel penelitian yang dibutuhkan pada peneliti selanjutnya agar mendapat sampel yang dapat mewakili kondisi perbankan yang diteliti. Bagi pihak perbankan, nasabah serta masyarakat penelitian ini dapat dijadikan informasi hasil kinerja bank devisa dan bank non devisa ditinjau dari rasio EAGLES sehingga perbankan, nasabah serta masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat.

Pengaruh profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2008 / Indun Lusiana

 

ABSTRAK Lusiana, Indun. 2009. Pengaruh Profitabilitas, Struktur Aktiva, dan Ukuran Perusahaan terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Food and Beverages yang Listing di BEI Periode 2006-2008. Skripsi, Jurusan Manajemen, Konsentrasi Keuangan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (II) Drs. Mohammad Hari, M.Si. Kata Kunci: Profitabilitas, Struktur Aktiva, Ukuran Perusahaan, Struktur Modal. Kebijakan manajemen dalam mencari sumber dana dan mengatur pembelanjaan perusahaan merupakan salah satu fungsi manajer keuangan. Dalam menjalankan fungsi tersebut, manajer keuangan selalu dihadapkan pada dua masalah utama. Pertama, bagaimana keputusan pembelanjaan yang harus diambil dan bagaimana alternatif yang ada sehingga diperoleh dana dengan cara paling efisien untuk membiayai investasi perusahaan. Kedua, penentuan metode yang digunakan dalam penentuan investasi agar dana tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemilihan alternatif pendanaan untuk membiayai kegiatan perusahaan yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana perusahaan menciptakan kombinasi yang menguntungkan antara penggunaan dari hutang dan modal sendiri. Hal ini menyangkut masalah keberadaan struktur modal perusahaan yang menggambarkan pengaturan komposisi modal yang tepat antara hutang jangka panjang dan modal sendiri. Perusahaan perlu mencapai struktur modal yang optimal, sehingga biaya modal rata-rata perusahaan dapat diminimalkan atau perusahaan dapat memaksimalkan nilainya. Agar kondisi tersebut dapat dicapai, maka perlu mempertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal seperti profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan. Struktur modal yang optimal diharapkan dapat meningkatkan keuntungan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan pemilik modal melalui peningkatan nilai perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi tingkat profitabilitas yang diwakili oleh Return On Equity, komposisi struktur aktiva, ukuran perusahaan, dan struktur modal pada perusahaan Food and Beverages; untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan . Populasi penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di BEI tahun 2006-2008, sebanyak 21 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 10 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal baik secara parsial maupun simultan. i ii H asil penelitian ini menunjukkan kondisi profitabilitas yang meningkat karena laba yang dihasilkan naik karena biaya yang ditanggung perusahaan rendah, kondisi komposisi struktur aktiva yang meningkat, kondisi ukuran perusahaan (total aktiva) yang meningkat, kondisi komposisi struktur modal (LDER) yang meningkat karena adanya penambahan jumlah hutang tetapi kenaikannnya relatif kecil akibat perubahan modal sendiri yang jumlahnya lebih besar dari penambahan hutang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial dan simultan profitabilitas, struktur aktiva, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi manajemen perusahaan agar lebih memperhatikan kegiatan operasi perusahaan sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan, untuk penelitian yang sama di masa yang akan datang, diharapkan dapat memasukkan variabel-variabel lain yang lebih beragam untuk menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal sehingga hasil penelitian dapat lebih baik dan lebih lengkap. Sedangkan bagi kreditur , sebaiknya kreditur lebih jeli dalam memilih perusahaan untuk meminjamkan dananya atau dalam pemberian kredit, yaitu dengan melihat kemampuan perusahaan dalam hal pembayaran kewajiban jangka panjangnya.

Membangun jaringan WAN SMA dan SMPU dilingkungan pesantren Al-Yasini / Solikhin, Sri Supadmi

 

Teknologi Informasi atau Information Technology saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap organisasi terbukti saat ini nyaris tidak ada organisasi bisnis atau perusahaan bahkan instansi pendidikan yang tidak menggunakan teknologi informasi khususnya komputer. Dengan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat ini, SMA dan SMPU bisa dibilang tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, karena SMA dan SMPU Al-yasini telah memiliki 20 unit di masing – masing Laboratorium komputer yang terbagi menjadi 2 lembaga. Tetapi hanya 1 Laboratorium Komputer yang terkoneksi Jaringan, sedangkan satunya menggunakan jaringan wireless acces point untuk dapat menghubungkan dengan jaringan Intranet maupun Internet. Jaringan tanpa kabel merupakan suatu solusi terhadap komunikasi yang tidak bisa dilakukan dengan jaringan menggunakan kabel, Misalnya orang yang ingin mendapat informasi atau melakukan komunikasi walaupun sedang berada di atas saluran yang dapat mengirim data pada kedua arahnya juga bisa menimbulkan masalah. Sehingga dengan demikian perlu dijadikan bahan pertimbangan bagi software data link layer. Masalah yang dapat timbul di sini adalah bahwa frame-frame acknoeledgement yang mengalir dari A ke B bersaing saling mendahului dengan aliran dari B ke A. Membanggun jaringan lokal SMPU dan SMA yang terkoneksi dengan proxy server menggunakan firewall pada AP Blue – Link. Untuk menghubungkan antar Lan SMPU dan Lan SMA, sedangkan di SMA sebagai pemancar dengan menggunakan AP Blue-Link BL-R30G, dari modem ADSL dihubungkan ke Port WAN Blue-link, port pertama di hubungkan ke server, sedangkan server mempunyai dua Lan Crad, Lan pertama dihubungkan ke AP Blue-Link, Lan Crad ke dua dihubungkan ke clien, demikian di SMPU menggunakan Wireless Acces Point sehingga dapat mempermudah mengakses internet. Melihat kenyataan ini penulis ingin membangun jaringan Intranet mengunakan modem ADSL speedy dan PC router AP blue – ling untuk pemancar ke SMPU, sehinga dapat mempermudah akses internet dari SMA pada laboratorium yang belum terkoneksi jaringan, guna mengoptimalkan fungsi yang belum termanfaatkan secara baik.

Strategi lay out, teknik visual, dan display pada kopmart (Koperasi Mart) KPRI rumah sakit Saiful Anwar Malang / Maruti Yuana Lestari

 

Perkembangan usaha saat ini sangat meningkat karena dipengaruhi oleh peningkatan jumlah konsumen tinggi, sebagian besar konsumen saat ini menuntut segala sesuatu yang serba praktis dan cepat dalam hal berbelanja. Hal tersebut dapat diperoleh dengan berbelanja di supermarket atau swalayan. Dengan pesatnya perkembangan supermarket menyebabkan usaha ini bersaing ketat sehingga memacu usaha sejenis bermunculan seperti Alfamart dan Indomart. Salah satu faktor yang mengakibatkan usaha-usaha swalayan atau supermarket meningkat adalah peningkatan jumlah penduduk yang berarti kebutuhan juga akan semakin meningkat karenanya. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui strategi Lay Out, Teknik Visual dan Display yang diterapkan oleh KPRI RSSA Malang. Serta untuk mengetahui peranan pengaturannya dalam meningkatkan kenyamanan pelanggan. Sebagai salah satu usaha yang bergerak dibidang penjualan maka keberhasilan juga ditentukan oleh cara penyusunan Lay out, teknik visual, display produk. Ketiga hal tersebut mempunyai peran penting dalam penjualan karena akan berpengaruh pada kenyamanan konsumen dalam berbelanja. Lay Out adalah tata letak produk, kasir dan arus lalu lalang konsumen di dalam toko. Teknik Visual adalah teknik dalam mempertimbangkan adanya penerangan, warna, ketinggian langit-langit, temperature toko, dan suara. Sedangkan Display adalah pemajangan barang dagangan yang ditujukan untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong konsumen dalam melakukan pembelian. Penerangan yang terdapat di Kopmart KPRI sudah cukup memadai, disamping itu karena Kopmart KPRI hanya buka pada siang hari yaitu dari pukul 08.00-16.00 sehingga penerangan yang berasal dari lampu tidak begitu maksimal. Namun lebih kepada terdapatnya ventilasi yang cukup agar cahaya dari luar bisa masuk. Penerangan yang cukup akan mempermudah pengunjung dan memberikan kesan luas sehingga kenyamanan para pengunjung untuk mencari dan memilih barang dagangan yang di butuhkan menjadi tidak terganggu . Dinding Kopmart KPRI berwarna kuning hal ini dapat menimbulkan gairah dan peminat konsumen untuk datang, serta memberikan kesan bersih dan menarik. Pada sebuah toko atau swalayan warna mempunyai pengaruh yang besar untuk menarik pengunjung. Warna yang cerah dapat menggugah minat orang untuk menarik perhatian sehingga datang dan berbelanja. Namun cat dinding tersebut terlihat sudah mulai pudar sehingga terlihat kurang bersih. Untuk itu diperlukan pengecatan ulang pada dinding Kopmart KPRI, karena kesan toko dapat diciptakan melalui warna dan berpengaruh besar pada swalayan tersebut. Ketinggian langit-langit pada Kopmart KPRI sudah cukup memberikan kesan luas karena jarak lantai dengan langit-langit sudah cukup tinggi sehingga dirasa cukup untuk memberikan kesan luas dan hawa yang sejuk pada ruangan sehingga pengunjung tidak merasa gerah ataupun kurang nyaman. Agar konsumen merasa nyaman dan betah berlama-lama berada di dalam ruangan dari Kopmart KPRI, maka diperlukan temperatur ruangan yang sesuai. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa ketinggian langit-langit dapat menciptakan hawa dan suasana yang sejuk sehingga memberikan kesan yang nyaman bagi pengunjung. Kopmart KPRI terdapat 4 buah alat penyejuk yang berupa kipas angin dengan harapan konsumen tidak akan merasa panas dan betah untuk berlama - lama berada di ruangan. Hal ini berpengaruh pada kenyamanan konsumen dalam berbelanja. Kipas angin ini dimaksimalkan fungsinya dari pagi hingga sore hari sehingga temperatur dalam ruangan memberikan hawa sejuk dengan tujuan terciptanya kenyamanan pengunjung. Selain beberapa hal diatas adanya suara yang menyenangkan atau pemutaran musik juga akan mempengaruhi kenyamanan pengunjung untuk tinggal berlama-lama di dalam Swalayan. Dalam penggunaanya Kopmart lebih sering menggunakan Radio sehingga menyebabkan jenis musik yang diputar berganti-ganti tidak beraturan sehingga tidak dapat disesuaikan dengan keadaan yang ingin di timbulkan. Pemajangan dan penataan barang dagangan di Kopmart dibagi menjadi dua yaitu Open interior dimana pengunjung dapat melihat dan menyentuh secara langsung barang-barang yang dipajang dan langsung dapat membawa barang tersebut ke kasir. Close interior display dimana barang yang di pajang dengan sistem ini adalah barang yang berukuran kecil, harganya mahal dan juga mudah rusak. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya pencurian. Saran untuk penerapan permasalahan KPRI RSSA antara lain penataan ruang sebaiknya diberi dekorasi agar ruangan tampak menarik dan menjaga kebersihan ruangan. Selain itu memberikan kesan welcome pada pengunjung harus diperhatikan. Untuk barang-barang yang tidak digunakan seperti rak dan etalase sebaiknya ditempatkan di gudang agar penataan di dalam ruangan terlihat rapi. Untuk meningkatkan pengawasan sebaiknya diadakan penambahan cermin dan mengefektifkan fungsinya. Perlu diadakan penambahan barang dagangan yang bervariasi jenis barang dan merknya. Sebaiknya Kopmart melakukan pemajangan secara eksterior display agar terlihat menarik dari luar.

Peran elit lokal dalam pemberdayaan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan pasca dibukanya jembatan Suramadu bagi masyarakat desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan / Fauzi Rusman

 

ABSTRAK Fauzi, Rusman, 2009, Peran Elit Lokal Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Mengentaskan Kemiskinan Pasca Dibangunnya Jembatan Suramadu Bagi Masyarakat Desa Sukolilo Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan, Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang, Pembimbing I, Drs. Suparlan Al hakim, M.Si, Pembimbing II, Drs. I Ketut Diara Astawa, SH, M.Si Kata Kunci : Peran Elit Lokal dan Pengentasan Kemiskinan, Pemberdayaan Meningkatnya jumlah penduduk miskin di Madura itu, dapat dikatakan masyarakat Madura masih belum siap menerima kedatangan suramadu. Pasalnya, perkembangan suramadu sangat berkaitan erat dengan perkembangan perekonomian masyarakat. Tekanan kehidupan sosial ekonomi yang berat memaksa orang Madura pergi merantau ke daerah lain dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik, sesungguhnya, Madura bukan daerah yang tidak berpotensi sama sekali, akan tetapi masih digali oleh masyarakat Madura, dengan adanya pasca Jembatan Suramadu membuka peluang untuk mengentaskan kemiskinan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Apa yang menjadi latar belakang dibangunnya jembatan Suramadu, 2) Bagaimana potensi sosial-ekonomi masyarakat Bangkalan sekitar jembatan Suramadu dan 3) Bagaimana upaya/ peran elit lokal Kabupaten Bangkalan dalam menyikapi masalah pengentasan kemiskinan pasca dibangunnya jembatan Suramadu. sedangkan tujuan penelitian adalah 1) Mendeskripsikan latar belakang dibangunnya jembatan Suramadu, 2) Mendeskripsikan potensi sosial-ekonomi masyarakat sekitar jembatan Suramadu dan 3) Mendeskripsikan upaya/peran elit lokal Kabupaten Bangkalan dalam menyikapi pengentasan kemiskinan pasca dibangunnya jembatan Suramadu. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian menggunakan penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif Dalam hal ini, yang menjadi obyek penelitian adalah Peran Elit Lokal dalam Pemberdayaan Masyarakat untuk Mengentaskan Kemiskinan Pasca Dibukanya Jembatan Suramadu di Kabupaten Bangkalan, data yang digunakan berupa data primer dan sekunder yang kemudian dianalisis menjadi data yang dapat diterjemahkan dan dapat dimengerti. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang dibangunnya Jembatan Suramadu karena sering terjadi kemacetan, serta potensi sosial ekonomi masyarakat sekitar Jembatan Suramadu semakin membaik yang dapat mengentaskan kemiskinan dan peran elit lokal dalam pengentasan kemiskinan sangat berperan aktif dalam membantu masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan.

Hubungan kepuasan kerja dan budaya organisasi dengan kinerja tenaga pendidik di Sekolah Dasar Negeri se-kecamatan Dau Kabupaten Malang / Novie Wahyu Hidajati

 

Hidajati, Novie. Wahyu. 2014. Hubungan Kepuasan Kerja dan Budaya Organisasi dengan Kinerja Tenaga Pendidik di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Budi Wiyono, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ali Imron, M.Pd, M.Si. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi, Kinerja Tenaga Pendidik Pengelolaan sumber daya manusia yang handal dan berkualiatas sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Setiap individu dalam bekerja memiliki kinerja yang berbeda satu sama lain, dalam hal ini terdapat sikap dan nilai yang merupakan suatu kemungkinan dalam memberikan kekuatan untuk mendorong individu bertingkah laku dalam mencapai tujuan. Dengan adanya latar belakang yang berbeda-beda, maka sangat penting untuk mengetahui apa kebutuhan dan harapan dari tenaga pendidik, sehingga akan semakin mudah dalam bekerja dengan baik. Kepuasan kerja yang bersifat individual dan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai yang berlaku pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi budaya organisasi tenaga pendidik; mengetahui seberapa tinggi kepuasan kerja tenaga pendidik; mengetahui seberapa tinggi kinerja tenaga pendidik; melihat hubungan budaya organisasi dengan kinerja tenaga pendidik; melihat hubungan budaya organisasi dengan kinerja tenaga pendidik; dan melihat hubungan budaya organisasi dan kepuasan kerja dengan kinerja tenaga pendidik di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Subjek penelitian ini adalah seluruh tenaga pendidik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis serta menginterpretasikan data sehingga penelitian ini berawal dari suatu masalah yang dipertanyakan. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga pendidik Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Dau Kabupaten Malang yang berjumlah 243 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 70 orang, akan tetapi data yang kembali ketika menyebarkan angket penelitian hanya 61 orang, dan karena keterbatas waktu maka peneliti hanya menggunakan data tersebut. Teknik pengambilan data adalah dengan stratified random sampling dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa, berdasarkan uji F dengan menggunakan analisis anova memperlihatkan jika nilai F hitung adalah 773.195 dengan signifikansi 0.000. Sedangkan F tabel adalah 3.15. F hitung > F tabel dan tingkat signifikansi 0.000 < 0.05 maka hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel budaya organisasi dan kepuasan kerja secara serempak mempengaruhi variabel kinerja tenaga pendidik .

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan strategi pemodelan pada siswa kelas IV SD Negeri Sumbersari III Malang / Anthonius Besan

 

ABSTRAK Besan, Anthonius. 2010. Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Strategi Pemodelan pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sumbersari III Malang. Tesis (tidak dipublikasikan), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Dr. Suyono, M.Pd. Kata kunci: membaca pemahaman, strategi pemodelan. Pembelajaran membaca pemahaman di kelas IV sekolah dasar bertujuan agar siswa mampu membaca teks bacaan dan memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, membaca pantun, dapat menemukan kalimat utama pada tiap paragraf, menemukan makna dan informasi secara tepat dalam bacaan melalui membaca memindai. Berdasarkan hasil pengamatan dan studi pendahuluan yang dilaksanakan di SD Negeri Sumbersari III Malang ditemukan kemampuan siswa kelas IV dalam pembelajaran membaca pemahaman masih rendah. Rendahnya kemampuan tersebut ditandai oleh adanya ketidakmampuan siswa dalam hal (1) menjawab pertanyaan bacaan, (2) menentukan ide pokok setiap paragraf bacaan, (3) meringkas isi bacaan, dan (4) membuat kesimpulan bacaan. Ketidakmampuan siswa itu disebabkan oleh (1) pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih terkesan monoton, (2) tidak ada inovasi dalam pembelajaran, (3) penggunaan strategi belajar mengajar yang kurang tepat, dan (4) pembelajaran bahasa Indonesia belum optimal. Untuk meningkatkan kemampuan siswa perlu digunakan strategi belajar yang tepat dan efektif. Salah satu strategi yang diduga dapat mengefektifkan pembelajaran membaca pemahaman adalah strategi pemodelan. Pemodelan adalah strategi pembelajaran kontekstual yang memiliki empat fase yaitu (1) fase perhatian, (2) fase retensi, (3) fase reproduksi, dan (4) fase motivasi. Pelaksanaan pembelajaran membaca dengan strategi ini ditempuh melalui tiga tahap (1) tahap prabaca, (2) tahap saatbaca, dan (3) tahap pascabaca. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sumber data penelitian ini adalah siswa dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dengan strategi pemodelan. Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil tindakan yang diperoleh dari hasil pengamatan, hasil wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes akhir. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengumpul data dengan menggunakan instrumen penunjang berupa pedoman pengamatan, format pengamatan, pedoman wawancara, dan lembaran tes. Analisis data dilaksanakan berdasarkan analisis data model mengalir yang meliputi (1) mereduksi data melalui kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan data yang diperoleh sesuai kebutuhan, mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan penelitian, (2) menyajikan data melalui penyampaian data hasil reduksi disajikan dengan cara mengorganisasikan data yang dievaluasi, dan (3) menyimpulkan data sebagai temuan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa meningkat setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan strategi pemodelan dari siklus I sampai siklus III. Peningkatan tersebut meliputi peningkatan dalam proses pembelajaran membaca maupun hasil memahami bacaan dengan indikator peningkatan, yaitu siswa dapat (1) menjawab pertanyaan bacaan, (2) menentukan ide pokok paragraf, (3) meringkas isi bacaan, dan (4) membuat kesimpulan bacaan. Peningkatan dalam proses membaca terlihat pada setiap siklus, dan terutama yang menonjol pada siklus II dan III. Pada siklus I siswa mencapai kualifikasi baik, siklus II siswa mencapai kualifikasi baik, dan sisklus III siswa mencapai kualifikasi sangat baik. Secara kuantitatif, peningkatan kemampuan membaca siswa dapat terlihat dari skor pada setiap tes formatif diakhir pembelajaran. Sesuai hasil tes formatif diperoleh hasil rata-rata kemampuan siswa sebagai berikut: pada siklus I skor yang diperoleh rata-rata 71,8% (kualifikasi baik), siklus II skor yang diperoleh rata-rata 83,6% (kualifikasi baik), dan siklus III skor yang diperoleh rata-rata 89,7% (kualifikasi sangat baik). Berdasarkan hasil penelitian baik dari segi proses maupun hasil, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca pemahaman dengan strategi pemodelan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami isi bacaan. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran kepada guru dan kepala sekolah. Pertama, kepada guru-guru bahasa Indonesia di sekolah dasar agar dapat melakukan inovasi dalam proses belajar mengajar di kelas dengan strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan siswa di antaranya strategi pemodelan. Kedua, kepada kepala sekolah agar mendorong para guru untuk menggunakan strategi pemodelan sebagai salah satu strategi yang dapat mengembangkan potensi siswa dalam pembelajaran membaca pemahaman.

Pengembangan modul analisis volumetri dengan model learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan program keahlian analisis kimia

 

ABSTRAK Tasrifah. 2010. Pengembangan Modul Analisis Volumetri dengan Model Learning Cycle 5 Fase untuk Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Analisis Kimia. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: Modul, RPP, Analisis Volumetri, Learning Cycle 5 Fase, SMK. Tinggi rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dipengaruhi oleh sistem pendidikannya. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia adalah dengan meningkatkan jumlah SMK yang diharapkan menghasilkan lulusan yang berkompeten. Adanya keterbatasan dalam bahan ajar menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Oleh karenya, diperlukan suatu program pengembangan bahan ajar untuk SMK. Pengembangan yang dilakukan dapat berupa modul. Agar pembelajaran dengan modul berjalan efektif maka hasil pengembangan dilengkapi dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bagi guru. Modul dan RPP yang dikembangkan mengacu pada model Learning Cycle 5 fase. Tujuan penelitian pengembangan antara lain: (1) mengetahui bentuk dan isi modul analisis volumetri, (2) mengetahui bentuk dan isi RPP analisis volumetri, dan (3) mengetahui kelayakan modul analisis volumetri dan RPP analisis volumetri dengan validasi isi. Model pengembangan yang digunakan peneliti dalam mengembangkan modul adalah model Borg dan Gall yang memiliki sepuluh tahapan pengembangan. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu dan biaya untuk penelitian, maka pengembangan dibatasi sampai langkah ketiga. Ketiga tahapan tersebut adalah penelitian dan pengumpulan data, perencanaan pengembangan produk, dan pengembangan produk awal. Uji validasi yang dilakukan untuk mengukur kelayakan produk pengembangan hanya sebatas uji validasi isi oleh validator dan belum dilakukan uji validasi empirik. Validasi isi dilakukan oleh 1 orang dosen kimia Universitas Negeri Malang dan 2 orang guru SMK Negeri 7 Malang. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian pengembangan adalah (1) modul analisis volumetri yang terdiri dari beberapa bagian yaitu, pra pendahuluan, pendahuluan, kegiatan belajar, umpan balik, kunci jawaban, dan suplemen materi, (2) RPP analisis volumetri dikembangkan menjadi lima RPP antara lain, RPP I membahas tentang dasar-dasar analisis volumetri, RPP II membahas tentang analisis berdasarkan reaksi penetralan yang dikhususkan pada titrasi asidi-alkalimetri, RPP III membahas tentang analisis berdasarkan reaksi pengendapan yang dikhususkan pada titrasi argentometri, RPP IV membahas tentang analisis berdasarkan reaksi oksidasi-reduksi yang dikhususkan pada titrasi iodo-iodimetri, dan RPP V membahas tentang analisis berdasarkan reaksi pembentukan kompleks yaitu titrasi kompleksometri, (3) hasil validasi terhadap modul analisis volumetri dan RPP menunjukkan persentase rata-rata sebesar 77,49% yang berarti valid dan 75,67% yang berarti cukup valid, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul dan RPP Analisis Volumetri dengan pembelajaran Learning Cycle 5 fase layak untuk dilakukan uji lapangan atau validasi empirik oleh guru dalam pembelajaran analisis volumetri di kelas XI SMK program keahlian analisis kimia.

Implementasi kebijakan pemerintah Kabupaten Tulungagung atas relokasi pedagang kaki lima dan dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat / Mariyah Ulfa Nur Inayah

 

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu sasaran bagi PK5 untuk menjajakan barang dagangan. Para PK5 tidak mempunyai tempat berdagang permanen dan strategis. Mereka memanfaatkan fasilitas umum dan pusat keramaian sebagai tempat berdagang, salah satunya yaitu kawasan alun-alun Tulungagung. Keberadaan PK5 di kawasan alun-alun Tulungagung seringkali melakukan pelanggaran serta menimbulkan kemacetan lalu lintas dan membuat kotor alun-alun Tulungagung. Permasalahan ini menyebabkan Pemerintah Kabupaten Tulungagung membuat kebijakan untuk merelokasi PK5 yang awalnya berada di alun-alun direlokasi di Ngemplak Tradisional Pujasera. Sebagai bentuk dari kebijakan Pemerintahan Daerah Tulungagung mengeluarkan Peraturan Daerah No. 29C Tahun 2002 tentang ketentraman dan ketertiban serta Peraturan Bupati Tulungagung No. 2 Tahun 2005 tentang relokasi pedagang kaki lima (PK5) di alun-alun dan sekitarnya serta penataan pedagang sub terminal Ngemplak di lokasi perbelanjaan Ngemplak Tulungagung. Permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimana implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tentang relokasi PK5 di Tulungagung?; (2) bagaimana dampak yang diharapkan maupun tidak diharapkan dari implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tentang relokasi PK5 terhadap peningkatan ekonomi masyarakat?; (3) apakah faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tentang relokasi PK5 di Tulungagung? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena penelitian ini bertujuan mencari dan mengungkapkan gejala yang terjadi terhadap peristiwa tertentu melalui pengumpulan data dari latar alamiah. Subjek penelitiannya adalah para PK5 yang dipindahkan dari alun-alun Tulungagung dan berjualan di Ngemplak Tradisional Pujasera. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif melalui tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian diketahui bahwa: (1) PK5 yang berjualan di alun-alun Tulungagung sebanyak 264 pedagang, terdiri dari 160 pedagang makanan dan 104 pedagang non makanan, mereka berdagang mulai jam 16.00-24.00; (2) implementasi kebijakan relokasi PK5 dari alun-alun Tulungagung ke pusat Ngemplak Tradisional Pujasera berdasarkan Peraturan Bupati Tulungagung No. 2 Tahun 2005 tentang relokasi pedagang kaki lima (PK5) di alun-alun dan sekitarnya serta penataan pedagang sub terminal Ngemplak di lokasi perbelanjaan Ngemplak Tulungagung, kebijakan tersebut telah berhasil menjadikan kawasan alun-alun Tulungagung bebas dari PK5. Aktor yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan relokasi PK5 adalah: (a) Pemerintah Kabupaten Tulungagung sebagai pelaksana, (b) UPDT pasar bertugas menata PK5, (c) SATPOL PP sebagai petugas di lapangan, (d) Polsek Kota Tulungagung sebagai pengatur ketertiban lalu lintas, (e) Dinas Perhubungan terkait dengan lokasi, (f) ketua paguyuban, (g) perwakilan PK5. Proses pelaksanaan kebijakan berjalan tertib meskipun banyak yang menolak untuk dipindah. Tidak sampai terjadi bentrok hanya saja PK5 melakukan demo di depan kantor DPRD Tulungagung. (3) dampak yang diharapkan sebelum relokasi diantaranya bertambah jumlah pelanggan, bertambah jumlah pendapatan, tidak terikat dengan peraturanperaturan yang di buat para pejabat, bebas melakukan usaha berdagang dengan jenis apapun, tidak dikenakan retribusi yang tinggi. Dampak yang tidak diharapkan setelah masa relokasi, diantaranya semakin berkurangnya pendapatan yang dihasilkan oleh para pedagang, perekonomian masyarakat PK5 rata-rata kurang memenuhi kebutuhan keluarga, kenyamanan dalam berjualan tidak diperoleh dari PK5, terjadi konflik antara para pedagang dengan pihak Pemerintah Kabupaten. Sedangkan dampak yang diharapkan setelah relokasi meliputi, PK5 secara tidak langsung sudah mengembalikan kondisi lingkungan sekitar alun-alun Tulungagung menjadi bersih, rapi, jauh dari kemacetan lalu lintas, PK5 sudah tidak lagi dianggap mematikan usaha para pedagang toko yang menempati rukoruko dengan membayar pajak tinggi. (4) faktor yang berpengaruh terhadap proses implementasi kebijakan adalah sulitnya mencari tempat baru bagi PK5, masalah dana untuk memperlancar proses pembangunan dan munculnya sikap kontra antara PK5 tehadap pelaksanaan kebijakan. Dari penelitian diatas maka disarankan, (1) Pemerintah Kabupaten Tulungagung merevisi kembali terhadap Peraturan Bupati yang telah ada karena dianggap kurang dapat diterima oleh PK5 sehingga dalam pelaksanaannya kurang efektif, (2) Pemerintah Kabupaten melakukan penataan ulang kembali tempattempat yang dinilai kurang layak, sedangkan untuk PK5 perlu suatu pembinaan dan bimbingan agar dapat menjamin kebutuhan keluarga serta mampu meningkatkan taraf hidup yang lebih baik lagi, (3) Pemerintah Kabupaten harus bisa menjalin hubungan baik dengan PK5 dengan jalan melakukan pertemuanpertemuan dan kunjungan lapangan. Kunjungan dapat berbentuk kunjungan langsung kepada para PK5 pada saat melakukan aktivitas usaha serta pembinaan atau dialog kepada kelompok-kelompok PK5. Dengan begitu Pemerintah Kabupaten akan mengetahui kemauan dan harapan dari PK5.

Pengaruh kinerja keuangan berdasarkan model Altman dan Zmijewski terhadap harga saham pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2003-2007 / Emasari

 

ABSTRAK Emasari. 2009. Pengaruh Kinerja Keuangan Berdasarkan Model Altman (Z-score) dan Zmijewski (X-score) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Food And Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2007. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) DR.H. Agung Winarno, M.M dan (II) Fadia Zen, S.E, M.M Kata kunci: Kinerja keuangan model Altman (Z-score), kinerja keuangan model Zmijewski (X-score), harga saham Manajemen perusahaan harus mampu mengelola kegiatan operasionalnya terutama yang berhubungan dengan keuangan perusahaan. Salah satu cara yaitu menggunakan analisis kebangkrutan perusahaan. Kemudian analisis kebangkrutan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap harga saham perusahaan. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mendeskripsikan kinerja keuangan perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI yang dinilai menggunakan model Altman (z-score). (2) Untuk mendeskripsikan kinerja keuangan perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI yang dinilai menggunakan model Zmijewski (x-score). (3) Untuk mengetahui tingkat harga saham perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI. (4) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan perusahaan yang dinilai menggunakan model Altman (z-score) terhadap harga saham. (5) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan perusahaan yang dinilai menggunakan model Zmijewski (x-score) terhadap harga saham. Populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan Food And Beverages yang terdaftar di BEI periode 2003-2007. Sampel yang diambil menggunakan tekinik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih perusahaan Food And Beverages yang tidak memiliki laba bersih negatif atau tidak mengalami kerugian dalam periode penelitian. Pengumpulan data menggunakan data dokumentasi, yaitu laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Pusat Data Bisnis Universitas Negeri Malang dan Website BEI. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja keuangan perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI selama tahun 2003-2007 berdasarkan model Altman (Z-score) terdapat 1 perusahaan yang berpotensi bangkrut, 1 perusahaan yang dalam kondisi sehat selama lima tahun berturut-turut, walaupun masih ada beberapa perusahaan yang rawan bangkrut. Sedangkan berdasarkan model Zmijewski (X-score) semua perusahaan dalam kondisi sehat. Penelitian ini juga membuktikan bahwa kinerja keuangan berdasarkan model Altman (Z-score) dan model Zmijewski (X-score) secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Dari hasil penelitian disarankan bagi perusahaan sebaiknya setiap akhir periode melakukan evaluasi terhadap kinerja keuangannya. Serta dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan menganalisis terlebih dahulu kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan.

Analisis peranan pemberian bantuan modal P2KP terhadap pendapatan masyarakat miskin kelurahan Subersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Irma Novita Sari

 

ABSTRAK Sari, Irma Novita. 2010. Analisis Peranan Pemberian Bantuan Modal P2KP terhadap PendapatanMasyarakat Miskin Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang . Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos., M.Si., (II) Dr.Nasikh, S.E.,M.P,M.Pd. Kata Kunci: bantuan modal P2KP, pendapatan, masyarakat miskin Perlu adanya penanganan masalah kemiskinan di perkotaan seperti yang terjadi di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Salah satu kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan di perkotaan yaitu melalui Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Dalam pelaksanaan P2KP masyarakat (khususnya masyarakat miskin) dihimpun ke dalam kelompok–kelompok yang disebut dengan kelompok swadaya masyarakat (KSM). Anggota KSM inilah yang berhak menerima dana bantuan modal dengan sistem pinjaman bergulir. Selain itu ada institusi lokal yang dibetuk sebagai suatu wadah masyarakat yang disebut Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Dengan adanya bantuan modal diharapkan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan kata lain bahwa P2KP yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dan institusi lokal dapat membentuk masyarakat yang mampu mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapinya secara mandiri dan berkelanjutan. Berdasar dari hal tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah proses penyaluran bantuan modal P2KP di Kelurahan Sumbersari, peranan bantuan modal dilihat dari aspek pendapatan, kegiatan produksi dan status sosial. Subyek penelitian ini adalah anggota KSM di Kelurahan Sumbersari sebagai sasaran Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang telah menyelesaikan angsuran pinjaman periode I, artinya KSM tidak termasuk dalam kategori kredit macet P2KP dengan jumlah 94 orang. Metode penelitian yang digunakan ialah desktptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus sehingga dapat diperoleh dengan jelas gambaran dari permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, angket dan analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis persentase untuk data hasil kuesioner, analisis data wawancara dan dokumen dilakukan dengan pemeriksaan data, pengelompokkan data, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan sasaran penerima bantuan modal P2KP ialah KSM, KSM penerima bantuan beranggotakan minimal tiga orang yang berasal dari keluarga yang berbeda, berpenghasilan rendah dan mempunyai usaha atau akan memulai usaha. Sasaran bantuan tidak harus masyarakat miskin, masyarakat yang tidak miskin boleh mangajukan bantuan, asalkan benar-benar membutuhkan bantuan modal usaha. Prosedur pengajuan pinjaman tidak menyulitkan, persyaratan yang sedikit sulit dipenuhi ialah pembuatan proposal usaha. Hasil penelitian menunjukkan 87 responden atau 92,55% dari total responden menyatakan adanya peningkatan pendapatan setelah memperoleh bantuan modal P2KP. Dilihat dari indikator keberhasilan sasaran penerima bantuan dikatakan berhasil tetapi dari indikator tingkat pengembalian pelaksanaan P2KP di Kelurahan Sumbersari dikatakan belum berhasil karena tingkat pengembalian masih belum memenuhi kriteria. Dilihat dari indikator dampak bantuan modal dikatakan berperan dalam peningkatan pendapatan. Peningkatan pendapatan sebagian besar digunakan untuk konsumsi, hal ini terlihat pada persentase peningkatan pendapatan yang tidak diimbangi dengan persentase kenaikan tabungan Bantuan modal P2KP juga telah mampu meningkatkan kegiatan produksi usaha hal ini tampak dari meningkatnya omzet usaha masyarakat. Status sosial keluarga yang dilihat melalui status keluarga sejahtera juga mengalami peningkatan, walaupun memang tidak banyak keluarga yang mengalami peningkatan status sosial keluarga. Adapun saran yang dapat diberikan kepada BKM adalah: (1) Kerjasama yang baik diantara perangkat pemerintah (RT, RW, Kelurahan), BKM dan masyarakat mutlak diperlukan demi terciptanya institusi lokal yang mandiri dan berdaya. Perlu adanya sanksi yang tegas terhadap nasabah yang masuk dalam daftar kredit macet. Penambahan tim monitoring dan pemberian insentif yang layak kepada tim monitoring dan pengurus P2KP (2) bagi keluarga miskin hendaknya berpartisipasi dalam kegiatan P2KP sehingga program pemberdayaan terlaksana dengan baik. (3) Bagi kalangan akademisi dapat memperluas cakupan kajian penelitian, peranan bantuan modal P2KP tidak hanya dilihat pada komponen program pinjaman bergulir tetapi dapat pula dilihat pada komponen program sosial dan lingkungan.

Analisis perbedaan kinerja keuangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional / Ita Nur Anisa

 

Kinerja keuangan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu usaha perbankan baik bank syariah maupun konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja keuangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional pada periode 2004—2008 dengan menggunakan rasio keuangan. Analisis rasio yang digunakan adalah rasio CAR, NPL, NPM, ROA, ROE, LR dan LDR. Adapun sampel penelitian yaitu masing-masing 3 bank yang go public dengan alat analisis independent sample t-test. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) nilai rata-rata CAR bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah,(2) nilai rata-rata NPL bank konvensional lebih besar daripada bank syariah, (3) nilai rata-rata NPM bank konvensional labih kecil dibandingkan bank syariah, (4) nilai rata-rata ROA bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah, (5) nilai rata-rata ROE bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah, (6) nilai rata-rata LR bank konvensional lebih besar dibandingkan bank syariah, (7) nilai rata-rata LDR bank konvensional lebih kecil dibandingkan bank syariah. Penelitian menunjukkan rasio CAR (capital adequacy ratio) terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua bank, demikian pula pada rasio NPL nya. Sedangkan dari hasil penelitian pada rasio NPM (net profit margin), ROA (return on asset), ROE (return on equity), LR (liquidity ratio), LDR (loan to deposit ratio) tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan bank syariah dengan bank konvensional. Saran yang dapat disampaikan kepada kedua perbankan yaitu: bank syariah sebagai bank baru tetap mengembangkan pemasaran terutama kepada nasabah baru. Demikian pula bank konvensional bisa mempertimbangkan untuk membuka atau menambah unit usaha syariah atau mengkonversi menjadi bank umum syariah.

Pengaruh kinerja keuangan model Eagles terhadap return saham melalui trading volume activity (studi kasus pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008) / Dwi Ajeng Pramita

 

ABSTRAK Pramita, Dwi Ajeng. 2010. Pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap return saham melalui trading volume activity (Studi Kasus pada Perusahaan Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008). Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) DR. H. Agung Winarno, M.M dan (II) Fadia Zen, S.E, M.M. Kata kunci: kinerja keuangan model EAGLES, return saham, trading volume activity (TVA). Dalam dunia usaha, salah satu cara untuk mendapatkan dana adalah dengan cara menerbitkan saham. Dengan bertambahnya jumlah dana perusahaan, maka akan menunjang kegiatan perusahaan, sehingga keuntungan yang diperoleh akan semakin besar. Dalam hal tersebut tidak terlepas dari para investor yang telah menginvestasikan dananya terhadap perusahaan dengan memperoleh suatu pengharapan pengembalian yang lebih besar dari dana yang diinvestasikan, oleh karena itu perusahaan berkewajiban untuk mengelola dana dengan efektif dan efisien, sehingga mampu menghasilkan laba dengan baik agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya terhadap perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mendiskripsikan kinerja keuangan yang diukur dengan model EAGLES pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (2) Untuk mendiskripsikan return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (3) Untuk mendiskripsikan trading volume activity pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (4) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap return saham melalui trading volume activity. (a) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (b) Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan model EAGLES terhadap trading volume activity pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (c) Untuk menguji pengaruh trading volume activity terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Penelitian ini menggunakan analisis rasio model EAGLES, return saham dan trading volume activity. Dimana rasio keuangan terdiri dari: earning ability (return on equity), asset quality (asset quality), growth (deposite growth rate dan loan growth rate), liquidity (likuiditas), equity (capital adequacy ratio), strategy (strategic respons quotient out interest dan strategic respons quotient interest). Sedangkan populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih perusahaan perbankan yang listing terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang aktif dalam memperdagangkan sahamnya serta membagikan dividend selama periode 2006-2008. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa, laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Website Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penelitian terbukti bahwa kinerja keuangan model EAGLES tidak berpengaruh terhadap return saham melalui trading volume activity. Adapun terdapat pengaruh kinerja kuangan model EAGLES terhadap return saham yang diukur oleh earning ability (return on equity), equity (capital adequacy ratio), strategy (SRQ Interest), dan tidak terdapat pengaruh kinerja kuangan model EAGLES terhadap trading volume activity, sedangkan trading volume activity berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini disebabkan karena kadang kala investor dalam berinvestasi pada saham-saham perbankan menggunakan analisis teknikal, yaitu bahwa harga pasar saham sebagai komoditas perdagangan yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran pasar, dan pada gilirannya permintaan dan penawaran merupakan manivestasi dari kondisi psikologis pemodal. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi perusahaan agar dapat meningkatkan kinerjanya terutama dalam pengelolaan dana secara efektif dan efisien sehingga menarik investor untuk menanamkan modalnya. Serta dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan faktor-faktor internal perusahaan seperti kinerja manajemen perusahaan dan faktor-faktor eksternal (kondisi ekonomi makro) yang akan berpengaruh terhadap pembentukan harga saham dengan reaksi pada trading volume activity dan pada akhirnya pencapaian return saham oleh investor.

Hubungan profesionalitas konselor dengan ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMA Negeri 4 Malang / Aprima Abu Nini Sari

 

ABSTRAK Sari, Aprima Abu Nini. 2009. Hubungan Profesionalitas Konselor dengan Ekspektasi Siswa terhadap Pemanfaatan Layanan Konseling di SMA Negeri 4 Malang. Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. (II) Dr. M. Ramli, M.A. Kata Kunci: Profesionalitas konselor, Ekspektasi siswa, Layanan konseling. Kompetensi profesional konselor merupakan kemampuan dalam memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani, menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling, menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan, mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan. Selain didapatkan dari pendidikan dan pelatihan, konselor dapat mengembangkan kompetensinya melalui pengalaman kerja dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan profesinya. Apabila kompetensi profesional konselor tinggi maka ekspektasi siswa dalam pemanfaatan layanan konseling akan tinggi dan sebaliknya apabila kompetensi profesional konselor rendah maka ekspektasi siswa dalam pemanfaatan layanan konseling rendah pula. Dengan adanya konselor yang profesional, siswa akan dapat berkembang secara optimal dan tidak akan mudah putus asa dalam menemui hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat profesionalitas konselor di SMAN 4 Malang, (2) Ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMAN 4 Malang, (3) hubungan profesionalitas konselor dengan ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMAN 4 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 4 Malang sejumlah 76 orang siswa, diambil dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner hasil pengembangan penulis sebagai instrumen dalam pengumpul data. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) cukup banyak (50%) konselor SMAN 4 Malang yang memiliki kompetensi profesional dengan klasifikasi sangat tinggi, cukup banyak (50%) konselor SMAN 4 Malang yang memiliki kompetensi profesional dengan klasifikasi tinggi, dan tidak ada satupun konselor SMAN 4 Malang yang memiliki kompetensi profesional dengan klasifikasi cukup tinggi, rendah dan sangat rendah, (2) cukup banyak siswa (59,2%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi tinggi, sedikit siswa (31,5%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi sangat tinggi, sangat sedikit siswa (7,89%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi cukup tinggi, sangat sedikit siswa (1,31%) yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi rendah, dan tidak ada satupun siswa SMAN 4 Malang yang memiliki ekspektasi dalam memanfaatkan layanan konseling dengan klasifikasi sangat rendah, (3) ada hubungan yang signifikan antara profesionalitas konselor dengan ekspektasi siswa terhadap pemanfaatan layanan konseling di SMAN 4 Malang, r hitung (0,545) dengan taraf signifikansi sebesar (α = 0,000). Berdasarkan hasil penelitan, beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut: Konselor, hendaknya dapat mempertahankan kompetensi profesionalnya, sehingga siswa dapat memanfaatkan layanan konseling secara optimal. Peneliti lanjutan yang mempunyai keinginan untuk mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk memperbanyak jumlah sampel untuk konselor, karena jumlah sampel konselor dalam penelitian ini tidak sebanding dengan jumlah sampel siswa. Hal ini untuk mempermudah peneliti dalam menganalisis data penelitian dan dapat dijadikan sebagai acuan agar penelitian lebih sempurna.

Birokrasi perguruan tinggi berwawasan wirausaha (Studi multikasus di kampus putih, kampus biru, dan kampus hijau di kota Malang) / Munirul Abidin

 

ABSTRAK Abidin, Munirul. 2009. Birokrasi Perguruan Tinggi Berwawasan Wirausaha (Studi Multi Kasus pada Kampus Putih, Kampus Biru dan Kampus Hijau di Kota Malang). Disertasi. Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. (II) Prof. Ahmad Sonhadji, K.H., M.A., Ph.D (III) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata kunci: wirausaha, birokrasi, perguruan tinggi. Peningkatan mutu perguruan tinggi di Indoensia merupakan salah satu upaya yang tidak pernah berhenti, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun perguruan tinggi sendiri. Salah satu upaya tersebut adalah menciptakan birokrasi perguruan tinggi yang berwawasan wirausaha, yaitu sebuah upaya yang dilakukan PT dalam rangka menciptakan birokrasi PT yang efektif, transparan, DAN akuntabel. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) nilai-nilai kewirausahaan dalam pengembangan sistem perguruan tinggi, (2) tatakelola birokrasi PT berwawasan wirausaha, (3) pengembangan akademik yang berwawasan wirausaha, (4) pengembangan SDM yang berwawasan wirausaha, (5) pengembangan wirausaha (bisnis) di perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan rancangan studi multi kasus. Situs yang dugunakan dalam penelitian ini adalah Kampus Putih, Kampus Biru dan Kampus Hijau di kota Malang. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan proses observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dari proses pengumpulan data tersebut kemudian diperiksa kebenaran, kecocokan dan kehandalannya melalui proses triangulasi, yang dalam penelitian ini digunakan trianggulasi metode dan sumber. Data hasil wawancara ditriangulasi dengan data dari dokumen, observasi dan angket. Selain itu, data hasil wawancara dari suatu responden juga dilakukan pengecekan terhadap responden yang lain. Data yang terkumpul kemudian ditabulasi, diberi kode, dimaknai dan kemudian disimpulkan pada setiap situs penelitian, yang selanjutnya dibandingkan dengan data pada situs penelitian yang lain dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) tiga PT terteliti menerapkan nilai-nilai kewirausahaan dalam pengembangan sistem perguruan tinggi. Nilai-nilai tersebut sangat bervariatif, sebagian dari nilai-nilai tersebut sama dan sebagian lain berbeda. 2) Struktur birokrasi berwawasan wirausaha adalah birokrasi yang memiliki struktur organisasi yang flat dan sederhana tetapi kaya fungsi. Tatakelola birokrasi PT yang berwirausaha adalah tatakelola birokrasi yang dapat memberikan tupoksiwab yang jelas kepada para pegawai dan karyawan, memberikan pelayanan yang cepat, jelas dan terukur, meningkatkan daya saing baik antar pegawai intern kampus maupun dengan pihak luar dalam menangani pekerjaan kampus, sentralisasi administrasi dan desentralisasi akademik, melakukan pemberdayaan kepada civitas akademika untuk berkarya dan berinovasi, serta menjamin bahwa seluruh proses layanan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. 3) Manajemen pengembangan akademik berwawasan wirausaha adalah manajemen akademik yang mampu menghasilkan program-program dan kegiatan-kegiatan yang inovatif, produktif, khas dan unggul. 4) Manajemen pengembangan SDM PT berwawasan wirausaha adalah manajemen yang mampu meningkatkan kinerja para dosen dan pegawainya dengan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien. 5) Perguruan tinggi terteliti mengembangkan bisnis dengan cara yang bervariatif. Sebagian ada yang mengembangkan model bisnis integratif antara akademik dan non akademik, sedangkan sebagian lain mengembangkan model bisnis non-integratif, yaitu bisnis murni yang terpisah dari dunia akademik.

Proses pigmentasi sirip kaudal ikan guppy (Poecilia reticulata) selama regenerasi / Nur Azizah Dimyati

 

ABSTRAK Azizah. 2010. Proses Pigmentasi Sirip kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata) Selama Regenerasi. Skripsi, program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc, (II) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si. Kata kunci: Pigmentasi, Poecilia reticulata, Sirip kaudal Ikan Guppy (Poecilia reticulata), juga dikenal sebagai “millionfish” merupakan bagian kecil dari famili Poeciliidae. Ikan Guppy merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang paling populer di dunia. Panjang ikan betina 4-6 cm dan ikan jantan 2½–4 cm. Ikan Guppy adalah ikan yang mudah dan cepat sekali berkembang biak. Ikan Guppy juga pernah digunakan sebagai alat untuk membasmi jentik nyamuk malaria sehingga terbukti efektif untuk meredam perkembangan malaria. Keindahan ikan Guppy memberikan warna yang khas sebagai ikan hias. Ekornya lebar dan corak tubuhnya yang variatif. Warna ikan Guppy dapat dibedakan dari warna mata, warna tubuh bagian depan, warna tubuh bagian belakang, warna sirip ekor (caudal), sirip punggung (dorsal) dan warna kombinasinya. Pola warna tubuh ikan jantan lebih bervariasi daripada ikan betina. Ikan Guppy satu spesies dengan ikan Gatul (Poecilia sp.), ikan Moli (Poecilia latipinna), ikan Moli hitam (Poecilia sphenops), ikan ekor-pedang (Xiphoporus helleri), serta ikan Platis (Xiphopous maculatus) yang juga merupakan kelompok Livebearers. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Sampel penelitian ini adalah 10 ikan Guppy (Poecilia reticulata) jantan dewasa. Data perkembangan proses pigmentasi direkam dengan kamera digital di bawah mikroskop cahaya. Hasil pengamatan dicatat. Data foto disusun berurutan berdasarkan hari, mulai dari hari pemotongan sampai dengan hari ke 115. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa proses pigmentasi ikan Guppy memiliki beberapa tahap, yaitu: penyembuhan luka setelah pemotongan, reduksi kromatofor, migrasi awal kromatofor oleh melanofor, proliferasi dan pembesaran ukuran kromatofor, dan pembentukan kromatofor hingga membentuk pola warna pada sirip kaudal ikan Guppy. Dari data tersebut menunjukkan adanya salah satu kromatofor yang sama dengan manusia serta beberapa kromatofor yang dimiliki ikan Guppy (Poecilia reticulata).

Peningkatan kemampuan membaca cerita fiksi realistik siswa kelas 5 SDN Arjowinangun Malang melalui booktalk / Dewi Pusposari

 

ABSTRAK Pusposari, Dewi. 2010. Peningkatan Kemampuan Membaca Cerita Fiksi Realistik melalui Booktalk Siswa Kelas 5 SDN Arjowinangun Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd dan (II) Utami Widiati, M.A., Ph.D Kata kunci: peningkatan, kemampuan, pembelajaran, membaca cerita fiksi realistik, booktalk Peningkatan kemampuan membaca cerita fiksi realistik (CFR) melalui booktalk (BT) sebagai fokus penelitian bertolak dari kenyataan di lapangan bahwa pembelajaran membaca sastra belum tergarap dengan sempurna, terutama di SDN Arjowinangun Malang. Penelitian ini berfokus pada pemaparan proses dan hasil peningkatan pemahaman membaca CFR melalui BT. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman membaca CFR melalui BT untuk pemahaman struktur cerita yang meliputi (1) pelaku, (2) latar, (3) rangkaian, dan (4) tema cerita. BT dipilih karena terbukti dapat mempermudah siswa dalam memahami cerita. BT merupakan lembar kerja yang berisi beberapa pertanyaan tentang bacaan yang dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhdap bacaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dengan satuan siklus yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus secara berdaur ulang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan perefleksian. Kegiatan refleksi dilakukan pada akhir siklus sebagai dasar penyusunan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan tindakan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan praktisi (guru) sehingga guru dapat merasakan manfaat dan implikasi penelitian secara langsung. Data penelitian meliputi data proses dan hasil tindakan berupa perilaku yang bersumber dari interaksi (guru-siswa dan siswa-siswa) dan hasil pekerjaan siswa. Data diperoleh dari subjek terteliti kelas 5 SDN Arjowinangun Malang. Data diperoleh peneliti sebagai instrumen utama dengan memanfaatkan instrumen catatan lapangan, wawancara, kajian dokumen, dan rekaman foto kegiatan. Analisis data menggunakan model mengalir yang di dalamnya melibatkan reduksi data, sajian data, verifikasi, serta penarikan simpulan (Miles dan Huberman, 1984). Proses pembelajaran membaca CFR melalui BT dari siklus 1 hingga siklus 3 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara runtut prosedur tindakan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yakni (1) menje-laskan tujuan pembelajaran; (2) membangkitkan skemata siswa; (3) memahamkan unsur-unsur pembangun cerita melalui BT yaitu dengan cara: membaca cerita, menjelaskan pelaku, latar, rangkaian, dan tema cerita, memperagakan BT yang belum maupun yang telah ditanggapi, menjelaskan dan memodelkan penggarapan BT; (4) membagi kelompok; (5) berbagi hasil; (6) merevisi pekerjaan yang belum sempurna; dan (7) penguatan oleh guru. Hasil peningkatan kemampuan membaca CFR melalui BT tampak bahwa siswa dapat: (a) memahami pelaku cerita dengan dapat: (1) menyebutkan nama-nama pelaku dengan jumlah nilai: siklus 1:76 (kualifikasi baik), siklus 2:90 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:100 (kualifikasi sangat baik), (2) menentukan pelaku yang disukai dan alasannya dengan jumlah nilai: siklus 1:69,5 (kualifikasi cukup), siklus 2:85 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:90 (kualifikasi sangat baik), (3) menentukan pelaku yang tidak disukai dan alasannya dengan jumlah nilai siklus 1:69,5 (kualifikasi cukup), siklus 2:85 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:88 (kualifikasi sangat baik); (b) memahami latar cerita dengan dapat: (1) menentukan latar tempat dengan jumlah nilai siklus 1:74 (kualifikasi baik), siklus 2:92 (kualifikasi sangat baik), siklus 3:90 (kualifikasi sangat baik), dan (2) menentukan latar waktu dengan jumlah nilai siklus 1:53 (kualifikasi kurang), siklus 2:89 ((kualifikasi sangat baik), siklus 3:89 (kualifikasi sangat baik); (c) memahami rangkaian cerita dengan jumlah nilai siklus 1:10,5 (kualifikasi sangat kurang), siklus 2:79 (kualifikasi baik), siklus 3:95,6 (kualifikasi sangat baik); serta (d) memahami tema cerita dengan dapat merumuskan gagasan utama yang melandasi terbentuknya cerita dengan jumlah nilai siklus 1:11 (kualifikasi sangat kurang), siklus 2:77 (kualifikasi baik) , siklus 3:89 (kualifikasi sangat baik). Peningkatan per aspek adalah: (a) pelaku cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 15%, dari siklus 2 ke siklus 3 mengalami peningkatan 6%; (b) latar cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 36%, sedangkan siklus 2 ke siklus 3 tidak mengalami peningkatan; (c) rangkaian cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 69%, dari siklus 2 ke siklus 3 mengalami peningkatan 16, 6%; sedangkan (d) tema cerita dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan 66%, dari siklus 2 ke siklus 3 mengalami peningkatan 12%. Masing-masing aspek mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga dapat dikatakan pemanfaatan BT sebagai alat bantu untuk meningkatkan pemahaman membaca CFR dikatakan berhasil. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah (a) agar guru bahasa Indonesia menggunakan BT sebagai media pembelajaran membaca secara umum, bukan hanya membaca CFR, (b) agar guru bahasa Indonesia memodelkan dan menyosialisasikan strategi pemanfaatan BT sebagai alat bantu pemahaman membaca CFR kepada guru lain, (c) agar guru BI dapat mengaplikasikan pembelajaran membaca CFR melalui BT yang diintegrasikan dengan aspek keterampilan berbahasa lainnya, dan (d) agar guru BI memanfaatkan buku cerita sebagai bahan pembelajaran membaca, tidak hanya mengambil bahan pembelajaran dari buku paket saja.

Meningkatkan pemahaman sifat-sifat bangun ruang melalui penerapan teori Van Hiele pada siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan / Rumini

 

RUMINI.2010. Meningkatkan Pemahaman Sifat-Sifat Bangun Ruang melalui Penerapan teori van Hiele Pada Siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV Kecamatan Purwodai Jkabupaten Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan.Jurusan KSDP.Program S I PGSD.Pembimbing I Drs. Goenawan Roebyanto, S.Pd,M.Pd. Kata Kunci : Teori Belajar Van Hiele, dan Pemahaman Sifat-sifat Bangu Ruang. Pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SD Dawuhansengon IV masih rendah. Dari 18 siswa, 9 siswa mendapatkan nilai dibawah rata-rata dan 9 siswa diatas rata-rata. Hal ini karena guru lebih sering menggunakan metode ceramah, pembelajaran yang kurang melibatkan aktivitassiswa dan pengalaman langsung pada diri siswa. Permasalahan tersebut dicoba dengan penerapan teori belajar van Hiele pada pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV. Penelitian bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan teori Van Hiele untuk meningkatkan pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV, (2) mendekripsikan tingkat keberhasilan penerapan teori belajar Van Hiele pada pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah pedoman observasi, soal, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut : (1) Hasil observasi penerapan teori Van Hiele pada pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Dawuhansengon IV nilai rata-rata pra tindakan adalah 58,8, siklus I adalah 64,28 dn siklus II adalah 86,11. Sehingga pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa dari pra tindakan ke siklus II mengalami peningkatan 97 % dengan kategori sangat baik, (2) hasil observasi aktivitas siswa dengan penerapan teori Van Hiele 85 % dengan kategori baik. Saran dari penelitian ini dikemukakan sebagai berikut : (1) Teori belajar Van Hiele layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran geometri tentang sifat-sifat bangun ruang; (2) Bagi guru yang mengajar matematika disarankan menerapkan teori belajar Van Hiele dalam kegiatan pembelajaran geometri, (3) Guru pengajar disarankan menerapkan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang memungkinkan terjadinya proses belajar melalui pengalaman langsung;(4) Bagi guru perlu diketahui bahwa siswa sekolah dasar penerapan teori Van Hiele cocok diterapkan pada pembelajaran geometri.

Pendapat guru tentang proses evaluasi pembelajaran praktek penjas di SMUN se Kota Jember oleh Agus Setyawan

 

Proses evaluasi merupakan salah satu bagian dalam proses belajar'mengajirr yang mempunyai fungsi utama untuk mengetahui berhasil tidaknya proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan untuk rnengetahu.i sejauh rnana ketlampuan siswa tertradap bahan ajar yang telah guru berikan. Evaluasi merupakan bagian inteEal lalam proses pembelajann yang fflellpunyai kedudukan yang salna dcngan proses belajar-mengajar itu sendiri. untuk menunjang terlaksananya ploses pernbelajarany ang baik rnaka dalam prosesp embelajaranp erlu untuk nremperhatikan pelaksanakapnr osese valuasi. Untuk mendapatkan nilai yang benar-benar objektif terhadap kemampuan sisrva,m aka prosese valuasih endaknyad ilakukan denganb aik dan lengkap.H al ini berarti proses evaluasi harus dilakukan dengan seksama melalui prosedur yang telah ada. Penelitian inj secara umum bertrrjuan untuk mengetahui bagaimana proses evaluasi yang dilakukan oleh guru-guru penjaskes yang belada di kota Jember. Secara khusus penelitian ini ingin mengung,kapkank enyataan di lapangan apakah guru peryas di SMU Negeri se I(o1a .lember telah menialankan proses evaluasi secara prosedural dengan benar yaitu: berdasarkan pada tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap p a sca eval uasi Objek dalam penelitian ini adalah guru penjas yang mengajar pada sekolah SIVIU Negeri se kota Jeurber yaitu terdin dari 16 guru penjas dengan 8 serrolah negeri yang terdiri dari SMU Negeri 1 Jernber, SMU Negeri 2 Jember, SMIJ Negeri 3 Jember, SMU Negeri 4 .Iember, SMU Negeri 1 Ariasa, SMU Negeri 1 .lenggawah, SMU Negeri I Ambulu dan SMU Negeri I Rambipuji. Rancangan peneiitian yang digunakan adalah penelrtian non eksperitneu denganr nenggunakapne ndekatanjenisp enelitiand eskriptif.P enelitih anyam emotret kenyataan yang ada di laparrgan, peneliti tidak memberikan perlakuan pada responden. Dalam pengurnpuland ata, peneliti menggunakani nstrumen berupa angket tertutup yaitu angl

Perbedaan pengetahuan, persepsi, dan sikap siswa SMK Nasional Malang dan SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah / Abd. Rosyid

 

ABSTRAK Rosyid Abd, 2009. Perbedaan Pengetahuan, Persepsi, dan Sikap Siswa SMK Nasional Malang dan SMA Negeri 5 Malang terhadap Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Harmiyanto, (II) Drs. Hariyadi Kusuma. Kata kunci: pengetahuan, persepsi, sikap, pelaksanaan bimbingan konseling Peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah merupakan pendukung dalam meningkatkan efisiensi dan suasana kondusif dalam pengajaran di sekolah. Untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling secara berkualitas, maka seorang konselor harus mengetahui pengetahuan, persepsi, dan sikap siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling. Dalam penelitian ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana pengetahuan yang dimiliki siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, bagaimana persepsi yang dimiliki siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, dan bagaimana sikap yang dimiliki siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, apakah ada perbedaan pengetahuan, persepsi dan sikap antara siswa SMK Nasional Malang dengan siswa SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini dilakukan terhadap 70 siswa yang terbagi menjadi 35 siswa SMK Nasional Malang dan 35 siswa SMA Negeri 5 Malang. Rancangan penelitian ini jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan angket sebagai alat pengumpul data. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMK Nasional Malang memiliki pengetahuan yang baik, persepsi yang baik dan sikap yang cukup baik terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling. Sedangkan siswa SMA Negeri 5 Malang memiliki pengetahuan yang baik, persepsi yang cukup baik serta sikap yang baik terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling. Maka tidak terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan antara siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, serta terdapat perbedaan sikap yang signifikan antara siswa SMK Nasional Malang dan siswa SMA Negeri 5 Malang tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Untuk meningkatkan mutu layanan program bimbingan dan konseling, penting bagi konselor untuk dapat memberikan/mensosialisasikan pemahaman yang benar tentang layanan bimbingan dan konseling serta disesuaikan dengan kebutuhan/karakteristik siswa di sekolah. Dalam penelitian ini terbuka kemungkinan untuk mengadakan penelitian lanjutan agar lebih banyak hal-hal yang dapat diungkapkan dan dikembangkan. Hal ini akan berguna sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam mengembangkan program layanan bimbingan konseling di sekolah dalam rangka membantu siswa mengembangkan aspek-aspek intelektual, moral, sosial, kognitif dan emosional, serta mengembangkan potensi individu secara optimal, harmonis, dan bermakna sehingga siswa mandiri, kreatif, produktif, dan religius.

Perancangan sistem deteksi kebocoran tabung LPG (Liquefied Petroleum Gasses) portable / Vita Rediyanti Hidayat

 

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan keterampilan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar yang dimediasi oleh motivasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Boyolangu / Meity Selfia

 

ABSTRAK Selfia, Meily. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kompetensi Profesional Guru dan Keterampilan Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar yang Dimediasi oleh Motivasi Belajar Siswa Program Keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Boyolangu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) DR. H. Tuhardjo, S.E., M.Si, Ak., Pembimbing (2) Dra. Tri Laksiani, S.E., MM. Kata Kunci: Persepsi, Kompetensi Profesional Guru, Keterampilan Pengelolaan Kelas, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Prestasi belajar sampai saat ini menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah motivasi belajar. Guru memiliki peranan penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, karena guru yang menjadi panutan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Kompetensi profesional dan keterampilan guru dalam mengelola kelas merupakan hal yang harus dimiliki oleh seorang guru. Jika persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan keterampilan pengelolaan kelas positif, maka akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan secara tidak langsung akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan keterampilan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa program keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Boyolangu. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi menggunakan analisis regresi dan analisis jalur (path analysis). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII program keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Boyolangu dengan jumlah total 165, sedangkan sampel yang digunakan adalah 82 siswa. Data diperoleh dengan menyebarkan angket dan dokumentasi berupa nilai raport siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) terdapat pengaruh langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru terhadap motivasi belajar, 2) terdapat pengaruh langsung keterampilan pengelolaan kelas terhadap motivasi belajar, 3) terdapat pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar, 4) terdapat pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar, dan 5) terdapat pengaruh tidak langsung keterampilan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar (a) guru terus berusaha meningkatkan kompetensi profesional dan keterampilannya dalam mengelola kelas karena hal tersebut dapat memotivasi belajar siswa, (b) siswa terus berusaha meningkatkan motivasi belajarnya, karena dilihat dari persepsi siswanya, guru-guru SMK Negeri 1 Boyolangu memiliki kompetensi profesional dan keterampilan pengelolaan kelas yang baik.

Pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikurupsi di sekolah dasar negeri bertaraf internasional (SDN BI) Tlogowaru kecamatan Kedungkandang kota Malang / Hadiyah Riwayati

 

ABSTRAK Riwayati, Hadiyah. 2009. Pengembangan Kantin Kejujuran Dalam Rangka Pendidikan Antikorupsi di Sekolah Dasar Negeri Bertaraf Internasional (SDN BI) Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi PPkn, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. A Rosyid Al-Atok, M.Pd., MH. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si. Kata Kunci: kantin kejujuran, pendidikan antikorupsi Salah satu strategi pencegahan yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia yaitu melalui pendidikan antikorupsi. Ide terus digali untuk mencari strategi terbaik dalam memberantas korupsi melalui pendidikan antikorupsi tersebut, termasuk cara mengasah kejujuran dan menumbuhkan mental antikorupsi di kalangan pelajar. Salah satu diantaranya yaitu melalui kantin kejujuran yang berada di lingkungan sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai Perguruan Tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pola pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di SDN BI Tlogowaru Kota Malang, (2) mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di SDN BI Tlogowaru Kota Malang dan (3) mendeskripsikan manfaat pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di SDN BI Tlogowaru Kota Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data penelitian dibagi menjadi tiga yaitu informan, catatan lapangan dan dokumen. Penentuan informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber yakni dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek data yang diperoleh melalui wawancara, observasi didukung dengan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Kantin kejujuran merupakan salah satu strategi yang tepat agar siswa belajar dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, ketertiban serta kemandirian. Kantin kejujuran dapat digunakan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi. Pola pengembangan kantin kejujuran di SDN BI Tlogowaru oleh pihak sekolah dilakukan secara efektif dan efisien mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga evaluasi diarahkan pada kemajuan dan hasil yang optimal; (2) Faktor pendukung pengembangan kantin kejujuran terdiri dari adanya bantuan modal; Perilaku warga sekolah untuk berperilaku jujur; Pemberian materi pendidikan antikorupsi pada mata pelajaran PKn; Siswa menyukai makanan dan dapat menjangkau harga yang ditawarkan; Kesadaran siswa untuk mematuhi norma yang berlaku; Pemahaman siswa terhadap mekanisme pembelian dan pembayaran; Siswa mengetahui tentang korupsi. Sedangkan faktor penghambat pengembangan kantin kejujuran yaitu semua siswa belum tentu bisa untuk berbuat jujur, disiplin, mandiri, tertib dan bertanggung jawab; Guru mengalami kesulitan melepas anak kelas satu karena sebagian dari mereka masih belum mengerti nominal uang; (3) Manfaat yang diperoleh diketahui sebagai berikut; Bagi sekolah terbentuknya perilaku dan lingkungan yang jujur serta sebagai sarana mengaplikasikan nilai-nilai kejujuran yang telah diajarkan di dalam kelas; Bagi siswa dapat melatih sikap jujur, bertanggung jawab, mandiri, taat terhadap norma, tata tertib dan ketentuan yang berlaku; Bagi orang tua dapat memberikan motivasi dan pembinaan terhadap anak agar selalu berperilaku jujur; Dan bagi masyarakat dapat mendidik generasi muda berperilaku jujur dan berakhlak mulia. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan: (1) Hendaknya sekolah yang bersangkutan juga menerapkan kurikulum antikorupsi dalam pembelajaran dan dalam pengawasan kantin kejujuran dapat melibatkan siswa di dalamnya melalui piket kantin kejujuran; (2) Guru hendaknya pada saat siswa bermain Ular Tangga Antikorupsi (UTAK) dapat memberikan penjelasan mengenai nilai-nilai kejujuran yang terangkum di permainan UTAK tersebut; (3) Dinas Pendidikan Kota Malang hendaknya memberikan dukungan dan ikut menfasilitasi sekolah yang berkeinginan untuk mendirikan dan melaksanakan praktik kantin kejujuran; (4) Peneliti atau mahasiswa yang akan datang hendaknya dapat meneliti metode pembelajaran antikorupsi yang diterapkan di dalam kelas.

Studi kekerabatan jenis-jenis ficus yang terdapat di Kabupaten Bangkalan-Madura berdasarkan ciri morfologi / Fachmiar Ishadi

 

ABSTRAK i, Fachmiar. 2010. Studi Kekerabatan Jenis-Jenis Ficus yang Terdapat di Kabupaten Bangkalan-Madura Berdasarkan Ciri Morfologi. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S., (II) Dra. Murni Saptasari, M.Si. Kata kunci: Ficus, morfologi vegetatif, kekerabatan Ficus Ficus adalah kelompok tumbuhan yang banyak ditemukan di Indonesia. Ficus memiliki masalah pada taksonominya. Berdasarkan hasil PKL di Kebun Raya Purwodadi, diperoleh data Ficus kurang lebih sebanyak 65 jenis dan beberapa diantaranya masih belum diketahui nama jenisnya. Menurut Ronsted (2006), secara morfologi Ficus terpisah dari suku Moraceae dan ditempatkan pada suku Ficeae. Marga Ficus memiliki kelompok dalam jumlah yang besar dan beberapa diantaranya masih belum diketahui kedudukannya dalam takson sehingga menarik untuk dikaji kekerabatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Ficus yang ditemukan di Kabupaten Bangkalan-Madura dan hubungan kekerabatannya berdasarkan ciri morfologi vegetatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan Maret - April 2009. Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah tumbuhan Ficus yang terdapat di tiga Kecamatan yang meliputi: Kecamatan Bangkalan, Kecamatan Burneh, dan Kecamatan Kamal. Pengambilan sampel dilakukan secara jelajah bebas. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis cluster (pengelompokan) untuk menentukan hubungan kekerabatannya dan selanjutnya membuat kunci identifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 91 karakter morfologi vegetatif dari 7 jenis tumbuhan Ficus yaitu F. ampelas Burm. f., F. benjamina L., F. kurzii King, F. septica Burm. f., F. hispida L. f., F. montana Burm. f., dan F. albipila (Miq.) King. Ciri-ciri morfologi yang dapat dijadikan karakter pada tumbuhan Ficus di Kabupaten Bangkalan-Madura, yaitu: diameter batang, tinggi tumbuhan, bentuk daun, tebal daun, panjang dan lebar daun, ujung daun, warna daun, bentuk angkup, serta warna getah. Tumbuhan Ficus yang ditemukan terkelompok menjadi 3 kelompok. Kelompok 1, terdiri dari F. benjamina L. yang berkerabat relatif dekat dengan F. kurzii King (koefisien asosiasi 0,522); kelompok 2 memiliki 2 sub kelompok, sub kelompok 1 yaitu F. ampelas Burm. f. dan F. montana Burm. f. yang berkerabat relatif dekat (koefisien asosiasi 0,522), sub kelompok 2 yaitu F. septica Burm. f. dan F. albipila (Miq.) King yang dianggap berkerabat kurang dekat (koefisien asosiasi 0,400); kelompok 3, hanya terdiri dari F. hispida L. f. Jika ketiga kelompok diperbandingkan, maka diperoleh tingkat kekerabatan sebesar 0,174. Tingkat kekerabatan ini menunjukkan kategori marga yaitu Ficus, dengan masing-masing sebagai sub-marga. Bukti morfologi vegetatif untuk membuktikan masing-masing kelompok Ficus merupakan submarga belum cukup, maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan kekerabatannya dari berbagai ciri termasuk bunga.

Peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar melalui penerapan metode cooperative learning model student teams achievement division (STAD) pada mata oelajaran pemasaran (Studi pada siswa kelas X PMS SMK PGRI 2 Malang) / Sulistyoningsih

 

i ABSTRAK Sulistyaningsih. 2010. Peningkatan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Melalui Penerapan Metode Cooperative Learning Model Student Teams Achievement Division (STAD) Pada Mata Pelajaran Pemasaran (Studi Pada Siswa Kelas X PMS SMK PGRI 2 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, FE, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Heri Pratikto, M.Si, (II) Imam Bukhori, S.Pd, M.M. Kata kunci: aktivitas belajar, hasil belajar, metode cooperative learning model student teams achievement division (stad) Pembelajaran kooperatif model STAD dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, menjadikan siswa lebih aktif dalam berkomunikasi dan pembelajaran kooperatif model STAD merupakan variasi dalam pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton dengan hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa tidak merasa bosan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran pemasaran pada pokok bahasan marketing mix. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD; (2) untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diadakan pembelajaran kooperatif model STAD pada mata pelajaran, (3) untuk mengetahui aktivitas belajar siswa setelah diadakan pembelajaran kooperatif model STAD pada mata pelajaran. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah kelas X PMS SMK PGRI 2 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes, panduan observasi, format penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada siklus I, nilai rata-rata aktivitas siswa sebesar 74,98 yang berarti menunjukkan kualitas belajar baik. Pada siklus II, nilai rata-rata aktivitas siswa mencapai 94,33 dengan kualitas belajar baik. (2) Pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar siswa pada aspek kognitif sebesar 61,63 dengan kategori baik. Pada siklus II, nilai rata-rata hasil belajar siswa pada aspek kognitif meningkat menjadi 77,58 dengan kategori baik. (3) Pada siklus I nilai rata-rata aspek afektif siswa sebesar 80. Pada siklus II nilai rata-rata aspek afektif siswa mengalami peningkatan sebesar 11% menjadi 91. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD di kelas memberikan variasi belajar siswa sehingga suasana kelas tidak monoton dan membosankan, selain itu siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga timbul interaksi antar sesama siswa yang saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal (2) Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatakan aktivitas belajar siswa kelas X PMS pada mata pelajaran marketing mix. Hal ini bisa dilihat dari skor peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II (3) Hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan aspek afektif setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model STAD mengalami peningkatan dimana diketahui ii pada tindakan siklus 1 nilai post test siswa meningkat dibanding nilai pre test mereka, namun kelas belum memenuhi syarat ketuntasan belajar karena yang tuntas belajar masih dibawah batas minimum presentase ketuntasan belajar kelas. Pada tindakan siklus II nilai post test siswa meningkat dibandingkan nilai pre test mereka. Diketahui bahwa dalam tindakan siklus II ini kelas telah memenuhi taraf ketuntasan belajar dimana presentase siswa yang tuntas belajar diatas batas minimum presentase ketuntasan belajar kelas. Saran yang dapat dikemukakan diantaranya: (1) guru hendaknya lebih meningkatkan motivasi siswa untuk pembelajaran model STAD sehingga siswa bisa berpikir lebih aktif dalam memecahkan suatu masalah, saling bekerjasama antar siswa dan memberikan bimbingan pada siswa untuk memecahkan suatu masalah (2) siswa hendaknya lebih meningkatkan kreatifitas mereka untuk berfikir lebih maju dan berani mengungkapkan pendapat. Selain itu siswa diharapkan dapat saling bekerjasama dalam suatu kelompok dan berusaha menghargai orang lain (3) peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian pada kompetensi dasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.

Kajian analisis varian peubah ganda pada percobaan faktorial dua faktor dengan rancangan acak lengkat / Abdul Malik

 

ABSTRAK Malik, Abdul .2009. Kajian Analisis Varian Peubah Ganda pada Percobaan Faktorial Dua Faktor dengan Rancangan Acak Lengkap. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Swosono Rahardjo, S.Pd, M.Si (II) Ir.Hendro Permadi, M.Si Kata Kunci: manova faktorial, tinggi tanaman kedelai, luas kanopi Manova merupakan salah satu metode statistik multivariat yang digunakan untuk menganalisis data lebih dari satu variabel dependen dengan skala interval atau rasio, sedangkan variabel independennya terdiri dari dua kelompok atau lebih, dimana semua variabel tersebut dianalisis secara simultan atau bersama-sama. Skripsi ini membahas tanaman kedelai, untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan pupuk kandang terhadap tinggi tanaman dan luas kanopi pada tanaman kedelai dengan menggunakan manova percobaan faktorial pada rancangan acak lengkap. Setelah dilakukan uji manova faktorial rancangan acak lengkap pada tanaman kedelai, didapatkan perbedaan yang nyata pada tinggi tanaman dan luas kanopi tanaman kedelai yang dipengaruhi oleh jarak tanam 20cm x 20cm dan 30cm x, sedangkan untuk faktor pupuk kandang tidak ada perbedaan nyata pada tinggi tanaman dan luas kanopi tanaman kedelai, begitu juga pada faktor kombinasi pupuk kandang dan jarak tanam tidak ada perbedaan nyata pada tinggi tanaman dan luas kanopi tanaman kedelai. Dari uji rata-rata dan rata-rata data tanaman kedelai, didapat bahwa pada faktor jarak tanam 30cm x 30cm merupakan yang plaing bagus digunakan untuk menanam tanaman kedelai.

Kajian tentang kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa kelas II SMU Negeri 8 Malang dalam memahami bahan kajian termokimia / oleh Lilik Isnawiyati

 

Analisis faktor-faktor organisasional yang mempengaruhi kinerja dosen ekonomi PTN di Sulawesi Utara / Rita Norce Taroreh

 

ABSTRAK Taroreh, Rita Norce. 2009. Analisis Faktor-Faktor Organisasional yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Ekonomi PTN Di Sulawesi Utara. Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Salladien, (II) Prof. Dr. Umar Nimran, M.A., dan (III) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. Kata Kunci: faktor-faktor organisasional, kinerja dosen Untuk meningkatkan daya saing global produk Indonesia maka peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan tuntutan yang tidak dapat ditunda. Untuk tujuan ini pendidikan memiliki peran yang sangat strategis tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan penyediaan SDM berkualitas saat ini, tetapi untuk masa yang akan datang. Sebagai media pembelajaran, perguruan tinggi semestinya mewujudkan dirinya sebagai ruang belajar (space of learn) bagi seluruh sivitas akademikanya. Untuk melakonkan perannya dengan baik maka pengelolaan perguruan tinggi membutuhkan organisasi yang memungkinkannya melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri dan beradaptasi secara kreatif terhadap perubahan lingkungan strategisnya. Organisasi harus mengizinkan dan mendorong individu dan kelompok anggotanya untuk menjadi lebih efektif, terutama dalam memanfaatkan SDM yang dimilikinya. Perguruan tinggi merupakan organisasi yang sangat bergantung pada kinerja SDM yang menjadi anggotanya, termasuk SDM dosen. Dosen menjadi parameter penting dalam proses pengendalian kelembagaan peguruan tinggi karena kedudukannya yang sangat sentral. Melalui misi pokok perguruan tinggi yaitu mengembangkan, mengalihkan, dan menerapkan pengetahuan melalui pengamalan tridharma perguruan tinggi, menempatkan dosen sebagai SDM utama pemegang kunci operasional tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi. Dengan kemampuan profesional dan hubungan yang dekat dengan mahasiswa dan sejawat, dosen sangat menentukan perkembangan institusi, mempengaruhi lingkungan intelektual dan sosial kehidupan kampus. Oleh sebab itu maka segala upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja dosen sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi secara komprehensif perlu dilakukan agar fungsi dan perannya dapat terlaksana secara maksimal guna tercapainya tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara: budaya organisasi dan komunikasi organisasi terhadap iklim organisasi, kepuasan kerja, konflik organisasi, dan kinerja dosen ekonomi PTN di Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif bersifat survey korelasional terhadap populasi yang meliputi seluruh dosen ekonomi berjumlah 455 orang yang tersebar di 3 (tiga) PTN di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Manado, dan Politeknik Negeri Manado. Ukuran sampel diperoleh menggunakan tabel Krejcie pada tingkat kesalahan 5% sebanyak 210 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan jumlah sebaran menurut masing-masing perguruan tinggi ditentukan berdasarkan prosentase jumlah dosen yang dimiliki oleh masing-masing PTN. Instrumen penelitian berupa angket untuk mengukur variabel penelitian: budaya organisasi, komunikasi organisasi, iklim organisasi, konflik organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja dosen, dikembangkan mengacu pada teori dibawah bimbingan dan persetujuan para dosen pembimbing. Angket yang digunakan telah diujicobakan sebelumnya kepada 30 orang responden dan telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas instrumen. Data penelitian setelah memenuhi asumsi data, selanjutnya dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan statistical software SPSS for Windows Release 15.0. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) budaya organisasi berpengaruh secara langsung terhadap iklim organisasi, (2) budaya organisasi tidak berpengaruh secara langsung, namun berpengaruh secara tidak langsung terhadap kepuasan kerja, (3) budaya organisasi berpengaruh secara langsung terhadap konflik organisasi, (4) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung terhadap iklim organisasi, (5) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kepuasan kerja, (6) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung terhadap konflik organisasi, (7) iklim organisasi berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan kerja, (8) konflik organisasi berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan kerja, (9) iklim organisasi tidak berpengaruh secara langsung, namun berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja dosen, (10) budaya organisasi berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja dosen, (11) kepuasan kerja berpengaruh secara langsung terhadap kinerja dosen, (12) komunikasi organisasi berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja, dan (13) konflik organisasi tidak berpengaruh secara langsung, namun berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja dosen ekonomi PTN di Sulawesi Utara. Menindaklanjuti temuan penelitian ini, disarankan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk terlebih dahulu meningkatkan kepuasan kerja sebelum melakukan peningkatan/perbaikan terhadap budaya organisasi, komunikasi organisasi, iklim organisasi, dan penggunaan metode penyelesaian konflik apabila hendak meningkatkan kinerja dosen, khususnya dosen ekonomi. Bagi dosen, temuan penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi diri sekaligus umpan balik untuk terus melakukan peningkatan/perbaikan kinerjanya. Bagi penelitian selanjutnya temuan penelitian ini dapat dikembangkan untuk wilayah yang lebih luas mengingat keberagaman yang ada pada setiap individu dosen, lingkungan dimana perguruan tinggi tempatnya bekerja, serta mengembangkan sejumlah faktor organisasional lainnya secara lebih komprehensif yang mempengaruhi kinerja dosen.

Pengembangan media pembelajaran berbasis CAI (Computer Asissted Instruction) untuk materi pemanasan global bidang studi geografi kelas X SMA NEGERI 1 Ngawi / Niswatun Afifah

 

ABSTRAK Afifah, Niswatun. 2010. ”Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis CAI (Computer Assisted Instruction) untuk Materi Pemanasan Global Kelas X Semester 2 SMA Negeri 1 Ngawi”. Skripsi, Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Soelistidjo, M.Si (II) Drs. Yusuf Suharto. Kata Kunci: media pembelajaran, cai (computer assisted instruction), pemanasan global Kemajuan teknologi modern adalah salah satu faktor yang turut menunjang keberhasilan pendidikan. Peranan teknologi sangat berpengaruh pada proses penyampaian pesan terutama dalam proses pendidikan. Media merupakan alat perantara untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Media dapat berfungsi untuk memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan minat belajar siswa. Terdapat dua macam pembelajaran berbasis komputer yaitu Computer Assisted Instruction (CAI) dan Computer Managed Instruction (CMI). Dalam CAI, siswa berinteraksi langsung (online) dengan komputer sedangkan CMI membantu guru dalam mengadministrasi proses pembalajaran dan siswa tidak online dengan komputer. CAI (Computer Assisted Instruction) adalah suatu sistem penyampaian materi pelajaran yang berbasis mikroposesor yang pelajarannya dirancang dan diprogram ke dalam sistem tersebut. CAI dapat berbentuk tutorial, drills and practice, simulasi, dan permainan. Media pembelajaran berbasis CAI ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik, dan animasi grafik (graphic animation). Media pembelajaran berbasis CAI ini juga mampu memberikan balikan (feedback) sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi. Bentuk pembelajaran CAI yang diberikan adalah bentuk tutorial bercabang. Desain uji coba penelitian meliputi validasi isi dan uji coba di lapangan. Validasi isi diperoleh dari penilaian dan tanggapan dari validator ahli materi dan ahli media yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kelayakan dan bagian media CAI yang perlu direvisi. Uji coba di lapangan dilakukan dengan mencobakan media CAI kepada siswa. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu media pembelajaran berbasis CAI yang diproduksi memiliki tingkat kelayakan tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil validasi kelompok ahli terhadap media yang dikembangkan adalah 89,32% (valid). Sedangkan hasil validasi pada audiens adalah 98,75% (valid). Saran pengembangan produk lebih lanjut yang dapat dikemukakan setelah dilaksanakan penelitian pengembangan ini adalah 1) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka mengeliminasi kekurangannya; 2) media pembelajaran berbasis CAI untuk materi lain perlu dikembangkan; 3) perlu dikembangkan media pembelajaran berbasis CAI yang online, dapat diakses melalui internet.

Perbedaan peningkatan sikap dan hasil belajar akuntansi peserta didik SMA NEGERI 8 Malang melalui kombinasi metode pembelajaran think pair share (TPS) dengan permainan teka-teki / Anggi Wahyu Maulandani

 

ABSTRAK Maulandani, Anggi Wahyu. 2009. Perbedaan Peningkatan Sikap dan Hasil Belajar Peserta Didik SMA Negeri 8 Malang melalui Kombinasi Metode Pembelajaran Think Pair Share dengan Permainan teka-teki. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi. FE. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, M.Si. Ak. (II) Sawitri Dwi Prastiti. S.E. M.Si. Ak. Kata kunci: metode pembelajaran Think Pair Share, permainan teka-teki, sikap, hasil belajar Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah. Berangkat dari fakta yang diperoleh peneliti khususnya mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI IPS masih disampaikan dengan metode konvensional. Dari sini peneliti mencoba menggunakan kombinasi metode pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki untuk mengetahui apakah metode ini dapat meningkatkan sikap dan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional di SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Penelitian membagi sasaran penelitian menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah kelompok yang dalam proses pembelajarannya menggunakan metode konvensional atau ceramah. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang dalam proses pembelajarannya menggunakan kombinasi metode pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki dalam mata pelajaran akuntansi. Pada akhir eksperimen maka akan diuji kelompok mana yang lebih baik apakah kelompok kontrol ataukah kelompok eksperimen. Analisis yang digunakan untuk menguji kemampuan awal dan kemampuan akhir siswa adalah analisis uji t. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar akuntansi siswa melalui kombinasi pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki lebih bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Selanjutnya dilihat dari respon sikap siswa dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa siswa memiliki kecenderungan respon positif. Berdasarkan dari analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar akuntansi dan sikap siswa kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan dengan kombinasi metode pembelajaran think pair share dengan permainan teka-teki lebih baik bila dibandingkan dengan hasil belajar akuntansi dan sikap siswa kelompok kontrol yang diberi perlakuan secara konvensional. Penulis menyarankan untuk: (1) menerapkan pembelajaran TPS sebagai variasi guru dalam mengajar, juga karena dapat meningkatkan sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar, (2) untuk meningkatkan hasil belajar siswa hendaknya guru memilih strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dikelas, (3) Bagi lembaga pendidikan atau instansi terkait disarankan untuk dapat mensosialisasikan pembelajaran kooperatif khususnya metode Think Pair, (4) Kapasitas kelas yang digunakan sebagai eksperimen sebaiknya tidak melebihi terlalu banyak, (5) Peneliti mengharapkan ada penelitian sejenis dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung yang lain yang turut berpengaruh terhadap hasil penelitian namun tidak teridentifikasi dalam jabaran variabel penelitian.

Perbedaan kemampuan siswa kelas IX IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US (United Stated) dan sistem IUPAC (International Union Of Pure and Applied Chemistry) / Siti Maslifatul Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Siti Maslifatul. 2010. Perbedaan Kemampuan Siswa Kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam Menentukan Periode dan Golongan Unsur pada Sistem Periodik Unsur Berdasarkan Sistem US (United Stated) dan Sistem IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D., (2) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd. kata kunci: kemampuan, sistem periodik unsur, sistem US, sistem IUPAC Salah satu materi ilmu kimia adalah struktur atom dan sistem periodik unsur. Materi struktur atom dan sistem periodik unsur diajarkan di kelas X dan XI SMA dan MA. Pada materi tersebut dibahas penentuan letak unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan konfigurasi elektronnya. Di kelas X, penentuan periode dan golongan unsur didasarkan pada konfigurasi elektron berdasarkan kulit. Di kelas XI, penentuan periode dan golongan unsur didasarkan pada konfigurasi elektron berdasarkan harga bilangan kuantum. Sistem periodik unsur telah mengalami beberapa kali perubahan dalam penomoran golongan, yaitu mulai dari sistem IUPAC lama, sistem US sampai sistem IUPAC baru (selanjutnya disebut sistem IUPAC). Sistem IUPAC telah direkomendasikan oleh IUPAC pada tahun 1983. Penentuan golongan unsur berdasarkan sistem US dapat membingungkan siswa, karena pada golongan VIIIB terdapat tiga kolom dengan nomor golongan yang sama, sedangkan pada sistem IUPAC setiap kolom memiliki nomor golongan tersendiri. Berdasarkan hal ini, dapat diprediksikan bahwa siswa akan lebih mudah mempelajari penentuan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem IUPAC dari pada berdasarkan sistem US. Akan tetapi, sistem periodik unsur yang masih banyak dipakai di Indonesia adalah sistem US. Seperti yang digunakan di sekolah-sekolah dan buku-buku kimia yang beredar di Indonesia. Penelitian tentang penentuan letak unsur dalam sistem periodik berdasarkan sistem IUPAC belum pernah dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kemampuan siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US, (2) mengetahui kemampuan siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem IUPAC, dan (3) mengetahui perbedaan kemampuan siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang dalam menentukan periode dan golongan unsur pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US dan sistem IUPAC. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 2 Malang, dengan sampel penelitian siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 SMAN 2 Malang. Kedua sampel dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol diajar materi penentuan periode dan golongan unsur berdasarkan sistem US, sedangkan kelompok eksperimen diajar materi penentuan periode dan golongan berdasarkan sistem IUPAC. Pada tahap 1, kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Pada tahap 2, kelas XI IPA 1 sebagai kelas kontrol dan XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa instrumen perlakuan (RPP) dan instrumen tes. Instrumen tes mempunyai validitas butir soal 0,35-0,68 untuk soal tahap 1 dan 0,36-0,81 untuk soal tahap 2. Reliabilitas instrumen tes yang diukur dengan rumus Kuder Richardson (KR 20) adalah sebesar 0,80 untuk tahap 1 dan 0,84 untuk tahap 2. Perbedaan kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan pada sistem periodik unsur berdasarkan sistem US dan sistem IUPAC diuji dengan menggunakan uji statistik, yaitu uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem US tergolong baik, yaitu sebesar 78,1% pada tahap 1 dan sebesar 80,0% pada tahap 2. Kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem IUPAC tergolong cukup yaitu sebesar 67,4% pada tahap 1 dan 74,3% pada tahap 2. Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem US dan sistem IUPAC. Rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol sebesar 79,6 pada tahap 1 dan 82,8 pada tahap 2. Untuk kelas eksperimen sebesar 72,4 pada tahap 1 dan sebesar 76,0 pada tahap 2. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan periode dan golongan unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan sistem US lebih baik dari pada sistem IUPAC. Hasil ini berkebalikan dengan alasan yang dikemukakan IUPAC, hal ini mungkin disebabkan siswa sudah terbiasa dan familiar dengan menggunakan sistem US. Di kelas X sistem periodik yang dikenal siswa juga sistem US. Buku-buku pelajaran juga menjelaskan sistem US. Demikian pula pelajaran di luar sekolah, misalnya di bimbingan belajar.

Pengaruh pengungkapan sosial perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan terhadap reaksi investor pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ periode 2006-2007 / Farida Amalia Suyitno

 

ABSTRAK Suyitno, Farida Amalia. 2009. Pengaruh Pengungkapan Sosial Perusahaan dan Kinerja Keuangan Perusahaan Terhadap Reaksi Investor Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEJ Periode 2006-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Hj. Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si, Ak. Pembimbing II : Dr. Nurika R, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci: Pengungkapan Sosial, Kinerja Keuangan, Reaksi Investor. Era globalisasi dan persaingan bebas membawa kehancuran yang semakin parah bagi dunia. Maka, belakangan ini banyak organisasi bisnis yang mulai memperhatikan peran sosialnya terhadap kondisi lingkungannya. Peran dan tanggungjawab sosial perusahaan dewasa ini merupakan bagian penting yang tidak dapat diabaikan.Selain itu, tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Peningkatan nilai perusahaan ini salah satunya dapat diperlihatkan melalui kinerja perusahaan yang baik pula. Seorang investor cenderung melakukan investasi pada perusahaan yang mempunyai kinerja yang baik, dengan harapan memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi dari modal yang diinvestasikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh dari pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan terhadap reaksi investor, untuk mengetahui adanya pengaruh dari kinerja keuangan perusahaan terhadap reaksi investor, untuk mengetahui adanya pengaruh simultan pengungkapan sosial perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan terhadap reaksi investor. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif (korelasional). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih, atau hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2006-2007. Pemilihan sampel penelitian didasarkan pada purposive sampling, sehingga ditemukan 52 perusahaan sebagai sampel. Analisis yang digunakan yaitu regresi linier berganda dimana terdapat dua variabel bebas yaitu pengungkapan sosial yang diukur dengan indeks, dan kinerja keuangan yang diukur dengan MVA. Variabel terikat adalah reaksi investor yang diukur dengan VAt. Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan adanya pengaruh baik parsial maupun simultan dari pengungkapan sosial dan kinerja keuangan terhadap reaksi investor. Artinya jika, pengungkapan sosial semakin besar dan kinerja keuangan perusahaan semakin baik, investor akan semakin baik meresponnya.Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan, antara lain Zuhroh dan Sukmawati (2003) dan Ilmiyati (2007). Sebaiknya, untuk mengukur kinerja keuangan, tidak hanya menggunakan MVA tapi juga pengukuran lainnya misalnya EPS atau DER. Dan untuk mengukur reaksi investor, bisa juga menggunakan CAR sebagai pengukuran sehingga hasil penelitian selanjutnya bisa lebih akurat.

Pengaruh aktivitas berorganisasi terhadap prestasi belajar siswa SMA NEGERI 2 Pamekasan / Farida Amalia Suyitno

 

ABSTRAK Suyitno, Farida Amalia. 2009. Pengaruh Aktivitas Berorganisasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 2 Pamekasan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Dr. Drs. Bambang Sugeng, S.E., M.A., M.M., Ak., Pembimbing II : Dra. Suparti, M.P. Kata Kunci: Aktivitas Berorganisasi, Prestasi Belajar. Aktivitas berorganisasi merupakan kegiatan yang dilakukan siswa diluar jam belajar dalam rangka mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki siswa.Organisasi di sekolah sendiri terdiri dari organisasi intra dan organisasi ekstra. Aktivitas organisasi sering dijadikan sebagai salah satu faktor penyebab menurunnya prestasi belajar siswa. Padahal menurut teori motivasi Maslow dan Berne, organisasi bisa dijadikan sebagai pendongkrak motivasi untuk meningkatkan prestasi karena dengan berorganisasi siswa bisa memenuhi salah satu dari tujuh hierarki kebutuhannya dan organisasi bisa dijadikan sebagai tempat menerima rangsangan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara aktivitas berorganisasi dari siswa yang mengikuti organisasi intra dan siswa yang mengikuti organisasi ekstra terhadap prestasi belajar, serta apakah terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti organisasi intra dan yang mengikuti organisasi ekstra. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 2 Pamekasan yang mengikuti aktivitas organisasi dan sampelnya adalah siswa yang aktif mengikuti organisasi baik intra maupun ekstra dan hanya aktif dalam satu organisasi saja. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dilakukan dengan teknik dokumentasi nilai raport siswa sebelum aktif mengikuti organisasi dan sesudah aktif mengikuti aktivitas berorganisasi. Pengujian hipotesis menggunakan analisis T-test. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan dari aktivitas berorganisasi baik siswa yang mengikuti aktivitas organisasi intra maupun siswa yang mengikuti aktivitas organisasi ekstra terhadap prestasi belajar siswa SMA Negeri 2 Pamekasan. Dan tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti aktivitas organisasi intra dan yang mengikuti aktivitas organisasi ekstra. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) Ada baiknya pengukuran prestasi belajar juga ditambah dengan nilai test atau ulangan harian sesungguhnya supaya bisa lebih diketahui nilai siswa yang sebenarnya.(2)Ada baiknya dicari juga perbedaan prestasi siswa dari berbagai macam jenis organisasi yang ada dalam kelompok organisasi ekstrakulikuler.

Pengaruh pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah dan pembiayaan murabahah terhadap laba pada bank syariah periode 2000-2008 / Sapta Lirantia Purnamasari

 

ABSTRAK Purnamasari, Sapta L. 2009. Pengaruh Pembiayaan Mudharabah, Pembiayaan Musyarakah dan Pembiayaan Murabahah Terhadap Laba Pada Bank Syariah Periode 2000-2008. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Agung Winarno, M.M, (2) Yuli Soesetio, S.E., M.M. Kata kunci: pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah, laba Masalah yang sering dihadapi oleh setiap perusahaan yaitu tidak terlepas dari kebutuhan akan dana untuk membiayai usahanya. Untuk memenuhi kebutuhannya, hampir semua perusahaan memanfaatkan perbankan. Salah satunya adalah bank syariah yang menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan, diantaranya adalah pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, dan pembiayaan murabahah. Pembiayaan yang telah disalurkan oleh bank syariah mengandung risiko kemacetan pelunasannya, sehingga dapat berpengaruh terhadap laba. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perkembangan pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, dan laba pada bank syariah, (2) menguji pengaruh besarnya pembiayaan mudharabah, musyarakah, dan murabahah baik secara parsial maupun simultan terhadap laba pada bank syariah. Populasi dalam penelitian ini adalah semua bank umum syariah di Indonesia. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan mengambil sampel 2 bank syariah yaitu Bank Syariah Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perkembangan pembiayaan mudharabah, musyarakah, dan murabahah pada bank syariah selama periode 2000-2008 selalu mengalami peningkatan. Sedangkan perkembangan laba pada bank syariah selama periode 2000-2008 mengalami kenaikan dan penurunan, (2) pembiayaan mudharabah berpengaruh positif terhadap laba pada bank syariah. Sedangkan pembiayaan musyarakah dan murabahah tidak berpengaruh terhadap laba pada bank syariah, (3) pembiayaan mudharabah, musyarakah, dan murabahah secara simultan berpengaruh terhadap laba pada bank syariah. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat diberikan saran yaitu: (1) bank syariah sebaiknya terus menggalakkan pembiayaan mudharabah sebagai salah satu produk unggulan, karena merupakan satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap laba, (2) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk: (a) menambah populasi dan sampel yang digunakan misalnya dengan menambahkan Unit Usaha Syariah sebagai obyek penelitian, (b) menambah periode pengamatan dan variabel lain sebagai variabel bebas yang potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan laba misalnya Istishna dan Ijarah, (c) tidak menggunakan laba dengan indikator EAT sebagai variabel terikat tetapi menggunakan pendapatan margin dan bagi hasil operasional. Sehingga hasil penelitiannya lebih teliti dan akurat.

Identifikasi bentuk, tipe, kerapatan, dan rendemen butir amilum pada rimpang empat species zingiberaceae / Rr. Dinda Novrischa Setyaningrum

 

ABSTRAK Setyaningrum, D. N. 2010. Identifikasi Bentuk, Tipe, Kerapatan, dan Rendemen Butir Amilum pada Rimpang Empat Spesies Zingiberaceae. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sulisetijono, M.Si., (II) Dr. Endang Kartini A. M., M.S.Apt. Kata kunci: Butir amilum, rimpang Zingiberaceae Rimpang Zingiberaceae mengandung substansi ergastik padat berupa amilum dan substansi ergastik cair berupa minyak atsiri. Rimpang Zingiberaceae biasa digunakan sebagai jamu dalam pengobatan tradisional yang memanfaatkan senyawa aktif dari hasil metabolit sekunder. Keberadaan amilum dalam jamu kurang berperan dalam bidang pengobatan tetapi berpeluang untuk diolah menjadi tepung sehingga dilakukan pemisahan dengan cara pengenapan. Kelayakan pengolahan amilum menjadi tepung dari rimpang Zingiberaceae dapat diketahui melalui kerapatan serta rendemen butir amilum pada rimpang empat species Zingiberaceae, sedangkan bentuk dan tipe butir amilum dapat digunakan sebagai pencirian. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, tipe, dan ukuran butir amilum pada rimpang empat species Zingiberaceae, membedakan kerapatan butir amilum pada rimpang empat species Zingiberaceae, menghitung rendemen tepung yang dihasilkan dari rimpang empat species Zingiberaceae. Empat rimpang species Zingiberaceae yang digunakan diperoleh dari tiga pasar tradisional yang ada di kota dan Kabupaten Malang, yaitu rimpang: temu mangga, temu lawak, kunyit, dan kencur dengan kondisi yang masih segar. Jenis penelitian adalah deskriptif. Penelitian dilakukan di ruang preparasi Kultur Jaringan Tumbuhan Ruang Bio 309 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan April-Desember 2009. Pengamatan amilum dilakukan dengan mikroskop monokuler Ernst Leitz dengan perbesaran 10x45 melalui beberapa bidang pandang secara acak. Preparat amatan amilum diambil dari rimpang empat species Zingiberaceae dengan preparat irisan dan hasil tusukan rimpang pada bagian ujung, tengah, dan pangkal. Data berupa bentuk, tipe, dan rendemen amilum yang diperoleh, dianalisis secara deskriptif. Data kerapatan butir amilum dalam sel antar rimpang dianalisis dengan Anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa butir amilum yang ditemukan pada keempat rimpang Zingiberaceae yang diteliti memiliki bentuk lonjong dan bulat bertipe monoadelph dan diadelph. Rerata kerapatan sel yang mengandung butir amilum tertinggi terdapat pada rimpang temu mangga, sebesar 260,39 per mm2 dengan jumlah rendemen tertinggi, sebesar 5,94%. Rerata kerapatan sel yang mengandung butir amilum terendah terdapat pada rimpang kencur, sebesar 194,06 per mm2 dan jumlah rendemen terendah terdapat pada rimpang kunyit, sebesar 1,97%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tingkat keamanan konsumsi tepung rimpang Zingiberaceae dalam pemanfaatannya di masyarakat. Selain itu, penelitian tentang bentuk, tipe, kerapatan, dan rendemen butir amilum pada rimpang species Zingiberaceae lain juga perlu dilakukan guna mengidentifikasi butir amilum yang berpeluang untuk diolah menjadi tepung.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat pelayanan prima (Studi kasus siswa kelas X jurusan penjualan SMK PGRI 2 Malang) / Luluk Suryani Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Luluk, Suryani. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat Pelayanan Prima Siswa Kelas X Jurusan Penjualan SMK PGRI 2 Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Niaga. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Supriyanto, M.M. (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M.Si. Kata kunci: model Group Investigation, hasil belajar. Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum menjadi lebih baik. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Agar dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih bervariasi dan dapat meningkatkan peran siswa dalam pembelajaran maka perlu diterapkan model pembelajaran, misalnya model pembelajaran kooperatif. Karena model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai salah satu alternative dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan siswa, ketrampilan berfikir, sikap positif terhadap materi pelajaran, hasil belajar dan motivasi belajar. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran Group Investigation pada mata diklat Pelayanan Prima di SMK PGRI 2 Malang, 2) mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar setelah dilasanakan metode pembelajaran Grop Investigation pada mata diklat Pelayanan Prima di SMK PGRI 2 Malang, 3) mengetahui apakah faktor-faktor penghambat dalam penerapan metode pembelajaran Group Investigation pada mata diklat Pelayanan Prima di SMK PGRI 2 Malang. Berdasarkan skor dari hasil pre test pada siklus I, hasil belajar siswa pada mata diklat pelayanan prima menunjukkan tingkat yang sangat rendah yaitu nilai rata-rata siswa sebesar 38.09 dengan nilai tertinggi 60 dan nilai terendah 30. Setelah diberi tindakan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 34,77 hal ini dapat dilihat dari hasil test yang menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 72,86 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60. Hasil observasi pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I, hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata pre test siswa sebesar 47,74 dengan nilai tertinggi 60 dan nilai terendah 40, dari sini diketahui bahwa peningkatan haisl pre test siklus I dan sklus II sebesar 9,65. Sedangkan hasil post test juga menunjukkan peningkatan sebesar 7,62 menjadi 80,48 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60, dengan demikian dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Berdasarkan hasil penelitin dapat disimpulkan, bahwa: 1) pelaksanaan pembelajaran model Group Investigation terdiri dari enam tahap, yaitu: (a) menentukan sub topik, (b) rencana penyelidikan, (c) melakukan rencana penyelidikan (d) merencananakan presentasi, (e) melakukan presentasi, dan (f) evaluasi. 2) hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation.3) hambatan yang dialami peneliti dalam menerapkan metode kooperatif model Group Investigation adalah kurangnya sarana dan semangat belajar siswa. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut:1) guru hendaknya lebih meningkatkan motivasi siswa untuk berpikir lebih aktif dalam memecahkan suatu masalah, saling bekerjasama antar siswa dan memberikan bimbingan pada siswa untuk memecahkan suatu masalah, 2) meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan agar memberikan kenyamanan dalam proses pembelajaran, 3) pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model Group Investigation dapat digunakan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipakai Guru mata pelajaran Pelayanan Prima dalam melaksanakan pembelajaran terhadap siswa. Karena dengan metode tersebut dapat meningkatkan aktivitas siswa, menimbulkan kerjasama anggota, dan mendorong siswa untuk bisa menghargai pendapat antar sesama sehingga dapat mendorong semangat dalam belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh faktor fundamental perusahaan terhadap kualitas penerapan good corporate governance (Studi pada perusahaan publik dan non publik) / Arifian Eka Wardhana

 

ABSTRAK Wardhana, Arifian Eka. 2009. Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan Terhadap Kualitas Penerapan Good Corporate Governance (Studi pada Perusahaan Publik dan Non Publik), Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sutatmi, S.E., M.Pd., M.Si., Ak., (II) Hj. Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: GCG, CGPI, kesempatan investasi, konsentrasi kepemilikan, leverage, kualitas auditor eksternal, ukuran perusahaan, perusahaan publik. Good Corporate Governance sudah terdengar di lingkungan bisnis Indonesia sejak tahun 1997, namun hingga sekarang pelaksanaan corporate governance oleh perusahaan-perusahaan Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, baik eksternal maupun internal. Salah satu kendala yang menyebabkan perbedaan kualitas Good Corporate Governance dari internal perusahaan adalah faktor fundamental dari masing-masing perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah komponen fundamental perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas penerapan Good Corporate Governance serta untuk meneliti apakah ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan publik dan non publik dalam menerapkan Good Corporate Governance. Penelitian ini menggunakan 42 sampel perusahaan yang diambil dari peserta CGPI tahun 2006 dan tahun 2007. Corporate Governance Perception Index adalah sebuah penghargaan yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute Corporate Governance (IICG) yaitu lembaga yang berusaha mengevaluasi, mengawasi dan memperbaiki pelaksanaan Good Corporate Governance di Indonesia. Variabel-variabel yang digunakan dalam komponen fundamental perusahaan adalah kesempatan investasi, konsentrasi kepemilikan, leverage, kualitas auditor eksternal, dan ukuran perusahaan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan regresi berganda dan uji beda, secara secara parsial variabel kualitas auditor eksternal dan variabel ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kualitas penerapan Good Corporate Governance. Hasil analisis juga menunjukkan, bahwa jenis perusahaan publik dan non publik juga mempunyai perbedaan yang signifikan dalam penerapan Good Corporate Governance. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya, mencari alternatif pemeringkatan lainnya sebagai pembanding, karena jika hanya berpedoman pada satu indeks hasilnya tidak bisa digeneralisasi. Selain itu, penambahan variabel faktor fundamental perusahaan yang lain, misalnya profitabilitas dan likuiditas dimaksudkan untuk memperoleh konsistensi atas hasil-hasil yang ditemukan.

Pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di sekolah menengah atas negeri 2 Malan g / Veby Eka Lestari

 

ABSTRAK Lestari Eka, Veby. 2009. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Kertersediaan Sumber Belajar di Rumah terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akunntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sumadi, Drs., SE., M.M (2) Suparti Dra., M.P Kata kunci: Lingkungan Keluarga, Ketersediaan Sumber Belajar, dan Prestasi Belajar Siswa. Presatasi belajar merupakan hasil belajar siswa yang diperoleh siswa dalam menyerap atau menerima ilmu pengetahuan dan materi pelajaran yang diberikan oleh guru selama proses belajar mengajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk tes atau angka nilai. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain yaitu lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah. Semakin tinggi ketersediaan sumber belajar akan berkontribusi terhadap meningkatnya prestasi belajar siswa atau sebaliknya. Dan semakin baik lingkungan keluarga akan berkontribusi terhadap meningkatnya prestasi belajar siswa atau sebaliknya. Dengan demikian, penelitian ini mengkaji tentang pengaruh lingkungan keluarga dan ketersedian sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa Mata Pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 2 Malang. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa secara parsial maupun simultan di SMA Negeri 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan kuesioner (angket). Sampel dalam penelitian berjumlah 60 siswa. Metode analisa data yang digunakan adalah analisa regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 2 Malang, dan 2) Ada pengaruh ketersediaan sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditarik kesimpulan Bahwa lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dan ketersediaan sumber bealajar sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga dengan kondisi seperti ini diharapkan siswa dan orang tua mengerti akan pentingnya dorongan dan motivasi untuk belajar.

Pengaruh periklanan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri / Ngesthi Makarti

 

ABSTRAK Makarti, Ngesthi. 2009. “Pengaruh Periklanan terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen dalam Mengikuti Kursus di EF English First Nusantara Kediri”. Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Ery Tri Djatmika R.W.W., M.A., M.Si. (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si. Kata Kunci: Periklanan, Proses Pengambilan Keputusan Konsumen Adanya pengembangan program pendidikan yaitu sekolah berstandar internasional (SBI) menjadikan bahasa Inggris sebagai titik perhatian utama, dimana dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Dengan dimikian siswa dan guru diwajibkan untuk menguasai bahasa Inggris. Kebutuhan akan penguasaan bahasa Inggris semakin meningkat sehingga belajar bahasa Inggris tidak cukup dilakukan di sekolah saja melainkan belajar di kursus-kursus atau lembaga bimbingan belajar (LBB). Hal ini medorong LBB berlomba-lomba mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya. Untuk memenangkan persaingan tersebut, EF English First Nusantara Kediri sebagai satu-satunya sekolah kursus bahasa Inggris bertaraf internasional di Kediri membuat iklan yang menarik dan kreatif sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan informasi dan sekaligus membujuk khalayak untuk mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) deskripsi iklan EF English First Nusantara Kediri dan proses pengambilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri (2) pengaruh secara parsial maupun simultan antara periklanan (X) yang terdiri dari pesan iklan (X1), struktur pesan (X2), format pesan (X3) dan sumber pesan (X4) terhadap proses pengambilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan sampel sebanyak 75 peserta kursus Real English. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling sedangkan metode pengumpulan data menggunakan angket/ kuesioner dengan skala likert 5. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS for Windows seri 12.00. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) rata-rata responden menyatakan bahwa isi pesan, struktur pesan, format pesan dan sumber pesan iklan EF English First Nusantara Kediri sangat menarik perhatian dan untuk membuat keputusan mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri, responden melalui tahapan proses pengambilan keputusan konsumen, (2) secara parsial, isi pesan, struktur pesan, dan sumber pesan berpengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri, sedangkan format pesan tidak berpengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF iii iv English First Nusantara Kediri, (3) Secara simultan isi pesan, struktur pesan, format pesan dan sumber pesan berpengaruh terhadap proses penagmbilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri, (4) isi pesan iklan merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap proses pengambilan keputusan konsumen dalam mengikuti kursus di EF English First Nusantara Kediri. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah (1) Bagi EF English First Nusantara Kediri bisa membuat isi pesan peduli pendidikan dengan mengkomunikasikan program beasiswa yang disponsori EF English First Nusantara Kediri, membuat stuktur pesan yang lebih mengena misalnya mengkomunikasikan bahwa EF English First Nusantara Kediri merupakan sekolah bahasa Inggris yang berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau, menciptakan format pesan yang kuat dengan menonjolkan ilustrasi gambar yang lebih spesifik yaitu dengan latar belakang suasana kursus di EF English First Nusantara Kediri serta mempertahankan kredibilitas sumber pesan yang dijadikan model iklan EF English First Nusantara Kediri, (2) Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar melakukan penelitian di berbagai cabang EF English First dan menambah varaibel yang lebih komplek tidak hanya periklanan misalnya brand image, costumer reference.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Studi kasus pada mata diklat kewirausahaan kelas X akuntansi SMK Negeri 2 Kediri) / Yuyun Septiana

 

ABSTRAK Septiana, Yuyun. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa (”Studi Kasus Pada Mata Diklat Kewirausahaan Kelas X Akuntansi SMK Negeri 2 Kediri”). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga Fakultas Ekonomi Universiras Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si. M.Bus (II) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif model group investigation, hasil belajar. Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah karena metode pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah metode konvesional berupa ceramah sehingga siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu solusi untuk mengatasi dominansi guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran inovatif yang konsep dasar pembelajarannya terpusat pada keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Salah satu model tersebut adalah Group Investigation. Diharapkan dengan menggunakan berbagai variasi mengajar dan salah satunya adalah menggunakan pembelajaran model Group Investigation ini, hasil belajar siswa akan meningkat. Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation dalam meningkatkan hasil belajar pada mata diklat kewirausahaan kelas X Akutansi di SMK Negeri 2 Kediri. 2) untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran model Group Investigation pada mata diklat kewirausahaan kelas X Akutansi di SMK Negeri 2 Kediri. 3) untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap mata diklat kewirausahaan setelah diterapkan pembelajaran Group Investigation pada mata diklat kewirausahaan kelas X Akutansi di SMK Negeri 2 Kediri. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam 2 Siklus dengan 4 tahap pada masing-masing siklusnya yakni meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan sekaligus pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian akuntansi di SMK Negeri 2 Kediri yang berjumlah 40 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, catatan lapangan, tes, dokumentasi dan angket. Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa setelah melakukan proses belajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Group Investigation meningkat terbukti pada aspek kognitif hasil perbandingan nilai pre test dan post test siklus I yang mengalami ketuntasan sebesar 37,5% , yang belum tuntas 62,5% dan pada siklus II hasil persentase ketuntasan menjadi meningkat sebesar 75% dan yang belum tuntas menjadi 25%. Jika dilihat dari penilaian aspek afektif juga terjadi peningkatan yaitu pada siklus I sebanyak 19 siswa yang tuntas (47,5%), sedangkan yang belum tuntas sebanyak 21 siswa (52,5%). Dan pada Siklus II siswa yang tuntas meningkat menjadi 38 siswa (95%), sedangkan yang belum tuntas sebanyak 2 siswa (5%). Saran yang dapat peneliti berikan kepada guru mata diklat adalah sebaiknya guru mata diklat menggunakan pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa agar siswa tidak bosan dalam belajar, salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah Group Investigation, model pembelajaran ini telah dibuktikan dalam penelitian ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Disamping itu guru mata diklat kewirausahaan SMK Negeri 2 Kediri disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran model Group Investigation pada bahasan yang lain karena siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran model ini. Penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation bisa diterapkan lebih variatif, misalnya dengan mengajak siswa ke lapangan atau dunia nyata sebagai tempat belajar

Pengaruh DPS, price, trans, dan varian terhadap asimetri informasi di pasar modal Indonesia (studi pada Bursa Efek Indonesia) / Binti Munfarida

 

ABSTRAK Munfarida, Binti. 2009. Pengaruh ∆DPS, Price, Trans dan Varian Terhadap Asimetri Informasi di Pasar Modal Indonesia (Study Pada Bursa Efek Indonesia). Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si. , Ak ., (II) Sri Pujiningsih , S.E., M.Si. , Ak. Kata Kunci : Deviden Per Share (DPS), Price, Trans, Varian dan Bid-Ask Spread. Pengumuman dividen berpengaruh terhadap asimetri informasi. Hal ini disebabkan pengumuman dividen memiliki kandungan informasi yang penting dan digunakan oleh manajemen untuk menyatakan informasi tentang prospek perusahaan dimasa mendatang. Saat informasi tersebut disampaikan ke publik, sebagian pelaku pasar dapat memprediksinya. Indikator untuk mengukur Pengumuman dividen diantaranya adalah Deviden Per Share (DPS) merupaka jumlah deviden tahunan yang dibagi dengan jumlah saham yang berhak memperoleh deviden, Price merupakan harga saham perusahaan pada penutupan bursa (closing price) setiap hari, Trans merupakan jumlah transaksi saham perusahaan setiap hari atau volume perdagangan saham setiap hari, dan Var merupakan Varian return atau variabilitas return (variance) harian. Sedangkan indikator untuk mengukur asimetri informasi adalah Bid-Ask Spread, Bid-Ask Spread merupakan selisih harga beli tertinggi dengan harga jual terendah saham. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel Deviden Per Share (DPS), Price, Trans, dan Var terhadap variabel Bid-Ask Spread. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan perusahaan dan data harga saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ-45 periode 2006-2007 sebanyak empat puluh lima (45) perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak lima belas (15) perusahaan. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purpossive sampling. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel Deviden Per Share (DPS), Price, Trans, dan Var terhadap variabel Bid-Ask Spread secara parsial dan secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial masing-masing variabel Deviden Per Share (DPS), Price, Trans, dan Var tidak berpengaruh terhadap variabel Bid-Ask Spread. Sedangkan secara simultan variabel Deviden Per Share (DPS), Price, Trans, dan Var tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel Bid-Ask Spread. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap pergerakan harga saham, menambah periode observasi, dan mengganti sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

Perbandingan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 6 Kediri antara metode ceramah dan tanya jawab dengan diskusi model numbered head together (NHT) / Dyah Astutik

 

ABSTRAK Astutik, Dyah. 2010. Perbandingan Hasil Belajar Ekonomi antara Pembelajaran Konvensional dengan Model Pembelajaran Numbered Head Together(NHT) dalam Pembelajaran Kooperatif pada siswa SMA Negeri 6 Kediri Kelas X. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Pembimbing:(1) Prof.Dr. J.G. Nirbito, M.Pd., (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si. Kata kunci: Hasil Belajar Ekonomi, Pembelajaran Konvensional, Model Pembelajaran Numbered Head Together(NHT). Model pembelajaran Numbered Head Together(NHT) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dengan model Numbered Head Together (NHT) dapat mengembangkan atau memperkaya konsep-konsep belajar yang telah dimiliki siswa. Belajar dengan model Numbered Head Together(NHT) dapat membuat siswa aktif dan memungkinkan siswa untuk belajar siswa secara mandiri. Model pembelajaran NHT memiliki 4 fase antara lain:(1) Penomoran (2) Pengajuan pertanyaan (3) Berpikir bersama (4) Pemberian jawaban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara penerapan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dengan pembelajaran konvensional yang diukur melalui aspek kognitif yaitu pre tes dan post tes. Pada penelitian sebelumnya yaitu Weni(2008) menunjukkan bahwa pembelajaran Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan kesimpulan dan saran dari peneliti maka dilakukan penelitian kembali pada variabel, sampel dan materi yang berbeda. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen, menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimental design. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil pengambilan sampel didapat kelas X-3 sebagai kelas kontrol dan kelas X-4 sebagai kelas eksperimen. Kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran konvensional sedangkan kelas eksperimen diberikan perlakuan model Numbered Head Together(NHT). Uji coba instrumen meliputi uji validitas, uji reliabilitas, analisis butir soal pada tingkat kesukaran dan analisis butir soal pada daya pembeda. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis hipotesis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, dan uji beda rata-rata. Hasil uji normalitas kemampuan awal kelas eksperimen menunjukkan nilai signifikansi 0,665 dan kelas kontrol 0,576. Hasil uji normalitas kemampuan akhir kelas eksperimen menunjukkan nilai signifikansi 0,229 sedangkan kelas kontrol 0,051. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan berarti data kemampuan awal dan akhir kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas kemampuan awal menunjukkan nilai signifikansi 0,904. Sedangkan Hasil uji homogenitas kemampuan akhir menunjukkan nilai signifikansi 0,576. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan berarti data bersifat homogen. Uji beda rata-rata kemampuan awal menunjukkan nilai signifikansi 0,813 yang berarti kedua rata-rata sampel adalah sama. Sedangkan uji beda rata-rata kemampuan akhir menunjukkan nilai signifikansi 0,001 yang berarti kedua rata-rata sampel adalah berbeda. Hasil uji hipotesis nilai gain score menunjukkan nilai signifikansi 0,041 hal ini sesuai pernyataan jika signifikansi < 0,05 dan thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi antara siswa yang mendapat model Numbered Head Together(NHT) dengan siswa yang mendapat pembelajaran konvensional, dimana diketahui bahwa rata-rata nilai hasil belajar ekonomi(kognitif) siswa yang mendapatkan model Numbered Head Together lebih tinggi daripada rata-rata nilai siswa yang mendapat metode konvensional. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan untuk menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together(NHT) sebagai salah satu alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 1 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari / Fitri Miladiyati Al-'Aziz

 

ABSTRAK Al’azis, Fitri Miladiyati. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 1 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Gatot Isnani, M.Si (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS), hasil belajar, respon siswa. Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa proses belajar mengajar pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari masih menggunakan paradigma lama. Kegiatan pembelajaran Kewirausahaan hanya berpusat pada guru atau ”teacher centered”, diterapkan dengan metode ceramah (diawali dengan mencatat materi yang diajarkan di papan tulis, kemudian guru menjelaskannya) dan tanya jawab, pemberian tugas, diskusi. Sedangkan dari sudut pandang siswa, siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan menetapkan kurikulum baru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP. KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang disempurnakan adalah pendekatan pembelajaran kontekstual. Salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 1 SMK Muhammadiyah 3 Singosari pada mata pelajaran Kewirausahaan. Jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Administrasi Perkantoran 1 SMK Muhammadiyah 3 Singosari yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 28 siswa perempuan dan 3 siswa laki-laki. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan data dianalisis secara deskriptif. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data melalui tes yaitu pre test dan post test, observasi pada saat pembelajaran berlangsung, dan memberikan angket respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif model Think Pair Share. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share terdiri dari 3 tahapan yaitu (1) tahap thinking (berfikir), (2) tahap pairing (berpasangan), dan (3) tahap sharing (berbagi). Penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 1 pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari terbukti dengan rata-rata nilai pre test siklus I dan siklus II yang meningkat sebesar 13,36 dari 50,64 pada siklus I menjadi 64 pada siklus II dan nilai rata-rata post test siklus I dan siklus II yang meningkat sebesar 12,9 dari 73,87 pada siklus I menjadi 86,77 pada siklus II. Hasil respon menunjukkan respon yang positif dari para siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 1 SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Siswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran, lebih mudah memahami materi pembelajaran, dapat melatih diri untuk saling bekerja sama, dan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 3 Singosari hendaknya lebih menghimbau, mendorong, serta mengusahakan peningkatan kualitas dan keterampilan guru, dengan menganggarkan dana bagi guru untuk mengikuti diklat, workshop, penataran, profesi guru, sertifikasi, dan lain-lain, (2) Pembelajaran kooperatif model Think Pair Share sangat bermanfaat bagi siswa karena model pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga bagi guru mata pelajaran Kewirausahaan dan guru mata pelajaran lainnya disarankan menggunakan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share atau pembelajaran kooperatif yang lain sebagai variasi pembelajaran, (3) Guru hendaknya selalu memberi arahan dan motivasi kepada seluruh siswa dalam pengelolaan pembelajaran di kelas, terutama siswa yang memiliki kemampuan lebih rendah perlu mendapatkan perhatian lebih, agar mereka termotivasi dan lebih aktif dalam mengemukakan gagasannya. Misalnya saat diskusi kelompok, menunjuk siswa yang kurang aktif untuk mengajukan pertanyaan atau mengemukakan pendapat, (4) Dengan adanya pembelajaran kooperatif model Think Pair Share diharapkan tidak ada siswa yang mendominasi kelompok dan seharusnya memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang aktif, agar seluruh siswa menjadi aktif dan dapat berpikir secara mandiri sehingga kegiatan belajar mengajar di kelas dapat berjalan lebih efektif dan efisien, (5) Kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pada mata pelajaran yang lain guna mengetahui keberhasilan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Visualisasi gelombang elektromagnetik dua dimensi dengan syarat batas Dirichlet / Rio Nir Wantono

 

ABSTRAK Nir Wantono, Rio. 2010. Visualisasi Gelombang Elektromagnetik Dua Dimensi dengan Syarat Batas Dirichlet. Skripsi, Program Studi Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Arif Hidayat, M.Si. (2) Eny Latifah, S.Si., M.Si. Kata kunci: Gelombang elektromagnetik dua dimensi, Syarat batas Dirichlet. Sifat-sifat perambatan gelombang elektromagnetik sangat sulit dipahami karena tidak dapat langsung diamati sehingga deskripsi perambatannya masih abstrak. Hal ini berbeda dengan gelombang mekanik yang mudah dipahami karena dapat diamati secara visual. Secara fisis, rambatan gelombang elektromagnetik terbatasi oleh ruang. Secara teoritik batasan ini dikaji sebagai persoalan syarat batas. Terdapat dua macam persoalan syarat batas yakni syarat batas Dirichlet dan syarat batas Neumann akan tetapi dalam visualisasi ini hanya dipilih persoalan syarat batas Dirichlet. Visualisasi ini dilakukan dengan maksud membantu memperoleh gambaran riil atas gelombang elektromagnetik dua dimensi dalam ruang yang dibatasi dengan syarat batas Dirichlet. Visualisasi yang akan dilakukan adalah menggunakan program Mathematica 5.1. dan berdasar pada persamaan gelombang elektromagnetik dalam hampa tanpa sumber muatan, . Penerapan syarat batas Dirichlet dilakukan pada program dengan mengendalikan nilai sedemikian sehingga di sisi-sisi batas. Pada syarat batas Dirichlet gelombang elektromagnetik memiliki nilai amplitudo gelombang selalu bernilai nol pada sisi-sisi batas. Secara fisis syarat batas Dirichlet diterapkan ketika gelombang elektromagnetik mencapai batas konduktor sehingga tidak terdapat medan yang menembus batas konduktor, dengan kata lain medan yang mencapai permukaan konduktor lenyap, .

Pengembangan modul analisis gravimetri dengan model learning cycle 5-E untuk Sekolah Menengah Kejuruan Program keahlian analisis kimia / Nurhalimah

 

ABSTRAK Nurhalimah. 2010. Pengembangan Modul Analisis Gravimetri dengan Model Learning Cycle 5-E untuk Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Analisis Kimia. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Dra. Nazriati, M.Si Kata kunci: modul, Learning Cycle 5-E, Analisis Gravimetri Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, tampak bahwa materi pelajaran merupakan salah satu diantaranya. Berbicara mengenai materi pelajaran tidak terlepas dari yang namanya bahan ajar. Salah satu bahan ajar yang dapat dipakai adalah modul sehingga perlu dilakukan pengembangan bahan ajar yang berupa modul. Paradigma pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan modul adalah konstruktivistik dengan menggunakan model Learning Cycle 5-E . Fase-fase dalam Model Lerning Cycle 5-E, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Materi yang dikembangkan dalam pengembangan modul adalah Analisis Gravimetri dengan menggunakan model learning cycle 5-E karena materi pelajaran tersebut erat hubungan dengan kehidupan sehari-hari serta peralatan dan prosedur pelaksanaannya sangat sederhana dan tidak membutuhkan biaya mahal. Modul Analisis Gravimetri dilengkapi dengan RPP untuk membantu guru dalam menggunakan modul dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian pengembangan adalah 1) untuk mengetahui bentuk modul Analisis Gravimetri dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model Learning Cycle 5-E, dan 2) mengetahui kelayakan modul dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hasil pengembangan untuk digunakan sebagai salah satu bahan ajar pembelajaran kimia untuk Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Analisis Kimia berdasarkan validasi isi. Strategi pengembangan modul yang digunakan adalah strategi Pengembangan Borg dan Gall. Dalam strategi Pengembangan Borg dan Gall terdapat sepuluh langkah pengembangan. Namun karena keterbatasan waktu dan biaya untuk penelitian dan pengembangan modul Analisis Gravimetri dibatasi sampai langkah ketiga. Ketiga langkah dari pengembangan modul tersebut yaitu: (1) Penelitian dan pengumpulan data, (2) Perencanaan pengembangan produk, dan (3) pengembangan produk awal. Desain validasi pada pengembangan modul ini hanya sampai pada validasi isi saja. Validator terdiri dari 1 dosen kimia dan 2 guru SMK. Adapun SMK yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah SMK Negeri 7 Malang. karena sekolah menengah kejuruan tersebut merupakan Sekolah Menengah Kejuruan dengan Program Keahlian Analisis Kimia. Selain itu, belum ada bahan ajar yang berupa modul yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar sekolah menengah kejuruan tersebut. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis nilai persentase rata-rata. Hasil penelitian diperoleh 1) modul hasil pengembangan terdiri dari beberapa komponen yaitu, cover, kata pengantar, pendahuluan modul, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, kompetensi dasar, indikator hasil belajar, materi, gambar, tabel, kegiatan belajar siswa, rangkuman, umpan balik, soal pendalaman, suplemen materi, kunci jawaban, dan daftar pustaka. RPP juga terdiri dari beberapa komponen yaitu identitas mata diklat, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, uraian materi, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir, sumber belajar serta lembar penilaian. 2) Data hasil validasi untuk modul menunjukkan bahwa bentuk modul yang dikembangkan sudah sesuai dengan model Learning Cycle 5-E dengan nilai persentase rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam Learning Cycle 5-E sebesar 71,67% yang menunjukkan kriteria cukup valid (tanpa revisi). Selain itu, hasil validasi secara keseluruhan dari modul menunjukkan nilai persentase rata-rata sebesar 78,58% dengan kriteria valid. Data hasil validasi untuk RPP menunjukkan bahwa bentuk RPP yang dikembangkan sudah sesuai dengan model Learning Cycle 5-E dengan nilai persentase rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam Learning Cycle 5-E sebesar 75,00% yang menunjukkan kriteria cukup valid (Tanpa revisi). Selain itu, hasil validasi secara keseluruhan dari RPP menunjukkan nilai persentase rata-rata sebesar 74,33% dengan kriteria cukup valid (tanpa revisi). Hal ini menunjukkan bahwa modul dan RPP yang dikembangkan sudah sesuai dan layak digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di SMK.

Pengaruh lingkungan sekolah, motivasi belajar, dan tingkat ketaatan siswa pada peraturan sekolah terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI dan XII Akuntansi SMK Cendika Bangsa Kepanjen / Yunita Mardiana

 

Mardiana, Yunita. 2014. Pengaruh Lingkungan Sekolah, Motivasi Belajar, dan Tingkat Ketaatan pada Peraturan Sekolah terhadap Kesiapan Belajar Siswa Kelas XI dan XII Akuntansi SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, S.E, M.Si. Ak., (II) Dr. Puji Handayati, S.E, M.M., Ak Kata Kunci: lingkungan sekolah, motivasi belajar, tingkat ketaatan, kesiapan belajar, SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Kesiapan belajar merupakan salah satu faktor yang penting diperhatikan dalam proses pembelajaran. Jika siswa tidak siap dalam belajar, maka dia akan mengalami kesulitan dalam memahami materi dan tidak dapat memperoleh pengalaman belajar yang maksimal. Siswa yang tidak mendapat pengalaman belajar yang maksimal belum dapat dikatakan berhasil dalam belajarnya. Kesiapan belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal siswa. Dalam penelitian ini akan dibahas pengaruh lingkungan sekolah, motivasi belajar dan tingkat ketaatan pada peraturan sekolah terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI dan XII Akuntansi SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional dan populasi penelitian adalah siswa kelas XI dan XII Akuntansi SMK Cendika Bangsa. Teknik pengumpulan data yaitu dengan kuisioner dan dokumentasi. Skala penilaian kuisioner yang digunakan adalah skala likert dengan lima pilihan jawaban. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis linear berganda. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah lingkungan sekolah (X1), motivasi belajar (X2), dan tingkat ketaatan pada peraturan sekolah (X3), sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah kesiapan belajar (Y). Berdasarkan hasil analisis data secara parsial lingkungan sekolah berpengaruh terhadap kesiapan belajar, motivasi belajar berpengaruh terhadap kesiapan belajar, dan tingkat ketaatan pada peraturan sekolah tidak berpengaruh terhdapa kesiapan belajar siswa. Namun secara simultan lingkungan sekolah,motivasi belajar, dan tingkat ketaatan pada peraturan sekolah berpengaruh terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI dan XII Akuntansi SMK Cendika Bangsa Kepanjen.

Upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan komunikasi siswa kelas X Ak 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata diklat siklus akuntansi melalui penerapan pembelajaran kooperatif metode two stay two stray (TSTS) / Vikiana Mashuri

 

ABSTRAK Mashuri, Vikiana, 2010. Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemampuan Komunikasi Siswa Kelas X AK 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada Mata Diklat Siklus Akuntansi Melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode Two Stay Two Stray (TSTS). Skripsi Program Studi Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Sawitri Dwi Prastiti SE , M.Si Ak (2) Ika Putri Larasati SE., M.Com Kata kunci : metode pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), kemampuan berpikir kritis siswa, kemampuan komunikasi siswa Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru mata diklat, dapat disimpulkan bahwa masalah yang teridentifikasi antara lain siswa kurang aktif menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, siswa tidak berani bertanya atau kurang bisa mengungkapkan pendapat, serta rendahnya ketekunan sebagian siswa dalam menyelesaikan tugas, serta kurangnya partisipasi siswa dalam diskusi. Masalah-masalah yang terjadi di kelas X Ak 2 tersebut menunjukkan ciri-ciri rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemamuan berpikir kritis dan kemampuan komunikasi siswa. Metode pembelajaran yang dapat diterapkan adalah salah satu pembelajaran kooperatif metode TSTS. Berdasarkan tindakan pada siklus I dan siklus II diperoleh hasil bahwa jumlah siswa yang dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan berpikir kritis tingkat pengetahuan meningkat dari 16 siswa menjadi 22 siswa, tingkat pemahaman meningkat dari 12 siswa menjadi 23 siswa, tingkat penerapan dari 17 siswa menjadi 30 siswa. Sedangkan pada kemampuan komunikasi yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, jumlah siswa yang dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan dari 16 siswa menjadi 24 siswa, kemampuan memahami orang lain dari 17 siswa menjadi 21 siswa, kemampuan memberi dukungan pada orang lain dari 9 siswa menjadi 22 siswa, dan kemampuan mengungkapkan diri dari 18 siswa menjadi 22 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode TSTS pada siswa kelas X AK 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu pada tahap diskusi kelompok asal dan diskusi kelompok tamu, karena separuh jumlah siswa dari sejumlah 41 siswa kelas X AK 2 dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan berpikir kritis, peningkatan ini terjadi dari siklus I ke II. Selain itu penerapan metode TSTS ini juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa yaitu pada tahap diskusi kelompok asal, diskusi kelompok tamu, dan tahap presentasi kelompok, karena separuh siswa dari sejumlah 41 siswa kelas X AK 2 dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan komunikasi, peningkatan ini terjadi dari siklus I ke II. Sedangkan hal yang disarankan adalah bahwa dalam menerapkan metode TSTS guru harus lebih merata dan teliti dalam mengelola kelas supaya setiap siswa dalam kelompok dapat lebih aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Siswa hendaknya bisa lebih aktif lagi dalam kegiatan pembelajaran, serta peneliti harus dapat membagi waktu yang tepat dan mengeloa kelas dengan baik agar tahapan dalam penelitian dapat terlaksana dengan baik dan selesai tepat waktu.

Pengaruh brand image (Citra merek) terhadap loyalitas konsumen pengguna ponsel merek nokia (Studi pada mahasiswa UM di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru kota Malang) / Fitri Miladiyati Al'aziz

 

ABSTRAK Al’azis, Fitri Miladiyati. 2009. Pengaruh Brand Image (Citra Merek) terhadap Loyalitas Konsumen Pengguna Ponsel Merek Nokia (Studi pada Mahasiswa UM di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang). Skripsi, Program Studi Manajemen Pemasaran, Jurusan Manajemen, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ery Tri Djatmika R.W.W, M.A, M.Si (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M.Si. Kata kunci: brand image (citra merek), loyalitas konsumen. Persaingan di dunia bisnis yang semakin ketat membuat konsumen menjadi semakin berkuasa di pasar karena banyaknya variasi produk yang tersedia. Hal ini membuat perusahaan menentukan berbagai strategi untuk dapat bersaing dengan para kompetitor. Salah satunya adalah produsen harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan loyalitas konsumennya. Salah satu jalan untuk meraih keunggulan kompetisi dalam mempertahankan loyalitas konsumen adalah dengan membentuk brand image (citra merek) yang baik di mata konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui variabel-variabel brand image (citra merek) yang berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap loyalitas konsumen serta untuk mengetahui variabel brand image mana yang berpengaruh dominan terhadap loyalita konsumen. Penelitian ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah brand image (citra merek) dengan sub variabel jenis-jenis asosiasi merek (X ), dukungan asosiasi merek (X ), kekuatan asosiasi merek (X ), dan keunikan asosiasi merek (X ). Sedangkan loyalitas konsumen merupakan variabel terikat (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa (khususnya mahasiswa UM) yang tinggal (kos) di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang pernah berganti/membeli dua kali/lebih ponsel merek Nokia dan masih menggunakannya. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan mengambil sampel 113 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 16.0 For Windows. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa (1) brand image ponsel merek Nokia yang meliputi jenis-jenis asosiasi merek, dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek, dan keunikan asosiasi merek dalam kondisi baik, dan loyalitas mahasiswa UM pengguna ponsel merek Nokia dalam kondisi loyal, (2) terdapat pengaruh positif signifikan jenis-jenis asosiasi merek, dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek, dan keunikan asosiasi merek secara parsial terhadap loyalitas mahasiswa UM pengguna ponsel merek Nokia, (3) terdapat pengaruh positif signifikan jenis-jenis asosiasi merek, dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek, dan keunikan asosiasi merek secara simultan terhadap loyalitas mahasiswa UM pengguna ponsel merek Nokia, (4) variabel jenis-jenis asosiasi merek berpengaruh dominan terhadap loyalitas mahasiswa UM pengguna ponsel merek Nokia dengan nilai sumbangan efektif (SE) terbesar daripada variabel lainnya. Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah (1) Brand Image ponsel merek Nokia yang terbentuk di mata konsumen yang telah loyal terhadap ponsel merek Nokia sudah baik, khususnya jenis-jenis asosiasi merek yang berpengaruh dominan terhadap loyalitas konsumen. Dengan adanya hal ini, hendaknya bagi perusahaan tetap mempertahankannya, bahkan meningkatkan jenis-jenis asosiasi tersebut seperti tetap mempertahankan kualitas jika dibandingkan dengan harganya, meningkatkan layanan dalam Nokia Care Service, menjaga kepribadian merek serta nama baik Nokia Coorporation, dan sebagainya, (2) Dengan semakin ketatnya persaingan dalam bisnis ponsel, maka Nokia Coorporation selaku produsen ponsel harus tetap menjaga dukungan (kebaikan), kekuatan dan khususnya keunikan/keunggulan merek, dimana dalam penelitian ini, variabel tersebut bukan merupakan variabel dominan yang berpengaruh terhadap loyalitas konsumen pengguna ponsel merek Nokia, (3) Sebagai produk ponsel yang masih berhasil memimpin pasar, Nokia harus aktif menciptakan keunggulan/keunikan produknya sehingga dapat dibedakan dari produk pesaing. Dalam penelitian ini, keunikan asosiasi ponsel merek Nokia memberikan kontribusi terkecil. Sehingga perusahaan perlu meningkatkan keunggulan bersaing dengan menciptakan keunikan yang membedakan dengan produk pesaing,(4) Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan pijakan untuk penelitian selanjutnya dengan mengangkat hal-hal baru dan potensial selain brand image seperti kualitas produk/layanan, atribut produk, harga, promosi, kepuasan, dan variabel lainnya sebagai variabel yang dapat mempengaruhi loyalitas konsumen.

Penerapan sistem kearsipan dan efisiensi penemuan kembali arsip di Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang / Resty Ayu Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Resty Ayu. 2009. Penerapan Sistem Kearsipan dan Efisiensi Penemuan Kembali Arsip di Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Suwarni, M.Si (II) Drs. I. Nyoman Suputra, M.Si Kata Kunci: Sistem Kearsipan, Efisiensi Penemuan Kembali Arsip Setiap organisasi baik swasta maupun pemerintah memerlukan kegiatan kearsipan. Mengingat pentingnya peranan kearsipan maka untuk melaksanakan tugas pemerintahan dan tugas pembangunan dengan baik dan benar perlu diusahakan peningkatan dan penyempurnaan kearsipan secara optimal agar dapat berfungsi dengan baik, dan membantu kantor tersebut dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penelitian ini mempunyai rumusan masalah dan tujuan yaitu untuk mengetahui jenis arsip yang disimpan, pengelolaan surat masuk dan surat keluar, sistem penyimpanan arsip, azas penyimpanan arsip, prosedur atau langkah-langkah penyimpanan arsip, prosedur peminjaman arsip, kecepatan dan kecermatan dalam penemuan kembali arsip, pemeliharaan dan perawatan arsip, prosedur penyusutan atau pemusnahan arsip, sarana dan prasarana kearsipan yang terdapat pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan di Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang yang beralamat di Jalan Panglima Sudirman No. 19 Kepanjen pada bulan Desember 2009. Teknis analisis data yang digunakan yaitu teknik deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah pegawai Kearsipan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes ketrampilan atau tes kecepatan dalam penemuan kembali arsip. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : Jenis arsip yang disimpan pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang dibagi 2, yaitu: penyimpanan arsip aktif (arsip yang masih dipergunakan dalam kegiatan keseharian pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang), dan penyimpanan arsip inaktif (arsip yang sudah tidak dipergunakan lagi dalam kinerja kantor secara langsung, penyimpanan arsip arsip inaktif ini tidak hanya arsip pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang saja melainkan juga arsip instansi lain), pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang menggunakan sistem buku agenda, sistem penyimpanan arsip yang diterapkan pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang menggunakan sistem subyek berkode agar mempermudah pegawai dalam penyimpanan arsip yang efisien, azas penyimpanan arsip yang digunakan yaitu azas kombinasi antara azas sentralisasi dan azas desentralisasi, peralatan dan perlengkapan sudah cukup baik dan memadai sehingga dapat memperlancar kegiatan kantor sehari-hari, prosedur penyimpanan arsip sudah cukup baik dan telah disesuaikan dengan nomor indeks klasifikasi penyimpanan arsip. kecepatan petugas arsip dalam penemuan kembali arsip adalah sangat cepat dan sesuai dengan arsip yang dicari, yaitu 15 surat masuk dan 15 surat keluar dari tahun 2006-2008, kecermatan dalam penemuan kembali arsip sudah berada pada kriteria sangat cepat dan dalam angka efisiensi penemuan kembali arsip yaitu 44 detik berada pada kriteria sangat efisien, prosedur peminjaman arsip dapat dibagi menjadi 2, yaitu: peminjaman arsip aktif dari dalam instansi dan peminjaman arsip inaktif dari luar instansi. Untuk peminjaman arsip aktif dari dalam instansi tidak menggunakan formulir peminjaman arsip, tetapi hanya mencatat dalam buku peminjaman arsip saja, Sedangkan peminjaman arsip inaktif dari luar instansi menggunakan formulir peminjaman arsip, perawatan dan pemeliharaan yang telah dilaksanakan sudah cukup baik sehingga dapat memperlancar kinerja kantor, prosedur penyusutan dan pemusnahan arsip yaitu menyesuaikan untuk arsip yang bersifat biasa, penyusutannya dilakukan dalam waktu 1 tahun sekali, tetapi untuk arsip yang bersifat penting penyusutannya disesuaikan dengan jadwal retensi arsip. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang supaya : dalam prosedur peminjaman arsip, formulir peminjaman arsip yang ditetapkan tidak hanya diterapkan pada peminjaman arsip dari luar instansi saja melainkan dari dalam instansi juga dengan demikian arsip dapat diawasi dan dapat memperkecil resiko kehilangan arsip, untuk arsip surat dinas keluar sebaiknnya digandakan sebanya 2 kali yaitu surat dinas keluar yang asli untuk dikirimkan pada instansi atau kantor yang dituju, 1 arsip surat dinas keluar disimpan pada pembuat konsep surat/pengolah untuk dijadikan arsip, dan 1 arsip surat dinas keluar lagi disimpan pada arsip surat keluar pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang. Sistem kearsipan pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang dilaksanakan secara manual dan juga arsip yang disimpan sangat banyak, maka diharapkan dapat menerapkan sistem komputerisasi.

Kinerja kepala sekolah perempuan dalam pelaksanaan supervisi pengajaran: studi multi situs di SMK Negeri 1 Sooko dan SMK Negeri 1 Kemlagi Kabupaten Mojokerto / Wawang Heru Djajanto

 

ABSTRAK Wawang Heru, Dj. 2010. Kinerja Kepala Sekolah Perempuan Dalam Melaksanakan Supervisi Pengajaran (Studi Multi Situs pada SMK Negeri 1 Sooko dan SMK Negeri 1 Kemlagi Kabupaten Mojokerto). Tesis tidak dipublikasikan, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. (2) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata Kunci : kinerja, kepala sekolah perempuan, supervisi pengajaran. Kepemimpinan Kepala Sekolah Perempuan masih menjadi isu menarik. Keberhasilan kepala sekolah perempuan sering tidak dianggap sebagai prestasi melainkan disebabkan adanya kebetulan yang menguntungkan saja sehingga keberhasilannya kurang mendapat pengakuan. Dalam menyikapi hal tersebut Kabupaten Mojokerto memberikan catatan tersendiri bahwa sebagai lembaga formal pembinaan profesional guru dan menjadi garapan bagi kepala sekolah perempuan. Sekolah Menengah Kejuruan adalah pendidikan formal yang merupakan dasar terbentuknya generasi muda sebagai generasi penerus bangsa. SMK Negeri 1 Sooko dan SMK Negeri 1 Kemlagi, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala sekolah perempuan. Dalam pelaksanaan tugasnya, kepala sekolah perempuan bekerja sama dengan seperangkat anggotanya untuk mewujudkan tujuan lembaga melalui berbagai macam kegiatan diantaranya kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kinerja kepala sekolah perempuan dalam melaksanakan supervisi pengajaran dan kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran sekaligus sebagai supervisor dalam segi pengembangan profesional guru serta menggerakkan berbagai macam aktivitas guru dalam mengajar, mendidik para siswa, serta mempengaruhi anggotanya dalam upaya melaksanakan dan mengembangkan program kerja yang sudah ditetapkan. Penelitian ini difokuskan pada (1) Bagaimana proses pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah perempuan, (2) Bagaimana pendekatan supervisi yang digunakan oleh kepala sekolah perempuan dalam melaksanakan supervisi pengajaran, (3) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah perempuan dan upaya meminimalisasi permasalahan yang timbul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi situs. Data diperoleh melalui informan kunci yang dipilih berdasarkan proporsif sampling yang dipadukan dengan snowball sampling yaitu proses pencarian data dari informan yang satu bergulir ke informan yang lain atas saran saran informan sebelumnya sesuai dengan data kebutuhan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observsasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi dengan menggunakan analisis dalam situs dan analisis lintas situs dengan teknik komparasi konstan. Pengecekan keabsahan data dilakukan bersama-sama pengumpulan data, setelah semua data terkumpul, selanjutnya diterapkan triangulasi, membercheck dan pendapat para ahli. Dari hasil penelitian ini dapat ditemukan sebagai berikut: Pertama: pengorganisasian pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah perempuan meliputi pengembangan kurrikulum, penyusunan program, penyusunan persiapan mengajar, dan kegiatan pembelajaran. Kedua: pelaksanaan supervisi pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah perempuan meliputi observasi kelas yang ditindaklanjuti dengan penyelesaian masalah serta memonitor kemajuan siswa. Ketiga: Untuk menciptakan iklim pengajaran yang kondusif, kepala sekolah perempuan melakukan upaya-upaya memotivasi belajar siswa, memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa, guru yang berpotensi, serta melibatkan peranserta orang tua / wali murid dalam mendorong semangat belajar, penyelesaian masalah siswa dan pengembanagan sarana dan prasarana. Keempat: Upaya yang dilakukan dalam pembinaan profesional guru meliputi penyelenggaraan penyegaran oleh kepala sekolah, penataran dan pendidikan pelatihan. Berdasarkan temuan penelitian ini disarankan (1) kegiatan belajar mengajar hendaknya disupervisi oleh Kepala Sekolah secara intensif dan berkesinambungan, (2) hendaknaya Pengawas Sekolah bisa meningkatkan pembinaan profesional guru, (3) Kepala Sekolah bendaknya mau melakukansupervisi pengajaran untuk meningkatkan mutu, proses dan hasil pendidikan, (4) berdasarkan hasil penelitian ini hendaknya dapat dikembangkan penelitian lanjutan dengan aspek yang lebih luas, (5) disarankan kepada pemerintah sebagai pembuat kebijakan agar dapat mempertimbangkan aspek gender, sebab Kepala Sekolah perempuan tidak berbeda dengan laki-laki dalam menjalankan tugas dan pencapaian prestasi.

Kajian penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) terhadap prestasi belajar, motivasi belajar, dan sikap ilmiah siswa kelas X SMA Negeri 1 Rogojampi Kabupaten Banyuwangi pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit / Yuli Dumiyati

 

Penerapan KTSP di sekolah menekankan pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah. Pelaksanakan praktikum dalam pengajaran kimia merupakan salah satu metode yang bisa digunakan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam pemerolehan konsep. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan metode praktikum adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kajian penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap prestasi belajar, motivasi belajar, dan sikap ilmiah siswa pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X semester 2 SMA Negeri 1 Rogojampi Kabupaten Banyuwangi tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah enam kelas yaitu kelas X.1 sampai X.6. Sampel penelitian diambil dengan teknik cluster random sampling. Dari teknik tersebut diperoleh sampel dalam penelitian ini adalah kelas X.2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X.6 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas kontrol menggunakan metode konvensional. Perbedaan prestasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol dianalisis dengan uji t sedangkan motivasi belajar dan sikap ilmiah kelas eksperimen dan kelas control dideskripsikan secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prestasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan secara konvensional pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan rata-rata prestasi belajar siswa kelas eksperimen mencapai 71,7 sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 65,8, (2) Motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan secara konvensional pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan persentase siswa yang sangat termotivasi pada kelas eksperimen mencapai 53,9% sedangkan pada kelas kontrol hanya mencapai 34,1%, (3) Sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan secara konvensional pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan persentase siswa kelas eksperimen yang mempunyai sikap ilmiah tinggi mencapai 46,1% sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 14,6%.

Pengaruh komponen pembentuk modal kerja terhadap tingkat profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2005-2008 / Hira Kristina

 

ABSTRAK Kristina,H. 2010.Pengaruh Komponen Pembentuk Modal Kerja Terhadap Tingkat Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Tahun 2005-2008. Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi.Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Triadi Agung Sudarto,SE, M.Si, Ak ; (II) Ika Putri Larasati, SE, M.Com Kata kunci : Tingkat Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Sekuritas Jangka pendek, Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Perputaran Hutang Lancar, Profitabilitas, (Return On Asset) ROA. Perputaran Kas, sekuritas jangka pendek, piutang dan persediaan dan hutang lancar, sebagai komponen modal kerja dapat mempengaruhi panjang pendeknya waktu terikatnya dana dalam modal. Semakin tinggi tingkat perputaran modal kerja, menandakan semakin pendek waktu terikatnya modal dalam komponen modal kerja tersebut. Hal ini menunjukkan adanya efisiensi dalam penggunaan modalnya yang akan menaikkan tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan. Salah satu pengukuran kinerja berdasarkan profitabilitas adalah melalui analisis rasio profitabilitas berdasarkan Return On Asset (ROA). Pengukuran kinerja berdasarkan Return On Asset (ROA) yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan (profit) dari modal yang diinvestasikan atas keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya – biaya untuk mendanai aset. Penelitian ini merupakan rancangan asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih yang dihipotesiskan. Jenis data adalah sekunder berupa laporan keuangan dan ICMD (Indonesian Capital Market Directory) periode 2005-2008, teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasdan sumber daata diambil dari PDB (Pusat Data Bisnis) UM dan website www.idx.com, periode 2005-2008. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Populasi dari penelitian ini adalah 151 perusahaan manufaktur proxy tahun akhir desember 2008 yang terdaftar di BEI tahun 2005 – 2008, Sampel perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 33 perusahaan yang dipilih secara random atau acak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan secara parsial perputaran kas berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA), sekuritas jangka pendek berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA), perputaran piutang berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA), perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA), perputaran hutang lancar tidak berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA). Dan secara simultan lima variabel ini berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA). Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan investor mampu mengukur hasil pengembalian atas investasi mereka. Bagi kreditor diharapkan sebagai pengambilan keputusan untuk menentukan lanjut atau tidaknya dalam pemberian pinjaman. Dan bagi peneliti selanjutnya agar memperhatikan faktorfaktor lain yang dapat mempengaruhi profitabilitas.

Pengembangan local area network yang terkoneksi dengan speedy di SMP Negeri I Pandaan / Rini Yuliarsih

 

Koneksi internet di SMP Negeri 1 Pandaan sudah merupakan kebutuhan, baik bagi siswa maupun guru dan stafnya. Pemanfaatan laptop sebagai media pembelajaran memaksa SMP Negeri 1 Pandaan untuk menyediakan layanan hotspot di lingkungan sekolah menggunakan kabel atau nirkabel. Jumlah pengguna yang cukup banyak mengharuskan jaringan disertai dengan topologi yang tepat dan pengaturan hak akses. Secara umum Pengembangan Local Area Network yang Terkoneksi dengan Speedy di SMP Negeri 1 Pandaan terdapat beberapa rumusan masalah yang harus diselesaikan, diantaranya bagaimana desain topologi jaringan yang tepat dan efisien agar koneksi internet bisa dinikmati oleh semua klien. Rumusan masalah yang kedua adalah bagaimana mengatur IP address yang tepat agar komputer siswa tidak bisa akses file guru yang di-share untuk kepentingan internal guru. Untuk menghasilkan jaringan yang tepat dalam menyelesaikan rumusan masalah diatas desain topologi menggunakan heararchical. Hak akses dan pengaturan kapasitas bandwidth dilakukan pada router mikrotik RB750. Pengaturan difokuskan pada tingkatan pengguna mulai dari siswa, guru, pengguna laboratorium maupun pengunjung sekolah atau tamu. Masing-masing pengguna diberi password dan kapasitas bandwidth yang berbeda. Pengembangan Local Area Network yang Terkoneksi dengan Speedy di SMP Negeri 1 Pandaan menghasilkan sebuah jaringan yang dibagi dalam tiga group LAN dan menghubungkan seluruh komputer sekolah sebanyak 75 unit.Batasan maksimal jumlah klien yang bisa koneksi internet sebanyak 71 klien,termasuk administrator. Meski demikian, akses internet pada saat digunakan secara bersamaan sangat lambat. Selama uji coba, kecepatan akses internet yang ideal ketika hanya digunakan oleh 21 komputer dan 10 laptop menggunakan koneksi wireless.

Profil pengrajin mebel Bukir Pasuruan ditinjau dari persepsi pendidikan terhadap keberhasilan usaha / Lucida Pertiwi

 

ABSTRAK Pertiwi, Lucida. 2009. Profil Pengrajin Mebel Bukir Pasuruan Ditinjau dari Persepsi Pendidikan Terhadap Keberhasilan Usaha.Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Prof.Dr. J.G. Nirbito, M.Pd, (2)Drs. Sapir S.sos, M. Si. Kata kunci: Pendidikan, keberhasilan usaha. Pendidikan merupakan kunci yang menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi tantangan kehidupan dunia yang semakin maju. Untuk memperoleh tingkat pendidikan yang tinggi harus dilakukan dengan menempuh pendidikan formal. Berdasarkan kesimpulan dan saran dari peneliti maka jika mengadakan penelitian kembali perlu mengkaji pada subyek yang lebih luas. Selain itu, juga menggunakan instrumen pengumpulan data yang lebih beragam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif peneliti sebagai insrtumen kunci dengan metode survei. Populasi dari penelitian ini adalah para pengrajin mebel yang berjumlah 243. Teknik sampling yang digunakan adalah random atau acak dengan sampel 60 pengrajin mebel. Untuk mengukur latar belakang pendidikan dan keberhasilan usaha peneliti menggunakan angket, wawancara dengan perangkat desa dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sampai tuntas. Menyusun secara sistematis data yang diperoleh kemudian membuat kseimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Pendidikan pengrajin mebel tertinggi dan jumlahnya yang paling banyak adalah Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan yang jumlahnya paling rendah adalah SMP. Perkembangan usaha mebel dalam kategori besar paling banyak adalah pengrajin yang tingkat pendidikannya SD. Pendidikan nonformal dan informal merupakan pendidikan yang membawa pengrajin menuju keberhasilan. Pengrajin mebel di Bukir sudah mampu menjual produksi mebelnya sesuai dengan keinginan pasar dan mampu bersaing sehingga bisa mendapatkan keuntungan dan keberhasilan usaha itu terwujud. Strategi yang tepat pada saat krisis terjadi mutlak diperlukan untuk menjaga perkembangan usaha agar tetap konsisten.Persepsi pengrajin tentang pendidikan adalah penting. Modal dan keterampilan juga harus dipenuhi sebelum seseorang menjalankan usaha. Ketiganya adalah sama-sama mendukung dalam berwirausaha mebel. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan untuk Pemkot Dinas Perindustrian di Pasuruan hendaknya lebih mengintensifkan pemberian pelatihan atau penyuluhan tentang kiat-kiat menjadi pengusaha yang baik dan benar dengan mengadakan seminar diklat, magang, studi banding, temu usaha, promosi, pengembangan teknologi dengan mebel dari luar Pasuruan. Prospek kedepannya diharapkan produk mebel Bukir dapat berkembang lebih maju lagi dan dapat menembus pasar internasional.

Pengembangan media cakram dari bahan conveyor belt bekas untuk pembelajaran lempar cakram pada siswa kelas XI SMK Negeri 2 Pasuruan / Puguh Rianto

 

ABSTRAK Rianto, Puguh. 2010. Pengembangan Media Cakram Dari Bahan Conveyor Belt Bekas Untuk Pembelajaran Lempar Cakram Pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 2 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Univeresitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sapto Adi, M.Kes, (II) Dra. Sulistyorini, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan media, pembelajaran, atletik, lempar cakram. Pembelajaran atletik pada Sekolah Menengah Kejuruan, khususnya materi lempar cakram di SMK Negeri 2 Pasuruan terdapat banyak keluhan : (1) 79,6% siswa merasa tidak senang, (2) 75,51% dirasakan cakram terlalu berat dari 49 siswa yang telah diobservasi. Ada media yang dapat dikembangkan untuk pengganti cakram yang dapat lebih menarik siswa yaitu cakram dari Conveyor Belt bekas yang tidak digunakan, padahal dapat digunakan untuk cakram. Peneliti berupaya untuk memanfaatkan Conveyor Belt bekas dan memodifikasi sehingga menyerupai cakram. Tujuan pengembangan ini adalah mendapatkan cakram yang cocok , sehingga ada cakram yang lebih bervariasi, yang dapat menumbuhkan rasa antusias siswa dalam proses pembelajaran lempar cakram. Oleh karena itu peneliti ingin mengembangkan cakram dari bahan Conveyor Belt bekas untuk pembelajaran lempar cakram pada siswa kelas XI SMK Negeri 2 Pasuruan. Dalam pengembangan ini menggunakan model prosedural. Model pengembangan prosedural adalah model yang bersifat diskriptif yaitu untuk menghasilkan produk (Universitas Negeri Malang.2000,37). Produk yang dihasilkan berupa cakram dari bahan Conveyor Belt bekas. Dalam pengembangan ini masih sangat sederhana dengan menggunakan 6 langkah dengan mengacu pada model pengembangan ( reaserch and development ) dari Borg dan Gall. Dalam penelitian ini jenis data adalah data kuantitatif dianalisis menggunakan analisis persentase milik Sudijana. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa cocok dan tertarik menggunakan cakram dari Conveyor Belt bekas dalam pembelajaran nomor lempar cakram. Sehingga sesuai dengan tujuan pengembangan adalah mendapatkan cakram yang cocok , sehingga ada cakram yang lebih bervariasi, yang dapat menumbuhkan rasa antusias siswa dalam proses pembelajaran lempar cakram. Saran-saran dalam penelitian ini antara lain: (1) Sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini disempurnakan lagi menjadi lebih baik, baik bentuk, ukuran, beratnya, (2) Hasil pengembangan ini hanya sampai pada sebuah cakram dari bahan Conveyor Belt bekas yang masih sangat sederhana, belum sampai pada tingkat efektifitas produk yang dikembangkan jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektifitas produk yang dikembangkan, (3) Sebaiknya dikembangkan model cakram dari bahan yang lainnya.

Penerapan pembelajaran servis atas bola voli menggunakan gaya mengajar inklusi pada siswa kelas X di SMK Grafika PGRI-Pakis / Igit Agus Sara

 

ABSTRAK Sara, Igit,Agus.2009.Penerapan Pembelajaran Servis Atas Bolavoli Menggunakan Gaya Mengajar Inklusi Pada Siswa Kelas X di SMK Grafika PGRI Pakis, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I).Dr.Roesdiyanto,M.Kes. Pembimbing: (II). Dra. Sulistyorini, M. Pd. Kata kunci : Penerapan, Pembelajaran Servis Atas Bolavoli, Gaya Mengajar Inklusi. Keterampilan siswa yang bervariasi, menurut Mosston dan Ashworth (1986;16) dapat menggunakan suatu gaya mengajar yang disesuaikan dengan keterampilan tiap siswa. Gaya mengajar tersebut adalah gaya mengajar inklusi. Gaya mengajar inklusi guru berperan dalam mengambil keputusan pada saat sebelum pembelajaran (pree- impact), sedangkan pada pelaksanaan (impact) dan evaluasi (post- impact) diserahkan pada siswa sepenuhnya, sebelum pelaksanaan, siswa mempunyai kesiapan sebelum pembelajaran dimulai dan melakukannya secara berulang–ulang untuk dapat meningkat ke level yang lebih sulit. Berdasarkan Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan pembelajaran servis atas bolavoli dalam permainan bolavoli yang menggunakan gaya mengajar inklusi yang terdiri dari beberapa tingkat kesulitan kemampuan mulai dari level 1 sampai level IV. level IV merupakan level yang paling sukar untuk siswa kelas X SMK Grafika PGRI Pakis. Metode penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan melakukan observasi awal dalam pembelajaran servis atas bolavoli yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani. Observasi awal ini dilakukan untuk mengidentifikasi atau mengetahui kemampuan penguasaan gerakan teknik dasar servis atas bolavoli, Kemudian peneliti menyusun rencana pembelajaran servis atas bolavoli menggunakan gaya mengajar inklusi yang terdiri dari empat (4) level pembelajaran, kemudian diberikan pembelajaran servis atas bolavoli menggunakan gaya mengajar inklusi, selanjutnya Melakukan evaluasi pembelajaran servis atas bolavoli Pengumpulan data hasil observasi pembelajaran servis atas bolavoli menggunakan gaya mengajar inklusi dari keseluruhan siswa kelas X-I SMK Grafika PGRI Pakis. Dari hasil observari kegiatan pembelajaran servis atas bolavoli menggunakan gaya mengajar inklusi, dan hasil Evaluasi pembelajaran servis atas bolavoli menggunakan gaya mengajar inklusi. Hasil penelitian ini yaitu sebagai berikut : peningkatan level pembelajaran yang semula dari level I meningkat ke level II, dari level II meningkat ke level III, dari level III meningkat ke level IV. Level IV merupakan level tertinggi. Dan juga peningkatan bagian gerakan servis atas bolavoli yang menunjukan pada posisi kaki terdapat aspek posisi kaki yang benar sebanyak 5 siswa (14,28%) menjadi 33 siswa (94,28%). Kemudian dari aspek posisi tangan yang benar sebanyak 8 siswa (22,86%) menjadi 30 siswa (85,71%). Kemudian dari aspek posisi tubuh yang benar 3 siswa (8,57%) menjadi 33 siswa (94,28%). Sedangkan dari aspek impact bola yang benar 14 siswa (40%) menjadi 28 siswa (80%). Dan pada aspek hasil pukulan yang benar sebanyak 16 siswa (45,71%) menjadi 28 siswa (80%). i Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh disimpulan bahwa penerapan pembelajaran servis atas bolavoli dengan menggunakan gaya mengajar inklusi ini dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam melakukan keterampilan lanjutan servis atas bolavoli.

Pengembangan VCD latihan pliometrik untuk meningkatkan kelincahan / Teguh Yulianto

 

ABSTRAK Yulianto, Teguh. 2009. Pengembangan VCD Latihan Pliometrik untuk Meningkatkan Kelincahan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Wasis Dwiyogo, M.Pd (II) Drs. H. Sugiyanto. Kata Kunci: Pengembangan, VCD, Latihan Pliometrik, Kelincahan. Pelatih memperoleh materi latihan terbatas dari pengalaman sebagai pemain, sehingga materi latihan yang diberikan kepada atlet hanya terbatas pada hasil pengalaman pelatih selama jadi pemain. Dengan terbatasnya materi yang diberikan oleh pelatih , atlet menjadi jenuh dan bosan dalam berlatih. Sehingga tingkat kelincahan atlet menjadi sangat rendah. Sedangkan kelincahan merupakan komponen dasar dalam setiap cabang olahraga. Peneliti mengembangkan latihan pliometrik karena latihan pliometrik merupakan salah satu bentuk latihan untuk meningkatkan kelincahan. Latihan pliometrik dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dalam pengembangan VCD latihan Pliometrik untuk meningkatkan kelincahan menggunakan model pengembangan instruksional dari sadiman (2003:38), yaitu yang terdiri dari: (1) Penemuan ide, pengumpulan berbagai informasi sebagai kajian pustaka dan observasi lapangan. (2) Penulisan naskah media (hasil produk) berisi rancangan pembelajaran latihan pliometrik. (3) Evaluasi produk oleh ahli. (4) Revisi produk I, dilakukan oleh ahli. (5) Produk prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video). (6) Uji coba prototipe, uji coba (kelompok kecil). (7) Revisi produk II, revisi dari uji coba (kelomok kecil). (8) Uji lapangan (kelompok besar). (9) Reproduksi, penyempurnaan produk. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk ahli dan atlet. Dengan kualifikasi 1 ahli media dan 2 ahli pliometrik, sedangkan untuk atlet dilakukan uj coba (kelompok kecil) sebanyak 5 orang dan uji coba lapangan (kelompok besar) sebanyak 20 orang. Hasil penilaian atau evaluasi model latihan ini yaitu sebagai berikut: dari ahli media yaitu 81,62% , dari ahli pliometrik 86,98%, dari uji coba kelompok kecil 83,1% dan dari uji lapangan 88,59%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa VCD latihan pliometrik untuk meningkatkan kelincahan dapat digunakan dan dipraktekan. Saran-saran dalam penelitian ini antara lain: (1)Sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini disusun kembali menjadi lebih baik, baik isi maupun materi yang dikembangkan, (2) Produk pengembangan VCD latihan pliometrik untuk meningkatkan kelincahan dapat digunakan oleh pelatih dan atlet, maka sebaikya dicetak lebih banyak lagi, (3) Hasil pengembangan ini hanya sampai tersusun sebuah produk, belum sampai pada tingkat efektifitas produk yang dikembangkan jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektifitas produk yang dikembangkan.

Pengaruh sejumlah faktor yang mempengaruhi pembelajaran akuntansi terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI jurusan IPS di SMA Negeri I Puri Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 / Fety Diah Wahyuningsih

 

ABSTRAK Diah, Fety W. 2009. Pengaruh Sejumlah Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Akuntansi terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. Program Studi Pendidikan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) DR.Nurika Restuningdiah, SE., M.Si., AK, Pembimbing (II) Sri Pujiningsih, SE., M.Si., AK Kata Kunci: faktor intern, faktor ekstern, prestasi belajar Rendahnya prestasi belajar akuntansi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor ekstern adalah faktor yang datang dari luar diri siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menjelaskan apakah faktor intern yang diproksi oleh minat belajar, persepsi terhadap bahan pelajaran, cara belajar, motivasi dan kesehatan jasmani yang mempengaruhi pembelajaran akuntansi berpengaruh terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto, (2) menjelaskan apakah faktor ekstern yang diproksi oleh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat yang mempengaruhi pembelajaran akuntansi berpengaruh terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto, dan (3) menjelaskan apakah faktor intern dan ekstern yang mempengaruhi pembelajaran akuntansi yang diproksi oleh minat belajar, persepsi terhadap bahan pelajaran, cara belajar, motivasi, kesehatan jasmani, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat berpengaruh secara simultan terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto. Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Puri Mojokerto dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Metode pengambilan sampel menggunakan proporsional random sampling dengan menetapkan kelas XI IPS sebagai kelas sampel Sampel yang digunakan sebanyak 36 siswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: (a) terdapat pengaruh antara minat belajar, persepsi terhadap bahan pelajaran, cara belajar, lingkungan keluarga, dan masyarakat secara parsial terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto, (b) tidak terdapat pengaruh antara motivasi, kesehatan jasmani dan lingkungan sekolah secara parsial terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto, (c) terdapat pengaruh antara variabel faktor intern dan ekstern secara simultan terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto. Saran yang diberikan (a) guru sebaiknya menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki siswa, sehingga siswa mudah menerima bahan pelajaran,(b) hendaknya memberikan penyajian materi yang lebih menyenangkan, (c) siswa harus dilatih untuk memberi saran, mengeluarkan pendapat, bertanya, memecahkan soal, menganalisis, dan sebagainya, (d) memotivasi siswa untuk lebih menyukai pelajaran akuntansi, (e) memberikan alat penunjang bagi siswa yang mempunyai kekurangan/cacat fisik, orang tua juga harus memperhatikan kesehatan dan gizi anaknya, (f) memberikan pengertian dan kasih sayang disertai dengan bimbingan akan sangat perlu untuk mensukseskan belajar anak, (g) sebaiknya guru mengganti metode ceramah dengan metode-metode baru, dan (h) sebaiknya membatasi/mengurangi pergaulan yang kurang bermanfaat.

Persepsi guru tentang standar isi dan implementasi pembelajaran ekonomi (Penelitian pada SMA Negeri di kota Nganjuk) / Sri Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Sri. 2010. Persepsi Guru tentang Standar Isi dan Implementasi Pembelajaran Ekonomi (Penelitian pada SMA Negeri di Kota Nganjuk). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mit Witjaksono, MS.Ed, (II) Drs.Ir. Yohanes Hadi Soesilo, M.Div, ME. Kata Kunci: Persepsi Guru, Standar Isi, Implementasi Pembelajaran Ekonomi Pencapaian keberhasilan pembelajaran ekonomi dapat dilihat dari salah satu aspek, yaitu bagaimana persepsi guru tentang perubahan standar pendidikan yang ada. Keadaan awal yang berbeda antara persepsi guru yang satu dengan persepsi guru yang lain tentang Standar Isi mata pelajaran ekonomi maka dipandang perlu untuk meneliti perbedaan persepsi tersebut. Tujuan penelitian ini, yaitu ingin menemukan hal yang membuat persepsi guru berbeda antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana persepsi mereka mengimplementasi Standar Isi mata pelajaran ekonomi dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan pada tanggal 30 November sampai 30 Desember 2009. Subyek dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran Ekonomi pada SMA Negeri di Kota Nganjuk. Analisis data secara deskriptif digambarkan dengan bantuan program microsoft office excel 2007 dengan teknik radar yang menggambarkan skala masing-masing nomor soal tiap responden serta persentase tiap responden dari perolehan skor total. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara guru yang satu dengan guru yang lain, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, sosialisasi Standar Isi yang tidak serentak, sarana dan prasarana yang kurang memadai sehingga kurang maksimal dalam mengimplementasikan Standar Isi serta kurang adanya supervisi dari Kepala Sekolah dalam penerapan Standar Isi. Kesimpulan yang dapat diambil, yaitu secara umum persepsi guru tentang Standar Nasional Pendidikan yang meliputi Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian berada pada kriteria cukup baik. Implementasi pembelajaran ekonomi berdasarkan persepsi guru tentang Standar Nasional Pendidikan berada pada kriteria cukup baik pula. Saran dari penelitian ini: (1) Bagi guru ekonomi diharapkan mampu meningkatkan pemahamannya tentang Standar Nasional Pendidikan, (2) Bagi pihak jurusan agar mengadakan seminar tentang Standar Nasional Pendidikan kepada mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi agar semua mahasiswa tahu tentang kebaradaan Standar Nasional Pendidikan dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (3) Bagi Kepala Sekolah sebagai supervisi dalam pengawasan pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan diharapkan dapat lebih aktif lagi dan dapat meyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam implementasi Standar Nasional Pendidikan, (4) Bagi calon peneliti perlu menambahkan fokus subyek penelitian pada siswa sehingga diperoleh data hasil dari pihak guru dan juga siswa.

Pengembangan paket pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal untuk meningkatkan perilaku asertif siswa SMP / Kanti Wahyuningtias

 

ABSTRAK Wahyuningtias, Kanti. 2009. Pengembangan Paket Pelatihan Keterampilan Komunikasi Interpersonal untuk Meningkatkan Perilaku Asertif Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra Elia Flurentin, M. Pd, (2) Dra. Henny Indreswari, M Pd. Kata Kunci: Pengembangan, paket, pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal, asertif, siswa SMP Berkomunikasi adalah suatu keharusan bagi manusia. Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan fungsi yang paling pokok dalam berinteraksi. Komunikasi merupakan landasan dari semua hubungan interpersonal. Siswa SMP berada pada masa remaja awal sering mengalami permasalahan penyesuaian diri dan sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan orang lain selain dengan keluarga, khususnya dengan teman sebaya. Penyesuaian diri remaja sering kali membuat remaja tidak dapat berperilaku asertif, karena merasa takut akan ditolak oleh kelompoknya. Untuk itu diperlukan keterampilan komunikasi interpersonal agar remaja lebih berani bersikap tegas (asertif). Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan paket pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal sehingga dapat meningkatkan perilaku asertif siswa. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa buku panduan untuk konselor, buku panduan untuk siswa, dan buku materi pelatihan. Prosedur yang digunakan dalam mengembangkan paket pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal untuk meningkatkan perilaku asertif ini, menggunakan model pengembangan yang diadaptasi dari Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dipakai meliputi need assessment, menetapkan prioritas kebutuhan, merumuskan tujuan pengembangan paket pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal, menyusun prototipe paket pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal, uji ahli bimbingan dan konseling (dosen Universitas Negeri Malang) dan ahli bahasa (guru bahasa Indonesia), dan uji lapangan (15 siswa). Hasil uji ahli bimbingan dan konseling dan ahli bahasa menunjukkan bahwa paket pelatihan keterampilan komunikasi untuk meningkatkan perilaku asertif sesuai digunakan sebagai panduan konselor di sekolah. Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa paket pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal untuk meningkatkan perilaku asertif siswa SMP efektif digunakan sebagai panduan pelatihan. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis rambu-rambu penilaian perilaku siswa yang bisa berperilaku asertif setelah mengikuti pelatihan. Sesuai dengan hasil penelitian, maka saran yang ingin disampaikan adalah bagi konselor yang akan menggunakan buku panduan diharapkan memiliki pendidikan Sarjana Bimbingan Konseling dan Psikologi sehingga bisa lebih mudah memahami materi yang dimaksud dalam pelatihan ini. Selain itu untuk menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan pada siswa maka konselor hendaknya memberikan dorongan kepada siswa untuk terus berlatih menggunakan teknik-teknik yang telah diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan uji efektivitas karena uji lapangan yang dilakukan peneliti hanya menggunakan rambu-rambu penilaian yang langsung dievaluasi setelah melakukan pelatihan, jadi belum diketahui perilaku siswa di luar kelas. Peneliti selanjutnya juga diharapkan lebih memperluas kajian penelitiannya pada SMP lain dan MTS baik negeri maupun swasta.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |